Optimasi formula krim anti ageing ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan cetil alcohol dan humektan gliserin : aplikasi desain faktorial - USD Repository

Gratis

0
0
92
10 months ago
Preview
Full text

  

OPTIMASI FORMULA KRIM ANTI AGEING

EKSTRAK ETIL ASETAT ISOFLAVON TEMPE

dengan CETYL ALCOHOL dan HUMEKTAN GLISERIN :

APLIKASI DESAIN FAKTORIAL

  

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

  Program Studi Ilmu Farmasi Oleh:

  Felicia Satya Christania NIM : 068114028

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

OPTIMASI FORMULA KRIM ANTI AGEING

EKSTRAK ETIL ASETAT ISOFLAVON TEMPE

dengan CETYL ALCOHOL dan HUMEKTAN GLISERIN :

APLIKASI DESAIN FAKTORIAL

  

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

  Program Studi Ilmu Farmasi Oleh:

  Felicia Satya Christania NIM : 068114028

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

Membi ar kan ber l al u “ si pen gat ur ”

Lebi h men y adar i saat i n i dan t er buka t er hadap ket i dakpast i an masa depan ,

Membebaskan ki t a dar i pen j ar a r asa t akut

Hal i n i akan membuat ki t a dapat men j awab t an t an gan kehi dupan den gan kebi j aksan aan ki t a sen di r i

y an g un i k

Dan men y el amat kan di r i ki t a dar i si t uasi y an g t i dak men y en an gkan

  • -Aj ahn Br ahm-

  Karya sederhana ini ku persembahkan kepada : Bapa tercinta di Surga

  Mama terkasih Papi terhebat

  Dek Tika tercinta Malaikat kecilku

  Almamaterku PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Felicia Satya Christania Nomor Mahasiswa : 068114028

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

OPTIMASI FORMULA KRIM ANTI-AGEING EKSTRAK ETIL ASETAT

  

ISOFLAVON TEMPE DENGAN CETYL ALCOHOL DAN HUMEKTAN

GLISERIN APLIKASI : DESAIN FAKTORIAL

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saua sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal : 4 Januari 2010

  

PRAKATA

  Puji syukur kepada Bapa atas berkat, rahmat, kasih dan penyertaanNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripis berjudul “Optimasi Formula Krim Anti-Ageing Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe dengan Cetyl Alcohol dan Humektan Gliserin : Aplikasi Desain Faktorial” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) pada Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis selama perkuliahan, penelitian, dan penyusunan skripsi ini telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak berupa bimbingan, nasihat, pengarahan, dorongan, saran, dan kritikan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :

  1. Rita Suhadi, M.Si., Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Sanat Dharma Yogyakarta.

  2. Rini Dwiastuti, M.Sc., Apt selaku dosen pembimbing atas segala kritik, masukan, diskusi, dan keakraban yang boleh penulis rasakan bersama ibu selama penelitian proyek payung dan penyusunan skripsi.

  3. Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt selaku dosen penguji atas bimbingan, saran, kritik, dan pengarahannya selama penyusunan skripsi ini.

  4. Yustina Sri Hartini, M.Si., Apt selaku dosen penguji atas bimbingan, saran, kritik, dan pengarahannya selama penyusunan skripsi ini.

  5. Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku kepala laboratorium atas kesediaan

  6. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt, terima kasih untuk saran, kritik, dan bimbingannya selama penyusunan proposal.

  7. Segenap laboran dan karyawan, Pak Musrifin, Mas Wagiran, Mas Sigit, Mas Bimo, Mas Otok, Mas Agung, Pak Timbul, dan Pak Yuwono, atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis melakukan penelitian.

  8. Mama, Papi, kalian orang tua terhebat untukku, terima kasih untuk cinta, doa, kesabaran, teguran, dukungan, dan kesetiaan yang tidak pernah habis.

  9. Adek Tika tercinta, yang selalu menemaniku setiap kali lembur, terima kasih untuk teguran yang penuh kasih sayang, cinta, doa, perhatian, dan dukungan.

  10. Galih dan Jelly, sebagai bagian dari kebersamaan dengan adek tercinta, terimakasih untuk dukungan yang selalu diberikan.

  11. Sahabatku yang selalu membuatku percaya diri dan termotivasi, Yashinta Widyaningtyas, dan sahabatku yang selalu memberi ketenangan dan keheningan, Lulu Lunggati B.M. Terima kasih untuk perjuangan, keceriaan dan kebodohan kita, aku bersyukur memiliki kalian.

  12. Malaikat kecilku Luther-Helen, Chiroo-Bolivia, Adek, untuk cinta dan kesetiaan yang boleh bunda dan tante rasakan.

  13. Mama Wiwik yang selalu mengiringku dengan doa dan kasih sayang.

  14. Om Ubay yang sangat setia memberikan saran, kritik, nilai, dukungan, dan kesabaran untuk menemani kami ngelab selama penyusunan skripsi ini.

  16. Dani, Rico, Intan, Iren, Rani, Cica, Wiwit,Grace, Zi, Cik Vita, Ardani, Lia, Yosephine, Joice, Melia teman-teman seperjuangan dalam penelitian, terima kasih untuk kebersamaan, sharing, dan diskusi selama ini.

  17. Bos Fian, Ko David, terimakasih untuk dukungan dan masukan selama penyusunan skripsi ini.

  18. Sahabatku, Riyo, Mary, Tusi, Krisna, Erlina terimakasih untuk dukungan yang selalu ada.

  19. Teman-teman FST 2006 serta semua pihak yang telah memberi bantuan, dukungan, doa, dan keceriaan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

  Akhir kata, penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangannya mengingat keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan oleh penulis demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

  

INTISARI

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi optimum dari krim anti ageing ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan cetyl alcohol dan humektan gliserin agar diperoleh sediaan dengan sifat fisik dan stabilitas yang baik. Tempe merupakan salah satu bahan makanan khas Indonesia yang mudah ditemui dan mengandung isoflavon yang mempunyai daya antioksidan lebih besar daripada kedelai, dengan demikian penelitian ini juga dapat menaikkan nilai guna tempe.

  Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental murni. Optimasi formula yang dilakukan dengan menggunakan metode desain faktorial dan teknik analisis statistik Yate’s treatment dengan taraf kepercayaan 95%. Optimasi dilakukan pada komposisi cetyl alcohol dan humektan gliserin dengan parameter sifat fisik krim yang diuji meliputi : viskositas, daya sebar, serta stabilitas krim meliputi pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama 30 hari. Selain itu juga dilakukan uji daya antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak etil asetat isoflavon tempe.

  Dari penelitian ini diperoleh bahwa cetyl alcohol merupakan faktor yang berpengaruh dominan dan signifikan dalam menentukan sifat fisik viskositas krim, sedangkan gliserin dan interaksi cetyl alcohol-gliserin bukan merupakan faktor yang berpengaruh dominan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas krim. Kata kunci: krim; anti ageing; isoflavon; cetyl alcohol; gliserin; desain faktorial

  

ABSTRAC

  The aim of study of this researh is to optimization anti-ageing cream of etil asetat extract isoflavon tempe with cetyl alcohol and gliserin as humectant of cream. Tempe is one of the favourite food from Indonesia that have a big potetial antioxidant activity.

  This research is use pure experimental device and formula optimation that was done by using factorial design method and statistical analysis of Yate’s

  

Treatment . The optimization condusted at cetyl alcohol and humectant gliserin,

  with the physical properties of cream that was tested through spreadibility, viscosity, and stability of cream by using alteration of viscosity.

  The result of this research was indicated that cetyl alcohol was the dominant factor in determining the viscosity. Gliserin and Interaction is not determining physical and stability properties. Key word : cream; anti ageing; isoflavon; cetyl alcohol; gliserin; factorial design

  DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL HALAMAN JUDUL ..............................................................................................ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................iii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................iv HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.............................vii PRAKATA ...........................................................................................................viii

  INTISARI ...............................................................................................................xi ABSTRAK. ......................................................................................................... xii DAFTAR ISI ........................................................................................................xiii DAFTAR TABEL ...............................................................................................xvii DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xviii DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................xix

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................................1

  1. Permasalahan ...................................................................................3

  2. Keaslian Penelitian ..........................................................................3

  3. Manfaat Penelitian ..........................................................................3

  2. Tujuan Khusus ................................................................................4

  BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Isoflavon dan Tempe ...................................................................................5 B. Skin Ageing...................................................................................................5 C. Uji DPPH ....................................................................................................7 D. Krim ............................................................................................................8 E. Cetyl Alcohol ..............................................................................................9 F. Gliserin ......................................................................................................10 G. Desain Faktorial ........................................................................................12 H. Landasan Teori ..........................................................................................13 I. Hipotesis ....................................................................................................15 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian ................................................................16 B. Variabel dan Definisi Operasional ............................................................16

  1. Variabel bebas ...............................................................................16

  2. Varabel Tergantung .......................................................................16

  3. Variabel Pengacau Terkendali ......................................................16

  4. Varabel Pengacau tak Terkendali ..................................................16

  C. Bahan Penelitian ........................................................................................18

  D. Alat Penelitian ...........................................................................................18

  E. Tata Cara Penelitian ..................................................................................19

  3. Uji Antioksidan Metode DPPH .....................................................20

  4. Formulasi Sediaan Krim Anti-ageing Isoflavon Tempe ...............21

  5. Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Sediaan Krim ..................................23

  F. Analisis Hasil ............................................................................................24

  BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. Isolasi dan Identifikasi Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe .............25

  1. Isolasi Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe .................................25

  2. Identifikasi Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe .........................29

  B. Uji Antioksidan Isoflavon Tempe .......................................................30

  C. Pembuatan Krim ..................................................................................32

  D. Sifat dan Stabilitas Krim .....................................................................34

  1. Pengujian Tipe Krim ...............................................................34

  2. Karakteristik Ukuran Droplet ..................................................35

  3. Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Krim ..........................................38

  a. Daya Sebar ..................................................................38

  b. Viskositas ....................................................................41

  c. Pergeseran viskositas ..................................................43

  E. Optimasi Formula ................................................................................46

  a. Daya Sebar ..............................................................................46

  b. Viskositas ................................................................................47

  c. Pergeseran Viskositas ..............................................................47

  BAB V KESIMPULAN dan SARAN A. Kesimpulan .........................................................................................50 B. Saran ....................................................................................................51 DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................52 Lampiran ...............................................................................................................54 Biografi Penulis .....................................................................................................97

  DAFTAR TABEL Tabel I. Komponen Isoflavon Aglikon ...................................................................6 Tabel II. Komponen Isoflavon Glukosida ...............................................................6 Tabel III. Rancangan Percobaan Desain Faktorial ................................................12 Tabel IV. Rancangan Formula Desain Faktorial ...................................................21 Tabel V. Perhitungan Rf Uji KLT Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe .............30 Tabel VI. Hasil Perhitungan % Scavenging Ekstrak Etil Asetat Isoflavon

  Tempe ....................................................................................................32 Tabel VII. Hasil Perhitungan Statistik Distribusi Ukuran Droplet .......................36 Tabel VIII. Efek Faktor terhadap Respon Daya Sebar .........................................39 Tabel IX. Hasil Perhitungan Yate’s Treatment untuk Respon Daya Sebar ...........39 Tabel X. Efek Faktor terhadap Respon Viskositas ...............................................41 Tabel XI. Hasil Perhitungan Yate’s Treatment untuk Respon Viskositas ............41 Tabel XII. Efek Faktor terhadap Respon Pergeseran Viskositas ..........................43 Tabel XIII. Hasil Perhitungan Yate’s Treatment untuk Respon Pergeseran

