Analisis pengaruh sponsorship dan brand image terhadap volume penjualan - USD Repository

Gratis

0
5
118
7 months ago
Preview
Full text

PENGARUH SPONSORSHIP DAN BRAND IMAGE TERHADAP

  

Studi pada MAILBOX Distro Jl. Gejayan Paviliun 55 Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

  Program Studi Manajemen

Disusun Oleh :

Nama : YOHANES KRISTIANTO

  NIM : 05 2214 122

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2010

  

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Don’t say to GOD you have a big problem, but say to you’r problem you

have a big GOD”

(Anonim)

  

“Jangan menyerah, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap

jalani hidup ini melakukan yang terbaik”

(D’Masiv)

“Pantang menyerah sebelum mencoba, berani beda untuk perbedaan itu,

kerjakan apa yang kau yakini, tinggalkan apa yang kau ragukan, yakinlah

apa yang kau yakini akan berhasil”

  

(Nona, Cece, Delvy)

“Beranilah untuk terus bermimpi, dan semoga TUHAN mewujudkan mimpi-

mimpi itu”

(Sang Pemimpi)

  

“Di dalam kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar pula”

(Spider-Man Movie)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 27 Agustus 2010 Penulis Yohanes Kristianto

  

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH SPONSORSHIP DAN BRAND IMAGE TERHADAP

  

VOLUME PENJUALAN

Studi Kasus pada Mailbox Distro Jl. Gejayan Paviliun 55 Yogyakarta

Yohanes Kristianto

Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi

  

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2010

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1). Seberapa besar pengaruh Sponsorship dan Brand Image terhadap volume penjualan, 2). Variabel yang paling berpengaruh terhadap volume penjualan.

  Penelitian ini dilakukan dengan cara studi kasus pada Mailbox Distro, Jl. Gejayan Paviliun 55 Yogyakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepeda responden. Populasi dari penelitian ini adalah konsumen Mailbox Distro yang melakukan kunjungan dan atau pembelian produk di Mailbox. Sampel yang diteliti sebanyak 100 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Uji valididas menggunakan Teknik Korelasi

  Pearson’s Product Moment

  dan Uji Reliabilitas menggunakan tenik perhitungan

  Kuder Richardson-20

  . Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Q Cochran dan Uji t pada taraf signifikansi 5%. Dari hasil analisis data, dapat dketahui bahwa : 1). Brand Image Mailbox berpengaruh lebih besar terhadap volume penjualan dibanding Sponsorship yang dilakukan Mailbox. 2). Brand Image Mailbox memiliki varian yang lebih heterogen dibanding Sponsorship yang memiliki varian yang homogen yang menuntut Mailbox harus mampu mempertahankan Brand Image-nya.

  Kata kunci: Sponsorship, Brand image dan Volume penjualan.

  

ABSTRACT

ANALYSIS ON THE INFLUENCE OF SPONSORSHIP

AND BRAND IMAGE TOWARDS SALES VOLUME

Case Study in Mailbox Distro Gejayan Street Paviliun 55 Yogyakarta

Yohanes Kristianto

  

Study Program Management Faculty of Economy

Sanata Dharma University Yogyakarta

2010

  The purpose of this research was to find out: 1) how extent to the influence of sponsorship and brand image towards sales volume, 2) the most influencing variables towards sales volume.

  The research was conducted by case study method in Mailbox Distro, Gejayan Street Paviliun 55 Yogyakarta. The technique of data collection was conducted by spreading questionnaire to the respondents. The population of the research was consumers of Mailbox Distro who conducted visit and/or product purchase in Mailbox. The samples studied were 100 respondents. The technique of sampling used was purposive sampling. Validity test used Pearson’s Product Moment Correlation Technique and Reliability Test used Kuder Richardson-20 Calculation. The technique of analysis used in the research was Q Cochran Test and t Test in significance level of 5%.

  From result of the research, it finds out that: 1) Brand image of Mailbox more influence towards sales volume than sponsorship conducted by Mailbox, 2) Brand image of Mailbox has more heterogeneous variation than those having homogenous variation which requires Mailbox to be able to maintain its brand image.

  Keyword: sponsorship, brand image and sales volume.

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Yohanes Kristianto Nomor Mahasiwa : 05 2214 122

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

ANALISIS PENGARUH SPONSORSHIP DAN BRAND

  IMAGE

TERHADAP VOLUME PENJUALAN, Studi Kasus pada Mailbox Distroi Jl.

  Gejayan Pavilliun 55 Yogyakarta.

  Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 25 Agustus 2010 Yang menyatakan, Yohanes Kristianto

KATA PENGANTAR

  Segala puji, hormat, dan syukur penulis persembahkan kepada Allah Bapa di Surga atas segala berkat, kasih serta anugrahNya yang senantiasa penulis rasakan dari awal sampai akhir penulisan skripsi yang berjudul “PENGARUH SPONSORSHIP DAN BRAND IMAGE

  

TERHADAP VOLUME PENJUALAN: Studi pada Mailbox Distro Jl. Paviliun 55

Yogyakarta. Skripsi ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh

  gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa tanpa adanya motivasi, bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan selesai tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Bapak Drs. YP.Supardiyono, M.Si., Akt., Q.I.A., selaku Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. V. Mardi Widyatmono, S.E., M.B.A, selaku Kepala Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Bapak Drs. T. Handono Eko Prabowo, M.B.A., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, koreksi, saran dan membuat penulis mampu berpikir kritis dalam penulisan skripsi ini.

  4. Bapak Drs. Th. Sutadi, M.B.A., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, koreksi, saran dan membuat penulis mampu berpikir kritis dalam penulisan skripsi ini.

  5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat berguna bagi penulis selama proses perkuliahan.

  6. Bapakku Agustinus Winardi, Ibuku Caecilia Painah dan Nenekku Mbah Marto yang telah berdoa untuk seluruh kehidupanku.

  7. Kekasihku Delvi yang selalu ada buat aku dan mendukung penuh dalam hidupku, terimakasih atas pengertian dan kesabaranmu, I love u so.

  8. Sahabat-sahabat seperjuangan dari awal 2005, (Jun Tsoi, Ria “Nyuk”, Yophie, Yoha, Bendol) I always missing u.

  9. Sahabat- sahabat di Prayan Community (Pranoto, Chandra A Weng, Ditya Gembuk, Endro Bagong, Kocex, Putra, Menjenk, Windy, Wiwid, Anton-toa, Sumade, Sumowo, Epha, Ipank, Pay dan Gilson), thanks atas tawa dan canda yang diberikan. Sukses broO..!!! 10. Sahabat-sahabat Palu (Destak, Dwi, Ius, Ais, Kak Mira, Meylan, Yombu).

  11. Sahabat-sahabat di UAJY dan UPN (Andri, Sedar, Yoppi, Riana,Helen) sukses coOy…!!!

  12. Kakak- kakak pendahuluku dad adik-adik (Ari, Tio, Hendra, Tanto, Sonny, Sombo, Pay, Wulan, Tina, Cece, Nona N’dut, Eka, Sisil, Fara), thanks buat semangat dan motivasi kalian, tetap semangat dan jangan menyerah!!!

  13. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, makasih buat dukungan, doa, dan kerjasamanya selama ini.

  Penulis percaya bahwa kasih dan kemurahan Allah selalu menyertai dan memberkati semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungannya dalam skripsi ini. Penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun akan penulis terima dengan senang hati. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan menfaat bagi setiap orang yang membacanya.

  Yogyakarta, 25 Agustus 2010 Penulis

  Yohanes Kristianto

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... .v ABSTRAKSI .................................................................................................. vi ABSTRACT ................................................................................................... vii LEMBAR PUBLIKASI ............................................................................... viii KATA PENGANTAR .................................................................................... ix DAFTAR ISI ................................................................................................. .xii DAFTAR TABEL ......................................................................................... .xv DAFTAR GAMBAR .................................................................................... .xv

  BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................... 4 C. Batasan Masalah ........................................................................ 5 D. Tujuan Penelitian ....................................................................... 5 E. Manfaat Penelitian ..................................................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................... 7 A. Pengertian Manajemen .............................................................. 7 B. Pengertian Pemasaran ................................................................ 7 C. Perencanaan Pemasaran............................................................. 9 D. Integrated Marketing Communication ..................................... 12 E. Sponsorship .............................................................................. 20 F. Manfaat dan Alasan Penggunaan Sponsorship ........................ 20 G. Tujuan Sponsorship .................................................................. 22 H. Jenis-jenis Sponsorship ............................................................ 23 I. Perencanaan Sponsorship ......................................................... 25 J. Image ........................................................................................ 26

  L. Manfaat dan Pentingnya Brand ................................................ 30 M. Brand Equity ............................................................................. 31 N. Keputusan Mengenai Merek .................................................... 33 O. Keputusan Pemberian Merek ................................................... 34 P. Keputusan Sponsor Merek ....................................................... 34 Q. Keputusan Nama Merek ........................................................... 35 R. Keputusan Strategi Merek ........................................................ 37 S. Keputusan Penentuan Ulang Posisi Merek .............................. 38 T. Brand Image ............................................................................. 38 U. Manfaat Brand Image ............................................................... 40

  V. Kerangka Teoritis ..................................................................... 41 W. Literatur Terdahulu ................................................................... 43

  X. Hipotesis Sementara ................................................................. 46

  BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 47 A. Jenis Penelitian ......................................................................... 47 B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................... 47 C. Subyek dan Obyek Penelitian ................................................... 47 D. Variabel Penelitian ................................................................... 48 E. Jenis dan Sumber Data ............................................................. 48 F. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 49 G. Teknik Pengukuran Data .......................................................... 49 H. Populasi dan Sampel ................................................................ 50 I. Teknik Pengujian Instrumen..................................................... 52 J. Alat Analisis Data .................................................................... 54 BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ........................................ 57 A. Gambaran Umum Mailbox Distro ............................................. 57 B. Pangsa Pasar Mailbox ............................................................... 58 C. Sirkulasi produk Mailbox .......................................................... 59 D. Produk yang Ditawarkan Mailbox ............................................ 60 E. Sponsorship yang dilaksanakan ................................................. 61

  BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN .................................... 64 A. Hasil Uji Validitas dan Realiabilitas ......................................... 65 B. Karakteristik Responden ........................................................... 67 C. Hasil Uji Hipotesis .................................................................... 74 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 85 A. Kesimpulan ................................................................................ 85 B. Saran .......................................................................................... 86 C. Keterbatasan Penelitian ............................................................. 87 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL Halaman

Tabel 2.1 Response Hierarchy Models ........................................... ……….13Tabel 2.2 Alat-alat Bauran Pemasaran ........................................... ………..18Tabel 4.1 Jenis Produk Mailbox ..................................................... ………..60Tabel 5.1 Hasil Uji Validitas .......................................................... ………..65Tabel 5.2 Hasil Uji Reliabilitas ...................................................... ..............66Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .... ………..67Tabel 5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkatan Usia .. ………..68Tabel 5.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Profesi ............... ………..69Tabel 5.6 Karakteristik Responden Berdasarkan

  Pengeluaran Rata-rata per bulan .................................... ………...70

Tabel 5.7 Karakteristik Responden Berdasarkan

  Frekuensi Kunjungan dalam satu Bulan ......................... …..……71

Tabel 5.8 Karakteristik Responden Berdasarkan

  Sumber Mengenal Nama mailbox .................................. ……......72

Tabel 5.9 Karakteristik Responden Berdasarkan

  Jumlah Item yang Dibeli setiap kali Kunjungan ............ ………..73

Tabel 5.10 Desciptive Statistic Sponsorship .................................... ………..74Tabel 5.11 Test Statistic Sponsorship ............................................... ……….76Tabel 5.12 Desciptive Statistic Brand Image ................................... ……….79Tabel 5.13 Test Statistic Brand Image ............................................. ……….80Tabel 5.14 Group Statistic ................................................................ ……….82Tabel 5.15 Independent Samples Test .............................................. ……….83

  DAFTAR GAMBAR Halaman

Bagan 2.1 Keputusan Pemberian Merek ................................................... 33 Bagan 2.2 Kerangka Pemikiran Teoritis ...................................................

  4

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di zaman sekarang ini dunia fashion sudah merambah sampai Indonesia khususnya Bandung yang disebut sebagai Paris Van Java. Mulai

  dari pakaian casual, pakaian remaja, pakaian dewasa dan anak-anak seakan tidak henti-hentinya berkembang. Industri fashion sendiri sekarang sudah merupakan suatu kebutuhan bagi seluruh sosial masyarakat. Ditunjang dengan perkembangan teknologi mesin kain yang membuat suatu keinginan untuk memperindah diri seakan tidak pernah terpuaskan. Bandung sendiri sebagai barometer dunia fashion di Indonesia, karena Bandung merupakan salah satu tempat yang pang banyak menyediakan tempat belanja kebutuhan sandang seperti clothing maupun factory outlet-nya. Dan di hari liburlah Bandung sangat dipadati wisatawan lokal dari berbagai daerah yang sengaja datang hanya untuk berbelanja dan itu sama halnya dengan Yogyakarta.

  Strategi dan inovasi perusahaan telah memberikan pengaruh pada perubahan persaingan yang ada, dengan adanya perubahan ini perusahaan harus bersikap dinamis dalam mengikuti perubahan yang terjadi di sekitarnya. Tingkat persaingan dalam memperkenalkan produk dan menanamkan citra perusahaan telah berada pada kondisi yang cukup ketat, ini terbukti dengan sudah banyaknya perusahaan sejenis. Kehadiran FO ( Factory Outlet ), BO (Butique Outlet ), Distro ( Distribution Outlet ) yang terus bertambah, menjadi salah satu alasan betapa pentingnya brand image yang harus ditanamkan dalam pikiran para konsumen khususnya para pecinta fashion.

  Bisnis Clothing dan DISTRO (Distribution Outlet) kian menjamur di Indonesia. Saat ini, berkisar 1000 distro tersebar di 94 kota dan kabupaten di Indonesia. Menurut Ketua Kreative Independent Cloting Kommunity (KICK), Tb. Fiki Chikara Satari, berkisar 400 bisnis cloting dan DISTRO tersebar di Bandung, Yogyakarta di urutan kedua dan Jakarta di posisi ketiga. “10 tahun terakhir ini, bisnis cloting dan DISTRO menjamur dengan cepatnya, sumbernya dari community development, itulah pentingnya ruang public” ujarnya kepada indotextiles.com. Omset dari bisnis ini mencapai 300 miliar tiap tahunnya. Setiap DISTRO ada ciri khasnya masing-masing, setiap Distro mempunyai karakter pada cloting yang dijual, seperti : skater, surfer, musik dan lain-lain, itulah yang harus terus digali untuk mempertahankan ciri khas

  1 masing-masing.

  Kata “distro” merupakan singkatan dari Distribution Outlet atau

  Distribution Store , yang berfungsi menerima titipan dari berbagai macam

  merek clothing company lokal yang memproduksi sendiri produknya dengan produk terbatas dan harganya terjangkau kantong anak muda. Factory Outlet adalah toko yang menjual produk yang dihasilkan oleh perusahaan atau pabrik

  2 yang resmi.

1 Indotextiles.com,(2009),http://yea.co.id/kreative-independent-clothing-kommunity-kick.hmtl,

  diakses tanggal 20 April 2009

  2

  Tahun 2000 adalah awal perkembangan distro di Yogyakarta, ditandai dengan berdirinya South Fucktory dan Slackers Distro merupakan tempat distribusi bagi produk-produk lokal, tidak hanya terbatas pada fashion, tetapi distro sendiri memiliki ikatan yang kuat dengan music, lifestyle, dan komunitas. Jumlah yang terbatas dengan desain yang berkarakter menjadi ciri tersendiri dari produk yang didistribusikan. Tahun-tahun berikutnya perkembangan distro di Yogyakarta semakin pesat. Saat ini sekitar empat puluhan distro sudah mulai tumbuh dan produk yang ditawarkan makin

  3 beragam.

  Mailbox merupakan salah satu Distro (distribution outlet) yang sangat diminati oleh para remaja Yogyakarta dalam memenuhi kebutuhan sandang atau fashion mereka. Salah satu cara yang dilakukan Mailbox dalam menjaga reputasi perusahaan adalah dengan memelihara dan memperkuat brand image di pikiran konsumen mereka. Dengan brand image yang kuat akan terdapat perbedaan dengan pesaing, karena brand image suatu perusahaan tidak dapat disamakan dengan brand image perusahaan yang lain.

  Dengan brand image yang sudah dikenal di pikiran para konsumen maka secara tidak langsung brand image tersebut dapat mempengaruhi tingkat volume penjualan sebuah perusahaan. Untuk membangun citra yang positif, maka pesan-pesan yang ingin disampaikan perlu untuk dikomunikasikan kepada target sasaran. Oleh karena itu integrated marketing communication

3 Vembriyanto, Aryogo, (2008). Analisis Sikap Konsumen Terhadap Produk Distribution Outlet,

  yang digunakan Mailbox harus dapat mencapai target sasaran yang ditentukan. Salah satu cara yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan tersebut adalah dengan cara sponsorship. Dengan menjadi sponsor dalam acara eksebisi atau pameran maka perusahaan akan memperoleh reputasi yang baik dan dapat meningkatkan volume penjualan.

