Kajian literatur rasionalitas peresepan antibiotika berdasarkan kriteria gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 - USD Repository

Gratis

0
1
230
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KAJIAN LITERATUR RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIKA BERDASARKAN KRITERIA GYSSENS PADA PASIEN PEDIATRIK RAWAT INAP DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA PERIODE JANUARI 2013 Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Realita Rosada Nim : 108114088 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Halaman Persembahan Karya ini kupersembahkan untuk: Keluarga Tercinta, Terima kasih atas support dan doanya (Papah, Mama, Iki, Iham, Kakek, Nenek (alm), Saudara-saudari yang terkasih di Palangka raya) Dosen Pembimbing yang selalu setia, sabar, dan cekatan, thank you very much (Ibu Aris Widayati) Teman-teman seperjuangan dan sahabat tercinta You Guys are Awesome (Intan, Munil, Odex, Putri, Defi, Keluarga besar FKK A 2010, Kakak Kos Dewi 2) Almamater ku tercinta, thank’s for this marvelous 4 years Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Fakultas Farmasi Sanata Dharma iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.Penulis menyadari sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sejak penyusunan proposal sampai dengan terselesaikannya skripsi ini. Bersama ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Dekan Fakultas Farmasi Sanata Dharma yang telah memberikan sarana dan prasarana kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 2. Staf Instalasi Rekam Medik dan Diklit RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang telah membantu dalam proses pengumpulan data dan proses pembuatan izin penelitian. 3. Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., Ph.D. selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing penulis dalam penyusunan Skripsi ini. 4. Orang tua beserta keluarga penulis yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat baik moral maupun material. 5. Ibu dr. Fenty, M.Kes., Sp.K.. dan ibu Dita Virgina S.farm., Apt., M.Sc. selaku penguji atas saran yang diberikan. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Para sahabat A.A. Sagung Intan, Maria Carolina, Gede Wiwid Santika, Defilia Anogra, dan Ni Made Putri Laksmi Dewi teman-teman FKK A 2010, FSM 2010 dan kakak kos Dewi 2 yang selalu memberi dukungan dan semangat dalam menyelesai skripsi ini. 7. Serta pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu atas bantuannya secara langsung maupun tidak langsung sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Akhir kata, penulis berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL………………………………………………….. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……………………… ii HALAMAN PENGESAHAN………………………………………… iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………………………. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................. vi PRAKATA…………………………………………………………….. vii-viii DAFTAR ISI………………………………………………………….. ix-xi DAFTAR TABEL…………………………………………………….. xii DAFTAR GAMBAR…………………………………………………. xiii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. xiv INTISARI…………………………………………………………….. xv ABSTRACT…………………………………………………………….. xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………………………………………………… 1-5 1. Perumusan Masalah……………………………………….. 5 2. Keaslian Penelitian………………………………………… 5-8 3. Manfaat Penelitian………………………………………… 8-9 B. Tujuan Penelitian 1. Umum……………………………………………………… 9 2. Khusus……………………………………………………… 9 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Antibiotika……………………………………………………… 10-12 B. Pengunaan Antibiotika…………………………………………. 13-16 C. Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotika ……………......… 16-21 D. Keterangan Empiris…………………………………………….. 22 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian……………………………… 23 B. Variabel dan Definisi Operasional…………………………… 23-25 C. Subyek Penelitian…………………………………………..... 25 D. Bahan Penelitian……………………………………………… 25-26 E. Alat Penelitian...............…………………...........................… 26 F. Tempat Penelitian………………………………………….... 26 G. Waktu Pengambilan Data……………………………………..…. 26 H. Tata Cara Penelitian………………………………………….. 26-30 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Pasien………………………………………......…..… 31-32 B. Profil Penyakit Infeksi..………..…………………………… 32-34 C. Profil Peresepan Antibiotika……………………………….. 34-42 D. Kualitas Penggunaan Antibiotika…………………………… 42-76 E. Keterbatasan Penelitian..............…………………………… 76-78 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan…………………………………………………. 79 B. Saran………………………………………………………… 80 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………. x 81-84

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN………………………………………………………… 86-213 BIOGRAFI PENULIS……………………………………………... 214 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Distribusi jumlah pasien berdasarkan range usia pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.………………………...…… Tabel II. 32 Diagnosis utama penyakit pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.………………………………. Tabel III. 33 Diagnosis penyerta penyakit pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.………………………......…... Tabel IV. 33 Golongan dan jenis antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.…………………….........….... 35 Tabel V. Durasi lama penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik periode januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.……………………………..... 40-41 Tabel VI. Kualitas penggunaan antibiotika berdasarkan metode Gyssens pada pasien pedratrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.……………………………….. 42 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Perbandingan jumlah pasien pediatrik laki-laki dan perempuan yang menerima antibiotika periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta………….. Gambar 2. Diagram presentase rute penggunaan antibiotika 32 pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.………………………......... Gambar 3. 39 Diagram presentase bentuk sediaan penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.…………............ xiii 40

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Lembar/form data pengobatan pasien………..…….. 86 Lampiran 2. Surat izin penelitian dari RSUP Dr. Sardjito………. 87 Lampiran 3. Ethical clearance…………………………………... 88 Lampiran 4. Uraian lengkap kasus pada pasien pediatrik Periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta …………………………...........…...… 89-173 Lampiran 5. Tabel hasil evaluasi persepan antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta…..……………… 174-213 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Intisari Meningkatnya prevalensi peresepan antibiotika yang tidak rasional merupakan salah satu penyebab timbulnya resistensi bakteri terhadap antibiotika. Hal ini menjadi problem utama dalam perawatan pasien. Resistensi bakteri akan memperpanjang lama tinggal di rumah sakit, meningkatkan biaya perawatan dan bahkan meningkatkan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji rasionalitas peresepan antibiotika berdasarkan literatur pada pasien pediatrik rawat inap RSUP Dr. Sardjito periode Januari 2013 menggunakan metode Gyssens. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif evaluatif menggunakan data retrospektif. Kriteria Gyssen merupakan suatu diagram alir untuk membantu mengevaluasi kualitas/kerasionalan peresepan antibiotika. Dari 31 kasus, penyakit terbanyak yang dialami pasien adalah pneumonia 25% dan antibiotika terbanyak yang digunakan gentamisin 23%. Penelitian ini menemukan 53,6% peresepan antibiotika termasuk rasional menurut kriteria Gyssens dan 46,4% termasuk tidak rasional menurut kriteria Gyssens. Adanya peresepan antibiotika yang kurang rasional menyebabkan perlunyapengawasan untuk meningkatkan kualitas peresepan antibiotika. Kata kunci : Rasionalitas, Antibiotika, Pediatrik, Kriteria Gyssens, Rawat inap xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The increasing prevalence of prescribing antibiotics that are not rational causes of the incidence of bacterial resistance to antibiotics. this become a major problem in the treatment of patients. A resistant bacterial infections will extend the length of stay in hospital, increasing maintenance costs and even increase mortality. This research aims to analyze the rationality of prescribing antibiotics based on the literature on inpatient pediatric patients was Dr. Sardjito period January 2013 Gyssens method. This research is a descriptive evaluative using data retrospective. The Gyssen criteria is a flow chart category of antibiotics to determine the quality or rationality of antibiotic prescribing. Of the 32 cases, most patients experienced disease was pneumonia 25% and most used antibiotic gentamicin 23% This research finding 53,6% prescribing antibiotics including to rational according to Gyssens criteria and 46,4% including to not rational according to Gyssens criteria. The existence of the less rational prescribing antibiotics causing the need for oversight to improve the quality of antibiotic prescribing. Keywords: Rationality, Antibiotic, Pediatric, Gyssens Criteria, Hospitalized xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Antibiotika pertama kali mulai diperkenalkan untuk pengobatan pada manusia pada tahun 1940. Sepanjang 60 tahun belakangan antibiotika telah banyak digunakan. Mulanya dikembangkan untuk mengobati penyakit infeksi pada manusia, namun selanjutnya digunakan pula dalam bidang kedokteran hewan, pertanian dan budi daya perairan. Namun demikian, penggunaan antibiotika yang luas dan penggunaannya yang tidak sesuai (inappropriate) dapatmenyebabkan bakteri resisten (Barbosa dkk, 2000). Banyaknya pemakaian antibiotika dan penggunaanya yang sering salah atau tidak sesuai, tidak diragukan lagi itu merupakan penyebab utama tingginya jumlah patogen dan bakteri komensal resisten di seluruh dunia (Barbosa dkk, 2000). Hal ini menyebabkan peningkatan kebutuhan akan obat baru pada saat fase penemuan antibiotika menurun secara drastis. Mengurangi penggunaan antibiotika yang tidak tepat dianggap sebagai cara terbaik dalam mengontrol resistensi (Bruton dkk, 2008). Pemakaian antibiotika selama 5 dekade terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga menjadi masalah di negara maju seperti Amerika Serikat. The Center for Disease Control and Prevention in USA menyebutkan terdapat 50 juta peresepan 1

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 antibiotik yang tidak diperlukan (unnescecery prescribing) dari 150 juta peresepan setiap tahun (Akalin,2002). Penggunaan obat yang rasional secara sederhana diartikan sebagai meresepkan obat yang tepat, dalam dosis yang kuat untuk durasi yang cukup dan sesuai dengn kebutuhan klinis pasien, serta dengan harga yang paling rendah (Ambwani dkk, 2006). Konsep dan indikator – indikator penggunaan obat yang rasional tersebut juga berlaku bagi peresepan antibiotika. Menurut WHO (World Health Organization) penggunaan antibiotika yang tepat adalah penggunaan antibiotika yang efektif dari segi biaya dengan peningkatan efek teraupetik klinis, meminimalkan toksisitasobat dan meminimalkan terjadinya resitensi (WHO,2001) Penjualan antibiotika di dunia diperkirakan dua per tiganya dilakukan tanpa ada persepan. Hasil penelitian dari studi Antimicrobial Resistence in Indonesia (AMRIN study) tahun 2000 - 2004 menunjukkan bahwa terapi antibiotik diberikan tanpa indikasi di RSUP Dr Kariadi Semarang sebanyak 20 53% . Dalam penelitian tim AMRIN study juga didapatkan peresepan antibiotika terjadi pada anak dengan prevalensi tinggi yaitu 76%(Hadi,2008). Tingginya kejadian penyakit infeksi pada pasien anak di rawat inap menyebabkan antibiotika sering diresepkan sebagai obat yang digunakan untuk melawan kuman penyebab penyakit infeksi (Bauchner, 1999; Kemenkes, 2011a). Sebuah studi di dua kota besar di Indonesia (Semarang dan Surabaya) menemukan 76% peresepan antibiotika ditujukan untuk kelompok pasien anak (Hadiet al., 2008).

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Pemberian antibiotika berlebihan pada anak tampaknya memang semakin meningkat dan semakin mengkawatirkan. Sebenarnya permasalahan ini dahulu juga dihadapi oleh negara maju seperti Amerika Serikat.Menurut penelitian US National AmbulatoryMedical Care Survey, pada tahun 1989, setiap tahun sekitar 84% anak mendapatkan antibiotika. Hasil lainnya didapatkan 47,9% resep pada anak usia 0-4 tahun terdapat antibiotika. Angka tersebut menurut perhitungan banyak ahli sebenarnya sudah cukup mencemaskan. Dalam tahun yang sama, juga ditemukan resistensi kuman yang cukup tinggi karena pemakaian antibiotika berlebihan tersebut (Judarwanto, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Bauchner (1999) dan Darmansjah (2008) terdapat sekitar 90% peresepan antibiotika pada pediatrik untuk penyakit virus dengan gejala demam. Penelitian lain yang dilakukan oleh tim AMRIN terdapat 49 sampai dengan 97 persen pasien anak yang menjalani rawat inap dan menerima peresepan antibiotika yang sebagian besarnya 46-54% dianggap tidak diperlukan dan tidak tepat indikasi (Hadi et al., 2008) Penggunaan obat antibiotika untuk mengobati infeksi tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Para ahli memperingatkan dokter dan perawat untuk lebih berhati-hati dalam memberikan antibiotika dosis tinggi terutama pada pasien pediatrik karena penggunaan antibiotika yang irrasional atau berlebihan pada pediatrik tampaknya memang semakin meningkat dan semakin mengkawatirkan.Penggunaan antibiotika berlebihan atau penggunaan irrasional artinya penggunaan tidak benar, tidak tepat dan tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya.Pemberian yang sangat hati-hati ini berkaitan dengan masalah

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 keselamatan dan kesehatan pada pasien pediatrik nantinya. Pemberian antibiotika yang terlalu banyak atau terlalu sedikit juga dapat mempengaruhi efektivitas dan toksisitas dari obat itu sendiri (Bahrarah, 2010). Tingginya peresepan antibiotika yang ditujukan pada pasien anak akan menimbulkan potensi terjadinya ketidakrasionalan penggunaan antibiotika. Ketidakrasionalan penggunaan antibiotika diartikan sebagai penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dengan salah satu atau lebih dari beberapa kriteria berikut: tepat indikasi, penderita, obat, dosis, dan tidak waspada terhadap efek samping yang ditimbulkan (World Health Organization, 2001). Ketidakrasionalan penggunaan antibiotika pada anak yang sering ditemui adalah ketidaktepatan pada indikasi penggunaan antibiotika.Salah satu penyebab utamanya adalah klinisi tidak dapat membedakan infeksi bakterial dan infeksi virus yang terjadi pada anak dengan gejala demam. Hal ini menyebabkan klinisi mengindikasikan antibiotika pada hampir semua anak yang mengalami gejala demam (Darmansjah, 2008). Hasil penelitian Antimicrobial Resistan Indonesia (AMRIN-Study) terbukti dari 2494 individu di masyarakat, 43% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik antara lain: ampisilin (34%), kotrimoksazol (29%) dan kloramfenikol (25%). Hasil penelitian 781 pasien yang dirawat di rumah sakit didapatkan 81% Escherichia coliresisten terhadap berbagai jenis antibiotik, yaitu ampisilin (73%), kotrimoksazol (56%), kloramfenikol (43%), siprofloksasin (22%), dan gentamisin (18%) ( Kemenkes RI, 2011). Untuk itu berdasarkan uraian diatas, perlu dilakukan evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien anak rawat inap, dengan metode Gyssens. Metode ini

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 ditujukan untuk mengetahui kualitas penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode bulan Januari 2013, sehingga hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk melihat profil peresepan penggunaan antibiotika, profil penyakit dan kualitas penggunaan antibiotika di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode bulan Januari 2013. 1. Perumusan Masalah a. Bagaimana gambaran profil peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013? b. Bagaimana profil penyakit infeksi pada pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 menurut hasil diagnosis kerja yang tercantum di Rekam Medis? c. Bagaimana kerasionalan peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 yang dikaji dengan metode Gyssen? 2. Keaslian Penelitian Penelitian Mengenai Kajian Literatur Rasionalitas Penggunaan Antibiotika dengan Metode Gyssens Pada Pasien Pedriatrik Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta Periode BulanJanuari 2013belum pernah dilakukan. Ada pula penelitian terkait yang pernah dilakukan sebelumnya antara lain: a. Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Di Bangsal Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011 yang

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 dilakukan oleh Tia Febiana (2012) dengan jenis penelitian nonEksperimental dengan desain observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif dengan hasil pengunaan antibiotika secara kuantitas didapat antibiotik yang paling banyak digunakan adalah seftriaxon, sedangkan kualitas penggunaan antibiotika yang masuk dalam kategori 0 adalah sebesar 55,1%. Pada penelitian ini terdapat 2 metode pendekatan yang digunakan yakni, pendekatan dengan metode kuantitatif DDD dan metode kualitatif Gyssens sementara pada penelitian penulis metode yang digunakan hanya metode kuantitatif Gyssen. b. Studi Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Sistem ATC/DDD dan Kriteria Gyysens di Bangsal Penyakit Dalam RSUP DR.M.Djamil Padang. Penelitian dilakukan oleh Lestari, Almahdy, Zubir, dan Darwin (2011) dengan jenis studi observasional menggunakan desain cross-sectional, dan diperoleh hasil dari 105 resep yang diterima penyakit dalam secara kuantitatif dengan sistem ATC/DDD yang terbanyak yaitu seftriakson 38,955 DDD/100pasien-hari dengan kode ATC J01DD04 sedangkan yang paling sedikit yaitu gentamisin 0,507 DDD/100pasien-hari dengan kode ATC J01DH02. Sedangkan studi penggunaan antibiotik secara kualitatif dengan alur kriteria gyssens yang tepat atau kategori I sebesar 43,18% dan yang tidak tepat atau kategori II-VI sebesar 56,19 %. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian ini adalah subjek uji yang digunakan. Pada

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 penelitian ini subjek uji yang digunakan adalah pasien dewasa yang di rawat inap sementara pada penelitian penulis subjek uji yang digunakan adalah pasien pediatrik rawat inap. Perbedaan lainnya terletak pada metode yang digunakan dimana pada penelitian ini terdapat 2 metode yang digunakan yaitu metode analisis secara kuantitatif dengan menggunakan DDD dan metode analisis secara kualititatif dengan menggunakan metode Gyssens sedangkan peneliti hanya menggunakan metode analisis kualitatif dengan menggunakan metode Gyssens. c. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Pediatrik Penderita Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Purbalingga Tahun 2009. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode retrospektif dan dianalisis secara deskriptif non analitik dari data rekam medik. Sampel yang digunakan diambil secara menyeluruh dengan jumlah sampel sebanyak 117 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien terbanyak yaitu anak-anak sebanyak 106 (45,74%) pasien, berdasarkan jenis kelamin jumlah terbanyak yaitu pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 68 (58,12%) pasien. Kesesuaian jenis antibiotika dengan SPM RSUD Purbalingga sebesar 30,44%, dengan SPM PAPDI 80,34%. Kesesuaian dosis berdasarkan SPM RSUD Purbalingga sebesar 64,95%, dengan SPM PAPDI sebesar 67,42%. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada tempat penelitian,waktu

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 penelitian dan metode penelitian yang digunakan, selain itu jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 117 sedangkan peneliti hanya menggunakan 32 sampel, dengan tempat penelitian adalah di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta periode bulan januari 2013 menggunakan metode Gyssens. Perbedaan Penggunaan Antibiotik Sebelum dan Sesudah Pelatihan Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP. Dr. Kariadi yang dilakukan oleh Fenny Halim (2011) dengan menggunakan quasy experimental pre-test and posttest design. Penggolongan rasionalitas penggunaan antibiotik diukur dengan metode Gyssen dengan hasil terdapat peningkatan penggunaan antibiotik sebesar ± 9% sesudah dilakukan pelatihan dan biaya penggunaan antibiotik secara umum meningkat sebesar 29% .Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada tempat penelitian,waktu penelitian dan metode penelitian yang digunakan, dengan tempat penelitian adalah di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta periode bulan Januari 2013 menggunakan metode Gyssens. 3. Manfaat Penelitian a. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnnya Mendapatkan informasi mengenai kerasionalan penggunaan antibiotika berdasarkan kriteria Gyssens. Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bahan pembelajaran mengenai cara evaluasi serta rasionalitas penggunaan antibiotika dikaji dari segi

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 kualitas berdasarkan kriteria Gyssens dan dapat menjadi bahan acuan bagi penelitian selanjutnya. b. Bagi pelayanan kesehatan Menjadi bahan evaluasi kualitas penggunaan antibiotika di rumah sakit. B. Tujuan Penelitian 1. Umum Mengevaluasi kualitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode bulan Januari 2013 yang dievaluasi dengan menggunakan metode Gyssen. 2. Khusus a. Mengidentifikasi profil penyakit infeksi pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periodeJanuari 2013 berdasarkan diagnosis kerja pada data rekam medis dan kemungkinan adanya penyakit penyerta pasien. b. Mengidentifikasi profil peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013. c. Melihat rasionalitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 dikaji dari segi kualitas penggunaan antibiotika menurut kriteria Gyssen.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Antibiotika Antibiotika merupakan zat kimia yang mikroorganisme (bakteri dan jamur), yang mempunyai dihasilkan oleh kemampuan dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme. Antibiotika yang relatif non-toksik bagi pejamunya digunakan sebagai agen kemoterapetik dalam pengobatan penyakit infeksi pada manusia, hewan, tanaman. Istilah ini sebelumnya digunakan terbatas pada zat yang dihasikan oleh mikroorganisme, tetapi penggunaan istilah ini meluas meliputi senyawa sintetik dan semisintetik dengan aktivitas kimia yang mirip (Dorland, 2010). Antibiotika memiliki sifat toksisitas selektif, yang artinya bersifat sangat toksik terhadap mikroba tetapi relatif tidak toksik terhadap hospes. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, antibiotika memiliki dua aktivitas yaitu bakteriostatik dan bakterisid. Bakteriostatik bersifat menghambat pertumbuhan mikroba sedangkan bakterisid bersifat membunuh mikroba (Katzung, 1997). 1. Jenis Antibiotika Berdasarkan spektrum kerja, antibiotika dibagi menjadi dua kelompok, yaitu berspektrum sempit (misalnya streptomisin) dan berspektrum luas (misalnya tetrasiklin dan kloramfenikol). Batas kedua spektrum ini terkadang tidak jelas. Walaupun suatu 10 antibiotika berspektrum luas,

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 efektivitas kliniknya belum tentu seluas spektrumnya sebab efektivitas maksimal diperoleh dengan menggunakan obat terpilih untuk infeksi yang diderita terlepas dari efeknya terhadap mikroorganisme lain. Selain itu antibiotika berspektrum luas cenderung menimbulkan infeksi oleh kuman atau jamur yang resisten (Staf Pengajar FKUI, 2007). 2. Penggolongan antibiotika berdasarkan struktur kimia Berdasarkan struktur kimianya antibiotika dibedakan menjadi : 1. B-laktam, contoh antibiotik : penisilin, sefalosforin dan karbapenem. 2. Makrolida, contoh antibiotik : eritromisin, spiramisin, azitromisin, klaritromisin. 3. Aminoglikosida, contoh : streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin, amikasin, tobramisin. 4. Fluorokuinolon, contoh : siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin. 5. Tetrasiklin, contoh : tetrasiklin, doksisiklin, oksitetrasiklin. 6. Kuinolon, contoh : asam nalidiksat 7. Glikopeptida, contoh : vankomisin, teikoplanin. 8. Antibiotika jenis lain : kloramfenikol, tiamfenikol,metronidazol, kotrimoksazol, klindamisin. ( Kasper et. al., 2005, Setiabudi, 2007). 3. Mekanisme kerja antibiotika Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotika dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu :

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 1. Inhibisi sinstesis protein bakteri. Sel dari bakteri akan mensitensis berbagai macam protein yang berada di ribosom dengan bantuan mRNA dan tRNA. Penghambatan ini terjadi melalui interaksi antara ribosom dengan bakteri, antibiotika yang termasuk kelompok ini adalah aminoglikosida, makrolida, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Selain aminoglikosida, pada umumnya obat ini bersifat bakteriostatik. 2. Inhibisi sintesis dinding sel bakteri. Dinding sel bakteri terdiri dari polipeptidoglikan yang merupakan suatu kompleks polimer glikopeptida. Antibiotika golongan ini dapat mengakibatkan lisis sel pada bakteri. Antibiotika yang termasuk dalam golongan ini adalah sefalosforin, penisilin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin yang pada umumnya bersifat bakterisidal. 3. Inhibisi metabolisme bakteri (antibiotika yang mempengaruhi sitesis asam folat dari bakteri. Antibiotika yangtermasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, trimetoprim, aal paminosalisilat dan sulfon yang pada umumnya bersifat bakteriostatik. 4. Inhibisi sitesis atau aktivitas asam nukleat dari bakteri. Antibiotika yang temasuk golongan ini adalah rimfapisin dan antibiotika golongan kuinolon. 5. Antibiotika yang mempengaruhi permeabilitas membran sel bakteri. Antibiotika yang termasuk golongan ini adalah polimiksin. (Kasper et. al., 2005, Setiabudi, 2007).

