PENGARUH INFUSA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA MENCIT ( Mus musculus Linn) JANTAN HIPERURISEMIA SKRIPSI

Gratis

0
0
157
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH INFUSA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA MENCIT ( Mus musculus Linn) JANTAN HIPERURISEMIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh : Anggi Chikitta NIM : 101434032 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI PENGARUH INFUSA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA MENCIT ( Mus musculus Linn) JANTAN HIPERURISEMIA Oleh : Anggi Chikitta NIM : 101434032 Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing Luisa Diana Handoyo S.Si., M.Si tanggal 6 Agustus 2014 NPP : P.2291 ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGARUH INFUSA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA MENCIT ( Mus musculus Linn) JANTAN HIPERURISEMIA Dipersiapkan dan ditulis oleh : Anggi Chikitta NIM : 101434032 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi pada tanggal : 13 Agustus 2014 dan telah dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Ketua Tanda Tangan : Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd …………………… Sekretaris : Drs. Antonius Tri Priantoro, M. For. Sc …………………… Anggota : Luisa Diana Handoyo, M.Si ................................. Anggota : Drs. Antonius Tri Priantoro, M. For. Sc …………………… Anggota : Ika Yuli Listyarini, M.Pd …………………… Yogyakarta, 13 Agustus 2014 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan, iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Sian rohamuna ma ula hamu nasa sibahenonmuna, songon na tu Tuan i, ndada tu jolma! Ingot hamu ma Sian Tuhan i do jaloonmuna siteanon i, balos ni i Tuhan Kristus i ma oloi hamu! (Kolosse 3 : 23-24) Penuh syukur kupersembahkan karya kecil ini pada Tuhan Yesus Kristus atas karuniaNya Bapak dan Mama tersayang atas cinta, doa, dan bimbingannya Abang Niko Leo Patra Simatupang dan Peter Andrian Simatupang atas kepercayaan, semangat, dan kasihnya serta Almamaterku Universitas Sanata Dharma iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 13 Agustus 2014 Penulis Anggi Chikitta v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : Nama : Anggi Chikitta NIM : 101434032 Demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul : “PENGARUH INFUSA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA MENCIT (Mus musculus Linn) JANTAN HIPERURISEMIA”. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 13 Agustus 2014 Yang menyatakan, Anggi Chikitta vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunia-Nya lah, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Infusa Daun Tempuyung (Sonchus arvensis Linn) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Darah pada Mencit (Mus musculus Linn) Jantan Hiperurisemia” ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang membantu, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. Khususnya kepada: 1. Luisa Diana Handoyo S.Si., M.Si selaku dosen pembimbing 2. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Biologi. 3. Mama dan Bapak tercinta beserta keluarga. 4. Teman seperjuangan dalam penelitian Tiva Dyah Novitasari yang selalu mendukung dan memberikan motivasi. 5. Bapak Suwayah yang telah membantu dalam setiap proses penelitian di LPPT UGM. 6. Teman-temanku terkasih Kakak Juni, Kakak Gail Manik, Abang Iwan Nainggolan, Abang Hendra Sitinjak, Paskah Simbolon dan Reiner Rogate Sinaga yang selalu memberi semangat, doa dan menemani dalam proses penyusunan skripsi ini. 7. Sahabat-sahabatku di kos kinasih (Tiva, Gebi, Esther, dan Teteh Ocha). Kakak-kakakku tercinta. 8. Sahabat-sahabatku “THE GEMBEL” (Gebi, Neysa, Hugo, Daus, Ardy, Feri) serta sahabatku Citra dan Uly yang telah memberikan semangat setiap proses penelitian skripsi. 9. Sahabatku “Conscientia girls” Virda Mutiara dan Yanti Nainggololan yang setia mendengar dan menemani setiap proses penyusunan skripsi. 10. Teman-temanku NHKBP Yogyakarta yang selalu mendukung dan mendoakan setiap proses penyusunan skripsi. 11. Teman-teman Program Studi Pendidikan Biologi angkatan 2010 Universitas Sanata Dharma. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12. Semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, saran yang dapat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya. Yogyakarta, 13 Agustus 2014 Anggi Chikitta viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Anggi Chikitta.2014.Pengaruh Infusa Daun Tempuyung (Sonchus arvensis Linn) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Darah pada Mencit (Mus musculus Linn) Jantan Hiperurisemia Gout merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar asam urat yang tinggi dalam darah akibat gangguan metabolisme zat nitrogen purin. Tempuyung adalah salah satu tanaman yang sudah secara tradisional dikenal sebagai tanaman obat yang biasa digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian infusa daun tempuyung (S. arvensis) dapat menurunkan kadar asam urat serta dosis berapa yang efektif untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit (Mus musculus L.) jantan hiperurisemia. Penelitian termasuk jenis penelitian eksperimental acak lengkap pola searah. Subjek uji adalah mencit jantan, jenis DDY, umur 2,5 bulan, sebanyak 25 ekor mencit dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok I terinduksi pakan tinggi purin dan diberi aquadest (kontrol negatif), kelompok II terinduksi pakan tinggi purin dan diberi obat allopurinol 2 mg/kgBB (kontrol positif), dan kelompok III-V terinduksi pakan tinggi purin dan diberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 812,60 mg/kgBB, 1425,31 mg/kgBB dan 2500 mg/kgBB (kelompok perlakuan) yang diberikan secara peroral. Sampel darah diambil sebelum perlakuan hiperurisemia yaitu pada hari ke-8, setelah perlakuan hiperurisemia yaitu pada hari ke-22 dan 7 hari setelah pemberian perlakuan yaitu pada hari ke-29 melalui vena orbitalis. Pengukuran kadar asam urat dilakukan dengan metode Photometrics THBA dengan reagent asam urat DyaSis 6mg/dl menggunakan spektrofotometri vitalab mikro pada panjang gelombang 540 nm. Data kadar asam urat yang diperoleh diuji statistika dengan Analysis of Variance (Anava) dengan derajat kepercayaan 95% (p<0.05) dan dilanjutkan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukan bahwa infusa daun tempuyung berkhasiat sebagai antihiperurisemia. Dosis infusa daun tempuyung dosis I 812,60 mg/kgBB dapat menurunkan kadar asam urat sebesar 2,22 mg/dl, dosis II 1425,31 mg/kgBB menurunkan kadar asam urat sebesar 1,14 mg/dl dan dosis III 2500 mg/kgBB menurunkan kadar asam urat sebesar 1,80 mg/dl. Belum ditemukannya dosis yang efektif untuk menurunkan kadar asam urat dikarenakan kurangnya variasi dosis. Kata kunci : Mencit (Mus musculus Linn), Tempuyung (Sonchus arvensis Linn), Hiperurisemia, dan Gout ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Anggi Chikitta.2014.THE EFFECT OF TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) LEAF INFUSION TO DECREASE URIC ACID LEVEL IN THE BLOOD OF HYPERURICEMIA MALE MICE (Mus musculus Linn) Gout is a metabolic disease characterized by high levels of uric acid in the blood due to metabolic disorders of purine nitrogen substances. Tempuyung is one of plants that has been traditionally known as a medicinal plant. The purpose of this study is to determine whether the administration of infusion of leaves tempuyung (S. arvensis) can lower uric acid levels and the effective dose to decrease uric acid levels in the blood of hyperuricemia male mice (Mus musculus L.) The type of the study is a complete randomized experimental study unidirectional pattern. Test subject is male mice, DDY type, age 2.5 months, a total of 25 mice were divided into 5 groups. Group I induced high feed purines and given distilled water (negative control), group II induced high feed purine and given allopurinol drug 2 mg / kgBW (positive control), and group III-V induced high feed purines and tempuyung leaf infusion is given at a dose of 812 , 60 mg / kgBW, 1425.31 mg / kg and 2500 mg / kgBW (treatment group) were given orally. Blood samples were taken before treatment of hyperuricemia is on 8th day, after treatment of hyperuricemia is on 22nd day and 7 days after treatment on 29th day through the orbital vein. Measurement of uric acid levels is conducted using Photometrics THBA with uric acid reagent DyaSis 6mg / dl using micro vitalab spectrophotometry at a wavelength of 540 nm. Data uric acid levels obtained is tested statistically by Analysis of Variance (Anova) with 95% confidence level (p <0.05), and Kruskal-Wallis test followed. The research results show that the infusion of tempuyung leaf efficacious as antihiperurisemia. The first infusion dose of Tempuyung leaf I 812.60 mg / kgBW lowering uric acid levels by 2.22 mg / dl, the second dose 1425.31 mg / kgBW lowering uric acid levels by 1.14 mg / dl and the third dose of 2500 mg / kgBW lowering uric acid levels by 1.80 mg / dl. From the three doses which effective in lowering uric acid levels is the first dose of 812.60 mg / kg. Has not found an effective dose of the infusion of leaves tempuyung in lowering uric acid levels. Keywords: Mice (Mus musculus Linn), Tempuyung (Sonchus arvensis Linn), Hyperuricemia, and Gout x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ........................................................... KATA PENGANTAR ....................................................................................... ABSTRAK ......................................................................................................... ABSTRACT ......................................................................................................... DAFTAR ISI ...................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... DAFTAR TABEL .............................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan ................................................... B. Rumusan Masalah...................................................................... C. Batasan Masalah ........................................................................ D. Tujuan Penelitian ....................................................................... E. Manfaat Penelitian ..................................................................... 1. Bagi Peneliti ........................................................................ 2. Bagi Guru ........................................................................... 3. Bagi Siswa ........................................................................... 4. Bagi Masyarakat ................................................................. BAB II i ii iii iv v vi vii ix x xi xiii xiv xv 1 3 3 3 4 4 4 4 4 DASAR TEORI A. Tanaman Tempuyung (Sonchus arvensis Linn ) ..................... 5 1. Morfologi tumbuhan tempuyung (Sonchus arvensis L) .......... 5 2. Sistematika ....................................................................................... 6 3. Kandungan ....................................................................................... 7 B. Infusa ...................................................................................................... 9 C. Asam Urat ............................................................................................ 10 1. Sumber asam urat ............................................................................ 12 2. Mekanisme pembentukan asam urat ............................................ 13 D. Gout dan Hiperurisemia .................................................................... 17 E. Allopurinol ........................................................................................... 18 F. Penelitian yang relevan ....................................................................... 21 G. Kerangka berpikir ............................................................................... 22 H. Hipotesis .............................................................................................. 23 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian .......................................................................... 24 B. Variabel Penelitian .................................................................... 24 C. Desain Penelitian ............................................................................... 24 D. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ................................................ 25 E. Rancangan Penelitian ................................................................ 26 F. Alat dan Bahan .......................................................................... 25 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Alat ...................................................................................... 2. Bahan ................................................................................... G. Cara Kerja .................................................................................. 1. Pengumpulan bahan ............................................................. 2. Identifikasi tanaman tempuyung ......................................... 3. Pemberian pakan mencit ...................................................... 4. Pembuatan larutan kontrol positif allopurinol ..................... 5. Pembuatan infusa daun tempuyung 10%............................. 6. Penetapan dosis infusa daun tempuyung ............................. 7. Pengelompokan dan perlakuan hewan uji ........................... 8. Pengambilan darah mencit................................................... 9. Pengukuran kadar asam urat darah mencit .......................... H. Analisis Data ............................................................................. 28 29 31 31 31 31 31 32 32 34 35 35 37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... A. Hasil dan Pembahasan ............................................................... 1. Determinasi tanaman temuyung .......................................... 2. Berat badan mencit (Mus musculus) ................................... 3. Kadar asam urat ................................................................... 1) Peningkatan kadar asam urat darah hewan uji............... 2) Pengaruh pemberian infusa daun tempuyung ................ B. Implementasi Hasil Penelitian dalam Proses Pembelajaran ...... 40 40 41 41 43 43 46 56 BAB V PENUTUP ..................................................................................... 58 A. Kesimpulan ................................................................................ 58 B. Saran ......................................................................................... 58 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 59 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar II. 1. Gambar II.2. Gambar II. 3. Gambar II.4 Gambar III.1. Morfologi Tumbuhan Tempuyung (Sonchus arvensis L .) ....... 6 Sintesis purin ............................................................................ 15 Pemecahan purin........................................................................ 17 Diagram alir kerangka berpikir ........................................................ 20 Reaksi umum pengukuran kadar asam urat dalam pembentukan Warna ........................................................................................ 36 Gambar IV.1. Diagram perbandingan antara kadar asam urat mencit normal dan hiperurisemia sebelum perlakuan ...................................... 44 Gambar IV.2. Diagram perbandingan kadar asam urat serum darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan ........................................ 47 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel III.1. Denah percobaan ................................................................................... Tabel III.2. Pengelompokan hewan uji farmakologi ......................................... Tabel III.3. Volume sempel, standart, blanko, dan reagen untuk pengukuran asam urat darah ............................................................................ Tabel IV.1. Berat badan mencit awal ................................................................ Tabel IV.2. Berat badan mencit pra-perlakuan hiperurisemia .......................... Tabel IV.3. Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia sebelum perlakuan ................................................................................. Tabel IV.4 Kadar asam urat serum darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan ............................................................................ Tabel IV.5. Hasil uji t kadar asam urat pada mencit .......................................... ` xiv 25 28 36 41 41 43 46 48

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Ijin Melakukan Penelitian ............................................................ 62 Lampiran 2. Surat ijin peminjaman alat-alat laboratorium ...................................... 63 Lampiran 3. Surat Ijin Melakukan Identifikasi Tanaman ........................................ 64 Lampiran 4.Surat Identifikasi Tumbuhan Tempuyung ............................................ 65 Lampiran 5. Surat keterangan telah melakukan penelitian ..................................... 66 Lampiran 6. Hasil uji darah mencit sebelum perlakuan hiperurisemia .................. 67 Lampiran 6. Hasil uji darah mencit setelah perlakuan hiperurisemia .................... 68 Lampiran 6. Hasil uji darah mencit setelah perlakuan ............................................. 69 Lampiran 7. Metode pengujian kadar asam urat dalam darah................................. 70 Lampiran 8. Uji t Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Kontrol Negatif) ................................................... 71 Lampiran 8. Uji t Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Kontrol Positif) .................................................... 72 Lampiran 8. Uji t Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Dosis I) .................................................................. 73 Lampiran 8. Uji t Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Dosis II) ................................................................. 74 Lampiran 8. Uji t Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Dosis III) ............................................................... 75 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Kontrol Negatif .............................................................................. 76 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Kontrol Positif ............................................................................... 77 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Dosis I .............................................................................................. 78 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Dosis II ............................................................................................ 79 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Dosis III ........................................................................................... 80 Lampiran 10. Uji Normalitas Hiperurisemia ............................................................. 81 Lampiran 10. Uji Normalitas Setelah Perlakuan ....................................................... 82 Lampiran 10. Uji Normalitas Selisih Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan ........ 83 Lampiran 11. Uji Homogenitas Hiperurisemia ......................................................... 84 Lampiran 12. Uji Anava Setelah Perlakuan............................................................... 85 Lampiran 13.Uji Kadar Asam Urat ............................................................................. 86 Lampiran 14. Uji Anova Selisih antara hiperurisemia dengan setelah perlakuan .87 Lampiran 15. Silabus .................................................................................................... 88 Lampiran 16. RPP ......................................................................................................... 92 Lampiran 17. Dokumentasi kegiatan penelitian .......................................................140 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gout atau penyakit asam urat telah merajalela di kalangan masyarakat. Gout merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar asam urat yang tinggi dalam darah akibat gangguan metabolisme zat nitrogen purin. Ketidakseimbangan antara sintesis asam urat dan ekskresi melalui ginjal dapat menimbulkan gangguan asam urat. Peningkatan kadar asam urat dalam darah dikarenakan tingginya sintesis asam urat atau eksreksinya yang menurun atau kombinasi keduanya. Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah melebihi batas normal menyebabkan penumpukan asam urat di dalam persendian dan organ tubuh lainnya. Penumpukan asam urat inilah yang membuat sendi sakit, nyeri, dan meradang. Gout jarang ditemukan pada wanita, sekitar 95% penderitanya adalah pria. Kejadian gout sekitar 3 – 4 per 1.000 orang, cenderung dialami oleh orang dengan tingkat sosial ekonomi kelas atas, peminum alkohol, menyerang pria pasca pubertas, dan wanita pasca menopause karena estrogen meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal. Gout berhubungan erat dengan gangguan metabolisme purin yang menimbulkan peningkatan kadar asam urat darah (hiperurisemia), yaitu jika kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dl. Kadar normal pada pria 8 mg% dan pada wanita 7,5 mg% (Junaidi, 2006). Berdasarkan jurnal penelitian Best Practice & Research Clinical Rheumatology pada thn 2010, terdapat 4683 orang dewasa menunjukan bahwa 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 gout dan hiperurisemia di Indonesia adalah pada pria adalah masing-masing 1,7 dan 24,3%. Dimana rasio perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 34 : 1 untuk gout ; 2 : 1 untuk huperurisemia. Dahulu penyakit ini dikenal sebagai penyakit orang – orang elit. Banyaknya serangan asam urat pada kaum elit berbanding lurus dengan pola makan mereka yang umumnya berlebihan, terutama pada jenis makanan yang mengandung banyak protein, alkohol, dan kopi. Padahal, jenis makanan dan minuman ini merupakan jenis makanan dan minuman pencetus asam urat tinggi. Seperti diketahui bahwa di Indonesia terdapat bermacam – macam tanaman obat tradisional. Banyak masyarakat yang kembali untuk memilih pengobatan dengan menggunakan obat tradisional dari beberapa jenis penyakit, karena disamping harganya yang relatif murah, obat tradisional juga mudah untuk didapat. Tempuyung adalah salah satu tanaman yang sudah secara tradisional dikenal sebagai tanaman obat. Tanaman tempuyung berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, salah satunya ialah penyakit asam urat atau hiperurisemia. Tanaman tempuyung yang dijadikan sebagai obat asam urat masih jarang diketahui dan masih diragukan kemampuannya, sehingga menimbulkan masalah dalam pemakaiannya. Selama ini, belum adanya penelitian. Hal ini mendorong peneliti untuk membuktikan kebenarannya dengan melakukan penelitian tentang tanaman tempuyung yang dapat mengatasi penyakit asam urat agar mendapatkan bukti ilmiah, sehingga serangkaian penelitian daun tempuyung ini perlu dilakukan.

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 B. Rumusan Masalah 1. Apakah infusa daun tempuyung dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit jantan hiperurisemia ? 2. Berapakah dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit jantan hiperurisemia ? C. Batas Masalah Agar ruang lingkup penelitian tidak terlalu luas maka dibatasi dengan permasalahan sebagai berikut : 1. Infusa Daun Infusa yang digunakan dalam penelitian ini adalah tempuyung yang digunakan pada bagian daun yang berombak memeluk batang 2. Hewan Uji Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini ialah mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY yang berusia 2,5 bulan 3. Kadar Asam Urat Penurunan kadar asam urat yang diukur dalam penelitian ini adalah kadar asam urat dalam darah mencit jantan D. Tujuan Sesuai dengan perumusan masalah dan batasan masalah yang telah dikemukakan, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah pemberian infusa daun tempuyung (S. arvensis) dapat menurunkan kadar asam urat serta dosis berapa yang efektif untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit (Mus musculus L.) jantan hiperurisemia.