  Tingginya tingkat volume penjualan yang didapatkan adalah hasil dari citra merek atau brand image yang sudah tertanam dalam pikiran para konsumen atau target sasaran perusahaan. Mengkomunikasikan nama perusahaan dan produk yang dihasilkan perusahaan dengan sponsorship adalah salah satu strategi yang dijalankan perusahaan untuk meningkatkan volume penjualan produk-produk yang dihasilkan.

  Berdasarkan dari permasalahan yang telah diuraikan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk menyususn skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Sponsorship dan Brand Image Terhadap Volume Penjualan”.

B. Rumusan masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara

  

sponsorship dan brand image terhadap volume penjualan?

  2. Adakah satu di antara kedua variabel tersebut yang lebih dominan berpengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan?

  C. Batasan Masalah

  Penelitian ini hanya sebatas pada ada tidaknya pengaruh brand image dan kegiatan sponsorship terhadap volume penjualan. Adapun batasan masalah yang digunakan meliputi:

  1. Penelitian ini dilakukan di Maibox, Jl.Gejayan Paviliun 55,Yogyakarta.

  2. Penelitian dilakukan pada konsumen yang bertindak sebagai pengambil keputusan.

  3. Penelitian dilakukan hanya pada sponsorship yang dilakukan oleh Mailbox, Jl.Gejayan Paviliun 55, Yogyakarta.

  D. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dipaparkan tadi, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh sponsorship dan brand image perusahaan terhadap volume penjualan.

  2. Untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh terhadap volume penjualan.

E. Manfaat Penelitian

  1. Untuk Perusahaan Untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan perusahaan, baik kebijakan dalam mempertahankan citra perusahaan atau mengkomunikasikan produk atau perusahaan .

  2. Untuk Peneliti Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pengaruh brand image dan sponsorship perusahaan terhadap tingkat volume penjualan.

  3. Untuk Universitas Sanata Dharma Untuk menambah referensi dan bacaan atau sebagai acuan bagi siapapun yang akan melakukan penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Manajemen Manajemen menurut Stoner (Handoko,2003:8) adalah proses

  perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

  Sedangkan Gulick (Handoko,2003:11) mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.

  Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen merupakan sebuah proses karena semua manajer, tanpa mempedulikan kecakapan atau ketrampilan khusus mereka, harus melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.

B. Pemasaran

  Dalam kehidupan sehari-hari kta sering melakukan pertukaran suatu barang atau jasa dengan pihak lain. Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan perusahaan dalam usahanya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, untuk berkembang dan mendapatkan laba. Berhasil atau tidaknya mencapai tujuan tergantung pada kehlian mereka di bidang pemasaran, produksi, keuangan maupun bidang lain, yang satu sama lain saling berkaitan dalam mencapai tujuan perusahaan.

  Kata pemasaran merupakan istilah yang di ambil dalam bahasa Inggris yaitu “marketing”, yang artinya pasar. Pasar terdiri dari semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu serta mau dan mampu turut dalam pertukaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan itu (Kotler dan Susanto, 2000:1).

  Malcom, (2000:1) mengatakan pemasaran adalah kemampuan perusahaan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen untuk mencapai timbal balik yang saling menguntungkan.

  Kotler dan Armstrong (2000:6) “Marketing is a social managerial

  

process where by individuals and group obtain what they need and want

through creating and exchanging produck of value with others” ,

  artinya pemasaran ialah proses sosial dan managerial dimana individu dan kelompok memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka melakukan pertukaran produk yang bernilai dengan orang lain. Foster (2001:8-9) mengemukakan bahwa pemasaran sebenarnya adalah :

  1. Suatu firasat yang menyatakan bahwa arah perusahaan lebih dipengaruhi oleh kemudahan produksi atau teknik yang dimiliki.

  2. Suatu proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian usaha yang sistematik.

  3. Suatu bentuk organisasi.

  4. Pemasaran menggunakan wadah dan sistem yang lebih maju.

  5. Suatu sistem komersial.

  6. Merancang Inovatif.

  7. Merupakan suatu metode untuk mencapai suatu strategi.

  Stanton mengemukakan pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk perencanaan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada (Swasta dan Sukotjo 2000:179).

C. Perencanaan Pemasaran

  Dari pengertian pemasaran yang sudah dipaparkan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perusahaan harus mampu dan dapat melakukan perencanaan dalam menentukan tujuan perusahaan yang hendak dicapai.

  Wood (2009:5) mendefinisikan perencanaan pemasaran adalah proses terstruktur untuk menetapkan bagaimana menyajikan nilai bagi pelanggan, organisasi, dan pihak-pihak berkepentingan utama dengan meriset dan menganalisis situasi terkini, termasuk pasar dan pelanggan; mengembangkan dan mendokumentasikan tujuan, strategi dan program pemasaran; mengimplementasikan, mengevaluasi dan mengontrol kegiatan pemasaran untuk mencapai tujuan.

  Perencanaan memang tidak bisa mengontrol masa depan, akan tetapi para perencana harus mencoba mengenali dan mengisolasi tindakan masa kini dan ramalan, bagaimana hasil bisa diharapkan mempengaruhi masa depan. Maksud utama perencanaan ialah untuk melihat bahwa apa yang kita kerjakan sekarang akan dipergunakan untuk menaikkan peluang untuk mencapai tujuan masa depan yaitu meningkatkan peluang untuk membuat keputusan sekarang yang lebih baik yang mempengaruhi kinerja untuk waktu yang akan datang.

  Suatu perusahaan dapat mengambil manfaat dari proses perencanaan, sebab perencanaan merupakan proses yang terus menerus, sistematis yang memungkinkan perusahaan melakukan beberapa kegiatan :

  1. Mengevaluasi posisi pasar dari perusahaan, hal ini meliputi apa yang disebut analisis SWOT yaitu suatu analisis untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal.

  2. Menentukan tujuan, prioritas dan strategi untuk diselesaikan dalam periode tertentu. Perencanaan akan memungkinkan perusahaan untuk membuat penilaian mengenai pencapaian tujuan yang telah ditentukan dan melakukan koreksi untuk mencapai tujuan.

  3. Mencapai komitmen karyawan yang lebih besar dan “teamwork” yang bertujuan untuk memenuhi tantangan dan memecahkan persoalan yang disebabkan oleh adanya perubahan. Suatu sukses tidak dicapai oleh setiap orang yang melakukan pekerjaan secara paling baik. Sukses merupakan hasil kalau semua orang melakukan pekerjaan secara paling baik untuk mendukung suatu tujuan menyeluruh dimana setiap orang memahami dan melakukan pekerjaan sebagai anggota tim untuk mencapainya.

  4. Mengumpulkan sumber-sumbernya untuk memenuhi perubahan melalui antisipasi dan persiapan. “Menyesuaikan atau mati” merupakan nasehat yang tepat.

  Menurut Wood (2009:19), alat pemasaran yang digunakan dalam melaksanakan perencanaan pemasaran adalah:

  1. Penawaran Produk Produk bias berupa barang berwujud atau jasa yang tak berwujud, banyak penawaran sesungguhnya merupakan kombinasi dari yang berwujud dan tidak berwujud. Penentuan merek adalah aspek penting lainnya yang begitu vital dalam ketegori-kategori tertentu, sehungga pengecer besar mendapatkan uang tunai dengan memperkenalkan merek-merek sendiri.

  2. Penetepan Harga Keputusan penetapan harga didasarkan pada sejumlah faktor. Termasuk bagaimana pelanggan menghargai nilai tawaran; bagamana organisasi memposisikan produk; berapa biaya pengembangan produk, produksi dan distribusi; struktur bersaing pasar dan nilai yang ingin didapatkan organisasi.

  3. Saluran Strategi saluran (tepat) mencakup keputusan tentang bagaimana, kapan dan di mana harus membuat barang dan jasa tersedia bagi pelanggan.

  4. Promosi Promosi meliputi semua alat yang digunakan untuk mengkomunikasikan nilai kepada pasar sasaran, termasuk iklan, humas, promosi penjualan, dan teknik pemasaran langsung seperti catalog, e-mail, dan pesan-pesan nirkabel.

D. Integrated Marketing Communucation (IMC)

  Dalam aktivitas pemasaran, perusahaan tidak hanya melakukan usaha untuk menemukan dan menghasilkan produk, menetapkan harga, tapi perusahaan juga perlu untuk memberikan informasi kepada konsumen bahwa produk atau jasa yang disediakan akan dapat memenuhi kebutuhan mereka.

  Artinya perusahaan perlu untuk melakukan suatu aktifitas komunikasi kepada target sasarannya agar merasa tertarik menggunakan produk atau jasa perusahaan. Pada kompetisi yang sangat kuat sekarang ini sangat penting artinya apabila perusahaan dapat menancapkan posisi yang tepat pada pikiran target sasarannya. Delapan langkah dalam mengembangkan komunikasi yang efektif menurut Kotler, et. al. (2003:597) :

  1. Merngidentifikasi audiens sasaran Proses identifikasi harus dimulai dengan pikiran yang jelas tentang audiens sasaran. Audience sasaran tersebut dapat diartikan sebagai calon pembeli produk perusahaan, pemakai saat ini, penentu keputusan atau hak yang mempengaruhi keputusan. Audience dapat terdiri dari individu, kelompok masyarakat tertentu atau masyarakat umum. Audience yang dituju tersebut akan sangat mempengaruhi komunikator tentang apa yang akan dikatakannya, bagaimana mengatakannya, kapan mengatakannya, dimana pesan tersebut disampaikan dan kepada siapa pesan tersebut disampaikan.

  2. Menentukan tujuan komunikasi Setelah pasar sasaran dan persepsinya diidentifikasi, komunikator harus menentukan tujuan komunukasi guna memutuskan tanggapan yang diharapkan dari audiens. Ada beberapa tingkat yang berbeda mengenai respon konsumen yang dikenal dengan response hierarchy models.

Tabel 2.1 Response Hierarchy Models

  

Stages AIDA Model Hierarchy of Effects Innovations- Communication

Models adoption model Model

Cognitive Attention Awareness Awareness Exposure

Stage

  Reception Knowledge Cognitive response

Affective Interest Liking Interest Attitude

  Stage Desire Preference Evaluation Intention Conviction Behavior Action Purchase Trial Behavior

  Stage Adoption

  Sumber : Kotler, et. al ( 2003: 597)

  Pada tabel di atas menunjukkan respon yang diberikan oleh konsumen kepada pemasar mulai dari timbulnya kesadaran mengenai merek

  (awarness) , mempunyai informasi tentang merek (knowledge), setelah

  menyadari dan mengetahui informasi tentang merek, kemudian timbul rasa menyukai tau tidak (liking), setelah itu konsumen mungkin menyukai produk tersebut tapi ternyata malah memilih produk yang lain

  (preference) , konsumen mungkin memilih produk yang ditawarkan tetapi

  tidak yakin dengan keputusan pembelian tersebut (conviction), mungkin ada target market yang sudah yakin tapi belum melakukan pembelian karena menunggu adanya lebih banyak informasi. Komunikator harus dapat membujuk konsumen agar mau melakukan pembelian, mungkin dengan memberiakan diskon atau memberikan tester kepada konsumen.

  3. Merancang pesan Pesan yang disampaikan seharisnya dapat meningkatkan perhatian (attention) kemudian dilanjutukan dengan ketertarikan (interest), setelah itu ditunjukkan dengan timbulnya keinginan (desire), untuk selanjutnya melakukan tindaka (action).

  4. Memilih saluran komunikasi Kemudian komunikasi mengembangkan pesan yang efektif dengan memilih saluran komunikasi yang efisien untuk menyampaikan pesan, baik yang personal maupun non personal.

  5. Menentukan jumlah anggaran komunikasi pemasaran Seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk mengkomunikasikan produk kepada target market.

  Ada 4 metode menurut Kotler, et. al (2003:599) yang dapat digunakan oleh perusahaan diantaranya:

  a.

   Affordable Method

  Metode yang disesuaikan dengan kemampuan perusahaan ini, benar-benar mengacuhkan aturan dari promosi sebagai suatu investasi dan dapat memperoleh timbal balik dari promosi pada volume penjualan.

  b.

   Percentage of sales method

  Banyak perusahaan yang merancang pengeluaran untuk promosinya berdasar dari persentase penjualan atau harga dari penjualan.

  c.

   Competitive parity method

  Beberapa perusahaan menyusun anggaran promosinya untuk mencapai kesamaan jumlah suara dengan kompetitor, pemasar percaya bahwa dengan menandingi pesaing berarti mempertahankan jumlah pangsa pasarnya.

  d.

   Objective and Task method

  Metode ini digunakan pemasar untuk mengembangkan anggaran promosinya dengan menetapka tujuan yang spesifik, menetapkan tugas-tugas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan dan memperkirakan biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas ini.

  6. Menentukan bauran promosi Menentukan alat komunikasi mana yang akan digunakan untuk mengkomunikasikan produk secara efektif kepeda target market.

  7. Mengukur hasil promosi Setelah melaksanakan rencana promosi yang telah ditetapkan, komunukator harus dapat mengukur dampak pada target audience. Ini termasuk bertanya pada target audience apakah mereka mengenali pesan yang disampaikan, seberapa sering melihatnya, apa yang dirasakan setelah melihat pesan tersebut, sikap audience sebelum dan sekarang terhadap produk atau perusahaan.

  8. Mengelola dan mengkoordinasikan komunikasi pemasaran terpadu Setelah itu aturlah komunikasi pemasaran terpadu dengan mengkombinasikan alat-alat promosi yang digunakan agar saling mendukung satu dengan lainnya.

  Pada suatu perusahaan promosi memegang peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pemasaran, sebab promosi meliputi kegiatan saling berbagi konsep, dan maksud yang dilakukan oleh sumber dan penerima informasi mengenai produk jasa serta perusahaan yang menjualnya.

  Selain itu promosi diperlukan untuk membantu perusahaan dalam mengadakan promosi komunikasi kepada target sasaran, karena dengan promosi dapat disampaikan informasi berupa pengetahuan mengenai produk yang ditawarkan dan perbedaan dengan produk pesaingnya.

  Pemasaran modern memerlukan lebih dari sekedar pengembangan produk yang baik, menawarkannya dengan harga yang menarik, dan membuatnya lebih mudah dijangkau. Perusahaan juga harus berkomunukasi dengan para pemegang kepentingan (stake holder) yang ada sekarang dan yang potensial, serta masyarakat umum. Bagi sebagian perusahaan, bukan akankah melakukan komunikasi tersebut atau tidak, tapi lebih pada apakah yang akan dikomunikasikan, kepada siapa dan seberapa sering.

  Bauran komunikasi pemasaran menurut Kotler dan Keller (2006: 496), terdiri dari:

  a.

   Advertising

  Semua bentuk penyajian dan promosi non personalitas ide, barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan sponsor tertentu.

  b.

   Sales Promotion

  Berbagai intensif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.

  c.

   Events and Experiences

  Kegiatan pemberian sponsor dari perusahaan dan program yang dibuat untuk menciptakan merek yang biasa saja atau merek yang spesial.

  d.

   Public Relation and Publicity

  Berbagai program untuk mempromosikan dan melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.

  e.

   Direct Marketing

  Penggunaan surat, telephon, faximile, e-mail dan alat penghubung non

  

personal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan mendapatkan

tanggapan langsung dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu.

  f.

   Personal Selling

  Interaksi langsung dengan satu pembeli atau lebih guna melakukan presentasi, menjawab pertanyaan dan menerima pesan.

Tabel 2.2 Alat-alat Bauran Pemasaran

  ADVERTISING SALES EVENT/ PUBLIC PERSONAL DIRECT PROMOTION EXPERIENCES RELATION SELLING MARKETING Iklan cetak dan Kontes, Saran pers Presentasi Katalog

  Sports penyiaran permainan, penjualan

  Entertainment Ceramah Surat undian, Pengemasan

  Rapat Festival Seminar Pemasaran lotere. luar penjualan melalui

  

Art Laporan

Premuim Pengemasan

  Program telepon

Causes tahunan

dalam dan hadiah intensif Belanja

  Sumbangan Factory tours

  Pemberian Film amal Pemberian secara

  Company contoh sample elektronik Brosur dan

museums Menjadi

produk buku petunjuk

  Pekan raya Belanja sponsor Street

  Pekan raya dan melalui Poster dan Publikasi activities dan pameran televisi selebaran

  Community pameran dagang

  Directory Fax email relations dagang.

