Jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode dalam perbincangan pengisi acara “Ini Talkshow” di Net TV - USD Repository

Gratis

0
0
241
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI JENIS, BENTUK, DAN FAKTOR PENYEBAB CAMPUR KODE DALAM PERBINCANGAN PENGISI ACARA “INI TALKSHOW” DI NET TV SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Oleh: Kristina Dewi Arta Setyaningrum NIM: 141224008 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 14 Januari 2019 Penulis, Kristina Dewi Arta Setyaningrum v

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Kristina Dewi Arta Setyaningrum Nim : 141224008 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: JENIS, BENTUK, DAN FAKTOR PENYEBAB CAMPUR KODE DALAM PERBINCANGAN PENGISI ACARA “INI TALKSHOW” DI NET TV Dengan demikian, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya atau memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai pemilik. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal, 14 Januari 2019 Yang menyatakan, Kristina Dewi Arta Setyaningrum vi

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Motto “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6) Tidak ada yang lebih baik dari rencana Tuhan (penulis) Percaya aja, rasa capek kalian akan kebayar suatu saat nanti. Jadi jangan berhenti untuk bermimpi, berusaha dan terus melangkah (Ria SW) vii

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Puji Tuhan penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus, penulis mempersembahkan karya tulis ini kepada: 1. Kedua orang tua saya Bapak Bernardinus Realino Yuliantoro dan Ibu Veronika Sri Sugiyanti. Terima kasih atas doa restu, dukungan, dan perjuangan Bapak dan ibu yang selalu maksimal diberikan kepada penulis 2. Saudari perempuan saya Bernadeta Dwiki Anggraeni yang telah memberikan doa, dukungan, dan motivasi yang kepada penulis. 3. Martinus Dwi Antoro S.Pd., terima kasih atas semangat, doa, dan dukungannya yang tidak pernah henti kepada penulis. viii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, rahmat, dan mukjizat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesikan skripsi yang berjudul “Jenis, Bentuk, dan Faktor Peyebab Campur Kode dalam Perbincangan Pengisi Acara “Ini Talkshow” di Net TV”. Skripsi ini disusun sebagai tugas akhir perkuliahan dan prasyarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan dukungannya baik secara langsung maupun tidak langsung dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa terimakasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; 2. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; 3. Dr. B. Widharyanto, M. Pd. terima kasih atas dukungan dan bimbingan yang diberikan kepada penulis; 4. A. Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. dan Septina Krismawati, S.S., M.A. yang telah berkenan menjadi dosen triangulator (validasi) penulis; ix

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Segenap dosen Program Studi Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mendidik dengan sepenuh hati; 6. Karyawan sekretariat Program Studi Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membatu dan melayani penulis dalam berbagai macam urusan administarsi baik akademik maupun nonakademik. 7. Kedua orang tua saya, BR. Yuliantoro dan V. Sri Sugiyanti yang telah memberikan semangat juga dukungan doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Keluarga besar IG. Sagiyo Siswoharjono dan PC. Suwondo Siswoharjono yang selalu mengingatkan, mendoakan, dan memberikan semangat untuk penulis agar dapat menyelesaikan skripsi. 9. Sahabat setia saya Enlelia Gismiyati S.Pd., terima kasih untuk semangat dan kerja samanya selama kuliah dan pengerjaan skripsi. 10. Teman-teman Riski Agus Heryanto, Elisabeth Inosensia Marlin, Johanes Bakti Indra Tama, Raden Gregorius A. W S.Pd., Agustinus Poga dan Patrisia Arum Puspaningtyas terima kasih semangatnya selama kuliah dan mendukung pengerjaan skripsi. 11. Seluruh teman-teman PBSI angkatan 2014 terima kasih atas dinamika bersama, keceriaan, dukungan, motivasi dan doa yang selalu dipanjatkan bersama. Semangat lulus. x

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan serta doa restu kepada penulis selama penyusunan skripsi. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mohon maaf apabila terjadi hal-hal yang menjadi kekurangan baik secara teknis maupun non-teknis dalam skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan terutama pada ilmu kebahasaan. Yogyakarta, 14 Januari 2019 Kristina Dewi Arta Setyaningrum xi

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Setyaningrum, Kristina Dewi Arta. 2018. Jenis, Bentuk, dan Faktor Penyebab Campur Kode dalam Perbincangan Pengisi Acara “Ini Talkshow” di Net TV. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, FKIP, USD. Masyarakat Indonesia termasuk masyarakat bilingual. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana masyarakat Indonesia berbicara di dalam kehidupan seharihari yang mencampur kedua bahasa ke dalam percakapan dengan lawan bicaranya. Campur kode dapat terjadi dimana saja salah satunya adalah media elektronik seperti televisi acara talkshow. Penelitian ini membahas mengenai jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode dalam perbincangan pengisi acara “Ini Talkshow” di Net TV. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis campur kode yang digunakan dalam perbincangan pengisi acara pengisi acara “Ini Talkshow” di Net TV, (2) mendeskripsikan bentuk campur kode yang digunakan dalam perbincangan pengisi acara pengisi acara “Ini Talkshow” di Net TV, dan (3) mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya campur kode yang digunakan dalam perbincangan pengisi acara pengisi acara “Ini Talkshow” di Net TV. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berupa perbincangan yang dilakukan oleh pengisi acara Ini Talkshow mendeskripsikan jenis campur kode yang digunakan dalam perbincangan pengisi acara pengisi acara “Ini Talkshow” di Net TV, dengan data berupa kata dan frasa. Total data keseluruhan berjumlah enam puluh tujuh data. Metode penyediaan data menggunakan metode simak, dan teknit catat. Untuk menganalisis data menggunakan teknik bagi unsur langsung dan teknik baca markah. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, peneliti menemukan jenis campur kode, yaitu (1) campur kode kedalam menggunakan bahasa daerah dan (2) campur kode keluar menggunakan bahasa asing. Kedua, peneliti menemukan bentuk campur kode, yaitu (1) kata dasar, (2) kata bentukan, (3) kata berimbuhan, (4) kata ulang dan (5) frasa. Ketiga, peneliti menemukan faktor penyebab campur kode yangdapat diklasifikasikan mejadi dua yaitu (1) dari segi penutur dan (2) dari segi kebahasaan. Segi penutur (a) Menggunakan bahasa Ibu bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris dan (b) penutur kaum terpelajar (c) Sekadar gengsi. Segi kebahasaan yang terbagi menjadi (a) Keterbatasan kode, (b) Istilah yang lebih populer, (c) Pembicara dan pribadi pembicara, (d) Mitra bicara, (e) Fungsi dan tujuan, dan (f) Membangkitkan rasa humor. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan pengetahuan mengenai jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode dalam perbincangan di televisi. Kata kunci: Campur kode, jenis campur kode, bentuk campur kode, dan faktor penyebab campur kode xii

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Setyaningrum, Kristina Dewi Arta. 2018. Types, Forms, and Causal Factors of Code Mixing in Guest Star’s Conversation at “Ini Talkshow” on Net TV. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language and Literature Education, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma University. Indonesian’s society is belong into bilingual’s society. It can be seen from the way the people make a conversation with other people. Code mixing can be happened in the electronic media television program. This research discusses about the types, forms, and causal factors of code mixing inside guest star’s conversation at “Ini Talkshow” on Net TV. The research goals are (1) describing the types of code mixing used inside guest stars’ conversation at “Ini Talkshow” on Net TV, (2) describing the forms of code mixing used inside guest stars’ conversation at “Ini Talkshow” on Net TV, and (3) describing the causal factors of code mixing used inside guest stars’ conversation at “Ini Talkshow” on Net TV. The research was included into descriptive qualitative research. The data sources taken were from the conversations performed by guest stars at “Ini Talkshow” on Net TV in the form of words and phrases. The researcher found sixty seven data in total. The researcher employed data providing technique such as reefer method and note method. In order to analyze the data, researcher used direct element distribution technique and marking reading technique. First result showed that the researcher found the kind of code mixing. (1) inner code mixing with local language, (2) outer code mixing with foreign language. Second result, the researcher found the shape of code mixing. (1) basic word, (2) formation word, (3) affixed word, (4) repeat word, and (5) phrase. The third result, the researcher found the causes that can be clasified into two parts. The first one was the speaker’s aspects. There were (a) using sundanese language, javanese language, and english. (b) educated speaker and (c) prestige. The second was the language aspects. There were (a) code limiitations, (b) popular terms, (c) the speakers and personal speakers, (d) partner of the speaker, (e) function and goal, (f) arouse a sense of humor. Moreover, this research can contribute and educate the audience about kind, shape, and the causes of code mixing in the conversation, especially in the television program. Key words: Causal factors of code mixing, Code mixing, Forms of code mixing, Types of code mixing xiii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii HALAMAN PENYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................. v MOTTO .......................................................................................................... vi HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vii KATA PENGANTAR ................................................................................... viii ABSTRAK ...................................................................................................... xi ABSTRACT ..................................................................................................... xii DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi DAFTAR ISTILAH ....................................................................................... xvii BAB I : PENDAHULUAN ............................................................................ 1 1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 5 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................ 5 1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................. 6 1.5 Batasan Istilah ...................................................................................... 7 1.6 Sistematika Penyajian .......................................................................... 8 BAB II : LANDASAN TEORI ..................................................................... 9 2.1 Pengertian Sosiolingustik ..................................................................... 9 2.2 Variasi Bahasa ...................................................................................... 10 2.3 Kedwibahasaan..................................................................................... 16 2.4 Peristiwa Tutur ..................................................................................... 18 2.5 Campur Kode ........................................................................................ 21 2.6 Jenis Campur Kode ............................................................................... 22 2.7 Bentuk Campur Kode............................................................................ 23 2.8 Faktor Penyebab Campur Kode .......................................................... 28 xiv

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.10 Ini Talkshow ...................................................................................... 34 2.11 Penelitian yang Relevan ..................................................................... 35 2. 12 Kerangka Berpikir ............................................................................. 36 BAB III : METODE PENELITIAN ............................................................ 38 3.1 Metode Penelitian ................................................................................... 38 3.2 Data dan Sumber Data .......................................................................... . 39 3.3 Teknik Pengumpulan Data ................................................. ................... 39 3.4 Instrumen Penelitian .............................................................................. 40 3.5 Teknik Analisis Data ............................................................................. 42 3.6 Triangulasi................................................................ ............................. 43 BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 46 4.1 Deskripsi Data ........................................................................................ 4.1.1 Jenis Campur Kode ...................................................................... 4.1.2 Bentuk Campur Kode ................................................................... 4.1.3 Faktor Penyebab Campur Kode .................................................... 4.2 Analisis Data .......................................................................................... 4.2.1 Jenis Campur Kode ...................................................................... 4.2.3 Bentuk Campur Kode .................................................................... 4.2.8 Faktor Penyebab Campur Kode ..................................................... 47 47 48 50 52 52 62 78 4.3 Catatan Triangulator ................................................................................ 95 4.4 Pembahasan ............................................................................................ 96 BAB V: PENUTUP ........................................................................................ 103 5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 103 5.2 Saran-saran ............................................................................................ 104 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 105 LAMPIRAN ................................................................................................... 107 xv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1: Kerangka Berpikir ....................................................................... xvi 37

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Jenis Campur Kode ke Dalam .......................................................... 47 Tabel 4.2 Jenis Campur Kode ke Luar ............................................................. 48 Tabel 4.3 Bentuk Campur Kode....................................................................... 48 Tabel 4.4 Faktor Penyebab Campur Kode ....................................................... 50 xvii

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISTILAH JCKD : Jenis Campur Kode ke Dalam JCKL : Jenis Campur Kode ke Luar BCKKD : Bentuk Campur Kode Kata Dasar BCKKBK: Bentuk Campur Kode Kata Bentukan BCKKB : Bentuk Campur Kode Kata Berimbuhan BCKKU : Bentuk Campur Kode Kata Ulang BCKF : Bentuk Campur Kode Frasa FCKSP : Faktor Campur Kode Segi Penutur FCKLP : Faktor Campur Kode Lebih Populer FCKSG : Faktor Campur Kode Sekadar Gengsi FCKKK : Faktor Campur Kode Keterbatasan Kode FCKPP : Faktor Campur Kode Pembicara dan Pribadi Pembicara FCKFT : Faktor Campur Kode Fungsi dan Tujuan FCKMH : Faktor Campur Kode Membangkitkan Humor FCKMB : Faktor Campur Kode Mitra Bicara xviii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat Indonesia termasuk masyarakat bilingual (menguasi dua bahasa atau lebih dengan baik) bahkan mulitilingual (mampu menguasai lebih dari dua bahasa), yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah bahkan bahasa asing (bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Arab, dan lain-lain). Menurut Rahardi (2010:6) bilingualisme adalah penguasaan dua bahasa, yakni bahasa pertama dan bahasa kedua. Hal ini menunjukan bahwa adanya percampuran bahasa. Jika masyarakat mampu menguasain kedua bahasa sekaligus hal tersebut dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari dalam berkomunikasi. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana masyarakat Indonesia berbicara di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menggunakan bahasa Indonesia tidak sedikit apabila pengguna mencampur kedua bahasa ke dalam percakapan dengan lawan bicaranya. Hal ini menjadikan masyarakat cenderung untuk memasukan pendapat dengan cara berbicara dalam bahasa yang berbeda, sehingga hal tersebut memunculkan suatu kasus campur kode di dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Masyarakat Indonesia yang sejatinya mempunyai bahasa lebih dari satu sangat sulit menggunakan satu bahasa. Saat sedang berinterksi dengan manusia lain, pada suatu keadaan akan ditemukan manusia mampu berbicara dengan lebih dari satu bahasa yang ada, dalam hal ini biasanya disebut dengan bilingual. 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Campur kode adalah jika dalam suatu peristiwa tutur klausa-klausa dan frasa-frasa yang digunakan terdiri dari klausa dan frasa campuran dan setiap klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri (Thelander dalam Chaer dan Agustina, 1995: 115). Campur kode dapat terjadi dimana saja dan bukan menjadi hal yang biasa digunakan oleh masyarakat dalam berkomunikasi. Di Indonesia campur kode sudah menjadi hal yang biasa dan sudah menjadi sebuah kewajiban di masyarakat, hal ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti: Di Kantor Pemerintaham, di sekolah, di kampus, di keluarga, di lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, maupun media cetak dan media elektronik. Salah satunya adalah media elektronik seperti televisi acara talkshow. Ini Talkshow adalah salah satu acara yang beragam penggunaan bahasanya. Acara Ini Talkshow di pandu oleh komedia ternama di Indonesia yaitu Sutisna atau lebih dikenal dengan nama panggungnya Sule dan beberapa pengisi acara lainnya, yakni Andre Taulani, Nunung, Maya Septa, Saswi, Dede. Dilihat dari beberapa pengisis acara tersebut bisa dilihat latar belakang mereka yang berbeda-beda, Sule yang bertugas memandu acara tersebut berasal dari Sunda seringkali menggunakan bahasa Sunda, ada pula Nunung yang beasal dari Jawa khususnya Solo sering menggunakan bahasa Jawa, dan masih banyak lagi pengisi acara yang lain berasal dari daerah yang berbeda. Tayangan Ini Talkshow selalu menghadirkan bintang tamu yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, sehingga hal tersebut memunculkan penggunaan bahasa daerah dan bahasa asing

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 dalam membawakan sebuah acara di televisi nasional yang di lihat seluruh lapisan orang yang ada di Indonesia. Ini Talkshow tayang setiap hari Senin  Jumat, pukul 19.00  21.00 WIB di Net TV. Acara ini Talkshow adalah acara yang sangat unik, khas, dan memiliki pengisi acara yang bertingkah lucu karena memiliki latar belakang komedian, masih sangat jarang ditemukan acara serupa di televisi Indonesia. Memalui lawakan para komedian Sule dan Andre yang bertugas sebagai pembawa acara yang menjadi pusat bagi para penonton, sebagai pembawa acara mereka dituntut supaya mampu berkomunikasi secara baik dengan bintang tamu dan para penonton yang ada di studio. Pembawa acara harus mampu berkomunikasi secara baik menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami oleh para bintang tamu. Para pengisi acara sudah menguasai bahasa daerah masing-masing. Bahasa daerah digunakan secara bergantian sehingga sangat memungkinkan terjadinya kedwibahasaan yang menimbulkan alih kode dan campur kode. Seringkali sule dan pengisi acara yang lain melakukan campur kode. Sering sekali sule dan pengisi acara yang lain melakukan alih bahasa. Seperti peralihan bahasa Indonesia ke bahasa daerah dan bahasa asing lainnya pada saat-saat tertentu. Peristiwaperistiwa tersebut berdasarkan oleh beberapa faktor-faktor tertentu. Perhatikan contoh campur kode yang terdapat dalam percakapan berikut ini. Sule :Kan mereka gak bisa berakting, kalau urusan berakting antagonis mah ini Valerie jagonya Claudia juga Saswi: Budgetnya gak masuk

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Penutur pada peristiwa tersebut adalah Sule dan Saswi. Topik yang dibicarakan adalah keinginan Saswi yang ingin membuat sebuah film, namun kebingungan mencari pemeran yang cocok, Sule memberikan saran bawa tamunya pintar berakting, namun Saswi menolak karena bayaran artis tersebut mahal tidak sesuai dengan uang yang disediakan saswi. Bahasa yang digunakan menggunakan bahasa yang santai. Selain menggunakan bahasa Indonesia Saswi adalah orang yang berasal dari Sunda, namun penutur tersebut sering menggunkan bahasa asing karena bahasa tersebut untuk sekedar gengsi didepan penonton bahwa Saswi pandai menggunakan bahasa asing sehingga Saswi melakukan campur kode. Campur kode yang yang terdapat pada peristiwa tutur tersebut terdapat pada tuturan Saswi. Saswi menyisipkan kata budget dari bahasa Inggris yang artinya anggaran belanja. Kata budget adalah kata dasar dari bahasa Inggris. Campur kode merupakan suatu kebiasaan dan faktor tuntutan peran yang di bawakan dalam penggunaan bahasa. Ada berbagai macam bentuk campur kode dalam interaksi pengisi acara Ini Talk Show. Sesuai dengan fungsi, tujuan, atau kepentingan masing masing 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, disusunlah dalam tiga rumusan masalah sebagai berikut: 1. Jenis campur kode apa saja yang terdapat dalam acara Ini Talkshow di NET TV ? 2. Bentuk campur kode apa saja yang terdapat dalam acara Ini Talkshow di NET TV ?

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya campur kode dalam acara Ini Talkshow di NET TV ? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut ini. 1. Mendeskripsikan jenis campur kode yang terdapat dalam acara Ini Talkshow di NET TV. 2. Mendeskripsikan bentuk campur kode yang terdapat dalam acara Ini Talkshow di NET TV 3. Mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya campur kode yang terdapat dalam acara Ini Talkshow di NET TV. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. 1. Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu berbahasa, khususnya dalam bidang sosiolingustik terutama yang berkaitan dengan campur kode yang terdapat di lingkup media pertelevisian Indonesia. 2. Manfaat Teoritis

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Penelitian ini memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu sosiolingustik yang berkaitan dengan komunikasi di masyarakat khususnya dalam campur kode. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang alih kode dan campur kode dalam studi sosiolingustik. 3. Manfaat pendidikan Bagi guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hasil penelitian ini menggambarkan fenomena campur kode yang termasuk dalam kesalahan berbahasa yang dapat menjadi referensi guru bahasa Indonesia untuk membandingkan penggunaan bahasa Indonesia yang benar dan yang salah dalam proses pembelajaran. Selain itu, program televisi dapat digunakan sebagai sumber belajar pada pembelajaran bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, guru harus paham mengenai fenomena kebahasaan yang terjadi supaya dapat membandingkan dan membenarkan pamakian bahasa Indonesia. 1.5 Batasan Istilah 1. Sosiolingustik Sosiolingustik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitakan dengan kondisi kemasyarakatan (dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi) menurut Sumarsono dan Paina 2002 : 1). 2. Variasi Bahasa

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Variasi bahasa mengemukakan dalam hal variasi terjadi sebagai akibat dari adanya keberagaman sosial dan keberagaman fungsi bahasa menurut Chaer dan Agustina (2004: 61) 3. Kedwibahasaan Kedwibahasaan diartikan sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih oleh penutur bahasa atau oleh suatu masyarakat bahasa. Kedwibahasaan adalah berkenaan dengan pemakaian dua bahasa oleh seseorang penutur dalam aktivitas sehari-hari. (Suandi, 2014: 13) 4. Campur kode Campur kode adalah percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu (Nababan, 1991: 32) 5. Ini Talkshow Ini Talkshow adalah satu acara yang belum lama mengudara di perindustrian televisi Indonesia. Acara tersebut memiliki konsep yang berbeda dengan talkshow yang disiarkan di Indonesia, acara yang memiliki konsep seperti di dalam sebuah rumah beserta para penghuninya yang memiliki latar belakang kebahasaan yang beraneka ragam, dengan konsep yang santai dan dipandu oleh pembawa acara yang lucu menurut Menurut Engrid Septa Reni (2017: 47 )

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 1.6 Sistematika Penyajian Sistematika penulisan penelitian ini terdiri dari beberapa bab. Karena hal ini memiliki tujuan untuk mempermudah pembaca dalam memahami penelitian ini. Bab satu adalah bab pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penelitian. Bab dua berisi tentang kajian pustaka. Bab ini berisi tentang tinjauan terhadap penelitian yang sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang saat ini sedang dilakukan oleh peneliti ini. Bab tiga adalah metodologi penelitian. Bab ini membahas seputar pendekatan penelitian, data, dan sumber data, metode dan teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data. Bab empat adalah deskripsi data, hasil penelitian, dan pembahasan penelitian. Pada bab ini dilakukan dengan deskripsi data, cara menganalisis data dan pembahasan hasil penelitian. Bab lima adalah penutup yang berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Pada bab lima ini juga berisi tentang daftar pustaka yang digunkana untuk penelitian ini dan terdapat lampiranlampiran.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Sosiolingustik Sosio adalah masyarakat, dan lingustik adalah kajian bahasa. Jadi, sosiolingustik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitakan dengan kondisi kemasyarakatan (dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi) menurut Sumarsono dan Paina 2002:1) rumusan yang dipaparkan di atas mengatakan bahawa bahasa didapatkan dan diperoleh dari kondisi masyarakatnya sendiri. Halliday (1970 dalam Sumarsono dan Paina, 2002: 2) menyebut sosiolingustik sebagai lingustik institusional (institutional linguistics), berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu (deals with the relation between a language and tehe people who use it). Sosiolingustik menyoroti keseluruhan masalah yang berhubungan dengan organisasi sosial perilaku bahasa, tidak hanya mencakup pemakian bahasa saja, melainkan juga sikap-sikap bahasa, perilaku terhadap bahasa dan pemakian bahasa. Dalam kajian sosiolingustik memang ada kemungkinan orang memulai dari masalah kemasyarakatan kemudian mengaitkan dengan bahasa, teteapi bisa pula berlaku sebaliknya: memulai dari bahasa kemudia mengaitkan dengan gejala-gejala kemasyarakatan. Appel (dalam Aslinda dan Leni, 2007: 6) memandang sosiolingustik bahasa sebagai sistem sosila dan sistem komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial terjadi dalam situasi kongkret. 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Sehingga dapat disimpulkan bahwa sosiolingustik adalah kajian bahasa yang dilihat dari tuturan masyarakat dalam berkomunikasi, karena masyarakat Indonesia terdiri dari bermacam-macam bahasa yang membuat tuturan yang terjadi menjadi memiliki berbagai macam. 2.2 Variasi Bahasa Pandangan sosiolingustik, bahasa tidak hanya dipandang sebagai gejala individu, tetapi merupakan gejala sosial. Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor lingustik, tetpai juga oleh faktor-faktor nonlingustik. Faktor nonlingustik yang mempengaruhi pemakaian bahasa, yaitu faktor-faktor sosial (status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan sebagainya). Faktor-faktor situasional menyangkut siapa pembicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Karena faktor-faktor di atas, maka timbul keanekaragaman bahasa yang dimiliki oleh seluruh umat manusia, atau biasa kita sebut variasi bahasa. Bahasa dalam praktiknya pemakaiannya, pada dasarnya memiliki bermacam-macam ragam. Chaer dan Agustina (2004: 61) mengemukakan dalam hal variasi terjadi sebagai akibat dari adanya keberagaman sosial dan keberagaman fungsi bahasa. Meskipun penutur itu berada dalam masyarakat tutur yang sama, namun bukan merupakan kumpulan manusia homogeny, maka wujud bahasa yang kongkret yang disebut parole menjadi tidak seragam atau variasi. Terjadinya keberagaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 tidak homogeny, tetapi juga karena kegiatan interksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam, Chaer dan Agustina (2004: 61) Dalam hal ini variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan, petama, variasi atau ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keberagaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi atau ragam bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keberagaman sosial dan keberagaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interkasi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam (Chaer dan Agustin, 2004: 62). Masyarakat bilingual atau multilingual yang memiliki latar belakang bahasa atau lebih harus memilih bahasa atau variasi bahasa mana yang akan digunakan dalam sebuah kondisi dan situasi yang ada. Hal tersebut terjadi dalam acara talkshow yang ada di televisi. Hal ini disebabkan oleh mayarakat Indonesia telah menguasai bahasa ibu (bahasa daerah) sebelum menguasai bahasa Indonesia, sehingga dari hal tersebut masyarakat Indonesia memiliki ragam bahasa yang bervariasi. Sejalan dengan hal tersebut, Mansoer Pateda (1987: 53-71) mengemukakan variasi bahasa dapat dibagi menjadi enam segi sebagai berikut. 1. Variasi Bahasa Dilihat dari Segi Tempat Setiap individu tidak bisa mengucapkan kata-kata semaunya. Karena bahasa memiliki batas-batas tertentu, tempat menjadi salah satu batas yang perlu diperhatikan. Tempat sebuah peristiwa bisa menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda sekalipun tujuan da partisipan yang dilibatkan sama.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 2. Variasi Bahasa Dilihat dari Segi Waktu Variasi bahasa berdasarkan waktu diistilahkan dengan kronolek atau dialek temporal. Variasi bahasa ini yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, sejarah perkembangan bahasa Indonesia pada masa tahun tisa puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada tahun ini. 3. Bariasi Bahasa Dilihat dari Segi Pemakaian Variasi bahasa dari segi pemakian adalah variasi bhasa yang bersifat individu yang berada pada satu tempat/wilayah atau rea tertentu. Pembagian variasi bahasa dari segi penutur meliputi idiolek, dialek, seks/jenis kelamin, dan usia. 4. Variasi Bahasa Dilihat dari Segi Pemakaiannya Variasi bahasa berkenaan dengan pemakian atau fungsinya disebut fungsiolek. Fungsiolek adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang tertentu. Misalnya jurnalistik, sastra, militer, perdagangan, dan sebagainya. 5. Variasi bahasa dilihat dari segi situasi Situasi atau suasana tuturan dapat memengaruhi pilihan ragam bahasa. Coulthard (1995 dalam Suandi, 2014: 59) menjelaskan bahwa pemilihan ragam bahasa pada suasana resmi cenderung menggunakan ragam formal, seperti ditempat rapat. Sesuai dengan namanya, ragam formal adalah ragam yang digunakan dalam situasi yang resmi, sedangkan ragam informal adalah ragam yang digunakan dalam situasi yang tidak

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 resmi. Ciri dari dua raga mini adalah tingkat kebakuan pada bahasa yang digunakan. Dengan demikina ragam resmi ditandai dengan pemakian unsur-unsur kebahasaan yang menunjukan tingkat kebakuannya yang tinggi. 6. Variasi bahasa dilihat dari segi statusnya Variasi bahasa juga dapat didasarkan pada status sosial seorang. Status sering ditentukan oleh keanggotaan kelas sosial, tingkat pendidikan, profesi, tingkat kebangsawanan, dan tingkat ekonomi. Sebagai sebuah langue sebuah bahasa mempunyai sistem dan subsistem yang dipahami sama oleh semua penutur bahasa itu. Namun, karena penutur bahasa tersebut, meski berada dalam mesyarakat tutur, tidak merupakan kumpulan manusia yang homogeny, maka wujud bahasa yang konkret, yang disebut parole, menjadi tidak seragam. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi (catatan: variasi sebagai padanan kata Inggris variety bukan variation). Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Dalam hal ini variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan. Pertama variasi atau ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi, variasi atau ragam bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Andaikata penutur bahasa itu adalah kelompok yang homogeny baik etnis, status sosial maupun lapangan pekerjaannya, maka variasi atau

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 keragaman itu tidak akan ada; artinya, bahasa itu menjadi seragam. Kedua,variasi atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interkasi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Chaer dan Agustin membagi variasi bahasa menjadi empat bagian yaitu, variasi dari segi penutur, variasi dari segi pemakaian, variasi dari segi keformalan, variasi dari segi sarana. 2.2.1 Variasi dari Segi Penutur Dalam variasi bahasa dari segi penutur ini memiliki berberapa macam ragam di dalamnya, keragamana ini langsung berkaitan dengan penuturnya. Ada empat variasi dari segi penuturnya yaitu, idiolek, dialek, kronolek, sosiolek. 1. Idiolek Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang memiliki ideolek sendiri. Variasi idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat. Sehinggal hal itu dapat digunakan untuk mengenali seseorang tanpa melihat wajahnya, karena sudah terdengar dari “warna” suaranya. 2. Dialek Dialek merupakan variasi bahasa dari kelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada tempat, wilayah, atau area tertentu. Karena dialek ini didasarkan pada wilayah atau area tempat tinggal penutur, maka dialek ini lazim di sebut dialek area, dialek regional, atau dialek gegrafi. Misalnya, bahasa Jawa dialek Banyumas memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan ciri yang dimiliki bahasa Jawa dialek Pekalongan, para penutur bahasa Jawa dialek Banyumas dapat

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 berkomunikasi dengan baik dengan para penutur bahasa Jawa dialek lainnya. Karena dialek-dialek tersebut masih termasuk bahasa yang sama, yaitu bahasa Jawa. 3. Kronolek Kronolek atau dialek temporal merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Umpamanya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluh, variasi yang digunkan tahun lima puluhan, dan variasi yang digunkan pada masa kini. Variasi pada ketiga zaman itu tentunya berbeda, baik dari segi lafal, ejaan, morfologi, maupun sintaksis. 4. Sosiolek Sosiolek atau dialek sosial merupakan variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Karena variasi ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kedewasaan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Berdasarkan usia, kita bisa melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh kanak-kanak, para remaja, orang dewasa, dan orang-orang yang tergolong lansia (=lanjut usia). 2.3 Kedwibahasaan Pada umumnya masyarakat Indonesia menggunakan bahasa lebih dari satu. Mereka menguasai dan mengenal bahasa pertama adalah bahasa “ibu” atau bahasa daerah, dan bahasa kedua yaitu bahasa Indonesia. Dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Indonesia secara bergantian menggunakan kedua bahasa

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 tersebut. Menurut Mackey (dalam Aslinda dan Leni 2007: 24) kedwibahasaan adalah alternative use of two language by the sane individual (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang). Kedwibahasaan adalah native like control of two languages (penguasaan yang sama baiknya terhadap dua bahasa) Blommfield (1958: 50 dalam Aslinda dan Leni 2007: 23). Berdasarkan teori yang sudah dijelaskan oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan dua bahasa dalam komunikasi termasuk dalam keadaan kedwibahasaan. Istilah bilingualism dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan kedwibahasaan. Dari istilah secara harafiah sudah dapat dipahami apa yang dimakasud dengan bilingualism itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolingustik secara umum, kedwibahasaan diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962: 12 dan fishman 1973: 73 dalam Chaer dan Agustina 2004: 84) Kedwibahasaan terbentuk karena adanya keberadaan masyarakat bahasa yang berarti masyarakat yang menggunakan bahasa yang dispakati sebagai alat komunikasi. Semakin tinggi pemakaian dua bahasa dalam kepentingan tertentu aspek fungsi tersebut dapat digunakan untuk mengukur penguasaan dua bahasa tersebut. Semakin tinggu tingkat pemakaian dua bahasa yang dimiliki akan semakin tinggi pula fungsi kedwibahasan yang dikuasai oleh seseorang. Meurut Hougen (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 86), “seseorang bilingual tidak perlu secara aktif menggunakan kedua bahasa itu tetapi cukup

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 kalau bisa memahami saja, selanjutnya dalam mempelajari bahasa kedua, apalagi bahasa asing, tidak dengan sendirinya akan memberi pengaruh terhadap bahasa aslinya”. Lagi pula seorang yang akan mempelajari bahasa asing, maka kemampuan bahasa asingnya atau B2-nya, akan selalu berada pada posisi di bawah penutur asli bahasa itu. Dapat disimpulkan bahwa kedwibahasaan adalah digunakan dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulan dengan orang lain secara bergantian, tentunya dalam seseorang tersebut haus menguasai kedua bahasa tersebut, bahasa pertam (B1) dan bahasa yang lain yang menjadi bahasa kedua (B2) hal tersebut dapat dikatakan orang yang mampu menggunakan kedua bahasa disebut sebagai bilingual. Contohnya ketika seorang pelajar atau mahasiswa yang memang penduduk asli Bali dan tentu fasih berbahasa Bali berbicara dengan temannya di sekolah atau di kampus saat tidak ada jam pelajaran atau perkulihan menggunakan bahasa Bali, tetapi saat Ia berada di ruang kelas atau situasi formal, yakni menggunakan dua bahasa sesuai konteks dan tidak mencampuradukan kedua bahasa itu. Jadi, seseorang bisa menempatkan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi, Suandi (2014: 16). 2.4 Peristiwa Tutur Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi lingustik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedang dan pembeli di

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi adalah sebuah peristiwa tutur. Dell Hymes (1972), seorang pakar sosiolingustik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Kedelapan komponen itu adalah (diangkat dari Wadhaugh 1990): S (= Setting and scene) P (= Participants) E (= Ends : purpose and goal) A (= Act sequences) K (= Key : tone or spirit of act) I (= Instrumentalities) N (= Norms of interaction and interpretation) G (= Ganres) Setting and scene. Di sisni setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara pada saat pertandingan bola dilapangan akan jauh berbeda saat berbicara di dalam perpustakaan. Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam tuturan, bisa pembicara dengan pendengar, penyapa, dan pesapa, atau pengirim dan penerima (pesan). Dua orang yang bercakap-cakap dapat diganti peran sebagai pembicara atau pendengar, tetapi dalam khotbah di masjid, khotip sebagai pembicara dan Jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara; namun, para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan si terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa si terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil. Act sequence, mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, dan hubungan anatara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu juga dengan isi yang dibicarakan. Key, mengacu pada nada, cara, dan semangat dimana suatu pesan disampaikan: dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengece, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukan dengan gerak tubuh dan isyarat. Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialek, ragam, atau register. Norms of interaction and interpretation, mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya. Dari yang dikemukakan Hymes itu dapat kita lihat betapa kompeksnya terjadinya peristiwa tutur yang kita lihat, atau kita alami sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari. Komponen tutur yang diajukan Hymes itu dalam rumusan lain tidak berbeda dengan yang oleh Fishman disebut sebagai pokok pembicaraan sosiolingustik, yaitu “who spek, what language, to whom, when, and what end”. 2.5 Campur Kode Seseorang yang menguasai banyak bahasa akan lebih banyak mempunyai kesempatan campur kode dalam berkomunikasi daripada seseorang yang hanya menguasai satu bahasa atau dua bahasa. Namun, tidak semua seseorang yang menguasai banyak bahasa akan melakukan campur kode. Campur kode atau code mixing adalah percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa itu (Nababan, 1991: 32). Menurut Thelander (dalam Chaer dan Agustina, 1995: 115) Campur kode adalah jika dalam suatu peristiwa tutur klausa-klausa dan frasa-frasa yang digunakan terdiri dari klausa dan frasa campuran dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri. Pendapat Thelander didukung oleh Fasold (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 115) yang mengatakan bahwa dapat dikatakan campur kode jika seseorang menggunakan satu kata atau satu frasa dari satu bahasa.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Menurut Nababan (1986: 32), ciri yang paling menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal. Berdasarkan definisi menurut beberapa pakar, dapat disimpulkan bahwa campur kode adalah penggunaan dua bahasa (varian) atau lebih dalam tindak tutur dengan penyusupan unsurunsurbahasa yang satu ke dalam yang lain, unsur itu berupa kata, frasa, atau klausa. Menurut Muysken, 2000 (dalam jurnal Yuliana, Nana dkk) campur kode dibagi menjadi tiga tipe yaitu: 1. Memasukan (kata atau frasa) adalah proses kode-mixing yang dipahami sebagai sesuatu yang mirip untuk meminjam: penyisipan asing leksikal atau phrasal kategori ke dalam struktur yang diberikan. 2. Pergiliran (klausa) itu terjadi antara klausa berarti bahwa pergantian digunakan ketika pembicara campuran nya bahasa dengan frasa 3. Dialek adalah pengaruh dialek dalam menggunakan bahasa. 2.6 Jenis-Jenis Campur Kode Berdasarkan asal unsur serapannya, campur kode dapat dibedakan menjadi tiga jenis menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke dalam (Inner code mixing), campur kode ke luar (outer kode mixing), dan campur kode campuran (hybrid kode mixing). 1. Campur kode ke dalam (Inner code mixing) Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kode tuturan bahasa Indonesia terdapat

