PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BANGUN DATAR BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI

Gratis

0
1
177
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BANGUN DATAR BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: IMELSA HENI PRIYAYIK NIM: 101134098 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BANGUN DATAR BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: IMELSA HENI PRIYAYIK NIM: 101134098 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) 'lsd'I{ "lsd.S (pn1seiurny euerl ,I0z lunf rI I?EEuEI W4p 3u1qu1qme4 ,I0Z lunf 41 pE8uea y.tr41.ISg.S.S..f.S.uluuqur8nN lry snpro8er.g W l Eulqrugqrue; :qe1o Jn[npslp quJeJ 860?flIOI:TIIIN 4ztu,{;.r4 rueH Bsleltrl :qelo ruossuJ.Nor i flooJ,f,Ilr slsYflutrs UVIYO NOONYS YOYUf,d IYTY dYOYt{Uf,I YAISIS NYC nUOC ISdtrSUtrd PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) III 'o'qd 6rpu?qoE euuBrlQ slBuBS sstJsre^run u")llpJpued nuJJ uEp uurunEex ss{n)t?c nrcZl1nt g'e1m4e,l8o7' /^sb 'unH.I I..pd.S .uumeflag elun1.qJ g ulo88uy .lsd.ht .-lsd-S llnpemmy euul g 4oE8uy 1 uloEEuy 'V'W ''ISg.S-S .-f-S snFo8srg "1uuqu€n51uv O'Pg''V'W "Pd'S'llelursru rnluJ 'v'14l "JSg ..S.S ..f.S ?1ueqe-6np uy snuo8erg slrslor{3s snlo) de16ua1 etu?N 1[n8us4 "4rued 1eru,(s rqnueruotu qeyel usunsns ue1up,(qp u"O tt0z IInf 4 pEEuel upe4 1[n8ua4 ?11!u?d uedop rp us{@qepedlp qelet S6A?TIIOI :WIN >Jy(e{g4 ruaH usletuJ :qolo srlCItlp uup uuldersradrq TUOSSUINOIAI f,OOItrI{ SISYflUf, g UYIYO NN9NY{ YOYUf,d JYTY dYOYI{Uf,J YA\SrS NYO nUnC rsdflsufd ISdIU)rS PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Kupersembahkan karyaku ini kepada: Allah SWT yang selalu memberiku jalan dan memudahkanku. Kedua orang tuaku tercinta yang selalu mendoakanku dan mendukungku. Adik ku tersayang yang senantiasa menyemangatiku. Almamater Universitas Sanata Dharma . iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya” -Al-Baqarah: 286- “If you don’t give up your hopes and dreams, then there will always be a good ending” -Choi Minho- “Maksimalkan apa yang bisa kamu maksimalkan” -Irine- v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BANGUN DATAR BERBASIS METODE MONTESSORI Imelsa Heni Priyayik Universitas Sanata Dharma 2014 Terdapat beberapa alat peraga Montessori yang sudah dikembangkan salah satunya adalah alat peraga Montessori bangun datar. Untuk suatu produk yang dihasilkan memerlukan evaluasi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan alat peraga yang dikembangkan. Evaluasi ini dapat diperoleh dari orang yang secara langsung mengunakan alat peraga tersebut yaitu guru dan siswa. Untuk itu perlu menggali lebih dalam mengenai persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori dalam proses pembelajaran. Subjek pada penelitian ini adalah guru bidang studi matematika kelas V dan tiga siswa kelas VB. Metode penelitian adalah kualitatif dengan wawancara dan observasi sebagai sumber data utama. Wawancara dilakukan dua kali yaitu wawancara sebelum menggunakan alat peraga dan sesudah menggunakan alat peraga. Observasi dilaksanakan selama empat kali pertemuan pada saat penggunaan alat peraga. Analisis data yang dilakukan meliputi pengumpulan data, mengolah data, membaca keseluruhan data, meng-coding, menghubungkan tema, dan menginterpretasi atau memaknai data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori adalah positif. Alat peraga Montessori memberikan pengalaman yang baru bagi guru dan siswa. Siswa menjadi sangat aktif, antusias, bersemangat, dan berminat untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu alat peraga membantu siswa dalam memahami konsep bangun datar karena siswa dapat melihat bendanya secara konkret dan dapat melakukan pembuktian tentang sifat-sifat bangun datar menggunakan alat peraga tersebut. Begitu juga dengan guru, alat peraga dapat membantu menyampaikan materi kepada siswa karena siswa menjadi aktif dalam pembelajaran. Guru mengangap bahwa alat peraga tersebut juga dapat digunakan dalam pembelajaran dari kelas 1 hingga kelas 6 khususnya pada materi bangun datar. Kata Kunci: alat peraga, bangun datar, metode Montessori. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT PERSPECTION OF TEACHER AND STUDENTS OF USING BUILD FLAT LEARNING MEDIA BASED ON THE MONTESSORI METHOD Imelsa Heni Priyayik Sanata Dharma Univercity 2014 There was many learning media Montessori developed one is learning media Montessori built flat. The evaluation is required to know the strength and the weaknesses of products produced. This Evaluation can be obtained from a person who is directly using the learning media, there are teachers and students. It was necessary to dig deeper about the perceptions of teachers and students in the use of learning media Montessori in learning process. The subjects of this research was the mathematics teacher class 5nd and three students of 5nd grade of Elementary school. The method of this research is qualitative by interview before (pre) using the learning media and after (past) using the learning media. The interview was conducted before and after the use of learning media. Observations were made during a meeting four times during the use of learning media. Data analysis was conducted on the data collection, data processing, reading the entire data, recode, linking theme, and interpret or make sense of the data. The results of this study indicate that the teachers and students perception on the use of Montessori learning media was positive. Montessori learning media provide a new experience for teachers and students. Students become very active, enthusiastic, excited, and interested in participating in learning. Additionally learning media assist the students in understanding the concept of a flat built because students can see the object in a concrete and will be able prove the properties of flat built using the learning media. Learning media Montessori can help the teacher to deliver the material to the students because the students become active in learning. The teacher considers that these learning media also can be used in learning from 1nd grade until 6nd grade, especially in flat built. Key word: Learning media, build flat, Montessori method. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Khusunya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak selesai tepat pada waktunya tanpa ada bantuan dari beberapa pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada beberapa pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini kepada: 1. Rohandi, Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma dan Dosen Pembimbing I yang telah memberikan ide, kritik, saran dan bimbingannya yang sangat berguna dalam penelitian ini. 3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku Wakaprodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 4. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan ide, kritik, saran dan bimbingannya yang sangat berguna dalam penelitian ini. 5. Kastinah, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SD N Sokowaten Baru yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Sokowaten Baru. 6. Mumpuni, selaku Guru bidang studi matematika yang telah banyak membantu baik tenaga maupun waktu kepada penulis dalam melakukan penelitian. 7. Ketiga siswa kelas VB SD N Sokokwaten Baru yang telah membantu dan berpartisipasi dalam penelitian ini. 8. Ayahku tercinta Haryono dan Ibuku tercinta Pariyah yang selalu mendoakan, mendukung baik materi maupun moril. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Judul Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................. i LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................... iv HALAMAN MOTTO ............................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................ vii ABSTRAK ................................................................................................. viii ABSTRACT ................................................................................................ ix PRAKATA ................................................................................................. x DAFTAR ISI .............................................................................................. xii DAFTAR TABEL ..................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xvii BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 4 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 4 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................ 5 1.5 Definisi Operasional.............................................................................. 6 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................... 7 2.1.1Teori-teori yang Mendukung .............................................................. 7 2.1.1.1Teori Perkembangan Anak Menurut Piaget ..................................... 7 2.1.2 Metode Pembelajaran Montessori ...................................................... 9 2.1.3 Alat Peraga ......................................................................................... 10 2.1.3.1Pengertian Alat Peraga ..................................................................... 10 2.1.3.2 Pengertian Alat Peraga Montessori ................................................. 11 2.1.3.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori ..................................................... 12 2.1.4 Pembelajaran Matematika di Kelas.................................................... 14 2.1.4.1 Pengertian Pembelajaran Matematika ............................................. 14 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.4.2 Keterampilan Geometri dalam Matematika .................................... 14 2.1.4.3 Materi Bangun Datar Kelas V ......................................................... 15 2.1.5 Alat Peraga Bangun Datar Montessori Kelas V ................................. 17 2.1.6 Persepsi .............................................................................................. 17 2.1.6.1 Pengertian Persepsi ......................................................................... 17 2.1.6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi ................................... 20 2.1.6.3 Persepsi Terhadap Penggunaan Alat Peraga Montessori ................ 21 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan .............................................................. 24 2.2.1 Alat Peraga ......................................................................................... 24 2.2.2 Metode Montessori ............................................................................ 25 2.2.3 Persepsi .............................................................................................. 26 2.2.4 SkemaLiterature Map Penelitian Terdahulu ...................................... 29 2.3 Kerangka Berfikir.................................................................................. 29 BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 32 3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................... 32 3.2 Setting Penelitian................................................................................... 33 3.2.1 Objek Penelitian ................................................................................. 33 3.2.2 Tempat Penelitian............................................................................... 33 3.2.3 Narasumber Penelitian ....................................................................... 34 3.3 Desain Penelitian ................................................................................... 36 3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 40 3.4.1 Observasi ............................................................................................ 40 3.4.2 Wawancara ......................................................................................... 42 3.4.3 Dokumentasi ...................................................................................... 44 3.5 Instrumen Penelitian.............................................................................. 44 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas ........................................................... 46 3.6.1 Kredibilitas ......................................................................................... 46 3.6.2 Transferabilitas ................................................................................... 47 3.7 Teknik Analisis Data ............................................................................. 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................... 50 4.1 Pelaksanaan Penelitian .......................................................................... 50 4.2 Hasil Penelitian ..................................................................................... 51 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.1 Penelitian sebelum Pengimplementasian alat peraga Montessori ...... 51 4.2.1.1 Latar Belakang Subjek .................................................................... 51 4.2.1.2 Pandangan Subjek terhadap Alat Peraga ........................................ 55 4.2.1.3 Kefamiliaran Subjek terhadap Alat Peraga ..................................... 56 4.2.1.4 Pengalaman Subjek Menggunakan Alat Peraga ............................. 58 4.2.2 Penelitian setelah Pengimplementasian Alat Peraga Montessori....... 59 4.2.2.1 Pengalaman subjek Menggunakan Alat Peraga Montessori ........... 59 4.2.2.2 Perasaan Subjek Menggunakan Alat Peraga Montessori ................ 62 4.2.2.3 Kendala yang Dialami Subjek......................................................... 64 4.2.2.4 Manfaat Menggunakan Alat Peraga Montessori ............................. 69 4.3 Pembahasan ........................................................................................... 74 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 79 5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 79 5.2 Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 80 5.3 Saran ...................................................................................................... 80 DAFTAR REFERENSI ............................................................................ 81 LAMPIRAN ............................................................................................... 85 CURRICULUM VITAE ............................................................................. 157 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 : Perencanaan Kegiatan Observasi .............................................. 37 Tabel 3.2 : Perencanaan Kegiatan Wawancara ........................................... 38 Tabel 4.1 : Pelaksanaan Observasi .............................................................. 50 Tabel 4.2 : Pelaksanaan Wawancara ........................................................... 50 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 : Bagan Persepsi ...................................................................... 22 Gambar 2.2 : Bagan Persepsi yang sudah Dimodifikasi ............................. 22 Gambar 2.3 : Skema Literature Map .......................................................... 29 Gambar 3.1 : Bagan Prosedur Penelitian .................................................... 36 Gambar 3.2 : Bagan Prosedur Penelitian yang sudah Dimodifikasi ........... 36 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN A. Pedoman Observasi dan Wawancara Lampiran 3.1 : Pedoman Observasi Kondisi Sosio- Cultural ..................... 85 Lampiran 3.2 : Pedoman Observasi Proses Pembelajaran .......................... 86 Lampiran 3.3 : Pedoman Observasi Guru ................................................... 87 Lampiran 3.4 : Pedoman Observasi Siswa.................................................. 88 Lampiran 3.5 : Pedoman Wawancara Pra- Penelitian Guru ....................... 90 Lampiran 3.6 : Pedoman Wawancara Pra- Penelitian Siswa ...................... 92 Lampiran 3.7 : Pedoman Wawancara Pasca- Penelitian Guru .................... 93 Lampiran 3.8 : Pedoman Wawancara Pasca- Penelitian Siswa .................. 97 B. Observasi Lampiran 4.1 : Transkrip Observasi Kondisi Sosio- Cultural .................... 100 Lampiran 4.2 : Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke- 1 ................ 102 Lampiran 4.3 : Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke- 2 ................ 104 Lampiran 4.4 : Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan Pertama .......... 106 Lampiran 4.5 : Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan Kedua ............. 112 Lampiran 4.6 : Transkrip ObservasiPenelitian Pertemuan Ketiga .............. 116 Lampiran 4.7 : Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan Keempat ......... 119 C. Wawancara Lampiran 4.8 : Verbatim Wawancara Pra- Penelitian Guru ....................... 122 Lampiran 4.9 : Verbatim Wawancara Pra- Penelitian Siswa A .................. 125 Lampiran 4.10 : Verbatim Wawancara Pra- Penelitian Siswa B ................ 127 Lampiran 4.11 : Verbatim Wawancara Pra- Penelitian Siswa C ................ 130 Lampiran 4.12 : Verbatim Wawancara Pasca- Penelitian Guru ................. 132 Lampiran 4.13 : Verbatim Wawancara Pasca- Penelitian Siswa A ............ 136 Lampiran 4.14 : Verbatim Wawancara Pasca- Penelitian Siswa B ............ 139 Lampiran 4.15 : Verbatim Wawancara Pasca- Penelitian Siswa C ............ 141 D. Foto-foto Lampiran 4.16 : Foto-foto Wawancara dan Observasi ............................... 143 Lampiran 4.17 : Surat Ijin Penelitian dari FKIP USD ................................ 155 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.18 : Surat Keterangan Melakukan Penelitian .......................... 156 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dijelaskan (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, dan (5) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Hal itu juga sependapat dengan Sumantri (2001: 114) bahwa proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang diterapkan. Oleh karena itu, pembelajaran dapat terjadi kapan saja dan dimana saja tak terkecuali di Sekolah Dasar. Pada pembelajaran di Sekolah Dasar siswa belajar berbagai macam mata pelajaran salah satunya matematika merupakan adalah pembelajaran matematika. pembelajaran pokok bagi siswa Pembelajaran karena dalam kesehariannya siswa berhubungan langsung dengan matematika. Selain itu pembelajaran matematika juga mengembangkan proses berfikir siswa dalam membangun pengetahuan yang baru guna meningkatkan penguasaan terhadap materi pembelajaran. Tujuan akhir dari pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah agar siswa terampil dalam mengembangkan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari (Heruman, 2007: 2). Maka dari itu dalam setiap proses pembelajarannya siswa dibekali kemampuan berfikir untuk memahami konsep-konsep matematika sehingga akan tercapai tujuan atau hasil belajar yang diharapkan. Hasil belajar matematika di Sekolah Dasar yang diharapkan berupa kemampuan siswa untuk berpikir kritis, kreatif, logis, sistematis, dan analitis (Badan Standar Nasional Pendidikan [BSNP], 2006: 172). Untuk mencapai kompetensi pada pembelajaran matematika penggunaan alat peraga sangat diperlukan. Hal ini sependapat dengan Heruman (2007: 2) bahwa dalam pembelajaran matematika yang abstrak siswa memerlukan alat bantu berupa 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI media dan alat peraga yang dapat memperjelas apa yang disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa. Alat peraga merupakan suatu komponen dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk mencapai tujuan pembelajaran (Saryono, 2011: 17). Alat peraga juga berfungsi untuk menyampaikan pesan atau materi sehingga siswa dapat memahami dan menangkap pesan dan makna yang disampaikan. Selain itu menurut Sumantri dan Permana (2001: 154), fungsi alat peraga adalah untuk meletakkan dasar-dasar yang konkrit dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme. Hal di atas sesuai dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 6 hingga 12 tahun. Menurut Piaget dalam (Suparno, 2001: 26) anak dalam usia tersebut termasuk dalam tahapan operasional konkret. Pada tahapan ini kemampuan anak yang tampak adalah kemampuan dalam proses berfikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret. Pada usia perkembangan kognitif siswa Sekolah Dasar masih terikat dengan objek konkret yang ditangkap oleh panca indra (Heruman, 2007: 1). Maka dari itu dalam setiap kegiatan pembelajaran siswa harus menggunakan sesuatu yang konkret untuk memudahkan memahami materi yaitu dengan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang menggunakan alat peraga, salah satunya adalah metode Montessori. Metode Montessori adalah sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Maria Montessori. Montessori menggunakan konsep belajar sambil bermain untuk anakanak (Holt, 2008:xi), dengan demikian anak tidak menyadari bahwa kegiatan bermainnya adalah kegiatan dalam memahami konsep. Montessori juga membuat sendiri alat peraganya. Alat peraga matematika menurut Montessori merupakan material atau alat yang dirancang dengan konsep dan desain yang unggul berdasarkan cakupan pemahaman matematika yang akan dicapai (Lillard, 1997: 137). Selain itu alat peraga Montessori memiliki karakteristik antara lain menarik, bergradasi, memiliki pengendali kesalahan, dan memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri tanpa banyak intervensi dari guru (Lillard, 1997: 11). 2

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Observasi yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu tanggal 7 Februari 2014 dan tanggal 24 Februari 2014 pada kelas V di SD N Sokowaten didapatkan hasil bahwa dalam pembelajaran matematika guru menggunakan papan tulis dalam menyampaikan materi kepada siswa. Guru menuliskan materi di papan tulis lalu siswa mencatat materi tersebut ke dalam buku catatan. Selain itu guru juga menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, dalam kegiatan pembelajarannya tidak terlihat penggunaan alat peraga. Selain itu berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru, guru mengungkapkan bahwa guru jarang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Pernah sekali pada semester awal melakukan pembelajaran menggunakan alat peraga bangun ruang kubus dan balok. Sekolah Dasar Negeri Sokowaten adalah tempat untuk menguji efektivitas penggunaan alat peraga Montessori. Alat peraga yang sudah dibuat untuk materi bangun datar pada kelas V. Alat peragatersebut berupa satu set papan geometri bidang datar. Alat peraga bangun datar ini merupakan modofikasi alat peraga Montessori Metal Squares pada alat peraga ini, dimana papan 1 yang dibagi menjadi 6 bagian, 3 bagian merupakan spesifikasi bangun persegi, 3 bangun lainnya merupakan spesifikasi bangun segitiga. Papan 2 dikembangkan sifat-sifat bangun datar dari bangun belah ketupat dan layang-layang. Papan 3 dikembangkan sifat-sifat bangun datar dari bangun jajar genjang dan trapesium. Pada papan 4 dikembangkan sifat-sifat bangun datar dari bangun datar lingkaran, segilima, dan segienam dan papan 5 dikembangkan sifat-sifat bangun datar dari bangun segitujuh, segidelapan, dan segisembilan. Alat peraga tersebut akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas V SD N Sokowaten Baru. Peneliti eksperimen akan meneliti alat peraga tersebut untuk melakukan uji efektivitas alat. Selanjutnya peneliti akan meneliti lebih mendalam mengenai persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Persepsi seseorang dalam mengartikan suatu objek dapat dilihat melalui alat inderawinya. Selanjutnya objek yang dipersepsinya akan diproses kedalam otak lalu memaknainya dalam bentuk katakata dan tingkah laku (Slameto, 2010). Selain itu persepsi pada manusia dapat dibentuk melalui pengalaman yang ia rasakan melalui kegiatan penerimaan oleh 3

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI indra. Oleh karena itu persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga akan terlihat melalui kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu persepsi mempengaruhi intensitas seseorang dalam menggunakan suatu produk. Apabila guru dan siswa memiliki persepsi yang positif mengenai alat peraga, maka intensitas siswa dan guru dalam memanfaatkan alat peraga tersebut semakin besar. Begitu pula sebaliknya apabila guru dan siswa memiliki persepsi negatif mengenai alat peraga maka intensitas penggunaan alat peraga dalam memanfaatkan alat peraga semakin berkurang. Di sinilah letak persepsi itu mulai berperan dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat peraga pembelajaran. Berdasarkan penjelasan di atas peneliti akan meneliti mengenai pengalaman, perasaan, dan manfaat yang diharapkan guru dan siswa dalam menggunakan alat peraga Montessori bangun datar selama proses pembelajaran. Penelitian ini dibatasi pada persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori bangun datar untuk kelas VB, dengan standar kompetensi memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun, kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar, dan pada materi bangun datar pada semeseter genap tahun ajaran 2013/ 2014 di SD N Sokowaten Baru Yogyakarta. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana persepsi guru terhadap penggunaan alat peraga bangun datar berbasis metode Montessori? 1.2.2 Bagaimana persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga bangun datar berbasis metode Montessori? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Untuk mengetahui persepsi guru terhadap penggunaan alat peraga bangun datar berbasis metode Montessori. 1.3.2 Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga bangun datar berbasis metode Montessori. 4

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat teoritis Temuan yang didapatkan dari penelitian ini dapat memperkaya wawasan tentang pesepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori khususnya materi bangun datar di kelas V. 1.4.2 Manfaat praktis 1.4.2.1 Bagi Siswa Memperoleh pengalaman dalam menggunakan alat peraga Montessori bangun datar dalam kegiatan pembelajaran dan melakukan wawancara tentang persepsi penggunaan alat peraga berbasis Montessori. 1.4.2.2 Bagi Guru Memiliki paradigma tentang pembelajaran Montesori, memiliki referensi dalam membuat alat peraga pembelajaran dan memiliki inspirasi dalam melakukan pembelajaran matematika menggunakan alat peraga Montessori bangun datar. 1.4.2.3 Bagi sekolah Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan tambahan informasi bagi sekolah mengenai penggunaan alat peraga Montessori dalam pembelajaran matematika bangun datar serta menambah referensi bagi perpustakaan sekolah khususnya terkait dengan penelitian kualitatif. 1.4.2.4 Bagi peneliti lain Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui gambaran atau evaluasi tentang alat peraga yang baru saja dikembangkan serta menambah informasi yang baru mengenai persepsi guru dan siswa terkait alat peraga Montessori dan dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian kualitatif. 1.4.2.5 Bagi peneliti Dapat memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian kualitatif khususnya meneliti tentang persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran bangun datar di kelas V SD N Sokowaten Baru semester genap tahun pelajaran 2013/ 2014. 5

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Persepsi adalah suatu proses kegiatan mengartikan atau menyimpulkan suatu pesan atau informasi yang diperoleh melalui alat inderawinya yang berupa objek, peristiwa, atau pengalaman menggunakan pengetahuan yang dimilikinya, setelah menginderakan suatu objek selanjutnya diproses ke dalam otak lalu memaknai hasil yang dipersepsinya melalui kata-kata atau tingkah laku. 1.5.2 Alat peraga adalah alat yang digunakan guru untuk membantu menyajikan konsep materi pembelajaran kepada siswa pada saat proses pembelajaran. 1.5.3 Alat Peraga Montessori adalah suatu alat pembelajaran yang mengembangkan kemampuan matematika siswa yang dibuat secara menarik, bergradasi, dan memiliki pengendali kesalahan yang memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri. 1.5.4 Materi bangun datar adalah materi yang dipelajari oleh siswa yang meliputi bentuk dan sifat-sifat dari berbagai bentuk bangun datar dalam pembelajaran. 1.5.5 Alat peraga Montessori bangun datar adalah alat peraga bangun datar yang terdiri dari satu set papan geometri bidang datar yang terbuat dari bahan kayu yang alasnya sebagai tempat untuk meletakkan bidang datar. 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini terdapat pembahasan tentang landasan teori yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) hasil penelitian terdahulu, dan (3) kerangka berpikir. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Menurut Piaget Piaget dalam Suparno (2001: 26) membagi perkembangan anak menjadi 4 tahap yaitu, tahap sensorimotor, tahap pra-operasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasi formal. Setiap tahap memiliki karakteristik di antaranya : 1. Tahap Sensorimotor (0 - 2 tahun) Pada tahap ini kecerdasan anak dalam bentuk tindakan inderawi, seperti: menggenggam, melihat, mendengarkan, dan menangis. Anak belum dapat berbicara sehingga belum dapat menggunakan bahasa simbol. Pengetahuan anak yang dibentuk lebih banyak dalam pengetahuan fisis. Oleh karena itu kecerdasan anak menghasilkan suatu tindakan, bukan pengetahuan. Anak belum mampu mengalami ikatan tempat dan waktu sehingga belum mampu mengidentifikasi sebab dan akibat dari terjadinya sesuatu. Pada tahap ini, kecerdasan terjadi secara bertingkat dan berkelanjutan sehingga dijadikan dasar perkembangan pandangan dan kecerdasan anak pada tahap berikutnya. 2. Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun) Tahap ini dicirikan dengan penggunaan simbol yang memberi kejelasan obyek. Melalui simbol tersebut, anak dapat mengungkapkan suatu hal yang terjadi. Dia dapat membicarakan hal-hal yang sudah terjadi, hal-hal yang sedang dialami tanpa ikatan ruang dan waktu. Pada tahap ini kecerdasan anak berkembang karena sudah dapat menggambarkan sesuatu dengan bentuk lain. Bahasa yang digunakan anak bersifat egosentris yaitu berbicara dengan dirinya sendirinya. Anak sudah dapat mengidentifikasi sebab dan akibat dari sesuatu yang terjadi yang ditandai dengan pertanyaan, “Mengapa?” 7

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Tahap Operasi Konkret (7 - 11 tahun) Pada tahap ini, sistem pemikiran anak didasari aturan logis. Anak sudah dapat memperkembangkan operasi logis yang terdiri dari operasi reversibel dan operasi yang bersifat kekekalan. Operasi reversibel yaitu pemikiran yang dapat dikembalikan kepada awalnya lagi. Misalnya A dikembangkan dengan metode tertentu menjadi B, kemudian B dapat dikembangkan dengan metode tertentu menjadi A. Perkembangan sistem logis pada anak dapat diterapkan dalam pemecahan persoalan konkrit. Operasi kekekalan yaitu pemikiran bahwa benda A dengan proses tertentu menjadi benda B dan selamanya akan seperti itu. Pada tahap ini anak dapat menganalisis berbagai segi yang berdasarkan pada sesuatu nyata. Kecerdasan anak sangat maju namun terbatas pada hal konkrit. 4. Tahap Operasi Formal (11 tahun - ke atas) Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir logis berdasarkan teoritis formal. Anak dapat menyimpulkan tentang hal-hal yang diamati. Melalui kegiatan tersebut, logika anak berkembang. Anak mulai mengerti berpikir abstrak dan membuat teori tentang sesuatu yang dihadapi, pikirannya sudah melampaui waktu dan tempat. Anak tidak hanya terikat pada hal yang dialami namun juga dapat berpikir tentang sesuatu yang akan datang karena dia sudah dapat berpikir secara hipotesis. Tahap pemikiran ini sama dengan orang dewasa secara kualitatif, yang membedakan hanya dalam kuantitas orang dewasa lebih banyak memiliki skema. Menurut penjabaran di atas teori Piaget menyebutkan bahwa anak akan lebih mudah belajar dengan hal-hal yang konkret dalam artian dapat diamati menggunakan panca indera. Melihat tahapan perkembangan kognitif anak menurut Piaget, siswa SD berada pada rentang usia 7-11 tahun yang berada pada tahap operasional konkret. Sudah dijelaskan sebelumnya pada tahapan ini anak dapat berpikir secara sistematis hanya pada objek-objek yang konkret, maka dalam pembelajaran guru harus menyajikan materi pembelajaran menggunakan objek yang konkret sehingga anak lebih mudah memahaminya. 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.2 Metode Pembelajaran Montessori Metode Montessori merupakan sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Maria Montessori. Beliau adalah seorang dokter wanita pertama di Italia yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1870 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1952, dengan menggunakan konsep belajar sambil bermain untuk anak-anak (Holt, 2008:xi). Dengan demikian anak tidak menyadari bahwa kegiatan bermainnya adalah kegiatan belajar berbagai macam konsepkonsep pembelajaran.Metode ini sangat menekankan pembelajaran yang dilakukan oleh anak secara mandiri dengan sesedikit mungkin intervensi dari orang dewasa (Montessori, 2002: 33). Terdapat tiga hal yang menjadi prinsip dasar dari metode Montessori yaitu filosofi yang digunakan, tugas pendidik dalam pembelajaran dan adanya alat peraga (Hainstock, 1997: 38). Esensi metode Montessori terletak pada filosofinya terhadap anak, yaitu “Teach Me to Do It Myself”. Filosofi tersebut mengandung makna bahwa Montessori mempercayai kemampuan seorang anak untuk bekerja dan menemukan cara belajarnya sendiri (Seldin, 2006: 12). Montessori menggunakan kebebasan setiap anak untuk beraktivitas sebagai basis untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak (Montessori, 2002: 86). Prinsip kedua yaitu tugas pendidik dalam pembelajaran Montessori adalah membantu anak mengembangkan untuk seluruh semakin dapat kemampuannya mandiri secara dalam maksimal. hidup dengan Karena itu, Montessori menggunakan kemerdekaan masing-masing anak untuk beraktivitas sebagai dasar untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak, karena sikap disiplin datang dari kemerdekaan itu (Montessori, 2002: 90). Metode Montessori memberikan kesempatan pada anak untuk (1) bekerja dengan dirinya sendiri (2) bekerja tanpa mengandalkan bantuan atau pun interupsi, (3) bekerja dengan penuh konsentrasi, (4) bekerja dengan kelompok atau lingkungan yang telah disiapkan, dan (5) menggali potensi diri dengan kemauannya sendiri (Lillard, 1996: 98). Prinsip ketiga dari metode Montessori adalah alat peraga adanya alat peraga yang memiliki pengendali kesalahan dengan tujuan anak dapat mengoreksi kesalahan dan memperbaikinya sendiri. Alat peraga tersebut dibuat oleh 9

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Montessori sendiri dengan mengacu pada teori Itard dan Seguin (Hainstock, 1997: 13). Berdasarkan penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa metode pembelajaran Montessori sangat berpegang teguh pada kemerdekaan atau pembebasan kepada anak. Anak bebas sesuai dengan keinginan dan kehendak yang akan mereka lakukan tanpa adanya perintah atau tuntutan. Pada prinsip metode Montessori ini menekankan pada kedisiplinan anak, menemukan cara belajar sendiri serta mampu memperbaiki kesalahan. 2.1.3 Alat Peraga 2.1.3.1 Pengertian Alat Peraga Alat merupakan barang yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu, mencapai maksud tertentu, sedangkan peraga merupakan alat media pengajaran untuk meragakan sajian pelajaran, sehingga alat peraga adalah alat yang digunakan untuk menyajikan materi pembelajaran (KBBI, 2008). Sependapat dengan hal tersebut Sudono (2010: 14) mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar. Istilah alat peraga menunjuk kepada suatu alat atau benda yang sama yang dapat mengantarkan pesan pembelajaran antara pemberi pesan kepada penerima pesan (Anitah, 2010: 4). Sependapat dengan hal tersebut, Sukayati dan Agus (2009: 6) menjelaskan bahwa media pembelajaran merupakan semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran. Berdasarkan fungsinya media dapat berbentuk alat peraga dan sarana tetapi dalam keseharian tidak terlalu dibedakan antara media dan alat peraga. Hal tersebut sependapat dengan Smaldino (2011: 14), alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran. Media adalah semua sarana untuk memperlancar proses pembelajaran, sedangkan alat peraga adalah alat yang memeragakan konsep materi pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Fungsi dari alat peraga adalah (1) alat bantu untuk mewujudkan situasi mengajar yang efektif, (2) bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar, (3) meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat 10

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengurangi pemahaman yang bersifat verbal, (4) membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan (5) mempertinggi mutu belajar mengajar (Sumantri, 2001: 154). Berdasarkan penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa alat peraga merupakan alat yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru menyampaikan materi kepada siswa dengan menggunakan alat peraga untuk memudahkan siswa dalam memahami suatu konsep yang abstrak menjadi nyata atau konkret. 2.1.3.2 Pengertian Alat Peraga Montessori Alat peraga Montessori adalah material pembelajaran siswa yang dirancang secara menarik, bergradasi, memiliki kendali kesalahan, dan memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri tanpa banyak intervensi dari guru (Lillard, 1997: 11). Alat peraga matematika menurut Montessori adalah material yang dirancang dengan konsep dan desain yang unggul berdasarkan cakupan pemahaman matematika yang akan dicapai (Lillard, 1997: 137). Tujuan dari penggunaan alat peraga matematika adalah pertama-tama bukan untuk mengajar matematika, tetapi terutama untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan matematikanya yang meliputi pemahaman perintah, urutan, abstraksi, dan kemampuan untuk mengkonstruksi konsep-konsep baru sebagai pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran. Selain itu untuk melatih seluruh indera yang ada dalam tubuh, alat peraga Montessori dilengkapi dengan sensor-sensor yang merangsang penggunaan kelima indera manusia (Hainstock, 1997). Hal tersebut memperlihatkan bahwa alat peraga yang diciptakan Montessori tidak hanya mewakili konsep yang akan disampaikan namun juga mampu mengakomodir seluruh kebutuhan anak sesuai dengan usia dan kebutuhannya (Montessori, 1964: 168). Alat peraga Montessori pada bidang matematika dirancang untuk mengembangkan kemampuan matematis (Hainstock, 1997: 137), sehingga alat peraga tersebut bukan semata-mata dirancang untuk mencapai kompetensi matematika saja. Kemampuan matematis yang terdapat pada alat peraga Montessori meliputi abstraksi, pemahaman perintah, dan pengkonstruksian konsep-konsep yang diperoleh dari penggunaan alat peraga. 11

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa alat peraga Montessori adalah suatu alat pembelajaran yang mengembangkan kemampuan matematika guna membangun konsep-konsep yang baru serta alat peraganya dibuat secara menarik, bergradasi dan memiliki pengendali kesalahan yang memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri. 2.1.3.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori Pada metode Montessori, alat peraga mempunyai peranan yang penting dalam tahap perkembangan siswa. Montessori merumuskan ciri-ciri alat peraga yang baik (Montessori, 2002: 170-176), yaitu: a) Menarik Bagi anak-anak pembelajaran dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh potensi anak melalui panca indera. Alat-alat peraga harus dibuat menarik bagi anak-anak agar secara spontan anak-anak ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan menggunakannya untuk belajar. Untuk itu tampilan fisik alat peraga harus mengkombinasikan warna yang cerah dan lembut (Montessori, 2002: 174). b) Bergradasi Alat peraga harus memiliki gradasi rangsangan yang rasional terkait warna, bentuk, dan usia anak sehingga bukan hanya alat peraga sebanyak mungkin melibatkan penggunaan panca indera, tetapi juga alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai usia perkembangan anak dengan tingkat abstraksi pembentukan konsep-konsep yang semakin kompleks. Untuk memperkenalkan gradasi warna merah, misalnya, kartu-katu warna merah dibuat dengan 10 gradasi dari kartu berwarna merah sangat tua sampai dengan kartu berwarna merah sangat muda. Selain itu ada juga gradasi bentuk, dengan gradasi bentuk anak belajar membeda-bedakan besar-kecil dan berat-ringan suatu objek (Montessori, 2002: 174). c) Auto-correction Alat peraga harus memiliki pengendali kesalahan pada alat peraga itu sendiri agar anak dapat mengetahui sendiri apakah aktivitas yang dilakukannya itu benar atau salah tanpa perlu diberi tahu orang lain yang lebih dewasa atau guru. Selain alat-alat peraga, seluruh lingkungan pembelajaran juga diciptakan 12

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sedemikian rupa sehingga anak akan mengetahui sendiri jika tindakannya tidak tepat. Misalnya gelas dan piring dibuat bukan dari bahan plastik, tetapi dari bahan gelas yang bisa pecah jika tidak digunakan secara hati-hati (Montessori, 2002: 83). d) Auto-education Seluruh alat peraga harus diciptakan agar memungkinkan anak semakin mandiri dalam belajar dan mengembangkan diri dan meminimalisir campur tangan orang dewasa. Keberhasilan pendidikan seperti ini didasarkan pada lingkungan yang dikondisikan dengan berbagai alat peraga didaktik, dan bukan pertama-tama didasarkan pada kelihaian guru dalam mendidik anak (Montessori, 2002: 172). Perkembangan anak sangat tergantung bukan pada guru yang mendidik, tetapi tergantung pada anak sendiri dengan berbagai aktivitas pembelajaran yang dilakukannya. Jika orang dewasa harus memberikan pengarahan, pengarahannya harus singkat (semakin banyak kata-kata semakin tidak baik bagi perkembangan anak), sederhana (harus digunakan pilihan kata-kata yang sederhana), dan objektif (dalam memberikan penjelasan, orang dewasa sebaiknya hanya berfokus pada objek yang mau dijelaskan, dan bukan menarik anak pada diri orang dewasa) (Montessori, 2002:107-118). e) Kontekstual Dari keempat ciri alat peraga Montessori yang memang disebutkan oleh Montessori secara eksplisit di atas, akan ditambahkan satu ciri lagi oleh peneliti yaitu kontekstual. Dari sejarahnya Montessori mulai mengembangkan sistem pembelajarannya terutama untuk anak-anak gelandangan yang miskin di Roma dengan alat-alat peraga yang diciptakan dengan material apa adanya di lingkungan sekitar perkampungan kumuh. Itu berarti konteks lingkungan sekitar menjadi sumber yang tidak terbatas untuk pembelajaran. Alat peraga dalam pembuatannya atau bahan-bahan untuk membuat alat peraga menggunakan material yang ada di lingkungan sekitar (Johnson, 2007). Berdasarkan penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa ciri-ciri alat peraga Montessori adalah alat peraga menarik baik dilihat dari tampilan fisik, bergradasi terkait dengan warna dan bentuk, auto-correction mempunyai 13

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengendali kesalahan, auto-education yang menekankan pada kemandirian anak, dan kontekstual sehingga pembuatannya menggunakan benda-benda yang terdapat di lingkungan sekitar. Semua ciri ini merupakan peranan penting untuk pemahaman siswa dalam menggunakan alat peraga Montessori. 2.1.4 Pembelajaran Matematika di Kelas 2.1.4.1 Pengertian Pembelajaran Matematika Pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seorang guru dalam mengarahkan interaksi siswa ke dalam sumber belajar untuk mencapai tujuan tertentu (Triyanto, 2009: 17). Matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya, melainkan juga unsur ruang sebagai sasarannya. Namun penunjukkan kuantitas seperti itu belum memenuhi sasaran matematika yang lain, yaitu yang ditunjukkan kepada hubungan pola, bentuk dan struktur Tinggih (dalam Hudojo dan Herman, 2001). Hal di atas sependapat dengan Hudojo dan Herman (2001: 46), matematika adalah ilmu yang berkenaan dengan gagasan terstruktur yang ditunjukkan melalui hubungan-hubungan yang logis, bersifat abstrak dengan penalaran deduktif berdasarkan landasan kesepakatan-kesepakatan yang membentuk suatu sistem. Jadi pembelajaran matematika adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seorang guru dalam mengarahkan interaksi siswa ke dalam ilmu yang berkenaan dengan gagasan terstruktur yang ditunjukkan melalui hubungan-hubungan yang logis, bersifat abstrak dengan penalaran yang saling berhubungan. 2.1.4.2 Keterampilan Geometri dalam Matematika Geometri adalah cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang (KBBI, 2008: 442). Sehubungan dengan hal tersebut, Walle (2008: 150) menyatakan bahwa keterampilan geometri merupakan kemampuan dalam penggambaran objek dalam pikiran dan hubungan keterkaitan ruang, disebutkan pula bahwa tanpa pengalaman akan geometri seseorang akan mengalami kendala dalam tingkat pemahaman dan logika ruang. Lebih jauh lagi, Walle (2008: 149) menyebutkan bahwa keterampilan geometri merupakan 14

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keterampilan yang berpengaruh terhadap keterampilan yang lainnya. Geometri berhubungan dengan keterampilan berhitung, yaitu menghitung luas bangun. Pembelajaran geometri bukan dimulai dari pemberian definisi-definisi tentang suatu bangun kepada siswa namun lebih pada proses pengidentifikasian suatu bangun (Heruman, 2008: 87). Tujuan mempelajari geometri untuk anak adalah mengembangkan kompetensi anak dalam hal logika keruangan atau pemahaman ruang dan mengembangkan prinsip-prinsip dalam materi suatu bangun (Walle, 2008: 150). Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa keterampilan geometri merupakan keterampilan matematika yang berkaitan dengan pengindentifikasi suatu objek atau bangun. Keterampilan geometri berpengaruh pada keterampilan yang lainnya sehingga harus dikembangkan secara maksimal terhadap konsep-konsep yang harus diberikan kepada siswa. 2.1.4.3 Materi Bangun Datar Kelas V Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang wajib dipelajari oleh siswa Sekolah Dasar. Tujuan matematika adalah membangun kemampuan siswa untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Banyak materi pembelajaran matematika yang dipelajari siswa di kelas V akan tetapi dalam penelitian ini materi dibatasi pada materi Bangun Datar dengan Standar Kompetensi 6. Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun dan Kompetensi Dasar 6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar, bangun datar segitiga (segitiga sama kaki, segitiga sama sisi, segitiga siku-siku, segitiga sembarang), persegi, persegi panjang, trapesium, jajar genjang, lingkaran, belah ketupat dan layang-layang. Sifat-sifat tersebut terdiri dari jumlah sisi, sudut, titik sudut dan bidang diagonal dari suatu bangun datar. Berikut adalah pengertian dan sifat-sifat bangun datar persegi, persegi panjang, segitiga, belah ketupat, layanglayang, jajargenjang, trapesium, lingkaran menurut Zaini dan Siti (2007: 62-67). 1. Persegi Bangun persegi adalah suatu bangun segi empat yang keempat sisinya sama panjang dan keempat sudutnya siki-siku. Sifat-sifatnya meliputi keempat sisinya sama panjang, keempat sudutnya siku-siku, jumlah besar sudutnya 15

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 360°, kedua diagonalnya sama panjang, kedua diagonalnya saling berpotongan tegak lurus dan membagi dua sama panjang, dan kedua diagonalnya membagi sudut menjadi dua sama besar. 2. Persegi Panjang Bangun persegi panjang adalah suatu bangun segi empat yang keempat sudutnya siku-siku. Sifat-sifatnya antara lain memiliki dua pasang sisi yang sama panjang dan sejajar, keempat sudutnya siku-siku, jumlah besar sudutsudutnya 360°, kedua diagonalnya sama panjang, dan kedua diagonalnya saling berpotongan dan membagi dua sama panjang. 3. Segitiga Bangun segitiga adalah bangun yang memiliki tiga sisi. Secara umum sifatsifat dari segitiga adalah memiliki tiga sisi, memiliki tiga sudut, memiliki tiga titik sudut, dan jumlah besar sudutnya adalah 180°. 4. Belah Ketupat Bangun belah ketupat merupakan jajargenjang khusus yakni jajargenjang yang sisi-sisinya sama panjang. Sifat-sifatnya antara lain keempat sisinya sama panjang, sudut-sudut yang berhadapan sama besar, jumlah sudutsudutnya 360°, kedua diagonal saling berpotongan tegak lurus dan membagi dua sama panjang, dan kedua diagonal membagi sudut menjadi dua sama besar. 5. Layang-layang Bangun layang-layang adalah suatu bangun segi empat dengan dua pasang sisi saling berdekatan sama panjang. Sifat-sifatnya antara lain memiliki dua pasang sisi yang sama panjang, memiliki sepasang sudut yang sama besar, jumlah besar sudut-sudutnya 360°, kedua diagonalnya saling berpotongan tegak lurus, dan salah satu diagonal terbagi dua sama panjang oleh diagonal yang lain. 6. Jajargenjang Bangun jajargenjang adalah suatu bangun segi empat dengan sisi-sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar. Sifat-sifatnya antara lain sisi-sisinya yang berhadapan sama panjang dan sejajar, sudut-sudut yang berhadapan 16

