PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI

Gratis

0
0
240
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Melsaria Permatasari NIM : 151134052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD Oleh: Melsaria Permatasari NIM : 151134052 Telah disetujui oleh: Pembimbing I G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., B.S.T., M.A. Tanggal 11 Desember 2018 Pembimbing II Agnes Herlina Dwi H., S.Si., M.T., M.Sc. Tanggal 11 Desember 2018 ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD Dipersiapkan dan ditulis oleh: Melsaria Permatasari NIM : 151134052 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 4 Februari 2019 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. ……………… Sekretaris Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. ……………… Anggota I G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., B.S.T., M.A. ……………… Anggota II Agnes Herlina Dwi H., S.Si., M.T., M.Sc. ……………… Anggota III Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi. ……………… Yogyakarta, 4 Februari 2019 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan, Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini penulis persembahkan kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan berkat dan rahmatNya. 2. Orang tuaku yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan. 3. Kakakku yang selalu memberikan semangat dan dukungan agar segera menyelesaikan tugas akhirku. 4. Adikku yang selalu menghiburku di kala bosan. 5. Keempat sahabatku yang sering memberikan semangat dan dukungan. 6. Almamater kebanggaanku, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Waktu itu bagai pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya menggunakan untuk memotong, ia akan memotongmu (menggilasmu)” (H.R. Muslim) “Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka dia berada di jalan Allah” (HR. Turmudzi) “Katakanlah yang sebenarnya walaupun pahit” (HR. Ibnu Hibban) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 4 Februari 2019 Peneliti Melsaria Permatasari vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Melsaria Permatasari Nomor Mahasiswa : 151134052 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD”. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusi secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 4 Februari 2019 Yang menyatakan Melsaria Permatasari vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD Melsaria Permatasari Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah keprihatinan terhadap hasil penelitian PISA tahun 2012 dan 2015 kemampuan IPA siswa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa kelas V di SD. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental tipe pretest posttest nonequivalent group design. Populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta yang berada di Yogyakarta sebanyak 46 siswa. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas VB sebanyak 22 siswa sebagai kelompok kontrol dan kelas VA sebanyak 24 siswa sebagai kelompok eksperimen. Treatment penelitian kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dengan langkah penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim (kerja tim), kuis (evaluasi), penghargaan prestasi tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Rerata selisih skor kelompok eksperimen (M = 0,48, SE = 0,08) lebih tinggi daripada rerata selisih kelompok kontrol yaitu (M = 0,13, SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = -2,13, p = 0,038 (p < 0,05). Effect size model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menginterpretasi adalah 0,31 atau setara dengan 10% termasuk pada kategori menengah. 2) Pembelajaran Kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Skor rerata selisih kelompok eksperimen (M = 0,40, SE = 0,10) lebih tinggi daripada rerata selisih kelompok kontrol yaitu (M = 0,03, SE= 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = -2,08, p = 0,043 (p < 0,05). Effect size model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menganalisis adalah 0,30 atau yang setara dengan 9% termasuk pada kategori menengah. Kata kunci: Pembelajaran kooperatif, STAD, kemampuan berpikir kritis, kemampuan menginterpretasi, kemampuan menganalisis. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF IMPLEMENTATION STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) OF COOPERATIVE LEARNING MODEL ON THE ABILITY TO INTERPRET AND ANALYZE OF THE FIFTH GRADERS ELEMENTARY SCHOOL Melsaria Permatasari Sanata Dharma University 2019 This research background was concerning of the result of PISA in 2012 and 2015 which were about the poor science ability of Indonesian students. This study aimed to understand the influence of cooperative learning model type Student Team Achievement Division’s on the ability to interpret and analyze on the fifth graders. This study was quasi-experimental research with pre-test and post-test non-equivalent group design type. The population used in this research were all of the fifth graders in one of the private Yogyakarta Elementary School which were 46 students. The sample of this research consisted of two groups from VB, which are 22 students as the control group, and VA, which are 24 students as the experimental group. The treatment applied to the experimental group was cooperative learning with STAD type, which was related to the delivery of goals and motivation, division of groups, presentation from the teacher, team work, quizzes (evaluation), and team achievement award There result of this study showed that 1) STAD of cooperative learning model influenced the ability to interpret. The average difference score of the experimental group (M = 0.48, SE = 0.08) was higher than the control group’s (M = 0.13, SE = 0.14) with t (44) = -2.13, p = 0.038 (p < 0.05) significant difference. The effect size of the cooperative learning model type STAD on the ability to interpret is 0.31 or equal to 10% that belonged to the medium category. 2) STAD of cooperative learning model influences the ability to analyze. The average difference score of the experimental group (M = 0.40, SE = 0.10) was higher than the control group’s (M = 0.03, SE = 0.14) with t (44) = -2.08, p = 0.043 (p < 0.05) significant difference. The effect size of the cooperative learning model type STAD on the ability to analyze was 0.30 or equal to 9% that belonged to the medium category. Key words: Cooperative learning, STAD, critical thinking skills, ability to interpret, ability to analyze. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul PEMBELAJARAN ACHIEVEMENT ”PENGARUH KOOPERATIF DIVISION (STAD) PENERAPAN TIPE STUDENT TERHADAP MODEL TEAM KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogayakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogayakarta. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogayakarta. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., B.S.T., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dan mendukung dengan sabar dan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi H., S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah mendukung dengan sabar dan memberi semangat. 6. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi. selaku Dosen Penguji III yang telah memberikan masukkan pada penelitian ini. 7. Anna Maria Wahyuni, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD yang telah memberi ijin melakukan penelitian dengan tangan terbuka. 8. Rosalia Septi Wulansari, S. Pd. selaku guru mitra yang telah membantu pelaksanaan penelitian. 9. G. Tri Teguh Rahayu, S.Pd. selaku wali kelas VB yang telah memberi ijin melakukan penelitian di kelas tersebut. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Siswa kelas VA dan VB SD semester gasal tahun ajaran 2018/2019 yang telah bersedia terlibat dalam penelitian. 11. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu proses perijinan penelitian skripsi. 12. Kedua orang tuaku, Suryanto dan Sunarsih yang selalu memberikan kasih sayang, mendoakan, menyemangati, menasehati, dan memenuhi segala kebutuhan. 13. Kakak saya, Tutik Handayani yang selalu memberikan semangat, motivasi, bantuan dalam memenuhi kebutuhan dan doa untuk saya. 14. Adikku Siti Nur Azma yang setia menjadi penghibur. 15. Kedua keponakanku, Jonathan Alvarendra Priandhani dan Nicholas Albi Priandhani yang selalu menjadi penghibur dikala bosan. 16. Sahabat satu payung, Felisitas Laurina C. dan Eriene Denis K. yang telah memberikan bantuan, perhatian, dan semangat untuk menyelesaian skripsi. 17. Aan lyvia yang selalu mendoakan, mendukung, perhatian, dan menghibur di kala jenuh dengan skripsi. 18. Teman seperjuanganku, Andreas Bagus Mulyo Bangun yang telah bersedia membantuku dalam proses menyelesaikan skripsi. 19. Sahabatku dari SMA, Herlin, Tika, Pipit, dan Septi yang selalu menyemangati dan mendorong saya untuk segera menyelesaikan skripsi. 20. Teman-teman seperjuangan, kelas VII A dan teman-teman PPL (Anton, Sekar, Wulan, Sindhi, Elza, Rossa) yang telah memberikan semangat. 21. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu, namun telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena keterbatasan peneliti. Segala kritik dan saran yang membangun akan peneliti terima dengan sanang hati. Peneliti berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dunia pendidikan. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv HALAMAN MOTTO ...................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ...................................... vii ABSTRAK .................................................................................................... viii ABSTRACT ..................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................. xii DAFTAR TABEL ......................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian............................................................................. 6 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 6 1.5 Definisi Operasional ........................................................................ 7 BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 9 2.1 Kajian Pustaka................................................................................. 9 2.1.1 Teori yang Mendukung ................................................................... 9 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak .......................................................... 9 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif Piaget........................................... 9 2.1.1.3 Teori Vygotsky ......................................................................... 13 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif ............................................. 15 2.1.1.5 Model Pembelajaran STAD ...................................................... 17 2.1.1.6 Keunggulan Model STAD ........................................................ 17 2.1.1.7 Langkah - langkah Model Pembelajaran STAD......................... 17 2.1.1.8 Kemampuan Berpikir Kritis .................................................... 19 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.9 Kemampuan Menginterpretasi .................................................. 21 2.1.1.10 Kemampuan Menganalisis ........................................................ 21 2.1.1.11 Pembelajaran Tematik ............................................................ 22 2.1.1.12 Materi Pembelajaran ................................................................. 23 2.1.2 Penelitian-penelitian yang Relevan ................................................ 25 2.1.2.1 Penelitian tentang Model Pembelajaran STAD ............................ 25 2.1.2.2 Penelitian tentang Berpikir Kritis ................................................ 27 2.1.2.3 Literature Map ....................................................................... 29 2.2 Kerangka Berpikir ......................................................................... 30 2.3 Hipotesis Penelitian ....................................................................... 32 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 33 3.1 Jenis Penelitian .............................................................................. 33 3.2 Setting Penelitian ........................................................................... 34 3.2.1 Tempat Penelitian .......................................................................... 34 3.2.2 Waktu Penelitian ........................................................................... 35 3.3 Populasi dan sampel ...................................................................... 36 3.3.1 Populasi......................................................................................... 36 3.3.1 Sampel .......................................................................................... 36 3.4 Variabel Penelitian ........................................................................ 36 3.4.1 Variabel Independen ...................................................................... 37 3.4.2 Variabel Dependen ........................................................................ 37 3.5 Teknik Pengumpulan Data............................................................. 37 3.6 Instrumen Penelitian ..................................................................... 39 3.7 Teknik Pengujian Instrumen .......................................................... 40 3.7.1 Uji Validitas .................................................................................. 40 3.7.1.1 Validitas Isi............................................................................... 40 3.7.1.2 Validitas Permukaan ................................................................. 41 3.7.1.3 Validitas Konstruk .................................................................... 41 3.7.2 Uji Reliabilitas .............................................................................. 43 3.8 Teknik Analisis Data ..................................................................... 44 3.8.1 Analisis Pengaruh Perlakuan ......................................................... 44 3.8.1.1 Uji Asumsi .................................................................................. 44 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal................................................ 46 3.8.1.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................... 47 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................... 47 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut ..................................................................... 49 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............. 49 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............. 50 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I .................................... 51 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II ............. 53 3.8.2.5 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II ................. 54 3.9 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian ................. 54 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 60 4.1 Hasil Penelitian ................................................................................. 60 4.1.1 Implementasi Penelitian ................................................................. 60 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian ........................................................ 60 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran ......................................... 61 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data .................................................................. 68 4.1.2.1 Kemampuan Menginterpretasi .................................................... 68 4.1.2.2 Kemampuan Menganalisis .......................................................... 70 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I ............................................................... 71 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal................................................ 72 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................... 74 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................... 77 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut .................................................................. 78 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II.............................................................. 85 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal................................................ 86 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................... 88 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................... 91 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut .................................................................. 92 4.2. Pembahasan................................................................................... 99 4.2.1 Pengendalian Ancaman Validitas Internal ...................................... 99 4.2.2 Pengaruh Model STAD terhadap Kemampuan menginterpretasi .. 102 4.2.3 Pengaruh Model STAD terhadap Kemampuan menganalisis ........ 104 4.2.4 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori ..................................... 107 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 113 5.1 Kesimpulan .................................................................................... 113 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................... 114 5.3 Saran .............................................................................................. 114 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 115 LAMPIRAN ................................................................................................. 119 CURRICULUM VITAE................................................................................ 222 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2. 1 Kemampuan Berpikir Kritis Facione ............................................... 20 Tabel 3. 1 Jadwal Pengambilan Data................................................................ 35 Tabel 3. 2 Pemetaan Instrumen Penelitian ........................................................ 39 Tabel 3. 3 Matriks Pengembangan Instrumen................................................... 40 Tabel 3. 4 Hasil Uji Validitas ........................................................................... 42 Tabel 3. 5 Hasil Uji Reliabilitas ....................................................................... 43 Tabel 3. 6 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan .................................................. 48 Tabel 3. 7 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan .................................................. 48 Tabel 4. 1 Frekuensi Sebaran Data Menginterpretasi Kelompok Kontrol ......... 68 Tabel 4. 2 Frekuensi Sebaran Data Menginterpretasi Kelompok Eksperimen ... 69 Tabel 4. 3 Frekuensi Sebaran Data Menganalisis Kelompok Kontrol ............... 70 Tabel 4. 4 Frekuensi Sebaran Data Menganalisis Kelompok Eksperimen ......... 71 Tabel 4. 5 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Pretest ....................... 73 Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian ......................................................... 73 Tabel 4. 7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................... 74 Tabel 4. 8 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data .................................. 75 Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest-Posttest I.................. 75 Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................... 76 Tabel 4. 11 Hasil Uji Effect Size ...................................................................... 78 Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I ......... 79 Tabel 4. 13 Peningkatan Rerata Skor Pretest dan Posttest I .............................. 79 Tabel 4. 14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I ........... 81 Tabel 4. 15 Hasil Uji Korelasi Rerata Pretest ke Posttest I ............................... 82 Tabel 4. 16 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II .... 83 Tabel 4. 17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I dan Posttest II ..... 84 Tabel 4. 18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest dan Posttest II ......... 85 Tabel 4. 19 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Pretest ..................... 86 Tabel 4. 20 Hasil Uji Homogenitas Varian ....................................................... 87 Tabel 4. 21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ......................................... 87 Tabel 4. 22 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data ................................ 89 Tabel 4. 23 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest-Posttest I ................ 89 Tabel 4. 24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................... 90 Tabel 4. 25 Hasil Uji Effect Size ...................................................................... 91 Tabel 4. 26 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I ......... 92 Tabel 4. 27 Peningkatan Rerata Skor Pretest dan Posttest I .............................. 93 Tabel 4. 28 Peningkatan Pretest ke Posttest I ................................................... 95 Tabel 4. 29 Hasil Uji Korelasi Rerata Pretest ke Posttest I ............................... 96 Tabel 4. 30 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II .... 97 Tabel 4. 31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I dan Posttest II ..... 97 Tabel 4. 32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest dan Posttest II ......... 98 Tabel 4. 33 Ancaman dalam Penelitian ............................................................ 99 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Tahap Perkembangan Kognitif menurut Jean Piaget .................... 11 Gambar 2. 2 Tahap Perkembangan Kognitif menurut Vygotsky ....................... 14 Gambar 2. 3 Literature Map............................................................................. 29 Gambar 3. 1 Perhitungan Pengaruh Perlakuan ................................................. 34 Gambar 3. 2 Desain Penelitian ......................................................................... 34 Gambar 3. 3 Variabel Penelitian ...................................................................... 37 Gambar 3. 4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Normal .......... 48 Gambar 3. 5 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Tidak Normal 49 Gambar 3. 6 Rumus Persentase Pengaruh ........................................................ 49 Gambar 3. 7 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I ..................... 49 Gambar 3. 8 Rumus Gain Score ....................................................................... 50 Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Normal .................... 51 Gambar 3. 10 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Tidak Normal......... 51 Gambar 3. 11 Rumus Persentase Besar Pengaruh ............................................. 51 Gambar 3. 12 Rumus Persentase Uji Retensi ................................................... 53 Gambar 3. 13 Desain Ancaman Validitas Sejarah ............................................ 56 Gambar 4. 1 Gambar Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................... 77 Gambar 4. 2 Gambar Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ............................. 77 Gambar 4. 3 Gambar Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ......................... 80 Gambar 4. 4 Gambar Gain Score ..................................................................... 80 Gambar 4. 5 Gambar Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ...... 84 Gambar 4. 6 Gambar Signifikansi Pengaruh Perlakuan .................................... 90 Gambar 4. 7 Gambar Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I .............................. 91 Gambar 4. 8 Gambar Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ......................... 93 Gambar 4. 9 Gambar Gain Score ..................................................................... 94 Gambar 4. 10 Gambar Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II .... 98 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 1 Surat Ijin Penelitian................................................................. 120 Lampiran 1. 2 Surat Ijin Validitas Soal .......................................................... 121 Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Eksperimen ............................................... 122 Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Kontrol ...................................................... 125 Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen .... 128 Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol .......... 141 Lampiran 2. 5 Lembar Kerja Siswa ................................................................ 151 Lampiran 3. 1 Soal Uraian ............................................................................. 157 Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban ........................................................................ 163 Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian ..................................................................... 168 Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Expert Judgement................................................ 172 Lampiran 3. 5 Hasil Uji Validasi Oleh Expert Judgement .............................. 174 Lampiran 3. 6 Data Uji Validitas Instrumen ................................................... 183 Lampiran 3. 7 Hasil SPSS Uji Validitas ......................................................... 185 Lampiran 3. 8 Hasil SPSS Uji Reliabilitas ..................................................... 188 Lampiran 3. 9 Sampel Jawaban Siswa ........................................................... 189 Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Menginterpretasi.......................... 194 Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Menganalisis ............................... 194 Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data ............................. 195 Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Kemampuan Awal ......... 196 Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ......................... 197 Lampiran 4. 6 Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I .............. 199 Lampiran 4. 7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .............................. 200 Lampiran 4. 8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan ...................... 202 Lampiran 4. 9 Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ................. 203 Lampiran 4. 10 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I................................ 210 Lampiran 4. 11 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I .. 212 Lampiran 4. 12 Hasil Uji Retensi Perlakuan................................................... 213 Lampiran 5. 1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran ............................................ 220 Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ............................. 221 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berpikir kritis memiliki peran yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Para ahli psikologi dan pendidikan belakangan ini semakin menyadari bahwa anakanak di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis (Desmita, 2007: 161). Tokoh pendidikan kritis berkebangsaan Brazil, Paulo Freire, menjelaskan bahwa untuk mengembangkan kesadaran berpikir kritis anak, di dalam proses pendidikan, guru dan murid harus berperan sebagai pemain bersama. Guru dan murid saling mengajar dan belajar. Di sini terjadi dialog dan komunikasi horizontal. Pelaksanaan pendidikan dengan cara dialog inilah akan membangkitkan kesadaran kritis anak didik (Desmita, 2007: 162). Sekolah Dasar (SD) adalah jenjang pendidikan formal yang dasar di mana pentingnya kemampuan berpikir kritis mulai ditanamkan. Umumnya, siswa SD berusia 7 sampai 12 tahun. Menurut Piaget anak usia 7-11 tahun masuk tahap operasi konkret, di mana siswa belajar berdasarkan penglihatan yang konkret atau nyata (dalam Schunk, 2012: 332-333). Siswa usia SD memiliki kecenderungan memecahkan masalah berdasarkan apa yang dilihat dan kecenderungan untuk kerja sama. Selain itu, cara berpikir anak-anak pada tahapan ini tidak lagi berdasarkan persepsi, tetapi anak-anak lebih menggunakan pengalaman-pengalaman mereka sebagai acuannya. Dalam pemecahan masalah anak tentu tidak hanya mengandalkan pengalamannya saja, namun bantuan dari orang dewasa atau berkolaborasi bersama teman sebaya yang lebih kompeten juga berperan di dalamnya. Hal ini disebut Zone of Proximal Development (ZDP). Sesuai dengan teori perkembangan kognitif anak menurut Vygotsky yang mengatakan bahwa siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi ketika mendapat bimbingan (scaffolding) dari seorang yang lebih ahli atau melalui teman sejawat yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Demikian juga Piaget berpendapat bahwa siswa akan mendapat pencerahan ide-ide baru dari seseorang yang memiliki 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengetahuan atau memiliki keahlian (Piaget, dalam Suparno, 2003). Bantuan atau bimbingan tersebut disebut scaffolding. Bantuan dikurangi setelah anak dapat memecahkan masalah sendiri. Di sekolah siswa mempelajari berbagai pelajaran salah satunya yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran IPA adalah interaksi antara komponenkomponen pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang berbentuk kompetensi yang telah diterapkan (Wisudawati & Sulistyowati, 2014: 26). IPA mempelajari peristiwa atau kejadian sehari-hari, maka untuk mempelajarinya memerlukan cara khusus. Pemilihan cara yang tepat dapat memudahkan siswa menyerap pengetahuan. Salah satunya melibatkan siswa dalam belajar baik dengan kegiatan langsung dan berdiskusi dalam kelompok untuk menghasilkan pembelajaran bermakna. Keterlibatan siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan mengingat materi tetapi dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis seperti kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis, di mana kedua kemampuan tersebut masuk proses kognitif menurut Peter Facione. Menurut Facione (2007), kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, menganalisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai. Karena itu, berpikir kritis merupakan alat penelitian yang sangat mendasar. Kecakapan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Dimensi kognitif dari kecakapan berpikir kritis meliputi 6 elemen yaitu: 1) menginterpretasi, 2) menganalisis, 3) mengevaluasi, 4) menarik kesimpulan, 5) mengeksplanasi, 6) meregulasi diri. Dua elemen kognitif yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Menurut Facione (2007), kemampuan menginterpretasi terdiri dari 3 bagian yaitu: 1) membuat kategori, 2) memahami arti, 3) menjelaskan makna. Bagian pertama adalah membuat kategori, misalnya mengidentifikasi suatu permasalahan dan mendefinisikan ciri-cirinya. Bagian kedua memahami arti, misalnya mendeteksi maksud di balik pertanyaan yang diajukan, menilai arti bahasa wajah, bahasa tubuh, sikap atau bahasa non 2

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI verbal lain yang digunakan. Bagian ketiga menjelaskan makna, misalnya membahasakan ulang apa yang dikatakan orang lain dengan kata-kata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula. Kemampuan menganalisis sendiri meliputi 1) menguji gagasan-gagasan, 2) mengidentifikasi argumen-argumen, 3) menganalisis argumen-argumen. Bagian pertama menguji gagasan-gagasan, misalnya melontarkan suatu pernyataan kepada publik untuk melihat reaksi mereka dengan maksud untuk menyetujui gagasan tertentu. Bagian kedua mengidentifikasi argumen-argumen, misalnya menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di koran atau suatu paragraf sebuah buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu. Bagian ketiga menganalisis argumen-argumen misalnya menganalisis apakah pandangan seorang pengarang (artikel, buku dsm) dengan argumen, premis, informasi, alasan dsm yang dikemukakannya mendukung atau bertentangan dengan pandangan tertentu. Idealnya seorang anak dikatakan memiliki kemampuan menginterpretasi dan menganalisis jika seorang anak tersebut sudah mampu untuk melakukan semua bagian-bagian dasar yang ada di dalam kemampuan menginterpretasi dan menganalisis tersebut. Permasalahannya, kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dan perlu ditingkatkan. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa mata pelajaran IPA, Indonesia berada dalam urutan ke 64 dari 65 negara di dunia dengan skor 382 dari mean score 501 (OECD, 2014: 5). Pada tahun 2015 PISA melakukan tes yang berfokus pada IPA, membaca dan matematika (OECD, 2018: 3). Hasil PISA 2015 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara dengan skor 403 pada mata pelajaran IPA (OECD, 2018: 5). Pada tahun 2015 Indonesia mampu menaikkan posisi yaitu 2 tingkat ke atas. Hasil studi PISA tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di peringkat sepuluh terbawah pada mata pelajaran IPA. Hal ini tentu saja memprihatinkan dalam dunia pendidikan, sedangkan pada abad ke-21 pemerintah menuntut siswa untuk menguasai beberapa keterampilan salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis. Salah satu cara meningkatkan kemampuan pada IPA yaitu meningkatkan kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD). 3

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu model yang paling sederhana dan menyenangkan yang dapat digunakan untuk mengetahui berpengaruh atau tidak terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa kelas V SD. Menurut (Slavin, dalam Rusman, 2013: 213) model Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam Matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Model Student Teams Achievement Divisions (STAD) terdiri dari beberapa langkah pembelajaran yaitu: 1) penyampaian tujuan dan motivasi, 2) pembagian kelompok, 3) presentasi dari guru, 4) kegiatan belajar dalam tim, 5) kuis, dan 6) penghargaan prestasi tim (Rusman, 2013: 215-217). Model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) memiliki beberapa manfaat bagi siswa di antaranya: 1) siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok, 2) siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama, 3) aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok, 4) interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat, 5) meningkatkan kecakapan individu, 6) meningkatkan kecakapan kelompok, 7) tidak bersifat kompetitif, 8) tidak memiliki rasa dendam (Shoimin, 2014: 189). Beberapa penelitian menunjukkan hasil penelitian model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Sunilawati, Dantes, dan Candiasa (2013) meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berdampak lebih baik secara signifikan terhadap hasil belajar matematika dibandingkan dengan konvensional. Adrian, Degeng, dan Utaya (2016) meneliti pengaruh pembelajaran kooperatif STAD terhadap retensi siswa kelas V pada mata pelajaran IPS. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pembelajaran kooperatif STAD terhadap retensi siswa kelas V pada mata pelajaran IPS. Meo (2017) meneliti perbedaan prestasi belajar IPS antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPS antara 4

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa yang belajar menggunakan model Student Teams Achievement Division (STAD) dengan siswa yang belajar menggunakan model konvensional. Beberapa penelitian menunjukkan hasil penelitian tentang berpikir kritis. Kargar, dkk (2012) meneliti pengaruh pengajaran keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada lokus kontrol dan kesejahteraan psikologis pada siswa sekolah menengah. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh signifikan dalam berpikir kreatif dan berpikir kritis dalam post-test dari kelompok eksperimen. Pratiwi (2014) meneliti perbedaan antara keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dan yang diajar menggunakan model cooperative learning dengan pendekatan saintifik dan besarnya pengaruh model discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa materi larutan elektrolit dan non elektrolit di kelas. Hasil data menunjukkan terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit antara siswa yang diajarkan menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dan yang diajar menggunakan model cooperative learning dengan pendekatan saintifik. Kirbas dan Gunes (2014) meneliti pengaruh disposisi berpikir kritis dan tingkat kewirausahaan guru masa depan dan untuk mengevaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disposisi berpikir kritis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kewirausahaan. Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, STAD berpengaruh terhadap hasil belajar, prestasi belajar, dan retensi siswa. Hal yang menjadi pembeda dalam penelitian ini adalah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) untuk mengetahui pengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis dalam teori berpikir kritis Peter Facione khususnya dimensi kognitif. Pentingnya meneliti penerapan Model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis karena belum ada yang meneliti mengenai hal ini. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa kelas V SD. Penelitian ini dikhususkan 5

