Penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus - USD Repository

116 

Full text

(1)

PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh: Vera Moktaningrum

099114097

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh: Vera Moktaningrum

099114097

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN

“ Untuk meraih hal – hal yang besar kita tidak cukup untuk bertindak tetapi juga

harus bermimpi; tidak hanya berencana, tetapi juga percaya.”

-Anatole France-

“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih

karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk

mendapatkan pertolongan kita pada waktu-NYA”

-Ibrani 4:16-

Ku Persembahkan karya ini untuk :

- Orang tuaku tercinta

- Semua orang yang menyanyangi dan mendukungku

(6)
(7)

vi

PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Vera Moktaningrum

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai penerimaan orang tua terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus fisik, sosial emosi ataupun akademik. Selain itu, juga untuk melihat apakah ada perbedaan penerimaan orang tua pada anak dengan jenis kebutuhan khusus yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur sebagai metode pengumpulan datanya. Karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus fisik, sosial emosi ataupun akademik. Subjek yang digunakan berjumlah delapan orang yang terdiri dari dua orang ibu dengan anak cacat fisik, sepasang orang tua dengan anak autis, satu orang ibu dengan anak autisme, satu orang ibu dengan anak syndrome down serta sepasang orang tua yang memiliki anak tuna grahita. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua subjek menunjukkan adanya penerimaan terhadap kondisi anak dengan komposisi yang berbeda-beda. Sebagian subjek menunjukkan adanya penerimaan pada semua (empat) aspek yang digunakan peneliti. Sedangkan sebagian lagi menunjukkan adanya penerimaan pada tiga dari empat aspek yang digunakan peneliti. Diketehui pula bahwa tidak ada perbedaan penerimaan orang tua pada anak dengan kebutuhan khusus yang berbeda

(8)

vii

THE ACCEPTANCE OF PARENTS TO THE CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS

Vera Moktaningrum

ABSTRACT

This study aims to gain an description about parental acceptance of children with special needs, whether physical, mental or academic. This study used a qualitative approach with semi-structured interview as tools of research. Characteristics of the subjects used in this study were parents who have children with special needs, both physical, mental or academic. The participants of this study are eight people. The subjects used totaled eight people consisting of two mother with physically disabled children, parents with an autistic child, one mother with an autistic child, one mother with child syndrome down and parents of children with mental retardation. The research results showed that all subjects showed an acceptance of the condition of children with different compositions. Some subjects showed a receptivity on all (four) aspects of the use of researchers. While some subjects showed a receptivity on three of the four aspects in the use of researchers. Note also that there are no differences in the acceptance of the parents in children with different special needs.

(9)
(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, kuasa dan

anugrah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang

merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Psikologi.

Banyak pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak

langsung dalam proses penyelesaian penelitian ini. Oleh karena itu, pada

kesempatan ini penulis hendak mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya

kepada :

1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi

Sanata Dharma

2. Ibu Agnes Indar E., M.Si.,Psi., selaku Dosen Pembimbing Skripsi

yang dengan kesabaran dan kebaikannya bersedia meluangkan waktu

untuk membimbing, mengajarkan dan membagikan ilmunya kepada

penulis.

3. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi., selaku Dosen Pembimbing

Akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama

menjalankan studi.

4. Ibu Sylvia Carolina MYM., M.Si dan Ibu MM.Nimas Eki S., M.Si.,

Psi. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan

pengetahuan baru bagi saya untuk membuat skripsi ini semakin baik.

5. Seluruh dosen pengajar di Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang

dengan ketulusannya mendidik, mengajarkan dan membagikan ilmu

(11)

x

6. Seluruh karyawan di Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang telah

membantu penulis selama penulis menjalankan studi.

7. Seluruh staf perpustakan Universitas Sanata Dharma yang telah

membantu penulis selama studi dan mengerjakan penilitian.

8. Kepala sekolah dan staf pengajar di SLB Negeri 1 Bantul yang telah

memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan bantuan serta

kerjasamanya selama proses penelitian.

9. Seluruh subjek dan keluarga yang telah berkenan dan besedia

mengikuti proses penelitian. Semoga Tuhan selalu melimpahkan

berkat dan rahmat-Nya kepada semua.

10. Keluargaku : Papa, Mama dan Mba’ Dewi yang selalu memberikan

doa, dukungan, semangat dan cinta kasihnya kepada penulis.

Terimakasih banyak atas semua yang telah diberikan.

11. Keluarga besar Siswoharjono : Bapak, Ibu, Pakdhe, Budhe, semua Om

dan Tante, semua sepupuku dan keponakanku. Terimakasih untuk

bantuan dan dukungannya kepada penulis.

12. Teman-temanku terkasih : Evy, Lala, Ika, Rani, Ginza, Realita dan

Irma yang selalu memberikan doa, bantuan, semangat dan dukungan.

Terimakasih atas kebersamaannya selama ini. Suka, duka, tangis, tawa

dan canda yang sudah kita lalui tidak pernah penulis lupakan.

13. Teman satu bimbingan : Cisty, Indri dan Tata. Makasih untuk saran,

masukan, dukungan, bantuan dan semangatnya. Senang bisa menjadi

(12)

xi

14. Teman-teman Psikologi Sanata Dharma angkatan 2009, khususnya

kelas B dan C. Terimakasih atas kebersamaan, kerjasama dan

dinamika selama proses perkuliahan.

15. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Terimakasih atas doa dan bantuan yang telah diberikan kepada

penulis.

Akhir kata, penulis ingin menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan

baik yang disengaja ataupun tidak disengaja selama proses pengerjaan penelitian.

Semoga Tuhan memb\erikan dan melimpahkan berkat, rahmat, dan anugrahNya

kepada kalian semua atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.

Yogyakarta, 11 Juni 2014

Penulis

(13)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ii

HALAMAN PENGESAHAN iii

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH viii

KATA PENGANTAR ix

DAFTAR ISI xii

DAFTAR TABEL xv

DAFTAR LAMPIRAN xvi

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 6

C. Tujuan Penelitian 6

D. Manfaat Penelitian 6

1. Manfaat Teoritis 6

2. Manfaat Praktis 6

BAB II LANDASAN TEORI 7

(14)

xiii

1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus 7

2. Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus 8

3. Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus 15

B. Penerimaan Orang Tua 16

1. Pengertian Penerimaan Orang Tua 16

2. Tahap Penerimaan Orang Tua 17

3. Aspek Penerimaan Orang Tua 19

4. Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Orang Tua 21

5. Dampak Penerimaan Orang Tua 24

C. Penerimaan Orang Tua yang Memiliki Anak Berkebutuhan

Khusus 25

D. Pertanyaan Penelitian 27

BAB III METODE PENELITIAN 28

A. Metode Penelitian Kualitatif 28

B. Fokus Penelitian 29

C. Subjek Penelitian 29

D. Metode Pengumpulan Data 30

E. Metode Analisis Data 32

F. Uji Keabsahan Data 33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 34

A. Proses Pengambilan Data 34

1. Pelaksanaan 34

(15)

xiv

B. Hasil Penelitian 36

1. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki

Kebutuhan Khusus secara Fisik 36

2. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki

Kebutuhan Khusus secara Sosial Emosi 43

3. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki

Kebutuhan Khusus secara Akademik 51

C. Pembahasan 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 67

A. Kesimpulan 67

B. Saran 68

DAFTAR PUSTAKA 69

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Daftar Pedoman Wawancara 31

Tabel 4.1 Daftar Pelaksanaan Wawancara Langsung dengan Subjek 35

Tabel 4.2 Identitas Subjek Penelitian 36

Tabel 4.3 Gambaran Penerimaan Orang Tua 60

(17)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Wawancara Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus 73

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian 95

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehadiran anak ditengah-tengah keluarga merupakan suatu hal

yang sangat dinantikan dan membahagiakan. Namun, kebahagiaan ini

dapat berubah menjadi hal yang kurang menyenangkan apabila anak yang

dinantikan terlahir dengan keadaan yang tidak seperti anak pada umumnya

atau memiliki kebutuhan khusus. Keadaan ini menjadikan beban berat bagi

orang tua baik secara fisik ataupun mental.

