Collusive Monopsony dalam Peraturan Huku

 0  0  64  2018-08-10 22:14:53 Report infringing document
Informasi dokumen

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi, sebagai cambuk kemajuan aspek lain di dunia secara

  universal, tidak dapat lagi dipungkiri. Keseluruhan aspek kehidupan menjadi berkembang dengan sangat cepatnya, karena alih informasi yang juga semakin mudah, termasuk ekonomi di dalamnya. Kemajuan teknologi serta kemudahan alih informasi, membawa kita beberapa langkah ke sebuah peradaban baru, yaitu era global. Kondisi ekonomi di era ini, semakin memicu terjadinya persaingan yang ketat antar pelaku usaha. Henry Clan, mengungkapkan “Off all human

  

powers operating on the affairs of mankind, none is greater than that of

  

competition bahwa sebenarnya persaingan memiliki arti penting bagi kehidupan

  manusia, persaingan usaha memiliki dua aspek, yakni aspek positif dan aspek negative. Menurut Thomas J Anderson, bentuk aspek positif persaingan usaha

  

  adala

  a. Persaingan merupakan sarana untuk melindungi para pelaku ekonomi terhadap eksploitasi dan penyalahgunaan.

  b. Persaingan mendorong alokasi dan relokasi sumber-sumber daya ekonomi sesuai keinginan konsumen.

  c. Persaingan bisa menjadi kekuatan untuk mendorong penggunaan sumber 1 daya ekonomi dan metode pemanfaatan secara efisien.

  Ditha Wiradiputra, Materi Kuliah Hukum Persaingan Usaha. Universitas Indonesia.

2005 mengutip daro Modul untuk Retooling Program Under Employee Graduates at Priority

Disciplines under TPSDP DIKTI. Tanggal 14 September 2004, Jakarta. Diunduh dari

anggal 17 September 2012. 2 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, Cetakan II, Ghalia Indonesia, Bogor,

  

2004,h.16-17, mengutip dari Thomas J Anderson, Our Competitive System and Public Policy, d. Persaingan juga bisa merangsang peningkatan mutu, pelayanan, proses produksi dan teknologi.

  Dengan adanya persaingan, pelaku usaha berusaha mempertahankan eksistensinya melalui sebuah praktik curang dan persaingan usaha yang tidak sehat. Perbuatan demikian, tentu membawa dampak negatif bagi kesemua aspek dan lini masyarakat, mulai dari konsumen, pelaku usaha lain, dan pemerintah. Hal tersebut merupakan contoh nyata dari aspek negatif persaingan usaha menurut

3 Thomas J Anderson , yaitu apabila dilakukan oleh pelaku ekonomi yang tidak

  jujur, bisa bertentangan dengan kepentingan public. Keadaan seperti ini, telah berlangsung sekitar tiga dasawarsa, mengingat seringnya terdapat perlakuan khusus dari penguasa atau pemerintah pada pelaku usaha tertentu yang merupakan bagian dari praktik-praktik KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) di masa itu.

  Banyaknya perilaku penguasa yang terkesan melakukan intervensi terhadap beberapa kebijakan pelaku usaha di Indonesia, dan mengakibatkan kesenjangan sosial, masyarakat khususnya pelaku usaha, pasca reformasi besar-besaran tahun 1998, menghendaki sebuah peraturan hukum agar mewujudkan demokrasi ekonomi yang tertuang dalam Pasal 33 UUD 1945, yakni menghindari persaingan usaha yang tidak sehat, pemusatan kekuatan ekonomi, sehingga merugikan masyarakat luas dan bertentangan dengan keadilan. Disamping merupakan tuntutan nasional, adanya pengaturan mengenai fair competition law juga merupakan tuntutan sebagai kebutuhan rambu-rambu yuridis dalam hubungan

  

  bisnis antar bangsmengingat telah banyak negara-negara yang menerapkannya 3 4 Ibid., h. 17-18 Rachmadi Usman Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Gramedia, Jakarta, 2007,

  

h,13, mengutip dari Muladi, Menyongsong keberadaan Undang-undang Persaingan Sehat di dalam sistem perekonomian. Hadirnya Hukum Persaingan Usaha menjadi angin segar dalam dunia perekonomian Indonesia. Sesuai dengan ruang lingkupnya, maka Hukum Persaingan Usaha dapat diklasifikasikan sebagai hukum ekonomi. Karena erat kaitannya dengan ekonomi, maka dalam Undang-Undang Persaingan Usaha, materi ilmu ekonomi khususnya ekonomi industri turut serta dituangkan.

  Hukum Persaingan Usaha beserta Undang-Undang Persaingan Usaha merupakan lex speciallis dari Hukum Perdata.

  Kebutuhan akan suatu kepastian hukum untuk menjamin keadilan hukum merupakan suatu urgensi tersendiri. Menurut Sutan Remy Sjahdjeni, ada beberapa alasan yang menyebabkan Undang-Undang Persaingan Usaha lahir pada masa

  a. Pemerintah kala itu menganut konsep bahwa perusahaan-perusahaan besar perlu ditumbuhkan sebagai lokomotif pembangunan, khususnya apabila diberikan perlakuan khusus bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Perlakuan khusus yang dimaksud adalah proteksi yang dapat menghalangi perusahaan lain dalam bidang lain atau bidang usaha yang sama, dengan kata lain memberikan posisi Monopoli.

  b. Pemberian monopoli tersebut karena perusahaan yang bersangkutan bersedia menjadi pioner di sektor yang bersangkutan. Pemerintah merasa tanpa fasilitas monopoli, akan sulit untuk mendapatkan investor. Dengan kata lain, Monopoli merupakan nilai jual atas suatu investasi bagi pemerintah.

  

Jul 1998, , 36 diakses di 5 13.03 WIB c. Menjaga berlangsungnya praktik KKN demi kepentingan kroni-kroni mantan Presiden Suharto dan pejabat-pejabat yang berkuasa masa itu.

  Kelahiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat selanjutnya disebut Undang-Undang Persaingan Usaha, pada tanggal 8 Juli 1999 dan mulai diberlakukan pada tanggal

  5 Maret 2000, ternyata tidaklah lazim. Undang-Undang Persaingan Usaha adalah Undang-undang pertama yang lahirnya dari inisiatif DPR, karena sejatinya pembentukan sebuah Undang-undang merupakan inisiatif dari pemerintah yang selanjutnya dibahas oleh DPR,dan kemudian disahkan oleh DPR.

  Asas dan tujuan, adalah hal penting yang harus diperhatikan untuk dapat memahami makna suatu peraturan perundang-undangan, sebagai sebuah refleksi bagi bentuk pengaturan serta norma yang ada di dalamnya. Asas dari Undang- Undang Persaingan Usaha, diatur dalam Pasal 2 bahwa “Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antar kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum.”. Sedangkan tujuan dari Undang-Undang Persaingan Usaha diatur pada Pasal 3, yaitu : a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil;

  c. Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha, dan d. Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.

  Sebagai sebuah asas dan tujuan, kedua pasal tersebut tidak dapat dikenakan secara langsung kepada pelaku usaha melainkan sebagai landasan dari interpretasi agar tidak terjadi beda penafsiran. Hal-hal yang dimuat dan diatur dalam Undang-Undang Persaingan Usaha dapat dilaksanakan seefisien mungkin.

  Perundang-undangan Persaingan Usaha di Indonesia, secara keseluruhan tidak hanya melindungi persaingan usaha, melainkan persaingan itu sendiri. Bagi pelaku usaha Undang-Undang Persaingan Usaha, merupakan “level of playing

  

field” untuk berusaha, bersaing secara sehat, serta mempermudah untuk masuk

  

  dalam pangsa pasar tertent Sehingga, pelaku usaha kecil dan menengah dapat serta merta memasuki pasar yang sama dengan para pelaku usaha besar, tentunya tanpa meninggalkan prinsip bersaing secara sehat dan jujur. Menurut Hamid

7 Chalid suatu undang-undang memiliki kriteria agar dapat dikategorikan sebagai

  sebuah undang-undang yang baik, yakni :

  a. Secara filosofis, undang-undang itu dapat menciptakan keadilan bagi masyarakat; b. Secara sosiologis, undang-undang akan memberi manfaat bagi yang menundukkan diri secara sukarela kepadanya; c. Secara yuridis, undang-undang akan menciptakan kepastian hukum. Apabila ukuran keberhasilan suatu undang-undang tersebut diterapkan pada

  

  : 6 L Budi Kagramanto, Mengenal hukum Persaingan Usaha, Edisi Revisi, Laros, Sidoarjo,

  

2012, h, 12 mengutip dari R Shyam Khemani, A framework For the Design and Implementation of

Competition Law and Policy, World Bank, Washington DC, USA & OECD, 1999, 6-8 7 Ibid., h, 29, mengutip dari Hamid Chalid, Telaah kritis UU no 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Kuliah Umum Persaingan Usaha,

  Fakultas Hukum Unair, Surabaya, 2001. 8 a. Fungsi Undang-Undang Persaingan Usaha sebagai alat kontrol sosial, yaitu berfungsi menjaga kepentingan umum serta mencegah adanya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di tanah air.

  b. Fungsi Undang-Undang Persaingan Usaha sebagai alat rekayasa sosial, bahwa undang-undang tersebut berusaha untuk : a) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi nasional

  b) Menumbuhkan iklim usaha kondusif melalui pengaturan hukum persaingan usaha yang sehat.

  c) Menumbuhkan budaya bersaing secara sehat, serta d) Menciptakan keadilan atas semua pelaku usaha. Sebagai upaya realisasi dari fungsi undang-undang dan pengawasannya serta agar berjalan lebih operasional, diperlukan suatu lembaga yang menjadi syarat mutlak, yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang diatur dalam Pasal

  34 Undang-Undang Persaingan Usaha. Dalam pasal tersebut, diinstruksikan pembentukan sebuah susunan organisasi, tugas, dan fungsi komisi ditetapkan melalui Keputusan Presiden. Selanjutnya, dibentuklah Keputusan Presiden Nomor

  75 Tahun 1999. Tugas-tugas KPPU kemudian diatur dalam pasal selanjutnya, yaitu Pasal 35 Undang-Undang Persaingan Usaha yang ditegaskan dalam aturan Pasal 4 Keppres No 75 Tahun 1999, yakni :

  a. Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha seperti : Oligopoli, Diskriminasi Harga, Penetapan Harga, Pembagian Wilayah, Pemboikotan, Kartel, Trust, Oligopsoni, Integrasi Vertikal, Perjanjian Tertutup, dan Perjanjian Dengan Pihak Luar Negeri;

  b. Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli, dan atau pesaingan usaha tidak sehat seperti : Monopoli, Monopsoni, Penguasaan Pasar, dan Persekongkolan.

  c. Melakukan penilaian terhadap ada atau tidaknya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat seperti : Posisi Dominan, Jabatan Rangkap, Pemilikan Saham, Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan.

  d. Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36. e. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan praktik monopoli san atau persaingan usaha tidak sehat.

  f. Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undang-Undang Persaingan Usaha.

  g. Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja komisi kepada Presiden dan Wakil Presiden.

  Pembentukan KPPU secara garis besar berdasarkan dua alasan utama, yaitu alasan filosofis dan alasan sosiologis. Alasan filosofis antara lain dibutuhkannya sebuah lembaga yang mengawasi jalannya sebuah peraturan dan mendapat kewenangan dari negara dengan tujuan agar dapat bertindak lebih independen. Sedangkan alasan sosiologis, telah menurunnya citra pengadilan di mata masyarakat, sehingga perlu dihadirkan lagi sebuah lembaga alternatif yang mampu menyelesaikan sengketa khususnya persaingan usaha tidak sehat, yang mendapat kepercayaan masyarakat.

  Sebagai sebuah lembaga yang sifatnya administratif, maka terhadap sebuah pelanggaran atas monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, KPPU dapat menjatuhkan sanksi berupa sanksi administratif, hal tersebut diatur dalam aturan

  Pasal 47 Undang-Undang Persaingan Usaha. Salah satu contoh sanksi administrasi dapat berupa pembatalan perjanjan hingga penghentian kegiatan tersebut.

  Menurut keseluruhan substansi Undang-Undang Persaingan Usaha, dapat ditarik suatu garis besar hal-hal yang berkaitan dengan pasar dan perlu diatur di dalamnya, antara lain : 1) Perjanjian yang dilarang.

  2) Kegiatan yang dilarang. 3) Penyalahgunaan posisi dominan. 4) Komisi perngawas persaingan usaha 5) Tata cara penanganan perkara 6) Sanksi-sanksi 7) Perkecualian-perkecualian.

  Berdasarkan substansi Undang-Undang Persaingan Usaha khususnya aturan Bab IV, mengatur jenis kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang Persaingan Usaha, yaitu :

  a. Monopoli

  b. Monopsoni

  c. Penguasaan Pasar d. Persekongkolan.

  Kegiatan monopsoni merupakan salah satu kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang Persaingan Usaha. Pada dasarnya praktik monopsoni merupakan sisi cermin dari praktik monopoli. Praktik ini pada kenyataannya sering terjadi dalam persaingan usaha di masyarakat, namun perhatian terkait praktik tersebut masih sangatlah minim. Salah satu contoh kasus monopsoni dalam masyarakat terjadi pada tahun 2009-2010. Ketika itu terjadi praktik monopsoni yakni penguasaan pasokan atas susu sapi yang dilakukan oleh salah satu Industri Pengolahan Susu (IPS). Atas monitoring yang dilakukan oleh KPPU, menemukan jika para peternak sapi yang berada di area produksi IPS tersebut lemah dan tidak memiliki daya tawar. Total produksi di Jawa Timur pada tahun 2005 adalah sekitar 610ton susu segar per hari, di Jawa Timur terdapat 4 pabrik pengolahan susu.

  Keempatnya adalah, PT Nestle Indonesia (95% penguasaan), PT Indo Murni Dairy, Koperasi Gunung Kawi dan PKIS Sekar Tanjung (konsorsium 4 koperasi

  

  susu di Jawa Tim Dengan adanya penguasaan sebesar 95% maka PT Nestle merupakan monopsonist. Ketergantungan peternak sapi perah di Jawa Timur terhadap PT Nestle Indonesia sangat tinggi (dengan tingkat ketergantungan

  

   Keadaan ini yang melahirkan kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi peternak, karena posisi tawar mereka sangat lemah dalam halnya penentuan harga, persyaratan transaksi maupun kualitas.

