PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERH (1)

Gratis

0
0
9
1 year ago
Preview
Full text

  

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS)

PADA KONSEP KALOR

  Nunung Nurjanah dan Iwan Permana Suwarna,

  Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  

ABSTRAK

  The purpose of this study was to determine the effect of the inquiry learning model to students science a process skills (KPS/SAPA) on the concept of heat. KPS aspects in this research include: observing, interpreting observations, predicting, communicating and implementing the concept. The experiment was conducted at one school in Jakarta (Indonesia). the method used was a quasi experimental with pretest-posttest control group design. Samples were taken with a purposive sampling technique. Research sample were 62 students, 31 students of the experimental group and 31 students of the control group. The instruments used in this study include: instruments to measure KPS, observation of student activity sheets, and lesson plan (RPP) and the Student inquiry Worksheet (LKS). The research data were analysed by using the t test for normal data and homogeneity and Mann Whitney for nonparametric statistica with U test for non normal data. Significance level in this study is 5%. The mean pretest score of the experimental group is 38.13 and control group is 35.92. The mean posttest score of experimental group is 65.61 and control group is 54.73. The mean N-gain of experimental group 0.44 (medium) and control groups at 0.27 (low). Students during learning activities have increased with higher categories. Aspects of the KPS can be improved: observing, interpreting observations, and prediction. Inquiry learning model has positive influence on KPS students on the concept of heat.

  Keywords: Model of inquiry learning, science process skills, concept of heat.

A. PENDAHULUAN

  Perkembangan sains tidak hanya ditujukan pada produk ilmiah saja, namun meliputi juga metode ilmiah dan sikap ilmiah. Artinya metode ilmiah merupakan bagian dari sains (fisika). Hal ini berarti bahwa pembelajaran fisika tidak hanya berlandaskan teori-teori saja tapi mengarah pada aktivitas proses sains. Namun kenyataanya pembelajaran fisika masih didominasi metode konvensional.

  Menurut Ditjen PMPTK (2008), terdapat kecenderungan pembelajaran sains di Indonesia, yaitu; (1) Pembelajaran hanya beriorientasi pada tes/ujian; (2) Pengalaman belajar yang diperoleh di kelompok tidak utuh dan tidak berorientasi pada tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar; (3) Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual. (4) Peserta didik hanya mempelajari IPA pada domain kognitif yang terendah, peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya; (5) Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jum-lah peserta didik per kelompok yang terlalu banyak; (6) Evaluasi yang dilakukan hanya berorientasi pada produk belajar yang berkaitan dengan domain kognitif dan tidak menilai proses.

  Selain itu, penelitian yang dilakukan Sadia, et all (2009) terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran guru Fisika SMA di Buleleng tahun 2003 menunjukkan 95% tujuan pembelajaran di kelompok mengarah pada penguasaan produk sains (pemahaman konsep, hukum dan teori-teori sebagai pengetahuan yang sudah jadi), hanya 5% yang mengarah pada keterampilan proses sains (KPS). Padahal KPS merupakan modal utama dalam mengembangkan teknologi modern dalam menghadapi globalisasi dunia, karena KPS dapat menumbuhkan sikap ilmiah. Dengan sikap ilmiah, manusia akan terus melakukan ekperimen-eksperimen dan penelitian dalam rangka mengembangkan teknologi. Keterampilan proses dalam pembelajaran sebaiknya diarahkan pada penguasaan konsep-konsep sains, menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah, serta menerapkan konsep dan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. Selain itu, dalam penelitian yang sama ditemukan bahwa metode ceramah merupakan metode yang dominan (70%) digunakan guru, tingkat dominasi guru dalam interaksi belajar mengajar juga tinggi yaitu 67% sehingga para siswa relatif pasif dalam proses pembelajaran. Dari masalah di atas jelas bahwa aktivitas pembelajaran masih didominasi oleh guru dan pembelajaran sains belum di arahkan pada aspek proses.