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada mata pelajaran IPA dengan materi “Pernapasan Hewan”. Kelas yang digunakan untuk penelitian yatu kelas V. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasi experimental tipe pretest posttest non-equivalent group design. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling. Variabel independen dalam penelitian ini, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dan variabel dependen pada penelitian ini, yaitu kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta yang ada di Yogyakarta yang berjumlah 46 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas V B yang berjumlah 22 sebagai kelompok kontrol dan kelas V A yang berjumlah 24 sebagai kelompok eksperimen. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD? 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V SD? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V SD. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan 6

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan menganalisis siswa, sehingga kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya. 1.4.2 Bagi Peneliti Penelitian ini akan memberikan pengetahuan baru bagi peneliti bahwa menerapkan Achievement model pembelajaran kooperatif Divisions (STAD) dalam tipe Student pelaksanaan Teams penelitian eksperimental ini dapat berpengaruh kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa pada pembelajaran tematik. 1.4.3 Bagi Guru Guru dapat mengetahui bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam proses pembelajaran tematik dapat berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa. 1.4.4 Bagi Sekolah Penelitian ini dapat memberitahukan sekolah bahwa pentingnya guru menggunakan model pembelajaran yang menarik agar dapat berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai, kemampuan berpikir kritis meliputi 6 elemen, yaitu 1) menginterpretasi, 2) menganalisis, 3) mengevaluasi, 4) menarik kesimpulan, 5) mengeksplanasi, 6) meregulasi diri. 1.5.2 Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria yang terdiri dari tiga bagian dasar, yaitu membuat kategori, memahami arti, dan menjelaskan makna. 1.5.3 Kemampuan menganalisis adalah kemampuan mengidentifikasi relasirelasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang 7

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opiniyang terdiri dari tiga bagian dasar, yaitu menguji gagasan-gagasan, mengidentifikasi argumen-argumen, menganalisis argumen-argumen. 1.5.4 Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. 1.5.5 Model Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah model yang paling sederhana dari model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa langkah pembelajaran, yaitu 1) penyampaian tujuan dan motivasi, 2) pembagian kelompok, 3) presentasi dari guru, 4) kegiatan belajar dalam tim,5) kuis, dan 6) penghargaan prestasi tim. 8

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori yang Mendukung Teori yang mendukung merupakan teori yang melandasi penelitian ini. Pada bagian ini akan dibahas tentang teori perkembangan anak dari Jean Piaget dan Vygotsky, model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD), kemampuan interpretasi dan analisis, serta materi sistem pernafasan hewan untuk siswa kelas V SD. 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Istilah “perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi di antaranya yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Perkembangan tidak terbatas pada pengertian perubahan secara fisik, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan secara terus-menerus dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap kematangan, melalui pertumbuhan dan belajar (Desmita, 2007: 4). Teori perkembangan kognitif Piaget dan teori perkembangan sosial Vygotsky merupakan teori belajar yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan teori dari Piaget dan Vygotsky karena Piaget dan Vygotsky merupakan tokoh utama dari konstruktivisme. Konstruktivisme adalah suatu pendekatan terhadap belajar yang berkeyakinan bahwa orang secara aktif membangun atau membuat pengetahuannya sendiri dan realitas ditentukan oleh pengalaman orang itu sendiri pula (Abimanyu, 2008: 22). Kedua teori tersebut juga merupakan cikal bakal berkembangnya konstruktivisme. Asumsi utama dari konstruktivisme yaitu manusia adalah siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri (Geary, dalam Schunk, 2012: 323). 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif Piaget Jean Piaget lahir pada tanggal 1989 di Neuchatel, Swiss. Ayahnya adalah seorang profesor dengan spesialis ahli sejarah abad pertengahan, ibunya adalah 9

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI seorang yang dinamis, inteligen, dan takwa. Waktu mudanya Piaget sangat tertarik pada alam. Pada waktu umur 10 tahun ia sudah menerbitkan karangannya yang pertama tentang burung pipit albino dalam majalah ilmu pengetahuan alam. Pada umur 15 tahun ia ditawari suatu kedudukan sebagai kurator moluska di museum ilmu pengetahuan alam di Geneva. Ia menolak tawaran karena ia harus menyelesaikan sekolah menengah lebih dahulu (Suparno, 2006: 11). Piaget mengawali serangkaian studi penting mengenai tingkah laku kognitif bayi kepada ketiga anaknya (Crain, 2007: 169). Risetnya memberikan kontribusi yang jelas menuju sebuah teori pentahapan yang tunggal dan terintegrasikan (Crain, 2007: 170). Piaget menyatakan bahwa anak-anak harus berinteraksi dengan lingkungannya untuk berkembang dan membangun struktur-struktur kognitif baru dalam dirinya. Piaget menyatakan bahwa proses perkembangan kognitif berkenaan dengan skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, dan kesetimbangan (Santrock, 2014: 43). Menurut Piaget ketika anak berusaha membangun pemahaman mengenai dunia, otak berkembang membentuk skema. Skema adalah suatu struktur mental seseorang di mana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui proses yang tidak dipisahkan, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi ialah penyatuan (pengintegrasian) informasi, persepsi, konsep dan pengalaman baru ke dalam yang sudah ada dalam benak seseorang (Sanjaya, 2013: 132). Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menghadapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungannya (Dahar, 2011:135). Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan atau pergantian skema melainkan perkembangan skema. Akomodasi adalah mengubah struktur-struktur internal untuk memberikan konsistensi dengan realita eksternal (Schunk, 2012: 331). Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Selanjutnya anak mengatur pengalaman mereka secara kognitif untuk mengartikan dunia mereka. Organisasi adalah pengelompokan perilaku dan pikiran yang terisolasi ke dalam susunan sistem yang lebih tinggi. Ekuilibrasi adalah mekanisme yang diajukan Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak beralih 10

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dari satu tahap pemikiran ke tahap berikutnya. Peralihan ini terjadi ketika anak mengalami konflik kognitif atau mengalami disekuilibrium dalam memahami dunia. Akhirnya, mereka menyelesaikan konflik tersebut dan mencapai kesetimbangan atau ekuilibrium pemikiran (Santrock, 2014: 44). (Sumber: http://lh5.ggpht.com/FmLActvoN2w/VBWYGPULDjI/AAAAAAAAUGw/8c2g5owQa8I/s1600h/clip_image001%25255B3%25255D.gif) Gambar 2. 1 Tahap Perkembangan Kognitif menurut Jean Piaget Piaget membagi perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap. Setiap tahapan berhubungan dengan usia dan terdiri atas cara pemikiran yang berbeda. Menurut Piaget (dalam Schunk, 2012: 332-333) perkembangan ini berlangsung melalui empat tahap, yaitu: a. Tahap Sensori-motor (Usia 0-2 tahun). Tahap sensori-motor adalah tahap di mana anak-anak melakukan tindakantindakan secara spontan dan menunjukkan usaha untuk memahami dunianya. Tahap ini inteligensi anak berdasarkan pada kemampuan inderawi terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamah, mendengar, membau, dan lain-lain. Anak belum dapat berbicara dengan bahasa karena belum memiliki bahasa simbol untuk mengungkapkan suatu benda yang tidak berada di dekatnya. Pemahaman bersumber dari tindakan yang telah dilakukannya sekarang. Misalnya, bola untuk dilempar dan gelas untuk minum. Balita berusia dua tahun secara kognitif jauh berbeda dibandingkan bayi. Struktur-struktur kognitif mereka dibangun dan diubah, dan motivasi untuk melakukan hal ini sifatnya internal. 11

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Tahap Pra-operasional (Usia 2-7 tahun). Tahap praoperasi anak mulai memiliki kemampuan kognitif dan motorik. Kemampuan yang dimiliki anak pada tahap ini masih terbatas. Mereka juga belum mampu berpikir dengan abstrak dan lebih dari satu dimensi pada satu saat. Jadi ketika mereka fokus pada panjang, mereka akan cenderung berpikir bahwa benda yang lebih panjang itu lebih besar daripada benda yang lebih pendek meskipun benda yang lebih pendek itu lebih lebar. Anakanak pada tahap pra-operasional menganggap bahwa sesuatu yang telah dilakukan maka tidak dapat diubah lagi (kotak yang telah diratakan tidak bisa dibuat kotak lagi). Mereka kesulitan membedakan antara fantasi dan kenyataan. Tokoh-tokoh dalam kartun terlihat nyata seperti orang-orang hidup. Tahap ini adalah tahap periode perkembangan bahasa yang pesat. Karakteristik lainnya adalah anak-anak menjadi lebih tidak egosentris. Mereka menyadari bahwa orang-orang lain mungkin berpikir dan merasakan hal yang berbeda dengan yang mereka pikirkan dan rasakan. c. Tahap Operasional Konkret (Usia 7-11 tahun) Tahapan operasional konkret ditandai dengan pertumbuhan kognitif yang luar biasa dan merupakan tahapan formatif dalam pendidikan sekolah. Bahasa dan penguasaan keterampilan-keterampilan dasar anak-anak bertambah secara dramatis. Anak-anak mulai menunjukkan beberapa pemikiran abstrak. Cara berpikir anak-anak pada tahapan ini tidak lagi berdasarkan persepsi, tetapi anak-anak lebih menggunakan pengalamanpengalaman mereka sebagai acuannya. d. Tahap Operasional Formal (Usia 11-dewasa) Pikiran anak-anak pada tahap ini tidak lagi hanya terfokus pada hal-hal yang dapat dilihat namun anak-anak mampu berpikir dengan pengandaiaan. Penalaran mereka meningkat dan mereka dapat berpikir lebih dari satu dimensi. Egosentris muncul pada dirinya dimana mereka membandingkan antara kenyataan dan kondisi ideal sehingga mereka dapat lebih berpikir secara idealistik. 12

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif anak menurut Piaget, anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Hal ini ditunjukkan dengan sudah berkembangnya kemampuan berpikir logis yang diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi (Suparno, 2003: 70). Tahap operasional konkret ini anak-anak lebih menggunakan pengalamannya sebagai acuan namun pengalaman dan cara berpikirnya masih terbatas, sehingga diperlukan model pembelajaran yang sesuia dengan tahap perkembangannya. 2.1.1.3 Teori Vygotsky Lev Semyonovich Vygotsky yang lahir di Rusia tahun 1896 mempelajari berbagai bidang studi di sekolah, termasuk psikologi, filsafat, dan satra. Ia menerima gelar hukum dari Moscow Imperial University tahun 1917. Setelah lulus ia kembali ke kampung halamannya, Gomel, yang penuh dengan permasalahan akibat pendudukan Jerman, kelaparan, dan perang sipil. Dua orang saudara kandungnya meninggal, dan ia sendiri menderita tuberculosis. Ia mengajar untuk kuliah bidang psikologi dan sastra, menulis kritik sastra, dan mengedit sebuah jurnal. Ia juga bekerja di institusi pelatihan guru di mana ia mendirikan laboratorium psikologi dan menulis sebuah buku psikologi pendidikan (Schunk, 2012: 337). Salah satu kontribusi Vygotsky yang paling penting terhadap pemikiran psikologi adalah fokus perhatiannya pada aktivitas yang bermakna sosial sebagai pengaruh penting terhadap pikiran sadar manusia. Teori Vygotsky menitikberatkan interaksi dari faktor-faktor interpersonal (Schunk, 2012: 339). Pandangan Vygotsky menekankan pentingnya pola sosiokultural di mana individu menjadi salah satu unsurnya, maksudnya yaitu interaksi sosial memainkan peran fundamental dalam perkembangan kognisi (Salkind, 2009: 371). Proses fundamental pembelajaran berlangsung melalui interaksi anak dengan seseorang yang berpengetahuan, entah itu orang dewasa (seperti orang tua atau guru) atau teman sebaya (Salkind, 2009: 373). Seperti dikatakan Vygotsky, setiap fungsi perkembangan kultural anak berlangsung dua kali, pertama di tingkat sosial dan kemudian di tingkat individu. Pertama antara orang-orang atau interpsikologis dan kemudian dalam diri anak sendiri atau intrapsikologis (Salkind, 2009: 372). Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan anak bergantung pada interaksi anak 13

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan orang lain dan dengan sarana-sarana tertentu (seperti bahasa) yang disediakan oleh kultur dan membantu pandangan dunia anak (Salkind, 2009: 373). Satu konsep pokok dalam teori ini adalah Zone of Proximal Development (ZPD). Konsep ini diidentifikasi sebagai jarak antara level perkembangan aktual yang ditentukan melalui pemecahan masalah secara mandiri dan level potensi perkembangan yang ditentukan melalui pemecahan masalah dengan bantuan orang dewasa atau dengan kerja sama dengan teman-teman sebaya yang lebih mampu. ZPD ini lebih merupakan sebuah tes dari kesiapan perkembangan siswa atau level intelektual dalam bidang studi tertentu, dan tes ini menunjukkan bagaimana pembelajaran dan perkembangan berkait dan dapat dipandang sebagai sebuah alternatif dari konsepsi kecerdasan (Schunk, 2012: 341). (Sumber: https://buletinserviam.files.wordpress.com/2015/07/zpd.jpg) Gambar 2. 2 Tahap Perkembangan Kognitif menurut Vygotsky Menurut Vygotsky, siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi ketika mendapat bimbingan (scaffolding) dari seorang yang lebih ahli atau melalui teman sejawat yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Demikian juga Piaget berpendapat bahwa siswa akan mendapat pencerahan ide-ide baru dari seseorang yang memiliki pengetahuan atau memiliki keahlian (Piaget, dalam Suparno, 2003). Scaffolding adalah bantuan untuk memecahkan masalah selama tahap awal perkembangan. Bantuan dikurangi setelah anak dapat memecahkan masalah sendiri. Scaffolding ini dapat berupa penyederhanaan tugas, memberikan petunjuk kecil mengenai apa yang harus dilakukan siswa, pemberian model prosedur penyelesaian tugas, menunjukkan kepada siswa apa saja yang telah dilakukannya dengan baik, pemberitahuan kekeliruan yang dilakukan siswa dalam 14

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI langkah pengerjaan tugas, dan menjaga agar rasa frustasi siswa masih berada pada tingkat yang masih dapat ditanggungnya. Pemberian tuntunan berangsur-angsur harus dikurangi seiring dengan semakin mahirnya siswa menyelesaikan tugas. Maka dari itu siswa memerlukan penggunan model kooperatif learning dalam kegiatan pembelajaran. Karena dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif siswa dapat memperoleh bimbingan dari seseorang yang lebih ahli atau melalui teman sejawat melalui kerja kelompok. 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Inti dari model pembelajaran kooperatif adalah di mana para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan guru. Angota timnya heterogen yang terdiri dari siswa berprestasi tinggi, sedang, dan rendah, laki-laki dan perempuan, dan berasal dari latar belakang etnik yang berbeda. Setelah mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan tim, para siswa mengerjakan kuis. Skor kuis dari semua siswa dicatat dan semua tim yang skor ratarata kuisnya tinggi mendapatkan penghargaan khusus (Slavin, 2005: 8). Ide yang melatarbelakangi bentuk pembelajaran kooperatif semacam ini adalah apabila para siswa ingin agar timnya berhasil, mereka akan mendorong anggota timnya untuk lebih baik dan akan membantu mereka melakukannya. Sering kali, para siswa mampu melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menjelaskan gagasan-gagasan yang sulit satu sama lain dengan menerjemahkan bahasa yang digunakan guru ke dalam bahasa anak-anak (Slavin, 2005: 9). Model pembelajaran kooperatif tentu saja bukan hal baru. Para guru sudah menggunakannya selama bertahun-tahun dalam bentuk kelompok laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi, dan sebagainya. Model-model ini sekarang telah digunakan secara ekstensif dalam tiap subjek yang dapat dikonsep yang dapat dikonsepkan, pada tingkat kelas mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dan pada berbagai macam sekolah di seluruh dunia (Slavin, 2005:9). Beberapa tahun terakhir ini banyak penelitian yang mengidentifikasi model 15

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan secara efektif pada setiap tingkatan kelas dan untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran seperti matematika, membaca, menulis sampai pada ilmu pengetahuan ilmiah, mulai dari kemampuan dasar sampai pemecahan masalah-masalah yang kompleks. Lebih dari itu, pembelajaran kooperatif juga dapat digunakan sebagai cara utama dalam mengatur kelas untuk pengajaran (Slavin, 2005: 4). Slavin mengemukakan tiga konsep yang menjadi karakter dalam pembelajaran kooperatif, yaitu (a) Penghargaan kelompok, di mana keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu dalam menciptakan hubungan antar personal, saling mendukung, membantu dan saling peduli; (b) pertanggungjawaban individu, tergantung pada pembelajaran individu dari semua anggota; (c) kesempatan yang sama untuk berhasil, model skoring yang digunakan mencakup nilai perkembangan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa terdahulu. Dengan demikian siswa dengan prestasi rendah, sedang dan tinggi samasama memperoleh kesempatan untuk berhasil (Suparmi, 2012: 113). Manfaat dari model pembelajaran kooperatif adalah siswa dapat meningkatkan harga dirinya dan dapat saling memotivasi siswa lain untuk berpartisipasi dalam menyumbangkan ide serta dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap teman satu timnya (Slavin, 2005: 10). Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah kemampuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Apabila diatur dengan baik, siswa dalam kelompok kooperatif akan belajar satu sama lain untuk memastikan bahwa tiap orang dalam kelompok telah menguasai konsep-konsep yang telah dipikirkan (Slavin, 2005: 4).Model pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe diantaranya: 1. Teaching Game Team (TGT), 2. Student Teams Achievement Division (STAD), 3. Number Head Together (NHT), 4. Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC), 5. Team Accelerated Instruction (TAI), 6.Group Investigasi(GI), 7. Make A Match (Membuat Pasangan), 8. Jigsaw, dan sebagainya. Penelitian kali ini terfokus pada penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). 16

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.5 Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Model STAD (Student Teams Achievement Division) merupakan modelpembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Model STAD (Student Teams Achievement Division) adalah model yang memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik dan banyak subjek lainnya, pada tingkah sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Rusman, 2013: 213). Model pembelajaran koooperatif tipe STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Siswa dalam satu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah (Shoimin, 2014: 185). 2.1.1.6 Keunggulan Model Student Teams Achievement Division (STAD) Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan model pembelajaran yang memiliki banyak keunggulan. Shoimin (2014: 189) memaparkan keunggulan STAD, yaitu a) siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok, b) siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama, c) aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok, d) interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat, e) meningkatkan kecakapan individu, f) meningkatkan kecakapan kelompok, g) tidak bersifat kompetitif. 2.1.1.7 Langkah - langkah Model Pembelajaran STAD Rusman (2013:215) mengemukakan enam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yaitu, sebagai berikut: a. Penyampaian Tujuan dan Motivasi Menyampaikan tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar. 17

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Pembagian Kelompok Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, rasa atau etnik. c. Presentasi dari guru Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran, guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara- cara mengerjakannya. d. Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim) Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing–masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD. e. Kuis (Evaluasi) Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing–masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa. f. Penghargaan Prestasi Tim Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0–100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas 18

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan, antara lain: (1) menghitung skor individu (2) menghitung skor kelompok (3) pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok. 2.1.1.8 Kemampuan Berpikir Kritis Ahli psikologi dan pendidikan akhir-akhir ini menyadari bahwa anak-anak di perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis. Karena itu, anak harus memiliki kesadaran akan diri dan lingkungannya. Robert J. Sternber (dalam Desmita, 2007: 161) memberikan usulan untuk anak agar dapat mengembangkan berpikir kritis, yaitu: 1) mengajarkan anak menggunakan prosesproses berpikir yang benar; 2) mengembangkan strategi-strategi pemecahan masalah; 3) meningkatkan gambaran mental anak; 4) memperluas landasan pengetahuannya; 5) memotivasi anak untuk menggunakan keterampilanketerampilan berpikir yang baru saja dipelajari. Kemampuan berpikir kritis telah didefinisikan secara beragam oleh para ahli maupun penulis buku. Desmita (2009: 153) mendefinisikan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik. Facione (2007) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, model, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai. Berdasarkan pada beberapa definisi di atas bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir logis yang bertujuan untuk menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, model, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai. Facione (2007: 5) mengemukakan bahwa kecakapan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Dimensi kognitif adalah dimensi yang mencakup kegiatan mental (otak). Dimensi afektif adalah dimensi yang berkaitan dengan sikap. Dimensi kognitif terdiri dari enam elemen, yaitu yaitu 1) menginterpretasi, 2) menganalisis, 3) mengevaluasi, 4) menarik kesimpulan, 5) mengeksplanasi, 6) meregulasi diri. penelitian ini fokus pada kemampuan 19

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. Berikut tabel yang berisikan tentang dimensi kognitif dari kecakapan berpikir kritis. Tabel 2. 1 Kemampuan Berpikir Kritis Facione No Skills 1 Interpretasi 2 Analisis 3 Evaluasi 4 Menarik Kesimpulan 5 Eksplanasi 6 Regulasi-diri Sub-skills Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menguji bukti-bukti Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria. Kemampuan menganalisis adalah mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opini. Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan menilai kredibilitas suatu pernyataan atau argumen dan menilai bobot logika suatu kesimpulan. Kemampuan menarik kesimpulan adalah kemampuan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensikonsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, konsep. Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbanganpertimbangan konseptual, metodologis, kontekstual, dsm yang kuat. Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya 20

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 2007: 5-8). Penelitian kali ini lebih fokus pada kemampuan interpretasi dan analisis. 2.1.1.9 Kemampuan Menginterpretasi Menurut Facione (2007), kemampuan menginterpretasi terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah membuat kategori, misalnya mengidentifikasi suatu permasalahan dan mendefinisikan ciri-cirinya, menentukan kriteria yang berguna untuk membuat klasifikasi, dan membuat klasifikasi atas data-data dengan menggunakan skema tertentu. Bagian kedua memahami arti, misalnya mendeteksi maksud di balik pertanyaan yang diajukan, menilai arti bahasa wajah, bahasa tubuh, sikap atau bahasa non verbal lain yang digunakan, menilai arti penggunaan ironi atau pertanyaan-pertanyaan retoris dalam debat, dan menginterpretasi data-data, grafik, tabel, gambar, simbol dan sebagainya yang dipresentasikan. Bagian ketiga menjelaskan makna, misalnya membahasakan ulang apa yang dikatakan orang lain dengan kata-kata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula, menggunakan contoh, analogi, lukisan, gambar dan sebagainya. untuk lebih memperjelas suatu permasalahan, dan menjelaskan lebih jauh suatu permasalahan untuk menghindarkan salah paham, kerancuan, ambiguitas, atau multi tafsir. 2.1.1.10 Kemampuan Menganalisis Menurut Facione (2007), kemampuan menganalisis terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menguji gagasan-gagasan, misalnya melontarkan suatu pernyataan kepada publik untuk melihat reaksi mereka dengan maksud untuk menyetujui gagasan tertentu, meneliti usulan-usulan yang masuk untuk suatu permasalahan dan melihat kesamaan-kesamaan maupun perbedaan-perbedaannya, memberikan suatu tugas yang kompleks untuk melihat bagaimana tugas itu dipilah-pilah dalam bagian-bagian yang lebih kecil sehingga bisa ditangani dengan lebih baik, mendefinisikan istilah-istilah yang abstrak, membandingkan gagasan, konsep, atau pernyataan yang berbeda-beda, mengidentifikasi permasalahan utama dan membedakannya dengan permasalahan-permasalahan sekunder. Bagian kedua 21

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengidentifikasi argumen-argumen, misalnya menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di koran atau suatu paragraf sebuah buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu. Bagian ketiga menganalisis argumenargumen misalnya menganalisis apakah pandangan seorang pengarang (artikel, buku dan sebagainya) dengan argumen, premis, informasi, alasan dsm yang dikemukakannya mendukung atau bertentangan dengan pandangan tertentu, dan menganalisis rangkaian argumen yang dikembangkan dan yang digunakan pengarang sebagai dasar untuk menarik kesimpulan tertentu. 2.1.1.11 Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari beberapa mata pelajaran ke dalam sebuah tema. Pendekatan pembelajaran tematik integratif lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing) sehingga anak dapat lebih menemukan sendiri pengalaman belajar yang bermakna (Rusman, 2012: 254). Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Setiap pembelajaran memiliki beberapa keunggulan tersendiri. Pembelajaran tematik memiliki beberapa keunggulan, antara lain: (1) pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; (2) kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; (3) kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; (4) membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; (5) menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan (6) mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain (Rusman, 2012: 257). Selain memiliki beberapa keunggulan pembelajaran tematik juga memiliki banyak nilai dan manfaat, di antaranya: (1) dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, 22

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan; (2) siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi atau materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, (3) pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah; (4) dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat (Rusman, 2012: 258). Setiap pembelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pembelajaran tematik tentu saja memiliki perbedaan karakteristik dengan pembelajaran-pembelajaran yang lainnya. Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) berpusat pada siswa; (2) memberikan pengalaman langsung; (3) pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas; (4) menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran; (5) bersifat fleksibel; (6) hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, dan (7) menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (Rusman, 2012: 258). 2.1.1.12 Materi Pembelajaran Materi pembelajaran pada penelitian ini diambil dari tema 2 yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dalam subtema 2 pada kelas V, yaitu 3.2. Menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. 1. Pembelajaran IPA IPA sering disebut juga dengan sains. Sains merupakan terjemahan dari kata science yang berarti masalah kealaman (nature). Sains adalah pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala alam (Samatowa, 2011: 19).Pada hakikatnya IPA terdiri atas 3 unsur utama yaitu produk, proses ilmiah, dan pemupukan sikap. Sesuai hakikat IPA, bahwa IPA dapat dipandang sebagai produk, proses, dan sikap, maka dalam pembelajaran IPA di SD harus memuat 3 dimensi IPA tersebut. Pembelajaran IPA tidak hanya mengajarkan penguasaan fakta, konsep, dan prinsip tentang alam tetapi juga mengajarkan metode memecahkan masalah, melatih 23