  Viskositas ............................................................................................44

  DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Struktur Kimia Isoflavon Aglikon .........................................................6 Gambar 2. Struktur Kimia Isoflavon Glukosida .....................................................6 Gambar 3. Struktur Kimia Cetyl Alcohol...............................................................10 Gambar 4. Struktur kimia Gliserin ........................................................................10 Gambar 5. Skema Singkat Alur Penelitian ...........................................................18 Gambar 6. Skema Mekanisme isoflavon sebagai Anti-ageing .............................29 Gambar 7. Hasil uji KLT ......................................................................................30 Gambar 8. Skema Tahapan Reaksi Isoflavon sebagai Antioksidan ......................31 Gambar 9. Hasil Pengujian Mikroskopik Tipe Krim.............................................34 Gambar 10. Karakteristik Ukuran Droplet ............................................................35 Gambar 11. Kurva Nilai Tengah Diameter Droplet vs % Frekuensi ....................37 Gambar 12. Grafik Pengaruh Faktor terhadap Respon Daya Sebar ......................40 Gambar 13. Grafik Pengaruh Faktor terhadap Respon Viskositas .......................42 Gambar 14. Grafik Pengaruh Faktor terhadap Respon Pergeseran Viskositas .....45 Gambar 15. Grafik Contour Plot Daya Sebar Krim .............................................46 Gambar 16. Grafik Contour Plot Viskositas Krim ...............................................47 Gambar 17. Grafik Contour Plot Pergeseran Viskositas ......................................48 Gambar 18. Grafik Contour Plot Super Impossed.................................................49

  DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Kuallitatif Rf KLT Isoflavon Tempe ...........................54 Lampiran 2. Perhitungan Uji Antioksidan Metode DPPH.....................................55 Lampiran 3. Data Penimbangan, Notasi, dan Formula Desain Faktorial ..............62 Lampiran 4. Data Sifat Fisik dan Stabilitas Krim .................................................63 Lampiran 5. Perhitungan Efek Sifat Fisik dan Stabilitas Krim .............................70 Lampiran 6. Persamaan Desain Faktorial .............................................................76 Lampiran 7. Yates’s Treatment..............................................................................84 Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian ....................................................................93

BAB I PENGANTAR Latar Belakang A. Tempe adalah salah satu bahan makanan asli Indonesia yang sangat

  digemari karena harganya murah, mudah ditemui, dan rasanya enak. Di dalam tempe ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon yaitu daidzein, glistein, dan genistein seperti pada kedelai, selain itu ditemukan pula antioksidan faktor II (6,7,4, trihidroksiflavon) yang merupakan agen antioksidan yang hanya terdapat di dalam tempe sebagai hasil dari fermentasi kedelai (Anonim, 2008). Faktor II mempunyai aktivitas antioksidan yang secara in-vitro lebih tinggi dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai (Ariani, 2003).

  Isoflavon mempunyai efek terhadap radiasi UV yaitu meningkatkan sistem imun sama besar dengan energi UV yang menyebabkan kerusakan kulit, dikenal dengan istilah photoageing (Zulli, F., Schmid, D., Muggli, R., Hanay, C., 2002). Isoflavon dapat diaplikasikan dalam kosmetik dengan berbagai bentuk sediaan misalnya gel, lotion, dan krim yang dapat diformulasikan secara mudah dalam fase air (Schmid, 2004). Konsentrasi isoflavon yang biasa digunakan dalam kosmetik adalah 1-500 mg/kg atau 20-100 mg/kg (Zulli et.al, 2002).

  Dalam penelitian ini isoflavon diformulasikan dalam bentuk sediaan krim. Hal ini terkait dengan kelebihan dari sediaan krim dibandingkan dengan memberi rasa melembabkan di kulit, mudah dibersihkan dan dapat atau tidak dapat dicuci dengan air (Mitsui, 1993).

  Suatu sediaan, untuk dapat diterima oleh masyarakat harus memenuhi parameter sifat fisik dan stabilitas. Sifat fisik dan stabilitas suatu sediaan krim dapat ditentukan oleh basis dan humektan. Cetyl alcohol sebagai basis yang juga bersifat sebagai thickening agent sehingga mampu menjaga stabilitas, memperbaiki tekstur, dan meningkatkan konsistensi (Bennet, 1970). Sedangkan humektan merupakan suatu bahan higroskopis yang ditambahkan bertujuan untuk mempertahankan kelembapan sediaan sehingga dapat mempermudah aplikasi krim dengan memberikan daya sebarnya yang cukup serta dapat mempertahan konsistensi. Oleh karena cetyl alcohol dan gliserin memiliki sifat yang saling berlawanan yaitu dapat meningkatkan viskositas dan meningkatkan daya sebar, maka dalam penelitian ini dilakukan optimasi formula cetyl alcohol sebagai basis dan gliserin sebagai humektan.

  Optimasi formula dilakukan menggunakan aplikasi desain faktorial. Metode ini mempunyai kelebihan yaitu selain dapat mengetahui efek dari tiap bahan yang digunakan terhadap sifat-difat fisik sediaan juga dapat digunakan untuk mengetahui efek yang tmbul dati interaksi bahan-bahan yang digunakan.

  Dalam penelitian ini dilakukan pula uji aktivitas antioksidan isoflavon secara in-vitro dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-1pikrilhidrazil) yang dinyatakan dengan % scavenging.

  1. Permasalahan

  a. Apakah ekstrak etil asetat isoflavon tempe mempunyai aktivitas antioksidan melalui uji penangkapan radikal hidroksil dengan metode DPPH yang dinyatakan dengan % scavenging ?

  b. Efek mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas krim di antara efek cetyl alcohol, efek gliserin, dan efek interaksi ?

  c. Apakah diperoleh area komposisi optimum dari campuran cetyl alcohol- gliserin yang memenuhi parameter sifat fisika dan stabilitas krim ?

  2. Keaslian Penelitian

  Sejauh penelusuran pustaka yang dilakukan penulis, penelitian tentang formulasi sediaan krim anti ageing isoflavon tempe dengan basis tidak larut air cetyl alcohol dan basis larut air gliserin belum pernah dilakukan.

   Manfaat Penelitian 3.

  a. Manfaat Teoritis. Menambah pengetahuan mengenai bentuk sediaan anti ageing isoflavon dari tempe dan cara mengisolasi isoflavon dari tempe.

  b. Manfaat Metodologi. Menambah informasi ilmu pengetahuan kefarmasian mengenai upaya pengembangan dan aplikasi metode desain faktorial dalam menemukan area komposisi optimum krim anti ageing isoflavon dari tempe dengan komposisi cetyl alcohol dan gliserin.

  c. Manfaat Praktis. Adanya sediaan krim anti ageing isoflavon dari tempe ini

B. Tujuan Penelitian Tujuan Umum a.

  Membuat formula krim yang memiliki daya anti ageing dengan bahan aktif isoflavon dari tempe.

b. Tujuan Khusus

  1. Mengetahui apakah fraksi etil asetat isoflavon dari tempe mempunyai aktivitas antioksidan melalui uji penangkapan radikal hidroksil dengan metode DPPH yang dinyatakan dengan % scavenging.

  2. Mengetahui efek mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas krim di antara efek cetyl alcohol, efek gliserin, dan efek interaksi.

  3. Mengetahui area komposisi optimum dari campuran cetyl alcohol–gliserin yang memenuhi parameter sifat fisik dan stabilitas krim.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA Isoflavon dan Tempe A. Tempe hasil fermentasi ditemukan adanya isoflavon genistein, daidzein,

  dan faktor-II. Genistein dan Daidzein telah ada pada kedelai rendam sebagai bahan baku tempe, tetapi faktor-II hanya dijumpai pada tempe. Faktor-II dapat terbentuk karena selama proses perendaman fermentasi kedelai

  β-glukosidase

  akan aktif dan mengubah glisitin, genistin, dan daidzin yang telah ada pada kedelai menjadi daidzein, genistein, dan glisitein. Selanjutnya selama proses fermentasi kedelai rendam terjadi biokonversi lebih lanjut daidzein dan glisiteni menjadi faktor-II. Faktor-II mempunyai daya antioksidan yang secara in-vitro jauh lebih tinggi bila dibandingkan antioksidan lain (Ariani, 2003).

  Isoflavon terdiri atas komponen polar (terikat gula/glikon) dan komponen nonpolar (tidak terikat gula/aglikon) (Tensiska, Marsetio, Yudiastuti, S.O.N., 2007). Isoflavon glikosida tidak aktif secara biologi. Isoflavon aktif untuk perawatan kulit harus dalam bentuk aglycone yang ini mempunyai sedikit kelarutan dalam air dan minyak (Schmid, 2004). Isoflavon diaplikasikan dalam kosmetik, harus diaktifkan terlebih dahulu misalnya dalam bentuk aglikon, sebab di dalam kulit tidak terdapat enzim hidrolisis. Dalam bentuk glikosida maka isoflavon tidak akan terpenetrasi sampai lapisan kulit yang lebih dalam, misalnya senyawa yang dapat lewat adalah aglikon yang dapat larut air (Zulli et.al, 2002). Struktur isoflavon adalah sbb:

  Gambar 1. Struktur Kimia Isoflavon Aglikon Tabel I. Komponen Isoflavon Aglikon

  R1 R2 Komponen H H Daidzein

  OH H Genistein H OCH

  3 Glisitein H OH Faktor-II Gambar 2. Struktur Kimia Isoflavon Glukosida Tabel II. Komponen Isoflavon Glukosida

  R3 R4 R5 Komponen H H H Daidzin

  OH H H Genistin H OCH

3 H Glisitin

  H H COCH

  3

  6”-O-asetildaidzin OH H COCH

  3

  6”-O-asetilgenistin H OCH

  3 COCH 3 6”-O-asetilglisitin

  H H COCH

  2 COOH 6”-O-malonildaidzin

B. Kromatografi Lapis Tipis

  Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah metode kromatografi cair yang paling sederhana dan mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan KLT adalah sample yang digunakan sedikit, diperoleh pemisahan senyawa yang amat berbeda, waktu yang dibutuhkan singkat, serta jumlah pelarut yang digunakan sangat sedikit. KLT dapat digunakan untuk dua tujuan. Pertama, untuk hasil kuantitatif, kualitatif, dan preparative. Kedua, digunakan untuk mengetahui sistem pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) (Gritter, R., Bobbit, J.M., Schwarting, A., 1991).

  Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan yang memisahkan, yang terdiri atas fase diam, ditempatkan pada penyangga yang berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisahkan berupa larutan, ditotolkan pada fase diam. Setelah plat atau lapisan ditaruh di dalam bejana terttup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan).

  Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus dideteksi (Stahl, 1985).