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 B. Penggunaan antibiotika Penggunaan antibiotika secara bijak erat kaitannya dengan penggunaan antibiotika berspektrum sempit dengan indikasi yang tepat, tepat dosis, serta pemakaian tidak lebih lama dari yang dibutuhkan.Terapi inisial dapat menggunakan antibiotik spektrum luas dan sebaiknya segera disesuaikan setelah hasil laboratorium mikrobiologi keluar. Proses ini disebut streamlining(Staf Pengajar FKUI, 2008). Hal ini tidak hanya mengubah dari spektrum luas ke spektrum yang lebih sempit, tetapi juga dari terapi kombinasi ke terapi tunggal, serta dari antibiotika jenis baru ke jenis yang lebih lama. Strategi ini lebih menguntungkan dalam hal biaya, dapat menambah pengalaman dengan obat jenis lama terhadap jenis infeksi yang sama serta pencegahan terjadinya resistensi. Indikasi yang tepat diawali dengan diagnosis infeksi yang tepat. Antibiotika tidak diresepkan pada kasus infeksi virus atau self limited disease (Dertarani, 2009). 1. Penggunaan antibiotika pada pasien anak Anak-anak berbeda dengan orang dewasa terutama pada dosis yang digunakan. Kurangnya data penting mengenai farmakokinetika dan farmakondinamika pada anak yang sering menimbulkan masalah keamananan dalam penggunaan obat maupun antibiotika pada anak (Staf Pengajar FKUI, 2008). Efektivitas dan keamanan obat itu berbeda antara pada anak dan dewasa. Untuk menentukan kosentrasi efektif pada anak-anak itu bukanlah masalah

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 yang mudah. Pada penemuaan obat baru, penelitian farmakologis dan toksikologis umumnya dilakukan pada populasi dewasa, sehingga informasi yang didapat pada anak-anak dan bayi sangat kurang (Staf Pengajar FKUI, 2008). Dalam penggunaan obat perlu memperhatikan perubahan fungsi organ yang sedang tumbuh ataupun berkembang yang terjadi pada anak-anak. Perkembangan organ tersebut akan mengakibatkan distribusi, metabolisme dan eliminasi obat pada anak yang dapat berbeda. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain (Staf Pengajar FKUI, 2008) : a. Absorpsi Pada labung dengan pHnetral pada saat kelahiran , namun akan turun ke tingkat dewasa pada umur 2-3 tahun. Pengosongan lambung juga lebih lambat pada 3 bulan pertama. Obat yang tidak stabil terhadap asam, seperti penisilin oral, akan lebih efisien jika diabsorpsi pada usia anak 3 bulan pertama dibandingkan dengan anak yang lebih tua atau dewasa. Absorpsi obat yang bervariasi di saluran cerna, tempat injeksi intrmuskular, dan kulit perlu diperhatikan terhadap pasien anak, terutama pada bayi prematur dan bayi yang baru lahir. b. Distribusi Ikatan protein obat juga bervariasi sesuai dengan usia, pada bayi lebih sedikit. Penurunan tempat ikatan protein dapat meningkatkan volume

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 distribusi dari obat, yang dapat mempengaruhi waktu paruh dan kosentrasi obat- obat tertentu. c. Metabolisme Banyak obat termasuk antibiotika yang akan mengalami biotransformasi metabolik sebelum tereliminasi dari tubuh. Sebagian dari transformasi tersebit akan dipengaruhi oleh berbagai macam sistm ensim yang terdapat di hati. Pada bayi, organ dan enzim masih dalam bentuk proses berkembang. d. Ekskresi Pada bayi yang baru lahir, fungsi ginjal masih kurang efisien dibandingkan dengan anak-anak, karena fungsi dari glomerulus dan tubulus sedang mengalami pematangan. Kecepatan klirens pada bayi yang baru lahir sekitar sepertiga dari anak-anak. Namun pada sebagian besar bayi dapat mencapai filtrasi glomelurus seperti yang terjadi pada orang dewasa pada usia 12 bulan. Metode dalam pemberian obat yang khusus sering diperlukan pada bayi dan anak. Banyak obat yang diperlukan pada anak namun kadang tidak tersedia dalam sediaan yang tepat untuk digunakan pada anak, oleh karena itu sediaan obat pada orang dewasa perlu dimodifikasi agar dapat diterima oleh bayi dan anak namun tetap harus menjamin potensi dan keamananya.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Berdasarkan penggunaannya, antibiotika digunakan dalam 3 jenis terapi yaitu : a. Terapi empiris : terapi yang diberikan berdasarkan diagnosis klinis dengan pendekatan ilmiah dari klinisisebelum mikroorganisme penyebab dapat diidentifikasi dan antibiotika yang spesifik dapat ditentukan. b. Terapi definitif : pemberian antibiotika untuk mikroorganisme spesifik yang menyebabkan infeksi aktif. c. Profilaksis : pemberian antibiotika untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi. Kualitas penggunaan antibiotika untuk terapi empiris dan profilaksis umumnya dinilai dari data yang tersedia di penelitian lokal dan resistensi mikroba serta dari informasi yang didapatkan pada epidemiologi infeksi dan organisme penyebab lokal ( Gyssens, 2005) C. Kajian Rasionalitas penggunaan antibiotika Pengkajian kualitas penggunaan antibiotika dapat dilakukan dengan pendekatan retrospektif dengan melihat rekam medik. Penilaian penggunaan antibiotika yang rasional atau tidak rasional berdasarkan indikasi, dosis, lama pemberian, pilihan jenis, dan lain-lain (Shea, 2001).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Penilaian peresepan antibiotika yang akan dilakukan menggunakan metode Gyssens (2001) yang terbagi dalam kategori 0-VI dan akan dinyatakan dalam presentase(Van Der Meer, 2003). Metode Gyssens ini berbentuk diagram alir yang diadaptasi dari kriteria (Kunin et. al). Metode ini mengevaluasi seluruh aspek mengenai peresepan antibiotika, misalnya seperti penilaian peresepan atau penggunaan alternatif yang lebih efektif, lebih tidak toksik, lebih murah, spektrum lebih sempit. Selain itu juga dievaluasi lama penggunaan obat dan dosis, interval rute pemberian serta waktu pemberian (Gyssens, 2005). Diagram alir Gyssen ini merupakan alat yang sangat penting untuk menilai suatu penggunaan antibiotika. Dengan menggunakan diagram alir Gyssens ini, terapi empiris dapat dinilai, demikian juga dengan terapi definitif setelah pemeriksaan mikrobiologi dapat diketahui (Gyssens, 2005).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Gambar diagram alur penilaian kualitas pemberian antibiotika metode Gyssens (Kemenkes, 2011b)

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Evaluasi antibiotika dimulai dari kotak yang paling atas, yaitu dengan melihat apakah data pasien sudah lengkap atau tidak untuk bisa digunakan dalam mengkategorikan penggunaan antibiotika. 1. Bila data tidak lengkap, berhenti di ketgori VI. Data tidak lengkap adalah data rekam medis tanpa diagnosis kerja, atau ada halaman rekam medis yang hilang sehingga tidak dapat dievaluasi. Pemeriksaan penunjang/laboratorium tidak harus dilakukan karena mungkin tidak ada biaya, dengan catatan sudah direncanakan pemeriksaannya untuk mendukung diagnosis. Diagnosis kerja dapat ditegakkan secara klinis dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila data lengkap, dilanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya, apakah ada infeksi yang membutuhkan antibiotika? 2. Bila tidak ada indikasi pemberian antibiotika, berhenti di kategori V. Bila antibiotika memang terindikasi, lanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya. Apakah pemilihan antibiotika sudah tepat ? 3. Bila ada pilihan antibiotika lain yang lebih efektif, berhenti di kategori IVa. Bila tidak, lanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya, apakah ada alternatif lain yang kurang toksik ? 4. Bila ada pilihan antibitika lain yang kurang toksik, berhenti di kategori IVb.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Bila tidak, lanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya, apakah ada alternatif lain yang spektrumnya lebih sempit ? 5. Bila ada pilihan antibiotika lain yang lebih murah, berhenti di kategori IVc. Bila tidak, lanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya, apakah ada alternatif lain yang spektrumnya lebih sempit ? 6. Bila ada pilihan antibiotika lain dengan spektrum yang lebih sempit, berhenti di kategori IVd. Jika tidak ada alternatif lain yang lebih sempit, lanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya, apakah durasi antibiotika yang diberikan terlalu panjang ? 7. Bila durasi pemberian antibiotika terlalu panjang, berhenti di kategori IIIa. Bila tidak, diteruskan dengan pertanyaan apakah durasi antibiotika terlalu singkat ? 8. Bila durasi pemberian antibiotika terlalu singkat, berhenti di kategori IIIb. Bila tidak, diteruskan dengan pertanyaan di bawahnya. Apakah dosis antibiotika yang diberikan sudah tepat ? 9. Bila dosis pemberian antibiotika tidak tepat, berhenti di kategori IIa.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 Bila dosisnya tepat, lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, apakah interval antibiotika yang diberikan sudah tepat ? 10. Bila interval pemberian antibiotika tidak tepat, berhenti di kategori IIb. Bila intervalnya tepat, lanjutkan dengan pertanyaan di bawahnya. Apakah rute pemberian antibiotika sudah tepat ? 11. Bila rute pemberian antibiotika tidak tepat, berhenti di kategori IIc. Bila rute tepat, lanjutkan ke kotak berikutnya. 12. Bila timing pemberian tidak tepat, berhenti dikategori I 13. Bilaantibiotika tidak termasuk kategori I sampai dengan VI, antibiotika tersebut merupakan kategori 0. (Kemenkes, 2011b)

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 D. Keterangan Empiris Masih terdapat ketidakrasionalan dalam peresepan antibiotika pada pasien pediatrik yang menjalani rawat inap. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kualitas peresepan antibiotika pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Januari 2013 yang dikaji dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode Gyssens.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian kajian literatur rasionalitas antibiotika berdasarkan kriteria Gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode bulan Januari 2013 merupakan jenis penelitian deskriptif evaluatif dengan rancangan penelitian cross sectional menggunakan data retrospektif. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel a. Profil pasien Profil pasien dalam penelitian ini meliputi umur, berat badan jenis kelamin. b. Profil penyakit infeksi Dalam penelitian ini yang dimaksud jenis penyakit infeksi yang terjadi pada pasien pediatrik yang ditetapkan berdasarkan diagnosis kerja yang tertulis di rekam medik. c. Profil peresepan obat Disini profil peresepan obat meliputi : 1. Golongan antibiotika yang dimaksud dalam penelitian misalnya golongan sefalosforin, golongan kuinolon. 23

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 2. Jenis antibiotika misalnya ampisilin, gentamisin, rifampisin dll. 3. Rute pemberian, misalnya intravena dan per oral. 4. Lama penggunaan yaitu jumlah hari penggunaan antibiotika. 5. Bentuk sediaan misalnya injeksi, tablet, dan sirup. d. Kualitas / rasionalitas persepan antibiotika. Kualitas/ rasionalitas ini di evaluasi menggunakan metode Gyssens (2011) yang akan dimasukkan dalam 10 kategori dengan kategori sebagai berikut : 0 : penggunaan tepat /rasional I :timingtidak tepat IIA : tidak tepat dosis IIB : tidak tepat interval IIC : tidak tepat cara pemberian IIIA : pemberian yang terlalu lama IIIB : pemberian yang terlalu singkat IVA : ada antibiotika lain yang lebih efektif IVB : ada antibiotika lain yang kurang toksik IVC : ada antibiotika lain yang lebih murah

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 IVD : ada antibiotika lain yang lebih spesifik V : penggunaan antibiotika tanpa ada indikasi VI : rekam medik tidak lengkap untuk dievaluasi Golongan 0 termasuk kategori rasional. Golongan I-V termasuk kategori tidak rasional Pada penelitian ini kajian rasionalitas peresepan antibiotika dilakukan dengan menggunakan kriteria Gyssens (Gyssens & Meers, 2001). Literatur seperti , Tan & Rahardja (2007), Kemenkes (2011), Lacy, Amstrong, Goldman, Lace (2011), SPM (Standar Pelayanan Medik) RSUP Dr. Sardjito (2005) , berbagai buku farmakoterapi seperti Sukandar, dkk, (2008), Dipiro & Schwinghammer, Dipiro (2009), Gunawan (2012), dan berbagai jurnal terkait. C. Subyek Penelitian Subyek penelitian terdiri dari pasienpediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode bulan Januari 2013. D. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar rekam medik pasien pediatrik yang menerima resep obat antibiotika berdasarkan SPM (standar pelayanan medik) yang digunakan oleh di RSUP Dr. Sardjito

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Yogyakarta periode bulan Januari 2013 yang ditulis oleh dokter, perawat dan apoteker mengenai data klinis pasien, pengobatan, dan pemeriksaan lainnya yang dilakukan. E. Alat Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1. Form yang digunakan untuk mengambil data pengobatan pasien (Lampiran 1). 2. Diagram Gyssen yang digunakan untuk mengkaji rasionalitas peresepan antibiotika. Literatur untuk mengkaji seperti yang telah disebutkan di atas. F. Tempat Penelitian Penelitian di bangsal anak INSKA II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.Bangsal anak INSKA II terdiri atas sub-bagian ruangan yang terbagi atas paviliun VIP Cempaka Mulya, paviliun rawat inap kelas I, II dan III serta ruang NICU dan PICU.Tempat pengambilan data di instalasi catatan medik RSUP Dr. Sardjito Kota Yogyakarta. G. Waktu pengambilan data Pengambilan data dilakukan pada bulan September 2013 – November 2013. H. Tata Cara Penelitian Tata cara penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 1. Tahap Orientasi dan Studi Pendahuluan Pada tahapan ini dilakukan penyusunan proposal kegiatan dan mengurus perizinan No. 1156/D/VII/13 (Lampiran X).Dilakukan pula pengurusan ethical clearance di RSUP Dr. Sardjito No.KE/FK/799/EC (Lampiran 3). Pada tahap orientasi dilakukan pencarian informasi mengenai teknis pengambilan bahan penelitian. Setelah itu dilakukan studi pendahuluan mengenai teknis pengambilan data secara rinci. Dilakukan studi pendahuluan untuk mencari informasi tentang gambaran penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito selama periode Januari 2013. Hasil studi pendahuluan selama periode Januari 2013, tercatat ada 187 rekam medik pasien pediatrik rawat inap. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, tidak didapatkan data pasti tentang berapa banyak pasien pediatrik yang benar-benar menggunakan antibiotika. 2. Pengambilan Data Pengambilan data ini dilakukan dengan cara mencetak print out yang memuat data dasar pasien meliputi (Identitas, diagnosis masuk, diagnosis penyerta dan tanggal keluar-masuk RS) yang dirawat selama Januari 2013, lalu memilah rekam medik pasien. Untuk menentukan jumlah sampel yang masuk dalam kriteria

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 inklusi, peneliti mencocokan diagnosis utama dan penyerta dari pasien dengan standar pelayanan medik (SPM) yang digunakan RSUP Dr. Sardjito sehingga akan didapat data/bahan penelitian yang diperkirakan benar-benar menggunakan antibiotika. Pencocokan dengan menggunakan SPM merupakan teknis yang paling memungkinkan untuk memastikan bahwa rekam medis yang diambil adalah yang memuat penggunaan antibiotika pada pasien anak rawat inap di bangsal INSKA II selama periode penelitian, karena sistem yang digunakan RSUP Dr. Sardjito itu sendiri berbeda dengan rumah sakit lainya terkait dengan masalah teknis akses data yaitu harus membayar setiap rekam medik pasien yang keluar, sedangkan belum tentu semua rekam medik pasien yang keluar tersebut menerima resep antibiotika. 3. Penelusuran data Penelusuran data dilakukan dengan cara melihat data rekam medik pasien pediatrik rawat inap yang memuat identitas, tanda vital, riwayat pengobatan, riwayat penyakit, lama tinggal di rumah sakit, anamnesis, diagnosis, obat yang diberikan (terapi), jenis antibiotika yang diberikan dan data laboratorium serta keterangan kesembuhan di rumah sakit tersebut. Data yang di telusuri harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 1. Rekam medik pasien pediatrik rawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 yang dengan penyakit infeksi yang menerima resep antibiotika menurut SPM (standar pelayanan medik) di RSUP Dr. Sardjito 2. Rekam medik yang jelas terbaca. 3. Pasien dengan status keluar dari rumah sakit diizinkan dengan keadaan keluar membaik atau sembuh. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Pasien yang mendapatkan antibiotika pulang paksa sebelum program pemberian antibiotika pasien tersebut selesai. 2. Pasienmelanjutkanpengobatan di tempat lain. 3. Pasien yang menjalani rawat inap di NICU/PICU. 4. Pasien dengan status meninggal dunia. 4. Pengolahan Data Pengolahan data akan dilakukan dengan : 1. Editting dan Cleaning Editting dilakukan dengan memeriksa ulang kelengkapan data – data yang diperoleh dari rekam medik RSUP Dr. Sardjito YogyakartaperiodebulanJanuari 2013.Sedangkan Cleaning dilakukan dengan memeriksa ulang data-data yang telah dimasukkan. 2. Analisis data

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Analisis data dilakukan secara analisis deskriptif. Analisis deskriptif dilakukan dengan menguraikan data-data yang didapatkan dari rekam medik antara lain nama antibiotika, jenis antibiotika, dosis, frekuensi, rute pemberian, lama penggunaan, data demografi (umur, jenis kelamin). Penilaian kualitas penggunaan antibiotika di evaluasi dengan menggunakan kriteria Gyssens. Hasilnya disajikan dalam bentuk tabel berupa presentase peresepan antibiotika yang rasional atau tidak rasional . 5. Penyajian Data Hasil yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dengan pembahasannya, yaitu profil pasien, profil penyakit, profil peresepan, evaluasi peresepan antibiotika yang diberikan kepada pasien pediatrik rawat inap Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Januari 2013.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai “Kajian Literatur Rasionalitas Peresepan Antibiotika Berdasarkan Kriteria Gyssens Pada Pasien Pediatrik Rawat Inap Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Januari 2013” dilakukan dengan cara menelusuri kasus pasien pediatrik rawat inap yang didiagnosa terkena penyakit infeksi dan menerima resep antibiotika. Disini data rekam medik yang digunakan bersifat retrospektif. Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini akan dibahas menjadi beberapa bagian, yaitu mengidentifikasi profil pasien, profil penyakit infeksi pada pasien pediatrik, mengidentifikasi profil penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 dikaji dari segi kualitas penggunaan antibiotika menurut kriteria Gyssen. A. Profil Pasien Selama periode Januari 2013, terdapat 31 pasien yang didiagnosa terkena penyakit infeksi dan dipastikan menerima resep antibiotika berdasarkan SPM (standar pelayanan medik) yang digunakan oleh RSUP Dr. Sardjito. Berdasarkan 31 rekam medik tersebut, didapatkan distribusi jenis kelamin dan umur, dapat di lihat pada Gambar 1 dan Tabel 1. 31

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Gambar 1. Perbandingan jumlah pasien pediatrik laki-laki dan perempuan yang menerima antibiotika periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tabel I. Distribusi jumlah pasien berdasarkan range usia pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Range Usia < 1 bulan Jumlah pasien 8 23 1 – 24 bulan 2-12 tahun Total 31 Presentase (%) 25,8% 74,2% 100 Pembagian usia pada pasien pediatrik pada penelitian ini berdasarkan yang telah disebutkan World Health Organization (2007) yang membagi usia pediatrik menjadi : neonatus (≤ 1 bulan ), bayi (1-24 bulan), serta anak (2-12 tahun). B. Profil Penyakit Infeksi Dari 31 rekam medik didapatkan data profil penyakit infeksi yang ditemukan di RSUP Dr. Sardjito seperti yang dapat dilihat di Tabel II dan Tabel III dibawah ini.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Tabel II. Diagnosis utama penyakit pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Nama Penyakit Gastroenteritis Akut HIV* Stadium III Prokemoterapi ALL* Diabetes Melitus Tipe I Demam Netropenia Pertusis Klinis Pneumonia Dengue Shock Syndrome Kejang Dengan Demam Tonsilofaringitis Akut Asma Gagal Ginjal Dengan CAPD* ISK* Kejang Demam Kompleks Total Jumlah 4 1 7 1 1 1 8 1 1 1 3 1 1 1 32 Presentase (%) 12,5 3,1 21,9 3,1 3,1 3,1 25,0 3,1 3,1 3,1 9,4 3,1 3,1 3,1 100 Keterangan : *ISK (Infeksi Saluran Kemih), HIV (Human Immunodeficiency Virus), CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis), ALL (Acute Leukemia Lymphoblastic) Tabel III. Diagnosis penyerta penyakit pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Nama Penyakit Hipokalimia Sepsis Gastroenteritis Akut ISK* Ketoasidosis Diabetikum ALL* Asidosis Metabolik Demam Neutropenia Gizi Buruk Tipe Marasmik Pneumonia Tonsilo Faringitis Akut Krisis Hipertensi Cytitis Fever Unspecified Ca Nasofaring Suspect ISK* Jumlah Presentase (%) 1 4 3 2 1 2 1 2 2 3 1 1 1 4 1 1 Total 30 100 Keterangan : *ISK (Infeksi Saluran Kemih), ALL (Acute Lymphoblastic Leukemia) 3,3 13,3 10,0 6,7 3,3 6,7 3,3 6,7 6,7 10,0 3,3 3,3 3,3 13,3 3,3 3,3

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Dari 31 catatan medik didapatkan urutan teratas diagnosis utama penyakit yang paling banyak terjadi adalah pneumonia yaitu sebesar 25% dan diagnosis penyerta yang paling banyak terjadi adalah sepsis yaitu sebesar 13,3%. Hal ini serupa dengan yang telah dikemukan pada buku Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010 dan buku Profil Kesehatan Provinsi D. I. Yogyakarta tahun 2011 yang menyatakan bahwa penyakit infeksi merupakan penyakit yang termasuk dalam kategori 10 besar untuk penyakit yang sering ditemui pada pasien pediatrik rawat inap. Beberapa penyakit infeksi seperti pneumonia dan sepsis neonatal termasuk dalam kategori 10 besar penyakit yang sering ditemui pada pasien pediatrik rawat inap (Kemenkes 2011; Dinkes Provinsi D. I. Yogyakarta, 2012). Penelitian serupa yang pernah dilakukan terkait penggunaan antibiotika adalah penelitian di bangsal anak RSUP Dr. Kariadi periode Agustus – Desember 2011, ditemukan jenis penyakit terbanyak adalah Demam Tifoid (Febiana, 2012). Penelitian lain yang juga serupa adalah evaluasi kualitatif penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens di ruang kelas 3 Infeksi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM yang dilakukan pada tahun 2011ditemukan jenis penyakit terbanyak adalah infeksi pada saluran pernafasan (ISPA) dengan presentase 30,7% (Pamela, 2011). C. Profil Peresepan Antibiotika Tercatat ada 31 rekam medik didapatkan data pola peresepan antibiotika yang ditemukan di RSUP Dr. Sardjito seperti yang dapat dilihat di Tabel IV berikut ini.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 a. Golongan dan jenis antibiotika Tabel IV. Golongan dan jenis antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. No 1 2 3 4 5 6 7 Golongan Dan Jenis Antibiotika Penisilin Amoksisilin Ampisilin Sefalosforin Seftriakson Sefotaksim Seftazidim Sefiksim Aminoglikosida Gentamisin Makrolida Azitromisin Klindamisin Eritromisin Kuinolon Siprofloksasin Sulfonamida Kortimoksasol Antibiotika Lain Kloramfenikol Metronidazol Total Jumlah Presentase (%) 3 13 4,4 18,8 6 4 13 1 8,7 5,8 18,8 1,5 16 23 1 1 3 1,5 1,5 4,4 2 2,9 2 2,9 2 2 69 2,9 2,9 100 Tercatat ada 31 catatan medik pasien, didapatkan 14 jenis antibiotika dengan jumlah 69 antibiotika yang digunakan. Pada penelitian ini penggunaan antibiotika terbanyak adalah golongan aminoglikosida dengan jenis antibiotika gentamisin dengan presentase sebesar 23% dan antibiotika yang paling sedikit digunakan adalah azitromisin dan klindamisin. Penelitian serupa yang pernah dilakukan terkait penggunaan antibiotika adalah di bangsal anak RSUP Dr.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Kariadi Semarang periode Agustus - Desember 2011, dilihat dari peresepan yang dilakukan pada 71 pasien, didapatkan distribusi penggunaan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ampisillin sebanyak 22,8% (Febiana, 2012). Penelitian lainya yang serupa adalah penggunaan antibiotika pada infeksi saluran pernafasan anak di Bangsal Pediatrik Rumah Sakit Penang, Malaysia. Data didapatkan antibiotika terbanyak yang digunakan adalah penisilin (50,0%), eritromisin (32,1%), amoksisilin (30,2%), asam klavulanat (33,2%). Penelitian lain yang juga serupa adalah evaluasi kualitatif penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens di ruang kelas 3 Infeksi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM yang dilakukan pada tahun 2011 antibiotika yang paling banyak digunakan adalah sefotaksin (19.0%) diikuti oleh kloramfenikol (9,8%) dan ampisilin (9,5%) (Pamela,2011). Pada penelitian antibiotika yang paling banyak digunakan adalah golongan aminoglikosida dengan jenis antibiotika gentamisin. Menurut (Bueno, 2009), antibiotika dari golongan aminoglikosida merupakan antibiotika yang memiliki spektrum luas dan merupakan antibiotika pilihan yang digunakan terutama untuk menangani infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram negatif, seperti E. coli, Salmonella spp., Shigella spp., Enterobacter spp., Citrobacter spp., Acinetobacter spp., Proteus spp., Klebsiella spp., Serratia spp., Morganella spp., Pseudomonas spp., dan mikrobakteria. Dalam penggunaannya, antibiotika golongan ini jarang berdiri sendiri biasanya dikombinasikan dengan antibiotika golongan penisilin untuk menangani penyakit infeksi seperti pneumonia, dan sepsis yang banyak terjadi selama periode penelitian yang biasanya disebabkan

