STUDI DESKRIPTIF PEMBELIAN IMPULSIF PADA PRIA METROSEKSUAL DI YOGYAKARTA

Gratis

0
0
93
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI STUDI DESKRIPTIF PEMBELIAN IMPULSIF PADA PRIA METROSEKSUAL DI YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh : Eka Ayu Noningtyas 079114022 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto LIVE AS IF YOU WERE TO DIE TOMORROW LEARN AS IF YOU WERE TO LIVE FOREVER (Mahatma Gandhi) iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dipersembahkan untuk ; Tuhan Yesus Kristus Bapak Eko Yulianto dan Ibu Siswantini Kedua adik kandung saya Daniar Sepdianti dan Maria Indah Damayanti Serta orang-orang yang selalu ada buat saya dan membuat saya bersyukur memiliki mereka dalam hidup saya. v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang sudah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 25 Juli 2014 Penulis, Eka Ayu Noningtyas vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI STUDI DESKRIPTIF PEMBELIAN IMPULSIF PADA PRIA METROSEKSUAL DI YOGYAKARTA Eka Ayu Noningtyas ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika psikologis pembelian impulsif yang terdapat pada pria metroseksual. Subjek penelitian ini berjumlah tiga orang dan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan skala yang diberikan kepada subjek penelitian yakni menggunakan skala kecenderungan pembelian impulsif dan wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian menunjukan bahwa dinamika psikologis dari pembelian impulsif pada pria metroseksual ialah ketika ada stimulus yang merangsang need yang mendorong untuk melakukan pembelian impulsif maka akan disesuaikan dengan kondisi keuangan terlebih dahulu untuk memutuskan membeli barang tersebut. Stimulus yang memicu pembelian impulsif juga bermacam-macam, yang nampak dalam penelitian ini ialah stimulus yang berasal dari barang-barang yang dipajang di toko, seperti barang yang lucu, warna yang menarik, merk yang disukai, serta adanya diskon. Setelah melihat stimulus yang disajikan maka timbullah need seseorang untuk membeli barang tersebut, need yang paling banyak ditemukan ialah pemenuhan need of exhibition. Selain pemenuhan need tersebut, need lain yang mendorong seseorang melakukan pembelian impulsif ialah need of inavoidance. Setelah munculnya need untuk membeli maka kondisi keuangan sebagai penentu seseorang itu melakukan pembelian atau tidak. Jika kondisi keuangan cukup maka tanpa pikir panjang akan langsung membeli barang tersebut. Namun jika kondisi keuangan tidak mencukupi ada dua cara seseorang tetap membeli barang tersebut yaitu dengan cara memakai kartu kredit dan menunda pembelian sampai kondisi keuangannya mencukupi. Kata kunci : pembelian impulsif, pria metroseksual vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESCRIPTIVE STUDY OF AN IMPULSIVE BUYING ON METROSEXUAL MEN IN YOGYAKARTA Eka Ayu Noningtyas ABSTRACT This study is aimed to understand the psychological dynamics of impulsive buying that occur on metrosexual men. Subject of the study were three male. This study conducted with two ways which is by using impulsive buying tendency scale and semi-structural interview. The results of the study shows that psychological dynamics of impulsive buying on metrosexual men is, when there is a stimulus that triggers need with the result that encourage to do impulsive buying, therefore it will be adapted first to the financial condition to decide buying the stuff. Stimulus that triggers the impulsive buying is vary, stimulus that showed in this research is those who comes from stuff that been displayed in store, such as cute stuff, radiant colors, preffered brand, and also the availability of discount. After looking at the stimulus that being showed someone‟s need to buy the stuff developed, the most founded need is need of exhibition. Besides of the that need „s fulfillment, the other needs that encourage someone to do impulsive buying is the need of inavoidance. After the appearance of the need to buy therefore the financial condition as a determinant for someone to do or not to do the buying. If the financial condition is sufficient, without further thinking he will straight to buy the stuff . however if the financial condition is insufficient there is two ways that someone can do to still buy the stuff, which is by using credit card or postpone the purchase until the financial is sufficient. Key words : impulsive buying, metrosexual men viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertandatangan di bawah ini saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Eka Ayu Noningtyas Nim : 079114022 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudu : Studi Deskriptif Pembelian Impulsif Pada Pria Metroseksual di Yogyakarta Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet maupun media lain, untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 25 Juli 2014 Yang menyatakan (Eka Ayu Noningtyas) ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas bimbingan dan rahmat-Nya dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar dari Fakultas Psikologis Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pada kesempatan ini penulis hendak menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis, 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Dr. Tjipto Susana selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas bimbingan dari awal penulisan skripsi yang akhirnya dapat terselesaikan. Terima kasih atas kesempatan, diskusi dan nasehat yang telah diberikan. 3. Bapak V. Didik Suryo Hartoko, S.Psi., M.Si selaku dosen pembimbing akademik peneliti. Terima kasih atas bimbingan selama masa perkuliahan 4. Segenap dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan mengajar penulis selama masa perkuliahan. 5. Segenap karyawan Fakultas Psikologi: Mas Muji, Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Doni, Pak Gi yang telah banyak membantu peneliti selama masa perkuliahan, terima kasih atas pelayanannya dan bantuan yang begitu besar. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Para dosen penguji, Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. dan Ibu P. Henrietta P.D.A.D.S., M.A., yang telah meluluskan saya. 7. Ketiga subjek atas partisipasinya dalam penelitian ini. Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas partisipasinya. Upah kalian besar di surga. 8. Terutama untuk bapak dan ibu yang sangat saya hormati dan cintai. Atas cinta, kasih, dukungan, dan semangatnya. Semoga dengan selesainya skripsi ini mengurangi sedikit beban pikiran kalian. 9. Kedua adik kandungku yang selalu menemaniku dan menyindir karena gak lulus-lulus. Terimakasih cambukan semangatnya dan semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi kalian. 10. Special untuk Rengga Oktabiarto atas cinta dan dukungannya yang luar biasa dalam proses penyelesaian tugas akhir yang lama ini. Terima kasih selalu menemani di saat paling buruk sekalipun. Terimakasih atas doa, suka, duka, dan semua yang telah kita lalui bersama. 11. Keluarga Legowo Soebiarto dan keluarga Lintang Enrico atas dukungan dan doanya. Terima kasih atas semua dukungan dan menjadikanku bagian dalam keluarga kalian. 12. Listia Janwari Singarimbun teman gila dalam skripsi ini. Kalau bukan kita sendiri siapa lagi yakan? 13. Geng rasan-rasan, Seli dan Veani. Makasih gengs buat supportnya. I love you all. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14. Angkatan 2007 titik darah penghabisan atas dukungan dan bantuannya. Reno, Intan, Ve, Arya, Anton, Dea, Tino, dan Riko kita pasti bisa dan akhirnya kita bisa juga. 15. Terimakasih juga untuk semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang membantu dan memperlacar terselesaikan tanggung jawab ini. Akhir kata, peneliti menyadari bahwa penelitian dan penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini dari pembaca semua. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Penulis xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ........................... ii HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................. vi ABSTRAK ..................................................................................................... vii ABSTRACT ................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .............. ix DAFTAR ISI .................................................................................................. xiii DAFTAR TABEL ........................................................................................ xvi DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xvii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................... 9 C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 9 D. Manfaat Penelitian .............................................................................. 10 BAB II. DASAR TEORI ............................................................................... 11 A. Pembelian Impulsif ............................................................................. 11 1. Pengertian Pembelian Impulsif ........................................................ 11 2. Aspek Pembelian Impulsif .............................................................. 14 3. Faktor yang Mempengaruhi Pembelian Impulsif ............................ 15 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Pria Metroseksual ................................................................................ 17 1. Definisi Metroseksual ...................................................................... 17 2. Faktor-faktor yang Mendorong Pria menjadi Metroseksual ............ 19 3. Karakteristik Pria Metroseksual ....................................................... 20 C. Teori Murray ........................................................................................ 21 D. Pembelian Impulsif pada Pria Metroseksual ........................................ 28 E. Kerangka Penelitian ............................................................................. 30 D. Pertanyaan Penelitian .......................................................................... 32 BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................. 33 A. Metode Penelitian ............................................................................... 33 B. Fokus Penelitian .................................................................................. 33 C. Subjek Penelitian .................................................................................. 34 D. Metode Pengumpulan Data ................................................................. 35 E. Tahap Pengumpulan Data .................................................................... 37 F. Prosedur Analisis Data ......................................................................... 40 G. Kredibilitas Penelitian ......................................................................... 42 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................ 43 A. Pelaksanaan Penelitian ........................................................................ 43 B. Deskripsi Subjek ................................................................................. 44 C. Hasil Penelitian ................................................................................... 46 1. Subjek 1 ........................................................................................... 46 2. Subjek 2 ........................................................................................... 47 3. Subjek 3 ............................................................................................ 49 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Pembahasan Penelitian ........................................................................ 51 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 54 A. Kesimpulan ......................................................................................... 54 B. Saran Aplikatif .................................................................................... 55 C. Keterbatasan Penelitian ....................................................................... 56 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 58 LAMPIRAN ................................................................................................... 60 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Daftar Kebutuhan Menurut Murray .................................................. 23 Tabel 2. Blueprint Skala Pembelian Impulsif ................................................. 36 Tabel 3. Skala Kecenderungan Pembelian Impulsif ....................................... 61 Tabel 4. Tabel Verbatim Subjek 1 .................................................................. 63 Tabel 5. Tabel Verbatim Subjek 2 .................................................................. 68 Tabel 6. Tabel Verbatim Subjek 3 .................................................................. 73 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Dinamika Pembelian Impulsif Pria Metroseksual .......................... 29 Gambar 2. Dinamika Pembelian Impulsif Subjek 1 ........................................ 47 Gambar 3. Dinamika Pembelian Impulsif Subjek 2 ........................................ 49 Gambar 4. Dinamika Pembelian Impulsif Subjek 3 ........................................ 51 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini banyak bermunculan produk-produk kosmetik maupun kecantikan yang ditujukan bagi lelaki, misalnya sabun, parfum, shampo, pembersih muka, pelembab, maupun lotion yang dahulu hanya ditujukan untuk wanita saja. Produk-produk tersebut kini telah banyak dijumpai dalam kehidupan sehari hari dan sangat gampang jika ingin memperolehnya. Semakin banyak bermunculan produk-produk kosmetik bagi kaum lelaki itu berarti juga bahwa semakin banyak kaum lelaki yang mulai memperhatikan penampilan mereka. Menurut Simpson (1994) para pria yang mulai memperhatikan penampilannya ini bisa disebut dengan istilah metroseksual. Fakta terakhir yang ditemukan di London adalah jumlah penjualan kosmetik pria di Inggris dua kali lipat dari penjualan kosmetik wanita. Berdasarkan survei yang dilansir Reuters (2010) pada pria, alasan kebutuhan untuk terlihat menawan saat wawancara kerja dan ketakutan untuk menjadi terlihat tua menjadi kunci penting mengapa penjualan kosmetik untuk pria di London mengalami peningkatan (Dewi, 2010). Pria metroseksual menjadi pasar yang potensial bagi para produsen sehingga para produsen semakin memanfaatkan fenomena pria metroseksual tersebut, seperti yang dikatakan Hermawan Kertajaya, presiden World Marketing Associations, bahwa pria 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 metroseksual adalah profit center yang potensial karena kelompok ini gemar berbelanja dan dapat mempengaruhi ribuan pria yang ingin tampil menawan namun tidak tahu bagaimana caranya (dalam CBN, 2004). Solomon (2009) mengatakan bahwa konsep tradisional laki laki yang ideal ialah yang berotot, tangguh, agresif, dan pria yang menikmati olahraga serta beraktivitas. Namun telah terjadi evolusi pada sex roles (peran gender), dahulu pria dikenal sebagai makhluk yang macho dan tidak memperhatikan penampilan, tetapi sekarang pria juga mulai memperhatikan penampilannya daripada dahulu. Yuswohady (2006) menyebutkan bahwa pria metroseksual merupakan segmen pasar yang sangat potensial. Fenomena pria metroseksual ini mulai banyak dan berkembang di Indonesia, terutama di kota kota besar. Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono menyatakan bahwa sosok mereka dapat ditemui dimana-mana, di mall, kampus, kantor, kafe, kereta eksekutif, apalagi pesawat terbang kelas eksekutif (dalam Wibowo, 2006). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan MarkPlus&Co(perusahaan yang bergerak dalam bidang pemasaran dan konsultasi strategi) yang bekerja sama dengan EuroRSCG AdWork! (agensi advertising dan iklan komersial), pria metroseksual telah mencapai 15% dari populasi pria di Jakarta (Swistinawati & Basuki, 2009). Jika dilihat sekitar sepuluh tahun yang lalu masih sedikit pria yang memperhatikan penampilannya, akan tetapi sekarang sudah banyak sekali pria yang memperhatikan penampilannya yang ditunjang oleh berbagai macam produk kosmetik yang ditujukan untuk laki-laki seperti sabun, shampoo, pembersih

