UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN BAGI PARA SUSTER URSULIN

Gratis

0
0
165
11 months ago
Preview
Full text
(1)UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN SEMANGAT DAN SPIRITUALITAS SANTA ANGELA BAGI PARA SUSTER URSULIN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh Agustina Dede Mite NIM: 041124034 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009 i

(2) ii

(3) iii

(4) PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada Tarekat Ordo Santa Ursula Para Suster Komunitas Yogyakarta Orang tua dan sanak saudaraku Para Sahabatku iv

(5) MOTTO “ Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus ”. (Nasehat Terakhir art.1-2) v

(6) PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 01 Juni 2009 Penulis, Agustina Dede Mite vi

(7) PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama : Agustina Dede Mite NIM : 041124034 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN SEMANGAT DAN SPIRITUALITAS SANTA ANGELA BAGI PARA SUSTER URSULIN Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengelihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal, 01 Juni 2009 Yang menyatakan, Agustina Dede Mite vii

(8) ABSTRAK Judul skripsi ini adalah UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN SEMANGAT DAN SPIRITUALITAS SANTA ANGELA BAGI PARA SUSTER URSULIN. Judul ini dipilih oleh penulis bertolak dari pemikiran bahwa Gereja senantiasa mengundang kaum hidup bakti khususnya para suster Ursulin untuk membangun hidup berkomunitas dengan menggali nilainilai yang dihidupi oleh Santa Angela sebagai pendiri Ordo Santa Ursula. Persoalan yang mendasar dalam skripsi ini adalah bagaimana para suster Ursulin sebagai kaum hidup bakti menanggapi serta menjawab undangan Gereja untuk membangun hidup berkomunitas berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela. Gereja mengundang para suster Ursulin untuk membangun hidup komunitas yang dilandasi oleh cinta kasih diantara sesama anggota komunitas, sehingga komunitas menjadi sekolah persatuan dan ragi bagi sesama yang ada disekitarnya. Komunitas yang dibangun bercirikan citra Tritunggal yaitu persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus sehingga komunitas menjadi sekolah cinta kasih baik bagi para suster sebagai anggota komunitas maupun sesama yang ada di sekitarnya. Santa Angela meninggalkan nasehat yang begitu kaya dan indah bagi para pengikutnya. Angela berharap agar para suster Ursulin menghayati dan menghidupi nilai-nilai yang ada pada diri Angela. Nilai-nilai itu tertuang dalam nasehatnya yang terakhir. “Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus”(Nasehat Terakhir, art.1-2). Dasar dalam hidup bersama adalah cinta kasih dan saling mengampuni sehingga komunitas menjadi hidup dan dipenuhi suasana kasih dan persaudaraan. viii

(9) ABSTRACT The title of this thesis is THE INVITATION OF THE CHURCH TO BUILD A COMMUNITY LIFE AND ITS ANSWER, BASED ON THE ZEAL AND SPIRITUALITY OF SAINT ANGELA FOR THE URSULINE SISTERS. I, as the writer, choose this title based on the idea, that the Church is always inviting those who live the consecrated life, especially the Ursuline Sisters, to build a community life by digging the values lived by Saint Angela as the founder of The Order of Saint Ursula. The basic problem in this writing is how the Ursuline Sisters, as those who live the consecrated life, respond and answer the invitation of the Church to build up a community life based on the zeal and spirituality of Saint Angela. The Church invites the Ursuline Sisters to manage a community life founded by charity, among the members of the community, that the community may become a school of unity for those who live surroundings. The community to build is to be characterized by the image of the Trinity, that is the unity of the Father, the Son and the Holy Spirit, that the community may appear as a school of charity, both for the sisters as the members of the community it self and those who live near by. Saint Angela left a wealthy and beautiful counsel for her followers. Angel was to hope, that the Ursuline Sisters are to live and comprehend the values she had. Those values are poured out in her last counsel, “Live in harmony, unity, one in heart and in will, bind to each other in the bond of love and charity, respect one another, help one another, be patience in Jesus Christ.”(Last Counsels, art.1-2). The foundation of living together is love and charity and forgiveness one another, that the community may become more alive and filled by love and sisterly affectio. ix

(10) KATA PENGANTAR Puji syukur yang berlimpah penulis haturkan kepada Allah yang Maha Kuasa atas kasih setia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN SEMANGAT DAN SPIRITUALITAS SANTA ANGELA BAGI PARA SUSTER URSULIN. Penulis mengakui bahwa dalam proses penulisan ini dengan segala jerih payah, suka duka, pergumulan dan pergulatan dirasakan oleh penulis. Namun penulis tetap bersemangat untuk berjuang dalam menyelesaikannya. Semuanya itu berkat dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung memberi petunjuk, nasehat, kritikan, saran dan tak lupa dukungan doa sehingga penulis terdorong dan termotivasi untuk menyelesaikannya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Drs. H. J. Suhardiyanto, S.J., sebagai Kaprodi IPPAK dan segenap staf dosen Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, yang dengan caranya masing-masing telah mendidik, mendampingi, membimbing dan memberikan bekal pengetahuan yang sangat bermanfaat serta berharga dalam penulisan skripsi ini. 2. Dr. J. Darminta, S.J., selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan setia, penuh perhatian dalam membimbing, mengarahkan dan memberikan semangat x

(11) serta peneguhan bagi penulis untuk terus berjuang dalam penulisan dan penyelesaian skripsi ini. 3. Bapak P. Banyu Dewa HS., M. Si., selaku dosen pembimbing akademik dan penguji II yang telah dengan setia memberikan bimbingan, saran, serta dukungan selama penulis menjalani studi dan yang telah bersedia menjadi dosen penguji II untuk skripsi ini. 4. Ibu Dra. J. Sri Murtini, M. Si., yang telah bersedia sebagai dosen penguji III bagi penulis dalam penulisan skripsi ini. 5. Sr. Martini Suwitahartana, O.S.U., dan Para Suster sekomunitas yang dengan caranya masing-masing memberikan dukungan, semangat dan peneguhan selama penyusunan skripsi ini. 6. Sr. Maria Dolorosa Sasmita, O.S.U., dan Para Dewan yang telah memberikan kesempatan, kepercayaan, perhatian dan dukungan kepada penulis untuk menimba ilmu sebagai bekal dalam hidup dan pelayanan pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 7. Adik-adik Asramawati Pondok Angela yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. 8. Rekan-rekan mahasiswa yang tidak sempat disebutkan namanya satu persatu khususnya rekan-rekan angkatan 2004/2005 dan angkatan 2005/2006 yang telah memberikan perhatian, dukungan dan bantuan selama proses perkuliahan hingga berakhirnya penulisan skripsi ini. xi

(12) 9. Sahabat-sahabat yang baik hati yang telah mendukung, mendorong dan menaruh perhatian dan doa bagi penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selama ini telah membantu penulis dengan ketulusan hati hingga berakhirnya penulisan skripsi ini. Penulis menyadari akan keterbatasan dan ketidakmampuan dalam menyusun, merefleksikan serta mengembangkan skripsi ini. Untuk itu dengan rendah hati penulis sangat mengharapkan saran, perbaikan ataupun kritikan yang dapat membangun dan memperkaya dari para pembaca baik dari para Suster Ursulin maupun siapa saja yang membaca skripsi ini demi penyempurnaan skripsi ini. Yogyakarta, 01 Juni 2009 Penulis, Agustina Dede Mite xii

(13) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..………………………………….…....................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..……………................. ii HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………..….. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………...…... iv MOTTO ………………………………………………...……………....... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………..... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI……………………...… vii ABSTRAK ………………………………………………………………. viii ABSTRACT …………………………………………………………....... ix KATA PENGANTAR …………………………………………………... x DAFTAR ISI …………………………………………………..……....... xiii DAFTAR SINGKATAN ……………………………………………...… xvii BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………… 1 A. Latar Belakang Penulisan Skripsi…………………………...... 1 B. Rumusan Permasalahan ……………………………………… 8 C. Tujuan Penulisan .…………………………………………….. 9 D. Manfaat Penulisan ....……………………………………......... 9 E. Metode Penulisan …………………………...…………........... 10 F. Sistematika Penulisan ……………………………………....... 10 BAB II. UNDANGAN GEREJA DAN KOMITMEN HIDUP BAKTI DALAM MENGHAYATI HIDUP BERKOMUNITAS ................................................................................................... 14 A. Tantangan dan Undangan Hidup Berkomunitas ...................... 14 B. Undangan Vita Consecrata ....................................................... 18 1. Berpijak pada nilai-nilai tetap................................................... 18 a. Menurut citra Tritunggal Mahakudus................................... 18 b. Hidup bersaudara dalam cinta kasih..................................... 20 c. Tugas kpemimpinan.......................................................... 22 xiii

(14) d. Peranan para anggota yang lanjut usia................................. 23 e. Menurut citra jemaat rasuli................................................... 24 f. Secitarasa dengan Gereja..................................................... 25 g. Persaudaraan dalam Gereja semesta.................................... 26 h. Persaudaraan dalam dunia yang terpecah belah dan tidak adil........................................................................ 28 2. Kesinambungan dalam karya Roh Kudus untuk setia di tengah perubahan.................................................................. 30 a. Para rubiah dalam klausura.................................................. 30 b. Para Bruder religius.............................................................. 32 c. Bentuk-bentuk baru hidup Injili............................................ 32 3. Mengarahkan pandangan ke masa depan.................................. 33 a. Pembinaan dalam komunitas dan untuk kerasulan............... 33 b. Pembinaan terus menerus..................................................... 35 c. Tetap mengusahakan kesetiaan............................................ 36 4. Komunio................................................................................. 39 C. Undangan Novo Millennio Ineunte.............................................. 40 1. Hidup bakti sebagai ragi ........................................................ 40 2. Hidup bakti sebagai komunitas hukum cinta........................... 41 3. Hidup bakti sebagai komunitas sekolah cinta.......................... 46 D. Undangan Bertolak Segar Dalam Kristus...................................... 49 1. Spiritualitas persekutuan.......................................................... 51 2. Wajah Kristus dalam kesengsaraan.......................................... 54 3. Persatuan antara karisma lama dan baru................................... 56 4. Persatuan dengan para Uskup................................................... 58 5. Persatuan dengan kaum awam.................................................. 59 6. 61 Ekaristi tempat khusus untuk berjumpa dengan Tuhan.......... BAB III HIDUP KOMUNITAS DALAM ORDO SANTA URSULA.......................................................... A. Nilai-nilai yang dihidupi Angela dalam hidup komunitas berdasarkan nasehat Santa Angela................................................. xiv 66 66

(15) 1. Hidup dalam keserasian............................................................ 67 2. Bersatu dan sehati sekehendak................................................. 68 3. Terikat satu sama lain dengan cinta kasih................................ 74 4. Saling menghargai.................................................................... 76 5. Saling membantu...................................................................... 76 6. Saling bersabar dalam Yesus Kristus....................................... 77 7. Persaudaraan ............................................................................ 78 B. Hidup Komunitas Ordo Santa Ursula Menurut Konstitusi............ 1. Hidup Komunitas Ordo Santa Ursula bercirikan komunitas Triniter..................................................................... 2. Ekaristi menjadi pusat hidup komunitas................................... 3. Hidup sehati sejiwa dalam komunitas...................................... 4. Setiap anggota menyumbang demi pembangunan komunitas................................................................................ 5. Peranan dan kehadiran pemimpin............................................. 6. Sikap saling menghargai dalam komunitas.............................. 7. Sikap saling percaya................................................................. 8. Kehadiran suster lanjut usia...................................................... 9. Pertemuan komunitas................................................................ 10. Keseimbangan dalam hidup komunitas.................................... C. Hidup Komunitas Ordo Santa Ursula menurut Kapitel Umum........................................................................................... 1. Kapitel umum tahun 1995........................................................ 79 81 83 85 86 87 88 88 89 90 90 91 92 2. Kapitel umum tahun 2001........................................................ 94 3. Kapitel umum tahun 2007........................................................ 96 a.Menemukan cara-cara konkret untuk menghayati rekonsiliasi.......................................................................... b.Memajukan pembinaan berkelanjutan (sifat-sifat yang dibutuhkan untuk menghayati hidup dalam komunitas, relasi antar pribadi, kerja sama, membagi tanggungjawab, persiapan pensiun dan lain-lain)......................................... 96 98 c.Mendatangkan nara sumber sesuai dengan kebutuhan untuk membantu dalam hal konseling pribadi, fasilitas untuk 100 komunitas................................................................. d.Merefleksikan keseimbangan antara hidup komunitas dan pelayanan.............................................................................. 100 xv

(16) TINJAUAN KRITIS TENTANG HIDUP BERSAMA 102 DALAM KOMUNITAS......................................................... A. Undangan Gereja tentang hidup komunitas yang sejalan dengan BAB IV Ordo Santa Ursula.......................................................................... 102 1. Menurut citra Tritunggal Mahakudus....................................... 103 2. Hidup bersaudara dalam cinta kasih.......................................... 105 3. Tugas kepemimpinan................................................................. 106 4. Peranan para anggota yang lanjut usia....................................... 107 5. Menurut citra jemaat rasuli........................................................ 108 6. Persaudaraan dalam dunia yang terpecah belah dan tidak adil............................................................................. 109 7. Komunio.................................................................................... 110 8. Ekaristi sebagai tempat untuk berjumpa dengan Tuhan............ 111 9. Pembinaan terus menerus.......................................................... 113 10.Spiritualitas persekutuan.......................................................... 114 11.Hidup bakti sebagai ragi........................................................... 116 12.Hidup bakti sebagai komunitas hukum cinta............................ 117 13.Hidup bakti sebagai komunitas sekolah cinta........................... 119 14.Persatuan dengan para Uskup................................................... 120 15.Persatuan dengan kaum awam.................................................. 121 B. Hal-hal yang kurang diwujudkan dalam hidup komunitas Ordo Santa Ursula................................................................................... 122 1. Secitarasa dengan Gereja.......................................................... 122 2. Persaudaraan dalam Gereja semesta......................................... 124 3. Tetap mengusahakan kesetiaan................................................ 125 4. Wajah Kristus dalam kesengsaraan.......................................... 127 5. Persatuan antara karisma lama dan baru................................... 128 C. Kesaksian Ordo Santa Ursula yang khas Sebagai Sumbangan terhadap Undangan Gereja............................................................ BAB V. PENUTUP……………………………………………………... xvi 130 134

(17) A. Kesimpulan .…………………………………………………...... 134 B. Saran ............................................................................................. 138 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 141 LAMPIRAN……………………………………………………………..... 144 Lagu 1. “Wasiat Santa Angela”……………………………........... 1 Lagu. 2. “Bersatu dalam Doa-Hidup-Karya..................................... 3 xvii

(18) DAFTAR SINGKATAN A. Daftar Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru; dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV Ende: Arnoldus, 1984 / 1985. hal.8). B. Daftar Singkatan Dokumen Gereja BSDK : Bertolak Segar Dalam Kristus, Instruksi Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik, 16 Mei 2002. FLIC : Fraternal Life In Community. GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia modern. KHK : Kitab Hukum Kanonik. KAN : Kanon. KV : Konsili Vatikan. LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. NMI : Novo Millenio Ineunte, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II: Kepada para uskup, para Imam dan para Diakon, para Religius Pria maupun Wanita dan Segenap Umat xviii

(19) Beriman Awam tentang Seruan dan Ajakan untuk Mengenangkan Masa Lampau dengan Penuh Syukur, Menghayati Masa Sekarang dengan Penuh Entusiasme dan Menatap Masa Depan Penuh Kepercayaan, 6 Januari 2001. PC : Perfectae Caritatis, Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius, 28 Oktober 1965. PO : Presbyterorum Ordinis, Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, 7 Desember 1965. SC : Sacrosanctum Concilium, Dekrit tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1965. VC : Vita Consecrata, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Hidup Bakti bagi para Religius, 25 Maret 2004. C. Daftar Singkatan Lain Art : Artikel OSU : Ordo Santa Ursula SD : Sekolah Dasar SMA : Sekolah Menengah Atas SMP : Sekolah Menengah Pertama ST : Santa TK : Taman Kanak-Kanak xix

(20) 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Manusia baik pria maupun wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia dan luhur di antara semua ciptaan Allah. Manusia yang adalah ciptaan Allah yang mulia ini berada bersama, tinggal bersama. Dan orang tak dapat menemukan bahwa hidup seseorang dapat dilepaskan dari orang lain. Dan orang tidak mungkin menyangkal kenyataan bahwa manusia selalu berada bersama manusia yang lainnya. Manusia disebut pribadi sesungguhnya kalau ia berada bersama orang lain. Dengan demikian terjadilah proses yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Pribadi yang satu akan menyumbangkan kualitas nilai, mutu pribadi bagi pribadi yang lain. Proses sosialisasi ini akan bermutu apabila hubungan ini berlangsung intensif. Melihat perkembangan zaman yang semakin maju dan dipengaruhi oleh kemajuan globalisasi, manusia juga cendrung untuk hidup sendiri merasa tidak membutuhkan orang lain. Banyak orang memilih untuk hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain, misalnya para wanita karier yang merasa sukses dalam dunia kerja. Dengan demikian mereka memilih untuk hidup mandiri dan tidak mempunyai pasangan hidup. Namun hal ini tidak berlaku bagi mereka yang secara khusus memilih untuk hidup sebagai seorang religius. Apapun situasi dan perkembangan zaman, ciri khas religius adalah hidup bersama dalam komunitas. Manusia juga merupakan makhluk sosial, karena ia tidak dapat hidup seorang diri di dunia ini. Kalau kita

(21) 2 mencoba untuk melihat hidup kita, kita akan menemukan bahwa hidup kita tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Kita tidak dapat menyangkal bahwa kita membutuhkan orang lain. Mungkin kita dapat membayangkan jika kita hidup seorang diri di tengah hutan yang sunyi dan sepi, maka kita akan mengalami kesepian yang mendalam. Kesepian inilah yang menjadi tanda bahwa manusia membutuhkan manusia lain. Kesepian itu menjadi sumber untuk melihat dan mengenal diri serta mengenal keberadaaanya sebagai manusia. Hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan salah satu ciri pokok hidup religius dan merupakan komitmen hidup bakti itu sendiri. Penghayatan konkret hidup bakti sehari-hari terlaksana dalam suatu komunitas. Dalam komunitas itu hidup bersama mendapatkan bentuk konkret dan pengaturan yang menunjang tumbuh dan berkembangnya hidup rohani maupun terlaksananya tugas perutusan. Hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan tuntutan mutlak bagi seorang religius. Maka tidak mengherankan bahwa salah satu syarat untuk dapat diterima dalam suatu ordo atau kongregasi ialah bila calon tersebut tidak mempunyai hambatan yang berat untuk membangun dan menghayati hidup bersama (Darminta, 1982:7). Hidup membiara adalah salah satu bentuk kehidupan kristiani dalam mengikuti Kristus. Pada zaman sekarang hidup membiara itu tampak dan menjadi nyata dalam hidup komunitas. Hidup komunitas mengikuti pola hidup para rasul dan jemaat perdana. Hidup bersama sebagai saudara dan melaksanakan tugas perutusan sesuai dengan karya kongregasi itulah antara lain ciri komunitas religius. Hal itu ditegaskan pula dalam Dokumen Vita Consecrata (Hidup Bakti) yang menyatakan; “Hidup bersaudara dalam arti hidup bersama

(22) 3 dalam cinta kasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan gerejawi” (VC art, 42). Dengan demikian kebersamaan di komunitas diwarnai dengan pribadi yang unik, karena persekutuan tersebut terdiri dari orang-orang dan latar belakang keluarga, sosial, budaya, watak dan kemampuan yang berbeda. Kasih mempersatukan kaum hidup bakti dalam cita-cita dan panggilan yang sama. Agar perbedaan itu menjadi sumber kekuatan bagi hidup bersama dalam komunitas, maka sangat dibutuhkan sikap dari tiap anggota komunitas untuk saling menerima, menghargai, menegur, mengampuni, setia dan saling mendukung satu dengan yang lain. Itulah bentuk perwujudan cintakasih dan dengan sikap tersebut akan tercipta komunitas yang terbuka, di mana setiap anggota dapat mencurahkan segala keluh kesah dan menemukan kekuatan dalam melaksanakan tugas perutusan. Dengan demikian komunitas kaum hidup bakti benar-benar menjadi persatuan cintakasih yang menunjukkan gambar perdamaian Kristus dan sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah (KHK, Kan. 602). Komunitas merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki panggilan yang sama dalam menanggapi panggilan Tuhan. Mereka juga adalah manusia biasa sama seperti manusia lainnya, namun mereka dipilih oleh Allah untuk menanggapi panggilan-Nya dalam mewartakan kabar gembira demi Kerajaan Allah di dunia ini. Komunitas bukanlah tempat orang berkompromi, melainkan merupakan tempat perjumpaan yang matang, yaitu dengan kesadaran bersatu dan berbeda. Dengan begitu perjumpaan sungguh-sungguh membuat orang semakin otentik dan asli menghayati panggilan masung-masing. Maka

(23) 4 perjumpaan juga menuntut adanya penerimaan dan pengakuan panggilan orang lain, yang sama dengan panggilan kita, tetapi sekaligus juga berbeda. Bersama orang lain kita menemukan kesatuan dan sekaligus perbedaan dalam penghayatan hidup religius sebagai panggilan. Dalam perjumpaan itu orang dapat masuk dan terlibat dalam hidup orang lain. Maka orangpun juga dapat melihat kesukarankesukaran orang lain dalam menghayati panggilannya, sebagaimana kita juga menyadari akan kesukaran-kesukaran kita sendiri dalam menghayati panggilan. Dapat dikatakan bahwa perjumpaan dalam komunitas memberikan kesadaran, yang semakin tumbuh, akan nilai hidup bersama dan komunitas untuk menghayati panggilan pribadinya (Darminta, 1976: 8-9). Dalam kenyataan hidup bersama dalam komunitas, Ursulin masih cukup jauh dari apa yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan bersama bahwa komunitas kadang menjadi beban bagi para anggota karena masih ada sikap kurang percaya, saling mendiamkan dan sulit mengampuni atas kesalahan yang dilakukan oleh sesama anggota. Di mana yang senior merasa lebih tua dan berpengalaman sehingga kehadiran orang muda menjadi ancaman bagi mereka dalam berkarya. Di samping itu bahkan ada sikap yang membentuk kelompok yang membuat jarak antara satu dengan yang lainnya sehingga menutup kemungkinan bagi orang lain untuk ikut bergabung di dalamnya. Orang menjadi lekat dengan salah satu tugas yang dipercayakan kepadanya sehingga sulit untuk dipindahkan maka hal ini akan menjadi beban bagi orang baru yang sebenarnya telah menerima perutusan baru untuk bertugas di tempat tersebut. Para suster Ursulin masih kurang menghayati nilai-nilai yang dihidupi Angela dalam hidup

(24) 5 bersama yaitu hidup dalam keserasian, bersatu sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu dan saling bersabar dalam Yesus Kristus (Nasehat Terakhir, art.1-2). Adanya sikap kurang menerima kelebihan sesama sehingga timbul rasa iri hati dan benci bahkan mencari kesalahan seorang anggota komunitas untuk menilai pribadinya. Dengan adanya situasi yang demikian mengakibatkan anggota hilang kepercayaan terhadap komunitas maka mereka mencari suasana di luar komunitas dan menemukan orang yang dapat dan mau mendengarkan apa yang mereka alami. Mereka lebih mempercayai orang di luar komunitas dan tidak setia lagi terhadap komunitas. Komunitas yang merupakan persekutuan orang yang saling mencintai, menjadi semacam tempat kesatuan lahiriah saja, tanpa sampai menyelami batin dari setiap anggota. Melihat suasana dan pelayanan para suster Ursulin di zaman ini yang sungguh membutuhkan energi yang cukup banyak, di mana para suster dengan tekun menjalani perutusan mereka masing-masing. Ada yang berkarya di sekolah, baik sekolah Ursulin sendiri maupun berkarya pada yayasan keuskupan yang memberi kepercayaan kepada Ordo untuk mengelola sekolah. Selain itu Ursulin juga terlibat dalam karya pastoral, pendampingan kaum muda dalam asrama dan panti asuhan. Hal ini cukup mempengaruhi kehidupan bersama para Suster Ursulin, di mana kehadiran mereka lebih banyak dicurahkan bagi pelayanan sehingga mutu kehadiran mereka dalam komunitas makin berkurang. Hal ini juga dapat disebabkan oleh tugas yang banyak, kesibukan yang menumpuk dan di samping itu juga rasa lelah sehingga kehadiran mereka dalam komunitas kurang

(25) 6 berkualitas. Suasana ini seringkali mempengaruhi kehidupan bersama sehingga kadang terjadi salah paham atau beda pendapat di antara para suster. Selain tugas dan pelayanan yang menyita waktu, hal yang mempengaruhi mutu hidup bersama dalam komunitas berkurang adalah dengan adanya sarana komunikasi yang canggih. Dengan demikian hal ini membuat para suster kurang berkomunikasi secara langsung dalam arti dari hati ke hati antara satu dengan yang lain, karena komunikasi dapat dilakukan melalui pesan singkat (SMS), sehingga komunikasi sosial menjadi berkurang dan yang terjadi secara individual. Hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya dapat membawa dampak positif dan juga dampak negatif. Hubungan antara manusia yang membawa dampak positif adalah terciptanya kesatuan, keharmonisan, persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Sedangkan hubungan yang membawa dampak negatif adalah adanya persaingan yang tidak sehat, kecurigaan, iri hati, balas dendam. Hal ini sangat bertentangan dengan kehendak Allah yang menciptakan manusia untuk hidup bersatu (Yohanes 17: 21) dan kerinduan hati yang paling mendasar dari diri manusia untuk hidup dalam suasana yang rukun, tenteram dan penuh persaudaraan. Kehidupan yang seperti itulah yang hendak diwujudkan dalam kehidupan bersama dalam komunitas. Santa Angela sebagai pendiri Ordo Santa Ursula telah menganjurkan dan mengharapkan agar para pengikutnya yakni anggotanya mampu menjalin persaudaraan, kasih dan kerukunan dalam hidup bersama. Meskipun komunitas Ursulin atau para pengikut St. Angela Merici terdiri dari orang-orang dengan latar belakang budaya, bahasa, suku yang berbeda-beda, mereka mampu menciptakan

(26) 7 hidup bersama dalam suasana kasih dan persaudaraan. Dengan demikian sebagai komunitas hidup bakti para suster Ursulin mampu menanggapi undangan Gereja untuk membangun hidup komunitas berdasarkan nilai-nilai yang dihidupi Santa Angela bagi para pengikutnya. Melalui tulisan ini penulis ingin menggali nilai-nilai luhur kehidupan bersama dari dokumen-dokumen Gereja yang penuh dengan suasana kasih dan persaudaraan untuk dikembangkan dan bertitik tolak dari pengalaman hidup Santa Angela Merici dalam menghayati hidup bersama dengan orang lain sesuai dengan nilai-nilai yang dihidupi dan dihayatinya. Santa Angela sangat memperhatikan dan menekankan persaudaraan dan kasih dalam hidup bersama baik dalam lingkungan komunitasnya, lingkungan Gereja maupun lingkungan masyarakat luas. Untuk mewujudkan kehidupan bersama dalam komunitas yang penuh kasih dan persaudaraan perlu keterbukaan hati untuk menerima sesama apa adanya, rasa hormat dan menghargai orang lain. Dasar dari semuanya itu adalah “Cinta Kasih“, sebagaimana Allah Yang Maha Kasih senantiasa mengasihi kita umat-Nya. Hidup dalam suasana kasih dan persaudaraan itu akan memampukan kita untuk mengemban tugas perutusan dalam mewartakan Kerajaan Allah. Dengan melihat situasi yang demikian, penulis mempunyai keprihatinan mengenai hidup berkomunitas dalam komunitas Ursulin itu sendiri. Hal itu disebabkan kurangnya penghayatan akan arti hidup komunitas sebagai orang yang dipanggil mengikuti Kristus dalam menanggapi undangan Gereja untuk membangun hidup berkomunitas dan sebagai pengikut St. Angela yang selalu mengutamakan persatuan dan keserasian dalam hidup bersama untuk

(27) 8 melaksanakan tugas perutusan yang diterima oleh setiap anggota komunitas. Karena itu refleksi serta usaha untuk mendalami semangat dan spiritualitas Santa Angela tentang hidup bersama dalam komunitas bagi para suster Ursulin sangat penting. Melihat kenyataan hidup para pengikut Santa Angela yang mulai berkurang akan usaha untuk mewujudkan semangat dan spiritualitas Santa Angela tentang hidup bersama seperti yang telah diwariskan oleh pendiri tarekat. Santa Angela Merici sebagai pendiri ordo telah memperjuangkan dan mengusahakan kehidupan bersama yang penuh suasana kasih dan persaudaraan dengan sesamanya, maka ia berharap agar para pengikutnya sungguh-sungguh menghayati dan mewujudkannya dalam kehidupan bersama dalam komunitas. Dalam konteks permasalahan, pergumulan dan perjuangan itu, maka penulis tergerak hati dan memilih tema skripsi ini dengan judul: UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN SEMANGAT DAN SPIRITUALITAS SANTA ANGELA BAGI PARA SUSTER URSULIN. B. Rumusan Masalah Untuk mendalami keprihatinan mengenai hidup bersama dalam komunitas, maka dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana para suster Ursulin menanggapi undangan Gereja dan juga sebagai komitmen hidup bakti dalam hidup berkomunitas?

(28) 9 2. Bagaimana pemahaman dan penghayatan para suster Ursulin akan semangat dan spiritualitas yang telah diwariskan oleh Santa Angela sebagai pendiri Ordo? 3. Apakah nilai-nilai yang dihidupi Angela tentang hidup bersama dalam komunitas masih relevan bagi para Suster Ursulin di zaman ini? 4. Bagaimana para Suster Ursulin menghadapi tantangan zaman ini dalam usaha mewujudkan hidup bersama dalam komunitas? C. Tujuan Penulisan 1. Membantu para suster Ursulin untuk mendalami, memahami dan menghayati semangat dan spiritualitas Santa Angela Merici tentang hidup bersama dalam komunitas bagi para pengikutnya agar dapat membangun komunitas yang penuh kasih. 2. Menjawab dan mewujudkan undangan Gereja untuk menghayati hidup berkomunitas pada zaman ini. 3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Strata I Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama katolik, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan, Universitas Sanata Dharma. D. Manfaat Penulisan Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat: 1. Bagi Para Suster Ursulin

(29) 10 Menjadi salah satu pendorong bagi para Suster Ursulin agar semakin bersemangat dalam usaha menanggapi undangan Gereja dalam hidup berkomunitas berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela. 2. Bagi Penulis Membantu penulis untuk semakin memperdalam, memahami, menghayati dan mewujudkan undangan Gereja dalam hidup berkomunitas berdasarkan semangat dan spiritualitas pendiri. E. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan penulis adalah deskriptif analisis berdasarkan apa yang muncul dalam dokumen-dokumen Gerejawi dan juga dalam Ordo Santa Ursula yaitu Konstitusi Ordo Santa Ursula dan Kata-Kata St. Angela Merici, mendialogkannya dengan studi pustaka, menginterpretasikannya dan kemudian mengambil maknanya untuk membangun hidup berkomunitas berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela. F. Sistematika Penulisan UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN SEMANGAT DAN SPIRITUALITAS SANTA ANGELA BAGI PARA SUSTER URSULIN adalah judul skripsi yang disusun penulis. Skripsi ini terbagi menjadi lima bagian yaitu:

(30) 11 Bab I merupakan bagian pendahuluan dengan menguraikan latar belakang permasalahan yang melatarbelakangi penulisan skripsi ini, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II menguraikan tentang undangan Gereja dan komitmen hidup bakti menghayati hidup berkomunitas yang terdiri dari empat bagian yaitu tantangan dan undangan hidup berkomunitas, undangan Vita Consecrata, undangan Novo Millennio Ineunte dan undangan Bertolak Segar Dalam Kristus. Dalam undangan Vita Consecrata terdiri dari empat bagian yang pertama adalah berpijak pada nilai-nilai tetap yang terdiri atas tujuh pokok bahasan yaitu menurut citra Tritunggal Mahakudus, hidup bersaudara dalam cinta kasih, tugas kepemimpinan, peranan para anggota lanjut usia, menurut citra jemaat rasuli, secitarasa dengan Gereja, persaudaraan dalam Gereja semesta dan persaudaraan dalam dunia yang terpecah belah dan tidak adil. Yang kedua adalah kesinambungan dalam karya Roh Kudus untuk setia di tengah perubahan yang terdiri atas tiga pokok bahasan yaitu para rubiah dalam klausura, para Bruder religius dan bentuk-bentuk baru hidup Injili. Yang ketiga adalah mengarahkan pandangan ke masa depan yang terdiri atas empat pokok bahasan yaitu pembinaan dalam komunitas dan untuk kerasulan, pembinaan terus menerus, tetap mengusahakan kesetiaan dan komunio. Dalam undangan Novo Millennio Ineunte terdiri atas tiga pokok bahasan yaitu hidup bakti sebagai ragi, hidup bakti sebagai komunitas hukum cinta dan hidup bakti sebagai komunitas sekolah cinta. Dalam undangan Bertolak Segar Dalam Kristus terdiri atas enam bagian yaitu spiritualitas persekutuan, wajah Kristus dalam kesengsaraan, persatuan antara karisma lama dan baru, persatuan dengana

(31) 12 para Uskup, persatuan dengan kaum awam dan Ekaristi merupakan tempat khusus untuk berjumpa dengan Tuhan. Pada bab III akan menguraikan tentang hidup komunitas dalam Ordo Santa Ursula yang dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama adalah nilai-nilai yang dihidupi tentang hidup berkomunitas berdasarkan nasehat Santa Angela yang terdiri atas hidup dalam keserasian, bersatu dan sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus, persaudaraan. Bagian yang kedua adalah hidup komunitas Ursulin menurut Konstitusi yang terdiri atas hidup komunitas Ursulin bercirikan komunitas Triniter, Ekaristi menjadi pusat hidup komunitas, hidup sehati sejiwa dalam komunitas, setiap anggota menyumbang demi pembangunan komunitas, peranan dan kehadiran pemimpin, sikap saling menghargai dalam komunitas, sikap saling percaya, kehadiran suster yang lanjut usia, keseimbangan dalam hidup komunitas. Bagian ketiga adalah hidup komunitas Ursulin menurut Kapitel Umum yang terdiri atas tiga yaitu Kapitel Umum tahun 1995, Kapitel Umum tahun 2001 dan Kapitel Umum tahun 2007. Dalam Kapitel Umum 2007 terdiri atas beberapa bagian yaitu menemukan cara-cara konkret untuk menghayati rekonsiliasi, memajukan pembinaan berkelanjutan, mendatangkan nara sumber sesuai dengan kebutuhan untuk membantu dalam hal konseling pribadi, fasilitas untuk komunitas dan merefleksikan keseimbangan antara hidup komunitas dan pelayanan. Pada bab IV akan menguraikan tinjauan kritis tentang hidup bersama dalam komunitas yang terdiri atas tiga bagian. Yang pertama adalah undangan

(32) 13 Gereja tentang hidup komunitas yang sejalan dengan Ursulin yang terbagi dalam lima belas bagian yaitu menurut citra Tritunggal Mahakudus, hidup bersaudara dalam cinta kasih, tugas kepemimpinan, peranan para anggota yang lanjut usia, menurut citra jemaat rasuli, persaudaraan dalam dunia yang terpecah belah dan tidak adil, komunio, Ekaristi sebagai tempat untuk berjumpa dengan Tuhan, pembinaan terus menerus, spiritualitas persekutuan, hidup bakti sebagai ragi, hidup bakti sebagai komunitas hukum cinta, hidup bakti sebagai komunitas sekolah cinta, persatuan dengan para uskup dan persatuan dengan kaum awam. Yang kedua adalah hal-hal yang belum terwujud dalam komunitas Ursulin yang terdiri atas lima bagian yaitu secitarasa dengan Gereja, persaudaraan dalam Gereja semesta, tetap mengusahakan kesetiaan, wajah Kristus dalam kesengsaraan, persatuan antara karisma lama dan baru. Yang ketiga adalah kesaksian Ursulin yang khas sebagai sumbangan terhadap undangan Gereja. Pada bab V merupakan kesimpulan dari pembahasan skripsi dan saran yang perlu dalam usaha mewujudkan undangan Gereja dan jawaban berdasarkan semangat serta spiritualitas pendiri dalam membangun hidup bersama yang lebih baik.

