Formulasi formulasi sediaan emulgel minyak atsiri temu putih (curcuma zedoaria [berg.] roscoe) dengan variasi carbopol 940 sebagai gelling agent dan uji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri staphylococcus epidermidis ATCC 12228 - USD Repository

Gratis

0
0
151
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI FORMULASI SEDIAAN EMULGEL MINYAK ATSIRI TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) DENGAN VARIASI CARBOPOL 940 SEBAGAI GELLING AGENT DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Felicia Aniska NIM : 108114090 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI FORMULASI SEDIAAN EMULGEL MINYAK ATSIRI TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) DENGAN VARIASI CARBOPOL 940 SEBAGAI GELLING AGENT DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Felicia Aniska NIM : 108114090 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Good things come to those who believe, better things come to those who are patient, and the best things come to those who don’t give up. My life isn’t perfect but I’m thankful for everything I have.. ♥ Today is a perfect day to start living your dreams. Make it happened!! I dedicate my work to : my God my Mom and Dad my brother, Yovan my almamater, Sanata Dharma University iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas berkat, rahmat, dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Formulasi Sediaan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) dengan Variasi Carbopol 940 sebagai Gelling Agent dan Uji Aktivitas Antibakterinya terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228” ini dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) program studi Farmasi. Penulis menyadari bahwa selama proses perkuliahan menempuh masa studi S1 sampai penyusunan skripsi ini selesai, penulis telah menerima dukungan baik dalam doa, bimbingan, arahan, saran, maupun kritik yang membangun dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis hendak menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Ipang Djunarko, M. Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ibu Christofori Maria Ratna Rini Nastiti, M. Pharm., Apt., selaku Kaprodi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, sekaligus Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, pengarahan, masukan, semangat serta motivasi kepada penulis dari pembuatan proposal penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Ibu Dr. Erna Tri Wulandari, M. Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan waktu, masukan, kritik dan saran kepada penulis. 4. Ibu Damiana Sapta Candrasari, M. Sc., selaku dosen penguji yang telah memberikan waktu, masukan, kritik dan saran kepada penulis. 5. Ibu Maria Dwi Budi Jumpowati, S. Si., atas masukan dan arahan dalam bidang Mikrobiologi kepada penulis. 6. Segenap dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah mengajar dan membimbing penulis selama perkuliahan. 7. Bapak Mukmin, Bapak Musrifin, Bapak Agung, Bapak Iswandi, serta laboran-laboran lain yang telah membantu penulis selama penelitian. 8. Orang tua penulis, yang telah memberikan doa, cinta, kasih sayang, dukungan, semangat, dan motivasi yang luar biasa kepada penulis dari kecil hingga saat ini. 9. Adik penulis, Yovan, atas semangat, dukungan, dan doa yang diberikan. 10. Teman-teman skripsi senasib seperjuangan, Angga, Wulan, Dian, Odil, Tomas, dan Samuel atas kerbersamaan dan kerjasama baik suka maupun duka, dari awal hingga selesainya penyusunan skripsi. 11. Sahabat-sahabatku, Lulu, Stephanie, dan Maria, atas doa, semangat, dukungan, dan kebersamaan yang telah diberikan. 12. Teman-teman Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma atas kebersamaan yang tak terlupakan dari awal semester hingga akhir. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu karena keterbatasan penulis atas segala doa, bantuan, dan dukungan selama proses penelitian dan penyusunan skripsi. Penulis menyadari bahwa laporan akhir skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Penulis berharap semoga laporan akhir skripsi ini dapat berguna bagi seluruh pihak dalam kepentingan akademik, terutama dalam bidang farmasi. Yogyakarta, 29 Mei 2014 Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ……………………………………………………..... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………........ ii HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………... iii HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………… iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ………………………….. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA …………………………………… vi PRAKATA …………………………………………………………………. vii DAFTAR ISI ……………………………………………………………...... x DAFTAR TABEL ………………………………………………………...... xiii DAFTAR GAMBAR……………………………………………………….. xiv DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………... xv INTISARI ………………………………………………………………….. xvi ABSTRACT ………………………………………………………………… xvii BAB I. PENGANTAR ……………………………………………………... 1 A. Latar Belakang ……………………………………………………... 1 1. Perumusan Masalah ………………………………………….... 3 2. Keaslian Penelitian …………………………………………...... 4 3. Manfaat Penelitian …………………………………………….. 6 B. Tujuan Penelitian …………………………………………………... 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ……………………………………... 8 A. Bau Kaki …………………………………………………………… 8 B. Bakteri Staphylococcus epidermidis ……………………………..… 9 C. Minyak Atsiri ………………………………………………………. 10 D. Minyak Atsiri Temu Putih ……………………………………...….. 12 E. Emulgel …………………………………………………………….. 13 F. Carbopol ……………………………………………………………. 15 G. Uji Sifat Fisik Sediaan Topikal ……………...................................... 17 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. pH ……………………………………………………………… 17 2. Viskositas …………………………………………………….... 17 3. Daya sebar …………….……………………………………….. 18 4. Uji ukuran droplet ………………..……………………………. 18 H. Uji Antibakteri ..…………………………………………………..... 19 I. Landasan Teori ……………………………………………………... 20 J. Hipotesis …………………………………………………………… 23 BAB III. METODE PENELITIAN ………………………………………... 24 A. Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………………..... 24 B. Variabel Penelitian ………………………………………………..... 24 C. Definisi Operasional ……………………………………………….. 25 D. Bahan Penelitian …………………………………………………… 27 E. Alat Penelitian ……………………………………………………… 27 F. Tata Cara Penelitian ………………………………………………... 27 1. Verifikasi Minyak Atsiri Rimpang Temu Putih ……………….. 27 2. Uji Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis …………………………………… 29 3. Formula Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih …………………. 32 4. Pembuatan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih ……..………... 33 5. Pembuatan Kontrol Positif Emulgel Clindamycin 0,2% ……… 33 6. Uji pH Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih …………………… 34 7. Uji Sifat Fisik Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih …………… 34 8. Uji Daya Antibakteri Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dengan Metode Difusi Sumuran ………………………………………………... 35 G. Analisis Hasil ……………………………………………………..... 37 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………….. 38 A. Identifikasi dan Verifikasi Minyak Atsiri Temu Putih …………….. 38 B. Uji Daya Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ………………………………………... 40 C. Pembuatan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih …………………… 46 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Uji Sifat Fisik Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih ………………... 50 E. Uji Stabilitas Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih …………………. 54 F. Uji Daya Antibakteri Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ……………………………..... 55 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………........... 60 A. Kesimpulan ……………………………...………………………..... 60 B. Saran ……………………………...……………………………....... 60 DAFTAR PUSTAKA ……………………………...……………………..... 61 LAMPIRAN ……………………………...……………………………........ 66 BIOGRAFI PENULIS ……………………………...…………………….... 133 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Formula basis emulgel (200 g) ....................................................... 32 Tabel II. Formula emulgel minyak atsiri temu putih dengan perbandingan komposisi carbopol 940 (100 g) ...................................................... 32 Tabel III. Hasil verifikasi minyak atsiri temu putih ........................................ 39 Tabel IV. Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis ....................... 43 Tabel V. Nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk diameter zona hambat minyak atsiri temu putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis ...................................................................................... 44 Tabel VI. Hasil analisis T-test diameter zona hambat minyak atsiri temu putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis .. 45 Tabel VII. Hasil uji pH emulgel minyak atsiri temu putih ............................... 51 Tabel VIII. Hasil uji viskositas dan daya sebar emulgel atsiri minyak temu putih ................................................................................................. 53 Tabel IX. Nilai probabilitas uji Kruskal-Wallis stabilitas viskositas emulgel minyak atsiri temu putih .................................................................. 54 Tabel X. Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh emulgel minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis ............... 56 Tabel XI. Nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk diameter zona hambat emulgel minyak atsiri temu putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis ............................................................ 57 Tabel XII. Nilai probabilitas T-test diameter zona hambat minyak atsiri temu putih 15% terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis sebelum dan sesudah diformulasikan ........................................................... xiii 59

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Bakteri Staphylococcus epidermidis ............................................ 9 Gambar 2. Rimpang Temu Putih ................................................................... 12 Gambar 3. Struktur Carbopol.......................................................................... 15 Gambar 4. Minyak Atsiri Temu Putih ............................................................ 38 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Certificate of Analysis Zedoaria Oil ........................................ Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Staphylococcus epidermidis ATCC 66 12228 ........................................................................................ 67 Lampiran 3. Verifikasi Minyak Atsiri Temu Putih ...................................... 68 Lampiran 4. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih ..... 69 Lampiran 5. Hasil Analisis Statistik Data Diameter Zona Hambat Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ............................................................................... 72 Lampiran 6. Konversi Minyak Atsiri Temu Putih ........................................ 92 Lampiran 7. Hasil Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Emulgel Atsiri Minyak Temu Putih ............................................................................... 94 Lampiran 8. Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih ......................................... 102 Lampiran 9. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Emulgel Atsiri Minyak Temu Putih ......................................................................................... 104 Lampiran 10. Hasil Analisis Statistik Data Diameter Zona Hambat Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ............................................................................... 107 Lampiran 11. Hasil Analisis Statistik Data Diameter Zona Hambat Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Sebelum dan Sesudah Diformulasikan Menjadi Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih ......................................... 129 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Kandungan minyak atsiri rimpang temu putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Berdasarkan hal tersebut, minyak atsiri temu putih berpotensi untuk diformulasikan menjadi sediaan topikal emulgel. Emulgel dibuat dalam tiga formula dengan variasi komposisi carbopol 940 sebagai gelling agent. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan emulgel minyak atsiri temu putih sesuai dengan kriteria, mengetahui ada tidaknya aktivitas antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, dan mengetahui pengaruh variasi komposisi carbopol 940 dalam sediaan emulgel minyak atsiri temu putih terhadap sifat fisik dan kemampuannya sebagai antibakteri pada bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental murni rancangan acak lengkap pola searah. Sifat fisik emulgel yang diamati meliputi organoleptis, pH, viskositas, daya sebar, dan stabilitas emulgel, yaitu mengamati viskositas 48 jam dan tiap minggu selama 1 bulan. Analisis data menggunakan ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, selanjutnya dilakukan T-test dengan menggunakan aplikasi program R versi 3.0.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emulgel minyak atsiri temu putih FI dan FII memiliki sifat fisik sesuai kriteria, sedangkan FIII tidak. Emulgel minyak atsiri temu putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Penambahan konsentrasi carbopol 940 pada sediaan emulgel minyak atsiri temu putih berbanding terbalik dengan aktivitas antibakteri yang diukur melalui diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Kata kunci : antibakteri, minyak atsiri temu putih, carbopol 940, gelling agent, emulgel, zona hambat, Staphylococcus epidermidis xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The content of zedoaria oil (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) had been shown to have antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis. Based on this, zedoaria oil had the potential to be formulated into topical emulgel preparations. Emulgel was made in three formulas with compositional variation of carbopol 940 as a gelling agent. This research aimed to ensure the emulgel of zedoaria oil according to the criteria, to determine whether there was antibacterial activity in emulgel of zedoaria oil against Staphylococcus epidermidis, and to determine the effect of variations in the composition of Carbopol 940 in emulgel of zedoaria oil on physical properties and its ability as antibacterial. This research was a pure experimental research with completely randomized one-way design. The physical properties of the emulgel of zedoaria oil that observed was organoleptic characteristics, pH, viscosity, spreadability, and stability of emulgel, by observing the viscosity at 48 hours and every week for 1 month. Analysis of data was using one-way ANOVA with a confidence level of 95%, and then followed by T-test using application program R version 3.0.1. The results showed the emulgel of zedoaria oil in FI and FII had physical properties which matched the criteria, while FIII did not. Emulgel of zedoaria oil had antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis. The increase of carbopol 940 concentration in emulgel of zedoaria oil was inversely proportional to the antibacterial activity which was measured by inhibition zone diameter against Staphylococcus epidermidis. Keywords : antibacterial , zedoaria oil, carbopol 940, gelling agent, emulgel, inhibition zone, Staphylococcus epidermidis xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG Bau kaki merupakan salah satu masalah yang biasanya menggangu kehidupan sehari-hari seseorang. Bau kaki seringkali membuat orang merasa kurang percaya diri karena aroma yang ditimbulkan dapat mengganggu orang di sekitarnya. Aroma yang kurang sedap ini biasanya akan muncul ketika seseorang mulai berkeringat. Pada dasarnya keringat tidak bau, biasanya bau yang tidak sedap timbul oleh aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis. Bakteri ini akan mendegradasi leusin dalam keringat menjadi asam isovaleric yang menjadi penyebab bau kaki (Ara, et al., 2006). Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam, merupakan negara yang sangat potensial dalam penyediaan bahan baku alami untuk pembuatan obat maupun kosmetik. Ribuan jenis tumbuhan yang diduga berkhasiat sudah sejak lama secara turun-temurun dimanfaatkan oleh masyarakat kita. Sesuai dengan perkembangan ilmu dalam dunia kefarmasian, banyak orang yang memanfaatkan tanaman karena dianggap lebih aman dan memiliki resiko efek samping yang lebih rendah. Dalam setiap tanaman pasti mengandung suatu senyawa yang dapat berguna dan memiliki efektivitas farmakologis tertentu, oleh karena itu perlu dilakukan uji-uji untuk mengetahui efektivitasnya. 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Temu putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) merupakan salah satu tanaman yang dapat dikembangkan dalam dunia kefarmasian. Menurut berbagai penelitian eksperimental menunjukkan bahwa temu putih berkhasiat sebagai antijamur, antineoplastik, antibakteri, dan antitrombotik (Chang and But, 1987). Rimpang temu putih mengandung minyak atsiri. Minyak atsiri rimpang temu putih memiliki daya antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri patogen, salah satunya adalah Staphylococcus epidermidis yang merupakan salah satu flora alami pada kulit manusia yang dapat menimbulkan bau kaki. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Hartono, Nurlaila, dan Batubara (2011), diketahui bahwa pada konsentrasi 500 ppm, minyak atsiri rimpang temu putih sudah bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Sediaan topikal emulgel minyak atsiri temu putih dapat menjadi salah satu alternatif pengatasan bau kaki yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Emulgel merupakan suatu sediaan kombinasi emulsi dan gel, yaitu campuran emulsi baik tipe M/A maupun A/M, dengan gelling agent sebagai agen pembentuk gel dengan konsentrasi tertentu (Suryarini, 2011). Bentuk sediaan topikal emulgel tipe M/A ini digunakan untuk formulasi minyak atsiri rimpang temu putih yang bersifat lipofil. Bentuk sediaan ini perlu dilakukan uji dan evaluasi agar tercapai bentuk sediaan yang diharapkan sehingga mampu melepaskan zat aktif dengan baik. Dalam pembuatan emulgel, gelling agent memegang peran yang sangat penting karena gelling agent berfungsi untuk membentuk sistem gel yang akan mempengaruhi viskositas dari sediaan. Carbomer atau carbopol berasal dari

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 polimer sintesis dengan bobot molekul tinggi dari ikatan silang asam akrilat dengan alil eter dari sukrosa lain atau alil eter dari pentaerythritol (Stephenson and Karsa, 2000). Carbomer dapat meningkatkan viskositas. Viskositasnya lebih tinggi pada pH 6-11 dan viskositasnya akan berkurang pada pH kurang dari 3 atau lebih dari 12 (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009). Bila carbomer memiliki viskositas yang baik, maka pelepasan zat aktif yang diberikan baik pula (Patil, 2005). 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang ada adalah sebagai berikut : a. Apakah sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih memiliki sifat fisik yang memenuhi kriteria? b. Apakah sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis? c. Bagaimana pengaruh variasi komposisi carbopol 940 sebagai gelling agent dalam sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih terhadap sifat fisik dan kemampuannya sebagai antibakteri pada bakteri Staphylococcus epidermidis?