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sama besar, jumlah besar sudut-sudutnya 360° dan kedua diagonalnya saling berpotongan dan membagi dua sama panjang. 7. Trapesium Bangun trapesium adalah suatu bangun segi empat yang dua sisinya sejajar. Sifat-sifatnya antara lain memiliki sepasang sisi yang sejajar, jumlah besar sudut-sudutnya 360°. 8. Lingkaran Bangun lingkaran adalah bangun datar yang sisinya selalu berjarak sama dengan titik pusat. Sifat-sifatnya antara lain memiliki titik pusat yang berada di tengah lingkaran, memiliki diameter dan memiliki jari-jari lingkaran atau radius. 2.1.5 Alat Peraga Bangun Datar Montessori Kelas V Alat peraga bangun datar Montessori untuk siswa kelas V Sekolah Dasar adalah satu set papan geometri bidang datar (segitiga yang terdiri dari:segitiga sama kaki, segitiga sama sisi, segitiga sembarang; segiempat yang terdiri dari: persegi, persegi panjang, jajar genjang, trapesium siku-siku, trapesium sama kaki, trapesium sembarang, belah ketupat, layang-layang; segi lingkaran, segilima; segienam; segitujuh; segidelapan; segisembilan dan segisepuluh). Alat ini berbahan dari kayu yang akan dilubangi pada bagian alasnya sebagai tempat untuk meletakkan bidang datar. Setiap bidang datar akan disusun menjadi bidang datar lainnya yang merupakan bidang datar tersebut. Dengan aktivitas mengindetifikasi sifat-sifat bangun datar maka diharapkan siswa dapat mengetahui hubungan antar bangun melalui kartu soal latihan. Alat peraga bangun datar ini merupakan modofikasi alat peraga Montessori Metal Squares pada alat peraga ini, diaman papan 1 yang dibagi menjadi 6 bagian, 3 bagian merupakan spesifikasi bangun persegi, 3 bangun lainnya merupakan spesifikasi bangun segitiga. Papan 2 dikembangan sifat-sifat bangun datar dari bangun belah ketupat dan layang-layang. Papan 3 dikembangan sifat-sifat bangun datar dari bangun jajar genjang dan trapesium. Pada papan 4 dikembangan sifat-sifat bangun datar dari bangun jajar lingkaran, segilima, dan 17

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI segienam dan papan 5 dikembangan sifat-sifat bangun datar dari bangun segitujuh, segidelapan, dan segisembilan. Pada materi pembelajaran di kelas V bangun datar yang digunakan adalah persegi, persegi panjang, segitiga (segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, segitiga siku-siku, segitiga sembarang), persegi panjang, trapesium, layang-layang, jajar genjang dan lingkaran. Dengan alat peraga ini siswa mampu menemukan sifatsifat dari masing-masing bangun datar. 2.1.6 Persepsi 2.1.6.1 Pengertian Persepsi Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam menanggapi berbagai situasi dan gejala yang muncul di sekitarnya. Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu (KBBI, 2008). Jadi tanggapan ini merupakan reaksi spontan yang muncul atas objek yang dipersepsikan. Lebih jauh, Jalaludin (dalam Hadiwijaja, 2011) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan kegiatan penyimpulan dan penafsiran atas berbagai pengalaman, informasi, dan objek yang dihadapi seseorang. Senada dengan hal di atas Leavitt (dalam Desmita, 2009) memisahkan pengertian persepsi dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, persepsi merupakancara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas, persepsi merupakan proses seseorang memandang sesuatu atau mengartikan sesuatu. Persepsi adalah proses masuknya suatu pesan atau informasi ke dalam otak manusia (Slameto, 2010). Proses ini ditunjukkan melalui kegiatan penerimaan rangsangan oleh indera (sensory) seseorang seperti melihat, mencium, meraba, merasakan, dan mendengar (Matlin dalam Suharnan, 2005). Sedangkan Walgito (1999: 45) menjelaskan bahwa proses persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Proses pembentukan persepsi ini melibatkan tiga komponen utama yaitu seleksi, penyusunan, dan penafsiran. Dalam kegiatan seleksi, seseorang menyaring data yang diperoleh melalui alat inderawi sebagai akibat dari rangsangan yang ada. Kegiatan penyaringan data oleh otak ini disesuaikan dengan 18

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI relevansi kebutuhan sesorang pada saat itu. Pada tahap kedua, penyusunan, otak menata dan menyederhanakan data-data yang ada ke dalam sistematika dan organisasi yang lebih bermakna. Pemberian makna atas suatu informasi tersebut adalah kegiatan penafsiran yang pada akhirnya tercermin dalam tingkah laku sebagai respon atas rangsangan yang ada (Desmita, 2009). Selain hal di atas, proses terbentuknya persepsi tidak akan terlepas dari pengalaman penginderaan dan pemikiran. Seperti yang telah dijelaskan oleh Robbins (dalam Muji, 2005) bahwa pengalaman masa lalu akan memberikan dasar pemikiran, pemahaman, pandangan atau tanggapan individu terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya. Myers (dalam Muji, 2005) mengemukakan bahwa persepsi terjadi dalam tiga tahapan yang berkesinambungan dan terpadu satu dan lainnya, yaitu : 1. Pemilihan Pada saat memperhatikan sesuatu berarti individu tidak memperhatikan yang lainnya. Mengapa dan apa yang disaring biasanya berasal dari beberapa faktor eksternal dan internal. Faktor internal terdiri dari enam prinsip: intensitas, ukuran, kontras, pengulangan, gerakan. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mliputi: (a) faktor fisiologis, individu dirangsang oleh apa yang sedang terjadi di luar dirinya melalui pengindraan seperti mata, kulit, lidah, telinga, hidung, tetapi tidak semua individu yang memiliki kekuatan indera yang sama, maka tidak setiap individu mampu mempersepsikan dengan baik, (b) faktor psikologis, meliputi motivasi dan pengalaman belajar masa lalu. Motivasi dan pengalaman belajar masa lalu setiap individu berbeda. Sehingga individu cenderung mempersepsikan apa yang sesuai dengan kebutuhan, motivasi dan minatnya. 2. Pengorganisasian Pengelolaan stimulus atau informasi melibatkan proses kognisi, dimana individu memahami dan memaknai stimulus yang ada. Individu yang memiliki tingkat kognisi yang baik cenderung akan memiliki persepsi yang baik terhadap objek yang dipersepsikan. 3. Interpretasi Pada tahapan interpretasi individu biasanya melihat konteks dari objek atau stimulus. Selain itu, interpretasi juga terjadi apa yang disebut dengan proses 19

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengalami lingkungan, yaitu mengecek persepsi. Apakah orang lain juga melihat sama seperti yang dilihat individu melalui perbandingan. Berdasarkan penjabaran mengenai persepsi peneliti menyimpulkan bahwa persepsi adalah suatu proses kegiatan mengartikan atau menyimpulkan suatu pesan atau informasi yang diperoleh melalui alat inderawinya yang berupa objek, peristiwa, atau pengalaman menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Setelah menginderakan suatu objek selanjutnya diproses ke dalam otak lalu memaknai hasil yang dipersepsinya melalui kata-kata atau tingkah laku. 2.1.6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi adalah faktor internal. Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri individu akan mempengaruhi individu tersebut dalam mengadakan persepsi. Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi dalam proses persepsi yaitu faktor stimulus itu sendiri dan faktor lingkungan dimana persepsi itu berlangsung, dan ini merupakan faktor eksternal. Stimulus dan lingkungan sebagai faktor eksternal individu sebagai faktor internal saling berinteraksi dalam individu dalam mengadakan persepsi (Walgito, 1999: 46). Agar stimulus dapat dipersepsi, maka stimulus harus cukup kuat agar dapat dipersepsi oleh individu. Apabila stimulus kurang kuat maka akan berpengaruh pada ketepatan persepsi. Bila stimulus itu berwujud benda-benda bukan manusia maka ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakan persepsi, karena benda yang dipersepsi tersebut tidak ada usaha untuk mempengaruhi yang mempersepsi. Selain itu menurut Toha (dalam Susanto, 2003: 154) menyatakan faktorfaktor yang mempengaruhi persepsi seseorang meliputi (1) faktor interen, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, ganguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan motivasi dari individu. (2) faktor eksteren, antara lain latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan, dan kebudayaan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, penggulangan gerakan, halhal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek. 20

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mungkin dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap penggunaan alat peraga dalam pembelajaran adalah perasaan, sikap, prasangka keinginan atau harapan, fokus, proses belajar, minat, motivasi pengetahuan informasi yang diperoleh dan ketidak asingan suatu objek. 2.1.6.3 Persepsi Terhadap Penggunaan Alat Peraga Montessori Transfer pengetahuan akan dapat berjalan efektif bilamana memperhatikan faktor-faktor psikologis yang ada pada siswa dan guru, salah satunya meliputi aspek kognitif. Salah satu aktivitas dari aspek kognitif yang paling penting adalah persepsi. Persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Persepsi juga dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan RoskosEwoldsen, 1994). Dalam theory of planned behavior (teori perilaku terencana), Ajzen dan Fishbein (1980) menyatakan bahwa prediktor terbaik untuk reaksi yang akan kita berikan pada situasi tertentu adalah kekuatan intensi kita dalam hubungannya dengan situasi tersebut (Ajzen, 1987). Dalam intensi, terdapat tiga faktor penentu. Faktor yang pertama adalah sikap terhadap perilaku yang dimaksud. Faktor yang kedua berhubungan dengan keyakinan tentang bagaimana evaluasi orang lain terhadap perilakunya (faktor ini dikenal dengan nama norma-norma subjektif). Hal yang terakhir, intensi juga dipengaruhi oleh perceived behavioral control (persepsi tentang kemampuannya untuk mengontrol perilaku) – sejauh mana orang mempersepsi sebuah perilaku sulit atau mudah dilakukan. Jika dianggap sulit, intensinya akan lebih lemah dibanding jika perilaku itu dianggap mudah. Kedua faktor ini mempengaruhi intensitas, dan intensitas merupakan prediktor terkuat untuk perilaku individu. Menurut salah satu teori – yaitu model teori Fazio untuk proses dari-sikapke-perilaku (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994) – proses itu berlangsung sebagaimana berikut. Kejadian tertentu mengaktifkan suatu sikap. Begitu diaktifkan, sikap tersebut mempengaruhi persepsi kita terhadap objek sikap. Pada saat yang sama, pengetahuan kita tentang apa yang sesuai untuk situasi tertentu (pengetahuan kita tentang berbagai norma sosial) juga diaktifkan. 21

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bersama-sama, sikap dan informasi yang tersimpan tentang apa yang cocok atau diharapkan itu kemudian membentuk definisi terhadap kejadian tersebut. Definisi atau persepsi ini kemudian mempengaruhi perilaku kita. Menurut Rahmat (dalam Mukhtar, 2012: 13) menyebutkan persepsi dibagi menjadi dua bentuk yaitu positif dan negatif, apabila objek yang dipersepsi sesuai dengan penghayatan dan dapat diterima secara rasional dan emosional maka manusia akan mempersepsikan positif atau cenderung menyukai dan menanggapi sesuai dengan objek yang dipersepsikan. Apabila tidak sesuai dengan penghayatan maka persepsinya negatif atau cenderung menjauhi, menolak dan menanggapinya secara berlawanan terhadap objek persepsi tersebut. Konsep persepsi menurut Walgito (2003: 116) tersaji pada bagan 2.1 di bawah ini. Keyakinan Proses belajar Pengalaman Pengetahuan Persepsi Objek sikap Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh Evaluasi Kognisi Kepribadian Afeksi Sikap Senang/ tak senang Bertindak Bagan 2.1 Bagan persepsi yang dikutip dari Walgito Bagan di atas menunjukkan bahwa objek sikap akan dipersepsi oleh individu, dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan. Dalam mempersepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, dan hasil proses persepsi ini akan merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap, dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil 22

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan. Bagan mengenai persepsi yang dikutip dari Walgito dimodifikasi menurut alur pemikiran oleh peneliti sehingga menjadi seperti pada bagan 2.2 di bawah ini. Persepsi Kepercayaan Hasil belajar Pengalaman Sikap Pemikiran Perilaku Perasaan Tindakan Bagan 2.2 Bagan persepsi yang sudah dimodifikasi Pada bagan 2.2 menjelaskan alur proses terjadinya persepsi. Pengalaman dapat membentuk persepsi, pengalaman dapat berupa hasil belajar dan pemikiran subjek terhadap objek. Lalu persepsi akan mempengaruhi sikap yang diambil subjek, sikap ini dapat berupa kepercayaan, perilaku dan perasaan. Selanjutnya sikap dapat dibuktikan dengan tindakan. Pada kondisi belajar mengajar, siswa mempunyai persepsi terhadap pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas dan guru juga mempunyai persepsi terhadap keefektifan dari metode yang digunakannya. Pada pembelajaran matematika dilakukan dengan menggunakan alat peraga Montessori yang relatif baru baik bagi siswa maupun bagi guru. Siswa diharapkan secara aktif menggunakan objek yang konkret atau nyata dalam menyelesaikan permasalahan matematikanya. Jika siswa dan guru memiliki persepsi yang positif mengenai alat peraga, maka intensi siswa dan guru dalam memanfaatkan alat peraga tersebut semakin besar. Di sinilah letak persepsi itu mulai berperan dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat pembelajaran yang baru. Berdasarkan penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga Montessori akan terlihat persepsi 23

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI positif dan negatif. Persepsi positif dapat terlihat intensitas penggunaan alat peraga dalam pembelajaran semakin sering terlihat guru dan siswa memanfaatkan alat peraga tersebut dalam pembelajaran, begitu pula dengan persepsi negatif dalam penggunaanya terlihat ketidakantusiasan guru dan siswa dalam menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran. 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan 2.2.1 Alat Peraga Penelitian yang dilakukan oleh Nur (2009) tentang peningkatan prestasi belajar matematika di kelas III SD pada materi pecahan menggunakan alat peraga. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan prestasi belajar matematika khususnya pada materi pecahan dengan alat peraga kertas karton berwarna.Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek dari penelitian adalah siswa kelas III SD N Depok 1.Metode pengumpulan data meliputi observasi dan tes.Penelitian ini terdiri dari dua siklus.Hasil dari penelitian ini adalahmenunjukkan bahwa prestasi belajar matematika kelas III khususnya pada materi pecahan dalam tema pekerjaan dimana setelah diberikan tindakan berupa pembelajaran menggunakan alat peraga kertas karton berwarna mengalami peningkatan dan dinyatakan berhasil mencapai indikator keberhasilandalam dua siklus pembelajaran. Nilai rata-rata siswa sebelum dilakukan tindakan hanya sebesar 52,6 dengan tingkat ketuntasan hanya 38% naik menjadi 66,4 dengan ketuntasan belajar sebesar 65% pada siklus I, selanjutnya pada siklus II nilai ratarata kembali naik menjadi 74,9 dengan ketuntasan sebesar 79%. Sedangkan untuk penilaian aktifitas siswa selama siklus I dan siklus II terus mengalami peningkatan untuk aspek positif dan penurunan pada aspek negatif dimana kedua aspek tersebut dapat mencapai kategori sangat baik. Penelitian yang dilakukan oleh Chatarina (2011) tentang pengaruh alat peraga terhadap antusiasme, minat dan kemampuan siswa SD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh alat peraga terhadap antusiasme, minat belajar, dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pembagian. Jenis penelitian ini adalah penelitian kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas 3 SD Kanisius Duwet. Teknik 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, dan wawancara. Instrumen yang digunakan adalah lembar kerja, lembar soal, lembar pengamatan, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh alat peraga terhadap antusiasme siswa dalam menyelesaikan soal cerita pembagian sebesar 55,56% untuk kelompok A dan 66,67% untuk kelompok B. Berdasarkan hasil wawancara, antusiasme siswa sebesar 88,89% untuk kelompok A dan 100% untuk kelompok B. Ada pengaruh alat peraga terhadap minat belajar; minat terhadap kegiatan pembelajaran sebesar 77,78%, siswa yang merasa senang dan santai untuk kelompok A sebesar 77,78% dan kelompok B sebesar 66,67%, siswa yang berkonsentrasi dalam mengerjakan soal untuk kelompok A sebesar 33,33% dan kelompok B sebesar 77,78%. Berdasar hasil wawancara minat siswa terhadap matematika untuk kelompok A sebesar 66,67 dan kelompok B sebesar 77,78%. Selain itu ada pengaruh alat peraga terhadap kemampuan siswa, kelompok B menunjukkan peningkatan yang lebih baik daripada kelompok A. Penelitian yang dilakukan oleh Mukti (2013) mengenai pengembangan alat peraga Montessori geometri. Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk pembelajaran matematika khusunya bidang geometri. Pengembangan alat yang sudah dibuat berupa rak papan pasir bangun datar, bangun datarnya meliputi persegi, persegi panjang, segitiga. Hasil menunjukkan bahwa penilaian terhadap alat peraga dari guru dan siswa menunjukkan bahwa alat peraga yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik untuk digunakan dalam pembelajaran matematika untuk keterampilan geometri pada kelas III. 2.2.2 Metode Montessori Penelitian juga dilakukan oleh Manner (2006) meneliti hubungan antara pendidikan berbasis Montessori terhadap sekolah tradisional. Pengujian ditunjukkan dengan pencapaian skor tes Stanford dalam aspek membaca dan matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan yang signifikan muncul pada tahun kedua dan ketiga yang menunjukkan bahwa program Montessori memberikan hasil yang unggul untuk aspek membaca dan menulis. 25

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian yang dilakukan oleh Frick dan Koh (2010) yang meneliti penerapan kemandirian dan dampaknya terhadap motivasi intrinsik siswa dalam bekerja di kelas Montessori. Penelitian ini dilakukan terhadap guru Montessori dan asistennya serta 28 siswa Montessori umur 9-11 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan guru dan asistennya memiliki strategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam mendukung kemandirian siswa melalui pemberian kesempatan pada siswa untuk memilih sendiri jenis aktivitas yang akan dilakukannya dan teman bekerjanya. Guru mengembangkan kemandirian berpikir siswa melalui pemberian dorongan terhadap kebebasan berpikir siswa, inisiatif diri, dan menghormati pendapat siswa. Dalam menerapkan kontrol, guru dan asistennya mengakui dan menghargai perasaan siswa, mendukung rasional untuk tingkah laku yang diharapkan, dan menekan kecaman.Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa Montessori memiliki motivasi instrinsik dalam mengerjakan tugasnya.Siswa Montessori memiliki kecenderungan untuk mengerjakan setiap tugas belajarnya dikarenakan siswa menyadari pentingnya aktivitas tersebut untuk dirinya dan tujuan yang dicapai dari aktivitas tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2007) mengenai kegiatan dan hasil belajar siswa kelas I SD dengan metode Montessori. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan dan hasil belajar siswa kelas 1 dengan menggunakan metode Montessori pada bahasan membaca dan menulis lambang bilangan menggunakan papan seguin. Penelitian ini melibatkan 4 siswa sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar yang berlangsung dengan menggunakan alat peraga Montessori memungkinkan terjadinya interaksi antara guru dan siswa, interaksi antara siswa dan guru, serta interaksi antara siswa dan alat peraga. Selain itu juga dalam pembelajarannya siswa menjadi aktif, dapat menjawab pertanyaan dari guru dan siswa merasakan kenyamanan dalam belajar. 2.2.3 Persepsi Penelitian yang telah dilakukan oleh Nilawati (2010) tentang pengaruh persepsi siswa tentang metode pengajaran, media pengajaran dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan mengenai persepsi siswa tentang metode pembelajaran 26

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan populasi seluruh siswa SMA 1 Ngaglik dengan sampel kelas XI yang berjumlah 113 siswa. Teknik analisis data menggunakan regresi sederhana dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang media pengajaran terhadap prestasi belajar ekonomi. Penelitian yang dilakukan oleh Debi (2012) mengenai persepsi penggunaan alat peraga terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan alat peraga pembelajaran Matematika. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan populasi siswa SMP kelas VIII dengan jumlah 30 siswa dan diambil dengan random sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner dengan model korelasi point biserial. Hasil uji coba instrument media pembelajarandiperoleh harga r = 0,90, komunikasi interpersonal diperoleh harga r = 0,90 sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya persepsi yang positif antara penggunaan alat peraga pembelajaran dengan hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Nandang (2009) melakukan penelitian mengenai hubungan antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan penggunaan alat peraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan penggunaan alat peraga dalam kecakapan psikomotorik siswa. Penelitian ini menggunakan metode survey. Populasi dalam penelitian ini adalah 220 siswa SMK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga secara bersama-sama dengan kecakapan psikomotorik siswa. Kekuatan hubungan tersebut berdasarkan hasil pengujian koefisien korelasi ganda antara antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga secara bersama-sama dengan kecakapan psikomotorik siswa sebesar 0,604. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga secara bersama-sama dengan kecakapan psikomotorik siswa adalah sangat signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan semakin kompeten guru 27

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan semakin tepat dan lengkap alat peraga yang digunakan maka semakin tinggi kecakapan psikomotorik siswa SMK. Dari berbagai hasil penelitian di atas dapat kita ketahui bahwa penelitian mengenai penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap kemampuan, minat dan antusiasme siswa (Chatarina, 2011), alat peraga juga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa (Nur, 2012) dan pengembangan alat peraga juga memiliki kualitas yang sangat baik untuk digunakan dalam pembelajaran matematika (Mukti, 2013). Alat peraga Montessori juga sangat efektif digunakan dalam pembelajaran (Manner, 2006), dalam kelas Montessori siswa memiliki kemandirian dan memiliki motivasi instrinsik dalam kegiatan pembelajarannya (Koh, 2010), metode Montessori dalam pembelajaran juga mampu membangkitkan interaksi siswa dengan lingkungannya, siswa menjadi aktif dan merasa nyaman dalam belajar (Wulandari, 2007). Selain itu juga banyak penelitian mengenai pengaruh persepsi tentang media pembelajaran terhadap prestasi belajar (Nilawati, 2010), adanya persepsi positif antara penggunaan alat peraga pembelajaran dengan hasil belajar siswa (Dedi, 2012) dan hubungan positif antara persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga (Nandang, 2009). Beberapa penelitian di atas menunjukkan bahwa metode Montessori sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran matematika yang kemudian mendorong dalam penelitian pengembangan alat peraga Montessori. Namun demikian, penelitian-penelitian mengenai pengembangan alat peraga Montessori yang disertai dengan evaluasi belum banyak diteliti. Selain itu juga penelitian mengenai persepsi terhadap penggunaan alat peraga banyak menggunakan penelitian kuantitatif sehingga belum tergali secara mendalam mengenai persepsi seseorang dalam menginterpretasi suatu alat peraga. Oleh karena itu, penelitian yang akan dilakukan kali ini adalah mengetahui persepsi subjek terhadap penggunaan alat peraga Montessori dengan metode kualitatif. Berikut ini merupakan skema dari Literature Map dari penelitian terdahulu yang terdapat dalam gambar 2.3. 28

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2.4 Skema Literature Map Penelitian Terdahulu Alat Peraga Matematika Persepsi Metode Montessori Nur (2012) Alat peraga- prestasi belajar Manner (2014) Metode Montessori– efektivitas Nilawati (2010) Persepsi- prestasi belajar Chatarina (2011) Alat peraga- minat Koh (2010) Metode Montessori- motivasi Debi (2012) Persepsi- hasil belajar Mukti (2013) Alat peraga- efektifitas Wulandari (2007) Metode Montessori- interaksi belajar Nandang (2009) Persepsi-alat peraga Yang perlu diteliti Pesepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika Montessori Gambar 2.3 Literature Map penelitian terdahulu 2.3 Kerangka Berpikir Anak Sekolah Dasar berada pada tahap perkembangan anak dengan usia yaitu 6 sampai 12 tahun. Pada tahapan ini anak melakukan proses penalaran melalui logika dan pembenaran serta mengembangkan imajinasi. Kemampuan anak dalam hal pengetahuan, sikap maupun keterampilan sangat tampak dan beragam. Dalam hal pengetahuan anak sudah mampu untuk berfikir logis akan tetapi terpaku pada hal-hal yang konkret, sedangkan dalam hal sikap anak berkembang untuk berfikir imajinatif, pegembangan rasa, moral dan dalam segi keterampilan siswa menunjukkan kekuatan fisik dan aktivitas motorik. Hal itu berkaitan dengan pembelajaran matematika, karena pembelajaran matematika merupakan mata pelajaran wajib yang harus dikuasai oleh siswa. Hal ini sangat penting bagi guru untuk mengetahui karakteristik siswa pada usia ini sehingga mampu memberikan kebutuhan anak pada saat proses belajar mengajar. 29

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru merupakan peranan penting karena harus mengajarkan materi kepada siswa. Dalam penyapaian materi guru perlunya alat peraga untuk menunjang jalannya pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga akan meningkatkan minat siswa serta melatih kemampuan berfikir yang konkret dalam belajar matematika. Materi matematika yang ada di sekolah dibagi menjadi dua bidang yaitu bilangan dan geometri. Bidang geometri terdiri dari bagun ruang dan bangun datar. Dalam materi ini kemampuan untuk menganalisa suatu bangun merupakan hal yang sangat penting. Banyak dalam kegiatan pembelajaran mengenai materi bangun datar siswa hanya diberikan materi selanjutnya menghafalkan materi yang berupa nama bangun serta sifat-sifatnya tanpa menunjukkan secara langsung bagian-bagian dari sifat bangun datar tersebut. Sehingga dengan kemampuan menghafal tidak akan bertahan lama jika dibandingkan dengan kegiatan menganalisa atau menemukan sendiri dengan menunjukkan sifat-sifat mengunakan benda yang konkret. Banyak metode yang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran salah satunya adalah metode Montessori. Metode ini dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952) dengan filosofinya terhadap anak, yaitu “Teach Me to Do It Myself”. Filosofi tersebut mengandung makna bahwa Montessori mempercayai kemampuan seorang anak untuk bekerja dan menemukan cara belajarnya sendiri (Seldin, 2006: 12). Metode ini juga memberikan kesempatan kepada anak untuk bekerja dengan kelompok atau lingkungan sosialnya. Montessori membuat sendiri alat peraganya. Karakteristiknya alat peraganya adalah material pembelajaran siswa yang dirancang secara menarik, bergradasi, memiliki kendali kesalahan, dan memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri tanpa banyak intervensi dari guru (Lillard, 1997: 11). Kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peragaMontessori akan tercipta suatu kegiatan pembelajaran yang efektif. Alat peraga akan membantu guru dalam menyampaikan materi dan siswa dapat membangun pengetahuannya melalui alat peraga tersebut dan akan menemukan konsep-konsep baru melalui kegiatan pembelajaran. Untuk mengetahui pengimplementasian dalam pengembangan alat peraga ini maka dilakukan sebuah 30

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penelitian. Penelitian yang pertama adalah pembuatan alat peraga Montessori bangun datar dan penelitian eksperimen untuk menguji efektivitas produk. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian persepsi terhadap penggunaan alat. Persepsi manusia terhadap sesuatu dapat dibentuk melalui pengalaman yang ia rasakan melalui kegiatan penerimaan rangsang oleh alat indra seperti melihat, mencium, meraba, merasakan, dan mendengar (Matlin dalam Suharnan, 2005). Selain itu persepsi juga dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994). Proses pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori akan memberikan pengalaman bagi guru maupun siswa. Pengalaman menggunakan alat peraga tersebut akan menimbulkan persepsi baik persepsi positif maupun persepsi negatif. Kemunculan persepsi tersebut berkaitan erat dengan sikap. Sikap yang muncul akan berpengaruh terhadap intensi terjadinya perilaku selanjutnya. Jika guru dan siswa memiliki persepsi yang positif mengenai alat peraga, maka intensi siswa dan gurudalam memanfaatkan alat peraga tersebut semakin besar.Begitu pula sebaliknya apabila guru dan siswa memiliki persepsi negatif mengenai alat peraga maka intensitas penggunaan alat peraga dalam memanfaatkan alat peraga semakin berkurang.Di sinilah letak persepsi itu mulai berperan dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat peraga pembelajaran. Berdasarkan hal-hal tersebut, peneliti akan melakukan penelitian mengenai persepsi terhadap penggunaan alat peraga bangun datar berbasis metode Montessori di kelas VB SD N Sokowaten Baru, maka akan diketahui persepsi guru dan siswa dalam penggunaan alat peraga tersebut dalam proses kegiatan pembelajaran. 31

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini diuraikan (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) desain penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) instrumen penelitian, (6) kredibilitas dan transferabilitas, serta (7) teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan paradigma penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian untuk memahami masalah-masalah manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan kompleks yang disajikan dengan kata-kata, melaporkanpan dangan terinci yang diperoleh dari para sumber informasi, serta dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah. Selain itu juga mengemukakan bahwa penelitian kualitatif menekankan pada makna, yaitu bagaimana subjek memandang serta merasakan pengalamannya (Creswell, 2007: 259). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif seperti transkip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan sebagainya (Poerwandari, 1998). Sependapat dengan hal tersebut Sugiyono (2011: 6) juga mengungkapkan bahwa data kualitatif data yang berbentuk kata, kalimat, gerak tubuh, ekspresi wajah, bagan, gambar dan foto. Penelitian jenis ini nantinya akan menghasilkan data deskriptif mengenai persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori dalam pembelajaran. Seperti yang dikatakan Creswell (2007) bahwa penelitian kualitatif menekankan pada makna, bagaimana subjek memandang serta merasakan pengalamannya. Hal tersebut memfasilitasi tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui bagaimana subjek memaknai pengalaman menggunakan alat peraga Montessori dari sudut pandang subjek tersebut. Pendekatan fenomenologi digunakan lantaran relevansi fenomenologi dengan subjek. Fenomenologi melihat bagaimana makna terbentuk secara subjektif. Moustakas dalam (Creswell, 2007: 21) menyebutkan bahwa 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI fenomenologi merupakan pendekatan yang prosedur-prosedurnya mengharuskan peneliti untuk mengkaji sejumlah subjek yang terlibat secara langsung untuk mengembangkan pola-pola dan relasi-relasi makna. Fenomenologi juga berfungsi untuk mengetahui fenomena esensial dari pengalaman hidup partisipam (Sugoyono, 2011: 14). Selain alasan yang telah disebutkan diatas, jenis fenomenologis ini juga dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melihat keadaan subjek dalam konteks alamiah (natural setting) seperti yang disebutkan oleh Nieswiadomy (dalam Creswell, 2007: 21). Peneliti mengesampingkan terlebih dahulu pengalaman-pengalaman pribadinya agar ia dapat memahami pengalaman partisipan yang ia teliti sesuai dengan keadaanya. Dengan demikian, maka peneliti dapat membangun kedekatan dengan subjek dan situasi penelitian sehingga diperoleh pemahaman yang jelas tentang realitas dan kondisi dari subjek penelitian. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah persepsi tentang alat peraga matematika bangun datar berbasis Montessori. 3.2.2 Tempat Penelitian Penelitian ini merupakan rangkaian dari penelitian yang menguji keefektifan dari alat peraga pembelajaran matematika berbasis Montessori. Rangkaian penelitian pertama adalah pengembangan alat peraga diikuti serangkaian penelitian untuk mengetahui efektivitas penggunaan alat peraga pembelajaran berbasis Montessori dengan metode eksperimen dan penelitian evaluatife untuk mengetahui tingkat kepuasan dan persepsi baik siswa maupun guru dalam menggunakan media tersebut. Penelitian ini, penelitian yang dilakukan adalah penelitian untuk mengetahui persepsi siswa dan guru dalam menggunakan media berbasis Montessori dengan paradigma kualitatif. Penelitian ini dilakukan di sebuah sekolah yang digunakan untuk penelitian eksperimen. Sekolah ini terdapat tiga kelas paralel untuk setiap tingkatannya yaitu kelas A, B, dan C, satu kelas terdiri dari 30 siswa sehingga 33

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terdapat 540 siswa. Sekolah Dasar ini adalah SD N Sokowaten Baru dengan alamat di Jalan Arimbi No. 27 Sokowaten, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pemilihan sekolah didasarkan karena sekolah ini yang mempunyai kelas paralel, selain itu juga banyak guru yang jarang menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran, apalagi alat peraga berbasis Montessori. Sekolah ini juga digunakan oleh peneliti ekperimen dan survai serta peneliti sendiri dalam melakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas produk alat peraga matematika berbasis Montessori, selain itu juga Sekolah Dasar ini digunakan sebagai tempat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). 3.2.3 Narasumber Penelitian Narasumber dalam penelitian ini diambil dari siswa yang mengikuti penelitian eksperimen. Pemilihan narasumber dilakukan berdasarkan karakteristik narasumber yang memiliki nilai akademik yang tinggi, sedang dan rendah pada pelajaran matematika, mampu bekerja sama dengan peneliti, berkomunikasi secara lancar, dan mendapatkan perizinan dari orang tua. Dalam menentukan narasumber ini peneliti berdiskusi dengan guru kelas membicarakan karakteristik yang narasumber yang telah disebutkan di atas selanjutnya guru menentukan ketiga narasumber yang akan diteliti sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Subjek dalam penelitian ini adalah guru matematika kelas V dan 3 siswa kelas VB di SD N Sokowaten Baru. Narasumber G merupakan guru bidang studi matematika di kelas V. Selain menjadi guru matematika guru ini juga sebagai wali kelas VA. Dalam tugasnya sebagai guru kelas, selain menjadi guru matematika secara paralel guru ini juga mengajar bidang studi lainnya yang meliputi ilmu pengetahuan sosial, Bahasa Jawa, SBK dan batik. Guru ini berumur 27 tahun dan sudah mengajar di SD N Sokowaten sekitar 3 tahun 5 bulan sebagai guru honorer. Guru ini lulusan sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta dan menyelesaikan sarjana pendidikan matematika pada tahun 2009. Narasumber A merupakan siswa kelas VB. Siswa ini berjenis kelamin perempuan. Narasumber A bisa kita sebut dengan SA. SA merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. SA beralamat di Plumbon Rt.05/09 Sokowaten, Banguntapan, Bantul. SA kelahiran 2 Juli 2003 sehingga usia SA saat ini adalah 34

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 tahun. Nilai akademis SA sangat bagus, terbukti bahwa SA ini selalu menjadi juara kelas. Pada semester pertama SA mendapat peringkat pertama di kelasnya. Postur tubuhnya kecil dengan kulit berwarna sawo matang. SA sangat aktif lincah dan periang. Selain itu juga gemar olah raga dan hobinya adalah bermain bulu tangkis. SA pandai berkomunikasi dengan siapa saja. Di dalam kelasnya SA menjadi ketua kelas sehingga sangat disegani oleh teman-temannya. Siswa ini duduk di bangku nomor dua dari belakang. Pada saat pembelajaran matematika SA aktif dalam menjawab pertanyaan dari guru, siswa ini selalu ditunjuk oleh guru untuk mengerjakan soal selain itu juga disiplin dalam mengumpulkan tugas. Narasumber B adalah siswa kelas VB. Siswa ini berjenis kelamin perempuan. Narasumber B ini kita sebut SB. SB merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. SB beralamat di Plumbon Rt.01/ Rw.15 Banguntapan, Bantul. SB kelahiran di Bantul, 19 Maret 2004, sehingga usianya sekarang adalah 10 tahun. SB memiliki nilai akademis diatas KKM terlihat pada hasil nilai rapor siswa ini di semester pertama. Menurut wali kelas V siswa ini pada semester awal memiliki rangking 11. Walaupun umurnya berbeda satu tahun dengan temannya akan tetapi anak ini memiliki postur tubuh yang besar dengan tinggi 150 cm. SB gemar membaca. Berkali-kali pemeliti menjumpai siswa ini sedang membaca buku cerita di perpustakaan. Di dalam kelasnya siswa ini sebangku dengan Narasumber C. Mereka duduk di bangku paling belakang deretan depan meja guru. Pada saat pembelajaran matematika SB cenderung pendiam dan selalu memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi akan tetapi SB memiliki respon yang cepat pada saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. SB juga selalu ditunjuk oleh guru untuk mengerjakan soal di papan tulis. Tulisannya rapi dan siswa ini tekun serta selalu menyelesaikan tugas dari gurunya. Narasumber C merupakan siswa kelas VB. Siswa berjenis kelamin perempuan. Narasumber C kita sebut sebagai SC. SC merupakan anak sulung dari dua bersaudara. SC beralamat di Jalan Wonosari km. 10 Sitimulyo, Piyungan, Bantul. SC kelahiran 23 Mei 2003, sehingga sekarang berumur 11 tahun. Nilai akademisnya di bawah rata-rata KKM terlihat dari hasil nilai rapor di semester pertama dan memperoleh rangking 20 di kelasnya. SC memiliki postur tubuh yang sama dengan SB dengan kulit sawo matang. SC ini suka berolah raga, terbukti 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada saat pelajaran olah raga siswa ini sangat aktif dalam melakukan setiap kegiatannya. Siswa ini mudah bergaul dan banyak berbicara. Pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran matematika siswa ini sering kali teralihkan konsentrasinya dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. SC juga sibuk sendiri dengan alat tulisnya. Pada saat mengerjakan soal yang diberikan oleh guru SC lambat dalam mengerjakannya selain itu juga sering bertanya kepada SB. 3.3 Desain Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Berikut adalah desain penelitian menurut Patton (dalam McMillan, 2001: 400). Studi awal Analisis Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Tahap perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Temuan Simpulan hasil peneltian, rekomendasi, dalil-dalil MODEL HIPOTETIK PERSONALISASI NILAI BELA GHAM Pengecekan keabsahan data Gambar 3.1 Prosedur penelitian Desain mengenai penelitian di atas telah dimodifikasi menurut prosedur yang telah dilakukan oleh peneliti sehingga menjadi seperti di bawah ini : Observasi Tahap perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Analisis Pelaksanaan (observasi dan wawancara) Temuan Pengecekan keabsahan data Gambar 3.2 Prosedur penelitian yang sudah dimodifikasi. 36

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan bagan prosedur penelitian yang sudah dimodifikasi, peneliti menjabarkan langkah-langkah dalam desain penelitian ini sebagai berikut. 1. Observasi Pada tahap observasi peneliti melakukan observasi awal di kelas VB, yaitu observasi kondisi sosio-cultural untuk mengetahui kondisi situasi sosial yaitu untuk mengetahui kondisi lingkungan dan observasi pembelajaran matematika yang dilakukan selama dua kali untuk melihat proses pembelajaran, meliputi metode, media, pendekatan, peran dan penguasaan guru terhadap proses kegiatan pembelajaran. Sedangkan observasi siswa meliputi sikap, interaksi, minat dan perhatian siswa pada saat mengikuti pembelajaran. 2. Tahap perencanaan Pada tahapan ini peneliti melakukan rencana yang akan dilakukan selama penelitian, yaitu membuat instrumen penelitian yang berupa lembar pedoman observasi untuk guru dan siswa dan lembar pedoman wawancara untuk guru dan siswa. Selanjutnya menyusun jadwal perencanaan. Berikut tabel perencanaan jadwal observasi dan wawancara. Tabel 3.1 Perencanaan Kegiatan Observasi No Kegiatan 1. Observasi kondisi sosiocultural 2. Observasi proses pembelajaran I dan II Observasi ketika pelaksanaan penelitian untuk pertemuan I sampai IV 3. Tujuan Jenis observasi Anecdotal record Subjek Objek Untuk mengetahui kondisi atau keadaan kelas Guru Siswa Ruang kelas VB Untuk mengetahui proses pembelajaran yang terjadi di kelas Untuk mengetahui respon guru dan siswa terhadap pengaplikasian alat peraga Montessori Guru Siswa - Anecdotal record Guru Siswa - Anecdotal record Instrumen Pelakasanaan Panduan observasi sosiocultural (lihat Lampiran 3.1, halaman 83) Panduan observasi proses pembelajaran (lihat Lampiran 3.2, halaman 84) Panduan observasi guru (lihat Lampiran 3.3, halaman 85) Tempat: Waktu: Tanggal: Tempat: Waktu: Tanggal: Tempat: Waktu: Tanggal: Panduan observasi siswa (lihat Lampiran 3.4, halaman 86) 37

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.2 Perencanaan Kegiatan Wawancara No Kegiatan Tujuan 1. Wawancara pra penelitian Untuk mengetahui kondisi awal sebelum penelitian 2. Wawancara pasca penelitian Untuk mengetahui kondisi akhir setelah penelitian Subjek Guru Bentuk wawancara Semi terstruktur Instrumen Pelakasanaan Panduan wawancara prapenelitian (lihat Lampiran 3.5, halaman 88) Tempat: Waktu: Tanggal: Siswa A, B, C Semi terstruktur Panduan wawancara prapenelitian (lihat Lampiran 3.6, halaman 90) Tempat: Waktu: Tanggal: Guru Semi terstruktur Panduan wawancara pasca-penelitian (lihat Lampiran 3.7, halaman 91) Tempat: Waktu: Tanggal: Siswa A, B, C Semi terstruktur Panduan wawancara pasca-penelitian (lihat Lampiran 3.8, halaman 95) Tempat: Waktu: Tanggal: 3. Mempertajam fokus dan perumusan masalah Pada tahapan ini peneliti mempertajam fokus penelitian berdasarkan temuan dari observasi sosio-cultural dan observasi pembelajaran matematika. Pada temuan ini proses pembelajaran di kelas masih bersifat umum dan menyeluruh, maka dari itu diperlukan fokus penelitian. Batasan masalah pada penelitian kualitatif disebut dengan fokus penelitian (Sugiyono, 2001: 287). Maka dari itu fokus penelitian ini adalah penggunaan alat peraga pada saat pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian kualitatif rumusan masalah merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk ke lapangan atau situasi tertentu, akan tetapi rumusan masalah kualitatif harus dibuat dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitanya dengan aspek-aspek yang lain (Sugiyono, 2001: 291). 4. Pelaksanaan (observasi, wawancara dan dokumentasi) Pada tahap ini proses pelaksanaan meliputi proses pengambilan data yaitu melakukan wawancara dan observasi. Wawancara di lakukan dengan keempat subjek yaitu guru bidang studi matematika kelas V dan ketiga siswa kelas VB yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan alat 38

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peraga berbasis Montessori. Wawancara dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah melakukan penelitian. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secera lebih terbuka, dimana fihak yang diwawancara diminta pendapat dan ide-idenya (Sugiyono, 2001: 318). Observasi yang dilakukan yaitu pada saat pembelajaran matematika menggunakan alat peraga Montessori. Dalam melakukan wawancara dan observasi peneliti menggunakan pedoman wawancara dan observasi yang telah dibuat. Pedoman ini digunakan agar dalam melakukan pengambilan data tidak melebar dari fokus penelitian. Selama melakukan pengambilan data peneliti mencatat hasil yang diperoleh. 5. Analisis data Analisis data lebih difokuskan selama proses dilapangan bersamaan dengan pengumpulan data (Sugiyono, 2001: 333). Tahapan pada penelitian ini adalah peneliti melakukan pengumpulan data, mereduksi data, mencari hubungan dan menarik kesimpulan. Tahap pengumpulan data peneliti mengumpulkan hasil wawancara dan observasi. Tahap berikutnya adalah mereduksi data yaitu mengubah segala bentuk data menjadi bentuk tulisan (script) apapun formatnya (Haris, 2010: 174). Peneliti melakukan transkrip verbatim dari hasil wawancara dan observasi ke dalam tabel-tabel serta memisahkan antar subjek. Setelah itu mencari hubungan, pada proses ini peneliti menerapkan coding untuk mendeskripsikan setting, subjek, dan tema yang akan dianalisis. Peneliti membuat kode-kode untuk mendeskripsikan semua informasi yang dikumpulkan. Proses terakhir adalah kesimpulan, peneliti menarik kesimpulan atas hasil yang diperoleh. 6. Pengecekan keabsahan data Dalam melakukan pengecekan keabsahan data peneliti melakukan upaya untuk mencapai kredibilitas dan transferabilitas penelitian. Menurut Sugiyono (2001: 361) penggunaan istilah kredibilitas untuk menganti konsep validitas dan istilah transferabilitas menganti konsep reliabilitas. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif adalah upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu 39