  Seyawa yang dihasilkan pada lempeng fase diam terkadang masih sulit untuk dideteksi. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan pereaksi yang mampu memperjelas bercak, sehingga mempermudah dalam melakukan deteksi. Senyawa-senyawa yang sering digunakan untuk pereaksi pendeteksi KLT antara lain ammonia, ALCL3, FeCL3, sitroborat, dan lain-lain (Mabry, T.J., Markham,

  Deteksi paling sederhana adalah jika senyawa menunjukkan penyerapan di daerah UV gelombang pendek (radiasi utama kira-kira 254 nm) atau jika senyawa ini dapat dieksitasi ke fluoresensi radiasi UV gelombang pendek dan atau gelombang panjang (365 nm). Jika dengan kedua cara ini senyawa tidak dapat dideteksi maka harus dicoba dengan reaksi kimia. Pertama tanpa pemanasan lalu bila perlu degan pemanasan. Jarak pengembangan pada senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan dengan angka Rf atau hRf (Stahl, 1985).

  Jaraktitik PusatBerca kDariPento tolan RfJarakRamba tFaseGerak

   Skin Ageing C.

  Skin ageing adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh waktu yang dapat

  dipercepat oleh faktor eksternal misalnya radiasi UV. Mekanisme ini berlangsung di dermis dan mengurangi kemampuan untuk pembentukan lapisan baru serta mempercepat degradasi lapisan. Manifestasi dari fenomena skin ageing bisa bermacam-macam, misalnya keriput, kulit kendor karena berkurangnya kemampuan elastisitas dan kekencangan (Zulli et.al, 2002).

  Skin ageing dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor internal

  maupun eksternal, salah satu faktor eksternal tersebut adalah paparan sinar matahari yang sering disebut photoageing. Mekanisme penuaan yang dipicu oleh faktor eksternal paparan sinar matahari adalah adanya penurunan jumlah ceramide akibat reaksi dengan Reactive Oxygen Species (ROS) yang dapat dihambat dengan

  Anion superoksida yang mengurangi oksigen menginisiasi reaksi ageing, sebab anion superoksida mempunyai peran penting dalam pembentukan ROS misalnya hidrogen peroksida, radikal hidroksil, dan oksigen singlet yang dapat memicu kerusakan akibat reaksi oksidatif pada lemak, protein, dan DNA (Lee, J., Renita, M., Fioritto, R.J., 2004).

  Isoflavon dapat mempunyai mekanisme anti-ageing sebagai antioksidan maupun fitoestrogen : a. Mekanisme sebagai fitoestrogen

  Isoflavon sebagai fitoestrogen dapat mempunyai mekanisme sebagai anti-ageing karena struktur isoflavon aglikon yang berbentuk heterosiklik fenol. Struktur tersebut mempunyai bentuk yang sangat mirip dengan estrogen steroid, sehingga reseptor estrogen akan dengan mudah menangkap isoflavon dan akan menstimulasi kolagen di dalam kulit (Schmid, 2004). Mekanisme fitoestrogen ini, biasa diberikan dengan sistem penghantaran oral.

  b. Mekanisme sebagai antioksidan Paparan sinar UV dapat mengandung ROS (Reactive Oxygen

  Species ) yang dapat mengaktivasi transkripsi dari MMPs. Enzim

  tersebut merupakan salah satu enzim proteolitik yang akan mendegradasi kolagen, elastin, dan protein-protein lain yang berfungsi untuk menjaga elastisitas kulit. Isoflavon yang mempunyai kulit tetap terjaga dan photoaging dapat dihambat (Chiang et.al, 2004), seperti ditunjukkan dalam gambar 6. Isoflavon dapat berfungsi sebagai antioksidan karena adanya gugus fenol yang mempunyai atom hidrogen sehingga dapat menangkap elektron bebas dari ROS menjadi elektron berpasangan yang lebih stabil. Selanjutnya, isoflavon akan teroksidasi oleh radikal bebas sehingga protein-protein penyusun elastisitas kulit seperti kolagen dan elastin tidak akan terdegradasi. Oleh karena itu, kandungan faktor II yang hanya ada di dalam isoflavon tempe merupakan antioksidan yang lebih baik dibandingkan isoflavon dalam kedelai biasa yang hanya mengandung genistein dan daizein. Hal ini disebabkan karena pada senyawa faktor

  II sebagai hasil fermentasi kedelai mempunyai gugus fenol yang lebih banyak.

  Sinar UV ↓

  ROS ↓

  Adanya atom hidrogen isoflavon sebagai agen antioksidan yang mengikat elektron dari ROS ↓

  Tidak terjadi aktivasi MMPs ↓

  Tidak terjadi degradasi kolagen, elastin, dll ↓

  Tidak terjadi reaksi photoaging

  

Gambar 3. Skema Mekanisme Isoflavon sebagai Anti-ageing dengan Mekanisme

Antioksidan

D. Uji DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

  Uji DPPH merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur daya antioksidan suatu sampel. DPPH berfungsi sebagai senyawa radikal bebas stabil yang ditetapkan secara spektrofotometri melalui persen peredaman absorbansi. Peredaman warna ungu merah pada panjang gelombang 517 nm dikaitkan dengan kemampuan minyak atsiri atau ekstrak sebagai antiradikal bebas (Purwata, I.M.O.A., Rita, W.S., Yoga, R., 2009).

  Besarnya aktivitas antioksidan ditandai dengan nilai IC 50, yaitu konsentrasi larutan sampel yang dibutuhkan untuk menghambat 50% radikal bebas DPPH (Andayani, R., Yovita, L., Maimunah, 2008). Aktivitas antioksidan kuat jika IC

  50

  lebih kecil dari 200 µg/ml. Kapasitas antiradikal bebas metode DPPH diukur dari peredaman warna ungu merah dari DPPH pada panjang gelombang 517 nm ± 20 nm (Purwata dkk, 2009). Perhitungan aktivitas penangkapan radikal DPPH (% scavenging) dihitung dengan rumus :

  ( Absorbansi blankoAbsorbansi sampel ) 100 % x Absorbansi blanko

  (Sunarni, T., Pramono, S., Asmah, R., 2007). Adanya aktivitas antioksidan dari sampel akan menyebabkan perubahan warna pada larutan DPPH dalam metanol yang semula violet pekat jadi kuning pucat. Sampel dinyatakan aktif sebagai antiradikal bebas jika % peredaman (% scavenging ) lebih dari atau sama dengan 50% (Purwata dkk, 2009).

  E. Krim

  Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika (Anonim, 1995). Sebuah vanishing cream merupakan emulsi dari asam stearat, disebut vanishing cream karena tidak tampak mengkilap (vanish) ketika digunakan. Fase eksternalnya adalah air. Dengan penambahan gliserin (10%) sebagai bahan pembuat lunak dinilai krim akan berkilau mutiara sediaan ini menjadi lebih cemerlang (Voigt, 1994). Emulsifying agent adalah sabun atau campuran sabun dari sodium, potassium, dan ammonia biasanya dalam bentuk emulsi minyak dalam air (Young, 1972).

  Krim merupakan suatu sistem emulsi yang stabilitasnya ditentukan oleh elastisitas emulgator dari lapisan tipis batas antar muka. Menurut aturan Bancroft, fase dimana emulgator terlarut atau terakumulasi di dalamnya adalah bahan pendispersi, contoh sabun yang dapat larut dalam air merupakan emulgator m/a.

  Suatu sistem emulsi akan menunjukkan stabilitas dan tingkat dispersitas yang optimal, jika lapisan tipis menyaluti batas antar permukaan secara total. Banyak emulgator memberikan lapisan tipis yang sangat stabil dan dapat menyalut droplet. Jika ada droplet bersentuhan, maka lapisan tipis semacam itu akan memberi perlindungan untuk menghindari penggabungan (Voigt, 2004). stabil adalah sabun amin. Sabun amin salah satu contohnya adalah Trietanolaminstearat yang terbentuk dari hasil reaksi penyabunan antara asam stearat dan TEA. Pada susunan rantai sabun trietanolaminstearat, hidrokarbon yang simetris mewakili bagian tidak polar dari molekul. Sebaliknya karboksil hidrofil menunjukkan tidak adanya keseimbangan muatan, oleh karena itu gugus bersifat polar. Kesatuan molekul ini gugus polar dan tidak polar menyatu sehingga membuatnya sebagai senyawa amfifil (Voigt, 2004). Struktur sabun trietanolamin adalah sbb :

  • [OH-CH

  2 -CH 2 -N(HCH

2 CH

  2 OH)-CH 2 -CH 2 -OH]C

  17 H 35 -COO F.

   Cetyl Alcohol Cetyl alcohol mengandung tidak kurang dari 90% C H O, selebihnya

  16

  34

  terdiri dari alkohol yang sejenis. Pemeriannya berupa serpihan putih licin, granul atau kubus, berwarna putih, bau khas lemah, rasa lemah. Kelarutannya tidak larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam eter, kelarutan bertambah dengan naiknya suhu (Anonim, 1995). Struktur cetyl alcohol adalah sbb:

  Gambar 4. Struktur Kimia Cetyl Alcohol Cetyl alcohol mampu menjaga stabilitas, memperbaiki tekstur dan

  meningkatkan konsistensi serta dapat bersifat sebagai emollient, emulsifying dalam air. Kombinasi dengan emulsifier ini akan menghasilkan suatu sistem yang tertutup, barier monomolecular pada antar muka minyak-air yang membentuk barier mekanik sehingga dapat mencegah terjadinya droplet yang coalesence (Rowe, R., Sheskey, P.J., Quinn, M.E., 2009).

G. Gliserin

  Gliserin dapat diperoleh dari minyak dan lemak yang diproduksi dalam pembuatan sabun dan asam lemak. Gliserin merupakan cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopik, dan netral terhadap lakmus. Gliserin dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam minyak lemak, dalam eter, dan dalam minyak menguap (Anonim, 1995). Struktur gliserin adalah sbb:

  Gambar 5. Struktur Kimia Gliserin

  Pada pemakaian topikal, seringkali gliserin digunakan untuk humectant dan emollient, sehingga dapat digunakan untuk mempertahankan kelembapan kulit dan meningkatkan daya sebar. Gliserin digunakan sebagai solvent atau

  

cosolvent di dalam krim dan emulsi. Gliserin biasa ditambahkan di dalam fase air

(Rowe et.al, 2009).

H. Metode Desain Faktorial

  Metode desain faktorial dapat digunakan untuk mendesain suatu percobaan untuk mengetahui faktor yang dominan berpengaruh secara signifikan terhadap suatu respon dan memungkinkan kita mengetahui interaksi di antara faktor-faktor tersebut (Voigt, 1994). Keuntungan dari metode desain faktorial ini adalah memiliki efisiensi yang maksimum dalam mengetahui efek yang dominan dalam menentukan respon, selain itu bahwa metode ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi efek masing-masing faktor maupun efek interaksi antar faktor (Muth, 1999).

  Metode desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi yaitu teknik untuk memberikan model hubungan antara variabel respon dengan satu atau lebih variabel bebas. Model yang diperoleh dari analisis tersebut berupa persamaan matematika. Desain faktorial dua level berarti ada dua faktor (misal A dan B) yang masing-masing faktor diuji pada dua level yang berbeda, yaitu level rendah dan level tinggi (Bolton, 1997). Rancangan percobaan yang diperlukan dengan metode desain faktorial dua faktor dan dua level sbb:

  Tabel III. Rancangan percobaan desain faktorial dengan 2 faktor dan 2 level

  Formula Faktor A Faktor B

  • (1)
  • a b + -
    • ab Keterangan :

  • = level rendah

  Optimasi campuran dua bahan (dua faktor) dengan desain faktorial dianalisis berdasarkan rumus: Y = b + b

  1 (A) + b2(B) + b 12 (A)(B)........................(1)

  Dengan: Y = respon hasil atau sifat yang diamati (A),(B) = level bagian A, level bagian B, yang nilainya -1 dan +1 b , b , b , b = koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan

  1

  2

12 Dari persamaan di atas dan data yang diperoleh kemudian dibuat contour

  

plot suatu respon tertentu yang dapat digunakan untuk mengetahui komposisi

campuran yang optimum (Bolton, 1997).