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 muka, pelembab, lotion, gym, bahkan salon kecantikan (Majalah Tempo Online, 2004). Istilah metroseksual mulai diperkenalkan oleh penulis yang bernama Mark Simpson pada tahun 1994 dalam artikelnya yang berjudul “Here Come The Mirror Men”. Ia mengatakan bahwa metroseksual ialah seorang pria urban yang menunjukkan ketertarikan yang kuat dan pengetahuan mengenai fashion, desain rumah, masakan, dan perawatan tubuh dimana hal tersebut bertentangan dengan peran gender pada pria secara tradisional. Pria metroseksual memiliki pesona tersendiri pada era 90-an. Pada tahun 1970-an para lelaki dilingkupi suasana maskulin seperti Charles Bronson, lalu pada tahun 1980-an tren kumis lebat memudar dan mulai menghilang, dan satu dasawarsa kemudian minat pria mulai bergeser ke perawatan wajah, parfum, perawatan kuku, pijat refleksi hingga bergesernya tokoh idola menjadi Brad Pitt dan David Beckham (http://www.republika.co.id/suplemen/cetak.details.asp diakses tanggal 28 Juli 2013). Metroseksual tersebut memiliki pengertian narcissictic dengan penampilan dandy (pesolek), yang tidak jauh dari penampilan pria yang berada di media massa yang jatuh cinta tidak hanya kepada diri sendiri namun kepada kehidupan metropolis (Handoko, 2009). Hal tersebut didukung oleh Arifin (Sulandary, 2009), yang mengatakan bahwa perilaku pria yang memperhatikan penampilan lebih dengan melakukan perawatan diri dan pemanjaan diri disebut pria metroseksual. Metroseksual bukanlah

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 penggambaran laki-laki yang kewanita-wanitaan alias banci atau waria, tetapi pria yang mencintai dirinya sendiri untuk menemukan kepuasan tersendiri di dalam dirinya (Imawan, 2008). Metroseksual bukan pula selalu homoseksual melainkan pria normal yang bisa memiliki keluarga yang bahagia dengan istri dan anak, hanya saja pria metroseksual lebih “kewanitaan” (Apsari, 2010). Dulu hanyalah kaum homoseksual yang memperhatikan penampilannya dengan cara berpakaian, mengunjungi salon maupun spa, serta rutin mengunjungi pusat kebugaran. Namun saat ini batas tersebut mulai bergeser, pria heteroseksual pun melakukan berbagai upaya agar tampil baik, memiliki potongan rambut yang bagus, memiliki baju yang bagus, harum, bersih, dan memiliki badan yang proporsional (Kompasiana, 2011). Pria metroseksual tidak segan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang identik dengan kaum wanita seperti salon dan spa, bahkan ada yang melakukan operasi kecantikan demi menunjang penampilannya. Menurut Fathia (dalam Fathia, 2006) jika dilihat melalui pandangan masyarakat biasa, kaum metroseksual termasuk di dalam golongan orang yang sangat royal. Produk-produk yang mereka beli umumnya barang yang bermerk dan biasanya tempat mereka berbelanja berada di dalam suatu mal atau yang sering kali disebut one stop shopping karena tidak hanya pusat perbelanjaan saja yang ada disana melainkan restaurant, tempat nongkrong, bahkan salon kecantikan (Fathia, 2006). Berbelanja merupakan kegiatan yang hampir seluruh umat manusia melakukannya. Berbelanja ialah aktivitas yang lumrah yang dilakukan oleh

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 manusia tanpa mengenal jenis kelamin dan umur. Setiap orang berbelanja demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Mangkunegara (2002) mengatakan bahwa kebutuhan adalah suatu kesenjangan antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Hal tersebut menunjukkan jika manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka akan menimbulkan perasaan kecewa, namun sebaliknya jika kebutuhan tersebut terpenuhi akan menimbulkan rasa kepuasan dalam diri individu tersebut. Dewasa ini kegiatan belanja tidak hanya untuk memperoleh kebutuhan pokok, melainkan sebagai pengisi waktu luang dan salah satu aktifitas gaya hidup guna memenuhi kebutuhan psikologis seseorang (Herabadi, Verplanken, & Knippenberg, 2009). Munculnya suatu dorongan psikologis yang kuat dalam diri seseorang kemungkinan menjadi sulit dilawan, karena akan menjadi sulit bagi seseorang untuk mencegah pengalaman yang dianggap menyenangkan bagi dirinya (Rook, 1987). Pengalaman yang dianggap menyenangkan dapat terjadi pada kegiatan pembelian yang dilakukan oleh konsumen dalam kehidupan sehari-hari (Rook, 1987). Seringkali konsumen tidak hati-hati dan kurang dapat memikirkan kegiatan belanja yang dilakukan, sehingga dapat memicu seseorang untuk melakukan pembelian secara tiba-tiba, tidak direncanakan, dan sulit dikendalikan. Munculnya situasi tersebut dinamakan pembelian impulsif (impulsive buying) (Herabadi, Verplanken, Knippenberg, 2009) Dahulu pembelian impulsif identik dengan kaum wanita. Wanita lebih mencari kenyamanan bagi dirinya sendiri dengan cara membeli kosmetik,

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 pergi ke salon, dan rajin membeli produk perawatan tubuh. Sedangkan pria lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-temannya dan biasanya melakukan aktivitas yang mengeluarkan keringat. Namun seiring dengan berkembangnya jaman, Kertajaya (2004) mengatakan bahwa pada akhirnya kaum pria mengikuti perilaku kaum wanita dalam hal berbelanja dan merawat tubuh. Menurut Kemala (dalam Kemala, 2008) pembelian impulsif pada pria metroseksual cenderung hampir sama dengan pembelian impulsif wanita dari kalangan kelas atas. Hal itu nampak dari pembelian parfum, produk perawatan tubuh, hingga pakaian. Pria metroseksual akan melakukan berbagai macam upaya agar dirinya terlihat sempurna sehingga ia pun rela mengeluarkan banyak uang agar dirinya tampil seperti yang ia inginkan. Jika bentuk tubuhnya kurang bagus maka ia akan membentuk tubuhnya di fitness centre, jika potongan rambutnya tidak sesuai yang ia inginkan, maka ia tidak segan-segan untuk ke salon kecantikan untuk memperbaharui gaya rambutnya. Layaknya wanita, pria metroseksual sangat senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbelanja di mall maupun nongkrong di kafe (Kemala, 2008). Pria metroseksual akan membeli suatu barang sesuai dengan mood mereka (Kemala, 2008). Aspek kegunaan barang tersebut tidak menjadi persoalan bagi kaum metroseksual karena yang terpenting dia telah memilikinya terlebih dahulu (Kartajaya dkk, 2004). Menurut Rahardjo dan Yuliani (2007) pria metroseksual memiliki pengeluaran yang tinggi sehingga kebanyakan berasal dari status sosial atas

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 sehingga mereka dapat memenuhi segala keinginannya. Pembelian impulsif pria metroseksual dapat terlihat secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari sehingga perilaku tersebut nampak dari perilaku mereka sehari-hari. Perilaku tersebut dapat terlihat dari keseharian mereka yang ingin agar penampilannya terlihat selalu dandy (sesuai dengan apa yang diinginkannya dan tampak elegan). Beberapa fenomena mengenai kemunculan pembelian impulsif pada pria metroseksual mengundang beberapa peneliti untuk melakukan penelitian terkait dengan pembelian impulsif. Namun sejauh pencarian peneliti, belum banyak penelitian mengenai pembelian impulsif pada pria metroseksual. Peneliti sudah melakukan pencarian penelitian tersebut melalui jurnal-jurnal, skripsi terdahulu, serta penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pembelian impulsif, akan tetapi belum banyak ditemukan mengenai pembelian impulsif pada pria metroseksual. Penelitian yang ditemukan mengenai kecenderungan pembelian impulsif pada usia dewasa awal, penelitian tersebut ialah milik Wikantanti (2012). Penelitian tersebut bertujuan untuk melihat gambaran mengenai kecenderungan pembelian impulsif pada usia dewasa awal di Yogyakarta. Penelitian tersebut menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara umum kecenderungan pembelian impulsif pada usia dewasa awal di Yogyakarta tergolong rendah. Secara khusus terdapat perbedaan yang signifikan dalam

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 kecenderungan pembelian impulsif menurut jenis kelamin, frekuensi belanja per bulan, serta cara penawaran barang (Wikantanti, 2012). Peneliti tertarik untuk meneliti pembelian impulsif pada pria metroseksual karena pria metroseksual cenderung melakukan pembelian impulsif untuk menunjang penampilannya agar selalu terlihat dandy dan menarik. Penelitian ini akan dilakukan dengan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui pengisian skala dan wawancara semi terstruktur. Penelitian ini akan menunjukkan proses dan alur munculnya perilaku pembelian impulsif yang tidak dapat diketahui jika memakai metode kuantitatif. Pengumpulan data dengan metode wawancara semi terstruktur diharapkan dapat meminimalisir munculnya perilaku menilai diri baik atau dikenal dengan istilah faking good pada subjek, dalam hal ini subjek akan sengaja memunculkan perilaku yang dinilai baik oleh norma-norma dan nilainilai yang berlaku di dalam masyarakat sehingga tidak menimbulkan citra negatif. Kelebihan lain yang didapat adalah metode ini dapat mengungkap dorongan-dorongan yang mungkin tidak disadari oleh subjek itu sendiri. Yang dimaksud dengan dorongan yang tidak disadari itu tidak terbatas pada dorongan yang sengaja disembunyikan karena melakukan faking good ataupun bentuk kebohongan lain, namun juga dorongan yang tidak diungkapkan karena ketidaksengajaan. Biasanya dalam kasus ketidaksengajaan, subjek tidak bermaksud menyembunyikan dorongan tetapi

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 hanya mengungkapkan dorongan-dorongan yang disadari saja.Oleh karena itu wawancara dilakukan untuk mengetahui perilaku yang tidak disadari subjek yang tidak dimunculkan dalam pernyataan ketika pengisian skala. Maka, dengan menggunakan metode ini, dorongan-dorongan yang bahkan tidak disadari kehadirannya oleh subjek sendiri dapat diungkap melalui wawancara pada subjek. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada uraian tersebut mengenai semakin banyaknya pria metroseksual terutama di kota-kota besar dimana pria metroseksual melakukan berbagai upaya demi penampilannya dan membuat pria metroseksual cenderung melakukan pembelian impulsif. Sehingga muncullah pertanyaan “bagaimanakah dinamika psikologis pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif?” C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika psikologis pembelian impulsif yang terdapat pada pria metroseksual. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah agar menyumbang untuk bidang ilmu psikologi khususnya psikologi konsumen.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2. Manfaat Praktis a. Bagi Masyarakat Membuka pandangan atau paradigma mengenai laki-laki metroseksual yang melakukan pembelian impulsif agar lebih memahami dinamika psikologis pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif sehingga bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan sebelum menjatuhkan penilaian negatif terhadap lakilaki metroseksual yang melakukan pembelian impulsif. b. Bagi para Laki-Laki Metroseksual Membuka pandangan sehingga menyadari sepenuhnya dorongan untuk pembelian impulsif dan memunculkan kewaspadaan diri pelaku supaya tidak justru menimbulkan kerugian dan dampak negatif.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II DASAR TEORI A. Pembelian Impulsif 1. Pengertian Pembelian Impulsif Rook (1987) menyatakan bahwa pembelian impulsif terjadi ketika konsumen seringkali melakukan pembelian secara tiba-tiba serta memiliki dorongan yang kuat untuk membeli suatu barang secepatnya. Hal ini muncul karena karena keinginan untuk membeli yang didasarkan dari kesenangan semata tanpa mempedulikan cara mendapatkannya. Oleh sebab itu, pembelian impulsif juga ditandai dengan dengan munculnya perasaan puas dan gembira setelah melakukan pembelian. Bellenger dan Korgaonkar (dalam Gasiorowska, 2011) menyatakan bahwa konsumen yang melakukan pembelian impulsif adalah orang yang menjadi recreational shopper. Rook dan Hock (dalam Gasiorowska, 2011) mengatakan bahwa ketika orang berbelanja, seseorang menemukan mood positif dan merasakan adanya kepuasan dalam aktifitas belanja, bahkan ketika membeli melebihi apa yang telah direncanakan sebelumnya. Senada dengan hal tersebut, Rook (1987) mengemukakan bahwa pembelian impulsif lebih mengutamakan emosional daripada rasional. Konsumen yang sering melakukan pembelian secara impulsif (highly impulsive buyers) memiliki 11 kecenderungan unreflective dalam

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 pemikirannya. Konsumen memiliki ketertarikan secara emosional pada objek, menginginkan kepuasan segera dan disertai dengan gerakan cepat dan menggemari pengalaman spontan ketika melakukan pembelian. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya daftar belanja yang bersifat terbuka, sehingga menyebabkan terjadinya pembelian barang yang tidak terduga yang didominasi oleh emosi (Hoch & Lowenstein, 1991., Thomson et al., 1990 dalam Kacen and Lee, 2002). Rook (dalam Kacen and Lee, 2002) juga menjelaskan bahwa pembelian impulsif didefinisikan sebagai pembelian tidak terencana (unplanned purchased). Pembelian impulsif juga didefinisikan oleh Gasiorowska (2011) sebagai pembelian yang tidak reflektif, sebenarnya tidak diharapkan terjadi secara spontan, diiringi dengan munculnya keinginan yang mendadak untuk membeli produk-produk tertentu. Secara spesifik, kecenderungan konsumen untuk membeli secara impulsif terlihat ketika membeli secara spontan, tidak reflektif, dan tiba-tiba. Konsumen distimulasi oleh kedekatan secara fisik dari hasrat sebuah produk dan reaksinya terhadap stimulus bisa dikaitkan dengan kontrol intelektual yang rendah (kurangnya evaluasi pada kriteria kebutuhan, berkurangnya alasan untuk membeli, kurangnya evaluasi terhadap konsekuensi yang mungkin ditimbulkan, munculnya kepuasan yang datang secara tiba-tiba sebagai penundaan datangnya kekecewaan) serta aktivasi emosional yang tinggi (kegembiraan dan stimulasi yang

