Penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus - USD Repository

Gratis

0
0
116
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Vera Moktaningrum 099114097 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Vera Moktaningrum 099114097 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN “ Untuk meraih hal – hal yang besar kita tidak cukup untuk bertindak tetapi juga harus bermimpi; tidak hanya berencana, tetapi juga percaya.” -Anatole France- “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktu-NYA” -Ibrani 4:16- Ku Persembahkan karya ini untuk : - Orang tuaku tercinta - Semua orang yang menyanyangi dan mendukungku - Para Orang tua yang mengasuh anak dengan cinta dan ketulusan iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Vera Moktaningrum ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai penerimaan orang tua terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus fisik, sosial emosi ataupun akademik. Selain itu, juga untuk melihat apakah ada perbedaan penerimaan orang tua pada anak dengan jenis kebutuhan khusus yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur sebagai metode pengumpulan datanya. Karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus fisik, sosial emosi ataupun akademik. Subjek yang digunakan berjumlah delapan orang yang terdiri dari dua orang ibu dengan anak cacat fisik, sepasang orang tua dengan anak autis, satu orang ibu dengan anak autisme, satu orang ibu dengan anak syndrome down serta sepasang orang tua yang memiliki anak tuna grahita. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua subjek menunjukkan adanya penerimaan terhadap kondisi anak dengan komposisi yang berbeda-beda. Sebagian subjek menunjukkan adanya penerimaan pada semua (empat) aspek yang digunakan peneliti. Sedangkan sebagian lagi menunjukkan adanya penerimaan pada tiga dari empat aspek yang digunakan peneliti. Diketehui pula bahwa tidak ada perbedaan penerimaan orang tua pada anak dengan kebutuhan khusus yang berbeda Kata kunci : penerimaan orang tua, anak berkebutuhan khusus vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE ACCEPTANCE OF PARENTS TO THE CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS Vera Moktaningrum ABSTRACT This study aims to gain an description about parental acceptance of children with special needs, whether physical, mental or academic. This study used a qualitative approach with semi-structured interview as tools of research. Characteristics of the subjects used in this study were parents who have children with special needs, both physical, mental or academic. The participants of this study are eight people. The subjects used totaled eight people consisting of two mother with physically disabled children, parents with an autistic child, one mother with an autistic child, one mother with child syndrome down and parents of children with mental retardation. The research results showed that all subjects showed an acceptance of the condition of children with different compositions. Some subjects showed a receptivity on all (four) aspects of the use of researchers. While some subjects showed a receptivity on three of the four aspects in the use of researchers. Note also that there are no differences in the acceptance of the parents in children with different special needs. Key Words : parents acceptance, children with special needs vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, kuasa dan anugrahNya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Psikologi. Banyak pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaian penelitian ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis hendak mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Sanata Dharma 2. Ibu Agnes Indar E., M.Si.,Psi., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang dengan kesabaran dan kebaikannya bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, mengajarkan dan membagikan ilmunya kepada penulis. 3. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalankan studi. 4. Ibu Sylvia Carolina MYM., M.Si dan Ibu MM.Nimas Eki S., M.Si., Psi. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan pengetahuan baru bagi saya untuk membuat skripsi ini semakin baik. 5. Seluruh dosen pengajar di Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang dengan ketulusannya mendidik, mengajarkan dan membagikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Seluruh karyawan di Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang telah membantu penulis selama penulis menjalankan studi. 7. Seluruh staf perpustakan Universitas Sanata Dharma yang telah membantu penulis selama studi dan mengerjakan penilitian. 8. Kepala sekolah dan staf pengajar di SLB Negeri 1 Bantul yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan bantuan serta kerjasamanya selama proses penelitian. 9. Seluruh subjek dan keluarga yang telah berkenan dan besedia mengikuti proses penelitian. Semoga Tuhan selalu melimpahkan berkat dan rahmat-Nya kepada semua. 10. Keluargaku : Papa, Mama dan Mba’ Dewi yang selalu memberikan doa, dukungan, semangat dan cinta kasihnya kepada penulis. Terimakasih banyak atas semua yang telah diberikan. 11. Keluarga besar Siswoharjono : Bapak, Ibu, Pakdhe, Budhe, semua Om dan Tante, semua sepupuku dan keponakanku. Terimakasih untuk bantuan dan dukungannya kepada penulis. 12. Teman-temanku terkasih : Evy, Lala, Ika, Rani, Ginza, Realita dan Irma yang selalu memberikan doa, bantuan, semangat dan dukungan. Terimakasih atas kebersamaannya selama ini. Suka, duka, tangis, tawa dan canda yang sudah kita lalui tidak pernah penulis lupakan. 13. Teman satu bimbingan : Cisty, Indri dan Tata. Makasih untuk saran, masukan, dukungan, bantuan dan semangatnya. Senang bisa menjadi teman diskusi kalian. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14. Teman-teman Psikologi Sanata Dharma angkatan 2009, khususnya kelas B dan C. Terimakasih atas kebersamaan, kerjasama dan dinamika selama proses perkuliahan. 15. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Terimakasih atas doa dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis ingin menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak disengaja selama proses pengerjaan penelitian. Semoga Tuhan memb\erikan dan melimpahkan berkat, rahmat, dan anugrahNya kepada kalian semua atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Yogyakarta, 11 Juni 2014 Penulis Vera Moktaningrum xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ii HALAMAN PENGESAHAN iii HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA v ABSTRAK vi ABSTRACT vii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH viii KATA PENGANTAR ix DAFTAR ISI xii DAFTAR TABEL xv DAFTAR LAMPIRAN xvi BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 6 C. Tujuan Penelitian 6 D. Manfaat Penelitian 6 1. Manfaat Teoritis 6 2. Manfaat Praktis 6 BAB II LANDASAN TEORI 7 A. Anak Berkebutuhan Khusus xii 7

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus 7 2. Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus 8 3. Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus 15 B. Penerimaan Orang Tua 16 1. Pengertian Penerimaan Orang Tua 16 2. Tahap Penerimaan Orang Tua 17 3. Aspek Penerimaan Orang Tua 19 4. Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Orang Tua 21 5. Dampak Penerimaan Orang Tua 24 C. Penerimaan Orang Tua yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus 25 D. Pertanyaan Penelitian 27 BAB III METODE PENELITIAN 28 A. Metode Penelitian Kualitatif 28 B. Fokus Penelitian 29 C. Subjek Penelitian 29 D. Metode Pengumpulan Data 30 E. Metode Analisis Data 32 F. Uji Keabsahan Data 33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Pengambilan Data 34 34 1. Pelaksanaan 34 2. Data Subjek 35 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Hasil Penelitian 1. 36 Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki Kebutuhan Khusus secara Fisik 2. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki Kebutuhan Khusus secara Sosial Emosi 3. 36 43 Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki Kebutuhan Khusus secara Akademik C. Pembahasan 51 62 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 67 A. Kesimpulan 67 B. Saran 68 DAFTAR PUSTAKA 69 LAMPIRAN 72 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Daftar Pedoman Wawancara 31 Tabel 4.1 Daftar Pelaksanaan Wawancara Langsung dengan Subjek 35 Tabel 4.2 Identitas Subjek Penelitian 36 Tabel 4.3 Gambaran Penerimaan Orang Tua 60 Tabel 4.4 Penerimaan Orang Tua Sesuai Jenis Kecacatan Anak 61 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Wawancara Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus 73 Lampiran 2 Surat Izin Penelitian 95 Lampiran 3 Surat Bukti Penelitian 98 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehadiran anak ditengah-tengah keluarga merupakan suatu hal yang sangat dinantikan dan membahagiakan. Namun, kebahagiaan ini dapat berubah menjadi hal yang kurang menyenangkan apabila anak yang dinantikan terlahir dengan keadaan yang tidak seperti anak pada umumnya atau memiliki kebutuhan khusus. Keadaan ini menjadikan beban berat bagi orang tua baik secara fisik ataupun mental. Beban orang tua pun semakin bertambah ketika mereka harus menghadapi berbagai pandangan, dari masyarakat yang cenderung memandang sebelah mata anak yang memiliki kebutuhan khusus. Menurut sebuah survey yang dilakukan di negara barat terhadap 600 orang tua yang merawat anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa 70% dari mereka merasakan bahwa penerimaan publik terhadap mereka tidak memuaskan (Richardson, K. & Fulton, Rorie ; 2011). Keadaan ini ternyata juga terjadi di Indonesia. Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang masih memandang sebelah mata anak – anak yang memiliki kebutuhan khusus. Masyarakat menganggap bahwa memiliki anak yang berkebutuhan khusus merupakan aib dan kutukan sehingga masyarakat bersikap menghindar, menolak hingga bertindak tidak wajar (Widarningsih, 2011). Keadaan seperti ini akan berdampak pada bertambahnya beban fisik dan psikologis 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Akan sangat sulit bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk dapat menghadapi masyarakat (Mangunsong, 1998). Keluarga khususnya orang tua cenderung merasa malu sehingga memiliki kecenderungan untuk menarik diri dari kegiatan sosial (Semiun, 2006). Masyarakat mengenal anak berkebutuhan khusus dengan istilah anak cacat atau anak abnormal. Menurut Mangunsong (1998) anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan dengan ratarata anak normal dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan fisik, perilaku sosial dan emosional. Kirk (1972) membagi anak berkebutuhan khusus ke dalam 5 jenis yaitu Communication Disorder yang meliputi learning disabilities dan speech disorder, Mental Deviation yang meliputi intellectually gifted dan retardasi mental, Sensory Handicaps yang meliputi tuna runngu dan tuna netra, Neurologic, orthopedic dan gangguan kesehatan lainnya dan Behavior Disorder. Di Indonesia sendiri, anak berkebutuhan khusus dikenal dengan anak tunanetra, tunarunggu, tunadaksa, tunagrahita, tunalaras, anak berbakat intelektual, anak berkesulitan belajar spesifik, autisme dan ADHD. Menurut Mahabbati (2010), keluarga adalah pihak yang berperan penting dalam mendukung anak berkebutuhuan khusus untuk mendapatkan haknya agar dapat berkembang sesuai dengan potensinya. Selain itu, keluarga juga merupakan saluran penting untuk pelayanan anak-anak cacat. Namun, tidak mudah bagi keluarga terutama orang tua

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 untuk langsung menerima keadaan kondisi anaknya. Perasaan kaget, tidak percaya, kecewa rasa bersalah dan penolakan pun mereka alami. Bahkan menurut Ohlshansky (dalam Ozyurek, 2012) orang tua dengan anak berkebutuhan khusus mengalami kesedihan kronis sepanjang hidup mereka. Selain itu, orang tua juga memiliki tingkat stres yang tinggi dibanding dengan orang tua yang memiliki anak normal. Orang tua pun cenderung akan mengalami tiga krisis dalam hidupnya yaitu krisis perubahan, krisis nilai-nilai, dan krisis realita. Apabila orang tua mampu bertahan atau melewati kondisi tersebut, maka orang tua mencapai tahap penerimaan (Kandel, Isack. & Merrick, Joav. ; 2007) Penerimaan merupakan sikap positif yang mengakui, menghargai nilai-nilai dan tindakan individual (Chaplin dalam Sri Rachmayanti dkk, 2007). Shaffer (2009) mendefiniskan penerimaan orang tua sebagai sikap memberikan dukungan dan kasih sayang yang berupa senyuman, pujian, kehangatan, dorongan serta sikap kritis yang membangun. Komunikasi yang baik kepada anak dan sikap membimbing, memotivasi dan memberi dukungan pada anak merupakan salah satu bentuk penerimaan orang tua terhadap anaknya (Hurlock, 1995) Orang tua yang mampu menerima anaknya adalah orang tua yang menerima, menghargai dan menyadari atas apa yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh anaknya. Penerimaan diri orang tua sangat penting bagi anak berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan orang tua merupakan orang yang selalu ada untuk memberikan dorongan dan mengajarkan segala

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 sesuatu agar anak berkebutuhan khusus ini mampu meneruskan kelangsungan hidup dan menjadi anak yang mandiri. Sikap orang tua yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa anaknya mempunyai kebutuhan khusus akan memberikan dampak buruk. Keadaan ini akan mempengaruhi pola asuh orang tua sehingga tidak maksimal dan menghambat kemajuan anak dalam belajar, bahkan dapat menyebabkan permasalahan lain dalam keluarga (Mahabbati, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arzu Özyurek (2012) penerimaan orang tua memberi pengaruh dalam keberhasilan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi serta dalam kehidupan sosialnya. Di Indonesia sendiri pernah dilakukan penelitian mengenai penerimaan terhadap orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan type tertentu seperti autis (Rachmayanti & Zulkaida, 2007) atau mental retardasi (Moningsih, 2012). Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa ada penerimaan orang tua terhadap anak yang mengalami autis ataupun mental retardasi. Pada orang tua dengan anak mental retardasi, penerimaan ditunjukkan dengan cara memberikan perasaan positif pada anak, mendengarkan dengan pikiran yang terbuka terhadap segala permasalahan yang terjadi dalam keluarga serta menerima semua keterbatasan anak. Dalam penelitian tentang penerimaan anak autis ditemukan bahwa dengan adanya penerimaan orang tua terhadap anak maka orang tua berperan dalam terapi anak.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui tentang gambaran penerimaan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Namun, dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini akan menggunakan anak berkebutuhan khusus yang lebih beragam sekaligus untuk melihat apakah ada perbedaan penerimaan orang tua pada anak dengan jenis kebutuhan khusus yang berbeda. Hal ini dikarenakan adanya salah satu pendapat yang mengatakan bahwa orang tua dengan anak yang memiliki cacat mental akan berada dalam situasi yang sulit karena sikap masyarakat yang cenderung lebih mudah menerima anak dengan cacat fisik dibandingkan dengan anak yang mengalami cacat mental (Semiun, 2006 ). Selain itu, Iscak, K. & Merrick. J. (2007) yang menyatakan bahwa penerimaan orang tua pada anak dengan cacat fisik lebih mudah dibandingkan dengan penerimaan orang tua pada anak dengan keterbelakangan mental karena anak dengan cacat fisik tidak banyak mengubah fungsi dan suasana keluarga. Dalam penelitian ini, anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi tiga jenis yaitu anak berkebutuhan khusus secara fisik, anak berkebutuhan khusus secara sosial emosi dan anak berkebutuhan khusus dalam akademik. Pengkategorian ini didasarkan pada persamaan ciri atau karakteristik kelainan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 B. Rumusan Masalah Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana gambaran penerimaan orang tua yang memiliki anak masing - masing berkebutuhan khusus secara fisik, sosial emosi atau akademik. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerimaan dari orang tua yang memiliki anak masing-masing berkebutuhan khusus secara fisik, sosial emosi atau akademik D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana penerimaan diri orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus, sehingga dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi ilmu Psikologi khususnya untuk Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Anak dan Psikologi Sosial. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini dapat memberi manfaat bagi orang tua untuk bisa menerima memberikan dan memahami dukungan perkembangan anak. kondisi secara anaknya optimal bagi sehingga kemajuan dapat dan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Anak Berkebutuhan Khusus 1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki perbedaan dengan rata-rata anak normal dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan fisik, perilaku sosial dan emosional (Mangunsong, 1998). Abbey, dkk (2006) mendefinisikan anak berkebutuhan khusus sebagai anak yang memiliki kelainan pada perkembangan fisik, perilaku ataupun emosional sehingga membutuhkan pengawasan kesehatan, pendidikan dan fasilitas khusus dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Menurut Rahmitha (2011) anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mempunyai keterlambatan pada dua atau lebih aspek perkembangannya. Semiun (2006) mendefinisikan anak berkebutuhan khusus sebagai anak yang memiliki perbedaan ciri khas pada kemampuan mental, fisik, panca indera, komunikasi dan tingkah laku sosial dengan anak-anak biasa. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan ciri khas pada perkembangan fisik, mental, perilaku ataupun emosional dengan anak – anak seusianya sehingga membutuhkan pelayanan atau fasilitas khusus. 7

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 2. Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus Beberapa ahli mengemukakan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat diidentifikasi menjadi beberapa jenis yaitu : a. Tunarungu Tunarungu merupakan istilah bagi anak yang mengalami kesulitan pada kemampuan mendengar. Karakteristik anak tunarungu diantaranya, pada segi fisik tidak menampakan adanya kelaianan pada anak, anak memiliki kemampuan intelektual seperti anak normal. Anak mengalami kesulitan dalam berbicara dan perkembanga bahasa serta prestasi akademik. Dalam kemampuan sosialnya, anak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosialnya. b. Tunanetra Tunanetra merupakan istilah bagi anak yang mengalami gangguan pada organ pelinglihatan. Karakteristik anak tunanetra diantaranya, memiliki kemampuan intelektual, berbahasa dan berbicara yang tidak jauh berbeda dengan anak normal. Anak tunanetra memiliki kepekaan yang baik terhadap lingkungan karena mengembangkan kemampuan indera yang lain seperti mendengar, merasakan dan membau. c. Tunadaksa Tunadaksa merupakan istilah untuk anak-anak yang mengalami hambatan dalam kegiatannya karena akibat dari

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Mangunsong (1998) membagi tuna daksa menjadi dua kategori yaitu : 1. Anak tunadaksa yang menderita cacat polio atau lainnya sehingga mengalami ketidaknormalan dalam fungsi tulang, otototot atau kerjasama fungsi otot-otot tetapi anak-anak ini memiliki kemampuan normal 2. Anak tunadaksa yang memiliki kecacatan sejak lahir atau cerebal palsy sehingga mengalami cacat jasmani karena ketidak berfungsinya tulang otot sendi dan saraf-saraf. Anak ini memiliki tingkat intelegensi dibawah normal atau terbelakang. Karakteristik anak tunadaksa diantara, memiliki gangguan pada motorik kasar dan motorik halus. Keadaan sosial-emosi anak dipengaruhi oleh respon, sikap dan penerimaan masyarakat. d. Tunagrahita Tunagrahita adalah kondisi dimana anak memiliki kecerdasan dibawah rata-rata dan mengalami penurunan fungsi perilaku adaptif. Dalam Somantri (2006) anak tunagrahita diklasifikasikan menjadi : 1. Tunagrahita Ringan Tunagrahita ringan dapat disebut moron atau debil dan memiliki IQ diantara 69-55. Anak dengan keterbelakangan mental ringan mampu didik meskipun harus membutuhkan perhatihan dan guru khusus. Anak dapat melakukan ketrampilan