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 4 Keaslian Penelitian Adapun penelitian terkait yang telah dilakukan oleh Maiyani Hartono, Nurlaila, Irmanida Batubara (2011), yaitu “Potensi Temu Putih (Curcuma zedoaria) sebagai Antibakteri dan Kandungan Senyawa Kimia”. Dalam penelitian ini, yang dilakukan adalah menganalisis kandungan yang terdapat dalam minyak atsiri temu putih dan menguji aktivitasnya terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Staphylococcus epidermidis. Pada penelitian Lai, et al. (2004) berjudul “Antimicrobial Activity and Cytotoxicity of The Essential Oil of Curcuma zedoaria”, yang dilakukan adalah menguji sitotoksisitas dan daya antibakteri minyak atsiri rimpang temu putih dengan konsentrasi 500 ppm terhadap pertumbuhan beberapa bakteri. Dari penelitian ini diperoleh bahwa minyak atsiri temu putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus, Bacillus cereus dan bakteri gram negatif sepert Escherechia coli, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio parahaemolyticus, dan Salmonella typhimurium. Pada penelitian Angel, Vimala, and Nambisan (2012), “Antioxidant and Antimicrobial Activity of Essential Oils from Nine Starchy Curcuma Species”, membandingkan aktivitas antioksidan dan antibakteri minyak atsiri yang terkandung dari sembilan tumbuhan genus Curcuma, diperoleh bahwa minyak atsiri rimpang temu putih memiliki kandungan fenol paling banyak dibandingkan golongan temu-temuan yang lainnya. Minyak atsiri temu putih

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 memiliki daya antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli. Pada penelitian Kurniawan, Wijayanto, and Sobri (2012) berjudul “Formulation and Effectiveness of Antiseptic Hand Gel Preparations Essential Oils Galanga (Alpinia galanga)”. Dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh sediaan gel yang sesuai dengan kriteria sifat fisik dan stabil selama penyimpanan, serta efektif sebagai antiseptik. Formulasi gel dibuat dengan variasi carbopol 940 (FI = 0,5%, FII = 1,25%, dan FIII = 2%). Hasil yang diperoleh yaitu ketiga formula gel stabil dalam penyimpanan, viskositas semakin turun dan daya sebar semakin meningkat selama penyimpanan. Formula gel FI menjadi formula yang paling baik karena memiliki efektivitas yang lebih besar bila dibandingkan dengan FII dan FIII. Pada penelitian Agustina (2013) berjudul “Formulasi Emulgel Minyak Cengkeh (Oleum caryophylli) sebagai Antibau Kaki : Pengaruh Carbopol 940 dan Sorbitol Terhadap Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik”. Peneliti memformulasikan minyak cengkeh menjadi sediaan topikal emulgel karena merupakan salah satu pembawa yang baik bagi zat aktif yang bersifat hidrofobik. Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh dari carbopol 940 dan sorbitol pada level yang diteliti terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel minyak cengkeh. Dari penelitian tersebut didapat bahwa carbopol 940 berpengaruh pada viskositas dan daya sebar dari sediaan. Semakin tinggi konsentrasi carbopol 940, semakin tinggi viskositas dan semakin rendah daya sebarnya.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Sejauh penelusuran pustaka yang telah dilakukan oleh penulis, penelitian dengan judul “Formulasi Sediaan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) dengan Variasi Carbopol 940 sebagai Gelling Agent dan Uji Aktivitas Antibakterinya terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228” belum pernah dilakukan sebelumnya. 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoretis Manfaat teoretis dalam penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai potensi aktivitas antibakteri dari sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. b. Manfaat praktis Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah untuk menghasilkan sediaan topikal emulgel minyak atsiri rimpang temu putih dengan sifat-sifat fisik yang diharapkan dan efektif memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. B. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah membuat sediaan emulgel dengan bahan minyak atsiri rimpang temu putih.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 7 Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Memastikan bahwa sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih memiliki sifat fisik yang memenuhi kriteria. b. Mengetahui ada tidaknya aktivitas antibakteri dari sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. c. Mengetahui pengaruh variasi komposisi carbopol 940 sebagai gelling agent dalam sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih terhadap sifat fisik dan kemampuannya sebagai antibakteri pada bakteri Staphylococcus epidermidis.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Bau Kaki Bau kaki merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang. Bau kaki disebabkan karena adanya kelebihan keringat dan aktivitas bakteri pada kaki. Bakteri tumbuh di telapak kaki yang sebenarnya menghasilkan gas-gas serupa dengan yang dihasilkan bakteri untuk memproduksi bau seperti keju (cheesy feet) (Podiatrivic, 2002). Aroma yang kurang sedap ini biasanya muncul ketika kaki mulai berkeringat. Keringat pada kaki berasal dari kelenjar eccrine. Keringat ini cenderung menguap cukup cepat dan biasanya tidak menimbulkan bau. Namun, kaki manusia memiliki sekitar 1 juta sampai 5 juta kelenjar keringat di tubuh, sehingga ada konsentrasi yang lebih tinggi dari keringat di badan (Freeman, 2012). Bau kaki disebabkan karena pertumbuhan bakteri yang menggunakan hasil sekresi dari apocrine (keringat apokrin berasal dari kelenjar apokrin yang terdiri dari protein, asam amino, lipid, karbohidrat dan air), eccrine (keringat ekrin dari kelenjar ekrin terdiri dari NaCl, asam asetat, asam propionat, asam kaproat, asam kaprionat, asam laktat, asam sitrat, urea dan air), dan sebaceous gland (campuran dari lipid) (Ganesan, et al., 2006). 8

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Dalam penelitian Kobayashi (1990), ditemukan bahwa Staphylococcus epidermidis, yang merupakan flora normal kulit, memainkan peran utama dalam menimbulkan bau kaki. Di dalam keringat terdapat kandungan asam amino, seperti leusin, valin, dan isoleusin. Bakteri ini akan mendegradasi leusin dalam keringat dengan bantuan enzim leusin dehidrogenase menghasilkan isovaleric acid yang diketahui menjadi penyebab bau kaki. Isovaleric acid merupakan suatu senyawa asam lemak rantai pendek (Ara, et al., 2006). B. Bakteri Staphylococcus epidermidis Staphylococcus epidermidis adalah salah satu spesies bakteri dari genus Staphylococcus yang diketahui dapat menyebabkan infeksi oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Beberapa karakteristik bakteri ini adalah fakultatif, koagulase negatif, katalase positif, gram positif, berbentuk kokus, dan berdiameter 0,5-1,5 µm (Jawetz, Melnick, and Adelberg, 1996). Gambar 1. Bakteri Staphylococcus epidermidis (Anonim, 2014)

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Lingkungan hidup bakteri Staphylococcus epidermidis adalah kulit manusia. Bakteri ini biasanya hidup pada kulit dan merupakan patogen nosokomial (penyebab infeksi silang yang diperoleh dari pasien lain). Staphylococcus epidermidis adalah staphylococcus paling umum di kulit manusia (Mack, Davies, Harris, Rohde, Horstkotte, and Knobloch, 2007). Berikut adalah klasifikasi dari bakteri Staphylococcus epidermidis : Kerajaan : Bacteria Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales Famili : Staphylococcacea Genus : Staphylococcus Spesies : Staphylococcus epidermidis (Jawetz, Melnick, and Adelberg, 1996). C. Minyak Atsiri Minyak atsiri adalah senyawa aromatik yang terdapat dalam berbagai jenis tanaman karena mudah menguap ketika dibiarkan terbuka di udara, maka disebut volatile oil, minyak eteris atau minyak essensial. Minyak atsiri biasanya tidak bewarna, segar, tetapi dalam jangka waktu yang lama dapat teroksidasi dan mengalami pendamaran yang menyebabkan warna menjadi gelap. Bagi tumbuhan, minyak atsiri merupakan produk metabolisme sekunder tanaman yang bersifat spesifik pada kelompok tumbuhan tertentu (Tyler, Brady, and Robbers, 1988).

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Minyak atisiri merupakan senyawa minyak berasal dari tumbuhan dan terdistribusi pada bagian bagian tumbuhan seperti daun, bunga, dan akar serta batang. Minyak atsiri sangat mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri memiliki bau khas seperti tanaman aslinya dan dapat teroksidasi oleh matahari sehingga warnanya menjadi gelap. Minyak atsiri juga mengalami pendamaran (Harborne, 1996). Komponen minyak atsiri dapat dibagi menjadi 2 golongan besar didasarkan pada biosintesisnya sebagai berikut : 1. Derivat terpen yang dibentuk melalui jalur asam asetat mevalonat. 2. Komponen aromatik yang dibentuk melalui jalur sikimat fenil propanoid (Tyler, Brady, and Robbers, 1988). Sifat antibakteri dari minyak atsiri dan komponennya telah ditinjau, namun mekanisme kerja belum diteliti dengan sangat rinci. Karena banyaknya konstituen, minyak atsiri tampaknya tidak memiliki target seluler tertentu. Dengan sifat lipofil yang sama, mereka melewati dinding sel dan membran sitoplasma, mengganggu struktur dari lapisan pada polysaccharides, fatty acids dan phospholipid. Pada bakteri, permeabilitas dari membran dikaitkan dengan hilangnya ion-ion dan reduksi potensial membran, terganggunya pompa proton, dan berkurangnya ATP. Minyak atsiri mengentalkan sitoplasma, merusak lipid dan protein. Kerusakan pada dinding sel dan membran dapat menyebabkan kebocoran (leakage) makromolekul dan lisis (Tripathi, Chawla, Upadhyay, and Trivedi, 2013).

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 D. Minyak Atsiri Temu Putih Temu putih ditanam sebagai tanaman obat dan dapat ditemukan tumbuh liar pada tempat-tempat terbuka yang tanahnya lembab pada ketinggian 0-1000 meter di atas permukaan laut. Temu putih banyak ditemukan di Indonesia seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Ambon, hingga Irian. Selain itu, tanaman ini juga dibudidayakan di India, Banglades, Cina, Madagaskar, Filipina, dan Malaysia (Dalimartha, 2005). Gambar 2. Rimpang Temu Putih (Anonim, 2013) Kedudukan temu putih dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Zingiberales Suku : Zingiberaceae Marga : Curcuma Jenis : Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe (Backer and Bakhuizen van den Brick, 1963; 1968).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Menurut berbagai penelitian eksperimental, temu putih berkhasiat sebagai antijamur, antineoplastik, antibakteri, dan antitrombotik (Chang and But, 1987). Rimpang temu putih mengandung 1-2,5% minyak menguap dengan komposisi utama sesquiterpene. Minyak menguap tersebut mengandung lebih dari 20 komponen seperti curzerenone (zedoarin) yang merupakan komponen terbesar, 1,8-cineole, germacrone, curzerene, Epicurzerenone, cymene, α-phellandrene, βeusdesmol, curcumin, furanodiene, furanodienone, zederone, curzeone, 13hydroxygermacrone, dihydrocurdione, curcumenone, zedoaronediol, curcumenol, zedoarol, curcumanolide-A, curcumanolide-B, ethyl para-methoxycinnamate, bturmerone, zingiberene, dihydrocurcumin, curdione, neocurdione (Lobo, Prabhu, Shirwaikar, and Shirwaikar, 2009). Minyak atsiri rimpang temu putih memiliki daya antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri patogen, salah satunya adalah Staphylococcus epidermidis yang dapat menimbulkan bau kaki. Melalui penelitian diketahui bahwa pada konsentrasi 500 ppm, minyak atsiri rimpang temu putih sudah bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis (Hartono, Nurlaila, dan Batubara, 2011). E. Emulgel Gel merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan terpenetrasi oleh suatu cairan (Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan, 1995). Keunggulan gel adalah kenyamanan saat digunakan, namun gel memiliki

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 keterbatasan sebagai penghantar obat-obat yang bersifat hidrofobik (Khullar, Kumar, and Saini, 2011). Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, maka dilakukan pendekatan berbasis emulsi. Ketika gel dan emulsi dikombinasikan bersama menjadi suatu sediaan, sediaan tersebut dikenal sebagai emulgel. Emulgel membantu mengatasi masalah tersebut, droplet-droplet minyak akan terdispersi dalam fase air menghasilkan emulsi tipe oil in water (O/W). Kemudian emulsi ini yang akan dicampur dalam basis gel. Hal ini dapat meningkatkan stabilitas dan pelepasan obat (Panwar, Upadhyay, Bairagi, Gujar, Darwhekar, and Jain, 2011). Menurut Voigt (1994), gel pada penggunaan topikal memiliki beberapa kelebihan, yaitu kemampuan penyebaran pada kulit baik, efek dingin yang dijelaskan melalui penguapan lambat dari kulit, kemudahan pencucian dengan air, dan pelepasan obat yang baik. Emulsi memiliki kemampuan penetrasi yang tinggi ke dalam kulit (Bhanu, Shanmugam, and Lakshmi, 2011). Emulsi diaplikasikan untuk pemberian minyak dan obat cair bersama, dengan tujuan menyamarkan rasa, bau, dan penampilan yang tidak menyenangkan, bahkan kadang untuk mendukung absorpsi pada obat-obat tertentu (Allen Jr., 2002). Emulgel (emulsion in gel) merupakan emulsi baik tipe oil-in-water maupun water-in-oil yang dimodifikasikan dengan gelling agent. Emulgel memiliki tingkat penerimaan yang tinggi sebagai sediaan topikal sebab memiliki gabungan kelebihan dari gel dan emulsi (Bhanu, Shanmugam, and Lakshmi, 2011). Emulgel memiliki sifat-sifat menguntungkan, antara lain dapat melembabkan, mudah penyebarannya, mudah dihilangkan, larut dalam air, dan dapat bercampur dengan eksipien lain (Singla, Saini, Joshi, and Rana, 2012).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Emulgel dibuat dengan cara mencampurkan emulsi dan gel pada perbandingan tertentu. Pada formula emulgel terdapat bahan tambahan yang digunakan agar membentuk bentuk sediaan yang stabil, yaitu : 1. Emulsifying agent untuk menghasilkan emulsi yang stabil, dengan menurunkan tegangan muka antar fase pendispersi dan fase terdispersi, yang pada umumnya memiliki perbedaan polaritas sehingga tidak dapat bercampur (Pena, 1990). 2. Gelling agent digunakan membentuk tiga ikatan dimensional yang akan membatasi gerak kinetik dari fase pendispersi, dengan ini maka akan meningkatkan viskositas dari suatu sediaan (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009). F. Carbopol Carbopol atau carbomer merupakan gelling agent yang sering digunakan untuk menghasilkan gel ataupun emulgel dengan karakteristik yang diinginkan. Carbomer berasal dari polimer sintesis dengan bobot molekul tinggi dari ikatan silang asam akrilat dengan alil eter dari sukrosa lain atau alil eter dari pentaerythritol (Stephenson and Karsa, 2000). Gambar 3. Struktur Carbopol (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009)

