Penerapan activity based costing system pada pembebanan BOP dalam penghitungan unit cost - USD Repository

Gratis

1
3
151
1 year ago
Preview
Full text

  PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM PADA PEMBEBANAN BOP DALAM PENGHITUNGAN UNIT COST Studi Kasus pada PT. Mondrian Group Klaten SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

  Program Studi Akuntansi Disusun Oleh :

  ARIS HANDRIYANTO NIM : 002114028 FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI AKUNTANSI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 30 November 2006 Penulis

  Aris Handriyanto

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan bagi:

Tuhan Yang Maha Kuasa

Kedua Orang Tuaku yang dengan penuh kasih sayang, cinta dan asa

memberikan kepadaku dorongan, dukungan dan doa untuk mencapai

segala harapan dan cita-citaku;

Kakakku dan adik-adikku yang dengan penuh ketulusan mendukungku

dan menemani persahabatan keluarga;

Seseorang yang menjadi tumpuan dan harapan dihatiku yang dengan

penuh kasih dan kesabaran telah membantuku dan senantiasa

mendorongku;

  

Almamater tercinta, Universitas Sanata Dharma

  

MOTTO

  “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”

  (Love Jesus Christ) “Ketegaran hidup adalah cara pandang kita untuk tidak metengadahkan kepala keatas namun dengan melihat kebawah, karena apapun yang kita punyai belum tentu dimiliki orang lain”

  (Yulianus Hanggono) “Dilema kehidupan merupakan dampak kegagalan untuk meraih kebijaksanaan berfikir dan cara pandang untuk menapak satu langkah kedepan dalam pergulatan hidup dimasa yang akan datang”

  (Fransiscus Arist)

  

ABSTRAK

PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM PADA

PEMBEBANAN BIAYA OVERHEAD PABRIK DALAM

PENGHITUNGAN UNIT COST

  Studi Kasus pada PT.MONDRIAN GROUP KLATEN

  

ARIS HANDRIYANTO

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2006

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya perbedaan antara BOP yang dibebankan oleh perusahaan dengan BOP yang dibebankan berdasarkan Activity Based Costing System.

  Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, observasi dan interview. Jenis penelitian ini adalah studi kasus pada PT.Mondrian Group, Klaten. Teknik analisa data yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah: dengan membandingkan pembebanan BOP yang dibebankan menurut perusahaan dengan berdasarkan ABC System.

  Dari hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk : a) BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Dewasa (All size) sebesar Rp. 173.448.526,32, b) BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Remaja (All size) menjadi Rp. 21.243.987,94, c) BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Wanita (All size) menjadi Rp. 27.851.024,62, d) BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Anak (All size) menjadi Rp. 112.490.167,04, e) BOP yang dibebankan pada kaos B- Gaya (All size) menjadi Rp. 204.646.210,96, f) BOP yang dibebankan pada kaos d,Mo Olah Raga (All size) menjadi Rp. 227.120.863,85. Perbedaan tersebut menyebabkan harga pokok produk per unit yang dibebankan pada setiap produk menjadi: a) Harga pokok produk Kaos Dadung Dewasa Rp. 21.743,14 per unit, b) Harga pokok produk Kaos Dadung Remaja menjadi Rp.22.900,46 per unit, c) Harga pokok produk Kaos Dadung Wanita menjadi Rp. 22.809,47 per unit, d) Harga pokok produk Kaos Dadung Anak menjadi Rp. 24.316,72 per unit, e) Harga pokok produk Kaos B-gaya menjadi Rp. 32.151,26 per unit, f) Harga pokok produk Kaos d,Mo Olah Raga menjadi Rp. 17.770,97 per unit. Dari hasil analisis tersebut, perusahaan dapat menerapkan Activity Based Costing System.

  

ABSTRACT

THE APPLICATION OF ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM AT

FACTORY OVERHEAD COST CHARGING IN THE CALCULATION OF

UNIT COST

A Case Study at PT.MONDRIAN GROUP, KLATEN

ARIS HANDRIYANTO

  

SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA

2006

  This research goal was to know the level of difference between the BOP charged by company and the one based on Activity Based Costing System. The techniques of data collecting were documentation, observation and interview. This research type was case study of at PT.MONDRIAN Group,

  Klaten. The data analtsis technique conducted to answer the problem was by comparing the BOP charged by the by according to company and the one based on ABC System.

  From the analysis result, it could be concluded that the differences of factory overhead cost charging which was charged to the product were: a) BOP which was charged to Kaos Dadung Dewasa ( All Size) equal to Rp. 173.448.526,32, b) BOP which was charged to Kaos Dadung Remaja ( All Size) became Rp. 21.243.987,94, c) BOP which was charged to Kaos Dadung Wanita ( All Size) became Rp. 27.851.024,62, d) BOP which was charged to Kaos Dadung Anak ( All Size) became Rp. 112.490.167,04, e) BOP which was charged to Kaos B-Gaya ( All Size) became Rp. 204.646.210,96, f) BOP which was charged to Kaos d,Mo Olah Raga ( All Size) became Rp. 227.120.863,85. The differences caused the unit cost of good sold charged to each product became: a) Cost of good sold of Kaos Dadung Dewasa became the Rp. 21.743,14 per unit, b) Cost of good sold of Kaos Dadung Remaja became the Rp.22.900,46 per unit, c) Cost of good sold of Kaos Dadung Wanita became the Rp. 22.809,47 per unit, d) Cost of good sold of Kaos Dadung Anak became the Rp. 24.316,72 per unit, e) Cost of good sold of Kaos B-Gaya became the Rp. 32.151,26 per unit, f) Cost of good sold of Kaos d,Mo Olah Raga became the Rp. 17.770,97 per unit. From the analysis result, the company can apply the Activity Based Costing System.

KATA PENGANTAR

  Syukur kepada-Nyalah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sejahtera dibumi dan seisinya atas limpahan berkat, karunia dan petunjuk- Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun guna melengkapi persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta.

  Penelitian dalam skripsi ini ditujukan untuk mengetahui perhitungan biaya per unit yang dapat diterapkan menggunakan perhitungan biaya berbasis aktivitas.

  Dalam proses penyelesaian skripsi ini penulis mendapatkan bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Romo Dr. Ir. P. Wiryono P., S.J. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma.

  2. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum, M.S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

  3. Ibu FR. Reni Retno Anggraeni, S.E., M.Si, Akt selaku dosen wali kelas.

  4. Bapak Drs. Gabriel Anto Listianto, MSA., Akt. Selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan penuh kesabaran memberikan bimbingan, masukan, dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

  5. Ibu Firma Sulistiyowati, S.E., M.Si. Selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dalam penyusunan skripsi ini serta

  6. Bapak Drs. YP. Supardiyono, M.Si., Akt. Selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dalam penyusunan skripsi ini serta memberikan masukan yang berarti bagi skripsi ini.

  7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma atas ilmu yang telah diberikan.

  8. Segenap Staf Pojok Bursa Efek Jakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (ma’kasih ya Mba’ heni atas bantuannya).

  9. Staf perpustakaan Universitas Sanata Dharma

  10. Kedua Orang Tuaku yang memberikan dukungan materi dan moril hingga terselesaikannya skripsi ini.

  11. Kakakku dan adik-adikku yang dengan penuh kasih memberikan bantuan, doa, dan dorongan dalam penulisan skripsi ini.

  12. Yudhianti Primastuti, yang telah memberikan motivasi dan semangat untukku, makasih banyak atas semua yang kamu lakukan untukku hingga hidupku seperti ini.

  13. Mas Agung, Personalia PT.Mondrian Group yang telah memberikan segala dukungan dan informasi data yang saya inginkan.

  14. Keluarga besar AKT”00 khususnya kelas A : Aris Solo(Mbah Gluduk), Tian, Dendi, Watik, Siti, Susan, Deni(Gedank), Borom, Novsi, Anto, Boni, dan masih banyak lagi terima kasih atas kebersamaan selama ini.

  15. Sahabat-sahabatku : Cemani, Gepenk, Susi, Koko, Om B’D, Januar, Robertus, Njemblux, Firlo, Cemenk, Mithun Oi, (Anak-anak Alladien, Paingan Sepha

  Club), dan semua teman-temanku yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu. Terima Kasih semuanya.

  16. Keluarga Besar kost Pringgading 8 : Mario, Bah Gentho, Jawier, Erich, Hendra, Kupang “Kamus Kost”, Verdi, Guntur “thanks print warnanye”, Henry, Robe, dan semua yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu. Terima kasih semua.

  Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam melakukan penelitian lebih lanjut bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

  Yogyakarta, 30 November 2006 Penulis Aris Handriyanto

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA......................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... v MOTTO ........... ............................................................................................ vi ABSTRAK ........ ............................................................................................ vii ABSTRACT. ..... ............................................................................................ viii KATA PENGANTAR.................................................................................... ix DAFTAR ISI ..... ............................................................................................ xii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi

  BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1 A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................... 3 C. Batasan Masalah........................................................................ 3 D. Tujuan Penelitian....................................................................... 4 E. Manfaat Penelitian..................................................................... 4 F. Sistematika Penulisan................................................................ 5 BAB II LANDASAN TEORI..................................................................... 7 A. Konsep dan Terminologi Biaya ................................................ 7

  2. Penelusuran Biaya...............................................................11

  5. Tahap-tahap Pembebanan BOP Berdasarkan ABCS ..........27

  H. Pembebanan BOP dalam Lingkungan Manufaktur Maju .........40

  G. Pembebanan BOP dalam Lingkungan Manufaktur Tradisional.............................................................36

  F. Cost Pool Rate...........................................................................36

  E. Cost Driver ................................................................................34

  D. Cost Pool ...................................................................................33

  6. Kondisi yang Diperlukan dalam Penerapan ABCS.............31

  4. Manfaat Activity Based Costing System ............................26

  B. Sistem Akuntansi Biaya Tradisional .........................................12

  3. Asumsi Activity Based Costing System..............................24

  2. Pengertian Activity Based Costing System.........................23

  1. Latar Belakang Timbulnya ABCS ......................................22

  C. Konsep Dasar Activity Based Costing System .........................22

  2. Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional................20

  1. Penentuan Harga Pokok Produk .........................................13

  BAB III METODE PENELITIAN ...............................................................43 A. Jenis Penelitian ..........................................................................43 B. Tempat dan Waktu Penelitian....................................................43 C. Subyek dan Obyek Penelitian ....................................................44 D. Data yang Diperlukan dan Dicari ..............................................44

  F..Teknik Analisis Data ................................................................. 45

  BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN........................................ 50 A. Sejarah Berdirinya Perusahaan.................................................. 50 B. Lokasi Perusahaan ..................................................................... 51 C. Misi dan Visi Perusahaan .......................................................... 52 D. Struktur Organisasi .................................................................... 53 E. Personalia .................................................................................. 61

  1. Jumlah Karyawan ................................................................ 61

  2. Jam Kerja............................................................................. 61

  3. Penggolongan/ Status Karyawan ......................................... 62

  4. Sistem Penggajian ............................................................... 63

  5. Fasilitas Kerja ...................................................................... 63

  F. Produksi ..................................................................................... 65

  1. Hasil Produksi ..................................................................... 65

  2. Proses Produksi ................................................................... 66

  3. Bahan Baku Produksi .......................................................... 69

  4. Alat-alat Produksi ................................................................ 70

  G. Pemasaran.................................................................................. 71

  1. Penentuan Harga.................................................................. 71

  2. Daerah Pemasaran ............................................................... 71

  3. Pemasaran Produk ............................................................... 72

  H. Promosi...................................................................................... 73

  BAB VI PENUTUP .......................................................................................116 A. Kesimpulan................................................................................116 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................117 C. Saran..........................................................................................118 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................120 LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Daftar Jumlah Produksi Tahun 2003 ............................................. 77Tabel 5.2 Prosentase Biaya Produksi Tahun 2003......................................... 77Tabel 5.3 Daftar Penggunaan Bahan Baku Tahun 2003. ............................... 78Tabel 5.4 Daftar Biaya Tenaga Kerja Langsung Tahun 2003. ...................... 79Tabel 5.5 Daftar Biaya Tenaga Kerja Langsung per Produk

  Tahun 2003. .............................................................................. 79

Tabel 5.6 Daftar Prime Cost Tahun 2003 ...................................................... 80Tabel 5.7 Anggaran BOP Tahun 2003............................................................ 81Tabel 5.8 Daftar Perhitungan BOP Tahun 2003 ............................................ 82Tabel 5.9 Daftar Perhitungan Unit Cost Tahun 2003 .................................... 83Tabel 5.9 Daftar Aktivitas Tahun 2003.......................................................... 87Tabel 5.10 Daftar Aktivitas Tahun 2003 .................................................... 89Tabel 5.11 Pengelompokan Aktivitas Berdasarkan Tingkat Proses

  Tahun 2003 .............................................................................. 90

Tabel 5.12 Pengelompokan Aktivitas Berdasarkan Tingkat Aktivitas

  Tahun 2003 . ............................................................................. 92

Tabel 5.13 Pembebanan Biaya-biaya pada Berbagai Aktivitas

  Tahun 2003. .............................................................................. 95

Tabel 5.14 Jenis Aktivitas, Cost Driver, dan Activity Driver

  Tahun 2003 ............................................................................... 96

Tabel 5.16 Pengelompokan Cost Pool Rate Homogen Tahun 2003. ..........102Tabel 5.17 Perhitungan BOP per Unit Produk Kaos Dadung Dewasa

  (All Size) Dengan Sistem ABC ................................................104

Tabel 5.18 Perhitungan BOP per Unit Produk Kaos Dadung Remaja

  (All Size) Dengan Sistem ABC. ...............................................105

Tabel 5.19 Perhitungan BOP per Unit Produk Kaos Dadung Wanita

  (All Size) Dengan Sistem ABC ................................................106

Tabel 5.20 Perhitungan BOP per Unit Produk Kaos Dadung Anak

  (All Size) Dengan Sistem ABC. ...............................................107

Tabel 5.21 Perhitungan BOP per Unit Produk Kaos Be-Gaya

  (All Size) Dengan Sistem ABC ................................................108

Tabel 5.22 Perhitungan BOP per Unit Produk Kaos d,Mo Olah Raga

  (All Size) Dengan Sistem ABC ................................................109

Tabel 5.23 Daftar Perhitungan Unit Cost Dengan Activity Based

  Costing System Tahun 2003. .....................................................110

Tabel 5.24 Perbandingan Selisih BOP Terhadap Produk Antara BOP

  Berdasarkan Sistem PT.Mondrian Group Dengan BOP Berdasarkan ABC System. ..........................................................111

Tabel 5.25 Perbandingan Selisih Perhitungan Unit Cost Antara

  Perhitungan Unit Cost Berdasarkan sistem PT.Mondrian Dengan Perhitungan Unit Cost Berdasarkan ABC System. .......112

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah A. Perkembangan teknologi informasi saat ini membawa perusahaan pada

  era globalisasi, dimana persaingan semakin ketat yang membuat pangsa pasar semakin kecil dan laba perusahaan semakin menurun. Fenomena ini mengakibatkan perusahaan mencari alternatif dalam membangun strategi baru untuk memperbaiki serta meningkatkan posisi pasar.

  Informasi yang semakin transparan menyebabkan konsumen mendapat informasi secara lengkap mengenai produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Konsumen mempunyai hak untuk memilih dan menentukan produk mana yang akan dipilih sesuai selera dan dana yang dialokasikan.

  Produk yang menjadi pilihan konsumen adalah produk yang bermutu, service yang baik, tepat waktu dan harga yang murah. Hal ini menuntut perusahaan agar terus-menerus melakukan perbaikan terhadap kegiatan-kegiatan dalam menghasilkan produk atau jasa yang value added bagi konsumen. Seperti diketahui bahwa dalam proses produksi ada dua kegiatan yang mempengaruhi, yaitu kegiatan yang bernilai tambah (value added) dan kegiatan yang tidak bernilai tambah (non-value added) bagi konsumen.

  Teknologi yang berkembang telah mempengaruhi komposisi biaya biaya tenaga kerja langsung dan sebaliknya akan meningkatkan biaya pabrik. Pada sistem akuntasi biaya tradisional, biaya overhead

  overhead

  pabrik dialokasikan dengan dasar alokasi yang berkaitan dengan volume produksi. Keadaan inilah yang kadang-kadang menimbulkan distorsi pada proses produksi yang semakin kompleks, karena tidak semua biaya overhead pabrik berhubungan langsung dengan volume produksi. Distorsi dalam pengalokasian biaya produk akan semakin besar pada perusahaan yang menghasilkan beraneka produk dan jasa. Produk yang beraneka ragam diproduksi dengan beberapa fasilitas manufaktur yang sama. Dengan demikian timbul masalah dalam pengalokasian sumber daya yang dikonsumsi masing- masing produk. Distorsi dalam pembebanan biaya overhead pabrik ini akan mengakibatkan harga pokok produk yang ditetapkan tidak akurat.

  Meskipun keakuratan dalam menentukan biaya overhead pabrik sulit ditentukan, manajer harus memperkirakan biaya overhead pabrik yang paling tepat agar dapat memenangkan persaingan. Estimasi biaya terbaik terwujud jika semua biaya dapat ditelusuri langsung ke produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang valid. Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung merupakan biaya yang paling mudah ditelusuri ke produk, karena biaya ini merupakan biaya variabel. Biaya overhead pabrik merupakan unsur biaya produksi yang sulit ditelusuri ke produk.

  ABC System merupakan suatu sistem yang memfokuskan pada

  aktivitas yang timbul atau diperlukan untuk menghasilkan suatu produk. ABC mengakui bahwa beberapa biaya lebih tepat dibebankan atas dasar non volume produksi. Biaya aktivitas dibebankan kepada suatu produk berdasarkan pada konsumsi produk atas aktivitas tersebut. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa ABC System dapat memperbaiki penghitungan harga pokok produk.

B. Rumusan Masalah

  Apakah ada perbedaan antara biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost yang ditetapkan perusahaan saat ini dengan biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit berdasarkan Activity Based Costing System ?

  cost Batasan Masalah C.

  Permasalahan dibatasi pada :

  1. Proses pembuatan produksi didalam industri manufaktur terdiri dari empat tahap utama : tahap desain dan pengembangan, tahap produksi, tahap distribusi dan tahap pelayanan konsumen. Activity Based Costing System dapat diterapkan pada semua tahap tersebut. Dalam penelitian ini, penulis hanya membahas penghitungan unit cost pada tahap proses produksinya saja.

  2. Dalam Activity Based Costing System dibedakan menjadi dua yaitu : aktivitas bernilai tambah (value added) dan aktivitas tidak bernilai tambah (non value added). Dalam penelitian tidak dilakukan identifikasi aktivitas

  D. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk mengetahui perbedaan unit cost setiap produk antara biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost yang diterapkan PT.Mondrian dengan biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost berdasarkan Activity Based

  Costing System .

  E. Manfaat Penelitian

  1. Bagi perusahaan Sripsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada perusahaan dalam mengambil keputusan untuk masa yang akan datang dan sebagai dasar pertimbangan dalam penentuan penentuan harga pokok produk per unit.

  2. Bagi universitas Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi perpustakaan USD, khususnya mengenai Penerapan Activity Based Costing Dalam Penghitungan Unit Cost.

  3. Bagi penulis Sripsi ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta sebagai sarana untuk menerapkan teori-teori yang penulis peroleh selama di bangku kuliah.

F. Sistematika Penulisan

  Bab I. Pendahuluan Bab ini berisikan latar belakang masalah, batasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. Bab II. Landasan Teori Bab ini akan menguraikan secara jelas dan mendasar mengenai teori-teori yang digunakan sebagai dasar dalam mengolah data-data perusahaan yang dijadikan objek penelitian. Dalam bab ini akan menjelaskan teori-teori tentang pemahaman dan manfaat akuntasi biaya dan akuntansi keuangan, biaya produksi, biaya overhead pabrik, sistem perhitungan tradisional, Activity .

  Based Costing System (ABC)

  Bab III. Metode Penelitian Bab ini berisikan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek dan obyek penelitian, data yang dicari, teknik analisis data, dan teknik pengumpulan data.

  Bab IV. Gambaran Umum Perusahaan Bab ini mengemukakan gambaran umum perusahaan, yang meliputi riwayat singkat perusahaan, misi dan visi perusahaan, lokasi perusahaan, struktur organisasi, manajemen & pengawasan, sumber daya manusia, jenis produk

  Bab V. Analisis Data dan Pembahasan Bab ini memuat data, penganalisisan data, dan pembahasan. Bab VI. Penutup Bab ini memuat kesimpulan dari hasil analisis data dan saran yang diusulkan penulis kepada perusahaan sehubungan dengan obyek penelitian dan keterbatasan penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep dan Terminologi Biaya Hansen dan Mowen, (2000: 38) berpendapat bahwa biaya (cost)

  adalah “kas atau ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau masa yang akan datang. Sedangkan beban (expense) adalah biaya yang telah digunakan untuk memperoleh pendapatan. Beban adalah biaya yang sudah kadaluarsa”.

1. Konsep Biaya

  Menurut Sugiri (1994: 21-25), terdapat tujuh klasifikasi dari pengelompokan biaya yaitu : 1) Klasifikasi berdasarkan fungsi pokok perusahaan

  a. Biaya produksi Adalah biaya–biaya yang diperlukan untuk memperoleh bahan baku (mentah) dari pemasok dan mengubahnya menjadi produk selasai yang siap dijual. Elemen biaya produksi terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. b. Biaya penjualan Biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk selesai, termasuk biaya iklan, biaya gaji para pramuniaga, biaya angkut barang-barang yang dijual, dan gaji menejer pemasaran.

  c. Biaya administrasi Adalah biaya yang diperlukan untuk administrasi secara umum, seperti gaji eksekutif, biaya penyelengarakan akuntansi, gaji pegawai bagian administrasi, dan biaya bahan habis pakai. 2) Klasifikasi berdasarkan periode mempertemukan dengan pendapatan: a. Biaya produk

  Adalah biaya–biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau memperoduksi barang/produk.

  b. Biaya periode Adalah biaya yang diindentifikasi dengan interval waktu tertentu karena tidak diperlakukan untuk memperoleh barang/produk akan dijual. 3) Klasifikasi biaya berdasarkan dapat ditelusurinya ke obyek biaya:

  a. Biaya langsung (direct cost) Adalah biaya yang dapat ditelusuri atau diidentifikasi ke suatu obyek biaya tertentu karena hanya dikeluarkan untuk manfaat obyek biaya itu sendiri. b. Biaya tidak langsung ( indirect cost) Adalah biaya yang dikerluarkan untuk lebih dari satu obyek biaya dan tidak dapat ditelusuri kesalahsatu obyek biaya tertentu. Karena biaya ini bersifat umum dan disebut common cost.