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan berpikir kritis dan mengambil kesimpulan melatih bersikap objektif, bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain. Model pembelajaran IPA yang sesuai untuk anak usia sekolah dasar adalah model pembelajaran yang menyesuaikan situasi belajar siswa dengan situasi kehidupan nyata di masyarakat. Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan alat-alat dan media belajar yang ada di lingkungannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Samatowa, 2006: 11-12). 2. Materi Sistem Pernapasan Hewan Seperti manusia, hewan juga bernapas untuk mengambil oksigen danmembuang karbon dioksida. Namun, sistem pernapasan pada hewan berbedadari manusia. Bahkan, sistem pernapasan pada hewan pun berbeda-beda sesuai jenisnya. Berikut penjelasan mengenai sistem pernapasan pada beberapa jenis hewan (Kusumawati, 2017: 4-11). 1. Alat dan Sistem Pernapasan pada Cacing Tanah (Vermes) Cacing tidak mempunyai alat pernapasan khusus, cacing bernapas melalui permukaan kulit. Kulit cacing selalu basah dan berlendir untuk memudahkan penyerapan oksigen dari udara. Oleh karena itu, cacing menyukai tempat lembap untuk menjaga supaya kulit tubuhnya selalu basah dan berlendir. 2. Alat dan Sistem Pernapasan pada Serangga (Insekta) Seperti hewan lain, serangga bernapas dengan mengisap oksigen dan melepaskan karbon dioksida. Namun, alat pernapasan serangga berbeda dengan hewan lain. Alat pernapasan serangga berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh. Percabangan trakea disebut trakeola. 3. Alat dan Sistem Pernapasan pada Ikan (Pisces) Semua makhluk hidup, termasuk ikan, memerlukan oksigen supaya tetap hidup. Pengambilan oksigen ini melalui proses pernapasan yang melibatkan organ pernapasan. Ikan bernapas dengan organ khusus mirip saringan yang disebut insang. Insang berbentuk lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Insang terdapat tepat di belakang rongga mulut pada kedua sisi kepala ikan. Biasanya insang dilindungi oleh selaput atau rangka yang disebut tutup insang. 24

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Alat dan Sistem Pernapasan pada Hewan Amfibi Katak termasuk hewan amfibi, yaitu hewan yang hidup di darat dan di air. Saat masih berupa kecebong, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang. Insang kecebong terletak di luar tubuhnya dan terdiri atas lembaranlembaran kulit halus mengandung kapiler darah. Setelah berumur 9 hari, kecebong bernapas menggunakan insang dalam. Insang dalam akan menyusut seiring mulai berfungsinya paru-paru dan katak muda pun tumbuh menjadi katak dewasa. Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. 5. Alat dan Sistem Pernapasan pada Reptil Hewan yang termasuk jenis reptil di antaranya ialah ular, kadal, cecak, buaya, dan biawak. Reptil bernapas mengunakan paru-paru. Udara masuk melalui hidung, lalu ke batang tenggorokan, lalu ke paru-paru. 6. Alat dan Sistem Pernapasan pada Burung (Aves) Burung bernapas dengan sepasang paru-paru. Paru-paru burung terletak di dalam rongga dada. Udara yang mengandung oksigen masuk melalui lubang hidung pada pangkal paruh sebelah atas. Selanjutnya udara masuk kepembuluh udara yang disebut trakea. Dari trakea, udara sebagian masuk keparu-paru dan sebagian lagi masuk ke kantong udara. 7. Alat dan Sistem Pernapasan pada Mamalia Mamalia adalah jenis hewan yang menyusui anaknya. Ada dua jenis mamalia, yaitu mamalia darat dan mamalia air. Mamalia darat misalnya kambing, sapi, kerbau, dan kuda. Mamalia air misalnya paus, duyung, dan lumba-lumba. Alat pernapasan mamalia adalah paru-paru. 2.1.2 Penelitian-penelitian yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian tentang Model Pembelajaran STAD Sunilawati, Dantes, dan Candiasa (2013) meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa ditinjau dari kemampuan numerik. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD se-desa Darmasaba Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung tahun ajaran 2012/2013, dengan sampel sebanyak 68 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Data kemampuan numerik 25

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan hasil belajar matematika, di kumpulkan melalui tes dan di analisis dengan menggunakan analisis ANOVA dua jalur dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: model pembelajaran kooperatif tipe STAD berdampak lebih baik secara signifikan terhadap hasil belajar matematika dibandingkan dengan konvensional. Terjadi interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan numerik dimana ditemukan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih sesuai untuk siswa dengan kemampuan numerik tinggi namun sebaliknya terjadi terhadap model pembelajaran konvensional. Adrian, Degeng, dan Utaya (2016) meneliti pengaruh pembelajaran kooperatif STAD terhadap retensi siswa kelas V pada mata pelajaran IPS di SDN Kelayan Barat 3 Banjarmasin. Jenis penelitian ini yaitu kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Subjek penelitian berjumlah 42 orang siswa kelas V. Instrument yang digunakan yaitu tes pilihan ganda yang berjumlah 20 butir. Analisis data yang digunakan menggunakan uji T independent berbantuan IBM SPSS 21. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pembelajaran kooperatif STAD terhadap retensi siswa kelas V pada mata pelajaran IPS. Meo (2017) meneliti perbedaan prestasi belajar IPS antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD), dan siswa yang belajar menggunakan model konvensional pada siswa kelas IV SDI Bajawa. Jenis penelitian ini ialah Qoasi Eksperimen dengan rancang penelitian yang digunakan adalah Non Equivalent Control Group Design. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian terdiri atas dua yaitu:pengambilan kelas penelitian dengan menggunakan Random sampling sedangkan pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Intac group. Populasi penelitian ini ialah seluruh siswa kelas IV SDI Bajawa yang terdiri dari dua kelas yang berjumlah 44 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV A sebanyak 20 siswa sebagai kelas konvensional dan kelas IV B sebanyak 24 siswa sebagai kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data mengggunakan teknik tes bentuk tes objektif. Hasil tes selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pengujian statistik uji-t dengan terdahulu menghitung Gain Score dinormalisasi dari masing-masing kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPS antara siswa yang belajar menggunakan model Student Teams 26

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Achievement Division (STAD) dengan siswa yang belajar menggunakan model konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis uji-t yang diperoleh bahwa thitung =3,376 > t-tabel = 2,021, dengan derajat kebebasan (db) = n1+n2-2=42, taraf signifikansi 5%. Dengan demikian Ho ditolak HI diterima sehingga terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPS antara siswa yang belajar menggunakan model Student Teams Achievement Division (STAD) dengan siswa yang belajar menggunakan model konvensional. Rata-rata prestasi belajar IPS kelompok eksperimen lebih besar dari rata-rata prestasi belajar konvensional yaitu 0,56>0,30. Disimspulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas IV SDI Bajawa Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada Tahun Ajaran 2015/2016. 2.1.2.2 Penelitian tentang Berpikir Kritis Kargar, dkk (2012) meneliti pengaruh pengajaran keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada lokus kontrol dan kesejahteraan psikologis pada siswa sekolah menengah. Dalam sebuah studi eksperimental 40 siswa yang dipilih menggunakan sampel multilayer acak, dibagi menjadi kelompok tes dan kontrol. Setelah menyelesaikan sesi pendidikan, pada tahap pasca tes, kelompok uji dan kontrol diuji dengan tes kemampuan berpikir kritis California B (1990), inventaris kreativitas Abedi (1996) dan kuesioner pra-tes. Metode statistik t-test independen menunjukkan pengaruh signifikan dalam berpikir kreatif dan berpikir kritis dalam post-test dari kelompok eksperimen. Pratiwi (2014) meneliti perbedaan antara keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dan yang diajar menggunakan model cooperative learning dengan pendekatan saintifik dan besarnya pengaruh model discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa materi larutan elektrolit dan non elektrolit di kelas X MIPA SMA Negeri 7 Pontianak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan penelitian “control group pre-test post-test”. Sampel penelitian ini adalah 64 siswa. Data analisis menggunakan uji U Mann Whitney. Hasil data menunjukkan terdapat 27

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perbedaan keterampilan berpikir kritis pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit antara siswa yang diajarkan menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dan yang diajar menggunakan model cooperative learning dengan pendekatan saintifik. Pembelajaran menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa sebesar 28,23% dengan perhitungan Effect Size sebesar 0,78. Kirbas dan Gunes (2014) meneliti pengaruh disposisi berpikir kritis dan tingkat kewirausahaan guru masa depan dan untuk mengevaluasi. Sampel penelitian ini dibentuk oleh 548 pra-layanan dari Sains, sekolah dasar, matematika, pendidikan IPS, Departemen Pendidikan. Analisis data menggunakan ANOVA, ttest kelompok independen, analisis koefisien korelasi Pearson, analisis regresi. Antara skala telah ditemukan korelasi positif. Telah terlihat bahwa disposisi berpikir kritis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kewirausahaan. Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, hal yang menjadi pembeda dengan penelitian ini adalah penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division (STAD) untuk mengetahui pengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis menurut Peter Facione khususnya pada kemampuan menginterpretsi dan menganalisis. Penelitian terdahulu banyak yang meneliti mengenai kemampuan berpikir kritis menggunakan metode STAD namun masih jarang yang meneliti kecakapan-kecakapan yang ada di dalam kemampuan berpikir kritis. Karena itu, penelitian ini akan meneliti lebih mendalam mengenai berpikir kritis berdasarkan kecakapan-kecakapannya khususnya kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. 28

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Literature Map Hasil penelitian sebelumnya dibuat bagan berikut. Kemampuan Berpikir Kritis Model Pembelajaran STAD Kargar, dkk (2012) Sunilawati, Dantes, & Candiasa(2013) Keterampilan berpikir kritis dan kreatif-lokus kontrol dan kesejahteraan psikologis pada siswa. Model kooperatif tipe STADhasil belajar Matematika. Pratiwi (2014) Adrian, Degeng, & Utaya (2016) Model kooperatif tipe STADretensi siswa. Model discovery learning dengan pendekatan saintifikketerampilan berpikir kritis siswa. Meo (2017) Kirbas & Gunes (2014) Model kooperatif tipe STAD – prestasi belajar IPS. Disposisi berpikir kritistingkat kewirausahaan. Yang akan diteliti Model kooperatif tipe STADKemampuan berpikir kritis pada kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Gambar 2. 3 Literature Map 29

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Berlandaskan teori perkembangan kognitif anak yang dikemukakan oleh Piaget, dapat diketahui bahwa anak kelas V SD yang berusia antara 7-11 tahun berada pada periode operasional konkret. Hal ini ditandai dengan perkembangan kognitif dan cara berpikir anak yang tidak lagi menitik beratkan pada persepsi namun menggunakan pengalaman-pengalamannya sebagai acuan dari pemikirannya. Teori Piaget ini didukung dengan adanya teori dari Vygotsky yang mengemukakan bahwa interaksi-interaksi seseorang dengan lingkungan dapat membantu pembelajaran. Pengalaman-pengalaman yang dibawa seseorang ke sebuah situasi pembelajaran sangat memengaruhi hasil belajar. Dengan model STAD siswa dapat lebih mengeksplor pengetahuannya bersama teman sekelompok. Karena dalam model STAD jika para siswa menginginkan agar kelompok mereka memperoleh penghargaan, mereka harus membantu teman sekelompoknya mempelajari materi yang diberikan. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) ini maka dapat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Model Student Teams Achievement Divisions (STAD) terdiri dari beberapa langkah pembelajaran yaitu: 1) penyampaian tujuan dan motivasi, 2) pembagian kelompok, 3) presentasi dari guru, 4) kegiatan belajar dalam tim, 5) kuis, dan 6) penghargaan prestasi tim. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, menganalisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai. Facione membagi kemampuan berpikir kritis pada dimensi kognitif menjadi enam kecakapan yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, kesimpulan, eksplanasi dan regulasi diri. Penelitian ini hanya fokus pada dua kemampuan saja yaitu kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria. Indikator kemampuan menginterpretasi yaitu membuat kategori, memahami arti, dan menjelaskan makna. Kemampuan menganalisis adalah kemampuan 30

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opini. Indikator kemampuan menganalisis yaitu menguji gagasan-gagasan, mengidentifikasi argumen-argumen, dan menganalisis argumen-argumen. Salah satu mata pelajaran di SD adalah IPA. IPA adalah ilmu tentang alam dan segala isinya yang dipelajari dengan metode atau proses tertentu berdasarkan sikap ilmiah sehingga menghasilkan suatu produk yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu materi yang dipelajari adalah sistem pernapasan pada hewan. Materi tentang system pernapasan pada hewan ini penting dipelajari oleh siswa guna mengetahui organ-organ yang digunakan oleh hewan untuk bernapas. Selain itu, siswa juga dapat mengetahui perbedaan sistem pernapasan hewan satu dengan hewan lainnya yang berbeda jenis (misalnya mamalia dengan pisces). Penerapan model STAD dapat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa terutama dalam kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa pada pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang membuat siswa dapat berkonsentrasi pada tema tertentu sehingga memudahkan mereka dalam menerima materi. Pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan proses berpikir ilmiah untuk menjawab sebuah pertanyaan pembelajaran, proses berpikir ilmiah tersebut meliputi kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Melalui kegiatan tersebut, siswa akan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Jika model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) diterapkan dalam pembelajaran tematik, STAD berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis khususnya dimensi menginterpretasi dan menganalisis. 31

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.3 Hipotesis Penelitian 2.4.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi pada pembelajaran tematik siswa kelas V SD. 2.4.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis pada pembelajaran tematik siswa kelas V SD. 32

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab III ini berisi metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Metode penelitian membahas jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumulan data, instrumen penelitian, teknik pengujian instrumen, dan teknik menganalisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental dengan tipe pretest posttest non-equivalent group design dengan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dipilih tidak secara random (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Peneliti memilih tipe penelitian quasi experimental ini karena keterbatasan penelitian yang tidak memungkinkan peneliti untuk memilih subjek penelitiannya secara random. Peneliti memilih quasi experimental tipe pretest posttest non-equivalent group design yang terdiri dari dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol atau kelompok pembanding. Penentuan kelompok ini tidak dilakukan secara acak, tetapi menggunakan kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Kedua kelompok tersebut diberi pretest untuk mengetahui perbedaan antar kelompok eksperimen dan kontrol. Setelah kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan tipe STAD kemudian dilakukan posttest pada masingmasing kelompok yaitu pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Posttest ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakukan (treatment) yang sudah dilakukan pada kelompok eksperimen. Campbell dan Stanley (dalam Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277) menjelaskan bahwa pengaruh perlakuan dapat dihitung dengan menggunakan tiga langkah berikut: 1) skor posttest I dikurangi skor pretest pada kelompok eksperimen, maka menghasilkan skor 1, 2) skor posttest I dikurangi skor pretest pada kelompok kontrol, maka menghasilkan 2, 3) skor 1 dikurangi skor 2. Dengan mengadaptasi rumus tersebut pengaruh perlakuan dihitung dengan menggunakan rumus berikut. 33

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (O2 − O1) − (O4 − O3) Gambar 3. 1 Perhitungan Pengaruh Perlakuan Jika hasilnya lebih besar dari nol, maka ada perbedaan. Jika perbedaanya signifikan ada pengaruh perlakuan, dan jika perbedaannya tidak signifikan tidak ada pengaruh. Desain penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Ekperimental Kontrol O 1 X O2 ---------O3 O4 Gambar 3. 2 Desain Penelitian Keterangan: O1 = rerata skor pretest kelompok eksperimen O2 = rerata skor posttest kelompok eksperimen O3 = rerata skor pretest kelompok kontrol O4 = rerata skor posttest kelompok kontrol X = treatment atau perlakuan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD Garis putus-putus pada gambar desain penelitian menunjukkan bahwa cara penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak menggunakan cara random, tetapi dengan mengambil kelas klasik yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Selain itu, garis putus-putus berfungsi sebagai pemisah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang disebut dengan nonequivalent. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD swasta Yogyakarta. SD swasta yang digunakan sebagai tempat penelitian ini terdiri dari 12 kelas. Saat ini terdapat 20 guru yang mengajar di sekolah tersebut. Fasilitas sekolah bisa dikatakan memadai, terdapat sebuah ruang belajar, perpustakaan, ruang keterampilan, ruang gamelan, laboratorium komputer, pendopo, ruang kepala sekolah, ruang guru, 34

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ruang tata usaha, ruang tamu, gudang, kamar mandi, UKS, koperasi, kantin, rumah penjaga, lapangan olah raga. Sekolah juga menyediakan fasilitas wifi untuk kepentingan para guru mengakses berbagai keperluannya terkait dengan kegiatan sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD swasta Yogyakarta karena SD ini merupakan SD yang memiliki kelas paralel sehingga sangat tepat jika digunakan untuk penelitian eksperimen. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Pengambilan data dilaksanakan sesuai dengan kalender pendidikan SD Negeri Kanisius Sorowajan, Yogyakarta pada bulan Juli hingga bulan Oktober. Lama waktu yang pengambilan data pretest ke posttest dalam rentang dua minggu. Berikut adalah jadwal pengambilan data yang dilakukan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tabel 3. 1 Jadwal Pengambilan Data Kelompok Kontrol Eksperimen Alokasi Waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit Hari, tanggal Rabu, 19 September 2018 Jumat, 21 September 2018 2 x 35 menit Sabtu, 22 September 2018 2 x 35 menit Senin, 24 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Jumat, 28 September 2018 Kamis, 4 Oktober 2018 Jumat, 19 September 2018 Jumat, 21 September 2018 2 x 35 menit Sabtu, 22 September 2018 2 x 35 menit Senin, 24 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit Jumat, 28 September 2018 Kamis, 4 Oktober 2018 Kegiatan Mengerjakan pretest Pertemuan I (Sistem pernapasan pada hewan mamalia) Pertemuan II (Sistem pernapasan pada hewan pisces) Pertemuan III (Sistem pernapasan pada hewan insecta) Pertemuan IV (Amphibi, reptil, dan cacing) Mengerjakan Posttest I Mengerjakan Posttest II Mengerjakan pretest Pertemuan I (Sistem pernapasan pada hewan mamalia) Pertemuan II (Sistem pernapasan pada hewan pisces) Pertemuan III (Sistem pernapasan pada hewan insecta) Pertemuan IV (Amphibi, reptil, dan cacing) Mengerjakan Posttest I Mengerjakan Posttest II 35

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.3 Populasi dan sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu (Sugiyono, 2015: 117). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SD swasta yang ada di Yogyakarta yang berjumlah 46 siswa. 3.3.1 Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2015: 118). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling. Convenience sampling adalah penggunaan sampel yang sudah tersedia bagi penelitian. Peneliti tidak memilih sampel secara acak namun menggunakan kelas yang sudah ada (Creswell, 2015: 294-295). Sampel ditentukan melalui penarikan undian yang dilakukan oleh guru mitra untuk menetapkan kelas mana yang menjadi kelas eksperimen dan kelas mana yang menjadi kelas kontrol. Pengundian disaksikan oleh guru kelas dan diperoleh hasil kelas V B sebagai kelas kontrol dan kelas V A sebagai kelas eksperimen. Siswa V A berjumlah 24 orang, dan V B berjumlah 22 orang. Hal ini juga untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa difusi treatment. Pembelajaran di kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilaksanakan oleh guru yang sama. Pengajaran oleh guru kelas yang sama bertujuan untuk mengurangi bias dalam penelitian. Hal ini untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal berupa implementasi. 3.4 Variabel Penelitian Variabel adalah suatu kondisi atau ciri-ciri yang mana peneliti memanipulasi, mengontrol, dan mengamati objek (Best & Kahn, 2006: 167). 36

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen sering disebut dengan variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2015: 61). Variabel independen dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2015: 61). Variabel dependen pada penelitian ini adalah kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis pada siswa kelas V dengan materi Sistem pernapasan pada hewan. Variabel penelitian dapat dilihat pada bagan berikut ini. Variabel Independen Variabel Dependen Kemampuan menginterpretasi Model Pembelajaran STAD Kemampuan menganalisis Gambar 3. 3 Variabel Penelitian 3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes. Teknik tes yang peneliti gunakan adalah tes essay. Tes merupakan seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Jenis tes yang digunakan oleh peneliti adalah tes essay. Tes essay adalah tes yang menghendaki 37

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI agar siswa memberikan jawaban dalam bentuk uraian atau kalimat-kalimat yang disusun sendiri (Margono, 2010: 170). Sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik bentuk tes essay mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan tes essay antara lain: 1) Tepat untuk menilai proses berpikir yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi dan tidak semata-mata hanya mengingat dan memahami fakta atau konsep saja; 2) Tes essay memberi kesempatan peserta didik untuk mengemukakan jawabannya ke dalam bahasa yang runtut sesuai dengan gayanya sendiri; 3) Tes essay memberi kesempatan peserta didik untuk mempergunakan pikirannya sendiri dan kurang memberikan kesempatan untuk bersikap untung-untungan; 4) Bentuk tes essay mudah disusun, tidak banyak menghabiskan waktu (Nurgiyantoro, 2011: 118). Tes diberikan dalam bentuk pretest dan posttest kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilakukan untuk mengetahui pengetahuan atau mengukur kemampuan awal siswa. Setelah diberi pretest, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan perlakuan yang berbeda. Pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran pembelajaran konvensional, sedangkan pembelajaran kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Setelah diberi perlakuan yang berbeda, kedua kelompok diberi posttest. Posttest dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pada kelompok eksperimen yang telah diberi perlakuan dan pada kelompok kontrol yang tidak beri perlakuan. Berikut pemetaan datanya. 38

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3. 2 Pemetaan Instrumen Penelitian No Kelompok Variabel 1 Eksperimen Menginterpretasi Menganalisis 2 Kontrol Menginterpretasi Menganalisis 3.6 Data Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Instrumen Soal uraian untuk nomor 1a, 1b, dan 1c Soal uraian untuk nomor 2a, 2b, dan 2c Soal uraian untuk nomor 1a, 1b, dan 1c Soal uraian untuk nomor 2a, 2b, dan 2c Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Instrumen yang dapat digunakan sangat tergantung pada jenis data yang diperlukan sesuai dengan masalah penelitian (Sanjaya, 2013: 247). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen tes berupa soal essay. Instrumen tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Soal essay ini berisikan daftar pertanyaan untuk materi IPA kelas V tentang sistem pernapasan pada hewan. Soal essay tersebut digunakan oleh tiga peneliti yang masing-masing meneliti dua kemampuan. Pembagian instrumen soal di antaranya adalah nomor 1a, 1b, 1c, 2a, 2b dan 2c digunakan untuk mengukur kemampuan menginterpretasi dan menganalisis, nomor 3a, 3b, 3c, 4a, 4b, dan 4c digunakan untuk mengukur kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan, dan nomor 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c digunakan untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Peneliti hanya menggunakan instrumen soal yang mengukur kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Instrumen yang sama digunakan untuk pretest dan posttest . Berikut ini matriks pengembangan instrumen yang digunakan peneliti untuk mengukur kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa. 39

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3. 3 Matriks Pengembangan Instrumen No 1. Variabel Kemampuan Menginterpretasi 2. Kemampuan Menganalisis 3.7 Indikator Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Nomor Soal 1a 1b 1c 2a 2b 2c Teknik Pengujian Instrumen Instrumen ini diujicobakan sebelum diberikan kepada responden yang akan digunakan dalam penelitian. Pengujian instrumen ini bertujuan untuk mendapatkan instrument yang valid dan reliabel.Teknik pengujian instrumen dalam penelitian ini berupa uji validitas dan reliabilitas agar didapatkan kesimpulan atau hasil yang valid dan reliabel. Berikut ini penjabaran uji validitas dan uji reliabilitas instrumen. 3.7.1 Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner atau pertanyaan. Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Jadi pengujian validitas itu mengacu pada sejauh mana suatu instrumen dalam menjalankan fungsi. Instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2015: 363). Kriteria validitas dinyatakan dalam bentuk skor dengan rentang 0,00 – 1,00. Suatu item soal dikatakan valid ketika r hitung lebih besar daripada r tabel. Untuk mengukur valid tidaknya instrument penelitian yang digunakan maka peneliti menggunakan validitas isi, validitas permukaan, dan validitas konstruk. 3.7.1.1 Validitas Isi Validitas isi adalah uji untuk melihat instrumen yang diujikan mencakup materi yang dituju (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 162). Validitas isi memuat instrumen yang berbentuk tes untuk mengukur hasil belajar dalam aspek kecakapan akademik. Sebuah tes dikatakan mempunyai validitas isi apabila dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran. Dengan kata lain untuk menguji validitas isi instrumen tes dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan 40

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Widoyoko, 2009: 129). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi (content validity) apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan (Arikunto, 2005: 67). Validitas isi dicapai dengan meminta para ahli atau expert judgement untuk melakukan penilaian (Creswell, 2015: 327). Validitas isi dalam penelitian ini diperoleh dari pendapat ahli materi yaitu dosen mata kuliah biologi dengan menilai kesesuaian materi dengan soal pertanyaan. Validator memberi skor dengan memberi tanda centang pada setiap item soal. Total skor penilaian instrumen adalah 60,00 untuk semua soal yang digunakan untuk penelitian payung. Pada skala 58,50-72,00 masuk kategori layak dengan perbaikan kecil. Dengan kata lain, instrumen ini layak diimplementasikan. Peneliti telah memperbaiki instrumen sesuai dengan masukkan dari validator sebelum implementasikan (lihat Lampiran 3.4). 3.7.1.2 Validitas Permukaan Validitas muka adalah validitas yang menunjukkan apakah alat pengukuran atau instrumen penelitian dari segi rupanya tampak mengukur yang ingin diukur atau tidak. Validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen (Siregar, 2011: 46). Uji validitas muka dilakukan oleh expert judgement di bidangnya, yaitu dua guru SD kelas V. Validator memberi skor dengan memberi tanda centang pada setiap item soal. Uji validitas ini dilakukan pada 22 Mei 2018. Perolehan skor penilaian instrumen dari dua validator yaitu 71,00 dan 72,00 untuk semua soal yang digunakan dalam penelitian payung. Rerata skor adalah 71,50 dengan skala 58,50-72,00 masuk kategori sangat layak. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa instrumen sangat layak. Sebelum digunakan sebagai instrumen penelitian, peneliti telah memperbaiki instrumen sesuai dengan masukkan validator. Perbaikan dilakukan dengan pemberian keterangan pada gambar dan penggunaan kata perintah yang sesuai (lihat Lampiran 3.4). 3.7.1.3 Validitas Konstruk Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori, yaitu yang menjadi dasar penyusunan instrumen. Definisi atau konsep yang diukur berasal dari teori yang digunakan (Widoyoko, 2009: 131). 41

