Kajian literatur rasionalitas peresepan antibiotika berdasarkan kriteria gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Juli 2013 - USD Repository

Gratis

0
0
230
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KAJIAN LITERATUR RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIKA BERDASARKAN KRITERIA GYSSENS PADA PASIEN PEDIATRIK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHO YOGYAKARTA PERIODE JULI 2013 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Gede Wiwid Santika Prabawa NIM : 108114092 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KAJIAN LITERATUR RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIKA BERDASARKAN KRITERIA GYSSENS PADA PASIEN PEDIATRIK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHO YOGYAKARTA PERIODE JULI 2013 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Gede Wiwid Santika Prabawa NIM : 108114092 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Persetujuan Pembimbing KAJIAN LITERATUR RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIKA BERDASARKAN KRITERIA GYSSENS PADA PASIEN PEDIATRIK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHO YOGYAKARTA PERIODE JULI 2013 Skripsi yang diajukan oleh : Gede Wiwid Santika Prabawa NIM: 108114092 Telah disetujui oleh : Pembimbing Utama Tanggal : 25 Juli 2014 iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan skripsi ini untuk : Tuhanku Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai pencipta dan pelindungku Orang tua Adikku Semua orang yang bersedia ada di sekitarku yang aku sayangi Almamaterku tercinta Universitas Sanata Dharma v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan ini sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Kajian Literatur Rasionalitas Peresepan Antibiotika Berdasarkan Kriteria Gyssens Pada Pasien Pediatrik Rawat Inap di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013”, tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 25 Juli 2014 (Gede Wiwid Santika Prabawa) vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Gede Wiwid Santika Prabawa Nomor mahasiswa : 108114092 Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: KAJIAN LITERATUR BERDASARKAN RASIONALITAS KRITERIA GYSSENS PERESEPAN PADA ANTIBIOTIKA PASIEN PEDIATRIK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHO YOGYAKARTA PERIODE JULI 2013 beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun member royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 25 Juli 2014 Yang menyatakan Gede Wiwid Santika Prabawa vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur tak terhingga penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas cinta kasih, berkat, kesempatan, dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kajian Literatur Rasionalitas Peresepan Antibiotika Berdasarkan Kriteria Gyssens Pada Pasien Pediatrik Rawat Inap di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013”. Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, pengarahan, bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya selama ini. 2. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah memberikan bimbingan, dukungan, waktu, semangat, saran, kritik, dan pengarahan kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik. 3. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. beserta seluruh staf Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Pak Tarno sebagai Kepala Rekam Medis Rumah Sakit Panti Nugroho, dan Mas Ari yang telah memfasilitasi penulis dalam pengambilan data. 5. Bu Sisca sebagai Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Panti Nugroho yang telah banyak membantu penulis dalam pengambilan data. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Kedua orang tua dan adik saya yang telah memberi dukungan hingga penulis bias menyelesaikan penelitian ini. 7. Teman-teman seperjuangan Realita Rosada, Putri Laksmi, Maria Carolina, Sagung Intan dan Defilia dalam satu kebersamaan selama proses penelitian dan dalam penyusunan skripsi. 8. Sahabat-sahabatku Tyas, Erin, Ike, Jepe, Febby, Nelly, dan Hendy Larsen atas kebersamaan dan dukungan dalam penelitian skripsi ini. 9. Penghuni Wisma Jenggala Krisna, Ade, dan kawan-kawan lainnya atas kebersamaan dan dukungan dalam penelitian skripsi ini. 10. Teman-teman Fakultas Farmasi angkatan 2010 (FKK dan FST). 11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu dan telah membantu dalam pembuatan skripsi ini dengan doa dan dukungannya penulis ucapkan terimakasih. Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar skripsi ini menjadi lebih baik lagi. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan. Yogyakarta, 25 Juli 2014 Penulis ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ……………………………………………………... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………….. HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………. HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………….. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………….. LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI……………………………… PRAKATA……………………………………………………………….. DAFTAR ISI ……………………………………………………………... DAFTAR TABEL ………………………………………………………... DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………... DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………... INTISARI ……………………………………………………………….... ABSTRACT ……………………………………………………………….. BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………….. A. Latar Belakang ……………………………………………………... B. Perumusan Permasalahan …………………………………………... C. Tujuan Penelitian …………………………………………………… D. Manfaat Penelitian ………………………………………………….. E. Keaslian Penelitian ………..………………………………………... BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………… A. Antibiotika…………………………………………………………... 1. Definisi Antibiotika……………………………………………... 2. Penggolongan Antibiotika………………………………………. a. Berdasarkan struktur kimia…………………………………. b. Berdasarkan sifat toksisitas selektif………………………… c. Berdasarkan aktivitas dan spektrum antibiotika……………. d. Berdasarkan mekanisme kerja antibiotika………………….. B. Prinsip Penggunaan Antibiotika…………………………………….. C. Penggunaan Antibiotika Pada Anak ................................................. D. Penggunaan Antibiotika Secara Rasional…………………………... E. Resistensi Antibiotika.…………………………………………….... F. Penyebab Kegagalan Terapi..……………………………………….. G. Evaluasi Penggunaan Antibiotika...……………………………….... H. Keterangan Empiris………………………..………………………... x ii iii iv v vi vii viii x xiii xiv xv xvi xvii 1 1 3 4 4 5 7 7 7 7 8 8 9 10 11 15 17 18 19 21 24

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III. METODE PENELITIAN……...………………………………... A. Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………………... B. Variabel Penelitian ………………………………………………... C. Definisi Operasional …………………………………………….... D. Subyek dan Bahan Penelitian.…………………………………….. E. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................... F. Alat / Instrumen Penelitian.............................................................. 1. Formulir untuk mengambil data ………………………………. 2. Diagram Gyssens………………………………….................... 3. Kategori Gyssens…...………………………………………….. 4. Literatur sebagai referensi evaluasi…………………………...... G. Tata Cara Penelitian dan Analisis Data …………………………... 1. Melakukan seleksi data ………………………………………... 2. Melakukan pengumpulan data................................................... 3. Analisis data….……………………………………………….... H. Keterbatasan Penelitian…………………………………………… BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………….... A. Profil Penyakit……….……………………………………………. B. Profil Peresepan Antibiotika………………………………………. 1. Golongan dan Jenis Antibiotika………………………………. 2. Cara Pemberian Antibiotika…………………………………… 3. Durasi Penggunaan Antibiotika……………………………….. C. Evaluasi Penggunaan Antibiotika dengan Metode Gyssens....….… 1. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa gastroenteritis akut………………………….. 2. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa febris………………………………………… 3. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa demam tifoid………………………………... 4. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa tonsilisitis…………………………………… 5. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa gastritis……………………………………… 6. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa gastroenteritis akut…………………………. 7. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa asma bronchiale…………………………….. xi 25 25 25 26 27 28 28 28 28 29 29 29 29 29 29 30 32 32 33 34 36 37 38 42 58 64 70 72 73 75

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa asma bronchiale disertai bronchopneumonia.. 9. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa ISPA disertai vomistus……………………… 10. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa ISK…………………………………………. 11. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa vomitus……………………………………… 12. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa candidiasis………………………………….. 13. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa dengue fever……………………………….. 14. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa ichterik neonatus……………………………. 15. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa polydactyly…………………………………. 16. Evaluasi penggunaan antibiotika pada pesien dengan diagnosa Perioperatif Aff Plate Fraktur Cruris……… BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………. A. Kesimpulan ……………………………………………………….. B. Saran …………………………………………………………….... DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. LAMPIRAN …………………………………………………………….... BIOGRAFI PENULIS ……………………………………………………. xii 76 78 81 85 88 89 90 91 92 95 95 95 96 98 212

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I Daftar Antibiotika Yang Tidak Dianjurkan Untuk Pediatrik………….……………………………………………………………....16 Tabel II Profil Penyakit Berdasarkan Diagnosa Utama Dan Penyerta Pada Pasien Pediatrik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013…………………………………………………….…….….….32 Tabel III Profil Peresepan Antibiotika Pada Pasien Peditarik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013……………………………………….………………………….……….….34 Tabel IV Distribusi Rasionalitas Peresepan Antibiotika Berdasarkan Kategori Gyssens Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013…………………………………………………………………….…….…..38 Tabel V Distribusi Hasil Evaluasi Peresepan Tiap Jenis Antibiotika Berdasarkan Metode Gyssens Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013…………………………………………………………………….……..….39 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Diagram alir pejumlahan rasionalitas peresepan antibiotika Metode Gyssens……………………………………………………………….…..23 Gambar 2 Cara Pemberian Antibiotika Pada Pasien Peditarik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013..………................36 Gambar 3 Durasi penggunaan antibiotika pada pasien peditarik rawat inap di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Juli 2013………………37 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Rekam Medis Kasus 1……..……………………………..……….…99 Lampiran 2. Rekam Medis Kasus 2……..………………………………….…….103 Lampiran 3. Rekam Medis Kasus 3……..…………………………………….….106 Lampiran 4. Rekam Medis Kasus 4……..………………………………………..109 Lampiran 5. Rekam Medis Kasus 5……..……………………………………..…112 Lampiran 6. Rekam Medis Kasus 6……..…………….…………………….……114 Lampiran 7. Rekam Medis Kasus 7……..……………….…………………….…118 Lampiran 8. Rekam Medis Kasus 8……..………………….………………….…122 Lampiran 9. Rekam Medis Kasus 9……..…………………….……………….…126 Lampiran 10. Rekam Medis Kasus 10…..……………………….…………….…130 Lampiran 11. Rekam Medis Kasus 11…..………………………….………….…133 Lampiran 12. Rekam Medis Kasus 12…..…………………………….……….…136 Lampiran 13. Rekam Medis Kasus 13…..……………………………….…….…139 Lampiran 14. Rekam Medis Kasus 14…..………………………………….…….143 Lampiran 15. Rekam Medis Kasus 15….…..………………………………….…146 Lampiran 16. Rekam Medis Kasus 16……...………………………………….…149 Lampiran 17. Rekam Medis Kasus 17………..…………………………………..152 Lampiran 18. Rekam Medis Kasus 18…………….……………………………...155 Lampiran 19. Rekam Medis Kasus 19……………….…………………………...158 Lampiran 20. Rekam Medis Kasus 20………………….………………………...167 Lampiran 21. Rekam Medis Kasus 21…………………….……………………...170 Lampiran 22. Rekam Medis Kasus 22……………………….…………………...174 Lampiran 23. Rekam Medis Kasus 23………………………….………………...177 Lampiran 24. Rekam Medis Kasus 24…………………………….……………...180 Lampiran 25. Rekam Medis Kasus 25……………………………….…………...184 Lampiran 26. Rekam Medis Kasus 26………………………………….………...187 Lampiran 27. Rekam Medis Kasus 27…………………………………….……...190 Lampiran 28. Rekam Medis Kasus 28……………………………………….…...193 Lampiran 29. Rekam Medis Kasus 29….………………………………………...196 Lampiran 30. Rekam Medis Kasus 30…….……………………………………...199 Lampiran 31. Rekam Medis Kasus 31……….…………………………………...201 Lampiran 32. Rekam Medis Kasus 32………….………………………………...204 Lampiran 33. Rekam Medis Kasus 33…………….……………………………...206 Lampiran 34. Rekam Medis Kasus 34……………….…………………………...209 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Anak-anak sangat mudah terserang berbagai macam penyakit termasuk penyakit infeksi. Hal ini menyebabkan tingginya peresepan antibiotika pada pasien anak. Antibiotika adalah obat yang paling banyak diresepkan di rumah sakit. Hal inilah yang menjadi tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengkaji peresepan antibiotika pada pasien anak rawat inap dengan pendekatan kualitatif di salah satu rumah sakit swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan data retrospektif. Metode Gyssens digunakan untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotika pada pasien pediatrik yang di rawat inap pada periode Juli 2013. Metode Gyssen merupakan suatu diagram alir yang memuat indikator-indikator yang digunakan untuk menentukan rasionalitas peresepan antibiotika. Dari 34 jumlah kasus, diperoleh pola penyakit terbanyak yang dialami pasien adalah gastrointestinal akut dengan sefotaksim sebagai antibiotika yang paling banyak diresepkan. Penelitian ini menemukan 52% peresepan antibiotika termasuk kategori 0 menurut metode Gyssens yang berarti rasional, 6% kategori I, 8% kategori IIA, 4% kategori IIB, 2% kategori IIIA, 4% kategori IIIB, 8% kategori IVA, 4% kategori IVC, dan 12% kategori V. Adanya penggunaan antibiotika yang kurang rasional menyebabkan perlunya pengawasan untuk meningkatkan rasionalitas peresepan antibiotika. Kata kunci: rasionalitas, antibiotika, pediatrik, rawat inap, Gyssens xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Children are highly susceptible to a variety of diseases including infectious diseases. This is causes high prescribing of antibiotic in pediatric patients. Antibiotics is the most widely prescribed drugs in the hospital. This is the purpose of this study, which is to assess antibiotic prescribing in pediatric patients hospitalized with a qualitative approach in a private hospital in Yogyakarta. This research was conducted at Panti Nugroho Hospital Yogyakarta. This is a type of observational study by using retrospective data. Gyssens methods used to evaluate the rationality of antibiotics prescribing in pediatric patients hospitalized in the period July 2013. Gyssen method is a flow diagram that includes the indicators which used to determine the rationality of prescribing antibiotics. In 34 number of cases, the highest disease that found is acute gastrointestinal, with cefotaxime is the most widely prescribed antibiotic. The study found 52% of prescribing antibiotics including category 0 according to the method Gyssens which means rational, 6% category I, 8% category IIA, 4% category IIB, 2% category IIIA, 4% category IIIB, 8% category IVA, 4% category IVC, and 12% category V. Irrational use of antibiotics requires monitoring to improve the rationality of prescribing antibiotics. Keywords: rationality, antibiotics, pediatric, hospitalized, Gyssens xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Antibiotika adalah senyawa kimia yang penting dalam menyembuhkan penyakit infeksi. Selain itu antibiotika juga merupakan golongan obat yang paling banyak diresepkan di rumah sakit (Jozef & Hromadova, 2007). Golongan pediatrik merupakan kelompok usia yang rentan terserang berbagai penyakit, termasuk penyakit infeksi. Tingginya angka kejadian infeksi juga berbanding lurus dengan jumlah penggunaan antibiotika pada anak. Penelitian tim AMRIN study mendapatkan peresepan antibiotika terjadi pada anak dengan prevalensi tinggi yaitu 76%. Penggunaan antibiotika yang tinggi di usia ini menyebabkan kemungkinan terjadinya penyimpangan atau ketidakrasionalan penggunaan antibiotika sangatlah besar terjadi (Hadi, et al., 2008). Peresepan antibiotika sering kali kurang optimal, khususnya di negara berkembang seperti di Indonesia. Hal ini berdasarkan penelitian tim AMRIN di dua rumah sakit pendidikan di Indonesia dengan hasil hanya 21% peresepan antibiotika yang tergolong rasional (Hadi, et al., 2008). Menurut penelitian sebelumnya oleh Febiana (2012) di salah satu rumah sakit umum di Semarang pada tahun 2012 diketahui hanya sekitar 55% penggunaan antibiotika yang rasional, sehingga sekitar 45% yang kurang rasional dan itu merupakan angka yang cukup tinggi. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Pamela 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 (2011) di RSCM Jakarta dengan hasil 61% penggunaan antibiotika yang rasional. Kedua hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih ada penggunaan antibiotika yang kurang rasional dan menjadi acuan peneliti untuk melakukan penelitian serupa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Antibiotika haruslah digunakan secara benar dan rasional sesuai aturan pakai yang berlaku. Penggunaan antibiotika berlebih akan menyebabkan timbulnnya resistensi terhadap antibiotika. Hal ini akan berpengaruh ke waktu penyembuhan dan biaya yang membengkak dalam usaha penyembuhan (WHO, 2001). Pada penelitian ini digunakan metode Gyssens untuk mengkaji rasionalitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik di Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta pada perode Juli 2013. Pemilihan metode Gyssens dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik dengan mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotika seperti ketepatan indikasi, pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, spektrum, harga, durasi pemberian, dosis, interval, cara dan waktu pemberian. Penelitian dilakukan dengan studi retrospektif yaitu dengan melihat data yang telah lampau dan kemudian dilakukan evaluasi terhadap data tersebut. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta yang terletak di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alasan pemilihan lokasi penelitian di rumah sakit ini adalah untuk mengetahui bagaimana kualitas peresepan antibiotika pada pasien anak menggunakan model rumah sakit swasta yang ada di Yogyakarta. Berdasarkan informasi dari Puskesmas Kecamatan Pakem, Kabupaten

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, penyakit yang mendominasi 10 besar penyakit terbanyak pada anak di wilayah ini adalah penyakit infeksi, sehingga kemungkinan terdapat banyak kasus infeksi pada anak yang ditangani di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta. Di rumah sakit ini juga terdapat bangsal khusus anak sehingga data yang tersedia mendukung pelaksanaan penelitian ini. Selain itu, informasi mengenai pengurusan perizinan penelitian di rumah sakit ini cukup jelas. Berdasarkan ketiga hal tersebut dipilihlah Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta sebagai lokasi pelaksanaan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui kerasionalan peresepan antibiotika pada pasien pediatrik di Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kerasionalan pemberian antibiotika kepada pasien pediatrik. B. Perumusan Masalah Beberapa permasalahan yang memerlukan jawaban sehubungan dengan penelitian ini adalah: 1. Bagaimana profil penyakit infeksi yang diderita pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta? 2. Bagaimana profil peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta? 3. Bagaimana rasionalitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta yang dievaluasi dengan metode Gyssens?

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Tujuan Umum Mengetahui rasionalitas peresepan antibiotika bagi pasien pediatrik dengan metode Gyssens di bangsal anak Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta periode Juli 2013. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan profil penyakit infeksi yang diderita pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta. b. Mendeskripsikan profil peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat di bangsal anak Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta. c. Mengevaluasi rasionalitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta dengan metode Gyssens berdasarkan literatur. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yaitu: 1. Mendapatkan data kerasionalan mengenai peresepan antibiotika berdasarkan kriteria Gyssens sebagai bahan evaluasi bagi tenaga medis dalam meningkatkan rasionalitas peresepan antibiotika dari segi kualitas di rumah sakit yang bersangkutan. Khususnya bagi apoteker, dapat sebagai bahan evaluasi untuk lebih berperan dalam meningkatkan kualitas penggunaan antibiotika kepada pasien.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 2. Dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kerasionalan peresepan antibiotika. E. Keaslian Penelitian Penelitian yang mirip dengan penelitian ini antara lain: 1. Penelitian dengan judul “Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Di Bangsal Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011”. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada lokasi penelitian yaitu di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011. Selain itu penelitian tersebut tidak hanya meneliti rasionalitas peresepan antibiotika, tetapi juga meneliti penggunaan antibiotika yang dikaji dengan pendekatan kuantitatif dengan metode DDD (Febiana, 2012). 2. Penelitian dengan judul “Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotika Dengan Metode Gyseens Di Ruang Kelas 3 Infeksi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Secara Prospektif”. Perbedaan dengan penelitian ini adalah lokasi penelitian yaitu di RSCM Jakarta yang dilaksanakan pada tahun 2011, dan jenis penelitian yaitu secara prospektif dengan disertai intervensi pada objek yang diteliti. Selain itu penelitian tersebut tidak hanya meneliti rasionalitas peresepan antibiotika, tetapi juga meneliti mengenai penggunaan antibiotika yang dikaji dengan pendekatan kuantitatif dengan metode DDD (Pamela, 2011). Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti, studi literatur rasionalitas peresepan antibiotika pada pasien pediatrik di Rumah Sakit Umum Panti Nugroho Yogyakarta dengan metode Gyssens belum pernah dilakukan. Hasil penelitian ini

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya terkait dengan evaluasi kerasionalan peresepan antibiotika yang dievaluasi dengan pendekatan kualitatif meggunakan metode Gyssens. Penelitian diharapkan ini dapat melengkapi rangkaian penelitian mengenai rasionalitas pengunaan antibiotika di Indonesia.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Antibiotika 1. Definisi Antibiotika merupakan senyawa yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Pada umumnya antibiotika dibuat secara mikrobiologi, yaitu pembiakan fungi dalam suatu tempat bersama zat-zat gizi khusus. Selain secara mikrobiologi, pembuatan antibiotika juga dilakukan secara sintetis dan semi sintetis. Secara sintetis, pembuatan antibiotika sama sekali tidak melalui proses biosintesis. Sedangkan antibiotika yang dibuat secara semisintetis dilakukan dengan kombinasi antara proses biosintetis dengan penambahan zat-zat tertentu (Tan & Raharja, 2007). 2. Penggolongan Antibiotika a. Berdasarkan struktur kimia Berdasarkan struktur kimianya, antibiotika digolongkan sebagai berikut (Setiabudy, 2012; Tan & Rahardja, 2007). 1) Golongan β-laktam, yaitu termasuk didalamnya golongan penisilin (penisilin, amoksisilin), sefalosporin (Generasi pertama: sefalotin, sefaloridin, sefaleksin, sefadroksil; generasi kedua: sefaklor dan sefuroksim; generasi ketiga: sefotaksim, seftriakson, sefoperazon, dan 7

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 seftazidin; generasi keempat: sefepim), karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), dan β-laktam monosiklik. 2) Golongan aminoglikosida, yaitu streptomisin, kanamisin, gentamisin, tobramisin, neomisin, paromomisin. 3) Golongan (eritromisin, poliketida, termasuk klaritromisin, didalamnya roksitomisin, golongan azitromisin), makrolida ketolida (telitromisin), tetrasiklin (doksiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin). 4) Golongan polimiksin, yaitu polimiksin dan kolistin. 5) Golongan glikopeptida, yaitu ramoplanin, vankomisin, dan dekaplanin. 6) Golongan kuinolon (fluorokuinolon), yaitu asam nalidiksat, ofloksasin, siprofloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin. 7) Golongan oksazolidinon, yaitu lizenoid. 8) Golongan streptogramin, yaitu virginiamisin, mikamisin, pristinamisin. 9) Golongan sulfonamida, yaitu kotrimoksazol dan trimetoprim. 10) Antibiotik lain, seperti kloramfenikol, tiamfenikol, asam fusidat, metronidazol dan klindamisin. b. Berdasarkan sifat toksisitas selektif Berdasarkan sifat toksisitas selektif yang dimiliki, antibiotika dikelompokkan menjadi dua. Pertama, antibiotika yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba. Aktivitas ini disebut aktivitas bakteriostatik. Kedua, antibiotika yang bersifat membunuh mikroba yaitu aktivitas bakterisid. Dalam aktivitasnya, diperlukan jumlah minimal untuk

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba itu sendiri yang dikenal sebaga jumlah hambat minimum (KHM) dan jumlah bunuh minimum (KBM). Antibiotika tertentu dapat meningkatkan aktivitasnya dari bakteriostatik menjadi bakterisid apabila jumlah antibiotikanya ditingkatkan melebihi KHM (Setiabudy, 2012). c. Berdasarkan aktivitas dan spektrum antibiotika Secara umum, antibiotika dapat digolongkan berdasarkan luas jangkauan aktivitasnya terhadap jenis kuman,yaitu : 1) Antibiotika Aktivitas Sempit (Narrow Spectrum). Antibiotika ini terutama aktif terhadap beberapa jenis kuman saja. Sebagai contoh, penisilin G dan penisilin V, eritromisin, klindamisin, canamisin, dan asam fusidat yang hanya bekerja terhadap kuman gram positif. Sebaliknya, antibiotika stertomisin, gentamisin, polimiksin B dan asam nalidiksat khususnya aktif terhadap kuman gram negatif (Tan & Rahardja, 2007). 2) Antibiotika Aktivitas Luas (Broad Spectrum) Golongan antibiotika ini bekerja terhadap lebih banyak jenis kuman gram positif maupun gram negatif. Yang termasuk dalam antibiotika spektrum luas ini diantaranya sulfonamid, ampisilin, sefalosporin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin (Tan & Rahardja, 2007). Dalam kenyataan di lapangan, walaupun suatu antibiotika memiliki spektrum luas, efektivitas kliniknya belum tentu seluas spektrumnya. Hal ini