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Mekanisme pembentukan gel tergantung pada netralisasi gugus asam karboksilat ke bentuk garamnya sehingga menghasilkan gel yang jernih dengan viskositas optimum pada pH 7 (Conteras and Sanchez, 2001). Carbomer dapat meningkatkan viskositas. Viskositasnya lebih tinggi pada pH 6-11, sedangkan pada pH kurang dari 3 atau lebih dari 12 maka viskositasnya akan berkurang. Penambahan basa akan memutuskan lebih banyak gugus karboksil sehingga gaya tolak menolak elektrostatis lebih besar, sehingga membuat polimer mengembang dan lebih rigid (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009). Bila carbomer memiliki viskositas yang baik, maka pelepasan zat aktif yang diberikan baik pula (Patil, 2005). Carbopol 940 dapat digunakan sebagai gelling agent dalam memformulasikan obat yang bersifat hidrofobik seperti minyak atsiri ke dalam sediaan emulgel. Minyak atsiri akan lebih mudah digunakan bila diformulasikan ke dalam suatu sediaan seperti emulgel yang terdiri dari kombinasi dua sistem, yaitu sistem emulsi dan sistem gel. Pada sistem emulsi, minyak atsiri yang bersifat hidrofobik dapat bercampur dengan fase minyak dan fase air karena terdapat emulsifying agent (menurunkan tegangan permukaan). Setelah sistem emulsi terbentuk, gelling agent ditambahkan untuk membentuk emulsi menjadi emulgel dengan membentuk sistem gel dan meningkatkan konsistensi sediaan (Singla, Saini, Joshi, and Rana, 2012).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 G. Uji Sifat Fisik Sediaan Topikal Uji sifat sediaan yang meliputi pH, viskositas, daya sebar, dan ukuran droplet bertujuan untuk mengetahui pH sediaan, penyebaran pada kulit, pengeluaran sediaan dari wadah atau kemasan, pelepasan obat dari basisnya, dan kestabilan sediaan (Martin, Swarbrick, dan Cammarata, 1993). 1. pH Pada pembuatan sediaan topikal diharapkan sediaan memiliki pH yang sama atau sedekat mungkin dengan pH kulit normal agar terhindar dari resiko iritasi kulit. Kulit normal relatif memiliki pH yang berkisar antara 4-6,5 (Baranoski and Ayello, 2008). 2. Viskositas Pada pembuatan sediaan semisolid, reologi berpengaruh pada penerimaan pasien, stabilitas fisika dan ketersediaan hayati, salah satunya adalah viskositas. Viskositas adalah suatu pertahanan dari suatu cairan untuk mengalir pada suatu tekanan yang diberikan, semakin tinggi viskositas maka semakin besar tahanannya sehingga semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk membuat cairan tersebut dapat mengalir (Sinko, 2006). Viskositas (η) digambarkan dengan persamaan matematika : 𝜂= ! ! = !!!"# !"#$!! !!!"# !"#$ (1) Dari persamaan itu dapat diketahui bahwa peningkatan gaya geser (shear stress) sebanding dengan kecepatan geser (shear rate). Namun hal ini hanya berlaku untuk senyawa dengan tipe Newtonian seperti air, alkohol, gliserin, dan larutan sejati, sedangkan untuk sediaan seperti emulsi, suspensi, dispersi,

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 dan larutan polimer umumnya termasuk tipe non-Newtonian. Pada tipe nonNewtonian, viskositas tidak berbanding lurus dengan kecepatan geser. Tipe non-Newtonian meliputi plastis, pseudoplastis, dan dilatan (Liebermann, Rieger, and Banker, 1996). Pengujian viskositas dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis viskometer berdasarkan kebutuhan formulator (Garg, Aggarwal, Garg, and Singla, 2002). 3. Daya sebar Daya sebar adalah kemampuan dari suatu sediaan untuk menyebar di tempat aplikasi, dan merupakan salah satu karakteristik penting yang bertanggung jawab dalam keefektifan atau transfer dosis yang tepat ke tempat target, kemudahan aplikasi pada substrat, pengeluaran dari kemasan, dan penerimaan konsumen dalam menggunakan sediaan semi solid. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya sebar, yaitu viskositas sediaan, lama tekanan, temperatur tempat aksi (Garg, Aggarwal, Garg, and Singla, 2002). Metode yang paling sering digunakan dalam pengukuran daya sebar adalah metode parallel-plate. Keuntungan metode ini yaitu sederhana, mudah untuk dilakukan, dan tidak memerlukan banyak biaya. Namun, metode ini kurang tepat dan sensitif karena data yang dikumpulkan harus dihitung lagi secara manual (Garg, Aggarwal, Garg, and Singla, 2002). 4. Uji ukuran droplet Ukuran droplet merupakan parameter untuk mengukur kestabilan suatu sediaan dengan sistem emulsi. Pengukuran dilakukan dengan mengoleskan

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 sediaan pada object glass kemudian diamati ukuran droplet menggunakan mikroskop. Diameter terjauh dari tiap droplet dicatat sejumlah 500 droplet, kemudian dihitung rata-ratanya (Mantyas, 2013). H. Uji Antibakteri Uji antibakteri memiliki tujuan, yaitu untuk mengetahui kemampuan suatu agen dalam menghambat maupun membunuh bakteri tertentu. Ada beberapa metode dalam melakukan pengujian daya antibakteri, yaitu : 1. Metode Dilusi Metode dilusi dapat digunakan untuk menentukan Kadar Hambat Minimal (KHM), yaitu konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan menentukan Kadar Bunuh Minimal (KBM), yaitu konsentrasi terendah yang dapat membunuh bakteri (Pratiwi, 2008). 2. Metode Difusi Metode difusi mengukur aktivitas antibakteri berdasarkan pengamatan diameter zona jernih yang dihasilkan pada media karena adanya agen antibakteri yang berdifusi dari tempat awal pemberian. Metode ini dilakukan dengan menempatkan agen antibakteri pada media padat yang telah diinokulasikan biakan bakteri (Jawetz, Melnick, and Adelberg, 1996). Ada beberapa cara dalam melakukan metode difusi ini, yaitu : a. Cara sumuran. Cara ini dilakukan dengan menginokulasikan bakteri ke media kemudian setelah memadat, dibuat sumuran dengan diameter tertentu dan tegak

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 lurus dengan permukaan media, selanjutnya ke dalam sumuran ini dimasukkan agen antibakteri. Daya antibakteri yang diukur adalah diameter zona jernih yang dihasilkan di sekitar sumuran (Pratiwi, 2008). b. Cara paper disc. Cara ini dilakukan dengan menginokulasikan bakteri ke media kemudian setelah memadat, paper disc diletakkan di atas media yang telah memadat, dan ditetesi dengan agen antibakteri, sehingga agen antibakteri meresap ke dalam paper disc. Daya antibakteri yang diukur adalah diameter zona jernih yang dihasilkan di sekitar disc (Pratiwi, 2008). I. Landasan Teori Bau kaki merupakan salah satu masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang. Bau kaki ini timbul ketika kaki mulai berkeringat. Penyebab terjadinya bau kaki ini adalah bakteri Staphylococcus epidermidis, yang merupakan salah satu flora normal pada kulit manusia. Bakteri ini akan mendegradasi leusin dalam keringat yang diproduksi menjadi isovaleric acid yang diketahui menjadi penyebab bau kaki. Menurut berbagai penelitian, rimpang temu putih dapat digunakan sebagai antibakteri, antijamur, antineoplastik, antibakteri, dan antitrombotik. Rimpang temu putih mengandung 1-2,5% minyak menguap dengan komposisi utama sesquiterpene. Minyak menguap tersebut mengandung lebih dari 20 komponen seperti curzerenone (zedoarin) yang merupakan komponen terbesar, 1,8-cineole, germacrone, curzerene, Epicurzerenone, cymene, α-phellandrene, β-

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 eusdesmol, curcumin, furanodiene, furanodienone, zederone, curzeone, 13hydroxygermacrone, dihydrocurdione, curcumenone, zedoaronediol, curcumenol, zedoarol, curcumanolide-A, curcumanolide-B, ethyl para-methoxycinnamate, bturmerone, zingiberene, dihydrocurcumin, curdione, neocurdione. Minyak atsiri rimpang temu putih memiliki daya antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri patogen, salah satunya adalah Staphylococcus epidermidis yang merupakan salah satu flora alami pada kulit manusia yang dapat menimbulkan bau kaki. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Maiyani Hartono, Nurlaila, Irmanida Batubara (2011), menunjukkan bahwa pada konsentrasi 500 ppm, minyak atsiri rimpang temu putih sudah bisa menghambat pertumbuhan dari bakteri Staphylococcus epidermidis. Berdasarkan efektivitas minyak atsiri temu putih dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab terjadinya bau kaki, maka minyak atsiri temu putih dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan topikal sebagai penghilang bau kaki. Emulgel merupakan formula modifikasi gabungan dari emulsi dan gel. Emulgel ini akan membantu mengatasi masalah yang dimiliki oleh gel, yaitu keterbatasan sebagai penghantar obat-obat yang bersifat hidrofobik. Selain itu, kelebihan emulgel yaitu terdiri dari emulsi yang mempunyai kemampuan penetrasi yang tinggi dan terdapat dalam sistem gel yang memiliki kandungan air tinggi, sehingga memberikan sensasi dingin di kulit dan membuat kulit terasa nyaman. Pada formulasi emulgel terdapat gelling agent sebagai salah satu komponen penyusunnya. Gelling agent memegang peran yang penting dalam sediaan emulgel karena berfungsi sebagai pembentuk sistem gel dan dapat

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 meningkatkan viskositas. Carbopol 940 sebagai gelling agent memiliki range kadar 0,5-2,0%. Viskositas dari carbopol 940 sangat tergantung pada pH. Bila pH carbopol tidak dinetralkan, viskositasnya akan turun karena ikatan hidrogen pada strukturnya mudah putus. Penambahan basa akan memutuskan lebih banyak gugus karboksil sehingga gaya tolak-menolak elektrostatik lebih besar, memperbesar volume, membuat gel mengembang dan lebih rigid. Carbopol 940 dapat mempengaruhi sifat fisik, meliputi viskositas, daya sebar dan stabilitas dari sediaan emulgel yang dihasilkan. Penambahan gelling agent akan meningkatkan stabilitas dari sistem emulsi yang terbentuk karena meningkatnya viskositas dari sediaan. Bila carbopol 940 memiliki viskositas yang optimum, maka pelepasan zat aktif yang diberikan baik pula. Bila carbopol 940 memiliki viskositas yang terlalu tinggi (terlalu kental/rigid), maka pelepasan zat aktif akan semakin menurun karena zat aktif akan semakin sulit untuk keluar berdifusi. Salah satu metode yang digunakan dalam menguji aktivitas antibakteri, yaitu metode difusi. Metode difusi dilakukan berdasarkan pengamatan diameter zona jernih atau zona hambat yang dihasilkan pada media yang telah diinokulasikan bakteri karena adanya agen antibakteri yang berdifusi dari tempat awal pemberian. Metode difusi yang digunakan adalah sumuran. Difusi sumuran dilakukan dengan menginokulasikan bakteri ke media. Kemudian setelah memadat, dibuat sumuran dengan diameter tertentu dan tegak lurus dengan permukaan media. Selanjutnya ke dalam sumuran ini dimasukkan agen antibakteri. Daya antibakteri yang diukur adalah diameter zona jernih yang dihasilkan di sekitar sumuran.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 J. Hipotesis 1. Sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih memiliki sifat fisik yang memenuhi kriteria. 2. Sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. 3. Sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih dengan variasi komposisi carbopol 940 sebagai gelling agent berpengaruh terhadap sifat fisik dan kemampuannya sebagai antibakteri pada bakteri Staphylococcus epidermidis.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimental murni dan rancangan acak lengkap pola searah. B. Variabel Penelitian 1. Variabel Utama a. Variabel bebas. Konsentrasi gelling agent (carbopol 940) yang akan digunakan. b. Variabel tergantung. Sifat fisik emulgel yang meliputi organoleptis, viskositas, daya sebar, dan pH. Stabilitas emulgel meliputi pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 28 hari, serta diameter zona hambat terhadap Staphylococcus epidermidis. 2. Variabel Pengacau a. Variabel Pengacau Terkendali. Kecepatan, lama, dan suhu pengadukan dalam pembuatan sediaan emulgel minyak atsiri rimpang temu putih, wadah penyimpanan, lama penyimpanan, kondisi penyimpanan, suhu inkubasi, lama inkubasi, kepadatan Staphylococcus epidermidis. 24

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 b. Variabel Pengacau Tak Terkendali. Suhu ruangan dan kelembaban ruangan saat pembuatan dan pengujian emulgel minyak atsiri rimpang temu putih, serta kemungkinan penguapan minyak atsiri rimpang temu putih. C. Definisi Operasional 1. Minyak atsiri temu putih adalah minyak atsiri yang berasal dari rimpang tanaman temu putih yang diperoleh dari Eteris Nusantara dengan ciri organoleptis berbentuk cairan kental, berbau khas aromatis, dan berwarna kuning keemasan. 2. Emulgel minyak atsiri temu putih adalah sediaan topikal semisolid dengan bahan aktif minyak atsiri temu putih yang digunakan untuk menghilangkan bau kaki yang dibuat sesuai dengan formula yang tercantum pada penelitian ini. 3. Gelling agent adalah suatu zat yang dapat membentuk suatu massa gel, yang berfungsi untuk mengentalkan dan menstabilkan emulgel minyak atsiri temu putih. Pada penelitian ini menggunakan carbopol 940. 4. Pelarut adalah campuran dari gliserin, tween 80, span 80, dan air yang digunakan untuk melarutkan minyak atsiri temu putih pada uji antibakteri minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. 5. Sifat fisik sediaan topikal antibakteri temu putih adalah parameter yang digunakan untuk mengetahui kualitas fisik sediaan topikal antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih, dalam penelitian ini meliputi daya sebar dan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 viskositas 48 jam setelah pembuatan serta stabilitas viskositas 48 jam dan setiap minggu selama 1 bulan penyimpanan. 6. Viskositas adalah suatu pertahanan dari emulgel minyak atsiri temu putih untuk mengalir setelah adanya pemberian gaya. Semakin besar viskositas, maka emulgel minyak atsiri temu putih akan makin tidak mudah untuk mengalir. 7. Daya sebar adalah diameter penyebaran tiap 1 gram emulgel minyak atsiri temu putih pada alat uji daya sebar yang diberi beban total 125 gram dan didiamkan selama 1 menit. 8. Pergeseran viskositas adalah stabilitas dari emulgel minyak atsiri temu putih dilihat viskositas setelah 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari penyimpanan yang dianalisis dengan statistik. 9. Daya antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih adalah kemampuan sediaan topikal antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih untuk menghambat atau membunuh Staphylococcus epidermidis penyebab bau kaki, yang ditunjukan melalui diameter zona hambat yang dihasilkan. 10. Zona hambat adalah zona jernih di mana tidak dijumpai pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis atau terdapat pertumbuhan sedikit sekali dibandingkan dengan kontrol pertumbuhan. 11. Staphylococcus epidermidis adalah salah satu bakteri gram positif penyebab bau kaki yang berasal dari kultur murni Staphylococcus epidermidis ATCC 12228, yang diperoleh dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 D. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak atsiri rimpang temu putih, carbopol 940 (kualitas farmasetis), gliserin (kualitas farmasetis), Tween 80 dan Span 80 (kualitas farmasetis), parafin cair (kualitas farmasetis), TEA (kualitas farmasetis), metil paraben (kualitas farmasetis), propil paraben (kualitas farmasetis), aquadest steril, etanol 70%, bakteri uji Staphylococcus epidermidis, media Muller-Hinton Agar (Merck), Muller-Hinton Broth (Merck). E. Alat Penelitian Glasswares merek pyrex Japan, neraca analitik, waterbath, mixer, pipet ukur, cawan petri, tabung reaksi, termometer, indikator pH universal, vortex, viscotester seri VT 04 (RION-JAPAN), stopwatch, alat pengukur daya sebar, refractometer ABBE, piknometer, pipet mikro 5-100 µL, jarum ose, alat pembuat sumuran, autoclave, inkubator, jangka sorong. F. Tata Cara Penelitian 1. Verifikasi Minyak Atsiri Rimpang Temu Putih Verifikasi sifat fisik minyak atsiri rimpang temu putih yang dilakukan pada penelitian ini, meliputi: a. Pengamatan organoleptis. Pengamatan organoleptis meliputi pengamatan bentuk, warna, dan bau minyak atsiri temu putih (Kusuma, 2010).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 b. Verifikasi indeks bias minyak atsiri rimpang temu putih. Indeks bias minyak atsiri rimpang temu putih diukur dengan menggunakan hand refractometer. Minyak atsiri rimpang temu putih diteteskan pada prisma utama, kemudian prisma ditutup dan ujung refraktometer diarahkan ke arah cahaya terang, sehingga melalui lensa skala dapat dilihat dengan jelas dan ditentukan nilai indeks biasnya. Refraktometer dialiri air mengalir dan diatur suhunya menjadi 20°C. Nilai indeks bias minyak atsiri rimpang temu putih ditunjukkan oleh garis batas yang memisahkan sisi terang dan sisi gelap pada bagian atas dan bawah. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali (Kusuma, 2010). Perhitungan : ns = np + 0,0003(tp-ts) Keterangan : ns = indeks bias standar np = indeks bias pada pengukuran tp = suhu pada saat pengukuran ts = suhu standar (Wijayanti, 2013). c. Verifikasi bobot jenis minyak atsiri temu putih. Bobot jenis minyak atsiri rimpang temu putih diukur dengan menggunakan piknometer yang telah dikalibrasi, dengan menetapkan bobot piknometer kosong dan bobot air, pada suhu 25°C. Piknometer diisi dengan minyak atsiri rimpang temu putih, dan kondisikan suhu hingga 25°C, kemudian piknometer ditimbang. Bobot piknometer yang telah diisi minyak atsiri rimpang temu putih dikurangkan dengan bobot