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 disebabkan oleh produk atau oleh situasi atau proses membeli) (Gasiorowska, 2011; Rook & Fisher, 1995). Pembelian impulsif merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli secara spontan, mendadak, dan cenderung terjadi secara tiba-tiba (Peck & Childres, dalam Rohman, 2009). Selain itu, pembelian impulsif juga didefinisikan sebagai pembelian yang tiba-tiba dan segera tanpa ada minat pembelian sebelumnya (Beatty & Ferrel, dalam Rohman, 2009). Adapun beberapa ciri-ciri pembelian impulsif menurut Verplanken dan Herabadi (Verplanken & Herabadi, 2001) antara lain : 1. Kurangnya perencanaan sebelum melakukan pembelian 2. Kurangnya pertimbangan ketika berbelanja 3. Munculnya perasaan puas dan senang setelah membeli barang yang diinginkan, namun sesudahnya mengalami kekecewaan 4. Munculnya hasrat untuk melakukan pembelian berkali-kali 5. Pembelian tidak terkontrol Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelian impulsif adalah suatu pembelian yang terjadi secara tiba-tiba, spontan, tidak terencana, dan diiringi dengan adanya keinginan atau dorongan yang kuat untuk mendapatkan suatu produk atau barang secara mendadak tanpa mempedulikan bagaimana cara mendapatkannya, sehingga pada akhirnya merasakan adanya kegembiraan dan kepuasan dalam diri setelah mendapatkan produk atau barang yang diinginkannya tersebut.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 2. Aspek Pembelian Impulsif Verplanken dan Herabadi (2001) mengemukakan dua aspek pembelian impulsif, yakni aspek kognitif dan aspek afektif. a. Aspek Kognitif Aspek kognitif yang dimaksud adalah kekurangan pada unsur pertimbangan dan unsur perencanaan dalam pembelian yang dilakukan. Hal ini didasari oleh pernyataan Verplanken dan Aarts (dalam Verplanken & Herabadi, 2001) bahwa pembayaran yang dilakukan mungkin tidak direncanakan atau dipertimbangkan secara matang, misalnya ketika pembayaran tak terencana tampak tak direncanakan dalam waktu yang panjang atau dalam kasus pengulangan pembayaran atau kebiasaan pembayaran. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahawa aspek kognitif dalam pembelian impulsif meliputi tidak adanya pertimbangan, tidak adanya proses berpikir, dan tidak adanya perencanaan dalam melakukan pembelian. b. Aspek Afektif Aspek afektif meliputi dorongan emosional yang secara serentak meliputi perasaan senang dan gembira setelah membeli tanpa perencanaan (Verplanken & Herabadi, 2001). Setelah itu muncul perasaan atau hasrat untuk melakukan pembelian berdasarkan keinginan yang muncul secara tiba-tiba, sifatnya berkali-kali atau kompulsif, tidak terkontrol, kepuasan, kecewa, dan penyesalan karena telah membelanjakan uang hanya untuk memenuhi keinginannya.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Oleh sebab itu, maka dapat disimpulkan bahwa aspek afektif dalam pembelian impulsif antara lain adanya perasaan senang, gembira, dan muncul perasaan bersalah atau menyesal. 3. Faktor yang Mempengaruhi Pembelian Impulsif Gasiorowska (2011) mengemukakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pembelian impulsif, yakni karakteristik individu, sekelompok individu (grup) dan faktor situasional, serta kontrol diri dan evaluasi normatif. a. Karakteristik individu Karakteristik individu yang mempengaruhi pembelian impulsif seperti dorongan yang tinggi dari diri seseorang, munculnya orientasi sementara, dan memiliki kecenderungan berbelanja untuk rekreasi (recreational shopping), yaitu berbelanja untuk mendorong atau meningkatkan mood, menemukan kepuasan saat berbelanja, dan membeli barang lebih dari yang direncanakan (Gasiorowska, 2011). Wood (dalam Verplanken & Herabadi, 2001) menyatakan bahwa mood atau suasana hati tertentu (kombinasi antara keinginan, kegembiraan, dan kekuatan) dapat menjadi faktor terjadinya pembelian impulsif. Di samping itu Dittmar et al (dalam Verplanken & Herabadi, 2001) juga menyatakan bahwa pembelian impulsif merupakan simbol atau ekspresi dari identitas diri seseorang.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 b. Sekelompok Individu (grup) dan Faktor Situasional Sekelompok individu (grup) dan faktor situasi tertentu juga memicu terjadinya pembelian impulsif. Hal tersebut diikuti oleh emosi tertentu yang sedang dirasakan seseorang sebelum dan setelah proses pembelian, muncul sikap menuju ke arah promosi, yaitu adanya rangsangan yang berasal dari dalam toko seperti adanya kenyamanan yang ditawarkan, kemudahan dalam pembelian, serta waktu yang tersedia untuk berbelanja (Gasiorowska, 2011). Senada dengan hal itu, Hoch dan Loewenstein (dalam Gasiorowska, 2011) menyatakan bahwa konsumen akan merasa dibujuk dan digoda secara emosional oleh produk-produk yang ditawarkan untuk memperoleh kepuasan secara tiba-tiba dari suatu produk tertentu. Secara spesifik dijelaskan bahwa ketika konsumen percaya jika pembelian impulsif itu diterima secara sosial, maka konsumen akan cenderung melakukan pembelian impulsif tersebut, tetapi apabila pembelian impulsif yang akan dilakukan tidak diterima secara sosial, maka konsumen akan mencegah pembelian impulsif tersebut (Kacen & Lee, 2002). Verplanken (2001) menunjukkan bahwa kondisi produk atau lingkungan belanja juga dapat memicu terjadinya pembelian impulsif, antara lain penampilan produk, warna yang menarik, bau yang enak, dan iringan musik yang nyaman. Selain itu, Beatty dan Ferrell (dalam Verplanken, 2001) menyatakan bahwa dalam situasi tertentu uang dan waktu juga dirasakan sebagai pemicu terjadinya pembelian impulsif.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 c. Kontrol Diri dan Evaluasi Normatif Kontrol diri seseorang dapat memicu maupun menghambat dalam mengambil keputusan, khususnya dalam keputusan pembelian impulsif. Kontrol diri yang rendah akan memicu terjadinya pembelian impulsif, sebaliknya jika kontrol diri seseorang tinggi, maka dapat menjadi penghambat terjadinya pembelian impulsif. Di samping itu, akses dalam penggunaan uang juga dapat memicu terjadinya pembelian impulsif (Gasiorowska, 2012). Sedangkan evaluasi normative didefinisikan sebagai penilaian konsumen tentang kesesuaian antara pembelian impulsif dengan situasi pembelian tertentu (Rook & Fisher, 1995). B. Pria Metroseksual 1. Definisi Metroseksual Menurut Sumardi (2003, h.13) laki-laki metroseksual merupakan pria yang selalu mengikuti perkembangan fashion dan selalu menginginkan produk terbaru serta tergolong liberal dan senang bersosialisasi. Meskipun tergolong pria yang suka memanjakan dirinya, pria metroseksual tergolong pria yang menghormati persamaan gender. Menurut Simpson (dalam Irnida, 2005, h.13) pria metroseksual ialah pria heteroseksual yang suka bersolek dengan cara mengelupas rambut-rambut yang ada di kulitnya, memakai pelembab, serta memanjakan dirinya. Sedangkan menurut Jordan pengelupasan rambut-

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 rambut yang tidak diinginkan telah menjadi tren baru-baru ini. Beberapa diantaranya dari kalangan polisi, tentara, bisnis eksekutif, dokter dan pengacara, bahkan mahasiswa melakukannya secara rutin. Snyder (dalam Irnida, 2005, h.15) penata busana di Waco mengatakan pengelupasan rambut itu juga termasuk dalam merapikan alis yang sekarang mulai marak. Menurut Trubo (dalam Irnida, 2005, h.13) pria metroseksual adalah laki-laki normal, sensitif, berpendidikan baik, tinggal di kota yang dekat dengan sisi feminim, dapat menghabiskan setiap minggu untuk manicure, dan lebih suka menata rambutnya ke penata rambut daripada ke tukang cukur biasa. Selain itu suka berbelanja, sebagian besar suka memakai perhiasan dan di dalam tempat mandinya banyak terdapat produk khusus pria, termasuk pelembab. Ada kemungkinannya mereka menggunakan sedikit make-up. Pria metroseksual suka melatih fisiknya dengan fitness dan penampilannya banyak mendapatkan perhatian, selain memang suka diperhatikan. Menurut Salzman (dalam Kertajaya, 2004, h.42) pria metroseksual ingin memperhatikan diri, memelihara dan berperilaku terbuka, serta menolak sifat-sifat tradisional laki-laki pada umumnya. Jenis pria ini bukan banci karena sangat yakin dengan maskulinitas dan kepribadiannya. Dapat disimpulkan bahwa pria metroseksual adalah pria muda yang normal (heteroseksual) dan memiliki sisi feminim yang sangat

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 menyukai perawatan tubuh, seperti ke tempat-tempat kebugaran (fitness centre), dan mengikuti fashion, serta menginginkan produk-produk terbaru, serta menghargai kesetaraan gender. 2. Faktor-Faktor yang Mendorong Pria menjadi Metroseksual Faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya pria metroseksual (Kartajaya, 2004) adalah : a. Emansipasi wanita Emansipasi wanita menyebabkan banyak wanita bekerja, yang akhirnya menggeser nilai-nilai “kelaki-lakian” yang ada pada pria. Hal ini disebabkan karena perempuan membawa masuk kebiasaan mempercantik diri ke dalam dunia kerja dan norma ini kemudian mempengaruhi kebijakan dunia kerja yang mulai memasukkan penampilan diri sebagai kriteria dalam penilaian karyawan. Dan ketika penampilan diri diperhitungkan dalam promosi karier maka saat itulah pria mulai berpikir ulang untuk memperhatikan penampilan sehingga muncullah pria-pria metroseksual yang sangat memperhatikan penampilannya. b. Wanita sebagai bread-winner Wanita modern mulai mereposisi dirinya sebagai bread-winner (pencari nafkah). Hal ini membuat pria mengalami krisis identitas karena peran yang sejak lama menjadi dasar dalam hubungan sosialnya telah diambil alih. Namun hal ini tidak membuat kaum pria mengalami disorientasi diri, sebaliknya kaum pria justru melihat

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 adanya ruang yang luas bagi proses rekonstruksi identitasnya yang baru sehingga muncullah pria metroseksual. Namun menurut Simpson (dalam Kartajaya, 2004) penyebab munculnya pria-pria metroseksual yaitu dikarenakan naiknya gerakan feminisme dan jatuhnya norma keluarga inti (nuclear family) serta banyaknya wanita yang bekerja membuat pria tidak berhak mengklaim diri sebagai “pemimpin” dan tidak berhak pula mengklaim maskulin sehingga mereka mengkonstruksi jati diri mereka menjadi pria metroseksual. 3. Karakteristik Pria Metroseksual Beberapa ciri pria metroseksual dikemukakan oleh Kertajaya dkk (2004) yaitu : a. Pada umumnya hidup dan tinggal di kota besar dimana hal ini tentu saja berkaitan dengan kesempatan akses informasi, pergaulan, dan gaya hidup yang dijalani dan secara jelas akan mempengaruhi keberadaan mereka. b. Berasal dari kalangan berada dan memiliki banyak uang karena banyaknya materi yang dibutuhkan sebagai penunjang gaya hidup yang dijalani. c. Memiliki gaya hidup urban dan hedonis

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 d. Secara intens mengikuti perkembangan fashion di majalah-majalah mode pria agar dapat mengetahui perkembangan fashion terakhir yang mudah diikuti. e. Umumnya memiliki penampilan yang klimis, dandy, dan sangat memperhatikan penampilan serta perawatan tubuh. Dilihat dari karakteristik tersebut kaum metroseksual tidak hanya terdapat di daerah perkotaan saja, hal ini berkaitan dengan perkembangan modernisasi yang begitu cepat sehingga kesempatan akses informasi dapat saja pria yang berada bukan di kawasan perkotaan mengikuti gaya hidup pria perkotaan. Berdasarkan dari karakteristik dan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri pria metroseksual adalah : a. Menyukai gaya hidup urban, hedonis, dan bersosialisasi di café/mall b. Menyukai untuk tampil rapi, klimis dan dandy, dan mengikuti perkembangan mode terbaru c. Merawat diri dengan cara pergi ke salon untuk melakukan luluran, facial, spa, perawatan kuku dan tangan, perawatan kuku dan kaki, dan fitness C. Teori Murray Murray merupakan salah satu tokoh psikolog yang bertumpu pada dinamika kebutuhan untuk menerangkan kepribadian. Disadari atau tidak,