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 karena efektivitas maksimal diperoleh dengan menggunakan obat terpilih untuk infeksi yang terjadi, terlepas dari efeknya terhadap mikroba lain. Antibiotika berspektrum luas juga dapat menimbulkan infeksi oleh kuman atau jamur yang resisten (Setiabudy, 2012). d. Berdasarkan mekanisme kerja antibiotika Menurut Setiabudy (2012) dan Tan & Rahardja (2007), Antibiotika dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda. Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotika dibagi dalam lima kelompok yaitu (Setiabudy, 2012; Tan & Rahardja, 2007). 1) Antibiotika Penghambat Metabolisme Sel Mikroba Berbagai macam antibiotika yang tergolong dalam kelompok ini antara lain; sulfonamida, trimetroprim, asam p-aminosalisilat (PAS), dan sulfon. Antibiotika ini memiliki efek bakteriostatik. 2) Antibiotika Yang Menghambat Sintesis Dinding Sel Mikroba Contoh antibiotika dengan mekanisme kerja seperti ini antara lain golongan β-Laktam seperti penisilin, sefalosporin, karbapenem, monobaktam, dan inhibitor sintesis dinding sel lainnya sepertivancomysin, basitrasin, fosfomysin, dan daptomysin. Golongan ini memiliki efek bakteriosidal dengan cara memecah enzim dinding sel dan menghambat enzim dalam sintesis dinding sel.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 3) Antibiotika Pengganggu Permeabilitas Membrane Sel Mikroba Antibiotika yang memiliki aktivitas ini antara lain polimiksin, amfoterisin B, gramisidin, nistatin, kolistin. Obat-obatan ini memiliki efek bakteriostatik dan bakteriosidal dengan menghilangkan permeabilitas membran dan menyebabkan sel menjadi lisis. 4) Antibiotika Yang Menghambat Sintesis Protein Sel Mikroba Antibiotika yang termasuk golongan ini antara lain golongan aminoglikosida, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, dan klorafenikol. Antibiotika tersebut memiliki efek bakteriosidal atau bakteriostatik dengan cara menganggu sintesis protein tanpa mengganggu sel-sel normal dan menghambat tahap-tahap sintesis protein. 5) Antibiotika Yang Menghambat Sintesis Asam Nukleat Mikroba Antibiotika golongan ini antara lain rifampisin dan quinolone. Rimfapisin berikatan dengan enzim polymerase-RNA sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut. Sedangkan golongan quinolone menghambat enzim DNA girase pada kuman yang berfungsi menata kromosom yang sangat panjang menjadi bentuk spiral sehingga bisa masuk dalam sel kuman yang kecil. B. Prinsip Penggunaan Antibiotika Menurut Kemenkes (2011), penggunaan antibiotika dapat dibedakan menjadi 3 yaitu penggunaan antibiotika secara empiris, definitif, dan profilaksis.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 1. Terapi Empiris Merupakan terapi penggunaan antibiotika pada kasus yang belum diketahui jenis penyebab infeksi tersebut. Terapi ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi, sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologi. Lama terapi ini berkisar antara 48 – 72 jam, selanjutnya harus dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien. 2. Terapi Definitif Terapi definitif merupakan terapi penggunan antibiotika pada kasus yang telah diketahui jenis bakteri penginfeksinya. Tujuan terapi ini adalah menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi berdasarkan uji mikrobiologi. 3. Terapi Profilaksis Terapi profilaksis adalah penggunaan antibiotika yang bertujuan untuk mencgah timbulnya infeksi, biasanya diberikan pada operasi pembedahan. Menurut Kemenkes (2011) tentang pedoman umum penggunaan antibiotika, dalam penggunaan antibiotika perlu diperhatikan beberapa faktor berikut ini. 1. Resistensi mikroorganisme terhadap antibiotika. Kemampuan mikroorganisme untuk melemahkan daya kerja antibiotika akan menyebabkan terapi tidak berjalan maksimal bahkan dapat mengakibatkan kegagalan terapi.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 2. Faktor farmakokinetika dan farmakodinamika. Penetapan jenis dan dosis antibiotika yang diberikan kepada pasien sangat penting untuk mengetahui cara, lama, dan interval pamberian antibiotika yang sesuai dengan kondisi tubuh pasien. 3. Faktor interaksi dan efek samping obat. Pemberian antibiotika yang dikombinasikan dengan obat lain perlu dipertimbangkan ada atau tidaknya kemungkinan menimbulkan efek yang tidak diharapkan pada pasien. 4. Faktor biaya Harga antibiotika yang terlalu tinggi berdampak pada tidak mampunya pasien dalam membeli antibiotika yang dibutuhkan dalam terapi pasien. Berdasarkan beberapa faktor yang disebutkan di atas, prinsip penggunaan antibiotika secara bijak yang disarankan adalah sebagai berikut ini. 1. Antibiotika yang digunakan sebaiknya merupakan terapi lini pertama penyakit yang bersangkutan, berspektrum sempit, dengan disertai indikasi, interval, dan lama pemberian yang tepat serta dosis yang akurat. 2. Menerapkan pedoman penggunaan antibiotika dalam menggunakan antibiotika tertentu kepada pasien. 3. Menegakkan diagnosis penyakit infeksi dengan menggunakan informasi klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium seperti mikrobiologi, serologi, dan penunjang lainnya. Ada tidaknya infeksi bakteri pada pasien dapat diketahui dari hasil uji kultur bakteri. Selain itu dapat diketahui dari kadar leukosit dan hitung jenis

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 leukosit (diferential count) yaitu neutrofil, euinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Kadar leukosit yang melebihi nilai normal mengindikasikan adanya infeksi akut yang dialami pasien. 4. Antibiotika tidak diresepkan pada penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau penyakit yang dapat sembuh sendiri. 5. Pemilihan jenis antibiotika harus berdasar pada Informasi kepekaan kuman dan bagaimana sifat bakteri penginfeksi terhadap antibiotika yang akan diberikan, perkiraan bakteri penyebab infeksi yang berdasarkan pada hasil pemeriksaan mikrobiologi pasien. 6. Penggunaan antibiotika secara bijak dilakukan dengan beberapa langkah sebagai berikut. a) Meningkatkan pemahaman setiap tenaga medis dalam pemberian antibiotika secara bijak kepada pasien. b) Meningkatkan ketersediaan dan kualitas fasilitas penunjang seperti laboratorium hematologi, imunologi, dan mikrobiologi atau laboratorium lain yang digunakan berkaitan dengan penyakit infeksi. c) Menjamin adanya tenaga kesehatan yang kompeten, dapat diandalkan dibidang infeksi, dan mampu bekerja sama dalam tim dalam pengembangan penanganan infeksi. d) Membentuk tim pengendali dan pemantau penggunaan antibiotika secara bijak secara intensif dan berkelanjutan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 e) Menetapkan dan menerapkan pedoman penggunaan antibiotika secara rinci ditingkat nasional, rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dan masyarakat. C. Penggunaan Antibiotika Pada Anak Penentuan konsentrasi keefektifan obat pada golongan anak tidaklah mudah. Penelitian dalam bidang farmakologi dan toksikologi mengenai obat baru umumnya dilakukan pada orang dewasa. Sangat sedikit yang benar-benar diujikan pada anakanak. Dalam penggunaan obat pada golongan pediatrik perlu diperhatikan perubahan fungsi organ yang sedang tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan organ pada golongan anak masih belum sempurna seperti pada orang dewasa. Hal ini dapat mempengaruhi distribusi, metabolisme dan eliminasi obat pada anak (Dipiro, et al., 2005). Resiko pediatrik mendapatkan efek merugikan lebih tinggi akibat infeksi bakteri daripada orang dewasa karena tiga faktor, yaitu: 1. Sistem imun pada anak yang belum berfungsi secara sempurna seperti pada orang dewasa 2. Pola tingkah laku anak yang lebih banyak berisiko terpapar bakteri 3. Beberapa antibiotika yang cocok digunakan pada dewasa belum tentu cocok bila diberikan kepada anak karena perbedaan proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat serta tingkat kesempurnaan atau kematangan organ dengan orang dewasa. Hal ini akan menyebabkan perbedaan respon terapetik atau dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan (Bueno & Stull, 2009).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Penggunaan antibiotika yang tidak tepat memudahkan terjadinya resistensi terhadap antibiotika serta dapat menimbulkan resiko efek samping. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah dosis obat yang tepat bagi anak-anak, cara pemberian, indikasi, kepatuhan, durasi yang tepat dan dengan memperhatikan keadaan patofisiologi pasien secara tepat, diharapkan dapat memperkecil efek samping yang akan terjadi. Hal ini diperlukan untuk menetapkan jenis dan dosis antibiotika yang diberikan secara tepat (Rudolph, 2003). Tidak semua antibiotika dapat diberikan kepada anak-anak. Contoh-contoh antibiotika yang tidak dapat diberikan kepada anak-anak dapat dilihat pada Tabel I berikut ini. Tabel I. Contoh antibiotika yang tidak dianjurkan untuk pediatrik (Kemenkes, 2011). Nama Obat Kelompok Usia Alasan Siprofloksasin < 12 tahun Merusak tulang rawan (cartillage disgenesis) Norfloksasin < 12 tahun Merusak tulang rawan (cartillage disgenesis) < 4 tahun atau pada dosis tinggi diskolorisasi gigi, gangguan pertumbuhan tulang Kotrimoksazol < 2 bulan Tidak ada data efektivitas dan keamanan Kloramfenikol Neonatus Tiamfenikol Neonatus Linkomisin HCl Neonatus Menyebabkan Grey baby syndrome. Menyebabkan Grey baby syndrome Fatal toxic syndrome Piperasilin-Tazobaktam Neonatus Tidak ada data efektivitas dan keamanan Azitromisin Neonatus tidak ada data keamanan Tigesiklin < 18 Tahun tidak ada data keamanan Spiramisin neonatus dan bayi tidak ada data keamanan Tetrasiklin

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 D. Penggunaan Antibiotika Secara Rasional Menurut WHO (2001), kriteria penggunaan obat yang rasional adalah sebagai berikut. 1. Sesuai dengan indikasi penyakit Pemberian antibiotika berdasarkan pada keluhan yang dialami pasien dan hasil pemeriksaan fisik yang akurat dari pasien yang bersangkutan. 2. Diberikan dengan dosis yang tepat Pemberian dosis obat sesuai dengan umur, berat badan dan kronologis penyakit yang dialami individu yang bersangkutan. 3. Cara pemberian dan interval waktu pemberian yang tepat Rentang waktu pemberian obat sesuai dengan aturan pemakaian yang telah ditentukan. 4. Lama pemberian yang tepat Pada kasus tertentu pemberian antibiotika memerlukan durasi tertentu. Tidak terlalu singkat atau terlalu lama. 5. Obat yang diberikan harus efektif dan terjamin mutunya Menghindari pemberian obat yang kedaluwarsa dan tidak sesuai dengan jenis keluhan penyakit. 6. Tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau Jenis obat mudah didapatkan kapanpun diperlukan dan dengan harganya relatif terjangkau bagi pasien. 7. Meminimalkan efek samping dan alergi obat

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Mengurangi kemungkinan timbulnya efek yang tidak diharapkan dari penggunaan obat tersebut. E. Resistensi Antibiotika Resistensi antibiotika oleh mikroba merupakan hal yang sangat dikhawatirkan dalam mengobati penyakit infeksi. Menurut Soedarmo, Garna, Hadinegoro, Satari, (2008), resistensi ini secara mendasar disebabkan oleh hal – hal sebagai berikut ini. 1. Mikroorganisme penginfeksi berkembang dan seperti adenyllacting, fosforilacting, menghasilkan enzim-enzim acetylacting agent yang dapat menghancurkan antibiotika. 2. Antibiotika tidak dapat menembus dinding bakteri untuk mencapai tempat aksi yang potensial akibat penurunan permeabilitas mikroorganisme dinding sel. 3. Mikroorganisme penginfeksi dapat berkembang dan melakukan perubahan struktur tubuh, seperti perubahan kromosom dengan menghilangkan protein tertentu pada subunit ribosom 4. Kemampuan mikroorganisme untuk meningkatkan sintesis metabolismenya sehingga tahan terhadap antimikroba. Menurut Kemenkes (2011), faktor-faktor yang berkembangnya resistensi antibiotika di klinik adalah sebagai berikut. 1. Penggunaan antibiotika yang terlalu sering. 2. Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dengan anjuran. 3. Penggunaan antibiotika baru yang berlebihan. mempengaruhi

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 4. Penggunaan antibiotika dalam durasi yang terlalu lama. 5. Penggunaan antibiotika untuk ternak. 6. Lain-lain seperti sanitasi dan kebersihan yang kurang baik, serta kondisi lingkungan yang tidak memenuhi syarat. F. Penyebab Kegagalan Terapi Kegagalan dalam setiap pengobatan sangat mungkin terjadi, termasuk pada penggunaan antibiotika. Menurut Setiabudy (2012) faktor - faktor yang dapat menyebabkan kegagalan terapi antibiotika antara lain; 1. Dosis yang kurang Pemberian dosis yang kurang dari dosis seharusnya akan menyebabkan kegagalan terapi pada pasien. Hal ini akibat kurangnya obat yang diabsorpsi dalam tubuh sehingga efek terapi tidak timbul. 2. Durasi terapi yang kurang Durasi terapi yang kurang dari durasi yang ditentukan akan berakibat pada belum tercapainya tujuan terapi yang diinginkan tetapi proses pengobatan sudah dihentikan. Contohnya adalah pada penyakit akibat infeksi bakteri. Apabila terapi dihentikan sebelum waktu yang ditentukan akan menyebabkan kemungkinan bakteri penyebab infeksi belum mati seluruhnya, sehingga memberikan kesempatan bakteri berkembang lagi bahkan menyebabkan resistensi pada antibiotika.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 3. Adanya faktor mekanik Faktor mekanik yang dimaksud seperti abses, benda asing, jaringan debrimen, sekuester tulang, batu saluran kemih, dan lain-lain, merupakan faktor – faktor yang dapat menggagalkan terapi antibiotik. Pengatasan faktor mekanik tersebut yaitu dengan pencucian luka, debrimen, insisi, serta upaya lain sangat menentukan keberhasilan dalam mengatasi infeksi. 4. Kesalahan dalam menetapkan etiologi penyakit Pemberian antibiotika yang tidak sesuai dengan bakteri penginfeksi dapat menyebabkan terapi yang kurang efektif. Bahkan bila dilakukan dalam durasi lama akan mengakibatkan resistensi bakteri terhadap antibiotika. 5. Pilihan antibiotik yang kurang tepat. Pemilihan antibiotika yang kurang tepat terhadap kondisi ataupun penyebab infeksi, dapat menyebabkan terapi yang kurang optimal bahkan dapat membahayakan pasien. 6. Faktor farmakokinetika Pertimbangan bagaimana kondisi dan jumlah obat dalam tubuh. Hal ini karena tidak semua bagian tubuh dapat ditembus dengan mudah oleh antibiotika, sehingga tidak mencapai jumlah terapetik untuk memberi efek yang diinginkan. 7. Faktor pasien Keadaan dan mekanisme pertahanan tubuh pasien yang buruk merupakan faktor penting yang menyebabkan gagalnya terapi antibiotika.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 G. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Sesuai dengan Kemenkes (2011) tentang pedoman umum penggunaan antibiotika, terdapat dua cara atau pendekatan dalam pejumlahan penggunaanya yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan secara kuantitatif yaitu evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan jumlah yang digunakan, sedangkan pendekatan kualitatif yaitu berdasarkan ketepatan dalam memilih jenis, dosis, lama waktu pemberian, dan harga antibiotika. Evaluasi penggunaan antibiotika secara kuantitatif bisa dilakukan secara prospektif maupun retrospektif. Parameter uji kuantitatif penggunaan antibiotika adalah persentase pasien yang mendapat terapi antibiotika selama rawat inap dirumah sakit yang ditetapkan dengan Defined Daily Doses (DDD) 100 patient-days dan Defined Daily Dose (DDD) 100 bed-days (Kemenkes, 2011). Evaluasi penggunaan antibiotika secara kualitatif juga dapat dilakukan secara retrospektif atau prospektif. Secara retrospektif dilakukan dengan melihat rekam medis dari pasien, sedangkan secara prospektif yaitu dengan mengikuti perkembangan terapi pasien. Terdapat berbagai macam pendekatan, metode dan indikator evaluasi penggunaan antibiotika yang rasional atau tidak rasional, salah satunya adalah metode Gyssens yang digunakan dalam penelitian ini (Gyssens & Meers, 2001). Evaluasi rasionalitas peresepan antibiotika yang dievaluasi dengan menggunakan alur Gyssens (Gyssens & Meers, 2001) yang terbagi dalam beberapa kategori yaitu 0-VI kategori.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Kategori yang dimaksud adalah sebagai berikut ini. 0 : penggunaan tepat /rasional I : timing tidak tepat IIA : tidak tepat dosis IIB : tidak tepat interval IIC : tidak tepat cara pemberian IIIA : pemberian yang terlalu lama IIIB : pemberian yang terlalu singkat IVA : ada antibiotika lain yang lebih efektif IVB : ada antibiotika lain yang kurang toksik IVC : ada antibiotika lain yang lebih murah IVD : ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit V : penggunaan antibiotika tanpa ada indikasi VI : rekam medis tidak lengkap untuk dievaluasi

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Gambar 1. Diagram alir pejumlahan rasionalitas peresepan antibiotika metode Gyssens (Kemenkes, 2011).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 H. Keterangan Empiris Masih terdapat ketidakrasionalan dalam peresepan antibiotika pada pasien pediatrik yang menjalani rawat inap. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran rasionalitas peresepan antibiotika di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta yang dievaluasi dengan metode Gyssens pada periode Juli 2013.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental, karena peneliti tidak memberikan intervensi terhadap subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif evaluatif dengan menggunakan data retrospektif, yaitu berdasarkan data yang sudah ada. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan Cross sectional yaitu pengukuran dan pengamatan datanya dilakukan satu kali dalam suatu waktu yang bersamaan. Data yang disajikan bersifat apa adanya tanpa manipulasi dan tanpa intervensi mengenai kondisi data tersebut, sehingga tidak memerlukan adanya hipotesis (Nursalam, 2008; Sastroasmoro & Ismael, 2002). Penelitian ini dilakukan dengan menelusuri profil peresepan antibiotika yang diberikan terhadap pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli tahun 2013 melalui rekam medis pasien. Selanjutnya dilakukan analisa kualitatif peresepan antibiotika yang dikaji berdasarkan literatur dengan menggunakan metode Gyssens. B. Variabel Penelitian 1. Profil penyakit infeksi yang diderita pasien 2. Profil peresepan antibiotika 3. Rasionalitas peresepan antibiotika 25

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 C. Definisi Operasional 1. Profil penyakit infeksi yang diderita pasien dalam penelitian ini adalah jenisjenis penyakit infeksi yang ditetapkan menurut diagnosa utama dan diagnosa penyerta pasien, misalnya: infeksi saluran kemih, bronkitis, dan demam tifoid. 2. Profil peresepan antibiotika pada penelitian ini meliputi golongan, jenis, cara pemberian, dan durasi pemakaian a) Golongan antibiotika adalah semua golongan antibiotika yang diberikan pada pasien pediatrik yang menjalani perawatan di rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli tahun 2013, misalnya sefalosporin, penisilin, dan lain lain. b) Jenis antibiotika adalah semua jenis antibiotika yang diberikan pada pasien pediatrik yang menjalani perawatan di rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli tahun 2013, misalnya amoksisilin, ampisilin, sefotaksim, dan lain lain. c) Cara pemberian adalah cara yang digunakan dalam memasukkan antibiotika ke dalam tubuh, misalnya oral, intravena, dan lain-lain. d) Durasi pemakaian adalah lama waktu (hari) pemakaian antibiotika kepada pasien. 3. Rasionalitas peresepan antibiotika dalam penelitian ini adalah rasionalitas peresepan antibiotika yang dievaluasi secara kualitatif menggunakan kriteria Gyssens (Gyssens & Meers, 2001). Evaluasi dilakukan dengan menggunakan literatur sebagai sebagai referensi. Literatur yang digunakan yaitu Sukandar,

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 dkk., (2009), Lacy, Amstrong, Goldman, Lance, (2011), Kemenkes (2011), berbagai buku farmakoterapi seperti Setiabudy (2012), Wells, Dipiro, Schwinghammer, Dipiro (2009), Tan & Rahardja (2007), dan berbagai jurnal terkait. D. Subyek dan Bahan Penelitian 1. Subyek penelitian adalah seluruh pasien pediatrik yang menjalani perawatan di rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli tahun 2013. 2. Bahan penelitian adalah seluruh rekam medis pasien pediatrik yang menjalani perawatan di rawat inap di bangsal bangsal anak rumah sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli tahun 2013. 3. Rekam medis adalah semua berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lainyang telah diberikan kepada pasien. 4. Kriteria inklusi : a) Rekam medis pasien pediatrik rawat inap di bangsal anak rumah sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli tahun 2013. b) Rekam medis yang jelas terbaca. 5. Kriteria eksklusi : a) Data rekam medis tidak jelas terbaca oleh lebih dari satu orang. b) Rekam medis pasien tidak lengkap seperti tidak tercantumnya berat badan pasien, lama pengobatan, dan diagnosa penyakit pasien.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 c) Pasien yang mendapatkan antibiotika pulang paksa atau meninggal dunia sebelum program pemberian antibiotika pasien tersebut selesai. d) Pasien melanjutkan pengobatan di tempat lain. E. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu penelitian dilakukan pada September sampai Oktober tahun 2013. F. Alat / Instrumen Penelitian Alat atau instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini. 1. Formulir untuk mengambil data Dalam penelitian ini digunakan formulir yang memuat data rekam medis pasien. Formulir ini digunakan untuk pengambilan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diantaranya: identitas pasien, diagnosa pasien, nama antibiotika, indikasi, dosis pemberian, frekuensi pemberian, lama pemberian, cara pemberian, jenis penggunaan, data klinis, dan data laboratorium. 2. Diagram Gyssens. Diagram Gyssen adalah suatu diagram alir yang memuat ketepatan penggunaan antibiotika seperti: ketepatan indikasi, pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga dan spectrum, lama pemberian, dosis, interval, cara, dan waktu pemberian (Gyssens & Meers, 2001).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 3. Kategori Gyssens. Skala nominal 0-VI yang digunakan untuk mengkategorikan rasionalitas peresepan suatu antibiotika berdasarkan metode Gyssens. 4. Literatur sebagai referensi evaluasi Literatur yang digunakan yaitu Sukandar dkk. (2008), Lacy, Amstrong, Goldman, Lance, (2011), Kemenkes (2011), berbagai buku farmakoterapi seperti Setiabudy (2012), Dipiro & Schwinghammer (2009), Tan & Rahardja (2007), dan berbagai jurnal terkait. G. Tata Cara Penelitian dan Analisis Data 1. Melakukan seleksi data Memilih data yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. 2. Melakukan pengumpulan data Mengumpulkan data mengenai terapi antibiotika yang diresepkan oleh dokter dari rekam medis dan pengobatan. 3. Analisis data Analisis data dilakukan secara analisa deskriptif. Analisa deskriptif dilakukan dengan menguraikan data-data yang didapatkan dari rekam medis, untuk menggambarkan pola penyakit infeksi dan pola penggunaan antibiotika. Data yang diperoleh diperiksa kelengkapannya dan dipastikan tidak ada kekeliruan pemasukan data. Selanjutnya dilakukan evaluasi sesuai dengan alur Gyssens.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Hasil evaluasi dikategorikan sebagai berikut: Kategori 0 : penggunaan tepat /rasional Kategori I : timing tidak tepat Kategori II : dosis dan cara pemberian kurang tepat Kategori III : lama pemberian kurang tepat Kategori IV : pemilihan antibiotika kurang tepat karena adanya alternatif yang lebih efektif, lebih tidak toksik, lebih murah, atau lebih spesifik dengan spektrum lebih sempit Kategori V : penggunaan antibiotika tanpa ada indikasi Kategori VI : rekam medis tidak lengkap untuk dievaluasi H. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan sebagai berikut. 1. Dengan metode pendekatan secara retrospektif, kelengkapan dan kesulitan dalam pembacaan rekam medis menjadi suatu kesulitan tersendiri. 2. Adanya beberapa data yang dapat mendukung hasil penelitian namun tidak dapat diakses atau tidak dapat perijinan dari pihak rumah sakit dalam penggunaannya. Data yang dimaksud yaitu data mengenai ada tidaknya alergi pasien terhadap suatu jenis obat dan Standar Pelayanan Medis (SPM) dari rumah sakit itu sendiri. Selain itu keterbatasan waktu dan kesempatan peneliti dalam melakukan wawancara mendalam dengan dokter maupun apoteker untuk mengetahui kondisi yang lebih mendalam dari pasien dalam proses pemberian terapi antibiotika menjadi kekurangan tersendiri dalam penelitian ini.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 3. Metode yang digunakan untuk evaluasi yaitu metode Gyssens tidak selalu dapat diselaraskan dengan kondisi yang dialami pasien baik dari diagnosa awal sampai dengan outcome terapi pasien. Sangat sulit apabila hanya berpatokan dari teoritis metode ini berdasarkan buku-buku pegangan tanpa mengetahui kondisi sebenarnya yang dialami oleh pasien. Banyak kasus yang bertentangan dengan tiap-tiap alur dalam metode ini namun memberikan outcome terapi yang justru baik bagi pasien yang bersangkutan. Beberapa antibiotika yang sebenarnya bukan antibiotika yang disarankan sebagai terapi lini pertama atau kedua penyakit infeksi justru memberi hasil terapi yang baik dan bahkan pasien menjadi sembuh.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Penyakit Dari 34 rekam medis pasien yang diteliti, terdapat 34 diagnosis penyakit berdasarkan diagnosa utama dan diagnosa penyakit penyerta. Dalam penelitian ini diperoleh bahwa satu pasien dapat didiagnosa lebih dari satu jenis penyakit. Tabel II. Profil Penyakit Berdasarkan Diagnosis Per Pasien Pada Pasien Pediatrik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013 No Diagnosa Jumlah Persentase (%) 1 Asma bronchiale 1 3% 2 Asma bronchiale, bronchopneumonus 1 3% 3 Demam tifoid 1 3% 4 Demam tifoid, vomitis 1 3% 5 Dengue fever 1 3% 6 Dengue fever komplikasi gastroenteritis akut 1 3% 7 Febris 2 6% 8 Febris, dehidrasi sedang 1 3% 9 Febris, candidiasis 1 3% 10 Febris, ISK 1 3% 11 Gastritis 2 6% 12 Bronkitis 1 3% 13 Gastroenteritis akut 4 12% 14 Gastroenteritis akut dan kejang demam kompleks 2 6% 15 Gastroenteritis akut dengan dehidrasi 1 3% 16 Gastroenteritis akut dengan febris tinggi, hipertermi 1 3% 17 Gastroenteritis akut dengan febris 1 3% 18 Hematuri, albuminuria, colic abdomen 1 3% 19 Ichterik neonates 1 3% 20 ISPA dengan vomitus 1 3% 21 Obs vomitus; ISPA; cacingan 1 3% 32