  Seringkali, KPPU mengalami kesulitan terkait dengan pembuktian praktik monopsoni karena selain harus secara nyata berdampak pada terjadinya praktik monopsoni, terdapat pengecualian lain yang juga diatur dalam Undang-Undang Persaingan Usaha.

  Melihat pada beberapa kasus yang terjadi di negara lain, khususnya Amerika Serikat, yang dengan mudah dibuktikan bahwa terjadi suatu praktik monopsoni, sangatlah menarik minat untuk mengetahui konsep dan teori bentuk perilaku monopsoni serta akibat yang ditimbulkan oleh praktik monopsoni. Selanjutnya untuk mempermudah pemahaman, akan dilakukan analisa atas beberapa kasus-kasus yang diindikasikan memiliki kaitan dengan praktik monopsoni di Indonesia. Dan akan dilakukan studi komparasi dengan penanganan kasus monopsoni yang terjadi di Amerika Serikat.

I.2 Rumusan Masalah

9 Sutrisno Iwantono, Konsentrasi Industri dan Pasar Tidak Sempurna di Sektor Pertanian,

  10 jurnal di akses dida tanggal 28 Januari 2013, pukul 3.43 p.m. h.6

  Berdasarkan latar belakang sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

  1. Analisa konsep monopsoni dalam hal harga dan non-harga (pricing dan

  non-pricing)

  2. Praktik – praktik yang mengarah pada collusive monopsony menurut Hukum Persaingan Usaha.

  I.3 Penjelasan Judul Collusive Monopsony dalam Hukum Persaingan Usaha Indonesia,

  merupakan kesatuan judul untuk tulisan ini. Sesuai dengan judul tersebut, penulis akan menganalisa berdasarkan teori praktik monopsoni khususnya mengenai

  

collusive monopsony, yang terjadi pada iklim persaingan usaha di Indonesia.

  Analisa tersebut berdasarkan praktik turunan yang diakibatkan adanya praktik collusive monopsony.

  Hasil analisa tersebut selanjutnya akan dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia, khususnya Undang-Undang Persaingan Usaha.

  Penulis serta pembaca akan mengetahui dan memahami praktik collusive

  

monopsony dan turunannya yang melanggar Hukum Persaingan Usaha, khususnya

  Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, dan penanganan perkara untuk praktik collusive monopsony.

  I.4 Alasan Pemilihan Judul

  Pemilihan judul “Collusive Monopsony dalam Hukum Persaingan Usaha Indonesia” sebagai judul skripsi didasarkan pada pemikiran penulis yang berkeinginan membahas macam praktik monopsoni yang diduga terjadi dalam persaingan usaha di Indonesia, namun belum banyak pihak yang mengetahui tergolong dalam jenis praktik monopsoni mana perjanjian maupun praktik tersebut dan, dampak-dampak praktik tersebut dalam iklim persaingan usaha di Indonesia serta pengaturannya dalam perspektif Hukum Persaingan Usaha Indonesia.

I.5 Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk :

  1. Memahami dan menganalisa konsep monopsoni dalam hal price fixing dan non-price fixing.

  2. Mengetahui dan memahami pengaturan praktik-praktik yang mengarah

  pada collusive monopsony dalam perspektif Hukum Persaingan Usaha di Indonesia.

  I.6 Metode Penulisan

  I.6.1 Tipe Penelitian

  Tipe penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian hukum yuridis normatif yaitu pendekatan masalah yang mempunyai maksud dan tujuan untuk mengkaji perundang-undangan dan peraturan hukum yang berlaku juga buku-buku konsep teoritis ataupun sumber lainnya kemudian dikorelasikan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini.

  Metode penelitian hukum ini dipilih karena penelitian hukum adalah menggunakan pendekatan masalah yang tujuan dan maksudnya adalah untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk menjawab isu hukum yang dihadapi.

I.6.2 Pendekatan Masalah

  Pendekatan masalah yang digunakan dalam penulisan skripsi ini, adalah sebagai berikut :

  a. Statute approach (Pendekatan Peraturan Perundang-undangan)

  adalah penelitian hukum dengan cara menelaah semua peraturan perundang-undangan dan regulasi yang terkait dengan isu hukum

  

  yang ditanganiPeraturan Perundang-undangan yang digunakan antara lain : Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Keppres No. 75 Tahun 1999 tentang Tugas dan Wewenang KPPU, Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2010 tentang Kartel, Peraturan Komisi Nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara dan Peraturan Perundang-undangan lain yang mengatur tentang Hukum Persaingan Usaha, atau setidak-tidaknya terkait dengan Hukum Perdata di Indonesia .

  b. Conceptual approach (Pendekatan Konseptual) yaitu pendekatan

  penelitian hukum yang beranjak dari pandangan-pandangan dan

  

  doktrin yang berkembang dalam ilmu hukumPendekatan secara 11 konseptual ini didukung melalui pengayaan atas konsep teori

  Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, cetakan ke 5, Kencana Premada Media Group, Jakarta, 2009. h.93 12 melalui literatur-literatur yang mengulas mengenai Hukum Persaingan Usaha pada umumnya, dan Monopsoni pada khususnya.

c. Case approach yaitu pendekatan terhadap rumusan masalah melalui kasus yang sudah diputus melalui putusan KPPU.

  Pendekatan melalui kasus ini, bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan dengan konsep teori, perbandingan, dan substansi lainnya. Pendekatan ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman bagi penulis dan sekaligus pembaca dalam mempelajari hukum persaingan usaha pada umumnya dan monopsoni pada khususnya.

I.6.3 Sumber Bahan Hukum

  a. Sumber bahan hukum primer yang digunakan dalam penulisan skripsi berupa sumber hukum perundang- undangan, yaitu peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Hukum Persaingan Usaha, khususnya Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

  b. Sumber bahan hukum sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan termasuk karya ilmiah, pendapat sarjana hukum yang terdapat dalam berbagai literatur buku-buku hukum, artikel-artikel, serta tulisan di internet yang relevan serta terkait dengan tulisan ini.

I.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

  Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan dalam penulisan skripsi ini dengan mencari bahan hukum yang terkait dengan permasalahan atau kasus yang diangkat dalam tulisan. Setelah diperoleh, maka dilakukan studi kepustakaan dengan mempelajari dan menganalisa sumber bahan hukum primer dan sumber bahan hukum sekunder yang berkaian dengan masalah dalam tulisan ini.

I.6.5 Analisa Bahan Hukum

  Analisa bahan hukum dilakukan dengan mengklasifikasi dan menganalisa sumber bahan hukum yang telah diperoleh, secara sistematis melalui pembagian bab serta sub bab sesuai dengan rumusan masalah, agar pembahasan serta pemahaman oleh pembaca akan lebih mudah.

  I.7 Pertanggungjawaban Sistematika.

  Pertanggungjawaban sistematika bertujuan agar penulisan skripsi ini mencapai pembahasan yang sistematis yang terdiri dari 4 (empat) bagian, sebagaimana diuraikan sebagai berikut :

  Bab Pertama merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan, dan manfaat penelitian, serta metode dan pertanggungjawaban sistematika. Bab ini berisi gambaran awal yang berfungsi sebagai pedoman para pembaca untuk dapat memahami permasalahan yang akan dibahas secara mendalam pada bab-bab setelahnya.

  Pertama-tama pada Bab kedua ini akan dibahas mengenai konsep dan prinsip larangan monopsoni yang diambil dari peraturan perundang-undangan dan buku-buku teoritis, yang selanjutnya akan dikaitkan dengan rumusan masalah yang pertama yaitu, dampak dari segi harga dan non harga ( price dan non-

  pricing) dari kegiatan monopsoni tersebut.

  Bab ketiga, membahas tentang rumusan masalah yang kedua yaitu menjabarkan komparasi antara Praktik Monopsoni yang dianut di Indonesia dengan Praktik Monopsoni yang dilakukan di Amerika Serikat khususnya praktik

  

collusive monopsony melalui pendekatan Rule of Reason dan Per Se Ilegal. Bab

  ketiga, membahas tentang rumusan masalah yang kedua yaitu menjabarkan komparasi antara Praktik Monopsoni yang dianut di Indonesia dengan Praktik Monopsoni yang dilakukan di Amerika Serikat khususnya praktik collusive

  

monopsony melalui pendekatan Rule of Reason dan Per Se Ilegal. Pendekatan

  komparasi yang dilakukan, menggunakan analisa kasus-kasus praktik collusive

  

monopsony yang telah diputus oleh pihak yang berwenang di kedua negara

  tersebut. Studi komparasi akan berdasarkan pendekatan yang diteraokan dalam perumusan pasal dan penggunaan interpretasi oleh hakim dalam penyelesaian perkara.

  Terakhir, pada Bab keempat, merupakan penutup yang berisi kesimpulan atas hasil pembahasan pada Bab kedua dan ketiga serta berisi saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat untuk mendorong penegakkan hukum bisnis ditinjau dari hukum positif di Indonesia, khususnya Hukum Persaingan Usaha.

BAB II DAMPAK PERILAKU MONOPSONI DITINJAU DARI PRICING DAN NON-PRICING 2.1 Konsep Monopsoni. Monopsoni adalah situasi pasar dimana hanya ada satu pelaku usaha atau

  kelompok pelaku usaha yang menguasai pangsa pasar yang besar yang bertindak

  

  sebagai pembeli tunggal Aryeh Friedman dalam jurnalnya memberikan pengertian “Monopsony/ Oligopsony defined the ability of a buyer or a group of

  

buyes it reduce the purchase price of a purchased item usually an input below the

   13

competitive level usually by restricting its purchases of the item.dapat juga

14 Rachmadi Usman, Op. cit h.72

  dimaknai apabila monopsoni merupakan suatu kondisi dimana terjadi pembelian dengan mengurangi harga dari barang dan atau jasa yang sama dibawah harga kompetitornya melalui pembatasan jumlah pembelian.

  Pengertian monopsoni dalam Black’s Law Dictionary adalah “A market

  

situation in which one buyer control the market berdasarkan pengertian

  tersebut, istilah monopsoni digunakan untuk menggambarkan suatu struktur pasar, yang menyatakan seorang pembeli memiliki kontrol atas pasar tersebut.

  Kekuasaan dan kekuatan untuk melakukan kontrol, didasari dengan kemampuan pembeli atau sekelompok pembeli tersebut mendapatkan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pada pasar yang kompetitif.

  “Monopsony involves an exercise of market power on the buy side of the

  

market Bahwa praktik monopsoni merupakan sisi pembeli dari praktik

  monopoli. Praktik monopsoni oleh pelaku usaha adalah dengan mengurangi pembeliannya pada input, yang mengurangi harga komoditi tersebut dibawah harga kompetitif. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Natalie Rosenfelt, bahwa “A monopsonist exercises its market power by reducing its purchase of an

   input, thereby decreasing its input price below compatitive level

  Dalam monopoli, penguasaan atas pasar dilakukan oleh pelaku usaha yang bertindak sebagai penjual suatu komoditi tertentu. Sedangkan dalam monopsoni, penguasaan pasar besar untuk suatu komoditi tertentu dilakukan oleh pelaku usaha 15 sebagai pembeli atau penerima pasokan atas komoditi tersebut. th

  Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary,9 . Ed, St. Paul-Minnesota, West 16 Publishing Co,. 2004,h 1098 Natalie Rosenfelt, The Verdict of Monopsony, 2008. p.2 mengutip dari Roger D Blair & 17 Jeffrey L Harrison, Antitrust Policy and Monopsony, 1991. p. 297-298

  Dalam kedua praktik ini, jumlah barang yang ditransaksikan akan mengalami sebuah pembatasan hingga penurunan yang akan mempengaruhi keuntungan pelakunya. Keuntungan itu didapat oleh pelaku usaha melalui pembatasan penjualan sehingga ketika kebutuhan masyarakat meningkat untuk suatu komoditi tertentu, dengan sedikitnya persediaan komoditi di pasaran, pelaku usaha dapat mempermainkan harga atas komoditi tersebut. Keadaan demikianlah yang selanjutnya disebut sebagai monopoli. Sedangkan monopsoni, keuntungan didapatkan ketika monopsonist mampu mempengaruhi biaya untuk produksi suatu komoditi, sehingga mampu mempengaruhi harga beli atas komoditi tertentu di bawah harga pasar. Dengan rendahnya harga yang didapatkannya, pelaku usaha tersebut mampu membeli komoditi tersebut dengan kekuasaan penuh.

  Jika keuntungan dalam monopoli dapat terlihat secara langsung begitu pula dengan kerugian bagi konsumen. Maka dalam monopsoni keuntungan bagi pelaku usaha masih terlihat samar begitu pula dengan kerugian yang akan dirasakan oleh konsumen. Dalam paper-nya, John Clifford menulis ”.... the

  

exercise of market power by a monopsonist may not result in any obvious harm to

  

consumers . Dalam praktik monopsoni yang secara langsung bersinggungan

  dengan kerugian yang ditimbulkan adalah pihak supplier atau pihak lain sebelum konsumen komoditi tersebut. “Generally, a monopsony is more likely to occur in

  

a market for inputs than for end-products Transfer keuntungan adalah hal yang

  membedakan praktik monopoli dengan monopsoni. Menurut Laura Alexander 18 John Clifford and Sorcha O’Carroll, Monopsony and Predatory Pricing : The 19 Canadian Landscape is Wide Open.). p, 1.

  dalam jurnalnya, “Because in monopsony, the wealth is transferred not up-stream

  

from consumers to sellers, as it is in monopoly, but downstream, from input

  

suppliers to manufacturers Ringkasnya, praktik monopsoni terjadi pada hulu

  dalam kegiatan usaha atau dengan nama lain upstream. Namun, tak menutup kemungkinan terjadinya praktik monopsoni pada hilir atau downstream.