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 setiap perilaku manusia didasari oleh motivasi tertentu. Untuk berbicara tentang motivasi, tentu harus berbicara tentang kebutuhan-kebutuhan. Murray mengemukakan 5 kriteria untuk mengidentifikasi kebutuhan: 1. Merupakan respons terhadap suatu objek atau sekelompok objek yang berfungsi sebagai stimulus 2. Menyebabkan munculnya suatu perilaku 3. Adanya konsekuensi atau hasil akhir dari perilaku tersebut 4. Adanya suatu respons emosional tertentu dalam perilaku tersebut 5. Ada tingkat kepuasan atau ketidak puasan tertentu setelah seluruh respons dilakukan Murray (dalam Hall & Lindzey, 1993) membedakan tipe kebutuhan ke dalam lima kelompok, yaitu: a. Viscerogenic and Psychogenic Needs (Kebutuhan Viskerogenik atau Kebutuhan Primer dan Kebutuhan Psikogenik atau Kebutuhan Sekunder) Kebutuhan viskerogenik merupakan kebutuhan yang berhubungan dengan organ-organ tubuh terutama berkaitan dengan kepuasan fisik. Contoh: kebutuhan akan udara, air, makan, seks, laktasi, kencing dan defekasi. Sedangkan kebutuhan psikogenik merupakan kebutuhan yang berasal dari kebutuhan viskerogenik dan tidak memiliki hubungan dengan kepuasan fisik. Contoh: kebutuhan berprestasi, pengakuan, otonomi, eksibisi,dll

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Tabel 1 Daftar Kebutuhan Menurut Murray Kebutuhan N Abasement (merendah) N Achievement (berprestasi) N Affiliation (berafiliasi) N Agression (menyerang) N Autonomy (mandiri) Batasan Singkat Tunduk secara pasif kepada kekuatan eksternal, merasa bersalah bila orang lain berbuat kesalahan, menerima inferioritas, fitnahan, kesalahan, kekalahan, menyalahkan atau membahayakan diri. Untuk menyelesaikan sesuatu yang sulit dan menarik, menguasai, mengatasi rintangan, dan mencapai standar, berbuat sebaik mungkin, bersaing mengungguli orang lain. Mendekati dan menyenangi kerjasama dengan orang lain, mendapat afeksi dari orang yang disenangi, menjadi teman bagi orang lain, berbaik hati, berbuat sesuatu bersama dengan orang lain. Mengatasi oposisi dengan kekerasan, berkelahi, membalas penghinaan, menghukum, melukai, membunuh, meremahkan, mengutuk dan memfitnah. Menyerang pendapat orang lain, mempermainkan orang lain. Untuk menjadi bebas, melawan paksaan atau hambatan, menghindari kekuasaan orang lain, mandiri, tidak terikat, menolak kelaziman. Berdiri sendiri dalam Emosi yang Terlibat Malu Berdosa Rendah diri Press yang Menyumbang Agresi Kekuasaan orang lain Semangat Ambisi Tugas Saingan Kepercayaan Afeksi Cinta Empati Positif: banyak teman Negatif: tidak memiliki teman Marah Mengamuk Benci Agresi Superioritas Penolakan Terhambat Marah Positif: toleran, terbuka Negatif: hambatan fisik, kekuasaan

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 N Counteraction (mengimbangi) N Defendance (membela diri) N Deference (menghormati) N Dominance (menguasai) N Exhibition (penonjolan diri) N Harm membuat keputusan, menghindari urusan dan campur tangan orang lain. Memperbaiki kegagalan dengan berjuang lagi, menghilangkan pelecehan, mengatasi kelemahan, menekan takut, mengembalikan nama baik, mempertahankan harga diri. Mempertahankan diri terhadap serangan, kritik dan celaan, menyembunyikan atau membenarkan perbuatan tercela, menyembunyikan kegagalan, penghinaan. Mengagumi dan menyokong atasan, memuji, menyanjung. Menyuruh orang lain memutuskan sesuatu mengenai dirinya, tunduk, menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, berbuat lebih baik dari contohnya. Mengontrol lingkungan orang lain, mempengaruhi dengan sugesti, persuasi atau perintah, membuat orang lain mengerjakan apa yang disuruhnya. Untuk diperlakukan sebagai pemimpin. Untuk mengesankan, dilihat dan didengar, membuat orang lain kagum, bergairah, terpesona, terhibur, terkejut, terangsang, terpikat. Menjadi pusat perhatian, menonjolkan prestasi, menyatakan keberhasilannya. Menghindari rasa sakit, Kebanggaan Bersalah Tuntutan tanggung jawab Malu Kecemasan Kecil Ancaman moral Beban yang terlalu berat Inferioritas Keamanan Wibawa Kekuatan oraganisasi Keyakinan diri Dikagumi Inferioritas orang lain Kebanggaan Superioritas Ekstasi Lingkungan yang toleran Sanjungan Rasa aman Situasi yang

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Avoidance (menghindari bahaya) N Inavoidance (menghindari rasa hina) N Nurturance (merawat, memelihara) N Order (teratur) N Play (bermain) N Rejection (penolakan) luka, penyakit, kematian. Melarikan diri dari situasi bahaya, tindakan pencegahan. Untuk melindungi diri sendiri tanpa mengadakan perlawanan. Menghindari penghinaan, keluar dari situasi yang memalukan, kondisi yang bisa menimbulkan pelecehan, makian, ejekan, atau sikap masa bodoh. Menahan diri untuk bertindak karena takut gagal. Memberi simpati, membantu, melindungi, menyenangkan orang lain yang tidak berdaya atau bayi atau orang yang lemah, membantu orang dalam bahaya. Untuk mengampuni dan berlaku dermawan untuk orang lain. Membuat semua teratur, menjaga kebersihan, susunan, organisasi, keseimbangan, kerapian, ketelitian. Untuk berbuat secara teratur dengan perencanaan yang cermat sebelumnya. Bersenang-senang tanpa tujuan lain, tertawa dan berkelakar, relaksasi dari stress secara menyenangkan, ikut dalam permainan, sport, menari, minum dan berjudi. Untuk mentertawakan segala hal. Memisahkan diri dari orang yang tidak disenangi. Mengucilkan, melepaskan, mengusir, Kecurigaan tidak menentu Bahaya yang tersembunyi Gamang Takut Kekuatan luar yang kuat dan tidak dapat diduga Kasih sayang Terharu Lembut hati Situasi mengiba meminta bantuan Tenang Tidak terburuburu Disiplin Kerapian Gembira Santai Tanpa beban Tugas yang ringan Waktu luang Benci Menghina Tidak senang Lingkungan yang tidak menguntungkan yang

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 tidak mempedulikan, menghina atau memutuskan hubungan dengan objek yang tidak dikehendaki. N Sentience Mencari dan menikmati Terharu Ketenteraman (keharuan) kesan yang menyentuh Ke-Ilahian Keindahan perasaan. Untuk memiliki Ketenangan dan menikmati keindahan, kesempurnaan yang abadi. N Sex (seks) Membangun hubungan Terangsang Rangsangan erotik, nelakukan Cinta erotik hubungan seksual. Memperoleh rangsangan fisik dan psikologik, memuaskan libido. N Succorance Mendapat kepuasan Kecemasan Positif: simpati (membuat dengan memperoleh Tidak berdaya lingkungan orang iba) seimpati dari orang lain, Tanpa harapan Negatif: ditolak mendekat kepada lingkungan pelindungnya, untuk dinasehati, dimaafkan. Membuat orang lain mengerti dan membantu dirinya. N UnderMenanyakan atau Eksplorasi Lingkungan standing menjawab pertanyaan Paranoid akademik (memahami) umum, tertarik pada teori, Diskusi memikirkan, merumuskan, menganalisa dan menggeneralisir. Untuk memahami apa saja fenomena yang merangsang dirinya. Tabel diambil dari Hall, C. S., dan Lindzey, G. (1993). Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis); Editor A. Supratiknya. Yogyakarta:Penerbit Kanisius. b. Proactive and Reactive Needs (Kebutuhan Proaktif dan Kebutuhan Reaktif)

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Kebutuhan proaktif adalah kebutuhan yang hampir selalu ditentukan dari dalam diri. Kebutuhan ini bergerak dengan spontan sebagai akibat dari sesuatu yang berasal dari dalam diri orang tersebut bukan akibat dari lingungan. Sedangkan kebutuhan reaktif merupakan kebutuhan yang digerakkan dari luar diri individu sebagai akibat dari respon individu terhadap lingkungan. c. Overt and Covert Needs (Kebutuhan Terbuka dan Kebutuhan Tertutup) Kebutuhan terbuka merupakan kebutuhan yang nyata, dimana kebutuhan ini dapat dilihat secara langsung atau segera yang tercermin dalam tingkah laku motorik. Sedangkan kebutuhan tertutup merupakan kebutuhan yang laten atau tersembunyi, dimana kebutuhan ini biasanya dikekang, dihambat atau ditekan yang biasanya muncul dalam bentuk fantasi atau impian. Kebutuhan tertutup merupakan hasil dari penginternalisasian superego, dimana superego menentukan perilakuperilaku yang pantas atau dapat diterima. d. Focal and Diffuse Types of Needs (Kebutuhan yang Memusat dan Kebutuhan yang Menyebar) Kebutuhan yang memusat berarti kebutuhan yang memiliki hubungan yang erat dengan objek-objek tertentu, sedangkan kebutuhan yang menyebar berarti kebutuhan ini bersifat umum yang berlaku hampir di setiap keadaan. e. Effect and Modal Types of Needs (Kebutuhan Akibat dan Kebutuhan Modal)

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Kebutuhan akibat adalah kebutuhan yang mengarah pada suatu keadaan yang diinginkan, sedangkan kebutuhan modal adalah kecenderungan untuk melakukan perilaku-perilaku tertentu demi perilaku itu sendiri. D. Pembelian Impulsif pada Pria Metroseksual Seseorang yang metroseksual merupakan pria yang memiliki kemampuan financial untuk mengkonsumsi berbagai produk maupun jasa yang dapat menunjang kebutuhannya akan perhatian pada penampilan (Simpson, 2002). Kalangan ini juga dilihat sebagai kalangan yang berada di kota besar atau memiliki akses yang mudah ke kota besar dan mereka pun ada dimana-mana. Jenis pekerjaan yang mereka geluti pun cukup bervariasi. Wibowo (dalam Adlin, 2006) dan Kertajaya et al., (2004) menyebutkan bahwa pekerjaan mereka mulai dari model, resepsionis, professional media, musisi populer, olahragawan, bahkan berbagai profesi lainnya yang mendukung penampilan cantiknya serta memiliki akses ke produk-produk mahal. Hal tersebut memicu terjadinya pembelian secara tiba-tiba, tidak direncanakan, dan sulit dikendalikan. Pembelian yang seperti itu disebut sebagai pembelian secara impulsif. Wood (dalam Lin & Lin, 2005) menyatakan bahwa usia rentan pembelian impulsif terjadi pada seseorang yang berusia antara 18-39 tahun. Hal ini berarti bahwa seseorang dengan rentang umur tersebut dapat rentan terhadap pembelian impulsif. Fenomena pembelian impulsif telah masuk ke dalam

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 masyarakay Yogyakarta. Aktifitas pembelian impulsif dapat mempengaruhi adanya perubahan gaya hidup di masyarakat. Perubahan gaya hidup dalam berbelanja ini didukung oleh munculnya banyak gerai fashion, kafe, industry kecantikan dan kuliner, serta mal dan pusat perbelanjaan yang memberikan kepuasan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan masyarakat (Chaney, 2009). Seseorang yang metroseksual menyukai gaya hidup hedonis dengan banyak sosialisasi di café atau mall dan mengikuti perkembangan mode terbaru. Setiap pria metroseksual memiliki need, need tersebut dipicu oleh faktor eksternal yang berupa stimulus dan kondisi keuangan pria metroseksual tersebut lalu respon yang terjadi ialah membeli. Sehingga ketika pria metroseksual melihat adanya stimulus yang memicunya untuk melakukan pembelian impulsif agar dirinya selalu mengikuti perkembangan mode dimana pembelian tidak berdasarkan kebutuhan melainkan keinginan, maka respon yang mengikutinya ialah pria metroseksual akan langsung melakukan pembelian tanpa pikir panjang. Eksternal : Stimulus Kondisi Keuangan Membeli Need Respon Menunda Gambar 1. Dinamika pembelian impulsif pria metroseksual

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 E. Kerangka Penelitian Beberapa penelitian dan artikel telah cukup banyak membahas mengenai pembelian impulsif pada pria metroseksual. Namun belum banyak buku yang membahas hal tersebut secara lebih detail. Di sisi lain, fenomena pembelian impulsif pada pria metroseksual mulai banyak terjadi dan muncul ke permukaan dengan berbagai tanggapan yang berasal dari lingkungan masyarakat. Hal ini terbukti dari beberapa salon yang kini mulai membuka pelayanan bagi kaum laki-laki dengan fasilitas yang menyerupai salon-salon perawatan untuk wanita pada umumnya. Beberapa produk perawatan khusus laki-laki juga mulai bermunculan dengan menggunakan ikon-ikon artis kenamaan. Menanggapi kemunculan berbagai macam perawatan diri pada laki-laki, berbagai asumsi dalam masyarakat mulai berkembang. Pahlawan yang populer saat ini bukan lagi yang perkasa, para pembangun kerajaan, para penemu dan dan orang-orang berprestasi. Selebriti kini adalah para bintang film dan penyanyi, "orang-orang cantik" yang lebih memilih kenikmatan daripada kedisiplinan dan kerja keras (Featherstone, 1991 dalam Sturrock &Pioch,1998). Pernyataan tersebut menggambarkan telah terjadinya pergeseran asumsi mengenai sosok maskulin yang pada awalnya adalah sosok yang bekerja secara kasar dan banyak mengandalkan fisik dengan penampilan seadanya atau bahkan tidak peduli pada penampilan fisik. Sedangkan sosok maskulin saat ini lebih mengarah pada laki-laki yang tidak banyak bekerja mengandalkan fisik dengan penampilan fisik yang rapi, badan yang wangi,