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 tanpa mendapat pengawasan, seperti ketrampilan mengurus diri sendiri. Pada proses penyesuaian diri, anak ini memiliki proses penyesuaian diri yang sedikit rendah dibandingkan dengan anak normal pada umumnya. Pada umumnya anak keterbelang mental ringan tidak mengalami gangguan pada fisik mereka. Secara fisik tampak seperti anak pada umunya. 2. Tunagrahita Sedang Anak tunagrahita sedang dapat disebut imbesil. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 54-40. Anak terbelakang sedang dapat digolongkan sebagai anak mampu latih. Anak dapat dilatih untuk beberapa keterampilan tertentu seperti mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak dengan keterbelakang mental sedang mengalami kesulitan dalam bidang akademik. Dalam kehidupan sehari-hari anak ini membutuhkan pengawasan terus-menerus. 3. Tunagrahita Berat Anak tunagrahita berat dapat disebut idot. Anak tunagrahita berat memiliki IQ antara 39-25. Anak tunagrahita berat memiliki permasalahan berat menyangkut kondisi fisik, intelegensi serta pendidikan. Anak memiliki kemampuan bicara dan bahasa yang sangat rendah. Anak tunagrahita berat juga memiliki penyesuaian diri yang rendah. Mereka memerlukan

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 bantuan perawatan dan bantuan orang lain secara total seperti dalam hal mengurus diri sendiri. e. Tunalaras atau Behavior Disorder Tunalaras merupakan istilah untuk anak yang mengalami gangguan emosi dan tingkah laku sehingga mengalami kesulitan dalam menyesuaikan driri dengan baik terhadap lingkungan (Somantri, 2006). Pada dasarnya anak tunalaras memiliki kemampuan intelektual yang normal. Namun, adanya kelainan dalam perilaku sosialnya. Anak ini mengalami gangguan perilaku seperti sulit berkonsentrasi, agresif, mudah bosan, kurang mau bergaul, pasif, mengalami kecemasan dan hasil belajarnya seringkali jauh dibawah rata-rata (Wardhani, dkk. 2000). f. Tunawicara Tunawicara merupakan istilah anak-anak yang mengalami gangguan berbicara dan berbahasa. Secara kognitif, anak-anak ini memiliki rentang kemampuan kognisi yang tinggi hingga terbelakang. Anak-anak mengalami kesulitan ketika diminta untuk mengekspresikan hasil kemampuannya secara verbal. Secara sosial, anak akan mengalami masalah. Anak dapat merasa terisolasi karena orang lain tidak memahami apa yang dikatakan. Selain itu, tingkah laku anak seringkali tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 g. Learning Disabilities Adalah anak-anak yang mengalami Gangguan pada salah satu satu lebih proses-proses dasar psikologis, terkait dengan pemahaman dan penggunaan bahasa dalam berbicara dan menulis . Karakteristtik adalah 1. Adanya Gangguan perseptual – motorik, mengalami kesulitan dalam koordinasi antara stimulus visual atau auditori dengan perilaku. 2. Emosi yang tidak stabil dan menunjukkan perilaku impulsif 3. Adanya gangguan dalam memori atau berpikir, seperti kesulitan dalam memanggil kembali materi yang telah dipelajari atau kesulitan dalam memahami konsep abstrak 4. Spesifik learning disabilities, seperti ketidakmampuan untuk membaca, mengingat apa yang telah dibaca, atau kemampuan berhitung atau mengeja 5. Kesulitan dalam memahami atau mengingat apa yang diucapkan, ketidakjelasan artikulasi berbicara, dan sedikitkan kosakata yang dimiliki h. ADHD ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. Anak yang mengalami ADHD memiliki ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Anak ADHD menampakan

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 perilaku yang dapat dikelompok dalam 2 kelompok utama yaitu kurangnya memusatkan perhatian atau deficit attention dan hiperaktivitas-implusivitas. Terdapat tiga tipe anak ADHD yaitu 1. Tipe Predominan Inatentif Anak – anak yang memiliki masalah utama adalah rendahnya konsentrasi 2. Tipe Predominan Hiperaktif – Impulsif Anak – anak yang masalah utamnya dikarenkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif 3. Tipe Kombinasi Anak-anak yang mengalami kedua masalah diatas i. Autis Autis merupakan anak yang memiliki gangguan dalam hal perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Anak yang mengalami autis memiliki gejala pada umur dibawah 3 tahun mengalami kesulitan bicara, tidak melakukan kontak mata dan melakukan gerakan berulang-ulang. Anak autis mengalami gangguan kelaian yang tampak dalam aspek komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain dan perilaku. j. Anak Berbakat Intelektual Anak berbakat intelektual adalah anak-anak yang mempunyai kemampuan yang sangat baik untuk menanggani fakta,

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 ide atau hubungan. Krik (1976) menyatakan bahwa karateristik anak berbakat intelektual meliputi : 1. Anak memiliki kemampuan belajar lebih cepat daripada anak pada umumnya 2. Anak memiliki kemampuan penalaran yang sangat baik (superior) daripada anak yang lain 3. Anak memiliki kemampuan sosial yang baik dan cenderung lebih terkenal dikalangan anak lain. Menurut uraian diatas maka jenis anak berkebutuhan khusus dapat kelompokkan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Anak berkebutuhan khusus fisik yang meliputi tuna netra, tunarunggu, tunawicara dan tunadaksa 2. Anak berkebutuhan khusus sosial emosi meliputi tunalaras, autisme dan ADHD 3. Anak berkebutuhan khusus kognitif atau akademik yang meliputi anak berbakat intelektual, learning disabilities, dan tunagrahita Dalam penelitian ini, orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan bakat intelektual tidak dijadikan subjek dalam penelitian. Hal ini dikarenakan anak yang memiliki bakat intelektual memiliki kemampuan diatas rata-rata dalam segala hal sehingga tidak memiliki hambatan dalam perkembangan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 3. Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus Wardani dkk (2002) mengatakan bahwa berdasarkan waktu terjadinya, penyebab anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi 3 kategori : a. Penyebab Sebelum Kelahiran (Prenatal) Penyebab yang terjadi sebelum proses kelahiran. Hal ini berarti pada saat janin masih berada dalam kandungan calon ibu mengalami trauma, infeksi kehamilan, dan keracunan. Selain itu, ibu yang mengandung terlalu lama lebih dari 40 minggu dapat menyebabkan anak memiliki kebutuhan khusus. Ibu yang melakukan pengguguran terhadap janinnya, juga menjadi penyebab anak yang dilahirkan memiliki kebutuhan khusus. b. Penyebab Sewaktu Kelahiran Penyebab ini muncul pada saat proses melahirkan. Proses melahirkan yang dapat menyebabkan anak berkebutuhan khusus seperti terjadinya benturan atau infeksi ketika melahirkan, kelahiran dengan alat bantu (di-vacum) dan pemberian oksigen yang terlampau lama bagi anak prematur. c. Penyebab Setelah Kelahiran (Postnatal) Penyebab ini muncul setelah bayi dilahirkan misalnya bayi mengalami sakit TBC atau terinfeksi virus lainnya. Selain itu, kekurangan gizi, kecelakaan dan keracunan juga menyebabkan anak memiliki kebutuhan khusus.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Semiun (2006), mengatakan bahwa anak memiliki kebutuhan khusus karena adanya 2 faktor yaitu : a. Faktor Biologis Faktor ini meliputi adanya gangguan pada herediter atau genetik, gangguan yang disebabkan oleh lingkungan prenatal, diagnosis prenatal dan masalah-masalah pada waktu kelahiran dan sesudah kelahiran. b. Faktor Psikososial Faktor ini meliputi terbatasnya lingkungan psikososial, kebiasaankebiasaan berbahasa, gaya mengasuh anak, motivasi, pendidikan di sekolah dan perawatan fisik atau medis yang kurang baik. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab anak memiliki kebutuhan khusus adalah adanya gangguan genetik, gangguan pada saat kehamilan sampai setelah kelahiran, serta adanya faktor psikososial. B. Penerimaan Orang Tua 1. Pengertian Penerimaan Orang Tua Penerimaan diri merupakan sikap memberi penghargaan yang tinggi bagi diri sendiri (Supratiknya, 1995). Penerimaan diri tidak hanya berkaitan dengan kesediaan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 dan tindakan kepada orang lain, tetapi juga berkaitan dengan penerimaan terhadap orang lain. Rohner (2002) mengatakan bahwa penerimaan orang tua adalah sikap orang tua yang mampu merasakan dan mengekspresikan cinta, kasih sayang, perawatan, kenyamanan, dukungan, serta pengasuhan terhadap anak-anak mereka. Selain itu, orang tua yang menerima anaknya adalah orang tua yang mengakui keterbatasan yang dimiliki anak dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan tanpa memaksakan kehendak pada anak (Isack Kandel dan Joav Merrick, 2007). Shaffer (2009) mendefinisikan penerimaan orang tua sebagai perilaku orang tua yang memberikan dukungan dan kasih sayang berupa senyuman, pujian, kehangatan, dorongan serta sikap kritis yang membangun kepada anak-anaknya. Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan orang tua merupakan sikap orang tua yang memberikan kasih sayang, kenyamanan, kehangatan, pengasuhan, dukungan, dorongan dan sikap kritis yang membangun kepada anak-anaknya. 2. Tahap Penerimaan Orang Tua Hadjiyiannakaou,dkk (2007) mengatakan ada beberapa fase atau tahapan yang dilalui oleh orang tua sebelum akhirnya orang tua mampu menerima bahwa anak memiliki kebutuhan khusus. Tahapan tersebut adalah :

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 a. Shock Terkejut adalah reaksi pertama yang muncul ketika orang tua mengetahui bahwa anak mereka memiliki anak berkebutuhan khusus. Perasaan shock ini dapat berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Selain itu, perasaan terkejut ini kadang berdampak negatif pada fisik seseorang seperti tubuh lemas, dingin, dada sesak, mual dan hampir pingsan. b. Denial, merasa tidak percaya Orang tua tidak percaya dan menyangkal kenyataan yang ada dengan berusaha mencari diagnosis lain. Pada fase ini juga memberikan waktu bagi orang tua untuk menyesuaikan diri dengan situasi. c. Anger Fase ini ditunjukkan dengan cara orang tua mencari penyebab mengapa anaknya memikili kebutuhan khusus. Di tahap ini, orang tua juga cenderung untuk mencari orang lain untuk disalahkan seperti dokter, terapis, keluarga, teman-teman bahkan kepada anak kandung. d. Sadness Perasaan sedih ini biasanya mengikuti kemarahan dan reaksi lainnya seperti proses adaptasi. Reaksi sedih ini dikarenakan orang tua berduka atas hilangnya harapan memiliki anak normal. Ataupun berduka atas ketidakmampuan anak memenuhi harapan dan ambisi orang tua.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 e. Detachement Pada tahap ini, orang tua merasa kosong dan tidak ada masalah. Orang tua kehilangan makna dalam menjalani kehidupannya. Reorganization f. Fase ini ditandai dengan adanya pandangan tentang kenyataan yang dihadapi dan adanya harapan untuk masa depan bagi orang tua ataupun anak. g. Acceptance Pada fase ini orang tua sepenuhnya menyadari tentang kondisi anak dan berusaha memberikan kebutuhan bagi anak. 3. Aspek – aspek Penerimaan Orang Tua Hurlock (1978) mengatakan bahwa penerimaan orang tua ditandai dengan adanya kasih sayang dan perhatian yang besar pada anak serta memperhatikan perkembangan kemampuan dan minat anak. Penerimaan orang tua ini meliputi beberapa aspek yaitu : a. Berpartisipasi dalam kegiatan anak b. Memikirkan dan berusaha untuk meningkatkan perkembangan anak c. Memenuhi kebutuhan baik secara fisik maupun psikis d. Menjalin komunikasi secara baik dan bijak e. Tidak membedakan dan membandingkan dengan anak lain f. Memberikan bimbingan, semangat dan motivasi g. Menjadi teladan bagi anak dengan cara berperilaku baik

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 h. Tidak menuntut atau memaksakan kehendak pada anak Isack Kandel dan Joav Merrik (2007) menyebutkan ada 4 karakteristik dalam proses penerimaan orang tua : a. Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, keterampilan, kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendaknya pada anak. b. Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak ; Orang tua tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri sendiri c. Orang tua mencari solusi untuk membantu perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus d. Orang tua yang menerima anak berkebutuhan khusus sanggup dan dapat memberikan cinta dan kasih sayang serta perlindungan yang wajar pada anak. Dari beberapa uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat 4 aspek dalam penerimaan diri orang tua yaitu: a. Pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, ketrampilan, kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendanya pada anak dan tidak membedakan atau membandingkan dengan anak lain.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 b. Pandangan terhadap anak Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak ; Orang tua tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihini diri sendiri c. Usaha membantu perkembangan anak Orang tua berpikir dan berusaha mencari solusi untuk membantu perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus d. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak Orang tua sanggup dan dapat memberi cinta, kasih sayang dan perlindungan yang wajar pada anak yang meliputi memenuhi kebutuhan fisik maupun psikis, berpartisipasi dalam kegiatan anak, memberikan bimbingan, semangat dan motivasi, menjalin komunikasi secara baik dan bijak . 4. Faktor yang mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus Menurut Sarasvati (dalam Moningsih, 2012) terdapat beberapa hal yang mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap kondisi yang dialami anak, seperti : a. Dukungan Keluarga Besar Dukungan keluarga besar bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus sangat penting. Hal ini dikarenakan dengan adanya dukungan tersebut orang tua merasa tidak sendirian karena

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 memiliki tempat bersandar sehingga orang tua menjadi lebih kuat dalam mengahadapi kondisi yang dialami anak. b. Status Ekonomi Status ekonomi menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penerimaan orang tua. Orang tua yang memiliki status ekonomi menengah atas memiliki kesempatan untuk memberikan fasilitas yang lebih baik untuk kesembuhan dan perkembangan anak. c. Agama Orang tua yang memiliki latarbelakang agama yang kuat cenderung lebih menerima kondisi yang dialami anak. Hal ini dikarenakan adanya keyakinan dan kepercayaan bahwa ada hikmah dibalik cobaan yang dialami. d. Sikap para ahli Ahli dalam konteks ini adalah orang-orang yang memberikan diagnosis anak seperti dokter dan psikolog. Sikap yang ditunjukkan para ahli dapat membuat orang lain merasa dihargai, dimengerti ataupun sebaliknya. e. Tingkat Pendidikan Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung lebih cepat menerima kondisi anak dan segera berpikir dan berusaha mencari solusi untuk membantu perkembangan anak.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 f. Status Perkawinan Status perkawinan juga mempengaruhi bagaimana orang tua menerima kondisi yang dialami anak. Status perkawinan yang harmonis memudahkan orangtua untuk saling menguatkan dalam mengahadapi kondisi yang dialami anak. g. Sikap Masyarakat Sikap, pandangan dan pengetahuan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus berpengaruh terhadap sikap orang tua dalam menerima kondisi anak. Kurangnya pengetahuan dan semakin rendahnya pandangan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, membuat orang tua menjadi semakin sulit menerima kondisi anak. h. Usia orang tua Kedewasaan dan kematangan usia orangtua berpengaruh terhadap sikap orang tua menerima kondisi. Orang tua yang lebih dewasa dan matang cenderung lebih mudah untuk menerima kondisi anak karena adanya ketenangan dalam menghadapi permasalahan yang dialami. i. Fasilitas penunjang Adanya fasilitas penunjang yang lengkap dan memadai memudahkan orang tua dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Fasilitas penunjang tersebut seperti tempat konseling, tempat terapi, sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, dan tenaga medis.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 5. Dampak dari Penerimaan Orang Tua Penerimaan dan penolakan orang tua terhadap anak memberikan pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak (Rohner, 2002). Anak-anak yang mengalami penerimaan akan memandang dunia secara positif sehingga mampu bersosialisasi dengan baik, kooperatif dan ramah. Penerimaan ini membuat anak memiliki emosil yang stabil dan menjauhi perilaku menyimpang. Roger (dalam Schultz, 1997) mengatakan bahwa penerimaan tanpa syarat dengan cara memberikan cinta dan kasih sayang pada anak, membuat anak memiliki kepribadian yang sehat. Anak menjadi lebih menghargai dirinya, tidak bertingkah laku defensif, adanya keharmonisan antara diri dan persepsinya terhadap kenyataan dan terbuka pada semua pengalaman serta dapat mengembangkan seluruh potensi dalam dirinya. Shaffer (2009), mengatakan bahwa dengan adanya penerimaan dari orangtua maka akan terjalin ikatan emosional yang baik dan aman bagi anak. Se\lain itu dengan adanya penerimaan orangtua, anak-anak akan melakukan hal yang membuat orang tua senang. Anak-anak juga termotivasi untuk belajar dan melakukan halhal yang menjadi keinginan dan harapan orang tua. Berdasarkan pendapat para ahli dapat dikatakan bahwa penerimaan orang tua membawa dampak yang baik bagi perkembangan kepribadian anak. Adanya penerimaan orang tua pada anak membuat anak – anak berpikir positif terhadap dirinya dan dunia sehingga anak