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. 2. Campur kode ke luar (outer code mixing) Campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. 3. Campur kode campuran (hybrid code mixing) Campur kode campuran (hybrid code mixing) ialah campur kode yang di dalamnya (mungkin klausa atau kalimatnya) telah menyerap unsur bahasa asli (bahasa-bahasa daerah) dan bahasa asing. 2.7 Bentuk-Bentuk Campur Kode Menurut Jendra (dalam suandi 2014: 141) mengatakan bahwa campur kode juga bisa diklasifikasikan berdasarkan tingkat perangkat kebahasaan. Berdasarkan kategori tersebut campur kode juga dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu campur kode kata, frasa, dan klausa. Berdasarkan bentukbentuk yang dipaparkan oleh para ahli, peneliti mengacu bentuik campur kode yang telah dipaparkan oleh Jendra. Bentuk-bentuk tersebut adalah: 1. Campur kode para tataran kata Kata (KBBI) adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. Campur kode kata pada tataran kata merupakan campur kode yang paling banyak terjadi pada setiap bahasa. Campur kode

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 pada tataran kata bisa berwujud kata dasar (kata tunggal), bisa berupa kata kompleks, kata berulang, dan kata majemuk. Menurut bentuknya kata dapat dibagi menjadi 4 kategori. Empat kategori itu sebagai berikut: 1. Kata dasar Kata dasar adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks (Tarigan, 1985: 19 dalam Dewantara). Contohnya “main” dalam kata “bermain”, kata dasar “sandar” memperoleh afiks – menjadi “sandaraan”. 2. Kata berimbuhan Kata berimbuhan yaitu kata yang mengalami perubahan bentuk akibat melekatnya afiks (imbuhan) baik di awal (prefiks) ditengah (infiks), di akhir (sufiks). Prefiks adalah suatu unsur yang diletakan di depan kata dasar. Infiks adalah morfem diselipkan ditengah kata dasar. Sufiks adalah morfem terikat yang diletakkan dibelakang kata dasar, dalam Dewantara 2015: 29. Selain itu, menurut Nida (1946: 99) dalam Armin Sawari Banjarnahor bahasa inggris afiksasi terbagi menjadi dua yaitu afiksasi Afiks derivasi adalah afiks yang dilekatkan pada kata dasar untuk membentuk sebuah kata baru dan dapat mengubah makna, fungsi dan bentuk suatu kata sedangkan afiks infleksi tidak dapat membentuk kata baru dan hanya dapat mengubah makna dari kata. Secara distribusi afiks dalam bahasa Inggris dibagi atas prefiks dan

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 sufiks.Selain kata berimbuhan terdapat pula kata bentukan. Kata bentukan adalah kata yang terbuat dari dua kata dasar yang berbeda (English Language Education Study Program). 3. Kata Ulang Kata ulang adalah pengulangan satuan gramatik baik seluruhnya maupun sebagian, baik fonem mupun tidak (Ramlan, 1981: 83 dalam Dewantara). Pengulangan kata dapat dibagi menjadi empat, yaitu (1) kata ulang seluruh, yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar, seperti meja-meja, kursi-kursi, pohon-pohon, dan sebagainya; (2) kata ulang sebagaian, yaitu pengulangan sebagai dari bentuk dasarnya, seperti melambai-lambai, bernyanyi-nyanyi; (3) kata ulang kombinasi dengan afiks yaitu kata ulang dasar yang dikombinasi dengan afiks seperti, sepeda-sepedaan, mobilmobilan; (4) kata ulang perubahan fonem seperti bolak-balik, gerak-gerik, serba-serbi. 4. Kata Mejemuk Ramlan (2009: 76 dalam Dewantara) mengatakan bahwa kata majemuk adalah gabungan dua kata yang berimbuhan suatu kata baru. Kata yang terjadi gabungan dua kata itu lazim dengan kata majemuk. Misalnya rumah sakit, meja makan, kepala batu, keras hati, tangan panjang, mata kaki, dapat disimpulkan bahwa kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata sebagai unsurnya. Selain itu, Poedjosoedarmo, dkk (1979: 76) mengatakan bahwa dalam bahasa jawa kata benda dapat di klasifikasikan dalam beberapa cara

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 yaitu kata benda yang berwujud (konkret) sebab dapat diamati melalui pacaindra seperti macan. Kemudian, kata benda tidak berwujud (abstrak) karena tidak dapat diamati secara langsung, dan hanya bisa dijangkau dengan pikiran, seperti katentreman. 2. Campur Kode pada Tataran Frasa Frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat (Chaer, 2012: 222). Penyisipan frasa adalah penyisispan unsur frasa yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah yang masuk ke dalam tuturan yang menggunakan suatu bahasa pokok tertentu. Berikut ini adalah cintoh penyisipan unsur-unsur frasa. (1) Oh Q and A itu artinya question and answer Contoh pada nomor (1) question and answer merupakan bahasa Inggris yang masuk ke dalam bahasa pokok (nasional) yang berarti (tanya dan jawab) Menurut Suwito dalam Reni (2017: 38-41) bentuk campur kode terdiri atas berberapa bentuk. Berikut merupakan bentuk campur kode: 1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata Kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (KBBI Online). Orang yang menguasai dua bahasa (bilingual) sering melakukan percampuran kode dengan menyisipkan unsur-unsur bahasa lain dalam berkomunikasi berubah kata.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Perhatikan contoh bentuk campur kode berikut ini: 1) Andre: kalau gitu langsung opening dulu lah Sule : oh iya tidak usah opening kita langsung tanya aja penonton ini dari mana? Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata benda. Karena kata opening adalah kata kerja yang dikombinasikan dengan suffix –ing berubah kelas katanya menjadi noun atau kata benda. Setiap kata dalam bahasa Inggris jika diberi –ing pada akhir kalimat akan menjadi kata benda. 2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer 2012: 222). Frasa hanya terdiri dari subjek saja atau predikat saja sehingga tidak memenuhi syarat untuk menjadi sebuah kalimat. Kalimat harus terdiri atas subjek dan predikat. 3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata Perulangan adalah proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal, misalnya, batu-batu, bolak-balik, dan lain sebagainya (Kridalaksana, 2008: 193). Berikut ini adalah contoh penyisipan unsur berupa berualngan kata.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 2.8 Faktor-Faktor Penyebab Campur Kode Jendra (dalam Suandi, 2014: 142) latar belakang terjadinya campur kode pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu (1) peserta pembicara, (2) media bahasa yang digunakan, dan (3) tujuan pembicara. Ketiga hal tersebut masih dapat diperas lagi menjadi dua bagian pokok, misalnya peserta pembicara menjadi (1) penutur dan dua faktor yang lain, yaitu media bahasa dan tujuan pembicaraan disatukan menjadi (2) faktor kebahasaan. Kedua faktor tersebut saling berkaitan dan mengisi atau sama lain. 1. Faktor Penutur Seorang penutur yang berlatar belakang bahasa ibu bahasa Bali yang memiliki sikap bahasa yang positif dan kadar kesetiaan yang tinggi terhadap bahasa Bali bila ia berbicara bahasa Indonesia tentu akan terjadi campur kode ke dalam. Artinya, bahasa Indonesianya akan sering disisipi unsur bahasa Bali. Bisa juga karena ia kurang menguasai bahasa Indonesia dengan baik, maka bahasa Indonesia yang digunakannya sering tercampur dengan kode bahasa Bali atau ragam bahasa Indonesianya kurang tepat pada situasi. Contoh lain ditunjukkan ketika orang terpelajar sering kali memasukan kata-kata asing dalam tuturannya. Menurut Jendra dalam Suandi (2014: 142) faktor penyebab campur kode sekedar bergengsi termasuk dalam faktor kebahasaan, namun setelah peneliti mendalami pernyataan tersebut dan mendalami masalah yang ada dalam penelitian, peneliti memilih untuk memasukan faktor penyebab campur kode sekedar gengsi dari faktor kebahasaan ke faktor penutur.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Faktor penyebab campur kode sekedar gengsi berarti sebagai penutur ada yang melakukan campur kode sekedar untuk bergengsi. Hal ini terjadi apabila faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor-faktor sosiosituasional yang lain sebenarnya tidak mengharuskan penutur untuk melakukan campur kode atau dengan kata lain, naik fungsi kontekstualnya maupun situasi relevansialnya. 2. Faktor Kebahasaan Penutur dalam memakai bahasanya sering berusaha untuk mencampur bahasanya dengan kode bahasa lain untuk mempercepat penyampaian pesen. Adapun beberapa faktor kebahasaan yang menyebabkan campur kode diuraikan sebagai berikut: Satu hal yang menonjol dari campur kode adalah kesantaian atau dalam keadaan situasi informal. Namun, hal tersebut bukan menjadi hal utama terjadinya campur kode, karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa yang tidak ada persamaanya, sehingga hal tersebut terpaksa dalam menggunakan bahasa lain, walaupun memiliki fungsi yang sama. Menurut Jendra (dalam Suandi 2014: 143) faktor penyebab campur kode dapat berasal dari segi kebahasaan. Faktor kebahasaan mencangkup beberapa elemen kebahasaan yang terdapat pada proses percakapan yang mengakibatkan percampuran kode. Berikut ini faktor campur kode yang disebabkan oleh faktor kebahasaan.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 1. Keterbatasan Penggunaan Kode Faktor keterbatasan kode terjadi apabila penutur melakukan campur kode karena tidak mengerti padanan kata,frasa, atau klausa dalam bahasa dasar yang digunakannya. Campur kode karena faktor ini lebih dominan terjadi ketika penutur bertuturan dengan kode dasar BI dan BJ. 2. Penggunaan Istilah yang Lebih Populer Dalam kehidupan sosial, terdapat kosakata tertentu yang dinilai mempunyai padanan yang lebih popular. Seperti contoh di bawah ini: Kalau mau pakai yang original yang mahal, lagian juga paling-paling nggak ada yang jual dibontang. 3. Pembicara dan pribadi pembicara Pembicara terkadang sengaja melakukan campur kode terhadap mitra bahasa karena dia memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dipandang dari pribadi pembicara, ada berbagai maksud dan tujuan melakukan campur kode antara lain pembicara ingin mengubah situasi pembicaraan, yakni dari situasi formal yang terikat ruang dan waktu. Pembicara juga terkadang melakukan campur kode dari suatu bahasa ke bahasa lain karena faktor kebiasaan dan kesantaian. 4. Mitra bicara Mitra bicara dapat berupa individu atau kelompok. Dalam masyarakat bilingual, seorang pembicara yang mula-mula menggunakan satu bahasa dapat melakukan campur kode menggunkan bahasa lain dengan mitra bicara yang memiliki latar belakang yang sama.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 5. Modus pembicara Modus pembicara merupakan sarana yang digunakan untuk berbicra. Modus lisan (tatap muka, melalui telepon atau audio visual) lebih banyak menggunakan ragam nonformal dibandingkan dengan modus tulisan (surat dinas, surat kabar, buku ilmiah) yang biasanya menggunakan ragam formal. Dengan modus lisan sering terjadi campur kode dibandingkan dengan modus tulis. 6. Topik Campur kode dapat disebabkan karena faktor topik. Topik ilmiah disampaikan dengan menggunakan ragam formal. Topik nonilmiah disampaikan dengan “bebas” dan “santai” dengan menggunakan ragam nonformal. Dalam ragam nonformal terkadang terjadi “penyisipan” unsur bahasa lain, di samping itu topik pembicara nonilmiah (percakapan seharihari) menciptakan pembicaraan yang santai. Pembicara yang santai tersebutlah yang kemudian mendorong adanya campur kode. 7. Fungsi dan Tujuan Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaran didasarkan pada tujuan berkomunikasi, fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dnegan tujuan tertentu, seperti memerintah, menawarkan, mengumumkan, memarahi dan lain sebagainya. Pembicara menggunakan bahasa menurut fungsi yang dikehendaki sesuai dengan konteks dan situasi berkomunikasi. Campur kode dapet terjadi karena situasi dipandang tidak sesuai atau relevan. Dengan demikian, campur kode menunjukan

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasional yang relevan dalam pemakian dua bahasa atau lebih. 8. Ragam dan Tingkat Tutur Bahasa Pemilihan ragam dan tingkat tutur bahasa banyak didasarkan pertimbangan pada mitra bicara. Pertimbangan ini menunjukan suatu pendirian terhadap topik tertentu atau relevansi dengan situasi tertentu. Campur kode lebih sering muncul pada penggunakan ragam nonformal dan tuturan bahasa daerah jika di bandingkan dengan penggunaan ragam bahasa tinggi. 9. Hadirnya Penutur Ketiga Dua orang yang berasal dari etnis yang sama pada umumnya saling berinterkasi dengan bahasa kelompok etniknya. Tetapi apabila kemudian hadir orang ketiga dalam pembicaraan tersebut dan orang tersebut memiliki latar belakang kebahasaan yang berbeda, maka bisanya dua orang yang pertama beralih kode ke bahasa yang di kuasai oleh orang ketiga tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menetralisasi situasi dan sekaligus menghormati hadirnya orang ketiga. 10. Pokok pembicara Pokok pembicaraan atau topik merupakan faktor dominan menentukan terjadinya campur kode. Pokok pembicaraan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi golongan besar yaitu: a) Pokok pembicaraan yang bersifat formal b) Pokok pembicaraan yang bersifat informal.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 11. Untuk Membangkitkan Rasa Humor Campur kode sering dimanfaatkan pemimpin rapat untuk menghadapi ketegangan yang mulai timbul dalam memecahkan masalah atau kelesuan karena telah cukup lama bertukar pikiran, sehingga memerlukan rasa humor. Bagi pelawak hal tersebut berfungsi untuk membuat penonton merasa senang dan puas. Menurut Nababan (1991: 32) faktor penyebab terjadinya campur kode dapat dilihat dari kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal., jarang terdapat campur kode. Kalau terdapat campur kode dalam, keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing, dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak mirng atau menggaris bawahi kata/ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Kadangkadang terdapat juga campur kode ini bisa pembicara ingin memamerkan kemampuan berbahasa lain. Menurut Nababan dalam Dewantara (2015) campur kode dapat terjadi karena beberapa hal. Berikut ini faktor penyebab campur kode. 1. Penutur dan mitra tutur sedang dalam situasi yang santai 2. Pembicara/penutur ingin memamerkan keterpelajarannya 3. Tidak ada bahasa yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing. Menurut beberapa pakar bahasa dalam Weisenbergh (2003) dalam Syahrestani (2011). Berikut ini tiga alasan seseorang melakukan campur kode:

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 1. Untuk menandai anggota suatu kelompok tertentu (Myers-Scotton, 1993: Gumperz dan Hernandez, 1978). 2. Ketidakmampuan untuk mencari padanan kata atau ekspresi kata dalam suatu bahasa (Scotton, 1979). 3. Hubungan suatu bahasa adegan topik yang dibicarakan (Lance, 1979) 2.9 Ini Talkshow Ini Talkshow adalah program talk show masa kini yang menghadirkan tamu- tamu yang seru, unik dan menginspirasi. Program ini mengambil latar belakang rumah dengan interkasi para karakter-karakter yang ada di dalam rumah tersebut sehingga menjadikan sebuah tayangan yang menghibur dan penuh kejutan. Ini Talkshow didukung oleh Sule sebagai host, Andre Taulany sebagai Consultanthost, Sas Widjanarko sebagai Om nya sule, Maya Septha sebagai Asisten Rumah Tangga, Nunung sebagai tetangga, Haji Bolot sebagai Pak RT, dan para pemeran top lainnya. Menurut Engrid Septa Reni (2017: 47 ) Acara ini memiliki konsep yang hampir sama dengan acara yang ditayangkan di Colors salah satu saluran televisi yang ada di negara India yaitu acara Comedy Night with Kapil. Ini talkshow sudah mendaptkan ijin dari produksi Comedy Night with Kapil untuk dapat ditayangkan di Indonesia dengan nama yang berbeda. Di Indonesia acara serupa juga perna ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta acara tersebut bernama PAS Mantap yang ditayangkan di Trans 7. Ini Talkshow ditayangkan setiap hari senin sampai jumat, hampir semua tayanganya adalah live dengan durasi dua jam setiap pukul 19.00-21.00 WIB. Konsep syuting acara ini dimulai pada tanggal 23 Maret

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 2014 dan mengudara mulai tanggal 29 Maret 2014, maka dari itu tanggal 29 Maret 2014 dijadikan hari lahirnya Ini Talkshow, acara ini masih sangat aksis hingga saat ini, karena konsep yang sangat menghibur dan di tambah pengisi acara yang memiliki tingkat humoris yang tinggi sehingga acara tersebut tidak membosankan. 2.10 Penelitian yang Relevan Penelitian yang terdahulu masih relevan untuk dilaksanakan oleh peneliti sekarang ini sebagai berikut. Penelitian pertama dilakukan Fajar Prasetya yang berjudul “Campur Kode dalam Rubrik Pikiran Pembaca Surat Kabar harian Kedaulatan Rakyat Bulan Oktober 2011”. Penelitian ini membahas tentang faktor penyebab campur kode yang terdapat dalam rubrik Pikiran Pembaca surat kabar Kedaulatan Rakyat. Kedua, dilakukan oleh Sinung Lebda Wisesa Sunarwan yang berjudul “Campur Kode dalam Iklan Majalah Hai Edisi Januari-Agustus 2008 Dilihat dari Asal Bahasa dan Satuan Lingual”. Skripsi ini membahas tentang jenis dan bentuk campur kode yang sering muncul dalam iklan majalah HAI terbitan Januari-Agustus 2008. Penelitian pertama dapat di simpulkan bahwa dalam rubrik Pikiran Pembaca faktor penyebab campur kode berupa faktor pribadi pembicara, mitra bicara, topik, fungsi dan tujuan, ragam dan tingkat tutur bahasa, pokok pembicara, dan gengsi. Penelitain kedua dapat disimpulkan bahwa campur kode dalam iklan majalah HAI jenis dan bentuk. Jenis campur kode yang terdapat dalam iklan majalah HAI jenis campur kode yang ditemukan adalah jenis campur kode ke

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 dalam dan campur kode ke luar. bahasa yang digunakan di dalam campur kode ke dalam adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dialek Jakarta, sedangkan bahasa yang digunakan dalam gejala campur kode ke luar adalah bahasa Inggris. Unsur tercampur yang berasal dari bahasa Inggris merupakan undur yang paling banyak ditemukan. Bentuk campur kode yang tedapat penelitian tersebut terdapat penyisipan kata, frasa, dan klausa. Unsur tercampur paling sering terjadi pada tataran kata berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaanya, yaitu baik penelitian ini maupun penelitian yang telah disebutkan mendeskripsikan tentang jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode. Perbedaan penelitian ini dengan yang disebutkan yaitu penelitian yang disebutkan menggunakan majalah dan surat kabar dan penelitian ini menggunakan jejaring sosial Youtube. 2.11 Kerangka berpikir Penelitian ini berfokus pada tiga hal, yakni (1) jenis campur kode, (2) bentuk-bentuk campur kode, dan (3)faktor-faktor penyebab campur kode. Untuk itu, peneliti menggunakan beberapa teori sebagai dasar untuk pengumpulan data, analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini. Secara garis besar kerangka berpikir digambarkan dalam 2.1 berikut.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Jenis campur kode Jendra (dalam Suandi (2014:139) Campur kode ke dalam P E R Campur kode ke luar B I Jenis, Bentuk, dan Faktor Penyebab Campur Kode Bentuk campur kode Jendra (dalam Suandi, 2014:141) dan Suwito (dalam Reni, 2017: 38-41) Faktor penyebab campur kode Jendra (dalam Suandi, 2014:141) Kata Dasar N C Kata Bentukan Kata berimbuhan A N G Kata Ulang A N Frasa N Segi Penutur E T Segi Kebahasaan T V 1. Keterbatasan penggunaan kode 2. Penggunaan istilah popular 3. Pembicara dan pribadi pembicara 4. Mitra bicara 5. Fungsi dan tujuan 6. Membangkitkan rasa humor Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelituan misalnya perilaku, persepsi, bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2006: 6). Suharsimi Arikunto (2003: 310 dalam Prastowo 2014: 186) menegaskan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala, dan keadaan. Metode deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan jalan menganalisis data yang sudah dikumpulkan berupa kata-kata lisan (ujaran) langsung dari objek yang diamati (Moleong, 2006: 6). Penelitian ini bersifat deskriptif karena penelitian ini menggambarkan sebuah peristiwa kebahasaan berupa campur kode dalam acara Ini Talk show. Data campur kode ini berupa kata dan frasa yang dilakukan oleh pengisi acara ini Ini Talk show dalam perbincangan di acara tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan jenis campur kode, bentuk campur kode, dan faktor yang penyebab terjadinya gejala campur kode dalam acara Ini Talk show disalah satu stasiun televisi terbaru di Indonesia yaitu NET TV. 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 3.2 Data dan Sumber Data Menurut Loflan (dalam Moleong 2011: 157), data dalam penelitian deskriptif kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Data dalam penelitian ini berupa kalimat yang mengandung kata dan frasa yang berasal dari tuturan yang terjadi pada perbincangan pengisi acara Ini Talkshow di Net TV. Sumber data penelitian ini adalah acara Ini Talkshow di Net TV. Sumber data diperoleh dengan cara mengunduh tayangan Ini Talkshow melalui Youtube. Ini Talkshow tayang setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 19.00  21.00 WIB. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah teknik simak dan teknik catat. Teknik simak digunakan untuk memperoleh data dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik catat adalah teknik yang selanjutnya dilakukan setelah teknik simak itu dilakukan menurut Mahsun (2005: 90-91). Objek penelitian ini adalah fenomena campur kode serta faktor-faktor penyebab campur kode dalam acara Ini Talkshow. Peneliti menyimak dan mecermati perbincangan yang dilakukan oleh seluruh pengisi acara Ini Talkshow dari situ peneliti mencatat gejala campur kode yang terjadi dalam perbicangan yang dilakukan oleh pengisi acara Ini Talkshow. Setelah proses menyimak peneliti membutuhkan rekaman data berupa catatan, teknik yang akan dilakukan adalah catat. Catatan yang digunakan adalah catatan deskriptif, catatan deskriptif adalah menguraikan mengenai apa yang

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 disimak, dilihat, selama peneliti mengumpulkan data. Peneliti mencatat perbincangan yang terdapat campur kode dalam acara Ini Talkshow. Peneliti menggunakan kamus Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, dan Bahasa sunda untuk membuktikan campur kode. Selain itu untuk mempermudah klasifikasi data dan analisis data, dalam proses pencatatan ini peneliti menggunakan kode sesuai rumusan masalah. Kode untuk jenis campur kode mengunakan JCKD/5518/1 (Jenis Campur Kode ke Dalam/ tanggal tayang/ nomor urut), kode untuk bentuk campur kode mengunakan BCK/E1/5518 (Bentuk Campur Kode/tanggal tayang/ nomor urut), kode untuk faktor campur kode mengunakan FCK/5518 (Faktor Campur Kode/ tanggal tayang/ nomor urut). 3.5 Instrumen Penelitian Penelitian adalah human instrument. Artinya peneliti bertugas sebagai perencana, pengumpul data, analis, hingga menyajikan hasil penelitian. Peneliti menggunakan tabel-tabel sebagai alat untuk mengumpulkan data. Berikut ini adalah tabel yang digunakan peneliti sebagai instrument pengumbulan data. Tabel 3.3.1 Instrumen Pengambilan Data Bentuk Campur Kode Bentuk Campur Kode Keterangan No Kode Dasar Berimbuhan ulang Bentukan 1. Frasa

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Tabel data 3.3.1 merupakan tabel yang digunakan sebagai instrumen untuk mengumpulkan data dan klasifikasi data berupa bentuk kata campur kode dalam acara Ini Talkshow episode tahun 2017-2018. Tabel 3.3.2 Instrumen Pengambilan Data Jenis Campur Kode Jenis Campur Kode No. Kode Keterangan Kedalam Keluar Campuran 1. 2. Tabel data 3.3.2 merupakan tabel yang digunakan sebagai instrumen untuk mengumpulkan data dan klasifikasi data berupa jenis campur kode dalam acara Ini Talkshow episode tahun 2017-2018 Tabel 3.3.3 Instrumen Pengambilan Data Faktor Campur Kode Faktor Penyebab No. Kode Faktor Faktor Penutur Kebahasaan Keterangan

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Tabel data 3.3.3 merupakan tabel yang digunakan sebagai instrumen untuk mengumpulkan data dan klasifikasi data berupa faktor penyebab gejala campur kode dalam acara Ini Talkshow episode tahun 2017-2018. 2.1 Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul, data-data ini diklasifikasikan berdasarkan jenis, bentuk, dan faktor penyebab terjadinya campur kode. Data yang sudah diklasifikasikan lalu diberi kode. Selanjutnya, pada data yang sudah diklasifikasikan dan diberi kode dilakukan analisis. Peneliti menggunakan teknik bagi unsur langsung untuk menentukan bentuk campur kode. Menurut Mastoyo (2007: 55), teknik bagi unsur langsung adalah teknik analisis data dengan cara membagi suatu konstruksi menjadi beberapa bagian atau unsur dan bagian-bagian atau unsur-unsur yang langsung membentuk konstruksi yang dimaksud. Selain itu, Peneliti juga menggunakan teknik baca markah pada analisis jenis dan faktor penyebab campur kode. Menurut Mastoyo (2007: 66) teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara “membaca pemarkah” dalam suatu konstruksi. Peneliti menggunakan tanda “i” untuk memberikan markah pada analisis jenis campur ke dalam kode dan tanda “ii” untuk memberikan markah pada jenis campur kode ke luar. Peneliti menggunakan tanda “iii” untuk memberikan markah pada anlisis faktor penyebab campur kode.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 3.6 Triangulasi Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong 2006: 330). Peneliti melakukan tabulasi data campur kode dan mengklasifikasikan serta mendeskripsikan data berdasarkan jenis, bentuk, dan faktor dalam tabel data. Data yang sudah diklasifikasikan dan dideskripsikan tersebut kemudian akan di-rechek oleh dosen triangulator. Triangulasi dilakukan oleh A. Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. Dosen triangulator akan membaca dan mencermati data selanjutnya trianggulator juga membaca dan mengomentari hasil analisis data yang disajikan peneliti dengan cara memberikan tanda centang pada kolom “Ya” jika data yang diklasifikasikan dan dideskripsikan benar, dan memberukan tanda centang pada kolom “Tidak” jika data yang diklasifikasikan dan dideskripsikan belum tepat. Triangulasi digunakan untuk membandingkan dan mengecek balik derajat keterpercayaan suatu informasi dari data yang sudah diklasifikasikan dan dideskripsikan oleh peneliti. Dosen triangulator akan memberikan masukkan pada kolom keterangan apabila ada hal- hal yang perlu diperhatikan atau menjadi catatan bagi peneliti.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung kata dan frasa campur kode yang terdapat dalam tuturan pengisi acara Ini Talkshow. Data dikumpulkan selama Januari 2017 sampai Juni 2018. Data dikumpulkan menggunakan teknik simak dan teknik catat menurut Sudaryanto (2005: 90-91). Data terkumpul berjumlah enam puluh tujuh data. Data penelitian ini diklasifikasikan berdasarkan jenis, bentuk, dan faktor campur kode yang terdapat dalam tuturan perbincangan pengisi acara Ini Talkshow. 4.1.1 Deskripsi Jenis campur kode dalam Tuturan Pengisi Acara Ini Talkshow Berikut ini merupakan contoh data jenis campur kode ke dalam yang disajikan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Jenis Campur Kode ke dalam No 1. 2. 3. 4. 5. Data Kode Ya ngomong, kamu kalau ngomong ini kolu. Bojo kok di bagi-bagi. Hoo katanya kelindes sepur. Ya engak, Cuma rumah saya mepet ini, karena tulisannya terlalu gedhe jadi gandengan. Aduh Ndre jangan di habisin, nanti keburu seep. JCKD/1117/1 JCKD/15117/2 JCKD/21317/4 JCKD/18417/5 JCKD/3618/21 Data jenis campur kode ke dalam yang di beri kode JCKD/1117/1 sampai dengan JCKD/3618/21 disajikan pada lampiran halaman seratus 43 enam.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Berikut ini merupakah contoh data jenis campur kode ke luar yang disajikan pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Jenis campur kode ke luar No Data . 1. Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi…. 2. Buat om Firman nih, selama main di PERSIB, yang paling berkesan itu saat bertemu dengan team mana ? Kode JCKL/8 1017/32 JCKL/2 11017/3 4 3. Kang saya mau nanya nih, berbagi pengalaman, kang JCKL/5 emil kan dulu basic nya adalah seorang arsitek design 118/45 terus jadi ke wali kota itu gimana ceritanya itu kang ? 4. Budget saya gak masuk. 5. Nih gua asih tau ada videonya nih gua save kemarin gua JCKL/1 download 8118/51 JCKL/9 118/49 Data jenis campur kode ke luar yang di beri kode JCKL/1117/1 sampai dengan JCKL/6618/46 disajikan pada lampiran halaman seratus tujuh. 4.1.2 Deskripsi Bentuk campur kode dalam Tuturan Pengisi Acara Ini Talkshow Berikut ini disajikan contoh data bentuk campur kode yang disajikan pada Tabel 4.3. Tabel 4.3 Bentuk campur kode yang diperoleh dari tuturan pengisi acara ini talkshow No 1. Gaya yang snake 2. Data kode BCKKD/25117 /5 Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin BCKKD/81017 yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 3. aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang /6 jadi… …dan dia ini sebagai icon di animal fashion, ini tina BCKKD/19118 mau ngajak kerjasama untuk sandal jepit /34 4. Di siarkan langsung dari studio satu Jakarta kita sambut BCKKD/12418 host paling kece Sule dan Andre ! /35 5. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah raga terus BCKKD/18118 yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana- /30 mana selalu yoga, benar ya ? 6. aku beli online… 7. …aku kepengen pakai baju backless, yang belakangnya BCKKBK/211 bukaan. 17/44 8. kalau dulu mah update status kayak anak-anak alay BCKKBK/241 galau-galau gitu, sekarang digunakan untuk 117/45 menginformasikan kegiatan pemkot menjawab pertanyaan-pertanyaan. 9. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah raga terus BCKKBK/181 yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana- 18/47 mana selalu yoga, benar ya ? 10. Kalau gitu langsung opening dulu lah 11. Saya dulu tukang megawe gitu… BCKKBK/121 117/43 BCKKB/12117 /48 BCKKB/15117 /49 12. Dan Agnes ini orangnya sangat fashionable. Nah ini kan kebetulan Agnes sangat jago dalam hal fashion, pakiannya itu oke-oke lah… 13. Gua lagi dengerin orang pada meeting. BCKKB/20517 /53 14. Ini denger-denger ANYE mau nyari designer ? BCKKB/20517 /55 15. Offair-offair itu masih ? BCKKU/13418 /61 BCKF/20517/6 2 16. Besok ini, jadi memang saya ada surprise project yang memang selama ini kita enggak ngomong-ngomongin tiba-tiba aja gitu, seru aja gitu kan ngeget-ngegetin orang. 17. sek to mas nangisku belum selesai. BCKKB/20517 /54 BCKF/12418/6

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 4 18. Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main film BCKF/3618/65 juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu ? 19. Insiprasinya sih bisa dari mana aja ya, dari personal BCKF/3618/66 inspiration aku sendiri… 20. Ohhh Q and A itu question and answer. BCKF/3618/67 Data yang lain, yakni yang di beri kode BCKKD/1117/1 sampai BCKF/3618/67 disajikan dalam lampiran halaman seratus sepuluh. 4.1.3 Desripsi Data Faktor Penyebab Campur Kode dalam Tuturan Pengisi Acara Ini Talkshow Berikut ini merupakan contoh data faktor penyebab campur kode yang diambil dari tuturan pengisi acara Ini Talkshow. Data yang ditemukan berjumlah enam puluh tujuh data. Berikut disajikan contoh-contoh data faktor penyebab campur kode. Tabel 4.4 Data Faktor Penyebab Campur Kode N0. 1. Data Ya ngomong, kamu kalau ngomong ini kolu. 2. Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang Konteks Situasi O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Sumatra Barat (Padang) Situasi malam hari. Acara tersebut bercanda ingin memberikan penghargaan kepada bintang tamu yang telah datang ke acara Ini talkshow selama satu tahun kemarin. O1 meminta untuk O2 membuka dan membacakan kategori yang akan dibacakan, namun O1 dan O2 dalam membacakan sedikit dengan nada bercandaan karena O1 dan O2 dituntut untuk menghibur para penonton dari kelucuannya. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jawa Tengah (Megelang) O1 bertanya kepada O2 tentang awal menjadi pemijat sapi yang sakit, suasana santai penuh tawa, karena dilakukan dengan canda dan tawa karena situasi bukan situasi yang formal. Penutur sudah Kode FCKS P/111 7/1 FCKS P/151 17/2

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 3. punya sapi pincang lalu disuru mijiti. …kota banyak, tiap pulang ke kota kelahiran kan saya lahir di Bandung suka sedih kan banyak problem pilihannya antara saya happy berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba… 4. aku beli online, aku kepengen pakai baju backless, yang belakangnya bukaan 5. Gua lagi dengerin orang pada meeting. 6. Belum, tapi aku bulan depan aku emm dapat film dan semoga aku main first film. 7. …salah tanggung satu jawab 50 tahun dan tinggal di desa, sering menggunakan bahasa daerah dari pada bahasa Indonesia. O1: Sumatra Barat (Padang) O2: Jawa Barat (Sunda) Situasi yang ditampilkan adalah situasi malam hari. O1 menanyakan bagaimana O2 mampu memimpin kota Bandung sedangkan latar belakang bukan dari ilmu pemerintahan namun dari arsitektur, dan O2 menjawab dengan serius, dan tujuan tersebut menjadi sangat penting dan serius karena didalamnya di masukan ilmu-ilmu agama yang O2 anut, hal itu ditunjukan dengan tekanan-tekanan dalam setiap kata yang diujarkan oleh O2. O1: Jawa Tengah (Solo) O2: Sumatra Barat (Padang) O1 merasa tertipu dengan barang-barang yang dibeli di media sosial, menggunakan kata-kata tersebut karena penutur dan lawan tutur lebih memahami bahasa dari bahasa asing. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta (Betawi) O1 menanyakan kepada O2, mengapa menggunakan pakaian yang rapi, O2 yang sedang bepakaian rapi tidak seperti biasanya bergaya ingin menunjukan eksistensinya di depan O1, karena O2 baru pulang dari mengikuti seminar yang berisi pengusaha-penguasaha kaya. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Australia Pada acara tersebut situasi malam hari. O1 sedang bertanya kepada O2 tentang karier di Indonesia, O2 berasal dari Australia yang memiliki keturunan Indonesia dan mendapat tawaran untuk kerja di Indonesia sebagai pemain film, O2 melakukan campur kode karena kehabisan kode dalam bahasa Indonesia sehingga O2 mencampur kode ke dalam bahasa Inggris. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta FCKS P/511 8/15 FCKL P/121 117/3 2 FCKS G/205 17/48 FCKK K/121 17/51 FCKP P/205

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 aku sebagai orang yang bekerja di under spot light untuk bisa menggunakan performance untuk mengingatkan orang-orang… Gaya yang snake O2 merupakan orang yang terpelajar dan 17/53 bekerja di dunia musik dunia yang sering berkomunikasi dengan orang-orang asing. 9. Saya gak tau, tiba-tiba ada aja dia, ngomongnya aja masih muda mbak, umurnya berapa mas? “Sweet.. sewitdak” FCK MH/1 6118/ 63 10. Bojo kok di bagibagi. 8. O1: Sumatra Barat (Padang) O2: Jawa Barat (Sunda) O1 ingin menanyakan kepada O2 gaya andalan penyanyi rocker yang sedang diperankan. O1 mengingkan O2 yang berperan sebagai penyanyi rocker luar negeri untuk mempraktekkan gaya andalan, penyanyi yang diperankan berasal dari luar negeri yang memperkenalkan goyang snake. O1: Jawa Tengah (Solo) O2: Jawa Barat (Sunda) O1 bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi dijalan, tiba-tiba ada yang mendekati, saat sedang dijalan dan mengajak berkenalan saat ditanya umurnya berapa menjawabnya dengan bercanda, O1 merasa takut jika diikuti sampai rumah, karena hal tersebut O1 melapor kepada O2 orang yang dianggap bisa melindungi. O1: Jawa Timur (Malang) O2: Jawa Barat (Sunda) O3: Jawa Tengah (Solo) Suasana pada saat malam hari, O1 ingin bercanda dengan istri yang diperankan nunung O3, karena O3 mengetahui bahwa O1 juga mengerti bahasa Jawa sehingga O3 menggunakan bahasa Jawa. FCKF T/251 17/58 FCK MB/5 118/6 6 Data yang lain, yakni yang di beri kode FCKSP/1117/1 sampai FCKMB/5118/67 disajikan dalam lampiran halaman seratus empat belas.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 4.2 Analisis Data Peneliti melakukan analisis data jenis, bentuk, dan faktor campur kode dalam acara Ini Talkshow. Peneliti menggunakan teknik baca markah dan teknik bagi unsur langsung (Mastoyo 2007: 66) untuk menganalisis data campur kode dalam acara Ini Talkshow. Teknik baca markah digunakan untuk menganalisis data jenis campur kode dan faktor penyebab campur kode. Teknik bagi unsur langsung digunakan untuk menganalisis bentuk campur kode. Berikut ini disajikan uraian secara lengkap proses analisis jenis, bentuk, dan faktor campur kode dalam acara Ini Talkshow. 4.2.1 Analisis Jenis Campur kode Ke dalam Proses analisis data jenis campur kode melalui beberapa tahap. Tahap pertama, data diklasifikasikan menjadi dua yaitu data campur kode ke dalam dan data campur kode keluar. Tahap kedua, data tersebut di beri kode sesuai dengan jenis, tanggal tayang, dan nomor urut. Tahap ketiga, data yang telah diidentifikasi jenis campur kodenya dan di beri tanda “i”. Tahap keempat, selanjutnya dilakukan teknik baca markah dari kamus untuk mengetahui arti kata dalam bahasa Indonesia. Menurut Mastoyo (2007: 66) teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara “membaca pemarkah” dalam suatu konstruksi. Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode ke dalam. (1) Tulus : Ngomong ! Nunung : Yaa ngomong, kamu kalau ngomong ini ikolu. Tukul : Sudahlah, habis empat saya! (JCKD/1117/01) (2) Tarzan : Kamu goda anakku ? Sule : Iyaaa Pak, tapi…