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Lanjutan Tabel II. 22 Obs. Febris 23 Obs. Proteinuria dan hematuria, susp. sindrom nefrotik 24 Obs. Vomitus, susp. ISK 25 Perioperatif aff plate frakturcruris 26 Polydactyly 27 Tonsilisitis 29 Vomitus, dehidrasi sedang Jumlah 1 1 1 1 1 2 1 34 3% 3% 3% 3% 3% 6% 3% 100% Dari hasil pada Tabel II menunjukkan penyakit yang paling banyak dialami adalah Gastrointeritis Akut (GEA) jumlah 10 kasus (29%) dari jumlah keseluruhan kasus. Hasil penelitian lain dengan metode dan pendekatan yang sama dilakukan oleh Febiana (2011) di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyakit terbanyak yang dialami pasien pediatrik adalah demam tifoid. Demam tifoid merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, sama halnya degan penyakit gastroenteritis akut, hanya manifestasi klinisnya yang berbeda (Pelczar & Chan, 2005). B. Profil Peresepan Antibiotika Pada profil peresepan antibiotika ini akan dijelaskan mengenai golongan, jenis, cara pemberian, dan durasi pemberian antibiotika yang diresepkan pada pasien pediatrik rawat inap di RS Panti Nugroho selama periode Juli 2013.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 1. Golongan dan Jenis Antibiotika Tabel III. Profil Golongan Dan Jenis Antibiotika Pada Pasien Peditarik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013 Golongan dan Jenis Jumlah satuan No Persentase (%) Antibiotika resep (R/) 1 Penisilin Amoksisilin 11 22 Ampisilin 1 2 2 Sefalosporin Sefotaksim 15 30 Seftriakson 4 8 Sefiksim 4 8 3 Karbapenem Meropenem 1 2 4 Aminoglikosida Gentamisin 2 4 5 Sulfonamida Trimetoprim-Sulfametoksazol 1 2 Metronidazol 7 14 6 Antimikobakteri Rifampisin 1 2 7 Antibiotika Lain Nistatin 2 4 Fradiomisin-Gramisidin 1 2 Jumlah 50 100 Pada Tabel III menunjukkan antibiotika yang paling sering digunakan yaitu golongan sefalosporin dengan jumlah 23 satuan resep (R/) atau 46% dari jumlah keseluruhan penggunaan antibiotika. Dari golongan tersebut, sefotaksim paling banyak digunakan yaitu sebanyak 15 satuan resep (R/) atau 30% dari jumlah keseluruhan satuan resep. Hal ini sesuai dengan profil penyakit yang terdapat di bangsal anak rawat inap yang terdapat banyak kasus gastroenteritis akut dan demam

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 tifoid. Kedua penyakit ini disebabkan bakteri Salmonella dengan salah satu terapi lini pertamanya adalah antibiotika golongan sefalosporin yaitu sefotaksim. Antibiotika yang paling jarang digunakan yaitu dari golongan karbapenem dan antimikobakteri dengan masing-masing jumlah 1 satuan resep (R/) atau sebanyak 2%. Pada penelitian ini diperoleh hasil sebanyak 12 variasi jenis antibiotika yang digunakan selama periode Juli 2013. Variasi jumlah satuan resep antibiotika (R/) perpasien adalah 1 sampai dengan 7 antibiotika. Dari 34 kasus penggunaan antibiotika pada penelitian ini, terdapat 8 kasus (20%) penggunaan kombinasi lebih dari satu jenis antibiotika, termasuk 2 kombinasi antibiotika dalam satu sediaan obat seperti trimetoprim-sulfametoksazol, dan fradiomisin-gramisidin. Selain itu juga terdapat 2 kasus terapi penggantian antibiotika (switching), dan 1 kasus terapi kombinasi dan penggantian antibiotika, sedangkan sisanya adalah penggunaan satu jenis antibiotika (80%). Dalam penelitian ini penggunaan antibiotika kombinasi paling banyak terjadi pada kasus infeksi bakteri beserta adanya infeksi amoeba, seperti pada penggunaan amoksisilin dan metronidazol dalam kasus gastrointestinal akut yang disertai adanya infeksi amoeba. Amoksisilin merupakan salah satu terapi lini pertama infeksi akibat Salmonella, sedangkan metronidazol memiliki aktivitas terhadap amoeba. Terapi penggantian antibiotika, tidak diketahui secara pasti alasan dilakukan penggantian tersebut karena tidak dicantumkan alasan tersebut pada rekam medis pasien.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 2. Cara Pemberian Antibiotika Cara pemberian n = 50 Gambar 2. Cara Pemberian Antibiotika Pada Pasien Peditarik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013 Cara penggunaan antibiotika yang paling banyak adalah intravena yaitu sebanyak 80%, sedangkan sisanya sebanyak 20% diberikan secara oral. Hal ini terkait banyaknya kondisi pasien yang mengalami mual dan muntah, sehingga sulit untuk diberikan antibiotika secara oral. Selain itu pasien juga banyak kondisi pasien yang harus diberikan infus berupa antibiotika metronidazol sehingga banyak peresepan antibiotika yang diberikan secara intravena. Dari keseluruhan kasus penggunaan antibiotika, terdapat 8 (16%) kasus penggunaan antibiotika secara definitif akibat infeksi bakteri Salmonella, sebanyak 40 (80%) kasus merupakan penggunaan antibiotika secara empiris, dan sebanyak 3 (6%) kasus antibiotika yang digunakan dalam terapi profilaksis. Tidak semua pasien melakukan uji kultur. Hal ini diakibatkan faktor biaya, melihat sebagian besar biaya pasien berasal dari biaya pribadi pasien sendiri. Selain itu beberapa pasien yang

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 melakukan uji kultur tidak langsung memperoleh hasil uji kultur. Lamanya hasil kultur menjadi salah satu alasan banyaknya dilakukan terapis secara empiris, sedangkan kondisi pasien yang mendesak sudah harus diberikan terapi. 3. Durasi Penggunaan Antibiotika n = 50 Gambar 3. Durasi Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Peditarik Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013 Berdasarkan data yang diperoleh didapatkan berbagai variasi durasi penggunaan antibiotika. Mulai dari hanya 1 hari, sampai dengan 12 hari penggunaan. Durasi penggunaan antibiotika terlama adalah 12 hari yaitu metronidazol sebanyak 1 kasus atau 2% dari jumlah keseluruhan kasus. Sedangkan terdapat 8% penggunaan antibiotika tersingkat selama satu hari yaitu sefotaksim, amoksisilin, nistatin, meropenem, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Durasi terbanyak penggunaan antibiotika adalah selama 3 hari ( 37%).

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 C. Evaluasi Penggunaan Antibiotika dengan Metode Gyssens Evaluasi penggunaan antibiotika dengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan alur Gyssens & Meers, (2001) yang terbagi dalam 12 kategori dan dinyatakan dalam presentase. Tabel IV. Distribusi Rasionalitas Peresepan Antibiotika Berdasarkan Kategori Gyssens Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013 Kategori Gyssens Jumlah Persentase (%) 0 : penggunaan tepat /rasional 26 52 I : timing tidak tepat 3 6 IIA : tidak tepat dosis 4 8 IIB : tidak tepat interval 2 4 IIC : tidak tepat cara pemberian 0 0 IIIA : pemberian yang terlalu lama 1 2 IIIB : pemberian yang terlalu singkat 2 4 IVA : ada antibiotika lain yang lebih efektif 4 8 IVB : ada antibiotika lain yang kurang toksik 0 0 IVC : ada antibiotika lain yang lebih murah 2 4 IVD : ada antibiotika lain yang lebih spesifik 0 0 V : penggunaan antibiotika tanpa ada indikasi 6 12 Total 50 100 Tabel IV didapat hasil sebesar 52% penggunaan antibiotika memenuhi kategori 0 Gyssens (rasional). Kemudian 48% penggunaan antibiotika yang tidak rasional dengan rincian sebesar 6% termasuk dalam kategori I (timing pemberian antibiotika tidak tepat), 8% kategori IIA (pemberian antibiotika yang tidak tepat dosis), 4% kategori IIB (pemberian antibiotika tidak tepat interval), 2% kategori IIIA (pemberian antibiotika terlalu lama), 4% kategori IIIB (pemberian antibiotika terlalu singkat), 8% kategori IVA (ada alternatif antibiotika yang lebih efektif), 4% kategori IVC (ada antibiotika lainyang lebih murah), dan 12% kategori V (Pemberian

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 antibiotika tanpa indikasi). Tidak ditemukan antibiotika yang termasuk dalam kategori IIC (penggunaan antibiotika yang tidak tepat cara pemberian), kategori IVB (Ada antibiotika lain yang kurang toksik), dan IVD (ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Tabel V. Distribusi Hasil Evaluasi Peresepan Tiap Jenis Antibiotika Berdasarkan Metode Gyssens Di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta Periode Juli 2013 No Antibiotika Kategori Gyssens Total 0 I II III IV V 10 1 1 1 2 15 1 Sefotaksim 7 1 1 2 11 2 Amoksisilin 6 1 3 Metronidazol 7 1 2 1 4 Seftriakson 4 1 1 1 1 5 Sefiksim 4 2 6 Gentamisin 2 1 1 7 Nistatin 2 1 8 Rifamisin 1 1 9 Ampisilin 1 10 Meropenem 1 1 1 11 Trimetoprim-Sulfametoksazol 1 1 12 Fradiomisin-Gramicidin 1 Jumlah 26 3 6 3 6 6 50 Tabel V menunjukkan hasil antibiotika dengan kriteria rasional terbanyak adalah sefotaksim. Antibiotika ini paling banyak digunakan untuk kasus infeksi bakteri Salmonella typhi berupa demam tifoid dan gastroenteritis akut. Terdapat 1 jenis antibiotika kategori I (timing tidak tepat) yaitu sefotaksim yang dalam jam pemberiannya selalu berbeda setiap harinya. Terdapat juga 3 kasus antibiotika yang masuk kategori IIA (penggunaan antibiotika yang tidak tepat dosis). Hasil evaluasi diketahui dosis yang diberikan melebihi dosis yang disarankan dalam literatur. Selain itu terdapat 1 jenis antibiotika yang termasuk kategori IIB

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 (penggunaan antibiotika dengan interval yang kurang tepat) yaitu penggunaan seftriakson pada operasi patah kaki untuk pencegahan infeksi. Terkait lama waktu penggunaan, terdapat masing-masing 1 kasus antibiotika kategori IIIA (penggunaan antibiotika yang terlalu lama) dan kategori IIIB (penggunaan antbiotika terlalu singkat). Dalam beberapa kasus, penggunaan antibiotika dihentikan dalam 2 atau 3 hari karena kondisi pasien yang sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Bila dilihat dari acuan Kemenkes 2011, durasi penggunaan antibiotika untuk terapi empiris adalah 48 – 72 jam, selanjutnya harus dilakukan evaluasi mengenai keefektifan antibiotibiotika tersebut terhadap penyakit atau bakteri penginfeksi pasien yang diketahui dari hasil uji hematologi, uji kultur, dan kondisi pasien. Apabila tidak ada tanda kondisi pasien yang membaik, maka antibiotika dapat diganti sesuai dengan jenis bakteri penginfeksi pasien, dan apabila terdapat peningkatan kondisi pasien maka pemberian antibiotika dapat diteruskan 5 sampai 7 hari atau sesuai dengan anjuran durasi masing-masing antibiotika. Penggunaan antibiotika dalam 2 – 3 hari tanpa dilakukan evaluasi atau tanpa diteruskan dalam 5 hingga 7 hari memang terhitung singkat, tetapi kondisi pasien yang dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan pulang menjadi pertimbangan peneliti untuk meloloskan penggunaan antibiotika dalam durasi yang sesuai. Ditemukan antibiotika yang masuk kategori IVA (adanya antibiotika yang lebih efektif). Terdapat pemilihan antibiotika yang bukan merupakan terapi lini pertama ataupun lini kedua untuk penyakit yang diderita pasien. Hasil diskusi dengan

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 tenaga medis pada rumah sakit ini menyatakan hal ini dapat diakibatkan karena adanya alergi dari pasien terhadap obat atau antibiotika yang menjadi terapi lini pertama kasus tersebut. Tidak diketahui secara pasti pasien mana saja yang memiliki alergi tersebut dikarenakan peneliti tidak memperoleh akses untuk mengetahui dan mengolah data mengenai alergi pada pasien. Terdapat juga 2 kasus dengan hasil kategori IVC yaitu adanya antibiotika yang lebih murah. Harga antibiotika yang digunakan adalah harga antibiotika yang terdapat di Apotek Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta, karena obat-obat yang digunakan dalam terapi pasien berasal dari apotek ini. Pada kasus tersebut antibiotika yang digunakan bukanlah antibiotika generik yang harganya mencapai dua kali lipat harga obat generiknya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya antibiotika yang masuk kategori V (pemberian antibiotika tanpa indikasi) dengan persentase sebanyak 12%. Ada atau tidaknya infeksi bakteri pada pasien diketahui dari hasil uji hematologi dan uji kultur bakteri. Dari hasil uji hematologi pada beberapa kasus tersebut tidak menunjukkan tingginya jumlah leukosit. Kenaikan kadar leukosit dan penghitungan jenis leukosit yang berada diatas nilai normal mengindikasikan adanya infeksi bakteri yang dialami pasien. Pada kasus ini terdapat pemberian antibiotika pada penyakit yang bukan disebabkan oleh infeksi bakteri seperti vomitus, dehidrasi, dan febris. Tidak adanya hasil infeksi bakteri dan kadar leukosit yang masih dalam batas normal mengindikasikan bahwa penyakit tersebut tidaklah disebabkan oleh bakteri (IDI, 1998; Soedarmo, et al., 2008; Sutedjo, 2012).

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Penjelasan yang lebih terperinci terkait hasil kajian literatur peresepan antibiotika berdasarkan metode Gyssen, dibawah ini akan disajikan hasil evaluasi yang dilakukan berdasarkan diagnosa penyakit yang dialami pasien. 1. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Kasus 1, 3, 9, 11, 12, 21, 23, 24, 27, dan 29 dengan Diagnosa Gastroenteritis Akut. Gastroenteritis akut merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada saluran intetinal yang dapat disebabkan oleh bakteri. diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Pada beberapa kasus, ditemukan penyakit gastroenteritis akut yang penyakit penyerta atau gejala lain seperti dehidrasi, febris, dan kejang demam kompleks yang bukan merupakan penyakit akibat infeksi bakteri. Hasil kajian peresepan antibiotika pada gastroenteritis akut ini akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 1 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa sefotaksim, metronidazol, dan gentamisin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Sefotaksim dan metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Peresepan kedua antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Gentamisin bukanlah merupakan terapi lini pertama atau kedua penyakit ini dan ada antibiotika lini pertama lain yang lebih efektif, sehingga

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 gentamisin tidak lolos kategori IVA. Untuk sefotaksim dan metronidazol, tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim dan metronidazol. Berdasarkan hal tersebut, peresepan kedua antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan kedua obat ini selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat, sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008), peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 14,5 kg menerima obat sebanyak 1200 mg/hari dalam 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 750 mg sampai 2900 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam. Untuk metronidazol, pasien diberikan 600 mg obat setiap hari. Dosis yang disarankan adalah 30 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 disarankan, yaitu sebanyak 435 mg sampai 725 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam sehingga kedua antibiotika ini lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian dilakukan secara intravena. Cara ini dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual dan agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya, yaitu sefotaksim setiap pukul 6.00, 12.00, 18.00, dan 24.00 dan metronidazol pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim dan metronidazol termasuk kategori 0 yaitu rasional. b) Kasus 3 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif karena kondisi pasien yang terus membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan & Rahardja (2007), sefotaksim merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 2 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008), peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 24 kg menerima obat sebanyak 1500 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 1200 mg sampai 4800 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian dilakukan secara intravena. Cara ini dirasa paling efektif, karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 c) Kasus 9 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa amoksisilin dan metronidazol. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) amoksisilin dan metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti amoksisilin dan metronidazol. Berdasarkan hal tersebut, peresepan kedua antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan kedua obat ini selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat, sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011), peresepan amoksisilin adalah 20 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam sehari. Pasien dengan berat badan 16 kg

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 menerima obat sebanyak 750 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 320 mg sampai 800 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Untuk metronidazol, pasien diberikan 750 mg obat setiap hari. Dosis yang disarankan adalah 30 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 480 mg sampai 800 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam sehingga kedua antibiotika ini lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian dilakukan secara intravena. Cara ini dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual dan agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya, yaitu sefotaksim setiap pukul 6.00, 12.00, 18.00, dan 24.00 dan metronidazol pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim dan metronidazol termasuk kategori 0 yaitu rasional. d) Kasus 11 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan & Rahardja (2007) sefotaksim merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011) yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 10 kg menerima obat sebanyak 1000 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Hal ini sesuai dengan kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 500 mg sampai 2000 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. e) Kasus 12 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan & Rahardja (2007) sefotaksim merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011) yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 7,5 kg menerima obat sebanyak 600 mg/hari dalam 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 jam. Hal ini sesuai dengan kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 375 mg sampai 1500 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 6.00 dan 18.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. f) Kasus 21 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis menerima antibiotika berupa metronidazol, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) metronidazol dan trimethoprim-sulfametoksazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut. Dalam kasus ini, peresepan kedua antibiotika terbukti

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 efektif karena kondisi pasien terbukti membaik, sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga tidak ada yang lebih murah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim dan metronidazol. Kedua antibiotika ini juga spesifik untuk penyakit ini sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan kedua antibiotika adalah selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan metronidazol adalah 30 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Pasien dengan berat badan 12 kg diberikan 600 mg obat/hari dalam 3 dosis terbagi setiap 8 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 360 sampai 600 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval), sedangkan untuk trimetoprim-sulfametokasazol kisaran dosis yang disarankan adalah 20 mg sampai 30 mg/kgBB/hari atau

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 240 sampai 360 mg/hari. Diketahui pasien menerima 480 mg obat/hari yaitu melebihi dosis yang seharusnya, sehingga tidak lolos kategori IIA. Cara pemberian secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu pukul 8.00, 16,00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan metronidazol termasuk kategori 0 yaitu rasional. g) Kasus 23 Pasien anak dengan diagnosa dengue fever disertai gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan & Rahardja (2007) sefotaksim merupakan antibiotika

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Sefotaksim juga merupakan antibiotika yang spesifik untuk penyakit ini sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Menurut Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika untuk terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam kemudian dilakukan evaluasi kondisi pasien apakah antibiotika efektif atau tidak. Pada kasus ini penggunaan antibiotika diberikan selama 5 hari karena kondisi pasien yang terus membaik, sehingga terapi tetap dilanjutkan. Berdasarkan hal tersebut, penggunaan antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al., (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 16 kg menerima obat sebanyak 1000 mg/hari dalam 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 800 mg sampai 1600 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 6.00 dan 18.00 sehingga lolos kategori I (tepat

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. h) Kasus 24 Pasien anak dengan diagnosa gastroenteritis akut menerima antibiotika berupa seftriakson dan metronidazol. Pasien diindikasikan mengalami infeksi sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) seftriakson dan metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif, ditunjukkan dari kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti seftriakson dan metronidazol. Kedua antibiotika ini juga spesifik untuk penyakit ini sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval,

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan seftriakson adalah 50 mg sampai 100 mg/kgBB/hari dalam 1 sampai 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 atau 24jam. Pasien dengan berat badan 19 kg menerima obat sebanyak 1500 mg/hari dalam 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 jam, hal ini sesuai dengan kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 800 mg sampai 1900 mg/hari dalam 1 sampai 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 sampai 24 jam. Untuk pemberian metronidazol, pasien diberikan 750 mg obat setiap hari. Dosis yang disarankan adalah 30 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 570 mg sampai 900 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Berdasarkan hasil tersebut, kedua antibiotika ini lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu sefotaksim setiap pukul setiap pukul 6.00, dan 18.00 dan metronidazol pukul 8.00, 16,00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim dan metronidazol termasuk kategori 0 yaitu rasional. i) Kasus 27 Pasien anak anak dengan diagnosa gastroenteritis akut disertai febris menerima antibiotika berupa metronidazol. Pasien diindikasikan mengalami

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut. Metronidazol terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik, sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim dan metronidazol. Kedua antibiotika ini spesifik untuk penyakit ini sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011) yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011), pasien dengan berat badan 19 kg diberikan 775 mg obat setiap hari. Dosis yang disarankan adalah 30 sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai dengan kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 570 sampai 900 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam sehingga kedua

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 antibiotika ini lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16,00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan metronidazol termasuk kategori 0 yaitu rasional. j) Kasus 29 Pasien anak menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Dipiro & Schwinghammer (2009) sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut dan terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim. Sefotaksim merupakan antibiotika yang spesifik untuk penyakit ini sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 3

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 11 kg menerima obat sebanyak 1050 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 550 mg sampai 2200 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam, sehingga dinyatakan lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami muntah dan mual, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00. dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. 2. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Kasus 2, 16, 18, dan 25 dengan Diagnosa Febris. Febris atau demam merupakan suatu keadaan meningkatnya suhu tubuh dari keadaan normal. Menurut IDI (1998), penatalaksanaan febris tidak memerlukan terapi antibiotika karena penyebab utama demam bukan akibat

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 infeksi bakteri, tetapi dapat disebabkan oleh virus atau merupakan gejala dari beberapa jenis penyakit lain. Dalam beberapa kasus febris, ditemukan adanya kenaikan jumlah leukosit dan hasil kultur bakteri yang mengindikasikan terjadinya infeksi akut pada pasien sehingga antibiotika dapat diresepkan pada pasien yang bersangkutan. Pada penelitian ini selain sebagai penyakit penyerta, terdapat beberapa pasien dengan febris sebagai diagnosa utama pasien. Hasil evaluasinya akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 2 Pasien anak dengan diagnosa febris menerima antibiotika berupa sefotaksim dan sefiksim. Tidak ditemukan adanya indikasi infeksi bakteri baik dari uji leukosit maupun hasil kultur. Jumlah leukosit pasien diketahui 10,430/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Menurut Sutedjo (2012), penurunan nilai leukosit mengindikasikan inveksi virus, bukan oleh bakteri. Persentase jumlah neutrofil diketahui 63%, masih dalam nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Tidak ditemukan kenaikan jumlah leukosit ataupun jumlah neutrofil yang menunjukkan tidak adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri, tetapi tetap diresepkan antibiotika. Dalam kasus ini, peresepan penggunaan kedua jenis antibiotika termasuk kategori termasuk kategori V, yaitu pemberian antibiotika tanpa indikasi infeksi bakteri.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 b) Kasus 16 Pasien anak dengan diagnosa febris menerima antibiotika berupa amoksisilin. Pasien mengalami infeksi bakteri Salmonella dilihat dari hasil kultur bakteri. Hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Tan & Rahardja (2007) amoksisilin merupakan antibiotika yang efektif terhadap infeksi Salmonella dan terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Amoksisilin juga memiliki efektivitas yang tinggi dan spesifik terhadap infeksi Salmonella seperti yang terjadi pada kasus ini, sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Menurut Lacy et al. (2011) durasi penggunaan amoksisilin untuk terapi anaerob adalah 7 sampai 10 hari. Pada kasus ini waktu penggunaannya selama rawat inap adalah 5 hari, kemudian pasien dinyatakan pulang dan terapi tetap dilanjutkan selama rawat jalan, sehingga tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Dengan demikian penggunaan amoksisilin pada kasus ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) peresepan amoksisilin adalah 20 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 8 kg menerima obat sebanyak 375 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan, yaitu sebanyak 160 mg sampai 400 mg/hari sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. c) Kasus 18 Pasien anak dengan diagnosa febris menerima antibiotika berupa amoksisilin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari persentase jumlah neutrofil pasien yaitu 75,7% yang melebihi jumlah normal yaitu 50% sampai 70%. Hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan amoksisilin terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan dan Rahardja (2007) amoksisilin merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan sebagai terapi empiris, sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Sesuai aturan Kemenkes (2011), Durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Terlihat dari rekam medis dan data uji hematologi pasien, kondisi pasien berangsur membaik sehingga antibiotika tetap dilanjutkan sampai 5 hari. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011), peresepan amoksisilin adalah 20 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 59 kg menerima obat sebanyak 1500 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 1180 mg sampai 2950 mg/hari sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. d) Kasus 25 Pasien anak dengan diagnosa febris disertai dehidrasi sedang menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri dilihat dari jumlah leukosit yang diketahui berjumlah 14,790/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 92,1%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini sefotaksmi terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan & Rahardja (2007) sefotaksim merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011) yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008), peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 17 kg menerima obat sebanyak 1600 mg/hari dalam 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 850 mg sampai 3400 mg/hari sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 6.00, 12.00, 18.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. 3. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 4 dan 19 dengan Diagnosa Demam Tifoid Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi akut yang biasanya terjadi di saluran cerna yang disebabkan oleh bakteri Salmonella dengan gejala berupa demam dan rasa nyeri yang sangat tinggi (Tan & Rahardja, 2007).

