5 BAB II TINJAUAN LITERATUR 2.1 Infrastruktur Teknologi informasi

Gratis

0
0
29
1 year ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN LITERATUR

2.1 Infrastruktur Teknologi informasi

  Teknologi informasi merupakan hal yang membantu manusia membuat, mengubah, menyimpan, mengkomunikasikan dan menyebarkan informasi.

  Dengan adanya teknologi informasi mempermudah manusia dalam mendapatkan informasi secara cepat. Dalam proses penyebaran informasi, teknologi informasi didukung oleh suatu infrastruktur yang membantu proses tersebut berjalan dengan lancar. Infrastruktur yang dimaksud adalah infrastruktur teknologi informasi.

2.1.1 Pengertian Infrastruktur Teknologi Informasi

  Defenisi umum dari infrastruktur adalah istilah yang erat kaitannya dengan maknanya yaitu struktur di bawah struktur. Definisi ini menandakan adanya perbedaan layer dari struktur yang berada di atasnya, layaknya menyediakan layanan atau support.

Gambar 2.1.1 Infrastruktur teknologi informasi

  (Robertson & Sribar, 2001) Menurut Robertson dan Sribar (2001), dari gambar di atas masing-masing layer pada infrastruktur memiliki beberapa karakteristik tertentu, diantaranya:

  1. Pemakainya lebih luas dibanding struktur diatasnya (yang didukungnya).

  2. Lebih permanen/statis dibanding struktur diatasnya.

  3. Terhubung secara fisik dengan struktur diatasnya.

  4. Sering diperhitungkan sebagai service/layanan pendukung.

  5. Terpisah (distinct) dari struktur-struktur yang didukungnya dalam hal life-cyle-nya (plan, build ,run change, exit).

  6. Terpisah (distinct) dari struktur-struktur yang didukungnya dalam hal kepemilikannya dan orang-orang yang mengeksekusi life-cyle-nya.

  7. Dimiliki dan dikelola oleh pihak yang berbeda dari struktur yang didukungnya. Melalui Gambar 2.1, dapat dijelaskan bahwa infrastruktur teknologi informasi sebagai struktur yang memberikan layanan dan dukungan terhadap lapisan di atasnya yaitu pengembangan aplikasi.

  Infrastruktur teknologi informasi merupakan prasarana penunjang utama Pengertian infrastruktur teknologi informasi yang dikemukakan antara lain:

  Menurut Garlic ( 2011, 1) bahwa: ―Infrastruktur teknologi informasi merupakan pondasi dasar dari kapabilitas teknologi informasi. Kapabilitas teknologi informasi ini meliputi internal technical (equipment, software dan cabling) maupun human expertise yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang dapat dipercaya‖.

  Menurut Weill (1993) bahwa: ―Infrastruktur teknologi informasi memberikan pondasi dasar bagi kapabilitas teknologi informasi yang digunakan untuk membangun aplikasi bisnis dan biasanya dikelola oleh kelompok sistem informasi‖.

  Menurut Bryd dan Turner (2000) bahwa: ―Infrastruktur teknologi informasi sebagai penggunaan bersama- sama sumber daya teknologi informasi yang terdiri dari teknikal fisik dasar dari hardware, software, teknologi komunikasi, data dan aplikasi inti dan komponen manusia yaitu keahlian khusus, komitmen, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan yang dikombinasikan untuk menciptakan jasa teknologi informasi yang unik bagi orga nisasi‖.

  Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa infrastruktur teknologi informasi merupakan tingkat paling dasar dari komponen teknologi informasi. Infrastruktur teknologi informasi meliputi peralatan, hardware,

  

software dan manusia sebagai komponen pendukung didalamnya yaitu berupa

  suatu keahlian khusus, nilai-nilai, norma dan pengetahuan sebagai pencipta jasa teknologi informasi agar dapat mengoperasikan infrastruktur teknologi informasi menjadi lebih berkembang pada masa yang akan datang.

  Menurut Duncan (1995), terdapat satu cara untuk menggabungkan infrastruktur teknologi informasi melalui kualitas-kualitas dari:

  1. Connectivity, kemampuan dari beberapa komponen teknik untuk mempengaruhi beberapa komponen lain didalam dan diluar organisasi.

2. Compatibility, kemampuan membagi beberapa tipe dari 3.

  Modularity, kemampuan untuk menambah, memodifikasi dan merubah kembali beberapa perangkat lunak , perangkat keras, atau komponen data dari infrastruktur dengan mudah dan dengan tidak semuanya menimbulkan efek.

  Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa infrastruktur teknologi informasi merupakan penggabungan dua komponen berbeda berupa komponen teknik dan komponen manusia yang saling mendukung dan memiliki hubungan. Suatu organisasi yang memiliki kualitas-kualitas berupa connectivity,

  compatibility, modularity tinggi dipandang mempunyai tingkat fleksibilitas

  infrastruktur teknologi informasi aspek teknik dan manusia yang tinggi, sehingga mempunyai potensi untuk merubah dengan cepat infrastruktur untuk disesuaikan dengan beberapa perubahan yang berbeda dalam aturan-aturan dari strategi dan strukturnya.

2.1.2 Infrastruktur Teknologi Informasi yang Adaptif

  Infrastruktur teknologi informasi yang adaptif adalah infrastruktur yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan dibuat fleksibel untuk dapat mengakomodasi perubahan-perubahan yang terjadi secara efisien. Alasan mengapa dibutuhkan infrastruktur teknologi yang adaptif cukup sederhana, hal ini disebabkan karena dunia bisnis baik termasuk lembaga profit maupun non-profit seperti perpustakaan begitu cepat berubah, sedangkan perubahan teknologi informasi tidak bisa dilakukan secepat itu. Sehingga perlu disiapkan infrastruktur yang bisa mengantisipasi banyak perubahan untuk jangka waktu yang cukup panjang.

  Menurut Robertson dan Sribar (2001), manifestasi dari infrastruktur teknologi informasi yang adaptif adalah:

  1. Efficiency, dengan tersedianya komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai sistem aplikasi baik lama maupun baru. dengan komponen-komponen yang mudah

  2. Efectiveness, dipadukan (interoperable) dan di integrasikan.

  3. Agility, dengan komponen-komponen yang mudah dirombak, di-upgrade, atau diganti.

  Sedangkan tolok ukur dari dari infratruktur adaptif, adalah: 1.

  Time to market, kecepatan implementasi layanan baru.

  2. Scalability, mampu mengakomodasi peningkatan penggunaan beban.

  3. Extensibility, kemudahan menambah komponen baru.

  4. Complexity Partitioning, partisi arsitektur aplikasi kedalam komponen-komponen yang dapat dikelola secara terpisah

  (modular) .

  5. Reusability, pemnafaatan ulang/silang komponen-komponen infrastruktur oleh berbgai layanan teknologi informasi perushaan.

  6. Integration, pemanfaaatan teknologi open standart yang memungkinkan integrasi antar komponen-komponen infrastruktur. Permasalahan yang sering timbul adalah penerapan infrastruktur teknologi informasi yang tidak terencana dengan baik serta tidak terkoordinasinya perencanaan infrastruktur dengan strategi dan pengembangan sistem informasi. Seringkali pengembangan infrastruktur menyesuaikan dengan kebutuhan- kebutuhan aplikasi-aplikasi baru tanpa adanya standarisasi.