  Cetak ulang E-mail

  Melobi Pameran iklan

  Voice mail Media Peragaan

  Billboard identitas Kupon Simbol

  Majalah Rabat pengenal perusahaan

  Pembiayaa Pameran n berbunga ditemapat rendah pembelian

  Hiburan Materi audio Fasilitas visual tukar Simbol dan tambah logo

  Program Pita video continue

  Penempela n tanda Luasnya pilihan atas alat komunikasi pesan tersebut, dan audience yang sangat beragam mengharuskan perusahaan mencari kombinasi yang terbaik atas penggunaan alat-alat promosi yang dikenal dengan istilah komunikasi pemasaran terpadu (IMC-Integrated Marketing Communication). menurut America Association of

  Integrated marketing communication

Advertising Agencies yang dikutip oleh Kotler (2005: 270) adalah “konsep

  perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah suatu rencana yang komprehensif. Rencana ini mengevaluasi peran strategis berbagai bidang komunikasi misalnya iklan umum, tanggapan langsung, promosi penjualan dan hubungan masyarakat, serta menggabungkan bidang- bidang lain untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan pengaruh maksimum melalui integrasi pesan-pesan yang saling berlainan secara mulus”.

  Definisi Integrated Marketing Communication menurut Shimp (2007:7) adalah : IMC is a communication process that entail the planning,

  

creation, integration, and implementation of diverse form of marcom

(advertisement, sales promotion, publicity, publicity releases, event, ect) that

deliver over time to a brand’s targeted customer and prospects.

  Jadi, Integrated Marketing Communication (IMC) adalah suatu proses komunikasi yang merencanakan, membuat, mengintegrasikan dan mengimplementasikan berbagai bentuk komunikasi pemasaran untuk menciptakan customer relationship.

  E. Sponsorship

  Banyak perusahaan yang tertarik untuk melakukan sponsorship karena program integrated marketing communication yang efektif dapat dibangun disekitar perusahaan dan promosi-promosi dapat dibuat untuk pasar lokal, regional, nasional bahkan internasional Belch (2004: 588).

  Menurut Shimp (2007: 589):

  “ A form of brand promotion that ties. A brand to a meaningful athletic, entertainment, cultural, social or other type of high interest public activity”.

  Tsiotsou (2007):

  “ Sponsorship is a bussines relationship between a providers of funds, resources or services and an individual, events or organisation witch offers in return rights and association that may be used for

  1 commercial advantage in return for the sponsorship investment”.

  Jadi sponsorship adalah suatu bentuk dari promosi merek dengan cara memberikan bantuan keuangan dari sebuah organisasi, perorangan atau kegiatan yang menghubungkan suatu merek dengan kegiatan olah raga, hiburan, budaya, sosial (public activity) yang menimbulkan keterkaitan yang tinggi, dengan memberikan timbal balik untuk mengiklankan perusahaan.

  F. Manfaat dan Alasan-Alasan Penggunaan Sponsorship

  Sekarang ini tidak ada satu orang pun yang berharap memperoleh suatu hadiah atau penghargaan dari perusahaan yang tidak dikenal dan tidak jelas reputasinya, maka siapa saja yang bersedia menyediakan sponsor pasti

1 Tsiotsou, rodoula, (2007).Delineating the Outcomes of Sponsorship. http:// Bds Sponsorship/

  ingin agar jati diri atau lembaganya meraih reputasi yang mengesankan, memiliki nama baik yang dikenal luas (Jefkins, 2004: 266).

  Manfaat penyediaan sponsorship adalah bahwa dana sponsor yang telah dikeluarkan dengan sendirinya kembali ke perusahaan dalam jumlah yang berlipat ganda. Potensi keuangan, baik langsung maupun tidak langsung, dari penyedia sponsor memang cukup besar sehingga begitu banyak perusahaan yang bahkan bersedia mengalokasikan dana khusus untuk

  

sponsorship. Menurut Shimp (2000; 161) manfaat penggunaan sponsorship

  adalah untuk membangun hubungan dengan konsumen, untuk menambah , dan untuk memperkuat ikatan dalam pertukaran. Namun pada

  brand equity

  dasarnya, semua alasan itu pasti mengundang tujuan-tujuan humas, yakni dalam rangka menunjukkan niat baik dan menciptakan suatu pemahaman dikalangan khalayak, setidaknya agar mereka mengetahui keberadaan perusahaan atau lembaga penyedia sponsor.

  Adapun alasan-alasan penyediaan sponsor menurut Jefkins (2004: 267) ialah:

  1. Untuk melancarkan suatu kampanye periklanan melalui publikasi nama serta produk-produk perusahaan yang seluas-luasnya oleh media massa yang meliput acara yang disponsori itu.

  2. Untuk mendukung strategi atau kebijakan perusahaan.

  3. Untuk memperhatikan niat baik organisasi ataupun perusahaan guna melaksanakan tanggung jawab sosialnya.

G. Tujuan Sponsorship

  Tujuan sponsorship menurut Jefkins (1996:176) terdiri dari tiga bagian yaitu:

  1. Tujuan-tujuan periklanan: a. Mengiklankan produk yang tidak boleh diiklankan di media tertentu.

  b. Memasang iklan di lokasi kegiatan atau liputan yang dapat menjangkau orang banyak.

  c. Mempromosikan produk secara spesifik.

  d. Memperkenalkan produk baru.

  e. Menggali berbagai peluang lain dibidang periklanan.

  2. Tujuan-tujuan Humas a. Menciptakan atau mempertahankan citra perusahaan.

  b. Membangun citra perusahaan.

  c. Memperkenalkan identitas perusahaan.

  d. Mengakrabkan nama perusahaan.

  e. Menonjolkan keramah tamahan.

  f. Merangsang minat para wartawan untuk datang meliput.

  3. Tujuan-tujuan pemasaran: a. Mempromosikan sebuah produk.

  b. Mendukung operasi para agen penyalur.

  c. Melancarkan suatu perubahan di dalam kebijakan pemasaran perusahaan.

  d. Melancarkan suatu produk.

  e. Membuka cabang-cabang baru. f. Pemasaran internasional.

  g. Merangsang para konsumen untuk menggunakan suatu produk.

H. Jenis-jenis Sponsorship

  Secara umum, cakupan sponsor memang tidak terbatas, namun dari sekian banyak bidang atau kegiatan, yang paling popular menurut Jefkins (2004 : 265) ialah:

  1. Acara-acara olah raga Dewasa ini nilai sponsor yang diberikan dalam bidang olah raga sangat besar. Hal ini disebabkan karena semakin merakyatnya aneka kegiatan olah raga sehingga pemberian sponsor untuk bidang ini merupakan salah satu cara terbaik untuk menjangkau pasar konsumen secara missal.

  Dengan besarnya liputan media massa, terutama televisi, bagi kegiatan- kegiatan olah raga, maka liputan untuk pihak-phak penyedia sponsor juga semakin besar.

  2. Acara-acara kebudayaan Mencakup acara seni dan pameran budaya, dimana fenomena yang sedang terjadi menunjukkan semakin banyaknya perusahaan yang mensponsori pertunjukan musik.

  3. Penerbitan atau Publikasi Penerbitan peta, buku harian, buku petunjuk, buku-buku atau dokumen laporan tahunan, dan berbagai naskah lainnya acapkali jadi lahan sponsor.

  4. Eksebisi atau Pameran Acara-acara pameran baik yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta juga sering mendapat sponsor, dari pers atau perusahaan penerbitan

  5. Pendidikan Pemberian sponsor juga sering diwujudkan dalam bentuk beasiswa, tunjangan belajar, piagam penghargaan akademis, dan berbagai aspek lainnya yang menyangkut pendidikan. Contohnya: Djarum yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa atau mahasiswi yang berprestasi di beberapa perguruan tinggi.

  6. Acara-acara Amal Dalam suatu acara amal, nama-nama perorangan maupun lembaga, termasuk perusahaan yang memberikan dana atau sponsor selalu disebutkan secara terbuka. Contonya: pundi amal SCTV

  7. Acara Penghargaan Profesional Pemberian hadiah atau tanda penghargaan kepada para profesional, mulai dari jurnalis, fotografer, sampai dengan para arsitek dan lain-lain.

  Biasanya pula da perusahaan yang bertindak sebagai sponsor penuh untuk acara tersebut.

  Dari berbagai macam sponsorship di atas, yang sedang menjadi fonomena adalah sponsorship pada bidang entertainment, sebab ide atau gagasan dalam bidang entertainment tidak ada batasnya, sehungga berbagai bentuk kegiatan yang disponsori suatu perusahaan sekarang ini sangat banyak digelar, contohnya dengan memberikan sponsor untuk acara-acara reality show.

I. Perencanaan Sponsorship

  Untuk mencapai tujuan yang ditetapkan perusahaan, maka harus dilakukan suatu perencanaan yang matang dari sebuah sponsorship. Menurut Rossiter dan Percy (1998: 346) perencanaan sponsorship mancakup: 1.

   Target Audiens Reach

  Perusahaan perlu memperhatikan segmen mana yang ingin diraih dari jenis sponsorship yang ingin digunakan, sebab kegiatan yang ingin disponsori juga harus sesuai dengan segmen pasar yang dituju, contohnya :Flexi yang mensponsori acara Hip-hip Hura di SCTV.

  2. Compability With the Company’s or Brand Positioning

  Beberapa jenis sponsorship secara langsung berkaitan atau menggunakan produk dari perusahaan, contohnya Molten yang mensponsori Indonesian

  Basketball League (IBL) . Tetapi beberapa jenis sponsorship dipilih karena

  kesesuaian image secara tidak langsung dengan produk tersebut misalnya BMW mensponsori turnamen golf.

  3. Message Capacity

  Perusahaan yang mensponsori suatu kegiatan biasanya mendapatkan fasilitas untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut. Contohnya : pada event olah raga, perusahaan mendapatkan fasilitas untuk mendapatkan brand name produk atau perusahaan mereka disekitar lokasi kegiatan olah raga tersebut dan juga memperoleh liputan apabila diliput oleh stasiun TV.

  J. Image

  Citra dapat diukur melaui pendapat, kesan atau respon seseorang dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti apa yang ada dalam pikiran setiap individu mengenai suatu objek, bagaimana mereka memahami dan apa yang mereka sukai dan tidak sukai dari objek tersebut

  Suatu citra bisa sangat kaya atau sederhana saja. Citra dapat berjalan stabil dari waktu kewaktu atau sebaliknya dapat berubah dinamis, diperkaya oleh jutaan pengalaman dan berbagai jalan pikiran asosiatif. Setiap orang bisa melihat citra atau objek secara berbeda-beda, tergantung pada persepsi yang ada pada dirinya mengenai objek tersebut, atau sebaliknya citra bisa diterima relative sama pada setiap anggota masyarakat. Ini yang biasa disebut dengan opini umum (public opinion). Terdapat beberapa definisi image yang dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya:

  Definisi image menurut Kotler et. al (2003: 598):

  “ image is the set of beliefs, ideas and impressions a person hold’s regarding an object. People attitudes and actions are toward and object are highly conditioned by that object’s image”

  Definisi image menurut Temporal (2001: 33):

  “ Image is product of people perceptions, that is, the way which people think about or event imagine something to be”

  Berdasarkan uraian defenisi citra di atas, maka dapat diambil suatu pengertian citra secara umum adalah suatu kepercayaan, gagasan, dan kesan yang ada di dalam pikiran seseorang, baik secara visual, audio atau melalui pengalaman yang lainnya, sehingga dapat menciptakan persepsi yang konsumen pikirkan atau bahkan bayangkan mengenai sesuatu. Menurut Kotler (2003:338) citra yang positif mempunyai tiga fungsi yaitu: 1. Membentuk karakter produk atau perusahaan.

  2. Citra membawa karakter tersebut dengan cara tersendiri sehingga tidak keliru dengan pesaing.

  3. Citra menyalurkan kekuatan emosional dibalik citra.

  Setiap orang akan mempunyai persepsi yang berbeda dari objek yang sama karena tiga proses pembentukan persepsi menurut Kotler dan Keller (2006 :500), yaitu:

  a. Selective Attention dimana seorang individu tidak dapat menerima semua stimul atau rangsangan yang diterima karena kapasitas untuk memperoleh stimul tersebut terbatas, maka rangsangan-rangsangan tersebut diseleksi.

  b. Selective Distortion adalah kecenderungan untuk merubah informasi yang didapat menjadi sesuai dengan yang telah diduga sebelumnya.

  c. Selective Retention individu mempunyai kecenderungan yang diterima tetapi mereka akan tetap menyimpan informasi yang mendukung sikap dan kepercayaan mereka.

  K. Brand ( Merek )

  Dengan memberikan merek pada suatu produk, bukan berarti memberi nilai tambah pada produk tersebut. Dengan identitas khusus sebuah produk tertentu akan lebih mudah dikenali konsumen dan memberi kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang baik dengan konsumen, diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar (market share) yang lebih besar dan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

  Selain itu merek yang memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan posisi pasar yang spesifik bagi suatu produk, misalnya dengan menempatkan suatu produk pada posisi produk yang berkualitas tinggi dan posisi ini dapat diperkuat oleh harga distribusi dan promosi.

  Pengertian brand menurut Kotler (2003: 420) brand is a name, term,

  

sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the

goods for services of one seller or group of seller and to differentiate them

from those of competitors.

  Menurut Peter dan Donnelly (2007: 85) adalah

  “Brand is a name, term, sign, symbol, or any other feature that

identifies one seller’s good or service as distinct from those of other seller”.

  Jadi dari kedua definisi tersebut maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa merek adalah sebuah tanda, nama, simbol, desain atau sebuah kombinasi dari hal-hal tersebut untuk membedakan dari produk atau jasa dari penjualan lain.

  Sebuah merek pada dasarnya adalah janji dari penjual untuk secara konsisten menyampaikan suatu sarana-sarana, keuntungan dan jelas kepada pembeli. Merek yang sangat baik dalam menyampaikan sebuah jaminan dari kualitas, tapi sebuah merek lebih dari sebual simbol yang rumit, sebuah merek dapat diartikan kedalam enam tingkatan arti yang berbeda, menurut Kotler (2003: 420) :

  1. Atribut Merek pertama-tama mengingatkan orang pada atribut produk tertentu, seperti Mercedes menyarankan mahal, bentuk yang baik, bermutu, tahan lama, cepat dan lain-lain sebagai atribut.

  2. Manfaat Atribut harus dapat diartikan kedalam keuntungan secara fungsional dan emosional. Atribut tahan lama dapat diartikan sebagai keuntungan fungsional karena konsumen tidak mau membeli mobil lagi dalam beberapa tahun, sedangkan atribut mahal dapat diartikan sebagai keuntungan emosional, di mana konsumen merasa dikagumi dan merasa penting.

  3. Nilai Merek juga memperlihatkan sesuatu mengenai nilai produsen. Sebagai contoh dalam hal nilai, Mercedes berarti kinerja yang baik, keamanan dan kebanggaan.

  4. Kebudayaan Merek juga mencerminkan kebudayaan tertentu. Sebagai contoh dalam hal budaya, Mercedes mencerminkan kebudayaan bangsa Jerman yang teratur, efisien dan berkualitas tinggi.

  5. Kepribadian Merek juga menunjukkan kepribadian. Merek akan menarik orang dan gambaran sebenarnya dan citra dirinya sesuai dengan citra merek.

  6. Pengguna Merek juga memperliahtkan bermacam-macam konsumenyang membeli atau menggunakan produk. Sebagai contoh dalam hal penggunanya atau

  user , Mercedes mengharapkan seorang top executive berumur 55 tahun

  sedang mengendarai Mercedes, bukan seorang sektetaris berumur 20 tahun.

  Dengan adanya enam tingkat arti merek, pemasar harus memutuskan ditingkat mana mereka akan membangun identitas merek. Arti yang paling lama diingat dari sebuah merek adalah nilai, kebudayaan, kepribadian yang dianggap sebagai inti dari merek. Dengan demikian, perusahaan harus menyususn strategi mereka disamping menciptakan dan melindungi kepribadian merek yang sudah terbentuk.

  Sedangkan menurut Temporal (2000: 23) nama merek itu seharusnya: Simple to spell.

  Easy to pronounce. Unusual and distinctive. Easy to recall. Protectable. Universally acceptable.

  L. Manfaat dan Pentingnya Brand

  Menurut Kotler (2003: 428), manfaat dan pentingnya brand bagi distributor dan retailer adalah karena merek memudahkan mereka dalam menangani produk, menjaga produksi agar tetap pada standar kualitas yang tetap. Sedangkan bagi pembeli adalah untuk memudahkan dalam mengidentifikasi perbedaan kualitas dan lebil efisien dalam berbelanja. Bagi penjual, brand memberikan banyak manfaat:

  1. Brand mempermudah penjual memproses pesanan dan menelusuri masalah yang ada.

  2. Brand dan Trade mark penjual memberikan perlindungan atas tampilan produk yang unik tanpa bisa ditiru orang lain.

  3. Brand memberikan kesempatan untuk menarik pelanggan yang setia dan menguntungkan.

  4. Brand membantu penjual melakukan segmentasi pasar.

  5. Brand yang baik membantu membangun citra perusahaan.

  6. Mendorong pembelian ulang.

  Bagi pembeli, manfaat brand menurut Bilson Simamora (2001: 153) adalah: 1. Menunjukkan pada pembeli mengenai mutu produk.

  2. Meningkatkan efisiensi pembeli.

  3. membantu menarik perhatian konsumen atas suatu produk baru yang mungkin memberikan keuntungan bagi mereka.

