DESKRIPSI KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA AKHIR

Gratis

0
0
97
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESKRIPSI KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA AKHIR Skripsi Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Odilia Elisetiawati NIM : 099114014 PROGRAM STUDI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESKRIPSI KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA AKHIR Skripsi Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Odilia Elisetiawati NIM : 099114014 PROGRAM STUDI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO Jangan pernah takut untuk melakukan perubahan, lakukan perubahan setiap hari jika tidak maka kita akan terjebak dalam zona nyaman (Pasoroan Herman Harianja) Hidup itu seperti kain, berawal dari seutas benang yang dirajut menjadi sepotong kain yang indah. (Surgaku Ibuku) Untuk semua yang telah terjadi, TERIMA KASIH. Untuk semua yang akan terjadi, BAIKLAH. All is Well. (Ajahn Brahm) iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Skripsi ini kupersembahkan untuk Tuhan Yang Maha Esa Bapak Wastu dan mamah Cicih Thomas dan Denny Dan semua orang yang kusayangi… v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 28 Agustus 2014 Penulis, Odilia Elisetiawati vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESKRIPSI KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA AKHIR Odilia Elisetiawati ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan komunikasi pada remaja akhir. Subjek penelitian merupakan remaja akhir yang duduk di bangku kelas X dan XI SMA yang berada dalam rentang usia 15 hingga 19 tahun. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang disebarkan kepada 119 siswa. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan metode statistik deskriptif melalui program SPSS 17,00 for Windows. Skala kecemasan komunikasi ini memiliki reliabilitas sebesar 0,902. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, ditemukan bahwa secara umum tingkat kecemasan komunikasi pada remaja akhir masuk dalam kategori cukup, yaitu sebanyak 77 siswa (64,7 %). Remaja yang masuk dalam kategori kecemasan komunikasi tinggi sebanyak 22 siswa (18,5 %), dan sisanya siswa yang masuk dalam kategori kecemasan komunikasi rendah sebanyak 20 siswa (16,8%). Aspek yang paling menggambarkan kecemasan komunikasi yaitu ketidaknyamanan komunikasi, penarikan diri, dan komunikasi berlebihan. Kata kunci : kecemasan komunikasi, remaja akhir vii internal, penghindaran

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESCRIPTION OF COMMUNICATION APPREHENSION IN ADOLESCENT Odilia Elisetiawati ABSTRACT This study aimed to determined the level of communication apprehension in adolescent. Subject in this research was adolescent who study in Tenth and Eleventh grade of High School, with range ages of 15 until 19 years old. The data were collected by using Likert scale that was distributed to 119 students. The data were analyzed by using descriptive statistic method with SPSS 17,00 program for windows. Reliability of communication apprehension scale was 0,902. Based on the result of analysis, it was found that generally the scale of communication apprehension in adolescent was in adequate category, as many as 77 students (64.7%). There were 22 students (18,5%) that were categorized into high communication apprehension and 20 students (16,8%) students that were categorized into low communication apprehension. Aspect that described most communication apprehension was internal discomfort, communication avoidance, communication withdrawal, and overcommunication. Keywords: communication apprehension, adolescent. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Odilia Elisetiawati Nomor Mahasiswa : 099114014 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : STUDI DESKRIPTIF KECEMASAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI PADA REMAJA AKHIR DI YOHYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 28 Agustus 2014 Yang menyatakan, (Odilia Elisetiawati) ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Studi Deskriptif Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja Akhir di Yogyakarta”. Skripsi ini juga tidak lepas dari adanya dukungan dari orang-orang yang telah membantu saya selama perjalanan studi penulis. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Sylvia Carolina M.Y.M., M.Si. selaku dosen pembimbing yang senantiasa menyediakan waktu untuk mendampingi dan membimbing saya dalam menyusun skripsi ini. 3. Ibu Dr. Tjipto Susana selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing saya selama masa studi. 4. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ilmunya sehingga saya dapat menambah wawasan mengenai Psikologi. 5. Seluruh staf Fakultas Psikologi, khususnya Mas Gandung, Bu Nanik, Mas Muji, Mas Doni, dan Pak Gie yang telah membantu dan memberikan informasi selama saya menempuh masa studi. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Seluruh staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, khusunya Pak Sunu, Bu Etik, Pak Widi, Bu Mini, Bu Astuti, Pak Yanto, Pak Narto, Pak Bardi, dan Mas Rahmadi yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berdinamika dan belajar bekerja. 7. SMA Budya Wacana dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta atas partisipasinya sebagai peserta penelitian. 8. Bapak dan mamah yang telah memberikan semangat , doa, serta dukungan baik secara moril maupun materiil. 9. Kedua adikku Thomas dan Denny yang selalu memberikan dukungan, doa, dan motivasi. 10. Seluruh keluarga besar abah Warjo dan abah Sutarya atas dukungan, motivasi, dan doanya. 11. Teman-teman Psyclassa 09 yang selalu membagikan ilmu dan ceritanya selama kita kuliah. Terimakasih atas pengalaman yang selalu kalian berikan. Tetap semangat dalam meraih cita-cita ya. 12. Teman-teman Mitra Perpustakaan Paingan USD atas kesempatannya. Senang bisa bekerja sama dan bermain bersama kalian. Terimakasih atas persaudaraan dan pertemanannya, kalian luar biasa. 13. Seluruh penghuni Kost Putri Griya Talenta yang selalu setia menemani, berbagi cerita, dan keceriaan bersama. 14. Teman-teman Legio Maria Cimahi yang selalu mendukung dan mendoakan saya. Terimakasih atas semua dukungannya, kalian harus tetap solid ya. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15. Semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terimakasih untuk semua dukungan dan doanya, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Semoga rahmat dan berkat Allah selalu menyertai pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam penyusunan skripsi ini. Terimakasih atas segalanya dan semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak. Yogyakarta, 28 Agustus 2014 Penulis Odilia Elisetiawati xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN MOTTO ...................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................... vi ABSTRAK ...................................................................................................... vii ABSTRACT ..................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................... ix KATA PENGANTAR ...................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................. xiii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi DAFTAR BAGAN ....................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xviii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 6 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 7 1. Manfaat Teoretis .......................................................................... 7 2. Manfaat Praktis ............................................................................ 7 BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................... 8 A. Kecemasan Komunikasi ..................................................................... 8 1. Definisi Kecemasan ..................................................................... 8 2. Definisi Komunikasi .................................................................... 9 3. Definisi Kecemasan Komunikasi ............................................... 11 4. Aspek-aspek Kecemasan Komunikasi ....................................... 12 5. Faktor Meningkatnya Kecemasan Komunikasi ......................... 13 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Penyebab Kecemasan Komunikasi ............................................ 15 7. Dampak Kecemasan Komunikasi .............................................. 17 B. Remaja Akhir ...................................................................................... 18 1. Perkembangan Fisik ...................................................................... 19 2. Perkembangan Kognitif ................................................................ 19 3. Perkembangan Sosio-Emosional................................................... 21 C. Dinamika Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir..................... 23 D. Skema Penelitian ................................................................................. 26 E. Pertanyaan Penelitian .......................................................................... 26 BAB III METODOLOGI PENELITIAN........................................................ 27 A. Jenis Penelitian .................................................................................... 27 B. Identifikasi Variabel Penelitian ........................................................... 27 C. Definisi Operasional............................................................................ 27 D. Subjek Penelitian dan Metode Pengambilan Sampel .......................... 28 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data .................................................. 29 F. Persiapan Penelitian ............................................................................ 30 G. Kredibilitas Alat Pengumpulan Data .................................................. 31 1. Validitas ........................................................................................ 31 2. Seleksi Aitem ................................................................................ 31 3. Reliabilitas .................................................................................... 33 H. Metode Analisi Data ........................................................................... 33 BAB IV HASIL PENELITIAN ...................................................................... 35 A. Pelaksanaan Penelitian ........................................................................ 35 B. Deskripsi Subjek Penelitian ................................................................ 36 C. Hasil Penelitian ................................................................................... 37 D. Pembahasan ......................................................................................... 40 E. Keterbatasan Penelitian ....................................................................... 45 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 46 A. Kesimpulan ......................................................................................... 46 B. Saran .................................................................................................... 46 1. Bagi Remaja Akhir ........................................................................ 46 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Bagi Orang Tua dan Guru ............................................................. 47 3. Bagi Peneliti Selanjutnya .............................................................. 47 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 48 LAMPIRAN .................................................................................................... 51 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Blue Print Skala Kecemasan Komunikasi ................................... 30 Tabel 3.2. Pemberian Skor Pada Skala Kecemasan Komunikasi ................. 30 Tabel 3.3. Distribusi Aitem Skala Kecemasan Komunikasi Pada Uji Coba ............................................................................. 32 Tabel 4.1. Deskripsi Tempat Tinggal Subjek Penelitian............................... 36 Tabel 4.2. Deskripsi Organisasi Subjek Penelitian ....................................... 36 Tabel 4.3. Deskripsi Lama Berkomunikasi dengan Orang Tua Dalam Seminggu ......................................................................... 37 Tabel 4.4. Perbandingan Mean Empirik dan Mean Teoretik ........................ 38 Tabel 4.5. Kategorisasi Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir ......... 38 Tabel 4.6. Mean Empirik Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir ..................................................................... 39 Tabel 4.7. Kategorisasi Aspek Kecemasan Komunikasi ............................... 39 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1. Skema Penelitian Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir ...................................................................... 26 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I. Angket Survei Awal ................................................................. 52 Lampiran II. Skala Try Out Kecemasan Komunikasi ................................... 54 Lampiran III. Reliabilitas Skala Try Out Kecemasan Komunikasi................ 64 Lampiran IV. Skala Penelitian Kecemasan Komunikasi ............................... 68 Lampiran V. Mean Empirik Kecemasan Komunikasi .................................. 77 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk menjalin sebuah interaksi. Melalui interaksi tersebut, setiap manusia akan terlibat dalam kegiatan saling berkomunikasi. Setiap harinya manusia terlibat komunikasi di segala tempat, seperti sekolah, pasar, rumah, kantor, bahkan di taman kota sekalipun. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Berlo pada tahun 1980 (dalam Wulandari, 2002), menunjukkan bahwa 70% waktu aktif masyarakat di Amerika digunakan untuk berkomunikasi. Di Indonesia sendiri sebanyak 89 % waktu aktif anak Indonesia digunakan untuk berkomunikasi (Razak, 2014). Melalui kegiatan komunikasi segala kebutuhan manusia, baik fisiologis maupun psikologis akan terpenuhi. Seiring perkembangan zaman, manusia dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik karena komunikasi telah menjadi kebutuhan manusia. Selain itu, setiap manusia juga harus memiliki kreatifitas yang tinggi agar dapat memecahkan suatu masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Spitzberg dan Cupach (dalam Devito, 2011) yang mengatakan bahwa kemampuan komunikasi dapat dipelajari dengan cara meningkatkan kompetensi komunikasi, yang mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi isi (content) dan bentuk pesan komunikasi. Semakin tinggi kemampuan komunikasi yang dimiliki, semakin 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 banyak pula pilihan untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan saat ini, siswa dituntut untuk aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Proses pembelajaran seperti ini dinamakan dengan pendekatan Student Centered Learnig, dimana setiap siswa dilatih agar memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan atau menyatakan pendapat di depan kelas. (Overby, 2011). Berdasarkan kurikulum 2013, tugas sekolah yang diberikan oleh guru bertujuan untuk mengasah pengetahuan dan kemampuan siswa dalam memecahkan suatu masalah (kampus.okezone.com). Setelah itu, biasanya guru akan meminta siswanya untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Hal tersebut juga menuntut kreatifitas siswa untuk memikirkan cara menyampaikan pesan yang menarik sehingga dapat diterima oleh pendengar. Selain itu, siswa juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi dengan guru ketika mengalami kesulitan dalam pelajaran atau sekedar ingin menceritakan permasalahan pribadi. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan kemampuan komunikasi siswa dapat terlatih. Permasalahan yang muncul ketika siswa diminta untuk berkomunikasi adalah terjadinya kecemasan komunikasi. Siswa merasa cemas ketika diminta untuk berkomunikasi baik di depan kelas maupun berbicara secara formal dengan guru atau orang yang baru dikenal. Kecemasan dalam berkomunikasi ini biasa disebut juga sebagai hambatan komunikasi (communication apprehension). Sebagai seorang pelajar yang memiliki banyak pengetahuan, seharusnya hal ini tidak terjadi di kalangan remaja (Apollo, 2007). Akan