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 oleh bakteri Gram negatif. Kombinasi antibiotika gentamisin dan ampisilin digunakan sebagai antibiotika lini pertama untuk pasien anak. Hal ini disebabkan gentamisin yang dikombinasikan dengan penisilin akan menghasilkan efek bakterisid yang kuat, yang sebagian disebabkan oleh penghambatan sintesis dinding sel. Penisilin mengubah struktur dinding sel sehingga memudahkan penetrasi gentamisin kedalam kuman (Katzung, 2004). Penggunaan monoterapi antibiotika golongan aminoglikosida akan sama efektifnya dengan penggunaan kombinasi bila digunakan untuk menangani penyakit infeksi pada wilayah yang tingkat resistensinya terhadap antibiotika rendah (Reeves, 2010). Akan tetapi tingginya kasus resistensi yang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia (Ieven et al., 2003; Tjaniadi et al., 2003) membuat penggunaan antibiotika golongan ini lebih sering ditemukan dalam penggunaan kombinasi. (Hardman et al., 2012).Selain itu harga dari antibiotika gentamisin jauh lebih murah daripada antibiotika yang lain sehingga klinisi dan pasien lebih sering memilih gentamisin untuk digunakan dalam terapi (Hardman et al., 2012). Gentamisin dan seftazidim dalam penelitian ini banyak ditemui dikarenakan antibiotika ini banyak digunakan untuk pasien pediatrik yang sedang menjalani kemoterapi karena dikhawatirkan akan terjadi komplikasi demam netropenia selain itu antibiotika ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah Infeksi yang didapat atau timbul pada saat seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat. Infeksi

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 nosokomial biasanya terjadi setelah pasien dirawat minimal 3 x 24 jam di rumah sakit atau 72 jam (Light, 2001). Antibiotika yang digunakan sebagai terapi profilaksis biasanya digunakan sekali pakai dan dengan dosis besar, oleh karena itu biasanya digunakan antibiotika yang memiliki ambang terapi lebar sehingga lebih aman untuk digunakan (Katzung, 2004). Di RSUP Dr. Sardjito antibiotika gentamisin kombinasi dengan seftazidim merupakan antibiotika yang digunakan sebagai terapi profilaksis dengan lama pemakaian tidak lebih dari 5 hari. Pemakaian lebih dari 5 hari dapat mempertinggi resiko toksik pemakaian gentamisin pada pasien, oleh karena itu pemakaian yang lama harus dihindari jika gentamisin digunakan sebagai terapi antibiotik profilaksis, namun pemakaian lama (lebih dari 5 hari) untuk terapi penyakit dapat digunakan tapi harus dengan pertimbangan besar dosis yang diberikan berdasarkan konsentrasi obat dalam serum darah dan monitoring fungsi ginjal serta pendengaran pasien (Katzung, 2004). Selain itu tingginya penggunaan gentamisin pada penelitian ini dikarenakan gentamisin merupakan salah satu first line therapy untuk kasus pneumonia dan sepsis pada pasien pediatrik (SPM, 2005), mengingat tingginya angka kejadian pneumonia dan sepsis sebagai penyakit utama dan penyakit penyerta (lihat tabel II dan III) yang terjadi selama periode penelitian sehingga penggunaan gentamisin banyak ditemui.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 b. Rute penggunaan antibiotika Gambar 2. Diagram presentase rute penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Di RSUP Dr. Sardjito rute yang paling banyak digunakan adalah rute intravena yaitu sebanyak 67,6% dibandingkan dengan penggunaan rute per oral yaitu sebanyak 32,4%. Penelitian serupa yang pernah dilakukan terkait penggunaan antibiotika adalah evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan kriteria Gyssens di bagian ilmu bedah RSUP Dr. Kariadi periode AgustusDesember 2008 dengan penggunaan antibiotika sebagian besar dengan cara intravena (84,1%) dan per oral (15,9%) (Dertarani, 2009). Rute pemakaian intravena lebih dipilih untuk menangani pasien dengan infeksi sedang sampai dengan berat dikarenakan onsetnya yang cepat dan biaoavailibilitas yang didapatkan melalui rute intravena ini juga lebih besar daripada rute pemberian per oral. Cepatnya onset dan besarnya bioavailibilitas akan menyebabkan efek aksi dari antibiotika dalam menghambat/membunuh kuman penyebab penyakit infeksi akan lebih maksimal (Hakim, 2012). Sedangkan rute pemberian antibiotika per-oral menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi. Akan tetapi pada infeksi sedang sampai berat dapat

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 dipertimbangkan menggunakan antibiotika parenteral seperti rute intravena (Kemenkes, 2011b). c. Bentuk Sediaan antibiotika Gambar 3. Diagram presentase bentuk sediaan penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Dari 31 rekam medik didapatkan bentuk sediaan antibiotika yang paling banyak digunakan adalah bentuk sediaan antibiotika yang injeksi dengan presentase sebesar 67,6% sedangkan untuk antibiotika sediaan tablet dengan presentase sebesar 32,4%. d. Durasi lama penggunaan antibiotika Tabel V. Durasi lama penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Nama Antibiotika Amoksisilin Ampisilin Seftriakson Sefotaksim Seftazidim Gentamisin Azitromisiin Klindamisin Eritromisin Siprofloksasin 1 1 Durasi Lama Pemakaian Antibiotika (Hari) 2 3 4 5 6 ≥7 1 2 4 2 5 1 2 1 2 1 3 1 1 2 1 1 2 5 1 4 1 3 4 2 5 1 1 1 3 1 1

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Lanjutan Tabel V. Sefiksim Kortimoksazol Kloramfenikol Metronidazol 1 1 3 1 1 Tercatat ada 31 catatan medik yang diperoleh, didapatkan durasi lama penggunaan antibiotika terlama adalah lebih dari atau sama dengan 7 hari, sedangkan durasi lama penggunaan antibiotika tersingkat selama satu hari. Durasi lama penggunaan antibiotika untuk sebagian besar penyakit infeksi adalah selama 3-7 hari (Kemenkes, 2011). Untuk mempermudah, penggunaan antibiotika dibagi dengan interval 1 hari sehingga pembagian interval pada lama rawat inap menjadi 1, 2, 3, 4,5, 6, sampai dengan lama penggunaan lebih dari 7 hari. Beberapa faktor kemungkinan besarnya mengenai temuan lama pemakaian antibiotika 1 sampai dengan 5 hari diantaranya adalah banyak antibiotika yang diresepkan dengan tujuan digunakan sebagai terapi empiris yang dimana untuk penggunaan terapi empiris lama pemakaian antibiotika adalah 2-3 hari (Permenkes, 2011). Dalam kasus terapi empiris ini antibiotika yang paling sering digunakan adalah antibiotika dengan spektrum luas seperti antibiotika golongan sefalosporin atau penisilin dengan lama pemakaian antibiotika adalah 2 sampai dengan 3 hari. Pada penelitian ini ditemukan antibiotika yang paling sering digunakan adalah antibiotika golongan sefalosporin dan aminoglikosida.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Lama penggunaan antibiotika untuk sebagian besar penyakit infeksi seperti pneumonia, ISK, cystitis, dan sepsis adalah 3 sampai dengan 7 hari (Coyle dan Prince, 2005; Finch, 2010; Kemenkes RI, 2011a). Dalam penelitian ini ditemukan sebagian besar antibiotika diresepkan dengan lama pemakaian 1 sampai dengan 5 hari.Hal ini relevan dengan temuan jenis penyakit utama dan penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini yaitu pneumonia dan sepsis. D. Kualitas Penggunaan Antibiotika Evaluasi penggunaan antibiotikadengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan kriteria Gyssens. Tabel VI. Kualitas penggunaan antibiotika berdasarkan metode Gyssens pada pasien pediratrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Katetegori I IIa IIb IIc IIIa IIIb IVa IVb IVc IVd V VI 0 Total Jumlah 1 10 3 3 2 10 3 0 37 69 Presentase (%) 1,5 14,5 4,3 4,3 2,9 14,5 4,3 0 53,7 100

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Penelitian ini mendapatkan hasil sebesar 53,7% untuk penggunaan antibiotika yang memenuhi kategori Gyssens 0 (rasional) dan untuk peresepan antibiotika yang memenuhi kategori Gyssens adalah kategori V (tidak rasional karena penggunaan antibiotika tanpa ada indikasi) sebesar 4,3%. Sisanya penggunaan antibiotika tidak rasional dengan rincian sebesar 1,5% kategori Gyssens I (penggunaan antibiotika waktu tidak tepat), 14,5 kategori Gyssens IIA (tidak rasional karena pemberian antibiotika yang tidak tepat), 4,3% kategori Gyssens IIIA (tidak rasional karena pemberian antibiotika yang terlalu lama), 4,3% kategori Gyssens IIIB (tidak rasional karena pemberian antibiotika yang terlalu singkat), 2,9% kategori Gyssens IVA (tidak rasional karena ada antibiotika lain yang lebih efektif), 14,5% kategori Gyssens IVB (tidak rasional karena ada antibiotika lain yang kurang toksik). Kajian literatur rasionalitas antibiotika per kasus, menggunakan alur Gyssens yang lebih detail akan disajikan di bawah ini. 1. Kasus 02 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama gastroenteritis akut dan diagnosis penyerta hipokalimia menerima antibioka berupa sefotaksim. Dalam kasus ini penggunaan sefotaksim termasuk dalam kategori 0 (penggunaan antibiotika tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gastroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 & Rahardja, 2007). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh. Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009) jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik. Lolos kategori IIIa dan kategori IIIb karena lama penggunaan antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis yang digunakan tepat tepat, dosis antibiotika untuk anak 50–200mg/kgbb/hari dalam 2 – 4 dosis terbagi (APA, 2011 ; ISFI, 2008). Lolos kategori IIb karena interval pemberian sudah tepat, sesuai dengan yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (APA, 2011) (ISFI, 2008). Lolos kategori Iic karena rute pemberian tepat, pasien mengalami muntah-muntah sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos kategori I karena waktu pemberian antibiotika sudah sesuai. 2. Kasus 03 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama HIV stadium III dengan diagnosis penyerta sepsis menerima antibiotika berupa seftazidim, ampisilin, gentamisin, dan kortimoksazol. Gentamisin dan ampisilin termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssen. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis biasanya disebabkan oleh bakteri H. Influenzae (SPM, 2005).

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif, kondisis pasien membaik dan menurut SPM ampisilin dan gentamisin termasuk dalam first line untuk terapi sepsis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain. Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik dan dalam kasus ini belum diketahui jenis bakteri jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIB karena lama penggunaan pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan SPM untuk terapi sepsis menggunakan ampisilin yaitu 2-7 hari (SPM, 2005). Lolos kategori IIa dosis ampisilin sudah tepat untuk anak 50-100 mg/kgbb/hari dalam kasus ini diberikan dosis 800mg dengan BB 8,5kg (SPM,2005), dosis gentamisin juga sudah tepat dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 50mg/hari dengan BB 8,5kg, (SPM, 2005). Lolos kategori IIb interval pemberian sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005). Lolos kategori IIc rute pemberian tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. Kortimoksazol termasuk dalam kategori IIIb (pemberian antibiotika terrlalu singkat) antibiotika hanya diberikan selama 2 hari, sedangkan 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Kemenkes, 2011b). Seftazidim termasuk dalam kategori IIa dosis pemberian antibiotika tidak tepat), dikarenakan dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 150mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 600mg/hari

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 sedangankan BB pasien 8,5 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 1275mg/hari (SPM, 2005). 3. Kasus 05 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama DM tipe I dengan peyakit penyerta ketoasidosis diabetikum dan ISK menerima antibiotika berupa ampisilin yang termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. aLolos kategori V karena indikasi penyakit akibat infeksi bakteri ISK umumnya disebabkan oleh Escherichia coli dan Staphylococcus saprophyticus Staphylococcus saprophyticus. Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh dan ampisilin termasuk dalam first line untuk terapi ISK, dan juga ampicilin merupakan antibiotik dengan spektrum luas (Dipiro, 2009 ; SPM,2005). Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik dan dalam kasus ini belum diketahui jenis bakteri jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan SPM untuk terapi ISK menggunakan ampisilin yaitu 7-10 hari (SPM, 2005). Lolos kategori IIa karena dosis tepat dosis antibiotika untuk anak 250-500mg/kgbb/hari dalam 4 dosis terbagi (SPM, 2005). Lolos kategori IIb interval pemberian sudah tepat, sesuai dengan yang dianjurkan

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 setiap 6 – 12 jam dalam sehari (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 4. Kasus 06 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama demam netropenia dengan diagnosis penyerta ALL dan gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa ampisilin, siprofloksasin, gentamisin, metronidazol dan seftazidime. Dalam kasus ini penggunaan ampisilin dan metronidazol termasuk dalam kategori 0 (penngunaan antibiotika tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gastroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh. Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009). Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibbiotika pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari dalam 3 dosis terbagi (Tan &

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Rahardja, 2007). Lolos kategori IIb karena inteval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. Siprofloksasin dan gentamisin termasuk dalam kategori IVb (ada alternatif lain yang lebih tidak toksik) untuk penggunaan siprofloksasin ada alternatif lain yang lebih tidak toksik contohnya kortimoksazol yang juga merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang juga jarang menimbulkan resistensi sehingga banyak digunakan untuk berbagai penyakit infeksi (Tan & Rahardja, 2007), siprofloksasin juga kurang aman jika digunakan pada pasien pediatrik karena dapat menyebabkan gangguan pada persendian (Hardman et al., 2012) dan untuk penggunaan gentamisin ada interaksi dengan golongan sefalosforin (Permenkes, 2011). Seftazidim termasuk dalam kategori IIIb (penggunaan antbiotika terlalu lama), lama penggunaan 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik, sedangkan dalam kasus ini antibiotika lama penggunaannya 9 hari (Kemenkes, 2011b). 5. Kasus 07 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama pertunis klinis menerima antibiotika eritromisin yang termasuk dalam kategori 0 (penggunaan antibiotika tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pertusis klinis disebabkan oleh Bordetella pertusis atau Hemofilus pertusis yang diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 efektif dikarenakan pasien sembuh juga karena eritromisin itu merupakan first line untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika tepat, 7 hari memang merupakan anjuran untuk lama penggunaan eritromisin untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005), dosis tepat. Lolos kategori IIa karena dosis antibiotika untuk anak adalah 50mg/kgbb/hari untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I waktu pemberian yang sudah sesuai. 6. Kasus 08 Pasien pediatrik dengan gastroenteritis akut dan diagnosis penyerta ISK menerima antibiotika seftriakson yang termasuk kategori 0 (penggunaan antibiotika tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gastroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh. Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes,

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah, antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009) jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak 75mg/kgbb/hari (SPM, 20005). Lolos kategori IIb karena interval pemberian sudah tepat, sesuai dengan yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (SPM,2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian tepat karena pasien mengalami muntah-muntah sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 7. Kasus 09 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama pneumonia dengan diagnosis penyerta sepsis dan asidosis metabolik menerima antibiotika berupa ampisilin, amoksisilin dan gentamisin. Ampisilin, amoksisilin dan gentamisin termasuk dalam kategori IIa (dosis pemberian antibiotika tidak tepat) dikarenakan dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 100mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis ampisilin sebesar 450mg/hari sedangkan BB pasien 2,6 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 260mg/hari (SPM, 2005), untuk dosis amoksisilin yang digunakan untuk pasien pediatrik 50-100mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 375mg/hari sedangkan BB pasien 2,6 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 130-260mg/hari (SPM, 2005), dan untuk dosis gentamisin yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 kasus ini diberikan dosis sebesar 20mg/hari sedangkan BB pasien 2,6 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 13mg/hari (SPM, 2005). 8. Kasus 11 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama pneumonia dengan penyakit penyerta sepsis menerima antibiotika berupa seftriakson, seftazidim, sefotaksim, klindamisin dan azitromisin.Penggunaan seftriakson dan sefotaksim termasuk dalam kategori 0 (penggunaan antibiotika tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang disebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. Influenzae (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh dan terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 bulan diberikan seftriakson (sefalosforin generasi 3) merupakan terapi antibiotika yang juga digunakan dalam mengobati penyakit pneumonia (Dipiro, 2009). Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011). Lolos kategori IIa karena dosis yang

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 digunakan untuk pasien pediatrik tepat yaitu 50-75mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 150mg/hari dengan BB pasien 2,4 kg (Dipiro, 2009). Lolos kategori IIb karena interval yang digunakan sesuai dengan yang dianjurkan 2xsehari (FKUI, 2008). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. Seftazidim dan azitromisin termasuk dalam kategori IIa (dosis pemberian antibiotika tidak tepat) dikarenakan dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik 150mg/kgbb/hari dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 120mg/hari sedangnkan BB pasien 2,4 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 360mg/hari (Dipiro, 2009). Dosis azitromisin yang digunakan untuk pasien pediatrik 10mg/kgbb/hari, dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 15mg/hari sedangkan BB pasien 2,4 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 24mg/hari (Dipiro, 2009). Klindamisin termasuk dalam kategori IVb (ada alternatif lain yang lebih tidak toksik) dikarenakan klindamisisn ini sangat toksik bagi ginjal (FKUI, 2008). 9. Kasus 12 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama dengue shock syndrome dengan penyakit penyerta sepsis menerima antibiotika sefotaksim yang termasuk dalam kategori 0 (penggunaan antibiotika tepat/bijak).Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah sesuai dengan seluruh kategori gyysen yaitu adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri.Sepsis yang biasanya disebabkan oleh Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa dan virus, tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh juga sefotaksim memang merupakan pilihan terapi

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005), cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b)., untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah, antibiotika yang digunakan pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas, lama penggunaan antibiotika 5-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis (SPM, 2005), dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 100150mg/kgbb/hari untk infeksi berat. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 3900mg/hari dengan BB pasien 39 kg (ISFI, 2008) inteval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005), rute pemberian, dan waktu pemberian yang sudah sesuai. 10. Kasus 13 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama kejang dengan demam dan penyakit penyerta gastroenteritis akut menerima antibiotika ampisilin dan metronidazol. Metronidazol termasuk dalam kategori 0 (penggunaan antibiotika tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gastroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh. Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009). Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibbiotika pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari dalam 3 dosis terbagi (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIb karena inteval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. Ampisilin termasuk dalam kategori IVa (ada antibiotika lain yang lebih efektif), dikarenakan ampisilin bukan merupakan antibiotika yang dianjurkan untuk terapi gastroenteritis akut, karena tingkat resistensi ampisilin yang tinggi, maka dapat dianjurkan untuk menggunakan kortimoksazol sebagai pilihan terapi yang lebih efektif dan dalam kasus ini kondisi pasien hanya membaik bukan sembuh (Dipiro, 2009 ; Gilman, 2012). 11. Kasus 14 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama gastroenteritis akut dan diagnosis penyerta demam netropenia menerima antibiotika berupa siprofloksasin, termasuk dalam kategori IVb (ada alternatif lain yang lebih tidak toksik). Penggunaan siprofloksasin termasuk dalam ada alternatif lain yang lebih tidak toksik contohnya kortimoksazol yang juga merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang juga jarang menimbulkan resistensi sehingga banyak

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 digunakan untuk berbagai penyakit infeksi (Tan & Rahardja, 2007), siprofloksasin juga kurang aman jika digunakan pada pasien pediatrik karena dapat menyebabkan gangguan pada persendian (Hardman et al, 2012). seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis demam netropenia, diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh dan juga gentamisin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karenapada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (SPM, 2005) sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena interval yanh digunakan tepat pemberian yaitu dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah sesuai, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 12. Kasus 15

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama tonsilofaringitis akut dan dignosis penyerta gizi buruk tipe marasmik menerima antibiotika ampisilin yang termasuk dalam kategori IIa (dosis pemberian antibiotika tidak tepat) dikarenakan dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 250mg-1000mg/kgbb/hari untuk infeksi berat. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 3x 500mg/hari atau 1500mg/hari dengan BB pasien 9,5 kg, seharusnya dengan BB 9,5 kg dosis minimal yang harus diberikan ke pasien pediatrik adalah 2.375mg/hari (ISFI, 2008). 13. Kasus 16 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL dan diagnosis penyerta demam netropenia menerima antibiotika berupa seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena adanya antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis demam netropenia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien sembuh dan juga gentamisin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Loloskategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 yang dianjurkan yaitu 3-7 hari yang merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007) sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pemberian sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 14. Kasus 17 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL menerima antibiotika seftazidim, gentamisin dan amoksisilin yang temasuk dalam pemberian kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim dan amoksisilin yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007), sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pmberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 15. Kasus 18 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam pemberian antibiotika kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007), sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pmberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 16. Kasus 19 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama asma dengan diagnosis penyerta pneumonia dan tonsilofaringitis akut menerima antibiotika berupa ampisilin yang termasuk dalam kategori I (waktu pemberian antibiotika tidak tepat) dikarenakan antibiotika seharusnya diberikan pada jam 05.00, 11.00, 17.00, 23.00 malah diberikan jam 11.00, 18.00 dan 24.00. 17. Kasus 20 Paseien pediatrik dengan diagnosis utama pneumonia dan sepsis menerima antibiotika seftriakson dan gentamisin yang termasuk dalam antibiotika kategori IVb (ada alternatif lain yang lebih tidak toksik). Penggunaan seftriakson bila diberikan berbarengan dengan golongan aminoglikosisa ada kemungkinan

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 menimbulkan resiko nefrotoksisitas, dalam kasus ini diberikan juga antibiotika golongan aminoglikosisda yaitu gentamisin (Kemenkes, 2011b; Dipiro, 2009). 18. Kasus 21 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama gagal ginjal terminal dengan CAPD dengan diagnosis penyerta cytitis dan gastroenteritis akut menerima antibiotika ampisilin yang temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). ). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gastroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif karena ampisilin merupakan first line terapi untuk pneumonia dan untuk pasien usia 2 bulan (dalam kasus ini) ampisilin dan gentamisin dikombinasikan dalam pemberiannya (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Lolos kategori IVc untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd antibiotika yang digunakan merupakan antibiotika spektrum luas pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai yaitu 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM, 2005). Lolos kategori IIa karena dosis yang digunakan tepat untuk pasien pediatrik tepat 100mg/kgbb/hari dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 2400mg/hari dengan BB pasien 23 kg (SPM,

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 2005). Lolos kategori IIb karena interval sudah tepat, pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang diberikan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 19. Kasus 22 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama pneumonia menerima antibiotika ampisilin dan gentamisin. Ampisilin temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif karena ampisilin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk pneumonia dan juga untuk kasus ini ampisilin dikombinasikan dengan gentamisin dalam terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena karena belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM, 2005). Lolos kategori IIa karena dosis ampisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia sudah sesuai dengan anjuran yaitu 100200mg/kg/day (Dipiro, 2008) dalam kasus ini dosis yang digunakan 600mg/hari,

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 jadi masih dalam range dosis tepat. Lolos kategori IIb karena inteval yang digunakan tepat sesuia dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah sesuai , dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. Gentamisin termasuk dalam kategori IIIb (pemberian terlalu singkat) dikarenakan pada kasus ini gentamisin hanya digunakan selama 1 hari, sedangkan 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) 20. Kasus 23 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama asma dan diagnosis penyerta pneumonia menerima antibiotika amoksisilin yang temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVa tidak ada antibiotika yang lebih efektif karena amoksisilin merupakn first line therapy untuk pneumonia (Dipiro, 2009). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan antibotika spektrum luas pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas, lama penggunaan antibiotika. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (Kemenkes, 2011a). Lolos kategori IIa karena dosis ampisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia adalah 100-200mg/kg/day (Dipiro, 2008) untuk dosis sudah tepat, amoksisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia dosis yang dianjurkan 40-9mg/kg/bb/hari (Dipiro, 2008). Lolos kategori IIb karena interval tepat pemberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 21. Kasus 24 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama gastroenteritis akut dan pneumonia menerima antibiotika berupa ampisilin dan kloramfenikol. Ampisilin termasuk dalam kategori IVa (antibiotika lain lebih efektif) dikarenakan ampisilin bukan merupakan antibiotika yang dianjurkan untuk terapi gastroenteritis akut, karena tingkat resistensi ampisilin yang tinggi, maka dapat dianjurkan untuk menggunakan kortimoksazol sebagai pilihan terapi yang lebih efektif (Dipiro, 2009 ; Gilman, 2012). Kloramfenikol termasuk dalam kategori IVa (alternatif lebih tidak toksik) dikarenakan terapi dengan menggunakan kloramfenikol hanya boleh digunakan pada infeksi yang manfaat obat tersebut lebih besar dibandingkan resiko toksisitas potensialnya karena efek kloramfenikol yang bersifat sangat merugikan (Gilman, 2012). 22. Kasus 25 samping dari