  Besarnya efek masing-masing faktor, maupun efek interaksinya dapat diperoleh dengan menghitung selisih antara respon pada level tinggi dan rata-rata respon pada level rendah, yaitu:

   a  ( 1 )    abb

  Efek faktor A =

  2 b  ( 1 )  aba

     

  Efek faktor B =

  2  abb    ( 1 )  a  Efek faktor C = (Bolton, 1997).

2 I. Landasan Teori

  Tempe diketahui mempunyai potensi sebagai bahan anti ageing dengan adanya kandungan isoflavon yang mempunyai daya antioksidan yang lebih besar dibandingkan dengan kedelai karena adanya senyawa faktor-II. Senyawa ini hanya dijumpai pada tempe karena terbentuk selama proses perendaman fermentasi kedelai (Ariani, 2003).

  

scavengers dapat mencegah peristiwa photoaging tersebut sehingga akan

  mengurangi kerusakan collagen yang berperan sebagai protein pembentuk elastisitas kulit. Oleh karena itu, isoflavon tempe mempunyai potensi sebagai anti-

  ageing yang efektif mencegah photoaging (Chiang et.al, 2007).

  Bentuk sediaan yang digemari untuk aplikasi kosmetik yaitu krim. Hal ini disebabkan oleh sifat krim yang mudah dioleskan, mudah menyebar, daya penetrasi tinggi, memberi rasa melembabkan di kulit, mudah dibersihkan dan dapat atau tidak dapat dicuci dengan air (Mitsui, 1993).

  Cetyl alcohol sebagai basis tidak larut air dalam formula krim ini

  mempunyai kemampuan untuk menjaga stabilitas, memperbaiki tekstur, dan meningkatkan konsistensi krim (Rowe et.al, 2009). Sedangkan gliserin sebagai humektan bersifat dapat mempertahankan kelembapan kulit dan meningkatkan daya sebar (Rowe et.al, 2009). Cetyl alcohol dan gliserin yang mempunyai sifat berlawanan, yaitu cetyl alcohol meningkatkan viskositas dan gliserin meningkatkan daya sebar maka dilakukan optimasi kedua bahan tersebut sehingga dapat diperoleh komposisi optimum yang sesuai dengan sifat fisik dan stabilitas krim.

  Untuk mengetahui efek faktor dan interaksi yang paling dominan dari masing-masing uji sifat fisis dan stabilitas krim, maka digunakan metode desain faktorial.

  J. Hipotesis

  Hipotesis dari penelitian ini adalah :

  a. Ekstrak etil asetat isoflavon tempe mempunyai daya antioksidan melalui uji penangkapan radikal hidroksil dengan metode DPPH.

  b. Terdapat pengaruh yang bermakna (signifikan) dari komposisi cetyl alcohol, gliserin, dan interaksi cetyl alcohol-gliserin dalam formula krim anti-ageing yang dominan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas krim anti ageing isoflavon tempe.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental murni yang bersifat eksploratif dengan menggunakan desain faktorial. B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sbb:

  1. Variabel Bebas Komposisi cetyl alcohol dan humektan gliserin.

  2. Variabel Tergantung

  Sifat fisis dan stabilitas krim anti ageing isoflavon tempe yang meliputi : viskositas, daya sebar, tipe emulsi, dan pergeseran viskositas.

  3. Variabel Pengacau Terkendali Kondisi wadah tempat penyimpanan dan intensitas cahaya penyimpanan.

  4. Variabel Pengacau Tak Terkendali Suhu dan kelembaban ruangan penelitian.

  Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sbb :

  a. Basis adalah bahan dasar krim yang menentukan sifat dasar krim dan menentukan keberhasilan atau kegagalan terapi (Voigt, 2004). c. Interaksi gliserin-cetyl alcohol yang mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas.

  d. Respon adalah sifat atau hasil percobaan yang diamati yaitu sifat fisik berupa daya sebar dan viskositas. Stabilitas fisik berupa pergeseran viskositas.

  e. Daya antioksidan adalah dinyatakan dengan % scavenging, dikatakan aktif sebagai antioksidan jika % scavenging leih besar dari atau sama dengan 50% (Purwata, 2009) dan dikatakan antioksidan kuat jika nilai IC

  50 kurang dari 200 µg/ml ( Andayani dkk, 2008).

  f. Daya sebar adalah kemampuan penyebaran krim pada kulit 5-7 cm dengan aplikasi beban 125 gram selama 1 menit (Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., Singla, A.K., 2002).

  g. Viskositas adalah memiliki rentang viskositas yang dapat diterima adalah 145-175 d.Pa.s.

  h. Pergeseran viskositas adalah dikatakan stabil jika setelah penyimpanan selama 30 hari terjadi pergeseran viskositas kurang dari 11%. i. Contour plot adalah grafik yang merupakan hasil dari respon sifat fisis dan stabilitas krim. j. Contour plot superimpossed adalah grafik area pertemuan yang memuat semua arsiran dalam contour plot yang diprediksikan sebagai area optimum krim. k. Area optimum adalah area kondisi yang menghasilkan krim dengan daya sebar 5 sampai 7 cm, viskositas 145-175 d.Pa.s, persen pergeseran viskositas adalah kurang dari 11%.

C. Bahan Penelitian

  Tempe dibungkus daun pisang dan berbentuk persegi panjang (diperoleh dari pasar STAN, Paingan, Sleman), aquadest, Metanol teknis, Petroleum eter teknis, Etil asetat teknis (Brataco), MgSO

  4 teknis, plat silica GF254, Metanol p.a,

  pereaksi DPPH, Asam stearat farmasetis, VCO, Cetyl Alcohol farmasetis, Trietanolamin, Gliserin, BHT (Brataco), dan Metil paraben.

   Alat Penelitian D.

  Glasswares Lab. FTS USD (pyrex), vaccum rotary evaporator (Janke- Kulken), seperangkat spectrophotometer UV/Vis (optima), neraca elektrik,

  

waterbath, mixer (Airlux), viscotester (Rion-Japan VT-04), tabung skala, alat uji

  daya sebar, mikroskop BM-180 Boeco Germany, Spektrofotometer visibel, dan kamera moticam 1000 pixel 1,3M.

E. Tata Cara Penelitian

  Pengumpulan dan pengolahan tempe ↓

  Isolasi Isoflavon tempe ↓

  Identifikasi kualitatif isoflavon tempe dengan KLT ↓

  Uji Antioksidan metode DPPH ↓

  Formulasi Krim ↓

  Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Sediaan

  Gambar 6. Alur Penelitian Singkat

1. Pengumpulan Tempe, Pengolahan Tempe, dan Isolasi Isoflavon Tempe

  Tempe yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk persegi panjang sebanyak 1 kg, diperoleh dari pasar STAN paingan Sleman pada saat pagi hari.

  Tempe tersebut kemudian dihaluskan dan ditimbang sebanyak enam ratus gram. 600 gram tempe ditambah 400 mL aquadest. Kemudian diblender selama 3x5 menit. Ditambahkan 1.200 mL metanol teknis, dimaserasi selama dua belas jam pada kecepatan 120 rpm. Setelah dimaserasi dua belas jam kemudian disaring. Ektrak yang diperoleh dipekatkan dengan vaccum rotary evaporator pada suhu

  60 C selama kurang lebih 1 jam untuk setiap 300 mL ekstrak metanol sampai diperoleh ekstrak kental ±100 mL (Ariani, 2003).

  Ekstrak kental diekstraksi dengan penggojogan selama satu menit, menggunakan pelarut 5x150 mL petroleum eter, ambil fase bagian bawah kemudian diekstraksi lagi dengan 5x150 mL etil asetat. Fase etil asetat di bagian atas diambil dan dibebaskan dari air dengan MgSO4 anhidrat sebanyak ±15 gram asetat dengan vaccum rotary evaporator pada suhu 40 C selama kurang lebih 1 jam untuk setiap 300 mL ekstrak etil asetat sampai diperoleh ekstrak kental etil asetat isoflavon (Ariani, 2003).

  2. Identifikasi Isoflavon dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

  Sedikit isolat hasil isolasi isoflavon dilarutkan dalam metanol p.a dan ditotolkan sebanyak sembilan kali totolan menggunakan pipa kapiler pada fase diam silica gel GF 254. Ditunggu hingga kering kemudian eluen dikembangkan dalam fase gerak kloroform : metanol = 3 : 1. Setelah eluen dikembangkan, reaksikan dengan uap amonia selama sepuluh menit dan diamati dengan lampu UV 254nm (Ariani, 2003).

  3. Uji Antioksidan Isoflavon dari Tempe dengan Metode DPPH

  a. Pembuatan Larutan Reagen DPPH 0,1 mM. Ditimbang 0, 00788 gram DPPH. Dilarutkan dalam metanol p.a, tambahkan sampai 200 ml.

  b. Pembuatan Larutan Stok Antioksidan Pembanding BHT. Ditimbang 0,0027 gram BHT. Dilarutkan dalam metanol p.a, ditambahkan sampai 25 ml. Sehingga akan didapat larutan stok BHT dengan konsentrasi 0,5 mM.

  c. Pembuatan Seri Konsentrasi Antioksidan Pembanding BHT. Diambil larutan stok BHT sebanyak 1 ml; 1,5 ml; 2 ml; 5 ml. Kemudian masing- masing konsentrasi dilarutkan dan ditambahkan dengan metanol p.a sampai 10 ml. Sehingga akan diperoleh seri konsentrasi BHT 0,05 mM; 0,075 mM; 0,1 mM; 0,25 mM. sebanyak 0,5 ml. Ulangi perlakuan yang sama untuk setiap seri konsentrasi. Didiamkan dalam ruangan gelap dengan suhu kamar selama tiga puluh menit. Setelah tiga puluh menit, diukur absorbansi pada panjang gelombang 517 nm.

  e. Pembuatan Larutan Stok Ekstrak Etil Asetat Isoflavon. Ditimbang 12,5 gram ekstrak etil asetat isoflavon. Dilarutkan dalam metanol p.a, ditambahkan sampai 25 ml. Sehingga akan diperoleh larutan stok ekstrak etil asetat isoflavon dengan konsentrasi 50 % b/v.

  f. Pembuatan Seri Konsentrasi Ekstrak Etil Asetat Isoflavon. Diambil larutan stok ekstrak etil asetat isoflavon sebanyak 2 ml; 4 ml; 6 ml; 8 ml; 10 ml.

  Kemudian masing-masing konsentrasi dilarutkan dan ditambahkan dengan metanol p.a sampai 10 ml. Sehingga akan diperoleh seri konsentrasi ekstrak etil asetat isoflavon 10 % b/v; 20 % b/v; 30 % b/v; 40 % b/v; 50 % b/v.

  g. Pengukuran Absorbansi Sampel dengan Spektrofotometer Visible.