  4) Klasifikasi biaya berdasarkan hubungannya dengan perubahan volume kegiatan: a. Biaya tetap

  Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap, tidak berubah untuk suatu periode tertentu.

  b. Biaya variabel Adalah biaya yang jumlah totalnya bervariasi secara proposional dengan variasi volume kegiatan, tetapi jumlah per unitnya tetap sama. 5) Klasifikasi biaya berdasarkan kemampuan manajer untuk mengendalikan: a. Biaya terkendali

  Adalah biaya yang secara signifikan dapat dipengaruhi dan dikendalikan oleh manajer tertentu pada periode tertentu.

  b. Biaya tak terkendali Adalah biaya yang secara signifikan tidak dapat dipengaruhi dan dikendalikan oleh manager tertentu.

  6) Klasifikasi biaya berdasarkan pengendalian keputusan:

  a. Biaya relevan Adalah biaya yang akan terjadi di masa mendatang dan berbeda diantara pelbagai alternatif keputusan.

  b. Biaya tak relevan Adalah biaya yang tidak memenuhi salah satu atau kedua- duanya dari kriteria biaya relevan.

  c. Biaya terhindarkan Adalah biaya yang dapat dihindarkan jika suatu alternatif keputusan diambil.

  7) Klasifikasi biaya berdasarkan dampak keputusan terhadap kas keluar:

  a.

   Sunk cost

  Adalah biaya yang telah dikeluarkan dan yang tidak dapat diubah oleh keputusan sekarang atau masa yang akan datang.

  b. Biaya tunai (out-of pocket cost) Adalah biaya yang membutuhkan pengeluaran kas dimasa mendatang akibat keputusan sekarang atau keputusan yang akan datang.

2. Penelusuran Biaya

  Hubungan antara biaya dan obyek biaya dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan keakuratan pembebanan biaya. Mudah ekonomis dan secara akurat dapat ditelusuri berarti bahwa biaya dibebankan dengan menggunakan hubungan penyebab. Dapat ditelusuri adalah kemampuan untuk membebankan biaya secara langsung pada obyek biaya dengan cara ekonomis sebagai sarana hubungan penyebab.

  Menurut Hansen dan Mowen (2000: 38-43), terdapat tiga metode dalam penelusuran biaya yaitu : 1) Penelusuran langsung

  Adalah suatu proses mengidentifikasi dan pembebanan biaya yang berkaitan secara khusus dan secara fisik dengan obyek biaya.

  2) Penelusuran penggerak/ pendorong Adalah penggunan pendorong untuk membebankan biaya ke obyek biaya.

  3) Pembebanan biaya tidak langsung/alokasi Karena tidak terdapat hubungan kausal, pengalokasian biaya pada metode ini didasarkan pada kemudahan atau beberapa asumsi yang berhubungan.

B. Sistem Akuntansi Biaya Tradisional.

  Akuntansi biaya pada awalnya didefinisikan sebagai perhitungan harga pokok persediaan yang disajikan dalam neraca laporan harga pokok produk jadi dalam laporan rugi laba. Pandangan ini membatasi luas jangkauan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen dalam pengambilan pelaporan kepada pihak luar. Definisi yang sempit sebagaimana dikemukakan diatas kini tidak sesuai lagi dan jelas bukan merupakan deskripsi yang tepat mengenai kegunaan informasi akuntansi biaya. Akuntansi biaya menyediakan alat yang dibutuhkan oleh manajemen dalam perencanaan dan pengawasan aktivitas, peningkatan kualitas dan efisiensi, serta penyusunan keputusan-keputusan rutin dan srategis (Carter dkk, 2002: 8-9).

1. Penentuan Harga Pokok Produk dengan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional.

  Dalam sistem akuntansi biaya tradisional, biaya-biaya dicatat, dikumpulkan dan dikendalikan menurut elemen-elemennya yang ada dalam pusat pertanggungjawaban. Biaya-biaya produksi ditentukan menurut banyaknya sumberdaya yang dikonsumsi disetiap pusat biaya.

  Dengan cara ini biaya-biaya produksi ditentukan menurut jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap pusat biaya. Selanjutnya dengan perbedaan karakteristik prosers-proses produksi, dikembangkan cara pencatatan, pengklasifikasian, dan penyajian biaya yang berbeda. Pengembangan tersebut sesuai dengan proses yang dilakukan.

  Menurut Sugiri (1994: 22), Biaya produksi pada perusahaan manufaktur terdiri atas elemen-elemen biaya sebagai berikut : a. Bahan baku Bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk membuat produk selesai. Bahan baku dapat diidentifikasi ke produk dan merupakan bagian integral dari produk tersebut, sebagai contoh adalah kayu yang digunakan untuk membuat daun pintu dan jendela, kertas yang digunakan untuk membuat buku. Bahan baku disebut juga bahan langsung, untuk membedakannya dari bahan lain yang nilainya lebih rendah.

  b. Tenaga kerja langsung Tenaga kerja langsung adalah tenaga yang langsung menangani proses produksi. Pembuat daun pintu dan jendela, operator mesin foto copy, penjahit dan tukang las, serta tukang batu adalah contoh tenaga kerja langsung. Mereka menangani langsung proses produksi dan karenanya dapat diidentifikasi ke produk. Gaji atau upah tenaga kerja langsung merupakan elemen biaya produksi.

  c. Overhead pabrik Overhead pabrik adalah biaya–biaya selain bahan baku dan tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk memproduksi barang disebut biaya overhead pabrik (factory overhead atau manufacturing overhead atau factory burdent). Hubungan biaya overhead terhadap produk adalah hubungan tak langsung. Penggolongan BOP menurut Muhadi (2001: 61-62) menyatakan pabrik. Penggolongan tersebut diantaranya: penggolongan biaya menurut sifatnya merupakan biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Yang termasuk dalam BOP adalah: 1) Biaya bahan penolong

  Bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksinya. 2) Biaya reparasi dan pemeliharaan

  Biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai

  (factrory supplies) dan harga perolehan jasa dari luar

  perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplesemen, mesin, kendaraan, dan aktiva tetap lainnya.

  3) Biaya tenaga kerja tidak langsung Tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dihitung secara lansung kepada produk atau pesanan tertentu. Berupa upah, tunjungan, biaya kesejahteraan. 4) Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap. Biaya-biaya depresiasi mesin dan equipment, alat kerja dan aktiva tetap lainnya. 5) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu

  Biaya asuransi mesin dan equipment, asuransi kendaraan,

  6) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai. Yang termasuk didalamnya adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN.

  Menurut Hansen dan Mowen (2000: 314-315) terdapat dua metode dalam mengalokasi biaya overhead pabrik yaitu: a. Tarif pabrik

  Untuk tarif pabrik, biaya overhead pabrik terlebih dahulu diakumulasikan pada satu kelompok pabrik yang besar (tahap pertama pembebanan biaya). Biaya overhead dibebankan pada kelompok biaya hanya dengan menambahkan semua biaya overhead yang diidentifikasi pada jurnal umum. Karena semua biaya overhead merupakan biaya pabrik, pembebanan pada kelompok biaya dilakukan dengan keakuratan tinggi. Pada tahap pertama, obyek biaya adalah pabrik dan penelusuran langsung dapat digunakan untuk membebankan biaya tersebut dibebankan pada kegiatan makro yang sangat luas: produksi. Sekali biaya diakumulasikan pada kelompok biaya ini, kita dapat mengitung untuk tarif pabrik, biaya overhead terlebih dahulu diakumulasikan tarif pabrik dengan menggunakan pendorong tunggal, yang umumnya adalah jam tenaga kerja langsung. Produk diasumsikan mengkonsumsi sumber daya overhead sebanding dengan kedua, biaya overhead dibebankan pada produk dengan mengalihkan tarif dengan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya yang digunakan oleh tiap produk.

  Bagan II.I Pembebanan BOP Berdasarkan Tarif Pabrik

  Biaya overhead Penelusuran langsung

  Kelompok di seluruh pabrik Pendorong berdasarkan unit

  Produk Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 315)

  b. Tarif departemen Untuk tarif departemen, biaya overhead dibebankan pada masing- masing departemen produksi, menciptakan kelompok biaya overhead departemen. Pada tahap pertama, departemen merupakan obyek biaya dan biaya overhead dibebankan dengan menggunakan penelusuran langsung, penelusuran pendorong dan alokasi. Meskipun usaha dilakukan untuk membebankan biaya eksternal dengan menggunakan faktor penyebab (penelusuran pendorong), beberapa biaya overhead dibebankan menggunakan hubungan asumsi (alokasi). Sekali biaya dibebankan pada masing-masing departemen produksi, kemudian pendorong berdasarkan kegiatan kerja) dan jam mesin (untuk departemen padat mesin) digunakan untuk menghitung tarif departemen. Produk yang melalui departemen tersebut diasumsikan mengkonsumsi biaya overhead sebanding dengan pendorong departemen berdasarkan unit. Pada tahap kedua, overhead dibebankan pada produk dengan mengalikan tarif departemen dengan jumlah pendorong yang digunakan pada masing-masing departemen. Seluruh overhead yang dibebankan pada produk hanya merupakan penjumlahan dari jumlah yang diterima dari masing-masing departemen.

  

Bagan II.2

Pembebanan BOP Berdasarkan Tarif Departemen

  Biaya overhead Penelusuran langsung penelusuran pendorong alokasi

  Kelompok Kelompok departemen A departemen B

  Pendorong berdasarkan unit Pendorong berdasarkan unit Produk Produk

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 315)

  Menurut Mulyadi (1993: 213), Ada beberapa macam dasar yang dapat dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada produk diantaranya adalah :

  a. Satuan produk

  b. Biaya bahan baku

  c. Biaya tenaga kerja langsung

  d. Jam kerja langsung

  e. Jam mesin Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik adalah: a. Harus mempertahankan jenis biaya overhead pabrik yang dominan jumlahnya dalam departemen produksi.

  b. Harus diperhatikan sifat-sifat biaya overhead pabrik yang dominan tersebut dan eratnya sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.

2. Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional

  Melihat keadaan pabrik pada masa kini, menurut Cooper dkk (1991: 82-83), akuntansi biaya tradisional memiliki kelemahan sebagai berikut : a. Akuntansi biaya tradisional membebankan biaya overhead pabrik kepada produk atas dasar kuantitas yang diproduksi. Metode pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk atas dasar kuantitas disebut unit-based system. Dalam unit–based system, produk berdasarkan jam tenaga kerja langsung, jam mesin, biaya bahan baku, yang dikonsumsi untuk menghasilkan suatu produk.

  Pembebanan biaya overhead pabrik atas dasar jam tenaga kerja langsung akan menghasilkan informasi biaya produk yang mengandung distrosi yang berakibat pada ketidakakuratan pembebanan biaya ke produk per unit. Jika harga satuan atau kuantitas yang digunakan oleh sumber daya tidak distribusikan secara akurat ke pusat-pusat biaya dari produk, maka ada kemungkinan terjadinya distrosi harga dan kuantitas. Akuntansi biaya tradisional membebankan biaya overhead pabrik kepada produk melalui dua tahap. Tahap pertama, biaya overhead pabrik dikumpulkan dalam pusat biaya, baik departemen produksi maupun departemen pembantu. Tahap kedua, biaya overhead pabrik yang telah melalui agregasi tahap pertama, dibebankan ke produk atas dasar jam tenaga kerja langsung dan jam mesin.

  Pembebanan overhead yang berdasarkan jam tenaga kerja langsung dan jam mesin disebut sebagai pembebanan overhead berdasarkan tarif tunggal. Biaya overhead yang dibebankan secara agregasi ini menimbulkan distorsi harga (price distorsi) terjadi apabila dasar alokasi kuantitas (quantity distorsi) terjadi apabila dasar alokasi biaya tidak sesuai dengan sumber daya yang dikonsumsi oleh produk. Penyebab distorsi antara lain:

  1) Beberapa biaya yang dialokasikan ke produk yang tidak ada hubungannya dengan terjadinya biaya tersebut seperti biaya

  research dan development.

  2) Penghapuskan biaya yang berhubungan dengan produk yang sedang diproduksi, seperti biaya penjualan, biaya administrasi dan umum. 3) Alokasi yang tidak akurat dapat disebabkan karena distorsi kuantitas.

  4) Distorsi yang terjadi karena pengalokasian biaya umum dan biaya bersama ke produk. Biaya umum adalah biaya dari sumber yang bias dipisahkan, yang dikeluarkan untuk menghasilkan lebih dari satu macam produk. Biaya bersama adalah biaya yang muncul kalau suatu proses produksi diperlukan untuk menghasilkan lebih dari satu produk.

  b. Hanya menggunakan jam tenaga kerja langsung atau jam kerja mesin sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya overhead pabrik dari pusat biaya pada produk dan jasa. Sistem ini telah dikembangkan ketika jumlah biaya tenaga kerja langsung masih memiliki proposi yang besar dari total biaya produk.

C. Konsep Dasar Activity Based Costing System. Latar Belakang Timbulnya Activity Based Costing System.

1. Activity Based Costing (ABC) System timbul sebagai akibat dari

  kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi biaya yang mampu merefleksikan konsumsi sumberdaya dalam berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk. Menurut Mulyadi (1993: 15), kebutuhan informasi biaya tersebut didorong oleh lima penyebab, yaitu: 1) Persaingan global yang memaksa manajemen perusahaan mencari berbagai alternatif pembuatan produk yang cost effective manajemen harus dapat mengidentifikasi non-value added dalam pembuatan produk dan menggunakan berbagai

  activities management system untuk menghilangkan non-value added activities.

  2) Penggunaan teknologi maju dalam pembuatan produk (advanced

  manufacturing technology ) menyebabkan proporsi biaya Overhead

  pabrik dalam produk menjadi jauh lebih tinggi dibanding dengan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya Overhead dalam perusahaan yang berteknologi maju sebagian besar biaya overhead adalah sunk cost seperti biaya deprisiasi dan equipment, amortisasi biaya penyusunan program komputer.

  3) Untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus menerapkan driven strategi yang senantiasa harus secara terus menerus melakukan perbaikan dalam pembuatan produk. 4) Market driven strategi menuntut manajemen perusahaan manufaktur untuk inovatif, seperti produk life cycle menjadi semakin pendek. 5) Pemanfaatan teknologi komputer dalam pengolahan data akuntansi memungkinkan dilakukannya pengolahan berbagai informasi biaya yang sebelumnya tidak terbayangkan pada waktu menggunakan manual sistem, maupun bookeping-machine system.

2. Pengertian Activity Based Costing System.

  Menurut Brimson (1991: 47), pengertian akuntansi aktivitas adalah sebagai berikut :

  

“…is a process of accumulating and tracing cost and performance

data a firm’s activities and providing feed back of actual result against

  .

  the planned cost initiate action where required”

  Menurut Cooper dkk (1992: 266), Activity Based Costing memiliki pengerian-pengertian sebagai berikut :

  System

“…is an exiting approach to product costing. It provides cost system

desingners with new ways to cost product, focus managerial attention

. and modify behavior”

  Menurut Horgren dkk (1999: 166), Based Accounting (ABA) atau Activity Based Costing adalah: overhead for each of

  ”…is a system that first accumulates cost

activities to the product, service, or other cost object that causes that

  Menurut Supriyono (1994: 230), Activity Based Costing adalah : “sistem yang terdiri dari dua tahap yaitu pertama melacak biaya pada berbagai aktivitas dan kemudian ke berbagai produk. Tahap kedua meliputi pelacakan biaya ke berbagai produk”.

3. Asumsi Activity Based Costing System

  Menurut Mulyadi (1993: 11), Ada dua pengertian dasar dalam sistem ABC yaitu :

  a. Aktivitas menimbulkan biaya berangkat dari anggapan bahwa

  Activity based costing system

  sumber daya pembantu atau sumber daya secara tidak langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan. Permintaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan menyebabkan perusahaan melaksanakan aktivitas produk yang menghasilkan produk tersebut. Aktivitas yang dilaksanakan oleh perusahaan ini menyerap sumber-sumber perusahaan. Oleh karena itu produk harus dibebankan biaya dari sumber-sumber perusahaan sesuai dengan aktivitas yang diserap oleh produk tersebut.

  b. Produk dan pelanggan menyebabkan timbulnya permintaan atas aktivitas.

  Untuk membuat produk diperlukan berbagai aktivitas, dan setiap kegiatan memerlukan sumber daya untuk pelaksanaan aktivitas tersebut.

  Bagan II.3 Dua Anggapan yang Melandasi ABC System Tersebut Membentuk Konsep Dasar ABC System

Value added and

Non value added activities

  Sumber Daya Aktivitas Produk Sumber : Mulyadi (2000: 383)

  Karena perusahaan ingin memenuhi kebutuhan konsumen, maka perusahaan melakukan aktivitas guna menghasilkan produk atau jasa dan proses produksi membutuhkan sumber daya perusahaan. Penentuan biaya produk harus sesuai dengan sumber daya yang diserapkan aktivitas yang dilaksanakan guna menghasilkan produk.

  Dengan konsep dasar ABC system tersebut, biaya yang merupakan konsumsi sumber daya (seperti bahan baku, sumber daya manusia, teknologi, modal) dihubungkan dengan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya tersebut. Dengan demikian, hanya dengan mengelola aktivitas untuk menghasilkan produk dan jasa, manajemen akan mampu membawa perusahaan unggul dalam jangka panjang didalam persaingan. Untuk mampu mengelola aktivitas perusahaan, manajemen memerlukan informasi biaya yang mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas perusahaan.

4. Manfaat Activity Based Costing System.

  Manfaat dari Activity Based Costing System menurut Cooper dkk (1991: 276-279), yaitu: 1) Memperbaiki mutu pengambilan keputusan. 2) Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead.

  3) Memberikan kemudahan dalam penentuan biaya relevan.

  Menurut Supriyono (1994: 713-715), penerapan sistem akuntansi biaya mempunyai empat keterbatasan atau hambatan yaitu: 1) Sistem penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas mensyaratkan bahwa perusahaan memproduksi berbagai macam produk dan berada didalam suatu. 2) Sistem penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas lebih menekankan pada permasalahan alokasi atau pembebanan biaya- biaya, ternyata tidak menjelaskan bagaimanakah portofolio atau komposisi produk paling optimal.

  3) Secara konseptual, penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas mempunyai kelemahan sebagai berikut : a. Beberapa biaya masih dialokasikan secara arbriter.

  b. Dalam penentuan harga pokok produk masih terdapat penggunaan periode waktu secara arbriter.

  c. Penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas untuk biaya-biaya diidentifikasikan terhadap produk tertentu dan analisa harga pokok produk.

  4) Sistem penentuan harga pokok produk berdasarkan aktivitas tidak dapat menunjukkan biaya-biaya yang dapat dihindarkan jika suatu produk, jasa atau segmen organisasi tertentu dieliminasi.

  

Tahap-tahap Pembebanan BOP Berdasarkan Activity Based

5.

  Costing System.

  a. Prosedur tahap pertama (Hansen dan Mowen, 2000: 328-337) : 1) Identifikasi berbagai aktivitas

  Aktivitas adalah kombinasi manusia, teknologi, bahan mentah, metode dan lingkungan yang memproduksi barang atau jasa tertentu. Fokus dari perhitungan biaya berdasarkan kegiatan adalah kegiatan. Jadi, mengidentifikasi kegiatan haruslah merupakan langkah pertama dalam mendesain suatu sistem perhitungan biaya berdasarkan kegiatan. Identifikasi kegiatan memerlukan mengamati dan membuat daftar pekerjaan yang dilakukan di dalam organisasi.

  2) Pengelompokan berbagai aktivitas Setelah berbagai aktivitas diidentifikasi maka langkah selanjutnya adalah mengelompokkan berbagai aktivitas yang a) Klasifikasi proses Suatu proses didefinisikan sebagai suatu seri kegiatan yang saling terkait untuk melakukan suatu tujuan. Perhitungan biaya proses pada proses manufaktur dengan cara-cara membebani biaya ke produk-produk yang melewati proses produksi tertentu. Namun, konsep proses jauh lebih luas dari produksi.

  b) Klasifikasi tingkat kegiatan Aktivitas-aktivitas dikelompokkan ke dalam empat kategori aktivitas (Supriyono, 1994: 237-239) yaitu: (1) Aktivitas tingkat unit ( unit-level activities)

  Aktivitas tingkat unit adalah aktivitas yang dikerjakan setiap satu unit produk diproduksi. Besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi. Sebagai contoh tenaga kerja langsung, jam mesin, dan jam listrik digunakan setiap satu unit produk dihasilkan.

  (2) Aktivitas tingkat batch ( batch level activities) Aktivitas tingkat batch adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali satu batch produk diproduksi. Besar kecilnya aktivitas dipengaruhi oleh jumlah batch produk yang diproduksi. Contoh aktivitas yang termasuk dalam penjadwalan produksi, aktivitas pengelolaan bahan (gerak bahan dan order pembelian), aktivitas inspeksi.