(33) 14 BAB II UNDANGAN GEREJA DAN KOMITMEN HIDUP BAKTI MENGHAYATI HIDUP BERKOMUNITAS A. Tantangan dan Undangan Hidup Berkomunitas Dewasa ini umat manusia berada dalam periode baru sejarahnya, masa perubahan-perubahan yang mendalam dan pesat berangsur-angsur meluas keseluruh dunia. Perubahan-perubahan itu timbul dari kecerdasan dan usaha kreatif manusia, dan kembali mempengaruhi manusia sendiri, cara-cara menilai serta keinginan-keinginannya yang bersifat perorangan maupun kolektif, caranya berpikir dan bertindak terhadap benda-benda maupun sesama manusia. Dunia begitu mendalam merasakan kesatuannya serta saling tergantungnya semua orang dalam solidaritas yang memang mesti ada, sementara itu tertimpa oleh perpecahan yang amat gawat akibatnya kekuatan-kekuatan yang saling bermusuhan, sebab masih tetap berlangsunglah pertentangan-pertentangan yang sengit dibidang politik, sosial, ekonomi, kesukuan dan ideologi, dan tetap berkecamuk bahaya perang yang akan menggempur habis-habisan segala sesuatu. Masyarakat dunia masa kini adalah masyarakat global atau secara umum. Masyarakat masa kini memiliki daya-daya positif dan negatif di mana tidak hanya teknologi dan ekonomi global, melainkan juga ada rasa tidak aman dan ketakutan, kejahatan kekerasan, ketidakadilan dan perang yang semakin merajalela di muka bumi ini. Dunia zaman kini adalah dunia yang tercerai berai akibat kebencian antar suku atau kekerasan yang semakin meningkat. Masyarakat

(34) 15 dunia saat ini dipenuhi dan ditandai dengan nafsu-nafsu dan kepentingan yang saling bertentangan demi mendapatkan keuntungan secara pribadi atau kelompok (Dokumen KV II GS, 1993: 512). Selain itu kondisi dunia kita saat ini adalah dunia yang sedang mengalami krisis besar yaitu krisis ekologi yang sedang menjadikan kawasan-kawasan luas planet kita tidak mungkin dihuni dan bermusuhan terhadap umat manusia. Masalah persoalan damai, yang sering diancam oleh spektrum perang-perang yang menyebabkan bencana-bencana yang besar seperti yang baru terjadi yaitu Israel dan Palestina. Selain yang disebutkan di atas, situasi nyata yang terjadi juga adalah pelecehan hak-hak asasi manusia khususnya anak-anak dan kaum wanita (NMI, art.51). Oleh karena perubahan yang pesat ini maka hal yang sering terjadi situasi hidup manusia menjadi tidak teratur, bahkan juga kesadaran semakin tajam akan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dunia, menimbulkan atau malahan menambah pertentangan-pertentangan dan ketidak-seimbangan. Dalam pribadi manusia sendiri cukup sering timbul ketidakseimbangan antara akal budi modern yang bersifat praktis dan cara berpikir teoritis. Begitu pula muncullah ketidakseimbangan antara pemusatan perhatian pada kegunaan praktis dan tuntutantuntutan moral suara hati, lagi pula seringkali antara syarat-syarat kehidupan bersama dan tuntutan pemikiran pribadi bahkan juga kontemplasi. Akhirnya muncullah ketidak-seimbangan antara spesialisasi kegiatan manusia dan visi menyeluruh tentang kenyataan. Maka dalam kehidupan keluarga muncullah berbagai ketidak-serasian, baik karena kondisi-kondisi kependudukan maupun

(35) 16 ekonomi dan sosial, yang serba mendesak. Muncullah pula pertentanganpertentangan yang sengit antara suku, bahkan antara pelbagai lapisan masyarakat, antara bangsa-bangsa yang kaya dan yang kurang mampu serta serba kekurangan, akhirnya antara lembaga-lembaga internasional yang terbentuk atas keinginan para bangsa akan perdamaian dan ambisi mempropagandakan ideologinya sendiri serta aspirasi-aspirasi kolektif yang terdapat pada bangsa-bangsa dan kelompok lain. Itu semua membangkitkan sikap saling tidak percaya dan bermusuhan, konflik-konflik dan kesengsaraan, yang sebabnya dan sekaligus korbannya ialah manusia itu sendiri (Dokumen KV II GS, 1993: 516-517). Kondisi dunia yang demikian sungguh sangat memprihatinkan umat Kristiani yang telah dengan bebas memilih untuk mengikuti Kristus dalam seluruh hidup-Nya. Oleh karena itu umat kristiani juga hendaknya belajar mencetuskan tindakan iman akan Kristus dengan mengenali suara-Nya dalam jeritan sesama saudara yang meminta bantuan kita yang muncul dari dunia kemiskinan. Tindakan iman itu antara lain melakukan tradisi cinta kasih yang muncul adanya kreativitas yang baru dalam cinta kasih. Tindakan ini tidak hanya dengan mendekati, menjadi teman dan sahabat mereka yang menderita sehingga tangan yang diulurkan dipandang tidak sebagai uluran tangan yang merendahkan sesama, tetapi sebagai pola saling berbagi di antara saudara-saudari (NMI, 2007:56-57 ). Melihat situasi dunia yang demikian kompleks menjadi tantangan dan sekaligus Gereja mengundang kaum religius yang secara khusus mengabdikan diri demi pelayanan untuk Kerajaan Allah, untuk terlibat dalam mengusahakan kehidupan komunitas Kristiani yang damai dan bahagia. Dengan demikian kaum

(36) 17 religius dipanggil dalam situasi dan kondisi dunia yang sakit oleh karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Misteri paska juga merupakan sumber sifat misioner Gereja yang dicerminkan dalam seluruh hidup Gereja. Misteri itu secara istimewa diungkapkan dalam hidup bakti (VC, art. 25). Tugas misioner pertama para anggota hidup bakti ialah terhadap diri sendiri. Mereka menjalankannya dengan membuka hati bagi bimbingan Roh Kristus. Kesaksian mereka membantu seluruh Gereja mengingat-ingat, bahwa yang paling penting yakni mengabdi Allah dengan sukarela, berkat rahmat Kristus yang dikurniakan kepada umat beriman melalui kurnia Roh. Demikian mereka mewartakan kepada dunia, damai yang berasal dari Bapa, dedikasi yang nampak pada kesaksian Putera dan kegembiraan yang merupakan buah Roh Kudus. Gereja berhak mengharapkan sumbangan yang relevan dari para anggota hidup bakti, yang jelas bahwa mereka milik Kristus. Peranan kaum hidup bakti sangat penting dalam persoalan ini. Dengan melihat kondisi hidup yang umum, secara efektif berkarya bagi Kerajaan Allah dengan mengambil bagian pada realitas politik dan sosial yang membawa kepada nilai baru dalam rangka kaum hidup bakti mengikuti Kristus. Kaum hidup bakti bisa menjadi garam dan terang dalam setiap situasi dan kondisi yang terjadi dalam dunia masa kini. Melihat situasi ini, kaum hidup bakti dipanggil oleh Roh untuk senantiasa bertobat guna memberi kekuatan baru bagi dimensi profetik panggilan mereka. Dengan melihat, merefleksikan kembali makna terdalam dari panggilan mereka yakni menempatkan hidup mereka dalam melayani demi Kerajaan Allah dengan meninggalkan segalanya serta mengikuti secara lebih dekat bentuk hidup Yesus

(37) 18 Kristus, mengambil peran Yesus dalam dunia masa kini bagi seluruh Umat Allah. Mengingat tantangan yang demikian kompleks, maka undangan Gereja dan komitmen hidup bakti kami pahami melalui dokumen-dokumen Gereja. Dalam pembahasan ini akan dipakai tiga dokumen Gereja yaitu, Vita Consecrata, Novo Millennio Ineunte dan Bertolak Segar dalam Kristus. B. Undangan Vita Consecrata Vita Consecrata merupakan anjuran Apostolik dari Paus Yohanes Paulus II tentang Hidup Bakti bagi para Religius yang diterbitkan pada tanggal 25 Maret 1996. Anjuran ini di tujukan kepada Para Uskup dan Klerus, Ordo dan Kongregasi Serikat-Serikat Hidup Merasul, Institut-Institut Sekular dan segenap umat beriman. Vita Consecrata mengundang kaum hidup bakti untuk hidup dalam suasana persaudaraan, dengan demikian kehadiran kaum hidup bakti merupakan lambang persekutuan dalam Gereja. Untuk itu kaum hidup bakti perlu menghayati nilai-nilai persaudaraan yang mengarah pada persekutuan dalam Gereja. Nilainilai itu antara lain: 1. Berpijak pada Nilai-Nilai Tetap a. Menurut Citra Tritunggal Mahakudus Dalam Vita Consecrata dikatakan bahwa, “Selama hidup-Nya di dunia Tuhan Yesus memanggil mereka yang dikehendaki-Nya, supaya mereka menyertai Dia, dan Ia mendidik mereka hidup menurut teladan-Nya bagi Bapa

(38) 19 dan bagi perutusan, yang telah diterima-Nya dari Bapa”(Mrk. 3:13-15; VC, art. 41). Dengan demikian Kristus memulai keluarga baru, yang dari abad ke abad akan mencakup mereka yang siap menjalankan kehendak Allah. Sesudah Yesus naik ke surga, sebagai buah kurnia Roh Kudus, terbentuklah rukun hidup persaudaraan di sekitar para Rasul yang selalu berhimpun dalam puji syukur kepada Allah dan dalam pengalaman konkret persekutuan (Kis 2:42-47; 4:32-35). Dalam Dokumen KV II dikatakan bahwa hidup jemaat itu dan bahkan lebih lagi pengalaman hidup dalam persekutuan penuh dengan Kristus yang dihayati oleh Dua Belas Rasul selalu dijadikan pola yang menjadi acuan Gereja. Hal ini akan berkembang jika Gereja berusaha untuk selalu kembali kepada semangat aslinya dan dengan kekuatan Injili yang segar meneruskan lagi perjalanannya di sepanjang sejarah (PC, art.15). Dalam Dokumen KV II GS dikatakan bahwa “Pada hakekatnya Gereja itu adalah misteri persekutuan, yaitu umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus (GS, art. 4). Di mana hidup persaudaraan berusaha untuk mencerminkan betapa dalam dan kaya misteri itu, yang mengenakan bentuk jemaat manusiawi sebagai kediaman Tritunggal Mahakudus, untuk menyalurkan ke dalam sejarah kurnia-kurnia persekutuan yang khas bagi ketiga Pribadi Ilahi. Hal ini dapat dijumpai dalam dunia saat ini, ada begitu banyak situasi dan caracara persekutuan persaudaraan diungkapkan dalam hidup Gereja. Dan dalam situasi ini hidup bakti dapat dianggap berjasa karena mereka secara efektif membantu untuk tetap menghidupkan dalam Gereja kewajiban persaudaraan

(39) 20 sebagai bentuk kesaksian akan Tritunggal. Dengan tiada hentinya mereka selalu berusaha untuk mengembangkan cinta kasih persaudaraan, juga dalam wahana hidup bersama hidup bakti telah menunjukkan bahwa mereka ikut serta dalam persekutuan Tritunggal. Hidup bersama mereka dalam persekutuan mampu mengubah hubungan-hubungan manusiawi yang kurang baik dan menciptakan corak baru solidaritas. Begitu pula hidup bakti dalam hidup bersama menjadi contoh dan teladan bagi umat yaitu keindahan persekutuan persaudaraan. Para anggota hidup bakti hidup bagi Allah dan dari Allah, dan justru karena itu mereka mampu memberikan kesaksian akan kuasa rahmat untuk mendamaikan, mampu mengatasi kecendrungan yang memecah belah yang terdapat dalam hati manusia dan masyarakat pada umumnya (VC, 2002:62). b. Hidup Bersaudara dalam Cintakasih Kaum hidup bakti dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang dilandasi semangat persaudaraan. Hal ini ditegaskan dalam Vita Consecrata, “Hidup bersaudara dalam arti hidup bersama dalam cinta kasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan Gerejawi. Corak hidup itu dipraktekkan secara khas dalam Tarekat-tarekat Religius dan Serikatserikat Hidup Apostolis, di situ hidup berkomunitas beroleh relevansi khusus” (VC, art. 42). Kaum hidup bakti yang hidup bersama dalam komunitas menghayati hidup bersama berdasarkan cinta kasih. Karena cinta kasih merupakan lambang yang khas dan sangat jelas bagi persekutuan Gerejawi. Cinta kasih yang dihayati perorangan akan memampukan kaum hidup bakti dalam usaha membangun hidup komunitas seperti yang dikehendaki Allah yang telah memanggil mereka untuk hidup dalam persekutuan dan persaudaraan.

(40) 21 Dimensi persaudaraan menjadi tidak asing lagi bagi Institut-institut Sekular atau bentuk-bentuk hidup bakti yang dihayati secara perorangan. Hal ini dapat dijumpai pada para eremit yang hidup menyendiri secara mendalam, mereka tidak mengasingkan diri dari persekutuan gerejawi, melainkan melayani persekutuan itu dengan karisma khas mereka dalam berkontemplasi. Demikian juga para perawan yang dikuduskan atau disucikan di tengah masyarakat menghayati pentakdisan mereka dalam hubungan khas persekutuan dengan Gereja khusus dan semesta. Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, mereka semua menyanggupkan diri untuk melaksanakan perintah baru Tuhan, yakni saling mengasihi seperti Ia mengasihi kita (Yoh 13:34). Cinta kasih mendorong Kristus untuk menyerahkan Diri, bahkan sampai korban termulia di Salib. Begitu pula di kalangan para murid-Nya tidak mungkin ada kesatuan yang sejati tanpa cinta kasih timbal balik yang tanpa syarat itu, yang meminta kesediaan untuk dengan murah hati melayani sesama, kesiagaan untuk menampung mereka seperti adanya, tanpa menilai mereka (Mat 7:1-20) dan kemampuan untuk mengampuni hingga tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18:22). Para anggota hidup bakti, yang menjadi sehati sejiwa (Kis 4:32) melalui cinta kasih yang dicurahkan kedalam hati mereka oleh Roh Kudus (Rom 5:5), mengalami panggilan batin untuk berbagi bersama segala sesuatu; barang-barang materiil dan pengalaman-pengalaman rohani, bakat kemampuan dan inspirasi, cita-cita kerasulan dan pelayanan kasih. Dalam hidup berkomunitas kuasa Roh Kudus yang berkarya dalam seorang individu sekaligus tersalurkan kepada semua anggota (VC, art.42).

(41) 22 Maka dalam hidup berkomunitas dalam cara tertentu perlu menjadi jelas bahwa lebih dari sekedar upaya untuk menunaikan perutusan khusus, persekutuan persaudaraan itu adalah ruang yang disinari oleh Allah, untuk mengalami kehadiran tersembunyi Tuhan yang Bangkit Mulia (Mat 18:20). Hal itu akan terwujud berkat cinta kasih timbal balik antara semua anggota komunitas, cinta kasih yang dipupuk melalui Sabda dan Ekaristi, dimurnikan dalam Sakramen Pendamaian, dan ditopang oleh doa untuk kesatuan, anugerah khusus Roh bagi mereka yang dengan patuh mendengarkan Injil. Roh sendirilah yang membimbing jiwa untuk mengalami persekutuan dengan Bapa dan dengan Putera-Nya Yesus Kristus (1Yoh 1:3), dan persekutuan itu sumber hidup bersaudara. Rohlah yang membimbing komunitas-komunitas hidup bakti dalam menunaikan misi pelayanan mereka kepada Gereja dan kepada segenap umat manusia, menurut inspirasi asli mereka (VC, 2002:63). c. Tugas Kepemimpinan Peranan pemimpin dalam komunitas menjadi hal yang cukup penting. Karena hidup bersama dalam suatu komunitas jika hanya ada anggota dan tidak ada yang memimpin maka komunitas tersebut tidak akan maju dan berkembang. Hal ini dapat dilihat dalam perjalanan komunitas para rasul yang mengikuti Yesus. Diantara para rasul ada yang menjadi pemimpin yaitu Yesus Kristus sendiri yang menjadi kepala para rasul. Tentang peranan pemimpin dalam komunitas itu sangat penting, hal ini dikatakan dalam Vita Consecrata: Dalam hidup bakti peranan para pemimpin selalu paling penting sekali bagi hidup rohani dan perutusan. Perlu diakui bahwa mereka yang menjabat kepemimpinan tidak boleh melepaskan kewajiban mereka sebagai yang terutama bertanggung jawab atas komunitas, sebagai

(42) 23 pembimbing rekan-rekan mereka dalam hidup rohani dan apostolis (VC, art. 43). Kehadiran seorang pemimpin dalam hidup komunitas menjadi hal yang selalu penting, karena pemimpin bertanggungjawab dalam hidup bersama. Ia memiliki peranan yang membantu pertumbuhan kehidupan rohani para anggotanya dan juga dukungan bagi anggota dalam melaksanakan perutusan. Ia hadir sebagai pembimbing bagi teman-teman sekomunitas. Dalam suasana yang diwarnai oleh individualisme tidak mudahlah memupuk sikap mengakui dan menerima peranan yang dimainkan oleh pemimpin demi kesejahteraan semua anggota. Relevansinya perlu ditegaskan bahwa sungguh perlu untuk meneguhkan persekutuan persaudaraan dan untuk tidak menyia-nyiakan ketaatan yang diikrarkan. Pimpinan harus bersifat persaudaraan dan rohani, dan mereka yang dipercayai untuk memimpin harus tahu bagaimana melibatkan rekan-rekan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Namun tetap diingat bahwa kata terakhir ada pada pimpinan dan oleh karena itu pimpinan berhak mengusahakan agar keputusan-keputusan yang telah diambil juga dihormati (VC, art. 43). d. Peranan Para Anggota yang Lanjut Usia Para anggota yang lanjut usia dalam komunitas juga perlu diperhatikan karena mereka juga mempunyai peranan dalam kehidupan komunitas. Hal ini dikatakan dalam Vita Consecrata. Perawatan para anggota yang lanjut usia dan sakit amat penting dalam hidup persaudaraan, khususnya zaman sekarang,

(43) 24 mengingat bahwa di berbagai daerah persentase anggota hidup bakti yang lanjut usia makin meningkat (VC, art. 44). Perhatian, pemeliharaan dan kepedulian yang layak diberikan kepada mereka bukan hanya berdasarkan kewajiban yang jelas untuk mengasihi dan berterima kasih kepada mereka, melainkan berdasarkan kesadaran bahwa kesaksian mereka banyak membantu Gereja dan Tarekat-tarekat mereka sendiri. Karena para anggota yang lanjut usia dan sakit dapat menyumbangkan banyak kepada komunitas karena kebijaksanaan dan pengalaman mereka. Sumbangan mereka dalam hidup bersama dapat dilakukan para anggota yang lanjut usia melalui pelayanan mereka walaupun kecil dan sederhana yaitu doa-doa dan perhatian mereka bagi para anggota muda dalam kerasulan. Dukungan doa dan perhatian mereka mampu memberikan semangat baru bagi perutusan dan pelayanan komunitas. Hal ini akan sangat nampak bila komunitas tetap dapat dekat dengan mereka, penuh kepedulian dan mempunyai sikap untuk mendengarkan mereka. e. Menurut Citra Jemaat Rasuli “Hidup bersaudara memainkan peranan yang mendasar dalam perjalanan rohani para anggota hidup bakti, baik demi pembaharuan mereka terus menerus maupun untuk sepenuhnya menjalankan misi mereka dalam masyarakat” (VC, art. 45). Paus Yohanes Paulus II menganjurkan dan mendorong kaum hidup bakti untuk menyanggupkan diri dalam memantapkan hidup persaudaraan mereka seturut teladan umat Kristiani purba di Yerusalem yang tekun dalam menerima ajaran para Rasul, dalam doa bersama, dalam perayaan Ekaristi dan dalam berbagi

(44) 25 apa pun yang mereka miliki menurut kodrat dan berkat rahmat (Kis 2:42-47). Dalam kehidupan bersama hendaknya saling mengasihi penuh kemurahan hati dan mengungkapkan itu dengan cara-cara yang sesuai dengan hakekat masing-masing Tarekat sehingga tiap komunitas akan tampil sebagai lambang Yerusalem baru yang cemerlang, kediaman Allah diantara manusia (Why 21:13; VC, art. 45). Kehidupan Gereja pada umumnya bergantung dari kesaksian jemaat yang penuh kegembiraan dan berkat karya Roh Kudus (Kis 13:52). Gereja mau menampilkan jati dirinya di hadapan masyarakat melalui teladan komunitaskomunitas. Di mana rasa kesepian dapat diatasi melalui kepedulian di antara anggota komunitas, komunikasi yang baik bagi setiap anggota yang melahirkan kesadaran mereka dalam tanggungjawab bersama. Perasaan terluka dapat disembuhkan melalui pengampunan di antara sesama serta komitmen tiap anggota dalam persekutuan bersama. Semua hal yang disebutkan di atas akan mengarahkan kekuatan pada komunitas untuk menopang kesetiaan mereka dalam karya kerasulan dalam satu misi bersama. f. Secitarasa dengan Gereja Kaum hidup bakti dipanggil untuk berusaha hidup dalam secitarasa dengan Gereja. Tugas yang agung dibebankan pula pada hidup bakti dalam terang ajaran tentang Gereja sebagai persekutuan, yang begitu tegas tandas disajikan oleh Konsili Vatikan II. Para anggota hidup bakti diharapkan sungguh mahir memelihara persekutuan dan mempratekkan spiritualitas persekutuan sebagai saksi dan perancang bangunan rencana kesatuan yang memahkotai sejarah manusia menurut Rencana Allah (VC, art. 46).

(45) 26 Kesadaran akan persekutuan gerejawi yang berkembang menjadi spiritualitas persekutuan, meningkatkan cara berpikir, berbicara dan bertindak yang memungkinkan Gereja hidup secara makin mendalam dan bertambah luas. Hidup dalam persekutuan kenyataannya menjadi tanda bagi seluruh dunia dan kekuatan pendorong, yang akan mengantar orang-orang kepada iman akan Kristus. Dengan demikian persekutuan mendorong ke arah perutusan, dan persekutuan itu sendiri menjadi perutusan. Dan hal itu benar bahwa persekutuan melahirkan persekutuan dan pada hakekatnya persekutuan itu adalah perutusan (VC, art.46). Jika kaum hidup bakti mewujudkan hidup bersama mereka secitarasa dengan Gereja, maka hidup bersama mereka menjadi kesaksian dan perancang bangunan rencana Allah yang menghendaki agar semua umat-Nya hidup dalam kesatuan karena hal itu merupakan rencana Allah yang indah dan mengagumkan. Alangkah indah dan bahagianya dunia jika semua umat manusia hidup dalam kesatuan. g. Persaudaraan dalam Gereja Semesta Kaum hidup bakti yang telah hidup dalam persekutuan persaudaraan akan menampakkan kepada dunia warna persaudaraan dalam Gereja semesta. Hal ini sangat jelas dan nampak dalam Vita Consecrata: Para anggota hidup bakti dipanggil menjadi ragi persekutuan mengabdi perutusan Gereja semesta, berdasarkan kenyataan bahwa sekian banyak karisma Tarekat-tarekat mereka dianugerahkan oleh Roh Kudus demi kesejahteraan seluruh Tubuh Mistik, yang pembangunannya memerlukan peran serta mereka (1Kor 12:4-11). Yang sungguh menjadi sangat relevan adalah merupakan jalan yang lebih utama lagi (1Kor 12:31), dan merupakan yang terbesar (1Kor 13:13). Hal ini sangat nyata seperti diuraikan oleh Rasul yakni cinta kasih yang menghimpun segala keaneka-

(46) 27 ragaman menjadi satu, dan meneguhkan tiap orang untuk saling mendukung dalam semangat merasul (VC, art. 47). Kaum hidup bakti yang telah dipanggil Allah hidup dalam komunitas menjadi ragi persekutuan. Untuk mewujudkan persekutuan itu diperlukan peran serta setiap anggota, masing-masing dengan terbuka hati penuh ketulusan berkat karya Roh Kudus memampukan kaum hidup bakti dalam membangun komunitas demi kesejahteraan komunitas itu sendiri dan bagi seluruh Tubuh Mistik. Seperti kehidupan para rasul yang mengikuti Yesus Kristus. Para rasul dihimpun oleh karena cinta kasih yang mampu menyatukan keanekaragaman mereka menjadi satu. Cinta kasih membuat para rasul untuk saling meneguhkan, mendukung satu sama lain dalam karya kerasulan. Demikian juga kaum hidup bakti yang dihimpun berdasarkan cinta kasih mampu menyatukan keanekaragaman yang ada menjadi satu kesatuan dalam hidup bersama. Hal inilah yang menjadi maksud ikatan khas persekutuan pelbagai Tarekat Hidup Bakti dan Serikat untuk Hidup Apostolis atau Serikat Hidup Kerasulan dengan pengganti Petrus dalam pelayanannya demi kesatuan dan sifat universal misioner. Sejarah spiritualitas menampilkan banyak ilustrasi mengenai ikatan itu dan menunjukkan peranannya yang providensial atau bijaksana baik dalam menjamin jati diri khas hidup bakti, maupun dalam meningkatkan penyiaran misioner Injil. Kaum hidup bakti telah turut berperan serta dalam menyebar-luaskan amanat Injili. Mereka melestarikan ikatan-ikatan persekutuan yang kuat dengan para Pengganti Petrus, yang menemukan pada Tarekat-tarekat itu kesediaan sepenuh hati untuk membaktikan diri kepada kegiatan misioner Gereja dengan kesiagaan.

(47) 28 Semua hal di atas menampilkan ciri universalitas dan persekutuan yang ada pada Tarekat-tarekat Hidup Bakti maupun Serikat-Serikat Hidup Apostolis (VC, 2002:70). h. Persaudaraan dalam Dunia yang Terpecah belah dan Tidak Adil Kaum hidup bakti hidup dalam situasi dunia yang terpecah belah dan ketidakadilan. Untuk itu persekutuan hidup bakti diharapkan menjadi saksi persekutuan persaudaraan dalam keadaan dunia yang demikian. Hal itu dikatakan dalam Vita Consecrata: Gereja mempercayakan kepada komunitas-komunitas hidup bakti tugas khusus menyebarluaskan spiritualitas persekutuan, pertama-tama dalam hidup intern mereka kemudian dalam jemaat gerejawi bahkan melampaui batas-batasnya dengan membuka atau melanjutkan dialog dalam cinta kasih khususnya karena dunia zaman sekarang tercerai berai akibat kebencian antar suku atau kekerasan yang tak masuk akal (VC, art. 51). Gereja memberikan kepercayaan kepada komunitas hidup bakti untuk menjalankan misi suci yaitu menyebarluaskan spiritualitas persekutuaan. Hal ini terlebih dahulu dimulai dari hidup komunitas hidup bakti itu sendiri. Kemudian dalam lingkup yang lebih luas lagi yaitu dalam jemaat Gerejawi dan bahkan mampu melampui batas dengan menempuh jalan dialog. Dialog yang dimaksudkan di sini adalah dialog dalam ikatan cinta kasih, hal ini disebabkan situasi dunia zaman sekarang yang tercerai berai akibat kebencian, permusuhan dan tindakan kekerasan di antara suku, budaya bahkan agama. Komunitas-komunitas hidup bakti tinggal dalam berbagai masyarakat dunia masa kini. Situasi masyarakat itu ditandai oleh nafsu-nafsu dan kepentingan yang saling bertentangan, walaupun selalu mengusahakan kesatuan tetapi tanpa

(48) 29 kepastian mengenai cara-cara dalam mencapainya. Anggota komunitas terdiri dari berbagai usia, bahasa dan kebudayaan saling berjumpa sebagai saudara-saudari menandakan bahwa dialog itu selalu mungkin, dan bahwa persekutuan dapat memadukan perbedaan-perbedaan menjadi keselarasan (VC, art. 51). Para anggota hidup bakti baik pria maupun wanita diutus untuk melalui kesaksian hidup mereka mewartakan nilai persaudaraan Kristiani dan kuasa Kabar Baik yang dapat menimbulkan perubahan. Injil itu sangat memungkinkan untuk memandang semua orang sebagai putera-puteri Allah dan mengilhamkan cinta kasih serah diri terhadap siapa pun juga, khususnya yang paling hina di antara sesama. Komunitas-komunitas merupakan tempat harapan dan penemuan nilainilai Sabda Bahagia. Dalam komunitas cinta kasih menimba kekuatan dari doa, sumber persekutuan dan menjadi pola hidup dan sumber kegembiraan (VC, art. 51). Zaman ini ditandai oleh globalisasi masalah-masalah dan kembalinya berhala-berhala nasionalisme artinya adalah paham atau ajaran yang mencintai bangsa dan negara sendiri. Tarekat-tarekat internasional khususnya dipanggil untuk menegakkan dan memberi kesaksian tentang kesadaran akan persekutuan antara bangsa-bangsa, suku-suku dan kebudayaan-kebudayaan. Dalam suasana persaudaraan sikap terbuka bagi dimensi global masalah-masalah tidak akan mengurangi kekayaan kurnia-kurnia khusus, dan pernyataan tentang adanya kurnia khusus tidak akan bertentangan dengan anugerah-anugerah lain atau dengan kesatuan sendiri. Tarekat-tarekat internasional dapat mencapai itu secara

(49) 30 efektif, sejauh harus menghadapi secara kreatif tantangan inkulturasi, sekaligus harus mempertahankan jati diri mereka (VC, art. 51). 2. Kesinambungan dalam Karya Roh Kudus untuk Setia di tengah Perubahan a. Para Rubiah dalam Klausura Kaum hidup bakti juga nampak dalam bentuk hidup para rubiah dan klausura. Hidup mereka dipenuhi dengan doa kontemplatif sehingga hal ini menunjukkan persatuan yang eksklusif Gereja sebagai Mempelai dengan Tuhannya. Hidup para rubiah dan klausura dibaktikan pada doa, askese demi kemajuan hidup rohani. Hal ini dikatakan dalam Vita Consecrata bahwa: Hidup monastik wanita dan klausura layak beroleh perhatian khusus, karena jemaat Kristiani sangat menunjung tinggi corak hidup itu, yang menandakan persatuan ekslusif Gereja sebagai Mempelai dengan Tuhannya, yang dikasihinya di atas segala sesuatu (VC, art. 59). Dalam terang panggilan dan misi gerejawi klausura menanggapi keperluan yang dirasa penting sekali yakni menyatu dengan Tuhan. Mereka mempersembahkan diri bersama Yesus demi keselamatan dunia. Persembahan hidup mereka menampakkan unsur pengurbanan dan silih bagi dosa-dosa dan juga mengenakan aspek puji syukur kepada Bapa dan ikut serta dalam doa syukur Sang Putera yang Terkasih. Klausura atau biara yang tertutup untuk umum berakar dalam aspirasi rohani yang mendalam bukan hanya praktek askese yang bernilai besar sekali, melainkan juga cara mereka dalam menghayati Paska Kristus. Dari pengalaman kematian klausura menjadi kelimpahan hidup yang mengungkapkan pewartaan