  M. Brand Equity

  Merek berbeda-beda dalam jumlah kekuatan dan nilai yang dimilikinya di pasar. Pada satu sisi terdapat beberapa merek yang tidak dikenal sebagian besar pembeli. Ada merek ayng memperoleh tingkat kesadaran merek (brand awareness) yang agak tinggi kemudian terdapat merek yang memiliki tingkat penerimaan merek (brand acceptability) yang tinggi, kemudian ada merek yang menikmati tingkat preferensi merek (brand

  

preference) yang tinggi. Dan akhirnya ada merek ayng memiliki tingkat

kesetiaan merek (brand loyality) yang tinggi.

  Pengertian brand equity menurut Kotler dan Armstrong (2003: 350) adalah equitas merek sebagai nilai suatu merek berdasarkan seberapa kuat merek tersebut mempunyai loyalitas merek, kesadaran konsumen akan nama merek, dan berbagai asset lainnya seperti paten, merek dagang dan hubungan jaringan distribusi.

  Sedangkan brand equity menurut Keegan dan Green (2005: 330) adalah:“ Brand equity represents the added value that accrues to a product as

  a result of a company’s prior investments in the marketing of the brand”.

  Sedangkan menurut Cravens dan Piercy (2003: 324) “ brand equity is

  

a set of brand assets and liabilities linked to a brand, its name, and symbols

that add to or subtract from the value provided by a product or service to a

firm and/or to that firm’s customers”

  Jadi brand equity adalah asset suatu merek seperti paten, merek dagang, nama merek, tanda merek dan jaringan distribusi yang memberikan nilai tambah produk atau jasa sebagai hasil dari investasi yang dilakukan perusahaan dalam memasarkan merek.

  Menurut Kotler (2005: 86) ekuitas merek yang tinggi memberikan sejumlah keunggulan bersaing:

  1. Perusahaan tersebut akan memiliki pengaruh perdagangan yang lebih besar dalam melakukan tawar-menawar dengan distributor dan pengecer karena pelanggan mengharapkannya menjual merek tersebut.

  2. Perusahaan tersebut dapat mengenakan harga yang lebih tinggi daripada pesaing-pesaingnya karena merek itu memiliki persepsi mutu yang lebih tinggi. 3. perusahaan tersebut dapat lebih mudah melakukan perluasan produk karena merek itu menyandang kredibilitas yang tinggi.

  4. Merek tersebut menawarkan kepada perusahaan itu suatu pertahanan terhadap persaingan harga.

  N. Keputusan-keputusan Mengenai Merek

  Penetapan merek menghadapkan pemasar pada keputusan yang menantang. Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan mengenai keputusan penetapan merek.

  

Keputusan Keputusan Keputusan nama Keputusan Keputusan

Pemberian Sponsor Merek Strategi Reposisi

Merek Merek Merek Merek

Merek Merek Nama individu Perluasan Penentuan

produsen lini posisi Tanpa Nama keluarga merek Merek keseluruhan Perluasan ulang distributor Nama keluarga merek Tanpa

  (pribadi) penentuan berbeda Multi merek

  Merek posisi Nama dagang Merek baru ulang lisensi dikombinasikan Merek bersama

Gambar 2.1. Keputusan Pemberian Merek

  Sumber : Kotler (2005: 89)

  O. Keputusan Pemberian Merek (Branding)

  Pemberian merek dapat begitu berkesan sehungga saat ini hampir tidak ada produk yang tidak bermerek. Pemberian merek membantu pembeli dalam beberapa hal. Nama merek membantu konsumen untuk mengidentifikasi produk yang mungkin menguntungkan mereka. Merek juga menyampaikan beberapa hal mengenai kualitas produk kepada pembeli.

  Pembeli yang membeli produk pada merek yang sama mengetahui bahwa mereka akan mendapatkan fitur, manfaat, dan kualitas yang sama setiap kalinya. Pemberian merek juga memberikan beberapa keuntungan pada penjual. Nama merek menjadi dasar dimana seluruh cerita mengenai kualitas produk yang khusus dapat dibangun. Nama merek penjual serta merek dagang memberikan perlindungan hukum untuk fitur-fitur produk yang unik yang bisa saja ditiru oleh pesaing.

  P. Keputusan Sponsor Merek (Branding Sponsor Decision)

  Menurut Kotler yang dikutip oleh Tjiptono (2005: 11) ada tiga klasifikasi brand berdasarkan siapa yang memilih brand tersebut, yaitu:

1. Manufactured’s Brand

  Produk yang menggunakan Manufactured’s Brand adalah produk yang dipasarkan dengan brand yang diberikan oleh pihak perusahaan. Brand macam ini disebut national brand.

2. Private Brand

  Apabila perusahaan menjual produknya pada perantara dan kemudiann perantara itu yang memberikan brand_nya, maka produk tersebut akan dipasarkan dengan menggunakan private brand.

  3. Mixed Brand Mixed Brand merupakan suatu kebijakan jika suatu perusahaan

  memberikan manufactured’s brand untuk sebagian produk dan untuk sebagian lagi dijual ke perantara untuk diberikan private brand.

  Q. Keputusan Nama Merek (Brand Name Decision)

  Produsen yang memutuskan untuk memberi merek pada produknya harus memilih nama merek yang akan digunakan. Menurut Kotler (2003:431) terdapat empat strategi yaitu:

  1. Nama Merek Individual (Individual Brand Name) Strategi ini memungkin perusahaan mencari nama terbaik untuk masing- masing produk. Keuntungan utama dari strategi ini bahwa reputasi perusahaan tidak terikat erat dengan produk tersebut. Juika produk gagal, dan tampaknya memiliki mutu yang rendah, nama atau citra perusahaan tidak akan rusak, contohnya : Unilever (Shampoo Clear, Sabun Lux, Rinso, Pepsodent dan lain-lain).

  2. Nama kelompok digunakan untuk semua produk (Blanket Family Name for All Products)

  Keuntungan dari strategi ini adalah rendahnya biaya pengembangan karena tidak membutuhkan riset “nama” atau pengeluaran iklan yang besar untuk menciptakan pengakuan merek. Penjualan dari suatu produk baru akan menjadi kuat jika nama produk baik. Contohnya : Toyota (Kijang , Corolla, Landcruiser).

  3. Nama kelompok yang berbeda untuk semua produk (Separate Family Name for All Product)

  Strategi ini biasanya dilakukan pada saat perusahaan sering menciptakan nama keluarga yang berbeda-beda untuk lini mutu yang berbeda dalam kelas produk yang sama. Jika perusahaan memproduksi produk-produk yang agak berbeda tidak dianjurkan untuk menggunakan strategi ini.

  Contohnya : Indofood (kecap Indofood, saus Indofood dan lain-lain).

  4. Nama dagang perusahaan dikombinasi dengan nama merek individual (Company Trade Combine with Individual Product Name)

  Beberapa produk mengikat nama perusahaan mereka pada satu nama merek individual untuk masing-masing produk. Nama perusahaan melegitimasikan dan nama individual mengindividualisasikan produk baru. Contoh: Astra (Astra kredit dan Astra Mobil).

  R. Keputusan Strategi Merek

  Perusahaan memiliki strategi pemberian merek, menurut Kotler (2005: 96) antara lain:

  1. Perluasan Lini (Line Extention)

  Menggunakan nama merek sukses untuk memperkenalkan jenis barang tambahan dalam kategori produk tertentu dengan nama merek yang sama, seperti aroma, bentuk warna, bahan baku, atau ukuran kemasan baru. Contohnya: Coke (Classic, new, cherry).

  2. Perluasan Merek (Brand Extention)

  Menggunakan nama merek sukses untuk meluncurkan produk baru atau yang dimodifikasi dalam kategori baru, contoh: Nike (sepatu, pakaian dan jam tangan).

  3. Banyak Merek (Multi Brand)

  Strategi yang dipakai pedagang untuk mengembangkan dua merek atau lebih dalam kategori produk yang sama, contohnya: Unilever (Sunsilk, Clear dan Dove).

  4. Merek Baru (New Brand)

  Perusahaan meluncurkan produk dalam kategori baru karena nama merek yang sudah dimiliki sudah tidak cocok dengannya. Contonya perusahaan Jepang Matsusitha, menggunakan nama yang terpisah bagi rangkaian produknya yang berbeeda seperti Technics, Panasonic, Nationaln Quasar.

5. Merek Bersama (Co-Branding) Penawaran yang mengkombinasikan dua nama merek terkenal atau lebih.

  Tiap sponsor merek mengharapkan bahwa merek lain akan memperkuat preferensi merek atau minat beli, contohnya : Sony_Ericsson atau Aqua_Danone.

  

S. Keputusan Penentuan Ulang Posisi Merek (Brand Repositioning Decision)

Brand repositioning decision adalah keputusan yang dilakukan

  perusahaan untuk menentukan kembali posisi suatu merek. Betapapun baiknya posisi awal suatu merek dalam pasar, nantinya perusahaan mungkin harus memposisikan ulang pesaing mungkin meluncurkan merek yang diposisikan berdekatan dengan merek perusahaan dan mengambil alih pangsa pasarnya, atau keinginan pelanggan mungkin bergeser, sehingga merek perusahaan kurang disukai lagi. Pemasar harus mempertimbangkan reposisi ulang merek yang ada sebelum memperkenalkan merek dan loyalitas konsumen.

  T. Brand Image Brand Image adalah hasil dari pandangan atau penilaian konsumen

  terhadap suatu merek baik atau buruk. Hal ini berdasarkan pertimbangan atau menyeleksi dengan membandingkan perbedaan yang terdapat pada beberapa merek, sehingga merek yang penawarannya sesuai denga kebutuhan akan terpilih.

  Brand bukan nama biasa, brand selalu punya citra yang merupakan gabungan dari persepsi yang timbul dibenak orang. Seberapa kuatkah brand

  

image Mailbox sehingga memiliki brand yang sangat melekat dipikiran para

konsumen.

  “ Brand image is the sets of idea, feeling and attitudes that cosumers

have about brands. It is an image in costumers minds that reflects what they

think and feel about the product, how yhey value it”. (Wells, 2003: 176) “ Brand image is the perception and belief held by consumers as

reflectedin the association held in consumer memory” . (Kotler dan Keller,

  2006: 268) Jadi dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa

  

brand image adalah kumpulan gagasan-gagasan, perasaan dan sikap yang

  dimiliki oleh konsumen mengenai merek, dan kesan yang dibentuk oleh pesan dan pengalaman tentang merek, sehingga menimbulkan citra yang ada dalam benak konsumen, dan mencerminkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang produk, dan bagaimana mereka menilainya.

  Komponen brand image terdiri atas 3 bagian, yaitu; (1) Citra pembuat (corporate image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa. Dalam penelitian ini citra pembuat meliputi: popularitas, kredibilitas serta jaringan perusahaan, (2) Citra pemakai (user image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.

  Meliputi : pemakai itu sendiri, gaya hidup/kepribadian, serta status sosialnya, dan (3) Citra Produk (product image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk. Meliputi artibut produk tersebut, manfaat bagi konsumen, penggunanya, serta jaminan. (Simamora, 2004)

  U. Manfaat Brand Image

  suatu merek dalam pandangan konsumen sangat penting untuk

  Image

  melakukan strategi pemasaran perusahaan. Image positif yang terbentuk dalam benak konsumen akan suatu merek produk atau jasa akan menumbuhkan minat beli konsumen dan begitui pula sebaliknya, sehingga dapat menciptakan konsumen yang loyal akan produk tersebut.

  Brand Image juga mempunyai berbagai manfaat bagi perusahaan seperti yang dikemukakan oleh Rangkuti (2004: 17), yaitu:

  1. Brand image dapat dibuat sebagai tujuan didalam strategi perusahaan.

  2. Brand image dapat dipakai sebagai suatu dasar untuk bersaing dengan brand-brand lain dari produk yang sejenis.

  3. Brand image juga dapat membantu memperbaharui penjualan dari suatu produk.

  4. Brand image dapat dipergunakan untuk mengevaluasi efek kualitas dari strategi pemasaran.

  5. Brand image dapat dihasilkan dari faktor-faktor lain diluar usaha-usaha strategi perusahaan.

V. Kerangka Teoritis Input Proses Output

  Sponsorship:

1.

   Target Audience.

  Integrated Marketing

2.

   Brand Communication: Positioning.

1. Advertising

  3. Kapasitas 2.

   Sales Promotion

  Pesan 3.

   Event and

  Volume Penjualan

  Experiences Brand Image: 4.

   Public Relation and

  1. Atribut

  Publicity 5.

  2. Manfaat

   Direct Marketing 6. Personal Selling

  3. Nilai

  4. Budaya Dalam sebuah perusahaan, pengkomunikasian sangat diperlukan baik untuk memperkenalkan produk yang dihasilkan bahkan menarik target sasarannya agar merasa tertarik menggunakan produk atau jasa perusahaan.

  

Integrated Marketing Communication sebagai salah satu sarana

  pengkomunikasian yang di dalamnya terdapat beberapa alat bauran pemasaran seperti: advertising, sales promotion, evevt and experience, public

  

relation,personal selling dan direct marketing. Luasnya pilihan atas alat

  bauran pemasaran di atas yang juga berfungsi sebagai alat pengkomunikasian pesan tersebut, mengharuskan perusahaan mencari kombinasi yang terbaik atas alat-alat promosi tersebut. Distro, yang bergerak di bidang fashion dan lebih identik dengan pemenuhan kebutuhan sandang para remaja, harus mampu melakukan pendekatan pengkomunikasian melalui hal-hal yang dekat dengan dunia para remaja seperti lifestyle music dan hal lain yang disenangi para remaja.

  Berdasarkan beberapa alat promosi tersebut sponsorship sebagai bagian dari public relation yang berfingsi sebagai program untuk mempromosikan dan melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya merupakan cara pendekatan yang cukup baik bagi perusahaan distro. Target audience atau kemampuan sponsorship dalam mencapai target sasaran, brand positioning atau kesesuaian sponsorship dengan identitas perusahaan dan kapasitas pesan yang melihat seberapa besar sponsorship memilki pengaruh yang cukup kuat dalam menyampaikan pesan tersebut sehingga mampu meningkatkan volume penjualan perusahaan. Brand image yang merupakan salah satu faktor yang mampu mempengaruhi volume penjualan juga harus memiliki atribut yang mencakup desain produk dan desain produk, manfaat dari produk yang sesuai dengan kebutuhan fashion, nilai dari produk yang mampu menaikkan gengsi pencinta fashion dan budaya perusahaan yang disesuaikan dengan gaya hidup target sasarannya harus mampu dipertahankan agar selalu memiliki perbedaan dengan penjualan produk atau jasa dari perusahaan lain yang sejenis.

  W. Literatur Terdahulu

  Menurut Adiwijaya (2007), ketatnya persaingan pasar dan perubahan– perubahan yang terjadi di pasar membuat para pemasar harus menerapkan sebuah strategi yang tepat untuk dapat bertahan dan mengikuti perubahan pasar serta bahkan tampil sebagai pemimpin pasar. Strategi reposisi merek merupakan salah satu alternatif strategi perubahan yang dapat diterapkan oleh pemasar dalam situasi dan kondisi pasar tertentu. Penerapan strategi ini harus dilakukan dengan berlandaskan pada pemahaman akan konsep dasar reposisi merek, fokus pada kebutuhan konsumen, kepekaan akan perubahan pasar, serta didukung oleh komunikasi perusahaan, inovasi baru atas desain produknya dan tampilan layout dalam gerainya. Dalam tulisannnya Michael Adiwijaya menggunnakan metode survey dalam pengumpulan datanya dimana dalam kesimpulannya menyatakan reposisi merek dak komunikasi pemasaran sangat

  2 dibutuhkan dalam persaingan dan jenuhnya pertumbuhan pasar.

  Rumambi (2007), menyatakan bahwa Product/ Brand Placement merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh banyak perusahaan periklanan maupun perusahaan pengiklan untuk menampilkan produknya dengan kesan bahwa keberadaan produk tersebut seolah-olah menjadi suatu bagian dari suatu tayangan, dan pada dasarnya Product/ Brand Placement hampir sama konsepnya dengan Sponsorship tapi yang membedakannya adalah bahwa keberadaannya tidak menyebutkan kata “ sponsor” dalam tampilan film atau acara TV yang diikutinya

2 Adiwijaya, Michael, (2007). Analisa Strategi Reposisi Merek Dalam Persaingan Pasar,

  karena tampil sebagai bagian dari acara atau tayangan. Dalam tulisan ini, penulis melakukan pengumpulan data dengan cara pembagian kuesioner sebanyak 125 responden di mana pengambilan sample dilakukan secara non-probability

  3 sampling .