  Penyelesaian dari masalah di atas, adalah dengan mengembangkan infrastruktur teknologi informasi yang adaptif. .

  Menurut Robertson dan Sribar (2001), pengembangan infrastruktur teknologi yang adaptif dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

  1. Merencanakan infrastruktur secara menyeluruh, mencakup seluruh institusi dengan berbagai tingkatan struktur yang ada.

  2. Mempertimbangkan kebutuhan infrastruktur di masa depan 3.

  Memaksimalkan penggunanaan ulang dan silang (reuse) komponen infrastruktur termasuk didalamnya infrastruktur sumber daya manusia.

  4. Memilih teknologi yang tepat. Dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi di masa depan , penerapan teknologi dapat lebih efisien untuk menjamin

  open standart

  interoperabilitas dan kebebasan dari ktergatungan pada

  

vendor tertentu. Selain itu, harus dilihat juga kesesuaian

  dengan kebutuhan bisnis, kesiapan serta kemampuan institusi untuk mengadopsinya.

  5. Menerapkan prosedur standar dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa pengembangan infrastruktur teknologi informasi yang adaptif sangat bermanfaat bagi institusi- institusi dalam mengelola infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki baik yang lama maupun yang baru secara terencana, sehingga dapat menghemat biaya operasi dan pemeliharaan.

2.2 Akses Internet

  Teknologi semakin berkembang pesat sehingga teknologi diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Salah satu teknologi tersebut adalah teknologi informasi yang menjadikan informasi sebagai hal yang paling dibutuhkan oleh siapa saja. Informasi berkembang begitu cepat sehingga manusia menciptakan suatu teknologi untuk dapat mengakses informasi salah satunya dengan cara bertukar informasi yaitu dengan cara mengakses internet. Internet di zaman modern seperti sekarang tidak lepas dari kehidupan manusia, dengan mengakses internet memberikan manfaat salah satunya dalam kegiatan perkuliahan yang memerlukan ketersediaan informasi yang beragam.

2.2.1 Pengertian Akses Internet

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian akses adalah jalan masuk. Sedangkan akses internet adalah media yang digunakan para pengguna untuk koneksi ke internet. Mengakses internet adalah sebuah kegiatan yang berkaitan dengan komputer yang terkoneksi dengan internet. Akses internet bisa menggunakan bermacam media komputer pribadi, handphone, tv kabel dan lain-lain. Akses internet dapat berjalan bila sudah tersedianya internet.

  Menurut Allen yang dikutip oleh Hasugian (2005, 9) internet adalah sistem komputer yang saling berhubungan sehingga memungkinkan komputer dekstop yang kita miliki dapat bertukar data, pesan dan file-file dengan berjuta-juta komputer lain yang berhubungan ke internet. Menurut Bustami (2000, 1) menyatakan bahwa internet adalah jaringan global yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan komputer termasuk jaringan-jaringan lokal. Dari segi pengetahuan, internet didefenisikan sebagai sebuah perpustakaan besar dengan segudang informasi lengkap didalamnya. Menurtu Vicky (2013), menyatakan bahwa internet menurut segi ilmu pengetahuan adalah sebuah perpustakaan besar yang didalamnya terdapat jutaan (bahkan milyaran) informasi atau data yang dapat berupa teks, grafik, audio maupun animasi dan lain-lain dalam bentuk media elektronik. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui dengan adanya internet dapat mempermudah pertukaran data dan juga memiliki kegunaan dalam mencari suatu informasi. Dengan adanya internet proses pencarian informasi berjalan cepat tanpa mengenal ruang dan waktu dan siapa saja bisa mengaksesnya. Untuk itu antara akses dan internet merupakan suatu kesinambungan terhadap pengertian keduanya. Internet menyediakan akses sehingga memungkinkan untuk menulusur informasi yang dibutuhkan.

2.2.2 Faktor –faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Akses Internet

  Pada saat mengakses internet terkadang kecepatan akses terasa cepat dan terasa lambat. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan akses internet tersebut. Koneksi internet menggunakan banyak perangkat dari penyedia layanan kecepatan akses internet adalah:

  1. Unit komputer Komputer sangat berperan dalam kecepatan akses internet karena di dalam komputer ada harddisk, RAM dan processor yang berperan penting pada proses kerja komputer tersebut. Bila harddisk yang dipakai berkecepatan rendah maka kecepatan akses internet pun juga rendah, begitu juga bila menggunakan RAM atau processor yang kecepatan rendah, ini sangat mempengaruhi kecepatan internet.

  2. Modem Modem juga sangat mempengaruhi kecepatan akses internet. Modem mempunyai kecepatan yang berbeda-beda. Modem yang sering digunakan adalah modem yang berkecepatan 56 kbps.

  3. Jaringan komunikasi yang digunakan untuk akses internet Untuk mengakses internet bisa menggunakn layanan line telepon, CDMA, GPRS, dan satelit. Masing-masing layanan tersebut mempunyai kecepatan yang berbeda. Kecepatan yang paling rendah adalah menggunakan line telepon.

  4. Besar Bandwitdh Bandwidth adalah luas atau lebar cakupan frekuensi yang digunakan oleh sinyal dalam medium transmisi. Bandwidth biasanya di ukur dengan satuan Hertz. Semakin besar bandwidth yang disediakan oleh ISP, maka semakin cepat pula akses internetnya.

  5. Jumlah pengguna yang mengakses server secara bersamaan.

  Kecepatan akses internet pada jam-jam tertentu biasanya sangat lambat, dikarenakan banyaknya pengguna internet yang mengakses internet secara bersamaan. Pada jam 08.00

  • – 15.00 WIB biasanya jaringan sedang sibuk-sibuknya.

  Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa beberapa faktor berupa unit komputer, modem, jaringan komunikasi yang digunakan untuk akses internet, besar bandwidth dan jumlah pengguna yang mengakses server secara bersamaan mempengaruhi kecepatan akses internet yang digunakan. Untuk menghindari koneksi internet yang lambat sebaiknya faktor-faktor tersebut bisa dijadikan perhatian yang tepat untuk mengantisipasi terjadinya akses internet yang lambat.

2.2.3 Jenis - Jenis Kecepatan Akses Internet

  Kecepatan akses akan sangat bergantung pada teknologi jaringan di sekitar jarak dan jarak/kondisi lingkungan saat koneksi internet dilakukan. Adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini memungkinkan kita dapat menoneksikan komputer dengan internet melalui beberapa cara. Menurut Atmanto ( 2009), terdapat pilihan tipe/jenis kecepatan internet yang digunakan. Berikut adalah kecepatan internet sesuai dengan saluran yang dipilih.

  1. Koneksi Dial-Up Sebelum ada handphone, umumnya komunikasi dilakukan melalui saluran telepon, yaitu dengan cara menghubungkan komputer ke kabel telepon rumah melalui modem analog (konvensional). Cara ini disebut dengan koneksi dial-up. Dial-up melalui jalur PSTN (Public Switched Telephone Network) adalah cara terhubung ke ISP (Internet Servive Provider) melalui jaringan telepon regular (PSTN), contohnya adalah Telkomnet Instan dari ISP Telkom.

  2. Koneksi ADSL ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line) adalah suatu teknologi modem yang bekerja pada frekuensi antara 34 kHz sampai 1104 kHz.