(50) 31 penuh kegembiraan dan antisipasi kenabian kemungkinan yang ditawarkan kepada tiap orang dan kepada seluruh umat manusia untuk hidup semata-mata bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rom 6:11). Klausura mengingatkan akan ruang dalam hati bagi umat kristiani, dimana setiap orang dipanggil untuk bersatu dengan Tuhan. Bila hal ini diterima sebagai anugerah dan dipilih sebagai jawaban cinta kasih yang sukarela, maka klausura menjadi tempat persekutuan rohani dengan Allah dan dengan sesama (Yoh 13:34, Mat 5:3-8; VC, art. 59). Dalam kesederhanaan hidup mereka, komunitas-komunitas klausura atau biara yang tertutup untuk umum dan hanya terbuka bagi para anggota biaranya sendiri. Mereka ibarat kota-kota di atas gunung atau pelita-pelita di atas kaki dian (Mat 5:14-15), dan secara nampak menghadirkan tujuan perjalanan seluruh jemaat Gereja. Mereka penuh semangat dalam kegiatan, namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi (VC, art. 59). Kontemplasi dan askese menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Kekuatan untuk bersatu dengan Tuhan menjadikan mereka bagaikan pelita di atas kaki dian yang mampu menerangi kegelapan dunia. Hidup rohani rubiah dan klausura menjadi teladan iman bagi jemaat kristiani. Paus Yohanes Paulus II mendorong mereka untuk tetap setia terhadap hidup dalam klausura menurut karisma mereka yang khas. Berkat teladan mereka cara hidup itu tetap menarik banyak perhatian, menarik orang-orang karena sifat radikal hidup kemempelaian yang seutuhnya dibaktikan kepada Allah dalam kontemplasi. Sebagai wahana cinta kasih yang murni, yang bernilai melebihi

(51) 32 pekerjaan mana pun, hidup kontemplatif membuahkan efektivitas apostolis dan misioner yang luar biasa (VC, art. 59). b. Para Bruder Religius Hidup sebagai seorang bruder religius adalah salah satu bentuk hidup bakti. Para bruder juga telah banyak menyumbangkan jasa-jasa mereka demi pewartaan Injil. Hal ini ditegaskan dalam Vita Consecrata: Menurut ajaran Konsili Vatikan II, sinode menyatakan penghargaannya yang besar terhadap corak hidup bakti, yang para anggotanya yakni para bruder religius. Mereka telah menyumbangkan aneka macam jasa-jasanya yang berharga, baik didalam atau di luar komunitas dan dengan demikian ikut menjalankan misi mewartakan injil dan memberi kesaksian tentangnya dengan cinta kasih dalam hidup sehari-hari (VC, art. 60). Hidup dan pelayanan para bruder turut membangun Gereja. Pelayanan-pelayanan gerejawi yang dihidupi mereka berdasarkan wewenang dari pemimpin yang sah. Untuk itu para bruder memerlukan pembinaan yang sesuai dan bersifat integral baik dari segi manusiawi, rohani, teologis, pastoral dan kejuruan. Dalam dunia zaman sekarang juga sangat nampak peranan para bruder religius dalam berbagai bidang seperti pendidikan, pastoral dan lain sebagainya. Semuanya itu dihayati dan dilaksanakan oleh para bruder demi membangun Kerajaan Allah dalam dunia ini. c. Bentuk-bentuk Baru Hidup Injili Kaum hidup bakti dipenuhi dengan Roh Kudus dalam mewartakan Kerajaan Allah. Peranan Roh Kudus sangat besar bagi mereka dalam mewartakan Kerajaan Allah dalam dunia masa kini. Dalam Vita Consecrata dikatakan bahwa: Roh Kudus, yang pada saat-saat yang berbeda telah mengilhamkan banyak sekali bentuk hidup bakti, tiada hentinya mendampingi Gereja dengan memupuk dalam Tarekat-tarekat yang sudah ada komitmen untuk kesetiaan

(52) 33 yang dibarui terhadap karisma pendiri, atau dengan menganugerahkan karisma-karisma baru kepada orang-orang zaman sekarang, supaya mereka dapat memulai lembaga-lembaga untuk menanggapi tantangan-tantangan masa kini (VC, art. 62). Kehadiran Roh Kudus bagi kaum hidup bakti memampukan mereka dalam menghadapi tantangan-tantangan masa kini. Untuk itu diperlukan kepekaan hati bagi setiap kaum hidup bakti dalam mendengarkan suara Roh Kudus, agar mereka dapat bertutur kata, bertindak seturut kehendak Allah yang hadir melalui Roh Kudus. Keaslian komunitas-komunitas baru sering terwujudkan karena komunitaskomunitas itu terdiri dari kelompok-kelompok campuran pria dan wanita, imamimam dan anggota awam, pasangan-pasangan suami isteri dan orang-orang yang hidup dalam selibat yang semuanya menganut corak hidup yang khusus. Komitmen mereka terhadap hidup injili mengenakan berbagai wahana, dan mereka semua didorong oleh aspirasi intensif ke arah hidup berkomunitas, kemiskinan dan doa. Suatu prinsip mendasar berkaitan dengan hidup bakti ialah berbagai ciri khas komunitas-komunitas baru dan corak-corak hidup mereka harus didasarkan pada unsur-unsur teologis dan kanonik yang hakiki yang menandai hidup bakti. Daya kekuatan pelbagai wahana hidup bakti dari yang tertua hingga yang paling baru, begitu pula gairah hidup komunitas-komunitas baru akan membarui kesetiaan terhadap Roh Kudus, sumber persekutuan dan kebaruan hidup yang tiada hentinya (VC, art. 62).

(53) 34 3. Mengarahkan Pandangan ke Masa Depan a. Pembinaan dalam Komunitas dan untuk Kerasulan Pembinaan bagi calon harus sungguh diperhatikan oleh mereka yang bertugas dalam proses pembinaan. Proses pembinaan yang baik akan sangat membantu perjalanan hidup panggilan seseorang selanjutnya. Untuk itu para petugas perlu memperhatikan hal ini, karena pembinaan menjadi dasar seseorang dalam usaha menanggapi panggilan Allah. Hal itu ditegaskan dalam Vita Consecrata. Karena pembinaan harus berdimensi hidup bersama juga, komunitas merupakan tempat utama bagi pembinaan dalam Tarekat-tarekat Hidup Bakti dan Serikat-serikat Hidup Apostolis (VC, art. 67). Seseorang yang sedang menanggapi panggilan Allah dalam hidupnya, ia harus dibina, maka pembinaan merupakan proses awal dan mendasar bagi seseorang yang ingin mengikuti panggilan Allah. Setiap orang yang dipanggil akan bersatu dalam hidup komunitas. Mereka mewujudkan hidup bersama sebagai persekutuan. Maka komunitas menjadi dasar bagi pembinaan para calon. Mengingat hidup mereka selanjutnya yang akan mewujudkan hidup bersama dalam komunitas. Maka komunitas menjadi tempat bagi mereka yang dalam proses belajar untuk menghayati hidup bersama. Panduan awal untuk memasuki jerih payah dan kegembiraan hidup berkomunitas berlangsung dalam komunitas itu sendiri. Melalui hidup persaudaraan tiap anggota belajar hidup bersama mereka yang oleh Allah ditaruh di sampingnya, sambil menerima sifat-sifat positif mereka di samping perbedaanperbedaan serta keterbatasan-keterbatasan mereka. Tiap anggota belajar berbagi

(54) 35 kurnia-kurnia yang diterima demi pembangunan semua, sebab kepada masingmasing dianugerahkan penampilan Roh demi kesejahteraan bersama (1Kor 12:7). Sejak pembinaan dasar, hidup berkomunitas hendaklah menampilkan dimensi misioner yang esensial bagi pentakdisan (VC, art. 67). Hal yang penting juga adalah para anggota hidup bakti secara tahap demi tahap mengembangkan penilaian kritis berdasarkan Injil mengenai nilai-nilai positif dan negatif kebudayaan mereka sendiri dan kebudayaan yang kemudian hari akan menjadi lingkungan di tempat mereka berkarya. Hendaknya mereka dilatih dalam seni keselarasan batin yang sukar, dalam seni interaksi antara cinta akan Allah dan kasih terhadap sesama. Mereka belajar bahwa doa itu jiwa kerasulan, tetapi juga bahwa kerasulan menjiwai dan mengilhami doa (VC, art. 67). Doa menjadi kekuatan bagi mereka dalam melaksanakan kerasulan. Dengan doa akan memampukan mereka dalam menjalani kerasulan. b. Pembinaan Terus Menerus Kaum hidup bakti yang telah bergabung dalam persekutuan perlu melaksanakan pembinaan yang berkelanjutan. Hal ini dikatakan dalam Vita Consecrata. Pembinaan yang berkelanjutan dalam Tarekat-tarekat hidup apostolis maupun kontemplatif merupakan persyaratan intrinsik pentakdisan religius (VC, art. 69). Maka proses pembinaan tidak terbatas pada tahap awal. Hal ini dikarenakan berbagai keterbatasan manusiawi anggota hidup bakti bahwa kaum hidup bakti telah menghidupkan sepenuhnya penciptaan baru yang dalam situasi hidup memantulkan Kristus sendiri. Maka pembinaan awal harus berkaitan

(55) 36 dengan pembinaan terus menerus dan menciptakan kesediaan pada siapapun untuk membiarkan diri dibina setiap hari dalam hidupnya (VC, art. 69). c. Tetap Mengusahakan Kesetiaan Kaum hidup bakti hendaknya terus menerus tanpa berhenti untuk selalu mengusahakan kesetiaan dalam kehidupan panggilan mereka. Hal ini ditegaskan dalam Vita Consecrata: Ada semangat muda yang berlangsung seterusnya. Semangat itu tumbuh dari kenyataan, bahwa pada setiap tahap hidupnya orang mencari dan menemukan tugas baru untuk dijalankan, cara hidup, mengabdi dan mencintai yang khas (VC, art. 70). Untuk mencapai kesetiaan dalam panggilan maka perlu diusahakan secara terus menerus. Jika kaum hidup bakti pada masa muda akan memiliki semangat muda yang menggebu-gebu dalam mengusahakan kesetiaan. Hendaknya hal itu terus menerus diusahakan walaupun kaum hidup bakti menginjak lanjut usia. Usaha untuk selalu setia tidak hanya nampak dalam hal-hal atau pengalaman yang membahagiakan, menyenangkan tetapi juga nampak dalam tantangan dan kesulitan yang dihadapi dalam hidup baik itu dalam komunitas sendiri maupun juga di tempat karya. Jika kaum hidup bakti berusaha untuk menghadapi segala situasi sulit yang dialami maka ia telah mengusahakan kesetiaanya dalam menjalani panggilan itu sendiri. Dalam hidup bakti tahun-tahun pertama adalah terlibat penuh dalam kerasulan. Namun hal ini dapat merupakan tahap yang kritis, ditandai oleh peralihan dari hidup diawasi dalam masa pembinaan kepada situasi tanggung jawab penuh atas pekerjaanya sendiri. Maka para anggota muda perlu didukung dan didampingi oleh seorang saudara atau saudari yang membantu mereka

(56) 37 menghayati sepenuhnya kesegaran cinta kasih dan antusiasme mereka terhadap Kristus. Tahap yang berikut dapat menampilkan risiko rutin dan karena itu muncul godaan untuk membiarkan rasa kecewa karena kegagalan dalam kerasulan. Maka para anggota usia tengahan memerlukan bantuan dalam terang Injil dan karisma Tarekat mereka, untuk membarui keputusan mereka semula, dan tidak mencampuradukkan keutuhan dedikasi mereka dengan tingkatan hasil baik. Karena kepenuhan hidup kaum hidup bakti tidak terletak pada hasil yang dicapai. Kaum hidup bakti bukanlah pekerja yang mencari keuntungan. Hal ini akan memberi dorongan yang segar dan motivasi-motivasi baru kepada keputusan mereka. Tahap yang terakhir adalah kedewasaan yang disertai pertumbuhan pribadi, tetapi dapat juga mendatangkan bahaya suatu individualisme, diiringi dengan rasa takut jangan-jangan tidak mengikuti zaman atau bentuk-bentuk ketegaran hati, hidup berpusatkan diri atau mengendurnya antusiasme. Pada masa itu pembinaan berkelanjutan bertujuan membantu tidak hanya untuk memulihkan taraf lebih tinggi hidup rohani dan apostolis, melainkan juga untuk menemukan ciri-ciri khas tahap hidup itu. Sebab pada masa itu, mereka mampu melihat dan menemukan beberapa sifat kepribadian, penyerahan diri kepada Allah dilaksanakan secara lebih tulus dan dengan kebesaran jiwa. Penyerahan diri itu melimpah kepada sesama dengan keheningan dan kebijaksanaan yang lebih besar dan juga dalam kesederhanaan yang lebih anggun dan kaya akan rahmat.

(57) 38 Perlu diakui bahwa terlepas dari berbagai tahap hidup, periode manapun dapat menampilkan situasi-situasi kritis akibat faktor-faktor dari luar, misalnya perpindahan tempat atau tugas, kesukaran dalam karya atau tiadanya sukses dalam kerasulan, berbagai salah paham atau perasaan terasingkan, penyakit fisik atau mental, kekeringan rohani, kematian, kesukaran dalam hubungan antar ribadi, godaan yang kuat krisis iman atau jati diri atau perasaan tidak berguna. Bila kesetiaan menjadi lebih sulit, anggota hendaknya diberi dukungan kepercayaan yang lebih besar dan cinta kasih yang lebih mendalam, pada tingkat pribadi maupun komunitas. Peranan kedekatan pemimpin sungguh penting dan penghiburan besar datang dari pertolongan seorang rekan anggota yang amat berharga. Kehadirannya yang penuh kepedulian dan perhatian dapat mengantar kepada penemuan makna perjanjian yang semula diadakan oleh Allah, dan yang ia tidak bermaksud melanggar. Orang yang mengalami hal ini akan menerima penjernihan dan jerih payahnya sebagai sesuatu yang sangat penting untuk mengikuti Kristus yang disalibkan. Pengalaman ini akan nampak sebagai upaya yang sangat tepat waktu untuk dibentuk oleh tangan Bapa dan sebagai perjuangan yang bukan saja bersifat psikologis, dijalankan oleh Aku sehubungan dengan dirinya sendiri beserta kelemahan-kelemahannya, melainkan juga bersifat religius di mana setiap hari disentuh oleh kehadiran Allah dan kekuatan Salib. Dalam pengalaman ini akan nampak bahwa kaum hidup bakti meneladani hidup Kristus yang tersalib, walau mengalami kehinaan namun membawa kebangkitan dan kemuliaan. Demikian

(58) 39 juga kaum hidup bakti dalam pengalaman sulit ia akan mampu mengalami kebangkitan oleh karena Salib Kristus yang hidup dalam dirinya (VC, art. 70). 4. Komunio Berdasarkan nilai-nilai yang telah dibahas diatas maka salah satu yang ditegaskan dan menjadi kekhasan undangan Gereja bagi kaum hidup bakti melalui Vita Consecrata adalah komunio. Komunio yang artinya adalah persekutuan, dan persekutuan ini melahirkan persaudaraan dalam ciri khas anggota hidup bakti yang nampak dalam hidup berkomunitas. Kaum hidup bakti hendaknya menghayati hidup komunitas yang bercirikan Triniter, di mana cinta kasih akan Kristus yang makin mendekatkan manusia kepada-Nya, cinta kasih akan Roh Kudus yang membuka hati bagi ilham-Nya dan cinta kasih akan Bapa sebagai sumber perdana dan tujuan mutakhir hidup bakti. Dengan demikian hidup komunitas kaum hidup bakti menjadi pengakuan iman akan dan tanda Tritunggal, yang misteri-Nya dicanangkan kepada Gereja sebagai pola dan sumber tiap bentuk hidup Kristiani (VC, art. 21). Kaum hidup bakti dipanggil untuk menjadi saksi hidup komunitas Triniter yang dipenuhi suasana persaudaraan. Apabila anggota-anggota hidup bakti berusaha untuk hidup sehati sejiwa dalam Kristus, maka hal ini akan menjadi kesaksian yang amat jelas akan Tritunggal. Di mana hidup bersama itu mewartakan Bapa, yang mau menjadikan segenap umat manusia satu keluarga. Hidup komunitas juga mewartakan Sabda yang Menjelma, yang menghimpun semua orang yang telah ditebus menjadi satu, dengan menunjukkan jalan melalui teladan-Nya, doa-Nya, amanat-Nya dan terutama wafat-Nya menjadi sumber

(59) 40 perdamaian bagi bangsa manusia yang terpecah belah dan tercerai berai. Demikian juga hidup komunitas dalam persaudaraan juga mewartakan Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan dalam Gereja, di mana Ia tak hentinya membangkitkan keluarga rohani dan jemaat-jemaat persaudaraan (VC, art. 21). Dengan demikian kaum hidup bakti menjadi kesaksian bagi Gereja yang menghidupi jiwa semangat dari persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. C. Undangan Novo Millennio Ineunte 1. Hidup Bakti Sebagai Ragi Dunia kita telah memasuki millenium baru yang dibebani pertentanganpertentangan dalam kemajuan ranah ekonomi, budaya dan teknologi, yang menyajikan kemungkinan-kemungkinan amat luas bagi kelompok kecil yang serba beruntung, sedangkan itu meninggalkan jutaan rakyat lain bukan sekedar pada pinggiran-pinggiran kemajuan, tetapi dalam kondisi-kondisi hidup yang jauh di bawah minimum menurut tuntutan martabat manusiawi. Kita tidak dapat menyangkal dan menutup mata terhadap situasi dunia pada zaman ini. Masih banyak pengemis yang mencari nafkah di pinggiran trotoar, masih banyak penganggur, anak-anak jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka yang rumahnya digusur oleh karena adanya penguasa-penguasa yang lebih memiliki modal. Orang miskin yang berjuang dengan susah payah untuk mendapatkan nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Hampir setiap hari orang meninggal karena mati kelaparan, di mana masih terdapat daerah-daerah yang mengalami gizi buruk bagi anak-anak mereka (NMI, art. 50).

(60) 41 Melihat kenyataan yang terjadi di zaman sekarang maka manusia dipanggil untuk turut serta dalam memperjuangkan suasana yang lebih membahagiakan dan membawa kegembiraan bagi mereka yang menderita dan miskin. Semua orang Kristiani dipanggil kepada kesucian namun hal itu hanya bisa terjadi kalau ada orang yang membaktikan seluruh hidup mereka untuk menjiwai iman dan penghayatan komunio di tengah-tengah umat beriman. Anggota hidup bakti dipanggil untuk menjadi ragi yang memancarkan cahaya Kristus dan membangun paguyuban-paguyuban yang menjiwai persaudaraan, kebenaran, keadilan dalam seluruh masyarakat pada zaman ini. 2. Hidup Bakti sebagai Komunitas Hukum Cinta Kaum religius dipanggil untuk mengikuti Yesus dan hidup dalam persekutuan. Yesus juga memberikan pesan bagi para pengikut-Nya untuk saling mengasihi, untuk mencintai sesama. Maka sesama anggota hidup bakti yang ada dalam komunitas adalah sesama yang harus dicintai. Kaum hidup bakti tidak mungkin hanya memusatkan perhatian pada orang-orang di luar komunitas yang dilayani dalam tugas pribadi. Persaudaraan yang paling kokoh kuat terjadi di antara orang yang memiliki panggilan dan tujuan yang sama, komitmen yang sama, yang bisa saling mengerti, saling mendukung dan saling mengoreksi. Persaudaraan itu berarti mendalam misteri dan penghayatan panggilan kaum hidup bakti bersama. Semua orang adalah sesama tetapi yang paling sesama bagi biarawan-biarawati adalah biarawan-biarawati dalam komunitasnya sendiri. Karena jika seorang religius

(61) 42 melayani orang miskin sebagai religius, sering kali menempatkan religius di atas orang lain itu yang butuh apa yang bisa diberi. Maka seorang religius akan sering dihormati oleh orang itu sebagai orang khusus dan suci. Dengan sendirinya, pelayanan menyebabkan bahwa kaum hidup bakti, yang punya banyak, yang mampu banyak, membungkukkan diri untuk melayani yang tidak punya, yang tidak mampu. Karena adanya rasa sombong, sering kali kaum hidup bakti akan merasa lebih baik, lebih tahu dan lebih memiliki banyak. Maka yang terjadi bukan relasi antara sesama. Sedangkan dalam persaudaraan antara sesama religius tidak ada lagi peranan yang membedakan mereka. Justru dalam komunitas kaum hidup bakti semua adalah sama dan dengan teman, apalagi bila ada teman sebaya, semua kebutuhan, kelemahan dan bahkan kecendrungan akan dosa lebih kelihatan. Dalam lingkungan orang sepanggilan, mereka lebih ditantang untuk belajar saling mencintai dengan cinta kasih yang tulus dimana seseorang tidak berada di pusat, tidak lebih tinggi, tidak dihormati secara khusus. Justru orang akan melihat salah satunya secara kritis dan seseorang perlu pandangan kritis itu yang membantunya untuk mengenal diri dan bertobat terus menerus. Maka dalam hidup komunitas seorang religius perlu orang yang menantangnya untuk selalu mengikuti Yesus dengan radikal, untuk bekerja sama dengan tulus tanpa mencari muka, tanpa mencari karier dan penghasilan, untuk melayani tanpa sombong, tanpa menjadi terlalu dekat pada tugas atau orang tertentu (NMI, art. 26-27).

(62) 43 Persaudaraan dalam komunio berarti belajar bertanggungjawab bersama untuk teman sepanggilan, karena tidak bisa setia sendirian. Kaum hidup bakti perlu belajar berani mengatakan kebenaran satu sama lain. Perlu mendekati sesama saudari yang sedang mengalami kesulitan dan mengalami krisis. Bersatu dengan saudari dalam suasana apa saja baik disaat ia sedang dihormati atau dikritik, atau bahkan ia menjadi bahan pembicaraan orang lain dengan kesadaran bahwa dia adalah bagian dari saya. Maka kaum hidup bakti perlu terus menerus kembali kepada Yesus dan menggali arti hidup, arti kemuridan mereka, mencari kebenaran menurut Kristus dalam situasi masyarakat, membangun visi hidup kristiani dalam masyarakat kita masa kini, membangun suatu kemampuan untuk mempertimbangkan dan memutuskan bersama yang terbaik menurut injil dan pengajaran Gereja yaitu suatu cara untuk membuat discermment atau pembedaan roh (FLIC: 1994). Panggilan untuk mengikuti Kristus dalam tarekat hidup bakti bukan untuk meniadakan perbedaan yang ada dalam komunitas tersebut. Meski komunitas itu berbeda dalam bahasa, suku dan budaya, namun kita dipanggil secara nyata untuk saling mencintai dan bekerja sama bagi dan dalam komunitas tertentu. Panggilan Tuhan yang disadari secara bersama ini menjadikan hal-hal yang tidak mungkin menjadi dimungkinkan. Tuhan yang mempunyai peran besar dalam proses ini, di mana Tuhan mengubah hati setiap anggota menjadi hati yang baru untuk menerima orang lain yang berbeda sama sekali dengan dirinya dengan harapan akhirnya orang tersebut menjadi teman, sahabat dan saudara bagi mereka dalam komunitas dan lebih khusus lagi teman seperjalanan atau sepanggilan.

(63) 44 Kaum hidup bakti juga bisa belajar dari Kitab Suci. Yesus memanggil murid-muridNya yang pertama. Tidak ada di antara mereka yang mempunyai sifat yang sama, namun mereka semua dipersatukan karena Yesus Sang Guru. Para murid tidak akan dapat hidup bersama dan bersatu apabila Yesus tidak memanggil mereka. Maka Yesuslah yang menjadi pusat kehidupan komunitas mereka. Demikianlah hendaknya Yesus Kristus menjadi pusat kehidupan komunitas hidup bakti. Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut injil, mereka semua menyanggupkan diri untuk melaksanakan perintah baru Tuhan yakni, saling mengasihi seperti Ia telah mengasihi para murid. Cinta kasih mendorong Kristus untuk menyerahkan diri, bahkan sampai korban termulia di salib. Begitu pula di kalangan para murid Kristus tidak akan ada kesatuan sejati tanpa cinta kasih timbal balik. Yang diminta dari Yesus adalah kesediaan untuk dengan murah hati melayani sesama, kesiapsediaan untuk menerima sesama seperti apa adanya tanpa menilai sesama dengan hal-hal yang negatif. Demikian juga jemaat perdana yang hidup sehati sejiwa, melalui cinta kasih yang dicurahkan kedalam hati mereka oleh Roh Kudus, mereka mengalami panggilan batin untuk berbagi dengan sesama apa yang dimilikinya. Mereka saling berbagi dalam hal materi dan pengalaman-pengalaman rohani, bakat, cita-cita kerasulan dan pelayanan khas. Dengan demikian kita dapat mengerti bahwa panggilan setiap orang Kristiani untuk menjadi murid Kristus adalah panggilan yang terarah kepada cinta kasih yang sempurna (Kis 2:43-47).

(64) 45 Komunitas sebagai bagian penting dari umat Allah mempunyai tugas untuk menyatakan gagasan tersebut agar sungguh-sungguh dihayati dan diwujudkan menjadi suatu kenyataan hidup. Semua orang dipanggil untuk sampai kepada kesempurnaan ini karena semua orang diciptakan, dicintai dan dipanggil oleh Allah. Maka komunitas hendaknya dibangun atas dasar cinta kasih Allah. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengatakan, hiduplah di dalam kasih karena sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Ef 5:2). Santo Paulus menekankan agar setiap orang Kristen senantiasa hidup dalam kasih. Mereka harus memiliki sifat murah hati yakni sikap memperhatikan dan mengasihi sesama. Diharapkan agar mereka tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak mencari keuntungan diri. Dengan demikian untuk mewujudkan komunitas cinta kasih hendaknya setiap pribadi meneladan Tuhan yang adalah cinta kasih itu sendiri yaitu memberi cinta kepada orang lain tanpa syarat (Yoh 10:15). Dalam menjalani kehidupan berkomunitas, kaum hidup bakti hendaknya bercermin kepada cara hidup komunitas para rasul dan Gereja perdana. Mereka telah berusaha untuk mewujudkan tali persaudaraan yang berdasarkan cinta kasih (Kis 2:43-47). Maka hendaklah kaum hidup bakti selalu berusaha untuk membangun komunitas religius berdasarkan cinta kasih. Kaum hidup bakti dipanggil untuk menumbuh-kembangkan kasih itu dalam hidup bersama, baik dalam komunitas maupun di tengah masyarakat. Secara konkret cinta kasih itu diwujudkan dalam bentuk kesiap-sediaan untuk menerima orang lain apa adanya, kesediaan untuk

(65) 46 mengampuni dan memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang unik serta memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengembangkan dirinya. Tanpa adanya sikap untuk saling memaafkan, maka kehidupan komunitas beriman ini akan kehilangan maknanya. Setiap manusia juga tetap mengakui keterbatasannya sebagai manusia. Namun dalam keterbatasan itu yang diharapkan adalah adanya pengertian dan kerelaan dari sesama dalam komunitas untuk saling menerima dan memaafkan. Hal itu terwujud berkat cinta kasih timbal balik antara semua anggota komunitas. Cinta kasih itu dipupuk melalui Sabda dan Ekaristi, dan ditopang oleh doa kesatuan dan anugerah Roh bagi mereka yang dengan patuh mendengarkan Injil (VC, art. 42). 3. Hidup Bakti sebagai Komunitas Sekolah Cinta Sudah sangat jelas bahwa zaman kita menuntut suatu cara baru untuk memikirkan dan menghayati hidup bakti. Gereja dan Tuhan meminta agar komunitas-komunitas hidup bakti menjadi sekolah komunio dan sekolah doa dalam hidup keperawanan yang menunjukkan dengan jelas martabat manusia yang diciptakan untuk tujuan ilahi dan abadi. Dunia yang mencari keenakan dan keamanan dalam hal-hal material sudah melupakan tujuan transendental dan perlu saksi-saksi yang mengingatkannya (NMI, art. 34). Dalam Novo Millennio dikatakan bahwa “Menjadikan Gereja home sekaligus sekolah persekutuan“ (NMI, art. 43). Yesus mengundang kaum religius untuk mengalami kesatuan dalam cinta kasih Bapa yang sudah dihayati di dunia ini dalam persekutuan Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita dalam Gereja. Gereja adalah sakramen

(66) 47 keselamatan karena di dalamnya manusia dapat menemukan perdamaian dengan Allah dan dengan sesama manusia. Kesatuan dalam kasih koinonia atau komunio adalah keselamatan dari rasa egoisme, perpecahan dan perselisihan. Perlu diakui bahwa pewartaan kristiani adalah bahwa kesatuan itu adalah mungkin diantara semua orang dari bangsa, suku, kelompok etnis, tingkat sosio-ekonomis apapun. Kaum hidup bakti dapat membangun paguyuban yang bersatu dalam kasih dan kebenaran, di mana semua orang mencari kepentingan bersama. Hanya sekelompok murid Kristus yang bersatu dalam kasih, dalam pengampunan timbal balik yang hidup sehati sejiwa bisa memberi pewartaan yang memungkinkan dan mengundang orang lain untuk masuk ke dalam hidup Kristus yang membahagiakan dan menyelamatkan itu. Maka panggilan bagi kaum religius adalah membentuk sekolah komunio di mana semua dapat belajar mengikuti Yesus bersama. Spiritualitas persekutuan terutama menunjukkan kontemplasi hati ke arah misteri Tritunggal yang bersemayam dalam batin kaum hidup bakti, dan mereka harus mampu memandang sinar cahaya-Nya yang memancari wajah saudarasaudari di sekitar kita. Memandang sesama saudara dan saudari adalah merupakan sebagian saya, dengan demikian memampukan kaum hidup bakti ikut serta menanggung kegembiraan dan penderitaan mereka, ikut serta merasakan keinginan mereka dan memperhatikan keperluan mereka dan menyajikan kepada mereka persahabatan yang mendalam dan sejati. Spiritualitas persekutuan juga memampukan mereka untuk memandang apapun yang positif pada sesama, menyambut mereka sebagai kurnia dari Allah bagi dirinya. Spiritualitas

(67) 48 persekutuan berarti mengerti bagaimana meluangkan tempat bagi saudara-saudari sambil saling menanggung beban-beban sesama (Gal 6:2) dan menolak pencobaan-pencobaan cinta diri yang mengundang persaingan, karierisme, sikap curiga dan iri hati ( NMI, art. 43). Keradikalan Kristus itu tidak dapat dihayati seorang diri saja. Maka setiap anggota komunio hendaknya memiliki kesadaran bahwa setiap tugas adalah ungkapan dari seluruh komunitas atau tarekat yang bersatu dalam visi dan misi yang satu dan sama. Di samping itu pewartaan mereka akan bermutu dan sejati kalau mereka bertolak dari persekutuan mereka sebagai murid dan hamba Yesus. Hendaknya kaum hidup bakti membangun hidup mereka sendiri dalam persaudaraan sejati dalam Roh-Nya agar mereka bisa mensharingkan pengalaman komunio itu dengan orang lain dalam lingkungan yang lebih luas. Maka Yesus berada di pusat, kaum hidup bakti dikelilingi-Nya dan mereka mengelilingi umat lalu juga terbuka bagi umat beragama lain dan mungkin juga umat tanpa agama. Maka hal yang mendasar adalah kaum hidup bakti mau menghayati panggilan, pelayanan dan misi mereka bersama, saling membantu dalam karya membangun Kerajaan Allah (NMI, art. 43). Kaum hidup bakti dapat berpartisipasi dalam komunio sudah merupakan kekudusan. Dan yang menjadi tujuan akhir dari semua karya religius adalah membimbing orang beriman untuk tumbuh dalam kekudusan itu. Sakramen permandian adalah jalan masuk dalam kekudusan Allah melalui inkorporasi ke dalam Kristus. Pada saat dibaptis berarti seseorang mau menjadi kudus, dengan demikian orang tersebut juga mau menjadi sempurna seperti Bapa yang adalah

(68) 49 sempurna. Kaum hidup bakti dipanggil untuk memenuhi kehausan umat akan dimensi hidup yang transendental, akan spiritualitas yang bermutu, membina mereka dalam doa dan dalam usaha mendalam pengertian dan penghayatan ekaristi. Kaum hidup bakti akan mampu melakukannya jikalau mereka sendiri juga sedang menghayati misteri Gereja dalam komunitas mereka sendiri. Jikalau setiap komunitas religius menjadi sekolah komunio bagi anggota-anggotanya, hidup bakti akan diperbaharui secara radikal dalam semangat Injili yang sejati. Komunitas itu akan menjadi benih-benih pengharapan di tengah masyarakat yang sedang bingung dan putus asa. Komunitas akan menjadi terang dalam kegelapan, kebencian, kekerasan, korupsi dan perpecahan, paguyuban-paguyuban yang mampu membangun kebudayaan hidup yang baru. Hal mendasar dalam membangun hidup komunitas adalah cinta kasih. Komunitas menjadi tempat atau sekolah cinta kasih bagi setiap anggota yang ada dalamnya. Hidup bersama dalam satu komunitas yang tidak didasari cinta kasih, tidak lebih dari kumpulan anak asrama atau kost pada masyarakat umumnya di mana masing-masing orang dapat berbuat sesuai dengan kepentingannya sendiri. Namun sebuah komunitas yang didasari cinta kasih, maka Kristus akan menjadikan komunitas yang khas yang memiliki kasih di antara satu dengan yang lainnya dalam komunitas tersebut (NMI, art. 43).