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 E. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data ilmiah dan menjawab permasalahan yang ada melalui data data penelitian. 2. Bagi guru Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran khususnya dijadikan materi sumbangan dalam pembuatan LKS pada pembelajaran Biologi di SMA. 3. Bagi siswa Melalui kegiatan pratikum siswa dapat langsung mempratekkan penelitian yang telah dirancang oleh guru sehingga siswa dapat lebih mudah memahami materi karena telah mengalami secara langsung. 4. Bagi masyarakat Langkah awal untuk memberikan informasi dan bukti ilmiah kepada masyarakat tentang penggunaan daun tempuyung sebagai obat asam urat.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Tempuyung (Sonchus arvensis Linn) 1. Morfologi Tumbuhan Tempuyung (Sonchus arvensis Linn) Tempuyung adalah tanaman herba menahun, tegak, mengandung getah, sering dengan akar tunggang kuat, tinggi 0.6-2m. batang bulat, berongga, gundul, rapuh. Daun gundul, sering keunguan, bergigi tidak teratur, sedikit banyak berlekuk menyirip dalam, yang rendah dalam roset, duduk, dengan pangkal memeluk batang, menyempit, lanset atau bentuk solet, 15-50 kali 312 cm, yang lebih atas lebih kecil, dengan pangkal bentuk jantung-bentuk panah, dan memeluk batang. Bongkol dalam jumlah yang tidak banyak berkumpul dalam karangan bunga bentuk malai rata, bertangkai, garis tengah 2,5-6 cm, tangkai dengan kelenjar bertangkai, garis tengah 2,5-6 cm, tangkai dengan kelenjar bertangkai. Daun pembalut banyak, penuh kelenjar bertangkai, tidak sama. Bunga banyak, kuning cerah. Buah keras bentuk memanjang, pipih, berusuk, cokelat kekuningan, panjang ± 4mm. rambut buah putih terang. Dari Eurasia, tumbuhan-tumbuhan rumputan dari lading yang cerah matahari, tebing teras dan sepanjang saluran air, 50-1650 m (Steenis, 2008). 5

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 A B (Efrizal, 2009) C (Rini, 2010) Gambar II.1. Morfologi Tumbuhan Tempuyung (Sonchus arvensis L.) A. Daun B. Batang C. Habitus tempuyung 2. Sistematika Kedudukan tanaman tempuyung dalam sistematika tumbuhan adalah sebagai berikut : Difisi : Spermatophyta

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Subdifisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Asterales Suku/Family : Compositae Marga : Sonchus Spesies : Sonchus arvensis Linn Nama umum : Tempuyung (Sumber : Sutanto, 2013) 3. Kandungan Kandungan kimia yang terdapat dalam daun tempuyung berupa ion-ion mineral, seperti silika, alfalaktuserol, beta-laktuserol, manitol, kalium, magnesium, natrium, dan senyawa organik, seperti flavonoid (kaempferol, lutcolin-7-O-gukosida, dan apigenin-7-o-glukosida), kumarin, taraksasterol, inositol, serta asam fenolat (sinamat, kumarat, dan vanilat). Kandungan flavonoid total dalam daun tempuyung sekitar 0,1044%. Sementara itu, kandungan senyawa flavonoid total dalam akar sekitar 0,5%. Flavonoid terbesar yang terkandung dalam akar adalah apigenin-7-O-glukosida (Ningsih, 2013). Selain berguna sebagai antiradang, senyawa flavonoid dalam daun tempuyung menunjukkan aktivitas yang bermacam-macam, di antaranya mempunyai aktivitas sebagai diuretik, antivirus, antihistamin, antihipertensi, dan bakteriostatik. Selain itu, flavonoid ini juga mempunyai aktivitas menurunkan kadar asam urat melalui penghambatan enzim xantin oksidase. Hal ini mirip dengan cara kerja obat allopurinol, kelompok obat urikosurik

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 yang bekerja untuk mengurangi pembentukan asam urat dalam tubuh (Sutanto, 2013) . Menurut Paul Cos dan kawan-kawan dari Department of Pharmaceutical Sciences, University of Antwerp, Belgia, dalam Dr. Chairul (1999) beberapa senyawa flavonoida bersifat antioksidan yang dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase dan reaksi superoksida, sehingga pembentukan asam urat jadi terhambat atau berkurang. Dalam proses pengobatan atau pencegahan kelebihan asam urat yang digunakan pada tanaman tempuyung, pemeran utamanya adalah senyawa-senyawa glikosida flavonoid dan flavonoid bebas yang terdapat di dalam tumbuhan tempuyung. Flavonoid dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sehingga asam urat tidak terbentuk di dalam tubuh dan senyawa flavonoid akan berikatan dengan kalsium dari batu ginjal membentuk senyawa komplek khelat (dari kata Yunani ”chele” yang berarti cakar, hal ini dikarenakan dalam membentuk senyawa kompleks, ligand tersebut mencekram atom logam dengan sangat kuat, senyawanya disebut kompleks khelat) yang mudah larut. Selain mengandung senyawa flavonoid tumbuhan tempuyung juga kaya akan kandungan ion-ion natrium dan kalium yang berfungsi menjaga keseimbangan elektrolit pada ginjal. Ion-ion tersebut juga akan berikatan dengan asam urat membentuk senyawa garam yang mudah larut dalam air, sehingga asam urat yang telah mengkristal di dalam darah dan ginjal akan terlarut menimbulkan efek diuretik (melancarkan urine) pada penderita (Chairul, 1999).

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Kalium pada daun tempuyung dapat menguraikan endapan CaC2O4 penyebab penyakit batu ginjal. Hal ini disebabkan kalium akan menyingkirkan kalsium dan bergabung dengan senyawa kalsium oksalat. Reaksi kimia sebagai berikut : 2K+ + CaC2O4 (endapan CaC2O4/batu oksalat)  K2C2O4 + larut Ca2+ larut Daya melarutkan kalium terhadap endapan kalsium oksalat disebabkan oleh letak kalium di dalam deret Volta sebelum letak kalsium, sehingga kalium akan menyingkirkan kalsium untuk bergabung dengan senyawa karbonat, oksalat, atau urat dan senyawa kalsium menjadi larut (Intisari, 1999). B. Infusa Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi simplasia (bahan alami yang digunakan sebagai obat) nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. Pembuatan infusa merupakan cara yang paling sederhana untuk membuat sediaan herbal dari bahan lunak. Dapat diminum panas atau dingin. Sediaan herbal yang mengandung minyak atsiri akan berkurang khasiatnya apabila tidak menggunakan penutup pada pembuatan infusa. Cara pembuatan infusa yang baik ialah mencampur simplisia dengan derajat yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90oC sambil sekali-

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 kali diaduk-aduk. Saring selagi panas melalui kain flannel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki. Infusa simplisia yang mengandung minyak atsiri disaring setelah dingin. Infusa simplisia yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Infusa simplisia yang mengandung glikosida antarkinon, ditambahkan larutan natrium karbonat P 10% dari bobot simplisia. Kecuali dinyatakan lain. Infusa yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia (Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, 2010). Menggunakan herbal segar yang telah bersih untuk pengobatan begitu juga untuk tanaman tempuyung. Jika bahannya besar atau tebal, sebaiknya potongpotong tipis agar saat pembuatan infusa zat-zat yang terkandung didalamnya mudah keluar dan meresap dalam air infusa. Pada saat merebus bahan, gunakan wadah yang terbuat dari keramik, panci enamel, atau panci beling. Jangan menggunakan wadah dari logam karena logam mengandung zat iron trichloride dan potassium ferrycianide (Damayanti, 2013). C. Asam Urat Pada manusia, produk akhir dari metabolisme purin adalah asam urat. Purin merupakan salah satu unsur protein yang menyusun material genetik. Zat ini dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi maupun dari perombakan sel (Rodwell dalam Junaidi, 2006). Oleh karena itu, dalam keadaan biasa (tanpa konsumsi purin) asam urat tetap diproduksi oleh tubuh. Diperkirakan bahwa gangguan asam urat terjadi pada 840 dari setiap 100.000 orang, dan mewakili sekitar 5% dari total penyakit radang sendi. Penyakit ini dapat dikelompokkan menjadi bentuk gout primer yang umum terjadi (90% kasus).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, tapi diperkirakan akibat kelainan proses metabolisme dalam tubuh, tapi yang pasti ada hubungannya dengan obesitas, hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes mellitus. Umumnya dialami oleh laki-laki lebih dari 30 tahun. Sedangkan gout sekunder (10% kasus) dialami oleh wanita pada umumnya setelah menopause, hal ini disebabkan karena gangguan hormon (Sustrani, dkk., 2007) Nama medis untuk penyakit asam urat tergantung fase penyakitnya. Jika kadar asam urat tinggi di dalam darah, tetapi belum pernah mempunyai keluhan maka disebut hiperurisemia asimtomatis. Jika terjadi serangan akut pada sendi maka disebut penyakit gout akut atau penyakit pirai akut. Jika sesudah serangan akut kemudian untuk sementara tidak ada keluhan lagi maka disebut penyakit gout interkritikal atau penyakit pirai interkritikal. Jika penyakit gout interkritikal atau penyakit pirai interkritikal menjadi kronis maka disebut penyakit gout kronis atau penyakit pirai kronis. Jika penyakit gout kronis atau penyakit pirai kronis menyebabkan timbulnya batu pada saluran kencing atau ginjal maka disebut penyakit batu urat. Jika asam urat penyakit batu urat merusak ginjal secara langsung maka disebut penyakit nefropati urat. Benjolan-benjolan yang mengandung kristal natrium urat berwarna putih seperti kapur biasanya timbul di sekitar sendi pada gout kronis. Benjolan-benjolan ini disebut tofus (Kartia, 2009). Asam urat merupakan hasil pemecahan dari xanthine dan hypoxanthine dengan katalis xantine-oksidase. Penyakit pirai (gout), atau arteritis gout adalah penyakit yang disebabkan oleh tumpukan asam/kristal urat pada jaringan, terutama pada jaringan sendi. Gout berhubungan erat dengan

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 gangguan metabolisme purin yang menimbulkan peningkatan kadar asam urat darah (hiperurisemia), yaitu jika kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dl. Penderita gout menghasilkan asam urat secara berlebih sehingga yang tersimpan dalam tubuh meningkat menjadi 3 sampai 15 kali dari keadaan normal (Junaidi, 2006). Kadar asam urat yang berlebih dalam darah dapat menyebabkan penimbunan kristal asam urat. Apabila penimbunan kristal itu terbentuk pada cairan sendi, terjadilah penyakit pirai. Jika penimbunan itu terjadi pada ginjal, akan muncul penyakit batu asam urat pada ginjal. Untuk mengurangi pembentukan asam urat, konsumsi makanan tinggi purin harus dibatasi atau bahkan dikurangi. Pola diet ini juga sekaligus bermanfaat untuk memelihara berat badan tetap ideal (Handita, 2004). 1. Sumber asam urat Asam urat dalam tubuh berasal dari berbagai macam keadaan : a. Asam urat endogen sebagai hasil metabolisme nukleoprotein jaringan. Seperti kita ketahui, nukleoprotein terdiri dari protein asam nukleat, dan asam nukleat merupakan kumpulan nukleotida yang terdiri dari basa purin dan pirimidin, karbohidrat, serta fosfat. b. Asam urat eksogen yang berasal dari makanan yang mengandung nukleoprotein c. Hasil sintesis tubuh langsung yang menghasilkan sejumlah besar asam urat karena adanya kelainan enzim yang sifatnya diturunkan, atau karena suatu

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 penyakit tertentu karena penghancuran ginjal untuk membuang asam urat (Junaidi, 2006). Hati ayam tergolong makanan yang mengandung kadar purin tinggi (1501000 mg purin/100g bahan makanan) (Anonim, 2013). Asupan makanan berkadar purin tinggi dapat meningkatkan kadar asam urat. Hiperurisemia dapat menyebabkan timbulnya penyakit gout yaitu penyakit yang menimbulkan peradangan dan rasa nyeri pada sendi terutama sendi-sendi jari tengah dan kaki. Rasa sakit dan nyeri pada gout diakibatkan adanya kristal garam urat dalam sendi. (Lumentn, 2003). 2. Mekanisme pembentukan dan pemecahan asam urat a. Sintesis purin Basa purin disintesis pada bagian ribose. Dalam tahap ini 5’-Fosforibosil1’-pirofosfat (PRPP, 5’-Phosphoribosil-1’-pyrophosphate) adalah substrat yang diaktivasi dalam sintesis purin dan sintesis pirimidin. PRPP terbentuk dari adenosine triposfat (ATP) dan ribose dan enzim penyusunnya adalah PRPP sintetase. PRPP menyediakan bagian ribose, bereaksi dengan glutamine membentuk fosforibosilamin, yang dikatalisis oleh amidofosforibosil transferase. Tahap pertama dalam biosintesis purin ini memproduksi N9 dari cincin purin, enzim dihambat oleh adenosine monofosfat (AMP) dan guanosin monofosfat (GMP). Satu molekul glisin ditambahkan pada precursor purin yang sedang berlangsung. Kemudian C8 diberikan oleh formil tetrahidrofolat, N3 diberikan oleh glutamine, C6 diberikan oleh CO2, N1 diberikan oleh aspartat, akhirnya C2 diberikan oleh formil tetrahidrofolat. Inosin monofosfat

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 (IMP) yang mengandung basa hipoxantin dihasilkan. IMP dapat diubah dalam hati menjadi basa bebas, hipoxantin atau nukleosida oleh defosforilasi. Hipoxantin atau inosin berjalan ke berbagai jaringan dimana ia diubah ke nukleotida. IMP adalah precursor terhadap AMP dan GMP. Pada pembentukan GMP, IMP diubah pertama ke xantosin monofosfat oleh enzim IMP dehidrogenase dan akhirnya ke GMP oleh kerja dari GMP sintase. Pada pembentukan AMP, IMP diubah pertama – tama menjadi adenilsuksinat oleh enzim adenilosuksinat sintetase yang akhirnya menjadi AMP melalui kerja adenilosuksinase. Dengan hambatan umpan balik, setiap produk mengatur sintesisnya sendiri dari titik cabang IMP dan juga menghambat tahap awal dalam jalur. AMP dan GMP dapat mengalami fosforilasi sampai tingkat trifosfat. ATP dan guanosin trifosfat (GTP) dapat digunakan untuk proses – proses yang memerlukan energi atau untuk sintesis RNA. Reduksi dari bagian ribose menjadi deoksiribosa terjadi pada tahap difosfat dan dikatalisis oleh ribonukleotida reduktase, yang memerlukan protein tioredoksin. Setelah difosfat mengalami fosforilasi, deoksiadenosin trifosfat (dATP) dan deoksiguanosin trifosfat (dGTP) dapat digunakan untuk sintesis DNA. Basa purin dapat dihemat melalui reaksi dengan PRPP membentuk nukleotida. Enzim penghemat purin adalah hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT) dan adenine fosforibosil transferase (APRT) (Swanson, Todd A, et all, 2012).

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Gambar II.2. Sintesis Purin (diambil dari Swanson, T.A, et all, 2012)

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 b. Pemecahan purin Pembentukan asam urat dimulai dengan metabolisme dari DNA dan RNA menjadi Adenosine dan Guanosin. Proses ini berlangsung di dalam tubuh secara terus menerus. Diproduksi dan digantikan pada sel tubuh, terutama dalam darah. Adenosine mula-mula diubah menjadi inosin oleh adenosine deaminase. Adenosine yang terbentuk kemudian dimetabolisme menjadi hipoksantin. Hipoksantin kemudian dimetabolisme menjadi xanthine. Sedangkan Guanosin dimetabolisme menjadi xantin ( Kurniyati, 2013). Kemudian xanthine dari hasil metabolisme hiposantin dan Guanosin dimetabolisme dengan bantuan enzim xanthine oxidase menjadi asam urat. Keberadaan enzim xanthine oxidase menjadi sangat penting dalam metabolisme purin, karena mengubah hipoksantin menjadi xanthine, dan kemudian xanthine menjadi asam urat. Selain enzim xanthine oxidase, pada metabolisme purin terlibat juga enzim Hypoxanthine - Guanine Phosphoribosyl Transferase yang biasa disebut HGPRT. Enzim ini berperan dalam mengubah purin menjadi nukleotida purin agar dapat digunakan kembali sebagai penyusun DNA dan RNA. Jika enzim ini mengalami defisiensi, maka peran enzim menjadi berkurang. Akibatnya purin dalam tubuh dapat meningkat. Purin yang tidak dimetabolisme oleh enzim HGPRT akan dimetabolisme oleh enzim xanthine oxidase menjadi asam arut. Pada akhirnya, kandungan asam urat dalam tubuh meningkat atau tubuh dalam kondisi hiperurisemia. Pada intinya enzim xanthine oxidase berfungsi membuang kelebihan purin dalam bentuk asam urat. Sekitar dua per

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 tiga asam urat yang sudah terbentuk di dalam tubuh secara alami akan dikeluarkan bersama urin melalui ginjal ( Kurniyati, 2013). Gambar II.3. Pembentukan asam urat (diambil dari Kurniyanti, 2013) D. Gout dan Hiperurisemia Gout adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan penyakit yang berkaitan dengan hiperurisemia. Hiperurisemia dapat terjadi karena peningkatan sintesis prekursor purin asam urat atau penurunan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 eliminasi/pengeluaran asam urat oleh ginjal, atau keduanya. Gout merupakan diagnosis klinis sedangkan hiperurisemia adalah kondisi biokimia. Gout ditandai dengan episode arthritis akut yang berulang, disebabkan oleh timbunan monosodium urat pada persendian dan kartilago, dan pembentukan batu asam urat pada ginjal (nefrolitiasis). Hiperurisemia yang berlangsung dalam periode lama merupakan kondisi yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk menyebabkan terjadinya gout (Lyrawati, 2008). Hiperurisemia didefinisikan sebagai kadar asam urat jenuh. Dari definisi ini, kadar asam urat lebih dari 7,0 mg/dl termasuk tidak normal dan dapat meningkatkan risiko terjadinya gout. Menurut Hawki dan Rahn (dalam Alisata, 2003), dari hasil penelitian dalam suatu populasi menunjukkan bahwa kadar asam urat dan konsekuensi terhadap risiko gout berkorelasi dengan umur, kreatinin serum, nitrogen urea darah, jenis kelamin (pria), tekanan darah, berat badan, dan asupan alkohol (Alisata, 2003). E. Allopurinol Obat hipourisemik pilihan untuk gout kronik adalah allopurinol. Selain mengontrol gejala, obat ini juga melindungi fungsi ginjal. Allopurinol menurunkan produksi asam urat dengan cara menghambat enzim xantin oksidase. Allopurinol tidak aktif tetapi 60‐70% obat ini mengalami konversi di hati menjadi metabolit aktif oksipurinol. Waktu paruh allopurinol berkisar antara 2 jam dan oksipurinol 12‐30 jam pada pasien dengan fungsi ginjal normal. Oksipurinol diekskresikan melalui ginjal bersama dengan allopurinol dan ribosida allopurinol, metabolit utama ke dua.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Pada pasien dengan fungsi ginjal normal dosis awal allopurinol tidak boleh melebihi 300 mg/24 jam. Pada praktisnya, kebanyakan pasien mulai dengan dosis 100 mg/hari dan dosis dititrasi sesuai kebutuhan. Dosis pemeliharaan umumnya 100 - 600 mg/hari dan dosis 300 mg/hari menurunkan urat serum menjadi normal pada 85% pasien. Respon terhadap allopurinol dapat dilihat sebagai penurunan kadar urat dalam serum pada 2 hari setelah terapi dimulai dan maksimum setelah 7‐10 hari. Kadar urat dalam serum harus dicek setelah 2‐3 minggu penggunaan allopurinol untuk meyakinkan turunnya kadar urat. Allopurinol dapat memperpanjang durasi serangan akut atau mengakibatkan serangan lain sehingga allopurinol hanya diberikan jika serangan akut telah mereda terlebih dahulu. Resiko induksi serangan akut dapat dikurangi dengan pemberian bersama NSAID atau kolkisin (1,5 mg/hari) untuk 3 bulan pertama sebagai terapi kronik (Lyrawati, 2008). Kebanyakan obat diubah di dalam hati, kadang-kadang dalam ginjal. Kalau fungsi hati tidak baik maka obat yang biasanya diubah dalam hati tidak mengalami perubahan atau hanya sebagian yang diubah. Hal tersebut mnyebabkan efek obat berlangsung lebih lama dan obat menjadi tosik. Respon obat terhadap dosis obat yang rendah biasanya meningkat sebanding langsung dengan dosis. Namun dengan meningkatnya dosis peningkatan repon menurun. Pada akhirnya tercapailah dosis yang tidak dapat meningkatkan respon lagi (lamidi, 1995). Menurut Malole dalam Puti (2013), efek farmakologi suatu obat dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor antara lain: a. Pada penelitian ini rute pemberian obat diberikan secara oral. Rute pemberian oral memberikan efek sistemik dan dilakukan melalui mulut

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 kemudian masuk saluran intestinal (lambung) dan penyerapan obat melalui membran mukosa pada lambung dan usus. Pemberian peroral akan memberikan onset paling lambat karena melalui saluran cerna dan perlu proses metabolisme sehingga lambat diadsorbsi oleh tubuh. Selain itu pemberian secara oral membutuhkan dosis yang paling besar diantara rute pemberiannya karena melalui metabolisme di hati. b. Bobot tubuh dan luas permukaan tubuh berpengaruh dalam hasil percobaan. Bobot dan luas permukaan tubuh yang besar akan lebih membutuhkan lebih banyak dosis dibandingkan dengan yang memiliki bobot dan luas permukaan yang kecil untuk mendapatkan data kuantitatif yang akurat pada efek farmakologis yang terjadi. c. Status kesehatan dan nutrisi berpengaruh terhadap hasil percobaan karena efek yang dihasilkan dalam dosis akan cepat diserap oleh tubuh dan berlangsung cepat efek yang dihasilkan. d. Usia hewan memiliki pengaruh yang nyata terhadap kerja obat. Hewan yang berusia lebih muda tentu saja membutuhkan dosis yang lebih sedikit dibanding yang lebih tua. e. Tingkat resistensi dari hewan percobaan yang berbeda-beda. Hewan percobaan yang lebih resisten tentu mengakibatkan onset dan durasi obat menjadi lebih cepat dari pada seharusnya atau tidak timbul efek pada hewan percobaan walaupun diberikan injeksi sesuai dosis yang telah ditentukan f. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil percobaan antara lain pemeliharaan lingkungan fisiologik, suplai oksigen. Meningkatnya kejadian penyakit infeksi pada hewan percobaan disebabkan karena

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 kondisi lingkungan yang jelek di mana hewan itu tinggal. Maka dengan meningkatnya penyakit infeksi dan disertai dengan keadaan nutrisi yang jelek pula akan berakibat resistensi tubuh menurun sehingga berpengaruh terhadap hasil suatu percobaan. Jadi untuk menghasilkan hasil percobaan yang baik faktor eksternal tersebut harus disesuaikan dengan karateristik hewan percobaan agar hewan tersebut tidak stress. Karena kalau stress akan menghambat percobaan. . F. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah: 1. Handoyo, Luisa Diana (2005) melakukan penelitian dengan judul Kadar Asam Urat Darah Ayam Jantan Hiperurisemia dengan Pemberian Ekstrak Herba Sidaguri (Sida rhombifolia L.) Per Oral. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ekstrak herba sidaguri (S. rhombifolia) serta dosis berapa yang efektif terhadap kadar asam urat darah ayam jantan hiperurikemia serta untuk mendapatkan arahan menuju senyawa apakah yang diduga berperan dalam menurunkan kadar asam urat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya penurunan kadar asam urat darah ayam jantan hiperurikemia dengan menggunakan ekstrak herba sidaguri (S. rhombifolia). Senyawa yang dapat menurunkan kadar asam urat darah ayam jantan hiperurisemai adalah flavonoid. Kandungan senyawa flavonoid tersebut berada dalam daun sidaguri (Sida rhombifolia L.). 2. Alisata, Berta (2003) melakukan penelitian berjudul Pengaruh Infus Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) terhadap Kadar

