Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
2
310
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh: FR. Amelia Cesarani Purwaningrum 101134130 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI -..{SQ{AT .r, .,:OrmmGunU.F U,rffi " **w,*nlStmrmi:mCr 18 Juni20t4, .: |: ,S:Sflffi-H 'Y.eg5 4J8 Jglri:2014. :: Il,':, :

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI TINGI(AT IMPLEMENTASI PEIIIBELAJARAN IEMATII( OLEH G{,RU PENGAMPU KELAS BAWAH: SI,RYEY BAGI GT}RU.GT}RU SEKOLAH I}ASAR AFILIASI KATOLIK, KRISTEN DAI\I NASIONAL DI KOTA YOGYAI(ARNi Dipersiapkan dan ditulis oleh: FR. Amelia Cesaraoi Punrymingrum Nllvf: I0II34t30 Telah dipertanggungiawabkan di depan penguji pada tanggal 11 Juli 2014 dar dinyatalon telah memenuhi syarat Susuuan Panitia Penguji NamaLengkap: Kehra Grcgorius Ari Nugrahaota SJ,S.S.,BST.,[{A Sekretaris Catrn Rismiati. S.Pd-, Anggota I CaturRismiati, S.Pd., M.A." Ed.D Anggota2 An&i aruSrdean4 Anggota3 Drs" YB. AdimassmaMA MA., Ed.D S.Pd., M.Pd Yogyakarta ll Juli2014 Fakutas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Rohandi, Ph. D lll

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini aku persembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kasih, kekuatan, dan anugerah tiada tara. Kehidupanku sebagai calon pendidik yang professional. Kedua orang tuaku Bapak Purwanto dan Ibu Ambar Rukmayanti atas dukungan doa dan penyertaanya yang tiada henti demi kesuksesan hidupku. Adikku Lusia Milenia Pratiwi yang memberi motivasi dan hiburan untuk tetap bersemangat menyelesaikan skripsi. Dosen-dosenku pembimbing skripsiku, Ibu Catur Rismiati, S.Pd.,M.A.,Ed.D dan Ibu Andri Anugrahana, S.Pd.,M.Pd yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membantu agar skripsi ini dapat tersusun dengan baik. Orang-orang terdekatku yang selalu memberi dukungan untuk menyelesaikan penyusunan skripsi. Almamterku Universitas Sanata Dharma iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikannya kepadamu. (Yohanes 15: 16) Jangan takut bermimpi dan buat dirimu menjadi yang terhebat Education is the most weapon, which you can use to change the world. (Nelson Mandela) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya maupun bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan atau daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah lainnya. Yogyakarta, 18 Juni 2014 Penulis FR. Amelia Cesarani Purwaningrum NIM: 101134130 vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKDEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : FR. Amelia Cesarani Purwaningrum Nomor Mahasiswa : 101134130 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul: TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA Beserta perangkat yang diperlukan (jika ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data dan mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan ke dalam internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari saya, atau memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 18 Juni 2014 Yang menyatakan, FR. Amelia Cesarani Purwaningrum vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH: SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK, KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA FR. Amelia Cesarani Purwaningrum Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini dilatarbelakangi keingintahuan peneliti untuk melihat tingkat implementasi pembelajaran tematik yang telah dilakukan oleh guru-guru sekolah dasar untuk melihat kesiapan para guru untuk menerima kurikulum 2013 dengan pembelajaran tematik integratifnya serta melihat faktor-faktor yang memberikan perbedaan bagi para guru dalam mengimplementasikan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD di Kota Yogyakarta, 2) mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru, 3) mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Penelitian menggunakan jenis penelitian non eksperimental dengan cross sectional desain melalui metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta yang berjumlah 111 guru. Sampel penelitian berjumlah 54 guru yang diambil dengan teknik purposive random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru-guru SD di kota Yogyakarta termasuk dalam kategori rendah. Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru (U = 106,00, Z = -0,850, ρ > 0,05). Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru (H(2) = 0.293, ρ > 0,05). Kata kunci: pembelajaran tematik, latar belakang pendidikan guru, status kepegawaian guru. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT IMPLEMENTATION LEVEL OF THEMATIC INSTRUCTIONS BY LOWER GRADE TEACHERS: A SURVEY OF CATHOLIC, CRISTIAN, AND NATIONAL SCHOOL TEACHERS IN YOGYAKARTA FR. Amelia Cesarani Purwaningrum Sanata Dharma University 2014 The background of this research is the curiosity of the writer to find out how far thematic instructions have been implemented in schools from which the foundation of preparedness measurement of the teachers to apply 2013 curriculum with its thematic integrative is drawn and to see the factors which differentiate the implementations of thematic instructions done by different teachers. The purposes of this research are: 1) to know the implementation level of thematic instructions by middle-low teachers of elementary school in Yogyakarta; 2) to know the differences implementation level of thematic instructions by middle-low teachers seen from teacher’s educational backgrounds; 3) to know the differences of implementation level of thematic instructions by middle-low teachers seen from teacher’s employment statuses. This research was conducted through non-experimental method with crosssectional design, aided by the results of survey. The population of the research comprises of lower grade teacher in Yogyakarta, the amount of which are 111 teachers. The samples took 54 teachers, picked with purposive random sampling technique. The technique of data collecting itself is through questionnaires The results of this research show that the implementation level of thematic instructions by middle-low teachers of elementary school in Yogyakarta is of low. There is no difference of implementation level of thematic instructions by middlelow teachers seen from teacher’s educational backgrounds (U = 106,00, Z = 0,850, ρ > 0,05). There is no difference of implementation level of thematic instructions by middle-low teachers seen from teacher’s employment statuses (H(2) = 0.293, ρ > 0,05). Keywords: thematic instructions, educational backgrounds of elementary school teachers, employment statuses of elementary school teachers ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur, peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan berkat dan kasih-Nya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi berjudul Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dalam Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Peneliti menyadari bahwa terciptanya skripsi ini tak lepas dari campur tangan banyak pihak, maka tak lupa peneliti mengucapkan berjuta terimakasih kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, 2. Rm. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J. S.S., BST., M.A., selaku kepala Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma, 3. Ibu Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D, dan Ibu Andi Anugrahana, S.Pd., M.Pd selaku dosen pembimbing skripsi I dan II yang telah banyak memberikan waktu, tenaga, dan pikiran demi membimbing, memberi petunjuk dan arahan selama proses penulisan skripsi, 4. Guru-guru kelas bawah Sekolah Dasar Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta yang telah bersedia menjadi responden dalam penyusunan skripsi; x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Kedua orang tua serta adik yang telah memberikan semangat dan dukungan baik secara moral maupun material; 6. Sahabat-sahabatku Maria Erika, Maria Wanti, Febrieny Wulan, Aloisia Rani Meita, Saverinus E, Valentina Feti yang selalu memberi motivasi agar penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik; 7. Teman-teman payung tematik Dian, Sita, Tesa, Anis, Deo, Ria, Aji yang telah bekerja bersama dari awal; dan 8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Skripsi ini tentu tidaklah sempurna, masih terdapat banyak kekurangan pada banyak bagiannya, maka penulis sangat menerima jika terdapat kritik dan saran demi perbaikan ke depan. Di tengah banyaknya kekurangan dari skripsi, peneliti juga berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Terimakasih. Yogyakarta, 18 Juni 2014 Peneliti FR. Amelia Cesarani Purwaningrum xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii PERSEMBAHAN ............................................................................................ iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi LEMBAR PERYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .............................. vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ...................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiv DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xvi DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xviii BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... B. Batasan Masalah ................................................................................... C. Rumusan Masalah................................................................................. D. Tujuan penelitian .................................................................................. E. Manfaat Penelitian ................................................................................ F. Definisi Operasional ............................................................................. BAB II. KAJIANTEORI A. Tinjauan Teoritik ....................................................................................... 1. Reformasi pendidikan secara global ..................................................... 2. Reformasi pendidikan di Indonesia ...................................................... 3. Perubahan kurikulum di Indonesia ....................................................... 4. Kurikulum 2013 dan kurikulum 2006 .................................................. 5. Pembelajaran Terpadu .......................................................................... 6. Pembelajaran Tematik .......................................................................... 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan reformasi .................. B. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................................... C. Kerangka Berpikir ...................................................................................... D. Hipotesis Penelitian .................................................................................... xii 1 5 6 6 7 7 9 9 11 11 19 22 25 31 34 40 41

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian ....................................................... B. Waktu dan Tempat penelitian ..................................................................... C. Variabel Penelitian ..................................................................................... D. Populasi dan Sampel ................................................................................... E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... F. Instrumen Penelitian ................................................................................... G. Validitas Instrumen dan Reliabilitas instrumen.......................................... H. Prosedur Analisis Data ............................................................................... I. Uji Hipotesis ............................................................................................... J. Waktu Penelitian......................................................................................... BAB IV.DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian ................................................................................... B. Tingkat pengembalian kuesioner ................................................................ C. Hasil Penelitian ........................................................................................... D. Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................................... BAB V. KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN A. Kesimpulan ................................................................................................. B. Keterbatasan ............................................................................................... C. Saran ........................................................................................................... DAFTAR REFERENSI ..................................................................................... xiii 42 44 44 45 46 46 51 67 78 84 86 88 90 115 120 120 121 122

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Keunggulan KBK dengan kurikulum 1994 .................................. 16 Tabel 2.2 Perubahan Kurikulum di Indonesia ............................................. 18 Tabel 2.3 Landasan pengembangan kurikulum 2013 ................................... 19 Tabel 2.4 Perbedaan esensial kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013 ..... 22 Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik .................................................. 26 Tabel 3.1 Penjabaran Skor Kuesioner ........................................................... 47 Tabel 3.2 Sebaran item positif dan item negatif .......................................... 48 Tabel 3.3 Kisi-kisi instrumen penelitian ....................................................... 51 Tabel 3.4 Kriteria Revisi .............................................................................. 52 Tabel 3.5 Hasil expert judgment indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa ...................................................................... 53 Tabel 3.6 Hasil expert judgment indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar ................................................................ 54 Tabel 3.7 Hasil expert judgment indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas .......................................................... 55 Tabel 3.8 Hasil expert judgment indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran ................................................... 56 Tabel 3.9 Hasil expert judgment indikator pembelajaran bersifat fleksibel 57 Tabel 3.10 Hasil expert judgment indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa .............................................. 58 Tabel 3.11 Hasil expert judgment indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa ........................................................... 60 Tabel 3.12 Validitas muka ............................................................................ 61 Tabel 3.13 Hasil validitas implementasi pembelajaran tematik .................... 64 Tabel 3.14 Koefisien Korelasi Reliabilitas ..................................................... 65 Tabel 3.15 Hasil reliabilitas ........................................................................... 66 Tabel 3.16 Waktu Penelitian ........................................................................... 85 Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval ................................................................. 91 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.2 Hasil Penghitungan Daftar Distribusi .......................................... 92 Tabel 4.3 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah ..................................................... 94 Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi ............................................... 97 Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Latar Belakang Pendidikan Guru ...................... 100 Tabel 4.6 Hasil Uji Hipotesis Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Guru ............................ 102 Tabel 4.7 Uji Normalitas Tingkat Implentasi Pemebelajaran Tematik dengan Jenjang Status Kepegawaian Guru Tidak Tetap Yayasan ............ 104 Tabel 4.8 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian Guru Tetap Yayasan .................................... 107 Tabel 4.9 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian Pegawai Negeri ........................................... 108 Tabel 4.10 Uji Homogenitas Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian Guru ................................................ 112 Tabel 4.11 Uji Hipotesis Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru ..................................................... 114 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1Skema penelitian yang relevan ....................................................... 39 Gambar 3.1 Alur penelitian .............................................................................. 43 Gambar 3.2 Rumus Product Moment ............................................................... 63 Gambar 3.3 Rumus Chronbach Alpha ............................................................. 66 Gambar 3.4 Rumus Jumlah Kelas .................................................................... 71 Gambar 3.5 Rumus Panjang Kelas ................................................................... 72 Gambar 3.6 Rumus Kolmogorov Smirnov ........................................................ 73 Gambar 3.7 Rumus Lavene’s Test .................................................................... 76 Gambar 3.8 Rumus Mann Whitney................................................................... 79 Gambar 3.9 Rumus Effect Size ......................................................................... 80 Gambar 3.10 Rumus Koefisiensi Determinasi ................................................. 81 Gambar 3.11 Rumus Kruskal Wallis ................................................................ 82 Gambar 4.1Hasil Uji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah ......................................... 95 Gambar 4.2 Hasil Uji Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah .......................... 96 Gambar 4.3 Hasil Uji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi ............................................... 98 Gambar 4.4 Hasil Uji Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi ................................. 99 Gambar 4.5 Hasil ji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan ......................................... 105 Gambar 4.6 Hasil Uji Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan ........................... 106 Gambar 4.7 Hasil Uji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan ................................................... 108 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.8 Hasil Visualisasi Histogram Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan ..................................... 109 Gambar 4.9 Hasil Visualisasi P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri .................................................. 110 Gambar 4.10 Hasil Visualisasi Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri ........................... 111 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Izin Penelitian ............................................................................. 125 Lampiran 2 Surat Izin Telah Melakukan Penelitian ................................................ 136 Lampiran 3 Expert Judgement ................................................................................. 144 Lampiran 4 Validitas Muka ..................................................................................... 231 Lampiran 5 Data Validitas ....................................................................................... 242 Lampiran 6 Hasil Validitas Konstruk ...................................................................... 243 Lampiran 7 Data Reliabilitas ................................................................................... 244 Lampiran 8 Hasil Reliabilitas .................................................................................. 245 Lampiran 9 Kuesioner Sebelum dan Sesudah Revisi .............................................. 248 Lampiran 10 Contoh Kuesioner yang Telah Diisi ..................................................... 255 Lampiran 11 Data Asli............................................................................................... 259 Lampiran 12 Output Deskripsi Implementasi Pembelajaran Tematik ...................... 262 Lampiran 13 Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi ............................................... 263 Lampiran 14 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah ............................................................. 264 Lampiran 15 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi ................................................................... 268 Lampiran 16 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Latar Belakang Pendidikan ...................................................... 272 Lampiran 17 Hasil Uji Hipotesis Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Guru .................................................. 273 Lampiran 18 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan ............................................................. 274 Lampiran 19 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan ........................................................................ 278 Lampiaran 20 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri ..................................................................................... 282 Lampiran 21 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran tematik dengan Status Kepegawaian Guru .................................................................... 286 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 22 Hasil Uji Hipotesis Implementasi Pemebelajaran Tematik Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru ............................................................. 287 Lampiran 23 Tabel Krejcie ........................................................................................ 288 Lampiran 24 Ketentuan r tabel .................................................................................. 289 Lampiran 25 Tingkat Pengembalian Kuesioner ........................................................ 290 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan penelitian terdiri dari enam sub judul, yaitu latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional dari penelitian. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 326) diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan juga dianggap sebagai wahana pengembang sumber daya manusia yang mampu menjadi subyek pengembang IPTEK dan globalisasi (Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 1). Tujuan pendidikan sebagai pengembang sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK dan globalisasi turut menuntut pendidikan untuk berkembang memenuhi perkembangan IPTEK dan globalisasi. Tuntutan terhadap kemampuan peserta didik pun semakin bertambah. Hernawan (2012: 6.10) mencatatkan beberapa kemampuan yang perlu dimiliki oleh para lulusan sekolah dasar di abad ke 21, berupa 1) mengenali dan berprilaku sesuai dengan ajaran agama yang dimiliki; 2) mengenali dan menjalankan hak dan kewajiban diri, beretos kerja, dan peduli terhadap lingkungan; 3) berpikir logis, kritis dan kreatif serta berkomunikasi melalui berbagai media termasuk teknologi informasi; 4) menikmati dan menghargai keindahan; 5) membiasakan pola hidup sehat; dan 6) memiliki rasa cinta dan 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 bangga terhadap tanah air. Syarat seperti yang disampaikan Hernawan telah menyiratkan bahwa peserta didik di abad 21 perlu menguasai kemampuan pada hampir seluruh lini kehidupan. Kemampuan yang membekali diri masing-masing peserta didik untuk mengimbangi pekembangan global. Hasil studi tentang peserta didik salah satunya yang dilakukan PISA (Program for International Student Assessment) sepertinya belum menunjukan hasil bahwa peserta didik di Indonesia telah melewati syarat-syarat seperti yang telah dipaparkan. Hasil studi PISA menempatkan peringkat Indonesia baru menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012: 9). Hasil studi PISA ini tentu menjadi salah satu pandangan bagi para pelaku pendidikan untuk membenahi tatanan pendidikan agar mendapatkan hasil yang lebih baik ke depan. Perubahan terhadap pendidikan telah beberapa kali dilakukan di Indonesia, terutama perubahan dalam bidang kurikulum. Hidayat (2013) mengungkapkan bahwa terhitung sejak kemerdekaan tahun 1945, Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum, yaitu pada tahun 1947; 1952; 1964; 1968; 1975; 1984; 1994; 2004; 2006; dan 2013. Setiap kurikulum memiliki ciri dan karakteristik masing-masing dalam pergantiannya. Rencana pelajaran 1947 menekankan pada pembentukan watak dan karakter bangsa dengan semangat Pancasila. Kurikulum 1952 merupakan pengembangan dari kurikulum 1947 karena ditahun ini para pelaku pendidikan sudah diharapkan untuk mengembangkan isi pembelajaran dengan mengaitkannya pada kehidupan seharihari. Kurikulum 1968 memiliki sifat yang lebih teoritis karena setiap

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 pembelajaran tidak dihubungkan dengan kehidupan faktual. Kurikulum 1975 telah mengenal istilah tujuan instuksional khusus dari setiap pokok bahasan. Kurikulum 1984 yang menekankan pada pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Kurikulum ini menekankan agar siswa selalu aktif dalam setiap pembelajaran. Kurikulum 1994 yang menekankan pemberian materi pembelajaran yang cukup padat dengan pembagian waktu berdasarkan sistem caturwulan. Kurikulum 2004 mengacu pada pendidikan yang menyiapkan individu untuk mampu melakukan seperangkat kompetensi. Kurikulum 2006, kompetensi belajar siswa menjadi otonomi bagi tingkat satuan pendidikan sesuai dengan karakteristik setiap satuan pendidikan, pembelajaran di kelas bawah menggunakan tema agar konsep belajar siswa lebih tertata atau dikenal dengan pembelajaran tematik. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum pengembang dari kurikulum 2006 yang mengurangi muatan pembelajaran dan menggabungkannya pada mata pelajaran lain dengan mengacu pada tema yang sejalan atau dikenal dengan nama tematik integratif. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada siswa (Depdiknas, 2009: 6). Pembelajaran tematik dianggap sebagai pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang berkembanganya anak untuk berpikir secara holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik (Depdiknas, 2009: 4). Pembelajaran tematik dianggap mampu untuk menjawab tantangan zaman karena seluruh konten dari beberapa mata pelajaran

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 dilihat secara utuh dalam naungan sebuah tema. Pembelajaran menjadi lebih terkonsep dan pola pikir peserta didik terarah tidak terpisah-pisah. Pengembangan pembelajaran tematik yang terjadi menjadi landasan dilakukannya penelitian ini. Penelitian melihat tingkat implementasi pembelajaran tematik yang telah dilakukan oleh para guru sehingga guru dapat dikatakan siap untuk menerima pengembangan pendidikan yang lebih baru. Depdiknas (2008: 5) masih menangkap indikasi kekurangan implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh para guru, seperti (1) sebagian besar guru mengalami kesulitan dalam menyusun RPP tematik khususnya guru kelas awal SD, (2) guru-guru masih mengalami kesulitan dalam menjabarkan SK dan KD untuk pemetaan tema, (3) guru masih mengalami kesulitan dalam sistem penilaian dalam desain pembelajaran tematik, (4) kemampuan guru dalam menyusun pengembangan silabus dari kompetensi dasar ke indikator masih kurang, dan (5) pemahaman tentang pembelajaran terpadu diantara guru SD masih kurang. Indikasi kekurangan yang implementasi pembelajaran yang dilaporkan Depdiknas perlu diminimalisir keberadaannya sebab guru merupakan ujung tombak pendidikan yang nantinya akan meneruskan inti dari perubahan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran pada peserta didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan para guru dalam melaksanakan pembelajaran seperti yang diterangkan Chairunniza (2012: 10) yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kepegawaian, status pernikahan, masa kerja dan pelatihan yang diikuti perlu diberikan perhatian. Faktor-faktor yang terbukti memberikan perbedaan bagi para guru untuk mengimplementasikan pembelajaran perlu untuk