(69) 50 D. Undangan Bertolak Segar Dalam Kristus Bertolak Segar Dalam Kristus adalah Instruksi Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik yang dikeluarkan di Roma tanggal 19 Mei 2002 pada perayaan Pentekosta. Dokumen ini disetujui oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II pada tanggal 16 Mei 2002. Dokumen ini berbicara tentang komitmen hidup bakti yang dibaharui di milenium ketiga. Peristiwa-peristiwa yang terjadi diwarnai ketidakdilan, perpecahan dan permusuhan. Semuanya itu tumbuh dari masyarakat umum yang dikuasai dengan daya-daya positif dan negatif di mana bukan hanya teknologi dan ekonomi global melainkan juga adanya rasa tidak aman dan ketakutan, kejahatan kekerasan, ketidakadilan dan peperangan yang terjadi. Maka kaum hidup bakti dipanggil oleh Roh untuk senantiasa bertobat. Sikap tobat kaum hidup bakti akan memberi kekuatan baru bagi dimensi profetik panggilan mereka. Dalam Bertolak Segar Dalam Kristus dikatakan bahwa: “Tidak mungkin kita dapat tetap acuh tak acuh terhadap prospek krisis ekologi, yang sedang menjadikan kawasan-kawasan luas planet kita tidak mungkin dihuni dan bermusuhan terhadap umat manusia. Negara-negara kaya mengkonsumsi sumber-sumber yang dalam ukuran yang tidak mendukung sistem, jadi mengakibatkan negara-negara miskin jadi semakin miskin. Juga tidak boleh dilupakan masalah persoalan damai, yang sering diancam oleh spektrum perang-perang penyebab bencanabencana raksasa” (BSDK, art. 45). Kekhasan manusia adalah rasa ingin memiliki tanpa pernah merasa cukup atau puas maka orang akan selalu mengejar kenikmatan dengan berhala pada kekuasaan inilah yang merupakan keinginan daging manusia. Orang yang telah memiliki banyak harta belum pernah merasa puas dan masih selalu mencari dan menemukannya walaupun dengan cara yang tidak baik. Sedangkan orang yang

(70) 51 miskin akan tetap miskin bahkan semakin menderita. Hal ini terjadi oleh karena keserakahan manusia yang memiliki kuasa. Dalam Bertolak Segar Dalam Kristus dikatakan bahwa: Hidup bakti, seperti semua bentuk hidup kristen pada dasarnya dinamis dan semua yang dipanggil oleh Roh untuk memeluk itu perlu terus menerus memperbaharui diri dalam tumbuh menjadi sosok sempurna Tubuh Kristus (BSDK, art. 20). Setiap orang kristen dipanggil oleh Roh, sama seperti para pendiri yang digerakkan oleh Roh dalam jalur Injil yang melahirkan aneka karisma yang mengagumkan. Para pendiri terbuka hati dan taat pada bimbingan Roh, maka mereka mengikuti Kristus makin dekat, masuk dalam intimitas dengan Dia dan berbagi dalam perutusan-Nya. Dengan membuka hati dan membiarkan Roh Kristus yang berkarya dalam diri dan hidup kaum hidup bakti, maka dengan sendirinya relasi kita akan menjadi lebih dekat, akrab dan bersatu dengan Kristus (BSDK, art. 20). Pengalaman keterbukaan hati para pendiri terhadap bimbingan Roh Kudus tidak hanya disimpan sendiri oleh mereka namun didalami dan dikembangkan. Dengan melihat situasi dunia masa kini maka dituntut keterbukaan dan kesediaan terhadap gerak Roh yang selalu baru dan kreatif yang memampukan kaum hidup bakti untuk menjawab tanda-tanda zaman ini. Maka hal yang utama adalah kaum hidup bakti perlu membiarkan diri dituntun oleh Roh agar senantiasa menemukan Allah dan Sabda-Nya secara baru, kasih yang menyala pada Allah dan umat manusia untuk memahami karisma yang diberikan. Situasi ini memanggil kosentrasi mereka pada spiritualitas dalam arti paling kuat yaitu hidup menurut Roh. Maka hidup bakti masa kini perlu lahir kembali yang akan membawa

(71) 52 kembali arti spiritualitas Injili dari konsekrasi baptisan yang telah diterimanya (BSDK, art.21). Menghadapi situasi yang demikian Gereja mengundang kaum hidup bakti untuk turut serta dalam membangun dunia yang lebih membahagiakan. Untuk itu di bawah ini akan digali beberapa hal yang mendasar yang memampukan kaum hidup bakti dalam mengusahakan dunia yang lebih damai dan bahagia, antara lain: 1. Spiritualitas Persekutuan Kaum hidup bakti hendaknya senantiasa memelihara spiritualitas persekutuan dalam kehidupan bersama. Dengan demikian hidup bersama mereka akan bermanfaat bagi sesama di sekitar mereka yakni bagi masyarakat pada umumnya. Untuk itu kaum hidup bakti harus mengutamakan hidup rohani mereka dengan demikian spiritualitas persekutuan akan terjalin dengan baik diantara mereka. Hal ini ditegaskan dalam Bertolak Segar Dalam Kristus. Bila hidup rohani harus diutamakan dalam program keluarga-keluarga hidup bakti perlu melebihi segalanya adalah spiritualitas persatuan yang sesuai dengan masa kini adalah “Menjadikan Gereja home sekaligus sekolah persatuan”(BSDK, art. 28). Namun hal ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh kaum hidup bakti. Di pihak lain menjadi motivasi bagi kaum hidup bakti karena panggilan khusus mereka pada hidup persatuan dalam kasih. Maka kaum hidup bakti hendaknya selalu memelihara persatuan kasih dalam hidup bersama. Dengan memelihara dan mempratikkan spiritualitas persatuan akan meningkatkan cara berpikir, berbicara dan bertindak yang akan memungkinkan Gereja hidup secara makin mendalam dan bertambah luas. Karena dengan hidup

(72) 53 dalam persekutuan akan menjadi tanda bagi seluruh dunia dan kekuatan pendorong yang mengantar orang kepada iman akan Kristus. Kaum hidup bakti diharapkan dapat menghayati dan mempratikkan spiritualitas persatuan ini pertama-tama dalam hidup intern mereka. Karena kaum hidup bakti menerima panggilan khusus kepada hidup persatuan dalam kasih. Kemudian persatuan itu diteruskan dalam jemaat gerejawi bahkan melampaui batas-batasnya dengan membuka atau melanjutkan dialog dalam cinta kasih oleh karena keadaan dunia masa kini yang tercerai berai akibat kebencian antar suku atau kekerasan yang kadang tidak masuk akal sehat manusia (BSDK, art. 28). Paus Yohanes Paulus II dalam Instruksi Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti mengartikan spiritualitas persatuan itu adalah, Spiritualitas persatuan terutama menunjukkan kontemplasi hati ke arah misteri Tritunggal yang bersemayam dalam batin kita, lagi pula kita harus mampu juga memandang sinar cahaya-Nya yang memancari wajah saudari-saudari di sekitar kita (BSDK, art. 29). Kaum hidup bakti yang menanggapi panggilan Allah hidup dalam spiritualitas persatuan. Ikatan persatuan mereka nampak dalam kontemplasi mereka pada misteri Tritunggal yang senantiasa tinggal dalam hati mereka. Dengan demikian mereka mampu memandang wajah Allah melalui sesama yaitu saudari yang ada bersama mereka dalam komunitas. Memandang sesama saudara dan saudari adalah merupakan sebagian saya, dengan demikian memampukan mereka untuk ikut serta menanggung kegembiraan dan penderitaan mereka, ikut serta merasakan keinginan mereka dan memperhatikan keperluan mereka dan menjalin persahabatan yang mendalam dan sejati. Spiritualitas persekutuan juga memampukan kaum hidup bakti untuk

(73) 54 memandang apapun yang positif pada sesama, menyambut mereka sebagai kurnia dari Allah. Meluangkan waktu bagi mereka dan menanggung beban-beban sesama. Karena kesucian dan perutusan datang lewat komunitas sebab dalam dan lewat itu Kristus membuat diri-Nya hadir (BSDK, art. 29). Spiritualitas persatuan yang nampak dalam kehidupan bersama hidup bakti mencerminkan cuaca rohani gereja pada awal milenium ketiga adalah tugas aktif dan beri teladan bagi kaum hidup bakti dalam segala tingkat. Itu merupakan jalan raya rajawi bagi masa depan hidup dan kesaksian. Kesucian dan perutusan datang melalui komunitas sebab dalam dan melalui komunitas Kristus membuat diri-Nya hadir. Kehadiran sesama saudari menjadi Sakramen Kristus dan perjumpaan dengan Allah, merupakan kemungkinan yang nyata dan merupakan keharusan yang tak mungkin dilewati dalam melaksanakan perintah saling mengasihi dan membawa komunitas Triniter (BSDK, art. 29). Cinta kasih akan terwujud apabila setiap anggota membuka hati untuk menerima cinta sesama dan juga dengan tulus mencintai sesama yang ada dalam komunitas. Dengan demikian kasih yang terjalin diantara mereka akan membawa komunitas mereka menjadi komunitas Triniter. Dalam tahun-tahun terakhir komunitas dan berbagai bentuk hidup persaudaraan kaum hidup bakti dilihat sebagai tempat persekutuan, di mana relasi nampak kurang formal dan penerimaan dan saling memahami menjadi hal yang mudah. Maka nilai ilahi dan insani berhimpun bebas dalam persahabatan dan berbagi, bahkan dalam momen-momen relaksasi dan rekreasi bersama sebagai murid di sekitar Kristus Sang Guru, ditemukan kembali dan menjadi sesuatu yang

(74) 55 membahagiakan. Vita Consecrata menganjurkan untuk menyajikan bentuk hidup ini sebagai tanda persatuan dalam Gereja, menekankan segala kekayaan dan permintaan yang diharapkan dari komunitas (BSDK, art. 29). 2. Wajah Kristus dalam Kesengsaraan Anggota hidup bakti yang dipanggil secara khusus untuk menghayati dan mengkontemplasikan wajah Sang Tersalib. Dalam peristiwa di Getsemani Yesus merasakan kesendirian, ditinggalkan Bapa-Nya, berkat kesetiaan-Nya kepada Bapa Ia menyerahkan segalanya dalam rencana dan kuasa Sang Bapa. Dia-lah yang menjadi sumber bagi umat kristiani sehingga umat Allah dapat mengetahui apa arti kasih dan bagaimana Allah dan manusia perlu dikasihi, sumber dari segala karisma dan merupakan ringkasan dari semua panggilan. Sejarah hidup bakti telah mengungkapkan lukisan pada Kristus dalam banyak bentuk askese yang telah dan tetap masih merupakan dukungan kuat bagi kemajuan otentik dalam kekudusan. Asketisme sungguh perlu bila kaum hidup bakti ingin tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri dan mengikuti Yesus pada jalan salib (VC, art. 38). Dalam dunia masa kini kaum hidup bakti perlu terus menerus mempertahankan pengalaman berabad-abad, terpanggil untuk menemukan bentuk-bentuk yang sesuai dengan zaman. Menghadapi demikian banyak derita pribadi, komunal dan sosial, kaum hidup bakti hendaknya mampu mendengar jeritan Kristus di salib melalui sesama yang menderita yang ada di sekitar mereka. Situasi ini membuat akan membuat kaum hidup bakti mampu memahami bahwa solidaritas-Nya dengan umat manusia demikian radikal hingga menembus dalam hidup kaum hidup bakti itu sendiri. Yesus telah melewatinya di

(75) 56 mana Ia telah melakukannya untuk mengembalikan manusia kepada wajah Bapa, Yesus tidak hanya harus mengenakan wajah manusia tetapi harus membebani diri dengan wajah dosa juga (BSDK, art. 27). Bertolak segar dalam Kristus berarti mengakui bahwa dosa secara radikal masih ada dalam hati dan hidup semua orang dan menemukan kembali dalam wajah menderita Kristus yang memulihkan manusia dengan Allah. Maka kaum hidup bakti hendaknya selalu rendah hati mengakui dosa yang ada dalam hati dan hidup mereka. Dengan demikian mereka akan mampu melihat dan mengalami Yesus yang menderita yang mau dengan total memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dalam perjalanan hidup menggereja kaum hidup bakti telah mengkontemplasikan wajah derita di luar diri mereka. Hal ini dilakukan oleh mereka melalui karya pelayanan mereka terhadap yang sakit, terpenjara, kaum miskin dan pendosa. Pelayanan mereka telah membawa banyak orang untuk mengalami rangkulan belas kasih Allah Bapa dalam sakramen pengampunan. Panggilan kaum hidup bakti adalah melanjutkan apa yang telah dijalani Yesus dan seperti Dia kaum hidup bakti menerima segala rasa sakit dan dosa yang dilakukan oleh dunia dalam kasih yang mendalam dan hangat. Karena kemana kaum hidup bakti dipanggil untuk kerap mengalaminya dalam sakramen tobat (BSDK, art. 27). 3. Persatuan antara Karisma Lama dan Baru Dalam Seri Dokumen Gerejawi Bertolak Segar Dalam Kristus dikatakan bahwa: Persatuan yang dijalani dalam panggilan oleh kaum hidup bakti jauh melebihi keluarga religius atau Institut mereka sendiri. Membuka diri terhadap persatuan dengan Institut lain dan bentuk-bentuk lain pentakdisan, mereka bisa menyebarkan persatuan, menemukan kembali

(76) 57 akar-akar Injili bersama mereka dan bersama menangkap keindahan identitas mereka sendiri dalam keanekaragaman karisma dengan lebih jelas lagi. Mereka perlu bersaing dalam saling menghargai (Rom. 12:10), menuju pada kurnia lebih besar, karitas (1Kor 12:31; BSDK, art. 30). Dengan demikian kaum hidup bakti diharapkan untuk selalu mengusahakan persatuan dan solidaritas antar institut untuk menggugah mereka yang membawa kesadaran bagi mereka bahwa persatuan itu berkaitan erat dengan kemampuan persekutuan kristiani untuk menyediakan ruang bagi semua kurnia Roh. Kesatuan Gereja itu bukan keseragaman, tetapi perpaduan organis keragaman yang legitim. Itulah kenyataan sekian banyak anggota yang tergabung dalam satu Tubuh, yakni Tubuh Kristus (1Kor 12:12; BSDK, art. 30). Hal ini dapat menjadi awal dari penelitian bersama yang merupakan jalan umum dalam mengabdi Gereja. Faktor eksternal, seperti keluhan terhadap tuntutan Negara dan faktor internal Institut seperti menurunnya jumlah anggota menjadi bahan refleksi bagi setiap tarekat hidup bakti. Maka perlu diperhatikan dan diusahakan dalam bidang pembinaan, manajemen benda-benda, pendidikan dan penginjilan. Bahkan dalam situasi-situasi yang demikian mereka akan dapat menemukan undangan Roh untuk persekutuan yang lebih intens dan utuh. Untuk itu diperlukan Konferensi Pimpinan Tarekat dan Konferensi Institut Sekular dalam usaha untuk menjalin kerja sama (BSDK, art. 30). Masa depan itu tidak dapat dihadapi secara terisolir oleh kaum hidup bakti. Maka kaum hidup bakti hendaknya masuk dalam persekutuan dengan Gereja, bersama menghayati petualangan Roh dan sadar sebagai pengikut Kristus, mengkomunikasikan pengalaman hidup dengan Injil, belajar mencintai komunitas dan keluarga religius lain sebagai keluarga sendiri. Kegembiraan dan kesusahan,

(77) 58 keprihatinan dan sukses menjadi bagian masing-masing dan juga dapat berbagi dengan yang lain. Dialog dan persekutuan juga dapat dicapai dari bentuk-bentuk baru hidup Injili. Hal ini mau menunjukkan bahwa perlu adanya kesatuan antara karisma-karisma lama yang telah diperjuangkan oleh tarekat-tarekat yang tua dengan karisma-karisma yang baru oleh tarekat-tarekat yang baru muncul pada zaman sekarang. Hal yang lebih ditekankan di sini adalah relasi pengertian dan kerja sama, penghargaan dan berbagi yang tidak hanya terjadi secara individu tetapi juga dalam Tarekat, gerakan gerejani dan bentuk-bentuk baru hidup bakti dalam rangka pertumbuhan hidup dalam Roh dan membawa perutusan Gereja yang satu. Kaum hidup bakti diharapkan mengenali kembali yang dibawa oleh dorongan Roh yang sama kepenuhan hidup Injili dalam dunia, berkumpul bersama untuk mewujudkan rencana Allah yang satu untuk penyelamatan semua. Spiritualitas persekutuan dilaksanakan justru dalam dialog yang luas ini bagi persaudaraan Injili di antara segenap umat Allah (BSDK, art. 30). 4. Persatuan dengan Para Uskup Kaum hidup bakti juga tidak berdiri sendiri dalam pengembangan karya mereka di dunia ini. Maka mereka perlu menjalin persatuan dengan para uskup setempat dimana mereka berada dan berkarya. Hal ini ditegaskan dalam Bertolak Segar Dalam Kristus: Aspek unik dalam relasi persatuan gerejani dengan semua panggilan dan status hidup adalah kesatuan ini dengan para uskup. Harapan memupuk spiritualitas persatuan tanpa relasi efektif dan afektif dengan para Uskup, terutama dengan Paus, pusat kesatuan dengan Gereja dan dengan Magisteriumnya, akan sia-sia saja (BSDK, art. 32).

(78) 59 Persatuan kaum hidup bakti dengan para Uskup akan sangat membantu kelancaran karya kerasulan yang menjadi misi yang khas dalam setiap bentuk hidup bakti. Maka relasi efektif dan afektif menjadi hal yang penting. Relasi itu terutama dengan Paus yang menjadi pusat kesatuan dengan Gereja dan berkat kuasa magisteriumnya akan sangat membantu pelayanan kaum hidup bakti. Persatuan dengan para Uskup merupakan penerapan konkret secita rasa dengan Gereja sesuai dengan kalangan beriman yang terutama memancar dari pendiri hidup bakti dan yang merupakan tugas karismatik semua Institut. Jika tidak ada persatuan dengan para Uskup hal ini akan menjadi mustahil bila kaum hidup bakti mengamati wajah Allah tanpa melihat itu bersinar dalam wajah Gereja. Mencintai Kristus adalah mencintai Gereja dalam pribadi-pribadi dan tarekat. Pada masa yang silam kaum hidup bakti dipanggil untuk menghadapi kekuatan sentrifugal yang menarik-narik yang menjadikan prinsip fundamental iman dan moral katolik diragukan, namun pada masa kini kaum hidup bakti dan institut-institutnya dipanggil untuk membuktikan persatuan tanpa ketidaksetujuan dengan Kuasa Mengajar Gereja (BSDK, art. 32). Hal ini ditegaskan dalam Dokumen KV II yang mengatakan bahwa para anggota hidup bakti mempunyai tempat yang khas dalam Gereja, sikap mereka dalam hal itu amat sangat penting bagi segenap Umat Allah. Kesaksian cinta kasih mereka selaku putera-puteri Gereja akan memberi daya kekuatan kepada kegiatan apostolis atau kerasulan mereka, yang dalam konteks misi kenabian semua orang yang dibaptis pada umumnya diwarnai bentuk-bentuk khas kerjasama dengan hirarki. Secara istimewa, karena kekayaan karisma-karisma mereka, para anggota

(79) 60 hidup bakti mendukung Gereja untuk makin mendalam mengungkapkan hakekatnya sebagai sakramen persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan segenap umat manusia (GS, art. 1). 5. Persatuan dengan Kaum Awam Kaum hidup bakti tidak dapat bekerja sendirian dalam mengembangkan Kerajaan Allah di dunia ini. Untuk itu kaum hidup bakti perlu berusaha untuk bekerja sama dengan kaum awam, menjalin persatuan dengan mereka untuk mengusahakan suasana damai dan dipenuhi cinta kasih diantara sesama manusia yang hidup di muka bumi ini. Dalam Bertolak Segar Dalam Kristus dikatakan bahwa: Pengalaman persatuan antara kaum hidup bakti bermuara dalam keterbukaan makin lebar anggota-anggota lain dalam Gereja Perintah saling mengasihi yang dialami dalam hidup internal persekutuan perlu dialihkan dari tingkat personal ke berbagai realitas gerejani. Hanya dalam eklesiologi yang terintegrasikan, dimana berbagai panggilan dikumpulkan sebagai satu umat Allah, panggilan kepada hidup bakti bisa sekali lagi menemukan identitasnya yang spesifik sebagai tanda dan kesaksian. Bahwa karisma pendiri, lahir dari Roh demi kebaikan orang banyak, perlu sekali lagi ditempatkan dalam pusat Gereja, terbuka bagi persatuan dan partisipasi oleh seluruh umat Allah, lama-lama ditemukan kembali (BSDK, art. 31). Berdasarkan pernyataan di atas penulis dapat melihat tipe baru persatuan dan kerja sama dalam anekaragam panggilan dan status hidup kaum hidup bakti dan kaum awam sudah mulai. Tarekat monastik dan kontemplatif bisa memberi ruang kepada kaum awam relasi yang terutama rohani dan ruang yang diperlukan untuk keheningan dan doa. Tarekat yang komit pada kerasulan dapat mengikutkan mereka dalam bentuk kerja sama pastoral. Anggota Institut Sekular, awam atau klerus, berhubungan dengan anggota lain dari umat pada taraf hidup sehari-hari

(80) 61 (BSDK, art. 31). Karena semua orang yang menerima baptisan juga menerima tugas perutusan untuk menjadi saksi Allah dalam tugas dan pelayanan mereka masing-masing. Maka kerja sama yang baik antara kaum hidup bakti dengan kaum awam akan sangat membantu dalam mewujukan cita-cita Allah yang menghendaki manusia menjadi saksi-saksi cinta kasih Allah itu sendiri. Perkembangan baru yang terjadi di zaman ini adalah bahwa beberapa kalangan awam meminta agar mereka dilibatkan dalam berpartisipasi dalam citacita karismatik Tarekat. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik yang menampilkan persatuan dan kerja sama yang baik dalam membangun Kerajaan Allah di dunia ini. Dengan demikian mereka akan mengalami pertumbuhan otentik dari Tarekat kuno, seperti Ordo Sekular atau Ordo Ketiga, dan kelahiran keterlibatan awam yang baru dan gerakan yang terkait dengan keluarga religius dan Institut Sekular. Pertumbuhan masa kini adalah perlunya tanggungjawab tidak hanya dalam melaksanakan karya Tarekat tetapi terutama dalam harapan berbagi dalam aspek spesifik dan momen spiritualitas dan kerasulan dari Tarekat. Hal ini memerlukan pembentukan dari kaum hidup bakti dan kaum awam untuk memastikan kerja sama yang saling memperkaya (BSDK, art. 31). Pada masa lampau tugas religius adalah menciptakan, memupuk spiritual dan mengatur bentuk-bentuk kumpulan kaum awam, namun pada masa sekarang berkat pembentukan kaum awam yang semakin maju bisa ada saling membantu yang memperkuat pemahaman kekhususan dan keindahan dari tiap status hidup. Persatuan dan timbal balik dalam Gereja tidak pernah menjadi jalan satu arah. Dalam persatuan gerejani, imam, religius dan awam, jauh dari mengingkari satu

(81) 62 dengan yang lain atau kumpulan hanya bila ada aktivitas bersama, akan bisa menemukan lagi relasi yang tepat persekutuan dan pengalaman yang diperbaharui dari persatuan Injili dan saling penghargaan karismatik dalam saling melengkapi sehubungan dengan penghargaan terhadap perbedaan. Dinamika ini akan membantu pembaharuan dan identitas hidup bakti. Bila pemahaman karisma makin mendalam maka ada jalan baru untuk melaksanakan dan akan pasti menemukannya (BSDK, art. 31). 6. Ekaristi Tempat Khusus untuk Berjumpa dengan Tuhan Bertolak Segar Dalam Kristus mengajak kaum hidup bakti untuk selalu mengusahakan spiritualitas persekutuan diantara anggota komunitas. Persaudaraan dalam persekutuan ini dilandasi oleh Ekaristi yang akan selalu memberikan kekuatan bagi setiap anggota hidup bakti dalam hidup bersama. Untuk itu dalam Dokumen KV II mengatakan bahwa, Ekaristi sebagai sakramen cinta dan korban, merupakan pusat hidup Gereja. Dalam Ekaristi Kristus meneruskan sampai saat kedatangan korban salib-Nya (SC, art. 47). Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup iman umat kristiani yang mengikuti Kristus. Demikian pula kaum hidup bakti menempatkan Ekaristi sebagai kesempatan khusus untuk berjumpa dengan Tuhan. Karena dalam Ekaristi seorang religius menemukan dasar hidupnya yaitu kemuliaan Allah dan pelayanan kepada sesama. Ekaristi menyatukan cinta manusia dengan cinta Kristus sendiri. Ikatan religius dengan Gereja terjadi dalam Ekaristi karena melalui Ekaristi dapat memperkembangkan hidup dan panggilannya.

(82) 63 Dalam Bertolak Segar Dalam Kristus dikatakan bahwa memberi prioritas bagi spiritualitas berarti mulai dengan segar dari yang ditemukan kembali yaitu sentralitas perayaan Ekaristi, tempat khusus berjumpa dengan Tuhan (BSDK, art. 26). Dalam Ekaristi Ia menyatakan diri-Nya hadir di tengah para murid, Ia menguraikan Kitab Suci, Ia menghangatkan hati dan menerangi budi, Ia membuka mata dan membiarkan diri untuk dikenali kembali (Luk 24:13-35). Berdasarkan pernyataan Yohanes Paulus II yang dikutip dalam Bertolak Segar Dalam Kristus, mengundang kaum hidup bakti, Para terkasih, jumpailah Dia dan pandanglah Dia dengan jalan istimewa pada Ekaristi, dirayakan dan disembah tiap hari sebagai sumber dan puncak hidup dan kegiatan kerasulan (BSDK, art. 26). Hendaknya kaum hidup bakti memiliki kerinduan untuk menjumpai dan memandang Kristus, merayakan dan menyembah-Nya dalam perayaan Ekaristi. Karena Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup kaum hidup bakti sekaligus kekuatan bagi kegiatan kerasulan mereka. Ekaristi adalah kenangan pada korban Tuhan dan merupakan jantung hidup Gereja dan tiap komunitas serta mengingatkan kaum hidup bakti melalui persembahan yang diperbaharui hidup seseorang secara pribadi, dalam kehidupan bersama dan perutusan. Untuk mendukung hidup dan karya kerasulan mereka dalam peziarahan hidup di dunia ini, maka kaum hidup bakti memerlukan bekal perjalanan perjumpaan dengan Tuhan untuk membawa hidup mereka sehari-hari kepada Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Dalam dan melalui Ekaristi akan menjadi nyata kepenuhan kemesraan dengan Kristus dialami dan dirasakan oleh kaum hidup bakti, di mana sungguh menyatu dengan-Nya, mengenakan budi-Nya dan

(83) 64 cara hidup-Nya bagi siapa kaum hidup bakti dipanggil. Dalam dan melalui Ekaristi, Yesus mengikutkan mereka pada-Nya dalam persembahan paska-Nya kepada Bapa. Di samping itu juga mereka turut serta mempersembahkan dan dipersembahkan oleh Kristus. Penyerahan hidup religius sendiri merupakan persembahan diri yang total dan disatukan dengan erat dengan Korban Ekaristi (BSDK, art. 26). Dalam Ekaristi semua bentuk doa jadi satu, sabda Allah yang dinyatakan dan diterima, relasi dengan Allah dengan sesama sungguh ditantang. Karena Ekaristi adalah sakramen keputraan, persekutuan dan perutusan. Ekaristi merupakan sakramen persatuan dengan Kristus, sekaligus juga sakramen persatuan gereja dan persatuan persekutuan bagi pribadi hidup bakti. Maka Ekaristi menjadi sumber sehari-hari bagi hidup rohani untuk anggota perorangan maupun bagi komunitas-komunitas hidup bakti (BSDK, art. 26). Untuk mendapatkan sepenuhnya buah yang diharapkan dari persekutuan dan pembaharuan diperlukan syarat-syarat hakiki yaitu saling mengampuni dan komitmen saling mengasihi sesuai dengan ajaran Tuhan, rekonsiliasi penuh sangat penting sebelum menyampaikan persembahan di altar (Mat 5:23). Sakramen persatuan tidak bisa dirayakan bila tetap ada saling mengacuhkan (BSDK, art. 26). Ekaristi erat berhubungan pula dengan komitmen untuk bertobat terus menerus dan dengan pemurnian diri menjadi hal yang penting, yang dimatangkan oleh para anggota hidup bakti dalam sakramen pendamaian. Perjumpaan mereka dengan kerahiman Allah yang efektif akan menjernihkan dan membarui hati mereka dan dengan mengakui dosa-dosa mereka dengan rendah hati mereka

(84) 65 mencapai sikap terbuka dalam hubungan mereka dengan Kristus. Pengalaman pengampunan sakramental yang penuh kegembiraan, pada perjalanan dialami bersama dengan rekan-rekan se-Tarekat, sekomunitas akan menimbulkan kerinduan besar dalam hati mereka masing-masing untuk belajar setia dan mendorong perkembangan kesetiaan (VC, art. 95). Kondisi hakiki adalah buah dan tanda dari Ekaristi yang dirayakan dengan baik karena terutama pada komuni dengan Yesus Kristus bahwa manusia dimampukan untuk mengasihi dan mengampuni. Tiap perayaan hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbaharui komitmen memberikan hidupnya sendiri bagi orang lain, menerima dan melayani. Sehingga janji Kristus akan menjadi nyata, yaitu “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka“ (Mat 18: 20) karena perayaan Ekaristi dan berkumpul di sekitar Ekaristi, komunitas akan terus menerus diperbaharui setiap hari. Kesucian dan perutusan melampaui komunitas karena Tuhan yang bangkit membuat diri-Nya hadir di dalam dan melalui komunitas, menyucikan dan memurnikan relasi-relasi yang ada. Jadi, para saudara dan saudari adalah sakramen dari Yesus dan perjumpaan dengan Allah. Dalam dan melalui komunitas memberi kesempatan bagi setiap anggota untuk melaksanakan perintah saling mengasihi. Dengan demikian jalan menuju kesucian menjadi jalan yang ditempuh bersama oleh semua anggota komunitas. Karena hal itu bukanlah jalan bagi perorangan, melainkan terlebih pengalaman komunitas dalam kehidupan bersama. Dalam komunitas ada saling menerima dan saling berbagi anugerah, terutama anugerah kasih. Ada pengampunan dan saling mengoreksi secara

(85) 66 persaudaraan. Ada saling berbagi dalam mencari bersama kehendak Tuhan yang kaya akan rahmat dan belaskasihan, dan ada kerelaan untuk memikul beban orang lain Dengan demikian komunitas hidup bakti yang menghayati misteri paska dibaharui terus dalam Ekaristi akan menjadi saksi persekutuan dan tanda profetik solidaritas bagi masyarakat yang terpecah belah dan terluka. Maka spiritualitas persekutuan adalah hal yang penting untuk memantapkan dialog karitas sangat dibutuhkan dunia masa kini dan itu lahir dalam Ekaristi (BSDK, art. 27).