Beban orang tua pun semakin bertambah ketika mereka harus

menghadapi berbagai pandangan, dari masyarakat yang cenderung

memandang sebelah mata anak yang memiliki kebutuhan khusus. Menurut

sebuah survey yang dilakukan di negara barat terhadap 600 orang tua yang

merawat anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa 70% dari mereka

merasakan bahwa penerimaan publik terhadap mereka tidak memuaskan

(Richardson, K. & Fulton, Rorie ; 2011). Keadaan ini ternyata juga terjadi

di Indonesia. Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang masih

memandang sebelah mata anak – anak yang memiliki kebutuhan khusus. Masyarakat menganggap bahwa memiliki anak yang berkebutuhan khusus

merupakan aib dan kutukan sehingga masyarakat bersikap menghindar,

menolak hingga bertindak tidak wajar (Widarningsih, 2011). Keadaan

(19)

bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Akan sangat sulit

bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk dapat

menghadapi masyarakat (Mangunsong, 1998). Keluarga khususnya orang

tua cenderung merasa malu sehingga memiliki kecenderungan untuk

menarik diri dari kegiatan sosial (Semiun, 2006).

Masyarakat mengenal anak berkebutuhan khusus dengan istilah

anak cacat atau anak abnormal. Menurut Mangunsong (1998) anak

berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan dengan

rata-rata anak normal dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan fisik, perilaku

sosial dan emosional. Kirk (1972) membagi anak berkebutuhan khusus ke

dalam 5 jenis yaitu Communication Disorder yang meliputi learning

disabilities dan speech disorder, Mental Deviation yang meliputi

intellectually gifted dan retardasi mental, Sensory Handicaps yang

meliputi tuna runngu dan tuna netra, Neurologic, orthopedic dan gangguan

kesehatan lainnya dan Behavior Disorder. Di Indonesia sendiri, anak

berkebutuhan khusus dikenal dengan anak tunanetra, tunarunggu,

tunadaksa, tunagrahita, tunalaras, anak berbakat intelektual, anak

berkesulitan belajar spesifik, autisme dan ADHD.

Menurut Mahabbati (2010), keluarga adalah pihak yang berperan

penting dalam mendukung anak berkebutuhuan khusus untuk

mendapatkan haknya agar dapat berkembang sesuai dengan potensinya.

Selain itu, keluarga juga merupakan saluran penting untuk pelayanan

(20)

untuk langsung menerima keadaan kondisi anaknya. Perasaan kaget, tidak

percaya, kecewa rasa bersalah dan penolakan pun mereka alami. Bahkan

menurut Ohlshansky (dalam Ozyurek, 2012) orang tua dengan anak

berkebutuhan khusus mengalami kesedihan kronis sepanjang hidup

mereka. Selain itu, orang tua juga memiliki tingkat stres yang tinggi

dibanding dengan orang tua yang memiliki anak normal. Orang tua pun

cenderung akan mengalami tiga krisis dalam hidupnya yaitu krisis

perubahan, krisis nilai-nilai, dan krisis realita. Apabila orang tua mampu

bertahan atau melewati kondisi tersebut, maka orang tua mencapai tahap

penerimaan (Kandel, Isack. & Merrick, Joav. ; 2007)

Penerimaan merupakan sikap positif yang mengakui, menghargai

nilai-nilai dan tindakan individual (Chaplin dalam Sri Rachmayanti dkk,

2007). Shaffer (2009) mendefiniskan penerimaan orang tua sebagai sikap

memberikan dukungan dan kasih sayang yang berupa senyuman, pujian,

kehangatan, dorongan serta sikap kritis yang membangun. Komunikasi

yang baik kepada anak dan sikap membimbing, memotivasi dan memberi

dukungan pada anak merupakan salah satu bentuk penerimaan orang tua

terhadap anaknya (Hurlock, 1995)

Orang tua yang mampu menerima anaknya adalah orang tua yang

menerima, menghargai dan menyadari atas apa yang dimiliki dan tidak

dimiliki oleh anaknya. Penerimaan diri orang tua sangat penting bagi anak

berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan orang tua merupakan orang

(21)

sesuatu agar anak berkebutuhan khusus ini mampu meneruskan

kelangsungan hidup dan menjadi anak yang mandiri. Sikap orang tua yang

tidak dapat menerima kenyataan bahwa anaknya mempunyai kebutuhan

khusus akan memberikan dampak buruk. Keadaan ini akan mempengaruhi

pola asuh orang tua sehingga tidak maksimal dan menghambat kemajuan

anak dalam belajar, bahkan dapat menyebabkan permasalahan lain dalam

keluarga (Mahabbati, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh

Arzu Özyurek (2012) penerimaan orang tua memberi pengaruh dalam

keberhasilan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi serta

dalam kehidupan sosialnya.

Di Indonesia sendiri pernah dilakukan penelitian mengenai

penerimaan terhadap orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus

dengan type tertentu seperti autis (Rachmayanti & Zulkaida, 2007) atau

mental retardasi (Moningsih, 2012). Dalam penelitian tersebut ditemukan

bahwa ada penerimaan orang tua terhadap anak yang mengalami autis

ataupun mental retardasi. Pada orang tua dengan anak mental retardasi,

penerimaan ditunjukkan dengan cara memberikan perasaan positif pada

anak, mendengarkan dengan pikiran yang terbuka terhadap segala

permasalahan yang terjadi dalam keluarga serta menerima semua

keterbatasan anak. Dalam penelitian tentang penerimaan anak autis

ditemukan bahwa dengan adanya penerimaan orang tua terhadap anak

(22)

Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui tentang gambaran

penerimaan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Namun,

dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini akan

menggunakan anak berkebutuhan khusus yang lebih beragam sekaligus

untuk melihat apakah ada perbedaan penerimaan orang tua pada anak

dengan jenis kebutuhan khusus yang berbeda. Hal ini dikarenakan adanya

salah satu pendapat yang mengatakan bahwa orang tua dengan anak yang

memiliki cacat mental akan berada dalam situasi yang sulit karena sikap

masyarakat yang cenderung lebih mudah menerima anak dengan cacat

fisik dibandingkan dengan anak yang mengalami cacat mental (Semiun,

2006 ). Selain itu, Iscak, K. & Merrick. J. (2007) yang menyatakan bahwa penerimaan orang tua pada anak dengan cacat fisik lebih mudah

dibandingkan dengan penerimaan orang tua pada anak dengan

keterbelakangan mental karena anak dengan cacat fisik tidak banyak

mengubah fungsi dan suasana keluarga.

Dalam penelitian ini, anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi

tiga jenis yaitu anak berkebutuhan khusus secara fisik, anak berkebutuhan

khusus secara sosial emosi dan anak berkebutuhan khusus dalam

akademik. Pengkategorian ini didasarkan pada persamaan ciri atau

(23)

B. Rumusan Masalah

Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana gambaran

penerimaan orang tua yang memiliki anak masing - masing berkebutuhan

khusus secara fisik, sosial emosi atau akademik.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerimaan

dari orang tua yang memiliki anak masing-masing berkebutuhan khusus

secara fisik, sosial emosi atau akademik

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

mengenai bagaimana penerimaan diri orang tua terhadap anak

berkebutuhan khusus, sehingga dapat memberikan sumbangan ilmiah

bagi ilmu Psikologi khususnya untuk Psikologi Klinis, Psikologi

Perkembangan Anak dan Psikologi Sosial.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat memberi manfaat bagi orang tua untuk bisa

menerima dan memahami kondisi anaknya sehingga dapat

memberikan dukungan secara optimal bagi kemajuan dan

(24)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Anak Berkebutuhan Khusus

1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki

perbedaan dengan rata-rata anak normal dalam hal ciri-ciri mental,

kemampuan fisik, perilaku sosial dan emosional (Mangunsong, 1998).