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Asam Urat Serum Darah Ayam Jantan Hiperurisemia Terinduksi Pakan Tinggi Purin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daging makuto dewo berkhasiat sebagai antihiperurisemia dengan persentase efek berturutturut 18,17; 38,94; 52,50; 55,80; dan 63,31% dan dosis efektif tengah ditemukan sebesar 23,92 (14,96-40,79) g/kgBB. Mekanisme yang berperan dalam penurunan kadar asam uarat serum darah ayam yang terinduksi pakan tinggi purin diduga berkaitan dengan senyawa yang terkandung dalam buah makuto dewo yaitu senyawa flavonoid. G. Kerangka Berpikir Asam urat (hiperurisemia) Faktor penyebab penyakit gout, hiperurisemia, pirai, dan batu ginjal Infusa daun tempuyung 10% Flavonoid yang dapat menghambat xantin oksidase Uji pengaruh infusa daun tempuyung terhadap asam urat (hiperurisemia) Obat penurun asam urat (hiperurisemia) Gambar II. 4. Diagram alir kerangka berpikir

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 H. Hipotesis Hipotesis yang dapat diungkapkan pada penelitian ini berdasarkan pada tinjauan diatas adalah infusa daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) dapat menurunkan kadar asam urat darah pada mencit (Mus musculus L.) jantan hiperurisemia dengan dosis yang efektif ialah pada dosis 812,60 mg/kgB

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan model rancangan penelitian eksperimental. Penelitian eksperimen merupakan salah satu jenis penelitian kuantitatif yang sangat kuat mengukur sebab akibat yaitu membandingkan efek variansi variabel bebas terhadap variabel tergantung melalui manipulasi atau pengendalian variabel bebas tersebut (Taniredja dan Mustafidah, 2011). B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah infusa daun tempuyung. Dosis infusa daun tempuyung adalah jumlah miligram infusa daun tempuyung tiap kg berat badan subjek uji yang bersangkutan dengan 3 tingkatan dosis. 2. Variabel terikat Kadar asam urat total pada mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY. 3. Variabel kontrol Umur mencit (2,5 bulan), spesies mencit (spesies DDY), jenis kelamin (jantan). C. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) atau Completely Randomized Design (CRD). Rancangan Acak 24

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Lengkap (RAL) digunakan untuk percobaan yang mempunyai media atau tempat percobaan yang seragam atau homogen (Sastrosupadi, 2000). Penerapan perlakuan terhadap unit percobaan dilakukan secara acak terhadap seluruh unit percobaan. Ada tiga tingkatan dosis, yaitu dosis I 812,60 mg/kgBB, dosis II 1425,31 mg/kgBB dan dosis III 2500 mg/kgBB (A, B, dan C) dan kontrol (D) yang akan diuji dengan masing-masing pengulangan sebanyak lima kali. Unit percobaan 5 kandang, maka denah percobaan sebagai berikut : Tabel III.1. Denah Percobaan E (1) D (1) C (1) B (1) A (1) E (2) D (2) C (2) B (2) A (2) E (3) D (3) C (3) B (3) A (3) E (4) D (4) C (4) B (4) A (4) E (5) D (5) C (5) B (5) A (5) Unit Percobaan Nomer urut kandang D. Waktu dan Tempat 1. Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2014 – 3 April 2014 2. Tempat Penelitian Pemeliharaan hewan uji selama masa pengujian dilakukan di LPPT (Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu) Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pembuatan infusa daun tempuyung dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dan

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 pengukuran kadar asam urat dalam darah mencit dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT Unit I) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. E. Rancangan Penelitian 1. Penelitian ini menggunakan sampel mencit jantan galur DDY 25 ekor. 2. Tahap pertama yang akan dilakukan dalam pra-penelitian ini adalah dilakukannya tahap aklimatisasi pada mencit selama 7 hari dengan pemberian pakan standar dan air agar mencit jantan dapat membiasakan diri terhadap lingkungan sekitar. Namun tahap aklimatisasi tidak dilakukan dalam penelitian ini disebabkan mencit-mencit yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari tempat yang akan digunakan untuk penelitian dengan demikian mencit-mencit sudah terbiasa dengan lingkungan sekitarnya yaitu laboratorium yang akan digunakan. 3. Dikarenakan tidak dilakukannya tahap aklimatisasi, maka selanjutnya akan dilakukan tahap hiperurisemia dimana mencit diberikan jus hati ayam 100% sebanyak 2 ml/ kgBB dua kali sehari (pagi dan siang) yang diberikan berturut-turut dari hari pertama sampai hari ke-21 agar mencit memperoleh kondisi hiperurisemia. Hasil pengukuran kadar asam urat pada hari ke-22 digunakan sebagai data kadar asam urat darah mencit hiperurisemia. 4. Sempel dibagi menjadi 5 kelompok pra-perlakuan : a. Kelompok A (kontrol Negatif) Kontrol negatif seringkali dimaksudkan sebagai kelompok kontrol tanpa perlakuan. Dari kelompok kontrol negatif dapat dihasilkan suatu

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 baseline sehingga perubahan pada variabel terikat dapat terlihat pada kelompok ini 5 ekor mencit jantan diberi aquadest b. Kelompok B (kontrol Positif) Kontrol Positif adalah kelompok perlakuan yang besar kemungkinannya menghasilkan efek atau perubahan pada variabel terikat. Kelompok kontrol positif bertujuan untuk membuktikan bahwa eksperimen yang digunakan sudah tepat dan dapat menghasilkan perubahan positif pada variabel terikat. Pada kelompok ini, 5 ekor mencit jantan diberi allopurinol dengan dosis 1 mg/KgBB c. Kelompok C 5 ekor mencit jantan diperlakukan dengan infusa daun tempuyung konsentrasi 10% dengan dosis 812,60 mg/KgBB d. Kelompok D 5 ekor mencit jantan diperlakukan dengan infusa daun tempuyung konsentrasi 10% dengan dosis 1425,31 mg/KgBB e. Kelompok E 5 ekor mencit jantan diperlakukan dengan infusa daun tempuyung konsentrasi 10% dengan dosis 2500 mg/KgBB 5. Kemudian dilakukan penelitian dengan perlakuan seperti ditampilkan pada tabel III.2. Selama perlakuan, allopurinol, aquadest dan infusa daun tempuyung diberikan berturut-turut selama 7 hari, yaitu pada hari ke-22 sampai ke-28. Pada hari ke-8 setelah perlakuan atau hari ke-29 dilakukan pengukuran kadar asam urat mencit.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Tabel III.2. Pengelompokan hewan uji farmakologi Kelompok Perlakuan Jumlah hewan A Mencit hiperurisemia + aquadest (Kontrol negatif) 5 B Mencit hiperurisemia + allopurinol 2 mg/kgBB (Kontrol positif) 5 C Mencit hiperurisemia + infusa daun tempuyung dosis 812,60 mg/kgBB/hari 5 D Mencit hiperurisemia + infusa daun tempuyung dosis 1425,31 mg/kgBB/hari 5 E Mencit hiperurisemia + infusa daun tempuyung dosis 2500 mg/kgBB/hari 5 F. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini anatara lain : a. Kandang pemeliharaan hewan uji, dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. b. Alat untuk menimbang mencit yaitu neraca analik. c. Alat untuk membuat makanan tinggi asam urat seperti blender, saringan, kain flannel, pengaduk dan gelas ukur.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 d. Alat yang digunakan untuk membuat infusa terdiri dari panci infusa, kompor listrik, saringan, timbangan, pisau, pengaduk, kain flannel, gelas ukur, jarum suntik yang pada ujungnya tumpul. e. Alat yang digunakan dalam pembuatan larutan allopurinol terdiri dari gelas ukur, erlenmeyer, mortal, tabung Reaksi, dan timbangan. f. Alat untuk pengambilan sempel darah yaitu Eppendorf dan mikrohematokrit 1ml. g. Alat yang digunakan dalam pengukuran kadar asam urat seperti pipet mikro dengan merk merck, kuven, merk SCC 1ml, sentrifuga merk Heraeus Sepatec dengan seri Biofuge 15 buatan Jerman, dan spektrofotometer merk Hach seri DR/2000 buatan USA. 2. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu : a. Hewan uji Dalam penelitian ini hewan yang digunakan adalah mencit (Mus musculus L. ) jantan galur DDY, berumur 2,5 bulan sebanyak 25 ekor. Tikus diperoleh dari LPPT Unit IV Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. b. Bahan tumbuhan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) yang diperoleh dari kebun biologi Universitas Sanata Dharma. Pembuatan infusa daun tempuyung dengan cara infusa di Laboratorium Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 c. Pakan Pakan yang digunakan dalam penelitian secara umum adalah pakan (pelet) standar yang bisa diberikan ke seluruh hewan percobaan. d. Bahan peningkatan kadar asam urat darah Untuk meningkatkan kadar asam urat darah (pembuatan hiperurik) digunakan pemberian jus hati ayam 100%. Hati ayam mentah diperoleh dari pasar Tajem Yogyakarta selama 21 hari e. Bahan kimia Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian yaitu aquadest, allopurinol, kit pereaksi pengukur kadar asam urat darah produksi DiaSys Jerman, yang terdiri dari : a). Reagen I, terdiri dari : Buffer phosphate pH 7,0 100 mmol/lt TBHBA (asam 2,4,6 tribromo-3-hidroksibenzoat) 1mmol/lt b). Reagen II, terdiri dari : Buffer phosphate pH 7,0 100 mmol/lt 4 aminoantipyrin 0,3 mmol/lt K4(Fe(CN)6) 10 µmol/lt Peroksidase (POD) > 2 kU/lt Urikase > 30 U/lt c). Larutan asam urat standar yang mengandung asam urat 6 mg/lt (357 µmol/lt) (Handoyo, 2005)

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 G. Cara Kerja 1. Pengumpulan bahan Bahan tanaman yang digunakan berupa daun tempuyung yang diperoleh dari kebun biologi Universitas Sanata Dharma. Daun tempuyung yang digunakan adalah daun tempuyung yang berombak memeluk batang. Daun dikumpulkan dan dicuci bersih dengan air mengalir. 2. Identifikasi tanaman tempuyung Identifikasi tanaman tempuyung dilakukan di Laboratorium Sistematik Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada untuk mencocokkan keadaan tanaman yang akan diteliti dengan kunci identifikasi. 3. Pemberian pakan mencit Untuk meningkatkan kadar asam urat dalam darah mencit maka diberikan asupan pakan mencit dengan cara memberikan jus hati ayam mentah 100% secara cekok selama 21 hari. Jumlah jus hati ayam mentah 100% diberikan setiap hari sebanyak 2 mililiter per ekor mencit. 4. Pembuatan larutan kontrol positif allopurinol Sepuluh tablet allopurinol diserbuk, ditimbang dan dirata – rata beratnya. Tiap tablet beratnya 0,30333 g dengan kandungan allopurinol 0,1 g (sesuai brosur). Untuk membuat larutan allopurinol dengan dosis 10 mg/kg/BB maka ditimbang sebanyak 0,60666 g allopurinol dan dilarutkan dalam larutan CMC Na 100 ml. volume pemberian pada hewan uji ini adalah 5 ml/kg/BB (Handoyo, 2005).

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 5. Pembuatan infusa daun tempuyung 10% Konsentrasi infusa yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10%. Daun tempuyung yang telah diambil secara acak dilakukan dengan menimbang 10 g serbuk daun lalu dimasukkan dalam panci infus dan dicampurkan dengan aquadest 120 ml kemudian dipanaskan sampai suhu 900C. Sekali-sekali diaduk setelah mencapai suhu 900C selama 15 menit (diusahakan suhu infus tetap 900C). Setelah 15 menit infusa diangkat dari pemanas kemudian disaring. Penyaringan infusa menggunakan kain flanel putih sampai diperoleh volume keseluruhan 100 ml. 6. Penetapan dosis infusa daun tempuyung Penentuan dosis menggunakan infusa daun tempuyung 10% dan volume maksimum pemberian peroral pada mencit adalah 2 ml. Pemakaian sehari-hari di masyarakat digunakan 6,25 gram daun tempuyung (Manganti, 2011). Dosis tersebut digunakan untuk manusia. Apabila akan diperlakukan untuk Mencit (Mus musculus L.) jantan, dosis tersebut dikonversikan untuk digunakan pada mencit. Perhitungan dosis untuk mencit sebagai berikut: Dosis ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : D (g/gBB) x BB (g)=(mL) x C (g/mL) Konversi berat daun tempuyung dari dosis unutk manusia ke dosis untuk mencit adalah sebagai berikut :  dosis masyarakat : 6,25 gram  konversi :

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 = 0,8125 gr/kgBB  Volume maksimal : 2 ml (Volume ini adalah volume maksimal untuk penggunaan peroral pada mencit).  Dosis maksimal Perhitungan dosis maksimal menggunakan rumus sebagai berikut: D (g/gBB) x BB (g)=V(mL) x C (g/ml) Keterangan: D = dosis V = volume BB = berat badan mencit C = konsentrasi  Faktor ketetapan =√ √ =1,754 Setelah mengetahui dosis maksimal dan faktor kelipatan, maka dicari rentang dosis bawahnya. Sehingga didapat tiga peringkat dosis yang digunakan. Berikut penentuan dosis yang dilakukan dalam penelitian ini : Dosis I = 1425,32 mg/kgBB : 1,754 = 812,60 mg/kgBB Dosis II = 2500 mg/kgBB : 1,754 = 1425,31 mg/kgBB Dosis III = 2500 mg/kgBB

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 7. Pengelompokan dan perlakuan hewan uji Mencit dibagi menjadi 5 kelompok, pada setiap masing-masing kelompok diberikan secara cekok sebanyak 1 mg/kgBB/hari infusa daun tempuyung. Untuk pada setiap masing – masing kelompok diberikan perlakuan sebagai berikut :  Kelompok I diberikan aquadest sebagai kontrol negatif,  kelompok II diberikan allopurinol 1 mg/kgBB sebagai kontrol positif,  kelompok III diberikan infusa daun tempuyung 10% dengan dosis 812,60 mg/kgBB/hari,  kelompok IV diberikan infusa daun tempuyung 10% dengan dosis 1425,31 mg/kgBB/hari, dan  kelompok V diberikan infusa daun tempuyung 10% dengan dosis 2500 mg/kgBB/hari. Kadar asam urat dalam darah mencit diukur setelah 7 hari pemberian infusa. Contoh perhitungan volume infusa daun tempuyung 10% yang diberikan 1. Misal berat badan mencit 27 gram 2. Dosis infusa 10% 3. Konsentrasi infusa 10% ⁄ 4. volume yang diberikan ⁄ ⁄

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 8. Pengambilan darah mencit Darah masing-masing tikus diambil sebelum perlakuan hipererukemia yaitu pada hari ke-8, setelah perlakuan hipererukemia yaitu pada hari ke-22 dan 7 hari setelah pemberian infusa daun tempuyung atau pada hari ke-29. Darah diambil melalui vena orbitalis sebanyak 2 ml dengan menggunakan kapiler mikrohematokrit. Pengambilan darah tikus dilakukan melalui mata. Langkah langkah yang dilakukan sebagai berikut: a. mencit dipegang dan dijepit bagian tengkuk dengan jari tangan. b. mencit dikondisikan senyaman mungkin, kemudian Mikrohematokrit digoreskan pada medial canthus mata di bawah bola mata ke arah foramen opticus. c. Mikrohematokrit diputar sampai melukai plexus, jika diputar 5 kali maka harus dikembalikan 5 kali. d. Darah ditampung pada eppendorf, kemudian diletakkan miring 45º dan dibiarkan mengendap pada suhu kamar, selanjutnya dilakukan sentrifugasi untuk mendapatkan serum yang dimaksud. 9. Pengukuran kadar asam urat dalam darah mencit (Mus musculus L.) Metode pengukuran kadar asam urat dalam darah menggunakan Photometrics THBA. Sempel pengukuran ini ialah serum dan plasma (heparin, EDTA). Pengukuran ini didasarkan pada perubahan intensitas warna yang dihasilkan dari Reaksi asam urat dengan reagen Uric acid FS TBHBA (2,4,6tribromo-3-asam hidroksi benzoate) dari Diasys 6 mg/dl. Prinsip dari

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 penetapan kadar asam urat dengan metode ini adalah Reaksi oksidasi asam urat oleh enzim urikase menjadi allantoin, karbon dioksida (CO2), dan hydrogen peroksida (H2O2). Hydrogen peroksida yang dihasilkan dalam Reaksi tersebut menjadi quinonimene yang berwarna biru yang dapat memberikan serapan pada panjan gelombang 546 nm. Reaksi diatas dapat ditulis sebagai berikut. Asam urat + H2O + O2 urikase Allantoin + CO2 + H2O2 2 H2O2 + 4-aminoantipyrin + 2 H2O2 POD Quinonimine + 3 H2 ( Biru ) Gambar III.1. Reaksi umum pengukuran kadar asam urat dalam pembentukan warna Prosedur pengukuran Panjang gelombang spektrofotometer : 540 nm Diameter kuvet : 1 cm Suhu : 20 – 25 oC / 37 oC Pengukuran : dibandingkan dengan blanko Berikut prosedur yang dilakukan dalam pengukuran kadar asam urat serum darah menggunakan reagen diatas. Tabel III.3. Volume sempel, standart, blanko, dan reagen untuk pengukuran kadar asam urat darah Blanko Sampel atau standart Standar (6mg/dl, 20 µl 5,17mmol/l) Blank aguades 20 µl Reagen I 1000 µl 1000 µl Blanko Sampel atau standart Campurkan, kemudian inkubasikan selama 30 menit, lalu tambahkan Reagen 2 250 µl 250 µl

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Campurkan dan inkubasikan selama 10 menit pada 25 – 27 oC. Baca kadar asam urat dengan spektrofotometer vitalab mikro pada panjang gelombang 540 nm. Mulai pembacaan dengan blangko dan standar. Pembacaan dilakukan pada toleransi 60 menit. Kadar asam urat darah yang diperoleh selanjutnya dibuat kurva kadar asam urat dengan mengeplotkan nilai kadar asam urat lawan waktu sampling darah. Dari kurva tersebut dihitung luas daerah di bawah kurva dari jam ke-0 sampai jam ke-24 (LDDK0-24) dengan metoda trapezoid. Metode trapezoid : x( ) Keterangan : T C = waktu (jam atau menit ) = konsentrasi zat (mg/jam) = luas daerah di bawah kurva dari jam ke-0 sampai ke-n H. Analisis Data Hasil analisis kimia masing-masing parameter untuk 5 kelompok perlakuan diuji statistika dengan Analysis of Variance (Anova), dengan derajat kepercayaan 95% (p < 0,05). Apabila data dengan skala pengukuran numerik tetapi tidak memenuhi untuk uji parametik (misalnya distribusi data tidak normal), maka dilakukan uji nonparametik yang merupakan alternatif dari uji parametik. Alternatif uji one way anova adalah uji Kruskal-Wallis. Fungsi uji Anova ialah untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan bermakna atau tidak terhadap kadar asam urat mencit setelah perlakuan. Fungsi uji T adalah untuk mengetahui apakah sudah signifikan penurunan hiperurisemia setelah pemberian dosis daun tempuyung. Fungsi uji normalitas

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 adalah untuk mengetahui faktor variabel berdistribusi normal atau tidak. Fungsi uji homogenitas adalah untuk mengetahui variabel identik atau tidak identik.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil dan Pembahasan Penelitian Pengaruh infusa daun tempuyung (Sonchus arvensis. L) terhadap penurunan kadar asam urat darah mencit (Mus musculus L.) hiperurisemia dilakukan dalam dua tahapan kerja, yaitu pra-perlakuan dan perlakuan, dengan tiga kali pengambilan sempel uji. Tahap pra-perlakuan dilakukan selama 21 hari dengan pemberian jus hati ayam mentah 100% sebanyak 2ml/kgBB sebanyak 2 kali dalam sehari (pagi dan sore). Pemberian makan jus hati ayam diberikan secara oral. Pra perlakuan ini untuk meningkatkan kadar asam urat darah mencit (kondisi hiperurisemia). Kondisi hiperurisemia diketahui dari pengukuran kadar asam urat dalam serum darah mencit (Mus musculus L.) Tahap perlakuan dengan pemberian infusa daun tempuyung (Sonchus arvensis. L). Pada tahap terakhir ini dilakukan pengambilan sempel darah yaitu pada hari ke 29. Dalam penelitian ini digunakan mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY umur 2,5 bulan berjenis kelamin jantan karena pada mencit putih betina terdapat siklus hormonal yang dikenal dengan siklus eterus. Siklus etrus dikendalikan oleh hormon estrogen dan progesteron yang dapat berpengaruh pada metabolisme protein sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar asam urat (Ganong, 1983). Hormon ini membantu mengeluarkan asam urat darah melalui kencing. Mencit jantan tidak memiliki hormon estrogen yang tinggi, sehingga asam urat sulit 39

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 dikeluarkan melalui kencing dan resikonya adalah kadar asam urat bisa menjadi tinggi (hiperurisemia). Pengujian dilakukan terhadap hasil infusa daun tempuyung. Didasarkan pada potensinya pada penurunan kadar asam urat dalam darah mencit. Dosis yang diuji didasarkan pada pendekatan dosis yang sering digunakan oleh masyarakat sekitar. Pada penelitian ini digunakan tiga tingkatan dosis dengan konsentrasi 10%, yaitu dosis I sebanyak 812,60 mg/kgBB, dosis II sebanyak 1425,31 mg/kgBB, dan dosis III sebanyak 2500 mg/kgBB. Pengambilan sampel darah mencit dilakukan dalam 3 pengambilan sampel darah yaitu hari ke-0 (sebelum dilakukannya pra perlakuan yaitu sebelum pemberian hiperurisemia), pada saat sebelum dilakukan tahap perlakuan yaitu pada hari ke-22, dan setelah dilakukannya tahap perlakuan (setelah pemberian dosis) pada hari ke-29. Penelitian ini menggunakan allopurinol sebagai kontrol positif yang digunakan sebagai pertimbangan karena obat allopurinol yang digunakan untuk penderita asam urat yang berperan sebagai inhibitor xantin oksidase yang mempengaruhi perubahan hipoxantin dioksidasi menjadi xantin oleh xantin oksidase, dan xantin dioksidasi berubah manjadi asam urat oleh xantin oksidase. Uji farmakologi dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar kebermaknaan efek yang ditimbulkan perlakuan infusa daun tempuyung terhadap penurunan kadar asam urat dalam darah mencit. Dalam penelitian ini yang perlu dicermati ialah variasi dosis dari infusa yang diberikan dan besarnya efek yang ditimbulkan setelah perlakuan. Pertama-tama dilakukan uji untuk mengetahui normalitas distribusi data yang diperoleh, sehingga dapat dilanjutkan analisis selanjutnya. Analisis yang