(86) 67 BAB III HIDUP KOMUNITAS DALAM ORDO SANTA URSULA A. Nilai-nilai yang dihidupi Angela dalam Hidup Komunitas berdasarkan Nasehat Santa Angela. Semangat Angela dalam hidup bersama adalah persatuan dan cinta kasih. Angela sangat menekankan pentingnya hidup dalam persatuan dan keserasian dengan saling mencintai. Sikap ini sudah dimiliki Angela sejak masa mudanya, ketika ia menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan. Angela selalu berusaha hidup dalam perdamaian dan ketentraman. Ukuran Angela untuk berelasi dengan sesama yaitu adanya pandangan bahwa pada dasarnya manusia adalah baik. Dengan demikian setiap pribadi manusia terdapat sesuatu yang baik (Sasmita, Maria Dolorosa,1980:28). Dari pernyataan tersebut penulis dapat menemukan makna yang mendalam bahwa sesama dalam komunitas adalah pribadi yang kehadirannya tidak merupakan ancaman terhadap eksistensi saya. Alangkah baiknya sesama itu ibarat sahabat bagi saya dan ia juga sama dengan saya. Hal itu dimaksudkan bahwa saya dan dia sama-sama dipanggil untuk menyerahkan diri kepada-Nya dalam Persekutuan yang sama. Maka sikap yang tepat untuk mengadakan komunikasi didasarkan atas kasih. Sebab kasih sejati merupakan sarana di masa saya dapat bertemu dengan Dia sebagai pribadi. Dengan kasih manusia sungguh-sungguh menghargai dan menjunjung tinggi kodrat dan martabat manusia yang adalah luhur dan mulia karena manusia adalah makhuk ciptaan Allah yang paling mulia. Dengan sikap

(87) 68 yang sama, disertai kesabaran dan kesediaan untuk berkorban, seseorang dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang dan maju dalam mengintegrasikan diri dan hidupnya. Dengan mengenakan senjata kasih bersama dalam Tarekat mampu membina persatuan dan ketentraman yang diwarnai oleh kasih dan persaudaraan. Pada dasarnya nilai-nilai yang dihidupi Angela terangkum dalam nasehatnya yang terakhir. “Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus”(Nasehat Terakhir, art.1-2). Dari nasehat Angela yang terakhir bagi para putrinya, penulis ingin menguraikan secara lebih terperinci karena ini merupakan nilai-nilai yang dihidupi Angela dalam hidup bersama bagi para putrinya pada zaman Angela sendiri dan juga bagi para suster Ursulin masa kini. 1. Hidup dalam Keserasian Sebuah komunitas yang menghayati hidup bersama akan sangat kaya dan indah jika di antara anggota komunitas terjalin ikatan kasih dan persaudaraan. Patut diakui bahwa para anggota tarekat Ursulin terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan suku yang berbeda. Setiap suster memiliki kemampuan, watak dan kepribadian yang berbeda pula. Dalam keadaan seperti ini para suster Ursulin tetap berusaha untuk menjaga keserasian dalam hidup bersama. Mereka mengikuti teladan Santa Angela pada zamannya yang mengumpulkan para gadis dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun mereka selalu hidup dalam keserasian. Hidup dalam keserasian bukan berarti tanpa adanya salah paham, beda pendapat namun melalui pengalaman-pengalaman ini para suster semakin

(88) 69 berusaha untuk tetap menjaga keserasian dalam hidup bersama. Angela meninggalkan nasehat yang amat sangat indah yaitu, “Hiduplah dalam keserasian” (Nasehat Terakhir, art. 1). Angela menegaskan lagi bahwa, “Lihatlah betapa pentingnya persatuan dan keserasian, maka dambakanlah, carilah, peluklah, pertahankanlah hal itu sekuat tenaga” (Nasehat Terakhir, art. 10-14). 2. Bersatu dan sehati sekehendak Dalam seluruh hidupnya Santa Angela selalu mengutamakan persatuanya dengan Yesus Kristus, Sang Mempelai Suci. Kesatuan dengan Yesus Kristus dan kesatuannya dengan Allah Tritunggal Mahakudus yang dihayatinya menggerakkan hati Santa Angela untuk bersatu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Santa Angela tak henti-hentinya berseru kepada para putrinya agar mereka hidup dalam kesatuan hati dan jiwa, hidup dalam keserasian dan cinta kasih. Kehidupan bersama itu hendaknya dibangun dalam suasana persaudaraan. Hal ini ditegaskan kembali dalam Kisah Para Rasul yang menyatakan bahwa, Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa (Kis 4:32a). Pada masa hidup Santa Angela, dia tidak hidup bersama dalam suatu komunitas dengan para putrinya. Meskipun demikian mereka tetap mengusahakan agar dapat mewujudkan semangat persatuan. Mereka saling memperhatikan dan membantu satu sama lain. Semua ini dipelihara dengan berbagai cara dan sarana. Mereka sering berkumpul pada waktu-waktu tertentu untuk berdoa bersama, sharing pengalaman, membahas peraturan-peraturan yang telah ditetapkan bersama, merayakan Ekaristi, menerima wejangan dan pelajaran dari ibu

(89) 70 pembimbing dan lain sebagainya. Santa Angela menyadari bahwa hanya melalui persatuan dan suasana persaudaraan, cinta kasih Kristus dan kerasulan mereka dapat bertumbuh dan berkembang. Semangat Angela dalam hidup bersama adalah persatuan dan cinta kasih. Angela sangat menekankan pentingnya hidup dalam persatuan dan keserasian dengan saling mencintai. Sikap ini sudah dimiliki Angela sejak masa mudanya, ketika ia menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan. Angela selalu berusaha hidup dalam perdamaian dan ketentraman. Pada saat Angela memulai karyanya yaitu menerima orang-orang yang datang kepadanya dengan berbagai persoalan, mulai tampak bakatnya dalam mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Hal ini diketahui oleh masyarakat umum, sehingga akhirnya Angela dinyatakan sebagai seorang rasul pendamai dan pemersatu. Sikap Angela yang baik ini kemudian diteruskan juga kepada para pengikutnya. Baik di dalam nasehat-nasehat, warisan maupun regulanya Angela selalu menekankan agar mereka terus menerus menjaga persatuan dan keserasian di dalam tujuan, hidup sehati sejiwa. Hal ini ditekankan Angela dalam warisannya, “Karena itu bersiap siagalah selalu dan usahakan secara khusus supaya terdapat persatuan dan keserasian dalam tujuan, seperti yang dapat kita baca mengenai para Rasul dan orang-orang Kristen dalam Gereja perdana, mereka semua sehati sejiwa” (Warisan X, art. 6-7). Angela mendesak kepada puteriputerinya agar jangan membiarkan perselisihan tumbuh dan berkembang di dalam persekutuannya, sebab jika ada perselisihan akan terjadi perpecahan dan ini akan mendatangkan kehancuran bagi persekutuan itu. “Jangan sampai benih-benih

(90) 71 perselisihan dibiarkan tumbuh dalam Kompani ini karena hal ini menjadi batu sandungan dalam kota dan sekitarnya. Karena di mana ada pertentangan kehendak di situ ada perselisihan, di mana ada perselisihan di situ ada kehancuran” (Warisan X, art. 15-17). Angela ingin agar puteri-puterinya hidup bersatu, sehati sejiwa. Apabila ada perselisihan atau salah paham, supaya segera diselesaikan. Angela melihat bahwa hanya dengan hidup bersatu persekutuannya akan kuat dan mampu melawan godaan-godaan dari luar. “Jika anda semua hidup bersatu hati, anda seperti benteng di gunung, menara kekuatan melawan serangan dan kelicikan setan”(Nasehat Terakhir, art. 15-18). Begitu pentingnya persatuan bagi Angela sampai ia berseru tidak akan ada tanda lain bahwa serikat ini diberkati Allah dari pada cinta kasih dan persatuan yang ada di antara anda. Persatuan yang dikehendaki Angela menjadi nyata di dalam berbagai segi kehidupan para puterinya. Uni Roma menurut hakekatnya bersifat internasional dan tersebar di seluruh dunia. Maka dalam keanekaragaman itu ia dapat memancarkan kesatuan dan kekatolikan Gereja serta menjadi saksi cinta kasih dalam dunia yang terpecah belah. Maka Angela menghendaki agar para putrinya untuk selalu bersatu, sehati sekehendak (Nasehat Terakhir, art. 1). Pada perjamuan terakhir Yesus berpesan kepada para Rasul-Nya; “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”(Yoh 13:34-35). Pesan Yesus ini merupakan kerinduan hatinya yang terdalam yang dikehendaki-Nya agar diwujudkan oleh

(91) 72 para pengikut-Nya. Demikian pula pesan yang diberikan Angela kepada para puterinya. Maka pesan yang terakhir dari Yesus dan Santa Angela merupakan dasar panggilan para suster Ursulin untuk hidup bersama, berkumpul bersama, terikat satu sama lain dengan cinta kasih. Dengan demikiaan akan tercipta suasana yang dipenuhi kedamaian, keadilan dan pengampunan di antara mereka yang disatukan dalam hidup bersama dalam komunitas (Komisi Pengembangan Spiritualitas Ursulin, 2000:1). Bagi Angela persatuan merupakan suatu visi. Itulah yang diharapkan oleh Angela bagi para pengikutnya, dalam hidup ini dan dalam hidup yang akan datang. Tetapi persatuan tak bisa menghapus keanekaragaman di antara para suster Ursulin. Keanekaragaman itu harus dihormati. Agar hal ini memperkaya kehidupan komunitas maka sikap yang diperlukan dari setiap anggota adalah mendengarkan yang tidak memahami, tetapi berusaha mengerti dan berusaha masuk kedalam sudut pandang orang lain. Yang dimaksudkan Angela adalah persatuan menurut Injil, persatuan dalam keanekaragaman. Modelnya persatuan Tritunggal Mahakudus yang selalu disembah oleh para suster, Bapa, Putera dan Roh Kudus yang satu namun tetap mempunyai kepribadian masing-masing. Persatuan yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah bersatu untuk memberi, menerima dan berbagi. Perlunya saling menerima dan berbagi, saling berbagi sambil mendengarkan dan berdoa bersama, untuk mendengar bagaimana Roh berbicara melalui setiap suster dalam dunia mereka dengan aneka kebudayaan. Hal ini akan terjadi terus menerus dalam lingkungan yang makin meluas. Namun persatuan juga ada hubungan dengan hati para anggota komunitas. Pertama-tama

(92) 73 para suster Ursulin perlu menemukan persatuan itu di dalam hati mereka sendiri. Bila mereka mengalami keserasian di dalam hati, barulah mereka dapat menabur keserasian, keindahan dan solidaritas di sekitar mereka. Perlu diakui bahwa persatuan itu merupakan anugerah, maka setiap anggota komunitas perlu mengusahakan dan mendambakan persatuan itu dengan segenap hati (Surat Edaran No.241, 1994:1). Apabila para Ursulin merefleksikan kehidupan Angela, akan menemukan bahwa masa kanak-kanaknya di Le Grezze Italia merupakan masa persatuan. Keluarganya disatukan oleh ayah ibu yang mengasihi dan memperhatikan, sebagai tanda kasih Allah. Dalam persahabatan dan keprihatinan satu bagi yang lain, Angela mengalami bagaimana orang yang saling mengasihi dapat berbagi kasih dengan orang lain. Adalah tali kasih yang mempersatukan keluarganya, dan mengajarkan para anggota keluarga itu bagaimana saling menghargai, saling membantu dan saling menanggung (Sasmita, Maria Dolorosa, 1980:10). Dalam hidup bersama setiap pribadi harus melepaskan harapan-harapan palsu yang kadang membuat seseorang mempunyai pandangan tentang komunitas. Untuk hidup dalam komunitas kerasulan tidak perlu berarti bersama pribadipribadi, dengan siapa saya secara emosional, ideologi atau yang lain yang cocok. Lebih mendalam lagi adalah hidup bersama itu lebih pada memberi dukungan, bahu membahu, bergandengan tangan dengan pribadi yang sama sekali berbeda dengan saya. Dengan demikian seluruh anggota komunitas mampu berjalan bersama, berjuang bersama untuk menjadikan komunitasnya sebagai kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar mereka. Bersama dengan sesama anggota

(93) 74 komunitas untuk saling berbagi, memaafkan satu dengan yang lain akan membuat komunitas itu menjadi hidup dan akan tercipta suasana yang menyenangkan satu dengan yang lain. Maka mereka akan mampu mencintai sesama dengan ketulusan dan sepenuh hati sekalipun di antara mereka ada perbedaan-perbedaan. Situasi yang seperti ini sama seperti komunitas pertama dari para murid pertama yang mengadakan perjalanan dengan Yesus. Dalam perjalanan itu juga muncul perbedaan dan bahkan pertengkaran di antara para murid untuk memperebutkan siapa yang terbesar diantara mereka (Luk 9:46-48). Yesus senantiasa menghendaki agar para murid bersatu dalam hidup bersama, bahkan Ia mengharapkan agar semua umat yang percaya kepada-Nya hidup dalam persatuan dan kasih. Hal ini sangat tegas dan jelas yang nampak dalam doa Yesus bagi para murid-Nya yang ditulis oleh penginjil Yohanes. Semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu, Aku di dalam mereka, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh 17:21-23). Yesus mendoakan agar para murid hidup bersatu hati dalam hidup bersama. Perbedaan yang ada tidak menjadi hambatan bagi para murid untuk mewujudkan kesatuan, oleh karena Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi mereka melalui Yesus Putra-Nya. Yesus juga mengharapkan persatuan itu terjadi di antara komunitas Ursulin yang telah bertekad untuk hidup bersama dalam komunitas dalam mengikuti panggilan Allah. Bunda Angela juga memiliki harapan dan

(94) 75 kerinduan yang sama seperti Yesus Sang Mempelainya, agar para pengikutnya hidup bersatu hati dalam komunitas. Nilai persatuan ini diteruskan oleh para Ursulin sekarang dalam bentuk hidup berkomunitas. Persatuan dalam keanekaragaman akan terwujud, apabila setiap anggota berusaha untuk dapat menghargai, menghormati, saling menegur bila terjadi kesalahan, saling mengampuni dan menerima satu sama lain dalam keunikannya dengan dasar cinta kasih (Nasehat Terakhir, art.1). Angela mempunyai keyakinan bahwa jika para putrinya semua hidup bersatu hati, mereka akan seperti benteng yang kuat dan menara yang tak tergoyahkan melawan segala kejahatan, serangan dan kelicikan setan (Nasehat Terakhir, art. 15-18). 3. Terikat Satu Sama lain dengan Cinta Kasih Angela meninggalkan nasehatnya yang terakhir kepada para putrinya, “Terikat satu sama lain dengan cinta kasih”(Nasehat Terakhir, art. 2a). Komunitas religius kita selalu ada dalam proses pertumbuhan. Untuk itu dengan rendah hati para suster menerima kesulitan-kesulitan dalam mengasihi sesama sebagai saudara dengan sesempurna mungkin. Maka cinta kasih menjadi dasar dan syarat untuk hidup bersama. Sebagai putri-putri Santa Angela, para suster Ursulin masuk menjadi anggota komunitas bukan karena telah saling mencintai lebih dulu, tetapi karena dipanggil dan diutus untuk hidup dalam komunitas tertentu, oleh Allah sendiri melalui penugasan oleh pemimpin. Dan diharapkan untuk selanjutnya di antara anggota tumbuh dan berkembang perasaan terikat satu sama lain dalam cinta kasih. Maka pertama-tama para suster harus menghayati hidup komunitas sebagai suatu panggilan. Cinta kasih persaudaraan bukan merupakan titik awal,

(95) 76 melainkan menjadi tugas dan tantangan bagi setiap anggota komunitas untuk menumbuhkembangkannya, baik melalui acara-acara bersama, tugas bersama, terlebih melalui komunikasi doa dan keheningan. Hal ini juga dinasehatkan oleh Santo Paulus dalam suratnya, “Supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua”(Ef 4:1-6). Angela pun menegaskan dalam nasehat terakhirnya bahwa jika anda benar berusaha menghayati hidup seperti ini, tak ragu lagi Allah Tuhan kita tinggal di tengah-tengah anda (Nasehat Terakhir, art. 3). Para suster Ursulin juga berusaha untuk terikat satu sama lain dengan cinta kasih. Dan dasar dari hidup bersama atau keterikatan para suster Ursulin satu sama lain adalah merupakan panggilan dan pilihan Allah sendiri. Keterikatan di antara para suster Ursulin nampak dalam relasi para suster itu sendiri dalam hidup bersama sehari-hari. Relasi para suster muda dan yang lanjut usia terlihat adanya di mana para suster muda menghormati, menghargai karena perbedaan umur tidak menjadi masalah. Saling menerima apa adanya walau kadang terasa sulit karena ada suster lanjut usia yang kurang sabar, kurang terbuka namun masing-masing pribadi berusaha untuk menjaga keserasian itu sendiri. Itu semua bisa terjadi karena adanya usaha dari tiap anggota untuk memahami, mengerti dan menerima apa adanya serta saling memaafkan satu dengan yang lain (Nasehat Terakhir, art. 2a).

(96) 77 4. Saling Menghargai Manusia adalah makhluk yang unik dan khas, karena manusia merupakan ciptaan Allah yang mulia maka apapun keadaan manusia ia tetap menjadi sesuatu yang unik dan khas. Setiap manusia juga diberi bakat dan talenta yang berkecukupan dari Allah. Para pengikut Santa Angela berasal dari berbagai budaya, suku dan bahasa yang berbeda. Perbedaan dan keanekaragaman ini menjadi kekayaan yang bermakna bagi komunitas Ursulin. Para suster berusaha untuk dengan rendah hati mengakui kelebihan dan kekurangan sesama. Sikap ini akan melahirkan keindahan yang agung yang nampak pada putri-putri Santa Angela. Walaupun mereka berbeda namun diantara mereka tercipta sikap saling menghargai di antara satu dengan yang lainnya. Dengan saling menghargai, komunitas Ursulin menjadi teladan dan kesaksian yang hidup dan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Bunda Angela mengajak para pengikutnya untuk saling menghargai sesama yang ada dalam tarekat maupun komunitas Ursulin. Karena semua mereka yang tergabung dalam komunitas Ursulin dipanggil baik sebagai pribadi maupun bersama untuk hidup berdasarkan cinta kasih. Maka sikap saling menghargai menjadi hal yang sangat penting yang hendaknya senantiasa dihayati oleh setiap anggota komunitas Ursulin (Nasehat Terakhir, art. 2b). 5. Saling Membantu Manusia adalah makhluk sosial, di mana ia membutuhkan orang lain dalam hidupnya, dengan demikian manusia tak dapat hidup sendiri di dunia ini. Kehidupan manusia dalam dunia akan maju dan berkembang jikalau setiap pribadi mau terbuka hati dengan rela dan bebas untuk saling membantu. Sikap dasar dari

(97) 78 saling membantu adalah cinta kasih yang nyata. Ketulusan cinta kasih mereka tampak dalam saling menolong, saling memperhatikan, dan saling mengasihi dengan hangat, dalam suka duka kehidupan sehari-hari. Dalam hidup bersama para suster tidak akan mampu menjalaninya sendiri dengan segala karya kerasulan mereka. Maka sikap saling membantu akan sangat mampu menumbuhkembangkan kepribadian mereka dalam melaksanakan perintah Tuhan untuk saling mengasihi dengan demikian juga menyuburkan karya kerasulan mereka (Nasehat Terakhir, art. 2c). 6. Saling Bersabar dalam Yesus Kristus Angela dikenal sebagi orang yang rendah hati, ramah dan lemah lembut, dengan caranya yang khas memancarkan kepada lingkungannya kebaikan dan kasih Penyelamat. Para Ursulin mengakui bahwa pada umumnya masih jauh dari yang dicita-citakan Bunda Angela, terlebih dalam hidup sehari-hari dengan para suster dalam komunitas dari pada peristiwa-peristiwa besar dengan orang luar. Para suster menyadari bahwa dalam hubungan pribadi sering kurang sabar, kurang lembut, kurang berperasaan halus. Para suster tidak cukup rendah hati, menyenangkan, terbuka dan menyambut para suster, terlebih disaat merasa lelah dan terlalu banyak pekerjaan. Namun tidak semua suster bersikap seperti itu, ada juga komunitas-komunitas yang memancarkan kegembiraan, persatuan, keselarasan dan ada yang mampu mengurangi ketegangan, menempatkan masalah dalam perspektif dan menjadi penopang hidup komunitas. Dengan demikian komunitas menjadi tempat keramahan yang hangat, pandangan penuh pengertian

(98) 79 bagi orang lain, menjadi dukungan bagi suster tua dan sakit serta rela menerima segi baik dari pribadi maupun kelompok (Nasehat Terakhir, art. 2d). Angela telah menanamkan teladan yang hidup dan menarik bagi para putrinya. Ia menerima orang lain apa adanya, memperlakukan sesama dengan sabar dan ramah, dengan hormat dan baik hati. Angela mengundang para putrinya untuk hadir dan mendengarkan orang lain dengan cara yang khusus. Dalam Nasehatnya, Angela mengatakan bahwa cinta kasih itu mendorong hati bersikap lembut atau keras menurut saat dan tempat yang tepat dan ukuran yang serasi (Regula, art. 7). Sikap sabar sungguh harus dimiliki oleh setiap suster dalam kehidupan bersama. Hal ini disebabkan oleh keanekaragaman anggota, dengan demikian cinta kasih akan nampak dan nyata dalam kehidupan mereka jika mereka saling sabar dalam Yesus Kristus. 7. Persaudaraan Komunitas Ursulin adalah salah satu dari komunitas religius yang berhasrat mengikuti Yesus Kristus dengan lebih bebas dan mencontoh-Nya dari lebih dekat dengan mengamalkan nasehat-nasehat Injili (PC, art.1). Seperti tarekat religius lainnya yang hidup bersama dalam suatu persekutuan, demikian juga tarekat Ursulin. Para suster Ursulin dipanggil untuk hidup bersama dalam komunitasnya. Angela menekankan persaudaraan di antara para pengikutnya, hal ini tidak hanya menjadi pembicaraan Angela namun Angela telah mewujudkannya dalam kehidupan bersama dalam komunitas. Dalam menghayati panggilan hidupnya, para suster Ursulin dijiwai oleh semangat hidup pendirinya yaitu Santa Angela Merici. Salah satu bagian dari

(99) 80 semangat hidup yang menjadi nilai-nilai yang dihidupinya adalah menciptakan suasana persaudaraan dalam hidup bersama. Hidup bersama itu telah dimulai oleh Santa Angela bersama para pengikutnya pada zamannya. Dan Angela mewariskan pola hidup yang sama bagi para pengikut selanjutnya. Maka dari itu, para suster Ursulin pada masa kini mencoba dan selalu berusaha untuk mewujudkan persaudaraan itu dalam kehidupan bersama dalam komunitas. Hidup bersama dalam suasana persaudaraan adalah sesuatu yang khas bagi para suster Ursulin dan merupakan penyangga hidup bagi mereka. Kehidupan komunitas perlu diciptakan sedemikian sehingga dapat memberi dukungan kegembiraan setiap anggota dalam tugas perutusan mereka. Para suster Ursulin hidup dalam komunitas persaudaraan. Dengan mengambil bagian dalam doa, karya kerasulan dan seluruh kenyataan hidup sehari-hari, dengan saling menghormati dan memberi kebebasan yang merupakan sifat khas Angela, persatuan mereka dalam iman dinyatakan dan dikuatkan. B. Hidup Komunitas Ursulin menurut Konstitusi Konstitusi merupakan peraturan hidup dalam arti yang paling dalam, maka konstitusi mempunyai gaya yang khusus. Di dalamnya terjalin erat prinsip-prinsip kehidupan rohani dengan tuntutan praktis dan mendasar dari hidup mengikuti Kristus. Konstitusi Ursulin merupakan cara para suster sendiri sebagai Ursulin Uni Roma, untuk mengikuti dan meneladan Yesus Kristus. Dalam konstitusi artikel 9 dikatakan bahwa lakukanlah ini, maka kamu akan hidup. Konstitusi bukan buku lengkap yang bisa dibaca terpisah, lepas dari kehidupan, sejarah dan

(100) 81 misi komunitas. Orang yang mendekatinya dari luar atau hanya karena rasa ingin tahu, tidak menemukan banyak di dalamnya. Konstitusi merupakan sarana untuk pengalaman rohani, pengalaman hidup dalam Kristus dalam kharisma Tarekat. Ada arus timbal balik antara Konstitusi dan hidup. Semakin para suster berusaha menghayati Konstitusi, semakin mereka mengerti apa maksudnya dan sebaliknya juga (Surat Edaran No.248, 1997:2). Segala keanekaragaman para suster dalam umur, pengalaman, kebudayaan, Konstitusi merupakan bahasa bersama yang berasal dari sumber spiritualitas Ursulin, Injil serta Santa Angela. Konstitusi juga menghubungkan para suster dengan segala kekayaan warisan, yang mempersatukan hidup dalam Kristus yang dihayati bersama lebih dari seabad dengan hidup para suster sekarang. Konstitusi juga boleh diumpamakan dengan jalan simpang di mana Injil, Santa Angela, sejarah dan hidup para suster sekarang saling bertemu. Konstitusi tidak bermaksud mengatakan segala-galanya, hanya menempatkan para suster pada permulaan jalan yang pasti menuju kesucian (Surat Edaran No. 248, 1997: 2). Konstitusi berkata bahwa para suster ingin hidup bersama dalam komunitas Ursulin, dengan menyambut semua cara dan sarana yang perlu untuk maju dan bertahan sampai akhir (Prakata Regula, art. 10). Konstitusi merupakan jalan hidup yang khusus, jalan pembebasan, untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan Paskah-Nya, seperti sering diingatkan, “Allah menarik kita untuk mengikuti Kristus, untuk secara mesra mengambil bagian dalam misteri PaskahNya” (Konstitusi, art. 10). Konstitusi Uni Roma Ordo Santa Ursula merupakan

(101) 82 pedoman hidup bagi para suster Ursulin. Isi dari Konstitusi adalah mengikuti nasehat, warisan dan regula dari Angela sebagai pendiri Ordo Santa Ursula yang ditujukan bagi para suster Ursulin yang mengikuti teladan Bunda Angela. Maka konstitusi Ursulin dilihat sebagai panggilan Allah yang ditujukan kepada kebebasan para suster. Dalam Konstitusi artikel 245 dikatakan bahwa “Konstitusi merupakan tuntutan cinta, undangan yang terus menerus untuk mendengarkan Roh Kudus”. Undangan terus menerus, sangat cocok dengan sikap Angela yang selalu mengundang, memohon, menganjurkan, tidak mau melakukan apa pun dengan kekerasan, karena Allah telah memberikan kehendak bebas kepada semua orang, dan tidak memaksakan siapa pun. Ia hanya menunjukkan, mengundang dan memberi nasihat (Warisan III, art. 8-11). Untuk itu penulis ingin menguraikan tentang hidup berkomunitas Ursulin menurut Konstitusi yang dihayati oleh setiap suster dalam hidup bersama. Hal-hal itu antara lain; 1. Hidup Komunitas Ursulin bercirikan komunitas Triniter Uni Roma Ordo Santa Ursula merupakan salah satu cabang keluarga rohani yang didirikan oleh Santa Angela Merici, adalah Tarekat religius Internasional di mana kontemplasi dan kerasulan saling meresapi dan saling menjiwai. Hidup berkomunitas merupakan ciri pokok panggilan Ursulin. Konstitusi mengajak para suster Ursulin untuk kembali ke sumber hidup mereka sebagai saudari-saudari dalam komunitas dengan meneguhkan bahwa kasih yang mempersatukan mereka adalah kasih yang sama yang mempersatukan Bapa, Putera dan Roh Kudus dan bahwa Kristus yang hidup, dan Dia saja yang telah menghimpun para suster Ursulin dan menjaga mereka untuk tetap bersatu

(102) 83 (Konstitusi, art. 74-76). Dalam Konstitusi artikel 74 dikatakan bahwa cinta yang mempersatukan kita bersumber pada persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus yang bersemayam dalam hati kita. Komunitas religius kita dipanggil untuk masuk ke dalam ikatan cinta itu. Demikian juga para suster Ursulin dipanggil untuk hidup bersama dalam komunitas, yang hendaknya menampakkan ciri persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Relasi antara Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah relasi yang mendalam yang dipenuhi dengan cinta kasih. Dengan demikian para Ursulin diajak masuk dalam relasi kasih yang terjalin antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Hal ini ditegaskan dalam Injil Yohanes, “Semoga mereka semua menjadi satu seperti Engkau, Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga menjadi satu di dalam Kita”( Yoh 17:21). Persatuan antara Bapa, Putera dan Roh Kudus sangat nampak dan kuat. Hal ini merupakan undangan untuk kembali ke misteri iman yaitu komunitas (FLIC, 1994:2-12). Pertama-tama kita harus sadari bahwa komunitas kristiani bukan cita-cita manusia, melainkan suatu realita yang diberikan Allah. Realitas itu merupakan rahmat dari Roh Kudus, bukan usaha manusia sematamata. Itulah yang membedakan komunitas kristiani dari segala macam komunitas lainnya. Hanya Yesus Kristus yang memungkinkan adanya komunitas kristiani. Hanya Dia yang menciptakan dan mencipta kembali persatuan kita. Kita menjadi saudari karena Ia telah memanggil kita masing-masing, dan karena segala yang Ia lakukan untuk kita terus menerus. Belas kasih-Nya kepada kita mengajar kita untuk berbelas kasih kepada orang lain. Dari pengampunan-Nya kita belajar untuk saling mengampuni. Merenungkan salib, yaitu kasih-Nya yang tak terbatas untuk

(103) 84 kita, memungkinkan kita untuk saling mengasihi tanpa syarat, menerima orang lain apa adanya, dan tidak menghakimi mereka (VC, art. 42). 2. Ekaristi Menjadi pusat hidup Komunitas Kalau Gereja menghendaki agar Ekaristi menjadi pusat komunitas, maksudnya untuk terus menerus mengingatkan kita bahwa komunitas merupakan pemberian Kristus, rahmat yang membuat kita bersyukur kepada-Nya. Sekaligus kehadiran itu menghimbau kita untuk saling mengasihi, seperti Ia mengasihi kita (Yoh 13:14), untuk terus menerus menempatkan diri dalam dinamisme Ekaristi, sehingga kita menjadi komunitas Ekaristis, komunitas communio (persatuan) (KHK, Kan. 608). Untuk menjadi pribadi yang mampu mengadakan communio dibutuhkan pertobatan pribadi terus menerus dan perjuangan. Bapak-bapak Gereja menggambarkan Ekklesia sebagai tempat untuk dilahirkan kembali maka komunitas merupakan tempat untuk menjadi saudara-saudari (FLIC, 1994:11-57). Bunda Angela juga menghimbau para suster Ursulin yang mengikuti jejaknya dalam nasehatnya: “Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus. Lihatlah betapa pentingnya persatuan dan keserasian, maka dambakanlah, carilah, peluklah, pertahankanlah hal itu sekuat tenaga”(Nasehat Terakhir, art.1-2,10). Dalam Kristus para Ursulin dipersatukan menjadi satu Tubuh. Persatuan Ursulin dalam Kristus dipupuk dalam santapan Sabda dan Roti yang dibagikan. Dan liturgi adalah bentuk teristimewa dari doa komunitas di mana persatuan itu diungkapkan dan diperkokoh (Konstitusi, art. 76). Dalam Dokumen KV II dikatakan bahwa liturgi sendiri merupakan puncak seluruh kegiatan Gereja dan

(104) 85 sekaligus merupakan sumber hidup Gereja (Dokumen KV II SC, art. 10,1). Demikian juga para Ursulin menghayati liturgi sebagai puncak dan sumber seluruh kehidupan mereka baik itu hidup pribadi maupun bersama. Kehadiran Kristus yang dijanjikan kepada Gereja-Nya, terlaksana secara istimewa dalam liturgi dan liturgi juga merupakan penghayatan imamat Kristus (Dokumen KV II SC, art. 7). Seluruh Gereja dipersatukan dengan Imamat Kristus, untuk bersama ambil bagian dalam ibadat kepada Allah Bapa (Dokumen KV II SC, art. 7, 2-3). Maka hidup seorang religius hendaknya merupakan ungkapan hidup Gereja, maka doa religius harus merupakan doa Gereja (Dokumen KV II SC, art. 26). Dalam dan melalui liturgi seorang religius menimba kekuatan untuk menyucikan hidup dan sesama maupun memuliakan Allah dalam Kristus (Dokumen KV II SC, art. 10,2; Darminta, 1981:49). Ekaristi sebagai sakramen cinta dan korban dan merupakan pusat hidup Gereja. Dalam Ekaristi Kristus meneruskan sampai saat kedatangan korban salibNya (Dokumen KV II SC, art. 47). Dalam Ekaristi Kristus melanjutkan pula karya penebusan-Nya dan penyucian dengan mempersembahkan Diri kepada Bapa dan memberikan Diri kepada umat manusia. Maka Ekaristi merupakan prinsip kesatuan Gereja. Hal ini dikatakan dalam Dokumen KV II yaitu Ekaristi merupakan akar dan ikatan kokoh untuk membangun komunitas kristiani. Ekaristi merupakan sarana mutlak untuk membina semangat komunitas (Dokumen KV II PO, art. 6,5). Karena dalam Ekaristi itu sendiri Kristus yang merupakan roti hidup, memberikan hidup kepada umat manusia sekaligus mengundang setiap orang yang ambil bagian untuk memberikan diri kepada Kristus (Dokumen KV II

(105) 86 PO, art. 5, 2). Demikian juga para suster Ursulin yang hidup dalam komunitas dengan menghayati persatuan mereka dengan Kristus melalui santapan Sabda dan Roti yang dibagikan dengan sendirinya telah mengambil bagian dengan memberikan diri mereka kepada Kristus. Dalam Dokumen KV II dikatakan bahwa Ekaristi juga persatuan hidup dengan Kristus dan sesama mendapatkan bentuk yang paling dalam, sebab Ekaristi merupakan sumber dari hidup kristiani (Dokumen KV II LG, art. 11). Perayaan Ekaristi akan menjadi penuh dan murni, bila hal itu mendorong orang untuk berbuat cinta dan baik kepada sesama dan untuk mewartakan kebaikan Tuhan dan memberikan kesaksian atas hidup yang ditebus (Dokumen KV II PO, art. 6, 3). Hidup seorang religius merupakan hidup mengikuti Yesus dalam misteri Paska-Nya, wafat dan hidup-Nya. Secara khusus hidup religius dipersatukan dengan Ekaristi. Melalui Ekaristi mereka akan menemukan dasar hidupnya yaitu kemuliaan Allah dan pelayanan kepada sesama. Ekaristi menyatukan cinta manusia dengan cinta Kristus sendiri. Ikatan seorang religius dengan Gereja terjadi dalam Ekaristi (Darminta, 1981:50). 3. Hidup sehati sejiwa dalam komunitas Hidup dalam persatuan dan kasih merupakan kerinduan hati setiap anggota komunitas Ursulin. Hal ini dapat dipelajari para suster melalui pengalaman jemaat perdana yang hidup sehati sejiwa. “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama“ (Kis 4:32). Sama seperti jemaat perdana yang bertumbuh dalam iman akan Yesus, mereka berusaha untuk hidup sehati dan

(106) 87 sejiwa dalam kehidupan bersama. Dengan menghayati hidup sehati dan sejiwa maka kehidupan komunitas akan sangat memiliki kualitas yang cukup sehingga mampu memberikan kesaksian sebagai komunitas yang hidup berdasarkan cinta kasih. Kristus telah memanggil para Ursulin untuk hidup seperti jemaat kristen pertama yang membentuk komunitas sehati dan sejiwa dan penuh kegembiraan karena kehadiran-Nya. Dengan demikian akan nampak hubungan yang erat antara mutu kehidupan komunitas dan kesetiaan para Ursulin kepada pembaktian mereka kepada Allah dengan meneladani hidup dan semangat Bunda Angela sebagai pendiri Ordo (Konstitusi, art. 75). 4. Setiap anggota menyumbang demi pembangunan komunitas Setiap orang diberikan kemampuan dan talenta yang berkecukupan dari Tuhan dan diharapkan kemampuan itu senantiasa dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga para Ursulin yang hidup dalam komunitas, masingmasing dengan kemampuannya menyumbang demi pembangunan komunitas. Hal ini ditegaskan dalam Konstitusi bahwa, “Masing-masing diantara kita dengan caranya sendiri menyumbang untuk pembangunan komunitas. Kita masingmasing mempunyai tanggungjawab untuk hadir di dalam komunitas. Perkembangan komunitas tergantung dari mutu kehadiran itu” (Konstitusi, art. 75). Suatu komunitas tidak akan berkembang jika tidak ada kesediaan dari para anggota untuk berusaha untuk menyumbangkan segala kemampuan mereka demi perkembangan komunitas. Untuk itu setiap Ursulin diharapkan untuk turut serta melibatkan diri dalam pembangunan komunitas, maka setiap suster diberi tanggung jawab untuk selalu hadir dalam komunitas. Situasi jaman ini sungguh

(107) 88 menantang para Ursulin untuk tetap berusaha memberikan waktu khusus untuk hadir dalam komunitas di samping itu mereka mempunyai kesibukan pelayanan dan kerasulan namun hendaknya itu semua tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk turut terlibat dalam hidup bersama dalam komunitas. Karena perkembangan komunitas itu sangat tergantung dari mutu kehadiran setiap suster. 5. Peranan dan kehadiran pemimpin Dalam sebuah komunitas juga diperlukan seorang pemimpin yang hadir dan berada di tengah para suster anggota. Hal ini dikatakan dalam Konstitusi bahwa: “Pemimpin ada di tengah-tengah komunitas sebagai pemberi semangat kehidupan injili dan ikatan persatuan. Ia menjalankan wewenang dalam semangat pelayanan. Dengan memeteraikan mereka semua dan masingmasing di dalam hatinya, ia menampakkan bagi suster-susternya kasih dengan mana Allah mengasihi mereka. Para suster hendaknya menerima dia dengan baik hati dan ramah” (Konstitusi, art. 78). Pemimpin hendaknya sungguh berusaha untuk selalu menjadi pemberi semangat kehidupan Injili dan ikatan persatuan. Dalam hal ini ia menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai pemimpin berdasarkan semangat pelayanan. Ia hadir sebagai pemimpin yang penuh kasih dan perhatian mengasihi para susternya. Untuk itu para anggota perlu menerima pemimpin dengan baik hati dan penuh keramahan. Pemimpin hendaknya menciptakan suasana kesederhanaan manusiawi dan Injili yang begitu berkenan di hati Angela. Pemimpin hendaknya meneladan Angela yang rendah hati, ramah dan lembut dengan caranya yang khas memancarkan kepada lingkungannya kebaikan dan kasih penyelamat kita.