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (Creswell, 2007: 285). Sedangkan transferabilitas menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian kepopulasi di mana sampel tersebut di ambil. 7. Temuan Tujuan utama pada penelitian kualitatif adalah temuan (Sugiyono, 2001: 336). Temuan pada penelitian ini dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. 3.4.1 Observasi Teknik pengumpulan yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah observasi. Observasi berarti memperhatikan dan mengikuti dalam arti mengamati dengan teliti dan sistematis sasaran yang dituju Banister (dalam Haris, 2010: 131). Selain itu observasi merupakan suatu proses melihat, mengamati, dan mencermati serta “merekam” perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu Catwraight (dalam Haris, 2010: 131). Inti dari observasi adalah perilaku yang tampak berupa perilaku yang dapat dilihat secara langsung menggunakan mata dapat didengar serta dapat diukur guna mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari observasi adalah untuk mendiskripsikan lingkungan (state) yang diamati, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, individu-individu yang terlibat dalam lingkungan tersebut beserta aktivitas perilaku yang bermunculan, serta makna kejadian berdasarkan perspektif individu yang terlibat tersebut (Haris, 2010: 132). Metode yang digunakan peneliti dalam melakukan observasi adalah dengan menggunakan anecdotal record. Anecdotal record adalah deskripsi atau catatan rekaman tentang episode-episode atau peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam situasi natural alias wajar atau natural (Supratiknya, 2012). Metode anecdotal record memiliki kelebihan antara lain pemahaman yang lebih tepat dan akurat dari tingkah laku unik dan spesifik lebih mudah didapatkan. Latar belakang munculnya perilaku unik, khas, spesifik dapat dengan mudah diperoleh 40

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan di jelaskan. Dengan diperolehnya latar belakang munculnya perilaku unik dan khas tersebut akan mudah bagi peneliti dalam menarik tema-tema atau kesimpulan umum dari perilaku yang muncul (Haris, 2010: 134). Pada penulisan anecdotal record penulis menggunakan anecdotal record tematik, sehingga ada beberapa pedoman yang digunakan untuk mecatat hal-hal yang penting sesuai dengan tema. Dalam metode anecdotal record, observer mencatat dengan teliti dan merekam perilaku-perilaku yang dianggap penting dan bermakna yang sesuai dengan tema. Catatan anekdot yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut Mehrens dan Lehman (dalam Supratiknya, 2010: 47): a. Berupa deskripsi singkat peristiwa faktual. b. Catatan tidak boleh mengandung inferensi atau kesimpulan, pendapat, atau penilaian dari pengamat. c. Catatan berisi rekaman tentang critical incident atau kejadian penting terkait si murid. Penentuan nilai penting atau kurang pentingnya suatu peristiwa ditentukan oleh tujuan pengamatan. d. Sesudah memperoleh data yang cukup memadai, pengamat boleh membuat kesimpulan tentang adanya pola perilaku subjek yang menjadi sasaran pengamatan. Kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti sebanyak dua kali yaitu observasi pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga Montessori dan observasi pada saat penggunaan alat peraga Montessori. Observasi pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga Montessori terdiri dari observasi tentang kondisi sosio-cultural kelas, observasi ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sosial dan berfokus pada ketersediaan alat peraga matematika di dalam kelas VB dan observasi kegiatan pembelajaran selama dua kali di kelas bertujuan untuk mengetahui keadaan awal kelas sebelum menggunakan alat peraga Montessori dengan berfokus pada proses pembelajaran yang berlangsung baik dari cara penyampaian materi guru, metode, media pembelajaran yang digunakan dan sikap siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Sedangkan untuk observasi pembelajaran menggunakan alat peraga Montessoridilakukan selama empat kali pertemuan, observasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku guru dan siswa 41

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI selama pembelajaran matematika di kelas dengan menggunakan alat peraga Montessori. Pada observasi pembelajaran dengan menggunakan alat peraga Montessori, pertemuan pertama membahas mengenai cara penggunaan alat peraga montessori serta pembelajaran mengenai sifat-sifat bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga. Pada pertemuan kedua membahas mengenai pembelajaran tentang sifat-sifat bangun datar belah ketupat dan layang-layang. Pada pertemuan ketiga membahas mengenai pembelajaran tentang sifat-sifat bangun datar jajargenjang dan trapesium dan pada pertemuan keempat membahas mengenai sifat-sifat bangun datar lingkaran. 3.4.2 Wawancara Wawancara adalah usaha untuk mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan yang dilakukan antara pencari informasi dengan sumber informasi. Wawancara dilakukan untuk mengetahui pemahaman informan mengenai sesuatu hal baik itu pengalaman, perasaan, dan pemikiran individu (Poerwandari, 1998: 146). Wawancara diartikan sebagai diskusi antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu Khan dan Chanell (dalam Samija, 2012: 45). Wawancara yang dilakukan dengan lebih dari satu partisipan disebut foccus group. Dengan wawancara peneliti dapat memeperoleh banyak data yang berguna bagi penelitiannya Leddy (dalam Samija, 2012: 44). Peneliti menggunakan bentuk wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur adalah untuk menemukan permasalahan secara terbuka di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya (Sugiyono, 2011: 318). Menurut Haris (2010: 123) ciri-ciri wawancara semi terstruktur adalah: 1. Pertanyaan terbuka, namun ada batasan tema dan alur pembicaraan. Pertanyaan yang digunakan dalam wawancara adalah pertanyaan terbuka sehingga subjek lebih bebas mengemukakan jawaban apapun sepanjang tidak keluar dari konteks pembicaraan. Walaupun subjek diberi kebebasan dalam memberikan jawaban namun tetap dibatasi oleh tema dan alur pembicaraan agar pembicaraan tidak melebar ke arah yang tidak diperlukan. 42

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Kecepatan wawancara dapat diprediksi Pengaturan waktu dan kecepatan wawancara dalam mengatur alur dan tema pembicaraan harus diperhatikan agar tidak melebar dari konteks pembicaraan. 3. Fleksibel, tetapi terkontrol (dalam hal pertanyaan atau jawaban) Pertanyaan dan jawaban bersifat fleksibel tergantung situasi-kondisi serta alur pembicaraan akan tetapi masih ada kontrol dari peneliti yaitu tema wawancara. 4. Ada pedoman wawancara yang dijadikan patokan dalam alur, urutan, dan penggunaan kata Isi yang tertulis pada pedoman wawancara hanya berupa topik-topik pembicaraan yang mengacu pada tema yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan tujuan wawancara. 5. Tujuan wawancara untuk memahami suatu fenomena. Pada penelitian ini, wawacara dilakukan sebanyak dua kali, yaitu wawancara sebelum menggunakan alat peraga Montessori dan wawancara sesudah menggunakan alat peraga Montessori. Wawancara ini dilakukan oleh guru bidang studi matemtika kelas V dan ketiga siswa kelas VB. Maka dari itu peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Langkah yang pertama yaitu menemui guru bidang studi matematika kelas V untuk meminta izin untuk melakukan wawancara dan bertanya kepada guru mengenai ketiga siswa yang akan menjadi subjek penelitian. Kriteria siswa yang menjadi subjek penelitian berdasarkan nilai matematika, kemampuan matematika (tinggi, sedang, rendah) dan juga siswa yang mudah berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik. b. Langkah yang kedua adalah menyiapkan topik dan membuat daftar pertanyaan. Selain itu juga membuat pedoman wawancara agar topik yang dibahas tidak terlalu melebar dari topik yang akan dibahas. c. Mengatur jadwal untuk melakukan wawancara dengan keempat subjek. d. Setelah itu melakukan wawancara dengan keempat subjek. 43

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.3 Dokumentasi Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang selalu berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oleh dokumentasi (Sugiyono, 2011: 326). Jenis data dokumentasi adalah materi audio dan visual, data ini bisa berupa foto-foto, objek-objek, seni, video tape, atau segala jenis suara atau bunyi (Creswell, 2007: 270). Pada penelitian ini peneliti mengumpulkan dokumentasi pada setiap kegiatannya. Peneliti melakukan perekaman video pada setiap kegiatan pembelajaran dan merekam hasil wawancara menggunakan handphone. Selain itu peneliti juga mengambil foto-foto pada saat kegiatan wawancara dan observasi pembelajaran ketika menggunakan alat peraga Montessori. 3.5 Instrumen Penelitian Penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri (Sugiyono, 2011: 305). Peneliti adalah satu-satunya alat bagaimana data yang terkumpul tersebut diinterpretasikan (Glesne 2006; Patton, 2002). Dalam penelitian ini instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu yang berupa pedoman wawancara dan observasi. Wawancara digunakan untuk mengetahui pendapat guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori, sedangkan observasi digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik selama guru dan siswa menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori. Selain itu dengan observasi memungkinkan peneliti memperoleh data yang lebih lengkap atau beberapa hal-hal yang belum diungkapkan oleh subjek penelitian dalam wawancara. Ketika melakukan observasi peneliti menggunakan alat bantu untuk merekam kejadian yang berlangsung selama pembelajaran. Peneliti menggunakan leptop kecil (notebook) untuk merekam ketiga subjek siswa di dalam kelomponya dan menggunakan handycam untuk merekam guru dan aktivitas yang terjadi di 44

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kelas. Sedangkan dalam melakukan wawancara peneliti menggunakan alat bantu yang berupa buku catatan, yang digunakan untuk mencatat hal-hal penting dari hasil wawancara, tape recorder untuk merekam semua percakapan dan pembicaraan pada saat kegiatan wawancara dan camera untuk memotret kegiatan wawancara. Selain hal di atas karena peneliti sebagai instrumen perlu divalidasi sebarapa jauh kesiapan dalam melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan (Sugiyono, 2011: 305). Proses validasi ini dilakukan melalui evaluasi diri sejauh mana pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang akan diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan. Untuk itu peneliti akan melakukan evaluasi diri serta memaparkan pengalaman agar mempertajam kredibilitas peneliti. Peneliti memiliki bekal pengalaman dalam melakukan penelitian ini, peneliti kerap sekali berkecimpung di lingkungan Sekolah Dasar sehingga sangat familiar dengan lingkungan sekolah dan juga mengenal anak usia Sekolah Dasar. Peneliti pernah menjadi pembina pramuka untuk siswa kelas 3 hingga kelas 5 di SD N Catur tunggal yang dilakukan satu kali dalam seminggu pada satu semseter genap tahun 2010/ 2011, melakukan bimbingan belajar untuk siswa kelas 6 di SD N Kembang Jitengan selama seminggu sekali selama satu semseter ganjil tahun 2011/ 2012, melakukan bimbingan belajar untuk siswa kelas 2 di SD N Puren yang dilaksanakan selama seminggu sekali selama satu semseter genap tahun ajaran 2011/ 2012. Selain familiar dengan siswa peneliti juga berhubungan langsung dengan warga sekolah antara lain dengan kepala sekolah, guru beserta staf-stafnya. Peneliti melakukan program pengakraban lingkungan (Probaling) I yaitu untuk mengetahui tugas pokok seorang guru dalam merancang dan melakukan pembelajaran, mengkaji administrasi kelas serta mengamati guru dalam pembelajaran guna memperoleh pengalaman dalam mengajar. Kegiatan ini dilakukan di SD N Tegalrejo 2 yogyakarta yang dilakukan selama seminggu sekali selama satu semseter pada tahun ajaran 2012/ 2013. Selain itu juga program pengakraban lingkungan (Probaling) II di SD N Nyamplung tahun pelajaran 2012/ 2013 untuk membantu tugas kepala sekolah serta mengetahui tugas dan 45

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wewenang kepala sekolah dalam mengatur dan memanagemen sekolah. Selain itu juga peneliti melakukan kegiatan praktek pengalaman lapangan (PPL) yang dilakukan di SD N Sokowaten baru yang kegiatan ini berlangsung selama empat bulan dan dilakukan setiap hari, tujuan dari PPL ini adalah untuk memberikan pengalaman menjadi seorang guru yang profesional. Untuk mengetahui teori dan bidang yang akan diteliti, peneliti telah mengikuti mata kuliah Landasan Penelitian Sekolah Dasar (LPSD) dan metodologi penelitian selain itu juga mengikuti seminar Montessori selama dua kali. Seminar yang pertama yang membahas pembelajaran menggunakan metode Montessori tentang model pembelajaran anak usia 3 - 6 tahun dengan fokus partical life, sensorial dan mathematics yang dilakukan pada tanggal 11 Juli - 5 Agustus 2011 dan seminar yang kedua mengenai pembelajaran Montessori pada anak usia 9 - 12 tahun dengan fokus mathematic yang dilakukan pada tanggal 11 Juli - 25 Juli 2012. Selain itu peneliti juga membaca literature tentang penelitian kualitatif baik skripsi maupun jurnal penelitian. Selain itu juga study mandiri membaca beberapa buku, jurnal dan literature mengenai persepsi. Pada upaya pengumpulan data yaitu wawancara dan observasi, peneliti melakukan beberapa latihan yaitu dengan mengamati siswa pada saat kegiatan pembelajaran maupun pada saat istirahat, serta mendekati dan melakukan percakapan dengan siswa untuk mengasah kemampuan bertanya. Selain itu juga berlatih menganalisis video yang dilakukan pada saat kegiatan pertemuan payung, menganalisis serta membahas bersama video tersebut dengan rekan payung. Peneliti juga melakukan percobaan simulasi observasi dan wawancara dengan siswa Sekolah Dasar sesuai dengan anak kelas V pada saat mengisi kekosongan kegiatan PPL. 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas 3.6.1 Kredibilitas Kredibilitas menjadi istilah yang paling banyak dipilih untuk mengganti konsep validitas, dimaksudkan untuk merangkum bahasan serta mencakup kualitas penelitian kualitatif Poerwandari (1998: 207). Kredibilitas juga berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai (Sugiyono, 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2011: 361). Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, diantaranya melalui triangulasi sumber data yaitu digunakannya variasi sumber data, triangulasi metode pengumpulan data, atau triangulasi peneliti (Creswell, 2007: 286). Pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber data dan peneliti. Triangulasi sumber data dilakukan dengan cara membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengamatan video dan hasil dokumentasi. Triangulasi peneliti dilakukan dengan cara memanfaatkan pengamat lain yaitu sesama mahasiswa yang menggunakan metode penelitian sama dan meneliti tema sejenis melalui diskusi serta melibatkan mereka dalam proses analisis data. 3.6.2 Transferabilitas Uji transferabilitas penelitian kualitatif merupakan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut diambil. Selain itu nilai transferabilitas bergantung pada pemakai hingga manakala hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam konteks dan situasi sosial lain (Sugiyono, 2011: 373). Hasil penelitian yang diperoleh dapat ditransfer atau diaplikasikan pada kelompok lain. Namun, penelitian yang akan ditransferkan pada kelompok lain harus relevan atau memiliki banyak kesamaan dengan setting di mana penelitian dilakukan. Kemungkinan hasil yang akan didapatkan apabila ditransferkan pada kelompok lain yang memiliki banyak kesaman akan diperoleh hasil yang tidak akan sama persis dengan hasil penelitian yang telah dilakukan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan persepsi setiap individu. 3.7 Teknik Analisis Data Analisis data kualitatif menurut Susan (dalam Sugiyono, 2011: 332) adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Ada tiga tahap dalam analisis data kualitatif menurut Poerwandari (dalam Supratiknya, 2010: 113-119) yaitu: 47

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Tahap pengodean Inti dari kegiatan tahap ini adalah membubuhkan kode pada materi atau data mentah yang diperoleh Poerwandari (dalam Supratiknya, 2010). Tahap pengodean terdiri dari tiga tahap. Pertama, transkrip verbatim atau kata demi kata dari hasil wawancara atau observasi diketik dalam format yang terdiri dari tiga kolom. Kedua, menomori masing-masing baris transkrip data mentah secara urut dan kontinyu dari atas ke bawah. Ketiga, keseluruhan transkrip sebagai satuan berkas data mentah perlu diberi identitas secara jelas. Pengodean dalam penelitian ini, awalnya peneliti mentranskrip verbatim hasil wawancara dan observasi di lanjutkan dengan penomoran transkrip verbatim secara urut. Untuk melakukan transkrip verbatim peneliti membuat tiga kolom, kolom pertama berisi baris, kolom kedua berisi hasil transkrip verbatim, dan kolom ketiga berisi kode dan komentar. Tahap pengodean setelah penomoran adalah memberikan identitas yang meliputi judul tabel, tanggal dan waktu pelaksanaan, lokasi, kode serta keterangan. 2. Analisis Tematik Tahap ini melakukan open coding atau pengodean terbuka yaitu menemukan kata kunci atau tema dalam data mentah berupa transkrip narasi hasil wawancara dan observasi Poerwandari (dalam Supratiknya, 2012: 115). Upaya menemukan kata kunci atau tema dapat dilakukan secara deduktif dan induktif. Pencarian tema secara deduktif yaitu peneliti sudah memiliki kata kunci atau tema yang akan dicarinya dalam narasi berpegang pada teori yang sudah disiapkan sebelumnya. Pencarian tema secara induktif yaitu peneliti belum memiliki kata kunci atau tema apapun dalam benaknya saat membaca transkrip data mentah. Pada analisis tematik, peneliti menemukan kata kunci atau tema yang dilakukan secara deduktif karena kategori-kategori telah ditentukan sebelum pengodean. Kategori yang telah ditemukan akan menjadi hasil penelitian. Kategori-kategori tersebut adalah kategori sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori meliputi latar belakang subjek, pandangan, kefamiliaran, pengalaman menggunakan alat peraga. Kategori setelah pengimplementasian 48

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraga Montessori antara lain pengalaman, perasaan, kendala, manfaat subjek menggunakan alat peraga Montessori. 3. Interpretasi Inti dari tahap interpretasi adalah memahami data yang sudah diperas ke dalam kata-kata kunci atau tema secara lebih mendalam. Tahap interpretasi ini peneliti memaknai hasil penelitian yang diperoleh ke dalam sub bab pembahasan. Pada pembahasan peneliti menyertakan teori-teori yang mendukung dalam memaknai data tersebut. 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian tentang (1) pelaksanaan penelitian, (2) hasil penelitian dan (3) pembahasan. 4.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2013/ 2014, yaitu bulan Januari – April 2014. Berikut ini adalah tabel pelaksanaan pengambilan data wawancara dan observasi selama penelitian berlangsung. Tabel 4.1 Pelaksanaan Observasi No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Observasi Observasi kondisi sosio-cultural Observasi pembelajaran secara umum Observasi ketika menggunakan alat peraga Tanggal 3 Februari 2014 Waktu 10.00 – 11.00 Tempat Ruang kelas 7 Februari 2014 24 Februari 2014 08.10 – 09.20 10.00 – 11.45 Ruang kelas VB Ruang kelas VB Keterangan Mengetahui kondisi kelas V Pertemuan ke- 5 Pertemuan ke- 8 19 Maret 2014 21 Maret 2014 26 Maret 2014 28 Maret 2014 07.35 – 08.45 08.10 – 09.30 07.30 – 08.55 08.10 – 09.20 Ruang kelas VB Ruang kelas VB Ruang kelas VB Ruang kelas VB Pertemuan ke- 1 Pertemuan ke- 2 Pertemuan ke- 3 Pertemuan ke- 4 Tabel 4.2 Pelaksanaan Wawancara No 1. 2. 3. 4. Subjek Guru (G) SA (siswa A) SB (siswa B) SC (siswa C) Tanggal 18 Maret 2014 1 Maret 2014 1 Maret 2014 1 Maret 2014 Waktu 07.48 – 08.10 08.40 – 09.00 07.30 – 07.50 08.55 – 09.15 Tempat Ruang perpustakaan Depan ruang UKS Depan ruang UKS Depan ruang UKS Keterangan Wawancara sebelum penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori 5. 6. 7. 8. Guru (G) SA (siswa A) SB (siswa B) SC (siswa C) 4 April 2014 4 April 2014 4 April 2014 4 April 2014 11.10 – 11.30 11. 40 – 12.00 11. 40 – 12.00 11. 40 – 12.00 Ruang guru Depan ruang kelas IIC Depan ruang kelas IIC Depan ruang kelas IIC Wawancara setelah penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori Setelah melakukan pelaksanaan pengumpulan data yang berupa observasi dan wawancara, selanjutnya membuat transkrip hasil observasi dan wawancara. Transkrip hasil observasi dan wawancara dapat dilihat pada lampiran 4.1 - 4.15. 50

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2 Hasil Penelitian Pada hasil penelitian ini akan dibahas mengenai hasil penelitian sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori dan setelah pengimplementasian alat peraga Montessori. 4.2.1 Penelitian sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori Hasil penelitian sebelum pengimplementasian alat peraga akan dibahas mengenai latar belakang, pandangan, kefamiliaran dan pengalaman subjek terhadap penggunaan alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori. Untuk mengetahui hal tersebut peneliti telah melakukan pengumpulan data yang berupa wawancara kepada keempat subjek. 4.2.1.1 Latar belakang subjek Pada bahasan mengenai latar belakang subjek akan dijabarkan mengenai kondisi sscio-cultural kelas yang meliputi fasilitas yang ada di kelas, alat peraga matematika yang ada di kelas, kebiasaan menggunakan alat peraga dan kerjasama yang terjalin antar siswa. Dari hasil observasi kondisi sosio-cultural kelas diperoleh data bahwa keadaan kelas VB yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar terlihat bagus dan memadahi. Di dalam kelas terdapat meja, kursi untuk guru dan siswa, dua buah papan tulis kapur, almari guru, sebuah rak untuk meletakkan buku pelajaran dan hasil karya milik siswa selain itu di kelas juga dilengkapi dengan kipas angin. Hal tersebut dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa fasilitas yang ada di kelas VB terbilang lengkap dan dapat menunjang dalam kegiatan pembelajaran. “Fasilitas yang terdapat di kelas VB antara lain terdapat lima belas meja siswa, tiga puluh kursi siswa, satu meja guru, satu kursi guru, sebuah papan tulis kapur, alat untuk menulis papan tulis yaitu kapur beserta penghapus. Pada sisi sebelah kanan kelas terdapat papan admisnistrasi kelas yang tergantung yang berisis tentang data siswa, jadwal pelajaran, daftar piket dan beberapa gambar karya milik siswa. Di sisi kiri kelas terdapat beberapa poster-poster yang terpajang ada poster tentang wayang pandawa lima, serta beberapa slogan tentang kebersihan hasil karya milik siswa. Sedangkan di tembok atas depan kelas sebuah patung garuda di bawahnya terdapat foto bapak Presiden dan Wakil presiden. Di tembok atas belakang kelas terdapat sebuah jam dinding. Di belakang kelas terdapat sebuah rak yang berisi buku tulis siswa dan buku paket Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Jawa, serta buku gambar siswa. Selain buku di sana juga terdapat 51

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hasil karya seni budaya dan keterampilan siswa yang berupa bunga yang terbuat dari kertas dan sedotan, vas bunga yang terbuat dari koran serta beberapa bangun ruang kubus dan balok hasil karya milik siswa” (O1.KSK.B1-14). Dari fasilitas yang ada hanya ada satu alat peraga matematika yang terdapat dalam kelas yaitu berupa bangun ruang seperti balok dan kubus. Guru juga mengungkapkan di dalam wawancaranya bahwa siswa sendiri yang membuat bangun ruang kubus dan balok tersebut pada saat kegiatan pembelajaran. “Tetapi kalau materinya tentang bangun ruang dan bangun datar biasanya siswa tak suruh membuat sendiri bangun-bangunnya menggunakan kertas karton dan mereka membuatnya di sekolah pas meteri itu mbak. Terus juga kalau pas mengenai materi jaring-jaring kubus dan balok biasanya siswa juga membuat sendiri menggunkan kertas karton, setelah mereka membuat jaringjaringnya selesai mereka lalu membuat bangunnya” (W1.G.B62-67). Selain alat peraga yang terdapat di dalam kelas terbatas guru menginformasikan menganai ketersediaan alat peraga matematika di sekolah, akan tetapi menurut guru alat peraga yang terdapat di sekolah tidak sesuai dengan materi pembelajaran matematika di kelas V. Maka dari itu guru mencoba membuat alat peraga matematika yang memungkinkan untuk dibuat untuk pembelajaran di kelas. Alat peraga yang pernah dibuat oleh guru berupa beberapa bangun ruang dan bangun datar. “Di lab itu juga banyak, macem-macem alat peraga matematikanya misalnya timbangan, meteran, bilangan bulat ada, terus garis bilangan dari kayu” (W1.G.B74-76). “Wah saya malah belum pernah menggunakan e mbak memang disana banyak alat peraga matematika tapi saya rasa ngga yang sesuai sama materi kelas V” (W1.G.B91-92). “Membuat sendiri mbak, kalau memungkinkan untuk dibuat saya membuatnya” (W1.G.B73). “Bangun datar sama bangun ruang itu saya buat sendiri” (W1.G.B83). Selain ketersediaan alat peraga dalam pembelajaran peneliti juga melakukan observasi pembelajaran matematika yang dilakukan selama dua kali 52

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengamatan pada tanggal 7 Februari 2014 dan tanggal 24 Februari 2014 serta melakukan wawancara dengan subjek guna mengetahui pembelajaran matematika yang berlangsung sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori. Pada hasil observasi menunjukkan bahwa pada proses pembelajaran guru sudah melakukan kegiatan pembelajaran pada umumnya yaitu terdapat kegiatan awal, inti dan akhir. Pada kegiatan awal guru melakukan kegiatan apersepsi dengan melakukan salam, doa dan absensi. Siswa juga sudah siap untuk mengikuti pembelajaran, hal tersebut dapat terlihat dengan kesiapan siswa, pada saat kegiatan awal siswa sudah menyiapkan alat tulis dan buku peket di atas meja. “Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran guru menyuruh ketua kelas untuk mengumpulkan pekerjaan rumah ke depan meja guru. Guru melakukan salam kepada siswa. Mengabsen siswa siapa yang tidak hadir dan alasannya (O1.PP.B3-5) dan ....guru bertanya apakah sudah siap dalam belajar” (O2.PP.B7-9). “Berapa siswa sudah menyiapkan alat tulis yang berupa buku tulis, buku paket matematika, LKS serta bolpoin dan pensil di atas meja (O1.PP.B6-8) dan .....menyiapkan alat tulis” (O2.PP.B6-7). Guru juga mengatakan pada wawancaranya bahwa sebelum masuk ke dalam materi kegiatan siswa adalah mencongak. Kegiatan ini di maksudkan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi. “Kadang mencongak dulu sebelum masuk ke materi sebagai apersepsi mbak” (W1.G.B23). Hal di atas juga terlihat pada observasi proses pembelajaran, dalam kegiatan mencongak guru memberikan soal dan siswa menjawab soal. Setelah semua soal dibacakan lalu guru menuliskan jawabannya di papan tulis dan siswa mengkoreksi hasil pekerjaan milik teman. Setelah itu guru melakukan kegiatan mecongak dan siswa sudah siap dengan segala peralatannya. Ketika guru memberikan pertanyaan siswa segera menulisnya di buku tulis masing-masing. Seluruh siswa melakukannya. Hingga soal nomor lima selesai dibacakan mereka segera menyelesaikan soal mencongak tersebut. Setelah itu tanpa perintah dari guru siswa menukarkan jawabannya dengan teman sebangkunya. Guru menuliskan jawabnnya di papan tulis dan siswa mengkoreksi jawaban milik siswa serta menilainya (O1.PP.B8-14). 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Selain kegiatan mencongak, guru juga menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas pada saat pembelajaran. Pada saat menyampaikan materi guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Guru menjelaskan materi lalu menulis materi tersebut di papan tulis, lalu menyuruh siswa menulis materi di buku catatan masing-masing. “Kadang kita melakukan diskusi, tanya jawab, kadang mencongak dulu sebelum masuk ke materi sebagai apersepsi mbak, terus juga maju satu per satu untuk mengerjakan soal, terus pake ceramah juga, pemberian tugas” (W1.G.B22-24). Lalu guru menjelaskan tentang pembagian pecahan biasa dengan pecahan biasa. Dan menuliskannya di papan tulis serta memberikan contoh penyelesaian pecahan biasa dengan pecahan biasa (O2.PP.B17-18) dan ... di papan tulis (O1.PP.B20-21). Pada saat kegiatan berlangsung siswa terlihat sangat antusias dalam menjawab pertanyaan dari guru, banyak siswa yang mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan dari guru. Siswa juga tak segan-segan untuk menanyakan materi yang belum dipahaminya serta menyuruh guru untuk mengulang dalam menjelaskan materi. Salah satu siswa mengangkat tangan dan meminta guru untuk menjelaskan ulang (O1.PP.B23-24) dan ...siswa yang mengangkat tangan dan dan menyuruh guru untuk memberikan satu soal lagi (O2.PP.B43-44). Setelah menyampaikan materi dan siswa mencatatnya lalu guru memberikan tugas berupa mengerjakan latihan soal yang terdapat dalam buku paket. Dalam mengerjakan soal guru menyuruh siswanya untuk bekerja sama dengan teman sebangkunya. Setelah selesai mengerjakan soal guru menyuruh siswa untuk menuliskan hasilnya di papan tulis lalu membahasnya bersama-sama. guru itu lalu menyuruh siswa untuk mengerjakan soal nomor satu pada buku paket halaman 147 latihan soal 1 (O1.PP.B29-30) dan ...guru menyuruh mengerjakan soal secara berpasangan dengan teman sebangkunya (O2.PP.B53-54). Dalam mengevaluasi hasil belajar siswa, guru selalu menilai hasil pekerjaan siswa pada setiap pertemuan. Dan pada kegiatan akhir guru selalu memberikan pekerjaan rumah kepada siswa dan dibahas pada pertemuan selanjutnya. 54

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ...menanyakan skor yang di peroleh oleh siswa dan pada kegiatan akhir guru menyimpulkan materi dan selalu memberi pekerjaan rumah kepada siswa (O1.PP.B67-68) dan ...hasil pekerjaannya” (O2.PP.B85-86). Lalu guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa sebanyak 10 soal dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Lalu guru mengucapkan salam (O1.PP.B71-73) dan ...pekerjaan rumah untuk melanjutkan mengerjakan soal dalam LKS” (O2.PP.B86-88). 4.2.1.2 Pandangan subjek terhadap alat peraga Berdasarkan hasil wawancara dengan keempat subjek dapat dilihat bahwa subjek memiliki pandangan yang baik terhadap penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Menurut guru penggunaan alat peraga akan memudahkannya dalam menyampaikan materi kepada siswa dan dapat mempermudah siswa karena siswa dapat melihat bendanya secara konkrit tanpa membayangkan. “Ya untuk memudahkan dalam penyampaian materi kan mbak” (W1.G.B71). “Alat peraga siswa jadi mudah memahami. Jadi lebih dong (paham) kan jika menggunakan alat peraga itu ada bendanya jadi konkrit siswa bisa melihat sendiri secara langsung. Kan kalau konkrit mereka bisa jadi lebih paham, mereka mudah dalam mengaplikasikannya” (W1.G.B85-88). Siswa juga sependapat dengan hal di atas, siswa juga merasa bahwa alat peraga membantu memahami materi karena dapat melihat bendanya secara nyata dan memudahkanya dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. “Lebih jelas juga kan keliatan bendanya terus membantu memahami materi juga” (W1.SA.B64). “Aku bisa melihat secara langsung tidak cuma lewat gambar” (W1.SB.B103105). “Membantu belajar lah mbak, lebih apa ya? Hmm lebih mudah dipahami juga” (W1.SC.B85). Guru juga melihat bahwa pada saat menggunakan alat peraga siswa terlihat sangat bersemangat, berantusias dan siswa terlihat sangat berkonsentrasi karena alat peraga dapat memudahkannya untuk mengingat materi yang disampaikannya. Selain itu beliau juga merasa bahwa semua siswa memperhatikannya pada saat menyampaikan materi dengan menggunakan alat peraga. 55

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Iya mbak malah ramai tapi malah kelihatan pada semangat malah memperhatikan semua” (W1.G.B113). “Lebih baik jika menggunakan alat peraga, kan mereka jadi gampang inget” (W1.G.B106). Guru berpendapat bahwa alat peraga seharusnya disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan kepada siswa, jadi tidak semua materi pembelajaran harus menggunakan alat peraga. “Tidak semua materi pembelajaran menggunakan alat peraga mbak, hal itu tergantung dengan materinya” (W1.G.B60-61). 4.2.1.3 Kefamiliaran subjek terhadap alat peraga Kefamiliaran subjek terhadap alat peraga dapat dilihat bahwa subjek kurang mengenal alat peraga karena intensitas penggunaan dalam pembelajaran matematika masih sangat minim hanya satu kali pembelajaran menggunakan alat peraga di kelas V. Guru menyatakan bahwa penggunakan alat peraga kadangkadang saja, tetapi pada kenyataannya guru jarang sekali menggunakan alat peraga, hanya sekali pada saat pembelajaran bangun ruang. “Ya kadang-kadang” (W1.G.B58). Pernyataan di atas juga diperkuat oleh siswa, siswa mengatakan bahwa pembelajaran matematika menggunakan alat peraga yaitu pada materi bangun ruang pada semester awal, alat peraga yang digunakan berupa jaring-jaring kubus dan balok. “Waktu kelas 5 balok, kubus, jaring-jaringnya juga” (W1.SA.B56). “Nunjukkin jaring-jaring kubus terus jaring-jaring itu dibuat bentuk jadi kubus” (W1.SB.B61-62). “Kubus sama balok pakek kertas karton” (W1.SC.B66-67). Meskipun di kelas 5 mereka jarang menggunakan alat peraga, ketiga subjek yaitu SA, SB dan SC pernah menjumpai alat peraga matematika di kelas 3 56

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan kelas 4, selain menjumpai alat peraga matematika mereka juga membuat sendiri alat peraganya. “Kelas 3 bangun datar datar terus kelas 4 sama kelas 5 balok, kubus, jaringjaringnya juga” (W1.SA.B56). “Di kelas 3 tapi waktu itu aku buat rumah-rumahan yang bentuknya balok” (W1.SB.B73). “Waktu kelas 4 terus gambar pecahan terus ada bagian yang diarsir gitu” (W1.SB.B70-71). “Ya di sekolah lah mbak, waktu kelas 4 itu bu guru bawa tabel perkalian” (W1.SC.B61). Maka dari itu siswa mengungkapkan pendapatnya mengenai alat peraga untuk pembelajaran. Siswa mengehendaki alat peraga yang menarik, berwarnawarni bukan warna yang gelap, kelihatan dari belakang, dan bisa digunakan untuk belajar. “Ya warna-warni. Yang penting keliatan aja dari belakang. Biar dapat membedakan terus biar jelas aja” (W1.SA.B69-70). “Pokoknya jangan warna yang gelap, soalnya kalau gelap ngga (tidak) kelihatan. Yang warna-warni. Ada merah, pink, unggu, hijau muda, biru muda, gitu-gitu lah mbak” (W1.SB.B93-94). “Yang bisa buat belajar, menarik” (W1.SC.B73). Guru juga mengungkapkan bahwa penyampaian materi dengan menggunakan alat peraga harus disampaikan dengan jelas agar memudahkan siswa memahami materi yang akan disampaikan pada saat kegiatan pembelajaran. “... dan intinya harus disesuaikan dengan materinya. Terus penyampaiannya juga harus yang jelas mbak” (W1.G.B97). 57

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.1.4 Pengalaman subjek menggunakan alat peraga Selain kefamiliaran subjek terhadap alat peraga hal terkhir yang dibahas sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori adalah pengalaman subjek menggunakan alat peraga. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pada saat pembelajaran guru melihat siswa-siswanya terlihat sangat antusias, semangat, senang, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. “Sangat antusias, seneng, semangat, punya rasa ingin tahu yang tinggi mbak, ingin bisa menguasai materi terus kalau ada yang belum mengerti pasti bertanya dan menyuruh untuk menerangkan lagi” (W1.G.B40-42). Ketiga subjek juga mengatakan jika menggunakan alat peraga mereka merasa senang karena mereka lebih cepat dan mudah dalam memahami materi pada saat menggunakan alat peraga dari pada guru hanya menjelaskan di papan tulis. “Seneng kan ada bentuknya”(W1.SA.B62). “Lebih mudah sih mbak” (W1.SB.B80). “Seneng mbak, lebih mudah memahami...” (W1.SC.B70-71). “Lebih jelas juga kan keliatan bendanya terus membantu memahami materi juga” (W1.SA.B64). “Enak mbak, mending pakek itu dari pada cuma nerangin (menjelaskan) lewat papan tulis” (W1.SB.B78). Ketiga subjek juga berpendapat bahwa mereka lebih mudah mengingat materi apabila menggunakan alat peraga, mereka juga lebih terbantu karena melihat bendanya secara nyata serta dapat memegang bendanya. Hal tersebut lebih membantunya dari pada membayangkan materi karena mereka berfikiran bahwa membayangkan seringkali keliru maka dari itu mereka lebih memilih menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran. “Ya pada saat bu M bawa alat peraga jadi mudah diinget nek membayangkan itu kadang-kadang bisa salah e mbak” (W1.SB.B113-114). “Mending bawa alat peraga biar kalau njelasin (menjelaskan) cepet dong (paham)” (W1.SC.B90). Meskipun demikian SA merasa apabila tujuan penggunaan alat peraga sebagai sarana untuk memudahkan dalam memahami dan mengingat materi 58

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memang membantu, akan tetapi subjek juga merasa apabila tanpa menggunakan alat peraga pun SA dapat mengingat materi asalkan dalam penyampainnya disampaikan secara mendetail dan jelas. “Iya bisa inget juga kalau pakek (memakai) alat peraga tapi kalau ngga pakek alat peraga juga inget kok asal njelasinnya jelas aja. Tapi kalau pakek alat perga lebih jelas” (W1.SA.B76-77). 4.2.2 Penelitian setelah Pengimlementasian Alat Peraga Montessori Pada penelitian setelah pengimplementasian alat peraga Montessori dalam pembelajaran akan dibahas mengenai pengalaman subjek setelah menggunakan alat peraga Montessori terkait dengan apa yang dirasakan, kendala dan manfaat yang diperoleh dikaitkan dengan karakteristik alat peraga Montessori. 4.2.2.1 Pengalaman setelah pengimplementasian alat peraga Montessori Pengalaman subjek ketika pertama kali melihat alat peraga mereka merasa antusias dan penasaran dengan alat peraga Montessori, karena alat peraga ini merupakan sesuatu yang baru bagi mereka, hal tersebut terlihat dari hasil observasi pembelajaran menggunakan alat peraga pada pertemuan yang pertama mereka menunjukkan ketertarikan dengan alat peraga yang baru saja mereka jumpai. “SA langsung memegang alat peraga dan membuka-buka rak yang terdapat di dalam alat peraga dan berkata “tidak ada persegi panjang” lalu setelah membuka rak yang pertama dan melihat persegi panjang dan berkata“eh ada”. SB menghadap kedepan dan memegang alat peraga lalu mengeluarkan rak pertama pada alat peraga. Setelah mengeluarkan alat dan meletakkannya di tengah-tengah meja dan berkata “Mbak ini gimana cara membawanya hingga sampai ke kelas? bawanya pakek apa?”. SC melihat alat peraga, memegangnya dan mengangkatnya...”(O1.PPN.B12-18). Hal di atas juga diperkuat oleh pendapat ketiga siswa, pada saat melihat alat peraga mereka merasa senang dan tertarik dengan bentuk alat peraga selain itu mereka juga penasaran dengan isi yang ada di dalamnya. “Seneng aja soalnya baru pertama kali itu liat alat peraga yang besar bentuknya kotak” (W2.SA.B.21-22). 59

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Seneng aja soalnya baru pertama itu alat peraga yang besar bentuknya kotak terbuat dari kayu” (W2.SB.B18-19). “Seneng terus aku nebak-nebak itu isinya apa aja”(W2.SC.B18). SA juga mengungkapkan bahwa dia juga menebak-nebak isi dari alat peraganya dengan melihat tulisan yang ada pada rak-rak di dalam kotak alat peraga, selain itu SA juga berpendapat jika rak-rak yang terdapat dalam alat peraga akan memudahkan dalam mengambil bangun datar yang ada di dalamnya. “Nah waktu itu tak lihat-lihat di alat peraganya di kotaknya itu ada tulisannya lingkaran, persegi, layang-layang, trapesium macem-macem pokoknya. Terus aku nebak oh itu pasti isinya bangun datar” (W2.SA.B17-19). “Kalo rak itu kayaknya biar mudah untuk mengambilnya, berbeda kalo di plastiki jadi susah buat ngambilnya” (W2.SA.B12-13). Keempat subjek juga terkesan dengan model alat peraga yang baru mereka jumpai terkait dengan ukuran, isi dan warna pada alat peraga. “Kalo modelnya seperti itu belum. Ini yang perama kali, belum pernah kalo yang berbentuk kotak terus ber rak-rak seperti itu” (W2.G.B189-190). “Gede itu mbak, kotaknya besar,berat kan itu mbak?” (W2.G.B136). “Warnanya sudah bervariasi, sehingga mampu menarik perhatian siswa” (W2.G.B130). “Unik. Kan satu tapi di belah jadi banyak bagian-bagiannya nya jadi banyak, dari satu bagian-bagian kan bisa dibagi menjadi beberapa bagian yang lain. Bangun persegi bisa di bagi menjadi dua menjadi persegi panjang, terus di bagi tiga sehingga menjadi segitiga sama sisi” (W2.SA.B72-74). “Persegi juga bisa dibuat menjadi trapesium terus persegi bisa jadi persegi panjang terus masih ada banyak lagi” (W2.SB.B58-59). “Unik, besar terus isinya ada macem-macem bangun datar” (W2.SC.B50). 60

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Siswa juga terlihat ketertarikan menggunakan alat peraga, hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan observasi video pada saat pembelajaran, siswa kerap sekali memain-mainkan alat peraga dan antusias sekali dalam menggunakannya. “Dan memain-mainkannya dengan cara memutar-mutar bangun (O1.PPN.SA.B21-22), ...kanan dan kiri (O1.PPN.SA.B32-33), ...diputar-putar (O2.PPN.SA.B32), ...memainkan bangun (O3.PPN.SA.B66), ...di depannya” (O4.PPN.SA.B.15-16). “Memutarnya seperti (gangsingan) (O1.PPN.SC.B65-66) , ...sambil memainkannya diputar-putar (O1.PPN.SC.B.246-247), ...seperti gangsingan (O2.PPN.SC.B14-15), memainkan bangun trapesium sama kaki (O3.PPN.SC.B.67), ...memutarnya” (O4.PPN.SC.B.24-25). “Lalu memegang belah ketupat dan memainkannya dengan cara di putarputarkan (O2.PPN.SB.B12-13), ...memutar-mutarnya” (O4.PPN.SB.B.12). Selain itu siswa juga merasa bahwa alat peraga membantunya pada saat mengerjakan lembar aktivitas siswa yaitu untuk membuktikan sifat-sifat dari beberapa bangun datar. “Lebih cepat juga ngapalinnya dari masing-masing bangun datar. Jadi enak mbak, kan kita baca soalnya tentang sifat-sifat bangun datar terus to ditunjukin menggunakan alat peraganya sama kayak yang dicontohin sama bu M jadi gampang” (W2.SA.B60-62). “Gampang mbak, lebih enak, jadi lebih tahu dan menunjukkan sifat-sifatnya, sisinya ada berapa, yang mana aja, terus menyebutkan sudut-sudut menunjukkan juga” (W2.SB.B46-47). “Lebih cepat juga ngapalinnya dari masing-masing bangun datar” (W2.SC.B43). Guru juga sependapat dengan hal di atas dalam wawancaranya beliau mengatakan bahwa pada saat kegiatan dalam kelompok siswa terlihat lebih 61