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 digunakan yaitu metode statistik deskriptif frequencies melalui analisi data varian dengan uji kolmogorov-smirnov. Dari hasil pengujian yang dilakukan dapat diketahui bahwa hasil uji farmakologi dari perlakuan infusa daun tempuyung berdistribusi normal dengan varians sama. Karena varians data sama meskipun distribusinya normal, maka sebagai uji lanjutan untuk mengetahui signifikan dari efek masing-masing perlakuan dilakukan uji ANOVA One Way. 1. Determinasi Tanaman Tempuyung Tujuan dari determinasi tanaman tempuyung yang dilakukan pada penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa tanaman tempuyung yang digunakan sebagai bahan uji benar berasal dari tanaman tempuyung. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Sistematik Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada oleh Dr. Purnomo, M.S. Determinasi dilakukan dengan mencocokkan ciri-ciri tanaman dengan menggunakan kunci dertiminasi yang ada. Kunci dertiminasi tanaman Tempuyung sebagai berikut : 1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14a-15a (109. tanaman golongan 8)109b-120a-121a-122a (121. Famili Compositae)-11b-12b-23b (24. Sonchus) Berdasarkan hasil identifikasi di atas dapat dipastikan bahwa daun yang digunakan berasal dari tanaman Sonchus arvensis L. surat keterangan identifikasi dapat dilihat pada lampiran 4. 2. Berat Badan Mencit (Mus Musculus L.) Kalori merupakan unit energi yang terkandung dalam makanan dan energi yang digunakan oleh badan untuk memelihara fungsi normal. Ketika kalori dari masukan makanan sama dengan kalori yang digunakan badan, berat badan akan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 tetap. Tetapi ketika konsumsi kalori berlebih dibandingkan yang diperlukan tubuh, maka tubuh akan menyimpan tambahan kalori tersebut sehingga menyebabkan berat badan bertambah. Berikut merupakan hasil pengukuran berat badan mencit awal dan setelah praperlakuan pemberian hiperurisemia. Untuk berat mencit awal dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini. Tabel 4.1. Berat badan mencit awal Berat Mencit (gram) Kode Kandang K(-) K(+) D1 D2 D3 Mati 28.3 Mati 26.1 23.5 30.9 33.4 28.0 28.5 26.7 27.3 32.3 23.0 23.7 24.9 26.2 Mati 23.1 28.5 23.3 Rata-rata (gram) 27.1 29.7 27.0 26.6 22.7 27.88 30.93 25.28 26.68 24.22 Tabel 4.2. Berat badan mencit pra-perlakuan hiperurisemia Berat Mencit Kode Kandang Rata-rata (gram) (gram) K(-) Mati 37.1 29.2 29.2 31.9 31.85 K(+) 31.1 32.7 28.3 Mati 33.6 31.43 D1 Mati 27.0 30.0 15.8 31.2 26 D2 29.9 29.8 27.9 29.9 24.9 28.48 D3 27.3 32.5 23.9 29.6 26.7 28 Dari pengukuran berat badan mencit dapat kita ketahui adanya kenaikan berat badan mencit selama percobaan, yaitu pada saat awal dan setelah perlakuan pemberian hiperurisemia (tabel 4.1 dan tabel 4.2). Dapat dilihat terjadi kenaikan dari hasil penimbangan berat badan mencit. Penambahan berat badan mencit tersebut dapat dikatakan normal karena mencit masih dalam masa pertumbuhan. Berat badan mencit ditentukan oleh keseimbangan energi (dalam bentuk makanan) yang masuk dengan energi yang keluar dari tubuh.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 3. Kadar asam urat 1. Peningkatan kadar asam urat darah hewan uji Kadar asam urat yang berlebih dalam darah dapat menyebabkan penimbunan kristal asam urat. Apabila penimbunan kristal itu terbentuk pada cairan sendi, terjadilah penyakit pirai. Jika penimbunan itu terjadi pada ginjal, akan muncul penyakit batu asam urat pada ginjal. Untuk mengurangi pembentukan asam urat, konsumsi makanan tinggi purin harus dibatasi atau bahkan dikurangi. Karena itu diet rendah purin harus dilakukan oleh para penderita pirai dan batu asam urat di ginjal. Pola diet ini juga sekaligus bermanfaat untuk memelihara berat badan tetap ideal (Handita, 2004). Pada uji ini dilakukan keadaan hiperurisemia dibuat dengan cara memberikan jus hati ayam mentah 100% sebanyak 2 ml/kgBB 2 kali sehari selama 21 hari berturut – turut. Hasil yang teramati dapat dilihat pada tabel 4.3. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa dengan pemberian jus hati ayam mentah 100% sebanyak 2 kali selama 21 hari dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam darah mencit. Hasil data ini menunjukan bahawa hewan uji Telah mengalami hiperurisemia yang kemudian dipergunakan untuk dasar dalam pengujian berikutnya. Pada tabel 4.3 disajikan perbandingan antara kadar asam urat mencit (Mus musculus L.) normal dan hiperurisemia sebelum perlakuan. Tabel 4.3. Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia sebelum perlakuan Kelompok Kontrol Negatif Kadar asam urat (mg/dL) ± SD Normal Hiperurisemia 0.73 ± 0.51 2.17 ± 2.35

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Kadar asam urat (mg/dL) ± SD Normal Hiperurisemia 1.29 ± 0.77 2.17 ± 0.90 1.26 ± 0.89 2.52 ± 1.32 0.57 ± 0.18 1.56 ± 1.34 0.49 ± 0.09 2.04 ± 1.31 Kelompok Kontrol Positif Dosis I Dosis II Dosis III Pada tabel 4.3 tampak bahwa rata-rata kadar asam urat darah mencit dalam pra perlakuan (kondisi hiperurisemia) menunjukan kadar asam urat lebih tinggi dibandingkan dengan kadar asam urat dalam kondisi normal. Hal ini dapat dilihat dalam pengujian T test (Lampiran 8). Dalam uji T tersebut didapat perbedaan yang nyata antara kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian jus hati ayam mentah yaitu Phitung>Ptabel N. Perbandingan kadar asam urat mencit (Mus musculus L.) dalam darah mencit normal dan hiperurisemia dapat ditampilkan dalam bentuk histogram sebagai berikut. 3 2.5 2 1.5 Kadar Asam Urat pada Mencit Normal 1 Kadar Asam Urat pada Mencit Hiperurikemia 0.5 0 Kontrol Negatif Kontrol Positif Dosis I Dosis II Dosis III Gambar 4.1 Diagram perbandingan antara kadar asam urat mencit (Mus musculus L.) normal dan hiperurisemia (mg/dL) sebelum perlakuan.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Dari gambar 4.1 dapat dilihat terjadinya kenaikan yang cukup tinggi antara kadar asam urat dalam darah mencit dalam keadaan normal dan hiperurisemia. Kadar asam urat normal dan hiperurisemia selama 21 hari terdapat perbedaan nyata. Kadar asam urat setelah hari 21 tampak lebih tinggi daripada sebelum pemberian jus hati ayam mentah 100%. Untuk membuktikan secara akurat maka dilakukannya uji T (lampiran 8). Setelah diuji secara statistika dengan uji T (lampiran 8) kadar asam urat kelompok kontrol, dosis 1, dosis 2, dan dosis 3 berbeda nyata dengan kadar asam urat sebelum perlakuan jus hati ayam mentah 100%. Hal tersebut menunjukan tercapainya keadaan hiperurisemia. Hati ayam tergolong makanan yang mengandung kadar purin tinggi (150-1000 mg purin/100g bahan makanan) (Anonim, 2013). Asupan makanan berkadar purin tinggi dapat meningkatkan kadar asam urat dengan bantuan enzim xantin oksidase. Meskipun bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap kadar asam urat darah, makanan mempunyai peranan cukup besar dalam produksi asam urat. Shlafer (2002) menggolongkan hiperurisemia akibat asupan makanan sebagai hiperurisemia sekunder sedangkan hiperurisemia primer disebabkan oleh adanya kelainan genetik. Hiperurisemia dapat menyebabkan timbulnya penyakit gout yaitu penyakit yang menimbulkan peradangan dan rasa nyeri pada sendi terutama sendi-sendi jari tengah dan kaki. Rasa sakit dan nyeri pada gout diakibatkan adanya kristal garam urat dalam sendi. Penelitian terkhir mengatakan bahwa hiperurisemia dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah arteri sehingga menyebabkan hipertensi dan dapat menyebabkan terjadinya proliferasi sel ginjal sehingga merusak fungsi ginjal (Lumentn, 2003).

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 2. Pengaruh pemberian infusa daun tempuyung (Sonchus arvensis. L) Setelah tercapai kondisi hiperurisemia, hewan uji diberikan perlakuan infusa daun tempuyung selama 7 hari. Tabel 4.4. Kadar asam urat serum darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan Kadar asam urat (mg/dL) Kelompok Setelah Selisih Hiperurisemia perlakuan penurunan Kontrol Negatif 2.17 0.48 1.69 Kontrol Positif 2.17 0.63 1.54 Dosis I 2.52 0.30 2.22 Dosis II 1.56 0.42 1.14 Dosis III 2.04 0.24 1.80 Keterangan : Kontrol negatif : mencit dengan perlakuan aquadest Kontrol positif : mencit dengan perlakuan allopurinol 1 mg/kgBB) Dosis I : infusa daun tempuyung dengan dosis 812,60 mg/kgBB Dosis II : infusa daun tempuyung dengan dosis 1425,31 mg/kgBB Dosis III : infusa daun tempuyung dengan dosis 2500 mg/kgBB Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan terdapat perbedaan rata-rata kadar asam urat darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan antar tiap kelompok. Setelah pemberian infusa daun tempuyung tampak adanya perbedaan yang nyata antar kadar asam urat pada tiap kelompok. Asupan makanan kadar purin tinggi setiap hari dan pada akhir penelitian dapat membuat kadar asam urat meningkat. Kadar asam urat yang paling rendah setelah perlakuan hiperurisemia ialah pada dosis I (812,60 mg/kgBB) sebesar 0,30 mg/dL dan selisih penurunannya sebesar 2,22 mg/dL sehingga dosis I (812,60 mg/kgBB) dapat menurunkan kadar asam urat yang paling efektif dari kelompok lainnya. Allopurinol dan aquadest yang digunakan untuk penurunan kadar asam urat sebagai pertimbangan juga mampu

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 menurunkan kadar asam urat. Allopurinol diperlakukan dengan obat yang biasa digunakan oleh masyarakat sedangkan aquadest digunakan tanpa perlakuan. Dari hasil analisis kontrol positif dan kontrol negatif (pada tabel 4.4) kedua kontrol tersebut dapat menurunkan kadar asam urat. Perbandingan kadar asam urat mencit (Mus musculus L.) dalam darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan dapat ditampilkan dalam bentuk histogram sebagai berikut. Dilakukannya Uji T agar mendapatkan hasil yang lebih akurat dan dapat dilihat pada lampiran 9. 3 2.5 2 Kadar Asam Urat pada Mencit Hiperurikemia 1.5 Kadar Asam Urat pada Mencit setelah perlakuan 1 0.5 0 K(-) K(+) Dosis I Dosis II Dosis III Gambar 4.2 Diagram perbandingan kadar asam urat serum darah mencit Hiperurisemia dan setelah perlakuan Gambar 4.2 menunjukkan bahwa terjadi perubahan kadar asam urat hiperurisemia dan setelah mendapat perlakuan pada masing-masing kelompok. Untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan bermakna atau tidak terhadap perubahan kadar asam urat pada masing-masing kelompok setelah 8 hari perlakuan dilakukan juga uji statitistik. Uji statistik yang dilakukan adalah Uji T (lampiran 9). Hasil uji T terlihat pada tabel 4.5.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Tabel 4.5. Hasil Uji T (Paired-Sampel T Tast) Kadar Asam Urat pada Mencit Kelompok Kontrol Negatif Kontrol Positif Dosis I Dosis II Dosis III Keterangan : Kontrol Negatif Kontrol Positif Dosis I Dosis II Dosis III 0,277 0,100 0,039s 0,123 0,033s Nilai sig=<0.05, rata-rata kadar asam urat darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan (berbeda nyata) s = Signifikan Hasil uji Paired-sampels T test pada dosis I nilai sig. 0,039 (p=<0,05) yang berarti dosis I adalah tidak identik atau signifikan. Perlakuan aquadest pada kelompok kontrol negative dapat menurunkan kadar asam urat, namun tidak signifikan dalam penurunan kadar asam urat darah mencit. Pada kelompok kontrol posistif yang diberi allopurinol menunjukkan bahwa allopurinol tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kadar asam urat mencit. Hal ini ditunjukkan (lampiran 9) dengan nilai signifikan 0,000 (p<0,05). Pada dosis III nilai sig. 0,033 (p=<0,05) yang berarti dosis III adalah tidak identik atau signifikan. Pada dosis II nilai sig. 0,123 (p=>0,05) yang berarti dosis II adalah identik atau tidak signifikan, begitu juga pada kontrol negatif dan positif dapat dilihat nilai sig (p=>0,05) sehingga hasil dikatakan identik atau tidak signifikan. Pada dosis I dan dosis III memiliki hasil yang signifikan yang berarti dosis tersebut dapat menurunkan kadar asam urat, namun semua perlakuan yang diberikan dapat menurunkan kadar asam urat.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Untuk mengetahui perubahan kadar asam urat pada masing-masing kelompok setelah 7 hari perlakuan apakah bermakna atau tidak, maka dilakukan uji statistik terhadap kadar asam urat darah mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan. Uji statistik yang dilakukan adalah uji ANOVA One way. Sebelum dilakukan uji ANOVA, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Apabila data yang diperoleh tidak homogen dan terdistribusi tidak normal maka uji ANOVA one Way tidak dapat dilakukan. Hasil uji normalitas dan uji homogenitas data kadar kolesterol darah mecit hiperkolesterolemia dan sesudah perlakuan adalah sebagai berikut: a). Uji normalitas Tujuan uji normalitas ialah untuk mengetahui faktor variabel berdistribusi normal atau tidak. Pada hasil uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 10. Dari hasil perhitungan diperoleh kadar asam urat pada saat perlakuan hiperurisemia sebesar 1.6545 dengan probabilitas kesalahan (sig) 0.486. oleh karena itu 0.486 > 0,05 yang berarti Ho ditolak, hal ini mengatakan bahwa variabel berdistribusi normal. Kemudian pada kadar asam urat dalam darah mencit setelah perlakuan memiliki probabilitas kesalahan 0.027 < 0.05 berarti Ho diterima menunjukan variabel berdistribusi tidak normal. Begitu juga dengan selisih penurunan antara kadar asam urat dan setelah perlakuan diperoleh p=0.472 dengan demikian Ho dan menyatakan bahwa variabel berdistribusi normal. Data yang diperoleh dengan menggunakan uji statistika menunjukan selisih kadar asam urat hiperurisemia setelah perlakuan dan pada keadaan hiperurisemia. Berdasarkan hasil uji Anova (lampiran 10) dalam pengujian normalitas yang telah dilakukan sudah signifikan dan normal.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 b). Uji Homogenitas Dalam test homogeneity of variance atau homogenitas digunakan untuk mengetahui variabel identik atau tidak identik. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada lampiran 11. Dari hasil perhitungan diperoleh kadar asam urat pada saat perlakuan hiperurisemia sebesar 1,873 dengan probalitas kesalahan (sig) 0,162. Oleh karena itu 0,162 > 0,05 yang berarti Ho ditolak menunjukkan bahwa uji pengulangan data mengatakan homogen. Kemudian pada kadar asam urat dalam darah mencit setelah perlakuan memiliki levene statistik sebesar 8,662 dan probalitas kesalahan 0,001 < 0,05 yang berarti Ho diterima menunjukkan bahwa uji pengulangan data mengatakan tidak homogen. Berdasarkan nilai levene stastik (lampiran 14) untuk selisih antara kadar asam urat hiperurisemia dan setelah perlakuan adalah 2,089 dengan probalitas kesalahan (sig.) 0,127 yang berarti data selisih antara kadar asam urat hiperurisemia dansetelah perlakuan identik atau penelitian tiap ulangan adalah homogen. Berdasarkan hasil uji Anova (lampiran 11) menunjukan bahwa dalam pengujian homogenitas yang telah dilakukan sudah homogen. Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas yang telah diperoleh bahwa kadar asam urat pada mencit hiperurisemia dan setelah perlakuan berdistribusi normal dan homogen. Karena uji normalitas dan homogenitas sudah terpenuhi maka dapat dilakukan pengujian selanjutnya dengan mengunakan uji ANOVA. Uji ANOVA dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan bermakna atau tidak terhadap kadar asam urat mencit setelah perlakuan, dan dilakukannya uji statistik. Dilakukan pengujian ANOVA One Way (p<0,05). Dari hasil uji Anova didapat p = 0,297 hal ini menunjukkan bahwa tidak signifikan

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 maksudnya tidak ada perbedaan rata-rata penurunan asam urat dalam darah mencit sehingga dalam pengujian Anova tidak dilakukan uji lanjutan. Hal yang menyebabkan tidak signifikan ialah dalam waktu pemberian perlakuan hiperurisemia (jus hati ayam 100%) yang masih kurang. dapat dilihat dari gambar 4.1 bahwa terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah mencit namun peningkatan tersebut kurang tingg dan efek farmakologi suatu obat yang dipengaruhi beberapa faktor seperti pemberian makan secara oral, bobot dan luas permukaan mencit, status kesehatan dan usia mencit, usia mencit, dan tingkat kesetressan mencit (Puti, 2013). Hal tersebut dapat mempengaruhi hasil penelitian. Dalam penelitian ini aquadest juga dapat menurunkan kadar asam urat darah mencit. Aquadest merupakan air murni, dengan asumsi hanya berisi molekul-molekul H2O tanpa adanya penambahan unsur lain seperti ion. Jadi, kontrol negatif dengan diberikan perlakuan menggunakan aquadest yang mendapat pengaruh penurunan kadar asam urat ialah molekul-molekul H2O (Sukarsono dkk, 2008). Perbanyak minum air yang mengandung H2O meningkatkan metabolisme sehingga metabolisme zat nitrogen purin dapat menurun. Molekul-molekul H2O berikatan dengan asam urat membentuk senyawa garam yang mudah larut dalam air, sehingga asam urat yang telah mengkristal di dalam darah dan ginjal akan terlarut menimbulkan efek diuretik (melancarkan urine) pada penderita sehingga asam urat ikut keluar melalui urine. Penurunan kadar asam urat yang paling efektif dalam perlakuan infusa daun tempuyung adalah dengan dosis 812,6 mg/kgBB. Perlakuan infusa daun tempuyung dengan dosis II yaitu dengan dosis 1425,31 mg/kgBB memberikan

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 pengaruh penurunan paling rendah diantara ketiga dosis yang diberikan. Hal ini didasari oleh data hasil selisih antar kadar asam urat hiperurisemia dan setelah perlakuan. Dosis I (812,6 mg/kgBB) memperoleh selisih sebanyak 2,2 mg/dL sedangkan dosis II memperoleh selisis sebanyak 1,14. Dari hasil selisih antar kadar asam urat hiperurisemia dan setelah perlakuan dapat dikatakan dosis I (812,6 mg/kgBB) yang paling efektif dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit karena dosis I (812,6 mg/kgBB) merupakan titik optimal dalam penurunan kadar asam urat, namun ada kemungkinan lain dibawah dari dosis I yang efektif dapat menurunkan kadar asam urat. Apabila menggunakan dosis diatas dari dosis I (812,6 mg/kgBB), dalam hasil percobaan dapat menurunkan kadar asam urat namun dosis tersebut kurang efektif dan dalam titik optimalnya sudah kurang optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan kadar asam urat dalam darah mencit jantan hiperurisemia ialah allopurinol, infusa daun tempuyung, pelarut yaitu berupa aquadest, dan makanan. Allopurinol merupakan obat yang digunakan oleh masyarakat untuk penurunan kadar asam urat. Efek obat juga mempengaruhi penurunan kadar asam urat dalam darah mencit, dikarenakan efek obat berlangsung lebih lama dan obat menjadi tosik. Hal yang menyebabkan obat menjadi tosik ialah kebanyakan obat akan diubah di dalam hati, kadang-kadang dalam ginjal. Apabila fungsi hati tidak baik maka obat yang biasanya diubah dalam hati tidak mengalami perubahan atau hanya sebagian yang diubah, sehingga respon obat terhadap dosis obat yang rendah biasanya meningkat sebanding langsung dengan dosis. Namun dengan meningkatnya dosis peningkatan respon