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 mendapatkan perhatian lebih lanjut agar implementasi pembelajaran menjadi lebih baik. Peserta didik pun lebih berkembang karena ditangani oleh guru-guru yang profesional. B. Batasan Masalah Penelitian ini difokuskan pada usaha untuk melihat tingkat implementasi pembelajaran tematik yang telah dilakukan oleh para guru kelas bawah sekolah dasar swasta afiliasi Katholik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta. Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah adalah guru-guru kelas 1, 2, dan 3 sebagai pelakana pembelajaran tematik pada kurikulum 2006. Indikasi kekurangan yang implementasi pembelajaran yang dilaporkan Depdikas, seperti (1) sebagian besar guru mengalami kesulitan dalam menyusun RPP tematik khususnya guru kelas awal SD; (2) guru-guru masih mengalami kesulitan dalam menjabarkan SK dan KD untuk pemetaan tema; (3) guru masih mengalami kesulitan dalam sistem penilaian dalam desain pembelajaran tematik; (4) kemampuan guru dalam menyusun pengembangan silabus dari kompetensi dasar ke indikator masih kurang; dan (5) pemahaman tentang pembelajaran terpadu diantara guru SD masih kurang perlu diminimalisir keberadaannya. Kekurangankekurangan yang telah disebutkan Depdiknas perlu diminimalisir keberadaannya. Faktor-faktor pengaruh kesiapan guru yang terbukti memberikan perbedaan bagi para guru untuk mengimplementasikan pembelajaran perlu untuk mendapatkan perhatian lebih lanjut.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 C. Rumusan Masalah Terdapat 3 rumusan masalah yang akan diteliti pada penelitian ini. 1. Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta? 2. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru? 3. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru? D. Tujuan Penelitian Beberapa tujuan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta. 2. Mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. 3. Mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi guru Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan refleksi atas tingkat implementasi pembelajaran tematik yang telah dilakukannya. 2. Bagi peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk melihat gambaran tentang tingkat implementasi pembelajaran tematik yang telah berlaku di sekolah-sekolah dasar. 3. Bagi institusi pendidikan Hasil penelitian terutama faktor yang mempengaruhi implementasi pembelajaran dapat dijadikan acuan dalam pembenahan faktor-fakktor tersebut. F. Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Reformasi adalah perubahan yang dilakukan oleh suatu negara untuk perbaikan di bidang sosial, politik, dan agama. 2. Kurikulum adalah seperangkat rencana yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. 3. Pembelajaran tematik adalah pendekatan yang mengintegrasikan kompetensi pembelajaran menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 sehingga dapat memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik di SD kelas rendah (tematik integratif). 4. Demografi adalah faktor yang dapat mempengaruhi perilaku atau tingkah laku seseorang. 5. Guru adalah seseorang yang berperan penting dalam menentukan keberhasilan dalam proses pendidikan. 6. Implementasi adalah pelaksanaan dari kurikulum yang telah dibuat 7. Survei adalah kegiatan atau penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dari populasi. 8. Afiliasi adalah pertalian sebagai anggota atau cabang. 9. Latar belakang pendidikan adalah kemampuan dasar yang dimiliki seseorang sebagai bekal dalam menjalankan tuganya. 10. Status kepegawaian adalah kedudukan seseorang dalam pekerjaan.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI Bab II membahas mengenai tinjauan teoritik, penelitian-penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. A. Tinjauan Teoritik Tinjauan teoritik berisi tentang teori-teori relevan yang akan melandasi pembahasan dalam penelitian ini. Tinjauan teoritik pada penelitian ini terdiri atas teori-teori tentang: reformasi pendidikan secara global, reformasi pendidikan di Indonesia, perubahan kurikulum di Indonesia, kurikulum 2006 dan kurikulum 2012, pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi pelaksanaan reformasi. 1. Reformasi Pendidikan Secara Global Reformasi oleh Depdiknas (2008: 1154) diartikan sebagai perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, agama) dalam suatu masyarakat atau Negara. Merefleksikan arti dari kata reformasi yang telah dijelaskan oleh Depdiknas, maka dapat disimpulkan bahwa reformasi harus terus menerus digalakkan agar terciptanya perbaikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya adalah reformasi dalam bidang pendidikan. Irianto (2009: 209) bahkan menyatakan hal yang lebih mendalam, bahwa: “Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses yang berlangsung seumur hidup dari sejak dalam kandungan, kemudian melalui seluruh proses dan siklus kehidupan, oleh karenanya pembangunan pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya pembangunan manusia dan 9

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 upaya-upaya pembangunan pendidikan pada dasarnya diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan manusia itu sendiri”. Hidayat (2013: 2) menambahkan bahwa jika sistem pendidikan tidak ingin terjebak dalam stagnasi, maka semangat perubahan perlu terus dilakukan dan merupakan suatu keniscayaan. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis karena terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara (Hidayat, 2013: 111). Semangat untuk melakukan reformasi di bidang pendidikan perlu untuk dilakukan sebagai konsekuensi dari bagian kehidupan lain di luar dunia pendidikan agar perkembangan terjadi terus menerus secara merata. Reformasi dalam pendidikan dimaksudkan untuk membenahi tatanan dan menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dunia global. Abad ke 19-20, siapa saja yang tidak bisa memenuhi persyaratan global atau tidak bisa mengikuti perkembangan zaman akan tersingkir secara sendirinya (Suyanto dan Hisyam dalam Hanaky, 2009:1). Sistem pendidikan selalu diarahkan pada orientasi penyediaan sumber daya manusia yang unggul dalam interaksi dan pergaulan dunia global. Manusia yang memiliki toleransi dan inisiatif yang baik untuk melakukan suatu tindakan berkaitan dengan perubahan yang terjadi disebut dengan manusia pro aktif (Hanaky, 2009: 2). Manusia yang aktif menanggapi reformasi menjadi sangat diperlukan jika ia dapat membenahi tatanan kehidupannya.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. 11 Reformasi Pendidikan di Indonesia Pendidikan nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol, yaitu 1) masih rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan; 2) masih rendahnya mutu dan relevansi pendidikan; dan 3) masih lemahnya manajemen pendidikan (Jalal dan Supriadi, 2001: XXXI). Permasalahan ini menjadi perkerjaan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan pembangunan terhadap pendidikan nasional. Irianto (2011: 3) menyatakan bahwa: “Pembangunan pendidikan nasional merupakan upaya bersama seluruh komponen pemerintah dan masyarakat yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk mewujudkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Salah satu bentuk inovasi pendidikan yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum (Hidayat, 2013: 13). Indonesia sendiri sejak kemerdekaannya di tahun 1945 telah mengalami sepuluh kali masa pergantian. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk turut membantu pendidikan di Indonesia untuk menjawab permasalahan yang ada. 3. Perubahan Kurikulum di Indonesia Sejak kemerdekaannya di tahun 1945, Indonesia terhitung telah mengalami sepuluh kali perubahan kurikulum. Kurikulum pertama kali dikembangkan pada tahun 1947, dikembangkan lagi di tahun 1952, tahun 1964, tahun 1968, tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994, tahun 2004, tahun 2006, dan tahun 2013.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Rencana pelajaran 1947 merupakan kurikulum yang dilandasi semangat zaman dan suasana kehidupan berbangsa dengan spirit merebut kemerdekaan maka pendidikan di tahun ini lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain, kesadaran bernegara dan masyarakat (Hidayat, 2013: 2). Rencana pelajaran 1947 mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat dengan materi pelajaran yang dihubungkan pada kejadian sehari-hari berlandaskan Pancasila (Muzamiroh, 2013: 41). Rencana pelajaran 1947 dapat disimpulkan sebagai kurikulum yang menekankan pada pembentukan watak dan karakter bangsa melalui semangat Pancasila dengan harapan agar bangsa Indonesia yang baru saja memperoleh kemerdekaan lebih mencintai negaranya sehingga tidak mudah lagi dikuasai oleh bangsa lain. Kurikulum 1952 merupakan kurikulum penyempurna dari rencana pembelajaran 1947. Ciri utama dari kurikulum 1952 adalah bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia itu sendiri (Muzamiroh, 2013: 42). Kurikulum 1952 ini lebih merinci setiap mata pelajarannya sehingga diberi nama Rencana Pelajaran Terurai 1952 yang berfungsi membimbing para guru dalam kegiatan mengajar di sekolah dasar (Hidayat, 2013: 3). Ahmad (Muzamiroh, 2013: 42) menambahkan silabus pada kurikulum ini jelas sekali dan seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Pernyataan yang telah disampaikan para tokoh jelas menyatakan bahwa kurikulum 1952 merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1947, sama hanya dengan kurikulum 1947 isi pembelajaran pada kurikulum 1952

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat namun pada kurikulum 1952 setiap kegiatan telah terperinci pada setiap mata pelajaran dan silabus pelajarannya. Pemerintah pada kurikulum 1964 mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik dalam Hidayat, 2013: 3). Program Pancawardhana adalah program pembelajaran yang menekankan pada perkembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan, dan jasmani (Muzamiroh, 2013: 43). Program Pancawardhana ini akhirnya yang menjadi ciri khas dari kurikulum 1964. Program Pancawardhana menjadikan kemampuan yang harus dimiliki siswa lebih terarah. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus (Muzamiroh, 2013: 43). Pendidikan pada kurikulum 1968 oleh Hidayat (2013: 4) disebutkan sebagai kurikulum yang bertujuan untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama dengan isi pendidikan yang diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Muatan materi pelajaran pada kurikulum 1968 bersifat lebih teoritis karena tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan (Muzamiroh, 2013: 44). Pendidikan pada kurikulum 1968 dapat dikatakan sebagai kurikulum yang berbeda dibanding

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 kurikulum-kurikulum yang telah berkembang sebelumnya. Kurikulum 1968 menjujung tinggi pembentukan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus namun melalui hal-hal yang bersifat teoritis tidak dihubungkan dengan kehidupan masyarakat seperti pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 1975 dikenalkan sebuah rencana pembelajaran yang pada saat itu bernama satuan pelajaran. Satuan pelajaran berisi petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajarmengajar, dan evaluasi (Muzamiroh, 2013: 44). Kurikulum 1975 menganut beberapa prinsip yang tujuannya sebagai perbaikan bagi perkembangan pendidikan kedepan. Prinsip-prinsip yang melandasi kurikulum 1975 adalah 1) berorientasi pada tujuan, 2) menganut pendekatan integratif, 3) menekankan pada efisiensi dan efektivitas dalam daya dan waktu, 4) menganut pendekatan sistem yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instuksional (PPSI), dan 5) dipengaruhi dengan psikologi behaviorisme (Hidayat, 2013: 6). Kurikulum 1975 memiliki sistem pelajaran yang lebih tertata walaupun akhirnya kurikulum ini kembali mendapat kritikan karena dianggap terlalu membebani guru. Kurikulum 1984 lahir sebagai perbaikan dari kurikulum 1975. Hidayat (2013: 9) menjabarkan ciri-ciri khusus dari kurikulum 1984, yaitu 1) berorientasi kepada tujuan pembelajaran, 2) pendekatan pembelajaran berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA), 3) materi dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral, 4) menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan, 5) materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa, dan 6) menggunakan pendekatan keterampilan proses. Ciri utama yang terlihat

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 pada kurikulum 1984 adalah pembelajaran yang sangat menekankan pada keaktifan siswa. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar dimulai dari proses mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan (Muzamiroh, 2013: 45). Idris dan Jamal (Trianto, 2010: 61) kurikulum 1994 mengenal pelaksanaan pendidikan dasar Sembilan tahun, menerapkan kurikulum muatan lokal, dan penyempurnaan tiga kemampuan dasar (membaca, menulis, dan berhitung). Pembagian tahapan pelajaran menggunakan sistem caturwulan dengan materi pelajaran yang cukup padat (Hidayat, 2013: 11). Kurikulum 1994 menganjurkan gurunya untuk memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial (Hidayat, 2013: 11). Kurikulum 1994 kembali melakukan pendekatan pembelajaran dengan melibatkan keaktifan siswa namun dikemas dengan materi yang cukup padat. Kurikulum 2004 mengacu pada pendidikan yang berupaya menyiapkan individu yang mampu melaksanakan perangkat kompetensi yang ditentukan (Hidayat, 2013: 9). Kurikulum berbasis kompetensi tercipta sebagai jawaban dari berbagai kritikan masyarakat terhadap kurikulum 1994. KBK secara yuridis tercipta sebagai respon dari tuntutan reformasi, diantaranya UU No 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, yang telah diubah dengan UU No 32 tahun 2004, dan UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom yang telah diubah dengan UU No 33 tahun 2004, dan Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang Arah Kebijakan Pendidikan Nasional

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 (Triyanto, 2010: 63). Tabel 2.1 menunjukkan keunggulan KBK apabila dibandingkan dengan kurikulum 1994. Tabel 2.1 Keunggulan KBK dibanding Kurikulum 1994 Subjek Kurikulum 1994 KBK Yang utama Paradigma pembelajaran Penguasaan materi Hasil belajar dan kompetensi. Versi UNESCO: belajar mengetahui, belajar untuk bertindak, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi diri sendiri. Silabus Disamakan dengan sekolah lain Silabus menjadi tanggung jawab guru. Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu Metode pembelajaran Keterampilan proses Tercipta metode pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dan CTL (Contextual Teaching Learning). Sistem penilaian Terfokus pada aspek kognitif Pemaduan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan menekankan nilai yang berbasis kelas pada penilaiannya. 32 jam per minggu, namun jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi. Sumber: Trianto (2010: 64) Tabel 2.1 menerangkan bahwa kurikulum 2004 lebih unggul dibandingkan kurikulum 1994. Kurikulum 2004 terlihat lebih mengutamakan pengembangan kompetensi siswa dibanding kurikulum 1994. Pengembangan kompetensi dilakukan memacu keaktifan siswa dalam belajar yang dimulai dengan penerapan model-model pembelajaran yang inovatif. Kurikulum 2006 atau kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum penegas dari kurikulum 2004. KTSP merupakan kurikulum operasional yang dikembangkan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan karakteristik

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan perbedaan daerah (desentralistik). KTSP merupakan suatu 17 cara pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. KTSP bertujuan untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui kewenangan kepada lembaga pendidikan. Esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (Hidayat, 2013: 17). Trianto (2010: 67) menyebukan ada tujuh prinsip pengembangan KTSP, 1) berpusat pada potensi, pengembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dengan lingkungannya. Siswa memliki posisi sentral atau kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada siswa; 2) beragam dan terpadu. Pengembangan kurikulum disusun secara terpadu dalam keterkaitan dan berkesinambungan dengan memperhatikan keragaman karakteristik siswa dan tidak ada perbedaan SARA (Suku, Ras, dan Agama); 3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. IPTEK dan seni berkembang secara dinamis.; 4) berkaitan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru dan kepala sekolah tetapi melibatkan seluruh stakeholders (masyarakat, komite sekolah, guru, dll) agar sesuai dengan kebutuhan hidup termasuk dalam kehidupan kemasyarakatan; 5) menyeluruh dan berkesinambungan. Isi dari kurikulum mencakup keseluruhan kompetensi bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan; 6) long life education. Proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan siswa berlangsung sepanjang hayat. Lingkungan yang selalu berkembang menuntun untuk menjadi manusia yang seutuhnya; dan 7) seimbang antara

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah saling mengisi sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Ringkasan perubahan kurikulum yang pernah terjadi di Indonesia dapat dilihat pada tabel 2.2. Tabel 2.2 Perubahan Kurikulum di Indonesia Tahun Nama Kurikulum Ide pokok 1947 Rencana Pembelajaran 1947 Pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat dengan materi pelajaran yang dihubungkan pada kejadian sehari-hari berlandaskan Pancasila. Isi pembelajaran pada kurikulum 1952 dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat namun pada kurikulum 1952 setiap kegiatan telah terperinci pada setiap mata pelajaran dan silabus pelajarannya. 1952 Rencana pelajaran terurai 1952 1964 Kurikulum 1964 Pancawardhana. Pembelajaran yang menekankan pada perkembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan, dan jasmani. 1968 Kurikulum 1968 1975 Satuan pelajaran 1975 Menjujung tinggi pembentukan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus namun melalui hal-hal yang bersifat teoritis. Satuan pelajaran berisi petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. 1984 Kurikulum 1984 1994 Kurikulum 1994 2004 Kurikulum 2004 2006 Kurikulum 2006 Siswa diposisikan sebagai subyek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pembagian tahapan pelajaran menggunakan sistem caturwulan dengan materi pelajaran yang cukup padat. Pendidikan yang berupaya menyiapkan individu yang mampu melaksanakan perangkat kompetensi yang ditentukan. Tercipta metode pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dan CTL (Contextual Teaching Learning). Tabel 2.2 menjelaskan secara ringkas bahwa dalam setiap perubahannya kurikulum di Indonesia selalu mengalami perkembangan. Perubahan dapat bersifat pengurangan maupun penambahan, namun yang pasti perubahan

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 kurikulum di tahun itu merupakan usaha dari pemerintah dan masyarakat untuk menjawab tantangan global serta kondisi yang sedang berkembang disaatnya. 4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang pernah diujicobakan pada tahun 2004 (Mulyasa, 2013: 66). Kurikulum 2013 memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi oleh para siswa dan memungkinkan para guru menilai hasil belajar siswa dalam proses pencapaian tujuan belajar yang mencerminkan pemahaman terhadap mata pelajaran. Empat landasan dalam kurikulum 2013 dapat dilihat pada tabel 2.3. Tabel 2.3 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 Landasan Yuridis 1. Instruksi Presiden Republik Indoneisia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter, Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan 2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Landasan Filosofis Landasan Empiris Landasan Teoritis 1. Kurikulum berakar pada 1. Kurikulum harus 1. Kurikulum budaya dan bangsa. mampu membentuk dikembangkan 2. Kurikulum siwa di seluruh agar siswa dapat dikembangkan Indonesia untuk mencapai kualitas berdasarkan filosofi menyeimbangkan standar nasional eksperimentalisme yang kebutuhan individu, diatasnya. mengatakan bahwa dan masyarakat demi 2. Kurikulum proses pendidikan kebutuhan beritegrasi berbasis merupakan usaha untuk sebagai satu entitas kompetensi mendekatkan apa yang bangsa Indonesia. dirancang untuk sudah dipelajari di dalam 2. Kurikulum perlu memberikan sekolah dengan yang direorientasi dan pengalaman sudah dipelajari di direorganisasi belajar bagi siswa masyarakat. terhadap beban untuk 3. Filosofi rekonstruksi belajar. mengembangkan sosial yang memberikan 3. Kurikulum sikap, dasar pengembangan seharusnya diarahkan ketrampilan dan kurikulum untuk untuk membangun pengetahuan. menempatkan siswa kesadaran dan sebagai seseorang yang kepedulian siswa peduli dengan terhadap lingkungan, sosial, alam lingkungannya. dan lingkungan budaya. 4. Filosofi esensialisme, perenialisme, dan eksistensialisme. Sumber: Majid (2014: 29)

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Tabel 2.3 menjelaskan bahwa kurikulum 2013 dilandasi oleh dasar-dasar pembelajaran yang relevan untuk meningkatkan perkembangan peserta didik. Kurikulum 2013 berkembang atas empat landasan pokok, yaitu landasan yuridis, landasan filosofis, landasan empiris, dan landasan teoritis. Kurikulum 2013 memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan kurikulum-kurikulum pendahulunya (Mulyasa, 2013: 163). Pertama, kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah karena berangkat, berfokus, dan bermura pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Kedua, kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi yang mendasari pengembangan kemampuankemampuan lain. Ketiga, bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu berkembang lebih tepat karena menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan. Keunggulan-keunggulan yang telah diterangkan menjelaskan bahwa kurikulum 2013 didasari oleh kompetensi yang berasal dari dalam diri siswa, kemudian kompetensi inilah yang akan menjadi sumber belajar bagi para siswa dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan lain sehingga hasilnya akan dinikmati juga oleh siswa itu sendiri. Perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 berganti menjadi kurikulum 2013 memang perlu dilakukan, terutama jika melihat masih adanya adanya kelemahankelemahan dalam kurikulum 2006. Mulyasa (2013:60-61) menjelaskan bahwa kurikulum 2006 memiliki beberapa kelemahan, meliputi 1) masih adanya mata pelajaran dengan kesukaran yang melampaui tingkat perkembangan anak; 2) kompetensi yang dikembangkan belum sesuai dengan visi, misi, dan tujuan

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 pendidikan nasional; 3) kompetensi yang dikembangkan belum menggambarkan pribadi siswa sepenuhnya; 4) kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan perkembangan masyarakat belum terakomodasi; 5) kurikulum belum tanggap dengan berbagai perubahan sosial; 6) pembelajaran masih berpusat pada guru karena urutan pelajaran belum dirinci dengan baik; 7) penilaian yang dilakukan belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta layanan remediasi dan pengayaan belum diberikan dengan tegas. Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada kurikulum 2006 menjadi patokan dalam perubahan kurikulum. Penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum 2013 ditunjukan melalui hal-hal berikut, (1) standar kompetensi lulusan yang diturunkan dari kebutuhan, (2) standar isi yang diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti bebas mata pelajaran, (3) semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan, (4) mata pelajaran yang diturunkan dari kompetensi yang dicapai, dan (5) semua mata pelajaran diiikat oleh kompetensi inti (Kemendikbud, 2013: 13). Mulyasa memberikan penjelasan yang lebih esensial tentang perbedaan antara kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Ringkasan perbedaan Kurikulum yang terjadi antara kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013 menurut Mulyasa dapat dilihat pada tabel 2.4.