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 tetapi, pada kenyataannya terdapat beberapa remaja yang mengalami kecemasan komunikasi. Walaupun ada remaja yang berani mengungkapkan pendapat ketika belajar mengajar, diskusi, seminar, atau dalam situasi informal. Tetapi ada juga remaja yang terlihat gemetar dan berkeringat ketika harus mempresentasikan karya tulisnya di depan kelas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Croskey, Hurt, Burgoon dan Ruffner (dalam Apollo, 2007), menunjukkan bahwa 10-20% remaja di Amerika Serikat menderita kecemasan komunikasi (communication apprehension) yang sangat tinggi, dan sekitar 20 % remaja lainnya mengalami kecemasan komunikasi yang cukup tinggi. Di Indonesia, penelitian mengenai kecemasan komunikasi pernah diteliti oleh Mariani yang menemukan 8 % mahasiswa Fakultas Psikologi dan Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta mengalami kecemasan dalam berkomunikasi (dalam Wulandari, 2002). Kecemasan komunikasi merujuk pada rasa malu, keengganan berkomunikasi, ketakutan berbicara di depan umum, dan sikap pendiam dalam interaksi komunikasi. Remaja yang memiliki hambatan atau kecemasan dalam berkomunikasi biasanya terlihat gemetar, gugup, berkeringat, wajah memerah, dan denyut jantung berdebar kencang ketika mereka diminta untuk berkomunikasi. Sebaliknya, remaja yang tidak mengalami hambatan berkomunikasi biasanya merasa tenang ketika berkomunikasi baik menggunakan media komunikasi, maupun berbicara dengan tatap muka secara langsung.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Bila kecemasan yang terjadi tidak dapat diatasi oleh remaja bisa saja akan berdampak besar bagi remaja yang mengalami kecemasan komunikasi. Adapun dampak yang akan dialami seperti kesulitan menyampaikan pesan di kelas, menarik diri dari kegiatan komunikasi, berbicara lebih sedikit ketika berada dalam kelompok, dan memiliki kompetensi komunikasi yang lebih rendah (McCroskey, 1976). Hal ini sejalan dengan penelitian Devito (2001) yang mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasannya maka akan menghambat komunikasi. Powell & Powell (2010), mengatakan bahwa dalam konteks pengajaran, penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengalami kecemasan komunikasi akan merasa kesulitan untuk menyampaikan pesan dan mengikuti proses belajar mengajar ketika diminta untuk berkomunikasi di sekolah. Selain itu, siswa yang memiliki tingkat kecemasan tinggi biasanya memperoleh rata-rata nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat kecemasan komunikasi rendah. Dalam sebuah penelitian yang dirancang untuk menilai ingatan dan keberhasilan akademik siswa, McCroskey, Booth-Butterfield, dan Payne (dalam Powell & Powell, 2010), menemukan bahwa siswa dengan tingkat kecemasan komunikasi tinggi lebih beresiko untuk putus sekolah dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat kecemasan komunikasi rendah. Bila hal ini tidak diatasi maka kecemasan komunikasi yang dialami remaja akan berkembang hingga mereka dewasa. Kecemasan komunikasi yang berkembang hingga dewasa akan membuat remaja merasa kesulitan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 untuk menghadapi kegiatan komunikasi dan bila terus meningkat dapat menimbulkan ketakutan yang berlebihan. Saat remaja memasuki tahap perkembangan dewasa, banyak kegiatan yang menuntut mereka untuk melakukan kegiatan komunikasi. Misalnya saja ketika mereka duduk di bangku kuliah. Banyak tugas-tugas yang bentuknya karya tulis dan harus dipresentasikan di depan kelas. Presentasi tersebut biasanya dilihat oleh teman-teman sekelas dan juga dosen pengampu. Selain itu, juga ada tugas lapangan yang menuntut mereka untuk berinteraksi dengan warga sekitar atau orang yang ahli dalam bidangnya. Berdasarkan literatur yang peneliti temukan, terdapat beberapa judul penelitian mengenai kecemasan komunikasi, diantaranya adalah hubungan antara konsep diri dengan kecemasan berkomunikasi secara lisan pada remaja (Apollo, 2007), tingkat kecemasan komunikasi mahasiswa dalam lingkup akademis (Lukmantoro, tanpa tahun), kecemasan berkomunikasi antar pribadi dalam tes wawancara kerja (Nasution, tanpa tahun), dan efektivitas modifikasi perilaku-kognitif untuk mengurangi kecemasan komunikasi antar pribadi (Wulandari, 2002). Berangkat dari beberapa judul penelitian yang pernah dilakukan, peneliti melakukan survei mengenai kecemasan komunikasi. Berdasarkan survei yang peneliti lakukan (27/03/2013), sebanyak 8 dari 18 remaja mengalami kecemasan komunikasi. Kecemasan komunikasi terjadi karena remaja cenderung merasa malu ketika bertemu dengan orang lain, baik yang telah lama dikenal maupun yang baru dikenal. Selain itu, kecemasan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 komunikasi juga terjadi karena remaja merasa grogi ketika melihat pandangan orang lain saat sedang berbicara dengan mereka. Hal lain yang membuat mereka merasa cemas ialah jarang berbicara di depan umum, takut melakukan kesalahan, takut tidak ada yang mendengarkan, dan grogi ketika harus berbicara di depan orang yang baru dikenal. Berdasarkan survei tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kecemasan komunikasi. Hal yang membuat penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini karena kecemasan komunikasi yang terjadi pada remaja disebabkan oleh ketidaknyamanan internal yang dirasakan dan tidak terbiasa untuk berkomunikasi secara tatap muka (langsung). Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat tingkat kecemasan komunikasi yang dialami oleh remaja. Penelitian ini ditujukan kepada remaja akhir karena masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada tahap perkembangan ini, remaja diharapkan mengasah dan mengembangkan kemampuan komunikasinya. Permasalahan yang muncul adalah remaja saat ini lebih sering menghabiskan waktunya untuk berkomunikasi menggunakan media komunikasi daripada bersosialisasi dengan teman sebayanya secara langsung sehingga membuat mereka tidak terbiasa untuk berkomunikasi secara tatap muka. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat kecemasan komunikasi yang dialami remaja akhir?

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui tingkat kecemasan komunikasi yang dialami oleh remaja akhir. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan, terutama bagi ilmu Psikologi Komunikasi, Psikologi Sosial, dan Psikologi Perkembangan Remaja. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kecemasan komunikasi yang dialami oleh remaja akhir. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data mengenai besarnya tingkat kecemasan komunikasi dari setiap kategori. Selain itu, dari penelitian ini juga diharapkan remaja dapat mengendalikan diri dan mengatasi kecemasan komunikasi yang dialami, serta terus meningkatkan kemampuan komununikasi agar kecemasan komunikasi yang dialami tidak meningkat menjadi sebuah ketakutan yang berlebihan.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemasan Komunikasi 1. Definisi Kecemasan Kecemasan berasal dari kata cemas yang berarti bingung, gelisah, khawatir, resah, risau, takut, tegang, dan was-was (Departemen Pendidikan Nasional, 2009). Berdasarkan Kamus Psikologi kecemasan adalah kondisi emosi yang buram dan tidak menyenangkan disertai ciri-ciri takut terhadap sesuatu hal, menekan, dan tidak nyaman. (Reber, 2010). Menurut Daradjat (1968) kecemasan adalah perwujudan dari berbagai proses emosi yang bercampur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustrasi) dan pertentangan batin (konflik). Watson dan kawan-kawan (dalam Leary, 1983) mendefinisikan kecemasan sosial sebagai sebuah pengalaman merasakan kesukaran, ketidaknyamanan, ketakutan, cemas, dan lain sebagainya di dalam keadaan sosial, dan dengan sengaja menghindari situasi sosial dari orang lain. Jadi, berdasarkan definisi tersebut kecemasan dapat diartikan sebagai suatu proses emosi kebingungan, kegelisahan, ketakutan, dan kekhawatiran yang terjadi ketika individu berada dalam kondisi yang menekan dan tidak nyaman. 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 2. Definisi Komunikasi Komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu “communication” yang berarti pergaulan, persatuan, peran serta, dan kerjasama. Dalam Kamus Komunikasi, kata komunikasi (communication) merupakan proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang sebagai bentuk pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, imbauan, dan lain sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik secara langsung (tatap muka) maupun secara tidak langsung (melalui media), dengan tujuan mengubah sikap dan pandangan atau perilaku. Menurut Supratiknya (1995), komunikasi dapat diartikan secara luas dan secara sempit. Secara luas komunikasi adalah tingkah laku verbal maupun nonverbal seseorang yang ditanggapi oleh orang lain. Secara sempit komunikasi adalah pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Dahana dan Bhatnagar (dalam Apollo, 2007) mendefinisikan komunikasi sebagai proses interaksi sosial yang melibatkan dua atau lebih individu yang berinteraksi, dan terjadi saling mempengaruhi ide, sikap, pengetahuan, dan tingkah laku satu sama lain. Menurut Devito (2011) komunikasi merupakan tindakan yang dilakukan satu orang atau lebih untuk mengirim pesan yang terpengaruh oleh gangguan (noise) dan mengharapkan umpan balik. Menurut Zeuschner (2003), komunikasi antar pribadi adalah sebuah transaksi komunikasi yang menyertakan dua orang atau lebih. Para