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mandiri, siswa lebih berekplorasi dengan alat peraga dan terlihat asik pada saat menggunakan alat peraga. “Jadi anak lebih mandiri, mereka bereksplorasi sesuai keinginan mereka” (W2.G.B84). “Selain itu anaknya juga sudah sibuk sendiri sama alat peraganya ya kita biarkan saja biarkan dia melakukan sendiri sesuai dengan kehendaknya” (W2.G.B86-87). “Mandiri mbak, tidak banyak tanya, mereka sudah paham, asyik ngotak-atik alat peraganya” (W2.G.B121). 4.2.2.2 Perasaan subjek menggunakan alat peraga Montessori Perasaan guru ketika pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori guru merasa senang apabila menyampaikan materi menggunakan alat peraga Montessori karena penggunaanya sangat efektif dan siswanya lebih cepat dalam memahami materi. “Saya senang apabila dalam menyampaikan materi itu siswa lebih cepat memahaminnya dan jika masih ada siswa yang belum memahami yang saya jelaskan berulang-ulang sampai siswa itu paham, tapi kalau di kelas VB saya senang karena siswanya sangat berantusias sekali dan cepat memahami materi” (W2.G.B16-19). “Ya sangat efektif, mereka cepat paham sehingga lebih efektif hal ini juga ada kaitannya dengan waktu, kelas VB itu pelajaraannya cepat selesai di banding kelas VA karena mereka lebih cepat memahami” (W2.G.B26-28). Ketiga siswa juga mengungkapkan bahwa mereka senang menggunakan alat peraga Montessori dapat membantu memudahkan dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru selain itu juga mereka tertarik mengikuti pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. “Menguasai. Kan kalo belajar itu kalo ngga (tidak) dikasih tahu dulu, atau ngga (tidak) digambar kan ngga (tidak) bisa, gimana sih, gimana sih, jadinya kan ngga (tidak) tau, tapi kalo di praktekin apalagi di pegang bangun datarnya kan lebih gampang” (W2.SA.B41-43). 62

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Lebih gampang mbak, seneng juga, lebih gampang dalam memahaminya, aku jadi bisa menunjukkan mana sisi-sisinya, sudut-sudutnya diagonal juga titik sudutnya juga (W2.SB.B25-26). “Iya,, lebih mudah, asik seru juga, menantang juga mbak soalnya semua disuruh untuk maju kedepan menunjukkan sifat-sifatnya juga” (W2.SC.B2631). Guru melihat bahwa siswa-siwanya terlihat lebih tertarik dan berantusias pada saat mengikuti pembelajaran selain itu guru juga melihat perbedaan situasi kedua kelas yaitu kelas VA yang tidak menggunakan alat peraga dan di kelas VB yang menggunakan alat peraga, kelas VB siswanya lebih cepat dalam memahami materi. “Siswanya tertarik, berantusias dalam menggunakannya, banyak ingin tahunya “Bu ini bangun apa saja? Kok banyak banget” siswa-siswanya juga semangat sekali” (W2.G.B22-23). “Terlihat bedanya antara antara yang menggunakan alat peraga dan tidak menggunakan alat peraga. Mereka sangat berantusias, lebih bersemangat dan cepat memahami materi jadi cepat paham” (W2.G.B7-9). “Kelas VA masih banyak bertanya karena mencatat, di rumah mereka tidak membaca catatan terlihat sekali pada saat di tanya masih membolak-balik buku. Tapi di kelas VB ini kan dijelaskan caranya terus siswanya lebih cepat memahami dan bisa menjawab pertanyaan tanpa membaca buku, kalau di kelas VA kita menjelaskan materi secara berulang-ulang” (W2.G.B28-32). Guru juga berpendapat jika menggunakan alat peraga Montessori beliau dapat menghemat energi karena hanya menyampaikan materi dan berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. “Jadi saya malah tidak banyak beraktifitas, menghemat energi juga. Iya kan kita menyampaikan materinya terus siswanya bekerja pake alatnya” (W2.G.B58-60). 63

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.2.3 Kendala subjek menggunakan alat peraga Montessori Meskipun demikian dari hasil wawancara dan observasi pembelajaran ada beberapa kendala yang dialami guru pada saat penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran. Menurut beliau penggunaan alat peraga montessori awalnya dirasa sulit karena dalam penggunaanya terdiri dari beberapa langkah. “Tak lihat kok kayaknya agak (sepertinya) ribet ya cara-caranya banyak banget tahap-tahapnya tapi setelah tak praktekin sendiri woalah (ternyata) jadi begini to” (W2.G.B48-50). Pada saat penggunaan alat peraga dalam hasil observasi yang ketiga terlihat guru masih merasa kesulitan dalam membedakan nama-nama bangunnya beliau sempat bertanya kepada peneliti pada saat menjelaskan materi. G berkata lirih “bangun yang kedua ini bagaimana cara memakainya?” lalu mengambil bangun berwarna merah (yaitu terdapat dua buah segitiga sama kaki, yang satu utuh dan yang satunya lagi dibagi menjadi dua) dan berkata kepada siswa “ini bangun apa?”(sambil menunjukkan bangun segitiga sama kaki yang utuh) dan berkata “jadi bangun jajar genjang juga terbentuk dari dua buah segitiga sama kaki dan (bertanya kepada salah satu peneliti mengenai bangun berwarna merah yang merupakan bagian dari segitiga sama kaki yang dibagi menjadi dua lalu menjelaskan materi dengan mengangkat rak pada alat peraga dan menunjukkan kepada siswa) dan berkata “jadi bangun trapesium, eh jajar genjang maksudnya juga dapat terbentuk dari satu buah bangun segitiga sama kaki dan dua buah segitiga siku-siku, jelas disini?” (O3.PPN.B103-112). Menurut ketiga subjek siswa pada saat melakukan wawancara mengenai cara penggunaan alat peraga mereka mengangap bahwa penggunaanya dirasa sangat mudah. “Gampang” (W2.SA.B85-87). “Gampang-gampang susah...” (W2.SB.B71). “Iya gampang” (W2.SC.B62). Walaupun demikian pada hasil observasi pembelajaran menunjukkan bahwa pada pertemuan yang pertama ketiga subjek masih banyak bertanya kepada 64

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peneliti bagaimana cara menggunakannya. Selain itu pada pertemuan ketiga SC juga masih bertanya kepada peneliti. “SA bertanya kepada peneliti dalam menunjukkan sisinya dan berkata “mbak, ini makeknya gini bukan?” Sambil menunjuk sisi-sisi pada pada bangun segitiga sama sisi, peneliti membenarkan dengan menyuruh mengambil bangun persegi panjang lalu menempelkan salah satu sisi panjang pangun persegi panjang dengan sisi sesitiga sama sisi secara bergantian. Dan berkata “oh, gitu to” setelah itu SA mencoba sendiri alat peraganya. Lalu SA memberitahukan kepada SB dan SC. Lalu SB juga bertanya kepada peneliti bagaimana menunjukkan sudut pada bangun persegi “kalao sudutnya gimana mbak?” peneliti memberi tahu dengan mengambil bangun persegi dan persegi panjang lalu menempelkan salah satu sudut persegi panjang dengan sudut persegi dan menghitungnya satu per satu. Lalu SB berkata “oke, makasih mbak”, setelah itu SA,SB,SC membagi tugas dalam mempresentasikan sifat-sifat bangun datar persegi, persegi panjang, dan segitiga sama sisi” (O1.PPN.B267-277). “SC membaca sifat-sifat jajar genjang dan mengambil bangun jajar genjang lalu di berikan oleh SB. Lalu membaca sifat yang kedua mengenai garis diagonal pada bangun jajar genjang dan berkata “kalau diagonal ini gimana?” lalu bertanya kepada salah satu peneliti” (O3.PPN.SC.128-131). Selain itu kendala yang tampak dalam observasi ialah jumlah alat peraga yang digunakan dalam kelompok, karena setiap kelompok beranggotkan 4 sampai 5 siswa. Dalam penggunaanya ada siswa yang ingin memegang bangun yang sama dengan bangun yang sedang ditunjukan oleh guru, akan tetapi bangun yang ada di dalam kelompok jumlahnya terbatas, hanya ada satu bangun. Maka dari itu ada beberapa siswa yang tidak dapat menggunakannya di karenakan sedang digunakan oleh teman yang lain, hal ini tampak pada kelompok SA, SB dan SC. Di dalam kelompok SA mendominasi dalam penggunaan alat peraga, sehingga sering kali SB dan SC hanya melihat bangun yang sedang dibawa oleh SA. “SB melihat SA yang sedang mengambil dua buah bangun persegi panjang. SC melihat ke depan sesekali melihat bangun persegi panjang yang dibawa SA” (O1.PPN.S.B95-97). “SB menjawab “persegi panjang” lalu melihat SA yang sedang menyatukan kedua bangun persegi panjang” (O1.PPN.SB.B102-103). 65

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “SA melihat bangun lalu melihat SC yang sedang mengambil bangun dari alasnya, lalu mengambil bangun yang dibawa oleh SC lalu melihat dan meraba setelah itu meletakkan kembali kedalam alasnya” (O1.PPN.SA.B143145). “SA mengambil bangun segitiga sama sisi yang dibawa oleh SC ketika SC sedang menempelkan sisi kedua bangun tersebut lalu SA menempelkan sisi bangun segitiga siku-siku yang dibawanya dengan segitiga sama sisi yang baru saja diambilnya” (O1.PPN.SA.B162-165). Dalam observasi terlihat SA dan SB sedang ingin menggunakan bangun yang sama dan terlihat mereka sedang merebutkan bangun yang ingin mereka gunakan. “SA melihat segitiga sembarang yang dibawa oleh SB lalu mengambilnya, SB berkata “sek to lagi tak nggo” (sebentar baru mau saya pakai) (O1.PPN.SA.B203-204). Selain keterbatasan alat peraga di dalam kelompok, dalam hasil observasi ketiga subjek juga merasa kesulitan dalam meletakkan kembali bangun yang mereka ambil ke dalam alas bangunya. “SB meletakkan bangun persegi panjang yang tidak sesuai dengan alasnya lalu memasangnya kembali, mengalami kesulitan, memutar bangun ke arah kanan dan kiri, menganti satu bangun persegi dengan bangun yang lainnya akhirnya dapat masuk kedalam alasnya dengan pas. SC “ahahaa SB ngga bisa” melihat SB yang sedang meletakkan bangun datar persegi panjang kedalam alasnya” (O1.PPN.B134-139). “SC meletakkan bangun segitiga siku-siku pada alas bangun akan tetapi dalam meletakkannya tidak sesuai dengan alas bangunnya, membolak-balik bangun dari samping kanan alas dan samping kiri alas, lalu mencobanya satu per satu bangun segitiga siku-siku dan akhirnya bisa melakukannya dan berkata “yeee,, akhirnya bisa”(O1.PPN.SC.B173-177) dan ...mencoba memasukkannya dari satu bangun dengan bangun yang satunya lagi” (O1.PPN.B201-203). “SC membantu SA yang sedang meletakkan segitiga siku-siku kedalam alasnya sambil berkata “bukan gitu, aku tadi masukin kayak gitu tapi ngga bisa” sambil memegang segitiga sembarang” (O1.PPN.S.B206-208). 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “SA meletakkan segitiga sembarang lalu mencobanya meletakkan kedalam alasnya akan tetapi tidak pas lalu mengambilnya lagi” (O1.PPN.SA.B213214). “SC meletakkan bangun segitiga sama kaki akan tetapi tidak bisa pas dengan alasnya, lalu membolak baliknya dan mencobanya selam tiga kali dan akhirnya bisa sesuai dengan alasnya” (O2.PPN.SC.B64-66). Hal tersebut juga sependapat dengan ketiga siswa dalam hasil wawancara, mereka mengungkapkan bila merasa kesulitan dalam memasang bangun ke dalam alasnya. SB mengatakan jika SB pernah mengambil bangun datar dan merasa kesulitan dalam memasang bangun datar ke dalam alasnya sehingga dia meminta tolong kepada peneliti untuk memasangnya. Hal tersebut juga dirasakan oleh SC, SC melihat bangun segi sepuluh dia ingin sekali mengambilnya akan tetapi dia mengurungakan niatnya karena merasa takut tidak dapat memasangnya kembali. “Terus itu alat peraga susah masangnya juga, kan kemaren waktu punyaku kan jatuh terus tak pasang, itu masangnya susah hlo, masangin bangunya” (W2.SA.B34-36). “Iya tak bukak-bukak, terus aku nyoba buat megang eh ngga bisa masangnya lagi, terus minta tolong sama mbak H kemaren.. hehe” (W2.SB.B21-22). “Kalo aku cuma buka raknya terus bingung itu hlo waktu yang segi sepuluh itu kan banyak banget aku mau ngambil tapi ngga berani nyopot soalnya takut nanti ngga bisa masang” (W2.SC.B20-21). Selain dalam kesulitan dalam meletakkan bangun kedalam alasnya guru juga berpendapat bahwa alat peraga terlalu berat untuk siswa kelas V karena dirasa sangat berat begitu juga dengan siswa. “Ya kalau kelas 5 itu keberatan, kemarin kan banyak yang ke cecer kan mbak, banyak yang jatuh terus tumpah ke lantai. Tp kalau di ambil per rak kan nggak (tidak) papa mbak, soalnya lebih ringan dari satu rak, satu kotak itu ada 5 rak kan jadi berat” (W2.G.B136-139). 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Kalo kotaknya itu besar terus berat soalnya kan itu kayu, kemaren kelompoknya DE juga jatuh di depan kelas waktu mblikin ke perpus” (W2.SA.B97-98). “Kalo kotak itu keberatan mbak sangat berat” (W2.SB.B80). “SC melihat alat peraga, memegangnya dan mengangkatnya lalu berkata “kok berat ya mbak” (O1.PPN.SC.B19). Selain alat peraga yang berat, keempat subjek juga berpendapat jika ukuran dari masing-masing bangun di dalam setiap rak terlalu kecil sehingga kurang jelas dalam membedakan nama-nama bangunnya. “Dalam alat peraganya kan ada banyak sekali mbak bangun-bangunnya, saya saja juga bingung hla bangunya itu ada yang mirip e, kayak segitiga sama kaki sama segitiga sama sisi, apa mungkin itu potongannya tidak pas, apa bagiamana wong bangun segitiga sama kaki itu kan dalam alasnya ada tiga itu ukuranya tidak sama terus ada juga itu lingkaran yang di bagi menjadi berapa itu banyak sekali dan kecil-kecil, mungkin besok kalau membuat lebih besar lagi lalu ukuranya juga disesuaikan mbak antara bangun yang satu dengan bangun yang lainnya” (W2.G.B166-172). “Terus kalau isinya di masing-masing rak itu bangunya ada yang kecil-kecil banget” (W2.G.SA.B98-99). “Kurang lebar kotaknya. Terus kan dalam rak itu terus di bagi menjadi dua ada atas sama bawah. Terus yang atas itu ada tiga bangun kayak yang pertama itu bangun persegi, persegi panjang, terus ada tiga persegi sama sisi. Nah kalo gitu kan raknya jadi kurang lebar, bangunnya juga jadi kecil-kecil” (W2.SB.B82-85). “Ukurannya ada yang besar ada yang kecil, yang kecil itu ukurannya bedabeda. Iya, yang kecil banget itu jadi susah ngga tau juga nama bangunnya apa aja” (W2.SC.B75-77). SA juga mengomentari bahan pembuatan dari alat perga, dia merasa apabila bangun yang terbuat dari triplek itu akan mengakibatkan bahaya apabila menggunakanya tidak berhati-hati. Selain itu juga SA memberi saran pada pewarnaan bangun pada alat peraga. SA menghendaki bahwa setiap bangun datar di beri warna yang berbeda. 68

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Tapi kalo serpihan-serpihan bagianya bangun datar yang copot itu bisa lepas bahaya lho mbak, itu nanti kalo kena tangan bisa tergores, jadi kalo motongmotong tripleksnya itu harus rapi” (W2.SA.B109-111). “Menurutku yo semisal kan persegi, masing-masing itu di warnai yang beda beda pada garis sisinya jadi bisa membedakan mana segitiga sama sisi, sama kaki, siku-siku, terus nanti sisi-sisinya juga diwarnai berbeda-beda sisi pertama warnanya merah sisi kedua hijau, dll” (W2.SA.B76-79). 4.2.2.4 Manfaat ketika menggunakan alat peraga Montessori Selain kendala yang dirasa oleh subjek, ada manfaat yang diperoleh pada saat penggunaan alat peraga Montessori. Manfaat yang diperoleh ini berkaitan dengan karakteristik alat peraga Montessori. Karakteristik yang muncul dari hasil wawancara dan observasi yaitu: (a) menarik, (b) auto-correction, (c) autoeducation, (d) kontekstual. Menurut Montessori (2002: 174) karakteristik menarik yaitu bagi anakanak pembelajaran di maksudkan untuk mengembangkan seluruh potensi anak melalui panca indera. Alat-alat peraga harus dibuat menarik bagi anak-anak agar secara spontan anak-anak ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan menggunakannya untuk belajar. Untuk itu tampilan fisik alat peraga harus mengkombinasikan warna yang cerah dan lembut. Hal tersebut tampak dalam hasil wawancara yang dilakukan kepada ketiga subjek. Mereka merasa tertatik ketika melihat alat peraga Montessori. “Memegangnya terus di main-mainin, di puter-puter” (W2.SA.B65). “Memegangnya, soalnya penasaran aja sih isi kotaknya” (W2.SB.B50). “Memegangnya, menyentuh terus aku bingung juga kenapa kok kotaknya dibuat berrak- rak” (W2.SC.B50). Selain faktor di atas guru juga mengungkapkan bahwa alat peraga berwarna cerah sehingga dapat meningkatkan minat siswa untuk menggunakanya. “Warnanya sudah bervariasi, sehingga mampu menarik perhatian siswa” (W2.G.B130). “Bisa membedakan antara bangun apa sama bangun apakah sudah membedakan terus antara garis diagonal juga sudah ada perbedaan warnaya sudah bervariasi.oh..yang warna merah itu bangun apa, terus yang warna coklat itu garis apa mereka sudah tahu” (W2.G.B132-134). 69

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ketiga siswa juga berpendapat bahwa warna yang terdapat dalam alat peraga juga berwarna-warni serta warnanya halus tidak mencolok. Warna yang terdapat dalam alat peraga yaitu warna merah, kuning dan biru. “Warna-warni, kan ada biru merah sama kuning juga” (W2.SA.B76). “Berwarna warna-warni. Warnanya ada merah, kuning sama biru terus garisnya berwarna coklat” (W2.SB.B62-63). “Warna warni ada merah, biru, kuning, coklat warnanya ngga (tidak) mencolok aku suka” (W2.SC.B53). Selain warnanya menarik ketiga subjek juga merasa bahwa fungsi dari alat peraga adalah untuk membantunya dalam belajar dan mengingat materi tentang sifat-sifat bangun datar. “Berguna mbak kan membantu mengerjakan soal, buat belajar juga” (W2.SA.B58). “Berguna bisa memudahkan memahami materi terus membantu mengerjakan soal” (W2.SB.B62-63). “Berguna, membantu mengerjakan soal, memahami materi juga” (W2.SC.B41). Selain menarik alat peraganya juga auto-correction. Menurut Montessori (2002: 174) auto-correction yaitu peraga harus memiliki pengendali kesalahan pada alat peraga itu sendiri agar anak dapat mengetahui sendiri apakah aktivitas yang dilakukannya itu benar atau salah tanpa perlu diberi tahu orang lain yang lebih dewasa atau guru. Pada alat peraga bangun datar pengendali kesalahan adalah terletak pada kartu soal, karena dalam penggunaanya dirasa menyulitkan siswa maka kartu soal diganti dengan menggunakan lembar kerja siswa. Kartu soal digunakan pada pertemuan pertama, untuk pertemuan selanjutnya siswa menggunakan Lembar Kerja Siswa. Dalam wawancara dengan guru, guru juga sependapat dengan itu beliau mengungkapkan bahwa kartu soal diganti dengan lembar kerja siswa, dalam lembar kerja siswa isinya sama dengan kartu soal hanya namanya saja yang diganti akan tetapi fungsinya sama. 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Itu kalau pakek (menggunakan) kartu soal siswa malah bingung emang (memang) awalnya untuk mengecek jawaban tapi terus tidak di pakek lagi kan? makannya terus diganti pakek LKS itu malah lebih jelas jadi ngga usah pakai kartu. Saya rasa juga tepat soalnya juga sama-sama untuk belajar siswa sebenarnya intinya sama cuma bentuknya aja yang berbeda” (W2.G.B184187). Pengendali kesalahan pada alat peraga ini adalah kartu soal, akan tetapi kartu soal hanya digunakan pada pertemuan pertama. Untuk pertemuan selanjutnya diganti dengan lembar kerja siswa. Dalam lembar kerja siswa ini sama saja dengan karu soal hanya saja bentuknya berbeda. Sehingga pada saat siswa membaca sifat-sifat bangun datar pada LKS lalu membuktikannya menggunakan alat peraga, apabila siswa keliru dalam menggunakan alat peraga otomatis siswa sudah mengetahui letak kesalahannya. Dalam pengamatan video terlihat pada saat kegiatan kelompok dalam membuktikan sifat-sifat bangun datar ketiga subjek mengalami kesalahan dalam membuktikan sifat-sifat bangunnya dan mereka memperbaiki dengan sendirinya. ...berkata “memiliki diagonal yang berpotongan saling tegak lurus” lalu membuat garis tegak lurus pada belah ketupat menggunakan tangan, lalu berhenti sejenak dan melihat LKS dan berkata lagi “memiliki diagonal yang berpotongan saling tegak lurus” melihat-lihat bangun yang ada di dalam alat peraga lalu mengambil dua buah bangun segitiga sama sisi lalu menempelkannya dengan bangun belah ketupat dengan posisi satu diletakkan secara vertikal dan satunya secara horisontal. Lalu melanjutkan sifat selanjutnya...” (O2.PPN.SA.B166-167). “SC mengambil bangun trapesium sembarang dan berkata “aku tak ini aja SB, trapesium sama kaki” setelah itu mengambil satu bagian dari segitiga siku-siku lalu menempelkan pada sisi atas dan bawah pada segitiga sembarang yang dibawanya dan berkata “kok bedo, eh ini harusnya panjangnya sama hlo, org trapesium sama kaki kok, kok beda sih” setelah itu mengambil bangun trapesium siku-siku lalu menempelkan sisi miring dengan sisi trapesium sembarang dan berkata lagi “kok beda lagi, jangan-jangan salah nih?” Lalu melihat teman yang sedang meletakkan bangun trapesium sama kaki kedalam alasnya dan berkata “oh pantes ngga ketemu orang tok bawa”, lalu mengambil trapesium yang diletakakkan oleh temannya lalu menempelkan sisi miring trapesium sama kaki dengan sisi yang berhadapan pada segitiga sama kaki dan berkata “ini baru bener”... “(O3.PPN.SC.B132141). Karakteristik ketiga dari alat peraga Montessori yang tampak adalah autoeducation, dalam alat peraga Montessori menghendaki agar anak lebih mandiri 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam belajar serta tidak adanya campur tangan dari orang lain (Montessori, 2001: 172). Dalam hasil wawancara ketiga subjek berpendapat bahwa pada saat mengerjakan lembar evaluasi mereka dapat mengerjakan soal karena mereka masih mengingat pada saat menunjukkan sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan alat peraga. “Membantu mengerjakan soal, kan dengan menggunakan alat peraga itu kita kan disuruh mempraktekkan dulu menunjukkan sifat-sifatnya terus jadi inget kalo lagi ngerjain soal” (W2.SA.B101-102). “Aku bisa waktu ngerjain soal soalnya aku masih inget pas nujukin sisi, sudut-sudutnya pake alat peraga jadi bisa njawab” (W2.SB.B87-88). Selain alat peraga dapat membantunya dalam mengerjakan soal, alat peraga dapat menjadikan siswa menjadi mandiri dalam menggunakan alat peraga. Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung siswa dapat membawa dan merapikan alat peraga setelah pembelajaran selesai. Hal tersebut terlihat pada hasil observasi pembelajaran. SA mengambil alat peraga dan membuka-buka rak yang terdapat di dalam alat peraga lalu mengeluarkannya (O1.PPN.SA.B12-13). SA memasang bangun layang-layang yang masih ada di luar lalu meletakkan ke alas bangunnya lalu memasukkan kedalam kotak alat peraga (O2.PPN.SA.B218-219). SB mengeluarkan rak yang ketiga lalu meletakkannya di atas meja (O3.PPN.SB.B7-8). SA menyelesaikan terlebih dahulu lalu merapikan alat peraga, SB mengerjakan sambil menutupi hasil pekerjaan dengan buku, SC mengerjakan sambil bertanya kepada SB” (O4.PPN.S.B110-111). Guru juga melihat selain mandiri ketiga siswa sangat antusias dalam menggunakan alat peraga baik pada pada saat kegiatan aktivitas siswa dalam 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membuktikan sifat-sifat bangun datar di dalam kelompok maupun pada saat presentasi di depan kelas. Ketiga siswa dapat melakukan presentasi dengan baik. “Mandiri mbak, tidak banyak tanya, mereka sudah paham, asyik ngotak-atik alat peraganya” (W2.G.B121). “Iya kan bisa dilihat juga pada saat diskusi di dalam kelompok, siswa sangat antusias sekali dalam menghafal sifat-sifat bangun datar selain itu juga membuktikan sifat-sifatnya menggunakan alat peraga, lalu pada saat disuruh maju ke depan mempresentasikan banyak siswa yang sudah menguasai dan melakukannya dengan benar” (W2.G.B72-75). “Terbuktikan pada saat presentasi mereka dapat menggunakan alat peraga dengan baik, bisa membuktikan sisi-sisi bangun menggunakan bagnun yang lain, menunjukkan sudutnya, kan pada saat tak tunjukkan cara penggunaannya siswa juga memperhatikan malah ada yang mengikuti apa yang saya lakukan” (W2.G.B72-75). Selain itu juga hasil belajar siswa menggunakan alat peraga sangat bagus karena hampir sebagian besar hasil ulangan harian pada materi bangun datar siswa memiliki nilai di atas rata-rata. “Rata-rata separoh kelas lebih semua di atas KKM mbak ini saya baru saja di kasih rekapan nilai sama mas A banyak yang mendapat nilai 85 ke atas” (W2.G.B123-124). Karakteristik yang terakhir adalah kontekstual, yaitu alat peraga dibuat menggunakan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini juga sesuai dengan alat peraga bangun datar Montessori, menurut guru alat peraganya dibuat dari bahan-bahan yang dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari. “Mudah dijumpai siswa. Itu kan dari kayu kan jadi siswa juga dalam keseharian menjumpai kayu selain itu yang untuk bangunnya menggunakan triplek? Siswa pernah melihat mungkin di rumahnya juga punya. Jadi bahanbahanya itu dijumpai oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari mbak” (W2.G.B193-196). Sependapat dengan hal di atas ketiga subjek juga mengungkapkan bahwa mereka mengetahui bahan apa saja yang digunakan dalam membuat alat peraga. “Kotaknya itu dari kayu ya? Terus kalo bangun-bangunnya itu kayaknya mudah patah soalnya itu dari triplekskan kalo kayunya kita kan sering 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lihat,catnya juga, itu cat kayu ya, aku dirumah punya tapi warnanya orange” (W2.SA.B107-109). “Gampang dicari terus kalo kayunya pasti mahal ya mbak? Padahal itu ada 7 kotak” (W2.SB.B93). “Bahannya itu kan kayu terus buat bangun-bangunnya itu tripleks to mbak? Aku di rumah punya” (W2.SC.B.85-86). Guru juga mengungkapkan jika alat peraga Montessori ini sudah sesuai dengan materi pembelajaran sifat-sifat bangun datar karena mampu siswa menunjukkan dan membuktikan sifat-sifat bangun datar melalui alat peraga. “Bisa kan alatnya sudah sesuai dengan materi bangun datar” (W2.G.B151). “Iya kan bisa dilihat juga pada saat diskusi di dalam kelompok, siswa sangat antusias sekali dalam menghafal sifat-sifat bangun datar selain itu juga membuktikan sifat-sifatnya menggunakan alat peraga, lalu pada saat disuruh maju kedepan mempresentasikan banyak siswa yang sudah menguasai dan melakukannya dengan benar” (W2.G.B114-117). 4.3 Pembahasan Dalam pembahasan ini peneliti akan melakukan pembahasan atas hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas guna menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yaitu persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga Montessori dalam pembelajaran sifat-sifat bangun datar di kelas V. Persepsi dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang dialami seseorang (Rahmat, 2003). Dari hasil observasi dan wawancara sebelum menggunakan alat peraga Montessori, terlihat keempat subjek pernah menggunakan alat peraga matematika dalam pembelajaran. Keempat subjek menggunakan alat peraga pada materi bangun ruang pada semester awal. Selain itu juga ketiga subjek secara langsung membuat alat peraga untuk pembelajaran, yaitu pembuatan kubus dan balok. Keempat subjek merasa senang ketika pembelajaran dengan menggunakan alat peraga, karena jika menggunakan alat peraga kegiatan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan jika dibandingakan dengan pembelajaran yang bisanya yang kegiatannya hanya mencatat materi yang ada di papan tulis. Sehingga pada saat 74

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penggunaan alat peraga guru melihat keantusiasan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain pengalaman, persepsi juga dipengaruhi oleh pandangan, kefamiliaran dan harapan terhadap objek (Toha, 2003). Hal ini juga nampak pada hasil penelitian sebelum menggunakan alat peraga. Pandangan subjek terhadap alat peraga sangat positif. Ketiga siswa pernah menjumpai alat peraga di jenjang kelas sebelumnya. Menurut guru dan siswa banyak sekali manfaat yang diperoleh jika menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Alat peraga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi secara verbal karena siswa dapat melihat bendanya secara nyata atau konkret. Begitu juga dengan siswa, siswa lebih mudah menyerap materi yang disampaikan oleh guru. Pada hasil observasi setelah menggunakan alat peraga Montessori. Pemikiran yang terbuka memudahkan seseorang dalam menerima hal yang baru (Robbins, 2003). Dalam penelitian ini nampak bahwa guru dan siswa terbuka terhadap penggunaan alat peraga Montessori. Mereka memiliki pandangan yang baik terhadap alat peraga Montessori. Pada awal penggunaan ketiga subjek terlihat sangat penasaran dengan alat peraga yang baru pertama kali mereka jumpai, mereka penasaran dengan alat peraganya terkait dengan bentuk, isi dan kegunaannya. Guru juga merasakan hal yang sama, guru berfikiran bahwa alat peraga ini akan membantunya dalam menjelaskan materi kepada siswa. Keempat subjek berpersepsi positif terhadap alat peraga Montessori. Persepsi positif terjadi apabila objek yang dipersepsi sesuai dengan penghayatan dan dapat diterima secara rasional dan emosional maka akan mempersepsi positif dan cenderung menyukai dan menanggapi sesuai dengan objek yang dipersepsikan (Rahmat dalam Mukhtar, 2012). Hal tersebut terlihat dalam hasil observasi dan wawancara. Pada saat observasi siswa sering sekali memegang dan memainkan alat peraga sehinga terlihat sekali ketertarikan siswa terhadap alat peraga. Guru sependapat dengan hal itu, dalam melakukan aktivitas di dalam kelompok ketiga siswa sudah asik sendiri, mereka terlihat sangat aktif dan bersemangat dalam menggunakan alat peraga, terlebih pada saat kegiatan presentasi guru melihat antusiasme dan semangat siswa dalam melakukan presentasi di depan kelas. 75

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru merasa bahwa alat peraga menyuguhkan konsep yang baru mengenai pola bangun datar dari biasanya, pola-pola yang terdapat dari alat peraga mampu membangun pengetahuan siswa mengenai bentuk-bentuk yang lain dari bangun datar yang biasanya. Selain itu juga melalui alat peraga Montessori siswa tidak hanya manghafal sifat-sifatnya akan tetapi juga melakukan pembuktian. Hal ini juga sesuai dengan pendapat dengan Heruman (2008) bahwa pada saat pembelajaran geometri bukan dimulai dari pemberian definisi-definisi tentang suatu bangun kepada siswa namun lebih pada proses pengidentifikasian suatu bangun. Dalam kegiatan pembelajaran siswa mengidentifikasi bangun dengan menggunakan alat peraga, sehingga siswa tidak secara langsung diberitahu sifatsifat bangun datar akan tetapi siswa menemukan sendiri dan membuktikannya menggunakan alat peraga. Selain pola bangun datar yang termasuk kedalam karakteristik montessori auto-edication, masih terdapat tiga karakteristik lagi yaitu menarik, autocorrection, dan kontesktual yang nampak dalam hasil wawancara maupun observasi. Menurut Liliard (1997) alat peraga Montessori merupakan material pembelajaran yang dirancang secara menarik, memiliki pengendali kesalahan, dan memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri tanpa banyak intervensi dari guru. Hal ini tampak dalam hasil observasi dan wawancara, guru berangapan bahwa alat peraga mampu meningkatkan minat dan motivasi untuk mengikuti pembelajaran daya tarik yang lainnya adalah warna alat peraga berwarna-warni dan bagun datar sudah bermacam-macam polanya. Siswa juga merasa bahwa warna yang ada dalam alat peraga berwarna cerah serta alat peraga berbentuk seperti puzzle yang dapat dilepas dan dipasang. Selain menarik, pengendali kesalahan juga terlihat dalam pengamatan, pada saat membuktikan sifat-sifat alat peraga siswa mengalami kesalahan lalu siswa memperbaiki dengan sendirinya tanpa bertanya kepada guru, peneliti maupun temanya. Guru juga merasa bahwa alat peraga mampu meningkatkan hasil belajar siswa, hasil evaluasi pada materi bangun datar menunjukkan bila sebagian besar siswa mendapatkan nilai di atas KKM. Berkaitan dengan karakteristik kontekstual, siswa merasa bahwa mereka sangat familiar dengan alat peraga, mereka sering menjumpai bahan-bahan pembuatan alat peraga di 76

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lingkungan sekolah maupun rumah. Begitu juga dengan guru bahwa bahan alat peraga mudah dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu guru juga berangapan bahwa alat peraga bangun datar sangat sesuai jika digunakan untuk kegiatan pembelajaran khusunya materi bangun datar dari kelas 1 hingga kelas 6. Siswa juga merasa bahwa mereka ingin menggunakan alat peraga diluar jam pelajaran dengan alasan digunakan untuk berlatih agar lebih bisa menguasai dan mendalami materi. Selain pemaparan tentang pandangan positif terhadap penggunaan alat peraga, keempat subjek juga merasakan kendala dalam menggunakan alat peraga. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa subjek merasa bila ukuran alat peraga besar serta berat karena alat peraga terbuat dari kayu yang di dalamnya terdapat 5 rak yang berisi beberapa bangun datar. Ketiga subjek siswa juga merasa kesulitan dalam meletakan bangun ke dalam alas bangunnya, mereka berusaha dengan berbagai cara dengan mengotak-atik bangun hingga bangun tersebut bisa masuk ke dalam alas bangunnya. Selain itu karena keterbatasan alat peraga dalam setiap kelompok ketiga siswa sering menunggu dan bergantian dalam menggunakan alat peraga. Pada awal penggunaan alat peraga, guru merasa bahwa cara penggunaan alat peraga dirasa sulit akan tetapi setelah mencoba dan menggunakanya guru akhirnya dapat menggunakan dengan benar dan dapat menjelaskan kepada siswa dengan lancar. Siswa juga merasa demikian pada awal penggunaanya mereka masih banyak bertanya kepada guru maupun peneliti. Ketiga subjek siswa juga mengomentari alat peraga Montessori. Persepsi juga dipengaruhi oleh keinginan atau harapan sesorang terhadap objek (Toha, 2003). Siswa merasa bila bangun yang ada di dalam rak dibuat lebih besar lagi sehingga akan lebih jelas dalam mengidentifikasi antar bangun. Selain itu pewarnaan pada bangun datar lebih diperkaya lagi agar lebih jelas mengenai komponen-komponen dalam bagun datar meliputi sisi, sudut, dan diagonal. Sebelum dan sesudah penggunaan alat peraga Montessori keempat subjek memiliki pandangan yang positif mengenai alat peraga dalam pembelajaran. Begitu juga dengan pengimplementasian alat peraga Montesori yang merupakan pengalaman yang baru bagi subjek dalam kegiatan pembelajaran. Fungsi dan manfaat penggunaan alat peraga baik alat peraga yang pernah digunakan maupun 77

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraga Montessori memiliki fungsi yang sama yaitu dapat membantu guru dalam memudahkan penyampaikan materi begitu pula dengan siswa alat peraga memudahkannya dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Hanya saja alat peraga Montessori lebih memiliki karakteristik yang berbeda dengan alat peraga yang pernah digunakan. Alat peraga Montessori menyuguhkan konsep yang baru kepada siswa. Pola-pola bangun datar yang terdapat dalam alat peraga Montessori memberikan pengetahuan yang baru tentang berbagai bentuk bangun datar. Melalui alat peraga ini siswa memiliki pemikiran yang beragam mengenai terbentuknya suatu bangun datar. Contohnya siswa dapat melihat jika persegi itu dapat terbentuk dari dua buah bangun persegi panjang dan dua buah bangun segitiga siku-siku. Selain itu siswa juga dapat membangun pengetahuannya sendiri dengan melakukan pembuktian sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan alat peraga Montessori. Dengan demikian siswa memiliki pengetahuan jangka panjang karena pengetahuan yang dia bangun sendiri akan bertahan lama. Alat peraga ini juga memiliki pengendali kesalahan, sehingga siswa dapat menyadari kesalahan yang dibuat dan dapat memperbaiki dengan sendirinya. Alat peraga ini juga melatih kemandirian siswa. Siswa sudah mengerti apa yang dibutuhkan. Tanpa perintah, siswa sudah secara langsung mengambil alat peraga yang dibutuhkannya dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga Montessori ini juga menjadi lebih menyenangkan. Siswa dapat berdiskusi bahkan bekerja sama dalam melakukan pembuktian sifat-sifat bangun datar selain itu juga mampu menambah pengalaman siswa dalam melakukan presentasi di depan kelas, hal ini merupakan suatu pengalaman yang menantang bagi siswa karena dapat melatih kepercayaan diri siswa dalam menunjukkan sifat-sifat bangun datar kepada guru maupun teman-temannya. Kegiatan pembelajaran ini juga membedakan antara pembelajaran yang biasanya dengan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga Montessori. 78

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini diuraikan tentang (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan yang diperoleh sebagai berikut: 1. Penggunaan alat peraga Montessori yang dilakukan pada proses pembelajaran memberikan pengalaman tersendiri bagi guru. Sehingga dengan pengalaman ini guru memiliki tangapan yang positif terhadap penggunaan alat peraga Montessori. Guru memiliki paradigma pembelajaran yang baru yaitu pembelajaran Montessori. Pada kegiatan pembelajaran guru merasa alat peraga Montessori mampu memudahkan guru dalam menjelaskan materi kepada siswa. Selain itu guru juga melihat keantusiasan, minat belajar, konsentrasi, semangat dan keaktifan dalam mengikuti pembelajaran. Alat peraga juga menyuguhkan konsep tentang bangun datar kepada siswa, siswa mampu mengidentifikasi bangun datar dan menyebutkan ciri-ciri serta mampu membuktikannya. Guru juga berangapan bahwa alat peraga Montessori ini sesuai jika digunakan dalam pembelajaran baik untuk kelas 1 hingga kelas 6. 2. Pengalaman siswa menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran mampu membentuk persepsi siswa. Siswa memiliki tangapan yang positif terhadap alat peraga Montessori. Siswa merasa terkesan melihat alat peraga Montessori terkait dengan bentuk, isi dan warnanya. Penggunaan alat peraga mampu menumbuhkan sikap aktif, mandiri, antusias, dan keingintahuan yang tinggi terhadap materi. Selain itu terlihat raut muka yang senang ketika menggunakan alat peraga dalam pembelajaran karena mampu memberikan tantangan tersendiri dalam mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. Siswa 79

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI merasa bahwa alat peraga membantu dalam mengingat materi pada saat menjumpai soal. Selain itu juga siswa menginginkan alat peraga digunakan untuk bermain dan berlatih di luar jam pelajaran. Siswa tampak familiar dengan bahan yang digunakan dalam pembuatan alat peraga. Meskipun demikian mereka merasa bahwa ukuran setiap bangun terlalu kecil sehingga menyulitkan dalam membedakannya dan mereka sering merasa kesulitan pada saat meletakkan bangun ke dalam alasnya. Untuk itu mereka menyarankan untuk melebarkan rak dan bangunnya serta berpesan apabila pembuatan bangun mengunakan tripleks dalam pemotongannya harus serapi mungkin sehingga tidak membahayakan pengguna alat peraga. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Waktu penelitian yang digunakan untuk memperoleh kedalaman data, yaitu untuk mengujikan data hasil interpretasi atau coding kepada interpreter ahli. 5.2.2 Keterbatasan subjek atau responden dalam penelitian. 5.2.3. Alat peraga Montessori yang sudah dibuat terbatas. 5.3 Saran 5.3.1 Dalam memperoleh kedalaman data hasil interpretasi atau coding harus diujikan kepada interpreter ahli kualitatif. 5.3.2 Dalam menentukan responden penelitian harus diperbanyak lagi tidak hanya empat agar dapat mewakili subjek dalam memperoleh data penelitian. 5.3.3 Pada saat pembuatan alat peraga Montessori diperhatikan jumlah siswa yang ada di dalam kelas sehingga memungkinkan seluruh siswa dapat menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran. 80

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pressindo. Ajzen, I., & Fishbein, M. (1980). Understanding sttitudes and predicting social behavior. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah: standar kompetensi dan kompetensi dasar SD/MI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Chatarina, E. D. A. (2011). Pengaruh alat peraga terhadap antusiasme, minat belajar dan kemampuan siswa kelas 3 SD dalam menyelesaikan soal cerita materi pembagian di SD Kanisisus Duwet, Sleman tahun ajaran 2010/2011. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma. Creswell, J. W. (2007). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed (edisi ketiga). Jakarta: Pustaka Pelajar. Debi, F. (2012). Persepsi penggunaan media pembelajaran terhadap hasil belajar matematika. Jurnal bahas, VII (2), 113-117. Desmita. (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Fazio. R. I-L, & Roskos-Ewoidsen, D.R. (1994). Acting as we feel: When and how attitudes guide behavior. In S. Shaviti & T.C. Brock (Eds), Persuasion. Boston: Allyn & Bacon. Frick, T. W., & Joyce Hwee Ling Koh. (2010). Implementing autonomy support: insight from a Montessori classroom. International Journal of Education 2.2. Gale Education, Religion and Humanities Lite Package. Diakses tanggal 3 Februari 2014, dari http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA246254348&v=2.1&u= kpt05011&it=r&p=GPS&sw=w Hadiwijaja, H. (2011). Persepsi siswa terhadap pelayanan jasa pendidikan pada lembaga pendidikan El Rahma Palembang. Jurnal ekonomi dan informasi akuntansi (Jenius), 1(3), 221-236. Hainstock, E. G. (1997). The essential montessori an introduction to the woman, the writings, the method, and the movement. New York: Penguin Books. Haris, H. (2010). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Heruman. (2007). Model pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya. 81