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 tidak merasa rendah diri, mampu menjalin hubungan antar manusia dan mampu mengembangkan kemampuan dalam dirinya. C. Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus Kehadiran anak ditengah-tengah keluarga merupakan suatu hal yang sangat dinantikan dan membahagiakan. Namun, kebahagiaan ini dapat berubah menjadi hal yang kurang menyenangkan apabila anak yang dinantikan terlahir dengan keadaan yang tidak seperti anak pada umumnya atau memiliki kebutuhan khusus. Keadaan ini menjadikan beban berat bagi orang tua baik secara fisik ataupun mental. Beban orang tua semakin bertambah ketika harus menghadapi pandangan masyarakat yang masih memandang sebelah mata anak-anak yang berkebutuhan khusus. Anak – anak berkebutuhan khusus ini memiliki ciri khas tertentu baik secara fisik, sosial emosi maupun akademik yang membedakannya dengan anak – anak pada umumnya. Keadaan anak yang seperti ini membuat orang tua merasa tidak percaya, sedih, merasa bersalah, kecewa, marah dan menyangkal. Selain itu, tindakan yang dilakukan orang tua akan berpengaruh pada bagaimana penerimaan orang tua terhadap anak. Tidak mudah bagi orang tua untuk langsung menerima kondisi yang dialami anak –anak. Mereka mengalami proses yang sangat sulit hingga akhirnya mereka sampai pada tahap menerima. Perasaan terkejut dan tidak percaya akan kondisi anak, adanya penyangkalan bahwa mereka memiliki anak berkebutuhan khusus, perasaan marah, kecewa dan mulai putus asa merupakan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 proses yang mereka alami hingga pada akhirnya mereka mampu menerima kenyataan dan kondisi yang anak mereka. Dalam proses penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus, beberapa faktor turut berpengaruh dalam munculnya penerimaan ini. Faktorfaktor tersebut meliputi dukungan keluarga dan sosial, status ekonomi, tingkat religiusitas, tingkat pendidikan, sikap para ahli, status perkawinan, sikap masyarakat, usia orang tua, dan fasilitas penunjang (Rachmayanti,S., dkk : 2007). Di Indonesia sendiri terdapat beberapa faktor yang cukup berpengaruh pada penerimaan orang tua seperti status ekonomi, tingkat pendidikan, usia orang \tua dan sikap masyarakat. Bagi orang tua yang memiliki tingkat ekonomi tinggi, dapat ikut membantu dalam memberikan terapi dan pengobatan bagi anak (Rachmayanti,S. dkk ; 2007). Tingkat pendidikan juga ikut berpengaruh pada proses penerimaan orang tua. Orang tua dengan pendidikan ya\ng tinggi akan mencari informasi tentang kondisi anak dan mencari pengobatan terbaik bagi anak (Moningsih, 2012). Usia orang tua juga berpengaruh dalam penerimaan terhadap kondisi anak. Orang tua yang lebih dewasa dan matang cenderung akan lebih tenang dalam mengahadapi cobaan sehingga lebih bisa memahami dan menerima kondisi anak (Rachmayanti,S. dkk ; 2007). Selain itu, pandangan masyarakat juga ikut berpengaruh dalam penerimaan orang tua terhadap kondisi yang dialami anak. Masyarakat cenderung memandang sebelah mata anak – anak berkebutuhan khusus. Masyarakat menganggap bahwa anak memiliki kebutuhan khusus merupakan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 aib dan kutukan sehingga masyarakat cenderung menghindar, menolak hingga bertindak tidak wajar (Widarningsih, 2011). Dalam hal penerimaan, masyarakat cenderung mudah menerima anak – anak dengan cacat fisik daripada menerima anak-anak yang keterbelakangan mental (Semiun, 2006). Hal ini semakin membuat orang tua dengan anak dengan cacat mental semakin sulit. D. Pertanyaan Penelitian Dari uraian diatas, maka timbul pertanyaan penelitian tentang bagaimana gambaran penerimaan orang tua yang memiliki anak dari masingmasing kebutuhan khusus fisik, sosial emosi dan akademik serta mengetahui apakah terdapat perbedaan penerimaan orang tua dengan jenis kecacatan anak yang berbeda-beda.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Dalam penelitian penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus ini, peneliti mengunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena yang dialami subjek secara holistik dengan cara mendiskrispsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, dalam konteks ilmiah serta menggunakan dan memanfaatkan metode ilmiah (Moleong, 2007). Penelitian kualitatif ini digunakan karena metode kualitatif diharapkan dapat memberikan suatu penjelasan yang detail dan terperinci tentang permasalahan yang diteliti. Selain itu, pendekatan kualitatif mempertimbangkan suatu fenomena yang memiliki arti dan makna tertentu yang sulit diungkapkan secara kuantitatif. Hal tersebut sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengetahui secara mendalam, menggambarkan dan menganalisis penerimaan orang tua terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus. 28

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 B. Fokus Penelitian Penerimaan orang tua merupakan sikap orang tua yang memberikan kasih sayang, kenyamanan, kehangatan, pengasuhan, dukungan, dan sikap kritis yang membangun kepada anak-anaknya. Penerimaan orang tua meliputi empat aspek yaitu penerimaan pada kelebihan dan kekurangan anak, adanya perasaan penerimaan, usaha membantu perkembangan anak dan pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Data penerimaan orang tua dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dengan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus baik secara fisik, mental dan akademik. C. Subjek Penelitian Dalam pengambilan subjek, peneliti menggunakan purposive sampling dimana subjek penelitian tidak diambil secara acak melainkan disesuaikan dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti yang disesuaikan dengan permasalahan yang diteliti. Adapun kriteria tersebut adalah orang tua (ayah atau ibu) dari anak yang memiliki kebutuhan khusus baik secara fisik, mental dan akademis dan tinggal dengan anak dalam satu rumah. Untuk mendapatkan subjek yang sesuai kriteria, peneliti berkonsultasi dengan guru dimasing-masing jurusan. Guru kemudian memilihkan beberapa calon subjek penelitian. Setelah melakukan pendekatan dan kesedian kepada calon subjek, peneliti kemudian

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 mendapatkan delapan subjek penelitian. Kedelapan subjek tersebut terdiri dari satu orang ibu yang anaknya mengalami cacat ganda, satu orang ibu dengan anak tunadaksa, satu pasang orang tua dengan anak autis, satu orang ibu dengan anak autis, satu orang ibu dengan anak down syndrom, serta satu pasang orang tua dengan anak tunagrahita. D. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian kualitatif tentang penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus, pengumpulan datanya menggunakan metode wawancara. Poerwandari (1998) mendefinisikan wawancara sebagai percakapan berupa tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam penelitian ini, penggunaan wawancara dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai makna-makna subjektif yang dipahami dan melakukan eksplorasi mengenai penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus (Banister dalam Poerwandari, 1998). Penelitian ini menggunakan jenis wawancara semi terstruktur dimana dalam pengambilan datanya peneliti menggunakan seperangkat pertanyaan baku akan tetapi tidak menutup kemungkinan jika pertanyaan yang diajukan disesuaikan dengan kondisi dan situasi dari subjek. Dalam \penelitian ini, peneliti membuat pedoman wawancara yang mengacu pada definisi penerimaan orangtua, aspek penerimaan, penyebab dan karakteristik anak berkebutuhan. Selain itu, juga digunakan prinsip

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 dasar teori kognitif yang menyatakan bahwa pikiran berpengaruh pada perasaan dan tindakan seseorang. Dari acuan di atas maka peneliti kemudian menggali beberapa hal seperti : Tabel 3.1 Daftar Pedoman Wawancara No Aspek 1. Latar Belakang 2. Indikator Penerimaan 1 : Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, ketrampilan, kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendaknya pada anak dan tidak membedakan atau membandingkan dengan anak lain 3. Indikator Penerimaan 2 : Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak sehingga orang tua tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri sendiri Indikator Penerimaan 3 : Orang tua berpikir dan berusaha mencari solusi untuk membantu perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus 4. Pernyataan a. Awal mula orang tua mengetahui anak memilki kebutuhan khusus b. Perasaan orang tua saat itu c. Pikiran orang tua saat itu a. Gambaran orang tua terhadap anak kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak b. Harapan orang tua terkait kondisi anak tersebut c. Hal yang dilakukan orang tua agar anak dapat memenuhi harapan tersebut d. Sikap orang tua terhadap kondisi anak dibandingkan dengan anak lain pada umumnya a. Perasaan orang tua melihat kondisi anak saat ini b. Pikirkan orang tua melihat kondisi anak saat ini a. Perkembangan anak saat ini b. Harapan orang tua terkait dengan perkembangan anak* c. Upaya yang dilakukan orang tua terhadap perkembangan anak*

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 a. Hal – hal yang diberikan pada anak sebagai orang tua b. Kegiatan yang dilakukan saat bersama anak c. Hal – hal yang penting diterapkan atau ditanamkan orang tua pada anak d. Cara orangtua mengajarkan anak agar dapat membiasakan hal tersebut e. Hal – hal yang dikomunikasikan orang tua pada anak f. Cara orang tua memberikan penjelasan, nasihat dan larangan bagi anak *dapat diperoleh dari pertanyaan no 2a dan b 5. Indikator Penerimaan 4: Orang tua mampu menerima, memberi kasih sayang dan perlindungan yang wajar pada anak meliputi : a. Memenuhi kebutuhan fisik maupun psikis b. Berpartisipasi dalam kegiatan anak c. Memberikan bimbingan, semangat dan motivasi pada anak d. Menjalin komunikasi secara baik dan bijak E. Metode Analisis Data Menurut Moleong, dalam bukunya berjudul metodologi penelitian kualitatif (1989) yang dimaksud dengan analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Dalam penelitian ini langkah-langkah yang digunakan untuk analisis data adalah 1. Pengumpulan data Semua data yang ada di penelitian ini diambil dengan wawancara dengan subjek

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 2. Mereduksi data Reduksi data adalah bentuk analisis yang memilih, menggolongkan, mengarahkan, dan mengorgansasikan data (Miles, 1992). Pada penelitian ini data yang telah dikumpulkan diberi kode kemudian dipilih sesuai dengan fokus penelitian. Data itu kemudian diorganisasikan dan digolongkan dalam tema atau kategori tertentu. 3. Mengintepretasikan Informasi yang telah tersusun kemudian di intepretasikan dengan cara menghubungan dengan teori yang digunakan. Setelah itu dapat ditarik kesimpulan F. Uji Keabsahan Data Dalam penelitian kualitatif terdapat berbagai cara untuk menguji keabsahan suatu data seperti perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan melalui diskusi, pengecekan anggota, uraian rinci dan audit kebergantungan (Moleong, 2007). Pada penelitian ini, uji keabsahan data menggunakan cara melakukan pengecekan melalui diskusi. Diskusi ini dilakukan bersama dosen pembimbing dengan cara peneliti memaparkan hasil sementara dan hasil akhir penelitian. Diskusi ini bertujuan untuk melihat kebenaran hasil penelitian serta dan mencari kekeliruan peneliti dalam interpretasi dengan klarifikasi penafsiran dari dosen pembimbing.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Pengambilan Data 1. Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan di SLB Negeri 1 Bantul yang terletak di Jalan Wates Km 3 Kalibayam Yogyakarta. SLB Negeri 1 Bantul memiliki lima jurusan pendidikan yaitu, SLB A untuk siswa tunanetra, SLB B untuk siswa tunarungu, SLB C untuk siswa tunagrahita, SLB D untuk siswa tunadaksa dan Autis untuk siswa ADHD dan autis. Tingkatan pendidikan di sekolah ini disesuaikan dengan jurusannya. Untuk jurusan A, B, C dan D terdapat tingkat pendidikan TK, SD, SMP dan SMA, sedangkan untuk jurusan Autis hanya terdapat tingkat pendidikan SD. Dalam proses pengambilan data, setelah mendapatkan ijin dari pihak sekolah peneliti kemudian melakukan pendekatan pada subjek dan menanyakan kesediaan untuk diwawancara guna memberikan data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut adalah daftar pelaksanaan wawancara langsung dengan subjek : 34

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Tabel 4.1 Daftar Pelaksanaan Wawancara Langsung dengan Subjek No Nama Subjek 1 SU 2 AG 3 W 4 SB 5 RK 6 ST 7 RKa 8. MJ Hari / Tanggal Waktu Tempat Senin, 7 Oktober 2013 Senin,21Oktober 2013 Senin, 7 Oktober 2013 Senin,21Oktober 2013 08.03 - 08.37 08.10 - 08.41 09.00 - 09.24 09.10 - 09.43 Rabu,30 Oktober 2013 08.22 - 09.03 Halaman Sekolah Halaman Sekolah Halaman Sekolah Sabtu,16 November 2013 Sabtu,16 November 2013 Rabu,23 Oktober 2013 Kamis, 31 Oktober 2013 Kamis, 14 November 2013 Sabtu, 23 November 2013 10.13 - 10.45 09.25-10.00 Kolam Renang Sekolah 08.15- 08.47 Halaman Sekolah 08.28-09.12 Aula Sekolah 08.15- 08.54 Depan Kelas TK 16.09-16.27 Rumah Subjek 2. Data Subjek Kedelapan subjek merupakan orang tua kandung dari anak yang memiliki kebutuhan khusus dan tinggal bersama dalam satu rumah. Meskipun demikian, kedelapan subjek memiliki usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jumlah anak, jenis kelamin anak dan usia anak yang berbeda-beda. Berikut identitas subjek penelitian :

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Tabel 4.2 Identitas Subjek Penelitian Inisial JK* Usia Pendidikan 1 SU P 46th SMP 2 AG P 46th SMA Pekerjaan Buruh Buruh Jumlah 1 anak 1 anak Anak Inisial ABK R N JK* P P Usia 15th 11th Kecacatan Ganda Fisik Keterangan * : JK : Jenis Kelamin P : Perempuan L : Laki – Laki 3 W P 32th D3 Ibu Rumah Tangga SUBJEK 4 5 SB RK L P 32th 36th S1 D3 Polisi Wiras wasta 6 ST P 35th SMA Ibu Rumah tangga 7 RK P 37th SMA 8 MJ L 39th SMA Wiraswasta 2 anak 3 anak 3 anak 2 anak B L 10th Autis L P 9th Autis D P 8th Grahita D L 7th Grahita B. Hasil Penelitian 1. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki Kebutuhan Khusus secara Fisik Terdapat dua subjek yang memiliki anak dengan kecacatan fisik. Latar belakang anak memiliki kecacatan pada setiap subjek berbeda. Pada subjek satu, anak tidak hanya memiliki kecacatan fisik tetapi juga kognitif. Kecacatan anak disebabkan karena anak mengalami kejang setelah disuntik akibat tidak menangis saat lahir. Sedangkan pada subjek dua, kelumpuhan kaki anak disebabkan karena tulang punggung anak bengkok akibat kecelakaan yang dialami pada saat umur satu tahun.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Penerimaan pada subjek satu dan dua terhadap kondisi anak dapat dilihat dari empat aspek yaitu : a. Adanya Pemahaman akan kelebihan dan kekurangan anak Penerimaan orang tua tidak hanya dapat menerima kondisi anak tetapi juga dapat memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendaknya pada anaknya dan tidak membedakan serta membandingkan dengan anak lain. Dalam penelitian ini, kedua subjek yang memiliki anak dengan cacat fisik mengetahui dan memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak, seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut : “Alhamdullilah,, sudah banyak perkembangannya. Cuma pikirannya juga kena kan itu. Saraf otaknya juga kena. Jadi pikirannya kaya anak kecil itu.” (S1, b.93-97) “Untung anak saya tidak minder,, saya .. saya .. umbar aja terserah anaknya,, lok misal anaknya gak jalan ya brangkang ya silahkan. Tapi memang kalau sampai jauh-jauh saya gak boleh karena kalau kepanasan kan ininya sakit” (S2, b.53-59) Pemahaman subjek satu dan subjek dua terhadap kelebihan dan kekurangan anak, membuat kedua subjek tidak memaksakan kehendaknya pada anak. Kedua subjek memiliki harapan yang sama untuk anak yaitu agar anak dapat mandiri, seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut :

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 “Ya cuma mudah-mudah an bisa mandiri aja. Penginnya dia itu mandiri aja. Ndak nuntut gimana-gimana itu ndak.” (S1, b.52-54) “Ya bisa mandiri”...... Mandi sendiri, makan sendiri, bermain sendiri bisa meskipun harus pake walker” (S2, b.124; b.126-127) Pada subjek satu, pemahaman subjek terhadap kelebihan dan kekurangan anak membuat subjek tidak menaruh harapan yang tinggi pada anak, seperti yang dikatakan dalam wawancara berikut : “Gak ada perkembangannya kalau disini uda bertahun-tahun. Ya diselesaikan. Tapi saya berjuang gimana supaya. Saya tu gak nuntut apa akademik gak pernah nuntut yang penting anak saya disekolahan itu senang. Gitu aja. Biar pun mau dimasukkan dikelas mana aja monggo. Itukan dulu dari kelas 3 langsung dimasukkan di kelas 6. 6 di ikutkan ujian. Ujian masuk SMP . Kan dipercepat. Saya susahnya besok kalau keluar giman iki anakku hahahaha Saya gak pernah nuntut akademik. Dia terbatas to pemikirannya.” (S1, b.344-357) b. Pandangan terhadap anak Pandangan realistis terhadap anak membuat subjek dua bersikap untuk tidak menyembunyikan keadaan anak pada orang lain. Dengan sikap seperti itu juga membuat subjek dua tidak diliputi perasaan bersalah pada diri sendiri, seperti yang diungkapkan pada wawancara berikut : “Enggak, ya sudah memang keadaan anak saya seperti itu ya tidak harus saya sembunyikan. Kalau harus saya sembunyikan saya yang salah. ................. Tapi saya tidak harus menyembunyikan, toh saya sembunyikan orang juga pada tahu. Daripada malu besok-besok , mending dah keadaan an anak saya gini. ............ “ (S2, b.131-134 ; b.139-143)

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Berbeda dengan subjek dua, bagi subjek satu kurang adanya pandangan realistis terhadap kondisi anak terjadi ketika subjek satu mengetahui kondisi anak sehingga hal ini membuat subjek satu diliputi perasaan sedih, kecewa dan menyesal pada diri subjek. Hal ini seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut : “Ya iya, anak normal, pertumbuhannya normal tapi og gak bisa apa-apa ya rasanya tu gimana. Apalagi kalau liat anak lainlainnya itu gitu. Og anak saya seperti ini dulu. Ya rasa anu kan ada to rasa e gimana ya (S1, b43-48) Kesulitan subjek dalam memiliki pandangan realistis terhadap kondisi anak juga dipengaruhi sikap masyarakat yang memandang negatif kondisi anak. Hal ini seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut : “Ya kalau diliat orang ya mengganjal ya mba. Liatnya itu kadang-kadangkan dia itu liat kasihan ato liat ngejek, kadangkadangkan gitu to? Banyak an orang kalau anak-anak kek gini diliatin orang kan ibunya merasa kesinggung gitu lho. Apalagi kalau ditanya udah gede kok gendongan mesti ada kan gitu” (S1, b.191-198) c. Adanya usaha membantu perkembangan anak Orang tua yang mampu menerima kondisi anak akan berpikir dan berusaha membantu perkembangan dan meningkatkan kemampuan anak. Dalam penelitian ini kedua subjek berpikir dan berusaha mencari solusi untuk perkembangan anak. Usaha yang dilakukan kedua subjek tidak hanya memberikan pengobatan medis tetapi juga pengobatan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 alternatif bagi anak, seperti yang dikemukakan subjek satu dan subjek dua dalam wawancara berikut : “Dari awal saya udah kemana-mana cari alternatif ya dokter, tapi nyatanya kaya ya gimana lagi. Sampai sekarang saja kan masih terapi masih rutin. Jadi orangtua tu dah kurang-kurang mengusahakan anaknya sampai bisa mandiri.” ( S1, b.213-219) “Pada saat itu bagaimana cara supaya bisa jalan seperti anakanak yang lain. Akhirnya saya usahakan entah ke alternatif saya jalani, ke dokter juga saya jalanni” (S2, b.44-48) Pemikiran untuk membantu perkembangan anak didasari oleh perasaan cemas dan khawatir tentang masa depan anak, seperti yang dikemukakan subjek dua dalam wawancara berikut: “Yo, juga sempet was-was. Ya perasaannya og jadi anak saya gini. Perasaannya ya gimana lok gak jalan” (S2, b.34-36) d. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis Penerimaan terhadap anak dapat dilihat dari sikap orang tua yang sanggup memberikan cinta, kasih sayang dan perlindungan yang wajar bagi anak yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik maupun psikis, adanya partisipasi orang tua terhadap dalam kegiatan anak serta memberikan bimbingan, arahan dan motivasi pada anak. Dalam penelitian ini, kedua subjek menunjukan kasih sayangnya dengan berusaha memberikan apa yang menjadi kebutuhan anak, seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut :

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 “.....,dia sekarang senang meronce, ya akhirnya,, apa yang dia mau saya turuti mba sekarang. Dia minta ma aku dibeli in tang untuk membentuk kawat ya saya beliin,,” (S2, b.110-114) “walker ,meja, terapi kebutuhan sekolahnya. Semua uda saya penuhi. Kecuali sekarang dia minta laptop saya belum bisa beli ini hehehehe. Ya untung bisa saya penuhi selama saya bisa. Ya cuma sekarangkan dia minta laptop, ya saya dek belum nganu e belum bisa. Sama itu saya mau carikan kaki dia untuk yang sampai dipinggang itu katanya bisa buat dia bisa jalan sendiri.” (S2, b.312-322) Tidak hanya pemenuhan kebutuhan bagi anak, keterlibatan orang tua dalam kegiatan anak merupakan sikap penerimaan orang tua terhadap kondisi anak. Subjek dua terlihat banyak menghabiskan waktu bersama anak. Subjek dua ikut berperan dalam aktivitas yang dilakukan anak terlebih lagi ketika anak belajar, seperti dikemukakan dalam wawancara berikut : “Kadang kalau anaknya bisa ditinggal saya melakukan apa yang harus saya kerjakan. Kalau bisa kalau enggak ya saya nunggu,, sampai sekarang pun dalam kegiatan belajar ya,, meskipun saya pekerjaannya banyak kalau dia, belum belajar,, karena kalau kadang enggak saya tunggui, ya dia terus malas-malas an,, ya saya terus menghentikan pekerjaan saya untuk nemani dia gitu.” (S2, b.71-80) Pada subjek satu, subjek tidak selalu dapat menemani dan ikut berperan dalam kegiatan yang dilakukan anak. Subjek satu hanya dapat menemani anak ketika anak berada di sekolah. Hal ini dikarenakan subjek satu harus membagi waktunya untuk bekerja, seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut : “Sama orang tuanya, sama... ya dirumah aja.ehmm saya kan kalau ini pulang sekolah. Nanti sore jualan. Mbantui apa omnya

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 itu jualan dimalioboro. Jadi sorenya itu disana sampe malam jadi sama yang ke rumah sama orang...mbahnya gitu.” (S1, b.131-138) Meskipun anak-anak memiliki keterbatasan tetapi orang tua tetap mengarahkan, memberikan semangat dan motivasi agar anak dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki, seperti yang dikemukakan oleh subjek dua dalam wawancara berikut : “Yo anu mba, kalau saya ya. Waktunya yo anu, perhatian saya ya waktu dia belajar. ...... . Entah saya mau kerja apa, entah saya mau selesaikan apa kalau jamnya belajar, saya fokus membimbing dia belajar. Itu yang mungkin saat ini masih harus ditunggu.” (S2,b.348-350 ; b.355-360) Meskipun anak memiliki keterbatasan dan kesulitan dalam hal komunikasi, subjek satu tetap menjalin komunikasi sederhana dengan anak dengan bahasa yang senderhana pula, seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut : “Ya kalau komunikasi tetep biasa, lancar”....... “Jarang e dia itu mba. Kalau gak boleh gak ibu ini ini ini,, entuk ra bu kan dia bahasa jawa ya. entuk ra ? Enggak, jangan, jangan maen-maen kaya gitu gak boleh ya dek. Bobok yang bener. Kalau aku mau kerja itukan dia mesti kasih pamit dulu to. Ibu kerja cari opo ? uang . nggo opo? Maem . Gitu dia (tertawa) mesti dia gitu. Ndak boleh apa? Nakal . gitu” (S1,b. 224 ; b.246-258) Berbeda dengan subjek satu, karena subjek dua memiliki anak yang tidak mengalami hambatan dalam komunikasi maka komunikasi yang terjalin antara subjek dua dengan anak cukup baik. Subjek dua

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 mengatakan bahwa anak sering menceritakan kegiatan yang dialami di sekolah, seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut : “Suka cerita. Kalau cocol suka cerita dia. Banyak cerita dia.” (S2, b.257-258) “Ya suka, kadang suka gitu. Kadang ya sambil bercanda aja ya mba. Tak bilangin gini. Anu ma nek aku duwe pacar piye? Kan anak segitu biasa to. Dek entuk mama ki duwe pacar ki kowe entuk tapi ki sekarang nek iso jalan sik. Saya bilang e cuma sambil humor. Nek diskusi sambil humor gitu jadi anak merasa tidak sakit hati ya. Terus anu kowe kan nek wis jalan penak, nendi-nendi piye. Eh ho’o yo ma. Kadang sok betul. Kadang diajak diskusi. Diskusi tapi gak begitu apa mba? tegang mba, sambil bercanda. Soalnya kalau anak diajak diskusi terlalu tegang kadang dia malah merasa takut. Hehahehe. Kalau ngajak diskusi saya sambil canda.” (S2, b.262-281) 2. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus secara Sosial Emosi Subjek kelompok ini adalah sepasang orang tua (subjek tiga dan subjek empat) yang memiliki anak yang mengalami ADHD dan autis, dan seorang ibu (subjek lima) yang memiliki anak autis. Latar belakang anak mengalami autis ini berbeda pada setiap subjeknya. Pada subjek tiga dan subjek empat, kecurigaan kedua subjek pada anak muncul ketika anak berusia dua setengah tahun. Pada umur tersebut anak belum dapat berbicara. Kedua subjek kemudian membawa anak ke rumah sakit dan menjalani pengetesan yang dilakukan oleh psikolog. Hasil pengetesan menunjukkan bahwa anak mengalami autisme dan ADHD. Sedangkan pada subjek lima, kecurigaan subjek pada kondisi anak muncul ketika adanya perilaku hiperaktif sejak anak dapat berjalan. Selain

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 ittu, tidak berkembangnya kemampuan bicara pada anak membuat subjek semakin curiga pada kondisi anak. Semakin lama kemampuan motorik anak tidak diimbangi dengan kemampuan verbalnya, bahkan tidak Subjek kemudian membawa anak ke dokter dan setelah dilakukan pemeriksaan beberapa kali, diketahui bahwa anak mengalami gangguan autis. Subjek mengaku tidak mengalami gangguan saat mengandung anak. Namun, subjek juga mengatakan bahwa subjek memiliki saudara sepupu yang mengalami autisme. Penerimaan pada subjek tiga, subjek empat dan subjek lima terhadap kondisi anak dapat dilihat dari empat aspek berikut : a. Adanya Pemahaman akan kelebihan dan kekurangan anak Subjek tiga dan subjek lima tidak hanya menerima kondisi anak tetapi juga mengetahui dan memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak sehingga subjek tiga dan subjek lima tidak memaksakan kehendaknya pada anak. Hanya kemandirian yang menjadi harapan dan keinginan subjek, seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut : “Harapan saya itu, pokoknya dia mandiri, mandiri itu dia bisa menolong dirinya sendiri. Itukan problem terberatnya anak autis ya mba ya, jadi dia menolong, bantu dirinya entah itu makan, entah itu mandi, entah itu apapun yang terkait dengan apa? bina dirinya, mengelola dirinya. Kemudian baru ke akademik gitu. Itu harapan saya sih bina diri. Ketika bina dirinya sudah bagus, dia akan bisa belajar.” (S5, b.212-222) Penerimaan tidak hanya ditunjukkan dengan memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak tetapi juga dengan tidak

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 membedakan atau membandingan dengan anak lain. Dalam hal ini nampak semua subjek tidak membedakan atau membandingkan anak dengan anak lain, seperti yang dikemukakan subjek tiga dan subjek empat dalam wawancara berikut : “Ya biasa aja sih mba. saya kalau mau dibilang sama dalam arti, saya mandangnya biasa ajakan gitu. Tapikan pemberiannyakan sesuai dengan B kebutuhannya apa, adek apa kan , gak bisa disamain. Tapi lebih sering adeknya yang menyesuaikan kakaknya. Justru malah gitu saya lebih banyak adeknya yang ngikut malahan . Kalau dibeda in ya enggak. Kalau adeknya gak maen, ya kakaknya gak maen.” (S3, b.522-533 ) “.... . Tapi untuk permasalahannya lain-lainnya bersifat kasih sayang gak ada. Sama kita sama in.” (S4, b.222-224) Pada subjek empat, subjek hanya mengetahui apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan anak. Subjek kurang memahami kelebihan dan kekurangan anak sehingga subjek mengharuskan anak untuk mengikuti apa yang menjadi keinginannya. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut : “Harapannya dia bisa membaur ama orang lain. Walaupun dia maapnya ngomongnya autis punya kelebihan khusus dia harus bisa menyesuaikan ama kondisi lingkungan dia. Katakanlah dia bisa bergaul dengan orang pada umumnya . Masalah nanti dia kerja apa kerja apa, yang penting dia bisa gabung dulu ma orang lain. Diterima di masyarakat dan dia bisa menerima gitu lho” (S4, b.105-113) b. Pandangan terhadap anak Penerimaan orang tua terhadap kondisi anak juga ditandai dengan adanya pandangan realistis terhadap anak sehingga tidak

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri sendiri. Dalam penelitian ini diketahui bahwa masing-masing subjek memiliki sikap yang berbeda-beda saat mengetahui bahwa anak memiliki kebutuhan khusus. Diketahui pula bahwa subjek tiga dan subjek empat mampu memiliki pandangan realistis tentang kondisi anak sehingga kedua subjek ini langsung dapat menerima, seperti yang dikemukakan subjek tiga dan subjek empat dalam wawancara berikut: “Karena saya sudah sedikit banyak tau tentang ABK ya lebih cepet nerimanya. Untuk perasaannya saya gak ada masalah ke anaknya, penyesuaian gampang aja. Cara pandang saya seperti itu mau ditanya sekolah di SLB ya di SLB, kenapa ya memang seperti itu gitu lho. Daripada saya maksa in, saya capek juga. (S3, b.341-345) “Perasaan? Ehhmm Diterima, diterima soalnya opo yo? Ya dikasih e kek gitu yo. Kita gak minta, kita kan dikasih berarti secara tak langsung kan, katakanlah berarti saya atau keluarga saya, maksudnya saya ma istri itu pasti punya kelebihan atau ada hikmahnya disitu. Saya tak terima. Mungkin mbanya mikirnya kan apanya opo kaget, opo gimana kan gitu. Enggak, tak terima. Dari awal juga tak terima. Yo udah dikasihnya kek gitu, mo tuker kan gak bisa, iya to?” ( S4, b.19-30) Berbeda halnya dengan subjek lima, subjek ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat memandang realistis kondisi anak sehingga subjek masih diliputi perasaan negatif pada dirinya seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut : “Kebetulan L punya kakak ya dan punya adik terus punya adik. Jadi ya memang... Ya sikap menolak itu pasti ada mba. Menolak bukan menolak anaknya bukan tapi menolak bahwa o ini menolak kenyataan gitu lebih tepatnya. Enggak ah L pasti suatu saat bisa seperti kakaknya. O apa n masa-masa denial itu lama,

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 itu sekitar 3, 4 tahun. Sampai dia... sampai saya terus memutuskan untuk ... kan saya di bina anggita enggak lama karena jamnya gak cocok ya. Dia siang, L waktu itu masih berumur ini. terus saya mulai percaya diri itu waktu di ehmm paud inklusi UGM. Kan ada yang fakultas Psikologi kan ada paud inklusi untuk anak-anak normal dan berkebutuhan khusus itu ada satu lab gitu ya untuk sekolah disana. Gak tahu kalau sekarang, dulu masih, dulu ada. Itu saya mulai percaya diri, mulai menerima dan lama itu mba dan kalau yang namanya sikap penolakan bahwa o L pasti baik-baik saja gitu itu nanti tetap mempengaruhi apa sikap kita ke anak itu. Kadang-kadang e kadang-kadang sikap kita juga enggak selalu yang namanya apa ... yang gak selalu mau nom.. menerima atau baik atau gimana lagi ada sedikit-sedikit menyalahkan yang lain atau menyalahkan anak itu. Sikap tidak bisa nompo gitu lho mba. Susah nompo itu bertahun-tahun, 2, 3 tahun mungkin. Tapi bukan yang, yang terus setiap hari begitu enggak. Saya lebih awere , saya lebih e menyadari sih kalau ini bukan untuk disesali tapi untuk diatasi. (S5, b.111-149) c. Adanya usaha untuk membantu perkembangan anak Orang tua yang mampu menerima kondisi anak akan berpikir dan berusaha membantu perkembangan dan meningkatkan kemampuan anak. Dalam penelitian ini subjek tiga, subjek empat dan subjek lima berpikir dan berusaha mencari solusi untuk perkembangan anak. Pemikiran dan usaha untuk mencari solusi bagi perkembangan anak ini dimulai sejak pertama kali orang tua mengetahui bahwa anak memiliki kebutuhan khusus, seperti yang dikemukakan oleh subjek empat, dalam wawancara berikut : “uhmm ho’o Jalan keluarnya ya harus cari informasi bagaimana menanggulanginya.” (S4, b.35-36)

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Terapi merupakan salah satu upaya yang dilakukan orang tua untuk dapat membantu perkembangan anak. Hal ini dikarenakan subjek menyadari bahwa terapi penting bagi perkembangan anak, seperti yang dikemukakan oleh subjek lima dalam wawancara berikut : “Langsung terapi, langsung terapi mencari terapi . Waktu itu di p3tka dulu, tapi dilalah kan gak gak... dip3tka untuk untuk terapi waktu itu namanya low fast a... abba ya namanya itu abba belum-belum gak ada terapis yang ini. Terus saya ke bina anggita dulu. Jadi L saya masukan ke sekolah terapi bina anggita. Langsung dari sana.” (S5, b.78-86) “........ .Karena terapi itu sebenarnya penting mba. Kaya, kaya perkembagan bagus itu kadang kalau terapinya enggak di rutin, nanti dia tau-tau turun lagi gitu dan sekolah ini pun, dikelas ini pun salah satu terapi juga sebenarnya. “ (S5, b.246-252) Upaya lain yang dilakukan orang tua untuk membantu perkembangan anak adalah dengan mencari informasi tentang apa yang dialami anak dan berkonsultasi dengan para ahli, seperti yang dikemukakan oleh subjek tiga dan subjek empat dalam wawancara berikut : “..... .Begitu tau ee.. respon saya ya langsung nyari gimana tentang autis, gimana tentang penangannya.... (S3, b.39-43) “ehmmm, Ya berpikirnya ya...langsung cari informasilah. Sejauh mana tentang autis Itu sendiri. Apa cuma ADHD. Karena ADHD ada autisnya juga. Saya langsung cari (S3, b.48-53) “Nah, satu sekolah. Kedua mbukak informasi dari internet ataupun kawan-kawan ataupun orang-orang yang berkompeten ataupun tahu tentang masalah ABK. Yang ketiga terapi. Ya gitu. Berarti saling sharing sama orang yang lebih tahu”

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 (S4, b.116-121) d. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak Penerimaan orang tua terhadap kondisi anak, ditunjukkan dengan memberikan cinta, kasih sayang dan perlindungan yang wajar terhadap anak. Pemberian cinta kasih sayang dapat diwujudkan dalam memenuhi kebutuhan fisik maupun psikis, partisipasi orangtua dalam kegiatan anak, dan memberikan bimbingan, arahan dan motivasi. Pada penelitian ini diketahui bahwa semua subjek dapat memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan anak baik secara fisik maupun psikis, seperti yang dikemukakan oleh subjek lima dalam wawancara berikut : “Kebutuhan akan sekolah, akan pendidikan, akan e sampai dengan mainan kalau dan mainan –mainan ini yang edukatif gitu ya. Saya berusaha maksimal untuk, untuk me.. apa? memenuhi kebutuhan L.” (S5, b.283-288) “L itu meskipun seperti cuek tapi butuh elusan setiap hari. Butuh sentuhan, disini atau disini (sambil pegang telapak tangan). Jadi butuh ditemeni. Kalau ditemeni dia sene.... dia sangat seneng sekali. Ketika dia lagi maen game pun kalau ditemeni dia sangat seneng sekali dan saya selalu menemani dia . Selalu. (S5, b.290-298) Tidak hanya pemenuhan kebutuhan bagi anak, keterlibatan orang tua dalam kegiatan anak juga merupakan sikap penerimaan orang tua terhadap kondisi anak. Pada penelitian ini diketahui bahwa subjek tiga dan subjek lima selalu menghabiskan waktu bersama dan terlibat dalam kegiatan anak. Hal ini seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut :

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 “Lebih banyak full sama saya he mba. Kalau misalnya pergi kemana-mana lebih banyak sama saya gitu lho.” (S3, b.221-223) “Saya itu 24 jam, dengan L kalau saya. Karena dia belum bisa sama sekali untuk,, mungkin kalau dia , pokoknya dia harus, harus ada orangtua yang mengawasi, orang dewasa yang mengawasi. Kebetulan saya, karena saya tidak bekerja di institusi jadi saya full sama dia. “ (S5, b.255-262) Pada subjek empat subjek tidak selalu dapat menemani dan ikut berperan dalam kegiatan yang dilakukan anak. Hal ini dikarenakan subjek satu harus membagi waktunya untuk bekerja, seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut : “.......,, satu sisi saya juga kan maafnya ngomokan karier, yang tiap hari gak selalu dirumah. Ibunya yang tiap hari dirumah jugakan tiap waktu, tiap menit setiap menit mau liat B, gitu.” (S4, b.53-57) Meskipun anak-anak memiliki kebutuhan khusus, namun orang tua tetap mengarahkan dan tidak membiarkan anak untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh subjek lima dalam wawancara berikut: “Melarangnya ke hal-hal yang jorok saja sih. Yang perilaku yang, yang aneh misalnya di muka umum. Antara aneh dan jorok anak autis itu jadi kek dimuka umum dia fleping-fleping atau dia cekakak an gitu dia saya larang betul. Biar dia ketika di... nanti dimasyarakatkan dia akan diterima, akan lebih diterima daripada anak autis yang cekakakan gak karuan itu” (S5, b.368-377)