  (3) Aktivitas tingkat produk (product level activities) Aktivitas tingkat produk atau penopang produk adalah aktivitas yang dikerjakan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. Aktivitas ini mengkonsumsi masukan untuk mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi dan dijual. Aktivitas ini dapat dilacak pada produk secara individual, namun sumber-sumber yang dikonsumsi oleh aktivitas tersebut tidak dipengaruhi oleh jumlah produk atau batch produk yang diproduksi. Contoh nya aktivitas penelitian dan pengembangan produk, perekayasaan proses, spesifikasi produk, perubahan perekayasaan, dan peningkatan produk. (4) Aktivitas tingkat fasilitas (facillity level activities)

  Aktivitas tingkat fasilitas adalah aktivitas yang dikerjakan untuk menopang proses pemanufakturan secara umum yang dilakukan untuk menyediakan fasilitas dalam memproduksi produk. Besar kecilnya aktivitas ini tidak dipengaruhi oleh jumlah produk atau bauran produk yang diproduksi. Aktivitas ini produk yang yang berbeda. Contoh aktivitas ini mencakupkan misalnya pemeliharaan bangunan, keamanan, pertamanan, penerangan pabrik, kebersihan serta depresiasi pabrik.

  3) Penentuan kelompok-kelompok biaya (cost pool) yang homogen.

  Kelompok biaya yang homogen adalah sekumpulan biaya overhead yang dihubungkan secara logis dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan berbagai macam biaya tersebut dapat diterangkan oleh cost driver yang homogen. Agar dapat dimasukkan dalam suatu kelompok biaya yang homogen. Aktivitas-aktivitas overhead harus dihubungkan secara logis dan rasio konsumsi yang sama untuk semua produk

  4) Penentuan tarif kelompok (cost pool rate) Tarif kelompok adalah tarif biaya per unit dari penggerak aktivitas

  

(cost driver) yang dihitung dengan cara membagi biaya kelompok

dengan kapasitas praktis penggerak aktivitas.

  Taksiran total biaya pada cost pool Cost pool rate = Taksiran cost drive

  b. Prosedur tahap kedua Dalam tahap kedua, biaya-biaya aktivitas dibebankan keproduk berdasarkan konsumsi atau permintaan aktivitas oleh masing- dan ukuran besarnya sumber daya yang yang dikonsumsi oleh setiap produk dengan perhitungan sebagai berikut: Overhead pabrik yang dibebankan =

  Tarif kelompok x unit penggerak yang dikonsumsi oleh produk

6. Kondisi yang Diperlukan dalam Penerapan Activity Based Costing System.

  Dua hal yang mendasar menurut Supriyono (1994: 247-250), yang harus dipenuhi sebelum kemungkinan penerapan Activity Based , yaitu :

  Costing System

  1) Biaya-biaya berdasar non-unit harus merupakan presentase signifikan dari biaya Overhead. Jika biaya-biaya ini jumlahnya kecil, maka sama sekali tidak ada masalah dalam pengalokasian pada tiap produk.

  2) Rasio-rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas berdasar unit dan aktivitas berdasar non-unit harus berbeda. Jika berbagai produk menggunakan semua aktivitas Overhead dengan rasio yang kira- kira sama, maka tidak masalah jika cost driver berdasarkan unit digunakan untuk mengalokasikan semua biaya overhead pada setiap produk.

  Syarat Activity Based Costing System menurut Cooper dkk (1991: 372), yaitu : 1) Diversifikasi produk tinggi.

  Dengan adanya tingkat diversitas produk yang tinggi maka akan menimbulkan masalah untuk mengalokasikan atau membebankan biaya pada beberapa produk yang menggunakan fasilitas yang sama.

  2) Perusahaan menghadapi persaingan yang ketat.

  Perusahaan yang berada pada wilayah persaingan yang ketat akan berusaha untuk mendapatkan informasi mengenai harga pokok yang akurat agar dapat mendukung pangambilan keputusan. 3) Biaya-biaya pengukuran untuk menghasilkan informasi biaya produk rendah. menawarkan suatu metode

  Activity Based Costing System

  pembebanan biaya yang lebih akurat yang pada akhirnya dapat mempengaruhi peningkatan laba, hal ini berarti biaya yang akan dikeluarkan untuk perencanaan dan pengoperasian sistem ini lebih rendah dari pada manfaat yang akan diperoleh dari penerapan sistem ini. 4) Biaya-biaya berdasarkan non unit merupakan prosentase yang signifikan dari biaya Overhead.

  Perusahaan yang mempunyai biaya non unit yang prosentasenya secara signifikan tidak tepat jika perusahaan tersebut melakukan pembebanan berdasarkan unit

  D.

   Cost Pool

  adalah kelompok biaya yang disebabkan oleh aktivitas

  Cost pool

  yang sama dengan satu dasar pembebanan (cost driver). Cost pool berisi aktivitas yang biayanya memiliki hubungan yang kuat (korelasi positif) antara cost driver dengan biaya aktivitas. Tiap-tiap cost pool menampung biaya-biaya dari transaksi-transaksi yang homogen. Kelompok biaya yang adalah sekumpulan biaya overhead

  homogen (homogeneous cost pool)

  yang dihubungkan secara logis dengan tugas-tugas yang dialokasikan dan berbagai macam biaya tersebut dapat diterangkan oleh cost driver tunggal.

  Jadi agar dapat dimasukkan kedalam suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead harus dihubungkan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk (Hansen dan Mowen, 1997: 310). Semakin banyak aktivitas dalam suatu aktivitas, menyebabkan semakin bertambahnya biaya dalam cost pool. Semakin tinggi tingkat kesamaan aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan semakin sedikit cost pool yang dibutuhkan untuk membebankan biaya- biaya tersebut. Langkah–langkah dalam menentukan atau perhitungan pool

  rate adalah : 1. Penggolongan berbagai aktivitas dalam perusahaan.

  3. Penetuan kelompok biaya yang homogen.

  4. Penentuan tarif kelompok

  5. Penetuan tarif biaya overhead pabrik per unit E.

   Cost Driver Cost driver adalah suatu faktor yang kejadiannya menimbulkan

  biaya. Faktor tersebut merupakan penyebab utama dari tingkat aktivitas (Wijaya, 1992: 91). ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan

  cost driver yaitu (Supriyono, 1994: 245-246):

  1. Biaya pengukuran Dalam activity based costing , cost driver dapat dipilih bdan digunakan jika memungkinkan, pemilihan cost driver dapat memanfaatkan informasi yang tersedia. Apabila informasi pada sistem akuntansi biaya yang sebelumnya belum tersedia, maka informasi tersebut harus dihasilkan agar dapat dimanfaatkan untuk pemilihan cost driver.

  2. Pengukuran tidak langsung dengan tingkat korelasi yang secara tidak langsung mengukur konsumsi aktivitas,

  Cost driver

  biasanya mengukur jumlah transaksi yang dihubungkan dengan aktivitas tersebut.

  Table 11.1 Cost Driver

  Potensial Pengatur peralatan jumlah pengaturan Memindahkan bahan baku jumlah perpindahan Memesan bahan baku jumlah pesanan pembelian dilakukan Mengebor jumlah jam mesin jumlah jam mesin Mendesain ulang produk jumlah pesanan perekayasaan Membayar tagihan jumlah faktur Memeriksa barang jadi jumlah bacth yang diproduksi Memelihara peralatan jumlah jam pemeliharaan Menyediakan daya jumlah jam kilowatt Mengemas produk jumlah kotak Merencanakan produksi jumlah produk yang berbeda Sumber : Hansen dan Mowen (2000: 43)

  Pengidentifikasian cost driver merupakan komponen dalam pengendalian biaya yang tidak bernilai tambah. Kinerja individual dipengaruhi kemampuannya untuk mengendalikan biaya yang tidak bernilai tambah maka pemilihan cost driver dan bagaiman cost driver tersebut digunakan dapat mempengaruhi perilaku para individu. Apabila pengidentifikasian Cost Driver ditujukan untuk menmgurangi jumlah bahan atau komponen yang diproses oleh perusahaan, maka perlu penyederhanan aktvitas bahan dan pemilihan pemasok. Jika biaya dibebankan pada produk berdasarkan pada jumlah komponen dalam produksi maka harus diciptakan intensif untuk mengurangi jumlah komponen.

F. Cost Pool Rate

  Untuk mebebankan biaya pada setiap cost pool digunakan tarif tertentu yang disebut cost pool rate. Untuk menghitung cost pool rate digunakan rumus sebagai berikut:

  Taksiran total biaya pada cost pool

  Cost pool rate =

  Taksiran cost driver

  

Cost Pool Taksiran Cost Driver Taksiran Tarif BOP

  Aktivitas biaya (1) (2) (3) (4) (5)=(2):(4) set-up mesin Rp.4000.000 jlh set-up 100 Rp 40.000 Apabila suatu produk menyerapkan 5 kali set-up, maka biaya overhead pabrik yang dibebankan:

  Tarif BOP yang dibebankan = Tarif BOP x jumlah aktivitas yang diserap : = Rp 40.000 x 5 = Rp 200.000 G. Pembebanan BOP dalam Lingkungan Manufaktur Tradisional.

  Untuk lebih memahami pembebanan BOP dengan menggunakan sistem akuntansi tradisional dapat dilihat melalui contoh kasus dibawah ini ( Hansen dan Mowen, 2000: 318-325) Goodmark Company memiliki biasa. Terdapat dua departemen produksi yaitu departemen pemotongan dan departemen percetakan. Departemen pemotongan bertanggung jawab untuk membentuk kartu-kartu tersebut, sedangkan departemen percetakan bertanggungjawab untuk desain dan pemilihan kata-kata.

  Tabel II.2 Data Pembebanan Produk BOP Kartu wangi Kartu biasa Jumlah

  Unit Produksi Setahun 100,000 100,000 110,000 Biaya Utama $ 78,000 $ 738,000 $ 816,000 JTKL 10,000 90,000 100,000 Jam Mesin 5,000 45,000 50,000 Produksi Berjalan

  20

  10

  30 Jumlah Perpindahan

  60

  30

  90 Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 319)

  Tabel II.3 Data Departemen Keterangan Dep. Pemotongan Dep. Percetakan Total

  Jam Kerja Langsung Kartu Wangi $ 3,000 $ 7,000 $10,000 Kartu Biasa 77,000 13,000 90,000

  Total $ 80,000 $ 20,000 $100,000 Jam Mesin Kartu Wangi 1,000 4,000 5,000 Kartu Biasa 9,000 36,000 45,000

  Total $10,000 $ 40,000 50,000 BOP Penyetelan $ 60,000 $60,000 $120,000 Penanganan Bahan 30,000 30,000 60,000 Daya 10,000 90,000 100,000 Inspeksi 8,000 72,000 80,000

  Total $108,000 $ 252,000 $ 360,000 Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 319)

  Untuk kesederhanan, hanya empat jenis kegiatan overhead yang dilakukan oleh empat departemen penunjang yang berbeda, yang digunakan: penyetelan peralatan untuk tiap batch, perpindahan batch, pemasokan listrik dan pemeriksaan. Biaya penyetelan dibebankan berdasarkan jumlah produksi berjalan yang ditangani oleh tiap departemen karena jumlahnya identik, tiap departemen menerima 50% dari keseluruhan biaya penyetelan. Biaya penanganan bahan baku dibebankan berdasarkan jumlah produksi berjalan yang digunakan oleh tiap departemen (yang diasumsikan). Biaya listrik dibebankan secara proposional berdasarkan jam mesin yang digunakan oleh tiap departemen. terakhir, biaya pemeriksaan dibebankan secara proposional berdasarkan jam tenaga kerja langsung yang digunakan (pengalaman menunjukan terdapat hubungan yang nyaris sempurna antara jam pemeriksaan dengan jam tenaga kerja langsung)

  1. Tarif overhead tunggal untuk satu pabrik Dalam sistem akuntansi tradisional BOP dapat dijelaskan oleh satu

  . Dalam hal ini diasumsikan cost driver yang dipilih oleh

  cost driver

  perusahaan adalah jam tenaga kerja langsung, maka tarif overhead untuk setiap jam tenaga kerja langsung adalah sebesar total BOP dibagi dengan total jam mesin.

  Total BOP $ 360,000 Tarif pabrik = = = $ 3,6/ JTKL

  Total JTKL 100,000 JTKL Dengan menggunakan tarif ini dan informasi lain, maka biaya per unit untuk tiap produk dapat dihitung pada Tabel II.4 :

  Tabel II.4 Perhitungan Biaya Overhead Pabrik Per unit dan Biaya Unit

berdasarkan Tarif Tunggal

Keterangan Kartu Wangi Kartu Biasa

  Biaya Utama $ 78,000 $ 738,000 Biaya Overhead: $3,60 X 10,000 36,000 $3,60 X 90,000 324,000 Jumlah Biaya Produksi $ 114,000 $ 1,062,000 Unit Produksi 10,000 100,000 Jumlah Biaya/ Unit $11,40 $ 10,62

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 318)

  2. Tarif overhead setiap departemen Departemen pemotong merupakan departemen padat karya dan departemen percetakan adalah departemen padat mesin. Lebih lanjut, biaya overhead dari departemen pemotongan sebesar 40% dari biaya overhead pada departemen percetakan. Berdasarkan pengamatan ini, dapat dikatakan bahwa tarif overhead departemen akan mencerminkan konsumsi overhead dengan lebih baik dibandingkan tarif pabrik. Jika benar, maka biaya produk akan lebih akurat. Pendekatan ini akan menghasilkan tarif departemen sebagai berikut: Tarif overhead dep.Pemotongan = $ 108,000/80,000 = $1,35/JTKL Tarif overhead dep. Percetakan = $ 252,000/40,000 = $ 6,30/JM Dengan menggunakan tarif ini dan data dari table II.2. Maka perhitungan biaya per unit untuk tiap produk dapat dihitung pada Tabel

  II.5 sebagai berikut:

  Tabel II.5 Perhitungan Biaya Overhead Pabrik Per unit dan Biaya Unit berdasarkan Tarif Departemen Keterangan Kartu Wangi Kartu Biasa

  Biaya Utama $ 78,000 $ 738,000 Biaya Overhead [($1,35 X 3,000) + ($ 6,30 X 4,000)] 29,250 [($1,35 X 77,000) + ($ 6,30 X 36,000)] 330,750 Jumlah Biaya Produksi $ 107,250 $ 1,068,750 Unit Produksi 10,000 100,000 Jumlah Biaya/Unit $ 10,73 $ 10,69

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 319-320)

H. Pembebanan BOP dalam Lingkungan Manufaktur Maju

  Untuk memahami pembebanan BOP lingkungan manufaktur maju berdasarkan Sistem ABC dengan mengunakan kasus pada sistem tradisional yaitu Goodmark Company.

  1. Prosedur tahap I Pada tahap pertama ini menghasilkan lima keluaran yaitu identifikasi kegiataan, biaya dibebankan pada setiap kegiatan, kegiatan yang berkaitan dikelompokkan bersama membentuk set-set homogen, biaya dari kelompok kegiataan dijumlahkan untuk menentukan kelompok biaya homogen dan tarif (overhead) kelompok dihitung. Untuk menggambarkan proses ini, empat kegiatan overhead telah diidentifikasi yaitu penyetelan, penanganan bahan, daya dan inspeksi. Biaya-biaya untuk masing-masing kegiatan telah ditentukan dan dijelaskan dalam Tabel II.3. Terdapat pula hubungan logika yaitu kegiatan penyetelan dan kegiatan penanganan bahan dilakukan setiap secara logika terkait oleh kegiatan produksi tingkat batch yang lebih umum. Dengan demikian, kegiatan inspeksi dan daya dilakukan setiap kali suatu unit produk dihasilkan. Jadi, kedua kegiatan ini secara logika terkait oleh kegiatan yang lebih umum untuk memproduksi suatu unit produksi.lebih lanjut dari Tabel II.7 kita mengetahui bahwa pengelompokan penyetelan dan penanganan bahan dan pengelompokan daya dan inspeksi mempunyai perbandingan konsumsi yang sama untuk kedua produk. Jadi, kita dapat mengurangi empat kegiatan ke dalam dua set kegiataan. Ini dapat dilihat pada Tabel II.6 :

  

Tabel II.6

Biaya Kelompok

Kelompok Tingkat Batch Kelompok Tingkat Unit

  Penyetelan $120,000 Daya $100,000 Penanganan Bahan 60,000 Inspeksi 80,000 Total $ 180,000 Total $180,000

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 323)

  Tabel II.7 Diversitas Produk : Rasio Konsumsi Aktivitas Kartu Kartu Pendorong Wangi Biasa Kegiatan (A) (B)

  Penyetelan 0,67 0,33 Proses produksi Penanganan Bahan Baku 0,67 0,33 Jumlah perpindahan Daya 0,10 0,10 Jam mesin Pemeriksaan 0,10 0,90 Jam tenaga kerja langsung

  a. A 20/ 30 = 0,67 B 10/30 = 0,33

  b. A 60/90 = 0,67 B 30/90 = 0,33

  c. A 5,000/50,000 = 0,10 B 45,000/50,000 = 0,90

  d. A 10,000/100,000 = 0,10 B 90,000/100,000 = 0,90 Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 325)

  Tabel II.8 Prosedur Tahap Pertama dalam Menentukan Biaya Overhead Pabrik Keterangan Jumlah

  Kelompok Tingkat Bacth: Biaya Penyetelan

  $ 120,000 Biaya Penanganan Bahan 60,000 Jumlah Biaya $ 180,000 Produksi Berjalan

  30 Tarif Kelompok ( Biaya Per Produksi Berjalan ) $ 6,000 Kelompok Tingkat Unit : Biaya Listrik

  $ 100,000 Tunjangan Tambahan Tenaga Kerja Langsung 80,000 Jumlah Biaya $ 180,000 Jam Mesin

  50,000 Tarif Kelompok (Biaya Per jam Mesin) $3,60

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 324)

  2. Prosedur tahap II Untuk mengetahui total BOP setiap produk, tarif sekelompok yang dihitung melalui tahap pertama dikalikan dengan jumlah aktivitas yang diserap.

  Tabel II.9 Perhitungan Biaya Overhead Pabrik Per unit dan Biaya Unit berdasarkan ABC System Keterangan Kartu Wangi Kartu Biasa

  Biaya Utama $ 78,000 $ 738,000 Biaya Overhead: Kelompok Tingkat Batch: ($6,000 X 20) 120,000 ($6,000 X 10) 60,000 Kelompok Tingkat Unit : ($3,60 X 5,000) 18,000 ($3,60 X 45,000) 162,000 Jumlah Biaya Produksi $ 216,000 $ 960,000 Unit Produksi 10.000 100.000 BiayaUnit (Jumlah Biaya/Unit) $21,60 $9,60

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 325)

  Tabel II.7 Perbandingan BOP Per unit dan Biaya Unit Sistem Produk A Produk B

  Biaya Overhead Pabrik Per unit : Tarif Tunggal $ 3,60 $ 3,24 Tarif Departemen 2,93 3,31 Berdasarkan ABC 13,8 2,22

  :

  Unit Cost

  Tarif Tunggal $ 11,40 $10,62 Tarif Departemen 10,73 10,69 Berdasarkan ABC 21,6 9,60

  Sumber: Hansen dan Mowen (2000: 325)

BAB III METODE PENELITIAN Jenis Penelitian A. Dalam penulisan ini, penulis melakukan studi kasus dengan metode penelitian

  deskriptif analisis yaitu suatu metode yang berusaha mengumpulkan, menyajikan, serta menganalisis data-data perusahaan sehingga dapat memberikan gambaran yang cukup jelas dalam obyek yang diteliti dan kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan dan analisis yang diperoleh berupa elemen-elemen / variabel yang berhubungan dengan perhitungan unit cost dengan menggunakan Activity Based Costing System pada perusahaan PT. Mondrian Group.

   Tempat dan Waktu Penelitian B.

  1. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Perusahaan PT. Mondrian Group yang berlokasi di KH. Hasyim Ashari No 171, Mojayan, (By Pass), Klaten.

  2. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2005

  C. Subyek dan Obyek Penelitian

  1. Subyek Penelitian

  a. Pimpinan Perusahaan

  b. Kepala Bagian Produksi

  c. Kepala Bagian Pemasaran

  d. Kepala Bagian Akuntansi

  2. Obyek Penelitian

  a. Elemen-elemen Biaya Overhead Pabrik

  b. Aktivitas-aktivitas produksi yang menimbulkan Biaya Overhead Pabrik

  D. Data yang Diperlukan dan Dicari

  1) Gambaran umum perusahaan 2) Data produk yang diproduksi selama tahun 2003 3) Data yang berkaitan dengan elemen BOP pada tahun 2003 dari setiap jenis produk yang diproduksi 4) Aktivitas-aktivitas yang menimbulkan BOP

   Teknik Pengumpulan Data E.

  1. Dokumentasi Pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan cara mengumpulkan dan menelaah data yang berhubungan dengan gambaran umum perusahaan, sistem perusahaan, data produksi, data biaya overhead, laporan rugi-laba, dan data lain yang berhubungan dengan penentuan perhitungan unit cost.

  2. Observasi Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan cara mengumpulkan dan menelaah data melalui pengamatan dan peninjauan secara langsung terhadap aktivitas yang dilakukan oleh suatu fungsi dalam perhitungan biaya produk per unit. Tujuan secara khusus dari teknik ini adalah untuk memperkuat dan menegaskan kebenaran dari data yang ada didalam PT. Mondrian.

  3. Wawancara Dengan teknik ini, peneliti akan memperoleh data dengan cara mengajukan pertanyaan yang berhubungan denga topik yang diajukan.

  Teknik ini juga sebagai sarana untuk melengkapi data yang belum ditemukan dalam teknik dokumentasi maupun teknik observasi.

F. Teknik Analisis Data

  Untuk menjawab permasalahan yaitu apakah terdapat perbedaan antara biaya

  

overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam perhitungan unit cost yang

  ditetapkan perusahaan dengan biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam perhitungan unit cost berdasarkan Activity Based Costing System, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Langkah-langkah pembebanan biaya overhead pabrik (BOP) didalam penghitungan unit cost dengan sistem perusahaan sebagai berikut : a. Mengumpulkan seluruh biaya produksi meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

  b. Menghitung biaya utama (prime cost).

  c. Menyajikan data anggaran biaya overhead pabrik tahun 2003 secara keseluruhan.

  d. Mendeskripsikan secara keseluruhan tentang dasar penentuan penentuan tarif per unit didalam pembebanan BOP kepada produk.

  e. Menyajikan data BOP keseluruhan untuk setiap sampel produk.

  f. Menghitung tarif BOP.

  g. Menyajikan jumlah total dari dasar penetuan tarif untuk setiap produk (jam mesin, jam tenaga kerja langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan lain-lain) untuk setiap produk.

  h. Menyajikan perhitungan BOP total untuk setiap produk dan BOP per unit untuk setiap produk. i. Menghitung unit cost untuk setiap jenis produk.

