Validasi metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik untuk penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek ``x`` - USD Repository

Gratis

0
0
138
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI VALIDASI METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK UNTUK PENETAPAN KADAR SALBUTAMOL SULFAT DAN GUAIFENESIN DALAM SEDIAAN SIRUP MEREK “X” SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh: Agustinus Hendy Larsen NIM: 108114014 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI VALIDASI METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK UNTUK PENETAPAN KADAR SALBUTAMOL SULFAT DAN GUAIFENESIN DALAM SEDIAAN SIRUP MEREK “X” SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh: Agustinus Hendy Larsen NIM: 108114014 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Halaman Persembahan  Aku dilahirkan bukan dengan tingkat kepintaran/kepandaian yang tinggi.., tetapi dengan hoki yang cukup memuaskan.. (Larsen, 2014)  Skripsi itu... Ngga semudah apa yg kamu bayangkan... Ngga sesulit apa yg kamu pikirkan... (Larsen, 2014)  Seorang ayah dapat dengan mudah memiliki anak.. Jauh lebih sulit bagi seorang anak untuk dapat memiliki ayah yang sejati..  Mah.. Pah.. ndy minta maaf ya.. ndy minta bantu doa ne terus ya Mah, Pah.. Biar ndy dapat menjadi orang sukses.. ndy cuma pengin mbuat Mamah sama Papah bangga sama ndy, dan juga bahagia.. Amin..  Penyesalan selalu datang belakangan.., kalau di depan namanya pendaftaran..  Real eyes.. Realize.. Real lies.. Kupersembahkan untuk: Mamah, Alm. Papah, Oh Yus, Picky Saudara, Sahabat, Teman, dan Almamaterku v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan anugerah yang telah diberikan sehingga penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Validasi Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik untuk Penetapan Kadar Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin dalam Sediaan Sirup Merek “X”” dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana farmasi (S. Farm.) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam pelaksanaan penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Aris Widayati, M.Si., Apt., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 2. Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. selaku Dosen Pembimbing yang bersedia membimbing, memberi masukan dan jalan keluar serta saran yang sangat bermanfaat dalam menyelesaikan penelitian ini hingga penyusunan naskah skripsi. 3. Jeffry Julianus, M.Si. dan Florentinus Dika Octa Riswanto, M.Sc. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun dalam penyusunan skripsi. 4. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. selaku dosen pembimbing akademik atas pendampingannya dari semester awal hingga akhir ini. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Seluruh Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mendampingi, membagi ilmu dan pengalamannya yang sangat bermanfaat dalam bidang farmasi. 6. Seluruh Staf laboratorium kimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma terutama Mas Bimo, Mas Agung, Mas Kayat, Pak Parlan, Mas Otok, Pak Mus, dan Pak Iswandi yang telah banyak membantu dan bersedia untuk direpotkan selama penulis menyelesaikan penelitian skripsi ini. 7. PT. Ifars Pharmaceutical Laboratories yang telah bersedia memberikan senyawa standar Salbutamol Sulfat yang berguna bagi penelitian. 8. Yani Ardiyanti, SF., Apt., M.Sc., yang telah bersedia memberikan senyawa standar Guaifenesin yang berguna bagi penelitian. 9. Mamah Dra. Bernardine Susy Mayawati Soeharto, Alm. Papah Bernardus Bambang Hermantodjojo, Ooh Vinsensius Julius Marco, S. Farm., Apt., dan Yoseph Picky Martisen yang telah mendoakan dan terus memberikan semangat agar cepat selesai skripsi dan kuliahnya. 10. JiKo Indah Susilowati/Souw Swan Ie dan keluarga yang telah membantu membiayai perkuliahan dan kehidupan penulis selama kuliah serta mendoakan dan juga memberikan semangat. 11. Um Ir. Laurentius Darmawan Soeharto yang telah memberikan laptop kepada penulis, karena tanpa laptop ini penulis mengalami kesulitan selama penyusunan skripsi dan perkuliahan. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12. Olivia Christie Anjalicca Endut wud wud yang selalu membantu, memberi perhatian, menyemangati, menghibur di saat sedih, dan selalu ada untuk penulis. 13. Ricardo Kenny Chandra, S. Farm. yang sangat banyak membantu, mendukung, menyemangati, dan menghibur penulis di saat penulis kehilangan semangat. 14. Christian Gunawan, S. Farm. (Master) yang sangat sabar dan baik hati dalam membantu, mendukung, dan menyemangati penulis. 15. Aries Mulyawan dan Priscilla Novelia S. sebagai teman sekelompok perjuangan skripsi. 16. Olek, Eng, Odex, Daniel, Ita Oki, Angel Endul, Cilla Ciun, DeKa, Harris, Hanna HP, Ko Demas, Verica, Mba Astri, Desti, Tomas, Angga, Bakti, Tora, serta teman-teman semua yang telah membantu, mendukung, menyemangati penulis. 17. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih atas dukungannya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam skripsi ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca dan dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Penulis x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ……………………………………………………... ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………….. iii HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………. iv HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………….. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………….. vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ……………………………….. vii PRAKATA ……………………………………………………………….. viii DAFTAR ISI ……………………………………………………………... xi DAFTAR TABEL ………………………………………………………... xv DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………... xvi DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………... xxi INTISARI ……………………………………………………………….... xxiii ABSTRACT ……………………………………………………………….. xxiv BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………….. 1 A. Latar Belakang ……………………………………………………... 1 1. Permasalahan ………………………………………………….. 3 2. Keaslian Penelitian …………………………………………….. 3 3. Manfaat Penelitian …………………………………………….. 4 B. Tujuan Penelitian …………………………………………………... 5 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ……………………………………. 6 A. Penyakit Saluran Pernapasan ............................................................. 6 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Salbutamol Sulfat …………………………………………………... 6 C. Guaifenesin ……………………………………………………….... 8 D. Spektrofotometri Ultraviolet ……………………………………….. 9 E. Larutan Penyangga (Bufer) ……………………………………….... 14 F. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) ………………………... 16 1. Tinjauan umum KCKT ………………………………………... 2. Instrumentasi ............................................................................... 16 16 G. Validasi Metode Analisis …………………………………………... 21 1. Tinjauan umum validasi metode analisis …………………….... 21 2. Parameter validasi metode analisis ............................................. 23 H. Landasan Teori ……………………………………………………... 25 I. Hipotesis ……………………………………………………………. 26 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ………………………………... 27 A. Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………………... 27 B. Variabel Penelitian ………………………………………………... 27 C. Definisi Operasional …………………………………………….... 28 D. Bahan Penelitian ………………………………………………….. 28 E. Alat Penelitian .................................................................................. 29 F. Tatacara Penelitian ........................................................................... 29 1. Pembuatan asam fosfat 0,1 M …………………………………. 29 2. Pembuatan bufer kalium dihidrogen fosfat 0,01 M .................... 29 3. Pembuatan fase gerak ………………………………………….. 30 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Pembuatan larutan baku salbutamol sulfat dan guaifenesin yang digunakan untuk penentuan panjang gelombang pengamatan .... 30 5. Pembuatan larutan baku salbutamol sulfat …………………….. 31 6. Pembuatan larutan baku guaifenesin …………………………... 31 7. Pembuatan seri larutan baku campuran salbutamol sulfat dan guaifenesin …………………………………………………….. 8. 31 Penetapan panjang gelombang (λ) maksimum salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan spektrofotometer UV-Vis ……………. 32 9. Preparasi sampel ......................................................................... 32 10. Preparasi adisi baku dalam sampel ............................................. 33 11. Validasi metode analisis ……………………………………….. 33 12. Uji kestabilan larutan baku ……………………………………. 34 G. Analisis Hasil ……………………………………………………... 35 1. Selektivitas …………………………………………………….. 35 2. Linieritas ..................................................................................... 35 3. Akurasi ……………………………………………………….... 36 4. Presisi ………………………………………………………….. 36 5. Rentang ………………………………………………………... 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………….... 38 A. Pembuatan Fase Gerak ……………………………………………. 38 B. Pembuatan Larutan Baku …………………………………………. 39 C. Penentuan Panjang Gelombang Pengamatan ……………………... 41 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Analisis Kualitatif Berdasarkan Waktu Retensi (tR) Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin ……………………………………………. 45 E. Pembuatan Kurva Baku Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin …….. F. Validasi Metode Analisis ................................................................. 53 49 1. Selektivitas …………………………………………………….. 53 2. Linieritas ..................................................................................... 56 3. Akurasi ……………………………………………………….... 56 4. Presisi ………………………………………………………….. 58 5. Rentang ………………………………………………………... 59 G. Uji Kestabilan Larutan Baku ........................................................... 59 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………. 62 A. Kesimpulan ……………………………………………………….. 62 B. Saran …………………………………………………………….... 62 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. 63 LAMPIRAN …………………………………………………………….... 66 BIOGRAFI PENULIS ……………………………………………………. 114 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Jenis bufer dalam analisis menggunakan KCKT ………….... Tabel II. Nilai UV cut-off pelarut dalam analisis menggunakan KCKT.. 18 Tabel III. Kategori metode pengujian validitas ……………………….... Tabel IV. Parameter validasi yang dipersyaratkan untuk validasi metode analisis ……………………………………………………….. 16 22 22 Tabel V. Kriteria rentang % Recovery yang diperbolehkan ………........ 24 Tabel VI. Kriteria KV atau % RSD yang diperbolehkan ……………….. 25 Tabel VII. Penentuan kurva baku guaifenesin ………………………....... 51 Tabel VIII. Nilai resolusi (Rs) campuran baku dan sampel …………........ 55 Tabel IX. Hasil penetapan % Recovery baku guaifenesin adisi ……........ 58 Tabel X. Hasil persen perubahan (%) pada uji kestabilan guaifenesin ... Tabel XI. Hasil persen perubahan (%) pada uji kestabilan salbutamol sulfat ......................................................................................... xv 60 61

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Struktur salbutamol sulfat ……………………………………. 7 Gambar 2. Struktur guaifenesin .................................................................. 8 Gambar 3. Gambaran eksitasi elektron …………………………………... 10 Gambar 4. Penyerapan sinar UV oleh larutan …………………………… 11 Gambar 5. Diagram skematis spektrofotometer UV-Vis ………………... 13 Gambar 6. Monokromator ……………………………………………….. 14 Gambar 7. Diagram skematis sistem KCKT secara umum ……………… 17 Gambar 8. Kolom pada KCKT …………………………………………... 20 Gambar 9. Spektra salbutamol sulfat 3 seri konsentrasi dengan pelarut metanol ………………………………………………………. 42 Gambar 10. Spektra guaifenesin 3 seri konsentrasi dengan pelarut metanol 42 Gambar 11. Gugus kromofor dan auksokrom salbutamol sulfat ………….. 43 Gambar 12. Gugus kromofor dan auksokrom guaifenesin ........................... 43 Gambar 13. Spektra tumpang tindih salbutamol sulfat dan guaifenesin ...... 44 Gambar 14. Kromatogram baku salbutamol sulfat (a), kromatogram baku guaifenesin (b), dan kromatogram sampel (c) .......................... 46 Gambar 15. Interaksi salbutamol sulfat dengan fase diam (a), interaksi guaifenesin dengan fase diam (b) ............................................. 47 Gambar 16. Interaksi salbutamol sulfat dengan fase gerak (a), interaksi guaifenesin dengan fase gerak (b) ............................................ 48 Gambar 17. Kurva baku guaifenesin ............................................................ 51 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 18. Bentuk degradasi salbutamol sulfat .......................................... 52 Gambar 19. Kromatogram pemisahan analit dalam campuran baku (a), dalam sampel (b) ....................................................................... 54 Gambar 20. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL replikasi I ……….. 74 Gambar 21. Kromatogram baku guaifenesin 45 μg/mL replikasi I ……….. 75 Gambar 22. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL replikasi I ……….. 75 Gambar 23. Kromatogram baku guaifenesin 63 μg/mL replikasi I ……….. 76 Gambar 24. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL replikasi I ……….. 76 Gambar 25. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL replikasi II ……… 77 Gambar 26. Kromatogram baku guaifenesin 45 μg/mL replikasi II ……… 77 Gambar 27. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL replikasi II ……… 78 Gambar 28. Kromatogram baku guaifenesin 63 μg/mL replikasi II ……… 78 Gambar 29. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL replikasi II ……… 79 Gambar 30. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL replikasi III ……... 79 Gambar 31. Kromatogram baku guaifenesin 45 μg/mL replikasi III ……... 80 Gambar 32. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL replikasi III ……... 80 Gambar 33. Kromatogram baku guaifenesin 63 μg/mL replikasi III ……... 81 Gambar 34. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL replikasi III ……... 81 Gambar 35. Kromatogram sampel 40 μg/mL replikasi I .............................. 83 Gambar 36. Kromatogram sampel 40 μg/mL replikasi II ............................ 84 Gambar 37. Kromatogram sampel 40 μg/mL replikasi III ........................... 84 Gambar 38. Kromatogram sampel 50 μg/mL replikasi I .............................. 85 Gambar 39. Kromatogram sampel 50 μg/mL replikasi II ............................ xvii 85

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 40. Kromatogram sampel 50 μg/mL replikasi III ........................... 86 Gambar 41. Kromatogram sampel 60 μg/mL replikasi I .............................. 86 Gambar 42. Kromatogram sampel 60 μg/mL replikasi II ............................ 87 Gambar 43. Kromatogram sampel 60 μg/mL replikasi III ........................... 87 Gambar 44. Kromatogram sampel rendah adisi replikasi I .......................... 88 Gambar 45. Kromatogram sampel rendah adisi replikasi II ......................... 88 Gambar 46. Kromatogram sampel rendah adisi replikasi III ....................... 89 Gambar 47. Kromatogram sampel sedang adisi replikasi I ......................... 89 Gambar 48. Kromatogram sampel sedang adisi replikasi II ........................ 90 Gambar 49. Kromatogram sampel sedang adisi replikasi III ....................... 90 Gambar 50. Kromatogram sampel tinggi adisi replikasi I …........................ 91 Gambar 51. Kromatogram sampel tinggi adisi replikasi II .......................... 91 Gambar 52. Kromatogram sampel tinggi adisi replikasi III ......................... 92 Gambar 53. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL 6 Maret 2014 ........ 95 Gambar 54. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL 6 Maret 2014 ........ 95 Gambar 55. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL 6 Maret 2014 ........ 96 Gambar 56. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL 7 Maret 2014 ........ 96 Gambar 57. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL 7 Maret 2014 ........ 97 Gambar 58. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL 7 Maret 2014 ........ 97 Gambar 59. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL 8 Maret 2014 ........ 98 Gambar 60. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL 8 Maret 2014 ........ 98 Gambar 61, Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL 8 Maret 2014 ........ 99 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 62. Kromatogram baku salbutamol sulfat 0,8 μg/mL 5 Maret 2014............................................................................................ 102 Gambar 63. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,2 μg/mL 5 Maret 2014............................................................................................ 103 Gambar 64. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,6 μg/mL 5 Maret 2014............................................................................................ 103 Gambar 65. Kromatogram baku salbutamol sulfat 0,8 μg/mL 6 Maret 2014............................................................................................ 104 Gambar 66. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,2 μg/mL 6 Maret 2014............................................................................................ 104 Gambar 67. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,6 μg/mL 6 Maret 2014............................................................................................ 105 Gambar 68. Kromatogram baku salbutamol sulfat 0,8 μg/mL 7 Maret 2014............................................................................................ 105 Gambar 69. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,2 μg/mL 7 Maret 2014............................................................................................ 106 Gambar 70. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,6 μg/mL 7 Maret 2014............................................................................................ 106 Gambar 71. Kromatogram baku salbutamol sulfat 10 μg/mL 16 Januari 2014............................................................................................ 107 Gambar 72. Kromatogram baku salbutamol sulfat 10 μg/mL 8 Maret 2014............................................................................................ 107 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 73. Kromatogram baku campuran salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL replikasi I ....................................... 109 Gambar 74. Kromatogram baku campuran salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL replikasi II ...................................... 110 Gambar 75. Kromatogram baku campuran salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL replikasi III ..................................... 111 Gambar 76. Kromatogram sampel 50 μg/mL untuk menunjukkan resolusi replikasi I .................................................................................. 112 Gambar 77. Kromatogram sampel 50 μg/mL untuk menunjukkan resolusi replikasi II ................................................................................. 112 Gambar 78. Kromatogram sampel 50 μg/mL untuk menunjukkan resolusi replikasi III ................................................................................ 113 xx