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Dalam hal komunikasi, nampak subjek menjalin komunikasi yang cukup baik dengan anak, seperti yang dikemukakan subjek tiga dan subjek empat dalam wawancara berikut : “Ya apa aja mba”, karena diakan emang kalau untuk ngobrolkan belum, belum lemes ya, belum bagus. Apa yang pas , pas dia nanya saya pancing. Apa pas dia liat apa saya pancing.” (S3, b.230-236) “.....komunikasi entah itu secara lisan ataupun bahasa tubuh....” (S4, b.135-136) “Ngobrol macem-macem mba. Yo kadang kala sekedar omong kosong , pa mane nanya kegiatan sekolah apa aja, tadi sekolah ngapain, atau enggak kemaren gak ada bapak ngapain aja, yo komunikasi biasa.” (S4, b.210-214) 3. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus secara Akademik Subjek kelompok ini adalah seorang ibu (subjek enam) yang memiliki anak down syndrom dan sepasang orang tua (subjek tujuh dan subjek delapan) yang memiliki anak tunagrahita. Latar belakang anak mengalami keterbatasan ini berbeda pada setiap subjeknya. Pada subjek enam, sejak lahir anak sudah memiliki ciri khas anak down syndrome yaitu berwajah mongoloid. Keterlambatan perkembangan yang dialami anak mulai nampak pada umur tujuh bulan. Pada umur tersebut anak belum dapat duduk dan baru dapat duduk setelah anak berumur 14 bulan. Subjek mengatakan bahwa tidak ada permasalahan dalam kandungan subjek, bahkan subjek mengaku melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Pada subjek tujuh dan subjek delapan, keterbelakangan yang dimiliki anak disebabkan karena karena pada saat lahir anak di vaccum kemudian mengalami koma selama lima hari. Setelah sadar anak juga sempat mengalami kejang setelah dimandikan hingga akhirnya anak kembali dirawat di rumah sakit. Penerimaan pada subjek tiga, subjek empat dan subjek lima terhadap kondisi anak dapat dilihat dari empat aspek berikut : a. Adanya Pemahaman akan kelebihan dan kekurangan anak Penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus, orang tua tidak hanya dapat menerima kondisi anak tetapi juga dapat memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendaknya pada anaknya dan tidak membedakan serta membandingkan dengan anak lain. Subjek mengetahui dan dapat memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak, seperti yang dikemukakan subjek enam dan subjek tujuh dalam wawancara berikut: “....... Kan diakan susah berkembang kalau berpikir, suruh angka 1 angka 2 kan susah. Gak masuk-masuk. Emang otaknya ibaratnya kurang hehehe jadi ya gimana lagi.....” (S6, b.88-92) “Sekarang belum terlalu bisa mandiri, jauh banget mba. Yang saya mau, target saya kalau dia kan dikejar pendidikannya kan gak mungkin.” (S7, b.55-58)

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Pemahaman subjek terhadap kemampuan dan keterbatasan anak ini membuat sebagian besar subjek tidak memaksakan kehendaknya pada anak. Bahkan ada beberapa subjek yang tidak menaruh harapan yang tinggi pada anak. Sebagian besar subjek memiliki harapan dan keinginan yang sama yaitu agar anak dapat mandiri, seperti yang dikemukakan subjek enam, subjek tujuh dan subjek delapan dalam wawancara berikut : “Ya kemandirian itu sama apa ya, sama bakatnya lah dikembangkan gitu.. Kan D sukanya nyanyi , kepengennya dia berkembang ya nyanyi . Kan diakan susah berkembang kalau berpikir, suruh angka 1 angka 2 kan susah gak masuk-masuk. Emang otaknya ibaratnya kurang hehe jadi ya giman lagi. Paling kita ya dikembangkanlah bakatnya.” (S6, b.85-93) “Inikan sampai sekarang baru bisa jalan ya, ngomongnya masih ma ma ma. Vokalnya belum terbentuk. Yang saya mau dia bisa mandiri. Minimal mandi sendiri, cebok sendiri, ganti baju sendiri, ganti baju sendiri gitu. Dia belum bisa.” (S7, b.60-66) “...... . Saya pengin dia mandiri dulu lah mba.Gak ngantungi hidup sama ibu bapaknya terus atau gantungin diri ke adeknya. Saya pengen dia mandiri kalau dia sudah bisa mandiri terutama ngurus keperluan diri sendiri kan enak. Nanti kalau dia sudah bisa mandiri, baru mengembangke kemampuan atau minat yang dipengeni.” (S8. b,107-117) Penerimaan tidak hanya ditunjukkan dengan memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak tetapi juga dengan tidak membedakan atau membandingan dengan anak lain. Dalam hal ini nampak semua subjek tidak membedakan atau membandingkan anak

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 dengan anak lain, seperti yang dikemukakan subjek delapan dalam wawancara berikut : “Saya gak beda in mba. Saya kasih opo yo perhatian yang sama. Gak tak beda in mba, wong sama-sama anak saya. Ya main bareng, satu tak beliin apa ya yang satunya juga tak beliin. D tak ajak kemana ya adiknya ikut.” (S8, b.195-197) b. Pandangan terhadap anak Pada subjek enam dan subjek delapan, mampu untuk memahami dan mengerti tentang kondisi anak sehingga kedua subjek ini mampu memandang realistis kecacatan yang dimiliki anak. Kemampuan subjek enam dan delapan ini membuat kedua subjek menunjukkan sikap pasrah dan menerima kondisi anak, seperti yang diungkapkan dalam wawancara berikut : “Ya, gakpapa sih gak masalah (tertawa) udah titipan kan. Mau apalagi, mau dibalik in juga gak bisa gitu, ya udah sabar apa ya menerima lah.” (S6, b.22-25) “Enggak mba, ya biasa aja. Enggak sedih langsung terima mba. Enggak marah, enggak sedih, biasa aja.” (S8, b.22-25) Berbeda dengan subjek enam dan delapan, bagi subjek tujuh kurang adanya pandangan realistis terhadap kondisi anak terjadi ketika subjek tujuh mengetahui kondisi anak sehingga hal ini membuat subjek tujuh diliputi perasaan sedih, kecewa dan menyesal pada diri subjek. Hal ini seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut : “Ya sedih banget to mba. Namanya juga anak, ya sedih. Belum pernah dikeluarga kita ada yang kaya gini kan. ..... ”

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 (S7, b.19-21) “Ya, piye mba’. Jelasnya aku ya sedih mba. Apalagi kalau dia dihina ya ama orang gitu . Dalam hati saya og anak saya gak sama dengan anak yang lain gitu to.” (S7, b.182-185) c. Adanya usaha membantu perkembangan anak Penerimaan subjek juga ditunjukkan dengan adanya pemikiran dan upaya yang dilakukan subjek untuk membantu meningkatkan perkembangan dan kemampuan anak. Pemikiran dan usaha untuk mencari solusi bagi perkembangan anak ini dimulai sejak pertama kali orang tua mengetahui bahwa anak memiliki kebutuhan khusus, seperti yang dikemukakan oleh subjek tujuh dan subjek delapan dalam wawancara berikut : “Saya ya langsung, terus terang dikepala saya. Saya harus berusaha bagaimana caranya dapat terapi, pengobatan supaya gak telat, ya. Kalau telatkan kasihan.” ( S7, b.38-41) “....... .Ya habis itu diskusi sama istri tentang keadaan anak, tentang pengobatannya. Memikirkan pengobatannya. Memikirkan yang terbaik buat anak mba.” (S8, b.36-40) Banyak upaya yang dilakukan subjek untuk dapat membatu meningkatkan perkembangan dan kemampuan. Upaya tersebut seperti pengobatan medis, melakukan terapi hingga memenuhi kebutuhan pendidikan subjek melalui sekolah. Hal ini seperti yang diungkapkan subjek enam dan subjek tujuh dalam wawancara berikut :

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 “Gimana ya, ya kita kan sebagai orang tua cuman bisa, apa ya berusalah supaya dia bisa lebih berkembangkan. Saya ngasih terapi dia seminggu sekali gitu” (S6, b.70-73) “Upayanya juga ikut terapi-terapi gitulah. Berusaha ikut terapi sama kita di rumah juga belajar vokal sendiri kaya A...” (S6. b.126-129) “Terapi. Diadakan terapi obat juga, sama terapi okupasi sama itu terapi wicaranya.” (S7, b.97-98) “Harus, kalau gak berobat dia kejang mba. Selama 2 tahun belum bebas kejang ya terus..... Di RS Sardjito, sama dokter Priyo, sebulan sekali mba, harus kontrol terus.” (S7, b.313-315 ; b.317-318) Pemikiran untuk membantu perkembangan anak didasari oleh perasaan cemas dan khawatir tentang masa depan anak, seperti yang dikemukakan subjek enam berikut: “Pikiran kalau udah dewasa itu, mandiri. Takutnya gimana kalau gak ada orangtuanya kan. Kurang mandiri kalau anak kaya gitu. Ya kadang pikiran juga sih aduh gimana” (S6, b.31-35) d. Adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak Penerimaan orang tua terhadap kondisi anak juga ditunjukkan dengan memberikan cinta, kasih sayang dan perlindungan yang wajar bagi anak yang diwujudkan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis, ikut berpartisipasi dalam kegiatan anak serta memberikan bimbingan, arahan dan motivasi pada anak. Pada penelitian ini diketahui bahwa semua subjek dapat memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan anak baik secara fisik maupun psikis, seperti yang

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 dikemukakan oleh subjek tujuh dan subjek delapan dalam wawancara berikut : “Paling dia tak belikan cd film kartun, apa ya biar dia tu gurunya gak cuma saya. Liat ditivi, nanti dia niruin gitu bisa. Kalau yang fisik ya kebutuhan dasar sehari-hari. Gak bisa telat ya mba, khususnya obat kejangnya itu. Kebutuhan kesehatannya itu harus siap oksigen, obat kejang, pempres itu kebutuhan dia full gak boleh telat. Ya gitu lah mba” (S7, b.302-311) “Ya dari makan, pakaian. Untuk anak ya sekolah. Buat D obat. Saya selalu berusaha agar pengobatan D tidak telat. Lebih repot kalau sampai telat untuk kontrol.... Ya, nek saya punya waktu luang saya usahain buat nemenin anak, ngajarin anak sambil main-main. Ngelakuin kegiatan bareng anak lah mba.” (S8, b.189-192) Pemenuhan kebutuhan ini dilakukan karena subjek menyadari bahwa pemenuhan kebutuhan terutama kebutuhan psikis berperan penting dalam perkembangan anak, seperti yang dikemukakan subjek tujuh dalam wawancara berikut: “Terapi... tetep terapi kasih sayang mba dirumah. Yang paling pentingkan itu ya, kita ngajarin sendiri tapi dengan sedikit ngasih hadiah. Misalnya ambil buku, ambil piring, dia bisa kita kasih tepuk tangan. Itu aja senangnya minta ampun. Jadi menurut saya, dokter aja atau obat aja gak cukup kalau orangtuanya gak sayang, gak perhatian menurut saya.” (S7, b.116-125) “Orangtuanya cuek nanti dia gak bisa apa-apa . Nomer satu tetep dari keluarga dulu. Dari keluarga kasih semangat, dipacu kayanya perkembanganya lebih cepet gitu.” (S7, b.172-176) Tidak hanya pemenuhan kebutuhan bagi anak, keterlibatan orang tua dalam kegiatan anak merupakan sikap penerimaan orang tua

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 terhadap kondisi anak. Dalam penelitian ini, subjek menghabiskan waktu bersama dan terlibat dalam kegiatan anak, seperti yang dikemukakan oleh subjek enam dalam wawancara berikut : “Iya, setiap hari pasti sama saya kemana-mana.” (S6, b.147-148) Namun karena adanya tuntutan pekerjaan, membuat subjek delapan tidak dapat selalu menemani dan terlibat dalam kegiatan anak, seperti yang diungkapkan subjek delapan dalam wawancara berikut: “D sama adiknya lebih banyak sama ibunya dirumah. Saya kan harus bekerja mba. Jadi anak-anak lebih banyak bersama ibunya” ( S8, b.224-227) Meskipun anak-anak memiliki kebutuhan khusus, namun orang tua tetap mengajarkan, membimbing, memberikan semangat dan motivasi agar anak dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki, seperti yang diungkapkan subjek tujuh dalam wawancara berikut : “Terapi.... tetep terapi kasih sayang mba dirumah. Yang paling pentingkan itu ya, kita ngajarin sendiri tapi dengan sedikit ngasih hadiah. Misalnya ambil buku, ambil piring, dia bisa kita kasih tepuk tangan. Itu aja senangnya minta ampun.....” (S7,b.116-122) “Ya komunikasi biasa, kek ngajak makan, ngajak maen. Ya yang gampang aja mba, kan anaknya seperti itu, belum bisa diajak ngomong banyak.Ya sambil dilatih untuk ngomong, biar cepat bisa ngmong. Kan belum bisa ngomong juga anaknya.” (S8, b.207-214) Selain itu, orang tua juga mengarahkan,dan tidak membiarkan anak untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan atau

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 norma yang berlaku. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh subjek tujuh dalam wawancara berikut: “Dari umur segini ya, saya ajari ini yang baik dan enggak. Walaupun pelan-pelan, diulang-ulang terus ya. Nanti takutnya anak kegini kan gak tau mana yang memalukan, mana yang boleh mana yang enggak. Kalau kita gak ngiring nanti dikira orang gila mba, padahal gak gila lho. banyakan orang punya penilaian anak seperti ini rada edan gitu . Kan kasihan mba’ orang gak gila kok. (S7, b.183-197) Dalam hal komunikasi, nampak subjek menjalin komunikasi yang cukup baik dengan anak, seperti yang dikemukakan subjek tujuh dalam wawancara berikut : “Gak banyak, belum bisa dia belum menerima dia. Yang sederhana aja. Pokoknya ngobrol sama D tu yang sederhana. Pesawatnya mana pesawat, itu. Pesawat jalannya gimana? Nanati dia niruin ngengg. Sederhana aja misalnya nanti awas jatuh, jatuh sakit. Sakit ya, awas nanti jatuh sakit. Sederhana, gak bisa dibikin... dijelentrehke gitu enggak. Terlalu berat buat dia.” (S7, b.247-257) Namun dalam memberikan perlindungan pada anak, subjek enam terlihat terlalu memberikan perlindungan yang berlebih pada anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara seperti berikut : “Ya kita lebih, prioritas dia sih ke D.Kan dia memang perlu apa, perlu apa itu yang anak kedua itu.” (S6, b.247-250) “Ya, kita dulu in dia apa-apa , makanlah . Kalau dia gak mau baru adiknya ma kakaknya , kalau dia kepengin apa-apa ya dia dulu yang saya usahain gitu” (S6, b.252-255)

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Secara keseluruhan, gambaran penerimaan orang tua terhadap anak yang masing-masing memiliki kebutuhan khusus secara fisik, sosial emosi, ataupun akademik dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.3 Gambaran Penerimaan Orang Tua No Aspek Penerimaan 1. Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, ketrampilan, kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orangtua tidak memaksakan kehendaknya pada anak dan tidak membedakan atau membandingkan dengan anak lain. 2. Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak sehingga orang tua tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri sendiri 3. Orang tua berpikir dan berusaha mencari solusi untuk membantu perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus 4. Orang tua mampu menerima, memberi kasih sayang dan perlindungan yang wajar pada anak meliputi : a. Memenuhi kebutuhan fisik Rangkuman Hasil Penelitian Ke tujuh subjek dalam penelitian ini mampu memahami apa yang menjadi kelebihan, ketrampilan, kelemahan dan keterbatasan anak sehingga tidak memaksakan kehendaknya pada anak. Satu subjek yang belum memahami apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan anak sehingga subjek tersebut mengaharuskan anak untuk memenuhi keinginannya Dalam penelitian ini, sebagian subjek mengatakan bahwa mereka sejak awal menerima kondisi anak sehingga mereka tidak merasa terbebani dan mengasihani diri sendiri. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka tidak dapat langsung menerima keadaan anak sehingga mereka masih terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri sendiri Kedelapan subjek dalam penelitian ini memikirkan dan berusaha mencari solusi untuk membantu perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus Kedelapan subjek dalam penelitian ini mampu memenuhi kebutuhan fisik maupun psikis anak, menjalin komunikasi secara baik dan bijak, serta

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 maupun psikis b. Berpartisipasi dalam kegiatan anak c. Memberikan bimbingan, semangat dan motivasi pada anak d. Menjalin komunikasi secara baik dan bijak memberikan bimbingan, semangat dan motivasi pada anak. Dalam hal berpartisipasi pada kegiatan anak, terdapat lima subjek yang selalu berpartisipasi dalam kegiatan anak. Tiga subjek lainnya tidak selalu dapat berpartisipasi dalam kegiatan anak karena adanya tuntutan pekerjaan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa orang tua dengan anak yang memiliki kecacatan fisik berusaha membantu agar anak mampu meningkatkan perkembangan anak, menenuhi kebutuhan fisik, psikis anak serta memahami kemampuan anak. Hal tersebut juga ditunjukkan pada orang tua yang memiliki anak dengan kecacatan sosial emosi dan yang memiliki anak dengan kecacatan akademik namun dengan cara yang berbeda-beda. Reaksi yang muncul pada masing-masing orang tua pun cenderung sama. Berikut deskripsi penerimaan orang tua berdasarkan jenis kebutuhan khusus : Tabel 4.4 Penerimaan Orang Tua Sesuai Jenis Kecacatan Anak Jenis Kebutuhan Khusus Anak Subjek 1 Fisik 2 3 Sosial Emosi 4 5 Penerimaan Orang Tua* Menunjukkan penerimaan aspek satu, tiga dan empat Menunjukkan penerimaan semua aspek Menunjukkan penerimaan semua aspek Menunjukkan penerimaan dua, tiga dan empat Menunjukkan penerimaan aspek satu, tiga dan empat pada pada pada pada pada

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 6 Akademik 7 8 Menunjukkan penerimaan pada semua aspek Menunjukkan penerimaan pada aspek satu, tiga dan empat Menunjukkan penerimaan pada semua aspek * Keterangan : Aspek satu : Pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak Aspek dua : Pandangan realtistis pada anak Aspek tiga : Usaha membantu perkembangan anak Aspek empat : Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak C. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada delapan subjek yang memiliki anak berkebutuhan khusus baik secara fisk, mental maupun akademik, diketahui bahwa semua subjek menunjukkan adanya penerimaan terhadap kondisi yang dialami anak dengan komposisi berbeda-beda. Empat subjek menunjukkan penerimaan pada semua (empat) aspek yang digunakan peneliti yaitu adanya penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan anak, adanya perasaan penerimaan, adanya usaha membantu perkembangan anak serta adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Tiga subjek menunjukkan penerimaan pada tiga aspek yaitu adanya penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan anak, adanya usaha membantu perkembangan anak dan adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Satu subjek lainnya menunjukkan penerimaan pada tiga aspek yaitu adanya perasaan penerimaan, adanya usaha membantu perkembangan anak dan adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Terdapat empat aspek dalam penerimaan orangtua terhadap anak berkebutuhan khusus yang digunakan peneliti. Dari hasil penelitian