  Salah satu alternatif penyelesaian masalah di atas adalah penerapan model pembelajaran inkuiri, di mana siswa akan terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inkuiri mengarah pada keterampilan proses dengan mengeksplorasi sikap dan perilaku ilmiah siswa, memancing keingintahuan, merangsang imajinasi, dan daya kreativitas, membangun etos akademik seperti ketelitian, ketepatan, dan ketangguhan.

  Pemilihan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep yang diajarkan sangat mempengaruhi kegiatan pembelajaran, baik proses pembelajaran, aktivitas siswa, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran maupun terhadap hasil belajarnya. Konsep fisika yang menarik untuk dibuat model pembelajaran inkuiri adalah konsep kalor, karena konsep kalor sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menjemur pakaian, memanaskan air, dan mendinginkan air panas. Selain itu, pembelajaran mengenai konsep kalor dapat dilakukan dengan eksperimen sederhana, misalnya mengamati proses perubahan wujud zat dapat dilakukan dengan memanaskan es secara terus menerus sampai menjadi uap air, sehingga siswa akan merasa tertarik untuk melakukan percobaan, pengamatan, dan dari hasil pengamatan serta pemahamannya, dapat diterapkan kembali dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian, pembelajaran inkuiri dapat menjadikan pelajaran fisika lebih menarik, mudah dipahami, lebih menekankan pada pengajaran proses dan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan ilmiah siswa atau keterampilan proses sains (KPS).

B. METODOLOGI PENELITIAN

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuasi dengan desain pretest-

posttest control group, dalam desain ini digunakan dua kelompok subjek yang diberikan perlakuan.

  : Desain penelitian ini dapat digambarkan pada tabel 1.

  Keterangan : Tabel 1.

  Desain Kelompok Kontrol Prates- T 1 : pretest

  X 1 : Perlakuan menerapkan model pembelajaran inkuiri Postes

  X : Perlakuan menggunakan metode demonstrasi 2 Kelompok Pretest Treatment Posttest T 2 : posttest

  Eksperimen T

  X T

  1

  1

  2 Kontrol T

  2 T

  1 X

  2 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa salah satu SMA di Jakarta. Sampel dalam

  penelitian ini adalah siswa kelas X yang berjumlah 62 siswa, 31 siswa kelas X-A sebagai kelompok eksperimen dan 36 siswa kelas X-B sebagai kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel

  purposive sampling.

  Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil tes dan observasi. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi langsung. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan lembar observasi. Tes yang digunakan adalah tes objektif berupa soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban sebanyak 25 soal. Agar dapat mengukur KPS siswa maka soal tersebut dibuat berdasarkan indikator aspek KPS yaitu: aspek mengamati, menafsirkan pengamatan, prediksi, berkomunikasi dan menerapkan konsep. Sedangkan lembar observasi terdiri dari lima indikator KPS yang sama yang terbagi dalam empat fase pembelajaran inkuiri yaitu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel Indikator KPS dalam Fase Pembelajaran Inkuiri Fase Pembelajaran Aspek KPS Sub Aspek KPS Indikator Aktivitas Siswa Inkuiri

  Pengumpulan data Mengajukan hipotesis dari masalah yang Menerapkan konsep Menyusun hipotesis verifikasi dihadapi Menafsirkan pengamatan Mencatat setiap pengamatan Mencatat setiap pengamatan pada LKS

  Pengumpulan data Mengamati Menggunakan indera Mengamati percobaan yang dilakukan eksperimen Berdasarkan pengamatan, dapat Memprediksi kemungkinan yang terjadi Memprediksi mengemukakan apa yang mungkin terjadi dalam percobaan yang dilakukan Berkomunikasi Menggambarkan data dengan grafik/tabel Membuat grafik/tabel

  Menjelaskan hasil percobaan yang Berkomunikasi Menjelaskan hasil pengamatan dilakukan Merumuskan

  Menentukan bagaimana mengolah data hasil penjelasan Menerapkan konsep Mengolah data penelitian pengamatan untuk mengambil kesimpulan Melakukan diskusi mengenai hasil