(41) 22 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 2.4 Perbedaan Esensial Kurikulum 2006 dengan Kurikulum 2013 KTSP 2006 Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu Mata pelajaran disusun secara mempunyai kompetensi sendiri sendiri dan Bahasa Indonesia sejajar dengan mata pelajaran yang lain Setiap mata pelajaran diajarakan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah Tematik untuk kelas bawah (I. II. dan III) Tabel 2.4 menjelaskan secara Kurikulum 2013 Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik. Mata pelajaran disusun saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dan juga mempunyai kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas. Bahasa Indonesia sebagai penghubung mata pelajaran lain. Semua mata pelajaran dilakukan dengan pendekatan yang sama. Bermacam-macam jenis konten pembelajaran diajarkan terpadu antara yang satu dengan yang lainnya. Konten ilmu pengetahuan diitegrasikan dan dijadikan penggerak pembelajaran yang lainnya. Tematik Integratif untuk kelas I, II,II dan IV. singkat bahwa kurikulum 2013 mengembangkan kompetensi yang lebih beragam dibanding kurikulum 2006 namun dikemas dengan muatan pembelajaran yang lebih singkat sehingga tidak membebani siswa. Pembelajaran dilakukan dengan tematik integratif untuk kelas I, II, III, dan IV tidak hanya pada kelas I, II, dan III seperti pada kurikulum 2006. Pembelajaran dilaksanakan secara terpadu. 5. Pembelajaran Terpadu Tinjauan teoritik tentang pembelajaran terpadu membahas terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: pengertian pembelajaran terpadu, model-model pembelajaran terpadu, dan ciri-ciri pembelajaran terpadu. a. Pengertian Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu oleh Shoemaker (Indrawati, 2009: 17) diartikan sebagai pendidikan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga melintasi batas-batas mata pelajaran, menggabungkan berbagai aspek kurikulum menjadi asosiasi yang

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 bermakna untuk memfokuskan siswa pada wilayah studi yang luas. Hadisubroto (Trianto, 2010: 56) berpendapat yang senada, bahwa: “Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran lebih bermakna.” Pembelajaran terpadu dapat disimpulkan sebagai pembelajaran yang mengacu pada satu tema namun dibahas dalam berbagai konsep dan pandangan. Pembelajaran yang bermakna bagi siswa menjadi tujuan utama pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu mengembangkan pengalaman belajar yang berasal dari anak. b. Model-Model Pembelajaran Terpadu Fogarty (Trianto, 2010: 38) menerangkan bahwa terdapat sepuluh model dari pembelajaran terpadu, yaitu the fragmented model (model tergambar), the connected model (model terhubung), the nested model (model tersarang), the sequence model (model terurut), the shared model (model terbagi), the webbed model (model jejaring) the threaded model (model tertali), the integrated model (model terpadu), the immersed model (model terbenam), dan the networked model (model jaringan). The fragmented model memiliki karakteristik yaitu berbagai disiplin ilmunya masih berbeda dan saling terpisah serta pemanduan yang hanya terbatas untuk satu mata pelajaran. The connected model memiliki karakteristik yaitu butir-butir

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 pembelajaran yang dipadukan oleh induk mata pelajaran namun antar disiplin ilmu belum ada keterkaitan. The nested model memiliki karakteristik yaitu keterampilan-keterampilan sosial, berpikir, dan konten dicapai dalam satu mata pelajaran. The sequence model memiliki karakteristik yaitu persamaan-persamaan yang ada diajarkan secara bersamaan, meskipun termasuk dalam mata pelajaran yang berbeda. The shared model memiliki karakteristik yaitu perencanaan pengajaran yang melibatkan dua disiplin difokuskan pada konsep, keterampilan, dan sikap-sikap yang sama. The webbed model memiliki karakteristik yaitu pembelajaran menggunakan suatu tema sebagai dasar pembelajaran dalam berbagai disiplin mata pelajaran. The threaded model memiliki karakteristik yaitu keterampilan-keterampilan sosial, berpikir, berbagai jenis kecerdasan, dan keterampilan belajar direntangkan melalui berbagai disiplin ilmu. Model keterpaduan dalam the integrated model merupakan keterpaduan dari sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda-beda, namun memiliki arti yang sama sebagai sebuah topik tertentu. The immersed model memiliki karakteristik yaitu pelajar memadukan apa yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pengajaran melalui perspektif bidang yang disukai. The networked model memiliki karakteristik yaitu pelajar melakukan proses pemaduan topik yang dipelajari melalui pemilihan jejaring pakar dan sumber daya. c. Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu Karli dan Margareta (Indrawati, 2009: 22) menjelaskan bahwa terdapat tiga ciri pokok dalam pembelajaran terpadu, yaitu 1) holistik artinya bahwa suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dikaji dari berbagai bidang studi; 2)

(44) 25 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bermakna artinya bahwa keterkaiatan antara beberapa konsep menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari; 3) aktif artinya bahwa pembelajaran yang menggunakan pendekatan diskoveri-inkuiri secara tidak langsung akan memotivasi siswa untuk belajar sehingga siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. 6. Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik terbagi menjadi empat bagian, yaitu pengertian pembelajaran tematik, karakteristik pembelajaran tematik, keuntungan dan kelemahan pembelajaran tematik, dan implikasi pembelajaran tematik. a. Pengertian Pembelajaran Tematik Rusman (2010: 253) pembelajaran tematik adalah salah satu model dalam pembelajaran terpadu (intregrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. Departemen Pendidikan Nasional (2009: 7) menerangkan hal yang sama bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tujuan penggunaan tema bukan hanya untuk menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran, tetapi juga keterkaitannya dengan konsep-konsep dari mata pelajaran lain (Rusman, 2010: 254). Pembelajaran tematik dapat disimpulkan sebagai pembelajaran yang menggunakan tema dalam menggaitkan konsep-konsep dari beberapa mata pelajaran sehingga pembelajaran bersifat lebih utuh dan terpadu.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Depdiknas (2009: 8) menyebutkan ada tiga landasan diterapkannya pembelajaran tematik. Landasan tersebut antara lain landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis. Penjelasan mengenai ketiga landasan tersebut ada pada tabel 2.5. Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik a. b. c. Landasan Filosofis Progresivisme, aliran ini memandang bahwa proses pembelajaran lebih ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah, dan memperhatikan pengalaman siswa. Konstruktivisme, kunci utama dalam pembelajaran adalah pengalaman langsung siswa. Humanisme, melihat siswa dari keunikan/kekhasannya, potensi, dan motivasi yang dimilikinya. Landasan Psikologis Psikologi perkembangan, psikologi ini diperlukan untuk menentukan isi dari materi pembelajaran yang disajikan agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan siswa. b. Psikologi belajar, diperlukan untuk mengetahui bagaimana suatu materi disajikan dan bagaimana siswa mempelajarinya. a. Landasan Yuridis UU No. 23 Tahun 2002 pasal 9 tentang perlindungan anak yang menyebutkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan bakat dan minatnya agar pribadi dan tingkat kecerdasannya berkembang dengan baik. b. UU No. 20 Tahun 2003 bab V pasal 1-b tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya. a. b. Karakteristik pembelajaran tematik Rusman (2010: 258) menjabarkan akan adanya tujuh karakteristik dalam pembelajaran tematik, yaitu berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, hasil pembelaratan sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 menyenangkan. Depdiknas (2009: 9) menyatakan hal yang sama bahwa kararkteristik pembelajaran tematik yaitu berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Berpusat pada siswa, artinya siswa ditempatkan ditempatkan sebagai subjek belajar. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang memberikan kemudahankemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. Pembelajaran difokuskan pada usaha aktif siswa untuk mau belajar secara mandiri. Memberikan pengalaman langsung, artinya bahwa siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata dan konkrit sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, artinya bahwa pembelajaran tidak lagi berdasarkan mata pelajaran tertentu namun berdasarkan tema sehingga jarak antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya tidak jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat dengan kehidupan siswa. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, artinya konsep-konsep pembelajaran disajikan secara utuh sehingga membantu siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Bersifat fleksibel, artinya bahwa pembelajaran bersifat luwes. Guru dapat menyajikan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan sekitar. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, artinya siswa diberi

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilki sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa sendiri. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan, artinya bahwa pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara yang paling penting adalah siswa merasa senang untuk mengikuti pembelajaran. b. Keuntungan dan kelemahan pembelajaran tematik Pembelajaran tematik mempunyai banyak keuntungan. Keuntungan- keuntungan tersebut antara lain: 1) siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, 2) siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama, 3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, 4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, 5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas (Depdiknas, 2009: 7). Rusman (2010: 258) mengemukakan beberapa manfaat dari penggunaan pembelajaran tematik, antara lain 1) tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan; 2) siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bemakna; 3) pembelajaran tidak terpecahpecah; 4) mempertinggi kesempatan transfer belajar (transfer of learning); dan 5) adanya pemaduan antarmata pelajaran, maka penugasan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat. Pembelajaran tematik memberikan banyak keuntungan bagi penggunannya. Keuntungan utama yang dapat disimpulkan dari penggunaan pembelajaran

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 tematik adalah membantu siswa untuk lebih memahami hal yang ia pelajari karena konsep pembelajaran disajikan secara utuh sehingga cara berpikir siswa juga tidak terpecah-pecah. Pembelajaran tematik memiliki banyak keuntungan namun juga memiliki kelemahan yang perlu mendapat perhatian khusus dalam bentuk kreativitas agar kelemahan dapat terkontrol. Indrawati (2009:24) mengemukakan bahwa keterbatasan/kelemahan pembelajaran tematik terletak dalam pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi. Guru dituntut untuk selalu melakukan evaluasi pada kegiatan belajar yang telah dilakukan. Evaluasi yang dilakukan oleh guru akan mengurangi banyak waktu yang dimiliki oleh guru. c. Implikasi Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik sebagai sebuah inovasi menimbulkan beberapa implikasi pembelajaran. Pembelajaran tematik menimbulkan implikasi bagi guru, siswa, sarana, prasarana, sumber belajar dan media, ruangan, serta metode. Implikasi yang ditimbulkan perlu untuk diperhatikan agar pembelajaran berjalan dengan lebih baik. Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan, dan utuh (Depdiknas, 2009: 11). Persiapan yang dilakukan tidak dapat dilaksanakan secara sembarang, Rusman (2013: 282) menjelaskan bahwa guru perlu untuk mempertimbangkan alokasi waktu setiap temanya, memperhitungkan bahan dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 sekitar siswa, dan memilih tema-tema yang terdekat dan familiar dengan anak. Pembelajaran tematik nyatanya memang termasuk dalam inovasi yang baru bagi dunia pendidikan, maka diperlukan guru yang kreatif untuk mengimplementasikan pembelajaran ini terhadap para siswa, agar siswa dapat menerima pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Keberadaan pembelajaran tematik tidak hanya menuntut para guru untuk dapat mempersiapkan dan mengimplementasikan pembelajaran dengan kreatif namun juga menuntut para siswa untuk dapat mengikuti pembelajaran secara seksama dan mendapatkan hasil yang bermakna. Siswa harus siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal dan mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif (Depdiknas, 2009: 11). Pembelajaran tematik yang menekankan pada siswa baik secara individu ataupun kelompok untuk aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik berpengaruh terhadap pelaksanaannya yang memerlukan berbagai sarana dan prasarana pendukung dalam belajar (Trianto, 2010: 122). Sarana dan prasarana berupa sumber belajar yang lengkap dengan pengelolaan yang professional. Sumber belajar dapat yang sifatnya didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran tematik (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang tidak didesain untuk kepentingan pembelajaran, namun dapat dimanfaatkan (Rusman, 2013: 283)

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Pelakasanaan pembelajaran tematik memerlukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan (Depdiknas, 2009: 11). Pengaturan ruang disesuaikan dengan tema. Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung. Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet. Kegiatan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Alat, sarana, dan sumber belajar dikelola dengan baik agar memudahkan siswa dalam menggunakan dan menyimpannya. Pelaksana pembelajaran tematik perlu menvariasi pembelajaran menggunakan multi metode (Depdiknas, 2009: 12). Pembelajaran tematik menuntut guru untuk menggunakan kreatifitas para guru untuk menggabungkan beberapa metode pembelajaran. 7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Pelaksanaan Reformasi Gibson (Supardi, 2013: 19) menyebutkan bahwa kinerja guru dalam melakukan aktivitasnya dipengaruhi oleh tiga kelompok faktor. Faktor pertama yaitu faktor individu, meliputi: kemampuan dan keterampilan mental fisik; latar belakang keluarga, tingkat sosial, dan pengalaman; demografis. Faktor kedua yaitu faktor organisasi, meliputi: sumber daya, kepemimpinan, imbalan struktur, dan desain pekerjaan. Faktor ketiga yaitu faktor psikologis, meliputi: persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi, kepuaasan kerja, dan iklim kerja.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Chairunniza (2012:10) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pegawai dalam hal ini guru dalam melakukan pekerjaannya yaitu faktor demografi, antara lain: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kepegawaian, masa kerja, status perkawinan dan pelatihan yang diikuti. Wexley (Chairunniza, 2012: 11) menjelaskan bahwa usia 20-30 tahun mempunyai motivasi kerja yang relatif rendah dibandingkan dengan pekerja yang memiliki usia yang lebih muda. Pernyataan tersebut mengartikan bahwa usia guru yang relatif lebih tua mempengaruhi guru untuk semakin termotivasi melaksanakan pekerjaannya. Jenis kelamin dibagi dalam menjadi perempuan dan laki-laki. Shye (Chairunniza, 2012: 11) menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara wanita maupun laki-laki. Jenis kelamin diartikan sebagai kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies yang dijadikan sebagai sarana dalam proses reproduksi seksual untuk mempertahankan kelangsungan spesies tersebut. Perubahan reformasi dimungkinkan dapat terjadi karena adanya jenis kelamin yang berbeda. Sihombing (Chairunniza, 2012: 12) mengartikan tingkat pendidikan merupakan suatu proses jangka panjang yang menggunakan aturan yang sistematis dimana pekerja mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum. Pendidikan adalah keahlian dasar yang akan mendukung kemampuan seoarang guru dalam menjalankan tugasnya, artinya tinggi atau rendah motivasi seorang guru akan terlihat dari upaya yang dilakukan dalam pengembangan pendidikannya (Rusman, 2013: 96). Pendidikan disimpulkan

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 sebagai bekal pengetahuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya untuk memperoleh suatu tujuan tertentu. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 14 membagi jenjang pendidikan formal yang diterapkan Indonesia menjadi tiga jenjang, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 17 diartikan sebagai jenjang yang melandasi jenjang pendidikan menengah, meliputi Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Pendidikan menengah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 18 diartikan sebagai lanjutan dari pendidikan dasar, meliputi Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan tinggi dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 19 diartikan sebagai jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Kinsey (Chaerunniza, 2012: 13) membagi status pernikahan dalam tiga kategori, yaitu single, married, dan post married. Single adalah kelompok orang yang belum menikah. Married adalah kelompok orang yang sudah menikah. Post married adalah kelompok orang yang sudah pernah menikah namun telah berpisah. Sahertian (Cahyaningsih ,2007: 28) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan status kepegawaian guru adalah kedudukan guru dilihat dari prototype-nya

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dalam suatu sistem sosial. Status guru dalam pendidikan menurut Sahertian (Cahyaningsih, 2007: 29) terdiri dari guru negeri dan guru swasta. Guru negeri adalah guru-guru yang diangkat dan digaji oleh Negara, meskipun dipekerjakan pada instansi swasta. Guru swasta adalah guru yang diangkat oleh yayasan tertentu dan digaji oleh yayasan tersebut. Guru swasta masih dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: guru honorer, guru yayasan, guru tidak tetap. Surani (Chairunniza, 2012: 13) mengibaratkan masa kerja dengan pengalaman kerja. Pengalaman kerja atau masa kerja adalah keseluruhan pelajaran yang diambil oleh seseorang dari kejadian-kejadian yang telah dilaluinya selama mengajar. Pelatihan yang dilakukan adalah proses mengajarkan pengetahuan dan kemampuan tertentu dan sikap agar guru semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik (Chairunizza, 2012: 14). Pelatihan yang memerlukan waktu tersebut yang disebut dengan pelatihan training. Sumantri (Chairunniza, 2012: 14) mengartikan training merupakan proses pendidikan dalam jangka pendek yang menggunakan prosedur yang telah diatur. Guru yang sedang menjalani masa pelatihan akan mempelajari pengetahuan dan keterampilan tertentu. B. Penelitian yang relevan Minarmi (2008) melakukan sebuah penelitian yang berjudul persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa kerja, tingkat pendidikan, golongan jabatan dan status kepegawaian. Penelitian tersebut merupakan sebuah penelitian survei bagi guru-guru sekolah dasar se-Kecamatan

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Ngawean, Kabupaten Klaten. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa jabatan, 2) perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, 3) perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari golongan jabatan, 4) perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari status kepegawaian. Teknik pengambilan data berupa kuesioner dan wawancara pada populasi yang berjumlah 252 orang. Teknik analisis data menggunakan ANOVA, maka didapatkan hasil bahwa: 1) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa kerja (sign. value = 0,979 > a = 0,05); 2) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan (sign. value = 0,896 > a = 0,05); 3) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari golongan jabatan (sign. value = 0,392 > a = 0,05); 4) tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari status kepegawaian (sign. value = 0,480 > a = 0,05). Jiwa, Dantes, dan Marhaeni (2013) melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Prestasi Belajar Ditinjau dari Motivari Belajar pada Siswa Kelas IV Gugus Empat di Kecamatan Gianyar”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti pembelajran tematik dengan siswa yang mengikuti pembelajran konvensional, 2) pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar, 3) perbedaan prestasi

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi, dan 4) perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah. Jenis penelitian pada penelitian ini adalah eksperimen semu menggunakan rancangan post test only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV Gugus empat Kecamatan Gianyar tahun ajaran 2012/2013. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional ( = 5,008 dengan p < 0,005), 2) terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan motivasi belajar terhadap perstasi belajar ( = 36,762 dengan p < 0,05), 3) pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi, terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (t hitung = 5,870 > t tabel = 1,960) dan 4) pada siswa yang memiliki motivasi rendah, terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (t hitung = 2,705 > t tabel = 1,960) Dilek (2002) melakukan penelitian berjudul Using a Thematic Approach Based on Pupil’s Skill and Interest in Social Stiduies Teaching. Penelitian ini menginvestigasi bagaimana guru mengenalkan segala kegiatan yang berpusat pada siswa dalam keadaan kelas yang sangat ramai. Penelitian ini menggunakan

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 teknik kualitatif yang dilakukan pada program studi Pendidikan Guru Ilmu Kependudukan dan Sejarah Fakultas Pendidikan Ataturk Universitas Marmara dan SD Kartal Gurbuz Istanbul. Penelitian dilakukan berdasarkan bagaimana siswa menggunakan antusias, kemampuan dan ketertarikannya terhadap pembelajaran kependudukan dan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas yang menggunakan pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Fatnawati (2012) menuliskan penelitian berjudul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Tematik dengan Menggunakan Media Gambar Pada Mata Pelajaran IPA, Bahasa Indonesia Dan Matematika Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas II SDN Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan model pembelajaran tematik menggunakan media gambar pada mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika terhadap hasil belajar siswa di kelas II SDN tuntang dan Kanisius Cungkup. Teknik penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen. Sampel dalam penelitian ini ialah seluruh siswa kelas II di dua SD yaitu SD Kanisius Cungkup sebagai kelas kontrol yang berjumlah 24 siswa dengan menggunakan metode konvensional dan SDN Tuntang 02 sebagai kelas eksperimen berjumlah 28 siswa dengan metode gambar. Kelas eksperimen dalam pembelajaran dengan menggunakan media gambar, sedangkan kelas kontrol menggunakan pendekatan konvensional. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengaruh penerapan model pembelajaran tematik menggunakan media gambar dan siswa yang diajar dengan menggunakan model