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 menunjukkan bahwa terdapat dua aspek dimana semua subjek menunjukkan penerimaan yaitu aspek tiga dan aspek empat. Terlihat pada aspek yang ketiga, usaha membantu perkembangan anak, semua subjek baik subjek yang memiliki anak dengan cacat fisik, mental maupun akademik memikirkan dan berusaha mencari solusi untuk membantu perkembangan dan kemajuaan anak. Pemikiran dan usaha yang dilakukan semua subjek untuk membantu perkembangan anak dilakukan sejak subjek mengetahui bahwa anak memiliki kebutuhan khusus. Usaha yang dilakukan semua subjek meliputi memberikan pengobatan pada anak baik secara medis maupun alternatif, melakukan terapi secara rutin sesuai dengan kebutuhan anak, mengajarkan bina diri dan memberikan pendidikan akademik bagi anak. Pada aspek empat yaitu mengenai pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak, semua subjek memberikan kebutuhan fisik dan psikis anak dengan cara memenuhi kebutuhan fisik dan psikis, menjalani komunikasi dan memberikan semangat pada anak. Selain itu, subjek juga turut berpartisipasi dalam kegiatan anak. Meskipun demikian ada beberapa subjek yang tidak selalu dapat menemani anak karena adanya tuntutan pekerjaan, seperti pada subjek satu, subjek empat, dan subjek delapan. Pada dua aspek lainnya yaitu aspek satu dan aspek dua diketahui bahwa tidak semua subjek menunjukkan penerimaan pada aspek tersebut. Seperti pada aspek satu diketahui bahwa hampir semua subjek dapat menerima kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki anak. Namun, ada satu subjek yaitu subjek empat yang kurang memahami kelebihan dan kekurangan

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 anak sehingga subjek empat mengharuskan anak untuk menuruti keinginan subjek. Sedangkan pada aspek dua diketahui bahwa terdapat beberapa subjek yang langsung dapat memiliki perasaan menerima kondisi anak. Akan tetapi beberapa subjek lainnya mengalami kesulitan untuk dapat langsung memiliki perasaan menerima kondisi anak. Rachmayanti dkk (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan yaitu faktor tingkat pendidikan, agama, pandangan negatif masyarakat terhadap anak dan status perkawinan. Dalam penelitian ini, penerimaan subjek terhadap kondisi anak juga dipengaruhi oleh beberapa tersebut seperti tingkat pendidikan, agama, status perkawinan dan pandangan negatif masyarakat. Bagi subjek satu, status perkawinan memberikan pengaruh dalam menerima dan memandang kondisi anak. Status single parent membuat subjek satu kesulitan dalam menerima kondisi anak karena tidak ada seseorang membantu menguatkan dalam menghadapi kenyataan. Pandangan negatif masyarakat juga berpengaruh pada penerimaan orang tua terhadap kondisi anak. Hal ini dialami oleh beberapa subjek. Sikap masyarakat yang cenderung merendahkan dan berkesan mengejek membuat beberapa subjek merasa kesulitan untuk menerima apa yang menjadi kekurangan anak. Sikap masyarakat tersebut membuat subjek empat mengharuskan anaknya untuk mengikuti keinginannya yaitu agar anak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan bisa menerima masyarakat.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Tingkat pendidikan juga mempengaruhi penerimaan beberapa subjek terhadap anaknya. Dalam penelitian ini, terlihat bahwa subjek tiga yang memiliki tingkat pendidikan D3 lebih mudah menerima kondisi anak dibandingkan dengan subjek satu yang memiliki tingkat pendidikan SMP. Hal ini juga dikarenakan subjek tiga memiliki latar belakang pendidikan keperawatan sehingga memiliki pengetahuan yang lebih banyak mengenai anak-anak berkebutuhan khusus. Kurang ditunjukkannya penerimaan pada aspek dua oleh sebagian subjek disebabkan karena sebagian subjek tersebut masih berada pada tahap penerimaan yaitu tahap sadness, denial dan anger. Bahkan pada subjek lima diketahui bahwa subjek tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melewati tahap denail dan anger hingga akhirnya mampu mencapai tahap penerimaan. Meskipun penerimaan yang ditunjukkan semua subjek dalam penelitian ini berada dalam komposisi yang berbeda-beda, akan tetapi penelitian ini masih relevan dengan penelitian sebelumnya (Wardhani, dkk.2012; Moningsih, 2012; Pancawati, 2013; Rachmayanti, 2007) yang menyatakan bahwa terdapat penerimaan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, autis ataupun mental retardasi. Berdasarkan hasil penelitian ini , diketahui pula bahwa orang tua dengan anak yang memiliki kecacatan fisik berusaha membantu agar anak mampu meningkatkan perkembangan anak, menenuhi kebutuhan fisik, psikis anak serta memahami kemampuan anak. Hal tersebut juga ditunjukkan pada

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 orang tua yang memiliki anak dengan kecacatan sosial emosi dan yang memiliki anak dengan kecacatan akademik namun dengan cara yang berbedabeda. Reaksi yang muncul pada masing-masing orang tua pun cenderung sama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan penerimaan diantara orang tua yang masing-masing memiliki anak kebutuhan khusus secara fisik, sosial atau akademik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini tidak sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Iscak, K. & Merrick. J. (2007) yang menyatakan bahwa penerimaan orang tua pada anak dengan cacat fisik lebih mudah dibandingkan dengan penerimaan orang tua pada anak dengan keterbelakangan mental. Hal ini dapat dilihat pada subjek satu yang memiliki anak dengan cacat ganda. Meskipun subjek satu memiliki beban lebih berat karena anak memiliki cacat ganda, akan tetapi subjek juga mampu untuk menerima kondisi yang dialami anak. Tidak adanya perbedaan penerimaan orang tua terhadap anak juga dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor usia orang tua dan fasilitas penunjang. Kedewasaan dan kematangan usia yang dimiliki kedelapan subjek membuat subjek lebih tenang dan dapat bersikap dewasa dalam menghadapi dan memahami kondisi yang dialami anak. Selain itu, ketersediaannya fasilitas seperti sekolah luar biasa, tempat terapi dan tenaga medis membuat kedelapan subjek lebih siap dalam menghadapi kondisi anak. Dengan adanya fasilitas yang penunjang dan memadai memudahkan orang tua dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus (Rachmayanti,S., dkk; 2007).

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua subjek menunjukkan adanya penerimaan terhadap kondisi yang dialami anak dengan komposisi yang berbeda-beda. Empat subjek menunjukkan penerimaan pada semua (empat) aspek yang digunakan peneliti yaitu penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan anak, adanya perasaan penerimaan, adanya usaha membantu perkembangan anak serta adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Tiga subjek menunjukkan penerimaan pada tiga dari empat aspek yang digunakan peneliti yaitu penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan anak, usaha membantu perkembangan anak serta adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Satu subjek lainnya menunjukkan penerimaan pada tiga dari empat aspek yang digunakan peneliti yaitu adanya perasaan penerimaan, adanya usaha membantu perkembangan anak serta adanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan penerimaan diantara orang tua yang memiliki anak yang masing-masing memiliki kebutuhan khusus secara fisik, sosial emosi dan akademik. Tidak adanya perbedaan diantara orang tua terhadap kondisi anak dipengaruhi oleh faktor usia orang tua dan fasilitas penunjang. 67

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 B. Saran Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti ingin menyampaikan beberapa saran yaitu : 1. Bagi subjek penelitian Dari hasil penelitian, diketahui bahwa para subjek relatif sudah mampu menerima kondisi yang dialami anak. Oleh karena itu, disarankan agar semua subjek tetap menjaga sikap tersebut sehingga tercipta hubungan dengan anak lebih baik dari sebelumnya. 2. Bagi lingkungan dan masyarakat Untuk masyarakat umum disarankan untuk tidak memandang negatif anak-anak berkebutuhan khusus baik secara fisik, mental ataupun akademik. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat dapat mempengaruhi perasaan penerimaan orang tua terhadap anak. Dengan adanya sikap positif dari masyarakat memudahkan orangtua untuk menerima kondisi anak. 3. Bagi peneliti selanjutnya Peneliti selanjutnya disarankan untuk tidak hanya meneliti mengenai gambaran penerimaan orang tua, tetapi juga meneliti mengenai tahapan penerimaan yang dialami orang tua.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Basrowi & Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta. PT. Rineka Cipta Beresford, Bryony., Rabiee, Parvaneh., & Sloper, Patricia. (2007). Outcomes for Parents with Disabled Children. Social Policy Research Unit. The University of York . September 2007 no. 2007-03. Bryan, James.H., & Bryan, Tanis.H. (1979). Exceptional Children. California : Alfred Publishing Co.,Inc. Hadjiyiannakou, Anastasia., Ioannou, Chistina., & Tziogkouros, Charalambos. (2007). Parents of disabled children. The educational system and the everyday challenges. International Journal about Parents in Education 2007, Vol.1, No. 0, 145-150 Hendriani, Wiwin., Handariyati, Ratih., & Sakti, Titra Malia. (2006) Penerimaan Keluarga Terhadap Individu yang Mengalami Keterbelakangan Mental. INSAN Vol. 8 No.2, Agustus 2006. Hidayati, Nurul. (2011). Dukungan Sosial bagi Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus. INSAN Vol. 13 No.01, April 2011 Hurlock, E.B. (1978). Perkembangan Anak Ed. 6 Jilid 2 (terjemahan: Tjandarasa, Meitasari) Jakarta: Erlangga. Kandel, Iscak., & Merrick, Joav. (2007). The Child With a Disability: Parental Acceptance, Management and Coping. The Scientific World Journal, (2007) 7, 1799-1809 Kirk, Samuel A. 1972. Educational Exceptional Children. Second Edition. Boston : Houghton Mifflin Company. 69

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Mahabbati, Aini. (2010). Penerimaan dan Kesiapan Pola Asuh Ibu Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Diakses pada tanggal 12 Februari 2013 dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132318126/Artikel 2010 Penerimaan dan kesiapan pola asuh ibu yang anaknya berkebutuhan khusus.pdf. Mangunsong, F. (1998). Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif Ed. Revisi. Bandung.PT. Remaja Rosdakarya Monika & Waruwu, F. (2006) Anak berkebutuhan khusus: Bagaimana mengenal dan menanganinya. Jurnal Provitae. Vol. 2, No. 2, November 2006. Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta Moningsih, Indah. (2012). Penerimaan Orangtua Pada Anak Mental Retardation. Skripsi (tidak diterbitkan). Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Negovan, Valeria., Bagana, Elpida., & Dinca, Sabina. (2011). Gender, age and academic standards of school differnces in adolescents’ self acceptance. Journal Procedia Social and Behavioral Sciences 12 (2011) 40 – 48. Ozyurek, Arzu. (2012). The Effect Of Parental Acceptance In The Success Of Inclusion In Preschool Education. The International Journal of Social Sciences 15th November 2012. Vol.3 No.1. Pancawati, Ririn. (2013). Penerimaan Diri dan Dukungan Orangtua Terhadap Anak Autis. eJournal Psikologi, Volume 1, Nomer 1,2013:38-47. Poerwandari, E.K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Fakultas Psikologi UI. Rachamayanti, Sri., & Zulkaida, Anita. (2007). Penerimaan Diri Orangtua Terhadap Anak Autisme Dan Peranannya Dalam Terapi Autisme. Jurnal Psikologi Volume 1, No. 1, Desember 2007.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Richardson, Kate., & Fulton, Rorie. (2011). Dealing with Stigma as The Parent of a Child With Disabilities. Carmarthen : Cerebra Rohner, R. P., & Khaleque, A. (2002). Parental Acceptance-Rejection and LifeSpan Development: A Universalist Perspective. Online Readings in Psychology and Culture, 6(1). Diakses pada tanggal 15 Maret 2013 dari http://dx.doi.org/ 10.9707/2307-0919.1055/html. Schultz, Duane (1991) Psikologi Pertumbuhan, Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanisius Semiun, Yustinus OFM. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta : Kanisius Somantri, S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung. PT. Refika Aditama Supratiknya, A. (1995). Komunikasi antarpribadi: Tinjauan Psikologis. Yogyakarta. Kanisius Wardani, IG.A.K, dkk. (2008). Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta : Universitas Terbuka Wardhani, Mira Kania., Rahayu, Makmuroh Sri., & Rosiana, Dewi. (2012). Hubungan Antara Personal Adjusment Dengan Penerimaan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Pada Ibu Yang Memiliki Anak Berkebutuhan KhususDi RSUD X. Prosiding SnaPP2012:Sosial, Ekonomi, dan Humaniora ISNN 2089-3590. Wirdanengsih (2011). Pandangan Terhadap Warga Berkebutuhan Khusus . Diakses pada tanggal 12 Febuari 2013 dari http://www.harianhaluan.com

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 72

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 LAMPIRAN 1 (WAWANCARA ORANG TUA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Wawancara Subjek 1 Tanggal Wawancara : Senin, 7 Oktober 2013 Waktu Wawancara : 08.03 – 08.37 Tempat Wawancara : Halaman Sekolah Nama Subjek :S Hasil Wawancara : P : Peneliti S : Subjek P: S: 1 2 3 Isi Wawancara Bagaimana awal ibu mengetahui bahwa anak ibu memiliki kebutuhan khusus Waktu lahir itu disuntik terus kaku-kaku itu Koding LB Sewaktu lahir mengalami kejang akibat disuntik LB Anak mengalami keterlambatan perkembangan LB Adanya kecurigaan mengenai perkembangan anak. 4 P: S: P: S: P: S: P: 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Kaku-kakunya gimana bu ? Ya kaku, kaya kejang-kejang tu lho mba. Tangan sama kaki. Kembali ke dokternya gak papa kan ciri-ciri bayi kaya gitu. Tapi lama-lamakan keliatan pertumbuhannya. Dari awal udah keliatan. Setelah ibu mendengar diagnosa dokter itu ? Diagnosa dokter itu dia gak keliatan Jadi dokter mencetuskan kalau anak saya itu ndak papa. Katanya gitu. Memang kaya gitu. Tapi pertumbuhannya semakin membesar keliata kan semakin membesar semakin besar ndak bisa apaapa. Tengkurap ndak isa, duduk ndak isa Itu umur berapa bu ? Itu saya liat itu 9 bulan uda curiga, kan harusnya umur 3 bulan uda bisa miring. Uda itu, itu ndak papa cuma bisa terlentang aja. Dia ndak nangis, karena suntik itu. Setelah saya ke dokternya, kata dokter kalau gak disuntik malah lebih bahaya. Katanya gitu, tapi nyatanya malah bahaya disuntik, dokter lain menyatakan karena suntikan,yang satunya kalau gak disuntik bahaya. Terus, itu 9 bulan ibu bawa ke rumah sakit lagi Analisis

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 S: 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Iya, saya bawa ke Sarjito,, dinyatakan kepala membesar tapi kenyataan ndak. Normal semua. Semua pertumbuhannya normal. Saya terapi terus. Bagaimana perasaan ibu setelah mengetahui diagnosa dokter ? Ya gimana lagi, rasanya orang tua. (tertawa) Maunya yang terbaik bagi anaknya. Ya alhamdulilah saja,, mensyukuri aja gimana nanti. Berarti dipercaya kalau ngasuh anak kaya gini (tertawa). Sempet, perasaan percaya gak percaya itu sempet ada bu ? Ya iya, anak normal, pertumbuhannya normal tapi og gak bisa apa-apa ya rasanya tu gimana. Apalagi kalau liat anak lain-lainnya itu gitu. Og anak saya seperti ini dulu. Ya rasa anu kan ada to rasa e gimana ya P: S: P: S: 49 50 51 52 53 54 Sedih campur aduk ? Iya Sampai saat ini perasaan ibu ke adek ? Ya cuma mudah-mudah an bisa mandiri aja. Penginnya dia itu mandiri aja. Ndak nuntut gimana-gimana itu ndak. P: 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 Perasaan percaya gak percaya itu masih ada atau gimana bu ? Kalau itu ya tetap masih ada ya. Soalnya pertumbuhannya tetep besar. Sampai saya-saya aja besaran sana. Tinggi anaknya. Pertumbuhanya normal. Tapi ya itu berdiri sendiri bisa, cuma kalau melangkah itu gak bisa. Berdiri tanpa pegangan itu dah bisa daripada dulu. Dulu masih nganukan cuma terlentang aja. Baru bisa duduk aja umur 9 tahun lho mba.Baru bisa bangun, bangun sendiri dari tempat tidur itu umur 9 tahun. Baru saya sekolahkan.Dari awal soal e pikiran saya kalau disini gak ada kursi khusus. Pikiran saya itu. Ternyata banyak. Ya itu P: S: P: S: S: 2a+ Kecewa tetapi berusaha menerima dan bersyukur 2a- Subjek kecewa dan kurang menerima kondisi anak 1b+ Tidak ada tuntutan lain selain kemandirian 2a- Subjek kurang menerima kondisi anak Pemenuhan kebutuhan akademik anak 4a+

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 Waktu ibu mendengar diagnosis dokter, apa yang ibu pikirkan apa bu ? Ya penginnya , se... dia berobat terus supaya bisa jalan aja . Harapan saya cuma dia jalan,, sampai sekarang Tindakan yang dilakukan ibu ? Terapi dokter cuma berapa tahun itu, lama banget pertum..perkembangannya perubahannya tu lama. Saya alternatif kemana-mana sudah tak cari Itu dari mulai 9 tah.. 9 bulan itu ? Iya sampai umur berapa tahunnya belum lama og selesainya. Kan dulu waktu umur 4 tahun ayahnya dah meninggal to,, sampai sekarang ini dah berapa tahun ya.. Saya berhenti tu umur 13 atau 14 tahun baru berhenti gak mutermuter cari kesana-sana. Baru berhenti total itu Cuma sekolah aja. Saat ini perkembangannya sudah bagus kan bu ? Alhamdullilah,, sudah banyak perkembangannya. Cuma pikirannya juga kena kan itu. Saraf otaknya juga kena. Jadi pikirannya kaya anak kecil itu. Hubungan ibu sama adiknya gimana ? Adik saya ? Maksudnya anaknya ibu .. Ya biasa Gimana bu ? Ya kaya kakak adik malahan, ya orang tua, kakak adik. Na cuma ini satu Kalau tentang pergaulannya dek R bu? Kalau saya ndak batasi ya mba ya karena dia tu kaya minder. Malu gitu. Dia mungkin kalau merasa ditanya itu kamu kok belum jalan, kaki jalan (sambil memegang kaki). Dia merasa pokoknya merasa minder hehehe.. Kamu tu cantik lho dek tapi sayangnya... kaki? Elek..Tapi kalau dirumah itu terus dielus-elus sendiri 3a+ Memikirkan pengobatan anak 3b+ Mencari tempat pengobatan untuk perkembangan anak 1a+ Subjek memahami keterbatasan yang dimiliki anak 1b+ Tidak ada batasan dalam pergaulan anak 1a+ Orang tua memahami keterbatasan anak