  Berkomunikasi Mendiskusikan hasil percobaan percobaan Menganalisis proses Menyusun dan menyampaikan laporan secara Berkomunikasi

  Menyusun laporan inkuiri sistematis dan jelas Menarik kesimpulan berdasarkan hasil Menafsirkan pengamatan Menarik kesimpulan pengamatan

  Setelah semua data terkumpul dilakukan uji analisis data meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk megetahui kenormalan data sampel yang diteliti. Uji

  2

  2

  normalitas data dilakukan menggunakan rumus kai kuadrat (chi square). Jika X < X , maka

  hitung tabel

  data berdistribusi normal. Pada keadaan lain data tidak berdistribusi normal. Uji homogenitas digunakan uji homogenitas dua varians atau Uji Fisher. Jika F hitung < F tabel , maka Ho diterima. Setelah uji prasyarat dilakukan dan data dinyatakan berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan anlisis data untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap KPS, diukur dengan pengujian hipotesis, yaitu menggunakan uji signifikansi dengan uji-t (t-test). Ho diterima jika t < t Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar

  hitung tabel.

  digunakan Normal gain (N-gain). Aktivitas keterampilan proses sains siswa pada kegiatan pembelajaran dihitung dengan prosentase. Dengan kriteria interpretasi skor: Rendah = 0% - 30%; Sedang = 31% - 60%; Tinggi = 61% - 100%.

C. HASIL PENELITIAN

  Data hasil tes seteleh implementasian model pembelajaran ditunjukkan pada tabel 1.: Tabel 1

  Eksperimen Kontrol Data Pretes Posttes Pretes

  Statistik N-gain Posttest N-gain t t t

  N

  31

  31

  31

  31

  31

  31

  38.13

  65.61

  0.44

  35.93

  54.73

  0.26 X S

  10.38

  8.79

  0.15

  6.83

  9.09

  0.14

  1. Hasil Pretes Gambar Histogram Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

  2. Hasil posttest Gambar Histogram Hasil Analisis

  Deskriptif Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

  3. Normal gain Gambar

  Histogram Skor N-Gain Kelompok Eksperimen dan

  Kontrol Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan frekuensi kelompok eksperimen dan kontrol dari ketiga kategori tersebut.

  Tabel Kategorisasi N-gain Berdasarkan kategorisasi tersebut maka dapat Kelompok Eksperimen dibuat sebuah histogram yang diperlihatkan pada Frekuensi gambar berikut ini.

  Kategori Eksperimen Kontrol Rendah

  4

  20 Sedang

  26

  11 Tinggi

  1 Jumlah

  31

  31 Gambar Histogram Kategorisasi N-Gain Kelompok Eksperimen dan kontrol

  4. Ketercapaian Aspek Keterampilan proses Sains (KPS) Prosentase ketercapaian aspek KPS Tabel Ketercapaian KPS Pretest dan Posttest dikelompokkan ke dalam tiga kategori, Kelompok Eksperimen yaitu rendah (< 30%), sedang (30%-60%), Pretestt Posttest

  Sko r Skor Skor

  dan tinggi ( ≥ 60%). Hasil perhitungan

  Aspek KPS Idea rerat (%) rerat

  prosentase rerata ketercapaian aspek KPS

  (%) l a a

  pada kelompok eksperimen dapat dilihat

  47.5 Mengamati

  4.00

  1.90

  2.29

  57.26

  seperti pada tabel:

  8 Menafsirkan

  30.6

  6.00

  1.84

  4.03

  67.20 Pengamatan

  5

  25.8 Memprediksi

  5.00

  1.29

  3.03

  60.65

  1 Menerapkan

  30.9

  5.00

  1.55

  3.45

  69.03 konsep

  7

  56.7 Berkomunikasi

  5.00

  2.84

  3.55

  70.97

  7 Selisih rerata pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dapat dilihat pada histogram di

  bawah ini: Gambar Histogram

  Prosentase Ketercapaian KPS pada Pretest dan

  Posttest Kelompok

  Eksperimen Berdasarkan histogram di atas, dapat dilihat peningkatan prosentase ketercapaian KPS yang cukup tinggi pada masing-masing aspek dari pretest ke posttest.