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 ahli teori komunikasi mendefinisikan komunikasi antarpribadi (interpersonal) berdasarkan tiga pendekatan : a. Definisi berdasarkan komponen (componential), Komunikasi antarpribadi merupakan penyampaian pesan yang dilakukan oleh satu orang dan pesan tersebut diterima oleh orang lain atau sekelompok orang, dan mendapat umpan balik secepat mungkin. b. Definisi berdasarkan hubungan diadik (relational dyadic), Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang yang memiliki hubungan yang jelas. Misalnya komunikasi antara ayah dengan anak, pelanggan dengan pramuniaga, psikolog dengan klien. c. Definisi berdasarkan pengembangan (developmental), Komunikasi antarpribadi didefinisikan sebagai akhir perkembangan komunikasi yang bersifat tidak pribadi (impersonal) menjadi komunikasi yang pribadi (intim). Jadi, berdasarkan definisi para tokoh tersebut komunikasi dapat diartikan sebagai sebuah interaksi yang dilakukan antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk mengirimkan pesan kepada orang lain sehingga terjadi saling mempengaruhi ide, tingkah laku, pengetahuan, sikap, dan terjadi umpan balik.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 3. Definisi Kecemasan Komunikasi Kecemasan komunikasi (communication apprehension) menurut McCroskey (dalam Burgoon, 1982), adalah sebuah ketakutan atau kecemasan ketika menghadapi situasi komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan satu orang maupun lebih. Burgoon dan Michele (dalam Apollo, 2007) memberi istilah kecemasan komunikasi dengan sebutan communication anxiety, yaitu kondisi seseorang yang merasa cemas ketika menghadapi situasi komunikasi, khususnya komunikasi di depan umum. Hurt (dalam Apollo, 2007) menyebut kecemasan komunikasi dengan istilah communication apprehension, yaitu kondisi seseorang yang mengalami kecemasan ketika berkomunikasi, baik di depan umum, diskusi kelompok dengan teman sebaya, ataupun komunikasi yang bersifat formal dengan teman sebaya maupun guru. Kecemasan komunikasi juga dapat diartikan sebagai sebuah ketakutan atau kecemasan terkait dengan tindakan komunikasi yang diselenggarakan oleh sejumlah besar individu. Orang yang memiliki kecemasan komunikasi yang tinggi adalah orang yang merasa khawatir ketika harus ikut berpartisipasi dalam situasi komunikasi tertentu. Mereka akan menghindari komunikasi, bahkan seakan-akan mereka mengalami berbagai macam kecemasan perasaan ketika dipaksa untuk berkomunikasi (www.jamescmccroskey.com). Berdasarkan Kamus Komunikasi, kecemasan komunikasi (communication apprehension) adalah rasa cemas atau khawatir untuk berkomunikasi yang disebabkan ketidak percayaan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 terhadap diri sendiri dan merasa tidak mampu yang dialami seseorang, sehingga mengakibatkan menarik diri dari pergaulan. Jadi, berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecemasan komunikasi adalah sebuah ketakutan, kegugupan, kekhawatiran seseorang ketika berada dalam kondisi yang mengharuskan individu berkomunikasi baik secara formal, langsung maupun tidak langsung, dan dengan orang yang baru maupun telah lama dikenal. 4. Aspek-aspek Kecemasan Komunikasi McCroskey dan McCroskey (dalam Powell & Powell, 2010) mengidentifikasikan bahwa terdapat empat karakteristik dari kecemasan berkomunikasi. Karakteristik tersebut ialah : a. Ketidaknyamanan Internal (Internal Discomfort) Individu yang memiliki kecemasan komunikasi mengalami ketidaknyamanan komunikasi dan muncul perasaan negatif ketika mereka dihadapkan pada situasi yang membutuhkan komunikasi. Perasaan negatif yang muncul sering berkaitan dengan rasa takut. b. Penghindaran Komunikasi (Communication Avoidance) Individu yang memiliki kecemasan komunikasi akan memilih untuk tidak terlibat dalam situasi komunikasi. Mereka sering mencoba untuk menghindari situasi komunikasi seperti menjawab pertanyaan atau memberikan laporan lisan karena bagi mereka hal tersebut sangat mengerikan atau menakutkan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 c. Penarikan Diri (Communication Withdrawal) Individu yang memiliki kecemasan komunikasi biasanya mencoba untuk secara fisik atau psikologis menarik diri dari situasi komunikasi. Ketika mereka ditanya oleh gurunya, mungkin mereka akan menjawab “Saya tidak melakukannya”, atau mungkin akan menanggapi dengan berkata “Saya tidak tahu”. Kedua hal ini biasanya dilakukan oleh siswa untuk mundur dari keterlibatan komunikasi. d. Komunikasi Berlebihan (Overcommunication) Individu yang memiliki kecemasan komunikasi, dalam situasi tertentu, akan mencoba berdamai dengan perasaan negatif mereka. Dalam kecemasan yang dialami, individu akan berusaha untuk berpartisipasi dalam komunikasi dengan cara berbicara lebih banyak. Dalam situasi seperti ini, individu mungkin lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. 5. Faktor Meningkatnya Kecemasan Komunikasi McCroskey (dalam Burgoon, 1982) mengatakan bahwa meningkatnya kecemasan komunikasi disebabkan oleh dua faktor, yaitu : a. Traitlike CA muncul karena adanya pandangan bahwa kecemasan komunikasi berasal dari keturuan atau lingkungan (prose belajar dari lingkungan). b. Situational CA, menurut Buss (dalam Burgoon, 1982) elemen yang penting dari situational CA adalah novelty, formality, subordinate

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 status, conspicuousness, unfamiliarity, dan degree of attention from others. 1. The novelty situations, terjadi ketika individu secara tidak sengaja mengalami kecemasan komunikasi karena situasi tertentu. Misalnya, individu yang tidak pernah mengikuti wawancara kerja. Dalam wawancara perdananya individu akan merasa tidak yakin dengan kemampuannya dan mengalami kebingungan bagaimana seharusnya individu tersebut bertingkah laku. 2. Formal situations, cenderung berhubungan dengan menentukan perilaku yang tepat pada situasi tertentu. Kecemasan komunikasi akan meningkat dalam situasi formal karena pada situasi ini terjadi pembatasan perilaku yang dapat diterima. 3. Subordinate status, kecemasan komunikasi dapat meningkat ketika individu berada dalam posisi subordinat (biasanya antara atasan dengan bawahan atau pemimpin dengan rakyat). Dalam situasi tertentu perilaku akan dianggap layak atau tidak ditentukan oleh orang yang memegang kekuasaan tinggi. 4. Conspicuousness, kecemasan komunikasi meningkat ketika individu merasa diperhatikan oleh lingkungan ketika sedang rapat atau berbicara di depan kelas. 5. Unfamiliarity, kecemasan komunikasi meningkat ketika harus berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Komunikasi akan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 terasa lebih ketika ketika berkomunikasi dilakukan dengan orang yang sudah dikenal. 6. Degree of attention from others, kecemasan komunikasi akan meningkat ketika mendapatkan respon atau perhatian yang berlebihan atau bahkan sebaliknya, tidak diperhatikan dan tidak didengarkan. Respon yang biasa-biasa saja dari orang lain merupakan situasi yang paling nyaman. 6. Penyebab Kecemasan Komunikasi Daly and Friedrich (dalam Powell & Powell, 2010) menyatakan bahwa kecemasan komunikasi mungkin disebabkan oleh : a. Genetics, kecemasan komunikasi berhubungan dengan faktor-faktor seperti penampilan fisik dan bentuk tubuh. Masing-masing dari kecenderungan ini ditingkatkan atau dibatasi oleh faktor lingkungan. Seorang remaja akan merasa takut atau cemas ketika harus berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki perawakan tubuh tinggi besar atau tampangnya menyeramkan. Kecemasan ini dapat meningkat apabila di lingkungannya ada sosok guru yang ditakuti karena penampilan fisiknya tinggi besar dan selalu memarahi murid. Disisi lain, kecemasan komunikasi ini tidak akan berkembang apabila sosok guru yang tinggi besar tersebut memiliki sifat yang disenangi oleh remaja.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 b. Skill acquisition, kecemasan komunikasi mungkin muncul melibatkan cara dimana keterampilan sosial itu diperoleh. Keterampilan seperti penggunaan bahasa, kepekaan terhadap komunikasi nonverbal, dan keterampilan manajemen interaksi. Bagi siswa yang mengalami kecemasan komunikasi mungkin kurang atau bahkan tidak memiliki keterampilan sosial. Misalnya saja siswa dengan tipikal “kikuk” atau “kutu buku”, mungkin mereka tidak memiliki keterampilan sosial karena mereka tidak biasa melatih keterampilan sosial bersama orang di sekitarnya. Selain itu, mereka tidak bisa atau akan kesulitan untuk “masuk ke dalam aliran” interaksi sosial. Akibatnya, komunikasi sangat tidak bermanfaat dan keterampilan baru tidak dikembangkan. c. Modeling, kecemasan komunikasi dipengaruhi oleh proses belajar atau proses meniru dari orang lain. Apabila remaja berada di sekitar individu yang takut atau cemas berkomunikasi, maka remaja akan meniru perilaku tersebut. Hal ini akan meningkatkan kecemasan komunikasi remaja ketika diminta untuk terlibat dalam perilaku komunikasi yang tidak memiliki kerangka acuan. Misalnya ketika remaja bertemu dengan orang yang baru dikenal dan belum memiliki topik pembicaraan. Remaja akan merasa cemas atau takut untuk berbicara karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. d. Reinforcement, kecemasan komunikasi terjadi karena anak tidak menerima penguatan positif untuk komunikasi. Anak yang diberitahu untuk tenang, dan tidak didorong untuk berkomunikasi dapat

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 mengembangkan sikap negatif tentang komunikasi. Sebaliknya, anak yang selalu diberikan kesempatan untuk berbicara oleh orang tuanya, akan mengembangkan sikap positif tentang komunikasi. 7. Dampak Kecemasan Komunikasi Kecemasan komunikasi merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap orang. hal yang harus dilakukan ketika mengalami kecemasan komunikasi adalah mengendalikan kecemasan yang dialami dengan melakukan berbagai kegiatan seperti mendengarkan musik, mengobservasi orang-orang sekitar, dan masih banyak lagi. Remaja yang mengalami kecemasan komunikasi tinggi biasanya akan kesulitan untuk mengendalikan kecemasan yang dialami. McCroskey (1976) mengatakan bahwa dampak yang dialami remaja dengan kecemasan komunikasi tinggi seperti, kesulitan menyampaikan pesan di kelas, menarik diri dari kegiatan komunikasi, berbicara lebih sedikit ketika berada dalam kelompok, dan memiliki kompetensi komunikasi yang lebih rendah. Selain itu, dampak lainnya dari kecemasan komunikasi tinggi adalah menghambat perkembangan kompetensi dan keterampilan komunikasi. Dampak lainnya yaitu, merasakan ketidaknyamanan internal, seperti gugup, berkeringat, jantung berdebar kencang, dan wajah memerah.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 B. Remaja Akhir Masa remaja akhir merupakan masa dimana remaja harus memperluas pemahaman mereka mengenai sikap hidup orang lain, memperluas pemahaman mengenai tingkat saling ketergantungan dalam hidup, dan cara menangani berbagai permasalahan interpersonal. Selama periode ini, pengalaman remaja semakin banyak terjadi pada tingkat berpikir sintaksis. Selain itu, dalam tahapan ini juga remaja mulai memantapkan hubungan cinta dengan satu pasangan. Menurut Santrock (2003), masa remaja akhir berada pada rentang usia 15 hingga awal 20 tahun. Remaja yang mengalami kecemasan dalam kehidupannya, mungkin akan mengalami beberapa masalah dalam tahapan ini, seperti personifikasi yang tidak tepat dan berbagai jenis keterbatasan hidup. Dalam hal ini, keterbatasan hidup yang dialami remaja meliputi, pandangan tidak realistik mengenai diri, pandangan mengenai orang lain yang stereotip, dan tingkah laku yang menolak kecemasan yang merusak kebebasan seseorang. Pencapaian terakhir dalam periode ini adalah self-respect, yang menjadi syarat untuk menghargai orang lain. Menurut Sullivan (dalam Alwisol, 2009), orang yang bisa menghargai orang lain adalah orang yang bisa menghargai diri sendiri. Transisi dari masa kanak-kanak menuju masa remaja hingga akhirnya memasuki masa dewasa melibatkan terjadinya perubahan biologis (fisik), kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Perubahan-perubahan yang terjadi pada setiap aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 1. Perkembangan Fisik Perubahan biologis yang terjadi ketika masa remaja dapat dilihat dari bertambahnya berat dan tinggi badan, perubahan dalam proporsi dan bentuk tubuh, perubahan hormonal, dan kematangan seksual. Ketika memasuki masa remaja, secara umum remaja akan mengalami pubertas, yaitu proses dimana seseorang mencapai kematangan seksual dan kemampuan untuk bereproduksi (Papalia, 2008). Perubahan fisik yang terjadi tumbuh payudara pada remaja putri dan testis pada remaja putra, tumbuhnya rambut pubic, dan terjadi perubahan suara. Kematangan seksual yang terjadi pada remaja ditandai dengan menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri dan ejakulasi pertama (spermarche) pada remaja putra. 2. Perkembangan Kognitif Menurut Piaget tahap perkembangan kognitif ketika masa remaja berada pada tahap operasional formal. Tahap perkembangan ini muncul ketika remaja berusia 11 hingga 15 tahun. Karakteristik yang muncul dalam tahapan ini yaitu remaja bernalar secara lebih abstrak. Remaja tidak lagi terbatas pada pemikiran-pemikiran yang konkret atau aktual. Mereka mulai menciptakan situasi-situasi yang fantasi atau khayalan, kemungkinan-kemungkinan hipotesis, mulai memikirkan yang sedang mereka pikirkan, dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Karakteristik yang kedua dalam tahapan operasional formal ini ialah pemikiran yang banyak mengandung idealisme dan kemungkinan.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Remaja mulai memikirkan ciri-ciri yang ideal bagi diri mereka sendiri dan orang lain, serta mulai menentukan standar-standar ideal seseorang. Standar ideal yang dibuat menjadikan remaja tidak sabar dan dibingungkan oleh standar-standar ideal yang mereka buat. Selain berpikir secara abstrak dan idealistis, remaja juga berpikir secara lebih logis. Remaja mulai berpikir seperti ilmuwan yang menyusun rencana, memecahkan masalah-masalah baru, dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Pada tahap perkembangan remaja, pemikiran remaja bersifat egosentris. Mereka mulai berpikir tentang kepribadian dan mulai memantau dunia sosial dengan cara mereka. David Elkind (dalam Santrock, 2002) meyakini bahwa egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian, yaitu penonton khayalan (imaginary audience) dan dongeng pribadi (the personal fable). Penonton khayalan (imaginary audience) adalah keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan mereka. Remaja merasa bahwa lingkungan memperhatikan tingkahlaku, penampilan, sifat, dan perbuatan mereka. Penonton khayalan disebabkan oleh kemampuan untuk berpikir secara hipotesis dan kemampuan untuk melangkah keluar dari diri sendiri. Selain itu, penonton khayalan juga muncul untuk mengantisipasi reaksi-reaksi orang lain dalam keadaan-keadaan khayalan. Misalnya, seorang remaja putri akan merasa malu ketika memakai pakaian yang salah dalam suatu