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 kaki jalan, kaki jalan. Kalau orangorang tanya mba R cantik.,. aja.ehmm saya kan kalau ini pulang sekolah. Nanti sore jualan. Mbantui apa omnya itu jualan dimalioboro. Jadi sorenya itu disana sampe malam jadi sama yang ke rumah sama orang...mbahnya gitu minder. Ya pengen kalau cuma diluar itu ngeliati anak lari-lari gt. Nah kan terus banyak to,, Cuma diliatin gt,, yang gak kenal cuma diliat,, dia udah nunduk gini. Dah besar soalnya yang ngajak maen ? Tapi ho’o elek kaki. Dipukuli itu kadang-kadang Terus kalau misalnya... Jadi kegiatannya adek? Sama orang tuanya, sama... ya dirumah aja. Ehmm saya kan kalau ini pulang sekolah. Nanti sore jualan. Mbantuin apa omnya itu jualan di malioboro. Jadi sorenya itu disana sampe malan, Jadi sama yang di rumah sama orang..., mbahnya Jadi dirumah sama Iya sama omnya sama kakek neneknya Temen-temannya bu sering maen ? Iya sering maen, tapi dianya gak mau,, Gak mau Ho’o,, minder tu lho mba dia, merasa minder. Ya pengen kalau Cuma di luar itu ngeliatin anak-anak lari gitu. Nah terus banyak to, Cuma diliatin gitu,, yang gak kenal Cuma diliat. Dia udah nunduk gini. Dah besar soalnya. Tapi ada yang ngajak maen ? Banyak Iya ayo mba R sana,,, enggak... Dianya yang gak mau.. Cuma kalau ada keramaian pawai-pawai dia mau nonton. Nonton bu.. ya ayok nonton. Kalau gak ya gak mau,, dirumah aja Kalau dirumah kegiatannya apa aja bu ? Ya cuma,nonton tv, ada baju-baju yang udah kering itu dilepasi hanger- 4b- Orangtua tidak dapat menemani anak setiap hari karena ada tuntutan pekerjaan 1a+ Orangtua memahami keterbatasan anak

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 159 hangernya itu. Ya gitu aja P : 160 Jadi , bantu-bantu ibu juga S : 161 Ya sebenarnya dia itu rajin, cuma dia itu 162 terbatas to tangannya kan kaku juga. 163 Kalau mau pegang itu sulit P : 164 165 S : 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 178 179 P : 180 S : 181 P : 182 S : 183 184 185 Kalau misalnya dek R nya itu belajar ibu nemenin ? Iya tak temenin, tapi dianya gak mau. Maunya dia itu,, dikiranya apa-apa bisa gitu. Menulis misalnya nulis kan kaku banget tanganya, megang pensil aja kalau tak benerin tangan gak mau. Udah semau sendiri itu. Semaunya sendiri gitu. Diarahkan itu susah. Kalau pertama masuk kelas disini, pertama masuk kelas disini, masuk sekolah disini, biasa orangtua nemenin dia gak mau. Itu bu keluar.. gak papa? Gak. Gak mau.Sama ibunya pa sendiri ? gak mau keluar bu. Terus kalau keadaan emosisnya dek R ? Ya itu,, dia gampang emosi Perasaan saat ini liat dek R ? Udah kebiasaan ya jadi enjoy aja mba.. hehehe,, iya to perasaannya ya enjoy aja ngih,, uda kebiasa liat kaya gini mba. P : 186 187 S : 188 P : 189 190 S : 191 192 193 194 195 196 197 198 P : 199 200 Dek R sering diajak ibu, kalau ibu pergi dek R sering diajak bu ? Iya Saat ibu mengajak dek R pergi itu ada persaan mengganjal gak bu? Ya kalau diliat orang ya mengganjal ya mba. Liatnya itu kadang-kadangkan dia itu liat kasihan ato liat ngejek, kadangkadangkan gitu to? Banyak an orang kalau anak-anak kek gini diliatin orang kan ibunya merasa kesinggung gitu lho. Apalagi kalau ditanya udah gede kok gendongan mesti ada kan gitu Tadi yang perkembangan emosi,, jadi kalau sering marah gitu bu? 1a+ Orangtua memahami kelebihan yang dimiliki anak 4b+ Orangtua tetap mendampingi anak, meskipun anak tidak mau 2a+ Merasa enjoy karena sudah terbiasa dengan keadaan anak 2a- Merasa tersinggung ketika orang memandang anak secara negatif

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 S : 201 Iya P : 202 Bisa dicerita in ? S : 203 Iya dia itu kalau punya kemauan gak 204 bisa diungkapkan ya dia emosi to P ; 205 Jadi kalau misal dia gak bisa melakukan 206 sesuatu dia langsung marah gitu? S : 207 Iya P : 208 Harapan ibu ke dek R? S : 209 Ya harapan saya bisa mandiri aja, uda 210 itu aja P : 211 Upaya yang udah dilakuin supaya 212 harapannya tercapai gitu bu ? S : 213 Dari awal saya udah kemana-mana cari 214 alternatif ya dokter, tapi nyatanya kaya 215 ya gimana lagi. Sampai sekarang saja 216 kan masih terapi masih rutin. Jadi 217 orangtua tu dah kurang-kurang 218 mengusahakan anaknya sampai bisa 219 mandiri. Hari / tanggal : Senin / 21 Oktober 2013 Lokasi : Halaman Sekolah Pukul : 08.10 – 08.41 WIB P : 220 Saya mau tanya tentang komunikasi ibu 221 dengan dek R ? Kalau ibu memberi 222 nasehat atau larangan ke dek R itu 223 bagaimana bu ? S : 224 Ya kalau komunikasi tetep biasa lancar P : 225 226 227 S : 228 229 230 P : 231 232 S : 233 P : 234 S : 235 236 Bisa dikasih contoh kalau ibu ngelarang dek R itu bagaimana ? memberi nasehat dek R itu bagaimana? Nasehati kalau misal gak boleh ya jangan kek gitu itu nakal, itu gak boleh. Saya cuma gitu Itu melarang atau menasihatinya ketika dek R...? Ya berbuat salah langsung contoh salahnya gimana bu ? Ya misal e itu kayak ehmm apa misal e maen-maen yang gak bener gitu.. 1b+ Harapan agar anak mandiri 3b+ Subjek mencari pengobatan alternatif dan melakukan terapi 4d+ Terjalinnya komunikasi antara subjek dengan anak 4d+ Menasehati karena berbuat salah

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 maenan gitu saya tetep langsung tak marah i . kalau ini bu, nasehatnya bu ? Gak boleh gitu besok laginya. Gak boleh nakal. Ya,, dia mesti itu gitu kalau jawab Kalau misalnya ibu,kaya ngasih pendapat atau dek R ngasih pendapat gitu ? Jarang e dia itu mba. Kalau gak boleh gak ibu ini ini ini,, entuk ra bu kan dia bahasa jawa ya. entuk ra ? Enggak, jangan, jangan maen-maen kaya gitu gak boleh ya dek. Bobok yang bener. Kalau aku mau kerja itukan dia mesti kasih pamit dulu to. Ibu kerja cari opo ? uang . nggo opo? Maem Gitu dia (tertawa) mesti dia gitu. Ndak boleh apa? Nakal . gitu Terus kalau kebutuhan fisik yang udah ibu penuhi gitu buat dek R? Ya ,, semua saya sendiri to yang menuhi. Semua saya,,ke anak saya cuma itu. Gak ada..saya cari buat dia Apa aja bu misalnya ? Ya seperti pakaian, ya semuanya. Semuanya itu saya yang penuhi Selain sekolah, pakaian ya dipehuni ? Ya, kebutuhan fisik semua saya penuhi, innsyaallah dia mudah-mudahan dia hehehe P : 271 272 273 S : 274 275 276 277 P : 278 279 280 S : 281 P : 282 Kalau menurut ibu ini, hal penting apa yang ditanamkan atau penting banget buat dek R? Aku mandiri,,biar dia itu bisa mandiri itu gimana gitu lho. Tapi dia itu kan susah banget to mba. Ya gimana lagi anak kaya gitu. Kalau misalnya dek R itu kan kalau anak-anak gitu kepengin sesuatu gitu kan bu. Iya Nah, itu ibu langsung memenuhi atau P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: 4a+ Adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan anak 1b+ Harapan agar anak mandiri

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 283 S : 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 P : 298 S : 299 300 301 302 303 P : 304 305 S : 306 307 308 309 310 311 312 313 314 P : 315 316 S : 317 318 319 320 321 322 323 324 325 bagaimana bu ? Enggak, enggak pernah saya kalau dia minta sesuatu kecuali makan lho ya. Kalau makan memang tak langsung gak papa. Kalau dia pengen ini pengen itu ya besok ya kalau ibu punya duit gitu aja . Jadi gak langsung. Nanti kelamaan nanti apa-apa langsung dia manja. Ukur,, aku ngukurnya aku sendiri. Iya kalau aku, aku pas ada kalau enggak gitu lho hahahaha ya besok ya besok mesti tak gitu in. Kalau minta sesuatu. Tapi kalau minta sekedar makan, aku pake lauk ini, aku pake lauk ini mesti tak carikan hehehehe Sering diskusi gitu gak bu sama dek R ? Kalau diskusi Cuma ngomong-ngomong, cerita-cerita itu aja he sama dia itu soal nya dia terbatas to pikirannya. Ya Cuma ngomong cerita-cerita besok gini, gini, gini, ho’o bu iini bu. sesuk gini. Ya Jadi kalau misalnya dek R pulang sekolah gitu sering cerita ke ibu Iya cerita, besok bu pengumumannya hari ini, ini, hari ini, ini. Dia tau apal . Saya tu pengennya dia itu bisa mandiri. Mandiri. Kalau Cuma saya terus saya itukan semakin tua to mba. Gak bisa ngurusin terus – terusan. Dia kan mandiri kan... Cuma itu aja. Harapan saya dia itu mandiri wis. Sepelekan bisa mandiri seneng banget rasanya Ibu kan tadi sempat bilang kalau dek R gak sekolah malah marah Marah, iya na itu semangat banget e mba itu. Kalau pagi itu udah setengah lima itu udah mbangunin. Ayo buk sekolah. Masih pagi e dek, yo ayo sekolah, ibu tak sholat sik. Udah siap-siap. Rajin itu mba. Kalau libur malah marah itu. Tanggal merah gitu dah, gak mau merah. Kok merah ibu sing mbuat p o piye ? Dia libur tu susah. Libur 4a+ Tidak langsung memenuhi permintaan anak agar anak tidak manja. 1a+ Memahami anak memiliki keterbatasan dalam pikiran 4d+ Adanya komunikasi antara subjek dengan anak Memikirkan masa depan anak 3a+ 1b+ Harapan agar anak mandiri 1a+ Memahami anak memiliki kecacatan ganda

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 kelamaan nanti saya kesini. Tak tunjuk e galo gak percaya sama omongan saya. Dikiranya saya bohongi tak tunjukke kesini. Jalan-jalan, ayo jalan-jalan liat gak ada to, gak ada. Yang guru jaga gitu biasa, liat aja sana belakang ada muridnya gak. Setelah ini baru puas dia. Kalau dia gak liat langsung dia gak percaya. Hehehe. Gak bisa dibilangangin. Itu termasuk ganda og mba. Jadi pikirannya juga kena. Saya senangnya kalau dia gak liat sendiri gak percaya itu. Hehehehe malah senang saya. Ada anaknya dibohongi gini, dibohongi gini, dia gak bisa dibohongi. P : 341 342 343 S : 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 P : 358 359 S : 360 361 362 363 364 365 366 367 368 Kan dek R semangat sekolah, bagaimana perkembangan akademik dek R selama disekolah? Gak ada perkembangannya kalau disini uda bertahun-tahun. Ya diselesaikan. Tapi saya berjuang gimana supaya. Saya tu gak nuntut apa akademik gak pernah nuntut yang penting anak saya disekolahan itu senang. Gitu aja. Biar pun mau dimasukkan dikelas mana aja monggo. Itukan dulu dari kelas 3 langsung dimasukkan di kelas 6. 6 di ikutkan ujian. Ujian masuk SMP .Kan dipercepat. Saya susahnya besok kalau keluar giman iki anakku hahahaha Saya gak pernah nuntut akademik. Dia terbatas topemikirannya Itu sempat gak boleh masuk atau gimana? Enggak maksudnya itu, jurusan dia gak ada.Ganda itu disini gak ada Cuma sampai kelas 6. Tapi kebijaksanaan kepala sekolah saya kira. Berberapa ya, berlima po ya kemaren itu. Berjuang supaya bisa tetap disini . Akhirnya diperbolehkan to tetapi ya itu dibawah standar to sekolah e, dah terserah mau dimasukkan dimana aja terserah. Ya 1a+ 1b+ 3b+ 2a+ 3b+ 1a+ Memahami ada keterbatasan dalam akademik Tidak ada tuntutan dalam bidang akademik Berusaha agar anak mendapat pendidikan Adanya pandangan realistis pada anak sehingga tidak ada tuntutan akademik Berusaha memenuhi kebutuhan akademik, sosial dan psikis anak Memahami adanya keterbatasan kognitif pada anak

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 369 udah dimasukan di TK lagi tapi 370 statusnya SMP hehehehe. Dia itu 371 memang pikirannya gak bisa 372 berkembang cuman itu-itu aja. Gak bisa 373 itu. Yang penting aku tu sosialisasi. 374 Anaknya senang disini dah gitu aja. 375 Tiap hari aku tu jalan lho mba. Pulang 376 pergi. Dorong dari sana Keterangan * : Kode LB 1a+ 1a1b+ 1b2a+ 2a3a+ 3a3b+ 3b4a+ 4a4b+ 4b4c+ 4c4d+ 4d4e+ 4e- Cakupan Latar Belakang Orangtua memahami kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki anak Orangtua tidak memahami kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki anak Orangtua tidak memaksakan kehendak pada anak Orangtua memaksakan kehendak pada anak Orangtua memiliki pandangan realistis tentang anak atau objektivitas terhadap kenyataan Orangtua tidak memiki pandangan realistis tentang anak atau objektivitas terhadap kenyataan Orangtua memikirkan perkembangan anak Orangtua tidak memikirkan perkembangan anak Orangtua berusaha mencari solusi untuk perkembangan anak Orangtua tidak berusaha mencari solusi untuk perkembangan anak Orangtua memenuhi kebutuhan fisik atau psikis anak Orangtua tidak memenuhi kebutuhan fisik atau psikis anak Orangtua berpartisipasi dalam kegiatan anak Orangtua tidak berpartisipasi dalam kegiatan anak Orangtua memberikan arahan, bimbingan, semangat dan motivasi pada anak Orangtua tidak memberikan arahan, bimbingan, semangat dan motivasi pada anak Orangtua menjalin komunikasi dengan baik Orangtua tidak menjalin komunikasi dengan baik Orangtua tidak membandingkan dan membedakan dengan anak lain Orangtua membandingkan dan membedakan dengan anak lain

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Wawancara Subjek 2 Tanggal Wawancara : Senin, 7 Oktober 2013 Waktu Wawancara : 09.00 – 09.24 Tempat Wawancara : Halaman Sekolah Nama Subjek :A Hasil Wawancara : P : Peneliti S : Subjek P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Isi Wawancara Ibu merasa curiga gak kalau anak itu....... Enggak,,, itu dia jatuh umur setahun sewaktu saya gendong. Saya gedong saya terpeleset, dia ketindih saya. Waktu pertamanya normal dia Jadi waktu umur setahun itu sempat jatuh Iya, jatuh. Ketindih saya kemudian saya rogtenkan ada tulang punggungnya yang bengkok Terus bu ? Ya, di anu,,di terapi sejak itu O.....tapi ibu ke dokter dulu gitu, Heh Terus , gimana perasaan ibu mengetahui kalau habis jatuh terus tulang punggung na kena ? Ya (tertawa) biasa orang tua terus waswas juga ya karena seharusnya sudah jalan, belum jalan. Ya sudah berusaha kemana-mana, ya sampai sekarang 11 tahun belum jalan tapi saya optimis karena apa sewaktu di yakum kan dikasih afo. Afo.... Waktu itu kan jalannya he miring anak itu. Anak itu jalannya miring... Gak bisa nemplek gini gak bisa. Gini... sama kakinya getar... kaya jahit gitu. Terus saya disarankan ke yakum. Di yakum dikasih afo. Sejak saya kasih afo ya selama 1 tahun ya bisa napak gini. Kaki gemetar gitu dah berkurang. Kalo perasaan ibu ? Yo... yo,,, saya ya antara optimis Waktu itu bu,, waktu pertama kali ? Yo, juga sempet was-was. Ya Koding LB LB Analis Anak terlahir normal namun ketika umur 1 anak terjatuh Akibat jatuh, tulang punggung anak bengkok 3a+ Cemas dengan perkembangan anak 3b+ Berusaha mencari solusi untuk anak 2a+ Merasa optimis dengan perkembangan anak 2a- Menyesal keadaan