Abbey, dkk (2006) mendefinisikan anak berkebutuhan khusus sebagai

anak yang memiliki kelainan pada perkembangan fisik, perilaku

ataupun emosional sehingga membutuhkan pengawasan kesehatan,

pendidikan dan fasilitas khusus dibandingkan dengan anak-anak pada

umumnya. Menurut Rahmitha (2011) anak berkebutuhan khusus adalah

anak yang mempunyai keterlambatan pada dua atau lebih aspek

perkembangannya. Semiun (2006) mendefinisikan anak berkebutuhan

khusus sebagai anak yang memiliki perbedaan ciri khas pada

kemampuan mental, fisik, panca indera, komunikasi dan tingkah laku

sosial dengan anak-anak biasa.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa anak

berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan ciri khas

pada perkembangan fisik, mental, perilaku ataupun emosional dengan

(25)

2. Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

Beberapa ahli mengemukakan bahwa anak berkebutuhan khusus

dapat diidentifikasi menjadi beberapa jenis yaitu :

a. Tunarungu

Tunarungu merupakan istilah bagi anak yang mengalami

kesulitan pada kemampuan mendengar. Karakteristik anak

tunarungu diantaranya, pada segi fisik tidak menampakan adanya

kelaianan pada anak, anak memiliki kemampuan intelektual seperti

anak normal. Anak mengalami kesulitan dalam berbicara dan

perkembanga bahasa serta prestasi akademik. Dalam kemampuan

sosialnya, anak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan

sosialnya.

b. Tunanetra

Tunanetra merupakan istilah bagi anak yang mengalami

gangguan pada organ pelinglihatan. Karakteristik anak tunanetra

diantaranya, memiliki kemampuan intelektual, berbahasa dan

berbicara yang tidak jauh berbeda dengan anak normal. Anak

tunanetra memiliki kepekaan yang baik terhadap lingkungan karena

mengembangkan kemampuan indera yang lain seperti mendengar,

merasakan dan membau.

c. Tunadaksa

Tunadaksa merupakan istilah untuk anak-anak yang

(26)

kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Mangunsong (1998)

membagi tuna daksa menjadi dua kategori yaitu :

1. Anak tunadaksa yang menderita cacat polio atau lainnya

sehingga mengalami ketidaknormalan dalam fungsi tulang,

otot-otot atau kerjasama fungsi otot-otot-otot-otot tetapi anak-anak ini

memiliki kemampuan normal

2. Anak tunadaksa yang memiliki kecacatan sejak lahir atau

cerebal palsy sehingga mengalami cacat jasmani karena ketidak

berfungsinya tulang otot sendi dan saraf-saraf. Anak ini

memiliki tingkat intelegensi dibawah normal atau terbelakang.

Karakteristik anak tunadaksa diantara, memiliki gangguan

pada motorik kasar dan motorik halus. Keadaan sosial-emosi anak

dipengaruhi oleh respon, sikap dan penerimaan masyarakat.

d. Tunagrahita

Tunagrahita adalah kondisi dimana anak memiliki

kecerdasan dibawah rata-rata dan mengalami penurunan fungsi

perilaku adaptif. Dalam Somantri (2006) anak tunagrahita

diklasifikasikan menjadi :

1. Tunagrahita Ringan

Tunagrahita ringan dapat disebut moron atau debil dan

memiliki IQ diantara 69-55. Anak dengan keterbelakangan

mental ringan mampu didik meskipun harus membutuhkan

(27)

tanpa mendapat pengawasan, seperti ketrampilan mengurus diri

sendiri. Pada proses penyesuaian diri, anak ini memiliki proses

penyesuaian diri yang sedikit rendah dibandingkan dengan anak

normal pada umumnya. Pada umumnya anak keterbelang mental

ringan tidak mengalami gangguan pada fisik mereka. Secara

fisik tampak seperti anak pada umunya.

2. Tunagrahita Sedang

Anak tunagrahita sedang dapat disebut imbesil. Anak

tunagrahita sedang memiliki IQ antara 54-40. Anak terbelakang

sedang dapat digolongkan sebagai anak mampu latih. Anak

dapat dilatih untuk beberapa keterampilan tertentu seperti

mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya dan

mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak dengan

keterbelakang mental sedang mengalami kesulitan dalam bidang

akademik. Dalam kehidupan sehari-hari anak ini membutuhkan

pengawasan terus-menerus.

3. Tunagrahita Berat

Anak tunagrahita berat dapat disebut idot. Anak

tunagrahita berat memiliki IQ antara 39-25. Anak tunagrahita

berat memiliki permasalahan berat menyangkut kondisi fisik,

intelegensi serta pendidikan. Anak memiliki kemampuan bicara

dan bahasa yang sangat rendah. Anak tunagrahita berat juga

(28)

bantuan perawatan dan bantuan orang lain secara total seperti

dalam hal mengurus diri sendiri.

e. Tunalaras atau Behavior Disorder

Tunalaras merupakan istilah untuk anak yang mengalami

gangguan emosi dan tingkah laku sehingga mengalami kesulitan

dalam menyesuaikan driri dengan baik terhadap lingkungan

(Somantri, 2006). Pada dasarnya anak tunalaras memiliki

kemampuan intelektual yang normal. Namun, adanya kelainan

dalam perilaku sosialnya. Anak ini mengalami gangguan perilaku

seperti sulit berkonsentrasi, agresif, mudah bosan, kurang mau

bergaul, pasif, mengalami kecemasan dan hasil belajarnya

seringkali jauh dibawah rata-rata (Wardhani, dkk. 2000).

f. Tunawicara

Tunawicara merupakan istilah anak-anak yang mengalami

gangguan berbicara dan berbahasa. Secara kognitif, anak-anak ini

memiliki rentang kemampuan kognisi yang tinggi hingga

terbelakang. Anak-anak mengalami kesulitan ketika diminta untuk

mengekspresikan hasil kemampuannya secara verbal. Secara sosial,

anak akan mengalami masalah. Anak dapat merasa terisolasi

karena orang lain tidak memahami apa yang dikatakan. Selain itu,

tingkah laku anak seringkali tidak sesuai dengan tuntutan

(29)

g. Learning Disabilities

Adalah anak-anak yang mengalami Gangguan pada salah

satu satu lebih proses-proses dasar psikologis, terkait dengan

pemahaman dan penggunaan bahasa dalam berbicara dan menulis .

Karakteristtik adalah

1. Adanya Gangguan perseptual – motorik, mengalami kesulitan dalam koordinasi antara stimulus visual atau auditori dengan

perilaku.

2. Emosi yang tidak stabil dan menunjukkan perilaku impulsif

3. Adanya gangguan dalam memori atau berpikir, seperti kesulitan

dalam memanggil kembali materi yang telah dipelajari atau

kesulitan dalam memahami konsep abstrak

4. Spesifik learning disabilities, seperti ketidakmampuan untuk

membaca, mengingat apa yang telah dibaca, atau kemampuan

berhitung atau mengeja

5. Kesulitan dalam memahami atau mengingat apa yang

diucapkan, ketidakjelasan artikulasi berbicara, dan sedikitkan

kosakata yang dimiliki

h. ADHD

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah

anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. Anak yang

mengalami ADHD memiliki ciri utama tidak mampu memusatkan

(30)

perilaku yang dapat dikelompok dalam 2 kelompok utama yaitu

kurangnya memusatkan perhatian atau deficit attention dan

hiperaktivitas-implusivitas. Terdapat tiga tipe anak ADHD yaitu

1. Tipe Predominan Inatentif

Anak – anak yang memiliki masalah utama adalah rendahnya konsentrasi

2. Tipe Predominan Hiperaktif – Impulsif

Anak – anak yang masalah utamnya dikarenkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif

3. Tipe Kombinasi

Anak-anak yang mengalami kedua masalah diatas

i. Autis

Autis merupakan anak yang memiliki gangguan dalam hal

perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Anak yang mengalami

autis memiliki gejala pada umur dibawah 3 tahun mengalami

kesulitan bicara, tidak melakukan kontak mata dan melakukan

gerakan berulang-ulang. Anak autis mengalami gangguan kelaian

yang tampak dalam aspek komunikasi, interaksi sosial, gangguan

sensoris, pola bermain dan perilaku.

j. Anak Berbakat Intelektual

Anak berbakat intelektual adalah anak-anak yang

(31)

ide atau hubungan. Krik (1976) menyatakan bahwa karateristik

anak berbakat intelektual meliputi :

1. Anak memiliki kemampuan belajar lebih cepat daripada anak

pada umumnya

2. Anak memiliki kemampuan penalaran yang sangat baik

(superior) daripada anak yang lain

3. Anak memiliki kemampuan sosial yang baik dan cenderung

lebih terkenal dikalangan anak lain.