  Inilah penyebab utama perbedaan kecepatan antara modem ADSL dengan modem konvensional yang bekerja pada frekuensi di bawah 4 kHz. Keuntungan ADSL adalah memberikan kemampuan akses internet berkecepatan tinggi dan suara/fax secara simultan.

  Berikut ini merupakan bandwidth maksimum yang didapat apabila menggunakan akses internet menggunakan ADSL: a. Untuk line rate 384 kbps, bandwidth maksimum yang didapatkan mendekati 337 kbps.

  b. Untuk line rate 384 kbps, throughput rata-rata (kecepatan download) yang bisa didapatkan sekitar 40 Kb/s.

  c. Untuk line rate 512 kbps, bandwidth maksimum yang didapatkan mendekati 450 kbps.

  d. Untuk line rate 512 kbps, throughput rata-rata (kecepatan download) yang bisa didapatkan sekitar 52 Kb/s.

  Contoh koneksi ADSL adalah Speedy dari Telkom. Dibandingkan koneksi dial-up koneksi ADSL.

  3. Koneksi GPRS GPRS adalah kepanjangan dari General Packet Radio Service yaitu komunikasi data dan suara yang dilakukan dengan menggunakan gelombang radio. GPRS memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan data dan suara pada saat alat komunikasi bergerak (mobile). Sistem GPRS dapat digunakan untuk transfer data dalam dan penelusuran (browsing) internet. Layana GPRS dipasang pada jenis ponsel tipe GSM dan IS-136, walaupun jaringan GPRS saat ini terpisah dari GSM.

  Kecepatan GPRS sangat tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut:

  a. Konfigurasi dan alokasi time slot pada level BTS

  b. Software yang dipergunakan

  c. Dukungan fitur dan aplikasi yang digunakan

  4. Koneksi 3G

  3G adalah singkatan dari third-generation technology. Istilah ini umumnya digunakan mengacu kepada perkembangan teknologi telepon nirkabel (wireless). 3G sebagai sebuah solusi nirkabel bisa memberikan kecepatan akses internet sebesar:

  144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat

  • 384 Kbps untuk kondisi berjalan
  • 2 Mbps untuk kondisi statik di suatu tempat
  • Jaringan 3G bukan merupakan upgrade dari 2G. Operator 2G yang berafisiliasi dengan 3GPP perlu untuk mengganti banyak komponen untuk bisa memberikan layanan 3G. Sedangkan operator 2G yang berafiliasi dengan teknologi 3GPP2 lebih mudah dalam upgrade ke 3G
karena berbagai elemen jaringan sudah didesain untuk ke arah layanan nirkabel pita lebar (broadband wireless).

  5. Koneksi HSDPA HSDPA adalah singkatan dari High-Speed Downlink Packet Access yang merupakan sebuah protokol telepon genggam dan juga sering disebut 3,5G. HSDPA fase pertama berkapasitas 4,1 Mbps. Kemudian menyusul fase 2 berkapasitas 11 Mbps dan kapasitas maksimal

  downlink peak data rate hingga mencapai 14 Mbit/s. Teknologi ini

  dikembangkan dari WCDMA (3G). HSDPA memberikan jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile Telecommunications System (UMTS/3G) yang memungkinkan untuk penggunaan kapasitas data yang lebih besar sampai 14,4 Mbit/detik arah turun. Hingga kini penggunaan teknologi HSDPA hanya pada komunikasi downstream menuju telepon genggam.

  Dalam hal kecepatan download dikatakan bahwa:

  a. Di lingkungan perumahan teknologi ini dapat melakukan unduh data hingga berkecepatan 3,7 Mbps.

  b. Dalam keadaan bergerak seseorang yang sedang berkendaraan di jalan tol berkecepatan 100 km/jam dapat mengakses internet berkecepatan 1,2 Mbps.

  c. Di lingkungan perkantoran yang padat pengguna dapat menikmati streaming video dengan perkiraan kecepatan 300 Kbps. data dan memberikan umpan balik yang lebih cepat saat pengguna menggunakan aplikasi interaktif seperti mobile office atau akses kecepatan tinggi untuk penggunaan fasilitas permainan atau mengunduh audio dan video. Kelebihan lain HSDPA, meningkatkan kapasitas sistem tanpa memerlukan spektrum frekuensi tambahan. Hal ini menyebabkan berkurangnya biaya layanan mobile data secara signifikan

  Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis kecepatan akses internet mengalami perubahan dari waktu ke waktu, seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih jenis kecepatan akses internet akan terus berkembang disesuaikan dengan penggunanya yang menginginkan akses internet yang cepat dan stabil dimana pun pengguna mengaksesnya.

  2.2.4 Keuntungan Pencarian Informasi Melalui Akses Internet

  Sumber-sumber informasi yang terdapat pada internet cukup besar dan akan selalu bertambah dari waktu ke waktu. Internet dapat digambarkan seperti cairan yang selalu berubah setiap saat, dengan kata lain perputaran informasi yang terdapat pada internet memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Internet dapat pula disebut sebagai perpustakaan yang dapat dikunjungi setiap saat yang berisikan informasi yang lengkap dan sebagai alat penelurusan informasi yang tidak terbatas. Internet adalah media sempurna yang dapat menghubungkan berjuta-juta orang secara elektronik. Menurut Nasution (2004, 20) ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh melaui pengaksesan terhadap internet adalah : 1. Informasi yang terdapat di internet diperoleh dengan cepat dan murah.

  2. Mengurangi biaya kertas dan biaya distribusi.

  3. Sebagai media promosi.

  4. Dokumen (Full Text) 5. Menyediakan informasi beasiswa. pemakai yang luas.

  7. Ensiklopedi di web Dengan fasilitas layanan WWW pengguna dapat memperoleh informasi dari berbagai ensiklopedia umum yang menyimpan informasi tentang banyak hal.

  8. Mematenkan penemua di web.

  9. Majalah kampus di internet dan merujuk referensi di internet.

  2.2.5 Frekuensi Penggunaan Akses Internet

  Frekuensi penggunaan dalam mengakses internet merupakan tingkat keseringan penggunaan internet oleh pengguna. Frekuensi penggunaan akses internet yang cukup tinggi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu tempat yang mudah dijangkau, tempat dimana pengguna telah berada telah tersedia layanan untuk mengakses internet, sehingga dapat dengan mudah menggunakan internet dan biaya yang dikeluarkan dalam penggunaan internet pada setiap pengguna juga dipengaruhi oleh kebutuhan terhadap informasi yang berbeda-beda.

  Tinggi rendahnya penggunaan akses terhadap internet sebenarnya tidak menjadi ukuran bahwa seseorang telah menggunakan internet secara optimal atau tidak. Hal ini disebabkan karena frekuensi yang minim dapat diatasi dengan masa penggunaan yang panjang. Dengan kata lain kuantitas bukanlah hal yang penting melainkan kualitas pemanfaatan merupakan hal yang terpenting dalam pemanfaatan akses internet.