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Tarzan : Gak boleh, ini ambil Nunung : iBojo kok di bagi-bagi.(JCKD/15117/02) Pada data (1) terdapat campur kode berupa kata kolu. Kata kolu dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata kolu pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke dalam. Kedua, setelah diklasifikasikan di beri kode (JCKD/1117/01). Ketiga, pada kata kolu di beri tanda “i” untuk menunjukan kata tersebut termasuk dalam campur kode. Kata ikolu merupakan jenis campur kode kedalam karena menggunakan bahasa jawa. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Suandi (2014: 140-141) yang mengatakan bahwa campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata kolu mempunyai arti tertelan menurut (Poerwadarminta, 1939) Oleh karena itu itu dapat disimpulkan bahwa data (1) berupa kata kolu merupakan jenis campur kode dalam. Pada data (2) terdapat campur kode berupa kata bojo. Kata bojo dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata bojo pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke dalam karena menggunakan bahasa Jawa. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKD/15117/02. Ketiga, setelah di beri tanda ibojo, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 140-141) yang mengatakan bahwa campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. kata bojo termasuk jenis campur kode ke dalam yaitu dari bahasa Jawa. Keempat,

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata bojo mempunyai arti istri atau suami menurut (Poerwadarminta, 1939) Oleh karena itu itu dapat disimpulkan bahwa data (2) berupa kata bojo merupakan jenis campur kode dalam. Selanjutnya, berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode ke dalam pada nomor 3, dan 4. (3) Andre : Cari siapa ? Nunung : Kakek Andre : Kakeknya hilang ? Nunung : Hoo katanya ikelindes sepur Andre : Wahhh berarti sudah meninggal dong Nunung :Tapi aku gak percaya, karena aku belum lihat sendiri, mudah-mudahan sih iya. Andre : Wahhh ya jangan dong, ngomong-ngomong kakeknya ciri-cirinya gimana ? Nunung : Dah tua! Andre : Kalau kakek ya pasti tua, mukanya kotak, terus ada rambutnya putih semua, gak ada yang item. (JCKD21317/4) (4) Sule : Kenapa kamu pasang iklan? Nunung : Loh saya mau jual rumah saya Sule : Nah berarti ini rumah kamu dong Nunung : Ya engak, Cuma rumah saya mepet ini, karena tulisanya terlalu igedhe jadi gandengan! (JCKD/18417/5) Pada data (3) terdapat campur kode berupa kata kelindes sepur. Kata kelindes sepur dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata kelindes sepur pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke dalam karena menggunakan bahasa Jawa. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 (JCKD/21317/04). Ketiga, setelah di beri tanda ikelindes sepur, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 140-141) yang mengatakan bahwa campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Kelindes sepur termasuk jenis campur kode ke dalam yaitu dari bahasa Jawa. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata kelindes sepur mempunyai arti terinjak kereta api kata serapan dari bahasa Belanda spoor yang berarti perlintasan kereta api. (Poerwadarminta, 1939) Oleh karena itu itu dapat disimpulkan bahwa data (3) berupa kata kelindes sepur merupakan jenis campur kode dalam. Pada data (4) terdapat campur kode berupa kata gedhe. Kata gedhe dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata gedhe pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke dalam karena menggunakan bahasa Jawa. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKD/18417/5). Ketiga, setelah di beri tanda igedhe, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 140-141) yang mengatakan bahwa campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Kata Gedhe termasuk jenis campur kode ke dalam yaitu dari bahasa Jawa. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata gedhe mempunyai arti besar menurut kamus bahasa Jawa (Poerwadarminta, 1939) Oleh karena itu itu dapat disimpulkan bahwa data (4) berupa kata gedhe merupakan jenis campur kode dalam.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode ke dalam pada nomor 5. (5) Andre : Aduh mang ini enak banget ! Saswi : Aduh Ndre jangan di habisin, nanti keburu (JCKD/3618/5) i seep. Pada data (5) terdapat campur kode berupa kata seep. Kata seep dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata seep pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke dalam karena menggunakan bahasa Sunda. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKD/3618/5). Ketiga, setelah di beri tanda iseep, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 140-141) yang mengatakan bahwa campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Kata seep termasuk jenis campur kode ke dalam yaitu dari bahasa Sunda. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata seep mempunyai arti habis menurut Kamus lengkap bahasa Sunda (2013: 260). Oleh karena itu itu dapat disimpulkan bahwa data (5) berupa kata seep merupakan jenis campur kode dalam. Data (1), (2), (3), (4), dan (5) di atas merupakan sampel analisis dari data jenis campur kode kedalam. Masih terdapat delapan data. Data jenis campur kode kedalam di beri kode JCKD 1 sampai dengan JCKD 21. Berikut ini merupakan Tabel 4.16 yang berisi jenis campur kode ke dalam. Yang juga ditemukan dari data tuturan Ini Talkshow.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Tabel 4.16 Data yang Mengandung Jenis Campur Kode No Campur kode 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Wetan Cengengesan Teyengen Unclub Gandengan Sewitdak Londot Mamang Jenis campur kode ke dalam         Asal Bahasa Bahasa Jawa Bahasa Jawa Bahasa Jawa Bahasa Sunda Bahasa Jawa Bahasa Jawa Bahasa Jawa Bahasa Sunda Kode JCKD/17118/14 JCKD/19118/17 JCKD/15117/03 JCKD/15118/11 JCKD/18417/06 JCKD/16118/12 JCKD/28417/07 JCKD/5118/08 4.2.2 Analisis Campur Kode Ke Luar Proses analisis data jenis campur kode melalui beberapa tahap. Tahap pertama, data diklasifikasikan menjadi dua yaitu data campur kode ke dalam dan data campur kode keluar. Tahap kedua, data tersebut di beri kode sesuai dengan jenis, tanggal tayang, dan nomor urut. Tahap ketiga, data yang telah diidentifikasi jenis campur kodenya dan di beri tanda “i”. Tahap keempat, selanjutnya dilakukan teknik baca markah dari kamus untuk mengetahui arti kata dalam bahasa Indonesia. Menurut Mastoyo (2007: 66) teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara “membaca pemarkah” dalam suatu konstruksi. Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode ke luar. (6) Sule: Mas Tama pertama membangun Net ini apa sih yang pertama mas Tama bayangkan sebelum Net seperti sekarang ini, yang baru-baru ini kan Net banyak mendapatkan penghargaan ? Tama: Sebenernya iisimple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi, kita tu jangan sampai ketinggalan kita harus membuat sebuah terobosan baru dalam hal pertelevisian ini sehingga kita bisa selangkah lebih

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 maju ke depan dan jangan lupa kita harus disiplin, “kalau lo mau sukses lo harus disiplin dan nol kesalahan. (JCKL/81017/1) (7) Sule : Buat om Firman nih, selama main di PERSIB, yang paling berkesan itu saat bertemu dengan iiteam mana ? Firman : Paling berkesan kalau derbia, team derbi PERSIB dengan AREMA, PERSIB dengan PERSIJA Jakarta, itu membangun adrenalin menjadi lebih enjoy dan lebih figth di lapangan. (JCKL/211017/2) Pada data (6) terdapat campur kode berupa kata simple. Kata simple dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata simple pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke luar karena menggunakan bahasa Inggris. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKL/81017/1). Ketiga, setelah di beri tanda iisimple, dilakukan baca markah dari teori Suandi (2014: 140-141) bahwa campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing. Kata simple termasuk jenis campur kode ke luar yaitu dari bahasa Inggris. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata simple mempunyai arti sederhana menurut (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (6) berupa kata simple merupakan jenis campur kode luar. Pada data (7) terdapat campur kode berupa kata team. Kata team dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata team pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke luar karena menggunakan bahasa Inggris. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKL/211017/2). Ketiga setelah di beri

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 tanda iiteam, dilakukan baca markah dari teori Suandi (2014: 140-141) bahwa campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing.. Kata team termasuk jenis campur kode ke luar yaitu dari bahasa Inggris. keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata team mempunyai arti regu menurut (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (7) berupa kata team merupakan jenis campur kode luar. Selanjutnya, Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode ke luar pada nomor 8. (8) Andre : Kang saya mau nanya nih, berbagi pengalaman, kang emil kan dulu iibasic nya adalah seorang arsitek design terus jadi ke wali kota itu gimana ceritanya itu kang ? Ridwal Kamil :… ibu saya menasihati itu sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bnayak manfaatnya untuk orang lain, nasihat yang datang dari hadis itulah yang membuat saya menjadi semangat, jangan-jangan. (JCKL/5118/3) Pada data (8) terdapat campur kode berupa kata basic. Kata basic dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata basic pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke luar karena menggunakan bahasa Inggris. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKL/5118/3). Ketiga, setelah di beri tanda iibasic, dilakukan baca markah dari teori Suandi (2014: 140-141) bahwa campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing. Kata basic termasuk jenis campur kode ke luar yaitu dari bahasa Inggris. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata basic mempunyai arti dasar/utama menurut

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (8) berupa kata basic merupakan jenis campur kode luar. Selanjutnya, Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode ke luar pada nomor 9 dan 10. (9) Sule :Kan mereka gak bisa berakting, kalau urusan berakting antagonis mah ini Valerie jagonya Claudia juga Saswi : iiBudget saya gak masuk. (JCKL/9118/4) (10) Sule :Nih De ada cerita lagi viral di omongin sama orang-orang bahkan dia tuh bahagia sekarang, tapi waktu dia menikah itu mantannya datang bahkan dia tuh sampai pingsan Dede : Pak, jangan ngomongin mantan. Aci : Waa alergi denger kata mantan Lagak kamu Dede :Emang di suru di gitu Sule :Nih gua kasih tau ada videonya nih aku save kemarin aku download Dede :Baru di iisave sekarang ? kan kemarin downloadnya Sule :Kan di savenya sekarang terserah aku. (18118/JCKL/5) Pada data (9) terdapat campur kode berupa kata budget. Kata budget dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata budget pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke luar karena menggunakan bahasa Inggris. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKL/9118/4). Ketiga, setelah di beri tanda iibudget, dilakukan baca markah dari teori Suandi (2014: 140-141) bahwa campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing.. Kata budget termasuk jenis campur kode ke luar yaitu dari bahasa Inggris. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata budget mempunyai arti anggaran menurut

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (74 berupa kata budget merupakan jenis campur kode luar. Pada data (10) terdapat campur kode berupa kata save. Kata save dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata save pertama diklasifikasikan ke dalam tabel jenis campur kode ke luar karena menggunakan bahasa Inggris. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (JCKL/25117/5). Ketiga, setelah di beri tanda iisave, dilakukan baca markah dari teori Suandi (2014: 140-141) bahwa campur kode ke luar (outer code mixing) adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing. Kata save termasuk jenis campur kode ke luar yaitu dari bahasa Inggris. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata save mempunyai arti menyimpan menurut (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (10) berupa kata save merupakan jenis campur kode luar. Data (6), (7), (8), (9), dan (10) di atas merupakan sampel analisis dari data jenis campur kode keluar, data yang lainya dapat di lihat dalam lampiran. Data jenis campur kode keluar di beri kode JCKL 22 sampai dengan JCKL 67. Berikut ini merupakan beberapa jenis campur kode ke luar. Tabel 4.17 Sampel Analisis Jenis Campur Kode Ke Luar No. 1. 2. 3. Campur Kode Voice of the year Opening First Jenis Campur Kode Ke Luar    Asal Bahasa Kode Bahasa Inggris JCKL/1117/22 Bahasa Inggris JCKL/12117/23 Bahasa Inggris JCKL/12117/24

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 5. 6. 7. 8. 9. Snake Speechless Fashionable Surprise project Meeting      Bahasa Inggris Bahasa Inggris Bahasa Inggris Bahasa Inggris Bahasa Inggris JCKL/ 25117/25 JCKL/12517/26 JCKL/20517/27 JCKL/20517/28 JCKL/20517/29 4.2.3 Analisis Bentuk Campur Kode Kata Dasar Kata dasar adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks (Tarigan, dalam Dewantara 2015: 29). Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang di dalamnya mengandung data campur kode penyisipan kata dasar. Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data bentuk kata dasar campur kode pada nomor 11 dan 12. (11) Andre : Ini saya suka banget ya sama gayanya Axel ya. Sule : Iya terima kasih Andre : Gaya yang snake. (BCKKD/25117/5) (12) Sule Tama : Mas Tama pertama membangun Net ini apa sih yang pertama mas Tama bayangkan sebelum Net seperti sekarang ini, yang baru-baru ini kan Net banyak mendapatkan penghargaan ? : Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi, kita tu jangan sampai ketinggalan kita harus membuat sebuah terobosan baru dalam hal pertelevisian ini sehingga kita bisa selangkah lebih maju ke depan dan jangan lupa kita harus disiplin, “kalau lo mau sukses lo harus disiplin dan nol kesalahan. (BCKKD/81017/6) Pada data (11) terdapat campur kode berupa kata snake. Kata snake merupakan bentuk kata dasar yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 245). Data kata snake diklasifikasikan kedalam bentuk kata dasar. Data kata snake di berikan kode (BCKKD/25117/5).

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Data kata snake dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Data kata snake dibagi menjadi dua unsur kata yaitu unsur kata sna + unsur kata ke. Kata sna sebagai unsur kata pertama dan ke sebagai unsur kata kedua sehingga jika digabungkan menjadi kata snake yang memiliki dua unsur kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Keraf (1980: 56) yang mengatakan bahwa kata dasar pada umumnya terjadi atau memiliki dua suku kata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata snake merupakan bentuk kata dasar. Pada data (12) terdapat campur kode berupa kata simple. Kata simple merupakan bentuk kata dasar yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata simple diklasifikasikan kedalam bentuk kata dasar. Data kata snake di berikan kode (BCKKD/81017/6). Data kata snake dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Data kata simple dibagi menjadi dua unsur kata yaitu unsur kata sim+ unsur kata ple. Kata sim sebagai unsur kata pertama dan ple sebagai unsur kata kedua sehingga jika digabungkan menjadi kata simple yang memiliki dua unsur kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Keraf (1980: 56) yang mengatakan bahwa kata dasar pada umumnya terjadi atau memiliki dua suku kata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata simple merupakan bentuk kata dasar. Selanjutnya, berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data bentuk kata dasar campur kode pada nomor 13, 14 dan 15. (13) Andre : Jimmy ini kan terkenal sebagai perancang baju terbaik di dunia, jimmy saya lihat penampilannya unik sekali ya, dan dia ini sebagai icon di animal fashion, ini tina mau ngajak kerjasama untuk sandal jepit

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Sule : Ini saya bawa macem-macem sandal ya. Tina : Wahhh keren banget. (BCKKD/19118/38) (14) Yujeng : Di panggil lagi ! Pemain musik : Di siarkan langsung dari studio satu Jakarta kita sambut host paling kece Sule dan Andre! (BCKKD/12418/39) (15) Sule : Lama banget gak ke sini ? Andre : Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di manamana selalu yoga, benar ya ? Sofia : Iya lumayan Andre : Lagi foto-foto ya Sule : Ada yang saya liat di Instagram pakek baju merah celana bunga-bunga gitu, saya sering liat instagramnya cuma dia yang gak sering liat Instagram saya. (BCKKD/18118/34) Pada data (13) terdapat campur kode berupa kata icon. Kata icon merupakan bentuk kata dasar yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata icon diklasifikasikan kedalam bentuk kata dasar. Data kata icon di berikan kode (BCKKD/19118/38). Data kata icon dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Data kata icon dibagi menjadi dua unsur kata yaitu unsur kata i+ unsur kata con. Kata i sebagai unsur kata pertama dan con sebagai unsur kata kedua sehingga jika digabungkan menjadi kata icon yang memiliki dua unsur kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Keraf (1980: 56) yang mengatakan bahwa kata dasar pada umumnya terjadi atau memiliki dua suku kata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata icon merupakan bentuk kata dasar. Pada data (14) terdapat campur kode berupa kata host. Kata host merupakan bentuk kata dasar yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata host diklasifikasikan kedalam

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 bentuk kata dasar. Data kata host di berikan kode (BCKKD/12418/39). Data kata host dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Data kata host dibagi menjadi dua unsur kata yaitu unsur kata ho+ unsur kata st. Kata ho sebagai unsur kata pertama dan st sebagai unsur kata kedua sehingga jika digabungkan menjadi kata host yang memiliki dua unsur kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Keraf (1980: 56) yang mengatakan bahwa kata dasar pada umumnya terjadi atau memiliki dua suku kata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata host merupakan bentuk kata dasar. Pada data (15) terdapat campur kode berupa kata follow. Kata follow merupakan bentuk kata dasar yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata follow diklasifikasikan kedalam bentuk kata dasar. Data kata follow di berikan kode (BCKKD/18118/34). Data kata follow dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Data kata follow dibagi menjadi dua unsur kata yaitu unsur kata fol+ unsur kata low. Kata fol sebagai unsur kata pertama dan low sebagai unsur kata kedua sehingga jika digabungkan menjadi kata follow yang memiliki dua unsur kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Keraf (1980: 56) yang mengatakan bahwa kata dasar pada umumnya terjadi atau memiliki dua suku kata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata follow merupakan bentuk kata dasar. Data (11), (12), (13), (14), dan (15) di atas merupakan sampel analisis dari data bentuk campur kode berupa kata dasar yang terdapat dalam lampiran. Data bentuk campur kode kata dasar di beri kode BDJK 1 sampai dengan BDJK 46.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Tabel 4.18 Sampel Analisis Campur Kode Bentuk Kata Dasar No . Campur Kode 1. Kolu Bentuk Campur Kode Kata Dasar  2. First 3. Asal Kata Kode Bahasa Jawa BCKKD/1117/1  Bahasa Inggris BCKKD/121172 Sepur  Bahasa Jawa BCKKD/21317/3 4. Gedhe  Bahasa Jawa BCKKD/28417/4 5. Snake  Bahasa Inggris BCKKD/25117/5 6. Simple  Bahasa Inggris BCKKD/81017/6 7. Quote  Bahasa Inggris BCKKD/81017/7 8. Team  Bahasa Inggris BCKKD/211017/8 4.2.4 Bentuk Campur Kode Kata Bentukan. Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode bentuk kata bentukkan pada nomor 16, 17, 18 dan 19. (16) Nunung: aku kena tipu mas. Andre : kena tipu sama siapa ? Nunung : aku beli online, aku kepengen pakai baju backless, yang belakangnya bukaan. (BCKKBK/121117/43) (17) Nunung : aku kena tipu mas. Andre : kena tipu sama siapa ? Nunung : aku beli online, aku kepengen pakai baju backless, yang belakangnya bukaan. (BCKKBK/121117/44) (18) Sule :masih eksis di twitter, saya sering baca. Ridwan kamil : saya ini anak twitter yang kebetulan jadi walikota, jadi gak akan berhentu main di sosial media, cuman berubah kalau dulu mah update status kayak anak-anak alay galau-galau gitu,

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 sekarang digunakan untuk menginformasikan kegiatan pemkot menjawab pertanyaan-pertanyaan. (BCKKBK/121117/45) (19) Sule : Lama banget gak kesini ? Andre : Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana-mana selalu yoga, benar ya ? Sofia : Iya lumayan Andre : Lagi foto-foto ya. Sule : Ada yang saya liat di Instagram pakek baju merah celana bungabunga gitu, saya sering liat instagramnya cuma dia yang gak sering liat Instagram saya. (BCKKBK/121117/47) Pada data (16) terdapat campur kode berupa kata online. Kata online merupakan bentuk kata bentukan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata online diklasifikasikan kedalam bentuk kata bentukan. Data kata online di berikan kode (BCKKBK/121117/43). Data kata online dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung kata online dapat dibagi menjadi dua unsur kata yaitu unsur kata on yang berati pada (kata depan) + unsur kata line yang berarti sambungan ke sistem telepon (kata benda), kedua unsur kata ini memiliki arti sendiri-sendiri tetapi ketika digabungkan membentuk kata online arti pada sambungan ke sistem telepon, dari kata depan dan kata benda setelah digabungkan menjadi kata keterangan. Kata bentukan adalah kata yang terbuat dari dua kata dasar yang berbeda (English Language Education Study Program). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata online merupakan bentuk kata bentukan. Pada data (17) terdapat campur kode berupa kata backless. Kata backless merupakan bentuk kata bentukan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto,

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata backless diklasifikasikan kedalam bentuk kata bentukan. Data kata backless di berikan kode (BCKKBK/121117/44). Data kata backless dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Kata backless dibagi menjadi dua unsur kata yaitu back yang berarti punggung (kata keterangan)+ less yang berarti tidak mempunyai (kata benda), kedua unsur kata ini memliki arti sendiri-sendiri tetapi ketika digabungkan membentuk kata backless yang berarti model baju dengan punggung terbuka atau model baju yang tidak mempunyai bagian belakang (kata sifat). Kata bentukan adalah kata yang terbuat dari dua kata dasar yang berbeda (English Language Education Study Program). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata backless merupakan bentuk kata bentukan. Pada data (18) terdapat campur kode berupa kata update. Kata update merupakan bentuk kata bentukan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata update diklasifikasikan kedalam bentuk kata bentukan. Data kata update di berikan kode (BCKKBK/121117/45). Data kata upate dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Kata update dapat dibagi menjadi dua unsur kata yaitu up yang berarti naik (kata keterangan) + date yang berarti tanggal, kedua unsur kata ini memliki arti sendiri-sendiri tetapi ketika digabungkan membentuk kata update yang berarti memperbaharui. Kata bentukan adalah kata yang terbuat dari dua kata dasar yang berbeda (English Language Education Study Program). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata update merupakan bentuk kata bentukan.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Pada data (19) terdapat campur kode berupa kata outdoor. Kata outdoor merupakan bentuk kata bentukan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata outdoor diklasifikasikan kedalam bentuk kata bentukan. Data kata outdoor di berikan kode (BCKKBK/121117/47). Data kata outdoor dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Kata outdoor dibagi menjadi dua unsur kata yaitu out yang berarti keluar + door yang berarti pintu, kedua unsur kata ini memliki arti sendiri-sendiri tetapi ketika digabungkan membentuk kata outdoor yang berarti di luar pintu Kata bentukan adalah kata yang terbuat dari dua kata dasar yang berbeda (English Language Education Study Program). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata update merupakan bentuk kata bentukan. 4.2.5 Bentuk Campur Kode Penyisipan Kata Berimbuhan Kata berimbuhan yaitu kata yang mengalami perubahan bentuk akibat melekatnya afiks (imbuhan) baik di awal (prefiks) ditengah (infiks), di akhir (sufiks). Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang di dalamnya mengandung data campur kode penyisipan kata berimbuhan. (20) Andre : Kalau gitu langsung opening dulu lah Sule : Oh iya tidak usah opening kita langsung tanya aja penonton ini dari mana? (BCKKB/12117/47) (21) Sule : Pak ini bagaimana awalnya kok kepikiran untuk menjadi orang yang memijit sapi ? idenya darimana ? Yasmudi : Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang punya sapi pincang lalu disuru mijiti. (BCKKB/15117/48) Pada data (20) terdapat campur kode berupa kata opening. Kata opening merupakan bentuk kata berimbuhan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto,

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata opening diklasifikasikan kedalam bentuk kata berimbuhan. Data kata opening di berikan kode (BCKKB/12117/47). Data kata opening dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung yaitu open + ing. Kata open sebagai bentuk kata kerja yang mendapat sufiks ing sebagai imbuhannya sehingga digabungkan menjadi kata opening berubah menjadi gerund atau kata benda. Afiks derivasi adalah afiks yang dilekatkan pada kata dasar untuk membentuk sebuah kata baru dan dapat mengubah makna, fungsi dan bentuk suatu kata (Banjarnahor, 2017) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata opening merupakan bentuk kata berimbuhan. Pada data (21) terdapat campur kode berupa kata megawe. Kata megawe merupakan bentuk kata berimbuhan yang berasal dari bahasa Jawa (Poerwadarminta, 1939). Data kata megawe diklasifikasikan kedalam bentuk kata berimbuhan. Data kata megawe di berikan kode (BCKKB/15117/48). Data kata megawe dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. . Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung yaitu me + gawe. Kata gawe sebagai bentuk kata dasar yang mendapat prefiks me sebagai imbuhannya sehingga jika digabungkan menjadi kata megawe. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata megawe merupakan bentuk kata berimbuhan. Selanjutnya, berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode bentuk kata berimbuhan pada nomor 22, 23, dan 24.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 : Dan Agnes ini orangnya sangat fashionable. Nah ini kan kebetulan Agnes sangat jago dalam hal fashion, pakiannya itu oke-oke lah, ini saya, ada beberapa foto saya, saya minta dikasih masukanlah, kira-kira saya cocoknya pakai apa ?” Agnes : Owh begitu, oke-oke. Boleh-boleh (BCKKB/20517/52) (23) Sule : Dari mana Pak Rt? Pak RT :Gua lagi dengerin orang pada meeting.(BCKKB/20517/53) (22) Sule (24) Saswi : Ini denger-denger ANYE mau nyari designer ? Agnes : Owh pantesan, gayanya begitu. (BCKKB/20517/54) Pada data (22) terdapat campur kode berupa kata fashionable. Kata fashionable merupakan bentuk kata berimbuhan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata fashionable diklasifikasikan kedalam bentuk kata berimbuhan. Data kata opening di berikan kode (BCKKB/20517/52). Data kata fashionable dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung yaitu fashion + able. Kata fashionable sebagai bentuk kata benda yang mendapat sufiks able sebagai imbuhannya sehingga digabungkan menjadi kata fashionable berubah menjadi kata sifat. Afiks derivasi adalah afiks yang dilekatkan pada kata dasar untuk membentuk sebuah kata baru dan dapat mengubah makna, fungsi dan bentuk suatu kata (Banjarnahor, 2017) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata fashionable merupakan bentuk kata berimbuhan. Pada data (23) terdapat campur kode berupa kata meeting. Kata meeting merupakan bentuk kata berimbuhan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata meeting diklasifikasikan kedalam bentuk kata berimbuhan. Data kata opening di berikan kode

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 (BCKKB/20517/53). Data kata meeting dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung yaitu meet + ing. Kata meet sebagai bentuk kata kerja yang mendapat sufiks ing sebagai imbuhannya sehingga digabungkan menjadi kata meeting berubah menjadi gerund atau kata benda. Afiks derivasi adalah afiks yang dilekatkan pada kata dasar untuk membentuk sebuah kata baru dan dapat mengubah makna, fungsi dan bentuk suatu kata (Banjarnahor, 2017) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata meeting merupakan bentuk kata berimbuhan. Pada data (24) terdapat campur kode berupa kata designer. Kata designer merupakan bentuk kata berimbuhan yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata designer diklasifikasikan kedalam bentuk kata berimbuhan. Data kata designer di berikan kode (BCKKB/20517/54). Data kata designer dapat diketahui sebagi bentuk kata dasar menggunakan teknik bagi unsur langsung. Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung yaitu design + er. Kata design sebagai bentuk kata benda yang mendapat sufiks er sebagai imbuhannya sehingga digabungkan menjadi kata designer tetap menjadi kata benda. Afiks derivasi adalah afiks yang dilekatkan pada kata dasar untuk membentuk sebuah kata baru dan dapat mengubah makna, fungsi dan bentuk suatu kata (Banjarnahor, 2017) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata designer merupakan bentuk kata berimbuhan. Data (20), (214), (22), (23), dan (24) di atas merupakan sampel analisis dari data bentuk campur kode berupa kata berimbuhan. Data bentuk campur kode

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 kata berimbuhan di beri kode BCKKB 47 sampai dengan BCKKB 60 yang terdapat pada lampiran. Berikut ini Tabel yang berisi sampel bentuk campur kode kata berimbuhan. Tabel 4.19 Sampel Analisis Campur Kode Bentuk Kata Berimbuhan No. Campur Kode Bentuk Campur Asal Bahasa Kode Kata Berimbuhan Bahasa Inggris  Bahasa Jawa  Kode BCKKB/12117/47 BCKKB/15117/48 1. 2 Opening Megawe 3. Dilakoke  Bahasa Jawa BCKKB/15117/49 4. Gandengan  Bahasa Jawa BCKKB/28417/50 5. Speechless  Bahasa Inggris BCKKB/12517/51 6.  Bahasa Inggris BCKKB/20517/52 7. Fashionabl e Meeting  Bahasa Inggris BCKKB/20517/53 8. Designer  Bahasa Inggris BCKKB/20517/54 4.2.6 Analisi Bentuk Campur Kode Penyisipan Kata Ulang Kata ulang adalah pengulangan satuan gramatik baik seluruhnya maupun sebagian, baik fonem mupun tidak (Ramlan, dalam Dewantara 2015: 30). Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang di dalamnya mengandung data campur kode penyisipan kata ulang. (25) Sule : Bahkan sampai kolaborasi bikin sigle juga ya ? Ashanty : Ya sesibuk apapun mas Anang kita tetep ngeluarin lagu gitu, karna kan awal mulanya ketemunya duet dari nyanyi jadi sampai sekarang pun pengen terus berkarya, karna kita masih weekend masih sering ada show gitu! Sule : Offair-offair itu masih ? Ashanty : Iya Alhamdulilah kan kita masih dapat rejeki dari situ. (BCKKU/13418/61)

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Pada data (25) terdapat campur kode berupa kata offair-offair. Kata offairoffair merupakan bentuk kata ulang yang berasal dari bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 242). Data kata offair-offair diklasifikasikan kedalam bentuk kata ulang. Data kata opening di berikan kode (BCKKU/13418/61). Data kata offair dapat diketahui sebagi bentuk kata ulang menggunakan teknik bagi unsur langsung. Hal ini dapat diketahui melalui teknik bagi unsur langsung yaitu offair + offair. Kata Offair sebagai bentuk kata dasar yang diulang kembali menggunakan kata yang sama yaitu kata Offair. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata Offair-offair merupakan bentuk kata ulang. 4.2.7 Analisis Bentuk Campur Kode Penyisipan Frasa Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang di dalamnya mengandung data campur kode penyisipan frasa. (26) Andre : Nah buat Narji dan juga buat eeee Nunung : Sek to mas nangisku belum selesai. (BCKF/12418/64) : Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main film juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu ? Amanda : Kalau susah sih susah ya, kadang tu suka gak sempet gak rutin bikin video di youtube, tapi ya disempet-sempetin kalau lagi break syuting, suka bikin video di rumah jadi, selang-seling gitu sih sesempetnya. (BCKF/3618/65) (27) Pamela Pada data (26) terdapat campur kode berupa gabungan kata sek to. Kata sek to merupakan bentuk frasa dari bahasa jawa yang berarti sebentar ya (Poerwadarminta, 1939). Pertama, data campur kode berupa frasa di klasifikasikan dalam bentuk frasa. Kedua, data yang sudah diklasifikasikan kemudian di beri kode berupa (BCKF/12418/64). Ketiga, setelah itu, data

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 dilakukan analisis mengunakan teknik bagi unsur langsung yaitu sek + to. Hal ini menunjukkan gabungan dari dua kata yang tidak memiliki unsur predikat. Frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat (Chaer, 2012: 222). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sek to merupakan satuan gramatikal yang tidak memiliki predikat atau dapat disebut frasa. Pada data (27) terdapat campur kode berupa gabungan kata beauty influence. Kata beauty influence merupakan bentuk frasa dari bahasa inggris yang berarti pengaruh kecantikan (Kamus bahasa inggris, 2012). Pertama, data campur kode berupa frasa di klasifikasikan dalam bentuk frasa. Kedua, setelah diklasifikasikan data di beri kode berupa (BCKF/3618/65). Ketiga, data dilakukan analisis mengunakan teknik bagi unsur langsung yaitu beauty + influence. Hal ini menunjukkan gabungan dari dua kata yang tidak memiliki unsur predikat. Frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat (Chaer, 2012: 222). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beauty influence merupakan satuan gramatikal yang tidak memiliki predikat atau dapat disebut frasa. Selanjutnya, berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung data campur kode bentuk frasa pada nomor 28, 29, dan 30. (28) Andre : Kamu kan banyak memberikan tips tentang kecantikan di youtube, biasanya inspirasinya dari mana ? Amanda : Insiprasinya sih bisa dari mana aja ya, dari personal inspiration aku sendiri, terus juga bisa dari orang-orang, dari temen, atau dari youtube juga, aku juga suka nonton video gitu.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Andre : Mungkin Pamela mau belajar make up lagi juga bisa liat di youtube. Pamela : iya jadi aku harus sering-sering ngeliat tutorial di youtube ya biar bisa. Andre : Selain kecantikan ada apa lagi yang di bahas di youtube Amanda ? Amanda : Selain kecantikan sih mungkin lebih ke vlog sehari-hari lebih kesitu, atau mungkin Q and A biar lebih mendekatkan diri ke fans lebih kayak gitu. Andre : Q and A itu apa artinya ? Amanda : Ohhh Q and A itu question and answer. (BCKF/3618/66) Pada data (28) terdapat campur kode berupa gabungan kata personal inspiration. Kata personal inspiration merupakan bentuk frasa dari bahasa inggris yang berarti inspirasi diri sendiri (Kamus bahasa inggris, 2012). Pertama, data campur kode berupa frasa di klasifikasikan dalam bentuk frasa. Kedua, data yang sudah diklasifikasikan di beri kode berupa (BCKF/3618/66). Ketiga, setelah itu, data dilakukan analisis mengunakan teknik bagi unsur langsung yaitu personal + inspiration. Hal ini menunjukkan gabungan dari dua kata yang tidak memiliki unsur predikat. Frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat (Chaer, 2012: 222). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa personal inspiration merupakan satuan gramatikal yang tidak memiliki predikat atau dapat disebut frasa. (29) Andre : Kamu kan banyak memberikan tips tentang kecantikan di youtube, biasanya inspirasinya dari mana ? Amanda : Insiprasinya sih bisa dari mana aja ya, dari personal inspiration aku sendiri, terus juga bisa dari orang-orang, dari temen, atau dari youtube juga, aku juga suka nonton video gitu. Andre : Mungkin Pamela mau belajar make up lagi juga bisa liat di youtube. Pamela : iya jadi aku harus sering-sering ngeliat tutorial di youtube ya biar bisa.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Andre : Selain kecantikan ada apa lagi yang di bahas di youtube Amanda ? Amanda : Selain kecantikan sih mungkin lebih ke vlog sehari-hari lebih kesitu, atau mungkin Q and A biar lebih mendekatkan diri ke fans lebih kayak gitu. Andre : Q and A itu apa artinya ? Amanda : Ohhh Q and A itu question and answer. (BCKF/3618/67) Pada data (29) terdapat campur kode berupa gabungan kata question and answer. Kata question and answer merupakan bentuk frasa dari bahasa inggris yang berarti pertanyaan dan jawaban (Kamus bahasa inggris, 2012). Pertama, data campur kode berupa frasa di klasifikasikan dalam bentuk frasa. Kedua, setelah diklasifikasikan data di beri kode berupa (BCKF/3618/67). Ketiga, setelah itu, data dilakukan analisis mengunakan teknik bagi unsur langsung yaitu question + and answer. Hal ini menunjukkan gabungan dari dua kata yang tidak memiliki unsur predikat. Frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat (Chaer, 2012: 222). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa question and answer merupakan satuan gramatikal yang tidak memiliki predikat atau dapat disebut frasa. (30) Andre Agnes : Ngomong-ngomong tentang fashion, ada apa dengan I#MANYE 17 Oktober nah itu apa? : Besok ini, jadi memang saya ada surprise project yang memang selama ini kita enggak ngomong-ngomongin tibatiba aja gitu, seru aja gitu kan ngeget-ngegetin orang. (BCKF/1117/63) Pada data (30) terdapat campur kode berupa gabungan kata surprise project. Kata surprise project merupakan bentuk frasa dari bahasa inggris yang berarti kejutan proyek (Kamus bahasa inggris, 2012). Pertama, data campur kode berupa frasa di klasifikasikan dalam bentuk frasa. Kedua, setelah data