Menurut uraian diatas maka jenis anak berkebutuhan khusus

dapat kelompokkan menjadi 3 jenis yaitu:

1. Anak berkebutuhan khusus fisik yang meliputi tuna netra,

tunarunggu, tunawicara dan tunadaksa

2. Anak berkebutuhan khusus sosial emosi meliputi tunalaras, autisme

dan ADHD

3. Anak berkebutuhan khusus kognitif atau akademik yang meliputi

anak berbakat intelektual, learning disabilities, dan tunagrahita

Dalam penelitian ini, orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus dengan bakat intelektual tidak dijadikan subjek

dalam penelitian. Hal ini dikarenakan anak yang memiliki bakat

intelektual memiliki kemampuan diatas rata-rata dalam segala hal

(32)

3. Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus

Wardani dkk (2002) mengatakan bahwa berdasarkan waktu

terjadinya, penyebab anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi 3

kategori :

a. Penyebab Sebelum Kelahiran (Prenatal)

Penyebab yang terjadi sebelum proses kelahiran. Hal ini

berarti pada saat janin masih berada dalam kandungan calon ibu

mengalami trauma, infeksi kehamilan, dan keracunan. Selain itu,

ibu yang mengandung terlalu lama lebih dari 40 minggu dapat

menyebabkan anak memiliki kebutuhan khusus. Ibu yang

melakukan pengguguran terhadap janinnya, juga menjadi penyebab

anak yang dilahirkan memiliki kebutuhan khusus.

b. Penyebab Sewaktu Kelahiran

Penyebab ini muncul pada saat proses melahirkan. Proses

melahirkan yang dapat menyebabkan anak berkebutuhan khusus

seperti terjadinya benturan atau infeksi ketika melahirkan,

kelahiran dengan alat bantu (di-vacum) dan pemberian oksigen

yang terlampau lama bagi anak prematur.

c. Penyebab Setelah Kelahiran (Postnatal)

Penyebab ini muncul setelah bayi dilahirkan misalnya bayi

mengalami sakit TBC atau terinfeksi virus lainnya. Selain itu,

kekurangan gizi, kecelakaan dan keracunan juga menyebabkan

(33)

Semiun (2006), mengatakan bahwa anak memiliki kebutuhan

khusus karena adanya 2 faktor yaitu :

a. Faktor Biologis

Faktor ini meliputi adanya gangguan pada herediter atau genetik,

gangguan yang disebabkan oleh lingkungan prenatal, diagnosis

prenatal dan masalah-masalah pada waktu kelahiran dan sesudah

kelahiran.

b. Faktor Psikososial

Faktor ini meliputi terbatasnya lingkungan psikososial,

kebiasaan-kebiasaan berbahasa, gaya mengasuh anak, motivasi, pendidikan di

sekolah dan perawatan fisik atau medis yang kurang baik.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa

penyebab anak memiliki kebutuhan khusus adalah adanya gangguan

genetik, gangguan pada saat kehamilan sampai setelah kelahiran, serta

adanya faktor psikososial.

B. Penerimaan Orang Tua

1. Pengertian Penerimaan Orang Tua

Penerimaan diri merupakan sikap memberi penghargaan yang

tinggi bagi diri sendiri (Supratiknya, 1995). Penerimaan diri tidak hanya

(34)

dan tindakan kepada orang lain, tetapi juga berkaitan dengan

penerimaan terhadap orang lain.

Rohner (2002) mengatakan bahwa penerimaan orang tua adalah

sikap orang tua yang mampu merasakan dan mengekspresikan cinta,

kasih sayang, perawatan, kenyamanan, dukungan, serta pengasuhan

terhadap anak-anak mereka. Selain itu, orang tua yang menerima

anaknya adalah orang tua yang mengakui keterbatasan yang dimiliki

anak dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan tanpa memaksakan

kehendak pada anak (Isack Kandel dan Joav Merrick, 2007). Shaffer

(2009) mendefinisikan penerimaan orang tua sebagai perilaku orang tua

yang memberikan dukungan dan kasih sayang berupa senyuman,

pujian, kehangatan, dorongan serta sikap kritis yang membangun

kepada anak-anaknya.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa

penerimaan orang tua merupakan sikap orang tua yang memberikan

kasih sayang, kenyamanan, kehangatan, pengasuhan, dukungan,

dorongan dan sikap kritis yang membangun kepada anak-anaknya.

2. Tahap Penerimaan Orang Tua

Hadjiyiannakaou,dkk (2007) mengatakan ada beberapa fase atau

tahapan yang dilalui oleh orang tua sebelum akhirnya orang tua mampu

menerima bahwa anak memiliki kebutuhan khusus. Tahapan tersebut

(35)

a. Shock

Terkejut adalah reaksi pertama yang muncul ketika orang tua

mengetahui bahwa anak mereka memiliki anak berkebutuhan

khusus. Perasaan shock ini dapat berlangsung dari beberapa jam

hingga beberapa hari. Selain itu, perasaan terkejut ini kadang

berdampak negatif pada fisik seseorang seperti tubuh lemas, dingin,

dada sesak, mual dan hampir pingsan.

b. Denial, merasa tidak percaya

Orang tua tidak percaya dan menyangkal kenyataan yang ada dengan

berusaha mencari diagnosis lain. Pada fase ini juga memberikan

waktu bagi orang tua untuk menyesuaikan diri dengan situasi.

c. Anger

Fase ini ditunjukkan dengan cara orang tua mencari penyebab

mengapa anaknya memikili kebutuhan khusus. Di tahap ini, orang

tua juga cenderung untuk mencari orang lain untuk disalahkan

seperti dokter, terapis, keluarga, teman-teman bahkan kepada anak

kandung.

d. Sadness

Perasaan sedih ini biasanya mengikuti kemarahan dan reaksi lainnya

seperti proses adaptasi. Reaksi sedih ini dikarenakan orang tua

berduka atas hilangnya harapan memiliki anak normal. Ataupun

berduka atas ketidakmampuan anak memenuhi harapan dan ambisi

(36)

e. Detachement

Pada tahap ini, orang tua merasa kosong dan tidak ada masalah.

Orang tua kehilangan makna dalam menjalani kehidupannya.

Reorganization

f. Fase ini ditandai dengan adanya pandangan tentang kenyataan yang

dihadapi dan adanya harapan untuk masa depan bagi orang tua

ataupun anak.

g. Acceptance

Pada fase ini orang tua sepenuhnya menyadari tentang kondisi anak

dan berusaha memberikan kebutuhan bagi anak.

3. Aspek – aspek Penerimaan Orang Tua

Hurlock (1978) mengatakan bahwa penerimaan orang tua

ditandai dengan adanya kasih sayang dan perhatian yang besar pada

anak serta memperhatikan perkembangan kemampuan dan minat anak.

Penerimaan orang tua ini meliputi beberapa aspek yaitu :

a. Berpartisipasi dalam kegiatan anak

b. Memikirkan dan berusaha untuk meningkatkan perkembangan anak

c. Memenuhi kebutuhan baik secara fisik maupun psikis

d. Menjalin komunikasi secara baik dan bijak

e. Tidak membedakan dan membandingkan dengan anak lain

f. Memberikan bimbingan, semangat dan motivasi

(37)

h. Tidak menuntut atau memaksakan kehendak pada anak

Isack Kandel dan Joav Merrik (2007) menyebutkan ada 4

karakteristik dalam proses penerimaan orang tua :

a. Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, keterampilan,

kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orang tua tidak

memaksakan kehendaknya pada anak.

b. Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak ; Orang tua

tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri

sendiri

c. Orang tua mencari solusi untuk membantu perkembangan anak yang

memiliki kebutuhan khusus

d. Orang tua yang menerima anak berkebutuhan khusus sanggup dan

dapat memberikan cinta dan kasih sayang serta perlindungan yang

wajar pada anak.

