BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian - IMAM BUKHORI BAB II

Gratis

0
0
26
4 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah suatu penyakit pembesaran

  atau hipertrofi dan prostat. Kata

  • –kata hipertrofi seringkali menimbulkan kontrovensi di kalangan klinik karena sering rancu dengan hiperplasia. Hipertrofi bermakna bahwa dari segi kualitas terjadi pembesaran sel (kualitas) dan diikuti oleh penambahan jumlah sel (kuantitas). BPH seringkali menyebabkan gangguan dalam elminasi urine karena pembesaran prostat yang cenderung ke arah depan / menekan vesika urinaria (Baugman,2000).

  Hiperplasia noduler ditemukan pada sekitar 20% laki-laki denganb usia 40 tahun, meningkat 70% pada usia 60 tahun dan menjadi 90% pada usia 70 tahun. Pembesaran ini bukan merupakan kangker prostat, karena BPH dan karsinoma prostat berbeda. Secara anatomis, sebenarnya kelenjar prostat merupakan kelenjar ejakudat yang membantu menyemprotkan seperma dari saluran (ductus). Pada waktu melakukan ejakulasi, secara fisiologis prostat membesar untuk mencegah urine dan vesika urinaria melewati uretra. Namun, pembesaran prostat yang terus menerus akan berdampak pada obstruksi saluran kencing (meatus urinarius internus) (Mitchell, 2009).

  Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun

  

6 orang sering menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan adalah hyperplasia (Sabiston, David C, 2004) Pendapat lain mengatakan bahwa BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn, E.D, 2000 : 671 ).

  Dari kedua pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat, bersifat jinak disebabkan oleh hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat yang mengakibatkan penyumbatan prostatika dan umumnya terjadi pada pria dewasa lebih dari 50 tahun.

B. Etiologi

  Penyebab pastinya belum di ketahui secara pasti dari prostat hiperplasia, namun faktor usia dan hormonal menjadi predisposisi terjadinya BPH. Beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat sangat erat kaitanya dengan (Purnomo, 2007) : a. Peningkatan DHT (dehidrotestosteron)

  Peningkatan lima alfa reduktase dan reseptor adrogen akan menyebabkan epitel dan stoma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasia. b. Ketidak seimbangan esterogen-testosteron Ketidak seimbangan ini terjadi karena proses degeneratif. Pada proses penuaan, pada pria terjadi peningkatan hormon esterogen dan penuan hormon testosteron. Hal ini yang memicu terjadinya hiperplasia stoma pada prostat.

  c. Interaksi antar sel stoma dan sel epitel prostat Peningkatan kadar epidermal growth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth beta menyebabkan hiperplasia stoma dan epitel, sehingga akan terjadi BPH.

  d. Berkurangnya kematian sel (apoptosis) Esterogen yang meningkat akan menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.

  e. Teori sistem sel Sel sistem yang meningkatkan akan mengakibatatkan profliferasi sel transisit dan memicu terjadi benigna prostat hyperlpasia.

C. Tanda dan Gejala BPH

  Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :

  a. Gejala Obstruktif yaitu : 1) Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.

  2) Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi. 3) Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing. 4) Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra. 5) Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.

  b. Gejala Iritasi yaitu : 1) Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.

  2) Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari 3) .Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

D. Manifestasi Klinis

  BPH merupakan yang di derita oleh klain laki-laki dengan usia rata- rata lebih dari 50 tahun. Gambaran klinis dari BPH sebenarnya sekunder dari dampak obstruksi saluran kencing, sehingga klain kesulitan untuk miksi. Berikut ini adalah beberapa gambaran klinis pada klinis pada klain BPH (Schwarts, 2000, Grance, 2006) :

  a. Gejala prostatimus ( nokturia, urgency, penurunan daya aliran urine) kondisi ini di karenakan oleh kemampuan vesika urinaria yang gagal mengeluarkan urine secara sepontan dan reguler, sehingga volume urine masih sebagian besar tertinggal dalam vesika.

  b. Retensi urine Pada awalnya obstruksi, biasanya pancaran urine lemah, terjadi histensi, intermitesi, urine menetes, dorongan yang kuat saat miksi,dan dan retensi urine. Retensi urine sering di alami oleh klain yang mengalami BPH kronis. Scara fisiologis, vesika urinaria memiliki kemampuan untuk mengeluarkan urine melalui kontraksi otot destrustor.

  c. Pembesaran prostat Hal ini di ketahui melalui pemeriksaan rektal toucer (RT) anterior.