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) salbutamol sulfat …………... 67 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) guaifenesin ……………….... 69 Lampiran 3. Data penimbangan baku …………………………………... Lampiran 4. Skema pembuatan larutan baku guaifenesin dan contoh perhitungan kadar larutan baku yang digunakan ………….. 72 72 Lampiran 5. Kromatogram baku guaifenesin untuk kurva baku ………... 74 Lampiran 6. Data penentuan kurva baku guaifenesin …………………... 82 Lampiran 7. Persamaan dan gambar kurva baku guaifenesin …………... 82 Lampiran 8. Kromatogram sampel …………………………………….... 83 Lampiran 9. Kromatogram sampel adisi ………………………………... 88 Lampiran 10. Perolehan nilai AUC sampel dan sampel adisi, contoh perhitungan konsentrasi terukur, perhitungan % Recovery, dan KV baku guaifenesin adisi ……………………………. 92 Lampiran 11. Kromatogram baku guaifenesin untuk uji kestabilan larutan baku guaifenesin …………………………………………... 95 Lampiran 12. Perolehan nilai AUC baku guaifenesin, contoh perhitungan konsentrasi terukur dan perhitungan % perubahan untuk uji kestabilan larutan baku guaifenesin ……………………….. 99 Lampiran 13. Skema pembuatan larutan baku salbutamol sulfat dan contoh perhitungan kadar larutan baku yang digunakan untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat ………. xxi 101

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 14. Kromatogram baku salbutamol sulfat untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat …………………………….. 102 Lampiran 15. Perolehan nilai AUC baku salbutamol sulfat, contoh perhitungan % perubahan untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat …………………………………………... 108 Lampiran 16. Kromatogram untuk menunjukkan resolusi pemisahan salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam larutan baku campuran …………………………………………………... 109 Lampiran 17. Kromatogram untuk menunjukkan resolusi pemisahan salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sampel ………….. 112 xxii

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI VALIDASI METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK UNTUK PENETAPAN KADAR SALBUTAMOL SULFAT DAN GUAIFENESIN DALAM SEDIAAN SIRUP MEREK “X” INTISARI Salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan biasanya digunakan untuk mengobati penyakit batuk berdahak yang disertai dengan sesak napas (bronkitis). Kombinasi kedua senyawa ini harus dapat menghasilkan efek terapeutik yang diharapkan. Untuk menjamin keamanan dan keefektivannya, maka perlu dilakukan analisis penetapan kadar kedua senyawa tersebut dengan metode yang telah tervalidasi. Penelitian yang dilakukan bersifat non eksperimental deskriptif. Salbutamol sulfat dan guaifenesin dianalisis secara kuantitatif menggunakan sistem KCKT fase terbalik yang optimal dengan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm), fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min dan detektor UV pada panjang gelombang 275 nm. Parameter validitas yang digunakan adalah selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode KCKT fase terbalik yang digunakan memiliki selektivitas yang baik dengan adanya pemisahan sempurna dari peak kedua senyawa di atas dan linieritas yang baik untuk guaifenesin dengan nilai (r) sebesar 0,9997. Akurasi, presisi, dan rentang yang baik berada pada tingkat konsentrasi sedang/tengah (guaifenesin 50 μg/mL) dengan nilai % Recovery sebesar 100,09-101,28% dan KV sebesar 0,59%. Berdasarkan hasil tersebut, metode KCKT fase terbalik pada penetapan kadar guaifenesin dalam sediaan sirup “X” memenuhi parameter validitas yang baik, tetapi tidak untuk salbutamol sulfat. Kata kunci: salbutamol sulfat, guaifenesin, KCKT, sirup, validasi xxiii

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI VALIDATION METHOD OF REVERSE PHASE HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY TO PERFORM THE ASSAY OF SALBUTAMOL SULFATE AND GUAIFENESIN IN THE SYRUP DOSAGE FORM BRAND “X” ABSTRACT Salbutamol sulfate and guaifenesin dosage form is usually used to treat productive cough that is accompanied by breathless (bronchitis). The combination of both compounds should be able to produce a therapeutic effect to be expected. To ensure the safety and effectiveness of the compounds, an analysis is needed to determine the compounds with methods that have been validated. Study was conducted with a non experimental descriptive. Salbutamol sulfate and guaifenesin was analyzed quantitatively using reversed-phase HPLC system with an optimal C18 stationary phase (250 × 4.6 mm, 5 μm particle size) brand Shimadzu, mobile phase methanol : 0.01 M potassium dihydrogen phosphate buffer pH 3 (40 : 60) with a flow rate 1 mL/min and UV detector at a 275 nm wavelength. Parameter validity used were selectivity, linearity, accuracy, precision, and range. The result of the study showed that the reversed-phase HPLC method used had good selectivity in the presence of a perfect separation of the two compounds above peak and good linearity for the guaifenesin with values (r) of 0.9997. Accuracy, precision, and a good range of concentration levels are at moderate or middle (guaifenesin 50 μg/mL) with a value of % Recovery 100.09 to 101.28% and CV 0.59%. Based on these results, reversed-phase HPLC method to determine of guaifenesin in syrup "X" meets the parameters of good validity, but not for salbutamol sulfate. Key words: salbutamol sulfate, guaifenesin, HPLC, syrup, validation xxiv

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Asma adalah suatu penyakit pernapasan yang ditandai dengan inflamasi saluran pernapasan yang menyebabkan aliran udara ke dan dari paru kurang lancar, sehingga menimbulkan gejala-gejala khas yaitu batuk, mengi, dan sesak napas (UBM Medica, 2011). Asma merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan penelitian International Study on Asthma and Allergies in Childhood, diperkirakan 2-5% penduduk Indonesia menderita asma, dan umumnya prevalensi asma di perkotaan lebih tinggi dibanding di pedesaan (Oemiati dkk., 2010). Salah satu obat yang digunakan dalam pengobatan asma adalah salbutamol sulfat. Batuk adalah suatu respon alami tubuh untuk menjaga agar tenggorokan dan saluran napas kita bersih. Selain itu, batuk juga dapat menandakan terjadinya penyakit lain, misalnya asma. Perokok dewasa biasanya mengalami batuk kronik yang disertai dengan sesak asma dengan angka kejadian sekitar 24-29% (Dicpinigaitis, 2006). Batuk yang disertai asma terjadi karena pengentalan lendir pada lapisan epitel di saluran pernapasan, sehingga jalannya udara menjadi terhambat. Salah satu obat yang digunakan dalam pengobatan batuk seperti ini adalah guaifenesin. Penggunaan kombinasi salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan obat ditujukan untuk pasien yang mengalami batuk berdahak disertai dengan sesak napas (bronkitis). Kombinasi ini dapat berfungsi sebagai bronkodilator dan 1

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 ekspektoransia pada asma bronkial, bronkitis kronik dan emfisema, dengan sputum pada saluran pernapasan (UBM Medica, 2011). Untuk menjamin keamanan dan keefektivan obat tersebut, perlu dilakukan analisis berupa penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan teliti. Penelitian mengenai penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin pernah dilakukan oleh Walode dkk. (2013) menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan fase gerak asetonitril dan bufer fosfat serta Korany dkk. (2010) menggunakan KCKT dengan kecepatan alir fase gerak 1,5 mL/min. Penelitian tersebut dianggap kurang efisien dan ekonomis karena menggunakan asetonitril (biaya mahal) serta membutuhkan jumlah fase gerak yang cukup banyak, maka peneliti mencoba untuk mengembangkan metode yang lebih efisien dan ekonomis. Metode yang dipilih dalam penelitian ini yaitu metode KCKT fase terbalik karena KCKT merupakan salah satu teknik pemisahan campuran yang modern dan memiliki kelebihan dalam hal selektivitas dan sensitivitasnya untuk pemisahan suatu campuran. Selain itu, KCKT juga dapat digunakan untuk menganalisis cuplikan yang tidak menguap dan labil pada suhu tinggi (jika dibandingkan dengan Gas Chromatography) karena dapat dilakukan pada suhu kamar dan tidak terbatas pada senyawa organik saja (Kazakevich dan Lobrutto, 2007). Untuk dapat menetapkan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup, diperlukan serangkaian penelitian terdahulu yaitu optimasi dan validasi metode. Menurut Mulyawan (2014), kondisi KCKT yang optimal yaitu

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 dengan menggunakan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm), fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min. Dalam hal ini, peneliti mengambil bagian pada tahap validasi metode. Suatu metode analisis harus divalidasi ketika baru pertama kali dikembangkan dan belum divalidasi. Tujuan validasi yaitu untuk memberikan jaminan bahwa metode analisis yang digunakan memenuhi parameter-parameter validasi yang meliputi selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang. Validasi metode merupakan tahapan yang penting untuk dilakukan dalam suatu penetapan kadar senyawa agar dapat memberikan hasil yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. 1. Permasalahan Apakah metode KCKT fase terbalik pada penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X” menggunakan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm), fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min, memenuhi parameter-parameter validasi yaitu selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang? 2. Keaslian Penelitian Penelitian pengembangan dan validasi metode kuantifikasi salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan menggunakan metode KCKT telah dilakukan oleh:

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 a. Walode dkk. (2013) dengan penelitian penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin menggunakan fase diam C18 (250 x 4,6 mm), fase gerak asetonitril : 50 mM bufer dinatrium hidrogen fosfat dan 0,1% trietilamin pH 3,0 (36:64) dengan kecepatan alir fase gerak 0,8 mL/min. b. Korany dkk. (2010) dengan penelitian penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin menggunakan fase diam C18 (250 x 4,6 mm) dengan fase gerak metanol : 0,01 M bufer natrium dihidrogen fosfat pH 3,2 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1,5 mL/min. Berdasarkan penelitian di atas, penelitian validasi metode penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X” dengan metode KCKT fase terbalik fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm) dan fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min belum pernah dilakukan sebelumnya. Keunggulan dari penelitian yang dilakukan dibandingkan penelitian sebelumnya yaitu lebih efisien dan ekonomis karena tidak menggunakan asetonitril dan jumlah fase gerak yang lebih sedikit. 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat metodologis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah tentang penggunaan metode KCKT fase terbalik dengan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm) dan fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 gerak 1 mL/min (Mulyawan, 2014) pada penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X”. b. Manfaat praktis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai validitas metode (selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang), sehingga metode KCKT fase terbalik yang telah optimal (Mulyawan, 2014) dapat digunakan/diaplikasikan untuk penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X”. B. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas metode KCKT fase terbalik pada penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm) dan fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min, apakah memenuhi parameter-parameter validasi yaitu selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang sehingga dapat digunakan untuk penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X”.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Penyakit Saluran Pernapasan Batuk dan asma merupakan penyakit yang mengganggu saluran pernapasan. Batuk adalah suatu proses alami dan refleks proteksi pada individu sehat untuk menjaga agar tenggorokan dan saluran napas tetap bersih. Adakalanya batuk juga merupakan salah satu tanda dari penyakit lain seperti asma (UBM Medica, 2011). Menurut The National Asthma Education and Prevention Program, asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalannya udara pada saluran pernapasan. Pada individu yang rentan, inflamasi dapat menyebabkan episode berulang dari sesak napas, bengek, batuk, dan sempit dada (Sukandar dkk., 2009). Penyakit batuk yang disertai dengan asma disebut juga penyakit bronkitis. Secara garis besar bronkitis disebabkan karena saluran pernapasan yang teriritasi terus-menerus, sehingga terjadi peradangan dan produksi mukus/dahak yang berlebihan. Penyakit ini biasa diobati dengan menggunakan kombinasi salbutamol sulfat dan guaifenesin (UBM Medica, 2011). B. Salbutamol Sulfat Salbutamol sulfat (bentuk garam salbutamol) mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% (C13H21NO3)2.H2SO4 dengan bobot molekul 576,7 g/mol (Moffat dkk., 2005). Salbutamol sulfat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, kloroform, dan eter. Zat ini lebih baik disimpan 6