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 menurun. Pada akhirnya tercapailah dosis yang tidak dapat meningkatkan respon lagi. Hal ini sesuai dengan sumber menurut Lamidi, (1995). Efek tempuyung sebagai penurun kadar asam urat darah mencit (Mus musculus L.) tidak berbeda dengan aquadest dan allopurinol, hal ini dikarenakan allopurinol merupakan obat yang bekerja untuk menghambat produksinya xanthine oksidase sehingga allopurinol dapat menurunkan kadar asam urat darah mencit (Mus musculus L.). Aquadest merupakan air murni dengan asumsi hanya berisi molekul-molekul H2O tanpa adanya penambahan unsur lain seperti ion. Aquadest juga dapat menurunkan kadar asam urat darah mencit dikarenakan aquadest dapat meningkatkan metabolisme sehingga metabolisme zat nitrogen purin dapat menurun. Molekul-molekul H2O berikatan dengan asam urat membentuk senyawa garam yang mudah larut dalam air, sehingga asam urat yang telah mengkristal di dalam darah dan ginjal akan terlarut menimbulkan efek diuretik (melancarkan urine) pada penderita sehingga asam urat ikut keluar melalui urine. Makanan yang diberikan oleh mencit juga akan mempengaruhi penurunan kadar asam urat dalam darah mencit. Hal ini dikarenakan pada saat perlakuan hiperurisemi, mencit diberikan makanan yang memiliki kadar purin yang tinggi yaitu berupa jus hati ayam 100%. Setelah mencit sudah mengalami hiperurisemia dilakukan pemberhentian pemberian makanan karena salah satu meningkatkan kadar asam urat ialah memberikan makanan yang tinggi purin. Setelah dilakukan pemberhentian pemberian makan yang tinggi purin, mencit diberikan perlakuan salah satunya dengan menggunakan aquadest sebagai kontrol negatif. Namun aquadest dapat menyebabkan penurunan kadar asam urat dalam darah mencit. Hal

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 yang menyebabkan menurunnya kadar asam urat dalam darah mencit ialah karena dilakukannya pemberhentian makanan yang tinggi purin sehingga kadar asam urat dalam darah mencit juga menurun sehingga aquadest yang telah diberikan juga ikut melarutkan asam urat yang menimbulkan efek diuretik (melancarkan urine) pada mencit sehingga asam urat ikut keluar melalui urine. Efek yang mempengaruhi kinerja obat yaitu efek farmakologi suatu obat yang dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor antara lain pemberian obat yang diberikan secara oral, bobot tubuh dan luas permukaan tubuh berpengaruh dalam hasil percobaan, dan faktor eksternal meliputi pemeliharaan lingkungan fisiologik dan suplai oksigen yang dapat menyebabkan hewan percobaan menjadi stress, karena apabila hewan percobaan mengalami stress akan menghambat hasil percobaan. Hal tersebut sesuai dengan sumber dari Puti, (2013) menurut Malole. Dari pengujian penurunan kadar asam urat dalam darah mencit dapat dikatakan terjadi penurunan. Menurut Paul Cos dan kawan-kawan dari Department of Pharmaceutical Sciences, University of Antwerp, Belgia, dalam Dr. Chairul (1999) beberapa senyawa flavonoida bersifat antioksidan yang dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase dan reaksi superoksida, sehingga pembentukan asam urat jadi terhambat atau berkurang. Dalam daun tempuyung terdapat kandungan kimia flavonoid (kaempferol, luteolin-7-O-glukosida dan apigenin-7-O-glukosida) yang dapat mengidentikasi untuk mengatasi asam urat. Kandungan flavonoid total dalam daun tempuyung 0,1044% (Kelompok Studi Hortikultural Formica, 2006), hal ini dapat dikatakan bahwa tumbuhan tempuyung mempunyai kandungan senyawa flavonoid yang cukup tinggi. Menurut Rohyami (2008) kandungan flavonoid pada buah yang

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 masak rata-rata 1,7647 mg.L-1 atau 2,2334 mg.kg-1 atau 0,004463 % dan pada buah mentah rata-rata adalah 2,1535 mg.L-1 atau 2,7559 mg.kg-1 atau 0,005453 %. Dari hasil rata-rata kandungan flavonoid pada buah, kandungan flavonoid pada daun tempuyung mempunyai kandungan flavonoid yang cukup tinggi. Dalam proses pengobatan atau pencegahan kelebihan asam urat yang digunakan pada tanaman tempuyung, pemeran utamanya adalah senyawa flavonoid yang terdapat di dalam tumbuhan tempuyung. Selain mengandung senyawa flavonoid tumbuhan tempuyung juga kaya akan kandungan ion-ion natrium dan kalium yang berfungsi menjaga keseimbangan elektrolit pada ginjal. Ion-ion tersebut juga akan berikatan dengan asam urat membentuk senyawa garam yang mudah larut dalam air, sehingga asam urat yang telah mengkristal di dalam darah dan ginjal akan terlarut menimbulkan efek diuretik (melancarkan urine) pada penderita. Selain kandungan flavonoid, kandungan kalium dalam daun tempuyung cukup tinggi. Kalium pada daun tempuyung dapat menguraikan endapan CaC2O4 penyebab penyakit batu ginjal. Hal ini disebabkan kalium akan menyingkirkan kalsium dan bergabung dengan senyawa kalsium oksalat, atau urat yang merupakan pembentukan batu ginjal dengan membentuk senyawa garam yang mudah larut dalam air, sehingga batu ginjal itu akan terlarut secara perlahan-lahan dan ikut keluar bersama urine. Hal ini sesuai dengan Intisari, (1999) dengan reaksi kimia sebagai berikut : 2K+ + CaC2O4 (endapan CaC2O4/batu oksalat)  K2C2O4 + larut Ca2+ larut

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 B. Implementasi Hasil Penelitian dalam Proses Pembelajaran Aspek-aspek dalam penelitian dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan salah satunya ialah dalam bidang pendidikan. Aspek penelitian mengenai pengaruh infusa daun tempuyung dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit hiperurikemia ini dapat digunakan sebagai pembelajaran di sekolah. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan dalam proses pembelajaran di SMA kelas XI semester II pada standar Kompetensi Dasar (KD) 3.9 Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem ekskresi dan mengaitkannya dengan proses ekskresi sehingga dapat menjelaskan mekanisme serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem ekskresi manusia melalui studi literatur, pengamatan, percobaan, dan simulasi.. Pengaplikasian materi kelainan atau penyakit dalam sistem ekskresi dalam pembelajaran di SMA akan dilakukan kegiatan pratikum agar siswa lebih mudah memahami materi. Dalam proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan scientific dimana siswa diajak untuk mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan menciptakan. Dalam kegiatan pratikum dilakukan diluar jam pelajaran dengan kegiatan membagi kelas dalam 5 kelompok. Kelompok satu memelihara 5 ekor mencit dengan memberikan aquadest sebagai perlakuan kontrol negatif, kelompok dua memelihara 5 ekor mencit dengan memberikan allopurinol sebagai perlakuan kontrol positif, kelompok tiga memelihara 5 ekor mencit dengan memberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 816,32 mg/kgBB sebagai perlakuan dosis 1, kelompok empat memelihara 5 ekor mencit dengan memberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 1428,57 mg/kgBB sebagai perlakuan dosis 2, dan kelompok lima

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 memelihara 5 ekor mencit dengan memberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 2500 mg/kgBB sebagai perlakuan dosis 3. Pratikum ini merupakan penelitian kelas berbasis proyek (proyek kelas dalam program pendalaman materi pada pokok bahasan kelainan atau penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi) sehingga data diperoleh ialah data bersama atau data kelas. Kegiatan ini menggunakan model pembelajaran discovery, dimana guru meminta siswa untuk menentukan permasalahan-permasalahan serta menganalisis mengapa permasalahan tersebut terjadi dan dapat menemukan solusi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh karya ilmiah yang berkaitan dengan kelainan atau penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi. Silabus, RPP dan kelengkapannya serta materi pembelajaran terlampir pada lampiran 15 dan lampiran 16.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Infusa daun tempuyung dengan dosis I sebanyak 812,60 mg/kgBB, dosis II sebanyak 1425,31 mg/kgBB, dan dosis III sebanyak 2500 mg/kgBB yang diberikan secara peroral terbukti mampu menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit (Mus musculus Linn) 2. Belum ditemukan dosis infusa daun tempuyung (Sonchus arvensis Linn) yang paling efektif untuk menurunkan kadar asam urat darah mencit jantan (Mus musculus Linn). B. Saran 1. Penelitian yang sama dengan pemberian infusa daun tempuyng lebih lama dan memperpanjang waktu penelitian. 2. Penelitian yang sama dengan menambahkan waktu yang paling efektif dalam penurunan kadar asam urat dalam darah. 3. Penelitian yang sama dengan menambahkan variasi dosis dalam penurunan kadar asam urat. 4. Penelitian yang sama namun menggunakan bahan induksi yang lain, misalnya menggunakan tanaman obat lain yang secara empiris dapat menurunkan kadar asam urat. 5. Penelitian ini masih dapat dikembangkan terutama untuk penentuan dosis yang paling efektif untuk menurunkan asam urat serta mengapa dosis tersebut termasuk dosis yang efektif.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 DAFTAR PUSTAKA Alisata, Berta, 2003, Pengaruh Infusa Daging Mahkota Dewo (Phaleria macrocarpa Scheff.) Boerl.) terhadap Kadar Asam Urat Serum Darah Ayam Jantan Hiperurisemia Terunduksi Pakan Titnggi Purin, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Anonim, 2013, Diet Tepat bagi Penderita Asam Urat. (Online). Tersedia: http://umc.unej.ac.id/index.php/78-berita/95-diet-tepat-bagi-penderita-asamurat (diakses 12 Juni 2014). Aruna, Senja., 2012, Tempuyung Penghancur Batu Ginjal. (Online). Tersedia: http://senjaaruna.blogspot.com/2012/06/tempuyung-penghancur-batuginjal.html (diakses 26 Februari 2014). Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Direktorat Obat Asli Indonesia, Jakarta, pp.3. Chairul, 1999, Tempuyung Untuk Menghadang Asam Urat. (Online). Tersedia: http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/615/jbptitbpp-gdl-drchairula-30748-1tempuyun-t.pdf (diakses 12 Juni 2014). Damayanti, Deni. 2013. Ramuan Herbal untuk Penyakit Asam Urat, Kolesterol, dan Hipertensi). Araska: Yogyakarta. Efrizal, 2009, Tempuyung (Sonchus arvensis L.). (Online). Tersedia: http://efrizal.wordpress.com/2009/03/31/tempuyung-sonchus-arvensis/ (diakses 17 Maret 2014). Ganong, W.F., 1983, Fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiology). Penerbit EGC Jakarta, hal:286-29. Handoyo, Luisa Diana, 2005, Kadar Asam Urat Darah Ayam Jantan Hiperurisemia dengan Pemberian Ekstrak Herba Sidaguri (Sida rhombifolia L.) Per Oral, Tesis. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Hening, Theresia Harimurti Maharani, 2002, Pengaruh Infusa Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (BL) Hook.f.&Th) terhadap Kadar Asam Urat Serum Darah Terunduksi Hati, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Intisari, 1999, Tempuyung (Online). Tersedia: www.indomedia.com/intisari (diakses 12 Juni 2014). Junaidi, Iskandar, 2006, Rematik & Asam Urat. PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta. Kelompok Studi Hortikultural Formica, 2006, Tersedia: http://kshf.multiply.com (diakses 12 Juni 2014). Kertia, Nyoman, 2009, Asam Urat edisi ke-2. PT Bentang Pustaka: Yogyakarta. Kurniyati, 2013, Pembentukan Asam Urat. (Online). http://henikurniyati14.blogspot.com/ (diakses 26 Februari 2014). Tersedia: Lamidi, Sofyan, 1995, Farmakologi Umum I, EGC, Jakarta. Lyrawati, Dyana. 2008, GOUT Farmakologi, (Online).Tersedia: http://lyrawati.files.wordpress.com/2008/11/gout_obat_hosppharm.pdf (diakses 26 Februari 2014). Manganti, Irena. 2011. 40 Resep Ampuh Tanaman Obat untuk Menurunkan Kolesterol dan Mengobati Asam Urat. Yogyakarta: Pinang Merah Publisher Ningsih Sri, dkk,, 2013, Analisis Senyawa Golongan Flavonoid Herba Tempuyung (Sonchus arvensis L.), Jurnal Teknologi Farmasi Universitas Pancasila. Padmi, Ni Made, 2003, Pengaruh Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) terhadap Kadar Glukosa dan Asam Urat Serum Darah Mencit (Rattus norvegicus L.) Hiperlipidemia, Skripsi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Puti, Gledys Thanm, 2013, Laporan Penanganan Hewan. Dalam http://www.scribd.com/doc/132203436/laporan-penanganan-hewan. Diakses 28 Juli 2014 Putranti, Rahayuning Tyas Ika, 2004, Pengaruh Ekstrak Air Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) Segar terhadap Kadar Kolesterol Total dan Trigliserida Serum Darah Mencit (Rattus norvegicus L.) Jantan Hiperlipidemia, Skripsi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Rini, Sabby, 2010, Sonchus arvensis ,(Online), Tersedia: http://lovechopin.wordpress.com/2010/02/09/sonchus-arvensis/ (diakses 17 Maret 2014). Rohyami, Yuli., 2008, Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff Boerl). Jurnal Kimia Analis, FMIPA, UII, Yogyakarta. Sastrosupadi, A. 2002. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Yogyakarta: Kanisius. Sukarsono, Kristantyo., Marhaendrajaya, Indras., Firdausi., K.S, 2008, Studi Efek Kerr untuk Pengujian Tingkat Kemurnian Aquadest, Air PAM, dan Air Sumur., Jurnal Fisika FMIPA UNDIP Vol 11., No.1, Januari 2008, hal 9-18. Sutanto, Teguh, 2013,Asam Urat Deteksi, Pencegahan, Pengobatan. Buku Pintar, Yogyakarta. Sustrani, Lanny, Syamsir Alam, dan Iwan Hadibroto., 2007, Asam Urat, edisi ke5. Gramedia: Jakarta. Steenis, Van C.G.G.J., dkk., 2008, Flora, cetakan ke-12, PT Pradnya Paramita, Jakarta. Swanson, T.A., Kim, S.I., dan Glucksman, M.J., 2012, Biokimia disertai Biologi Molekular dan Genetika, edisi ke-5. Binapura Aksara: Tangerang Selatan

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Lampiran 1. Surat Ijin Melakukan Penelitian

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Lampiran 2. Surat ijin peminjaman alat-alat laboratorium ( Anggi Chikitta )

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran 3. Surat Ijin Melakukan Identifikasi Tanaman

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Lampiran 4.Surat Identifikasi Tumbuhan Tempuyung

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Lampiran 5. Surat keterangan telah melakukan penelitian

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 6. Hasil uji darah mencit sebelum perlakuan hiperurisemia

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Lampiran 6. Hasil uji darah mencit setelah perlakuan hiperurisemia

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lampiran 6. Hasil uji darah mencit setelah perlakuan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Lampiran 7. Metode pengujian kadar asam urat dalam darah

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Lampiran 8. Uji T Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Kontrol Negatif) Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Normal Hiperurise mia Std. Deviation N Std. Error Mean .7275 4 .50546 .25273 2.1700 4 2.34556 1.17278 Paired Samples Correlations Correlatio n N Pair 1 Normal & Hiperurisemia 4 .824 Sig. .176 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper Pair Normal 1 Hiperurisemia 1.44250 1.95000 .97500 t Sig. (2df tailed) 1.66038 3 4.54538 1.479 .236

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 8. Uji T Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Kontrol Positif) Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Normal Hiperurisemia Std. Deviation N Std. Error Mean 1.2925 4 .77064 .38532 2.1650 4 .90371 .45186 Paired Samples Correlations N Pair 1 Normal & Hiperurisemia Correlation 4 .951 Sig. .049 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. Error Mean Deviation Mean Pair Normal 1 Hiperurisemia .87250 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper .29409 .14705 -1.34047 -.40453 t Sig. (2df tailed) 3 5.933 .010

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 8. Uji T Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Dosis I) Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Normal Hiperurisemia Std. Deviation N Std. Error Mean 1.2625 4 .88842 .44421 2.5175 4 1.31510 .65755 Paired Samples Correlations N Pair 1 Normal & Hiperurisemia Correlation 4 .365 Sig. .635 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper Pair Normal 1 Hiperurisemia 1.25500 1.29103 .64552 -3.30932 .79932 t Sig. (2df tailed) 3 1.944 .147

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 8. Uji T Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Dosis II) Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Normal Hiperurisemia Std. Deviation N Std. Error Mean .5700 5 .17720 .07925 1.5600 5 1.33946 .59902 Paired Samples Correlations N Pair 1 Normal & Hiperurisemia Correlation 5 .910 Sig. .032 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. Error Mean Deviation Mean Pair Normal 1 Hiperurisemia .99000 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 1.18049 .52793 -2.45577 .47577 t Sig. (2df tailed) 4 1.875 .134

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran 8. Uji T Kadar asam urat dalam darah mencit normal dan hiperurisemia (Dosis III)) Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Normal Hiperurisemia Std. Deviation N Std. Error Mean .4880 5 .08758 .03917 2.0380 5 1.30833 .58510 Paired Samples Correlations N Pair 1 Normal & Hiperurisemia Correlation 5 -.284 Sig. .643 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper Pair Normal 1 Hiperurisemia 1.55000 1.33587 .59742 -3.20870 .10870 t Sig. (2df tailed) 4 2.594 .060

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Kontrol Negatif Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Hiperurisemia SetelahPerlakuan N Std. Deviation Std. Error Mean 2.1700 4 2.34556 1.17278 .4800 4 .34679 .17340 Paired Samples Correlations N Pair 1 Hiperurisemia & SetelahPerlakuan Correlation 4 Sig. -.539 .461 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. Deviatio Error Mean n Mean Pai Hiperurisemia – r 1 SetelahPerlakua n 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t Sig. (2d tailed f ) 1.6900 1.2746 5.7464 1.32 2.54924 2.3664 3 0 2 0 6 0 .277

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Kontrol Positif Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Hiperurisemia SetelahPerlakuan N Std. Deviation Std. Error Mean 2.1650 4 .90371 .45186 .6300 4 .90668 .45334 Paired Samples Correlations N Pair 1 Hiperurisemia & SetelahPerlakuan Correlation 4 Sig. -.043 .957 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper t Sig. (2df tailed) Pair Hiperurisemia 1.53500 1.30743 .65371 3.61541 2.348 3 1 SetelahPerlakuan .54541 .100

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Dosis I Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Hiperurisemia SetelahPerlakuan Std. Deviation N Std. Error Mean 2.5175 4 1.31510 .65755 .2950 4 .11030 .05515 Paired Samples Correlations N Pair 1 Hiperurisemia & SetelahPerlakuan Correlation 4 Sig. .479 .521 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Difference Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper t Sig. (2df tailed) Pair Hiperurisemia 2.22250 1.26603 .63301 .20797 4.23703 3.511 3 1 SetelahPerlakuan .039

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Dosis II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Hiperurisemia SetelahPerlakuan N Std. Deviation Std. Error Mean 1.5600 5 1.33946 .59902 .4180 5 .20117 .08997 Paired Samples Correlations N Pair 1 Hiperurisemia & SetelahPerlakuan Correlation 5 Sig. .225 .716 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper t Sig. (2df tailed) Pair Hiperurisemia 1.14200 1.30900 .58540 2.76733 1.951 4 1 SetelahPerlakuan .48333 .123

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lampiran 9. Uji T Perlakuan Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan pada Dosis III Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Hiperurisemia SetelahPerlakuan N Std. Deviation Std. Error Mean 2.0380 5 1.30833 .58510 .2380 5 .08438 .03774 Paired Samples Correlations N Pair 1 Hiperurisemia & SetelahPerlakuan Correlation 5 Sig. .613 .271 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Mean Deviation Mean Lower Upper t Sig. (2df tailed) Pair Hiperurisemia 1.80000 1.25835 .56275 .23755 3.36245 3.199 4 1 SetelahPerlakuan .033