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 diklasifikasikan di beri kode berupa (BCKF/1117/63). Ketiga, setelah itu, data dilakukan analisis mengunakan teknik bagi unsur langsung yaitu surprise + project. Hal ini menunjukkan gabungan dari dua kata yang tidak memiliki unsur predikat. Frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat (Chaer, 2012: 222). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa surprise project merupakan satuan gramatikal yang tidak memiliki predikat atau dapat disebut frasa. Data (26), (27), (28), (29), dan (30) di atas merupakan contoh analisis dari data bentuk campur kode berupa frasa, data yang lainnya terdapat dalam lampiran 4.7. Data bentuk campur kode berupa frasa di beri kode BCKKF 62 sampai dengan BCKKF 67 yang terdapat dalam lamiran. 4.2.8 Faktor Penyebab Campur Kode dari Segi Penutur Peneliti melakukan analisis data faktor penyebab campur kode dalam acara Ini Talkshow. Pertama data diklasifikasikan menjadi dua yaitu faktor penyebab campur kode dari segi penutur dan segi kebahasaan. Kedua, setelah dilakukan klasifikasi, data tersebut di beri kode sesuai dengan jenis, tanggal tayang, dan nomor urut. Ketiga, data yang telah di berikan tanda tersebut disesuaikan dengan teori mengenai jenis campur kode. Data yang telah di berikan tanda “iii” dan sesuai dengan teorinya maka dapat diketahui faktor penyebab campur kode dari segi penutur atau dari segi kebahasaan. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus untuk mengetahui arti dalam bahasa Indonesia. Menurut Mastoyo (2007: 66) teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 “membaca pemarkah” dalam suatu konstruksi. Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung faktor penyebab campur kode dari segi penutur meliputi, 1) penutur menggunakan bahasa Ibu, dan 2) penutur kaum terpelajar. 4.2.8.1 Faktor Penyebab Campur Kode dari Bahasa Ibu (31) Andre : Cari siapa ? Nunung :Kakek Andre : Kakeknya hilang ? Nunung : Hoo katanya iiikelindes sepur Andre : Wahhh berarti sudah meninggal dong Nunung :Tapi aku gak percaya, karena aku belum lihat sendiri, mudah-mudahan sih iya. Andre : Wahhh ya jangan dong, ngomong-ngomong kakeknya ciri-cirinya gimana ? Nunung :Dah tua! Andre :Kalau kakek ya pasti tua, mukanya kotak, terus ada rambutnya putih semua, gak ada yang item. (FCKSP/21317/4) Konteks: O1: Lahir di Jakarta, yang memiliki bahasa pertama yaitu bahasa Indonesia. O2: Lahir di Solo, dengan latar belakang bahasa Jawa yang sangat kental, menggunakan bahasa Jawa komunikasi sehari-hari, sebelum menjadi artis ibukota Situasi pada malam hari disebuah ruangan, O2 sedang mencari kakenya yang hilang, dengan raut wajah datar, dan kesal karna mencari kakeknya tidak segera bertemu. Namun O2 juga menginginkan kakenya tidak untuk ditemukan, karena kakenya adalah orang yang rusuh yang sering membuat keributan di perumahan. Percakapan itu dilakukan di ruang tamu. Pada data (31) terdapat campur kode berupa kata kelindes sepur. Kata kelindes sepur dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata kelindes sepur pertama,

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi penutur. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKSP/21317/4). Ketiga, setelah di beri tanda iii kelindes sepur, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 142) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi penutur adalah seseorang yang memiliki latar belakang bahasa daerah yangkuat dan memiliki sikap positif dan setia terhadap bahasa daerah. Bahasa Indonesia sering disisipi oleh bahasa daerah, ketika orang terpelajar juga sering kali memasukan kata-kata asing dalam tuturannya. Kata kelindes sepur termasuk faktor penyebab campur kode dari segi penutur karena penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Jawa khususnya Solo, yang memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa Jawa. Jadi, bahasa Indonesinya akan sering disisipi oleh unsur bahasa Jawa dalam tuturannya. Kata sepur juga berasal dari bahasa Belanda yang diserap menjadi oleh orangorang khususnya daerah Jawa, sepur adalah bahasa jawa yang diserap dari bahasa Belanda yaitu Spoor yang berarti rel kereta api. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata kelindes sepur mempunyai arti terinjak kereta api menurut kamus bahasa Jawa (Poerwadarminta, 1939) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (1) berupa kata kelindes sepur merupakan faktor penyebab campur kode dari segi penutur. (32) Sule : Pak ini bagaimana awalnya kok kepikiran untuk menjadi orang yang memijit sapi ? idenya darimana ? Yasmudi : Saya dulu tukang iiimegawe gitu, lalu dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang punya sapi pincang lalu disuru mijiti. (FCKSP/15117/2)

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Konteks: O1: O1: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. O2: Bintang tamu yang berasal Jawa Tengah (Megelang), tinggal di daerah pedesaan karena memiliki pekerjaan sebagai pembajak sawah dan ahli pijat untuk sapi dan kerbau Suasana malam hari disebuah ruangan, O1 bertanya kepada O2 tentang awal menjadi pemijat sapi yang sakit, suasana santai penuh tawa, karena dilakukan dengan canda dan tawa karena situasi bukan situasi yang formal. Penutur sudah tua sekitar umur 50 tahun dan tinggal di desa, sering menggunakan bahasa daerah dari pada bahasa Indonesia. Pada data (32) terdapat campur kode berupa kata megawe. Kata megawe dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata megawe pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi penutur. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKSP/15117/2). Ketiga, setelah di beri tanda iiimegawe, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 142) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi penutur adalah seseorang yang memiliki latar belakang bahasa daerah yangkuat dan memiliki sikap positif dan setia terhadap bahasa daerah. Bahasa Indonesia sering disisipi oleh bahasa daerah, ketika orang terpelajar juga sering kali memasukan kata-kata asing dalam tuturannya. Kata megawe termasuk faktor penyebab campur kode dari segi penutur karena penutur yang berasal dari Magelang, yang memiliki latar belakang bahasa Jawa, tinggal di daerah pedesaan yang berkomunikasi lebih banyak menggunakan bahasa Jawa dari pada menggunkan bahasa Indonesia, karena bahasa pertama penutur adalah bahasa Jawa. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata megawe mempunyai arti membajak menurut kamus bahasa Jawa (Poerwadarminta, 1939)

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (32) berupa kata megawe merupakan faktor penyebab campur kode dari segi penutur. 4.2.8.2 Faktor Penyebab Campur Kode dari kaum terpelajar (33) Andre :Kang saya mau nanya nih, berbagi pengalaman, kang emil kan dulu basic nya adalah seorang arsitek design terus jadi ke wali kota itu gimana ceritanya itu kang? Ridwal Kamil:Saya iihappy berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati itu sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bnayak manfaatnya untuk orang lain, nasihat yang datang dari hadis itulah yang membuat saya menjadi semangat, jangan-jangan. (FCKSP/5118/15) Konteks: O1: Lahir di Jakarta, yang memiliki bahasa pertama yaitu bahasa Indonesia. O2: Lahir dan besar di Jawa Barat, perna kuliah di luar negeri, sangat mencintai daerahnya dan sekarang menjadi Gubernur Jawa Barat. Situasi yang ditampilkan adalah situasi malam hari. O1 menanyakan bagaimana O2 mampu memimpin kota Bandung sedangkan latar belakang bukan dari ilmu pemerintahan namun dari arsitektur, dan O2 menjawab dengan serius, dan tujuan tersebut menjadi sangat penting dan serius karena didalamnya di masukan ilmu-ilmu agama yang O2 anut, hal itu ditunjukan dengan tekanantekanan dalam setiap kata yang diujarkan oleh O2. Pada data (33) terdapat campur kode berupa kata happy. Kata happy dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata happy pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi penutur. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKSP/5118/15). Ketiga, setelah di beri tanda iiihappy, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 142) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi penutur adalah seseorang yang memiliki

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 latar belakang bahasa daerah yang kuat dan memiliki sikap positif dan setia terhadap bahasa daerah. Bahasa Indonesia sering disisipi oleh bahasa daerah, ketika orang terpelajar juga sering kali memasukan kata-kata asing dalam tuturannya. Kata happy termasuk faktor penyebab campur kode dari segi penutur, karena penutur adalah seorang Bupati bandung dan orang yang terpelajar, perna kuliah diluar negeri, hal itu memyebabkan dalam tuturannya sering kali memasukan kata-kata asing. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata happy mempunyai arti senang menurut kamus bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (33) berupa kata happy merupakan faktor penyebab campur kode dari segi penutur. 4.2.8.2 Faktor Penyebab Campur Kode Sekadar Gengsi (34) Sule : Dari mana Pak Rt? Pak Rt : Gua lagi dengerin orang pada iiimeeting. (FCKSG/20517/48) Koteks: O1: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. O2: Lahir di Bogor, beliau merupakan pelawak dan pemain lenong Betawi, sering menggunakan bahasa betawi dalam lawakannya Situasi malam hari di sebuah ruangan,O1 menanyakan kepada O2, mengapa menggunakan pakaian yang rapi, O2 yang sedang bepakaian rapi tidak seperti biasanya bergaya ingin menunjukan eksistensinya di depan O1 dengan raut wajah yang tampak sombong, karena O2 baru pulang dari mengikuti seminar yang berisi pengusaha-penguasaha kaya. Pada data (34) terdapat campur kode berupa kata meeting. Kata meeting dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata meeting pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena untuk sekadar

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 gengsi. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian (FCKSG/20518/48). Ketiga, setelah di beri tanda iii di beri kode meeting, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena untuk sekadar gengsi, hal ini terjadi apabila faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor-faktor sosiosituasional yang lain sebenarnya tidak mengharuskan penutur untuk melakukan campur kode atau dengan kata lain, naik fungsi kontekstualnya maupun situasi relevansialnya. Kata meeting termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan untuk sekadar gengsi, Karena penutur bukanlah orang yang sering menggunakan bahasa Inggris dalam tuturan sehari-hari, penutur sudah tua dalam tuturan sehari-hari sering menggunakan bahasa Indonesia dialek Betawi. Penutur penggunakan bahasa Inggris dalam penyebutan kata ‘meeting’ karena topik dan faktor situasional, penutur adalah seorang pejabat desa yang datang ke sebuah seminar yang dihadiri oleh para penguasaha-penguasaha kaya, supaya penutur juga terlihat seperti pengusaha penutur menunjukan rasa gengsinya menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata meeting mempunyai arti rapat menurut kamus bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (35) berupa kata meeting merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan untuk sekadar gengsi. Data (31), (32), (33), dan (34) di atas merupakan sampel analisis dari data faktor campur kode dari segi penutur. Masih terdapat 25 data yang juga dianalisis

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 dan disajikan dalam lampiran 4.8. Data faktor campur kode dari segi penutur di beri kode FCKP 1 sampai dengan BCKKB 24. 4.2.9 Faktor Penyebab Campur Kode dari Segi Kebahasaan Faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan adalah penutur dalam memakai bahasanya sering berusaha untuk mencampur bahasanya dengan kode bahasa lain untuk mempercepat penyampaian pesan. Berikut ini merupakan data tuturan pengisi acara Ini Talkshow yang didalamnya mengandung faktor penyebab campur kode. 4.2.9.1 Faktor Penyebab Campur Kode keterbatasan Kode (35) Sule : Katanya kamu berperan di film layar lebar ? Richard : Ya aku mau coba main film di Indonesia. Sule : Sudah bermain ? Richard : Belum, tapi aku bulan depan aku emm dapat film dan semoga aku main iiifirst film. (FCKKK/12117/51) Konteks: O1: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. O2: Lahir dan besar di Australia namun salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia. Pada acara tersebut situasi pada malam hari. O1 sedang bertanya kepada O2 tentang karier di Indonesia, karena O2 berasal dari Australia yang memiliki keturunan Indonesia dan mendapat tawaran untuk kerja di Indonesia sebagai pemain film, O2 melakukan campur kode karena kehabisan kode dalam bahasa Indonesia sehingga O2 mencampur kode ke dalam bahasa Inggris. Pada data (36) terdapat campur kode berupa kata first. Kata first dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata first pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena keterbatasan kode. Kedua,

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKKK/12117/51). Ketiga, setelah di beri tanda iiifirst, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena keterbatasan kode, faktor tersebut terjadi apabila penutur melakukan campur kode karena tidak mengerti padanan kata,frasa, atau klausa dalam bahasa dasar yang digunakannya. Kata first termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena keterbatasan kode, Karena hal ini disebabkan karena penutur tidak mengerti bahasa yang cocok, karena penutur bukan berasal dari Indonesia asli, belum fasih dalam berbahasa Indonesia, masih belajar, sehingga dalam berbicara masih menggunakan bahasa Inggris untuk mengimbangi. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata first mempunyai arti pertama menurut kamus bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (36) berupa kata first merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena keterbatasan kode. 4.2.9.2 Faktor Penyebab Campur Kode Lebih Populer (36) Nunung : Aku kena tipu mas. Andre : Kena tipu sama siapa ? Nunung : Aku beli iiionline, aku kepengen pakai baju backless, yang belakangnya bukaan. (FCKLP/121117/32) Konteks: O1: Lahir di Solo, dengan latar belakang bahasa Jawa yang sangat kental, menggunakan bahasa Jawa komunikasi sehari-hari, sebelum menjadi artis ibukota O2: Lahir di Jakarta, yang memiliki bahasa pertama yaitu bahasa Indonesia. Situasi pada saat malam hari, disebuah ruangan, O1 merasa tertipu dan data dengan raut wajah yang marah dan emosi barang-

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 barang yang dibeli di media sosial tidak sesuai dengan yang diinginkan, menggunakan kata-kata tersebut karena penutur dan lawan tutur lebih memahami bahasa dari bahasa asing. Pada data (34) terdapat campur kode berupa kata online. Kata online dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata online pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena kata yang lebih populer. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian (FCKLP/121117/32). Ketiga, setelah di beri tanda iii di beri kode online, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena istilah lebih populer karena dalam kehidupan sosial, terdapat kosakata tertentu yang dinilai mempunyai padanan yang lebih popular. Kata online termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena istilah lebih populer, penutur lebih mengerti dan lebih sering digunakan oleh orang-orang zaman sekarang, daripada arti dalam bahasa dalam bahasa Indonesia. Berasal dari bahasa bahasa Inggris yang mempunyai arti dalam jaringan, berasal dari dua kata on + line (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012: 201 dan 188). Keempat setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata online mempunyai arti dalam jaringan menurut kamus bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (34) berupa kata online merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 4.2.9.3 Faktor Penyebab Campur Kode Pembicara dan Pribadi Pembicara (37) Sule : Apa pesan dari lagu kamu ? Agnes :…menggunakan iiiperformance untuk mengingatkan orang-orang, bahwa ini itu harusnya gak biasa kayak gini, ini gak boleh dibiasakan, aku yakin kok kalau orang-orang di Indonesia bukan Cuma di Indonesia ya tapi artinya manusia secara general kita itu menjadi orang yang lebih baik. (FCKPP/20517/53) Konteks: O1: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. O2: Lahir dan besar Jakarta, menjadi penyanyi sejak kecil, dan sekarang merintis menjadi penyanyi luar negeri, sering berkomunikasi dengan orang asing. Suasana pada saat malam hari disebuah ruangan, O2 merupakan orang yang terpelajar dan bekerja di dunia musik dunia yang sering berkomunikasi dengan orang-orang asing. Suasana yang di ciptakan suasana yang serius atau intim, karena dia memberikan motivasi dan pesan kepada penonton dan generasi muda Indonesia. Pada data (37) terdapat campur kode berupa kata performance. Kata performance dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata performance pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena pembicara dan pribadi pembicara. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKPP/20517/53). Ketiga, setelah di beri tanda iii performance, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena pembicara dan pribadi pembicara, Pembicara terkadang sengaja melakukan campur kode terhadap mitra bahasa karena dia memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dipandang dari pribadi pembicara, ada berbagai maksud dan tujuan melakukan campur kode antara lain pembicara ingin mengubah situasi

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 pembicaraan, yakni dari situasi formal yang terikat ruang dan waktu. Pembicara juga terkadang melakukan campur kode dari suatu bahasa ke bahasa lain karena faktor kebiasaan dan kesantaian. Kata first termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena pembicara dan pribadi pembicara, karena hal ini lebih sering digunakan oleh penutur, hal ini disebakan juga karena penutur lingkungan tempat tinggal menggunakan bahasa Inggris, penutur sudah mulai menjadi artis yang merintis kerjanya di luar negeri, jadi tidak heran penutur bercampur menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata performance mempunyai arti pertunjukan menurut kamus bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (37) berupa kata performance merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena pembicara dan pribadi pembicara. 4.2.9.4 Faktor Penyebab Campur Kode Mitra Bicara (38) Tarzan : Kamu goda anakku ? Sule : Iyaaa Pak, tapi… Tarzan : Gak boleh, ini ambil Nunung : iiiBojo kok di bagi-bagi. (FCKMB/5118/67) Konteks: O1: Lahir Jawa Timur (Malang) menjadi pelawak dan pemain srimulat yang sering berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. O2: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. O3: Lahir di Solo, dengan latar belakang bahasa Jawa yang sangat kental, menggunakan bahasa Jawa komunikasi sehari-hari, sebelum menjadi artis ibukota Pada saat malam hari, O1 ingin bercanda dengan istri yang diperankan nunung O3, karena O3 mengetahui bahwa O1 juga mengerti bahasa Jawa sehingga O3 menggunakan bahasa Jawa. Namun O3 justru tidak menangkap bahwa maksud O1 bercanda,

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 sehingga terjadi salam pemahaman antara O1 dan O3 yang menimbulkan raut wajah bingung. Pada data (40) terdapat campur kode berupa kata bojo. Kata bojo dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata bojo pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena mitra bicara. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKMB/5118/67). Ketiga, setelah di beri tanda iii bojo, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena mitra bicara, mitra bicara dapat berupa individu atau kelompok. Dalam masyarakat bilingual, seorang pembicara yang mula-mula menggunakan satu bahasa dapat melakukan campur kode menggunkan bahasa lain dengan mitra bicara yang memiliki latar belakang yang sama. Kata bojo termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena mitra bicara, hal ini disebabkan karena penutur mula-mula menggunakan satu bahasa, melakukan campur kode menggunakan bahasa lain karena mengetahui mitra bicaranya yang memiliki latar belakang daerah yang sama dan mengerti bahasa Jawa. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata bojo mempunyai arti istri atau suami menurut kamus bahasa Jawa. Poerwadarminta, 1939). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (40) berupa kata bojo merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena mitra bicara.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 4.2.9.5 Faktor Penyebab Campur Kode Fungsi dan Tujuan (39) Andre : ini saya suka banget ya sama gayanya Axel ya. Sule : iya terima kasih Andre : gaya yang iiisnake. (FCKFT/ 25117/58) Konteks: O1: Lahir di Jakarta, yang memiliki bahasa pertama yaitu bahasa Indonesia. O2: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. Pada malam hari disebuah ruangan. O1 ingin menanyakan kepada O2 gaya andalan penyanyi rocker yang sedang diperankan. O1 mengingkan O2 yang berperan sebagai penyanyi rocker luar negeri untuk mempraktikkan gaya andalan, penyanyi yang diperankan berasal dari luar negeri yang memperkenalkan goyang snake. Suasana yang santai dan penuh dengan canda tawa. Pada data (38) terdapat campur kode berupa kata snake. Kata snake dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata snake pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena fungsi dan tujuan. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKFT/25117/58). Ketiga, setelah di beri tanda iiisnake, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena fungsi dan tujuan, Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaran didasarkan pada tujuan berkomunikasi, fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dengan tujuan tertentu, seperti memerintah, menawarkan, mengumumkan, memarahi dan lain sebagainya.Kata snake termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena fungsi dan tujuan, Hal ini dilakukan karena penutur memiliki fungsi dan tujuan tertentu yaitu ingin memberikan informasi kepada penonton bahwa bintang tamu yang hadir memiliki

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 gaya yang menjadi ciri khas dari bintang tamu. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Inggris yaitu kata snake mempunyai arti ular menurut kamus bahasa Inggris (Marhiyanto, Bambang dan Syamsul arifin, 2012). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (38) berupa kata snake merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena fungsi dan tujuan. 4.2.9.6 Faktor Penyebab Campur Kode Membangkitkan Rasa Humor (40) Nunung : Saya gak tau, tiba-tiba ada aja dia, ngomongnya aja masih muda mbak, umurnya berapa mas? “Sweet.. iii sewitdak” Sule : Enam puluh (FCKMH/16118/63) Konteks: O1: Lahir di Solo, dengan latar belakang bahasa Jawa yang sangat kental, menggunakan bahasa Jawa komunikasi sehari-hari, sebelum menjadi artis ibukota O2: Lahir di Cimahi, Jawa Barat memiliki darah seni seperti menari dan memainkan alat musik daerah. Pada saat malam hari. O1 bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi di jalan, tiba-tiba ada yang mendekat, saat sedang di jalan dan mengajak berkenalan saat ditanya umurnya berapa menjawabnya dengan bercanda, O1 merasa takut jika diikuti sampai rumah, karena hal tersebut O1 melapor kepada O2 orang yang dianggap bisa melindungi. (FCKMH/16118/6) Pada data (39) terdapat campur kode berupa kata sewitdak. Kata sewitdak dapat diketahui sebagai campur kode dengan teknik baca markah untuk menandai kata yang merupakan campur kode. Kata sewitdak pertama, diklasifikasikan ke dalam tabel faktor penyebab campur kode segi kebahasaan karena membangkitkan rasa humor. Kedua, setelah diklasifikasikan kemudian di beri kode (FCKMH/16118/63). Ketiga, setelah di beri tanda iiisewitdak, dilakukan baca markah dari dari teori Suandi (2014: 143) yang mengatakan bahwa faktor

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena membangkitkan rasa humor, campur kode sering dimanfaatkan pemimpin rapat untuk menghadapi ketegangan yang mulai timbul dalam memecahkan masalah atau kelesuan karena telah cukup lama bertukar pikiran, sehingga memerlukan rasa humor. Bagi pelawak hal tersebut berfungsi untuk membuat penonton merasa senang dan puas. Kata sewidak termasuk faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan untuk membangkitkan rasa humor, hal ini disebabkan karena penutur adalah seorang komedian yang bekerja membuat penonton merasa senang dan puas. Saat itu keadaan penampilan sedang tegang sehingga penutur melakukan humor supaya penonton terhibur. Keempat, setelah itu dilakukan lagi baca markah dari kamus bahasa Jawa yaitu kata sewitdak mempunyai arti enam puluh menurut kamus bahasa Jawa. Poerwadarminta, 1939). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa data (39) berupa kata sewitdak merupakan faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan karena untuk membangkitkan rasa humor. Data (34), (35), (36), (37), (38), (39), dan (40) di atas merupakan sampel analisis dari data faktor campur kode dari segi kebahasaan, data yang lainnya terdapat dalam lampiran 4.9 sampai 4.15 terdapat dalam lampiran. Data faktor campur kode dari segi kebahasaan di beri kode FCKP 25- FCKP 46, FKCSG 47 sampai FCKSG 50, FCKKK 51 DAN FCKKK 52, FCKPP 53 sampai FCKPP 57, FCKFT 58 sampai FCKFT 61, FCKH 62 sampai FCKH 66, FCKMB 67.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Tabel 4.21 Sampel Analisis faktor penyebab Campur Kode Kebahasaan No. Campur Kode 1. Opening 2 Speechless 3. Fashionable 4. Quote 5. 6. Voice of the year Meeting Faktor Campur Kode Istilah yang Lebih Populer Istilah yang Lebih Populer Istilah yang Lebih Populer Istilah yang Lebih Populer Sekadar Gengsi Sekadar Gengsi Kode 7. Designer Sekadar Gengsi FCKSG/20517/49 8. Invite Sekadar Gengsi FCKSG/12418/50 9. 10. 11. First Surprise project Performance FCKKK/12117/51 FCKKK/20517/52 FCKPP/20517/53 12. Kulon Keterbatasan Kode Keterbatasan Kode Pembicara dan Pribadi Pembicara Pembicara dan Pribadi Pembicara 13. Wetan Pembicara dan Pribadi Pembicara FCKPP/17118/55 14. Kakang Pembicara dan Pribadi Pembicara FCKPP/17118/56 15. 16. Snake Mamang Fungsi dan tujuan Fungsi dan tujuan FCKFT/25117/58 FCKFT/5118/59 17. Icon Fungsi dan tujuan FCKFT/19118/60 18. Host Fungsi dan tujuan FCKFT/E12418/61 19. Smile Sekadar humor FCKMH/241117/62 20. Sewitdak Sekadar humor FCKMH/16118/63 21. Cangkem Sekadar humor FCKMH/12418/64 FCKLP/12117/25 FCKLP/12517/26 FCKLP/20517/27 FCKLP/81017/28 FCKSG/1117/47 FCKSG/20517/48 FCKPP/17118/54

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 22. Action Sekadar humor FCKMH/12418/65 23. Bojo Mitra bicara FCKMB/5118/66 Data faktor campur kode dari segi kebahasaan dalam analisis bervariasi karena faktor campur kode dari segi kebahasaan terbagi menjadi beberapa faktor. Data faktor campur kode dari segi kebahasaan berjumlah empat puluh tiga data yang telah dilakukan triangulasi oleh Bapak Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. selaku menyatakan setuju untuk empat puluh dua data dengan hasil analisis mengenai faktor campur kode kata dari segi kebahasaan dan menyatakan tidak setuju untuk satu data yaitu pada nomor 39a tanpa menyertakan alasan mengapa tidak setuju. Namun, berdasarkan teori dan konteks yang digunakan peneliti untuk menganalisi data nomor 39a telah memenuhi ketentuan sebagai data faktor campur kode segi kebahasaan untuk membangkitkan rasa humor. 4.3 Catatan Triangulator Data hasil penelitian ini berjumlah enam puluh tujuh data yang seluruhnya telah dilakukan analisis mengunakan teori yang mendukung mengenai jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode. Data yang telah dilakukan analisis selanjutnya dilakukan validasi oleh dosen triangulator yaitu Bapak Danang Satria Nugraha, S.S.,M.A. Dosen triangulator menyatakan sebanyak enam puluh data valid dan menyetujui hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti dengan pertimbangan hasil analisis menunjukan kesesuaian antara data dan teori yang digunakan untuk menunjukan jenis, bentuk, dan faktor campur kode dalam acara Ini Talkshow.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Dosen triangulator juga mengyatakan sebanyak tujuh data tidak setuju atau tidak valid dengan pertimbangan analisis penentuan jenis campur kode dalam acara Ini Talkshow kurang tepat karena dalam tujuh data tersebut dalam satu perbincangan atau tuturan terdapat beberapa campuran. Selain itu, untuk bentuk campur kode dosen triangulator menyatkan tidak setuju atau tidak valid karena ada beberapa bentuk campur kode yang dicurigai berbentuk frasa atau klausa bukan kata dasar dan imbuhan. Dengan demikian peneliti mengoreksi kembali ketujuh data tersebut dan membenarkan serta mempertahankan beberapa data yang setelah dikoreksi kembali sesuai dengan teori yang peneliti gunakan. 4.4 Pembahasan Setelah peneliti mengklasifikasikan data dan melakukan analisis data jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode dalam acara Ini Talkshow, peneliti melakukan pembahasan terhadap hasil klasifikasi data dan analisis data. Pada pembahasan ini, peneliti membahas jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode berdasarkan data yang telah dianalisis dengan teori Jendra (dalam Suandi: 2014) dan penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Fajar Prasetya (2012) dan Sinung Lebda Wisesa Sunarman (2010) )Berikut ini merupakan hasil pembahasan jenis, bentuk, dan faktor penyebab campur kode yang terdapat acara Ini Talkshow. 4.5.1 Pembahasan Jenis Campur Kode dalam Acara Ini Talkshow Pembahasan hasil penelitian jenis campur kode dalam acara Ini Talkshow terbagi menjadi dua segi yaitu segi teori dan segi penelitian yang relevan.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 1) Segi teori Hasil penelitian campur kode dalam acara Ini Talkshow, peneliti menemukan jenis campur kode ke dalam dan campur kode ke luar. Menurut Jendra dalam (Suandi, 2014: 140-141), jenis campur kode terbagi menjadi tiga yaitu campur kode ke dalam, campur kode ke luar, campur kode campuran. Berdasarkan teori Jendra tersebut, peneliti berhasil mengklasifikasikan dan menganalisis data campur kode dalam acara Ini Talkshow berupa campur kode ke dalam dan keluar. Hal ini disebabkan pengisi acara Ini Talkshow berasal dari daerah dan lebih menguasai bahasa dearah sebagai bahasa ibu. Selain itu pengisi acara mampu menguasai bahasa kedua sehingga ketika berinteraksi dalam mengisi acara tersebut sering kali mencampurkan bahasa ibu maupun bahasa ke dua yang mereka kuasai tersebut. Dengan demikian berdasarkan pembahasan dari segi teori dapat di ambil kesimpulan bahwa fenomena campur kode dalam acara Ini Talkshow hanya menemukan dua jenis campur kode, yaitu campur kode ke dalam dan keluar. Sehingga, penelitian ini bersifat mengkonfirmasi atau mendukung teori Jendra (dalam suandi 2014: 141). 2) Segi penelitian yang relevan Berdasakan penelitian yang telah dilakukan oleh Fajar Prasetya pada tahun 2012 dengan judul “Campur Kode dalam Rubrik Pikiran Pembaca Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Bulan Oktober 2011” hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua jenis campur kode yaitu campur ke dalam dan ke luar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti mengenai jenis campur kode dalam acara Ini Talkshow yang menemukan dua jenis campur yaitu campur

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 ke dalam dan ke luar. Dengan demikian berdasarkan pembahasan dari segi penelitian yang relevan dapat diambil kesimpulan bahwa fenomena campur kode dalam acara Ini Talkshow hanya menemukan dua jenis campur kode yaitu campur kode ke dalam dan campur kode ke luar jadi penelitian campur kode berupa jenis campur kode ini bersifat mengkukuhkan penelitian Fajar Prasetya. 4.5.2 Pembahasan Bentuk Campur Kode dalam Acara Ini Talkshow Pembahasan hasil penelitian bentuk campur kode dalam acara Ini Talkshow terbagi menjadi dua segi yaitu segi teori dan segi penelitian yang relevan. 1) Segi teori Menurut Jendra (dalam suandi 2014: 141) bentuk campur kode terdiri atas bentuk campur kode kata, frasa, dan klausa. Selain itu, menurut Suwito (dalam Rani, 2017:38-41) bentuk campur kode terdiri atas unsur-unsur yang berwujud kata, berupa unsur-unsur yang berwujud frasa, penyisipan berupa unsur-unsur yang berwujud klausa, penyisipan berupa unsur-unsur baster, penyisipan berupa unsur-unsur idiom, penyisipan Berdasarkan Jendra teori berupa unsur-unsur berupa dalam Suandi tersebut, kata peneliti ulang. berhasil mengklasifikasikan dan menganalisis bentuk campur kode dalam acara Ini Talkshow yaitu bentuk kata berupa kata dasar, bentukan, berimbuhan, dan kata ulang. Selain itu, peneliti juga menemukan bentuk campur kode berbentuk frasa. Dengan demikian berdasakan hasil pembahasan dari segi teori dapat diambil kesimpulan bahwa fenomena campur kode dalam acara Ini Talkshow hanya menemukan bentuk campur kode berbentuk kata berupa kata dasar, berimbuhan, dan kata ulang. Selain berbentuk kata campur kode dalam acara Ini Talkshow

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 juga berbentuk frasa. Jadi, penelitian campur kode berupa bentuk campur kode ini bersifat mengkonfirmasi dan menambahkan teori Jendra (dalam suandi 2014: 141). 2) Segi Penelitian yang relevan Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sinung Lebda Wisesa Sunarman pada tahun 2010 dengan judul penelitian “Campur Kode dalam Majalah HAI edisi Januari-Agustus 2008 Dilihat Dari Asal Bahasa dan Satuan Lingual” hasil penelitian bentuk campur kode meliputi kata dasar, berimbuhan, majemuk, kata majemuk, frasa, dan klausa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti membandingkan dengan hasil penelitian peneliti mengenai bentuk campur kode dalam acara Ini Talkshow yaitu bentuk dasar, berimbuhan, ulang, dan frasa. Dengan demikian berdasakan hasil pembahasan dari segi teori dan penelitian yang relevan dapat diambil kesimpulan bahwa fenomena campur kode dalam acara Ini Talkshow hanya menemukan bentuk campur kode berbentuk kata berupa kata dasar, berimbuhan, dan kata ulang. Selain berbentuk kata campur kode dalam acara Ini Talkshow juga berbentuk frasa. Jadi, penelitian campur kode berupa bentuk campur kode ini bersifat mengkonfirmasi atau mendukung penelitian Sinung Lebda Wisesa Sunarman. 4.5.3 Pembahasan Faktor Penyebab Campur Kode dalam Acara Ini Talkshow

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Pembahasan hasil penelitian bentuk campur kode dalam acara Ini Talkshow terbagi menjadi dua segi yaitu segi teori dan segi penelitian yang relevan. 1) Segi teori Data hasil penelitian ini diklasifikasikan dan dianalisis berdasarkan faktor penyebab campur kode. Menurut Jendra (dalam Suandi, 2014: 142) faktor terjadi campur kode yaitu faktor penutur dan faktor kebahasaan. Menurut Jendra (dalam Suandi, 2014: 142) faktor penyebab campur kebahasaan terbagi menjadi keterbatasan kode, penggunaan Istilah yang lebih populer, pembicara dan pribadi pembicara, mitra bicara, modus pembicara, topik, fungsi dan tujuan, ragam dan tingkat tuturan bahasa, hadirnya penutur ketiga, pokok pembicara, untuk membangkitkan rasa humor, dan sekadar gengsi. Berdasarkan teori Jendra tersebut, peneliti berhasil mengklasifikasikan dan menganalisis faktor penyebab campur kode dalam acara Ini Talkshow yaitu faktor campur kode dari segi penutur dan dari segi kebahasaa. Faktor penyebab campur kode dari segi kebahasaan meliputi keterbatasan kode, penggunaan istilah yang lebih popular, pembicara dan pribadi pembicara, mitra bicara, fungsi dan tujuan, membangkitkan rasa humor, dan sekadar gengsi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bersifat mengkonfirmasi atau mendukung teori Jendra (dalam Suandi, 2014: 142). 2) Segi Penilitian yang relevan

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Berdasakan penelitian yang telah dilakukan oleh Fajar Prasetya pada tahun 2012 dengan judul “Campur Kode dalam Rubrik Pikiran Pembaca Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Bulan Oktober 2011” hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat faktor-faktor penyebab campur kode yaitu faktor pribadi pembicara, faktor mitra pembicara, faktor topik, faktor fungsi dan tujuan, faktor ragam dan tingkat tutur bahasa, faktor pokok pembicara, dan faktor gengsi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti membandingkan dengan hasil penelitian peneliti mengenai faktor penyebab campur kode dalam acara Ini Talkshow yaitu faktor penutur dan faktor kebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi (1) keterbatasan kode, (2) istilah yang lebih populer, (3) pembicara dan pribadi pembicara, (4) fungsi dan tujuan, (5) mitra bicara, (6) sekadar gengsi (7) membangkitkan rasa humor. Dengan demikian berdasarkan segi teori dan segi penelitian yang relevan dapat diambil kesimpulan bahwa fenomena campur kode dalam acara Ini Talkshow menemukan dua faktor penyebab campur kode yaitu faktor penutur dan kebahasaa. Hal ini disebabkan karena objek penelitian berbeda, dalam penelitian sebelumnya objek yang digunakan adalah Rubrik Pikiran Pembaca Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat yang setiap hari memiliki topik yang berbeda, sedangkan dalam penelitian ini objek penelitianya pada media televisi berupa acara Ini Talkshow yang dalam proses interaksi tidak ada batasanbatasan tertentu untuk melakukan percakapan. Faktor penyebab campur kode dari kebahasaan mencakup keterbatasan kode, penggunaan istilah yang lebih popular, pembicara dan pribadi pembicara, mitra bicara, fungsi dan tujuan, membangkitkan rasa humor, dan sekadar gengsi.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Berdasarkan hasil pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bersifat melengkapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fajar Prasetya. Hal ini disebabkan hasil dari penelitian ini hanya menemukan beberapa faktor penyebab campur kode, dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya hasil penelitian ini menemukan beberapa faktor yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya. Sehingga penelitian ini bersifat mengkukuhkan dan menambah variasi hasil penelitian berupa faktor penyebab campur kode.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penelitian yang berjudul “Jenis, Bentuk, dan Faktor Penyebab Campur Kode dalam Perbincangan Pengisi Acara Ini Talkshow di NET TV” membahas tiga masalah, yaitu (1) jenis campur kode dalam acara Ini Talkshow di NET TV, (2) bentuk campur kode dalam acara Ini Talkshow di NET TV, (3) faktor campur kode dalam acara Ini Talkshow di NET TV berikut ini adalah kesimpulan atas tiga hal yang dikaji dalam penelitian ini. 1. Ditemukan dua jenis campur kode dalam tuturan yang dilakukan pengisi acara Ini Talkshow di NET TV, yaitu campur kode ke dalam dan ke luar. Campur kode ke dalam berupa campur kode yang menggunakan antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Campur kode keluar berupa campur kode yang menggunakan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 2. Ditemukan bentuk-bentuk campur kode dalam tuturan yang dilakukan pengisi acara Ini Talkshow di NET TV, yaitu kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang dan frasa. Hasil dari penelitian ini bentuk campu kode kata dasar, kata bentukan, kata berimbuhan, kata ulang dan frasa. 3. Ditemukan faktor-faktor yang menyebabkan campur kode dalam tuturan yang dilakukan pengisi acara Ini Talkshow di NET TV yaitu faktor penutur dan kebahasaan. Faktor penutur meliputi (1) penutur menggunakan bahasa Ibu bahasa Sunda dan bahasa Jawa, karena 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 penutur mempunyai latar belakang tinggal dan besar di daerah Sunda Jawa Barat (2) penutur kaum terpelajar, karena penutur kuliah di luar negeri dan (3) Sekadar bergengsi, penutur ingin menunjukan kemampuanya dalam bahasa lain. Faktor kebahasaan meliputi (1) keterbatasan kode, karena tidak mengerti padanan kata dan frasa, (2) penggunaan istilah yang lebih popular, dinilai memiliki padanan yang lebih dipahami oleh lawan tutur, (3) pembicara dan pribadi pembicara, karena memiliki maksud dan tujuan tertentu, (4) mitra bicara, melakukan campur kode karena mitra tutur memiliki latar belakang yang sama, (5) fungsi dan tujuan, memili fungsi untuk ungkapan yang berhubungan dengan tujuan tertentu, dan (6) membangkitkan rasa humor, digunakan untuk memecahkan ketegangan atau untuk menghibur. 5.2 Saran Setelah permasalahan dalam penelitian ini terjawab, peneliti memiliki beberapa saran yang ingin diajukan. Adapun saran tersebut yaitu: 1. Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir berupa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu peneliti memohon maaf apabila terjadi kesalahan baik secara teknis maupun non-teknis dalam penulisan skripsi ini. 2. Peneliti berharap penelitian ini dapat membatu proses pendidikan bahasa Indonesia untuk materi teks anekdot. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dalam media pembelajaran teks anedot baik media