  Sebuah praktik monopsoni pada akhirnya akan mampu melahirkan praktik yang dilarang lainnya, yaitu monopoli. Demikian itu, karena dalam monopsoni, ketika seseorang menjadi pembeli tunggal atas suatu komoditi baik barang maupun jasa, maka ia menjadi satu-satunya atau setidaknya menjadi penguasa atas komoditi bersangkutan. Kemampuan menguasai tersebut, akan berpengaruh pada kemampuan pelaku usaha untuk melakukan penjualan tunggal atas komoditi barang atau jasa. Pada fase inilah, pelaku usaha monopsoni akan menjadi

  

monopolist untuk komoditi tertentu. Pada kondisi ini potensi kerugian yang

  dialami masyarakat akan timbul dan turut menumbuhkan potensi persaingan usaha tidak sehat.

  Larangan mengenai monopsoni di Indonesia diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Persaingan Usaha. Definisi monopsoni diletakkan pada Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Persaingan Usaha, bahwa monopsoni adalah perbuatan pelaku usaha yang menguasai dan/atau menjadi pembeli tunggal atas suatu barang dan/atau jasa dalam pasar bersangkutan, dengan indikatornya selanjutnya diletakkan pada ayat (2) pasal yang sama, bahwa pelaku usaha tersbut melakukan penguasaan dalam penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal sebanyak 20 lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar untuk satu jenis barang atau

  Laura Alexander, Monopsony and the consumer harm standard, Georgetown University jasa.. Penjabaran atas unsur-unsur yang terdapat pada Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Persaingan Usaha adalah sebagai berikut :

  a. Berdasarkan pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Persaingan Usaha, yang dimaksud pelaku usaha adalah : Orang perorangan atau badan usaha, badan hukum atau non badan hukum yang ddirikan, berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang ekonomi.

  b. Unsur barang, berdasarkan Pasal 1 angka 16 Undang-Undang Persaingan Usaha : “Barang adalah setiap benda, baik berujud atau tidak berujud, bergerak atau tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh konsumen atau pelaku usaha” c. Unsur Jasa berdasarkan pasal 1 angka 17 Undang-Undang

  Persaingan Usaha adalah : “Jasa adalah tiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang diperdagangkan dalam masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen atau pelaku usaha.”

  Sebagai refleksi dari monopoli, beberapa hal yang berkaitan dengan monopoli terkait pula dengan monopsoni. Monopsoni, dapat pula terjadi secara alamiah. Yang pertama, monopsoni alamiah yang terjadi akibat tidak adanya pesaing atas suatu komoditi tertentu. Terjadinya monopsoni secara alamiah ini dipengaruhi oleh kondisi geografis suatu wilayah dan pasar atas komoditi tersebut. Contoh monopsoni secara alamiah, antara lain pada suatu daerah hanya terdapat satu pabrik pengolahan biji jarak menjadi bahan bakar alternatif dengan banyaknya penduduk sekitar yang menjadi petani jarak. Dengan keadaan demikian, pabrik tersebut menjadi penerima pasokan dan/atau pembeli tunggal dari petani jarak di daerah tersebut. Dalam keadaan inilah, pabrik pengolahan biji jarak menjadi monopsonist. Akan tetapi, kondisi ini bukanlah monopsoni yang dilarang karena bukan menjadi kehendak pemilik pabrik biji jarak untuk mematikan persaingan. Kedua, monopsoni alamiah yang terjadi akibat ada persaingan yang justru tidak memberikan keuntungan atau kemungkinan harga komoditi lebih murah sebab disediakan oleh satu pelaku usaha saja. Misalnya pada suatu persaingan yang dianggap tidak dapat menghadirkan keuntungan bagi pelaku usaha, sehingga tidak ada pelaku usaha dalam kegiatan usaha yang sama yang berminat untuk memasuki pasar di wilayah tersebut. Secara tidak langsung, kedua monopsoni alamiah yang terjadi memiliki satu kesamaan yang mendasar, yakni tidak adanya pesaing atas kegiatan usaha tanpa ada kehendak dari pelaku usaha monopsonist untuk menciptakan barrier to entry guna menguasai pasokan atas suatu komoditi tertentu.

  Monopsoni lainnya, adalah monopsoni menurut undang-undang, dalam praktik monopsoni ini, peran negara sangat besar. Praktik ini sangat menguntungkan bagi negara dan pemerintah karena pelaksanaannya diatur oleh undang-undang. Tujuan dari praktik monopsoni adalah untuk mengatur kesejahteraan rakyat, sehingga pada komoditi tertentu, terdapat pengaturan terkait pihak yang dapat bertindak sebagai monopsonist. Ilustrasi contoh monopsoni karena undang-undang terjadi pada suatu wilayah penghasil susu sapi, dan hanya terdapat satu pabrik pengolahan susu milik swasta dengan harga beli yang rendah, sedangkan di wilayah yang sama terdapat pula koperasi milik pemerintah yang dapat membeli susu milik peternak dengan harga yang lebih pantas. Sehingga, melalui undang-undang, pemerintah dapat melakukan pengaturan agar peternak dapat menjual susu sapi kepada koperasi, dan tujuan untuk menyejahterakan masyarakat khususnya pemilik peternakan tingkat menengah terpenuhi. Praktik monopsoni berdasarkan undang-undang terjadi di Jawa Barat, ketika itu PT Nusamba di Jawa Barat mendapatkan kesempatan menjadi monopsonist melalui instruksi Gubernur Jawa Barat. PT Nusamba melakukan monopsoni untuk komoditi daun teh. Dalam praktiknya, Gubernr Jawa Barat menghalangi perusahaan-perusahaan atau pabrik lainnya untuk membeli daun teh dari daerah-

  

  Seiring berjalannya perkembangan zaman, praktik monopsoni dapat pula terjadi dalam praktik industrial antara pekerja dan pabrik. Keadaan itu adalah ketika suatu organisasi pekerja atau serikat pekerja sangat solid, sehingga para pekerja mampu mengatur nilai tawar atas upah dengan harga diatas rata-rata pasar

  

  Selain pembagian monopsoni berdasarkan sifatnya yang alamiah dan menurut undang-undang, pembagian praktik monopsoni juga didasarkan pada pihak atau berapa pelaku usaha yang menjadi monopsonist. Pertama, adalah pure

  

monopsony, praktik monopsoni yang berjalannya berada di tangan pelaku usaha

  dengan kekuatan pasarnya, dengan cara pelaksanaannya yang halal (baik), fair, 21 serta mampu menciptakan trend-trend di pasar bersangkutan. Kedua, adalah

  Isei, Bundling: Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia, h.614 dilihat di 22 anggal 27 Januari 2013, pukul 13.05 WIB.

  

collusive monopsony, keadaan ini yakni ketika beberapa pelaku usaha sebagai

  pembeli yang saling berkolusi yang mempengaruhi pada hasil yang sifatnya monopsonisti

23 Tujuan utama pelaku usaha melakukan praktik ini, adalah untuk

  mempengaruhi harga atas barang yang harus mereka keluarkan untuk membayar suatu komoditi tertentu, dengan nama lain input prices. Dengan menekan input

  

prices, pelaku usaha bersangkutan dapat memaksimalkan keuntungan mereka atas

  komoditi tersebut. Praktik collusive monopsony, sangat dipengaruhi oleh beberapa kondisi pasar. Kondisi pasar yang dimaksudkan, adalah sebagai berikut :

  1. Sedikitnya pembeli, semakin sedikit pembeli yang tergabung dalam grup yang berkolusi, berpengaruh pada kemampuan grup untuk mengatur perjanjian terkait harga yang dikehendakinya.

  2. Homogenitas produk, semakin homogen keadaan suatu produk, maka perjanjian terkait harga akan semakin mudah. Biasanya, dalam keadaan seperti ini, hanya terdapat satu harga yang telah ditetapkan.

  3. Sealed bids atau penawaran-penawaran yang dilakukan terbatas oleh anggota kolusi. Penawaran ini berisikan informasi mengenai harga-harga untuk produk baik barang dan/atau jasa objek usaha. Dalam kolusi, terdapat kewajiban para anggota-anggota kolusi untuk mengumpulkan sealed bids, sehingga masing-masing pihak mengetahui siapa yang menawarkan, dan berapa harga dalam penawaran. Sehingga para anggota kolusi terfasilitasi dengan baik

23 Roger D Blair and Jeffrey L Harrison, Monopsony in Law and Economics, Princeton

  karena ketika ada pihak yang hendak melakukan kecurangan, akan segera diketahui.

  4. Penawaran yang tidak elastis, terkait dengan kondisi pasar, yang berpengaruh pada kurva penawaran. Ketika penawaran bersifat tidak elastis, pembeli yang berkolusi membutuhkan pembatasan atas pembelian mereka, dengan tujuan untuk memperoleh pengurangan harga secara signifikan. Keuntungan yang akan

  

  Telah terjadinya praktik collusive monopsony biasanya dapat diukur atau nampak ketika para pelaku usaha menyepakati harga yang akan mereka bayarkan. Pada beberapa kondisi lain, kolusi dapat melahirkan alokasi pasar atau menghambat pembeli pesaingnya. Seperti dalam sebuah konser, para pembeli akan menjadi orkestra yang mengatur jalannya konser tersebut, dengan mengatur atau menyepakati jumlah pembelian yang mereka lakukan. Tujuan pengaturan tersebut, adalah untuk mendapatkan hasil yang sama dengan praktik monopsoni pada

  

2.2 Pendekatan yuridis Rules of Reason dan Per se illegal

  Ada beberapa prinsip-prinsip umum dalam hukum persaingan usaha yang dianut oleh Indonesia. Prinsip-prinsip umum yang dijelaskan dalam pembahasan ini terbatas mengenai pendekatan atas perumusan yang digunakan dalam tiap ketentuan pada Undang-Undang Persaingan Usaha. Penggunaan kedua pendekatan tersebut pada dasarnya memiliki satu tujuan yang sama, yakni sebagai 24 bentuk perlindungan dari kerugian konsumen yang tercipta akibat hilangnya 25 Lihat Roger D Blair and Jeffrey L Harrison, h. 49

  efisiensi melalui terhambatnya persaingan usaha. Terhambatnya persaingan usaha adalah salah satu bentuk akibat dari perjanjian atau kegiatan usaha atas suatu bidang tertentu oleh pelaku usaha, yang menjadi tolok ukur atau pembuktian pelanggaran. Terdapat dua model pendekatan yang digunakan dalam perumusan Undang-Undang Persaingan Usaha, yakni :

  a. Rule of reason : Definisi perumusan Rule of Reason, adalah perumusan untuk menyatakan bahwa suatu perbuatan yang dituduhkan melanggar hukum persaingan, diperlukan pertimbangan keadaan disekitar kasus tersebut. Fungsinya untuk menentukan apakah perbuatan itu membatasi persaingan secara tidak patut, sehingga penegak hukum wajib dapat menunjukkan akibat- akibat anti persaingan, atau kerugian yang ditimbulkan serta bersifat nyata

  

  terhadap persaingaDefinisi lain, Rule of Reason , sebuah pendekatan yang digunakan oleh lembaga persaingan usaha untuk membuat evaluasi mengenai akibat perjanjian atau kegiatan usaha tertentu, guna menentukan apakah suatu perjanjian atau kegiatan tersebut bersifat menghambat atau

  

  mendukung persaingaPada intinya, pendekatan atau perumusan yang menggunakan sistem Rule of Reason, mengutamakan ada atau tidaknya suatu akibat dari kegiatan usaha atau perjanjian yang dilakukan oleh pelaku usaha baik mendukung atau menghambat persaingan. Penggunaan pendekatan rule of reason, memungkinkan para hakim atau profesional di 26 bidang hukum untuk melakukan interpretasi atas Undang-Undang

  Lihat Ditha Wiradiputra, h.12 mengutip dari Daniel V., et.all., Comprehensive business

law: principles and cases., Kent publishing Company., 1987., hal 1042. yang dikutif dari hukum

27 persaingan usaha elips Andi Fahmi Lubis et al., Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, Deutsche

28 Persaingan Usaha. Dengan kata lain, pendekatan ini dapat digunakan

  oleh pengadilan untuk mengetahui dan menilai, apakah terdapat suatu hambatan dalam perdagangan atau tidak, dan apakah hambatan itu

  

b. Per se illegal

  Pendekatan dalam teori ini, cenderung lebih sempit diandingkan dengan pendekatan Rule of Reason. Dalam teori ini, segala kegiatan usaha dan perjanjian tertentu dianggap sebagai ilegal, tanpa perlu pembuktian lebih lanjut. Berdampak atau tidaknya perjanjian atau kegiatan usaha yang dilakukan pelaku usaha dalam persaingan, bukan merupakan perhatian dari teori ini. Menghambat atau mendukung iklim persaingan, segala bentuk perjanjian dan kegiatan usaha tetap dinyatakan ilegal. Dengan kata lain, menurut Yahya Harahap, Per se illegal memiliki arti “sejak semula tidak sah” sehingga suatu perbuatan merupakan suatu perbuatan yang

  

  “melanggar hukumPendekatan dengan per se illegal dapat

  

  diilustrasikan sebagai berikut Gb.1 Pembuktian per se illegal

  TINDAKAN TERBUKTI

  ILLEGAL

  Penetapan harga secara kolusif suatu produk tertentu, serta pengaturan harga jual kembali, merupakan contoh suatu kegiatan usaha yang dianggap sebagai per se illegal. Dari kedua pendekatan atau perumusan diatas, untuk menentukan pendekatan yang digunakan dalam suatu pasal dalam Undang-Undang Persaingan 28 29 L Budi Kagramanto, op cit., h 102 30 Lihat L Budi Kagramanto, h 90 L Budi Kagramanto, op cit., h. 95 mengutip dari M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan 31 tentang Permasalahan Hukum (II), Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, h.28

  L Budi Kagramanto, op cit., h, 95 mengutip dari Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha dapat dilakukan dengan mencermati kalimat yang digunakan dalam klausul pasal. Pencantuman kata-kata seperti “yang dapat mengakibatkan” dan/atau “patut diduga” menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut apakah suatu perjanjian atau kegiatan usaha tertentu tersebut memberikan dampak dalam iklim persaingan atau tidak. Maka klausul pasal tersebut menggunakan pendekatan secara Rule of

  

Reason. Sedangkan apabila dalam klausul pasal terdapat kata-kata seperti

  “dilarang” tanpa kalimat lanjutan “...yang dapat mengakibatkan...”, maka klausul pasal tersebut menggunakan pendekatan secara per se ilegal.