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 10. Uji Normalitas Hiperurisemia Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Kelompok 22 3.409 1.4851 1.1 5.5 Hiperurisemia 22 1.6545 1.48821 .16 5.62 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kelompok Hiperurisemia N 22 22 3.409 1.6545 1.4851 1.48821 Absolute .134 .178 Positive .115 .178 Negative -.134 -.158 Kolmogorov-Smirnov Z .627 .837 Asymp. Sig. (2-tailed) .827 .486 Normal Parameters a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences a. Test distribution is Normal.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Lampiran 10. Uji Normalitas Setelah Perlakuan Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Kelompok 22 3.409 1.4851 1.1 5.5 SetelahPerlakuan 22 .4045 .40635 .16 1.99 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kelompok SetelahPerlakuan N Normal Parameters a Mean 22 22 3.409 .4045 Std. Deviation 1.4851 Most Extreme Differences Absolute .134 Positive Negative .40635 .313 Kolmogorov-Smirnov Z .115 -.134 .627 .313 -.274 1.467 Asymp. Sig. (2-tailed) .827 .027 a. Test distribution is Normal.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 10. Uji Normalitas Selisih Hiperurisemia dan Setelah Perlakuan Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Kelompok 22 3.14 1.390 1 5 Selisih 22 1.7127 1.40429 .10 5.34 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kelompok Selisih N Normal Parameters a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences 22 22 3.14 1.7127 1.390 1.40429 Absolute .157 .180 Positive .157 .180 Negative -.142 -.125 Kolmogorov-Smirnov Z .735 .846 Asymp. Sig. (2-tailed) .652 .472 a. Test distribution is Normal.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Lampiran 11. Uji Homogenitas Hiperurisemia Descriptives Hiperurisemia 95% Confidence Interval for Mean N Std. Std. Mean Deviation Error Lower Bound Upper Bound 1 3 2.0700 1.35525 .78245 -1.2966 5.4366 .70 3.41 2 5 1.6480 1.42045 .63524 -.1157 3.4117 .37 3.22 3 5 1.7060 .79062 .35358 .7243 2.6877 .51 2.40 4 4 3.0900 2.08950 1.04475 -.2349 6.4149 .76 5.62 5 5 2.0120 1.34871 .60316 .3374 3.6866 .77 3.63 Total 22 2.0636 1.38614 .29553 1.4491 2.6782 .37 5.62 Minimum Maximum Test of Homogeneity of Variances Hiperurisemia Levene Statistic df1 df2 Sig. 1.873 4 17 .162 ANOVA Hiperurisemia Sum of Squares df Mean Square F 5.730 4 .704 .600 Within Groups 34.618 17 2.036 Total 40.349 21 Between Groups 1.433 Sig.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Lampiran 12. Uji Anava Setelah Perlakuan Descriptives SetelahPerlakuan 95% Confidence Interval for Mean Std. Std. N Mean Deviation Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum 1 3 .8800 .96504 .55717 -1.5173 3.2773 .24 1.99 2 5 .3480 .34230 .15308 -.0770 .7730 .18 .96 3 5 .2660 .12720 .05689 .1081 .4239 .16 .41 4 4 .4025 .23557 .11778 .0277 .7773 .21 .74 5 5 .3160 .13759 .06153 .1452 .4868 .17 .50 Total 22 .4045 .40635 .08663 .2244 .5847 .16 1.99 Test of Homogeneity of Variances SetelahPerlakuan Levene Statistic df1 df2 Sig. 8.662 4 17 .001 ANOVA SetelahPerlakuan Sum of Squares df Mean Square F .829 4 .207 1.336 .297 Within Groups 2.638 17 .155 Total 3.468 21 Between Groups Sig.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 13.Uji Kadar Asam Urat Descriptives SetelahPerlakuan 95% Confidence Interval for Mean Std. N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum 1 3 .8800 .96504 .55717 -1.5173 3.2773 .24 1.99 2 5 .3480 .34230 .15308 -.0770 .7730 .18 .96 3 5 .2660 .12720 .05689 .1081 .4239 .16 .41 4 4 .4025 .23557 .11778 .0277 .7773 .21 .74 5 5 .3160 .13759 .06153 .1452 .4868 .17 .50 Total 22 .4045 .40635 .08663 .2244 .5847 .16 1.99 Test of Homogeneity of Variances SetelahPerlakuan Levene Statistic 8.662 df1 df2 4 Sig. 17 .001 ANOVA SetelahPerlakuan Sum of Squares Between Groups .829 df Mean Square 4 .207 Within Groups 2.638 17 .155 Total 3.468 21 F 1.336 Sig. .297

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Lampiran 14. Uji Anova Selisih antara hiperurisemia dengan setelah perlakuan Descriptives Selisih 95% Confidence Interval for Mean Std. N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum 1 3 1.1900 1.71709 .99136 -3.0755 5.4555 .11 3.17 2 5 1.3000 1.61969 .72435 -.7111 3.3111 -.59 3.01 3 5 1.4400 .84640 .37852 .3891 2.4909 .10 2.22 4 4 2.6875 2.13066 1.06533 -.7028 6.0778 .55 5.34 5 5 1.6960 1.29751 .58026 .0849 3.3071 .58 3.29 Total 22 1.6591 1.47020 .31345 1.0072 2.3109 -.59 5.34 Test of Homogeneity of Variances Selisih Levene Statistic 2.089 df1 df2 4 Sig. 17 .127 ANOVA Selisih Sum of Squares Between Groups df Mean Square 5.782 4 1.446 Within Groups 39.609 17 2.330 Total 45.391 21 F .620 Sig. .654

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 15. Silabus SILABUS PEMINATAN MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM MATA PELAJARAN BIOLOGI SMA Satuan Pendidikan : SMA Kelas : XI KI 1 : 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2 : 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. KI 3 : 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentangilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. KI 4 : 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1.1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan MATERI PEMBELAJARAN PENILAIAN POKOK Struktur dan fungsi sel penyusun jaringan pada sistem ekskresi Struktur dan fungsi sel pada Mengamati Tugas 88 ALOKASI WAKTU SUMBER BELAJAR 3 minggu x  Buku siswa 4 JP

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 1.2. 1.3 2.1. Tuhan tentang struktur dan sistem ekskresi fungsi sel, jaringan, organ manusia. penyusun sistem dan  Proses bioproses yang terjadi ekskresi pada pada mahluk hidup. manusia. Menyadari dan  Ekskresi pada mengagumi pola pikir hewan. ilmiah dalam kemampuan  Kelainan dan mengamati bioproses. penyakit yang terjadi. Peka dan peduli terhadap permasalahan lingkungan hidup, menjaga dan menyayangi lingkungan sebagai manisfestasi pengamalan ajaran agama yang dianutnya. Berperilaku ilmiah: teliti, tekun, jujur terhadap data dan fakta, disiplin, tanggung jawab, dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan berargumentasi, peduli lingkungan, gotong  Menggunakan torso dan gambar mengenali struktur berbagai organ ekskresi, letak, dan fungsinya melalui kegiatan demonstrasi kelas. Menanya  Mengapa ada berbagai organ yang berfungsi mengeluarkan zat sisa proses dalam tubuh?  Bagaimana proses pengeluarannya dan disusun oleh sel-sel seperti apa organ eksekresi? Mengumpulkan Data (Eksperimen/Eksplorasi)  Mengkaji literatur untuk menemukan fungsi dan proses alat-alat eksresi manusia,  Melakukan kajian literatur untuk menemukan proses pengeluaran sisa metabolisme; keringat, urine, bilirubin dan biliverdin, CO2 dan H2O (uap air) pada berbagai organ ekskresi melalui kerja kelompok.  Melakukan percobaan uji urine orang normal dan sakit.  Mengamati struktur ginjal kambing/sapi mengenali bagian-  Membuat model ginjal dengan lapisan korteks dan medula atau membuat bagan nefron  Membuat model penampang melintang kulit . Observasi  Kerja ilmiah, sikap ilmiah, dan keselamatan kerja yang dilakukan dalam pengematan dan kegiatan. Portfolio  Laporan praktikum.  Karya ilmiah  Buku biology Campbell  Buku referensi berbagai sumber  Torso alat ekkresi manusia,  charta sistem ekskresi manusia , cacing, serangga dan ikan.  Urine (sehat dan sakit), benedict, biuret, tabung reaksi, lampu bunsen,

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif dan proaktif dalam dalam setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam kelas/laboratorium maupun di luar kelas/laboratorium. 2.2. 3.9. Peduli terhadap keselamatan diri dan lingkungan dengan menerapkan prinsip keselamatan kerja saat melakukan kegiatan pengamatan dan percobaan di laboratorium dan di lingkungan sekitar. Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem ekskresi dan mengaitkannya dengan proses ekskresi sehingga dapat menjelaskan      bagian kortek dan medulla dibandingkan dengan torso/gambar ginjal pada manusia. Mengamati nefron di bawah mikroskop atau gambar untuk memahami struktur sel penyusun jaringan ginjal dan mengaitkan dengan fungsinya dalam proses pembentukan urin. Mengamati alveolus, penampang melintang kulit untuk melihat struktur sel dan jaringan dan mengaitkan fungsinya. Mengumpulkan informasi tentang kelainan pada sistem ekskresi dari berbagai sumber khususnya pada penyakit asam urat. Melakukan percobaan tentang penyakit/gangguan pada ginjal yang dapat menyebabkan asam urat Menjelaskan prinsip dialisis darah. Mengasosiasikan  Menyimpulkan struktur dan fungsi sel-sel penyusun jaringan pada organ ekskresi dan mengaitkan dengan fungsinya. pipet. Tes  Bagan penampang melintang kulit dan menjelaskan struktur sel dan fungsinya  Membuat outline penampang melintang ginjal  Membuat gambar sebuah befron dan menjelaskan proses pembentukan urin

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 mekanisme serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem ekskresi manusia melalui studi literatur, pengamatan, percobaan, dan simulasi. 4.10. Menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi organ yang menyebabkan gangguan sistem ekskresi manusia melalui berbagi bentuk media presentasi.  Mengaitkan bahwa teknologi cuci darah mirip dengan fungsi ginjal sebagai penyaring zat-zat sisa bioproses pada tubuh. Mengkomunikasikan  Menjelaskan secara lisan struktur sel penyusun jaringan pada berbagai organ ekskresi pada manusia dan mengaitkan dengan fungsinya.  Membuat bagan alur struktur jaringan ginjal sampai dengan vesika urinaria atau kantong kemih dan menjelaskan proses pembentukan urin.  Menjelaskan proses ekskresi pada hati dan paru-paru.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 16. RPP RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SMA Negeri 1 Cilegon Kelas/Semester : XI (Sebelas)/II (Dua) Mata Pelajaran : Biologi Materi Pokok : Sistem Ekskresi Alokasi Waktu : 6 x 45 menit A. Kompetensi Inti 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan B. Kompetensi Dasar dan Indikator Kompetensi Dasar 1.3. Peka dan peduli Indikator terhadap permasalahan lingkungan hidup, 92 1.3.1. Mengembangkan sikap peduli terhadap lingkungan hidup

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Kompetensi Dasar menjaga dan Indikator menyayangi lingkungan sebagai manisfestasi 1.3.2.Membangun sikap menyayangi dan menjaga lingkungan pengamalan ajaran agama yang dianutnya. 2.1. Berperilaku ilmiah: teliti, tekun, 2.1.1. Mengembangkan sikap teliti, jujur terhadap data dan fakta, jujur terhadap data, ,berani, disiplin, tanggung jawab, dan bekerjasama, berpikir kritis peduli dalam observasi dan dalam setiap tindakan dan eksperimen, berani dan santun dalam melakukan percobaan dalam mengajukan pertanyaan di laboratorium. dan berargumentasi, lingkungan, peduli gotong royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan 2.1.2. Membangun sikap proaktif dan menghargai teman dalam pendapat kegiatan presentasi. kritis, responsif dan proaktif dalam dalam setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam maupun kelas/laboratorium di luar kelas/laboratorium. 3.9. Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem ekskresi dan mengaitkannya dengan proses ekskresi sehingga dapat menjelaskan mekanisme serta gangguan fungsi yang mungkin 3.9.1. Menjelaskan organ-organ yang berperan dalam sistem ekskresi beserta fungsinya 3.9.2. Menjelaskan proses pembentukan urin dan proses urinasi 3.9.3. Menjelaskan penyakit yang

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Kompetensi Dasar terjadi pada sistem Indikator ekskresi dapat manusia melalui studi literatur, pengamatan, percobaan, menyerang sistem ekskresi manusia dan simulasi. 4.10. Menyajikan hasil analisis 4.10.1. Melakukan kegiatan pratikum tentang kelainan pada struktur sesuai prosedur yang sudah dan dibuat oleh guru secara teliti fungsi organ yang menyebabkan gangguan sistem ekskresi manusia melalui berbagi bentuk media dan sistematis 4.10.2. Membuat presentasi. laporan tertulis berdasarkan hasil analisis berdasarkan data pratikum mengenai gangguan ekskresi pada ginjal yang dapat menimbulkan asam urat dan cara menggunakan mengatasinya tata cara penulisan ilmiah.yang benar. 4.10.3. Mengkomunikasikan hasil analisis serta kesimpulan yang didapatkan melalui grafik dan gambar. C. Tujuan Pembelajaran 1.3.1.1. Melalui kegiatan praktikum siswa dapat mengembangkan sikap peduli terhadap lingkungan hidup 1.3.1.2. Melalui kegiatan pratikum siswa dapat membangun sikap menyayangi dan menjaga lingkungan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 2.2.1.1. Melalui diskusi siswa dapat mengembangkan sikap bekerjasama terhadap kegiatan pratikum, dan berani dalam setiap tindakan dan dalam melakukan percobaan di laboratorium. 2.2.1.2. Melalui kegiatan pratikum siswa dapat mengembangkan sikap teliti, jujur terhadap data dan berpikir kritis dalam setiap tindakan dan dalam melakukan percobaan di laboratorium. 2.2.2.1. Melalui presentasi siswa dapat membangun sikap proaktif dan menghargai pendapat teman. 3.9.1.1. Melalui diskusi kelompok, siswa mampu menjelaskan anatomi ginjal beserta fungsinya 3.9.1.2. Melalui diskusi kelompok siswa mampu menjelaskan komponen dan fungsi nephron 3.9.1.3. Melalui diskusi kelompok siswa mampu menjelaskan proses pembuluh darah di ginjal 3.9.2.1. Melalui diskusi kelompok siswa mampu menjelaskan proses pembentukan urin 3.9.2.2. Melalui diskusi kelompok siswa mampu menjelaskan proses urinasi 3.9.2.3. Melalui diskusi kelompok siswa mampu menjelaskan mekanisme reabsorbsi 3.9.2.4. Melalui diskusi kelompok siswa mampu menyebutkan hormon yang mempengaruhi reabsorbsi air 3.9.3.1. Setelah melakukan kegiatan pratikum siswa mampu menganalisis proses ekskresi sehingga dapat menjelaskan mekanisme serta gangguan fungsi yang terjadi pada sistem ekskresi manusia dan bagaimana cara mengatasinya 4.10.1.1. Siswa melakukan kegiatan pratikum sesuai proserdur yang sudah dibuat oleh guru secara teliti dan sistematis 4.10.2.1. Melalui data percobaan siswa dapat menyajikan laporan tertulis berdasarkan hasil analisis berdasarkan data praktikum mengenai gangguan ekskresi pada ginjal yang dapat menimbulkan asam urat dan cara mengatasinya ilmiah.yang benar. menggunakan tata cara penulisan

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 4.10.3.1. Melalui presentasi siswa dapat mengkomunikasikan hasil percobaan data hasil percobaan. D. Materi Ajar 1. Pengertian ekskresi, sekresi dan defekasi 2. Organ-organ ekskresi pada manusia dan fungsinya antara lain : a. Ginjal c. Kulit b.Paru – paru d.Hati 3. Proses pembentukan urin 4. Kelainan dan penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi manusia E. Metode Pembelajaran Pendekatan : Scientific Model : Pembelajaran koperatif (Cooperative) dan penemuan (Discovery) Metode : Percobaan, diskusi, tanya jawab, pengamatan, penugasan, pengamatan, ceramah. F. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan 1 (2 x 45 menit) Kegiatan/ No. Fase Kegiatan Guru dan Siswa Waktu 1. Pendahuluan  Menyiapkan kondisi 1. Guru mengucap salam dan 10 Menit berdoa belajar siswa 2. Guru menyampaikan  Melakukan dan tujuan dan kegiatan menyiapkan : pembelajaran Apersepsi 3. Diberikan gambar kulit,ginjal, hati, dan paruparu, lalu menanyakan apa nama organ tersebut?  Tujuan Pembelajaran 4. Menyampaikan tujuan pembelajaran 2 Inti 70 Menit  Mengamati 5. Guru mengorganisasi siswa dalam kelompok 6. Siswa diminta kembali untuk mengamati gambar

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 No. Kegiatan/ Waktu Fase  Menanya  Mengumpulkan Informasi  Mengasosiasikan Mengkomunikasikan 3 Penutup 10 Menit Rangkuman Kegiatan Guru dan Siswa 7. kulit, ginjal, hati, dan paruparu. 8. Mengajukan pertanyaan tentang apa fungsi dari masing-masing organ tersebut? 9. Mengapa ada berbagai organ yang berfungsi mengeluarkan zat sisa proses dalam tubuh? 10. Apa yang dimaksud dengan sekresi dan defekasi? 11. Siswa berdiskusi didalam kelompok dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan kepada guru berdasarkan sumber yang didapat (artikel, jurnal, internet, dll) 12. Siswa bersama guru mendiskusikan alat-alat ekskresi yang terdapat dalam tubuh manusia dan fungsinya 13. Guru meminta siswa mendeskripsikan sifat urin yang biasa dikeluarkan oleh siswa. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya 14. Guru meminta siswa mengidentikasi berbagai penyakit yang terjadi pada ginjal 15. Guru membimbing siswa menyimpulkan hal-hal yang sudah dipelajari 16. Guru menugaskan siswa untuk mengumpulkan informasi tentang cuci darah dengan menggunakan lembar diskusi siswa dan.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 No. Kegiatan/ Waktu Fase Kegiatan Guru dan Siswa mengumpulkannya pada pertemuan berikutnya 17. Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam Kegiatan 2 (2 x 45 menit) No. 1. 2. Kegiatan/ Fase Kegiatan Guru dan Siswa Waktu Pendahuluan  Menyiapkan kondisi 1. Guru mengucap salam 10 Menit 2. Berdoa belajar siswa 3. Guru mengecek dan mengumpulkan lembar kerja siswa 1dari siswa. bersama guru  Mengulas kembali 4. Siswa menyimpulkan pengertian, materi pembelajaran fungsi, dan proses cuci sebelumnya darah berdasarkan informasi yang sudah dikumpulkan. 5. Menyampaikan tujuan  Tujuan Pembelajaran pembelajaran yang akan dicapai Inti 6. Guru mengorganisasi 70 Menit siswa dalam kelompok 7. Mengamati video proses  Mengamati pembentukan urin 8. Mengajukan pertanyaan  Menanya bagaimana proses pembentukan urin 9. Bagaimana mekanisme reabsorbinya 10. Sebutkan hormon yang mempengaruhi reabsorbsi air 11. Siswa mendiskusikan  Mengumpulkan struktur dan proses Informasi pembentukan urin berdasarkan video tersebut dan berbagai sumber lain 12. Siswa bersama guru  Mengasosiasikan mengaitkan bahwa teknologi cuci darah mirip

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 No. 3 Kegiatan/ Waktu Penutup 10 Menit Fase Kegiatan Guru dan Siswa dengan fungsi ginjal sebagai penyaring zat-zat sisa bioproses pada tubuh 13. Siswa bersama guru mendiskusikan proses utama untuk pembentukan urin 14. Siswa bersama guru mendiskusikan mekanisme reabsorbsi dan hormone yang mempengaruhi reabsorbsi air 15. Setiap kelompok  Mengkomunikasikan mempresentasikan hasil dalam diskusi kelompok tersebut Rangkuman 16. Ulasan singkat materi yang dipelajari 17. Guru membentuk kelompok dan menugaskan setiap kelompok membawa 5 ekor mencit dan mempelajari lembar kerja siswa 1 18. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam Kegiatan 3 (2 x 45) No. 1. 2 Kegiatan/ Fase Kegiatan Guru dan Siswa Waktu Pendahuluan  Menyiapkan kondisi 1. Guru mengucap salam 10 Menit 2. Berdoa belajar siswa 3. Guru menyiapkan alat dan bahan sesuai dengan kegiatan 1.2 4. Diberikan video tentang  Melakukan dan penyakit yang disebabkan Menyampaikan : oleh ginjal Apersepsi tujuan  Tujuan Pembelajaran 5. Menyampaikan pembelajaran 6. Guru mengorganisasikan

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 No. Kegiatan/ Waktu Inti 70 Menit Fase    3 Penutup 10 Menit siswa dalam kelompok 7. Mengamati video kembali video tentang penyakit yang disebabkan oleh ginjal 8. Siswa mengamati langkah-langkah dalam melakukan percobaan sesuai dengan kegiatan 1.2 9. Guru menanyakan Menanyakan bagaimana penyusunan laporan hasil pratikum? 10. Bagaimana proses terjadinya penyakit asam urat? 11. Bagaimana cara mengatasi penyakit asam urat? 12. Melaksanakan pratikum Mengumpulkan sesuai dengan rancangan Informasi yang sudah disepakati 13. Melakukan pengamatan eksperimen, dan mencatat data. 14. Siswa mengolah data yang Mengasosiasikan sudah didapat dan menuangkan dalam laporan pratikum Mengkomunikasikan 15. Kelompok mempresentasikan hasil rancangan ke depan kelas, sementara kelompok lain menanggapi, menyempurnakan dan mencatat hasil penelitian dari kelompok lain dikarenanan penelitian ini adalah berbasis proyek kelas Setiap kelompok diminta untuk mengkomunikasikan secara tulisan hasil eksperimen dalam bentuk laporan akhir ilmiah Menyimpulkan 16. Ulasan singkat materi yang dipelajari  Mengamati  Kegiatan Guru dan Siswa

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 No. Kegiatan/ Waktu Fase Kegiatan Guru dan Siswa 17. Guru meminta siswa melaksanakan percobaan yang telah dirancang dan dilakukan selama 1 semester, hasil percobaan ditulis dalam format laporan akhir penulisan ilmiah 18. Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam G. Sumber, Bahan dan Alat yang Digunakan 1. Sumber : - Buku Biologi kelas XI, Dyah Aryulina, Esis - Buku Biologi untuk SMA kelas XI, D.A Pratiwi. Erlangga - Buku-buku yang relevan - Makalah, artikel, atau laporan hasil penelitian, dan internet 2. a) Bahan Pembelajaran : - Video proses pembentukan urin - Lembar Kerja Siswa (LKS) - Bahan dari internet - Power point (ppt) b) Bahan Percobaan Terstruktur f. Hewan uji : mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY, berumur 2,5 bulan sebanyak 25 ekor. g. Bahan tumbuhan : daun tempuyung (Sonchus arvensis L) h. Pakan : pakan standar yang bisa diberikan ke seluruh hewan percobaan. i. Bahan peningkatan kadar asam urat darah : jus hati ayam 100%. j. Bahan kimia : aquades, allopurinol, kit pereaksi pengukur kadar asam urat darah produksi DiaSys Jerman. 3. a) Alat Pembelajaran : - LCD - Laptop