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 tulis maupun elektronik sering dijumpai proses campur kode dalam media tersebut sehingga pendidik harus paham mengenai fenomena campur kode supaya pendidik dapat menerangkan pemakian bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa mencapurkan dengan bahasa lain. 3. Peneliti berharap adanya penelitian lebih lanjut mengenai campur kode dalam berbagai bidang yang terjadi di masyarakat. Hal ini disebabkan perkembangan bahasa sangat pesat terutama bahasa campur kode di kalangan masyarakat yang mengakibatkan kekelirauan berupa percampuran bahasa. sering penyebab

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar Pustaka Aslinda dan Leni Syafyahya. 2007.Pengantar Sosiolingustik. Bandung: PT Refika Aditama. Banjarnahor, Amin Sawari. 2017. Afiks-Afiks Derivasi Bahasa Inggris dan Bahasa Batak Toba (Suatu Analisi Kontrasatif). Manado: Universitas Sam Ratulangi. Chaer, Abdul. 2012. Lingustik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolingustik Perkenalan Awal. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Dewantara, Andronikus Kresna. 2015. Campur Kode dan Alih Kode pada Interaksi Informal Mahasiswa di Yogyakarta: Studi Kasus pada Mahasiswa Asrma Lantai Merah, Jalan Cendrawasih No.1B, Demangan Baru, Yogyakarta. Sanata Dharma Yogyakarta. Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nababan, PWJ 1986. Sosiolingustik suatu pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Prasetya, Fajar. 2012. Campur Kode dalam Republik Pikiran Pembaca Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Bulan Oktober 2011. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Prastowo, Andi. 2014. Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Rahardi, Kunjana. 2001. Sosiolingustik, Kode, dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Reni, Engrid Septa. 2017. Alih Kode dan Campur Kode pada Gelar Wicara Ini Talkshow di Net TV dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Lampung: Universitas Lampung Suandi, I Nengah. 2014. Sosiolingustik. 103 Yogyakarta: Graha Ilmu.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Sunarwan. 2010. Campur Kode dalam Iklan Majalah Hai Edisi Januari-Agustus 2008 Dilihat Dari Bahasa dan Satuan lingual. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Morfologi. Bandung: Penerbit Angkasa

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN TABULASI DATA

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Tabel 4.1 Jenis Campur Kode ke dalam No Data Campur kode 1. Ya ngomong, kamu kalau ngomong ini kolu. Kolu 2. Bojo kok di bagi-bagi. Bojo 3. (tertawa) Rambut e teyengen Teyengen 4. Hoo katanya kelindes sepur. Sepur 5. Ya engak, Cuma rumah saya mepet ini, karena Gedhe tulisannya terlalu gedhe jadi gandengan. 6. Ya engak, Cuma rumah saya mepet ini, karena Gandengan tulisannya terlalu gedhe jadi gandengan. 7. Udah tua udah tua, uratnya sudah londot. Londot 8. Saya kepengen mamang Saswi yang nari. Mamang 9. Jadi tugas kalian menyiapkan segalanya ! Usum Mamang tugasnya adalah mencari makanan yang beda daripada yang lain, bandrek udah gak usum, papaya jus udah gak usum, kopi udah gak usum, cari yang baru. 10. Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke Megawe yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang punya sapi pincang lalu disuru mijiti. Kode JCKD/1117/01 JCKD/15117/02 JCKD/15117/03 JCKD/21317/04 JCKD/18417/05 JCKD/18417/06 JCKD/28417/07 JCKD/5118/08 JCKD/5118/09 JCKD/15117/10 11. Dea inikan sebelum jadi Advocat perna bermain Unclub sinetron juga ya kan, unclub duh apa ya ? nah terjun ke dunia Entertain lah terus akhirnya memutuskan menjadi seorang advocat. JCKD/15118/11 12. Saya gak tau, tiba-tiba ada aja dia, ngomongnya Sewitdak aja masih muda mbak, umurnya berapa mas? “Sweet.. sewitdak” 13. Ehak yang orang kulon ? Kulon JCKD/16118/12 14. Barat tu kulon apa wetan ? Wetan JCKD/17118/14 15. Jadi gini kakang ini Mbak IIn….. Kakang JCKD/17118/15 16. Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke Dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang punya sapi pincang lalu disuru mijiti. 17. Malah cengengesan JCKD/17118/13 JCKD/15117/16 Cengengesan JCKD/19118/17 18. Pasti kalau sudah menyingung masalah laki-laki Lungkrah lungkrah JCKD/19118/18

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 19. sek to mas nangisku belum selesai. Sek to JCKD/12418/19 20. Kalau saya sudah hafalnya, hafal cangkem 21. Aduh Ndre jangan di habisin, nanti keburu seep. Cangkem Seep JCKD/12418/20 JCKD/3618/21 Tabel 4.2 Jenis campur kode ke luar No. 1. Data Campur Kode Kode Ini talkshow membuat kategori voice of the Voice of the JCKL/1117/22 year year. Kalau gitu langsung opening dulu lah Belum, tapi aku bulan depan aku emm dapat film dan semoga aku main first film. Gaya yang snake Speechless sih sebenernya. Dan Agnes ini orangnya sangat fashionable. Nah ini kan kebetulan Agnes sangat jago dalam hal fashion, pakiannya itu oke-oke lah, ini saya, ada beberapa foto saya, saya minta dikasih masukanlah, kira-kira saya cocoknya pakai apa ?” Opening First JCKL/12117/23 JCKL/12117/24 Snake Speechless Fashionable JCKL/ 25117/25 JCKL/12517/26 JCKL/20517/27 7. Besok ini, jadi memang saya ada surprise project yang memang selama ini kita enggak ngomong-ngomongin tiba-tiba aja gitu, seru aja gitu kan ngeget-ngegetin orang. Surprise project JCKL/20517/28 8. Gua lagi dengerin orang pada meeting. Meeting JCKL/20517/29 9. 10. Ini denger-denger ANYE mau nyari designer ? …salah satu tanggung jawab aku sebagai orang yang bekerja di under spot light untuk bisa menggunakan performance untuk mengingatkan orang-orang, bahwa ini itu harusnya gak biasa kayak gini, ini gak boleh dibiasakan, aku yakin kok kalau orang-orang di Indonesia… Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi…. Ada motivasi gak ? biasanya mas Tama ada quote, hari ini ni quote untuk pemirsa apa ? Buat om Firman nih, selama main di PERSIB, yang paling berkesan itu saat bertemu dengan team mana ? Designer JCKL/20517/30 Performance e 2. 3. 4. 5 6. 11. 12. 13. Simple JCKL/81017/32 Quote JCKL/81017/33 Team JCKL/211017/34

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 No. 14. 15. 16. Data Campur Kode Paling berkesan kalau derbia, team derbi Enjoy PERSIB dengan AREMA, PERSIB dengan PERSIJA Jakarta, itu membangun adrenalin menjadi lebih enjoy dan lebih figth di lapangan. Paling berkesan kalau derbia, team derbi Fight PERSIB dengan AREMA, PERSIB dengan PERSIJA Jakarta, itu membangun adrenalin menjadi lebih enjoy dan lebih figth di lapangan. Menurut saya, coach Pak Djaja pelatih terbaik, Coach dia punya banyak strategi, banyak practice, udah dapat empat trophy, itu bagus saya senang. Kode JCKL/211017/35 JCKL/211017/36 JCKL/211017/37 17. Menurut saya, coach Pak Djaja pelatih terbaik, Practice dia punya banyak strategi, banyak practice, udah dapat empat trophy, itu bagus saya senang JCKL/211017/38 18. Menurut saya, coach Pak Djaja pelatih terbaik, dia punya banyak strategi, banyak practice, udah dapat empat trophy, itu bagus saya senang. Trophy JCKL/211017/39 19. aku beli online, aku kepengen pakai baju Online backless, yang belakangnya bukaan. JCKL/12111740 20. aku beli online, aku kepengen pakai baju Backless backless, yang belakangnya bukaan. JCKL/121117/41 21. Pak Lurah (Pak Malih) sabar dulu coba ditanya mungkin kurang dekat tadi ngobrolnya, iyaa dicoba, agak smile …kalau dulu mah update status kayak anakanak alay galau-galau gitu, sekarang digunakan untuk menginformasikan kegiatan pemkot menjawab pertanyaan-pertanyaan. Karena suasana belajarnya memang kayak friend, santai gak penuh dengan tekanan, belajarnya tidak hanya di kenal… Kang saya mau nanya nih, berbagi pengalaman, kang emil kan dulu basic nya adalah seorang arsitek design terus jadi ke wali kota itu gimana ceritanya itu kang ? Smile JCKL/241117/42 Update JCKL/241117/43 Friend JCKL/241117/44 Basic JCKL/5118/45 22. 23. 24. 25. …saya tujuh belas tahun kerja saya itu design Happy kota di China, di timur tengah bantu kota-kota banyak, tiap pulang ke kota kelahiran kan saya lahir di Bandung suka sedih kan banyak problem pilihannya antara saya happy berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati JCKL/5118/46

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 No. 26. 27. Data Campur Kode itu sebaik-baiknya… saya tujuh belas tahun kerja saya itu design kota Problem di China, di timur tengah bantu kota-kota banyak, tiap pulang ke kota kelahiran kan saya lahir di Bandung suka sedih kan banyak problem pilihannya antara saya happy berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati itu sebaik-baiknya Teman-teman besok kita akan tour ke Cibodas, Tour tapi jangan lupa nyanyikan lagu saya! Kode JCKL/5118/47 JCKL/9118/48 28. Budget saya gak masuk. 29. Nih gua kasih tau ada videonya nih gua save Download kemarin gua download JCKL/18118/50 30. Nih gua kasih tau ada videonya nih gua save Save kemarin gua download JCKL/18118/51 31. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah Follow raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana-mana selalu yoga, benar ya ? JCKL/18118/52 32. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah Outdoor raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana-mana selalu yoga, benar ya ? JCKL/18118/53 33. JCKL/19118/54 35. Jimmy ini kan terkenal sebagai perancang baju Icon terbaik di dunia, jimmy saya lihat penampilannya unik sekali ya, dan dia ini sebagai icon di animal fashion, ini tina mau ngajak kerjasama untuk sandal jepit Di siarkan langsung dari studio satu Jakarta kita Host sambut host paling kece Sule dan Andre ! Yaaa kan biar bisa keliatan action! Action 36. Yaa udah kita invite aja ! melani Ricardo. JCKL/12418/57 37. Ya sesibuk apapun mas Anang kita tetep Weekend ngeluarin lagu gitu, karna kan awal mulanya ketemunya duet dari nyanyi jadi sampai sekarang pun pengen terus berkarya, karna kita masih weekend masih sering ada show gitu! JCKL/13418/58 38. …mulanya ketemunya duet dari nyanyi jadi Show sampai sekarang pun pengen terus berkarya, JCKL/13418/59 34. Budget Invite JCKL/9118/49 JCKL/12418/55 JCKL/12418/56

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 No. Data Campur Kode Kode karna kita masih weekend masih sering ada show gitu! 39. Offair-offair itu masih ? Offair-offair JCKL/13418/60 40. Ini saya mau ngasih mas Anang snack ! Snack JCKL/3618/61 41. Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main Beauty film juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu influence ? JCKL/3618/62 42. Kalau susah sih susah ya, kadang tu suka gak sempet gak rutin bikin video di youtube, tapi ya disempet-sempetin kalau lagi break syuting, suka bikin video di rumah jadi, selang-seling gitu sih sesempetnya. …yang bisa meinfluence orang juga kalau misalnya… Insiprasinya sih bisa dari mana aja ya, dari personal inspiration aku sendiri, terus juga bisa dari orang-orang, dari temen, atau dari youtube juga, aku juga suka nonton video gitu. Ohhh Q and A itu question and answer. Break JCKL/3618/63 Meinfluence JCKL/3618/64 Personal inspiration JCKL/3618/65 Question and answer Eeehh engak, emang kita kan di bagi menjadi Kid’s kids, remaja dan dewasa, jadi siapa saja yang mau sekolah mau belajar. JCKL/3618/66 43. 44. 45. 46. JCKL/6618/67 Tabel 4.3 Bentuk Kata Dasar No. 1. 2. 3. Data Campur kode Kode Yaa ngomong, kamu kalau ngomong ini kolu. Kolu BCKKD/1117/1 Belum, tapi aku bulan depan aku emm dapat film First BCKKD/121172 dan semoga aku main first film. Hoo katanya kelindes sepur Sepur BCKKD/21317/3 4. Ya engakkkk, Cuma rumah saya mepet ini, karena Gedhe tulisanya terlalu gedhe jadi gandengan! BCKKD/28417/4 5. Gaya yang snake BCKKD/25117/5 6. Sebenernya simple yang pertama kali gua Simple bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era Snake BCKKD/81017/6

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 7. 8. 9. digital semakin berkembang jadi… Ada motivasi gak ? biasanya mas Tama ada quote, Quote hari ini ni quote untuk pemirsa apa ? Buat om Firman nih, selama main di PERSIB, Team yang paling berkesan itu saat bertemu dengan team mana ? Paling berkesan kalau derbia, team derbi PERSIB Enjoy dengan AREMA, PERSIB dengan PERSIJA Jakarta, itu membangun adrenalin menjadi lebih enjoy dan lebih figth di lapangan. BCKKD/81017/7 BCKKD/211017/8 BCKKD/211017/9 10. Paling berkesan kalau derbia, team derbi PERSIB dengan AREMA, PERSIB dengan PERSIJA Jakarta, itu membangun adrenalin menjadi lebih enjoy dan lebih figth di lapangan. Fight BCKKD/211017/10 11. Menurut saya, coach Pak Djaja pelatih terbaik… Coach BCKKD/211017/11 12. …dia punya banyak strategi, banyak Practice practice… 13. …udah dapat empat trophy, itu bagus saya Trophy senang… 14. Udah tua udah tua, uratnya sudah londot. Londot BCKKD/211017/12 15. Pak Lurah (Pak Malih) sabar dulu coba Smile ditanya mungkin kurang dekat tadi ngobrolnya, iyaa dicoba, agak smile BCKKD/241117/15 16. Karena suasana belajarnya memang kayak friend, santai gak penuh dengan tekanan… 17. tiap pulang ke kota kelahiran kan saya lahir di Bandung suka sedih kan banyak problem... 18. …pilihannya antara saya happy berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati itu sebaik-baiknya… 19. Saya kepengen mamang Saswi yang nari. Friend BCKKD/241117/16 Problem BCKKD/5118/17 Happy BCKKD/5118/18 Mamang BCKKD/5118/19 BCKKD/211017/13 BCKKD/211017/14 20. …makanan yang beda daripada yang lain, Usum bandrek udah gak usum, papaya jus udah gak… 21. Bojo kok di bagi-bagi. Bojo BCKKD/5118/20 22. Teman-teman besok kita akan tour ke Tour Cibodas, tapi jangan lupa nyanyikan lagu BCKKD/9118/22 BCKKD/5118/21

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 saya! 23. Budget saya gak masuk. Budget BCKKD/9118/23 24. Dea inikan sebelum jadi Advocat perna Anclub bermain sinetron juga ya kan, anclub duh apa ya ?... 25. Saya gak tau, tiba-tiba ada aja dia, Sewitdak ngomongnya aja masih muda mbak, umurnya berapa mas? “Sweet.. sewitdak” BCKKD/15118/24 26. Ehak yang orang kulon ? Kulon BCKKD/17118/26 27. barat tu kulon apa wetan ? Wetan BCKKD/17118/27 28. Jadi gini kakang ini Mbak IIn….. Kakang BCKKD/17118/28 29. Nih gua kasih tau ada videonya nih gua save Save kemarin gua download 30. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah Follow raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana-mana selalu yoga, benar ya ? BCKKD/18118/29 BCKKD/16118/25 BCKKD/18118/30 31. Kang saya mau nanya nih, berbagi Basic BCKKD/5118/31 pengalaman, kang emil kan dulu basic nya adalah seorang arsitek… 32. Malah cengengesan Cengengesan BCKKD/19118/32 33. Pasti kalau sudah menyingung masalah laki- Lungkrah laki lungkrah BCKKD/19118/33 34. …dan dia ini sebagai icon di animal fashion, Icon ini tina mau ngajak kerjasama untuk sandal jepit BCKKD/19118/34 35. Di siarkan langsung dari studio satu Jakarta Host kita sambut host paling kece Sule dan Andre ! BCKKD/12418/35 36. Kalau saya sudah hafalnya, hafal cangkem. Cangkem BCKKD/12418/36 37. Yaaa kan biar bisa keliatan action! Action BCKKD/12418/37 38. Yaa udah kita invite aja ! melani Ricardo. Invite BCKKD/12418/38 39. …karna kita masih weekend masih sering ada Show show gitu! BCKKD/13418/39

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 40. Ini saya mau ngasih mas Anang snack ! Snack BCKKD/3618/40 41. Aduh Ndre jangan di habisin, nanti keburu Seep seep. 42. …tapi ya disempet-sempetin kalau lagi break Break syuting, suka bikin video di rumah jadi, selang-seling gitu sih sesempetnya. BCKKD/3618/41 BCKKD/3618/42 Tabel 4.4 Bentuk Kata Bentukan No Data Campur kode kode 1. aku beli online… 2. …aku kepengen pakai baju backless, yang Backless belakangnya bukaan. BCKKBK/21117/ 44 3. kalau dulu mah update status kayak anak- Upadate anak alay galau-galau gitu, sekarang digunakan untuk menginformasikan kegiatan pemkot menjawab pertanyaan-pertanyaan. BCKKBK/241117 /45 4. Nih gua kasih tau ada videonya nih gua save Download kemarin gua download BCKKBK/18118/ 46 5. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah Outdoor raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di mana-mana selalu yoga, benar ya ? BCKKBK/18118/ 47 Online BCKKBK/121117 /43 Tabel 4.5 Bentuk Kata Berimbuhan No. 1. Kalau gitu langsung opening dulu lah Campur Kode Opening 2. Saya dulu tukang megawe gitu… Megawe 3. …lalu dilakokke yang punya sawah lalu Dilakoke kesleo… Ya engakkkk, Cuma rumah saya mepet ini, Gandengan karena tulisanya terlalu gedhe jadi gandengan! speechless sih sebenernya. Speechless 4. 5. Data kode BCKKB/12117/48 BCKKB/15117/49 BCKKB/15117/50 BCKKB/28417/51 BCKKB/12517/52

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Fashionable BCKKB/20517/53 54. Dan Agnes ini orangnya sangat fashionable. Nah ini kan kebetulan Agnes sangat jago dalam hal fashion, pakiannya itu oke-oke lah… Gua lagi dengerin orang pada meeting. Meeting BCKKB/20517/54 55. Ini denger-denger ANYE mau nyari designer ? Designer BCKKB/20517/55 56. …untuk bisa menggunakan performance untuk mengingatkan orang-orang, bahwa ini itu harusnya gak biasa kayak gini, ini gak boleh dibiasakan… Rambut e teyengen Performance BCKKB/20517/56 6. 57. Teyengen BCKKB/17118/57 58. …karna kita masih weekend masih sering ada Weekend show gitu! BCKKB/13418/58 59. …yang bisa meinfluence orang juga kalau Meinfluence misalnya… Eeehh engak, emang kita kan di bagi menjadi Kid’s kids. BCKKB/3618/59 60. BCKKB/6618/60 Tabel 4.6 Data Bentuk Kata Ulang No. 61. Data Offair-offair itu masih ? Campur Kode Offair-offair Kode BCKKU/13418/61 Tabel 4.7 Data Bentuk Frasa No. 62. Data Campur Kode Kode Ini talkshow membuat kategori voice of the Voice of the BCKF/1117/62 year year. 63. Besok ini, jadi memang saya ada surprise project yang memang selama ini kita enggak ngomong-ngomongin tiba-tiba aja gitu, seru aja gitu kan ngeget-ngegetin orang. Surprise project BCKF/20517/63 64. sek to mas nangisku belum selesai. Sek to BCKF/12418/64 65. Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main film juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu ? Insiprasinya sih bisa dari mana aja ya, dari personal inspiration aku sendiri… Beauty influence BCKF/3618/65 Personal inspiration BCKF/3618/66 66.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 67. Ohhh Q and A itu question and answer. Question and answer BCKF/3618/67 Tabel 4.8 Data Faktor Penyebab Campur Kode Dari Segi Penutur No. Data 1. Ya ngomong, kamu kalau ngomong ini kolu. 2. Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang punya sapi pincang lalu disuru mijiti. Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang 3. Konteks Campur Kode Kolu Kode O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Sumatra Barat (Padang) Situasi malam hari. Acara tersebut bercanda ingin memberikan penghargaan kepada bintang tamu yang telah datang ke acara Ini talkshow selama satu tahun kemarin. O1 meminta untuk O2 membuka dan membacakan kategori yang akan dibacakan, namun O1 dan O2 dalam membacakan sedikit dengan nada bercandaan karena O1 dan O2 dituntut untuk menghibur para penonton dari kelucuannya. O1: Jawa Barat (Sunda) Megawe O2: Jawa Tengah (Megelang) O1 bertanya kepada O2 tentang awal menjadi pemijat sapi yang sakit, suasana santai penuh tawa, karena dilakukan dengan canda dan tawa karena situasi bukan situasi yang formal. Penutur sudah 50 tahun dan tinggal di desa, sering menggunakan bahasa daerah dari pada bahasa Indonesia. FCKSP/1117/1 O1: Jawa Barat (Sunda) FCKSP/15117/3 O2: Jawa Tengah (Megelang) O1 bertanya kepada O2 tentang awal menjadi pemijat sapi yang sakit, suasana santai penuh tawa, karena dilakukan dengan canda dan tawa karena situasi bukan situasi yang formal. Penutur sudah tua Dilakokke FCKSP/15117/2

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 punya sapi pincang lalu disuru mijiti. 4. Hoo katanya kelindes sepur. sekitar umur 50 tahun dan tinggak di desa, sering menggunakan bahasa daerah dari pada bahasa Indonesia. O1: Sumatra Barat (Padang) Sepur FCKSP/21317/4 O2: Jawa Tengah (Solo) O2 sedang mencari kakenya yang hilang, namun O2 juga menginginkan kakenya tidak untuk ditemukan, karena kakenya adalah orang yang rusuh yang sering membuat keributan di perumahan. Percakapan itu dilakukan di ruang tamu. 5. 6. Ya engak, Cuma rumah saya mepet ini, karena tulisannya terlalu gedhe jadi gandengan. O1: Jawa Barat (Sunda) Gedhe FCKSP/28417/5 O2: Jawa Timur Situasi malam hari dan situasi seang panik karena rumah O1 yang ditinggalin tidak dijual namun ada yang datang untuk membeli karena membaca iklan yang terpasang di depan Rumah, O1 tidak merasa membuat iklan dan tidak memiliki keinginan untuk menjual rumah akhirnya memanggil O2 dan menanyakan perihal iklan yang ada, ternyata hal tersebut kesalahan dari O2 karena memasang iklan yang terlalu panjang dan di rumah tidak cukup sehingga memanjang hingga rumah O2. Keadaan sedikit memanas karena tidak terima karena O1 banyak di datangi oleh pembeli yang ingin membeli rumahnya. Ya engak, O1: Jawa Barat (Sunda) Gandengan Cuma rumah saya mepet O2: Jawa Timur ini, karena Situasi malam hari dan situasi tulisannya terlalu gedhe seang panik karena rumah O1 yang ditinggalin tidak dijual jadi namun ada yang datang untuk FCKSP/28417/6

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 gandengan. 7. 8. Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi…. membeli karena membaca iklan yang terpasang di depan Rumah, O1 tidak merasa membuat iklan dan tidak memiliki keinginan untuk menjual rumah akhirnya memanggil O2 dan menanyakan perihal iklan yang ada, ternyata hal tersebut kesalahan dari O2 karena memasang iklan yang terlalu panjang dan di rumah tidak cukup sehingga memanjang hingga rumah O2. Keadaan sedikit memanas karena tidak terima karena O1 banyak di datangi oleh pembeli yang ingin membeli rumahnya. Simple FCKSP/81017/7 O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Papua Suasana malam hari. Suasana serius karena yang diundang adalah Direktur utama televisi tersebut. O1 yang bertugas untuk mewawancarai O2 juga bertanya menggunakan bahasa yang sopan tidak seperti biasanya, karena orang tersebut adalah orang yang sangat di hormati oleh para pengisi acara tersebut, O2 menjawab pertanyaan dengan serius, karena pertanyaan tesebut mengenai televisi yang sedang O2 rintis. Karena penutur orang terpelajar sering menggunakan bahasa asing dalm komunikasinya. Menurut O1: Jawa Barat (Sunda) Coach saya, coach Pak Djaja O2: Afrika pelatih Acara tersebut dilaksanakan terbaik… pada malam hari, O1 yang FCKSP/211017/8

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 9. 10. bertugas sebagai pembawa acara, menanyakan dengan serius, tentang pelatih kepada O2. Tetapi dalam menjawab O2 menjawab dengan bercanda dan ketawa, karena O2 merasa malu karena pelatihnya berada di dekatnya, O2 bukan berasal dari Indonesia tetapi berasal dari Afrika yang bekerja sebagai pemain bola di Indoensia membantu pemain-pemain Bandung. …dia punya O1: Jawa Barat (Sunda) Practice banyak O2: Afrika strategi, banyak Acara tersebut dilaksanakan practice… pada malam hari, O1 yang bertugas sebagai pembawa acara, menanyakan dengan serius, tentang pelatih kepada O2. Tetapi dalam menjawab O2 menjawab dengan bercanda dan ketawa, karena O2 merasa malu karena pelatihnya berada di dekatnya, O2 bukan berasal dari Indonesia tetapi berasal dari Afrika yang bekerja sebagai pemain bola di Indoensia membantu pemain-pemain Bandung. udah dapat O1: Jawa Barat (Sunda) Trophy empat trophy, itu O2: Afrika bagus saya Acara tersebut dilaksanakan senang. pada malam hari, O1 yang bertugas sebagai pembawa acara, menanyakan dengan serius, tentang pelatih kepada O2. Tetapi dalam menjawab O2 menjawab dengan bercanda dan ketawa, karena O2 merasa malu karena pelatihnya berada di dekatnya, O2 bukan berasal dari Indonesia tetapi berasal dari Afrika yang bekerja sebagai FCKSP/211017/9 FCKSP/211017/10

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 11. 12. 13. pemain bola di Indoensia membantu pemain-pemain Bandung. Udah tua O1 sedang bercanda dengan Londot udah tua, O2 yang berperan sebagai uratnya orang yang sudah tua, yang sudah sudah tidak mampu bergoyang londot. lama-lama. Karane O1 sering menggunakan bahasa Jawa sehingga setiap tuturannya pasti ada bahasa daerahnya. Karena O1: Jawa Barat (Sunda) Friend suasana O2: Jawa Barat (Sunda) belajarnya memang Situasi yang di tampilkan kayak friend, santai adalah situasi pada saat malam gak penuh hari, O1 memberikan sebuah pernyataan, dengan serius dan dengan O2 langsung memberikan tekanan, pertanyaan dari penyataan belajarnya tidak hanya yang telah disampaikan oleh O1, O1 langsung menjawab di kenal… dengan nada bernda dan sedikit sombong dengan pernyataan tersebut. Namun setelah itu O2 menyampaikan dengan nada santai. Situasi yang ditanyakan, bagaimana bisa O1 bisa sekolah di luar negeri dan mendapatkan membanggakan warga Bandung. Sifat O1 adalah orang yang santai dan suka bercanda. Kang saya O1: Sumatra Barat (Padang) Basic mau nanya nih, berbagi O2: Jawa Barat (Sunda) pengalaman, kang emil Situasi yang ditampilkan kan dulu adalah situasi malam hari. O1 basic nya menanyakan bagaimana O2 mampu memimpin kota adalah Bandung sedangkan latar seorang belakang bukan dari ilmu arsitek design terus pemerintahan namun dari jadi ke wali arsitektur, dan O2 menjawab kota itu dengan serius, dan tujuan tersebut menjadi sangat gimana penting dan serius karena ceritanya itu didalamnya di masukan ilmukang ? FCKSP/211017/11 FCKSP/241117/12 FCKSP/5118/13

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 14. 15. ilmu agama yang O2 anut, hal itu ditunjukan dengan tekanan-tekanan dalam setiap kata yang diujarkan oleh O2. kota di O1: Sumatra Barat (Padang) Problem China, di timur tengah O2: Jawa Barat (Sunda) bantu kotakota banyak, Situasi yang ditampilkan tiap pulang adalah situasi malam hari. O1 ke kota menanyakan bagaimana O2 mampu memimpin kota kelahiran Bandung sedangkan latar kan saya lahir di belakang bukan dari ilmu pemerintahan namun dari Bandung suka sedih arsitektur, dan O2 menjawab kan banyak dengan serius, dan tujuan tersebut menjadi sangat problem penting dan serius karena pilihannya antara saya didalamnya di masukan ilmuilmu agama yang O2 anut, hal happy itu ditunjukan dengan berkarier tekanan-tekanan dalam setiap sebagai kata yang diujarkan oleh O2. arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati itu sebaikbaiknya …saya tujuh O1: Sumatra Barat (Padang) Happy belas tahun kerja saya itu O2: Jawa Barat (Sunda) design kota di China, di Situasi yang ditampilkan timur tengah adalah situasi malam hari. O1 bantu kota- menanyakan bagaimana O2 memimpin kota kota banyak, mampu tiap pulang Bandung sedangkan latar ke kota belakang bukan dari ilmu pemerintahan namun dari kelahiran kan saya arsitektur, dan O2 menjawab lahir di dengan serius, dan tujuan tersebut menjadi sangat Bandung suka sedih penting dan serius karena kan banyak didalamnya di masukan ilmuilmu agama yang O2 anut, hal problem itu ditunjukan dengan pilihannya tekanan-tekanan dalam setiap antara saya kata yang diujarkan oleh O2. happy FCKSP/5118/14 FCKSP/5118/15

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 16. 17. 18. berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati itu sebaikbaiknya… Jadi tugas kalian menyiapkan segalanya ! Mamang tugasnya adalah mencari makanan yang beda daripada yang lain, bandrek udah gak usum, papaya jus udah gak usum, kopi udah gak usum, cari yang baru. Dea inikan sebelum jadi Advocat perna bermain sinetron juga ya kan, unclub duh apa ya ? nah terjun ke dunia Entertain lah terus akhirnya memutuskan menjadi seorang advocat. Malah cengengesan O1: Jawa Barat (Sunda) Usum FCKSP/5118/16 Unclub FCKSP/15118/17 O2: Jawa Barat (Sunda) Terjadi malam hari, saat akan kedatangan tamu, karena O1 sangat sering menggunakan bahasa Sunda, sehingga O1 lebih mengerti bahasa daerah tersebut, karena tamu yang akan datang juga berasal dari Sunda. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta O1 bertanya sebagai pembawa cara mengapa O2 meninggalkan dunia hiburan lalu menjadi pengacara, O1 bertanya karena memiliki rasa keinginan yang lebih dan penasaran dengan pilihan O2. O1: Jawa Tengah (Solo) Cengengesan FCKSP/19118/18

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 O2:Sumatra Barat (Padang) 19. 20. 21. 22. Dengan keadaan sedih, O1 sedang merasa sedih karena O2 mengingatkan tentang kekecewaan yang selama ini dipendamnya, O1 juga merasa marah saat disingguh tentang laki-laki, O1 memiliki rasa kecewa yang sangat dalam dengan seorang laki-laki. kalau O1: Jawa Tengah (Solo) Lungkrah Pasti sudah menyingung masalah laki-laki lungkrah sek to mas nangisku belum selesai. Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main film juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu ? FCKSP/19118/19 O2:Sumatra Barat (Padang) Dengan keadaan sedih, O1 sedang merasa sedih karena O2 mengingatkan tentang kekecewaan yang selama ini dipendamnya, O1 juga merasa marah saat disingguh tentang laki-laki, O1 memiliki rasa kecewa yang sangat dalam dengan seorang laki-laki. O1: Sumatra Barat (Padang) Sek to FCKSP/12418/20 O2: Jawa Tengah (Solo) O2 tertipu karena membeli baju yang salah sehingga O2 bersedih dan menangis ketika menangis tersebut keluar katakata ‘sek to’ ketika penutur O1 memerintah penutur O2 untuk berhenti menangis. O1: Jawa Barat (Sunda) Beauty Influence O2: Jakarta O1 ingin bertanya kepada O2 tentang membagi waktu yang sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Dalam tuturan tersebut O2 mengeluarkan kata-kata berbahasa asing (bahasa inggris). Kalau susah O1: Jawa Barat (Sunda) Break sih susah ya, kadang tu O2: Jakarta suka gak sempet gak O1 ingin bertanya kepada O2 rutin bikin tentang membagi waktu yang FCKSP/3618/21 FCKSP/3618/22

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 23. 24. 25 video di youtube, tapi ya disempetsempetin kalau lagi break syuting, suka bikin video di rumah jadi, selangseling gitu sih sesempetnya. …yang bisa meinfluence orang juga kalau misalnya… Eeehh engak, emang kita kan di bagi menjadi kids, remaja dan dewasa, jadi siapa saja yang mau sekolah mau belajar. sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Dalam tuturan tersebut O2 mengeluarkan kata-kata berbahasa asing (bahasa inggris). O1 : Padang Meninflunce FCKSP/3618/23 O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 mengenai isu-isu kecantikan yang yang diperbincangkan penggemar dari O2. O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan menyelibkan katakata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). O1 : Padang Kid’s FCKSP/6618/24 O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 mengenai tips-tips cara membuat video di Youtube menanyakan inspirasi pembuatan video tersebut kepada O2. Selanjutnya, O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan menyelibkan katakata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). Aduh Ndre O1: Sumatra Barat seep jangan di (Padang) abisisn nanti O2: Jawa Barat (Sunda) keburu seep Suasana di dapur, saat sedang menikmati mie instan, O2 membuat mie instan dan O1 mencicipi mie instan yang di buat oleh O2, namun bukan hanya mencicipi sendikit, namun ingin menghabiskan. FCKSP/3618/25

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 Sehingga O2 mengambil mangkuk yang di bawa O1 supaya tidak dihabiskan. O1 merebut mie instan milik O2. Ketika meminta mangkuk tersebut O2 mengeluarkan tuturan berbahasa sunda. Tabel 4.9 Data Faktor Penyebab Campur Kode Istilah yang Lebih Populer No Data konteks Camp Kode . ur Kode 1. Kalau gitu O1: Sumatra Barat (Padang) Openi FCKLP/121 langsung opening ng 17/25 O2: Jawa Barat (Sunda) dulu lah 2. Speechless sebenernya. Pada acara tersebut dilakukan pada malam hari, situasi tuturan tersebut saat acara sedang akan dimulai. O1 sedang berusaha mengalihkan pembicaraan karena sudah terlalu lama bercanda sampai lupa kalau belum ada seremoni untuk membuka dan menyambut penonton, O1 adalah orang yang melakukan pertama kali campur kode dan O2 mengikuti campur kode pada pembicaraannya. O1 menggunakan campur kode karena kata tersebut dianggap lebih sering digunakan dalam oleh penutur. sih O1: Jawa Timur (nganjuk) Speech FCKLP/125 less 17/26 O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 tentang perasaan kedatangan penyanyi idolanya, karena O2 masih usia remaja bahasa-bahasa yang digunakan pun menggunakan bahasa sesuai umur O2, bahasa yang sedang populer dikalangan seusia O2.