  Apabila dikaitkan antara penjelasan unsur-unsur dalam klausul pasal yang mengatur monopsoni dengan prinsip umum pendekatan tersebut, maka definisi pengaturan monopsoni dalam Undang-Undang Persaingan Usaha menggunakan pendekatan secara Rule of Reason. Sehingga, penguasaan penerimaan pasokan atas suatu barang dan/atau jasa tidak melebihi 50% (lima puluh persen) bukan merupakan sebuah praktik monopsoni, atau selama kurang dari 50% (lima puluh persen) dan membawa pada keadaan persaingan usaha tidak sehat serta melahirkan praktik monopoli, dapat pula dikategorikan sebagai praktik monopsoni. Hal tersebut karena dalam pasal tersebut cenderung menekankan proses terjadinya monopsoni atas penguasaan pasar, bukan pada pasar monopsoni itu sendiri.

  Penentuan penggunaan salah satu pendekatan tersebut tidak semata-mata tergantung pada bunyi kata-kata dalam ketentuan Undang-Undang Persaingan Usaha, misalnya kata “dilarang” sebagai per se illegal, atau kata “..dapat menyebabkan..” sebagai rules of reasons. Mengingat kembali bahwa dalam penegakkan hukum antimonopoli dan persaingan usaha di Indonesia, telah dibentuk Komisi Pengawas Persaingan Usaha, maka terdapat kemungkinan penggunaan pendekatan dengan bercermin pada hasil olah tafsir oleh KPPU. KPPU menggunakan pertimbangan dengan mendasarkan pada praktik yang dianggap paling baik untuk menilai praktik-praktik pelaku usaha dan tetap berpedoman pada tujuan pembentukan Undang-Undang Persaingan Usaha.

2.3 Monopsoni dan price fixing.

  Berdasarkan beberapa pernyataan yang menggambarkan bahwa monopsoni merupakan monopoly on demand, menunjukkan jika monopsoni

  

  sendiri pada dasarnya adalah bagian dari monopol Sehingga, ada beberapa

  

conduct yang terjadi dalam praktik monopoli yang kemungkinan pula dapat

  terjadi dalam praktik monopsoni. Demikian pula pada dampak-dampak yang terjadi akibat kedua praktik tersebut, dapat pula hal yang menjadi dampak dari praktik monopoli, menjadi dampak dari praktik monopsoni. Dampak tersebut, tidak terbatas pada sistem monopsoni yang dilakukan oleh pelaku usaha atas suatu komoditi tertentu. Baik pada pure monopsony, collusive monopsony, monopsoni alamiah dan monopsoni menurut undang-undang.

  Perbedaan yang mencolok antara keduanya terkait dampak yang ditimbulkan adalah kepada siapa dampak tersebut akan memiliki pengaruh secara langsung. Dalam monopoli, yang serta merta merasakan dampak atas kemampuan

monopolist untuk menjual suatu komoditi adalah end-user atas komoditi tersebut. 32 Hal ini dikarenakan monopoly power memiliki pengaruh yang besar atas harga akhir suatu komoditi terkait penjualan, sehingga pelaku usaha akan mengenakan harga tinggi atas komoditi tersebut, karena merekalah yang memegang penguasaan atas komoditi tersebut. Sementara itu, dalam praktik monopsoni, yang serta merta merasakan dampak dari monopsony power yang dimiliki oleh pelaku usaha adalah pihak supplier atau produsen suatu komoditi. Demikian itu karena para supplier dari produk atau jasa tersebut merasakan adanya pengurangan pendapatan atau income dari hasil produksi mereka. Untuk menanggulangi kerugian tersebut, sebagai sebuah konsekuensi para supplier atau produsen harus mengurangi jumlah produksi atau tetap menghasilkan produk dengan mengurangi kualitasnya. Kedua pilihan itu nantinya akan berpengaruh pada jumlah barang yang ada di pasaran dan sekaligus kualitasnya, ini yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan bagi masyarakat atau end-user. Pada keadaan seperti inilah, praktik monopsoni harus bisa dihentikan.

  Sebelum menentukan ada atau tidaknya sebuah dampak yang ditimbulkan, lebih baik jika mengetahui pengukuran atas suatu monopsony power pada suatu pasar terlebih dahulu. Kekuatan tersebut merupakan suatu tolok ukur apakah sebuah perbuatan dapat dinyatakan praktik monopsoni atau tidak. Pertama, terdapat tiga kondisi penting untuk mengukur monopsony power, yakni :

  1. Pembeli atau beberapa pembeli (collusive monopsonist) harus mewakili porsi terbesar dari total pembelian dalam suatu pasar.

   33 2. Kurva penawaran harus pada posisi yang bergerak nai

  Dalam kondisi ini, pihak produsen atau supplier memiliki stok barang yang melimpah

ruah, sehingga mereka sangat membutuhkan pembeli untuk menghindari kerugian yang mungkin

akan ditimbulkan dengan penumpukkan barang yang tidak berbanding setidaknya secara equal

dengan jumlah biaya produksi. Kondisi inilah, keadaan yang paling aman bagi para pelaku usaha

karena keadaan seperti inilah mereka memiliki monopsony power. Hal ini tidak akan terjadi jika

kurva permintaan ada pada kurva yang satbil atau cenderung datar, karena pada keadaan demikian

tidak ada suatu keadaan memaksa yang bisa membuat pihak produsen atau supplier mengurangi

  3. Harus terdapat hambatan atau penghalang untuk memasuki pasar yang diciptakan oleh para pembeli. Selain ketiga tolok ukur diatas, terdapat dua cara lain yang juga menjai tolok ukur untuk menentukan eksistensi dari monopsony power pada suatu pasar, yakni : 1. Menganalisa ada atau tidaknya komoditi substitusi atas komoditi tertentu.

  2. Menganalisa mengenai pasar berdasarkan keadaan geografis.

  Apabila dari hasil analisa tersebut menunjukkan indikasi bahwa belum adanya barang substitusi yang menjadi objek usaha pelaku usaha lain, serta tidak ada alasan keadaan geografis bagi terjadinya praktik monopsoni, maka dapat dinyatakan jika pada kondisi tersebut pelaku usaha memiliki monopsony power atas suatu pasar.

  Pada dasarnya, terdapat dua penggolongan yang mendasar atas dampak monopsoni yang secara implisit dinyatakan oleh para ahli dalam buku dan jurnalnya. Penggolongan tersebut, yakni : a. Dampak praktik monopsoni terkait dengan harga atau pricing.

b. Dampak praktik monopsoni terkait hal-hal selain harga atau non

  

  Dalam sub bab ini, yang akan menjadi pembahasan adalah dampak dari monopsoni, khususnya dampak terkait dengan pricing. Dampak tersebut antara lain, kemampuan praktik monopsoni dalam mempengaruhi harga komoditi tertentu, dalam penetapannya atau membuat sebuah diskriminasi harga dengan 34 nama lainnya adalah monopsony pricing. Selanjutnya, dalam penjelasannya,

  Dampak tersebut pada dasarnya adalah praktik lain dari penguasaan pasar, yang

termasuk pula pada kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang Persaingan Usaha. Yang

termasuk kegiatan penguasaan pasar antara lain, menciptakan barrier to entry, membatasi

peredaran suatu komoditi, hingga melakukan diskriminasi kepada pelaku usaha tertentu. Hal itu

terkait dengan kedudukan monopsonist yang memiliki market power terhadap pembelian atau

penerimaan atas suatu komoditi baik barang maupun jasa dalam lingkup usaha tertentu. Karena

suatu penguasaan pasar hanya akan terjadi jika pelakunya memiliki market power pada lingkup kedua main idea tersebut akan dibagi lagi dalam dua bagian yang terpisah dan merupakan satu kesatuan dengan sub bab ini.

2.3.1 Price Discrimination

  Perjanjian diskriminasi harga, adalah perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha lainnya dimana untuk suatu produk yang sama dijual dengan harga yang

  

  berbedaDengan adanya perjanjian yang demikian, berakibat pada terciptanya kerugian bagi pelaku usaha lainnya dalam struktur pasar yang sama. Akibat yang nyata dari perjanjian perbedaan harga adalah, salah satu pelaku usaha mendapatkan harga yang tinggi, sementara pelaku usaha lainnya mendapatkan harga yang rendah. Pada keadaan inilah, kerugian akan dirasakan oleh pelaku usaha.

  Praktik diskriminasi harga, tidak secara keseluruhan dilarang oleh hukum persaingan usaha, karena dimungkinkan adanya biaya yang berbeda dari pelaku usaha untuk memproduksi komoditi tertentu yang menjadi objek kegiatan usaha. Dengan adanya perbedaan tersebut, sangat rasional sekali apabila selanjutnya ada perbedaan harga untuk barang yang sama. Larangan diskriminasi harga yang dimaksudkan dalam hukum persaingan usaha apabila lahirnya bukan dari perbedaan biaya yang dikeluarkan oleh produsen. Singkatnya, suatu kondisi dapat dinyatakan telah terjadi diskriminasi harga, haruslah memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat tersebut :

  35

  1. Para pihak haruslah mereka yang melakukan kegiatan bisnis, sehingga

  

  diskriminasi harga dapat merugikan apa yang disebut primary lidan

  

  2. Terdapat perbedaan harga baik secara langsung maupun tidak langsung,

  misal melalui pemberian diskon, atau pembayaran secara kredit, namun

  

  3. Dilakukan terhadap pembeli yang berbeda. Jadi dalam hal ini paling

  

  4. Terhadap barang yang sama tingkat dan kualitasnya.

  

5. Perbuatan tersebut secara substansial akan merugikan, merusak, atau

  mencegah terjadinya persaingan yang sehat atau dapat menyebabkan

  

  Pelaku usaha yang seringkali melakukan kegiatan seperti ini adalah pelaku 36 usaha yang berada dalam skala kecil atau menengah, hal tersebut diakibatkan

  Primary line , kondisi ketika diskriminasi harga dilakukan oleh produsen atau grosir

terhadap pesaingnya. Pada kondisi ini, dalam monopsoni, pembeli akan melakukan penawarn

untuk membeli suatu produk baik barang/jasa dengan harga yang lebih tinggi yang bertujuan untuk

mengeliminasi kompetitornya. Keadaan ini, nyaris sama dengan keadaan dimana pelaku usaha

melakukan predatory pricing atas komoditinya. Hal tersebut dibuktikan ketika Supreme Court di

US menggunakan standar aturan yang juga digunakan dalam menyelesaikan perkara predatory

37 khususnya predatory buying.

  Secondary line, kondisi ketika pelaku usaha memberikan diskriminasi pada perlakuan

khusus yang diberikannya untuk produsen, grosir hingga ritel. Pada kondisi ini, sifatnya sangat

subjektif. Ketika pelaku usaha tersebut tidak menyenangi grosir ataupun ritel tertentu, hal itu akan

membawa pada kondisi lain dimana keduanya tidak dapat berkompetisi dengan grosir atau ritel

yang disenanginya. Pada posisi pembeli, pembeli yang menyenangi satu pelaku usaha akan

membeli dengan harga tinggi. Keadaan ini akan mempengaruhi kemampuan penjual yang merasa

membutuhkan pembeli tersebut untuk menentukan sesuatu pada dirinya (powerless), sehingga

diskriminasi yang dilakukan dalam kondisi demikian sangat memungkinkan untuk terjadinya

38 eliminasi dari pembeli terhadap less-powerful seller.

  Kondisi ini merupakan kondisi yang sering terjadi dalam kehidupan bisnis di sekitar kita.

Namun, entah kita yang belum menyadari atau memang belum ada pengaturan yang mengatur

secara tegas atas perbuatan tersebut. Contoh nyata, ketika seorang supplier mengharuskan adanya

payment dimuka bagi para resellernya, untuk pembelanjaan sekian rupiah, belum tentu pada

reseller lain dengan pembelanjaan sejumlah yang sama, supplier dapat memberikan keleluasaan

pembayaran atau invoice. Seringkali terjadi, alasan yang mereka utarakan kembali pada prinsip

kepercayaan atau trust. Keadaan seperti inilah yang sering kali tidak menjadi perhatian baik bagi

39 masyarakat luas dan pelaku usaha pada khususnya.

  Apabila dilakukan oleh penjual, maka posisi pembeli digantikan oleh posisi penjual. 40 Mengingat pernyataan mirror side praktik monopsoni atas monopoli.

  Andi Fahmi Lubis, et al., op cit, h.93, mengutip dari Philip Areeda, Antitrust Analysis, adanya beberapa tekanan ekonomi ataupun kebijakan tertentu dari pelaku usaha lain yang keadaannya jauh lebih baik dari pelaku usaha tersebut.

  Diskriminasi harga dikonstrusikan dalam Pasal 6 Undang-Undang Persaingan Usaha sebagai sebuah larangan tanpa memandang tingkatannya, sesuai dengan teori pendekatan, maka pasal ini termasuk pasal yang sifatnya

  per se illegal. Larangan tersebut dapat dilihat dari bunyi pasal, yakni :

  “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dengan harga yang

  

  harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan/atau jasa yang sama Sesuai dengan penelaahan pada konstruksi pasal 6 Undang-Undang

  Persaingan Usaha, akibat atau dampak dari diskriminasi harga, harus dirasakan oleh pelaku usaha lainnya, sekalipun tidak dicantumkan secara eksplisit dalam pasal tersebut. Sehingga, apabila terjadi perbedaan harga yang secara langsung kepada konsumen atau end-user dari suatu produk, itu bukan merupakan diskriminasi harga.

  Sebenarnya, banyak praktik diskriminasi harga yang terjadi di masyarakat, baik dalam primary line ataupun secondary line. Kedua praktik diskriminasi harga diatas, merupakan penggolongan praktik diskriminasi harga berdasarkan teori ekonomi yang ditujukan pada pasar penjualan atau monopoli yang sekaligus secara analogi dapat pula diterapkan pada pasar penerimaan atau pembelian, yakni monopsoni.