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 pesta. Remaja putri tersebut juga akan berpikir bahwa orang lain akan melihat ke arahnya. Dongeng pribadi (the personal fable) merupakan egosentrisme yang meliputi perasaan unik mereka. Perasaan unik yang dialami remaja membuat mereka merasa tidak seorang pun merasakan apa yang remaja alami. Biasanya perasaan-perasaan unik ini dapat kita temui dalam buku catatan harian (diary) remaja. Dalam buku diary tersebut biasanya remaja mengarang suatu cerita tentang dirinya sendiri yang dipenuhi dengan fantasi. Misalnya, seorang remaja yang baru mengalami patah hati, remaja tersebut akan berpikir bahwa ibu mereka tidak dapat merasakan sakit seperti yang mereka rasakan. 3. Perkembangan Sosio-Emosional Menurut Erikson, masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri karena remaja berada dalam tahapan identitas vs kebingungan identitas. Pencarian identitas dalam tahapan ini merupakan penentuan konsep diri, tujuan, nilai, dan keyakinan yang dianut oleh remaja. Menurut Erikson kebingungan identitas yang terjadi pada remaja akan memperlambat pencapaian kedewasaan psikologis. Teori mengenai pencarian identitas menurut Erikson ini diperkuat oleh James Marcia yang menemukan empat tipe status identitas; identity diffusion (penyebaran identitas), identity foreclosure (pencabutan identitas), identity moratorium (penundaan identitas), dan identity achievement (pencapaian identitas) (Papalia, 2008; Santrock, 2002).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Dalam tahapan pencarian identitas ini remaja akan menuntut otonomi diri yang ingin melepaskan diri dari genggaman orang tua. Remaja ingin menuntut kebebasan agar dapat mengambil keputusan sesuai dengan yang mereka inginkan. Akan tetapi, peran orang tua juga masih sangat dibutuhkan ketika anak memasuki masa remaja. Attachment atau kelekatan dengan orang tua pada masa remaja dapat membantu kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial remaja. Attachment yang kokoh dengan orang tua selama masa remaja dapat berlaku sebagai fungsi adaptif, yang dapat menyangga remaja dari kecemasan dan potensi perasaan-perasaan depresi atau tekanan emosional yang berkaitan dengan transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Santrock, 2002). Hubungan remaja dengan teman sebaya merupakan hubungan yang sangat penting bagi remaja. Dalam masa ini, remaja akan lebih sering beriteraksi dengan teman-teman sebayanya (peer-group). Tekanan teman sebaya dan konformitas dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Remaja akan mulai bergabung dengan klik maupun kelompok dan mulai menaikkan harga diri mereka. Selain itu, popularitas di antara teman-teman sebaya merupakan suatu motivasi yang kuat bagi kebanyakan remaja. Teman dekat memiliki pengaruh psikologis bagi perkembangan remaja, walaupun tidak ada kriteria khusus untuk dapat dikatakan teman dekat. Seorang remaja yang karakternya pendiam biasanya tidak memiliki teman dekat secara khusus, biasanya remaja dengan karakter seperti ini

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 akan merasakan pertamanan yang hangat ketika melakukan aktivitas di luar sekolah, seperti teman bermain di rumah. Remaja dengan karakter terbuka juga tidak memiliki teman dekat secara khusus, karena semua teman diperlakukan dengan cara yang sama. Akan tetapi, ada juga beberapa remaja yang menganggap teman dekat mereka adalah teman sebangkunya atau teman kecilnya yang memiliki fungsi untuk mencurahkan perhatian dan permasalahan yang dirasakan. C. Dinamika Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir Kecemasan komunikasi (communication apprehension) merupakan kecemasan, hambatan, atau ketakutan berkomunikasi yang terjadi pada seseorang ketika dihadapkan dalam situasi yang mengharuskan berkomunikasi. Menurut McCroskey dan McCroskey (dalam Powell & Powell, 2010), kecemasan komunikasi dapat diidentifikasi melalui empat kerakteristik seperti, ketidaknyamanan internal (internal discomfort), penghindaran komunikasi (communication avoidance), penarikan diri (communication withdrawal), dan komunikasi berlebihan (overcommucation). Seseorang yang mengalami kecemasan komunikasi akan merasa cemas ketika diminta untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Kecemasan komunikasi ini bisa saja terjadi pada remaja apabila remaja tidak mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Remaja yang mampu mengembangkan kemampuan komunikasi biasanya akan merasa tenang ketika menjalin komunikasi dengan orang lain, baik secara tatap muka maupun tidak. Ketika

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 remaja tidak dapat mengembangkan kemampuan komunikasinya, maka remaja tersebut akan mengalami hambatan atau kecemasan dalam berkomunikasi. Menurut Adler dan Rodman (dalam Apollo, 2007) kecemasan berkomunikasi pada remaja terjadi karena beberapa faktor, seperti pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa lalu ketika berkomunikasi. Pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut bisa saja terjadi ketika masa kanak-kanak tidak diberikan penguatan (reinforcement) oleh orang tua saat anak sedang mengembangkan kemampuan berkomunikasinya. Selain itu, pengalaman tidak menyenangkan juga bisa saja terjadi ketika seorang remaja pernah dibentak atau dimarahi oleh seseorang yang memiliki penampilan menakutkan, berbadan besar dan tidak ramah. Hal tersebut membuat anak memilih untuk menjadi seorang yang pendiam dan gagal dalam mengembangkan keterampilan berkomunikasi. Kecemasan komunikasi juga dapat terjadi ketika remaja tidak dapat mengembangkan keterampilan sosialnya. Misalnya keterampilan dalam penggunaan bahasa dan kepekaan terhadap bahasa nonverbal. Selain itu, remaja yang berada dalam lingkungan orang-orang yang mengalami kecemasan komunikasi, biasanya akan meniru perilaku tersebut. Misalnya, seorang remaja memiliki ibu yang mengalami kecemasan komunikasi, biasanya remaja akan meniru tingkahlaku ibunya ketika harus berbicara dengan orang lain. Remaja yang mengalami kecemasan komunikasi biasanya

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 akan merasa gugup, gemetar, dan berkeringat ketika harus menjalin sebuah komunikasi dengan orang lain secara tatap muka. Hal ini seharusnya dapat diatasi remaja karena pada tahap perkembangan ini, remaja akan lebih sering berinteraksi dengan teman-teman sebaya (peer-group). Dalam hal ini diharapkan remaja dapat melatih kemampuan komunikasi dengan teman sebaya agar tidak merasa cemas atau takut ketika harus berhadapan dengan situasi komunikasi yang berbeda. Teman sebaya menjadi penting bagi remaja karena mereka dapat bersosialisasi secara langsung sehingga kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi remaja terlatih. Kurangnya waktu untuk bersosialisasi dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan sosial dan kepribadian remaja. Remaja yang memiliki pengalaman komunikasi sedikit dan waktu bersosialisasi yang kurang, akan menyebabkan keterampilan komunikasi yang dimiliki tidak berkembang. Apabila keterampilan komunikasi tidak berkembang maka remaja tersebut mengalami kecemasan komunikasi yang tinggi. Kecemasan komunikasi yang tinggi akan berdampak bagi remaja, seperti kesulitan menyampaikan pesan di kelas, menarik diri dari kegiatan komunikasi, berbicara lebih sedikit ketika berada dalam kelompok, dan memiliki kompetensi komunikasi yang lebih rendah. Sebaliknya, remaja yang memiliki pengalaman komunikasi yang banyak dan waktu bersosialisasi yang banyak akan menyebabkan keterampilan komunikasi mereka terasah. Apabila keterampilan komunikasi mereka terasah maka kecemasan komunikasi yang dialami rendah atau tidak mengalami kecemasan komunikasi.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 D. Skema Penelitian Remaja Akhir Pengalaman Waktu Komunikasi Bersosialisasi Keterampilan Komunikasi Berbicara secara Tatap Muka Berbicara di Depan Umum Kecemasan Komunikasi Bagan 2.1 Skema Penelitian Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir E. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat kecemasan komunikasi yang dialami remaja akhir?