Tabel 4.3 Ketercapaian KPS Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol

  Pretestt Posttest Aspek KPS Skor Skor Skor

  

(%) (%)

ideal rerata rerata Mengamati

  4.00

  2.29

  57.26

  

2.48

  62.10 Menafsirkan

  6.00

  1.19

  19.89

  

2.55

  42.47

  Pretestt Posttest Aspek KPS Skor Skor Skor

  

(%) (%)

ideal rerata rerata Memprediksi

  5.00

  0.97

  19.35

  

1.39

  27.74 Menerapkan konsep

  5.00

  1.48

  29.68

  

3.03

  60.65 Berkomunikasi

  5.00

  2.68

  53.55

  

3.61

  72.26 Selisih rerata pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dapat dilihat pada histogram

  di bawah ini:

  Gambar Histogram Prosentase Ketercapaian KPS Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol

  Berdasarkan histogram, dapat dilihat peningkatan prosentase ketercapaian KPS yang cukup tinggi pada masing- masing aspek dari pretest ke posttest.

  Hasil perhitungan normal gain pada tiap aspek KPS yaitu pada kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

  Berdasarkan gambar di atas, perolehan normal gain setiap aspeknya dijelaskan lebih rinci yaitu sebagai berikut: Gambar Histogram Rerata

  N-gain pada Tiap Aspek KPS

  5. Hasil Observasi Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan pengamatan untuk mengetahui tingkat keterampilan proses sains dalam proses pembelajaran (aspek psikomotorik). Terdapat lima indikator KPS yang diobservasi dan terbagi dalam empat fase pembelajaran inkuiri .

  Aspek mengamati, secara umum kemampuan mengamati siswa berada pada kategori tinggi tidak terjadi kenaikan atau penurunan, nilai dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir tetap pada kategori tinggi 100%.

  Aspek menafsirkan pengamatan secara umum kemampuan siswa berada pada kategori tinggi, terjadi kenaikan dari pertemuan pertama (75%) ke pertemuan ke-dua (95%). Pada pertemuan ke-dua (95%) sampai pertemuan ke-empat (50%) terjadi penurunan, hal ini dikarenakan pada pertemuan ke-dua siswa sangat antusias dengan materi pembelajaran dan metode yang digunakan, sementara pada pertemuan ke-tiga dan ke-empat pembelajaran dilakukan di ruang kelompok, tidak di laboratorium fisika sehingga pembelajaran kurang efektif dan semangat siswa menurun.

  Aspek memprediksi kemampuan siswa secara umum berada pada kategori sedang, pada kategori sedang ini terjadi kenaikan dari pertemuan pertama (67%) sampai pertemuan ke-tiga (100%). Pada pertemuan ke-tiga (100%) sampai pertemuan ke-empat (50%) terjadi penurunan, hal ini dikarenakan pada pertemuan pertama sampai pertemuan ke-tiga siswa sangat antusias dengan materi pembelajaran dan metode yang digunakan, sementara pada pertemuan ke-empat materi pembelajaran mengenai kalor laten, sehingga siswa tidak dapat memprediksi bagaimana suhu saat terjadi perubahan fasa zat.

  Aspek menerapkan konsep, kemampuan siswa secara umum berada pada kategori tinggi, terjadi kenaikan dari pertemuan pertama (42%) ke pertemuan ke-dua (75%). Pada pertemuan ke- dua (75%) sampai pertemuan ke-tiga (50%) terjadi penurunan, dan pada dari pertemuan ke-tiga sampai pertemuan ke-empat (67%) terjadi kenaikan lagi. Hal ini dikarenakan tingkatan kesulitan materi pembelajaran yang berubah tiap pertemuannya.