  Biasanya di dapatkan gambaran pembesaran prostat dengan konsistensi jinak.

  d. Inkontinesia Inkontinesia yang terjadi menunjukan bahwa m. Destrusor gagal dalam melakukan kontaraksi. Dekompensasi yang berlangsung akan mengiritabilitasi serabut syaraf urinarius, sehingga kontrol untuk miksi hilang.

E. Anatomi fisiologi BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA)

Gambar 2.1 normal prostat and prostat BPH

  Kelenjar prostat terletak tepat dibawah buli

  • – buli dan mengitari uretra. Bagian bawah kelenjar prostat menempal pada diafragma urogenital atau sering disebut otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki - laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri, dengan panjang sekitar 3 cm, lebar 4 cm dan tebal kurang lebih 2,5 cm. Beratnya sekitar 20 gram. Prostat terdiri dari jaringan kelenjar, jaringan stroma (penyangga ) dan kapsul. Cairan yang dihasilkan kelenjar prostat bersama cairan dari vesikula seminalis dan kelenjar
cowper merupakan komponen terbesar dari seluruh cairan semen. Bahan – bahan yang terdapat dalam cairan semen sangat penting dalam menunjang fertilitas, memberikan lingkungan yang nyaman dan nutrisi bagi spermatozoa serta proteksi terhadap invasi mikroba. Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan ( prostatitis ). Kelainan yang lain seperti pertumbuhan yang abnormal ( tumor ) baik jinak maupun ganas tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperan pada terjadinya gangguan aliran urin. Kelainan yang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki - laki usia lanjut ( FK UNAIR / RSUD dr. Soetomo : 19 ).

F. Patofisiologi

  Prostat sebagi kelenjar ejakudat memiliki hubungan fisiologis yang sangat erat dengan dihidrotestosteron (DHT). Hormon ini merupakan hormon yang memicu pertumbuhan prostat sebagai kelenjar ejakudat yang nantinya akan mengoptimalkan fungsinya. Hormon ini di sintesis dalam kelenjar prostat dari hormon testosteron dalam darah. Proses sintesis ini di bantu oleh enzime 5-reduktase tipe 2. Selain DHT yang sebagai prekursor, estrogen juga memiliki pengaruh terhadap pembesaran kelenjar prostat. Seiring dengan penambahan usia, maka prostat akan lebih sensitif dengan stimulasi androgen, sedangkan esterogen mampu memberikan proteksi terhadap BPH.

  Dengan pembesaran yang melebihi normal,maka akan terjadi desakan pada traktus urinarius. Pada tahap awal, obstruksi traktus urinarius jarang menimbulkan keluhan, karena dorongan mengejan dan kontraksi yang kuat dari m. Destrustor mampu mengeluarkan urine secara spontan. Namun, obstruksi yang sudah kronis membuat dekompensasi dari m. Detrustor untuk berkontraksi yang akhirnya menimbulkan obstruksi saluran kemih (Mitchell, 2009).

  Keluhan yang biasanya muncul dari obstruksi ini adalah dorongan mengejan saat miksi yang kuat, pancaran urine lemah/ menetes, disuria(saat kencing terasa terbakar), palpasi rektal toucher menggambarkan hipertrofi prostat, distensi vesika. Hipertrofi fibromuskuler yang terjadi pada klain BPH menimbulkan penekanan pada prostat dan jaringan sekitar, sehingga menimbulkan iritasi pada mukosa uretra. Iritibilitas inilah nantinya akan menyebabkan keluhan frekwensi, urgensi, inkontinensia urgensi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu kateterisasi untuk tahap awal sangat efektif untuk mengurangi distensi vesika urinaria (Mitchell, 2009; Heffner, 2002).