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Validitas konstruk dilakukan melalui uji empiris. Validitas konstruk dilakukan melalui uji empiris kepada 45 siswa kelas V SD Negeri Palbapang Baru beralamatkan di Kadirojo, Palbapang, Bantul, Yogyakarta 55713 . Uji instrumen dilakukan di SD tersebut karena tidak digunakan untuk subjek penelitian dan memiliki kelas parallel. Uji empiris dilakukan pada minimal 30 responden agar mendapatkan distribusi data normal (Field, 2009: 42). Setelah dilakukan uji empiris, soal dihitung untuk mengetahui validitasnya menggunakan rumus korelasi Pearson. Uji validitas konstruk menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Tingkat kepercayaan yang digunakan yaitu 95% dengan uji dua ekor (2-tailed) . Kriteria yang digunakan yaitu jika harga p < 0,05, maka item termasuk valid atau rhitung > rtabel, sedangkan jika harga Sig. > 0,05, maka item termasuk tidak valid atau jika r hitung < rtabel (Field, 2009: 177-178). Besar rtabel dilihat berdasarkan jumlah responden, sedangkan rhitung diketahui dari Pearson correlation dalam output SPSS. Berikut hasil uji validitas instrumen dari variabel menginterpretasi dan menganalisis (lihat lampiran 3.7). Tabel 3. 4 Hasil Uji Validitas No Item Soal 1a 1b 1c Variabel Aspek rtabel rhitung p Keterangan Menginterpretasi 0,2940 0,2940 0,2940 0,571 0,564 0,571 0,000 0,000 0,000 Valid Valid Valid 2a Menganalisis Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasangagasan Mengidentifikasi argument Menganalisis argumen 0,2940 0,564 0,000 Valid 0,2940 0,564 0,000 Valid 0,2940 0,549 0,000 Valid 2b 2c Keterangan: * artinya tingkat signifikansi 0,05 ** artinya tingkat signifikansi 0,01 Berdasarkan hasil uji validitas yang diujikan bersamaan dengan kemampuan-kemampuan berpikir kritis lainnya, penelitian ini hanya menggunakan dua variabel yaitu variabel menginterpretasi dan menganalisis dengan harga p < 0,05, maka semua item dari kedua variabel dinyatakan valid dengan tingkat 42

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kepercayaan 95%. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa semua item dapat digunakan untuk mengukur kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas berasal dari kata reliability berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama, diperoleh hasil pengukuran yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Tes dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama bila diteskan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda (Arifin, 1991: 122). Penelitian ini menggunakan instrumen soal tes berbentuk uraian dalam pengumpulan data. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan progran komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Nunnally (dalam Ghozali, 2009: 46) menyatakan bahwa suatu konstruk termasuk reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,60 Pendapat ahli lain mengatakan bahwa suatu tes yang reliabel akan menunjukan ketepatan dan ketelitian hasil dalam satu atau berbagai pengukuran, dengan kata lain skor-skor tersebut dari berbagai pengukuran tidak menunjukan penyimpangan atau perbedaan yang berarti. Koefisien reliabilitas suatu tes dinyatakan dalam suatu bilangan koefisien antara -1,00 sampai dengan 1,00. Pada taraf reliabilitas tes, untuk memberi arti terhadap koefisien reliabilitas dipakai besar koefisien korelasi dalam tabel statistik atas dasar taraf signifikansi 1% dan 5%. Berikut ini merupakan hasil dari uji reliabilitas instrumen penelitian. Tabel 3. 5 Hasil Uji Reliabilitas n siswa 45 n of items 18 Alpha Cronbach 0,931 Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Alpha Cronbach, keenam butir soal yang diuji bersamaan dengan empat kemampuan berpikir kritis dinyatakan valid dengan nilai Alpha Cronbach sebesar 0,931. Nilai Alpha Cronbach 0,931 > 0,60 sehingga instrumen tersebut dapat dikatakan reliabel atau konsisten dan layak digunakan dalam penelitian ini. 43

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8 Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan untuk menghitung data agar dapat disajikan secara sistematis dan memperoleh interpretasi data (Priyatno, 2012: 1). Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber lain terkumpul. Data di analisis menggunakan statistik non-parametrik yang mempertimbangkan distribusi data untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2012: 11). Teknik menganalisis data pada penelitian ini menggunakan program komputer IBM SPSS Statistic 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. 3.8.1 Analisis Pengaruh Perlakuan 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak dan untuk menentukan jenis statistik yang akan digunakan dalam menganalisis data pada tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Jika data terdistribusi secara normal, menganalisis statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Jika data terdistribusi secara tidak normal, analisis statistik selanjutnya menggunakan statistik non parametrik. Uji normalitas dihitung dengan menggunakan IBM SPSS statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% dan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Berikut hipotesis statistik uji normalitas distribusi data. Hnull : tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas. Hi : ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 144) sebagai berikut: a. Jika hasil uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya distribusi data normal. Teknik menganalisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik Independent Samples t-test (Field, 2009: 362). b. Jika hasil uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya distribusi data tidak normal. Teknik 44

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menganalisis selanjutnya menggunakan statistik non-parametrik MannWhitney U test (Field, 2009: 345). Untuk uji normalitas distribusi data, data diambil dari seluruh skor pretest, posttest I, posttest II, dan selisih pretest – posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Kondisi yang ideal adalah jika variannya homogen. Pengujian ini diperlukan terutama untuk penggunaan statistik parametrik untuk data yang tidak berpasangan yaitu independent samples t test. Teknik pengujian homogenitas varian menggunakan Levene’s test (Field, 2009: 340). Jika varian homogen, data yang digunakan adalah data pada baris pertama dalam menganalisis output SPSS pada independent samples t test yang sebaris dengan keterangan equal variances assumed dan jika varian tidak homogen, data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan equal variances not assumed. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata (skor pretest dan selisih skor prestest - posttest I) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata (skor pretest dan selisih skor prestest - posttest I) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homegenitas varian adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. b. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Untuk uji homogenitas varian, data diambil dari skor pretest dan selisih pretestposttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 45

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal terutama pada kemampuan menginterpretasi dan menganalisis kelompok kontrol dan kelompok eksperimen agar dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal ini juga diperlukan untuk mengendalikan ancaman validitas penelitian berupa karakteristik subjek, di mana karakteristik subjek mungkin berbeda karena pengambilan sampel tidak dilakukan secara random (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan dengan cara menguji rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika data pretest dari kedua kelompok yang telah duji menunjukkan distribusi data normal, maka uji perbedaan kemampuan awal yang digunakan adalah statistik parametrik independent samples t-test (Field, 2009: 326). Berikut hipotesis statistik uji perbedaan kemampuan awal. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria pengambilan keputusan untuk uji perbandingan (Priyatno, 2012: 24) adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. b. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan pada hasil pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang berbeda. Kondisi dapat dikatakan ideal apabila kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga keduanya dapat dibandingkan. 46

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.1.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis siswa. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat diketahui dengan membandingkan selisih rerata pretest-posttest I kelompok kontrol dengan selisih rerata pretest-posttest I kelompok eksperimen. Uji signifikansi pengaruh perlakuan ini dapat dihitung dengan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3) (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Apabila hasilnya lebih dari nol, maka ada perbedaan. Jika hasilnya signifikan maka ada pengaruh perlakuan. Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent Samples t-test untuk data distribusi normal (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji signifikansi pengaruh perlakuan. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) tidak berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. b. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh suatu perlakuan secara statistik signifikan tidak dengan sendirinya menunjukkan 47

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI apakah pengaruh tersebut substantif atau penting (Field, 2009: 56). Uji besar pengaruh perlakuan ini juga dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Teknik yang banyak digunakan adalah teknik koefisien korelasi Pearson (r) yang menggunakan skala 0 (tidak ada efek) dan skala 1 (efek sempurna). Berikut merupakan kriteria yang digunakan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan (Cohen dalam Field, 2009: 57). Tabel 3. 6 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan r (effect size) 0,10 Kategori Efek kecil 0,30 Efek menengah 0,50 Efek besar Persentase Setara dengan 1% pengaruh perlakuan Setara dengan 9% pengaruh perlakuan Setara dengan 25% pengaruh perlakuan Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria besar pengaruh perlakuan (Fraenkel, Wallen, dan Hyun, 2012: 253). r (effect size) 0,00 – 0,40 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 1,00 Tabel 3. 7 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bias jadi masih penting secara teoretis untuk membuat prediksi Efek cukup besar secara praktis dan teoritis Efek sangat penting tetapi jarang diperoleh dalam penelitian pendidikan Kemungkinan terjadi kesalahan perhitungan, jika tidak, efeknya sangat besar Terdapat dua cara untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). Gambar 3. 4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS Independent Samples t-test) 48

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI df : harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). Gambar 3. 5 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS Mann-Whitney U test) N : jumlah seluruh responden dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3. 6 Rumus Persentase Pengaruh 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji persentase peningkatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut merupakan rumus yang digunakan. Persentase peningkatan = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 – 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑥 100% Gambar 3. 7 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I Pengujian untuk mengetahui apakah peningkatan tersebut signifikan, digunakan statistik parametrik Paired Samples t-test jika data terdistribusi dengan normal atau statistik non-parametrik Wilcoxon signed rank test jika data terdistribusi dengan tidak normal. Analisis statistik menggunakan SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed). 49

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest – posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest – posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. b. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang tidak signifikan dari pretest ke posttest I. Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Persentase selisih rerata skor pretest ke posttest I (gain score) dihitung dengan rumus sebagai berikut. Gain score = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% Gambar 3. 8 Rumus Gain Score Frekuensi gain score yang diambil kurang dari 50% dari skor tertinggi selisih pretest - posttest I kedua kelompok. Grafik poligon pada gain score menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok ekperimen dan kelompok kontrol (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 250-251). 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji statistik ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar efek peningkatan dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Rumus yang digunakan kurang lebih sama dengan rumus korelasi Pearson pada bagian sebelumnya dengan sedikit modifikasi. Jika distribusi data normal, maka digunakan rumus korelasi Pearson berikut ini (Field, 2009: 332). 50

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS Paired Samples t test) df : harga derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (n-1). Jika distribusi data tidak normal, maka digunakan rumus korelasi Pearson berikut ini (Field, 2009: 550). Gambar 3. 10 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS Wilcoxon signed rank test) N : 2 x jumlah responden dalam 1 kelompok yang sama. Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3. 11 Rumus Persentase Besar Pengaruh 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji statistik ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada bias regresi statistik yang bisa mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik yaitu kecenderungan umum bahwa siswa dengan hasil skor pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat 51

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest lebih tinggi. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim melulu sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan rumus bivariate correlations. Jika data berdistribusi normal, maka digunakan rumus bivariate correlations yaitu Pearson’s correlation coefficients, sedangkan jika data berdistribusi tidak normal, maka digunakan rumus bivariate correlations yaitu Spearman’s correlation coefficients (Field, 2009: 177-179). Korelasi positif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Korelasi negatif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin rendah skor posttest I. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Kondisi dapat dikatakan ideal jika korelasinya positif. Signifikan berarti hasil korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Berikut hipotesis statistik uji korelasi rerata pretest dan posttest I. Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest dan posttest I dengan P dan Q (atau P = Q). Hi : Ada perbedaan hasil korelasi pretest dan posttest I dengan P dan Q (atau P ≠ Q). Keterangan: P : jika harga p < 0,05 Q: jika r negatif Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. a. Jika hasilnya P dan Q, Hnull diterima. Berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak bisa dikendalikan dengan baik. b. Jika hasilnya bukan P dan Q, Hnull ditolak. Berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik. 52

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II Uji retensi pengaruh perlakuan posttest I ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan beberapa waktu setelah posttest I dengan dilakukan posttest II. Posttest II dilakukan untuk memastikan yang lebih akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Uji menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data terdistribusi normal, sedangkan statistik non-parametrik Wilcoxon Signed-rank test untuk data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan. Hi : Ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396) sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, ada penurunan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest II ke posttest I. Berikut rumus perhitungan persentase penurunan skor posttest II ke posttest I. Persentase peningkatan = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼– 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑥 100% Gambar 3. 12 Rumus Persentase Uji Retensi 53

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji retensi pengaruh perlakuan dan persentase penurunan skor, menggunakan data skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok. 3.8.2.5 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Uji retensi pengaruh perlakuan pretest ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah pretest, treatment, dan posttest I dengan dilakukan posttest II. Uji menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data terdistribusi normal, sedangkan statistik nonparametrik Wilcoxon Signed-rank test untuk data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan. Hi : Ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396) sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji retensi pengaruh perlakuan dan persentase penurunan skor, menggunakan data skor pretest dan posttest II pada kedua kelompok. 3.9 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian Sesudah data dianalisis menggunakan teknik pengujian statistik dan memperoleh kesimpulan, sebelum memperoleh kesimpulan yang final maka perlu diperiksa dahulu apakah sungguh terdapat hubungan kausalitas antara variablel independen dan variabel dependen sebagaimana ditunjukkan oleh data yang 54

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diperoleh dari instrumen penelitian, atau ada fator-faktor di luar variabel independen yang turut mempengaruhi variabel dependen. Dalam penelitian kuantitatif sering dibedakan pengertian validitas internal dan validitas eksternal penelitian. Validitas internal mengacu pada pengertian apakah sebuah efek yang muncul pada variabel dependen itu sungguh disebabkan oleh variabel independen, dan bukan oleh faktor-faktor lain di luar variabel independen. Dengan kata lain memang ada hubungan sebab akibat antara variabel independen dan variabel dependen. Validitas internal penelitian bisa ditingkatkan dengan mengontrol faktor-faktor di luar variabel independen yang potensial ikut mempengaruhi variabel dependen. Faktor-faktor ini yang sering disebut sebagai ancaman terhadap validitas internal penelitian. Validitas eksternal mengacu pada pengertian apakah kesimpulan yang diperoleh dari suatu penelitian bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih luas dengan subjek penelitian yang berbeda (population validity), setting penelitian yang berbeda (ecological validity), dan waktu penelitian yang berbeda (historical validity). Ancaman terjadi lebih besar pada penelitian quasi-experimental dibandingkan eksperimental murni karena dalam eksperimental murni pemilihan sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. Maka peneliti memaparkan cara mengendalikan 11 ancaman validitas internal penelitian. Berikut ancaman validitas internal dan cara pengendalian. 1. Sejarah Setiap kejadian atau perlakuan yang terjadi diantara pretest dan posttest pada kelompok yang diteliti dapat mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu lama (beberapa bulan atau tahun). Perubahan atau peningkatan hasil hasil pada salah satu kelompok tersebut bisa jadi disebabkan bukan melulu karena treatment penelitian tetapi oleh faktor lain di luar treatment. Faktor tersebut misalnya di sela treatment ada kegiatan workshop, ekstrakurikuler, kursus, acara TV, dsb dengan perlakuan atau materi yang sama dengan yang digunakan sebagai treatment penelitian. Jika kelompok 55

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Berikut gambar ancaman valitas internal sejarah (history). Kejadian lain di luar treatment penelitian Pretest Posttest Gambar 3. 13 Desain Ancaman Validitas Sejarah 2. Difusi perlakuan atau kontaminasi (diffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berkomunikasi tanpa sepengetahuan peneliti dan sama-sama mempelajari materi dengan treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Creswell, 2015: 597). Maka untuk mengendalikan terhadap ancaman validitas internal berupa difusi treatment atau kontaminasi yaitu kedua kelompok betul-betul dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah. 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi jika treatment yang diberikan di kelompok eksperimen dirasa sangat berharga dan diketahui oleh kelompok kontrol. Keuntungan yang diperoleh oleh kelompok eksperimen dinilai lebih banyak daripada kelompok kontrol. Dampaknya kelompok kontrol bisa jadi berusaha menyaingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras dan atau mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Maka solusi yang dapat dilakukan adalah kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 4. Maturasi (maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian dapat berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & 56

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Christensen, 2008: 261). Contoh dari kasus tersebut seperti perubahan yang terjadi karena kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Melakukan penelitian eksperimental dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian akibat history, mortality, selection, and maturation (Krathwohl, 2004: 547). Solusi untuk ancaman ini adalah menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam mengerjakan pretest dan posttest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi statistik (statistical regression) Regresi statistik adalah kecenderungan responden memperoleh skor pretest tinggi biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah, jika skor pretest rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Ancaman ini akan lebih besar terjadi jika ada siswa berkebutuhan khusus yaitu, slow learner dan talented. Pada pretest kelompok slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya langsung mendapat skor yang sangat tinggi pada pretest, tetapi turun pada posttest. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim melulu sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan persis karena efek regresi statistik ini. Maka untuk mengantisipasi, perlu kecermatan dalam mengamati responden dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalitas (mortality) Mortalitas adalah perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman ini akan lebih besar untuk penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Hasil posttest dari partisipan yang tersisa bisa jadi berbeda dengan jika dikerjakan oleh seluruh partisipan yang sama pada saat pretest. Maka solusinya adalah menggunakan skor 57

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rerata untuk siswa yang tidak berangkat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu kelompok eksperimen saja, ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Maka solusi untuk mengurangi ancaman validitas internal tersebut adalah menggunakan kelompok kontrol yang sama-sama mengerjakan pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. 9. Lokasi (location) Ancaman validasi internal berupa lokasi dapat terjadi bila lokasi dilakukan pretest, posttest, dan treatment di tempat yang berbeda (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, kebisingan ruang, dan sebagainya. Solusinya adalah ruang yang digunakan harus kurang lebih sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik subjek (subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian (Frankel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Solusinya yaitu pemilihan sampel kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan pengundian. Pengundian disaksikan oleh peneliti dan kedua guru dari kedua kelas. Untuk mengetahui tingkat kemampuan awal kedua kelompok apakah sama 58

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI atau tidak dilakukan pretest. Jika hasil pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 11. Implementasi (implementation) Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest karena berbedanya gaya mengajar (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). Maka solusinya adalah menggunakan guru yang sama ketika menerapkan pembelajaran di kedua kelompok. Sebelum penelitian, peneliti sudah memilih salah satu guru dari kedua kelas yang cocok dan berkenan menjadi guru mitra. Pemilihan guru mitra telah disetujui oleh wali kelas baik dari kelas VA dan VB. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 59

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memaparkan hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian berisi hasil implementasi penelitian sedangkan pembahasan berisi penjelasan tentang pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis pada materi sistem pernapasan pada hewan. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Implementasi Penelitian Penelitian ini menggunakan dua kelas sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik pengambilan sampel menggunakan desain non probability sampling dengan tipe convenience sampling. Teknik tersebut biasa digunakan untuk penelitian di bidang pendidikan yaitu menggunakan kelas yang sudah ada karena keterbatasan peneliti untuk memilih secara acak (Best & Kahn, 2006: 18-19). Penentuan kelompok dilakukan dengan cara diundi yang disaksikan oleh guru mitra dan wali kelas VB. Berdasarkan hasil pengundian, kelas VB sebagai kelompok kontrol dan kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Implementasi pembelajaran dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan dengan total 8 jam pelajaran. Pembelajaran di kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilaksanakan oleh guru mitra yang sama. Peneliti bertindak sebagai observer dan membantu guru dalam mempersiapkan alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD. Populasi terdiri dari 2 kelas yaitu kelas V A dan V B. Kedua kelas tersebut memiliki prestasi yang sama karena siswa dikelompokkan dalam kelas secara acak. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas V A dan V B. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan cara pengundian yang disaksikan oleh guru kelas. Undian menghasilkan kelas V B sebagai kelompok kontrol dan kelas V A sebagai kelompok eksperimen. 60

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sampel pertama dalam penelitian ini adalah kelas V B sebagai kelompok kontrol. Jumlah siswa di kelompok kontrol adalah 22 orang, yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Siswa pada kelompok kontrol berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah hingga menengah atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain, pedagang, satpam,karyawan swasta, dan PNS. Saat pelaksanaan perlakuan, semua siswa di kelompok kontrol hadir semua. Sampel kedua dalam penelitian ini adalah kelas V A sebagai kelompok eksperimen. Jumlah siswa di kelompok eksperimen adalah 24 orang, yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 12 orang perempuan. Siswa pada kelompok eksperimen berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah hingga menengah atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain, pedagang, perawat, karyawan swasta, dan PNS. Saat pelaksanaan perlakuan, semua siswa di kelompok eksperimen hadir semua. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Pelaksanaan penelitian dimulai dengan pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dari kedua kelompok. Pretest pada kelompok kontrol dan eksperimen dilakukan pada hari Rabu, 19 September 2018. Soal diberikan dalam bentuk uraian yang berjumlah 18 butir, dengan waktu pengerjaan selama 2x35 menit. Sebelum mengerjakan soal, guru memberikan pengarahan langkah-langkah pengerjaan dan maksud dari setiap butir soal. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang soal yang kurang dipahami. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengerjakan soal pretest didampingi oleh guru mitra. Peneliti berperan sebagai pengamat, menyiapkan alat yang dibutuhkan, dan mendokumentasikan kegiatan di kedua kelas kelompok tersebut. Berikut deskripsi implementasi kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 61

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Kontrol Implementasi pembelajaran di kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah. Waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembelajaran pada setiap pertemuan adalah satu penggalan (2x35 menit). Pembelajaran dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan dengan materi yang berbeda. Materi pokok yang dipelajari adalah mengenai sistem pernapasan pada hewan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Jumat, 21 September 2018, pukul 08.50-10.20 WIB dengan materi sistem pernapasan pada hewan mamalia. Kegiatan diawali dengan melakukan tepuk semangat (motivasi). Selanjutnya, Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai hewan mamalia (apersepsi), kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Kegiatan inti dilakukan dengan guru menjelaskan secara lisan tentang sistem pernapasan pada hewan mamalia. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi, melakukan evaluasi, dan refleksi. Pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu, 22 September 2018, pukul 08.50-09.50 WIB dengan materi sistem pernapasan pada hewan pisces. Kegiatan diawali dengan berrnyanyi (motivasi). Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai hewan pisces (apersepsi), kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Kegiatan inti dilakukan oleh guru dengan menjelaskan sistem pernapasan pada hewan pisces secara lisan. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, evaluasi, dan refleksi. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Senin, 24 September 2018, pukul 11.50-13.00 WIB dengan materi sistem pernapasan pada hewan insecta. Kegiatan diawali dengan melakukan tepuk semangat (motivasi). Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai hewan insecta (apersepsi), kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Pada kegiatan inti, guru menjelaskan secara lisan tentang sistem pernapasan pada hewan insecta. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, evaluasi, dan refleksi. Pertemuan keempat dilaksanakan pada Selasa, 25 September 2018, pukul 10.20-11.30 WIB dengan materi sistem pernapasan pada hewan amphibi, reptil, dan cacing. Kegiatan diawali dengan bernyanyi (motivasi). Guru dan siswa melakukan 62

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tanya jawab (apersepsi), kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Pada kegiatan inti, guru menjelaskan secara lisan tentang sistem pernapasan pada hewan amphibi, reptil, dan cacing. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari dan merangkum materi pembelajaran dari pertemuan pertama hingga keempat, evaluasi, dan refleksi. Pada Jumat, 28 September 2018 kelompok kontrol mengerjakan soal posttest I untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah. Kelompok kontrol mengerjakan posttest I pada pukul 08.50-09.50 WIB. Enam hari setelah posttest I, siswa mengerjakan soal posttest II tepatnya pada Kamis, 4 Oktober 2018 pukul 11.50-13.00 WIB. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa beberapa hari setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah. Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II adalah soal yang sama seperti pretest dan dikerjakan selama 2 × 35 menit. Penggunaan instrumen yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu instrumen (instrumentation). Jika suatu penelitian menggunakan instrumen yang berbeda baik pada pretest dan posttest untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Peneliti hanya menggunakan nomor soal 1 (1a, 1b, 1c) untuk meneliti variabel menginterpretasi dan soal nomor 2 (2a, 2b, 2c) untuk meneliti variabel menganalisis. 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembelajaran pada setiap pertemuan adalah satu penggalan (2x35 menit). Materi pokok yang dipelajari yaitu sistem pernapasan pada hewan. Pembelajaran dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan dengan sub materi yang berbeda disetiap pertemuan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra sesuai dengan RPP yang telah disusun peneliti. Pembelajaran di kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang memuat enam langkah di dalamnya. Pembelajaran di kelas ini meliputi tiga kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan 63

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan terdapat satu langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan pada kegiatan inti terdapat lima langkah selanjutnya. Pembelajaran dimulai dengan kegiatan pendahuluan yang berisi doa, salam, motivasi, apersepsi, dan orientasi. Kegiatan inti berisi lima langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. Kegiatan penutup berisi penyimpulan materi, evaluasi, dan refleksi dari pembelajaran yang telah dilakukan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Jumat, 21 September 2018 pukul 07.40-08.50 WIB dan dilanjutkan pada pukul 11.40-13.00 WIB. Sub materi yang dipelajari adalah sistem pernapasan pada hewan mamalia. Pada kegiatan awal guru bersama siswa bermain ”berhitung vs bernapas” (sebagai motivasi), kemudian guru bertanya mengenai permainan yang telah dilakukan (apersepsi), penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi). Selanjutnya, kegiatan inti pertama adalah pembagian kelompok. Pembagian kelompok dilakukan oleh guru dan dalam kelompok yang terdiri dari 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan ras yang berbeda. Kemudian guru menyampaiakan materi dalam bentuk powerpoint. Guru juga menampilkan sebuah video mengenai sistem pernapasan pada hewan mamalia dan gambar hewan mamalia yang di tempelkan di papan tulis. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan diskusi dalam kelompok untuk mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) dan melakuakan pembahasan soal yang terdapat di LKS secara bersama-sama. Selanjutnya siswa mengerjakan kuis 1 secara individu dan masih duduk di dalam kelompok. Selesai mengerjakan kuis, guru membagikan kunci jawaban kepada masing-masing kelompok dan meminta siswa untuk menukarkan lembar jawab kepada teman satu kelompok. Kemudian setiap kelompok melakukan pengoreksian secara bersama-sama dengan menggunakan acuan kunci jawaban yang telah diberikan. Siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksinya. Selanjutnya guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan posisi awal sebelum berkelompok. Guru membagikan kembali lembar kuis 2 yang harus dikerjakan secara individu oleh siswa. Guru dan siswa melakukan pengoreksian soal kuis 2 bersama-sama dan siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang dikoreksinya. Selanjutnya guru 64

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memberikan penghargaan kepada kepada kelompok yang mendapatkan skor tertinggi tertinggi berupa stiker yang ditempelkan di papan penghargaan. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari, melakuakan evaluasi, dan refleksi. Pertemuan kedua dilaksanakan hari Sabtu, 22 September 2018 pada pukul 07.40-08.50 WIB. Materi utama yaitu tentang sistem pernapasan pada hewan pisces. Pada kegiatan awal guru bersama siswa bermain ”tebak kata” (sebagai motivasi), kemudian guru bertanya mengenai permainan yang telah dilakukan (apersepsi), penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi). Selanjutnya, kegiatan inti pertama adalah guru membacakan kembali daftar nama anggota kelompok dan meminta siswa untuk masuk ke dalam kelompoknya masing-masing. Kemudian guru menyampaiakan materi dalam bentuk powerpoint. Guru juga menampilkan sebuah video mengenai sistem pernapasan pada hewan pisces dan gambar hewan pisces yang ditempelkan di papan tulis. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan diskusi dalam kelompok untuk mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) dan melakuakan pembahasan soal yang terdapat di LKS secara bersama-sama. Selanjutnya siswa mengerjakan kuis 1 secara individu dan masih duduk di dalam kelompok. Selesai mengerjakan kuis, guru membagikan kunci jawaban kepada masing-masing kelompok dan meminta siswa untuk menukarkan lembar jawab kepada teman satu kelompok. Kemudian setiap kelompok melakukan pengoreksian secara bersama-sama dengan menggunakan acuan kunci jawaban yang telah diberikan. Siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksinya. Selanjutnya guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan posisi awal sebelum berkelompok. Guru membagikan kembali lembar kuis 2 yang harus dikerjakan secara individu oleh siswa. Guru dan siswa melakukan pengoreksian soal kuis 2 bersama-sama dan siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang dikoreksinya. Selanjutnya guru memberikan penghargaan kepada kepada kelompok yang mendapatkan skor tertinggi tertinggi berupa stiker yang ditempelkan di papan penghargaan. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari, melakuakan evaluasi, dan refleksi. 65