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Hasil evaluasi peresepan antibiotika pada kasus demam tifoid akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 4 Pasien anak dengan diagnosa demem tifoid menerima antibiotika berupa amoksisilin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri, sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Amoksisilin merupakan antibiotika yang efektif untuk infeksi Salmonella terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Menurut Tan & Rahardja (2007) amoksisilin diketahui memiliki efektivitas yang tinggi terhadap Salmonella sehingga spesifik untuk penyakit ini. Berdasarkan hal tersebut penggunaan amoksisilin lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Menurut Lacy et al. (2011) durasi penggunaan amoksisilin untuk terapi anaerob adalah 7 sampai 10 hari. Pada kasus ini waktu penggunaannya selama rawat inap adalah 4 hari, kemudian pasien dinyatakan pulang dan terapi tetap dilanjutkan selama rawat jalan, sehingga tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Dengan demikian penggunaan amoksisilin pada kasus ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan amoksisilin adalah 20 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 10 kg menerima obat sebanyak 375 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 200 mg sampai 500 mg/hari, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. b) Kasus 19 Pasien anak dengan diagnosa demam tifoid disertai vomitus menerima 7 jenis antibiotika berupa amoksisilin, gentamisin, metronidazol, sefotaksim, rifamisin, nistatin, dan meropenem. Amoksisilin dan metronidazol diberikan sejak pertama pasien dirawat. Kemudian setelah 6 hari agar penggunaannya tidak terlalu lama, amoksisilin digantikan dengan sefotaksim bersamaan dengan gentamisin, rifamisin, dan metronidazol. Setelah 5 hari penggunaan semua antibiotika kecuali metronidazol dihentikan penggunaannya dan digantikan dengan nistatin. Tidak diketahui alasan pasti penggantiannya, tetapi hal ini kemungkinan karena pada hasil uji hematologi,

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 menunjukkan semua kadar leukosit ada di nilai normal dan terapi semua antibiotika tersebut sudah tidak diperlukan. Pada durasi penggunaan nistatin tidak diperoleh hasil uji lab pasien. Kemudian setelah 3 hari penggunaan nistatin kondisi pasien tidak membaik, antibiotika ini dihentikan dan digantikan dengan meropenem sampai pasien sembuh dan diperbolehkan pulang. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari hasil kultur yang positif terinfeksi bakteri Salmonella, sehingga hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Amoksisilin, metronidazol, dan sefotaksim merupakan terapi lini pertama untuk penyakit ini. Sedangkan meropenem cukup efektif terhadap Salmonella karena merupakan turunan dari antibiotika golongan sefalosporin sehingga memiliki sifat yang mirip dengan sefotaksim. Antibiotika-antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Sedangkan gentamisin, rifampisin, dan nistatin tidak lolos kategori IVA karena bukan merupakan terapi lini pertama atau kedua penyakit ini sehingga ada antibiotika lini pertama lain yang lebih efektif. Ketiga jenis antibiotika ini diberikan saat hasil uji kultur terbaru pasien belum keluar, sehingga dirasa tidak efektif dan digantikan dengan antibiotika meropenem. Amoksisilin dan metronidazol yang digunakan bersamaan tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain. Demikian juga dengan sefotaksim dan meropenem. Harga keempat antibiotika ini juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Seperti yang dijelaskan di atas menurut Tan & Rahardja (2007), amoksisilin dan sefotaksim merupakan antibiotika yang memiliki efektivitas tinggi terhadap infeksi Salmonella, meropenem memiliki sifat yang mirip dengan sefotaksim dan metronidazol spesifik terhadap amoeba yang juga terdapat pada hasil kultur, sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan amoksisilin dan sefotaksim adalah 7 dan 5 hari. Menurut Lacy et al. (2011), untuk terapi anaerob kedua jenis antibiotika ini memiliki durasi terapi maksimal sampai 10 hari, sehingga penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Untuk meropenem digunakan selama 3 hari secara empiris sesuai Kemenkes (2011), untuk durasi terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam. Ketiga antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk metronidazol, penggunannya berlangsung selama 12 hari, melebihi durasi terapi maksimum yaitu 10 hari, sehingga metronidazol tidak lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika terlalu lama). Untuk dosis dan interval. menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008), peresepan sefotaksim adalah 50 mg sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 22 kg menerima obat sebanyak 2000 mg/hari dalam 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 1100 mg

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 sampai 4400 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam. Untuk peresepan amoksisilin adalah 20 sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai 12 jam sehari. Pasien mendapatkan amoksisilin dengan dosis sebanyak 1050 mg, sesuai kisaran dosis yang disarankan adalah 440 mg sampai 1100 mg mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Untuk peresepan meropenem yang disarankan adalah 30 mg sampai 120 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, atau bila dikalikan dengan berat badan pasien adalah 660 mg sampai 2640 mg/hari. Pasien mendapatkan 555 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, sehingga kurang dari dosis yang disarankan. Dengan demikian, amoksisilin dan sefotaksim lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval), sedangkan meropenem tidak lolos kategori IIA. Cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu sefotaksim setiap pukul setiap pukul 6.00, 12.00, 18.00, dan 24.00. Untuk amoksisilin diberikan setiap pukul 8.00, 16,00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan amoksisilin dan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 4. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 5 dan 26 dengan Diagnosa Tonsilisitis Menurut Mansjoer & Wardhani (2000) tonsilisitis merupakan infeksi atau inflamasi pada tonsila palatina yang bersifat menetap. Tonsilisitis dapat disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus yang kerap menyebabkan infeksi di jaringan kulit atau jaringan lunak. Terdapat 2 kasus peresepan antibiotika pada tonsilisitis di penelitian ini. Hasil evaluasinya akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 5 Pasien anak dengan diagnosa Tonsila palatine hipertropi grade 3 menerima antibiotika berupa amoksisilin. Tidak ditemukan indikasi infeksi bakteri, baik dari hasil uji leukosit maupun hasil kultur. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi pasien yang dalam jumlah normal, sehingga tidak ditemukan adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Jumlah leukosit pasien diketahui 8,230/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 46,3%, dibawah dari nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Menurut Sutedjo (2012) penurunan nilai neutrofil mengindikasikan inveksi virus, bukan oleh bakteri. Berdasarkan hal tersebut, dalam kasus ini penggunaan kedua jenis antibiotika termasuk kategori V (pemberian antibiotika tanpa indikasi infeksi bakteri).

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 b) Kasus 26 Pasien anak menerima antibiotika berupa seftriakson. Pasien mengalami tonsisilisitis kronis dan dioperasi. Menurut Kemenkes (2011), walaupun tidak terdapat infeksi, pasien tetap memerlukan terapi antibiotika untuk mencegah infeksi sebelum/pasca operasi, sehingga hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Menurut Sukandar dkk. (2008) seftriakson merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan dapat diterapkan dalam terapi profilaksis bedah guna mencegah infeksi bakteri. Berdasarkan hal itu, seftriakson dalam kasus ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien hanya menerima 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Sesuai aturan Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika dalam profilaksis bedah yaitu 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan seftriakson untuk profilaksis bedah

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 adalah adalah 1 sampai gram/hari dalam 1 sampai 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 sampai 24 jam sehari, sesuai dengan terapi yang diterima pasien yaitu 1 gram/hari dalam satu kali pemberian, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif untuk terapi profilaksis sebelum dan pasca operasi, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian tidak sesuai yaitu pukul 19.00 dan 12.00 pada keeseokan harinya, karena pasien diperbolehkan pulang sebelum pukul 19.00 dan antibiotika diberikan sebelum waktu tersebut, sehingga tidak lolos kategori I (tidak tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. 5. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 15 dengan Diagnosa Gastritis Gastritis merupakan suatu keadaan nyeri dan terbakar pada saluran pencernaan khususnya lambung, yang dapat disebabkan oleh bakteri H. pylori (Tan & Rahardja, 2007). Terdapat 1 kasus pasien yang mengalami gastritis tanpa penyakit penyerta lain. Hasil evaluasinya akan dijelaskan sebagai berikut. Pasien anak dengan diagnosa gastritis menerima antibiotika berupa ampisilin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri, sehingga penggunaan antibiotika ini lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan ampisilin bukanlah terapi lini pertama atau kedua untuk gastritis. Untuk penyakit pencernaan seperti gastritis, digunakan antibiotika berupa

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 clarithromisin dan amoksisilin. Menurut Tan & Rahardja (2007) ampisilin diketahui mempunyai efek samping, salah satunya gastritis. Berdasarkan hal tersebut, ampisilin dalam kasus ini tidak lolos kategori IVA (ada antibiotika yang lebih efektif). 6. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 8 dengan Diagnosa Gastritis Akut disertai Bronkitis Pada penelitian ini juga terdapat satu kasus pasien yang mengalami penyakit gastritis disertai dengan bronkitis. Bronkitis merupakan suatu infeksi pada saluran pernapasan akibat virus, bakteri, atau mikroorganisme yang menyerupai bakteri (Tan & Rahardja, 2007). Hasil evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ini akan dijelaskan sebagai berikut. Pasien anak menerima antibiotika berupa sefotaksim dan fradiomisingramisidin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan sefotaksim dan fradiomisin-gramisidin terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 jenis bakteri seperti sefotaksim, sedangkan friadiomisin-gramisidin merupakan antibiotika memang yang diindikasikan untuk infeksi bakteri pada saluran pernapasan seperti pada bronkitis. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat, sudah sesuai aturan Kemenkes (2011) yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris kemudian harus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi pasien. Diketahui kondisi pasien membaik dan terapi tetap dilanjutkan sampai 5 hari. Berdasarkan keterangan tersebut, penggunaan sefotaksim lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan sefotaksim adalah 50 sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 17 kg menerima obat sebanyak 1500 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan sebanyak 850 mg sampai 3400 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Sedangkan untuk fradiomisin-gramisidin, penggunaan sesuai anjuran adalah 4 sampai 5 tablet dalam sehari. Pasien hanya diberikan 2 tablet, sehingga tidak memenuhi dosis yang seharusnya. Berdasarkan hal tersebut, antbiotika ini tidak lolos kategori IIA (penggunaan tidak tepat dosis). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang mengalami

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 muntah dan mual dan agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional 7. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 32 dengan Diagnosa Asma Bronchiale Asma bronchiale adalah suatu reaksi hipersensitivitas bronchi terhadap berbagai stimulasi spesifik yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Penatalaksanaannya tidak memerlukan antibiotika dalam penangananna (Tan & Rahardja, 2007). Hasil evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ini akan dijelaskan sebagai berikut. Pasien anak dengan diagnosa asma bronchiale menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi jumlah normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 15,940/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 89,0%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim. Antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain), tetapi ada antibiotika sejenis yang lebih murah. Pasien diberikan sefiksim sirup dengan nama dagang Tocef®, sedangkan ada obat sejenis dengan merk dagang Sporetic® dan sefiksim generik memiliki harga yang lebih murah. Berdasarkan hal ini, penggunaan sefiksim pada kasus ini termasuk kategori IVC (ada antibiotika lain yang lebih murah). 8. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 22 dengan Diagnosa Asma Bronchiale disertai Bronchopneumonia Pada penelitian ini juga terdapat kasus pasien menderita asma bronchiale disertai bronchopneumonia. Bronchopneumonia merupakan salah satu bagian dari penyakit pneumonia. Bronchopneumonia adalah suatu infeksi atau radang saluran pernafasan akut bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronchus atau bronchiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak. Penyakit ini sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri (Mansjoer & Wardhani, 2000). Pasien anak menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan sefotaksim terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaan selama 3 hari. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dan Sukandar dkk. (2008) peresepan sefotaksim adalah 50 sampai 200 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 15 kg menerima obat sebanyak 1250 mg/hari dalam 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 750 mg sampai 3000 mg/hari dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam. Kemudian dosis pemberian diganti tanpa keterangan yang jelas menjadi 1000 mg tetapi masih dalam kisaran dosis yang disarankan, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang sulit makan sehingga, lolos kategori IIC (tepat cara pemberian).

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Waktu pemberian tidak sama setiap harinya. Jam-jam pemberian selalu berubah, sehingga tidak lolos kategori I (tidak tepat waktu pemberian). 9. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 10 dan 28 dengan Diagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Akut Disertai Vomitus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan suatu keadaan terjadinya infeksi pada saluran pernapasan dengan gejala seperti demam, batuk, hidung tersumbat, bahkan dapat menimbulkan komplikasi seperti pneumonia dengan sesak napas. ISPA dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium. Vomitus atau muntah tidak selalu disebabkan oleh bakteri, tetapi juga dapat disebabkan oleh berbagai sebab diantaranya adalah intoleransi terhadap makanan, reaksi terhadap obat, atau infeksi virus (Depkes RI, 2002; Soedarmo et al. 2008). Evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ini akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 10 Pasien anak dengan diagnosa ISPA disertai vomitus menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan sefotaksim terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu singkat. Pasien diberikan terapi selama 1 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini tidak lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). b) Kasus 28 Pasien anak menerima antibiotika berupa amoksisilin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan amoksisilin terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan tidak ditemukan antibiotika sejenis dengan harga lebih murah, sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah).

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti amoksisilin. Menurut Tan & Rahardja (2007) amoksisilin merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien diberikan terapi selama 3 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011), peresepan amoksisilin adalah 20 sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 11 kg menerima obat sebanyak 450 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam. Hal ini sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu, sebanyak 220 mg sampai 550 mg/hari sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. 10. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Kasus 20, 7, Dan 13 Dengan Diagnosa Infeksi Saluran Kemih Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. Sebagian besar ISK disebabkan oleh bakteri aerob dari flora usus seperti E.coli. Gejala ISK antara lain sering kemih, kemih terasa sakit, nyeri pinggang, terdapat darah pada urin (hematuria), terdapat protein pada urin (Albuminuria), dan urin beraroma tidak wajar (Tan & Rahardja, 2007). Evaluasi peresepan antibiotika pada ISK akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 20 Pasien anak dengan diagnosa ISK disertai febris menerima antibiotika berupa sefotaksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri Salmonella dilihat dari hasil kultur pasien, sehingga pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Menurut Tan & Rahardja (2007) sefotaksim merupakan salah satu antibiotika yang memiliki efektivitas tinggi terhadap infeksi Salmonella dan dalam beberapa penyakit juga digunakan sebagai terapi lini pertama untuk infeksi Salmonella. Antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 dengan obat lain), tetapi ada antibiotika sejenis yang lebih murah. Dalam kasus ini, sefotaksim generik memiliki harga yang jauh lebih murah dari sefotaksim dengan merk dagang yang diberikan. Harga yang diketahui adalah dari apotek rumah sakit, karena obat yang digunakan didapatkan dari apotek rumah sakit sendiri. Berdasarkan hal ini, penggunaan sefotaksim pada kasus ini termasuk kategori IVC (ada antibiotika lain yang lebih murah). b) Kasus 7 Pasien anak dengan diagnosa Obs. Proteinuria, hematuria, dan suspect sindrom nefrotik menerima antibiotika berupa amoksisilin dan metronidazol. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan amoksisilin dan metronidazol terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan & Rahardja (2007) amoksisilin dan metronidazol merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien diberikan terapi selama 3 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) peresepan amoksisilin adalah 20 sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai 12 jam sehari, sedangkan metronidazol adalah 30 sampai 50 mg/kgBB/hari. Pasien dengan berat badan 12 kg menerima obat masingmasing sebanyak 600 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini sesuai kisaran dosis amoksisilin yang disarankan yaitu 240 mg sampai 600 mg/hari dalam 3 dosis terbagi setiap 8 hingga 12 jam dan metronidazol sebanyak 300 sampai 600 mg/hari dalam 3 dosis terbagi setiap 8 jam, sehingga kedua antibiotika lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 8.00, 16.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. tersebut, penggunaan

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 c) Kasus 13 Pasien anak dengan diagnosa hematuri, albuminuria, dan colic abdomen menerima antibiotika berupa amoksisilin dan sefiksim. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan amoksisilin dan sefiksim terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti amoksisilin dan sefiksim. Menurut Tan & Rahardja (2007) kedua antibiotika ini merupakan antibiotika berspektrum luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan hal tersebut, peresepan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Amoksisilin hanya diberikan satu hari, kemudian penggunaannya dihentikan. Berdasarkan hal ini, penggunaan amoksisilin tidak lolos kategori IIIB (penggunaan antibiotika terlalu singkat). Untuk sefiksim, durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien diberikan terapi selama 3 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam,

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Diketahu kondisi pasien berangsur membaik, sehingga penggunaan sefiksim terus diberikan. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) dosis sefiksim untuk anak adalah 200 mg dalam 2 sampai 4 dosis terbagi yang diberikan setiap 6 sampai 12 jam sehari. Hal ini sesuai dengan yang diberikan kepada pasien yaitu 200 mg dalam 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 jam dalam sehari, sehingga dalam kasus ini sefiksim lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara oral, karena pasien masih memungkinkan untuk diberikan terapi melalui, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 6.00 dan 18.00, sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. 11. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Kasus 6 Dan 17 Dengan Diagnosa Vomitus Vomitus atau muntah tidak selalu disebabkan oleh bakteri (biasanya pada vomitus disertai diare cair akut), tetapi juga dapat disebabkan oleh berbagai sebab diantaranya adalah intoleransi terhadap makanan, reaksi terhadap obat, atau infeksi virus (Soedarmo, et al., 2008).

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Terdapat 2 kasus pasien dengan vomitus sebagai diagnosa utama. Kasus pertama yaitu vomitus disertai dehidrasi dam kasus berikutnya adalah vomitus disertai suspect ISK. Evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ini akan dijelaskan sebagai berikut. a) Kasus 6 Pasien anak dengan diagnosa observasi vomitus dengan suspect ISK menerima antibiotika berupa sefotaksim dan sefiksim. Tidak ditemukan indikasi infeksi bakteri, baik dari hasil uji leukosit maupun hasil kultur. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi pasien yang dalam jumlah normal, sehingga tidak ditemukan adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Jumlah leukosit pasien diketahui 10,230/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 68,4%, masih dalam batas nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Berdasarkan hal tersebut, dalam kasus ini penggunaan kedua jenis antibiotika termasuk kategori V (pemberian antibiotika tanpa indikasi infeksi bakteri). b) Kasus 17 Pasien anak dengan diagnosa vomitus disertai dehidrasi sedang menerima antibiotika berupa amoksisilin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri, dilihat dari jumlah leukosit pasien diketahui 13.760/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu diindikasikan dari persentase jumlah neutrofil pasien

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 sebesar 93,3% yang melebihi jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang mengindikasikan infeksi bakteri. Hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan amoksisilin terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri. Menurut Tan dan Rahardja (2007), amoksisilin memiliki spektrum yang luas, sehingga dapat diterapkan dalam terapi empiris. Berdasarkan haltersebut, penggunaan antibiotika ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien diberikan terapi amoksisilin selama 3 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Berdasarkan hasil tersebut antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) peresepan amoksisilin adalah 20 mg sampai 50 mg/kgBB/hari dalam 2 sampai 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 sampai

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 12 jam sehari. Pasien dengan berat badan 13 kg menerima obat sebanyak 750 mg/hari dalam 3 dosis terbagi yang diberikan setiap 8 jam, hal ini tidak sesuai kisaran dosis yang disarankan yaitu sebanyak 260 mg sampai 650 mg/hari sehingga tidak lolos kategori IIA (tidak tepat dosis). 12. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 14 dengan Diagnosa Candidiasis Candidiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur, yaitu Candida albicans yang merupakan bagian dari flora normal selaput lendir di saluran pernapasan, saluran cerna, dan vagina (Sukandar, et al., 2008). Terdapat 1 kasus candidiasis pada penelitian ini yang hasil evaluasinya akan disajikan sebagai berikut. Pasien anak menerima antibiotika berupa nistatin. Pasien diindikasikan mengalami infeksi bakteri , sehingga lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Dalam kasus ini, peresepan nistatin terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi sehingga terapi diberikan secara empiris. Menurut Tan & Rahardja (2007) nistatin merupakan antibiotika yang spesifik untuk penyakit candidiasis, sehingga lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya selama 3

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 hari. Tidak terlalu lama atau terlalu singkat, sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris sehingga lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval sudah sesuai anjuran pemakaian yaitu 1-2cc dalam 4 kali pemberian / hari, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara oral karena pasien masih memungkinkan untuk diberikan secara oral, sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian juga sudah tepat setiap harinya yaitu setiap pukul 6.00, 12.00, 18.00, dan 24.00 sehingga lolos kategori I (tepat waktu pemberian). Berdasarkan keseluruhan evaluasi tersebut, penggunaan sefotaksim termasuk kategori 0 yaitu rasional. 13. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 30 dengan Diagnosa Dengue Fever Dengue Fever bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan gejala demam akut disertai timbulnya bercak darah pada kulit (Depkes RI, 2006). Terdapat kasus dengan diagnosa demam dengue pada penelitian ini yang hasil evaluasinya disajikan sebagai berikut. Pasien anak dengan diagnosa dengue fever menerima antibiotika berupa sefotaksim. Dengue Fever bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan oleh virus dengue. Tidak ditemukan indikasi infeksi bakteri, baik dari hasil uji leukosit

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 maupun hasil kultur. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi pasien yang dalam jumlah normal, sehingga tidak ditemukan adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Jumlah leukosit pasien diketahui 9,210/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 57,2%, masih dalam nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Berdasarkan hal tersebut, dalam kasus ini penggunaan kedua jenis antibiotika termasuk kategori V (pemberian antibiotika tanpa indikasi infeksi bakteri). 14. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 34 dengan Diagnosa Ichterik Neonatus Ichterik neonatus adalah keadaan bayi yang baru lahir tampak berwarna kuning akibat penimbunan bilirubin dengan jumlah bilirubin pada serumnya 6 mg/dL. Penatalaksanaannya tidak memerlukan terapi antibiotika (Mansjoer & Wardhani, 2000). Evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ichterik neonatus pada penelitian ini yang akan dijelaskan sebagai berikut. Pasien anak menerima antibiotika berupa amoksisilin. Ichterik neonatus bukanlah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Peresepan antibiotika pada kasus ini dilakukan tanpa indikasi infeksi bakteri. Hasil uji hematologi dan uji kulturpun tidak tersedia, sehingga penggunaan antibiotika pada kasus ini termasuk kategori V (Pemberian antibiotika tanpa indikasi infeksi bakteri).

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 15. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 31 dengan Diagnosa Polydactyly. Pada penelitian ini terdapat kasus penggunaan antibiotika untuk pencegahan terjadinya infeksi bakteri pasca operasi yaitu polydactyly. Polydactyly adalah suatu keadaan jumlah jari yang berlebih, sehingga dilakukan rekonstruksi jari tangan pada pasien (Mansjoer & Wardhani, 2000). Hasil evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ini akan disajikan sebagai berikut. Pasien anak dengan diagnosa polydactyly menerima antibiotika berupa seftriakson. Menurut Kemenkes (2011), walaupun tidak terdapat infeksi, pasien tetap memerlukan terapi antibiotika untuk mencegah infeksi sebelum/pasca operasi, sehingga hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Menurut Lacy et al, (2011) seftriakson merupakan antibiotika yang dapat diterapkan dalam terapi profilaksis bedah guna mencegah infeksi bakteri. Berdasarkan hal itu, seftriakson dalam kasus ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien hanya menerima 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Sesuai aturan Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 dalam profilaksis bedah yaitu 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Berdasarkan hal tersebut, antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) peresepan seftriakson untuk profilaksis bedah adalah adalah 1 sampai gram/hari dalam 1 sampai 2 dosis terbagi yang diberikan setiap 12 sampai 24 jam sehari, sesuai dengan terapi yang diterima pasien yaitu 1 gram/hari dalam satu kali pemberian. sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis) dan IIB (tepat interval). Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal sehingga lolos kategori IIC (tepat cara pemberian). Waktu pemberian tidak, yaitu sesuai pukul 00.00 dan 14.15 keeseokan harinya sebelum pulang sehingga tidak lolos kategori I (tidak tepat waktu pemberian). 16. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus 33 dengan Diagnosa Perioperatif Aff Plate Fraktur Cruris. Perioperatif aff plate fraktur cruris adalah suatu cedera atau trauma atau bahkan patahan yang terjadi pada tulang tibia fibula sehingga dalam perawatannya memerlukan antibiotika untuk mencegah timbulnya bakteri pada bekas operasi (Mansjoer & Wardhani, 2000 ). Hasil evaluasi peresepan antibiotika pada kasus ini akan disajikan sebagai berikut. Pasien anak dengan diagnosa perioperatif aff plate fraktur cruris menerima antibiotika berupa seftriakson. Pasien mengalami patah kaki dan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 dioperasi. Menurut Kemenkes (2011), walaupun tidak terdapat infeksi, pasien tetap memerlukan terapi antibiotika untuk mencegah infeksi sebelum/pasca operasi, sehingga hal ini menunjukkan pasien lolos kategori V (ada indikasi penyakit infeksi). Antibiotika ini terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik sehingga lolos kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Tidak ditemukan interaksi merugikan dengan obat lain dan harganya juga termurah untuk antibiotika sejenis sehingga lolos kategori IVB (tidak ada indikasi merugikan dengan obat lain) dan IVC (tidak ada antibiotika sejenis yang lebih murah). Menurut Lacy et al, (2011) seftriakson merupakan antibiotika yang dapat diterapkan dalam terapi profilaksis bedah guna mencegah infeksi bakteri. Berdasarkan hal itu, seftriakson dalam kasus ini lolos kategori IVD (tidak ada antibiotika lain dengan spektrum lebih sempit). Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien hanya menerima 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Sesuai aturan Kemenkes (2011) durasi penggunaan antibiotika dalam profilaksis bedah yaitu 24 jam sebelum dan sesudah operasi, sehingga antibiotika ini lolos kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama) dan IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Untuk dosis dan interval, menurut Lacy et al. (2011) peresepan seftriakson untuk profilaksis bedah adalah adalah 1 sampai gram/hari setiap 24 jam, sesuai dengan terapi yang diterima pasien yaitu 1 gram/hari, sehingga lolos kategori IIA (tepat dosis). Interval pemberian pada kasus ini adalah setiap 12 jam, tidak sesuai dengan interval yang

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 disarankan yaitu setiap 24 jam, sehingga tidak lolos kategori IIB (tidak tepat interval pemberian). Penelitian dengan metode serupa pernah dilakukan di rumah sakit lain di luar Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki perbedaan kelas dari Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta yang merupakan rumah sakit tipe D. Penelitian yang dilakukan oleh Febiana (2012) dengan metode dan pendekatan sejenis dilakukan di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang yang merupakan rumah sakit tipe A. Hasil yang diperoleh adalah 55,51 % antibiotika yang digunakan secara rasional. Penelitian lain oleh Pamela (2011) dilakukan di RSCM Jakarta yang merupakan rumah sakit tipe A dengan metode yang sama namun dengan pendekatan yang berbeda yaitu secara prospektif. Diperoleh hasil 60,4 % penggunaan antibiotika secara rasional.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesesuaian profil penyakit infeksi dan profil peresepan antibiotika di bangsal anak rawat inap Rumah Sakit Panti Nugroho sudah sesuai. Rasionalitas peresepan antibiotika di bangsal anak rawat inap Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada periode Juli 2013 diperoleh sebesar 52% penggunaan antibiotika secara rasional dengan sefotaksim sebagai antibiotika yang paling banyak digunakan. B. Saran Beberapa saran yang dapat dilakukan yaitu: 1. Metode Gyssens lebih disarankan dilakukan dengan pendekatan prospektif disertai dengan monitoring kondisi pasien dari hari ke hari. Selain itu metode ini lebih mudah diterapkan dalam evaluasi antibiotika tunggal dan sulit digunakan untuk evaluasi antibiotika kombinasi secara retrospektif. 2. Perlunya penulisan rekam medis yang lengkap dan jelas terbaca guna mempermudah dilakukannya pembacaan kembali untuk kepentingan penelitian atau evaluasi. 3. Perlu ada penelitian lanjutan dengan pendekatan yang berbeda dan jenis penyakit infeksi yang spesifik, serta memiliki jangkauan yang lebih luas, bukan hanya di bangsal anak tetapi juga di bangsal lainnya agar nantinya menjadi suatu data yang 95

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 dapat menggambarkan rasionalitas peresepan antibiotika secara keseluruhan dan sebagai bahan evaluasi penggunaan antibiotika yang rasional di rumah sakit ini. 4. Perlunya pengawasan penggunaan antibiotika oleh tenaga medis di rumah sakit yang bersangkutan yang lebih lanjut guna menjaga dan meningkatkan rasionalitas peresepan antibiotika.