2.2.6 Jenis Jaringan Komputer Untuk Akses Internet

  Untuk dapat mengakses internet dibutuhkan sekumpulan jaringan yang saling terhubung agar bisa dapat mengoneksikannya ke internet yang dinamakan jaringan komputer. Adapun pengertian jaringan komputer yang dikemukan oleh Turban, Efrain et.all (2003, 178) bahwa ―Computer network is consist of

  communication, media, device, and sotware needed to connect 2 or more computer system and/or device”

  Menurut Sutarman (2012, 188), ―suatu jaringan komputer terdiri atas media komunikasi, peralatan, dan perangkat lunak yang di perlukan untuk menghubung kan dua atau lebih sistem komputer dan berbagai peralatan‖. Jaringan komputer untuk akses internet menurut Sutarman terdapat 3 jenis jaringan yaitu:

  1. LAN biasa disingkat LAN adalah jaringan komputer yang

  Local Area Network

  jaringannya hanya mencakup wilayah kecil seperti jaringan komputer kampus, gedung, kantor, dalam rumah, sekolah atau yang lebih kecil. LAN terdiri dari beberapa komputer yang terhubung dalam suatu jaringan. Pada jaringan ini setiap komputer dapat mengakses data dari komputer lain. Setiap komputer yang terhubung pada LAN mempunyai IP Adress yang berbeda. Komputer di dalam LAN terhubung melaui Ethernet atau dapat juga wireless teknologi yang berkecepatan antara 10-10000 Mbp. LAN yang menggunakan teknologi wireless biasa disebut wireless LAN.

  LAN mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1.

  Mempunyai pusat data yang lebih tinggi.

  2. Meliputi wilayah geografi yang lebih sempit.

  3. Tidak membutuhkan jalur telekomunikasi yang disewa dari operator telekomunikasi. Biasanya salah satu komputer di antara jaringan komputer akan digunakan menjadi server yang mengatur semua sistem di dalam jaringan. Keuntungan jaringan LAN: 1.

  Pertukaran file dapat dilakukan dengan mudah.

  2. Pemakaian printer dapat dilakukan dengan mudah.

  3. File-file data dapat disimpan pada server.

  4. File data yang keluar/masuk dari/ke server dapat di kontrol.

  5. Proses backup data menjadi lebih mudah dan cepat.

  6. Resiko kehilangan data oleh virus komputer menjadi sangat kecil.

  7. Bila salah satu client/server terhubung dengan modem, maka semua atau sebagian komputer pada jaringan LAN dapat mengakses ke jaringan internet atau mengirimkan fax melalui 1 modem.

  2. MAN

  Metropolitan Area Network atau biasa disngkat MAN adalah jaringan

  disebut MAN. MAN terdapat di dalam suatu kampus atau dalam satu wilayah yang agak luas ( dapat juga satu kota). MAN biasanya tidak dimiliki oleh satu organisasi saja. Sama seperti LAN, MAN juga memiliki wireless MAN dengan kekurangan dan kelebihan yang relatif sama.

  3. WAN

  Wide Area Network atau biasa disingkat WAN adalah kumpulan dari LAN

  dan/atau workgroup yang dihubungkan dengan menggunakan alat komunikasi modem dan jaringan internet, dari/ke kantor pusat dan kantor cabang, maupun antar kantor cabang. Dengan sistem jaringan ini, pertukaran data antar kantor dapat dilakukan dengan cepat serta dengan biaya yang relatif murah.

  Sistem jaringan ini menggunakan jaringan internet yang sudah ada, untuk menghubungkan antara kantor pusat dan kantor cabang dengan PC Stand

  Alone/Notebook yang berada di lain kota ataupun negara. Keuntungan jaringan

  WAN:

  1. Server kantor pusat dapat berfungsi sebagai bank data dari kantor cabang.

  2. Dokumen/file yang biasanya dikirimkan melalui fax ataupun paket, pos dapat dikirim melalui E-mail dan transfer file dari kantor cabnag dengan biaya yang relatif murah dan dalam jangka waktu yang sangat cepat.

  3. Pooling data dan updating data antara kantor dapat dilakukan setiap hari pada waktu yang ditentukan. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa setiap jaringan komputer memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jaringan komputer yang digunakan disesuaikan dengan area suatu wilayah.

2.2.7 Perangkat Keras Pendukung Akses Internet

  Dalam membangun sebuah jaringan komputer untuk dapat mengakses internet dibutuhkan perangkat keras khusus yang berhubungan dengan kebutuhan jaringan yang akan dibangun.

  Menurut Sofana (2008, 21), perangkat keras jaringan komputer untuk akses internet adalah:

  1. NIC ( Network Interface Card) merupakan peralatan yang berhubungan langsung dengan komputer dan desain agar komputer-komputer jaringan dapat saling berkomunikasi. NIC juga menyediakan akses ke media fisik jaringan. Bagaimana bit-bit data (seperti tegangan listrik, akan ditentukan oleh NIC.

  2. HUB merupakan peralatan yang dapat menggandakan frame data yang berasal dari salah satu komputer ke semua port yang ada pada hub tersebut. Sehingga semua komputer yang berhubungan dengan port akan menerima data juga.

  3. Brigde merupakan peralatan yang dapat menghubungkan beberapa segmen dalam sebuah jaringan. Berbeda dengan hub, bridge dapat mempelajari MAC address tujuan. Sehingga jika sebuah komputer mengirim data untuk komputer tertentu, maka bridge akan mengirim data melalui port yang terhubung dengan komputer tujuan saja. Jika belum mengetahui port mana yang terhubung dengan komputer

  bridge

  tujuan, maka akan mencoba mengirim pesan broadcast ke semua port (kecuali port computer yang mengirim). Jika port tujuan telah diketahui, maka untuk selanjutnya hanya port itu saja yang akan dikirim data. Bridge juga dapat mem-filter trafik di antara 2 (dua) segmen LAN. Bridge bekerja di layar Data Link.

  4. Router merupakan peralatan jaringan yang dapat menghubungkan satu jaringan dengan jaringan yang lain. Sepintas lalu router mirip dengan

  bridge , namun router lebih cerdas dibandingkan dengan bridge. Router bekerja menggunakan routing table yang disimpan di

  memorinya untuk membuat keputusan tentang ke mana dan bagaimana paket dikirimkan. Router dapat memutuskan rute terbaik yang kan ditempuh oleh paket data. Router akan memutuskan media fisik jaringan yang disukai dan yang tidak disukai. Protocol routing dapat mengatisipasi berbagai kondisi yang tidak dimiliki oleh peralatan bridge. Router bekerja pada layar network.

  5. Network Switch selain repeater, bridge, dan router terdapat sejumlah peralatan switching yang dapat digunakan dalam membangun

  internetwork . Perlatan switch didesain dengan tujuan yang berbeda

  dengan repeater, bridge, dan router. Jika perangkat jaringan yang terhubung pada sebuah LAN terlalu banyak, maka kebutuhan transmisi meningkat melebihi kapasitas yang mampu dilayani oleh media transmisi jaringan. Cara kerja switch mirip dengan bridge, sehingga kadangkala switch disebut sebagai multiple bridge dan setiap

  host yang terkoneksi akan mendapatkan full bandwidth. Switch

  memiliki beberapa kelebihan dibandingkan bridge antara lain dalam hal forwarding method paket yang dilewatkan.

  6. Modem digunakan sebagai penghubung jaringan LAN dengan internet. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perangkat-perangkat keras tersebut memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing dalam membantu proses terkoneksinya suatu jaringan komputer yang bisa digunakan untuk akses internet.