  Menurut Pujiyanto (2003), Periklanan merupakan salah satu media promosi dalam memasarkan produk yang ditujukan pada konsumen agar bereaksi mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Strategi yang sering dilakukan produsen dalam memasarkan produknya melalui media periklanan adalah membidik segmen pasar tertentu. Dalam menghadapi pasar bebas di era global tentunya strategi ini sangat efisien dan tepat, karena sesuai faktor pasar, seperti; geografis, demografis, psikologis, dan behavioristik. Bila informasi yang disampaikan jelas sesuai dengan segmen tentunya akan mendapat tanggapan positif di pihak konsumen yang akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Dalam penelitiannya, Pujiyanto memperoleh data dengan cara

4 Convenience Sampling.

  Meenaghan (1999) menyatakan, berbagai elemen identitas merek memberikan hasil dalam pembentukan citra merek, namun peran komunikasi pemasaran sangat penting dalam membentuk citra merek. Dalam iklan, terdapat dua elemen komunikasi yang terpisah, yaitu pesan dan media, yang

  3 Rumambi, Leonid Juliyan, (2007). Faktor yang Mempengaruhi Sikap Audience Terhadap Product/ Brand

Placement, , diakses tanggal 9 September 2009,

hal 55

  4 Pujiyanto, (2003).

  , Strategi Pemasaran Produk Melalui Media Periklanan dapat digabungkan untuk membentuk citra merek tertentu. Dalam kasus sponsor baik pesan dan elemen media tidak terpisah, tetapi terkait erat dan gambaran yang disampaikan oleh asosiasi dengan kegiatan dan acara tertentu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara konsumen dan sponsor memiliki kategori yang berbeda. Dan hasilnya juga sangat penting bagi para menajer untuk dapat menanamkan investasinya pada pihak sponsor sesuai dengan syarat-syarat yang ada atau cara penyampaian identitas perusahaan

  5 yang juga sangat berpengaruh.

  Dari penelitian Farrah (2005), menyatakan bahwa keberhasilan perluasan merek sangat dipengaruhi oleh kualitas dari merek asalnya.Untuk itu dalam melakukan perluasan merek, pihak produsen tidak hanya memperhatikan keuntungan bisnis semata tetapi juga memperhatikan persepsi konsumen terhadap merek asal. Disamping itu produk hasil perluasan merek tetap harus menjaga mutunya karena kesuksesan dari perluasan merek tidak lepas dari perceived risk yang dimiliki konsumen,sehingga bila konsumen merasa banyak mendapat kerugian setelah melakukan pembelian produk tersebut, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menggagalkan perluasan

  6 merek.

  5 Meenaghan, Toni, (1999). Media effect in commercial sponsorship, tanggal 9 September 2009

  6 Farrah, Fajrianthi Zatul, (2005). Strategi Perluasan Merek dan Loyalitas Konsumen, tanggal 9 September 2009

  Dari teori-teori yang telah dipaparkan di atas, di mana sponsorship merupakan salah satu alat bauran komunikasi pemasaran dalam mencapai pasar sasaran, atau dalam kata lain sponsorship merupakan salah satu alat komunikasi yang digunakan perusahaan dalam membentuk citra merek (brand

  ) untuk mendapatkan posisi di pikiran para konsumennya. Dalam hal ini

  image sponsorship tidak hanya dilihat dari segi biaya yang dikeluarkan, tapi bisa

  dilihat dari pengkomunikasian yang terkandung dalam sponsorship itu sendiri untuk memperkenalkan produk dan perusahaan di pikiran para konsumennya sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat volume penjualan perusahaan X.

   Hipotesis

  Dalam penjabaran mengenai sponsorship dan brand image dan melihat dari temuan atau literatur terdahulu di mana, dalam membentuk citra merek (brand image) perusahaan harus mampu mengkomunikasikan produk yang dapat memperkuat posisi pasar dan sponsor/ sponsorship adalah cara pengkomunikasian dalam menyampaikan produk yang mereka produksi. Berdasarkan kerangka pemikiran dan literature terdahulu di atas, maka peneliti dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut:

  1. Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara sponsorship dan terhadap volume penjualan.

  brand image

  2. Salah satu dari kedua variabel tersebut ada yang lebih dominan berpengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kasus yaitu jenis penelitian

  yang dilakukan terhadap obyek tertentu secara langsung kepada konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut, sehingga kesimpulan yang diambil terbatas pada obyek yang diteliti saja dan berlaku pada waktu tertentu.

  B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian : Mailbox Jl. Gejayan Paviliun 55, Yogyakarta..

  2. Waktu Penelitian : Penelitian akan dilakukan pada tanggal 24 Oktober- 7 November 2009.

  C. Subyek dan Obyek Penelitian

  1. Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah konsumen yang bertindak sebagai pengambil keputusan pembelian produk di Mailbox.

  2. Obyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah pengaruh sponsorship dan brand image terhadap tingkat volume penjualan Mailbox.

  48 Variabel Penelitian D.

  Variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas (X) adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain.

  Dimana variabel bebas dalam penelitian ini adalah sponsorship dan brand image.

  2. Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat (Y) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain.

  Dimana variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat volume penjualan.

   Jenis dan Sumber Data E.

  1. Data Primer Data primer adalah data yang secara langsung dikumpulkan penulis dari lapangan, di mana yang diteliti adalah obyek dari penelitian yaitu sponsorship dan brand image yang dikenal oleh konsumen. Dimana pengumpulan data dapat dilakukan dengan metode kuesioner, wawancara, dan observasi.

  2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang digunakan untuk mendukung penelitian yaitu dengan melakukan penelitian dari sumber-sumber atau literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

  49 F.

   Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpilan data yang digunakan oleh peneliti adalah dengan:

  1. Kuesioner Adalah lembar isian yang di dalamnya berisi pertanyaan dan pernyataan yang dapat mengolah data kualitatif dengan pengujian hipotesis.

  2. Wawancara Adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab dengan pejabat yang berwenang atau bagian lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

  3. Observasi Adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung terhadap obyek penelitian yang bersangkutan. Hasil observasi dapat dijadikan data pendukung dalam menganalisis dan mengambil keputusan.

G. Teknik Pengukuran Data

  Teknik pengukuran data yang digunakan adalah skala Guttman menjelaskan pada responden apakah setuju atau tidak setuju atas berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan atribut obyek yang diteliti (Singarimbun,1997:65). Setiap jawaban diberi skor berupa:

  Ya = 1 Tidak = 0

  50 Populasi dan Sampel H.

  Dalam pengumpulan data primer dengan menggunakan metode deskriptif, perlu diambil sample dari populasi. Menurut Sugiyono ( 2004: 72 ) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek / subyek yang mempengaruhi kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan untuk peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini

  adalah konsumen Slacker dengan karakteristik usia 13-23 tahun dan sebagian besar masih bersekolah antara SMP,SMA dan Perguruan Tinggi, sebagian besar populasinya belum mempunyai penghasilan sendiri, populasinya terdiri dari pria dan wanita. Dalam penelitian ini, kuesioner disebarkan langsung oleh peneliti di lapangan sehingga dapat memperoleh responden yang sesuai dengan karakteristik yang peneliti butuhkan.

  Sedangkan pengertian sampel itu sendiri menurut Sugiyono (2004: 73) adalah sebagai berikut: “ Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Dalam pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling, menurut Sugiyono (2009:68) menyatakan purposive sampling adalah teknik pengambilan sample dengan pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah konsumen Mailbox Distro yang rata-rata melakukan kunjungan ke Mailbox sebanyak 3 kali dalam sebulan. Sampel yang layak dalam sebuah penelitian adalah 30 sampai dengan 500, Sugiyono (2009:74). Dalam pengambilan sampling, responden yang dijadikan subyek penelitian sejumlah 100 orang responden konsumen Mailbox.

  51 Alasan pemilihan angka 100 ini adalah agar bisa mendapatkan data dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dan sampling error sebesar 5%. Dalm penelitian ini, maka jumlah sampel yang akan diteliti mengikuti rumus dari Malhotra (2005:364):

  2

  1

  1

  =

  4

  2

  di mana: = Jumlah sampel.

  1 = Batas luar daerah. Nilai Z adalah sebesar 1,96. Angka ini didapat dari

  2

  tabel t student. Karena pada kondisi di mana deviasi standar rata-rata tidak diketahui. Jumlah populasi yang tidak terbatas atau populasi besar akan mengikuti nilai tabel Z.

  E = Kesalahan maksimum yang mungkin dialami.

  Dengan taraf signifikan ( ) sebesar 5% dan kesalahan maksimum yang mungkin terjadi (E) adalah sebesar 10% sedangkan deviasi standar rata-ratanya tidak diketahui, maka besarnya sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak:

  = = 96.04

  Menurut rumus, jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 96 responden dan dibulatkan menjadi 100 orang responden.

  52 Teknik Pengujian Instrumen I.

  Teknik pengujian instrument dapat dilakukan dengan melakukan pengujian Validitas dan Reliabilitas:

  1. Uji Validitas Menurut Simamora (2004: 172) pengujian validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen. Dimana suatu instrumen dianggap valid apabila mampu mengukur apa yang diukur, dengan kata lain mampu memperoleh data yang tepat dari variabel yang diteliti. Semua item yang digunakan mengukur sponsorship dan brand image akan diuji validitasnya menurut Sugiyono (2009:356) dengan menggunakan rumus Product Moment sebagai berikut: di mana :

  : Koefisien korelasi antara X dan Y (product moment) X : Skor item bernomer ganjil Y : Skor item bernomer genap N : Banyaknya sampel uji coba

  Untuk menentukan instrumen itu valid atau tidak maka ketentuannya adalah sebagai berikut :

  53

  a. Jika r hitung = r tabel dengan taraf keyakinan 95 %, maka instrumen tersebut dikatakan valid.

  b. Jika r hitung < r tabel dengan taraf keyakinan 95 %, maka instrumen tersebut dikatakan tidak valid.

  2. Uji Reliabilitas Pengertian reliabilitas menurut Simamora (2004: 177), reliabilitas adalah tingkat kehandalan kuesioner. Kuesioner yang reliabel adalah kuesioner yang apabila dilakukan uji secara berulang- ulang pada kelompok yang sama akan menghasilkan data yang sama.

  Pengujian reliabilitas dianalisis dengan rumus Kuder-Richardson 20, di mana dalam rumus tersebut data yang diperoleh adalah dara dari kuesioner dengan jawaban ya atau tidak (Sugiyono, 2009:361) di mana:

  = reliabilitas internal seluruh instrument

  = =

  54

2 Kriteria pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut: a. Jika r hitung = r tabel maka pernyataan dinyatakan reliabel.

  b. Jika r hitung < r tabel maka penrnyataan dinyatakan tidak reliabel.

   Alat Analisis Data J.

  Dalam menganalisis data, dapat dilakukan dengan cara kualitatif yaitu dengan menggunakan rumus Q Cochran di mana dengan rumus ini data yang akan dihitung berupa data variabel independen yag berbentuk nominal. Data yang dikumpulkan dari 100 sampel dengan teknik kuesioner dengan menggunakan Skala Guttman dalam teknik pengukuran datanya, akan dibagi dalam dua kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 50 responden. dalam penggunaan rumus test Cochran ini, penulis ingin meneliti apakah terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara sponsorship dan

  brand image terhadap volume penjualan.

  55 Rumus Q Cochran (Sugiyono, 2008:76): di mana: Q= Q hitung K= jumlah kelompok

  = Jumlah yang menjawab YA ( jumlah yang mendapat nilai skor 1)

  Li

  = Jumlah yang menjawab YA kelompok I dan II

  2

  = Kuadrat dari Li Hipotesis : Bila Q hitung Q tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

  Ho : Tidak terdapat perbedaan pengaruh antara sponsorship dan brand image terhadap volume penjualan.

  Ha : Terdapat perbedaan pengarug antara sponsorship dan brand image terhadap volume penjualan.

  56

  a. Uji t (t - test) Uji t-test berfungsi untuk mengetahui keterandalan serta kemaknaan dari nilai koefisien regresi ( ), sehingga dapat diketahui

  1,

  2

  apakah sponsorship atau brand image yang secara signifikan berpengaruh terhadap volume penjualan (Y).

  Langkah – langakah pengujian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan hipotesis : Ho= Varians strategi di kedua kelompok sama.

  Ha= Varians strategi di kedua kelompok berbeda.

  2. Menentukan kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis: Dengan taraf signifikansi (a) sebesar 5 %, maka : Uji Varians P > 0,05 : Ho diterima Uji varians P < 0,05 : Ho ditolak dan Ha diterima

  3. Menghitung Nilai Statistik (Sugiyono,2008:116) di mana: T_hitung = nilai yang dicari r = koefisien korelasi antara hipotesis 1 dan hipotesis 2 dengan volume penjualan n = jumlah sampel

  BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Gambaran Umum Mailbox Distro Berawal dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para komunitas-

  komunitas yang ada di Yogyakarta, Aditya Dhenni Kurniawan atau lebih sering disapa mas Adit melihat peluang, di mana hobi atau bakat yang tertuang dalam komunitas tersebut dapat disalurkan dalam sebuah bisnis yang nantinya juga akan membangun komunitas tersebut. Mailbox berdiri pada tanggal 9 Oktober 2003, pada awalnya Mailbox hanyalah kumpulan dari para remaja-remaja yang membentuk sebuah komunitas musik. Dengan berbekal pengetahuannya Adit membuat sebuah distro atau distribution outlet, para remaja yang mempunyai keahlian atau hobi dalah hal desain grafis diminta untuk membuat beberapa contoh sampel desain yang nantinya akan dicetak pada sebuah kaos sebagai medianya. Tapi hal ini tidak hanya dilakukan di Yogyakarta saja, Adit mencari dan membentuk jaringan ke beberapa daerah seperti Semarang, Solo, Jakarta, Surabaya, Bali, Kalimantan dan Bandung sebagai pusat industri pakaian, untuk dapat menampung seluruh kreatifitas dam komunitas yang ada. Dengan demikian komunitas yang penuh dengan

  58

  remaja-remaja kreatif dapat menyalurlan bakat mereka sekaligus memperoleh pemasukan bagi komunitas tersebut.

  Dalam pembangunan Mailbox sendiri, Adit memiliki tempat sendiri di Jalan Gejayan Paviliun 55 Yogyakarta. Dengan modal sendiri sekitar Rp.

  200.000.000,- , Adit dapat membuat sebuah ditro lengkap dengan desain interior yang dapat membuat para pengunjung betah dan nyaman dalam memilih produk yang dijual di Mailbox. Bukan hanya Distro yang dibangun oleh Adit, tapi untuk menampung komunitas yang ada, Adit membangan sebuat café tepat di sebelah Mailbox. Tujuan didirikannya café ini adalah agar komunitas-komunitas musik yang bergabung dengan Mailbox dapat mendiskusikan mengenai acara-acara atau event yang akan diselenggarakan agar dapat menarik para pelanggan Mailbox. Hal ini pula yang membedakan Mailbox dengan Distro lain, karena Mailbox adalah distro sekaligus café yang pertama kali ada di Yogyakarta.

B. Pangsa Pasar Mailbox

  Pasar sasaran Mailbox adalah para pelajar dan mahasiswa yang berusia sekitar 18–25 tahun atau ABC+, di mana Mas Adit mengumpamakan A adalah kalangan menengah atas, B adalah kalangan menengah, dan C adalah kalangan menengah bawah. Jadi, dalam hak pasar sasaran, Mailbox mampu menggapai seluruh lapisan sosial yang ada. Dalam hal pasokan barang yang dipajang dalam show room, mailbox memiliki sekitar 40%

  59

  produk Bandung, 50% produk Yogyakarta dan 10% adalah produk dari kota yang lain. Dalam hal ini Mailbox lebih mengutamakan produ-produk yang ada di Yogyakarta. Dalam hal produk, Mailbox mampu meng-Up date produknya setiap hari, dimana dalam satu desain produk, Mailbox hanya memajang 2 item (limited) di dalam show room, sehingga para konsumen dapat memilih produk dengan desain yang mereka suka tanpa harus ada yang menyamai desain produk yang mereka pilih.

C. Sirkulasi Produk Mailbox Dari Pemasok

  Pemasok atau yang lebih dikenal dengan sebutan label, paling sedikit harus memasok 10 desain produk atau sekitar 20-25 item. Dalam penataan

  layout-

  nya, mailbox menata produk sesuai dengan label sejenis dan produk yang sudah dipajang saat itu tidak dipajang lagi di hari berikutnya, tujuan

  rolling produk ini agar para konsumen yang datang dapat melihat desain

  produknya yang baru setiap harinya. Pihak label yang bekerjasama dengan Mailbox memiliki kesepakatan 1=6, dimana dalam hai ini Mailbox hanya akan mengambil produk yang ditawarkan bila label tersebut memiliki 1 desain dalam 6 produk yang diproduksi dan dari 6 produk tersebut, label tersebut hanya boleh bekejasama dengan 3 distro termasuk Mailbox sendiri. Hal ini menghindari lunturnya idealis dari Mailbox sendiri, dimana bila suatu produk di produksi secara masal maka terdapat kemungkinan para konsumen akan mencari desain lain yang lebih menarik dan pada akhirnya produk yang telah

  60

  diproduksi secara masal tersebut akan dijual dengan istilah “sale” atau discount.

  Hal inilah yang sangat di sayangkan Mas Adit, dimana distro adalah sebuah kumpulan dari komunitas remaja yang memiliki talenta, bakat dan kreatifitas tinggi yang layak untuk dihargai, bukan untuk dijual dengan murah.