  Diambil larutan reagen DPPH sebanyak 7,5 ml ditambahkan dengan larutan sampel (ekstrak etil asetat isoflavon) sebanyak 0,5 ml. Perlakuan diulang untuk setiap seri konsentrasi. Didiamkan dalam ruangan gelap dengan suhu kamar selama tiga puluh menit. Setelah tiga puluh menit, diukur absorbansi pada panjang gelombang 517 nm (Lee, J., Renita, M., Fiorito, R.J., 2004).

4. Formulasi Sediaan Krim Anti-aging isoflavon dari Tempe

  5

  tersebut ke dalam campuran cetyl alcohol dengan asam stearat. Fase minyak telah siap.

  

emollient dan penetration enhancer, diaduk hingga homogen. Ditambahkan VCO

  C. Setelah semua meleleh dan mencapai suhu 70 C, maka masukkan cetyl alcohol ke dalam asam stearat, diaduk hingga homogen. Ditambahkan BHT ke dalam VCO sebagai

  D. Perfume 10 tetes 10 tetes 10 tetes 10 tetes Bagian A dipanaskan di hotplate hingga suhu 70

  C. Isoflavon 0,10 0,10 0,10 0,10

  Nipagin 0,625 0,625 0,625 0,625 B. Aquadest 200 200 200 200

  25 TEA 2,5 2,5 2,5 2,5

  Glycerin 12,5 25 12,5

  5 A. BHT 0,25 0,25 0,25 0,25

  Formula vanishing cream yang digunakan dalam formulasi sediaan krim ini adalah formula standar (Young, 1972) sbb : a. Stearic acid 20,0

  Cetyl alcohol 0,50 Triethanolamine 1,20 b.

  5

  10 VCO

  5

  10

  5

  Cetyl alcohol

  Keterangan 1 a b ab Asam stearat 12,5 12,5 12,5 12,5

  Tabel IV. Rancangan Formula Desain Faktorial (= 250 gram krim)

  Modifikasi formula yang digunakan dalam penelitian ini adalah sbb :

   Sodium hydroxide one microspatula-full Glycerine 8,0 Distilled water 69,94 Preservative (Nipagin) one microspatulla-full c. Perfume three or four drops

  5 homogen. Ditambahkan nipagin ke dalam gliserin, aduk hingga homogen. Ditambahkan gliserin ke dalam aquadest yang telah ditambahkan TEA. Campuran tersebut kemudian diaduk. Fase air telah siap.

  Fase air yang telah siap ditambahkan ke dalam fase minyak dengan suhu pencampuran 70 C di atas waterbath, diaduk dengan mixer selama sepuluh menit (Young, 1972). Ditambahkan isoflavon pada saat pencampuran dengan mixer, pada saat pencampuran telah berjalan selama lima menit. Setelah 10 menit, dituangkan krim ke dalam wadah dan tunggu hingga suhu krim 45

  C, pada saat suhu tersebut ditambahkan parfum kemudian diaduk hingga homogen.

5. Uji Sifat Fisik dan Stabilitas Sediaan Krim

  a. Uji daya sebar. Ditimbang krim seberat 1 gram dan diletakkan di tengah kaca bulat berskala. Di atas krim diletakkan kaca bulat lain dan pemberat dengan berat total 125 gram, didiamkan selama 1 menit, dicatat diameter penyebarannya.

  b. Uji Viskositas. Pengukuran viskositas menggunakan Viscotester Rion seri

  VT 04 dengan cara: krim dimasukkan dalam wadah dan dipasang pada portable viscotester . Viskositas krim diketahui dengan mengamati

  gerakan jarum penunjuk viskositas.

  c. Uji Mikromeritik (Ukuran Droplet). Dioleskan sejumlah krim pada gelas objek kemudian diletakkan meja benda pada mikroskop. Diamati ukuran droplet yang terdispersi pada krim. Gunakan perbesaran lemah untuk

  Dalam penelitian ini pengamatan mikromeritik dilakukan dengan mengambil beberapa foto preparat krim dan tampak adanya droplet- droplet yang akan ditentukan diameternya. Selanjutnya pengukuran diameter droplet dilakukan dengan menggunakan software Motic image

  plus 2.0 hingga dida

  patkan µm diameter dari 500 droplet yang akan diukur.

  d. Uji Tipe Emulsi (Metode Warna). Beberapa tetes biru metilen dicampurkan ke dalam suatu formula krim. Jika seluruh krim berwarna seragam, maka terdapat suatu emulsi dari jenis m/a, oleh karena air adalah fase luar (Voigt, 1994).

  F.

  

Analisis Hasil

  Data daya sebar, viskositas, dan pergeseran viskositas dianalisis dengan perhitungan efek menurut desain faktorial untuk mengetahui efek yang paling dominan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas krim. Untuk mengetahui komposisi basis cetyl alcohol dan humektan gliserin yang optimum dengan penggabungan contour plot masing-masing respon yang dikenal dengan contour plot superimpossed .

  Untuk mengetahui signifikansi dari setiap faktor dan interaksi dalam mempengaruhi respon maka dilakukan analisis dengan Yate’s Treatment.

  Berdasarkan analisis tersebut maka dapat ditentukan signifikansi efek dominan

  Sebelumnya ditentukan hipotesis terlebih dahulu, hipotesis alternatif (H1) menyatakan adanya signifikansi efek dominan faktor terhadap respon, sedangkan H0 merupakan negasi dari H1 yang menyatakan tidak adanya signifikansi efek dominan faktor terhadap respon. H1 diterima dan H0 ditolak apabila harga F hitung lebih besar daripada harga F tabel, yang berarti bahwa faktor berpengaruh signifikan terhadap respon (Bolton, 1997).

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN Isolasi dan Identifikasi Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe A.

1. Isolasi Ekstak Etil Asetat Isoflavon Tempe

  Diperoleh sebanyak 1 kg tempe yang telah dikumpulkan dari produsen yang sama di pasar STAN setiap pagi hari, dengan bentuk tempe persegi panjang yang dibungkus dengan daun pisang. Sebanyak 600 gram tempe selanjutnya diolah sesuai dengan tata cara penelitian untuk mendapatkan ekstrak etil asetat isoflavon.

  Tempe yang telah dihaluskan kemudian ditambah dengan metanol sehingga diperoleh ekstrak metanol sebanyak 1.200 mL dan di maserasi. Ekstrak metanol tersebut selanjutnya dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental metanol sebanyak 100 mL.

  Setelah mendapatkan ekstrak kental metanol, dilanjutkan dengan ekstraksi pelarut petroleum eter dan diambil fase bagian bawah untuk selanjutnya diekstraksi kembali dengan petroleum eter sampai 5 kali. Sehingga akan diperoleh ekstrak petroleum eter kurang lebih 750 mL.

  Selanjutnya ekstrak petroleum eter tersebut diekstraksi lagi menggunakan pelarut etil asetat dan diambil fase bagian atas, sedangkan fase bagian bawah diekstraksi kembali dengan etil asetat sampai 5 kali. Sehingga akan diperoleh kemudian dipekatkan menggunakan vacuum rotary evaporator sehingga akan diperoleh ekstrak kental etil asetat isoflavon kurang lebih 70 ml.

   Identifikasi Ekstrak Etil Asetat Isoflavon Tempe 2.

  Isolasi isoflavon tempe pada penelitian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Ariani, 2003. Pada penelitian tersebut diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat mengandung isoflavon. Sedangkan pada penelitian ini, dilakukan pula identifikasi ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan menggunakan sistem yang sama dengan penelitan Ariani, 2003. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah sbb :

  Fase gerak = metanol : kloroform = 3 : 1 Fase diam = silica gel GF 254 Detektor : UV 254 nm Gambar 7. Hasil Uji KLT Tabel IV. Perhitungan Rf Uji KLT Ekstrak Etil Asetat Isoflavon

  Bercak Rf Bercak Bercak I 0,0867

  Bercak II 0,6734 Bercak III 0,7334

   Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Isoflavon B. dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

  Pengujian ini dilakukan dengan mengukur penangkapan radikal sintetik menangkap radikal sintetik DPPH yang akan memberikan warna ungu pada panjang gelombang 517 nm. Setelah itu, didiamkan selama 30 menit pada suhu kamar dan ruangan yang gelap, supaya sampel (ekstrak etil asetat isoflavon tempe) dapat bereaksi dengan DPPH. Adanya aktivitas antioksidan dari sampel dapat dilihat dengan adanya perubahan warna pada larutan DPPH yang semula ungu pekat jadi kuning pucat (Andayani dkk, 2008). Penghilangan warna ini terjadi akibat adanya peristiwa penangkapan elektron radikal bebas DPPH oleh atom hidrogen dari isoflavon yang menyebabkan elektron menjadi berpasangan dapat secara ringkas digambarkan dengan skema, seperti ditunjukkan pada gambar 8. Penghilangan warna yang terjadi juga sebanding dengan jumlah elektron radikal bebas yang diikat oleh atom hidrogen isoflavon. Oleh karena itu semakin besar konsentrasi antioksidan isoflavon serapan yang dihasilkan akan semakin kecil.

  DPPH → mempunyai elektron bebas yang reaktif (radikal bebas)

  ↓ Absorbansi maksimal 517 nm berwarna ungu

  ↓ Penambahan isofavon sebagai antioksidan

  ↓ Didiamkan dalam ruangan gelap selama 30 menit

  ↓ Atom H dari isoflavon menangkap radikal bebas

  ↓ Menjadi elektron yang berpasangan

  ↓ Absorbansi maksimal 517 nm berwarna kuning pucat

  Gambar 8. Skema Tahapan Reaksi Isoflavon sebagai Antioksidan Uji antioksidan ekstrak etil asetat isoflavon dilakukan dengan metode DPPH didahului dengan uji antioksidan BHT dengan metode DPPH. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ketepatan metode yang kita pilih, sebab BHT merupakan bahan yang sudah terbukti sebagai antioksidan karena memiliki % scavenging lebih besar dari 50%.

  Dari uji yang dilakukan, membuktikan bahwa ekstrak etil asetat isoflavon dari tempe terbukti mempunyai daya antioksidan dengan data % scavenging lebih dari 50%. Pada tabel VI ditunjukkan bahwa nilai IC50 rata-rata dari tiga replikasi isoflavon adalah sebesar 36,752%. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk menangkap elektron radikal bebas sebanyak 50% dibutuhkan isoflavon dengan konsentrasi sebesar 36,752% dalam formula. Ketiga replikasi yang kami lakukan memiliki nilai CV sebesar 0,037% sehingga memenuhi persyaratan kurang dari 2%.

  Tabel VI. Hasil Perhitungan % scavenging Ekstrak Etil Asetat Isoflavon

  Konsentrasi

  IC50 % Scavenging Sampel Rep I Rep II Rep III Rep I Rep II Rep III

  • Blanko
  • 35,280% 37,931% 37,046% 10% 25,969 26,356 27,035 20% 34,496 35,465 35,960 30% 41,860 43,701 42,054 40% 50,387 52,035 54,748 50% 69,864 59,593 60,174

  Rata2 36,752%

C. Pembuatan Krim

  Krim yang dibuat pada penelitian ini terdiri dari dua fase, yaitu fase dipanaskan hingga suhu 70

  C. Pemanasan ini bertujuan untuk melelehkan asam stearat dan cetyl alcohol yang merupakan fase minyak, sehingga memudahkan terjadinya reaksi dengan basa yang larut dalam fase air sebab jika leleh maka luas permukaan kontak menjadi lebih besar. Pemanasan juga berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan antara fase air dan fase minyak sehingga emulsi akan terbentuk dengan baik. Selain kedua tujuan di atas, pemanasan juga berfungsi untuk mempercepat reaksi penyabunan asam stearat oleh basa TEA.