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 piknometer kosong. Bobot jenis minyak atsiri rimpang temu putih merupakan perbandingan antara bobot minyak atsiri rimpang temu putih dengan bobot air dalam piknometer pada suhu 25°C. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Perhitungan : Bobot jenis minyak atsiri temu putih = !"!"# !"#$%& !"#$%$ !"#$ !"#$! !"!"# !"# !"#" !"!! !"°! (Kusuma, 2010). 2. Uji Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis a. Penentuan konsentrasi minyak atsiri temu putih. Minyak atsiri temu putih dibuat dalam beberapa seri konsentrasi, yaitu 5, 7,5, 10, 12,5, 15, 17,5, dan 20% v/v dengan pelarut (campuran gliserin, tween 80, span 80, dan air). b. Pembuatan stok bakteri Staphylococcus epidermidis. Media Muller-Hinton Agar (MHA) suhu 45-50°C dimasukkan ke dalam tabung reaksi sejumlah 7 ml, kemudian disterilkan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Pada suhu 45-50°C, tabung reaksi dimiringkan dan dibiarkan memadat. Diambil 1 ose biakan murni Staphylococcus epidermidis dan diinokulasikan secara goresan, inkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C dalam inkubator.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 c. Pembuatan suspensi bakteri. Suspensi bakteri dibuat dengan mengambil 1 ose koloni bakteri Staphylococcus epidermidis dari stok bakteri, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi media Muller-Hinton Broth (MHB) steril, inkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C dalam inkubator, selanjutnya kekeruhan suspensi bakteri Staphylococcus epidermidis disesuaikan dengan standar Mac Farland 0,5 (1,5 x 108 CFU/mL). d. Pembuatan kontrol media. Media MHA steril dituang ke dalam cawan petri, biarkan memadat, kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C. Setelah diinkubasi, diamati dan dibandingkan dengan perlakuan. e. Pembuatan kontrol pertumbuhan bakteri uji Staphylococcus epidermidis. Media MHA steril dengan suhu 45-55°C, diinokulasikan suspensi bakteri uji dengan kepadatan dan jumlah yang sama dengan suspensi bakteri uji pada perlakuan, kemudian tuang ke cawan petri steril dan digoyang sehingga pertumbuhan bakteri dapat merata. Cawan petri tersebut kemudian diinkubasi 24 jam, dengan suhu 37°C. Setelah diinkubasi, diamati pertumbuhan bakteri uji melalui kekeruhan media dibandingkan dengan perlakuan. f. Pembuatan kontrol positif. Kontrol positif yang digunakan adalah clindamycin 0,2%. Sebanyak 20 kapsul clindamycin (150 mg) dibuka, ditimbang satu per satu (tare), dan dihitung rata-ratanya. Kontrol positif diencerkan dengan aquadest dalam

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 labu ukur 10 mL dan diperlukan sebanyak 20 mg serbuk clindamycin, sehingga dihitung penimbangan clindamycin 0,2% : !" !" !"# !" × rata-rata isi 20 kapsul clindamycin g. Uji daya antibakteri minyak atsiri temu putih terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran. Cawan petri steril diisi hingga 1/3 tinggi cawan petri dengan media MHA steril dan biarkan memadat, layer ini merupakan layer pertama. Layer kedua dituang di atas lapisan pertama, hingga 3/4 tinggi cawan petri dengan media MHA yang telah diinokulasikan dengan suspensi bakteri. Selanjutnya, dibuat 9 lubang sumuran dengan diameter 8 mm pada cawan petri yang telah berisi media MHA double layer yang telah padat. Ketujuh sumuran masing-masing diisi dengan 50 µl minyak atsiri rimpang temu putih dengan konsentrasi yang berbeda (5, 7,5, 10, 12,5, 15, 17,5, 20%). Satu sumuran diisi oleh pelarut sebagai kontrol negatif dan satu sumuran diisi oleh clindamycin 0,2% sebagai kontrol positif. Cawan petri dilapisi dengan menggunakan plastic wrap, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, dan diamati serta diukur diameter zona hambat yang dihasilkan. Konsentrasi dengan daya antibakteri yang maksimal dipakai untuk pengujian daya antibakteri sediaan topikal antibakteri temu putih. Penelitian ini dilakukan 3 kali replikasi sesuai dengan replikasi dari sediaan topikal antibakteri temu putih yang diformulasikan.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 3. Formula Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Formula yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada formula basis emulgel (Wijayanti, 2013) dalam 200 g adalah sebagai berikut. Tabel I. Formula basis emulgel (200 g) Bahan Satuan (g) 40 8,8 0,04 31,2 4 0,36 1 113,6 1 Parafin cair Span 80 Propilparaben Tween 80 Gliserin Metilparaben Carbopol 940 Aquadest Trietanolamin Dari formula tersebut, dilakukan modifikasi sebagai berikut : Tabel II. Formula emulgel minyak atsiri temu putih dengan perbandingan komposisi carbopol 940 (100 g) Bahan Minyak atsiri temu putih Parafin cair Span 80 Propil paraben Tween 80 Gliserin Metil Paraben Carbopol 940 Aquadest TEA Keterangan : FI FII FIII FI (g) FII (g) FIII (g) 13,77 17,25 3,79 0,02 13,45 1,72 0,16 0,5 48,91 0,43 13,77 17,25 3,79 0,02 13,45 1,72 0,16 0,75 48,66 0,43 13,77 17,25 3,79 0,02 13,45 1,72 0,16 1 48,41 0,43 = Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (carbopol 940 0,5 %) = Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (carbopol 940 0,75 %) = Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (carbopol 940 1 %)

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 4. Pembuatan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Carbopol 940 dikembangkan dengan menggunakan 35 mL aquadest dari formula selama 24 jam, kemudian semua bahan yang termasuk dalam fase minyak (parafin cair, propil paraben dan Span 80) dicampur terlebih dahulu pada suhu 50°C di atas waterbath demikian halnya dengan fase air (gliserin, aquadest, metilparaben dan Tween 80). Campuran fase minyak dicampurkan dengan fase air menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 1 menit pada suhu 50°C. Setelah sistem emulsi dingin (suhu ruangan), minyak atsiri temu putih dimasukkan, dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 1,5 menit. Emulsi selanjutnya dicampurkan dengan carbopol 940 yang sebelumnya telah dikembangkan dengan 35 mL aquadest dari formula menggunakan mixer dengan kecepatan putar 300 rpm selama 2,5 menit pada suhu ruangan. Kemudian trietanolamin (TEA) ditambahkan ke dalam campuran, dan campuran diaduk kembali menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 1,25 menit. 5. Pembuatan Kontrol Positif Emulgel Clindamycin 0,2% Carbopol 940 dikembangkan dengan menggunakan 35 mL aquadest dari formula selama 24 jam, kemudian semua bahan yang termasuk dalam fase minyak (parafin cair, propil paraben dan Span 80) dicampur terlebih dahulu pada suhu 50°C di atas waterbath demikian halnya dengan fase air (gliserin, aquadest, metilparaben dan Tween 80). Campuran fase minyak dicampurkan

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 dengan fase air menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 1 menit pada suhu 50°C. Setelah sistem emulsi dingin (suhu ruangan), clindamycin dimasukkan, dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 1,5 menit. Emulsi selanjutnya dicampurkan dengan carbopol 940 yang sebelumnya telah dikembangkan dengan 35 mL aquadest dari formula menggunakan mixer dengan kecepatan putar 300 rpm selama 2,5 menit pada suhu ruangan. Kemudian trietanolamin (TEA) ditambahkan ke dalam campuran, dan campuran diaduk kembali menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 1,25 menit. 6. Uji pH Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Pengukuran pH ini menggunakan indikator universal, yaitu dengan memasukkan indikator pH universal (pH strips) ke dalam emulgel minyak atsiri temu putih yang telah dibuat. Kemudian menentukan pHnya dengan membandingkan warna yang dihasilkan dengan standar (Wijayanti, 2013). 7. Uji Sifat Fisik Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Sifat fisik sediaan emulgel minyak atsiri temu putih yang diuji pada penelitian ini meliputi : a. Organoleptis. Pemeriksaan orhanoleptis meliputi bentuk, warna dan bau yang diamati secara visual (Wijayanti, 2013).

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 b. Uji Viskositas. Pengukuran viskositas menggunakan alat Viscometer Rion seri VT 04. Emulgel dimasukkan ke dalam wadah hingga penuh dan dipasang pada portable viscotester. Viskositas emulgel diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas (Instruction Manual Viscotester VT04E) (Tiran, 2014). Uji ini dilakukan 48 jam setelah pembuatan untuk mengetahui efek faktor terhadap viskositas, sedangkan untuk mengetahui stabilitas emulgel dilakukan setelah 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari penyimpanan. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Viskositas yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah antara 200-350 d.Pa.s. c. Uji Daya Sebar. Sediaan emulgel ditimbang seberat 1 gram dan diletakkan di tengah kaca bulat berskala. Di atas emulgel diletakkan kaca bulat lain dan beban dengan berat total 125 gram, didiamkan selama 1 menit, kemudian dicatat penyebarannya (Garg, Aggarwal, Garg, and Singla, 2002). Pengujian daya sebar dilakukan 48 jam setelah emulgel selesai dibuat. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Daya sebar yang dikehendaki di dalam penelitian ini yaitu 3-5 cm. 8. Uji Daya Antibakteri Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dengan Metode Difusi Sumuran Pada uji ini dibuat kontrol media dan kontrol pertumbuhan di masingmasing petri kecil yang telah berisi 15 mL MHA steril, satu petri dibuat

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 kontrol media, yaitu media yang tidak diberi bakteri Staphylococcus epidermidis, kemudian satu petri lainnya dibuat kontrol pertumbuhan, yaitu media yang diberi 1 mL bakteri Staphylococcus epidermidis ke dalam MHA hangat (suam-suam kuku) setelah sterilisasi, kemudian diinkubasikan terbalik selama 24 jam pada suhu 37°C dalam inkubator. Selanjutnya pada pengujian ini dibuat tiga petri besar yang diisi hingga 1/3 tinggi cawan petri dengan media MHA steril (36 mL) dan dibiarkan memadat, layer ini merupakan layer pertama. Layer kedua dituang di atas lapisan pertama, hingga 3/4 tinggi cawan petri (61 mL) dengan media MHA yang telah diinokulasikan dengan suspensi bakteri dengan perlakuan sama seperti kontrol pertumbuhan diberi masing-masing 2,5 mL suspensi bakteri Staphylococcus epidermidis dan diberi 9 lubang sumuran sampai pada layer atas dengan diameter 8 mm pada cawan petri yang telah berisi MHA steril double layer yang telah memadat. Dalam masing-masing cawan petri, ke dalam sumuran diberi ketiga formula basis emulgel, ketiga formula emulgel minyak atsiri temu putih 15%, dan ketiga formula kontrol positif emulgel antibakteri (clindamycin 0,2%). Kemudian dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Setelah itu cawan petri dilapisi dengan menggunakan plastic wrap, diinkunbasikan terbalik selama 24 jam pada suhu 37°C dalam inkubator. Kemudian diukur zona hambat yang dihasilkan.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 G. ANALISIS HASIL Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data sifat fisik sediaan topikal antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih yang meliputi organoleptis, viskositas, daya sebar, pH, serta data daya antibakteri sediaan topikal antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih, kontrol basis sediaan topikal emulgel, dan kontrol positif sediaan topikal emulgel antibakteri. Hasil pengujian aktivitas sediaan emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih dan uji sifat fisik sediaan dianalisis secara statistik dengan uji Shapiro-Wilk untuk melihat distribusi data. Jika distribusi data normal, dilanjutkan dengan Levene’s Test untuk melihat kehomogenan data. Jika data sudah homogen dilanjutkan dengan menggunakan ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, selanjutnya dilakukan uji Ttest. Jika distribusi data tidak normal, maka digunakan Kruskal-Wallis Test. Analisis statistik menggunakan aplikasi program R versi 3.0.1.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identifikasi dan Verifikasi Minyak Atsiri Temu Putih Penelitian ini menggunakan minyak atsiri temu putih yang berasal dari Eteris Nusantara. Minyak atsiri temu putih merupakan minyak atsiri yang berasal dari rimpang temu putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) yang telah diidentifikasi melalui beberapa uji yang dibuktikan dengan Certificate of Analysis (CoA), yaitu uji organoleptis, uji kelarutan, uji bobot jenis, uji rotasi optik, dan uji indeks bias (Lampiran 1). Minyak atsiri temu putih digunakan sebagai bahan penelitian karena minyak ini diketahui memiliki daya antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dengan KHM sebesar 500 ppm (Hartono, Nurlaila, dan Batubara, 2011). Gambar 4. Minyak Atsiri Temu Putih Tahap awal yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu dengan uji identifikasi dan verifikasi minyak atsiri temu putih yang meliputi uji organoleptis, 38