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran mengenai objek penelitian melalui data sampel atau populasi (Sujarweni & Endrayanto, 2012). Dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kecemasan komunikasi yang terjadi pada remaja akhir. Data yang digunakan dalam penelitian ini hanya satu variabel karena peneliti hanya ingin melihat tingkat kecemasan komunikasi yang dialami remaja akhir. B. Identifikasi Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan satu variabel, yaitu kecemasan komunikasi. C. Definisi Operasional Definisi operasional adalah suatu definisi yang digunakan untuk menjelaskan suatu variabel secara spesifik, akurat dan dalam bentuk yang dapat diukur (Mustafa, 2009). Definisi operasional kecemasan komunikasi (communication apprehension) adalah ketakutan, kegugupan, dan kekhawatiran remaja akhir ketika menghadapi situasi yang mendesak untuk berinteraksi dengan orang lain melalui sebuah komunikasi. Kecemasan komunikasi ini akan diukur menggunakan skala kecemasan komunikasi. 27

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Skala kecemasan komunikasi ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diidentifikasi oleh McCroskey dan McCroskey (dalam Powell & Powell, 2010), yaitu : a. Ketidaknyamanan Internal (Internal Discomfort) b. Penghindaran Komunikasi (Communication Avoidance) c. Penarikan Diri (Communication Withdrawal) d. Komunikasi Berlebihan (Overcommunication) Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek, menunjukkan semakin tinggi tingkat kecemasan yang dimiliki remaja, sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh subjek, menunjukkan semakin rendah tingkat kecemasan yang dimiliki remaja. D. Subjek Penelitian dan Metode Pengambilan Sampel Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswa kelas X dan XI sekolah menengah akhir (SMA). Alasan dipilihnya siswa-siswi kelas X dan XI SMA karena subjek dalam penelitian ini berada pada rentang usia 15 hingga 19 tahun. Rentang usia tersebut merupakan rentang usia remaja akhir yaitu 15 hingga 20 tahun (Santrock, 2003). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik nonprobability sampling, dimana pengambilan sampel tidak secara acak sehingga setiap subjek tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Jenis nonprobability sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu convenience sampling, dimana subjek dalam penelitian dipilih

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 berdasarkan ketersediaan dan keinginan subjek untuk merespon (Shaugnessy, Zechmeister, & Zechmeister). Selain itu, convenience sampling ini digunakan untuk kemudahan akses dalam penelitian. E. Metode dan Alat Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Peneliti memilih skala Likert karena skala ini digunakan untuk mengukur sikap pengaruh atau penolakan, penilaian, suka atau tidak suka, dan kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu objek psikologis (Sarwono, 2006). Skala yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala mengenai kecemasan komunikasi. Pernyataan sikap dalam skala ini dibagi menjadi dua macam yaitu aitem favorable dan aitem unfavorable. Aitem favorable merupakan aitem yang mendukung variabel yang ingin diukur, sedangkan aitem unfavorable merupakan aitem yang tidak mendukung atau bertolak belakang dengan variabel yang ingin diukur. Skala kecemasan komunikasi ini dibuat sendiri oleh peneliti sesuai dengan indikator yang ada. Skala ini berisi dua pernyataan, yaitu favorable dan unfavorable. Indikator dalam kecemasan komunikasi antara lain ketidaknyamanan internal, penghindaran komunikasi, penarikan diri, dan komunikasi berlebihan. Alternatif jawaban terdiri dari empat pilihan jawaban yaitu “sangat setuju” (SS), “setuju” (S), “tidak setuju” (TS), dan “sangat tidak setuju” (STS). Jumlah aitem dalam skala ini sebanyak 52 aitem dengan rincian 26 aitem favorable dan 26 aitem unfavorable.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Tabel 3.1 Blue Print Skala Kecemasan Komunikasi Aitem No Aspek 1 Ketidaknyamanan Total % 7 14 26,9 % 7 7 14 26,9 % Favorable Unfavorable 7 Internal 2 Penghindaran Komunikasi 3 Penarikan Diri 7 7 14 26,9 % 4 Komunikasi 5 5 10 19,2 % 52 100 % Berlebihan Total aitem Tabel 3.2 Pemberian Skor Pada Skala Kecemasan Komunikasi Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable Sangat Setuju 4 1 Setuju 3 2 Tidak Setuju 2 3 Sangat Tidak Setuju 1 4 F. Persiapan Penelitian Sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan, peneliti melakukan try out untuk menguji coba alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian sebenarnya. Try out dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2014 di sekolah SMA Budya Wacana Yogyakarta. Jumlah subjek yang digunakan dalam try out ini sebanyak 44 siswa yang terdiri dari kelas X dan XI.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 G. Kredibilitas Alat Pengumpulan Data 1. Validitas Validitas adalah suatu pengukuran yang digunakan untuk mengukur sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam penelitian (Azwar, 1997). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi yang diuji berdasarkan pendapat profesional (professional judgment). Dalam penelitian ini pendapat profesional (professional judgment) dilakukan oleh dosen pembimbing skripsi. 2. Seleksi Aitem Seleksi aitem dilakukan untuk mendapatkan aitem-aitem yang baik dan berfungsi secara benar. Seleksi aitem didasarkan pada daya diskriminasi aitem yang akan menghasilkan koefisien korelasi aitem-total (rix). Batasan yang digunakan untuk pemilihan aitem berdasar korelasi aitem adalah rix ≥ 0,30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan. Aitem dengan koefisien korelasional aitem total ≤ 0,30 dianggap gugur karena memiliki daya diskriminasi yang rendah (Azwar, 1999). Berdasarkan uji tahap aitem skala kecemasan komunikasi yang diujikan kepada 44 responden mendapatkan hasil bahwa sebanyak 33 aitem dinyatakan lolos seleksi dari 52 aitem total awal. Aitem yang dinyatakan lolos dalam seleksi adalah aitem dengan koefisien korelasi

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 aitem total (rix) ≥ 0,30. Berikut ini adalah distribusi aitem skala kecemasan komunikasi pada uji coba : Tabel 3.3 Distribusi Aitem Skala Kecemasan Komunikasi Pada Uji Coba Aspek Aitem Favorable Unfavorable 1, 2, 3, 4*, 5*, 8, 9, 10*, 11, 6*, 7 12*, 13*, 14* Penghindaran 15, 16, 17, 18*, 22, 23*, 24, 25, Komunikasi 19*, 20, 21 26, 27*, 28* 29*, 30, 31, 36, 37, 38, 39, 32*, 33*, 34*, 40, 41*, 42 Ketidaknyamanan Internal Penarikan Diri Total 7 9 9 35 Komunikasi Berlebihan 43, 44, 45, 46*, 48, 49, 50, 51*, 47 52 Total 8 33 Keterangan : aitem yang dicetak tebal dan diberi tanda bintang (*) merupakan aitem yang dinyatakan gugur dalam seleksi. Pada uji tahap skala kecemasan komunikasi dari 52 aitem yang diujikan terdapat 19 aitem yang dinyatakan gugur dalam seleksi. Aitemaitem tersebut yaitu 4, 5, 6, 10, 12, 13, 14, 18, 19, 23, 27, 28, 29, 32, 33, 34, 41, 46, dan 51. Aitem-aitem tersebut gugur karena memiliki koefisien korelasi aitem total ≤ 0,30 yang berarti bahwa pernyataan dalam aitem tersebut memiliki daya diskriminasi yang rendah.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 3. Reliabilitas Reliabilitas adalah ukuran yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya (Azwar,1997). Koefisien reliabilitas berada dalam rentang 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas atau mendekati 1,00 berarti semakin reliabilitas. Pengujian reliabilitas skala penelitian ini menggunakan metode koefisien Alpha Crobach yang dapat melihat korelasi aitem total dan akan diuji menggunakan SPSS 17,00 for Windows. Berdasarkan perhitungan menggunakan SPSS 17,00 for Windows diperoleh koefisien Alpha Crobach melalui seleksi aitem pada skala kecemasan komunikasi sebesar (r) = 0,902. Hasil koefisien reliabilitas tersebut mendekati angka 1,00 yang menunjukkan bahwa skala kecemasan komunikasi memiliki reliabilitas yang baik. H. Metode Analisis Data Data dalam penelitian ini dianalisis dengan cara mengkategorisasikan atau menempatkan subjek ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Luas interval setiap aspek kategori diperoleh melalui perhitungan skor maksimum, skor minimum, mean empirik, dan standard deviasi yang dihitung menggunakan SPSS 17,00 for Windows. Setelah perhitungan skor diperoleh, peneliti menentukan norma kategorisasi ke dalam tiga kategori, yaitu: x + 1 (SD) ≤ x kategori Tingi x - 1 (SD) ≤ x < x + 1 (SD) kategori Cukup

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 x < x - 1 (SD) kategori Rendah Berdasarkan kategorisasi tersebut, peneliti akan melihat banyaknya siswa yang masuk dari setiap kategori kemudian menghitung persentasinya. Besarnya persentasi tersebut akan di interpretasi sebagai keadaan tingkat kecemasan komunikasi antar pribadi pada remaja akhir.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Maret 2014. Skala disebarkan secara langsung kepada siswa-siswa kelas X dan XI SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dalam bentuk “booklet”. Penelitian dilakukan dalam satu hari, dimulai pukul 07.00 WIB dan diakhiri pukul 12.00 WIB. Dalam penelitian ini peneliti menyebarkan skala dengan cara masuk ke setiap kelas dan mendampingi hingga selesai. Skala yang disebarkan berjumlah 119 eksemplar sesuai dengan jumlah siswa yang hadir pada saat itu. B. Deskripsi Subjek Penelitian Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 119 siswa. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari siswa kelas X dan XI SMA Pangudi Luhur Yogyakarta yang berada pada rentang usia 15-18 tahun. Adapun tabel deskripsi subjek penelitian sebagai berikut : 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Tabel 4.1 Deskripsi Tempat Tinggal Subjek Penelitian Tempat Tinggal Jumlah Siswa Persentase Rumah 109 siswa 91,6 % Kos 10 siswa 8,4 % Total 119 siswa 100 % Tabel 4.2 Deskripsi Organisasi Subjek Penelitian Organisasi Jumlah Siswa Persentase OSIS 18 siswa 15,1 % Seni dan Olah Raga 15 siswa 12,6 % Kegiatan Gereja 15 siswa 12,6 % Pramuka 10 siswa 8,4 % Pecinta Alam 5 siswa 4,2 % Karang Taruna 4 siswa 3,4 % Jurnalistik 3 siswa 2,5 % Tidak mengikuti organisasi 49 siswa 41,2 % Total 119 siswa 100 %

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel 4.3 Deskripsi Lama Berkomunikasi dengan Orang Tua Dalam Seminggu Waktu (Jam) Jumlah Siswa Persentase 1-8 75 siswa 63 % 9-16 33 siswa 27,7 % 17-24 11 siswa 9,3 % Total 119 siswa 100 C. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk melihat tingkatan kecemasan komunikasi yang dialami oleh remaja akhir. Cara untuk melihat tingkatan tersebut adalah dengan mencari luas interval dari setiap kategori yang akan digunakan. Sebelum mencari luas interval dari setiap kategori, dapat diketahui bahwa mean empirik (72,4) yang diperoleh lebih rendah dari mean teoretik (82,5). Hal ini menunjukkan bahwwa tingkat kecemasan komunikasi pada remaja tergolong rendah. Berdasarkan analisis data menggunakan uji statistik one sample t-test tersebut diperoleh hasil, bahwa nilai t hitung sebesar 82,492 dan nilai signifikansinya (p) sebesar 0,000 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan komunikasi pada remaja akhir secara signifikan rendah. Table 4.4 dibawah ini merupakan table hasil penghitungan menggunakan SPSS 17,00 for Windows.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Tabel 4.4 Perbandingan Mean Empirik dan Mean Teoretik N Xmin Xmax Mean SD Skor Empirik 119 47 92 72,4 9,6 Skor Teoretik 119 33 132 82,5 16,5 Hasil tersebut digunakan untuk menentukan norma kategorisasi yang peneliti bagi menjadi 3 kategori, yaitu: Tabel 4.5 Kategorisasi Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir Kategori Jumlah Siswa Persentase Tinggi 22 siswa 18,5 % Cukup 77 siswa 64,7 % Rendah 20 siswa 16,8 % 119 siswa 100 % Total Analisis data juga dilakukan untuk melihat luas interval kategorisasi dari setiap aspek yang ada. Berdasarkan analisis data tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Tabel 4.6 Mean Empirik Kecemasan Komunikasi Pada Remaja Akhir Aspek Xmin Xmax Mean SD Ketidaknyamanan Internal 7 22 16,2 3,3 Penghindaran Komunikasi 10 32 19,6 3,4 Penarikan Diri 9 24 18,1 3,3 Komunikasi Berlebihan 10 24 18,5 2,6 Berdasarkan hasil analisis tersebut, peneliti juga mengkategorisasikan setiap aspek berdasarkan norma kategorisasi. Hal ini dilakukan untuk melihat kategori dari setiap aspek yang ada. Peneliti membagi kategori berdasarkan 3 bagian, yaitu : Tabel 4.7 Kategorisasi Aspek Kecemasan Komunikasi Kategori (%) Aspek Rendah Cukup Tinggi Ketidaknyamanan Internal 20,2 % 65,5 % 14,3 % Penghindaran Komunikasi 16 % 64,7 % 19,3 % Penarikan Diri 18,5 % 58,8 % 22,7 % Komunikasi Berlebihan 22,7 % 55,5 % 21,8 %