  2. Langkah-langkah pembebanan biaya overhead pabrik (BOP) didalam penghitungan unit cost dengan sistem ABC sebagai berikut : Langkah I:

  a. Mengidentifikasi kondisi yang ada dalam PT Mondrian Group berkaitan dengan perancangan perhitungan unit cost dengan sistem mengidentifikasi kondisi yang ada dalam perusahaan, yaitu penulis mengumpulkan data yang dibutuhkan dari pihak-pihak terkait didalam perusahaan seperti bagian akuntansi, bagian personalia dan bagian produksi. Data tersebut meliputi jenis produk yang dihasilkan, diversitas produk, kompleksitas produk dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan produk tersebut.

  b. Dari berbagai informasi yang diperoleh dengan cara pengumpulan data dan wawancara kemudian diidentifikasi apakah kondisi perusahaan secara teoritis sudah memenuhi syarat bagi diterapkannya sistem perhitungan unit cost berdasarkan aktivitas atau sistem Activity Based

  Costing . Langkah tersebut diikuti dengan membandingkan kondisi

  yang ada dengan syarat-syarat yang diidealkan untuk merancang sistem penentuan biaya bedasarkan sistem Activity Based Costing.

  Adapun syarat-syarat secara teoritis agar perusahaan dapat menerapkan sistem Activity Based Costing adalah : 1) Diversitas produk yang diproduksi cukup tinggi. 2) Perusahaan menghadapi persaingan yang cukup ketat dengan perusahaan sejenis.

  3) Jumlah biaya overhead pabrik cukup tinggi. 4) Biaya pengukuran dapat dikatakan rendah. Langkah II: Menentukan biaya produksi produk per unit PT Mondrian Group dengan

  Activity Based Costing System . Ada beberapa tahap dalam pembebanan

  biaya overhead untuk menentukan biaya produksi produk per unit yaitu: 1) Identifikasi aktivitas-aktivitas yang menimbulkan biaya 2) Mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas ke dalam beberapa kelompok menurut proses dan tingkat aktivitas.

  3) Menentukan Activity Driver untuk setiap aktivitas. 4) Mengelompokkan biaya pada aktivitas menjadi beberap kelompok biaya yang homogen.

  5) Menghitung tarif per aktivitas masing-masing kelompok dengan cara membagi jumlah semua biaya didalam kelompok biaya yang homogen dengan suatu ukuran aktivitas yang dilakukan.

  3. Langkah-langkah perbandingan antara pembebanan biaya overhead pabrik (BOP) didalam penghitungan unit cost dengan sistem perusahaan dengan pembebanan biaya overhead pabrik (BOP) didalam penghitungan unit cost dengan sistem ABC sebagai berikut :

  a. Menyajikan perbandingan total biaya overhead pabrik untuk setiap jenis produk menurut perusahaan dengan total biaya overhead pabrik untuk setiap jenis produk menurut sistem ABC.

  b. Menghitung perbedaan antara total biaya overhead pabrik untuk setiap jenis produk yang dihitung menurut perusahaan dan total biaya

  overhead pabrik untuk setiap jenis produk yang dihitung berdasarkan sistem ABC.

  c. Menyajikan perbandingan penghitungan unit cost menurut perusahaan dengan penghitungan unit cost menurut sistem ABC.

  d. Menghitung perbedaan antara perhitungan unit cost menurut perusahaan dan perhitungan unit cost berdasarkan sistem ABC.

  

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Berdirinya Perusahaan PT. Mondrian Group merupakan perusahaan konveksi yang bergerak di

  dalam pembuatan kaos (T-Shirt) dan pakaian muslim. Perusahaan konveksi ini didirikan pada tanggal 19 Desember 1992 oleh beberapa orang, antara lain Bapak Hartono, Bapak Harri Pramono, Bapak Bambang Dwi Purnomo, Bapak Endro Sutopo, Ibu Fr. Kiswari

  Awal mulanya perusahaan masih dalam bentuk perseorangan, dan dipimpin oleh Bapak Harri Pramono. Seiring dengan perkembangan perusahaan, beberapa tahun kemudian mampu berubah bentuk menjadi perusahaan yang berbadan hukum tetap terhitung mulai tanggal 1 April 1998 dengan nama PT. Mondrian Group. Perusahaan ini telah mendapat pengesahan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan dengan No.

  107/KDPP 11-11/3 UTDI/IV/98. Saat ini PT. Mondrian Group dimiliki oleh beberapa pemegang saham, antara lain Bapak Harri Pramono, Bapak Edi Widyanto, Bapak Andi Pranama, Bapak Endro Sutopo, Bapak Bambang Dwi Purnomo, Bapak Ardi Wijaya dan Ibu Fr. Kiswari

  Latar belakang perusahaan ini memilih nama Mondrian sebagai nama perusahaan adalah sebagai berikut:

  1. Nama “Mondrian” diambil dari nama seorang pelukis besar seangkatan dengan Leonardo Da Vinci. Nama Lengkap pelukis tersebut adalah Piet Mondrian, dimana memiliki pengagum yang tersebar di seluruh dunia karena hasil lukisannya yang indah. Maka, diharapkan PT. Mondrian Group mampu memproduksi barang yang sangat indah sehingga digemari oleh banyak konsumennya.

  2. Nama “Mondrian” oleh sebagian besar masyarakat atau konsumen yang memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas perusahaan, merupakan nama yang mudah dibaca, mudah dikenal, dan mudah diingat.

  PT. Mondrian Group sampai saat ini sudah memiliki beberapa unit yang mampu menghasilkan kaos (T-Shirt) dan pakaian khusus muslim dengan merk, antara lain: d,MO, Dadung, Be-Gaya, dan Sekido.

B. Lokasi Perusahaan

  Pemilihan lokasi merupakan hal yang cukup penting dalam menunjang keberhasilan suatu bisnis. Pada awalnya PT. Mondrian Group didirikan di belakang gedung Pengadilan Negeri Klaten tepatnya berada di Jl. Manahan No 3 – 13 Kelurahan Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten

  2 Klaten. Perusahaan ini menempati areal seluas ± 4000 m yang digunakan meningkatnya perkembangan perusahaan, tepatnya pada tanggal 1 Juli 1999 dengan izin tempat usaha No. 503/1071/1999 yang dikeluarkan oleh Pemda Klaten dan Departemen Perindustrian & Perdagangan, didirikanlah satu lokasi pabrik baru yang berada di Jl. KH Hasyim Ashari No 171 (By Pass) Mojayan, Kabupaten Klaten. Sekarang lokasi pabrik baru ini menjadi pabrik utama bagi PT. Mondrian Group dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, termasuk aktivitas produksi.

  Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi, antara lain:

  1. Banyak tersedianya tenaga ahli di bidang konveksi (ahli desain, sablon, potong, jahit, dll) di daerah Kabupaten Klaten dan sekitarnya.

  2. Letak dari perusahaan yang berada di tepi jalan raya Yogyakarta – Solo, sehingga dapat memudahkan konsumen untuk menjangkau perusahaan.

  3. Pasar yang cukup besar, terutama kebutuhan untuk kaos santai dan kaos olahraga di Klaten dan daerah-daerah sekitarnya.

  4. Jarak yang dekat untuk penyediaan bahan baku dan bahan penolong sehingga kelangsungan dari proses produksi bisa lancar.

  5. Harga tenaga kerja yang relatif murah disekitar lokasi.

  . Visi Dan Misi Perusahaan

  C

  PT. Mondrian Group adalah sebuah perusahan yang bergerak dalam bidang konveksi, yaitu menyediakan kebutuhan konsumen terhadap kebutuhan untuk pakaian santai dan olahraga serta pakaian muslim. Perusahaan ini selalu mengutamakan kualitas produk yang baik, desain produk yang inofatif, dan pengembangan produk baru, sehingga produk yang dihasilkan perusahaan ini diharapkan bisa mengikuti trend atau mode pakaian yang selalu berubah. Visi yang ingin dicapai perusahaan ini selain mengoptimalkan laba, perusahaan juga berkeinginan meningkatkan peran serta dalam menunjang kebijakan dan program pemerintah dibidang ekonomi dan Pembangunan Nasional, khususnya dalam bidang penyediakan kebutuhan pakaian. Sedangkan misi yang diapakai oleh perusahaan adalah mendayagunakan sumber daya manusia dan dana yang tersedia bagi upaya pembangunan perusahaan yang berkesinambungan demi terciptanya cita-cita bangsa dan negara dengan pemberdayaan sumber daya yang optimal diharapkan dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik.

D. Struktur Organisasi

  Struktur organisasi di dalam suatu perusahaan merupakan unsur yang sangat penting dikarenakan terdapat pembagian wewenang dan tanggung jawab serta tugas masing-masing anggota organisasi/perusahaan. Struktur organisasi juga menunjukkan hubungan antar fungsi-fungsi dan departemen- departemen atau bagian-bagian. Setiap perusahaan memiliki struktur organisasi yang berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan perusahaan itu sendiri. Berikut ini merupakan bagan struktur organisasi PT. Mondrian Group

  SEKR PERUSAHAAN

  MANAGER KEAMANAN

  Edi Widyanto

  

DIREKTUR UTAMA

  Harri Pramono

  POLIKLINIK MANAGER KEUANGAN MANAGER PEMASARAN DAN PENJUALAN MANAGER PRODUKSI MANAGER R & D SEKR DIREKTUR UNIT UNIT SEKINDO MIS

  Y. Jony Akon

  MANAGER KENDARAAN

  Y. Jony Akon

  Y. Jony Akon

  Septedy Djoko Rendra

  MANAGER RT

  Jaka Mulyata

  UNIT DADUNG SEKR DIREKTUR MANAGER PERSONALIA

  Anita Nilam Sari

  BE-GAYA

  Nanang B.A.T

  UNIT UMUM UNIT d,MO

  KOMISARIS UTAMA Sumber: Departemen Personalia PT. Mondrian Group. Sesuai dengan bagan struktur organisasi di atas, berikut ini merupakan tugas dan wewenang dari masing-masing bagian, yaitu:

  1. Direktur Utama: Direktur utama saat ini dijabat oleh Bapak Harri Pramono, dimana jabatan ini dipilih oleh para anggota komisaris pada saat diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tugas dan wewenang Direktur Utama antara lain: a. Menentukan kebijakan-kebijakan pokok bagi perencanaan, pengorganisasian, pengontrolan dan pengawasan aktivitas-aktivitas perusahaan.

  b. Membuat rencana-rencana umum dan mengkoordinasikan segala kegiatan perusahaan.

  c. Mendelegasikan sebagian wewenang kepada direktur-direktur pada tiap-tiap unit.

  d. Mengawasi segala proses dan hasil kerja, apakah telah sesuai dengan rencana.

  e. Melaporkan perkembangan perusahaan kepada pemilik dan bertanggung jawab atas kelancaran jalannya perusahaan.

  2. Sekretaris Perusahaan Sekretaris perusahaan atau sekretaris direktur utama saat ini dipegang oleh Bapak Septedy Djoko. Tugas dan wewenangnya, yaitu:

  a. Menyiapkan semua acara atau jadwal kerja direktur utama dan b. Menjalin hubungan dengan instansi-instansi yang terkait.

  c.

   Melaksanakan segala pekerjaan yang berhubungan dengan ketatausahaan.

  d.

   Menyediakan sarana guna membantu pekerjaan direktur utama.

3. Multimedia Information System

  Pada bagian ini berisi ahli-ahli komputer yang dikepalai oleh bapak Rendra. Tugas dan wewenang yang dimiliki, yaitu:

  a. Membuat suatu sistem komputer bagi perusahaan, sehingga mempermudah segala aktivitas yang dilakukan perusahaan.

  b. Melindungi dan melakukan perawatan jaringan atau sistem komputer perusahaan.

  c. Menampung segala data dan informasi baik dari dalam maupun dari luar perusahaan melalui jaringan komputer.

  4. Direktur Unit PT. Mondrian Group memiliki beberapa unit dengan merk yang berbeda pula. Pertama, unit Sekindo yang memproduksi pakaian khusus muslim, dimana unit ini dijabat oleh Bapak Endra Sutapa. Kedua, unit Dadung yang memproduksi kaos fashion. Biasanya produk dengan merk Dadung ini dipakai oleh kaum muda dan anak-anak, karena disitulah segmen pasarnya. Saat ini unit Dadung dijabat oleh Bapak Hajar Bantolo. Ketiga, unit Be-Gaya yang memproduksi kaos promosi sesuai dengan keinginan konsumen. Saat ini unit Be-Gaya dikepalai oleh Ibu Anita Nilam Sari. dimana dijabat oleh Bapak Nanang B.A.T. Direktur unit ini memiliki tugas dan wewenang, antara lain: a. Menyusun program kerja divisi perusahaan baik dari segi penyediaan, SDM, produksi, pemasaran, keuangan dan produk.

  b. Mengurus permasalahan mutasi dan promosi kepada karyawan.

  c. Membantu Direktur Utama dalam mengawasi jalannya perusahaan pada masing-masing unit kerjanya.

  d. Membantu dan mengarahkan manajer-manajer yang berada di bawahnya.

  e. Menyusun rencana, koordinasi, dan pengawasan pada masing-masing unit kerjanya.

  5. Unit Umum Unit ini dibentuk supaya dapat membantu unit-unit lain yang ada di perusahaan. Dimana menyangkut hal-hal umum perusahaan. Tugas dan wewenangnya, antara lain:

  a. Mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang ada di dalam perusahaan.

  b. Recruitment dan penempatan tenaga kerja.

  c. Mengatur sistem keamanan yang tepat bagi perusahaan

  d. Menyediakan sarana dan prasarana bagi kelancaran aktivitas perusahaan e. Bertanggung jawab kepada Direktur Utama.

  6. Sekretaris Direktur Unit Memiliki tugas dan wewenang, antara lain:

  a. Membantu direktur-direktur di tiap-tiap unit dalam melaksanakan tugasnya.

  b. Mengadakan hubungan dengan manajer-manajer di bawahnya.

  c. Bertanggung jawab kepada Direktur Unit.

  7. Manajer Personalia Manajer Personalia saat ini dipegang oleh Bapak Jaka Mulyata. Tugas dan wewenangnya antara lain: a. Menyediakan SDM yang berkualitas dengan melakukan recruitment.

  b. Mengurusi kesejahteraan karyawan (gaji, tunjangan, bonus, jamsostek, dll).

  c. Mengurusi maasalah pemberhentian, pensiun, dan kepindahan karyawan.

  d. Mengurusi masalah administrasi yang berhubungan dengan karyawan.

  e. Mengurusi masalah kesehatan melalui penyediaan poliklinik bagi karyawan dan keselamatan kerja karyawan.

  8. Manajer Rumah Tangga Pada bagian ini dijabat oleh Bapak Y. Jony Akon. Tugas dan wewenangnya, yaitu: a. Mengurusi dan mengatur koperasi khusus karyawan.

  b. Menyediakan dan memelihara sarana peribadatan (mushola). c. Mengurusi masalah kebersihan dan keindahan lingkungan perusahaan (kebersihan gedung, toilet, kamar mandi, kantin, dll).

  9. Manager Keamanan

  Bagian ini dijabat oleh Bapak Y. Jony Akon. Tugas dan wewenang pada

  bagian ini, yaitu:

  a. Menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang berhubungan dengan keamanan perusahaan.

  b. Mengkoordinasikan tenaga satuan pengamanan (satpam) perusahaan.

  10. Manajer Kendaraan

  Bagian ini dipegang oleh Bapak Y. Jony Akon. Tugas dan wewenangnya antara lain: a. Menyediakan kendaraan–kendaraan guna menunjang kegiatan perusahaan.

  b. Memelihara kendaraan–kendaraan inventaris milik perusahaan.

  c. Memberikan surat ijin bagi siapa saja (karyawan maupun pimpinan) yang akan menggunakan kendaraan inventaris perusahaan.

  11. Manajer Keuangan

  Bagian ini merupakan bagian yang terintegrasi, dimana setiap unit memiliki manajer keuangan sendiri-sendiri. Manajer keuangan juga bertanggung jawab atas kondisi keuangan pada masing-masing unit. Tugas dan wewenangnya antara lain: a. Mengelola pendapatan dan pengeluaran perusahaan. c. Mengurusi masalah perusahaan yang berhubungan dengan perpajakan.

  d. Menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan bank.

  e. Menyelesaikan masalah utang dan piutang perusahaan.

  12. Manajer Pemasaran dan Penjualan

  Bagian ini juga memiliki kesamaan dengan bagian keuangan, dimana setiap unit memiliki bagian pemasaran dan penjualan masing-masing, dan bertanggung jawab kepada masing-masing unit pula. Tugas dan wewenangnya, yaitu: a. Mencatat dan mengecek produk yang akan dijual atau didistribusikan kepada konsumen.

  b. Mendistribusikan produknya ke daerah-daerah yang telah ditentukan.

  c. Mengadakan studi pasar.

  d. Bersama dengan bagian Riset and Development, mengadakan penelitian ke beberapa daerah untuk mengamati selera konsumen di daerah satu dengan daerah yang lainnya.

  13. Manajer Riset and Development (R & D)

  Bagian ini juga berdiri sendiri-sendiri, dan bertanggung jawab terhadap unit usahanya masing-masing. Tugas dan wewenangnya yaitu: a. Mengadakan penelitian ke beberapa daerah untuk mengamati selera konsumen di daerah satu dengan daerah yang lainnya.

  b. Membuat atau menciptakan inovasi-inovasi baru.

  c. Melakukan pengembangan produk

  14. Manajer Produksi

  Bagian ini juga memiliki kesamaan dengan manajer keuangan, manajer pemasaran & penjualan, dan manajer R & D, dimana berdiri sendiri dan bertanggung jawab penuh terhadap masing-masing unit usahanya. Tugas dan wewenangnya antara lain: a. Mengatur selama proses produksi termasuk pengaturan tenaga kerja, material, dan kebutuhan lainnya.

  b. Mengurusi kesiapan alat-alat produksi agar dapat digunakan dengan efektif dan efisien.

  c. Memelihara kondisi alat-alat produksi.

  d. Menyediakan bahan baku utama dan bahan baku penolong, untuk kelancaran proses produksi.

  e. Menyusun anggaran dan belanja bagian produksi.

PERSONALIA E.

  1. Jumlah Karyawan

  Tenaga kerja merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam mencapai tujuan perusahaan. Jumlah tenaga kerja yang dimiliki oleh PT.

  Mondrian Group hingga saat ini mencapai 1175 orang, dimana sebagian besar diambil dari wilayah Klaten dan sekitarnya.

  2. Jam Kerja

  Dalam menjalankan segala aktivitasnya, PT. Mondrian Group menerapkan jam per hari, kecuali untuk hari Sabtu hanya 5 jam. Hal tersebut sesuai dengan Kep. Men No 72 tahun 1984, dimana karyawan tidak boleh bekerja lebih dari 8 jam per hari dan 40 jam per minggu, namun apabila melebihi batas waktu yang telah ditentukan maka dihitung sebagai jam kerja lembur. Saat ini PT. Mondrian Group hanya memiliki 1 shift kerja.

  a. Hari Senin – Kamis: Masuk : 07.30 – 11.30 Istirahat : 11.30 – 12.45

  b. Hari Jumat: Masuk : 12.45 – 15.45

  c. Hari Sabtu: Masuk : 07.30 – 12.30

3. Penggolongan/ Status Karyawan

  a. Karyawan Tetap Adalah karyawan yang telah diangkat sebagai karyawan tetap dan mendapatkan gaji secara bulanan.

  b. Karyawan Harian Adalah karyawan yang belum diangkat sebagai karyawan tetap, namun telah dipekerjakan secara rutin dan digaji secara harian tetapi diberikan pada akhir minggu berjalan. c. Karyawan Borongan Adalah karyawan yang menerima upah sesuai dengan kuantitas produk yang dapat dihasilkan, semakin besar hasil pekerjaan yang dihasilkan maka semakin besar upah yang diterima.

  4. Sistem Penggajian

  a. Upah Harian Sistem upah ini berlaku untuk karyawan harian dan diberikan pada akhir minggu berjalan.

  b. Upah Bulanan Sistem upah ini berlaku untuk karyawan tetap dan diberikan pada akhir bulan berjalan.

  c. Upah Borongan Upah ini diberikan kepada karyawan dengan memperhitungkan hasil kerja yang dicapai, semakin besar hasil pekerjaannya maka semakin besar pula upah yang diterima, dan diberikan pada akhir minggu berjalan.

  5. Fasilitas Kerja

  Dalam hal memberikan motivasi kepada karyawan, PT. Mondrian Group memberikan jaminan sosial selain gaji. Jaminan sosial adalah pemberian dari perusahaan yang diberikan kepada karyawan menurut keadaan, waktu dan kebutuhan masing-masing karyawan, antara lain : a. Menjadi peserta Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsosotek) sesuai dengan ketentuan Undang- Undang N0.03 Tahun 1992 junto Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 1993.

  b. Seluruh karyawan diikutsertakan dalam wadah SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia)

  c. Karyawan yang mendapat musibah, misalnya kematian orang tua/anak/istri/suami/saudara sekandung, akan mendapat bantuan sosial dan uang duka dari perusahaan.

  d. Cuti bagi karyawati yang melahirkan dan mendapat sumbangan sekadarnya dari perusahaan.

  e. Apabila pekerja tertimpa kecelakaan kerja, maka segala yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan.

  f. Karyawan tetap akan mendapatkan seragam dari perusahaan.

  g. Memberikan tunjangan hari raya, misalnya Lebaran atau Natal.

PRODUKSI F.

  Pada bagian ini dibahas beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan yang meliputi hasil produksi, proses produksi, bahan baku produksi dan alat-alat produksi

1. Hasil Produksi

  PT. Mondrian Group memiliki 4 unit usaha yang menghasilkan produk yang berbeda-beda, antara lain:

  a.

   Kaos fashion

  Jenis kaos ini memiliki variasi model dan warna yang beraneka macam sesuai dengan perkembangan mode yang digemari konsumen saat ini.