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama pneumonia dan diagnosis penyerta sepsis menerima antibiotika berupa eritromisin, ampisilin, kloramfenikol, dan seftriakson. Ampisilin dan seftriakson termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Lolos kategori IVa tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien membaik. Lolos kategori IVb antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik karena bakterinya belum diketahui jadi masih digunakan antibiotika spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika ysnag sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 5- 7 hari yang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari (SPM,2005). Lolos kategori IIa karena interval pemberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005). Lolos kategori IIb karena dosis yang diberikan sudah sesuai, dosis ampisilin dan seftriakson yang digunakan untuk pasien pediatrik 50-100mg/kgbb/hari (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I waktu pemberian yang sudah sesuai. Eritromisin termasuk dalam ketegori IIIa (pemberian antibiotika terlalu lama) dikarenakan pada kasus ini pemberian

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 antibiotika selama 12 hari, seharusnya antibiotika diberikan selama 3-7 hari yang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (Kemenkes, 2011a ). Kloramfenikol termasuk dalam kategori IVa (alternatif lebih tidak toksik) dikarenakan terapi dengan menggunakan kloramfenikol hanya boleh digunakan pada infeksi yang manfaat obat tersebut lebih besar dibandingkan resiko toksisitas potensialnya karena efek samping dari kloramfenikol yang bersifat sangat merugikan (Gilman, 2012). 23. Kasus 26 Pasien pediatrik dengan diggnosis utama pneumonia dengan diagnosis penyerta ALL dan fever unspeciefed menerima antibiotika berupa kortimoksazol, seftazidim dan gentamisin. Gentamisin termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien membaik dan juga gentamisin merupakan first line dalam terapi pneumonia (SPM, 2005). Lolos kategori IVb antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik karena bakterinya belum diketahui jadi masih

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 digunakan antibiotika spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 2-7 hari yang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005). Lolos kategori IIa karena interval sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005). Lolos kategori IIb karena dosis sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 80mg/hari dengan BB pasien 2,6 kg, (SPM, 2005). Lolos kategori IIc karena rute pemberian sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. Kortimoksazol dan seftazidim termasuk dalam ketegori IIa (dosis pemberian antibiotika tidak tepat) dikarenakan pada kasus ini pemberian seftazidim dosis yang dianjurkan untuk pasien pediatrik150mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 1200mg/hari sedangkan BB pasien 16kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 2400mg/hari (Dipiro, 2009), dan dosis pemberian kortimoksazol dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 48mg (trimetoprim 8mg ; sulfametoksazol 40mg/kgbb/hari, dalam kasus ini diberikan dosis 480mg/hari dengan BB 16 kg (SPM, 2005). 24. Kasus 27 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi dengan diagnosis penyerta ca nasofaring dan gizi buruk menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam pemberian antibiotika kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007), sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pmberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 25. Kasus 28 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi dengan penyakit penyerta fever unspecified menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam pemberian antibiotika kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007), sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pmberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 26. Kasus 29 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi dengan penyakit penyerta fever unspecified menerima antibiotika ampisilin dan gentamisin yang termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam pemberian antibiotika kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 ampisilin yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007), sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pmberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 27. Kasus 30 Pasien pediatrik diagnosis utama pneumonia dan diagnosis penyerta ISK menerima antibiotika gentamisin yang temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah sesuai dengan seluruh kategori gyysen yaitu antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005), tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien membaik dan juga gentamisin merupakan first line dalam terapi pneumonia (SPM, 2005), cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b), untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah, antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik karena bakterinya belum diketahui jadi masih digunakan antibiotika spektrum luas, lama penggunaan sesuai dengan yang dianjurkan 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005), interval tepat sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005), dosis sudai sesuai dengan yang dianjurkan yaitu untuk

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 100mg/hari dengan BB pasien 22 kg, (SPM, 2005), rute pemberian, dan waktu pemberian yang sudah sesuai. 28. Kasus 31 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi dengan penyakit penyerta fever unspecified menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Pasien pediatrik dengan diagnosis utama prokemoterapi ALL menerima antibiotika seftazidim dan gentamisin yang temasuk dalam pemberian antibiotika kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah menunjukan kesesuaian dengan kategori Gyssens. Lolos kategori V karena antibiotika diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Lolos kategori IVa karena tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Lolos kategori IVb karena antibiotika cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IVc karena untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Lolos kategori IVd karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Lolos kategori IIIa dan IIIb karena lama penggunaan antibiotika sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 menggunakan antibiotika (Kemenkes, 2011b). Lolos kategori IIa karena dosis seftazidim yang digunakan untuk pasien pediatrik tepat 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007), sedangkan dosis untuk gentamisin 5mg/kgbb/hari (SPM,2005). Lolos kategori IIb karena inteval tepat pmberian sudah sesuai dengan yang dianjurkan 2x1 (Tan & Rahardja, 2007). Lolos kategori IIc karena rute pemberian yang digunakan sudah tepat, dan lolos kategori I karena waktu pemberian yang sudah sesuai. 29. Kasus 32 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama pneumonia menerima antibiotika ampisilin, gentamisin, seftriakson, seftazidim dan eritromisin.Antibiotika ampisilin dan gentamisin termasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah sesuai dengan seluruh kategori gyysen yaitu antibiotika diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005), tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien membaik dan juga gentamisin merupakan first line dalam terapi pneumonia (SPM, 2005), cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b), untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah, antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik karena bakterinya belum diketahui jadi masih digunakan antibiotika spektrum luas, lama penggunaansesuai dengan yang dianjurkan 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 pneumonia (SPM,2005), interval tepat sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005), dosis sudai sesuai dengan yang dianjurkan yaitu untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini ampisilin untuk dosis ampisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia adalah 100-200mg/kg/day (Dipiro, 2008), dalam kasus ini dosis yang digunakan 600mg/hari, jadi masih dalam range dosis tepat dan gentamisin diberikan dalam dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari, dalam kasus ini diberikan dosis 25mg dengan bb pasien 5kg (SPM, 2005) , rute pemberian, dan waktu pemberian yang sudah sesuai. Seftazidim dan eritomisin termasuk dalam kategori IIIb (pemberian terlalu singkat).Dalam kasus ini seftazidim dan eritromisisn hanya diberikan selama 1 hari dan pemberian antibiotika tidak sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). 30. Kasus 33 Pasien pediatrik dengan diagnosis utama ISK (infeksi saluran pernafasan) menerima antibiotika sefiksim yang temasuk dalam kategori 0 (penggunaan tepat/bijak). Hal ini berdasarkan kajian literatur yang telah sesuai dengan seluruh kategori gyysen yaitu antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis ISK diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005)., tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan pasien terbukti pasien membaik, dan juga sefiksim merupakan sefalosforin generasi 3 yang juga merupakam antibiotika spektrum luas (Tan & Rahardja, 2007), cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 (Kemenkes, 2011b), untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah, antibiotika yang digunakan merupakan terapi lini pertama jadi tidak ada antibiotika lain yang lebih spesifik karena bakterinya belum diketahui jadi masih digunakan antibiotika spektrum luas, lama penggunaan sesuai dengan yang dianjurkan pemberian untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011b), interval tepat sesuai dengan yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005), dosis sudah sesuai dengan yang dianjurkan yaitu untuk pasien pediatrik 6mg/kgbb/hari , dosis yang diberikan untuk pasien 50mg/hari dengan BB pasien 8kg (MIMS, 2010), rute pemberian, dan waktu pemberian yang sudah sesuai. 31. Kasus 34 Pasien pediatrik dengan diagnosis kejang dengan demam menerima antibiotika berupa ampisilin, sefotaksim dan seftriakson yang termasuk dalam kategori V (antibiotika tidak diindikasikan) dikarenakan diagnosis infeksi tidak jelas, pemberian antibiotika harus berdasarkan diagnosis infeksi. Dalam penelitian ini, didapatkan beberapa peresepan antibiotika yang memenuhi kategori V pemberian antibiotika tanpa indikasi, yang dimaksud tanpa indikasi adalah tidak terdapat informasi di dalam catatan medik yang menjelaskan mengapa antibiotika tersebut diberikan baik dari diagnosis dari dokter maupun data klinis dan data laboratorium. Apabila hal ini berlangsung terus menerus akan menimbulkan kerugian pada pihak pasien mupun pihak rumah sakit. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya biaya kesehatan, pengobatan menjadi tidak efektif dan munculnya resistensi yang saat ini sudah menjadi masalah global.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Pada penelitian ini antibiotika yang paling banyak masuk kategori V adalah gentamisin dan seftazidim. Gentamisin dan seftazidim banyak diresepkan untuk beberapa pasien pediatrik yang terdiagnosis Leukemia Limfoblastik Akut dan pasien pediatrik yang sedang menjalankan kemoterapi, hal ini mungkin dikarenakan terapi antibiotika diberikan pada pasien pediatrik bukan digunakan untuk tujuan terapi tapi ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Di RSUP Dr. Sardjito antibiotika gentamisin dikombinasi dengan seftazidim merupakan antibiotika yang digunakan sebagai terapi profilaksis hal ini didukung dengan adanya peta kuman periode Januari 2013 yang diberikan RSUP Dr. Sardjito yang menunjukkan bahwa gentamisin dan seftazidim memang diberikan untuk terapi profilaksis. Selain itu antibiotika terkadang diresepkan hanya berdasarkan diagnosa utama yang keluar lebih dahulu daripada hasil hasil uji hematologi dan uji kultur bakteri, sementara itu kondisi pasien harus segera diberikan terapi untuk mencegah terjadiya infeksi yang lebih luas. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya peresepan antibiotika tanpa didukung hasil pengujian laboratorium terkait ada tidaknya indikasi infeksi bakteri Kategori IVb juga banyak ditemukan, hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu adanya interaksi dengan antibiotika lain, obat lain atau dengan makanan. Tapi dalam penelitian ini faktor yang ditemui adalah adanya interaksi antibiotika dengan antibiotika lain, seperti ada pada beberapa kasus yang ditemukan yaitu penggunaan antibiotika golongan aminoglikosida berbarengan dengan penggunaan antibiotika golongan sefalosforin padahal penggunaan

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 aminoglikosida berbarengan dengan sefalosforin itu dapat menyebabkan kemungkinan peningkatan nefrotoksisitas (Permenkes, 2011). E. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan antara lain : 1. Metode Gyssens Metode Gyssens yang digunakan dalam penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan antara lain : a. Metode Gyssens digunakan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotika dan tidak selalu berhubungan dengan outcome terapi. Tujuan dari evaluasi gyssens adalah agar pasien mendapatkan obat yang paling efektif, aman, murah dengan regimen yang tepat. b. Metode Gyssens tidak selalu dapat dihubungkann dengan kondisi yang dialami pasien baik dari diagnosis awal sampai dengan outcome terapi pasien. Sangat sulit karena hanya berpatokan dengan teoritis dari buku-buku pegangan tanpa mengetahui kondisi sebenarnya yang dialami oleh pasien. Banyak kasus yang bertentangan dengan alur dalam metode ini namun memberikan outcome terapi yang justru baik bagi pasien yang bersangkutan. Beberapa antibiotika yang sebenarnya bukan antibiotika yang disarankan sebagai first line therapy penyakit infeksi justru memberi hasil terapi yang baik dan bahkan kondisi pasien jadi membaik. 2. Penelitian menggunakan pendekatan retrospektif

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Secara metodologi, metode Gyssens dapat dilakukan dalam penelitian yang sifatnya pendekatan retrospektif. Akan tetapi pada penelitian dengan menggunakan pendekatan retrospektif ini memiliki keterbatasan, pada penelitian retrospektif dapat terjadi kemungkinan adanya rekam medik yang tidak jelas terbaca. Hal ini akan menimbulkan kesalahan interpretasi dari peneliti sehingga menimbulkan bias bagi hasil penelitian. 3. Penetapan sampel dan pengambilan data Keterbatasan lain pada penelitian ini adalah pada penetapan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian. Di tempat penelitian yaitu RSUP Dr. Sardjito tidak memungkinkan untuk mendapatkan data pasti mengenai penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik. Penentukan apakah pasien pediatrik tersebut menerima antibiotika atau tidak digunakan print out data pasien yang diperoleh dari instalasi catatan medik kemudian dicocokan antara diagnosis utama dan diagnosis penyerta pasien dengan buku standar pelayanan medis (SPM) pada pasien pediatrik yang digunakan di RSUP Dr. Sardjito sehingga nantinya akan diketahui berapa jumlah rekam medik pasien pediatrik yang menggunakan antibiotika dan masuk ke dalam kriteria inklusi sebagai sampel sehingga besar kemungkinan ada data – data yang tidak ikut dimasukan sebagai sampel penelitian akibatnya akan mengurangi jumlah sampel real yang seharusnya didapat.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Kendala lainnya adalah tidak tersedia informasi tentang bangsal yang ditempati pasien dan status pasien yang meninggal pada print out data dasar pasien yang digunakan. Walaupun sebelumnya peneliti telah meminta untuk mengekslusi pasien-pasien yang dirawat di NICU/PICU dan pasien yang meninggal untuk tidak di ikutsertakan dalamprint out lembar data dasar pasien namun pada kenyataannya masih saja didapatkan data/rekam medik pasien yang ternyata dirawat di ruang NICU/PICU yang merupakan salah satu kriteria eksklusi, yang menyebabkan jumlah sampel berkurang.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut : 1. Diagnosis utama yang paling banyak ditemui pada pasien pediatrik selama periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah pneumonia dengan persentase sebesar 25%. Untuk diagnosis penyerta yang paling banyak ditemui adalah sepsis dengan persentase sebesar 13,3%. 2. Antibiotika yang paling banyak digunakan pada pasien pediatrik selama periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah gentamisin dengan persentase penggunaan sebesar 23%. Rute pemakaian yang paling banyak digunakan adalah intravena dengan persentase penggunaan 67,6%. Bentuk sediaan yang paling banyak digunakan adalah injeksi dengan persentase penggunaan sebesar 67,6%. Lama pemakaian antibiotika yang paling sering ditemui adalah lama pemakaian 7 hari. 3. Penelitian ini menemukan 53,6% peresepan antibiotika termasuk rasional menurut kriteria Gyssens dan 46,4% termasuk tidak rasional menurut kriteria Gyssens. 79

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 B. Saran 1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas peresepan antibiotika pada pasien pedriatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai evaluasi peresepan antibiotika berdasarkan kriteria Gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito menggunakan pendekatan yang bersifat prospektif. 3. Penilaian kualitas penggunaan antibiotika sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu reviewer. 4. Adanya pedoman dalam penulisan rekam medik, agar data-data yang ada bisa dimanfaatkan dengan maksimal baik untuk penelitian maupun untuk kepentingan lain.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 DAFTAR PUSTAKA Ambwani, S., Mathur, A.K., 2006, Rational Drug Use, Health Administrator, pp. 1:5-7. Bahrarah., Vera Farah., 2010, Antibiotik untuk bayi harus dipantau ketat. Available online http:/health.detik.co./read/2010/02/16/165044/1300784/765/antibio tik-untuk-bayi-harus-dipantau-ketat [diakses tanggal 19 april 2013]. Barbosa, T.M., Levy, S.B., 2000, The Impact Of Antibiotic Use On Resistance Development And Persitence, Drug Resistance Updates, pp. 3, 303, 311. Bueno, S.C. and Stull, T.L., 2009, Antibacterial Agents in Pediatrics, Infect DisClin N Am,23 : 865–880. Brunton et al., 2010, Goodman &Gilman : Manual Farmakologi dan Terapi, diterjemahkan oleh Sukandar, Y., E., et al., hal. 671-690 , ECG, Jakarta. Bruton, L. Parker, K., Blumenthal, D., Buxton, I., 2008, Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and Therapeutics. McGraw-Hill Companies; USA. Coyle, E., A., Prince, R., A., 2005, Pharmacotheraphy : A Pathophysiologic Approach,6th ed., McGraw-Hill, USA, pp. 2088. Darmansjah, I., 2008, Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak, Kedokteran Indonesia, No. 10, 58:368-369. Departemen Kesesehatan RI, 2011, Profil Kesehatan Indonesia 2010, http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL_KESEHATAN_IND ONESIA_2010.pdf,diakses tanggal 24 Maret 2013.. Dertarani V., 2009, Kajian rasionalitas penggunaan antibiotik di Bagian Ilmu Bedah RSUP Dr Kariadi periode Agustus-Desember 2008. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Dorland, W.A. Newman., 2010, Jakarta:EGC. Kamus Kedokteran Dorland, ed.31. Finch, R., G., 2010, Antibiotic and Chemotheraphy, 9thed., Elsevier, United Kingom, pp. 112. Gunawan, S., G., Setiabudi, R., Nafrialdi, Elysabeth, (Ed), 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, hal.585-595. Guillemot, Didier., 1999, Antibiotic use in humans and bacterial resistance. Current Opinion in Microbiology, pp.2:494–498.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Gyssens IC, Broek PJ, Kullberg BJ, Hekster YA, Meer JW., 1992, Optimizing antimicrobial therapy: a method for antimicrobial drug use evaluation. J Antimicr Chemother, pp. 30:724-7. Hadi, U., Deurink, D.O., Lestari, E.S., Nagelkerke, N.J., Werter, S., Keuter, M., et al, 2008, Survey of Antibiotic Use of Individual Visiting Public Healthcare Facilities in Indonesia, https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/13822/03.p df?sequence=4, diakses tanggal 20 Maret 2014. Hakim, L., 2012, Farmakokinetik Klinik, Bursa Ilmu, Yogyakarta, hal.78. Hardman, J., G., Limbird, L., E., 2012, Goodman and Gilman Dasar Farmakologi Terapi, Edisi 10, diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB, ECG, Jakarta, hal.1117. Hurlock, E., B., 1994, Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan), Erlangga, Jakarta, hal. 190 Ieven, M., Van Loorven, M., Sudigdoadi, S., Rosana, Y., Goossens, W., Lammens, C., et al, 2003, Antimicrobial Suspectibilities of Neisseria gonorrhoeae Strains Isolated in Java, Indonesia, Sex Trans Dis, 30 : 25-30. Jankgent, R., Lashof, A.O., Gould, I.M., Van der Meer, J.W.M.,2000, Antibiotic Use in Dutch Hospital 1991-1996, J. Antimicrob. Chemother, 45:251-256. Judarwanto, W., 2013, 5 Tindakan Medis Berlebihan dalam Dunia Kesehatan Indonesia. Available onlinehttp://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/01/05/10tindakan-medis-berlebihan-dalam-dunia-kesehatan-indonesia). Katzung, Bertram G., 1997, Farmakologi Dasar dan Klinik. ed.6. Jakarta:EGC. Kementrian Kesehatan RI, 2011a, Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik,http://xa.yimg.com/kq/groups/19205602/673695703/nam e/Pedoman+Pelayanan+Kefarmasian+untuk+terapi+antibiotik.pdf, diakses tanggal 16 Maret 2013. Kementrian Kesehatan RI, 2011b , Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika, http://www.binfar.depkes.go.id/dat/Permenkes_Antibiotik.pdf, Diakses tanggal 22 februari 2014.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Komite Medik RS Dr. Sardjito, 2005, Standar Pelayanan Medis RS Dr. Sardjito, Edisi III, MEDIKA Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, hal. 1-280. Lestari ES, Severin JA., 2009, Antimicrobial Resistance In Indonesia Prevalence, determinants and genetic basic [PhD thesis]. Rotterdam, pp. 11-19. Lestari, W., Almahdi, A., Zubir, N., Darwin, D., 2011, Studi Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Sistem ATC/DDD dan Kriteria Gyysens di Bangsal Penyakit Dalam RSUP DR.M.Djamil Padang, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi Pasca sarjana Universitas Andalas, Padang. Lovering, A., M., Reeves, D., S., 2010, Antibiotic and Chemotheraphy, 9th ed., Elsevier,United Kingdom, pp. 150-153. Meer, J.W.M Van der, Gyssens, IC., 2003, Quality of antimicrobial drug prescription In hospital . [cited 2013 april 3]. Available from http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1046/j.14690691.7.s6.3.x/pdf. Neal, Michael J., 2006, Medical Pharmacology At a Glance. Edisi 5. Penerbit Erlangga, pp. 81. Shea K, Florini K, Barlam T., 2001, When wonder dru]gs don’t work, how antibiotic resistence threatens childern, seniors, and the medically vulnerable. [updated 2002 Mar, cited 2013 Aprilr 10]. Available from www.environmentaldefense.org. Staf Pengajar Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia., 2008 Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, pp. 587-588, 590-595. U. Hadi, DO. Deurink, ES. Lestari, NJ. Nagelkerke, S. Werter, M. Keuter, et al., 2008, Survey Of Antibiotic Use Of Individual Visiting Public Healthcare Facilities In Indonesia. [cited 2013 Maret 5]. Available from https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/13821/03.p df;jsessionid=DBED9A1D38747EBF2D64A500F2183E37?sequen ce=8. Widjojo P, Khairuddin. , 2008, Study Of Antibiotic Usage Rationality In Pneumonia Patients Whom Taken Care In The Internal Medicine Ward Dr.Karyadi General Hospital Semarang During 2008. Diponegoro University.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Willemsen, Ina. Groenhuijzen A, Bogaers D, Stuurman A, Keulen P, Kluytmans J., 2007, Appropriatness of antimicrobial therapy measured by repeated prevalence surveys. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, pp. 864-867. World Health Organization., 2011, WHO Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance. Switzerland: World Health Organization. World Health Organization, 2007, Paediatric Age Categories to be Used in Differentiating Between Listing on a Model Essential Medicines List for Children ,http://archives.who.int/eml/expcom/children/Items/PositionPaperA geGroups.pdf, diakses pada tanggal 30 Juni 2014.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 85

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 1. Lembar/Form data Pengobatan pasien Nama : Pelaksanaan Pemberian No RM: Obat Umur: Obat Oral Dosis Dan Cara Pemberian Tanggal Obat Suntikan Dosis Dan Cara Pemberian Tanggal

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Lampiran 2. Surat izin penelitian dari RSUP Dr. Sardjito

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 3. Ethical clearence

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. Uraian lengkap kasus pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. No Data : 02 Tgl masuk : 7/01/13 tgl Keluar : 11/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : AE (Pr) Umur : 3th , BB : 11kg , Diagnosis utama : Gastroenteritis akut Dignosis Penyerta : Hipokalimia KeluhanUtama : Muntah-muntah, demam 2. RiwayanKesehatan RiwayatPenyakit 2 Hsmrs : mulai demam malam hari, muntah 1x, BAB cair (-), batuk (-) 1 Hsmrs ; demam tinggi, BAB cair 2x, muntah, BAB cair , lendir (-), volume ± 50-100 cc, anak mau makan dan minum Hsmrs : jam 03.00anak dibawa ke Rs Congcat, selama mondok BAB >5x encer (+), darah (-), diare cair @ ± 50100cc. TujuanKeluar : sembuh 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Zinc Jumlah Nama : Arzevia N No. 02 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1x20mg Umur : 3 tahun 07-01-2013 24 08-1-2013 06 09-1-2013 06 87

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sanmol Vasendon Obat Suntikan Cefotaxime 1cth/4jam 4x1cth 24 24 04 06 Jumlah Jumlah Zinc Sanmol Vasendon Obat Suntikan Cefotaxime Jumlah 24 Dosis dan Cara Pemberian 3x400mg 24 06 12 18 24 08 16 Umur : 24 08 16 24 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1x20mg 1cth/4jam 4x1cth 18 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3x400mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral 08 12 10-01-2013 06 06 11-1-2013 06 12 18 24 06 12 Tanggal 08 16 24 No Data : 03 Tgl masuk : 04/01/13 tgl Keluar : 15/1/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : DR (Lk) Umur : 4th , BB : 8,5kg Diagnosis utama : HIV stadium III, Diagnosis Penyerta: Sepsis, KeluhanUtama : Prolonged Fever 88