(108) 89 Semuanya ini akan sangat membantu dalam menumbuhkembangkan sebuah komunitas yang bermutu dan berkualitas. 6. Sikap saling menghargai dalam komunitas Seperti sering dianjurkan oleh Santa Angela, Ursulin ingin di dalam komunitas saling menerima apa adanya, masing-masing diakui demi dirinya sendiri, dihargai dan dicintai dengan keunikannya. Setiap manusia memiliki ciri khas dan keunikan yang berbeda dan hal itu akan sangat membantu dalam kehidupan bersama sehingga bisa saling memperkaya satu dengan yang lainnya. Para suster Ursulin berasal dari berbagai watak, budaya, kepribadian, usia, tingkat pendidikan dan suku yang beranekaragam. Namun keragaman ini tidak menjadi penghalang bagi mereka dalam kehidupan bersama. Justru hal ini merupakan sesuatu yang saling memperkaya komunitas yang ada dan lebih luas lagi menjadi kekayaan Ordo (Konstitusi, art. 80). 7. Sikap saling percaya Dalam kehidupan berkomunitas diperlukan rasa saling percaya untuk menumbuhkan ketulusan dalam pergaulan di mana masing-masing dengan bebas menyatakan pendapatnya, dan juga bersedia mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain. Sikap ini sangat dibutuhkan dan menjadi hal yang penting dalam hidup bersama, dengan demikian akan tercipta komunitas yang kuat oleh karena ditopang sikap saling percaya satu dengan yang lainnya. Ketulusan cinta kasih kita akan tampak dalam saling menolong, saling memperhatikan, dan saling mengasihi dengan hangat dalam suka duka kehidupan sehari-hari. Apabila para

(109) 90 suster menghayati dan mewujudkannya dalam kehidupan bersama maka komunitas ini menjadi komunitas sekolah cinta yang menampakkan cinta kasih baik bagi sesama anggota komunitasnya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya. (Konstitusi, art. 82). 8. Kehadiran suster lanjut usia Dalam komunitas terdiri dari anggota-anggota ada yang muda dan yang lanjut usia atau juga mereka yang menderita sakit. Kepada mereka ini para suster juga harus memperhatikan dengan penuh kasih. Hal ini dikatakan dalam Konstitusi, “Suster-suster kita yang oleh penderitaan mengambil bagian dalam misteri Salib, kita hadapi dengan pengertian dan kehangatan yang lebih besar. Komunitas hendaknya memberi kepada orang sakit perhatian khusus dan perawatan yang dibutuhkan, juga bantuan rohani yang dapat menolong mereka yang menderita bersama Kristus. Suster-suster yang lanjut usia kita perlakukan dengan kasih sayang dan terima kasih. Kita berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan bagi mereka. Dengan doa dan kesabaran mereka, dengan pelayanan yang masih dapat mereka lakukan, dengan perhatian mereka bagi segala hal yang menyangkut komunitas dan karya-karyanya, mereka memberi sumbangan yang berharga bagi hidup bersama dan kesuburan kerasulan”(Konstitusi, art. 83-84). Para suster yang menderita sakit perlu mendapat perhatian yang besar dengan demikian mereka akan merasakan bahwa mereka mendapat perhatian, dukungan dan pengertian. Sehingga beban sakit yang dialami oleh mereka tidak menjadi sesuatu yang berat. Begitupula suster-suster yang lanjut usia, hendaknya kita perlakukan dengan penuh kasih sayang dan terima kasih. Karena mereka dengan usia yang sudah lanjut tetapi tetap menjalankan tugas-tugas mereka untuk mendukung karya dan pelayanan para suster muda melalui kerasulan mereka yang kecil yaitu perhatian mereka melalui doa-doa. Dengan demikian mereka juga

(110) 91 masih memberikan sumbangan yang berharga bagi kehidupan bersama dan mendukung kerasulan para suster muda. 9. Pertemuan komunitas Komunitas yang baik hendaknya sering diadakan pertemuan komunitas untuk memperdalam dan mengevaluasi bersama kehidupan religius dan kerasulan mereka. Di samping itu untuk saling mendorong dalam usaha mengasihi, serta mengkoordinir prakarsa dan saran-saran mengenai kehidupan mereka bersama dalam komunitas. Pertemuan komunitas dimaksudkan untuk pembaharuan komunitas dan memberi kesempatan kepada masing-masing suster untuk menyatakan penyesalan atas kesalahan-kesalahan mereka, saling berdamai kembali dan memberi harapan baru akan apa yang dapat dicapai masing-masing dengan rahmat Tuhan dan bantuan sesama suster (Konstitusi, art. 85). 10. Keseimbangan dalam hidup komunitas Komunitas Ursulin yang dipersatukan dalam nama Tuhan, pada hakekatnya bersifat rasuli. Makin bersatu dalam cinta kasih, makin dalam pula pengaruhnya. Maka komunitas sebagai keseluruhan terlibat dalam perutusannya. Karya pendidikan dalam bentuknya yang bermacam ragam, selalu merupakan karya komunitas sebagai keseluruhan, juga kalau dilakukan oleh satu orang saja, atau oleh satu kelompok. Hidup komunitas hendaknya sedemikian rupa, sehingga memungkinkan kerasulan Ursulin yang bermacam ragam. Di dalam komunitas mereka menemukan dukungan dan kegembiraan dalam melakukan tugas, juga kepastian akan kesuburan karya mereka yang menerima kekuatan dan daya hidupnya dari persatuan para suster dalam Kristus.

(111) 92 Maka perlu adanya keseimbangan dalam hidup berkomunitas, sehingga komunitas akan tetap kuat dan kokoh dalam kasih persaudaraan. Hal ini ditegaskan dalam Konstitusi: “Hidup komunitas hendaknya memungkinkan adanya keseimbangan antara doa, kerja dan istirahat, antara hening dan bercakap-cakap, antara menyendiri dan hadir pada orang lain, antara menerima tamu dan kebersamaan di antara kita sendiri. Kalau keseimbangan ini tetap dijaga, maka baik kepentingan pribadi maupun komunitas maupun tuntutan kerasulan terhadap kita dapat dihormati”(Konstitusi, art. 88). Apabila dalam kehidupan komunitas memperhatikan adanya keseimbangan antara hal-hal yang disebutkan di atas maka komunitas akan menjadi kemunitas yang menampakkan ciri khas yang khusus. Karena dalam hidup bersama perlu adanya keseimbangan antara doa, kerja dan istirahat, antara suasana hening dan bercakap-cakap, antara waktu pribadi dan hadir bersama orang lain. Ada saat menerima tamu dan juga kebersamaan di antara para suster sendiri. Para Ursulin berusaha untuk senantiasa memperhatikan hal-hal ini dengan demikian baik kepentingan pribadi ataupun komunitas dapat dihormati oleh setiap pribadi para suster. C. Hidup Komunitas Ordo Santa Ursula menurut Kapitel Umum Kapitel umum merupakan wewenang tertinggi dalam Tarekat dan tanda persatuan dalam cinta kasih. Tugasnya yang utama ialah menjaga khazanah warisan Tarekat, dan berdasarkan itu mendorong pembaharuan rohani dan kerasulan yang disesuaikan (Konstitusi, art. 172).

(112) 93 Komunitas adalah tempat di mana anggotanya dapat menjadi sungguh manusiawi, di mana orang dapat mendapatkan kesembuhan dan kekuatan batin. Disaat ketakutan dan kecurigaan antar anggota menghilang dan kepercayaan kepada Allah dan sesama bertumbuh, maka komunitas itu akan memancarkan kesaksian tentang kualitas dan gaya hidup yang mampu memberi solusi bagi kesulitan-kesulitan yang ada dalam masyarakat kita dewasa ini, seperti kerusuhan ditanggapi dengan hidup sebagai saudara, ketidakadilan dengan hidup berbagi dan solider, keputusasaan dengan kepercayaan dan harapan yang tanpa batas, kecurigaan dan kebencian dengan pengampunan (Komisi Pengembangan Spiritualitas Ursulin, 2000:2). Dalam bagian ini akan diuraikan dari ketiga Kapitel Umum Uni Roma Ordo Santa Ursula yang dilaksanakan pada tahun 1995, 2001 dan 2007. 1. Kapitel Umum Tahun 1995 Pesan Kapitel Umum tahun 1995 adalah Komunitas kita diharapkan semakin menjadi tanda profetis dari persatuan, rekonsiliasi dan harapan bagi orang-orang yang terluka oleh perpecahan, kekerasan dan putus-asa (Pesan Kapitel Umum, 1995). Menghadapi milenium ketiga yang sedang kita jalani bersama, hidup komunitas kita diharapkan semakin menjadi tanda profetis dari persatuan, rekonsiliasi dan harapan bagi orang-orang yang terluka oleh perpecahan, kekerasan dan putus asa. Pesan Kapitel ini sungguh menantang para suster untuk mewujudkan kualitas hidup bersama di mana setiap anggotanya terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, saling percaya, mengampuni, solider dan ramah

(113) 94 tamah. Kualitas hidup bersama ini dimulai dari dalam komunitas itu sendiri, dengan demikian para suster akan menjadi saksi persatuan, rekonsiliasi dan harapan bagi orang-orang yang sedang terluka karena berbagai permasalahan hidup yang mereka alami. Persatuan dalam komunitas akan terwujud apabila ada sikap keterbukaan, saling percaya satu sama lain, mendengarkan, memahami. Jika ada perbedaan pendapat atau salah paham maka jalan keluarnya adalah melakukan rekonsiliasi. Dengan demikian komunitas menjadi kesaksian yang hidup bagi sesama. Perjalanan hidup komunitas Ursulin melalui proses yang jatuh bangun dimana para suster selalu berusaha untuk lebih menghayati dan mewujudkan semangat dan spiritualitas Santa Angela dalam hidup bersama dengan orang lain dalam komunitas. Dalam pesan kapitel ini juga tertulis bahwa sebagai Ursulin, kita adalah putri-putri Santa Angela dalam komunitas internasional Uni Roma. Melihat kenyataan bahwa dalam kurun waktu 500 tahun lebih, di bawah dorongan Roh Kudus, karunia asali Santa Angela telah menjelma dalam berbagai cara. Dewasa ini nampak dalam hampir semua bentuk kanonik hidup bakti, kompani diosesan, tarekat sekulir, kongregasi diosesan dan tarekat dengan hak kepausan, kompani otonom dan federasi, uni nasional dan internasional. Seperti pohon yang bercabang banyak, masing-masing kelompok itu menancapkan akarnya dalamdalam ke dalam karisma tunggal yang diterima Angela demi kebaikan Gereja. Munculnya cabang baru tidak merugikan yang lain, dan Gereja mengakui semuanya sebagai cara otentik untuk menghayati kharisma Santa Angela. Santa Angela sendiri dengan bijak menulis; “Jika menurut zaman dan keadaan timbul

(114) 95 kebutuhan untuk membuat peraturan baru atau mengubah sesuatu, lakukanlah dengan bijak dan setelah menerima nasihat yang baik”(Warisan Terakhir, art. 2). Dengan bimbingan Roh Kudus, Ursulin telah sampai pada titik sejarah, di mana para Ursulin Provinsi Indonesia termasuk cabang religius di antara putri-putri Santa Angela (Konstitusi, art. 1) yang atas dorongan Roh Kudus menyebar di dunia, dan seratus tahun yang lalu membentuk Uni Roma dan sekarang para suster menjadi anggota-anggotanya. Dalam usaha memperdalam identitas para suster sebagai Ursulin Uni Roma, terlebih dahulu merefleksikan sejenak apa artinya menjadi anggota dan apa konsekuensi keanggotaan itu bagi hidup para suster (Surat Edaran No.250, 1998:3). Hidup komunitas akan tetap sehat sejauh para suster berhasil menghindari baik kecendrungan untuk menolak batas-batas dan pembatasan diri maupun godaan untuk menutup diri, atau mengucilkan siapa saja yang mempunyai cara berpikir yang berbeda. Komunitas-komunitas dan Tarekat Ursulin adalah salah satu bagian dari Gereja, yang merupakan persatuan organis dalam panggilan dan kharisma khusus yang berbeda-beda yang ditimbulkan oleh Roh Kudus demi kebaikan seluruh Tubuh. Mengingat dunia dewasa ini individualisme yang kuat yang telah merusak masyarakat, sehingga mau tak mau para suster juga terpengaruh olehnya. Maka perlu juga para suster mengkaji apa implikasinya menjadi anggota komunitas. Perlu juga memperdalam kesadaran para suster akan tanggungjawab pribadi sehubungan dengan kepentingan bersama (Surat Edaran, No.250, 1998:4).

(115) 96 2. Kapitel Umum tahun 2001 Pesan Kapitel Umum tahun 2001 adalah, “Dengan mengikuti jejak Santa Angela peziarah pembawa damai dan rekonsiliasi hari ini kita mendengar panggilan untuk semakin menjadi PENDAMAI dalam keadilan, solidaritas dan keserasian di dalam diri sendiri dan di antara kita dalam hidup komunitas kita, dalam doa, kontemplasi dan misi, di antara bangsa-bangsa dan kebudayaankebudayaan bersama bumi dan seluruh ciptaan. Damai adalah pemberian Kristus dalam wafat dan kebangkitan-Nya, damai adalah buah Roh” (Pesan Kapitel Uumum, 2001). Dalam Kapitel ini menegaskan bahwa komunitas adalah pertamatama di mana para suster hidup sebagai pendamai. Untuk itu diharapkan agar setiap propinsi dan komunitas agar mengusahakan cara-cara yang paling baik untuk menghayati hal itu di zaman ini. Setiap orang akan mampu menjadi pembawa atau pendamai jika ia sendiri telah mengalami rasa damai itu dalam hatinya sendiri. Untuk itu damai diusahakan oleh para suster yang dimulai dari dalam diri sendiri, memancar keluar yaitu dalam komunitas itu sendiri dan pada akhirnya damai itu bisa menjiwai setiap orang yang berjumpa dengan mereka. Damai itu perlu diusahakan dengan cara-cara yang paling baik misalnya dalam hidup sehari-hari para suster mengalami suasana komunitas yang kurang memberikan rasa damai oleh karena adanya pertengkaran atau permusuhan. Maka hendaknya setiap suster dengan rendah hati mau mengakui kesalahan dan mengusahakan rekonsiliasi yaitu saling mengampuni dan menerima satu dengan yang lain. Sehingga komunitas akan menjadi komunitas yang damai, sejahtera dan

(116) 97 bahagia yang mampu memberikan rasa aman bagi setiap orang baik bagi para suster itu sendiri ataupun mereka yang ada di sekitarnya. Dengan demikian para suster mampu menjadi pendamai bagi orang lain (Pesan Kapitel Umum, 2001:3). 3. Kapitel Umum Tahun 2007 Pesan Kapitel Umum tahun 2007, “Dikuatkan oleh Sabda Allah dan oleh persatuan kita satu sama lain, marilah kita mempunyai keberanian untuk keluar dari batas-batas kita dan bersama Angela, menjadi tanda rekonsiliasi dan harapan.” Kehidupan komunitas Ursulin dasarnya adalah dikuatkan oleh persatuan para suster satu sama lain. Jika persatuan itu ada dan kuat serta kokoh maka komunitas akan menjadi kokoh dan bertahan, walau kadangkala tidak dapat dihindari peristiwa atau pengalaman perbedaan. Perbedaan di antara mereka menjadi sesuatu yang saling memperkaya satu sama lain dalam kehidupan bersama sebagai sebuah komunitas. Kapitel Umum menghimbau kepada setiap suster untuk membaharui mutu kehidupan komunitas melalui beberapa hal yaitu: a. Menemukan cara-cara konkret untuk menghayati rekonsiliasi Menjadi putri Santa Angela juga berarti menjaga supaya semangat rekonsiliasi dan pengampunan tetap hidup diantara anggota komunitas. Rekonsiliasi itu nampak dalam kehidupan bersama yang akan menjadi persatuan dalam hidup keseharian, hasrat untuk mendengarkan dengan lebih baik dan bersikap toleran walaupun ada ketegangan, benturan atau kemunduran dalam hidup bersama. Perlu diakui bahwa dalam hidup bersama para suster juga menyadari keterbatasan dan kelemahan, namun para suster tidak berhenti pada kesadaran ini. Mereka tetap bangkit dan berusaha untuk saling mengampuni satu

(117) 98 dengan yang lainnya. Pengalaman kebangkitan untuk saling mengampuni merupakan hal yang penting dalam hidup berkomunitas untuk mengembangkan persatuan dan kasih bagi sesama (Pesan Kapitel Umum, 2007:1). Angela adalah seorang pembawa damai, ini merupakan karismanya yang menarik. Teladan Bunda Angela ini patut diteruskan oleh para putrinya. Para suster dapat menjadi pembawa damai bagi sesama. Hal yang sangat penting jika para suster mau menjadi pembawa damai adalah perlu adanya terlebih dahulu ada damai dalam hati mereka. Tingkah laku lahiriah tidak cukup kalau hati digerogoti rasa benci atau pahit. Perlu sikap rendah hati untuk mengakui kerapuhan, mengakui kesalahan sendiri, mengampuni dan tetap mencintai. Intinya adalah mereka dapat membawa damai ke dunia jikalau mereka mau terbuka untuk saling mengampuni, dan membimbing banyak orang lain dalam jalan rekonsiliasi ini. Dengan demikian para suster juga akan menjadi pembawa damai ke lingkungan yang lebih luas misalnya menjadi pembawa damai, persatuan dan rekonsiliasi dalam menghadapi konflik keluarga. Kerja sama dengan kaum awam dalam kerasulan juga memberi kemungkinan bagi para suster untuk membina semangat rekonsiliasi. Membuat orang melihat perbedaan-perbedaan dan menghayatinya sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, merupakan jalan yang penuh kesulitan, pertentangan dan konflik. Pengalaman kesulitan ini memiliki segi positif yaitu para suster mampu mengenal keterbatasan sendiri dan kebutuhan untuk berdoa dekat kaki Yesus Kristus. Perlu diakui bahwa tak ada jalan lain kecuali berkumpul bersama dekat kaki Yesus Kristus, dan memohon semangat Santa Angela.Yesus akan membantu

(118) 99 mereka untuk melihat orang lain dengan mata-Nya, mengatasi situasi-situasi dengan hati-Nya, dalam terang Roh Kudus. Hal ini lebih dipertegas dalam Konstitusi artikel 99 yang menyatakan bahwa, komunitas religius kita selalu ada dalam proses pertumbuhan. Dengan rendah hati kita menerima kesulitan-kesulitan dalam mengasihi sesama sebagai saudara dengan sesempurna mungkin. Namun Bunda Angela meninggalkan nasehat yang begitu indah dan sangat mengagumkan bagi para putrinya, “Terikat satu sama lain dengan cinta kasih” kita akan memberi kesaksian tentang persatuan, damai dan harapan dalam dunia yang terluka oleh begitu banyak perpecahan, pemisahan dan pertikaian. b. Memajukan pembinaan berkelanjutan (sifat-sifat yang dibutuhkan untuk menghayati hidup dalam komunitas, relasi antar pribadi, kerja sama, membagi tanggungjawab, persiapan pensiun dan lain-lain). Pembentukan adalah proses di mana segala sarana dikerahkan untuk menjawab panggilan Kristus dan untuk mengembangkan kurnia-kurnia Allah demi Kerajaan-Nya. Pembentukan itu terutama karya Roh Kudus. Dalam Tarekat Ursulin pembentukan selalu dianggap hal yang pokok. Pembentukan itu berkesinambungan atau berkelanjutan dan untuk sebagian besar menemukan dalamnya hidup rohani dan suburnya kerasulan mereka. Pembentukan Ursulin bertujuan untuk mengembangkan pribadi secara harmonis sesuai dengan rahmat panggilannya. Pembentukan Ursulin dijiwai semangat Santa Angela, dan dengan mempertahankan nilai-nilai asli tradisi, berusaha untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan setiap pribadi, kebutuhan Gereja dan dunia (Konstitusi, art. 106-107)

(119) 100 Pelayanan Gereja dan masa depan kehidupan religius tergantung dari kemurahan hati kaum muda untuk menjawab panggilan Kristus. Maka tanggungjawab para suster baik sebagai pribadi dan sebagai komunitas untuk membangkitkan dan mengembangkan panggilan pertama-tama mengandaikan doa. Kesaksian hidup bakti mereka yang dihayati dengan gembira serta keterbukaan komunitas mereka merupakan daya tarik yang paling besar. Setiap Ursulin mempunyai tanggungjawab pribadi untuk selama hidupnya berkembang terus sebagai manusia dan sebagai religius demi kemuliaan Allah dan pelayanan sesama. Ia berusaha membaharui diri dan tetap terbuka untuk penyesuaian yang perlu (Konstitusi, art. 150). Melalui pembinaan berkelanjutan para suster mampu merefleksikan diri sehingga dapat menemukan sifat-sifat yang positif yang sungguh dibutuhkan untuk menghayati hidup dalam komunitas. Dengan demikian relasi antar pribadi menjadi lebih baik dan akan semakin mampu membangun kerja sama yang baik sehingga setiap anggota akan melaksanakannnya dengan penuh tanggungjawab. Jika semua Ursulin dan masing-masing berusaha untuk bertekun dan berkembang dalam panggilan yang diterima, maka mereka akan mewujudkan imbauan Santa Angela; “Tempuhlah hidup baru” (Konstitusi, art. 151). Pembinaan berkelanjutan tidak terdiri dalam tempat yang pertama-tama dan dari hal-hal yang istimewa, kursus yang khusus atau kejadian-kejadian yang istimewa yang semuanya mempunyai peran yang positif dan perlu untuk memerankan setiap saat. Pembinaan berkelanjutan ini terdiri di atas semua dalam membiarkan diri sendiri ditantang dan dibentuk oleh hidup sehari-hari, melalui

(120) 101 meditasi harian, lewat hidup bersama dengan para suster dalam komunitas, kejadian-kejadian, kelelahan dalam kerasulan, hubungan dengan Tuhan, melalui Sabda harian, karisma Institut yang ditawarkan dalam Konstitusi. Dengan demikian kehidupan berkomunitas Ursulin melalui usaha dan pergulatan para suster akan menjadi komunitas yang formatif, yang terus menerus dibentuk agar dapat mencapai suasana komunitas yang diwarnai kasih, persatuan dan persaudaraan dalam hidup bersama (Pesan Kapitel Umum, 2007:1). c. Mendatangkan nara sumber sesuai dengan kebutuhan untuk membantu dalam hal konseling pribadi, fasilitasi untuk komunitas. Perlu diakui bahwa komunitas yaitu para suster memiliki kelemahan dan kerapuhan. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya luka batin yang dimiliki seseorang. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi seseorang dalam usaha untuk hidup bersama. Dan perlu juga disadari oleh setiap suster bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tetapi penting juga para suster mulai memikirkan dan mencari jalan keluar misalnya mendatangkan nara sumber yang sesuai dengan kebutuhan untuk membantu sesama komunitas khususnya dalam hal konseling pribadi. Kehadiran tokoh ini lebih sebagai sahabat yang menjadi fasilitasi untuk membantu anggota komunitas dalam konseling pribadi sehingga mutu hidup bersama menjadi lebih baik jika setiap orang mau dan rela dengan tulus untuk mengolah luka-luka batin yang mengganjal dalam hidupnya. Pengolahan ini tidak berarti menjadi sembuh total dan hilang semuanya, namun lebih pada menyiapkan diri seseorang untuk lebih kuat dan tegar dalam menghadapi kesulitan dalam hidup bersama (Pesan Kapitel Umum, 2007:1).

(121) 102 d. Merefleksikan keseimbangan antara hidup komunitas dan pelayanan. Para suster perlu merefleksikan kembali untuk melihat keseimbangan memerlukan tenaga yang besar, ada kemungkinan bahwa mereka akan terlena dengan pelayanan yang dipercayakan kepada tiap-tiap suster sehingga hidup komunitas menjadi kurang berkualitas. Dalam Konstitusi artikel 77 dikatakan bahwa masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk hadir di dalam komunitas. Perkembangan komunitas tergantung dari mutu kehadiran dari setiap anggota komunitas. Komunitas akan menjadi hidup, kokoh dan menarik jika setiap anggota berusaha untuk terlibat dalam pembangunan komunitas itu sendiri. Maka para suster perlu selalu ingat bahwa keseimbangan hidup komunitas dan pelayanan itu penting. Jangan sampai ada yang merasa bahwa ia harus selalu berada ditempat pelayanan karena tanpa kehadirannya karya pelayanan itu tidak akan berjalan. Atau juga bila ada perselisihan atau beda pendapat akan mencari jalan lain dengan menghindar dari komunitas dengan menyibukkan dirinya dalam pelayanan. Sehingga ada kesan seolah-olah ia sangat tekun dalam pelayanan dan dikenal sebagai pekerja keras. Maka tiap anggota perlu menanamkan dalam dirinya rasa memiliki komunitas. Masing-masing di antara para suster dengan caranya sendiri menyumbang untuk pembangunan komunitas (Konstitusi, art. 77). Ursulin adalah komunitas rasuli maka perlu adanya selingan teratur antara waktu kerja atau pelayanan dan waktu untuk mengalami kebersamaan dengan sesama anggota komunitas dalam hidup komunitas itu sendiri (Pesan kapitel Umum, 2007:1).

(122) 103 BAB IV TINJAUAN KRITIS TENTANG HIDUP BERSAMA DALAM KOMUNITAS A. Undangan Gereja tentang hidup komunitas yang sejalan dengan Ursulin Gereja senantiasa mengundang kaum hidup bakti untuk hidup dalam komunitas. Hal ini menjadi ciri khas bagi kaum hidup bakti yang secara khusus memilih jalan hidup untuk mengikuti Kristus. Martasudjito mengatakan bahwa, “Komunitas adalah sebuah kehidupan bersama. Dan kehidupan bersama adalah suatu anugerah dan karunia Allah. Ciri khas dari suatu karunia adalah diberikan, dihadiahkan. Dan hal itu sungguh nyata, dimana kita menerima segala sesuatu dalam komunitas sebagai anugerah, hadiah dan pemberian gratis dari Tuhan. Komunitas sebagai karunia berarti bahwa komunitas yang kita miliki bukanlah hasil daya upaya kita dan bukanlah hasil jerih payah kita sendiri. Dan kita tidak mempunyai suatu jasa apa pun terhadap komunitas. Setiap anggota komunitas yang ada dipandang dan diterima sebagai anugerah dan kurnia Tuhan dan bukan sebagai milik atau bawahan yang bisa kita manfaatkan (Martasudjita, 1999: 88). Setiap orang yang dipersatukan dalam hidup komunitas memiliki keunikan yang khas, dan jika setiap orang mengakui dan menghargai kekhasan tersebut sungguh hidup komunitas akan menjadi komunitas yang penuh cinta kasih. Setiap anggota komunitas menjadi pribadi yang mandiri, bebas dan autentik dengan segala kekhasannya sesuai dengan anugerah Allah sendiri. Dan setiap pribadi itu menjadi karunia bagi kita dan itu semua bukan hasil karya kita. Karena cinta kasih menjadi dasar atau fundasi yang kuat bagi anggota komunitas yang ada. Setiap anggota hendaknya menyadari bahwa kehadirannya menjadi hadiah bagi sesama dan pribadinya merupakan kurnia dari Tuhan. Dengan demikian setiap anggota

(123) 104 akan saling menerima, menghargai satu sama lain sehingga komunitas ini menjadi sekolah cinta. Gereja mengundang kaum hidup bakti khususnya Ursulin untuk menjawab kebutuhan zaman saat ini. Para Ursulin juga dengan hati yang terbuka dan bebas menanggapi undangan Gereja dengan hidup berkomunitas. Hidup berkomunitas merupakan ciri pokok panggilan Ursulin (Konstitusi, art. 1). Hal ini sangat nampak dimana para Suster Ursulin tinggal dalam berbagai komunitas yang tersebar di berbagai daerah baik itu komunitas kecil maupun besar. Setelah membahas dan mendalami undangan Gereja untuk hidup berkomunitas pada bab II dan melihat hidup komunitas Ursulin berdasarkan nilai-nilai yang dihidupi Santa Angela pada bab III maka penulis mau menguraikan hal-hal yang sejalan tentang hidup bersama dalam komunitas baik dari undangan Gereja maupun dari Ordo Santa Ursula. Persamaan ini menjadi kekuatan bagi para suster Ursulin dalam menjalani hidup bersama dalam komunitas. Hal-hal itu antara lain; 1. Menurut Citra Tritunggal Mahakudus Undangan Gereja untuk hidup berkomunitas melalui Vita Consecrata menghendaki kaum hidup bakti untuk hidup dalam komunitas yang bercirikan komunitas Triniter dimana terjalin persatuan seperti persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Setiap orang yang dipanggil dalam hidup berkomunitas mengikuti Yesus supaya mereka menyertai Dia, dan dalam perjalanan Yesus mendidik mereka agar hidup menurut teladan-Nya bagi Bapa dan perutusan yang telah diterima-Nya dari Bapa. Dalam perjalanan selanjutnya Yesus membentuk keluarga baru bagi mereka yang siap menjalankan kehendak Allah. Setelah itu

(124) 105 Yesus naik ke surga dan sebagai buah kurnia Roh Kudus, dibentuklah rukun hidup persaudaraan di sekitar para Rasul yang selalu berkumpul bersama dalam memuji dan bersyukur kepada Allah (Kis 2:42-47; 4:32-35). Dalam Vita Consecrata artikel 41 dikatakan bahwa, “Pada hakekatnya Gereja itu misteri persekutuan, umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (Dokumen KV II GS, art. 4). Kaum hidup bakti dipanggil secara khusus untuk hidup dalam persekutuan dan kasih. Relasi kaum hidup bakti ini hendaknya menggambarkan relasi antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, dengan Tritunggal mampu mengubah hubungan-hubungan manusiawi yang lebih baik. Persatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah relasi yang sangat mendalam. Untuk itu hendaknya kaum hidup baktipun demikian memiliki relasi yang mendalam diantara sesama anggota komunitas. Dalam Konstitusi yang membahas tentang kehidupan komunitas Ursulin dikatakan bahwa “Cinta yang mempersatukan kita bersumber pada persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus yang bersemayam dalam hati kita. Komunitas religius kita dipanggil untuk masuk dalam ikatan cinta itu (Konstitusi, art. 74). “Semoga mereka semua menjadi satu seperti Engkau, Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga menjadi satu di dalam Kita”(Yoh 17:21). Persatuan Triniter ini juga diteruskan dan dihayati oleh para suster Ursulin hingga saat ini. Dalam kehidupan bersama, para suster Ursulin mengusahakan keserasian dan keharmonisan, saling menerima apa adanya, saling menghargai, saling percaya dan menghargai pendapat orang lain, saling memperhatikan dan saling mengasihi dalam suka-duka hidup sehari-hari (Konstitusi, art. 80-82). Dengan