  Jenis kaos seperti ini dihasilkan oleh Unit Dadung dengan kategori produk, seperti: 1) Dewasa (original), terdiri dari: reguler, kombinasi lengan pendek, lengan panjang, dan lengan ¾.

  2) Remaja (funkies), terdiri dari: reguler, kombinasi lengan pendek, lengan panjang, dan lengan ¾.

  3) Wanita (female), terdiri dari: kombinasi lengan pendek, lengan panjang, dan lengan ¾.

  4) Anak (kids), terdiri dari: reguler, kombinasi lengan pendek, lengan panjang, dan lengan ¾.

  b. Kaos promosi Jenis kaos seperti ini hanya dibuat karena pesanan dari konsumen, kegiatan tertentu. Bentuk atau model serta warna dipilih sesuai dengan keinginan konsumen. Untuk bisa memesan kaos seperti ini, konsumen minimal harus memesan 30 kaos. Kaos ini diproduksi oleh unit Be- Gaya.

  c. Kaos olah raga Kaos ini diproduksi oleh unit d,MO. Ada beberapa macam kaos yang diproduksi, antara lain: kaos untuk tenis, bulu tangkis, dan kaos untuk sepak bola.

  d. Pakaian muslim Untuk pakaian jenis ini diproduksi oleh unit Sekindo. Produk-produk yang dihasilkan unit ini, antara lain: baju koko, baju muslim wanita, jilbab, dll.

   Proses Produksi 2.

  Kegiatan produksi merupakan kegiatan utama dalam seluruh aktivitas perusahaan. PT. Mondrian Group termasuk perusahaan manufakturing, yang artinya mengolah bahan baku atau bahan mentah atau setengah jadi menjadi bahan jadi. Adapun proses produksinya dapat digambarkan sebagai berikut:

SKEMA PROSES PRODUKSI PT. MONDRIAN GROUP

  TAHAP PERSIAPAN TAHAP PENYELESAIAN PROSES PRODUKSI

  Pemotongan Benang

  Pemotongan Bahan

  Pembuatan Desain Penyetrikaan Penyablonan Pembuatan Klise

  Film Pengemasan Penjahitan Screen Sumber: Departemen Produksi PT. Mondrian Group. Dari Skema Proses Produksi PT. Mondrian Group dapat diketahui bahwa dalam memproses bahan baku menjadi bahan jadi, ada tiga tahap utama yaitu:

  a. Tahap persiapan produksi Yang termasuk dalam tahap ini, antara lain: 1) Pembuatan desain

  Pembuatan desain / gambar/ tulisan untuk kaos maupun pakaian, dilakukan oleh para desainer yang sudah ahli dan berpengalaman.

  Desain juga disesuaikan dengan perkembangan mode/ trend 2) Pembuatan klise

  Setelah desain dibuat, maka dilanjutkan dengan pembuatan klise untuk sablon. Pembuatan klise ini dibedakan menurut jumlah warna pada desain kaos dan pakaian. 3) Screen kemudian dibuat untuk proses penyablonan.

  Screen

  b. Tahap proses produksi Yang termasuk ke dalam tahap ini, antara lain: 1) Pemotongan bahan

  Gulungan-gulungan kain atau bahan kaos kemudian dipotong- potong sesuai dengan model dan ukurannya.

  2) Penyablonan Bahan yang telah terpotong-potong kemudian disablon menurut

  3) Penjahitan Bahan yang telah dipotong-potong dan telah disablon, kemudian diobras sebelum dijahit agar terlihat lebih rapi. Setelah bahan dijahit, kemudian dilakukan pemasangan label, kancing, dan zipper bila diperlukan.

  c. Tahap penyelesaian Urut-urutan pada tahap ini, antara lain: 1) Pemotongan benang sisa

  Kaos atau pakaian yang sudah jadi kemudian dibersihkan dari benang jahitan yang tersisa. Kegiatan tersebut sering dinamakan dengan bradil. 2) Penyetrikaan

  Setelah kaos atau pakaian di bradil, kemudian dilakukan proses penyetrikaan, hal ini dilakukan agar kaos atau pakaian lebih terlihat rapi. 3) Pengemasan

  Kaos atau pakaian yang telah disetrika kemudian dimasukkan ke dalam plastik pembungkus agar tetap bersih.

3. Bahan Baku Produksi

  Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi sangat bermacam- macam, antara lain: a. Benang 100 % Cotton Combed 24 S Mercerized yang dirajut menjadi kaos 100 % Cotton Combed Single Net (CTCBSK), sehingga menghasilkan kaos yang bersifat dingin, menyerap keringat, dan terlihat rapi.

  b. Kain Cotton Cardet Single Net (CTCDSK) atau kain semi katun.

  c. Bahan sablon seperti: rubber, akrafon, foam, dan mutiara untuk menghasilkan warna sablon yang betul-betul sempurna.

   Alat-alat Produksi 4.

  a. Mesin potong Mesin ini digunakan untuk memotong kain atau bahan sesuai dengan ukuran atau model yang telah ditentukan.

  b. Mesin jahit Mesin ini digunakan untuk menjahit kain atau bahan setelah dipotong- potong sesuai dengan pola atau bentuk.

  c. Mesin obras Mesin ini digunakan untuk mengobras kain atau bahan setelah disablon.

  d. Alat sablon Alat ini digunakan untuk mencetak gambar atau tulisan sesuai dengan desain ke kaos yang akan disablon.

  e. Gunting Alat ini digunakan untuk membersihkan sisa-sisa benang atau untuk f. Mesin pelobang dan pemasang kancing Mesin ini digunakan untuk melobangi kaos atau pakaian yang kemudian dipasangi kancing sesuai dengan pola atu modelnya.

  g. Setrika (uap) Alat ini digunakan untuk merapikan kaos atau pakaian sebelum didistribusikan ke konsumen.

G. PEMASARAN

1. Penentuan Harga

  Penentuan harga bertujuan untuk memberikan harga jual yang layak bagi hasil produksi agar dapat bersaing dengan produk perusahan lain dan laku terjual di pasar, sekaligus mendapatkan keuntungan.

  Dalam penentuan harga hasil produksinya, PT. Mondrian Group menggunakan metode “ Cost Plus Pricing “, yaitu metode dengan berdasarkan harga pokok produksi ditambah dengan suatu jumlah tertentu dan seberapa besar keuntungan yang akan diharapkan.

2. Daerah Pemasaran

  Daerah pemasaran PT. Mondrian Group tersebar luas di seluruh Indonesia, antara lain:

  a. Daerah Jawa Barat dan DKI, yaitu: Jakarta, Bandung, Cirebon, b. Daerah Jawa Tengah dan DIY, yaitu: Yogyakarta, Tegal, Semarang, Pekalongan, Kudus, Surakarta, Magelang.

  c. Daerah Jawa Timur, yaitu: Surabaya, Kediri, Madiun, Malang, Jember, Sidoarjo.

  d. Daerah Luar Jawa, yaitu: Jambi, Palembang, Medan, Lampung, Bali, NTB, Kalimantan.

3. Pemasaran Produk

  PT. Mondrian Group memiliki beberapa cara memasarkan produknya hingga ke konsumen, antara lain:

  1. Langsung ke konsumen, caranya konsumen langsung datang ke perusahaan, kemudian konsumen dapat membeli produk di situ (koperasi karyawan).

  2. Melalui counter-counter sebanyak 386 buah yang tersebar di seluruh Indonesia. Melalui counter-counter tersebut, PT. Mondrian Group menjamin ketersediaan produk, pemeliharaan yang konsisten, kemudahan transaksi, dan pemberian informasi yang cepat dan tidak berbelit-belit, diharapkan akan menambah loyalitas dan kuantitas konsumen pada produk-produk PT. Mondrian Group.

  3. Melalui pesanan, dimana konsumen bisa memesan kaos atau pakaian langsung kepada perusahaan. Untuk kaos pesanan minimal 30 buah kaos.

H. PROMOSI

  Untuk dapat lebih mengenalkan produknya kepada masayarakat, PT Mondrian melakukan berbagai cara yang diharapkan masyarakat yang berada diluar kota ataupun luar daerah dapat mengenal produk yang dihasilkan.

  Aspek-aspek bauran promosi yang dilakukan oleh PT Mondrian saling melengkapi satu sama lain. Meliputi:

  1. Periklanan Pemasaran yang dilakuakna oleh PT Mondrian dalam memasarakan produk melalui media, meliputi : a. Media cetak (Majalah)

  Pertimbangan-pertimbangan PT Mondrian menggunakan majalah sebagai salah satu media periklanan antara lain: 1) PT Mondrian adalah perusahaan konveksi yang produk utamanya adalah kaos fashion dimana jenis dan bentuk kaos ini bervariasi dalam model dan warna. 2) Dalam majalah terdapat kualitas cetak, gambar dan warna yang bagus sehingga dapat memperlihatkan keunikan desain dari setiap kaos yang diproduksi oleh PT Mondrian

  3) Iklan yang dilakukan melalui majalah dinilai sebagai alat promosi yang lebih efisien karena dapat mencapai golongan konsumen yang menjadi sasaran produk perusahaan yaitu pembaca yang diharapkan menjadi calon pembeli yang potensial.

  b. Media Elektronik (Televisi) Pertimbangan-pertimbangan PT Mondrian dalam usaha memperkenalkan produk melalui televisi adalah: 1) Televisi menjangkau pangsa pasar yang luas, dalam hal ini sangat penting bagi PT Mondrian mengingat target pemasaran yang luas hampir diseluruh wilayah Indonesia

  2) Televisi merupakan alat komunikasi audio visual yang dapat menampilkan dengan jelas keunikan desain kaos fashion produksi PT Mondrian yang beraneka ragam.

  2. Promosi Penjualan Promosi penjualan yang diterapkan oleh PT Mondrian antara lain:

  a. Peragaan/display Alat promosi yang digunakan dalam penjualan adalah promosi penjualan konsumen yaitu berupa demonstrasi ditempat pembelian

b. Discount

  Perusahaan seringkali memberikan discount pada waktu-wakru tertentu.

  3. Publisitas Kegiatan publisitas yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempengaruhi a. Pelayanan penelitian Dilakukan sebagai upaya perusahaan untuk menunjukkan keberadaannya, yaitu dengan memberi kesempatan bagi pihak-pihak yang ingin meneliti tentang perusahaan dan penelitian ditujukan untuk kepentingan studi guna pengembangan ilmu pengetahuan.

  b. Pemberian sponsor PT Mondrian seringkali memberikan sponsor selain sebagai media promosi juga titik target penjualan pada berbagai event organizer.

BAB V ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Pembebanan Biaya Overhead Pabrik pada PT. Mondrian Group Perusahaan PT. Mondrian Group dalam menentukan biaya overhead pabrik

  menggunakan sistem akuntansi biaya tradisional yaitu sistem perhitungan tarif tunggal untuk seluruh produk. Dalam pendekatan ini perusahaan

  overhead

  mengganggap bahwa semua variasi biaya overhead dapat dijelaskan oleh satuan . Cost driver yang digunakan oleh perusahaan PT. Mondrian Group

  cost driver

  yaitu satuan produk dasar pembebanan biaya overhead pabrik yang lebih murah dan sederhana dalam penerapan. Untuk memahami pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk, dengan mengasumsikan konsumsi biaya overhead pabrik yang berhubungan erat dengan jumlah unit yang diproduksi, maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  76 Produk yang diproduksi PT.Mondrian Group Klaten pada tahun 2003 dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini:

Tabel 5.1 Daftar Jumlah Produksi Tahun 2003 Produk Jumlah (unit)

  Kaos Dadung Dewasa (All Size) 180.000 Kaos Dadung Remaja (All Size) 150.000 Kaos Dadung Wanita (All Size) 137.500 Kaos Dadung Anak (All Size) 121.500 Kaos Be-Gaya (All Size) 18.000 Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 100.000

  Jumlah 707.000 Sumber: PT. Mondrian Group Klaten

  Sedangkan biaya produksi PT.Mondrian Group Klaten pada tahun 2003 dapat dilihat pada table 5.2 dibawah ini:

Tabel 5.2 Prosentase Biaya Produksi Tahun 2003 Biaya Jumlah (Rp) %

  Biaya Bahan Baku Langsung 9.618.250.000,00 59,52 Biaya Tenaga Kerja Langsung

  1.243.200.000,00

  7.69 Biaya Overhead Pabrik 5.299.008.965,13 32,79 Total 16.160.458.965,13 100 Sumber: PT. Mondrian Group Klaten Menghitung total prime cost dan prime cost per unit masing-masing produk, dengan cara:

  1. Menghitung total biaya bahan baku masing-masing produk.

  PT.Mondrian Group dalam pemakaian bahan baku untuk proses produksi, menggunakan satuan kilogram (kg). Total biaya bahan baku masing-masing produk dapat dihitung dengan cara mengalikan biaya bahan baku dengan jumlah pemakain bahan baku masing-masing produk.

Tabel 5.3 Daftar Penggunaan Bahan Baku Tahun 2003 Produk Jumlah Harga Jumlah Pemakaian (Rp) (Rp)

  Kaos Dadung Dewasa (All Size) 43.466 kilo 55.000/kg 2.390.625.000 Kaos Dadung Remaja (All Size) 36.364 kilo 55.000/kg 2.000.000.000 Kaos Dadung Wanita (All Size) 34.545 kilo 55.000/kg 1.900.000.000 Kaos Dadung Anak (All Size) 35.836 kilo 55.000/kg 1.971.000.000 Kaos Be-Gaya (All Size) 3.600 kilo 60.000/kg 216.000.000 Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 22.812,5 kilo 50.000/kg 1.140.625.000

  

Jumlah 9.618.250.000

Sumber: PT. Mondrian Group Klaten

  2. Menghitung total biaya tenaga kerja masing-masing produk.

Tabel 5.4 Daftar Biaya Tenaga Kerja Langsung Tahun 2003 Upah per Aktivitas Jumlah bulan Total BTKL TKL (Rp)

  Desain 34 12.580.000 150.960.000 Klise Film 34 12.580.000 150.960.000 Screen 34 12.580.000 150.960.000

  Pemotongan Bahan 36 13.320.000 159.840.000 Penyablonan 24 8.880.000 106.560.000 Penjahitan & Label 42 15.540.000 186.480.000 Pemotongan Benang

  26 9.620.000 115.440.000 Penyetrikaan 16 5.920.000 71.040.000 Pengemasan 34 12.580.000 150.960.000 Total 280 103.600.000 1.243.200.000

  Sumber: PT. Mondrian Group Klaten Keterangan : Untuk aktivitas pada bangian Pengemasan ini dilakukan inspeksi

Tabel 5.5 Daftar Biaya Tenaga Kerja Langsung Per Produk Tahun 2003 Produk Jumlah Alokasi Biaya BTKL (unit) per produk

  K.Dadung D (All Size) 180.000 180.000/644.000 x 1.243.200.000 347.478.260,87 K.Dadung R (All Size) 150.000 150.000/644.000 x 1.243.200.000 289.565.217,39 K.Dadung W (All Size) 121.000 121.000/644.000 x 1.243.200.000 233.582.608,70 K.Dadung A (All Size) 96.000 96.000/644.000 x 1.243.200.000 185.321.739,13 K.Be-Gaya (All Size) 12.000 12.000/644.000 x 1.243.200.000 23.165.217,39 K.d,Mo OR (All Size) 85.000 85.000/644.000 x 1.243.200.000 164.086.956,52

  Jumlah 644.000 1.243.200.000,00 Sumber: PT. Mondrian Group Klaten

  3. Menjumlahkan total biaya bahan baku dengan biaya tenaga kerja masing-masing produk, sehingga akan didapatkan hasil total prime cost dari masing produk seperti pada table 5.6

Tabel 5.6 Daftar Prime Cost

  

Tahun 2003

Produk Total BBB Total BTKL Total Volume Prime Cost Prime Cost Produksi Per unit (Rp) (Rp) (Rp) (unit) (Rp)

  

K.Dadung D 2.390.625.000 347.478.260,87 2.738.103.260,87 180.000 15.211,68

K.Dadung R 2.000.000.000 289.565.217,39 2.289.565.217,39 150.000 15.263,77

K.Dadung W 1.900.000.000 233.582.608,70 2.133.582.608,70 137.500 15.516,96

K.Dadung A 1.971.000.000 185.321.739,13 2.156.321.739,13 121.500 17.747,50

K.Be-Gaya 216.000.000 23.165.217,39 239.165.217,39 18.000 13.286,96

K.d,Mo OR 1.140.625.000 164.086.956,52 1.304.711.956,52 100.000 13.047,12

  Jumlah 9.618.250.000 1.243.200.000 707.000 Sumber: PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.7 Anggaran Biaya Overhead Pabrik Tahun 2003 No Komponen BOP Jumlah (Rp)

  12 Penyusutan Bangunan 95.445.000,00

  21 Penelitian dan Pengembangan Produk 32.000.000,00 Total BOP

  20 Pembungkusan Produk Jadi 21.485.000,00

  19 Penerimaan Bahan Baku 17.225.000,00

  18 Pemrosesan Order Pembelian Bahan 19.750.000,00

  17 Kebersihan 22.500.000,00

  16 Keamanan 27.900.000,00

  15 Asuransi Pabrik 15.500.000,00

  14 Asuransi Karyawan 193.875.000,00

  

13 Kesejahteraan Karyawan 736.725.000,00

  11 Pemeliharaan Bangunan 272.700.000,00

  1 Pembelian Bahan Baku SOT Combed 24 SN 815.521.145,81 SOT Cardet 24 SN 703.451.254,58 BR 21C 435.564.328,42 Pewarna RAFM 143.518.579,45 Cat Dasar RAFM 95.679.052,97 Klise Film 58.725.949,97 Screen 25.168.264,28 Kertas Sablon 21.474.299,71 Pengering 14.128.671,41 Label + Zippler 6.564.418,53

  10 Penyusutan Mesin 127.953.000,00

  9 Pemeliharaan Mesin 365.580.000,00

  8 Desain dan Perancangan Produk 52.650.000,00

  7 Inspeksi 12.750.000,00

  6 Barang Teknik 67.400.000,00

  5 Spareparts 98.125.000,00

  4 Baha Bakar Minyak + Pelumas 160.380.000,00

  3 Telepone 81.270.000,00

  2 Listrik 558.000.000,00

  5.299.008.965,13 Sumber: PT. Mondrian Group Klaten Total produk yang diproduksi PT. Mondrian Group selama tahun 2003 adalah 707.000 unit. Tarif biaya overhead pabrik per unit dapat dihitung sebagai berikut :

  Total Biaya Overhead Pabrik Tahun 2003

  Tarif BOP =

  Total Unit Konveksi yang diproduksi selama Tahun 2003 Rp. 5.299.008.965.13 707.000 unit

  = = Rp. 7.495,062 / unit

  Setelah tariff BOP diketahui, maka selanjutnya perhitungan pokok produk untuk masing-masing produk, dengan cara menjumlahkan total prime cost dengan BOP per unit untuk setiap produk.

Tabel 5.8 Daftar Perhitungan Biaya Overhead Pabrik

  

Tahun 2003

Produk Volume BOP / Unit Total BOP Produksi (per unit) (Rp) (Rp)

  Kaos Dadung Dewasa (All Size) 180.000 7495,062 1.349.111.193,39 Kaos Dadung Remaja (All Size) 150.000 7495,062 1.124.259.327,82 Kaos Dadung Wanita (All Size) 137.500 7495,062 1.030.571.050,50 Kaos Dadung Anak (All Size) 121.500 7495,062 910.650.055,54 Kaos Be-Gaya (All Size) 18.000 7495,062 134.911.119,34 Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 100.000 7495,062 749.506.218,55

  Jumlah 707.000 5.299.008.965,13 Sumber: PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.9 Daftar Perhitungan Unit Cost

  

Tahun 2003

Produk Prime Cost BOP / Unit HPP / unit Per unit (Rp) (Rp) (Rp)

  Kaos Dadung Dewasa (All Size) 15.211,68 7.495,062 22.706,75 Kaos Dadung Remaja (All Size) 15.263,77 7.495,062 22.758,83 Kaos Dadung Wanita (All Size) 15.516,96 7.495,062 23.012,03 Kaos Dadung Anak (All Size) 17.747,50 7.495,062 25.242,57 Kaos Be-Gaya (All Size) 13.286,96 7.495,062 20.782,02 Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 13.047,12 7.495,062 20.542,18

  Sumber: PT. Mondrian Group Klaten

Penentuan Biaya Overhead Pabrik Menggunakan Activity Based Costing

B.

  System (ABC) Activity Based Costing System dalam penerapan perhitungannya sangat

  berbeda dengan sistem tradisional. Perbedaan yang paling mendasar adalah bahwa Activity Based Costing menelusuri cost tidak langsung pada objek cost atas dasar faktor-faktor (cost driver) dan berkorelasi tinggi dengan cost tidak langsung. Activity Based Costing memperkenalkan hubungan sebab akibat “cost

  driver ” dengan aktivitas, dimana dasar pendekatan yang dilakukan Activity Based

  adalah sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudian aktivitas

  Costing dibebankan ke objek biaya berdasarkan pengggunaannya.

  tidak bias diimplementasikan begitu saja pada setiap

  Activity Based Costing

  perusahaan. Ada beberapa syarat agar Activity Based Costing dapat dilaksanakan, diantaranya : a. Diversitas produk yang tinggi.

  Perusahaan memproduksi berbagai macam produk dan lini produk yang pemrosesannya menggunakan beberapa alat atau fasilitas menufaktur yang sama. Seperti yang terdapat dalam perusahaan PT.Mondrian Group, perusahaan memproduksi 9 jenis produksi dengan 17 macam desain yang digunakan selama setahun. Semua produk yang diproduksi menggunakan fasilitas yang sama dan dengan cara pengolahan yang hampir sama pula.

  b. Perusahaan menghadapi persaingan yang ketat.