D. Produk yang Ditawarkan Mailbox

  Dalam memproduksi produk, Mailbox sangat memperhatikan kualitas produknya. Hal ini dilakukan dengan cara pengujian produk sampel yang dikenakan oleh karyawan Mailbox sendiri selama beberapa hari untuk mengetahui kualitas dari bahan, warna, jahitan ataupun kualitas sablon yang digunakan pemasok dalam produknya. Adapun jenis-jenis produk yang ditawarkan Mailbox dapat dilihat pada tebel berikut:

Tabel 4.1 Jenis Produk Mailbox

  No. Jenis Produk Model Bahan

  1. Kaos (T-shirt) Lengan pendek, lengan panjang, polo t-shirt Katun 100%

  2. Kemeja Lengan pendek, lengan panjang, lengan 3/4 Katun 100%

  3. Celana Pendek, panjang dan boxer Katun, polyster, kanvas, denim

  4. Jaket dan Sweater Standar, pakai topi, pakai zipper Katun, polyster, kanvas, denim

  5. Sandal dan Sepatu Standar Kain dan kulit.

  6. Tas Tas punggung dan tas samping Kain.

  7. Aksesoris (topi, dompet, ikat pinggang, pin,gelang)

  Standar Katun, polyster, kanvas, denim, pelastik.

  8. CD dan Kaset Band Indie Yogyakarta Sumber: Mailbox, 2009

  61 Sponsorship yang dilaksanakan Mailbox Distro E.

  Setiap perusahaan distro yang telah mampu memperkenalkan atau menunjukkan karakter distro itu sendiri ataupun karakter dari setiap produknya, tentu merupakan salah satu hal yang dapat membuktikan bahwa distro tersebut sudah cukup baik menanamkan image di pikiran para konsumennya. Mailbox distro yang memiliki karakter berbeda dengan distro lainnya, perbedaan karakter tersebut terletak dalam hal desain pakaian yang diproduksi dan lifestyle remaja penggemar musik beraliran pop alternative. Dalam memperkenalkan nama Mailbox dan produk yang ditawarkan, Mailbox telah melakukan berbagai kegiatan promosi baik melalui media cetak ataupun elektronik. Sponsorship merupakan salag satu strategi yang saat ini sedang dilakukan oleh Mailbox. Pada tahun 2010 ini, Mailbox terpilih menjadi koordinator pendaftaran salah satu ajang pencarian bakat musik LA Indiefest

  2010 . Dalam hal ini Mailbox mensponsori ajang pencarian bakat musik yang

  dilaksanakan, bukan mensponsori merek produk yang menaungi ajang pencarian bakat tersebut. Mailbox bertindak sebagai panitia yang menampung seluruh demo lagu dari setiap kelompok band indie yang ada di wilayah Yogyakarta. Selain itu, Mailbox juga melakukan sponsor dengan cara menyediakan produk yang nantinya akan digunakan para crew dalam ajang pencarian bakat tersebut. Dengan memilih sponsorship sebagai strategi promosinya, Mailbox diharapkan lebih mampu memperkenalkan nama Mailbox dan produknya sehingga dapat meningkatkan penjualan.

  62 Struktur Organisasi Mailbox F.

  Struktur organisasi perusahaan adalah gambaran hubungan antar fungsi- fungsi, bagian-bagian maupun orang-orang yang memiliki tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda dalam organisasi. Dengan adanya struktur organisasi dapat menghindarkan timbulnya ketidakjelasannya hubungan yang mengakibatkan banyak kerugian seperti lepasnya tanggung jawab, pekerjaan yang tidak efisien, ketidakjelasan dalam pengambilan keputusan, dan kesimpangsiuran deskripsi pekerjaan yang ahrus di jalankan. Adapun truktur organisasi Mailbox merupakan struktur organisasi garis dan staff, dimanadalam struktur organisasi perusahaan ini, kekuasaan dan tanggung jawab dari atasan berjalan secara vertical, di samping itu ada pula orientasi-orientasi kesamping yaitu tenaga staff digunakan untuk membantu atau mengawasi bagian-bagian lain yang bersifat horizontal. Dalam struktur oragnisasi Mailbox terdapat 1 orang manager, 1 orang Finance Manager, 1 orang Marketing manager, 1 orang HRD manager, 2 orang Store manager, 18 orang front land dimana terdapat 8 orang front land tetap dan 10 orang front land tidak tetap serta 2 orang officeboy. Struktur organisasi Mailbox dapat dilihat pada gambar berikut ini.

  63 Gambar 4.1. Struktur Organisasi Mailbox

  Sumber: Mailbox, 2009 General

  Manager Finance Manager Marketing Manager HRD Manager

  Store Manager (Supervisor)

  Officeboy Front Land Front Land Front Land

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh

  sponsorship

  dan brand image Mailbox Distro Yogyakarta terhadap volume penjualan. Dalam penelitian ini terdapat 100 responden yang dimintai keterangan seputar hal sponsor dan brand Mailbox, dimana 50 responden dimintai keterangan mengenai sponsorship dan 50 responden dimintai keterangan mengenai brand image Mailbox. Dalam hal sponsorship penilaian didasarkan pada bagaimana Mailbox mampu mengkomunikasikan sebuah pesan yang terkandung dalam sebuah event yang secara tidak langsung juga memperkenalkan Mailbox dan produk yang terdapat di dalamnya. Dalam hal brand image, penilaian didasarkan kepada apakah Mailbox sesuai dengan budaya remaja saat ini, dimana terdapat Mailbox adalah sebuah distro yang mampu manampung kreativitas remaja lokal yang akan memberikan nilai tersendiri dari hasil karya remaja lokal tersebut. Sesuai dengan permasalahan dan perumusan masalah yang telah dikemukakan, serta kepentingan pengujian hipotesis, maka teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif yang membahas mengenai karakteristik responden dan analisis kuantitatif untuk menjawab kepentingan hipotesis secara lebih konkret dan pasti dengan perhitungan statistik, analisis kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: analisis

  sponsorship dan brand image dan pengujian hipotesis dengan Q Cochran.

  65 A. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

  Correlation

  , dihitung dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS versi 13. Item pertanyaan dinyatakan valid apabila memiliki nilai r hitung > r tabel .

  Hasil uji validitas dengan metode Pearson Correlation dapat dilihat Tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1 Hasil Uji Validitas

  Variabel Butir Koefisien

Korelasi

Keterangan

  Sponsorship Sp1 Sp2 Sp3 Sp4 Sp5 Sp6 Sp7 Sp8 Sp9 Sp10

  

0,550

0,590

0,551

0,288

0,151

0,361

0,582

0,630

0,485

0,594

  Pengujian validitas dilakukan berdasarkan analisis item yaitu mengkorelasikan skor setiap item dengan skor variabel (hasil penjumlahan seluruh skor item pertanyaan). Teknik korelasinya memakai Pearson

  Valid Valid Valid Valid

  Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid

  Brand Image Bi1 Bi2 Bi3 Bi4 Bi5 Bi6 Bi7 Bi8 Bi9 Bi10

  

0,419

0,456

0,466

0,364

0,542

0,507

0,470

0,604

0,555

0.536

  0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279

  Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

  Sumber : Data Primer diolah, 2009

  0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279 0,279

  66 Seperti telah dikemukakan pada Tabel 5.1 diperoleh nilai koefisien

  korelasi pada butir pertanyaan 5 pada variabel sponsorship < r

  tabel

  , maka butir instrumen 5 pada sponsorship penelitian tersebut dinyatakann tidak valid, sedangkan pada butir pertanyaan lain baik yang berhubungan dengan

  sponsorship

  dan brand image dinyatakan valid karena diperoleh koefisien korelasi > , sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tertuang dalam angket penelitian dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.

2. Uji Reliabilitas

  Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung besarnya nilai Kuder-Richardson 20 instrumen dari masing- masing lima dimensi yang diuji. Apabila nilai Kuder-richardson 20 lebih besar dari 0,05, maka jawaban dari para responden pada kuesioner sebagai alat pengukur dinilai dinyatakan reliabel. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 5.2

Tabel 5.2 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Kuder Richardson-20 Keterangan

  Sponsorship 0,60 0,284 Reliabel Brand Image 1,01 0,284 Reliabel

  Sumber : Data Primer diolah, 2009

  67 Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang terangkum dalam tablel 5.1

  maka dapat diketahui nilai Kuder Richardson-20. Di mana nilai Kuder

  Richardson-20

  sponsorship = 0,60 dan nilai Kuder Richardson-20 brand

  image

  = 1,01 maka kuesioner yang diuji coba terbukti reliable. Sehingga butir-butir pertanyaan dalam variabel penelitian dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.

B. Karakteristik Responden

  Analisis karakteristik responden digunakan untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik responden yang diteliti, kemudian dilakukan pengolahan terhadap data kasar melalui perhitungan statistik deskriptif. Data analisis responden ini diklasifikasikan berdasarkan :

   Jenis Kelamin Responden 1.

  Berdasarkan jenis kelamin, responden dalam penelitian ini dibedakan menjadi prai dan wanita. Hasil analisis data berdasarkan jenis kelamin dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini:

  Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

  

Jenis Kelamin Jumlah Persentase

  Pria 56 56% Wanita 44 44%

  Total 100 100%

  Sumber : Data Primer diolah, 2009

  68 Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar

  responden berjenis kelamin pria yaitu sebesar 56 orang atau sebesar 56% responden dan sisanya adalah wanita yaitu sebanyak 44 orang atau sebesar 44% responden. Berdasarkan tabel di atas kebanyakan konsumen dari Mailbox Distro adalah pria.

   Usia Responden 2.

  Berdasrakan usia,responden dibagi dalam 5 kelompok usia. Hasil analisis responden berdasarkan tingkatan usia dapat ditunjukkan dalam tabel berikut:

  Tabel 5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkatan Usia

  Usia Jumlah Persentase

  15 tahun 0%

  15-18 tahun 42 42% 19-22 tahun 48 48% 23-25 tahun 9 9%

  >25 tahun 1 1%

  Total 100 100%

  Sumber: Data Primer diolah, 2009 Berdasarakan table 5.4 di atas, dapat di lihat bawa responden dengan tingkatan usia 15 tahun tidak ada, responden dengan tingkatan usia antara

  15-18 tahun sebanyak 42 orang dengan persentase 42%, responden dengan tingkatan usia antara 19-22 tahun sebanyak 48 orang dengan persentase 48%, responden dengan tingkatan usia antara 23-25 tahun sebanyak 9 orang dengan persentase 9% dan responden dengan tingkatan usia >25 tahun sebanyak 1

  69

  orang dengan persentase 1%. Jadi dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan baha konsimen Mailbox rata-rata berada pada tingkatan usia antara 19-22 tahun.

   Profesi Responden 3.

  Berdasarkan profesi, responden dalam penelitian ini dibagi dalam 5 kelompok profesi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5.5

  Karakteristik Responden Berdasarkan Profesi

  Profesi Jumlah Persentase

  Pelajar 43 43% Mahasiswa 57 57%

  Karyawan 0%

  Wiraswasta 0%

  Lain-lain 0%

  Total 100 100%

  Sumber: Data Primer diolah, 2009 Berdasarkan profesi yang ditekuni responden, responden dengan profesi pelajar sebanyak 48 orang dengan persentase sebesar 43%, responden dengan profesi mahasiswa sebanyak 57 orang dengan persentase sebesar 57% dan responden dengan profesi karyawan, wiraswasta atau lain-lain tidak ada atau sebesar 0%. Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa pelanggan mayoritas Mailbox adalah mahasiswa yaitu sebesar 57%.

  70 Pengeluaran rata-rata Responden dalam satu bulan 4.

  Berdasarka pengeluaran rata-rata responden dalam satu bulan peneliti membaginya ke dalam 5 kelompok yang dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 5.6

  Karakteristik Responden Berdasarka Pengeluaran Rata-rata Perbulan

  Total Pengeluaran Perbulan Jumlah Persentase

  <Rp.500.000,- 32 32% Rp.500.000,- - Rp 999.000,- 64 64%

  Rp.1.000.000,- - Rp 1.499.000,- 2 2% Rp.1.500.000,- - Rp.2.000.000,- 2 2%

  >Rp.2.000.000,- 0%

  Total 100 100%

  Sumber :Data Primer diolah,2009 Berdasarkan pengeluaran rata-rata responden dalam 1 bulan, sebanyak 32 orang atau sebesar 32% responden memiliki pengeluaran sebesar

  <Rp.500.000,- dalam satu bulan, sebanyak 64 orang atau sebesar 64% responden memiliki pengeluaran antara Rp.500.000,- - Rp.999.000,- dalam satu bulan, sebanyak 2 orang atau sebesar 2% responden memiliki pengeluaran antara Rp.1.000.000,- - Rp.1.499.000,- dalam satu bulan, sebanyak 2 orang atau sebesar 2% responden memiliki pengeluaran antara Rp.1.500.000,- - Rp.2000.000,- dalam satu bulan dan tidak ada responden yang memiliki pengeluaran dalam satu bulan >Rp.2.000.000,- atau sebesar 0%. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat 64 orang atau sebesar 64% konsumen Mailbox memilki pengeluaran antara Rp.500.000,- - Rp 999.000,- dalam satu bulan.

  71 Frekuensi Kunjungan Responden dalam Satu Bulan 5.

  Berdasarkan frekuensi kunjungan responden dalam satu bulan, peneliti membagi dalam 5 kelompok yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.7

  Karakteristik Responden Berdasarkan Frekuensi kunjungan dalam Satu Bulan

  Frekuensi Kunjungan Jumlah Persentase

  1 kali 31 31% 2 kali 47 47% 3 kali

  7 7% 4 kali 4 4%

  Lain-lain 11 11%

  Total 100 100%

  Sumber: Data Primer diolah, 2009 Berdasarkan frekuensi kunjungan daam satu bulan, terdapat 31 orang atau sebesar 31% responden yang melakukan kunjungan sebanyak 1 kali dalam satu bulan, terdapat 47 orang atau sebesar 47% responden yang melakukan kunjungan sebanyak 2 kali dalam satu bulan, terdapat 7 orang atau sebesar 7% responden yang melakukan kunjungan sebanyak 3 kali dalam satu bulan, terdapat 4 orang atau sebesar 4% responden yang melakukan kunjungan sebanyak 4 kali dalam satu bulan dan terdapat 11 orang atau sebesar 11% responden yang melakukan kunjungan lebih dari 4 kali setiap bulannya. Dari analisis di atas dapat disimpulkan terdapat 47 orang atau sebesar 47% responden melakukan kunjungan rata-rata 2 kali dalam sebulan.

  72 Sumber Mengenal Nama Mailbox 6.

  Berdasarkan sumber dari mana Mailbox dikenal, peneliti membaginya dalam 5 kelompok yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.8

  Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Mengenal Nama Mailbox

  Sumber Jumlah Persentase

  Teman / saudara 78 78% Brosur 12 12%

  Poster 10 10% Baliho

  0% Selebaran

  0%

  Total 100 100%

  Sumber: Data Primer diolah, 2009 Berdasarkan sumber dari mana nama Mailbox dikenal terdapat 78 orang atau sebesar 78% responden mengenal Mailbox dari teman / saudara, terdapat 12 orang atau sebesar 12% responden mengenal Mailbox dari brosur, terdapat 78 orang atau sebesar 78% responden mengenal Mailbox dari poster dan tidak diperopleh data dimana responden mengenal Mailbox dari baliho atau selebaran atau sebesar 0%. Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat 78 orang atau sebesar 78% responden mengenal Mailbox dari teman/ saudara.

  73 Jumlah Item yang Dibeli Setiap Kunjungan 7.

  Berdasarkan jumlah item yang dibeli setiap kunjungan, peneliti membaginya dalam 5 kelompok yang dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 5.9

  Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Item yang Dibeli Setiap Kunjungan

  

Jumlah Item Jumlah Persentase

  1 item 34 34% 2 item 39 39% 3 item

  2 2% 4 item 2 2%

  Lain-lain 23 23%

  Total 100 100%

  Sumber: Data Primer diolah, 2009 Berdasarkan jumlah item produk yang dibeli konsumen dalam 1 kali kunjungan terdapat 34 orang atau sebesar 34% responden yang membeli 1 item produk setiap kali kunjungan, terdapat 39 orang atau sebesar 39% responden yang membeli 2 item produk setiap kali kunjungan, terdapat 2 orang atau sebesar 2% responden yang membeli 3 item produk setiap kali kunjungan, terdapat 2 orang atau sebesar 2% responden yang membeli 4 item produk setiap kali kunjungan dan terdapat 23 orang atau sebesar 23% responden yang hanya melihat-lihat produk yang ditawarkan, sehingga bila mereka mendapatkan produk yang sesuai selera mereka maka mereka akan membeli produk tersebut. Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa

  74

  terdapat 39 orang atau sebesar 39% responden yang melakukan pembelian sebanyak 2 item produk setiap kali kunjungan.

