BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian - DYAS DESTIANA BAB II

Gratis

0
0
30
5 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Persepsi adalah Proses penginterpretasian terhadap rangsangan yang

  diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang di intergrasikan dalam diri individu Walgito (2001, dalam Sunaryo, 2004). Proses persepsi dimulai dari objek yang menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor, dimana proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh saraf sensorik ke otak. Proses ini dinamakan proses fisiologi kemudian terjadi suatu proses di dalam otak sehingga individu dapat menyadari sesuatu yang diterima dengan reseptor itu, sebagai akibat dari stimulus yang diterima. Proses yang terjadi di otak atau pusat kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis. Dengan demikian taraf terakhir dari persepsi adalah individu menyadari tentang sesuatu yang diterima melalui alat indera atau reseptor (Sunaryo, 2004).

  Gangguan sensori persepsi merupakan gejala umum dari skizofrenia yang didefinisikan sebagai pengalaman atau kesan sensori yang salah terhadap stimulasi sensori (Rasmun, 2009).

  Halusinasi adalah persepsi salah yang diterima panca indra dan berasal dari stimulus eksternal yang biasanya tidak diinterpretasikan kedalam pengalaman (Brooker, 2008). Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengarkan suara padahal tidak ada orang yang berbicara (Kusumawati & Hartono, 2010).

  Menurut Sunaryo (2004) tipe halusinasi ataupun jenis halusinasi meliputi halusinasi penglihatan (halusinasi optik), halusinasi auditif (halusinasi pendengaran), halusinasi penciuman (halusiansi olfaktorik), halusinasi gustatorik (halusinasi pengecap), halusinasi taktil (halusinasi peraba), halusinasi kinestik (halusinasi gerak). Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007). Halusinasi pendengaran adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat pengurangan, berlebih – lebihan, distorsi atau kelainan berespons terhadap setiap stimulus (Towsend, 2005).

  Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah persepsi klien salah satu terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, memberi persepsi yang salah atau pendapat tentang sesuatu tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata dan hilangnya kemampuan manusia untuk membedakan rangsangan internal pikiran dan rangsangan eksternal ( dunia luar ).

A. Etiologi

  Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah: a.

  Faktor Predisposisi 1.

  Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:

  a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Luka pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.

  b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada sistem reseptor c)

  Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).

  2. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.

  3. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stres.

  b.

  Faktor Presipitasi

  1. Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

  Ambang toleransi terhadap stres yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

  3. Sumber Koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stresor.

  Menurut Rawlins dan Hancokck (1993, dalam Yosep, 2010 ) penyebab halusianasi dapat dilihat dari lima dimensi berikut : 1)

  Dimensi Fisik Halusinasi ditimbukan oleh beberapa kondisi fisik, seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat – obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.

  2) Dimensi Emosional

  Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar masalah yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menetang perintah tesebut, sehingga klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut. 3)

  Dimensi Intelektual Bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien. 4)

  Dimensi Sosial Klien mengalami interaksi sosial dalam fase awal dan comforting.

  Klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan. Klien asik dengan halusinasinya seolah – olah merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, control diri dan harga diri yang tidak dapat dalam dunia nyata.

  5) Dimensi Spiritual

  Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri.

B. Tanda dan Gejala

  Menurut Towsend (2005) karakteristik perilaku yang dapat ditunjukan klien dan kondisi halusinasi berupa :

  • Data Subyektif : Klien mendengar suara atau bunyi tanpa stimulus nyata, melihat gambaran tanpa stimulus yang nyata, mencium nyata stimulus yang nyata, merasa makan sesuatu, merasa ada sesuatu pada kulitnya, dan melempar barang.
  • Data Obyektif : Klien berbicara, senyum dan tertawa sendiri, pembicaraan kacau dan
terkadang tidak masuk akal, tidak dapat membedakan hal yang nyata dan yang tidak nyata, menarik diri dan menghindar dari orang lain, disorientasi, tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi menurun, perasaan curiga, takut, gelisah, bingung, ekspresi waajah tegang, muka merah dan pucat, tidak mampu melakukan aktifitas mandiri dan kurang bisa mengontrol diri, menunjukan perilaku, merusak diri dan lingkungan.