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 dalam wadah tertutup baik dan tidak tembus cahaya (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995). Gambar 1. Struktur salbutamol sulfat (Jyothi dkk., 2012) Salbutamol sulfat (Gambar 1) dalam suasana asam memiliki λmax 276 nm 71a dan dalam suasana basa memiliki λmax 245 nm dengan dengan nilai nilai 510a; serta λmax 295 nm dengan nilai 133a. Salbutamol sulfat memiliki nilai log P (oktanol/air) = 0,6 serta nilai pKa 9,3 dan 10,3 (Moffat dkk., 2011). Penelitian mengenai analisis salbutamol sulfat dengan menggunakan metode KCKT telah dilakukan oleh Martis dan Gangrade (2011) dengan penelitian analisis salbutamol sulfat dan beklometason dipropionat menggunakan fase diam C18, fase gerak air : asetonitril (40:60), dan panjang gelombang (λ) 230 nm. Jyothi, VenuGopal, dan Rao (2012) dengan penelitian analisis salbutamol sulfat dan ipratropium bromida menggunakan fase diam C18, fase gerak 0,05 M bufer fosfat pH 3,5 : metanol (40:60) dengan kecepatan alir 0,6 mL/min dan λ 226 nm. Walode dkk. (2013) dengan penelitian penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin menggunakan fase diam C18, fase gerak campuran asetonitril : 50 mM bufer dinatrium hidrogen fosfat dan 0,1% trietilamin pH 3,0 (36:64) dengan kecepatan alir fase gerak 0,8 mL/min.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 C. Guaifenesin Guaifenesin mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0% C10H14O4 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian: serbuk hablur, putih sampai agak kelabu, bau khas lemah, rasa pahit. Larut dalam air, etanol, kloroform, dan dalam propilen glikol, agak sukar larut dalam gliserin (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995). Gambar 2. Struktur guaifenesin (Moffat dkk., 2005) Guaifenesin (Gambar 2) memiliki bobot molekul 198,2 g/mol; titik lebur 78-82oC; nilai log P (oktanol/air) = 1,4; dalam suasana asam memiliki panjang gelombang maksimum (λmax) 273 nm dengan nilai 125a (Moffat dkk., 2011). Penelitian mengenai analisis guaifenesin dengan menggunakan metode KCKT telah dilakukan oleh Korany dkk. (2010) dengan penelitian penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin menggunakan fase diam C18, fase gerak metanol : 0,01 M bufer natrium dihidrogen fosfat pH 3,2 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1,5 mL/min. Walode dkk. (2013) dengan penelitian penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin menggunakan fase diam C18, fase gerak asetonitril : 50 mM bufer dinatrium hidrogen fosfat dan 0,1% trietilamin pH 3,0 (36:64) dengan kecepatan alir fase gerak 0,8 mL/min.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. Spektrofotometri Ultraviolet Spektrofotometri ultraviolet (UV) adalah pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia pada panjang gelombang (λ) 190-380 nm (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995). Radiasi elektromagnetik pada sinar ultraviolet dan sinar tampak (visibel) dianggap sebagai energi yang merambat dalam bentuk gelombang. Panjang gelombang merupakan jarak linier dari suatu titik pada satu gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang berdekatan (Watson, 2000). Sinar ultraviolet dan sinar tampak memberikan energi yang cukup untuk terjadinya transisi elektronik, maka spektra ultraviolet dan tampak dikatakan sebagai spektra elektronik. Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis berdasarkan interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan atom, ion, atau molekul. Serapan atom menyebabkan peralihan atau transisi elektronik, yaitu peningkatan energi elektron dari keadaan dasar (ground state) ke satu atau lebih tingkat energi yang lebih tinggi atau tereksitasi (excited state) (Gambar 3). Transisi terjadi jika energi yang dihasilkan oleh radiasi sama dengan energi yang diperlukan untuk melakukan transisi (Watson, 2000).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Gambar 3. Gambaran eksitasi elektron (Watson, 2000) Ada empat tipe transisi elektronik yang dapat terjadi yaitu: σ → σ*, n → σ*, n → π*, dan π → π*. Transisi elektron (σ → σ*) pada suatu elektron di dalam orbital molekul bonding akan dieksitasikan ke orbital antibonding sehingga molekul berada dalam keadaan excited state (σ*). Untuk mengeksitasikan elektron yang berada pada suatu ikatan kovalen tunggal terikat kuat (orbital σ) diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek. Oleh karena itu, serapan maksimum yang disebabkan oleh transisi ini tidak pernah teramati pada daerah ultraviolet (Mulja dan Suharman, 1995). Transisi elektron n → π* dan π → π* adalah transisi yang paling cocok untuk analisis karena sesuai dengan panjang gelombang antara 200-700 nm, yang secara teori dapat diaplikasikan pada spektrofotometer. Molekul organik harus mempunyai gugus fungsional tak jenuh agar ikatan rangkap dalam gugus tersebut memberikan orbital π yang diperlukan agar jenis transisi ini dapat terjadi (Rohman, 2007). Kedua jenis transisi ini membutuhkan adanya kromofor dan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 auksokrom dalam struktur molekulnya. Kromofor adalah gugus fungsional tak jenuh yang menyediakan orbital π yang dapat memberikan serapan pada daerah ultraviolet. Sedangkan auksokrom adalah gugus jenuh yang bila terikat pada kromofor dapat mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum (Sastrohamidjojo, 2001). Dalam aspek kuantitatif spektrofotometer UV-Vis, suatu radiasi dikenakan pada larutan (sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh sampel (Gambar 4) ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan yang diserap. Serapan terjadi jika radiasi/foton yang mengenai sampel memiliki energi yang sama dengan energi yang diperlukan untuk perubahan tenaga. Kekuatan radiasi dapat mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya (Rohman, 2007). Gambar 4. Penyerapan sinar UV oleh larutan (Watson, 2000) Perhitungan besarnya serapan cahaya oleh suatu molekul dalam larutan mengikuti Hukum Lambert-Beer dengan rumus: Log I0/It = A = ε b c Keterangan: I0 = intensitas sinar awal It = intensitas sinar setelah melalui larutan dengan ketebalan b A = absorbansi terukur (besarnya/sejumlah cahaya yang diserap oleh sampel) ε = konstante serapan tiap 1 M analit dalam larutan b = ketebalan kuvet (biasanya 1 cm); dan c = konsentrasi analit (Watson, 2000).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 dengan absorptivitas molar (ε) adalah: Hubungan antara nilai ε= x M-1cm-1 Keterangan: ε = absorptivitas molar (M-1cm-1) = absorptivitas molekul dalam satuan konsentrasi (g/100 mL) BM = bobot molekul (g/mol) (Rohman, 2007). Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa instensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap sebanding dengan tebal dan konsentrasi larutan. Dalam hukum ini terdapat pembatasan yaitu: sinar yang digunakan dianggap monokromatis; tidak terjadi fluoresensi atau fosforesensi; indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan; penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas sama; dan senyawa yang menyerap tidak tergantung kepada senyawa lain dalam larutan (Rohman, 2007). Instrumen yang digunakan untuk mempelajari serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi panjang gelombang disebut spektrofotometer. Komponen-komponen pokok dari spektrofotometer (Gambar 5) meliputi: (1) sumber tenaga radiasi (stabil), (2) sistem yang terdiri atas lensa-lensa, cermin, dan celah, (3) monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal, (4) tempat cuplikan (transparan), dan (5) detektor radiasi yang dihubungkan dengan pencatat (Sastrohamidjojo, 2001).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Gambar 5. Diagram skematis spketrofotometer UV-Vis (Watson, 2000) Sumber energi pada spektrofotometer harus dapat memberikan intenitas radiasi elektromagnetik secara stabil pada daerah spektrum elektromagnetik. Sumber energi dibagi menjadi dua yaitu sumber energi continuum dan sumber energi line. Sumber energi continuum merupakan sumber energi yang memancarkan lebih dari satu panjang gelombang dengan intensitas bervariasi dari masing-masing panjang gelombang. Sumber energi line merupakan sumber energi yang memancarkan satu panjang gelombang yang selektif. Pada spektrofotometer UV-Vis menggunakan sumber energi continuum, sehingga membutuhkan monokromator (Gambar 6) sebagai selektor filter untuk membatasi jumlah panjang gelombang radiasi elektromagnetik yang akan masuk (Harvey, 2000).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Gambar 6. Monokromator (Harvey, 2000) Panjang gelombang radiasi yang masuk melalui monokromator akan melewati sampel. Pada saat panjang gelombang radiasi melewati sampel akan mengalami pengurangan sejumlah radiasi, sehingga panjang gelombang radiasi yang keluar ditangkap oleh detektor akan lebih kecil dari panjang gelombang radiasi yang masuk. Banyaknya jumlah radiasi yang berkurang berbanding lurus dengan konsentrasi analit dalam sampel (Harvey, 2000). E. Larutan Penyangga (Bufer) Larutan penyangga/bufer adalah larutan yang dapat mencegah perubahan pH walaupun ada penambahan sedikit asam atau basa. Larutan bufer biasanya terdiri atas campuran asam lemah atau basa lemah dengan garamnya masingmasing. Kerja bufer paling baik terjadi pada pH yang sama dengan pKa asam atau basa yang membentuk larutan bufer tersebut. Jika perbedaannya terlalu besar,

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 ketahanan bufer terhadap pengaruh penambahan asam atau basa akan berkurang (Cairns, 2008). Larutan bufer sering digunakan dalam bidang kimia analisis seperti pada pembutan fase gerak pada KCKT. Bufer memiliki peranan dalam pemisahan senyawa yang bersifat asam dan basa. Bufer sebagai fase gerak akan memberikan pH yang relatif konstan dan mengakibatkan waktu retensi senyawa selama pemisahan menjadi lebih reprodusibel. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penggunaan bufer pada sistem KCKT fase terbalik, antara lain: 1. Nilai pKa asam lemah atau basa lemah dan kapasitas bufer. 2. Kelarutan komponen bufer. 3. Stabilitas bufer. 4. Kompatibilitas bufer dengan komponen lain. 5. Serapan pada daerah UV bila menggunakan detektor UV pada sistem KCKT (Snyder dkk., 2010). Kapasitas bufer merupakan kemampuan suatu bufer untuk mempertahankan pH, tergantung pada nilai pKa asam lemah atau basa lemah, konsentrasi bufer, dan pH fase gerak. Asam lemah atau basa lemah sebagai komponen penyusun bufer yang digunakan hendaknya memiliki nilai pKa dalam rentang ± 1,0 unit dari pH fase gerak yang diinginkan. Larutan bufer yang ideal untuk digunakan dalam sistem KCKT dengan detektor UV jika memiliki serapan pada panjang gelombang di bawah 220 nm (Snyder dkk., 1997). Tabel I menunjukkan beberapa jenis bufer yang sering digunakan dalam analisis menggunakan KCKT.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Tabel I. Jenis bufer dalam analisis menggunakan KCKT (Kromidas, 2005) F. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) 1. Tinjauan umum KCKT Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan salah satu metode kromatografi cair yang dilengkapi dengan sistem pompa bertekanan tinggi untuk mengalirkan fase gerak dan detektor yang sensitif sehingga pemisahan dapat berlangsung dengan cepat dan memiliki efisiensi yang tinggi. Salah satu keunggulan KCKT dibandingkan dengan kromatografi gas yaitu dapat untuk menganalisis senyawa yang tidak menguap atau tidak tahan panas tanpa peruraian atau tanpa perlunya membuat derivat yang dapat menguap (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995). 2. Instrumentasi Instrumen KCKT (Gambar 7) terdiri dari: wadah fase gerak, pompa, alat untuk memasukkan sampel (tempat injeksi), kolom, detektor, dan suatu komputer atau perekam data.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Gambar 7. Diagram skematis sistem KCKT secara umum (Ahuja dan Dong, 2005) 1. Wadah fase gerak dan fase gerak. Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Fase gerak biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur dan berpengaruh pada daya elusi dan resolusi. Daya elusi dan resolusi ditentukan oleh polaritas seluruh pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen sampel. Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghilangkan partikel-partikel kecil. Adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan, karena gas akan mengganggu analisis, terutama mengacaukan bagian pompa dan detektor (Rohman, 2009). Komposisi fase gerak akan mempengaruhi pemisahan dan waktu retensi zat analit. Pemilihan fase gerak perlu mempertimbangkan beberapa hal, seperti: a. Kelarutan analit dalam fase gerak. Analit harus larut dalam fase gerak sehingga mencegah terjadinya pengendapan di dalam sistem KCKT. b. Kompatibilitas terhadap komponen lain. Campuran fase gerak yang kompatibel akan dapat bercampur dengan baik. c. Polaritas fase gerak. Kepolaran fase gerak berpengaruh dalam hal waktu retensi dan resolusi saat pengelusian analit.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 d. Viskositas fase gerak. Semakin besar viskositas maka memerlukan tekanan yang lebih besar pula. e. Transmisi cahaya dari fase gerak. Setiap eluen memiliki nilai UV cutoff yang berbeda, sehingga perlu diperhatikan agar tidak mengganggu pembacaan hasil pada detektor UV. f. Kestabilan dan pH fase gerak juga perlu dipertimbangkan agar diperoleh hasil yang lebih baik (Kazakevich dan Lobrutto, 2007). Tabel II menunjukkan beberapa nilai UV cut-off dari pelarut yang sering digunakan dalam analisis menggunakan KCKT. Tabel II. Nilai UV cut-off pelarut dalam analisis menggunakan KCKT (Kazakevich dan Lobrutto, 2007) No. Nama pelarut 1 2 3 4 5 6 7 Asetonitril Isopropil alkohol Metanol Etanol THF Etil asetat DMSO UV cut-off (nm) 190 205 205 205 215 256 268 2. Pompa. Dalam sistem KCKT, pompa yang digunakan juga harus inert terhadap fase gerak. Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung tepat, reprodusibel, dan konstan. Ada 2 jenis pompa dalam KCKT, yaitu pompa dengan aliran fase gerak yang konstan (lebih umum digunakan) dan pompa dengan tekanan konstan (Rohman, 2009).

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 3. Tempat penyuntikkan sampel. Sampel cair atau larutan disuntikkan langsung dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom. Injektor pada KCKT ada yang manual dan otomatis (auto sampler), keduanya harus memiliki ketepatan volume penginjeksian yang baik dan presisi. Kelemahan injektor manual yaitu kurang praktis dan ada kemungkinan terdapat gelembung udara yang mengakibatkan volume sampel yang diinjeksikan tidak tepat dan mengganggu pembacaan hasil pada detektor, sedangkan kelemahan auto sampler bila pencucian jarum injeksi kurang bersih maka dapat memungkinkan terjadinya carry over, yaitu adanya sampel dari penginjeksian sebelumnya yang terbawa dan terbaca detektor pada penginjeksian sampel berikutnya (Ahuja dan Dong, 2005). 4. Kolom. Kolom merupakan bagian KCKT yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan analit. Kebanyakkan fase diam pada KCKT adalah silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Oktadesilsilan (ODS/C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran rendah, sedang, dan tinggi (Rohman, 2009). Seberapa cepat pemisahan analit tergantung pada panjang kolom dan ukuran partikel fase diam. Panjang kolom yang biasa digunakan antara 10-25 cm, dengan ukuran partikel sekitar 1,5-5 μm. Pemisahan analit berdasarkan interaksi antara sampel dengan fase diam dan fase gerak. Pada sistem KCKT fase terbalik, fase diam yang digunakan bersifat lebih nonpolar daripada fase gerak.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Analit yang bersifat lebih polar akan terelusi terlebih dahulu daripada analit yang bersifat nonpolar (Snyder dkk., 2010). Gambar 8 merupakan gambaran kolom pada KCKT. Gambar 8. Kolom pada KCKT. (a) Kolom dengan partikel berbentuk bola; (b) Partikel fase diam (C18), pori, dan fase gerak; (c) Gambar kolom yang lebih realistis (berbentuk bola, berpori, dengan perbesaran 10 x) (Snyder dkk., 2010) 5. Detektor. Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu detektor universal (tidak spesifik dan tidak selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa, dan golongan detektor yang spesifik dan selektif, misalnya detektor UV-Vis, fluoresensi, dan elektrokimia. Detektor yang ideal mempunyai karakteristik sebagai berikut: mempunyai respon terhadap analit yang cepat dan reprodusibel, memiliki sensitivitas tinggi (mampu mendeteksi analit dalam kadar kecil), stabil, tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak, signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 konsentrasi analit. Detektor UV-Vis didasarkan pada adanya penyerapan radiasi ultraviolet dan sinar tampak (Vis) pada kisaran panjang gelombang 190-800 nm oleh zat analit yang mempunyai struktur atau gugus kromoforik (Rohman, 2009). G. Validasi Metode Analisis 1. Tinjauan umum validasi metode analisis Validasi metode analisis merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk membuktikan apakah suatu metode analisis memenuhi persyaratan yang ditentukan atau tidak, sehingga hasil analisis dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan utama validasi metode adalah untuk memberikan hasil analisis yang paling baik. Banyaknya parameter yang harus divalidasi tergantung dari tujuan analisis (United States Pharmacopeial Convention, 2007). Suatu metode analisis harus divalidasi untuk memastikan bahwa parameter-parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi masalah analisis. Suatu metode perlu divalidasi ketika: 1. Metode yang baru dikembangkan untuk analisis tertentu. 2. Revisi dari metode yang sudah baku, untuk menyesuaikan perkembangan. 3. Penjaminan mutu. 4. Metode baku dilakukan di laboratorium berbeda, oleh analis berbeda, atau dikerjakan dengan alat yang berbeda. 5. Untuk membandingkan kesetaraan antar dua metode, misalnya metode baku dan metode baru (Rohman, 2009).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 United States Pharmacopeia (USP) dan International Conference on Harmonization (ICH) menyatakan bahwa tidak selamanya semua parameter untuk mengevaluasi validasi metode harus diuji. USP membagi metode-metode analisis ke dalam kategori atau kelas seperti pada Tabel III berikut. Tabel III. Kategori metode pengujian validitas (United States Pharmacopeial Convention, 2007) Kategori I II III IV Keterangan Penentuan kuantitatif komponen-komponen utama obat atau zat aktif (termasuk pengawet) di dalam produk obat jadi Penentuan kemurnian/adanya pengotor (impurities) atau produk-produk hasil degradasi. Kategori II ini dibagi lagi menjadi uji kuantitatif dan uji batas Penentuan karakterisitik/sifat-sifat khusus kinerja produk obat jadi, seperti kecepatan disolusi dan uji pelepasan obat Uji identifikasi Menurut The United States Pharmacopeia 30 dan The National Formulary 25 tahun 2007, metode analisis dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori di atas. Pengelompokkan kategori tergantung pada sifat tes yang dilakukan untuk tujuan validasi metode analisis. Tabel IV menunjukkan parameter validasi yang dipersyaratkan untuk validasi metode analisis. Tabel IV. Parameter validasi yang dipersyaratkan untuk validasi metode analisis (United States Pharmacopeial Convention, 2007) Parameter Kategori I Kategori II Uji Kuantitatif batas Kategori III Kategori IV Akurasi Ya Ya * * Tidak Presisi Ya Ya Tidak Ya Tidak Selektivitas Ya Ya Ya * Ya Batas deteksi Tidak Tidak Ya * Tidak Batas kuantitasi Tidak Ya Tidak * Tidak Linieritas Ya Ya Tidak * Tidak Rentang Ya Ya * * Tidak * Mungkin dibutuhkan (tergantung sifat tes yang spesifik)