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 transmisi pengetahuan mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika terhadap dua SD. Hidayattulah (2012) melakukan penelitian berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Tematik SD Kelas Rendah Di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran tematik SD kelas rendah di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Subjek penelitian adalah guru SD kelas rendah yang ada di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara. Teknik pengambilan sampal yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan ada tiga tahap, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tahap perencaan guru hanya mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa RPP, buku-buku penunjang materi, dan alat peraga. Tahap pelaksanaan, pembelajaran tematik dilaksanakan masih terpisah-pisah antar materi dari masingmasing mata pelajaran. Tahap evaluasi dilakukan secara terpisah tiap kompetensi dasar dan dilaksanakan pada kegiatan awal, kegiatan inti, atau kegiatan akhir.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Minarmi. 2008. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Ditinjau Dari Masa Kerja, Tingkat Pendidikan, Golongan Jabatan Dan Status Kepegawaian. 39 Jiwa, Dantes, dan Marhaeni. 2013. Pengaruh Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Prestasi Belajar Ditinjau dari Motivari Belajar pada Siswa Kelas IV Gugus Empat di Kecamatan Gianyar Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survei Bagi Guru-Guru Pengampu Kelas Bawah Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Hidayattulah . 2012. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik SD Kelas Rendah di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara Dilek. 2002. Using a Thematic Approach Based on Pupil’s Skill and Interest in Social Studies Teaching Fatnawati. 2012. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Tematik dengan Menggunakan Media Gambar pada Mata Pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, dan Matematika Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas II SD Kanisius Tahun Pelajaran 2011/2012 Gambar 2.1 Skema Penelitian yang Relevan Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian dilakukan untuk melengkapi penelitian-penelitian tentang pembelajaran tematik dan pengaruh faktor demografi terhadap kinerja guru yang telah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian oleh Minarmi menerangkan bahwa faktor demografi khususnya masa kerja, tingkat pendidikan, golongan jabatan dan status kepegawaian tidak memberikan perbedaan pada pemahaman guru terhadap

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 sertifikasi guru. Penelitian ini melihat apakah faktor demografi latar belakang pendidikan dan status kepegawaian memberikan perbedaan terhadap kinerja guru yang lain yaitu implementasi pembelajaran tematik. Penelitian oleh Dilek, Jiwa, Fatnawati melakukan penelitian yang hasilnya menunjukan bahwa pembelajaran tematik berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa, namun belum dilengkapi tentang sejauhmana guru melakukan pembelajaran tematiknya. Penelitian dilengkapi oleh adanya penelitian oleh Hidayattulah yang meneliti tentang pelaksanaan pembelajaran tematik pada sebuah kecamatan di Banjarnegara dengan analisis yang dilakukan secara kualitatif. Penelitian ini menganalisis data tentang tingkat implementasi yang dilakukan oleh guru kelas bawah di kota Yogyakarta yang dianalisis secara kuantitatif. C. Kerangka Berpikir Tantangan peserta didik terutama saat memasuki abad ke 21 semakin kompleks. Reformasi pendidikan diharapkan mampu membenahi pendidikan agar dapat menjawab tantangan tersebut. Reformasi pendidikan sejatinya memang wajib untuk dilaksanakan agar pendidikan tidak terjebak dalam stagnasi. Salah satu reformasi pendidikan yang pernah dilakukan di Indonesia salah satunya adalah dalam bidang kurikulum. Terhitung sejak kemerdekaannya di tahun 1945, Indonesia telah mengalami 10 kali perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum yang terjadi sedikit banyak telah memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Perubahan kurikulum dengan menekankan prinsip pembelajaran tematik menjadi kurikulum yang paling baru digalakkan.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Berdasarkan alasan diatas maka penelitian ini disusun. Penelitian ingin melihat sejauhmana implementasi pembelajaran tematik pernah dilakukan oleh para guru. Harapan dilakukannya penelitian ini agar penelitian dapat dijadikan gambaran tentang sejauhmana kesiapan guru untuk melaksanakan perubahan kurikulum terbaru. D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan permasalahan yang telah diuraikan di dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: 1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta adalah tinggi. 2. Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. 3. Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab III berisi metode yang digunakan dalam penelitian ini. Metode dijabarkan dalam delapan sub bab, yaitu jenis penelitian, seting penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen, uji asumsi klasik uji hipotesis dan prosedur analisis data. A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian Penelitian ini adalah penilitian non experimental dengan cross sectional desain melalui metode survei. Penelitian non experimental menurut Johnson dan Christensen (Rismiati, 2012: 90) adalah penelitian yang tidak melakukan manipulasi atau perlakuan apapun terhadap variabel independent dan kelompok yang diteliti. Jenis penelitian non eksperimental dipilih karena data pada penelitian ini murni berasal dari data responden tanpa ada usaha manipulasi atau perlakuan dari peneliti sebelumnya. Desain cross sectional adalah desain penelitian yang hanya membutuhkan waktu relatif singkat dalam usaha pengambilan data dari responden (Johnson dan Christensen dalam Rismiati, 2012: 90). Desain ini dirasa sesuai digunakan karena dalam penelitian tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan data dari responden. Peneliti cukup memberikan kuesioner untuk diisikan responden melalui pengalamannya masingmasing, sehingga tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan data dari responden. Penelitian survei menurut Kerlinger (Sugiyono, 2012: 12) adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang 42

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis. Diagram 3.1 menjelaskan alur pada penelitian ini. Keterangan: X1 X1 = Latar belakang pendidikan Y X2 X2 = Status kepegawaian Y = Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar Gambar 3.1 Alur Penelitian Diagram 3.1, pertama-tama menggambarkan bahwa penelitian untuk melihat bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guruguru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Kedua, penelitian mencoba untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru-guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta jika ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Ketiga, penelitian mencoba untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru-guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta jika ditinjau dari status kepegawaian guru.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 B. Waktu dan Tempat Penelitian Bagian ini terdiri atas dua bagian yaitu waktu dan tempat yang digunakan pada penelitian ini. 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 10 bulan. Penelitian dimulai sejak bulan September 2013 sampai bulan Juli 2014 dengan tujuh agenda kegiatan pokok. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama penelitian adalah menyusun bab 1 sampai bab 3, menyebar kuesioner penelitian, presentasi bab 1, 2, 3, mengolah data penelitian, presentasi bab 1, 2, 3, 4,dan 5, simulasi ujian skripsi, ujian skripsi. 2. Tempat penelitian Penelitian dilakukan pada SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan peneliti sebelum pengambilan data berlangsung, ditemukan terdapat 18 sekolah dasar yang termasuk dalam sekolah afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta, namun karena 5 sekolah menolak untuk dilakukan penelitian dengan berbagai alasan maka diputuskan bahwa penelitian dilakukan hanya pada 13 sekolah dasar. C. Variabel penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 64). Dua jenis variabel yang dirumuskan dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Variabel bebas (Independent Variable) adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya dependent variable (terikat) (Sugiyono, 2012: 64). Variabel bebas pada penelitian ini adalah status kepegawaian dan latar belakang pendidikan guru. Variabel penelitian bebas ditentukan melalui hasil diskusi peneliti bersama kelompok studi pada penelitian yang hampir serupa. Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012: 64). Variabel terikat pada penelitian ini adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di sekolah dasar afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta. D. Populasi dan Sampel Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 297). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta yang berjumlah 111 guru. Sampel adalah sebagian dari populasi itu (Sugiyono, 2011:297). Tabel Krejcie (Usman dan Akbar, 2008: 362) menetapkan minimal sampel untuk populasi sejumlah 111 adalah sejumlah 86. Sampel pada penelitian ini berjumlah 55 guru atau 63,95% dari jumlah ketentuan sampel yang diperlukan. Kuesioner yang disebarkan pada guru sejumlah 96 kuesioner, namun hanya 55 responden atau 57,29% guru yang bersedia menerima dan mengembalikan kuesioner yang

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 disebarkan. Jumlah sampel yang tidak sesuai dengan ketentuan dikarenakan adanya penolakan dari pihak sekolah. Teknik penentuan sampel menggunakan penggabungan dua teknik pengambilan sampel, yaitu teknik purposive sampling dan teknik simple random sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Martono, 2010: 19). Purposive karena sampel yang digunakan pada penelitian ini ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu, yaitu guru-guru pengampu kelas bawah sekolah dasar sebagai pelaksana pembelajaran tematik dalam proses pembelajaran. Simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut (Martono, 2010: 16). Simple random sampling karena penentuan sampel pada penelitian ini dilakukan secara acak tanpa membedakan kelompok atau strata tertentu. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabanya (Sugiyono, 2012: 192). Kuesioner disebarkan pada populasi penelitian untuk mendapatkan data pengalaman implementasi pembelajaran tematik yang pernah dilakukan oleh para anggota populasi. F. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa lembar kuesioner. Lembar kuesioner yang digunakan adalah lembar kuesioner yang dikembangkan

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 oleh Rismiati (2012). Lembar kuesioner tersebut tersusun atas 43 item yang terbagi dalam 2 bagian, 28 item untuk melihat tingkat implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru pengampu kelas bawah serta 15 item untuk mengetahui latar belakang demografi guru. Lembar kuesioner untuk tingkat implementasi tematik yang dilakukan oleh guru pengampu kelas bawah tersusun atas 7 indikator pembelajaran tematik dalam 28 item pernyataan tertutup dengan mengembangkan karakteristik pembelajaran tematik oleh Depdiknas (2009: 9). Lembar kuesioner untuk mengetahui latar belakang demografi guru tersusun dalam 6 item pernyataan tertutup untuk faktor demografi dukungan kepala sekolah dan 9 item pertanyaan terbuka untuk faktor demografi pengalaman mengajar, pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, jumlah siswa, status kepegawaian, pendidikan, lama jam training, lama menggunakan pembelajaran tematik dan rekan kerja yang menggunakan pembelajaran tematik. Lembar kuesioner ini disusun menggunakan skala likert dengan 5 pilihan jawaban. Item positif diberi skor dari kategori “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat setuju”, sedangkan item negatif diberi skor “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju”. Tabel 3.1 adalah penjabaran skor kuesioner pada penelitian ini. Tabel 3.1 Penjabaran Skor Lembar Kuesioner Kategori Sangat tidak setuju Tidak setuju Ragu-ragu Setuju Sangat setuju Skor Item Positif 1 2 3 4 5 Skor Item Negatif 5 4 3 2 1 Tabel 3.1 menunjukkan bahwa kuesioner yang digunakan menggunakan 5 pilihan jawaban untuk mewakili kategori-kategori tertentu. Kategori sangat tidak

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 setuju pada kuesioner ber-item positif diwakili dengan skor 1, sedangkan pada item negatif diwakili dengan skor 5. Kategori tidak setuju pada kuesioner ber-item positif diwakili dengan skor 2, sedangkan pada item negatif diwakili dengan skor4. Kategori ragu-ragu pada kuesioner ber-item positif diwakili dengan skor 3, sedangkan pada item negatif diwakili dengan skor 3. Kategori setuju pada kuesioner ber-item positif diwakili dengan skor 4, sedangkan pada item negatif diwakili dengan skor 2. Kategori sangat setuju pada kuesioner ber-item positif diwakili dengan skor 5, sedangkan pada item negatif diwakili dengan skor 1. Sebaran item positif dan negatif yang terdapat pada kuesioner tingkat implementasi pembelajaran tematik dipaparkan pada tabel 3.2. Tabel 3.2 Sebaran Item Positif dan Negatif Kuesioner Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No Item 2. 3. 4. Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar 5. 6. 7. 8. Item Positif Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa). Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran No Item 1. Item Negatif Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Indikator Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas No Item 10. 11. 12. Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 13. 14. 15 Pembelajaran bersifat fleksibel 17. 18. 19. 20. Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 21. 23. 24. Prinsip belajar sambil belajar dan bermain yang menyenangkan bagi siswa 25. 26. 27. 28. Item Positif melalui berbagai cara dan material. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. Saya memberitahu siswa tentang halhal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. No Item 49 Item Negatif 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SDan secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). 16 Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 menunjukkan bahwa kuesioner pembelajaran 50 tematik dikembangkan berdasarkan 7 indikator. Indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa memiliki 3 pernyataan item positif (item nomor 2, 3, 4) dan 1pernyataan item negatif (item nomor 1). Indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar memiliki 4 pernyataan item positif (item nomor 5, 6, 7, dan 8). Indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas memiliki 3 pernyataan item positif (item nomor 10. 11, 12) dan 1 pernyataan item negatif (item nomor 9). Indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran memiliki 3 pernyataan item positif (item nomor 13, 14, 15) dan 1 pernyataan item negatif (item nomor 16). Indikator pembelajaran bersifat fleksibel memiliki 3 pernyataan item positif (item nomor 17, 18, 19, 20). Indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa memiliki 3 pernyataan item positif (item nomor 21, 23, 24) dan 1 pernyataan item negatif (item nomor 22). Indikator prinsip belajar sambil belajar dan bermain yang menyenangkan bagi siswa memiliki 4 pernyataan item positif (item nomor 25, 26, 27, dan 28). Seluruh item berjumlah 28 item. Tabel 3.3 menjelaskan kisi-kisi indikator instrumen penelitian pembelajaran tematik dan faktor demografi guru.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Tingkat implementasi pembelajaran tematik Faktor Demografi Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran Pembelajaran bersifat fleksibel Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Dukungan dari kepala sekolah No. Item Jenis Variabel 1, 2, 3, 4 5, 6, 7, 8 9, 10, 11, 12 13, 14, 15, 16 Variabel Terikat 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 25, 26, 27, 28 29, 30, 31, 32, 33, 34 Pengalaman mengajar 35 Jenjang Kelas yang diampu 36 Lama mengajar tematik 37 Pengalaman training pembelajaran tematik 38 Jumlah siswa yang diajar menggunakan pembelajaran tematik 39 Latar belakang pendidikan guru 40 Status kepegawaian guru 41 Jumlah rekan guru yang secara bersama-sama mengajar tematik 42 Struktur kurikulum 43 Variabel Bebas Tabel 3.3 merupakan kisi-kisi instrumen penelitian yang benar-benar terdapat pada kuesioner yang disebarkan. Penelitian ini menggunakan seluruh item pada indikator implementasi pembelajaran tematik dan 2 indikator faktor demografi yaitu pendidikan latar belakang pendidikan guru dan status kepegawaian yang terdapat pada item nomor 40 dan 41. Indikator faktor demografi lain akan dibahas oleh anggota kelompok belajar yang lain. G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Bagian ini terdiri dari dua bagian yaitu validitas instrument dan reliabilitas instrument.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. 52 Validitas Instrumen Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrument (Arikunto dalam Taniredja dan Mustafidah, 2012: 42). Terdapat 3 jenis validitas yang digunakan pada penelitian ini, yaitu validitas rupa (face validity), validitas isi (content validity), validitas konstruk (construct validity). a. Validitas Isi Validitas isi adalah validitas instrumen yang berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen mengukur isi (konsep) yang harus diukur (Siregar, 2010: 163). Validitas isi pada penelitian ini mengacu pada judgment yang diberikan oleh para expert. Terdapat 8 expert yang memberikan penilaian pada isi dari instrumen penelitian ini, terdiri dari 3 orang dosen, 3 orang guru, dan 2 orang kepala sekolah. Hasil penilain berupa skor dan komentar. Skor dan komentar dari para expert kemudian akan dipergunakan sebagai patokan revisi pada isi instrument. Tabel 3.4 menjelaskan ketentuan sejauh mana isi dari instrument perlu dilakukan revisi. Tabel 3.4 Kriteria Revisi Kriteria > 2,5 ≥ 2,5 ≤ 2,5 < 2,5 Pernyataan Positif Negatif Positif Negatif Revisi/Tidak Revisi Tidak Revisi Tidak Revisi Revisi Revisi Tabel 3.5 menunjukan jika rata-rata skor expert pada item tertentu memiliki skor lebih besar dari 2,5 namun memiliki komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item tersebut. Rata-rata skor lebih besar dari atau sama

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 dengan 2,5 dengan komentar yang negatif maka tidak dilakukan revisi pada item tersebut. Rata-rata skor kurang dari atau sama dengan 2,5 dengan komentar yang positif maka dilakukan revisi pada item tersebut. Rata-rata skor kurang dari 2,5 dengan komentar negatif maka akan dilakukan revisi pada item tersebut. Skor 2,5 digunakan sebagai patokan karena setidaknya skor 2,5 dapat memenuhi lebih dari separuh skor tertinggi yang ditentukan peneliti dan kelompok belajar saat dilakukan validitas isi. Rentang nilai untuk menguji validitas isi adalah sebesar 14. Tabel 3.5, tabel 3.6, tabel 3.7, tabel 3.8, tabel 3.9, tabel 3.10, dan tabel 3.11 merupakan hasil dari validitas isi yang dilakukan para expert. Tabel 3.5 Validitas Isi Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa No Validator 1 Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa 1 2 3 4 Rata-rata Dosen a 3 4 4 4 3,75 2 Dosen b 1 3 4 3 2,75 3 Dosen c 3 3 3 3 3 4 Guru a 2 3 4 4 3,25 5 Guru b 3 4 3 4 3,5 6 Guru c 3 2 3 4 3 7 Kepsek a 3 4 4 4 3,75 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 2,75 3,375 3,625 3,75 Tabel 3.5 menunjukkan bahwa rata-rata indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk item nomor 1 sebesar 2,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa: “Pernyataan sudah jelas, sudah bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang sering digunakan dalam pembelajaran”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,375 > 2,5 dengan komentar

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 negatif maka tidak dilakukan revisi pada item 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item 2, bahwa: “Kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata (kebebasan) karena kata pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak terbatas”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,625 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item tersebut. Seorang expert memberikan komentar untuk item 3, bahwa: “Pernyataan sudah cukup bagus”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item 4. Seorang expert memberikan komentar untuk item 4, bahwa: “Pernyataan sudah bagus dan bisa dipahami oleh guru”. Tabel 3.6 Validitas Isi Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar No Validator 1 Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar 1 2 3 4 Rata-rata Dosen a 4 4 4 4 4 2 Dosen b 4 4 4 4 4 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 4 3 4 3 3,5 5 Guru b 3 3 3 4 3,25 6 Guru c 4 4 4 3 3,75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 3 3 4 3,5 Rata-rata 3,875 3,625 3,75 3,75 Tabel 3.6 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar dengan nomor item 1 sebesar 3,875 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan sudah bagus, sudah diberi contoh pembelajaran learning by doing itu yang seperti apa.”.Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,625 > 2,5 dengan komentar yang

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 2, bahwa “Pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 3. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 3, bahwa “Pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan sudah baik, hanya masih perlu diberi penjelasan tentang contoh sumber belajar macam apa yang dimaksud?”. Tabel 3.7 Validitas Isi Indikator Pemisahan Pada Setiap Mata Pelajaran tidak Begitu Jelas Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 1 2 3 4 No Validator Rata-rata 1 Dosen a 3 3 4 4 3,5 2 Dosen b 1 4 3 4 3 3 Dosen c 3 3 3 3 3 4 Guru a 3 3 4 4 3,5 5 Guru b 3 4 3 3 3,25 6 Guru c 4 3 4 4 3,75 7 Kepsek a 4 3 3 4 3,5 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 3,125 3,375 3,5 3,75 Tabel 3.7 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas dengan nomor item 1 sebesar 3,125 > 2,5 dengan komentar yang negatif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan ini bertentangan dengan indikator, lebih baik diganti (saya mengajar materi lima

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 bidang studi secara terpadu)”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,375 > 2,5 dengan komentar negatif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 2, bahwa “Pada RPP hendaknya dirancang betul atau dikondisikan adanya keterkaitan”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,5 > 2,5 dengan komentar negatif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 3. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 3, bahwa “Kata (atau lebih) lebih baik dihilangkan”. Item nomor 4 memiliki ratarata sebesar 3,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 4. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 4, bahwa “Pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Tabel 3.8 Validitas Isi Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran No Validator 1 Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 1 2 3 4 Rata-rata Dosen a 4 4 4 3 3,75 2 Dosen b 4 4 4 4 4 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 3 3 3 3 3 5 Guru b 4 3 4 3 3,5 6 Guru c 4 4 3 4 3,75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 3,875 3,75 3,75 3,625 Tabel 3.8 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran dengan nomor item 1 sebesar 3,875 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item 2 memiliki rata-rata

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 sebesar 3,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 2, bahwa “Pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,75 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 3. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 3, bahwa “Pernyataan sudah cukup baik, dan bisa dimengerti maksudnya oleh guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,625 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 4. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 4, bahwa “Pernyataan yang dibuat sudah baik, kata-kata yang digunakan sudah jelas karena sudah diberi keterangan dalam kurung”. Tabel 3.9 Validitas Isi Pembelajaran Bersifat Fleksibel No Validator Pembelajaran bersifat fleksibel 1 2 3 4 Rata-rata Dosen a 4 3 4 4 3,75 Dosen b 4 2 4 4 3,5 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 3 3 4 4 3,5 5 Guru b 4 3 4 4 3,75 6 1 2 3 Guru c 4 3 4 4 3,75 7 Kepsek a 4 3 4 4 3,75 8 Kepsek b 4 3 4 4 3,75 Rata-rata 3,875 3 4 4 Tabel 3.9 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran bersifat fleksibel dengan nomor item 1 sebesar 3,875 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan sudah bagus, menanyakan