Dari beberapa uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa

terdapat 4 aspek dalam penerimaan diri orang tua yaitu:

a. Pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak

Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, ketrampilan,

kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orang tua tidak

memaksakan kehendanya pada anak dan tidak membedakan atau

(38)

b. Pandangan terhadap anak

Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak ; Orang tua

tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihini diri

sendiri

c. Usaha membantu perkembangan anak

Orang tua berpikir dan berusaha mencari solusi untuk membantu

perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus

d. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak

Orang tua sanggup dan dapat memberi cinta, kasih sayang dan

perlindungan yang wajar pada anak yang meliputi memenuhi

kebutuhan fisik maupun psikis, berpartisipasi dalam kegiatan anak,

memberikan bimbingan, semangat dan motivasi, menjalin

komunikasi secara baik dan bijak .

4. Faktor yang mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus

Menurut Sarasvati (dalam Moningsih, 2012) terdapat beberapa

hal yang mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap kondisi yang

dialami anak, seperti :

a. Dukungan Keluarga Besar

Dukungan keluarga besar bagi orang tua yang memiliki anak

berkebutuhan khusus sangat penting. Hal ini dikarenakan dengan

(39)

memiliki tempat bersandar sehingga orang tua menjadi lebih kuat

dalam mengahadapi kondisi yang dialami anak.

b. Status Ekonomi

Status ekonomi menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap

penerimaan orang tua. Orang tua yang memiliki status ekonomi

menengah atas memiliki kesempatan untuk memberikan fasilitas

yang lebih baik untuk kesembuhan dan perkembangan anak.

c. Agama

Orang tua yang memiliki latarbelakang agama yang kuat cenderung

lebih menerima kondisi yang dialami anak. Hal ini dikarenakan

adanya keyakinan dan kepercayaan bahwa ada hikmah dibalik

cobaan yang dialami.

d. Sikap para ahli

Ahli dalam konteks ini adalah orang-orang yang memberikan

diagnosis anak seperti dokter dan psikolog. Sikap yang ditunjukkan

para ahli dapat membuat orang lain merasa dihargai, dimengerti

ataupun sebaliknya.

e. Tingkat Pendidikan

Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung

lebih cepat menerima kondisi anak dan segera berpikir dan berusaha

(40)

f. Status Perkawinan

Status perkawinan juga mempengaruhi bagaimana orang tua

menerima kondisi yang dialami anak. Status perkawinan yang

harmonis memudahkan orangtua untuk saling menguatkan dalam

mengahadapi kondisi yang dialami anak.

g. Sikap Masyarakat

Sikap, pandangan dan pengetahuan masyarakat terhadap anak

berkebutuhan khusus berpengaruh terhadap sikap orang tua dalam

menerima kondisi anak. Kurangnya pengetahuan dan semakin

rendahnya pandangan masyarakat terhadap anak berkebutuhan

khusus, membuat orang tua menjadi semakin sulit menerima kondisi

anak.

h. Usia orang tua

Kedewasaan dan kematangan usia orangtua berpengaruh terhadap

sikap orang tua menerima kondisi. Orang tua yang lebih dewasa dan

matang cenderung lebih mudah untuk menerima kondisi anak karena

adanya ketenangan dalam menghadapi permasalahan yang dialami.

i. Fasilitas penunjang

Adanya fasilitas penunjang yang lengkap dan memadai memudahkan

orang tua dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Fasilitas

penunjang tersebut seperti tempat konseling, tempat terapi, sekolah

(41)

5. Dampak dari Penerimaan Orang Tua

Penerimaan dan penolakan orang tua terhadap anak memberikan

pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak (Rohner,

2002). Anak-anak yang mengalami penerimaan akan memandang dunia

secara positif sehingga mampu bersosialisasi dengan baik, kooperatif

dan ramah. Penerimaan ini membuat anak memiliki emosil yang stabil

dan menjauhi perilaku menyimpang.

Roger (dalam Schultz, 1997) mengatakan bahwa penerimaan

tanpa syarat dengan cara memberikan cinta dan kasih sayang pada anak,

membuat anak memiliki kepribadian yang sehat. Anak menjadi lebih

menghargai dirinya, tidak bertingkah laku defensif, adanya

keharmonisan antara diri dan persepsinya terhadap kenyataan dan

terbuka pada semua pengalaman serta dapat mengembangkan seluruh

potensi dalam dirinya. Shaffer (2009), mengatakan bahwa dengan

adanya penerimaan dari orangtua maka akan terjalin ikatan emosional

yang baik dan aman bagi anak. Se\lain itu dengan adanya penerimaan

orangtua, anak-anak akan melakukan hal yang membuat orang tua

senang. Anak-anak juga termotivasi untuk belajar dan melakukan

hal-hal yang menjadi keinginan dan harapan orang tua.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat dikatakan bahwa

penerimaan orang tua membawa dampak yang baik bagi perkembangan

kepribadian anak. Adanya penerimaan orang tua pada anak membuat

(42)

tidak merasa rendah diri, mampu menjalin hubungan antar manusia dan

mampu mengembangkan kemampuan dalam dirinya.

C.Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus Kehadiran anak ditengah-tengah keluarga merupakan suatu hal yang

sangat dinantikan dan membahagiakan. Namun, kebahagiaan ini dapat berubah

menjadi hal yang kurang menyenangkan apabila anak yang dinantikan terlahir

dengan keadaan yang tidak seperti anak pada umumnya atau memiliki

kebutuhan khusus. Keadaan ini menjadikan beban berat bagi orang tua baik

secara fisik ataupun mental. Beban orang tua semakin bertambah ketika harus

menghadapi pandangan masyarakat yang masih memandang sebelah mata

anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Anak – anak berkebutuhan khusus ini memiliki ciri khas tertentu baik secara fisik, sosial emosi maupun akademik yang membedakannya dengan

anak – anak pada umumnya. Keadaan anak yang seperti ini membuat orang tua merasa tidak percaya, sedih, merasa bersalah, kecewa, marah dan menyangkal.

Selain itu, tindakan yang dilakukan orang tua akan berpengaruh pada

bagaimana penerimaan orang tua terhadap anak.

Tidak mudah bagi orang tua untuk langsung menerima kondisi yang

dialami anak –anak. Mereka mengalami proses yang sangat sulit hingga akhirnya mereka sampai pada tahap menerima. Perasaan terkejut dan tidak

percaya akan kondisi anak, adanya penyangkalan bahwa mereka memiliki anak

(43)

proses yang mereka alami hingga pada akhirnya mereka mampu menerima

kenyataan dan kondisi yang anak mereka.

Dalam proses penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus,

beberapa faktor turut berpengaruh dalam munculnya penerimaan ini.

Faktor-faktor tersebut meliputi dukungan keluarga dan sosial, status ekonomi, tingkat

religiusitas, tingkat pendidikan, sikap para ahli, status perkawinan, sikap

masyarakat, usia orang tua, dan fasilitas penunjang (Rachmayanti,S., dkk :

2007).

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa faktor yang cukup berpengaruh

pada penerimaan orang tua seperti status ekonomi, tingkat pendidikan, usia

orang \tua dan sikap masyarakat. Bagi orang tua yang memiliki tingkat

ekonomi tinggi, dapat ikut membantu dalam memberikan terapi dan

pengobatan bagi anak (Rachmayanti,S. dkk ; 2007). Tingkat pendidikan juga

ikut berpengaruh pada proses penerimaan orang tua. Orang tua dengan

pendidikan ya\ng tinggi akan mencari informasi tentang kondisi anak dan

mencari pengobatan terbaik bagi anak (Moningsih, 2012). Usia orang tua juga

berpengaruh dalam penerimaan terhadap kondisi anak. Orang tua yang lebih

dewasa dan matang cenderung akan lebih tenang dalam mengahadapi cobaan

sehingga lebih bisa memahami dan menerima kondisi anak (Rachmayanti,S.

dkk ; 2007). Selain itu, pandangan masyarakat juga ikut berpengaruh dalam

penerimaan orang tua terhadap kondisi yang dialami anak. Masyarakat

(44)

aib dan kutukan sehingga masyarakat cenderung menghindar, menolak hingga

bertindak tidak wajar (Widarningsih, 2011). Dalam hal penerimaan,

masyarakat cenderung mudah menerima anak – anak dengan cacat fisik daripada menerima anak-anak yang keterbelakangan mental (Semiun, 2006).