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 2. Parameter validasi metode analisis a. Selektivitas. Kemampuan suatu metode untuk mengukur dengan akurat respon analit diantara seluruh komponen sampel yang berada dalam matriks sampel. Selektivitas ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung pengotor, hasil degradasi, senyawa sejenis, atau senyawa asing lain dengan hasil analisis sampel tanpa bahan-bahan tersebut (Harmita, 2004). Selektivitas dapat dibuktikan melalui pemisahan puncak-puncak berdekatan dengan perhitungan nilai resolusi (Rs). Bila hasil perhitungan menunjukkan angka 1,0 berarti puncak kromatogram baku tidak terpisah sampai ke baseline, nilai Rs = 1,5 menunjukkan puncak telah terpisah sampai baseline, dan nilai Rs > 1,5 menunjukkan pemisahan puncak telah sempurna satu sama lain (Rohman, 2007). b. Linieritas. Kemampuan metode analisis memberikan respon secara langsung dan proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel dengan rentang yang ada. Untuk mendapatkan linieritas antara konsentrasi dengan respon analit, data yang diperoleh harus dimasukkan ke dalam persamaan matematika (United States Pharmacopeial Covention, 2007). Persyaratan linieritas yang dapat diterima adalah jika memenuhi nilai koefisien korelasi (r) ≥ 0,998 (Kazakevich dan Lobrutto, 2007). c. Akurasi. Kedekatan antara nilai kadar terukur (nilai rata-rata hasil analisis) dengan nilai kadar sebenarnya, baik nilai konvensi, nilai sebenarnya, ataupun nilai rujukan. Akurasi juga dapat dijadikan sebagai petunjuk kesalahan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 sistematik (Rohman, 2009). Akurasi metode analisis dinyatakan dengan nilai % Recovery. Akurasi dikatakan baik bila memiliki nilai % Recovery antara 98,0102,0% untuk kadar analit 10-100% (Gonzalez dan Herrador, 2007). Tabel V berikut menunjukkan kriteria rentang % Recovery yang diperbolehkan. Tabel V. Kriteria rentang % Recovery yang diperbolehkan (Gonzalez dan Herrador, 2007) d. Presisi. Ukuran kedekatan antara serangkaian hasil analisis yang diperoleh dari beberapa kali pengukuran sampel. Konsep presisi diukur dengan koefisien variasi (KV) atau standar deviasi relatif (RSD). Presisi dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu: reproducibility, intermediate precision, dan repeatability (Rohman, 2009). Menurut Gonzalez dan Herrador (2007), suatu metode analisis dikatakan memiliki keterulangan/presisi yang baik jika memiliki nilai KV ≤ 2,0% untuk kadar analit 100%. Tabel VI berikut menunjukkan kriteria KV atau % RSD yang diperbolehkan.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Tabel VI. Kriteria KV atau % RSD yang diperbolehkan (Gonzalez dan Herrador, 2007) e. Rentang. Menurut ICH, rentang/kisaran suatu prosedur analisis adalah interval antara konsentrasi analit pada level bawah dan level atas dalam suatu sampel, yang dapat ditunjukkan bahwa prosedur analisis tersebut mempunyai level akurasi, presisi, dan linieritas yang sesuai (Rohman, 2009). H. Landasan Teori Penyakit batuk disertai asma merupakan penyakit gangguan saluran pernapasan. Obat yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit ini yaitu kombinasi salbutamol sulfat (obat asma) dan guaifenesin (obat batuk). Untuk menjamin keamanan dan efektivitasnya, maka perlu dilakukan analisis berupa penetapan kadar kedua senyawa tersebut dalam sediaan obat. Salbutamol sulfat dan guaifenesin memiliki gugus kromofor dalam strukturnya sehingga dapat memberikan serapan pada daerah panjang gelombang UV. Kedua senyawa tersebut memiliki kepolaran yang berbeda sehingga dapat

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 dipisahkan saat dilakukan analisis dengan menggunakan metode KCKT fase terbalik detektor UV. Metode KCKT perlu dioptimasi dan divalidasi sebelum digunakan untuk penetapan kadar. Validasi metode penting dilakukan karena dapat memberikan jaminan terhadap metode yang digunakan dan hasil analisis yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan, sehingga dapat dilakukan penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin menggunakan metode yang telah optimal dan tervalidasi. Peneliti bekerja pada validasi metode kategori I, sehingga parameter validasi yang dibutuhkan meliputi selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang. I. Hipotesis Validasi metode KCKT fase terbalik dengan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm), fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min, pada penetapan kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X” menghasilkan parameter-parameter validasi, yaitu selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis dan rancangan penilitan ini adalah non eksperimental deskriptif, karena pada penelitian ini tidak dilakukan manipulasi pada subjek uji dan hanya menggambarkan keadaan yang ada. B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Variabel bebas pada penelitian ini adalah sistem KCKT yang telah dioptimasi, meliputi komposisi fase gerak dan kecepatan alir yang digunakan. 2. Variabel tergantung Variabel tergantung pada penelitian ini adalah parameter validasi, meliputi selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang. 3. Variabel pengacau terkendali a. Kemurnian pelarut yang digunakan, untuk mengatasinya digunakan pelarut dengan kemurnian tinggi yaitu pelarut pro analysis. b. Kemurnian baku pembanding salbutamol sulfat dan guaifenesin yang digunakan, untuk mengatasinya digunakan baku yang telah terjamin kualitasnya seperti tercantum pada Certificate of Analysis (CoA). 27

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 C. Definisi Operasional 1. Sistem KCKT fase terbalik yang digunakan terdiri dari fase diam berupa kolom C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm) dan fase gerak campuran metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min (Mulyawan, 2014). 2. Kadar salbutamol sulfat dan guaifenesin dinyatakan dalam satuan mg/mL. 3. Penelitian yang dilakukan termasuk dalam validasi metode kategori I, yaitu metode yang digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif komponen utama dalam suatu matriks. Validasi metode yang dilakukan meliputi pengukuran terhadap parameter validasi yaitu selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang. D. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah baku pembanding salbutamol sulfat (Supriya Lifescience, No. batch SSL/SS/0312030, kemurnian 98,83%) (PT. Ifars Pharmaceutical Laboratories), baku pembanding guaifenesin (No. kontrol 205158, kemurnian 99,88%) (Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional), metanol, kalium dihidrogen fosfat, dan asam fosfat p.a (E.Merck), kertas saring Whatman 0,45 μm, akuabides hasil penyulingan di laboratorium Kimia Analisis Instrumental Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan sediaan sirup merek “X”.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 E. Alat Penelitian Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah seperangkat alat KCKT dengan detektor ultraviolet (UV) merek Shimadzu LC-2010C, kolom C18 merek Shimadzu column Shim-pack (LC-C18 CM) (No. column 4252787 part. 22817874-92), seperangkat komputer (merek Dell B6RDZ1S Connexant system RD01-D850 A03-0382 JP France S.A.S, printer HP Deskjet D2566 HP-024-000 625730), UV/Vis Spectrophotometer SP-3000plus merek OPTIMA dengan deterktor silicon photo diode, millipore, alat ultrasonicator Refsch., Tipe : T460 (Schwing.1 PXE, FTZ-Nr. C-066/83, HF-Frequ.:35 kHz), timbangan analitik Ohaus Carat Series PAJ 1003 (max 60/120 g, min 0,001 g, d = 0,01/0,1 mg), alat vakum, dan alat-alat gelas yang lazim digunakan di laboratorium analisis. F. Tatacara Penelitian 1. Pembuatan asam fosfat 0,1 M Larutan pekat H3PO4 dengan konsentrasi 85% diambil sejumlah 1,2 mL, kemudian diencerkan dengan akuabides hingga 100,0 mL sehingga didapatkan konsentrasi H3PO4 sebesar 0,1 M. 2. Pembuatan bufer kalium dihidrogen fosfat 0,01 M Sejumlah 0,68 g KH2PO4 ditimbang seksama dan dilarutkan dalam akuabides hingga 500,0 mL sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 0,01 M, kemudian pH diatur dengan penambahan asam fosfat 0,1 M hingga mencapai pH 3.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 3. Pembuatan fase gerak Fase gerak dibuat dari campuran metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 dengan perbandingan (40:60) (Mulyawan, 2014). Campuran fase gerak tersebut disaring dengan kertas saring Whatman dengan bantuan pompa vakum, kemudian didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit. 4. Pembuatan larutan baku salbutamol sulfat dan guaifenesin yang digunakan untuk penentuan panjang gelombang pengamatan a. Pembuatan larutan baku salbutamol sulfat. Sejumlah lebih kurang 10,0 mg salbutamol sulfat ditimbang seksama dan dilarutkan dalam metanol hingga 10,0 mL sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 1000 µg/mL, kemudian dibuat larutan seri dengan 3 konsentrasi berbeda yaitu 100; 300; dan 600 µg/mL dengan mengencerkan 1,0; 3,0; dan 6,0 mL larutan stok tersebut dengan metanol hingga 10,0 mL. b. Pembuatan larutan baku guaifenesin. Sejumlah lebih kurang 20,0 mg guaifenesin ditimbang seksama dan dilarutkan dalam metanol hingga 50,0 mL sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 400 µg/mL, kemudian dibuat larutan seri dengan 3 konsentrasi berbeda yaitu 20; 60; dan 100 µg/mL dengan mengencerkan 0,5; 1,5; dan 2,5 mL larutan stok tersebut dengan metanol hingga 10,0 mL.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 5. Pembuatan larutan baku salbutamol sulfat a. Pembuatan larutan stok salbutamol sulfat. Sejumlah lebih kurang 10,0 mg salbutamol sulfat ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam labu takar 50,0 mL kemudian dilarutkan dengan metanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 200 μg/mL. b. Pembuatan larutan intermediate salbutamol sulfat. Larutan stok diambil sejumlah 0,5 mL, dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL kemudian diencerkan dengan metanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 20 μg/mL. 6. Pembuatan larutan baku guaifenesin Sejumlah lebih kurang 22,5 mg guaifenesin ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam labu takar 25,0 mL kemudian diencerkan dengan metanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 900 μg/mL. 7. Pembuatan seri larutan baku campuran salbutamol sulfat dan guaifenesin Larutan intermediate salbutamol sulfat dan larutan baku guaifenesin masing-masing diambil sejumlah 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; dan 0,8 mL, dimasukkan ke dalam labu takar 10,0 mL secara berurutan dari volume kecil hingga besar, kemudian diencerkan dengan metanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi campuran salbutamol sulfat dan guaifenesin berturut-turut sebesar (0,8 dan 36,0); (1,0 dan 45,0); (1,2 dan 54,0); (1,4 dan 63,0); dan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 (1,6 dan 72,0) μg/mL. Larutan disaring dengan millipore dan didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit, kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014). 8. Penetapan panjang gelombang (λ) maksimum salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan spektrofotometer UV-Vis Masing-masing konsentrasi larutan seri baku salbutamol sulfat 100,0; 300,0; dan 600,0 μg/mL dan guaifenesin 20,0; 60,0; dan 100,0 μg/mL diukur serapannya pada panjang gelombang 200-400 nm dengan spektrofotometer UV-Vis. Spektrum yang dihasilkan akan menunjukkan panjang gelombang maksimum yang akan digunakan pada sistem KCKT. 9. Preparasi sampel a. Pembuatan larutan stok sampel. Sediaan sirup merek “X” mengandung 1,20 mg salbutamol sulfat dan 50,0 mg guaifenesin tiap 5,0 mL sediaan, diambil sejumlah 0,25 mL, dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL kemudian diencerkan dengan metanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi salbutamol sulfat dan guaifenesin sebesar (12,0 dan 500,0) μg/mL. b. Pembuatan larutan sampel. Larutan stok sampel diambil sejumlah 0,4; 0,5; dan 0,6 mL, masing-masing dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL kemudian diencerkan dengan metanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi salbutamol sulfat dan guaifenesin berturut-turut sebesar (0,96 dan 40,0); (1,20 dan 50,0); dan (1,44 dan 60,0) μg/mL. Larutan disaring dengan millipore dan didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit, kemudian

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014). 10. Preparasi adisi baku dalam sampel Larutan stok sampel diambil sejumlah 0,4; 0,5; dan 0,6 mL, masingmasing dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL, kemudian ditambahkan 0,03 mL larutan intermediate salbutamol sulfat dan 0,03 mL larutan baku guaifenesin ke dalam masing-masing labu takar dan diencerkan dengan metanol hingga tanda batas. Larutan disaring dengan millipore dan didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit, kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014). 11. Validasi metode analisis a. Penentuan selektivitas. Sejumlah masing-masing 20,0 μL larutan baku campuran salbutamol sulfat dan guaifenesin serta larutan sampel sediaan merek “X” yang telah disaring dengan millipore dan didegassing selama 15 menit diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014). Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. b. Penentuan linieritas. Sejumlah masing-masing 20,0 μL larutan baku campuran salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan konsentrasi (0,8 dan 36,0); (1,0 dan 45,0); (1,2 dan 54,0); (1,4 dan 63,0); dan (1,6 dan 72,0) μg/mL yang telah disaring dengan millipore dan didegassing selama 15 menit

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014). Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. c. Penentuan akurasi dan presisi adisi baku dalam sampel. Sejumlah 20,0 μL larutan sampel dan larutan sampel yang ditambah campuran baku salbutamol sulfat dan guaifenesin (sampel adisi) yang telah disaring dengan millipore dan didegassing selama 15 menit diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014). Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. d. Penentuan rentang. Rentang merupakan interval antara kadar terendah sampai tertinggi analit yang dapat diukur secara kuantitatif menggunakan metode analisis tertentu dan menghasilkan linieritas, akurasi, dan presisi yang baik (Rohman, 2009). 12. Uji kestabilan larutan baku Larutan baku salbutamol sulfat dengan konsentrasi 0,8; 1,2; dan 1,6 μg/mL serta larutan baku guaifenesin dengan konsentrasi 36,0; 54,0; dan 72,0 μg/mL yang telah disaring dengan millipore dan didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit, diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi (Mulyawan, 2014) dalam hari yang berbeda untuk dilihat seberapa besar perubahan respon yang dihasilkan dari masingmasing larutan baku. Respon pada hari pertama digunakan sebagai acuan untuk dibandingkan dengan respon pada hari berikutnya. Nilai % perubahan yang diperbolehkan yaitu < 2,0% (Ahuja dan Dong, 2005).