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 3. 4. 5 Dan Agnes ini orangnya sangat fashionable. Nah ini kan kebetulan Agnes sangat jago dalam hal fashion, pakiannya itu oke-oke lah, ini saya, ada beberapa foto saya, saya minta dikasih masukanlah, kirakira saya cocoknya pakai apa ?” Ada motivasi gak ? biasanya mas Tama ada quote, hari ini ni quote untuk pemirsa apa ? O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta Fashio nable FCKLP/205 17/27 Quote FCKLP/810 17/28 Acara tersebut dilakukan pada malam hari. O1 bertugas sebagai pembawa acara . O1 bertanya serius tentang gaya berpakaian yang digunakan kepada O2, karena O2 dianggap sebagai orang yang mengerti tentang gaya berpakaian, dan fasih dalam menggunakan bahasa asing. O1: Sumatra Barat (Padang) O2: Jakarta Acara tersebut dilakukan pada malam hari, disebuah studio televisi yang di konsep seperti di dalam rumah. O1 yang bertugas sebagai pembawa acara menanyakan tentang rencana yang akan dilakukan oleh O2 pada bulan oktober tersebut. O2 yang terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, dalam menjawab pertanyaan langsung menggunakan bahasa Inggris. cara yang di sampaikan dengan senang hati karena O2 akan menggeluarkan merek baju miliknya yang di bangun selama ini. Buat om Firman O1: Jawa Barat (Sunda) Team nih, selama main di PERSIB, yang O2: Sulawesi Utara (Manado) paling berkesan Acara tersebut terjadi pada malam itu saat bertemu hari. O1 yang merupakan dengan team pembawa acara bertanya kepada mana ? O2 yang bekerja sebagai atlit sepak bola. Perbincangan tersebut FCKLP/211 017/29

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 6. 7. 8. mengacu pada suatu pertanyaan yang ingin di sampaikan serius. O1 adalah penutur yang pertama kali melakukan campur kode, dan selanjutnya O2 melakukan campur kode lagi karena kata tersebut lebih sering digunakan oleh O2. Paling berkesan O1: Jawa Barat (Sunda) Enjoy kalau derbia, team derbi O2: Sulawesi Utara (Manado) PERSIB dengan Acara tersebut terjadi pada malam AREMA, hari. O1 yang merupakan PERSIB dengan pembawa acara bertanya kepada PERSIJA Jakarta, O2 yang bekerja sebagai atlit itu membangun sepak bola. Perbincangan tersebut adrenalin menjadi mengacu pada suatu pertanyaan lebih enjoy dan yang ingin di sampaikan serius. lebih figth di O1 adalah penutur yang pertama lapangan. kali melakukan campur kode, dan selanjutnya O2 melakukan campur kode lagi karena kata tersebut lebih sering digunakan oleh O2. Paling berkesan O1: Jawa Barat (Sunda) Fight kalau derbia, team derbi O2: Sulawesi Utara (Manado) PERSIB dengan Acara tersebut terjadi pada malam AREMA, hari. O1 yang merupakan PERSIB dengan pembawa acara bertanya kepada PERSIJA Jakarta, O2 yang bekerja sebagai atlit itu membangun sepak bola. Perbincangan tersebut adrenalin menjadi mengacu pada suatu pertanyaan lebih enjoy dan yang ingin di sampaikan serius. lebih figth di O1 adalah penutur yang pertama lapangan. kali melakukan campur kode, dan selanjutnya O2 melakukan campur kode lagi karena kata tersebut lebih sering digunakan oleh O2. aku beli online, O1: Jawa Tengah (Solo) Online aku kepengen pakai baju O2: Sumatra Barat (Padang) backless, yang O1 merasa tertipu dengan barangbelakangnya barang yang dibeli di media FCKLP/211 017/30 FCKLP/211 017/31 FCKLP/121 117/32

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 9. 10. 11. 12. bukaan sosial, menggunakan kata-kata tersebut karena penutur dan lawan tutur lebih memahami bahasa dari bahasa asing. aku beli online, aku kepengen pakai baju backless, yang belakangnya bukaan. O1: Jawa Tengah (Solo) …kalau dulu mah update status kayak anak-anak alay galau-galau gitu, sekarang digunakan untuk menginformasika n kegiatan pemkot menjawab pertanyaanpertanyaan. Teman-teman besok kita akan tour ke Cibodas, tapi jangan lupa nyanyikan lagu saya! O2: Sumatra Barat (Padang) Backle ss FCKLP/121 117/33 O1 merasa tertipu dengan barangbarang yang dibeli di media sosial, menggunakan kata-kata tersebut karena penutur dan lawan tutur lebih memahami bahasa dari bahasa asing. O1: Jawa Barat (Sunda) Update FCKLP/241 O2: Jawa Barat (Sunda) 117/34 O2 merupakan orang yang sangat mengikuti tren anak-anak muda. Karena O2 adalah seorang bupati yang ingin lebih dekat dengan generasi muda, sehingga supaya lebih mudah dalam berkomunikasi O2 melakukan campir kode yang lebih dimengerti oleh anak-anak muda. O1: Jakarta Tour O2: Jakarta O1 dan O2 berasal dari jakarta dan mengetahu bahasa yang sedang populer hingga penutur berbicara santai saja dengan meggunakan bahasa asing karena mereka sama-sama mengerti. Budget saya gak O1: Jawa Barat (Sunda) Budget masuk. O2: Jawa Barat (Sunda) O2 datang kebingungan karena ingin mebuat film pendek, namun tidak akan aktris yang cocok untuk memerankan peran itu, lalu O1 menawarkan aktris yang jago berakting, namun O2 menolak, karena aktris yang ditawarkan oleh O1 sangat mahal, O2 tidak mempu untuk membayarnya. Sehari-hari penutur lebih sering FCKLP/911 8/35 FCKLP/911 8/36

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 13. Nih gua kasih tau ada videonya nih gua save kemarin gua download 14. Nih gua kasih tau ada videonya nih gua save kemarin gua download. 15. Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di manamana selalu yoga, benar ya ? 16. Kan saya follow instagramnya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta O3: Jawa Barat (Sunda) Pada saat malam hari. O2 sedang kacau karena di tinggal oleh pacarnya menikah. Saat sedang melupakan mantannya, O1 justru membicarakan tentang kejadian yang sedang dibicarakan oleh masyarakat, yang sama dengan kejadian yang dialami oleh O2. Sehingga O2 marah karena terus diingatkan, lalu O3 mengejek dengan kejadian yang dialami oleh O2. O1 sedang berusaha untuk menghibur. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta O3: Jawa Barat (Sunda) Pada saat malam hari. O2 sedang kacau karena di tinggal oleh pacarnya menikah. Saat sedang melupakan mantannya, O1 justru membicarakan tentang kejadian yang sedang dibicarakan oleh masyarakat, yang sama dengan kejadian yang dialami oleh O2. Sehingga O2 marah karena terus diingatkan, lalu O3 mengejek dengan kejadian yang dialami oleh O2. O1 sedang berusaha untuk menghibur. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Sumatra Barat (Padang) O1 dan O2 menanyakan keadaan rumah atau kabar dari bintang tamu yang sedang berkunjung. Karena acara tersebut di tonton oleh semua kalangan umur sehingga O1 dan O2 berusaha untuk menunjukan eksistensi di hadapan orang. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Sumatra Barat (Padang) Save FCKLP/181 18/37 Downl oad FCKLP/181 18/38 Follow FCKLP/181 18/39 Outdo or FCKLP/181

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 sofie ya, olah raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di manamana selalu yoga, benar ya ? 17. Ya sesibuk apapun mas Anang kita tetep ngeluarin lagu gitu, karna kan awal mulanya ketemunya duet dari nyanyi jadi sampai sekarang pun pengen terus berkarya, karna kita masih weekend masih sering ada show gitu! 18. …mulanya ketemunya duet dari nyanyi jadi sampai sekarang pun pengen terus berkarya, karna kita masih weekend masih sering ada show gitu! 19. Offair-offair itu masih ? 20. Ini saya mau ngasih mas Anang snack ! O1 dan O2 menanyakan keadaan rumah atau kabar dari bintang tamu yang sedang berkunjung. Karena acara tersebut di tonton oleh semua kalangan umur sehingga O1 dan O2 berusaha untuk menunjukan eksistensi di hadapan orang. O1: Jawa Barat (Sunda) Weeke O2: Jakarta nd O1 ingin bertanya kepada O2 tentang membagi waktu yang sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Ketika bertanya O1 menyelipkan bahasa asing (bahasa Inggris) dalam tuturannya kepada O2. 18/40 O1: Jawa Barat (Sunda) Show O2: Jakarta O1 ingin bertanya kepada O2 tentang membagi waktu yang sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Ketika bertanya O1 menyelipkan bahasa asing (bahasa Inggris) dalam tuturannya kepada O2. FCKLP/134 18/42 O1: Jawa Barat (Sunda) OffairO2: Jakarta offair O1 ingin bertanya kepada O2 tentang membagi waktu yang sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Ketika bertanya O1 menyelipkan bahasa asing (bahasa Inggris) dalam tuturannya kepada O2. O1: Sumatra Barat (Padang) Snack O2: Jawa Barat (Sunda) Suasana di dapur, saat sedang menikmati mie instan, O2 FCKLP/134 18/43 FCKLP/134 18/41 FCKLP/361 8/44

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 21. 22. Insiprasinya sih bisa dari mana aja ya, dari personal inspiration aku sendiri, terus juga bisa dari orangorang, dari temen, atau dari youtube juga, aku juga suka nonton video gitu. Ohhh Q and A itu question and answer. membuat mie instan dan O1 mencicipi mie instan yang di buat oleh O2, namun bukan hanya mencicipi sendikit, namun ingin menghabiskan. Sehingga O2 mengambil mangkuk yang di bawa O1 supaya tidak dihabiskan. O1 merebut mie instan milik O2. O1 : Padang O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 mengenai tips-tips cara membuat video di Youtube menanyakan inspirasi pembuatan video tersebut kepada O2. Selanjutnya, O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan menyelibkan kata-kata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). O1 : Padang O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 mengenai tips-tips cara membuat video di Youtube menanyakan inspirasi pembuatan video tersebut kepada O2. Selanjutnya, O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan menyelibkan kata-kata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). Person al inspira tion FCKLP/361 8/45 Questi FCKLP/361 on and 8/46 answer Table 4.10 Data Faktor Penyebab Campur Kode Sekedar Gengsi No. 1. Data Konteks Campu Kode r Kode Ini talkshow membuat O1 : Padang Voice FCKSG/111 kategori voice of the O2: Jakarta of the 7/47 O1 menanyakan kepada O2 year year. mengenai tips-tips cara membuat video di Youtube menanyakan inspirasi pembuatan video tersebut kepada O2. Selanjutnya, O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 2. 3. 4. menyelibkan kata-kata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). Gua lagi dengerin orang O1: Jawa Barat (Sunda) pada meeting. O2: Jakarta (Betawi) O1 menanyakan kepada O2, mengapa menggunakan pakaian yang rapi, O2 yang sedang bepakaian rapi tidak seperti biasanya bergaya ingin menunjukan eksistensinya di depan O1, karena O2 baru pulang dari mengikuti seminar yang berisi pengusaha-penguasaha kaya. Ini denger-denger O1: Jawa Barat (Sunda) ANYE mau nyari O2: Jakarta designer ? Pada saat malam hari dengan suasana santai. O1 ingin mendaftarkan diri sebagai perancang busana, took baju milik O2, O1 berusaha meyakinkan O2 dengan penampilan berpakaiannya supaya diterima menjadi perancang busana toko milik O2. Karena O1 dalam kehidupan seharihari tidak biasa menggunakan bahasa asing. Yaa udah kita invite aja O1: Jawa Barat (Sunda) ! melani Ricardo. O2: Jakarta Suasana saat malam hari, saat acara ini talkshow akan dimulai untuk memanggil minting tamu, untuk memasuki studio. Meetin g FCKSG/205 17/48 Design er FCKSG/205 17/49 Invite FCKSG/124 18/50

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 Table 4.11 Data Faktor Penyebab Campur Kode Keterbatasan Kode No Data . 1. Belum, tapi aku bulan depan aku emm dapat film dan semoga aku main first film. 2. Besok ini, jadi memang saya ada surprise project yang memang selama ini kita enggak ngomong-ngomongin tiba-tiba aja gitu, seru aja gitu kan ngegetngegetin orang. Konteks Campu Kode r Kode First FCKKK/12 117/51 O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Australia Pada acara tersebut situasi pada malam hari. O1 sedang bertanya kepada O2 tentang karier di Indonesia, karena O2 berasal dari Australia yang memiliki keturunan Indonesia dan mendapat tawaran untuk kerja di Indonesia sebagai pemain film, O2 melakukan campur kode karena kehabisan kode dalam bahasa Indonesia sehingga O2 mencampur kode ke dalam bahasa Inggris. O1: Sumatra Barat Surpris (Padang) e O2: Jakarta project Acara tersebut dilakukan pada malam hari, disebuah studio televisi yang di konsep seperti di dalam rumah. O1 yang bertugas sebagai pembawa acara menanyakan tentang rencana yang akan dilakukan oleh O2 pada bulan oktober tersebut. O2 yang terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, dalam menjawab pertanyaan langsung menggunakan bahasa Inggris. cara yang di sampaikan dengan senang hati karena O2 akan menggeluarkan merek baju miliknya yang di bangun FCKKK/20 517/52

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 selama ini. Table 4.12 Data Faktor Penyebab Campur Kode Pembicara dan Pribadi Pembicara No Data Konteks Campu kode . r Kode 1. …salah satu tanggung O1: Jawa Barat (Sunda) Perfor FCKPP/205 jawab aku sebagai orang O2: Jakarta mance 17/53 yang bekerja di under O2 merupakan orang yang spot light untuk bisa terpelajar dan bekerja di dunia musik dunia yang menggunakan berkomunikasi performance untuk sering mengingatkan orang- dengan orang-orang asing. orang, bahwa ini itu harusnya gak biasa kayak gini, ini gak boleh dibiasakan, aku yakin kok kalau orang-orang di Indonesia… 2. Ehak yang orang kulon O1: Jawa Barat (Sunda) Kulon FCKPP/171 O2: Jakarta (Betawi) ? 18/54 O3: Jawa Barat (Sunda) O4: Jawa Tengah (Solo) Dalam situasi ini O2 adalah orang yang tuna rungu, namun saat ditanya tentang uang, makan, dan perempuan dia pasti dengar. O1 yang sudah mengetahu hal tersebut, lalu menanyakan tentang perempuan, dan O2 langsung menjawab. O3 yang berniat datang bersama O4 untuk membicarakan tentang sesuatu, namun O2 tidak mendengarnya, lalu O4 merasa kesal karena diajak berbicara tidak bisa, lalu merasa kesal dengan perempuan yang dimaksud oleh O1 dan O2 lalu O4 mengejek perempuan “bule” tersebuat dengan sebuatan seperti itu.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 3. 4. Barat tu wetan ? kulon apa O1: Jawa Barat (Sunda) Wetan O2: Jakarta (Betawi) O3: Jawa Barat (Sunda) O4: Jawa Tengah (Solo) Dalam situasi ini O2 adalah orang yang tuna rungu, namun saat ditanya tentang uang, makan, dan perempuan dia pasti dengar. O1 yang sudah mengetahu hal tersebut, lalu menanyakan tentang perempuan, dan O2 langsung menjawab. O3 yang berniat datang bersama O4 untuk membicarakan tentang sesuatu, namun O2 tidak mendengarnya, lalu O4 merasa kesal karena diajak berbicara tidak bisa, lalu merasa kesal dengan perempuan yang dimaksud oleh O1 dan O2 lalu O4 mengejek perempuan “bule” tersebuat dengan sebuatan seperti itu. Jadi gini kakang ini O1: Jawa Barat (Sunda) Kakang Mbak IIn….. O2: Jakarta (Betawi) O3: Jawa Barat (Sunda) O4: Jawa Tengah (Solo) Dalam situasi ini O2 adalah orang yang tuna rungu, namun saat ditanya tentang uang, makan, dan perempuan dia pasti dengar. O1 yang sudah mengetahu hal tersebut, lalu menanyakan tentang perempuan, dan O2 langsung menjawab. O3 yang berniat datang bersama O4 untuk membicarakan tentang sesuatu, namun O2 tidak mendengarnya, lalu O4 FCKPP/171 18/55 FCKPP/171 18/56

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 5. (tertawa) teyengen Rambut merasa kesal karena diajak berbicara tidak bisa, lalu merasa kesal dengan perempuan yang dimaksud oleh O1 dan O2 lalu O4 mengejek perempuan “bule” tersebuat dengan sebuatan seperti itu. e O1: Jawa Barat (Sunda) Teyeng O2: Jakarta (Betawi) en O3: Jawa Barat (Sunda) O4: Jawa Tengah (Solo) Dalam situasi ini O2 adalah orang yang tuna rungu, namun saat ditanya tentang uang, makan, dan perempuan dia pasti dengar. O1 yang sudah mengetahu hal tersebut, lalu menanyakan tentang perempuan, dan O2 langsung menjawab. O3 yang berniat datang bersama O4 untuk membicarakan tentang sesuatu, namun O2 tidak mendengarnya, lalu O4 merasa kesal karena diajak berbicara tidak bisa, lalu merasa kesal dengan perempuan yang dimaksud oleh O1 dan O2 lalu O4 mengejek perempuan “bule” tersebuat dengan sebuatan seperti itu. FCKPP/171 18/57 Tabel 4.13 Data Faktor Penyebab Campur Kode Fungsi dan Tujuan No Data Konteks Campu kode . r Kode 1. Gaya yang snake O1: Sumatra Barat Snake FCKFT/251 (Padang) 17/58 O2: Jawa Barat (Sunda) O1 ingin menanyakan kepada O2 gaya andalan penyanyi rocker yang sedang diperankan. O1

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 2. Saya kepengen mamang Saswi yang nari. 3. Jimmy ini kan terkenal sebagai perancang baju terbaik di dunia, jimmy saya lihat penampilannya unik sekali ya, dan dia ini sebagai icon di animal fashion, ini tina mau ngajak kerjasama untuk sandal jepit 4. Di siarkan langsung dari studio satu Jakarta kita sambut host paling kece Sule dan Andre ! mengingkan O2 yang berperan sebagai penyanyi rocker luar negeri untuk mempraktekkan gaya andalan, penyanyi yang diperankan berasal dari luar negeri yang memperkenalkan goyang snake. O1: Jawa Tengah (purbalingga) O2: Jawa Barat (sunda) Karena O1 ingin lebih akrab atau dekat dengan orang yang berasal dari Sunda maka, O1 ingin menggunakan bahasa yang sama. O1: Sumatra Barat (Padang) O2: Jawa Barat (Sunda) O3: Jakarta Suasana malam hari, O2 yang berakting sebagai perancang busana terbaik di dunia, dan O1 menawarkan kepada tamunya untuk menggunakan jasa perancang tersebut, karena O3 ingin bekerja sama membuat sandal, dan akan diproduksi. Suasana dengan santai dan penuh canda tawa. O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta Salah seorang pemain musik, memanggil pembawa acara dan rekannya untuk masuk ke studio. Maman g FCKFT/511 8/59 Icon FCKFT/191 18/60 Host FCKFT/E12 418/61 Tabel 4.14 Data Faktor Penyebab Campur Kode Membangkitkan Rasa Humor

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 No Data . 1. Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi…. 2. Saya gak tau, tiba-tiba ada aja dia, ngomongnya aja masih muda mbak, umurnya berapa mas? “Sweet.. sewitdak” 3. Kalau saya sudah hafalnya, hafal cangkem Konteks O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta (Betawi) Mengacu pada nadadan cara suatu ujaran dikatakan dengan nada yang emosi. O1 berusaha untuk menenangkan O2. Karena O2 sangat emosi berbicara tidak di dengarkan malah justru di tinggal pergi karena Pak RT (Pak Bolot) yang berperan sebagai orang yang tuna rungu, sehingga tidak medengarkan apa yang dikatakan O2. Di tunjukan dengan gerakan tubuh O2 yang menunjuk-nunjuk dengan telunjuknya, karena merasa di hina karena tidak di dengarkan. O1: Jawa Tengah (Solo) O2: Jawa Barat (Sunda) O1 bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi dijalan, tiba-tiba ada yang mendekati, saat sedang dijalan dan mengajak berkenalan saat ditanya umurnya berapa menjawabnya dengan bercanda, O1 merasa takut jika diikuti sampai rumah, karena hal tersebut O1 melapor kepada O2 orang yang dianggap bisa melindungi. O1: Jawa Tengah (Solo) O2: Jawa Barat (Sunda) O2 sedang membaca buku tamu yang perna datang ke Campu Kode r Kode Smile FCKMH/24 1117/62 Sewitda FCKMH/16 k 118/63 Cangke m FCKMH/12 418/64

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 4. Yaaa kan biar keliatan action! rumah, namun ternyata buku tamu tesebut kosong, hanya untuk akting saja, namun O1 merasa kesal dengan tingkah O2 yang membaca kertas kosong, dan ingin membuat tertawa penonton dengan membocorkan bahwa buku yang di bawa O1 adalah buku tamu yang tidak ada tulisannya. bisa O1: Jawa Tengah (Solo) Action O2: Jawa Barat (Sunda) O2 sedang membaca buku tamu yang perna datang ke rumah, namun ternyata buku tamu tesebut kosong, hanya untuk akting saja, namun O1 merasa kesal dengan tingkah O2 yang membaca kertas kosong, dan ingin membuat tertawa penonton dengan membocorkan bahwa buku yang di bawa O1 adalah buku tamu yang tidak ada tulisannya. FCKMH/12 418/65 Tabel 4.15 Data Faktor Penyebab Campur Kode Mitra Bicara No Data . 1. Bojo kok di bagi-bagi. Konteks O1: Jawa Timur (Malang) O2: Jawa Barat (Sunda) O3: Jawa Tengah (Solo) Suasana pada saat malam hari, O1 ingin bercanda dengan istri yang diperankan nunung O3, karena O3 mengetahui bahwa O1 juga mengerti bahasa Jawa sehingga O3 menggunakan bahasa Jawa. Campu Kode r Kode Bojo FCKMB/51 18/67

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN TRIANGULASI

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Triangulasi Data Data kata dan hasil penelitian skripsi dengan judul Jenis, Bentuk, dan Faktor Peyebab Campur Kode Dalam Perbincangan Pengisi Acara “Ini Talkshow” di NET TV. Oleh: Kristina Dewi Arta Setyaningrum (141224008) Pembimbing I: Dr. B. Widharyanto, M.Pd. Petunjuk Triangulasi: 1. Triangulator memberikan tanda centang () pada kolom Ya/Tidak yang menggambarkan penelitian anda. 2. Berikan catatan pada kolom keterangan yang dapat membantu kebenaran hasil analisis jenis, bentuk, dan faktor campur kode. 3. Setelah mengisi tabulasi data, triangulator membubuhi tanda tangan pada akhir. No Triangulasi Data Kata Dalam Perbincangan 1. Sule: Oke Andre silakan Andre Deskripsi kata campur kode Dalam tersebut campur Jenis kata tuturan Voice of the year merupakan termasuk dalam kode dari jenis campur kode 137 Bentuk kata Faktor Jeni s Kat a Bent uk Kat a Fakto r Y Y Y* Peristiwa campur kode Pada tuturan ini  yang terjadi dalam disebabkan oleh faktor tuturan tersebut termasuk kebahasaan untuk sekedar T  T  T*

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Andre:Oke, baik semua orang dianugrahi oleh suara yang berbeda-beda Sule: Oleh uara yang berbeda-beda gimana ? semua orang dianugrahi suara yang berbeda-beda Andre : Yaaa itu dia Sule dan andre : Ini talkshow membuat kategori voice of the year. Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Sumatra (Padang) Barat bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Situasi malam hari. 138 dalam campur kode bergengsi dan tingkat penyisipan frasa. tutur bahasa. Karena Penyisipan tersebut faktor situasi dan faktor terjadi dari bahasa topik yang sedang dibuat Indonesia ke bahasa oleh acara tersebut. Hal Inggris. ini terjadi karena acara tersebut ingin Seperti pada data berikut. memberikan penghargaan, dalam Voice of the year memberikan kategori supaya lebih menarik, S K memberikan nama Data tersebut diketahui dengan menggunakan sebagai bentuk frasa bahasa Inggris. Namun keterangan karena frasa hal ini tidak langsung dari tersebut menunjukkan penuturnya karena pada suatu acara atau peristiwa campur kode ini tertentu. Menurut Ramlan disebabkan karena faktor (1987: 57) Frasa tuntutan yang minta oleh keterangan adalah frasa tim kerja supaya acara yang memiliki distribusi yang dibuat lebih yang sama dengan kata menarik, dalam tingkat keterangan. tutur didasarkan pada pertimbangan mitra bicara. Pertimbangan ini menunjukan suatu pendirian terhadap topik

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Acara tersebut sedikit serius karena ingin memberikan penghargaan kepada bintang tamu yang telah datang ke acara Ini talkshow selama satu tahun kemarin. O1 meminta untuk O2 untuk mengawali atau membuka untuk membacakan kategori yang akan dibacakan, namun O1 dan O2 dalam membacakan sedikit dengan nada bercandaan karena O1 dan O2 dituntut untuk menghibur para penonton dari kelucuannya. 2. Tukul: Ngomong ! Dalam tuturan tersebut merupakan Nunung: Yaa campur kode dari ngomong, kamu kalau bahasa Jawa. campur ngomong ini kolu. kode ini termasuk tertentu relevansi dengan situasi tertentu. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Kolu terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169- 139 Peristiwa campur kode yang terdapat pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh faktor kebahasaan karena mitra bicara karena kedua penutur memiliki latar  

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tukul: Sudahlah, dalam jenis campur habis empat saya! kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi Konteks: (2014: 140-141) campur kode ke O1: Jawa Tengah dalam adalah campur (Semarang) kode yang menyerap O2: Jawa Tengah unsur-unsur bahasa (Solo) asli yang masih sekerabat. Misalnya Situasi malam hari. dalam peristiwa Acara tersebut sedikit campur kodetuturan serius karena ingin bahasa Indonesia memberikan terdapat di dalamnya penghargaan kepada unsur-unsur bahasa bintang tamu yang Jawa, Sunda, Bali, telah datang ke acara dan bahasa daerah Ini talkshow selama lainnya. satu tahun kemarin. O1 meminta untuk O2 untuk mengawali atau membuka untuk membacakan kategori yang akan dibacakan, namun O1 dan O2 170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. 140 dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Kolu dalam bahasa Indonesia berarti “tertelan”. Menurut Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata kolu hanya terdapat satu suku kata. belakang berasal dari Jawa yang sama, karena pertama-tama menggunakan bahasa Indonesia namun penutur mengetahui kesamaan latar belakang dan paham bahasa Jawa sehingga penutur menggunakan bahasa Jawa yang dimengerti juga oleh lawan tuturnya. Karena kedua penutur mengerti dan paham bahasa Jawa karena mereka berasal dari daerah yang sama bahasanya. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam membacakan sedikit dengan nada bercandaan dan santai. 3. Andre: Kalau gitu Dalam tuturan langsung opening dulu tersebut merupakan lah campur kode dari bahasa Inggris. Sule: Oh iya tidak campur kode ini usah opening kita termasuk dalam jenis langsung tanya aja campur kode ke luar, penonton ini dari karena menggunakan mana? bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar Konteks: adalah campur kode O1: Sumatra Barat yang menyerap (Padang) unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala O2: Jawa Barat campur kode pada (Sunda) pemakaian bahasa Indonesia terdapat Pada acara tersebut bahasa dilakukan pada malam sisipan Belanda, Inggris, hari, situasi tuturan Arab, bahasa tersebut saat acara sedang akan dimulai. Opening termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170) bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 141 Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata berimbuhan. kata opening terdiri dari kata dasar open yang mendapat sufiks –ing. Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih.(Baryadi, 2011: 18) Perbincangan ini  disebabkan oleh faktor kebahasaan Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Kata “opening” termasuk dalam istilah yang lebih populer jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Karena acara tersebut sudah menjadi acara yang besar sering menggunakan kata-kata yang lebih populer. Dalam tuturan campur kode tersebut lawan turur menjadi mengikuti campur kode dikarenakan lawan tuturnya.  

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O1 sedang berusaha mengalihkan pembicaraan karena sudah terlalu lama bercanda sampai lupa kalau belum ada seremoni untuk membuka dan menyambut penonton, O1 adalah orang yang melakukan pertama kali campur kode dan O2 mengikuti campur kode pada pembicaraannya. O1 menggunakan campur kode karena kata tersebut dianggap lebih sering digunakan dalam oleh penutur. 4. Sule: Katanya kamu berperan di film layar lebar ? Richard: Ya aku mau coba main film di Sansekerta, dll. Dalam tersebut campur bahasa campur termasuk tuturan merupakan kode dari Inggris. kode ini dalam jenis First termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170) 142 Peristiwa campur kode yang terjadi tuturan tersebut termasuk dalam penyisipan kata dasar. kata dasar first yang berarti “pertama”. Perbincangan ini  disebabkan oleh faktor kebahasaan, karena keterbatasan kode, hal ini disebabkan karena penutur tidak mengerti  

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Indonesia. campur kode ke luar, karena menggunakan Sule: Sudah bermain ? bahasa asing, karena menurut Suandi Richard: Belum, tapi (2014: 140-141) aku bulan depan aku campur kode ke luar emm dapat film dan semoga aku main first adalah campur kode yang menyerap film. unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada Konteks pemakaian bahasa Indonesia terdapat O1: Jawa Barat sisipan bahasa (Sunda) Belanda, Inggris, Arab, bahasa O2: Australia Sansekerta, dll. Pada acara tersebut situasi pada malam hari. O1 sedang bertanya kepada O2 tentang karier di Indonesia, karena O2 berasal dari Australia yang memiliki keturunan Indonesia dan mendapat tawaran bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 143 Menurut Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata first hanya terdapat satu suku kata. bahasa yang cocok, karena penutur tidak berasal dari Indonesia asli, belum fasih dalam berbahasa Indonesia, masih belajar, sehingga dalam berbicara masih menggunakan bahasa Inggris untuk mengimbangi. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk kerja di Indonesia sebagai pemain film, O2 melakukan campur kode karena kehabisan kode dalam bahasa Indonesia sehingga O2 mencampur kode ke dalam bahasa Inggris. 5. Sule: Pak ini bagaimana awalnya kok kepikiran untuk menjadi orang yang memijit sapi ? idenya darimana ? Yasmudi: Saya dulu tukang megawe gitu, lalu dilakokke yang punya sawah lalu kesleo, lalu saya pijitin sembuh, lalu ada orang punya sapi pincang lalu disuru mijiti. Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Jawa. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya Megawe dan dilakokke terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. 144 Bentuk campur kode pada kata megawe dan dilakoke termasuk dalam kata berimbuhan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Dapat dibuktikan degan: 1. Kata megawe berasal dari kata dasar gawe yang berarti “membuat”. Jika diberi imbuhan Mepada awal kata berarti “bekerja” 2. Dilakokake berasal dari kata dasar lakon yang berarti perjalanan, dalam kata Faktor terjadinya campur  kode pada data tersebut disebabkan oleh faktor penutur. menurut Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Penutur yang berasal dari Magelang, yang memiliki latar belakang bahasa Jawa, karena faktor lingkungan dan usia penutur juga yang sudah tua dan tinggal di daerah pedesaan yang berkomunikasi lebih banyak menggunakan bahasa Jawa dari pada  

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Konteks: dalam peristiwa campur kodetuturan O1: Jawa Barat bahasa Indonesia (Sunda) terdapat di dalamnya O2: Jawa Tengah unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, (Megelang) dan bahasa daerah O1 bertanya kepada lainnya. O2 tentang awal menjadi pemijat sapi yang sakit, suasana santai penuh tawa, karena dilakukan dengan canda dan tawa karena situasi bukan situasi yang formal. Penutur sudah tua sekitar umur 50 tahun dan tinggak di desa, sering menggunakan bahasa daerah dari pada bahasa Indonesia. 6. Andre: Cari siapa ? Dalam tuturan tersebut merupakan Nunung :Kakek campur kode dari Andre: Kakeknya bahasa Jawa. campur Sepur terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat 145 tersebut di berikan Didan –Ke Hal ini sesuai dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih menggunkan bahasa Indonesia, karena bahasa pertama penutur adalah bahasa Jawa. Peristiwa campur kode pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh faktor penutur. menurut Jendra (dalam Suandi,  

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ilang ? Nunung: Hoo katanya kelindes sepur Andre: Wahhh berarti sudah meninggal dong Nunung: Tapi aku gak percaya, karena aku belum lihat sendiri, mudah-mudahan sih iya. Andre: Wahhh ya jangan dong, ngomong-ngomong kakeknya ciri-cirinya gimana ? Nunung: Dah tua! Andre: Kalau kakek ya pasti tua, mukanya kotak, terus ada rambutnya putih semua, gak ada yang item. kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerat. 146 dasar. Kata sepur adalah kata serap dari bahasa Belanda Spoor (Dict.com diakses 13 juni 2018 pukul 13.30) yang memiliki bentuk kata dasar. Kata spoor sendiri dalam bahasa Belanda memiliki arti ‘jalur kereta api’. Sedangkan dalam bahasa Jawa sendiri memiliki arti ‘kereta api’. Karena kedua arti tersebut memiliki arti yang berdekatan, maka oleh orang jawa kata spoor (sepur) diartikan sebagai kereta api. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara ,2015:29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata sepur hanya terdapat satu 2014: 169-170). Penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Jawa khususnya Solo, yang memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa Jawa. Jadi, bahasa Indonesinya akan sering disisipi oleh unsur bahasa Jawa dalam tuturannya. Kata sepur juga berasal dari bahasa Belanda yang diserap menjadi oleh orang-orang khususnya daerah Jawa, sepur adalah bahasa jawa yang diserap dari bahasa Belanda yaitu Spoor yang berarti rel kereta api.