  Praktik monopsoni dalam pelaksanaannya oleh pelaku usaha dapat melahirkan praktik diskriminasi harga, hal tersebut sesuai dengan pengertian pasar 41 monopsoni, dimana pada pasar tersebut pelaku usaha menjadi penerima pasokan

  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999, dengan harga pembelian di bawah harga pada persaingan usaha yang wajar. Dengan kemampuannya tersebut, selanjutnya monopsonist dan pelaku usaha baik dalam tingkatan upstream atau downstream telah melakukan praktik diskriminasi harga, yang cenderung mengarah pada primary line. Diskriminasi harga tersebut disebut juga sebagai praktik predatory pricing. Selain terjadi diskriminasi harga yang mengarah pada harga yang lebih rendah, diskriminasi harga pun akan terjadi ketika pelaku usaha monopsoni hendak melakukan predatory. Ketika itu, untuk suatu produk yang sama, monopsonist mendapat harga yang lebih tinggi dibanding pelaku usaha lainnya dalam keadaan pasar yang sama.

  Ilustrasi contoh adanya diskriminasi harga dari pembeli adalah, ketika PT.A sebagai calon penerima tunggal pasokan susu dari Koperasi B, PT. A menawarkan diri untuk menjadi pelanggan atas suplai susu dan mengajukan harga pembelian yang lebih tinggi dibanding PT. C untuk spesifikasi susu yang sama. Dengan penawaran yang diajukan PT.A, Koperasi B tentu akan merasa diuntungkan, sehingga penawaran PT.C akan diabaikannya. Maka ketika PT.A menjadi satu-satunya penerima pasokan atas susu tersebut, dan Koperasi B telah memiliki ketergantungan dengan repeat order PT. A, maka potensi praktik monopsoni telah membawa pada kondisi lainnya, yakni telah terjadinya diskriminasi harga oleh monopsonist.

2.3.2 Predatory Buying

  Dalam monopoli, kita mengenal predatory pricing sebagai salah satu bentuk kegiatan usaha yang timbul sebab adanya penguasaan pasar yang dilakukan oleh pemilik market power. Kegiatan ini, merupakan suatu bentuk pemasokan atau penjualan komoditi dengan cara menjual rugi yang bertujuan

  

  mematikan pesaingnyaPengaturan kegiatan ini dalam di Indonesia diatur dalam ketentuan Pasal 20 Undang-Undang Persaingan Usaha. Dalam klaususl pasal tersebut dinyatakan,

  “Pelaku usaha dilarang melakukan pemasokan barang atau jasa dengan cara jual rugi atau menetapkan harga yang sangat rendah dengan maksud untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya di pasar bersangkutan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak

  

  sehat Contoh nyata kegiatan predatory pricing adalah pada pasar kosmetika online, terdapat dua suplier besar yang berpengaruh pada harga barang di pasaran.

  Keduanya saling berkompetisi untuk menekan jumlah biaya produksi, hingga batas akhir yang mereka mampu. Kemudian, untuk menyingkirkan kompetitornya, salah satu pelaku usaha rela merugi sedemikian rupa untuk melepas produk yang dimilikinya dengan harga yang tidak wajar, bahkan di bawah harga produksi. Hal tersebut, membuat kompetitor menjadi tidak mampu lagi berkompetisi, sehingga perlahan kompetitor tersebut akan menghilang dari pasar yang sama. Dalam keadaan seperti ini, pelaku usaha yang tertinggal dapat menguasai pasar, sehingga sangat dimungkinkan baginya untuk menaikkan harga sebagai bentuk kompensasi kerugian yang telah ia peroleh selama masa predatory. Praktik seperti ini, tak hanya terjadi dalam pasar lokal, namun juga pada pasar internasional melalui praktik dumping oleh suatu negara produsen suatu komoditi. 42 Beberapa negara maju di dunia seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan 43 L Budi Kagramanto, op cit., h.189 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

  

Persaingan Usaha Tidak Sehat, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999,

  Masyarakat Uni Eropa telah mengatur larangan antidumping dalam peraturan mengenai hukum persaingan usaha di negaranya. Tujuannya sebagai proteksi bagi pelaku usaha dalam negeri.

  Dengan beberapa conduct yang sama, dalam struktur pasar monopsoni, atas penguasaan pasar dari pemilik kekuatan atas pasar pembelian atau demand, maka sangat dimungkinkan dalam struktur asar ini terjadi pula predatory buying. Kegiatan ini adalah keadaan dimana pelakun usaha yang menjadi monopsonist menggunakan kekuatannya untuk membeli hasil produksi dengan harga yang lebih tinggi, sehingga membuat pihak produsen menjadi tergantung pada pelaku usaha tersebut, sehingga suatu saat ketika kurva atas permintaan menjadi tidak stabil, penguasaan pasar oleh monopsonis akan senantiasa terjadi, bahkan kemungkinan untuk monopsonis menjadi pelaku usaha monopoli terbuka lebar.

  Sebagai contoh kasus, yakni Kartell vs Blue Shield Massachussets, dalam kasus tersebut pihak Blue Shield menggunakan kekuatan pasarnya sebagai pembeli untuk mencanangkan harga dibawah rata-rata. Namun dalam putusannya, hakim memutuskan bahwa itu bukanlah tindakan yang melanggar hukum persaingan usaha, karena tindakan membeli suatu komoditi sehingga mampu menurunkan harga dibawah rata-rata tidaklah sama dengan predatory pricing dalam

  

  Tujuan antara predatory pricing maupun predatory buying adalah sama, keduanya menghendaki keluarnya kompetitor atau pelaku usaha yang lain dari struktur pasar dimana mereka berada. Ketika keberhasilan mereka menyingkirkan 44 kompetitor tersebut, selanjutnya mereka akan menaikkan harga jual atas suatu komoditi tertentu. Tak lain, untuk mengembalikan sejumlah kerugian yang mugkin terjadi selama masa predation.

  Pada sudut pandang monopsonist, predatory conduct akan mampu men-

  

setting harga yang tinggi pada harga yang harus pembeli keluarkan untuk

  mendapatkan suatu komoditi tertentu, yang kemungkinan akan ditolak oleh para pembeli lainnya sehingga memberikan batasan atau hambatan masuk bagi para kompetitor. Fase inilah, bukti bahwa praktik monopsoni dapat pula menciptakan

  

barrier to entry. Praktik predatory oleh para pelaku usaha dengan kekuatan

  monopsoni, pelaku usaha akan menawarkan harga yang relatf tinggi. Sebagai konsekuensinya, pelaku usaha harus membayar harga yang lebih tinggi dari harga pokok penjualan komoditi tertentu. Keadaan ini pada dasarnya sangat kritis, karena hanya menciptakan satu kemungkinan terburuk yang akan terjadi, yakni

  

  Dalam konteks monopsoni, terdapat kemungkinan payoff dalam dua formasi, yang pertama saat memulai kompetisi dengan pembeli lainnya agar mereka keluar dari pasar yang ada, pelaku usaha monopsoni akan menurunkan harga dibawah harga dalam persaingan pasar. Pada pokoknya, penggunaan kekuatan pelaku usaha monopsoni yang bertujuan untuk meningkatkan market

  

power mereka sebagai penjual (lanjutan dari praktik monopsoni), adalah hal yang

  biasa terjadi dalam fenomena persaingan usaha. Monopsoni demikianlah yang 45 selanjutnya dianggap sebagai pelanggaran atas hukum persaingan usaha.

  Keadaan ini sangat terasa gambling , kemungkinan apapun dapat terjadi bagi pelaku

usaha. Keadaan pasar dalam sistem ekonomi, merupakan keadaan yang dinamis, dapat berubah

sewaktu-waktu. Sekalipun pelaku usaha memiliki kekuatan dalam praktik monopsoni. Karenanya,

dalam melakukan predatory buying, pelaku usaha harus dengan sangat memperhatikan aspek yang

berpengaruh terhadap resiko. Beberapa ahli menyatakan, predatory pricing dan predatory buying,

cenderung memiliki beberapa perbedaan, sehingga sedikit melenceng dari pernyataan bahwa Kemungkinan kedua, pelaku usaha predators memiliki permasalahan dengan kelebihan penerimaan pasokan atas suatu komoditi. Permasalahan itu menghadirkan dua kemungkinan yang dapat mereka lakukan, menghancurkan komoditi tersebut, atau menyimpannya untuk penggunaan di masa mendatang.

  Semakin banyaknya usaha yang dilakukan untuk menjadikan input pada hasil akhir, juga akan mengakibatkan naiknya jumlah hasil akhir dan mempengaruhi pada harga yang akan dikenakan. Pada kondisi ini, satu-satunya kemugkinan dengan jumlah barang yang terlalu banyak, adalah menurunkan harga jual sebagai bentuk antisipasi atas kemungkinan kerugian yang ditimbulkan selama proses produksi. Segala kemungkinan tersebut, tetap akan melahirkan tanggungan secara finansial bagi pelaku usaha.

  Akhirnya, saat pelaku usaha hendak memulai untuk mengambil keuntungan dari kemampuan monopsoni yang dimilikinya, melalui menekan harga atau biaya yang harus mereka keluarkan, baik kondisi pasar maupun praktik monopsoni harus meminimalkan kehadiran kembali dari kompetitornya. Sebagai efeknya, pelaku usaha harus mampu mengambil keuntungan dari rendahnya harga untuk periode tertentu, dan temponya cukup lama agar dapat mendapatkan kembali sejumlah modalnya yang digunakan dalam proses predatory. Berdasarkan penjabaran diatas, prospek predatory buyer belum tentu menunjukkan kesamaan dengan yang dimiliki predatory seller.

  Pelarangan terhadap kegiatan ini, sebagai penjaminan terciptanya persaingan yang sehat antara pelaku usaha, serta menjadi perlindungan bagi konsumen maupun pelaku usaha pesaingnya. Menurut R. Sheyam Khemani, yang menjadi larangan pada predatory pricing bukan proses penetapan harga yang terlalu rendah terhadap produk atau komoditi yang dijual pelaku usaha saat ini, tetapi lebih kepada akan adanya pengurangan produksi dan penaika harga yang dilakukan oleh pelaku usaha. Terjadiny hal ini, akibat lemahnya pesaing yang ada serta adanya barrier to entry bagi keduanya. Singkatnya, pelaku usaha yang melakukan predatory pricing dengan tidak mengurangi jumlah produksi dan juga tidak menaikkan harga di kemudian hari, dapat dimungkinkan bukan termasuk

  

predatory pricing yang dilarang oleh hukumPendapat tersebut tercerminkan

  pula dalam konstruksi pasal 7 Undang-Undang Persaingan Usaha yang melarang adanya perjanjian penetapan harga untuk melakukan predatory pricing, dengan menggunakan pendekatan rule of reason. Selama perjanjian penetapan harga yang dimaksud tidak mengakibatkan persaingan yang tidak sehat, dan alasan-alasan yang diajukan pelaku usaha dapat diterima, maka selama itu pula perjanjian penetapan harga bukan merupakan perjanjian yang dilarang.

2.4 Monopsoni dan Welfare Effects

  Tujuan lahirnya hukum persaingan usaha, sebagai sebuah bentuk perlindungan bagi pelaku usaha dan konsumen, dari kesewenangan atau keadaan yang dipengaruhi oleh kekuatan pasar yang dimiliki pelaku usaha. Selain itu, hukum persaingan usaha juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi.

  Yang dimaksud dengan efisiensi ekonomi, adalah meningkatkan kekayaan, termasuk kekayaan konsumen, dalam arti luas adalah masyarakat. Sehingga, kesejahteraan masyarakat yang maksimal merupakan suatu urgensi dalam hukum 46 persaingan usaha.

  Seperti dalam monopsoni, ukuran riil pada pengertian “penyalahgunaan” kekuatan bukan ditujukan secara langsung pada penurunan harga, melainkan untuk mendapatkan keuntungan lain bagi monoponist atau pelaku monopsoni dengan kolusi.

  Efek atau dampak yang ditimbulkan akibat kekuatan monopsoni atau

  

  praktik monopsoni, menurut Aryeh Friedmadigolongkan menjadi dua golongan, yakni Adverse welfare effects dan Distributional effects.

  1. Welfare effects, atau dampak yang berpengaruh pada kesejahteraan baik bagi pelaku usaha lainnya, juga bagi masyarakat sebagai end-user dari suatu komoditi tertentu.

  2. Distributional effects, atau dampak yang berpengaruh pada sistem pendistribusian produk. Keduanya, dapat diketahui dengan mengetahui apakah penjual di

  

upstream market sebagai monopolist, dan apakah monopsonist juga bertindak

  sebagai monopolist di downstream market, dan jika pelaku usaha sebagai

  

oligopsonist apakah mereka saling bersaing di downstream market. Apabila hal

  yang menjadi tolok ukur tersebut terbukti, maka hasil atau outcome akan dikurangi kuantitasnya dan meningkatkan harga pada downstream market.

  Apabila tidak terbukti, maka cost savings sepertinya akan dikenakan pada konsumen.

  Kedua efek yang disebutkan oleh Friedmann, lebih mengarah pada social

  

effects yang ditimbulkan oleh monopsoni. Dengan kata lain, efek tersebut

  merupakan dampak monopsoni dalam hal non pricing. Dampak tersebut mampu melahirkan praktik-praktik lain yang berkaitan dengan monopsoni, yang 47 berpotensi melahirkan persaingan usaha tidak sehat. Dalam sub bab ini, pembatasan diletakkan pada dua praktik yang dipengaruhi oleh monopsoni, yakni Refusal to Deal dan Horizontal Market Division.

2.3.1 Refusals to deal

  Pada kondisi pasar monopoli, adalah keadaan dimana salah satu pelaku usaha atau beberapa pelaku usaha yang tidak akan menjual kebutuhan bahan baku kepada kompetitornya. Sedangkan dalam kondisi pasar monopsoni, praktik tersebut berarti pelaku usaha yang memiliki kekuatan pasar dan menerapkannya, melakukan penolakan untuk membeli produk dari pelaku usaha yang juga

  

  melakukan penjualan terhadap pelaku usaha kompetitor monopsonistPraktik penolakan yang dilakukan oleh pelaku usaha monopsoni ini merupakan salah satu akibat dari kegiatan monopsoni atau penyalahgunaan kekuasaan pasar yang dimilikinya, kemampuan monopsoni oleh pelaku usaha digunakan untuk meningkatkan monopolinya sebagai pembeli untuk menghadapi kompetitor.