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: 35 36 perasaannya og jadi anak saya gini. Perasaannya ya gimana lok gak jalan. 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Jadi sedih gitu, percaya eh percaya gak percaya gitu Pecaya.. yo percaya ada tapi gak percaya juga ada (tertawa) gitu kan mesti ada gitu Iya... terus setelah mengetahui kondisi anak ibu seperti itu,, apa yang dipikirkan ibu pada saat itu? Yo,, pada saat itu bagaimana cara supaya bisa jalan seperti anak-anak yang lain. Akhirnya saya usahakan entah ke alternatif saya jalanni, ke dokter juga saya jalanni Bagaimana cara ibu mendidik anak ibu? Bagaimana melihat lingkungan bermainnya? Untung anak saya tidak minder,, saya .. saya .. umbar aja terserah anaknya,, lok misal anaknya gak jalan ya brangkang ya silahkan. Tapi memang kalau sampai jauh-jauh saya gak boleh karena kalau kepanasan kan ininya sakit (nepuk-nepuk paha) Ibu juga tidak membatasi anaknya untuk bergaul dengan siapa saja ? Enggak , untung anak itu bisa adaptasi dengan orang lain. Diajak ngobrol sama orang tua bisa sama teman-temannya juga bisa Bagaimana bentuk perhatian terhadap pergaulan sama perhatian anak ? Maksudnya ? Ketika anak berkegiatan ibu melakukan apa ? Kadang kalau anaknya bisa ditinggal saya melakukan apa yang harus saya kerjakan. Kalau bisa kalau enggak ya saya nunggu,, sampai sekarang pun dalam kegiatan belajar ya,, meskipun saya pekerjaannya banyak kalau dia, belum belajar,, karena kalau kadang enggak saya tunggui, ya dia terus malas-malas an,, ya saya terus 3a+ anak Khawatir dengan perkembangan anak 2a- Kurang menerima dengan keadaan anak 3a+ Memikirkan cara agar anak dapat berjalan Membawa anak ke dokter dan alternatif 3b+ 1a+ 1b+ Subjek memahami sifat anak Subjek membebaskan anak dalam beraktivitas 1a+ Subjek memahami sifat anak 4b+ Menemani anak terutama saat belajar

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: P: S: 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 menghentikan pekerjaan saya untuk nemani dia gitu. Kalau anak main sama teman-teman gitu ibu tidak membatasi ? Enggak, sejauh dia bisa positif lah saya tidak membatasi Kalau ibu sedang ada kegiatan gitu,, anaknya sering dilibatkan gak bu ? Kadang dia anaknya ikut, tapi sekarang karena sudah kelas 5,, dia sendiri bisa membatasi Misalnya kegiatan apa bu ? Misalnya saya ada pertemuan, sembayangan gitu ya atau latihan koor gitu, sekiranya dia banyak kerjaan saya bilang kamu gak usah ikut karena nanti tercecer ya akhirnya dia bisa,, bisa menerima. Kalau dulu saya latihan koor ikut, saya pertemuan paguyuban ikut.. Apakah anak ikut membantu dalam perkejaan rumah ? Bantu-bantu ya mau nya bantu-bantu,, ya sebisa dia,, saya umpanya saya gosok ya dia bilang mah tak gosok ke ya,, silahkan ya sebisa dia. Meskipun saya mengulang ,, tapi ada keinginan membantu Kalau sekarang perkembangannya A bagaimana bu ? Ya udah bagus, tinggal jalan Upaya apa saja yang ibu lakukan untuk A ? Sampai sekarang udah pol ya mba.. Kalau sekarang ya kegiatannya ya,, dia sekarang senang meronce, ya akhirnya,, apa yang dia mau saya turuti mba sekarang. Dia minta ma aku dibeli in tang untuk membentuk kawat ya saya beliin,, tapi saya juga saat ini belum bisa mengkhursuskan dia,, karena keterbatasan ekonomi saya. Sebenarnya saya ingin memajukan keinginan dia,, hobi dia,, menyalurkan hobi dia,, cuman kadang saya berpikir kemana anak ini 1b+ Tidak membatasi kegiatan anak 4a+ Memenuhi keinginan anak Adanya dukungan untuk hobi anak Adanya usaha agar anak dapat mengembangkan hobi 1b+ 4c+

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 P: S: 121 122 123 124 harus saya larikan,, saya juga saat ini masih mencari-cari Harapan buat anak ibu ? Ya bisa mandiri P: 125 S: 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 160 161 162 163 Sejauh ini kemandiriannya sebatas apa bu ? Mandi sendiri, makan sendiri, bermain sendiri bisa meskipun harus pake walker Apakah ada perasaan mengganjal ketika ibu membawa anak ketika ibu berkegiatan ? Enggak, ya sudah memang keadaan anak saya seperti itu ya tidak harus saya sembunyikan. Kalau harus saya sembunyikan saya yang salah. Soalnya ada dulukan, sekarang orangnya sudah meninggal, dosen apa itu tarakanita. Itukan anaknya juga gitu sampai sekarang disembunyikan padahal itu anak orang kaya. Tapi saya tidak harus menyembunyikan, toh saya sembunyikan orang juga pada tahu. Daripada malu besok-besok , mending dah keadaan an anak saya gini. Ya meskipun kadang saya sakit kalau orang liat, kadang orang kan gak tau mandangnya gini dari ujung sana sampai ujung sini. Nah gitu, kalau orang normalkan kadang gitu,,kan padangannya agak ,, kadang kalau dijalan kan dilihatin gitu kadang juga ya saya ... (tertawa) Bagaimana perasaan ibu ke anak ibu sekarang ? Ya seneng,, ya 11 tahun kok gak jalanjalan, dilihat dari berat badannya sekarang aja makannya dah 3kali tapi kok belum jalan-jalan saya mikirnya sampai disitu Keadaan emosional anak bagaimana ? Bisa terkontrol, kadang ya kalau pas dia tidak mau ya suka marah. Kadang juga kalau saya marahi, dia ya masuk kamar dia gak mau triak-triak. Ya kalau gak jadi keinginannya ya dia suka marah P: S: P: S: P: S: 1b+ Harapan untuk mandiri 2a+ Menerima keadaan anak Terkadang merasa sakit hati ketika orang memandang anak secara negatif 2a- 2a+ 3a+ Menerima dengan perasaan senang Memikirkan kondisi anak yang belum dapat berjalan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 P: S: P: S: P: S: P: S: 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 Dalam hal apa ibu melarang anak,,og sampai anak menangis ? Ketika anak membuat jengkel pada saat saya capek. Karena saya dirumah tidak hanya tinggal sendiri, keponakan saya satu dan saya yang momong keponakan saya itu.. Ya mungkin pas saya capek Sejak SD kelas 1 A sekolah disini bu ? Iya sejak SD kelas 1 masuk disini,, TK na di umum Bagaimana kok bisa masuk sini,, disaranin guru atau Dulu masuk sekolah inklusi, terus saya coba di umum, penerimaannya tidak menyenangkan. Terus saya coba di inklusi giwangan itu, alasannya tidak ada pendampingnya kurang, udah daripada saya,, ibarat lari kesana lari kesini tidak diterima ,, waktu itu pernah di slb 1 Bintaran itu, dia disana jurusannya C to,, ya mau diterima .. saya alasannya disisni jauh to.. bu ndak papa disini.. Ibaratnya disini untuk percobaan,, nanti kalau bisa dibuka juga jurusan D.. Terus saya mikirnya ,, aduh kalau baru percobaan ya nanti kalau dijadikan satu dengan temantemannya yang C kan,, nanti pikirannya turun. Nanti kan kalau C tau sendirikan mba.. Ya akhirnya ada tetangga,, bu nek neng kalibayem piye? Nek neng kalibayem ki ada jurusan ini ini ini. Ya saya dikasih tau, ya dah saya masukan sini,, ya dah dek di kalibayem dulu aja.. Nanti kalau kamu bisa jalan atau nanti kamu bisa ikut ujian negara di sd nanti di umum Jadi penerimaan yang kurang itu dari sekolahnya ya bu ? Iya katanya inklusi bisa nerima tapi kenyataannya ,, dari pada disana – sini ditolak ya udah saya masukan sini langsung 1b+ Harapan agar anak dapat masuk sekolah umum

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Hari / Tanggal : Senin / 21 Oktober 2013 Lokasi : Halaman Sekolah Pukul : 09.10 – 09.43 WIB P : 206 Saya mau tanya tentang itu bu, 207 tentang komunikasi ibu ke dek A. 208 Itu misalnya ibu ngasih nasehat atau 209 ibu nglarang-ngalarang adek tu 210 gimana? S : 211 Ya saya bilangi, ini gak boleh, 212 seandainya boleh ya saya bilang gak 213 papa kalau itu bagus. Ya saya gitu 214 bilang pelan-pelanlah, gak terus r 215 a entuk ngene-ngene gak boleh . 216 Tetapi saya juga, inikan saya kan 217 tinggalnya sama mbahnya ya. Asal 218 kalau sama mbahnya udah dimarahi 219 saya diem. Anak itu saya suruh 220 masuk ke kamar, dah sana masuk 221 kamar. Soalnya kalau saya marahi 222 kadang mbahnya itu ikut marahi. 223 Jadinya saya sebagai orangtua kan 224 juga ada rasa kasihan. Saya marahi, 225 mbahnya marahi kan kasihan 226 anaknya kalau saya.Saya kalau 227 marahi gak begitu keras saya 228 marahi. Gak bisa ya. Cuman tak 229 nasehati. Gak boleh gini. Ini yang 230 harus kamu lakukan kan saya 231 bilangnya gitu. Gak terlalu saya 232 wewewe. Gak pernah saya. 233 Bilangin anak macem-macem tu 234 gak pernah. P : 235 Kalau misalnya ngelarang itu waktu 236 kapan, waktu apa bu ? S : 237 Yo waktu kadang, umpama dia 238 sembayang ada tamu itu sok nyatet, 239 denger-denger in gitu to, saya paling 240 A masuk. Nah itu nanti baru saya 241 bilangin. Ya mungkin saat itu tapi 242 tidak didepan orang lah kalau saya. 243 Saat itu tapi anak itu saya panggil. P : 244 Jadi waktu ibu ngelarang atau 245 menasehati itu waktu dek A 246 melakukan sesuatu yang

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 S : 247 P : 248 249 250 251 S : 252 253 254 255 P : 256 S : 257 258 P : 259 260 261 S : 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 P : 282 283 284 S : 285 286 287 289 290 291 Yang keliru Kalau misalnya waktu pulang sekolah gitu, dek A suka ceritacerita gak bu ke ibu tentang kegiatan dia sehari-hari atau waktu Ya, suka paling ya tak bilangi kadang tadi pelajarannya apa dek? Ini ini ma. Terus disuruh apa.Tak tanya in gitu. Jadi suka cerita-cerita Suka cerita. Kalau cocok suka cerita dia. Banyak cerita dia Kalau ibu suka nanya, diskusi tentang adek mau apa, atau diskusi pendapat. Nanya in pendapat ke ini Ya suka, kadang suka gitu. Kadang ya sambil bercanda aja ya mba. Tak bilangin gini. Anu ma nek aku duwe pacar piye? Kan anak segitu biasa to. Dek entuk mama ki duw e pacar ki kowe entuk tapi k i sekarang nek iso jalan sik. Saya bilang e cuma sambil humor. Ne k diskusi sambil humor gitu jadi anak merasa tidak sakit hati ya. Terus anu kowe kan nek wis jala n penak, nendi-nendi piye. Eh ho’ o yo ma. Kadang sok betul. Kadang diajak diskusi. Diskusi tapi gak begitu apa mba? tegang mba, sambil bercanda. Soalnya kalau anak diajak diskusi terlalu tegang kadang dia malah merasa takut. Hehahehe. Kalau ngajak diskusi saya sambil canda. Terus kalau misal adek A minta sesuatu gitu, ibu langsung memberi atau bagaimana bu ? O enggak, gak begi.. gak terlalu dek. Ibaratnya kalau penting ya besok kalau ibu ada uang. Tapi kalau gak penting ya saya bilang ini itu untuk kamu udah enggak. Kamu itu uda besar ngapain minta yang begini 4d+ Anak bercerita kegiatan sekolah pada subjek 4d+ Adanya komunikasi antara subjek dengan anak

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 P: S: P: S: P: S: 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 mbok sekarang yang berguna untuk sekolah,atau untuk kamu belajar, entah dirumah, entah di sekolah kamu belajar. Saya arahkan mba kalau minta sesuatu. Kalau saya belum punya uang ya cuma tak semanyani itu tapi dianya juga mengerti anaknya. Wong kadang saya gak punya uang dia punya, ma ini ma buat naek bis. Na terus mama ini utang? Ya gak papa to ma utang. Besok nek mama utang uang ditukar heheheh bilangnya gitu. Dia tau keadaan orangtua itu tau mba anaknya. Apa saja kebutuhan fisik yang sudah ibu penuhi ke dek A ? Banyak mba. Dari sebelum jalan itu. Entah walker, meja, fisik to ? Iya bu ? walker ,meja, terapi kebutuhan sekolahnya. Semua uda saya penuhi. Kecuali sekarang dia minta laptop saya belum bisa beli ini hehehehe. Ya untung bisa saya penuhi selama saya bisa. Ya cuma sekarangkan dia minta laptop, ya saya dek belum nganu e belum bisa. Sama itu saya mau carikan kaki dia untuk yang sampai dipinggang itu katanya bisa buat dia bisa jalan sendiri. Tapi sekarang perkembangannya udah lebih ? Udah bagus, dulu tu jalannya jinjit gini mba e (sambil memperagakan cara berjalan) . Itu aja kalau saya pegang gitu rasanya takut sekali. Cuman sekarang yang belum berani itu naek itu bonceng. Bonceng itu masih merasa takut dia. Karena gak tau saya sendiri. Meskipun dia ditengah saya dibelakang gak pernah berani mesti asal banter sedikit langsung gini tanganny 4a+ Pemenuhan kebutuhan fisik anak 3b+ Mencari alat bantu jalan

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 336 P : 337 S : 338 339 340 341 342 343 344 P : 345 346 347 S : 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 P : 361 362 S : 363 364 365 366 P : 367 368 S : 369 P : 370 371 S : 372 373 374 375 376 377 378 379 (mempraktekan tangan gemetar) Nah, terus kalau ke sekolah bu? Naek angkot, angkot umum. Na itu sama, yo itu dia juga bilang ma mbog beli kendaraan. Hahahahaha. Ya besok de uang e belum ada e. Berani kamu bonceng saya? Mungkin kalau sama saya sendiri berani mungkin. Kalau ini bu, menurut ibu tu, hal penting apa yang dilakukan buat anak? Yo anu mba, kalau saya ya. Waktunya yo anu, perhatian saya ya waktu dia belajar. Saat ini karena mungkin sekarang dia ibaratnya mandi bisa sendiri, makan sendiri, sekarang saya belajar, belajar, kalau tidak saya tunggu in sulit belajarnya. Entah saya mau kerja apa, entah saya mau selesaikan apa kalau jamnya belajar, saya fokus membimbing dia belajar. Itu yang mungkin saat ini masih harus ditunggu Hal apa yang pengin ibu tanamkan ke anak? Yo sebenarnya kalau bisa saya ingin nganu me... itu bakat dia ingin saya kembangkan. Saya belum tau jalannya mau kemana. Pengin lebih mengembangkan bakatnya He’em... He’em ... Perkembangan dek A dalam akademis bu ? Gimana mba kan persaingannya ketat, yang namanya Anis itu orangnya pandai sih. Dia jadinya gak punya saingan untuk menyaingi dia tu jadinya sulit. Jadi rasanya itu agak kendor di sekolah itu. Wong kadang ayo ma yo rasah mangkat sekolah wae. Kan kamu ulangan, 1b- Memiliki prestasi yang baik dibidang akademik 4b+ Menemani anak belajar 4c+ Membimbing anak belajar 1b+ Harapan untuk mengembangkan bakat 3a+ Khawatir dengan prestasi anak yang menurun

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 P : 399 400 S : 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 P : 411 412 ngopo og ora semangat kaya kelas 4 dulu. Dari kelas 1 sampai kelas 4 kan semangat terus dia. Itu mungkin terlalu saingannya dirasa berat kan. Kalau saingannya berada dibawahnya dia punya semangat. Ya saya akui itu, saya sudah konsultasi sama bu gurunya. Gak papa bu rasah. Ndilalah kan ada teman waktu SMA to gurunya. Rasah mba, mengko nek tak dadeke siji karo sing sebelah sini, dia apa-apa bisa tapi nanti otaknya mengendor biar dipacuin ini dulu gak papa. Masalah nilai gak masalah kan ada PR, ya pokoknya yang menyangkut harian ya ulangan harian nantikan untuk menambah nilai. Itu dilihat agak menurun itu dari nilainya bu ? He’eh,, hahahaha itu kadang dia itu udah belajar tapi asal saya terangkan donk ya mba, tapi nanti dikelas itu agak kebingungan gitu lho. Kan saya terangkan donk saya suruh kerjakan sama saya bisa.Tapi nanti di kelas itu, kadang sok bingung. Anehnya tu disitu makanya saya itu, dek opo di les ke wae saya sampai gitu. Terus kata ibu dileskan aja, sekarang les atau enggak bu ? S : 413 414 415 416 417 418 419 420 P : 421 S : 422 423 Belum, belum mau. Cuma saya kadang ada orang datang itu yang ngisi kerohanian ya mba dari kristen hehehe tapi saya ndak masalah cuma untuk tambah pengetahuan itu dia yang ngajar in. Saya yang tak suruh ngajar in. Uda sana sama mba mariska sekalian aja. Tapi mau gitu bu ? Mau, mbak mariska nya juga apa A mau belajar apa ? 4c+ Mengarahkan anak agar prestasi akademik dapat meningkat

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 P : 424 Jadi ada semangat juga buat belajar bu ? S : 425 Masih, masih semangat Keterangan * : Kode LB 1a+ 1a1b+ 1b2a+ 2a3a+ 3a3b+ 3b4a+ 4a4b+ 4b4c+ 4c4d+ 4d4e+ 4e- Cakupan Latar Belakang Orangtua memahami kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki anak Orangtua tidak memahami kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki anak Orangtua tidak memaksakan kehendak pada anak Orangtua memaksakan kehendak pada anak Orangtua memiliki pandangan realistis tentang anak atau objektivitas terhadap kenyataan Orangtua tidak memiki pandangan realistis tentang anak atau objektivitas terhadap kenyataan Orangtua memikirkan perkembangan anak Orangtua tidak memikirkan perkembangan anak Orangtua berusaha mencari solusi untuk perkembangan anak Orangtua tidak berusaha mencari solusi untuk perkembangan anak Orangtua memenuhi kebutuhan fisik atau psikis anak Orangtua tidak memenuhi kebutuhan fisik atau psikis anak Orangtua berpartisipasi dalam kegiatan anak Orangtua tidak berpartisipasi dalam kegiatan anak Orangtua memberikan arahan, bimbingan, semangat dan motivasi pada anak Orangtua tidak memberikan arahan, bimbingan, semangat dan motivasi pada anak Orangtua menjalin komunikasi dengan baik Orangtua tidak menjalin komunikasi dengan baik Orangtua tidak membandingkan dan membedakan dengan anak lain Orangtua membandingkan dan membedakan dengan anak lain

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 LAMPIRAN 2 (SURAT IZIN PENELITIAN)

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 LAMPIRAN 3 (SURAT BUKTI PENELITIAN)

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(117)

Dokumen baru