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 kulit bersih dan halus dan banyak menghabiskan waktu serta biaya untuk melakukan perawatan diri guna menyokong penampilan fisiknya. Sebuah biro pemasaran terkenal, MarkPlus&Co pernah mengadakan sebuah survei yang dilakukan di Jakarta pada bulan Desember 2003 silam. Survei tersebut melibatkan 400 responden pria yang berangkat dari kelas ekonomi atas (berpengeluaran lebih dari lima juta rupiah perbulan), dengan rentang usia 26 – 55 tahun. Dalam survei tersebut ditemukan berbagai fakta yang menarik seputar fenomena metroseksual di Indonesia, seperti misalnya, 35 % dari responden mengaku mereka menjadikan belanja sebagai pleasure shopping atau menjadikan aktivitas belanja sebagai rekreasi. Mereka tidak lagi berbelanja sesuai kebutuhan yang mendatangkan nilai guna (purpose shopping) yang biasa dianut pria konvensional. Sementara itu berkaitan dengan pandangan pria metroseksual tentang kesetaraan gender juga dapat dilihat dari hasil survei yang menyatakan bahwa 89,7% dari responden mendukung emansipasi, mereka merasa manusia tidak boleh dibedakan berdasarkan gender. Fenomena-fenomena tersebut mengantarkan peneliti pada pertanyaan baru mengenai pembelian impulsif pada pria metroseksual jika dilihat dari dinamika psikologisnya. Penelitian akan dilakukan dengan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui pengisian skala dan wawancara semi terstruktur. Pengisian skala kecenderungan pembelian impulsif dilakukan oleh subjek sebagai panduan dalam wawancara. Sedangkan penggunaan wawancara

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 diharapkan dapat menggali informasi yang dibutuhkan. Kedua metode tersebut diharapkan akan meminimalisir kemungkinan terjadinya faking dari para subjek. Langkah selanjutnya adalah melakukan interpretasi data dan penggabungan data wawancara. Kedua data tersebut diharapkan dapat saling melengkapi sehingga data yang didapat adalah data yang lengkap dan valid. Kemiripan antara kedua data tersebut akan dapat dikelompokkan dan kemudian akan dapat membantu mengungkapkan mengenai pembelian impulsif pada pria metroseksual. F. Pertanyaan Penelitian Penelitian ini dilakukan guna mengungkapkan gambaran pembelian impulsif pada pria metroseksual yang khususnya berada di area Yogyakarta. Maka pertanyaan penelitiannya adalah, “Bagaimanakah dinamika psikologis perilaku konsumtif pada pria metroseksual?”.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang menjelaskan suatu fenomena secara deskriptif dan berusaha mendeskripsikan maupun menginterpretasikan untuk mengeksplorasi, maksud dari suatu fenomena maupun pengalaman personal dan sosial yang dialami oleh subjek penelitian (Geertz dalam Smith, 2009). Penelitian kualitatif dipilih pada penelitian ini untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu di balik fenomena yang belum banyak orang tahu kondisi sesungguhnya (Strauss & Corbin, 2003). Hal ini mengindikasikan bahwa fenomena yang sedang diteliti merupakan halhal yang tidak dapat dilihat dan dikenali secara langsung sehingga membutuhkan metode yang lebih mendalam guna mengungkap faktor tersebut. B. Fokus Penelitian Dalam penelitian ini peneliti berusaha mengungkap gambaran dinamika psikologis pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif. Penelitian ini menggunakan analisis fenomenologi deskriptif 33

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 yang bertujuan untuk menangkap sedekat mungkin begaimana fenomena tersebut dialami di dalam konteks terjadinya fenomena tersebut (Smith, 2009). Selain itu fenomenologi berusaha menemukan makna-makna psikologis yang terkandung dalam fenomena melalui penyelidikan dan analisis contoh-contoh hidup (Smith, 2009). Langkah-langkah analisis data menurut Giorgi (dalam Smith, 2009) : 1. Membaca keseluruhan data secara detail 2. Menentukan unit-unit makna 3. Melakukan transformasi data 4. Menangkap struktur dasar pengalaman Fokus penelitian adalah pada dinamika psikologis pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif. C. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini berjenis kelamin laki-laki. Subjek tersebut dipilih dengan menggunakan Criterion Sampling yaitu cara penentuan subjek berdasarkan criteria tertentu dari peneliti (Creswell, 1998). Subjek penelitian ini ialah pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif. Subjek tersebut dipilih dengan menggunakan kriteria tertentu yakni berdasarkan kriteria dari peneliti dengan standar pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif. Adapun karakteristik pria metroseksual ialah menyukai gaya hidup urban, hedonis, dan bersosialisasi di café/mall; menyukai untuk tampil rapi, klimis dan dandy, dan mengikuti perkembangan mode terbaru; serta merawat diri dengan cara pergi ke

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 salon untuk melakukan luluran, facial, spa, perawatan kuku dan tangan, perawatan kuku dan kaki, dan fitness Dalam hal ini, pembelian impulsif dapat mencakup perilaku pembelian yang terjadi secara tiba-tiba, spontan, tidak terencana, dan diiringi dengan adanya keinginan atau dorongan yang kuat untuk mendapatkan suatu barang secara mendadak. D. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan skala yang diberikan kepada subjek penelitian dan wawancara semi terstruktur. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara yang berdasarkan pada skala kecenderungan pembelian impulsif. Skala kecenderungan pembelian impulsif tersebut diadaptasi dari jurnal yang dibuat oleh Verplanken dan Herabadi (2001). Skala ini telah diujicobakan di Belanda dan menghasilkan koefisien alpha sebesar 0,86. Oleh karena itu item pada skala tergolong cukup memuaskan. 1. Skala Kecenderungan Pembelian Impulsif Penelitian ini menggunakan satu skala yaitu skala kecenderungan pembelian impulsif (The Impulse Buying Tendency Scale). Skala kecenderungan pembelian impulsif tersebut dialihbahasakan dari jurnal yang dibuat oleh Verplanken dan Herabadi (2001). Skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert yang

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 pengumpulan datanya dengan menggunakan metode rating yang dijumlahkan dan terdiri dari empat kategori pilihan jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Pada awalnya skala ini terdiri dari 52 item yang didasarkan dari aspek pembelian impulsif tersebut. Skala ini telah diujicobakan di Belanda dan menghasilkan koefisien alpha sebesar 0,86. Oleh karena itu item pada skala tergolong cukup memuaskan. Setelah dilakukan uji coba skala ini menghasilkan 20 item dengan skor koefisien korelasi item yang baik (Verplanken dan Herabadi, 2001). Berikut adalah blueprint skala penelitian. Tabel 2 Blueprint Skala Pembelian Impulsif No. 1. 2. Aspek Kognitif - Spontan - Tanpa berpikir sebelumnya - Tidak ada perencanaan Afektif - Perasaan senang - Tidak terkontrol - Puas - Menyesal - Kecewa TOTAL Item Jumlah Favorable 3,9,10 Unfavorable 1,2,4,5,6,7,8 10 11,12,13, 15,16,17, 18,19,20 14 10 12 8 20 Untuk menjaga validitas dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan pendekatan validitas isi. Penetapan validitas isi

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 dilakukan dengan cara professional judgement atau analisis rasional yaitu validitas isi dikoreksi oleh orang yang sudah ahli yaitu dosen pembimbing (Azwar, 2007). 2. Wawancara Semi Terstruktur Wawancara semi-terstruktur dilakukan guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara semi terstruktur ini memungkinkan peneliti untuk fleksibel dalam mengembangkan pertanyaan sesuai respon yang diberikan subjek penelitian dalam skala kecenderungan pembelian impulsif. Panduan pertanyaan wawancara harus dapat mengungkapkan tujuan maupun fokus dari penelitian. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkait dengan perilaku melakukan pembelian impulsif pada pria metroseksual termasuk pada diri subjek sendiri. E. Tahap Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahapan. Pada tahap awal, pemberian skala kecenderungan pembelian impulsif diawali dengan pemberian raport dan instruksi. Instruksi yang dapat diberikan sebagai penjelasan mengenai apa yang harus dilakukan subjek adalah subjek diminta untuk mengisi skala kecenderungan pembelian impulsif secara jujur dan apa adanya.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Langkah-langkah dalam proses pengumpulan data melalui skala kecenderungan perilaku impulsif dan wawancara ini melalui beberapa tahap, yakni : a. Langkah pertama ialah mencari subjek yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan oleh peneliti dengan cara observasi. Subjek yang dicari adalah laki-laki metroseksual dengan kisaran usia sekitar 23 sampai dengan 34 tahun dan melakukan pembelian impulsif. b. Menanyakan kesediaan subjek untuk menjadi subjek yang diteliti dalam penelitian ini. c. Menyusun jadwal pelaksanaan pengumpulan data dan wawancara agar antara peneliti dan subjek penelitian terjadi kesepakatan, sehingga tidak mengganggu aktivitas dari subjek penelitian. d. Mengalihbahasakan skala kecenderungan pembelian impulsif. Skala dibuat sesuai dengan tujuan penelitian dan panduan wawancara digunakan agar peneliti tetap fokus pada pembicaraan dalam bahan wawancara. e. Setelah terjadi kesepakatan jadwal maka peneliti membangun rapport dengan subjek dan meminta subjek untuk menjawab pertanyaan yang diajukan secara jujur. f. Kemudian tahap yang dilakukan adalah pemberian skala kecenderungan pembelian impulsif. Setelah subjek mengisi skala maka langkah selanjutnya ialah scoring skala kecenderungan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 pembelian impulsif. Pengukuran skala tersebut didasarkan pada kategori penilaian. 1. Item-item favorable yaitu : - Sangat Setuju (SS) : skor 4 - Setuju (S) : skor 3 - Tidak Setuju (TS) : skor 2 - Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 1 2. Item-iten unfavorable yaitu : - Sangat Setuju (SS) : skor 1 - Setuju (S) : skor 2 - Tidak Setuju (TS) : skor 3 - Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 4 Semakin tinggi skor total yang diperoleh subjek maka menggambarkan semakin tinggi pula kecenderungan pembelian impulsif subjek, dan sebaliknya semakin rendah skor total yang diperoleh subjek maka menggambarkan semakin rendah kecenderungan pembelian impulsif subjek. g. Selama proses wawancara, sarana yang akan dibutuhkan adalah alat perekam guna merekam verbatim subjek. Setelah itu, peneliti akan membuat transkrip wawancara dan verbatim keseluruhan hasil wawancara subjek.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 F. Prosedur Analisis Data Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Bogdan & Biklen, dalam Moleong, 1989). Proses analisis data diawali dengan langkah awal memahami data. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan yang kemudian dikategorisasikan dan diakhiri dengan langkah penafsiran data. Langkah-langkah analisis data pada penlitian ini diuraikan sebagai berikut: a. Organisasi Data Proses organisasi data merupakan tahap awal dalam kegiatan mengolah dan menganalisis data. Poerwandari (1998) menjelaskan organisasi data dilakukan agar peneliti dapat memperoleh kualitas data yang baik, dapat mendokumentasikan analisis yang dilakukan serta dapat menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian ini, kemudian halhal penting yang disimpan dan diorganisasikan adalah catatan lapangan, transkrip wawancara dan catatan refleksi peneliti, dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis, serta data-data yang sudah diberi kode-kode tertentu guna kemudahan dalam mencari data. Dari data stimulus

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 proyektif berupa gambar dan hasil wawancara subjek, kemudian akan dicatat/ditranskripsikan kata per kata (verbatim). Kemudian dilanjutkan dengan langkah selanjutnya yakni melakukan koding dan pengkategorisasian. b. Kategorisasi Kategorisasi dilakukan dengan membaca berulang data yang didapatkan kemudian memberikan kategori pada hasil data dan dipisahkan berdasarkan kategorinya masing-masing (Moleong, 1988). Pada langkah ini, peneliti menemukan beberapa tema. Kemudian dibuatlah pola yang lebih umum sesuai dengan kategori yang muncul. Hal ini dilakukan agar hasil penelitian tetap fokus pada tujuan penelitian yang disusun secara sistematis agar mudah dianalisa. Dengan membaca berulang,maka akan didapat tema-tema umum yang muncul sebagai gambaran atau kerangka untuk menganalisis data selanjutnya. Pada langkah ini, termasuk juga mengkategorisasikan data yang sudah ditandai. c. Penafsiran Data Pada tahap ini, peneliti membaca kembali hasilnya berulang-ulang guna mempertajam pemahaman terhadap hasil penelitian sementara. Peneliti kemudian melakukan interpretasi data atau yang distilahkan sebagai penafsiran data yang bertujuan untuk mendeskripsikan (Moleong, 1988).