  Ilustrasi mengenai praktik ini, adalah ketika suatu perusahaan bioskop menjadi pembeli tunggal atas lisensi film dari satu rumah produksi, dengan menggunakan kekuatan monosoninya melarang rumah produksi tersebut menjal lisensinya baik untuk film sejenis maupun keseluruhan kepada pelaku usaha pesaing. Contoh nyata kasus yang terjadi dengan dugaan refusals to deal, antara

49 United States vs Griffith , yakni pelaku usaha dalam rantai bioskop, yang

  membeli lisensi atau hak penayangan dari distributor film. Pada beberapa kota ia 48 menjadi monopsonis sepenuhnya, namun di beberapa kota lainnya, ia memiliki 49 Lihat Roger D Blair and Jeffrey L Harrison, p.88

  kompetitor. Pelaku usaha tersebut mengenakan kekuatan monopsoni yang dimilikinya pada wilayah dimana ia menjadi satu-satunya pelaku usaha, pelaku usaha tersebut melakukan pembelian dengan menetapkan aturan yang diinginkannya. Aturan tersebut selanjutnya membuat pelaku usaha tersebut mendapatkan hak-hak eksklusif, yang berlaku pula dalam pasar yang terdapat kompetisi. Intinya, dengan kemampuan monopsoninya pelaku usaha tersebut dapat menetapkan segala hal yang diinginkannya untuk membatasi persaingan, dimanapun pelaku usaha tersebut menjalankan kegiatan usahanya.

  Selain terjadi dengan hanya satu pelaku usaha, praktik ini pun terjadi dengan beberapa pelaku usaha sebagai pihak yang menerapkan kekuatan monopsoninya. Contohnya, kasus yang terjadi pada tahun 1914 dan melibatkan

   Dari semua kasus

  tersebut, kekuatan monopsoni yang digunakan bukan ditujukan untuk menegosiasikan agar pelaku usaha mendapatkan harga yang lebih rendah. Namun, tujuan yang ingin dihasilkan adalah mengurangi kemampuan supply dari kompetitor, dalam monopsoni, adalah mengurangi kemampuan pelaku usaha kompetitor untuk menerima pasokan dari supplier untuk jenis produk yang sama. Praktik ini pada dasarnya serupa dengan praktik boikot, yang bertujuan akhir untuk mengusir, mencegah, dan menghalau kompetitor maemasuki pasar sejenis demi kepentingan para pihak dalam perjanjian. Dalam peraturan hukum persaingan usaha di Indonesia, belum ada konstruksi pasal yang mengatur refusal 50

to deal secara eksplisit. Namun, pengaturan tersebut dapat ditemukan apabila kita melakukan penafsiran dari beberapa praktik yang dilarang dalam Undang-Undang Persaingan Usaha, yakni praktik boikot, perjanjian pembagian wilayah, dan beberapa praktik lainnya yang memiliki tujuan akhir untuk membatasi dan mencegah pelaku usaha lain dengan menggunakan kekuatan monopsoni yang dimiliki.

2.3.2 Horizontal Market Division

  Horizontal Market Division, atau disebut juga Pembagian Wilayah adalah

  sebuah perjanjian yang dibuat pelaku usaha pada pembagian wilayah pemasaran (distribusi), yang bertujuan agar pelaku usaha saling terikat dan tidak saling

  

  bersaing satu sama lain (mengurangi tingkat persainga Dalam keadaan ini, para penjual kemungkinan menyetujui untuk tidak saling berkompetisi pada wilayah tertentu untuk konsumen yang sama dan jenis barang yang sama. Dalam struktur pasar menurut sudut pandang pembeli, horizontal market division adalah suatu perjanjian dimana pembeli saling menyepakati untuk membagi suplier dan untuk tidak saling berkompetisi atas pembelian mereka dari suplier-suplier tersebut disamping untuk saling membagi wilayah-wilayah dimana mereka dapat melakukan kegiatan usaha. Dalam penjelasan Undang-Undang Persaingan Usaha yang dimaksud membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar, adalah :

  1. Membagi wilayah untuk memperoleh atau memasok barang dan/atau jasa pada struktur pasar.

  2. Menetapkan dari siapa saja dapat memperoleh atau memasok barang dan/atau jasa. Selain beberapa praktik atas perjanjian pembagian wilayah diatas, dalam 51 perkembangannya, pembagian wilayah juga termasuk pada perbuatan menentukan kuantitas atau kualitas barang dan/atau jasa, mengurangi iklan produk bersangkutan secara gencar, hingga membatasi ekspansi usaha pesaingnya pada wilayah dimana pelaku usaha melakukan kegiatan usahanya.

  Pembagian wilayah pasar ini tidak akan berjalan efektif apabila konsumen memiliki kemampuan yang cukup untuk berpindah pasar, karena sekalipun pelaku usaha telah melakukan pembagian, kemungkinannya untuk mendapatkn kerugian masih terbuka lebar melalui peralihan pembeli tersebut. Misalkan, koperasi Bahagia di Kecamatan Burneh menjadi penerima pasokan tunggal hasil karya batik tulis madura, dan koperasi Cinta menjadi penerima pasokan tunggal di Kecamatan Soca. Pengrajin yang merasa kurang puas dengan harga beli yang ditawarkan oleh koperasi Cinta, kemudian pengrajin tersebut memiliki kemampuan untuk menjual hasil karyanya pada koperasi Bahagia, maka pengrajin akan memilih untuk menjualnya pada koperasi Bahagia dengan mengharapkan perbaikan taraf hidup Hal tersebut yang akan mendatangkan kerugian bagi koperasi Cinta, karena kekuatan pasarnya akan mengalami penurunan.

  Pembagian wilayah ini, termasuk perjanjian yang dilarang oleh Undang- Undang Persaingan Usaha. Dalam Undang-Undang Persaingan Usaha, perjanjian pembagian wilayah diatur dalam pasal 9 Undang-Undang Persaingan Usaha, yang berbunyi :Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan/atau jasa, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.”

  Pelaku usaha yang dimaksudkan dalam konstruksi pasal tersebut ialah pelaku usaha yang bertindak sebagai pesaing potensial. Kemungkinan perjanjian horisontal terjadi antara pelaku usaha yang memiliki kegiatan usaha yang sama, yang memiliki objek usaha yang sejenis, termasuk pihak-pihak yang bersaing pada tingkat horisontal. Alasan larangan perjanjian pembagian wilayah ini karena pelaku usaha dapat mengurangi atau bahkan meniadakan persaingan dengan cara membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar. Akibat dari praktik pembagian wilayah menurut Stephen F. Ross dengan hilangnya persaingan di antara sesama pelaku usaha melalui pembagian wilayah dapat pula menimbulkan pelaku usaha melakukan pengurangan produksi ke tingkat yang tidak efisien, yang selanjutnya dapat melakukan eksploitasi terhadap konsumen dengan menaikkan harga produk, atau menggunakan kekuatan pasarnya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap

  

  konsumen yang telah teralokasi sebelumnyaSejatinya, dengan adanya pembatasan juga merugikan pelaku usaha yang berada dalam lingkup perjanjian maupun pesaingnya, karena mereka tidak dapat mengembangkan usaha dan hilangnya kesempatan untuk meningkatkan kekuatan pasar yang dimilikinya.

  Pasal tersebut dikonstruksikan dengan mensyaratkan adanya perjanjian yang dilakukan oleh pelaku usaha yang saling bersaing, pengaturan tersebut menggunakan pendekatan secara rule of reason. Selama belum terdapat akibat yang ditimbulkan dengan adanya praktik pembagian wilayah, pelaku usaha belum dapat dikenakan hukuman.

52 Lihat Ditha Wiradiputra, Jakarta mengutip dari Stephen F. Rose, Principle of

BAB III COLLUSIVE MONOPSONY MENURUT HUKUM PERSAINGAN USAHA di INDONESIA 3.1 Collusive Monopsony dan Oligopsoni. Praktik collusive monopsony adalah praktik jamak dari monopsoni, yang

  bertujuan untuk mempengaruhi harga beli suatu barang atau komoditi, atau setidaknya mempengaruhi harga input atas komoditi terse

  

   Sesuai dengan para pihak di dalamnya, yakni pelaku usaha yang bertindak sebagai pembeli atau penerima pasokan atas suatu komoditi, maka perjanjian ini bersifat horisontal. Seperti dalam praktik lainnya yang berhubungan dengan kemungkinan monopoli ataupun monopsoni, maka kekuatan pasar menjadi salah satu faktor yang menjadikan terjadinya praktik ini. Tanpa adanya kekuatan pasar yang dimiliki oleh pelaku usaha, praktik ini tidak akan berjalan efektif.

  Sama halnya dengan pure monopsony, praktik ini memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan keuntungan dengan melakukan penekanan atau usaha tertentu atas suplier suatu komoditi. Biasanya, para pihak dalam perjanjian

  

collusive monopsony akan melakukan pembatasan-pembatasan tertentu terkait

  hasil yang dihasilkan oleh suplier maupun produsen komoditi tersebut. Melalui pembatasan tersebut, suplier yang telah merasa ketergantungan dengan adanya para pelaku usaha tersebut, tidak memiliki pilihan lain selain untuk mengurangi hasil produksi atau kualitas produk. Pembatasan yang dilakukan oleh para pelaku 53 usaha bukan untuk meningkatkan nilai jual atas suatu barang yang langka di pasar, melainkan untuk mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga barang yang sama atau sejenis di pasar. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya niat pelaku usaha untuk selanjutnya menjadi monopolist untuk komoditi tersebut.

  Seperti dalam praktik monopsoni lainnya, dalam praktik ini yang menjadi objek adalah barang dan/atau jasa yang menjadi komoditas pada suatu pasar.

  Sehingga, selain mengacu pada barang, jasa pun dapat menjadi hal yang mendasari adanya dugaan praktik monopsoni khususnya collusive monopsony.

  Hal ini ditunjukkan dengan adanya contoh kasus NCAA football di Amerika Serikat, yang melibatkan pelajar peserta liga dan pelatih. Para pelaku usaha membatasi beasiswa dan kompensasi yang diterima oleh para atlit yang masih pelajat. Praktik tersebut mengurangi minat para pelajar untuk menjadi atlit, yang selanjutnya berpengaruh pada jumlah pemain tim yang berlaga. Dengan berkurangnya jumlah pemain, maka berpengaruh pula pada jumlah pelaku yang dipekerjakan. Hal tersebut kemungkinan akan menekan jumlah gaji yang harus dibayarkan oleh pihak manajemen tim, sehingga keuntungan akan lebih terasa oleh mereka. “The NCAA has been characterized as a cartel, that is ‘ a

  

combination of independent commercial or industrial enterprises designed to

  

limit competition ‘. collusive monopsony yang dipraktekkan oleh NCAA

  mengarah pada sebuah kartel. Praktik monopsoni yang dilakukannya berhubungan dengan pasar tenaga kerja yakni para atlit pelajar dan pelatih. Lebih jelasnya praktik tersebut merupakan kartel pembelian. Anggota dari kartel tersebut sepakat 54 untuk mengurangi kompetisi antara mereka dengan tujuan untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan guna pembayaran gaji pelatih dan pemberian beasiswa bagi para atlitnya. Pengurangan beasiswa dengan cara membatasi fasilitas apa saja yang akan dinikmati oleh para atlit, misalnya dengan membatasi pada jenis kamar, buku tertentu, dan biaya pendidikan. Kartel yang dibangun oleh NCAA sejak 1905, hingga saat ini semakin berkembang dan bertambah kuat. Dalam kartel, seringkali terjadi kecurangan yang dilakukan oleh salah satu anggotanya, dalam NCAA hal tersebut telah dapat ditanggulangi dengan menerapkan sanksi bagi pelakunya. Sanksi tersebut dibuat sedemikian rupa tidak menguntungkan bagi pelaku, sehingga meminimalisir terjadinya kecurangan. Sanksi yang pernah diterapkan oleh NCAA antara lain terhadap University of Washington, yakni dengan membatasi fasilitas yang biasa dinikmati oleh anggota kartel, salah satunya pengurangan beasiswa selama dua tahun. Pada tahun 1975, NCAA sebagai sebuah asosiasi olahraga pernah melakukan pembatasan pada pelatih sepakbola dan bola basket. Pembatasan tersebut ditujukan pada sekolah-sekolah Divisi I, dengan adanya pembatasan tersebut merugikan kompensasi seorang pelatih sebesar 90%. Praktik yang dilakukan oleh NCAA, telah melanggar Section

  

1 pada Sherman Act. Namun, para juri dan hakim pada supreme court memilih

  menggunakan pendekatan rules of reasons, dengan memperhatikan reasonable

  

restraint dari NCAA sekalipun sejak 1940, praktik tersebut diatur secara per se

illegal. NCAA telah melakukan beberapa praktik yang mengarah pada collusive

monopsony, khususnya kartel. Kartel yang telah dibentuk oleh NCAA sifatnya

  stabil dengan pengaturan yang mereka terapkan atas kecurangan dan pelanggaran sesama anggota. Kasus-kasus collusive monopsony yang telah diputuskan antara

  

  Berdasarkan putusan-putusan tersebut, the NCAA pada dasarnya seperti subjek hukum lain yang dapat dikenakan aturan-aturan dalam Hukum Persaingan Usaha.

  Namun, pada the NCAA, putusan hakim cenderung menggunakan pendekatan

  

rules of reasons, sedangkan pada subjek hukum lainnya memilih menggunakan

per se illegal. Pengaturan collusive monopsony pada Hukum Persaingan Usaha di

  Amerika Serikat atau yang lebih dikenal dengan Antritrust Law, bersifat per se

  

illegal, praktik tersebut melanggar ketentuan Section 1 dari Sherman Act. Hal

  tersebut tidak menutup kemungkinan hakim menggunaan pendekatan rules of reasons untuk memutuskan kasus-kasus tentang praktik collusive monopsony.