(125) 106 demikian suasana hidup komunitas Ursulin sungguh menjadi hidup karena masing-masing anggota menghayatinya dengan kesungguhan hati. 2. Hidup bersaudara dalam cinta kasih Kaum hidup bakti dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang dilandasi oleh semangat persaudaran. Dalam hal ini cinta kasih menjadi landasan mereka dalam usaha dan perjuangan mereka dalam hidup bersama. Hal ini menjadi kekuatan bagi kaum hidup bakti baik yang ditegaskan dalam Vita Consecrata artikel 42, “Hidup bersaudara dalam arti hidup bersama dalam cinta kasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan gerejawi. Corak hidup itu dipratekkan secara khas dalam Tarekat religius dan Serikat Hidup Apostolis”. Sebagai orang Kristiani semua orang dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti Kristus lebih dekat dalam suatu persekutuan tertentu. Maka perbedaan yang ada tidak menjadi penghambat bagi mereka yang dipanggil secara khusus, karena mengikuti Kristus bukan untuk meniadakan perbedaan yang ada dalam kelompok tertentu. Perlu diakui bahwa setiap anggota kaum hidup bakti yang berbeda dalam bahasa, suku dan budaya namun mereka semua dianggil untuk saling mencintai dan bekerja sama bagi dan dalam komunitas tertentu. Panggilan Tuhan ini menjadikan hal-hal yang tidak mungkin menjadi dimungkinkan. Tuhan mengubah hati setiap orang menjadi hati yang baru untuk mampu menerima orang lain yang berbeda sekali dengan dirinya untuk kemudian menjadikannya saudara. Demikian juga dalam komunitas Ursulin, para suster dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan kasih. Hidup bersama dalam suasana persaudaraan adalah sesuatu yang khas bagi para suster Ursulin dan merupakan penyangga

(126) 107 hidup bagi mereka. Kehidupan komunitas perlu diciptakan sedemikian rupa sehingga dapat memberi dukungan kegembiraan setiap anggota dalam tugas perutusan mereka. Para suster Ursulin hidup dalam komunitas persaudaraan. Dengan mengambil bagian dalam doa, karya kerasulan dan seluruh kenyataan hidup sehari-hari, dengan saling menghormati dan memberi kebebasan yang merupakan sifat khas Angela, persatuan mereka dalam iman dinyatakan dan dikuatkan. Gereja juga mengundang kaum hidup bakti untuk menghayati hidup bersama dalam persaudaraan, dan hal ini akan terwujud berkat cinta kasih timbal balik antara semua anggota komunitas (Konstitusi, art. 4). 3. Tugas Kepemimpinan Peranan pemimpin sangat penting dalam komunitas hidup bakti. Hal ini dikatakan dalam Vita Consecrata bahwa pemimpin mempunyai peranan yang penting dalam hidup rohani dan perutusan. Mereka memiliki tanggungjawab atas komunitas, sebagai pembimbing rekan-rekan anggota dalam hidup rohani dan apostolis (VC, art. 43). Kehadiran pemimpin dalam sebuah komunitas sangat penting, karena ia memiliki tanggungjawab yang cukup mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan komunitas. Bisa dibayangkan jikalau sebuah komunitas tanpa seorang pemimpin, bagaimana suasana komunitas tersebut. Mungkin akan terjadi setiap anggota berjalan sendiri-sendiri tanpa ada yang bertanggungjawab. Untuk itu peranan pemimpin sangatlah penting. Dalam hidup bersama komunitas Ursulin kehadiran seorang pemimpin sangat penting untuk perkembangan hidup komunitas itu sendiri, baik bagi hidup rohani maupun perutusan. Pemimpin hadir sebagai orang yang bertanggungjawab

(127) 108 atas komunitas, sebagai pembimbing. Pemimpin juga hadir sebagai pemberi semangat kehidupan Injili dan ikatan persatuan. Ia juga menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai pemimpin berdasarkan semangat pelayanan (Konstitusi, art. 78). Sikap seorang pemimpin hendaknya rendah hati, ramah dan lembut sehingga ia mampu merangkul semua anggota komunitasnya dengan demikian diantara mereka ada keterikatan sebagai saudara dalam suatu komunitas. Angela meninggalkan nasehat yang sangat baik bagi para pemimpin. Hendaknya para pemimpin bersikap ramah dan berbelaskasih, karena dengan kelembutan dan keramahan seorang pemimpin akan lebih berhasil dari pada dengan celaan dan kata-kata yang keras (Nasehat II, art. 1,3). Jika seorang pemimpin menghidupi apa yang ditinggalkan Angela, maka komunitas Ursulin sungguh menjadi komunitas yang hidup harmonis dan relasi antara pemimpin dan anggota menjadi sehat dan kuat. Angela pun menegaskan bahwa, semakin anda menghargai mereka, semakin anda mencintai mereka, semakin anda mencintai mereka, semakin besar kesanggupan anda untuk melayani dan melindungi mereka (Prakata Nasehat, art. 10). 4. Peranan para anggota yang lanjut usia Para anggota yang lanjut usia dalam komunitas perlu mendapatkan perhatian dari sesama anggota komunitasnya. Karena mereka mempunyai peranan dalam kehidupan komunitas. Dimana kesaksian mereka telah banyak membantu Gereja dan Tarekat oleh karena kebijaksanaan dan pengalaman mereka. Mereka tetap menjalankan tugas-tugas mereka untuk mendukung karya dan pelayanan para suster muda melalui karya kerasulan mereka yang kecil yaitu perhatian dan

(128) 109 doa-doa mereka. Dalam Vita Consecrata dikatakan bahwa, “Perawatan para anggota yang lanjut usia dan sakit amat penting dalam hidup persaudaraan, khususnya zaman sekarang, mengingat bahwa di berbagai daerah persentase anggota hidup bakti yang lanjut usia makin meningkat”(VC, art. 44). Dalam komunitas Ursulinpun demikian, dianjurkan untuk tetap menghormati dan menghargai para suster yang lanjut usia. Hendaknya para suster yang lanjut usia diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan terima kasih. Komunitas perlu mengusahakan suasana yang menyenangkan bagi mereka. Kehadiran dan peranan mereka masih cukup besar dan mempengaruhi komunitas. Dengan doa dan kesabaran mereka, dengan pelayanan yang masih dapat mereka lakukan, dengan perhatian mereka bagi segala hal, yang menyangkut komunitas dan karya-karyanya, mereka memberi sumbangan yang berharga bagi hidup bersama dan kesuburan kerasulan komunitas dan tarekat (Konstitusi, art. 84). 5. Menurut citra jemaat rasuli Hidup bersaudara memainkan peranan yang mendasar dalam perjalanan rohani para anggota hidup bakti, baik demi pembauran mereka terus menerus maupun untuk sepenuhnya menjalankan misi mereka dalam masyarakat (VC, art. 45). Hidup bersaudara dengan saling mengasihi menjadi dasar dalam hidup bersama dalam komunitas kaum hidup bakti. Karena dengan saling mengasihi sebagai saudara dan saudari maka kaum hidup bakti akan hadir sebagai komunitas menurut citra jemaat rasuli. Hal ini dapat dipelajari dari jemaat kristiani purba di Yerusalem yang tekun dalam pengajaran para Rasul melalui doa bersama, sehati

(129) 110 sejiwa dan saling berbagi dari kepunyaan sendiri menjadi kepunyaan bersama (Kis 2:42-47). Gereja mengajak kaum hidup bakti untuk meneladan hidup jemaat perdana demikian juga Santa Angela menghendaki para pengikutnya untuk menghayati hidup bersama dalam komunitas berdasarkan pengalaman kehidupan para umat perdana di Yerusalem. Kristus memanggil para suster Ursulin untuk hidup seperti umat kristen yang pertama membentuk komunitas yang “sehati dan sejiwa” penuh kegembiraan karena kehadiran-Nya (Konstitusi, art. 75). 6. Persaudaraan dalam dunia yang terpecah belah dan tidak adil Kaum hidup bakti dipanggil untuk berusaha hidup dalam secita rasa dengan Gereja sebagai persekutuan. Hal ini ditegaskan dalam Konsili Vatikan II, yaitu para anggota hidup bakti diharapkan sungguh mahir memelihara persekutuan dan mempratekkan spiritualitas persekutuan sebagai saksi dan perancang bangunan rencana kesatuan yang memahkotai sejarah manusia menurut rencana Allah (VC, art. 46). Kaum hidup bakti yang telah dipanggil secara khusus tidak hidup terasing dari masyarakat. Mereka hadir dan berada bersama masyarakat sekitarnya, dengan demikian hidup bakti yang disatukan dalam komunitas menjadi kesaksian yang khas bagi masyarakat sekitarnya. Kehadiran dan hidup mereka dalam kesatuan komunitas menjadi saksi bagi masyarakat akan perancang bangunan rencana kesatuan yang memahkotai sejarah manusia menurut rencana Allah. Karena sejak semula Allah telah merencanakan agar manusia hidup dalam persekutuan dengan sesamanya. Maka kaum hidup bakti menjadi tanda yang hidup dalam dunia yang terpecah belah dan tidak adil.

(130) 111 Komunitas suster Ursulin hidup dalam situasi dunia yang terpecah belah dan dalam suasana ketidakadilan. Untuk itu para suster Ursulin diharapkan dapat menjadi saksi persatuan dan damai dalam hidup bersama. Hal ini dapat dimulai dari dalam yaitu dalam komunitas para suster itu sendiri. Dengan demikian para suster akan mampu menjadi saksi bagi sesama yang hidup dalam dunia yang terpecah belah dan ketidakadilan. Karena komunitas merupakan tempat harapan dan penemuan nilai-nilai Sabda Bahagia bagi mereka yang mengalami ketidakdilan dalam hidup. Hal ini sangat jelas ditegaskan dalam pesan Kapitel Umum tahun 1995 maupun juga 2007 dimana para suster diajak untuk menjadi tanda rekonsiliasi dan harapan bagi mereka yang terluka oleh karena perpecahan, kekerasan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Komunitas Ursulin mampu memancarkan kesaksian tentang kualitas dan gaya hidup yang mampu memberi solusi bagi kesulitan-kesulitan yang ada dalam masyarakat dewasa ini, seperti kerusuhan ditanggapi dengan hidup sebagai saudara, ketidakadilan dengan hidup berbagi dan solider, keputusasaan dengan kepercayaan dan harapan yang tanpa batas, kecurigaan dan kebencian dengan pengampunan. 7. Komunio Komunio yang artinya persekutuan yang melahirkan persaudaraan merupakan ciri khas anggota hidup bakti sangat nampak dalam hidup berkomunitas. Persaudaraan itu dialami oleh karena adanya cinta kasih yang menjadi dasar dalam kehidupan bersama. Persaudaraan ini didasarkan oleh persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus yang merupakan ciri Triniter. Dan ini yang menjadi kerinduan Gereja agar semua anggota hidup bakti mewujudkan

(131) 112 persekutuan mereka dalam hidup bersama bercirikan persatuan Triniter yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dimana cinta kasih akan Kristus akan semakin mendekatkan manusia kepada-Nya, dan cinta kasih akan Roh Kudus yang membuka hati manusia bagi ilham-Nya dan cinta kasih akan Bapa sebagai sumber perdana dan tujuan utama bagi kaum hidup bakti itu sendiri. Dengan demikian hidup komunitas kaum hidup bakti menjadi pengakuan iman akan tanda Tritunggal, yang misteri-Nya dicanangkan kepada Gereja sebagai pola dan sumber tiap bentuk hidup Kristiani (VC, art. 21). Demikian juga komunitas Ursulin yang menghayati hidup bersama sebagai saudara dalam komunitas selalu berusaha untuk mewujudkan komunio itu dalam kehidupan bersama. Teladan Santa Angela yang mengharapkan agar persekutuannya menghayati hidup dalam keserasian, terikat satu sama lain, sehati sekehendak. Mereka menyadari dan mengakui bahwa cinta yang mempersatukan mereka adalah bersumber pada persatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Maka komunitas religius Ursulin dipanggil untuk masuk dalam ikatan cinta itu (Konstitusi, art. 74). Anggota komunitas Ursulin terdiri dari berbagai latar belakang budaya, suku dan bahasa yang beragam, namun keragaman dan perbedaan itu menjadi suatu kekayaan bagi komunitas dalam usaha mewujudkan komunitas ikatan cinta Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dengan demikian hidup persekutuan atau komunio Ursulin menjadi kesaksian bagi Gereja yang menghidupi jiwa semangat dari persatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus.

(132) 113 8. Ekaristi sebagai tempat untuk berjumpa dengan Tuhan Gereja mengundang kaum hidup bakti untuk senantiasa mengusahakan spiritualitas persekutuan diantara sesama anggota komunitas. Dalam Bertolak Segar Dalam Kristus dikatakan bahwa, “Memberi prioritas bagi spiritualitas berarti mulai dengan segar dari yang ditemukan kembali yaitu sentralitas perayaan Ekaristi, tempat khusus berjumpa dengan Tuhan (BSDK, art. 26). Ekaristi merupakan pusat hidup komunitas hidup bakti. Dalam dan melalui Ekaristi, Yesus mengikutkan kaum hidup bakti pada-Nya dalam persembahan paska-Nya kepada Bapa. Untuk itu kaum hidup bakti turut serta mempersembahkan dan dipersembahkan oleh Kristus, dan penyerahan hidup mereka merupakan persembahan total diri yang disatukan dengan erat dengan Korban Ekaristi (BSDK, art. 26). Dalam dan melalui Ekaristi, kaum hidup bakti menimba kekuatan dari Korban Kristus, maka sangat diharapkan kaum hidup bakti untuk bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi. Dalam Sacrosanctum Concilium dikatakan bahwa, “Ekaristi sebagai sakramen cinta dan korban, merupakan pusat hidup Gereja. Dalam Ekaristi Kristus meneruskan sampai saat kedatangan korban salib-Nya” (Dokumen KV II SC, art. 47). Kaum hidup bakti juga menempatkan Ekaristi sebagai kesempatan bagi mereka untuk berjumpa dengan Tuhan. Dalam dan melalui Ekaristi mereka akan menemukan dasar hidupnya yang akan menjadi kekuatan bagi mereka dalam pelayanan. Melalui Ekaristi mereka menyatukan cinta mereka dengan cinta Kristus sendiri sehingga mampu memperkembangkan hidup dan panggilannya itu sendiri.

(133) 114 Demikian juga para suster Ursulin menghayati persatuan mereka dengan Kristus melalui santapan Sabda dan Roti yang dibagikan dengan sendirinya mereka telah mengambil bagian dengan memberikan diri mereka kepada Kristus (Konstitusi, art. 76). Dalam Ekaristi juga persatuan mereka dengan sesama mendapatkan bentuk yang paling dalam karena Ekaristi merupakan sumber bagi kehidupan mereka. Dalam Ekaristi semua bentuk doa jadi satu, Sabda Allah yang dinyatakan diterima, relasi dengan Allah dan dengan sesama sungguh ditantang. Maka Ekaristi menjadi sumber sehari-hari bagi hidup rohani para kaum hidup bakti dan para suster Ursulin itu sendiri. Ekaristi sebagai peringatan wafat dan kebangkitan Kristus membawa para suster Ursulin untuk masuk ke dalam misteri Paskah dan membuat mereka mengambil bagian dalam penebusan dunia. Maka Ekaristi merupakan pusat seluruh hidup liturgis mereka (Konstitusi, art. 51). Selain itu juga Ekaristi sebagai sakramen cinta kasih merupakan pengikat hidup berkomunitas dan sumber persatuan mereka. Ekaristi mempersatukan mereka dengan seluruh umat Allah. Dengan menerima Kristus yang telah diserahkan bagi mereka, para Ursulin dipanggil untuk menyerahkan hidup mereka bagi orang lain. 9. Pembinaan terus menerus Pembinaan yang berkelanjutan dalam tarekat-tarekat hidup apostolis maupun kontemplatif merupakan persyaratan intrinsik pentakdisan religius (VC, art. 69). Kaum hidup bakti yang dipanggil untuk mengikuti Kristus secara khusus hendaknya senantiasa melakukan pembinaan yang berkelanjutan, sehingga hidupnya baik pribadi maupun kerohaniannya selalu terpelihara. Dengan demikian

(134) 115 proses hidupnya akan bertumbuh dan berkembang menuju ke arah yang lebih baik. Setiap pribadi hendaknya selalu bersedia untuk membiarkan dirinya dibina secara terus menerus sehingga ia akan semakin mampu menjadi saksi atau ragi bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan manusiawi pribadi seseorang sehingga pembinaan yang berkelanjutan sungguh diperlukan. Pembentukan dalam Ursulin bertujuan untuk mengembangkan ribadi secara harmonis sesuai dengan rahmat panggilannya. Maka pembentukan Ursulin dijiwai oleh semangat Santa Angela, dan dengan mempertahankan nilai-nilai tradisi Ursulin itu sendiri, berusaha untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan setiap pribadi, kebutuhan Gereja dan dunia (Konstitusi, art. 107). Setiap pribadi Ursulin mempunyai tanggungjawab pribadi untuk selama hidupnya berkembang terus menerus baik sebagai manusia dan sebagai religius demi kemuliaan Allah dan pelayanan terhadap sesama. Maka hendaknya setiap Ursulin berusaha untuk selalu membaharui diri dan tetap terbuka uuntuk penyesuaian yang perlu (Konstitusi, art. 108). Jika semua anggota komunitas dan masing-masing pribadi berusaha untuk bertekun dan berkembang dalam panggilan yang diterima, maka komunitas Ursulin akan mewujudkan imbauan Santa Angela; “Tempuhlah hidup baru”. 10. Spiritualitas persekutuan Spiritualitas perekutuan atau persatuan perlu diperjuangkan oleh kaum hidup bakti, sehingga mereka mampu menjadikan Gereja home sekaligus sekolah persatuan. Hal ini sungguh tidak mudah, untuk itu diperlukan kesediaan dan kerja sama di antara anggota hidup bakti dalam mengusahakannya. Spiritualitas

(135) 116 persekutuan ini perlu dipratikkan anggota hidup bakti yang dimulai dalam komunitas mereka sendiri, sehingga akan mampu memancar keluar jemaat Gerejawi bahkan melampaui batas-batasnya dengan membuka dialog dalam cinta kasih. Hal ini disebabkan situasi dunia masa kini yang tercerai berai akibat kebencian antar suku dan juga kekerasan yang terjadi (BSDK, art. 28). Setiap orang yang terpanggil untuk hidup secara khusus dalam sebuah komunitas juga dengan sendirinya akan hidup dalam persekutuan dan persatuan dengan sesama. Semuanya itu dapat diwujudnyatakan apabila masing-masing anggota menghayati dan mengamalkan persatuan dan cinta kasih dalam kehidupan bersama. Setiap orang memiliki watak dan kepribadian yang berbeda, umur dan bakat yang berbeda pula namun bagi komunitas Ursulin hal ini merupakan sesuatu yang saling memperkaya satu dengan yang lain karena dengan demikian mereka akan saling melengkapi satu sama lain. Memandang sesama sebagai saudara dan saudari saya dan sebagai bagian dari hidup saya sendiri dengan demikian akan memampukan kita untuk menanggung beban sesama dengan penuh kegembiraan. Hal ini disebabkan oleh persekutuan kita diantara satu sama lain. Kehadiran sesama dengan watak dan latarbelakang budaya yang berbeda menjadi rahmat bagi saya untuk bertumbuh dan berkembang bersama dalam satu tujuan dan cita-cita yang sama. Hal ini ditegaskan dalam konstitusi, “Dengan rendah hati kita menerima kesulitan-kesulitan dalam mengasihi sesama sebagai saudara dengan sesempurna mungkin. Terikat satu sama lain dengan cinta kasih, kita akan memberi kesaksian tentang persatuan, damai dan harapan dalam dunia yang terluka oleh begitu banyak perpecahan, pemisahan dan pertikaian

(136) 117 (Konstitusi, art. 91). Para suster yang bersatu dalam komunitas berusaha dengan ketulusan hati untuk dengan rendah hati mau menerima kesulitan dalam mengasihi sesama, karena setiap pribadi memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan sikap rendah hati ini akan sangat membantu bertumbuhkembangnya komunitas. 11. Hidup bakti sebagai ragi Dunia kita telah memasuki milenium baru yang dibebani pertentanganpertentangan dalam kemajuan ranah ekonomi, budaya dan teknologi yang menyajikan kemungkinan bagi kelompok kecil yang serba beruntung namun membawa penderitaan bagi rakyat kecil (NMI, art. 50). Kaum hidup bakti yang tinggal dalam komunitas, juga berada diantara masyarakat sekitarnya. Mereka tidak hidup terasing dari masyarakat, maka mereka juga ditantang untuk memperhatikan dunia yang porakporanda oleh karena kekuasaan beberapa orang demi keuntungan kelompok mereka. Situasi nyata ini mengajak kaum hidup bakti untuk terlibat memperjuangkan suasana yang lebih bahagia bagi mereka yang menderita. Untuk itu kaum hidup bakti dipanggil untuk menjadi ragi yang mampu memancarkan cahaya Kristus dan membangun paguyuban-paguyuban yang menjiwai persaudaraan, kebenaran dan keadilan dalam masyarakat yang menderita dan miskin. Komunitas Ursulin juga hadir sebagai ragi bagi masyarakat disekitarnya khususnya bagi mereka yang hidup dalam suasana ketidakadilan, perpecahan, ketidakbahagiaan, peperangan. Ini juga menjadi panggilan bagi para suster Ursulin itu sendiri. Ursulin menanggapinya dengan pelayanan mereka, dengan

(137) 118 turut serta menjadi bagian hidup mereka. Para ursulin dipanggil untuk memberi kesaksian tentang persatuan, damai dan harapan dalam dunia yang terluka oleh begitu banyak perpecahan, pemisahan dan pertikaian (Konstitusi, art. 91). Hal ini dapat dilihat dalam pelayanan Ursulin yang tidak hanya dikhususkan dalam pendidikan formal, namun juga non formal serta melalui karya pastoral mereka. Pelayanan ini tidak dilakukan secara perorangan namun secara bersama dalam komunitas misalnya yang nampak adalah adanya panti asuhan, perbaikan gizi bagi anak-anak yang menderita kurang gizi juga menjadi perhatian Ursulin terhadap nasib kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan dalam hidup mereka sehari-hari. 12. Hidup bakti sebagai komunitas hukum cinta Kaum hidup bakti yang hidup bersama dalam komunitas senantiasa hidup dalam persekutuan sebagaimana yang dikehendaki Allah sendiri agar umat-Nya hidup dalam persekutuan. Dasar dari hidup dalam persekutuan adalah cinta kasih, dengan cinta kasih anggota hidup bakti mampu mewujudkan kehidupan mereka sebagai komunitas hukum cinta. Dalam hidup bersama setiap anggota ditantang untuk belajar saling mencintai dengan cinta kasih yang tulus, dimana seseorang tidak berada di pusat ia tidak lebih tinggi, namun semua orang yang tergabung dalam komunitas hukum cinta adalah sama-sama dipanggil oleh Allah untuk hidup dalam persekutuan cinta. Maka dalam hidup komunitas perlu orang lain yang menantang diri seseorang untuk selalu mengikuti Yesus dengan radikal, untuk bekerja sama dengan tulus tanpa mencari muka, tanpa mencari karier dan penghasilan, melayani sesama tanpa sikap sombong dan tanpa menjadi terlalu

(138) 119 dekat pada tugas atau orang tertentu (NMI, art. 26-27). Dalam kehidupan bersama setiap anggota belajar bertanggungjawab bersama untuk teman sepanggilan, karena manusia tidak dapat hidup seorang diri. Ia membutuhkan kehadiran orang lain yang juga turut berperan serta dalam panggilannya. Para suster Ursulin juga selalu berusaha agar hidup komunitas mereka menjadi komunitas hukum cinta kasih yang terjalin diantara mereka. Setiap orang yang merasa terpanggil untuk hidup secara khusus disatukan dalam komunitas yang berdasarkan cinta kasih. Cinta kasih diantara sesama nampak dalam rasa saling mendukung satu dengan yang lain, menghargai keunikan setiap pribadi sebagai sesuatu yang saling memperkaya satu dengan yang lain. Orang yang paling memiliki pengaruh dan memberikan dukungan adalah sesama yang ada dalam komunitas tersebut, untuk itu setiap anggota hendaknya selalu menghayati spiritualitas persekutuan diantara mereka. Belajar bertanggungjawab atas sesama kita yang hidup bersama dengan kita setiap hari. Bersedia untuk menerima orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihan juga menjadi semangat hidup para suster Ursulin dalam hidup bersama sehingga setiap pribadi menjadi hadiah atau kado dari Tuhan bagi pribadi saya. Ketulusan cinta kasih para suster tampak dalam saling menolong, saling memperhatikan, dan saling mengasihi dengan hangat, dalam suka duka kehidupan sehari-hari (Konstitusi, art. 82). Santa Angela menganjurkan agar para suster Ursulin dalam hidup komunitas saling menerima apa adanya, masing-masing diakui demi dirinya sendiri, dihargai dan dicintai dengan keunikannya. Maka perbedaan umur, bakat, kebangsaaan dan kebudayaan tidak lagi menjadi penghalang bagi mereka dalam

(139) 120 hidup bersama tetapi merupakan sesuatu yang memperkaya satu dengan yang lain (Konstitusi, art. 80). Dalam kenyataannya sungguh tidak mudah untuk mewujudnyatakannya, dengan proses jatuh bangun setiap suster berusaha untuk saling menerima satu dengan yang lain. 13. Hidup bakti sebagai komunitas sekolah cinta Gereja dan Tuhan meminta agar komunitas-komunitas kaum hidup bakti menjadi sekolah komunio dan sekolah doa dalam hidup keperawanan yang menunjukkan dengan jelas martabat manusia yang diciptakan untuk tujuan ilahi dan abadi. Dunia sekular hidup dalam suasana yang enak dan nyaman dalam halhal material sehingga mereka lupa akan tujuan yang transendental. Maka untuk itu diperlukan saksi-saksi yang mau mengingatkan mereka (NMI, art. 34). Situasi dunia zaman ini dipenuhi oleh kerakusan, kekuasaan, perpecahan, ketidakdilan. Dengan demikian komunitas hidup bakti ditantang untuk memberi kesaksian bahwa hidup bersama mereka dalam komunitas adalah berdasarkan cinta kasih. Maka komunitas mereka menjadi komunitas sekolah cinta bagi dunia zaman ini. Untuk menjadi sekolah cinta kaum hidup bakti perlu mengusahakan dan mengalami kesatuan dalam cinta kasih Bapa yang telah dihayati di dunia ini dalam persekutuan Roh Kudus yang dicurahkan kepada umat Kristiani dalam Gereja. Komunitas Ursulin juga menjadi komunitas sekolah cinta bagi siapa saja yang datang, hal ini dapat dilihat dan dialami dari kepribadian setiap suster yang memiliki keramahan dalam menerima setiap tamu. Hal ini menjadi nyata oleh karena kesatuan para suster dengan Sang Mempelai, dimana kesatuan mereka

(140) 121 seperti persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus yang selalu dijiwai oleh Allah Bapa. Dengan demikian komunitas menjadi tanda harapan baru bagi setiap orang yang sedang berbeban berat dalam hidupnya. Untuk menjadi sekolah cinta pertama-tama harus terjalin kasih diantara kaum hidup bakti atau para suster Ursulin dalam hidup bersama. Namun tidak berarti semuanya selalu mudah untuk dipratikkan, semunya itu membutuhkan proses dan perjuangan dari setiap orang untuk membiarkan diri terhanyut dalam suasana kasih. Perselisihan dan beda pendapat juga menjadi warna tersendiri bagi mereka namun hal ini tidak menghalangi mereka dalam mewujudkan komunitas mereka sebagai komunitas sekolah cinta karena mereka dengan rendah hati mau menerima sesama apa adanya dan pengampunan serta rekonsiliasi turut berperan dalam pembentukan komunitas sekolah cinta mereka. Hal ini ditegaskan dalam konstitusi artikel 79 yang mengatakan bahwa, “Kita berusaha menciptakan suasana kesederhanaan manusiawi dan injili yang begitu berkenan dihati Angela. Dia yang rendah hati, ramah dan lemah lembut dengan caranya yang khas memancarkan kepada lingkungannya kebaikan dan kasih penyelemat kita”. Dengan demikian setiap suster berusaha untuk menciptakan suasana sederhana yang berkenan di hati Angela sebagai pendiri yang mewarisi nilai-nilai yang baik yaitu bersikap rendah hati, ramah dan lemah lembut akan memancarkan kebaikan dan kasih Penyelamat. Hal ini akan mungkin terjadi bila setiap suster memiliki relasi yang mendalam dengan Yesus Sang Mempelai mereka. Dengan demikian relasi kasih itu akan memancar keluar yang

(141) 122 pertama kepada para suster anggota komunitas dan kepada lingkungan yang lebih luas yaitu masyarakat sekitarnya. 14. Persatuan dengan para Uskup Kaum hidup bakti tidak mampu berdiri sendiri dalam pengembangan karya mereka di dunia ini. Untuk itu mereka perlu menjalin persatuan dengan para uskup setempat dimana mereka berkarya. Persatuan ini merupakan penerapan konkret sebagai komunitas hidup bakti yang secita rasa dengan Gereja. Allah hadir melalui Gereja maka jika kaum hidup bakti tidak menjalin persatuan dengan para uskup maka hal ini menjadi mustahil. Mencintai Kristus bagi mereka adalah mencintai Gereja dalam pribadi-pribadi dan tarekat (BSDK, art. 32). Dengan menjalin persatuan dengan para uskup kaum hidup bakti akan mampu bekerja sama dalam mengusahakan kehidupan damai bagi orang-orang yang merindukannya. Ordo Santa Ursula merupakan ordo kepausan, maka persatuan dengan Paus dan para Uskup juga cukup terjalin. Hal ini dapat dilihat dalam kerasulan Ursulin dalam berbagai bentuknya, maka mereka mengambil bagian dalam misi pendidikan Gereja dalam kesetiaan kepada ajarannya. Tugas ini dijalankan oleh para suster Ursulin dengan perundingan Uskup diosis. Dengan demikian kerja sama yang erat dengan para imam, religius akan semakin memperkaya dan memungkinkan para suster untuk bekerja lebih efektif.

(142) 123 15. Persatuan dengan kaum awam Komunitas hidup bakti tidak dapat bekerja sendirian dalam mengembangkan Kerajaan Allah di dunia ini. Mereka membutuhkan kehadiran dan peran serta orang lain dalam usaha tersebut. Maka kaum hidup bakti perlu menjalin persatuan dan kerja sama dengan kaum awam untuk mengusahakan suasana damai dan dipenuhi cinta kasih diantara sesama manusia yang hidup di dunia ini (BSDK, art. 31). Patut diakui bahwa kaum hidup tidak mampu menjalankan karya mereka sendirian tanpa campur tangan kaum awam. Hal ini bisa dilihat melalui karya-karya kaum hidup bakti, misalnya sekolah atau rumah sakit. Mereka tidak bekerja sendirian, persatuan dan kerja sama dengan awam akan sangat membantu mereka dalam usaha mengembangkan Kerajaan Allah. Para suster Ursulin juga telah berusaha untuk memelihara persatuan dengan kaum awam, hal ini dapat dilihat dalam kehidupan komunitas mereka selalu melibatkan kaum awam didalamnya. Kerja sama dengan kaum awam juga memperkaya dan memungkinkan para suster untuk bekerja secara efektif. Karena patut diakui bahwa para suster tidak mampu melakukan semuanya sendiri, maka mereka membutuhkan kaum awam dalam usaha dan kerja keras mereka untuk mengusahakan perkembangan utuh pribadi manusia yang dilayani. Dalam hidup bersama komunitaspun para suster juga tidak bekerja sendirian, mereka membutuhkan awam sebagai mitra kerja.