  Pembesaran pada BPH (hiper plasia prostat) terjadi secara bertahap mulai dari zona periuretral dan transisional. Hiperplasia ini terjadi secara nodular dan sering diiringi oleh proliferasi fibromuskular untuk lepas darijaringan epitel. Oleh karena itu, hiperplasia zona transisional di tandai oleh banyaknya jaringan kelenjar yang tumbuh pada pucuk dan cabang dari pada duktus. Sebenarnya proliferasi zona transisional dan zona sentral pada prostat berasal dari turunan duktus wolffi dan profilerasi zona perifer berasal dari sinus urogenital. Sehingga, berdasarkan latar belakang embriologis inilah bisa di ketahui mengapa BPH terjadi pada zona perifer (heffner, 2002).

G. Pathway

  Faktor resiko umur Trauma berulang Perubahan Hormona Perubahan mikroskopik Hiperplasia jaringan penyangga Pada prostat stromal dan glanduler pada prostat Pembesaran prostat Mual, muntah tidak Lobus yangbhipertropi menyumbat kolom vesikal Nafsu makan rasa atau uretra prostatik Tidak nyaman di Epigrastik - Pengosongan urin inkomplit atau retensi urin

  Retensi urin pada leher buli-buli prostat meningkat - Otot detrustor menebal dan menegang - Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan Timbul sekulasi atau divertikel

  Lama kelamaan otot detrusor menjadi lelah dan Mengalami dekompensasi

Tidak mampu berkontraksi

Terjadi dilatasi Retensi urin

  Ureter/hidroureter Dan hidronefirosis Resiko infeksi Disfungsi saluran kemih atas

  Disuria sering berkemih Kalau berkemih harus menunggu lama obstruksi saluran kemih BPH pembedahan dekompensasi otot destruksor Terputusnya kontinuitas jaringan

  Retensi urine kesulitan bertkemih Intoleransi Defisit perawatan

  Nyeri akut aktivitas diri eliminasi Distres spiritual pemasangan kateter dc

  (mitchell, 2009) Gambar 2.1. patway

H. Penatalaksanaan Umum

  Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain : a. Anamnesa

  Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala iritatif berupa urgensi, frekuensi serta disuria. IPSS (International Prostate Symptoms Score) adalah kumpulan pertanyaan yang merupakan pedoman untuk mengevaluasi beratnya LUTS. Keadaan pasien BPH dapat ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh : a). Skor 0 - 7 = gejala ringan.

  b). Skor 8 - 19 = gejala sedang.

c). Skor 20 – 35 = gejala berat.

  b. Pemeriksaan Fisik Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin. Penis dan uretra juga diperiksa untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis. Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis. Rectal touch /pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH.

  c. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. Pemeriksaan urin lengkap dan kulturnya juga diperlukan. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan.

  d. Pemeriksaan Uroflowmetri Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian

  e. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik 1) BOF (Buik Overzich) Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang.

  2) USG (Ultrasonografi) Digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga keadaan buli

  • – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik.

  3) IVP (Pyelografi Intravena) Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis. Dengan IVP, buli

  • – buli dilihat sebelum, sementara dan sesudah isinya dikosongkan. Sebelum, untuk melihat adanya intravesikal tumor dan divertikel. Sementara (voiding cystografi), untuk melihat adanya reflux urin. Sesudah (post evacuation), untuk melihat residual urin.

  4) Pemeriksaan Panendoskop Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli

  • – buli I.