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 D. Pembahasan Mean yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu, mean teoretik sebesar 82,5 dan mean empirik sebesar 71,4. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa mean empirik yang diperoleh lebih rendah dari mean teoretik. Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan komunikasi yang dialami remaja akhir berada pada tingkat yang rendah. Berdasarkan tingkat yang rendah tersebut dapat diketahui bahwa siswa yang masuk ke dalam kategori kecemasan komunikasi tinggi sebanyak 18,5 %. Siswa yang masuk ke dalam kategori cukup sebanyak 64,7 %, dan siswa yang masuk ke dalam kategori rendah sebanyak 16,8 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa yang berada dalam tahap remaja akhir memiliki tingkat kecemasan komunikasi yang cukup. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa banyaknya siswa yang masuk dalam kategori kecemasan komunikasi tinggi sebanyak 22 siswa (18,5 %). Hasil ini serupa dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa sebanyak 10-20 % remaja di Amerika mengalami kecemasan komunikasi yang sangat tinggi, dan sebanyak 20 % remaja lainnya mengalami kecemasan komunikasi yang cukup tinggi (Apollo, 2007). Banyaknya siswa yang berada pada kategori cukup karena mereka sudah dapat mengembangkan kemampuan komunikasi mereka. Hal ini dapat dilihat dari 119 siswa terdapat 70 siswa yang mengikuti kegiatan organisasi baik dari sekolah maupun dari luar sekolah. Kegiatan organisasi yang diikuti siswa ini merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 komunikasi remaja. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa siswasiswi tersebut dapat mengatasi tingkat kecemasan komunikasinya karena mereka sudah terbiasa untuk berkomunikasi dengan teman-teman dalam organisasi. Dalam perkembangan sosio-emosional (Santrock, 2007), selama tahap perkembangan ini remaja akan lebih sering berinteraksi dengan teman sebayanya. Popularitas di antara teman sebaya merupakan suatu motivasi yang kuat bagi kebanyakan remaja. Hal lain yang dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi adalah pemikiran remaja yang bersifat egosentris. Bagian dari pemikiran egosentris yang mempengaruhi ialah penonton khayalan (imaginary audience). Dalam tahap perkembangan remaja biasanya mereka mulai senang untuk tampil di depan umum dan senang diperhatikan oleh orang lain. Remaja yang mengalami kecemasan komunikasi akan merasa diperhatikan secara berlebihan. Perasaan diperhatikan berlebihan tersebut membuat penilaian mereka terhadap diri sendiri menjadi buruk. Kecemasan komunikasi yang masuk dalam kategori cukup (64,7 %) ini karena remaja memiliki pemikiran atau keyakinan bahwa orang lain yang memperhatikan mereka merasa senang dengan penampilan mereka, sehingga remaja memiliki pandangan terhadap diri sendiri yang cukup baik. Keluarga merupakan salah satu faktor yang membentuk karakter remaja. Keluarga juga merupakan pusat atau dasar remaja memiliki watak tertentu, seperti ekstrovert atau introvert, anti sosial atau sosial, serta berbagai

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 hal yang lebih bersifat psikologis yang berkaitan dengan kebiasaan dalam berkomunikasi. Remaja yang tinggal bersama orang tuanya memiliki kelekatan (attachment) atau merasa nyaman, sehingga memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik. Attachment yang kokoh dengan orang tua dapat menopang remaja dari kecemasan dan potensi perasaan depresi atau tekanan emosional yang berkaitan dengan transisi dari masa anakanak ke masa dewasa (Santrock, 2003). Berdasarkan hasil pemaparan setiap aspek kecemasan komunikasi dapat dilihat bahwa siswa yang mengalami ketidaknyamanan internal tinggi sebanyak 14,3 %. Sebanyak 65,5 % siswa cukup mengalami ketidaknyamanan internal, dan sisanya sebanyak 20,2 % siswa yang sedikit mengalami ketidaknyamanan internal. Dalam aspek ini siswa akan merasa gelisah, gemetar, tidak tenang, dan tegang ketika berada pada situasi komunikasi. Aspek kedua yaitu penghindaran komunikasi, dimana siswa akan menghindari atau memilih tidak mau bergabung ketika ada situasi komunikasi. Sebanyak 19,3 % siswa berada pada tingkat penghindaran komunikasi yang tinggi. Selain itu, sebanyak 64,7 % siswa cukup menghindari komunikasi, dan 16 % siswa tidak terlalu menghindari komunikasi atau berada pada kategori rendah. Aspek ketiga yaitu penarikan diri, dimana siswa akan menarik diri dari situasi komunikasi. Mereka akan memilih diam atau mengatakan tidak tahu ketika berada dalam situasi komunikasi. Dari aspek ini dapat dilihat bahwa sebanyak 22,7 % siswa yang melakukan penarikan diri berada pada kategori

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 tinggi. Siswa yang penarikan dirinya masuk dalam kategori cukup sebanyak 58,8 %. Sisanya sebanyak 18,5 % siswa berada pada kategori rendah. Aspek yang keempat adalah komunikasi berlebihan. Hal ini terjadi ketika siswa mencoba berdamai dengan perasaan negatif mereka dan berusaha untuk berpartisipasi dalam komunikasi. Akan tetapi, partisipasi yang dilakukan dengan cara berbicara lebih banyak tetapi tidak fokus pada tujuan pembicaraan. Dari hasil pemaparan aspek komunikasi berlebihan dapat dilihat bahwa siswa yang berada pada kategori tinggi sebanyak 21,8 %. Siswa yang berada pada kategori cukup sebanyak 55,5 %, dan sisanya sebanyak 22,7 % pada kategori rendah. Dalam penelitian ini, dapat dilihat aspek yang paling menggambarkan tingkat kecemasan komunikasi pada remaja akhir adalah aspek ketidaknyaman internal, yaitu sebesar 65,5 %. Aspek ketidaknyaman internal ini merupakan salah satu aspek yang sering dirasakan oleh remaja ketika akan melakukan kegiatan komunikasi dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini siswa yang masuk dalam kategori dapat mengatasi ketidaknyamanan internal, sehingga mereka tidak mengalami kecemasan komunikasi yang berlebihan. Aspek berikutnya yaitu penghindaran komunikasi sebesar 64,7 % dan aspek penarikan diri sebesar 58,8 %. Kedua aspek ini merupakan aspek yang juga sering dilakukan oleh remaja ketika berada dalam situasi komunikasi tertentu. Remaja yang mengalami kecemasan komunikasi biasanya akan menghindari komunikasi dengan cara tidak ikut berpartisipasi dalam pembicaraan. Selain menghindari komunikasi, remaja juga akan menarik diri

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 dari pembicaraan apabila mereka terpaksa berada dalam situasi komunikasi. Siswa yang berada dalam kategori cukup ini menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi situasi komunikasi. Pada aspek terakhir, yaitu komunikasi berlebihan sebesar 55,5 %. Dalam aspek ini remaja sudah terlanjur masuk ke dalam situasi komunikasi dan berusaha mengatasi kecemasan komunikasi dengan cara berbicara lebih banyak. Siswa yang masuk dalam kategori cukup ini menunjukkan bahwa ketika mereka berkomunikasi, mereka dapat berbicara dalam porsi yang pas dan tidak berlebihan. Kecemasan komunikasi dapat terjadi ketika remaja tidak memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Apabila remaja memiliki kemampuan adaptasi yang baik, maka remaja tersebut akan dapat mengatasi kecemasan komunikasinya. Akan tetapi, bila kemampuan adaptasinya buruk, maka akan muncul kecemasan komunikasi yang diikuti ketakutan yang berlebihan. Hal ini sejalan dengan pendapat Buss (dalam Burgoon, 1982) yang mengatakan bahwa kecemasan komunikasi dapat meningkat ketika remaja tidak mengenal lingkungan sekitarnya (unfamiliarity). Remaja yang belum mengenal lingkungannya akan kesulitan untuk beradaptasi. Remaja akan merasa aman apabila sudah mengenal lingkungan komunikasinya sehingga mereka akan lebih mudah untuk beradaptasi.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 E. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak membedakan remaja yang tinggal di kota dan di desa. Penelitian ini tentu akan lebih baik apabila membedakan tingkat kecemasan komunikasi remaja yang tinggal di desa dan di kota.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 119 siswa yang menjadi partisipan terdapat 22 siswa (18,5 %) masuk dalam kategori tinggi, 77 siswa (64,7 %) masuk dalam kategori cukup, dan 20 siswa (16,8 %) masuk dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan komunikasi remaja akhir berada pada tingkat cukup atau sedang. Aspek yang paling menggambarkan kecemasan komunikasi yaitu ketidaknyamanan internal, penghindaran komunikasi, penarikan diri sebesar, dan komunikasi berlebihan. B. Saran 1. Bagi Remaja Akhir Dari penelitian ini diharapkan remaja akhir dapat memperhatikan kecemasan komunikasi yang sering dialami. Bagi remaja yang masuk dalam kategori tinggi diharapkan untuk terus melatih kemampuan komunikasinya agar kecemasan komunikasi yang dialami tidak berkembang menjadi sebuah ketakutan yang berlebihan. Selain itu, bagi remaja yang masuk dalam kategori cukup dan rendah diharapkan untuk terus meningkatkan kemampuan komunikasi agar memiliki kompetensi komunikasi yang lebih baik. 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 2. Bagi Orang Tua dan Guru Dari penelitian ini diharapkan orang tua dan guru memperhatikan perkembangan kemampuan komunikasi remaja. Orang tua dan guru dapat menyarankan dan mendukung remaja yang memiliki tingkat kecemasan komunikasi tinggi untuk aktif dalam kegiatan sosial agar kemampuan komunikasi remaja dapat terasah. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti mengenai kecemasan komunikasi, diharapkan untuk memperhatikan variabel-variabel lainnya yang dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi. Selain itu juga, peneliti selanjutnya diharapkan memiliki sumber referensi yang lebih banyak agar aitem yang dibuat semakin menjelaskan kecemasan komunikasi.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang: UMM Press. Apollo. (2007). Hubungan Antara Konsep Diri dengan Kecemasan Berkomunikasi Secara Lisan Pada Remaja. Manasa: Jurnal Ilmiah Psikologi, 1,1, 17-32. Budyatna, M. & Ganiem, L.M. (2011). Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana. 27. Burgoon, Michael. (1982). Comunication Year Book 6. United States of America: SAGE Publications, Inc. 137, 139-144. Daradjat, Zakiah. (1996). Kesehatan Mental. Jakarta: PT TOKO GUNUNG AGUNG. Departemen Pendidikan Nasional. (2009). Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Bandung: PT Mizan Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. (2011). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia. Devito, Joseph A. (2001). The Interpersonal Communication Book, Ninth Edition. New York City: Longman. 80. Devito, Joseph A. (2011). Komunikasi Antarmanusia, Ed. 5. Tangerang Selatan : KARISMA Publishing Group. 252-253. Effendy, Onong U. (1989). Kamus Komunikasi. Bandung: Mandar Maju. Harahap, Rachmad Faisal. (2013). Siswa Kreatif Sejalan dengan Kurikulum 2013. Dipungut 12 Agustus 2014, dari http://kampus.okezone.com. 48