  Barang yang diproduksi beberapa perusahaan memang terdapat barang yang sejenis. Hal ini menyebabkan masing-masing perusahaan berada dalam situasi persaingan untuk menguasai pangsa pasar. Dan pada kenyataannya, Perusahaan PT.Mondrian Group adalah salah satu perusahaan yang berada pada dunia usaha yang penuh persaingan. Perusahaan PT.Mondrian group berlokasi didaerah Mojayan (Bypass)-Klaten, dimana terdapat kurang lebih 24

  • 30 perusahaan konveksi yang bergerak pada pasar yang sama. Dalam menghadapi kondisi ini, perusahaan harus memperhatikan tingkat efisiensi disetiap proses produksi agar dapat bersaing dengan pesaing-pesaingnya. Yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah memahami informasi biaya yang akurat agar dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan strategic dalam menghadapi persaingan diantara perusahaan konveksi.
c. Jumlah biaya overhead cukup tinggi.

  Anggaran biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan PT. Mondrian Group selama tahun 2003 dapat dilihat pada tabel 5.3.

  Dalam kenyataannya, Biaya Overhead Pabrik yang digunakan prosentasenya juga cukup besar, maka dapat dikatakan penggunaan Activity Based Costing kemungkinan besar dapat diterapkan untuk menghitung pembebanan

  System Biaya Overhead Pabrik per unitnya.

  d. Kesiapan sumberdaya manusia.

  Perkembangan perusahaan diukur dari kinerja personal pegawainya. Perusahaan PT. Mondrian Group sangat memperhatikan kemampuan karyawannya, diantaranya :

  1. Setiap personal menempati posisi sesuai dengan bidangnya.

  2. Terdapat pembinaan secara berkala baik untuk meningkatkan kualitas ataupun untuk mengembangkan wawasan guna melihat perkembangan dunia usaha dibidang konveksi.

  3. Terdapat ahli-ahli dalam bidang konveksi yang mendukung.

  Perusahaan PT. Mondrian Group mempunyai orientasi untuk menerima segala perkembangan yang ada dalam dunia bisnis, yaitu perkemangan kebutuhan sistem yang baru. Sehingga segala sesuatu mampu diserap dan dikembangkan untuk mencapai perbaikan kualitas kerja. e. Biaya pengukuran dapat dikatakan rendah Pemahaman yang diperlukan untuk mengetahui apakah penentuan Biaya Overhead Pabrik dengan Activity Based Costing System rendah, dijelaskan dengan membandingkan antara biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dimasa yang akan datang. Berdasarkan teori yang ada, maka dapat dikatakan Perusahaan PT. Mondrian Group memenuhi syarat untuk menerapkan Activity Based Costing System, akan tetapi perlu dilihat dari kondisi yang berkembang saat ini.

  Tahap-tahap didalam menentukan Biaya Overhead Pabrik berdasarkan Activity dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut :

  Based Costing System

a. Tahap I ƒ Mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas yang ada didalam perusahaan.

  Suatu aktivitas merupakan satuan kerja yang dilakukan didalam perusahaan. Dengan identifikasi aktivitas maka memerlukan pembuatan daftar semua jenis aktivitas. Pengelompokan aktivitas dikelompokan berdasarkan level produksi dan aktivitas berdasarkan proses.

  ƒ Pembebanan biaya-biaya dengan berbagai aktivitas. Activity Driver yang ditentukan perusahaan dengan mengaitkan setiap kegiatan dan jumlah pengguna dari aktivitas.

  ƒ Penentuan kelompok biaya ( cost pool ) yang sejenis ( homogeneous cost

  pool ). Dalam menentukan kelompok biaya yang sejenis harus didasarkan

  pada karakteristik : 1. Kegiatan-kegiatan produksi yang sejenis / sama.

  2. Memiliki perbandingan konsumsi yang sama untuk semua produk. ƒ Menentukan tarif kelompok ( pool rate ). Setelah biaya ditentukan, maka biaya per satuan pendorong dihitung dengan membagi biaya kelompok dengan kapasitas praktis pendorong kegiatan. Tarif Biaya Overhead Pabrik dihitung dengan menggunakan rumus :

  Taksiran total biaya pada cost pool Taksiran cost driver Cost pool rate =

  b. Tahap II Biaya-biaya untuk masing-masing kelompok overhead ditelusuri keproduk dengan menggunakan tarif kelompok yang dihitung pada tahap I dan dengan menentukan jumlah sumber daya yang digunakan oleh setiap produk. Penentuan ini menggunakan ukuran banyaknya pendorong kegiatan yang digunakan oleh tiap-tiap produk dengan rumus :

  Overhead yang dibebankan (pada suatu produk) = Tarif kelompok x Penggunaan kegiatan

  Langkah-langkah pengimplementasian dengan memasukan data-data dari PT. Mondrian Group Tahun 2003 sebagai berikut :

  a. Mengidentifikasikan Aktivitas-aktivitas Dalam Perusahaan PT. Mondrian Group.

  Dalam mengimplementasikan Activity Based Costing (ABC) untuk menentukan pembebanan Biaya Overhead Pabrik (BOP) di Perusahaan PT.

  Mondrian Group diperlukan pemahaman tentang aktivitas-aktivitas yang terjadi didalam perusahaan tersebut. Aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan dapat dilihat pada tabel 5.10 b. Pengelompokan Berbagai Aktivitas Dalam Klasifikasi Proses dan Tingkat.

  Setelah diketahui aktivitas yang terjadi didalam perusahaan, langkah- langkah yang diambil adalah pengelompokan aktivitas berdasarkan proses dan kemudian pengelompokan aktivitas berdasarkan tingkatnya dapat dilihat pada tabel 5.11 dan tabel 5.12.

Tabel 5.10 Daftar Aktivitas Tahun 2003

  Jenis Aktivitas (A 1 ) Pemrosesan Order Pembelian Bahan (A 2 ) Penerimaan Bahan Baku (A 3 ) Pendesainan dan Perancangan Produk (A 4 ) Penelitian dan Pengembangan Produk (A 5 ) Pemeliharaan Bangunan Proses Produksi (A 6 ) Penyediaan Tempat Proses Produksi (A 7 ) Pemeliharaan Kebersihan Proses Produksi (A 8 ) Pembuatan Klise Film Sablon (A 9 ) Pembuatan Screen Sablon (A 10 ) Pembuatan Motif Dengan Kertas Sablon (A 11 ) Pengecatan Dasar Sablon (A 12 ) Pengecatan Finishing Sablon (A 13 ) Pembordiran Motif Sablon Timbul (A 14 ) Pengawetan Sablon (Pengeringan) (A 15 ) Pengobrasan Konveksi Setengah Jadi (A 16 ) Pemberian Jaminan Kesejahteraan Kerja (A 17 ) Pemberian Jaminan Kerusakan Pabrik (A 18 ) Pemberian Jaminan Keselamatan Kerja (A 19 ) Penjahitan Bahan Baku Kain (A 20 ) Pemakaian Tenaga Listrik (A 21 ) Pemakaian Mesin (A 22 ) Pemeliharaan Mesin (A 23 ) Penyediaan Barang Teknis (A 24 ) Pengadaan Spareparts (A 25 ) Pemasangan Label dan Zippler (A 26 ) Pemeriksaan Proses Produksi (A 27 ) Pembungkusan Produk Jadi (A 28 ) Komunikasi Perusahaan (A 29 ) Pemeliharaan Keamanan Produk Jadi (A 30 ) Penyediaan Transportasi Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group

  

Tabel 5.11

Pengelompokan Aktivitas Berdasarkan Tingkat Proses

  

Tahun 2003

  1

  5

  

8

  15 (A ) Pemrosesan Order (A ) Pemeliharaan Bangunan (A ) Pembuatan Klise Film (A ) Pengobrasan Konveksi Pembelian Bahan Proses Produksi Sablon

  Setengah Jadi

  2

  6

  

9

(A ) Penerimaan Bahan (A ) Penyediaan Tempat (A ) Pembuatan Screen Sablon

  16 (A ) Pemberian Jaminan Baku Proses Produksi

  

10

(A ) Pembuatan Motif Dengan Kesejahteraan Kerja

  3

  7 (A ) Pendesainan dan (A ) Pemeliharaan Kertas Sablon

  17 (A ) Pemberian Jaminan Perancangan Produk Kebersihan

  

11

(A ) Pengecatan Dasar Sablon Kerusakan Pabrik

  4 (A ) Penelitian dan Proses Produksi

  

12

  18 (A ) Pengecatan Finishing (A ) Pemberian Jaminan Pengembangan Produk

Sablon

Keselamatan Kerja

  

13

(A ) Pembordiran Motif Sablon Timbul

  

14

(A ) Pengawetan Sablon (Pengeringan)

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.11 (Lanjutan) Pengelompokan Aktivitas Berdasarkan Tingkat Proses Tahun 2003 Proses Jahit Proses Perlengkapan Proses Packing

  24 ) Pengadaan Spareparts (A

  (A

  29 ) Pemeliharaan Keamanan Produk Jadi

  28 ) Komunikasi Perusahaan (A

  27 ) Pembungkusan Produk Jadi (A

  (A

  26 ) Pemeriksaan Proses Produksi

  23 ) Penyadiaan Barang Teknis (A

  (A

  22 ) Pemeliharaan Mesin (A

  21 ) Pemakaian Mesin (A

  (A

  25 ) Pemasangan Label dan Zippler

  20 ) Pemakaian Tenaga Listrik (A

  (A

  19 ) Penjahitan Bahan Baku Kain

  30 ) Penyediaan Transportasi Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

  

Tabel 5.12

Pengelompokan Aktivitas Berdasarkan Tingkat Aktivitas

  16 ) Pemberian Jaminan Kesejahteraan Kerja

  5 ) Pemeliharaan Bangunan Proses Produksi

  (A

  6 ) Penyediaan Tempat Proses Produksi

  Tingkat Unit : (A

  15 ) Pengobrasan Konveksi Setengah Jadi

  Tingkat Fasilitas : (A

  (A

  14 ) Pengawetan Sablon

  17 ) Pemberian Jaminan Kerusakan Pabrik

  (A

  18 ) Pemberian Jaminan (A

  7 ) Pemeliharaan Kebersihan Proses Produksi

  (A

  4 ) Penelitian dan Pengembangan Produk

  Tingkat Fasilitas : (A

  

(A

  

Tahun 2003

Proses Persiapan (P 1 ) Proses Potong (P 2 ) Proses Sablon (P 3 ) Proses Obras (P 4 ) Tingkat Bacth : (A

  8 ) Pembuatan Klise Film Sablon

  1 ) Pemrosesan order pembelian bahan

  (A

  2 ) Penerimaan bahan baku

  Tingkat Produk : (A

  3 ) Pendesainan dan Perancangan Produk

  Tingkat Unit :

(A

  

(A

  13 ) Pembordiran Motif Sablon Timbul

  9 ) Pembuatan Screen Sablon

(A

  10 ) Pembuatan Motif Dengan Kertas Sablon

  

(A

  11 ) Pengecatan Dasar Sablon

(A

  12 ) Pengecatan Finishing Sablon

  

(A

  (Pengeringan) Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten Keselamatan Kerja

Tabel 5.12 (Lanjutan) Pengelompokan Aktivitas Berdasarkan Tingkat Aktivitas Tahun 2003 Proses Jahit (P

  5 ) Proses Perlengkapan (P 6 ) Proses Packing (P 7 ) Tingkat Unit : Tingkat Unit : Tingkat Fasilitas :

  19

  25

  27 (A ) Penjahitan Bahan Baku (A ) Pemasangan Label dan (A ) Pembungkusan Produk Kain

  Zippler Jadi

  20 (A ) Pemakaian Tenaga Listrik

  28 Tingkat Bacth : (A ) Komunikasi Perusahaan

  26 (A ) Pemeriksaan Proses

  21 (A ) Pemakaian Mesin

  29 (A ) Pemeliharaan Keamanan Produksi

  Tingkat Fasilitas : Produk Jadi

  22 (A ) Pemeliharaan Mesin

  30 (A ) Penyediaan Transportasi

  23 (A ) Penyediaan Barang Teknis

  24 (A ) Pengadaan Spareparts Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten c. Pembebanan Biaya - Biaya Dengan Berbagai Aktivitas.

  Pengertian cost driver sebagai faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas / faktor yang dapat diukur dan digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya. Perusahaan dapat menentukan pendorong aktivitas (activity driver) yang berkait pada setiap kegiatan dan jumlah penggunaan aktivitas, dapat dilihat pada tabel 5.13 dan tabel 5.14.

  Jenis Aktivitas Jumlah (Rp) (A 1 ) Pemrosesan Order Pembelian Bahan 19.750.000,00 (A 2 ) Penerimaan Bahan Baku 17.225.000,00 (A 3 ) Pendesainan dan Perancangan Produk 52.650.000,00 (A 4 ) Penelitian dan Pengembangan Produk 32.000.000,00 (A 5 ) Pemeliharaan Bangunan Proses Produksi 95.445.000,00 (A 6 ) Penyediaan Tempat Proses Produksi 272.700.000,00 (A 7 ) Pemeliharaan Kebersihan Proses Produksi 22.500.000,00 (A 8 ) Pembuatan Klise Film Sablon 58.725.949,97 (A 9 ) Pembuatan Screen Sablon 25.168.264,28 (A 10 ) Pembuatan Motif Dengan Kertas Sablon 21.474.299,71 (A 11

) Pengecatan Dasar Sablon 95.679.052,97

(A 12 ) Pengecatan Finishing Sablon 143.518.579,45 (A 13 ) Pembordiran Motif Sablon Timbul 435.564.328,42 (A 14 ) Pengawetan Sablon (Pengeringan) 14.128.671,41 (A 15 ) Pengobrasan Konveksi Setengah Jadi 703.451.254,58 (A 16 ) Pemberian Jaminan Kesejahteraan Kerja 736.725.000,00 (A 17 ) Pemberian Jaminan Kerusakan Pabrik 15.500.000,00 (A 18 ) Pemberian Jaminan Keselamatan Kerja 193.875.000,00 (A 19 ) Penjahitan Bahan Baku Kain 815.521.145,81 (A 20 ) Pemakaian Tenaga Listrik 558.000.000,00 (A 21 ) Pemakaian Mesin 365.580.000,00 (A 22 ) Pemeliharaan Mesin 127.953.000,00 (A 23 ) Peyediaan Barang Teknis 67.400.000,00 (A 24 ) Pengadaan Spareparts 98.125.000,00 (A 25 ) Pemasangan Label dan Zippler 6.564.418,53 (A 26 ) Pemeriksaan Proses Produksi 12.750.000,00 (A 27 ) Pembungkusan Produk Jadi 21.485.000,00 (A 28 ) Komunikasi Perusahaan 81.270.000,00 (A 29 ) Pemeliharaan Keamanan Produk Jadi 27.900.000,00 (A 30 ) Penyediaan Transportasi 160.380.000,00 Total Aktivitas Perusahaan 5.299.008.965,13

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten Pembebanan Biaya-biaya pada Berbagai Aktivitas Tabel 5.13

Tabel 5.14 Jenis Aktivitas, Cost Driver, dan Jumlah Activity Driver Tahun 2003

  21

  10 16 112 P 2 Fasilitas

  18

  23

  21

  24

  10 16 112 A 4 Jumlah Desain

  18

  23

  24

  Proses Kode / Cost Driver Jumlah Activity Driver Total Tingkat K.D.D K.D.R K.D.W K.D.A BG d.Mo OR Activity Aktivitas

  16.99 29.57 215 Produk A 3 Jumlah Desain

  31.04

  41.50

  51.96

  16.99 29.57 215 A 1 Jumlah Batch 44.36

  31.04

  41.50

  51.96

  Driver P 1 Batch A 1 Jumlah Batch 44.36

  A 5 Jam Pemeliharaan 6280.57 8252.33 4838.05 7812.07 3690.59 7638.78 38512 A 6 Jam Mesin 1080.92 11400.48 10576.02 6895.98 4171.44 3991.26 38116 A 7 JTKL 1859.84 2934.56 2635.20 1645.76 1373.28 1415.84 11864 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten Keterangan : K.D.D : Kaos Dadung Dewasa (All size) K.D.R : Kaos Dadung Remaja (All size) K.D.W : Kaos Dadung Wanita (All size) K.D.A : Kaos Dadung Anak (All size) BG : Be-Gaya (All size) d,Mo OR : d,Mo Olah Raga (All size)

Tabel 5.14 (Lanjutan) Jenis Aktivitas, Cost Driver, dan Jumlah Activity Driver Tahun 2003 Proses Kode / Cost Driver Jumlah Activity Driver Total Tingkat K.D.D K.D.R K.D.W K.D.A BG d.Mo OR Activity Aktivitas

  Driver P3 Unit

  A8 Jumlah Pemakain Film Sablon 12620.20 10092.60 6857.45 4730.35 4935.05 5264.35 44500 A9 Jumlah Pemakaian Screen 10946.96 8754.48 5948.26 4103.18 4280.74 4566.38 38600 A10 Jumlah Pemakaian Kertas Sablon 9287.90 7427.70 5046.77 3481.31 3631.97 3874.35 32750 A11 Jumlah Pemakaian Cat Dasar 11548.19 9235.29 6274.95 4328.53 4515.84 4817.20 40720 A12 Jumlah Pemakaian Pewarna

  RAFM 12478.40 9979.20 6780.40 4677.20 4879.60 5205.20 44000 A13 Jumlah Pemakaian Benang BR

  21C 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 A14 Jumlah Pemakaian Pengering 8876.68 7098.84 4823.33 3327.19 3471.17 3702.79 31300

  P4 Unit A15 Jumlah Pemakaian Benang Cardet 46346.30 48337.20 44841.55 29238.45 17686.60 16922.65 203373

  Fasilitas A16 JTKL 15145.13 15795.72 14653.41 9554.59 5779.66 5530.02 66459 A17 Jam Pemeliharaan 1249.25 1302.91 1208.68 788.11 476.74 456.14 5482 A18 JTKL 4874.87 5084.28 4716.59 3075.41 1860.34 1779.98 21391

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten Keterangan : K.D.D : Kaos Dadung Dewasa (All size) K.D.R : Kaos Dadung Remaja (All size) K.D.W : Kaos Dadung Wanita (All size) K.D.A : Kaos Dadung Anak (All size) BG : Be-Gaya (All size) d,Mo OR : d,Mo Olah Raga (All size)

Tabel 5.14 ( Lanjutan) Jenis Aktivitas, Cost Driver, dan Jumlah Activity Driver Tahun 2003 Proses Kode / Cost Driver Jumlah Activity Driver Total Tingkat K.D.D K.D.R K.D.W K.D.A BG d.Mo OR Activity Aktivitas

  Driver P5 Unit

  Jumlah Pemakaian Benang A19 69652.16 55702.08 37846.96 26107.28 11813.36 23798.64 224920 Combed A20 Jumlah Pemakaian 15510.35 17568.85 18678.65 20012.20 2871.40 6909.40 81551

  A21 Jam Mesin 10831.25 12268.75 13043.75 13975.00 2075.00 4825.00 57019 Fasilitas A22 Jam Pemeliharaan 4583.78 5192.14 5520.11 5914.22 878.14 2041.94 24130 A23 Jam Mesin 3197.38 3621.73 3850.51 4125.42 612.54 1424.34 16832 A24 Jumlah Pemakaian 4089.88 4632.68 4925.32 5276.96 783.52 1821.92 21530

  P6 Unit A25 Jumlah Pemakaian 23737.32 18983.16 12898.17 8897.31 4025.97 8110.53 76652 Fasilitas A26 Jumlah Batch 1314.18 1726.76 1012.34 1634.64 772.24 1598.38 8059

  P7 Fasilitas A27 Jumlah Batch 1669.55 2193.69 1286.08 2076.66 981.06 2030.59 10238 A28 Jumlah Pemakaian Pulsa 16016.31 12808.53 8702.79 6003.29 2716.44 5472.43 51720 A29 JTKL 5601.10 4476.30 3043.48 2099.43 949.98 1913.78 18084 A30 Jumlah Pemakaian BBM 6692.96 5352.48 3636.76 2508.68 1135.16 2286.84 21613

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten Keterangan : K.D.D : Kaos Dadung Dewasa (All size) BG : Be-Gaya (All size) K.D.R : Kaos Dadung Remaja (All size) d,Mo OR : d,Mo Olah Raga (All size) K.D.W : Kaos Dadung Wanita (All size) K.D.A : Kaos Dadung Anak (All size) d. Penentuan kelompok biaya (cost pool) yang sejenis (homogeneous cost pool).

  Setelah diketahui kelompok aktivitas, pendorong aktvitas, proses aktivitas, tingkat aktivitas dan jumlah penggunaan aktivitas, maka selanjutnya mengelompokan cost pool yang homogen seperti pada tabel 5.15

Tabel 5.15 Pengelompokan Cost Pool yang Homogen Kode Kode Biaya Aktivitas Proses Pool Aktivitas CostDriver (Rp)

  XII A 14 Jml Pemakaian Pengering 14.128.671,41

  XXVII A 29 JTKL 27.900.000,00

  XXV A 27 Jml Batch 21.485.000,00 P 7 XXVI A 28 Jml Pemakaian Pulsa 81.270.000,00

  XXIV A 26 Jml Batch 12.750.000,00

  XXII A 24 Jml Pemakaian 98.125.000,00 P 6 XXIII A 25 Jml Pemakaian 6.564.418,53

  XXI A 23 Jam Mesin 67.400.000,00

  XX A 22 Jam Pemeliharaan 127.953.000,00

  XVIII A 20 Jml Pemakaian 558.000.000,00 P 5 XIX A 21 Jam Mesin 365.580.000,00

  XVII A 19 Jml Pemakaian Benang Combed 815.521.145,81

  XVI A 18 JTKL 193.875.000,00

  XV A 17 Jam Pemeliharaan 15.500.000,00

  XIII A 15 Jml Pemakaian Benang Cardet 703.451.254,58 P 4 XIV A 16 JTKL 736.725.000,00

  21C 435.564.328,42

  A 1 Jml Batch 19.750.000,00

  XI A 13 Jml Pemakaian Benang BR

  X A 12 Jml Pemakaian Pewarna RAFM 143.518.579,45

  VIII A 10 Jml Pemakaian Kertas Sablon 21.474.299,71 P 3 IX A 11 Jml Pemakaian Cat Dasar 95.679.052,97

  VII A 9 Jml Pemakaian Screen 25.168.264,28

  VI A 8 Jml Pemakaian Film Sablon 58.725.949,97

  V A 7 JTKL 22.500.000,00

  IV A 6 Jam Mesin 272.700.000,00

  P 2 III A 5 Jam Pemeliharaan 95.445.000,00

  II A 4 Jml Desain 32.000.000,00 84.650.000,00

  36.975.000,00 A 3 Jml Desain 52.650.000,00

  I A 2 Jml Batch 17.225.000,00 P 1

  XXVIII A 30 Jml Pemakaian BBM 160.380.000,00 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten e. Penentuan Tarif Kelompok ( Cost Pool Rate Homogen ) Setelah penjumlahan cost driver pada tiap-tiap produk selama tahun 2003, maka tahap selanjutnya adalah Biaya overhead Pabrik dibagi dengan cost driver.