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 3 Hsmrs : anak mengalami demam tidak tinggi, diberi PCT demam membaik, lalu naik lagi, kemudian anak mengalami BAB cair >5x/hari, muntah .5x/hari, lendir (-), darah (-), anak kelihatan lemas lalu dibawa ke Rs suenadsi klaten, mendapat terapi rimfapicin kemudian 3 hari diare membaik, bb turun dari 10 kg jadi 7 kg. Dalam waktu 1 bulan, timbul sariawan di mulut anak tidak mau makan sama sekali. 2 Hsmrs : anak masih demam, diare kambuh kambuhan, Hsmrs : demam (+), BAB lembek 1x, lendir (-), darah (-), batuk (+) 3 hari TujuanKeluar : membaik, atas izin dokter 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Zinc As. Folat San b plex Kortimoksazole Obat Suntikan Ampisilin Gentamisin Flukonazole Ceftazidime Nama : Jovan Akbar No. 03 Dosis dan Cara Pemberian 1x20mg 1x1mg 1x0,3cc 2x240mg Jumlah Umur : 4 tahun Tanggal 7-1-2013 16 16 16 16 8-1-2013 06 06 06 06 18 18 06 06 06 stop Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 4x400mg 1x50mg Hr 1. 1x46mg Hr 2. 1x23mg 3x200mg 9-12013 12 12 18 24 06 12 12 18 06 stop 12 16 12 20 89

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Zinc As. Folat San b plex PZA Obat Suntikan Jumlah Zinc As. Folat San b plex PZA INH Gentamisin Flukonazole 06 06 06 06 05 05 12 12 20 Nama : No. RM : 05 05 12 12 20 05 12 12 20 Umur : Tanggal 13-1-2013 06 06 06 14-1-2013 06 06 06 18 18 18 06 06 15-1-2013 06 06 06 06 06 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1x50mg 1x23mg 06 06 06 06 Tanggal 05 Dosis dan Cara Pemberian 12-1-2013 18 18 1x20mg 1x1mg 1x0,3cc 1x18,5mg 1x75mg Jumlah 11-1-2013 Dosis dan Cara Pemberian Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Suntikan 10-1-2013 06 06 06 1x50mg 1x23mg 3x200mg Jumlah Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1x20mg 1x1mg 1x0,3cc 1x18,5mg Gentamisin Flukonazole Ceftazidime Obat Oral Nama : No. RM : 05 18 12 12 05 12 90

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ceftazidime 3x200mg 05 12 20 05 12 16 05 12 16 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 08.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit Hematokrit (%) MCV MCH MCHC Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 9000-12.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 33 – 38/vol% 82-92 U3 27-31 uug 32-36% 135 – 145 3.6 – 5,8 93 – 116 4,5-5,8 10 1400 201.000 22,1 31 82 26,6 72,4 135 3 103 2,37 No Data : 05 Tgl masuk : 06/01/13 tgl Keluar : 18/01/13 1. IdentitasPasien 91

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama Pasien : CY (Pr) Umur :11th , BB : 23kg Diagnosis utama : DM tipe I Diagnosis penyerta: ketoasidosis diabetikum, ISK 2. RiwayanKesehatan RiwayatPenyakit RPS : ± 2 minggu SMRS, anak mulai pipis banyak menurut ibu terutama pada malam hari. 1 Hsmrs : anak mulai lemas (+) , sakit perut (+), anak muntah 2x, BAK sering. Hsmrs : anak makin lemas minum susu manis bendera 1 gelas (+), kemudian dibawa OT ke bidan , lalu dibawa ke RSUD prambanan,. TujuanKeluar : membaik, atas izin dokter. BAK terakhir jam 11.00 di UGD 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral KCL Obat Suntikan Ampicillin Jumlah Nama : Cahyaning Yuniati No. 05 Dosis dan Cara Pemberian 3 x 500 mg Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 4 x 600 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Dosis dan Cara Umur : 11 tahun Tanggal 7-1-2013 8-1-2013 20 06 24 13 06 12 Umur : 9-1-2013 20 Tanggal 18 24 06 13 20 06 12 18 24 Tanggal 92

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pemberian KCL Obat Suntikan Ampicillin Inj Novoramid Lavenir Jumlah 3 x 500 Dosis dan Cara Pemberian 4 x 600 mg 10-1-2013 06 13 20 06 12 18 11-1-2013 24 KCL Obat Suntikan Ampililin Inj Novorapid Lavenir Novorapid KCL Obat Suntikan 20 Tanggal 06 12 18 24 06 12 18 24 Jumlah Jumlah Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 13-1-2013 06 13 20 Dosis dan Cara Pemberian 4 x 600 mg 06 12 18 4-4-4 (ssi-G05) 06 12 18 4-8 unit (m) 5-5-5 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral 13 4-4-4 10 unit Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral 06 12-1-2013 Jumlah Jumlah 24 06 13 20 Tanggal 06 12 18 15-1-2013 24 06 13 20 06 12 18 12 06 12 22 18 24 Ganti dosis 22 22 06 12 Umur : 18 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 500 mg Dosis dan Cara Pemberian 14-1-2013 16-1-2013 06 13 20 17-1-2013 06 13 20 Tanggal 93

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ampicillin Inj Novorapid Lavemir 4 x 600 mg 06 12 5-5-5 13 6-8 13 18 24 06 12 18 24 94

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 02.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Limfosit Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Hematokrit (%) 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 20-35% dari seluruh leukosit 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 33 – 38/vol% 15,5 67,9% 33.000 55900 49 No Data : 06 Tgl masuk : 1/01/13 tgl Keluar : 10/01/13 1. IdentitasPasien Nama Pasien : AK (Pr) Umur :4th , BB : 22kg Diagnosis utama : Deman netropenia Diagnosis penyerta: acute myelositis leukimia, Gastroenteritis akut Keluhan Utama : nyeri daerah dubur Kondisi Umum : lemas, tampak kesakitan 95

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. RiwayatPenyakit RPS : terdiagnosis AML sejak 30 oktober 2013, rutin menjalani kemoterapi dengan national plot pratocol of indonesia children. AML memasuki 10. Hsmrs : anak mengeluh nyeri pada daerah dubur, demam (-), muncul benjolan di daerah dubur, BAB lendir bercampur darah 2x @5cc, mual muntah (+). VS HR :112x/menit RR : 26x/menit T : 36,8 c 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah PCT Luminal 25 Neomicin Obat Suntikan Jumlah Ciprofloksasin Metronidazol Ceftazidime Gentamisin Ondenfetin Ekstra Nama : Ayu Kusumaning Tyas No. 06 Dosis dan Cara Pemberian 3 x 1 mg 3 x 1 mg 3 x 1 mg Dosis dan Cara Pemberian 2 x 200 mg 3 x 250 mg 3 x 500 mg 2 x 50 mg Pelaksanaan Pemberian Obat Nama : Umur : 4thn 6 bln Tanggal 1-1-2013 2-1-2013 24 24 06 06 3-1-2013 18 18 06 18 06 Tanggal 18 24 24 24 08 08 16 16 18 24 24 24 24 24 06 08 08 16 16 12 24 24 24 Umur : 96

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. RM : Obat Oral Jumlah Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 4-1-2013 PCT Luminal Neomicin 250 mg 06 25 gr 06 3 x 1 tab 06 Dosis dan Cara Obat Suntikan Jumlah Pemberian Ceptazidime 3 x 500 mg 08 Gentamisin 2 x 50 g Metrodinazole 3 x 250 mg 08 Leukocin 1 x 50 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Obat Suntikan Jumlah Ceptazidime Gentamisin Metronidazole Leukocin 6-1-2013 18 18 18 Tanggal 12 12 16 16 24 24 24 08 12 12 08 16 16 16 24 24 24 08 12 12 08 16 16 24 24 24 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian Dosis dan Cara Pemberian 600 mg 3x 60 mg 2x 3 x 250 mg 12 12 12 5-1-2013 07-1-2013 08-1-2013 09-1-2013 Tanggal 08 16 12 08 16 24 24 24 08 16 12 08 16 24 24 24 08 12 08 16 16 16 24 24 24 97

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Data : 07 Tgl masuk : 16/01/13 tgl Keluar : 22/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : DP (Lk) Umur : 10 bln , BB : 7,6kg , Diagnosis utama : Pertusis Klinis / Susp Pertusis KeluhanUtama : Batuk ngikil 2. RiwayanKesehatan RiwayatPenyakit 2 Hsmrs : anak mulai demam (+), batuk ngikil (+), pilek (+), awalnya batuk biasa, lama lama semakin ngikil dan muntah (+), sesak nafas (+) 1 Hsmrs : keluhan menetap, dibawa ke puskesmas, didagnosa batuk, dapat terapi 2 jenis sirup. 4 Hsmrs : keluhan makin bertambah batuk makin ngikil. TujuanKeluar : membaik 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Etitromisin Etitromisin Jumlah Nama : Dika No. 07 Dosis dan Cara Pemberian 4 x 80 mg 4 x 100 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Dosis dan Cara Umur : 10 bulan Tanggal 16-1 17-1 24 06 12 18 18-1 24 06 12 18 24 Umur : Tanggal 98

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pemberian Etitromisin 19-1 4 x 100 mg 06 12 20-1 18 24 06 12 18 21-1 24 06 12 18 24 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 15.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) 10-16 gr/dl 9,0 3 Leukosit (10³/uL) 9000-12000/mm Trombosit (10³/uL) 150.000 – 450.000 58.900 900.000 No Data : 08 Tgl masuk : 03/01/13 tgl Keluar : 05/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : EM (Lk) Umur : 10 bln , BB : 5,5kg Diagnosis utama : Gastroenteritis akut Diagnosis penyerta : Infeksi saluran kemih (ISK) 2. Riwayat Kesehatan RiwayatPenyakit 99

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Hsmrs : BAB cair > 10x perhari @50cc lendir (-), darah(-), muntah (+) 5x/hari tx : antibiotika 1 Hsmrs : BAB cair masih, demam, BAB >10x , suhu >400c Hsmrs : BAB masih > 10x, demam 40,50c 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Lacto B Zinc Obat Suntikan Ceftriaxone Jumlah Jumlah Nama : Earl M.A No. 08 Dosis dan Cara Pemberian 2 x 1 sachet 1 x 20 mg Dosis dan Cara Pemberian 2 x 200 mg Umur : 10 bulan Tanggal 3-1-2013 22 4-1-2013 06 18 08 Tanggal 06 06 08 20 08 18 20 05-1-2013 18 20 No Data : 09 Tgl masuk : 10/01/13 tgl Keluar : 21/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : FA (Lk) Umur : 2 bln , BB : 2,6kg , Diagnosis utama : Pneumonia Diagnosis penyerta: Sepsis, asidosis metabolik KeluhanUtama : Muntah darah 2. Riwayat Kesehatan 100

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Riwayat Penyakit 2 Hsmrs : lahir bayi laki-laki , BBL : 2800 g, PBL : 40 cm, ASI, tidak ada riwayat demam Hsmrs 2 jam : anak tiba-tiba muntah darah warna hitam (+), volume ± 1 sendok makan, batuk (+), muncul bintika padadada dan tangan 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Zinc PCT 50 mg Dexa 15mg Nama : Farrel Andika Pratama No. 09 Obat Suntikan Ampicillin Gentamylin Ranitidine Ampisilin Jumlah Obat Oral Jumlah Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 10 mg 11-1-2013 06 12-1-2013 10 10 06 15 15 06 24 18 05 05 05 12 Umur : 20 20 05 05 05 12 20 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 10 3 x 125 mg 2 x 10 mg 13-1-2013 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 4 x 100 mg 1 x 20 mg 2 x 5 mg 3 x 150 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Zinc Amoxicilin Ranitidin Umur : 2 bulan 15-1-2013 16-1-2013 17-1-2013 06 101

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Suntikan Ampisilin Gentamisin Ranitidine Dosis dan Cara Pemberian 3 x 150 g 05 1 x 20 05 2x5g 05 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Zinc Amoxicilin Ranitidine 20 05 12 05 05 Umur : 20 18-1-2013 1 x 10 mg 3 x 125 mg 06 2 x 10 mg 06 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Jumlah 12 20 20 05 05 05 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian Zinc Amoxicilin Ranitidine Obat Oral Tanggal Jumlah 12 18 18 19-1-2013 06 12 06 Umur : 18 18 20-1-2013 06 06 12 18 18 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 21-1-2013 1 x 10 mg 3 x 125 mg 2 x 10 mg 06 06 20-1-2013 12 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 11.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 102

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit Neutrofil Monosit Hematokrit (%) MCV MCH MCHC Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) 1. 10-16 gr/dl 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 4-9% 33 – 38/vol% 82-92 U3 27-31 uug 32-36% 135 – 145 3.6 – 5,8 93 – 116 4,5-5,8 No Data : 11 Tgl masuk : 07/01/13 tgl Keluar : 23/01/13 IdentitasPasien NamaPasien : BT 9,7 18,780 70.000 35,6% 53,4% 9,5% 28,5 - (Pr) 103

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 3. Umur : 2 bln , BB : 2,4kg , Diagnosis utama : Pneumonia Diagnosis penyerta: Sepsis, KeluhanUtama : Batuk RiwayanKesehatan RiwayatPenyakit Hsmrs: anak tampak kuning (+), nafas cepat (+), batuk (+), BAK warna teh, BB turun, riwayat biru-biru pada bibir. Suhu : 36,7 Pengobatan Nama : Bening tantri Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Furosemide Captopril Asam ursodoxyacolat antrayanti No. 11 Dosis dan Cara Pemberian 1 x 25 mg 2 x 0,7 mg Tanggal 7-1-2013 8-1-2013 18 18 2 x 24 mg Dosis dan Cara Pemberian Ceftriaxone 2 x 25 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Suntikan Umur : 2 bln 9-1-2013 06 06 18 18 18 Tanggal Jumlah 08 20 Umur : 08 20 104

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Oral Furosemid Captopoil Asam. ursodoxyacolat Zinc Clindamycin San B plex Jumlah Dosis dan Cara Pemberian 1 x 2,5 mg 2 x 0,7 mg Tanggal 06 06 2 x 24 mg 06 10-1-2013 11-1-2013 18 06 06 18 06 1 x 7 mg 4 x 15 mg 18 24 1 x 0,2 cc Dosis dan Obat Suntikan Jumah Cara Pemberian Ceftriaxone 2 x 75 mg 06 Stop Ceftazidime 3 x 60 mg 12 20 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Dosis dan Cara Obat Oral Jumlah 13-1-2013 Pemberian Furosemid 1 x 2,5 mg 06 Captopril 2 x 0,7 mg 06 18 Estrazot 2 x 24 mg 06 18 Zinc 1 x 7 mg Clindamycin 4 x 15 06 12 18 24 San B plex 1 x 0,2 cc Dosis dan Obat Suntikan Jumlah Cara Pemberian 06 12 12 12-1-2013 18 06 06 18 18 06 18 18 24 06 06 12 18 05 12 20 24 Tanggal 05 05 12 Umur : 20 Tanggal 14-1-2013 06 06 06 hbs 06 06 12 15-1-2013 06 06 06 24 06 24 18 18 12 18 Tanggal 105

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ceftazidime Filuconazole 3 x 60 mg 1 x 30 mg 05 Nama : No. RM : Dosis dan Cara Obat Oral Jumlah Pemberian Clindamisin 4 x 15 mg As.ursodeoxyalat 2 x 24 mg 06 Furosemide 1 x 2,5 mg 06 Captopril 2 x 0,7 mg 06 Zinc 1 x 7 mg San B plex 1 x 0,24 06 mg Azitropicin Hr I. 1 x 30 mg Hr 2. 1 x 15 mg Dosis dan Obat Suntikan Jumlah Cara Pemberian Ceftazidine 3 x 60 mg 05 Fluconazole 1 x 30 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Dosis dan Obat Oral Jumlah Cara Pemberian 12 20 05 12 20 05 12 20 18 Umur : Pelaksanaan Pemberian Obat Tanggal 16-1-2013 17-1-2013 12 12 06 06 18 18 24 18 06 18-1-2013 06 06 06 06 06 Tanggal 12 12 20 05 12 05 12 Umur : 20 Tanggal 17-1-2013 18-1-2013 19-1-2013 106

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sistenol Clindamylin Fluconazole Neb Nacl 0,9 Captopril As. ursodeoxyalat Azitromisin Zinc San B plex 25 mg 15 mg 30 mg 4 cc 2 x 0,7 mg 12 12 12 12 2 x 24 mg 1 x 15 mg 1 x 10 mg 1 x 0,2 cc Dosis dan Obat Suntikan Jumlah Cara Pemberian Ceftazidime 60 mg 12 Ranitidine 21 mg Furosemide 1 x 25 mg Fiuronazol 1 x 30 mg Cefotaxim 3 x 100 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Dosis dan Obat Oral Jumlah Cara Pemberian Aziromisin 1x15mg 06 Captopril 2x0,7mg 06 Zinc 1x10mg 06 San B plex 1x0,2cc 06 As.ursodeoxyalat 2k24mg PCT 1x25 mg 15 15 06 18 15 06 18 18 12 06 06 06 24 06 06 06 Tanggal 18 06 06 18 06 24 06 06 08 Umur : Tanggal 20-1-2013 24 18 12 18 24 23 21-1-2013 06 06 06 06 18 12 06 22-1-2013 06 06 06 24 18 12 12 107

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sistenol Obat Suntikan Jumlah 30 mg Dosis dan Cara Pemberian Cefotaxim Fluconazole Furosemid Tanggal 08 16 24 06 06 Nama : No. RM : Dosis dan Cara Pemberian 1x15mg 06 2x0,7mg 06 1x10mg 06 1x0,2mg 06 2x24mg 12 1x25 mg 06 Dosis dan Cara Pemberian 3x100mg 1x30mg 06 1x25mg 06 Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Azitromisin Captopril Zinc San B plex As. Urso PCT Obat Suntikan Cefotaxim Fluconazole Furcsemid Jumlah 08 16 24 06 06 Umur : 08 16 24 06 06 Tanggal 23-1-2013 18 24 Tanggal 08 16 24 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 08.01.2013 108

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl 9,7 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% - Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - MCV 82-92 U3 - MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - Natrium (mEq/L) 135 – 145 - Kalium (mg/dL) 3.6 – 5,8 - Chlorida (mEq/L) 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - Trombosit (10³/uL) Limfosit 22.580 126.000 - Elektrolit No Data : 12 Tgl masuk : 08/01/13 tgl Keluar : 15/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : MH (Lk) 109

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Umur : 7 thn 9 bln , BB : 39kg , Diagnosis utama : Dengue shock syndrome Diagnosis penyerta: Sepsis, KeluhanUtama : Demam 2. Riwayat Kesehatan RiwayatPenyakit 5 Hsmrs: demam tinggi, batuk, muntah (-), nyeri perut (-), makan minum baik, BAB dan BAK lancar, Tx : penurun panas, obat batuk 3 Hsmrs: demam tinggi (+), naik turun, batuk (+),muntah (+), pendarahan spontan (-). Rsi hidayatullah : AT 150.000, Tx cefodroxil paracetamol, donperidin. 2 Hsmrs: demam (+) naik 39,50C , mual (+), muntah(+), mual (+), muncul bintik merah di wajah, mimisan (+) gusi berdarah (-), BAK dan BAB normal. Rsi : AT 148.000 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Ranitidin Colistin Obat Suntikan PCT Furosemid Cefotaxime Nama : M. Hafids Fahrudin No. 12 Jumlah Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 2 x 40 mg 40.000 unit/kg/x u 3 x 1500.000 unit Umur : 7 thn 9 bln 08-1-2013 06 18 09-1-2013 06 18 12 18 01 09 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 2 x 400 mg 2 x 40 mg 3 x 1300 mg 10-1-2013 07 19 14 07 07 15 15 09 22 14 17 110

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Omeprazole Ca gluconas Nebulizer ventolin 3 x 40 mg 01 ½mg/kgB/jam/200mg 09 10 Nama : No. RM : Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Colistin Obat Suntikan Cefotaxime Omeprazole Jumlah Dosis dan Cara Pemberian Jumlah 3 x 1.500.000 unit Dosis dan Cara Pemberian 3 x 1300 mg Obat Oral Colisitin Obat Suntikan Cefotaxime Jumlah Dosis dan Cara Pemberian Jumlah 3 x 1 tab Dosis dan Cara Pemberian 3 x 1300 mg No Data : 13 Tgl masuk : 09/01/13 Tgl Keluar : 13/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : FI 17 12 Umur : Tanggal 11-1-2013 12-1-2013 13-1-2013 12 10 18 06 12 18 Tanggal 06 12 18 01 01 09 09 17 17 05 12 20 05 12 20 Nama : No. RM : Pelaksanaan Pemberian Obat 09 Umur : Tanggal 14-1-2013 06 16 15-1-2013 18 Tanggal 05 12 20 05 12 20 (Lk) 111

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Umur : 4 thn 8 bln , BB : 14kg , Diagnosis utama : Kejang dengan demam Diagnosis penyerta: Gastroenteritis akut KeluhanUtama : Kejang dengan demam Tujuan keluar : membaik 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Hsmrs: ± 8 jam anak demam tinggi 39,50 C, mendadak batk dan pilek, nyeri menjelang BAB 2x, BAK tidak ada keluhan, mual muntah (+) makan minum masih mau, oleh OT anak tidak diberikanobat, anak kejang <5 menit, berhenti dengan peberian steroid suppositoria, setelah kejang anak tertidur. 3. Pengobatan Nama : Fudhoiz Ibnu Sa’ad No. 13 Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Dial 57 38,5oC PCT Stesolid Dumm mpp Zinc Kalk Obat Suntikan Inj diaz Jumlah Dosis dan Cara Pemberian Umur : 4 tahun 8 bulan Tanggal 09-1-2013 10-1-2013 11-1-2013 4 mg Jumlah 1 ½ c th/4 jam 10 mg 15 125 mg 15 1 x 20 mg 2 x ½ tab Dosis dan Cara Pemberian 1,5 mg 20 08 08 06 06 Tanggal 112

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ampicillin I. 4 x 350 mg II. 3 x 500 mg Flagyl 3 x 150mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Zinc Kalk Obat Suntikan Ampicillin Ampicillin Flagyl Jumlah Jumlah 24 12 16 24 08 06 16 13 24 20 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 20 mg 2 x ½ tab Dosis dan Cara Pemberian 4 x 350 3 x 500 3x150mg 06 12-1-2013 06 18 13-1-2013 06 06 Tanggal 08 10 06 13 20 08 06 13 20 No Data : 14 Tgl masuk : 04/01/13 tgl Keluar : 13/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : FS (Lk) Umur : 3 thn 7 bln , BB : 12kg , Diagnosis utama : Gastroenteritis akut Diagnosis penyerta : demam neutropenia KeluhanUtama : Demam Tujuan keluar : Membaik 2. Riwayat Kesehatan 113

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Riwayat Penyakit 5Hsmrs: terdiagnosis hepatoblastoma sejak nov 2012, berdasarkan hasil Ctscan, abdomen dan sudah dilakukan biopsi pada bulan des 2012, hasil hepatoblastoma Hasil lab terakhir Hb : 14,8 AT : 482.000 Anc : 17.400 1 Hsmrs: anak demam (+) tinggi, batuk (+0, pilek (-), muntah (+) 1x, setelah minum susu BAB (+), muntah (+) 1x kali setelah minum susu, BAB (+) biasa, ada resiko infeksi 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Ceftazidime Gentamisin Renalit Zinc Ciprofioxacin Mecopenem Dialac As.folat San b Plex Vit A Jumlah Nama : Fatih kisan santoso No. 14 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 300 mg 2 x 30 mg 1 x 20 mg 2 x 100 mg 3 x 200 mg 2 x 15 cc 1 x 5 mg 1 x 0,6 cc 1 x 200.000 lu Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Umur : 3 tahn 7 bln 4-1-2013 06 06 16 18 5-1-2013 29 06 08 18 16 18 18 6-1-2013 24 08 06 16 18 24 06 Umur : 114

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Oral Jumlah Ceftazidime Gentamisin Renalit Zinc Ciprofioxacin Mecopenem Dialac As.folat San b Plex Vit A Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 300 mg 2 x 30 mg 7-1-2013 08 06 16 18 24 1 x 20 mg 06 2 x 100 mg 3 x 200 mg 2 x 15 cc 1 x 5 mg 1 x 0,6 cc 1 x 200.000 lu Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah 08 06 06 16 18 9-1-2013 24 18 06 18 06 06 18 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian Ceftazidime Stop Gentamsin 2 x 30 mg Renalit Zinc 1 x 20 mg Ciprofioxacin 2 x 100 mg Mecopenem 3 x 200 mg Dialac 2 x 15 cc As.folat 1 x 5 mg San b Plex 1 x 0,6 cc Vit A 1 x 200.000 lu Pelaksanaan Pemberian Obat Nama : 8-1-2013 10-1-2013 06 06 06 18 11-1-2013 06 12-1-2013 18 06 18 06 18 16 18 20 20 20 20 05 06 06 16 18 24 06 Umur : 115