C. Proses Terjadinya Masalah

  Menurut Stuart (2007) halusinasi berkembang melalui empat fase, yaitu sebagai berikut : a) Fase Pertama

  Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.

  Karakteristik : klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, atau bersalah, kesepian yang memuncak dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan hal – hal yang menyenangkan, cara ini menolong sementara.

  Perilaku klien : tersenyum atau tertawa tidak sesuai, menggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat b)

  Fase Kedua Disebut dengan fase condemming yaitu halusinasi menjadi menjijikan. Termasuk dalam psikotik ringan.

  Karakteristik : pengalaman sensori yang menjijikan dan menakutkan kecemasan meningkat, melamun dan berpikir sendiri jadi dominan.

  Mulai ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu dan dapat mengontrolnya.

  Perilaku klien : tanda – tanda system saraf otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asik dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.

  c) Fase Ketiga Adalah fase controlling yaitu pengalaman sensori menjadi kuasa.

  Termasuk dalam gangguan psikotik. Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian lainnya beberapa menit dan detik. Tanda – tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah.

  d) Fase Keempat

  Adalah fase Conquering atau panik yaitu klien kabur dengan halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat. dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan.

  Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, atau katatonik, tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.

D. Psikopatologi

  Menurut Stuart (2007) pada model stres dan adaptasi dalam keperawatan jiwa terjadi halusinasi disebabkan oleh faktor berikut ini antara lain faktor predisposisi, stresor presipitasi, penilaian terhadap stresor, sumber koping, mekanisme koping, dan rentang respon.

  Faktor Predisposisi Bio Psiko Sosiokultular

  Stressor Presipitasi Sifat Asal Waktu Jumlah

  Penilaian terhadap sressor Kognitif Afektif Fisiologis Perilaku Sosial

  Sumber – sumber Koping Kemampuan dukungan personal Aset materi

  Mekanisme Koping Regresi Proyeksi Menarik diri

  Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladatif

  Gambar II.1 Patopsikologis Gangguan sensori perspesi : halusinasi pendengaran.

  

Sumber : Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5 Stuart (2007).

E. Rentang respons neurobiologis

  Respon prilaku klien dapat di identifikasi sepanjang rentang respons yang berhubungan dengan fungsi neurologi. Perilaku yang dapat diamati dan mungkin menunjukan adanya halusinasi disajikan didalam tabel : Respon Adaptif Respon Maladatif Pikiran Logis Distorsi Pikiran Waham Persepsi Akurat Ilusi Halusinasi Emosi Konsisten Menarik diri Sulit Berespon Perilaku sesuai Reaksi emosi >/< Perilaku disorganisasi Hubungan sosial Perilaku tidak biasa Isolasi sosial

Sumber : Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5 Stuart (2007).

F. Penatalaksanaan medis

  Terapi dalam jiwa bukan meliputi pengobatan dan farmakologi, tetapi juga pemberian psikoterapi, serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit klien yang akan mendukung penyembuhan klien jiwa. Pada terapi tersebut juga harus dengan dukungan keluarga dan sosial akan memberikan peningkatan penyembuhan karena klien akan merasa berguna dalam masyarakat dan tidak merasa diasingkan dengan penyakit yang dialaminya (Kusumawati & Hartono, 2010).

  Menurut Stuart (2007) Terapi di Bidang Psikiatri meliputi :

  1. Psikofarmakologis Farmakoterapi adalah pemberian terapi dengan menggunakan obat.

  Obat yang digunakan untuk gangguan jiwa disebut dengan psikofarmaka atau psikotropika atau phrenotropika. Terapi gangguan jiwa dengan menggunakan obat – obatan disebut dengan

  psikofarmakoterapi atau medikasi psikotropika yaitu obat yang

  mempunyai efek terapeutik langsung pada proses mental penderita karena kerjanya pada otak / sistem saraf pusat.

  2. Terapi Somatis Terapi somatis adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladatif menjadi perilaku adaptif dengan melakukan tindakan yang ditunjukan pada kondisi fisik klien. Walaupun yang diberi perlakuan adalah fisik klien, tetapi target terapi adalah perilaku klien. Jenis terapi somatic adalah meliputi pengikatan, ECT, isolasi , dan fototerapi.

  a. Pengikatan Pengikatan adalah terapi menggunakan alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien yang bertujuan untuk melindungi cedera fisik pada klien sendiri atau orang lain.