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 G. Analisis Hasil 1. Selektivitas Selektivitas ditentukan dengan daya resolusi dari puncak kromatogram yang dihasilkan oleh baku campuran salbutamol sulfat dan guaifenesin dan kemampuan metode KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi untuk memisahkan salbutamol sulfat dengan guaifenesin dalam sampel sediaan sirup merek “X”. Selektivitas ditentukan dengan parameter resolusi (Rs) dengan rumus perhitungan: Resolusi (Rs) = 1 Keterangan : Rs tR1 tR2 W1 W2 (tR2-tR1) ⁄2 (W1 W2) = resolusi = waktu retensi puncak analit pertama = waktu retensi puncak analit kedua = lebar dasar puncak pertama = lebar dasar puncak kedua Nilai Rs = 1,0 menunjukkan puncak kromatogram baku tidak terpisah sampai ke baseline, nilai Rs = 1,5 menunjukkan puncak telah terpisah sampai baseline, dan nilai Rs > 1,5 menunjukkan pemisahan puncak telah sempurna satu sama lain (Rohman, 2007). 2. Linieritas Linieritas dinyatakan dengan koefisien korelasi (r). Konsentrasi larutan baku salbutamol sulfat dan guaifenesin yang diperoleh diplotkan terhadap luas area pada kromatogram sehingga diperoleh nilai koefisien korelasi (r) dari persamaan y = bx + a. Rentang ditentukan dari kadar larutan baku konsentrasi terkecil hingga terbesar. Persyaratan linieritas yang dapat

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 diterima adalah jika memenuhi nilai koefisien korelasi (r) ≥ 0,998 (Kazakevich dan Lobrutto, 2007). 3. Akurasi Akurasi metode analisis dinyatakan dengan nilai % Recovery yang dihitung dari konsentrasi terukur dibandingkan dengan konsentrasi teoritis (kadar sebenarnya) dikalikan 100%. Akurasi dikatakan baik bila memiliki nilai % Recovery antara 98,0-102,0% untuk kadar analit 10-100% (Gonzalez dan Herrador, 2007). Nilai % Recovery adisi baku dalam sampel dapat dihitung dengan cara: % Recovery = jumlah baku dan sampel terukur – jumlah sampel terukur jumlah baku teoritis x 100% 4. Presisi Presisi dihitung sebagai standar deviasi relatif (RSD) atau koefisien variasi (KV), dengan rumus perhitungan: KV = Keterangan : KV = koefisien variasi SD = standar deviasi standar deviasi (SD) ̅) rata-rata (X x 100% ̅ = rata-rata kadar Suatu metode dikatakan memiliki keterulangan/presisi yang baik jika memiliki nilai KV ≤ 2,0% untuk kadar analit 100% (Gonzalez dan Herrador, 2007).

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 5. Rentang Rentang merupakan interval antara kadar terendah sampai tertinggi analit yang dapat diukur secara kuantitatif menggunakan metode analisis tertentu dan menghasilkan linieritas, akurasi, dan presisi yang baik (Rohman, 2009).

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pembuatan Fase Gerak Sistem kromatografi yang digunakan pada penelitian ini merupakan sistem kromatografi fase terbalik, karena menggunakan fase gerak yang bersifat lebih polar daripada fase diamnya (ODS/C18). Jenis dan komposisi fase gerak yang digunakan dalam penelitian ini adalah campuran metanol dan 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 dengan perbandingan (40:60), kecepatan alir fase gerak 1 mL/min, dan dengan indeks polaritas sebesar 8,16 (Mulyawan, 2014). Sistem elusi pada penelitian ini adalah isokratik karena menggunakan campuran lebih dari satu komponen fase gerak dengan perbandingan tetap selama proses elusi berlangsung (komposisi dan polaritas fase gerak tetap). Metanol dipilih sebagai fase gerak karena dapat melarutkan kedua zat analit (salbutamol sulfat dan guaifenesin) dengan baik. Metanol juga merupakan pelarut organik yang umum dan sering digunakan pada sistem KCKT fase terbalik. Penggunaan bufer fosfat bertujuan untuk memberikan pH yang relatif konstan dan mengakibatkan waktu retensi senyawa menjadi reprodusibel. Tujuan fase gerak dikondisikan pada pH 3 adalah untuk mengubah seluruh salbutamol sulfat ke dalam bentuk ion sehingga interaksinya dengan fase diam dan fase gerak menjadi seragam. Apabila ada sebagian yang terion dan sebagian dalam bentuk molekul dapat menyebabkan interaksi salbutamol dengan fase diam dan fase gerak berbeda-beda, sehingga bentuk puncak kromatogram menjadi tailing. Guaifenesin merupakan senyawa yang bersifat asam lemah dan pada pH 3 seluruh 38

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 guaifenesin dalam bentuk molekul, sehingga interaksinya dengan fase diam dan fase gerak menjadi seragam dan waktu retensi yang relatif tetap dari kedua zat analit tersebut. Sebelum digunakan, komponen fase gerak disaring terlebih dahulu menggunakan penyaring Whatman dengan bantuan pompa vakum untuk menyaring partikel-partikel yang dapat menyumbat kolom, kemudian didegassing dengan ultrasonicator untuk menghilangkan gelembung udara yang dapat mengganggu pembacaan hasil dalam instrumen KCKT. B. Pembuatan Larutan Baku Baku salbutamol sulfat yang digunakan pada penelitian ini merupakan working standard dengan kemurnian 98,83% yang didapatkan dari PT. Ifars Pharmaceutical Laboratories. Baku guaifenesin yang digunakan juga merupakan working standard dengan kemurnian 99,88% yang didapatkan dari Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, sehingga kedua baku tersebut terjamin kemurniannya. Larutan baku salbutamol sulfat dan guaifenesin dibuat dalam konsentrasi tertentu dengan menggunakan pelarut metanol. Pemilihan pelarut sangat penting karena salah satu syarat utama pelarut yaitu dapat melarutkan analit dengan baik. Syarat lainnya antara lain: inert, murni, dan dapat bercampur dengan fase gerak. Metanol dipilih karena memenuhi syarat-syarat tersebut. Metanol yang digunakan adalah metanol pro analysis (p.a) dengan kemurnian tinggi, sehingga diharapkan mengurangi adanya pengotor yang mengganggu hasil analisis.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Larutan baku yang dibuat pada penelitian ini terdiri dari tiga macam, yaitu: larutan stok, larutan intermediate, dan larutan seri baku. Pada penentuan panjang gelombang, larutan stok salbutamol sulfat dibuat dengan konsentrasi 1000 μg/mL dan larutan seri dengan tiga konsentrasi berbeda yaitu 100, 300, dan 600 μg/mL. Pada guaifenesin dibuat larutan stok dengan konsentrasi 400 μg/mL dan larutan seri dengan tiga konsentrasi berbeda yaitu 20, 60, dan 100 μg/mL, kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang UV (200-400 nm). Validasi sistem KCKT yang telah dioptimasi menggunakan larutan baku dengan konsentrasi yang berbeda dari larutan baku pada penentuan panjang gelombang. Larutan stok salbutamol sulfat dibuat dengan konsentrasi 200 μg/mL, larutan intermediate 20 μg/mL, dan larutan seri baku dibuat dalam lima konsentrasi berbeda yaitu 0,8; 1,0; 1,2; 1,4; dan 1,6 μg/mL. Larutan stok guaifenesin dibuat dengan konsentrasi 900 μg/mL dan larutan seri baku dengan lima konsentrasi berbeda yaitu 36, 45, 54, 63, dan 72 μg/mL. Untuk selektivitas digunakan baku campuran dengan konsentrasi salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL. Untuk akurasi dan presisi adisi baku digunakan kedua baku dengan konsentrasi salbutamol sulfat 0,12 μg/mL dan guaifenesin 5,4 μg/mL. Larutan baku yang telah dipersiapkan, disaring dengan menggunakan millipore dengan tujuan untuk menghilangkan partikel-partikel yang dapat menyumbat kolom dan mengkontaminasi fase diam. Setelah disaring larutan baku harus didegassing sebelum diinjeksikan ke dalam sistem KCKT dengan tujuan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 untuk menghilangkan gelembung udara yang dapat mengganggu pembacaan hasil oleh detektor dalam instrumen KCKT. C. Penentuan Panjang Gelombang Pengamatan Penentuan panjang gelombang (λ) pengamatan bertujuan untuk mengetahui pada panjang gelombang berapa salbutamol sulfat dan guaifenesin memberikan serapan yang maksimum. Penentuan panjang gelombang pengamatan dilakukan dengan scanning λ maksimum kedua senyawa menggunakan tiga seri konsentrasi yang berbeda yaitu 100, 300, dan 600 μg/mL untuk salbutamol sulfat dan 20, 60, dan 100 μg/mL untuk guaifenesin. Penggunaan tiga seri konsentrasi yang berbeda ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa panjang gelombang pengamatan yang didapat merupakan panjang gelombang milik salbutamol sulfat dan guaifenesin, dimana semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi spektra yang dihasilkan (proporsional). Pelarut yang digunakan dalam penentuan panjang gelombang pengamatan adalah metanol, yang juga digunakan pada sistem KCKT. Bentuk pola spektra serta panjang gelombang pengamatan yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 9 dan 10 berikut:

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 278 nm 600 μg/mL 300 μg/mL 100 μg/mL Gambar 9. Spektra salbutamol sulfat 3 seri konsentrasi dengan pelarut metanol 274 nm 100 μg/mL 60 μg/mL 20 μg/mL Gambar 10. Spektra guaifenesin 3 seri konsentrasi dengan pelarut metanol

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Menurut Moffat dkk. (2011) panjang gelombang salbutamol sulfat dan guaifenesin berturut-turut adalah 276 nm dan 273 nm, selain itu salbutamol sulfat dan guaifenesin memiliki gugus kromofor dan auksokrom sehingga dapat memberikan serapan pada panjang gelombang UV, maka penentuan panjang gelombang pengamatan kedua senyawa ini dilakukan pada daerah panjang gelombang UV (200-400 nm). Gugus kromofor dan auksokrom dari kedua senyawa tersebut ditunjukkan dari Gambar 11 dan 12 berikut: Gambar 11. Gugus kromofor dan auksokrom salbutamol sulfat Gambar 12. Gugus kromofor dan auksokrom guaifenesin Hasil spektra menunjukkan bahwa panjang gelombang maksimum salbutamol sulfat pada konsentrasi 100, 300, dan 600 μg/mL adalah 278 nm, sedangkan panjang gelombang serapan maksimum guaifenesin pada konsentrasi 20, 60, dan 100 μg/mL adalah 274 nm. Menurut Farmakope Indonesia edisi IV (1995) pergeseran panjang gelombang yang diijinkan sebesar 2 nm, jadi panjang

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 gelombang kedua senyawa dapat diterima karena bergeser 1-2 nm dari panjang gelombang teoritis. Berdasarkan pengamatan panjang gelombang salbutamol sulfat dan guaifenesin yang diperoleh dapat diketahui panjang gelombang tumpang tindih/overlapping kedua senyawa yang merupakan titik potong dari panjang gelombang kedua senyawa. Panjang gelombang overlapping yang diperoleh adalah 275 nm (Gambar 13), sehingga panjang gelombang tersebut digunakan sebagai panjang gelombang pada sistem KCKT. Tujuan digunakan panjang gelombang overlapping sebagai panjang gelombang pada sistem KCKT adalah agar kedua senyawa dapat memberikan serapan yang optimum dan dapat dideteksi oleh detektor pada sistem KCKT. 275 nm Gambar 13. Spektra tumpang tindih salbutamol sulfat dan guaifenesin

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 D. Analisis Kualitatif Berdasarkan Waktu Retensi (tR) Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin Waktu retensi (tR) tiap senyawa bersifat spesifik, sehingga dapat digunakan sebagai data untuk analisis kualitatif. Tujuan pengamatan waktu retensi kedua senyawa tersebut adalah untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan masingmasing senyawa saat melewati fase diam dengan adanya bantuan fase gerak. Waktu retensi salbutamol sulfat dan guaifenesin dipengaruhi oleh interaksi kedua senyawa dengan fase diam dan fase geraknya, atau dipengaruhi oleh koefisien partisi kedua senyawa terhadap fase diam dan fase gerak. Pada penelitian ini digunakan sistem KCKT fase terbalik, dimana fase gerak yang digunakan lebih polar daripada fase diamnya, maka senyawa yang cenderung bersifat lebih polar akan terelusi terlebih dahulu daripada senyawa yang bersifat non polar. Hal ini terjadi karena senyawa yang bersifat non polar akan lebih lama tertahan dalam fase diam sehingga waktu retensinya lebih lama. Salbutamol sulfat merupakan garam yang mudah terion sehingga lebih polar dibandingkan guaifenesin yang berbentuk molekul utuh, hal ini mengakibatkan waktu retensi salbutamol sulfat lebih pendek/cepat daripada waktu retensi guaifenesin.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Salbutamol sulfat (a) Guaifenesin (b) Guaifenesin Salbutamol sulfat (c) Gambar 14. Kromatogram baku salbutamol sulfat (a), kromatogram baku guaifenesin (b), dan kromatogram sampel (c)

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Kromatogram pada Gambar 14 menunjukkan bahwa baku salbutamol sulfat memiliki tR 2,907 menit, sedangkan baku guaifenesin memiliki tR 7,985 menit. Pada kromatogram sampel terdapat dua peak yang berada pada tR 2,900 menit dan 8,016 menit. Kedua nilai tR dari sampel identik dengan tR baku salbutamol sulfat dan tR baku guaifenesin, maka dapat disimpulkan bahwa di dalam sampel sirup merek “X” terdapat salbutamol sulfat dan guaifenesin. Salbutamol sulfat dan guaifenesin dapat berinteraksi dengan fase diam dan fase gerak. Interaksi senyawa dengan fase diam (ODS/C18) merupakan interaksi Van der Waals. Menurut Levita dan Mustarichie (2012), interaksi Van der Waals merupakan interaksi tarik-menarik antar molekul non polar yang mungkin mengalami tidak meratanya distribusi kerapatan elektron sehingga dapat menimbulkan dipol, sementara yang dapat menginduksi dipol berlawanan dari molekul yang mendekatinya. Interaksi salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan fase diam ditunjukkan pada Gambar 15 berikut: HO H3C H 3C CH 3 OH N H2 HO H 3C Si CH3 HO CH3 (a)

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 H 3CO HO O HO H3C Si CH 3 HO CH 3 Interaksi Van der Waals (b) Gambar 15. Interaksi salbutamol sulfat dengan fase diam (a), interaksi guaifenesin dengan fase diam (b) Interaksi antara salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan fase gerak merupakan interaksi hidrogen. Menurut Levita dan Mustarichie (2012), interaksi hidrogen merupakan jenis interaksi dipol-dipol yang terbentuk antara proton yang terikat pada gugus yang memiliki atom elektronegatif dengan atom elektronegatif lain yang memiliki pasangan elektron bebas. Interaksi salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan fase gerak ditunjukkan pada Gambar 16 berikut: H CH3 O O H H HO H H3C H O CH 3 O H H 3C N H2 HO H H O O H3C H (a) CH 3 O H

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 H CH3 O O CH 3 H O H H H OH O OH H O H H O O OCH 3 H H CH 3 H O O H CH 3 Interaksi hidrogen (b) Gambar 16. Interaksi salbutamol sulfat dengan fase gerak (a), interaksi guaifenesin dengan fase gerak (b) Berdasarkan interaksi salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan fase diam dan fase gerak dapat disimpulkan bahwa guaifenesin lebih banyak berinteraksi dengan fase diam dibandingkan dengan salbutamol sulfat, hal ini mengakibatkan waktu retensi guaifenesin lebih lama dari pada salbutamol sulfat. E. Pembuatan Kurva Baku Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin Tujuan dari pembuatan kurva baku adalah untuk mendapatkan persamaan regresi linier yang kemudian digunakan untuk analisis kuantitatif. Persamaan regresi linier yang diperoleh menyatakan hubungan/korelasi yang linier (proporsional) antara konsentrasi analit dengan respon Area Under Curve (AUC).