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 tentang kaitan antar materi dan tema. Tema tidak hanya tentang lingkungan, bisa kegemaran, binatang, diri sendiri, pengalaman, dll”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 2, bahwa “Pernyataan sudah cukup bagus”. Item nomor 3 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 3. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 3, bahwa “Pernyataan sudah jelas dan mudah dimengerti guru”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,625 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 4. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 4, bahwa “Pernyataan yang dibuat sudah bagus, kalimat jelas dan mudah dipahami maksudnya”. Tabel 3.10 Validitas Isi Indikator hasil Pembelajaran yang Sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa No Validator 1 Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 1 2 3 4 Rata-rata Dosen a 4 3 4 4 3,75 2 Dosen b 3 4 4 4 3,75 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 3 2 4 4 3,25 5 Guru b 3 4 3 3 3,25 6 Guru c 3 4 4 4 3,75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 3,5 3,625 3,875 3,875 Tabel 3.10 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa dengan nomor item 1 sebesar 3,5 > 2,5 dengan komentar yang negatif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 masih ngawang. Mungkin lebih dijelaskan lagi kebutuhan setiap siswa yang seperti apa. Pernyataan yang mengukur minat siswa belum kelihatan.Indikator: hasil pembelajaran. Namun, pernyataan-pernyataan berisi tentang penilaian. Usul: indikator diubah menjadi penilaian hasil pembelajaran”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,625 > 2,5 dengan komentar yang negatif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 2, bahwa “Yang lebih mendekati kebutuhan siswa itu tes esai”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,875 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 3. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 3, bahwa “Pernyataan sudah bagus dan jelas”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,875 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 4. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 4, bahwa “Pernyataan sudah bagus dan jelas serta mudah dipahami”. Tabel 3.11 Validitas Isi Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan Bagi Siswa No Validator Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa 1 Dosen a 1 4 2 4 3 4 4 4 Rata-rata 4 2 Dosen b 4 4 3 0 2,75 3 Dosen c 4 4 4 4 4 4 Guru a 4 4 3 3 3,5 5 Guru b 4 3 3 3 3,25 6 Guru c 4 4 3 4 3,75 7 Kepsek a 4 4 4 4 4 8 Kepsek b 4 4 4 4 4 Rata-rata 4 3,875 3,5 3,25

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Tabel 3.11 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa dengan nomor item 1 sebesar 4 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 1. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 1, bahwa “Pernyataan yang dibuat sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,875 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 2. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 2, bahwa “Pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dimengerti”. Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,5 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 3. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 3, bahwa “Pernyataan sudah cukup baik”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,25 > 2,5 dengan komentar yang positif maka tidak dilakukan revisi pada item nomor 4. Seorang expert memberikan komentar untuk item nomor 4, bahwa “Pernyataan sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti karena diberi contoh pembelajaran dengan model kelompok”. (lampiran 3 halaman 144) b. Validitas Rupa Validitas rupa adalah validitas yang menunjukan apakah alat pengukur/ instrumen penelitian dari segi rupanya tampak mengukur apa yang ingin diukur, validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrument (Siregar, 2010: 162). Tabel 3.12 menunjukkan skor untuk proses validitas rupa yang dilakukan oleh salah seorang guru pengampu kelas bawah.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Tabel 3.12 Hasil Validitas Muka No 1 2 3 4 5 Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalami pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran Pembelajaran bersifat fleksibel No item Skor untuk pernyataan 1 3 2 3 3 4 4 3 5 2 6 2 7 4 8 3 9 2 10 3 11 4 12 4 13 4 14 4 15 3 16 3 17 3 18 2 19 3 3 20 6 7 Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Rata-rata 21 3 22 4 23 4 24 4 25 4 26 4 27 3 28 4 3.29 Tabel 3.12 menunjukkan skor validitas muka untuk tiap item dalam tiap indikator. Validator tidak memberikan komentar pada item 1 sampai item 4 dalam indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Terdapat dua

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 komentar untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar yaitu untuk item nomor 5 dan 6. Komentar untuk item 5 adalah “Presentasi tidak sesuai jika dilakukan di kelas rendah”. Komentar untuk item 6 adalah “Perjelas nama-nama barang yang harus dibawa oleh siswa”. Indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar terdapat satu komentar pada item 9. Komentar pada item 9 yaitu “Dalam penyampaian pembelajaran tematik selalu berkaitan dengan beberapa pelajaran dan tidak boleh menyebut mata pelajaran yang disampaikan”. Indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak memuat komentar untuk memperbaiki item. Indikator pembelajaran bersifat fleksibel hanya berisi satu komentar pada item 18. Komentar untuk item 18 adalah “masalah dalam pernyataan item 18 terlalu luas untuk siswa kelas bawah”. Indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa tidak ada komentar khusus untuk perbaikan. (Lampiran 4 halaman 231) c. Validitas Konstruk Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya (Siregar, 2010: 163). Validitas konstuk pada penelitian ini dilakukan pada 61 guru kelas bawah, yang berasal dari data milik penelitian dari kelompok studi lain. Uji validitas konstruk menggunakan teknik product moment. Rumus product moment dalam Arikunto (2006: 107) adalah sebagai berikut:

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rxy 63 = Gambar 3.2 Rumus Product Moment Keterangan rumus rxy = koefisien korelasi x = jumlah skor dalam sebaran x (skor butir) y = jumlah skor dalam sebaran y (skor total) xy = jumlah hasil kali skor x dan skor y berpasangan x2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x y2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y N = banyaknya subjek Penelitian ini menggunakan bantuan software SPSS 16 untuk mengetahui validitas dari 28 item kuesioner implementasi pembelajaran tematik. Bagian faktor demografi tidak melalui uji validitas karena pertanyaan yang terdapat pada faktor demografi bersifat single construct. Tabel 3.13 menunjukkan hasil uji validitas konstuk melalui bantuan SPSS 16. Hasil validitas dikatakan valid jika r hitung lebih besar dari r tabel (Sugiyono, 2011: 631). Penelitian ini menggunakan nilai r tabel sebesar 0,254. Nilai 0,254 dilihat berdasarkan jumlah responden pada uji validitas yang berjumlah 61 responden dengan taraf signifikansi 5% (Sugiyono, 2012: 316). Tanda bintang satu (*) menandai bahwa hasil validitas memiliki taraf kepercayaan 95% atau memiliki taraf signifikansi sebesar 5%. Tanda bintang dua (**) menandai bahwa hasil validitas memiliki taraf kepercayaan sebesar 99% atau taraf signifikansi sebesar 1% .

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Tabel 3.13 Hasil Uji Validitas Data Implementasi Pembelajaran Tematik No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Item Item 1 Item 2 Item 3 Item 4 Item 5 Item 6 Item 7 Item 8 Item 9 Item 10 Item 11 Item 12 Item 13 Item 14 Item 15 Item 16 Item 17 Item 18 Item 19 Item 20 Item 21 Item 22 Item 23 Item 24 Item 25 Item 26 Item 27 Item 28 r hitung 0,310* 0,522** 0,356** 0,598** 0,655** 0,426** 0,393** 0,673** 0,141 -0,426** 0,598** 0,653** 0,668** 0,698** 0,634** -0,034 0,655** -0,243 0,533** 0,768** 0,480** -0,170 -0,744** 0,660** 0,741** 0,698** 0,453** 0,589** r tabel 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 3.13 menunjukkan bahwa item nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28 merupakan item-item yang valid karena memiliki nilai yang lebih besar dari nilai 0,254. Item 1 memiliki taraf kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikansi 5% ditandai dengan keberadaan bintang satu (*). Item 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28 memiliki taraf kepercayaan sebesar 99% atau taraf signifikansi 1% ditandai dengan bintang dua (**). Item 9, 16, 18, dan 22 merupakan item yang tidak valid ditandai dengan tidak ada keberadaan tanda bintang satu (*) atau bintang dua (**) pada kedua item tersebut serta memiliki nilai r hitung yang kurang dari 0,254. (Lampiran 6 halaman 243)

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 2. Reliabilitas Instrumen Langkah selanjutnya adalah melihat koefisien reliabilitas pada dua puluh empat item yang valid. Reliabilitas alat penilaian menurut Sudjana (2012: 43) adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Alat penilaian yang reliabel maka kapan pun alat tersebut digunakan kembali akan memberikan hasil yang relatif sama. Koefisien reliabilitas yang dinyatakan Masidjo (1995: 209) terdapat pada bilangan antara -1,00 sampai dengan 1,00. Tabel 3.14 adalah koefisien korelasi reliabilitas. Tabel 3.14 Koefisien Korelasi Reliabilitas Koefisien Reliabilitas 0,91-1,00 0,71-0,90 0,41-0,70 0,21-0,40 Negatif-0,20 Keterangan Sangat Reliabel Reliabel Cukup Reliabel Kurang Reliabel Sangat Kurang Reliabel Sumber: Masidjo (1995: 209) Tabel 3.14 menunjukan bahwa, jika item-item pernyataan dalam kuesioner menunjukan nilai koefisien reliabilitas 0,91-1,00 berarti item-item tersebut sangat reliabel. Item-item kuesioner yang memiliki nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,71-0,90 merupakan pernyataan yang reliabel. Item-item kuesioner yang memiliki nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,41-0,70 merupakan pernyataan yang cukup reliabel. Item-item kuesioner yang memiliki nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,21-0,40 merupakan pernyataan yang kurang reliabel. Item-item kuesioner yang memiliki nilai koefisien reliabilitas negatif-0,20 merupakan pernyataan yang sangat kurang reliabel.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Penentuan taraf reliabilitas dihitung dengan menggunakan rumus Alpha. Rumus Alpha menurut Arikunto (2006: 196) adalah: Gambar 3.3 Rumus Cronbach Alpha Keterangan: r = reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal = jumlah varian butir = varian total Pengujian reliabilitas instrumen dibantu pengerjaannya menggunakan SPSS 16. Hasil dari uji reliabilitas dipaparkan pada tabel 3.15. Tabel 3.15 Hasil Reliabilitas Data ImplementasiPembelajaran Tematik Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Cronbach's Alpha .891 Items N of Items .898 24 Hasil penghitungan reliabilitas melalui SPSS 16 menunjukan bahwa nilai reliabilitas Cronbach Alpha (α) sebesar 0,891. Masidjo (1995: 209) mengkategorikan nilai 0,891 termasuk dalam kategori reliabel. (Lampiran 8 halaman 245)

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Instrumen penelitian yang digunakan telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas menunjukan bahwa terdapat 24 item dalam instrumen valid, dengan 1 item memiliki tingkat kepercayaan 95% dan 23 item memiliki tingkat kepercayaan 99%. Hasil uji reliabilitas menunjukan bahwa instrumen penelitian termasuk dalam kategori reliabel dengan nilai Cronbach Alpha (α) sebesar 0,891. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukan bahwa instrumen dapat digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian. H. Prosedur Analisis Data Prosedur analisis data dilaksanakan dalam 4 tahap, yaitu menentukan hipotesis statistik, pengelolaan data, menentukan taraf signifikasi, menguji asumsi klasik uji hipotesis. 1. Menentukan Hipotesis Statistik Hipotesis statistik pada penelitian disusun berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun diawal. Penelitian ini memiliki tiga rumusan masalah. Rumusan masalah 1 adalah “Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta?”. Rumusan masalah ini tidak memiliki hipotesis karena jawaban dari pertanyaan berupa deskriptif Rumusan masalah 2 adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru?”. Data untuk variabel latar belakang pendidikan guru dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok 1 untuk jenjang pendidikan menengah ( ), dan kelompok

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 untuk jenjang pendidikan tinggi ( 68 ). Hipotesis statistik berdasarkan rumusan masalah yang kedua adalah: Ho: Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru ( ). Ha: Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru ( ). Rumusan masalah 3 adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru?”. Data untuk variabel status kepegawaian dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Kelompok 1 untuk pegawai tidak tetap yayasan ( ), kelompok 2 untuk pegawai tetap yayasan ), dan kelompok 3 untuk pegawai negeri ( ). Hipotesis statistik berdasarkan rumusan masalah yang ketiga adalah: Ho: Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru ( = = ). Ha: Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru ( ≠ ≠ ).

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. 69 Pengelolaan Data Pengelolaan data pada penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap, yaitu coding, editing, data entry, dan data cleaning. Tahap-tahap ini sangat berguna untuk menyeleksi data-data yang diperoleh agar tidak ada data yang tidak sesuai dengan yang dimaksudkan atau sangat berbeda dengan data lainnya. Coding adalah pemberian kode berupa angka atau huruf pada tiap-tiap data yang memiliki kategori sama untuk membedakan antara data yang akan dianalisis (Siregar, 2010: 207). Penelitian ini melakukan lima kali proses coding. Pertama, coding dilakukan untuk menyembunyikan identitas para responden, misalnya dengan memberi kode SD-S1-1. Arti dari SD-S1-1 adalah SD untuk Sekolah Dasar, S1 untuk Swasta pertama, 1 untuk guru pertama. Kedua, coding dilakukan pada pilihan jawaban yang terdapat pada kuesioner. Kode yang dipakai adalah 1, 2, 3, 4, dan 5. Item-item yang bersifat positif pada kuesioner kode 1 berarti sangat tidak setuju, kode 2 berarti tidak setuju, kode 3 berarti ragu-ragu, kode 4 berarti setuju, dan 5 berarti sangat setuju; sedangkan pada item-item negatif kode 1 berarti sangat setuju, kode 2 berarti setuju, kode 3 berarti ragu-ragu, kode 4 berarti tidak setuju, dan kode 5 berarti sangat tidak setuju. Ketiga, coding dilakukan untuk memberi kode pada latar belakang pendidikan guru dalam kuesioner. Kode 1 untuk SMU atau SMK, kode 2 untuk SPG, kode 3 untuk S1 non PGSD, kode 4 untuk Sarjana D-2 PGSD, kode 5 untuk S1 PGSD, kode 6 untuk master, dan kode 7 untuk pendidikan lainnya. Keempat, coding dilakukan untuk memberi kode pada latar belakang pendidikan guru saat melakukan analisis data. Latar belakang pendidikan dibagi menjadi dua jenjang kelompok, yaitu jenjang pendidikan

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 menengah dan jenjang pendidikan tinggi. Kode 1 berarti jenjang pendidikan menengah, yang termasuk dalam jenjang pendidikan menengah adalah SMU, SMA, dan SPG. Kode 2 berarti jenjang pendidikan tinggi, yang termasuk dalam jenjang pendidikan tinggi adalah S1 non PGSD, D-2 PGSD, S1 PGSD dan Master. Kelima, coding dilakukan pada status kepegawaian guru. Kode 1 untuk pegawai tidak tetap yayasan, kode 2 untuk pegawai tetap yayasan, dan 3 untuk pegawai negeri. Editing adalah proses pengecekan berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Siregar, 2010: 206). Kesalahan atau kekurangan data yang terkumpul kemudian diperbaiki berdasarkan catatan lapangan yang diperoleh. Penelitian ini melakukan editing sesaat setelah seluruh data terkumpul. Contoh proses yang dilakukan adalah dengan melakukan pengecekan apakah jumlah kuesioner yang masuk dari sebuah sekolah telah sesuai dengan data jumlah guru yang dimiliki peneliti, jika terdapat kekurangan peneliti mencoba untuk mengkonfirmasi kembali pada pihak sekolah. Proses editing dilakukan pula untuk menyeleksi data-data responden yang tidak mengisi 80% dari jumlah keseluruhan data yang tersedia dalam kuesioner (American Association for Public Opinion dalam Rismiati, 2012: 130) untuk penelitian ini. Proses editing menunjukan terdapat seorang responden yang tidak mengisikan 80% data dalam kuesioner. Data entry adalah proses memasukkan data yang telah diperiksa kelengkapannya ke dalam Microsoft Excel. Data yang telah dimasukkan akan menjadi data asli bagi penelitian untuk kemudian diolah dalam uji hipotesis.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Data cleaning adalah proses pembersihan data-data yang tidak terpakai atau tidak logis digunakan saat uji hipotesis. Peneliti memasukan data-data yang telah di-entry pada SPSS 16 untuk dilihat deskripsinya. Data yang outlier dihapus dan tidak digunakan saat uji hipotesis. Data yang diperoleh ternyata tidak ada data yang nilainya sangat jauh dari mean yang terlihat. Pembersihan data pada penelitian ini dilakukan untuk data latar belakang pendidikan guru. Tiga responden tidak mencantumkan secara jelas data latar belakang pendidikannya, sehingga data ketiga responden tersebut tidak dilakukan pada analisis data. 3. Menganalisis data deskriptif Tahap ini untuk menganalisis data deskriptif untuk menjawab rumusan masalah 1. Jawaban dari rumusan masalah 1 menggunakan statistik deskriptif berdasarkan pada distribusi frekuensi menggunakan rumus Sturges (Riduwan, 2008: 70). Hasil implementasi pembelajaran tematik dikategorikan menjadi lima kategori (Masidjo, 1995: 153). Lima kategori tersebut adalah sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Penentuan distribusi frekuensi dilakukan melalui tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70). Tujuh tahap distribusi frekuensi adalah: a. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai yang terbesar. b. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Rumus menghitung jarak atau rentangan (R): Data tertinggi-data terendah. c. Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K). 1+3,3 log n Gambar 3.4 Rumus Menghitung Jumlah Kelas

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 d. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Gambar 3.5 Rumus Menghitung Panjang Kelas e. Tahap kelima dengan menentukan batas interval panjang kelas. f. Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. g. Tahap ketujuh dengan membuat urutan inetrval kelas menjadi acuan kategorisasi. Tujuh tahapan distribusi frekuensi dilanjutkan dengan mengkategorikan data total implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta sesuai interval kelas yang telah dibuat. 4. Menentukan Taraf Signifikansi Taraf signifikansi adalah kesediaan dan keberanian peneliti untuk secara maksimal mengambil resiko kesalahan dalam pengujian hipotesis (Bungin, 2011: 192). Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi sebesar α = 5% = 0.05(two tailed). Nilai taraf signifikansi α = 0.05(two tailed), berarti bahwa data memiliki peluang kesalahan sebesar 5% atau memiliki taraf kepercayaan sebesar 95%. Penelitian ini menggunakan dua pihak karena dalam jurnal penelitian yang diacu menggunakan uji dua pihak. 5. Menguji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dalam penelitian ini ada 2 macam, yaitu uji normalitas, uji homogenitas. Data yang diolah untuk uji asumsi klasik adalah menjawab rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3 yaitu:

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 73 Uji Normalitas Penelitian ini memiliki variabel yang bersifat interval dan ordinal sehingga penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik non-parametrik. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan 3 cara yaitu Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, dan histogram. Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah untuk menguji apakah data berdistribusi normal (Usman dan Akbar, 2008: 109). Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Rumus uji normalitas Kolmogorov Smirnov menurut Uyanto (2009: 54) adalah: Gambar 3.6 Rumus Uji Kolmogorov Smirnov Keterangan: ) ) = fungsi distribusi empiris = fungsi distribusi kumulatif Rumusan masalah 2 pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru?”. Data untuk variabel latar belakang pendidikan guru dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok 1 untuk jenjang pendidikan menengah ( ), dan kelompok 2 untuk jenjang pendidikan tinggi ( ). Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok data. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 2 adalah: Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal).