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 DAFTAR PUSTAKA Bueno, S.C., Stull T.L., 2009, Antibacterial Agents In Pediatrics. http://d.yimg.com/kq/groups/18310505/144502028/name/Infectious., diakses tanggal 25 April 2013. Depkes R.I., 2002, Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Dirjen PPM & PLP, Jakarta. Depkes R.I., 2005, Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Depkes R.I., Jakarta. Dipiro, J.T., Talbert R.L., Yee G.C., Matzke G.R., Wells B.G., Posey L.M., 2005, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th Edition, The McGrawHill, New York. Dipiro, J.T., Schwinghammer, 2009, Pharmacotherapy Handbook, 7th edition. Dalam: T.L, Wells, B.G., Dipiro, J.T., Schwinghammer, T.L, Dipiro, C.V., editor, McGraw-Hill, New York. Febiana, T., 2012, Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Di Bangsal Anak Rsup Dr. Kariadi Semarang Periode Agustus-Desember 2011, Karya Tulis Ilmiah, 9, Universitas Diponegoro, Semarang. Gyssens I.C., Van der Meers, J.W.M., 2001, Quality of Antimicrobial Drug Prescription in Hospital, Clinical Microbiology Infection, Volume 7, Supplement 6, December 2001. Hadi, U., Deurink, D.O., Lestari, E.N., Nagelkerke, N.J., Werter, S., Keuter, M., et al., 2008, Survey Of Antibiotic Use Of Individual Visiting Public Healthcare Facilities In Indonesia ,https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/13821/03.pdf;jsessi onid=DBED9A1D38747EBF2D64A500F2183E37?sequence=8 Diakses tanggal 25 April 2013. Jozef V. K., Hromadova, R., 2007, Analysis of Antibiotic Utilization in Hospitalized Paedatric Patients. Journal of Chinese Medichine, vol.2, no.9, pp.496-503. Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2011, Drug Information Handbook, 20th Edition, Lexi Comp, America.

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Mansjoer, A., Wardhani, W.I., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2, Penerbit Media Aesculapius FK UI, Jakarta. Nursalam, 2008, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan Ed.2, Penerbit Salemba Medika, Jakarta, hal. 80-81 Pamela, D.S., 2011, Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotika Dengan Metode Gyssens di Ruang Kelas 3 Infeksi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Secara Prospektif, Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta. Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia, 2011, Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Menteri Kesehatan Indonesia, Jakarta. Pelczar, M.J., Chan, E.C.S., 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi, UI Press, Jakarta. Rudolph AM., 2003, Rudolph's Pediatrics, 21st edition, McGraw-Hill, New York. Sastroasmoro, S., Ismael, S., Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis, Edisi 2, Sagung Seto, Jakarta, h. 97 Setiabudy, R., 2012, Pengantar Antimikroba. Dalam: Gunawan, S.G., Setiabudy, R., Nafrialdi, Elysabeth, penyunting, Farmakologi dan Terapi, Edisi kelima, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, h. 585 - 598 Soedarmo, S. S., Garna, H., Hadinegoro, S.R., Satari H.I., 2008, Buku Ajar Infeksi & Pediatrik Tropis.Edisi ke-2. IDAI, Jakarta. Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I K., Setiadi, A.A.P., Kusnandar, 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta. Sutedjo, A.Y., 2012, Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Amara Books, Yogyakarta. Tan, H.T., dan Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya, Edisi VI, Penerbit PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. World Health Organization, 2001, WHO Global Strategy For Containment Of Antimicrobial Resistence, WHO, Switzerland.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 LAMPIRAN

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Lampiran 1. Rekam Medis Kasus 1 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :138319 :30/6/13 (pk 20:34:09) :2/7/13 : APM (L) : 2th , BB : 14,5kg , Suhu: 39,5oC : TSR : Gastroenteritis akut, Kejang demam kompleks : Sakit perut, diare 6x, muntah 1x, demam : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : pk 7.30 sakit perut, diare. Pk 08.00 demam, diare 6x, muntah 1x. sudah minum praxion pk 17.00 dan diazepam puyer pk. 19.50 III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat praxion forte da pct ; 4x3ml - 4x6ml sefotaksim inj. ; 4x300mg gentamicyn inj da sagestan ; 2x35mg Trogyl infus da. Metronidazol ; 3x200mg Lacto B ; 3x1 Resep pulang: Lacto B 3x1 Trogyl syrup 3x1 cth Sefiksim 2x2 mdt Tanggal & Waktu Pemberian 30/6/2013 1/7/2013 2/7/2013 24:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 24:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 24:00 24:00 24:00 8:00 8:00 18:00 18:00 24:00 8:00 8:00 16:00 16:00 24:00 24:00 24:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 V. Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 1/7/2013 Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - kuning hijau Lembek - - +1 - - +1 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 30/6/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 13,8 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 38,9 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 6,34 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 211 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,81 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 56,9 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 37,6 Monosit (%) 3,0 - 12,0 4,7 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,6 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,2 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 3,61 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 2,38 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,30 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,04 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,01 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 2/7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 1-3 0-2 +1 +1 - 0-1 - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Kasus 1 1. Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap. Lolos kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Hasil uji kultur menunjukkan hasil positif adanya infeksi akibat bakteri (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: : Obat ini merupakan salah satu terapi lini pertama GEA dan terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos kategori IVB (Tidak ada antibiotika yang kurang toksik). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos kategori IVC (Tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos kategori IVD (Tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Obat ini merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella , sehingga spesifik untuk penyakit ini (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos kategori IIIA (Penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 1200mg obat sehari. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini dengan berat badan anak 14,5 kg adalah 750 – 2900mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika sefotaksim tepat/bijak (kategori 0) 2. Gentamisin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap) Assessment: data rekam medis lengkap Lolos kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, Dan E. coli (Tan & Rahardja, 2007).

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Kategori IVA Kesimpulan Tidak lolos kategori IVA (ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Bukan merupakan salah satu terapi lini pertama atau kedua GEA ada antibiotika lain yang lebih efektif (kategori IVA). 3. Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri.Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Obat ini merupakan salah satu terapi GEA dan terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Obat ini merupakan terapi lini pertama GEA akibat Clostridium dificile, sehingga spesifik pada penyakit ini (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 600mg obat sehari. Dosis anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari atau dalam kasus ini 435 – 725mg dalam 3 dosis terbagi (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika sefotaksim tepat/bijak (kategori 0)

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Lampiran 2. Rekam Medis Kasus 2 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148126 :29/6/13 (pk 00:44:57) :2/7/13 : SAB (L) : 8bulan , BB : 7kg , Suhu: 38oC : ADL : Febris : demam : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : dalam seminggu demam naik turun, tadi malam muntah 3x, batuk terdengar grok-grok III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Propiretik Lametic inj 3x1 mg sefotaksim inj. 2x300 mg Nebulizer Sanmol drop 3 x 0,8 ml salbuvent ekspektoran Sporetic Syrup 2x1ml Resep pulang: sporetik 2x 1,2 ml Rofilas 2 x 1,2 ml Salbuvent 3 x 1 ml Sanmol 3 x 0,8 u/p Tanggal & Waktu Pemberian 29/6/13 30/6/2013 1/7/2013 2/7/2013 6:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 11:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 18:00 18:00 6:00 8:00 17:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 11:00 11:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 11:00 11:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 18:00

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 V. VI. Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Tgl Pemeriksaan - Keterangan Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 29/6/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 9,7 29,4 10,43 210 3,80 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 63,0 33,4 2,0 1,2 0,4 6,57 3,48 0,21 0,13 0,04

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Kasus 2 1. Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Tidak lolos Kategori V (Tidak ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Bukan merupakan penyakit yang memerlukan terapi antibiotika. Penatalaksanaan febris sendiri tidak memerlukan antibiotika (IDI, 1998). Tidak ditemukan adanya indikasi infeksi bakteri baik dari uji leukosit maupun hasil kultur. Jumlah leukosit pasien diketahui 10,430/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Menurut Sutedjo (2012), penurunan nilai leukosit mengindikasikan inveksi virus, bukan oleh bakteri. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 63%, masih dalam nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Tidak ditemukan kenaikan jumlah leukosit ataupun jumlah neutrofil yang menunjukkan tidak adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri Penggunaan antibiotika tanpa indikasi (kategori V) 2. Sefiksim Kategori Gyssen Kategori VI Kategori V Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Tidak lolos Kategori V (Tidak ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Bukan merupakan penyakit yang memerlukan terapi antibiotika. Penatalaksanaan febris sendiri tidak memerlukan antibiotika (IDI, 1998). Tidak ditemukan adanya indikasi infeksi bakteri baik dari uji leukosit maupun hasil kultur. Jumlah leukosit pasien diketahui 10,430/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Menurut Sutedjo (2012), penurunan nilai leukosit mengindikasikan inveksi virus, bukan oleh bakteri. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 63%, masih dalam nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Tidak ditemukan kenaikan jumlah leukosit ataupun jumlah neutrofil yang menunjukkan tidak adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri Penggunaan antibiotika tanpa indikasi (kategori V)

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Lampiran 3. Rekam Medis Kasus 3 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :111580 :30/6/13(pk21:00:00) :2/7/13 : DAA (P) : 3th , BB : 24kg , Suhu: 39,4oC : ADL : Gastroenteritis akut dengan febris tinggi, hipertermi : demam, muntah, diare : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : anak mengalami demam, muntah, diare sampai 5x, sudah minum sanmol III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat antracin inj. 250mg (bila suhu diatas 39°C sefotaksim inj. 3x500 mg sanmol syrup 3x1 lacto B 3x1 Obat pulang: sporetik 2 x 5 cth Curmonas syrup 2 x 1 cth Sanmol syr 2 x 10ml Tanggal & Waktu Pemberian 30/6/13 1/7/2013 2/7/2013 21:00 5:00 9:00 16:00 0:00 9:00 13:00 20:00 9:00 13:00 20:00 6:00 16:00 24:00 6:00

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 V. Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 1 /7/2013 Feces Makroskopis kuning coklat Warna Coklat Konsistensi Lunak Lunak Darah Lendir Mikroskopis Lekosit +1 Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 30/6/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 13,9 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 40,6 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 16,91 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 239 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 8,9 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 72,2 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 24,3 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,3 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,4 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,3 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 12,29 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 4,10 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,40 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,07 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,05 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 2 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 1-3 0-1 +1 +1 - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Kasus 3 1. Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Selain itu didukung dari jumlah leukosit yang melebihi nilai normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 16.910/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Kemudian ditegaskan dengan persentase neutrofil pasien yaitu 72,2% yang berada di atas jumlah normal yaitu 50% sampau 70%, yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Obat ini merupakan salah satu terapi lini pertama GEA dan terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan sefotaksim karena merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat infeksi Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama yaitu selama 2 hari, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 1500 mg/hari. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini disarankan 1200 – 4800mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: , interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Lampiran 4. Rekam Medis Kasus 4 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :132313 :28/6/13 (pk 20:00:00) :2/7/13 : AAP (L) : 2th , BB : 10kg , Suhu: 36oC : TSR : Demam Tiphoid : Panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : pasien mangalami badan panas, pilek, dan hipertermi akibat peningkatan tingkat metabolism akibat infeksi usus III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat amoxsan inj 3x125mg lacto B 3x1 praxion forte 3-4 x 2ml Propiretic 160mg (3/4 tube) Obat pulang ; Praxion F 4 x2 ml Lacto B 3 x 1 Amoxan 3 x ¾ cth Tanggal & Waktu Pemberian 28/6/13 29/6/2013 30/6/2013 1/7/2013 20:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 16:00 0:00 0:00 0:00 20:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 18:00 18:00 20:00 11:00 11:00 18:00 18:00 0:00 24:00 14:00

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 28/6/2013 Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 1–2 Eritrosit 0–1 0-1 Epithel +1 +1 Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain VI. Pemeriksaan Lab. Widal Salmonella Paratyphi AH Salmonella Paratyphi AO Salmonella Paratyphi BH Salmonella Paratyphi BO Salmonella Typhi H Salmonella Typhi O Salmonella Paratyphi CH Salmonella Paratyphi CO Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 28/6/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 14,0 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 41,0 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 14,66 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 256 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 5,34 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 61,9 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 28,7 Monosit (%) 3,0 - 12,0 8,3 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,6 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,5 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 9,08 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 4,20 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 1,21 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,09 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,08 Rujukan Tanggal 28/6/2013 - 1/80 1/160 1/80 -

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam typhoid merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, dan hal itu dipertegas dari hasil uji kultur pasien yang positif terinfeksi Salmonella (Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Obat ini cukup efektif terhadap infeksi salmonella, ditunjukkan oleh kondisi pasien yang membaik / sembuh (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: amoksisilin sendiri diketahui memiliki efektivitas yang tinggi terhadap Salmonella sehingga spesifik untuk penyakit ini (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Durasi penggunaan amoksisilin untuk terapi anaerob adalah 7 sampai 10 hari. Pada kasus ini waktu penggunaannya selama rawat inap adalah 4 hari, kemudian pasien dinyatakan pulang dan terapi tetap dilanjutkan selama rawat jalan, sehingga tidak terlalu lama (Lacy, et al., 2011) Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat. Lama terapi dengan amoksisilin adalah 7 sampai 10 hari. Tetapi pasien dinyatakan bias pulang pada hari ke 5 dan terapi dilanjutkan dalam rawat jalan (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan dosis 425mg/hari, sesuai kisaran dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 – 50mg/kgBB/hari atau 200 – 500mg dalam 2 -3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011) Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: obat diberikan setiap 8 jam, sesuai dengan interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011) Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Lampiran 5. Rekam Medis Kasus 5 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya II. : RP (L) : 10th , BB : 25kg , Suhu: : BS : Tonsilisitis grade 3 : ketika menelan terasa sakit : Pribadi Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Amoksisilin 3x300mg mefenamic acid 1x1 Kliran injeksi V. Tgl - - Tanggal & Waktu Pemberian 2/7/2013 3/7/2013 20:00 4:00 12:00 20:00 8:00 8:00 24:00 Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Pemeriksaan - Keterangan - :148206 :1/7/13 (pk 14:45:38) :3/7/13

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 1/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 11,3 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 34,8 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 8,23 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 300 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,58 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 46,3 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 47,3 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,9 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 2,9 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,6 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 3,81 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 6,20 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,24 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,24 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,05 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Kasus 5 Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Tidak Lolos Kategori V (Tidak ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Tidak adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Tonsilisitis disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus yang kerap menyebabkan infeksi di jaringan kulit atau jaringan lunak. Tidak ditemukan indikasi infeksi bakteri, baik dari hasil uji leukosit maupun hasil kultur. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi pasien yang dalam jumlah normal, sehingga tidak ditemukan adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Jumlah leukosit pasien diketahui 8,230/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 46,3%, dibawah dari nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Penurunan nilai neutrofil mengindikasikan inveksi virus, bukan oleh bakteri (Sukandar, dkk., 2008; Sutedjo, 2012). Penggunaan antibiotika tanpa indikasi (kategori V)

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Lampiran 6. Rekam Medis Kasus 6 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :146730 :2/7/13 (pk 12:04:00) :4/7/13 : BAP (P) : 1th , BB : 9,2kg , Suhu: 36,2oC : NW : Obs. Vomitus, susp. ISK : Muntah-muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : sejak 2 hari muntah-muntah lebih dari 10x, mencret 2x, sulit buang air besar III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat lametic inj. 3x1,5 mg sefotaksim inj. 3x250mg sanmol drop 3x0,9 ml Lacto B 2x1 Tanggal & Waktu Pemberian 2/7/2013 3/7/2013 4/7/2013 11:30 19:00 11:30 19:00 12:00 19:00 13:00 19:00 sporetic syrup 2x1/2 cth neukalona syrup 3x1/2 cth Obat Pulang: Sanmol drop 3 x 0.9 ml Lacto B 2 x 1 Sporetic 2 x ½ cth Neo kaolara syr. 3 x ½ cth 8:00 16:00 0:00 6:00 11:00 18:00 6:00 18:00 8:00 16:00 19:00 19:00 19:00 6:00 6:00 6:00

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 V. Pemerikasaan dan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 2/7/2013 Feces Makroskopis kuning coklat Warna Kuning Konsistensi Lunak Lembek Darah Lendir Mikroskopis Lekosit +1 Eritrosit +1 Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak +1 Amilum Serat Tumbuhan Jamur - VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 2/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,3 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 35,7 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 10,23 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 301 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,25 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 68,4 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 27,5 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,9 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,5 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,7 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 7,0 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 2,81 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,30 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,05 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,07 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 2/7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 0-1 0-2 +1 - - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Vomitus atau muntah tidak selalu disebabkan oleh bakteri (biasanya pada vomitus disertai diare cair akut), tetapi juga dapat disebabkan oleh berbagai sebab diantaranya adalah intoleransi terhadap makanan, reaksi terhadap obat, atau virus. Vomitus atau muntah-muntah yang disertai gangguan gastrointestinal dapat disebabkan oleh bakteri (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dari hasil uji mikrobiologi terdapat leukosit pada feses pasien sehingga mengindikasikan adanya infeksi bankteri. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan sefotaksim karena merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat infeksi Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama yaitu selama 2 hari, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 750 mg/hari. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini disarankan 460 – 1480 mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: , interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 2. Sefiksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Vomitus atau muntah tidak selalu disebabkan oleh bakteri (biasanya pada vomitus disertai diare cair akut), tetapi juga dapat disebabkan oleh berbagai sebab diantaranya adalah intoleransi terhadap makanan, reaksi terhadap obat, atau virus. Vomitus atau muntah-muntah yang disertai gangguan gastrointestinal dapat disebabkan oleh bakteri (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dari hasil uji mikrobiologi terdapat leukosit pada feses pasien sehingga mengindikasikan

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB adanya infeksi bankteri. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Antibiotika ini cukup efektif untuk terapi empiris, terbukti kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Sefiksim merupakan salah satu antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Untuk sefiksim, durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien diberikan terapi selama 2 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Diketahu kondisi pasien berangsur membaik, sehingga penggunaan sefiksim terus diberikan. Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat. Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan obat dengan dosis 2 x 5cc setiap harinya. Diketahui setiap 5cc sirup mengandung 100mg sefiksim. Hal ini sesuai dengan dosis untuk anak yaitu 200mg dengan dosis terbagi setiap 6 – 12 jam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Tidak Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tidak tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 - 12 jam dalam sehari, sedangkan pasien hanya diberikan setiap 24 jam atau satu kali dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008).

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Lampiran 7. Rekam Medis Kasus 7 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya : ASA (L) : 9 bulan , BB : 12kg , Suhu: 37,1oC : EB : Obs. Proteinuria dan hematuria, susp. Syndrome nefrotik : sakit saat kencing, air kencing keruh : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : sakit saat kencing, air kencing keruh III. Tujuan Keluar : Obat Jalan IV. Pengobatan Obat amoxan inj. 3x200mg trogyl iv 3x200mg Obat pulang; Amoxsan syrup : 3 x 4ml Trogyl syrup :3x1 :148265 :27/6/13 (pk 21:30:00) :5/7/13 Tanggal & Waktu Pemberian 2/7/2013 3/7/2013 4/7/2013 5/7/2013 21:30:00 8:00 8:00 16:00 16:00 0:00 24:00 13:00 8:00 21:00 16:00 0:00

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 V. Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 3/7/2013 Feces Makroskopis kuning Warna Hijau coklat Konsistensi Lunak Kental Darah Lendir Mikroskopis Lekosit +1 Eritrosit +1 Telur cacing Amoeba Histolitica + Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur - VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 2/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,2 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 38,3 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 16,38 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 527 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,9 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 49,0 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 45,9 Monosit (%) 3,0 - 12,0 6,3 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,5 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,3 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 8,28 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 7,38 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 1,07 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,18 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,05 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 4 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 7-12 2-5 +1 +1 - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: pasien mengalami infeksi pada saluran kencingnya dan dipertegas dengan hasil uji lab ang menunjukan kadar leukosit yang tinggi disertai adanya hasil positif pada uji kultur bakteri yang mengindikasikan penyakit akibat infeksi bakteri. Selain itu jumlah leukosit pasien diketahui 16.380/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Menurut Sutedjo (2012), kenaikan kadar leukosit melenihi normal menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Amoksisilin merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: terapi dilakukan selama 3 hari yaitu tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: Pasien diberikan 600mg obat/hari sesuai dengan kisaran dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 – 50mg/kgBB/hari atau bila disesuaikan dengan berat badan pasien yaitu 240 – 600mg obat dalam 2 – 3 dosis terbagi/hari (Lacy, et al., 2011) Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 8 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011) Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 2. Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: pasien mengalami infeksi pada saluran kencingnya dan dipertegas dengan hasil uji lab ang menunjukan kadar leukosit yang tinggi disertai adanya hasil positif pada uji kultur bakteri yang mengindikasikan penyakit akibat infeksi bakteri. Selain itu jumlah leukosit pasien diketahui

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan 16.380/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Menurut Sutedjo (2012), kenaikan kadar leukosit melenihi normal menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: metronidazol merupakan terapi untuk amoebiasis dan cukup efektif bagi pasien, dilihat dari kondisi pasien juga membaik / sembuh (Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan metronidazol karena terdapat amoeba pada hasil lab, sehingga obat ini cukup spesifik dengan kebutuhan terapi pasien (Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: Pasien diberikan 600mg obat/hari, sesuai dosis yang diasarankan. Dosis anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari atau bila disesuaikan dengan berat badan pasien yaitu 360 – 600mg obat dalam 3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 8 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Lampiran 8. Rekam Medis Kasus 8 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148183 :27/6/13 (pk 22:31:15) :5/7/13 : MSDM (L) : 5 th , BB : 17kg , Suhu: 38oC : TSR : gastritis akut; vomitus frekuen dehidrasi sedang; bronchitis : mual, muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : panas 5 hari, mual, muntah, sudah diberikan obat tapi tidak ada perubahan. Diberian pct + domperidon, muntah III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat 30/6/2013 ondansetron inj. 3x2mg 22:30 sefotaksim inj. 3x500mg 22:45 sanmol da pct 3x1,5 cth 22:50 Lacto B 2x1 Propiretic 6:00 18:00 0:30 FG troches 2x1 tab Amlocort 3x1/2 cth inj. Norages (bila suhu >39°C) 120 mg Obat pulang : rehadoxin 170mg Cetrizine 1/3 Curmonas 1 x 1 Teeptasan 1/3 Tanggal & Waktu Pemberian 1/7/2013 2/7/2013 3/7/2013 4/7/2013 6:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 11:00 11:00 17:00 17:00 17:00 17:00 8:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 16:00 16:00 18:00 0:00 0:00 0:00 6:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 11:00 11:00 17:00 17:00 17:00 17:00 5:00 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 18:00 19:30 6:00 6:00 18:00 18:00 19:30 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 19:00 5/7/2013 6:00 8:00 6:00 6:00 6:00 6:00

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 V. Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 2 /7/2013 Feces Makroskopis kuning coklat Warna Coklat Konsistensi Lunak agak keras Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica + Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 30/6/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 11,9 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 33,8 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 26,24 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 304 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,07 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 91,7 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 4,0 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,5 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 1,7 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,1 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 24,05 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 1,03 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,66 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,45 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,05 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 1 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0-6 0-1 +1 - 1-2 0-1 +1 - - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gastritis akut merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri H. pylori. Bronchitis merupakan suatu infeksi saluran pernapasan akibat virus, bakteri, atau mikroorganisme yang menyerupai bakteri. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi jumlah normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 26,240/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 91,7%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70%. Peningkatan kadar leukosit mengindikasikan adanya infeksi akut yang dialami pasien, sehingga diperlukan terapi antibiotika. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim atau lemah karena pasien sudah diterapi antibiotika terlebih dahulu sebelum uji kultur dilakukan, sehingga bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: sefotaksim merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan cukup efektif bagi pasien, dilihat dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Obat ini merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat, sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris kemudian harus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi pasien. Diketahui kondisi pasien membaik dan terapi tetap dilanjutkan sampai 5 hari . Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat, sudah sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris kemudian harus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi pasien. Diketahui kondisi pasien membaik dan terapi tetap dilanjutkan sampai 5 hari . Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 1500mg obat sehari, sesuai dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini 850 – 3400 mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment:pasien diberikan obat setiap 8 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: Termasuk pemberian antibiotika secara rasional