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hudojo & Herman, H. (2001). Pengembangan kurikulum dan pembelajaran matematika. Malang: JICA. Holt, H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Johnson, E. B. (2007). Contextual teaching and learning: menjadikan kegiatan belajar - mengajar mengasyikkan dan bermakna. Bandung: Mizan Learning Center. Lillard, P. P. (1996). Montessori today. New York: Schocken Books. Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Lillard, P. P. (2005). Montessori: the science behind the genius. Oxford: Oxford University Press. Manner, J. C. (2007). Montessori vs. traditional education in the public sector:seeking appropriate comparisons of academic achievement. Forum onPublic Policy: A Journal of the Oxford Round Table. Gale Education,Religion and Humanities Lite Package. Diakses tanggal 3 Februari 2014 dari,http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA191817971&v=2.1&u =kpt05011&it=r&p=GPS&sw=w McMillan, J.H., Schumacher., Sally. (2001). Research in education a conceptual introduction. (fifth education). New York: Logman. Montessori, M. (2002). The montessori method. New York: Dover Publications. Muji, A. (2005). Hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan minat belajar matematika pada siswa kelas VII SMP. Jurnal pendidikan, I (2). Diakses tanggal 10 Maret 2014 dari, http://ebookbrowsee.net/pe/pembelajaran-kontekstual-ctl Mukti, S.P. (2012). Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika untuk kelas 3 SD N Tamanan I Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Muchtar, D.Y. (2012). Gambaran persepsi masyarakat medan terhadap pendidikan inklusi studi terhadap beberapa kecamatan di kota medan. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara. Moleong, L. J. (2002). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset. Nandang, N. (2009). Hubungan antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan penggunaan alat peraga dengan kecakapan psikomotorik siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Jurnal edukasi, I (3), 48-60. Nilawati, C. M. (2010). Pengaruh persepsi siswa tentang metode pengajaran, media pengajaran, dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar 82

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ekonomi siswa. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma. Poerwandari, E. (1998). Pendekatan kulalitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3). Fakultas Universitas Indonesia. Rakhmat, J, (2003). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Samija, S. (2012). Penelitian kualitatif dasar-dasar. Jakarta: PT Indeks. Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Smaldino, S.E., Lowter, D.L., Russell, J.D. (2011). Instructional technology and media for learning (9th edition). (Arif Rahman, Trans.). New Jersey: Pearson Education Inc. Sudono, A. (2010). Sumber belajar dan alat permainan: untuk pendidikan anak usia dini. Jakarta: Grasindo. Sugiyono. (2011). Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Bandung: Alfabeta. Suharjana & Sukayati, A. (2009). Pemanfaatan alat peraga matematika dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Yogyakarta: PPPPTK. Suharnan. (2005). Psikologi kognitif. Surabaya: Srikandi. Sumantri & Permana, J. H. (2001). Strategi belajar mengajar. Bandung: CV. Maulana Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Supratiknya, A. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata dharma. Tim Penyusun. (2008). Kamus Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Pusat Bahasa – Departemen Pendidikan Nasional. Triyanto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovasi progresif. Jakarta : Kencana. Walgito, B. (1999). Psikologi sosial (suatu pengantar). Yogyakarta : Percetakan Andi. Walgito, B. (2003). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta : Percetakan Andi Offset. Walle, J. A. (2006). Matematika pengembangan pengajaran. Jakarta : Erlangga. 83

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Walle, J. A. (2008). Matematika sekolah pengembanganpengajaran. Jakarta: Erlangga. dasar dan menengah: Widi, N. (2012). Peningkatan prestasi belajar matematika kelas 3 pada materi pecahan dengan menggunakan alat peraga karton berwarna. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Wulandari, E. (2007). Kegiatan dan hasil belajar siswa kelas 1 SD dengan metode Montessori pada pokok bahasan membaca dan menulis lambang bilangan dengan bantuan papan seguin. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Zaini & Siti, M. (2007). Matematika Sekolah Dasar di sekitar kita. Jakarta: Erlangga. 84

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.1 Transkrip Observasi Kondisi Sosio-Cultural Obseravasi Tanggal Waktu Lokasi Kode Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Transkrip Hasil Observasi Kondisi Sosio-Cultural : Kondisi Sosio-Cultural : 3 Februari 2014 : 10.00-11.00 : SD N Sokowaten Baru. : (O1.KSK.B) : O1 = Observasi ke-1 KSK = Kondisi Sosio Kultural B = Baris Transkrip Verbatim Observasi Keadaan kelas VB di SD N Sokowaten baru sama dengan kelas-kelas yang lainnya. Fasilitas yang terdapat di kelas VB antara lain terdapat lima belas meja siswa, tiga puluh kursi siswa, satu meja guru, satu kursi guru, sebuah papan tulis kapur, alat untuk menulis papan tulis yaitu kapur beserta penghapus. Pada sisi sebelah kanan kelas terdapat papan admisnistrasi kelas yang tergantung yang berisis tentang data siswa, jadwal pelajaran, daftar piket dan beberapa gambar karya milik siswa. Di sisi kiri kelas terdapat beberapa poster-poster yang terpajang ada poster tentang wayang pandawa lima, serta beberapa slogan tentang kebersihan hasil karya milik siswa. Sedangkan di tembok atas depan kelas sebuah patung garuda di bawahnya terdapat foto bapak Presiden dan Wakil presiden. Di tembok atas belakang kelas terdapat sebuah jam dinding. Di belakang kelas terdapat sebuah rak yang berisi buku tulis siswa dan buku paket Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Jawa, serta buku gambar siswa. Selain buku di sana juga terdapat hasil karya seni budaya dan keterampilan siswa yang berupa bunga yang terbuat dari kertas dan sedotan, vas bunga yang terbuat dari koran serta beberapa bangun ruang kubus dan balok hasil karya milik siswa. Pada kegiatan pembelajaran pada hari itu yaitu pembelajaran matematika dengan materi mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Dalam penyampaian materi ini menjelaskan dengan cara menunjukkan cara mengerjakan soal pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Setelah itu guru melakukan kegiatan tanya jawab untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pemahaman siswa. Siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran terbukti pada saat guru mengajukan pertanyaan beberapa siswa mengangkat tangan dan mencoba menjawab pertanyaan dari guru. Kegiatan itu terjadi berulang-ulang. Ketika guru mengajukan pertanyaan dan siswa mampu menjawabnya guru lantas melanjutkan kegiatan selanjutnya apabila siswa kurang tepat dalam menjawab guru menunjuk beberapa siswa untuk berpendapat dan akhirnya guru akan mengulang apa yang di sampaikan karena ada siswa yang belum memahami. Dalam penyampaian materinya guru menggunakan metode ceramah. Guru menjelaskan bagaimana cara mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal lantas memberikan beberapa contoh kepada siswa setelah itu guru menyuruh siswa untuk menulis catatan yang ada di papan tulis ke dalam buku tulis siswa. Setelah itu guru mencoba untuk menulis soal latihan dan menyuruh siswa untuk mengerjakan sesuai dengan contoh yang telah dijelaskan oleh guru. Lalu guru menyuruh beberapa siswa untuk mengerjakan soal tersebut di papan tulis dan mengoreksi bersama atas pekerjaan siswa. Setelah itu guru bertanya kepada siswa siapa yang masih belum dapat mengerjakan soal pecahan biasa menjadi pecahan desimal. Selanjutnya guru menyuruh siswa untuk masuk kedalam kelompok di dalam kelompok siswa membuat soal pecahan biasa dan menyuruh kelompok lain untuk mengerjakan. Dalam kegiatan ini terlihat sekali interaksi antar siswa dan antar kelompok lain. Di dalam kelompok beberapa siswa mencoba membuat soal dengan cara berdiskusi atas pembuatan soal. Kelihatan sekali kekompakan dan komunikasi antar anggota kelompok dalam pembuatan soal. Beberapa interaksi antar kelompok terjadi. Ada anggota kelompok yang menanyakan jawaban atas soal yang dibuat oleh kelompok itu dan sebaliknya kelompok yang ditanya berusaha untuk tidak memberi tahu jawaban atas soal yang diberikan. Seluruh anggota kelompok berusaha untuk menyelesaikan soal, ada kelompok yang membagi merata soal ada juga yang menyelesaikan soal bersama-sama. Dalam kegiatan ini siswa terpaku pada soal yang harus dikerjakan dalam kelompoknya. Beberapa kelompok lebih cepat menyelesaikan soal setelah itu mereka mencoba mendekati teman yang lain yang mengerjakan soal milik kelompoknya mereka saling berkonfirmasi atas Comment [b1]: Fasilitas kelas VB (O1.KSK.B1-14) 100

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 jawaban yang telah mereka kerjakan. Di dalam kelas ini perolehan nilai sangat di junjung tinggi, mereka mengendaki nilai yang sempurna dalam menyelesaikan tugas. Hal ini sangat terlihat ketika pengkoreksian jawaban di depan kelas. Dalam pengkoreksian jawaban kelompok yang menjawab soal perwakilan anggota kelompok untuk menuliskan jawaban di papan tulis berserta cara pengerjaannya sedangkan kelompok yang membuat soal mengkoreksi jawaban atas hasil yang dikerjakan kelompok tersebut serta menberikan nilai kepada siswa yang mengerjakan soal, apabila ada kesalahan dalam kegiatan ini sebagai penengah guru dan kelompok lain mendiskusikan kesalahan dari kedua kelompok tersebut. Hal itu berlangsung hingga semua anggota kelompok maju mempresentasikan hasilnya di papan tulis. Sedikit saja kesalahan yang di lakukan terkait dengan pemberian nilai semua anggota kelompok melakukan protes bersama kepada guru kelas. Sehingga guru kelas sendiri yang turun tangan untuk mengoreksi jawaban dari setiap anggota kelompok. Dalam kegiatan akhir pelajaran matematika ini guru melakukan kegiatan tanya jawab mengenai kegiatan yang telah dilakukan serta pemberian tugas pekerjaan rumah dan dikumpulkan sesuai kebiasaannya. 101

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.2 Transkrip Observasi Proses Pembelajaran 1 Transkrip Hasil Observasi Proses Pembelajaran Matematika Obseravasi : Observasi Proses Pembelajaran I Nama Subjek : Guru dan Siswa Tanggal : 7 Februari 2014 Waktu : 08.10-09.00 Lokasi : Ruang Kelas VB Kode Keterangan : (O1.PP.Subjek.B) : O1 = Observasi pembelajaran ke 1 PP = Proses Pembelajaran Subjek = Guru, siswa B = Baris Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Transkrip Verbatim Observasi Kegiatan pembelajaran berlangsung pada pukul 08.20 di karenakan sebelum pelajaran matematika ini ada pelajaran Bahasa Jawa, sehingga pergantian guru yang mengakibatkan keterlambatan 10 menit. Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran guru menyuruh ketua kelas untuk mengumpulkan pekerjaan rumah ke depan meja guru. Guru melakukan salam kepada siswa. Mengabsen siswa siapa yang tidak hadir dan alasannya. Seluruh siswa hadir pada hari itu. Berapa siswa sudah menyiapkan alat tulis yang berupa buku tulis, buku paket matematika, LKS serta bolpoin dan pensil di atas meja. Guru menyampaikan materi pada hari itu yaitu penjumlahan pecahan. Setelah itu guru melakukan kegiatan mecongak dan siswa sudah siap dengan segala peralatannya. Ketika guru memberikan pertanyaan siswa segera menulisnya di buku tulis masing-masing. Seluruh siswa melakukannya. Hingga soal nomor lima selesai dibacakan mereka segera menyelesaikan soal mencongak tersebut. Setelah itu tanpa perintah dari guru siswa menukarkan jawabannya dengan teman sebangkunya. Guru menuliskan jawabnnya di papan tulis dan siswa mengkoreksi jawaban milik siswa serta menilainya. Guru memanggil satu per satu siswa untuk menyebutkan skor perolehan dari hasil mengerjakan soal mencongak. Setelah semua di panggil guru menyuruh siswa untuk membuka buku paket halaman 147. Seluruh siswa membuka buku paket ada beberapa siswa yang tidak membawa lalu siswa tersebut disuruh guru untuk meminjam kelas lain yang hari ini ada jadwal matematika ada 3 siswa yang keluar untuk meminjam buku paket matematika. Setelah itu guru menyampaikan materi penjumlahan perkalian, yaitu perkalian pecahan biasa dengan pecahan biasa secara lisan kepada siswa. Guru menuliskan cara mengerjakan penjumlahan soal pecahan biasa dengan pecahan biasa di papan tulis. Guru bertanya kepada siswa apakah ada yang belum paham tentang penjelasan yang baru di sampaikan oleh guru. Salah satu siswa mengangakat tangan dan meminta guru untuk menjelaskan ulang karena siswa tersebut ketinggalan dalam mengikuti pelajaran karena baru meminjam buku paket matematika. Guru mengulang penjelasan tersebut dan menyuruh siswa tersebut untuk maju kedepan mengerjakan contoh soal yang lain dan siswa tersebut dapat menyelesaikannya dengan baik. Lalu guru menyuruh siswa untuk menulis catatan yang ada di papan tulis beserta contoh yang baru saja dikerjakan oleh salah satu siswa tersebut. Setelah semua selesai menulis catatan guru itu lalu menyuruh siswa untuk mengerjakan soal nomor satu pada buku paket halaman 147 latihan soal 1. Siswa mengerjakan soal yang terdapat dalam buku paket tersebut. Ada dua siswa yang meminta izin untuk kekamar mandi akan tetapi hanya satu siswa yang diperbolehkan keluar dan menyuruh keluar secara bergantian. Setelah semua selesai mengerjakan guru menyuruh salah satu siswa untuk maju kedepan untuk menuliskan jawabanya kedepan kelas. Siswa tersebut menuliskan hasilnya dengan benar. Guru menyuruh siswa tersebut untuk duduk kembali. Setelah itu guru bertanya siapa yang masih salah dalam mengerjakan soal, ada 10 siswa yang mengangkat tangan, lalu guru bertanya kepada salah satu siswa yang mengangkat tangannya dimana letak kesalahannya dalam mengerjakan soal, lalu siswa itu menjawab dia keliru dalam menyamakan penyebut. Guru menjelaskan lagi mengenai cara menyamakan penyebut dengan cara mencari KPK dari kedua penyebut yang ditambahkan. Guru menyuruh satu siswa yang salah dalam Comment [b2]: Guru dan siswa melakukan kegiatan awal (O1.PP.B3-5) Comment [b3]: Kesiapan siswa (O1.PP.B6-7) Comment [b4]: Kegiatan mencongak (O1.PP.B814) Comment [b5]: Penggunaan metode ceramah dalam menyampaikan materi (O1.PP.B19-20) Comment [b6]: Penggunaan papan tulis (O1.PP.B20-21) Comment [b7]: Perhatian siswa dalam pembelajaran (O1.PP.B23-24) Comment [b8]: Siswa mencatat catatan yang ada dipapan tulis (O1.PP.B27-28) Comment [b9]: Pemberian tugas oleh guru (O1.PP.B29-30) 102

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 mengerjakan soal tadi untuk mencari KPK 10 dan 15, lalu siswa itu membuat pohon faktor dan mampu menemukan jawabnnya. Setelah itu guru bertanya apa masih ada lagi yang kesulitan dalam menyamakan penyebut, seluruh siswa menjawab tidak mengalami kesulitan dalam menyamakan penyebut. Setelah itu guru menyuruh siswa untuk melanjutkan mengerjakan soal nomor 2 sampai 10 yang terdapat dalam buku paket. Seluruh siswa mengerjakan soal,mengerjakan sesuai dengan perintah guru. Ada 4 siswa yang duduknya paling belakang sedang berbincang-bincang. Guru lalu mendekati keempat siswa tersebut dan memperingatkannya. Lalu guru kembali ke meja guru dan mengkoreksi pekerjaan rumah siswa keempat siswa yang tadi diperinggatkan oleh guru membuat ulah dengan mengganggu salah satu temannya dalam mengerjakan soal. Guru menyuruh siswa yang mengganggu temannya untuk duduk di depan meja guru. Siswa tersebut menolak dan akhirnya ditarik dari bangkunya menuju, bangku depan meja guru. Guru memberi peringatan kepada seluruh siswa bahwa waktu menggerjakan tinggal 10 menit. Guru bertanya siapa yang sudah selesai dalam mengerjakan soal. 10 siswa mengangkat tangan menjawab sudah selesai dan siswa yang lainnya mengatakan belum selesai. Lalu guru menyuruh siswa yang belum selesai untuk melanjutkan mengerjakan soal. Dan menyuruh siswa yang sudah selesai tidak mengganggu teman yang belum selesai. Beberapa siswa yang sudah selesai ada yang mengobrol dengan teman sebangkunya, memain-mainkan alat tulis, ada yang menggambar dan ada juga yang meraut pensil. Guru menyuruh siswa untuk menukarkan jawaban dengan teman sebangkunya. Guru menunjuk beberapa siswa secara bergantian menuliskan jawabannya di papan tulis. Guru dan siswa bersama-sama mengkoreksi hasil jawaban beberapa siswa yang di tulis di papan tulis. Hasil jawaban soal nomor 2 dapat diselesaikan dengan benar. Hasil jawaban nomor 3 salah,ada salah satu siswa yang berpendapat bahwa jawaban nomor 3 salah, lalu guru menyuruh siswa tersebut membetulkan jawaban nomor 3. hingga sampai soal nomor 10 dapat diselesaikan dengan baik. Setelah itu guru menyuruh siswa untuk memberikan nilai pada hasil koreksiannya. Lalu siswa mengembalikan hasil pekerjaan teman sebangkunya. Guru memanggil satu persatu siswa untuk menanyakan skor yang di peroleh oleh siswa. Setelah semua siswa dipanggil lalu guru bertanya kepada siswa mengenai kegiatan yang telah dilakukan. Selain itu bertanya apakah masih ada kesulitan dalam mengerjakan penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa. Semua siswa menjawab semua bisa dikerjakan tanpa ada kesulitan. Lalu guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa sebanyak 10 soal dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Lalu guru mengucapkan salam. Comment [b10]: Penggunaan papan tulis (O1.PP.B61-62) Comment [b11]: Evaluasi hasil belajar (O1.PP.B67-68) Comment [b12]: Kegiatan akhir (O1.PP.B71-73) 103

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.3 Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke-2 Transkrip Hasil Observasi Proses Pembelajaran Matematika Obseravasi Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 : Observasi Proses Pembelajaran II : Guru dan Siswa : 24 Februari 2014 : 08.10-09.00 : Ruang Kelas VB : (O2.PP.Subjek.B) : O2 = Observasi pembelajaran ke II PP = Proses Pembelajaran Subjek = Guru, siswa B = Baris Transkrip Hasil Observasi Kegiatan pembelajaran berlangsung tepat pukul 08.10. Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran guru menyuruh siswa untuk membersihkan kelas karena kelas sangat kotor banyak kertas dimana-mana. Seluruh siswa membersihkan kelas ada yang menyapu dan ada juga yang membuang sampah, guru juga ikut menyapu. Mereka membutuhkan waktu 10 menit untuk membersihkan kelas. Setelah itu kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa sudah mengumpulkan pekerjaan rumah di meja guru. Beberapa siswa sudah menyiapkan alat tulis, buku catatan, buku paket dan LKS. Guru bertanya hari ini siapa yang tidak masuk dan siswa menjawab semua siswa masuk. Guru bertanya apakah sudah siap dalam belajar semua siswa menjawab sudah siap. Guru bertanya mengenai materi minggu lalu beberapa siswa menjawab bahwa materi minggu lalu adalah mengalikan pecahan biasa dengan pecahan campuran. Guru hari itu tidak memberikan kegiatan mencongak karena tadi waktunya telah habis digunakan untuk membersihkan kelas, selanjutnya guru memberitahukan kepada siswa bahwa hari ini akan belajar mengenai pembagian pecahan diawali dengan pembagian pecahan biasa dengan pecahan biasa setelah itu melakukan pembagian pecahan biasa dengan pecahan campuran dan pembagian pecahan campuran dengan pecahan campuran. Guru menyuruh siswa untuk mengeluarkan buku catatan dan membuka buku paket halaman 167. Sesmua siswa mengeluarkan buku catatan dan membuka buku paket halaman 167. Lalu guru menjelaskan tentang pembagian pecahan biasa dengan pecahan biasa. Dan menuliskannya di papan tulis serta memberikan contoh penyelesaian pecahan biasa dengan pecahan biasa. Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru. Sesekali mereka mengerjakan soal tersebut dengan melakukan kegiatan tanya jawab. Setelah selesai memberikan contoh guru bertanya kepada siswa apakah ada pertanyaan dan beberapa siswa menjawab tidak ada pertanyaan sedangkan siswa yang lain diam saja. Lalu guru menyuruh siswa menulis catatan yang ada di papan tulis ke dalam buku catatan. Seluruh siswa menulis catatan kedalam buku catatannya. Guru bertanya kepada siswa apakah sudah selesai dalam mencatat ada beberapa siswa yang menjawab belum selesai lalu guru menunggu siswa tersebut untuk menyelesaikan mencatatnya. Salah satu siswa berkata bahwa sudah selesai mencatat lalu guru melanjutkan penyampaian materi mengenai pembagian pecahan biasa dengan pecahan campuran. Guru menjelaskan cara penyelesaian soal pecahan biasa dengab pecahan campuran. Dalam menjelaskan soal guru menyuruh siswa untuk menjadikan pecahan campuran ke pecahan biasa lalu mencari KPK dari penyebut kedua bilangan tersebut, setelah itu guru mencatatnya dan memberikan sebuah soal mengenai pembagian pecahan biasa menjadi campuran di papan tulis. Guru menyuruh siswa untuk mengerjakan contoh itu secara bersama-sama, beberapa siswa ikut menjawab dan ada juga yang hanya diam memperhatiakan guru dalam mengerjakan contoh soal. Setelah selesai guru menyuruh siswa untuk menuliskannya ke dalam buku catatan. Seluruh siswa mencatatnya kedalam buku catatan masing-masing. Setelah semua selesai guru melanjutkan menjelaskan mengenai pembagian pecahan campuran dengan pecahan campuran. Guru menjelaskan cara penyelesaian pembagian pecahan campuran dengan pecahan campuran dengan cara menjadikan pecahan campuran menjadi pecahan biasa lalu penyebutknya dicari KPKnya dan menuliskannya di papan tulis setelah itu memberikan satu soal dan mengerjakannya, seluruh siswa memperhatikan guru dalam menyelesaikan soal. Guru bertanya apa yang masih belum Comment [b13]: Kesiapan siswa (O2.PP.B6-7) Comment [b14]: Guru dan siswa melakukan kegiatan awal (O2.PP.B7-9) Comment [b15]: Guru menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi (O2.PP.B1718) Comment [b16]: Siswa mencatat catatan yang ada di papan tulis (O2.PP.B23-24) Comment [b17]: Penggunaan papan tulis (O2.PP.B32-33) Comment [b18]: Penggunaan papan tulis (O2.PP.B39-41) 104

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 jelas mengenai cara pembagian pecahan campuran dengan pecahan campuran. Ada siswa yang mengangkat tangan dan dan menyuruh guru untuk memberikan satu soal lagi. Lalu guru menyangupinya dan menulisakan satu soal lalu menuyuruh semua siswa untuk menyelsaikan bersama-sama dengan guru. Setelah selesai guru bertanya apakah masih ada pertanyaan lagi mengenai pembagian pecahan campuran dengan pecahan campuran atau mengenai pembagian pecahan yang dijelaskan guru sebelumnya. Seluruh siswa diam dan beberapa siswa menjawab sudah paham. Lalu guru menyuruh siswa untuk mencatat pembagian pecahan campuran dengan pecahan campuran kedalam buku catatan. Semua siswa mencatat kedalam buku catatan mereka msing-masing. Setelah semua selesai guru menyuruh siswa untuk mengerjakan soal yang terdapat dalam LKS halaman 35 tentang pembagian pecahan dengan jumlah soal 15 butir soal. Dalam mengerjakan tugas ini guru menyuruh mengerjakan soal secara berpasangan dengan teman sebangkunya. Guru menjelaskan cara mengerjakan soal sesuai penjelasan yang telah diberikan dengan cara menuliskan caranya hingga menemukan hasilnya dijadikan menjadi pecahan yang paling sederhana. Lalu guru bertanya apakah ada pertanyaan dalam tugas ini, ada satu siswa bertanya apakah boleh mengerjakan soal tidak dengan teman sebangkunya, guru menjawab boleh asalkan berpasangan dua orang dalam satu kelompok. Lalu siswa mencari pasangan dan mengerjakan soal yang terdapat dalam soal LKS. Siswa mengerjakan secara berpasangan. Mereka berdiskusi dalam mengerjakan soal. Ada yang mengerjakan secara bergantian, ada yang mengerjakan bersama dan ada juga yang hanya salah satu yang mengerjakan. Mereka mengerjakan dengan sangat serius sampai-sampai hasil pekerjaanya ditutup sehingga teman yang lain tidak dapat melihat hasil pekerjaan mereka. Guru meminta izin untuk pergi ke kantor untuk mengambil daftar nilai. Setelah guru keluar siswa ramai. Ada yang keluar dari kursinya, ada yang keluar kelas dan bahkan ada yang menggangu temannya yang sedang mengerjakan tugas ada juga yang melihat hasil pekerjaan teman yang lain. Kelas menjadi sangat tidak kondusif. Setelah beberapa lama, salah satu siswa datang dan meberi tahu kepada teman-temannya jika gurunya sudah datang, semua siswa menjadi tenang dalam sekajap. Setelah guru masuk kedalam kelas dan bertanya siapa tadi yang ramai dan keluar kelas, semua siswa menunjuk teman-temannya sehingga kelas menjadi gaduh. Guru mengkondisikan siswa dengan menyuruh salah satu untuk menjawab akan tetapi tidak ada siswa yang tidak menjawab. Oleh karena itu guru memperingatkan jika guru sedang tidak ada di ruang kelas semua semua siswa tetap menjaga ketenangan karena dapat menggangu kelas yang lain. Beberapa siswa duduk terdiam dan ada yang menganguk. Setelah itu guru menyuruh untuk melanjutkan mengerjakan soal. Ada salah satu siswa maju kedepan untuk menanyakan salah satu soal yang tidak ada jawabnnya pada jawaban a,b,c, dan d. Sehingga guru tersebut mengkonfirmasi kepada semua siswa bahwa nomor 12 tidak ada jawabnnya dalam pilihan jawaban a,b,c dan d akan tetapi tetap dikerjakan. Setelah beberapa saat guru bertanya siapa yang belum selesai, beberapa siswa mengangkat tangan dan menjawab belum selesai dan menyuruh siswa yang sudah selesai mengumpulkannya kedepan. Semua siswa yang selsai mengumpulkan hasil pekerjaannya. Lalu guru menyuruh siswa yang sudah selesai untuk menunggu temannya dan tidak membuat ramai kelas. Bel berbunyi tanda pelajaran selesai akan tetapi masih ada beberapa siswa belum selesai guru tersebut menyuruh siswa untuk tetap mengumpulkannya walaupun belum selesai. Semua siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya. Setelah semua sudah mengumpulkannya guru merangkum pelajaran hari ini dengan melakukan kegiatan tanya jawab dan memberikan pekerjaan rumah untuk melanjutkan mengerjakan soal dalam LKS. Comment [b19]: Perhatian siswa dalam pembelajaran (O2.PP.B43-44) Comment [b20]: kegiatan mengerjakan soal (O2.PP.B53-54) Comment [b21]: Evaluasi hasil belajar (O2.PP.S.B85-86) Comment [b22]: Kegiatan akhir (O2.PP.G.86-88) 105

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.4 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-I Transkrip Hasil Observasi Video Pelaksanaan Penelitian Obseravasi Tanggal Waktu Lokasi Kode Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pelaksanaan Penelitian Pertemuan Ke-1 : 19 Maret 2014 : 10.00-11.45 : Ruang kelas VB : (O1.PPN.Subjek.B) : O1 = Observasi pelaksanaan penelitian pertemuan ke-1 PP = Pelaksanaan penelitian Subjek = Guru (G), Siswa A (SA), Siswa B (SB), Siswa C (SC) B = Baris Transkrip Hasil Observasi (Lima menit pertama digunakan guru untuk melakukan kegiatan awal yang berupa salam, doa, absensi) G berkata kepada siswa “hari ini kita akan belajar mengenai sifat-sifat bangun datar persegi dan segitiga”, sambil mengambil alat peraga dan meletakkannya di meja siswa yang paling depan. SA menganguk dan berkata “ohhh... bangun datar”. SB melihat kedepan dan memperhatikan guru yang sedang berbicara. SC melihat guru yang sedang memberitahu materi pembelajaran yang akan diajarkan pada hari itu dengan meletakan tangan kanan ke dagu. G menyuruh semua siswa untuk mengeluarkan rak pertama dan berkata “sekarang lihat alat peraga lalu keluarkan rak yang pertama”. SA mengambil alat peraga dan membuka-buka rak yang terdapat di dalam alat peraga lalu mengeluarkannya dan berkata “tidak ada persegi panjang” lalu setelah membuka rak yang pertama dan melihat persegi panjang dan berkata“eh ada”. SB menghadap kedepan dan memegang alat peraga lalu mengeluarkan rak pertama pada alat peraga. Setelah mengeluarkan alat dan meletakkannya di tengah-tengah meja dan berkata “Mbak ini gimana cara membawanya hingga sampai ke kelas? bawanya pakek apa?”. SC melihat alat peraga dan memegangnya lalu berkata “kok berat ya mbak”. G berkata “di sana terdapat beberapa bangun, sekarang ambil yang berwarna biru sambil mengambil bangun persegi”. SA mengambil bangun datar persegi dan memani-mainkannya dengan cara memutar-mutar bangun datar tersebut sambil melihat bangun datar yang lainya. SB berkata “ Mbak, itu yang membuat mas A semua? Waaaaaaahhh hebat mas A” sambil bertepuk tangan. SC berdiri dari tempat duduk dan membuka rak yang tertama lalu memegang alat peraga yang ada di dalamnya, lalu membawa alat peraga di tengah-tengah kelompok dan berdiri lagi membuka rak yang lainnya dan melihat-lihat isinya. G berkata “Sekarang ibu mau tanya benda apa yang berbentuk persegi?” SA berkata “Buku” sambil menunjuk buku. SB berdiri dan menunjuk lantai dan berkata “jendela, ubin atau lantai”. SC memegang bangun datar segitiga sama sisi dan sesekali melihat leptop dan tersenyum. G berkata “sekarang ibu mau tanya benda apa yang berbentuk segitiga?” SA melihat sekeliling kelas dan berkata “apa yaa... angel di kelas mana ada” lalu memegang bangun persegi diputar kearah kanan dan kiri. SB diam saja dan berkata “apa ya bu?” sambil megaruk-garuk kepala bagian belakang dan melihat sekeliling kelas. SC berkata “layanglayang” sambil memegang bangun segitiga sama sisi. G berkata “apa kalian pernah melihat tempe? Itu salah satu contohnya”. SA tertawa dan berkata “hahahahaaa...tekan tempe kok piye, tempe yo ning ngomah ya nda?”. SB “hahhaaaaaa tempe.. tempe” lalu tertawa. SC berkata “ooohhh.... tempe? Hahahahaaaaa”. Guru berkata “sekarang masuk kedalam materi dan dilihat bangun persegi, lalu bangun persegi terdapat garis yang membatasi bangun tersebut yang disebut dengan sisi” sambil mengangkat bangun datar ke atas sambil menunjukkan sisi-sisinya secara bergantian dan berkata lagi “sekarang semua kelompok melihat dan memegang alat peraganya”. SA mengangkat bangun persegi menirukan guru. SB berkata “bangun persegi”, lalu melihat Comment [b23]: SA mengambil alat peraga (O1.PPN.SA.B12-13) Comment [b24]: Tingkah laku siswa pada saat menggunakan alat peraga pertama kali (O1.PPN.B12-18) Comment [b25]: Memainkan bangun (O1.PPN.SA.B21-22) Comment [b26]: Memainkan bangun (O1.PPN.SA.B32-33) 106

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 bangun persegi yang sedang dibawa oleh SA. SC melihat guru yang sedang berbicara didepan kelas dan memegang segitiga lalu memantul-mantulkan di atas meja. G berkata “Pinggirnya namanya apa?” SA berkata “sisi” sambil menghadap kedepan dan memutar-mutarkan bangun. SB berkaya “sisi” dengan jari tangan ada di mulut. SC berkata “sisi” lalu melihat guru yang sedang menjelaskan. G menjelaskan tentang sisi persegi dan berkata “sekarang semua melihat kedepan” sambil mengambil bangun persegi panjang lalu menempelkan sisi panjang persegi panjang dengan keempat sisi pada bangun datar secara bergantian dan berkata lagi “ayo semua kelompok mencoba seperti yang ibu lakukan jadi sisinya sama apa tidak? Berarti kalau persegi itu keempat sisinya bagaimana?” SA menjawab bertanyaan “sama bu” sambil mengambil persegi panjang lalu menempelkan sisinya pada sisi persegi dengan melihat guru yang sedang melakukannya. SB menjawab “sama” sambil melihat guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. SC menjawab “sama” sambil melihat segitiga dan mengeluarkan bangun persegi panjang dari alasnya, G menegaskan tentang sifat persegi dan berkata “berarti sifat persegi yang pertama apa? yaitu keempat sisinya sama panjang” sambil membawa bangun persegi. SA menjawab pertanyaan dari guru dan berkata “keempat sisinya sama panjang” sambil meletakkan bangun persegi panjang pada alasnya tetapi tidak bisa masuk, lalu memasukannya kembali dan bisa masuk ke dalam alasnya. SB menjawab “ke empat sisinya sama panjang” lalu membantu SA yang meletakkan persegi panjang ke dalam alasnya. SC berkata “keempat sisinya sama panjang” sambil memutar bangun persegi dan memutarnya seperti (gangsingan). G: guru mengangkat bangun persegi lalu memegang keempat sudutnya dan berkata “baiklah sekarang lihat, ini namanya apa?” SA menjawab “sudut” sambil mengangkat bangun persegi dan memegang sudutnya satu per satu. SB menjawab “sudut” dengan kedua tangan ada di pipi. SC menjawab “sudut” lalu menghentikan segitiga yang sedang berputar. G: guru mengangkat bangun persegi lalu memegang keempat sudutnya dan berkata “baiklah sekarang lihat, ini namanya apa? sekarang ambil persegi panjang dan sekarang salah satu sudutnya diletakkan pada setiap sudut persegi untuk membuktikan apakah keempat sudutnya sama panjang atau tidak. Ayo sekarang dicoba dengan alat peragantya”. “90 derajat” dan meletakkan segitiga kedalam alas bangunnya seskali melihat leptop. G berkata “jika salah satu sudutnya siku-siku dan besarnya 90 derajat, maka berapa besar keempat sudut pada bangun persegi ini? sambil membawa bangun persegi dan berjalan kearah kiri. SA memutar-mutar bangun dan berkata “360 derajat”. SB menjawab “360 kan 90 di kali 4”. SC berkata “yeeee yeee betul” lalu tepuk tangan. G Iya benar 360 derajat. Sehingga keempat sudutnya bagaimana? SA mengambil dua buah bangun persegi panjang dan menjawab pertanyaan dari guru “sama besar”. SB menjwab “sama besar” lalu bertanya kepada peneliti “mbak ini kok bangunnya tidak ada yang dibagi empat e?” SC melihat kearah SA yang mengambil bangun persegi panjang. G berkata “ya, benar ya jadi sifat yang kedua yaitu keempat sudutnya sama besar. Sudah paham semua?” sambil meletakkan bangun datar kedalam alasnya dan mengambil dua buah bangun persegi. SA, SB, dan SC serentak menjawab “sudah”. G menjelaskan dan berkata “bangun persegi itu bisa juga dibentuk dari dua buah bangun persegi panjang. Benar apa tidak? Ayo kita buktikan, kalian mengambil dua buah bangun yang berwarna merah”. SA mengambil dua buah persegi panjang. SB melihat SA yang sedang mengambil dua buah bangun persegi panjang. SC melihat kedepan sesekali melihat bangun persegi panjang yang dibawa SA G berkata “jika bangun yang warna merah itu kalian ambil salah satu maka akan membentuk bangun apa?” sambil menunjukkan bangun datar persegi panjang kepada siswa. SA mengangkat kedua buah bangun persegi panjang dan menyatukannya sambil berkata “persegi panjang”. SB menjawab “persegi panjang” lalu melihat SA yang sedang menyatukan kedua bangun persegi panjang. SC melihat kearah guru sambil berkata “persegi Comment [b27]: Guru menjelaskan cara menggunakan alat peraga (O1.PPN.B50-54) Comment [b28]: Memainakan alat peraga (O1.PPN.SC.65-66) Comment [b29]: G mejelaskan sudutnya (O1.PPN.G.B72-76) Comment [b30]: Tingkah laku SB,SC (O1.PPN.S.B95-97) Comment [b31]: Tingkah laku SB (O1.PPN.SB.B102-103) 107

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 panjang” G berkata “kalau dua buah bangun persegi panjang digabungkan menjadi bangun apa?” sambil menengok kearah siswa. SA: menjawab “persegi” sambil mengembalikan bangun persegi panjang kedalam alasnya. SB: melihat SA yang sedang meletakkan bangun kedalam alas bangunnya dan menjawab pertanyaan dari guru “persegi”. SC berkata “persegi” dan melihat kearah guru. G menjelaskan tentang bangun persegi dan berkata “Bangun apa? Iya persegi lalu sekarang keluarkan bangun yang berwarna kuning” sambil mengambil dua buah bangun berwarna kuning dari alasnya dan mengangkat ke depan dan ditunjukkan kepada siswa dan bertanya kepada siswa “yang kuning ini namanya bangun segitiga apa?” SA meletakkan bangun persegi panjang ke dalam alasnya. SB menjawab “sama kaki” sambil melihat guru yang sedang menjelaskan. SC berkata “siku-siku” mengambil kedua bangun berwarna kuning, lalu meletakkan satu kedalam alasnya dan melihat SA yang sedang mengambilnya. G membenarkan jawaban siswa dan berkata “iya bangun segitiga siku-siku”, lalu menjelaskan lagi “kalau kedua bangun segitiga siku-siku digabungkan akan membentuk bangun persegi” dan menempelkan kedua bangun sehingga membentuk bangun persegi dan mengangkatnya serta ditunjukkan kepada siswa. Dan menegaskan penjelaskan dengan berkata “jadi bangun persegi dapat dibentuk dari dua buah bangun persegi panjang dan dua buah bangun segitiga siku-siku. Jelas belum?” SA: jelas (meletakkan bangun warna kuning ke atas meja dengan posisi bangun berdiri sambil menjawab pertanyaan dari guru “jelas”. SB menjawab “jelas” dan masih melihat guru yang sedang menjelaskan. SC menjawab “jelas” sambil meraba-raba bangun dan memegang sisi-sisinya. G menjelaskan tentang diagonal dan berkata “selain kedua sifat dari persegi tersebut masih ada satu lagi sifatnya yaitu diagonalnya bagaimana?” guru mengambar bangun persegi di papan tulis dan menjelaskan lagi “jadi garis yang memotong bangun persegi ini di namakan diagonal. Jadi garis diagonal adalah kedua garis yang memotong kedua bangun yang saling tegak lurus. Jelas? Itu yang bangun datar persegi” SA menjawab “jelas” lalu meletakkan bangun segitiga siku-siku ke dalam alasnya. SB meletakkan bangun persegi panjang yang tidak sesuai dengan alasnya lalu memasangnya kembali, mengalami kesulitan, memutar bangun ke arah kanan dan kiri, menganti satu bangun persegi degaan bangun yang lainnya akhirnya dapat masuk kedalam alasnya dengan pas. SC: “ahahaa SB ngga bisa” melihat SB yang sedang meletakkan bangun datar persegi panjang kedalam alasnya. G menanyakan tentang bangun segitiga sama sisi kepada siswa dan bertanya “sekarang yang kedua, bangun datar yang kedua, ada bangun datar apa itu di bawahnya yang berwarna biru? Ayo semua dikeluarkan dan apa nama bangun tersebut?” SA melihat bangun lalu melihat SC yang sedang mengambil bangun dari alasnya, lalu mengambil bangun yang dibawa oleh SC lalu melihat dan meraba setelah itu meletakkan kembali ke dalam alasnya. SB menjawab “segitiga” sambil melihat bangun lalu melihat SC yang sedang mengambil bangun lalu menghadap kedepan. SC mengambil bangun pada alat peraga lalu melihat dan meraba bangun dan meletakkan kedua tangan pada bangun sehingga membentuk bangun segitiga. G menanyakan kepada sisiwa atas jawabnnya sambil berkata “segitiga sama sisi? Apakah benar? Ayo coba kita lihat bersama”, guru mengambil sebuah bangun segitiga siku-siku lalu menempelkan sisinya dengan sisi bangun persegi sama sisi secara bergantian. Bertanya lagi “bagaimana? semua panjang sisinya sama tidak? Kalau ketiga sisinya sama panjang, pasti itu adalah sebuah segitiga sama sisi. Ayo semua melakukan. Jelas semua?” SA mengambil bangun segitiga siku-siku dan memainkannya sambil melihat SB dan SC yang sedang menempelkan sisi pada bangun segitiga siku-siku dengan sisi segitiga sama sisi. SB mengambil bangun segitiga sama sisi, lalu menempelkan sisi pada bangun dengan sisi bangun segitiga sama sisi yang dibawa oleh SC. SC melihat guru yang sedang menunjukkan contoh membuktikan sisi segitiga sama sisi lalu menempelkan sisi bangun segitiga sama sisi yang dibawanya dengan sisi bangun segitiga siku-siku yang dibawa oleh SB satu per satu sesuai contoh dari guru lalu mencoba sendiri dengan mengambil segitiga yang dibawa SB lalu menempelkan satu persatu pada sisi segitiga sama sisi. SA mengambil bangun segitiga sama sisi yang dibawa oleh SC ketika SC sedang menempelkan sisi kedua Comment [b32]: Mengambar bangun segitiga dipapan tulis (O1.PPN.B130-131) Comment [b33]: Kesulitan SB dalam meletakkan bangun kedalam alasnya (O1.PPN.B134-139) Comment [b34]: Tingkah laku SA (O1.PPN.S.B143-145) Comment [b35]: G menjelaskan sifat-sifat bangun segitiga (O1.PPN.B149-154) 108