  Di dalam jaringan komputer, bandwidth sering digunakan sebagai suatu sinonim untuk data transfer rate yaitu jumlah data yang dapat dibawa dari sebuah titik ke titik lain dalam jangka waktu tertentu (pada umumnya dalam detik). Jenis bandwidth ini biasanya diukur dalam bps (bits per second). Adakalanya juga dinyatakan dalam Bps (bytes persecond). Secara umum, koneksi dengan bandwidth yang besar/tinggi memungkinkan pengiriman informasi yang besar seperti pengiriman gambar/images dalam video presentation.

  Menurut Lubis (2013) bandwidth adalah besaran yang menunjukkan seberapa banyak data yang dapat dilewatkan dalam koneksi melalui sebuah network. Istilah ini berasal dari bidang teknik listrik, di mana bandwidth yang menunjukkan total jarak atau berkisar antara tertinggi dan terendah sinyal pada saluran komunikasi. Banyak orang awam yang kadang menyamakan arti dari istilah bandwidth dan Data Transfer, yang biasa digunakan dalam internet, khususnya pada paket

  • – paket web
hosting. Bandwidth sendiri menunjukkan volume data yang dapat di transfer per unit waktu. Sedangkan data transfer adalah ukuran lalu lintas data dari website. Lebih mudah kalau dikatakan bahwa bandwidth adalah rate dari data transfer.

  Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bandwidth mempunyai perananan penting dalam membantu kecepatan akses internet.

  Semakin besar bandwidth yang tersedia semakin cepat pula koneksi internetnya

2.3.1 Jenis-Jenis Banwidth

  Bandwidth mempunyai jenis dan kegunanaannya masing-masing. Menurut Lubis (2013), terdapat dua jenis bandwidth yang sering dikenal yaitu:

  a. Digital Bandwidth

  Digital Bandwidth adalah jumlah atau volume data yang dapat

  dikirimkan melalui sebuah saluran komunikasi dalam satuan bits

  persecond tanpa distorsi.

  b. Analog Bandwith

  Analog Bandwidth adalah perbedaan antara frekuensi terendah dengan

  frekuensi tertinggi dalam sebuah rentang frekuensi yang diukur dalam satuan Hertz (Hz) atau siklus per detik, yang menentukan berapa

2.3.2 Manjemen Bandwidth

  Manajemen Bandwidth, adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk manajemen dan mengoptimalkan berbagai jenis jaringan denganmenerapkan layanan Quality of Service (QoS) untuk menetapkan tipe-tipe lalulintas jaringan. sedangkan QoS adalah kemampuan untuk menggambarkan suatu tingkatan pencapaian didalam suatu sistem komunikasi data. Manajemen Bandwidth adalah pengalokasian yang tepat dari suatu bandwidth untuk mendukung kebutuhan atau keperluan aplikasi atau suatul ayanan jaringan. Pengalokasian bandwidth yang tepat dapat menjadi salah satu metode dalam memberikan jaminan kualitas suatu layanan jaringan QoS. Manajemen Bandwidth adalah proses mengukur dan mengontrolkomunikasi (lalu lintas, paket) pada link jaringan, untuk menghindarimengisi link untuk kapasitas atau overfilling link, yang akan mengakibatkan kemacetan jaringan dan kinerja yang buruk. Maksud dari manajemen bandwidth ini adalah bagaimana kita menerapkan pengalokasian atau pengaturan bandwidth dengan menggunakan sebuah PC Router Mikrotik.

  Manajemen bandwitdh memberikan kemampuan untuk mengatur bandwidth jaringan dan memberikan level layanan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas sesuai dengan permintaan pelanggan.

2.4 Wireless Fidelity (Wi-Fi) Teknologi wireless dapat di artikan sebagai teknologi tanpa kabel.

  Teknologi wireless menggunakan udara sebagai media perantara untuk melakukan pertukaran data. Teknologi wireless tidak hanya di terapkan pada dunia komputer saja tetapi juga pada bidang telekomunikasi. Salah satu teknologi wireless yaitu

  Wireless Fidelity (Wi-Fi). Menurut Andi (2003) meyatakan bahwa Wi-Fi

  merupakan ―sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks

  • – WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11

  ‖. Teknologi Wi-Fi memberikan kebebasan kepada pemakainya untuk mengakses internet atau mentransfer data dari mana saja, tidak lagi harus berada di dalam ruangan. Pemanfaatan teknologi Wi-Fi ini, sebagai andalan dalam membangun jaringan tanpa kabel untuk berbagai kebutuhan. Kecepatan transfer data Wi-Fi yang saat ini sudah mencapai 54 Mbps. Memang masih tidak sebanding dengan kecepatan dengan kabel UTP yang sudah mencapai 1 Gbps.

  Walau demikian sebagian besar pengguna merasa kecepatan ini sudah memadai Menurut Andi (2003, 13), media transmisi wireless memiliki kelebihann dan kelemahan, di antaranya sebagai berikut:

  Kelebihan: Biaya pemeliharaannya murah (hanya mencakup stasiun sel bukan - seperti pada jaringan kabel yang mencakup keseluruhan kabel).

  Infrastrukturnya berdimensi kecil, pembangunannya cepat, mudah - dikembangkan (misalnya dengan konsep mikrosel dan teknik frequency reuse).

  Mudah dan murah untuk direlokasi dan mendukung portabelitas. -

  • Koneksi internet akses 24 jam, aksesnya cepat, dan bebas pulsa telepon.

  Sedangkan kelemahan yang terletak pada media transmisi wireless: Biaya peralatan mahal (kelemahan ini dapat dihilangkan dengan - mengembangkan dan memproduksi teknologi komponen elektronika sehingga dapat menekan biaya jaringan).

  • Delay yang besar, adanya masalah propagasi radio seperti terhalang, terpantul dan banyak sumber interferens (kelemahan ini dapat di atasi dengan teknik modulasi, teknik antena diversity, teknik spread spectrum dll). Kapasitas jaringan menghadapi keterbatasan spektrum (pita - frekuensi tidak dapat diperlebar tetapi dimanfaatkan dengan efisien dengan bantuan bermacam-macam teknik seperti spread sepctrum/DS-CDMA).

  Keemanan data (kerahasiaan kurang terjamin. - Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa jaringan tanpa kabel menawarkan efisiensi dalam waktu dari segi penginstalan dan biaya, mengurangi pemakaian kabel dan penambahan jumlah pengguna dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Jaringan tanpa kabel memberikan solusi baru dalam pemilihan penggunaan jaringan internet.

2.4.1 Perangkat Keras Wi-Fi

  Agar dapat terkoneksinya internet menggunakan Wi-Fi, dibutuhkan perangkat keras yang sering digunakan dalam membangun sebuah Wi-Fi. Menurut Andi (2003, 17), Wi-Fi yang ada di pasaran saat ini antara lain:

  1. PCI (Peripheral Component Interconnect) adalah Bus yang dirancang untuk menangani beberapa perangkat keras (hardware)

  2. USB merupakan singkatan dari Universal Serial Bus adalah hubungan serial antara peripheral dengan komputer. USB merupakan suatu teknologi yang memungkinkan kita untuk menghubungkan alat eksternal, seperti: Scanner, printer, mouse, keyboard, flash disk dan kamera digital ke komputer kita.

  3. PCMCIA merupakan singkatan dari Personal Computer Memory Card International Association, adalah kartu seukuran kartu kredit yang digunakan sebagai interface dalam mendukung kinerja komputer.

  Misalnya berfungsi sebagai: modem, kartu nirkabel dan sebagainya. Umumnya PCMCIA card ini digunakan pada Notebook.