   Penatalaksanaan Klinis

  Penyakit BPH merupakan penyakit bedah, sehingga terapi bersifat simptomatis untuk mengurangi tanda gejala yang di akibatkan oleh obstruksi pada saluran kemih. Tetapi simtomatis ditunjukan untuk merelaksasi otot polos prostat, sehingga obstruksi akan berkurang. Jika keluhan masih bersifat ringan, maka observasi di perlukan dengan pengobatan simptomatis untuk mengevaluasi perkembangan pasien. Namun, jika telah terjadi obstruksi/ retensi urine, infeksi, vesikolithiasis, insufisiensi ginjal, maka harus di lakukan pembedahan.

  a. Terapi simptomatis Pemberian obat golongan reseptor alfa-adrenergik inhibitor mampu merelaksasikan otot polos prostat dan saluran kemih akan lebih terbuka.

  Obat golongan 5-alfa-reduktase inhibitor mampu menurunkan kadar dehidrotesteron dalam plasma maka prostat akan mengecil (schwartz, 2000)

  b.

   TUR – P (Transuretral Resection Prostatectomy)

  Tindakan ini merupakan tindakan pembedahan non insisi, yaitu pemoptongan secara elektris prostat melalui meatus uretralis. Jaringan prostat yang membesar dan menghalangi jalanya urine akan di buang melalui elektrokauter dan di keluarkan melalui irigasi dilator. Tindakan ini memiliki banyak keuntungan yaitu meminimalisir tindakan pembedahan terbuka, sehingga masa penyembuhan lebih cepat dan tingkat resiko infeksi bisa di tekankan.

  c. pembedahan terbuka (prostatectomy)

  Tindakan ini di lakukan jika prostat terlalu besar diikuti oleh penyakit penyerta lainya, misalnya tumor vesika urinaria, vesikolithiasis, dan adanya adenoma yang besar (Schwatz, 2000).

  J. DIAGNOSA DAN RENCANA KEPERAWATAN Intervensi Keperawatan

a) Preoperasi 1) DX I : Retensi urine berhubungan dengan tekanan uretral tinggi karena kelemahan detrusor (dekompensasi otot detrusor).

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengeluaran urine lancar.

  NOC: a.

   Urinary elimination b. Urinary continence

  Kriteria Hasil:

  1. Kandung kemih kosong secara penuh

  2. Tidak ada spasme bladder 3. Tidak ada sisa setelah buang air > 100-200cc.

  4. Balance cairan seimbang.

  NIC: Urinary retension care

  1) Monitor intake dan output 2) Monitor penggunaan obat antikolioenergik 3) Monitor derajat distensi bladder 4) Katerisasi jika perlu 5) Monitor tanda dan gejala ISK

2) DX II : Nyeri akut berhubungan agen injuri biologis

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau hilang.

   NOC : a.

   Pain level b. Pain control c. Comfort level

   Kriteria Hasil:

  1. Mampu mengontrol nyeri

  2. Melaporkan nyeri berkurang

  3. Mampu mengenali nyeri

  4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

  NIC : Manajemen Nyeri

  1) Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab. 2) Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat berkomunikasi secara efektif. 3) Berikan analgetik dengan tepat. 4) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.

  5) Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide, imagery,terapi musik,distraksi) 6) Tingkatkan istirahat. 7) Kurangi faktor presipitasi nyeri.

3) DX III : Resiko infeksi.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.

  NOC : a.

   Immune status b. Knowlegde : Infection control c. Risk control

  Kriteria Hasil: 1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.

  2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.

  3. Jumlah leukosit dalam batas normal 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat.

  NIC : Kontrol Infeksi 1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

  2) Pertahankan teknik isolasi. 3) Batasi pengunjung bila perlu. 4) Monitor tanda dan gejala infeksi.

  5) Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kemih.

  4)

DX IV : Cemas berhubungan dengan akan dilakukannya

tindakan operasi.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan keluarga tidak mengalami kecemasan.

  NOC: a.

   Anxiety self control b. Anxiety level c. Coping

  Kriteria Hasil:

  1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.

  2. Vital sign dalam batas normal.

  3. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktifitas menunjukkan berkurangnya cemas.

  NIC: Penurunan Kecemasan 1) Gunakan pendekatan yang menenangkan.

  2) Menurunkan stimulasi lingkungan ketika cemas 3) Identifikasi tingkat kecemsan.