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Leary, Mark R. (1983). Understanding Social Anxiety. Social, Personality, and Clinical Perspectives. United States Amerika: SAGE Publications. 14. McCroskey, J. C., Daly, J. A., & Sorensen, G. (1976). Personality Correlates of Communication Apprehension: A Research Note. Dipungut 20 November 2013, dari http://www.jamescmccroskey.com. McCroskey, J. C. (1976). The Effects of Communication Apprehension on Nonverbal Behavior. Communicaation Quarterly, Vol. 24, No. 1. Dipungut 20 Agustus 2014, dari www.jamescmccroskey.com. Mustafa, Zainal. (2009). Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Yogyakarta: Graha Ilmu. Overby, Kimberly. (2011). Student-Centered Learning. ESSAI: Vol. 9, Article 32. Dipungut 19 Agustus 2014, dari dc.cod.edu. Papalia, D. E., Old, S. W., & Feldman, R. D. (2008). Human Development (Psikologi Perkembangan), Edisi Kesembilan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Powell, R. G. & Powell, D. L. (2010). Classroom Communication and Diversity: Enchancing Instructional Practice 2nd ed. New York: Routledge Taylor & Francis Group. Razak, Nuraini. (2014). Studi Terakhir: Kebanyakan Anak Indonesia Sudah Online, namun Masih Banyak yang Tidak Menyadari Potensi Resikonya. Dipungut 19 Agustus 2014, dari www.unicef.org.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Reber, A. S., & Reber, E. S. (2010). Kamus Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Salim, Peter & Yenny Salim. (1991). Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press. Santoso, Agung. (2010). Statistik untuk Psikologi dari Blog menjadi Buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Santrock, John W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi Kelima, Jilid I. Jakarta: Erlangga. Santrock, John W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja, Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga. Santrock, John W. (2007). Remaja, Jilid 1, Edisi 11. Jakarta: Erlangga. Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Shaugnessy, J. J., Zechmeister, E. B., & Zechmeister, J. S. (2012). Metode Penelitian dalam Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika. Sujarweni, V. W., & Endrayanto, P. (2012). Statistik Untuk Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu. Supratiknya, A. (1995). Komunikasi Antarpribadi. Yogyakarta: Kanisius. Wulandari, Lita Hadiati. (2002). Efektivitas Modifikasi Perilaku-Kognitif untuk Mengurangi Kecemasan Komunikasi Antarpribadi. Dipungut 16 Mei 2013, dari http://repository.usu.ac.id. Zeuschner, Raymond. (2003). Communicating Today The Essentials. United States of America: California Polytechnic State University. 128.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 LAMPIRAN

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Lampiran I Angket Survei Awal

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Nama (Inisial) : Jenis Kelamin : Usia : Kelas : Teman-teman, mohon bantuannya untuk mengisi survei kecil saya ini. Dimana survei ini akan saya gunakan sebagai data awal untuk tugas akhir saya. Silahkan teman-teman mengisi sesuai dengan keadaan teman-teman yang sebenarnya. Terimakasih atas bantuannya… 1. Apa fungsi ponsel bagi Anda ? 2. Berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk mengirim pesan (SMS, BBM, WhatsApp, Line, Wechat, dll) dalam sehari ? 3. Kepada siapa saja Anda mengirim pesan ? 4. Apakah Anda lebih suka berkomunikasi melalui ponsel atau bertemu dengan bertatap muka secara langsung ? Jelaskan alasannya ! 5. Apakah Anda merasa cemas ketika harus berbicara di depan umum sendirian ? 6. Jika ya, apa yang Anda lakukan untuk mengatasi kecemasan tersebut ?

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Lampiran II Skala Try Out Kecemasan Komunikasi

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 SKALA PENELITIAN Odilia Elisetiawati (099114014) FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 KATA PENGANTAR Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma angkatan 2009. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai Komunikasi Antarpribadi, dalam rangka menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Saya akan membagikan skala yang yang terdiri dari 2 bagian dan sejumlah pernyataan dan pertanyaan terkait dengan tema penelitian. Teman-teman diminta untuk memberikan respon terhadap setiap pernyataan dengan cara memilih jawaban yang telah disediakan dan menjawab beberapa pertanyaan yang ada. Dalam pengisian skala ini tidak ada jawaban benar atau salah. Identitas dan jawaban yang teman-teman berikan akan terjamin kerahasiaannya. Oleh karena itu saya berharap keterbukaan dan kejujuran teman-teman dalam pengisian skala ini. Informasi yang diperoleh dari skala ini hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini saja. Atas kesediaan dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Peneliti Odilia Elisetiawati

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 LEMBAR PERSETUJUAN Dengan ini saya menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian ini secara sukarela tanpa ada paksaan atau pengaruh dari siapapun. Semua jawaban yang saya berikan sesuai dengan keadaan saya saat ini dan bukan berdasarkan pandangan masyarakat pada umumnya. Saya juga mengijinkan agar jawaban yang saya berikan digunakan sebagai data dalam penelitian ini tanpa menyantumkan identitas saya. Yogyakarta, … Maret 2014 Menyetujui, ( )

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 IDENTITAS DIRI Nama (Inisial) : Usia : Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan (*) Kelas/Jurusan : Daerah Asal : Tempat tinggal di Jogja : Rumah/Kos/Asrama (*) Organisasi yang diikuti : Jabatan : Merk Ponsel : Samsung/ Nokia/ BlackBerry/ Sony/ tahun Lenovo/Apple/ lain-lain (*) Jenis Ponsel : Smartphone/Non-Smartphone (*) Aplikasi Smartphone : Android/BB/Windows Phone/iPhone (*) Rata-rata menggunakan ponsel dalam sehari : Penggunaan ponsel untuk : Game/ Telepon/Online/Kirim Pesan jam (SMS, Line, WA, BBM, dll) (*) Fungsi Ponsel : Komunikasi/Hiburan/Sumber Informasi (*) Biasanya mengirim pesan kepada : Teman/Keluarga/Kerabat/Kenalan (*) Uang saku : /minggu : /bulan (*) coret yang tidak perlu

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 PETUNJUK PENGISIAN Skala ini berisikan sejumlah pernyataan. Tugas teman-teman memilih jawaban mana yang paling sesuai dengan diri teman-teman. Teman-teman dapat menjawab pernyataan dengan memberikan tanda centang (√) pada salah satu dari empat (4) alternatif jawaban di bawah ini : SS : Sangat Setuju TS :Tidak Setuju S : Setuju STS : Sangat Tidak Setuju Berikut ini contoh cara menjawab pernyataan : No Pernyataan SS S TS STS 1. Bertukar cerita bersama temanteman adalah hal yang √ menyenangkan (Jika teman-teman ingin mengganti jawaban berilah tanda (=) pada jawaban yang kurang sesuai lalu berilah tanda (√) pada jawaban yang lebih sesuai dengan diri teman-teman). ~SELAMAT MENGERJAKAN~

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 No. Pernyataan 1. Saya merasa gelisah ketika berbicara dengan orang baru 2. Saya merasa gugup ketika menyampaikan pendapat di depan umum 3. Saya merasa tidak nyaman ketika orang lain menatap mata saya saat berbicara 4. Jantung saya berdegup kencang saat menyampaikan presentasi di depan kelas 5. Saya merasa orang lain tidak memperhatikan saya ketika saya sedang berbicara 6. Saya merasa tidak nyaman berada dalam kelompok presentasi 7. Badan saya terasa gemetar ketika ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan lisan 8. Saya senang berkomunikasi dengan orang baru 9. Saya dapat menyampaikan pendapat di depan kelas dengan tenang 10. Saya akan menatap mata lawan bicara ketika sedang berbicara 11. Saya dapat menyampaikan materi presentasi dengan lancar tanpa terbata-bata 12. Saya merasa senang bila orang lain tertarik dengan pembicaraan saya 13. Saya merasa nyaman berada dalam kelompok presentasi 14. Saya dapat menjawab pertanyaan guru secara lisan dengan tenang SS S TS STS

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 15. Saya merasa canggung ketika berbicara di depan kelas 16. Saya kurang tertarik bergabung dalam belajar kelompok di kelas 17. Saya memilih untuk diam ketika tidak paham materi pelajaran di kelas 18. Saya kurang tertarik untuk menceritakan permasalahan pribadi kepada guru 19. Saya lebih senang membaca buku daripada berdiskusi dengan teman 20. Saya sering menghindari menjadi pembicara di depan umum 21. Ketika diskusi kelompok saya lebih memilih menjadi “notulen” dibandingkan menjadi “pembicara” 22. Saya merasa senang ketika berbicara di depan banyak orang 23. Saya lebih senang berbicara dengan tatap muka secara langsung 24. Saya akan bergabung bila ada belajar kelompok dengan teman-teman 25. Saya akan langsung bertanya kepada ketua organisasi ketika ada program yang belum saya pahami 26. Perasaan saya menjadi lega ketika sudah menceritakan permasalahan pribadi kepada guru 27. Saya lebih memilih bertukar pendapat dengan teman mengenai materi pelajaran 28. Ditunjuk menjadi seorang pembawa acara

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 ulang tahun sekolah merupakan hal yang menantang bagi saya 29. Diam merupakan salah satu cara untuk menghindari perselisihan 30. Saya akan menolak berbicara ketika diberi kesempatan berbicara dalam diskusi 31. Saya enggan berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya 32. Saya merasa kurang berarti ketika tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan saat presentasi 33. Saya lebih senang berbicara dalam situasi informal 34. Saya akan pura-pura tidak tahu ketika guru memberikan pertanyaan 35. Saya enggan mengajukan pertanyaan ketika ada presentasi kelompok di kelas 36. Saya akan memberikan pendapat ketika sedang berdiskusi 37. Saya suka diberi banyak kesempatan berbicara dalam diskusi 38. Saya senang bertukar pikiran dengan orang yang lebih tua dari saya 39. Saya merasa sangat berarti ketika dapat menjawab pertanyaan yang diajukan saat presentasi 40. Saya dapat berbicara dengan lancar baik dalam situasi formal maupun informal 41. Saya merasa bangga ketika dapat menjawab pertanyaan dari guru