  4. Compact Flash atau disingkat CF adalah suatu memory card kecil yang dapat disisipkan dalam kamera digital atau suatu file untuk menyimpan data. CF adalah kartu penyimpan memori paling populer yang digunakan dalam kamera digital gambar tidak bergerak.

  Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat beberapa Wi-Fi yang sering berada di pasaran seperti PCI, USB, PMCIA dan

  compact flash yang masing-masing item tersebut memiliki kelebihan dan

  kekurangannya sendiri. Perangkat-perangkat tersebut dapat dijadikan pilihan bagi setiap orang yang ingin menggunakannya.

  Agar dapat terciptanya suatu koneksi internet menggunakan Wi-Fi terdapat beberapa pilihan mode akses agar bisa mengaksesnya. Menurut Andi (2003, 26), ada 2 mode akses koneksi Wi-fi, yakni sebagai berikut:

  1. Ad-hoc. Mode koneksi ini adalah mode dimana beberapa komputer terhubung secara langsung, atau lebih dikenal dengan istilah Peer-to-

  peer . Keuntungannya, lebih murah dan praktis bila yang terkoneksi hanya 2 atau 3 komputer, tanpa harus membeli access point.

  2. Infrastruktur. Menggunakan Access Point yang berfungsi sebagai pengatur lalu lintas data, sehingga memungkinkan banyak Client dapat saling terhubung melalui jaringan (Network).

  Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kedua mode akses koneksi Wi-Fi tersebut merupakan suatu pilihan bagi yang ingin memanfaatkannya. Kedua mode akses tersebut sama bagusnya dan memiliki kelebihannya masing-masing.

2.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sinyal Wi-Fi.

  Perkembangan dunia wireless yang pesat dapat dilihat perluasan teknologi wireless itu sendiri berdasarkan jangkauan dan kebutuhannya mulai dari PAN (Personal Area Network), WLAN (Wireless Local Area Network), MAN (Metropolitan Area Network) dan WAN (wide area network) sebagaimana yang terlihat pada pemanfaatan beragam teknologi wireless yang ada, bergantung pada jangkuan yang mendukung urgensi fungsional konektivitasnya serta kecepatan aksesnya (data rate). Adapun faktor-faktor yang menentukan kualitas sinyal jaringan Wi-Fi pada umumnya adalah: Lokasi (Faktor yang sangat menetukan untuk menigkatkan dan mendapatkan kecepatan Wi-Fi yang kuat), Tata letak gedung dengan bahan konstruksi beton dan besi (Menghambat transmisi sinyal dan menurunkan kualitas sinyal titik akses). Pemasangan sebuah hotspot yang tidak benar pada ruangan gedung yang tidak terjangkau.

2.5 Kebutuhan Informasi Informasi merupakan hal yang paling dibutuhkan oleh setiap orang.

  Kebutuhan masyarakat akan informasi saat ini telah menjadi prioritas. Informasi yang dibutuhkan tentulah berbeda-beda. Kebutuhan informasi akan semakin meningkat sejalan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, teknologi dan informasi. Hal ini merupakan peluang dan tantangan bagi perpustakaan terutama perpustakaan perguruan tinggi untuk menyediakan informasi yang beragam dan sesuai dalam memenuhi kebutuhan informasi civitas akademika.

2.5.1 Pengertian Kebutuhan Informasi

  Manusia adalah makhluk yang kompleks. Manusia dalam melangsungkan kehidupannya memiliki banyak kebutuhan. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda termasuk kebutuhan informasi. Setiap kebutuhan informasi seseorang diperlukan sebagai tuntutan dalam penunjang kehidupannya untuk melaksanakan kegiatan.

  Kebutuhan diartikan sebagai sesuatu yang harus dimiliki oleh seseorang yang harus dipenuhi. Ada banyak pengertian kebutuhan informasi yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain:

  Menurut Kulthau yang di kutip oleh Ishak (2006, 91) menyatakan bahwa ―kebutuhan informasi muncul akibat kesenjangan pengetahuan yang ada dalam diri seseorang dengan kebutuhan informasi yang di perlukan

  ‖ Menurut Kricelas yang dikutip oleh Ishak (2006, 91) mendefenisikan kebutuhan infomasi sebagai berikut, ―... when the current state of possesed

  knowledge is less than needed.

  Krikelas menyatakan bahwa kebutuhan informasi timbul ketika pengetahuan yang dimiliki seseorang kurang dari yang dibutuhkan, sehingga mendorong seseorang untuk mencari informasi‖ Menurut Wilson (1994), menyatakan bahwa ―kebutuhan informasi adalah sebuah pengalaman subyektif yang hanya terjadi pada pikiran orang yang sedang dalam kondisi membutuhkan dan tidak bisa secara langsung diakses oleh para pengamat‖ Dari ketiga pernyataan di atas terlihat bahwa kebutuhan informasi setiap orang berbeda-beda tergantung dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal. Rasa ingin tahu seseorang timbul karena ingin selalu menambah pengetahuannya. Kebutuhan tersebut dapat terpenuhi apabila masing- masing individu mencari serta memenuhi kebutuhan tersebut yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya untuk menjawab ketidaktahuan yang dimiliki.

2.5.2 Jenis Kebutuhan Informasi

  Dikaitkan dengan lingkungan yang mendorong timbulnya kebutuhan, maka banyak kebutuhan informasi yang bisa di kemukakan, antara lain: Kebutuhan informasi menurut Diao yang dikutip oleh Prahatmaja (2006, 5) membagi kebutuhan informasi manusia menjadi tiga macam kebutuhan informasi, yaitu:

  1. Kebutuhan informasi yang objektif, yaitu kebutuhan yang seharusnya ada kalau seseorang mau mencapai tujuannya dengan sukses. Kebutuhan informasi objektif ini menentukan ruang lingkup informasi potensial objektif.

  2. Kebutuhan informasi subjektif yaitu kebutuhan informasi yang disadari seseorang sebagai persyaratan untuk suksesnya pencapaian tujuan. Kebutuhan jenis ini menentukan ruang lingkup informasi potensial subjektif. Namun yang sering menjadi permasalahan adalah kebutuhan informasi yang di sadari pun kerapkali tidak selalu mudah untuk merumuskannya.

  3. Kebutuhan informasi yang terpenuhi, yaitu kebutuhan informasi yang disadari seseorang dan terpenuhi Ada banyak jenis kebutuhan informasi, menurut Katz yang dikutip oleh

  Yusup (2009), antara lain adalah: 1.

  Kebutuhan kognitif. Ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat informasi, pengetahuan dan pemahaman seseorang akan lingkungannya. Kebutuhan ini di dasarkan pada hasrat seseorang untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Di samping itu, kebutuhan ini juga dapat memberi kepuasan atas hasrat keingintahuan dan penyelidikan seseorang.

  2. Kebutuhan afektif. Kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan estesis, hal yang dapat menyenangkan, dan pengalaman-penglaman emosional. Dalam hal ini, berbagai media sering dijadikan alat untuk mengejar kesenangan dan hiburan. Misalnya, orang mebeli radio, telvisi, dan menonton film, tidak lain karena mencari hiburan.

3. Kebutuhan integrasi personal (personal integrative needs).

  Ini dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individu. Kebutuhan-kebutuhan ini berasal dari hasrat seseorang untuk mencari harga diri.