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Senin, 24 September 2018 pada pukul 09.50-10.55 WIB. Materi yang disampaikan yaitu tentang sistem pernapasan pada hewan insecta. Pada kegiatan awal guru bersama siswa bermain ”tebak kata” (sebagai motivasi), kemudian guru bertanya mengenai permainan yang telah dilakukan (apersepsi), penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi). Selanjutnya, kegiatan inti pertama adalah guru membacakan kembali daftar nama anggota kelompok dan meminta siswa untuk masuk ke dalam kelompoknya masing-masing. Kemudian guru menyampaiakan materi dalam bentuk powerpoint. Guru juga menampilkan sebuah video mengenai sistem pernapasan pada hewan insecta dan gambar hewan insecta yang ditempelkan di papan tulis. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan diskusi dalam kelompok untuk mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) dan melakuakan pembahasan soal yang terdapat di LKS secara bersamasama. Selanjutnya siswa mengerjakan kuis 1 secara individu dan masih duduk di dalam kelompok. Selesai mengerjakan kuis, guru membagikan kunci jawaban kepada masing-masing kelompok dan meminta siswa untuk menukarkan lembar jawab kepada teman satu kelompok. Kemudian setiap kelompok melakukan pengoreksian secara bersama-sama dengan menggunakan acuan kunci jawaban yang telah diberikan. Siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksinya. Selanjutnya guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan posisi awal sebelum berkelompok. Guru membagikan kembali lembar kuis 2 yang harus dikerjakan secara individu oleh siswa. Guru dan siswa melakukan pengoreksian soal kuis 2 bersama-sama dan siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang dikoreksinya. Selanjutnya guru memberikan penghargaan kepada kepada kelompok yang mendapatkan skor tertinggi tertinggi berupa stiker yang ditempelkan di papan penghargaan. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari, melakuakan evaluasi, dan melakukan refleksi. Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Selasa, 25 September 2018 pukul 07.40-08.50 WIB. Materi yang disampaikan tentang sistem pernapasan pada hewan amphibi, reptil, dan cacing. Pada kegiatan awal guru bersama siswa bermain ”rangkai kata” (sebagai motivasi), kemudian guru bertanya mengenai permainan yang telah dilakukan (apersepsi), penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi). 66

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selanjutnya, kegiatan inti pertama adalah guru membacakan kembali daftar nama anggota kelompok dan meminta siswa untuk masuk ke dalam kelompoknya masing-masing. Kemudian guru menyampaikan materi dalam bentuk powerpoint. Guru juga menampilkan sebuah video mengenai sistem pernapasan pada hewan amphibi, reptil, cacing dan gambar hewan insecta yang ditempelkan di papan tulis. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan diskusi dalam kelompok untuk mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) dan melakuakan pembahasan soal yang terdapat di LKS secara bersama-sama. Selanjutnya siswa mengerjakan kuis 1 secara individu dan masih duduk di dalam kelompok. Selesai mengerjakan kuis, guru membagikan kunci jawaban kepada masing-masing kelompok dan meminta siswa untuk menukarkan lembar jawab kepada teman satu kelompok. Kemudian setiap kelompok melakukan pengoreksian secara bersama-sama dengan menggunakan acuan kunci jawaban yang telah diberikan. Siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksinya. Selanjutnya guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan posisi awal sebelum berkelompok. Guru membagikan kembali lembar kuis 2 yang harus dikerjakan secara individu oleh siswa. Guru dan siswa melakukan pengoreksian soal kuis 2 bersama-sama dan siswa juga diminta untuk memberikan skor pada lembar jawab yang dikoreksinya. Selanjutnya guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan skor tertinggi berupa stiker yang ditempelkan di papan penghargaan. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari, melakuakan evaluasi, dan melakukan refleksi. Pada hari Jumat, 28 September 2018 kelompok eksperimen mengerjakan soal posttest I. Kelompok eksperimen mengerjakan pukul 07.40-08.50 WIB. Tujuan dilaksanakannya posttest I untuk mengetahui pemahaman siswa setelah belajar menggunakan metode ceramah dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Sekitar enam hari setelah mengerjakan posttest 1 tepatnya pada hari Kamis, 4 Oktober 2018 11.50-13.00 WIB siswa pada kelompok eksperimen mengerjakan soal posttest II. Siswa mengerjakan posttest II bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah beberapa hari belajar menggunakan metode ceramah dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II adalah soal yang sama seperti pretest dan dikerjakan selama 2 × 35 67

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menit. Penggunaan instrumen yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu instrumen (instrumentation). Jika suatu penelitian menggunakan instrumen yang berbeda baik pada pretest dan posttest untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Peneliti hanya menggunakan nomor soal 1 (1a, 1b, 1c) untuk meneliti variabel menginterpretasi dan soal nomor 2 (2a, 2b, 2c) untuk meneliti variabel menganalisis. 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti akan menunjukkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dengan data dari kelompok eksperimen untuk setiap indikatornya. 4.1.2.1 Kemampuan Menginterpretasi Hasil dari sebaran data dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol Tabel 4. 1 Frekuensi Sebaran Data Menginterpretasi Kelompok Kontrol No Indikator 1 12 Skor Pretest 2 3 4 Total 7 2 1 22 1 7 Skor Posttest 1 2 3 4 Total 9 4 2 22 1 Mengidentifikasi organ pernapasan hewan 2 Mengemukakan alasan terhadap perilaku hewan 5 11 5 1 22 5 5 11 1 22 3 Menjelaskan perbedaan cara bernapas pada hewan 10 11 - 1 22 17 3 1 1 22 27 29 7 3 66 29 17 16 4 66 Jumlah Frekuensi Tabel di atas memperlihatkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator. Hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol yang mendapat skor 1 sebanyak 27 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 29 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 7 anak, dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 3 anak. Hasil pengerjaan posttest I kelompok kontrol pada ketiga indikator siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 29 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 17 anak, 68

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang mendapat skor 3 sebanyak 16 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 4 anak. Skor yang mengalami peningkatan frekuensinya adalah skor 1, 3 dan 4, sedangkan skor 2 mengalami pengurangan jumlah frekuensinya. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4. 2 Frekuensi Sebaran Data Menginterpretasi Kelompok Eksperimen No Indikator 1 6 Skor Pretest 2 3 4 13 3 2 Total 24 1 1 Skor Posttest 1 2 3 4 Total 6 9 8 24 1 Mengidentifikasi organ pernapasan hewan 2 Mengemukakan alasan terhadap perilaku hewan 5 6 12 1 24 1 4 16 3 24 3 Menjelaskan perbedaan bernapas hewan 9 12 2 1 24 13 6 2 3 24 20 31 17 4 72 15 16 27 14 72 Jumlah Frekuensi cara pada Tabel di atas memperlihatkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator. Hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen yang mendapat skor 1 sebanyak 20 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 30 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 17 anak, dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 4 anak. Hasil pengerjaan posttest I kelompok eksperimen pada ketiga indikator siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 15 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 15 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 27 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 14 anak. Skor yang mengalami peningkatan jumlah frekuensinya adalah skor 3 dan 4, sedangkan skor 1 dan 2 mengalami pengurangan jumlah frekuensinya. 69

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2.2 Kemampuan Menganalisis 1. Kelompok Kontrol Tabel 4. 3 Frekuensi Sebaran Data Menganalisis Kelompok Kontrol No 1 2 3 Indikator Menjelaskan fungsi organ pernapasan pada hewan Mengidentifikasi perbedaan fungsi organ pernapasan pada hewan Menganalisis fungsi organ pernapasan hewan sesuai tempat hidupnya Jumlah Frekuensi Skor Pretest 3 4 2 1 1 13 2 6 6 12 3 9 11 28 29 Skor Posttest 1 2 3 4 7 1 3 Total 22 1 11 Total 22 1 22 13 4 4 1 22 2 - 22 12 5 4 1 22 7 2 66 36 16 9 5 66 Tabel di atas memperlihatkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator. Hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol yang mendapat skor 1 sebanyak 28 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 29 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 7 anak, dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 2 anak. Hasil pengerjaan posttest I kelompok kontrol pada ketiga indikator siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 36 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 16 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 9 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 5 anak. Skor yang mengalami peningkatan jumlah frekuensinya adalah skor 1, 3 dan 4, sedangkan skor 2 mengalami pengurangan jumlah frekuensinya. 70

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4. 4 Frekuensi Sebaran Data Menganalisis Kelompok Eksperimen No Indikator 1 Menjelaskan fungsi organ pernapasan pada hewan 2 Mengidentifikasi perbedaan fungsi organ pernapasan pada hewan Menganalisis fungsi organ pernapasan hewan sesuai tempat hidupnya Jumlah Frekuensi 3 1 11 Skor Pretest 2 3 4 10 1 2 3 14 6 12 6 26 30 Skor Posttest 1 2 3 4 11 5 1 Total 24 1 7 Total 24 1 24 4 2 13 5 24 3 3 24 8 3 12 1 24 10 6 72 19 16 30 7 72 Tabel di atas memperlihatkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator. Hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen yang mendapat skor 1 sebanyak 26 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 30 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 10 anak, dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 4 anak. Hasil pengerjaan posttest I kelompok eksperimen pada ketiga indikator siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 19 anak, yang mendapat skor 2 sebanyak 16 anak, yang mendapat skor 3 sebanyak 30 anak, dan yang mendapat skor 4 sebanyak 7 anak. Skor yang mengalami peningkatan jumlah frekuensinya adalah skor 3 dan 4, sedangkan skor 1 dan 2 mengalami pengurangan jumlah frekuensinya. 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model ini berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi pada materi sistem pernapasan pada hewan untuk kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan menginterpretasi, sedangkan variabel independen adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan menginterpretasi yaitu satu soal uraian dengan butir soal nomer 1. Soal ini menggunakan indikator mengidentifikasi organ pernapasan hewan, mengemukakan alasan terhadap perilaku hewan, menjelaskan perbedaan cara bernapas pada hewan. 71

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap kemampuan menginterpretasi pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) Uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan menginterpretasi. Data yang digunakan yaitu rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.3). 72

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 5 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Pretest Kelompok p Keputusan Kontrol 0,075 Normal Eksperimen 0,052 Normal Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak artinya data berdistribusi normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s Test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut hasil uji homogenitas varian (lihat Lampiran 4.4). Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,090 df1 1 df2 44 p 0,765 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,090 dan harga p = 0,765 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas data. Apabila varians homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Setelah uji homogenitas varian, dilakukan uji perbedaan kemampuan awal. Uji kemampuan awal skor pretest menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test, karena data terdistribusi normal (Field, 2009: 326). Tingkat 73

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5). Tabel 4. 7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji Statistik Independent samples t-test p 0,065 Keputusan Tidak ada perbedaan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,06, SE = 0,09) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 1,78, SE = 0,09). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -1,89, p = 0,065 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok atau kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang sama. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menginterpretasi. Peneliti menggunakan rumus : (O2 − O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest I − pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest I − pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan maka ada pengaruh. Berikut perhitunganannya : (2,55 – 2,07) – (1,92 – 1,79) = 0,48 − 0,13 = 0,35. Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,35 atau lebih besar dari 0 yang artinya ada perbedaan. Untuk mengetahui pengaruhnya signifikan atau tidak, dilakukan uji statistik. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk 74

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 8 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Kelompok Kontrol Eksperimen Keputusan Normal Normal p 0,087 0,086 Tabel 4.8 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek posttest I untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak artinya data berdistribusi normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Sebelum uji ststaistik dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test karena data berdistribusi normal. Data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan equal variances assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Berikut hasil uji homogenitas varian (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest-Posttest I Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 3,457 df1 1 df2 44 p 0,070 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 3,457 dan harga p = 0,070 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya terdapat 75

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas data. Apabila varians homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris petama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Setelah uji homogenitas varian, dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak H null adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.7). Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik Independent samples t-test p 0,038 Keputusan Signifikan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,48 SE = 0,08) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 0,13 SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -2,13 p = 0,038 (p < 0,05). Oleh karena itu, Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Berikut adalah diagram hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan menginterpretasi pada kelompok kontrol dan eksperimen. 76

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Mean 2,5 2,5546 2,0692 2 1,5 1,9245 1,7873 1 0,5 0 Pretest Kontrol Posttest I Eksperimen Gambar 4. 1 Gambar Signifikansi Pengaruh Perlakuan Grafik tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok menerima pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 2,5546 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 1,9245. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,4803 lebih tinggi daripada kelompok kontrol sebesar 0,1368. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest-posttest I antara kedua kelompok. Gambar 4. 2 Gambar Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model STAD terhadap kemampuan menginterpretasi. Data terdistribusi dengan normal, sehingga menggunakan rumus koefisien korelasi Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil 77

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI r dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan diperoleh dengan menghitung koefisien determinasi (R2). Menghitung koefisien determinasi dilakukan dengan mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut adalah hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4. 11 Hasil Uji Effect Size Variabel t t2 df r (effect size) R2 % Kategori Efek Menginterpretasi -2,139 4,58 44 0,31 0,10 10% Menengah Tabel di atas memperlihatkan hasil uji effect size. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menginterpretasi adalah r = 0,31 atau 10%. Hal ini berarti besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 10% atau menengah. 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I bertujuan untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menginterpretasi. Selanjutnya, dilakukan uji signifikansi peningkatan skor pretest ke posttest I. Sebelum dilakukan uji signifikansi, maka dilakukan uji normalitas data pada skor pretest dan posttest I untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal. Berikut hasil uji normalitas data skor pretest dan posttest I pada kemampuan menginterpretasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat lampiran 4.3). 78

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Kontrol Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I Eksperimen Keputusan Normal Normal Normal Normal p 0,075 0,103 0,052 0,050 Karena distribusi data normal, analisis statistik selanjutnya menggunakan Paired Samples t-test. Selain itu, data yang diambil dari kelompok yang sama. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Untuk mengetahui persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih pretest-posttest I dengan pretest, kemudian dikalikan 100%. Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9). Tabel 4. 13 Peningkatan Rerata Skor Pretest dan Posttest I No 1 2 Kelompok Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Posttest I 1,78 1,92 2,06 2,55 Peningkatan (%) Uji Statistik p Keterangan 7,8 Paired Samples t-test 0,344 Tidak Signifikan Signifikan 23,7 0,000 Hasil analisis menunjukkan ada peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol yaitu rerata pretest = 1,78 dan rerata posttest I = 1,92. Persentase peningkatannya sebesar 7,8%. Pada kelompok eksperimen rerata pretest = 2,06 dan rerata posttest I = 2,55. Persentase peningkatannya sebesar 23,7%. Persentase peningkatan kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan kemampuan menginterpretasi lebih besar daripada metode ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan menginterpretasi. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan menginterpretasi. 79

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 2,55 Mean 2,5 2,06 1,92 1,78 2 1,5 1 0,5 0 Kel Kontrol Pretest Kel Eksperimen Posttest I Gambar 4. 3 Gambar Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan yang dimiliki kelompok kontrol tidak meningkat secara signifikan dari pretest ke posttest I dengan M = 0,137; SD = 0,665; SE = 0,141; df = 21 dan harga p = 0,344 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Kemampuan yang dimiliki kelompok eksperimen meningkat secara signifikan dari pretest ke posttest I dengan M = 0,485; SD = 0,427; SE = 0,087; df = 23 dan harga p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.3. Berikut grafik yang frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain pada score) kedua kelompok terhadap kemampuan menginterpretasi. Frekuensi 8 5 6 7 3 3 5 4 3 4 2 7 2 1 0 2 1 1 0 1 0 0 -1 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1 1,33 1,67 Gain Score Kel Kontrol Kel Eksperimen Gambar 4. 4 Gambar Gain Score Grafik 4.4 menunjukkan bahwa gain score terendah pada kelompok kontrol adalah -1,00, sedangkan gain score terendah pada kelompok eksperimen adalah 0,33. Gain score tertinggi kelompok kontrol adalah 1,67, sedangkan gain score tertinggi kelompok eksperimen adalah 1,33. Namun frekuensi siswa yang mendapat 80

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI nilai ≥ 0,33 pada kelompok kontrol berjumlah 9 anak, sedangkan kelompok eksperimen berjumlah 19 anak. Nilai 0,33 merupakan nilai tengah gain score yang yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,33 pada kelompok kontrol sebesar 41%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 79% (lihat Lampiran 4.7.3). Hal ini berarti 41% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan ceramah. Sebaliknya 73% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan perhitungan tersebut, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada metode ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Peneliti menggunakan uji statistik parametrik Paired samples t-test karena data yang diuji berdistribusi normal (Field, 2009: 325). Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.10). Tabel 4. 14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Kelompok t t2 df r (effect size) R2 % Kategori Efek Kontrol 0,968 0,94 21 0,21 0,04 4 Kecil Eksperimen 5,558 30,89 23 0,76 0,58 58 Besar Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = 0,137; SD = 0,665; SE = 0,142; df = 21 dan p = 0,344 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. 81

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil uji statistik pada kelompok eksperimen M = 0,485; SD = 0,428; SE = 0,087, df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok eksperimen r = 0,76 setara dengan 58% yang masuk kategori efek besar dan pada kelompok kontrol r = 0,21 setara dengan 4% yang masuk kategori efek kecil. 3. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya regresi statistik yang merupakan ancaman terhadap validitas internal. Terjadi regresi statistik jika hasil korelasinya negatif dan signifikan. Regresi statistik adalah kecenderungan siswa yang mendapat skor pretest lebih tinggi akan mendapat skor lebih rendah pada posttest. Begitu pula dengan siswa yang mendapat skor pretest lebih rendah akan mendapat skor lebih tinggi pada posttest. Uji korelasi menggunakan data skor pretest dan posttest I. Uji korelasi pada kelompok kontrol dan eksperimen menggunakan rumus Pearson Correlation karena kedua data berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak H null adalah jika harga p < 0,05 atau P=Q (Priyatno, 2012: 45). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.11). Tabel 4. 15 Hasil Uji Korelasi Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Rumus Pearson Correlation r 0,081 0,656 p 0,719 0,000 Keterangan Positif dan tidak signifikan Positif dan signifikan Berdasarkan hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol harga p = 0,719 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada korelasi yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada korelasi yang signifikan antara skor pretest ke posttest I. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol (r = 0,081), sedangkan pada kelompok eksperimen (r = 0,656) artinya kedua kelompok memiliki korelasi yang positif antara skor pretest dan posttest I. 82

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest. Sebaliknya para siswa yang mendapat skor rendah pada pretest akan mendapatkan skor rendah pula pada posttest I. Dengan demikian, kondisi ini ideal sehingga ancaman pada regresi statistik tidak terjadi dan dapat dikendalikan. Ancaman tersebut tidak dapat dikendalikan jika menunjukkan korelasi yang negatif dan signifikan atau P≠Q. 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan hasil pekerjaan siswa pada soal posttest II. Jarak waktu mengerjakan posttest I dan posttest II kurang lebih satu minggu. Sebelum dilakukan uji retensi pengaruh perlakuan, maka dilakukan uji normalitas data pada skor posttest I dan posttest II untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor posttest I dan posttest II. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal. Berikut hasil uji normalitas data skor posttest I dan posttest II pada kemampuan menginterpretasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat lampiran 4.3). Tabel 4. 16 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Posttest I Posttest II Posttest I Posttest II p 0,103 0,074 0,050 0,121 Keputusan Normal Normal Normal Normal Normalitas distribusi data normal sehingga analisis statistik menggunakan Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada berbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 296). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakukan terhadap kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.12). 83

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I dan Posttest II No Kelompok Rerata Posttest I Posttes t II Peningkata n (%) Uji Statistik p Keteranngan Paired Samples ttest 0,246 Tidak signifikan 0,000 Signifikan 1 Kontrol 1,92 1,77 -8 2 Eksperimen 2,55 1,99 -22 Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol M = -0,152; SD = 0,599; SE = 0,128; df = 21 dan p = 0,246 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest I ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = -0,568; SD = 0,476; SE = 0,097; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnul ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen mengalami penurunan skor dari posttest I ke posttest II. Persentase penurunan skor posttest I ke posttest II kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil perhitungan bahwa penurunan skor pada kelompok kontrol sebesar -8% dan -22% pada kelompok eksperimen. Berikut grafik perbandingan skor pada kedua kelompok terhadap kemampuan menginterpretasi. 3 Mean 2,0692 2,5546 1,9863 2 1,7873 1,9245 1,7723 1 0 Pretest Kontrol Posttest1 Posttest2 Eksperimen Gambar 4. 5 Gambar Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Untuk memastikan apakah pencapaian skor posttest II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan uji statistik terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II. Uji statistik pada kelompok kontrol dan eksperimen menggunakan Paired Samples t-test karena data skor pretest dan posttest II berdistribusi normal. 84

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kriteria untuk menolak H null adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12). Tabel 4. 18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest dan Posttest II No Kelompok Rerata Pretest Posttest II Peningkatan (%) Uji Statistik p Keteranngan Paired Samples ttest 0,895 Tidak signifikan 0,480 Tidak signifikan 1 Kontrol 1,79 1,77 -1 2 Eksperimen 2,07 1,99 -4 Data di atas menunjukkan harga p kelompok kontrol 0,895 (p > 0,05), sedangkan harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,480 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti pada kedua kelompok tidak mengalami penurunan yang signifikan dari hasil pretest ke posttest II. 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model ini berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis pada materi sistem pernapasan pada hewan untuk kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan menganalisis, sedangkan variabel independen adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan menganalisis yaitu satu soal uraian dengan butir soal nomer 2. Soal ini menggunakan indikator menjelaskan fungsi organ pernapasan pada hewan, mengidentifikasi perbedaan fungsi organ pernapasan pada hewan, menganalisis fungsi organ pernapasan hewan sesuai tempat hidupnya. Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap 85

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan menganalisis pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) Uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan menganalisis. Data yang digunakan yaitu rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 19 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Pretest Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,052 0,066 Keputusan Normal Normal Tabel 4.18 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, 86

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s Test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut hasil uji homogenitas varian (lihat Lampiran 4.4). Tabel 4. 20 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,261 df1 1 df2 44 p 0,612 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,261 dan harga p = 0,612 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas data. Apabila varians homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris petama pada output SPSS (Field, 2009: 340). c. Uji Statistik Setelah uji homogenitas varian, dilakukan uji perbedaan kemampuan awal. Uji kemampuan awal skor pretest menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test, karena data terdistribusi normal (Field, 2009: 326). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5). Tabel 4. 21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji Statistik Independent samples t-test p 0,141 Keputusan Tidak ada perbedaan 87

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,94, SE = 0,09) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 1,74, SE = 0,09). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -1,49, p = 0,141 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menganalisis. Peneliti menggunakan rumus : (O2 − O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest I − pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest I − pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan maka ada pengaruh. Berikut perhitunganannya : (2,34 – 1,94) – (1,77 – 1,74) = 0,40 – 0,03 = 0,37. Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,37 atau lebih besar dari 0 yang artinya ada perbedaan. Untuk mengetahui pengaruhnya signifikan atau tidak, dilakukan uji statistik. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak serta distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik 88

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 22 Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Kelompok Kontrol Eksperimen Keputusan Normal Normal p 0,200 0,116 Tabel 4.21 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek posttest I untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull gagal ditolak artinya data berdistribusi normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Sebelum uji ststaistik dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test karena data berdistribusi normal. Data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan equal variances assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Berikut hasil uji homogenitas varian (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4. 23 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest-Posttest I Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 2,844 df1 1 df2 44 p 0,099 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 2,844 dan harga p = 0,099 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya terdapat homogenitas varian pada kedua kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas data. Apabila varians homogen, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris petama pada output SPSS (Field, 2009: 340). 89

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Uji Statistik Setelah uji homogenitas varian, dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.7). Tabel 4. 24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik Independent samples t-test Keputusan Signifikan p 0,043 Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,40 SE = 0,10) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 0,03 SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -2,08 p = 0,043 (p < 0,05). Oleh karena itu, Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Berikut adalah diagram hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan menganalisis pada kelompok kontrol dan eksperimen. 2,5 Mean 2 1,5 2,3471 1,9446 1,7727 1,7418 1 0,5 0 Pretest Kontrol PosttestI Eksperimen Gambar 4. 6 Gambar Signifikansi Pengaruh Perlakuan Grafik tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok menerima pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 2,3471 sedangkan pada 90

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol sebesar 1,7727. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,4025 lebih tinggi daripada kelompok kontrol sebesar 0,0300. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest-Posttest I antara kedua kelompok. Gambar 4. 7 Gambar Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model STAD terhadap kemampuan menganalisis. Data terdistribusi dengan normal, sehingga menggunakan rumus koefisien korelasi Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil r dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan diperoleh dengan menghitung koefisien determinasi (R2). Menghitung koefisien determinasi dilakukan dengan mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut adalah hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4. 25 Hasil Uji Effect Size Variabel t t2 df Menganalisis -2,080 4,33 44 r (effect size) 0,30 R2 % 0,09 9% Kategori Efek Menengah Tabel di atas memperlihatkan hasil uji effect size. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menganalisis 91

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah r = 0,30 atau 9%. Hal ini berarti besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 9% atau menengah. 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I bertujuan untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Selanjutnya, dilakukan uji signifikansi peningkatan skor pretest ke posttest I. Sebelum dilakukan uji signifikansi, maka dilakukan uji normalitas data pada skor pretest dan posttest I untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal. Berikut hasil uji normalitas data skor Pretest dan Posttest I pada kemampuan menganalisis kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat lampiran 4.3). Tabel 4. 26 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I p 0,052 0,200 0,066 0,150 Keputusan Normal Normal Normal Normal Karena distribusi data normal, analisis statistik menggunakan Paired Samples t-test. Selain itu, data yang diambil dari kelompok yang sama. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Untuk mengetahui persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih pretest-posttest I dengan pretest, kemudian dikalikan 100%. Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9). 92