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Persamaan regresi linier diperoleh dengan mengukur respon analit dalam beberapa seri konsentrasi. Menurut ICH topik Q2(R1) (2005), untuk membuat kurva baku yang baik digunakan minimal lima seri konsentrasi baku, maka pada penelitian ini digunakan lima seri konsentrasi baku salbutamol sulfat dan guaifenesin. Lima seri konsentrasi baku salbutamol sulfat yang dibuat yaitu: 0,8; 1,0; 1,2; 1,4; dan 1,6 μg/mL, sedangkan pada guaifenesin 36, 45, 54, 63, dan 72 μg/mL. Masingmasing kurva baku dibuat sebanyak tiga kali replikasi dengan tujuan untuk mendapatkan kurva baku dengan nilai koefisien korelasi (r) yang paling baik. Menurut Kazakevich dan Lobrutto (2007), nilai koefisien korelasi (r) yang baik apabila ≥ 0,998. Nilai r semakin mendekati satu menunjukkan linieritas yang semakin baik, sehingga dapat digunakan untuk perhitungan kadar analit dalam sampel. Beberapa pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan kurva baku yaitu nilai intersept (A) dan slope (B). Nilai A merupakan baseline error, dimana seharusnya pada konsentrasi nol respon yang ditimbulkan juga nol, tetapi jika pada konsentrasi nol terdapat respon, maka ini akan mengacaukan data yang ada sehingga nilai A yang diharapkan adalah yang semakin kecil atau semakin mendekati nol. Slope/kemiringan yang diharapkan adalah yang semakin besar atau mendekati sudut 45o, karena jika semakin kecil semakin kurang proporsional atau dengan kata lain untuk mendapatkan respon yang sedikit lebih besar harus meningkatkan konsentrasi dengan pergeseran yang cukup besar. Tabel VII berikut menunjukkan data perolehan AUC seri baku guaifensin dari tiga replikasi:

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Tabel VII. Penentuan kurva baku guaifenesin Replikasi 1 AUC C (μg/mL) (mAU) 35,941 416750 44,926 542221 53,911 690626 62,896 779459 71,882 903167 A = - 59598,246 B = 13467,384 r = 0,9975 Replikasi 2 AUC C (μg/mL) (mAU) 35,957 430299 44,946 563166 53,935 674301 62,924 790499 71,914 913892 A = - 42280,037 B = 13288,380 r = 0,9996 Replikasi 3 AUC C (μg/mL) (mAU) 35,957 434389 44,946 565020 53,935 676218 62,924 791864 71,914 917741 A = - 39082,532 B = 13277,580 r = 0,9997 Keterangan: C = konsentrasi seri baku guaifenesin (μg/mL) AUC = Area Under Curve (mAU) Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tabel VII, data kurva baku guaifenesin yang akan digunakan berasal dari replikasi 3 dengan nilai r sebesar 0,9997. Persamaan kurva baku yang digunakan untuk analisis kuantitatif guaifenesin adalah y = 13277,580x – 39082,532. 1000000 900000 y = 13277,580x - 39082,532 r = 0.9997 800000 AUC (mAU) 700000 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 0 20 40 60 Konsentrasi guaifenesin (μg/mL) Gambar 17. Kurva baku guaifenesin 80

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Hubungan yang linier antara seri konsentrasi guaifenesin dengan respon AUC ditunjukkan pada Gambar 17. Berdasarkan kurva tersebut dapat dilihat bahwa respon AUC meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi. Nilai r yang mendekati satu tersebut menggambarkan adanya korelasi yang baik antara variabel bebas (konsentrasi) dan variabel tergantung (AUC). Pada penelitian ini tidak dibuat kurva baku salbutamol sulfat karena sudah kadaluwarsa, dimungkinkan salbutamol sulfat telah mengalami degradasi sehingga kadar/jumlahnya berkurang dan menjadi tidak tepat digunakan untuk melakukan kuantifikasi. Senyawa yang sudah terdegradasi dapat dikatakan senyawa yang tidak stabil lagi, padahal kestabilan senyawa sangat penting diperhatikan untuk melakukan kuantifikasi (Ahuja dan Dong, 2005), maka pada penelitian ini tidak dapat dihitung kadar salbutamol sulfat dalam larutan baku maupun sampel. kromofor OH H N OH H2SO4 CH 3 CH 3 OH OH H N CH 3 O2 CH 3 OH H2SO4 CH 3 CH3 2 O 2 Gambar 18. Bentuk degradasi salbutamol sulfat Gambar 18 menunjukkan bentuk degradasi salbutamol sulfat akibat mengalami oksidasi. Senyawa tersebut mengalami pemanjangan gugus kromofor pada strukturnya, sehingga tidak dapat terdeteksi pada λ overlapping (275 nm) dan kemungkinan dengan menggunakan sistem KCKT pada penelitian ini belum dapat dipisahkan dari salbutamol sulfat karena kepolaran kedua senyawa yang tidak berbeda jauh.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 F. Validasi Metode Analisis Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter analisis membuktikan tertentu, bahwa berdasarkan parameter tersebut percobaan memenuhi laboratorium, untuk persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004). Parameter analisis tersebut terdiri dari ketepatan (akurasi), ketelitian (presisi), selektivitas, batas deteksi, batas kuantitasi, linieritas, dan rentang (United States Pharmacopeial Convention, 2007). Validasi metode analisis dilakukan untuk membuktikan dan menjamin bahwa metode analisis yang digunakan memiliki validitas yang baik sehingga hasilnya dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Parameter-parameter analisis yang dibutuhkan dalam validasi metode analisis ditentukan oleh kategori metode analisis yang digunakan. Pada penelitian ini kategori analisis yang digunakan adalah kategori I karena merupakan metode analisis untuk menganalisis komponen utama bahan baku atau senyawa aktif (termasuk pengawet) dalam produk jadi sediaan farmasi. Dengan demikian, parameter analisis yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah selektivitas, linieritas, akurasi, presisi, dan rentang. 1. Selektivitas Selektivitas suatu metode merupakan kemampuan metode untuk mengukur zat analit tertentu secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin terdapat dalam matriks sampel. Penentuan selektivitas dalam metode KCKT dapat diamati dari pemisahan peak analit (salbutamol sulfat dan

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 guaifenesin) yang dihasilkan dan dinyatakan sebagai nilai resolusi (Rs). Metode KCKT dikatakan memiliki selektivitas yang baik jika memiliki nilai (Rs) > 1,5 (Rohman, 2007). Berikut merupakan kromatogram pemisahan analit dalam campuran baku salbutamol sulfat dan guaifenesin serta sampel: (a)

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 (b) Gambar 19. Kromatogram pemisahan analit dalam campuran baku (a), dalam sampel (b) Pada Gambar 19 (a) dapat dilihat pemisahan peak salbutamol sulfat dan guaifenesin dengan nilai Rs sebesar 10,451 yang berarti kedua senyawa terpisah cukup baik dan tidak saling mengganggu antara peak yang satu dengan yang lain. Pada gambar 15 (b) didapatkan nilai Rs antara salbutamol sulfat dan guaifenesin sebesar 6,422 serta nilai Rs antara guaifenesin dengan peak di belakangnya sebesar 3,763 yang berarti telah terjadi pemisahan yang cukup baik pula. Tabel VIII berikut menunjukkan nilai resolusi yang diperoleh dari campuran baku salbutamol sulfat dan guaifenesin serta sampel: Tabel VIII. Nilai resolusi (Rs) campuran baku dan sampel Replikasi 1 2 3 Resolusi (Rs) Campuran baku Sampel 10,462 6,402 10,451 6,422 10,429 6,401

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Berdasarkan data pada Tabel VIII, dapat dilihat bahwa seluruh nilai resolusi (Rs) dari ketiga replikasi, baik dalam campuran baku ataupun sampel, seluruhnya memenuhi persyaratan yaitu Rs > 1,5. Hal ini menunjukkan bahwa metode KCKT yang digunakan memiliki selektivitas yang baik. 2. Linieritas Linieritas merupakan kemampuan suatu metode analisis untuk menunjukkan korelasi/hubungan yang proporsional antara konsentrasi analit dengan respon yang dihasilkan. Linieritas ditunjukkan oleh besarnya nilai koefisien korelasi (r) suatu kurva baku. Menurut Kazakevich dan Lobrutto (2007), suatu metode dikatakan memiliki linieritas yang baik jika memiliki nilai koefisien korelasi (r) ≥ 0,998. Berdasarkan pembuatan kurva baku guaienesin diperoleh nilai r sebesar 0,9997 sehingga dapat disimpulkan bahwa metode KCKT yang digunakan memiliki linieritas yang baik untuk guaifenesin, tetapi belum dapat diketahui pada salbutamol sulfat karena ketidakstabilan senyawanya, maka pada penelitian ini tidak ada nilai r untuk kurva baku salbutamol sulfat. 3. Akurasi Akurasi merupakan ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil analisis dengan konsentrasi analit yang sebenarnya. Akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (% Recovery) konsentrasi analit yang terukur terhadap konsentrasi analit yang sebenarnya. Metode penentuan % Recovery yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode penambahan baku (standard addition

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 method). Menurut Gonzalez dan Herrador (2007), akurasi dikatakan baik bila memiliki nilai % Recovery antara 98,0-102,0% untuk kadar analit 10-100%. Menurut ICH topik Q2(R1) (2005), akurasi sebaiknya dilakukan minimal 9 kali penentuan mencakup range tertentu, misal dengan 3 macam tingkat konsentrasi dan setiap tingkat konsentrasinya dilakukan replikasi 3 kali. Pada penelitian ini dibuat tiga tingkat konsentrasi sampel dengan rentang 80, 100, dan 120%, kemudian masing-masing tingkat konsentrasi ditambahkan baku dengan konsentrasi tertentu sebagai sampel adisi. Perhitungan % Recovery didapatkan dari selisih hasil analisis sampel adisi dengan sampel, kemudian dibandingkan dengan konsentrasi baku adisi yang sebenarnya. Tingkat konsentrasi 80% dapat dikatakan sebagai konsentrasi rendah dimana secara teoritis dalam sampel terdapat 0,96 μg/mL salbutamol sulfat dan 40 μg/mL guaifenesin. Konsentrasi 100% disebut juga konsentrasi sedang dimana secara teoritis dalam sampel terdapat 1,20 μg/mL salbutamol sulfat dan 50,0 μg/mL guaifenesin. Pada konsentrasi 120% disebut juga konsentrasi tinggi dengan 1,44 μg/mL salbutamol sulfat dan 60,0 μg/mL guaifenesin. Konsentrasi baku guaifenesin yang ditambahkan ke dalam sampel sebesar 5,391 μg/mL, sedangkan tidak dilakukan penambahan baku salbutamol sulfat karena tidak dapat dilakukan kuantifikasi. Tabel IX berikut menunjukkan hasil pengukuran % Recovery larutan baku adisi pada 3 tingkat konsentrasi yang berbeda:

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Tabel IX. Hasil penetapan % Recovery baku guaifenesin adisi Konsentrasi guaifenesin Tingkat Sampel Baku % Replikasi Sampel KV KV KV konsentrasi adisi adisi Recovery (%) (%) (μg/mL) (%) (μg/mL) (μg/mL) 1 39,834 43,488 3,654 67,78 Sampel 2 39,435 1,34 43,396 1,99 3,961 29,86 73,47 rendah 3 38,789 44,958 6,169 114,43 1 48,963 54,393 5,430 100,72 Sampel 2 48,649 0,42 54,109 0,32 5,460 0,59 101,28 sedang 3 49,029 54,425 5,396 100,09 1 58,578 64,823 6,245 115,84 Sampel 2 58,551 1,04 62,128 2,97 3,577 33,17 66,35 tinggi 3 57,521 61,250 3,729 69,17 Berdasarkan Tabel IX dapat diketahui bahwa rentang % Recovery baku guaifenesin dalam sampel adisi pada konsentrasi rendah sebesar 67,78-114,43%, pada konsentrasi sedang sebesar 100,09-101,28%, dan pada konsentrasi tinggi sebesar 66,35-115,84%. Berdasarkan hasil dari ketiga tingkat konsentrasi tersebut, hanya pada konsentrasi sedang saja yang masuk rentang 98,0-102,0%, maka dapat dikatakan bahwa metode KCKT yang digunakan memiliki akurasi yang baik pada konsentrasi sedang saja. 4. Presisi Presisi/keterulangan merupakan ukuran kedekatan nilai data satu dengan data lainnya dalam suatu pengukuran pada kondisi analisis yang sama. Presisi dinyatakan sebagai koefisien variasi (KV). Semakin kecil nilai KV, maka presisi suatu metode dikatakan semakin baik. Menurut Gonzalez dan Herrador (2007), suatu metode analisis dikatakan memiliki presisi yang baik jika memiliki nilai KV ≤ 2,0% untuk kadar analit 100%.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Berdasarkan Tabel IX pula dapat dilihat bahwa baku guaifenesin dalam sampel adisi pada konsentrasi rendah dan tinggi memiliki nilai KV yang lebih besar dari 2%, yaitu 29,86% untuk konsentrasi rendah dan 33,17% untuk konsentrasi tinggi. Pada konsentrasi sedang didapatkan nilai KV yang lebih kecil dari 2% yaitu 0,59%, maka dapat dikatakan bahwa metode KCKT yang digunakan memiliki presisi yang baik untuk guaifenesin pada konsentrasi sedang. 5. Rentang Berdasarkan hasil dari perhitungan linieritas, akurasi, dan presisi dapat dikatakan bahwa parameter rentang didapatkan pada daerah konsentrasi sedang (guaifenesin 50 μg/mL). G. Uji Kestabilan Larutan Baku Salah satu hal penting yang harus diperhatikan selama kegiatan analisis berlangsung yaitu kestabilan senyawa yang akan dianalisis, terutama kestabilan larutan baku yang digunakan untuk kuantifikasi. Uji kestabilan dilakukan dengan menginjeksikan larutan baku yang sama dalam hari yang berbeda, kemudian dilihat apakah hasil yang diberikan mengalami perubahan lebih dari yang dipersyaratkan atau tidak. Suatu larutan dikatakan stabil apabila perubahan yang dihasilkan tidak lebih dari 2% (Ahuja dan Dong, 2005). Pada penelitian ini digunakan larutan baku salbutamol sulfat dan guaifenesin, maka keduanya harus diuji kestabilannya agar dapat digunakan secara pasti dalam kuantifikasi. Pada larutan baku salbutamol sulfat dibuat tiga