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 bangun tersebut lalu menempelkan sisi bangun segitiga siku-siku yang dibawanya dengan segitiga sama sisi yang baru saja diambilnya. G menjelaskan tentang sudut pada segitiga dan berkata “lalu sifat yang kedua, apakah ketiga sudutnya sama besar? Kalau segitiga sama sisi itu ketiga sudutnya sama besar. Caranya mengingat kalo semua segitiga itu jumlah sudutnya 180 derajat. Sekarang kalo segitiga sama sisi tadi semua sudutnya sama, berapa besar salah satu sudutnya? SB?” SA memainkan segitiga dengan menempelkannya pada dahinya sambil melihat guru yang sedang menjelaskan sambil menjawab pertanyaan dari guru “60 derajat bu”. SB melihat kedepan dan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan sambil menjawab pertanyaan dan berkata “60 derajat soalnya 160 di bagi menjadi 3”. SC meletakkan bangun segitiga siku-siku pada alas bangun akan tetapi dalam meletakkannya tidak sesuai dengan alas bangunnya, membolak-balik bangun dari samping kanan alas dan samping kiri alas, lalu mencobanya satu per satu bangun segitiga siku-siku dan akhirnya bisa melakukannya dan berkata “yeee,, akhirnya bisa” lalu menghadap kedepan melihat guru menjelaskan materi sesekali melihat kearah video. G menegaskan jawaban sisawa “iya benar jadi 180 dibagi menjadi tiga, kenapa dibagi menjadi tiga karena segitiga sama sisi mempunyai tiga sudut yang sama besar” sambil membawa bangun persegi dan berjalan ke arah belakang. SA menjawab “jelas”, sambil mengambil kedua bangun segitiga siku-siku pada alat peraga. SB menjawab “jelas bu” sambil melihat SA yang sedang mengambil bangun lalu menghadap kedepan mendengarkan guru yang sedang berbicara. SC menjawab “jelas” lalu melihat kearah leptop lalu menjulurkan lidahnya dua kali, lalu menghadap kedepan sambil meletakkan kepalanya diatas meja. G berkata “sekarang bangun yang berwarna merah” mengambil bangun segitiga sikusiku pada rak lalu melanjutkan menjelaskan “jadi segitiga sama sisi itu juga bisa dibentuk dari dua buah segitiga siku-siku. Bener apa tidak? Jadi kalau dua buah sikusiku digabungkan itu membentuk segitiga sama sisi” lalu mengabungkan segitiga sikusiku. SA menghadap kedepan melihat guru yang sedang mencontohkan, lalu mengikuti apa yang dilakukan oleh guru yaitu mengabungkan kedua segitiga siku-siku lalu menunjukkan bangun tersebut kedepan. SB melihat guru yang sedang mencontohkan sambil menjawab pertanyaan “ya bisa”. SC melihat kearah leptop sambil kedua tangan sedakep di atas meja. G melanjutkan menjelaskan materi “selanjutnya, bangun yang berwarna kuning, ini adalah segitiga sembarang, kenapa disebut segitiga sembarang? Karena panjang ketiga sisinya tidak sama, besar ketiga sudutnya juga tidak sama. makannya segitiga ini disebut segitiga sembarang” sambil menunjuk sisi dan sudut pada bangun segitiga sembarang dan menunjukkanya kepada siswa. SA melihat bangun segitiga sembarang yang sedang diambil oleh SB dan SC lalu meletakkan kedua bangun segitiga siku-siku yang dibawanya kedalam alas bangun dan mencoba memasukkannya dari satu bangun dengan bangun yang lain, SA melihat segitiga sembarang yang dibawa oleh SB lalu mengambilnya, SB berkata “sek to lagi tak nggo” (sebentar baru mau saya gunakan) lalu SB mengambil dua segitiga sembarang dari rak alat peraga lalu membolak-mbalik kedepan dan kebelakang sambil menempelkan sisi kedua segitiga sembarang tersebut. SC membantu SA yang sedang meletakkan segitiga siku-siku kedalam alasnya sambil berkata “bukan gitu, aku tadi masukin kayak gitu tapi ngga bisa” sambil memegang segitiga sembarang. G berkata “jadi kalau segitiga sembarang itu digabungkan menjadi tiga maka akan membentuk bangun segitiga sama sisi. Paham sampai disini? Jadi sudah ketemu kan sifat-sifat dari kedua bangun datar tadi bangun datar persegi dan bangun segitiga sama sisi. Siapa yang bisa menjawab?” SA meletakkan segitiiga sembarang lalu mencobanya meletakkan kedalam alasnya akan tetapi tidak pas lalu mengambilnya lagi. SB mengambil dua buah segitiga senbarang lalu menyusunya menjadi segitiga sama sisi lalu ditempelkan kepada satu segitiga sembrang yang dibawa oleh SA. SC melihat ke arah kamera. G berkata “iya persegi memiliki empat sisinya sama panjang, yang kedua keempat sudutnya sama besar terus yang ketiga yaitu kedua diagonalnya memotong saling tegak lurus. Sekarang kalau sifat-sifat segitiga sama sisi, yang pertama ketiga sisinya sama panjang, yang kedua ketiga sudutnya sama besar”. SA memasang ketiga segitiga sembarang kedalam alasnya dan berkata “iki kok ora paspas?” lalu menghadap kedepan mendengarkan jawaban dari teman yang menjawab Comment [b36]: Tingkah laku SA (O1.PPN.SB.B162-165) Comment [b37]: SC kesulitan meletakan bangun ke dalam alasnya (O1.PPN.SC.B173-177) Comment [b38]: SC kesulitan meletakan bangun kedalam alasnya (O1.PPN.SC.B201-203) Comment [b39]: SA dan SB berebut bangun (O1.PPN.S.B203-204) Comment [b40]: Kesulitan dalam meletakan bangun kedalam alasnya (O1.PPN.S.B206-208) Comment [b41]: SA kesulitan dalam meletakan bangun kedalam alasnya (O1.PPN.SA.B213-214) 109

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 pertanyaan dari guru. SB berkata “persegi bu?” sambil berdiskusi dengan SC mengenai sifat-sifat persegi. SC melihat SA yang sedang meletakkan segitiga sembarang kedalam alasnya sambil berdiskusi dengan SB tentang sifat-sifat persegi dan mendengarkan teman. G menjelaskan lagi materi dan berkata “lalu kalau persegi sisi sudah, sekarang lanjut ke segitiga sama kaki. Apakah sifat-sifat segitiga sama kaki itu sama dengan segitiga sama sisi?” menggambar bangun segitiga sama kaki di papan tulis. SA berkata “beda” sambil memegang bangun segitiga siku-siku lalu menghadap kedepan melihat guru yang sedang berbicara. SB menghadap kedepan sambil berkata “beda”. SC melihat kearah lepotop lalu menghadap ke depan. G melanjutkan menjelaskan materi dan berkata “kalau segitiga sama kaki itu kedua sisi yang berhadapan itu sama panjang, tapi kalau segitiga siku-siku kedua sisinya yang berhadapan tidak sama panjang. Lalu bagaimana dengan sudutnya? Kedua sudut yang berhadapan sama besar. Kemarin kalian masih bingung dalam menyebutkan bagianbangian dari bangun pada saat mengerjakan pretest kemarin, antara sudut, titik sudut dan sisi”. Menulis di papan tulis huruf ABCD untuk menamai bangun persegi. Berkata “kalau ditanyakan sisi, sisi itu yang ada di pinggir-pinggir sini hlo” sambil mengambil bangun persegi lalu memegang sisi-sisnya secara bergantian menjelaskan lagi “kalau menyebutkan itu cuma dua huruf, diinget-inget saja kalau sisi persegi itu apa saja? Selanjutnya kalau membaca sudut itu harus tiga huruf, jadi ini mana saja sudutnya?” SA memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas sesekali menguap dan menjawab pertanyaan mengenai membaca sisi dan sudut. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan didepan kelas sambil menjawab pertanyaan guru mengenai membaca sisi dan sudut. SC mengambil segitiga sama sisi pada alat peraga sambil memainkannya diputar-putar sambil menjawab pertanyaan dari guru mengenai cara membaca sisi dan sudut. G menjelaskan kartu soal mengenai sifat-sifat dari persegi, persegi panjang dan segitiga berkata “setelah itu kalian nanti mempresentasikan ke depan kelas dan tidak boleh melihat kartu. Ayo sekarang di coba dalam kelompoknya”. SA mengambil kartu yang berada diatas kotak lalu menurunkan dan meletakkannya di atas meja lalu mengeluarkan semua kartu-kartunya dan membacanya satu persatu. SB berdiri dan melihat SA yang sedang mengambil kartu lalu duduk dan menghadap kedepan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan mengenai cara membaca kartu. SC berdiri dan memegang kartu akan tetapi sudah diambil oleh SA lalu kembali duduk memperhatikan SA yang sedang mengeluarkan kartu-kartunya. G berkeliling melihat siswa yang sedang mencoba membuktikan sifat-sifat bangun datar kedalam setiap kelompok. SA membaca kartu soal bersama dengan SB dan SC tentang persegi, persegi panjang dan segitiga lalu melihat soalnya, menjawab pertanyaan dan mencocokkan jawabanya dengan membalik kartu. SB membaca kartu soal bersama dengan SA dan SC tentang persegi, persegi panjang dan segitiga lalu melihat soalnya, menjawab pertanyaan dan mencocokkan jawabanya dengan membalik kartu. SC membaca kartu soal bersama dengan SA dan SB tentang persegi, persegi panjang dan segitiga lalu melihat soalnya, menjawab pertanyaan dan mencocokkan jawabanya dengan membalik kartu. G berkata “nanti dipresentasikan sambil membuktikan sisi dan sudutnya juga”. SA bertanya kepada peneliti dalam menunjukkan sisinya dan berkata “mbak, ini makeknya gini bukan?” Sambil menunjuk sisi-sisi pada pada bangun segitiga sama sisi, peneliti membenarkan dengan menyuruh mengambil bangun persegi panjang lalu menempelkan salah satu sisi panjang pangun persegi panjang dengan sisi sesitiga sama sisi secara bergantian. Dan berkata “oh, gitu to” setelah itu SA mencoba sendiri alat peraganya. Lalu SA memberitahukan kepada SB dan SC. Lalu SB juga bertanya kepada peneliti bagaimana menunjukkan sudut pada bangun persegi “kalao sudutnya gimana mbak?” peneliti memberi tahu dengan mengambil bangun persegi dan persegi panjang lalu menempelkan salah satu sudut persegi panjang dengan sudut persegi dan menghitungnya satu per satu. Lalu SB berkata “oke, makasih mbak”, setelah itu SA,SB,SC membagi tugas dalam mempresentasikan sifat-sifat bangun datar persegi, persegi panjang, dan segitiga sama sisi. G bertanya kepada semua siswa “sudah hafal semuanya? Ayo kelompok Y untuk maju mempresentasikan hasilnya! Semua duduk dan kelompok yang lain mendengarkan dan menangapi teman yang sedang presentasi. Semua kelompok diam”. Siswa SA,SB, SC memperhatikan siswa yang sedang presentasi di depan dan bertepuk tangan ketika kelompok yang maju. G: “bagaimana presentasinya benar apa salah? Iya bagaimana seharusnya membuktikan Comment [b42]: Mengambar bangun segitiga di papan tulis (O1.PPN.B228) Comment [b43]: Memainakan alat peraga (O1.PPN.SC.B246-247) Comment [b44]: Diskusi dalam kelompok (O1.PPN.S.B271-272) Comment [b45]: Siswa bertanya cara penggunaan alat peraga (O1.PPN.B267-277) 110

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 284 285 286 287 288 289 290 digonalnya? Ayo AN maju kedepan ditunjukkan yang benar” menyuruh salah salah satu siswa untuk membenarkan presentasi dari Y. SA mengerjakan dengan menjawab semua pertanyaan, SB menjawab lalu menutupi jawabanya menggunakan buku dan SC mengerjakan dan bertanya pada peneliti jawabn soal nomor 5. (10 menit sebelum bel siswa dan guru melakukan kegiatan penutup yaitu refleksi, pemberian tugas berupa pekerjaan rumah dan salam penutup). Comment [b46]: Kegiatan mengerjakan LE (O1.PPN.S.B287-288) 111

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.5 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-II Transkrip Hasil Observasi Video Pelaksanaan Penelitian Obseravasi Tanggal Waktu Lokasi Kode Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pelaksanaan Penelitian Pertemuan Ke-2 : 21 Maret 2014 : 08.10 – 09.30 : Ruang kelas VB : (O2.PPN.G/SA/SB/SC.B) : O2 = Observasi pelaksanaan penelitian pertemuan ke-2 PP = Pelaksanaan penelitian Subjek = Guru (G), Siswa A (SA), Siswa B (SB), Siswa C (SC) B = Baris Transkrip Hasil Observasi (Sepuluh menit berlalu guru sudah siap dengan alat peraga yang diletakkan di depan kelas dengan posisi di tengah, lalu melakukan salam, doa, absensi, tujuan pembelajaran serta bernyanyi layang-layang) G mengeluarkan rak kedua pada alat peraga yang berisi bangun layang-layang dan belah ketupat lalu mengangkat dan menghadapkan rak tersebut kearah siswa. Sambil berkata “sekarang coba lihat di rak alat peraga ambil bangun yang berwarna biru yang paling atas” lalu mengambil bangun belah ketupat pada alat peraga dan mengangkat bangun belah ketupat kedepan dan bertanya “ini bangun apa?” SA berkata “Belah ketupat” dan mengambil bangun belah ketupat yang terdapat dalam rak alat peraga lalu menghadapkan kedepan seperti yang dilakukan guru. SB berkata “Belah ketupat” lalu memegang belah ketupat dan memainkannya dengan cara di putar-putarkan lalu mengembalikanya kedalam alasnya dan mengambil dua pasang segitiga sama kaki yang berwarna merah lalu mengabungkannya sehingga berbentul layang-layang. SC berkata “eh belah ketupat”, mengambil bangun layang-layang lalu memainkannya dengan cara membalik dan memutar-mutarkan seperti gangsingan lalu meletakkannya dan mengambil bangun belah ketupat yang baru saja diletakkan oleh SB. G mengambil bangun berwarna merah yang merupakan bangun belah ketupat yang dibagi menjadi dua sehingga membentuk segitiga sama kaki lalu menempelkan sisi segitiga sama kaki dengan sisi belah ketupat satu per satu dan berkata “apakah sisi pada belah ketupat panjangnya sama?” jadi sudah ketemukan sifat pada belah ketupat? Apa itu? Ayo semua melakukannya” SA mengambil satu bangun yang berwarna merah lalu menempelkan sisinya dengan sisi belah ketupat secara bergantian berkata “sama, memiliki empat sisi yang sama panjang”. SB menghadap ke depan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan dan berkata “sama, keempat sisinya sama panjang”. SC mengambil satu buah segitiga sama kaki yang dibawa oleh SB lalu menempelkan sisinya dengan keempat sisi belah ketupat secara bergantian dan mencobanya berkali-kali. G menyuruh siswa untuk mengambil bangun belah ketupat dan segitiga sama kaki lalu membuktikan keempat sisi pada belah ketupat sama panjang lalu berkata “bagaimana semua sisinya? Semua sudah jelas?” SA: SA meraba-raba sisi pada bangun belah ketupat sambil menghitungnya lalu memainkannya dengan cara di putar-putar. SB melihat SC yang sedang menempelkan sisi segitiga sama kaki dengan belah ketupat sesekali melihat kearah depan. SC: menempelkan salah satu sisi segitiga sama kaki dengan belah ketupat secara bergantian sesuai apa yang dicontohkan guru. G mengambar bangun belah ketupat di papan tulis dan berkata “ayo sekarang lihat kedepan sama kan bentuknya juga belah ketupat” sambil membawa bangun belah ketupat. “Setelah sisinya sekarang bagaimana sudut pada belah ketupat? memiliki berapa sudut?, sambil memegang keempat sudut pada bangun belah ketupat dan berkata “lihat sekarang pada belah ketupat yang ibu bawa ini, sudut yang atas sama yang bawah itu berhadapan lalu sudut yang kanan dan sudut yang kiri juga berhadapan jadi sudut yang berhadapan ini besar sudutnya sama”, sambil memegang sudut yang berhadapan dari sudut di sebelah atas dan bawah dengan sudut yang Comment [b47]: Memainakan alat peraga (O2.PPN.SB.B11) Comment [b48]: Memainakan alat peraga (O2.PPN.SC.B14-15) Comment [b49]: Guru menjelaskan bangun belah ketupat (O2.PPN.B17-21) Comment [b50]: Memainakan alat peraga (O2.PPN.SA.B32) Comment [b51]: Guru mengambar bangun belah ketupat (O2.PPN.B36) 112

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 berhadapan kanan dan kiri lalu berkata lagi “sehingga ketemulah sifat yang kedua yaitu dua sudut yang berhadapan sama besar. Jelas?” SA melakukan apa yang dilakukan oleh guru yaitu memegang sudut pada belah ketupat dari sudut atas-bawah dan sudut kanan-kiri dan menjawab “ memiliki dua sudut yang berhadapan sama besar, jelas bu” sambil menghadap kedepan. SB memperhatikan guru yang sedang mengambar belah ketupat lalu mengambil bangun yang berwarna kuning yaitu bangun segitiga siku-siku, lalu menjawab pertanyaan dari guru, berkata “memiliki empat sudut”, menjawab pertanyaan lagi “berhadapan”. “jelas”. SC: memperhatikan guru yang sedang menjelaskan sambil meletakkan bangun belah ketupat ke pipi kanan dan pipi kiri secara bergantian dan berkata kepada SB “iki elek, bedo karo sek di gowo bu M kae luwih alus, iki kasar, yo nda?”. G mengambil pengaris kayu lalu menunjuk pada gambar yang ada di papan tulis, dan berkata “ada garis yang menghubungkan antara sudut sebelah kakan, kiri dengan sudut atas dan bawah, apa itu namanya? Iya benar namanya adalah diagonal, jadi memiliki berapa diagonal? Jadi ketemu kan sifat yang ketiga? Apa itu? Iya benar jadi belah ketupat memiliki dua diagonal yang saling berpotongan tegak lurus. Jelas?” SA membuat garis pada bangun belah ketupat menggunakan tangannya dan berkata “diagonal, empat eh dua” lalu menghitung lagi diagonalnya pada gambar yang ada di papan tulis. SB menjawab pertanyaan guru “diagonal” dan “dua diagonal yang berpotongan saling tegak lurus” sambil menghadap kedepan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan gambar di papan tulis. SC meletakkan bangun segitiga sama kaki akan tetapi tidak bisa pas dengan alasnya, lalu membolak baliknya dan mencobanya selama tiga kali dan akhirnya bisa sesuai dengan alasnya. G berkata “sekarang masuk kepada bangun yang berwarna merah sambil meletakkan belah bangun belah ketupat kedalam alasnya lalu mengambil dua buah bangun yang berwarna merah lalu mengangkat dan menunjukkannya kepada siswa dan bertanya “jadi dua buah bangun segitiga sama kaki jika di gabungkan akan membentuk bangun belah ketupat”. SA meletakkan bangun belah ketupat lalu mengambil dua buah bangun berwarna merah (segitiga sama kaki) lalu menyusunnya menjadi bangun belah ketupat lalu menunjukkan kepada teman sekelompoknya dan berkata “ini hlo, jadi belah ketupat”. SB mengambil dua buah bagun segitiga sama kaki pada rak alat peraga dan mengabungkan kedua bangun tersebut sehingga membentuk bangun belah ketupat lalu mengangat dan menghadapkannya kedepan. SC melihat SB yang sedang mengabungkan kedua bangun tersebut lalu menghadap kedepan melihat guru yang sedang menjelaskan. G berkata “sekarang bangun yang berwarna kuning itu sambil meletakkan kedua bangun segitiga sama kaki kedalam alasanya dan mengambil keempat bangun berwarna kuning yang merupakan bangun belah ketupat yang dibagi menjadi empat sehingga membentuk bangun segitiga siku-siku dan bertanya “ini bangun yang dibawa ibu ini merupakan bangun apa ?”, sambil mengangkat bangun berwarna kuning (segitiga siku-siku) kepada siswa lalu berkata lagi “jadi di dalam alas bangun tersebut ada berapa buah bangun segitiga siku-sikunya? Ada empat kan? Jadi jika ada empat bangun segitiga siku-siku jika digabungkan akan membentuk bangun belah ketupat, jelas?” lalu guru mengambil pengaris kayu dan menunjuk garis diagonal pada gambar dipapan tulis sambil membawa membawa rak dan menunjukkannya kepada siswa dan berkata “jadi garis diagonal yang ini sama dengan garis yang berwarna coklat pada keempat bangun segitiga siku-siku tadi, jelas semua? Ada pertanyaan?” SA meletakkan dua bangun yang berwarna merah di atas meja lalu menunjuk garis yang berwana cokelat yang terdapat dapat dalam bangun yang berwarna kuning lalu mengambil salah satu bangun yang berwana kuning (segitiga siku-siku) dari alasnya lalu meraba garis coklat dan meletakkannya kembali kedalam alasnya. SB:mengambil dua buah bangun segitiga siku-siku pada alat peraga lalu meletakkannya di atas meja dan mengabungkannya dengan dua segitiga siku-siku yang dibawa oleh SC sambil mendengarkan guru dan menjawab pertanyaan dari guru. Jawaban “diagonal”.SC mengambil dua buah segitiga siku-siku (berwarna kuning) pada alat peraga lalu mengabungkannya dengan dua segitiga siku-siku yang dibawa oleh SB sehingga membentuk bangun belah ketupat sesekali melihat kearah leptop membenarkan kerudung. G berkata “oke sekarang lanjut pada bangun yang berwarna biru di bawahnya bangun belah ketupat, ada bangun apa itu? Iya benar layang-layang”, sambil kembali ke meja Comment [b52]: SC kesulitan dalam meletakan bangun ke dalam alasnya (O1.PPN.SA.B64-66) 113

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 guru dan membaca rencana pelaksanaan pembelajaran lalu melakukan tanya jawab tentang cara pembuatan layang-layang. SA mengambil bangun layang-layang dari temannya karena sudah dulu mengambilnya lalu menghadap kedepan dan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan sambil berkata “layang-layang”. G menjelaskan “ayo semua melihat bangun layang-layang, apakah keempat sisinya sama panjang?” sambil mengangkat bangun layang-layang dan mengambil bangun segitiga sama kaki lalu menempelkan sisinya dengan bangun layang-layang secara bergantian lalu berkata “bagaimana? Sama apa tidak? tapi tidak berarti semua sisinya tidak sama panjang, ayo sekarang di lihat disini sisinya yang sama yang mana? Manda, ayo ditunjukkan sisinya yang sama panjangnya yang mana saja? lalu guru menempelkan salah satu sisi pendek pada bangun yang berwarna merah (bangun layang-layang yang dibagi menjadi dua bangian) dengan kedua sisi bangun layanglayang secara bergantian setelah itu menempelkan sisi panjang bangun yang berwarna merah dengan dua sisi panjang bangun layang-layang secara bergantian dan bertanya kepada siswa “Nah jadi disitu ada berapa pasang sisi yang sama panjang? iya benar, ada dua sisi yang sama panjang pada sisi bangun layang-layang. Jadi kesimpulannya sifat-sifat pertama pada layang-layang adalah dua sisi yang berhadapan sama panjang”. SA mengambil satu bangun yang berwarna merah (bangun layang-layang yang dibagi menjadi dua bagian lalu menempelkan sisi pendek bangun berwarna merah dengan sisi pendek layang-layang secara bergantian dan menempelkan sisi panjang bangun yang berwarna merah dengan dua sisi panjang bangun layang-layang secara bergantian dan melakukkannya sama seperti yang dilakukan oleh guru dan menjawab pertanyaan dari guru yaitu “memiliki dua sisi yang berhadapan sama panjang”. SB: mengambil dua bangun yang berwarna merah (bangun layang-layang yang dibagi menjadi dua bagian lalu mempraktekan menunjukkan sisi pada bangun layang-layang yang disuruh oleh guru dengan mengambil bangun layang-layang pada alat peraga dan meletakan satu bagian bangun yang berwarna merah lalu menempelkan sisi yang pedek pada bangun berwarna merah dengan sisi yang pedek pada bangun layang-layang setelah itu menempelkan sisi panjang pada bangun yang berwarna merah dengan sisi panjang bangun layang-layang sambil menghitungnya. SC mengambil bangun layang-layang (berwarna biru) lalu meletakkanya kempali pada alas bangunnya dan memperhatikan guru di depan kelas yang sedang menjelaskan bangun layang-layang sambil melihat SB yang sedang membuktikan sisi bangun layang-layang. G berkata “lalu sifat yang kedua bagaimana? (guru mengambar bangun layanglayang di papan tulis) lihat sudut-sudutnya, jadi sifat yang kedua apa? dua sudut yang berhadapan sama besar”. SA memegang sudut yang berhadapan dari sudut atas-bawah dengan sudut kiri-kanan secara bergantian dan berkata “sudut yang berhadapan sama besar”. SB berkata “dua sudut yang berhadapan sama besar” sambil memegang sudut yang berhadapan dari sudut kanan-kiri lalu sudut atas-bawah. SC mengambil alat tulis yang ada di laci lalu memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. G menjelaskan tentang diagonal dan bertanya “Terus sifat yang ketiga apa? (sambil menunjukkan garis diagonal pada gambar layang-layang dipapan tulis) “iya, memiliki dua diagonal yang berpotongan saling tegak lurus”. SA memegang garis yang berwarna coklat pada bangun yang berwarna kuning yang ada di rak alat peraga sambil berkata “ini hlo, jadi sama kayak belah ketupat yang tadi ada garis diagonalnya juga”. SB menjawab ”dua buah diagonal yang berpotongan tegak lurus” sambil memegang bangun layang-layang. SC menghadap ke depan dan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. G berkata “dan sekarang lihat bangun yang berwarna kuning disebelahnya itu,garis yang berwarna coklat merupakan garis diagonalnya, sudah paham semuanya?” SA berkata dengan teman sebelahnya dan berkata “bener kan aku, bu M baru mau njelasin” sambil menghadap ke depan. SB melihat bangun yang berwarna kuning dan memegang garis yang berwarna coklelat pada bangun yang berwarna kuning yang terdapat dalam alat peraga dan berkata “oh ini maksudnya diagonal”. SC melihat SB yang sedang memgang garis berwarna cokelat lalu mengikutinya dengan memegang bangun yang berbeda. G membagikan LKS yang berisi sifat-sifat dari bangun belah ketupat dan layang- 114

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 layang lalu duduk di kursi setelah itu menghamipiri kelompok SA lalu melihat-lihat kegiatan dalam kelompok. SA membagi tugas dalam kelompoknya dan SA mendapat tugas untuk mempresentasikan tentang bangun belah ketupat lalu berkata “memiliki diagonal yang berpotongan saling tegak lurus” lalu membuat garis tegak lurus pada belah ketupat menggunakan tangan, lalu berhenti sejenak dan melihat LKS dan berkata lagi “memiliki diagonal yang berpotongan saling tegak lurus” melihat-lihat bangun yang ada di dalam alat peraga lalu mengambil dua buah bangun segitiga sama sisi lalu menempelkannya dengan bangun belah ketupat dengan posisi satu diletakkan secara vertikal dan satunya secara horisontal. Lalu melanjutkan sifat selanjutnya, Berkata “memiliki dua pasang sudut yang berhadapan sama besar” lalu mengambil dua buah segitiga siku-siku lalu memasangnya menjadi sebuah segitiga lalu meletakkan sudut pada bangun segitiga tersebut dengan keempat sudut pada belah ketupat secara bergantian. SB: mengeluarkan alat tulis dari tas dan mengambil bolpoin dari tempat pensilnya lalu mengembalikan lagi kedalam tasnya lalu mengambil lembar kerja siswa dan menuliskan namanya, membacanya dengan suara keras lalu menyuruh SC untuk memilih bangun mana yang akan dia presentasikan, SB lalu mengambil bangun belah ketupat lalu membaca sifat-sifatnya satu persatu lalu membuktikannya dengan menggunakan bangun yang lain. SC mengeluarkan pensil dari tempat pensil lalu mengambil lembar kerja dan menuliskan namanya, lalu membaca satu persatu soal dalam lembar kerja siswa dan SC mengambil bangun layang-layang lalu membaca sifat layang-layang lalu membuktikannya menggunakan alat peraga yang lain. (10 menit berjalan semua siswa berlatih untuk mempresentasikkan sifat-sifat bangun layang-layang dan belah ketupat) G berkata “kelompok pertama yaitu kelompok SA” SA maju kedepan mengambil bangun belah ketupat dan berkata “belah ketupat memiliki empat sisi yang sama panjang” dan mengambil bangun segitiga sama kaki lalu menempelkaan salah satu sisinya dengan sisi belah ketupat secara bergantian lalu meletakkan bangun segitiga sama kaki di atas meja. Berkata “memiliki diagonal yang berpotoongan saling tegak lurus” lalu mengambil dua buah bangun segitiga sama sisi lalu menempelkannya dengan bangun belah ketupat dengan posisi satu diletakkan secara daiagonal dan satunya secara horisontal. Berkata “memiliki dua pasang sudut yang berhadapan sama besar” lalu mengambil dua buah segitiga siku-siku lalu memasangnya menjadi sebuah segitiga lalu meletakkan sudut pada bangun segitiga tersebut dengan ke empat sudut pada belah ketupat secara bergantian. SB maju kedepan mempresentasikan belah ketupat mengambil bangun belah ketupat yang terdapat dalam alat peraga dan berkata “memiliki empat sudut yang berhadapan sama panjang” lalu mengambil bangun segitiga sama kaki lalu memepelkan sisinya dengan sisi belah ketupat secara bergantian, berkata “memiliki diagonal yang berpotongan tegak lurus”, mengambil bangun segitiga sama kaki lalu menempelkannya secara horisontal dan verikal pada bangun belah ketupat. Berkata “memiliki empat sudut yang berhadapan sama besar” lalu menunjuk sudutsudutnya lalu mengambil bangun segotiga sama sama kaki lalu menempelkan sudutnya dengan bangun segitiga belah ketupat dari sudut atas-bawah dan sudut kanan-kiri. SC maju kedepan mempresentasikan layang-layang SC mengambil bangun layang-layang di rak alat peraga berkata “memiliki dua sisi yang berhadapan sama panjang” lalu mengambil bangun segitiga siku-siku lalu menempelkan sisi pada sisi pendek pada bangun layanglayang, mengambil bangun segitiga siku-siku lalu menempelkan sisinya dengan sisi panjang layang-layang secara bergantian. Berkata “memiliki dua pasang sudut yang berhadapan sama besar” sambil menunjuk sudut pada bangun layang-layang sudut atasbawah, dan sudut kanan-kiri. Berkata “memiliki garis diagonal yang berpotongan tegak lurus” mengambil bangun berwarna kuning yang merupakan bangun layang-layang yang di potong menjadi empat bagian lalu menempelkanya pada bangun layang-layang. G: “Bagaimana tadi kelompok SA sudah benar, apa masih ada pertanyaan?” (Setelah semua melakukan presentasi guru membagikan lembar evaluasi kepada siswa, SA.SB,SC mengerjakan lembar evaluasinya, dan SA mengumpulkan terlebih dahulu disusul dengan SB dan SC . lalu SA yang terlebih dahulu mengumpulkan lembar evaluasi SA memasang bangun layang-layang yang masih ada di luar lalu meletakkan kedalam alas bangunnya lalu memasukkan kedalam kotak alat peraga. setelah semua mengerjakan lembar evaluasi guru memberikan refleksi dan feedback atas pembelajaran yang telah berlangsung setelah kegiatan penutup dilakukan dengan doa dan salam penutup) Comment [b53]: SA melakuan kesalahan dalam membuktaikan sifat alat peraga (O2.PPN.SA.B166172) Comment [b54]: SA membereskan alat peraga (O2.PPN.SA.B218-219) 115

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.6 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-III Transkrip Hasil Observasi Video Pelaksanaan Penelitian Obseravasi Tanggal Waktu Lokasi Kode Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pelaksanaan Penelitian Pertemuan Ke-3 : 19 Maret 2014 : 10.00-11.45 : Ruang kelas VB : (O3.PPN.G/SA/SB/SC.B) : O3 = Observasi pelaksanaan penelitian pertemuan ke-3 PP = Pelaksanaan penelitian Subjek = Guru (G), Siswa A (SA), Siswa B (SB), Siswa C (SC) B = Baris Transkrip Hasil Observasi (10 menit berjalan guru dan siswa melakukan kegiatan awal yaitu melakukan salam, doa, absensi, apersepsi yang berupa gambar kapal dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu) G menyuruh siswa untuk mengeluarkan rak yang ketiga yang berisi bangun jajar genjang dan bangun trapesium sambil mengangkat rak dan menghadapkan ke depan ke arah siswa. SA melihat-lihat bangun dan berkata “ini bangun jajar genjang sama trapesium”. SB mengeluarkan rak yang ketiga lalu meletakkannya di atas meja. SC meraba dan memegang semua bangun tanpa melepasnya dari alasnya. G berkata “ayo yang pertama yang atas coba dilihat bangunnya, dirak ini ada bangun jajar genjang dan trapesium, yang pertama kalau ibu lepaskan, itu merupakan trapesium apa?” lalu mengambil bangun berwarna biru (bangun trapesium sama kaki dan bangun segitiga siku-siku) lalu menempelkan sisi bangun segitiga siku-siku dengan sisi trapesium sama kaki dan berkata “jadi bangun yang berwarna biru itu bangun apa?apakah keempat sisinya sama panjang? Jika tidak dicek menggunakan alat peraganya, sudah sehingga jadi bangun apa?” SA mengambil bangun yang berwarna biru sambil memperhatikan guru yang sedang menjelaskan lalu mengikuti apa yang dilakukan guru lalu menempelkan sisi bangun segitiga siku-siku dengan sisi trapesium sama kaki secara bergantian. SB melihat ke depan kelas sambil menjawab pertanyaan dari guru. SC mengeluarkan buku tulis dan alat tulisnya dari dalam tas. G berkata “perhatikan sini kalau trapesium siku-siku itu keempat sisinya tidak sama panjang akan tetapi ada siku-sikunya, ada dua yaitu berada di atas dan ada di bawah sambil menunjuk siku-sikunya dan membuktikan dengan sudut siku-siku dan bertanya “ jadi ini termasuk trapesium apa?”. SA memegang sudut-sudut yang ada dalam trapesium siku-siku secara bergantian lalu menunjuk dua sudut siku-siku pada bangun. SB meletakkan bangun trapesium dan segitiga siku-siku kedalam alasnya. SC berkata “kamu aja to yang mraktekin” sambil menunjuk satu teman dalm kelompok untuk mencobanya. G berkata “kalau trapesium siku-siku bagaimana sifatnya? Memiliki dua siku-siku sama besar, keempat sisinya tidak sama panjang akan tetapi ada satu sisi yang berhadapan sejajar dan keempat sisinya tidak sama panjang”. SA memainkan trapesium siku-siku sambil memperhaikan guru yang sedang menjelaskan di depan. SB melihat kedepan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan sambil menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh guru. SC menulis di buku tulis. G mengeluarkan bangun yang berwarna merah dan berkata “itu trapesium apa? iya benar sekali trapesium sembarang” SA meletakan trapesium siku-siku ke dalam alasnya lalu melihat teman sekelompoknya yang membawa trapesium sembarang. SB melihat teman sekelompoknya dalam mengambil alat peraga. SC berkata “nanti kamu yang maju aja, aku males”. G berkata “lalu bagaimana sifatnya? sambil memegang trapesium sembarang dan satu buah segitiga siku-siku lalu menempelkan sisi bangun segitiga siku-siku dengan trapesium sembarang secara bergantian dan berkata “namanya juga trapesium Comment [b55]: SB mengeluarkan alat peraga (O3.PPN.SB.B7-8) Comment [b56]: Guru menjelaskan bangun trapesium (O3.PPN.G.B22-25) 116

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 sembarang, pasti keempat sisinya tidak sama panjang dan keempat sudutnya tidak sama besar” lalu meletakkan sudut siku-siku bangun segitiga siku-siku dengan bangun trapesium secara bergantian dan menyuruh siswa untuk mencobanya sambil berkata “Ayo sekarang dicoba membuktikannya menggunakan alat peraga!” SA melihat teman yang sedang membuktikan sisi-sisi pada trapesium sembarang sambil mengomentari dan berkata “sisinya itu semua ngga cuma satu aja”. SB menjawab pertanyaan dari guru dan menganguk-angukkan kepala. SC menulis catatan di buku tulis. G melanjutkan menjelaskan materi dan berkata “sekarang bangun yang berwarna kuning, itu bangun apa?ayo sekarang alat peraganya dikeluarkan dari raknya!” sambil membawa bangun berwarna kuning (bangun trapesium sama kaki) dan menunjukkannya kepada siswa. SA mengambil bangun segitiga sama kaki yang di bawa oleh temannya dan berkata “sini aku pinjem”. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan dan menjawab pertanyaannya. SC mengambil bangun trapesium sama kaki lalu memainkannya. G berkata “sekarang, keempat sisinya apakah sama? yang sama berapa pasang?” sambil mengambil bangun salah satu bangun segitiga siku-siku yang terdapat dalam alas bangun trapesium sama sisi lalu menempelkan sisi yang paling panjang dengan keempat sisi pada trapesium sama kaki secara bergantian dan berkata “kalau sisi atas dan sisi bawah itu tidak sama panjang akan tetapi sisi yang sejajar ada satu yaitu sisi kanan dan kiri juga sudutnya juga sama memiliki dua sudut yang sama besar”, guru lalu mengambil pengaris lalu mengambar trapesium sama sisi di papan tulis. SA menghadap kedepan dan melihat guru yang sedang mengambar di papan tulis sambil memainkan bangun. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan dan menjawab pertanyaannya. SC memainkan bangun trapesium sama kaki sambil menulis-nulis di buku catatan. Dan berkata “ditulis tidak bu? Ah sekarang jadi jarang nulis catetan”. G berkata “Ayo semua perhatikan depan sini, trapesium sama kaki” memberi nama pada trapesium sama kaki A,B,C,D sambil mejelaskan sifat-sifatnya dengan memberi nama bangunnya”. SA melihat guru yang sedang menjelaskan gambar trapesium di papan tulis. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan trapesium sama kaki di papan tulis dan menjawab pertanyaan dari guru. SC meletakkan bangun segitiga sama kaki ke dalam raknya dan mencatat tulisan yang ada di dalam papan tulis kedalam buku tulisnya. G berkata “sekarang bangun yang kedua, bangun jajar genjang, ayo semua mengeluarkan jajar genjang pada rak alat peraganya, semua kelompok harus mengeluarkannya” lalu mengambil bangun jajar genjang lalu mengangkat dan memperlihatkannya kepada siswa lalu mengambar bangun jajar genjang di papan tulis dan memberi nama bangun jajar genjang. SA mengembalikan bangun trapesium di dalam alasnya lalu mengambil bangun jajar genjang dan menghadap ke papan tulis. SB memperhatikan guru yang sedang mengambar. SC menyuruh teman dalam kelompoknya dan berkata “kamu hlo nanti yang maju, mosok aku terus”. G berkata “sekarang lihat kedepan disana ada gambar jajar genjang, apakah keempat sisinya sama panjang? Ayo sekarang di cek menggunakan alat peraganya, kalau tidak silahkan keluar! Sudah? Berapa pasang yang sama panjang? Lalu mengambil bangun jajar genjang lalu mengambil bangun yang berwarna merah (bangun segitiga sama kaki) dan menempelkan salah satu sisi pada bangun segitiga sama kaki dengan sisi jajar genjang secara bergantian dan berkata “bagaimana? jadi ada dua pasang sisi yang sama panjang yaitu apa? sisi apa? panjang sisi DE = GF, terus sisi DE = EF, gitu kan? Jelas?” SA mengambil bangun segitiga sama kaki dan menempelkan sisi-sisinya sesuai dengan apa yang dilakukan oleh guru. SB menghadap kedepan memperhatikan guru yang sedang berbicara. SC mengambil bangun jajar genjang lalu meletakkannya kembali kedalam alasnya lalu menghadap kedepan sambil tangan diletakkan di dagu dan menjawab pertanyaan. G berkata “sekarang sifat yang kedua, bagaiman sudutnya? Bagaimana SB itu dijelaskan? Ya benar sekali”. SA melihat SB yang sedang menjawab pertanyaan dari guru. SB memiliki dua pasang sudut yang berhadapan sama besar. SC mengambil tempat leptop dan sesekali menengok ke arah kamera. G berkata lirih “bangun yang kedua ini bagaimana cara memakainya?” lalu mengambil Comment [b57]: Memainakan alat peraga (O3.PPN.SA.B66) Comment [b58]: Memainakan alat peraga (O3.PPN.SC.B.67) 117

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 bangun berwarna merah (yaitu terdapat dua buah segitiga sama kaki, yang satu utuh dan yang satunya lagi dibagi menjadi dua) dan berkata kepada siswa “ini bangun apa?”(sambil menunjukkan bangun segitiga sama kaki yang utuh) dan berkata “jadi bangun jajar genjang juga terbentuk dari dua buah segitiga sama kaki dan (bertanya kepada salah satu peneliti mengenai bangun berwarna merah yang merupakan bagian dari segitiga sama kaki yang dibagi menjadi dua lalu menjelaskan materi dengan mengangkat rak pada alat peraga dan menunjukkan kepada siswa) dan berkata “jadi bangun trapesium, eh jajar genjang maksudnya juga dapat terbentuk dari satu buah bangun segitiga sama kaki dan dua buah segitiga siku-siku, jelas disini?” SA menghadap kedepan dan melihat guru yang sedang menjelaskan sambil memegang bangun jajar genjang. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. SC mengahadap ke depan dan melihat guru yang sedang menjelaskan sambil membawa buku dan memainkan pensilnya. G menyuruh siswa untuk melakukan kegiatan pada lembar aktivitas siswa dan menyuruh untuk mempresentasikannya tanpa membawa lembar aktivitas setelah itu masuk kedalam kelompok SA membagi tugas dengan teman kelompoknya dan dia mendapat tugas untuk membuktikan sifat-sifat bangun jajar genjang, SA membaca satu persatu sifatnya kalu membuktikannya dengan mengunakan alat peraga. SB mengerjakan lembar kerja siswa dengan membaca sifat-sifat jajar genjang lalu menerima bangun jajar genjang yang diberikan oleh SC dan menunjukkan sisi yang sejajar yaitu dengan memegang kedua sisi atas dan bawah serta sisi kanan dan kiri lalu menyeret sisi tersebut secara bergantian lalu bertanya kepada peneliti mengenai apa yang dia lakukan benar apa salah. Lalu mengambil bangun jajar genjang yang dibawa oleh SC lalu membaca sifat-sifatnya lalu memegang sisi, sudut dan diagonal secara bergantian. SC membaca sifat-sifat jajar genjang dan mengambil bangun jajar genjang lalu di berikan oleh SB. Lalu membaca sifat yang kedua mengenai garis diagonal pada bangun jajar genjang dan berkata “kalau diagonal ini gimana?”lalu bertanya kepada salah satu peneliti. Dan memberikan bangun jajar genjang kepada SB karena SB yang akan mempresentasikan bangun jajar genjang. SC mengambil bangun trapesium sembarang dan berkata “aku tak ini aja SB, trapesium sama kaki” setelah itu mengambil satu bagian dari segitiga siku-siku lalu menempelkan pada sisi atas dan bawah pada segitiga sembarang yang dibawanya dan berkata “kok bedo, eh ini harusnya sama hlo, org trapesium sama kaki kok, kok beda sih” setelah itu mengambil bangun trapesium siku-siku lalu menempelkan sisi miring dengan sisi trapesium sembarang dan berkata lagi “kok beda lagi, jangan-jangan salah nih?” Lalu melihat teman yang sedang meletakkan bangun trapesium sama kaki kedalam alasnya dan berkata “oh pantes ngga ketemu orang tok bawa”, lalu mengambil trapesium yang diletakakkan oleh temannya lalu menempelkan sisi miring trapesium sama kaki dengan sisi yang berhadapan pada segitiga sama kaki dan berkata “ini baru bener” Lalu SC mengambil bangun trapesium sama kaki setelah itu membaca sifat-sifatnya lalu menunjukkan sudut dan diagonal pada bangun trapesium siku-siku secara bergantian. G berkata “sudah bisa ya semuanya? Beri tepuk tangan untuk kelompok SB Sekarang mengerjakan lembar evaluasi” SA menjawab soal dengan cepat, SB mengerjakan sambil menutupi hasil pekerjaan dengan buku, SC mengerjakan soal dari soal yang mudah. (Semua siswa mengumpulkannya setelah itu guru melakukan refleksi tentang kegiatan yang telah dilakukan lalu memberi siswa pekerjaan rumah untuk membaca materi tentang lingkaran dan melakukan salam penutup). Comment [b59]: Guru kesulitan dalam menjelaskan bangun jajar genjang (O3.PPN.B103112) Comment [b60]: SC bertanya kepada peneliti (O3.PPN.SC.B128-131) Comment [b61]: SC melakukan kesalahan dalam pembuktian dan membenarkan sendiri (O3.PPN.SC.B132-141) 118