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 indeks bias, dan bobot jenis. Uji organoleptis minyak atsiri temu putih meliputi bau, warna, dan rasa. Peneliti melakukan verifikasi ulang terhadap minyak atsiri temu putih dengan tujuan untuk lebih memastikan apakah minyak atsiri yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benar minyak atsiri temu putih yang sesuai dengan literatur yang digunakan. Hasil yang semakin mendekati literatur menunjukkan keaslian minyak atsiri yang semakin tinggi pula. Verifikasi ulang minyak atsiri temu putih yang dilakukan menunjukkan hasil sebagai berikut : Tabel III. Hasil verifikasi minyak atsiri temu putih (𝝌 ± SD) Sifat Fisik New Directions Laboratory (2006) Organoleptis Bentuk cairan kental, bau khas aromatis, warna kuning pucatkuning Indeks bias Bobot jenis 1,4640-1,4860 0,890-0,970 CoA (Eteris Nusantara) Hasil Verifikasi Bentuk cairan kental, bau khas aromatis, warna kuning keemasan, dan rasa panas pedas 1,39-1,482 0,899-0,9313 g/mL Bentuk cairan kental, bau khas aromatis, warna kuning keemasan, dan rasa panas pedas 1,4801 ± 0,00058 0,9308 ± 0,00058 Dari tabel III dapat diketahui bahwa hasil verifikasi organoleptis, indeks bias, dan bobot jenis minyak atsiri temu putih sesuai dengan literatur dan Certificate of Analysis (CoA) (Lampiran 1). Berdasarkan hasil verifikasi tersebut dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri temu putih yang diperoleh dari Eteris Nusantara tersebut adalah benar minyak atsiri temu putih.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 B. Uji Daya Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Dalam penelitian Kobayashi (1990), ditemukan bahwa Staphylococcus epidermidis, yang merupakan flora normal kulit, memainkan peran utama dalam menimbulkan bau kaki. Di dalam keringat terdapat kandungan asam amino, seperti leusin, valin, dan isoleusin. Bakteri ini akan mendegradasi leusin dalam keringat dengan bantuan enzim leusin dehidrogenase menghasilkan isovaleric acid yang diketahui menjadi penyebab bau kaki. Isovaleric acid merupakan suatu senyawa asam lemak rantai pendek (Ara, et al., 2006). Bahan aktif yang digunakan pada formulasi sediaan topikal emulgel antibakteri pada penelitian ini adalah minyak atsiri temu putih yang berasal dari rimpang tanaman temu putih. Pada penelitian yang dilakukan oleh Maiyani Hartono, Nurlaila, Irmanida Batubara (2011), menunjukkan bahwa pada konsentrasi 500 ppm, minyak atsiri rimpang temu putih sudah bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Uji ini merupakan uji pendahuluan yang dilakukan sebelum memformulasikan minyak atsiri temu putih ke dalam sediaan emulgel untuk memastikan bahwa minyak atsiri temu putih memiliki daya antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Kualitas atau kadar dalam minyak atsiri temu putih yang digunakan dalam setiap penelitian pasti berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor klimatik (iklim), faktor edafik (kondisi tanah), faktor fisiografi, dan faktor biotik. Perbedaan kualitas (kadar) minyak atsiri temu putih diprediksi dapat mempengaruhi daya antibakteri minyak atsiri temu putih

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, sehingga uji pendahuluan tersebut perlu dilakukan. Kultur murni bakteri yang digunakan adalah kultur murni bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 yang diperoleh dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta dan telah diuji kemurniannya dengan Sertifikat Hasil Uji (Lampiran 2). Uji yang dilakukan meliputi uji ciri-ciri koloni pada media isolasi, uji fermentasi karbohidrat dan penegasan biokimia, serta uji serologis. Metode yang digunakan dalam uji antibakteri minyak atsiri temu putih adalah metode sumuran. Metode sumuran dipilih berdasarkan sifat bahan uji yang digunakan, yaitu minyak yang memiliki tingkat kepolaran yang rendah. Suatu senyawa dikatakan memiliki daya antibakteri apabila menghasilkan zona hambat berupa zona jernih yang muncul di sekitar lubang sumuran. Sumuran yang digunakan dalam uji antibakteri minyak atsiri temu putih adalah sumuran dengan diameter 8 mm. Dalam uji potensi antibakteri minyak atsiri temu putih dibuat kontrol media dan kontrol pertumbuhan bakteri. Kontrol media berfungsi untuk memastikan bahwa media yang digunakan steril (tidak ada pertumbuhan mikroba). Kontrol pertumbuhan bakteri berfungsi untuk memastikan bahwa media yang digunakan sesuai dengan bakteri uji dan untuk memastikan bahwa bakteri tumbuh dengan baik (tidak mati). Pada uji antibakteri dengan metode difusi sumuran dibuat 9 lubang untuk kontrol positif, kontrol negatif, dan 7 variasi konsentrasi minyak atsiri temu putih. Kontrol positif berfungsi sebagai pembanding untuk membandingkan dengan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 kemampuan senyawa uji apakah memiliki potensi untuk menjadi penggantinya. Kontrol positif yang digunakan adalah clindamycin 0,2%. Clindamysin merupakan antibiotik semisintetik yang dihasilkan oleh 7(S)-chlorosubstitution dari kelompok 7(R)-hydroxyl yang berasal dari senyawa induk lincomycin. Clindamycin adalah agen antibakteri lincosaminide dengan aktivitas terhadap berbagai bakteri patogen aerobik dan anaerobik. Clindamycin merupakan senyawa bakteriostatik yang menghambat sintesis protein bakteri dengan cara mengikat sub-unit ribosom 50S (National Library of Medicine, 2014). Kontrol negatif berfungsi untuk mengetahui apakah pelarut yang digunakan memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Pelarut yang digunakan untuk melarutkan minyak atsiri temu putih adalah campuran dari gliserin, tween 80, span 80, dan air yang dibuat sesuai dengan formula pada penelitian. Kontrol negatif atau pelarut yang digunakan untuk melarutkan minyak atsiri temu putih, diharapkan tidak memiliki kemampuan untuk menghambat bakteri uji karena dapat membiaskan hasil penelitian (positif palsu). Ada 7 variasi konsentrasi minyak atsiri temu putih yang digunakan, yaitu 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; 15%; 17,5%; dan 20% (% v/v). Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri temu putih dilakukan di dalam Microbiological Safety Cabinet (MSC). Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan pekerjaan atau perlakukan yang aseptis sehingga dapat meminimalkan terjadinya kontaminasi. Pengamatan uji antibakteri minyak atsiri temu putih dilakukan 24 jam setelah perlakuan. Hal ini disebabkan karena 24 jam setelah perlakukan

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 merupakan waktu yang paling efektif karena pembelahan bakteri sudah optimal dan bakteri berada pada log phase (aktif membelah). Hasil yang diperoleh dari uji pendahuluan ditunjukkan melalui tabel IV berikut ini : Tabel IV. Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis Senyawa Uji Kontrol negatif Kontrol positif Minyak atsiri temu putih 5% Minyak atsiri temu putih 7,5% Minyak atsiri temu putih 10% Minyak atsiri temu putih 12,5% Minyak atsiri temu putih 15% Minyak atsiri temu putih 17,5% Minyak atsiri temu putih 20% Diameter Zona Hambat 𝝌 ± SD (mm) 0 29,65±0,245 3,40±0,194 3,81±0,735 4,42±0,194 5,15±0,0388 5,49±0,129 5,30±0,375 5,42±0,431 Dari tabel IV dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri temu putih mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dengan adanya zona hambat yang muncul. Data diameter zona hambat yang didapatkan kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat kenormalan distribusi datanya menggunakan uji ShapiroWilk karena jumlah sampel yang digunakan kurang dari atau sama dengan 50. Data dikatakan memiliki distribusi normal apabila nilai probabilitas (p) lebih dari 0,05. Sebaliknya, data dikatakan memiliki distribusi yang tidak normal apabila nilai probabilitas (p) kurang dari 0,05 (Dahlan, 2011).

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Hasil dari uji Shapiro-Wilk menunjukkan nilai probabilitas yang dijabarkan pada tabel V : Tabel V. Nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk diameter zona hambat minyak atsiri temu putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis Kelompok Kontrol negatif Kontrol positif Minyak atsiri temu putih 5% Minyak atsiri temu putih 7,5% Minyak atsiri temu putih 10% Minyak atsiri temu putih 12,5% Minyak atsiri temu putih 15% Minyak atsiri temu putih 17,5% Minyak atsiri temu putih 20% Nilai Probabilitas (p) 0,1951 0,2586 0,07477 0,08602 0,9644 0,2417 0,7717 0,8109 Dari hasi uji Shapiro-Wilk diperoleh bahwa data terdistribusi normal dilihat dari nilai probabilitas (p) yang lebih dari 0,05. Kemudian dilanjutkan dengan uji homogenitas pada populasi dengan Levene’s test yang merupakan salah satu syarat dilakukan uji ANOVA. Data dikatakan homogen apabila memiliki nilai p lebih dari 0,05. Dari Levene’s test diperoleh nilai p yaitu 0,6859 (Lampiran 5), sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang dimiliki homogen karena nilai p lebih dari 0,05. Dari analisis uji ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% yang terdapat pada program R 3.1.0, didapatkan nilai p kurang dari 0,05, yaitu <2e-16 (Lampiran 5), yang berarti bahwa data yang diperoleh berbeda. Oleh karena itu perlu dilanjutkan menggunakan T test. T test digunakan untuk mengetahui perbedaan dari masing-masing konsentrasi minyak atsiri temu putih. Pada uji T test, didahului dengan uji variansi untuk melihat variansi data. Data memiliki kesamaan variansi (data tidak berbeda)

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 apabila memiliki nilai p lebih dari 0,05. kemudian dilanjutkan dengan T test. Untuk T test, data dikatakan tidak berbeda apabila memiliki nilai p lebih dari 0,05. Tabel VI. Hasil analisis T-test diameter zona hambat minyak atsiri temu putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis Perbandingan Minyak Atsiri Temu Putih Konsentrasi 15% vs Konsentrasi 5% Konsentrasi 15% vs Konsentrasi 7,5% Konsentrasi 15% vs Konsentrasi 10% Konsentrasi 15% vs Konsentrasi 12,5% Konsentrasi 15% vs Konsentrasi 17,5% Konsentrasi 15% vs Konsentrasi 20% Nilai Probabilitas (p) 9,919e-05 0,01734 0,001352 0,01198 0,4515 0,7825 Dari hasil T test, diketahui bahwa bila konsentrasi minyak atsiri temu putih 15% dibandingkan dengan konsentrasi minyak atsiri temu putih 12,5% memiliki rerata diameter zona hambat yang berbeda bermakna dengan nilai p<0,05, yaitu 0,01198. Bila konsentrasi minyak atsiri temu putih 15% dibandingkan dengan konsentrasi minyak atsiri temu putih 17,5% dan 20 % memiliki rerata diameter zona hambat yang tidak berbeda bermakna. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai p 0,4515 dan 0,7825 (p>0,05) (Lampiran 5). Dari data yang diperoleh maka digunakan minyak atsiri temu putih dengan konsentrasi 15% sebagai bahan aktif sediaan emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih. Kemampuan antibakteri suatu senyawa dikatakan sangat kuat apabila diameter zona hambat ≥ 20 mm; kuat 10-20 mm; sedang 5-10 mm; dan lemah ≤ 5 mm (Rita, 2010). Pada semua konsentrasi yang digunakan dalam penelitian memiliki daya antibakteri dengan kategori sedang. Minyak atsiri rimpang temu putih mengandung sesquiterpene seperti germacrone (22,3%), 1,8-cineole (15,9%), dan curzeronene (9,0%). Senyawa 1,8cineole diduga bertanggung jawab atas aktivitas antibakteri. Telah dilaporkan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 bahwa 1,8-cineole memiliki daya antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan zona hambat sebesar 11 mm (Tripathi, Chawla, Upadhyay, and Trivedi, 2013). Dari penelitian tersebut diduga bahwa 1,8-cineole ini yang memegang peranan dalam aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dengan merusak membran sel sehingga mengakibatkan lisisnya sel bakteri dan menyebabkan kematian. C. Emulgel Pembuatan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (emulsion in gel) merupakan sediaan emulsi yang dimodifikasikan dengan menambahkan suatu gelling agent ke dalam sistemnya. Sediaan emulgel dipilih pada penelitian ini karena zat aktif yang digunakan berupa minyak yang bersifat lipofil, yaitu minyak atsiri temu putih. Oleh karena itu, dipilih emulgel yang merupakan kombinasi sistem emulsi dengan gelling agent. Pembuatan emulgel diawali dengan pembentukan sistem emulsi, di mana fase minyak (fase dispersi) bercampur dengan fase air (medium pendispersi) dengan bantuan emulgator. Fase minyak yang digunakan dalam formula adalah parafin cair, span 80, propil paraben. Fase air yang digunakan dalam formula adalah gliserin, tween 80, metil paraben, TEA (triethanolamine), dan aquadest (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009). Minyak atsiri temu putih akan lebih larut dalam fase minyak yang kemudian dikelilingi oleh medium pendispersinya dengan bantuan emulgator (Tween 80 dan Span 80). Setelah sistem emulsi terbentuk, ditambahkan gelling agent. Gelling agent ini akan meningkatkan viskositas dan stabilitas sistem. Selain itu, gelling agent akan memberikan sensasi

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dingin sehingga dapat mengurangi rasa panas yang ditimbulkan oleh minyak atsiri temu putih dan dapat menutupi rasa sensasi berminyak apabila diaplikasikan pada kulit sehingga dapat meningkatkan kenyamanan. Emulgel yang dibuat pada penelitian ini merupakan emulgel fase minyak dalam air (dispersi droplet minyak dalam medium air) sehingga dapat mengurangi rasa lengket pada kulit dan memudahkan untuk dibilas. Parafin cair digunakan sebagai fase minyak. Pada pembuatan emulgel ini digunakan surfaktan yang merupakan kombinasi antara tween 80 dan span 80 (surfaktan nonionik). Surfaktan nonionik dipilih karena lebih rentan terhadap perubahan pH dan penambahan elektrolit bila dibandingkan dengan surfaktan anionik dan kationik. Tween 80 dan Span 80 berfungsi sebagai emulgator yang dapat menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dan fase air sehingga keduanya dapat bercampur dan stabil. Gelling agent yang digunakan dalam formulasi pembuatan emulgel minyak atsiri temu putih ini adalah carbopol 940. Menurut Patil (2005), carbopol 940 dapat memberikan viskositas dan mampu melepaskan zat aktif dengan baik saat pengaplikasiannya. Gliserin digunakan sebagai humectant karena memiliki 3 gugus hidroksi (-OH) pada strukturnya yang dapat membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air yang ada di lingkungan sehingga mampu menjaga kelembaban kulit. Basis dari emulgel minyak atsiri temu putih ini kebanyakan berupa air, maka untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi mikroba saat proses penyimpanan digunakan dua jenis pengawet, yaitu propil paraben dan metil