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. RM : Obat Oral Ceftazidime Gentamisin Renalit Zinc Ciprofioxacin Mecopenem Dialac As.folat San b Plex Vit A Jumlah Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 13-1-2013 Stop 2 x 30 mg 1 x 20 mg 2 x 100 mg 3 x 200 mg 2 x 15 cc 1 x 5 mg 1 x 0,6 cc 1 x 200.000 lu 06 08 06 06 06 06 16 18 24 No Data : 15 Tgl masuk : 12/01/13 tgl Keluar : 16/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : HA (Lk) Umur : 2 thn 6 bln , BB : 9,5kg , Diagnosis utama : Tonsilofaringitis akut Diagnosis penyerta : Gizi buruk tipe marasmik KeluhanUtama : Demam, batuk 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 116

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Hsmrs: anak demam tidak langsung tinggi, batuk (+), pilek (-), makan berkurang, minum mau, 5 Hsmrs: demam (+), batuk (+), BAB 2x lembek periksa ke dokter umum dx ; radang tenggorokan, tx : cefradoxil, obat batuk racikan. 3 Hsmrs: demam (+), batuk (+) mengikil, Hsmrs: demam masih tinggi 380C, batuk (+) mengikil, 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah PCT Ampicillin Meptyn syr Sanbe plex As. Folat Nama : Hafizh royyan asyukri No. 15 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 12-1-2013 3 x 1 cth 3 x 500mg CT Ampicillin Meptyn Jumlah 13-1-2013 14-1-2013 19 22 24 08 2 x 2 cc 18 06 1 x 0,6 cc 18 18 18 13 18 13 1 x 5 mg (H-17) 1 x 1 mg Zinc 1 x 20 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Umur : 2 thn 6 bulan 16 24 16 18 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 1 cth 3 x ½ tab 2 x 2 cc 08 15-1-2013 08 06 16 18 16-1-2013 24 06 117

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI syr Sanbe plex As. Folat Zinc 1 x 0,6 cc 13 1 x 5 mg (H-17) 1 x 1 mg 1 x 20 mg 18 13 No Data : 16 Tgl masuk : 02/01/13 tgl Keluar : 07/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : MI (Lk) Umur : 10 thn 10 bln , BB : 10 kg , Diagnosis utama : prokemoterapi ALL Diagnosis penyerta : demam neutropenia KeluhanUtama : Demam, 2. Riwaya Kesehatan Riwayat Penyakit ALL dalam minggu ke 12, demam neutropenia, ada resiko infeksi Hasil lab : AL : 32.000 BLT : 320.000 3. Pengobatan Nama : M. Indra sulistya No. 16 Dosis dan Cara Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Umur : 10 thn 10 bln Tanggal 118

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pemberian 7-1-2013 Gmp Levcovorin Cefazidime Gentamisin 08-1-2013 20 3 x 15 mg 3 x 150 mg 2 x 150 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Gmp Levcovorin Cefazidime Gentamisin 9-1-2013 Jumlah 08 24 24 24 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 15 mg 3 x 150 mg 2 x 150 mg 16 10-1-2013 08 08 16 16 12 11-1-2013 24 24 24 08 08 16 16 12 12-1-2013 24 24 24 08 08 16 16 12 24 24 24 No Data : 17 Tgl masuk : 02/01/13 tgl Keluar : 07/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : DS(Pr) Umur : 10 thn 4 bln , BB : 27kg , Diagnosis utama : Prokemo ALL KeluhanUtama : prokemoterapi ALL 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Mulai mei 2012 terdiagnosis ALL, terapi mulai nov 2012 119

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ALL HR : HB : 8,9 AL : 2.400 AT : 82.000 ANC :1200 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Diana S No. 17 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 2-1-2013 Ceftazidime Gentamisin Dexa Amoxicillin 3 x 700 mg 16 2 x 80 mg 16 5.4.2 4 x 250 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Ceftadizidine Gentamisin Dexa Amoxicillin Dexa No Data Tgl masuk tgl Keluar 3-1-2013 24 18 08 18 06 06 06 18 Umur : 24 4-1-2013 16 24 13 24 20 08 06 06 06 16 18 13 12 24 20 18 24 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 700 mg 2 x 80 mg 5.4.2 4 x 250 mg 4-3-1 Umur : 10 thn 4 bln 5-1-2013 18 06 06 06 16 18 13 13 6-1-2013 24 20 18 24 08 06 06 06 7-1-2013 16 13 12 20 18 24 06 06 12 13 18 20 24 : 18 : 09/01/13 : 12/01/13 120

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. IdentitasPasien NamaPasien : SF (Lk) Umur : 2 thn 10 bln , BB : 10kg , Diagnosis utama : Prokemoterapi ALL KeluhanUtama : pasien rujukan dengan infeksi leukimia, anak pucat, demam naik turun 2. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit Pasien rujukan dengan diagnosis infeksi leukimia, anak tampak pucat, demam naik turun. 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Sultan feri ardiansyah No. 18 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 09-1-2013 Ceftazidime Gentamisin Prednison 3 x 250 mg 2 x 25 mg 3-2-1 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Ceftazidin Gentamilin Prednison Jumlah 10-1-2013 24 24 08 16 12 24 12 18 Umur : 24 24 4-1-2013 08 12 06 16 26 13 24 20 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 250 mg 2 x 25 mg 3-2-1 Umur : 2 thn 9 bulan 12-1-2013 08 12 13 16 24 20 24 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium 121

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Parameter Rujukan Tanggal 10.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 8,1 9000-12.000/mm3 35.900 150.000 – 450.000 74.000 - Neutrofil 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% - Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - MCV 82-92 U3 - MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) 93 – 116 - 4,5-5,8 - - Elektrolit 122

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Data : 19 Tgl masuk : 01/01/13 tgl Keluar : 05/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : KY (Pr) Umur : 7 thn 4 bln , BB : 17 kg Diagnosis utama : Acute severe atshma Diagnosis penyerta : Pneumonia, tonsilo faringitis akut KeluhanUtama : sesak nafas 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 3 Hsmrs: anak mulai demam (+), pilek (+), batuk (-), sesak nafas (-0 aktivitas seperti biasa. Hsmrs: anak mulai sesak nafas (+), batuk (+), demam (+) , pilek (+) mengikil, BAK terakhir 4 jam, BAB cair (-), diare (), mual (-), nyeri perut (+), 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Nama : Kharisma Yaputri No. RM : 01.61.56.52 Obat Oral Jumlah Dosis dan Cara Pemberian Obat Suntikan Jumlah Dosis dan Cara Pemberian Umur : 7 thn 4 bln Tanggal 01-1-2013 02-1-2013 03-1-2013 Tanggal 123

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ampisilin Metipredhisolon Nebu ventolin/ 4 jam Ranitidine 4 x 425 mg 4 x 5 mg 05 05 11 11 17 17 23 23 03 1 mg/kg : 2x20g Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Obat Suntikan Jumlah Ampisilin Metipredhisolon Nebu ventalin/ 4 jam Ranitidine 11 11 17 17 23 23 09 11 13 15 11 11 18 18 24 24 12 24 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian Dosis dan Cara Pemberian 4 x 425 mg 4 x 5 mg 05 05 04-1-2013 Tanggal 06 06 12 12 18 1 mg/kg : 2x20g 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 02.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) 10-16 gr/dl 12,9 3 Leukosit (10³/uL) 9000-12.000/mm Trombosit (10³/uL) 150.000 – 450.000 20.200 382.000 124

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Limfosit - Neutrofil 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% - Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - MCV 82-92 U3 - MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - Natrium (mEq/L) 135 – 145 - Kalium (mg/dL) 3.6 – 5,8 - Chlorida (mEq/L) 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - - Elektrolit No Data : 20 Tgl masuk : 11/01/13 tgl Keluar : 17/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : SN (Pr) Umur : 2 thn 4 bln , BB : 9,3kg , Diagnosis utama : Pneumonia, Sepsis KeluhanUtama : sesak nafas 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 1 Hsmrs: anak batuk (+), pilek (+), demam (-) oleh ibu tidak diberi obat. 125

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Hsmrs: demam (+), batuk (+), pilek (+), esoknya anak dibawa berobat ke puskesmas mendapat terapi puyer, isi (?) selama 3 hari, menurut ibu anak membaik. 2 Hsmrs:anak demam (+), batuk (+), pilek (+), Ro thorax (10/1/2023) ; Bronchopneumonia Tx selama di RSUD panembahan : inj. Ampicilin, injc. Ceftriaxon, Nebuklexotide, lapited 3x ½ cth. 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Sivia Nur. A No. 20 Dosis dan Cara Pemberian Paracetamol Obat Suntikan Ceftriaxone Gentamisin 1x100 mg 21 Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 2 x 500 mg 06 1x50mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Paracetamol Obat Suntikan Ceftriaxone Gentamisin Jumlah Dosis dan Cara Pemberian 1x100 mg 13 Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 2 x 500 mg 06 1x50mg 12 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Umur : 2 thn 4 bln Tanggal 11-1-2013 12-1-2013 10 13-1-2013 24 Tanggal 18 18 06 06 18 Umur : Tanggal 14-01-2013 Tanggal 18 Umur : 126

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Oral Paracetamol Obat Suntikan Ceftriaxone Gentamisin 4. Jumlah Jumlah Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 150 mg Dosis dan Cara Pemberian 2 x 500 mg 1 x 50 mg 15-1-2013 16-1-2013 17-1-2013 Tanggal 09 06 18 06 06 18 06 06 Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 10.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 11,4 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 79.100 Monosit 4-9% - Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - MCV 82-92 U3 - 154.000 17%79% 127

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - Chlorida (mEq/L) 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - Elektrolit Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 11/1/2013 Urinalisa Protein Albumin Glukosa - - Bilirubin - - Urobilinogen - - Leukosit 0–6 - Eritrosit 0–1 - Epithel +1 - Bakteri - +1 Selinder - 0-1 Urinalisa Sedimen 128

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kristal - - Jamur - - Lain- Lain - - No Data : 21 Tgl masuk : 10/01/13 tgl Keluar : 21/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : AA (Pr) Umur : 11 thn 5 bln , BB : 23kg , Diagnosis utama : Gagal ginjal terminal dengan CAPD Diagnosis penyerta : cystitis, Gastroenteritis akut KeluhanUtama : sesak nafas 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Pasien terdiagnosis GGT sejak 4 hari rutin CAPD tiap 6 jam, cairan yang 100cc Hsmrs: anak tampak sesak nafas, pucat, BAB cair 3x/hari ± 1 minggu Smrs: pulang CAPP warnanya tambah keruh. Anak jiga mengeluh pipis warna merah, mual (+), mkuntah (+), demam (+). 3 Hsmrs:anak mengeluh gusi bagian bawah bengkak, nyeri jika digunakan untuk mengunyah, Hmrs : sesak nafas (+), selama dirawat anak mendapatkan transfusi PCT 6x sebanyak 100cc. Kondisi membaik saat puloang sesak nafas berkurang dan kondisi membaik. BAK warna merah (+). 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Nama : Aida arga putri No. 21 Umur : 11 tahun 5 bulan 129

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Oral Furosemid Ramipril Digoxin Aldacton Nifedipin Cionidin Kalk Obat Suntikan Ampisilin Jumlah Jumlah 11-1-2013 06 06 06 06 06 06 06 13 20 13 13 18 20 20 12-1-2013 06 06 06 06 06 06 06 13 Jumlah 06 Nama : No. RM : 06 12 18 17 18 18 13 13 20 20 12 24 18 24 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 25 mg 1 x 2,5 mg 1 x 120mg 2 x 12,5mg 3 x 10mg 3 ½ tab 20 Tanggal 1/3 tab Pelaksanaan Pemberian Obat Furosemide Rampiril Digoxin Aldacton Nifedipin Clonidin 10-1-2013 3 x 25 mg 1 x 2,5 mg 1 x 120mg 2 x 12,5mg 3 x 10mg 3 ½ tab 1 x 50 Dosis dan Cara Pemberian 4 x 600 mg Frisium Nifedipin jk diastole ≥100 Obat Oral Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 13-1-2013 06 06 06 06 06 06 14-1-2013 13 18 13 20 06 06 06 06 06 06 13 15-1-2013 20 18 13 20 06 06 06 06 06 06 13 20 18 13 20 130

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kalk Obat Suntikan Ampisilin 1 x 50 06 Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 4 x 600 mg 6 Ekstra 10 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Furosemide Rampiril Digoxin Aldacton Nifedipin Clonidin Kalk Obat Suntikan Ampisilin Jumlah Jumlah 13 12 06 13 20 Tanggal 06 13 24 6 12 6 12 18 24 20 18 16 24 24 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 25 mg 1 x 2,5 mg 1 x 120mg 2 x 12,5mg 3 x 10mg 3 ½ tab 1 x 50 Dosis dan Cara Pemberian 3 x 500 mg 18 20 19-1-2013 06 06 06 06 06 06 06 13 6 13 18 13 13 20-1-2013 13 20 20 06 06 06 06 06 06 06 22 6 13 20 18 13 13 20 20 Tanggal 20 21-1-2013 06 06 06 06 06 06 06 13 20 13 13 18 20 20 6 13 20 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 10.01.2013 13.01.2013 19.01.2013 8 11,9 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 4,1 131

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 9000-12.000/mm3 9500 9240 9000 190.000 90.000 126.000 14,6% 18,5% 18,7% 79% 71,2% 73,1% Neutrofil 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% 3,7% 5,79% 4,5% Eusinofil 1-3% 5,4% 4,4% 3,5% Basofil 0,4-1,0% 0,1% 0,2% 0,1% Hematokrit (%) MCV 33 – 38/vol% 82-92 U3 73,1% 79,0% 84,9% MCH 27-31 uug 25,6% 27,1% 28,4% MCHC 32-36% - 34% 48% Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - - Elektrolit 132

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 10/1/2013 Urinalisa Protein Albumin Glukosa - Bilirubin - - Nitrit - + Urobilinogen - - PH +++ + 8 Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 5 Eritrosit 0–1 - Epithel +1 - Bakteri - - Selinder - 0-1 Kristal - - Jamur - - Lain- Lain - - No Data : 22 Tgl masuk : 15/01/13 tgl Keluar : 19/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : JA (Lk) Umur : 11 thn 5 bln , BB : 23kg , 133

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Diagnosis utama : Pneumonia KeluhanUtama : Batuk (+), sesak nafas (+), lemah 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 7 Hsmrs: anak mulai demam (+), batuk (+), pilek (+), makan minum mau, demam terutama pada malam hari 6 Hsmrs : anak nafas cepat, batuk (+), demam (+), makan (+), minum (-), Hmrs : rujuk RSUP , suhu 360c, HR : 140x/menit, RR : 64x/menit 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Jovan Akbar C No. RM : 01.61.81.52 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 15-1-2013 Saibutamol Etitromisin Obat Suntikan Ampicillin Gentamisin 3 x 0,5 mg 06 3 x 50 mg Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 4 x 150 mg 13 1 x 25 mg 13 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Erttromisin Codein Jumlah 18 18 24 16-1-2013 06 13 20 Tanggal 06 12 18 17-1-2013 24 06 13 20 06 12 18 24 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3 x 50 mg 3 x 1,5 mg Umur : 2bln 26 hari 18-1-2013 6 13 13 20 20 19-1-2013 06 06 13 13 20 20 134

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Suntikan Ampicillin Jumlah Dosis dan Cara Pemberian 4 x 150 mg Tanggal 6 12 18 24 6 12 18 24 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 14.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 4,4 11,2 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 13.250 Monosit 4-9% Hematokrit (%) MCV 33 – 38/vol% 82-92 U3 75,1% MCH 27-31 uug 25,5 MCHC 32-36% 32,2% 61,3% 3% 34 Elektrolit 135

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - No Data : 23 Tgl masuk : 08/01/13 tgl Keluar : 15/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : NM (Lk) Umur : 2 thn 9 bln , BB : 12,5kg , Diagnosis utama : Asma Diagnosis penyerta : Pneumonia, KeluhanUtama : sesak nafas 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Anak sering sesak nafas sejak 5 bulan yanbbg lalu,bulan desember selama 1 bulan, sejak terus dan bebas sejak hanya 1 minggu, pencetus sejak : sesak nafas Hsmrs: demam (-), batuk (+), pilek (-), anak sesak, menggigi (+) anak masih bisa bicara, diberi obat puyer oleh dokter tapi belum sembuh lalu dirujuk ke rs nur rahmah di beri nebulizer dan tidak membaik lalu dirujuk ke rsup sardjito. 3. Pengobatan 136

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah MP Amoxicilin Obat Suntikan Obat oral/suntikan bila perlu (khusus) Ventain 1 respul + Nacu 0,9% Combiront 1 respul + Nacu 0,9% MP Amoxiciin syrp Sulbutanol Tlofilin 8-1-2013 3 x 4 mg 3 x 25 mg Jumlah Umur : 2 thn 9 bln Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 20 9-1-2013 06 13 10-1-2013 20 06 17 18 06 19 Jumlah Nama : No. RM : 20 18 18 12 20 Umur : Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 11-1-2013 12-1-2013 3 x 4 mg 06 13 20 06 13 20 3 x 250 mg 06 13 20 06 13 20 06 06 12 12 18 18 4 x 0,6 mg 4 x 30 mg 13 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Nama : Nasthul No. 23 13-1-2013 24 24 06 13 20 06 06 12 12 18 18 24 24 137

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Suntikan 1. vent I repul + 0,9% Nacu Conbiver I repul + Nacu 0,9% Jumlah Jika perlu Selang-seling/6jam Jika perlu Selang-seling/6jam Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Amox syrup Salbutamol Teofilin Obat Suntikan 1. vent I repul + 0,9% Nacu Conbiver I repul + Nacu 0,9% Jumlah Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 12 06 Nama : No. RM : 18 06 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 14-1-2013 13 12 12 20 18 18 15-1-2013 24 24 06 06 06 13 12 12 Dosis dan Cara Pemberian Selang-seling/6jam Selang-seling/6jam 12 Umur : 06 06 06 Jumlah 24 20 18 24 18 24 Tanggal 14 06 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 09.01.2013 138

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl 4,4 11,4 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 61.600 Monosit 4-9% Hematokrit (%) HCT MCV 33 – 38/vol% 36-44 % 82-92 U3 34,1 - MCH 27-31 uug 26,0 MCHC 32-36% 33,4 290.000 35,2% 46,3% 4,9% 75,1% Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - 139

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Chlorida (mEq/L) 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - No Data : 24 Tgl masuk : 26/01/13 tgl Keluar : 30/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : BA (Lk) Umur : 3th 2bln , BB : 17kg , Diagnosis utama : Gastroenteritis akut KeluhanUtama : diare,muntah 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 3Hsmrs : anak demam (-), batuk (+) Hsmrs: anak BAB cair 9x, lendir (+), pada BAB yang ke-9 @1/3 gelas anak demam (+), muntah ± 5x @1/2. BAK terakhir siang. 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Zinc Jumlah Nama : Brilian Aufa No. 24 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 20 po Umur : 3thn 2 bulan 27-1-2013 06 13 20 28-1-2013 06 13 29-1-2013 08 140

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Naprex Depakene Obat Suntikan Jumlah Ampicillin Kloramfenikol 180 x 1 po 2 x 4 cc Dosis dan Cara Pemberian 3 x 500 g 3 x 500 g 06 06 13 13 20 20 06 06 13 13 Tanggal 06 06 13 13 20 20 06 06 13 13 08 08 08 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 26.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 3.5 - 5.2 10-16 gr/dl Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% Hematokrit (%) HCT 33 – 38/vol% 36-44 % 13,3 12.580 237.000 23,9% 23,7% 37,5% 141

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MCV 82-92 U3 - MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - Elektrolit Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 26/1/2013 Urinalisa Protein Albumin Glukosa - - Bilirubin - - Nitrit - - Urobilinogen - - PH 8,0 Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 - Eritrosit 0–1 - 142

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Epithel +1 - Bakteri - + Selinder - - Kristal - - Jamur - - Lain- Lain - - No Data : 25 Tgl masuk : 09/01/13 tgl Keluar : 21/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : EA (Pr) Umur : 5 thn 10 bln , BB : 10kg , Diagnosis utama : Pneumonia Diagnosis penyerta : sepsis KeluhanUtama : sesak nafas 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 8 Hsmrs: anak demam (+), batuk (+), pilek (-), anak sesak (-), oleh orang tua dbawa ke bidan diberi obat (?) 4 Hsmrs : demam mulai turin, batuk (+) 3 Hsmrs : batuk semakin mengikil, mulai terlihat sejak demam (+), pilek (-), oleh orang tua dibawa ke bidan di terapi antibiotik(?) dan puyer Hsmrs : anak terlihat sesak , batuk (+)demam (-), mengikil (+), ke bidan, saran bidan rujuk ke RSS, Saat di IGD sesak nafas (+), demam (-), batuk (+), Pilek (-), riwayat lahit prematur, dapat bejalan usia 5 thn 3. Pengobatan 143

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Vit A Zinc As. Folat San B plex PCT Salbutamol Eritromisin As. Folat Umur : 5 thn 10 bln Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 200.000 uf 1 x 20mg 1 x 5 mg 1 x 0,3 cc 4 x 100 mg 3 x 1 mg 4 x 100 mg 1 x 1 mg Nebulizer NACL 0,9% Nebu ventolin Obat Suntikan Nama : Ema Ardiana No. RM : 25 10-1-2013 06 06 06 06 12 18 18 Jumlah u/p Dosis dan Cara Pemberian 3 x 250 mg 4 x 250 mg 06 06 06 06 06 06 12 12 18 18 06 12 18 12 18 18 24 1 x 5 mg Tanggal 01 01 06 06 12 12 18 18 Jumlah Dosis dan Cara Pemberian 24 06 12 18 24 06 3 x 350 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Zinc 06 06 06 06 20 12-1-2013 3x sehari Ampicillin Kloramfenikol Metil predinisolon Kloramfenikol Obat Oral 11-1-2013 13 20 Umur : Tanggal 13-1-2013 14-1-2013 15-1-2013 1 x 20 mg 144

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI As. Folat Sun B plex Salbutamol Eritromisin 1 x 1 mg 1 x 0,3 cc 3 x 1 mg 4 x 100 mg Dosis dan Cara Obat Suntikan Jumlah Pemberian Ampisilin 3 x 350 mg kloramfenikoll 3 x 250 mg Ceftriaxone 2 x 500 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah 1 x 20 mg 1 x 1 mg 1 x 0,3 cc 3 x 1 mg 4 x 100 mg Dosis dan Cara Obat Suntikan Jumlah Pemberian Ceftriaxone 2 x 500 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Zinc As. Folat Sun B plex Jumlah 12 12 18 18 06 06 12 12 20 20 06 06 12 18 12 18 24 Tanggal 06 06 06 06 12 12 18 18 24 12 12 20 06 18 Tanggal 16-1-2013 06 06 06 06 06 12 12 18 18 24 18 17-1-2013 06 06 06 06 06 Umur : 12 18 12 18 24 Tanggal 18 18-1-2013 06 06 06 06 06 12 12 18 18 24 18 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 20 mg 1 x 1 mg 1 x 0,3 cc 24 06 06 06 06 Umur : Dosis dan Cara Pemberian Zinc As. Folat Sun B plex Salbutamol Eritromisin Obat Oral 06 06 06 06 19-1-2013 06 06 20-1-2013 06 06 21-1-2013 06 145

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Salbutamol Eritromisin Obat Suntikan 3 x 1 mg 4 x 100 mg Jumlah Ceftriaxone Dosis dan Cara Pemberian 2 x 500 mg 06 06 12 12 18 18 24 06 06 12 12 18 18 24 06 06 12 12 Tanggal 06 18 06 18 06 stop 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 26.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl 11 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% - Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - HCT MCV 36-44 % 82-92 U3 - MCH 27-31 uug - Trombosit (10³/uL) Limfosit 12.200 268.000 35% - 146

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MCHC 32-36% - Elektrolit Natrium (mEq/L) 135 – 145 142 Kalium (mg/dL) 3.6 – 5,8 3,6 Chlorida (mEq/L) 93 – 116 99- Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 26/1/2013 Urinalisa Protein Albumin Glukosa - - Bilirubin - - Nitrit - - Urobilinogen - PH 6,5 Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 2,5 Eritrosit 0–1 - Epithel +1 - Bakteri - - Selinder - - Kristal - - 147

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jamur - - Lain- Lain - - No Data : 26 Tgl masuk : 13/01/13 tgl Keluar : 16/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : FK (Lk) Umur : 8 thn 9 bln , BB : 16 kg , Diagnosis utama : Pneumonia Diagnosis penyerta : fever unspecified, ALL KeluhanUtama : demam 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Paien terdiagnosis ALL sejak mei 2012, rutin mengikuti protokol. Hari masuk rumah sakit pasien mengalami demam, batuk (+), pilek (+), pendarahan (-), mual (+), muntah (+), selama perawatan di RS menurun, batuk berkurang , pilek berkurang 4 Hsmrs : anak batuk (+), dahak (+), demam (-), pilek (-) 2 Hsmrs : demam (+), batuk (+), pilek (+), mual muntah tiap kali makan minum, BAB cair, suhu 380c 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Fajar Kumlawan No. 26 Dosis dan Cara Pemberian Umur : Tanggal 14-1-2013 15-1-2013 16-1-2013 148