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 Kesimpulan Penggunaan antibiotika sefotaksim tepat/bijak (kategori 0) 2. Fradiomycin-Gramicidin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gastritis akut merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri H. pylori. Bronchitis merupakan suatu infeksi saluran pernapasan akibat virus, bakteri, atau mikroorganisme yang menyerupai bakteri. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi jumlah normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 26,240/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 91,7%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70%. Peningkatan kadar leukosit mengindikasikan adanya infeksi akut yang dialami pasien, sehingga diperlukan terapi antibiotika. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim atau lemah karena pasien sudah diterapi antibiotika terlebih dahulu sebelum uji kultur dilakukan, sehingga bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Antibiotika ini cukup efektif dilihat dari kondisi pasien yang membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Obat ini merupakan antibiotika dengan indikasi infeksi saluran pernapasan seperti bronchitis yang dialami pasien (Wells, et al., 2009) Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Tidak Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tidak tepat dosis). Assesment: Pada penggunaan fradiomisin-gramisidin pasien diberikan 2 tablet dalam sehari, sedangkan dosis yang tertera pada petunjuk penggunaan untuk anak adalah 4-5 tablet sehari. Penggunaan antibiotika tidak tepat dosis (kategori IIA)

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 Lampiran 9. Rekam Medis Kasus 9 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya : SL (L) : 4 th , BB : 16kg , Suhu: 36oC : EB : Gastroenteritis akut : mual, muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : pasien mual, muntah III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat lametic inj 0,6mg amoxsan inj 3x250mg tempra syrup 60ml 3x1cth L. Bio 3x1 Tanggal & Waktu Pemberian 2/7/2013 3/7/2013 4/7/2013 5/7/2013 6/7/2013 8:00 8:00 16:00 0:00 8:00 11:00 18:00 8:00 16:00 0:00 8:00 11:00 18:00 8:00 16:00 0:00 8:00 11:00 18:00 8:00 11:00 18:00 8:00 11:00 18:00 8:00 11:00 18:00 Trogyl infus 3x250 Obat Pulang: :102540 :2/7/13 (pk 00:56:07) :6/7/13 16:00 0:00 Lacto B 3 x 1 Trogyl 3 x 1 cth 6:00 11:00 18:00 23:00 6:00 11:00 18:00 8:00 16:00 24:00 6:00 6:00 11:00 18:00 8:00

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 4 /7/2013 Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - Kuning Lembek - - +1 - - +2 +1 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 2/7/2013 4/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 12,6 36,5 3,10 116 4,44 13,3 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 65,0 31,1 1,9 1,3 0,7 2,02 0,96 0,06 0,04 56,8 36,5 3,3 2,4 1,0 1,93 1,25 0,11 0,08 0,03 0,02 37,9 3,40 197 4,68

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli (Tan & Rahardja, 2007) Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Amoksisilin cukup efektif diberikan untuk terapi empiris. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan amoksisilin karena amoksisilin merupakan antibiotika dengan spectrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 750 mg dosis amoksisilin sehari, sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 -50 mg/kgBB atau dalam kasus ini 320 – 800mg dalam 2 – 3 pembagian dosis/hari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 8 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 2. Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Obat ini merupakan salah satu terapi GEA dan terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Obat ini merupakan terapi lini pertama GEA akibat Clostridium dificile, sehingga spesifik pada penyakit ini (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 750mg obat sehari. Dosis anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari atau dalam kasus ini 480 – 800 mg dalam 3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika sefotaksim tepat/bijak (kategori 0)

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Lampiran 10. Rekam Medis Kasus 10 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148352 :5/7/13 (pk 22:40:31) :7/7/13 : WA (L) : 3th , BB : 12kg , Suhu: 38oC : ADL : ISPA dengan vomitus : demam, batuk : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : sejak kemarin mengalami demam, batuk, pilek, muntah-muntah, obat tidak dapat masuk, tidak mau makan-minum III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat propiretik 160 mg 3/4 tube inj. D 4% + WFI 12ml + 12ml iv Sefotaksim inj. 2 x 500mg injeksi lametic 3 x 1,5mg Sanmol 3 x 500mg Obat pulang V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tgl Pemeriksaan - Tanggal & Waktu Pemberian 5/7/2013 6/7/2013 23:00 23:15 0:15 18:00 6:00 16:00 6:00 12:00 18:00 : Rhenasistin F 2 x 5cc Curvit 1 x 1 cth Sanmol 3 x 500 Keterangan - 6:00 6:00 12:00

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 57/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 11,2 33,9 6,03 363 4,50 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 74,3 16,9 7,6 0,4 0,8 4,48 1,02 0,46 0,02 0,05

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 VII.Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ISPA dapat disebabkan oleh bakteri. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium. Tetapi hasil dari uji hematologi, kadar leukosit masih dalam batas normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 6,030/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 74,3%, diatas nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Hal ini meunjukkan indikasi infeksi bakteri (Sutedjo, 2012). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: sefotaksim merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan cukup efektif bagi pasien, dilihat dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Obat ini merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Durasi penggunaannya tidak terlalu lama. Sesuai aturan Kemenkes (2011), yaitu 48 sampai 72 jam untuk terapi empiris kemudian harus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi pasien. Diketahui kondisi pasien membaik dan terapi tetap dilanjutkan sampai 5 hari . Tidak Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika terlalu singkat). Assesment: Durasi penggunaannya terlalu singkat, pasien hanya diberikan terapi selama 1 hari

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Lampiran 11. Rekam Medis Kasus 11 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148383 :5/7/13 (pk 24:40:31) :8/7/13 : IAS (L) : 1th , BB : 10kg , Suhu: 36,4oC : ADL : Gastroenteritis Akut : muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : sore ini muntah sampai 4x setelah makan kacang rebus III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat lametic inj. 3 x 1,5mg Sefotaksim 2 x 500mg Lacto B 2x1 Rantin Inj. 2 x 1/4 ampul Primpsan inj antrazan inj. Obat Pulang: propiretic suppo 120mg sanmol 3 x 500mg Fixiphar 2 x 1 Ranival 2 x ½ cth Lacto B 2 x 1 bks Narfoz 2 x1 cth Tanggal & Waktu Pemberian 6/7/2013 7/7/2013 8/7/2013 23:42 6:00 11:00 17:00 0:50 6:00 6:00 18:00 18:00 13:00 6:00 18:00 18:00 13:00 6:00 6:00 0:00 18:00 9:30 11:30 18:00 22:30 5:30 12:00

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan 6 /7/2013 (pk 10.07) Tanggal 6 /7/2013 (pk 18.12) Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - coklat muda Kental - coklat kental - - +1 - +1 - - +2 +1 - +1 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 5/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 12,9 38,1 19,96 370 4,59 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 68,6 26,6 2,7 1,8 0,3 13,69 5,30 0,55 0,36 0,06

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit pasien yang diketahui 19,960/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Hal ini menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Obat ini merupakan salah satu terapi lini pertama GEA dan terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan sefotaksim karena merupakan terapi lini pertama GEA dan spesifik untuk penyakit ini khususnya akibat infeksi Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama yaitu selama 3 hari, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis yang diberikan pada pasien ini 1000mg/hari. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini disarankan 500- 2000mg sesuai berat badan pasien dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 Lampiran 12. Rekam Medis Kasus 12 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148371 :5/7/13 (pk 12:27:17) :8/7/13 : AH (L) : 10 bulan , BB : 7,5 kg , Suhu: 38oC : TSR : Gastroenteritis Akut dengan dehidrasi : diare : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : diare 1 minggu, dalam sehari BAB bias sampai 15x, encer ampas, muntah 2x III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Sefotaksim 2 x 300mg Tanggal & Waktu Pemberian 5/7/2013 6/7/2013 7/7/2013 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 sanmol drop 3 x 0,8ml 13:00 18:00 Lacto B 3x150cc 18:00 Orezink 3x1 sacc 18:00 Sequest 3 x 1/2 bks 18:00 Obat Pulang: Cotrimoxasol 2 x ½ cth Sanmol 3 x 0.8 ml Lacto B 3 x 1 bks Orezink 1 x 1 bks Squest 3 x 1/5 bks 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 8/7/2013 6.00 6:00 6:00 6:00 6:00

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 5 /7/2013 Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - Kuning Encer - - +1 - - +2 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 5/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 11,9 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 36,5 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 13,31 Trombosit (10³/uL) 150 - 450 492 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,57 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 65,3 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 32,9 Monosit (%) 3,0 - 12,0 1,1 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,1 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,6 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 8,69 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 4,37 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,16 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,01 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,08 Pemeriksaan Lab. Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain Rujukan Tanggal 5 /7/2013 - - - - 0–6 0–1 +1 - 2–4 0–1 +1 +1 - -

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi jumlah normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 13,310/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien dan hasil kultur yang positif mengindikasikan adanya infeksi akibat bakteri (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut. Dalam kasus ini, peresepan sefotaksim terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan sefotaksim karena merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama yaitu selama 3 hari, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis yang diberikan pada pasien ini 600mg/hari sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini sesuai berat badan pasien 7,5 kg disarankan 375 – 1500mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: sudah sesuai dengan interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Lampiran 13. Rekam Medis Kasus 13 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148164 :30/6/13 (pk 10:54:28) :6/7/13 : NNF (P) : 9th , BB : 24kg , Suhu: 36oC : AW : Hematuri, Albuminuria, OG Colic abdomen : kencing terasa sakit : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : pasien sesak di sore hari, bila kencing terasa sakit, perut terasa sakit mulai pagi, tidak ada riwayat jatuh. BAK berwarna seperti teh, ada batuk pilek selama 3 hari III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Trolac inj 0,5cc amoxsan forte syrup 3x1cth sporetic syrup 2x5cc Urispas 2x1/2 tab Biscopan plus 3 x 1/2 tab 30/6/2013 15:00 k/pprofemid suppo 1/2 tube Obat Pulang: 1/7/2013 Tanggal & Waktu Pemberian 2/7/2013 3/7/2013 4/7/2013 5/7/2013 6/7/2013 6:00 18:00 6:00 18:00 14:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 18:00 6:00 17:00 6:00 12:00 17:00 1:00 6:00 18:00 6:00 17:00 6:00 12:00 17:00 Cefotaxin 250mg 2 x 1 bks Elkana syr 2 x 1cth 6:00 18:00 6:00 17:00 6:00 12:00 17:00 9:00 6:00 18:00 6:00 18:00 6:00 12:00 18:00

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain VI. Tanggal 30 /6/2013 3 /7/2013 - +1 - - 0–6 0–1 +1 - 1–2 >100 +1 - 3–8 12 – 16 +1 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 30/6/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 14,2 41,6 12,92 252 4,90 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 90,0 7,5 1,1 1,1 0,3 11,63 0,96 0,14 0,15 0,04

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: pasien mengalami infeksi pada saluran kencingnya dan dipertegas dengan hasil uji hematologi yang menunjukan tingginya kadar leukosit dan neutrophil. Jumlah leukosit pasien diketahui 12.920/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase neutrofil pasien juga mencapai 90%, diatas dari jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hal ini menandakan adanya infeksi akut pada pasien. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim atau dalam keadaan lemah dan bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Antibiotika ini cukup efektif untuk terapi empiris, terbukti kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Amoksisilin merupakan antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika terlalu singkat, yaitu hanya diberikan sekali kemudian pemberian dihentikan tanpa keterangan yang jelas. Hal ini tidak sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Penggunaan antibiotika terlalu singkat (kategori IIIB) 2. Sefiksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: pasien mengalami infeksi pada saluran kencingnya dan dipertegas dengan hasil uji hematologi yang menunjukan tingginya kadar leukosit dan neutrophil. Jumlah leukosit pasien diketahui 12.920/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase neutrofil pasien juga mencapai 90%, diatas dari jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hal ini menandakan adanya infeksi akut pada pasien. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim atau dalam keadaan lemah dan bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Antibiotika ini cukup efektif untuk terapi empiris, terbukti kondisi pasien membaik / sembuh

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Sefiksim merupakan salah satu antibiotika dengan spektrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Untuk sefiksim, durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien diberikan terapi selama 3 hari. Sesuai aturan Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika dalam terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam, kemudian harus dievaluasi dengan kondisi pasien. Diketahu kondisi pasien berangsur membaik, sehingga penggunaan sefiksim terus diberikan. Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat. Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan obat dengan dosis 2 x 5cc setiap harinya. Diketahui setiap 5cc sirup mengandung 100mg sefiksim. Hal ini sesuai dengan dosis untuk anak yaitu 200mg dengan dosis terbagi setiap 6 – 12 jam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 - 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: rute pemberian tepat, pasien masih dapat menerima obat melalui oral. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 Lampiran 14. Rekam Medis Kasus 14 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya : GN (P) : 3 th , BB : 11kg , Suhu: 37oC : YM : febris, candidiasis : demam, diare : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : demam sudah 3 hari, mengalami diare 3x III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Orezink 2x1sacc Lacto B 2x1sacc Paracetamol syrup 3x1cth Candistin 4x1cc Phenitoin inj 2x30mg Obat Pulang; :116749 :8/7/13 (pk 9:12:01) :10/7/13 Tanggal & Waktu Pemberian 8/7/2013 9/7/2013 10/7/2013 13:00 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 13:00 6:00 6:00 18:00 17:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 0:00 0:00 0:00 8:00 (tdk mau) 10:00 0:00 10:00 Bolus D 10% 55cc Lacto B 2 x 1 Candistin 4 x 1 cc Orezink 2 x 1 sacc Paracetamol syr 3 x 1 cth

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 V. Tgl Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan - VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium - Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Keterangan Rujukan Tanggal 8/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 12,5 35,5 16,59 351 4,46 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 69,9 20,8 8,3 0,5 0,5 11,60 3,45 1,37 0,08 0,09

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Kasus 14 Nistatin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: candidiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur, yaitu Candida albicans dan didukung dari hasil uji hematoogi yang menunjukkan tingginya Jumlah leukosit pasien yang diketahui berjumlah 16,590/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hal ini sebagai indikasi adanya infeksi akut yang dialami pasien. (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Antibiotika ini cukup efektif untuk terapi empiris, terbukti kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Nistatin merupakan antibiotika antifungal yang memang digunakan untuk terapi pada penderita candidiasis (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVD (penggunaan antibiotikatidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama yaitu selama 3 hari, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis sesuai yang dianjurkan yaitu 4 x 1-2 mL (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment:pasien diberikan obat setiap 6 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011) Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: rute tepat. Kondisi pasien memungkinkan diberikan secara oral. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 Lampiran 15. Rekam Medis Kasus 15 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :145259 :11/7/13 (pk 18:49:40) :13/7/13 : GEP (L) : 1,10 th , BB : 12kg , Suhu: 38oC :: gastritis : mual, muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : panas 5 hari, mual, muntah, sudah diberikan obat tapi tidak ada perubahan. Diberian pct + domperidon, muntah III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Kliran 3x1mg Propiretic 120mg Viccillin 3x500mg iv Sanmol Syrup 3x1cth Obat Pulang: Elkana 1 x 1cth Sanmol 3 x 1 cth Fixiphar 2 x 3mg Tanggal & Waktu Pemberian 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 19:50 6:00 6:00 18:00 18:00 (stop) 19:00 21:00 20:00 8:00 8:00 16:00 16:00 0:00 24:00 6:00 6:00 11:00 11:00 17:00 17:00

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain VI. Rujukan Tanggal 12 /7/2013 - - 0–6 0–1 +1 - 0–1 0–2 +1 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 11/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 11,3 33,5 14,63 259 4,15 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 27,7 61,4 9,8 0,5 0,6 4,05 8,97 1,45 0,07 0,09

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Ampisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Gastritis akut merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri H. pylori. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit pasien yang diketahui 14,630/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL.. Hal ini menandakan adanya infeksi akut pada pasien. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim atau dalam keadaan lemah karena pasien sudah diberikan antibiotika terlebih dahulu sebelum dilakukannya uji kultur, dan bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Tidak lolos Kategori IVA (ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Untuk penyakit pencernaan seperti gastritis, digunakan antibiotika berupa clarithromisin dengan amoksisilin. Ampisilin diketahui mempunya efek samping, salah satunya gastritis (Lacy, et al., 2011; Tan & Rahardja, 2007) Ada antibiotika yang lebih efektif (kategori IVA)

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 Lampiran 16. Rekam Medis Kasus 16 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148488 :9/7/13 (pk 11:08:16) :13/7/13 : AUI (L) : 8 bulan , BB : 8kg , Suhu: 37oC :: Febris : panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 1/7 panas, 4/7 panas reda, 7/7 panas, diare, BAB seperti bubur, bau busuk bintik-bintik di kulit, 8/7 diare, panas III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Praxion drop 3x0,8cc Lacto B 2x1 Amoxsan Inj. 3x125mg Asiklovir 4x80mg Viridis da Isprinol 3x1,5mg Lacto B 3x1sacc Ondansetron k/p : 1,25mg Obat pulang: 9/7/2013 18:00 18:00 20:00 Tanggal & Waktu Pemberian 10/7/2013 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 6:00 18:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 24:00 24:00 20:30 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 0:00 0:00 20:30 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 Amoxsan 3 x 1ml Aciclovir 4 x 80mg Viridis 3 x 1.5ml Praxion drop 3 x 0.8ml Lacto B 1 x 1 sacc

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 10 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin Trace Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 2-3 Eritrosit 0–1 0-1 Epithel +1 +2 Bakteri +1 Selinder Kristal Jamur Lain- Lain VI. Pemeriksaan Lab. Rujukan Widal Salmonella Paratyphi AH Salmonella Paratyphi AO Salmonella Paratyphi BH Salmonella Paratyphi BO Salmonella Typhi H Salmonella Typhi O Salmonella Paratyphi CH Salmonella Paratyphi CO Tanggal 9 /7/2013 - 1/160 - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 9/7/2013 10/7/2013 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 11,5 34,6 6,87 38 463 11,4 33,9 8,76 35 4,45 12,5 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 29,2 68,9 1,4 0,1 0,4 2,01 4,73 0,10 0,08 32,4 63,9 3,1 0,2 0,4 2,4 5,60 0,26 0,02 29,0 66,3 0,7 3,5 0,5 2,31 5,27 0,05 0,28 0,03 0,04 0,04 38,0 7,95 62 4,89 10,2 30,7 6,57 83 4,06 10,7 32,6 6,38 163 4,27 26,3 68,7 2,9 1,7 0,4 1,73 4,52 0,19 0,11 0,02 24,5 73,1 0,5 1,6 0,3 1,56 4,67 0,03 0,10 0,02

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Dalam penatalaksanaannya menurut IDI (1998), febris tidak memerlukan terapi antibiotika karena penyebab demam bukan hanya akibat infeksi bakteri, tetapi juga dapat disebabkan oleh virus atau merupakan gejala dari beberapa jenis penyakit lain, namun hasil kultur menunjukkan adanya infeksi bakteri Salmonella pada hasil uji laboratorium. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment:Amoksisilin terbukti efektik untuk infeksi Salmonella dan itu dibuktikan dari kondisi pasien yang membaik / sembuh (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Amoksisilin merupakan salah satu antibiotika yang memilini efektivitas tinggi infeksi Salmonella, sehingga spesifik terhadap infeksi yang dialami pasien (Tan & Rahardja, 2007) Lolos Kategori IVD (penggunaan antibiotikatidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama. Lama terapi dengan amoksisilin adalah maksimal sampai 10 hari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat. Lama terapi dengan amoksisilin adalah 7 sampai 10 hari (Lacy, et al., 2011). Namun, setelah hari ke 5, pasien dinyatakan membaik dan dipersilahkan pulang dan terapi dilanjutkan saat rawat jalan. Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: Dosis yang diberikan pada pasien 375 mg/hari sudah sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 – 50mg/kgBB/hari atau 160 – 400mg sesuai dengan perhitungan berat badan pasien dan diberikan dalam 2 – 3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment:pasien diberikan obat setiap 8 jam, sudah sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: rute pemberian tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 Lampiran 17. Rekam Medis Kasus 17 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148517 :10/7/13 (pk 12:51:15) :13/7/13 : FN (L) : 3th , BB : 13kg , Suhu: 36oC :L : vomitus, dehidrasi sedang : lemas, mual, muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : anak tampak lemah, mual, muntah berulang, BAB terhair tgl 9/7, tidak panas, tidak ada riwayat penyakit sebelumnya III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Pronalges suppo 50mg Narfoz 2mg k/p 3x5 Amoxsan Inj. 3x250mg sanmol syrup 3x1 cth Tanggal & Waktu Pemberian 10/7/2013 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 13:00 6:00 18:00 8:00 16:00 0:00 20:30 Lacto B 3x1 sachet 20:30 Ranitidine 2x1,3 mg Obat Pulang: 20:30 8:00 16:00 24:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 12:00 18:00 Ranivil 2 x 1.5 ml Amoxsan F 3 x 1 cth Lacto B 3 x 1 Narfoz 3 x ½ cth k/p Sanmol 3 x 1 sacc (Bila panas) 8:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 12:00 18:00 6:00 6:00 6:00

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 11 /7/2013 - - 0–6 0–1 +1 - 1–3 0–1 +1 - Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 10/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 12,5 36,4 13,76 360 4,58 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 93,3 4,2 1,4 0,8 0,3 12,83 0,50 0,19 0,12 0,04

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Vomitus dan dehidrasi bukan merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut, dilihat dari jumlah leukosit pasien diketahui 13.760/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu diindikasikan dari persentase jumlah neutrofil pasien sebesar 93,3% melebihi jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang mengindikasikan infeksi bakteri. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim atau dalam keadaan yang lemah tetapi belum mati dan bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Amoksisilin cukup efektif diberikan untuk terapi empiris. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan amoksisilin karena amoksisilin merupakan antibiotika dengan spectrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVD (penggunaan antibiotikatidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika selama 3 hari yaitu tidak terlalu lama. Sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Tidak Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tidak tepat dosis). Assesment: Pasien diberikan 750mg obat/hari, sedangkan dosis untuk anak adalah 20 – 50mg/kgBB/hari atau bila disesuaikan dengan berat badan pasien yaitu 260 – 650mg obat dalam 2 – 3 dosis terbagi/hari (Lacy, et al., 2011) Penggunaan antibiotika tidak tepat dosis (kategori IIA)

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 Lampiran 18. Rekam Medis Kasus 18 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : panas disertai perut sakit III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Inpepsa 2x3/4 cth Lacto B 3x1 sachet Amoxsan Inj. 3x500mg Lametic 1 ampul Obat Pulang: V. Tgl - : JWKSW (L) : 7th , BB : 59kg , Suhu: 36oC : VH : Obs. febris 4 : panas : Pribadi II. Obat :010237 :11/7/13 (pk 23:46:07) :16/7/13 Tanggal & Waktu Pemberian 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 14/7/2013 15/7/2013 16/7/2013 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 17:00 17:00 8:00 8:00 8:00 6:00 6:00 11:00 11:00 11:00 11:00 11:00 18:00 18:00 18:00 17:00 8:00 8:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 16:00 16:00 0:00 24:00 24:00 24:00 24:00 23:40 21:00 Propepsa 2 x ¾ cth Praxion syr 3 x 10 cc Amoxan 3 x 10ml Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan - Keterangan

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 10/7/2013 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 (pk. 11:21) 13/7/201 (pk. 18:35) 14/7/2013 15/7/2013 16/7/2013 12,4 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,9 15,5 16,4 14,6 13,0 12,7 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 38,2 46,8 49,4 43,9 39,5 37,5 12,0 36,4 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 6,42 5,45 5,24 8,48 5,22 4,34 3,40 4,42 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 179 104 73 61 55 3,50 - 5,20 5,06 6,21 5,82 5,21 5,02 97 4,75 154 Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 95 6,48 50,0 - 70,0 73,5 12,9 48,8 56,6 20,0 - 60,0 83,5 9,0 69,5 Limfosit (%) 75,7 12,4 23,6 33,9 Monosit (%) 3,0 - 12,0 9,7 4,7 12,6 3,5 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 1,5 2,0 0,2 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,7 0,8 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 4,86 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 Monosit (10³/uL) 37,3 4,93 44,0 28,2 41,3 39,1 13,8 12,3 13,1 12,1 2,0 1,6 1,8 4,7 4,4 0,8 1,4 1,9 1,1 1,8 1,5 4,56 3,85 5,09 2,55 2,46 1,41 1,95 0,80 0,49 0,68 2,00 1,77 1,22 1,33 1,68 0,12 - 1,20 0,63 0,25 0,66 6,31 0,72 0,53 0,45 0,54 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,09 0,11 0,01 0,17 0,08 0,08 0,15 0,19 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,04 0,04 0,04 0,13 0,10 0,05 0,06 0,06 38,0

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Bukan merupakan penyakit yang memerlukan terapi antibiotika. Penatalaksanaan febris sendiri tidak memerlukan antibiotika. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari persentase jumlah neutrofil pasien yaitu 75,7% yang melebihi jumlah normal yaitu 50% sampai 70% dan dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Amoksisilin cukup efektif diberikan untuk terapi empiris. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan amoksisilin karena amoksisilin merupakan antibiotika dengan spectrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVD (penggunaan antibiotikatidak terlalu lama). Assesment: terapi dilakukan selama 5 hari. Sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari, kemudian dianjurkan melakukan evaluasi dengan uji mikrobiologi untuk mengetahui respon dari pasien terhadap terapi yang diberikan. Dari hasil uji mikro dilihat bahwa kondisi pasien membaik, jadi pemberian terapi dapat dilanjutkan (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis yang diberikan pada pasien 1500mg/hari sudah sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 – 50mg/kgBB/hari atau bila disesuaikan dengan berat badan pasien 1180 – 2950mg dalam 2 – 3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setap 8 jam, sudah sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 Lampiran 19. Rekam Medis Kasus 19 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :065795 :2/7/13 (pk 21:34:04) :16/7/13 : FA (L) : 7 th , BB : 22kg , Suhu: 39,7oC : ADL : Demam typhoid, vomitis : panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 10 hari yang lalu panas, epsitasis sedikit, temple panas tidak sembuh, periksa ke dokter tidak menolong. 23/6 masih panas, naik turun III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Tanggal & Waktu Pemberian Obat 2/7/2013 Lacto B 3x1 sachet 3/7/2013 4/7/2013 5/7/2013 6/7/2013 7/7/2013 8/7/2013 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 Sefotaksim 6:00 4x500mg 12:00 18:00 Praxion Forte 3-4 x 8ml Amoxsan inj. 3 x 350mg 0:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 24:00 24:00 24:00 24:00 8:00 8:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 16:00 16:00 16:00 0:00 0:00 0:00 0:00 0:00 21:00 Andosetran iv. 2mg 21:30 0:00 0:00 6:00 8:00 8:00 8:00 8:00 13:00 16:00 16:00 16:00 0:00 0:00 0:00 0:00 3x300mg 24:00 6:00 Propyretic 240mg Trogyl iv. 24:00 08.00 5:30 8:00 Ondansetron 8:00 8:00 6:00 k/p : 1,25mg 16:00 12:00 16:00 0:00 0:00 0:00 6:00 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 18:00 19:00 8:00 8:00 3x300mg Hep/CO6 2x1 Sagestan 0:00 18:00