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 paraben. Metil paraben dan propil paraben berfungsi sebagai pengawet antimikroba. Keduanya memiliki aktivitas antimikroba pada pH 4-8. Kombinasi paraben dapat meningkatkan aktivitasnya sebagai pengawet karena aktivitas antimikroba meningkat seiring dengan meningkatnya panjang rantai alkil. Oleh karena itu, kombinasi metil-, etil-, propil-, dan butil paraben sering digunakan bersama, contohnya metil paraben dan propil paraben (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009). Propil paraben lebih larut dalam minyak, sedangkan metil paraben lebih larut dalam air (Liebermann, Reiger, and Banker, 1996). Komposisi metil paraben yang digunakan dalam formula lebih banyak dari propil paraben sebab fase air berada pada fase kontinyu dan merupakan medium yang baik bagi mikroba untuk tumbuh sehingga lebih mudah terkontaminasi. TEA berfungsi sebagai agen penetral carbopol 940 sehingga proses pengentalan dari carbopol menjadi maksimal. Formula yang digunakan pada pembuatan emulgel minyak atsiri temu putih ini merupakan hasil modifikasi dari formula yang mengacu pada penelitian dari Wijayanti (2013). Modifikasi yang dilakukan meliputi konsentrasi gelling agent sehingga dapat dilihat pengaruhnya terhadap sifat fisik dan pelepasan agen antibakteri. Modifikasi formula ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan emulgel minyak atsiri temu putih yang memiliki karakter sifat fisik yang diinginkan, yaitu dengan memiliki pH 5-6, viskositas 200-350 d.Pa.s, daya sebar 3-5 cm, dan stabilitas yang baik selama 1 bulan (tidak menunjukkan adanya perbedaan setelah diuji statistik). Modifikasi yang dilakukan tidak mengubah fungsi pokok emulgel minyak atsiri temu putih sebagai penghilang bau kaki.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Jumlah carbopol 940 yang digunakan dalam formula adalah 0,5% (FI), 0,75% (FII), dan 1,0% (FIII). Variasi konsentrasi ini digunakan untuk melihat pengaruh variasi carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap pelepasan agen antibakteri dari emulgel minyak atsiri temu putih dilihat melalui zona hambat yang dihasilkan. Carbopol berfungsi sebagai gelling agent dengan rentang konsentrasi 0,5-2% (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009). Dua tahap yang perlu dilakukan dalam pembuatan emulgel minyak atsiri temu putih ini adalah tahap emulsifikasi dan penambahan gelling agent. Bahanbahan fase minyak dicampur dan dilakukan pemanasan hingga suhu 50°C, begitu pula dengan bahan-bahan fase air. Proses emulsifikasi ini dilakukan dengan mencampurkan fase minyak dan fase air dengan menggunakan mixer kecepatan 300 ppm pada suhu 50°C untuk mempermudah proses pencampuran karena adanya peningkatan energi sehingga akan terbentuk droplet-droplet dengan ukuran yang lebih kecil (Becker, 1997). Kemudian setelah terbentuk sistem emulsi, ditambahkan carbopol 940 sebagai gelling agent. Carbopol 940 yang digunakan telah dikembangkan dalam aquadest sebelumnya selama 24 jam. Ketika carbopol didispersikan ke dalam air, molekul hidrat akan menyerap air dan meningkatkan viskositas (Chikhalikar and Moorkath, 2002). Kemudian ditambahkan TEA sebagai agen penetral yang akan meningkatkan viskositas agar proses pengembangan carpobol 940 optimal karena terbentuk ion-ion bermuatan negatif sehingga menimbulkan gaya tolak menolak (Bluher, Haller, Banik, and Thobois, 1995).

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Pada formulasi sediaan emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih juga dibuat basis sediaan emulgel untuk masing-masing formula. Basis sediaan emulgel ini nantinya digunakan sebagai faktor koreksi kemampuan daya antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis sehingga dapat diperoleh diameter zona hambat antibakteri yang hanya berasal dari minyak atsiri temu putih saja, bukan dari basisnya. Kontrol positif emulgel juga dibuat sebagai kontrol pembanding kemampuan daya antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. D. Uji Sifat Fisik Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Sediaan yang baik adalah sediaan yang memenuhi persyaratan sifat fisik dan stabil dalam penyimpanan. Sifat fisik yang dapat diukur dari sediaan emulgel minyak atsiri temu putih adalah pH, viskositas, dan daya sebar. Evaluasi terhadap sifat fisik emulgel minyak atsiri temu putih meliputi viskositas dan daya sebar 48 jam setelah pembuatan dengan tujuan untuk memberi waktu bagi sediaan untuk membentuk sistem secara sempurna. Pada proses pembentukan emulgel, banyak energi yang diberikan, misal saat pencampuran dengan mixer dapat mempengaruhi besarnya viskositas emulgel. Dengan penyimpanan selama 48 jam ini diharapkan dapat menstabilkan sistem emulgel setelah pembuatan. Stabilitas fisik emulgel minyak atsiri temu putih diamati pada 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari setelah penyimpanan.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Carbopol 940 berperan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas emulgel minyak atsiri temu putih karena carbopol 940 akan mempengaruhi viskositas dan daya sebar sediaan. Carbopol 940 yang digunakan dalam formula yaitu 0,5%; 0,75%; dan 1,0%. Uji organoleptis menunjukkan bahwa emulgel minyak atsiri temu putih berbentuk semisolid, warna putih keemasan, dan berbau khas minyak atsiri temu putih. Pada pembuatan emulgel, pH yang diharapkan yaitu 5-6 karena harus disesuaikan dengan pH kulit agar terhindar dari resiko iritasi kulit. Uji pH dilakukan dengan menggunakan indikator universal (pH strips) dengan tujuan untuk mengetahui pH emulgel yang telah dibuat. pH sediaan tidak hanya mempengaruhi solubilitas dan stabilitas obat dalam sediaan, tetapi dapat juga berpotensi menimbulkan iritasi bila tidak disesuaikan dengan pH kulit, sehingga sediaan ini harus diformulasikan pada rentang pH tersebut. Oleh karena itu, perlu ditambahkan basa amin untuk meningkatkan pH sediaan, yakni dengan penambahan trietanolamin (TEA). Dari uji pH yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut : Tabel VII. Hasil uji pH emulgel minyak atsiri temu putih Formula FI FII FIII pH antara 5-6 5 6 Dari Tabel VII dapat dilihat bahwa emulgel minyak atsiri temu putih memiliki rentang pH 5-6, sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan emulgel

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 minyak atsiri temu putih yang dibuat memenuhi kriteria pH untuk kulit normal yang relatif memiliki sifat asam yang berkisar antara 4-6,5 (Baranoski and Ayello, 2008). Pada pembuatan sediaan semisolid, viskositas berpengaruh pada penerimaan pasien terkait pada stabilitas fisika karena semakin tinggi viskositas suatu emulgel, pergerakan droplet-droplet emulsi dalam emulgel menjadi terbatas, sehingga tidak akan berinteraksi satu sama lain dan menimbulkan fenomena instabilitas emulsi. Viskositas berpengaruh pada saat pengaplikasian pada kulit dan proses pelepasan zat aktifnya (Sinko, 2006). Selain itu, viskositas dapat mempengaruhi kemampuan sediaan dalam proses pengisian ke dalam kemasan maupun proses pengeluaran dari dalam kemasan (Garg, Aggrawal, Garg, and Singla, 2002). Viskositas memiliki peranan penting pada beberapa bentuk sediaan. Viskositas merupakan faktor penting dalam menjaga obat bentuk suspensi, meningkatkan stabilitas emulsi, menentukan kecepatan pelepasan obat pada tempat aplikasi, membuat suatu bentuk sediaan mudah diaplikasikan. Seorang farmasis akan mempertimbangkan viskositas untuk meningkatkan stabilitas bentuk sediaan yang diformulasikan (Allen, 2002). Uji viskositas bertujuan untuk melihat profil viskositas dari emulgel minyak atsiri temu putih yang dilakukan 48 jam setelah pembuatan dan satu bulan setelah penyimpanan untuk melihat besarnya perubahan profil viskositas emulgel minyak atsiri temu putih sehingga dapat diamati ada tidaknya fenomena ketidakstabilan pada sediaan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 viscotester seri VT 04 (RION-JAPAN), menggunakan putaran nomor 2. Viskositas yang dikehendaki adalah 200-350 d.Pa.s. dan menunjukkan viskositas yang stabil selama 1 bulan penyimpanan (tidak menunjukkan adanya perbedaan setelah distatistik). Daya sebar adalah kemampuan suatu sediaan untuk menyebar di tempat aplikasi. Tujuan dari uji daya sebar ini adalah untuk mengamati besarnya diameter penyebaran pada saat pengaplikasian. Pada sediaan emulgel minyak atsiri temu putih didapatkan bahwa semakin besar diameter daya sebar, viskositas semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, diameter daya sebar yang diharapkan adalah 3-5 cm agar tidak sulit pada saat pengaplikasian. Uji daya sebar dilakukan 48 jam setelah pembuatan dilakukan untuk melihat parameter sifat fisik emulgel minyak atsiri temu putih. Uji ini dilakukan dengan cara pemberian beban total 125 gram di atas kaca bundar berskala pada 1 gram emulgel minyak atsiri temu putih selama 1 menit. Berikut adalah hasil uji viskositas dan daya sebar emulgel minyak atsiri temu putih : Tabel VIII. Hasil uji viskositas dan daya sebar emulgel minyak atsiri temu putih (𝝌 ± SD) Formula FI FII FIII Viskositas (d.Pa.s) 233,33±28,87 333,33±28,87 493.33±60,28 Daya Sebar (cm) 4,50±0,13 4,09±0,10 3,45±0,04 Dari tabel VIII dapat dikatakan bahwa dengan penambahan jumlah carbopol 940, viskositas yang dihasilkan semakin tinggi dan daya sebarnya semakin rendah. Semua formula emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 dengan konsentrasi 15% memiliki daya sebar sesuai dalam rentang yang diinginkan. Emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih FI dan FII memiliki viskositas yang diinginkan, namun FIII tidak. E. Stabilitas Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Stabilitas suatu sediaan dapat dilihat melalui pergeseran viskositas selama penyimpanan. Stabilitas emulgel minyak atsiri temu putih dapat diperoleh dengan membandingkan secara statistik viskositas sediaan 48 jam setelah pembuatan, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari setelah penyimpanan. Data viskositas emulgel minyak atsiri temu putih yang didapatkan kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat kenormalan distribusi datanya menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasil dari uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa distribusi data pada masing-masing FI, FII, dan FIII tidak normal. Bila data tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil dari uji Kruskal-Wallis memiliki nilai probabilitas yang dijabarkan pada tabel berikut : Tabel IX. Nilai probabilitas uji Kruskal-Wallis stabilitas viskositas emulgel minyak atsiri temu putih Kelompok FI FII FIII Nilai Probabilitas (p) 0,05883 0,214 0,4487 Dari hasi uji Kruskal-wallis diperoleh bahwa nilai probabilitas (p) yang lebih dari 0,05 (Lampiran 7), sehingga dapat dikatakan emulgel minyak atsiri temu putih stabil dalam penyimpanan hingga 1 bulan (28 hari).

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 F. Uji Daya Antibakteri Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Uji ini bertujuan untuk melihat apakah variasi carbopol 940 dapat mempengaruhi aktivitas antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis penyebab bau kaki dari emulgel minyak atsiri temu putih. Minyak atsiri temu putih yang diformulasikan dalam sediaan topikal mempunyai kecepatan difusi lebih rendah bila dibandingkan dengan yang tidak diformulasikan. Hal tersebut disebabkan karena adanya afinitas dari minyak atsiri temu putih dengan basis emulgel sehingga berpengaruh terhadap pelepasan zat aktif. Basis emulgel harus mampu melepaskan zat aktif (minyak atsiri temu putih) agar dapat berdifusi dan berinteraksi dengan bakteri uji. Metode uji daya antibakteri yang digunakan adalah metode difusi sumuran. Metode ini dipilih berdasarkan sifat emulgel yang memiliki viskositas yang tinggi sehingga lebih cocok menggunakan metode difusi sumuran. Kemampuan antibakteri dapat ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat, yaitu zona jernih di sekitar lubang sumuran yang telah diberi emulgel minyak atsiri temu putih dan diinkubasi selama 24 jam. Pada pengujian daya antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih dibuat 9 sumuran. Satu cawan petri diisi dengan 3 formula basis emulgel dengan variasi carbopol 940, 3 formula kontrol positif emulgel (clindamycin 0,2%) dengan variasi carbopol 940, dan 3 formula emulgel minyak atsiri temu putih dengan variasi carbopol 940. Masing-masing dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Kontrol basis emulgel merupakan sediaan emulgel tanpa minyak atsiri temu putih dalam

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 formula. Kontrol basis emulgel digunakan untuk melihat ada tidaknya daya antibakteri basis emulgel terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Dibuat kontrol media dan kontrol pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Diameter zona hambat yang dihasilkan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis pada penelitian ini disajikan pada tabel X : Tabel X. Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh emulgel minyak atsiri temu putih terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis Formula Basis emulgel FI Basis emulgel FII Basis emulgel FIII Kontrol positif emulgel FI Kontrol positif emulgel FII Kontrol positif emulgel FIII Emulgel minyak atsiri temu putih FI Emulgel minyak atsiri temu putih FII Emulgel minyak atsiri temu putih FIII Diameter Zona Hambat 𝝌 ± SD (mm) 0 0 0 32,12±0,194 31,98±0,769 32,12±0,713 5,78±0,331 5,20±0,115 4,30±0,360 Dari tabel X dapat disimpulkan bahwa ketiga formula emulgel minyak atsiri temu putih mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dengan adanya zona hambat yang muncul. Ketiga formula emulgel minyak atsiri temu putih dalam penelitian ini memiliki daya antibakteri dengan kategori sedang. Emulgel minyak atsiri temu putih digunakan sebagai sediaan topikal antibakteri (kosmetik) dengan tujuan untuk mengurangi bau kaki. Oleh karena itu, daya antibakteri emulgel minyak atsiri temu putih dengan kategori sedang sudah sesuai dengan tujuan penggunaannya sebagai kosmetik yang dapat menghambat bakteri.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Data diameter zona hambat yang didapatkan dari emulgel minyak atsiri temu putih dengan variasi carbopol 940 kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat kenormalan distribusi datanya menggunakan uji Shapiro-Wilk. Dari tabel XI, hasil uji Shapiro-Wilk diperoleh bahwa data terdistribusi normal dilihat dari nilai probabilitas (p) yang lebih dari 0,05. Hasil dari uji Shapiro-Wilk menunjukkan nilai probabilitas yang dijabarkan pada tabel XI : Tabel XI. Nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk diameter zona hambat emulgel atsiri minyak atsiri temu putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis Formula Basis emulgel FI Basis emulgel FII Basis emulgel FIII Kontrol positif emulgel FI Kontrol positif emulgel FII Kontrol positif emulgel FIII Emulgel minyak atsiri temu putih FI Emulgel minyak atsiri temu putih FII Emulgel minyak atsiri temu putih FIII Nilai Probabilitas 0,9076 0,8061 0,7344 0,08661 0,5035 0,677 Kemudian dilanjutkan dengan uji homogenitas pada populasi dengan Levene’s test. Dari Levene’s test diperoleh nilai p yaitu 0,1447 (Lampiran 10), sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang dimiliki homogen karena nilai p lebih dari 0,05. Dari analisis uji ANOVA yang terdapat pada program R 3.1.0, didapatkan nilai p kurang dari 0,05, yaitu <2e-16 (Lampiran 10), yang berarti bahwa data yang diperoleh berbeda. Oleh karena itu perlu dilanjutkan menggunakan T test.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Dari hasil T test, diketahui bahwa bila emulgel minyak atsiri temu putih dengan carbopol 0,5% dibandingkan dengan emulgel minyak atsiri temu putih dengan carbopol 0,75% dan 1% memiliki rerata diameter zona hambat yang berbeda bermakna dengan nilai p<0,05, yaitu 0,04446 dan 0,00627. Bila emulgel minyak atsiri temu putih dengan carbopol 0,75% dibandingkan dengan emulgel minyak atsiri temu putih dengan carbopol 1% memiliki rerata diameter zona hambat yang berbeda bermakna pula, dibuktikan dengan nilai p 0,01462 (p<0,05) (Lampiran 10). Dari data yang diperoleh maka disimpulkan bahwa emulgel minyak atsiri temu putih dengan carbopol 940 0,5%, 0,75%, dan 1% memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis. Faktor yang diduga sebagai penyebab adanya perbedaan zona hambat pada ketiga formula emulgel minyak atsiri temu putih adalah pengaruh dari carbopol 940. Konsentrasi carbopol 940 yang semakin tinggi menyebabkan sistem gel yang terbentuk semakin kental/rigid sehingga viskositas emulgel minyak atsiri temu putih meningkat. Viskositas yang semakin meningkat akan mempengaruhi pelepasan agen antibakteri. Pelepasan agen antibakteri dari sediaan akan semakin sulit dan lambat karena koefisien difusinya rendah, demikian pula sebaliknya. Semakin besar viskositas maka kecepatan difusi minyak atsiri temu putih yang keluar dari sediaan akan berkurang. Uji statistik juga dilakukan pada data diameter zona hambat minyak atsiri temu putih 15% dan formula emulgel minyak atsiri temu putih dengan 3 variasi konsentrasi carbopol 940 untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 diformulasi. Uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data terdistribusi normal (p>0,05). Kemudian dilanjutkan dengan uji homogenitas pada populasi dengan Levene’s test. Dari Levene’s test diperoleh bahwa data homogen dengan nilai p lebih dari 0,05, yaitu 0,7066 (Lampiran 11). Dari analisis uji ANOVA diperoleh nilai p 0,000598 (Lampiran 11), yang berarti bahwa data yang diperoleh berbeda. Oleh karena itu perlu dilanjutkan menggunakan T test. Hasil analisis statistik data diameter zona hambat minyak atsiri temu putih 15% terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis sebelum dan sesudah diformulasikan menjadi emulgel minyak atsiri temu putih ditunjukkan pada tabel XII berikut : Tabel XII. Nilai probabilitas T-test diameter zona hambat minyak atsiri temu putih 15% terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis sebelum dan sesudah diformulasikan Perbandingan Minyak Atsiri Temu Putih dengan Formula Emulgel Nilai Probabilitas (p) Minyak Atsiri Temu Putih Minyak atsiri temu putih 15% vs FI 0,2312 Minyak atsiri temu putih 15% vs FII 0,04128 Minyak atsiri temu putih 15% vs FIII 0,005648 Emulgel minyak atsiri temu putih FI merupakan emulgel yang paling baik dalam penelitian ini karena memiliki sifat fisik (viskositas dan daya sebar), dan kestabilan fisik yang sesuai dengan kriteria. Tabel XII menunjukkan bahwa minyak atsiri temu putih antara sebelum dan sesudah diformulasikan menjadi emulgel minyak atsiri temu putih FI memiliki kemampuan antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis yang tidak berbeda secara statistik (p>0,05).