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 - Viewer - Speaker b) Alat Percobaan Terstruktur : - Kandang pemeliharaan hewan uji - Alat untuk menimbang mencit. - Alat untuk membuat makanan tinggi asam urat seperti blander, saringan, kain flannel, pengaduk dan gelas ukur. - Alat yang digunakan untuk membuat infusa terdiri dari panci infusa, kompor listrik, saringan, timbangan, pisau, pengaduk, kain flannel, gelas ukur, jarum suntik yang pada ujungnya tumpul. - Alat yang digunakan dalam pembuatan larutan allopurinol terdiri dari gelas ukur, Erlenmeyer, mortal, tabung Reaksi, dan timbangan. - Alat untuk pengambilan sempel darah yaitu Eppendorf dan mikrohematokrit 1ml. - Alat yang digunakan dalam pengukuran kadar asam urat seperti pipet mikro dengan merk merck, kuven ,merk SCC 1ml, sentrifuga merk Heraeus Sepatec dengan seri Biofuge 15 buatan Jerman, dan spektrofotometer merk Hach seri DR/2000 buatan USA. H. Penilaian Hasil Belajar 1. Teknik penilaian : Pengamatan dan tes tertulis 2. Prosedur penilaian : No. Aspek yang dinilai Teknik Penilaian 1 Sikap spiritual Pengamatan a. Peduli terhadap lingkungan sekitar b. Menjaga lingkungan sekitar c. Meningkatkan rasa saying terhadap lingkungan ssekitar 2 Pengamatan Sikap a. Terlibat aktif selama proses pembelajaran b. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok c. Teliti dan jujur dalam mengolah hasil data Waktu Selama kegiatan disekolah dan diluar sekolah Selama pembelajaran, saat diskusi kelompok, dan pelaksanaan percobaan

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 No. Aspek yang dinilai 2 Teknik Penilaian kegiatan pratikum d. Berpikir kritis dalam proses pembelajaran dan membuat laporan pratikum e. Menghargai pendapat teman Tes Pengetahuan a. Mengetahui organorgan yang berperan Waktu Penyelesaian tugas dan hasil tes dalam sistem ekskresi beserta fungsinya b. Mengetahui proses pembentukan urin dan proses urinasi c. Mengetahui penyakit yang menyerang dapat sistem ekskresi manusia 3 Pengamatan Keterampilan a. Melakukan kegiatan pratikum sesuai prosedur yang sudah dibuat oleh guru secara teliti dan sistematis b. Membuat laporan hasil percobaan dengan tata cara penulisan ilmiah yang benar c. Keterampilan dalam menyajikan hasil rancangan percobaan dalam bentuk presentasi dan melaksanakan percobaan Saat presentasi dan pelaksaaan percobaan

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Yogyakarta, 13 Agustus 2014 Mengetahui, Kepala Sekolah Murni Rosdiana, M.M Pd Guru Mata Pelajaran Anggi Chikitta

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 LEMBAR DISKUSI SISWA Judul : Sistem ekskresi A. Tujuan 1. Siswa dapat mengetahui mekanisme cuci darah B. Kerjakan soal dibawah ini! 1. Carilah informasi mengenai cuci darah, meliputi: a. Pengertian b. Fungsi c. Proses

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 LEMBAR KERJA SISWA I Judul : Pengaruh Infusa Daun Tempuyung Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Dalam Darah Mencit Hiperurisemia Kompetensi Dasar : 4.10 Menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi organ yang menyebabkan gangguan sistem ekskresi manusia melalui berbagi bentuk media presentasi. Indikator : 4.10.1 Melakukan kegiatan pratikum sesuai prosedur yang sudah dibuat oleh guru secara teliti dan sistematis A. Tujuan : 4.1.10.1 Mengidentifikasi Siswa melakukan kegiatan pratikum sesuai proserdur yang sudah dibuat oleh guru secara teliti dan sistematis B. Alat dan Bahan :  Alat yang digunakan dalam penelitian ini anatara lain : h. Kandang pemeliharaan hewan uji, dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. i. Alat untuk menimbang mencit. j. Alat untuk membuat makanan tinggi asam urat seperti blander, saringan, kain flannel, pengaduk dan gelas ukur. k. Alat yang digunakan untuk membuat infusa terdiri dari panci infusa, kompor listrik, saringan, timbangan, pisau, pengaduk, kain flannel, gelas ukur, jarum suntik yang pada ujungnya tumpul. l. Alat yang digunakan dalam pembuatan allopurinol terdiri dari gelas ukur, Erlenmeyer, mortal, tabung Reaksi, dan timbangan. m. Alat untuk pengambilan sempel darah yaitu Eppendorf dan mikrohematokrit 1ml. n. Alat yang digunakan dalam pengukuran kadar asam urat seperti pipet mikro dengan merk merck, kuven ,erk SCC 1ml, sentrifuga merk Heraeus Sepatec

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 dengan seri Biofuge 15 buatan Jerman, dan spektrofotometer merk Hach seri DR/2000 buatan USA.  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu : k. Hewan uji Hewan yang digunakan adalah mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY, berumur 2,5 bulan sebanyak 25 ekor. l. Bahan tumbuhan Bahan yang digunakan berupa daun tempuyung (Sonchus arvensis L) m. Pakan Pakan yang digunakan secara umum adalah pakan standar yang bisa diberikan ke seluruh hewan percobaan. n. Bahan peningkatan kadar asam urat darah Untuk meningkatkan kadar asam urat darah (pembuatan hiperurik) digunakan pemberian jus hati ayam 100%. Selama 21 hari o. Bahan kimia Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian yaitu aquades, alopurinol, kit pereaksi pengukur kadar asam urat darah produksi DiaSys Jerman. C. Langkah Kerja Kelas dibagi menjadi 5 kelompok. Tiap kelompok dapat terdiri atas lima sampai enam anak . Masing-masing kelompok melakukan kegiatan berikut : 1. Tiap kelompok memelihara 5 ekor mencit 2. Mencit dilakukan tahap aklimatisasi selama 7 hari agar mencit dapat beradaptasi dengan lingkungan percobaan. 3. Setelah tahap aklimatisasi, lakukan perlakuan hiperurisemia dengan memberikan 2 ml jus hati ayam mentah 100% sebanyak dua kali sehari (pagi dan siang) selama 14 hari. 4. Lakukan cek darah mencit hiperurisemia 5. Setelah mencit sudah mengalami hiperurisemia dilakukan penurunan kadar asam urat, yaitu dengan cara :  Kelompok 1 melakukan perlakuan dengan memberikan aquades (sebagai kontrol negatif)

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108  Kelompok 2 melakukan perlakuan dengan memberikan Allopurinol 1 mg/kgBB (sebagai kontrol positif)  Kelompok 3 melakukan perlakuan dengan memberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 812,60 mg/kgBB (sebagai dosis I)  Kelompok 4 melakukan perlakuan dengan memberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 1425,31 mg/kgBB (sebagai dosis II)  Kelompok 5 melakukan perlakuan dengan memberikan infusa daun tempuyung dengan dosis 2500 mg/kgBB (sebagai dosis III) 6. Lakukan cek darah mencit setelah perlakuan D. Hasil diskusi Tabel 1. Kadar asam urat serum darah mencit sebelum pemberian hiperurisemia Kadar asam urat serum darah mencit (mg/dl) pada kelompok No. Mencit K(-) K(+) I II III 1 0.91 1.81 0.39 0.46 2 0.95 2.29 2.19 0.45 0.41 3 1.27 1.46 0.77 0.49 0.6 4 0.6 0.51 0.28 0.75 0.56 5 0.77 0.41 Mean 0.73 1.29 1.26 0.57 0.49 Ket : Begitu juga tabel untuk perlakuan hiperurisemia dan setelah perlakuan. E. Pertanyaan Buatlah laporan penelitian berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dengan format sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah (5) B. Rumusan Masalah (5) C. Tujuan Penelitian (5) D. Manfaat Penelitian (5) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori (15) B. Rumusan Hipotesis (5)

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 BAB III METODE PENELITIAN A. Instrumen (Alat dan Bahan) (5) B. Prosedur Kerja (5) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil (10) B. Pembahasan (25) BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan (5) B. Saran (5) DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 LEMBAR PENGAMATAN NILAI SPIRITUAL Indikator : 2.3.1 mengembangkan sikap peduli terhadap lingkungan hidup 2.3.2 membangun sikap menyayangi dan menjaga lingkungan No. 1. 2. 3. 4. Aspek yang dinilai Peduli terhadap lingkuang sekitar Menjaga lingkungan sekitar Meningkatkan rasa menyayangi terhadap lingkuan sekitar Meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan Penilaian Skor 1 2 3 4 Keterangan

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Rubrik Penilaian Spiritual No. 1. Aspek yang dinilai Peduli terhadap lingkungan sekitar 1 Siswa tidak peduli terhadap lingkungan sekitar 2. Menjaga lingkungan sekitar Siswa tidak menjaga lingkungan sekitar 3. Meningkatkan rasa sayang terhadap lingkuan sekitar Siswa tidak menyayang i lingkungan sekitar 4. Meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan Siswa tidak antusias dalam mengikuti pembelajar an Penilaian Skor 2 3 Siswa Siswa kurang cukup peduli peduli terhadap terhadap lingkungan lingkungan sekitar sekitar Siswa Siswa kurang cukup menjaga menjaga lingkungan lingkungan sekitar sekitar Siswa Siswa kurang cukup menyayang menyayang i i lingkungan lingkungan sekitar sekitar Siswa Siswa kurang cukup antusias antusias dalam dalam mengikuti mengikuti pembelajar pembelajar an an 4 Keterang an Siswa peduli terhadap lingkung an sekitar Siswa selalu menjaga lingkung an sekitar Siswa selalu menyaya ngi lingkung an sekitar Siswa sangat antusias dalam mengikut i pembelaj aran Aspek yang dinilai : 1. Sikap peduli lingkungan sekitar Siswa membuang sampah pada tempatnya serta membersihkan ruang kelas 2. Sikap menjaga lingkungan sekitar Siswa tidak merusak tanaman dilingkungan sekitar 3. Sikap rasa sayang terhadap lingkuan sekitar Siswa merawat tanaman dilingkungan sekitar 4. Sikap rasa syukur kepada Tuhan atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan Siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Pedoman penilaian :

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Indikator : 2.1.1 Mengembangkan sikap teliti, jujur terhadap data, ,berani, bekerjasama, berpikir kritis dalam setiap tindakan dan dalam melakukan percobaan di laboratorium. 2.1.2 Membangun sikap proaktif dan menghargai pendapat teman dalam kegiatan presentasi. Indikator sikap proaktif dalam pembelajaran : 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum konsisten 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok : 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ada usaha untuk bekerjasama dengan kelompok 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dengan kelompok tetapi belum konsisten 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian untuk bekerjasama dengan kelompok secara terus menerus/konsisten Indikator sikap toleransi/menghargai setiap pendapat teman dalam pemecahan masalah : 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda tetapi belum konsisten 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda secara terus menerus/konsisten Indikator sikap jujur terhadap data dalam kegiatan pratikum : 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak bersikap jujur terhadap data dengan kelompok 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap jujur terhadap data dengan kelompok tetapi belum konsisten

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian untuk bersikap jujur terhadap data dengan kelompok secara terus menerus/konsisten Indikator berani dalam kegiatan pratikum : 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak bersikap berani dalam pratikum 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap berani dalam pratikum tetapi belum konsisten 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian untuk bersikap berani dalam pratikum secara terus menerus/konsisten Indikator teliti menyajikan laporan dalam kegiatan pratikum 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak bersikap teliti menyajikan laporan dalam kegiatan pratikum 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap teliti menyajikan laporan dalam kegiatan pratikum tetapi belum konsisten 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian untuk bersikap teliti menyajikan laporan dalam pratikum secara terus menerus/konsisten Indikator berpikir kritis dalam diskusi kelompok 1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak berpikir kritis dalam diskusi kelompok 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk berpikir kritis dalam diskusi kelompok tetapi belum konsisten 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian untuk berpikir kritis dalam diskusi kelompok secara terus menerus/konsisten

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Bubuhkan tanda (√) pada kolom-kolom yang sesuai hasil pengamatan Sikap Kejujura n Na Aktif Kerjasa Toleran Berani Teliti N ma ma o Sis wa K B S K B S K B S K B S K B S K B S B B B B B B B B B B B B 1 2 3 . . 4 5 Keterangan : KB : Kurang Baik B : Baik SB : sangat Baik Skor penilaian : Berpi kir kritis K S B B

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Lembar Observasi Kegiatan Pratikum Indikator : 4.10.1 Melakukan kegiatan pratiktikum sesuai prosedur yang sudah dibuat oleh guru secara teliti dan sistematis No. 1. 2. 3. 4. 5. Aspek yang dinilai Kelengkapan bahan pratikum yang dibawa Menggunakan alat dan bahan pratikum dengan benar Kesesuain pelaksanaan pratikum dengan langkah kerja Data yang diperoleh dari pratikum Menyimpulkan hasil pratikum Keterangan : 1. Kurang 2. Cukup 3. Baik 1 Penilaian 2 3

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Rubrik Penilaian Kegiatan Pratikum No. 1. 2. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan Tidak bahan pratikum membawa yang dibawa bahan praktikum Menggunakan Menggunakan alat dan bahan alat dan bahan pratikum dengan pratikum tidak benar sesuai proserdur 3. Kesesuain pelaksanaan pratikum dengan langkah kerja Pelaksanaan praktikum tidak sesuai dengan langkah kerja yang Data tidak dari lengkap 4. Data diperoleh pratikum 5. Menyimpulkan hasil pratikum Pedoman Penilaian : Tidak benar atau tidak sesuai tujuan Penilaian 2 3 Membawa Membawa bahan tetapi tidak praktikum lengkap lengkap Menggunakan alat dan bahan pratikum kurang sesuai dengan prosedur Pelaksanaan pratikum sudah sesuai namun ada yang tidak dilaksanakan Data lengkap, tetapi tidak terorganisir atau ada yang slah tulis Sebagian kesimpulan ada yang salah atau tidak sesuai tujuan Menggunakan alat dan bahan praktikum sesuai dengan prosedur Pelaksanaan pratikum sudah sesuai dengan langkah kerja Data lengkap, terorganisir, dan ditulis dengan benar Semua atau tujuan benar sesuai

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Lembar Observasi Pratikum Indikator : 2.2.1 Mengembangkan sikap teliti, jujur terhadap data, ,berani, bekerjasama, berpikir kritis dalam setiap tindakan dan dalam melakukan percobaan di laboratorium. No Nama Siswa Aspek yang dinilai Teliti Jujur terhadap data Kerjasama Kritis Berani 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kriteria penilaian : A = 85-100 : sangat baik B = 70- 84 : baik C = 55- 69 : cukup D = 50- 54 : kurang E = 0- 49 : sangat kurang

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Rubrik penilaian pratikum Aspek yang dinilai Teliti Skor 4 Kriteria Penilaian Jika fokus dalam mengolah data dan menyajikan hasil laporan kegiatan pratikum, semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi serta bersikap tenang 3 Jika fokus dalam mengolah data dan menyajikan hasil laporan kegiatan pratikum, bersikap tenang tetapi tidak semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi 2 Jika fokus dalam mengolah data dan menyajikan hasil laporan kegiatan pratikum, bersikap tidak tenang dan tidak semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi 1 Jika tidak fokus dalam mengolah data dan menyajikan hasil laporan kegiatan pratikum, bersikap tidak tenang dan tidak semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi Jujur terhadap data 4 Jika jujur terhadap data yang diperoleh secara terus menerus/konsisten 3 Jika jujur terhadap data yang diperoleh tetapi belum konsisten 2 Jika jujur terhadap data yang diperoleh tetapi tidak konsisten Berkerjasama 1 Jika tidak jujur terhadap data yang diperoleh 4 Jika menjawab dengan tepat menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan percaya diri 3 Jika menjawab dengan tepat menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Aspek yang dinilai Skor Kriteria Penilaian dengan tidak percaya diri 2 Jika menjawab dengan tepat, tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan tidak percaya diri 1 Jika jawaban kurang/tidak tepat, tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan tidak percaya diri Berpikir kritis 4 Jika membuat laporan pratikum secara runtut, sistematis, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami 3 Jika membuat laporan pratikum mudah dipahami dan runtut namun tidak sistematis 2 Jika membuat laporan pratikum mdah dipahami namun tidak runtut dan juga tidak sistematis 1 Jika membuat laporan pratikum sulit dipahami, tidak runtut, dan juga tidak sistematis. Berani 4 Jika pendapat mudah dipahami, runtut serta sistematis 3 Jika pendapat mudah dipahami, runtut, tetapi tidak sistematis 2 Jika pendapat mudah dipahami, tidak runtut dan juga tidak sistematis 1 Jika pendapat tidak mudah dipahami, tidak runtut dan juga tidak sistematis. Pedoman Penilaian :

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Rubrik Penilaian Laporan Praktikum No Aspek yang dinilai 1 Bentuk Laporan Skor Kriteria Penilaian 1 Bila 4 kriteria dari point 5 tidak dipenuhi 2 Bila 3 kriteria dari point 5 tidak dipenuhi 3 Bila 2 kriteria dari point 5 tidak dipenuhi 4 Bila 1 kriteria dari point 5 tidak dipenuhi 5  Kerangka penulisan  Penulisan sistematik  Menarik  Bahasa yang digunakan komunikatif (mudah dipahami)  Menyajikan dasar teori yang sesuai dengan tujuan praktikum 2 Data Pengamatan 1 Tidak melampirkan data pengamatan 2 Tiga (3) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 3 Dua (2) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 4 Satu (1) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 5  Data yang disajikan dalam bentuk tabel atau grafik  Data yang disajikan sesuai dengan hasil percobaan/ pengamatan  Data yang disajikan jelas dan mudah dipahami 3 Pembahasan 1 Tidak menyajikan pembahasan 2 Tiga (3) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 3 Dua (2) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 4 Satu (1) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 5  Bahasa yang digunakan komunikatif  Pembahasan sesuai dengan hasil praktikum  Adanya hubungan antara pembahasan dengan

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 No Aspek yang dinilai Skor Kriteria Penilaian literatur yang diambil 4 Ketepatan 1 Pengambilan  Kesimpulan tidak disajikan dalam bahasa yang komunikatif  Kesimpulan yang diambil tidak berdasarkan Kesimpulan data pengamatan  Kesimpulan yang disajikan tidak sesuai dengan pembahasan  Kesimpulan tidak sesuai dengan tujuan praktikum 2 Tiga (3) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 3 Dua (2) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 4 Satu (1) kriteria skor 5 tidak dipenuhi 5  Kesimpulan disajikan menggunakan bahasa yang komunikatif  Kesimpulan sesuai dengan tujuan praktikum  Kesimpulan yang disajikan sesuai dengan pembahasan  Kesimpulan pengamatan 5 Waktu pengumpulan 1 Terlambat 4 hari 2 Terlambat 3 hari 3 Terlambat 2 hari 4 Terlambat 1 hari 5 Tepat waktu laporan resmi Pedoman Penilaian : diambil berdasarkan data

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Lembar Observasi Presentasi Indikator : 2.2.2 Membangun sikap proaktif dan menghargai pendapat teman dalam setiap tindakan dan dalam melakukan percobaan di laboratorium. No Nama Siswa Aspek yang dinilai Kecakapan presentasi 1 2 3 4 Kecakapan ketika berdiskusi 1 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kriteria penilaian : A = 85-100 : sangat baik B = 70- 84 : baik C = 55- 69 : cukup D = 50- 54 : kurang E = 0- 49 : sangat kurang 3 Kecakapan menjawab pertanyaan 4 1 2 3 4

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 Rubrik Penilaina Presentasi Aspek yang dinilai Kecakapan presentasi Skor 4 Kriteria Penilaian Jika pembawaan tenang, menggunakan bahasa yang logis, runtut dan sistematis 3 Jika pembawaan tenang, menggunakan bahasa yang logis tetapi tidak runtut dan sistematis 2 Jika pembawaanya menggunakan tenang, bahasa yang logis tidak dan penyampaiannya tidak runtut dan sistematis 1 Jika pembawaanya menggunakan tidak bahasa yang tenang, tidak logis serta penyampaian yang tidak runtut dan sistematis Kecakapan ketika 4 berdiskusi Jika fokus terhadap perintah guru, semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi serta bersikap tenang 3 Jika fokus terhadap perintah guru, bersikap tenang tetapi tidak semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi 2 Jika fokus terhadap perintah guru, tidak tenang dan tidak semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi 1 Jika tidak fokus terhadap perintah guru, tidak tenang dan tidak semua anggota kelompok terlibat dalam diskusi Kecakapan menjawab 4 pertanyaan Jika menjawab dengan tepat menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan percaya diri 3 Jika menjawab dengan tepat menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan tidak percaya diri

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Aspek yang dinilai Skor 2 Kriteria Penilaian Jika menjawab dengan tepat, tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan tidak percaya diri 1 Jika jawaban kurang/tidak tepat, tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan berbicara dengan tidak percaya diri Pedoman Penilaian :

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Biologi : XI/II : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan berkaitan dengan kegiatan pratikum 1. Kurang terampil jika menunjukkan sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan berkaitan dengan kegiatan pratikum 2. Trampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan berkaitan dengan kegiatan pratikum namun belum tepat 3. Sangat Trampil jika menunjukkan sudah usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan berkaitan dengan kegiatan pratikum. Bubuhkan tanda (√) pada kolom-kolom yang sesuai hasil pengamatan No Nama Siswa 1 2 3 . . 35 Keterangan KT : Kurang Terampil T : Terampil ST : Sangat Terampil Skor penilaian : Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT T ST