  Aspek berkomunikasi, kemampuan siswa secara umum berada pada kategori tinggi, terjadi kenaikan dari pertemuan pertama (33%) sampai pertemuan ke-tiga (83%). Dari pertemuan ke-tiga sampai pertemuan ke-empat (33%) terjadi penurunan. Hal ini dikarenakan pada pertemuan ke-empat pembelajaran dilakukan di ruang kelompok, tidak di laboratorium fisika, sehingga pembelajaran kurang efektif. Data observasi pada aspek mengamati dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

  Dari data observasi kelima aspek KPS di atas, kemampuan tiap aspek KPS dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

  Tabel Data Hasil Observasi KPS (Psikomotorik) Tingkatan KPS Aspek KPS Pertemuan Pertemuan Pertemuan I Pertemuan IV

II III

  Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Mengamati (100%) (100%) (100%) (100%) Menafsirkan Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

  Pengamatan (75%) (92%) (75%) (50%) Sedang Sedang Sedang Tinggi Memprediksi (67%) (83%) (100%) (50%)

  Menerapkan Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Konsep (50%) (75%) (50%) (67%) Sedang Sedang Tinggi Tinggi Berkomunikasi

  (38%) (56%) (83%) (39%)

  Hasil pretest kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol, namun hasil pengujian hipotesis pretest menggunakan uji Mann-Whitney (uji U) dengan bantuan software SPSS versi 13. Hasil uji U menyatakan bahwa skor pretest kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Sama halnya dengan hasil skor pretest, perolehan skor posttest kelompok eksperimen mencapai nilai rerata yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol, peningkatan nilai rerata yang diperoleh diikuti juga oleh peningkatan nilai standar deviasinya, hal ini menunjukkan bahwa keragaman kemampuan siswa kelompok kontrol belum merata dibandingkan dengan kemampuan siswa kelompok eksperimen.

  Berdasarkan hasil observasi mengenai aktivitas keterampilan proses sains pada saat pembelajaran berlangsung menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri melibatkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, khususnya aktivitas keterampilan proses sains. Dalam kegiatan observasi yang dilakukan pada empat pertemuan diketahui bahwa aspek KPS yang dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung sangat dinamis, hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi. Hasil observasi keempat mengalami penurunan dibandingkan hasil observasi pada pertemuan sebelumnya, hal ini dikarenakan pada pertemuan tersebut pembelajaran berlangsung di ruang kelompok, tidak di laboratorium, sehingga pembelajaran kurang efektif. Secara umum kemampuan KPS yang diteliti efektif. Dengan demikian pembelajaran inkuiri yang diterapkan pada kelompok eksperimen menunjukkan aktivitas keterampilan proses sains (KPS).

  Sari, et.all. dalam penelitiannya, menyimpulkan penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses siswa pada pokok bahasan laju reaksi di SMAN 1 Siak Sri Indrapura tahun ajaran 2008/2009, yang, menunjukkan bahwa: (1) Kualitas proses pembelajaran inkuiri terbimbing telah memungkinkan terjadinya peningkatan konstruksi pengetahuan dan keterampilan proses serta sikap sains siswa berlangsung dengan kategori baik; (2) Terdapat perbedaan keefektifan yang signifikan antara kelompok yang dibelajarkan dengan metoda pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok konvensional, Keefektifan metoda pembelajaran tersebut dapat dilihat dari rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa.

D. KESIMPULAN

  Penggunaan model pembelajaran inkuiri pada konsep kalor dapat memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan proses sains. Pembelajaran dengan menerapkan model inkuiri terbimbing ini cukup efektif, setiap aspek KPS mengalami peningkatan dengan kategori tinggi. Aktivitas siswa selama pembelajaran tergolong pada kategori tinggi terutama: aspek mengamati, menafsirkan pengamatan dan menerapkan konsep. Pada aspek berkomunikasi termasuk kategori sedang dan pada aspek memprediksi masih kurang. Disamping memiliki keunggulan, model ini juga mempunyai kelemahan, diantaranya: Guru akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik; Perencanaan pembelajaran dengan model ini sulit karena terbentur dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar; Dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang, sehingga guru sulit untuk menyesuaikan dengan waktu yang ditentukan.

  Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran inkuiri akan lebih baik jika digunakan pada konsep yang bersifat konkret agar siswa dapat menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari. Perlunya ketersediaan fasilittas laboratorium fisika yang memadai untuk praktikum pada pembelajaran inkuiri. Untuk para peneliti lainnya, disarankan untuk mengukur aspek KPS lainnya: aspek meramalkan, menggunakan alat dan bahan, merencanakan penelitian dan mengajukan pertanyaan. Mencoba untuk mengimplementasikan model pada level yang berbeda dengan kelompok kemampuan siswa yang beragam.

DAFTAR PUSTAKA

  Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 2008. Strategi

  Pembelajaran MIPA (Kompetensi Supervisi Akademik 03-B6a). DEPDIKNAS. Tersedia: iakses tanggal 10/01/10.

  Sadia, Wayan. 2009. Pembelajaran Fisika SMAN 1 Buleleng. Tersedia: diakses tanggal: 21/11/09. Sari, dkk..Penerapan Pendekatan Inkuiri Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Siswa Pada

  Pokok Bahasan Laju Reaksi Kelas XI IPA SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA. Tersedia:

   akses tanggal 10/02/10.

Dokumen baru

Tags

Pengaruh Model Pembelajaran Inquiri Terh Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Terh Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terh Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terb Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Dan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Pengaruh Model Penerimaan Teknologi Terh Pengaruh Strategi Pembelajaran Inkuiri D Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Show more

Dokumen yang terkait

ANALISIS KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL PISA KONTEN SHAPE AND SPACE BERDASARKAN MODEL RASCH
69
761
11
ANALISIS PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi Empiris Pada Perusahaan Property dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia)
47
438
21
ANALISIS PENGARUH PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH (Studi Empiris pada Pemerintah Daerah Kabupaten Jember)
37
324
20
PENGARUH DOSIS LIMBAH MEDIA JAMUR TIRAM DAN KONSENTRASI LARUTAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) ABITONIK TERHADAP SEMAI KAYU MANIS [Cinnamomum camphora (l,) J. Presi]
12
139
2
PENGARUH KONSENTRASI TETES TEBU SEBAGAI PENYUSUN BOKASHI TERHADAP KEBERHASILAN PERTUMBUHAN SEMAI JATI (Tectona grandis Linn f) BERASAL DARI APB DAN JPP
6
161
1
PENGARUH KOMPOSISI KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN TIGA HIBRID TANAMAN ANGGREK Dendrobium sp.
10
147
1
PENGARUH TERAPI TERTAWA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PENDERITA HIPERTENSI DI KLUB SENAM SASANA SUMBERSARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DINOYO MALANG
34
239
24
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SEBAGAI ADJUVAN TERAPI CAPTOPRIL TERHADAP KADAR RENIN PADA MENCIT JANTAN (Mus musculus) YANG DIINDUKSI HIPERTENSI
37
249
30
PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN BIJI PEPAYA (Carica Papaya L) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus strain wistar) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK
23
196
21
PENGARUH GLOBAL WAR ON TERRORISM TERHADAP KEBIJAKAN INDONESIA DALAM MEMBERANTAS TERORISME
57
259
37
PENGARUH PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MAHASISWA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Studi Pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 Universitas Muhammadiyah Malang)
127
501
26
PENGARUH DIMENSI KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN DI CAFE MADAM WANG SECRET GARDEN MALANG
18
115
26
PENGARUH BIG FIVE PERSONALITY TERHADAP SIKAP TENTANG KORUPSI PADA MAHASISWA
11
131
124
PENGARUH PERMAINAN KONSTRUKTIF DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK TUNARUNGU
9
130
29
PENGARUH SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DENGAN PASIR LAUT TERHADAP KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN SEMEN PCC
5
68
1
Show more