Hal ini semakin membuat orang tua dengan anak dengan cacat mental semakin

sulit.

D.Pertanyaan Penelitian

Dari uraian diatas, maka timbul pertanyaan penelitian tentang

bagaimana gambaran penerimaan orang tua yang memiliki anak dari

masing-masing kebutuhan khusus fisik, sosial emosi dan akademik serta mengetahui

apakah terdapat perbedaan penerimaan orang tua dengan jenis kecacatan anak

(45)

28

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Dalam penelitian penerimaan orang tua terhadap anak

berkebutuhan khusus ini, peneliti mengunakan metode penelitian

kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk

memahami fenomena yang dialami subjek secara holistik dengan cara

mendiskrispsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, dalam konteks

ilmiah serta menggunakan dan memanfaatkan metode ilmiah (Moleong,

2007).

Penelitian kualitatif ini digunakan karena metode kualitatif

diharapkan dapat memberikan suatu penjelasan yang detail dan terperinci

tentang permasalahan yang diteliti. Selain itu, pendekatan kualitatif

mempertimbangkan suatu fenomena yang memiliki arti dan makna

tertentu yang sulit diungkapkan secara kuantitatif.

Hal tersebut sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengetahui

secara mendalam, menggambarkan dan menganalisis penerimaan orang

(46)

B. Fokus Penelitian

Penerimaan orang tua merupakan sikap orang tua yang

memberikan kasih sayang, kenyamanan, kehangatan, pengasuhan,

dukungan, dan sikap kritis yang membangun kepada anak-anaknya.

Penerimaan orang tua meliputi empat aspek yaitu penerimaan pada

kelebihan dan kekurangan anak, adanya perasaan penerimaan, usaha

membantu perkembangan anak dan pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis

anak. Data penerimaan orang tua dalam penelitian ini diperoleh dari hasil

wawancara dengan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus

baik secara fisik, mental dan akademik.

C. Subjek Penelitian

Dalam pengambilan subjek, peneliti menggunakan purposive

sampling dimana subjek penelitian tidak diambil secara acak melainkan

disesuaikan dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti yang

disesuaikan dengan permasalahan yang diteliti. Adapun kriteria tersebut

adalah orang tua (ayah atau ibu) dari anak yang memiliki kebutuhan

khusus baik secara fisik, mental dan akademis dan tinggal dengan anak

dalam satu rumah.

Untuk mendapatkan subjek yang sesuai kriteria, peneliti

berkonsultasi dengan guru dimasing-masing jurusan. Guru kemudian

memilihkan beberapa calon subjek penelitian. Setelah melakukan

(47)

mendapatkan delapan subjek penelitian. Kedelapan subjek tersebut terdiri

dari satu orang ibu yang anaknya mengalami cacat ganda, satu orang ibu

dengan anak tunadaksa, satu pasang orang tua dengan anak autis, satu

orang ibu dengan anak autis, satu orang ibu dengan anak down syndrom,

serta satu pasang orang tua dengan anak tunagrahita.

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif tentang penerimaan orang tua terhadap

anak berkebutuhan khusus, pengumpulan datanya menggunakan metode

wawancara. Poerwandari (1998) mendefinisikan wawancara sebagai

percakapan berupa tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan

tertentu. Dalam penelitian ini, penggunaan wawancara dimaksudkan untuk

memperoleh informasi mengenai makna-makna subjektif yang dipahami

dan melakukan eksplorasi mengenai penerimaan terhadap anak

berkebutuhan khusus (Banister dalam Poerwandari, 1998).

Penelitian ini menggunakan jenis wawancara semi terstruktur

dimana dalam pengambilan datanya peneliti menggunakan seperangkat

pertanyaan baku akan tetapi tidak menutup kemungkinan jika pertanyaan

yang diajukan disesuaikan dengan kondisi dan situasi dari subjek.

Dalam \penelitian ini, peneliti membuat pedoman wawancara yang

mengacu pada definisi penerimaan orangtua, aspek penerimaan, penyebab

(48)

dasar teori kognitif yang menyatakan bahwa pikiran berpengaruh pada

perasaan dan tindakan seseorang.

Dari acuan di atas maka peneliti kemudian menggali beberapa hal

seperti :

b. Perasaan orang tua saat itu c. Pikiran orang tua saat itu 2. Indikator Penerimaan 1 :

Orang tua memahami apa yang menjadi kelebihan, ketrampilan, kelemahan dan keterbatasan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendaknya pada anak dan tidak membedakan atau membandingkan dengan anak lain

a. Gambaran orang tua terhadap anak kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak

b. Harapan orang tua terkait kondisi anak tersebut

c. Hal yang dilakukan orang tua agar anak dapat memenuhi harapan tersebut

d. Sikap orang tua terhadap kondisi anak dibandingkan dengan anak lain pada umumnya

3. Indikator Penerimaan 2 : Orang tua memiliki pandangan realistis tentang anak sehingga orang tua tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan mengasihani diri sendiri berusaha mencari solusi

untuk membantu

perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus

a. Perkembangan anak saat ini b. Harapan orang tua terkait

(49)

5. Indikator Penerimaan 4:

Orang tua mampu

menerima, memberi kasih sayang dan perlindungan yang wajar pada anak

secara baik dan bijak

a. Hal – hal yang diberikan pada anak sebagai orang tua b. Kegiatan yang dilakukan saat

bersama anak

c. Hal – hal yang penting diterapkan atau ditanamkan orang tua pada anak

d. Cara orangtua mengajarkan

anak agar dapat

membiasakan hal tersebut

e. Hal – hal yang

dikomunikasikan orang tua pada anak

f. Cara orang tua memberikan penjelasan, nasihat dan larangan bagi anak

*dapat diperoleh dari pertanyaan no 2a dan b

E. Metode Analisis Data

Menurut Moleong, dalam bukunya berjudul metodologi penelitian

kualitatif (1989) yang dimaksud dengan analisis data adalah proses

mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan

satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan

hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Dalam penelitian ini langkah-langkah yang digunakan untuk

analisis data adalah

1. Pengumpulan data

Semua data yang ada di penelitian ini diambil dengan wawancara

(50)

2. Mereduksi data

Reduksi data adalah bentuk analisis yang memilih, menggolongkan,

mengarahkan, dan mengorgansasikan data (Miles, 1992). Pada

penelitian ini data yang telah dikumpulkan diberi kode kemudian

dipilih sesuai dengan fokus penelitian. Data itu kemudian

diorganisasikan dan digolongkan dalam tema atau kategori tertentu.

3. Mengintepretasikan

Informasi yang telah tersusun kemudian di intepretasikan dengan cara

menghubungan dengan teori yang digunakan. Setelah itu dapat ditarik

kesimpulan

F. Uji Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif terdapat berbagai cara untuk menguji

keabsahan suatu data seperti perpanjangan keikutsertaan, ketekunan

pengamatan, triangulasi, pengecekan melalui diskusi, pengecekan anggota,

uraian rinci dan audit kebergantungan (Moleong, 2007).