  4. Kebutuhan integrasi sosial (social integrative needs).

  Kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan hubungan kekeluargaan, teman dan orang lain di dunia. Kebutuhan ini didasari oleh hasrat seseorang untuk bergabung atau berkelompok dengan orang lain.

  5. Kebutuhan berkhayal (escapist needs). Ini dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan dan hasrat mencari, hiburan dan pengalihan. Menurut Taylor (1968, 178-189) ada empat lapisan atau tingkatan yang dilalui oleh pikiran manusia sebelum sebuah kebutuhan benar-benar dapat terwujud secara pasti: 1.

  Visceral need, yaitu tingkatan ketika ―need for information

  not existing in the remembered experience of the inquirer

  ‖ – atau dengan kata lain ketika kebutuhan informasi belum sungguh-sungguh dikenali sebagai kebutuhan, sebab belum dapat dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman seseorang dalam hidupnya. Inilah kebutuhan ―tersembunyi‖ yang seringkali baru muncul setelah ada pengalaman tertentu.

  2. Conscious need, yaitu ketika seseorang mulai menggunakan ―

  mental-description of an ill-defined area of indecision

  ‖ atau ketika seseorang mulai mereka-reka apa sesungguhnya yang

  3. Formalized need, yaitu ketika seseorang mulai secara lebih jelas dan terpadu dapat mengenali kebutuhan informasinya, dan mungkin di saat inilah ia baru dapat menyatakan kebutuhannya kepada orang lain.

  4. Compromised need, yaitu ketika seseorang mengubah-ubah rumusan kebutuhannya karena mengantisipasi, atau beraksi terhadap kondisi tertentu.

  Menurut Morgan dan King yang dikutip oleh Wilson (1994) mengemukakan bahwa jenis kebutuhan informasi muncul dari tiga motif, yaitu:

  1. Physicological motives: kebutuhan didasari atas kebutuhan diri sendiri.

  2. Unleraned Motives: kebutuhan informasi terjadi karena adanya tugas, atau informasi digunakan untuk mengambil suatu keputusan.

  3. Social Motives: kebutuhan informasi terjadi karena adanya permintaan informasi dari orang lain.

  Berdasarkan uraian di atas, jenis kebutuhan informasi sesorang didasari oleh banyak hal. Kebutuhan akan informasi bisa timbul karena pengalaman- pengalaman emosional dalam hidup, pekerjaan, hasrat ingin memahami terhadap sesuatu yang tidak diketahui, pendidikan , kegiatan bersosialisasi, bahkan untuk mencari suatu hiburan atau pengalihan.

2.5.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Informasi

  Kebutuhan informasi setiap orang berbeda-beda. Adanya kebutuhan informasi setiap orang tentunya disebabkan oleh berbagai faktor.

  Menurut Nicholas yang dikutip oleh Ishak (2006, 93) ada lima faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi pemakai, yaitu:

  1. Jenis pekerjaan 2.

  Personalitas, yaitu aspek psikologi dari pencari informasi , yang meliputi ketepatan, ketekunan dalam mencari informasi, pencarian secara sistematis, motivasi dan kemauan menerima informasi dari teman, kolega dan atasan. Waktu 4. Akses, yaitu menelusur informasi secara internal (didalam organisasi) dan eksterna (di luar organisasi).

  5. Sumber daya teknologi yang digunakan untuk mencari informasi. Menurut Devadson (1996, 3), kebutuhan informasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, sepeti:

   The range of sources available,

  • - The uses to which the information will be put,
  • - The background, motivation, professional orientation and
  • - other individual characteristics of the user, The social, political, economy, legal and regulatory systems
  • - surrounding the user, and; The consequences of information use
  • - Berdasarkan pendapat Devadson maka kebutuhan informasi dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adanya ketersedian sumber daya informasi,
kegunaan dari informasi, latar belakang, motivasi, karakteristik yang dimiliki oleh pengguna serta adanya konsekuensi dari pengguan informasi.

  Oleh karena itu, berdasarkan pendapat para ahli di atas banyaknya faktor yang menentukan dalam pemenuhan kebutuhan informasi, sehinnga mengakibatkan juga banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan kebutuhan engguna informasi.

  Wilson (1994) juga menguraikan faktor yang secara bertingkat mempengaruhi kebutuhan informasi:

Gambar 2.5.3 Faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi

  (Sumber : Wilson, 1994) Pada gambar tersebut ada tiga faktor umum yang mempengaruhi kebutuhan informasi, yaitu:

1. Kebutuhan individu

  Kebutuhan yanag ada dalam diri individu meliputi kebutuhan psikologis (Phsycological needs), kebutuhan afektif (affective needs) dan kebutuhan kognitif (cognitive needs). Ketiga kebutuhan ini secara langsung mempengaruhi kebutuhan informasi.

  2. Peran sosi al (social role) Peran sosial meliputi peran kerja (work role) dan tingkat kinerja

  (performance level) , akan mempengaruhi faktor kebutuhan yang ada dalam diri individu.

  3. Lingkungan (environtment) Faktor lingkungan, meliputi lingkungan kerja (work envorontment), lingkungan sosial budaya (social-cultural environment), lingkungan politik-ekonomi (politic-economic environtment) mempengaruhi faktor peran sosial maupun faktor kebutuhan individu. Sehingga terjadi pengaruh bertingkat yang akan membentuk kebutuhan informasi.

  Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa seseeorang memerlukan sebuah infomasi jika ia membutuhkannya dan informasi tersebut meberikan manfaat kepada orang lain. Informasi yang dibutuhkan bisa merupakan faktor dari dalam maupun luar yang mendorong sesorang untuk mencari informasi tersebut.

  Selanjutnya Sulistyo-Basuki yang dikutip oleh Saepudin (2009) kebutuhan informasi ditentukan oleh: Kisaran informasi yang tersedia.

  2. Penggunaan informasi yang akan digunakan.

  3. Latar belakang, motivasi, orientasi profesional, dan karakteristik masing-masing pemakai.

  4. Sistem sosial, ekonomi dan politik tempat pemakai berada.

  5. Konsekuensi pengguan informasi. Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa latar belakang yang dimiliki seseorang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kebutuhan informasi. Misalnya tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Orang yang pendidikannya relatif lebih tinggi banyak mempunyai kebutuhan akan informasi untuk mendukung pekerjaanya seperti dosen, guru, peneliti.

  Menurut Guha dikutip oleh Syaffril (2004, 18-19), dalam melakukan pengidentifikasian kebutuhan informasi dapat dilakukan dengan beberpa pendekatan yaitu:

  1. Current need approach, yaitu pendekatan kepada kebutuhan pengguna informasi yang sifatnya mutkhir. Pengguna berinteraksi dengan sistem informasi dengan cara yang sangat umum untuk meningkatkan pengetahuannya. Jenis pendekatan ini perlu ada interaksi yang sifatnya konstan antara pengguna dan sistem informasi.

  2. Everyday need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguana ynag sifatnya spesifik dan cepat. Informasi yang dibutuhkan pengguna merupakan informasi yang rutin dihadapi oleh pengguna.

  3. Exhaustic need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna akan informasi yang mendalam, pengguna informasi mempunyai ketergantungan yang tinggi pada informasi yang dibutuhkan dan relevan, spesifik dan lengkap.