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI suku kata. Konteks: O1: Sumatra (Padang) O2: Jawa (Solo) Barat Tengah O2 sedang mencari kakenya yang hilang, namun O2 juga menginginkan kakenya tidak untuk ditemukan, karena kakenya adalah orang yang rusuh yang sering membuat keributan di perumahan. Percakapan itu dilakukan di ruang tamu. 7 Sule: Kenapa kamu Dalam tersebut tuturan Gedhe dan merupakan gandengan terdapat 147 Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh  

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pasang iklan? Nunung: Loh saya mau jual rumah saya Sule: Nah berarti ini rumah kamu dong Nunung: Ya engakkkk, Cuma rumah saya mepet ini, karena tulisanya terlalu gedhe jadi gandengan! Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Jawa Timur Situasi malam hari dan situasi seang panik karena rumah O1 yang ditinggalin tidak dijual namun ada yang campur kode dari bahasa Jawa. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerat. 148 tersebut termasuk dalam bentuk campur kode peyisipan kata dasar. Kata gedhe berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti ‘besar’ (menurut kamus bahasa Jawa). Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara ,2015:29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata gedhe hanya terdapat satu suku kata. faktor penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Jawa khususnya Solo, yang memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa Jawa. Jadi, bahasa Indonesia nya akan sering disisipi oleh unsur bahasa Jawa dalam tuturannya. Karena kebiasaan penutur menggunakana bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari sehingga sering melakukan campur kode. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI datang untuk membeli karena membaca iklan yang terpasang di depan Rumah, O1 tidak merasa membuat iklan dan tidak memiliki keinginan untuk menjual rumah akhirnya memanggil O2 dan menanyakan perihal iklan yang ada, ternyata hal tersebut kesalahan dari O2 karena memasang iklan yang terlalu panjang dan di rumah tidak cukup sehingga memanjang hingga rumah O2. Keadaan sedikit memanas karena tidak terima karena O1 banyak di datangi oleh pembeli yang ingin membeli rumahnya. 149

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7a. Sule: Kenapa kamu pasang iklan? Nunung: Loh saya mau jual rumah saya Sule: Nah berarti ini rumah kamu dong Nunung: Ya engakkkk, Cuma rumah saya mepet ini, karena tulisanya terlalu gedhe jadi gandengan! 8. Andre: ini saya suka Dalam tuturan banget ya sama tersebut merupakan gayanya Axel ya. campur kode dari bahasa Inggris. Sule: iya terima kasih campur kode ini termasuk dalam jenis Andre: gaya yang campur kode ke luar, karena menggunakan Snake termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah 150 1. Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata berimbuhan. Kata gandengan berasal dari kata dasar gandeng + sufiks –an. Kata gandengan sendiri memiliki arti ‘bergandengan/saling berpegangan’ (menurut kamus bahasa Jawa). Hal ini sesuai dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih. Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut termasuk dalam bentuk campur kode peyisipan kata dasar. Kata snake berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti ‘ular’    Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor kebahasaan, karena fungsi dan tujuan. Hal ini dilakukan karena penutur memiliki fungsi dan tujuan tertentu yaitu  

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI snake Konteks: O1: Sumatra (Padang) Barat O2: Jawa (Sunda) Barat O1 ingin menanyakan kepada O2 gaya andalan penyanyi rocker yang sedang diperankan. O1 mengingkan O2 yang berperan sebagai penyanyi rocker luar negeri untuk mempraktekkan gaya andalan, penyanyi yang diperankan berasal dari luar negeri yang memperkenalkan goyang snake. bahasa asing, karena campur kode yang menurut Suandi menyerap unsur(2014: 140-141) unsur bahasa asing. campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. 151 (menurut kamus bahasa Inggris). Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara ,2015:29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. ingin memberikan informasi kepada penonton bahwa bintang tamu yang hadir memiliki gaya yang menjadi ciri khas dari bintang tamu. hal ini sesui dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaran didasarkan pada tujuan berkomunikasi, fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dnegan tujuan tertentu, seperti memerintah, menawarkan, mengumumkan, memarahi dan lain sebagainya

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Eko: Jihan gimana Dalam tuturan rasanya kedatangan tersebut merupakan Axel ‘Rose’ ? campur kode dari bahasa Inggris. Jihan: speechless sih campur kode ini sebenernya. termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena Konteks: menurut Suandi O1: Jawa Timur (2014: 140-141) (nganjuk) campur kode ke luar adalah campur kode O2: Jakarta yang menyerap unsur-unsur bahasa O1 menanyakan kepada O2 tentang asing, misalnya gejala perasaan kedatangan campur kode pada bahasa penyanyi idolanya, pemakaian terdapat karena O2 masih usia Indonesia bahasa remaja bahasa-bahasa sisipan Belanda, Inggris, yang digunakan pun bahasa menggunakan bahasa Arab, Sansekerta, dll. sesuai umur O2, bahasa yang sedang populer dikalangan seusia O2. Speechless termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 152 Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata bentukan. Karena terdiri dari dua kata dasar yang berbeda (English Language education Study Program, 144). Pada kata speech + less. Sehingga membentuk kata baru yaitu speechless. Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam campur kode  faktor kebahasaan masuk dalam penggunaan istilah yang lebih populer dan untuk sekedar bergengsi. Hal ini dilakukan oleh penutur karena kata-kata tersebut lebih populer di kalangan anak-anak remaja seusia penutur, yang lebih sering mencampur kode menggunakan bahasa asing (Inggris) supaya dipandang oleh teman sepantaran dilihat lebih populer dan gengsi karena kehidupan sosial penutur sering mencampur kode dalam bahasa Inggris. Sesuai pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)  

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Sule: Dan Agnes ini orangnya sangat fashionable. Nah ini kan kebetulan Agnes sangat jago dalam hal fashion, pakiannya itu oke-oke lah, ini saya, ada beberapa foto saya, saya minta dikasih masukanlah, kira-kira saya cocoknya pakai apa ?” Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode Agnes: Owh begitu, yang menyerap oke-oke. Boleh-boleh unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Konteks: Indonesia terdapat O1: Jawa Barat sisipan bahasa (Sunda) Belanda, Inggris, Arab, bahasa O2: Jakarta Sansekerta, dll. Acara tersebut dilakukan pada malam hari. O1 bertugas sebagai pembawa Fashionable termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 153 Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut adalah campur kode campur kode pada penyisipan kata berimbuhan “fashionable”. Dari kata bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Kata fashionable berasal dari bentuk kata dasar fashion + sufiks able yang berarti ‘mode’ + ‘bisa’, apabila digabungkan menjadi ‘sesuai mode terakhir atau modern’. Hal ini sesuai dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih. Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan. menurut Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Hal ini terjadi karena kata tersebut lebih populer, dari pada kata asli dalam bahasa Indonesianya. Karena kata-kata yang digunakan dalam bahasa asing tersebut lebih udah diingat.  

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI acara . O1 bertanya serius tentang gaya berpakaian yang digunakan kepada O2, karena O2 dianggap sebagai orang yang mengerti tentang gaya berpakaian, dan fasih dalam menggunakan bahasa asing. 11. Andre: Ngomongngomong tentang fashion, ada apa dengan I#MANYE 17 Oktober nah itu apa? Agnes: Besok ini, jadi memang saya ada surprise project yang memang selama ini kita enggak ngomongngomongin tiba-tiba aja gitu, seru aja gitu kan ngeget-ngegetin orang. Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala Surprise project termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. Peristiwa tutur yang terjadi adalah campur kode penyisipan frasa. Bentuk campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut termasuk dalam frasa verba, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata surprise project” yang berarti ‘proyek kejutan’. Hal ini sesuai dengan pendapat Ramlan (1987: 57) bahwa frasa verba adalah frasa yang 154 Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan. menurut Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170), hal ini terjadi karena keterbatasan kode. Penutur mengalami keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur. Karena penutur menggunakan kedua bahasa antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara aktif,  

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Konteks: O1: Sumatra (Padang) O2: Jakarta campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Barat Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Acara tersebut dilakukan pada malam hari, disebuah studio televisi yang di konsep seperti di dalam rumah. O1 yang bertugas sebagai pembawa acara menanyakan tentang rencana yang akan dilakukan oleh O2 pada bulan oktober tersebut. O2 yang terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, dalam menjawab pertanyaan langsung 155 sehingga sering penutur sering melakukan campur kode dalam tuturan sehari-hari.

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan bahasa Inggris. cara yang di sampaikan dengan senang hati karena O2 akan menggeluarkan merek baju miliknya yang di bangun selama ini. 12. Sule: Dari mana Pak Dalam tuturan Rt? tersebut merupakan campur kode dari Pak Rt: Gua lagi bahasa Inggris. dengerin orang pada campur kode ini meeting. termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena Koteks: menurut Suandi O1: Jawa Barat (2014: 140-141) (Sunda) campur kode ke luar adalah campur kode O2: Jakarta (Betawi) yang menyerap unsur-unsur bahasa O1 menanyakan asing, misalnya gejala kepada O2, mengapa menggunakan pakaian campur kode pada pemakaian bahasa yang rapi, O2 yang Meeting termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 156 Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk bentuk campur kode penyisipan kata berimbuhan. Dari bahsa Indonesis ke bahasa Inggris. Pada kata meeting. Berasal dari kata dasar meet + sufiks – ing, yang berarti ‘sedang rapat’ (kamus bahasa Inggris). Hal ini sesuai dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor campur kode karena faktor kebahasaan yang sekedar bergengsi. Karena penutur bukanlah orang yang sering menggunakan bahasa Inggris dalam tuturan sehari-hari, penutur sudah tua dalam tuturan seharihari sering menggunakan bahasa Indonesia dialek Betawi. Penutur penggunakan bahasa Inggris dalam penyebutan  

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. sedang bepakaian rapi tidak seperti biasanya bergaya ingin menunjukan eksistensinya di depan O1, karena O2 baru pulang dari mengikuti seminar yang berisi pengusaha-penguasaha kaya. Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Saswi: Ini dengerdenger ANYE mau nyari designer ? Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena Agnes: Owh pantesan, gayanya begitu. Konteks: Designer termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang 157 morfem atau lebih. kata ‘meeting’ karena topik dan faktor sosiaosituasional, penutur adalah seorang pejabat desa yang datang ke sebuah seminar yang dihadiri oleh para penguasaha-penguasaha kaya, supaya penutur juga terlihat seperti pengusaha penutur menunjukan rasa gengsinya menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Peristiwa campur kode yang terjadi pada perbincangan tersebut termasuk bentuk campur kode penyisipan kata berimbuhan. karena melakukan percampuran kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor campur kode karena faktor kebahasaan yang sekedar bergengsi. Karena penutur bukanlah orang yang sering  

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O1: Jawa (Sunda) Barat menurut Suandi menyerap unsur(2014: 140-141) unsur bahasa asing. campur kode ke luar O2: Jakarta adalah campur kode yang menyerap Pada saat malam hari unsur-unsur bahasa dengan suasana santai. asing, misalnya gejala O1 ingin campur kode pada mendaftarkan diri pemakaian bahasa sebagai perancang Indonesia terdapat busana, took baju sisipan bahasa milik O2, O1 berusaha Belanda, Inggris, meyakinkan O2 Arab, bahasa dengan penampilan berpakaiannya supaya Sansekerta, dll. diterima menjadi perancang busana toko milik O2. Karena O1 dalam kehidupan sehari-hari tidak biasa menggunakan bahasa asing. 158 Inggris, pada kata “designer”. Pada kata designer berawal dari dasar kata design yang berarti ‘bentuk atau pola’ yang diberikan sufiks (er) menjadi designer yang berarti ‘perancang’. Pada kata tersebut designer termasuk dalam afiks infleksi karena tidak membentuk kata baru namun mengubah makna dari pola atau bentuk yang diberikan sufiks –er menjadi perancang. Hal ini sesuai dengan pendapat Nida (dalam Sawari, 2017). menggunakan bahasa Inggris dalam tuturan sehari-hari, penutur sering menggunkan bahasa Sunda, namun dalam tuturan saat itu penutur ingin menunjukan kemampuan berbahasa Inggris, karena lawan tutur memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik daripada lawan tutur yang pertama. Sesuai pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Sebagai penutur ada yang melakukan campur kode sekedar untuk bergengsi. Hal ini terjadi apabila faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktorfaktor sosiosituasional yang lain sebenarnya tidak mengharuskan penutur untuk melakukan campur kode atau dengan

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kata lain, naik fungsi kontekstualnya maupun situasi relevansialnya. 14. Sule: Apa pesan dari lagu kamu ? Agnes: Jadi pesannya sebenernya mudah ya artinya istilahnya kita sebagai generasi bangsa Indonesia, generasi muda terutama, harus bangga dengan generasi yang penuh cinta gitu, karena kalau misalnya aku liat, aku sering banget ngeliat gitu, pas lagi baca berita, prang di sinilah, antara suku antara agama, terus udah gitu ada anakanak kecil yang bunuh diri karena dibully sama temen- Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Performance dan much better then this termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 159 Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata berimbuhan. Pada kata performance yang berawal dari dasar kata perform yang berarti ‘menyelenggarakan’, diberikan sufiks (-ance) menjadi performance ‘pertunjukan’. Pada kata tersebut performance termasuk dalam afiks derivasi adalah afiks yang dilekatkan pada kata dasar untuk membentuk sebuah kata baru dan dapat mengubah makna yang diberikan sufiks – ance menjadi perancang. Hal ini sesuai dengan pendapat Nida (dalam Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan, pembicara dan pribadi pembicara dan lebih sering digunakan oleh penutur, hal ini disebakan juga karena penutur lingkungan tempat tinggal menggunakan bahasa Inggris, karena penutur sudah mulai menjadi artis yang merintis kerjanya di luar negeri, jadi tidak heran penutur bercampur menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)  

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI temennya disekolah, Sansekerta, dll. kayaknta sedih gitu, terus ada penembakan diluar negeri ya, aku sedih aja gitu lo ya ngeliatnya, kok kita begitu dibiasakanmya melihat hal-hal yang sangat negatif gitu, dan aku jujur raja aku merasa itu tanggung jawab aku, salah satu tanggung jawab aku sebagai orang yang bekerja di under spot light untuk bisa menggunakan performance untuk mengingatkan orangorang, bahwa ini itu harusnya gak biasa kayak gini, ini gak boleh dibiasakan, aku yakin kok kalau orang-orang di Indonesia bukan Cuma di Indonesia ya Sawari, 2017). 160

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tapi artinya manusia secara keseluruhan. Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Jakarta O2 merupakan orang yang terpelajar dan bekerja di dunia musik dunia yang sering berkomunikasi dengan orang-orang asing. 15. Sule: Mas Tama pertama membangun Net ini apa sih yang pertama mas Tama bayangkan sebelum Net seperti sekarang ini, yang baru-baru ini kan Net banyak mendapatkan penghargaan ? Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi Simple termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur- 161 Peristiwa campur kode yang terjadi pada perbincangan tersebut termasuk dalam penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Menurut Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah Faktor yang  menyebabkan terjadinya campur kode adalah karena faktor penutur. Penutur adalah orang yang pintar dan terpelajar, menjadi direktur dari televisi yang baik. Penutur perna sekolah di lur negeri yang  

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tama: Sebenernya simple yang pertama kali gua bayanganin yang pertama kali ya Net, gak sekarang ini kita harus aku bahwa sekarang era digital semakin berkembang jadi, kita tu jangan sampai ketinggalan kita harus membuat sebuah terobosan baru dalam hal pertelevisian ini sehingga kita bisa selangkah lebih maju ke depan dan jangan lupa kita harus disiplin, “kalau lo mau sukses lo harus disiplin dan nol kesalahan. (2014: 140-141) unsur bahasa asing campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat 162 satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata simple hanya terdapat satu suku kata. berkomunikasi selalu menggunkan bahasa Inggris, sehingga penutur dalam tuturannya seri kali memasukan kata-kata asing. Memiliki latar belakang bahasa asing yang baik karena penutur memiliki teman kuliah dan rekan kerja yang menggunkan bahasa asing untuk setiap pekerjaan, karena televisi tersebut bekerja sama dengan perusahan televisi luar negeri. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O2: Papua Suasana malam hari. Suasana serius karena yang diundang adalah Direktur utama televisi tersebut. O1 yang bertugas untuk mewawancarai O2 juga bertanya menggunakan bahasa yang sopan tidak seperti biasanya, karena orang tersebut adalah orang yang sangat di hormati oleh para pengisi acara tersebut, O2 menjawab pertanyaan dengan serius, karena pertanyaan tesebut mengenai televisi yang sedang O2 rintis. Karena penutur orang terpelajar sering menggunakan bahasa asing dalm 163

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI komunikasinya. 16. Sule: Ada motivasi gak ? biasanya mas Tama ada quote, hari ini ni quote untuk pemirsa apa ? Tama: Buat gua gini, buat orang yang mau berhasil kita harus lihat masa depan, gak usah liat ke belakang Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Papua Suasana terjadi pada saat malam hari. O1 meminta kepada O2 untuk memberikan kutipan-kutipan bijak. Karena O2 di kenal Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Quotes termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 164 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Menurut Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata quotes hanya terdapat satu suku kata. Faktor penyebab  terjadinya campur kode di sebabkan oleh faktor kebahasaan, penggunaan istilah yang lebih populer, karena kata tersebut sedang populer daripada bahasa yang asli bahasa Indonesia. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)  

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebagai orang yang suka memberikan motivasi kepada para pekerja-pekerjanya, karena O2 adalah seorang direktur utama dari sebuat stasiun televisi di Indonesia. 17. Sule: Buat om Firman nih, selama main di PERSIB, yang paling berkesan itu saat bertemu dengan team mana ? Firman: Paling berkesan kalau derbia, team derbi PERSIB dengan AREMA, PERSIB dengan PERSIJA Jakarta, itu membangun adrenalin menjadi lebih enjoy dan lebih figth di lapangan. Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Team, enjoy, dan fight termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 165 Peristiwa campur kode yang terjadi adalah campur kode penyisipan kata dasar. Dari kata bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata team yang berarti ‘regu’, enjoy yang berarti ‘menikmati’ dan fight yang berarti ‘berjuang’. Menurut Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata team, enjoy, dan fight Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan, karena kata tersebut lebih populer dan lebih sering digunakan oleh penutur. Terjadinya campur kode disebabkan oleh penutur yang pertama karena sudah menjadi kebiasaan dan kesantaian dalam berkomunikasi oleh pembicara dan pribadi pembicara sehingga lawan tuturnya juga mengikuti campur kode yang dilakukan oleh  

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Konteks: O1: Jawa (Sunda) Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Barat Sansekerta, dll. hanya terdapat satu suku kata. O2: Sulawesi Utara (Manado) Acara tersebut terjadi pada malam hari. O1 yang merupakan pembawa acara bertanya kepada O2 yang bekerja sebagai atlit sepak bola. Perbincangan tersebut mengacu pada suatu pertanyaan yang ingin di sampaikan serius. O1 adalah penutur yang pertama kali melakukan campur kode, dan selanjutnya O2 melakukan campur kode lagi karena kata tersebut lebih sering 166 penutur. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan oleh O2. 18. Sule: Bagaimana menurut konate Pak Djaja menurut kamu ? Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. Konate: Menurut saya, campur kode ini coach Pak Djaja termasuk dalam jenis pelatih terbaik, dia campur kode ke luar, punya banyak strategi, karena menggunakan banyak practice, udah bahasa asing, karena dapat empat trophy, menurut Suandi itu bagus saya senang. (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap Konteks: unsur-unsur bahasa O1: Jawa Barat asing, misalnya gejala (Sunda) campur kode pada pemakaian bahasa O2: Afrika Indonesia terdapat sisipan bahasa Acara tersebut Belanda, Inggris, dilaksanakan pada Arab, bahasa malam hari, O1 yang Sansekerta, dll. bertugas sebagai pembawa acara, menanyakan dengan Coach, practice, dan trophy termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 167 Percakapan tersebut penutur banyak melakukan campur kode penyisipan kata “coach, practice dan trophy” Penyisipan kata dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. hal tersebut dapat dilihat dari kata-kata dasar yang digunakan pada percakapan tersebut. Kata coach yang berarti ‘pelatih’ practice yang berarti ‘praktik’ dan trophy yang berarti ‘piala’. Menurut Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata coach, practice, dan trophy hanya terdapat Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Hal ini disebabkan oleh faktor penutur. Karena penutur memiliki latar belakang bahasa ibu bahasa Inggris. karena penutur sedang belajar bahasa Indonesia, sehingga dalam tuturannya ada beberapa kata-kata yang tidak dimengerti oleh penutur, sehingga penutur melakukan campur kode untuk kata-kata yang tidak dimengerti dalam bahasa Indonesianya.  

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI serius, tentang pelatih kepada O2. Tetapi dalam menjawab O2 menjawab dengan bercanda dan ketawa, karena O2 merasa malu karena pelatihnya berada di dekatnya, O2 bukan berasal dari Indonesia tetapi berasal dari Afrika yang bekerja sebagai pemain bola di Indoensia membantu pemain-pemain Bandung. 19. Nunung: Udah tua Dalam tuturan udah tua, uratnya tersebut merupakan sudah londot. campur kode dari bahasa Jawa. campur Sule: Iyaaa udah Tua. kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan Konteks: bahasa daerah, karena O1 sedang bercanda menurut Suandi satu suku kata. Londot terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah 168 Peristiwa campur kode pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Pada kata londot yang berarti ‘kendur’(menurut kamus bahasa Jawa) Hal ini Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh faktor penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Jawa khususnya Solo, yang memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa  

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan O2 yang berperan sebagai orang yang sudah tua, yang sudah tidak mampu bergoyang lama-lama. Karane O1 sering menggunakan bahasa Jawa sehingga setiap tuturannya pasti ada bahasa daerahnya. 20. (2014: 140-141) campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. Nunung: aku kena tipu Dalam tuturan mas. tersebut merupakan campur kode dari Andre: kena tipu sama bahasa Inggris. siapa ? campur kode ini Nunung: aku beli termasuk dalam jenis online, aku kepengen campur kode ke luar, pakai baju backless, karena menggunakan yang belakangnya bahasa asing, karena jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. sesuai dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata londot hanya terdapat satu suku kata Jawa. Jadi, bahasa Indonesinya akan sering disisipi oleh unsur bahasa Jawa dalam tuturannya. Karena kedua penutur mengerti dan paham bahasa Jawa karena mereka berasal dari daerah yang hampir sama bahasanya. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Online dan backless termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata bentukan. Karena terdiri dari dua kata dasar yang berbeda (English Language education Study Program, 144). Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor kebahasaan, istilah yang lebih populer. Karena dalam kehidupan sosial sekarang, kosakata tersebut dinilai mempunyai padanan 169  

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bukaan. Konteks: O1: Jawa (Solo) O2: Sumatra (Padang) Tengah Barat O1 merasa tertipu dengan barang-barang yang dibeli di media sosial, menggunakan kata-kata tersebut karena penutur dan lawan tutur lebih memahami bahasa dari bahasa asing. 21. Sule: Coba Pak Lurah biasanya Pak RT(Pak Bolot) ini kalau orangnya santai tarik nafas dulu, jangan terlalu buru-buru menurut Suandi campur kode yang (2014: 140-141) menyerap unsurcampur kode ke luar unsur bahasa asing adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Pada kata on + line. Sehingga membentuk kata baru. Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, Peristiwa campur kode pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata smile Smile termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode 170 Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata bentukan. Karena terdiri dari dua kata dasar yang berbeda (English Language education Study Program, 144). Pada kata back + less. Sehingga membentuk kata baru yaitu backless yang lebih populer, dan lebih dimengerti oleh orang-orang zaman sekarang, dari pada bahasa dalam bahasa Indonesia. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Faktor yang digunakan  pada data tersebut adalah campur kode karena faktor kebahasaan, untuk membangkitkan rasa humor. Karena saat suasana sedang memanas  

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Malih : Bukan, bukan karena menggunakan itu Le, itu seakan-akan bahasa asing, karena penghinaan Le ! menurut Suandi (2014: 140-141) Sule: Pak Lurah (Pak campur kode ke luar Malih) sabar dulu adalah campur kode coba ditanya mungkin yang menyerap kurang dekat tadi unsur-unsur bahasa ngobrolnya, iyaa asing, misalnya gejala dicoba, agak smile campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Konteks: Belanda, Inggris, O1: Jawa Barat Arab, bahasa (Sunda) Sansekerta, dll. ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing O2: Jakarta (Betawi) Mengacu pada nadadan cara suatu ujaran dikatakan dengan nada yang emosi. O1 berusaha untuk menenangkan O2. Karena O2 sangat emosi berbicara tidak di dengarkan malah 171 yang berarti ‘tersenyum’. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara ,2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata smile hanya terdapat satu suku kata. karean salah satu penutur tidak dihargai, campur kode tersebut digunakan untuk membangkitkan rasa humor, supaya penonton tidak merasakan ikut merasakan ketegangan yang terjadi namun penutur berusaha melakukan suasana supaya mencair suasananya dengan cara candaan tersebut. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI justru di tinggal pergi karena Pak RT (Pak Bolot) yang berperan sebagai orang yang tuna rungu, sehingga tidak medengarkan apa yang dikatakan O2. Di tunjukan dengan gerakan tubuh O2 yang menunjuknunjuk dengan telunjuknya, karena merasa di hina karena tidak di dengarkan. 22. Sule: masih eksis di Dalam tuturan twitter, saya sering tersebut merupakan baca. campur kode dari bahasa Inggris. Ridwan kamil: saya campur kode ini ini anak twitter yang termasuk dalam jenis kebetulan jadi campur kode ke luar, walikota, jadi gak karena menggunakan akan berhentu main di bahasa asing, karena sosial media, cuman menurut Suandi berubah kalau dulu (2014: 140-141) mah update status campur kode ke luar Update termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 172 Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata bentukan (English Language education Study Program, 144). Karena terdiri dari dua kata dasar yang berbeda. Pada kata up + date. Sehingga membentuk Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor kebahasaan, istilah yang lebih populer. Karena dalam kehidupan sosial sekarang, kosakata tersebut dinilai mempunyai padanan yang lebih populer, dan lebih dimengerti oleh orang-orang zaman  

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kayak anak-anak alay galau-galau gitu, sekarang digunakan untuk menginformasikan kegiatan pemkot menjawab pertanyaanpertanyaan. Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Jawa (Sunda) Barat kata baru yaitu update adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. O2 merupakan orang yang sangat mengikuti tren anak-anak muda. Karena O2 adalah seorang bupati yang ingin lebih dekat dengan generasi muda, sehingga supaya lebih mudah dalam 173 sekarang, dari pada bahasa dalam bahasa Indonesia. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berkomunikasi O2 melakukan campir kode yang lebih dimengerti oleh anakanak muda. 23. Ridwan: Sekolah di Dalam tuturan Amerika lebih tersebut merupakan gampang dari pada di campur kode dari ITB! bahasa Inggris. campur kode ini Sule: Gampangnya termasuk dalam jenis gimana ? campur kode ke luar, Ridwan: Di ITB IP karena menggunakan bahasa asing, karena saya di bawah tiga, lah menurut Suandi dosennya galak, di 140-141) Amerika IPK saya (2014: campur kode ke luar mendekatai empat adalah campur kode menyerap Sule: Kok bisa begitu yang unsur-unsur bahasa ? asing, misalnya gejala Ridwan: Karena campur kode pada suasana belajarnya pemakaian bahasa memang kayak friend, Indonesia terdapat santai gak penuh Friend termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 174 Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tersebut adalah campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, pada kata friend yang berarti ‘teman’. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata friend hanya terdapat satu suku kata. Faktor yang  menyebabkan terjadinya campur kode disebabkan oleh faktor penutur Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Karena penutur adalah seorang Bupati bandung dan orang yang terpelajar, karena perna kuliah diluar negeri, hal itu memyebabkan dalam tuturannya sering kali memasukan kata-kata asing.  

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan tekanan, belajarnya tidak hanya di kenal, tapi di padang rumput kayak di film-film, nah di situlah, belajar yang menyenangkan itu kalau guru sama murid gak berjarak kayak dibudaya kita kayak temen aja gitu. sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Jawa (Sunda) Barat Situasi yang di tampilkan adalah situasi pada saat malam hari, O1 memberikan sebuah pernyataan, dengan 175

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI serius dan O2 langsung memberikan pertanyaan dari penyataan yang telah disampaikan oleh O1, O1 langsung menjawab dengan nada bernda dan sedikit sombong dengan pernyataan tersebut. Namun setelah itu O2 menyampaikan dengan nada santai. Situasi yang ditanyakan, bagaimana bisa O1 bisa sekolah di luar negeri dan mendapatkan membanggakan warga Bandung. Sifat O1 adalah orang yang santai dan suka bercanda. 24. Andre: Kang saya mau Dalam nanya nih, berbagi tersebut tuturan Basic, problem dan merupakan happy termasuk 176 Peristiwa campur kode Faktor yang yang terjadi pada menyebabkan terjadinya   

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengalaman, kang emil kan dulu basic nya adalah seorang arsitek design terus jadi ke wali kota itu gimana ceritanya itu kang ? Ridwal: Kalimatnya sederhana “kalau negeri kamu banyak masalah apakah kamu diam saja ? saya tujuh belas tahun kerja saya itu design kota di China, di timur tengah bantu kota-kota banyak, tiap pulang ke kota kelahiran kan saya lahir di Bandung suka sedih kan banyak problem pilihannya antara saya happy berkarier sebagai arsitek atau saya mencoba, ibu saya menasihati itu sebaik- campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 177 perbincangan tersebut merupakan campur kode bentuk penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata basic yang berarti ‘dasar’, problem yang berarti ‘masalah’ Kata happy yang berarti ‘senang/gembira’. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. campur kode disebabkan oleh faktor penutur Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Karena penutur adalah seorang Bupati bandung dan orang yang terpelajar, karena perna kuliah diluar negeri, hal itu memyebabkan dalam tuturannya sering kali memasukan kata-kata asing.

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI baiknya manusia adalah manusia yang paling bnayak manfaatnya untuk orang lain, nasihat yang datang dari hadis itulah yang membuat saya menjadi semangat, janganjangan. Konteks: O1: Sumatra (Padang) Barat O2: Jawa (Sunda) Barat Situasi yang ditampilkan adalah situasi malam hari. O1 menanyakan bagaimana O2 mampu memimpin kota Bandung sedangkan 178

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI latar belakang bukan dari ilmu pemerintahan namun dari arsitektur, dan O2 menjawab dengan serius, dan tujuan tersebut menjadi sangat penting dan serius karena didalamnya di masukan ilmu-ilmu agama yang O2 anut, hal itu ditunjukan dengan tekanantekanan dalam setiap kata yang diujarkan oleh O2. 25. Indro: Ini bisa Dalam tuturan ngiringin siapa aja to ? tersebut merupakan campur kode dari Sule: iya bisa. bahasa Sunda. campur kode ini Indro: Saya kepengen mamang Saswi yang termasuk dalam jenis campur kode ke nari. dalam, karena menggunakan bahasa Mamang terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner 179 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Sunda. Kata mamang yang berarti ‘kakak laki- Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor campur kode berdasarkan faktor kebahasaan, fungsi dan tujuan. Karena penutur malakukan campur kode karena memiliki tujuan   

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sule: Okeee Konteks: O1: Jawa Tengah (purbalingga) O2: Jawa (sunda) Barat Karena O1 ingin lebih akrab atau dekat dengan orang yang berasal dari Sunda maka, O1 ingin menggunakan bahasa yang sama. 26. Sule: jadi tugas kalian menyiapkan segalanya ! Mamang tugasnya adalah mencari makanan yang beda daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. laki’(kamus bahasa Sunda). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata mamang. supaya lebih akrab dengan lawan bicaranya, dengan memanggil dengan kata ‘mamang’. Hal ini sesuai dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaran didasarkan pada tujuan berkomunikasi, fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dnegan tujuan tertentu, seperti memerintah, menawarkan, mengumumkan, memarahi dan lain sebagainya Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Jawa. campur kode ini termasuk Usum terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169- Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh faktor penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Sunda, yang 180  

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI daripada yang lain, bandrek udah gak usum, papaya jus udah gak usum, kopi udah gak usum, cari yang baru. dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke Mamang saswi: apa ? dalam adalah campur Sule: ya cari, kan saya kode yang menyerap unsur-unsur bahasa suruh mamang cari. asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa Konteks: campur kodetuturan bahasa Indonesia O1: Jawa Barat terdapat di dalamnya (Sunda) unsur-unsur bahasa O2: Jawa Barat Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah (Sunda) lainnya. Terjadi malam hari, saat akan kedatangan tamu, karena O1 sangat sering menggunakan bahasa Sunda, sehingga O1 lebih mengerti bahasa 170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. 181 dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Kata usum yang berarti ‘musim’(kamus bahasa Jawa). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata usum. memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa Jawa. Jadi, bahasa Indonesi nya akan sering disisipi oleh unsur bahasa Sunda dalam tuturannya. Karena kedua penutur mengerti dan paham bahasa Sunda karena mereka berasal dari daerah yang sama bahasanya. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI daerah tersebut, karena tamu yang akan datang juga berasal dari Sunda. 27. Tarzan: Kamu goda Dalam tuturan anakku ? tersebut merupakan campur kode dari Sule: Iyaaa Pak, tapi… bahasa Jawa. campur kode ini termasuk Tarzan: Gak boleh, ini dalam jenis campur ambil kode ke dalam, Nunung: Bojo kok di karena menggunakan bahasa daerah, karena bagi-bagi. menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke Konteks: dalam adalah campur O1: Jawa Timur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa (Malang) asli yang masih O2: Jawa Barat sekerabat. Misalnya (Sunda) dalam peristiwa campur kodetuturan O3: Jawa Tengah bahasa Indonesia (Solo) terdapat di dalamnya Suasana pada saat unsur-unsur bahasa Bojo terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. 182 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, karena hanya satuan terkecil dalam bahasa Jawa. Kata bojo yang berarti ‘istri’. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata bojo hanya terdapat satu suku kata. Faktor penyebab  terjadinya campur kode disebabkan oleh faktor kebahasaan Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Hal ini disebabkan oleh mitra bicara. Penutur mulamula menggunakan satu bahasa, dapat melakukan campur kode menggunakan bahasa lain karena mengetahui mitra bicaranya yang memiliki latar belakang daerah yang sama dan mengerti bahasa Jawa.  

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI malam hari, O1 ingin Jawa, Sunda, Bali, bercanda dengan istri dan bahasa daerah yang diperankan lainnya. nunung O3, karena O3 mengetahui bahwa O1 juga mengerti bahasa Jawa sehingga O3 menggunakan bahasa Jawa. 28. Tulus: Teman-teman besok kita akan tour ke Cibodas, tapi jangan lupa nyanyikan lagu saya! Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis Nino: Ohh gitu ya, campur kode ke luar, lagunya yang “jangan karena menggunakan cintai aku apa adanya bahasa asing, karena ? menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode Konteks: yang menyerap O1: Jakarta unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala O2: Jakarta campur kode pada Tour termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 183 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata tour termasuk dalam kata dasar dalam bahasa Inggris yang berarti ‘perjalanan/tamasya’(kam us bahasa Inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk dalam faktor kebahasaan, penggunaan istilah yang lebih populer. Karena kosakata tersebut lebih sering digunakan oleh penutur dan mempunyai padanan yang lebih populer. Hal ini sesuai dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170).   

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O1 dan O2 berasal dari jakarta dan mengetahu bahasa yang sedang populer hingga penutur berbicara santai saja dengan meggunakan bahasa asing karena mereka sama-sama mengerti. 29. Sule: Kan mereka gak bisa berakting, kalau urusan berakting antagonis mah ini Valerie jagonya Claudia juga pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, Saswi: Budget saya karena menggunakan gak masuk. bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar Konteks: adalah campur kode O1: Jawa Barat yang menyerap (Sunda) unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala O2: Jawa Barat satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata tour hanya terdapat satu suku kata. Bedget termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 184 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata budget termasuk dalam kata dasar dalam bahasa Inggris yang berarti ‘anggaran’ (Kamus Bahasa Inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Faktor penyebab terjadinya campur kode adalah faktor kebahasaan istilah yang lebih populer dan kata-kata dalam bahasa asing tersebut lebih mudah diingat dan lebih stabil maknanya Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Meskipun penutur berasal dari Sunda dan bahasa Sundanya kental namun untuk kata-kata dalam bahasa Inggris penutur sedikit-sedikit mengerti.   

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Sunda) O2 datang kebingungan karena ingin mebuat film pendek, namun tidak akan aktris yang cocok untuk memerankan peran itu, lalu O1 menawarkan aktris yang jago berakting, namun O2 menolak, karena aktris yang ditawarkan oleh O1 sangat mahal, O2 tidak mempu untuk membayarnya. Seharihari penutur lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. 30. Sule: Dea inikan sebelum jadi Advocat perna bermain sinetron juga ya kan, anclub duh apa ya ? nah campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Dalam tersebut campur bahasa campur tuturan merupakan kode dari Sunda. kode ini Anclub terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169- 185 Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata budget hanya terdapat satu suku kata. Sehingga dalam tuturannya beberapa melakukan penyisipan dalam bahasa Asing yaitu bahasa Inggris. Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tersebut adalah campur kode penyisipan kata. Kata anclub adalah kata Faktor yang  menyebabkan terjadinya campur kode adalah karena faktor penutur yang memiliki latar  

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terjun ke dunia termasuk dalam jenis Entertain lah terus campur kode ke akhirnya memutuskan dalam, karena menjadi seorang menggunakan bahasa advocat. daerah, karena menurut Suandi Dea: Awalnya sih (2014: 140-141) sebenarnya saya campur kode ke merasa bakat saya dalam adalah campur mungkin lebih ke dua kode yang menyerap advocate ya, karena unsur-unsur bahasa saya merasa advocat asli yang masih itu sebenarnya sekerabat. Misalnya membela orang yang dalam peristiwa sedang kesusahan tapi campur kodetuturan dari segi hukum, jadi bahasa Indonesia kalua misalnya ada terdapat di dalamnya dokter ketika orang unsur-unsur bahasa sedang sakit advocate Jawa, Sunda, Bali, itu juga dokter ketika dan bahasa daerah orang sedang lainnya. bermasalah hukum. 170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Konteks: O1: Jawa Barat 186 dalam bahasa Sunda yang berarti terjun (kamus bahasa sunda). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata anclup hanya terdapat satu suku kata. belakang bahasa Sunda, sehingga tidak heran jika penutur sering menyisipkan unsur-unsur bahasa daerah Sunda dalam tuturannya seharihari. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Sunda) O2: Jakarta O1 bertanya sebagai pembawa cara mengapa O2 meninggalkan dunia hiburan lalu menjadi pengacara, O1 bertanya karena memiliki rasa keinginan yang lebih dan penasaran dengan pilihan O2. 31. Nunung: Saya gak tau, tiba-tiba ada aja dia, ngomongnya aja masih muda mbak, umurnya berapa mas? “Sweet.. sewitdak” Sule: Enam puluh Konteks: Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Jawa. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke Sewitdak terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap 187 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar. Kata sewitdak (kamus bahasa jawa) dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa yang berarti ‘enam puluh’. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Faktor yang  menyebabkan campur kode pada tuturan ini adalah karena faktor kebahasaan membangkitkan rasa humor. Hal ini disebabkan karena penutur adalah seorang komedian yang bekerja membuat penonton merasa senang dan puas.  