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 27 Peningkatan Rerata Skor Pretest dan Posttest I No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Rerata Pretest Posttest I 1,74 1,77 1,94 Peningkatan (%) Uji Statistik p Keterangan 1,7 Paired Samples t-test 0,837 Tidak Signifikan Signifikan 2,34 20,6 0,001 Hasil analisis menunjukkan ada peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol yaitu rerata pretest = 1,74 dan rerata posttest I = 1,77. Persentase peningkatannya sebesar 1,7%. Pada kelompok eksperimen rerata pretest = 1,94 dan rerata posttest I = 2,34. Persentase peningkatannya sebesar 20,6%. Persentase peningkatan kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan kemampuan menganalisis lebih besar daripada metode ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan menginterpretasi. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan menganalisis. 2,5 Mean 2 2,34 1,74 1,94 1,77 1,5 1 0,5 0 Kel Kontrol Pretest Kel Eksperimen Posttest I Gambar 4. 8 Gambar Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan yang dimiliki kelompok kontrol tidak meningkat secara signifikan dari pretest ke posttest I dengan M = 0,030; SD = 0,696; SE = 0,148; df = 21 dan harga p = 0,837 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Kemampuan yang dimiliki kelompok eksperimen meningkat secara signifikan dari pretest ke posttest I dengan M = 0,402; SD = 0,510; SE = 0,104; df = 23 dan harga p = 0,001 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. 93

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.9. Berikut grafik yang frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok terhadap kemampuan menganalisis. 7 Frekuensi 8 6 4 2 3 0 3 3 1 1 3 5 4 5 3 3 2 2 1 0 -1 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1 1,33 Gain Score Kel Kontrol Kel Eksperimen Gambar 4. 9 Gambar Gain Score Grafik 4.7 menunjukkan bahwa gain score terendah pada kelompok kontrol adalah -1,00, sedangkan gain score terendah pada kelompok eksperimen adalah 0,67. Gain score tertinggi kelompok kontrol dan eksperimen adalah 1,33. Namun frekuensi siswa yang mendapat nilai ≥ 0,33 pada kelompok kontrol berjumlah 10 anak, sedangkan kelompok eksperimen berjumlah 15 anak. Nilai 0,33 merupakan nilai tengah gain score yang yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,33 pada kelompok kontrol sebesar 45%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 63% (lihat Lampiran 4.7.3). Hal ini berarti 45% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan ceramah. Sebaliknya 63% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan perhitungan tersebut, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada metode ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Peneliti menggunakan uji statistik parametrik Paired samples t-test karena data yang diuji berdistribusi normal (Field, 2009: 325). Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan 94

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.10). Tabel 4. 28 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Eksperimen t 0,208 3,860 t2 0,04 14,90 df 21 23 r (effect size) 0,05 0,63 R2 0,003 0,40 % 0,3 40 Kategori Efek Kecil Besar Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = 0,031; SD = 0,697; SE = 0,149; df = 21 dan p = 0,837 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil uji statistik pada kelompok eksperimen M = 0,403; SD = 0,511; SE = 0,104, df = 23 dan p = 0,001 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok eksperimen r = 0,63 setara dengan 40% yang masuk kategori efek besar dan pada kelompok kontrol r = 0,05 setara dengan 0,03% yang masuk kategori efek kecil. 3. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah korelasi rerata pretest dan posttest I positif dan signifikan. Tujuan lainnya untuk mengendalikan ancaman terhadap validasi internal penelitian yaitu regresi statistik. Terjadi regresi statistik jika hasil korelasinya negatif dan signifikan. Regeresi statistik adalah kecenderungan siswa yang mendapat skor pretest lebih tinggi akan mendapat skor lebih rendah pada posttest. Begitu pula dengan siswa yang mendapat skor pretest lebih rendah akan mendapat skor lebih tinggi pada posttest. Uji korelasi menggunakan data skor pretest dan posttest I. Uji korelasi pada kelompok kontrol dan eksperimen menggunakan rumus Pearson 95

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Correlation karena kedua data berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 atau P=Q (Priyatno, 2012: 45). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.11). Tabel 4. 29 Hasil Uji Korelasi Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Rumus Pearson Correlation r 0,113 0,612 p 0,616 0,001 Keterangan Positif dan tidak signifikan Positif dan signifikan Berdasarkan hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol harga p = 0,616 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada korelasi yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,001 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada korelasi yang signifikan antara skor pretest ke posttest I. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol (r = 0,113), sedangkan pada kelompok eksperimen (r = 0,612) artinya kedua kelompok memiliki korelasi yang positif antara skor pretest dan posttest I. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest. Sebaliknya para siswa yang mendapat skor rendah pada pretest akan mendapatkan skor rendah pula pada posttest I. Dengan demikian, kondisi ini ideal sehingga ancaman pada regresi statistik tidak terjadi dan dapat dikendalikan. Ancaman tersebut tidak dapat dikendalikan jika menunjukkan korelasi yang negatif dan signifikan atau P≠Q. 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan hasil pekerjaan siswa pada soal posttest II. Jarak waktu mengerjakan posttest I dan posttest II kurang lebih satu minggu. Sebelum dilakukan uji retensi pengaruh perlakuan, maka dilakukan uji normalitas data pada skor posttest I dan posttest II untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor posttest I dan posttest II. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal. Berikut hasil uji 96

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI normalitas data skor Posttest I dan Posttest II pada kemampuan menganalisis kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat lampiran 4.3). Tabel 4. 30 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Aspek Posttest I Posttest II Posttest I Posttest II Eksperimen Keputusan Normal Normal Normal Normal p 0,200 0,195 0,150 0,122 Normalitas distribusi data normal sehingga analisis statistik menggunakan Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada berbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 296). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakukan terhadap kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.12). Tabel 4. 31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I dan Posttest II No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Rerata Posttest Posttest I II 1,77 1,64 2,35 1,86 Peningkatan (%) Uji Statistik p Keteranngan -8 Paired Samples ttest 0,414 Tidak Signifikan Signifikan -21 0,006 Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol M =-0,136; SD =0,768; SE =0,164; df = 21 dan p =0,414 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest I ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M =-0,485; SD =0,793; SE =0,162; df = 23 dan p =0,006 (p < 0,05), maka Hnul ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen mengalami penurunan skor dari posttest I ke posttest II. Persentase penurunan skor posttest I ke posttest II kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil perhitungan bahwa penurunan skor pada kelompok kontrol sebesar -8% dan -21% pada kelompok eksperimen. Berikut grafik perbandingan skor pada kedua kelompok terhadap kemampuan menganalisis. 97

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mean 3 2,3471 1,9446 2 1,8617 1,7418 1 1,7727 1,6364 0 Pretest Posttest1 Kontrol Posttest2 Eksperimen Gambar 4. 10 Gambar Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Untuk memastikan apakah pencapaian skor posttest II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan uji statistik terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II. Uji statistik pada kelompok kontrol dan eksperimen menggunakan Paired Samples t-test karena data skor pretest dan posttest II berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak H null adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12). Tabel 4. 32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest dan Posttest II No Kelompok Rerata Pretest Posttest II Peningkatan (%) Uji Statistik p Keteranngan Paired Samples ttest 0,369 Tidak Signifikan 0,536 Tidak Signifikan 1 Kontrol 1,74 1,64 -6 2 Eksperimen 1,94 1,86 -4 Data di atas menunjukkan harga p kelompok kontrol 0,369 (p > 0,05), sedangkan harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,536 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak dan Hi ditolak. Hal ini berarti pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan penurunan yang signifikan dari hasil pretest ke posttest II. 98

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2. Pembahasan 4.2.1 Pengendalian Ancaman Validitas Internal Penelitian ini membutuhkan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Perlu adanya kontrol terhadap variabel di luar variabel penelitian. Mengontrol variabel berarti peneliti melakukan pengendalian, sehingga peneliti dapat menghilangkan pengaruh variabel di luar variabel yang diteliti. Tujuan mengontrol variabel tersebut adalah untuk menghilangkan bias yang kemungkinan muncul karena pengaruh variabel di luar yang diteliti. Berikut tabel ancaman validitas. Tabel 4. 33 Ancaman dalam Penelitian No 1 Ancaman Validitas Sejarah Tingkat ancaman Rendah 2 Difusi treatmen 3 Perilaku kompensatoris Rendahmenengah Rendahmenengah 4 Maturasi rendah 5 Regresi statistik Rendah 6 Mortalitas Rendah 7 Pengujian Rendah 8 Instrumentasi 9 Lokasi Rendahmenengahtinggi Menengahtinggi 10 Karakteristik subjek Implementasi 11 Menengahtinggi Tinggi Terkendali Cara pengendalian Ya/Tidak Ya - Penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat (dua minggu). Ya - Tidak ada komunikasi tentang STAD ke kelompok kontrol secara sistematis. Tidak - Kelompok kontrol tidak diberi treatment STAD sesudah penelitian selesai. Ya - Penelitian dilaksanakan dalam waktu yang singkat (dua minggu). - Penggunaan pretest dan posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Ya - Hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif dan tidak signifikan untuk kelompok kontrol. - Hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif dan signifikan untuk kelompok eksperimen. Ya - Penelitian dilaksanakan dalam waktu yang singkat (dua minggu). - Semua siswa hadir saat pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Ya - Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama diberi pretest. Ya - Mememriksa kelayakan instrument. - Menggunakan instrument yang sama saat pretest dan posttest. Ya - Lingkungan dan kondisi ruang kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih sama. Ya - Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. Ya - Pembelajaran diimplementasikan oleh guru yang sama untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 99

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tabel 4.33 menunjukkan ancaman yang dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah sejarah, difusi treatment, maturasi, regresi statistik, mortalitas, pengujian, instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, dan implementasi. Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan yaitu perilaku kompensatoris dengan tingkat ancaman rendah-menengah. Ancaman tersebut tidak berdampak secara praktis terhadap kredibilitas kesimpulan yang diambil. Dengan demikian, 10 dari 11 ancaman validasi internal bisa dikendalikan dengan baik dan tidak ada temuan data yang menunjukkan ancaman yang berdampak sistemik. Maka kredibilitas kesimpulan penelitian bisa dipercaya. Berikut penjelasan ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. Selama penelitian dijumpai peristiwa yang dapat mengancam validitas internal penelitian. Setiap ancaman dikendalikan dengan solusi yang ada. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang sama yaitu di salah satu SD swasta tempat penelitian. Selama penelitian kelas VB ditempati kelompok kelompok kontrol, sedangkan kelas VA ditempati kelompok eksperimen. Meskipun ruangannya berbeda tetapi sarana dan prasarana, dan situasinya adalah sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal berupa lokasi dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan cara diundi menggunakan kelas yang ada. Setiap kelompok sudah ditentukan model pembelajarannya. Agar tidak terjadi bias, pembelajaran pada kedua kelompok dilakukan oleh guru yang sama. Yang membedakan adalah model pembelajaran yang digunakan. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa implementasi. Perbedaan guru memiliki gaya mengajar yang berbeda pula sehingga bisa jadi berpengaruh terhadap hasil posttest. Perbedaan gaya mengajar berkaitan dengan kepribadian maupun pembawaan dalam menyampaikan materi. Tidak hanya guru, instrumen atau karakteristik alat pengumpulan data yang digunakan pada kedua kelompok adalah sama. Instrumen berlaku dari pretest hingga posttest II. Instrumen diperiksa terlebih dahulu diberikan pada siswa untuk mengindari kecacatan instrumen. Hal tersebut bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa instrumentasi. Meskipun demikian, ternyata siswa mengalami kebosanan dalam mengerjakan soal yang sama terutama saat 100

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI posttest II. Peneliti mengantisipasi dengan cara memotivasi siswa agar tetap menyelesaikan soal dengan baik dalam bentuk pemberian hadiah berupa coklat. Selain itu, pretest yang berlaku untuk kelompok kontrol dan eksperimen juga mengurangi ancaman terhadap validitas internal pengujian. Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa instrumentasi dapat dikendalikan. Pada saat pretest kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen hadir semua sehingga tidak terjadi masalah untuk memberikan treatmen pada tahap selanjutnya. Dengan demikian, ancaman validitas internal berupa moratalitas dapat dikendalikan. Tujuan lain dari pretest yaitu mengetahui karakter siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen, apakah kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama atau tidak. Selain itu, untuk melihat besar pengaruh perlakuan dengan melihat selisih skor pretest dan posttest. Dalam hal ini ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan. Pelasaksaan penilitian ini berlangsung kurang lebih 2 minggu untuk mengendalikan ancaman validitas internal sejarah, maturasi, dan mortalitas. Tujuannya agar siswa tidak mengalami kebosanan dalam belajar dan untuk mengantisipasi terjadi kegiatan yang kebetulan menggunakan materi sama dengan treatment. Dalam pelaksanaannya tidak kegiatan yang berkaitan dengan materi penelitian. Ancaman validitas internal berupa difusi treatment atau kontaminasi berhasil dikendalikan dalam penelitian ini. Bisa jadi siswa baik di dalam maupun di luar sekolah terjadi komunikasi berkaitan dengan treatment penelitian tanpa sepengetahuan peneliti. Maka, peneliti memberikan solusi dengan memberikan pengertian usai pembelajaran kepada kedua kelompok agar tidak saling memperlajari treatment setiap kelompok. Ancaman validitas internal berupa kompensatoris tidak berhasil dikendalikan dalam penelitian ini. Peneliti tidak mengetahui bagimana kondisi siswa khususnya kelompok kontrol yang mengalami demoralisasi seperti iri dan dikorbankan sehingga tidak kooperatif. Secara etika solusinya memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran koooperatif tipe STAD seperti kelompok eksperimen selesai penelitian, tetapi keterbatasan waktu guru mitra yang tidak 101

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memungkinkan lagi untuk melakukan pembelajaran kooperatif kepada kelompok kontrol. 4.2.2 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD terhadap Kemampuan menginterpretasi Sebaran data posttest pada kemampuan menginterpretasi menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapatkan skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama yaitu mengidentifikasi organ pernapasan hewan. Kelompok kontrol memiliki peningkatan sebanyak 2 orang siswa pada skor 3 dan sebanyak 1 orang siswa pada skor 4. Kelompok eksperimen memiliki peningkatan sebanyak 6 orang siswa pada skor 3 dan sebanyak 6 orang siswa pada skor 4. Indikator kedua yaitu mengemukakan alasan terhadap perilaku hewan. Kelompok kontrol memiliki peningkatan sebanyak 6 orang siswa pada skor 3 dan tidak mengalami peningkatan pada skor 4. Kelompok eksperimen memiliki peningkatan sebanyak 4 orang siswa pada skor 3 dan sebanyak 2 orang siswa pada skor 4. Indikator ketiga yaitu menjelaskan perbedaan cara pernapasan pada hewan. Kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan pada skor 3 dan 4. Kelompok eksperimen memiliki peningkatan sebanyak sebanyak 2 orang siswa pada skor 4. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh kemampuan menginterpretasi sebesar 10% atau dalam kategori menengah. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan sebesar r = 0,31 atau 10%. Hal ini berarti, model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh sebesar 10%, sedangkan sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari yang mempengaruhi yaitu motivasi, konsentrasi, intelegensi, minat, dan kondisi tubuh. Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kemampuan menginterpretasi pada kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan dan kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari persentase 102

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peningkatan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 23,7%. Sedangkan peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar 7,8%. Uji besar pengaruh rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki harga r sebesar 0,76 atau 58% (kategori besar). Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki harga r sebesar 0,21 atau 4% (kategori kecil). Pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor yang positif dan signifikan sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan skor yang positif dan tidak signifikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji korelasi antara rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen, harga p sebesar 0,000 (p < 0,05) berarti mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,719 (p > 0,05). Hal ini berarti pada kelompok kontrol mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,081 dan kelompok eksperimen sebesar 0,656. Harga Pearson Correlation menunjukkan nilai positif pada kelompok kontrol dan eksperimen. Hal ini berarti siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I mendapat rerata skor tinggi. Kelompok kontrol mengalami penurunan tidak signifikan dan kelompok eksperimen mengalami penurunan yang signifikan pada kemampuan menginterpretasi. Hal ini dibuktikan dengan uji retensi pengaruh perlakuan kedua kelompok yang menunjukkan harga p kelompok kontrol lebih dari 0,05 dan harga p kelompok eksperimen kurang dari 0,05. Harga p pada kelompok kelompok kontrol sebesar 0,246 dan harga p kelompok eksperimen sebesar 0,000. Persentase penurunan kelompok kontrol sebesar -8%, sedangkan kelompok eksperimen mengalami penurunan sebesar -22%. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan kedua kelompok menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini ditunjukkan dengan harga p > 0,05. Harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,480 (p > 0,05) dan pada kelompok kontrol sebesar 0,895 (p > 0,05). 103

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil perhitungan gain score pada kemampuan menginterpretasi diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33 dengan penerapan metode ceramah sebanyak 9 siswa, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebanyak 19 siswa. Dengan demikian, 79% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 41% kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V semester gasal 2018/2019. Hasil analisis data menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menginterpretasi siswa. Pengaruh ini dapat dilihat pada uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan harga p sebesar 0,038 (p < 0,05), hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sehingga kesimpulan pada hipotesis I adalah model pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menginterpretasi. 4.2.3 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD terhadap Kemampuan menganalisis Sebaran data posttest pada kemampuan menganalisis menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapatkan skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama yaitu menjelaskan fungsi organ pernapasan pada hewan. Kelompok kontrol mengalami penurunan pada skor 3 dan mengalami peningkatan sebanyak 2 orang siswa pada skor 4. Kelompok eksperimen memiliki peningkatan sebanyak 4 orang siswa pada skor 3 dan mengalami penurunan perolehan skor 4. Indikator kedua yaitu mengidentifikasi perbedaan fungsi organ pernapasan pada hewan. Kelompok kontrol memiliki peningkatan sebanyak 1 orang siswa pada skor 3 dan tidak mengalami peningkatan pada skor 4. Kelompok eksperimen memiliki peningkatan sebanyak 7 orang siswa pada skor 3 dan sebanyak 4 orang siswa pada skor 4. 104

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Indikator ketiga yaitu menganalisis fungsi organ pernapasan hewan sesuai tempat hidupnya. Kelompok kontrol memiliki peningkatan sebanyak 2 orang siswa pada skor 3 dan mengalami peningkatan sebanyak 1 orang siswa pada skor 4. Kelompok eksperimen memiliki peningkatan sebanyak sebanyak 9 orang siswa pada skor 3 dan mengalami penurunan pada perolehan skor 4. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh kemampuan menganalisis sebesar 9% atau dalam kategori menengah. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan sebesar r = 0,30 atau 9%. Hal ini berarti, model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh sebesar 10%, sedangkan sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari yang mempengaruhi yaitu motivasi, konsentrasi, intelegensi, minat, dan kondisi tubuh. Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kemampuan menganalisis pada kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan dan kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari persentase peningkatan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 20,6%. Sedangkan peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar 1,7%. Uji besar pengaruh rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki harga r sebesar 0,63 atau 40% (kategori besar). Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki harga r sebesar 0,05 atau 0,3% (kategori kecil). Pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor yang positif dan signifikan sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan skor yang positif dan tidak signifikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji korelasi antara rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen, harga p sebesar 0,001 (p < 0,05) berarti mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,616 (p > 0,05). Hal ini berarti pada kelompok kontrol mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Hasil Pearson Correlation 105

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada kelompok kontrol sebesar 0,113 dan kelompok eksperimen sebesar 0,612. Harga Pearson Correlation menunjukkan nilai positif pada kelompok kontrol dan eksperimen. Hal ini berarti siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I mendapat rerata skor tinggi. Kelompok kontrol mengalami penurunan tidak signifikan dan kelompok eksperimen mengalami penurunan yang signifikan pada kemampuan menganalisis. Hal ini dibuktikan dengan uji retensi pengaruh perlakuan kedua kelompok yang menunjukkan harga p kelompok kontrol lebih dari 0,05 dan harga p kelompok eksperimen kurang dari 0,05. Harga p pada kelompok kelompok kontrol sebesar 0,414 dan harga p kelompok eksperimen sebesar 0,006. Persentase penurunan kelompok kontrol sebesar -8%, sedangkan kelompok eksperimen mengalami penurunan sebesar -21%. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan kedua kelompok menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini ditunjukkan dengan harga p > 0,05. Harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,536 (p > 0,05) dan pada kelompok kontrol sebesar 0,369 (p > 0,05). Hasil perhitungan gain score pada kemampuan menganalisis diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33 dengan penerapan metode ceramah sebanyak 10 siswa, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebanyak 15 siswa. Dengan demikian, 63% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 45% kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Hipotesis II pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V semester gasal 2018/2019. Hasil analisis data menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menganalisis siswa. Pengaruh ini dapat dilihat pada uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan harga p sebesar 0,043 (p < 0,05), hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sehingga kesimpulan pada 106

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hipotesis II adalah model pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menganalisis. 4.2.4 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. Hasil penelitian memperlihatkan selisih skor kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hal ini terjadi karena model pembelajaran yang diterapkan pada kedua kelompok berbeda. Perbedaan ini teletak pada model pembelajaran yang diterapkan. Kelompok kontrol menerapkan model konvensional dengan metode ceramah. Kegiatan pembelajaran di kelompok kontrol, siswa mendengarkan dan beberapa siswa menulis penjelasan dari guru. Di kelompok eksperimen, pembelajaran menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Di kelompok eksperimen lebih banyak dilakukan siswanya dalam melakukan kegiatan untuk memahami materi, sedangkan guru membimbing dan menjadi fasilitator. Suasana di kelas eksperimen juga terlihat berbeda dengan kelompok kontrol, di mana para siswa saling berinteraksi dalam kelompoknya untuk mengerjakan tugas guna mencapai tujuan bersama. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap meningkat tidaknya kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. Pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial di antara kelompokkelompok pembelajar yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajaran anggota-anggota yang lain (Huda, 2011: 29). Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya bahwa model pembelajaran tipe STAD dapat memudahkan siswa khususnya dalam meningkatkan kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis daripada metode ceramah. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini mengukur peningkatan kemampuan setiap siswa melalui kuis-kuis yang dilakukan setelah siswa mempelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya. Hasil skor kuis setiap siswa merupakan penentu skor akhir dari kelompok atau tim. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan membantu mereka mengerjakan 107

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kuis-kuis guna mendapatkan skor yang tinggi demi keberhasilan kelompok atau tim (Slavin, 2016: 144). Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap hasi belajar siswa (Sunilawati, Dantes, dan Candiasa, 2013). Hasil penelitian ini menunjukkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berdampak lebih baik secara signifikan terhadap hasil belajar matematika dibandingkan dengan konvensional. Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (Meo, 2017). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPS antara siswa yang belajar menggunakan model Student Teams Achievement Division (STAD) dengan siswa yang belajar menggunakan model konvensional. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap retensi siswa (Adrian, Degeng, dan Utaya, 2016). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pembelajaran kooperatif STAD terhadap retensi siswa kelas V pada mata pelajaran IPS. Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Pragramme for International Student Assessment) pada 2012 Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara di dunia pada mata pelajaran IPA (OECD, 2014: 5). Pada mata pelajaran yang sama, hasil PISA pada 2015 Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara di dunia (OECD, 2018: 3). Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan Indonesia mengalami peningkatan posisi di tahun 2015. Meskipun demikian, peningkatan pada 2015 khususnya pada mata pelajaran IPA masih di posisi 10 terbawah. Diduga bahwa rendahnya kemampuan siswa pada mata pelajaran IPA disebabkan faktor tertentu di antaranya menerapkan metode ceramah khususnya di SD, di mana guru lebih banyak berperan aktif sebagai sumber belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan Suyanto dan Jihad (2013: 6) yang menyatakan bahwa metode ceramah, siswa tidak dilibatkan dalam belajar terutama mencari sumber belajar atau disebut pasif. Meskipun telah ada berbagai model pembelajaran inovatif tetapi di Indonesia masih banyak menerapkan metode ceramah di berbagai jenjang pendidikan. Harapnnya, dengan penerapan model pembelajaran inovatif semakin memudahkan siswa dalam mengembangkan kemampuan diri yang nanti dapat bermanfaat dalam kehidupan selanjutnya. 108

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Usia SD kelas V atau 10-11 tahun termasuk tahap operasional konkret dalam teori perkembangan kognitif anak menurut Piaget, di mana pada tahap ini terjadi pertumbuhan kognitif yang luar biasa. Cara berpikir anak-anak pada tahapan ini tidak lagi berdasarkan persepsi, tetapi anak-anak lebih menggunakan pengalaman-pengalaman mereka sebagai acuannya (Schunk, 2012: 332-333). Maka hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme, di mana dalam teori ini mengatakan bahwa konstruktivisme adalah suatu pendekatan terhadap belajar yang berkeyakinan bahwa orang secara aktif membangun atau membuat pengetahuannya sendiri dan realitas ditentukan oleh pengalaman orang itu sendiri pula (Abimanyu, 2008: 22). Peran aktif siswa dalam pembelajaran sangat penting dalam suatu pembelajaran agar siswa dapat secara langsung. Jika penerapan metode ceramah yang tidak melibatkan siswa, maka terlihat bahwa prestasi maupun kemampuannyaa sulit berkembang. Pembelajaran yang tidak melibatkan siswa juga alasan rendahnya kemampuan IPA. Maka peneliti ingin melihat model pembelajaran inovatif yang sesuai tahap perkembangan kognitif. Serta meningkatkan kemampuan proses kognitif siswa dalam mata pelajaran IPA sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu model pembelajaran inovatif adalah model kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). STAD merupakan salah satu model pembelajaran pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif (Slavin, 2016: 143). Model STAD (Student Teams Achievement Division) adalah model yang memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik dan banyak subjek lainnya, pada tingkah sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Rusman, 2013: 213). Model ini sesuai dengan teori konstruktivisme menurut Vygotsky di mana siswa mengembangkan kemampuannyaa dengan melibatkan diri sebagai pembelajar yang aktif tetapi juga melibatkan orang lain dan lingkunganya (Kodir, 2011: 30 & Trianto, 2007: 41). Pembelajaran diselenggarakan sesuai tahap perkembangan kognitif yaitu operasional konkret maka digunakan media atau sumber belajar melalui kegiatan 109