  Collusive monopsony, juga memiliki pengaruh terhadap beberapa jenis

  pelanggaran yang dilarang dalam hukum persaingan usaha. Dengan adanya praktik ini, kemungkinan untuk terjadinya bentuk penyalahgunaan atas kekuatan pasar semakin terbuka lebar. Satu pelaku usaha yang menguasai pasar, memiliki keterbatasan ketika ada pelaku usaha pesaingnya memiliki potensi yang sama, sehingga memungkinkan adanya kekalahan atau berkurangnya keuntungan baginya. Jika kekuatan pasar tersebut diatur oleh beberapa orang, tentu akan lebih mudah dalam melakukan kontrol bagi para pelaku usaha pesaing. Berdasarkan hal tersebut, lahirlah beberapa perjanjian yang selanjutnya menjadi larangan pada hukum persaingan usaha pada umumnya dan dalam Undang-Undang Persaingan Usaha pada khususnya.

  Beberapa jenis perjanjian yang dilahirkan oleh praktik collusive

  monopsony, antara lain :

  a. Boikot 55

  b. Kartel c. Penetapan Harga.

  d. Pembagian Wilayah.

  Unsur-unsur collusive monopsony, yang disarikan dalam literatur, antara lain :

  a. Beberapa pelaku usaha.

  b. Satu perjanjian.

  c. Bertujuan mempengaruhi harga atau produksi oleh produsen maupun

  

  d. Adanya penyalahgunaan kekuatan pasar yang dimiliki pembeli atau

  

  Sebagai bagian dari salah satu bentuk monopsoni, collusive monopsony tentu memiliki beberapa kesamaan dengan praktik pure monopsony. Yang membedakan kedua praktik tersebut ialah para pihak yang terlibat di dalamnya. Jika dalam monopsoni hanya ada satu pelaku usaha yang menjadi dominan dalam penerimaan pasokan untuk suatu barang atau jasa tertentu, maka sebaliknya.

  Dalam collusive monopsony, yang menjadi monopsonis adalah beberapa pelaku usaha melalui satu perjanjian.

  Para pelaku usaha tersebut menghendaki untuk menurunkan harga pembelian mereka untuk suatu barang atau jasa tertentu. Atau setidaknya, mempengaruhi harga produksi untuk suatu barang atau jasa tertentu. Dengan hasil akhir, mereka memperoleh harga yang lebih rendah dibandingkan dengan pembeli lainnya.

  Salah satu bentuk collusive monopsony¸ adalah ketika pekerja melalui serikatnya, membentuk perjanjian dengan serikat lainnya dalam jenis pekerjaan 56 yang sama. Menggunakan bargaining power-nya untuk menentukan gaji yang

  Pengaruh yang dihasilkan, seperti kegiatan monopsoni lainnya adalah pada struktur

upstream market. Sehingga, keuntungan yang didapatkan oleh pelaku usaha biasanya cenderung

57 melukai para suplier dan produsen.

  

Dengan adanya kekuatan pasar yang dimiliki oleh beberapa pelaku usaha dalam perjanjian, merek selanjutnya dapat mengatur tingkatan harga, hingga wilayah distribusi produk akan mereka dapatkan setiap bulannya. Mereka menggunakan beberapa cara, salah satunya adalah mogok kerja. Secara tidak langsung, dengan mogok kerja tersebut berdampak pada jumlah barang yang akan di produksi oleh pabrik tempat mereka bekerja. Hal tersebut, berakibat pada dugaan adanya praktik collusive

  

monopsony yang dilakukan oleh serikat pekerja tersebut. Collusive monopsony,

  seperti ini, bukan termasuk monopsoni yang diatur dalam Pasal 18 Undang- Undang Persaingan Usaha. Mengingat bahwa monopsoni dalam pasal tersebut menekankan pada terciptanya praktik monopoli serta persaingan usaha tidak sehat dengan adanya praktik monopsoni. Sehingga, collusive monopsony yang demikian tidaklah dilarang.

  Adapun yang menjadi larangan pada Undang-Undang Persaingan Usaha adalah praktik-praktik yang merupakan form dari collusive monopsony tersebut.

  Praktik-praktik tersebut adalah :

  a. Boikot Boikot atau pemboikotan merupakan salah satu perjanjian yang juga dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha di Amerika Serikat. Boikot yang dilarang, adalah boikot yang dilakukan secara bersama atau grup.

  Larangan tersebut berlaku apabila terjadinya boikot merupakan suatu rencana oleh pelaku usaha dan dilakukan secara sengaja. Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, larangan boikot dikonstruksikan dalam aturan Pasal 10 Undang-Undang Persaingan Usaha. Kegiatan yang mengarah pada praktik boikot, antara lain menjatuhkan pelaku usaha lain, memaksa pemasok atau pelanggannya untuk berhenti berhubungan dengan para kompetitor pelaku usaha terkait. Dalam pengaturan tersebut, tidak ada syarat mengenai pengaruh negatif dari perjanjian pemboikotan, namun disebutkan syarat dalam ayat (2) pasal tersebut, yang mensyaratkan adanya kerugian yang ditimbulkan bagi pelaku usaha lain sebagai akibat boikot, termasuk juga telah ada halangan bagi barang dan atau jasa tertentu dalam pasar bersangkutan. Jika memenuhi syarat tersebut, maka suatu perbuatan yang diduga dapat dikatakan telah melanggar hukum persaingan usaha di Indonesia.

  b. Kartel Praktik kartel telah dilarang dalam konstruksi Pasal 11 Undang-

  Undang Persaingan Usaha. Pengertian praktik kartel, adalah bentuk kerja sama yang dilakukan oleh para pelaku usaha untuk mengawasi produk mereka sendiri, baik penjualan, harga, yang melahirkan monopoli pada pasar tertentu. Melihat rumusan pasalnya, bahwa larangan pelaku usaha untuk membuat perjanjian dengan pesaingnya, adalah perjanjian yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi, pemasaran, yang dapat melahirkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Dapat dikategorikan pendekatan yang dilakukan ialah pendekatan secara rule of reason. Bahwa jika kerja sama tersebut tidak melahirkan praktik monopoli dan tidak menimbulkan persaingan usaha tidak sehat bukan termasuk larangan dalam aturan ini. Ilustrasi kasus, hanya ada satu pelaku usaha yang melakukan pembelian suatu barang dengan harga Rp 10.000,- akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp

  10.000,- jika ia membeli 10 barang secara bersamaan, dan akan menambah keuntungan seharga Rp 1000,- pada harga jual. Jika ia melakukan penekanan terhadap pemasok untuk memungkinkan mendapatkan keuntungan lebih, tanpa ada dukungan dari pelaku usaha lain, kemungkinannya untuk memaksa pemasok sangatlah kecil. Disinilah dibutuhkan adanya kerjasama dengan pelaku usaha lainnya. Sehingga, bila penekanan tersebut dilakukan bersama-sama, pemasok yang merasa jika pelaku usaha tersebut adalah kunci keberhasilannya, akan secara serta merta menuruti kemauan para pembeli. Keadaan seperti inilah yang akan menjurus pada pendirian kartel.

  Pengaturan mengenai collusive monopsony, bukanlah aturan dalam satu konstruksi pasal dalam Undang-Undang Persaingan Usaha di Indonesia yang dirumuskan secara eksplisit. Namun, pengaturannya secara langsung kepada praktik-praktik yang menjadi form dari collusive monopsony itu sendiri.

  Oligopsoni adalah struktur pasar dengan sedikit pelaku usaha yang berlaku sebagai pembeli dalam skala besar yang tidak dapat mempertahankan kemampuan

  

  bertaha Struktur pasar ini memiliki kesamaan dengan struktur pasar

  

  oligopoli, hanya saja struktur pasar ini terbatas pada pasar iligopsoni merupakan salah satu bentuk perjanjian yang dilarang oleh Undang-Undang Persaingan Usaha di Indonesia. Larangan ini dirumuskan dalam aturan Pasal 13 Undang-Undang Persaingan Usaha di Indonesia. Yang berbunyi :

  Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan yang dapat mengakibatkan praktik

  

  monopoli dan atau persaingan usaha tidak seha Sementara itu, untuk syarat suatu perjanjian dikatakan sebagai perjanjian oligopsoni dan menjadi pelanggaran, apabila : “Pelaku usaha patut diduga atau 58 dianggap secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan 59 Lihat Roger D Blair and Jeffrey L Harrison, p.48 60 Lihat Andi Fahmi Lubis et al., h.111

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

  Persaingan Usaha Tidak Sehat, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999, sebagaiamana dimaksud dalam ayat (1) apabila 2 atau 3 pelaku usaha atau kelompok usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar barang dan atau jasa

  

  tertentu.” Pendekatan yang digunakan dalam rumusan pasal ini, adalah rumusan pasal secara rule of reason, jika tidak memenuhi unsur-unsurnya, maka suatu perjanjian bukanlah sebagai perjanjian yang sifatnya oligopsoni. Pengertian oligopsoni dalam ketentuan Undang-Undang Persaingan Usaha berbeda dengan pengertian oligopsoni pada praktik, sehingga pembuktian untuk kasus oligopsoni tidaklah mudah, seperti pada Monopsoni dan Collusive Monopsony. Pada dasarnya, kegiatan ini adalah kegiatan yang wajar, dimana jumlah pembeli yang ada begitu terbatas. Namun, untuk melindungi usaha kecil, pengaturan atas oligopsoni, tetap diperlukan, sehingga pelaku usaha kecil dan menengah tidak menjadi mangsa para pelaku usaha dengan buyer power. Apabila ditelaah lebih lanjut, unsur-unsur collusive monopsony memiliki kesamaan dengan unsur-unsur oligopsoni, sebagai berikut : a. Satu perjanjian.

  b. Perjanjian tersebut dilakukan dengan pelaku usaha pesaing.

  c. Bertujuan untuk mempengaruhi harga.

  d. Tindakan mempengaruhi harga dilakukan dengan jalan mengatur produksi atau pemasaran barang atau jasa tertentu.

  e. Tindakan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

  f. Adanya presumsi atau dugaan jika oligopsoni telah terjadi jika dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75%

   61 pangsa pasar untuk satu jenis barang atau jasa tertent 62 Ibid., pasal 13 ayat 2.

  

  Hubungan antara collusive monopsony, oligopsoni dan kartel digambarkan dalam himpunan sebagai berikut : Collusive

   Monopsony Oligopsoni Kartel Gb.2 Hiubungan Collusive Monopsony, Oligopsoni dan Kartel

3.2 Collusive Monopsony di Indonesia dan dampaknya untuk pelaku usaha.

  Salah satu kasus collusive monopsony yang terjadi di Indonesia adalah kasus antara PT Garam, dkk mengenai distribusi garam di wilayah Sumatera Utara. Pada kasus yang telah diputus melalui putusan KPPU Nomor 10/KPPU- L/2005. Para terlapor yaitu PT. Graha Reksa, PT. Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, dan UD Sumber Samudra yang disebut sebagai G4, menguasai pasokan bahan baku garam dari PT. Garam, PT. Budiono, dan PT. Garindo yang disebut sebagai G3. Penguasaan tersebut membuat pelaku usaha lain menjadi kesulitan

  

  untuk mendapatkan pasokan garam bahan baku dari G Gambaran hubungan keduanya adalah sebagai berikut :

  Pemasok (G3) Gb. 3 Alur Distribusi Garam

  Dari gambar di atas, maka dapat dikatakan apabila kegiatan usaha yang

  Produsen terjadi dalam kasus tersebut, terjadi pada posisi hulu atau upstream market.

  (G4)

  Berdasarkan penyelidikan oleh KPPU, telah ditemukan adanya koordinasi yang 63 terjadi diantara para pelaku usaha (G3 dan G4). Koordinasi yang dilakukan 64 Lihat Andi Fahmi Lubis et al., h.111 Putusan KPPU, Perkara Nomor: 10 / KPPU-L/ 2005 tentang Kartel Distribusi Garam di keduanya dicerminkan dari penyesuaian permintaan dari G3 kepada G4, adanya penetapan harga di bawah harga kompetitif sekalipun komponen biaya yang digunakan adalah sama, dan adanya keseragaman harga jual yang dilakukan oleh anggota G3 kepada pelaku usaha lainnya. Selain adanya koordinasi oleh keduanya, koordinasi juga saling terjalin antara anggota G3, dengan keseragaman harga jual yang terjadi dan selisih harga yang selalu tetap. Pada saat itu, struktur pasar garam bahan baku di Sumatera utara bersifat oligopolistik. Sifat oligopsoni terjadi ketika adanya penguasaan pasokan garam bahan baku oleh G4. Selain lahirnya praktik oligopsoni, terjadi pula price fixing, dikskriminasi harga, dan market division dengan adanya collusive monopsony oleh G3 dan G4.

  Dampak yang ditimbulkan atas praktik yang dilakukan oleh G3 dan G4 secara otomatis akan dirasakan oleh pelaku usaha kompetitor, konsumen serta iklim persaingan usaha, khususnya komoditi garam bahan baku. Bagi pelaku usaha lain, praktik tersebut akan memberikan kesulitan dari sisi kontinuitas pasokan dengan adanya kontrol jumlah pasokan. Selain itu, akan berdampak pada harga yang akan diperoleh oleh pelaku usaha lain, karena cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan para anggota kolusi. Bagi konsumen, akan terjadi kenaikan harga bagi barang yang berbahan baku garam atau garam untuk konsumsi.

  Konsumen pula yang akan membayarkan margin keuntungan bagi G3 dan G4, bahkan tidak menutup kemungkinan konsumen akan membayar pada level harga yang tidak wajar. Pada iklim persaingan usaha, praktik tersebut akan melahirkan persaingan semu serta menciptakan barrier to entry bagi pesaing potensial untuk komoditi yang sama.

  Adanya koordinasi yang terjadi menunujukkan telah ada perjanjian antara G3 dan G4 dengan tujuan mempengaruhi harga yang dilakukan melalui pengaturan jumlah pasokan dan pola pemasaran merupakan bukti bahwa G3 dan G4 telah melakukan praktik collusive monopsony, yaitu kartel. Hal tersebut dituangkan dalam Putusan KPPU Nomor 10/KPPU-L/2005, yang menyatakan jika unsur-unsur pada Pasal 11 Undang-Undang Persaingan Usaha telah terpenuhi dan telah terbukti.