  Adalah bentuk terapi pada klien dengan menimbulkan kejang

  (Grandmal) dengan mengalirkan arus listrik kekuatan rendah ( 2

  • – 3 joule ) melalui elektroda yang ditempelkan beberapa detik
pada pelipis kiri / kanan (Lobus Frontalis) klien.

  c. Isolasi Isolasi adalah bentuk terapi dengan menetapkan klien sendiri diruangan tersendiri untuk mengendalikan perilakunya dan melindungi klien, orang lain, dan lingkungan dari bahaya potensial yang mungkin terjadi. Akan tetapi tidak dianjurkan pada klien dengan risiko bunuh diri, klien dengan agitasi yang disertai dengan gangguan pengaturan suhu tubuh akibat obat, serta perilaku yang menyimpang.

  d. Fototerapi Fototerapi adalah terapi yang diberikan dengan memaparkan klien pada sinar terang 5 - 20x lebih terang daripada sinar ruangan dengan posisi klien duduk, mata terbuka, pada jarak 1,5 meter didepan klien diletakan lampu setinggi mata. Terapi ini bermanfaat dan menimbulkan efek positif, serta 75% dapat menurunkan gejala depresi dengan efek samping ketegangan pada mata, sakit kepala, cepat terangsang, insomnia, kelelahan, mual, mata menjadi kering, serta keluar sekresi dari hidung dan sinus.

  3. Terapi Modalitas diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dan perilaku yang maladatif menjadi perilaku adaptif. Jenis terapi modalitas meliputi Psikoanalisis Psikoterapi, Terapi Modifikasi Perilaku, Terapi

  Kelompok, Terapi Keluarga, Terapi Rehabilitasi, Terapi Psikodrama, Terapi Lingkungan.

G. Pohon Masalah

  Masalah keperawatan untuk kasus gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran dapat digambarkan dalam pohon masalah berikut : Akibat Risiko perilaku mencederai diri

  Gangguan sensori persepsi : Halusinasi pendengaran Penyebab Isolasi sosial : menarik diri

  Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

  

Gambar II.2 Pohon masalah gangguan sensori persepsi : halusinasi

pendengaran

Sumber : Keperawatan Kesehatan Jiwa Keliat (2005)

H.

   Diagnosa Keperawatan

  Menurut Keliat (2005) adalah

  1. Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran

  2. Risiko perilaku mencederai diri

  3. Isolasi sosial

  4. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

I. Perencanaan Keperawatan 1.

  Diagnosa Keperawatan I : Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran

  TUM : Klien dapat mengontrol halusinasinya TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • menyebutkan nama, ada kontak mata, klien mau duduk berdampingan dengan perawat dan memperkenalkan diri dengan sopan.

  Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, klien mau

  b.

  Tindakan Keperawatan Bina hubungan saling percaya

  • Sapa klien dengan ramah
  • Tanyakan nama klien dan nama panggilan kesukaan
  • Jelaskan tujuan pertemuan
  • Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
  • Beri perhatian pada klien dan penuhi kebutuhan klien
  • a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat menyebutkan waktu, isi, dan frekuensi timbulnya halusinasi
  • Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasi b.

  Tindakan Keperawatan

  • Kaji pengetahuan klien tentang perilaku halusinasi dan tanda- tandanya
  • Adakan kontak singkat dan sering secara bertahap
  • Observasi perilaku verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasinya
  • Terima halusinasi sebagai hal nyata bagi klien dan tidak nyata bagi perawat
  • Identifikasi bersama klien tentang waktu, munculnya halusinasi, isi halusinasi dan frekuensi timbulnya halusinasi
  • Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi muncul
  • Diskusikan dengan klien mengenai perasaannya saat terjadi halusinasi
  • Berikan pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya.

  a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • untuk mengendalikan halusinasinya

  Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan

  • halusinasi

  Klien dapat menyebutkan cara baru untuk mengontrol

  Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasinya

  • Klien dapat memilih cara mengendalikan halusinasinya
  • b.