C. Analisis Kuantitatif

1. Uji Cochran

  yang diselenggarakan atau disponsori Mailbox, terdapat beberapa cara yang sudah mampu Mailbox terapkan dalam mengkomunikasian baik pesan dalam event tersebut, perusahaan ataupun produk yang terdapat di dalamnya. Cara yang diterapkan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

  Tabel 5.10

  Descriptive Statistics

  Sumber: Data Primer diolah, 2009

  N Mean Std. Deviation Minimum Maximum sponsor1 50 .60 .495

  1 sponsor2 50 .74 .443

  event

  1 sponsor4 50 .82 .388

  1 sponsor6 50 .40 .495

  1 sponsor7 50 .48 .505

  1 sponsor8 50 .58 .499

  1 sponsor9 50 .40 .495

  1 sponsor10 50 .44 .501

  1

  Berdasarkan data yang didapat dari responden mengenai cara pengkomunikasian Mailbox dalam setiap event yang diselenggarakan atau disponsori Mailbox, peneliti menerapkan 9 cara yang sudah diuji kevalidan datanya. Di mana hasil dari 9 cara pengkomunikasian Mailbox dalam setiap

  1 sponsor3 50 .50 .505

  75 Dari tabel descriptive statistics di atas, memaparkan pernyataan 50

  responden dari 100 sampel, yang menyatakan hal-hal apa saja yang perlu

  sponsorship event

  diperhatikankan dalam yang dilakukan guna mengkomunikasikan maksud yang ada dalam event tersebut dan memperluas pangsa pasar Mailbox. Dari hasil tersebut dapat dilihat nilai rata-rata standar deviasi serta nilai maksimum dan minimum. Nilai minimum= 0, berarti prosedur tersebut gagal mengkomunikasikan Mailbox kepada konsumennya dan nilai maksimum= 1, berarti prosedur tersebut berhasil

  mean

  mengkomunikasikan Mailbox kepada konsumennya. Kolom menunjukkan nilai rata-rata keberhasilan pengkomunikasian Mailbox pada prosedur sponsor 4 dimana, acara-acara yang yang disponsori Mailbox adalah acara-acara yang sesuai dengan jiwa remaja. Sedangkan pada prosedur sponsor 6 dan sponsor 9 yang menunjukkan nilai rata-rata bahwa Mailbox kurang mampu mengkomunikasikan pesan dalam setiap event yang diselenggarakan, sehingga pesan yang seharusnya mampu menarik para pelanggan yang baru tidak sampai pada pelanggan baru tersebut.

  76 Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Q Cochran, dapat

  dilihat dari tabel statistik berikut: Tabel 5. 11

  Test Statistics

  N

  50 Cochran's Q 42.681(a) df

  8 Asymp. Sig. .000 a 0 is treated as a success. Sumber: Data primer diolah, 2009

  Dari hasil uji Q Cochran di atas, dapat dilihat dari Q Cochran (42,681)

  2

  dengan pendekatan nilai tabel = 15,507. Q Cochran > . Bila dilihat

  (8;0,05)

  dari hasil sig. Q hitung sebesar 0.000 < 0.05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan terdapat perbedaan proporsi keberhasilan Mailbox dalam mengkomunikasikan pesan dalam event yang diselenggarakan. Shimp (2000), menyebutkan memang terdapat perbedaan antara sponsorship

  Sponsorship event

  dan image yang ditimbulkannya. yang dilakukan perusahaan akan lebih berpengaruh terhadap penjualan. Dalam melakukan

  sponsorship

  , perusahaan harus mampu memilih event yang sesuai agar

  sponsorship event

  yang dilakukan dapat mencapai target pasar yang diinginkan perusahaan.

  Besarnya tingkat penjualan yang dipengaruhi oleh sponsorship yang dipaparkan dalam studi ini sejalan dengan hasil penelitian Dian (2009) yang

  77

  meneliti mengenai penerapan strategi promosi dalam upaya peningkatan volume penjualan pada sebuah hotel. Dalam penelitiannya terdapat perbedaan yang signifikan di antara seluruh strategi promosi yang digunakan hotel

  Sponsorship

  tersebut. merupakan salah satu alat promosi yang turut digunakan dan manunjukkan bahwa sponsorship yang dilakukan dapat meningkatkan penjualan. Sebagai salah satu variabel penelitiannya

  1 sponsorship merupakan salah satu alat promosi terbaik setelah iklan.

  Dalam setiap kegiatan promosi, perusahaan tidak selalu berhasil dalam kegiatan promosi tersebut, Dedy (2009) meneliti adanya ketidak seimbangan antara biaya promosi dengan volume penjualan yang dihasilkan. Dalam penelitiannya, Dedy meneliti pengaruh biaya promosi di mana sponsorship menjadi salah satu alat promosinya yang menghasilkan ketidak seimbangan biaya promosi terhadap volume penjualan yang ditargetkan. Dengan kata lain

  2

  penelitian dalan studi ini berbeda dengan penelitian Dedy. Seperti yang dipaparkan pada landasan teori, sponsorship dilakukan pada event olahraga,

  1 Nurliawati, Dian,(2009). Penerapan Strategi PromosiDalam Upaya Peningkatan Volume Penjualan

  • , diakses tanggal 18 November2009

  2 Kurniawan, Dedy. (2009). Analisis Pengaruh Promosi Terhadap Volume Penjualan

PDF.pengaruh+sponsor+terhadap+volume+penj

ualan.php. diakses tanggal 18 November 2009

  78

  konser musik dan festival bahkan pameran-pemeran, di mana biasanya dalam

  event

  tersebut memiliki pesan-pesan untuk kepentingan masyarakat, perlindungan lingkungan dan penggalangan dana, bahkan pengkomunikasian yang dilakukan untuk dapat menarik rekan kerja yang pada bidang yang sama sehingga biaya yang digunakan untuk kegiatan promosi tidak terbuang percuma (Shimp,2009).

  Berdasarkan pernyataan 50 responden dari 100 sampel, yang menyatakan hal-hal apa saja yang harus dilakukan dalam mempertahankan citra Mailbox yang relatif dikenal baik oleh konsumen tetapnya ataupun konsumen baru, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat penjualan yang ada di Mailbox. Dalam hal brand, Mailbox sudah memiliki nama yang cukup dikenal oleh konsumen distro di Yogyakarta, hal ini dapat dilihat dari produknya yang cukup dikenal, harga dan kualitas yang sesuai dan memilki ciri khas dalam produknya.

  Dari data tersebut ada beberapa hal yang nantinya harus di perhatikan Mailbox lebih lanjut agar dapat selalu mempertahankan brand image-nya atau citra mereknya. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil anemo konsumen Mailbox dengan hasil sebagai berikut

  79 Tabel 5.12 Descriptive Statistics

  N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Bi1 50 .64 .485

  1 Bi2 50 .64 .485

  1 Bi3 50 .66 .479

  1 Bi4 50 .78 .418

  1 Bi5 50 .58 .499

  1 Bi6 50 .86 .351

  1 Bi7 50 .70 .463

  1 Bi8 50 .42 .499

  1 Bi9 50 .24 .431

  1 Bi10 50 .28 .454

  1 Sumber: Data Primer diolah, 2009

  Dari data di atas, dapat dilihat nilai rata-rata standar deviasi serta nilai maksimum dan minimum. Nilai minimum = 0, berarti Mailbox gagal mempertahankan citranya sebagai distro yang cukup dikenal konsumennya dan nilai maksimum= 1, berarti Mailbox berhasil mempertahankan citranya sebagai distro yang relatif dikenal remaja Jogja sebagai pasar sasarannya. Kolom mean menunjukkan nilai rata-rata terbesar dari cara Mailbox mempertahankan citranya terdapat pada prosedur Bi6, di mana produk-produk di Mailbox mencerminkan gaya hidup remaja di Yogyakarta dan nilai rata- rata terendah dari cara Mailbox mempertahankan citranya terdapat pada prosedur Bi9, dimana rata-rata pelanggan Mailbox tidak selalu mengikuti perkembangan mode (desain produk) yang ada di Mailbox.

  80 Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Q Cochran, dapat

  dilihat dari tabel statistik berikut: Tabel 5.13

   Test Statistics

  N

  50 Cochran's Q 87.588(a) df

  9 Asymp. Sig. .000 a 1 is treated as a success. Sumber: Data Primer diolah, 2009

  Dari hasil uji Q Cochran di atas, dapat dilihat dari Q Cochran (87,588)

  2

  dengan pendekatan nilai tabel = 15,507. Q Cochran > dan dari sig Q

  (8;0,05)

  hitung sebesar 0,000 < 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan terdapatnya perbedaan proporsi keberhasilan Mailbox dalam mempertahankan citranya sebagai distro yang mempunyai ciri khas tersendiri dan mampu diingat oleh para konsumennya dan menunjukkan bahwa brand

  image yang dimiliki Mailbox memiliki pengaruh terhadap volume penjualan.

  Dari hasil uji Q Cohran di atas, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sponsorship atau cara mengkomunikasikan Mailbox dalam setiap event-nya dan dari cara Mailbox sendiri dalam mempertahankan brand image atau citra mereknya di komunitasnya atau di

  81

  pikiran para konsumennya. Dalam hal ini, Mailbox harus mampu mengkomunikasikan sebuah pesan bahwa Mailbox adalah tempat berkumpulnya remaja yang aktif, kreatif dan dinamis, di mana kreatifitas tersebut memiliki keunikan dan memiliki value atau nilai yang patut diberi harga yang pantas sehingga akan memiliki citra yang sangat unik di pikiran konsumennya dan nantinya akan berpengaruh kepada tingkat penjualan Mailbox sendiri.

  Sama halnya dengan citra perusahaan yang terbentuk dari kegiatan promosi yang dilakukan perusahaan dari awal berdirinya perusahaan. Citra yang terbentuk dalam benak konsumen adalah iklan tersendiri bagi pelanggan (Silviana,2008). Brand yang baik, yang berbeda dari kompetitornya, yang merepresentasikan unique selling point dari produknya, yang tidak mudah dilupakan oleh pelanggan. Dalam Mailbox hal ini yang sangat mereka perhatikan unik adalah salah satu keunggulan Mailbox. Dalam hal pembentukan brand terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: Bagaimana kompetitor mempositioningkan produk mereka? Bagaimana strategi penamaan produk mereka? Apakah ada kesamaan di antara mereka? Apakah ada opportunity yang dapat dimanfaatkan yang mampu membuat produk kita terlihat berbeda dibandingkan dengan produk lain? (Silviana,2008). Hal ini yang membuat perbedaan pembentukan brand yang nantinya berpengaruh terhadap tingkat penjualan yang dihasilkan. Dalam

  82

  pembentukan brand-nya, Mailbox lebih memilih berbeda dengan produk sejenis di mana dalam hal tersebut Mailbox mampu memproduksi produk

  3 yang unik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggannya.

   Uji t 2.

  Dari data yang terkumpul yang berhubungan dengan sponsorship dan

  brand image

  Mailbox, maka dapat dilihat perbedaan antara sponsorship dan

  brand image

  yang dikenal oleh para konsumennya. Kedua hal tersebut akan lebih diperkuat oleh hasil uji t, dimana dalam pengujian ini akan lebih memperjelas seberapa besarkah pengaruh sponsorship Mailbox dan brand

  image

  Mailbox terhadap tingkat penjualannya, dan mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh lebih besar. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil Uji t dengan menggunakan program SPSS versi 13 dalam tabel berikut:

  Tabel 5.14

  Group Statistic

  Kelompok N Mean Std. Std. Error Deviation Mean

  Alat Sponsorship

  9 27.56 7.435 2.478 Brand image

  10 29.00 10.242 3.239 Sumber: Data Primer diolah, 2009

3 Silviana,Marlin.(2008).TeknikPembangunanCitraTerbaik.http://digilib.usu.ac.id/index.php/componen

  . diakses tanggal 18 November 2009

  83 Berdasarkan tabel 5.14 di atas di mana rata-rata tingkat pengaruh sponsorship

  sebesar 27,56 lebih rendah dari brand image sebesar 29,00 dengan standar deviasi sponsorship sebesar 7,435 lebih kecil dibandingkan

  brand image

  sebesar 10,242. Dilihat dari mean dan standar deviasi dari masing-masing variabel, sponsorship memiliki varian yang lebih homogen dibandingkan dengan brand image Mailbox yang mempengaruhi volume penjualan Mailbox.

  Tabel 5.15

  Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means

  95% Confidence Interval of the Difference Mean Std. Error

  F Sig. t df Sig. (2-tailed) Difference Difference Lower Upper Alat Equal variances .791 .386 -.348 17 .732 -1.444 4.149 -10.198 7.309 assumed

  Equal variances

  • .354 16.328 .728 -1.444 4.078 -10.076 7.187 not assumed

  Sumber: Data Primer diolah, 2009 Berdasarkan hasil Uji t dengan menggunakan SPSS versi 13, dapat dilihat dari tabel 5.15 di mana dalam kolom Independent Samples Test yang pertama dapat dilihat dari nilai sig. (0,386) > (0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak yang menunjukkan bahwa kedua strategi yang digunakan memiliki varian yang sama. Bila dilihat dari kolom Independent Samples Test yang kedua, sig.(2-tailed) equals variances assumed dan sig.(2-tailed) equals

  84 variances not assumed

  dapat dilihat dari nilai df sebesar 0.732 dan 0,728 > 0.05 yang menunjukkan terdapatnya perbedaan sponsorship dan brand image terhadap volume penjualan. Dilihat dari t-hitung sebesar -0,348 (negative) < 0,05 menunjukkan bahwa brand image tidak memiliki perbedaan varian dengan sponsorship yang dilakukan Mailbox.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan A. Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil analisis data penelitian tentang

  pengaruh sponsorship dan brand image terhadap volume penjualan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara sponsorship dan

  brand image

  , dimana dalam hal pengkomunikasian yang dilakukan Mailbox dalam setiap event yang disponsori dan brand image Mailbox yang identik dengan produk yang unik dan mampu memenuhi kebutuhan gaya hidup remaja sebagai pangsa pasarnya sehingga mampu menarik pelanggan baru untuk dapat lebih meningkatkan penjualannya.

  2. Hasil pengujian signifikansi pengaruh individual tiap variabel bebas dengan Uji t menunjukkan bahwa sponsorship dan brand image memiliki varian yang sama terhadap volume penjualan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua variabel independen terhadap variabel dependen.

  Brand image

  Mailbox memiliki varian yang heterogen dibandingkan dengan sponsorship yang memiliki varian lebih homogen. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Mailbox harus mampu

  brand image

  mempertahankan _nya dan harus lebih mampu

  86

  mengkomunikasikan setiap hal yang dimaksudkan dalam setiap event yang diselenggarakan atau disponsori oleh Mailbox.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat dikemukakan penulis bagi pihak pemasar atau bagi pihak lain yang terkait dengan pemasaran produk dan juga bagi peneliti selanjutnya. Saran tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Bagi perusahaan Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kedua variabel (sponsorship dan brand image) memiliki pengaruh yang berbeda terhadap volume penjualan. Di mana dalam hal sponsorship sendiri Mailbox harus lebih mampu mengkomunikasikan sebuah pesan dengan cara memilih

  event

  yang sesuai dengan identitas Mailbox yang dapat menarik para pelanggannya yang secara langsung mengikuti setiap event yang mereka sponsori. Dalam hal brand image, Mailbox harus terus mampu mempertahankan image yang unik dalam setiap produknya sehingga mampu memenuhi kebutuhan serta gaya hidup para remaja sebagai sasaran utama mereka.

  87

  2. Bagi peneliti selanjutnya Pada penelitian ini diketahui bahwa variabel sponsorship dan brand image memiliki pengaruh yang mampu meningkatkan volume penjualan.

  Sehingga diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan hal-hal lain apa saja yang mampu meningkatkan volume penjualan Mailbox.

   Keterbatasan Penelitian C.

  Penulis sudah berusaha sebaik dan semaksimal mungkin, namun penulis menyadari akan keterbatasan yang penulis lakukan dalam penelitian ini yaitu :

  1. Hasil dari penelitian ini belum sempurna, karena keterbatasan peneliti dalam hal waktu dan pengetahuan. Di samping itu penulis belum mempunyai pengalaman dalam menulis karya ilmiah, maka dalam hal pengkajian teori, pengolahan data, dan menganalisis data, penulisan skripsi ini jauh dari sempurna.

  2. Dalam penelitian ini penulis tidak dapat memastikan kebenaran data yang diperoleh dari responden, karena data diperoleh dengan membagikan kuesioner kepada responden sehingga kemungkinan dalam memberikan jawaban kurang maksimum karena ketidak sungguhan responden dalam mengisi kuesioner.

  

DAFTAR PUSTAKA

Aaker, David A.(1996). Building Strong Brands. New York: The Free Press.