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.7 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-IV Transkrip Hasil Observasi Video Pelaksanaan Penelitian Obseravasi Tanggal Waktu Lokasi Kode Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pelaksanaan Penelitian Pertemuan Ke-4 : 28 Maret 2014 : 08.10 – 09.20 : Ruang kelas VB : (O4.PPN.G/SA/SB/SC.B) : O4 = Observasi pelaksanaan penelitian pertemuan ke-4 PP = Pelaksanaan penelitian Subjek = Guru (G), Siswa A (SA), Siswa B (SB), Siswa C (SC) B = Baris Transkrip Hasil Observasi (Sepuluh menit berlalu guru dan siswa melakukan kegiatan awal dengan melakukan kegiatan (salam, doa, absensi dan melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan pada hari itu) G berkata “oke sekarang perhatikan lingkaran yang terdapat dalam alat peraga ini yang berwarna biru, dikeluarkan dari raknya” lalu mengambil bangun lingkaran lalu mengangkat dan menunjukkannya kepada siswa dan berkata “bangun lingkaran ada berapa sisinya? Yak benar satu” sambil menunjuk sisi pada lingkaran dan menurutnya hingga satu putaran penuh. SA mengambil bangun lingkaran yang ada dalam raknya lalu menghadap ke depan dan berkata “ngga ada sisinya bu”. SB berkata “angel lakan nek lingkaran ki” mengambil lingkaran dan memutar-mutarnya. SC melihat leptop lalu menghadap kedepan melihat guru yang sedang menjelaskan. G berkata “sekarang ibu akan mengambarnya saja” lalu mengambar lingkaran di papan tulis. SA melihat guru yang sedang mengambar lingkaran sambi memutar-mutar lingkaran ke arah teman di depannya. SB berkata”ditulis aja bu biar dong” sambil melihat guru yang sedang membuat lingkaran. SC mengambil bangun lingkaran dan sebuah bangun berwarna merah (yaitu bangun lingkaran yang dibagi menjadi empat bagian sehingga membentuk bangun seper empat lingkaran lalu menempelkannya pada bangun lingkaran). G berkata “ayo sekarang lihat kedepan di sini ada bangun datar lingkaran, titik yang ada di tengah ini namanya titik pusat. Jelas?” SA melihat guru yang sedang menjelaskan sambil menunjuk tengah-tengah lingkaran yang sedang dibawanya. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan gambar lingkaran di papan tulis. SC berkata “apa bu? Titik pusat?” sambil membalik bangun lingkaran dan memutarnya. G berkata “jadi sifat-sifat yang pertama pada lingkaran itu yang pertama adalah tepi lingkaran”(sisi lingkaran), mengambil alat peraga bangun lingkaran lalu memegang tepi lingkaran satu putaran penuh. SA melihat ke arah guru dan melakukan sama persis dengan apa yang dilakukan oleh guru. SB menghadap ke depan memperhatikan guru menjelaskan tepi lingkaran. SC mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya. G berkata “perhatikan jarak antara garis tepi lingkaran dengan titik pusat disebut jarijari atau r, r itu apa? radius tandanya adalah simbol r. R itu dari kata radius, jelas?”. SA masih menghadap ke depan dan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan gambar di papan tulis. SB memperhatikan guru yang sedang menjelaskan tentang jari-jari dan menjawab pertanyaan. SC menghadap ke arah leptop lalu mata berkedip-kedip dan hidung kembang-kempis lalu menghadap kedepan. G menjelaskan tentang pengertian jari-jari dan diameter pada lingkaran dan berkata “sekarang perhatikan garis yang berwarna cokelat pada lingkaran pada bangun yang berwarna merah itu merupakan jari-jari dari lingkaran, ayo semua melihat alat peraganya”. SA “bisanya diagonal kalo lingkaran namanya jari-jari” menunjuk garis cokelat pada bangun yang berwarna merah yang ada dalam rak alat peraga. SB melirik alat peraga lalu Comment [b62]: Memainakan alat peraga (O4.PPN.SB.B.10-11) Comment [b63]: Memainakan alat peraga (O4.PPN.SA.B.15-16) Comment [b64]: Memainakan alat peraga (O4.PPN.SC.B.24-25) 119

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 menghadap ke depan. SC menunjuk garis yang berwarna cokelat menggunakan bolpoin dan berkata “oh ini to maksudnya”. G berkata “lalu berapa panjang jari-jari lingkaran? Empat? Salah jari-jari lingkaran itu jumlahnya tak hingga”. SA berkata “ada empat”sambil menunjuk garis yang berwarna coklat pada bangun yang berwarna merah. SB: menjawab “empat bu, weh salah”. SC mengambar lingkaran di buku tulisnya. G melanjutkan menjelaskan dan berkata “sekarang kalau jari-jari disini (menunjuk pada gambar lingkaran yang ada di papan tulis) dan berkata “jarak antara garis tepi dan titik pusat itu namanya jari-jari kalau jarak dari garis tepi lingkaran dengan garis tepi lingkaran lagi itu namanya adalah diameter”(sambil menulis kata diameter di papan tulis). SA: “apa diameter?”. SB melihat guru yang sedang menulis di papan tulis. SC mencatat tulisan yang ada di papan tulis di buku tulis sesekali melirik kearah leptop. G berkata “disini diamater adalah jarak antara garis tepi lingkaran dengan garis tepi lingkaran lagi dengan melewati jari-jari, jelas belum kata-katanya, mudah dipahami?” SA jelas sambil melihat kearah papan tulis. SB jelas sambil mengut-mangut. SC menulis catatan di buku tulisnya. G berkata “sekarang apakah hubungan antara jari-jari dengan diameter? Kalau jari-jari itu r dan diameter itu d. Bagaimana hubungan antara d dan r? Benar r itu adalah d dibagi 2” lalu guru menuliskan soal berkaitan dengan jari-jari dan diameter. SA menjawab“d dibagi 2 bu”. SB berkata “setengahnya, r itu setengahnya d. Bu diberi contohnya!”. SC menghadap kedepan dan menjawab soal dari guru. G bertanya “berarti sifat dari lingkaran itu bagaimana?” SA menjawab “mempunyai satu sisi atau garis tepi” sambil memainkan bangun lingkaran. SB “mempunyai diameter yang tegak lurus hahah salah” sambil menutupi mulutnya. SC menulis catatan yang ada di papan tulis ke dalam buku catatannya. G berkata “jadi semua sudah paham ya mengenai sifat-sifat lingkaran apa itu? Sifat yang pertama yaitu memiliki jari-jari atau radius, yang kedua memiliki diameter, yang ketiga jarak semua titik pada lingkaran kepusat lingkaran sama panjang. Sudah kalau sudah ibu akan membagikan lembar keja siswa nanti ditunjukkan menggunakan alat peraganya” SA mengambil membaca sifat yang pertama lalu mempraktekkan dengan memgang tepi lingkaran dengan memutar satu putaran penuh, lalu membaca sifat yang kedua lalu mengambil bangun yang berwana merah lalu menempelkan pada lingkaran dan menunjukkan jari-jarinya lalu meletakkan dua bangun berwarna merah pada bangun lingkaran dan menjelaskan tentang pengertian diameter, lalu bertanya kepada guru tentang sifat yang ketiga, karena di rasa sulit maka sifat yang ketiga tidak digunakan. Setelah itu SA memberikan bangun lingkaran kepada teman kelompoknya. SB berkata “sama kamu aja sa, aku males e” membaca sifat-sifat lingkaran yang pertama lalu mengambil lingkaran dan meraba garis tepi lingkaran berkali-lali, lalu membaca sifat yang kedua mengambil empat bangun yang berwarna merah (bangun seperempat lingaran) lalu meletakkannya ke dalam bangun lingkaran. SC berkata “kamu hlo nda aku uadh dari kemaren maju terus”. Melihat SB yang sedang menunjukkan sifat-sifat lingkaran sambil mengomentari dan berkata “pakek semuanya nda” (sambil menunjuk bangun yang berwarna merah). G bertanya kepada siswa “semua sudah apa belum? Ayo semua kelompok duduk yang rapi, Kalau sudah kelompok yoga maju kedepan” SA memperhatikan kelompok yang sedang presentasi dan memberikan tepuk tangan. SB memperhatikan kelompok yang sedang mempersentasikan sifat-sifat lingkaran dan menujukkannya. SC melihat siswa yang sedang prsentasi. G menyuruh SA dan SB untuk maju ke depan mempresntasikan tentang sifat-sifat lingkaran lalu menghampiri kelompok yang bertanya, lalu mencontohkan sifat lingkaran) SA berkata “memiliki radius atau jari-jari yaitu jarak dari tepi lingkaran ke tepi lingkaran melalui diameter” (mengambil dua buah bangun berwarna merah lalu menempelkannya pada bangun lingkaran), “memiliki jarak pada tepi lingkaran sama panjang (memegang tepi lingkaran satu putaran penuh). SB maju ke depan dan mempresentasikan tentang sifat-sifat lingkaran dengan membaca satu persatu sifat lingkaran dan berkata “memiliki diameter” (megambil dua buah bangun seperempat lingkaran dan menempelkan pada bangun lingkaran sambil menunjuk garis yang berwarna cokelat, lalu berkata “memiliki jarak pada lingkaran 120

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 121 122 123 124 sama panjang” (memegang tepi lingaran satu putaran penuh). SC melihat SB yang sedang mempresentasikan di depan kelas dan berkata “semangat SB, semangat”. G: “bagaiamana dengan presentasinya? Benar apa salah? Oke beri tepuk tangan untuk SB, baik anak-anak apa masih ada yang kesulitan?” Guru memberikan lembar evaluasi dan siswa mengerjakan lembar evaluasi yang diberikan oleh guru. SA menyelesaikan terlebih dahulu lalu merapikan alat peraga, SB mengerjakan sambil menutupi hasil pekerjaan dengan buku, SC mengerjakan sambil bertanya kepada SB. (Setelah semua siswa mengumpulkan lembar evaluasi guru melakukan refleksi tentang kegiatan apa yang telah dilakukan hari itu lalu menyuruh siswa untuk belajar karena pertemuan berikutnya ada ulangan mengenai sifat-sifat bangun datar yang telah dipelajari. Setelah itu melakukan salam penutup dan menyuruh siswa untuk istirahat) Comment [b65]: Kegaiatan siswa pada saat mengerjakan LE (O4.PPN.S.B110-111) 121

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.8 Transkrip Wawancara Pra-Penelitian Guru Transkrip Hasil Wawancara Guru Pra-Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pra penelitian : Guru : 18 Maret 2014 : 07.45-08.10 : Ruang perpustakaan : (W1.G.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W1 = Wawancara Pra Penelitian G = Guru B = Baris Transkrip Hasil Wawancara Selamat pagi bu, terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk melakukan wawancara dengan ibu. Iya, ngga papa mbak. Langsung saja ya bu, saya mau bertanya bagaimana perasaan ibu ketika mengajar matematika di kelas? Apa ya? Semangat, menyenangkan juga. Seneng sih mbak. Maksudnya seneng itu kan saya basicnya di pelajaran matematika jadi perasaannya ya senang gitu hlo. Dalam pembelajaran siswanya sangat antusias untuk mengikuti pelajaran saya. Mereka semangat untuk bisa belajar matematika dan memahami materi gitu mbak. Oleh karena itu saya termotivasi karena mereka jadi mengajarnya semangat. Begitu.. Jadi faktor ibu yang ahli dalam matematika, selain itu seneng juga karena siswanya. Begitu ya bu? Iya mbak. Bagaimana pendapat ibu mengenai pembelajaran matematika di kelas? khusunya untuk kelas 5? Pendapat saya tentang pembelajaran? Contohnya yang gimana mbak? Contohnya bagaimana dengan materi pembelajarannya? Materinya itu sebenarnya sederhana mbak, tapi tergantung kita menyampaikan kepada siswa, bagaimana biar mereka bisa memahami. Maka dalam menyampaikan materi saya sampaikan sesimpel mungkin, jadi biar mereka cepat tangap. Lalu bagaimana dengan cara mengajar ibu? hmmmm... ya macam-macam sih mbak. Kadang kita melakukan diskusi, tanya jawab, kadang mencongak dulu sebelum masuk ke materi sebagai apersepsi mbak, terus juga maju satu per satu untuk mengerjakan soal, terus pake ceramah juga, pemberian tugas, pokoknya gitu-gitu mbak secara keseluruhan penyampian baik di kelas 5 a,b,c. Selain itu kegiatan siswa apa lagi bu? Ya tergantung sama pertemuannya mbak, biasanya mencatat materi terus latihan soal, kalau pas kebagian latihan soal ya siswa mengerjakan soal latihan yang ada dalam buku paket terus maju ke depan maju satu-satu. Jadi latihan soalnya setiap hari ya bu? Oh kalau latihan soal kan udah pasti mbak, dilakukan setiap kali pertemuan. Awalnya mencongak, terus pemberian materi, setelah menyampaikan materi lalu diberi latihan soal, mereka sudah paham, lalu lanjut ke materi selanjutnya, gitu mbak jadi murid-murid sudah tahu kebiasannya. Kalau latihan soal itu soalnya dari mana bu? Ibu membuat sendiri? Kalau contohnya kadang-kadang membuat sendiri kalau tidak saya mengambil dari buku pegangan buku paket matematika karya sumanto sama pakek LKS mbak. Begitu ya buk lalu bagaimana dengan sikap siswa saat mengikuti pelajaran matematika? Siswanya sangat antusias, seneng, semangat, punya rasa ingin tahu yang tinggi mbak, ingin bisa menguasai materi terus kalau ada yang belum mengerti pasti bertanya dan menyuruh untuk menerangkan lagi. Jadi begitu ya bu, sangat antusias dan ingin tahunya tinggi. Selanjutnya bu bagaimana Comment [b66]: Kegaiatan mencongak (W1.G.B23) Comment [b67]: Metode yang digunakan guru (W1.G.B22-24) Comment [b68]: sikap siswa pada saat mengikuti pelajaran (W1.G.B40-42) 122

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 cara mengatasi permasalahan yang ada di kelas? managemen kelas atau bagaimana cara ibu mengkondisikan kelas? Ya tergantung kelasnya juga sih mbak, kan masing-masing kelas memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kelasnya itu macem-macem. Kalau kita menyampaikan materi secara serius pasti siswanya juga serius. Tapi tergantung juga sih mbak. Bagaimana kita bisa ngendongencengke bocah (menarik-ulir siswa). Kapan siswa itu serius dan kapan siswa itu bisa santai. Terus kita juga membuat suatu aturan pada saat guru menjelaskan materi semua siswa harap diam, kalau ada yang ramai dipersilahkan untuk keluar. Jadi siswa sudah hafal dengan kondisi yang seperti itu. Kalau kita tegas, anak juga pasti akan menghormati kita. Jadi pandai-pandainya kita untuk mengendalikan siswa. Caranya begitu ya buk dalam mengatasi permasalahan kita harus bisa yang paling penting yaitu tentang mengendalikan siswanya, lalu bagaimana dengan pendapat ibu mengenai penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika? Apakah ibu sering menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran? Ya kadang-kadang. Pengunaan alat peraga ini maksudunya untuk setiap materi? Ya bisa untuk setiap materi kalau ngga ya pembelajaran secara keseluruhan bu? Oh,,, jadi tidak semua materi pembelajaran menggunakan alat peraga mbak, hal itu tergantung dengan materinya. Contohnya pada materi bangun datar dan bangun ruang bisa menggunakan alat peraga. Tetapi kalau materinya tentang bangun ruang dan bangun datar biasanya siswa tak suruh membuat sendiri bangun-bangunnya menggunakan kertas karton dan mereka membuatnya di sekolah pas meteri itu mbak. Terus juga kalau pas mengenai materi jaring-jaring kubus dan balok biasanya siswa juga membuat sendiri menggunkan kertas karton, setelah mereka membuat jaring-jaringnya selesai mereka lalu membuat bangunnya. Tapi selain itu saya juga membawa sebagai contohnya dan menunjukkanya kepada siswa. Tetapi jika materinya mengenai soal cerita, terus perkalian campuran kan tidak perlu menggunakan alat peraga jadi disesuaikan dengan materinya. Begitu mbak. Sebenarnya fungsi dari alat peraga itu untuk apa bu? Ya untuk memudahkan dalam penyampaian materi kan mbak. Ohh.... terus dari mana ibu mendapatkan alat peraga itu? Saya membuat sendiri mbak, kalau memungkinkan untuk dibuat saya membuatnya, kayak bangun datar sama bangun ruang itu saya buat sendiri. Tetapi di lab itu juga banyak, macemmacem alat peraga matematikanya misalnya timbangan, meteran, bilangan bulat ada, terus garis bilangan dari kayu ada, ya banyak lagi mbak. Terus alat peraga itu dari mana bu? Itu dari pemerintah. Seperti hibah gitu ya bu? Apakah ibu sering menggunakan alat peraga yang ada di lab? Wah saya malah belum pernah menggunakan e mbak memang disana banyak alat peraga matematika tapi saya rasa ngga yang sesuai sama materi kelas V. Lanjut ya bu, lalu bagaimana dengan penggunaan alat peraga terhadap pemahaman siswa? Jadi kalau menggunakan alat peraga siswa jadi mudah memahami. Jadi lebih dong (paham) kan jika menggunakan alat peraga itu ada bendanya jadi konkrit siswa bisa melihat sendiri secara langsung. Kan kalau konkrit mereka bisa jadi lebih paham, mereka mudah dalam mengaplikasikan. Semisal materi bangun ruang siswa kan ngga bisa kalau cuma membayangkan tetapi kalao ditunjukkan dengan benda yang konkrit kan lebih mudah dalam memahaminya, lalu siswa diberi contoh di depan, diterangkan, bisa menunjukkan satu per satu mana sisinya, mana titik sudutnya dan mana rusuknya? Jadi disesuaikan dengan materinya ya bu? Lalu menurut ibu bagaimana dengan alat peraga yang baik? Alat peraga yang baik itu berarti harus sesuai dengan materinya. Kalau pas materinya apa kita juga harus siap-siap kalau memungkinkan untuk dibuat ya dibuat jadi siap-siap dulu sebelum menyampaikan materi kepada siswa. Dan intinya harus disesuaikan dengan materinya. Terus penyampaiannya juga yang jelas. Lalu bagaimana kaitannya dengan bentuk atau ukuran alat peraga itu buk? Oh ya kalau bentuknya kan macem-macem mbak disesuaikan juga dengan materi kalau bangun datar ya kan bentuknya bisa berupa bangun datar, kalau bangun ruang ya seperti bangun ruang, kalau garis bilangan ya di buat seperti pengaris itu, tapi kalau ukurannya ya harus besar, kalau membuat bangun datar itu harus besar jadi pada saat menjelaskan sifatsifat siswa dapat melihat dengan jelas, kan jika bendanya lebih besar siswa kan cepat Comment [b69]: Intensitas penggunaan alat peraga (W1.G.B58) Comment [b70]: Pendapat G mengenai alat peraga (W1.G.B60-61) Comment [b71]: Pembuatan alat peraga oleh siswa (W1.G.B62-67) Comment [b72]: Fungsi alat peraga menurut G (W1.G.B71) Comment [b73]: G membuat alat peraga sendiri (W1.G.B73) Comment [b74]: Alat peraga yang pernah dibuat oleh guru (W1.G.B74) Comment [b75]: Ketersediaan alat peraga yang ada di sekolah (W1.G.B74-76) Comment [b76]: G blum pernah menggunakan alat peraga dari lab (W1.G.B81-82) Comment [b77]: Tanggapan G tentang penggunaan alat peraga untuk siswa (W1.G.B85-88) Comment [b78]: Tangapan mengenai alat peraga yang baik (W2.G.B94-97) 123

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 memahami karena kelihatan dengan jelas. Lalu bagaimana prestasi belajar siswa ketika menggunakan alat peraga? Lebih baik jika menggunakan alat peraga, kan mereka jadi gampang inget. Itu merata apa tidak bu? Ya kalau itu tergantung sama siswanya e mbak kalo yang pinter ya nilainya bagus tapi kalo yang bandel ya begitulah kebalikannya. Lalu bagaimana dengan karakteristik siswa pada saat pembelajaran bu? Ya antusias mbak, aktif tapi saking (sangat) antusiasnya malah jadi terus rame. Malah jadi ramai ya bu? Iya mbak malah ramai tapi malah kelihatan pada semangat malah memperhatikan semua. Oh iya saya mau tanya apa ibu mengetahui pendekatan montessori? Apa itu mbak? Pendekatan montessori itu pendekatan yang menekankan pada kemandirian siswa, lalu siswa dapat menemukan konsep sendiri melalui alat peraga itu. Ibu pernah mendengar pendekatan montessori? Belum mbak, malah baru tahu ini. Begitu ya bu, baiklah bu terimaksih atas waktunya saya rasa cukup untuk wawancaranya. Sudah cukup mbak? Beneran? Ya sama-sama mbak maaf kalau tadi banyak salah salah kata. Iya buk tidak apa-apa. Terimakasih bu. Comment [b79]: Tangapan guru tentang ukuran alat peraga (W1.G.B103-104) Comment [b80]: Manfaat alat peraga (W1.G.B106) Comment [b81]: Karakateristik siswa pada saat pembelajaran menggunakan alat peraga (W1.G.B111) Comment [b82]: Sikap siswa pada saat pembelajaran menggunakan alat peraga (W1.G.B113) 124

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.9 Transkrip Wawancara Pra-Penelitian Siswa A Transkrip Hasil Wawancara Siswa A Pra-Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pra penelitian : Siswa A : 1 Maret 2014 : 08.40-09.00 : Depan ruang UKS : (W1.SA.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W1 = Wawancara Pra Penelitian SA = Siswa A B = Baris Transkrip Hasil Wawancara Oke SA.. capekya habis istirahat? Panas banget mbak Oke kita ngobrol-ngoblol aja ya...Bagaimana pendapatmu mengenai pembelajaran matematika di kelas? Matematika seru,,enak aja sih. Enak gimana contohnya? Yaaa.. enak aja seru,bisa ngitung-ngitug, matematika itu kan ilmu pasti,jadi pasti ada jawabannya,itu yang bikin seru. Terus apa lagi din yang bikin kamu seru? Gurunya juga enak kok !!!! Matematika itu gampang atau susah? Ya ..ada yang susah ada yang gampang sih,itu tergantung sama materinya. Materinya? Materi itu biasanya susah mbak kan waktu itu gurunya,waktu nerangin (menjelaskan) itu suaranya kurang kecang,,nah aku kan gak kedengeran jadinya itu bikin susah, gak tau dari awal soalnya O.. gitu ya sebenarnya senang apa sedih saat belajar matematika? Seneng sihh. Terus perasaanmu saat belajar matematika gimana? Hayo seneng!!!!!!! Senengnya kenapa? katanya seneng? Ngitung-ngitung (berhitung) mbak,ngitung angka, terus kalau gurunya Itu jelasin materinya di ulang ulang..makanya jadi seneng,kan aku jadi seneng bisa ngerjain soal aku lebih dong (paham) lagi. Oke bisa jadi ngitung ngitung ya? terus materi apa yang sudah kamu pelajari di kelas 5 materinya apa aja? kaya SB tadi lho materinya pecahan, terus ada desimal juga itu materinya gimana itu materinya susah atau gampang? Ya gampang gampang susah mbak. Gampang-gampang susah maksudnya gimana? Ya gampang soalnya gurunya ngajarinnya diulang-ulang makannya bikin gampang. Oke kalau susah? Susahnya gimana? Ya pelajarannya susah, rumit gitu hlo. Contohnya? Contohnya skala, terus sama soal cerita. Kan kalau soal cerita itu susah soalnya belum dijelasin tapi udah di kasih PR makannya jadi susah. Jadi kamu di rumah tidak belajar? Ya belajar tapi kalau ngga di jelasin dulu kan ngga bisa. Jadi kalau belum di jelasin jadi bingung gitu? Iya bikin bingung. Soalnya ngga tau caranya ngerjain cuma baca buku paket tapi kan masih bingung kalau belum dijelasin dulu. Ohh gitu to, terus aku mau tanya apa kamu pernah menjumpai alat peraga matematika? Yang kaya kubus sama balok itu po mbak? 125

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Iya. Pernah ngga menjumpai itu? Di kelas berapa? Pernah mbak, hmmmmm waktu di kelas 3,4 sama kelas 5. Kalau di kelas 3 alat peraganya apa? Kubus, terus balok. Kubus sama balok? Eh bukan ding (ya) mbak kalau kelas 3 itu bangun datar pokoknya ada persegi sama persegi panjang. Kalau yang kelas 4? Apa ya? Kok sama selain itu? Di inget-inget dulu coba.. Hmmmmm oh kalau di kelas 4,5 itu balok sama kubus juga. Jadi alat peraganya apa aja? Kelas 3 bangun datar terus kelas 4 sama kelas 5 balok ,kubus, jaring-jaringnya juga. Itu bahannya pakek apa? Bentuknya bagaimana? Bahannya dari kertas karton terus itu bentuknya jaring-jaring kubus sama balok nah terus jaring-jaringnya itu dibentuk jadi kubus dan balok. Oh gitu jadi kalau kamu belajar pakek alat perga itu bagaimana? Seneng? Mempermudah kamu dalam belajar ngga? Seneng kan ada bentuknya. Jadi kamu bisa liat langsung bentuknya gitu ya? Lebih jelas juga kan keliatan bendanya terus membantu memahami materi juga. Kalau menurut kamu bagaimana sih alat peraga yang baik itu? Bentuknya bagaimana? Yang kecil aja. Terus warnanya? Ya warna-warni. Yang penting keliatan aja dari belakang. Biar dapat membedakan terus biar jelas aja. Terus ukurannya? Yang besar biar yang belakang keliatan. Tapi kalau kecil juga ngga papa sih. Terus sebenarnya apa sih manfaat alat peraga untuk pembelajaran din? Ya bisa membantu buat belajar to (kan), cepet ngerti juga. Terus pada saat kamu menjumpai soal bagaimana?kamu mudah mengingat apa tidak? Iya bisa inget juga kalau pakek (memakai) alat peraga tapi kalau ngga pakek alat peraga juga inget kok asal njelasinnya jelas aja. Tapi kalau pakek alat perga lebih jelas. Oke makasih ya udah mau ngobrol-ngobrol sama aku, besok di lanjut lagi.. maksih hloo SA. Comment [b83]: Alat peraga yang dijumpai SA di kelas 3 (W1.SA.B56) Comment [b84]: Alat peraga yang dijumpai SA di kelas 5(W1.SA.B56) Comment [b85]: Perasaan SA pada saat mengggunakan peraga (W1.SA.B62) Comment [b86]: Tanggapan SA tentang alat peraga (W1.SA.B64) Comment [b87]: Tangapan SA tentang alat peraga yang baik (W1.SA.B69-70) Comment [b88]: Tangapan SA tentang fungsi alat peraga (W1.SA.B74) Comment [b89]: Tanggapan siswa tentang pembelajaran menggunakan alat peraga (W1.SA.B76-77) 126

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.10 Transkrip Wawancara Pra-Penelitian Siswa B Transkrip Hasil Wawancara Siswa B Pra-Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pra penelitian : Siswa B : 1 Maret 2014 : 07.30-07.50 : Depan ruang UKS : (W1.SB.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W1 = Wawancara Pra Penelitian SB = Siswa B B = Baris Transkrip Hasil Wawancara SB kita ngobrol-ngobrol aja ya? Hahahaaaa... aku malu e mbak kalau direkam. Ngga papa santai aja.. aku mau tanya bagaimana pembelajaran matematika di kelas 5 menurut kamu? Sama bu M? Hmmmmmm... enak sih mbak... Enaknya gimana? Kalau bu M lagi njelasin pelajaran aku terus dong (paham). Terus apa lagi yang kamu rasain? Pelajarannya gampang (mudah) mbak. Gampang? (mudah) Gampangnya (mudahnya) yang gimana? hmmm ya kalau pelajaran matematika yang paling gampang (mudah) itu pecahan perkalian kalau menurutku. Ohh paling gampang (mudah) pecahan perkalian. Oh iya kamu tadi mau bilang kalau latihan bagaimana? Kalau lagi latihan itu soalnya sedikit-sedikit tapi jelas. O... dikit-dikit tapi jelas, jadi paling mudah pecahan gitu ya? Kalau yang paling sulit? Soal cerita. Soal cerita? Soal cerita itu bingung untuk memahaminya. Aku paling ngga suka kalau soal matematika itu soal cerita. ohhhh gitu... terus kalau perasaanmu belajar matematika di kelas bagaimana? Kamu seneng apa sedih? Seneng lah mbak! Kok seneng? Emangnya kenapa? Ya seneng soalnya gurunya enak! Bu M tegas juga. Kan kalau ada siswa yang rame to bu sama bu M bukunya diambil terus dia ngga bisa ngerjain jadi terus dapet nilai nol. Oke, jadi suka karena tegas ya? Selain itu apa? Matematika itu enak bisa ngitung-ngitung, tapi lebih enak IPS sih. Aku tanyanya matematika hlo.. Iya sih mbak sekedar curhat aja. Kalau matematika itu seneng aja mbak, gurunya enak, kalau ada yang belum paham di jelasin sama bu M sampai dong (paham) dan jelas. Jadi pada saat guru menyampaikan materi diulang-ulang? Iya diulang-ulang terus sampai semua dong (paham). Terus to (kan) mbak kalau ada siswa yang rame sama bu M ngga dijelasin biar di kapok dan ngga rame lagi. Kamu sebenarnya seneng apa ngga kalau suruh belajar matematika? Kan kalau matematika ngitung-ngitung kan? Iya suka itung-itungan (berhitung) dari pada ngapalin (menghafal) materi. Jadi suka ya? Iya kan kalau itung-itungan (berhitung) cepet mbak, nanti kalau dicari pasti ketemu. Hlaa kalau hafalan itu susah e, ngapalin (menghafal) lama tapi baru bentar aja terus lupa. Terus kalau ngapalin itu lama butuh waktu sampe 3 hari baru apal (hafal), kalau itung-itungan kan cepet. Ohh jadi seneng itung-itungan soalnya cepet. Terus materi apa yang sudah kamu 127

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 pelajari di kelas 5? Materinya bagaimana? Materi apa to mbak? Materi pelajaran itu kayak tadi hloo kamu nyebutin pecahan, nah itukan merupakan materi pelajaran. Ohh itu to, ada pecahan juga, desimal. Nah itu, materi yang kamu pelajari itu bagaimana? Sulit apa mudah dalam berhitungnya? Kalau itu gampang mbak, tapi paling gampang pecahan perkalian. Selain itu apa lagi? Ya perkalian pecahan, penjumlahan, pembagian, sama pengurangan perkalian terus ada skala, kecepatan, kalau kecepatan aku ngga suka soalnya soal cerita susah memahaminya. Oh gitu ya? Okee terus selama belajar matematika di kelas kamu pernah menjumpai alat perga apa tidak? Alat peraga itu apa to mbak? Alat peraga itu alat yang digunakan guru untuk menjelaskan materi yang akan diajarkan.. Kayak gambar-gambar itu mbak? Oh aku inget Bu M pernah membawa karton. Karton itu dibuat jadi kubus. Terus Bu M nunjukkin jaring-jaring kubus terus jaring-jaring itu dibuat bentuk jadi kubus. Itu waktu pelajaran kelas 5? Iya waktu semester 1 kemaren. Selain di kelas 5 pernah menjumpai di kelas berapa? Hmmmm kelas berapa ya? Sek tak inget-inget dulu. Oke.. silahkan.. Kelas 4 juga pernah pakek mbak. Alat peraganya apa itu? Waktu itu pas pelajaran matematika pas pecahan. Terus gambar pecahan, nah terus ada bagian yang diarsir gitu. Cuma kelas 4 aja po? Di kelas 3 tapi waktu itu aku buat rumah-rumahan yang bentuknya balok. Jadi membuat balok terus dijadiin rumah-rumahan? Terus apa lagi? Cuma itu aja sih mbak. Kalau gitu, terus aku mau tanya bagaimana persaanmu ketika belajar menggunakan alat peraga? Enak mbak, mending pakek itu dari pada cume nerangin (menjelaskan) lewat papan tulis. Jadi lebih enak ya, sebenarnya lebih mudah apa sulit kamu memahami materinya? Lebih mudah sih mbak. Terus aku mau tanya alat peraga yang baik buat belajar itu sebenarnya yang bagaimana sih? Alat peraga yang baik? Iyaa jadi gini dari bentuk alat peraganyanya baiknya yang bagaimana menurutmu? Yang besar? Sedang apa kecil? Yang sedengan aja, yang penting kelihatan dari belakang soalnya aku kan duduknya dibelakang. Hhahaaaaa. Jadi yang besar dong (kan) biar yang belakang jadi keliatan? Ohh iya yang besar juga boleh, tapi asal jangan yang besar-besar banget kayak satu ruang kelas itu. Jadi ngga besar-besar banget ya? Terus karo dari segi warnanya alat peraganya bagaimana? Pokoknya jangan warna yang gelap, soalnya kalau gelap ngga (tidak) kelihatan. Yang warnawarni. Ada merah, pink, unggu, hijau muda, biru muda, gitu-gitu lah mbak. Oh ya jadi yang besar dan warna-warni begitu ya? Ho.oh (iya) mbak. Terus manfaat alat peraga itu buat kamu apa? Manfaat itu apa to mbak? Oh manfaat itu keuntungan dari alat peraga. Jadi pada saat Bu M pernah membawa alat peraga yang berupa jaring-jaring kubus itu ada keuntunggan tidak buat kamu belajar? Apa bisa membantumu dalam memahami materi apa alat peraga itu malah membingungkan? Malah bikin tambah jelas. Comment [b90]: Tanggapan SB tentang alat peraga (W1.SB.B61-62) Comment [b91]: SB menjumpai alat peraga di kelas 4 (W1.SB.B70-71) Comment [b92]: SB menjumpai alat peraga di kelas 3 (W1.SB.B73) Comment [b93]: Tanggapan SB terhadap penggunaan alat peraga (W1.SB.B78) Comment [b94]: Tanggapan SB terhadap penggunaan alat peraga (W1.SB.B80) Comment [b95]: Tangapan SB tentang alat peraga yang baik (W1.SB.B93-94) 128

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 Selain itu? Pas pakek jaring-jaring kubus itu aku bisa melihat secara langsung tidak cuma lewat gambar. Jadi kamu lebih bisa lihat secara langsung tanpa membayangkan bentuk kubus? Tapi kalau disuruh membayangkan kubus aku juga bisa sih mbak. Pada saat bu M membawa alat peraga kubus kamu lebih bisa memahami tetapi kalau tidak kamu juga bisa dengan cara membayangkan kubus? Begitu maksudnya? Iya. Lalu kalau bu M membawa alat peraga balok dibandingkan dengan kamu membayangkan balok itu mana yang paling mudah? Ya pada saat bu M bawa alat peraga jadi mudah diinget nek membayangkan itu kadangkadang bisa salah e mbak. Jadi lebih mudah memakai alat peraga ya? Iya mbak. Oke makasih ya buat wawancaranya hari ini.. Iya mbak sama-sama. Aku berapa menit mbak? Lima belas menit. Jadi lebih lama aku dari pada dinda. Iya ngga papa (tidak apa-apa), ngga (tidak) dibatasi kok waktunya. Comment [b96]: Tanggapan siswa terkait manfaat alat peraga (W1.SB.B103-105) Comment [b97]: Tanggapan siswa terkait manfaat alat peraga (W1.SB.B113-114) 129

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.11 Transkrip Wawancara Pra-Penelitian Siswa C Transkrip Hasil Wawancara Siswa C Pra-Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pra penelitian : Siswa C : 1 Maret 2014 : 08.55-09.15 : Depan ruang UKS : (W1.SC.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W1 = Wawancara Pra Penelitian SC = Siswa C B = Baris Transkrip Hasil Wawancara SC kita ngobrol-ngobrol dulu aja ya? Iya mbak! SC aku mau tanya bagaimana pendapatmu mengenai pembelajaran matematika di kelas? Ini direkam po mbak? Iya... Duh suaraku jelak e.. Hahahaaa... ngga (tidak) masalah.. ayo pertanyaanku dijawab dong. Iya deh, kalau menurutku pembelajaran matematika di kelas itu enak, tapi agak sulit ngerjainnya. Enak tapi agak sulit? Duh itu maksudnya bagaimana? Kalau soalnya gampang ya enak, tapi kalau soalnya susah ya jadi ngga enak. Gurunya juga enak kok. Jadi tergantung gurunya ya? Iya juga.. Seneng ngga (tidak) belajar matematika? Ada senengnya tapi ada sedihnya juga.. Katamu tadi seneng kalau soalnya gampang, gurunya juga enak. Terus sekarang sedihnya dimana? Kalau soalnya sulit, terus ngga bisa ngerjaian dan nilainya jelek. Ohh jadi karena nilanya jelek to, terus bagaimana perasaanmu ketika belajar matematika? Seneng, sedih, bosan apa menyenangkan? Seneng. Senengnya kenapa? Seneng soalnya suka matematika. Kenapa kok suka matematika? Soalnya matematika itu menantang. Menantang? Kok bisa menantang? Ya kan kalo dikasih soal terus diterangin abis itu latihan terus jadi bisa ngerjain soal. Itu menantangnya dimana coba? Kan pas ngerjain soal terus ngitung-ngitung terus ketemu jawabnnya itu yang bikin menantang. Hla kalau kamu udah ngitung-ngitung (berhitung) tapi ngga (tidak) ketemu jawabnnya apa itu juga menantang? Ya kan bisa dicari lagi, di teliti mungkin masukkin angkanya yang salah. Terus diitung (dihitung) lagi jadi ketemu. Oh gitu jadi seneng gitu ya?ngga (tidak) bikin bosen? Capek sih, capek ngitung. Bagaimana dengan materi yang kamu pelajari di kelas 5? Oh materinya biasa saja. Materinya biasa? Maksudnya gimana itu? Biasanya yang gimana? Terus susah apa ngga? Yaa biasa aja tapi ada juga yang rumit. 130

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 Rumitnya gimana? Soalnya harus dicoret-coret. Apanya yang harus dicoret-coret? Saat ngerjain soal itu caranya susah bikin pusing, makannya harus dicoret-coret. Terus kalau pas materi pecahan lumayan gampang soalnya memperhatikan guru waktu njelasin (menjelaskan) materi. Oh gitu terus materi apa yang kamu angap sulit? Perbandingan dan skala. Kenapa kok sulit? Soalnya rumit banget. Harus dipahami bikin males. Oh gitu terus aku mau tanya apa kamu pernah menjumpai alat peraga. Tahu ngga (tidak) alat peraga itu apa? Ngga (tidak) tau. Alat peraga itu adalah alat yang digunakan guru untuk menyampaikan materi yang akan diajarkan. Pernah menjumpai? Ohh itu pernah. Dimana? Kelas berapa? Ya di sekolah lah mbak, waktu kelas 4 itu bawa tabel perkalian. Selain itu? Kelas berapa lagi ya? Sek tak inget-inget, kelas 5 juga pernah bawa kubus sama balok pakek kertas karton. Kubus sama balok aja? Iya waktu itu bu mumpuni bawa jaring-jaring kubus sama balok, terus jaring-jaringnya di buat jadi bangun kubus sama balok. Terus bagaimana perasaanmu ketika belajar matematika menggunakan alat peraga itu? Seneng mbak, lebih mudah memahami, terus kan waktu itu juga disuruh buat juga, buatnya juga ngga susah sih, jadi seneng pakek alat peraga. Jadi seneng, terus menurut kamu bagaimana sih alat perga yang baik itu? Yang bisa buat belajar, menarik. Menarik? Kalau dari warnanya bagaimana? Kalau warnanya itu yang warna coklat,hijau. Kenapa kok coklat sama hijau? Soalnya aku suka warna itu. Oh gitu, terus bagaimana dengan ukurannya? Gede, sedeng, apa kecil? Yang sedengan (sedang) aja,, Kenapa kok yang sedengan (sedang) aja? Biar ngga kebesaren apa kekecilan gitu mbak. Terus hurus keliatan dari belakang soalnya aku kan duduknya dibelakang. Hahahaaaa Oke terus bagaimana dengan manfaat alat peraga? Apa alat peraga itu membantumu memahami materi? Apa malah alat peraga itu malah bikin bingung? Membantu belajar lah mbak, lebih apa ya? Hmm lebih mudah dipahami juga. Terus kalau kamu menjumpai soal yang berkaitan dengan alat perga, kamu masih inget ngga (tidak)? Inget waktu bu M bawa kubus sama balok. Terus mending bu M bawa alat perga apa tidak bawa? Mending bawa alat peraga biar kalau njelasin (menjelaskan) cepet dong (paham). Oke SC, aku rasa wawancaranya cukup, besok masih berlanjut lagi ya... makasih hlooo... Iya mbak sama-sama seneng bisa bantu. Comment [b98]: SC menjumpai alat peraga di kelas 4 (W1.SC.B61) Comment [b99]: SC menjumpai alat peraga di kelas 5 (W1.SC.B66-67) Comment [b100]: Tanggapan SC terhadap penggunaan alat peraga (W1.SC.B70-71) Comment [b101]: Tangapan SC tentang alat peraga yang baik (W1.SC.B73) Comment [b102]: Tanggapan SC terhadap manfaat alat peraga (W1.SC.B85) Comment [b103]: Tanggapan SC terhadap manfaat alat peraga (W1.SC.90) 131

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.12 Transkrip Wawancara Pasca-Penelitian Guru Transkrip Hasil Wawancara Guru Pasca Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pasca penelitian : Guru : 4 April 2014 : 11.00-11.30 : Ruang guru : (W2.G.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W2 = Wawancara Pasca Penelitian G = Guru B = Baris Transkrip Hasil Wawancara Selamat siang bu, terimakasih atas kesediaannya untuk melakukan wawancara setelah penelitian ini. Sama-sama mbak saya juga sedang luang kok. Langsung saja ya buk, saya mau bertanya tanya bagaimana perasaan ibu setelah melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga bangun datar dengan metode montesori? Terlihat bedanya antara antara yang menggunakan alat peraga dan tidak menggunakan alat peraga. Mereka sangat berantusias, lebih bersemangat dan cepat memahami materi jadi cepat paham. Tadi ada yang bilang anak kelas VB “Buk saya yang materi dalam pelajaran bangun datar menggunakan alat peraga ini lebih cepat paham” lalu dari pada di kelas VA baru saja melakukan ulangan, juga berbeda di kelas VA. Di kelas 5A banyak siswa yang bertanya, sedangkan kelas VB setelah diberikan soal ulangan mereka sudah mengerjakan sendiri tanpa banyak bertanya. Lalu bagaimana perasaan ibu dengan perbedaan yang terjadi antara kelas VA Dan kelas VB dalam kegiatan pembelajaran ini? Saya senang apabila dalam menyampaikan materi itu siswa lebih cepat memahaminnya dan jika masih ada siswa yang belum memahami yang saya jelaskan berulang-ulang sampai siswa itu paham, tapi kalau di kelas VB saya senang karena siswanya sangat berantusias sekali dan cepat memahami materi serta nilai ulangannya juga bagus-bagus. Lalu bagaimana sikap siswa pada saat menggunakan alat peraga bangun datar tersebut? Siswanya tertarik, berantusias dalam menggunakannya,banyak ingin tahunya “Bu ini bangun apa saja? Kok banyak banget” siswa-siswanya juga semangat sekali. Lalu bagaimana pendapat ibu mengenai alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran sebenarnya efektif atau tidak? Ya sangat efektif, mereka cepat paham sehingga lebih efektif hal ini juga ada kaitannya dengan waktu, kelas VB itu pelajaraannya cepat selesai dibanding kelas VA karena mereka lebih cepat memahami, yang kelas VA masih banyak bertanya karena mencatat, di rumah mereka tidak membaca catatan terlihat sekali pada saat di tanya masih membolak-balik buku. Tapi di kelas VB ini kan dijelaskan caranya terus siswanya lebih cepat memahami dan bisa menjawab pertanyaan tanpa membaca buku, kalau di kelas VA kita menjelaskan materi secara berulang-ulang. Bagaimana pendapat ibu mengenai penggunaan alat peraga tersebut? sebenarnya mudah atau rumit bu? Ya..gampang (mudah) mbak. Kalau kita tau kan jadi mudah toh anak anak juga bisa itu buktinya saat di terangain ada yang langsung mencoba langsung bisa, walaupun masih ada beberapa anak yang masih bertanya terus di jelasin lagi akhirnya bisa. Terlihat pada saat presentasi setiap kelompok melakukannya dengan benar. Lalu bagaimana pendapat ibu mengenai hasil mengerjakan soal dengan alat peraga? Lebih cepat alat peraga, ini juga tahu nilai ulangannya di kelas VA dan VB dalam mengerjakau ulangan pun di kelas VB tidak banyak bertanya tak merasa kesulitan dalam mengerjakan soal. Dalam mengerjakan soal mereka jadi cepat selesai. Ini tadi YG ngumpulinnya (mengumpulkan) cepet saya kira cuma ngawur (mengerjakan secara Comment [b104]: Sikap siswa (W2.G.B7-9) Comment [b105]: Perasaan G menggunakan alat peraga (W2.G.B16-19) Comment [b106]: Sikap siswa (W2.G.B22-23) Comment [b107]: Tanggapan guru terhadap manfaat menggunakan alat peraga (W2.G.B26-28) Comment [b108]: Tangapan guru mengenai situasi belajar di kedua kelas (W2.G.B28-32) 132