  Pembagian yang dilakukan akan menghasilkan tarif Biaya Overhead Pabrik (BOP) per kelompok ( cost pool rate homogeneous ). Proses tersebut dapat dilihat pada tabel 5.16

Tabel 5.16 Pengelompokan Cost Pool RateHomogen

  Pool Biaya Jumlah Cost Driver Tarif / Aktivitas Aktivitas Aktivity Driver Aktivitas (Rp) (1) (2) (4) = (1) / (2)

  215

I 36.975.000,00 Jml Batch 171.976,74

112

  

II 84.650.000,00 Jml Desain 755.803,57

  III 95.445.000,00 38.512 Jam Pemeliharaan 2.478,32

  IV 272.700.000,00 38.116 Jam Mesin 7.154,48 V 22.500.000,00 11.864 JTKL 1.896,49

  VI 58.725.949,97 44.500 Jml Pemakaian Film Sablon 1.319,68

  VII 25.168.264,28 38.600 Jml Pemakaian Screen 652,03

  VIII 21.474.299,71 32.750 Jml Pemakaian Kertas Sablon 655,70

  IX 95.679.052,97 40.720 Jml Pemakaian Cat Dasar 2.349,68 X 143.518.579,45 44.000 Jml Pemakaian Pewarna RAFM 3.261,79

  XI 435.564.328,42 Jml Pemakaian Benang BR 21C 0,00

  XII 14.128.671,41 31.300 Jml Pemakaian Pengering 451,40

  XIII 703.451.254,58 203.373 Jml Pemakaian Benang Cardet 3.458,92

  XIV 736.725.000,00 66.459 JTKL 11.085,41

  XV 15.500.000,00 5.482 Jam Pemeliharaan 2.827,44

  XVI 193.875.000,00 21.391 JTKL 9.063,39

  XVII 815.521.145,81 224.920 Jml Pemakaian Benang Combed 3.625,83

  XVIII 558.000.000,00 81.551 Jml Pemakaian 6.842,34

  XIX 365.580.000,00 57.019 Jam Mesin 6.411,55

  XX 127.953.000,00 24.130 Jam Pemeliharaan 5.302,65

  XXI 67.400.000,00 16.832 Jam Mesin 4.004,28

  XXII 98.125.000,00 21.530 Jml Pemakaian 4.557,59

  XXIII 6.564.418,53 76.652 Jml Pemakaian 85,64

  XXIV 12.750.000,00 8.059 Jml Batch 1.582,08

  XXV 21.485.000,00 10.238 Jml Batch 2.098,55

  XXVI 81.270.000,00 51.720 Jml Pemakaian Pulsa 1.571,35

  XXVII 27.900.000,00 18.084 JTKL 1.542,80

  XXVIII 160.380.000,00 21.613 Jml Pemakaian BBM 7.420,53 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten f. Penentuan Biaya Overhead Pabrik per unit Untuk Setiap Produk Tahap yang dilakukan dalam sistem ini adalah penentuan Biaya Overhead Pabrik (BOP) per unit untuk tiap-tiap produk. Penentuan Total Biaya Overhead Pabrik (BOP) setiap produk dengan mengalikan seluruh aktivitas yang diserap dengan tarif Biaya Overhead Pabrik (BOP) yang sudah ditentukan. Untuk mendapatkan hasil Biaya Overhead Pabrik (BOP) per unit maka Total Biaya

  Overhead Pabrik (BOP) setiap produk dibagi dengan jumlah produk yang

  dihasilkan selama satu tahun. Maka perhitungan Biaya Overhead Pabrik (BOP) total dan Biaya Overhead Pabrik (BOP) per unit tiap-tiap produk dapat dilihat pada tabel 5.17 sampai 5.22

Tabel 5.17 Perhitungan BOP per unit Kaos Dadung Dewasa (All size) Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  

XVI 4.874,87 9.063,39 44.182.848,01 245,46

  

XXVII 5.601,10 1.542,80 8.641.377,08 48,01

  

XXVI 16.016,31 1.571,35 25.167.228,72 139,82

  

XXV 1.669,55 2.098,55 3.503.634,15 19,46

  

XXIV 1.314,18 1.582,08 2.079.137,89 11,55

  XXIII 23.737,32 85,64 2.032.864,08 11,29

  

XXII 4.089,88 4.557,59 18.639.996,19 103,56

  

XXI 3.197,38 4.004,28 12.803.204,79 71,13

  XX 4.583,78 5.302,65 24.306.181,02 135,03

  

XIX 10.831,25 6.411,55 69.445.100,94 385,81

  

XVIII 15.510,35 6.842,34 106.127.088,22 589,59

  

XVII 69.652,16 3.625,83 252.546.891,29 1.403,04

  XV 1.249,25 2.827,44 3.532.179,42 19,62

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 18.0000

I 44,36 171.976,74 7.628.888,19 42,38

  

XIV 15.145,13 11.085,41 167.889.975,55 932,72

  

XIII 46.346,30 3.458,92 160.308.144,00 890,60

  

XII 8.876,68 451,40 4.006.933,35 22,26

  XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  

IX 11.548,19 2.349,68 27.134.551,08 150,75

X 12.478,40 3.261,79 40.701.920,34 226,12

  

VIII 9.287,90 655,70 6.090.076,03 33,83

  

VII 10.946,96 652,03 7.137.746,33 39,65

  VI 12.620,20 1.319,68 16.654.625,54 92,53

  

IV 10.930,92 7.154,48 78.205.048,52 434,47

V 1.859,84 1.896,49 3.527.167,96 19,60

  III 6.280,57 2.478,32 15.565.262,24 86,47

  II 24,00 755.803,57 18.139.285,68 100,77

  

XXVIII 6.692,96 7.420,53 49.665.310,47 275,92

Total 1.175.662.667,07 6.531,46 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.17 Perhitungan BOP per unit Kaos Da ) dung Dewasa (All size Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  XV 1.302,91 2.827,44 3.683.899,85 24,56

  

III 8.252,33 2.478,32 20.451.914,49 136,35

  IV 11.400,48 7.154,48 81.564.506,15 543,76

V 2.934,56 1.896,49 5.565.363,69 37,10

  VI 10.092,60 1.319,68 13.319.002,37 88,79

  VII 8.754,48 652,03 5.708.183,59 38,05

  VIII 7.427,70 655,70 4.870.342,89 32,47

  

IX 9.235,29 2.349,68 21.699.976,21 144,67

X 9.979,20 3.261,79 32.550.054,77 217,00

  

XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  XII 7.098,84 451,40 3.204.416,38 21,36

  XIII 48.337,20 3.458,92 167.194.507,82 1.114,63

  XIV 15.795,72 11.085,41 175.102.032,45 1.167,35

  XVI 5.084,28 9.063,39 46.080.812,51 307,21

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 150.000

I 51,96 171.976,74 8.935.911,41 59,57

  XVII 55.702,08 3.625,83 201.966.272,73 1346,44

  XVIII 17.568,85 6.842,34 120.212.045,11 801,41

  XIX 12.268,75 6.411,55 78.661.704,06 524,41

  XX 5.192,14 5.302,65 27.532.101,17 183,55

  XXI 3.621,73 4.004,28 14.502.421,00 96,68

  XXII 4.632,68 4.557,59 21.113.856,04 140,76

  XXIII 18.983,16 85,64 1.625.717,82 10,84

  XXIV 1.726,76 1.582,08 2.731.872,46 18,21

  XXV 2.193,69 2.098,55 4.603.568,15 30,69

  XXVI 12.808,53 1.571,35 20.126.683,62 134,18

  XXVII 4.476,30 1.542,80 6.906.035,64 46,04

  

II 21,00 755.803,57 15.871.874,97 105,81

Tabel 5.18 Perhitungan BOP per unit Kaos Dadung Remaja (All size) Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 18.0000

I 44,36 171.976,74 7.628.888,19 42,38

  XV 1.249,25 2.827,44 3.532.179,42 19,62

  II 24,00 755.803,57 18.139.285,68 100,77

  III 6.280,57 2.478,32 15.565.262,24 86,47

  

IV 10.930,92 7.154,48 78.205.048,52 434,47

V 1.859,84 1.896,49 3.527.167,96 19,60

  VI 12.620,20 1.319,68 16.654.625,54 92,53

  

VII 10.946,96 652,03 7.137.746,33 39,65

  

VIII 9.287,90 655,70 6.090.076,03 33,83

  

IX 11.548,19 2.349,68 27.134.551,08 150,75

X 12.478,40 3.261,79 40.701.920,34 226,12

  XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  

XII 8.876,68 451,40 4.006.933,35 22,26

  XI II 46.346,30 3.458,92 160.308.144,00 890,60

  

XIV 15.145,13 11.085,41 167.889.975,55 932,72

  

XVI 4.874,87 9.063,39 44.182.848,01 245,46

  

XXVIII 6.692,96 7.420,53 49.665.310,47 275,92

Total 1.175.662.667,07 6.531,46 Sumb r: Diolah dari T. Mondrian Gr p Kl e data P ou aten

  

XVII 69.652,16 3.625,83 252.546.891,29 1.403,04

  

XVIII 15.510,35 6.842,34 106.127.088,22 589,59

  

XIX 10.831,25 6.411,55 69.445.100,94 385,81

  XX 4.583,78 5.302,65 24.306.181,02 135,03

  

XXI 3.197,38 4.004,28 12.803.204,79 71,13

  

XXII 4.089,88 4.557,59 18.639.996,19 103,56

  XXIII 23.737,32 85,64 2.032.864,08 11,29

  

XXIV 1.314,18 1.582,08 2.079.137,89 11,55

  

XXV 1.669,55 2.098,55 3.503.634,15 19,46

  

XXVI 16.016,31 1.571,35 25.167.228,72 139,82

  

XXVII 5.601,10 1.542,80 8.641.377,08 48,01

  XXVIII 5.352,48 7.420,53 39.718.238,41 264,79 Total 1.145.503.315,76 7.636,69

Tabel 5.19 Perhitungan BOP per unit Kaos Dadung Wanita (All size) Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  

XVI 4.716,59 9.063,39 42.748.294,64 310,90

  XXVII 3.043,48 1.542,80 4.695.480,94 34,15

  XXVI 8.702,79 1.571,35 13.675.129,07 99,46

  XXV 1.286,08 2.098,55 2.698.903,18 19,63

  XXIV 1.012,34 1.582,08 1.601.602,87 11,65

  XXIII 12.898,17 85,64 1.104.599,28 8,03

  XXII 4.925,32 4.557,59 22.447.589,18 163,26

  

XXI 3.850,51 4.004,28 15.418.520,18 112,13

  

XX 5.520,11 5.302,65 29.271.211,29 212,88

  XIX 13.043,75 6.411,55 83.630.655,31 608,22

  XVIII 18.678,65 6.842,34 127.805.674,04 929,50

  XVII 37.846,96 3.625,83 137.226.642,98 998,01

  

XV 1.208,68 2.827,44 3.417.470,18 24,85

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 137.500

I 41,50 171.976,74 7.137.034,71 51,91

  XIV 14.653,41 11.085,41 162.439.057,75 1.181,37

  XIII 44.841,55 3.458,92 155.103.334,13 1.128,02

  

XII 4.823,33 451,40 2.177.251,16 15,83

  XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  

IX 6.274,95 2.349,68 14.744.124,52 107,23

X 6.780,40 3.261,79 22.116.240,92 160,85

  

VIII 5.046,77 655,70 3.309.167,09 24,07

  

VII 5.948,26 652,03 3.878.443,97 28,21

  

VI 6.857,45 1.319,68 9.049.639,62 65,82

  

IV 10.576,02 7.154,48 75.665.923,57 550,30

V 2.635,20 1.896,49 4.997.630,45 36,35

  

III 4.838,05 2.478,32 11.990.236,08 87,20

  II 23,00 755.803,57 17.383.482,11 126,43

  XXVIII 3.636,76 7.420,53 26.986.686,68 196,27 Total 1.002.720.025,88 7.292,51 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.20 Perhitungan BOP per unit Kaos Dadung Anak (All size) Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  

XVI 3.075,41 9.063,39 27.873.640,24 229,41

  XXVII 2.099,43 1.542,80 3.239.000,60 26,66

  XXVI 6.003,29 1.571,35 9.433.269,74 77,64

  XXV 2.076,66 2.098,55 4.357.974,84 35,87

  XXIV 1.634,64 1.582,08 2.586.131,25 21,29

  XXIII 8.897,31 85,64 761.965,63 6,27

  XXII 5.276,96 4.557,59 24.050.220,13 197,94

  

XXI 4.125,42 4.004,28 16.519.336,80 135,96

  

XX 5.914,22 5.302,65 31.361.038,68 258,12

  XIX 13.975,00 6.411,55 89.601.411,25 737,46

  XVIII 20.012,20 6.842,34 136.930.276,55 1.127,00

  XVII 26.107,28 3.625,83 94.660.559,04 779,10

  

XV 788,11 2.827,44 2.228.333,74 18,34

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 121.500

I 31,04 171.976,74 5.338.158,01 43,94

  

XIV 9.554,59 11.085,41 105.916.547,53 871,74

  XIII 29.238,45 3.458,92 101.133.459,47 832,37

  

XII 3.327,19 451,40 1.501.893,57 12,36

  XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  

IX 4.328,53 2.349,68 10.170.660,37 83,71

X 4.677,20 3.261,79 15.256.044,19 125,56

  

VIII 3.481,31 655,70 2.282.694,97 18,79

  

VII 4.103,18 652,03 2.675.396,46 22,02

  

VI 4.730,35 1.319,68 6.242.548,29 51,38

  

IV 6.895,98 7.154,48 49.337.150,99 406,07

V 1.645,76 1.896,49 3.121.167,38 25,69

  

III 7.812,07 2.478,32 19.360.809,32 159,35

  II 18,00 755.803,57 13.604.464,26 111,97

  XXVIII 2.508,68 7.420,53 18.615.735,20 153,22 Total 798.159.888,50 6.569,22 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.21 Perhitungan BOP per unit Kaos Be-Gaya (All size) Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  

XVI 1.860,34 9.063,39 16.860.986,95 936,72

  XXVII 949,98 1.542,80 1.465.629,14 81,42

  XXVI 2.716,44 1.571,35 4.268.477,99 237,14

  

XXV 981,06 2.098,55 2.058.803,46 114,38

  

XXIV 772,24 1.582,08 1.221.745,46 67,87

  XXIII 4.025,97 85,64 344.784,07 19,15

  

XXII 783,52 4.557,59 3.570.962,92 198,39

  

XXI 612,54 4.004,28 2.452.781,67 136,27

  

XX 878,14 5.302,65 4.656.469,07 258,69

  

XIX 2.075,00 6.411,55 13.303.966,25 739,11

  XVIII 2.871,40 6.842,34 19.647.095,08 1.091,51

  XVII 11.813,36 3.625,83 42.833.235,09 2.379,62

  

XV 476,74 2.827,44 1.347.953,75 74,89

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 18.000

I 16,99 171.976,74 2.921.884,81 162,33

  

XIV 5.779,66 11.085,41 64.069.900,76 3.559,44

  XIII 17.686,60 3.458,92 61.176.534,47 3.398,70

  

XII 3.471,17 451,40 1.566.886,14 87,05

  XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  

IX 4.515,84 2.349,68 10.610.778,93 589,49

X 4.879,60 3.261,79 15.916.230,48 884,24

  

VIII 3.631,97 655,70 2.381.482,73 132,30

  

VII 4.280,74 652,03 2.791.170,90 155,07

  

VI 4.935,05 1.319,68 6.512.686,78 361,82

  

IV 4.171,44 7.154,48 29.844.484,05 1.658,03

V 1.373,28 1.896,49 2.604.411,79 144,69

  

III 3.690,59 2.478,32 9.146.463,01 508,14

  II 10,00 755.803,57 7.558.035,70 419,89

  XXVIII 1.135,16 7.420,53 8.423.488,83 467,97 Total 339.557.330,30 18.864,30 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.22 Perhitungan BOP per unit Kaos d,Mo Olah Raga (All size) Dengan Sistem ABC (Rp) Pool Jumlah Tarif BOP per Penentuan BOP Aktivitas yang Aktivitas Diserap Total Per unit (Rp) (Rp)

  

XVI 1.779,98 9.063,39 16.132.652,93 161,33

  XXVII 1.913,78 1.542,80 2.952.579,78 29,53

  XXVI 5.472,43 1.571,35 8.599.102,88 85,99

  XXV 2.030,59 2.098,55 4.261.294,64 42,61

  XXIV 1.598,38 1.582,08 2.528.765,03 25,29

  XXIII 8.110,53 85,64 694.585,79 6,95

  XXII 1.821,92 4.557,59 8.303.564,37 83,04

  

XXI 1.424,34 4.004,28 5.703.456,18 57,03

  

XX 2.041,94 5.302,65 10.827.693,14 108,28

  

XIX 4.825,00 6.411,55 30.935.728,75 309,36

  XVIII 6.909,40 6.842,34 47.276.464,00 472,76

  XVII 23.798,64 3.625,83 86.289.822,87 862,90

  

XV 456,14 2.827,44 1.289.708,48 12,90

  

(1) (2) (3)=(1)x(2) (4)=(3) : 100.000

I 29,57 171.976,74 5.085.352,20 50,85

  

XIV 5.530,02 11.085,41 61.302.539,01 613,03

  XIII 16.922,65 3.458,92 58.534.092,54 585,34

  

XII 3.702,79 451,40 1.671.439,41 16,71

  XI 0,00 0,00 0,00 0,00

  

IX 4.817,20 2.349,68 11.318.878,50 113,19

X 5.205,20 3.261,79 16.978.269,31 169,78

  

VIII 3.874,35 655,70 2.540.411,30 25,40

  

VII 4.566,38 652,03 2.977.416,75 29,77

  

VI 5.264,35 1.319,68 6.947.257,41 69,47

  

IV 3.991,26 7.154,48 28.555.389,84 285,55

V 1.415,84 1.896,49 2.685.126,40 26,85

  

III 7.638,78 2.478,32 18.931.341,25 189,31

  II 16,00 755.803,57 12.092.857,12 120,93

  XXVIII 2.286,84 7.420,53 16.969.564,83 169,70 Total 472.385.354,70 4.723,85 g. Setelah biaya overhead pabrik per unit pada masing-masing produk diketahui, maka perhitungan biaya per unit masing-masing produk dapat dihitung seperti pada tabel 5.23.

Tabel 5.23 Daftar Perhitungan Unit Cost

  

Dengan Activity Based Costing System

Tahun 2003

Produk Prime Cost BOP / Unit HPP / unit Per unit (Rp) (Rp) (Rp)

  Kaos Dadung Dewasa (All Size) 15.211,68 6.531,46 21.743,14 Kaos Dadung Remaja (All Size) 15.263,77 7.636,69 22.900,46 Kaos Dadung Wanita (All Size) 15.516,96 7.292,51 22.809,47 Kaos Dadung Anak (All Size) 17.747,50 6.569,22 24.316,72 Kaos Be-Gaya (All Size) 13.286,96 18.864,30 32.151,26 Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 13.047,12 4.723,85 17.770,97

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

  h. Setelah menghitung besarnya unit cost untuk masing-masing produk berdasarkan sistem ABC, maka dilakukan perbandingan biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel 5.24. Untuk mengetahui besarnya selisih perhitungan unit cost untuk masing-masing produk, dilanjutkan dengan perbandingan antara perhitungan unit cost yang ditetapkan PT.Mondrian dengan perhitungan unit cost berdasar sistem ABC (dapat dilihat pada tabel 5.25) berikut :

Tabel 5.24 Perbandingan Selisih BOP Yang Dibebankan Pada Produk Antara BOP Berdasarkan sistem PT.Mondrian Group dengan BOP Berdasarkan Activity Based Costing System

  (4) = (3) : (1) X 100%

  (All size) 100.000 7495,062 749.506.218,55 4.723,85 472.385.354,70 2771,21

  18.000 7495,062 134.911.119.34 18.864,30 339.557.330,30 (11369,24) (204.646.210,96) (151,69 ) d,Mo Olah Raga

  B-Gaya (All size)

  (All size) 121.500 7495,062 910.650.055,54 6.569,22 798.159.888,50 925,85 112.490.167,04 12,35

  27.851.024,62 2,70 Dadung Anak

  Dadung Wanita (All size) 137.500 7495,062 1.030.571.050,50 7.292,51 1.002.720.025,88 202,56

  (All size) 150.000 7495,062 1.124.259.327,82 7.636,69 1.145.503.315,76 (141,63) (21.243.987,94) (1,89 )

  173.448.526,32 12,86 Dadung Remaja

  Dadung Dewasa (All size) 180.000 7495,062 1.349.111.193,39 6.531,46 1.175.662.667,07 963,61

  Prosentase (%)

  BOP Perusahaan BOP ABC System Produk Jumlah

  BOP/Total Produk (Rp)

  (3) = (1) – (2) Selisih

  BOP/Unit Produk (Rp)

  Produk (Rp) Selisih

  (2) BOP/Total

  BOP/Unit Produk

  BOP/Total Produk (Rp)

  Produk (1)

  Produk BOP/Unit

  277.120.863,85 36,97 Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Tabel 5.25 Perbandingan Selisih Perhitungan Unit Cost

  

Antara Perhitungan Unit Cost Berdasarkan sistem PT.Mondrian Group dengan

Perhitungan Unit Cost Berdasarkan Activity Based Costing System

  Produk HPP / unit HPP / unit Selisih Prosentase Sistem Sistem

  Perusahaan ABC (Rp) (Rp) (Rp) (%)

  (1) (2) (3) = (1) - (2) (4)=(3):(1) x 100% Kaos Dadung Dewasa (All Size) 22.706,75 21.743,14 963,61 4,24 Kaos Dadung Remaja (All Size) 22.758,83 22.900,46 (141,63) (0,62) Kaos Dadung Wanita (All Size) 23.012,03 22.809,47 202,56 0,88 Kaos Dadung Anak (All Size) 25.242,57 24.316,72 925,85 3,67 Kaos Be-Gaya (All Size) 20.782,02 32.151,26 (11.369,24) (54,71) Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 20.542,18 17.770,97 2.771,21 13,49

   Pembahasan C.