Pada penelitian ini, uji keabsahan data menggunakan cara

melakukan pengecekan melalui diskusi. Diskusi ini dilakukan bersama

dosen pembimbing dengan cara peneliti memaparkan hasil sementara dan

hasil akhir penelitian. Diskusi ini bertujuan untuk melihat kebenaran hasil

penelitian serta dan mencari kekeliruan peneliti dalam interpretasi dengan

(51)

34

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Proses Pengambilan Data 1. Pelaksanaan

Penelitian ini dilakukan di SLB Negeri 1 Bantul yang terletak di

Jalan Wates Km 3 Kalibayam Yogyakarta. SLB Negeri 1 Bantul memiliki

lima jurusan pendidikan yaitu, SLB A untuk siswa tunanetra, SLB B untuk

siswa tunarungu, SLB C untuk siswa tunagrahita, SLB D untuk siswa

tunadaksa dan Autis untuk siswa ADHD dan autis. Tingkatan pendidikan

di sekolah ini disesuaikan dengan jurusannya. Untuk jurusan A, B, C dan

D terdapat tingkat pendidikan TK, SD, SMP dan SMA, sedangkan untuk

jurusan Autis hanya terdapat tingkat pendidikan SD.

Dalam proses pengambilan data, setelah mendapatkan ijin dari

pihak sekolah peneliti kemudian melakukan pendekatan pada subjek dan

menanyakan kesediaan untuk diwawancara guna memberikan data yang

sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut adalah daftar pelaksanaan

(52)

Tabel 4.1

Daftar Pelaksanaan Wawancara Langsung dengan Subjek

No Subjek Nama Hari / Tanggal Waktu Tempat

1 SU Senin, 7 Oktober 2013 08.03 - 08.37 Halaman Sekolah Senin,21Oktober 2013 08.10 - 08.41

2 AG Senin, 7 Oktober 2013 09.00 - 09.24 Halaman Sekolah Senin,21Oktober 2013 09.10 - 09.43

3 W

Rabu,30 Oktober 2013 08.22 - 09.03 Halaman Sekolah Sabtu,16 November

2013 10.13 - 10.45 Kolam Renang Sekolah 4 SB Sabtu,16 November 2013 09.25-10.00

5 RK Rabu,23 Oktober 2013 08.15- 08.47 Halaman Sekolah

6 ST Kamis, 31 Oktober 2013 08.28-09.12 Aula Sekolah

7 RKa Kamis, 14 November

2013 08.15- 08.54

Depan Kelas TK 8. MJ Sabtu, 23 November

2013 16.09-16.27 Rumah Subjek

2. Data Subjek

Kedelapan subjek merupakan orang tua kandung dari anak yang

memiliki kebutuhan khusus dan tinggal bersama dalam satu rumah.

Meskipun demikian, kedelapan subjek memiliki usia, tingkat pendidikan,

jenis pekerjaan, jumlah anak, jenis kelamin anak dan usia anak yang

(53)

Tabel 4.2

Pekerjaan Buruh Buruh

Ibu

1. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak yang Memiliki Kebutuhan Khusus secara Fisik

Terdapat dua subjek yang memiliki anak dengan kecacatan fisik.

Latar belakang anak memiliki kecacatan pada setiap subjek berbeda. Pada

subjek satu, anak tidak hanya memiliki kecacatan fisik tetapi juga kognitif.

Kecacatan anak disebabkan karena anak mengalami kejang setelah

disuntik akibat tidak menangis saat lahir. Sedangkan pada subjek dua,

kelumpuhan kaki anak disebabkan karena tulang punggung anak bengkok

(54)

Penerimaan pada subjek satu dan dua terhadap kondisi anak dapat

dilihat dari empat aspek yaitu :

a. Adanya Pemahaman akan kelebihan dan kekurangan anak

Penerimaan orang tua tidak hanya dapat menerima kondisi anak

tetapi juga dapat memahami apa yang menjadi kelebihan dan

kekurangan anak sehingga orang tua tidak memaksakan kehendaknya

pada anaknya dan tidak membedakan serta membandingkan dengan

anak lain. Dalam penelitian ini, kedua subjek yang memiliki anak

dengan cacat fisik mengetahui dan memahami apa yang menjadi

kelebihan dan kekurangan anak, seperti yang dikemukakan dalam

wawancara berikut :

“Alhamdullilah,, sudah banyak perkembangannya. Cuma pikirannya juga kena kan itu. Saraf otaknya juga kena. Jadi pikirannya kaya anak kecil itu.”

(S1, b.93-97)

“Untung anak saya tidak minder,, saya .. saya .. umbar aja terserah anaknya,, lok misal anaknya gak jalan ya brangkang ya silahkan. Tapi memang kalau sampai jauh-jauh saya gak boleh karena kalau kepanasan kan ininya sakit”

(S2, b.53-59)

Pemahaman subjek satu dan subjek dua terhadap kelebihan dan

kekurangan anak, membuat kedua subjek tidak memaksakan

kehendaknya pada anak. Kedua subjek memiliki harapan yang sama

untuk anak yaitu agar anak dapat mandiri, seperti yang dikemukakan

(55)

“Ya cuma mudah-mudah an bisa mandiri aja. Penginnya dia itu mandiri aja. Ndak nuntut gimana-gimana itu ndak.”

(S1, b.52-54)

“Ya bisa mandiri”... Mandi sendiri, makan sendiri, bermain sendiri bisa meskipun harus pake walker”

(S2, b.124; b.126-127)

Pada subjek satu, pemahaman subjek terhadap kelebihan dan

kekurangan anak membuat subjek tidak menaruh harapan yang tinggi

pada anak, seperti yang dikatakan dalam wawancara berikut :

“Gak ada perkembangannya kalau disini uda bertahun-tahun.

Ya diselesaikan. Tapi saya berjuang gimana supaya. Saya tu gak nuntut apa akademik gak pernah nuntut yang penting anak saya disekolahan itu senang. Gitu aja. Biar pun mau dimasukkan dikelas mana aja monggo. Itukan dulu dari kelas 3 langsung dimasukkan di kelas 6. 6 di ikutkan ujian. Ujian masuk SMP . Kan dipercepat. Saya susahnya besok kalau keluar giman iki anakku hahahaha Saya gak pernah nuntut akademik. Dia terbatas to pemikirannya.”

(S1, b.344-357)

b. Pandangan terhadap anak

Pandangan realistis terhadap anak membuat subjek dua bersikap

untuk tidak menyembunyikan keadaan anak pada orang lain. Dengan

sikap seperti itu juga membuat subjek dua tidak diliputi perasaan

bersalah pada diri sendiri, seperti yang diungkapkan pada wawancara

berikut :

“Enggak, ya sudah memang keadaan anak saya seperti itu ya tidak harus saya sembunyikan. Kalau harus saya sembunyikan saya yang salah. ... Tapi saya tidak harus menyembunyikan, toh saya sembunyikan orang juga pada tahu. Daripada malu besok-besok , mending dah keadaan an anak saya gini. ... “

(56)

Berbeda dengan subjek dua, bagi subjek satu kurang adanya

pandangan realistis terhadap kondisi anak terjadi ketika subjek satu

mengetahui kondisi anak sehingga hal ini membuat subjek satu diliputi

perasaan sedih, kecewa dan menyesal pada diri subjek. Hal ini seperti

yang dikemukakan dalam wawancara berikut :

“Ya iya, anak normal, pertumbuhannya normal tapi og gak bisa apa-apa ya rasanya tu gimana. Apalagi kalau liat anak lain-lainnya itu gitu. Og anak saya seperti ini dulu. Ya rasa anu kan ada to rasa e gimana ya

(S1, b43-48)

Kesulitan subjek dalam memiliki pandangan realistis terhadap

kondisi anak juga dipengaruhi sikap masyarakat yang memandang

negatif kondisi anak. Hal ini seperti yang dikemukakan dalam

wawancara berikut :

“Ya kalau diliat orang ya mengganjal ya mba. Liatnya itu kadangkan dia itu liat kasihan ato liat ngejek, kadang-kadangkan gitu to? Banyak an orang kalau anak-anak kek gini diliatin orang kan ibunya merasa kesinggung gitu lho. Apalagi kalau ditanya udah gede kok gendongan mesti ada kan gitu”

(S1, b.191-198)

c. Adanya usaha membantu perkembangan anak

Orang tua yang mampu menerima kondisi anak akan berpikir

dan berusaha membantu perkembangan dan meningkatkan kemampuan

anak. Dalam penelitian ini kedua subjek berpikir dan berusaha mencari

solusi untuk perkembangan anak. Usaha yang dilakukan kedua subjek

(57)

alternatif bagi anak, seperti yang dikemukakan subjek satu dan subjek

dua dalam wawancara berikut :

“Dari awal saya udah kemana-mana cari alternatif ya dokter, tapi nyatanya kaya ya gimana lagi. Sampai sekarang saja kan masih terapi masih rutin. Jadi orangtua tu dah kurang-kurang mengusahakan anaknya sampai bisa mandiri.”