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 sembarangan/tidak serius) tapi ini kok dapat 95, jadi hasil ulangannya bagus-bagus di kelas VB yang menggunakan alat peraga. Jadi lebih bagus kalau pakai alat peraga. Lanjut ya bu bagaimana perasaan ibu pada saat menggunakan alat peraga bangun datar? Lebih gampang sih mbak, awalnya saya di beri video dalam menggunakan alat peraga, tak lihat kok kayaknya agak (sepertinya) ribet ya cara-caranya banyak banget tahap-tahapnya tapi setelah tak praktekin sendiri woalah (ternyata) jadi begini to. O... Jadi awalnya ribet ya bu? Ya gak (tidak) ribet-ribet amat (sekali) saat di coba, gak (tidak) ribet, gak (tidak) repot terus gak (tidak) capek juga mbak, mereka yang aktif ya udah kita tinggal lihat bagaimana mereka melakukannya. Kalau ada yang salah tinggal di benarkan, tetapi kemarin saya keliling melihat-lihat sudah banyak yang bisa menggunakannnya, memang di awal masih banyak bertanya, tetapi setelah berjalan 2-3 pertemuan mereka sudah tau dan paham dalam menggunaknnya, jadi kita tinggal mencontohkan dan siswanya jalan sendiri kita yang memantau. Jadi saya malah tidak banyak beraktifitas, menghemat energi juga. Jadi malah senang soalnya ibu tidak banyak menjelaskan gitu ya bu? Iya kan kita menyampaikan materinya terus siswanya bekerja pake alatnya. Lalu bagaimana kesan alat peraga tersebut terkait dengan pemahaman siswa? Maksudnya gimana mbak? Kesan ibu terhadap pemahaman siswa? apa semua siswa dapat memahami apa malah jadi membingungkan? Kalau dari sisi siswanya lebih mudah paham jika menggunakan alat peraga, kalau saya juga lebih mudah karena dapat menghemat waktu, tenaga, tapi kalau menerangkan satu persatu bikin (membuat) capek. Lalu bagaimana dengan pemahaman siswa terhadap cara penggunaan alat peraga? Ya bermacam-macam mbak, ada yang langsung bisa ada yang masih bingung, itu tergantung anaknya. Ada beberapa anak yang bisa menggunakan alat peraga tapi ada juga yang masih bertanya. Ada anak setelah kita beritahu contohnya, lalu mereka mencobanya dalam kelompoknya, terbuktikan pada saat presentasi mereka dapat menggunakan alat peraga dengan baik, bisa membuktikan sisi-sisi bangun menggunakan bagnun yang lain, menunjukkan sudutnya, kan pada saat tak tunjukkan cara penggunaannya siswa juga memperhatikan malah ada yang mengikuti apa yang saya lakukan. Tapi yo juga ada anak yang masih tanya-tanya “gimana to bu, gimana to bu”, ya kan kita ulangi lagi cara melakukannya sampai anak itu bisa dong (paham). Jadi semua siswa dapat menggunakan alat peraga tersebut atau tidak bu? Kalau dihitung seluruh siswa ya ngga (tidak) semua siswa di kelas VB soalnya masih ada sebagian siswa yang menyepelakan (meremehkan) to (kan) mbak ada yang diterangkan diam aja ya paling yang bisa menggunakan seperempatnya kelas bisa mbak terlebih siswa yang laki-laki itu mbak yang ngeyel. Oh, iya bu lalu bagaimana kesan guru terhadap alat peraga terkait kemandirian siswa? Jadi anak lebih mandiri, mereka bereksplorasi sesuai keinginan mereka. Jadi lebih mandiri dan bereksplorasi ya bu? Selain itu anaknya juga sudah sibuk sendiri sama alat peraganya ya kita biarkan saja biarkan dia melakukan sendiri sesuai dengan kehendaknya tinggal kita pantau saja. Lalu kaitannya dengan kontribusi alat peraga terhadap konsep matematika yang didapat siswa bagaimana bu? Itu maksudnya gimana mbak? Maksudnya bisa menjelaskan materi secara penuh atau cuma pengenalan saja? keuntunggan alat peraga maksudnya bu. Ya tidak sepenuhnya mbak, soalnya masih ada yang bingung walaupun cuma sedikit, itu tergantung siswanya yang dikasih alat peraga ditunjukkan cara menggunakannya kalau yang cepet ya mereka cepet tapi kau ada yang lambat ya harus pelan pelan mbak. Setelah itu diberi contoh lagi cara menggunakannya. Sebenarnya kan kalau siswa itu benar dalam menggunakan alat peraga itu sudah otomatis konsep itu terbangun dengan sendirinya tinggal kita saja yang memberikan arahan yang jelas. Jadi bervariasi ya bu, lantas bagaimana konstribusi alat peraga terhadap konsep yang terbentuk oleh siswa? Maksudnya giamana? Maksudnya manfaat alat peraga terhadap konsep yang terbentuk oleh siswa Ohh..jadi siswa kan berfikirnya lebih konkrit kalau pakek alat peraga jadi membantu siswa Comment [b109]: Kesulitan G dalam menggunakan alat peraga (W2.G.B48-50) Comment [b110]: Tanggapan guru terhadap penggunaan alat peraga (W2.G.B52-54) Comment [b111]: Kesulitan yang dialami siswa pada saat menggunakan alat peraga (W2.G.B55-58) Comment [b112]: Manfaat menggunakan alat peraga (W2.G.B58-60) Comment [b113]: Kesan G terhadap pemahaman siswa (W2.G.B65-67) Comment [b114]: Tangapan guru terhadap cara siswa menggunakan alat peraga W2.G.B72-75) Comment [b115]: Kemandirian siswa (W2.G.B84) Comment [b116]: Sikap siswa (W2.G.B86-87) 133

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 dalam memahami materi yang diajarkan, kan alat peraga tersebut sering digunakan oleh siswa. Jadi kalau kita menyampaikan materi secara lisan oleh siswa maka alat peraga tersebut sebagai alat membantu memahami apa yang kita sampaikan lebih memudahkan siswa dalam menyerap materi yang kita sampaikan. Ya bisa membantu 75% lah mbak. Lalu bagaimana kemampuan siswa dalam mengerjakan soal menggunakan alat peraga tersebut? Lebih bisa menguasai pada saat dijelaskan menggunakan alat peraga, di banding dengan ngawang (membayangkan) atau gambar. Kalau di beri alat peraga secara konkrit mereka lebih lama dalam mengingatnya ingatan mereka lebih lama. Jadi lebih bisa menguasai ya bu? Iya kan bisa dilihat juga pada saat diskusi di dalam kelompok, siswa sangat antusias sekali dalam menghafal sifat-sifat bangun datar selain itu juga membuktikan sifat-sifatnya menggunakan alat peraga, lalu pada saat disuruh maju kedepan mempresentasikan banyak siswa yang sudah menguasai dan melakukannya dengan benar walaupun ada beberapa yang masih salah tapi kita koreksi dan dijelaskan lagi dan menyuruh mengulanginya lagi terus bisa melakukannya. Bagaimana kemandirian siswa ketika mengerjakan soal menggunakan alat peraga? Mandiri mbak, tidak banyak tanya, mereka sudah paham, asyik ngotak-atik alat peraganya Bagaimana hasil mengerjakan siswa menggunakan alat peraga? Rata-rata separoh kelas lebih semua di atas KKM mbak ini saya baru saja di kasih rekapan nilai sama mas A banyak yang mendapat nilai 85 ke atas. Lalu pendapat ibu tentang bentuk alat peraga? Sebenarnya bentuknya itu menyerupai almari ya mbak jadi pernah melihat bentuk yang seperti itu, tapi jika dilihat dari segi biayanya pasti lebih mahal ya mbak? kalau membuat alat peraga itu ya jangan mahal-mahal. Bagaimana pendapat ibu mengenai warna alat peraga itu? Warnanya sudah bervariasi, sehingga mampu menarik perhatian siswa. Bagaimana pengaruh warna dalam ketertarikan siswa? Bisa membedakan antara bangun apa sama bangun apakah sudah membedakan terus antara garis diagonal juga sudah ada perbedaan warnya sudah bervariasi.oh..yang warna merah itu bangun apa,terus yang warna coklat itu garis apa mereka sudah tahu. Bagaimana pendapat atau kesan ibu terkait ukuran alat peraga tersebut? Gede itu mbak, kotaknya besar,berat kan itu mbak? ya kalau kelas 5 itu keberatan, kemarin kan banyak yang ke cecer kan mbak, banyak yang jatuh terus tumpah ke lantai. Tp kalau di ambil per rak kan nggak (tidak) papa mbak, soalnya lebih ringan dari satu rak, satu kotak itu ada 5 rak kan jadi berat. Lalu bagaimana dengan daya tarik alat peraga bu? Menarik, mereka aktif bertanya itu buat apa to? carannya menggunakan bagaimana? pas awalnya juga semua rak di kotak dilihat satu per satu itu kan buktinya siswa penasaran dengan alat itu ini kok bangunnya banyak banget. Bagaimana pendapat ibu tentang tingkat kepahaman siswa tentang cara penggunaan alat peraga montesori? Lebih paham pakek alat peraga itu alatnya sederhana hanya saja ada beberapa cara untuk menggunakan alat peraga kita memberi contoh dulu kepada siswa dan siswa dapat melakukan sesuai dengan contohnya kita mengulangnya beberapa kali agar siswa lebih paham. Lalu kalu di gunakan untuk kelas 1 sampai kelas 6? Bisa kan alatnya sudah sesuai dengan materi bangun datar di mulai dari kelas bawah, kelas satu walaupun masih pengenalan tapi itu kan masih bisa digunakan ditunjukkan bangun datarnya kan juga bisa kalau kelas enam juga bisa kan cuma tingkatannya lebih rumit. Bagaimana kontribusi pola bangun datar dari alat peraga tersebut dalam mengerjakan soal? Maksudnya? Contohnya itu kemarin kan ada bangun datar persegi ternyata kalau dibagi 2 menjadi bangun datar persegi panjang jadi itu kontribusinya dalam mengerjakan soal bagaimana? Oh itu ya siswa bisa membedakan juga kan mereka juga bisa menemukan sendiri kalau persegi itu bagaimana bisa tau juga kan kalau persegi itu ternyata juga bisa dibentuk dari dua buah persegi panjang kan malah menambah pengetahuan siswa mbak tidak cuma terpaku pada kebiasannya kalau persegi itu bentuknya bagiamana tetapi bisa melihat kemungkinan Comment [b117]: Pendapaa guru tentang fungsi alat peraga (W2.G.B103-107) Comment [b118]: Kegiatan siswa menggunakan alat peraga (W2.G.B114-117) Comment [b119]: Sikap siswa pada saat menggunakan alat peraga (W2.G.B121) Comment [b120]: Hasil belajar siswa (W2.G.B123-124) Comment [b121]: Tangapan tentang pembuatan alat peraga (WA2.G.B126-128) Comment [b122]: Pendapat guru tentang warna alat peraga (W2.G.B130) Comment [b123]: Pendapat guru tentang warna alat peraga (W2.G.B132-134) Comment [b124]: Pendapat guru tentang ukuran alat peraga (W2.G.B136) Comment [b125]: Tangapan guru tentang berat alat peraga (W2.G.B136-139) Comment [b126]: Tangapan guru tentang kesesuaian alat peraga dengan materi (W2.G.B151) Comment [b127]: Kegunaan alat peraga dalam pembelajaran materi bangun datar(W2.G.B151-153) 134

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 lain tentang beberapa bangun yang ternyata bisa terbentuk menjadi persegi. Bagaimana pendapat ibu dengan pola-pola bangun datarnya? Sesuai dengan materinya, cuman (cuma) anak bingung. Dalam alat peraganya kan ada banyak sekali mbak bangun-bangunnya, saya saja juga bingung hla bangunya itu ada yang mirip e, kayak segitiga sama kaki sama segitiga sama sisi, apa mungkin itu potongannya tidak pas, apa bagiamana wong bangun segitiga sama kaki itu kan dalam alasnya ada tiga itu ukuranya tidak sama terus ada juga itu lingkaran yang di bagi menjadi berapa itu banyak sekali dan kecil-kecil, mungkin besok kalau membuat lebih besar lagi lalu ukuranya juga disesuaikan mbak antara bangun yang satu dengan bangun yang lainnya. Lalu bagaimana dengan kemandirian siswa pada saat menemukan kesalahan jawaban saat menggunakan alat peraga? Ya siswa malah mandiri kan mbak, malah bisa mengukur seberapa jauh dia memahami materi, jika dia melakukan kesalahan dia akan mengulanginya sampai benar siswa bisa melatih siswa juga. Bagaimana pendapat ibu terkait dengan kesalahan yang di lakukan siswa ketika menggunakan alat peraga? Wajar saja namanya juga belajar, dari tidak bisa menjadi bisa dari salah menjadi benar, terus juga bisa buat latihan to (kan) mbak,kalau salah kan harus diperbaiki jadi kalau dia melakukan kesalahan dia bisa tau cara untuk memperbaikinya. Bagaimana pendapat ibu mengenai pengendali kesalahan kartu soal? Itu kalau pakek (menggunakan) kartu soal siswa malah bingung emang (memang) awalnya untuk mengecek jawaban tapi terus tidak di pakek lagi kan? makannya terus diganti pakek LKS itu malah lebih jelas jadi ngga usah pakai kartu. Saya rasa juga tepat soalnya juga samasama untuk belajar siswa sebenarnya intinya sama cuma bentuknya aja yang berbeda. Apa guru pernah melihat alat peraga ini sebelumnya? Kalo modelnya seperti itu belum. Ini yang perama kali, belum pernah kalo yang berbentuk kotak terus ber rak-rak seperti itu. Bagaimana kesan guru terhadap bahan yang di gunakan untuk untuk membuat alat peraga itu? Mudah di jumpai siswa. Itu kan dari kayu kan jadi siswa juga dalam keseharian menjumpai kayu selain itu yang untuk bangunnya menggunakan triplek? Siswa pernah melihat mungkin di rumahnya juga punya. Jadi bahan-bahanya itu dijumapi oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari mbak. Saya rasa wawancaranya cukup bu, terimakasih atas waktu yang diberikan. Sama-sama mbak, kalau masih ada yang perlu ditanyakan besok menghubungi saya lagi.. Baik buk.. terimakasih sebelumya.. Sama-sama mbak.. Comment [b128]: Kesan terhadap pola bangun datar (W2.G.B.160-164) Comment [b129]: Saran ukuran bangun (W2.G.B166-172) Comment [b130]: Tangapan tentang kartu soal (W2.G.B184-187) Comment [b131]: Kesan terhadap alat peraga (W2.G.B189-190) Comment [b132]: Tangapan guru tentang bahan alat peraga (W2.G.B193-196) 135

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.13 Transkrip Wawancara Pasca-Penelitian Siswa A Transkrip Hasil Wawancara Siswa Pasca Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pasca penelitian : Siswa A : 4 April 2014 : 11.40-12.00 : Depan ruang kelas IIC : (W2.SA.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W2 = Wawancara Pasca Penelitian SA = Siswa A B = Baris Transkrip Hasil Wawancara Kemarin kalian belajar matematika menggunakan alat peraga kan? Kalau menurut kamu itu alat peraga namanya apa? Kalo aku sih kayaknya alat peraga bangun datar. Oke jadi semua bener ya itu merupakan alat peraga bangun datar, oh berarti kalian masih inget dong kemar in ngapain aja dengan alat itu? Inget Lalu kalau masih inget aku mau tanya beberapa hal, bagaimana pendapatmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Ngga tw (tidak tahu), apa ya? Menarik soalnya bangunnya ada yang segi sepuluh. Oh begitu, oh iya di dalam alat peraganya tadi katanya SB ber rak-rak ya? Ada apa aja sih? Kalo rak itu kayaknya biar mudah untuk mengambilnya, berbeda kalo diplastiki jadi susah buat ngambilnya. Terus di depan raknya ada tulisannya jadi aku bisa tahu isi rak-raknya ada apa aja. Iya benar jadi di dalam alat peraga itu ada beberapa macam bangun datar, terus bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Bingung itu buat apa, terus penasaran juga. Nah waktu itu tak lihat-lihat di alat peraganya di kotaknya itu ada tulisannya lingkaran, persegi, layang-layang, trapesium macem-macem pokoknya. Terus aku nebak oh itu pasti isinya bangun datar. Terus kalo udah tahu terus perasaanmu gimana? Seneng. Seneng aja soalnya baru pertama kali itu liat alat peraga yang besar bentuknya kotak. Lalu apa yang kamu lakukan menggunakan alat peraga itu? Terus tak buka-buka tak liatin satu per satu tak buka raknya juga tak lihat-lihat isinya apa aja. Oh gitu, lalu bagaimana perasaanmu ketika mengikuti pembelajaran menggunakan alat peraga itu? Gampang. Kok bisa gampang? Iya mbak, kan jadi lebih bisa memahami. Jadi lebih mudah, lebih gampang ya? Iya,, lebih mudah, asik seru juga. Asyiknya dimana? Waktu mraktekin (mempraktekkan) dan menunjukkan mana sifat-siftanya. Terus itu alat peraga susah masangnya juga, kan kemaren waktu punyaku kan jatuh terus tak pasang, itu masangnya susah hlo, masangin bangunya ke itu hlo,, apa itu namanya.... Oh maksudmu ke alas bangunya gitu? Nah iya itu apalagi yang bangun segi sepuluh itu. Kecil-kecil nga pas-pas. Oke, lalu bagaimana perasannmu mengenai materi bangun datar menggunakan alat peraga itu? Lebih menguasai materi apa malah bikin bingung? Menguasai. Kan kalo belajar itu kalo ngga (tidak) dikasih tahu dulu, atau ngga (tidak) digambar kan ngga (tidak) bisa, gimana sih, gimana sih, jadinya kan ngga (tidak) tau, tapi kalo di praktekin apalagi di pegang bangun datarnya kan lebih gampang. Comment [b133]: Pendapat SA tentang rak yang ada dalam alat peraga (W2.SA.B12-13) Comment [b134]: Pendapat siswa mengenai alat peraga (W2.SA.B17-19) Comment [b135]: Tanggapan SA tentang alat peraga (W2.SA.B.21-22) Comment [b136]: Kesulitan SA dalam meletakkan bangun kedalam alasnya (W2.SA.B3436) Comment [b137]: Kesulitan siswa dalam memasang bangun kedalam alasnya (W2.SA.B38) Comment [b138]: Perasaan SA terhadap penggunaan alat peraga dalam memahami materi (W2.SA.B41-43) 136

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Jadi menguasai semua ya, apalagi apabila menggunakan alat peraga bisa dilihat, diraba, terus dipraktikin juga jadi lebih mudah begitu ya? Ho.oh (iya) kan gampang juga untuk menunjukkan sisi, sudut, titik sudut terus suru nyebutin sifat-sifatnya juga lebih gampang. Lalu bagaimana jika gurumu tidak menjelaskan cara menggunakan alat peraga tersebut? Bingung, ini harus diapain sih, harus dipegang apa dimakan.. hahaha Hahaaa masak kayu mau dimakan. Oh iya di dalam alat peraganya juga juga ada persegi lalu ada dua buah persegi panjang dan tiga segitiga sama sisiya? Iya itu ada banyak lagi segitiga apa lagi itu namanya segitiganya kan banyak banget. Lalu setelah dijelasin sama guru bisa? Bisa, ditunjukkan juga sifat-sifatnya. Lalu bagaiamana pendapatmu mengenai kegunaan alat peraga tersebut dalam materi bangun datar? Berguna apa tidak? Berguna. Berguna mbak kan membantu mengerjakan soal, buat belajar juga. Bagaimana pendapatmu saat mengerjakan soal menggunakan alat peraga? Lebih cepat juga ngapalinnya dari masing-masing bangun datar. Jadi enak mbak, kan kita baca soalnya tentang sifat-sifat bangun datar terus to ditunjukin menggunakan alat peraganya sama kayak yang dicontohin sama bu M jadi gampang. Ketika pertama kali kamu melihat alat peraga itu apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga tersebut? Memegangnya terus dimain-mainin, diputer-puter. Lalu bagaiamana pengalamanmu setelah menggunakan alat peraga itu? Kalo ngerjain soal lebih gampang, kalo pas ngerjain ulangan itu masih inget gitu hloo, bentuk bangunnya gimana, sisinya yang mana, terus sifat-sifatnya apa aja. Seru ngga (tidak) pakek alat peraga? Seru ngga (tidak) meboseni juga. Lalu bagaimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga itu? Unik. Kan satu tapi di belah jadi banyak bagian-bagiannya nya jadi banyak, dari satu bagianbagian kan bisa dibagi menjadi beberapa bagian yang lain. Bangun persegi bisa di bagi menjadi dua menjadi persegi panjang,terus di bagi tiga sehingga menjadi segitiga sama sisi. Kalau warnanya? Warna-warni, kan ada biru merah sama kuning juga. tapi menurutku yo semisal kan persegi,masing-masing itu di warnai yang beda beda pada garis sisinya jadi bisa membedakan mana segitiga sama sisi,sama kaki,siku-siku.terus nanti sisi-sisinya juga diwarnai berbeda-beda sisi pertama warnanya merah sisi kedua hijau,dll Bagaimana pendapatmu mengenai cara guru menjelaskan cara menggunakan alat peraga? Sangat jelas Sebenarnya harus diulang-ulang atau sekali udah paham? Sekali aja. Bagaimana menurutmu cara penggunaan alat peraga tersebut? susah, gampang atau rumit? Gampang Contohnya? Kan ini kalo ini sisi,sudut,ini diagonal,ini titik sudut. Jadi aku juga bisa membuktikannya juga? Iya mbak, bisa menunjukkan nama-nama bangun sifat-sifatnya juga. Jika kamu diperbolehkan mempergunakan alat persaga tersebut, apakah kamu akan menggunakannya di jam pelajaran? Iya mbak nambah ilmu mbak soalnya buat latihan juga Bagaimana pendapatmu mengenai ukuran yang ada dalam alat peraga tersebut? dilihat dari ukuran kotaknya? Kalo kotaknya itu besar terus berat soalnya kan itu kayu, kemaren kelompoknya DE juga jatuh didepan kelas waktu mblikin keperpus. Trus kalau isinya di masing-masing rak itu bangunya ada yang kecil-kecil banget. Bagaimana kontribusi alat peraga tersebut dalam menjawab soal? Membantu mengerjakan soal, kan dengan menggunakan alat peraga itu kita kan disuruh mempraktekkan dulu menunjukkan sifat-sifatnya terus jadi inget kalo lagi ngerjain soal. Bagaimana pendapatmu tentang pengendali kesalahan dalam alat peraga tersebut? Comment [b139]: Kegunaan alat peraga menurut SA (W2.SA.B58) Comment [b140]: Alat peraga membantu mengerjakan soal (W2.SA.B60-62) Comment [b141]: tindakan siswa ketika melihat alat peraga (W2.SA.B65) Comment [b142]: fungsi alat peraga menurut SA (W2.SA.B67-68) Comment [b143]: bentuk alat peraga menurut SA (W2.SA.B72-74) Comment [b144]: tangapan siswa terhadap warna alat peraga (W2.SA.B76) Comment [b145]: pesan SA terhadap pewarnaan alat peraga (W2.SA.B76-79) Comment [b146]: Tanggapan siswa terhadap cara penggunaan alat peraga (W2.SA.B85-87) Comment [b147]: SA ingin mengunakan alat peraga di luar jam pelajaran (W2.SA.B94) Comment [b148]: Tangapan siswa tentang ukuran alat peraga (W2.SA.B97-98) Comment [b149]: Kesan ukuran bangun dalam alat peraga (W2.G.SA.B98-99) Comment [b150]: Tangapan SA tentang kontribusi alat peraga (W2.SA.B101-102) 137

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 105 106 107 108 109 110 111 112 Pengendali kesalahan itu katu soal. Membantu,kan misalnya salahkan bisa di benerin pakek kartu itu jadikan tau jawabannya. Bagaimana pendapatmu tentang bahan yang digunakan alat peraga itu? Kayu,kayunya itu mudah patah soalnya itu dari triplekskan kalo kayunya kita kan sering lihat,catnya juga,cat bisa dijual di toko, itu cat kayu ya aku punya dirumah tapi warnanya orange. tapi kalo serpihan-serpihan bagianya bangun datar yang copot itu bisa lepas bahaya lho mbak, itu nanti kalo kena tangan bisa tergores, jadi kalo motong-motong tripleksnya itu harus rapi. Oke jadi begitu ya,,, makasih ya temen-temen atas waktunya.. Comment [b151]: Tangapan SA tentang bahan alat peraga (W2.SA.B107-109) Comment [b152]: Tangapan SA tentang bahan alat peraga (W2.SA.B109-111) 138

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.14 Transkrip Wawancara Pasca-Penelitian Siswa B Transkrip Hasil Wawancara Siswa Pasca Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pasca penelitian : Siswa B : 4 April 2014 : 11.40-12.00 : Depan ruang kelas IIC : (W2.SB.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W2 = Wawancara Pasca Penelitian SB = Siswa B B = Baris Transkrip Hasil Wawancara Kemarin kalian belajar matematika menggunakan alat peraga kan? Kalau menurut kamu itu alat peraga namanya apa? Alat peraga bangun datar. Oke jadi semua bener ya itu merupakan alat peraga bangun datar, oh berarti kalian masih inget dong kematin ngapaian aja dengan alat itu? Inget mbak. Lalu kalau masih inget aku mau tanya beberapa hal, bagaimana pendapatmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Unik, soalnya besar terus bangunnya banyak macem-macemnya, berrak-rak juga. Oh begitu, oh iya di dalam alat peraganya tadi katanya SB ber rak-rak ya? Ada apa aja sih? Iya benar apa katanya SA itu ada lima rak kayaknya, ada bangun datar persegi, persegi panjang, belah ketupat, layang-layang, lingkarang, terus ada trapesium juga. Jadi di dalam alat peraga itu ada beberapa macem bangun datar, terus bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Seneng Kalo SB senengnya kenapa? Seneng aja soalnya baru pertama kali itu liat alat peraga yang besar bentuknya kotak terbuat dari kayu. Lalu apa yang kamu lakukan menggunakan alat peraga itu? Iya tak bukak-bukak, terus aku nyoba buat megang eh ngga bisa masangnya lagi, terus minta tolong sama mbak H kemaren.. hehe... Oh gitu, lalu bagaimana perasaanmu ketika mengikuti pembelajaran menggunakan alat peraga itu? Lebih gampang mbak, seneng juga, lebih gampang dalam memahaminya, aku jadi bisa menunjukkan mana sisi-sisinya, sudut-sudutnya diagonal juga titik sudutnya juga. Jadi lebih mudah, lebih gampang ya? Kan waktu maju suruh menunjukkan mana sifat-sifatnya per masing-masing bangun datar. Oke, lalu bagaimana perasannmu mengenai materi bangun datar menggunakan alat peraga itu? Lebih menguasai materi apa malah bikin bingung? Lebih menguasai mbak, Jadi menguasai semua ya, apalagi apabila menggunakan alat peraga bisa dilihat, diraba, terus dipraktikin juga jadi lebih mudah begitu ya? lalu bagaimana jika gurumu tidak menjelaskan cara menggunkana alat peraga tersebut? Bingung ini mau buat apa. Terus di dalam alat peraganya juga juga ada persegi lalu ada dua buah persegi panjang dan tiga segitiga sama sisiya? Dalam alat peraganya kan banyak banget jadi bingung mau di apain. Lalu setelah dijelasin sama guru bisa? Bisa mbak, ternyata bangun datar itu suruh menyebutkan sifa-sifatnya terus dibuktikan menggunakan alat peraganya. Lalu bagaiamana pendapatmu mengenai kegunaan alat peraga tersebut dalam materi bangun datar? Berguna apa tidak? Comment [b153]: Kesan SB pada saat pertama kali menjumpai alat peraga (W2.SB.B9) Comment [b154]: Perasaan SB pada saat pertama kali menjumpai alat peraga (W2.SB.B18-19) Comment [b155]: SB mencoba memegang alat peraga (W2.SB.B21-22) Comment [b156]: Perasaan SB terhadap penggunaan alat peraga dalam pembelajaran (W2.SB.B25-26) 139

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Berguna bisa memudahkan memahami materi terus membantu mengerjakan soal Lalu bagaimana pendapatmu saat mengerjakan soal menggunakan alat peraga? Gampang mbak, lebih enak, jadi lebih tahu dan menunjukkan sifat-sifatnya, sisinya ada berapa, yang mana aja, terus menyebutkan sudut-sudut menunjukkan juga. Ketika pertama kali kamu melihat alat peraga itu apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga tersebut? Memegangnya, soalnya penasaran aja sih isi kotaknya. Lalu bagaimana pengalamanmu setelah menggunakan alat peraga itu? Seneng juga, kalo pas ngerjain ulangan itu masih inget gitu hloo, bentuk bangunnya gimana, sisinya yang mana, terus sifat-sifatnya apa aja, terus diagonalnya juga yang mana ada berapa aja, jadi sifat-sifaatnya inget. Enak kalo pakek alat peraga. Bagimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga itu? Unik Uniknya dimana? Persegi juga bisa dibuat menjadi trapesium terus persegi bisa jadi persegi panjang terus masih ada banyak lagi. Bagaimana pendapatmu mengenai warna alat peraga tersebut?warna-warni apa bagaimana? Berwarna warna-warni. Warnanya ada merah, kuning sama biru terus garisnya berwarna coklat. Bagaimana pendapatmu mengenai cara guru menjelaskan cara menggunakan alat peraga? Gurunya menjelaskannya jelas mbak. Sebenarnya harus diulang-ulang atau sekali udah paham? Dua kali mbak jelasinnya. Bagaimana menurutmu cara penggunaan alat peraga tersebut? susah/ gampang? rumit? Gampang-gampang susah, awalnya susah tapi kalo udah dicoba jadi bisa Contohnya? Kan ini kalo ini sisi,sudut,ini diagonal,ini titik sudut. Jika kamu diperbolehkan mempergunakan alat persaga tersebut, apakah kamu akan menggunakannya di luar jam pelajaran? Iya. Tak bawa kerumah mbak. Tapi kemaren aku main-main lagi kalo sebelum pulang di perpus sama AL Bagaimana pendapatmu mengenai ukuran yang ada dalam alat peraga tersebut?dilihat dari ukuran kotaknya? Kalo kotak itu keberatan mbak sangat berat Kalau isi di masing masing rak? Kurang lebar kotaknya. Terus kan dalam rak itu terus di bagi menjadi dua ada atas sama bawah. Terus yang atas itu ada tiga bangun kayak yang pertama itu bangun persegi, persegi panjang, terus ada tiga persegi sama sisi. Nah kalo gitu kan raknya jadi kurang lebar, bangunnya juga jadi kecil-kecil. Bagaimana kontribusi alat peraga tersebut dalam menjawab soal? Aku bisa waktu ngerjain soal soalnya aku masih inget pas nujukin sisi, sudut-sudutnya pake alat peraga jadi bisa njawab. Bagaimana pendapatmu tentang pengendali kesalahan dalam alat peraga tersebut?pengendali kesalahan itu kartu soal, masih ingetkan? Membantu itu, jika salah dalam menyebutkan nama bangun sama sifat-sifatnya. Bagaimana pendapatmu tentang bahan yang digunakan alat peraga itu? Gampang dicari terus kalo kayunya pasti mahal ya mbak? Padahal itu ada 7 kotak. Hahahahaaaa iya SB. Comment [b157]: Kegunaan alat peraga menurut SB (W2.SB.B44) Comment [b158]: Alat peraga membantu mengerjakan soal (W2.SB.B46-47) Comment [b159]: Kesan pertama kali siswa melihat alat peraga (W2.SB.B.50) Comment [b160]: Manfaat alat peraga menurut SB (W2.SB.B52-54) Comment [b161]: Bentuk alat peraga menurut SB (W2.SB.B58-59) Comment [b162]: Kesan terhadap alat peraga (W2.SB.B62-63) Comment [b163]: Tangapan SB tentang cara penggunaan alat (W2.SB.B71) Comment [b164]: SB menggunakan alat peraga dil uar jam pelajaran (W2.SB.B76-77) Comment [b165]: Ukuran alat peraga (W2.SB.B80) Comment [b166]: Kesan ukuran bangun (W2.SB.B82-85) Comment [b167]: Tangapan SB tentang kontribusi alat peraga (W2.SB.B87-88) Comment [b168]: Tangapan SA tentang bahan alat peraga (W2.SA.B93) 140

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.15 Transkrip Wawancara Pasca-Penelitian Siswa C Transkrip Hasil Wawancara Siswa Pasca Penelitian Wawancara Nama Subjek Tanggal Waktu Lokasi Kode Wawancara Keterangan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 : Pasca penelitian : Siswa C : 4 April 2014 : 11.40-12.00 : Depan ruang kelas IIC : (W2.SC.B), Peneliti: dicetak tebal. Subjek: dicetak normal : W2 = Wawancara Pasca Penelitian SC = Siswa C B = Baris Transkrip Hasil Wawancara Kemarin kalian belajar matematika menggunakan alat peraga kan? Kalau menurut kamu itu alat peraga namanya apa? Iya itu alat peraga bangun datar. Oke jadi semua bener ya itu merupakan alat peraga bangun datar, oh berarti kalian masih inget dong kematin ngapaian aja dengan alat itu? Inget mbak, Lalu kalau masih inget aku mau tanya beberapa hal, bagaimana pendapatmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Rapi, bersih Kok rapi bersih, terus unik, menarik juga soalnya kenapa? Ngeliatnya bersih aja warnaya coklat dari kayu mengkilat gitu. Oh begitu, oh iya di dalam alat peraganya tadi katanya manda ber rak-rak ya? Ada apa aja sih? Ada lima rak kayaknya, ada bangun datar persegi, persegi panjang, belah ketupat, layanglayang, lingkarang, terus ada trapesium juga. Bener ya jadi di dalam alat peraga itu ada beberapa macem bangun datar, terus bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Seneng terus aku nebak-nebak itu isinya apa. Lalu apa yang kamu lakukan menggunakan alat peraga itu? Kalo aku cuma buka raknya terus bingung itu hlo waktu yang segi sepuluh itu kan banyak banget aku ngga berani nyopot soalnya takut nanti ngga bisa masang. Terus pas mas A bawa alat peraga itu kan mbak kayaknya berat baget terus tak bantuin bawanya ternyata berat banget hlo, terus aku juga bantuin bawa dari perpustakaan sampe ke kelas berat juga e. Lalu bagaimana perasaanmu ketika mengikuti pembelajaran menggunakan alat peraga itu? Seneng, jadi gampang juga belajarnya. Jadi lebih mudah, lebih gampang ya? Iya,, lebih mudah, asik seru juga. Asyiknya dimana? Menantang juga mbak soalnya semua disuruh untuk maju kedepan menunjukkan sifatsifatnya juga. Oke, lalu bagaimana perasannmu mengenai materi bangun datar menggunakan alat peraga itu? Lebih menguasai materi apa malah bikin bingung? Iya menguasai mbak kan belajarnya menggunakan alat peraga terus disuruh maju kedepan mraktekin nunjukkin sifat-sifatnya. Lalu bagaimana jika gurumu tidak menjelaskan cara menggunakan alat peraga tersebut? Bingung mbak ngga tau mau diapain. Lalu bagaiamana pendapatmu mengenai kegunaan alat peraga tersebut dalam materi bangun datar? Berguna apa tidak? Berguna, membantu mengerjakan soal, memahami materi juga. Lalu bagaiamana pendapatmu saat mengerjakan soal menggunakan alat peraga? Lebih cepat juga ngapalinnya dari masing-masing bangun datar. Comment [b169]: Perasaan siswa ketika melihat alat peraga (W2.SC.B18) Comment [b170]: SC mencoba memegang alat peraga (W2.SC.B20-21) Comment [b171]: Kesan terhadap ukuran alat peraga (W2.SC.B21-23) Comment [b172]: Perasaan SC ketika mengikuti pembelajaran menggunakan alat peraga (W2.SC.B26-31) Comment [b173]: Kegunaan alat peraga menurut SC (W2.SC.B41) Comment [b174]: Alat peraga membantu mengerjakan soal (W2.SC.B43) 141

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Ketika pertama kali kamu melihat alat peraga itu apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga tersebut? Memegangnya, menyentuh terus aku bingung juga kenapa kok kotaknya dibuat berrak-rak. Lalu bagaiamna pengalamanmu setelah menggunakan alat peraga itu? Seru, asik juga, enak kalo pakek alat peraga, jadi lebih gampang. Lalu bagaimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga itu? Unik, besar terus isinya ada macem-macem bangun datar. Bagaimana pendapatmu mengenai warna alat peraga tersebut? warna-warni apa enggak? Warna warni ada merah, biru, kuning,coklat warnanya ngga mencolok aku suka! Bagaimana pendapatmu mengenai cara guru menjelaskan cara menggunakan alat peraga? Sangat jelas, suaranya keras, terus diberi contoh juga ini sisi-sisinya, terus sudutnya, terus cara menujukkan diagonal. Sebenarnya harus diulang-ulang atau sekali udah paham? Tiga kali mbak,tapi ngga usah berkali-kali nantin waktunya habis. Bagaimana menurutmu cara penggunaan alat peraga tersebut? susah/gampang? rumit? Iya gampang Contohnya? Kan waktu itu aku kurang paham terus aku tanya sama SB terus jadi bisa waktu suruh membuktikan ciri-ciri persegi itu hlo tp pas yang layang-layang, trapesuim, belah ketupat itu aku terus bisa soalnya kan caranya sama aja. Oh gitu ya, jika kamu diperbolehkan mempergunakan alat peraga tersebut, apakah kamu akan menggunakannya di luar jam pelajaran? Iya. Tak bawa pulang boleh mbak?ah pasti nga boleh Emang kalau mau tok bawa pulang mw km apain? Yo tak mainin kan seru kayak puzzle tak lepas bangun yang segi sepuluh itu terus tak susun lagi hehehee Bagaimana pendapatmu mengenai ukuran yang ada dalam alat peraga tersebut? dilihat dari ukuran kotaknya? Ukurannya ada yang besar ada yang kecil, yang kecil itu ukurannya beda-beda. Ukuranya beda-beda? Iya, yang kecil banget itu jadi susah ngga tau juga nama bangunnya apa aja. Bagaimana kontribusi alat peraga tersebut dalam menjawab soal? Saya jadi tau kalau sisi segitiga itu AB,CD dari alat peraga itu. Bagaimana pendapetmu tentang pengendali kesalahan dalam alat peraga tersebut?(kartu) Membantu itu kalo kita salah dalam menyebutkan sifatnya kita bisa lihat kartunya sama apa nggak jadi bisa buat nyocokin jawaban juga. Bagaimana pendapatmu tentang bahan yang digunakan alat peraga itu? Bahannya itu kan kayu terus buat bangun-bangunnya itu tripleks to mbak? Aku di rumah punya. Jadi gitu ya.. oke makasih ya teman-teman atas waktunya. Iya mbak sama-sama. Comment [b175]: Kesan siswa ketika pertama kali melihat alat peraga (W2.SC.B46) Comment [b176]: Manfaat menggunakan alat peraga menurut SC (W2.SC.B48) Comment [b177]: Tangapan mengenai bentuk alat peraga (W2.SC.B50) Comment [b178]: kesan siswa terhadap alat peraga (W2.SC.B53) Comment [b179]: Tanggapan SC tentang cara menggunakan alat peraga (W2.SC.B62) Comment [b180]: SC ingin mengunakan alat peraga diluar jam pelajaran (W2.SC.B69-72) Comment [b181]: Kesan ukuran bangun (W2.SC.B75-77) Comment [b182]: Tangapan SC tentang bahan alat peraga (W2.SC.B85-86) 142

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.16 Foto-foto Wawancara dan Observasi Foto-foto Kegiatan Wawancara Foto siswa pada saat melakukan wawancara pra-penelitian. Foto siswa pada saat melakukan wawancara pra-penelitian. 143

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto siswa pada saat melakukan wawancara pra-penelitian. Foto guru pada saat melakukan wawancara pra-penelitian. 144

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto siswa pada saat melakukan wawancara pasca-penelitian. Foto guru setelah melakukan wawancara pasca-penelitian. 145

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto-foto kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori Pembelajaran pertemuan I Alat peraga yang digunakan pada pertemuan yang pertama. Tingkah laku siswa ketika pertama kali melihat alat peraga. 146

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru menjelaskan cara penggunaan alat peraga. Kegiatan siswa pada saat menggunakan kartu soal. 147

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kegiatan siswa pada saat pembuktian sifat-sifat bangun datar. Kegiatan siswa pada saat pembuktian sifat-sifat bangun datar. 148

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pembelajaran pertemuan II Alat peraga yang digunakan untuk pertemua kedua. Kegiatan siswa dalam membuktikan sifat-sifat bangun datar. 149

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kegiatan siswa pada saat presentasi di depan kelas. Kegiatan siswa pada saat presentasi di depan kelas. 150

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pembelajaran pertemuan III Alat peraga yang digunakan untuk pertemuanketiga. Guru menjelaskan cara penggunaan alat peraga. 151

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Siswa memperhatikan guru yang menjelaskan materi menggunakan alat peraga dan menirukannya. Siswa mengambil alat peraga yang sedang digunakan oleh temannya. 152

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pembelajaran pertemuan IV Alat peraga yang digunakan pada pertemuan keempat. Siswa memainkan alat peraga. 153

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Siswa memain-mainkan alat peraga sambil memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Siswa menunjukkan cara membuktikan sifat-sifat bangun lingkaran dengan teman kelompokknya. 154

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURICULUM VITAE Imelsa Heni Priyayik, lahir pada tanggal 10 Mei 1992. Bertempat tinggal di Sembuh Kidul, RT 04/ RW 08, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Godean, Kebupaten Sleman, Kota Yogyakarta. Pendidikan Dasar di SD Negeri Brongkol dari tahun 1998 dan diselesaikan pada tahun 2004. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri 1 Sedayu dari tahun 2004 diselesaikan pada tahun 2007. Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA Negeri 1 Sedayu dari tahun 2007 dan diselesaikan pada tahun 2010. Pada tahun 2010, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama memempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Kegiatan tersebut meliputi, Parade Gamelan Anak Se DIY-Jateng pada tahun 2010 sebagai divisi dampok, dan pada tahun 2011 sebagai divisi P3K, sebagai panitia Inisiasi Prodi PGSD pada tahun 2011 dan mengikuti setiap workshop Montessori yang digelar di PGSD. Peneliti juga aktif dalam kegiatan karang taruna desa Sembuh Kidul sebagai bendahara. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Persepsi Guru dan Siswa atas Penggunaan Alat Peraga Berbasis Montessori pada Pembelajaran Bangun Datar di Kelas V SD N Sokowaten Baru Yogyakarta”. 157

(178)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

RANCANG BANGUN ALAT PERAGA DIE CASTING
0
6
88
RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
8
19
BAB 1 PENDAHULUAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
6
6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
7
33
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
1
5
7
BAB 4 DATA RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
2
7
20
BAB 5 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
1
12
67
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
9
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
2
264
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
275
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
183
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
2
210
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
1
317
PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK OPERASI BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI
0
2
177
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
1
344
Show more