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengkritisi video berita, gambar, dan percobaan untuk mengembangkan kemampuannyaa. Hal ini dilakukan karena jika hanya dengan berdiskusi tanpa alat sebagai pembantu siswa SD hasilnya bisa jadi tidak maksimal. Selain itu, teman juga bisa membantu siswa yang kekurangan dalam hal belajar sehingga belajar tidak berfokus hanya pada guru. Seiring berjalannya waktu, media maupun bantuan dapat di lepas jika siswa mampu menyelesaikan masalah secara mandiri atau tanpa bantuan baik guru dan teman atau disebut scaffolding. Sesuai dengan teori perkembangan kognitif anak menurut Vygotsky yang mengatakan bahwa siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi ketika mendapat bimbingan (scaffolding) dari seorang yang lebih ahli atau melalui teman sejawat yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Demikian juga Piaget berpendapat bahwa siswa akan mendapat pencerahan ide-ide baru dari seseorang yang memiliki pengetahuan atau memiliki keahlian (Piaget, dalam Suparno, 2003). Bantuan dapat dilakukan oleh guru atau teman sebaya berupa dorongan, petunjuk, peringatan, dan memberi contoh sehingga memungkinkan siswa tumbuh mandiri. Siswa dapat berkembangan dengan sendirinya tetapi tidak lepas dari kerja sama. Melalui kerja sama siswa belajar menyatukan ide-ide kemudian disampaikan kepada teman. Belajar secara berkolaborasi atau berpasangan dapat terjadi pada model pembelajaran kooperatif (Bransford, dalam Huda, 2011: 40). Scaffolding diibaratkan sebagai perancah yang digunakan untuk mendirikan satu gedung. Scaffolding akan dilepas jika gedung sudah kuat berdiri sendiri. Upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa pada mata pelajaran IPA salah satunya dengan mengembangkan kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis dalam proses kognitif Peter Facione. Dengan kata lain, yang dikembangkan tidak hanya daya ingat dan pemahaman saja, tetapi siswa dibimbing untuk menggunakan kreasinya dalam belajar seperti membuat suatu karya. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli psikologi dan pendidikan yang belakangan ini semakin menyadari bahwa anak-anak di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis (Desmita, 2007: 161). Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan yang menuntut 110

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa untuk mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria. Kemampuan menganalisis adalah kemampuan yang menuntut siswa agar dapat mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opini (Facione, 2007). Suasana kelas dan aktivitas antara pembelajaran dengan metode ceramah dan model pembelajaraan kooperatif tipe STAD menunjukkan adanya perbedaan. Suasana kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terlihat lebih ramai karena siswa berkesempatan berdiskusi untuk memecahkan masalah. Siswa mencari tahu dalam rangka memecahkan masalah dengan diskusi. Model pembelajaran ini melatih siswa agar berani berpendapat dan menghargai pendapat orang lain (Shoimin, 2014: 212). Siswa menyampaikan pemikirannya pada teman sehingga dapat saling mengisi gagasan serta melatih daya kritis siswa. Misalnya siswa menyampaikan pendapat namun kurang sesuai yang membuat teman kelompok kesal layaknya tidak bisa menerima pendapat orang lain. Pada penelitian ini juga menunjukkan kesesuaian teori yang sudah ada bahwa pembelajaran kooperatif dipercaya menjadi pembelajaran yang efektif bagi semua siswa, pembelajaran menjadi bagian integratif terhadap perubahan paradigma sekolah saat ini, dan pembelajaran yang mampu mendorong terwujudnya interaksi serta kerja sama yang sehat di antara guru-guru yang terbiasa bekerja secara terpisah dari orang lain (Huda, 2011: 59). Suasana kelas yang menggunakan metode ceramah berbeda dengan kelas yang mengguanaka model pembelajaran kooperatif tipe STAD, di mana kelas dengan metode ceramah sangat kondusif atau siswa lebih banyak diam mendengarkan penjelasan guru. Siswa menerima materi berdasarkan penjelasan secara lisan dan tertulis oleh guru. Dalam hal ini guru berperan aktif sebagai sumber belajar, sedangkan siswa kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam menyampaikan ide (Suyanto & Jihad, 2013: 6). Sehingga tidak heran bila siswa mudah bosan dan mengantuk ketika pembelajaran berlangsung. Metode ceramah tidak menggunakan media seperti video dan alat percobaan atau praktik seperti pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Artinya tidak 111

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memperhatikan karakter usia kelas V SD yaitu tahap operasional konkret menurut Piaget, di mana siswa berpikir dan menyelesaikan masalah berdasarkan hal nyata atau konkret. Lebih-lebih dapat dilihat (indera) dan dilakukan. Selain itu, siswa tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi dan kerja sama. Efek penerapan dapat terlihat pada hasil uji retensi pretest ke posttest I, di mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan yang lebih tinggi daripada penerapan metode ceramah di kelas kontrol. Akan tetapi hasil uji retensi dari pretest ke posttest II pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan pembelajaran dengan metode ceramah sama-sama mengalami penurunan. Hal ini terjadi dikarenakan siswa sudah bosan mengerjakan soal yang sama secara berulang-ulang dan pengerjaan soal posttest II dilakukan pada siang hari. Penelitian difokuskan meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan menginterpretasi dan mengnalisis materi system pernapasan pada hewan siswa kelas V di salah satu SD swasta Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis dengan memberi efek menengah. Dengan demikian, penelitian ini bisa menjadi langkah awal untuk mengembangkan penelitian selanjutnya tentang model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model lainnya dalam rangka berkontribusi meningkatkan kualitas pendidikan sebagaimana data yang ditunjukkan oleh PISA. 112

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan penutup yang membahas, kesimpulan, keterbatasan, dan saran. Kesimpulan menunjukkan hasil penelitian dan menjawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan yang ada selama pelaksanaan penelitian. Saran berisi masukkan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD. Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test menunjukkan skor rerata selisih kelompok eksperimen sebesar (M = 0,48, SE = 0,08) lebih tinggi daripada rerata selisih kelompok kontrol yaitu (M = 0,13, SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = - 2,13, p = 0,038 (p < 0,05). Besar pengaruh perlakukan (effect size) terhadap kemampuan menginterpretasi adalah r = 0,31 atau 10% yang setara dengan efek menengah. Dengan demikian, hasil penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V SD. Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test menunjukkan skor rerata selisih kelompok eksperimen sebesar (M = 0,40, SE = 0,10) lebih tinggi daripada rerata selisih kelompok kontrol yaitu (M = 0,03, SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan t(44) = - 2,08, p = 0,043 (p < 0,05). Besar pengaruh perlakukan (effect size) terhadap kemampuan menganalisis adalah r = 0,30 atau 9% yang setara dengan efek menengah. Dengan demikian, hasil penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. 113

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Kurangnya koordinasi dengan guru lain sehingga posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen dilaksanakan siang hari pukul 11.50 WIB-13.00 WIB dengan kondisi siswa yang sudah capek dan bosan mengerjakan soal yang sama dari pretest, posttest 1, posttest 1I. 5.2.2 Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan ke semua sekolah, karena penelitian ini terbatas pada siswa kelas V SD. 5.2.3 Ancaman terhadap validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan. 5.3 Saran 5.3.1 Peneliti perlu koordinasi dengan guru lain agar waktu pelaksanaan penelitian diketahui oleh guru lain dengan cara memberi jadwal pelaksanaan penelitian kepada guru-guru disalah satu SD swasta Yogyakarta agar penelitian dapat dilaksanakan pada pagi hari. 5.3.2 Penelitian disalah satu SD swasta ini dapat diujicobakan di Sekolah Dasar lain. 5.3.3 Peneliti sebaiknya lebih memperhatikan ancaman validitas internal terutaman perilaku kompensatoris supaya dapat dikendalikan dengan baik. 114

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Abimanyu, S. (2008). Strategi pembelajaran. Ditjen Dikti Depdiknas. Jakarta. Adrian, Degeng, & Utaya. (2016). Pengaruh pembelajaran kooperatif STAD terhadap retensi siswa kelas V Sekolah Dasar. Jurnal PendidikanVolume 1 Nomor 2. Diakses pada tanggal 14 Maret 2018, dari http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/article/view/6125 Arifin, Z. (1991). Evaluasi instruksional prinsip teknik dan prosedur. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2005). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Best, J. W. & Kahn, J. V. (2006). Research in education (tenth edition). Boston: Pearson Education Inc. Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education (6th ed.). London and New York: Routledge. Crain, W. (2007). Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Yogyakarta: pustaka belajar. Creswell, J. (2015). Risetpendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif dan kuantitatif. Yogyakarta: PustakaBelajar. Desmita. (2007). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Desmita. (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dahar. (2011). Theories belajar dan pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Facione, P. A. (2007). Critical thinking: What it is and why it counts. San Francisco: Insight Assessment. Diakses tanggal 7 Maret 2009, dariwww.Insight assessment.com/pdf_files/what&why2006.pdf Field, A. (2009). Discovering statistic using SPSS third edition. London: Sage. Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education, eighth edition. New York: McGraw Hill. Ghozali, I. (2006). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Huda, M. (2011). Cooperative learning: Metode, teknik, struktur dan model terapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 115

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Johnson, B. & Christensen, L. (2008). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches (3rd. Ed.). California: Sage Publications. Kargar, dkk. (2012). The effect of teaching critical and creative thinking skills on the locus of control and psychological well-being in adolescents. Diakses pada tanggal 14 Maret 2018, dari https://ac.elscdn.com/S1877042813012901/1-s2.0-S1877042813012901main.pdf?_tid=90beb90f-9b57-4c13 aa08 cda5 64642 729 &a cdnat =152 1600 550_6f68bfd0c33818d3b79b43a030cb21a4 Kirbas & Gunes. (2014). The effect of critical thinking disposition on entrepreneurship levels: A study on future teachers. Diakses pada tanggal 14 Maret 2018, dari https://ac.els-cdn.com/S1877042815006989/1-s2.0S1877042815006989-main .pdf ?_tid=1a9f20ec-8973-4985-aef2 a62 9a16 93af5 &acdnat =1521 599544 _c6c83b043d18dce7d7625fd9c6668a78 Krathwol, D. R. (2004). Methods of educational and social science research, an integrated approach, second edition. Illinois: Waveland. Kusumawati, H. (2017). Udara bersih bagi kesehatan buku tematik terpadu kurikulum 2013. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Margono, S. (2010). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Meo. (2017). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division (stad) terhadap prestasi belajari ps pada siswa kelasiv sdi bajawa kecamatan bajawa kabupaten ngada tahun ajaran 2015/2016. Jurnal Ilmiah Pendidikan Volume 4 Nomor 1. Diakses pada tanggal 14 Maret 2017, dari http://ejournal.citrabakti.ac.id/index.php/jipcb/article/view/85 Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: Pendekatan kualitatif dan kuantitatif (Ed. 7). Jakarta: PT Indeks. Nurgiyantoro. (2011). Penilaian pembelajaran bahasa. Yogyakarta: BPFE. OECD. (2014). PISA 2012 result: Whats students know and can do: Students performance in reading, mathematics, and science. Diakses tanggal 08 Juli 2018 dari http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-resultsoverview.pdf OECD. (2018). PISA 2015 result in focus. Diakses pada 20 Oktober 2018 dari https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf Pratiwi. (2014). Pengaruh penggunaan model discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa sma. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran volume 3 nomor 7. Diakses pada tanggal 14 116

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Maret 2018, http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/6488/6712 dari Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan nonparametrik dengan SPSS dan prediksi pertanyaan pendadaran skripsi dan tesis: Simple, praktis dan mudah dipahami untuk tingkat pemula dan menengah. Yogyakarta: Gava media. Rusman. (2012). Pembelajaran Tematik Terpadu. Jakarta: Rajawali Pers. Rusman. (2013). Model-model pembelajaran: Mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: PT. Rajagrafinda Persada. Salkind, N. J. (2009). Teori-teori perkembangan manusia. Bandung: Nusa media. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks. Samatowa, U. (2006). Bagaimana membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Nasional. Sanjaya, W. (2013). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana. Santoso, S. (2015). Menguasai SPSS 22: From basic to expert skills. Jakarta: PT. Gramedia. Santrock, J, W. (2014). Psikologi Pendidikan. Jakarta selatan: Salemba. Schunk, D. H. (2012). Learning theories. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Shoimin, A. (2014). 68 Model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Siregar, S. (2011). Statistika deskriptif untuk penelitian. Jakarta: Rajawali Press. Slavin, R. E. (2005). Cooperative learning teori, riset dan praktik. Diterjemahkan oleh: Yusron, Nurulita. Bandung: Nusa Media. Slavin, R. E. (2016). Cooperative learning teori, riset dan praktik. Diterjemahkan oleh: Yusron, Nurulita. Bandung: Nusa Media. Sugiyono. (2015). Metode penelitian pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: CV. Alfabeta. Suparno. (2003). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Suparno. (2006). Perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. 117

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sunilawati, Dantes, & Candiasa. (2013). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar matematika ditinjau dari kemampuan numerik siswa kelas IV SD. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Dasar Volume 3. Diakses pada tanggal 14 Maret 2017, dari http://pasca.undiksha.ac.id/ejournal/index.php/jurnal_pendas/article/view/513 Suparmi. (2012). Pembelajaran kooperatif dalam pendidikan multikultural. Jurnal Pembangunan Pendidikan: fondasi dan aplikasi volume 1 nomor 1. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017, dari download. Portalgaruda.org Suyanto & Jihad, A. (2013). Menjadi guru profesional: Strategi meningkatkan kualifikasi dan kualitas guru di era global. Yogyakarta: Erlangga. Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Widoyoko, E. P. (2009). Evaluasi program pembelajaran: Panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 118

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 119

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 1 Surat Ijin Penelitian 120

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 2 Surat Ijin Validitas Soal 121

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Eksperimen 122

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Kontrol 125

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 128

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 141

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 5 Lembar Kerja Siswa 151

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 1 Soal Uraian Nama : Kelas : Bacalah cerita ini untuk menjawab pertanyaan nomor 1 sampai 6! Jalan-Jalan ke Taman Kota Suatu hari Rina pergi berjalan-jalan ke sebuah taman kota. Di taman kota tersebut, terdapat bermacam-macam tanaman hias, kolam renang, dan kolam ikan. Rina merasa udara di taman kota sangat sejuk, karena banyak terdapat tanaman hias dan pepohonan di setiap sudut taman kota. Ia berjalan mendekat ke salah satu sudut untuk melihat bunga yang sedang bermekaran. Taman kota Tiba-tiba ada seekor belalang yang hinggap di sebuah daun. Rina penasaran melihat belalang tersebut, kemudian ia mencoba mengambil belalang tersebut dan memasukkannya ke dalam botol serta menutupnya dengan rapat agar belalang tidak terlepas kembali. Setelah itu, Rina kembali berjalan-jalan sambil membawa botol berisi belalang. Belalang hinggap di daun 157

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kolam Ikan Anjing sedang berenang Ketika Rina berjalan di sekeliling kolam renang, ia melihat seseorang sedang melatih anjingnya berenang. Kemudian, Rina kembali berjalan menuju sisi timur taman, di sana ia melihat sebuah akuarium besar dengan berbagai jenis ikan. Ikan-ikan tersebut dapat berenang dengan lincah di dalam air. Melihat kedua hal tersebut, Rina bertanya-tanya mengapa anjing memunculkan kepalanya ke permukaan air ketika berenang, sedangkan ikan mampu berenang dengan bebas dan lincah di dalam air. Lalu Rina berpikir, apa yang akan terjadi apabila anjing berenang seperti ikan? Sesampainya di rumah, Rina bertanya kepada kakaknya, “Kak, apakah anjing mampu tinggal di dalam air seperti ikan?”. Kakak Rina menjawab, “Tidak Rin, karena kedua hewan tersebut memiliki organ pernapasan yang berbeda”. Setelah mendengar jawaban dari kakaknya, Rina menuju ke kamarnya dan meninggalkan botol berisi belalang di meja ruang tamu. Kakak Rina menemukan botol tersebut dan melihat belalang telah terkulai lemas di dalam botol. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 1. a. Identifikasilah organ pernapasan hewan yang terdapat pada cerita di atas serta tuliskan 3 contoh hewan dengan organ pernapasan yang serupa! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 158

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Jelaskan 2 alasan, mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang? Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… c. Tuliskan perbedaan cara bernapas antara anjing dan ikan! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 2. a. Apakah fungsi organ pernapasan hewan itu sama? Jelaskan alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… b. Jelaskan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbedabeda? Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… c. Berdasarkan cerita di atas, apakah hewan yang memiliki organ pernapasan seperti anjing tidak dapat hidup di air dan hewan yang memiliki organ pernapasan seperti ikan tidak dapat hidup di darat? Jelaskan dan berikan 1 contoh! Jawab:……………………………………………………………………… 159

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ……..……………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 3. a. Menurutmu benar atau salah bahwa anjing tidak mampu tinggal di dalam air dalam seperti ikan? Berikan 1 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… b. Menurutmu benar atau salah bahwa hewan dapat bernapas dengan baik jika organ pernapasan hewan sesuai dengan tempat hidupnya? Berikan 2 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… c. Menurutmu benar atau salah bahwa belalang yang dibawa Rina lamakelamaan akan mati? Berikan 2 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 4. a. Menurutmu apa yang seharusnya dilakukan oleh Rina agar belalang yang dibawanya pulang tidak terkulai lemas di dalam botol plastik? Berikan 1 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 160

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ………………………………………………………………………………… b. Menurutmu apabila serangga lain diperlakukan sama dengan belalang, apa yang akan terjadi? Berikan 1 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… c. Menurutmu apabila ikan dibiarkan berada di daratan dalam waktu yang lama, apa yang akan terjadi? Berikan 1 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 5. a. Mengapa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas? Jelaskan 2 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… b. Jika diperhatikan, saat ikan berenang di dalam air mulutnya selalu membuka dan menutup. Demikian juga dengan tutup insangnya yang selalu membuka dan menutup. Mengapa demikian? Jelaskan 2 alasan! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 161

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Bagaimana 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang? Jelaskan! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 6. a. Saat Rina menemukan belalang, ia memasukkan ke dalam botol plastik dan menutupnya dengan rapat agar tidak terlepas. Setujukah kamu dengan tindakan yang dilakukan oleh Rina? Jelaskan 2 alasanmu! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… b. Sebutkan minimal 2 tindakan yang akan kamu lakukan agar belalang tidak terkulai lemas seperti pada cerita di atas! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… c. Sebutkan minimal 2 tindakan yang dapat kamu lakukan untuk memelihara ikan dengan benar! Jawab:………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 162

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban 1. a. 3 contoh hewan dengan organ pernapasan yang serupa: - Belalang bernapas dengan trakea Contoh lain: jangkrik, kupu-kupu, lebah - Anjing bernapas dengan paru-paru Contoh lain: kucing, macan, kambing - Ikan bernapas dengan insang - Contoh lain: kecebong, kuda laut, udang b. 2 alasan anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang: - Anjing memiliki organ pernapasan berupa paru-paru - Menghindari masuknya air ke dalam hidung - Untuk menghirup udara - Supaya tetap dapat bernapas c. Perbedaan cara bernapas antara anjing dan ikan: - Anjing: melalui rongga hidung, faring, trakea, bronkus, hingga paruparu. Pada waktu anjing menarik nafas, maka secara otomatis otot diagrafma akan berkontraksi. Dengan begitu, tulang rusuk juga akan berkontraksi sehingga rongga dada mengembang. Mengembangnya rongga dada akan membuat tekanan dalam rongga dada akan menjadi berkurang, sehingga udara yang dihirup melalui hidung akan masuk ke dalam paru-paru dan membuat paru-paru mengembang. Selanjutnya terjadi suatu proses yang dinamakan fase ekspirasi pernapasan yang ditantai dengan pelepasan udara melalui hidung. Proses ini disebabkan oleh melemasnya otot diafragma dan otot tulang rusuk dan juga dibantu oleh kontraksi otot perut. Melemasnya otot diafragma membuat otot diafragma ini akan melengkung ke atas, sedangkan tulang rusuk akan menurun yang mengakibatkan rongga dada mengecil dan tekanannya naik. Meningkatnya tekanan rongga dada ini akan membuat udara akan keluar dari paru-paru melalui sistem pernapasan. - Ikan: tahap I (pemasukan) mulut ikan membuka dan tutup insang menutup sehingga air masuk rongga mulut, kemudian menuju lembaran insang, di sinilah oksigen yang larut dalam air diambil oleh darah, selain 163

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI itu darah juga melepaskan karbondioksida dan uap air dan tahap II (pengeluaran) mulut menutup dan tutup insang membuka sehingga air dari rongga mulut mengalir keluar melalui insang. Air yang dikeluarkan ini telah bercmpur dengan CO2 dan uap air yang dilepaskan darah untuk ikan. 2. a. Alasan dari fungsi organ pernapasan hewan itu sama: Sama. Fungsi organ pernapasan hewan itu sama yaitu untuk bernapas, hanya saja yang membedakan adalah tempat penggunaannya (sesuai habitat). Misalnya: - Fungsi trakea pada belalang adalah untuk bernapas (darat). - Fungsi paru-paru pada anjing adalah untuk bernapas (darat). - Fungsi insang pada ikan adalah untuk bernapas (air). b. 2 alasan hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda: - Hewan memiliki tempat hidup yang berbeda-beda. - Hewan memiliki jenis yang berbeda-beda c. Hewan yang memiliki organ pernapasan seperti anjing ada yang dapat hidup di air meskipun memiliki organ pernapasanan berupa paru-paru, contohnya paus. Akan tetapi, hewan yang memiliki organ pernapasan seperti ikan tidak dapat hidup di darat karena organ pernapasannya adalah insang sehingga hewan seperti ikan hanya bisa hidup di air, contohnya ikan mas. 3. a. Benar. Alasan: - Anjing memiliki organ pernapasan yang berbeda dengan ikan, anjing bernapas menggunakan paru-paru sedangkan ikan bernapas menggunakan insang. - Tempat hidup anjing berbeda dengan ikan, anjing hidup di darat sedangkan ikan hidup di air. 164

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Benar. Alasan: - Hewan hanya akan mendapatkan suplai oksigen sesuai dengan tempat hidupnya. - Hewan tersebut akan mati, apabila organ pernapasan yang dimiliki hewan tidak sesuai dengan tempat hidupnya. c. Benar. Alasan: - Belalang tidak mendapat suplai oksigen untuk bernapas karena Rina menutup botol dengan rapat. - Tidak ada sirkulasi udara di dalam botol plastik karena Rina tidak membuat lubang pada botol. 4. a. 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina: - Apabila Rina ingin membawa belalang tersebut, Rina harus menempatkan belalang tersebut di wadah yang memiliki sirkulasi udara yang cukup - Rina harus membuat lubang pada botol plastik atau menempatkan belalang tersebut pada wadah yang berjaring. b. Serangga akan mengalami hal serupa dengan belalang, yaitu serangga dapat terkulai lemas karena kekurangan oksigen dan bahkan serangga dapat mati. c. Apabila terlalau lama di daratan, ikan akan mati, karena ikan hanya dapat mendapatkan suplai oksigen melalui air. 5. a. 2 alasan saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas: - Rina menutup botol plastik dengan rapat, sehingga tidak ada proses pertukaran udara di dalam botol plastik dan mengakibatkan belalang tidak mendapat suplai oksigen. - Rina tidak membuat lubang udara. 165

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Gerakan mulut dan tutup insang menunjukkan bahwa ikan sedang bernafas. - Saat oksigen yang ada di dalam air akan berdifusi ke dalam pembuluh kapiler darah yang terdapat pada lembaran insang, maka mulut terbuka, air masuk ke dalam mulut dan tutup insang menutup. - Demikian juga karbondioksida dari pembuluh darah akan berdifusi ke dalam air, maka mulut tertutup, tutup insang terbuka, dan air keluar melalui insang. c. 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang: Proses pernapasan pada serangga (belalang) terjadi sebagai berikut: - Saat serangga melakukan pernapasan, udara masuk trakea melalui bagian yang terletak pada permukaan tubuh. Bagian tersebut dinamakan spirakel. Spirakel dilindungi oleh bulu halus dengan fungsi sebagai penyaring debu dan benda asing yang masuk menuju trakea. - Setelah itu, udara tersebut akan melewati pipa kecil yang disebut trakeola. Trakeola juga ini akan terhubung dengan membran sel. Trakeola memiliki ujung kecil tertutup dan mengandung cairan dengan warna biru gelap. - Oksigen akan berdifusi masuk ke dalam sel tubuh melalui trakeola, sedangkan karbondioksida akan berdifusi keluar. - Setelah melewati trakeola, karbondioksida akan dikeluarkan ke seluruh tubuh melewati trakea. 6. a. Tidak setuju. - Belalang tidak mendapat suplai oksigen yang cukup untuk bernapas - Tidak ada sirkulasi udara - Belalang dapat terkulai lemas bahkan mati b. 2 tindakan yang dilakukan agar belalang tidak terkulai lemas setelah dimasukkan ke dalam botol plastik seperti pada cerita: - Tidak menangkap belalang, agar belalang dapat hidup bebas - Apabila ingin menangkap belalang dan memasukkan ke dalam botol plastik, maka harus dilubangi agar ada sirkulasi udara yang masuk. 166

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Tindakan yang dapat dilakukan untuk memelihara ikan dengan benar: - Membersihkan akuarium atau kolam maksimal dua minggu sekali. - Mengganti air akuarium atau kolam maksimal dua minggu sekali. - Akuarium atau kolam diberi airator untuk menghasilkan gelembung udara agar ikan dapat bernapas dengan baik - Memberi makan ikan sehari dua kali. - Gunakan tanaman air di dalam akuarium atau kolam agar ikan merasa hidup di habitat aslinya. 167

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian Variabel Aspek Menginterpretasi Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menganalisis Menguji gagasangagasan No. Soal 1a 1b 1c 2a Kriteria Skor Jika menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 1 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika tidak menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menuliskan 2 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang Jika menuliskan 2 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang tetapi 1 alasan salah Jika menuliskan 1 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang dengan benar Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menuliskan cara bernapas anjing dengan menyebut 5 organ dan ikan dengan menyebut 2 tahap Jika menuliskan cara bernapas anjing dengan menyebut 4organ dan ikan dengan menyebut 1 tahap Jika menuliskan salah satu cara bernapas anjing dengan menyebut 5 organ atau ikan dengan menyebut 2 tahap Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab sama dan memberikan alasan dengan disertai 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika menjawab sama dan memberikan alasan dengan disertai 1 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika menjawab sama dan tidak memberikan alasan dengan disertai 3 contoh hewan yang memiliki 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 168

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Mengevaluasi Menilai tidaknya klaim sah klaim- Menilai sah tidaknya argumen-argumen 2b 2c 3a 3b Jika menyebutkan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda Jika menyebutkan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda tetapi 1 alasan salah Jika menyebutkan 1 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjelaskan 2 poin dengan tepat Jika menjelaskan 2 poin tetapi 1 poin salah Jika menjelaskan 1 poin dengan tepat Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 169