  Setelah semua bahan leleh dan kedua fase mempunyai suhu yang sama, campuran tersebut dicampur dengan mixer di dalam bekker glass yang telah dihangatkan terlebih dahulu sampai ± 70

  C. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perubahan suhu yang mendadak sehingga akan menyebabkan asam stearat membeku kembali dan mengurangi kehomogenan krim.

  Asam stearat dalam fase minyak akan bereaksi dengan TEA yang bersifat basa terlarut dalam fase air, sehingga akan terjadi reaksi penyabunan yang menghasilkan garam/sabun amin yaitu Trietanolaminstearat (Voigt, 2004). Sabun Trietanolaminstearat ini akan berfungsi sebagai emulgator yang akan menyelubungi droplet-droplet fase minyak, sehingga dapat didispersikan ke dalam fase air dan terbentuklah sistem emulsi.

  Pembuatan krim dalam penelitian ini, dilakukan dengan pengadukan menggunakan mixer. Hal ini bertujuan supaya pengadukan yang terjadi konstan dan kontinyu. Pengadukan yang terjadi harus kontinyu dan konstan supaya emulsi

  Setelah kedua fase tersebut dicampur dan telah terbentuk basis krim, isoflavon didispersikan sesuai konsentrasi yang biasa digunakan dalam kosmetik antara 1-500 mg/kg (Zulli, 2002), sedangkan dalam formula ini yang ditambahkan adalah 400 mg/kg.

  

D. Sifat Fisik dan Stabilitas Krim Anti-Aging Ekstrak Etil Asetat

Isoflavon Tempe

1. Pengujian Tipe Krim

  Hasil pengujian tipe krim dengan metode warna menggunakan metylen

  blue , yang terlihat fase kontinyu berwarna biru dan fase terdispersi tidak

  berwarna. Dari gambar terlihat bahwa krim merupakan tipe m/a. Hal ini terkait dengan sifat metylen blue yang merupakan pewarna larut air. Dengan adanya penambahan metylen blue menyebabkan fase air berwarna biru dan fase minyak tidak berwarna seperti ditunjukkan pada gambar 9.

  Fase air Fase minyak Formula 1 Formula a

  Formula ab Formula b

2. Karakteristik Ukuran Droplet dengan Metode Mikroskopik

  Karakteristik gambaran droplet selama 30 hari penyimpanan adalah sebagai berikut :

  Formula 1 Hari ke-2 Hari ke-30

  Formula a Hari ke-2 Hari ke-30

  Formula b Hari ke-2 Hari ke-30

  Formula ab

  droplet Stabilitas krim yang merupakan sistem emulsi dapat dilihat dari gambaran ukuran droplet selama kurun waktu penyimpanan. Kondisi yang stabil dan ideal adalah tidak terjadi perubahan ukuran droplet ke arah yang lebih besar. Dari gambar 10, menunjukkan gambar secara visualisasi ukuran droplet yang terlihat bahwa tidak terjadi perubahan ukuran droplet ke arah yang lebih besar, sehingga dapat dikatakan bahwa sistem emulsi formula 1, a, b, dan ab adalah stabil secara visual.

  

Tabel VII. Hasil Perhitungan Statistik Distribusi Ukuran Droplet

Percentile F1 Fa Fb Fab

90 Replikasi

  I II

  III

  I II

  III

  I II

  III

  I II

  III

Hari ke-2 8,3 10,6 10,7 10,7 10,2 10,3 9,3 8,8 8,4 9,7 10,2 8,8

Hari ke- 8,3 10,3 10,7 11,6 11,1 10,7 9,7 9,3 11,6 9,8 10,2 9,7

  30 Tabel VIII. Hasil Signifikansi Percentile 90 Hari ke-2 dan Hari ke-30 Keterangan F1 (P) Fa (P) Fb (P) Fab (P) Signifikansi (2 0,432 0,046 0,275 0,369 tailed) taraf kepercayaan 95% = 0,05

  Hal ini juga dibuktikan dengan hasil uji statistik yang ditunjukkan dalam tabel VII. Bahwa nilai percentile 90 formula 1, b, dan ab untuk hari ke-2 dan hari ke-30 tidak berbeda signifikan dibuktikan dengan uji statistik paired T-test yang ditunjukkan pada tabel VIII, sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran droplet stabil karena tidak tejadi perubahan ukuran droplet ke arah yang lebih besar yang menyebabkan sistem emulsi tidak stabil pada formula 1, b, dan ab. Percentile 90 merupakan suatu parameter nilai yang menunjukkan sejumlah 90% partikel mempunyai ukuran droplet kurang dari nilai yang tertera. Parameter percentile 90

  Adanya kestabilan sistem emulsi pada ketiga formula tersebut dapat disebabkan oleh elastisitas emulgator yang terdiri dari asam stearat dan TEA menjadi sabun amin, trietanolaminstearat, adalah cukup baik. Kelebihan dari emulgator sabun amin ini adalah dapat menghasilkan dispersi halus dan emulsi yang stabil dan bersifat netral sehingga aman digunakan topikal (Voigt, 2004). Selain itu, kestabilan sistem emulsi yang dihasilkan oleh krim isoflavon ini terkait dengan tingginya viskositas krim yang disebabkan oleh adanya TEA sebagai emulgator dan cetyl alcohol sebagai basis. TEA merupakan basa yang dapat meningkatkan viskositas, sedangkan cetyl alcohol merupakan basis yang bersifat sebagai thickening agent. Menurut hukum Stoke, penggabungan droplet dapat dicegah dengan meningkatkan viskositas sehingga gerak partikel terdispersi akan semakin lambat sehingga akan meningkatkan tingkat dispersitas (Voigt, 2004).

  Namun, terjadi keridakstabilan pada formula a, hal ini terlihat dari nilai percentile 90 yang menunjukkan perbedaan signifikan menjadi partikel yang berukuran lebih besar dari hari ke-2 dan hari ke-30. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya fenomena ketidakstabilan emulsi yaitu koalesens dan ostwald ripening seperti ditunjukkan pada gambar 11 :

  Ostwald rippening koalesens Fenomena koalesens adalah bergabungnya droplet kecil membentuk suatu droplet yang lebih besar dan lapisan film di sekitar droplet kecil itu akan menghilang, sedangkan ostwald rippening adalah suatu fenomen ketidakstabilan emulsi di mana droplet-droplet kecil bergabung dengan droplet yang berukuran lebih besar sehingga akan membentuk droplet yang berukuran besar. Ketidakstabilan formula a ini disebabkan oleh ukuran droplet yang dari awal yaitu pada hari ke-2 sudah cukup besar, sehingga akan membuat sistem emulsi tersebut menjadi tidak stabil. Namun, karena adanya keterbatasan penelitian maka tidak dapat diketahui kapan saat emulsi tersebut mulai tidak stabil. Oleh karena itu, pada penelitian selanjutnya, hendaklah dilakukan pengamatan setiap minggu sehingga kita dapat mengetahui kapan emulsi tersebut mulai tidak stabil.

   Uji Sifat Fisis dan Stabilitas Krim 3.

  Krim yang baik harus memenuhi sifat fisik dan stabilitas sediaan semisolid, yaitu daya sebar, viskositas, dan pergeseran viskositas. Keberhasilan terapi suatu sediaan semisolid sangat ditentukan oleh faktor daya sebar (Garg

  

et.al , 2002) karena daya sebar merupakan gambaran mudah atau tidaknya pasien

  dalam mengaplikasikan (mengoleskan) sediaan. Uji daya sebar pada penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa mudah 1 g sampel krim dapat menyebar bila ditekan dengan pemberat 125 g. Parameter yang dihitung adalah rata-rata dua diameter penyebaran krim setelah pemberian beban selama 1 menit. Krim tergolong bersifat semifluid dengan daya sebar antara 5 -7 cm (Garg et. al, 2002). sesuai ketika krim digunakan. Viskositas berbanding terbalik dengan daya sebar yaitu ketika viskositas lebih tinggi, daya sebar krim kebih kecil, dan sebaliknya (Garg et.al, 2002).

  Pergeseran viskositas merupakan parameter stabilitas krim, sebab ada banyak faktor dari dalam maupun luar luar yang dapat mempengaruhi stabilitas sediaan selama penyimpanan. Pergeseran viskositas ini erat kaitannya dengan konsistensi sediaan dan penerimaan pasien. Diperoleh data sifat fisik krim anti- ageing ekstrak etil asetat isoflavon adalah sbb :

  Tabel IX. Hasil Pengukuran Sifat Fisik Krim

  Formula Daya sebar Viskositas ∆viskositas 1 5,5 ± 0,6 147 ± 23 11,1 ± 7,85 a 5,2 ± 0,6 193 ± 20 8,7 ± 5,0 b 6,2 ± 0,1 160 ± 17 6,25 ± 2,9 ab 5,6 ± 0,1 207 ± 11 7,7 ± 2,9

  Tabel X. Efek Cetyl alcohol, Efek Gliserin, dan Efek Interaksi Cetyl alcohol-

Gliserin dalam Menentukan Sifat Fisik Krim

  Efek Daya sebar Viskositas ∆viskositas

  Cetyl alcohol

  46

   , 45  , 475

  Gliserin 0,55

  13

   2 , 929

  Interaksi 1,925

   ,

  15

  a. Daya Sebar Berdasarkan tabel IX, dapat diketahui hasil uji sifat fisik daya sebar krim yang menunjukkan bahwa krim termasuk sediaan semifluid karena memiliki daya sebar 5-7 cm (Garg, et al., 2002) hasil uji sifat fisik krim. Sedangkan dari nilai SD kurang dari 10% maka dapat dikatakan bahwa data kita homogen dan bersifat

  reprodusible. interaksi. Faktor cetyl alcohol dan interaksi berespon negatif terhadap daya sebar yang berarti akan menurunkan respon daya sebar, sedangkan faktor gliserin sebagai faktor paling dominan dalam menentukan efek berespon positif yang berarti akan menaikkan respon daya sebar. Untuk mengetahui signifikansi dari dominansi efek faktor cetyl alcohol, gliserin, dan interaksi terhadap respon daya sebar krim dapat dilakukan uji statistik yate’s treatment.

  Hasil uji yate’s treatment pada tabel IX, efek dominan gliserin tidak signifikan dalam mempengaruhi peningkatan respon daya sebar. Hal ini dapat dianalisis dari nilai F hitung faktor cetyl alcohol, gliserin, dan interaksi lebih kecil daripada F tabel yaitu 5,32. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor cetyl

  

alcohol , gliserin, dan interaksi tidak berpengaruh signifikan dalam menentukan

respon daya sebar krim.