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Kedua kelompok data jika berdistribusi normal maka dianalisis menggunakan analisis statistik parametrik. Salah satu kelompok data memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non-parametrik. Kedua variabel data pada rumusan masalah kedua ini termasuk dalam data yang ordinal dan interval maka analisis data dilakukan dengan analisis statistik non-parametrik. Rumusan masalah 3 pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru?”. Data untuk variabel status kepegawaian dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Kelompok 1 untuk pegawai tidak tetap yayasan ( ), kelompok 2 untuk pegawai tetap yayasan ), dan kelompok 3 untuk pegawai negeri ( ). Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok data. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah adalah:

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Ketiga kelompok data jika berdistribusi normal maka dianalisis menggunakan analisis statistik parametrik. Salah satu kelompok data memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non-parametrik. Ketiga variabel data pada rumusan masalah ketiga ini termasuk dalam data yang ordinal maka analisis data dilakukan dengan analisis statistik non-parametrik. Uji normalitas juga diketahui menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik P-P Plot diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Output berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak normal. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data. Apabila titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Normal atau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui histogram

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 dengan kurva normal. Apabila histogram membentuk atau mirip kurva normal maka dapat dinyatakan data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). b. Uji Homogenitas Siregar (2013:167) menjelaskan bahwa uji homogenitas memiliki tujuan untuk mengetahui kesamaan varian dalam objek yang diteliti. Uji homogenitas dilakukan pada rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test menggunakan program SPSS 16. Rumus Lavene’s test dapat dilihat pada gambar 3.5 (Nordstokke, 2011: 3). Gambar 3.7 Rumus Lavene’s test Keterangan: n = jumlah observasi k = banyaknya kelompok | ̅| = rata-rata dari kelompok ke i ̅ = rata-rata dari kelompok dari Z ̅ = rata-rata menyeluruh Rumusan masalah 2 pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari pendidikan

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 terakhir guru?”. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 2 adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau latar belakang pendidikan guru. Ha : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Terdapat dua kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas. Kriteria pertama apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Kriteria kedua apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Rumusan masalah 3 pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru?”. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 2 adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau status kepegawaian guru.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Ha : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Terdapat dua kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas. Kriteria pertama apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Kriteria kedua apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Artinya terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. 6. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan setelah peneliti melakukan uji homogenitas dan uji normalitas. Data penelitian yang bersifat nomonal dan ordinal menggunakan uji hipotesis non-parametrik, sedangkan data yang bersifat interval dan rasio menggunakan uji hipotesis parametrik. Rumusan masalah 2 menggunakan uji hipotesis Mann-Whitney. Uji MannWhitney digunakan untuk membandingkan dua sampel independen dengan skala ordinal dan interval tapi tidak berdistribusi normal (Uyanto. 2009: 320). Data ordinal terdapat pada data latar belakang pendidikan guru yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok 1 ( ) adalah jenjang pendidikan menengah meliputi SMU/SMK dan SPG. Kelompok 2 ( ) adalah jenjang pendidikan tinggi meliputi S1 PGSD, D2 PGSD, S1 non PGSD, dan Master. Data interval terdapat pada data implementasi pembelajaran tematik. Rumusan masalah 2 pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru?”. Rumus pengujian hipotesis yang menggunakan uji Mann Whitney menurut Uyanto (2009: 328) adalah: Gambar 3.8 Rumus Mann Whitney dengan: ) ) ) ) √ Keterangan: = jumlah peringkat sampel pertama = jumlah sampel 1 (latar belakang pendidikan menengah) = jumlah sampel 2 (latar belakang pendidikan tinggi) Hipotesis untuk Mann Whitney pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru ( Ha ). : Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru ( Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: ).

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 80 Jika Sig.(2 tailed)≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru b. Jika Sig.(2 tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Hasil yang diperoleh dari analisis uji Mann Whitney jika hasil yang diperoleh menunjukan adanya perbedaan maka langkah selanjutnya adalah menguji besar efek. Field (2009: 57) menjelaskan bahwa effect size adalah suatu ukuran objektif yang digunakan sebagai standar atau tolok ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan. Kriteria dari effect size adalah apabila r = 0,10 (efek kecil) maka setara dengan 1% pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas, r = 0,30 (efek menengah) setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) setara dengan 25%. Rumus yang digunakan untuk menghitung effect size dalam penelitian ini adalah: Gambar 3.9 Rumus Effect Size Keterangan: Z = Harga konversi standar deviasi N = Jumlah total observasi

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Field (2009:179) menentukan kriteria untuk mengetahui besar efek yang ditimbulkan. Kriteria yang ditentukan adalah efek kecil, sedang, dan besar. Hasil perhitungan effect size dapat dilihat dalam kriteria berikut: 0,10-2,29 = small effect (efek kecil) 0,30-0,49 = medium effect (efek sedang) 0,50-1,00 = large effect (efek besar) Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan setelah menghitung effect size adalah menganalisis koefisien determinasi (R2). Field (2009: 179) menyebutkan bahwa koefisien determinasi adalah suatu ukuran jumlah variabilitas dalam satu variabel yang dibagikan pada yang lain. Rumus koefisien determinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah: R2 = r2 x 100% Gambar 3.10 Rumus Koefisien Determinasi Rumusan masalah 3 menggunakan uji hipotesis Kruskal Wallis dikarenakan data termasuk data ordinal dan interval dengan lebih dari dua sampel independen. Data ordinal terdapat pada data status kepegawaian guru yang terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok 1 ( ) adalah guru tidak tetap yayasan. Kelompok 2 ( ) adalah guru tetap yayasan. Kelompok 3 ( ) adalah pegawai negeri. Data interval terdapat pada data implementasi pembelajaran tematik. Rumusan masalah 3 pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru?”. Rumus

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 pengujian hipotesis yang menggunakan uji Kruskal Wallis menurut Uyanto (2009: 337) adalah: Gambar 3.11 Rumus Kruskal Wallis Keterangan: = = jumlah peringkat (rank) sampel ke-j = besar sampel ke-j Hipotesis untuk Kruskal Wallis pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru ( ). Ha : Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru ( ). Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1.) Jika Sig.(2 tailed)≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 2.) Jika Sig.(2 tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Hasil yang diperoleh dari analisis uji Kruskal Wallis jika hasil yang diperoleh menunjukan adanya perbedaan maka langkah selanjutnya adalah menguji besar efek. Field (2009: 57) menjelaskan bahwa effect size adalah suatu ukuran objektif yang digunakan sebagai standar atau tolok ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan. Kriteria dari effect size adalah apabila r = 0,10 (efek kecil) maka setara dengan 1% pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas, r = 0,30 (efek menengah) setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) setara dengan 25%. Rumus yang digunakan untuk menghitung effect size dalam penelitian ini adalah: 3.) 4.) Gambar 3.9 Rumus Effect Size Keterangan: Z = Harga konversi standar deviasi N = Jumlah total observasi Field (2009:179) menentukan kriteria untuk mengetahui besar efek yang ditimbulkan. Kriteria yang ditentukan adalah efek kecil, sedang, dan besar. Hasil perhitungan effect size dapat dilihat dalam kriteria berikut:

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 0,10-2,29 = small effect (efek kecil) 0,30-0,49 = medium effect (efek sedang) 0,50-1,00 = large effect (efek besar) 84 Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan setelah menghitung effect size adalah menganalisis koefisien determinasi (R2). Field (2009: 179) menyebutkan bahwa koefisien determinasi adalah suatu ukuran jumlah variabilitas dalam satu variabel yang dibagikan pada yang lain. Rumus koefisien determinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah: R2 = r25.) x 100% 6.) Gambar 3.10 Rumus Koefisien Determinasi Analisis selanjutnya yang dilakukan menguji Post Hoc dengan menggunakan Mann Whitney. Uji signifikansi atau Post Hoc dilakukan apabila hasil uji hipotesis menunjukkan adanya suatu perbedaan. Field (2009: 565) menyebutkan bahwa penentuan taraf signifikansi yang digunakan untuk mengetahui nilai perbedaan setiap kelompok adalah 0,05 dibagi dengan jumlah tes yang ada. Hasil uji Kruskall Wallis yang telah dilakukan digunakan untuk melihat Mean Rank tertinggi. Mean Rank tertinggi digunakan sebagai basis kontrol dalam pengujian Post Hoc. I. Waktu Penelitian Penelitian berlangsung selama 11 bulan mulai dari bulan September 2013 sampai Juli 2014.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Tabel 3.16 Waktu Penelitian No 1 2. 3 4 5 6 7 Agenda Kegiatan Sept 2013 Okt 2013 Nov 2013 Des 2013 Waktu Pelaksanaan Jan Feb Maret 2014 2014 2014 Apr 2014 Mei 2014 Jun 2014 Juli 2014 Membuat bab 1 sampai bab 3 Menyebar kuesioner Presentasi bab 1, 2, 3 Mengolah data Presentasi bab 1, 2, 3, 4, 5 Simulasi ujian skripsi Ujian skripsi Penelitian ini dimulai dengan agenda membuat bab 1 sampai bab 3 sejak bulan September 2013 sampai bulan Desember 2013. Agenda kedua adalah menyebar kuesioner yang dilakukan pada bulan Januari 2014 sampai bulan Februari 2014. Agenda ketiga adalah presentasi bab 1, 2, dan 3 yang dilakukan pada bulan Februari 2014 sampai bulan Maret 2014. Agenda keempat adalah mengolah data yang dilakukan pada bulan Maret 2014 sampai bulan April 2014. Agenda kelima adalah presentasi bab 1, 2, 3, 4, dan 5 yang dilakukan pada bulan Mei 2014. Agenda keenam adalah simulasi ujian skripsi yang dilakukan pada bulan Juni 2014. Agenda terakhir adalah ujian skripsi yang dilakukan pada bulan Juli 2014.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV DESKRIPSI PENELITIAN, TINGKAT PENGEMBALIAN KUESIONER, HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Bab IV dalam penelitian membahas tentang deskripsi penelitian, tingkat penegmbalian kuesioner, hasil analisis, dan pembahasan penelitian. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei Bagi Guru-Guru SD Afiliasi Katolik, Kristen Dan Nasional di Kota Yogyakarta”. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah 1) mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta; 2) mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru; 3) mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Jenis penelitian yang digunakan adalah non eksperimental dengan cross sectional desain melalui metode survei. Penelitian dilaksanakan sejak bulan September 2013 sampai Juni 2013. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner. Kuesioner disebarkan pada seluruh populasi penelitian yang berjumlah 111 responden. 86

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Penyebaran data kuesioner dilaksanakan pada bulan Januari 2014 sampai Februari 2014. Penyebaran data diawali dengan meminta surat izin penelitian pada sekretariat PGSD, kemudian kuesioner disebarkan pada seluruh sekolah dasar swasta afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta. Rekap data yang diperoleh dari keseluruhan responden yang berjumlah 54 responden terdapat 10 orang responden atau 18,52% responden yang sekolahnya telah menerapkan kurikulum 2013, 1 orang responden atau 1,85% reponden yang tidak memberikan jawaban dan 43 orang responden atau 79,63% responden belum menerapkan kurikulum 2013. Responden yang memiliki latar belakang pendidikan pada jenjang pendidikan menengah berjumlah enam responden. Responden yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi berjumlah 45 reponden. Jumlah seluruh responden pada variabel latar belakang pendidikan guru berjumlah 51 responden dari responden awal yang 54 responden. Tiga responden tidak termasuk dalam variabel ini karena telah dilakukan olah data cleaning pada ketiganya. Responden yang memiliki status kepegawaian adalah pegawai tidak tetap yayasan berjumlah 20 responden. Responden yang memiliki status kepegawaian pegawai tetap yayasan berjumlah 29 responden. Responden yang memilki status kepegawaian pegawai negeri berjumlah 5 responden.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 B. Tingkat Pengembalian Kuesioner Hasil observasi yang dilakuakan sebelum penyebaran kuesioner, menemukan bahwa terdapat 111 responden sebagai populasi pada penelitian. Populasi sebesar 111 responden, maka dibutuhkan 86 responden sebagai sampel. Peneliti menyediakan 115 buah kuesioner dalam melakukan pengumpulan data. Kuesioner yang disebarkan pada guru sejumlah 96 kuesioner, namun hanya 55 responden atau 57,29% guru yang bersedia menerima dan mengembalikan kuesioner yang disebarkan. SD-S1 memiliki guru sebanyak delapan orang guru namun hanya mengembalikan kuesioner sebanyak lima buah. SD-S2 memiliki guru sebanyak delapan orang guru namun hanya mengembalikan tujuh buah kuesioner. SD-S3 memiliki guru sebanyak enam orang guru namun hanya mengembalikan kuesioner sebanyak empat buah kuesioner. SD-S4 memiliki guru sebanyak enam orang guru namun menolak untuk dilakukan penelitian. SD-S5 memiliki guru sebanyak tiga orang guru dan mengembalikan kuesioner sebanyak tiga buah. SD-S6 memiliki guru sebanyak dua belas orang guru dan mengembalikan kuesioner sebanyak dua belas buah. SD-S7 memiliki guru sebanyak delapan orang guru namun menolak untuk dilakukan penelitian. SD-S8 memiliki guru sebanyak delapan orang guru namun menolak untuk dilakukan penelitian. SD-S9 memiliki guru sebanyak delapan orang guru dan mengembalikan delapan buah kuesioner. SD-S10 memiliki guru sebanyak satu orang guru dan mengembalikan satu buah kuesioner. SD-S11 memiliki guru sebanyak tiga orang guru namun hanya mengembalikan kuesioner sebanyak dua buah kuesioner. SD-S12 memiliki guru sebanyak tiga

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 orang guru dan mengembalikan tiga buah kuesioner. SD-S13 memiliki guru sebanyak sembilan orang guru namun menolak untuk dilakukan penelitian. SDS14 memiliki guru sebanyak tiga orang guru namun menolak untuk dilakukan penelitian. SD-S15 memiliki guru sebanyak tiga orang guru dan mengembalikan tiga buah kuesioner. SD-S16 memiliki guru sebanyak delapan orang guru namun tidak mengembalikan satupun kuesioner. SD-S17 memiliki guru sebanyak tujuh orang guru dan mengembalikan tujuh buah kuesioner. SD-S18 memiliki guru sebanyak tiga orang guru dan mengembalikan tiga buah kuesioner. (Lampiran 25 halaman 290) Kurang terpenuhinya jumlah sampel yang dibutuhkan disebabkan oleh beberapa macam alasan. Alasan pertama disebabkan oleh kegiatan para guru yang sedang sibuk mengurusi acara sekolah sehingga tidak ada waktu untuk dapat mengisi kuesioner. Alasan kedua dikarenakan sekolah sedang sibuk mempersiapkan ujian sekolah sehingga keberadaan kuesioner ditakutkan akan menggangu persiapan ujian. Alasan ketiga karena seringnya sekolah dijadikan sebagai tempat penelitian sehingga akan mengganggu ketika penelitian ini dilakukan pada sekolah tersebut karena seminimal mungin instrumen penelitian pasti akan membutuhkan waktu dalam melengkapinya. Alasan lainnya yang mayoritas disampaikan oleh para sekolah karena kesibukan sekolah dengan kegiatan lain sehingga ketakutan akan terjadinya ketidakfokusan.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 C. Hasil Penelitian Hasil analisis terbagi menjadi tiga bagian sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditentukan. Bagian pertama melihat hasil analisis data dari rumusan masalah bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta. Bagian kedua melihat hasil analisis data dari rumusan masalah apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Bagian ketiga melihat hasil analisis data dari rumusan masalah apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. 1. Hasil Analisis Data Rumusan Masalah 1: Bagaimana Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah di SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta. Tujuan dari rumusan masalah 1 adalah untuk melihat tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta. Hasil pengolahan data deskriptif menggunakan program SPSS 16 untuk 54 orang responden menunjukan bahwa nilai terendah data sebesar 79, nilai tertinggi data sebesar 109 dengan rata-rata data sebesar 90,20. Data implementasi pembelajaran tematik yang diperoleh dan diolah menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Data implementasi

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 pembelajaran tematik dihitung melalui tujuh tahap distribusi frekuensi. Tahap pertama dengan mengurutkan kategori dari yang terkecil yang tebesar. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan (R) dihitung dengan mengurangkan nilai tertinggi dengan nilai terendah, sehingga nilai 109-79=30. Hasil yang didapat menunjukkan jarak atau rentangan (R) sebesar 30. Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas ditetapkan dengan mengacu pada Masidjo dalam mengkategorikan tingkat penguasaan kompetensi (1995: 153). Jumlah kelas terdiri dari lima kelas yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Panjang kelas interval (P) dihitung dengan membagi rentangan dan jumlah kelas, maka 30/5=6. Panjang kelas interval didapatkan sebesar 6. Tahap kelima dengan menentukan kelas interval. Kelas interval dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval Panjang Kelas Kategori 79 – 84 Sangat Rendah 85 – 90 Rendah 91 - 96 Cukup 97 – 103 Tinggi 103 – 109 Sangat Tinggi

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. Tahap ketujuh dengan memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Kategori Panjang Kelas Frekuensi Sangat Tinggi 103 – 109 3 Tinggi 97 – 103 6 Cukup 91 – 96 14 Rendah 85 – 90 22 Sangat Rendah 79 – 84 9 Total 54 Presentase 5.56% 11,11% 25,92% 40,74% 16,67% 100% Tabel 4.2 menunjukan hasil penghitungan daftar distribusi tingkat implementasi pembelajaran tematik. Tiga atau 5,56% reponden tergolong dalam kategori sangat timggi. Enam atau 11,11% reponden tergolong dalam kategori tinggi. Empat belas atau 25,92% reponden tergolong dalam kategori cukup. Dua puluh dua atau 40,47% responden tergolong dalam kategori rendah. Sembilan atau 16,67% reponden tergolong dalam kategori sangat rendah. (Lampiran 13 halaman 263) Hasil penghitungan daftar distribusi menunjukan bahwa jumlah responden terbanyak berada dalam kategori rendah, yaitu sebesar dua puluh dua atau 40,47% responden. Kesimpulan atas penelitian untuk rumusan masalah 1 menunjukan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta masih termasuk dalam kategori rendah. Hasil penelitian tidak sesuai dengan hipotesis

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 penelitian yang merumuskan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta termasuk dalam kategori tinggi. 2. Hasil Analisis Data Rumusan Masalah 2: Apakah Terdapat Perbedaan Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Kelas Bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Guru. Rumusan masalah 2 bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Penelitian ini memiliki variabel yang bersifat interval pada variabel tingkat implementasi pembelajaran tematik dan ordinal pada variabel latar belakang pendidikan guru sehingga penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik non-parametrik. Latar belakang pendidikan guru dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok 1 ( ) adalah jenjang pendidikan menengah meliputi SMU/SMK dan SPG. Kelompok 2 ( ) adalah jenjang pendidikan tinggi meliputi S1 PGSD, D2 PGSD, S1 non PGSD, dan Master. Peneliti terlebih dahulu menguji asumsi klasik data-data untuk kedua variabel pada rumusan masalah kedua sebelum melakukan uji hipotesis. Uji asumsi klasik berupa uji normalitas, dan uji hipotesis. Uji normalitas dilakukan pada dua kelompok data, yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah dan tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan

(113) 94 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI jenjang pendidikan tinggi. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 2 adalah: Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Kriteria pengambilan keputusan uji normalitas data: a. Jika sig. ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak berarti distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). b. Jika sig. < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Uji normalitas untuk kelompok 1, yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah Tests of Normality Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) Implementasi Selected Pembelajaran Tematik Kolmogorov-Smirnova Statistic .492 df Shapiro-Wilk Sig. 6 .000 Statistic .496 df Sig. 6 .000 a. Lilliefors Significance Correction Tabel 4.3 menunjukan hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov adalah D(6) = 0,492, ρ < 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Uji normalitas lain berupa uji Shapiro Wilk menunjukan hasil yang hampir sama. Hasil uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk adalah D(6) = 0,496, ρ < 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Kedua uji normalitas menunjukan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah merupakan data yang tidak normal. Uji normalitas kedua dan ketiga dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.1 dan 4.2 merupakan hasil visualisasi P-P Plot dan histogram data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah. Gambar 4.1 Hasil Uji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah Gambar 4.1 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah. Titik-

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 titik berlubang pada P-P Plot merupakan data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah tidak berada pada garis maka hasil normalitas dikatakan tidak berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan histogram. Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.2. Gambar 4.2 Hasil Uji Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah Gambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah Data dapat dikatakan normal apabila histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram tidak membentuk kurva normal, maka data dikatakan tidak berdistribusi normal. (Lampiran14 halaman 264). Uji normalitas untuk kelompok 2, yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan tinggi dapat dilihat pada tabel 4.3.