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Sediaan emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih FI dan FII memiliki sifat fisik sesuai kriteria, namun emulgel minyak atsiri temu putih FIII tidak. 2. Emulgel minyak atsiri temu putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. 3. Penambahan carbopol 940 sebagai gelling agent pada formulasi sediaan emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih mempengaruhi sifat fisik dan kemampuannya sebagai antibakteri. Penambahan konsentrasi carbopol 940 pada formulasi sediaan emulgel antibakteri minyak atsiri temu putih berbanding terbalik dengan aktivitas antibakteri yang diukur melalui diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. B. SARAN 1. Perlu dilakukan uji iritasi dari sediaan untuk mengetahui apakah emulgel minyak atsiri temu putih 15% menyebabkan iritasi pada kulit atau tidak. 2. Perlu dilakukan optimasi formula dan optimasi proses meliputi kecepatan pencampuran, suhu pencampuran dan lama pencampuran untuk mendapatkan formula emulgel minyak atsiri temu putih yang memiliki kriteria sifat fisik yang diharapkan dan stabil terhadap penyimpanan. 60

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 DAFTAR PUSTAKA Agustina, L., 2013, Formulasi Emulgel Minyak Cengkeh (Oleum caryophylli) sebagai Antibau Kaki : Pengaruh Carbopol 940 dan Sorbitol terhadap Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Allen Jr., L. V., 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical Compounding, 2nd Edition, American Pharmaceutical Association, USA, pp. 301-324. Angel, G.R., Vimala, B., and Nambisan, B., 2012, Antioxidant and Antimicrobial Activity of Essential Oils from Nine Starchy Curcuma Species, International Journal of Current Pharmaceutical Research, 4(2), 45-47. Anonim, 2013, Tanaman Obat Indonesia : Temu Putih, http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=259, diakses pada tanggal 20 Februari 2013. Anonim, 2014, Staphylococcus epidermidis, http://staphylococcusepidermidis.org, diakses pada tanggal 1 Juli 2014. Ara, K., Hama, M., Akiba, S., Koike, K., Okisaka, K., Hagura, T., et al., 2006, Foot Odor Due to Microbial Metabolism and Its Control, Can. J. Microbiol., 52, 357–364. Backer, C. A. and Bakhuizen van den Brink, R. C., 1963, Flora of Java, Volume I, N. V. P. Noordhoff, Groningen, pp. 41-42. Backer, C. A. and Bakhuizen van den Brink, R. C., 1968, Flora of Java, Volume III, N. V. P. Noordhoff, Groningen, pp. 69-72. Baranoski, S., and Ayello, E.A., 2008, Wound Care Essentials: Practice Principles, 2nd Edition, Lippincot Williams and Wilkins, Philadelphia, pp. 51. Becker, J.R., 1997, Crude Oil: Waxes, Emulsions and Asphaltenes, PennWell Publishing Company, Oklahoma, pp. 53-55. Bhanu, P.V., Shanmugam, V., and Lakshmi, P.K., 2011, Development and Optimization of Novel Diclofenac Emulgel for Topical Drug Delivery, Pharmacie Globale International Journal of Comprehensive Pharmacy, 2(9), 1-4. Bluher, A., Haller, U., Banik, G., and Thobois, E., 1995, The Applications of Carbopol Poultices on Paper Objects, Restaurator, Germany, 16(4), 234-247.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Chang, H. M., and But, P. P. H., 1987, Pharmacology and Applications of Chinese Materia Medica, World Scientific Publ. Co., pp. 955-958. Chikhalikar, K., and Moorkath, S., 2002, Carbopol Polymers: a Versatile Range of Polymers for Pharmaceutical Application, PharmaBiz, http://saffron.pharmabiz.com/article/detnews.asp?articleid= 16723§ion id=50, diakses tanggal 20 Mei 2014. Conteras, M.D., and Sanchez, R., 2001, Application of a Factorial Design to the Study of Specific Parameters of Carbopol ETD 2020 Gel : Part IViscoelastic Parameters, International Journal of Pharmaceutics, 234(12), 139-147. Dahlan, M.S., 2011, Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan, Edisi 5, Salemba Medika, Jakarta, pp. 11-12, 55-57. Dalimartha, S., 2005, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 3, Puspa Swara, Depok, pp. 170-172. Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, p. 7. Freeman, S., 2012, Disorders of Sweating Caused by The Apocrine Glands Bromhihrosis Apocrine Glands, http://www.prlog.org/10395874disorders-of-sweating-caused-by-the-apocrine-glands-bromhidrosisapocrine- glands.html, diakses tanggal 28 November 2013. Ganesan, B., Dobrowolski, P., and Weimer, B.C., 2006, Identification of Leucine to 2-Methylbutyric Acid Catabolism Pathway of Lactococcus lactis, Applied and Environtmental Microbiology, 72(6), 4264 – 4273. Garg, A., Aggrawal, D., Garg, S., and Singla, A.K., 2002, Spreading of Semisolid Formulations: An Update, Pharmaceutical Technology, 84-105. Harborne, J.B., 1996, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan, ITB Press, Bandung, pp. 131-135. Hartono, M., Nurlaila, dan Batubara, I., 2011, Potensi Temu Putih (Curcuma zedoaria) sebagai Anti Bakteri dan Kandungan Senyawa Kimia, Prosiding Seminar Nasional, Bogor, pp. 203-212. Jawetz, E., Melnick, J., and Adelberg, E., 1996, Medical Microbiology, Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 20, 160, 211, 213, 215, 627-629. Khullar, R., Kumar, D., and Saini, S., 2011, Formulation and Evaluation of Mefenamic Acid Emulgel for Topical Delivery, Saudi Pharmaceutical Journal, 20, 63-67. Kobayashi, S., 1990, Relationship Between an Offensive Smell Given Off from Human Foot and Staphylococcus epidermidis, J. Bacteriol., 45, 797-800.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Kurniawan, D.W., Wijayanto, B.A., and Sobri, I., 2012, Formulation and Effectiveness of Antiseptic Hand Gel Preparations Essential Oils Galanga (Alpinia galanga), Asian Journal of Pharmaceutical and Biological Research. Kusuma, D., 2010, Perbandingan Daya Antibakteri Krim Antiacne Minyak Cengkeh dengan Emulgel Antiacne Minyak Cengkeh, Skripsi, 28-44, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Lai, E.Y.C., Chyau, C.C., Mau, J.L., Chen, C.C., Lai, Y.J., Shih, C.F., et al., 2004, Antimicrobial Activity and Cytotoxicity of The Essential Oil of Curcuma zedoaria, The American Journal of Chinese Medicine, 32(2), 281-290. Liebermann, H.A., Rieger, M.M., and Banker, G.S., 1996, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse System, Vol 1, Marcel Dekker Inc., New York, pp. 157-158. Lobo, R., Prabhu, K.S., Shirwaikara, A., and Shirwaikarb, A., 2009, Curcuma zedoaria Rosc. (white turmeric) : a review of its chemical, pharmacological and ethnomedicinal properties, Journal of Pharmacy and Pharmacology, 61, 13-21. Mack, D., Davies. A., Harris, L., Rohde, H., Horstkotte, M., and Knobloch, J., 2007, Microbial Interactions in Staphylococcus epidermidis Biofilms, Analytical and Bioanalytical Chemistry, 387, 399-408. Mantyas, E., 2013, Pengaruh Tween 80 sebagai Surfaktan dan PEG 6000 sebagai Basis Terhadap Sifat Fisis dan Stabilitas Krim Ekstrak Etil Asetat Tomat dengan Desain Faktorial, Skripsi, 27, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Martin, A., Swarbrick, J., dan Cammarata, A., 1993, Farmasi Fisik : Dasar – Dasar Farmasi Fisik dalam Ilmu Farmasetik, Edisi 3, Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta, p. 1077. National Library of Medicine, 2014, Cleocin Hydrochloride (clindamycin hydrochloride) capsule [Pharmacia and Upjohn Company], http://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/lookup.cfm?setid=df9a2a41-b1324f43-8940-b2d773b1369a#nlm34089-, diakses tanggal 20 Mei 2014. New Directions Laboratory, 2006, Kachur Certified Organic Oil, www.newdirections.com.au/msds-view/download.php?id=3757, diakses pada tanggal 15 Mei 2014. Panwar A.S., Upadhyay, N., Bairagi, M., Gujar, S., Darwhekar, G.N., and Jain, D.K., 2011, Emulgel : A Review, Asian Journal of Pharmacy and Life Science, 1(3), 333-343.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Patil, P.S., 2005, Preparation and Evaluation of Anti-Dandruff Hair Gels, Dissertation, pp. 40-106. Pena, L.E., 1990, Gel Dossage Form: Theory, Formulation, and Processing, in Osborne, D. W., and Amann, A. H., Topical Drug Delivery Formulations, Marcell Dekker Inc., New York, pp. 381-387. Podiatrivic, 2002, Foot Oudor, http://www.podiatryvic.com.au/Public/Facts4.htm, Australian Podiatry Association, Victoria, diakses tanggal 28 November 2013. Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp. 188-191. Rita, W.S., 2010, Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Golongan Terpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe), Jurnal Kimia, 4(1), 20-26. Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Edition, Pharmaceutical Press, London, pp. 110-113. Singla, V., Saini, S., Joshi, B., and Rana, A.C., 2012, Emulgel : A New Platform for Topical Drug Delivery, International Journal of Pharma and Bio Sciences, 3(1), 485-498. Sinko, P.J., 2006, Martin: Farmasi Fisika dan Ilmu Farmsetika, Edisi 5, EGC, Jakarta, pp. 5, 706-708. Stephenson, R.A., and Karsa, D.R., 2000, Excipients and Delivery Systems for Pharmaceutical Formulation, Anthony Rowe Ltd., Chippenham, UK, pp. 35-47. Suryarini, S., 2011, Pengaruh Tween 80 dan Span 80 sebagai Emulsifying Agent Terhadap Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Emulgel Antiacne Minyak Cengkeh (Oleum Caryophilli) : Aplikasi Desain Faktorial, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tiran, F.A., 2014, Aktivitas Antibakteri Lotion Minyak Kayu Manis Terhadap Staphylococcus epidermidis Penyebab Bau Kaki, Skripsi, 23, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tripathi, M., Chawla, P., Upadhyay, R., and Trivedi, S., 2013, Essential Oils from Family Zingiberaceae for Antimicrobial Activity : A Review, International Journal of Pharma and Bio Sciences, 4 (4), 149-162. Tyler, V.E., Brady, L.R., Robbers, J.E., 1988, Pharmacognosy, 9th Edition, Lea and Febiger, Philadelphia, pp. 57, 103-105. Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, p. 335.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Wijayanti, B.A., 2013, Uji Daya Antibakteri Emulgel Antiacne Minyak Serai Wangi Jawa (Cymbopogon winterianus) terhadap Staphylococcus epidermidis, Skripsi, 34, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 LAMPIRAN Lampiran 1. Certificate of Analysis Zedoaria Oil

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Staphylococcus epidermidis ATCC 12228

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Lampiran 3. Verifikasi Minyak Atsiri Temu Putih 1. Indeks Bias Replikasi 1 2 3 Rata-rata ± SD 2. ns 1,4794 1,4804 1,4804 1,4801 ± 0,00058 Bobot Jenis Replikasi Bobot piknometer (g) Bobot piknometer+air (g) Bobot air (g) Kerapatan air (25°C)(g/mL) Volume air (mL) Replikasi Bobot piknometer (g) Bobot piknometer+minyak atsiri temu putih (g) Bobot minyak atsiri temu putih (g) Kerapatan minyak atsiri temu putih (g/mL) Bobot jenis minyak atsiri temu putih Rata-rata kerapatan minyak atsiri temu putih ± SD 1 23,827 33,797 9,970 0,99707 0,9281 2 23,827 33,797 9,970 0,99707 0,9281 3 23,827 33,796 9,969 0,99707 0,9280 1 2 3 23,827 23,827 23,827 33,107 33,107 33,106 9,280 9,280 9,279 0,9281 0,9281 0,9280 0,9308 0,9308 0,9307 0,9308 ± 0,00058

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lampiran 4. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih 1. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Temu Putih dengan Variasi Konsentrasi 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; 15%; 17,5%; dan 20% Kontrol media Kontrol Pertumbuhan Replikasi I K20% 5% K+ 7,5% 17,5% 10% 15% 12,5% Keterangan : KK+ = kontrol negatif/kontrol pelarut = kontrol positif clindamycin 0,2%

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Replikasi II K20% 5% K+ 17,5% 7,5% 15% 10% 12,5% Replikasi III K- 20% 5% K+ 7,5% 17,5% 15% 10% 12,5% Keterangan : KK+ = kontrol negatif/kontrol pelarut = kontrol positif clindamycin 0,2%