( S1, b.213-219)

“Pada saat itu bagaimana cara supaya bisa jalan seperti anak -anak yang lain. Akhirnya saya usahakan entah ke alternatif saya jalani, ke dokter juga saya jalanni”

(S2, b.44-48)

Pemikiran untuk membantu perkembangan anak didasari oleh

perasaan cemas dan khawatir tentang masa depan anak, seperti yang

dikemukakan subjek dua dalam wawancara berikut:

“Yo, juga sempet was-was. Ya perasaannya og jadi anak saya gini. Perasaannya ya gimana lok gak jalan”

(S2, b.34-36)

d. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis

Penerimaan terhadap anak dapat dilihat dari sikap orang tua

yang sanggup memberikan cinta, kasih sayang dan perlindungan yang

wajar bagi anak yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik maupun

psikis, adanya partisipasi orang tua terhadap dalam kegiatan anak serta

memberikan bimbingan, arahan dan motivasi pada anak. Dalam

penelitian ini, kedua subjek menunjukan kasih sayangnya dengan

berusaha memberikan apa yang menjadi kebutuhan anak, seperti yang

(58)

“...,dia sekarang senang meronce, ya akhirnya,, apa yang dia mau saya turuti mba sekarang. Dia minta ma aku dibeli in tang untuk membentuk kawat ya saya beliin,,”

(S2, b.110-114)

walker ,meja, terapi kebutuhan sekolahnya. Semua uda saya penuhi. Kecuali sekarang dia minta laptop saya belum bisa beli ini hehehehe. Ya untung bisa saya penuhi selama saya bisa. Ya cuma sekarangkan dia minta laptop, ya saya dek belum nganu e belum bisa. Sama itu saya mau carikan kaki dia untuk yang sampai dipinggang itu katanya bisa buat dia bisa jalan sendiri.”

(S2, b.312-322)

Tidak hanya pemenuhan kebutuhan bagi anak, keterlibatan

orang tua dalam kegiatan anak merupakan sikap penerimaan orang tua

terhadap kondisi anak. Subjek dua terlihat banyak menghabiskan waktu

bersama anak. Subjek dua ikut berperan dalam aktivitas yang dilakukan

anak terlebih lagi ketika anak belajar, seperti dikemukakan dalam

wawancara berikut :

“Kadang kalau anaknya bisa ditinggal saya melakukan apa yang harus saya kerjakan. Kalau bisa kalau enggak ya saya nunggu,, sampai sekarang pun dalam kegiatan belajar ya,, meskipun saya pekerjaannya banyak kalau dia, belum belajar,, karena kalau kadang enggak saya tunggui, ya dia terus malas-malas an,, ya saya terus menghentikan pekerjaan saya untuk nemani dia gitu.”

(S2, b.71-80)

Pada subjek satu, subjek tidak selalu dapat menemani dan ikut

berperan dalam kegiatan yang dilakukan anak. Subjek satu hanya dapat

menemani anak ketika anak berada di sekolah. Hal ini dikarenakan

subjek satu harus membagi waktunya untuk bekerja, seperti yang

diungkapkan dalam wawancara berikut :

(59)

itu jualan dimalioboro. Jadi sorenya itu disana sampe malam jadi sama yang ke rumah sama orang...mbahnya gitu.”

(S1, b.131-138)

Meskipun anak-anak memiliki keterbatasan tetapi orang tua

tetap mengarahkan, memberikan semangat dan motivasi agar anak

dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki, seperti yang

dikemukakan oleh subjek dua dalam wawancara berikut :

“Yo anu mba, kalau saya ya. Waktunya yo anu, perhatian saya ya waktu dia belajar. ... . Entah saya mau kerja apa, entah saya mau selesaikan apa kalau jamnya belajar, saya fokus membimbing dia belajar. Itu yang mungkin saat ini masih harus ditunggu.”

(S2,b.348-350 ; b.355-360)

Meskipun anak memiliki keterbatasan dan kesulitan dalam hal

komunikasi, subjek satu tetap menjalin komunikasi sederhana dengan

anak dengan bahasa yang senderhana pula, seperti yang diungkapkan

dalam wawancara berikut :

“Ya kalau komunikasi tetep biasa, lancar”... “Jarang e dia itu mba. Kalau gak boleh gak ibu ini ini ini,, entuk ra bu kan dia bahasa jawa ya. entuk ra ? Enggak, jangan, jangan maen-maen kaya gitu gak boleh ya dek. Bobok yang bener. Kalau aku mau kerja itukan dia mesti kasih pamit dulu to. Ibu kerja cari opo ? uang . nggo opo? Maem . Gitu dia (tertawa) mesti dia gitu. Ndak boleh apa? Nakal . gitu”

(S1,b. 224 ; b.246-258)

Berbeda dengan subjek satu, karena subjek dua memiliki anak

yang tidak mengalami hambatan dalam komunikasi maka komunikasi

(60)

mengatakan bahwa anak sering menceritakan kegiatan yang dialami di

sekolah, seperti yang dikemukakan dalam wawancara berikut :

“Suka cerita. Kalau cocol suka cerita dia. Banyak cerita dia.” (S2, b.257-258)

“Ya suka, kadang suka gitu. Kadang ya sambil bercanda aja ya mba. Tak bilangin gini. Anu ma nek aku duwe pacar piye? Kan anak segitu biasa to. Dek entuk mama ki duwe pacar ki kowe entuk tapi ki sekarang nek iso jalan sik. Saya bilang e cuma sambil humor. Nek diskusi sambil humor gitu jadi anak merasa tidak sakit hati ya. Terus anu kowe kan nek wis jalan penak, nendi-nendi piye. Eh ho’o yo ma. Kadang sok betul. Kadang diajak diskusi. Diskusi tapi gak begitu apa mba? tegang mba, sambil bercanda. Soalnya kalau anak diajak diskusi terlalu tegang kadang dia malah merasa takut. Hehahehe. Kalau ngajak diskusi saya sambil canda.”

(S2, b.262-281)

2. Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus secara Sosial Emosi

Subjek kelompok ini adalah sepasang orang tua (subjek tiga dan

subjek empat) yang memiliki anak yang mengalami ADHD dan autis, dan

seorang ibu (subjek lima) yang memiliki anak autis. Latar belakang anak

mengalami autis ini berbeda pada setiap subjeknya. Pada subjek tiga dan

subjek empat, kecurigaan kedua subjek pada anak muncul ketika anak

berusia dua setengah tahun. Pada umur tersebut anak belum dapat

berbicara. Kedua subjek kemudian membawa anak ke rumah sakit dan

menjalani pengetesan yang dilakukan oleh psikolog. Hasil pengetesan

menunjukkan bahwa anak mengalami autisme dan ADHD.

Sedangkan pada subjek lima, kecurigaan subjek pada kondisi anak

Gambar

Tabel 4.1 Daftar Pelaksanaan Wawancara Langsung dengan Subjek
Tabel 4 1 Daftar Pelaksanaan Wawancara Langsung dengan Subjek . View in document p.16
Tabel 3.1 Daftar Pedoman Wawancara
Tabel 3 1 Daftar Pedoman Wawancara . View in document p.48
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.52
Tabel 4.2 Identitas Subjek Penelitian
Tabel 4 2 Identitas Subjek Penelitian . View in document p.53
Tabel 4.3 Gambaran Penerimaan Orang Tua
Tabel 4 3 Gambaran Penerimaan Orang Tua . View in document p.77
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.78

Referensi

Memperbarui...

Download now (116 pages)
Related subjects : Penerimaan orang tua