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 42. Saya sering mengajukan pertanyaan ketika ada sesi tanya jawab dengan guru di kelas 43. Saya merasa kesulitan untuk menyampaikan sebuah ide ketika sedang rapat ekskul 44. Pembicaraan yang saya lakukan terasa kurang menarik bagi orang lain 45. Ketika gugup, saya merasa kata-kata yang saya ucapkan tidak dimengerti orang lain 46. Saat berbicara di depan umum, saya sering mengeluarkan lelucon yang tidak membuat orang tertawa 47. Saya sering mengulang-ulang kalimat ketika sedang berbicara dalam situasi formal 48. Saya merasa orang-orang bisa memahami kata-kata yang saya ucapkan 49. Orang lain selalu tertarik dengan pembicaraan yang saya lakukan 50. Dalam kondisi apapun saya tetap dapat mengeluarkan kata-kata sesuai dengan apa yang saya pikirkan 51. Saya merasa lelucon yang saya lontarkan berhasil membuat orang lain tertawa 52. Saya lebih senang berbicara secara to the point pada topik utama daripada harus basabasi terlebih dahulu ~Periksalah kembali jawaban teman-teman, jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan~  TERIMA KASIH 

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran III Reliabilitas Skala Try Out Kecemasan Komunikasi

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Case Processing Summary Cases N % 44 100.0 Excluded 0 .0 Total 44 100.0 Valid a a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Cronbach's Alpha Items .902 N of Items .901 52 Summary Item Statistics Maximum / Mean Item Means Minimum Maximum Range Minimum Variance N of Items 2.195 1.500 3.045 1.545 2.030 .120 52 Item Variances .613 .348 1.114 .766 3.199 .030 52 Inter-Item Covariances .092 -.433 .529 .962 -1.220 .015 52 Inter-Item Correlations .149 -.543 .777 1.321 -1.431 .037 52 Item-Total Statistics Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Item Deleted Item Deleted Total Correlation Squared Multiple Cronbach's Alpha Correlation if Item Deleted Aitem1 111.7955 266.166 .432 . .900 Aitem2 111.3636 257.446 .697 . .896 Aitem3 111.7727 265.436 .361 . .901 Aitem4 111.8636 270.027 .224 . .902 Aitem5 112.0000 270.698 .271 . .901 Aitem6 112.2955 271.376 .206 . .902

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Aitem7 112.0227 265.372 .388 . .900 Aitem8 111.9773 260.488 .539 . .898 Aitem9 111.9545 266.323 .440 . .900 Aitem10 111.9545 275.347 .032 . .904 Aitem11 111.8409 263.579 .529 . .899 Aitem12 112.6364 272.795 .184 . .902 Aitem13 112.2500 270.890 .251 . .902 Aitem14 112.0227 269.930 .279 . .901 Aitem15 111.7273 266.901 .413 . .900 Aitem16 112.1818 264.664 .404 . .900 Aitem17 111.7955 263.236 .414 . .900 Aitem18 111.1818 272.338 .123 . .904 Aitem19 112.0000 268.093 .255 . .902 Aitem20 111.7955 257.236 .618 . .897 Aitem21 111.5909 265.550 .393 . .900 Aitem22 111.5909 264.945 .498 . .899 Aitem23 112.0227 272.627 .159 . .903 Aitem24 112.2273 270.133 .314 . .901 Aitem25 112.2500 266.610 .428 . .900 Aitem26 111.4773 263.232 .391 . .900 Aitem27 112.3636 272.702 .170 . .902 Aitem28 111.8182 277.827 -.064 . .906 Aitem29 111.1818 266.478 .265 . .902 Aitem30 112.1136 260.847 .573 . .898 Aitem31 112.1364 257.376 .722 . .896 Aitem32 111.6136 271.080 .192 . .902 Aitem33 111.0909 273.573 .128 . .903 Aitem34 112.3864 271.638 .193 . .902 Aitem35 112.0227 261.883 .539 . .898 Aitem36 112.2273 262.505 .569 . .898 Aitem37 112.0455 268.044 .352 . .901 Aitem38 112.1136 262.475 .446 . .900 Aitem39 112.4318 267.414 .349 . .901

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Aitem40 112.0227 259.976 .614 . .898 Aitem41 112.6136 273.452 .150 . .902 Aitem42 111.8636 259.795 .575 . .898 Aitem43 111.8864 265.080 .401 . .900 Aitem44 111.7955 265.515 .439 . .900 Aitem45 111.2955 261.701 .496 . .899 Aitem46 112.2727 271.459 .234 . .902 Aitem47 111.7273 261.691 .544 . .898 Aitem48 112.0000 263.209 .603 . .898 Aitem49 111.7727 268.040 .366 . .901 Aitem50 111.9773 263.372 .506 . .899 Aitem51 112.1591 272.509 .153 . .903 Aitem52 112.4318 267.042 .364 . .901

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Lampiran IV Skala Penelitian Kecemasan Komunikasi

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 SKALA PENELITIAN Odilia Elisetiawati (099114014) FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 KATA PENGANTAR Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma angkatan 2009. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai Komunikasi Antarpribadi, dalam rangka menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Saya akan membagikan skala yang yang terdiri dari 2 bagian dan sejumlah pernyataan dan pertanyaan terkait dengan tema penelitian. Teman-teman diminta untuk memberikan respon terhadap setiap pernyataan dengan cara memilih jawaban yang telah disediakan dan menjawab beberapa pertanyaan yang ada. Dalam pengisian skala ini tidak ada jawaban benar atau salah. Identitas dan jawaban yang teman-teman berikan akan terjamin kerahasiaannya. Oleh karena itu saya berharap keterbukaan dan kejujuran teman-teman dalam pengisian skala ini. Informasi yang diperoleh dari skala ini hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini saja. Atas kesediaan dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Peneliti Odilia Elisetiawati

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 LEMBAR PERSETUJUAN Dengan ini saya menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian ini secara sukarela tanpa ada paksaan atau pengaruh dari siapapun. Semua jawaban yang saya berikan sesuai dengan keadaan saya saat ini dan bukan berdasarkan pandangan masyarakat pada umumnya. Saya juga mengijinkan agar jawaban yang saya berikan digunakan sebagai data dalam penelitian ini tanpa menyantumkan identitas saya. Yogyakarta, … Maret 2014 Menyetujui, ( )

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 IDENTITAS DIRI Nama (Inisial) : Usia : Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan (*) Kelas/Jurusan : Daerah Asal : Tempat tinggal di Jogja : Rumah/Kos/Asrama (*) Organisasi yang diikuti : Jabatan : Merk Ponsel : Samsung/ Nokia/ BlackBerry/ Sony/ tahun Lenovo/Apple/ lain-lain (*) Jenis Ponsel : Smartphone/Non-Smartphone (*) Aplikasi Smartphone : Android/BB/Windows Phone/iPhone (*) Rata-rata menggunakan ponsel dalam sehari : jam Rata-rata berbicara dengan orang tua sehari : jam Rata-rata berbicara dengan saudara sehari : jam Penggunaan ponsel untuk : Game/ Telepon/Online/Kirim Pesan (SMS, Line, WA, BBM, dll) (*) Fungsi Ponsel : Komunikasi/Hiburan/Sumber Informasi (*) Biasanya mengirim pesan kepada : Teman/Keluarga/Kerabat/Kenalan (*) Uang saku : /minggu : /bulan (*) coret yang tidak perlu

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 PETUNJUK PENGISIAN Skala ini berisikan sejumlah pernyataan. Tugas teman-teman memilih jawaban mana yang paling sesuai dengan diri teman-teman. Teman-teman dapat menjawab pernyataan dengan memberikan tanda centang (√) pada salah satu dari empat (4) alternatif jawaban di bawah ini : SS : Sangat Setuju S : Setuju TS :Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju Berikut ini contoh cara menjawab pernyataan : (Jika teman-teman ingin mengganti jawaban berilah tanda (=) pada jawaban yang kurang sesuai lalu berilah tanda (√) pada jawaban yang lebih sesuai dengan No Pernyataan 1. Bertukar cerita bersama teman-teman adalah hal yang menyenangkan diri teman-teman). SS √ ~SELAMAT MENGERJAKAN~ S TS STS

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 No. Pernyataan 1. Saya merasa gelisah ketika berbicara dengan orang baru 2. Saya merasa gugup ketika menyampaikan pendapat di depan umum 3. Saya merasa tidak nyaman ketika orang lain menatap mata saya saat berbicara 4. Badan saya terasa gemetar ketika ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan lisan 5. Saya senang berkomunikasi dengan orang baru 6. Saya dapat menyampaikan pendapat di depan kelas dengan tenang 7. Saya dapat menyampaikan materi presentasi dengan lancar tanpa terbata-bata 8. Saya merasa canggung ketika berbicara di depan kelas 9. Saya kurang tertarik bergabung dalam belajar kelompok di kelas 10. Saya memilih untuk diam ketika tidak paham materi pelajaran di kelas 11. Saya sering menghindari menjadi pembicara di depan umum 12. Ketika diskusi kelompok saya lebih memilih menjadi “notulen” dibandingkan menjadi “pembicara” 13. Saya merasa senang ketika berbicara di depan banyak orang 14. Saya akan bergabung bila ada belajar kelompok dengan teman-teman SS S TS STS

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 15. Saya akan langsung bertanya kepada ketua organisasi ketika ada program yang belum saya pahami 16. Perasaan saya menjadi lega ketika sudah menceritakan permasalahan pribadi kepada guru 17. Saya akan menolak berbicara ketika diberi kesempatan berbicara dalam diskusi 18. Saya enggan berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya 19. Saya enggan mengajukan pertanyaan ketika ada presentasi kelompok di kelas 20. Saya akan memberikan pendapat ketika sedang berdiskusi 21. Saya suka diberi banyak kesempatan berbicara dalam diskusi 22. Saya senang bertukar pikiran dengan orang yang lebih tua dari saya 23. Saya merasa sangat berarti ketika dapat menjawab pertanyaan yang diajukan saat presentasi 24. Saya dapat berbicara dengan lancar baik dalam situasi formal maupun informal 25. Saya sering mengajukan pertanyaan ketika ada sesi tanya jawab dengan guru di kelas 26. Saya merasa kesulitan untuk menyampaikan sebuah ide ketika sedang rapat ekskul 27. Pembicaraan yang saya lakukan terasa kurang menarik bagi orang lain 28. Ketika gugup, saya merasa kata-kata yang

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 saya ucapkan tidak dimengerti orang lain 29. Saya sering mengulang-ulang kalimat ketika sedang berbicara dalam situasi formal 30. Saya merasa orang-orang bisa memahami kata-kata yang saya ucapkan 31. Orang lain selalu tertarik dengan pembicaraan yang saya lakukan 32. Dalam kondisi apapun saya tetap dapat mengeluarkan kata-kata sesuai dengan apa yang saya pikirkan 33. Saya lebih senang berbicara secara to the point pada topik utama daripada harus basabasi terlebih dahulu ~Periksalah kembali jawaban teman-teman, jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan~  TERIMA KASIH 

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Lampiran V Mean Empirik Kecemasan Komunikasi

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Mean Total Kecemasan Komunikasi Descriptive Statistics Std. N Range Minimum Maximum Statistic Statistic Statistic KK 119 Valid N 119 45.00 47.00 Statistic Mean Deviation Variance Statistic Std. Error Statistic Statistic 92.00 72.3782 .87740 9.57131 91.610 (listwise) Mean per Aspek Kecemasan Komunikasi Descriptive Statistics N Range Minimum Maximum Statistic Statistic Statistic Statistic Mean Std. Deviation Variance Statistic Std. Error Statistic Statistic KI 119 15.00 7.00 22.00 16.1597 .30497 3.32679 11.068 PK 119 22.00 10.00 32.00 19.6218 .31440 3.42966 11.763 PD 119 15.00 9.00 24.00 18.0840 .29874 3.25883 10.620 KB 119 14.00 10.00 24.00 18.5126 .23534 2.56728 6.591 Valid N (listwise) 119

(98)

Dokumen baru