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 71 Pengukuran Diameter Zona Hambat Kelompok Diameter Zona Hambat RI RII RIII Kontrol negatif 0 0 0 Kontrol positif 29,365 29,7625 29,8125 MTP 5% 3,48 3,5325 3,1725 MTP 7,5% 3,4125 4,655 3,355 MTP 10% 4,525 4,5425 4,1975 MTP 12,5% 5,1925 5,1525 5,115 MTP 15% 5,345 5,55 5,5825 MTP 17,5% 4,955 5,25 5,7 MTP 20% 4,9625 5,465 5,82 Keterangan : MTP = Minyak Atsiri Temu Putih Rata-rata ± SD 0 29,65±0,245 3,40±0,194 3,81±0,735 4,42±0,194 5,15±0,0388 5,49±0,129 5,30±0,375 5,42±0,431

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 5. Hasil Analisis Statistik Data Diameter Zona Hambat Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis 1. Uji Normalitas Data Keterangan : kons5 kons7.5 kons10 kons12.5 kons15 kons17.5 kons20 kpos kneg = minyak atsiri temu putih konsentrasi 5% = minyak atsiri temu putih konsentrasi 7,5% = minyak atsiri temu putih konsentrasi 10% = minyak atsiri temu putih konsentrasi 12,5% = minyak atsiri temu putih konsentrasi 15% = minyak atsiri temu putih konsentrasi 17,5% = minyak atsiri temu putih konsentrasi 20% = kontrol positif (clindamycin 0,2%) = kontrol negatif/kontrol pelarut

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Uji normalitas data, semua kelompok memiliki p>0,05 à data normal

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 2. Uji Kehomogenan Data Levene’s test

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Uji kehomogenan data, p>0,05 à data homogen 3. Uji ANOVA Uji ANOVA, p<0,05 à data berbeda à T-test 4. Uji Variansi Data

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 5. T-test

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 6. Konversi Minyak Atsiri Temu Putih Minyak atsiri temu putih yang digunakan untuk pembuatan emulgel adalah minyak atsiri temu putih dengan konsentrasi 15% v/v, sehingga perlu dilakukan konversi minyak atsiri temu putih untuk 15% b/b. Pelarut yang digunakan untuk melarutkan minyak atsiri temu putih adalah campuran dari gliserin, Tween 80, Span 80, dan air sesuai dengan formula. Masing-masing bahan memiliki bobot jenis sebagai berikut ; Bahan Gliserin Tween 80 Span 80 Air Jumlah dalam formula 50 g 1g 7,8 g 2,2 g 28,4 g Bobot Jenis 1,2636 1,06-1,10 1 1 Berikut rumus perhitungan yang digunakan : Keterangan : Kerapatan (ρ) : ρ= 𝑚 𝑉 Bobot jenis : Sx = !! !!"# Bobot : jenis ρ = kerapatan (kg/m3) / (g/cm3) m = massa (kg) V = volume (mL) Sx = bobot jenis ρx = kerapatan senyawa x (g/mL) ρair = kerapatan air (0,99707 g/mL) campuran 𝑚! + 𝑚! Σ𝑆 = 𝑚 𝑚 ( 𝑆 !) + ( 𝑆 ! ) ! ! Perhitungan : Bobot jenis campuran : 𝑚! + 𝑚! Σ𝑆 = 𝑚 𝑚 ( !) + ( !) 𝑆! 𝑆!

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 0,001 + 0,0078 + 0,0022 + 0,0284 0,0022 0,0284 0,001 0,0078 + +( 1 )+( 1 ) 1,2636 1,06 Σ𝑆 = Σ𝑆 = 0,0394 0,00079 + 0,00736 + 0,0022 + 0,0284 Σ𝑆 = Sx = 0,0394 = 1,016774 0,03875 !! !!"# 1,016774 = !! !,!!"#" ρx = 1,0138 kg/m3 = 1,0138 g/mL Minyak atsiri temu putih 15% v/v = ρminyak atsiri temu putih = 0,9308 = !" !" !"#$%& !"" !" !"#$%&' ! ! ! !" m minyak atsiri temu putih = 13,962 gram ρcampuran = 1,0138 = ! ! ! !"" !" m campuran= 101,38 gram Minyak atsiri temu putih yang digunakan dalam formula 100 gram : mminyak atsiri temu putih = !"" !"!,!" ×13,962 = 13,77 𝑔𝑟𝑎𝑚

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Lampiran 7. Hasil Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih 1. pH Formula FI FII FIII 2. Replikasi I 5,5 5 6 Viskositas a. FI Replikasi 1 2 3 Mean SD b. FII Replikasi 1 2 3 Mean SD c. FIII Replikasi 1 2 3 Mean SD pH Replikasi II 5 5 6 Replikasi III 6 5 6 Rata-rata 5,5 5 6 48 jam (d.Pa.s) 250 200 250 233,33 28,87 7 hari (d.Pa.s) 220 200 250 223,33 25,17 14 hari (d.Pa.s) 200 150 220 190 36,06 21 hari (d.Pa.s) 180 120 180 140 34,64 28 hari (d.Pa.s) 150 120 180 150 30 48 jam (d.Pa.s) 350 350 300 333,33 28,87 7 hari (d.Pa.s) 350 350 290 330 34,64 14 hari (d.Pa.s) 330 330 270 310 34,64 21 hari (d.Pa.s) 300 320 250 290 36,06 28 hari (d.Pa.s) 280 300 250 276,67 25,17 48 jam (d.Pa.s) 430 550 500 493,33 60,28 7 hari (d.Pa.s) 430 530 500 486,67 51,32 14 hari (d.Pa.s) 420 500 480 466,67 41,63 21 hari (d.Pa.s) 400 480 460 446,67 41,63 28 hari (d.Pa.s) 380 450 450 426,67 40,41

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. 95 Daya Sebar a. FI Replikasi 1 2 3 Mean SD b. FII Replikasi 1 2 3 Mean SD c. FIII Replikasi 1 2 3 Mean SD 4. 48 jam (cm) 4,5 4,625 4,375 4,50 0,13 7 hari (cm) 4,525 4,65 4,5 4,56 0,08 14 hari (cm) 4,575 4,7 4,75 4,675 0,09 21 hari (cm) 4,625 4,725 4,8 4,72 0,09 28 hari (cm) 4,65 4,75 4,8 4,73 0,08 48 jam (cm) 4,0 4,075 4,2 4,09 0,10 7 hari (cm) 4,025 4,1 4,275 4,13 0,13 14 hari (cm) 4,075 4,15 4,325 4,18 0,13 21 hari (cm) 4,125 4,2 4,35 4,225 0,11 28 hari (cm) 4,15 4,25 4,4 4,27 0,13 48 jam (cm) 3,5 3,425 3,425 3,45 0,04 7 hari (cm) 3,5 3,45 3,45 3,47 0,03 14 hari (cm) 3,525 3,5 3,475 3,5 0,025 21 hari (cm) 3,55 3,525 3,525 3,53 0,01 28 hari (cm) 3,6 3,575 3,6 3,59 0,01 Stabilitas Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih a. FI 1) Uji Normalitas Data

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Data viskositas 48 jam dan 21 hari memiliki nilai p < 0,05 → data tidak normal

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 2) Kruskal-Wallis Test b. FII 1) Uji Normalitas Data

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Data viskositas 48 jam, 7 hari, dan 14 hari memiliki nilai p < 0,05 → data tidak normal

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 2) Kruskal-Wallis Test c. FIII 1) Uji Normalitas Data

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Data viskositas 28 jam memiliki nilai p < 0,05 → data tidak normal

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 2) Kruskal-Wallis Test

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Lampiran 8. Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih FI FI = emulgel minyak atsiri temu putih 15% dengan konsentrasi carbopol 940 0,5% FII FII = emulgel minyak atsiri temu putih 15% dengan konsentrasi carbopol 940 0,75%

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 FIII FIII = emulgel minyak atsiri temu putih 15% dengan konsentrasi carbopol 940 1,0%

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Lampiran 9. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih 1. Foto Hasil Uji Aktivitas Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih Kontrol media Kontrol Pertumbuhan Replikasi I B-FI ETP-FIII ETP-FII ETP-FI K+FII B-FII K+FI B-FIII K+FIII Keterangan : B-F1 = basis emulgel FI (carbopol 940 0,5%) B-FII = basis emulgel FI (carbopol 940 0,75%) B-FIII = basis emulgel FI (carbopol 940 1,0%) K+FI = kontrol positif emulgel clindamycin 0,2% FI K+FII = kontrol positif emulgel clindamycin 0,2% FII K+FIII = kontrol positif emulgel clindamycin 0,2% FIII ETP-FI = emulgel minyak atsiri temu putih FI ETP-FII = emulgel minyak atsiri temu putih FII ETP-FIII = emulgel minyak atsiri temu putih FIII

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Replikasi II B-FI ETP-FIII K+FI K+FII ETP-FII B-FII ETP-FI B-FIII K+FIII Replikasi III B-FI K+FII ETP-FIII K+FI B-FII ETP-FII K+FIII ETP-FI B-FIII Keterangan : B-F1 B-FII B-FIII K+FI K+FII K+FIII ETP-FI ETP-FII ETP-FIII = basis emulgel FI (carbopol 940 0,5%) = basis emulgel FI (carbopol 940 0,75%) = basis emulgel FI (carbopol 940 1,0%) = kontrol positif emulgel clindamycin 0,2% FI = kontrol positif emulgel clindamycin 0,2% FII = kontrol positif emulgel clindamycin 0,2% FIII = emulgel minyak atsiri temu putih FI = emulgel minyak atsiri temu putih FII = emulgel minyak atsiri temu putih FIII

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 106 Pengukuran Diameter Zona Hambat Kelompok Basis FI Basis FII Basis FIII Kontrol positif FI Kontrol positif FII Kontrol positif FIII Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih FI Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih FII Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih FIII Diameter Zona Hambat RI RII RIII 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32,1125 31,935 32,3225 31,2575 31,8875 32,7875 31,355 32,2325 32,7675 Rata-rata ± SD 0 0 0 32,12±0,194 31,98±0,769 32,12±0,713 5,9875 5,4 5,9575 5,78±0,331 5,325 5,1025 5,1625 5,20±0,115 4,2275 3,9775 4,6875 4,30±0,360

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Lampiran 10. Hasil Analisis Statistik Data Diameter Zona Hambat Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis 1. Uji Normalitas Data Keterangan : m0.5 m0.75 m1 k0.5 k0.75 k1 b0.5 b0.75 b1 = emulgel minyak atsiri temu putih FI = emulgel minyak atsiri temu putih FII = emulgel minyak atsiri temu putih FIII = kontrol positif emulgel FI = kontrol positif emulgel FII = kontrol positif emulgel FIII = basis emulgel FI = basis emulgel FII = basis emulgel FIII

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Uji normalitas data, semua kelompok memiliki p>0,05 à data normal

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 2. Uji Kehomogenan Data Levene’s test

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Uji kehomogenan data, p>0,05 à data homogen 3. Uji ANOVA Uji ANOVA, p<0,05 à data berbeda à T-test 4. Uji Variansi Data

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 5. T-test

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 Lampiran 11. Hasil Analisis Statistik Data Diameter Zona Hambat Minyak Atsiri Temu Putih terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Sebelum dan Sesudah Diformulasikan Menjadi Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih 1. Uji Normalitas Data Keterangan : m15 f1 f2 f3 = minyak atsiri temu putih 15% = formulasi emulgel minyak atsiri temu putih dengan variasi carbopol 940 0,5% = formulasi emulgel minyak atsiri temu putih dengan variasi carbopol 940 0,75% = formulasi emulgel minyak atsiri temu putih dengan variasi carbopol 940 1%

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Uji normalitas data, semua kelompok memiliki p>0,05 à data normal 2. Uji Kehomogenan Data Levene’s test Uji kehomogenan data, p>0,05 à data homogeny

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 3. Uji ANOVA Uji ANOVA, p<0,05 à data berbeda à T-test 4. Uji Variansi Data

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 5. T-test

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama lengkap Felicia Aniska, dilahirkan pada tanggal 20 Maret 1992 di Yogyakarta sebagai putri pertama anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Stephanus Swandito dan Ibu Uut Adrina Swandito. Penulis Skripsi dengan judul “Formulasi Sediaan Emulgel Minyak Atsiri Temu Putih (Curcuma zedoaria [Berg.] Roscoe) dengan Variasi Carbopol 940 sebagai Gelling Agent dan Uji Aktivitas Antibakterinya terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228” mengawali masa studinya di TK Mutiara Persada Yogyakarta pada tahun 1996 hingga tahun 1998, SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada tahun 1998 hingga tahun 2004, SMP Stella Duce 1 Yogyakarta pada tahun 2004 hingga tahun 2007 dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta pada tahun 2007 hingga tahun 2010. Kemudian penulis melanjutkan studi di Program Studi S1 Fakultas Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010 hingga tahun 2014. Selama perkuliahan penulis pernah menjadi asisten praktikum Farmasetika Dasar (2011), asisten praktikum FarmakologiToksikologi (2013), serta aktif dalam kegiatan kemahasiswaan kampus antara lain Pharmacy Performance 2011 dan Temu Alumni Akbar Fakultas Farmasi 2012.

(152)

Dokumen baru

Download (151 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Optimasi tween 80 sebagai emulsifying agent dan carbopol 940 sebagai gelling agent dalam sediaan emulgel sunscreen ekstrak lidah buaya (aloe barbadensis Mill.) dengan metode desain faktorial.
0
11
108
Formulasi sediaan emulgel ekstrak etanol rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) dengan menggunakan Carbopol 940 sebagai gelling agent dan gliserin sebagai humectant.
4
17
101
Formulasi sunscreen sediaan emulgel ekstrak Kencur (Kaempferia galanga L.) dengan menggunakan CARBOPOL® 940 sebagai gelling agent dan SPAN 20 sebagai emulgator.
0
5
91
Optimasi formula emulgel minyak daun cengkeh sebagai penghilang bau kaki dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant.
1
3
114
Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan sorbitol sebagai humectant.
0
8
119
Optimasi formula emulgel minyak daun cengkeh sebagai penghilang bau kaki dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant
0
0
112
Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan sorbitol sebagai humectant - USD Repository
0
0
117
Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant - USD Repository
0
0
107
Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan gelling agent carbopol dan humectant gliserol - USD Repository
0
0
114
Optimasi formula emulgel sunscreen ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan VCO sebagai fase minyak : apikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
116
Daya antibakteri minyak atsiri daun kemangi (Ocimum basilicum L.) sebagai zat aktif dan sediaan gel terhadap Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 dan Bacillus Subtilis ATCC 6633 - USD Repository
0
0
104
Perbandingan aktivitas antibakteri sediaan gel dan krim tipe O/W antibau kaki minyak kayu manis terhadap bakteri Staphyiloccus epidermidis ATCC 12228 - USD Repository
0
0
101
Formulasi sediaan krim ekstrak etanolik rimpang temu putih (curcuma zedoaria berg. roscoe) dengan pengujian aktivitasnya sebagai antiinflamasi - USD Repository
0
0
83
Formulasi sediaan emulgel ekstrak etanolik rimpang temu putih (curcuma zedoaria berg. roscoe) dengan gliserin sebagai penetration enhancer dan pengujian aktivitasnya sebagai antiinflamasi - USD Repository
0
0
95
Formulasi sediaan krim kaki minyak atsiri sereh wangi jawa (cymbopogon winterianus jowitt) dengan setil alkohol sebagai stiffening agent dan pengujian aktivitasnya sebagai antibakteri terhadap staphylococcus epidermidis atcc 12228 - USD Repository
0
0
109
Show more