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 seri konsentrasi yaitu 0,8; 1,2; dan 1,6 μg/mL, sedangkan pada guaifenesin juga dibuat tiga seri konsentrasi yaitu 36, 54, dan 72 μg/mL. Penentuan konsentrasi masing-masing senyawa adalah untuk mewakili keseluruhan konsentrasi yang dibuat pada kurva baku, dimana untuk salbutamol sulfat antara konsentrasi 0,8 sampai 1,6 μg/mL dan untuk guaifenesin antara konsentrasi 36 sampai 72 μg/mL. Perubahan hasil pada kestabilan dapat dilihat dari kadar/konsentrasi analit yang terdapat dalam suatu larutan tersebut. Pada guaifenesin didapatkan kurva baku dengan nilai koefisien korelasi yang memenuhi persyaratan kurva baku yang baik (r = 0,9997), maka perubahan hasil pada kestabilan larutan baku guaifenesin dapat dilihat berdasarkan konsentrasinya. Tabel X berikut menunjukkan besarnya persen perubahan (%) pada uji kestabilan larutan baku guaifenesin: Tabel X. Hasil persen perubahan (%) pada uji kestabilan guaifenesin Kadar teoritis (μg/mL) 35,957 53,935 71,914 Kadar terukur (μg/mL) pada tanggal 6 Maret 7 Maret 8 Maret 35,351 53,728 71,773 35,200 53,769 71,803 35,507 53,712 71,710 persen perubahan (%) 6 - 7 Maret 6 - 8 Maret 0,43 0,08 0,04 0,44 0,03 0,09 Uji kestabilan guaifenesin dilakukan pada tanggal 6 Maret sampai 8 Maret 2014. Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa dalam dua hari yang berbeda perubahannya tidak lebih dari 2%, maka dapat dikatakan bahwa larutan baku guaifenesin yang digunakan stabil sehingga dapat digunakan untuk validasi metode analisis dan kuantifikasi atau penetapan kadar guaifenesin dalam sampel.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Pada salbutamol sulfat tidak dilakukan pembuatan kurva baku karena diduga tidak stabil (sudah kadaluwarsa) dan dari hasil yang telah dilakukan tidak didapatkan kurva baku yang baik, dimana semua nilai koefisien korelasinya (r) < 0,998 sehingga dalam mengamati kestabilan larutan baku salbutamol sulfat dilihat dari respon AUC karena tidak dapat dilakukan perhitungan konsentrasi terukur. Tabel XI berikut menunjukkan besarnya persen perubahan (%) pada uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat: Tabel XI. Hasil persen perubahan (%) pada uji kestabilan salbutamol sulfat persen perubahan (%) Kadar teoritis (μg/mL) 5 - 6 Maret 5 - 7 Maret 0,791 1,186 1,581 4,66 0,06 8,66 5,70 9,63 7,47 Kadar teoritis (μg/mL) persen perubahan (%) (16 Jan - 8 Mar) 9,883 25,78 Uji kestabilan salbutamol sulfat dilakukan pada tanggal 5 Maret sampai 7 Maret 2014. Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa dalam dua hari yang berbeda perubahannya lebih dari 2%, maka dapat dikatakan bahwa larutan baku salbutamol sulfat yang digunakan tidak stabil sehingga tidak digunakan untuk validasi metode analisis dan kuantifikasi. Ketidakstabilan salbutamol sulfat didukung dengan adanya data salbutamol sulfat dengan konsentrasi 10 μg/mL yang diinjeksikan saat optimasi (16 Januari 2014) kemudian diinjeksikan kembali pada tanggal 8 Maret 2014 dan didapatkan perubahan sebesar 25,78%.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Metode KCKT fase terbalik pada penetapan kadar guaifenesin dalam sediaan sirup merek “X” dengan fase diam C18 merek Shimadzu (250 x 4,6 mm, ukuran partikel 5 μm) dan fase gerak metanol : 0,01 M bufer kalium dihidrogen fosfat pH 3 (40:60) dengan kecepatan alir fase gerak 1 mL/min memenuhi parameter validitas yang baik, meliputi selektivitas dengan Rs > 1,5, linieritas guaifenesin dengan r = 0,9997 pada rentang 36-72 μg/mL, akurasi, presisi, dan rentang pada tingkat konsentrasi sedang (guaifenesin 50 μg/mL), tetapi tidak untuk salbutamol sulfat karena baku salbutamol sulfat dalam penelitian ini mengalami kadaluwarsa sehingga tidak dapat digunakan untuk kuantifikasi. B. Saran Penelitian ini perlu diaplikasikan dalam bentuk penetapan kadar guaifenesin (pada tingkat konsentrasi sedang) dalam sediaan sirup merek “X” dengan menggunakan metode KCKT fase terbalik yang telah tervalidasi. 62

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahuja, S. dan Dong, M.W., 2005, Handbook of Pharmaceutical Analysis by HPLC, Vol. 6, Elsevier Inc., USA, hal. 49, 58-62, 210-211 Cairns, D., 2008, Intisari Kimia Farmasi, Edisi 2, EGC, Jakarta, hal. 10-12, 17 Dicpinigaitis, P.V., 2006, Chronic Cough Due to Asthma ACCP Evidence-Based Clinical Practice Guidelines, No. 129, American College of Chest Physicians, Maryland City, hal. 755-759 Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, hal. 421, 751752, 1009, 1061 Gonzalez, A.G. dan Herrador, M.A., 2007, A Practical Guide to Analytical Method Validation, Including Measurement Uncertainty and Accuracy Profiles, Vol. 26, No. 3, Trends in Analytical Chemistry, Department of Analytical Chemistry, Spain, hal. 227-238 Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No. 3, Departemen Farmasi FMIP, Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 117-134 Harvey, D., 2000, Modern Analytical Chemistry, McGraw-Hill Companies, Inc., USA, hal. 372-376, 385, 578 ICH, 2005, Validation of Analytical Procedures: Text and Methodology, Topic Q2(R1), ICH Harmonised Tripartite Guideline, hal. 8-10 Jyothi, N., VenuGopal, K., dan Rao, JVLN, S., 2012, Development and Validation of an HPLC method for the Simultaneous Estimation of the Salbutamol Sulphate and Ipratropium in Inhalation Dosage Forms, International Journal of Pharma Sciences, Vol. 2, No. 4, Aize Publisher, India, hal. 79-83 Kazakevich, Y. dan Lobrutto, R., 2007, HPLC for Pharmaceutical Scientist, John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey, hal. 9-13, 23, 94-101, 461462, 465 Korany, M.A., Fahmy, O.T., Mahgoub, H., dan Maher, H.M., 2010, High Performance Liquid Chromatographic Determination of Some Guaiphenesin – Containing Cough – Cold Preparations, No. 2, Department of Pharmaceutical Analytical Chemistry, Egypt, hal. 121130 Kromidas, S., 2005, More Practical Problem Solving in HPLC, Wiley-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim, Germany, hal. 34 63

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Levita, J. dan Mustarichie, R., 2012, Pemodelan Molekul dalam Kimia Medisinal, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal. 22-25 Martis, E. A. dan Gangrade, D. M., 2011, Reverse Phase Isocratic HPLC Method for Simultaneous Estimation of Salbutamol Sulphate and Beclomethasone Dipropionate in Rotacaps Formulation Dosage Forms, International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science, Vol. 3, Issue 1, India, hal. 64-67 Moffat, A.C., David, M.O., dan Brian, W., (Eds.), 2005, Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons, 3rd edition, The Pharmaceutical Press, London, monograph on Guaifenesin, Salbutamol Moffat, A.C., David, M.O., dan Brian, W., (Eds.), 2011, Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons, Pharmaceutical press, London, hal. 1468-1469, 2038-2039 Mulja, M. dan Suharman, 1995, Analisis Instrumental, Universitas Airlangga, Surabaya, hal. 6-11, 26, 31-34 Mulyawan, A., 2014, Optimasi Komposisi dan Kecepatan Alir Fase Gerak Sistem Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik pada Pemisahan Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin dalam Sediaan Obat Sirup “Merek X”, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Oemiati, R., Sihombing, M., dan Qomariah, 2010, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Asma di Indonesia, Media Litbang Kesehatan, Vol. XX, No. 1, Puslitbang BMF, Jakarta, hal. 41-49 Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, cetakan I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 220-225, 228-243, 339 Rohman, A., 2009, Kromatografi untuk Analisis Obat, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal. 111-116, 217, 223-226, 232, 380 Sastrohamidjojo, H., 2001, Spektroskopi, cetakan II, Liberty, Yogyakarta, hal. 915, 22-26, 39 Snyder, L.R., Kirkland, J.J, dan Glajh, J.L., 1997, Practical HPLC Method Development, 2nd edition, John Wiley & Sons, Inc., New York, hal. 296300 Snyder, L.R., Kirkland, J.J., dan Dolan, J.W., 2010, Introduction to Modern Liquid Chromatography, 3rd edition, John Wiley & Sons, Inc., New York, hal. 20-23, 309-312

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.P., dan Kusnandar, 2009, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta, hal. 446-448 UBM Medica, 2011, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 11 2011/2012, PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, hal. A24, A34, A40, 85 United States Pharmacopeial Convention, 2007, United States Pharmacopeia, Edisi 30 (monograph on CD-ROM), United States Pharmacopoeial Convention, Inc. Walode, S.G., Deshpande, S.D., dan Deshpande, A.V., 2013, Stability Indicating RP-HPLC Method for Simultaneous Estimation of Salbutamol Sulphate and Guaifenesin, Vol. 4, No. 2, Department of Pharmaceutical Chemistry, Der Pharmacia Sinica, India, hal. 61-67 Watson, D.G., 2000, Pharmaceutical Analysis, A Textbook for Pharmacy Students and Pharmaceutical Chemists, Churchill Livingstone, Edinburgh, London, hal. 76-80

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) salbutamol sulfat

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) guaifenesin

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 3. Data penimbangan baku 1. Baku guaifenesin untuk pembuatan kurva baku Penimbangan Berat wadah (g) Berat wadah+zat (g) Berat zat (g) Replikasi 1 8,58440 8,60689 0,02249 Replikasi 2 8,58434 8,60684 0,02250 Replikasi 3 8,58421 8,60671 0,02250 2. Baku guaifenesin untuk sampel adisi Penimbangan Berat wadah (g) 8,58440 Berat wadah+zat (g) 8,60689 Berat zat (g) 0,02249 3. Baku guaifenesin untuk uji kestabilan larutan baku guaifenesin Penimbangan Berat wadah (g) 8,58434 Berat wadah+zat (g) 8,60684 Berat zat (g) 0,02250 4. Baku salbutamol sulfat untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat Penimbangan Berat wadah (g) 8,58386 Berat wadah+zat (g) 8,59386 Berat zat (g) 0,01000 Lampiran 4. Skema pembuatan larutan baku guaifenesin dan contoh perhitungan kadar larutan baku yang digunakan 1. Skema pembuatan larutan baku guaifenesin Timbang seksama lebih kurang 22,5 mg guaifenesin ↓

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Larutkan dengan metanol dalam labu takar 25,0 mL hingga tanda, sehingga didapatkan konsentrasi 900 μg/mL (sebagai larutan stok) ↓ Ambil atau pipet larutan stok sejumlah 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; dan 0,8 mL ↓ Encerkan dengan metanol dalam labu takar 10,0 mL hingga tanda, sehingga didapatkan konsentrasi seri larutan baku 36,0; 45,0; 54,0; 63,0; dan 72,0 μg/mL 2. Contoh perhitungan kadar larutan baku guaifenesin yang digunakan Perhitungan seri baku guaifenesin (hasil dari penentuan kurva baku Replikasi 3) Berat baku guaifenesin hasil penimbangan = 0,02250 gram = 22,5 mg Konsentrasi baku guaifenesin dalam larutan stok = 22,5 mg/25,0 mL = 0,9 mg/mL = 900 μg/mL Kemurnian baku pembanding guaifenesin 99,88%, maka konsentrasi baku guaifenesin dalam larutan stok sebenarnya = 900 μg/mL x 99,88% = 898,92 μg/mL Konsentrasi seri larutan baku guaifenesin = V1 x C1 = V2 x C2 0,4 mL x 898,92 μg/mL = 10,0 mL x C2 C2 = 35,957 μg/mL Seri baku 1 2 3 4 5 V1 (mL) 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 C2 (μg/mL) 35,957 44,946 53,935 62,924 71,914

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 5. Kromatogram baku guaifenesin untuk kurva baku 1. Replikasi I Gambar 20. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Gambar 21. Kromatogram baku guaifenesin 45 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 22. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Gambar 23. Kromatogram baku guaifenesin 63 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 24. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 2. Replikasi II Gambar 25. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 26. Kromatogram baku guaifenesin 45 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Gambar 27. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 28. Kromatogram baku guaifenesin 63 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Gambar 29. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm 3. Replikasi III Gambar 30. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Gambar 31. Kromatogram baku guaifenesin 45 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 32. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Gambar 33. Kromatogram baku guaifenesin 63 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 34. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Lampiran 6. Data penentuan kurva baku guaifenesin Replikasi 1 AUC C (μg/mL) (mAU) 35,941 416750 44,926 542221 53,911 690626 62,896 779459 71,882 903167 A = - 59598,246 B = 13467,384 r = 0,9975 Replikasi 2 AUC C (μg/mL) (mAU) 35,957 430299 44,946 563166 53,935 674301 62,924 790499 71,914 913892 A = - 42280,037 B = 13288,380 r = 0,9996 Replikasi 3 AUC C (μg/mL) (mAU) 35,957 434389 44,946 565020 53,935 676218 62,924 791864 71,914 917741 A = - 39082,532 B = 13277,580 r = 0,9997 Keterangan: C = konsentrasi seri baku guaifenesin (μg/mL) AUC = Area Under Curve (mAU) Lampiran 7. Persamaan dan gambar kurva baku guaifenesin 1. Persamaan kurva baku guaifenesin yang digunakan berasal dari replikasi 3 dengan persamaan sebagai berikut: y = 13277,580x – 39082,532 2. Gambar kurva baku guaifenesin 1000000 900000 y = 13277,580x - 39082,532 r = 0.9997 800000 AUC (mAU) 700000 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 0 20 40 Konsentrasi guaifenesin (μg/mL) 60 80