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Salbutamol Kortimoksazol Obat Suntikan Jumlah Ceftazidime Gentamisin 3 x 0,5 mg 1 x 480 Dosis dan Cara Pemberian 400 mg x 3 2 x 40 mg 05 13 08 08 15 15 05 24 08 08 13 13 Tanggal 15 15 24 05 13 13 08 08 15 15 24 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 14.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 3.5 - 5.2 - 10-16 gr/dl 9 9000-12.000/mm3 18.700 Neutrofil 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% - Hematokrit (%) HCT MCV 33 – 38/vol% - 36-44 % 82-92 U3 263.000 - 25,1% - 149

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) 135 – 145 - 3.6 – 5,8 - 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - Elektrolit No Data : 27 Tgl masuk : 07/01/13 tgl Keluar : 22/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : AM (Lk) Umur : 7 thn 7 bln , BB : 16 kg , Diagnosis utama : Prokemoterapi Diagnosis penyerta : Ca Nasofaring, gizi buruk tipe marasmik KeluhanUtama : sesak nafas 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Terdiagnosis Ca Nasofaring sejak 1 tahun. Dari tangal 7-14 itu pengobatan yang diberikan adalah pengobatan kemoterapi. 150

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Ali Mustofa No. 27 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 14-1-2013 Domperidon Charhoplastin Obat Suntikan Ceftazidime Gentamisin 3 x 2 mg 75 mg Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 3 x 400 mg 2 x 40 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Domperidon Carhoplastin Obat Suntikan Ceftazidime Gentamisin Jumlah 12 08 16 24 08 16 Tanggal 16 18 24 08 16 06 Umur : 12 16 19 29 24 18 06 08 16 18 18-1-2013 06 08 24 Nama : No. RM : Dosis dan Cara Pemberian 16-1-2013 12 17-1-2013 06 Jumlah 12 12 16 Dosis dan Cara Pemberian Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral 15-1-2013 24 18 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 06 08 Jumlah Umur : 7 tahun 7 bulan 08 16 06 18 Umur : 19-1-2013 18 24 Tanggal 06 08 24 16 08 06 12 16 10 24 24 18 Tanggal 20-1-2013 21-1-2013 Domperidon 151

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Carhoplastin Obat Suntikan Ceftazidime Gentamisin Jumlah 08 16 24 08 16 24 Tanggal 08 06 16 18 24 08 06 16 18 24 Dosis dan Cara Pemberian 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 15.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 - Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl 8 - Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit Hematokrit (%) 4-9% 33 – 38/vol% HCT MCV MCH MCHC 36-44 % 82-92 U3 27-31 uug 32-36% Trombosit (10³/uL) Limfosit 9,4% 8,5% 74,7 23,4 31,3 152

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) No Data Tgl masuk tgl Keluar 135 – 145 3.6 – 5,8 93 – 116 4,5-5,8 - : 28 : 13/01/13 : 23/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : RP (Lk) Umur : 5 thn 8 bln , BB : 18,5 kg , Diagnosis utama : Prokemoterapi ALL Diagnosis penyerta : fever unspecified KeluhanUtama : prokemoterapi ALL HR fase konsolidasi minggu ke-12 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Paien terdiagnosis ALL sejak oktober 2012 dan memulai kemoterapi sesuai protokol ALL HR tahun 2006 pada tanggal 15/10/2012. Saat ini memasuki minggu ke 12 selama perawatan mendapattkan HD mtx + Leucovorin dan melanjutkan dan infus Cyclofosfamid. suhu 36,50c 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Nama : Raditya Putra Pandawa No. 28 Umur : 5 tahun 8 bulan 153

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Suntikan Ceftazidime Gentamsin Leucovorin Dosis dan Cara Pemberian 3 x 450 mg 12 2 x 50 mg 12 3 x 11 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Dosis dan Cara Jumlah Suntikan Pemberian Ceftazidime 3 x 450 mg 08 Gentamisn 2 x 50 mg Leucovorin 3 x 11 mg Jumlah 14-1-2013 18 24 24 08 Tanggal 15-1-2013 16 24 12 24 08 16-1-2013 16 24 12 24 08 19-1-2013 16 24 12 24 Umur : 17-1-2013 16 24 12 24 14 22 08 Tanggal 18-1-2013 16 24 12 24 24 22 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 14.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl Trombosit (10³/uL) Limfosit Neutrofil 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% 9000-12.000/mm3 7,2 28.000 134.000 - 154

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hematokrit (%) 33 – 38/vol% 21,4 HCT MCV 36-44 % 82-92 U3 84,0 MCH 27-31 uug 28,3 MCHC 32-36% 33,7 Elektrolit Natrium (mEq/L) 135 – 145 - Kalium (mg/dL) 3.6 – 5,8 - Chlorida (mEq/L) 93 – 116 - Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - No Data : 29 Tgl masuk : 08/01/13 tgl Keluar : 22/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : IU (Pr) Umur : 10 thn 7 bln , BB : 16 kg , Diagnosis utama : Prokemoterapi ALL Diagnosis penyerta : fever unspecified, KeluhanUtama : demam dan Prokemoterapi 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 155

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Paien terdiagnosis Ca Nasofaring sejak juni 2012 rutin menjalankan kemoterapi sesuai dengan protokol Ca Nasofaring 2002. Saat ini sdah memasuki siklus 6 minggu I, 3 Hsmrs : anak muntah 2x bila makan Hsmrs : demam (+) , batuk (-), pilek (+), mual muntah tiap kali makan minum, BAB cair, suhu 36,5 0c 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Intan Utari No. 29 Dosis dan Cara Pemberian Cycho Mesna VCR MTX SFU KCL Obat Suntikan Ceftazidime Gentamisin 1 x 300 mg 120 mg 1 x 0,5 mg 1 x 25 mg 1 x 500 mg 3 x 500 mg 06 Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 3 x 400 mg 2 x 400 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Cycho Mesna VCR Jumlah Dosis dan Cara Pemberian Umur : 10 thn 7 bulan Tanggal 9-1-2013 10-1-2013 11-1-2013 18 12 12 18 66 12 18 Tanggal 12 12 20 24 08 16 12 24 Umur : 24 66 12 13 12 18 08 16 12 24 24 Tanggal 12-1-2013 13-1-2013 14-1-2013 1 x 300 mg 120 mg 1 x 0,5 mg 156

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MTX SFU KCL Obat Suntikan Ceftazidime Gentamisin 1 x 25 mg 1 x 500 mg 12 3 x 500 mg 06 Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 3 x 400 mg 08 2 x 400 mg 12 Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Cycho Mesna VCR MTX SFU KCL Obat Suntikan Ampicilin Jumlah Jumlah 18 08 16 24 24 08 12 18 Tanggal 16 12 Umur : 24 24 06 12 18 08 16 16 24 24 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 1 x 300 mg 120 mg 1 x 0,5 mg 1 x 25 mg 1 x 500 mg 3 x 500 mg Dosis dan Cara Pemberian 4x400mg 12 15-1-2013 16-1-2013 17-1-2013 18 12 13 06 12 18 19-1-2013 18 24 06 12 12 18 Tanggal 20-1-2013 16 18 24 06 18 21-12013 24 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 09.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 6,01 157

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit 10-16 gr/dl 11,1 9000-12.000/mm3 9.216q 150.000 – 450.000 672.000 Neutrofil 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% - Monosit 4-9% 12,2 Hematokrit (%) 33 – 38/vol% 31,3 HCT MCV 36-44 % 82-92 U3 31,3% - MCH 27-31 uug - MCHC 32-36% - 135 – 145 - 3.6 – 5,8 93 – 116 - 4,5-5,8 - - Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) No Data Tgl masuk tgl Keluar : 30 : 23/01/13 : 25/01/13 158

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. IdentitasPasien NamaPasien : RF (Lk) Umur : 3 thn 3 bln , BB : 22 kg , Diagnosis utama : Pneumonia Diagnosis penyerta: Suspect ISK KeluhanUtama : Demam , (batuk ngikil,) 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Kejang demam (+)  rutin mendapat depakene 2x5ml sejak sept 2012 4 Hsmrs : anak demam (+) dikatakaan tidak begitu tinggi, batuk (+), pilek (-), BAB (+), mutah (+) bila batuk. Hsmrs : anak masih demam (+), batuk (+), nafas grok-grok (+), BAB (-), BAK (+) lebih sering dari biasa, suhu 37,40C 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Salbutamol syrup Epfodroxsil Ibuprofen PCT selang Seling Depakene Obat Suntikan Gentamisin Jumlah Nama : Risal karras No. 30 Umur : 3 tahun 3 bulan Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 24-1-2013 3 x 2mg 12 18 2 x 2,5 cth 12 18 25-1-2013 06 24 Jumlah 2 x 55cc Dosis dan Cara Pemberian 50 mg x 2 12 14 12 18 12 24 18 06 18 18 06 18 Tanggal 06 18 159

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 24.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl 11,4 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% - Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - HCT MCV MCH MCHC Elektrolit 36-44 % 82-92 U3 27-31 uug 32-36% - Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) 135 – 145 3.6 – 5,8 93 – 116 4,5-5,8 137 4,2 99 - Trombosit (10³/uL) Limfosit 62.000 221.000 60,5% 31% 160

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Data : 31 Tgl masuk : 02/01/13 tgl Keluar : 09/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : AH (Lk) Umur : 3 thn 10 bln , BB : 13 kg , Diagnosis utama : Prokemoterapi Diagnosis penyerta : Fever unspecified, KeluhanUtama : Prokemoterapi 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Anak terdiagnosis neuroblastoma sejak bulan 25/08/2012. Mulai kemoterapi sejak 27/8/2012. Saat ini measuki siklus terapi minggu ke XIX Hsmrs : demam (-), batuk (-). Selam perawatan anak demam  terapi dengan ceftadime dan gentamycin membaik, suhu 37,40C 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral vinastatin cydofosfamid Cystatin etapusid Jumlah Nama : Aulia H No. 31 Dosis dan Cara Pemberian 1x0,8mg 1x3,5mg 1x31mg 1x90mg Umur : 3 tahun 3 bulan Tanggal 3-1-2013 4-1-2013 5-1-2013 12 24 24 16 161

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Obat Suntikan Gentamisin Ceftazidime Obat Suntikan Gentamisin Ceftazidime Obat Suntikan Gentamisin Ceftazidime Jumlah Jumlah Jumlah Dosis dan Cara Pemberian 2x35mg 2x250mg Dosis dan Cara Pemberian 2x35mg 2x250mg Dosis dan Cara Pemberian 2x35mg 2x250mg Tanggal 12 20 12 20 6-1-2013 12 20 12 20 Tanggal 7-1-2013 12 20 12 20 Tanggal 8-1-2013 12 20 12 20 9-1-2013 12 20 12 20 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 03.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl 10,9 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 4-9% 3600 Trombosit (10³/uL) Limfosit Neutrofil Monosit - 531.000 - 162

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hematokrit (%) HCT MCV MCH MCHC Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) Calsium (mEq/L) 33 – 38/vol% 36-44 % 82-92 U3 27-31 uug 32-36% - 135 – 145 3.6 – 5,8 93 – 116 4,5-5,8 - No Data : 32 Tgl masuk : 25/01/13 tgl Keluar : 08/02/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : TF (Pr) Umur : 7 bln , BB : 5 kg , Diagnosis utama : Pneumonia KeluhanUtama : nafas ngrok-ngrok 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Anak lahir cukup bulan, spontan, BBL 2400gr sejak 2 bulan yang lalu berat badan sulit naik, menetek kuat tidak terputusputus 1 Hsmrs : anak batuk (+), nafas ngrok-ngrok, sesak (+), menetek tidak terputus-putus. Hsmrs : anak periksa ke poli jantung untuk pelacakan demam (+) yang bertambah tinggi, rewel , suhu 39,90C 3. Pengobatan 163

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Jumlah Nama : Jania No. 32 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 25-1-2013 Furosemid Obat Suntikan Ampicillin Furosemide 1 x 2,5 g Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 3 x 170 mg 2 x 2,5 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah 20 Captopril Obat Jumlah Dosis dan Cara 05 12 05 Umur : 20 20 05 05 12 20 Tanggal 28-1-2013 2 x 2 mg Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 3 x 170 mg 06 2 x 5 mg 06 1 x 25 mg 1 x 400 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Dosis dan Cara Pemberian 27-1-2013 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian Jumlah 26-1-2013 20 Captopril Obat Suntikan Ampicillin Furosemide Gentamisin Ceftriaxone Obat Oral Umur : 7 bulan 29-1-2013 18 12 20 18 06 06 12 30-1-2013 18 Tanggal 06 18 12 18 12 06 06 12 20 12 18 Umur : Tanggal 31-1-2013 06 18 1-2-2013 06 18 Tanggal 2-2-2013 06 18 164

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Suntikan Ceftriaxone Furosemid Gentamisin Ceptriaxone Pemberian 1 x 400 mg 2x5mg 06 1x25mg 2 x 250 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral Jumlah Captopril Cetirizin MP(Metil Prodnisolon) Eritromisin Furosemide Obat Suntikan Ceftriaxone Furosemid Ceftazidime Gentamisin Captopril Cetirizine 18 12 Umur : 3-2-2012 06 24 06 18 12 24 18 4-2-2013 06 18 5-2-2013 06 3 x 1,5 mg 4 x 50 mg 2 x 5 mg Dosis dan Cara Jumlah Pemberian 2 x 250 mg 06 2 x 5 mg 06 2 x 125 mg 2 x 25 mg Nama : Pelaksanaan Pemberian Obat No. RM : Obat Oral 06 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 2 x 2 mg 2 x 12,5 mg 18 18 Jumlah Dosis dan Cara Pemberian 2 x 2 mg 2 x 12,5 mg 18 18 18 19 19 24 Tanggal 18 18 06 06 06 12 12 Umur : 20 20 06 Tanggal 06-2-2013 07-2-2013 18 08-2-2013 06 165

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MP Obat Suntikan Ceptriaxone Furosemide 3 x 1,5 mg Dosis dan Cara Pemberian 2 x 250 mg 2 x 5 mg Jumlah Tanggal 18 18 06 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 26.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) 10-16 gr/dl Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit Neutrofil Monosit 10,7 3 9000-12.000/mm 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 4-9% 29.100 435.000 18,8% 74,9% 6,32% Hematokrit (%) HCT MCV MCH MCHC Elektrolit 33 – 38/vol% 36-44 % 82-92 U3 27-31 uug 32-36% - Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) Chlorida (mEq/L) 135 – 145 3.6 – 5,8 93 – 116 - 166

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Calsium (mEq/L) 4,5-5,8 - No Data : 33 Tgl masuk : 20/01/13 tgl Keluar : 23/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : DH (Lk) Umur : 1 thn , BB : 8 kg , Diagnosis utama : ISK KeluhanUtama : Muntah 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 2 Hsmrs : anak mulai tidak mau makan, BB 9kg turun menjadi 8Kg 3 Hsmrs : anak mulai demam diberikan sanmol demam tidak turun, muntah (+) 6x @ ¼ gelas, batuk (+) kadang-kadang, suhu 390C 3. Pengobatan Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Oral Sanmol Fixiphar Jumlah Nama : Dimas M W No. 33 Tanggal Dosis dan Cara Pemberian 3x80mg 2x1/4cth (100mg/5ml) Umur : 1 tahun 21-1-2013 06 14 22-1-2013 21 06 18 06 18 23-1-2013 06 18 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium 167

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Parameter Rujukan Tanggal 23.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) 10-16 gr/dl Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Limfosit Neutrofil Monosit Hematokrit (%) HCT MCV MCH MCHC Elektrolit Natrium (mEq/L) Kalium (mg/dL) 10,8 3 9000-12.000/mm 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% 4-9% 33 – 38/vol% 36-44 % 82-92 U3 27-31 uug 32-36% 8600 291.000 27,7% 62,2% 9,7% - 135 – 145 3.6 – 5,8 Pemeriksaan Lab. Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Nitrit Urobilinogen - Rujukan - Tanggal 23/1/2013 - 168

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PH Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel 7 0–6 0–1 +1 - Bakteri - + Selinder - - Kristal - - Jamur - - Lain- Lain - - No Data : 34 Tgl masuk : 01/01/13 tgl Keluar : 10/01/13 1. IdentitasPasien NamaPasien : ID (Lk) Umur : 1 thn , BB : 8,5 kg , Diagnosis utama : kejang demam kompleks KeluhanUtama : Kejang dengan demam (rujukan RSUD kodya yogyakarta) 2. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit 3 Hsmrs : anak batuk, pilek,tidak demam, BAB/BAK tidak ada keluhan, mual, muntah, mn/mi tidak ada perubahan 1 Hsmrs : anak demam tinggi (menurut ibu suhu tidak diukur), batuk (+), mual (+), muntah (+) 169

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hsmrs : anak masih demam tinggi, batuk (+), pilek (+), anak kejang (+) ± 15 menit, dibawa ke RSUD kodya jogja diberikan stesolid supp, dosis tidak diketahui, 2x kejang berhenti, setelah kejang anak tertidur, satu jam kemudian anak kejang, di UGD RSUD kodya juga dilakukan loading phenitoin 10mg/kgBB, namun karena kejang belum berhenti anak di rusuk ke RSUP sardjito. suhu 37,70C 3. Pengobatan Nama : Iksan D W No. 34 Dosis dan Cara Pemberian 3-1-2013 2x850mg 3x300mg 20 2x20mg 2x300mg Umur : 1 tahun Nama : No. RM : Dosis dan Cara Pemberian 2x850mg 3x300mg 2x20mg 2x300mg 2x500mg Umur : Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Suntikan Cefotaxime Ampicilin Phenobarbital Ceftriaxone Jumlah Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Suntikan Cefotaxime Ampicilin Phenobarbital Ceftriaxone Jumlah 06 05 06 Tanggal 4-1-2013 18 12 18 5-1-2013 18 18 Tanggal 7-1-2013 6-1-2013 06 12 06 8-1-2013 06 12 20 05 18 05 18 170

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : No. RM : Dosis dan Cara Pemberian 2x20mg 2x500mg Umur : Pelaksanaan Pemberian Obat Obat Suntikan Phenobarbital Ceftriaxone Jumlah Tanggal 9-1-2013 18 18 4. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 02.01.2013 Hematologi Eritrosit (juta/uL) 3.5 - 5.2 Hemoglobin (g/dL) Leukosit (10³/uL) 10-16 gr/dl 9,9 Neutrofil 900012.000/mm3 150.000 – 450.000 20-35% dari seluruh leukosit 50-70% Monosit 4-9% Hematokrit (%) 33 – 38/vol% - HCT 36-44 % - Trombosit (10³/uL) Limfosit 22.800 212.000 17,4% 80,6% 1,8% 171

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. Tabel hasil evaluasi persepan antibiotika pada pasien pediatrik periode Januari 2013 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Kasus 02, Sefotaksim, kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak(kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Tidak, tidak ada alternatif antibiotika lain lebih efektif, terbukti pasien sembuh Kategori Ivb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, Merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009) Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIIb Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIa Ya, dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak 50 – 200mg/kgbb/hari dalam 2 – 4 dosis terbagi (APA, 2011) (ISFI, 2008) ( SPM, 2005). Kategori Iib Ya, interval pemberian sudah tepat, sesuai dengan yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (APA, 2011) (ISFI, 2008). Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 03, Kortimoksazol, Kategori : Pemberian antibiotika terlalu singkat (kategori IIIb) KATEGORI ASSESMENT 174

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori VI Kategori V Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis biasanya disebabkan oleh bakteri H. Influenzae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien membaik dan juga penggunaan kortikomoksazol digunakan sebagai terapi empiris (FKUI,2007) Kategori Ivb Tidak, kortimoksazol merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang juga jarang menimbulkan resistensi sehingga banyak digunakan untuk berbagai penyakit infeksi (Tan & Rahardja, 2007) Kategori Ivc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori Ivd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Kemenkes, 2011b) Kategori IIIb Ya, antibiotika hanya diberikan selama 2 hari, sedangkan 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Kemenkes, 2011b) Ampisilin, Kategori : Pemberian antibiotika bijak/tepat (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori Ivb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis biasanya disebabkan oleh bakteri H. Influenzae (SPM, 2005) Tidak, menurut SPM ampisilin termasuk dalam first line untuk terapi sepsis, (SPM,2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Tidak, dikarenakan dalam kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan SPM untuk terapi sepsis menggunakan ampicilin yaitu 2-7 hari (SPM, 2005). Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan SPM untuk terapi ISK menggunakan ampicilin yaitu 2-7 hari (SPM, 2005). Ya, dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak 50-100 mg/kgbb/hari dalam , dalam kasus ini diberikan dosis 800mg dengan BB 8,5kg (SPM,2005) 175

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ya, interval pemberian sudah tepat, sesuai dengan yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (FKUI,2007) Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional KATEGORI ASSESMENT Gentamisin, Kategori : Pemberian antibiotika bijak/tepat (kategori 0) KATEGORI ASSESMENT Kategori VI Ya , data rekam medis lengkap Kategori V Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis biasanya disebabkan oleh bakteri H. Influenzae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, gentamisin merupakan first line dalam terapi sepsis (SPM, 2005) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis (SPM,2005) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 50mg/hari dengan BB 8,5kg, (SPM, 2005). Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Seftazidim, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) Kategori Iib Kategori Iic KATEGORI ASSESMENT 176

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori VI Kategori V Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis H. Influenzae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien membaik, dan juga seftazidim merupakan sefalosforin gol. 3 yang juga merupakan antibiotika yang biasa digunakan untuk penyakit sepsis (Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,,2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes, 2011) Kategori IIa Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 150mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 600mg/hari sedangankan BB pasien 8,5 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 1275mg/hari (Dipiro, 2009). Kasus 05, Ampisilin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak(kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori Ivb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri (SPM, 2005). Tidak, menurut SPM ampicilin termasuk dalam first line untuk terapi ISK, dan juga ampicilin merupakan antibiotik dengan spektrum luas (Dipiro, 2009) (SPM,2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. Tidak, dikarenakan dalam kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas. Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan SPM untuk terapi ISK menggunakan ampicilin yaitu 7-10 hari (SPM, 2005). Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan SPM untuk terapi ISK menggunakan ampicilin yaitu 7-10 hari (SPM, 2005). Ya, dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak 250-500mg/kgbb/hari dalam 4 dosis terbagi (FKUI, 2007) 177

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ya, interval pemberian sudah tepat, sesuai dengan yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (FKUI,2007) (SPM, 2005) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 06, Siprofloksasin, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) Kategori Iib KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri (SPM, 2005). Tidak, menurut SPM penggunaan ciprofoksasin digunakan sebagai terapi demam netropenia sebagai terapi empiris (SPM,2005) Kategori Ivb Ya, ada alternatif lain yang lebih tidak toksik contohnya kortimoksazole yang juga merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang juga jarang menimbulkan resistensi sehingga banyak digunakan untuk berbagai penyakit infeksi (Tan & Rahardja, 2007), ciprofloksasin juga kurang aman jika digunakan pada pasien pedriatri karena dapat menyebabkan gangguan pada persendian (Hardman et al., 2012) Gentamisin, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli (Tan & Rahardja, 2007). Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh Kategori Ivb Ya, ada interaksi dengan golongan sefalosforin (Permenkes, 2011) Metronidazol, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap 178

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Tidak, tidak ada alternatif antibiotika lain lebih efektif, terbukti pasien sembuh Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, Merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009) Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Ya, dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari dalam 3 dosis terbagi (Tan & Rahardja, 2007) (SPM, 2005). Kategori IIb Kategori IIc Ya, nterval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007). Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Seftazidim, Kategori : Pemberian antibiotika terlalu lama (IIIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri Tidak, menurut seftazidim merupakan antibiotik dengan spektrum luas, jadi bisa digunakan untuk terapi penyakit infeksi Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah. 179

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVd Tidak, dikarenakan dalam kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (Tan & Rahardja, 2007). Kategori IIIa Ya, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik, sedangkan dalam kasus ini lama penggunaan antibiotik 9 hari (Permenkes, 2011) Kasus 07, Eritromisin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pertusis kunis diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, karena eritromisin itu merupakan first line untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005). Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, Merupakan terapi lini pertama Pertusis Kunis (SPM, 2005) Tidak, 7 hari memang merupakan anjuran untuk lama penggunaan eritromisin untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005). Kategori IIIb Tidak, 7 hari memang merupakan anjuran untuk lama penggunaan eritromisin untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005). Kategori IIa Ya, dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak adalah 50mg/kgbb/hari untuk terapi pertusis kunis (SPM, 2005) Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 08, Seftriakson, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap 180