(143) 124 B. Hal-hal yang kurang diwujudkan dalam hidup komunitas Ursulin 1. Secita rasa dengan Gereja Kaum hidup bakti yang menjadi harapan Gereja yang selalu mengusahakan dan memelihara persekutuan dan mempratikkan spiritualitas persekutuan dalam hidup bersama. Dengan memelihara dan mempratikkanya dengan sendirinya mereka menjadi saksi dan perancang bangunan rencana kesatuan menurut rencana Allah. Sehingga persekutuan itu mendorong ke arah perutusan dan persekutuan itu melahirkan perutusan. Dan pada hakekatnya persekutuan itu adalah perutusan (VC, art. 46). Persekutuan kaum hidup bakti adalah secita rasa dengan Gereja yang senantiasa menghendaki agar umat Allah hidup bersatu dalam paguyuban yang didasari oleh cinta kasih. Karena Gereja itu sendiri adalah persekutuan umat beriman yang percaya kepada Kristus. Maka kesaksian kaum hidup bakti yang hidup dalam persekutuan dengan sendirinya akan mengantar orang-orang kepada iman akan Kristus. Para suster Ursulin juga telah cukup berusaha untuk menjadikan semangat secita rasa dengan Gereja. Para Ursulin juga hadir dalam dunia yang sedang sakit, dunia yang ada dalam ketidakadilan dan perpecahan oleh karena peperangan. Dalam konstitusi dikatakan bahwa, “Iman kepada Yesus Kristus adalah dasar kerasulan, sebab dalam Dia terlaksana karya penebusan yang dilanjutkan di dalam Gereja, sakramen keselamatan untuk semua orang, oleh Roh Kudus yang menguduskan dan mempersatukan semuanya untuk mewujudkan rencana Allah yaitu menghimpun semua orang menjadi satu bangsa guna membangun Tubuh Kristus”(Konstitusi, art. 92) Melalui artikel ini penulis menemukan bahwa iman kepada Yesus Kristus merupakan dasar kerasulan bagi setiap Ursulin. Dengan mengimani Kristus,

(144) 125 berarti para suster melanjutkan karya keselamatan yang telah dimulai oleh Dia melalui Gereja. Dimana Gereja merupakan sakramen keselamatan bagi semua orang berkat Roh Kudus yang menguduskan dan mempersatukan semuanya. Hal ini merupakan lanjutan rencana Allah yang ingin menghimpun semua orang menjadi satu bangsa untuk secara bersama-sama membangun Tubuh Kristus. Perlu diakui bahwa ini juga menjadi kerinduan para suster Ursulin namun belum sungguh diwujudkan oleh suster Ursulin. Hal ini mengingat misi Ursulin yang secara khusus memperhatikan pendidikan formal bagi masyarakat luas sehingga perhatian mereka untuk mewujudkan semangat secita rasa dengan Gereja masih kurang. 2. Persaudaraan dalam Gereja semesta Kaum hidup bakti telah menampilkan sejarah spiritualitas persekutuan yang menjadi kesaksian bagi dunia. Mereka telah melestarikan ikatan-ikatan persekutuan yang kuat dan memiliki kesediaan sepenuh hati untuk membaktikan diri kepada kegiatan misioner Gereja dengan kesiagaan. Semuanya itu menunjukkan ciri universalitas dan persekutuan yang ada pada Tarekat-tarekat hidup bakti maupun Serikat-serikat hidup Apostolis (VC, 2002:70). Kehadiran kaum hidup bakti ditengah dunia tidak hanya bagi kaum beriman Katolik saja, namun kegiatan pelayanan mereka bersifat universal. Sama seperti kehidupan dan pelayanan para Rasul pada jemaat di Yerusalem tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang telah percaya kepada Kristus. Mereka diutus oleh Kristus kepada segala bangsa untuk mewartakan kabar keselamatan bagi semua bangsa. Dalam konstitusi dikatakan bahwa,

(145) 126 “Dengan pembaktian religius kita secara khusus mengambil bagian dalam perutusan Kristus. Kerasulan kita yang pertama berupa kesaksian hidup bakti kita. Kesuburan kerasulan kita tergantung dari persatuan kita dengan Yesus Kristus. Sebaliknya kerasulan kita menguatkan dan memupuk persatuan itu” (Konstitusi, art. 93). Persaudaraan Ursulin dalam Gereja semesta dimulai dari persatuan mereka dengan Yesus Kristus Sang Mempelai mereka. Dengan menjalin persatuan dengan Yesus akan memampukan mereka dalam kerasulan mereka sehari-hari. Kerasulan merupakan ciri pokok Tarekat Ursulin. Mereka mengambil bagian dalam karisma kerasulan Santa Angela dan melanjutkan perutusan yang dirintis Bunda Angela bagi para pengikutnya. Sebagai pewarta Injil melalui perkataan dan kesaksian hidup Bunda Angela, ia menjawab kebutuhan yang paling dasariah dari setiap orang, yakni kehausan mereka akan Allah. Angela tahu membagikan kekayaan imannya dan kepada semua yang datang kepadanya, ia memberi penghiburan, nasihat dan damai. Hendaknya para Ursulin mengikuti teladan Bunda Angela, namun hal ini masih menjadi perjuangan bagi para suster Ursulin untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Landasan yang mendasar adalah kesaksian hidup para suster Ursulin, karena kesaksian hidup menjadi sungguh nyata dan sangat nampak. Dengan demikian kehidupan mereka menjadi tanda atau kesaksian bagi jemaat Allah yang mereka layani atau siapa saja yang dijumpai. 3. Tetap mengusahakan kesetiaan Kesetiaan seseorang dalam menanggapi panggilan Allah seharusnya diusahakan secara terus menerus dalam kehidupannya sehari-hari. Kesetiaan tidak di dapatkan begitu saja, perlu adanya kemauan dan usaha seseorang untuk selalu berjuang dalam setiap tantangan yang dihadapi sehingga imannya semakin diuji

(146) 127 maka ia juga akan memperoleh kesetiaan. Dalam Vita Consecrata dikatakan bahwa, “Ada semangat muda yang berlangsung seterusnya. Semangat itu tumbuh dari kenyataan, bahwa pada setiap tahap hidupnya orang mencari dan menemukan tugas baru untuk dijalankan, cara hidup, mengabdi dan mencintai yang khas”(VC, art. 70). Perjalanan panggilan kaum hidup bakti tidak selalu mulus, mereka juga menemukan hambatan, tantangan yang membutuhkan perjuangan dari dalam diri mereka. Dengan hati yang tulus mau berusaha dan berjuang menghadapi situasi sulit dalam hidup akan membawa mereka pada kesetiaan kepada Kristus. Karena dalam dan melalui hidup yang diwarnai tantangan dan kesulitan membuat mereka juga untuk selalu mencari dan menemukan cara hidup yang baru dalam mengabdi dan mencintai Allah. Dalam hidup bersama komunitas Ursulin perlu mengusahakan kesetiaan ini khususnya bagi mereka yang masih muda yang hidup dalam dunia yang serba instan. Dengan situasi dunia ini mereka harus berani menghadapinya sehingga kesetiaan mereka selalu teruji dengan baik. Dalam konstitusi dikatakan bahwa, “Dalam kesetiaan dinamis kepada karisma Santa Angela, kita berusaha untuk memiliki cinta kasih ganda dan tunggal yang menjiwai dia dalam pemberian yang utuh untuk mengabdi kepada Allah dan bagi keselamatan seluruh dunia dengan mengarahkan segalanya demi kemuliaan Allah dan kebahagiaan jiwajiwa.”(Konstitusi, art. 2). Para Ursulin yang telah bertekad mengikuti Kristus dengan meneladan semangat hidup Bunda Angela juga mengalami pasang surut dalam menapaki panggilan bila mereka bertahan dan mampu menghadapi situasi sulit dalam

(147) 128 mengusahakan kesetiaan dan bertahan maka mereka akan tetap mencintai panggilan dan berusaha untuk setia. Namun pada kenyataannya para Ursulin ada yang masih kurang memperhatikan hal ini. Contohnya saja ada suster yang sudah berkaul kekal merasa tidak cocok untuk hidup sebagai Ursulin dan akhirnya melalui proses yang cukup panjang mereka memutuskan untuk hidup sebagai awam. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi para suster yang lain, belajar untuk selalu memurnikan motivasi dalam mengikuti Kristus dan dengan perjuangan jatuh bangun berusaha untuk setia seumur hidup. 4. Wajah Kristus dalam kesengsaraan Kaum hidup bakti yang hidup bersama dalam komunitas telah dipanggil dan menghayati serta mengkontemplasikan wajah Sang Tersalib yaitu Yesus Kristus. Dia menjadi sumber bagi anggota hidup bakti, karena dengan demikian mereka dapat mengetahui apa arti kasih dan bagaimana Allah dan manusia perlu dikasihi dan Dia menjadi sumber dari segala karisma dan ringkasan dari semua panggilan. Kaum hidup bakti hidup dalam dunia yang sedang terluka, dan kaum hidup bakti dipanggil untuk berusaha mengobatinya. Mereka menghadapi dunia yang banyak derita baik secara pribadi maupun komunal serta sosial, dengan demikian kaum hidup bakti dipanggil untuk mampu mendengar jeritan Kristus di salib. Kristus sendiri telah mengalami dan melewatinya, dimana Ia telah berusaha untuk mengembalikan wajah manusia yang menderita kepada wajah Bapa dan bahkan Ia sendiri telah mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan manusia itu sendiri (BSDK, art. 27). Mengkontemplasikan wajah Kristus yang tersalib dimulai dari dalam komunitas itu sendiri, menjadi bagian dari sesama yang sedang

(148) 129 menderita, bergulat dengan kesulitan dalam hidup dan panggilannya. Dengan bersikap demikian akan membantu kaum hidup bakti akan mampu menjadi bagian dari hidup sesama dalam lingkungan yang lebih luas yaitu terhadap masyarakat sekitarnya. Dalam konstitusi dikatakan bahwa: “Suster-suster kita yang oleh penderitaan mengambil bagian dalam misteri Salib, kita hadapi dengan pengertian dan kehangatan yang lebih besar. Komunitas hendaknya memberi kepada orang sakit perhatian khusus dan perawatan yang dibutuhkan, juga bantuan rohani yang dapat menolong mereka menderita bersama Kristus (Konstitusi, art. 83). Konstitusi adalah pedoman hidup bagi para suster Ursulin yang mengikuti Kristus dalam semangat hidup Bunda Angela. Dalam kenyataan hidup berkomunitas hal ini masih kurang diwujudkan namun tidak semua suster bersikap cuek dan tidak memberi perhatian bagi para suster yang menderita. Situasi nyata dalam komunitas Ursulin, bagi para suster yang lanjut usia atau sedang sakit dan menderita tidak dipersiapkan di rumah sendiri seperti rumah lansia. Para suster ini tetap berada dalam komunitas-komunitas, dengan demikian para suster anggota komunitas juga selalu berusaha untuk memberi perhatian bagi mereka. Menjadi bagian daalam hidup para suster yang menderita adalah dengan sendirinya mengkontemplasikan wajah Kristus yang tersalib. Karena mereka ini perlu didekati, didengarkan dan dimengerti sebagai sesama yang juga dipanggil Allah untuk hidup bersama dalam komunitas.

(149) 130 5. Persatuan antara karisma lama dan baru Dalam konstitusi dikatakan bahwa, “Kita mau mewartakan Yesus Kristus dan setia pada tradisi misioner kita, meluaskan Kerajaan-Nya sampai ke ujungujung bumi supaya Kristus dikenal, dicintai dan disembah oleh semua bangsa” (Konstitusi, art. 5). Santa Angela pada zamanya telah mewartakan Kristus dengan pelayanannya yang khas yaitu memperhatikan pendidikan kaum perempuan yang pada zaman itu mengalami kemerosotan moral. Angela juga memiliki spiritualitas yang mendalam yaitu menjadikan Kristus sebagai satu-satunya harta dalam hidupnya. Dan inilah yang menjadi spiritualitas para suster Ursulin yang menjadi pengikut Angela. spiritualitas Ursulin bersumber pada Injil dan pada khazanah rohani Gereja. Namun tradisi Ursulin memberi ciri khas pada spiritualitas. Hendaknya setiap Ursulin menjadikan Kristus segala-galanya bagi hidup mereka seperti yang dihidupi Santa Angela. Kekayaan spiritual yang dimiliki oleh para suster zaman sekarang merupakan usaha dan perjuangan hidup pendiri dan para suster pioner yang telah berusaha sehingga kehidupan komunitas dan juga Tarekat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Para suster yang hidup sekarang tidak akan bisa menjadi seperti yang sekarang jika tanpa usaha dan kerja keras pendahulu. Perlu diakui bahwa persatuan karisma lama dan baru sangat penting demi perkembangan hidup komunitas dan tarekat para suster sekarang. Untuk itu para suster perlu secara terus menerus mendalami kekayaan-kekayaan yang menjadi spiritualitas dan semangat pendiri dan berusaha menjadikannya milik sendiri sehingga hal itu akan selalu hidup dalam pribadinya dalam hidup bersama baik dalam komunitas

(150) 131 maupun Tarekat. Namun hal ini masih menjadi kekurangan dalam komunitas Ursulin itu sendiri. Dengan kerasulan yang penuh, kadang para Ursulin kurang mendalami semangat dan spiritualitas Ursulin itu sendiri dalam kehidupan mereka sehari-hari baik secara pribadi, komunitas ataupun tarekat. Namun beberapa hal yang baik telah dilakukan Ursulin misalnya adanya musyawarah provinsi, kapitel baik lokal maupun Ursulin Uni Roma pada umumnya, adanya kursus-kursus untuk mendalami Santa Angela itu sendiri dan juga kursus lainnya. C. Kesaksian Ursulin yang khas Sebagai Sumbangan terhadap Undangan Gereja Uni Roma Ordo Santa Ursula adalah suatu cabang dari keluarga rohani yang didirikan oleh Santa Angela Merici yang merupakan suatu religius Institut dengan hak Kepausan di mana kontemplasi dan hidup kerasulan begitu terjalin bahwa masing-masing memberi kehidupan kepada yang lain (Konstitusi, art. 1,5,7). Ursulin Uni Roma terdapat dalam 36 negara yang berbeda dan hadir dalam 5 benua. Pada tahun 2000 Uni Roma merayakan 100 tahun berdirinya Ursulin Uni Roma. Panggilan bagi Ursulin dalam pesan Kapitel Umum 2001 untuk menjadi tokoh-tokoh perdamaian dan keadilan menandai dengan kuat spiritualitas Ursulin dan karya mereka dalam tiap provinsi. Merupakan suatu anugerah yang besar bahwa keinternasionalan mereka untuk dunia sekarang dan suatu perwujudan bahwa keanekaragaman Ursulin adalah suatu kekuatan dan kesaksian bagi dunia. Oleh karena Ursulin adalah tarekat religius Internasional dimana kontemplasi dan kerasulan saling meresapi, maka karya yang dipercayakan

(151) 132 kepada Ursulin adalah pendidikan. Karya yang sekarang ini pada dasarnya menekankan dan meneruskan apa yang dicita-citakan Santa Angela. Dimana para suster turut terlibat aktif dalam mewartakan Injil Tuhan dengan mendidik dan mempersiapkan generasi muda demi masa depan mereka utuk mewujudkan citra mereka sebagai orang yang aktif dan bertanggungjawab bagi masa depan baik dirinya sendiri maupun bangsa dan Gereja. Hal ini ditekankan dalam Konstitusi Ordo, artikel 5 yakni: Misi yang dipercayakan Gereja kepada Ursulin untuk dilakukan atas namanya, adalah karya pendidikan dalam bentuknya yang bermacam ragam demi pewartaan Injil. Ursulin mau mewartakan Yesus Kristus dan setia pada tradisi misioner, meluaskan Kerajaan-Nya sampai ke ujungujung bumi supaya Kristus dikenal, dicintai, dan disembah oleh semua bangsa (Konstitusi, art. 5). Kontemplasi dan aksi saling meresapi, inilah yang menjadi kesaksian Ursulin yang khas dengan misi yang dipercayakan oleh Gereja yaitu karya pendidikan dalam bentuknya yang bermacam ragam demi pewartaan Injil. Oleh karena kesaksian yang khas inilah Ursulin tidak mendirikan karya-karya lain seperti rumah sakit, panti asuhan walaupun juga ada panti asuhan yang dikelola oleh Ursulin yaitu Vincentius Putri. Maka karya pendidikan yang dilaksanakan oleh Ursulin tidak hanya pendidikan formal tetapi juga pendidikan non formal. Pendidikan formal adalah pendidikan sekolah di mana seseorang memperoleh pendidikan di sekolah secara teratur, sistematis, berjenjang dan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan teratur yaitu dimulai dari Taman KanakKanak sampai dengan Perguruan Tinggi (Tanlain, 1996:43). Pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan aspek kognitif yang akhirnya membentuk anak

(152) 133 didik menjadi pandai dan mampu menguasai ilmu dan teknologi informasi. Sedangkan pendidikan non formal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang secara teratur, terarah, disengaja namun tidak mengikuti peraturan yang ketat. Pendidikan ini bersifat fungsional dan praktis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan kerja anak didik yang berguna bagi usaha perbaikan kehidupan mereka sendiri (Tanlain, 1996:43). Pendidikan non formal yang diadakan Ursulin adalah dengan adanya kursus ketrampilan menjahit, memasak, pijat refleksi. Selain itu adalah asrama-asrama dengan tujuan utamanya adalah menyediakan tempat penampungan bagi anak-anak yang berasal dari luar daerah. Karya ini masih terus bertahan dan berkembang hingga kini, baik itu asrama untuk siswi SLTP, SMU dan juga Mahasiswi yang sedang studi. Ursulin yang berkarya dalam bidang pendidikan juga menghayati dan memaknai pendidik sebagai orang yang bertanggungjawab untuk memanusiakan manusia yaitu nara didik baik yang ada di sekolah ataupun asrama. Sebagai pengikut Santa Angela hendaknya para suster memiliki hasrat dan keinginan yang besar untuk membaktikan seluruh diri dalam usaha dan perjuangan untuk memelihara dan menjaga harta milik Tuhan (Prakata Nasehat, art. 12). Dalam Vita Consecrata mengenai pelayanan cinta kasih Paus Yohanes Paulus II mengatakan: Saya dengan sangat mengajak para anggota tarekat-tarekat yang bertujuan pendidikan, supaya setia terhadap karisma pendiri mereka dan tradisitradisi mereka, dengan menyadari bahwa sikap mengutamakan cinta kasih terhadap kaum miskin perlu secara khas diterapkan pada pemilihan upayaupaya yang memungkinkan pembebasan rakyat dari bentuk kemiskinan yang amat berat itu, yakni tiadanya pendidikan budaya dan keagamaan (VC, art. 97).

(153) 134 Menanggapi ajakan Paus Yohanes Paulus II, maka Ursulinpun mewujudkan karya mereka dalam bidang pendidikan. Karya ini masih terus eksis dan berkembang hingga kini. Melalui karya ini para Ursulin telah melahirkan begitu banyak kaum muda yang terbina dan terdidik dengan teratur dan mereka mengalami perkembangan baik secara kognitif maupun juga secara afektif. Para suster hidup bersama dalam komunitas mengikuti teladan Santa Angela dan terlibat dalam karya pendidikan sebagai misi yang dipercayakan oleh Gereja. Disamping itu para suster Ursulin mengikuti semangat dan teladan hidup Bunda Angela sebagai pendiri mereka yang senantiasa menghendaki para suster unttuk selalu hidup dalam keserasian sehati sekehendak, terikat dalam ikatan cinta, saling menghargai, saling membantu dan saling bersabar dalam Yesus Kristus (Nasehat Terakhir, art.1-2). Hendaknya para suster senantiasa menghidupi semangat yang ditinggalkan oleh Bunda Angela. Keanekaragaman menjadi sesuatu yang saling memperkaya satu sama lain, karena semua anggota telah disatukan oleh Allah dalam hidup bersama dengan meneladani persatuan Triniter yaitu persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Maka menjadi anggota komunitas, berarti mau terlibat di dalamnya dengan sepenuh hati. Dengan demikian komunitas baik secara pribadi maupun bersama serta dalam karya kerasulan dan secara khusus panggilan setiap orang akan selalu diteguhkan oleh karena dukungan dari setiap anggota komunitas. Maka undangan Gereja bagi para suster Ursulin yang menjadi kesaksian yang khas adalah komunio diantara para suster. Dimana Ursulin yang dihimpun dalam hidup bersama di komunitas merupakan komunitas yang edukatif. Komunitas yang

(154) 135 menjadi komunitas pendidikan, baik dalam karya pendidikan sebagai kerasulan mereka dengan demikian hidup dan pelayanan mereka menjadi kesaksian yang khas bagi anak didik, mitra kerja yaitu para guru, karyawan dan orang tua murid. Maka komunitas Ursulin menjadi komunitas yang edukatif. Inilah yang menjadi kesaksian yang khas sebagai sumbangan Ursulin terhadap undangan Gereja untuk membangun Kerajaan Allah di dunia ini.

(155) 136 BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dari skripsi sekaligus memberikan saran dalam usaha untuk menanggapi undangan Gereja untuk membangun hidup berkomunitas dan jawaban berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela bagi para suster Ursulin. A. Kesimpulan Hidup manusia merupakan sebuah proses perjalanan untuk mencapai kehidupan yang membahagiakan. Dalam proses perjalanan hidup itu, manusia tidak dapat hidup dan berjalan sendirian untuk menuju kebahagiaan yang dirindukannya. Oleh karena itu manusia sangat membutuhkan kehadiran orang lain agar ia dapat bertumbuh dan berkembang dalam kehidupannya. Perlu disadari juga bahwa kehadiran orang lain bisa menguntungkan dan juga bisa merugikan, demikian juga sebaliknya. Kehadiran orang lain bisa menguntungkan diriku dan juga sesama apabila di dalamnya ada rasa saling menghargai, saling menolong, terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, menjalin kerja sama yang baik, menaruh kepercayaan, saling mengkritik yang membangun, saling terbuka, rela berkorban, saling memaafkan dan mengampuni. Dalam suasana seperti ini setiap orang akan merasa bahagia, damai dan sukacita.

(156) 137 Situasi kehidupan seperti di atas mewarnai kehidupan masyarakat, keluarga dan komunitas kaum hidup bakti. Komunitas kaum hidup bakti merupakan himpunan orang-orang yang dipanggil secara khusus untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan mengabdi kepada sesama. Dalam rangka pengabdian kepada Tuhan dan sesama, para kaum hidup bakti masingmasing tarekat mempunyai visi dan misi untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut diperlukan dukungan dan kerja sama yang baik dari masing-masing anggotanya. Oleh karena itu sangat diperlukan membangun hidup komunitas seperti yang diharapkan dari Gereja sendiri dan juga berdasarkan semangat dan spiritualitas pendiri tarekat itu sendiri. Dalam perspektif itu para suster Ursulin menanggapi undangan Gereja untuk membangun hidup komunitas yang menggambarkan komunitas sebagai sekolah cinta, komunitas hukum cinta dan juga berdasarkan nilai-nilai yang dihidupi Santa Angela dan para putrinya. Hidup komunitas yang mereka wujudkan dalam hidup bersama didasarkan atas kasih, penghargaan dan penghormatannya kepada kehidupan manusia. Sangat disadari bahwa membangun hidup komunitas seperti yang diharapkan Gereja yaitu menjadikan komunitas sebagai sekolah cinta dan komunitas hukum cinta dalam sebuah komunitas sangat penting. Santa Angela melalui nasehatnya yang terakhir menganjurkan kepada para pengikutnya untuk hidup dalam suasana kasih dan persaudaraan. “Kata-kata terakhir yang kusampaikan kepadamu dan kuanjurkan dengan segenap jiwaku ialah: “Hidup dalam keserasian, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling

(157) 138 bersabar dalam Yesus Kristus” (Nasehat Terakhir, art. 1-2). “Lihatlah betapa pentingnya persatuan dan keserasian; maka dambakanlah, carilah, peluklah, pertahankanlah hal itu dengan sekuat tenaga”(Nasehat Terakhir, art. 10-14). Angela melihat bahwa hanya dengan hidup bersatu dan keserasian, persekutuannya akan kuat dan mampu melawan godaan dari luar. Sebagai landasan dari hidup bersatu dengan sesama adalah hidup bersatu dengan Tuhan. Karena Tuhan-lah satu-satunya harapan dan hidup kita. Dan Tuhan-lah yang mempersatukan kita dengan sesama yang ada disekitar kita. Di samping itu juga para suster Ursulin mengusahakan hidup komunitas berdasarkan pesan dan harapan yang tertuang dalam Kapitel Umum Uni Roma Ordo Santa Ursula. Kapitel-kapitel yang diadakan memberikan pesan bagi setiap suster untuk senantiasa menjadi pembawa damai dan harapan serta rekonsiliasi bagi setiap orang yang mengalami ketidakadilan dan perpecahan dalam hidupnya. Semangat dan spiritualitas Santa Angela masih diteruskan oleh para putrinya. Semangat persatuan atau persekutuan selalu diusahakan oleh para suster Ursulin. Dimana para suster hidup dalam komunitas, sehati sejiwa, saling menerima apa adanya dan saling percaya. Masing-masing anggota diakui, dihargai dan dicintai dengan keunikanya. Masing-masing mendapat kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya dengan bebas, saling menghargai pendapat orang lain, saling tolong menolong, memperhatikan dan mengasihi dengan penuh kehangatan dalam suka dan duka kehidupan sehari-hari.

(158) 139 Setiap orang mengusahakan damai dan damai itu dimulai dari dalam dirinya sendiri, memancar keluar yakni bagi anggota komunitas yang lainnya. Jika seseorang merasa damai dengan dirinya maka dengan sendirinya ia juga mampu menciptakan damai itu bagi sesamanya. Sama seperti Santa Angela, yang selalu hidup dalam kedamaian sehingga kehadirannya menjadi berkat yang membawa kedamaian bagi orang lain. Dengan demikian kehadiran para suster yang dipenuhi damai dan sukacita mampu menjadi saksi dan ragi bagi sesama yang tertindas, menderita dalam hidup mereka. Dalam Dokumen KV II dikatakan bahwa cinta kasih merupakan panggilan yang sangat mendasar bagi setiap manusia dan sudah tertera pada kodratnya sebagai “citra Allah” dan wajib dilestarikan keberadaannya (Dokumen KV II LG, art. 12). Sesungguhnya cinta kasih itu ditujukan kepada semua orang. Cinta kasih itu harus nampak dalam hidup bersama yang terwujud dalam rasa saling mendukung, saling memperhatikan, saling membantu, saling menghargai dan saling bersabar, saling mengerti dan memahami satu dengan yang lainnya. Sejak semula Allah telah memanggil manusia dalam kebersamaan untuk mengalami penebusan sebagai saudara Kristus. Dalam diri orang yang suka melayani dan rela berbagi akan bertumbuh dan berkembang nilai-nilai persaudaraan karena yakin bahwa sesama adalah citra Allah. Hidup komunitas adalah tanggungjawab bersama oleh setiap anggota. Untuk itu secara bersama melihat undangan Gereja yang mengharapkan komunitas sebagai sekolah cinta dan komunitas hukum cinta yang di dalamnya terdapat persatuan atau komunio. Untuk membangun komunitas yang demikian

(159) 140 maka hendaknya setiap anggota kaum hidup bakti perlu menggali secara lebih mendalam apa yang menjadi undangan dan harapan Gereja dalam menghayati hidup komunitas seperti yang diharapkan oleh Gereja. Gereja mengundang Ursulin dalam hidup bersama menjadi kesaksian yang khas bagi dunia masa kini dengan misi utama mereka dalam karya pendidikan. Dengan demikian menjadikan komunitas Ursulin sebagai komunitas yang edukatif yang membina generasi muda untuk menapaki masa depan yang cerah bagi kehidupan mereka di kemudian hari. B. Saran Hidup bersama dalam komunitas terdiri dari pribadi yang berbeda, budaya dan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu sungguh tidak mudah untuk membangun dan menciptakan komunitas yang menjadi sekolah cinta bagi sesama dengan saling mendukung dan menghargai seperti yang dicita-citakan oleh masing-masing pribadi. Untuk itu penulis memberikan beberapa saran yang diusulkan bagi para suster Ursulin dalam rangka menanggapi undangan Gereja untuk membangun hidup berkomunitas dan jawaban mereka berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela adalah: 1. Komunitas akan menjadi sekolah persekutuan atau komunio jika semua anggota komunitas menyadari arti panggilan dan keberadaan mereka yang beranekaragam serta berusaha untuk mengusahakan persatuan diantara mereka sehingga komunitas itu akan menjadi cermin persatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.

(160) 141 2. Sebagai pengikut Santa Angela sebaiknya mengenal, memahami, mendalami dan menghidupi semangat dan spiritualitas Santa Angela melalui nilai-nilai yang dihidupinya dalam kehidupan bersama sehingga hal itu menjadi milik dan inspirasi para suster dalam hidup bersama. 3. Disarankan agar setiap komunitas dalam rekoleksi rutin bulanan menggunakan konstitusi dan kata-kata Santa Angela untuk menggali dan mendalami nilainilai yang dihidupi Angela dalam hidup berkomunitas. 4. Diharapkan setiap anggota komunitas memiliki sikap berbagi dengan berbagai cara yang sangat menolong satu dengan yang lain, misalnya; doa dan sharing Sabda Allah, sharing pengalaman kerasulan untuk saling membantu dalam melaksanakan tugas perutusan. 5. Menciptakan suasana komunitas yang hangat, saling pengertian yang timbul karena rasa kasih sayang, hormat, simpati sehingga mendorong setiap orang dalam melaksanakan tugas dengan kekuatan yang baru. 6. Adanya keseimbangan dalam hidup komunitas misalnya menyesuaikan acara harian, doa dan karya sehingga membantu setiap anggota untuk menghayati hidup sebagai Ursulin yang lebih baik. 7. Perlu mengusahakan kehidupan yang baik seperti yang dianjurkan oleh Santa Angela untuk hidup dalam keserasian sehati sekehendak. Saling membantu, menolong, memahami, menghargai dan mengerti kelebihan dan kekurangan sesama. Dengan demikian kehidupan komunitas Ursulin menjadi komunitas cinta kasih yang akan menjadi kesaksian bagi dunia yang hidup dalam perpecahan dan pertikaian.

(161) 142 8. Sikap rendah hati dalam hidup bersama akan mendukung mutu dan kualitas hidup komunitas menjadi lebih baik. Menjadi bagian hidup dari sesama suster dengan demikian akan terwujud komunio diantara mereka dalam hidup komunitas. 9. Diharapkan seluruh anggota berperan serta dalam membangun hidup komunitas sebagai tanggapan atas undangan Gereja dengan berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela. 10. Refleksi yang cukup bagi setiap suster untuk menemukan cara-cara baru dalam usaha membangun hidup berkomunitas. Akhirnya, penulis berharap semoga tulisan ini dapat membantu komunitas-komunitas Ursulin untuk dapat secara bersama-sama berusaha untuk membangun komunitas berdasarkan semangat dan spiritualitas Santa Angela demi menanggapi undangan Gereja, sehingga hidup komunitas Ursulin menjadi kesaksian yang khas bagi dunia dalam rangka membangun Kerajaan Allah.

(162) 143 DAFTAR PUSTAKA Darminta, J. S. (1976). Hidup Berkomunitas.Yogyakarta: Kanisius. ____________ .(1981). Satu Hati dan Satu Jiwa. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (1982). Berbagai Segi Penghayatan Hidup Religius Sehari-Hari. Yogakarta: Kanisius. Kitab Hukum Kanonik.(2006).Sekretariat KWI & Obor. Kongregasi Suci. (2004). Bertolak Segar dalam Kristus: Komitmen Hidup Bakti yang dibaharui di Milenium ke Tiga. (Alexander Djajasiswaja, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI. Konsili Vatikan II. (1993) Gaudium et Spes (GS). Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia modern. Dokumen Konsili Vatikan II. R. Hardawiryana, (penerjemah). Jakarta:Dokumentasi dan Penerangan KWI & Obor. _____________.Lumen Gentium (LG).Konstitusin Dogmatis tentang Gereja. _____________.Perfectae Caritatis (PC).Dekrit tentang Pembaharuan dan penyesuaian Hidup Religius. _____________.Presbyterorum Ordinis (PO).Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam. _____________.Sacrosanctum Concilium (SC). Konstitusi tentang Liturgi. Martasudjita, Pr. (1999). Komunitas Peziarah. Yogyakarta: Kanisius. Sasmita, Maria Dolorosa. (1980). Sekelumit Santa Angela. Bandung: Pusat Biarawati Ursulin. Tanlain, Wens. M.Pd. Drs.Dkk. (1996). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Ursuline Unio Romana.(1998) Kata-Kata St. Angela: Regula, Nasehat, Warisan. Bandung: Pusat Biarawati Ursulin. ________________.(1984) Konstitusi Ordo Santa Ursula Unio Romana. Bandung: Pusat Biarawati Ursulin. ________________.(2000) Komisi Pengembangan Spiritualitas Ursulin. Bandung: Pusat Biarawati Ursulin. ___________________.(1995) Pesan Kapitel Umum.Ursuline Unio Romana. ___________________.(2001) Pesan Kapitel Umum. Ursuline Unio Romana. ___________________.(2007) Pesan Kapitel Umum. Ursuline Unio Romana. ___________________.(1994) Surat Edaran No. 241. Ursuline Unio Romana. ___________________.(1997) Surat Edaran No. 248. Ursuline Unio Romana. ___________________.(1998) Surat Edaran No. 250. Ursuline Unio Romana. Yohanes Paulus II, Paus (2002). Vita Consecrata. (Hidup Bakti). R. Hardawiryana,(Penerjemah). Jakarta:Dokpen KWI. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1996). _____________.(2007). Novo Millenio Ineunte:Pada Awal Milenium. R. Hardawiryana, (Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI.

(163)

(164)

(165)

(166)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENNDAFTAR PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM BAGI PARA PIHAK.
2
5
11
PENDAHULUAN PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM BAGI PARA PIHAK.
0
3
24
METODE PENELITIAN PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM BAGI PARA PIHAK.
1
3
5
KESIMPULAN DAN SARAN PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM BAGI PARA PIHAK.
1
4
36
JAWABAN SOAL KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP
0
0
1
UNDANGAN PQ KLARIFIKASI GEREJA GPSDI
0
0
1
MEMBANGUN HIDUP BERKUALITAS DENGAN HATI
0
0
8
BUDAYA HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH DASAR UNTUK MEMBANGUN GENERSI MUDA YANG BERKARAKTER
0
1
6
PERAN KECERDASAN SPIRITUALITAS DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KEBERMAKNAAN HIDUP PADA SUSTER OSF YANG PURNAKARYA
0
0
14
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN RESILIENSI PADA PARA SUSTER YUNIOR DI KOTA YOGYAKARTA
0
0
9
PERINGATAN BAGI PARA PEMUDA DARI
0
0
32
MEWAKILI MENRISTEKDIKTI DAN IBU DAN BAPAK PIMPINAN PTS, PARA NARASUMBER DAN PARA UNDANGAN
0
0
75
UNDANGAN SPIRITUALITAS PERSEKUTUAN MENURUT DOKUMEN “BERTOLAK SEGAR DALAM KRISTUS” BAGI PENGHAYATAN CITA-CITA HIDUP KOMUNITAS KONGREGASI SUSTER FRANSISKUS MISIONARIS MARIA SKRIPSI
0
0
177
UPAYA MENINGKATKAN PENERIMAAN MASA TUA BAGI PARA SUSTER FCJM LANJUT USIA DI INDONESIA MELALUI KATEKESE SKRIPSI
0
2
188
MAKNA PENGOLAHAN HIDUP BAGI PERKEMBANGAN SUSTER YUNIOR SELAMA MASA PEMBINAAN DALAM TAREKAT KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK ( KYM )
0
0
146
Show more