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 G. Kredibilitas Penelitian Tahap selanjutnya setelah melakukan analisis data adalah tahap verifikasi data yaitu untuk menunjukkan apakah hal yang diamati oleh peneliti sesuai dengan yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan dan apakah pemahaman peneliti sesuai dengan pemahaman subjek. Tahap yang dilakukan peneliti yakni sebagai berikut : 1. Triangulasi Metode triangulasi dilakukan dengan sumber yakni dengan membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yangberbeda dalam penelitian kualitatif (Moleong, 1989). Dalam penelitian ini, hal tersebut dilakukan dengan membandingkan data hasil skala kecenderungan pembelian impulsif dengan data hasil wawancara. 2. Member check Member check yaitu suatu usaha untuk mengecek apakah informasi yang ditangkap oleh peneliti sesuai dengan apa yang dimaksud oleh subjek. Member check dilakukan oleh peneliti dengan mengulangi kembali di akhir wawancara apa yang telah dikatakan oleh subjek, sehingga dapat diantisipasi salah pengertian atau dapat diperbaiki kekurangan atau kelebihan di sana-sini (Nasution, 1988). Metode ini juga memberikan kesempatan pada responden untuk memberikan tambahan informasi, memperbaiki atau bahkan menyanggah dan menyetujui informasi yang sudah dinyatakan di awal (Moleong, 1988).

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan peneliti dalam waktu sebulan dalam bulan Mei hingga bulan Juni 2014. Penelitian dilakukan dengan menemui masing-masing subjek di tempat dan waktu yang sudah disepakati bersama antara peneliti dan subjek sendiri. Penelitian didahului dengan membangun raport atau pengenalan dan pendekatan dengan subjek sehingga dapat memudahkan peneliti dalam mengambil data yang dibutuhkan nantinya. Raport yang dibangun antara peneliti dan subjek diharapkan dapat membangun kedekatan sehingga subjek lebih leluasa dalam membagikan cerita dan data yang nantinya dibutuhkan peneliti. Setelah raport sudah dibangun antara peneliti dengan subjek, selanjutnya dilakukan pengambilan data dengan pengisian skala dimana subjek diminta mengisi skala dengan jujur dan sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya. Pengumpulan data kemudian dilanjutkan dengan melakukan wawancara guna mendapatkan data yang dibutuhkan oleh peneliti mengenai gambaran dinamika psikologis pembelian impulsif pada diri subjek. Rata-rata pengumpulan data subjek oleh peneliti dilakukan dalam waktu 15-30 menit. Subjek penelitian menggunakan 3 subjek yang 43

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 melakukan pembelian impulsif dengan karakter yang berbeda satu sama lain. B. Deskripsi Subjek 1. Subjek 1 Subjek merupakan artist atau orang yang berkecimpung di dunia seni. Subjek banyak bermain di dalam dunia seni peran dan seni musik sehingga sering bepergian ke luar daerah. Masalah yang dihadapi saat ini adalah subjek belum juga memiliki pacar. Untuk menyelesaikan masalahnya, subjek memperhatikan penampilannya agar selalu diperhatikan oleh teman-temannya terutama lawan jenis. Subjek memandang dirinya baik, tampan, ramah, punya banyak teman, suka membantu, dan bertanggung jawab. Menurut subjek kelebihan diri subjek adalah suka membantu orang lain, rajin, bertanggung jawab, setia, dan tampan. Menurut subjek, kelemahan yang dimiliki subjek adalah boros dalam masalah keuangan. Hasil dari skala kecenderungan pembelian impulsif subjek adalah 52. Berdasarkan hasil dari skala tersebut maka subjek termasuk dalam kategori pria yang melakukan pembelian impulsif. 2. Subjek 2 Subjek merupakan mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Subjek belum menyelesaikan pendidikannya dikarenakan suka travelling. Masalah yang dihadapi saat ini oleh

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 subjek adalah pendidikan yang belum selesai dan orang tua yang mendesak agar cepat menikah. Untuk menyelesaikan masalahnya, subjek mulai mengerjakan skripsi dan mengurangi kegiatan travellingnya. Menurut subjek, kelebihan dirinya adalah mudah bergaul, ramah, loyal, disiplin, dan setia kawan. Menurut subjek, kelemahan diri subjek adalah mudah terpancing emosi dan pemalas. Hasil dari skala kecenderungan pembelian impulsif subjek adalah 53. Berdasarkan hasil dari skala tersebut maka subjek termasuk dalam kategori pria yang melakukan pembelian impulsif. 3. Subjek 3 Subjek merupakan lulusan dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Saat ini subjek tidak bekerja karena subjek akan meneruskan pendidikan S2. Masalah yang dihadapi saat ini oleh subjek adalah belum juga memiliki pacar. Untuk menyelesaikan masalahnya, subjek melakukan pendekatan terhadap beberapa teman wanitanya. Menurut subjek, kelebihan dirinya adalah berwibawa, rajin, suka membaca, dan berkharisma. Menurut subjek kelemahan diri subjek adalah lemah terhadap wanita. Hasil dari skala kecenderungan pembelian impulsif subjek adalah 55. Berdasarkan hasil dari skala tersebut maka subjek termasuk dalam kategori pria yang melakukan pembelian impulsif.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 C. Hasil Penelitian 1. Subjek 1 a. Profil subjek 1 Subjek pertama dalam penelitian ini berinisial A. A seorang pria berusia 30 tahun dan berprofesi sebagai artist. Perawakan A tidak terlalu tinggi, berkulit putih, dan berpenampilan menarik. Ia terlihat ramah terhadap siapapun termasuk dengan orang yang baru dikenalnya. A termasuk orang yang suka bercerita apa saja kepada siapa saja. A tidak malu dan apa adanya ketika bercerita kepada seseorang. Saat ini A tinggal di sebuah kos dan telah menempati kos tersebut selama tiga tahun belakangan. Kamar kos A tampak rapi dan bersih karena barang-barang tertata rapi dan lantai kamar yang bersih. Kegiatan A sehari-hari ialah bekerja sebagai kru salah satu grup band ternama di Yogyakarta dan bermain film dalam skala kecil maupun besar. Hasil dari skala kecenderungan pembelian impulsif A adalah 52. Berdasarkan hasil dari skala tersebut maka A termasuk dalam kategori pria yang melakukan pembelian impulsif sehingga peneliti melakukan wawancara lebih lanjut untuk mengetahui dinamika psikologis A dalam pembelian impulsif.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 b. Skema Wawancara Subjek 1 Stimulus : 1. 2. 3. 4. Merk Barang lucu Warna cocok Warna favorit Respon Membeli Need Need of exhibition Beli dengan uang sendiri Kondisi Keuangan Cukup Beli dengan berhutang Tidak cukup Gambar 2. Dinamika pembelian impulsif subjek 1 2. Subjek 2 a. Profil Subjek 2 Subjek kedua dalam penelitian ini berinisial R. R seorang pria berusia 25 tahun yang tengah menyelesaikan tugas akhir pendidikannya. Perawakan R terlihat agak gemuk dengan perut yang agak buncit, tidak terlalu tinggi, dan memiliki kulit sawo

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 matang. R berpotongan rambut cepak agar lebih praktis dan mengenakan pakaian casual yaitu kaos berkerah, celana panjang, dan sepatu keds. R tampak memiliki banyak teman yang terlihat dari banyaknya teman yang menyapa ketika R berada di suatu tempat keramaian, contohnya mall. R suka bercerita mengenai berbagai macam hal kepada siapa saja dan apa adanya. R merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Saat ini R masih tinggal dengan kedua orang tuanya, sedangkan kakak R telah menikah dan memiliki rumah tangga sendiri. Kegiatan R sehari-hari ialah kumpul bersama teman-temannya disamping mengerjakan tugas akhirnya. Hasil dari skala kecenderungan pembelian impulsif R adalah 53. Berdasarkan hasil dari skala tersebut maka R termasuk dalam kategori pria yang melakukan pembelian impulsif sehingga peneliti melakukan wawancara lebih lanjut untuk mengetahui dinamika psikologis R dalam pembelian impulsif.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 b. Skema Wawancara Subjek 2 Stimulus : 1. 2. 3. 4. Barang bagus Suka Cocok Merk yang disukai Respon Membeli Need Need of exhibition Beli dengan uang sendiri Kondisi Keuangan Menunda Cukup Tidak cukup Gambar 3. Dinamika pembelian impulsif subjek 2 3. Subjek 3 a. Profil Subjek 3 Subjek ketiga dalam penelitian ini berinisial S. S adalah seorang pria berusia 24 tahun yang bergelar sarjana komunikasi dari universitas swasta di Yogyakarta. Setelah lulus, S tidak bekerja terlebih dahulu karena akan melanjutkan pendidikannya di

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 jenjang S2. Perawakan S terlihat tinggi, agak gemuk, dan berkulit putih. S mengenakan baju casual dengan memakai kaos, celana panjang jeans, dan sneakers. Rambut S dibiarkan agak sedikit panjang namun tidak gondrong dengan berpotongan rapi. S suka bercerita kepada teman-temannya mengenai politik, sosial, dan sejarah. S merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini S masih tinggal dengan kedua orang tua dan adiknya. Kegiatan S sehari-hari ialah membaca dan pergi dengan teman-temannya. Hasil dari skala kecenderungan pembelian impulsif S adalah 55. Berdasarkan hasil dari skala tersebut maka S termasuk dalam kategori pria yang melakukan pembelian impulsif sehingga peneliti melakukan wawancara lebih lanjut untuk mengetahui dinamika psikologis S dalam pembelian impulsif.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 b. Skema Wawancara Subjek 3 Stimulus : 1. Parfum (aroma) 2. Pakaian : - Bahan - Warna 3. Barang : - Bagus - Menarik Need Respon Membeli Need of exhibition Beli dengan uang sendiri Kondisi Keuangan Cukup Beli dengan hutang/kartu kredit Tidak cukup Gambar 4. Dinamika pembelian impulsif subjek 3 D. Pembahasan Penelitian Berdasarkan analisis data yang diperoleh, diketahui bahwa dinamika psikologis dari pembelian impulsif pada pria metroseksual ialah ketika ada stimulus yang memicu need sehingga mendorong seseorang untuk melakukan pembelian impulsif maka akan disesuaikan dengan

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 kondisi keuangan terlebih dahulu untuk memutuskan membeli barang tersebut. Stimulus yang memicu pembelian impulsif juga bermacammacam, yang nampak dalam penelitian ini ialah stimulus yang berasal dari barang-barang yang dipajang di toko, seperti barang yang lucu, warna yang menarik, merk yang disukai, serta adanya diskon. Subjek di dalam penelitian ini akan cenderung impulsif jika mendapatkan tawaran dalam bentuk barang-barang yang dipajang di toko yaitu barang yang lucu, warna yang menarik, merk yang disukai, serta adanya diskon, sehingga dapat diartikan bahwa subjek sudah mengenali dan mengetahui terlebih dahulu barang-barang yang akan dibeli. Padahal suatu transaksi jenis barang seharusnya terjadi karena adanya kebutuhan buakan karena adanya diskon entah berapapun besarnya diskon tersebut (Islahuddin, 2010). Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Wikantanti (2012) karena penelitian ini menghasilkan dinamika psikologis yang tidak terdapat pada penelitian sebelumnya. Hasil dinamika dalam penelitian ini adalah dinamika antara stimulus, kebutuhan (need), dan kondisi keuangan. Ditemukannya dinamika dalam penelitian karena metode pengambilan data yang dilakukan oleh peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstrukur dapat menunjukkan proses dan alur munculnya perilaku pembelian impulsif yang tidak dapat diketahui jika memakai metode kuantitatif. Selain itu dengan menggunakan wawancara semi terstruktur koding dapat

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 disesuaikan dengan jawaban yang diberikan subjek, seperti kebutuhan penonjolan diri dan kebutuhan menghindari rasa hina.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa dinamika psikologis dari pembelian impulsif pada pria metroseksual ialah ketika ada stimulus yang merangsang need yang mendorong untuk melakukan pembelian impulsif maka akan disesuaikan dengan kondisi keuangan terlebih dahulu untuk memutuskan membeli barang tersebut. Stimulus yang memicu pembelian impulsif juga bermacam-macam, yang nampak dalam penelitian ini ialah stimulus yang berasal dari barang-barang yang dipajang di toko, seperti barang yang lucu, warna yang menarik, merk yang disukai, serta adanya diskon. Setelah melihat stimulus yang disajikan maka timbullah need seseorang untuk membeli barang tersebut, need yang paling banyak ditemukan ialah pemenuhan need of exhibition. Selain pemenuhan need tersebut di atas, need lain yang mendorong seseorang melakukan pembelian impulsif ialah need of inavoidance. Setelah munculnya need untuk membeli maka kondisi keuangan sebagai penentu seseorang itu melakukan pembelian atau tidak. Jika kondisi keuangan cukup maka tanpa pikir panjang akan langsung membeli barang tersebut. Namun jika kondisi keuangan tidak mencukupi ada dua cara seseorang tetap membeli barang tersebut yaitu 54

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 dengan cara memakai kartu kredit dan menunda pembelian sampai kondisi keuangannya mencukupi. B. Saran Aplikatif 1. Saran untuk Pria Metroseksual yang Melakukan Pembelian Impulsif Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan berbagai macam fakta mengenai macam-macam stimulus dan motivasi yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif. Hasil tersebut dapat membantu pria metroseksual yang melakukan pembelian impulsif supaya menjadi lebih menyadari sepenuhnya akan perilaku pembelian impulsif sendiri serta halhal apa saja yang mendorong perilaku pembelian impulsif. Menengok hasil dari penelitian yang menunjukkan bahwa banyak subjek yang menyatakan melakukan perawatan diri guna meningkatkan rasa percaya diri dan mendapatkan perhatian dari lingkungan, maka sebaiknya dalam melakukan pembelian impulsif diimbangi dengan sikap waspada. Waspada dalam hal ini adalah menyadari bahwa perilaku pembelian impulsif jangan sampai menimbulkan ketergantungan untuk menutupi kekurangan dan meningkatkan rasa percaya diri. Meningkatkan rasa percaya diri dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih bersifat menggali potensi diri yang bersifat positif. 2. Saran untuk Penelitian Selanjutnya Keterbatasan penelitian disadari oleh peneliti muncul dalam penelitian ini, baik dalam hal pandangan pribadi dan kurangnya kepekaan peneliti