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 2x50mg 18:00 18:00 Sefotaksim inj. 24:00 6:00 4x500mg 12:00 18:00 24:00 Trogyl Syrup 3x8ml 6:00 12:00 18:00 Inj. Cortidex 0,4 ml (suhu >38°C) Rimcure Paed 1x2tab Lacto B 3x1 Trogyl syrup 3 x 2,5ml Tramenza syrup 3x4 ml Fixiphar syrup 2x3 ml Propiretic 240 Candistine drop 4x1ml Cortidex 0,5 ml iv. Meropenem inj. 3x180 mg Cortidex 6:00

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 Lanjutan table pemberian obat Tanggal & Waktu Pemberian Obat Lacto B 3x1 sachet Sefotaksim 4x500mg Praxion Forte 3-4 x 8ml 8/7/2013 9/7/2013 10/7/2013 11/7/2013 12/7/2013 13/7/2013 14/7/2013 15/7/2013 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 18:00 24:00 24:00 24:00 24:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 Amoxsan inj. 3 x 350mg Propyretic 240mg Andosetran iv. 2mg 18:00 Trogyl iv. 3x300mg Ondansetron k/p : 1,25mg 3x300mg Hep/CO6 2x1 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 8:00 Sagestan 8:00 8:00 8:00 2x50mg 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 Trogyl Syrup 3x8ml Inj. Cortidex 0,4 ml (suhu >38°C) Rimcure Paed 1x2tab Lacto B 3x1 1:00 6:00 13:00 18:00 20:00 10:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 18:00 1:30 16/7/2013 6:00

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 Trogyl syrup 3 x 2,5ml Tramenza syrup 20:30 3x4 ml Fixiphar syrup 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 11:00 11:00 12:00 11:00 11:00 17:00 17:00 17:00 17:00 17:00 8:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 11:00 11:00 11:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 8:00 8:00 16:00 16:00 24:00 24:00 8:00 2x3 ml 18:00 Propiretic 240 Candistine drop 0:00 6:00 4x1ml 12:00 18:00 Cortidex 0,5 ml iv. Meropenem inj. 19:30 3x185 mg Cortidex 19:15 Obat pulang: Fixiphar 2 x 1 cth Rimcure Paed 1 x 2 tab Praxion F 3 – 4 x 8ml V. Pemerikasaan Radiologi dan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan Pemeriksaan Lab. Rujukan 3 /7/2013 Feces Urinalisa Makroskopis Protein Albumin kuning Warna Coklat Glukosa coklat Konsistensi Lunak Kental Bilirubin Darah Urobilinogen Lendir Urinalisa Sedimen Mikroskopis Leukosit 0–6 Lekosit +2 Eritrosit 0–1 Eritrosit +1 Epithel +1 Telur cacing Bakteri Amoeba Histolitica +1 Selinder Lemak Kristal Amilum Jamur Serat Tumbuhan Lain- Lain Jamur - - Tanggal 3 /7/2013 2-3 1-2 +1 +1 -

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 Pemeriksaan Lab. Widal Salmonella Paratyphi AH Salmonella Paratyphi AO Salmonella Paratyphi BH Salmonella Paratyphi BO Salmonella Typhi H Salmonella Typhi O Salmonella Paratyphi CH Salmonella Paratyphi CO VI. Rujukan Tanggal 2 /7/2013 (9:09) - 1/80 1/160 1/80 1/320 1/80 Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 2/7/2013 (pk 8:53) 2/7/2013 (pk 21:57) Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 11,6 36,8 21,90 301 4,37 12,6 35,8 20,95 319 4,31 11,0 32,2 10,29 245 4,12 10,5 31,2 8,16 170 3,87 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 80,4 30,7 2,5 1,3 1,1 8,14 2,95 0,25 0,11 0,04 79,3 29,7 1,9 1,0 1,3 7,94 2,95 0,19 0,09 69,4 28,7 1,5 0,3 0,1 7,14 2,95 0,16 0,03 59,1 33,5 2,3 4,7 0,4 4,82 2,73 0,19 0,38 0,04 0,01 0,04 8/7/2013 11/7/2013

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Amoksisilin cukup efektif diberikan untuk terapi infeksi akibat Salmonella. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh. Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: amoksisilin merupakan salah satu antibiotika yang memiliki efektivitas tinggi terhadap infeksi bakteri salmonella, sehingga cukup spesifik terhadap penyakit pasien (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika ini selama 7 hari, tidak terlalu lama. Penggunaan antibiotika ini diganti setelah 7 hari penggunaan. Lama terapi amoksisilin adalah 7 sampai 10 hari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat. penggunaan antibiotika ini diganti setelah 7 hari penggunaan. Lama terapi amoksisilin adalah 7 sampai 10 hari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan amoksisilin sebanyak 1050mg/hari sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 – 50mg/kgBB/hari, atau masuk dalam range 440 – 1100mg dalam 2 – 3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment:obat diberikan setiap 8 jam, sudah sesuai dengan interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 2. Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Sefotaksim cukup efektif diberikan untuk terapi infeksi akibat Salmonella. Hal ini dibuktikan dari kondisi semakin membaiknya kondisi pasien dilihat dari hasil uji hematologi dan

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan keadaan pasien Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Sefotaksim merupakan salah satu antibiotika yang memiliki efektivitas tinggi terhadap infeksi bakteri salmonella, sehingga cukup spesifik terhadap penyakit pasien (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika ini selama 5 hari, tidak terlalu lama. Penggunaan antibiotika ini diganti setelah 5 hari penggunaan. Lama terapi maksimal sampai 10 hari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan dosis sefotaksim sebanyak 2000mg/hari sudah sesuai dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari, atau dalam kasus ini sesuai dengan range dosis yang disarankan yaitu 1100 – 4400mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 6 jam, sudah sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 3. Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Metronidazol cukup efektif diberikan untuk terapi infeksi akibat Salmonella. Hal ini dibuktikan dari kondisi semakin membaiknya kondisi pasien dilihat dari hasil uji hematologi dan keadaan pasien Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: metronidazol merupakan antibiotika dengan spectrum luas dan juga obat ini aktif terhadap amoeba (Sukandar, dkk., 2008). Tidak Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika terlalu lama, lama terapi diberikan selama 12 hari. Lama terapi yang disarankan adalah 10 hari (Lacy, et al., 2011).

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 Kesimpulan Penggunaan antibiotika terlalu lama (kategori IIIA) 4. Gentamisin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Tidak Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: bukan merupakan terapi yang disarankan untuk infeksi yang dialami pasien Ada antibiotika yang lebih efektif (kategori IVA) 5. Rifamisin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Tidak lolos Kategori IVA (ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: ada antibiotika yang lebih efektif untuk demam typhoid akibat salmonella, yaitu sefotaksim dan amoksisilin yang merupakan antibiotika lini pertama untuk infeksi Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Ada antibiotika yang lebih efektif (kategori IVA) 6. Nistatin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Tidak lolos Kategori IVA (ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: : ada antibiotika yang lebih efektif untuk demam typhoid akibat salmonella, yaitu sefotaksim dan amoksisilin yang merupakan antibiotika lini pertama untuk infeksi Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Ada antibiotika yang lebih efektif (kategori IVA) 7. Meropenem Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: ada indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Demam tiphoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella. Hal ini didukung dari hasil uji hematologi pasien yang menunjukkan kadar leukosit yang tinggi, melebihi kadar normal dan adanya hasil positif pasien terinfeksi bekteri Salmonella (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: cukup efektif diberikan untuk terapi infeksi akibat Salmonella. Hal ini dibuktikan dari

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA kondisi semakin membaiknya kondisi pasien dilihat dari hasil uji hematologi dan keadaan pasien Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: antibiotika ini merupakan derivat dengan sifat dan khasiat yang sama dengan golongan antibiotika lactam seperti sefalosporin, sehingga dapat diterapkan pada kasus ini (Tan & Rahardja, 2007) Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: Dosis yang diberikan pada pasien ini adalah 555mg/hari, kurang dosis yang disarankan. Dosis yang disarankan adalah 30 – 120mg/kgBB/hari atau untuk kasus ini 660 – 2640mg/hari dalam 3 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011).

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 Lampiran 20. Rekam Medis Kasus 20 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :140982 :16/7/13 (pk 22:54:12) :18/7/13 : FF (L) : 3 th , BB : 15kg , Suhu: 38,3oC : ADL : Febris hr 5, ISK : panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : panas mulai 12/7, sudah periksa panas tidak turun, panas lagi mulai sore. Muntah 1x III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Propiretic 160 mg Tempra Syrup 3-4 x 1 cth Lapixime 4x350mg Obat pulang: Tanggal & Waktu Pemberian 16/7/2013 17/7/2013 18/7/2013 23:30 6:00 6:00 12:00 18:00 6:00 6:00 6:00 12:00 18:00 24:00 Tempra 3 – 4 x 1cth Tocef 2 x 2 ml Diazepam 1.5 mg (bila suhu > 38oC)

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 6 /7/2013 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 6 /7/2013 Imunoserologi Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain - - 0–6 0–1 +1 - 3-9 1-3 +1 +1 - Widal Salmonella Paratyphi AH Salmonella Paratyphi AO Salmonella Paratyphi BH Salmonella Paratyphi BO Salmonella Typhi H Salmonella Typhi O Salmonella Paratyphi CH Salmonella Paratyphi CO VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 16/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 11,6 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 34,6 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 20,02 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 370 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,21 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 80,2 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 12,0 Monosit (%) 3,0 - 12,0 6,2 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 1,2 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,4 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 16,05 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 2,39 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 1,25 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,24 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,09 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen - 1/80 -

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169 Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Dalam penatalaksanaannya menurut IDI (1998), febris tidak memerlukan terapi antibiotika karena penyebab demam bukan hanya akibat infeksi bakteri, tetapi juga dapat disebabkan oleh virus atau merupakan gejala dari beberapa jenis penyakit lain, namun dari hasil kultur menunjukkan adanya hasil positif pasien terinfeksi bakteri Salmonella Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama akibat infeksi salmonella dan terbukti efektif pada pasien dilihat dari kondisi pasien yang membaik (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Tidak Lolos Kategori IVC (ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: ada antibiotika yang lebih murah. Dalam kasus ini, sefotaksim generic memiliki harga yang jauh lebih murah dari sefotaksim dengan merk dagang yang diberikan. Harga yang diketahui adalah dari apotek rumah sakit, karena obat yang digunakan didapatkan dari apotek rumah sakit sendiri. Ada antibiotika yang lebih murah (kategori IVC)

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 170 Lampiran 21. Rekam Medis Kasus 21 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :010846 :17/7/13 (pk 15:20:48) :19/7/13 : APA (L) : 1,5th , BB : 12kg , Suhu: 36oC : SM : Gastroenteritis akut : mual, muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 11/7 anak mual, tidak panas ; 13/7 muntah 3x, mual, makan minum mau, tidak panas; 14/7 muntah 6x, BAB cair 3x ; 15/7 mual, nafsu makan kurang, panas, diare; 16/7 diare 6x cair, ampas banyak, mual, makan tdk mau III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Trogyl 3x200mg Sanprima 2x1 Narfoz k/p 3x2mg iv Sanmol iv 2x60mg Obat pulang: Tanggal & Waktu Pemberian 17/7/2013 18/7/2013 19/7/2013 16:30 8:00 8:00 0:00 16:00 0:00 6:00 6:00 17:00 16:30 9:00 6:00 0:00 18:00 11:00 0:00 6:00 18:00 promuba 3 x 4 ml Narfoz 3 x ¾ cth Candistine drop 4 x 1 ml

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 18 /7/2013 19 /7/2013 Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - + kuning kehijauan Lunak - - +1 +1 - - - - +1 +1 - Kuning Cair Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 17/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 14,3 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 42,5 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 13,53 Trombosit (10³/uL) 150 - 450 466 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 5,51 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 49,4 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 37,0 Monosit (%) 3,0 - 12,0 12,6 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,4 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,6 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 6,69 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 5,00 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 1,70 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,05 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,09

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 172 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi jumlah normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 13,310/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dalam kasus ini, antibiotika terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik / sembuh. Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan terapi metronidazol karena obat ini merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Clostridium difficile (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama yaitu selama 3 hari, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: Dosis anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari atau dalam kasus ini 360 – 600 mg/hari dalam 3 dosis terbagi. Dosis yang diberikan adalah 600mg/hari, masih masuk kisaran dosis yang disarankan (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari, sudah sesuai yang disarankan (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 2. Trimetropim-sulfametoksazole Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment:

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 173 Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kesimpulan Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi jumlah normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 13,310/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: trimethoprim-sulfametoksazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dalam kasus ini, terbukti efektif karena kondisi pasien terbukti membaik / sembuh. Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan trimethoprim-sulfametoksaol karena obat ini merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Tidak Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis untuk anak adalah 20-30mg/kgBB/hari. 1 kaplet mengandung 480 mg zat ini. Sedangkan dosis yang disarankan adalah 240mg – 360mg, sehingga dosis yang diberikan melebihi dosis yang disarankan (Lacy, et al., 2011). Penggunaan antibiotika tidak tepat dosis (kategori IIA)

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 174 Lampiran 22. Rekam Medis Kasus 22 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. II. III. IV. :116880 :17/7/13 (pk 22:59:09) :20/7/13 Identitas Pasien Nama Pasien : HHA (L) Umur : 4 th , BB : 15kg , Suhu: - oC Nama Dokter : TSR Diagnosis : asma bronchiale, bronchopneumonus Keluhan Utama : sesak napas Sumber Biaya : Pribadi Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 3 hari sulit makan, semalam sesak nafas, riwayat batuk berdahak, periksa ke RS diberi nebulizer pukul 19, malam hari sesak lagi Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Tanggal & Waktu Pemberian Obat 17/7/2013 18/7/2013 19/7/2013 20/7/2013 Cortidex 22:00 8:00 3x1,5mg iv 16:00 0:00 NaCl 1cc, Flixotide 2cc, Combivent 22:00 6:00 6:00 8:00 Nebulizer 12:00 16:00 18:00 Na Lapixime 6:00 6:00 24:00 Clacef 4x350mg iv 12:00 11:00 18:00 0:00 Histapan 2/5; mucohexin ¼ 22:00 6:00 6:00 6:00 na ikt 1/4; ambocort 2/5 12:00 18:00 Sefotaksim inj. 6:00 6:00 2 x500 mg 18:00 Nebulizer Flixotide; 11:00 ventolin 3x1 17:00 Ozen syrup 1x1/2 cth 18:00 18:00 Fartolin 3x1/2 cth 6:00 12:00 12:00 18:00 cefat 2x5cc 6:00 6:00 18:00 Puyer (amvocort 2,5mg; 6:00 theofilin 30mg; profilas 1/3; 12:00 12:00 codein 1mg) 3x1 18:00 18:00 Obat pulang: Cefat syr 2x1 cth Ozan 1 x ½ cth

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175 Tremenza 3 x ½ cth Fartolin 3 x ½ cth V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 18 /7/2013 Feces Makroskopis kuning coklat Lunak - Warna Coklat Konsistensi Lembek Darah Lendir Mikroskopis Lekosit +1 Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 12/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,0 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 38,1 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 15,18 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 295 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 6,15 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 82,0 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 13,4 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,2 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 1,7 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,7 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 12,45 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 2,02 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,33 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,26 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,12 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 18 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 0-2 0-1 +1 +1 - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176 Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Asma bronchiale bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, melainkan reaksi hipersensitivitas bronchi terhadap berbagai stimulasi spesifik, namun dilihat dari hasil uji hematologi menunjukkan adanya peningkatan kadar leukosit melebihi normal yang mengindikasikan adanya infeksi akut. Jumlah leukosit pasien diketahui 15,180/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 82,0%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007) Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: sefotaksim cukup efektif diberikan untuk terapi empiris. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penyebab infeksi, sehingga terapi dilakukan secara empiris. Sefotaksim merupakan antibiotika dengan spectrum luas terhadap berbagai jenis bakteri sehingga digunakan dalam terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: durasi penggunaan antibiotika ini selama 3 hari, tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan dosis 1000mg/hari, sesuai kisaran dois yang disarankan. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau sesuai dalam kasus ini 750 – 3000mg/hari dalam 3 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 6 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif karena kondisi pasien yang sulit makan sehingga rute pemberian dirasa tepat Tidak Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tidak tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tidak tepat. Jam pemberian selalu berubah. Timing pemberian tidak tepat (kategori I)

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177 Lampiran 23. Rekam Medis Kasus 23 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :120104 :15/7/13 (pk 21:23:35) :21/7/13 : FT (L) : 3th , BB : 16kg , Suhu: 36,8oC : EB : Dengue Fever komplikasi gastroenteritis akut : mual muntah : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : anak mual, muntah 10x sejak pk 15.00, diare 1x III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Lametic inj. 2mg sanmol syrup 3x7,5cc sanmol syrup 3x5cc Sefotaksim inj. 2x500mg Lacto B 2x1 Narfoz inj. 3x2mg Elkana 1x1cth Hipolac Inj. 3x25mg Tanggal & Waktu Pemberian 15/7/2013 16/7/2013 17/7/2013 18/7/2013 19/7/2013 20/7/2013 21/7/2013 20:45 4:00 6:00 6:00 22:30 4:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 11:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 18:00 11:00 11:00 11:00 11:00 22:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 12:30 11:00 11:00 18:00 18:00 18:00 0:00 6:00 6:00 6:00 16:00 11:30 8:00 18:00 18:00 24:00 16:00 24:00 Obat pulang: Sanmol syr 3 x 5cc Lacto B 2 x 1 Curvit syr 1 x 1 cth Cefat syr 1 x 1 cth

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 16 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 2–4 Eritrosit 0–1 0-1 Epithel +1 +1 Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 12/7/2013 19/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 11,9 35,7 15,96 255 4,23 11,5 34,0 3,13 147 4,08 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 93,5 4,8 1,4 0,2 0,1 14,92 0,76 0,23 0,04 0,01 47,1 40,9 5,3 6,0 0,7 1,48 1,28 0,16 0,19 0,02

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, contohnya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Hasil uji hematologi terdapat kadar leukosit dan jumlah neutrofil yang cukup tinggi. Jumlah neutrofil pasien diketahui 14.920/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan yaitu 2.000/µL sampai 8.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 93,5%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim dan kemungkinan sedang melemah karena pasien sudah diterapi antibiotika lenih dulu sebelum dilakukan uji kultur, sehingga bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Obat ini merupakan salah satu terapi lini pertama GEA dan terbukti kondisi pasien membaik / sembuh (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan sefotaksim karena merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Menurut Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika untuk terapi empiris adalah 48 sampai 72 jam kemudian dilakukan evaluasi kondisi pasien apakah antibiotika efektif atau tidak. Pada kasus ini penggunaan antibiotika diberikan selama 5 hari karena kondisi pasien yang terus membaik, sehingga terapi tetap dilanjutkan. Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari, dengan berat badan 16 kg dosis yang disarankan 800 – 1600mg dalam 2 – 4 dosis terbagi. pasien diberikan 1000mg obat sehari, sehingga sudah sesuai dosis yang disarankan (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 12 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan yaitu setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika sefotaksim tepat/bijak (kategori 0)

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180 Lampiran 24. Rekam Medis Kasus 24 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :054152 :28/7/13 (pk 16:09:35) :31/7/13 : AN (L) : 9 Th ,BB : 19 Kg , Suhu: 38 Oc : ADL : Gastroenteritis Akut : Diare, Muntah : Jamkesmas II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 28/7, pk 02.00 mulai diare dan muntah, jumlah tidak terhitung. Pk 07.00 pasien diperiksa ke mantra, diberi 3 macam obat, tidak berkurang. 16.00 masih diare, tidak muntah, setiap akan BAB perut sakit. BAK terahir pk 15.00 III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Ondansetron pro metro inj. 3x2 mg Seftriakson 2x750mg Tanggal & Waktu Pemberian 28/7/2013 29/7/2013 30/7/2013 31/7/2013 16:15 6:00 8:00 8:00 0:00 12:00 12:00 18:00 18:45 6:00 6:00 6:00 18:00 18:00 Kodein syrup 3x5mg k/p Paractamol syrup 3-4 x 7,5 ml kp. Propiretic Metronidazol inj. 3x250mg Obat Pulang: Sefiksim syr 2 x ¾ cth Kaolin syr 2 x 1 cth Paracetamol syr 3-4 x 2.5 Metronidazol syr 3 x 7.5 20:30 8:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00 18:00 16:00 24:00 8:00 Stop 16:00 24:00

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 29 /7/2013 Feces Urinalisa Protein Albumin Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - Pemeriksaan Lab. Hijau Kental + - +2 +1 - - + + - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 28/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 16,2 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 48,1 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 17,98 Trombosit (10³/uL) 150 - 450 330 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 6,07 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 96,7 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 0,9 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,0 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,2 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,2 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 17,39 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 0,17 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,36 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,03 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,03 Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain Rujukan Tanggal 29 /7/2013 - - - - 0–6 0–1 +1 - 3-6 0-2 +1 +1 - -

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen 1. Seftriakson Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah neutrofil yang melebihi jumlah normal. Jumlah neutrofil pasien diketahui 17.980/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan yaitu 2.000/µL sampai 8.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 96,7%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hasil kultur juga menunjukkan hasil yang positif adanya infeksi akibat bakteri (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Seftriakson merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dalam kasus ini, peresepan antibiotika terbukti efektif, ditunjukkan dari kondisi pasien terbukti membaik / sembuh. Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi pasien, sehingga pemberian antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan seftriakson karena merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Salmonella (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 1500mg, sudah sesuai dosis yang diarankan. Dosis untuk anak 50 – 100mg/kgBB/hari, atau 800 – 1900 mg sesuai yang diberikan pada pasien dalam 1 – 2 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment:sudah interval pemberian yang dianjurkan yaitu setiap 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0) 2. Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment:

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183 Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah neutrofil yang melebihi jumlah normal. Jumlah neutrofil pasien diketahui 17.980/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan yaitu 2.000/µL sampai 8.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 96,7%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Hasil kultur juga menunjukkan hasil yang positif adanya infeksi akibat bakteri (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dalam kasus ini, peresepan antibiotika terbukti efektif, ditunjukkan dari kondisi pasien terbukti membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi sehingga terapi dilakukan secara empiris. Pemilihan metronidazole karena obat ini merupakan terapi lini pertama GEA, khususnya akibat Clostridium (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 750mg obat/hari, sesuai dosis yang disarankan. Dosis anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kg BB/ hari atau untuk pasien ini 570 - 900mg dalam 3 dosis terbagi, sesuai dengan yang diberikan pada pasien (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 8 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184 Lampiran 25. Rekam Medis Kasus 25 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :099592 :21/7/13 (pk 9:16:7) :23/7/13 : MAA (L) : 6 th , BB : 17kg , Suhu: 37 oC : ADL : febris hari 2, dehidrasi sedang : panas : jamkesda II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 19/7; anak panas, diberi termorex, pagi muntah. Minggu di bawa ke klinik, dianjurkan ke RS. Pernah riwayat kejang saat usia 13 bulan. III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Ondansetron inj. 2mg Propiretic 160mg 3x1 Tanggal & Waktu Pemberian 21/7/2013 22/7/2013 23/7/2013 9:45 18:45 8:00 8:00 18:00 18:00 Sefotaksim 4x400 mg 18:00 24:00 Paracetamol syrup 3x7,5 cc Ondansetron inj. 3x2,5 mg Obat pulang: paracetamol 3 x 7.5 mg 16:00 21:00 22:00 6:00 12:00 18:00 24:00 6:00 16:00 21:00 6:00 12:00 6:00 6:00

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 21 /7/2013 Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - coklat kehijauan Lunak - - - - - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 21/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 13,7 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 39,4 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 14,79 Trombosit (10³/uL) 150 - 450 274 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,66 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 92,1 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 4,9 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,1 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,7 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,2 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 13,61 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 0,73 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,31 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,10 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,04 Pemeriksaan Lab. Rujukan Tanggal 21 /7/2013 Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 0-2 1-2 +1 - - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Penatalaksanaan febris sendiri tidak memerlukan antibiotika. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi nilai normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 14,790/µL. Jumlah ini melebihi jumlah rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 92,1%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien. Dari hasil kultur tidak ditemukan adanya infeksi akibat bakteri. Kemungkinan saat uji kultur, bakteri tidak tumbuh karena saat itu keberadaan bakteri masih minim dan bila tidak diberikan terapi antibiotika akan dapat mengakibatkan berkembangnya bakteri dan memperparah keadaan pasien sehingga dapat diberikan terapi antibiotika (IDI, 1998; Sutedjo, 2012). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: sefotaksim cukup efektif diberikan untuk terapi empiris. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan sefotaksim karena merupakan antibiotika dengan spectrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Terapi dilakukan selama 3 hari. Penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 1600mg obat sehari, sudah sesuai dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini 850 – 3400mg dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 6 jam, sudah sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika sefotaksim tepat/bijak (kategori 0)

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187 Lampiran 26. Rekam Medis Kasus 26 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148602 :18/7/13 (pk 10:15:42) :20/7/13 : ARP (P) : 12 th , BB : 50 kg , Suhu: 36oC : BS : Tonsilitis Kronis : sakit bila menelan, susah napas : askes II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : sudah 2 minggu sakit bila menelan, pilek, kalau tidur susah bernapas. Periksa ke dokter keluarga dapat obat amoksisilin dan paracetamol, tidak ada perubahan. Periksa RSPN operasi III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Seftriakson 1x1g iv Ranitidine inj. 1 amp. R/ pulang: Amoxicilin 3x2 cth Asam Mefenamat 3x250 mg tanggal & waktu pemberian 18/7/2013 19/7/2013 20/7/2013 19:00 12:00 24:00

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Protrombin Time PTT test (mm/jam) PTT control (mm/jam) APTT test (mm/jam) APTT control (mm/jam) VI. Tanggal 13 /7/2013 2013 Rujukan 10.8 - 14.4 11.5 - 15.5 23.9 - 36.20 30.0 - 40.0 14.2 13.8 28.0 32 Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Rujukan Tanggal 13/7/2013 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 13,8 41,8 10,71 455 4,93 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 57,4 31,0 5,0 5,7 0,9 6,14 3,31 0,54 0,63 0,10

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 189 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Seftriakson Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: pasien mengalami tonsisilisitis kronis dan dioperasi, sehingga perawatannya memerlukan antibiotika untuk mencegah infeksi sebelum/pasca operasi (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: merupakan antibiotika dengan spectrum luas. Dapat diterapkan dalam terapi empiris guna mencegah infeksi bakteri (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi profilaksis yaitu 24 sebelum dan sesudah operasi (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi profilaksis yaitu 24 sebelum dan sesudah operasi (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis untuk pencegahan infeksi 1 – 2 gram dalam 1 – 2 pembagian dosis dalam sehari sesuai yang diberikan pada pasien ini (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 1 kali dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: rute pemberian tepat Tidak Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tidak tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tidak tepat.