(116) 97 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.4 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) Statistic df Sig. Implementasi Selected Pembelajaran Tematik .337 45 Shapiro-Wilk Statistic .000 .738 Df Sig. 45 .000 a. Lilliefors Significance Correction Tabel 4.4 menunjukan hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov adalah D(45) = 0,337, ρ < 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Uji normalitas lain berupa uji Shapiro Wilk menunjukan hasil yang hampir sama. Hasil uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk adalah D(45) = 0,738, ρ < 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Kedua uji normalitas menunjukan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan tinggi merupakan data yang tidak normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.3 dan 4.4 merupakan hasil visualisasi P-P Plot dan histogram data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan tinggi.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Gambar 4.3 Hasil Uji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi Gambar 4.3 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan menengah. Titiktitik berlubang pada P-P Plot merupakan data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan tinggi. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan tinggi tidak berada pada garis maka hasil normalitas dikatakan tidak berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan histogram.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Gambar 4.4 Hasil Uji Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi Gambar 4.4 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jenjang pendidikan tinggi. Gambar 4.4 menunjukkan bahwa histogram tidak membentuk kurva normal maka data dikatakan tidak berdistribusi normal. Seluruh hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan latar belakang pendidikan guru tidak berdistribusi normal. (Lampiran 15 halaman 268) Analisis selanjutnya adalah menguji homogenitas data. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Lavene’s Test. Uji pada rumusan masalah 2 ini digunakan untuk menguji varian data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan latar belakang pendidikan guru. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 2 adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau latar belakang pendidikan guru.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Ha : Terdapat perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas: Apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, a. artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. b. Apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Uji homogenitas untuk data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan latar belakang pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Homogenitas Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Latar Belakang Pendidikan Test of Homogeneity of Variances Implementasi Pembelajaran Tematik Levene Statistic 2.514 df1 df2 1 Sig. 49 .119 Tabel 4.5 menunjukan hasil uji homogenitas dengan uji Lavene’s Test adalah F(1,49) = 2.514, ρ > 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya terdapat perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau latar belakang pendidikan guru. (Lampiran 16 halaman 272) Rumusan masalah 2 menggunakan uji hipotesis Mann-Whitney. Uji MannWhitney digunakan untuk membandingkan dua sampel independen dengan skala

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 ordinal dan interval tapi tidak berdistribusi normal (Uyanto. 2009: 320). Hipotesis untuk uji statistik Mann Whitney pada penelitian ini adalah: Ho :Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru ( Ha ). :Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru ( ). Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: c. Jika Sig.(2 tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru d. Jika Sig.(2 tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Uji hipotesis untuk data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru dapat dilihat pada tabel 4.6.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Tabel 4.6 Uji Hipotesis Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Guru Test Statisticsb Implementasi Pembelajaran Tematik Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 106.000 127.000 -.850 .395 .414a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: LatarBelakangPendidikan Tabel 4.6 menunjukan bahwa hasil uji hipotesis Mann-Whitney untuk untuk data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Hasil uji Mann-Whitney menunjukan nilai U = 106,00, Z = 0,850, ρ > 0,05. Hasil uji hipotesis Mann-Whitney menunjukan bahwa Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, maka tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru dengan latar belakang pendidikan pada jenjang menengah dan guru dengan latar belakang pendidikan pada jenjang tinggi. Guru dengan latar belakang pendidikan pada jenjang menengah dan guru dengan latar belakang pendidikan pada jenjang tinggi memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang sama yaitu rendah. Hasil menunjukkan bahwa tidak dilakukan uji Post Hoc, effect size, dan koefisien determinasi pada rumusan masalah ini. (Lampiran 17 halaman 273)

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Rumusan Masalah 3: Apakah Terdapat Perbedaan 103 Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Kelas Bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru. Rumusan masalah 3 bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Penelitian ini memiliki variabel yang bersifat interval pada variabel tingkat implementasi pembelajaran tematik dan ordinal pada variabel status kepegawaian guru sehingga penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik non-parametrik. Status kepegawaian guru yang terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok 1 ( ) adalah guru tidak tetap yayasan. Kelompok 2 ( ) adalah guru tetap yayasan. Kelompok 3 ( ) adalah pegawai negeri. Peneliti terlebih dahulu menguji asumsi klasik data-data untuk kedua variabel pada rumusan masalah ketiga sebelum melakukan uji hipotesis. Uji asumsi klasik berupa uji normalitas, dan uji hipotesis. Uji normalitas dilakukan pada tiga kelompok data. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 3 adalah: Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Kriteria pengambilan keputusan uji normalitas data: c. Jika sig. ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak berarti distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). d. Jika sig. < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Uji normalitas untuk kelompok 1, yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai tidak tetap yayasan dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan Tests of Normality Status Kepegawaian=1 (FILTER) Implementasi Selected Pembelajaran Tematik Kolmogorov-Smirnova Statistic .198 df Shapiro-Wilk Sig. 20 .040 Statistic .823 df Sig. 20 .002 a. Lilliefors Significance Correction Tabel 4.7 menunjukan hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov adalah D(20) = 0,198, ρ < 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Uji normalitas lain berupa uji Shapiro Wilk menunjukan hasil yang hampir sama namun lebih akurat menandakan ketidaknormalannya. Hasil uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk adalah D(20) = 0,823, ρ < 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak berarti distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 (data berdistribusi tidak normal). Kedua uji normalitas menunjukan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian pegawai tidak tetap yayasan merupakan data yang tidak normal. Uji normalitas kedua dan ketiga dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.5 dan 4.6 merupakan hasil visualisasi P-P Plot dan histogram data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru tidak tetap yayasan Gambar 4.5 Hasil Visualisasi P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan Gambar 4.5 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru tidak tetap yayasan. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian pegawai tidak tetap yayasan. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai tidak tetap yayasan tidak berada pada garis maka hasil normalitas dikatakan data tidak berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 histogram. Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.6. Gambar 4.6 Hasil Visualisasi Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan Gambar 4.6 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru tidak tetap yayasan. Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram tidak membentuk kurva normal, maka data dikatakan tidak berdistribusi normal. (Lampiran 18 halaman 274) Uji normalitas untuk kelompok 2, yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai tetap yayasan dapat dilihat pada tabel 4.8.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Tabel 4.8 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan Tests of Normality Status Kolmogorov-Smirnova Kepegawaian=2 (FILTER) Statistic df Sig. Implementasi Selected Pembelajaran Tematik .092 29 Shapiro-Wilk Statistic .200* .956 df Sig. 29 .263 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Tabel 4.8 menunjukan hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov adalah D(29) = 0,092, ρ > 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Uji normalitas lain berupa uji Shapiro Wilk menunjukan hasil yang lebih akurat menyatakan kenormalan data. Hasil uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk adalah D(29) = 0.956, ρ > 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kedua uji normalitas menunjukan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai tetap yayasan merupakan data yang normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.7 dan 4.8 merupakan hasil visualisasi P-P Plot dan histogram data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai tetap yayasan.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Gambar 4.7 Hasil Uji P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan Gambar 4.7 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai tetap yayasan. Titiktitik berlubang pada P-P Plot merupakan data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru tetap yayasan. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru tetap yayasan berada pada garis maka hasil normalitas dikatakan berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan histogram. Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.8.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Gambar 4.8 Hasil Visualisasi Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan Gambar 4.8 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru tetap yayasan. Gambar 4.8 menunjukkan bahwa histogram membentuk kurva normal, maka data dikatakan berdistribusi normal. (Lampiran 19 halaman 278) Uji normalitas untuk kelompok 3, yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai negeri dapat dilihat pada tabel 4.9. Tabel 4.9 Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri Tests of Normality Status Kepegawaian=3 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Kolmogorov-Smirnova Statistic .246 df Sig. 5 .200* Shapiro-Wilk Statistic .890 df Sig. 5 .356

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Tabel 4.9 menunjukan hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov adalah D(5) = 0,246, ρ > 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Uji normalitas lain berupa uji Shapiro Wilk menunjukan hasil yang lebih akurat menyatakan kenormalan data. Hasil uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk adalah D(5) = 0.356, ρ > 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak berarti distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kedua uji normalitas menunjukan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian pegawai negeri merupakan data yang normal. Uji normalitas selanjutnya dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.9 dan 4.10 merupakan hasil visualisasi P-P Plot dan histogram data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru pegawai negeri. Gambar 4.9 Hasil Visualisasi P-P Plot Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Gambar 4.9 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai negeri. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai negeri. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian pegawai negeri terdapat pada garis maka hasil normalitas dikatakan berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan histogram. Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.10. Gambar 4.10 Hasil Uji Histogram Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri Gambar 4.10 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pegawai negeri. Gambar 4.10 menunjukkan bahwa histogram membentuk kurva normal, maka data dikatakan tidak berdistribusi normal. (Lampiran 20 halaman 282) Analisis selanjutnya adalah menguji homogenitas data. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Lavene’s Test. Uji pada rumusan masalah 3 ini digunakan

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 untuk menguji varian data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru. Hipotesis untuk melakukan uji normalitas pada data rumusan masalah 3 adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Ha : Terdapat perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas: a. Apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. b. Apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Uji homogenitas untuk data tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan status kepegawaian guru dapat dilihat pada tabel 4.10. Tabel 4.10 Homogenitas Data Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian Guru Test of Homogeneity of Variances Implementasi Pembelajaran Tematilk Levene Statistic 2.071 df1 df2 2 Sig. 51 .137

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Tabel 4.10 menunjukan hasil uji homogenitas dengan uji Lavene’s Test adalah F(2,51) = 2.071, ρ > 0,05. Hasil menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya terdapat perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau status kepegawaian guru. (Lampiran 21 halaman 286). Rumusan masalah 3 menggunakan uji hipotesis Kruskal Wallis. Uji MannWhitney digunakan karena penelitian memiliki lebih dari dua sampel independen dengan skala ordinal dan interval tapi tidak berdistribusi normal. Hipotesis untuk uji statistik Kruskal Wallis pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru ( ). Ha : Terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru ( ). Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: a. Jika Sig.(2 tailed)≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru b. Jika Sig.(2 tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Uji hipotesis untuk data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru dapat dilihat pada tabel 4.11. Tabel 4.11 Uji Hipotesis Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru Test Statisticsa,b Implementasi Pembelajaran Tematilk Chi-Square Df Asymp. Sig. .293 2 .864 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Status Kepegawaian Tabel 4.11 menunjukan bahwa hasil uji hipotesis Kruskal-Wallis untuk data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukan nilai H(2) = 0.293, ρ > 0,05. Hasil uji hipotesis Kruskal Wallis menunjukan bahwa Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, maka tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawain guru. Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru dengan status kepegawaian pegawai tidak tetap yayasan, pegawai tetap yayasan maupun pegawai negeri. Guru dengan

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 status kepegawaian pegawai tidak tetap yayasan, pegawai tetap yayasan maupun pegawai negeri memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang sama yaitu rendah. Hasil menunjukkan bahwa tidak dilakukan uji Post Hoc, effect size, dan koefisien determinasi pada rumusan masalah ini. (Lampiran 22 halaman 287) D. Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar di kota Yogyakarta, mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari latar belakang pendidikan guru, mengetahui perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari status kepegawain guru. Hasil dari analisis data yang sudah dilakukan, menjelaskan bahwa: 1. Pembahasan Hasil Analisis Data Rumusan Masalah 1: bagaimana Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah di SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta. Hasil penelitian dan pengukuran dengan menggunakan distribusi frekuensi menunjukkan bahwa frekuensi terbanyak guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta berada dalam kategori rendah. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang telah dirumuskan. Hipotesis penelitian mengharapkan hasil implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh para guru berapa pada kategori tinggi. Hasil analisis yang menunjukan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah masih termasuk dalam kategori rendah tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang ditentukan.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Peneliti menduga tingkat implementasi pemebelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah yang masih berada pada kategori rendah dikarenakan pembelajaran tematik cukup rumit untuk diimplementasikan. Trianto (2011: 173) menyatakan bahwa model pembelajaran tematik tidak mudah untuk dilaksanakan karena memerlukan penyesuaian dan kemampuan adaptasi yang baik. Penerapan pembelajaran tematik membutuhkan kretifitas yang lebih dari guru untuk memadupadankan tema-tema yang seragam. Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan, dan utuh (Depdiknas, 2009: 11). Penerapan pembelajaran tematik tanpa kreatifitas, hasilnya tentu juga tidak akan baik sehingga pengaruhnya terhadap siswa tidak akan jauh lebih baik seperti menggunakan pembelajaran tanpa menggunakan pembelajaran tematik. Depdiknas (2009: 11) juga menjelaskan bahwa pembelajaran tematik memberikan implikasi bagi para pelaksananya untuk memperhitungkan pemahaman siswa, sarana, prasarana, sumber belajar dan media, pengaturan ruangan, serta metode pembelajaran. Keberadaan dari banyaknya implikasi sebagai konsekuensi pembelajaran tematik inilah yang menjadikan pembelajaran tematik rumit untuk diimplementasikan sehingga wajar jika kategorinya masih rendah. Guru mesti memperhitungkan banyak aspek untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran tematik secara baik. Peneliti juga menduga, guru yang terbiasa dan merasa nyaman dengan cara mengajarnya yang lama,

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 mungkin akan merasa malas untuk melakukan inovasi cara mengajarnya dengan pembelajaran tematik. 2. Pembahasan Hasil Analisis Data Rumusan Masalah 2: Perbedaan Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Guru. Hasil penelitian untuk rumusan masalah 2 menunjukkan Ha ditolak atau Ho gagal ditolak. Analisis data menggunakan teknik Mann Whitney menunjukan U = 106,00, Z = -0,850, ρ > 0,05. Hasil tersebut menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Hal ini berarti bahwa guru dengan pendidikan menengah memiliki tingkat implementasi pemebelajaran tematik yang tidak berbeda dengan guru dengan pendidikan tinggi. Guru dengan pendidikan menengah maupun guru dengan pendidikan tinggi memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang rendah. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian menginginkan hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. Chairunniza (2012: 10) yang menyebutkan hal yang sama dengan hipotesis penelitian yang dirumuskan bahwa latar belakang pendidikan guru dapat mempengaruhi kinerja.

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 Peneliti menduga latar belakang pendidikan guru memang mempengaruhi kinerja namun untuk kinerja guru yang lain. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Minarmi (2008) juga menunjukan bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari pendidikan guru. Gibson (Supardi, 2013: 19) juga tidak menyebutkan latar belakang pendidikan guru sebagai faktor yang mempengaruhi kinerja seorang guru. Penelitian yang yang dilakukan Minarmi (2008) dan teori yang kemukakan Gibson (2013) melandasi dugaan peneliti bahwa latar pendidikan guru tidak berpengaruh terhadap seluruh kinerja guru, yang pada penelitian ini terbukti dengan tidak adanya perbedaan tingkat pembelajaran tematik oleh guru jika ditinjau dari latar belakang pendidikan. 3. Pembahasan Hasil Analisis Data Rumusan Masalah 3: Perbedaan Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah SD Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru. Hasil penelitian untuk rumusan masalah 3 menunjukkan Ha ditolak atau Ho gagal ditolak. Analisis data menggunakan teknik Kruskal Wallis menunjukan H(2) = 0.293, ρ > 0,05. Hasil tersebut menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru dengan status kepegawaian pegawai tidak tetap yayasan, pegawai tetap yayasan maupun pegawai negeri. Guru dengan status kepegawaian

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 pegawai tidak tetap yayasan, pegawai tetap yayasan maupun pegawai negeri sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang rendah. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian menginginkan hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru. Chairunniza (2012:10) yang menyebutkan hal yang sama dengan hipotesis penelitian yang dirumuskan bahwa status kepegawaian dapat mempengaruhi kinerja. Peneliti menduga latar belakang pendidikan guru memang mempengaruhi kinerja namun untuk kinerja guru yang lain atau untuk subjek yang lain. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Minarmi (2008) juga menunjukan bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari pendidikan guru. Gibson (Supardi, 2013: 19) juga tidak menyebutkan status kepegwaian sebagai faktor yang mempengaruhi kinerja seorang guru. Penelitian yang yang dilakukan Minarmi (2008) dan teori yang kemukakan Gibson (2013) melandasi dugaan peneliti bahwa status kepegawaian guru tidak berpengaruh terhadap seluruh kinerja guru, yang pada penelitian ini terbukti dengan tidak adanya perbedaan tingkat pembelajaran tematik oleh guru jika ditinjau dari status kepegawaian guru.

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN Bab V membahas tentang kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran dalam penelirian ini. A. Kesimpulan 1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta yang digolongkan berdasarkan distribusi frekuensi termasuk dalam kategori rendah. Kategori rendah dilihat berdasarkan frekuensi terbanyak yang diperoleh para responden pada kategori tersebut, yaitu sebesar 22 responden atau 40,79% dari keseluruhan jumlah responden. 2. Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar belakang pendidikan guru (U = 106,00, Z = -0,850, ρ > 0,05). 3. Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen, dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari status kepegawaian guru (H(2) = 0.293, ρ > 0,05). B. Keterbatasan 1. Sulitnya mencari alamat dan letak sekolah yang digunakan untuk penelitian sehingga cukup mengahambat waktu pengumpulan data. 2. Penelitian yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan Program Pelaksanaan Lapangan (PPL), sehingga menghambat waktu pengumpulan data beserta penyusunan laporan penelitian. 120

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 121 Penelitian ini tidak dapat mengontrol kebenaran data yang diberikan responden. 4. Jenjang pendidikan yang digunakan untuk menggolongkan jenjang pendidikan guru masih terbatas. 5. Indikator yang tersusun dalam penelitian ini masih dapat dikembangkan 6. Sampel pada penelitian ini kurang. C. Saran 1. Sebaiknya tidak menyatukan tahapan penelitian dengan PPL agar tidak sulit dalam membagi waktu dan kegiatan lebih terfokus. 2. Sebaiknya dilakukan observasi terlebih dahulu terhadap letak dan lokasi sekolah agar penyebaran data tidak menghambat waktu penelitian. 3. Peneliti selanjutnya diharapkan terlebih dahulu melakukan uji kualitas kuesioner, misalnya dengan melakukan analisis faktor. 4. Perbanyak sampel penelitian agar hasil lebih akurat. 5. Lengkapi teknik pengumpulan data, misalnya dengan observasi.

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Arikunto,Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT.Rineka Cipta. Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Chairunniza. 2012. Pengnaruh Karakterristik Demografi dan Motivasi Kerja Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Aceh Utara. Jakarta: Universitas Terbuka. Cahyaningsih, Wulan Cicilia. Persepsi Guru Terhadap Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Status Kepegawaian, dan Lama Menjalani Profesi Guru. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum SD. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Gramedia. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Laporan Hasil Diskusi Kajian Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Departemen Pendidikan Pendidikan Nasional. Nasional. 2009. Tematik. Jakarta: Departemen Dilek, Dursun. 2002. Using a Thematic Teaching Approach Based on Pupil’s Skill and Interest. Field, A. (2009) .Discovery statistics using SPSS third edition. London: SAGE Publication ltd. Hernawan, Herry Asep. 2012. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Banten: Universitas Terbuka Hidayat, Sholeh.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya. Hidayattulah, Anang Arif. 2012. Pelaksanaan pembelajaran tematik sd kelas rendah di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara. Yogyakarta: Skripsi (eprints.uny.ac.id/5491/1/Anang%20Arif%20Hidayattulah.pdf diakses pada 15 Januari 2014). Jalal dan Supriadi. 2001.Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Adicita Karya Nusa. 122

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jiwa, dkk. 2013. Pengaruh Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Prestasi Belajar Ditinjau dari Motivari Belajar pada Siswa Kelas IV Gugus Empat di Kecamatan Gianyar. Bali: Universitas Ganesha. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2009. Dokumen Kurikulum 2013. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Pengembangan Kurikulum 2013. http://www.um.ac.id/data/download/file70EDCF85B75C26D549DBB671CD 8D98C4.pdf diakses tanggal 9 Oktober 2013. Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Minarmi. 2008. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Guru dalam Jabatan ditinjau dari Masa kerja, Tingkat pendidikan, Golongan Jabatan dan Status Kepegawaian: Survey bagi Guru-Guru Sekolah Dasar se-Kecamatan Ngawean, Kabupaten Klaten. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Martono, Nanang. 2010. Statistik Sosial: Teori dan Aplikasi Program SPSS. Yogyakarta: Gava Media. Mulyasa, H.E. 2010. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nordstokke. (2011).The operating characteristics od the non parametric Lavene’s test for equal variances with assesment and evaluation data. Practical assesment, rearch and evaluation.10(5), p.1-8. Riduwan. 2008. Dasar-dasar statistika. Bandung: Alfabeta. Rismiati, Catur. 2012. Teachers’ Concerns Regarding the Implementation of Integrated Thematic Instruction: a Study of Primary Grade Teachers in Kanisius Catholic Schoolsin Yogyakarta, Indonesia. Loyola University Chicago. Rusman. 2013. Model-Model Pemebelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Siregar, S. 2010. Statistika Deskriptif Untuk Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 123

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Sugiyono. 2011. Metodologi Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. 124

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Supardi. 2013. Kinerja Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Trianto. 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Prestasi Pustaka. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Usman, H dan Akbar, S. Pengantar Statistika. 2008. Jakarta: Bumi Aksara. Uyanto, Stanislaus S. 2009. Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Graha Ilmu: Yogyakarta 125

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1: Surat Izin Penelitian 125

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2: Surat Izin Telah Melakukan Penelitian 136

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3: Expert Judgment 145

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 201

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 202

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 203

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 204

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 205

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 206

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 207

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 208

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 209

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 210

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 211

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 212

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 213

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 214

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 215

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 216

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 217

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 218

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 219

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 222

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 224

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 226

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 228

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4: Validitas Muka 231

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 232

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 235

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 236

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 237

(258) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 238

(259) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 239

(260) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 240

(261) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 241

(262) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5: Data Validitas 242

(263) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6: Hasil Validitas 243

(264) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7: Data Reliabilitas 244