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O1: Jawa (Solo) Tengah dalam adalah campur unsur-unusr bahasa kode yang menyerap asli yang masih unsur-unsur bahasa sekerabat. O2: Jawa Barat asli yang masih (Sunda) sekerabat. Misalnya dalam peristiwa O1 bercerita tentang campur kodetuturan kejadian yang Indonesia dialaminya tadi bahasa dijalan, tiba-tiba ada terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa yang mendekati, saat Jawa, Sunda, Bali, sedang dijalan dan mengajak berkenalan dan bahasa daerah saat ditanya umurnya lainnya. Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata sewitdak hanya terdapat satu suku kata. Jendra (dalam 2014: 169-170) Suandi, Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut Faktor penyebab  terjadinya campur kode pada turutaran kata kulon berapa menjawabnya dengan bercanda, O1 merasa takut jika diikuti sampai rumah, karena hal tersebut O1 melapor kepada O2 orang yang dianggap bisa melindungi. 32. Sule: Kalau Ehak Dalam gimana si Ehak ? tersebut campur tuturan Kulon, wetan, merupakan kakang, badhe, dan kode dari teyengen terdapat 188  

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pak Bolot: Hah ? Ehak bahasa Jawa. campur ? Ehak itu yang kode ini termasuk pembantu. dalam jenis campur kode ke dalam, Sule: Tuh kan kalau karena menggunakan cewek nyambung bahasa daerah, karena Suandi Pak Bolot: Ehak yang menurut (2014: 140-141) orang kulon ? campur kode ke dalam adalah campur Sule: Barat… barat kode yang menyerap Pak Bolot : barat tu unsur-unsur bahasa kulon apa wetan ? asli yang masih sekerabat. Misalnya Dede: Jadi gini dalam peristiwa kakang ini Mbak campur kodetuturan IIn….. bahasa Indonesia terdapat di dalamnya Nunung: (tertawa) unsur-unsur bahasa Rambut e teyengen Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. Konteks: O1: Jawa (Sunda) campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Barat 189 termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Kulon yang berarti barat (kamus bahasa jawa), wetan yang berarti ‘timur’ (kamus bahasa jawa), kakang yang berarti ‘kakak lakilaki’(kamus bahasa jawa). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada kata kulon, wetan, kakang, dan wetan dalah faktor kebahasaan, pembicara dan pribadi pembicara sesuai pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Karena penutur sengaja melakukan campur kode terhadap mitra bahasa karena dia memiliki maksud dan tujuan tertentu, untuk menanyakan atau memastikan bahwa si pembantu yang bernama “Ehak” adalah warga negara asing yang sering disebut orang barat. Selain itu untuk kata kakang dan teyengen merupakan faktor campur kode yang dipandang dari sudut pribadi pembicara, ada maksud dan tujuan melakukan campur kode untuk membuat situasi pembicaraan menjadi humoran atau bercandaan

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O2: Jakarta (Betawi) O3: Jawa (Sunda) O4: Jawa (Solo) supaya penonton terhibur. Barat Tengah Dalam situasi ini O2 adalah orang yang tuna rungu, namun saat ditanya tentang uang, makan, dan perempuan dia pasti dengar. O1 yang sudah mengetahu hal tersebut, lalu menanyakan tentang perempuan, dan O2 langsung menjawab. O3 yang berniat datang bersama O4 untuk membicarakan tentang sesuatu, namun O2 tidak mendengarnya, lalu O4 merasa kesal karena diajak 190 bisa

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berbicara tidak bisa, lalu merasa kesal dengan perempuan yang dimaksud oleh O1 dan O2 lalu O4 mengejek perempuan “bule” tersebuat dengan sebuatan seperti itu. 32a. Sule: Kalau Ehak Dalam tuturan gimana si Ehak ? tersebut merupakan campur kode dari Pak Bolot: Hah ? Ehak bahasa Sunda. ? Ehak itu yang campur kode ini pembantu. termasuk dalam jenis kode ke Sule: Tuh kan kalau campur dalam, karena cewek nyambung menggunakan bahasa karena Pak Bolot: Ehak yang daerah, menurut Suandi orang kulon ? (2014: 140-141) Sule: Barat… barat campur kode ke dalam adalah campur Pak Bolot : barat tu kode yang menyerap kulon apa wetan ? unsur-unsur bahasa yang masih Dede: Jadi gini kakang asli Kulon, wetan, kakang, badhe, dan teyengen terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih 191 Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut termasuk pada bentuk campur kode penyisipan kata berimbuhan. Kata teyengen berasal dari kata dasar teyeng yang berarti ‘karat’ dan diberi sufiks –en menjadi teyengen yang berarti ‘berkarat’ (kamus bahasa jawa). Hal ini sejalan dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang Faktor penyebab  terjadinya campur kode pada turutaran kata kulon dan wetan dalah faktor kebahasaan, pembicara dan pribadi pembicara sesuai pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Karena penutur sengaja melakukan campur kode terhadap mitra bahasa karena dia memiliki maksud dan tujuan tertentu, untuk menanyakan atau memastikan bahwa si pembantu yang bernama  

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ini Mbak IIn….. 33 sekerabat. Misalnya sekerabat. dalam peristiwa Nunung: (tertawa) campur kodetuturan Rambut e teyengen bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih. “Ehak” adalah warga negara asing yang sering disebut orang barat. Selain itu untuk kata kakang dan teyengen merupakan faktor campur kode yang dipandang dari sudut pribadi pembicara, ada maksud dan tujuan melakukan campur kode untuk membuat situasi pembicaraan menjadi humoran atau bercandaan supaya penonton bisa terhibur. Sule: Nih De ada cerita lagi viral di omongin sama orangorang bahkan dia tuh bahagia sekarang, tapi waktu dia menikah itu mantannya datang bahkan dia tuh sampai pingsan Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut adalah peristiwa campur kode penyisipan kata dasar, yang terjadi dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. pada kata save yang berarti ‘simpan’. Penyisipan yang terjadi pada campur Faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode adalah faktor kebahasaan istilah yang lebih populer dan lebih dikenal dan dimenegerti oleh kebanyakan orang saat ini dibandingkan dengan bahasa Indonesia aslinya. Kata-kata dalam bahasa Dede: Pak, Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi jangan (2014: 140-141) Download dan save termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur- 192   

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ngomongin mantan. Aci: Waa alergi denger kata mantan Lagak kamu Dede: Emang di suru di gitu Sule: Nih aku kasih tau ada videonya nih gua save kemarin gua download campur kode ke luar unsur bahasa asing adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. Dede: Baru di save sekarang ? kan kemarin downloadnya Sule :Kan di savenya sekarang terserah aku. Konteks: O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Jakarta 193 kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata bentukan. Karena terdiri dari dua kata dasar yang berbeda (English Language education Study Program, 144). Pada kata down + load. Sehingga membentuk kata baru yaitu download. asing lebih mudah diingat di bandingkan dengan bahasa penutur. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O3: Jawa Barat (Sunda) Pada saat malam hari. O2 sedang kacau karena di tinggal oleh pacarnya menikah. Saat sedang melupakan mantannya, O1 justru membicarakan tentang kejadian yang sedang dibicarakan oleh masyarakat, yang sama dengan kejadian yang dialami oleh O2. Sehingga O2 marah karena terus diingatkan, lalu O3 mengejek dengan kejadian yang dialami oleh O2. O1 sedang berusaha untuk menghibur. 34. Sule: Lama banget gak Dalam kesini ? tersebut tuturan Follow dan outdoor merupakan termasuk dalam 194 Peristiwa campur kode yang terjadi pada Faktor yang menyebabkan terjadinya   

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Andre: Kan saya follow instagramnya sofie ya, olah raga terus yoga dan gak cuma di ruangan tapi di outdoor di manamana selalu yoga, benar ya ? Sofia: Iya lumayan Andre: Lagi foto-foto ya Sule: Ada yang saya liat di Instagram pakek baju merah celana bunga-bunga gitu, saya sering liat instagramnya cuma dia yang gak sering liat Instagram saya. campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing Konteks: O1: Jawa Barat (Sunda) O2: Sumatra Barat 195 percakapan tersebut termasuk campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata follow yang berarti ‘mengikuti’ (kamus bahasa inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. campur kode adalah faktor kebahasaan istilah yang lebih populer dan lebih dikenal dan dimenegerti oleh kebanyakan orang saat ini dibandingkan dengan bahasa Indonesia aslinya. Kata-kata dalam bahasa asing lebih mudah diingat di bandingkan dengan bahasa penutur. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Padang) O1 dan O2 menanyakan keadaan rumah atau kabar dari bintang tamu yang sedang berkunjung. Karena acara tersebut di tonton oleh semua kalangan umur sehingga O1 dan O2 berusaha untuk menunjukan eksistensi di hadapan orang. 34a. Sule: Lama banget gak Dalam tuturan kesini ? tersebut merupakan campur kode dari Andre: Kan saya bahasa Jawa. campur follow instagramnya kode ini termasuk sofie ya, olah raga dalam jenis campur terus yoga dan gak kode ke dalam, cuma di ruangan tapi karena menggunakan di outdoor di mana- bahasa daerah, karena mana selalu yoga, menurut Suandi benar ya ? (2014: 140-141) campur kode ke Follow dan outdoor termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 196 Penyisipan yang terjadi pada campur kode tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan kata bentukan. Karena terdiri dari dua kata dasar yang berbeda (English Language education Study Program, 144). Pada kata out + door. Sehingga membentuk kata baru yaitu outdoor. Faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode adalah faktor kebahasaan istilah yang lebih populer dan lebih dikenal dan dimenegerti oleh kebanyakan orang saat ini dibandingkan dengan bahasa Indonesia aslinya. Kata-kata dalam bahasa asing lebih mudah diingat   

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sofia: Iya lumayan Andre: Lagi foto-foto ya Sule: Ada yang saya liat di Instagram pakek baju merah celana bunga-bunga gitu, saya sering liat instagramnya cuma dia yang gak sering liat Instagram saya. 35. Nunung: Oke! kalau saya boleh berbicara wanita yang paling tegar wanita yang paling kuat yang menghadapai masalah dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Jawa. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke dalam, Andre: Dia memang karena menggunakan orangnya sensitive bahasa daerah, karena menurut Suandi Nunung: Malah (2014: 140-141) di bandingkan dengan bahasa penutur. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Cengengesan dan lungkrah terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah 197 Faktor ini disebabkan  oleh faktor penutur yang memiliki latar belakang bahasa adalah bahasa Jawa. Sehingga dalam bahasa yang digunakan lebih sering disisipkan bahasa Jawa. Karena penutur sering kata menggunakan bahasa yang Jawa, penutur setia dalam Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. 1. Pada cengengesan berarti tertawa.  

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI cengengesan Andre: Sedih itu, dia gak bisa denger cerita sedih kalau denger cerita sedih pasti langsung nangis Nunung: Pasti kalau sudah menyingung masalah laki-laki lungkrah Andre: Apa itu artinya ? campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. Nunung: Lemah, saya gak bisa, karena kalau sudah berbicara masalah laki-laki. Konteks: O1: Jawa (Solo) Tengah O2:Sumatra Barat 198 2. Pada kata lungkrah menggunakan bahasa yang berarti lemas. daerahnya. Jendra (dalam Hal ini sejalan dengan Suandi, 2014: 169-170) pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih.

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Padang) Dengan keadaan sedih, O1 sedang merasa sedih karena O2 mengingatkan tentang kekecewaan yang selama ini dipendamnya, O1 juga merasa marah saat disingguh tentang lakilaki, O1 memiliki rasa kecewa yang sangat dalam dengan seorang laki-laki. 36. Andre: Nah buat Narji Dalam tuturan dan juga buat eeee tersebut merupakan campur kode dari Nunung: sek to mas bahasa Jawa. campur nangisku belum kode ini termasuk selesai. dalam jenis campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena Konteks: menurut Suandi O1: Sumatra Barat (2014: 140-141) Sek to terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode 199 Bentuk campur kode yang terjadi pada peristiwa tutur tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan frasa. Data sek to memiliki arti “sebentar ya” (diterjemahkan menurut kamus bahasa Jawa), data tersebut tidak dapat ditemukan strutur subjek Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh faktor penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Jawa khususnya Solo, yang memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa Jawa. Jadi, bahasa  

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Padang) O2: Jawa (Solo) Tengah O2 tertipu karena membeli baju yang salah sehingga O2 bersedih dan menangis ketika menangis tersebut keluar katakata ‘sek to’ ketika penutur O1 memerintah penutur O2 untuk berhenti menangis. 37. Andre: Jimmy ini kan terkenal sebagai perancang baju terbaik di dunia, jimmy saya lihat penampilannya unik sekali ya, dan dia ini sebagai icon di animal fashion, ini tina mau ngajak kerjasama untuk sandal jepit campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. dan predikat dan hanya Indonesinya akan sering gabungan dari dua bentuk disisipi oleh unsur bahasa kata. Jawa dalam tuturannya. Karena kedua penutur mengerti dan paham bahasa Jawa karena mereka berasal dari daerah yang hampir sama bahasanya. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi Icon termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur- Pada data campur kode tersebut termasuk dalam penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, pada kata icon yang berarti ‘patung’ (menurut kamus bahasa inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 200 Faktor yang  menyebabkan terjadinya campur kode adalah faktor kebahasaan karena fungsi dan tujuan Suandi, 2014: 169: 170). Dalam data tersebut penutur bertujuan untuk memberikan gelar atau mengumumkan bahwa  

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sule: Ini saya bawa (2014: 140-141) unsur bahasa asing macem-macem sandal campur kode ke luar ya. adalah campur kode yang menyerap Tina: Wahhh keren unsur-unsur bahasa banget. asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat Konteks: sisipan bahasa O1: Sumatra Barat Belanda, Inggris, (Padang) Arab, bahasa Sansekerta, dll. O2: Jawa Barat (Sunda) O3: Jakarta Suasana malam hari, O2 yang berakting sebagai perancang busana terbaik di dunia, dan O1 menawarkan kepada tamunya untuk menggunakan jasa perancang tersebut, karena O3 ingin 201 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. acara tersebut kedatangan tamu yang sangat terkebal di dunia sebagai perancang busana.

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bekerja sama membuat sandal, dan akan diproduksi. Suasana dengan santai dan penuh canda tawa. 38. Yujeng : Di panggil Dalam tuturan lagi ! tersebut merupakan campur kode dari Pemain musik: Di bahasa Inggris. siarkan langsung dari campur kode ini studio satu Jakarta kita termasuk dalam jenis sambut host paling campur kode ke luar, kece Sule dan Andre ! karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) Konteks: campur kode ke luar O1: Jawa Barat adalah campur kode (Sunda) yang menyerap unsur-unsur bahasa O2: Jakarta asing, misalnya gejala Salah seorang pemain campur kode pada bahasa musik, memanggil pemakaian terdapat pembawa acara dan Indonesia sisipan bahasa rekannya untuk masuk Belanda, Inggris, Host termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 202 Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Kata host yang berarti ‘tuan rumah’. . Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Faktor yang  menyebabkan terjadinya campur kode adalah karena faktor kebahasaan karena fungsi dan tujuan Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Karena bertujuan untuk mengangkat acara tersebut lebih baik. Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaran didasarkan pada tujuan berkomunikasi, fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dnegan tujuan tertentu, seperti memerintah, menawarkan,  

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ke studio. 39. Arab, bahasa Sansekerta, dll. Desta: Lo baca apa an Dalam tuturan ? lo tidak boleh tersebut merupakan membohongi pemirsa. campur kode dari bahasa Inggris. Saswi: Kalau saya campur kode ini sudah hafalnya, hafal termasuk dalam jenis cangkem. campur kode ke luar, Desta : Terus ngapain karena menggunakan bahasa asing, karena lu liat kalau hafal. menurut Suandi 140-141) Saswi: Yaaa kan biar (2014: campur kode ke luar bisa keliatan action! adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa Konteks: asing, misalnya gejala O1: Jawa Tengah campur kode pada pemakaian bahasa (Solo) Indonesia terdapat O2: Jawa Barat sisipan bahasa (Sunda) Belanda, Inggris, Arab, bahasa O2 sedang membaca mengumumkan, memarahi dan sebagainya Cangkem terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. 203 1. Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. pada kata cangkem yang berarti ‘mulut’. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. 2. Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia lain Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tesebut temasuk dalam faktor kebahasaan, untuk membangkitkan rasa humor. Dalam data tuturan tersebut penutur ingin membuat penonton tertawa, dengan celotehan cangkem dan action yang dikeluarkan oleh penutur, karena penutur sedang ingin menghibur penonton. Sesuai dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Campur kode sering dimanfaatkan pemimpin rapat untuk menghadapi ketegangan yang mulai timbul dalam memecahkan masalah  

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI buku tamu yang perna Sansekerta, dll. datang ke rumah, namun ternyata buku tamu tesebut kosong, hanya untuk akting saja, namun O1 merasa kesal dengan tingkah O2 yang membaca kertas kosong, dan ingin membuat tertawa penonton dengan membocorkan bahwa buku yang di bawa O1 adalah buku tamu yang tidak ada tulisannya. 39a. Desta :kamu baca apa Dalam tuturan an ? kamu tidak boleh tersebut merupakan membohongi pemirsa. campur kode dari bahasa Inggris. Saswi: Kalau saya campur kode ini sudah hafalnya, hafal termasuk dalam jenis cangkem. campur kode ke luar, Desta: Terus ngaoain karena menggunakan bahasa asing, karena ke bahasa Inggris. pada kata action yang berarti ‘aksi’. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Action termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang 204 1. Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. pada kata cangkem yang berarti ‘mulut’. Hal ini atau kelesuan karena telah cukup lama bertukar pikiran, sehingga memerlukan rasa humor. Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tesebut temasuk dalam faktor kebahasaan, untuk membangkitkan rasa humor. Dalam data tuturan tersebut penutur ingin membuat penonton tertawa, dengan celotehan  

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kamu liat kalau hafal. menurut Suandi menyerap unsur(2014: 140-141) unsur bahasa asing Saswi: Yaaa kan biar campur kode ke luar bisa keliatan action! adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. 40. Saswi: Ohh ini Melani Dalam Ricardo tersebut campur Vincent: Yaa udah tuturan Invite termasuk merupakan dalam jenis campur kode dari kode ke luar. Hal ini 205 sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. 3. Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan kata dasar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. pada kata action yang berarti ‘aksi’. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Peristiwa campur kode yang terjadi pada percakapan tersebut cangkem dan action yang dikeluarkan oleh penutur, karena penutur sedang ingin menghibur penonton. Sesuai dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Campur kode sering dimanfaatkan pemimpin rapat untuk menghadapi ketegangan yang mulai timbul dalam memecahkan masalah atau kelesuan karena telah cukup lama bertukar pikiran, sehingga memerlukan rasa humor. Peristiwa campur kode  yang terjadi pada data tuturan tersebut termasuk  

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41. kita invite aja ! melani bahasa Inggris. Ricardo. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan Konteks: bahasa asing, karena Suandi O1: Jawa Barat menurut (2014: 140-141) (Sunda) campur kode ke luar O2: Jakarta adalah campur kode yang menyerap Suasana saat malam unsur-unsur bahasa hari, saat acara ini asing, misalnya gejala talkshow akan dimulai campur kode pada untuk memanggil pemakaian bahasa minting tamu, untuk Indonesia terdapat memasuki studio. sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing termasuk campur kode penyisipan kata dasar, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pada kata invite yang berarti ‘mengundang’ (kamus bahasa inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. faktor kebahasaan karena sekedar bergengsi, mulamula penutur menggunakan bahasa Indonesia dalam tuturannya, namun saat akan menyambut bintang tamu yang jago bahasa Inggris dan memiliki suami seorang warga negara asing, penutur tidak mau kalah dan gengsi dengan lawan bicaranya yang jago dalam berbicara bahasa Inggris. maka penutur melakukan campur kode dengan kata dari bahasa Inggris. hal ini sesuai pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Sule: Bahkan sampai Dalam kolaborasi bikin lagu tersebut juga ya ? campur bahasa Ashanty: Ya sesibuk Weekend, show, dan offair-offair termasuk dalam jenis campur kode Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tuturan tersebut berbentuk campur kode Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan tuturan merupakan kode dari Inggris. 206  

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI apapun mas Anang kita tetep ngeluarin lagu gitu, karna kan awal mulanya ketemunya duet dari nyanyi jadi sampai sekarang pun pengen terus berkarya, karna kita masih weekend masih sering ada show gitu! Sule: Offair-offair itu masih ? Ashanty: Iya Alhamdulilah kan kita masih dapat rejeki dari situ. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat O2: Jakarta 207 penyisipan kata berimbuhan, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Kata weekend dari kata dasar week + end yang berarti ‘minggu/pekan’ + ‘akhir’ jika digabungkan menjadi ‘minggu akhir’. Hal ini sejalan dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil penggabungan dua morfem atau lebih. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Hal ini terjadi karena kata tersebut lebih populer, dari pada kata asli dalam bahasa Indonesianya. Karena kata-kata yang digunakan dalam bahasa asing tersebut lebih udah diingat.

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O1 ingin bertanya kepada O2 tentang membagi waktu yang sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Ketika bertanya O1 menyelipkan bahasa asing (bahasa Inggris) dalam tuturannya kepada O2. 41a. Sule: Bahkan sampai Dalam tuturan kolaborasi bikin lagu tersebut merupakan juga ya ? campur kode dari bahasa Inggris. Ashanty: Ya sesibuk campur kode ini apapun mas Anang termasuk dalam jenis kita tetep ngeluarin campur kode ke luar, lagu gitu, karna kan karena menggunakan awal mulanya bahasa asing, karena ketemunya duet dari menurut Suandi nyanyi jadi sampai (2014: 140-141) sekarang pun pengen campur kode ke luar terus berkarya, karna adalah campur kode kita masih weekend yang menyerap masih sering ada show unsur-unsur bahasa gitu! asing, misalnya gejala Weekend, show, dan offair-offair termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 208 Pada kata yang kedua adalah show yang berarti ‘menunjukan’ (kamus bahasa Inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Hal ini terjadi karena kata tersebut lebih populer, dari pada kata asli dalam bahasa Indonesianya. Karena kata-kata yang digunakan dalam bahasa asing tersebut lebih udah diingat.  

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sule: Offair-offair itu campur kode pada masih ? pemakaian bahasa Indonesia terdapat Ashanty: Iya sisipan bahasa Alhamdulilah kan kita Belanda, Inggris, masih dapat rejeki dari Arab, bahasa situ. Sansekerta, dll. 41b. Sule: Bahkan sampai Dalam tuturan kolaborasi bikin sigle tersebut merupakan juga ya ? campur kode dari bahasa Sunda. Ashanty: Ya sesibuk campur kode ini apapun mas Anang termasuk dalam jenis kita tetep ngeluarin campur kode ke lagu gitu, karna kan dalam, karena awal mulanya menggunakan bahasa ketemunya duet dari daerah, karena nyanyi jadi sampai menurut Suandi sekarang pun pengen (2014: 140-141) terus berkarya, karna campur kode ke kita masih weekend dalam adalah campur masih sering ada show kode yang menyerap gitu! unsur-unsur bahasa yang masih Sule :Offair-offair itu asli Weekend, show, dan offair-offair termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 209 Peristiwa campur kode yang terdapat pada data tuturan tersebut termasuk dalam bentuk campur kode penyisipan kata ulang. Kata Offair-offair merupakan campur kode penyisipan kata ulang dalam bahasa Inggris. Kata Offair-offair (brainly.co.id diakses 16 juli 2018 pukul (14.00 wib) memiliki arti ‘pertunjukkan yang tidak disiarkan di televisi”. Kata Offair-offair ini termasuk dalam jenis kata Pada perbincangan ini  banyak terdapat campur kode, hal ini disebabkan oleh faktor kebahasaan Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170). Hal ini terjadi karena kata tersebut lebih populer, dari pada kata asli dalam bahasa Indonesianya. Karena kata-kata yang digunakan dalam bahasa asing tersebut lebih udah diingat.  

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masih ? sekerabat. Misalnya dalam peristiwa Ashanty: Iya campur kodetuturan Alhamdulilah kan kita bahasa Indonesia masih dapat rejeki dari terdapat di dalamnya situ. unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. 42. Saswi: Ini saya mau Dalam tuturan ngasih mas Anang tersebut merupakan snack ! campur kode dari bahasa Inggris. Anang: Ohhh campur kode ini ngeluarin makanana termasuk dalam jenis juga ? campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi Konteks: (2014: 140-141) O1: Sumatra Barat campur kode ke luar (Padang) adalah campur kode ulang utuh atau seluruh karena mengulang bentuk kata dasar secara utuh. Hal ini sesuai dengan pendapat (Ramlan, 1981: 83 dalam Dewantara) yang membagi bentuk kata ulang menjadi beberapa jenis yaitu kata ulang seluruh, kata ulang sebagian, kata ulang kombinasi, dan kata ulang morfem. Snack termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 210 Peristiwa campur kode yang terdapat pada tuturan tersebut termasuk dalam bentuk campur kode penyisipan kata dasar, kata snack berarti ‘makanan kecil’ (kamus bahasa inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang Faktor penyebab  terjadinya campur kode adalah faktor kebahasaan karena istilah tersebut leih populer, dan katakata tuturan dalam bahasa asing tersebut lenih mudah diingat dan stabil maknanya, sehingga sering digunakan oleh banyak masyarakat Indonesia untuk mengartikan makanan-  

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O2: Jawa (Sunda) Barat yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala Suasana di dapur, saat campur kode pada sedang menikmati mie pemakaian bahasa instan, O2 membuat Indonesia terdapat mie instan dan O1 sisipan bahasa mencicipi mie instan Belanda, Inggris, yang di buat oleh O2, Arab, bahasa namun bukan hanya Sansekerta, dll. mencicipi sendikit, namun ingin menghabiskan. Sehingga O2 mengambil mangkuk yang di bawa O1 supaya tidak dihabiskan. O1 merebut mie instan milik O2. 43. Andre: Aduh mang ini Dalam enak banget ! tersebut campur Saswi: Aduh Ndre bahasa jangan di habisin, campur nanti keburu seep. termasuk tuturan merupakan kode dari Sunda. kode ini dalam jenis mendasari pembentukan makanan ringan. Jendra kata yang lebih (dalam Suandi, 2014: kompleks. 169-170) Seep terdapat campur kode ke dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169170) bahwa campur 211 Peristiwa campur kode yang terdapat pada tuturan tersebut termasuk dalam bentuk campur kode penyisipan kata dasar, kata seep memiliki Faktor ini disebabkan  oleh faktor penutur. Karena penutur berasal dari Sunda serta memiliki jiwa yang sangat setia dalam menggunakan  

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Konteks: O1: Sumatra (Padang) Barat O2: Jawa (Sunda) Barat Suasana di dapur, saat sedang menikmati mie instan, O2 membuat mie instan dan O1 mencicipi mie instan yang di buat oleh O2, namun bukan hanya mencicipi sendikit, namun ingin menghabiskan. Sehingga O2 mengambil mangkuk yang di bawa O1 supaya tidak dihabiskan. O1 merebut mie instan milik O2. Ketika meminta mangkuk campur kode ke dalam, karena menggunakan bahasa daerah, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke dalam adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asli yang masih sekerabat. Misalnya dalam peristiwa campur kodetuturan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan bahasa daerah lainnya. kode ke dalam adalah Campur kode ke dalam (Inner code mixing) adalah jenis campur kode yang menyerap unsur-unusr bahasa asli yang masih sekerabat. 212 arti “abis/tidak tersisa” (kamus bahasa sunda). Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan kata yang lebih kompleks. bahasa Sunda, sehingga setiap tuturannya selalu di sisipkan menggunakan bahasa Sunda. Karena sudah biasa dalam menggunakan bahasa Sunda sehingga dalam mengartikan kata-kata yang dimaksud dengan menggunakan bahasa Sunda. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tersebut O2 mengeluarkan tuturan berbahasa sunda. 44. Sule: Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main film juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu ? Amanda: Kalau susah sih susah ya, kadang tu suka gak sempet gak rutin bikin video di youtube, tapi ya disempet-sempetin kalau lagi break syuting, suka bikin video di rumah jadi, selang-seling gitu sih sesempetnya. Konteks: Konteks: O1: Jawa (Sunda) Barat Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Beauty influence, break, termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 213 Bentuk campur kode yang terjadi pada peristiwa tutur tersebut termasuk dalam campur kode penyisipan frasa. Data beauty influence memiliki arti “pengaruh kecantikan” (diterjemahkan menurut kamus bahasa inggris), data tersebut tidak dapat ditemukan strutur subjek dan predikat dan hanya gabungan dari dua bentuk kata. Campur kode yang yang  terjadi pada tuturan tersebut disebabkan oleh faktor penuturnya. Penutur berasal dari Indonesia namun memiliki darah campuran dari salah satu orang tuanya yang berasal dari Australia, sehingga penggunaan bahasa Inggris yang dilakukan oleh penutur adalah hal biasa karena latar belakang penutur itu sendiri, sesuai dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)  

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O2: Jakarta Sansekerta, dll. O1 ingin bertanya kepada O2 tentang membagi waktu yang sedang padat-padatnya dalam pekerjaan. Dalam tuturan tersebut O2 mengeluarkan kata-kata berbahasa asing (bahasa inggris). 44a. Sule: Kalau sekarang kan beauty influence iya ? main film juga iya ? susah gak sih bagi waktunya gitu ? Amanda: Kalau susah sih susah ya, kadang tu suka gak sempet gak rutin bikin video di youtube, tapi ya disempet-sempetin kalau lagi break syuting, suka bikin Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap Beauty influence, break, termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 214 Peristiwa campur kode yang terdapat pada tuturan tersebut termasuk dalam bentuk campur kode penyisipan kata dasar, pada kata break yang berarti ‘istirahat’ (kamus bahasa inggris). Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan, (dalam Dewantara, 2015: 29) Kata dasar adalah adalah satuan terkecil yang mendasari pembentukan Campur kode yang yang  terjadi pada tuturan tersebut disebabkan oleh faktor penuturnya. Penutur berasal dari Indonesia namun memiliki darah campuran dari salah satu orang tuanya yang berasal dari Australia, sehingga penggunaan bahasa Inggris yang dilakukan oleh penutur adalah hal biasa karena latar  

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI video di rumah jadi, unsur-unsur bahasa selang-seling gitu sih asing, misalnya gejala sesempetnya. campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. 45. Andre : Amanda yang bilang kamu beauty influence itu siapa? Dan setuju gak banyak yang bilang kayak gitu ke kamu ? Amanda: Beauty influence banyak sih, fans-fans aku juga banyak dan aku sendiri sih ngerasa selain saya pilih juga beauty influence karena banyak bicarain soal make up soal skin care, beauty Dalam tuturan tersebut merupakan campur kode dari bahasa Inggris. campur kode ini termasuk dalam jenis campur kode ke luar, karena menggunakan bahasa asing, karena menurut Suandi (2014: 140-141) campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsur-unsur bahasa asing, misalnya gejala campur kode pada Meinflunce termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing. 215 kata yang lebih kompleks. belakang penutur itu sendiri sesuai dengan pendapat Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170) Peristiwa campur kode yang terjadi pada tuturan tersebut termasuk dalam bentuk campur kode penyisipan kata berimbuhan. Kata “meinfluence” merupakan kata yang terbentuk dari prefiks meyang diimbuhkan pada kata dasar influence sehingga menjadi “meinfluence”. Hal ini sejalan dengan pendapat Baryadi (2011: 18) Kata imbuhan yaitu kata yang merupakan hasil Campur kode yang yang  terjadi pada tuturan tersebut disebabkan oleh faktor penuturnya. Penutur berasal dari Indonesia namun memiliki darah campuran dari salah satu orang tuanya yang berasal dari Australia, sehingga penggunaan bahasa Inggris yang dilakukan oleh penutur adalah hal biasa karena latar belakang penutur itu sendiri. Jendra (dalam  

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI anything yang bisa meinfluence orang juga kalau misalnya mungkin all this product is nice or not review product. pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan bahasa Belanda, Inggris, Arab, bahasa Sansekerta, dll. penggabungan morfem atau lebih. dua Suandi, 2014: 169-170) O1 : Padang O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 mengenai isu-isu kecantikan yang yang diperbincangkan penggemar dari O2. O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan menyelibkan kata-kata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). 46. Andre: Kamu kan banyak memberikan tips tentang kecantikan di Dalam tersebut campur bahasa tuturan merupakan kode dari Inggris. Personal inspiration dan question and answer. termasuk dalam jenis campur 216 1. Bentuk campur kode yang terdapat pada data tuturan tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan frasa, Faktor yang  menyebabkan terjadinya campur kode ini adalah karena faktor kebahasaan  

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI youtube, biasanya campur kode ini inspirasinya dari termasuk dalam jenis mana ? campur kode ke luar, karena menggunakan Amanda: Insiprasinya bahasa asing, karena sih bisa dari mana aja menurut Suandi ya, dari personal (2014: 140-141) inspiration aku campur kode ke luar sendiri, terus juga bisa adalah campur kode dari orang-orang, dari yang menyerap temen, atau dari unsur-unsur bahasa youtube juga, aku juga asing, misalnya gejala suka nonton video campur kode pada gitu. pemakaian bahasa Indonesia terdapat Andre: Mungkin sisipan bahasa Pamela mau belajar Inggris, make up lagi juga bisa Belanda, Arab, bahasa liat di youtube. Sansekerta, dll. Pamela : iya jadi aku harus sering-sering ngeliat tutorial di youtube ya biar bisa. kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing Andre: Selain kecantikan ada apa lagi yang di bahas di 217 dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Penyisipan kata pada “question and answer”. Data question and answer memiliki arti “tanya dan jawab” (diterjemahkan menurut kamus bahasa inggris), data tersebut tidak dapat ditemukan strutur subjek dan predikat dan hanya gabungan dari dua bentuk kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Chaer (2012: 222), yang mengatakan frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat. 2. Bentuk campur kode yang terdapat pada data tuturan tersebut adalah bentuk campur kode penyisipan frasa, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Penyisipan kata pada yang disebabkan oleh istilah yang lebih populer di situasi dan kondisi saat ini, campur kode yang dilakukan adalah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Masyarakat lebih udah mengigat dalam bahasa asing. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “personal inspiration”. Data personal inspiration memiliki arti “inspirasi diri sendiri” (diterjemahkan menurut kamus bahasa inggris), data tersebut tidak dapat ditemukan strutur subjek dan predikat dan hanya gabungan dari dua bentuk kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Chaer (2012: 222), yang mengatakan frasa adalah satuan gramatikal yang gabungan kata yang bersifat nonpredikat. youtube Amanda ? Amanda: Selain kecantikan sih mungkin lebih ke vlog sehari-hari lebih kesitu, atau mungkin Q and A biar lebih mendekatkan diri ke fans lebih kayak gitu. Andre: Q and A itu apa artinya ? Amanda: Ohhh Q and A itu question and answer. Konteks: O1 : Padang O2: Jakarta O1 menanyakan kepada O2 mengenai tips-tips cara membuat 218

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI video di Youtube menanyakan inspirasi pembuatan video tersebut kepada O2. Selanjutnya, O2 menajawab pertanyaan dari O1 dengan menyelibkan kata-kata bahasa asing dalam tuturannya (bahasa inggris). 47. Sule: Tapi ada Dalam tuturan syaratnya gak Paula ? tersebut merupakan campur kode dari Paula: Syaratnya bahasa Inggris. mampu bayar aja sih ! campur kode ini termasuk dalam jenis Sule: Emmmm engak, campur kode ke luar, syaratnya umur atau karena menggunakan engak harus begini ? bahasa asing, karena Suandi Paula: Eeehh engak, menurut (2014: 140-141) emang kita kan di bagi menjadi kids, remaja campur kode ke luar dan dewasa, jadi siapa adalah campur kode menyerap saja yang mau sekolah yang unsur-unsur bahasa Kids termasuk dalam jenis campur kode ke luar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Jendra, 2007: 169-170). bahwa campur kode ke luar adalah campur kode yang menyerap unsurunsur bahasa asing 219 Peristiwa campur kode yang terjadi pada data tuturan tersebut berbentuk campur kode penyisipan kata berimbuhan. Data kata kids merupakan bentuk kata berimbuhan dari kata dasar kid yang berarti ‘anak’ kemudian mendapat sufiks s yang mengubah arti menjadi “anak-anak” menurut (menurut kamus bahasa inggris). Hal ini sering Faktor terjadinya campur  kode disebabkan oleh faktor penutur yang memiliki latar belakang berasal dari Jawa khususnya Solo, yang memiliki sikap bahasa yang positif, kesetiaan, dan faktor kebiasaan menggunakan bahasa Jawa. Jadi, bahasa Indonesinya akan sering disisipi oleh unsur bahasa Jawa dalam tuturannya. Karena kedua penutur  

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mau belajar. asing, misalnya gejala campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat Konteks: sisipan bahasa Inggris, O1: Jawa Barat Belanda, Arab, bahasa (Sunda) Sansekerta, dll. O2: Jawa Tengah (Semarang) Suasana santai sedang menyanyakan jika ingin masuk sekolah model, karena O2 bintang tamu sedang membuka tempat les mondel. O2 menjawab dengan serius karena ini menyangkut pekerjaa yang sedang di jalani sekaligus promosi kepada para penonton jika ingin mengikuti les mondel milik O2. disebut dengan afiks derivasi. Afiks derivasi menurut Nida (dalam Sawari, 2017). 220 mengerti dan paham bahasa Jawa karena mereka berasal dari daerah yang hampir sama bahasanya. Jendra (dalam Suandi, 2014: 169-170)

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Catatan: ___________________________________________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________________________________________ ___________________________________________________________________________________________________________ __________________________ DosenTrianggulator, *) Keterangan Y: Ya T: Tidak A. Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. 221

(242)

Dokumen baru