3.3 Pembuktian Collusive Monopsony.

  Alat bukti berdasarkan pasal 1886 BW dan 164 HIR dibagi menjadi dua, yaitu alat bukti langsung dan alat bukti tidak langsung. Alat bukti langsung adalah alat bukti yang tampak secara fisik yang dapat diujikan dan ditampilkan selama proses persidangan. Sedangkan alat bukti tidak langsung, adalah alat bukti tambahan yang sifatnya non fisik. Contoh alat bukti tidak langsung adalah

  

  Dalam hukum acara perkara KPPU, alat bukti yang dapat digunakan diatur dalam Pasal 42 Undang-Undang Persaingan Usaha, yaitu : a. Keterangan saksi,

  b. Keterangan ahli,

  c. Surat dan atau dokumen,

  d. Petunjuk, e. Keterangan Pelaku Usaha. Selain alat bukti tersebut diatas, dalam pemeriksaan perkara persaingan usaha yang bukan merupakan laporan dugaan, atau perkara inisiatif, sumber- sumber data yang digunakan KPPU, berdasarkan Pasal 15 ayat (2) Perkom No. 1

  1. Hasil Kajian Komisi, 65

  2. Berita di media, 66 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, h.558

  3. Hasil Pengawasan,

  4. Laporan yang tidak lengkap,

  5. Hasil Dengar Pendapat yang dilakukan Komisi,

  6. Temuan dalam pemeriksaan; atau 7. Sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan. KPPU, memiliki kewenangan yang telah diatur dalam Undang-Undang Persaingan Usaha untuk memperoleh alat bukti sebagaimana diperlukannya.

  KPPU berhak untuk meminta dokumen baik dalam bentuk hard copy maupun soft

  

copy, menghadirkan saksi dan melakukan investigasi ke lapanga Kewenangan

  atas alat bukti yang dimiliki KPPU, berlaku pula untuk penanganan masalah

  

collusive monopsony, dalam hal ini praktik kartel. Sebelum dilakukannya proses

  pembuktian dalam perkara, pihak KPPU wajib untuk mengidentifikasi suatu keadaan pasar terlebih dahulu. Identifikasi yang dilakukan KPPU, harus berdasarkan indikator-indikator yang telah dibekalkan kepada setiap anggota KPPU dalam Pedoman Pasal 11 melalui Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2004.

  Beberapa indikator tersebut adalah : a. Tingkat konsentrasi dan jumlah perusahaan.

  b. Ukuran perusahaan.

  c. Homogenitas produk.

  d. Kontak multi-pasar.

  e. Persediaan dan kapasitas produksi.

  f. Keterkaitan kepemilikan.

  g. Kemudahan masuk pasar.

  h. Karakter permintaan : keteraturan, elastisitas, dan perubahan.

  

  Setelah terpenuhinya indikator tersebut, maka proses pemeriksaan oleh 67 KPPU dapat dilanjutkan. Dengan terpenuhinya indikator, belum dapat

  KPPU, Pedoman Pasal 11 : Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 68 Tahununduh tanggal 28 Januari 2013, pukul 15.10 WIB Buyer power, dalam pedoman pasal ini harus dilihat apakah kekuatan pembeli tersebut lemah atau kuat. Karena dengan kuatnya kekuatan pembeli atau penerima pasokan akan berpengaruh pada keutuhan kartel. Khususnya dalam kartel pembelian, hal tersebut

memungkinkan munculnya tindak kecurangan oleh salah satu anggota kartel, khususnya pemilik

  membuktikan suatu praktik collusive monopsony telah terjadi. Untuk dapat membuktikannya, pihak KPPU harus menggunakan alat-alat bukti pendukung.

  Dalam pedoman Pasal 11 Undang-Undang Persaingan Usaha, yang merupakan

  

  alat bukti untuk penanganan kartel adala

  1. Dokumen atau rekaman kesepakatan harga, kuota produksi atau pembagian wilayah pemasaran.

  2. Dokumen atau rekaman daftar harga (price list) yang dikeluarkan oleh

  pelaku usaha secara individu selama beberapa periode terakhir (bisa tahunan atau per semester).

  3. Data perkembangan harga, jumlah produksi dan jumlah penjualan di

  beberapa wilayah pemasaran selma beberapa periode terakhir (bulanan atau tahunan).

  4. Data kapasitas produksi.

  5. Data laba operasional atau laba usaha dan keuntungan perusahaan yang saling berkoordinasi.

  6. Hasil analisa pengolahan data yang menunjukkan keuntungan yang berlebih/ excessive profit.

  7. Hasil analisa data concius pararelism terhadap koordinasi harga, kuota produksi atau pembagian wilayah pemasaran.

  8. Data laporan keuangan perusahaan untuk masing-masing anggota yang diduga terlibat selama beberapa periode terakhir.

  9. Data pemegang saham setiap perusahaan yang diduga terlibat beserta perubahannya.

  10. Kesaksian dari berbagai pihak atas telah terjadinya komunikasi, koordinasi dan/atau pertukaran informasi antar para peserta kartel.

  11. Kesaksian dari pelanggaran atau pihak terkait lainnya atas terjadinya

  perubahan harga yang saling menyelaraskan diantara para penjual yang diduga terlibat kartel.

  12. Kesaksian dari karyawan atau mantan karyawan perusahaan yang diduga

  terlibat mengenai terjadinya kebijakan perusahaan yang diselaraskan dengan kesepakatan dalam kartel.

  13. Dokumen, rekaman dan/atau kesaksian yang memperkuat adanya faktor pendorong kartel sesuai indikator.

  Untuk melakukan pembuktian secara sempurna untuk suatu praktik

  

collusive monopsony, perlu memperhatikan penerapan prinsip pendekatan rules of

reasons pada Pasal 11 Undang-Undang Persaingan Usaha. Alasan-alasan pelaku 69 usaha harus diperiksa, apakah termasuk reasonable restraint atau tidak. Apabila alasan tersebut dapat diterima, maka praktik collusive monopsony yang dilakukan oleh pelaku usaha atau beberapa pelaku usaha, tidak melanggar ketentuan Hukum Persaingan Usaha. Dalam kasus Distribusi Garam Bahan Baku diatas, para pelaku usaha tidak memiliki reasonable restraint, sehingga dalam Putusan KPPU Nomor 10/ KPPU-L/2005, para pelaku usaha tersebut terbukti melakukan praktik turunan dari collusive monopsony, yakni perjanjian kartel.

  Terbukti atau tidaknya suatu praktik yang termasuk dalam praktik

  

collusive monopsony harus memperhatikan pada pola pendekatan yang digunakan

  dalam konstruksi pasal yang mengatur. Hal tersebut dikarenakan pengaturan dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, untuk beberapa hal, khususnya praktik-praktik turunan dari collusive monopsony, berbeda dengan pengaturan yang diterapkan di Amerika Serikat. Pendekatan yang telah digunakan tidak menutup kemungkinan penggunaan interpretasi oleh hakim dalam hal memutuskan perkara. Penggunaan interpretasi oleh hakim tidak hanya digunakan di Indonesia dalam menyelesaikan perkara praktik collusive monopsony pada Putusan KPPU Nomor 10/KPPU-L/2005 tentang Kartel Distribusi Garam Bahan Baku di Sumatera Utara, namun juga digunakan oleh para hakim di Supreme

  

Court Antitrust Law Amerika Serikat dalam kasus the NCAA v. Board of Regents,

Hennesey v. The NCAA, dan Law v. The NCAA. Dengan berlakunya interpretasi,

  suatu praktik dalam hal collusive monopsony tidak dapat secara serta merta dianggap sebagai pelanggaran atas Hukum Persaingan Usaha.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

  Monopsoni merupakan salah satu larangan dalam hukum persaingan usaha di Indonesia. Jenis-jenis monopsoni, antara lain monopsoni alami, pure

  

monopsony, dan collusive monopsony. Monopsoni alami, adalah monopsoni yang

  terjadi akibat pengaruh barang substitusi dan keadaan geografis suatu barang dan atau jasa tertentu dalam pasar tertentu. Pure monopsony, adalah monopsoni yang dilakukan atau dilahirkan sendiri oleh pelaku usaha untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Sedangkan collusive monopsony, adalah praktik monopsoni yang dilakukan oleh beberapa pelaku usaha yang menguasai pembelian atau penerimaan pasokan suatu barang dan atau jasa yang bermaksud untuk mempengaruhi harga yang akan mereka bayarkan untuk komoditi tersebut.

  Dampak yang akan dirasakan dengan adanya praktik monopsoni dikategorikan menjadi dua kategori utama, yakni dampak pricing dan non

  

pricing. Dampak pricing, mengarah pada bagaimana praktik monopsoni bisa

  melahirkan akibat berupa penetapan harga hingga diskriminasi harga. Sedangkan dampak non pricing, dapat mengarah pada bagaimana kekuatan pasar yang berpengaruh pada sistem distribusi atau kesejahteraan pada masyarakat. Namun, dalam tulisan ini, lebih ditujukan pada dampak non pricing yang berpengaruh pada sistem distribusi serta penyalahgunaan yang terjadi atas kekuatan pasar pada praktik monopsoni.

  Praktik collusive monopsony, diatur dalam perundang-undangan persaingan usaha di Indonesia secara implisit. Yakni secara langsung pada praktik- praktik yang menjadi form atas praktik collusive monopsony tersebut. Melalui penafsiran secara analogi antara collusive monopsony dengan oligopsoni, keduanya memiliki unsur dan syarat yang sama untuk dapat dikatakan sebagai sebuah pelanggaran pada hukum persaingan usaha. Pengaturan oligopsoni di Indonesia, memiliki beberapa kesamaan dengan larangan kartel dalam Undang- Undang Persaingan Usaha. Keduanya merupakan himpunan yang saling beririsan dalam himpunan semesta Collusive Monopsony.

  Praktik collusive monopsony yang dianalisa di Indonesia, diambil dari kasus yang telah diperiksa dan diputuskan dalam Putusan Nomor 10/KPPU- L/2005, mengenai kartel distribusi garam bahan baku. Dalam putusannya, KPPU memutus jika para pelaku usaha yang terlibat dalam collusive monopsony, terbukti melanggar Pasal 11 Undang-Undang Persaingan Usaha dan beberapa praktik lain yang masih merupakan form praktik collusive monopsony. Dengan menggunakan pendekatan rules of reasons, untuk membuktikannya, tidak melihat atas dampak yang ditimbulkannya berdasarkan teori monopsoni pada umumnya, melainkan didasarkan pada terpenuhi atau tidaknya unsur yang menjadi syarat-syarat pada pengaturan praktik tersebut dalam Undang-Undang Persaingan Usaha. Untuk itu, dapat disimpulkan jika pembuktian ada atau tidaknya perbuatan atas praktik

  

collusive monopsony, dapat dilakukan sejenis dengan pembuktian pada praktik

  oligopsoni dan praktik lainnya yang menggunakan pendekatan rules of reasons dengan memperhatikan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendukung, antara lain : Pasal 42 Undang-Undang Persaingan Usaha, Peraturan

  Komisi No. 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara, dan Peraturan Komisi No. 4 Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Pasal 11 Undang- Undang Persaingan Usaha.

4.2 Saran.

  Pengaturan mengenai collusive monopsony, yang ada di Indonesia, sebenarnya telah diatur dalam Hukum Persaingan Usaha. Pengaturan tersebut tidak dikonstruksikan dalam sebuah ketentuan secara eksplisit. Pengaturan atau larangan atas collusive monopsony, lebih kepada praktik-praktik yang menjadi

  form atau turunannya.

  Dengan adanya pengaturan yang sifatnya belum sempurna, kemungkinan pelaku usaha untuk mempraktikannya terbuka lebar. Hal tersebut dipicu oleh minimnya pengetahuan mengenai larangan collusive monopsony, atau itikad kurang baik dari pelaku usaha sendiri yang sekalipun telah mengetahui bahwa praktek collusive monopsony akan berdampak sistemik dan buruk pada iklim persaingan usaha. Dampak-dampak yang dihasilkan praktik tersebut, seharusnya telah menjadi hal pokok yang harus dipikirkan dalam pembuktian hingga putusan. Bukan lagi mengacu pada unsur atau reasonable restraint yang ada, sehingga pengaturan mengenai collusive monopsony beserta praktik-praktik turunannya bersifat per se illegal. Demi untuk mewujudkan tujuan iklim persaingan usaha yang sehat,memenuhi kepastian serta keadilan bagi para pelaku usaha, dan sebagai perlindungan bagi konsumen.

  Kedepannya, penulis sangat berharap pihak-pihak yang berwenang dan bertanggung jawab atas iklim persaingan usaha di Indonesia, dapat lebih memahami mengenai praktik-praktik yang berhubungan dengan pelanggaran atas Hukum Persaingan Usaha. Tujuannya, untuk mewujudkan suatu aturan hukum mengenai praktik tersebut yang berakhir pada terciptanya keadilan, kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak yang terlibat dalam iklim persaingan usaha di Indonesia, serta dapat benar-benar mewujudkan suatu iklim persaingan usaha yang sehat dan berkembang. Dengan demikian, maka kesejahteraan seluruh masyarakat akan terpenuhi, dan negara akan semakin maju.

Collusive Monopsony dalam Peraturan Huku
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags

Masalah Pengakuan Recognition Dalam Huku

24 Arah Dan Tujuan Pemidanaan Dalam Huku

Peraturan Peraturan Dalam Sepak Bola

Peran Pemerintah Dalam Membuat Peraturan

Kedudukan Peraturan Kebijakan Dalam Unda

Peraturan Peraturan Dalam Kemasan Pangan

Pengujian Peraturan Desa Dalam Sistem Peraturan Perundang Undangan Indonesia

Peraturan Menteri Dalam Negeri

Pendeportasian Di Indonesia Menurut Huku

Pengaturan Ketentuan Sanksi Pidana Dalam Peraturan Daerah

Collusive Monopsony dalam Peraturan Huku

Gratis