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 190 Lampiran 27. Rekam Medis Kasus 27 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148905 :24/7/13 (pk 17:18:28) :26/7/13 : AZS (L) : 2 th , BB : 19 kg , Suhu: 39 oC : SM : Gastroenteritis dengan febris : panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 24/7 siang anak mulai panas, diberi proris panas turun. Sore tiba-tiba anak kejang sekitar 5 menit, diare cair 2x, berlendir, dibawa ke RSPN opname III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Sanmol 5cc Trogyl inj. 3x 225 mg Lacto B 2x1 Praxion Forte 3x3cc k/p Diazepam oral 1,5mg iv 0,3 ml (bila suhu >38,5°C) Obat pulang: praxion syrup 3x3ml Promuba syrup 3x1cth Tanggal & Waktu Pemberian 24/7/2013 25/7/2013 26/7/2013 18:10 24:00 8:00 8:00 16:00 0:00 22:30 6:00 6:00 12:00 22:30:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 191 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Rujukan Lab. 24 /7/2013 25 /7/2013 Feces Makroskopis Warna Konsistensi Darah Lendir Mikroskopis Lekosit Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum Serat Tumbuhan Jamur VI. kuning coklat Lunak - Coklat Lembek + Coklat kental + Pemeriksaan Lab. Urinalisa Protein Albumin Rujukan - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit 0–6 Eritrosit 0–1 Epithel +1 Bakteri - Tanggal 24 /7/2013 2- 4 0–1 +1 +1 - +1 - +2 +1 - - +1 + + Selinder Kristal Jamur - - - - - Lain- Lain - - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 24/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,7 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 38,2 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 17,50 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 190 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 5,01 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 75,2 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 18,7 Monosit (%) 3,0 - 12,0 5,5 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,5 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,1 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 13,16 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 3,37 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,96 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,09 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,02

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 192 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Metronidazol Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari hasil kultur yang positif terdapat bakteri dan jumlah leukosit pasien diketahui 17.500/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Metronidazol merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut. Metronidazol terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik (Dipiro & Schwinghammer, 2009) Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan obat ini karena merupakan salah satu terapi lini pertama GE, khususnya akibat Clostridium ((Dipiro & Schwinghammer, 2009). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 775mg dosis/hari sesuai dosis yang disarankan. Dosis anak untuk amebiasis/muntah-muntah 30 – 50 mg/kgBB/hari atau untuk pasien ini 570 – 900mg dalam 3 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment:pemberian obat dilakukan setiap 8 jam, sudah sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 193 Lampiran 28. Rekam Medis Kasus 28 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :130508 :24/7/13 (pk 16:39:17) :27/7/13 : CA (P) : 2 th , BB : 11kg , Suhu: 36,7 oC : EB : ISPA, Obs vomitus, cacingan : panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 24/7 anak panas, muntah-muntah, BAK terahir jam 11.00 III. IV. V. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Ondansetron inj. 2mg iv Sanmol Syrup 3x1 cth k/p Amoxsan inj. 3x175mg Nafos k/p 3x2mg mucohexin, nairet 3x1 bks oral Obat pulang: amoxan 3 x ¾ cth Narfoz 3 x ½ cth Sanmol 3 x 1 cth Puyer (mucohexin, naivet 3 x 1) Tanggal & Waktu Pemberian 24/7/2013 25/7/2013 26/7/2013 17:00 22:30 6:00 6:00 Muntah 12:00 12:00 24:00 18:00 8:00 8:00 16:00 0:00 0:00 24:00 6:00 6:00 Stop 0:00 6:00 12:00 18:00 6:00 12:00

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 194 VI. Pemerikasaan Mikrobiologi Tanggal Pemeriksaan Lab. Rujukan 25 /7/2013 Feces Makroskopis kuning coklat Warna Kuning Konsistensi Lunak agak keras Darah Lendir + Mikroskopis Lekosit +1 Eritrosit Telur cacing Amoeba Histolitica Lemak Amilum +1 Serat Tumbuhan Jamur +1 VII. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 24/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 11,6 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 36,1 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 19,53 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 385 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,71 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 87,0 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 10,1 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,0 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 0,5 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,4 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 16,99 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 1,98 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,39 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,09 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,08 Tanggal 25 /7/2013 Pemeriksaan Lab. Rujukan Urinalisa Protein Albumin - - - - 0–6 0–1 +1 - 2- 4 0–1 +1 +1 - - Glukosa Bilirubin Urobilinogen Urinalisa Sedimen Leukosit Eritrosit Epithel Bakteri Selinder Kristal Jamur Lain- Lain

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 195 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut, dilihat dari hasil kultur yang positif terdapat bakteri. Selain itu jumlah leukosit pasien diketahui 19.530/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 87%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Amoksisilin cukup efektif diberikan untuk terapi empiris. Hal ini dibuktikan dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga terapi antibiotika dilakukan secara empiris. Pemilihan amoksisilin karena amoksisilin merupakan antibiotika dengan spectrum luas dan dapat digunakan untuk terapi empiris (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 450 mg dosis amoksisilin sehari, sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 20 -50 mg/kgBB atau dalam kasus ini 220 – 550mg dalam 2 – 3 pembagian dosis/hari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: pasien diberikan obat setiap 8 jam, sesuai interval pemberian yang dianjurkan setiap 8 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Untuk cara pemberian adalah secara intravena dirasa paling efektif agar kondisi pasien segera kembali normal Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 196 Lampiran 29. Rekam Medis Kasus 29 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :128739 :25/7/13 (pk 7:8:25) :27/7/13 : LH (L) : 2 th , BB : 11kg , Suhu: 39,2 oC : TSR : Gastroenteritis akut, kejang demam kompleks : panas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : pk 20.00 panas, suhu 38,4C, jam 3.00 kejang 5-40x sekitar 5- 30 detik. Pk 6.15 kejang lagi. BAK pk 06.15 banak, riwayat kejang saat usia 17 bulan 5-30 detik. Pernah mengalami hiperbilirubin saat bayi III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Sanmol Syrup 3x1 cth L.Zinc 2x1 cth Lacto B 2x1 sachet inj. Phenitoin 3x25 mg inj. Sefotaksim 3x350 mg Tanggal & Waktu Pemberian 25/7/2013 26/7/2013 27/7/2013 6:00 6:00 12:00 11:00 18:00 17:00 6:00 6:00 12:00 18:00 17:00 6:00 6:00 12:00 18:00 17:00 12:00 6:00 0:00 18:00 16:00 24:00 8:00 16:00 24:00 8:00 16:00 24:00

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 197 V. Tgl - VI. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 25/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,4 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 35,3 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 13,86 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 197 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,32 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 84,6 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 9,7 Monosit (%) 3,0 - 12,0 4,4 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 1,0 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,3 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 11,72 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 1,34 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,62 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,14 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,04 Keterangan

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Kategori 0 Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Gatroenteritis akut merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, diantaranya Salmonella, Shigella, dan E. coli. Pasien diindikasikan mengalami infeksi akut dilihat dari jumlah leukosit yang melebihi nilai normal. Jumlah leukosit pasien diketahui 13,860/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 84,6%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Sefotaksim merupakan salah satu terapi lini pertama untuk gastroenteritis akut (Dipiro & Schwinghammer, 2009). Dalam kasus ini, peresepan sefotaksim terbukti efektif karena kondisi pasien yang membaik. Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: Terapi diberikan secara empiris karena tidak diketahui jenis bakteri penginfeksi, sehingga dipilih antibiotika dengan spektrum luas terhadap berbagai jenis bakteri seperti sefotaksim. Sefotaksim sendiri merupakan antibiotika yang spesifik untuk penyakit (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu lama, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat, sesuai dengan waktu yang dianjurkan untuk terapi empiris yaitu 2 – 3 hari (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: pasien diberikan 1050mg obat/hari, sesuai dosis yang disarankan. Dosis untuk anak 50 – 200mg/kgBB/hari atau dalam kasus ini 550 - 2200 mg/hari dalam 2 – 4 dosis terbagi (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 6 – 12 jam dalam sehari (Lacy, et al., 2011; Sukandar, dkk., 2008). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: Pasien mengalami muntah-muntah, sehingga pemberian obat secara intravena dirasa tepat. Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tepat. Lolos kategori 0. Assesment: lolos pada semua kategori di atas. Termasuk pemberian antibiotika secara rasional Penggunaan antibiotika tepat/bijak (kategori 0)

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 199 Lampiran 30. Rekam Medis Kasus 30 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148890 :24/7/13 (pk 10:39:15) :28/7/13 : AW (P) : 6 bulan , BB : 6,1 kg , Suhu: 36,5 oC : YM : Dengue fever : demam : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : riwayat demam tinggi sejak 20/7. Muntah setelah batuk, minum asi berkurang, sesak III. IV. Tujuan Keluar : sembuh Pengobatan Obat Paracetamol syrup 3 x 1/2 cth Salbutamol 3 x 0,5 mg Sefotaksim inj. (dosis intra cranial) 4 x 300mg Dexametason inj. (5 meniit sebelum AB) 3 x 1,25 mg k/p Diazepam 2 mg Nebulizer (ventolin, NaCl 0,9g; 1cc) 3x1 Combivent 1/2; NaCl 0,9%, 1cc 3x1 Sefotaksim 3 x 200mg 5/7/2013 15:00 21:00 15:00 21:00 15:00 0:00 12:00 18:00 Tanggal & Waktu Pemberian 6/7/2013 21/7/2013 22/7/2013 23/7/2013 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 6:00 6:00 12:00 12:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 6:00 3:00 6:00 12:00 6:00 18:00 12:00 0:00 18:00 18:00 8:00 8:00 8:00 8:00 16:00 16:00 16:00 24:00 24:00 24:00 8:00 17:00 6:00 11:00 6:00 16:00 24:00 6:00 11:00 8:00

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200 Obat pulang: - Paracetamol syrup 3 x ½ cth - Salbutamol 3 x 0,5 mg - Meptin syrup 2 x ½ cth - Apralis syrup 1 x 0,3 cth V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tidak dilakukan VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 24/7/2013 (pk 11.50) 24/7/2013 (pk 20.11) Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 9,0 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 27,0 25,8 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 9,21 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 118 77 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 3,70 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 57,2 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 38,2 Monosit (%) 3,0 - 12,0 1,7 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 2,7 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,2 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 5,26 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 3,52 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,16 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,25 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,02 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Kasus 30 Sefotaksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kesimpulan 25/7/2013 (pk 11.03) 25/7/2013 (pk 19.15) 26/7/2013 (pk 10.33) 26/7/2013 (pk. 18.35) 24,7 62 - 24,9 47 - 24,3 86 - 24,4 73 - - - - - - - Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Tidak Lolos Kategori V (Tidak ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Dengue Fever bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan oleh virus dengue. Tidak ditemukan indikasi infeksi bakteri, baik dari hasil uji leukosit maupun hasil kultur. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi pasien yang dalam jumlah normal, sehingga tidak ditemukan adanya indikasi penyakit akibat infeksi bakteri. Jumlah leukosit pasien diketahui 9,210/µL. Jumlah ini sesuai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Untuk persentase jumlah neutrofil diketahui 57,2%, masih dalam nilai normal yaitu 50% sampai 70%. Penggunaan antibiotika tanpa indikasi (kategori V)

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 201 Lampiran 31. Rekam Medis Kasus 31 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :148199 :9/7/13 (pk 11:02:38) :11/7/13 : MWK (L) : 12th , BB : 35kg , Suhu: - oC : TSR : polydactyly :: Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : pro rekonstruksi polydachili jari 1 tangan kanan III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Starxon 1x1g Korthidoc 2x1 Obat pulang: Amoxsan 3x1 tab As. Mefenamat 3x50mg Tanggal & Waktu Pemberian 10/7/2013 11/7/2013 0:00 14:15 22:30 8:00

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 202 V. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Lab. Protrombin Time PTT test (mm/jam) PTT control (mm/jam) APTT test (mm/jam) APTT control (mm/jam) VI. Rujukan Tanggal 9 /7/2013 2013 10.8 - 14.4 11.5 - 15.5 23.9 - 36.20 30.0 - 40.0 Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Tanggal Parameter Rujukan 9/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) 12,00 - 16,00 12,4 Hematokrit (%) 35,00 - 49,00 36,3 Leukosit (10³/uL) 4,00 - 12,00 5,78 Trombosit (10³/uL) 150 – 450 300 Eritrosit (juta/uL) 3,50 - 5,20 4,24 Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) 50,0 - 70,0 55,2 Limfosit (%) 20,0 - 60,0 38,2 Monosit (%) 3,0 - 12,0 2,7 Eosinofil (%) 0,5 - 5,0 3,7 Basofil (%) 0,0 - 1,0 0,3 Neutrofil (10³/uL) 2,0 - 8,0 3,20 Limfosit (10³/uL) 0,80 -7,0 2,20 Monosit (10³/uL) 0,12 - 1,20 0,15 Eosinofil (10³/uL) 0,02 - 0,80 0,22 Basofil (10³/uL) 0,0 - 0,10 0,01 14.5 13.8 31.8 32

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Seftriakson Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kategori IIC Kategori I Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: pasien mengalami rekonstruksi jari tangan, sehingga perawatannya memerlukan antibiotika untuk mencegah infeksi sebelum/pasca operasi. Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: merupakan antibiotika dengan spectrum luas. Dapat diterapkan dalam terapi empiris guna mencegah infeksi bakteri (Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien hanya menerima 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Sesuai aturan Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika dalam profilaksis bedah yaitu 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis untuk pencegahan infeksi 1 gram dalam sekali pemberian dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tepat interval pemberian). Assesment: interval pemberian yang dianjurkan setiap 1 kali dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIC (penggunaan antibiotika tepat rute pemberian). Assesment: rute pemberian tepat Tidak Lolos Kategori I (penggunaan antibiotika tidak tepat waktu pemberian). Assesment: waktu pemberian setiap harinya tidak tepat.

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 204 Lampiran 32. Rekam Medis Kasus 32 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya :054617 :19/7/13 (pk 22:12:26) :21/7/13 : SAD (P) : 9 th , BB : 29kg , Suhu: 37 oC : ADL : asma bronchiale : sesak napas : Pribadi II. Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit : 19/7 sore anak sesak, nafas berat, opname. Pada bulan april anak pernah opname di ICU tegal yoso III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Cortidex inj. 3x3mg Ryvel Syrup 1x7,5 ml Tocef syrup 2x3ml Nebulizer (Combivent; ixotide) k/p 2x1 Aminopilin inj. 2,5cc NaCl 2,5cc Tanggal & Waktu Pemberian 19/7/2013 20/7/2013 21/7/2013 21:00 8:00 8:00 16:00 0:00 1:00 18:00 1:00 12:00 6:00 18:00 6:00 18:00 21:15:00 21:30 Obat pulang: Tocef syrup 2x3ml Ryvel Syrup1x7,5ml Imnunos syrup 2x1cth Vectim syrup 3x1cth V. Pemerikasaan Mikrobiologi Tgl Pemeriksaan - - Keterangan - 1:00 6:00

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 205 VI. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 20/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 – 450 3,50 - 5,20 13,3 39,4 15,94 270 4,59 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 89,0 7,9 1,3 1,7 0,1 14,18 1,26 0,21 0,27 0,02 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Sefiksim Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Asma bronchiale bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, melainkan reaksi hipersensitivitas bronchi terhadap berbagai stimulasi spesifik. Namun dilihat dari hasil uji Jumlah leukosit pasien diketahui 15,940/µL. Jumlah ini melebihi nilai rujukan leukosit yaitu 4.000/µL sampai 12.000/µL. Selain itu persentase jumlah neutrofil juga menunjukkan angka 89,0%, berada diatas jumlah normal yaitu 50% sampai 70% yang menandakan adanya infeksi akut yang dialami pasien (Sutedjo, 2012; Tan & Rahardja, 2007). Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif).. Assesment: Cukup efektif, terlihat dari kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Tidak Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis ada yang lebih murah. Sporetic syrup memiliki harga yang lebih terjangkau daripada Tocef syrup. Ada antibiotika yang lebih murah (kategori IVC)

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 206 Lampiran 33. Rekam Medis Kasus 33 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. II. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya : AW (L) : 9 th , BB : 38kg , Suhu: - oC : VH : perioperatif aff plate frakturcruris :: askes sosial Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Seftriakson 2 x 500mg Ketolorat 2 x 30 mg Obat pulang: - Cefadroxil 2 x 1 - Asam Mefenamat 3 x ½ :123384 :4/7/13 (pk 13:41:03) :6/7/13 :- Tanggal & Waktu Pemberian 5/7/2013 6/7/2013 12:00 8:00 0:00 17:00 12:00 0:00 8:00

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 207 V. Tgl - VI. Pemerikasaan Mikrobiologi Pemeriksaan Keterangan - - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 1/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 - 450 3,50 - 5,20 15,7 45,8 10,48 460 5,86 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 46,1 45,4 3,6 4,5 0,4 4,83 4,76 0,37 0,48 0,04

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 208 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Seftriakson Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kategori IVA Kategori IVB Kategori IVC Kategori IVD Kategori IIIA Kategori IIIB Kategori IIA Kategori IIB Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Lolos Kategori V (Ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: perioperatif aff plate frakturcruris adalah suatu cedera atau trauma atau bahkan patahan yang terjadi pada tulang tibia fibula sehingga dalam perawatannya memerlukan antibiotika untuk mencegah timbulnya bakteri pada bekas operasi (Marilynn, 1993) Lolos Kategori IVA (tidak ada antibiotika yang lebih efektif). Assesment: Kondisi pasien membaik / sembuh Lolos Kategori IVB (tidak ada antibiotika yang lebih aman). Assesment: antibiotika ini cukup aman digunakan dan tidak ada interaksi merugikan dengan obat lain (Kemenkes, 2011). Lolos Kategori IVC (tidak ada antibiotika yang lebih murah). Assesment: untuk obat sejenis tidak ada yang lebih murah Lolos Kategori IVD (tidak ada antibiotika yang lebih spesifik). Assesment: merupakan antibiotika dengan spectrum luas. Dapat diterapkan dalam terapi pencegahan infeksi bakteri pasca operasi (Lacy, et al., 2011). Lolos Kategori IIIA (penggunaan antibiotika tidak terlalu lama). Assesment: Durasi penggunaannya tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Pasien hanya menerima 24 jam sebelum dan sesudah operasi. Sesuai aturan Kemenkes (2011), durasi penggunaan antibiotika dalam profilaksis bedah yaitu 24 jam sebelum dan sesudah operasi Lolos Kategori IIIB (penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat). Assesment: penggunaan antibiotika tidak terlalu singkat Lolos Kategori IIA (penggunaan antibiotika tepat dosis). Assesment: dosis untuk pencegahan infeksi 1 gram dalam sekali pemberian dalam sehari (Lacy, et al., 2011). Tidak Lolos Kategori IIB (penggunaan antibiotika tidak tepat interval pemberian). Assesment: interval yang diberikan pada pasien ini adalah 2 kali sehari. Interval pemberian yang dianjurkan setiap 1 kali dalam sehari atau setiap 24 jam (Lacy, et al., 2011). Interval pemberian tidak tepat (kategori IIB)

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209 Lampiran 34. Rekam Medis Kasus 34 No Data Tgl Masuk Tgl Keluar I. II. Identitas Pasien Nama Pasien Umur Nama Dokter Diagnosis Keluhan Utama Sumber Biaya : AAF (L) : 5 hari , BB : 2,6 kg , Suhu: - oC : AMK : Ichterik neonatus :: Pribadi Riwayan Kesehatan Riwayat Penyakit III. Tujuan Keluar : sembuh IV. Pengobatan Obat Amoxsan drop 3x0,4ml L/V puyer 3x1bks Istaplex Terapi Penyinaran Obat pulang - Vitaplex 1 x 0,3 - Amoxsan drop 3 x 0,4 :148430 :12/7/13 (pk 15:17:00) :15/7/13 :- Tanggal & Waktu Pemberian 12/7/2013 13/7/2013 14/7/2013 18:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 12:00 12:00 18:00 18:00 18:00 6:00 6:00 14.00 14.00

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 210 V. VI. Pemerikasaan Mikrobiologi Tgl Pemeriksaan - Keterangan - Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Parameter Rujukan Tanggal 12/7/2013 Hematologi Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%) Leukosit (10³/uL) Trombosit (10³/uL) Eritrosit (juta/uL) Hitung Jenis Leukosit Neutrofil (%) Limfosit (%) Monosit (%) Eosinofil (%) Basofil (%) Neutrofil (10³/uL) Limfosit (10³/uL) Monosit (10³/uL) Eosinofil (10³/uL) Basofil (10³/uL) Bilirubin Total Direk Indirek Imunofluorometri TSH 12,00 - 16,00 35,00 - 49,00 4,00 - 12,00 150 - 450 3,50 - 5,20 - 50,0 - 70,0 20,0 - 60,0 3,0 - 12,0 0,5 - 5,0 0,0 - 1,0 2,0 - 8,0 0,80 -7,0 0,12 - 1,20 0,02 - 0,80 0,0 - 0,10 - 0,0 – 0,5 0,05 – 0,3 13,6 14,0 0,4 - < 20 8,5

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211 VII. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menurut Alur Gyssen Amoksisilin Katogori Gyssen Kategori VI Kategori V Kesimpulan Hasil Assessment (Lolos / Tidak Lolos Per Kategori) Lolos kategori VI (Data rekam medis pasien lengkap). Assessment: data rekam medis lengkap Tidak Lolos Kategori V (Tidak ada indikasi infeksi bakteri). Assesment: Ichterik neonatus bukanlah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Peresepan antibiotika pada kasus ini dilakukan tanpa indikasi infeksi bakteri. Hasil uji hematologi dan uji kulturpun tidak tersedia, sehingga penggunaan antibiotika pada kasus ini termasuk kategori V (Pemberian antibiotika tanpa indikasi infeksi bakteri). Penggunaan antibiotika tanpa indikasi infeksi (kategori V)

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212 BIOGRAFI PENULIS Gede Wiwid Santika Prabawa merupakan anak pertama dari pasangan I Ketut Wijadi dan Sang Ayu Putu Widiyanti, lahir di Klungkung pada tanggal 22 Oktober 1991. Pendidikan awal dimulai di Taman Kanak-kanak Kemala Bhayangkari 4 Gianyar pada tahun 1996-1998. Dilanjutkan ke jenjang pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 1 Gianyar pada tahun 1998-2004. Selanjutnya ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Gianyar pada tahun 2004-2007. Kemudian naik ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Gianyar pada tahun 2007-2010. Selanjutnya pada tahun 2010 melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis cukup aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di dalam fakultas maupun universitas, antara lain sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Farmasi periode 2012-2013 dan pengurus Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Sanata Dharma periode 2012-2013.

(231)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Kajian interaksi obat pada peresepan pasien rawat jalan diabetes melitus di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari-Juni 2016.
0
1
41
Kajian interaksi obat pada peresepan pasien rawat jalan sindrom koroner akut di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari-Oktober 2016.
0
1
53
Kajian interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari 2015-Juni 2016.
0
0
50
Kajian interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari 2015-Juni 2016.
0
4
50
Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.
0
4
213
Kajian interaksi obat pada peresepan pasien rawat jalan diabetes melitus di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari Juni 2016
0
0
39
Gambaran penggunaan obat untuk pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman periode 2007 berdasarkan indikator peresepan who [1993].
1
3
117
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien ulkus diabetes mellitus di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2005.
1
7
116
Kajian interaksi obat pada pasien penyakit jantung koroner di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2005.
1
20
96
Kajian interaksi obat pada peresepan pasien rawat jalan sindrom koroner akut di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari Oktober 2016
0
0
51
Kajian interaksi obat pada pasien penyakit jantung koroner di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2005 - USD Repository
0
0
94
Gambaran penggunaan obat untuk pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode 2007 berdasarkan indikator peresepan WHO [1993] - USD Repository
0
0
128
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2010 - USD Repository
0
3
153
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode DDD (Defined Daily Dose) pada pasien rawat inap di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho pada periode Februari – Juli 2013 - USD Repository
0
0
85
Kajian literatur rasionalitas peresepan antibiotika berdasarkan kriteria gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 - USD Repository
0
1
230
Show more