  Tindakan Keperawatan Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika

  • terjadi halusinasi.
  • kepada klien.

  Diskusikan manfaat yang dilakukan klien dan beri pujian

  • timbulnya halusinasi.

  Diskusikan cara lain untuk memutus atau mengontrol

  Bantu klien melatih cara memutus halusinasi.

  • Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dilatih, evaluasi
  • hasil dan beri pujian jika berhasil.

  Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok.

  • Anjurkan klien untuk memberitahukan keluarga jika
  • mengalami halusinasi.

  a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping
  • Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan baik
  • Klien mendapat informasi tentang manfaat, efek samping obat dan akibat berhenti minum obat
  • Klien dapat menyebutkan prinsip lima benar penggunaan obat.

  b.

  Tindakan Keperawatan

  • Diskusikan dengan klien tentang dosis, frekuensi serta manfaat minum obat
  • Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
  • Anjurkan klien bicara dengan perawat tentang manfaat dan efek samping
  • Diskusikan akibat berhenti minum obat
  • Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip lima benar
  • Berikan pujian positif.

  TUK V : Klien dapat mendapat dukungan keluarga atau memanfaatkan sistem pendukung untuk mengendalikan halusinasinya.

  a.

  Kriteria Evaluasi 24 jam diharapkan :

  • Keluarga dapat saling percaya dengan perawat
  • Keluarga dapat menjelaskan perasaannya
  • Keluarga dapat menjelaskan cara merawat klien halusinasi
  • Keluarga dapat mendemonstrasikan cara perawatan klien halusianasi dirumah
  • Keluarga dapat berpartisipasi dalam perawatan klien halusinasi b.

  Tindakan Keperawatan

  • Bina hubungan saling percaya dengan keluarga
  • Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :

  1) Akibat yang akan terjadi apabila perilaku halusinasi tidak ditanggapi

  2) Cara keluarga merawat klien halusinasi

  3) Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk mengontrol halusinasinya

  • Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu minggu sekali
  • Berikan reinforcement positif atau pujian atas hal-hal yang telah dicapai keluarga.

2. Diagnosa keperawatan II : Risiko perilaku kekerasan lingkungan.

  TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya. a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat menunjukkan ekspresi wajah bersahabat
  • Ada kontak mata
  • Klien dapat menerima kehadiran perawat
  • Klien mau berjabat tangan
  • Klien mau menjawab salam
  • Klien mau menyebutkan nama
  • Klien mau berdampingan dengan perawat
  • Klien mau mengutarakan masalah yang dihadapi b.

  Tindakan Keperawatan

  • Bina hubungan saling percaya
  • Sapa klien dengan ramah
  • Tanyakan nama klien dan nama panggilan kesukaan
  • Jelaskan tujuan pertemuan
  • Tunjukkan sikap empati dan menerima klen apa adanya
  • Beri perhatian pada klien dan penuhi kebutuhan klien.

  TUK II : Klien dapat mengidentifikasi penyebab kekerasan Kriteria Evaluasi

  Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien mengungkapkan perasaannya
  • Klien dapat mengungkapkan penyebab marahnya.
  • Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
  • Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab marah
  • Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dialami dan dirasakan saat marah.

  b.

  Tindakan Keperawatan

  TUK III : Klien dapat mengidentifikasi tanda perilaku kekerasan a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat mengungkapakan tanda-tanda marah
  • Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda marah b.

  Tindakan Keperawatan

  • Anjurkan klien mengungkapakan yang dialami soal marah
  • Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien
  • Simpulkan bersama klien tanda-tanda marah

  TUK IV : Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat mengungkapkan periliaku kekerasan yang biasa dilakukan klien
  • Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang bisa dilakukan
  • Klien menegetahui cara yang dapat menyelesaikan masalah.

  b.

  Tindakan Keperawatan

  • Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien
  • Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
  • Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai

  TUK V : Klien dapat mengidentifikasi akibat kekerasan a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien b.

  Tindakan Keperawatan

  • Bicarakan akibat/ kerugian dari cara yang telah dilakukan Bersama klien simpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien
  • Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat.
TUK VI : Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

  a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secara konstruktif.

  b.