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 terhadap jawaban subjek. Maka disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk lebih peka dan kritis dalam menggali informasi untuk melengkapi data sehingga didapatkan data yang lengkap dan lebih mendalam. 3. Saran Bagi Masyarakat Masyarakat menjadi sebuah kontrol bagi perkembangan yang terjadi di lingkungan. Bahkan dalam hal ini adalah perilaku pembelian impulsif pada pria metroseksual. Apabila dilihat dari hasil penelitian, didapati bahwa perilaku pembelian impulsif juga muncul dikarenakan need untuk menjalin relasi dengan orang lain. Berdasar pada hal tersebut maka ada baiknya bagi masyarakat untuk memahami need dibalik perilaku pembelian impulsif itu sendiri pada pria metroseksual sehingga meminimalisir perilaku menilai dan menghakimi perilaku pembelian impulsif dan semata-mata memandang negatif perilaku pembelian impulsif pada pria metroseksual. C. Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari adanya kekurangan dalam penelitian ini. Beberapa kekurangan tersebut adalah tidak adanya pertanyaan lebih lanjut secara mendalam sehingga mungkin seharusnya masih banyak data yang bisa didapatkan guna kelengkapan data. Kekurangan lain adalah kurang pekanya peneliti sehingga terdapat beberapa hasil wawancara yang tidak ditanyakan lebih lanjut dan mendalam. Dikarenakan penelitian ini dilakukan secara kualitatif sehingga terdapatnya pandangan pribadi peneliti dalam pembahasan

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 hasil penelitian, hal ini juga menjadi salah satu kekurangan penelitian karena penelitian yang baik adalah penelitian dimana peneliti menempati posisi yang netral dan meminimalisir potensi bias yang muncul dalam penelitian.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Creswell, J. W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design : Choosing Among Five Approaches. California : Sage Publications, Inc. Gasiorowska, Agata. (2011). Gender As a Moderator of Temperampental Causes of Impulsive Buying Tendency. Journal of Customer Behaviour. Vol. 10, No. 2., pp. 119-142. Hall, C. S., & Lindzey, G. (1993). Teori-Teori Holistik (OrganismikFenomenologis); Editor A. Supratiknya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Handoko, Tri. (2009). Metroseksual dalam iklan sebagai wacana gaya hidup http://dgiposmodern. Diunduh 16 September 2013 dari indonesia.com/metroseksualitas-dalam-iklan-sebagai-wacana-gaya-hidupposmodern/ Herabadi, Astrid G., Verplanken, Bas (2001). Individual Differences in Impulse Buying Tendency : Feeling and no Thinking. European Journal of Personality : S71-S83 Herabadi, Astrid G., Verplanken, Bas., Knippenberg, Ad van. (2009). Consumption experience of impulse buying in Indonesia : Emotional arousal and hedonistic considerations. Asian Journal of Psychology : 12, 20-31. Ishlahuddin. (2010). Konsumtivisme? Diunduh pada 23 Juni 2014, dari http://ishlahuddin.wordpress.com/2010/02/10/konsumtivisme/ Kacen, Jacqueline J., Lee, Julie Anne. (2002). The Influence of Culture on Consumer Impulse Buying Behavior. Journal of Consumer Psychology, 12(2), 163-176. Kartajaya, H., Yuswohady., Madyani, Dewi., Christynar, M., Indrio, Bembi Dwi. (2004). Metrosexuals In Venus : Pahami Perilakunya, Bidik Hatinya, Menangkan Pasarnya. Jakarta : MarkPlus&Co. Kotler, P. & Armstrong, G. (1997). Dasar-Dasar Pemasaran Jilid I. alih Bahasa : Alexander Sindoro. Jakarta : Prenhallindo. Mangkunegara. (1998). Psikologi Konsumen. Bandung : Eresco. Moleong, Prof. Dr. Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Peter, J. P. & Olson, J. C. (2005). Consumer Behavior and Marketing Strategy (Seventh Edition). New York : McGraw-Hill. 58

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Poerwandari, E. K. (2005). Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta : LPSP3 Fakultas Indonesia. Rook, Dennis W. (1987). The Buying Impulse. Journal of Consumer Research : Vol. 14. Rook, Dennis W; Fisher, Robert J. (1995). Normative Influences on Impulsive Buying Behavior. Journal of Consumer Research : Vol. 22. Simpson, M. (1994). Here Come The Mirror Men. Diunduh tanggal 20 Januari 2014, dari www.marksimpson.com/pages/journalism/mirror_men.html Simpson, M. (2002). Meet The Metrosexuals. Diunduh 20 Januari 2014, dari www.marksimpson.com/pages/journalism/metrosexual_beckham.html Simpson, M. (2003). Metrosexual? That Rings a Bell. Diunduh tanggal 20 Januari 2014, dari www.marksimpson.com/pages/journalism/metrosexual_ios.html Smith, Jonathan A. (2009). Psikologi Kualitatif Panduan Praktis Metode Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Solomon, M. (2009). Consumer Behavior : Buying, Having, and Being (8th Edition). New Jersey : Pearson Education Inc. Sturrock, F & Pioch, E (1998), „Making himself attractive : the growing consumption of grooming product‟, Marketing Intelligence and Planning, vol. 16, no. 5. Swistinawati & Basuki, Heru. (2009). Kecerdasan Emosional Pria Metroseksual. Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Skripsi tidak diterbitkan. Verplanken, Bas., Sato, Ayana. (2011). The Psychology of Impulsive Buying : An Integrative Self-regulation Approach. Journal Consume Policy 34 : 197210. Wikantanti, Dian Astrid. (2012). Studi Deskriptif Kecenderungan Pembelian Impulsif Pada Usia Dewasa Awal di Yogyakarta. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma. Skripsi tidak diterbitkan. Yuswohady. (2006). Pasar Metroseksual. Diunduh tanggal 3 Januari 2014, dari www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=159528&kat_id =105&kat_id1=149&kat_id2=259 59

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Tabel 3 Skala Kecenderungan Pembelian Impulsif Skala Kecenderungan Pembelian Impulsif No. 1. Pernyataan SS Saya mempertimbangkan baik-baik sebelum membeli sesuatu 2. Saya biasanya hanya membeli barang yang saya berniat untuk membelinya 3. Apabila membeli barang, biasanya saya membeli secara spontan 4. Sebagian besar pengeluaran saya telah direncanakan sebelumnya 5. Saya hanya membeli barang yang benar-benar saya perlukan 6. Saya bukan tipe orang yang suka membeli tanpa tujuan 7. Saya suka membandingkan beberapa merk berbeda sebelum membeli 8. Sebelum saya membeli suatu barang, saya akan mempertimbangkan baik-baik apakah saya memerlukan barang tersebut atau tidak 9. Saya terbiasa membeli barang “on the spot” 10. Saya sering membeli barang tanpa berpikir terlebih dahulu 11. Saya perlu perjuangan untuk meninggalkan barang bagus yang saya lihat di toko 12. Kadang-kadang saya tidak dapat menahan keinginan untuk membeli barang S TS STS

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 13. Kadang-kadang saya merasa bersalah setelah membeli barang 14. Saya bukanlah orang yang “jatuh cinta pada pandangan pertama” dengan barang yang saya lihat di toko 15. Saya dapat menjadi sangat bersemangat jika saya melihat sesuatu yang ingin saya beli 16. Saya selalu melihat sesuatu yang bagus dimanapun ketika melewati toko-toko 17. Sulit bagi saya untuk melewatkan barang dengan harga yang sangat murah 18. Apabila melihat barang baru, saya ingin membelinya 19. Saya agak gegabah dalam membeli barang 20. Kadang-kadang saya membeli barang karena saya senang membeli memerlukan barang tersebut bukan karena

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tabel 4 Tabel Verbatim Subjek 1 Verbatim Bisa dijelaskan gak mengenai tadi kan setuju tuh di skala kalo saat sedang berbelanja di sebuah toko cenderung ingin membeli banyak barang yang diinginkan? Iya bener soalnya kita udah tertarik membeli barang bukan melihat barang yang bagus gitu..eee untuk menambah penampilan biar lebih oke aku gak ragu untuk membeli. Jadi gak ragu membeli barang demi penampilan yang lebih oke? Iya….iyalah….. Berarti kalo menurut mas A gitu kepikiran gak sih kan harganya mahal tapi demi mendukung penampilan gitu kan yaa harganya mahal gitu? Yaaa sebenernya sih otomatis kepikiran kan harga itu memang kita pikirin juga, enggak apa yaa tapi kan kita juga mikirin gimana caranya dapetin barang tersebut entah utang apa apaan yaa yang penting kita dapet barang itu. Jadi utang ga masalah ya? Gak masalah kalo buat penampilan sih. Yang penting itu penampilan, penampilan is number 1. Trus kenapa sih mas A perlu merasa menjadi keren gitu dengan cara membeli barang-barang yang mendukung penampilan mas A itu? Yaaa itu mungkin karena pergaulan yaa. Pergaulan satu, trus jaman sekarang gitu gak ada salahnya juga gitu biar dilihat cewek-cewek. Biar dilihat temen lebih oke. Ya lebih gantenglah intinya. Biar Parafrase Koding Membeli barang untuk menunjang penampilan Need : menunjang penampilan (exhibition) Yang penting mendapatkan barang tersebut tanpa memperhitungkan keuangan dengan cara hutang Jika menyangkut masalah penampilan maka tidak memperhitungkan kondisi keuangan Penampilan nomor 1 tanpa memikirkan keuangannya Dorongan membeli barang ialah agar menarik perhatian orang lain, yaitu diterima teman, menarik perhatian Need : exhibition yaitu menarik perhatian dari orang lain, diterima teman, menarik perhatian lawan jenis, dipuji

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 keliatan lebih eksklusif gitu. Trus biasanya mas A kalo belanja cenderung membeli barang apa? Apa nih? Pakaian? Apaaaa? Ya apapun itu kalo mas A ke mall misalnya melihat suatu barang tertentu yang mas A itu gabisa kalo ga beli, harus beli gitu, biasanya barang apa? Pakaian yang jelas. Karena pakaian kan yang dilihat biasanya kan merk. Kan kalo liat orang kan “wah dia pake merk ini nih pasti mahal” pasti kan menambah prestige kita. Prestigenya menjadi naik, yaa kalo misalnya aksesoris gitu kan juga ada merk kaya kacamata gitu kan kacamata juga banyak merknya nah kalo kita pake yang bermerk jadi gimana gitu. Berarti itu hanya beli pakaian dengan merk tertentu atau yang penting pakaian? Sebenernya harusnya merk tertentu karena maksudnya gimana yaaa…. Eee kan sekarang banyak nih barang-barang yang KW, itu sebenernya juga gak masalah tergantung siapa yang pake. Cuma kan kadang orang kan tau, jadi kita lebih menggunakan merk yang asli. Nah mas A sendiri sukanya pake yang KW apa yang ori? Yang asli dong. Oke oke trus tadi kan bilang kalo barang tersebut harus kebeli entah caranya harus ngutang apa gimana gitu kan, nah mas A sendiri pernah gak sih pengen beli barang ini yaa baju ini gitu tapi gak punya uang dan mikir bisa ditunda gitu dan belinya pas punya uang gitu, pernah gak kepikiran gitu? Yaa kalo aku sih pokoknya harus kebeli deh barang itu ya walopun harus pinjem temen gitu. cewek, dipuji orang lain, nampak ganteng dan eksklusif oleh orang lain, nampak ganteng dan menarik Membeli barang berdasak merk agar menambah prestige Dorongan membeli barang ialah agar menambah prestige (exhibition) Membeli barang tertentu berdasar merk dan yang penting asli Pertimbangan membeli barang dari merk dan keasliannya Yang penting barang yang diinginkan terbeli walaupun Berhutang menjadi solusi ketika ingin membeli barang

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Sebenernya itu sih opsi terakhir yaa tapi yaa gimana yaa, hahaha. Tapi kalo temen yang mau dipinjemin ga ada juga yaudah belinya ditunda dulu, tapi biasanya ada kok orang minjemnya juga gak gede-gede banget kok. Nah terus mas A kalo pinjem duit ke temen gitu balikinnya tepat waktu gak? Ya kan sama temen sendiri jadi lebih santai lah yaaa. Jadi kalo misalnya temen juga lagi butuh juga saling bantu aja kita. Nah kalo misalnya ada diskon gitu apakah mas A selalu beli pakaian gitu kan selagi diskon ni merk itu? Ya gak juga sih kan kita juga tau kapan waktu-waktunya diskon gitu biasanya mid year sama end year gitu jadi kan tau waktu-waktunya. Kan lumayan juga kalo misalnya beli 2 dapet 3 kan bisa dijual lagi, hahaha. Kan bisa beli baju pas harihari sama waktu-waktu tertentu pas diakon kan lumayan selagi murah. Oke, nah apa sih penyebab mas A itu suka beli pakaian gitu? Yaa ngikutin tren yang berkembang di kelompokku gitu. Emang tren yang berkembang itu gimana? Ya tren yang berkembang itu kan fashion yaa biasanya, jadi misal ada merk baru tuh jadi pengen nyoba deh merk baru itu gimana, yaa biar gak malu juga. Kan merk baru gitu kan prestige juga. Nah kalo barang-barang koleksi gitu mas A ada gak? Aku suka koleksi baju, kacamata, sepatu, dasi. Suka koleksi dasi? Iya tu ada selemari penuh. Trus beli koleksinya gitu ada waktu khusus atau enggak? dengan cara berhutang teman namun kondisi keuangan tidak mencukupi Membayar hutang ke teman bisa fleksibel asalkan sama-sama saling membantu Berhutang kepada teman sudah menjadi hal yang biasa sehingga saling mengerti satu sama lain Tiap ada diskon tidak selalu membeli barang karena sudah hafal waktu-waktu diskon Ketika ada diskon tidak selalu membeli barang yang diinginkan karena sudah hafal waktuwaktu diskon Mengikuti perkembangan fashion seiring tren yang berkembang di kelompoknya yaitu tiap ada merk baru dicoba agar menaikkan prestige Adanya dorongan mengikuti perkembangan fashion yang berkembang di kelompoknya yaitu agar menaikkan prestigenya (exhibition)