  Tabel XI. Hasil Perhitungan Yate’s Treatmen untuk Respon Daya Sebar Source pf Degree of Sum of Mean F variation Freedom Squares Squares

  Replicates 2 0,665 0,3325 Treatment 3 1,33 0,443 a

  1 0,743 0,743 4,5583 b 1 0,601 0,601 3,6871 ab 1 -0,041 -0,041 -0,2515

  Experimental 8 1,305 0,163 error Total 11 3,3

  Untuk melihat hubungan pengaruh pengingkatan level cetyl alcohol dan gliserin terhadap daya sebar krim, dapat dilihat pada grafik hubungan sbb :

  5,4 5 5,2 5,6 5,8 6,4 6 6,2 10 20 (c 30 gliserin (gram) d a y a s e b a r m ) cetyl alkohol LR cetyl alkohol LT (a) 5,4 5 5,2 5,6 5,8 6,4 6 6,2 5 10 (c 15 cetyl alkohol (gram) d a y a s e b a r m ) gliserin LR gliserin LT (b)

  

Gambar 12. Grafik (a) Pengaruh Gliserin (b) Pengaruh Cetyl Alcohol

terhadap Respon Daya Sebar

  Gambar 12 pada grafik (a) memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah gliserin yang ditambahkan akan mempengaruhi respon daya sebar krim.

  Peningkatan jumlah gliserin yang ditambahkan baik pada penggunaan cetyl

  

alcohol level tinggi maupun rendah akan berpengaruh dalam meningkatkan

  respon daya sebar krim. Gambar 12 pada grafik (b) memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah cetyl alcohol yang ditambahkan akan mempengaruhi respon daya sebar krim. Peningkatan jumlah cetyl alcohol yang ditambahkan baik pada penggunaan gliserin level rendah dan tinggi akan berpengaruh dalam meningkatkan respon daya sebar krim.

  Adanya interaksi dari kedua faktor juga dapat dilihat dari kedua grafik di atas. Interaksi ini ditunjukkan oleh garis yang tidak sejajar. Kedua grafik tersebut memperlihatkan kedua garis yang menunjukkan level rendah dan tinggi faktor adalah tidak sejajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada level yang diteliti ada interaksi antara cetyl alcohol dengan gliserin yang dapat mempengaruhi daya sebar krim. Namun, pengaruh faktor dan interaksi pada level yang diteliti ini tidak signifikan terhadap respon daya sebar, dibuktikan dengan uji Yate’s Treatment.

  b. Viskositas Berdasarkan tabel IX, dapat diketahui hasil uji sifat fisik viskositas krim.

  Sedangkan dari nilai SD lebih dari 10% maka dapat dikatakan bahwa data kita tidak homogen dan tidak bersifat reprodusible.

  Berdasarkan tabel X, cetyl alcohol diprediksi memberikan efek paling dominan dalam menentukan respon viskositas dibandingkan gliserin dan interaksi.

  Faktor cetyl alcohol dan gliserin berespon positif terhadap viskositas yang berarti akan meningkatkan respon viskositas krim, sedangkan faktor interaksi tidak memberikan efek terhadap respon viskositas krim. Selanjutnya, untuk mengetahui signifikansi dari dominansi efek faktor cetyl alcohol, gliserin, dan interaksi terhadap respon viskositas krim dapat dilakukan uji statistik yate’s treatment .

  Tabel XII. Hasil Perhitungan Yate’s Treatmen untuk Respon Viskositas Source pf Degree of Sum of Mean F variation Freedom Squares Squares

  Replicates 2 1279,16 639,58 Treatment 3 7066,66 2355,55 a

  1 6533,33 6533,33 35,53 b 1 533,33 533,33 2,90 ab

  1 Experimental 8 1470,84 183,855 error Total 11 9816,66

  Hasil uji yate’s treatment pada tabel XII, terlihat bahwa efek dominan daripada F tabel yaitu 5,32. Sedangkan nilai F hitung faktor cetyl alcohol lebih besar daripada F tabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor gliserin dan interaksi tidak berpengaruh signifikan dalam menentukan viskositas, sedangkan faktor cetyl alcohol berpengaruh signifikan dalam menentukan respon viskositas krim.

  Sifat dominan cetyl alcohol dalam mempengaruhi viskositas dikarenakan

  

cetyl alcohol yang mempunyai sifat sebagai thickening agent, sedangkan gliserin

  mempuyai sifat sebagai humektan sebab mampu menarik air yang terdapat di lingkungan dengan membentuk ikatan hidrogen dengan air.

  Untuk melihat pengaruh gliserin maupun pengaruh cetyl alcohol, dapat dilihat pada grafik hubungan sbb :

  300 250 200 150 50 100 10 20 ( 30 gliserin (gram) v is k o s it a s d .P a .s ) cetyl alkohol LR cetyl alkohol LT (a) 250 200 150 50 100 5 10 ( 15 cetyl alkohol (gram) v is k o s it a s d .P a .s ) gliserin LR gliserin LT

  (b) Gambar 13. Grafik (a) Pengaruh Gliserin (b) Pengaruh Cetyl Alcohol terhadap Respon Viskositas

  Pada gambar 13, grafik (a) memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah gliserin yang ditambahkan akan mempengaruhi respon viskositas krim.

  Peningkatan jumlah gliserin yang ditambahkan baik pada penggunaan cetyl

  

cetyl alcohol akan mempengaruhi nilai viskositas krim. Peningkatan jumlah cetyl

alcohol yang ditambahkan baik pada penggunaan level rendah dan tinggi gliserin

  akan berpengaruh dalam menaikkan viskositas krim.

  Adanya interaksi dari kedua faktor juga dapat dilihat pada grafik (a). Interaksi ini ditunjukkan oleh garis yang tidak sejajar melainkan berpotongan. Grafik (a) tersebut memperlihatkan kedua garis yang menunjukkan level rendah dan tinggi faktor adalah tidak sejajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada level yang diteliti ada interaksi antara cetyl alcohol dengan gliserin yang dapat mempengaruhi viskositas krim. Berdasarkan hasil uji yate’s treatment, cetyl alcohol berefek dominan signifikan dalam mempengaruhi respon viskositas.

  c. Pergeseran Viskositas Berdasarkan tabel IX, dapat diketahui hasil uji sifat stabilitas pergeseran viskositas krim. Sedangkan dari nilai SD kurang dari 10% maka dapat dikatakan bahwa data kita homogen dan bersifat reprodusible.

  Berdasarkan tabel X, gliserin memberikan efek paling dominan dalam menentukan respon pergeseran viskositas dibandingkan cetyl alcohol dan interaksi. Faktor cetyl alcohol dan gliserin memberikan penurunan respon pergeseran viskositas, sedangkan efek interaksi memberikan peningkatan respon pergeseran viskositas. Selanjutnya, untuk mengetahui signifikansi dari dominansi efek faktor cetyl alcohol, gliserin, dan interaksi terhadap respon pergeseran viskositas krim dapat dilakukan uji statistik yate’s treatment.

  Tabel XIII. Hasil Perhitungan Yate’s Treatmen untuk Respon Pergeseran Viskositas Source pf variation Degree of Freedom Sum of Squares Mean Squares F

  Replicates 2 118,6 59,3 Treatment 3 36,85 12,28 a

  1 0,55 0,55 0,048 b 1 25,38 25,38 2,224 ab 1 10,92 10,92 0,957

  Experimental error 8 91,28 11,41

  Total 11 246,73 Hasil uji yate’s treatment pada tabel XIII, terlihat bahwa efek dominan gliserin tidak signifikan dalam mempengaruhi peningkatan respon daya sebar. Hal ini dapat dianalisis dari nilai F hitung faktor gliserin, cetyl alcohol, dan interaksi lebih kecil daripada F tabel yaitu 5,32. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor

  

cetyl alcohol , gliserin dan interaksi tidak berpengaruh signifikan dalam

menentukan respon pergeseran viskositas krim.

  Efek dominan gliserin tidak dapat dikatakan dominan, sebab dapat dipengaruhi oleh cetyl alcohol. Untuk melihat pengaruh gliserin maupun pengaruh cetyl alkohol, dapat dilihat pada grafik hubungan sbb :

  2 4 6 8 10 12 10 20 ( 30 gliserin (gram) p e rg e s e ra n v is k o s it a s % ) cetyl alkohol LR cetyl alkohol LT 2 4 6 8 10 12 5 10 ( 15 cetyl alkohol (gram) p e rg e s e ra n v is k o s it a s % ) gliserin LR gliserin LT Gambar 14. Grafik (a) Pengaruh Gliserin (b) Pengaruh Cetyl Alcohol terhadap Respon Pergeseran Viskositas Pada gambar 14, grafik (a) memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah gliserin yang ditambahkan akan mempengaruhi respon pergeseran viskositas krim.

  Peningkatan jumlah gliserin yang ditambahkan baik pada penggunaan cetyl

  

alcohol level tinggi maupun rendah akan berpengaruh dalam menurunkan

  pergeseran viskositas krim. Pada gambar 14, grafik (b) menunjukkan bahwa peningkatan jumlah cetyl alcohol yang ditambahkan akan mempengaruhi respon pergeseran viskositas krim. Peningkatan jumlah cetyl alcohol yang ditambahkan baik pada penggunaan level rendah dan tinggi gliserin akan berpengaruh dalam menurunkan pergeseran viskositas krim.

  Adanya interaksi dari kedua faktor juga dapat dilihat dari kedua grafik di atas. Interaksi ini ditunjukkan oleh garis yang tidak sejajar. Kedua grafik tersebut memperlihatkan kedua garis yang menunjukkan level rendah dan tinggi faktor adalah tidak sejajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada level yang diteliti ada interaksi antara cetyl alcohol dengan gliserin yang dapat mempengaruhi pergeseran viskositas krim. Namun, pengaruh faktor dan interaksi pada level yang diteliti ini tidak signifikan terhadap respon pergeseran viskositas, dibuktikan dengan uji Yate’s Treatment.

E. Optimasi Formula

  Dari pengolahan data respon sifat fisik dan stabilitas, dapat diperoleh persamaan desain faktorial. Dari persamaan desain faktorial tersebut dapat dibuat grafik contour plot, yang menunjukkan level optimum kedua faktor yang area komposisi optimum cetyl alkohol dan gliserin yang memenuhi persyaratan respon sifat fisik dan stabilitas yang diinginkan.

  a. Daya Sebar Pada percobaan ini ditetapkan daya sebar yang optimum untuk krim adalah 5–7 cm. Persamaan desain faktorial untuk daya sebar adalah :

  Y

  5 , 9 , 008 ( B ) , 0048 ( A )( B ) . Dari persamaan tersebut dapat dibuat contour   

  plot sbb : Gambar 15. Grafik Contour Plot Daya Sebar Krim

  Pada contour plot daya sebar krim yang ditunjukkan gambar 15, terlihat bahwa pada level faktor cetyl alcohol dan gliserin yang diteliti terdapat area komposisi optimum, dengan respon daya sebar optimum yaitu 5,1-5,4 cm.

  Namun, pada level faktor dan interaksi yang diteliti tidak mempunyai efek dominan terhadap respon berdasarkan tabel XI yang menunjukkan hasil uji

  

Yate’s treatment . Oleh karena itu, pada peningkatan jumlah faktor cetyl alcohol,

  gliserin, atau interaksi pada level yang diteliti, akan menghasilkan respon yang tidak berbeda signifikan. b. Viskositas Viskositas merupakan salah satu parameter yang cukup penting dalam sediaan semisolid karena viskositas dapat mempengaruhi penerimaan bagi konsumen, mengenai kemudahan saat mengeluarkan dari kemasan dan ketika aplikasi. Oleh karena itu perlu dipilih suatu rentang viskositas yang secara subjektif disukai oleh pemakai. Dalam penelitian ini dipilih area viskositas optimum adalah 145-175 d.Pa.s berdasarkan krim yang sudah beredar di pasaran.