  Adiwijaya, Michael, (2007). Analisa Strategi Reposisi Merek Dalam Persaingan Pasar, diakses tanggal 9 September 2009

  Belch, George E. & Michael A. Belch. (2004). Advertising and Promotion; An

  Integrated Marketing Communications Perspective

  . Fourth Edition. McGraw- Hill: Boston. Donnelly, James H. (2007). Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Erlangga Fandi, Tjiptono, (2005), Brand Management & Strategy, Penerbit Andi, Jogyakarta Farrah, Fajrianthi Zatul, (2005). Strategi Perluasan Merek dan Loyalitas Konsumen,

  

  ,diakses tanggal 9 September 2009 Foster, Douglas W (2001). Prinsip-Prinsip Pemasaran Manajemen Yang Sukses di

  Negara Berkembang , Seri Manajemen No. 50, BPFE UGM, Yogyakarta. Indotextiles.com,(2009) kick.hmtl,

  diakses tanggal 20 April 2009 Jefkins, Frank.(2004). Public Relation. (Edisi Keempat).Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama Erlangga.

  Keegan, Warren J. And Green, Mark S. (2005). Global Marketing. Second Edition.

  New Jersey : Printice-Hall. Kotler, Philip, (2000), Manajemen Pemasaran, Jilid 1, Edisi Milenium, Jakarta, Prehallindo.

  Kotler, Philip dan Gary Armstrong, (2003), Dasar-dasar Pemasaran, Jilid 1, Edisi

  Kesembilan , Jakarta, PT Indeks Gramedia.

  .Kotler, Philip dan Swee Hoon Ang, Siew Meng Leong, Chin Tiong Tan.( 2003)

  Manajemen Pemasaran.Sudut Pandang Asia. Indeks, Jakarta.

  Kotler, P. (2003). Marketing Management (11th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc. Kotler, P. (200)5. Kellog on Branding: The Marketing Faculty of the Kellog School of Management . New Jersey: John Wiloy and Soons, Inc, Hoboken.

  Kotler, P. and Kelvin Lane Keller, (200)6 Marketing Management, 12nd ed.New Yersey, Pearson Education. Kotler, Philip dan A. B. Susanto, (2000) Manajemen Pemasaran Indonesia, Alih

  Bahasa oleh Ancella Anitawati dan Hermawan, Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Empat

  Kurniawan, Dedy. (2009). Analisis Pengaruh Promosi Terhadap Volume Penjualan PDF.pengaruh+sponsor

  • terhadap+volume+penjualan.php. diakses tanggal 18 November 2009 Malcom, H.B, McDonald dan Keagen W.J. (2000). Manajemen Pemasaran, Cetakan Pertama, Salemba Empat, Jakarta.

  Malhotra, N. K. (2005). Riset Pemasaran: Pendekatan Terapan. Edisi Keempat.

  Jakarta: Penerbit Indeks.

  Media effect in commercial sponsorship, Meenaghan, Toni, (1999).

  ,diakses tanggal 9 September 2009

  Nurliawati, Dian,(2009). Penerapan Strategi PromosiDalam Upaya Peningkatan Volume Penjualan Pada Hotel Quality Solo, , diakses tanggal 18 November2009

  Pujiyanto, (2003). Strategi Pemasaran Produk Melalui Media Periklanan,

  ,

  diakses tanggal 9 September 2009 Rangkuti, Freddy, (2004), The power of brands: Teknik mengelola brand equity &

  strategy pengembangan merek plus analisa kasus dengan SPSS

  . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

  Rossister JR dan L Percy, (1998). Advertising Communications & Promotion

  Managemen . Singapore: McGraw-Hill Book Co-Singapore.

  Rumambi, Leonid Juliyan, (2007). Faktor yang Mempengaruhi Sikap Audience Terhadap

  Product/ Brand Placement ,

  , diakses tanggal 9 September 2009 Santoso,Verawati, (2003). Factory Outlet dan Beberapa Gejala Baru dari Pembelian

  Konsumen Shopping di Surabaya , http://zeventina.multiply.com/journal/item/307,

  diakses tanggal 27 Agustus 2009 Shimp, Terence A . (2000) . Periklanan Promosi: aspek tambahan komunikasi pemasaran terpadu.

  Jakarta: Erlangga Shimp, Terence A. (2003). Periklanan promosi. Jakarta: Erlangga Shimp, Terence, (2007), IMC in Advertising and Promotion Edisi ke Tujuh. New York: Mc Graw Hill.

  Silviana, Marlin. (2008). Teknik Pembangunan Citra Terbaik. . diakses tanggal 18 November 2009

  Sugiyono. (2009).Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Supranto, J. (2009). Statistik Teori dan Aplikasi. Erlangga: Jakarta Trihendradi, Cornelius. (2008). Step by Step SPSS 16 Analisis Data Statistik.

  Yogyakarta: Andi Temporal, Paul (2000). Branding in Asia, Edisi Revisi, Singapura: Wiley Tsiotsou, rodoula, (2007).Delineating the Outcomes of Sponsorship. http:// Bds

  Sponsorship/ in_sponsorship/ in_sponsorship.htm, diakses tanggal 14Maret 2009. Umar, H. (2003). Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Jakarta: Ghalia Indonesia. Vembriyanto, Aryogo, (2008). Analisis Sikap Konsumen Terhadap Produk

  Distribution Outlet,

  , diakses tanggal 9 September 2009

  November 09, 2009

Surat Keterangan Magang

  

No : 041 / MLBX / PK / 10 / 2009

Dengan Hormat,

Kami yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenar-benarnya menerangkan bahwa

mahasiswa di bawah: Nama : Yohanes Kristianto

  NIM : 052214122 Prodi : Manajemen / S1 Waktu magang : 14 hari

Telah melakukan Praktek Kerja Lapangan (magang) di perusahaan kami mulai tanggal 24

  

Oktober 2009- 07 November 2009, sehubungan untuk menunjang proses penyusunan data

skripsi dengan judul “ Pengaruh Sponsorship dan Brand Image terhadap Volume

Penjualan”.

  

Demikian surat ini kami buat agar dapat dipergunakan semestinya, dan atas perhatiannya

kami ucapkan terimakasih.

  

KUESIONER

  Lamp : 1 Berkas Kuesioner Hal : Kuesioner Penelitian Yogyakarta, …………….. 2009 Kepada Yth. : Konsumen Mailbox Distro Yogyakarta Dengan hormat, Dengan ini saya : Nama : Yohanes Kristianto NIM : 04 2214 122

  Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata

  “

  Dharma Yogyakarta sedang menyusun skripsi dengan judul Analisis Pengaruh

  

Sponsorship dan Brand Image Terhadap Volume Penjualan : Studi pada Mailbox

  Distro Jl.Gejayan Paviliun 55, Yogyakarta”. Dalam penyusunan skripsi ini, saya mohon bantuan anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersusun dalam kuesioner ini, untuk memperoleh data-data yang saya butuhkan.

  Kesungguhan anda dalam mengisi setiap butir pertanyaan akan sangat menetukan tingkat keberhasilan penelitian ini. Saya sangat mengharapkan kerjasama anda dengan menjawab sesuai keadaan anda yang sebenarnya. Petunjuk cara pengisian akan saya jelaskan di awal setiap kelompok kuesioner ini. Atas perhatian dan kerjasama anda, saya mengucapkan terima kasih. Hormat saya, Yohanes Kristianto.

BAGIAN I IDENTITAS RESPONDEN Berilah tanda silang (X) pada salah satu alternatif jawaban yang sesuai dengan

  keadaan anda sebenarnya:

  1. Nama responden:………………………………..(boleh tidak diisi)

  2. Jenis kelamin:

  a. Pria

  b. Wanita

  3. Usia anda:

  a. 15 tahun

  b. 15-18 tahun

  c. 19-22 tahun

  d. 23-25 tahun

  e. >25 tahun

  4. Profesi responden:

  a. Pelajar SMP/SMA

  b. Mahasiswa

  c. Karyawan

  d. Wiraswasta e. Lain-lain……………….

  5. Pengeluaran rata-rata anda per bulan:

  a. < Rp.500.000,-

  b. Rp. 500.000,- - Rp. 999.000,-

  c. Rp. 1.000.000,- - Rp. 1.499.000,-

  d. Rp. 1.500.000,- - Rp. 2.000.000,-

  e. > Rp.2.000.000,-

  6. Frekuensi kunjungn anda ke Mailbox dalam 1 bulan:

  a. 1 kali

  b. 2 kali

  c. 3 kali

  d. 4 kali e. Lain-lain…………….....

  7. Dari mana anda mengenal Mailbox? :

  a. Teman atau saudara

  b. Brosur

  c. Poster

  d. Baliho

  e. Selebaran

  8. Berapa banyak item/produk yang anda beli di Mailbox setiap kali kunjungan?

  a. 1 item

  b. 2 item

  c. 3 item

  d. 4 item

  e. Lain-lain………… (tidak membeli)

  

BAGIAN II

Untuk pernyataan bagian II telah disediakan 2 alternatif jawaban. Anda

  dimohon untuk memilih alternatif jawaban dengan memberi tanda (v) atau (X) pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan keadaan anda sebenarnya.

SPONSORSHIP MAILBOX

  

No. Pernyataan YA TIDAK

  1. Setujukah anda, acara yang disponsori Mailbox mencerminkan gaya hidup anda yang aktif dan dinamis.

  2. Menurut anda, apakah acara-acara yang disponsori Mailbox menarik.

  3. Sesuaikah acara-acara yang disponsori Mailbox dengan selera anda.

  4. Apakah kegiatan yang disponsori oleh Mailbox sesuai jiwa anak muda.

  5. Apakah acara-acara yang disponsori Mailbox sesuai dengan citra Mailbox sebagai salah satu trend setter

  fashion

  (selalu memberikan inovasi baru dalam setiap produknya) di Yogyakarta.

  6. Mengertikah anda dengan pesan yang disampaikan dalam acara-acara yang disponsori oleh Mailbox.

  7. Menurut anda apakah informasi yang disampaikan dalam acara yang disponsori oleh Mailbox bermanfaat bagi anda.

  8. Apakah pesan yang disampaikan saat acara yang disponsori oleh Mailbox menarik.

  9. Pesan yang anda dapat dari acara yang disponsori Mailbox anda sampaikan kepada orang lain.

  10. Anda berminat mengikuti setiap acara yang dilaksanakan Mailbox.

BRAND IMAGE MAILBOX

  No. Pernyataan

YA TIDAK

  1. Produk yang ada di Mailbox merupakan produk yang terkenal.

  2. Desain dari produk di Mailbox berbeda dengan produk sejenis.

  3. Produk-produk di Mailbox berkualitas tinggi.

  4. Produk-produk di Mailbox sesuai dengan kebutuhan anak muda.

  5. Harga yang ditawarkan sebanding dengan kualitas produk.

  6. Produk-produk di Mailbox identik dengan gaya hidup remaja.

  7. Produk-produk di Mailbox identik dengan anak muda yang kreatif.

  8. Mailbox identik dengan produk lokal.

  9. Anda adalah seseorang yang selalu mengikuti perkembangan mode Mailbox.

  10. Anda termasuk loyal terhadap produk-produk Mailbox.

  Responden Skor Brand Bi1 Bi2 Bi3 Bi4 Bi5 Bi6 Bi7 Bi8 Bi9 Bi10

  1

  19

  1

  1

  1

  1

  20

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  21

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  16

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  17

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  18

  1

  1

  22

  1

  27

  26

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  28

  1

  1

  1

  1

  25

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  23

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  24

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  5

  1

  1

  1

  1

  6

  1

  7

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  4

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  13

  1

  1

  14

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  15

  1

  12

  1

  8

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  9

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  10

  1

  1

  1

  1

  11

  1

  1

  29

  1

  1

  43

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  44

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  45

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  41

  1

  1

  42

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  49

  1

  1

  48

  50

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  46

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  47

  1

  40

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  32

  1

  1

  1

  33

  1

  1

  31

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  30

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  38

  1

  1

  1

  1

  1

  39

  1

  1

  1

  1

  1

  37

  1

  34

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  35

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  36

  1

  1

  

Correlations

Bi1 Bi2 Bi3 Bi4 Bi5 Bi6 Bi7 Bi8 Bi9 Bi10 Butir_Tot Bi1 Pearson Correlation

  1 .045 .253 .105 .206 .178 .145 .047 .031 .004 .419** Sig. (2-tailed) .756 .076 .470 .151 .217 .313 .744 .830 .980 .002 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi2 Pearson Correlation .045 1 -.011 .205 .122 .178 -.036 .216 .226 .282* .456** Sig. (2-tailed)

  .756 .942 .153 .400 .217 .802 .132 .114 .047 .001 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi3 Pearson Correlation .253 -.011 1 .128 .501** .075 .175 .098 .008 -.023 .466** Sig. (2-tailed) .076 .942 .374 .000 .603 .224 .500 .957 .876 .001 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi4 Pearson Correlation .105 .205 .128 1 -.061 .203 .074 .061 .185 .009 .364** Sig. (2-tailed)

  .470 .153 .374 .676 .157 .611 .676 .197 .953 .009 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi5 Pearson Correlation .206 .122 .501** -.061 1 .007 .150 .314* .194 .079 .542** Sig. (2-tailed) .151 .400 .000 .676 .961 .297 .027 .178 .584 .000 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi6 Pearson Correlation .178 .178 .075 .203 .007 1 .365** .227 .227 .252 .507** Sig. (2-tailed)

  .217 .217 .603 .157 .961 .009 .114 .113 .078 .000 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi7 Pearson Correlation .145 -.036 .175 .074 .150 .365** 1 .203 .164 .117 .470** Sig. (2-tailed) .313 .802 .224 .611 .297 .009 .157 .257 .420 .001 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi8 Pearson Correlation .047 .216 .098 .061 .314* .227 .203 1 .281* .462** .604** Sig. (2-tailed)

  .744 .132 .500 .676 .027 .114 .157 .048 .001 .000 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi9 Pearson Correlation .031 .226 .008 .185 .194 .227 .164 .281* 1 .484** .555** Sig. (2-tailed) .830 .114 .957 .197 .178 .113 .257 .048 .000 .000 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Bi10 Pearson Correlation .004 .282* -.023 .009 .079 .252 .117 .462** .484** 1 .536** Sig. (2-tailed)

  .980 .047 .876 .953 .584 .078 .420 .001 .000 .000 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 Butir_Tot Pearson Correlation .419** .456** .466** .364** .542** .507** .470** .604** .555** .536**

  1 Sig. (2-tailed) .002 .001 .001 .009 .000 .000 .001 .000 .000 .000 N

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50

  50 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  • .

  Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Responden Skor

  Sponsor S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  19

  1

  18

  1

  1

  20

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  21

  1

  1

  1

  1

  1

  16

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  17

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  24

  1

  1

  25

  1

  1

  1

  1

  1

  26

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  22

  1

  1

  1

  1

  1

  23

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  15

  1

  1

  1

  1

  1

  6

  1

  1

  1

  1

  1

  7

  1

  1

  8

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  5

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  4

  1

  1

  1

  1

  14

  1

  12

  1

  1

  1

  13

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  11

  1

  1

  1

  9

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  27

  1

  1

  43

  1

  1

  1

  1

  1

  44

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  45

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  41

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  42

  1

  1

  1

  40

  1

  1

  1

  49

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  50

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  46

  47

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  48

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  31

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  32

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  33

  28

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  29

  1

  1

  1

  1

  30

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  38

  1

  1

  1

  37

  1

  1

  39

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  34

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  35

  1

  1

  1

  1

  36

  1

  1

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis pengaruh biaya promosi terhadap volume penjualan pada pabrik rokok Djagung padi di Sawojajar Malang
1
42
87
Analisis pengaruh faktor harga jual, promosi penjualan dan biaya distribusi terhadap volume penjualan pada PT. Roda Sakti Surya Raya di Jember
0
21
73
Analisis pengaruh harga, promosi dan biaya distribusi terhadap volume penjualan pada PT. Kutai Timber Indonesia di Probolinggo
0
5
96
Analisis pengaruh promotional Mix terhadap volume penjualan pada CV. agung Sakti Motor Lumajang -
0
25
98
Analisis pengaruh variabel strategis terhadap volume penjualan pada PT. Karya Manunggal Prima Sukses di Muncar Banyuwangi -
0
20
94
Analisis pengaruh variabel-variabel promotional mix terhadap volume penjualan pada kusuma agrowisata hotel Batu-Malang
0
21
75
Analisis pengaruh quality product dan brand image (citra merek) serta marketing strategic terhadap keputusan pembelian processor intel
2
9
162
Analisis pengaruh brand image telkom flexi terhadap perilaku pembelian simcard flexi (Studi kasus Pt.Telkom,Tbk Kandatel Kendal)
5
33
244
Analisis pengaruh promosi word of mouth terhadap brand image dan proses keputusan kunjungan Kebun Raya Bogor
3
29
97
Jurnal tentang pengaruh brand image
0
0
15
Analisis pengaruh brand image dan kinerja pemasaran terhadap keputusan pembelian konsumen pada PT Diva Bangka Pangkalpinang - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
37
Pengaruh biaya promosi terhadap volume penjualan : studi kasus pada Mina Swalayan - USD Repository
0
0
78
Hubungan antara brand social responsibility [BSR] dengan brand image dan loyalitas konsumen pada produk Aqua Danone - USD Repository
0
0
119
Analisis hubungan penjualan arisan dengan volume penjualan : studi kasus pada dealer PT. Asli Motor Bantul - USD Repository
0
0
87
Perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang - USD Repository
0
0
132
Show more