  4) Mencari informasi untuk menurunkan cemas

  5) Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas

  5)

DX V : Kurang pengetahuan berhubungan dengan

keterbatasan informasi mengenai pengobatan.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan pasien dan keluarga bertambah.

  NOC : a.

   Knowledge : desease process b. Knowledge : health behavior

  Kriteria Hasil:

  1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, prognosis, dan program pengobatan

  2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar

  3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat

  NIC : Teaching : disease Process

  1) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit yang spesifik.

  2) Jelaskan pathofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi fisiologi dengan cara yang tepat.

  3) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat.

  4) Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat. 5) Hindari jaminan yang kosong.

b) Pascaoperasi 1. DX I : Nyeri akut berhubungan dengan tindakan infasif.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau hilang.

  NOC : a.

   Pain level b. Pain control c. Comfort level

  Kriteria Hasil:

  1. Mampu mengontrol nyeri

  2. Melaporkan nyeri berkurang

  3. Mampu mengenali nyeri

  4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

  NIC : Manajemen Nyeri

  1) Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab.

  2) Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat berkomunikasi secara efektif. 3) Berikan analgetik dengan tepat. 4) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. 5) Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide, imagery,terapi musik,distraksi) 6) Tingkatkan istirahat. 7) Kurangi faktor presipitasi nyeri.

2. DX II : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan aktifitas meningkat dan kembali normal

  NOC : a.

   Energy conservation b. Activity tolerance c. Self care : ADLs

  Kriteria Hasil :

  1. Berpartisipasi aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan TD, Nadi dan RR.

  2. Mampu melakukan aktifitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri.

  3. Tanda-tanda vital normal.

  NIC : Activity Therapy

  1) Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan program terapi yang tepat.

  2) Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktifitas yang mampu dilakukan.

  3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktifitas yang disukai.

  4) Latih mobilisasi. 5) Bantu pasien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang.

  6) Bantu pasien untuk mendapatkan alat bantuan untuk beraktifitas ( kursi roda).

3. DX III : Resiko infeksi.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.

  NOC : a.

   Immune status b. Knowlegde : Infection control c. Risk control

  Kriteria Hasil: 1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.

  2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.

  3. Jumlah leukosit dalam batas normal 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat.

  NIC : Kontrol Infeksi 1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

  2) Pertahankan teknik isolasi. 3) Batasi pengunjung bila perlu. 4) Monitor tanda dan gejala infeksi. 5) Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kemih.

  6) Kolaborasikan dengan dokter pemberian antibiotik.

4. DX IV : Distres Spiritual berhubungan dengan keterbatasan kognitif

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah distres spiritual dapat teratasi.

  NOC: a.

   Ansietas kematian b. Konflict pembuatan keputusan c. Koping ketidakefektifan

  d.

   Distress spiritual Kriteria Hasil :

  1. Mampu mengontrol kecemasan

  2. Kesehatan spiritual

  3. Menunjukkan harapan arti hidup

  4. Terlibat dalam lingkungan sossial

  NIC : Spiritual Support

  1) Gunakan komunikasi terapeutik untuk membangun kepercayaan dan kepedulian empati.

  2) Sediakan privasi dan waktu yang cukup untukkegiatan spiritual.

  3) Dorong partisipasi dalam kelompok pendukung. 4) Atur kunjungan oleh penasehat spiritual individu. 5) Mengacu pada penasehat spiritual pilihan individu. 6) Latih pasien solat dan tayamum dalam keadaan tidur.

5. DX V : Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang perawatan di rumah teratasi.

  NOC : a.

   Knowledge : desease process b. Knowledge : health behavior

  Kriteria Hasil:

  1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, prognosis, dan program pengobatan

  2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar

  3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat

  NIC : Teaching : disease Process

  1) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit yang spesifik.

  2) Jelaskan pathofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi fisiologi dengan cara yang tepat. 3) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat.

  4) Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat. 5) Hindari jaminan yang kosong.

Dokumen baru

Download (26 Halaman)
Gratis

Tags