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori V Kategori IVa Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Tidak, terbukti dengan pasien keadaanya membaik (sembuh) Kategori IVb Ya , kemungkinan resiko nefrotoksisitas bila diberikan bersamaan dengan antibiotika golongan aminoglikosida (Permenkes, 2001). Bisa digunakan antibiotik yang lebih aman, contohnya kortimoksazol keran kortimoksazol juga merupakan first line untuk GEA, kortimoksazol juga merupakan antibiotik dengan spektrum luas, dan dalam kasus ini belum diketahui jenis bakterinya (Dipiro, 2009) Kasus 09, Ampisilin, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis Pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, karena ampicilin merupakan first line terapi untuk pneumonia dan untuk pasien usia 2 bulan (dalam kasus ini) ampisilin dan gentamisin dikombinasikan dalam pemberiannya (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 100mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 450mg/hari sedangankan BB pasien 2,6 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 260mg/hari (SPM, 2005). Amoksisilin, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis Pneumonia dan sepsis 181

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVa Kategori Ivb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, karena amoksisilin merupakan antibiotika yang bisa digunakan untuk terapi penumonia dan sepsis, karena spektrumnya yang luas, di kasus ini amoksisilin digunakan untuk menngantikan antibiotika ampisilin (Tan & Rahardja, 2007). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik, (Permenkes, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik, (Permenkes, 2011) Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 375mg/hari sedangankan BB pasien 2,6 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 130-260mg/hari (SPM, 2005). Gentamisin, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis Pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, karena ampicilin merupakan first line terapi untuk pneumonia dan untuk pasien usia 2 bulan (dalam kasus ini) ampisilin dan gentamisin dikombinasikan dalam pemberiannya (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 20mg/hari sedangankan BB pasien 2,6 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 13mg/hari (SPM, 2005). 182

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 11, Seftriakson, Kategori : Pemberian antibiotika secara rasional (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. Influenzae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 bulan diberikan seftriakson (sefalosforin generasi 3) merupakan terapi antibiotika yang juga digunakan dalam mengobati penyakit pneumonia (Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-75mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 150mg/hari dengan BB pasien 2,4 kg(Dipiro, 2009). Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2xsehari (FKUI, 2008) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami sesak nafas, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Seftazidim, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. influenzae(SPM, 2005) Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 bulan diberikan seftriakson 183

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (sefalosforin generasi 3) merupakan terapi antibiotika yang juga digunakan dalam mengobati penyakit pneumonia, dalam kasus ini seftazidim digunakan untuk menggantikan sefriakson (Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 150mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 120mg/hari sedangankan BB pasien 2,4 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 360mg/hari (Dipiro, 2009). Sefotaksim, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori IIb Kategori IIc ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. Influenzae (SPM, 2005) Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 bulan diberikan sefotaksim (sefalosforin generasi 3) merupakan terapi antibiotika yang juga digunakan dalam mengobati penyakit pneumonia, dalam kasus ini sefotaksim digunakan untuk menggantikan seftazidim (Dipiro, 2009) (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 100-150mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 300mg/hari sedangankan BB pasien 2,4 kg, (IONI, 2008). Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 xsehari (IONI, 2008) Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami sesak nafas, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. 184

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Klindamisin, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. Influenzae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga klindamisin juga bisa digunakan untuk terapi sepsis dan pneumonia (FKUI, 2008) Kategori IVb Ya, contohnya gentamisin dan golongan sefalosforin, karena klindamisisn ini sangat toksik bagi ginjal (FKUI, 2008). Azitromisin, Kategori : Dosis pemberian tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. influenzae(SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 bulan diberikan azitromisisn merupakan terapi antibiotika yang juga digunakan dalam mengobati penyakit pneumonia, (Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 10mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 15mg/hari sedangankan BB pasien 2,4 kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 24mg/hari (Dipiro, 2009). Kasus 12, Sefotaksim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) 185

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga sefotaksim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 5-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 5-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis (SPM,2005) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 100-150mg/kgbb/hari untk infeksi berat. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 3900mg/hari dengan BB pasien 39 kg (ISFI, 2008) Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 13, Ampisilin, Kategori : Alternatif lebih efektif (kategori IVa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Ya, ampisilin bukan merupakan antibiotika yang dianjurkan untuk terapi gastroenteritis akut, karena tingkat resistensi ampisilin yang tinggi, maka dapat dianjurkan untuk menggunakan kortimoksazol sebagai pilihan terapi yang lebih efektif (Dipiro, 2009 ; Gilman, 2012) 186

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Metronidazol, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Tidak, tidak ada alternatif antibiotika lain lebih efektif, terbukti pasien sembuh Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, Merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro, 2009) Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Ya, dosis tepat, dosis antibiotika untuk anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari dalam 3 dosis terbagi (Tan & Rahardja, 2007). Kategori IIb Kategori IIc Ya, nterval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007). Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 14, Siprofloksasin, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri (SPM, 2005). 187

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVa Tidak, menurut SPM penggunaan ciprofoksasin digunakan sebagai terapi demam netropenia sebagai terapi empiris (SPM,2005) Kategori IVb Ya, ada alternatif lain yang lebih tidak toksik contohnya kortimoksazol yang juga merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang juga jarang menimbulkan resistensi sehingga banyak digunakan untuk berbagai penyakit infeksi (Tan & Rahardja, 2007), ciprofloksasin juga kurang aman jika digunakan pada pasien pedriatri karena dapat menyebabkan gangguan pada persendian (Hardman et al., 2012) Seftazidim, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri oleh bakteri gram (+) maupun gram (-) (SPM,2005) Kategori IVa Tidak, terbukti dengan pasien sembuh, seftazidim juga merupakan sefalosforin generasi 3 yang bekerja dengan spektrum luas (Tan & Rahardja, 2007). Kategori IVb Ya, karena seftazidim ini ada kemungkinan interaksi bila diberikan dengan antibiotika golongan aminoglikosida yang dapat meningkatkan resiko nefrotoksisitas dan dalam kasus ini juga diberikan antibiotika golongan aminoglikosida yaitu gentamisin (Permenkes, 2011). Gentamisin, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri oleh bakteri gram (+) maupun gram (-) (SPM,2005) Kategori IVa Tidak, terbukti dengan pasien sembuh, gentamisin juga merupakan antibiotika golongan aminoglikosida yang bekerja dengan spektrum luas (Tan & Rahardja, 2007). Kategori IVb Ya, karena gentamisin ini ada kemungkinan interaksi bila diberikan dengan antibiotika golongan sefalosforin yang dapat meningkatkan resiko nefrotoksisitas dan dalam kasus ini juga diberikan antibiotika golongan sefalosforin yaitu seftazidim(Permenkes, 2011). Kasus 15, Ampisilin, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) 188

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Tonsilofaringitis akut merupakan infeksi yang biasanya disebabkan oleh bakteri seperti Streptococus, Streptococus pyogenes (Dipiro, 2009) Tidak, ampisilin merupakan first line terapi untuk terapi tonsilofaringitis (Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIIb Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIa Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 250mg-1000mg/kgbb/hari untuk infeksi berat. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 3x 500mg/hari atau 1500mg/hari dengan BB pasien 9,5 kg, , seharusnya dengan BB 9,5 kg dosis minimal yang harus diberikan ke pasien pediatrik adalah 2.375mg/hari (ISFI, 2008) Kasus 16, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Kategori IIIa KATEGORI ASSESMENT Kategori VI Kategori V Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis demam netropenia, diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga gentamisin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd 189

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Gentamisin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori IIb Kategori IIc ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis demam netropenia, diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga gentamisin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari, dan jika dalm 3-5 hari tidak ada perbaikan baru diganti dengan golongan sefalosforin generasi 3 (SPM,2005) Tidak, 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari (SPM,2005) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari, (SPM, 2005) Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali (SPM, 2005) Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. 190

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 17, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib Kategori Iic Kategori I Kategori 0 Gentamisin, Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Ya, rute yang diberikan tepat. Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). 191

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib Kategori Iic Kategori I Kategori 0 Amoksisilin, Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Ya, rute yang diberikan tepat. Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007) Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) 192

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 18, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib Kategori Iic Kategori I Kategori 0 Gentamisin, Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Ya, rute yang diberikan tepat. Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan 193

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Kategori IVa tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 19, Ampisilin, Kategori : Waktu pemberian antibiotika tidak tepat (kategori I) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005) Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga ampisilin memang merupakan first line terapi antibiotika untuk pneumonia (Dipiro, 2009) (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan teraapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Kemenkes, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Kemenkes, 2011) 194

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 100mg/kgbb/hari untk infeksi berat. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 1700mg/hari dengan BB pasien 17 kg (SPM,2005) Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (Tan & Rahardja, 2007) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami sesak nafas, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Tidak, pemberian tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Kasus 20, Seftriakson, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. influenzae(SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 yahun 4 bulan diberikan seftriakson (sefalosforin generasi 3) merupakan first line terapi (Dipiro, 2009) Kategori IVb Ya, contohnya amoksisilin dan ampisilin sulbactam, dan juga apabila sefalosforin diberikan berbarengan dengan golongan aminoglikosisa ada kemungkinan menimbulkan resiko nefrotoksisitas, dalam kasus ini diberikan juga antibiotika golongan aminoglikosisda yaitu gentamisin (Permenkes, 2011; Dipiro, 2009). Gentamisin, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. influenzae(SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini gentamisin diberikan untuk terapi pasien pneumonia umur 2 yahun 4 bulan diberikan seftriakson (sefalosforin generasi 3) merupakan first line terapi (Dipiro, 2009) Kategori IVb Ya, contohnya amoksisilin dan ampisilin sulbactam, dan juga apabila sefalosforin diberikan berbarengan dengan golongan aminoglikosisa ada kemungkinan menimbulkan resiko nefrotoksisitas, dalam kasus ini diberikan juga antibiotika golongan aminoglikosisda yaitu gentamisin (Permenkes, 2011; Dipiro, 2009). Kasus 21, Ampisilin, Kategori : Penggunaan antibiotika bijak/tepat (kategori 0) 195

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATEGORI KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, . Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Kategori IVa Tidak, karena ampisilin merupakan first line terapi untuk pneumonia dan untuk pasien usia 2 bulan (dalam kasus ini) ampisilin dan gentamisin dikombinasikan dalam pemberiannya (SPM, 2005) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik tepati 100mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 2400mg/hari denagn BB pasien 23 kg, (SPM, 2005). Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 22, Ampisilin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonis\a diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga ampisilin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk pneumonia dan juga untuk kasus ini ampisilin dikombinasikan dengan gentamisin dalam terapinya (SPM, 2005) 196

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (SPM, 2005) Kategori IIIa Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIa Ya, untuk dosis ampisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia adalah 100-200mg/kg/day (Dipiro, 2008), dalam kasus ini dosis yang digunakan 600mg/harri, jadi masih dalam range dosis tepat. Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Gentamisin, Kategori : Pemberian antibiotika terlalu singkat (kategori IIIb) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Kategori IIIb ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga sefotaksim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk pneumonia dan juga untuk kasus ini gentamisin dikombinasikan dengan ampisilin dalam terapinya (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (SPM, 2005) Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Ya, pada kasus ini gentamisin hanya digunakan selama 1 hari, sedangkan 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) 197

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 23, Amoksisilin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, amoksisilin merupakn first line therapy untuk pneumonia (Dipiro, 2009) Kategori IVb Kategori Ivc Kategori Ivd Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (Dipiro, 2009) Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (Kemenkes, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (Kemenkes, 2011) Kategori IIa Ya, untuk dosis amoksisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia dosis yang dianjurkan 40-9mg/kg/bb/hari (Dipiro, 2008) Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 24, Ampisilin, Kategori :Antibiotika Lain lebih efektif (kategori IVa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. Coli (Tan & Rahardja, 2007). Ya, ampisilin bukan merupakan antibiotika yang dianjurkan untuk terapi gastroenteritis akut, karena tingkat 198

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI resistensi ampisilin yang tinggi, maka dapat dianjurkan untuk menggunakan kortimoksazol sebagai pilihan terapi yang lebih efektif (Dipiro, 2009 ; Gilman, 2012) Kloramfenikol, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, kloramfenikol bekerja pada spektrum luas (Gilman, 2012), dan juga pasien terbukti sembuh Kategori IVb Ya, terapi dengan menggunakan kloramfenikol hanya boleh digunakana pada infeksi yang manfaat obat tersebut lebih besar dibandingkan resiko toksisitas potensialnya karena efek samping dari kloramfenikol yang bersifat sangatt merugikan (Gilman, 2012) Kasus 25, Eritromisin, Kategori : Pemberian antibiotika terlalu lama (kategori IIIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia dan sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae dab H. influenzae(SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, eritromisin merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan juga eritromisisn bisa digunakn untuk terapi pneumonia ( Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori Ivc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori Ivd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (Dipiro, 2009) Kategori IIIa Ya,12 hari 3-7 hari merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (Kemenkes, 2011) Ampisilin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap 199

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori V Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga ampisilin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari, dan jika dalm 3-5 hari tidak ada perbaikan baru diganti dengan golongan sefalosforin generasi 3 (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari (SPM,2005) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kloramfenikol, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, kloramfenikol bekerja pada spektrum luas (Gilman, 2012), dan juga pasien terbukti sembuh Ya, terapi dengan menggunakan kloramfenikol hanya boleh digunakan pada infeksi yang manfaat obat tersebut lebih besar dibandingkan resiko toksisitas potensialnya karena efek samping dari kloramfenikol yang bersifat sangat merugikan (Gilman, 2012) 200

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Seftriakson, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga gentamisin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis, pada kasus ini sefrtriakson digunakan untuk menggantikan ampisilin (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 5-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan ntibiotika 6 hari (SPM,2005) Tidak,5- 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari (SPM,2005) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori IIb Kategori IIc Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (4x sehari) (SPM, 2005) Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 26, Kortimoksasol, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005) Tidak, terbukti dengan pasien sembuh 201

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVb Tidak, kortimoksazole merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang juga jarang menimbulkan resistensi sehingga banyak digunakan untuk berbagai penyakit infeksi (Tan & Rahardja, 2007) Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Tidak , dosis yang digunakan untuk pasien pediatriki 48mg (trimetoprim 8mg ; sulfametoksazol 40mg/kgbb/hari, dalam kasus ini diberikan dosis 480mg/hari dengan BB 16 kg (SPM, 2005) Seftazidim, Kategori : Dosis pemberian antibiotika tidak tepat (kategori IIa) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, seftazidim merupakan sefalosforin generasi 3 yang juga merupakan terapi antibiotika yang juga digunakan dalam mengobati penyakit pneumonia, (Dipiro, 2009) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Tidak, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik150mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 1200mg/hari sedangankan BB pasien 16kg, seharusnya dosis yang diberikan adalah 2400mg/hari (Dipiro, 2009). Gentamisin, Kategori : Pemberian antibiotika bijak/tepat (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan 202

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, gentamisin merupakan first line dalam terapi pneumonia (SPM, 2005) Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 80mg/hari dengan BB pasien 2,6 kg, (SPM, 2005). Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 27, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) 203

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Gentamisin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Kategori VI Kategori V Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Kategori IVa tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 28, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI ASSESMENT 204

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib Kategori Iic Kategori I Kategori 0 Gentamisin, Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Ya, rute yang diberikan tepat. Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas 205

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 29, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib Kategori Iic Kategori I Kategori 0 ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Ya, rute yang diberikan tepat. Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional 206

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ampisilin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Kategori VI Kategori V Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Kategori IVa tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 30, Gentamisin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia merupakan penyakit yang diebabkan oleh S. Pnemoniae (SPM, 2005) Tidak, gentamisin merupakan first line dalam terapi pneumonia (SPM, 2005) Kategori IVb Kategori IVc Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Kemenkes, 2011b). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah 207

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pediatrik 5mg/kgbb/hari. Dalam kasus ini diberikan dosis sebesar 100mg/hari dengan BB pasien 22 kg, (SPM, 2005). Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali dalam sehari (SPM, 2005) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 31, Seftazidim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Kategori IIIb Kategori IIa Kategori Iib Kategori Iic ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 50-100mg/kgbb/hari (Tan & Rahardja, 2007 Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Ya, rute yang diberikan tepat. 208

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Gentamisin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) Kategori VI Kategori V Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan untuk terapi profilaksis untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi dikarenakan pasien sedang menjalani proses kemoterapi yang akan menyebabkan sistem imun menjadi menurun dan memudahkan pasien untuk terkena infeksi (SPM, 2005). Kategori IVa tidak ada antibiotika yang lebih efektif dikarenakan gentamisin dan seftazidim memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk terapi profilaksis (SPM, 2005). Kategori IVb Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Kategori IVc Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Kategori IVd Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Kategori IIIa Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIIb Tidak, 3-7 hari merupakan terapi awal untuk penyakit infeksi berat menggunakan antibiotik (Permenkes,, 2011) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari (SPM, 2005) Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2x1(Tan & Rahardja, 2007) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 32, Ampisilin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis pneumonia diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga ampisilin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk pneumonia dan juga untuk kasus ini ampisilin dikombinasikan dengan gentamisin dalam terapinya (SPM, 2005) 209

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (SPM, 2005) Kategori IIIa Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIIb Tidak, 2-7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit pneumonia (SPM,2005) Kategori IIa Ya, untuk dosis ampisilin yang digunakan untuk terapi pneumonia adalah 100-200mg/kg/day (Dipiro, 2008), dalam kasus ini dosis yang digunakan 600mg/harri, jadi masih dalam range dosis tepat. Kategori Iib Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali (SPM, 2005) Kategori Iic Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Gentamisin, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb Kategori Ivc Kategori Ivd Kategori IIIa Kategori IIIb ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga gentamisin memang merupakan pilihan terapi antibiotika untuk sepsis (SPM, 2005) Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan antibiotika 6 hari, dan jika dalm 3-5 hari tidak ada perbaikan baru diganti dengan golongan sefalosforin generasi 3 (SPM,2005) Tidak, 7 hari memang merupakan tata laksana terapi untuk penyakit sepsis, dalam kasus ini lama penggunaan 210

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI antibiotika 6 hari (SPM,2005) Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 5mg/kgbb/hari, dalam kasus ini diberikan dosis 25mg dengan bb pasien 5kg (SPM, 2005) Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2-4 kali (SPM, 2005) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat, karena pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena tepat. Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Seftriakson, Kategori : Alternatif lebih tidak toksik (kategori IVb) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis sepsis merupakan penyakit yang diebabkan oleh H. influenzae(SPM, 2005) Kategori IVa Tidak, terbukti pasien sembuh, dan juga dalam kasus ini pasien pneumonia umur 2 yahun 4 bulan diberikan seftriakson (sefalosforin generasi 3) merupakan first line terapi (Dipiro, 2009) Kategori IVb Ya, contohnya amoksisilin dan ampisilin sulbactam, dan juga apan=bila sefalosforin diberikan berbarengan dengan golongan aminoglikosisa ada kemungkinan menimbulkan resiko nefrotoksisitas, dalam kasus ini diberikan juga antibiotika golongan aminoglikosisda yaitu gentamisin (Permenkes, 2011; Dipiro, 2009). Seftazidim, Kategori : waktu pemberian tidak tepat (kategori IIIb) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri (ISFI, 2008). Tidak, antibiotika ampisilin digunakan sebagai terapi empiris (Permenkes, 2011) Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas 211

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (SPM, 2005) Kategori IIIa Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIIb Ya, pemberian antibiotika tidak sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Eritromisin, Kategori : pemberian antibiotika terlalu singkat (kategori IIIb) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri (ISFI, 2008). Tidak, antibiotika ampisilin digunakan sebagai terapi empiris (Permenkes, 2011) Kategori IVb Kategori IVc Kategori IVd Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi dengan obat lain (Permenkes, 2011). Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas (SPM, 2005) Kategori IIIa Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIIb Ya, pemberian antibiotika tidak sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kasus 33, Sefiksim, Kategori : Penggunaan antibiotik tepat/bijak (kategori 0) KATEGORI Kategori VI Kategori V Kategori IVa Kategori IVb ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Ya, antibiotik diindikasikan karena adanya penyakit akibat infeksi bakteri, untuk diagnosis ISK diperlukan antibiotika untuk terapinya (SPM, 2005). Tidak, terbukti pasien membaik, dan juga sefiksim merupakan sefalosforin generasi 3 yang juga merupakam antibiotika spektrum luas (Tan & Rahardja, 2007). Tidak, antibiotika ini cukup aman digunakan (Permenkes, 2011). 212

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kategori IVc Kategori IVd Kategori IIIa Tidak, untuk antibiotika sejenis tidak ada yang lebih murah Tidak, karena pada kasus ini belum diketahui jenis bakteri, jadi masih digunakan antibiotika dengan spektrum luas Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIIb Tidak, pemberian antibiotika sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Permenkes, 2011). Kategori IIa Ya, dosis yang digunakan untuk pasien pedriatri 6mg/kgbb/hari , dosis yang diberika untuk pasien 50mg/hari dengan BB pasien 8kg (MIMS, 2010) Kategori IIb Ya, interval pemberian yang dianjurkan 2 kali sehari (IONI, 2008) Kategori IIc Ya, rute yang diberikan tepat Kategori I Ya, Waktu pemberian setiap harinya tepat. Kategori 0 Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Kasus 34, Ampisilin, Kategori : Antibiotik tidak diindikasikan (kategori V) KATEGORI ASSESMENT Kategori VI Ya , data rekam medis lengkap Kategori V Tidak, diagnosis infeksi tidak jelas, pemberian antibiotik harus berdasarkan antibiotik Sefotaksim, Kategori : Antibiotik tidak diindikasikan (kategori V) KATEGORI ASSESMENT Kategori VI Ya , data rekam medis lengkap Kategori V Tidak, diagnosis infeksi tidak jelas, pemberian antibiotik harus berdasarkan antibiotik Seftriakson , Kategori : Antibiotik tidak diindikasikan (kategori V) KATEGORI Kategori VI Kategori V ASSESMENT Ya , data rekam medis lengkap Tidak, diagnosis infeksi tidak jelas, pemberian antibiotik harus berdasarkan antibiotik 213

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 214 BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama lengkap Ralita Rosada lahir pada tanggal 21 November di Palangka Raya(KalTeng) dan merupakan putri pertama dari keluarga pasangan Edy Rosada SE. dan Linda Lisliani. Penulis mengawali pendidikannya di TK Widya Kusuma (1997-1998) kemudian melanjutkan pendidikan di MIN Model Pahandut Palangka Raya(1998-2004) pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ditempuh oleh penulis di MTSN 1 Model Palangka Raya (2004-2007) kemudian penulis melanjutkan pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA 3 Negeri Palangka Raya (2007-2010). Penulis kemudian melanjutkan perkuliahan di Universitas Sanata Dharma diterima sebagai mahasiswa jurusan Farmasi (2010 – sekarang). Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam berbagai kegiatan kepanitiaan seperti Panitia Hari Anti Tembakau (HAT) 2010 sebagai Sekretaris, Panitia Musyawarah ISMAFARSI JOGLOSEPUR 2012 sebagai Koordinator Sie. Acara, Panitia Seminar Nasional Diabetes Melitus 201 Koordinator Sie. Acara. Penulis juga aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan diantaranya penulis pernah menjabat sebagai sie. Organisasi ISMAFARSI periode 2011/2012 , Wakil Komisaris Eksternal ISMAFARSI 2012/2013 serta penulis juga pernah menjadi salah satu peserta Program Kreativitas Mahasiswa yang lolos seleksi dan didanai dikti pada tahun 2012 dan 2013.

(231)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.
0
4
213
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien lansia dengan diagnosis Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2009-2014.
1
17
110
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode Prescribed Daily Dose (PDD) pada pasien anak rawat inap di Bangsal INSKA II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari - Juni 2013.
0
3
77
Evaluasi penggunaan antibiotika dengan motede DDD (Defined Daily Dose) pada pasien anak rawat inap di sebuah Rumah Sakit pemerintah di Yogyakarta periode Januari Juni 2013
0
1
9
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
0
113
Pola peresepan obat kardiovaskuler berdasarkan tinjauan dosis, interaksi, kontradiksi, dan efek samping obat pada pasien gagal jantung di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito periode Januari-Desember tahun 2003 - USD Repository
0
0
112
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien kaker prostat yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
2
145
Evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 - USD Repository
0
0
102
Evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008 - USD Repository
0
0
171
Evaluasi drug therapy problems penggunaan antibiotika pada pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2006-2008 - USD Repository
0
0
109
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode Prescribed Daily Dose (PDD) pada pasien anak rawat inap di Bangsal INSKA II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari - Juni 2013 - USD Repository
0
0
75
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi yang dirawat di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2008-2009 - USD Repository
0
0
119
Kajian pengetahuan dan alasan pemilihan obat herbal pada pasien geriatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta - USD Repository
0
0
130
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode DDD (Defined Daily Dose) pada pasien rawat inap di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho pada periode Februari – Juli 2013 - USD Repository
0
0
85
Medication error fase prescribing dan fase transcribing pada resep racikan untuk pasien pediatrik di rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Februari 2014 - USD Repository
0
1
119
Show more