  Persamaan desain faktorial untuk viskositas krim adalah :

  Y

  88  9 , 2 ( A )  1 , 04 ( B ) . Dari persamaan ini dibuat contour plot sbb:

  Gambar16. Grafik Contour Plot Viskositas Krim

  Pada gambar 16, terlihat bahwa krim dengan level cetyl alcohol dan gliserin yang diteliti terdapat area komposisi optimum, yang memberikan respon viskositas optimum yaitu 150 d.Pa.s-175 d.Pa.s

  Pada level cetyl alcohol yang diteliti mempunyai efek dominan signifikan terhadap respon berdasarkan tabel XII yang menunjukkan hasil uji Yate’s level yang diteliti, akan menghasilkan respon peningkatan viskositas yang berbeda signifikan.

  c. Pergeseran viskositas Pergeseran viskositas merupakan salah satu parameter stabilitas krim yang cukup penting. Sebab ada banyak faktor dari luar maupun dalam yang dapat mempengaruhi stabilitas krim, selain itu pergeseran viskositas juga terkait dengan konsistensi sediaan krim dan penerimaan krim oleh pasien. Dalam penelitian ini, dipilih pergeseran viskositas optimum krim yang ditetapkan adalah kurang dari 11%. Persamaan desain faktorial untuk pergeseran viskositas adalah sbb :

  Y

  4 , 35  1 , 25 ( A )  , 732 ( B )  , 0616 ( A )( B ) . Dari persamaan ini dapat dibuat

  contour plot sbb : Gambar 17. Grafik Contour plot Pergeseran Viskositas

  Pada contour plot pergeseran viskositas krim terlihat bahwa krim dengan level gliserin dan cetyl alcohol yang diteliti terdapat area komposisi optimum, dimana dapat diperoleh respon pergeseran viskositas yang optimum yaitu kurang

  Namun, pada level faktor dan interaksi yang diteliti tidak mempunyai efek dominan signifikan terhadap respon berdasarkan tabel XIII yang menunjukkan hasil uji Yate’s treatment. Oleh karena itu, pada peningkatan jumlah faktor cetyl alcohol, gliserin, atau interaksi pada level yang diteliti, akan menghasilkan respon yang tidak berbeda signifikan.

  d.

   Contour Plot Super Impossed

  Contour plot super impossed bertujuan untuk mengetahui area komposisi optimum faktor dengan respon yang menghasilkan sifat fisik dan stabilitas yang dikehendaki. Area komposisi ini didapatkan menggunakan respon yang dikehendaki dalam batas jumlah atau level faktor yang digunakan, didasarkan atas hasil contour plot sifat fisik dan stabilitas. Respon yang dikehendaki sebagai adalah daya sebar 5,1-5,4 cm, viskositas 150-175 d.Pa.s, dan pergeseran viskositas kurang dari 11%. Pada gambar 18 ditunjukkan area komposisi optimum faktor pada level yang diteliti, yang dapat menghasilkan respon sifat fisik dan stabilitas yang dikehendaki.

BAB V KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan A.

  1. Ekstrak etil asetat isoflavon tempe mempunyai aktivitas antioksidan berdasarkan metode DPPH dengan nilai % scavenging : 52,390 %-63,210 %.

  2. Cetyl alcohol dominan signifikan mempengaruhi sifat fisik viskositas krim, sedangkan gliserin dan interaksi cetyl alcohol- gliserin tidak dominan signifikan dalam mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas krim.

  3. Dapat ditemukan area komposisi optimum pada level factor yang diteliti sesuai dengan parameter sifat fisik dan stabilitas krim melalui contour plot super imposed.

B. Saran

  1. Perlu dilakukan lebih lanjut mengenai komposisi cetyl alcohol dan gliserin pada level yang berbeda.

  2. Perlu dilakukan pengamatan karakteristik ukuran droplet setiap minggu sampai pada penyimpanan 30 hari untuk mengetahui saat mulai terjadinya ketidakstabilan sistem emulsi.

  DAFTAR PUSTAKA Andayani, R., Yovita, L., Maimunah, 2008, Penentuan Aktivitas Antioksidan

  Kadar Fenolat total dan Likopen pada Buah Tomat , www.farmasi.unand.ac.id , diakses pada tanggal 30 Oktober 2009

  Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, 6, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

  Anonim, 2008, Menguak Manfaat Tempe, www.susukolostrum.com , diakses pada tanggal 27 Oktober 2009 Ariani, S., 2003, Pembuatan Keju Kedelai yang Mengandung Senyawa Faktor-2

  Hasil Biokonversi Isoflavon pada Tahu oleh Rhizopus oligosporus (L.41) ,

  www.fkip.uns.ac.id , diakses padatanggal 3 September 2009 Bennet, H.F.A.I.C., 1970, New Cosmetic Formulary, 35-36, Chemical Company

  Publishing, Inc., New York

  rd

  Bolton, S., 1997, Pharmaceutical Statistic Practical and Clinical Application, 3 Ed., 326, Marcel Dekker, Inc., New York

  Chiang, H., Wu, W., Fang, J., Chen, B., Kao, T., Chen, Y., et. al, 2007, UVB-

  Protection Effects of isoflavone Extracts from Soybean Cake in Human

Keratinocytes , www.mdpi.org , diakses pada tanggal 2 November 2009

  Garg, A., Aggarwa, D., Garg, S., Singla, A.K., 2002, Spreading of Semisolid Formulation : An Update, Pharmaceutical Technology, September 2002, 84

  • – 102, www.pharmacitec.com , diakses pada tanggal 1 November 2009 Gritter, R., Bobbit, J.M., Schwarting, A., 1991, Pengantar Kromatografi, 7-25, diterjemahkan oleh Padwaninata, K., Penerbit ITB, Bandung Kusumastuti, D. R., 2007, Optimasi Formula Krim Anti Hair Loss Ekstrak Saw

  Palmetto (Serenoa repens) dengan Propilen Glikol dan Gliserol sebagai Humectant : Aplikasi Desain Faktorial , Skripsi, 35, Universitas Sanata

  Dharma, Yogyakarta Lee, J., Renita, M., Fioritto, R.J., Martin, S.K., Schwartz, S.J., Vodovotz, Y.,

  2004, Isoflavone Characterization and Antioxidanr Activity of Ohio

  Soybeans , www.fst.osu.edu , diakses pada tanggal 30 Oktober 2009 Martin, A., Swarbick, J., Cammarata, A., 1993, Physical Pharmacy, Physical

  Chemical Principles in The Pharmaceutical Sciences 2 edisi 3 ,

  diterjemahkan oleh Yoshita, , Universitas Indonesia Press, Jakarta Mitsui, T., 1993, New Cosmetic Science, 342, Elsevier, New York Muth De., J.D., 1999, Basic Statistics and Pharmaceutical Statistical

  Applications , 265-294, Marcel Dekker, Inc., New York

  Parwata, I.M.O.A., Rita, W.S., Yoga, R., 2009, Isolasi dan Uji Antiradikal Bebas

  Minyak Atsiri pada Daun Sirih secara Spektroskopi Ultraviolet-Tampak , www.akademik.unsri.ac.id , diakses pada tanggal 30 Oktober 2009

  Rowe, R., Sheskey, P.J., Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical

  Excipients Sixth Edition , 155, 283, Pharmaceutical Press, USA

  Schmid, D., 2004, Dermatological Application of Soy Isoflavones to Prevent Skin

  Ageing in Postmenopausal Women , www.mibellebiochemistry.com , diakses

  pada tanggal 27 Oktober 2009 Sunarni, T., Pramono, S., Asmah, R., 2007, Flavonoid Antioksidan Penangkap

  Radikal dari Daun Kepel , www.farmasi.ugm.ac.id , diakses pada tanggal 30

  Oktober 2009 Stahl, E., 1985, Analisis Obat secara Mikroskopi, 3-17, Penerbit ITB, Bandung Tensiska, Marsetio, Yudiastuti, S.O.N., 2007, Pengaruh Jenis Pelarut Terhadap

  Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kasar Isoflavon dari Ampas Tahu , www.pustaka.unpad.ac.id , diakses pada tanggal 1 November 2009

  Young, A., 1972, Practical Cosmetic Science, 38-40, Mills & Boon Limited, London

  Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soewandi, S. N., 102, 312, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

  Zulli, F., Schmid, D., Muggli, R., Hanay, C., 2002, Cosmetics Containing

  Isoflavone Aglycone , www.freepatentsonline.com , diakses pada tanggal 28

  Oktober 2009

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Optimasi gelling agent carbopol 940 dan humektan gliserin terhadap sediaan gel anti-aging ekstrak spirulina platensis dengan aplikasi desain faktorial.
3
16
126
Optimasi formula krim anti hair loss ekstrak saw palmetto [Serenoa repens] dengan propilen glikol dan gliserol sebagai humectant : aplikasi dengan faktorial - USD Repository
0
0
95
Optimasi komposisi polysorbate 80 dan gliserin emulsifying agent dalam lotion virgin coconut oil dengan aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
106
Optimasi komposisi polietilen glikol 400 dan gliserol sebagai humectant dalam formula krim anti hair loss ekstrak saw palmetto [Serenoa repens] : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
103
Optimasi proses pencampuran krim anti hair loss ekstrak saw palmetto [Serenoa repens] dengan perbandingan lama pencampuran dan kecepatan putar : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
110
Optimasi formula sediaan krim sunscreen ekstrak kering polifenol teh hijau [Camellia sinesis L.] dengan asam stearat dan virgin coconut oil [VCO] sebagai fase minyak : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
104
Optimasi formula krim sunscreen ekstrak kering polifenol teh hijau [Camellia sinensis L.] dengan asam stearat dan minyak wijen sebagai fase minyak : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
103
Optimasi proses pencampuran krim anti androgenetic alopecia ekstrak saw palmetto [serenoa repens] dengan perbandingan kecepatan putar dan lama pencampuran : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
1
109
Optimasi kecepatan putar dan lama pencampuran pada proses pembuatan krim sunscreen ekstrak kering teh hijau (Camellia sinesis L.) : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
134
Optimasi suhu pencampuran dan kecepatan putar pada proses formulasi krim sunscreen ekstrak kering teh hijau (Camellia sinesis L.) dengan aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
162
Optimasi suhu pencampuran dan lama pencampuran pada proses formulasi krim sunscreen ekstrak kering teh hijau (Camellia sinensis L.) dengan aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
139
Optimasi formula emulgel sunscreen ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan VCO sebagai fase minyak : apikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
116
Optimasi pembuatan ekstrak etanolik kayu Secang (Caesalpinnia sappan L.) secara soxhletasi : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
95
Optimasi formula sabun transparan dengan fase minyak Virgin Coconut Oil dengan surfaktan cocoamidopropyl betaine : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
88
Optimasi formula gel anti ageing ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan carbopol sebagai gelling agent dan propilenglikol sebagai humectant : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
99
Show more