  Tindakan Keperawatan

  • Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat.
  • Berikan pujian bila klien mengetahui cara lain yang sehat.

  TUK VII : Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.

  a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. 1)

  Fisik : tarik nafas dalam, olahraga, menyiram

  2) Verbal : mengatakan langsung dengan tidak menyakiti. 3) Spiritual : sholat, berdoa dan ibadah lainnya.

  b.

  Tindakan Keperawatan

  • Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien
  • Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih
  • Bantu klien menstimulus cara tersebut
  • Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulus cara tersebut.
  • Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah.

  TUK VIII : Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.

  a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Keluarga klien dapat :

  1) Menyebutkan cara merawat klien yang berperilaku kekerasan.

2) Mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien.

  b.

  Tindakan Keperawatan

  • Identifikasi kemampuan keluarga klien dari sikap apa yang
  • Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
  • Jelaskan cara-cara merawat klien
  • Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien
  • melakukan demonstrasi.

  Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah

  TUK IX : Klien dapat menggunakan obat dengan benar.

  a.

  Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • kegunaannya.

  Klien dapat menyebutkan obat-obatan yang diminum dan

  • b.

  Klien dapat minum obat sesuai program terapi.

  Tindakan Keperawatan Jelaskan jeins-jenis obat yang diminum klien

  • Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian jika berhenti
  • minum obat tanpa seijin dokter.

  Jelaskan prinsip lima benar minum obat

  • Berikan pujian pada klien bila minum obat dengan benar.
  • 3.

  Diagnosa keperawatan III : Isolasi Sosial TUM : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.

  TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Wajah klien cerah, tersenyum, klien mau berkenalan, ada kontak mata, klien bersedia menceritakan perasaannya.

  b. Tindakan Keperawatan

  • Bina hubungan saling percaya
  • Sapa klien dengan ramah
  • Tanyakan nama klien dan nama panggilan kesukaan
  • Jelaskan tujuan pertemuan
  • Tunjukkan sikap empati dan menerima klen apa adanya
  • Beri perhatian pada klien dan penuhi kebutuhan klien.

  TUK II : Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi sosial.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat menyebutkan isolasi sosial : menarik diri berasal dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

  b. Tindakan Keperawatan

  • Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri.
  • Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan menarik diri.
  • Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda – tanda serta penyebab yang muncul.
  • Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya.

  TUK III : Klien dapat menyebutkan manfaat hubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.

  b. Tindakan Keperawatan

  • Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
  • Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
  • Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.

  reinforcement positif tentang kemampuan

  • Berikan

  mengungkapkan perasaan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.

  • Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

4. Diagnosa keperawatan IV : Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

  TUM : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal dan mampu meningkatkan harga dirinya.

  TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  Klien mau tersenyum.

  • Klien mau berjabatan tangan.
  • Klien dapat mengungkapkan perasaannya.
  • b. Tindakan Keperawatan Bina hubungan saling percaya
  • Sapa klien dengan ramah
  • Tanyakan nama klien dan nama panggilan kesukaan
  • Jelaskan tujuan pertemuan
  • Tunjukkan sikap empati dan menerima klen apa adanya
  • Beri perhatian pada klien dan penuhi kebutuhan klien.
  • TUK II : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  • positif keluarga, lingkungan yang disekitar klien.

  Klien mampu mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang

b. Tindakan Keperawatan Diskusikan kemampuan dan aspek positif dengan klien.

  • Setiap bertemu klien dihindarkan dari penilaian negatif.
  • Utamakan member pujian yang realistik.
  • TUK III : Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan : Klien mampu menilai kemampuan yang digunakan.

  • b. Tindakan Keperawatan Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat
  • digunakan selama sakit.

  TUK IV : Klien dapat merencanakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit.

  a. Kriteria Evaluasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan jiwa selama 3 x 24 jam diharapkan :

  Klien dapat membuat rencana kegiatan sehari – hari.

  • Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit
b. Tindakan Keperawatan

  • Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
  • Tingkatkan kegiatan yang sesuai kondisi klien.
  • Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
  • Beri kesempatan untuk mencoba kegiatan.
  • Beri pujian atas keberhasilan klien.

Dokumen baru

Download (30 Halaman)
Gratis

Tags