4. Catching up need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan

  informasi yang ringkas, tetapi juga lengkap khususnya mengenai perkembangan terakhir suatu subyek yang diperlukan dan hal-hal yang sifatnya relevan. Berdasarkan pendapat di atas maka kebutuhan informasi memiliki beberapa pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi kebutuhan informasi guna mempermudah dalam proses pemenuhan kebutuhan informasi

  Informasi saat ini dianggap sebagai fenomena yang sangat kompleks yang dihasilkan oleh lingkungan sekitar, dengan adanya hal tersebut maka dibutuhkan adanya struktur dari kebutuhan informasi.

Gambar 2.5.4 Struktur kebutuhan informasi

  (Sumber: Kancleris, 1977) Berdasarkan dari gambar di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan informasi itu muncul akibat adanya kebutuhan akan informasi yang tidak terbatas, dengan adanya informasi tidak terbatas tersebut maka dapat diketahui bentuk dari kebutuhan, setelah bentuk dari kebutuhan akan informasi tersebut diketahui maka kentuhan tersebut harus dipenuhi untuk memuaskan kebutuhan informasi pemakai guna mendapatkan informasi yang akurat dan bermanfaat.

2.5.5 Karakteristik Kebutuhan Informasi

  Setiap orang memiliki kebutuhan informasi yang berbeda, begitu juga dengan karakteristik kebutuhan informasi . Beberapa tokoh mengemukanan tentang karakteristik informasi.

  Menurut Nicholas yang dikutip oleh Ishak (2006, 94) kebutuhan informasi memiliki sebelas karakteristik yang dapat menunjukkan wujud dari kebutuhan informasi tersebut, yaitu: 1.

  Pokok masalah (subject) Subjek merupakan hal penting yang harus diperhatikan sebelum mengidentifikasi suatu masalah dalam sebuah informasi.

  2. Fungsi (function) Setiap informasi memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung pada isi dan pemanfaatan informasi tersebut.

  3. Sifat (nature) Informasi memiliki sifat yang merujuk pada ciri esensial yaitu berubah pada periode tertentu atau kebutuhan informasi berbeda antara satu orang dengan orang lain.

  4. Tingkat Intelektual ( Intellectual Level) Informasi juga berkaitan dengan tingkat intelektual yaitu adanya pengetahuan atau tingkat kecerdasan pemakai terhadap suatu informasi.

  5. Titik Pandang (Viewpoint) Informasi juga memiliki titik pandang berdasarkan pada pemikiran pemakai, orientasi politik, pendekatan positif dan negatif, maupun orientasi disiplin ilmu.

  6. Kuantitas (Quantity) Pemakai informasi juga membutuhkan kuantitas dan jumlah yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan informasinya.

  7. Kualitas (Quality) Kualitas kebutuhan informasi tergantung pada sifat individu pemakai itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan informasi itu.

  8. Batas Waktu Informasi (Date) Informasi memiliki batas waktu penggunaan yaitu informasi baru atau informasi lama.

  9. Kecepatan Pengiriman (Speed of Delivery) Informasi diupayakan secepatnya sampai kepada pemakai, sehingga aktualitas informasi dapat terjaga sehingga sering disebut up to date.

  10. Tempat Asal (Place) Tempat asal publikasi suatu informasi dapat dilihat darimana informasi itu diterbitkan.

  11. Pemrosesan dan Pengemasan (Processing and Packaging) Pemrosesan berkaitan dengan bagaimana cara penyajian informasi itu di tampilkan, sedangkan pengemasan berkaitan dengan tampilan luar atau bentuk fisik dari informasi.

  Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa karakteristik kebutuhan informasi tergantung pada pemakainya. Sedangkan karakteristik wujud dari kebutuhan informasi harus lah up to date, tempat asal publikasi yang jelas dan memiliki isi informasi yang berkualitas.

Dokumen baru

Tags

5 Bab Ii Tinjauan Literatur 2 1 Pengertian Dan Prinsip Arsitektur Informasi Bab Ii Tinjauan Literatur 2 1 Fenomena Keperawatan Indonesia Kerangka Literatur Peran Teknologi Informasi Dan Outsourcing Bab Ii Tinjauan Pustaka Bab Ii Tinjauan Pustaka Bab Ii Tinjauan Pustaka Bab Ii Tinjauan Pustaka Doc Teknologi Informasi Pengantarteknologi Informasi Bab 5 Bab Ii Bab 14 Informasi Teknologi Bab Ii Tinjauan Pustaka
Show more

Dokumen yang terkait

2.1 Penelitian Sebelumnya - Perbandingan Karakter Tokoh Pada Teater Tradisional Cina Jing Ju Dengan Teater Tradisional Indonesia Makyong
0
1
16
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Permintaan 2.1.1 Teori dan Hukum Permintaan - Analisis Kepuasan Nasabah Terhadap Pelayanan PT. Bank Sumut : Studi Kasus Nasabah Pengguna Fasilitas Safe Deposit Box
0
1
24
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Permukiman - Pengaruh Sungai Sebagai Pembentuk Permukiman Masyarakat di Pinggiran Sungai Siak (Studi Kasus : Permukiman di Kelurahan Kampung Dalam Kecamatan Siak Kabupaten Siak, Riau)
5
28
27
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Pengaruh Sungai Sebagai Pembentuk Permukiman Masyarakat di Pinggiran Sungai Siak (Studi Kasus : Permukiman di Kelurahan Kampung Dalam Kecamatan Siak Kabupaten Siak, Riau)
0
0
8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku 2.1.1 Definisi - Hubungan Karakteristik dan Perilaku Mengenai Lingkungan Fisik Rumah Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Laguboti Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa Tahun 2013
0
0
19
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Hubungan Karakteristik dan Perilaku Mengenai Lingkungan Fisik Rumah Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Laguboti Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa Tahun 2013
0
1
7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Gizi Lebih - Faktor Risiko Penyebab Kejadian Gizi Lebih pada Mahasiswa Akademi Kebidanan Agatha Yayasan Vala Agatha Pematangsiantar Tahun 2013
0
1
26
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Faktor Risiko Penyebab Kejadian Gizi Lebih pada Mahasiswa Akademi Kebidanan Agatha Yayasan Vala Agatha Pematangsiantar Tahun 2013
0
0
8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1.Konsep Dukungan Sosial Keluarga 1.1. Defenisi Dukungan Sosial - Hubungan Dukungan Sosial keluarga dengan Stres pada Pasien Stroke di Poliklinik RSUD. Dr. Pirngadi Medan
0
0
19
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pola Makan - Hubungan Pola Makan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)Siswa SMAN 2 Balige yang Tinggal di Kost
0
2
23
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang - Hubungan Pola Makan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)Siswa SMAN 2 Balige yang Tinggal di Kost
0
0
8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Bank Publik - Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Kinerja Bank Publik Yang Terdaftar Di BEI
0
0
21
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Kinerja Bank Publik Yang Terdaftar Di BEI
0
0
10
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Diabetes Melitus 2.1.1. Definisi - Gambaran Simtom Ansietas dan Depresi pada pasien Diabetes Melitus tipe-2 di Instalasi Rawat Jalan Divisi Endokrin dan Metabolik RSUP.H Adam Malik Medan
0
0
9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Sistem Informasi Geografis - Implementasi Sistem Informasi Geografis Untuk Menentukan Jarak Terpendek Menggunakan Algoritma Dijkstra Berbasis Web (Studi Kasus : Tempat Wisata di Kota Banda Aceh)
0
0
11
Show more