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 KISI-KISI PENULISAN SOAL POSTEST TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Mata Pelajaran : Biologi Alokasi Waktu : 45 Menit Kelas/Program : XI IPA/I I Bentuk Soal : PG dan Essay Semester Jumlah Soal : 12 PG dan 6 Essay No : II Kompetensi Dasar Indikator Soal Ranah Kognitif C1 1  3.9Menganalisis Menjelaskan hubungan antara organ-organ struktur jaringan yang penyusun organ berperan pada dalam sistem ekskresi sistem dan mengaitkannya C2 C3 C4  C5   No Soal Kunci Jawaban A1, A3, A6, A8, A9, A10 A7, A11, A12 A2 Terlampir C6 PG ekskresi beserta Bentuk Soal

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 No Kompetensi Dasar dengan Indikator Soal proses Ranah Kognitif Kunci Jawaban Terlampir Bentuk Soal Essay No Soal B6 PG A4  Essay B1, B2 B3  PG A5 Terlampir Essay B4 Terlampir  fungsinya ekskresi sehingga dapat menjelaskan mekanisme serta gangguan fungsi  yang Menjelaskan proses mungkin terjadi pembentukan pada urin sistem ekskresi  dan Terlampir Terlampir proses urinasi manusia melalui studi literatur, pengamatan,  Menjelaskan percobaan, dan penyakit yang simulasi. dapat menyerang 

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 No Kompetensi Dasar 12.10. Menyajikan hasil Indikator Soal sistem analisis ekskresi tentang kelainan manusia pada struktur dan fungsi organ yang menyebabkan gangguan sistem ekskresi manusia melalui berbagi bentuk media presentasi. Ranah Kognitif  Bentuk Soal Essay No Soal B5 Kunci Jawaban Terlampir

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 SOAL POSTEST A. Pilihlah satu jawaban yang tepat! 1. Organisme memiliki sistem pengeluaran yang berguna untuk mengeluarkan zat-zat sisa dari proses… a. Oksidasi d. Transportasi b. Metabolisme e. Reabsorpsi c. Absorpsi 2. Keterangan berikut menjelaskan tentang organ ginjal, kecuali… a. Berbentuk seperti kacang merah b. Berfungsi sebagai penyaring darah c. Sebagai tempat pembentukan sel-sel darah d. Jumlahnya sepasang, di kiri-kanan ruas-ruas tulang pinggang e. Berfungsi sebagai pembunuh bibit penyakit 3. Bagian ginjal yang berfungsi sebagai penyaring darah adalah… a. Uretra d. Ureter b. Medulla e. Korteks c. Pelvis 4. Urin berwarna kuning karena mengandung…. a. Urea d. Ammonia b. Bilirubin e. Asam Amino c. Hemoglobin 5. Salah satu tanda bahwa seseorang menderita gagal ginjal adalah jika dalam urin terdapat zat…

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 a. Urea d. Glukosa b. Ammonia e. Protein c. Lemak 6. Hati termasuk juga sebagai organ ekskresi karena berfungsi mengeluarkan…. a. Vitamin A d. Gula dalam bentuk glikogen b. Bilirubin dan urea e. Ammonia c. Gula dari dalam darah 7. Empedu yang terbentuk di dalam hati berasal dari… a. Hemoglobin yang rusak b. Sel-sel darah merah yang rusak c. Zat-zat racun yang terkumpul d. Zat sisa pembongkaran protein e. Sel-sel darah putih yang rusak 8. Epidermis pada kulit manusia tersusun atas… a. Lapisan tanduk dan lapisan Malpighi b. Kulit arid an kulit jangat c. Lapisan Malpighi dan jaringan ikat d. Lapisan tanduk dan kulit jangat e. Lapisan Malpighi dan kulit jangat 9. Kulit berfungsi sebagai alat pengeluaran, karena itu memiliki… a. Rambut d. Jaringan ikat b. Kelenjar keringat e. Lapisan tanduk c. Ujung-ujung saraf

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 10. Zat yang dikeluarkan dari paru-paru berupa… a. Oksigen d. Ammonia b. Nitrogen e. Karbon dioksida c. Karbon monoksida 11. Perhatikan hal-hal berikut: 1. Memiliki reseptor indra 3. Menyimpan kelebihan lemak 2. Melindungi tubuh dari 4. Memecah kelebihan asam mikroorganisme amino Fungsi kulit selain sebagai alat ekskresi adalah…. a. 1 dan 3 d. 1, 3, dan 4 b. 2 dan 3 e. 1 dan 4 c. 1, 2, dan 3 12. Perhatikan hal-hal berikut: a. Menghasikan empedu b. Menetralkan racun c. Mengontrol kadar gula dalam darah d. Menyimpan glikogen Fungsi hati adalah… a. 1, 2, dan 3 d. 1, 2, 3, dan 4 b. 1, 3, dan 4 e. 1 dan 4 c. 2, 3, dan 4

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 B. Essay 1. Sebutkan dan jelaskan 3 tahap pembentukan urin ! 2. Apa yang dimaksud dengan nefron? Terdiri atas apa sajakah 1 unit nefron ? Jelaskan secara singkat ! 3. Hormon dan enzim apa yang berperan dalam mengatur volume urin? Jelaskan peranannya ! 4. Apakah penyakit asam urat dapat merusak ginjal dalam tubuh ? jika iya, mengapa demikian? Apa nama penyakitnya yang menyebabkan gangguan pada ginjal yang disebabkan oleh asam urat? dan bagaimana cara mencegah supaya tidak terkena asam urat? 5. Studi kasus : Pada urin Mr.X dijumpai adanya glukosa dan protein albumin. Normalkah keadaan tersebut ? Jika tidak, Mr. X ini menderita penyakit apa dan apa kira-kira yang menjadi sebabnya ? 6. Adit akan membuat percobaan untuk membuktikan bahwa pernafasan manusia membutuhkan O2 dan menghasilkan CO2 dan H2O. Bahan yang digunakan adalah air kapur sedangkan alat yang digunakan adalah cermin, gelas kimia, dan sedotan plastik. Yang harus Adit lakukan pertama-tama menyiapkan air kapur 100ml dan menuangkan pada gelas kimia kemudian ditiup, dan yang kedua menyiapkan cermin yang bersih kemudian dihembuskan. Setelah melakukan kegiatan Adit diminta untuk mengamati Reaksi apa yang terjadi pada air kapur dan cermin tersebut lalu isikan data pengamatan ke dalam tabel pengamatan. Keadaan No. Kegiatan Sebelum Percobaan Setelah Percobaan 1. Meniup nafas ke air kapur 2. Meniup nafas ke cermin Buatlah rancangan percobaan mengenai sistem ekskresi pada paru-paru manusia !

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 KUNCI JAWABAN POSTEST A. Pilihan Ganda 1. 2. 3. 4. 5. 6. b c e b e b b 8. a 9. b 10. e 11. a 12. a 7. B. Essay 1. 3 tahap pembentukan urin yaitu: 1) Filtrasi Filtrasi merupakan proses penyaringan darah yang mengandung zat-zat sisa metabolism yang dapat menjadi racun bagi tubuh. Proses terjadinya filtrasi di glomerulus yang ada di badan Malpighi. Hasil dari filtrasi di glomelurus, menuju kapsula bowman dan dihasilkan urin primer. Urin primer terdiri dari : air, gula, asam amino, garam/ion anorganik,urea 2) Reabsorbsi Reabsorbsi terjadi di tubulus proksimal yang nantinya akan menghasilkan urin sekunder. Urin primer yang terkumpul di kapsula bowman masuk ke dalam tubulus kontortus proksimal dan terjadi reabsorbsi. Pada proses ini terjadi proses penyerapan kembali zat-zat yang masih berguna bagi tubuh oleh dinding tubulus, lalu masuk ke pembuluh darah yang mengelilingi tubulus. Zat-zat yang diserap kembali oleh darah antara lain: glukosa, asam amino, dan ion-ion anorganik (Na+, Cl-, K+, dan HCO3-). Hasil dari reabsorbsi urin primer adalah urin sekunder yang mengandung sisa limbah nitrogen dan urea. Urin sekunder masuk ke lengkung henle. Pada tahap ini terjadi osmosis air di lengkung henle desenden sehingga volume urin sekunder berkurang dan menjadi pekat. Ketika urin sekunder mencapai lengkung henle asenden, garam Na+ dipompa keluar dari tubulus, sehingga urin menjadi lebih pekat dan volume urin tetap. 3) Agumentasi Dari lengkung henle asenden, urin sekunder aan masuk ke tubulus distal untuk masuk tahap augmentasi (pengumpulan zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh). Zat sisa yang dikeluarkan oleh pembuluh kapiler adalah ion hydrogen (H+), ion kalium (K+), NH3 dan keratin. Pengeluaran ion H+ ini membantu menjaga pH yang tetap dalam darah. Selama melewati tubulus distal, urin banyak kehilangan air sehingga konsentrasi urin makin pekat. Selanjutnya urin memasuki pelvis renalis

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 dan menuju ureter, kemudian dialirkan ke vesica urinaria, untuk ditampung sementara waktu. Pengeluaran urin diatur oleh otot-otot sfingter. Kandung kemih hanya mampu menampung kurang lebih 300ml. 2. Nefron adalah unit struktural dan fungsional dari ginjal. Tiap ginjal memiliki sekitar 1 juta nephron. Tempat terbentuknya urin. Terdiri dari 2 bagian, yi korpuskula renalis dan tubulus renalis. 1) Korpuskula renalis Terdiri atas glomerulus yang dikelilingi oleh kapsula Bowman. Glomerolus merupakan jaringan pembuluh darah kapiler yang berasal dari arteriola afferent (masuk glomerolus) dan arteriola efferent (keluar glomerolus). Kapsula Bowman merupakan pelebaran dari tubulus renalis yang menyelubungi glomerulus. Lapisan dalam tersusun oleh podosit atau ‘foot cells’ dengan bagian ‘kaki’ terletak pada permukaan kapiler glomerulus. Bagian ini sangat permeabel. Lapisan luar kapsula Bowman tidak berpori dan tidak permeabel. Ruang antara 2 lapisan kapsula Bowman berisi filtrat yang dibentuk dari glomerulus yang nantinya akan menjadi urin. 2) Tubulus renalis Tubulus renalis berlanjut dari kapsula Bowman dan terdiri dari tubulus kontortus proksimal, ‘loop of Henle’ , tubulus kontortus distal dan tubulus kolektivus Tubulus kontortus distal dari beberapa nephron bermuara ke tubulus kolektivus. Beberapa tubulus kolektivus bersatu membentuk duktus papillary yang mengalirkan urin ke kalyx pada pelvis renalis. Semua bagian tubulus renalis dikelilingi oleh ‘kapiler peritubular’ yang berasal dari arteriola efferent. Kapiler peritubular menerima material yang direabsorbsi oleh tubulus renalis. 3. Hormon dan enzim yang mengatur volume air 1) Aldosteron Dihasilkan oleh kortek adrenal dengan target utama adalah ginjal ketika volume darah dalam tubuh berkurang. Meningkatkan reabsorbsi ion Na+ ke dalam darah dan eksresi K+ ke dalam tubulus. Ketika Na+ direabsorbsi, ion H+ ikut diekskresikan ke dalam tubulus yang mencegah terjadinya akumulasi ion H+ dalam darah. Ion negatif seperti Cl- dan HCO3- juga ikut direabsorbsi bersamaan dengan terjadinya reabsorbsi Na+, diikuti oleh air melalui osmosis. Hal ini penting untuk mempertahankan volume darah dan tekanan darah tetap normal. Jadi, aldosteron berperan dalam menjaga kadar Na+ dan K+ darah tetap normal, juga berperan dalam menjaga pH normal darah, volume darah dan tekanan darah 2) Atrial natriuretic peptide (ANP)

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Merupakan antagonis dari aldosteron. Dihasilkan oleh atrium jantung ketika tekanan darah atau volume darah meningkat ANP menurunkan reabsorbsi ion Na+ dan air melalui ginjal sehingga tetap berada dalam filtrat kemudian diekskresikan. Dengan meningkatkan eliminasi air dan Na+, maka ANP menurunkan tekanan darah dan volume darah 3) Antidiurec hormon (ADH) Dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian posterior ketika kadar air dalam tubuh menurun. Dibawah pengaruh ADH, tubulus kontortus distal dan tubulus kolektivus mampu mereabsorbsi lebih banyak air dari filtrat renalis. Urin menjadi lebih pekat. Hal tersebut menjaga volume dan tekanan darah tetap normal Ketika kadar air dalam tubuh meningkat, sekresi ADH dikurangi sehingga reabsorbsi air berkurang. Urin menjadi lebih encer. Air dieliminasi hingga konsentrasinya dalam tubuh normal kembali. 4. Penyakit asam urat dapat menyebabkan kelainan ginjal, apabila penyakit asam urat menyebabkan timbulnya batu pada saluran kencing atau ginjal maka disebut penyakit batu urat dan jika asam urat ini merusak ginjal secara langsung maka disebut penyakit nefropati urat. Hal ini bisa terjadi dikarenakan sekitar dua per tiga urat yang sudah terbentuk di dalam tubuh secara alami akan dikeluarkan bersama urin melalui ginjal. Cara mencegah agar tidak terkena asam urat adalah mengkonsumsi makanan yang kaya potasium, konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, tidak mengkonsumsi kacang-kacangan, tidak mengkonsumsi sayuran seperti bayam, buncis, kembang kol, jamur kuping, daun singkong, daun papaya, dan asparagus, kurangi mengkonsumsi makanan yang mengandung protein disertai tinggi lemak, dan hal yang lain ialah mengkonsumsi rebusan daun tempuyung dikarenakan daun tempuyung mempunyai kandungan flavonoid yang dapat menurunkan kadar asam urat. 5. Keadaan dalam tubuh Mr.X tidak normal dikarenakan Mr.X terkena penyakit Diabetes mellitus (kencing manis) yang disebabkan karena kekurangan hormon insulin sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat, kelebihan glukosa dikeluarkan lewat urin. Dan penyakit Albuminuria yang disebabkan karena kegagalan filtrasi di ginjal sehingga dijumpai molekul albumin dalam urin. 6. Rancangan percobaan : A. Acara praktikum Judul : Sistem Ekskresi pada Paru-paru B. Tujuan Praktikum 1. Menjelaskan proses ekskresi yang terdapat pada ogan paru-paru

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 C. Landasan Teori Proses metabolisme tubuh meliputi proses menghasilkan energi dan zat yang berguna bagi tubuh. Dalam proses metabolisme, dihasilkan zat-zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh. Zat-zat ini harus dikeluarkan dari tubuh karena dapat membahayakan tubuh. Proses pengeluaran zat-zat sisa dari dalam tubuh disebut ekskresi. Sistem eskresi pada tubuh manusia meliputi hati, ginjal, paru-paru, dan kulit. Sistem eskresi pada paru-paru selain sebagai alat pernapasan paru-paru juga berfungsi sebagai alat pengeluaran. Zat yang dikeluarkan oleh paru-paru adalah karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) yang dihasilkan dari proses pernapasan. Jadi, tugas paru-paru adalah meneluarkan karbon dioksida dan uap air yang tidak digunakan lagi oleh tubuh. Jika tidak dikeluarkan, zat-zat tersebut akan menjadi racun. D. Alat dan Bahan :  Gelas kimia  Cermin  Air kapur  Sedotan plastik E. Cara Kerja Pertama a. Masukan air dalam gelas kimia sampai 100ml b. Masukkan sedotan plastik dalam gelas tersebut c. Tiupkan nafasmu kedalam air kapur jernih melalui sedotan plastik d. Catatlah perubahan yang terjadi pada air kapur tersebut. Kedua a. Siapkan sebuah cermin yang bersih b. Hembuskan nafasmu pada cermin tersebut c. Amati dan catat perubahan yang terjadi pada cermin F. Tabel Pengamatan : Keadaan No. Kegiatan Sebelum Percobaan Setelah Percobaan 1. Meniup nafas ke air Keruh Lebih jernih kapur 2. Meniup nafas ke Bening Keruh cermin G. Pembahasan H. Kesimpulan Pernafasan manusia membutuhkan O2 dan menghasilkan CO2 dan H2O.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 PEDOMAN PENSKORAN A. Pilihan Ganda Setiap soal masing-masing diberi skor 1 dengan ketentuan : Skor 0 jika salah dan tidak menjawab Skor 1 jika jawaban benar Nilai : B. Essay 1. Skor 6 : apabila menyebutkan dan menjelaskan semua tahapan-tahapan pembentukan urin Skor 5 : apabila menyebutkan semua tahapan-tahapan pembentukan urin, namun hanya 2 menjelaskan pembentukannya Skor 4 : apabila menyebutkan semua tahapan-tahapan pembentukan urin, namun hanya 1 menjelaskan pembentukannya Skor 3 : apabila menyebutkan semua tahapan-tahapan pembentukan urin, namun tidak disertai penjelasannya Skor 2 : apabila menyebutkan 2 tahapan-tahapan pembentukan urin, namun tidak disertai penjelasannya Skor 1 : apabila menyebutkan 1 tahapan-tahapan pembentukan urin, namun tidak disertai penjelasannya 2. Skor 3 : apabila menjelaskan nefron dan menyebutkan bagian-bagian nefron Skor 2 : apabila menjelaskan nefron dan menyebutkan bagian-bagian nefron, namun tidak disertai penjelasannya Skor 1 : apabila menjelaskan nefron, namun tidak menyebutkan dan menjelaskan bagian-bagian nefron Skor 0 : tidak menjawab

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 3. Skor 5 : apabila menyebutkan dan menjelaskan hormon dan enzim yang berperan mengatur volume air Skor 4 : apabila menyebutkan minimal 3 hormon dan enzim yang berperan mengatur volume air, namun hanya 2 yang disertai penjelasannya Skor 3 : apabila menyebutkan minimal 3 hormon dan enzim yang berperan mengatur volume air, namun hanya 1 disertai penjelasannya Skor 2 : apabila menyebutkan minimal 3 hormon dan enzim yang berperan mengatur volume air, namun tidak disertai penjelasan Skor 1 : apabila hanya menyebutkan salah satu hormon dan enzim yang berperan mengatur volume air, namun tidak disertai penjelasan Skor 0 : tidak menjawab 4. Skor 4 : apabila menjawab semua pertanyaan Skor 3 : apabila menjawab 3 pertanyaan dari 4 pertanyaan Skor 2 : apabila menjawab 2 pertanyaan dari 4 pertanyaan Skor 1 : apabila menjawab 1 pertanyaan dari 4 pertanyaan Skor 0 : tidak menjawab 5. Skor 2 : apabila menjawab dengan tepat Skor 1 : apabila menjawab namun kurang tepat Skor 0 : tidak menjawab 6. Skor Keterangan 8 Apabila siswa dapat menuliskan semua langkah-langkah rancangan percobaan dengan runtut dan benar sesuai dengan informasi yang didapat 7 Apabila siswa dapat menuliskan 7 aspek rancangan percobaan dengan runtut dan benar sesuai informasi yang didapat 6 Apabila siswa dapat menuliskan 6 aspek rancangan percobaan dengan runtut dan benar sesuai informasi yang didapat 5 Apabila siswa dapat menuliskan 5 aspek rancangan percobaan

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 dengan runtut dan benar sesuai informasi yang didapat 4 Apabila siswa dapat menuliskan 4 aspek rancangan percobaan dengan runtut dan benar sesuai informasi yang didapat 3 Apabila siswa dapat menuliskan 3 aspek rancangan percobaan dengan runtut dan benar sesuai informasi yang didapat 2 Apabila siswa dapat menuliskan 2 aspek rancangan percobaan dengan runtut dan benar sesuai informasi yang didapat 1 Apabila siswa hanya menuliskan 1 aspek rancangan percobaan Total Skor yang didapat siswa adalah : Skor penilaian :

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran. 17. Dokumentasi Kegiatan Penelitian Kandang Pemeliharaan Menci Mengukur berat badan mencit sebelum perlakua Membius mencit Pengambilan darah mencit melalui vena Sempel darah mencit Pemberian jus hati ayam 100% secara oral 140

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Tanaman Tempuyung Menimbang berat obat allopurinol Menyaring infusa daun tempuyung Menimbang berat daun tempuyung Merebus daun tempuyung hingga 90 oC Infusa daun tempuyung

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 Allopurinol Pemberian infusa daun temuyung secara oral

(158)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT HIPERURISEMIA
3
13
13
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN CERMAI (Phyllanthus acidus L) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT HIPERURISEMIA
3
34
25
KADAR ASAM URAT PADA MODEL TIKUS HIPERURISEMIA SETELAH PEMBERIAN INFUSA DAUN SIRSAK (Anona muricata L.)
0
22
75
PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI DENGAN POTASIUM OKSONAT
0
4
8
EFEK INFUSA DAGING BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Sceff.) Boerl.) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI DENGAN POTASSIUM OXONATE.
0
2
16
PENGARUH INFUSA AKAR TEMPUYUNG (Sonchus arvensis) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus).
0
0
5
EFEK ANTIDIARE EKSTRAK ETANOL DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) PADA MENCIT JANTAN GALUR Swiss Webster.
0
2
11
PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight) TERHADAP PENURUNAN KADAR PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI DENGAN POTASIUM OKSONAT.
0
1
9
PENDAHULUAN PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI DENGAN POTASIUM OKSONAT.
0
1
26
DAFTAR ISI PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI DENGAN POTASIUM OKSONAT.
0
1
9
DAFTAR PUSTAKA PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI DENGAN POTASIUM OKSONAT.
0
3
8
PENDAHULUAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK n-HEKSANA DAUN SALAM (Eugenia polyantha Wight)) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT SERUM MENCIT PUTIH JANTAN HIPERURISEMIA.
0
4
23
PERBANDINGAN EFEK DIURETIKA SERTA KADAR NATRIUM DAN KALIUM DARAH ANTARA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis Linn) DENGAN FUROSEMIDA.
1
6
11
UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK ETANOL DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) PADA MENCIT JANTAN.
1
4
2
PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN DAUN LATENG (Urtica grandidentata KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT (
0
2
17
Show more