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 8. Kromatogram sampel 1. Sampel rendah Gambar 35. Kromatogram sampel 40 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Gambar 36. Kromatogram sampel 40 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 37. Kromatogram sampel 40 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 2. Sampel sedang Gambar 38. Kromatogram sampel 50 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 39. Kromatogram sampel 50 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Gambar 40. Kromatogram sampel 50 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm 3. Sampel tinggi Gambar 41. Kromatogram sampel 60 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Gambar 42. Kromatogram sampel 60 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 43. Kromatogram sampel 60 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 9. Kromatogram sampel adisi 1. Sampel rendah adisi Gambar 44. Kromatogram sampel rendah adisi replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 45. Kromatogram sampel rendah adisi replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Gambar 46. Kromatogram sampel rendah adisi replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm 2. Sampel sedang adisi Gambar 47. Kromatogram sampel sedang adisi replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Gambar 48. Kromatogram sampel sedang adisi replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 49. Kromatogram sampel sedang adisi replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 3. Sampel tinggi adisi Gambar 50. Kromatogram sampel tinggi adisi replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 51. Kromatogram sampel tinggi adisi replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Gambar 52. Kromatogram sampel tinggi adisi replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Lampiran 10. Perolehan nilai AUC sampel dan sampel adisi, contoh perhitungan konsentrasi terukur, perhitungan % Recovery, dan KV baku guaifenesin adisi 1. Nilai AUC sampel dan sampel adisi Replikasi 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Tingkat konsentrasi Sampel rendah Sampel sedang Sampel tinggi AUC (mAU) Sampel Sampel adisi 489817 538335 484516 537117 475948 557849 611026 683119 606857 679353 611906 683544 738696 821605 738337 785825 724654 774172

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 2. Contoh perhitungan konsentrasi terukur baku guaifenesin Diketahui AUC sampel guaifenesin sebesar 611026 dan AUC sampel adisi sebesar 683119, maka: Konsentrasi guaifenesin dalam sampel: y = 13277,580x – 39082,532 611026 = 13277,580x – 39082,532 x = 48,963 μg/mL Konsentrasi guaifenesin dalam sampel adisi: y = 13277,580x – 39082,532 683119 = 13277,580x – 39082,532 x = 54,393 μg/mL Konsentrasi baku guaifenesin adisi = konsentrasi guaifenesin dalam sampel adisi – konsentrasi guaifenesin dalam sampel Konsentrasi baku guaifenesin adisi = (54,393 – 48,963) μg/mL Konsentrasi baku guaifenesin adisi = 5,430 μg/mL 3. Contoh perhitungan % Recovery baku guaifenesin adisi Diketahui konsentrasi terukur baku guaifenesin adisi sebesar 5,430 μg/mL dan konsentrasi sebenarnya sebesar 5,391 μg/mL, maka: % Recovery = % Recovery = konsentrasi baku dan sampel terukur – konsentrasi sampel terukur konsentrasi baku teoritis 5,430 μg/mL 5,391 μg/mL x 100% x 100% % Recovery = 100,72% 4. Contoh perhitungan KV baku guaifenesin adisi Diketahui konsentrasi terukur rata-rata (x̅ ) baku guaifenesin adisi sebesar 5,429 μg/mL dengan standar deviasi (SD) sebesar 0,032, maka:

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 KV = KV = standar deviasi (SD) ̅) rata-rata (X 0,032 x 100% x 100% KV = 0,59% Konsentrasi guaifenesin Tingkat Sampel Baku % Replikasi Sampel KV KV KV konsentrasi adisi adisi Recovery (%) (%) (μg/mL) (%) (μg/mL) (μg/mL) 1 39,834 43,488 3,654 67,78 Sampel 2 39,435 1,34 43,396 1,99 3,961 29,86 73,47 rendah 3 38,789 44,958 6,169 114,43 1 48,963 54,393 5,430 100,72 Sampel 2 48,649 0,42 54,109 0,32 5,460 0,59 101,28 sedang 3 49,029 54,425 5,396 100,09 1 58,578 64,823 6,245 115,84 Sampel 2 58,551 1,04 62,128 2,97 3,577 33,17 66,35 tinggi 3 57,521 61,250 3,729 69,17

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Lampiran 11. Kromatogram baku guaifenesin untuk uji kestabilan larutan baku guaifenesin 6 Maret 2014 Gambar 53. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL 6 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 54. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL 6 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Gambar 55. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL 6 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm 7 Maret 2014 Gambar 56. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL 7 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Gambar 57. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL 7 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 58. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL 7 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 8 Maret 2014 Gambar 59. Kromatogram baku guaifenesin 36 μg/mL 8 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 60. Kromatogram baku guaifenesin 54 μg/mL 8 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Gambar 61. Kromatogram baku guaifenesin 72 μg/mL 8 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Lampiran 12. Perolehan nilai AUC baku guaifenesin, contoh perhitungan konsentrasi terukur dan perhitungan % perubahan untuk uji kestabilan larutan baku guaifenesin 1. Nilai AUC baku guaifenesin C teoritis (μg/mL) 35,957 53,935 71,914 AUC (mAU) pada tanggal 6 Maret 7 Maret 8 Maret 430299 428289 432367 674301 674835 674079 913892 914290 913048 2. Contoh perhitungan konsentrasi terukur baku guaifenesin Diketahui AUC baku guaifenesin konsentrasi 35,957 μg/mL tanggal 6 Maret sebesar 430299, 7 Maret sebesar 428289, dan 8 Maret sebesar 432367, maka: Konsentrasi terukur baku guaifenesin tanggal 6 Maret: y = 13277,580x – 39082,532 430299 = 13277,580x – 39082,532 x = 35,351 μg/mL

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Konsentrasi terukur baku guaifenesin tanggal 7 Maret: y = 13277,580x – 39082,532 428289 = 13277,580x – 39082,532 x = 35,200 μg/mL Konsentrasi terukur baku guaifenesin tanggal 8 Maret: y = 13277,580x – 39082,532 432367 = 13277,580x – 39082,532 x = 35,507 μg/mL 3. Contoh perhitungan % perubahan untuk uji kestabilan larutan baku guaifenesin % perubahan = konsentrasi terukur – konsentrasi terukur konsentrasi terukur awal Tanggal 7 Maret, % perubahan = % perubahan = konsentrasi terukur x 100% – konsentrasi terukur konsentrasi terukur awal 35,200 – 35,351 35,351 x 100% x 100% % perubahan = 0,43% Tanggal 8 Maret, % perubahan = % perubahan = konsentrasi terukur – konsentrasi terukur konsentrasi terukur awal 35,507 – 35,351 35,351 x 100% x 100% % perubahan = 0,44% Kadar teoritis (μg/mL) 35,957 53,935 71,914 Kadar terukur (μg/mL) pada tanggal 6 Maret 7 Maret 8 Maret 35,351 53,728 71,773 35,200 53,769 71,803 35,507 53,712 71,710 persen perubahan (%) 6-7 6-8 Maret Maret 0,43 0,44 0,08 0,03 0,04 0,09

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Lampiran 13. Skema pembuatan larutan baku salbutamol sulfat dan contoh perhitungan kadar larutan baku yang digunakan untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat 1. Skema pembuatan larutan baku salbutamol sulfat Timbang seksama lebih kurang 10,0 mg salbutamol sulfat ↓ Larutkan dengan metanol dalam labu takar 50,0 mL hingga tanda, sehingga didapatkan konsentrasi 200 μg/mL (sebagai larutan stok) ↓ Ambil atau pipet 0,5 mL larutan stok, masukkan ke dalam labu takar 5,0 mL dan encerkan dengan metanol hingga tanda, sehingga didapatkan konsentrasi 20 μg/mL (sebagai larutan intermediate) ↓ Ambil atau pipet larutan intermediate sejumlah 0,4; 0,6; dan 0,8 mL ↓ Encerkan dengan metanol dalam labu takar 10,0 mL hingga tanda, sehingga didapatkan konsentrasi seri larutan baku 0,8; 1,2; dan 1,6 μg/mL 2. Perhitungan kadar larutan baku salbutamol sulfat yang digunakan untuk uji stabilitas larutan baku salbutamol sulfat Berat baku salbutamol sulfat hasil penimbangan = 0,01000 gram = 10,0 mg Konsentrasi baku salbutamol sulfat dalam larutan stok = 10,0 mg/50,0 mL = 0,2 mg/mL = 200 μg/mL Konsentrasi baku salbutamol sulfat dalam larutan intermediate = V1 x C1 = V2 x C2 0,5 mL x 200 μg/mL = 5,0 mL x C2 C2 = 20 μg/mL

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Kemurnian baku pembanding salbutamol sulfat 98,83%, maka konsentrasi baku salbutamol sulfat dalam larutan intermediate sebenarnya = 20 μg/mL x 98,83% = 19,766 μg/mL Konsentrasi seri larutan baku salbutamol sulfat = V1 x C1 = V2 x C2 0,4 mL x 19,766 μg/mL = 10,0 mL x C2 C2 = 0,791 μg/mL Seri baku 1 3 5 V1 (mL) 0,4 0,6 0,8 C2 (μg/mL) 0,791 1,186 1,581 Lampiran 14. Kromatogram baku salbutamol sulfat untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat 5 Maret 2014 Gambar 62. Kromatogram baku salbutamol sulfat 0,8 μg/mL 5 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Gambar 63. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,2 μg/mL 5 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 64. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,6 μg/mL 5 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 6 Maret 2014 Gambar 65. Kromatogram baku salbutamol sulfat 0,8 μg/mL 6 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 66. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,2 μg/mL 6 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Gambar 67. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,6 μg/mL 6 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm 7 Maret 2014 Gambar 68. Kromatogram baku salbutamol sulfat 0,8 μg/mL 7 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Gambar 69. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,2 μg/mL 7 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 70. Kromatogram baku salbutamol sulfat 1,6 μg/mL 7 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 16 Januari 2014 (Konsentrasi 10 μg/mL) Gambar 71. Kromatogram baku salbutamol sulfat 10 μg/mL 16 Januari 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm 8 Maret 2014 (Konsentrasi 10 μg/mL) Gambar 72. Kromatogram baku salbutamol sulfat 10 μg/mL 8 Maret 2014 Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Lampiran 15. Perolehan nilai AUC baku salbutamol sulfat, contoh perhitungan % perubahan untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat 1. Nilai AUC baku salbutamol sulfat C teoritis μg/mL) 0,791 1,186 1,581 C teoritis (μg/mL) 9,883 AUC (mAU) pada tanggal 5 Maret 6 Maret 7 Maret 12429 13008 11721 14296 14288 12919 16943 18411 18209 AUC (mAU) pada tanggal 16 Januari 8 Maret 72363 91019 2. Contoh perhitungan % perubahan untuk uji kestabilan larutan baku salbutamol sulfat. Pada penelitian tidak didapatkan kurva baku (tidak dapat menghitung kadar), maka digunakan respon AUC untuk menghitung % perubahannya. % perubahan = Tanggal 6 Maret, % perubahan = % perubahan = respon – respon x 100% respon awal respon – respon x 100% respon awal 13008 – 12429 12429 x 100% % perubahan = 4,66% Tanggal 7 Maret, % perubahan = % perubahan = respon – respon x 100% respon awal 11721 – 12429 12429 x 100% % perubahan = 5,70% Kadar teoritis (μg/mL) 0,791 5 - 6 Maret 5 - 7 Maret 4,66 5,70 1,186 0,06 9,63 1,581 8,66 7,47 persen perubahan (%) Kadar teoritis (μg/mL) persen perubahan (%) (16 Jan - 8 Mar) 9,883 25,78

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Lampiran 16. Kromatogram untuk menunjukkan resolusi pemisahan salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam larutan baku campuran Replikasi I (Rs = 10,462) Gambar 73. Kromatogram baku campuran salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Replikasi II (Rs = 10,451) Gambar 74. Kromatogram baku campuran salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Replikasi III (Rs = 10,429) Gambar 75. Kromatogram baku campuran salbutamol sulfat 1,2 μg/mL dan guaifenesin 80 μg/mL replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Lampiran 17. Kromatogram untuk menunjukkan resolusi pemisahan salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sampel Gambar 76. Kromatogram sampel 50 μg/mL untuk menunjukkan resolusi replikasi I Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm Gambar 77. Kromatogram sampel 50 μg/mL untuk menunjukkan resolusi replikasi II Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Gambar 78. Kromatogram sampel 50 μg/mL untuk menunjukkan resolusi replikasi III Fase diam : C18 dimensi 250 x 4,6 mm, 5 µm Fase gerak : metanol : 0,01M bufer fosfat pH 3 (40:60) Kecepatan alir : 1,0 mL/min Volume injeksi : 20 µL Detektor : UV-275 nm

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 BIOGRAFI PENULIS Penulis skripsi berjudul “Validasi Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik untuk Penetapan Kadar Salbutamol Sulfat dan Guaifenesin dalam Sediaan Sirup Merek “X”” memiliki nama lengkap Agustinus Hendy Larsen. Penulis lahir di Tegal pada 3 Agustus 1992 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Dra. Bernardine Susy Mayawati Soeharto dan Alm. Bernardus Bambang Hermantodjojo. Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis adalah TK Pius Tegal (1995-1998), SD Pius Tegal (1998-2004), SMP Pius Tegal (2004-2007), SMA Pius Tegal (2007-2010), kemudian tahun 2010 penulis melanjutkan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama kuliah penulis pernah menjadi asisten dosen pada mata kuliah praktikum Kimia Dasar (2013), praktikum Bentuk Sediaan Farmasi (2013), praktikum Biofarmasetika (2014), praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Farmasi I (2014), dan praktikum Farmasi Fisika (2014). Selain itu, penulis juga pernah mengikuti beberapa kegiatan dan organisasi antara lain: panitia Pelepasan Wisuda (2011), panitia Tiga Hari Temu Akrab Farmasi/Titrasi (2011 dan 2012), panitia Hari Anti Tembakau (2011), dan pernah mengikuti beberapa seminar (baik yang diselenggarakan di dalam ataupun di luar kampus).

(139)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Optimasi komposisi dan kecepatan alir fase gerak metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik untuk penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan larutan injeksi obat pemutih kulit merk ``X``.
0
10
99
Validasi metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik untuk penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan larutan injeksi obat pemutih kulit merek "X".
1
1
114
Optimasi pemisahan dan penetapan kadar campuran parasetamol dan natrium fenobartial dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
127
Validasi penetapan kadar campuran parasetamol, propifenazon, dan kafein dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik...[abstrak tidak bisa diupload] - USD Repository
0
3
130
Optimasi pemisahan campuran hidrokortison asetat dan kloramfenikol dalam krim merek X menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
146
Penetapan kadar aspartam dalam minuman serbuk beraoma merek ``X`` secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
83
Validasi metode penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair obat herbal terstandar merk Kiranti secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
118
Optimasi metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik pada pemisahan kloramfenikol dan lidokain hidroklorida dalam sediaan tetes telinga Colme - USD Repository
0
0
159
Validasi metode kromatografi cair kinerja tinggi terbalik pada penetapan kadar kloramfenikol dan lidokain hidroklorida dalam sediaan tetes telinga Colme - USD Repository
0
0
141
Penetapan kadar kloramfenikol dan lidokain hidroklorida dalam sediaan tetes telinga Colme dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
94
Penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair obat herbal terstandar merk Kiranti secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
117
Penetapan kadar teobromin dan kafein dalam ekstrak serbuk cokelat merk ``X`` menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
1
119
Optimasi dan validasi metode penetapan kadar bisfenol A. dalam ekstrak air dan ekstrak botol air minum menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
196
Penetapan kadar guaifenesin yang tercampur dengan salbutamol sulfat dalam sediaan sirup merek ``x`` menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
1
130
Optimasi komposisi dan kecepatan alir fase gerak sistem kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik pada pemisahan salbutamol sulfat dan guaifenesin dalam sediaan obat sirup ``Merek X`` - USD Repository
0
0
118
Show more