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menarik Kesimpulan Menguji bukti bukti- Menerka alternatifalternatif Menarik kesimpulan Mengeksplanasi Menjelaskan hasil penalaran 3c 4a 4b 4c 5a 5b Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina Jika menjawab 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah namun alasan benar Jika menjawab pertanyaan dengan tepat namun alasan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah namun alasan benar Jika menjawab pertanyaan dengan tepat namun alasan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas Jika menjawab 2 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas, tetapi 1 alasan salah Jika menjawab 1 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 170

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Meregulasi Diri Refleksi diri Koreksi diri Koreksi diri 5c 6a 6b 6c dan insangnya selalu membuka dan menutup. Jika menjawab 2 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup, tetapi 1 alasan salah Jika menjawab 1 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup. Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 3 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 2 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 1 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan dengan benar Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan dengan benar Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan yang salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas Jika menjawab 2 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar Jika menjawab 2 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 171

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Expert Judgement Variabel Menginterpretasi No. Soa l 1a 1 Validator 2 3 4 4 Komentar (Saran Perbaikan) Rerat a 3 3,67 1b Menganalisis Mengevaluasi Menarik Kesimpulan Mengeksplanasi Meregulasi Diri 1c 2a 2b 2c 3a 3b 3c 4a 4b 4c 5a 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 2 4 3 5b 5c 4 4 4 4 4 3 6a 6b 6c 4 4 4 71 3,94 4 4 4 72 4 3 3 4 60 3,33 Total Skor Rerata 4,00 4,00 3,67 3,33 4,00 3,67 3,67 4,00 3,67 3,33 4,00 3,67 4,00 3,67 3,67 3,67 4,00 Validator 3: Kata tanya yang digunakan kurang sinkron Validator 3: Apakah gambar yang diberikan representatif? Validator 1: Beri keterangan jika harus 2 alasan! Validator 3: Menganalisis dan menilai tidak sama Validator 1: subskill item soal 5c ditukar dengan subskill item soal 5b Validator 1 Instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Validator 2 Instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Validator 3 Instrumen sangat diimplementasikan. layak Keterangan: 4 : sangat sesuai 3 : sesuai 2 : tidak sesuai 1 : sangat tidak sesuai 172

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kategori Kelayakan: No 1 2 3 4 Skor 58,50 – 72,00 45,00 – 58,49 31,50 – 44,99 18,00 – 31,49 Kelayakan Sangat layak Layak dengan revisi kecil Layak dengan revisi besar Tidak layak 173

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 5 Hasil Uji Validasi Oleh Expert Judgement 3.5.1 Hasil Uji Validasi Oleh Dosen 174

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.2 Hasil Uji Validasi Oleh Guru 177

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 6 Data Uji Validitas Instrumen Variabel Menginterpretasi dan Menganalisis Menginterpretasi Soal 1 No a b 1 3 4 c 3 2 1 3 3 3 3 4 3 1 5 1 6 Total Menganalisis Soal 2 Total 10 a 4 b 4 c 1 1 5 3 3 3 9 3 9 3 3 3 9 3 7 1 1 3 5 3 1 5 3 3 1 7 1 3 1 5 3 3 1 7 7 3 1 3 7 1 1 1 3 8 3 1 3 7 1 1 1 3 9 3 3 3 9 3 3 3 9 10 3 4 3 10 4 4 3 11 11 1 3 1 5 3 3 1 7 12 1 1 1 3 1 1 1 3 13 3 3 3 9 3 3 1 7 14 3 3 3 9 3 3 1 7 15 1 1 1 3 1 1 1 3 16 3 4 3 10 4 4 3 11 17 3 4 3 10 4 4 3 11 18 3 3 3 9 3 3 3 9 19 3 3 3 9 3 3 1 7 20 3 4 3 10 4 4 1 9 21 3 3 3 9 3 3 1 7 22 3 1 3 7 1 1 1 3 23 3 3 3 9 3 3 1 7 24 3 3 3 9 3 3 1 7 25 3 4 3 10 4 4 2 10 26 1 3 1 5 3 3 3 9 9 183

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 5 3 3 1 7 3 10 4 4 2 10 3 10 4 4 2 10 3 9 3 3 1 7 3 9 3 3 1 7 3 9 3 3 2 8 1 3 7 1 1 2 4 2 3 2 7 3 3 3 9 35 4 3 4 11 3 3 1 7 36 1 1 1 3 1 1 1 3 37 2 3 2 7 3 3 1 7 38 1 1 1 3 1 1 1 3 39 3 1 3 7 1 1 3 5 40 3 3 3 9 3 3 2 8 41 3 3 3 9 3 3 3 9 42 1 1 1 3 1 1 1 3 43 3 3 3 9 3 3 4 10 44 3 3 3 9 3 3 3 9 45 3 4 3 10 4 4 3 11 27 1 3 28 3 4 29 3 4 30 3 3 31 3 3 32 3 3 33 3 34 184

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 7 Hasil SPSS Uji Validitas 3.6.1 Hasil Uji Validitas Setiap Item Soal Total Aspek Total Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) Menginterpretasi Item1a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item1b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item1c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Menganalisis Item2a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item2b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item2c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Mengevaluasi Item3a N Pearson Correlation 45 .571** ,000 45 .564** ,000 45 .571** ,000 45 .564** ,000 45 .564** ,000 45 .549** ,000 45 .564** 185

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sig. (2-tailed) Item3b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item3c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Menarik Kesimpulan Item4a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item4b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item4c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Mengeksplanasi Item5a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item5b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item5c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ,000 45 .549** ,000 45 .543** ,000 45 .571** ,000 45 .549** ,000 45 .543** ,000 45 .571** ,000 45 .743** ,000 45 .549** ,000 45 186

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Meregulasi Diri Item6a Pearson Correlation .569** Sig. (2-tailed) Item6b N Pearson Correlation ,000 45 .743** Sig. (2-tailed) Item6c N Pearson Correlation ,000 45 .549** Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). ,000 45 187

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 8 Hasil SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N Valid Excludeda % 45 100,0 0 0,0 Total 45 100,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Cases Reliability Statistics N of Items Cronbach's Alpha ,931 18 188

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 9 Sampel Jawaban Siswa 189

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen 194

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data 4.3.1 Kemampuan Menginterpretasi N Normal Parame tersa,b Mean One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test IntKon IntKon IntKon IntKon IntEks IntEks Pre PosI Sel PosII Pre PosI 22 22 22 22 24 24 IntEks Sel 24 1,7873 1,9245 Std. Devia ,46645 ,51370 tion Most Absol ,176 ,169 Extrem ute e Positi ,155 ,169 Differe ve nces Negat -,176 -,149 ive Test Statistic ,176 ,169 Asymp. Sig. (2,075c ,103c tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. IntEks PosII 24 1,986 3 ,1368 1,7723 2,0692 2,5546 ,4863 ,66410 ,47561 ,53761 ,48856 ,42818 ,6017 7 ,173 ,176 ,176 ,177 ,166 ,159 ,173 ,176 ,176 ,177 ,142 ,159 -,105 -,152 -,104 -,156 -,166 -,091 ,173 ,176 ,176 ,177 ,166 ,159 ,087c ,074c ,052c ,050c ,086c ,121c AnaE ksSel AnaEks PosII 4.3.2 Kemampuan Menganalisis AnaKo nPre N Normal Parame tersa,b Most Extrem e Differe nces One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test AnaKo AnaKo AnaKo AnaEks AnaEks nPosI nSel nPosII Pre PosI 22 22 22 22 24 24 24 24 Mean 1,7418 1,7727 ,0300 1,6364 1,9446 2,3471 ,4025 1,8617 Std. Devia tion ,42303 ,60366 ,69710 ,47084 ,48801 ,63330 ,5106 0 ,59737 ,184 ,147 ,121 ,153 ,171 ,153 ,160 ,158 ,153 ,132 ,115 ,153 ,171 ,110 ,160 ,158 -,184 -,147 -,121 -,119 -,120 -,153 -,132 -,124 ,121 ,153 ,171 ,153 ,160 ,158 ,200c,d ,195c ,066c ,150c ,116c ,122c Absol ute Positi ve Negat ive Test Statistic ,184 ,147 Asymp. Sig. (2,052c ,200c,d tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. 195

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Kemampuan Awal 4.4.1 Kemampuan Menginterpretasi Test of Homogeneity of Variances IntKonEksPre Levene Statistic ,090 df1 df2 1 44 Sig. ,765 4.4.2 Kemampuan Menganalisis Test of Homogeneity of Variances AnaKonEksPre Levene Statistic ,261 df1 1 df2 44 Sig. ,612 196

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.5.1 Kemampuan Menginterpretasi Group Statistics N Mean Kelompok IntKonEksPre Interpretasi Kontrol Pretest Interpretasi Eksperimen Pretest Kelompok IntKonEks Pre Equal variances assumed Equal variances not assumed Std. Deviation Std. Error Mean 22 1,7873 ,46645 ,09945 24 2,0692 ,53761 ,10974 Independent Samples Test Levene's t-test for Equality of Means Test for Equality of Variances F Sig. t df Sig. Mean Std. 95% (2- Differ Error Confidence taile ence Differ Interval of the d) ence Difference Lowe Uppe r r ,1490 ,0184 ,5822 ,090 ,765 44 ,065 ,2818 1,892 3 5 9 4 1,903 43,87 8 ,064 ,2818 9 ,1481 0 ,5803 9 ,0166 0 197

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.5.2 Kemampuan Menganalisis Group Statistics N Mean Kelompok AnaKonEksPre Std. Error Mean Analisis Kontrol Pretest 22 1,7418 ,42303 ,09019 Analisis Eksperimen Pretest 24 1,9446 ,48801 ,09962 Kelompok AnaKonEk sPre Std. Deviation Equal variances assumed Equal variances not assumed Independent Samples Test Levene's Test for t-test for Equality of Means Equality of Variances F Sig. t df Sig. Mean Std. 95% (2- Differ Error Confidence taile ence Differ Interval of the d) ence Difference Lowe Uppe r r ,1352 ,0697 ,261 ,612 44 ,141 ,2027 1,499 3 ,4753 7 7 1,509 43,87 4 ,138 ,2027 7 ,1343 8 ,4736 1 ,0680 8 198

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I 4.6.1 Kemampuan Menginterpretasi Test of Homogeneity of Variances IntKonEksSel Levene Statistic 3,457 df1 df2 1 44 Sig. ,070 4.6.2 Kemampuan Menganalisis Test of Homogeneity of Variances AnaKonEksSel Levene Statistic 2,844 df1 1 df2 44 Sig. ,099 199

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.7.1 Kemampuan Menginterpretasi Group Statistics Kelompok N IntKonEksSel Std. Deviation Std. Error Mean Interpretasi Kontrol Selisih 22 0,1368 0,6641 0,14159 Interpretasi Eksperimen Selisih 24 0,4863 0,42818 0,0874 Kelompok IntKonEks Sel Mean Equal variances assumed Equal variances not assumed Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. Mean Std. 95% (2- Differ Error Confidence taile ence Differ Interval of the d) ence Difference Lowe Uppe r r ,1633 ,6786 ,0201 3,457 ,070 44 ,038 ,3494 2,139 6 3 7 9 2,100 35,36 5 ,043 ,3494 3 ,1663 9 ,6871 0 ,0117 6 200

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2 Kemampuan Menganalisis Group Statistics N Mean Kelompok AnaKonEks Sel Std. Error Mean Analisis Kontrol Selisih 22 ,0300 ,69710 ,14862 Analisis Eksperimen Selisih 24 ,4025 ,51060 ,10423 Kelompok AnaKonEk sSel Std. Deviation Equal variances assumed Equal variances not assumed Independent Samples Test Levene's t-test for Equality of Means Test for Equality of Variances F Sig. t df Sig. Mean Std. 95% (2- Differ Error Confidence taile ence Differ Interval of the d) ence Difference Lowe Uppe r r ,1791 ,7334 ,0115 2,844 ,099 44 ,043 ,3725 2,080 1 0 6 4 2,052 38,28 1 ,047 ,3725 0 ,1815 3 ,7398 9 ,0051 1 201

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect size kemampuan menginterpretasi 𝑡2 𝑟=√ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 (−2,139)2 =√ −2,1392 + 44 4,575321 =√ 48,575321 = √0,0941902371 = 0,30690428 = 0,31 Persentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menginterpretasi: 𝑅2 = 𝑟 2 = (0,31)2 = 0,0961 Persentase pengaruh = 𝑅2 × 100% = 0,0961 × 100% = 9,61% Effect size kemampuan menganalisis 𝑡2 𝑟=√ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 (−2,080)2 =√ −2,0802 + 44 4,3264 =√ 48,3264 = √0,0895245663 = 0,299206561 = 0,30 Persentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan menganalisis: 𝑅2 = 𝑟 2 = (0,30)2 = 0,090 Persentase pengaruh = 𝑅2 × 100% = 0,090 × 100% = 9,00% 202

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 = = × 100% × 100% 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 1,92 − 1,78 2,55 − 2,06 × 100% = × 100% = 1,78 2,06 0,14 0,49 = × 100% × 100% = 1,78 2,06 = 0,078 × 100% = 0,237 × 100% = 7,8% = 23,7% Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 × 100% × 100% = = 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 1,77 − 1,74 2,34 − 1,94 = × 100% = × 100% 1,74 1,94 0,03 0,4 × 100% × 100% = = 1,74 1,94 = 0,017 × 100% = 0,206 × 100% = 1,7% = 20,6% 203

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.2.1 Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N 22 Std. Deviation ,51370 Std. Error Mean ,10952 IntKonPosI 1,9245 IntKonPre 1,7873 22 ,46645 ,09945 Paired Samples Correlations Pair 1 IntKonPosI & IntKonPre N Correlation 22 ,081 Sig. ,719 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 IntKonPosI IntKonPre Mean Std. Deviation ,13727 ,66520 Std. Error Mean ,14182 t df Sig. (2tailed) ,968 21 ,344 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,15766 ,43221 204

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Pair 1 Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation IntEksPosI 2,5546 24 ,48856 IntEksPre 2,0692 24 Std. Error Mean ,09973 ,53761 ,10974 Paired Samples Correlations N Correlation Pair 1 IntEksPosI & IntEksPre 24 Sig. ,656 ,000 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 IntEksPosI IntEksPre Mean Std. Deviation ,48542 ,42783 Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,08733 ,30476 ,66607 t df Sig. (2tailed) 5,558 23 ,000 205

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2.2 Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N 22 Std. Deviation ,60366 Std. Error Mean ,12870 AnaKonPosI 1,7727 AnaKonPre 1,7418 22 ,42303 ,09019 Paired Samples Correlations N Correlation Pair 1 AnaKonPosI & AnaKonPre 22 Sig. ,113 ,616 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 AnaKo nPosI AnaKo nPre ,03091 Std. Deviation ,69683 Std. Error Mean ,14856 t df Sig. (2tailed) 21 ,837 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,27805 ,33987 ,208 206

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 AnaEksPo sI AnaEksPre Mean N 24 Std. Deviation ,63330 Std. Error Mean ,12927 2,3471 1,9446 24 ,48801 ,09962 Paired Samples Correlations Pair 1 AnaEksPosI & AnaEksPre N Correlation 24 ,612 Sig. ,001 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 AnaEks PosI AnaEks Pre ,40250 Std. Deviatio n ,51089 Std. Error Mean ,10429 t df Sig. (2tailed) 3,860 23 ,001 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,18677 ,61823 207

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.9.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menginterpretasi Gain Skor -1,00 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 Kelompok eksperimen F 0 0 2 3 7 7 4 1 0 Kelompok kontrol F 1 2 5 5 3 3 1 1 1 4.9.3.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,33 Kemampuan Menginterpretrasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain skor ≥ 0,33 adalah 9 anak Frekuensi gain skor ≥ 0,33 adalah 19 anak Persentase 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑘𝑜𝑟 = × 100 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 = 9 × 100 22 = 0,41 × 100% = 41% Persentase = = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑘𝑜𝑟 × 100 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 19 × 100 24 = 0,79 × 100% = 79% 208

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3.3 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menganalisis Gain Skor -1,00 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1,00 1,33 Kelompok eksperimen F 0 1 1 7 5 5 3 2 Kelompok kontrol F 3 3 3 3 4 3 2 1 4.9.3.4 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,33 Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Frekuensi gain skor ≥ 0,33 adalah 10 anak Kelompok Eksperimen Frekuensi gain skor ≥ 0,33 adalah 15 anak Persentase 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑘𝑜𝑟 = × 100 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 = 10 × 100 22 = 0,45 × 100% = 45% Persentase = = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑘𝑜𝑟 × 100 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 15 × 100 24 = 0,63 × 100% = 63% 209

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 10 Hasil Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.1 Kemampuan Menginterpretasi 4.10.1.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol 𝑡2 𝑟=√ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 (0,968)2 =√ 0,9682 + 21 0,937024 =√ 21,937024 = √0,0427142715 = 0,206674313 = 0,21 𝑅2 = 𝑟 2 = (0,21)2 = 0,0441 = 0,04 Persentase pengaruh = 𝑅2 × 100% = 0,04 × 100% = 4% Kelompok Eksperimen 𝑡2 𝑟=√ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 (5,558)2 =√ 5,5582 + 23 30,891364 =√ 53,891364 = √0,573215478 = 0,757109951 = 0,76 𝑅2 = 𝑟 2 = (0,76)2 = 0,5776 = 0,58 Persentase pengaruh = 𝑅2 × 100% = 0,58 × 100% = 58% 210

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2 Kemampuan Menganalisis 4.10.2.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol 𝑡2 𝑟=√ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 (0,208)2 =√ 0,2082 + 21 0,043264 =√ 21,043264 = √0,00205595482 = 0,045342638 = 0,05 Kelompok Eksperimen 𝑡2 𝑟=√ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 (3,860)2 =√ 3,8602 + 23 14,8996 =√ 37,8996 = √0,393133437 = 0,627003538 = 0,63 𝑅2 = 𝑟 2 = (0,05)2 = 0,0025 = 0,003 𝑅2 = 𝑟 2 = (0,63)2 = 0,3969 = 0,40 Persentase pengaruh = 𝑅2 × 100% = 0,003 × 100% = 0,3% Persentase pengaruh = 𝑅2 × 100% = 0,40 × 100% = 40% 211

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 11 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I 4.11.1 Kemampuan Menginterpretasi 4.11.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol IntKonPre IntKonPosI Correlations IntKonPre Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) N 22 Pearson Correlation ,081 Sig. (2-tailed) ,719 N 22 IntKonPosI ,081 ,719 22 1 22 4.11.1.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations IntEksPre IntEksPosI IntEksPre Pearson Correlation 1 ,656** Sig. (2-tailed) ,000 N 24 24 IntEksPosI Pearson Correlation ,656** 1 Sig. (2-tailed) ,000 N 24 24 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 4.11.2 Kemampuan Menganalisis 4.11.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol AnaKonPre AnaKonPosI Correlations AnaKonPre Pearson 1 Correlation Sig. (2-tailed) N 22 Pearson ,113 Correlation Sig. (2-tailed) ,616 N 22 AnaKonPosI ,113 ,616 22 1 22 4.11.2.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations AnaEksPre AnaEksPosI AnaEksPre Pearson 1 ,612** Correlation Sig. (2-tailed) ,001 N 24 24 AnaEksPosI Pearson ,612** 1 Correlation Sig. (2-tailed) ,001 N 24 24 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 212

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 12 Hasil Uji Retensi Perlakuan 4.12.1 Kemampuan Menginterpretasi 4.12.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 IntKonPosII 1,7723 22 ,47561 Std. Error Mean ,10140 IntKonPosI 1,9245 22 ,51370 ,10952 Paired Samples Correlations N Correlation Pair 1 IntKonPosII & IntKonPosI 22 ,270 Mean Pair 1 IntKonPosII IntKonPosI -,15227 Sig. ,225 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. 95% Confidence Deviati Error Interval of the on Mean Difference Lower Upper ,59855 ,12761 -,41766 ,11311 t df Sig. (2tailed) 1,193 21 ,246 213

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 IntEksPosII 1,9863 24 ,60177 Std. Error Mean ,12284 IntEksPosI 2,5546 24 ,48856 ,09973 Paired Samples Correlations N Correlation IntEksPosII 24 ,637 & IntEksPosI Sig. ,001 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 IntEksPosII IntEksPosI Mean Std. Deviati on Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,56833 ,47556 ,09707 -,76914 -,36752 t df Sig. (2tailed) 5,855 23 ,000 214

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Persentase Peningkatan Rerata Posttes I ke Posttest II Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 = = × 100% × 100% 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,7723 − 1,9245 1,9863 − 2,5546 × 100% × 100% = = 1,9245 2,5546 −0,1522 −0,5683 = = × 100% × 100% 1,9245 2,5546 = −0,079085476 × 100% = −0,2224614421 × 100% = 7,9% = −22,2% = 8% = −22% 4.12.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 IntKonPosII IntKonPre 1,7723 1,7873 22 22 ,47561 ,46645 Paired Samples Correlations N Correlation IntKonPosII 22 ,369 & IntKonPre Std. Error Mean ,10140 ,09945 Sig. ,091 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 IntKonPosII IntKonPre Mean Std. Deviati on Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,01500 ,52914 ,11281 -,24961 ,21961 t df Sig. (2tailed) -,133 21 ,895 215

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 IntEksPosII IntEksPre 1,9863 2,0692 24 24 Paired Samples Correlations N Correlation IntEksPosII 24 ,512 & IntEksPre Mean Pair 1 ,60177 ,53761 IntEksPosII IntEksPre ,08292 Std. Error Mean ,12284 ,10974 Sig. ,011 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. 95% Confidence Deviati Error Interval of the on Mean Difference Lower Upper ,56568 ,11547 -,32178 ,15595 t df Sig. (2tailed) -,718 23 ,480 216

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2 Kemampuan Menganalisis 4.12.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 AnaKonPosII AnaKonPosI 1,6364 1,7727 22 22 Paired Samples Correlations N Correlation AnaKonPosII 22 -,007 & AnaKonPosI Mean Pair 1 ,47084 ,60366 AnaKonPosII - AnaKonPosI -,13636 Std. Error Mean ,10038 ,12870 Sig. ,977 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. 95% Confidence Deviati Error Interval of the on Mean Difference Lower Upper ,76801 ,16374 -,47688 ,20415 t df Sig. (2tailed) -,833 21 ,414 t df Sig. (2tailed) 3,000 23 ,006 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 AnaEksPosII AnaEksPosI 1,8617 2,3471 24 24 Paired Samples Correlations N Correlation AnaEksPosII 24 ,172 & AnaEksPosI Mean Pai r1 ,59737 ,63330 AnaEksPosII AnaEksPosI -,48542 Std. Error Mean ,12194 ,12927 Sig. ,423 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. 95% Confidence Deviati Error Interval of the on Mean Difference Lower Upper ,79256 ,16178 -,82008 -,15075 217

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Persentase Peningkatan Rerata Posttes I Kelompok Kontrol Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 = × 100% 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,6364 − 1,7727 × 100% = 1,7727 −0,1363 × 100% = 1,7727 = −0,0768883624 × 100% = −7,6% = −8% ke Posttest II Kemampuan Menganalisis Kelompok Eksperimen Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 = × 100% 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,8617 − 2,3471 × 100% = 2,3471 −0,4854 × 100% = 2,3471 = −0,206808402 × 100% = −20,6% = −21% 4.12.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 AnaKonPosII AnaKonPre 1,6364 1,7418 22 22 ,47084 ,42303 Paired Samples Correlations N Correlation AnaKonPosII 22 ,277 & AnaKonPre Std. Error Mean ,10038 ,09019 Sig. ,212 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 AnaKonPosII AnaKonPre Mean Std. Deviati on Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,10545 ,53876 ,11486 -,34433 ,13342 t df Sig. (2tailed) -,918 21 ,369 218

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Pair 1 Pair 1 AnaEksPosII AnaEksPre 1,8617 1,9446 24 24 ,59737 ,48801 Paired Samples Correlations N Correlation AnaEksPosII 24 ,305 & AnaEksPre Std. Error Mean ,12194 ,09962 Sig. ,147 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 AnaEksPosII AnaEksPre Mean Std. Deviati on Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,08292 ,64575 ,13181 -,35559 ,18976 t df Sig. (2tailed) -,629 23 ,536 219

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen 220

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian 221

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Melsaria Permatasari adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Lempuing, 31 Juli 1997 dari pasangan Suryanto dan Sunarsih. Pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar Negeri Karang Sari tahun 2003-2009. Pendidikan dilanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Belitang Madang Raya hingga lulus tahun 2012. Peneliti menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas Xaverius 01 Belitang tahun 2012 kemudian lulus tahun 2015. Setelah lulus hingga sekarang, peneliti melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Semasa menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma, penulis pernah mengikuti berbagai kegiatan dalam dan luar kemahasiswaan yaitu : No 1 2 3 4 5 6 7 Kegiatan Inisiasi Program Studi (Insipro) Inisiasi FKIP Sanata Dharma (INFISA) PPKMB I PPKMB II Seminar “Reinventing Childhood Education” English Club Program Tahun 2015 2015 2015 2015 2015 20152017 2016 Peran Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta 2016 Peserta 2016 2016 Peserta Anggota Divisi Usaha Dana Anggota Divisi Konsumsi Koordinator Divisi Acara Koordinator Divisi Usaha Dana Pembicara 9 10 Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Kuliah Umum PGSD “Masa Depan Toleransi di Tangan Guru” Week-end Moral Dekan Cup 11 Live In 2017 12 Dialog Dosen dan Mahasiswa 2017 13 Sport League PGSD 2017 14 Pelatihan Model-model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Kerja Sama dan Prestasi Belajar di SDK Bantul Yogyakarta 2018 8 Peserta 222

(241)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KECERDASANINTERPERSONALSISWA
0
57
270
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) MENGGUNAKAN LAB RIIL DAN LAB VIRTUIL DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL DAN GAYA BELAJAR SISWA
0
4
144
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DITINJAU DARI TINGKAT KEAKTIFAN SISWA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA SUB
0
6
110
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR PENGAWETAN MAKANAN SISWA KELAS VII SMP AL-ITTIHADIYAH MEDAN.
0
3
23
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA DI KELAS IV SD NEGERI 106836 TANJUNG MORAWA.
0
2
22
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS V SDN 101783 SAENTIS T.A. 2011/2012.
0
1
12
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA.
0
2
10
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA.
0
2
53
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA ARAB SISWA.
0
0
56
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) BERBANTUAN ANIMASI DAN SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA.
0
0
33
PENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR KOMPUTER DAN JARINGAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) SISWA KELAS X SMK MUHAMMADIYAH RONGKOP GUNUNGKIDUL.
0
0
75
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA
0
0
7
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHEIVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA Marwan Hamid
0
0
8
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN MATA PELAJARAN AKUNTANSI SISWA KELAS X SMK PAHAR MENJALIN SKRIPSI
0
0
165
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
245
Show more