(265) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 8: Hasil Reliabilitas Case Processing Summary N Cases % Valid 54 88.5 7 11.5 61 100.0 Excludeda Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Alpha Standardized Items N of Items .898 .891 24 Item Statistics Mean Std. Deviation N item_1 item_2 item_3 item_4 item_5 item_6 item_7 item_8 item_10 3.09 3.48 3.96 3.78 3.61 3.26 4.02 3.70 2.78 .896 1.059 .846 1.022 .920 .955 .658 .768 1.110 54 54 54 54 54 54 54 54 54 item_11 item_12 item_13 item_14 item_15 item_17 item_19 item_20 item_21 item_23 item_24 item_25 item_26 3.52 3.24 3.19 3.52 3.67 4.02 4.02 3.76 3.80 3.81 3.59 3.94 3.96 .818 1.132 .953 1.077 .847 .687 .835 1.008 .810 .779 1.037 .763 .776 54 54 54 54 54 54 54 54 54 54 54 54 54 item_27 item_28 3.83 3.41 .771 .765 54 54 245

(266) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Scale Variance if Deleted Item Deleted Corrected Item- Squared Multiple Alpha if Item Total Correlation Correlation Deleted item_1 83.87 127.209 .218 .510 .893 item_2 83.48 120.443 .467 .486 .887 item_3 83.00 126.377 .280 .600 .892 item_4 83.19 117.890 .608 .725 .883 item_5 83.35 119.213 .615 .603 .883 item_6 83.70 123.609 .372 .589 .890 item_7 82.94 128.091 .261 .439 .891 item_8 83.26 120.498 .672 .776 .883 item_10 84.19 147.701 -.612 .792 .917 item_11 83.44 121.006 .597 .705 .884 item_12 83.72 116.242 .610 .737 .883 item_13 83.78 117.384 .684 .844 .881 item_14 83.44 114.516 .726 .781 .880 item_15 83.30 120.137 .623 .685 .884 item_17 82.94 122.846 .598 .718 .885 item_19 82.94 122.204 .515 .550 .886 item_20 83.20 115.260 .745 .751 .879 item_21 83.17 125.349 .353 .661 .890 item_23 83.15 119.563 .719 .833 .882 item_24 83.37 118.049 .589 .843 .884 item_25 83.02 120.547 .674 .777 .883 item_26 83.00 120.604 .657 .782 .883 item_27 83.13 124.832 .406 .589 .889 item_28 83.56 122.855 .529 .751 .886 246

(267) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 247

(268) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9: Kuesioner Sebelum dan Sesudah Direvisi Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu. Hormat saya, Koordinator peneliti survei Dimas Prasetyo Aji (Phone 087739301502, Email ajidimas56@yahoo.com Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251. emanuelacatur@gmail.com Phone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile) 248

(269) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAGIAN I. Skala Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataanpernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. Pernyataan Skala 1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. 1 2 3 4 5 6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. 3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. 4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. 7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa) 8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. 249

(270) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). 1 2 3 4 5 10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 11. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. 17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. 18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. 250

(271) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. 21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. 24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 25. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. 26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. 27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. 28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. 251

(272) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bagian II. Dukungan Administratif pada Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataanpernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. 29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat. 1 2 3 4 5 252

(273) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini. 35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun. 36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________ 37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun. 38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam. 39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa. 40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini! A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK) B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P. Sejarah) D. Sarjana D2-PGSD E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) F. Master (S2) G. Lainnya 41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.) B. Pegawai Tetap Yayasan C. Pegawai Negeri 253

(274) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang. 43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013? A. Ya B. Tidak ***Terima Kasih atas Kebaikan Anda*** 254

(275) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 10: Contoh Kuesioner yang Telah Diisi 255

(276) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 256

(277) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 257

(278) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 258

(279) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 11: Data Asli 259

(280) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Data Implemetasi Pembelajaran Tematik dan Latar Belakang Pendidikan Guru 260

(281) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Data Implemetasi Pembelajaran Tematik dan Status Kepegawaian 261

(282) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 12: Output Deskripsi Implementasi Pembelajaran Tematik Statistics Implementasi Pembelajaran Tematik N Valid 54 Missing 0 Mean 90.20 Median 89.00 Mode 92 Range 30 Minimum 79 Maximum 109 Sum 4871 Implementasi Pembelajaran Tematik Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 79 1 1.9 1.9 1.9 80 3 5.6 5.6 7.4 83 3 5.6 5.6 13.0 84 3 5.6 5.6 18.5 85 4 7.4 7.4 25.9 86 2 3.7 3.7 29.6 87 3 5.6 5.6 35.2 88 5 9.3 9.3 44.4 89 4 7.4 7.4 51.9 90 3 5.6 5.6 57.4 91 2 3.7 3.7 61.1 92 7 13.0 13.0 74.1 93 1 1.9 1.9 75.9 95 3 5.6 5.6 81.5 96 1 1.9 1.9 83.3 97 1 1.9 1.9 85.2 98 1 1.9 1.9 87.0 99 2 3.7 3.7 90.7 100 1 1.9 1.9 92.6 102 1 1.9 1.9 94.4 104 2 3.7 3.7 98.1 109 1 1.9 1.9 100.0 54 100.0 100.0 Total 262

(283) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 13: Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi Panjang kelas = = =6 Panjang Kelas 79 – 84 85 – 90 91 - 96 97 – 103 103 – 109 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Kategori Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Panjang Kelas 103 – 109 97 – 103 91 – 96 85 – 90 79 – 84 Total 263 Frekuensi 3 6 14 22 9 54 Presentase 5.56% 11,11% 25,92% 40,74% 16,67% 100%

(284) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 14: Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Menengah Case Processing Summary Cases Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Valid N Missing Percent Selected 6 N Total Percent 100.0% 0 N .0% Percent 6 100.0% Descriptives Latar Belakang Pendidikan = 1 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Statistic Std. Error Mean 1.83 95% Confidence Interval Lower Bound for Mean Upper Bound 1.40 5% Trimmed Mean 1.87 Median 2.00 Variance .167 Std. Deviation .408 .167 2.26 Minimum 1 Maximum 2 Range 1 Interquartile Range 0 Skewness -2.449 .845 Kurtosis 6.000 1.741 Tests of Normality Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Kolmogorov-Smirnova Statistic df .492 Sig. 6 a. Lilliefors Significance Correction 264 Shapiro-Wilk .000 Statistic .496 df Sig. 6 .000

(285) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_1 Implementasi Pembelajaran Tematik Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) None 0 0 No periodicity Not applied 1 2 Transformation Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period Standardization Distribution Type Location Scale Fractional Rank Estimation Method Rank Assigned to Ties Normal estimated estimated Blom's Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_1 Case Processing Summary Implementasi Pembelajaran Tematik Series or Sequence Length Number of Missing Values in the Plot Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) User-Missing 6 0 6 0 System-Missing 0 0 The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Normal Distribution Implementasi Latar Belakang Pembelajaran Pendidikan=1 Tematik (FILTER) Location 1.83 1.83 Scale .408 .408 The cases are unweighted. 265

(286) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Histogram Statistics Implementasi Pembelajaran Tematik N Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) Valid 6 6 Missing 0 0 Implementasi Pembelajaran Tematik Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 1 1 16.7 16.7 16.7 2 5 83.3 83.3 100.0 Total 6 100.0 100.0 Latar Belakang Pendidikan=1 (FILTER) Frequency Valid Selected Percent 6 100.0 266 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0

(287) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 267

(288) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 15: Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jenjang Pendidikan Tinggi. Case Processing Summary Cases Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) Valid N Implementasi Selected Pembelajaran Tematik Missing Percent 45 N 100.0% Total Percent 0 N .0% Percent 45 100.0% Descriptives Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Statistic Std. Error Mean 3.82 95% Confidence Interval Lower Bound for Mean Upper Bound 3.53 5% Trimmed Mean 3.78 Median 3.00 Variance .922 Std. Deviation .960 .143 4.11 Minimum 3 Maximum 6 Range 3 Interquartile Range 2 Skewness Kurtosis .534 .354 -1.366 .695 Tests of Normality Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Kolmogorov-Smirnova Statistic df .337 Sig. 45 a. Lilliefors Significance Correction 268 Shapiro-Wilk .000 Statistic .738 Df Sig. 45 .000

(289) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_2 Implementasi Pembelajaran Tematik Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) None 1 2 Transformation Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period Standardization Distribution Type Location Scale Fractional Rank Estimation Method Rank Assigned to Ties 0 0 No periodicity Not applied Normal estimated estimated Blom's Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_2 Case Processing Summary Implementasi Pembelajaran Tematik Series or Sequence Length Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) 45 0 45 0 0 0 The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi Pembelajaran Tematik Normal Distribution Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) Location 3.82 3.82 Scale .960 .960 The cases are unweighted. 269

(290) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Histogram Statistics Implementasi Pembelajaran Tematik N Valid Missing Latar Belakang Pendidikan=2 (FILTER) 45 45 0 0 Implementasi Pembelajaran Tematik Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 3 24 53.3 53.3 53.3 4 6 13.3 13.3 66.7 5 14 31.1 31.1 97.8 6 1 2.2 2.2 100.0 45 100.0 100.0 Total Latar Belakang Pendidikan = 2 (FILTER) Frequency Valid Selected 45 Percent 100.0 270 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0

(291) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 271

(292) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 16: Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Latar Belakang Pendidikan Guru Descriptives Implementasi Pembelajaran Tematik 95% Confidence Interval for Mean N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum 1 6 87.83 3.545 1.447 84.11 91.55 83 93 2 45 90.51 6.891 1.027 88.44 92.58 79 109 Total 51 90.20 6.618 .927 88.33 92.06 79 109 Test of Homogeneity of Variances Implementasi Pembelajaran Tematik Levene Statistic 2.514 df1 df2 1 272 Sig. 49 .119

(293) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 17: Hasil Uji Hipotesis Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Descriptive Statistics N Implementasi Pembelajaran Tematik Latar Belakang Pendidikan Mean Std. Deviation Minimum Maximum 51 90.20 6.618 79 109 51 1.88 .325 1 2 Mann Whitney Ranks Latar Belakang Pendidikan N Implementasi Pembelajaran 1 Tematik 2 Total Mean Rank Sum of Ranks 6 21.17 127.00 45 26.64 1199.00 51 Test Statistics b Implementasi Pembelajaran Tematik Mann-Whitney U 106.000 Wilcoxon W 127.000 Z -.850 Asymp. Sig. (2-tailed) .395 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .414a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: Latar Belakang Pendidikan 273

(294) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 18: Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pegawai Tidak Tetap Yayasan Case Processing Summary Cases Status Kepegawaian=1 (FILTER) Valid N Implementasi Selected Pembelajaran Tematik Missing Percent 20 N Total Percent 100.0% 0 N .0% Percent 20 100.0% Descriptives Status Kepegawaian=1 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Statistic Std. Error Mean 89.75 95% Confidence Interval Lower Bound for Mean Upper Bound 87.06 5% Trimmed Mean 89.06 Median 89.00 Variance 32.934 1.283 92.44 Std. Deviation 5.739 Minimum 83 Maximum 109 Range 26 Interquartile Range 6 Skewness 1.993 .512 Kurtosis 6.128 .992 Tests of Normality Status Kepegawaian =1 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Kolmogorov-Smirnova Statistic df .198 Sig. 20 a. Lilliefors Significance Correction 274 Shapiro-Wilk .040 Statistic .823 df Sig. 20 .002

(295) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_1 Implementasi Pembelajaran Tematik Status Kepegawaian=1 (FILTER) None 1 2 Transformation Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period Standardization Distribution Type Location Scale 0 0 No periodicity Not applied Normal estimated estimated Fractional Rank Estimation Method Rank Assigned to Ties Blom's Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_1 Case Processing Summary Implementasi Pembelajaran Tematik Series or Sequence Length Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing Status Kepegawaian=1 (FILTER) 20 0 20 0 0 0 The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi Pembelajaran Tematik Normal Distribution Status Kepegawaian=1 (FILTER) Location 89.75 89.75 Scale 5.739 5.739 The cases are unweighted. 275

(296) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Histogram Statistics Implementasi Pembelajaran Tematik N Valid Missing Status Kepegawaian=1 (FILTER) 20 20 0 0 ImplementasiPembelajaranTematik Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 83 2 10.0 10.0 10.0 84 1 5.0 5.0 15.0 85 1 5.0 5.0 20.0 86 1 5.0 5.0 25.0 87 2 10.0 10.0 35.0 88 2 10.0 10.0 45.0 89 3 15.0 15.0 60.0 91 1 5.0 5.0 65.0 92 4 20.0 20.0 85.0 93 1 5.0 5.0 90.0 96 1 5.0 5.0 95.0 109 1 5.0 5.0 100.0 20 100.0 100.0 Total 276

(297) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Status Kepegawaian=1 (FILTER) Frequency Valid Selected 20 Percent 100.0 277 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0

(298) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 19: Hasil Uji Normalitas Implementasi Pemebelajaran Tematik dengan Pegawai Tetap Yayasan Case Processing Summary Cases Status Kepegawaian= 2 (FILTER) Valid N Missing Percent Implementasi Selected Pembelajaran Tematik 29 N 100.0% Total Percent 0 N .0% Percent 29 100.0% Descriptives Status Kepegawaian=2 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Statistic Mean 90.72 95% Confidence Interval Lower Bound for Mean Upper Bound 87.91 5% Trimmed Mean 90.62 Median 90.00 Variance 54.921 Std. Error 1.376 93.54 Std. Deviation 7.411 Minimum 79 Maximum 104 Range 25 Interquartile Range 12 Skewness .215 .434 Kurtosis -.910 .845 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Status Kepegawaian=2 (FILTER) Statistic df Sig. Implementasi Selected Pembelajaran Tematik .092 29 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. 278 .200* Shapiro-Wilk Statistic .956 df Sig. 29 .263

(299) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_2 1 2 Implementasi Pembelajaran Tematik Status Kepegawaian=2 (FILTER) None Transformation Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period Standardization Distribution Type Location Scale Fractional Rank Estimation Method Rank Assigned to Ties 0 0 No periodicity Not applied Normal estimated estimated Blom's Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_2 Case Processing Summary Implementasi Pembelajaran Tematik Series or Sequence Length Number of Missing Values in the Plot User-Missing System-Missing Status Kepegawaian=2 (FILTER) 29 0 29 0 0 0 The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi Pembelajaran Tematik Normal Distribution Status Kepegawaian=2 (FILTER) Location 90.72 90.72 Scale 7.411 7.411 The cases are unweighted. 279

(300) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Histogram Statistics Implementasi Pembelajaran Tematik N Valid Missing 280 Status Kepegawaian=2 (FILTER) 29 29 0 0

(301) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Implementasi Pembelajaran Tematik Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 79 1 3.4 3.4 3.4 80 3 10.3 10.3 13.8 83 1 3.4 3.4 17.2 85 3 10.3 10.3 27.6 86 1 3.4 3.4 31.0 87 1 3.4 3.4 34.5 88 3 10.3 10.3 44.8 89 1 3.4 3.4 48.3 90 2 6.9 6.9 55.2 91 1 3.4 3.4 58.6 92 2 6.9 6.9 65.5 95 2 6.9 6.9 72.4 97 1 3.4 3.4 75.9 98 1 3.4 3.4 79.3 99 2 6.9 6.9 86.2 100 1 3.4 3.4 89.7 102 1 3.4 3.4 93.1 104 2 6.9 6.9 100.0 29 100.0 100.0 Total StatusKepegawaian=2 (FILTER) Frequency Valid Selected 29 Percent 100.0 281 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0

(302) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 20: Hasil Uji Normalitas Implementasi Pemebelajaran Tematik dengan Pegawai Negeri Case Processing Summary Cases Valid StatusKepegawaian =3 (FILTER) N Implementasi Selected Pembelajaran Tematik Missing Percent N 5 100.0% Total Percent 0 N Percent .0% 5 100.0% Descriptives StatusKepegawaian=3 (FILTER) Implementasi Pembelajaran Tematik Selected Statistic Std. Error Mean 89.00 95% Confidence Interval Lower Bound for Mean Upper Bound 82.92 5% Trimmed Mean 88.94 Median 90.00 Variance 24.000 2.191 95.08 Std. Deviation 4.899 Minimum 84 Maximum 95 Range 11 Interquartile Range 10 Skewness -.021 .913 Kurtosis -2.297 2.000 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Status Kepegawaian=3 (FILTER) Statistic df Sig. Implementasi Pembelajaran Tematik Selected .246 5 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. 282 .200* Shapiro-Wilk Statistic .890 df Sig. 5 .356

(303) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI P-P Plot Model Description Model Name Series or Sequence MOD_3 1 Implementasi Pembelajaran Tematik Status Kepegawaian=3 (FILTER) None 2 Transformation Non-Seasonal Differencing Seasonal Differencing Length of Seasonal Period Standardization Distribution Type Location Scale Fractional Rank Estimation Method Rank Assigned to Ties 0 0 No periodicity Not applied Normal estimated estimated Blom's Mean rank of tied values Applying the model specifications from MOD_3 Case Processing Summary Implementasi Pembelajaran Tematik Series or Sequence Length Number of Missing Values in the Plot Status Kepegawaian=3 (FILTER) User-Missing 5 0 5 0 System-Missing 0 0 The cases are unweighted. Estimated Distribution Parameters Implementasi Pembelajaran Tematik Normal Distribution Status Kepegawaian=3 (FILTER) Location 89.00 89.00 Scale 4.899 4.899 The cases are unweighted. 283

(304) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Histogram Statistics Implementasi Pembelajaran Tematik N Status Kepegawaian=3 (FILTER) Valid 5 5 Missing 0 0 Implementasi Pembelajaran Tematik Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 84 2 40.0 40.0 40.0 90 1 20.0 20.0 60.0 92 1 20.0 20.0 80.0 95 1 20.0 20.0 100.0 Total 5 100.0 100.0 Status Kepegawaian=3 (FILTER) Frequency Valid Selected Percent 5 100.0 284 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0

(305) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 285

(306) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 21: Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian Guru Descriptives Implementasi Pembelajaran Tematilk 95% Confidence Interval for Mean N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum 1 20 89.75 5.739 1.283 87.06 92.44 83 109 2 29 90.72 7.411 1.376 87.91 93.54 79 104 3 5 89.00 4.899 2.191 82.92 95.08 84 95 54 90.20 6.557 .892 88.41 91.99 79 109 Total Test of Homogeneity of Variances Implementasi Pembelajaran Tematilk Levene Statistic 2.071 df1 df2 2 286 Sig. 51 .137

(307) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 22: Hasil Uji Hipotesis Implementasi Pembelajaran Tematik ditinjau dari Status Kepegawaian Guru Descriptive Statistics N Implementasi Pembelajaran Tematilk StatusKepegawaian Mean Std. Deviation Minimum Maximum 54 90.20 6.557 79 109 54 1.72 .627 1 3 Kruskal Wallis Ranks Status Kepegawaian Implementasi Pembelajaran Tematilk N Mean Rank 1 20 26.45 2 29 28.55 3 5 25.60 Total 54 Test Statistics a,b Implementasi Pembelajaran Tematilk Chi-Square .293 df 2 Asymp. Sig. .864 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Status Kepegawaian 287

(308) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 23 Tabel Krejcie 288

(309) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 24: Ketentuan r tabel 289

(310) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 25: Tingkat Pengembalian Kuesioner Responden Sebar Tidak kembali Ditolak Kembali SD-S1 12 12 7 - 5 SD-S2 8 8 1 - 7 SD-S3 6 6 2 - 4 SD-S4 6 - 6 - SD-S5 3 3 - - 3 SD-S6 12 12 - - 12 SD-S7 8 8 - 8 - SD-S8 8 8 - 8 - SD-S9 8 8 3 - 5 SD-S10 1 1 - 1 SD-S11 3 3 1 - 2 SD-S12 3 3 - - 3 SD-S13 9 - 9 - SD-S14 3 3 - 3 - SD-S15 3 3 - - 3 SD-S16 8 8 8 - SD-S17 7 7 - - 7 SD-S18 3 3 - - 3 Jumlah 111 96 Sekolah 290 55

(311)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
0
1
167
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
0
0
171
st pelatihan implementasi pembelajaran tematik guru di wukirsari imogiri bantul 2012
0
0
1
Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
2
147
Teknik pembelajaran menulis bagi siswa kelas II SLB/C Bakti Siwi Sleman Yogyakarta - USD Repository
0
10
113
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Identitas kebangsaan anak Sekolah Dasar di Yogyakarta - USD Repository
0
1
242
Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
0
252
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
321
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
333
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru SD Afiliasi Katholik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
1
284
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
300
Show more