  PT.Mondrian Group dalam membebankan biaya overhead pabrik (BOP) kepaca produk didasarkan atas tarif BOP tunggal. Dengan sistem tersebut pembebanan yang dilakukan dianggap sama untuk semua jenis produk yang dihasilkan perusahaan tanpa memperhatikan jumlah jam mesin, jam tenaga kerja langsung, jumlah formula, jam pemeliharaan, jumlah BBM dan jumlah

  batch . Padahal untuk setiap produk jumlah aktivitas dan bahan yang

  dikonsumsi berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga dengan sistem tarif tunggal berdampak pada ketidaksesuaian BOP yang dikonsumsi sebenarnya dengan BOP yang diperhitungkan. Perhitungan BOP yang dibebankan dengan menggunakan ABC system secara keseluruhan mengalami perubahan dibandingkan dengan sistem perusahaan.

  Pada perhitungan tabel 5.24 diketahui bahwa selisih BOP/unit produk menurut perusahaan dan BOP/unit produk berdasarkan ABC system untuk produk Kaos Dadung Dewasa (All size) menunjukkan selisih sebesar Rp. 963,61 dengan prosentase selisih sebesar 12,86% ini berarti bahwa BOP yang dibebankan lebih besar jumlahnya dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system. Untuk Kaos Dadung Remaja (All size) diperoleh selisih sebesar Rp. 141,63 dengan prosentase selisih sebesar 1,89%. Untuk produk ini, BOP yang dibebankan oleh perusahaan lebih kecil jumlahnya apabila dibandingkan dengan ABC system. Dari kaos Dadung Wanita (All size) diperoleh selisih sebesar Rp. 202,56 dengan prosentase selisih sebesar 2,70%, berarti bahwa BOP yang dibebankan lebih besar jumlahnya dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system. Dari kaos Dadung Anak (All size) diperoleh selisih sebesar Rp. 925,85 dengan prosentase sebesar 12,35%, berarti bahwa BOP yang dibebankan lebih besar jumlahnya dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system. Selisih yang sangat besar didalam pembebanan BOP adalah pada produk Kaos B-Gaya (All size).

  Untuk kaos B-Gaya (All size) menunjukkan selisih sebesar Rp. 11369,24 dengan prosentase sebesar 151,69%. BOP yang dibebankan oleh perusahaan lebih kecil jumlahnya dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC Konsumsi cost driver yang besar terletak pada jumlah formula.

  system.

  Karena produk ini merupakan produk khusus sesuai keinginan konsumen, maka waktu pemrosesannya lebih lama sehingga jam mesin merupakan salah satu penyebab kanaikan yang tingi. Untuk Kaos d,Mo Olah Raga (All size) diperoleh selisih Rp. 2771,21 dengan prosentase selisih sebesar 36,97% ini berarti bahwa BOP yang dibebankan oleh perusahaan lebih besar jumlahnya dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system.

  Dari hasil perbandingan perhitungan unit cost untuk setiap produk, diketahui bahwa jumlah selisih harga pokok produk untuk setiap produk menurut perusahaan dengan harga pokok produk untuk setiap produk menurut

  

ABC system seperti yang terlihat pada perhitungan pada tabel 5.24. Untuk

  Kaos Dadung Dewasa (All size) menunjukkan selisih sebesar Rp. 963,61 dengan prosentase selisih 4,24%, ini berarti bahwa harga pokok produk yang dibebankan kepada produk lebih tinggi dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system. Kaos Dadung Remaja (All size) diperoleh selisih sebesar Rp. 141,63 denga prosentase selisih 0,62%, ini berarti bahwa harga pokok produk yang dibebankan kepada produk lebih rendah apabila dibandingkan dengan ABC system. Kaos Dadung Wanita (All size) diperoleh selisih sebesar Rp. 202,56 dengan prosentase selisih 0,88%, ini berarti bahwa harga pokok produk yang dibebankan kepada produk lebih tinggi dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system. Kaos Dadung Anak (All size) diperoleh selisih sebesar Rp. 925,85 dengan prosentase selisih 3,67%, ini berarti bahwa harga pokok produk yang dibebankan kepada produk lebih tinggi dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system. Kaos B-Gaya (All size) menunjukkan selisih sebesar Rp. 11369,24 dengan prosentase selisih 54,71%, ini berarti bahwa harga pokok produk yang dibebankan kepada produk lebih rendah apabila dibandingkan dengan ABC

  

system . Sedangkan untuk Kaos d,Mo Olah Raga (All size) diperoleh selisih

  Rp. 2771,21 dengan prosntase selisih 13,49%, ini berarti bahwa harga pokok produk yang dibebankan kepada produk lebih tinggi dibandingkan jika perusahaan menggunakan ABC system.

  BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang telah diolah pada bab 5, maka dapat

  diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Selisih perbedaan antara biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost yang ditetapkan perusahaan saat ini dengan biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost berdasarkan Activity sebagai berikut :

  Based Costing System

  a. Selisih BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Dewasa (All size) sebesar Rp. 173.448.526,32 b. Selisih BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Remaja (All size) menjadi Rp. 21.243.987,94 c. Selisih BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Wanita (All size) menjadi Rp. 27.851.024,62 d. Selisih BOP yang dibebankan pada kaos Dadung Anak (All size) menjadi Rp. 112.490.167,04 e. Selisih BOP yang dibebankan pada kaos B-Gaya (All size) menjadi

  Rp. 204.646.210,96

  f. Selisih BOP yang dibebankan pada kaos d,Mo Olah Raga (All

  2. Perubahan harga pokok produk per unit yang dibebankan untuk setiap produk sebagai berikut : a. Harga pokok produk kaos Dadung Dewasa (All size) menjadi Rp.

  21.743,14 per unit.

  b. Harga pokok produk kaos Dadung Remaja (All size) menjadi Rp.

  22.900,46 per unit.

  c. Harga pokok produk kaos Dadung Wanita (All size) menjadi Rp.

  22.809,47 per unit.

  d. Harga pokok produk kaos Dadung Anak (All size) menjadi Rp.

  24.316,72 per unit.

  e. Harga pokok produk kaos B-Gaya (All size) menjadi Rp.

  32.151,26 per unit.

  f. Harga pokok produk kaos d,Mo Olah Raga (All size) menjadi Rp.

  17.770,97 per unit.

   Keterbatasan Penelitian B.

  Adapun keterbatasan dalam proses penelitian yang dilakukan di PT.Mondrian Group yaitu :

  1. Waktu dan ruang lingkup penelitian yang disediakan perusahaan terbatas karena kasibukan operasional perusahaan.

  2. Perusahaan diasumsikan memenuhi syarat penerapan Activity Based Costing System .

   Saran C.

  Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis mencoba memberikan saran untuk perusahaan. Semoga saran ini dapat bermanfaat bagi perusahaan terutama dalam pembebanan BOP yang lebih tepat dan akurat. Saran tersebut adalah :

  1. PT.Mondrian Group mempunyai komitmen untuk mengimplementasikan Activiy Based Costing System. Meskipun demikian, besarnya biaya overhead pabrik terhadap total biaya produksi perlu menjadi dasar untuk memutuskan implementasi ABC

  .

  system

  2. Kondisi perusahaan yang sangat kompleks karena perusahaan memproduksi beragam jenis produk. Dari tabel 5.3 diketahui bahwa prosentase BOP lebih tinggi daripada biaya tenaga kerja (32,79%), maka penulis menyarankan PT.Mondrian Group menggunakan sistem ABC dalam pembebanan biaya overhead pabrik karena perusahaan menggunakan mesin dalam setiap proses produksi dan dalam setiap proses produksi tersebut perusahaan meminimalkan penggunaan tenaga kerja manusia. Penerapan tersebut dilakukan secara bertahap dimulai dari lingkup yang kecil dulu, seperti didalam penentuan BOP. Dengan menerapkan sistem ABC pada perusahaan akan menjawab permasalahan yang berkaitan dengan pengalokasian pembebanan BOP setiap jenis produk. Ketepatan pengalokasian BOP akan mengurangi

DAFTAR PUSTAKA

  Brimson, James A. (1991), Activity Accounting: ABC Approach. New York: John Wiley and Sons. Carter,W.K., dan Usry, Milton.F. (2002). Akuntansi Biaya, Edisi 13. Jakarta:

  Salemba Empat Cooper, Robin dan Robert S. Kaplan (1991). The Design of Cost Management

  System Text, Casses, Readings . Engelwood Clift, New York:

  Prentice Hall Cooper, Robin, Robert S. Kaplan, Maisel Lawrence S., Morrissey, and Oehm,

  Ronald, M. (1992), Implementing Activity Based Cost

  Management: Moving from Analysys to Action, Montvale, New Jersey: Institute of Management Accountants.

  Fabiola Halan, Yohanes (2002), Analisis Perhitungan Unit Cost dengan , Skripsi S-1 (Tidak

  Metode Activity Based Costing (ABC) dipublikasikan) Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

  Hansen, Don R dan Maryanne M. Mowen. (1997). Akuntansi Manajemen . Jakarta : Erlangga

  (Alih bahasa: Hermawan, Ancella A)

  • (2000). Manajemen Biaya (Alih

  bahasa: Thomson learning Asia), Buku 1. Jakarta: Salemba Empat

  Harahap, Sofyan S. (2003). Teori Akuntansi, Edisi 2. Jakarta: Universitas Trisakti Horngren, Charles T., Gary L. Sunden dan William O. Stratton. (1999).

  , Eleventh edition. New

  Introduction to Management Accounting Jersey: Prentice Hall International Inc.

  Iskandar (2001), Penerapan Activity Based Costing (ABC) dalam Perhitungan

  Harga Pokok Produksi (HPP) , Skripsi S-1 (Tidak dipublikasikan) Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

  Muhadi. (2001). Akuntansi Biaya 1 dan 2. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Percetakan Kanisius

  Mulyadi. 1993. Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian

  Pedoman Penulisan skripsi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2003).

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

  Sugiri, Slamet. (1994). Akuntansi Manajemen. Yogyakarta: UPP AMP YKPN Supriyono R.A. 1994. Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen untuk

  Teknologi Maju dan Globalisasi. Yogyakarta: BPFE

  Wijaya, T.A. (1992). Activity Based Costing Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

  • (1993). Activity Based Costing System. Jakarta: Herverindo.

  Bagan Alir Penelitian

  Mulai Survey Pendahuluan Study Literatur Study Lapangan

  Perumusan Masalah Penentuan Tujuan Pengumpulan Data

Pengolahan Data

  

Perhitungan Unit Cost

Sistem yang digunakan Sistem activity based costing: oleh PT.Mondrian Group

  1. Prosedur Tahap Pertama

  • Menghitung Tarif BOP

  2. Prosedur Tahap Kedua

  • Menghitung HPP
  • Menghitung HPP Perbandingan Hasil Kesimpulan Selesai

  Lampiran Pertanyaan

  Berikut pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada waktu wawancara penelitian :

   Gambaran Umum Perusahaan A.

  1. Sejarah dan perkembangan perusahaan

  a. Kapan perusahaan didirikan dan oleh siapa?

  b. Apa bentuk perusahaan pertama kali berdiri?

  c. Apa yang menjadi dasar berdirinya perusahaan?

  2. Tujuan Perusahaan

  a. Apa tujuan mendirikan perusahaan?

  3. Lokasi Perusahaan

  a. Apa yang mendasari pemilihan letak perusahaan?

  b. Berapakah luas tanah yang dipakai oleh perusahaan?

  4. Bentuk Perusahaan

  a. Apa bentuk perusahaan saat ini?

  b. Bergerak dalam bidang apakah perusahaan saat ini?

  5. Struktur Organisasi

  a. Bagaimana bentuk struktur organisasi perusahaan?

  b. Bagaimana tugas, wewenang dan tanggung jawab setiap bagian dalam organisasi?

B. Personalia

  1. Berapakah jumlah karyawan yang ada didalam perusahaan?

  2. Bagaimana pengaturan jam kerja dalam sehari?

  3. Bagaimana sistem penggajian karyawan?

  4. Apakah terdapat jaminan sosial bagi karyawan?

  5. Usaha-usaha apakah yang dilakukan perusahaan untuk memajukan karyawan?

   Produksi C.

  1. Bahan baku

  a. Berapa macam bahan baku yang digunakan dan apa saja jenisnya?

  b. Berapa unit bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan setiap jenis produk? c. Bagaimana cara perusahaan dalam memperolah bahan baku?

  2. Bahan penolong

  a. Bahan penolong apa saja yang dibutuhkan perusahaan dalam memproduksi masing-masing jenis produk? b. Berapa unit masing-masing bahan penolong yang dibutuhkan untuk memproduksi setiap jenis produk yang terdapat didalam perusahaan?

  3. Produk dan proses produksi

  a. Berapa macam produk yang dihasilkan dan apa saja?

  b. Bagaimana tahap-tahap proses produksi?

  c. Berapa lama waktu yang dibituhkan dalam memproduksi setiap jenis produk yang dihasilkan? d. Bagian apa saja yang mendukung proses produksi?

  e. Berapa kapasitas mesin dan apakah sudah bekerja secara penuh? f. Berapa jam perusahaan beroperasi setiap harinya?

  4. Biaya tenaga kerja langsung

  a. Upah apa saja yang termasuk dalam kategori biaya tenaga kerja langsung?

  b. Bagaimana penentuan jam tenaga kerja langsung untuk setiap produk?

  c. Berapa tarif per jam kerja langsung?

  5. Biaya overhead pabrik

  a. Biaya apa sajakah yang termasuk BOP?

  b. Metode apa yang dipakai untuk menentukan tarif BOP?

  c. Apa dasar pembebanan BOP terhadap produk?

  d. Bagaimana penentuan BOP untuk setiap jenis produk?

  e. Apakah jumlah BOP cukup tinggi?

D. Akuntansi

  2. Bagaimana bentuk laporan biaya overhead pabrik? E.

   Pemasaran

  1. Siapa saja konsumen yang dilayani?

  2. Bagaimana sistem penjualan yang dilakukan oleh perusahaan?

  3. Berapa luas daerah pemasaran yang terjangkau perusahaan?

  4. Bagaimana saluran distribusi perusahaan?

  5. Apakah ada potongan harga? Jika ada bagaimana penentuannya?

  6. Apakah ada usaha promosi dari perusahaan?

  1. Periode pencatatan biaya produk dilakukan setiap bulan, tahun atau periode tertentu?

   Lain-lain F.

  1. Aktivitas-aktivitas apa saja yang terjadi di dalam setiap bagian di dalam perusahaan?

  2. Bagaiamana urutan-urutan aktivitas-aktivitas yang ada?

  3. Aktivitas-aktivitas mana yang merupakan aktivitas utama perusahaan?

  4. Biaya apa saja yang terjadi di dalam aktivitas-aktivitas tersebut?

  5. Aktivvitas-aktivitas apa saja yang menimbulkan biaya overhead pabrik?

  6. Apakah diversitas produk yang dihasilkan cukup tinggi?

  7. Apakah perusahaan mengalami persaiangan yang ketat dengan perusahaan lain?

  8. Apakah ratio konsumsi berdasar unit dan non unit berbeda?

  

PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM

PADA PEMBEBANAN BOP DALAM

PENGHITUNGAN UNIT COST

( Studi Kasus pada PT. Mondrian Group Klaten )

  Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 1

Apakah ada perbedaan antara biaya overhead pabrik (BOP)

yang dibebankan didalam penghitungan unit cost yang

ditetapkan perusahaan saat ini dengan biaya overhead pabrik

(BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost

berdasarkan Activity Based Costing System ?

Rumusan Masalah

  Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 2

  

Batasan

™ Proses produksi ™ Tidak dilakukan identifikasi aktivitas yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah

  Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 3

Tujuan penelitian

Untuk mengetahui perbedaan unit cost setiap produk antara

biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam

penghitungan unit cost yang diterapkan PT.Mondrian dengan

biaya overhead pabrik (BOP) yang dibebankan didalam penghitungan unit cost berdasarkan Activity Based Costing System.

  Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 4

  Teknik Analisa Data

Pembebanan BOP Menggunakan Sistem Konvensional

  Biaya Tenaga Biaya Overhead Biaya Bahan Kerja Baku Langsung Pembebanan Biaya Kelompok Pabrik Secara Manyeluruh Pembebanan Biaya Produk Prime Cost Unit Produksi HPP per unit Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 5

  Teknik Analisa Data

Pembebanan BOP Meggunakan Sistem ABC

  Biaya Tenaga Biaya Sumber Biaya Bahan Kerja Daya Baku Langsung Pembebanan Biaya Aktivitas Pembebanan Biaya Produk Prime Cost Unit Produksi HPP per unit Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 6

  A

  1 A

  3 A

  

2 A

  4 A n

Penyaring

Tingkat

  

Aktivitas

Tingkat Unit Tingkat Bacth Tingkat Produk Tingkat Fasilitas Penyaring Aktivitas Penyaring Aktivitas Penyaring Aktivitas Set 1 Set 2 Set 3 Set 4 Set 5 Set 6 Set 7

  

Klasifikasi Aktivitas

Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 7

  Produk Prime Cost BOP / Unit HPP / unit Per unit (Rp) (Rp) (Rp) Kaos Dadung Dewasa (All Size) 15.211,68 6.531,46 21.743,14 Kaos Dadung Remaja (All Size) 15.263,77 7.636,69 22.900,46 Kaos Dadung Wanita (All Size) 15.516,96 7.292,51 22.809,47 Kaos Dadung Anak (All Size) 17.747,50 6.569,22 24.316,72 Kaos Be-Gaya (All Size) 13.286,96 18.864,30 32.151,26 Kaos d,Mo Olah Raga (All Size) 13.047,12 4.723,85 17.770,97

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Perhitungan Unit Cost Dengan Activity Based Costing System

Tahun 2003

  Maret 2007, ha Presentasi Skripsi Rabu 21 l 9

  

Perbandingan Selisih BOP Yang Dibebankan Pada Produk

Antara BOP Berdasarkan sistem PT.Mondrian Group dengan BOP Berdasarkan Activity Based Costing System

Presentasi Skripsi Rabu 21 Maret 2007, hal 8

  Anak (All size)

  36,97

  277.120.863,85

  (All size) 100.000 7495,062 749.506.218,55 4.723,85 472.385.354,70 2771,21

  (151,69 ) d,Mo Olah Raga

  (204.646.210,96)

  (All size) 18.000 7495,062 134.911.119.34 18.864,30 339.557.330,30 (11369,24)

  12,35 B-Gaya

  112.490.167,04

  121.500 7495,062 910.650.055,54 6.569,22 798.159.888,50 925,85

  2,70 Dadung

  BOP Perusahaan BOP ABC System Produk Jumlah Produk BOP/Unit Produk (1) BOP/Total Produk (Rp) BOP/Unit Produk (2) BOP/Total Produk (Rp) Selisih BOP/Unit Produk (Rp) (3) = (1) – (2) Selisih BOP/Total Produk (Rp) Prosentase (4) = (3) : (1) X 100% (%)

  27.851.024,62

  137.500 7495,062 1.030.571.050,50 7.292,51 1.002.720.025,88 202,56

  Wanita (All size)

  (1,89 ) Dadung

  (21.243.987,94)

  (All size) 150.000 7495,062 1.124.259.327,82 7.636,69 1.145.503.315,76 (141,63)

  Dadung Remaja

  (All size) 180.000 7495,062 1.349.111.193,39 6.531,46 1.175.662.667,07 963,61 173.448.526,32 12,86

  Dadung Dewasa

  Sumber: Diolah dari data PT. Mondrian Group Klaten

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisa studi komparatif tentang penerapan traditional costing concept dengan activity based costing : studi kasus pada Rumah Sakit Prikasih
58
907
147
Analisis penetapan harga pokok produksi pengolahan jus buah dengan pendekatan activity based costing :studi kasus CV. Winner Perkasa Indonesia Unggul Depok Jawa Barat
6
93
123
Pelaksanaan penghitungan dan penyetoran pajak penghasilan badan pada PT.Pos Indonesia (persero)
0
3
1
unit cost tahun 2010 lahan basah
1
8
4
unit cost tahun 2010 lahan basah
0
8
4
unit cost tahun 2010 lahan basah
0
11
4
USD IDR – YE (IDR)
0
0
5
Pembebanan produk ganda dengan cost drivers berdasar unit
0
2
12
Implementasi perlakuan zakat atas penghasilan dalam penghitungan penghasilan kena pajak
1
3
192
Penerapan activity-based cost untuk menghitung biaya rawat inap di r.s pku aisyiyah boyolali tahun 2008
1
5
46
BAB IV HASIL PENELITIAN Data diambil dari semua unit penelitian, berupa hasil penghitungan jumlah bakteri Coliform pada medium Kaldu Laktosa (KL), jumlah total bakteri Coliform fecal pada medium Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB) dan total koloni
0
0
14
Standar pembebanan untuk jembatan
1
3
59
Development of information system to Semeru volcano activity using SMS: in study - repository civitas UGM
0
0
12
BAB I PENDAHULUAN - Perancangan sistem tracking activity karyawan marketing berbasis android dengan teknologi global positioning system (gps) studi kasus pada PT Astragraphia - Ubharajaya Repository
0
2
9
Analisis perhitungan harga pokok produksi sebagai dasar penentuan harga jual air dengan metode activity based costing system di PDAM Tirta Bangka - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
15
Show more