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Yaa enggak ada sih tapi kalau misalnya lagi ke mall gitu liat ada yang bagus gitu aku beli. Suka belanja di mall yaa? Iyalah, kan mau belanja dimana lagi kalo enggak di mall. Nah biasanya kan beli-beli gitu di mall, di luar negeri gitu, tapi nitip sih yaa kalo yang barang-barang dari luar negeri gitu. Kalo ada temen yang ke luar negeri gitu aku pasti nitip, hehehe. Nah kalo misalnya lagi di mall gitu melihat pakaian dengan warna kesukaan dan langsung membelinya, nah seberapa sering sih itu terjadi? Itu mungkin lumayan sering lah yaaa, bukan cuma pakaian nah kalo misalnya kita lihat barang-barang lucu kaya misalnya ngeliat lampu tidur atau apa yang barangnya lucu dan warnanya cocok, warnanya warna favorit nah kita beli biasanya. Walopun sebenernya tidak terlalu dibutuhkan? Biasanya ya gitu, kan banyak yang suka, mungkin orang lain pun akan begitu misalkan ada barang lucu. Aku suka warna orange nih, aku ngeliat ada sepatu warna orange, kan jarang-jarang tuh yaudah kita beli. Aku ngeliat apaan warna orange gitu aku beli biasanya. Kalau yang memang yang warna kesukaan gitu biasanya dibeli. Tidak peduli itu penting atau tidaknya? Yang penting barang itu lucu dan warnanya disukai. Sebelum beli barang tu biasanya dipertimbangin dulu gak? Enggak sih kalo pertimbangan tu ya paling berdasarkan warna emm asal warna cocok dan aku suka aja. Membeli barang koleksi tiap pergi ke mall dan tiap melihat jika barang tersebut bagus Lebih suka belanja di mall dan nitip teman di luar negeri Menambah barang koleksi tiap ke mall dengan pertimbangan bagus atau tidaknya Membeli barang atas dasar lucu, warna cocok, dan warna favorit Pembelian barang didasarkan atas lucu, cocok dengan warnanya, dan warna favorit Membeli barang berdasarkan keinginan dan kesukaan Membeli barang jika ingin dan suka Pertimbangan dalam membeli ialah warna Warna menjadi hal yang dipertimbangkan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Nah kalo emang beli-beli gitu kamu emang niat mau beli emang? Dari awalnya tu niatnya biasanya cuma jalan-jalan doang nah kalo ada barang bagus gitu, lucu, pasti mampir dulu trus akhirnya beli deh. Jadi spontan gitu yaa? Ya bisa dikatakan begitu. Kan dari awal emang ga kepikir buat beli soalnya. Kalo perencanaanmu sama pengeluaran gak ada dong? Ya gak ada dong apalagi kalo udah gajian pasti langsung beli-beli. Menurutmu nih, kamu tuh suka beli barang yang kamu perluin apa inginin? Kalo aku sih yang perluin sama inginin. Kalo bisa ya dua-duanya. Apa contohnya? Yakalo baju, sepatu gitu kan pasti dibutuhin, sekarang siapa sih yang gak butuh baju sama sepatu. Kamu suka beli barang “on the spot” berarti? Iya, kecuali kalo ada merk baru yang aku belom pernah sih mesti aku udah ngincer duluan deh. Setelah membeli barang yang kamu inginkan itu gimana perasaanmu? Ya puas aja kan berarti nambah lagi gitu barangku, koleksiku. Pernah gak ngerasa bersalah abis beli-beli gitu? Enggak sih, ngapain merasa bersalah orang itu duit-duitku juga. Okedeh, thank you yaaa sebelum membeli Tidak berniat untuk membeli tapi pada akhirnya membeli Pembelian “on the spot” karena tidak berniat membeli sebelumnya Membeli berdasarkan kebutuhan dan keinginan Membeli berdasarkan pada kebutuhan dan keinginan Menyukai pembelian Menyukai “on the spot” pembelian “on the spot” Merasa puas setelah membeli Adanya perasaan puas setelah membeli barang.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Tabel 5 Tabel Verbatim Subjek 2 Verbatim Bisa dijelaskan gak tadi kan setuju tuh kalo saat berbelanja di toko cenderung ingin membeli banyak barang yang diinginkan? Oh jelas..jelas.. Nah bisa diceritakan lebih lanjut mas? Ya saya kalo ada barang yang saya suka tu ya saya beli kalo saya. Tergantung kesukaan juga tapi kalo yaa kalo tidak sukapun kalo saya beli karena bisa saya buat koleksi juga di rumah. Emang punya koleksi apa aja mas? Ya seperti jaket, baju, jersey mungkin, sepatu, ya banyak sih. Tiap jalan ke mall gitu pasti beli jaket, baju, jersey, sepatu gitu? Yaa tergantung juga. Ya kalo masih ada yang bagus yaa beli tapi kalo enggak yaa gaperlu di mall juga sih kalo saya. Bisa di distro ataupun dimana gak harus di mall juga sih. Terus walaupun tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut gitu tetep beli mas? Kalo saya suka ya tetep saya beli kan pasti kepake juga biarpun gak butuh tapi tetep pasti kepake untuk selanjutnya. Nah motivasinya beli barangbarang tersebut tu apaan mas? Yaa motivasinya untuk tren yaaa. Untuk mengikuti tren saat ini biar ngetren aja biar saya dipandang lebih kalo ada perkumpulan. Yaa dipandang lebih lah bisa punya baju yang lagi tren, punya jersey Parafrase Koding Membeli barang karena suka Membeli untuk menambah koleksi Membeli barang yang disukai untuk menambah koleksi Membeli karena barangnya bagus Membeli bisa terjadi dimana saja lokasinya Membeli barang karena barang tersebut bagus Yang penting beli barang walaupun tidak butuh Membeli bukan karena kebutuhan Motivasi membeli demi tren, dipandang orang lain, dan enak dilihat orang lain Need : exhibition yaitu mengikuti tren, dipandang orang lain, dan enak dilihat orang lain

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 baru, punya sepatu baru yang bermerk-merk itu kan biar enak kita dilihat orang-orang. Emang tren yang sekarang sedang mas ikutin tu yang kaya gimana? Saya suka sporty casual sih kalo prefer saya sih kaya jaket, pake sepatu, celana panjang tu udah enak kalo menurut saya. Kalo beli-beli barang-barang tersebut pada saat itu juga harus dibeli apa bisa ditunda lain kali mas? Kalo saya kalo udah liat dengan mata saya kalo udah suka mau gak mau harus saya beli. Kenapa emangnya mas? Kalo besok udah gak ada barangnya udah abis stok ya mau gimana lagi kan kalo bahasa jawanya tu gelo. Nah kan harus beli saat itu juga tuh yaa, misal lagi ada baju yang dipinginin tapi duitnya gak cukup tuh, gimana dong kalo kaya gitu? Ya kalo uang gak cukup tu ya mungkin bisa ditunda yaa. Saya orangnya seperti itu sih saya gak pernah merepotkan temen, ataupun apa jadi yaa mungkin ditunda dulu aja untuk satu ataupun dua hari itu bisa saya tunda. Jadi gak ada niatan untuk utang temen yaa? Enggak, saya gak suka hutang orangnya. Hutang itu bahaya. Nah sekarang yaa kalo di pusat perbelanjaan tersebut ada diskon apakah langsung beli atau mungkin ada kriteria barang tertentu gitu kalo ada pesta diskon tersebut? Ya kalo ada diskon ya saya juga beli sih mumpung diskon tapi ya kriteria saya waktu beli ya tetep seperti di awal ya kalo cocok buat Tren yang diikuti ialah sporty casual Mengikuti tren sporty casual Ketika sudah suka dengan barang maka akan dibeli Membeli barang atas dasar suka Takut jika barang yang disukainya sudah tidak ada Memiliki ketakutan kehilangan pada barang yang disukai Bisa menunda belanja yang penting tidak merepotkan teman Bisa menunda belanja jika keuangan tidak mencukupi Jika diskon pasti membeli barang asal cocok dan bagus barangnya Akan membeli barang diskon jika cocok dan bagus

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 saya, kalo itu menurut saya bagus, tidak..tidak..tidak apa namanya yaa..tidak..eeee….. enak dipake yaa apalagi kalo diskon ya tetep saya beli kalo seperti itu. Nah yang menurut mas baju yang bagus itu gimana sehingga dibeli? Ya jadi harus tak coba dulu kalo pas dan cocok dan bagus kalo tak pake yaa pasti saya beli kalo gitu. Kan pastinya sebelum membeli itu kan pasti dicoba dulu, ukurannya atau apa gitu yang cocok, itu sih kalo saya. Kalo merk atau warna tertentu gitu gak mempengaruhi kah? Yaa apalagi kalo merk-merk yang seperti, saya boleh sebut merk gak ya, ya kalo merk-merk tersebut itu emang bagus ya dan lagi diskon yaa pasti saya langsung beli sih. Jadi emang suka sama eee ada kecenderungan suka sama merkmerk tertentu gitu yaa? Iya iya itu jelas jelas. Merk apa aja yaa mas gakpapa kok disebutin disini? Kalo saya suka sih kalo saya sekarang suka ya seperti adidas, seperti hurley, seperti hush puppies, seperti itu. Kenapa sih suka merk-merk tersebut? Ooo karena menurut pandangan saya itu enak yaa, seperti kesukaan saya sport-sport seperti casual itu cocok buat diriku yaa. Jadi kalo merk-merk tersebut diskon mas pasti beli? Iya, kalo saya sih yes. Ada budget khusus gak sih buat belanja barangbarang tersebut? Ooo pasti ada, anggaran itu pasti ada untuk membeli pakaian ataupun sepatu ataupun apa itu pasti ada. Budgeting khusus yang saya sisihkan sendiri itu pasti ada. Pakaian yang dibeli itu yang cocok dan bagus dipakainya Membeli pakaian jika cocok dan bagus dipakai Merk yang disukai diskon pasti langsung beli Jika merk yang disukai diskon maka akan membeli Alasan membeli merk tersebut karena enak, sesuai kesukaan, dan cocok Menyukai merk tertentu karena enak dipakai, cocok, dan sesuai dengan kesukaan Ada anggaran khusus untuk membeli pakaian dan sepatu Ada dana khusus untuk belanja

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Seberapa sering sih mas belanja? Ya kalo saya tu mungkin seminggu dua kali itu pasti ke pusat perbelanjaan atau mall yaa. Kalo untuk direncanakan atau tidak itu enggak terencana yaa sebenernya, seminggu itu eee seminggu dua kali itu ke mall kalo ada barang bagus pasti saya beli, kalo tidak ada ya mending tidak, ya seperti itu sih. Ada moment khusus gak? Ya ada sih yaa seperti lebaran sale ataupun tahun baru ataupun natal pasti banyak sale, seperti itu. Sebelum membeli tu biasanya ada pertimbangan tertentu gak mas? Pertimbangannya sih paling yaa cocok gak yaa buat saya, nah tapi setelah dicoba dan itu cocok pasti saya beli. Sebelum jalan-jalan gitu dan akhirnya beli barang udah ada niat gak sih mas buat beli? Kalo ada niat atau enggak ya saya sih biasanya gak ada niat buat beli yah. Saat jalan-jalan terus kebetulan liat barang yang menurut saya bagus itu yang bisa jadi bahan pertimbangan buat saya. Jadi secara gak langsung tu mas itu suka beli barang secara spontan ya? Ya bisa dikatakan seperti itu. Saya sukanya beli “on the spot” gitu lah yaa. Karena pasti saya enggak yang kalo sebelum jalan-jalan gitu pingin beli barang. Kalo pengeluaran gitu direncanain gak sih mas? Kalo pengeluaran sih direncanain tapi biasanya ada biaya tak terduga gitu yaa, hehehe. Tak terduganya itu gimana mas? Yaitu tadi kadang kan kalo jalanjalan suka liat barang bagus itu dan Subjek ke pusat perbelanjaan hampir setiap seminggu dua kali untuk membeli pakaian Subjek berbelanja sebanyak dua kali dalam seminggu Sebelum membeli, dicoba, jika cocok, beli Selalu mencoba terlebih dahulu sebelum membeli agar cocok Tidak ada niat buat beli barang sebelum melihat barang yang bagus Tidak berniat membeli sebelum melihat barang yang bagus Suka pembelian “on the spot” Menyukai pembelian “on the spot” Pengeluaran sudah direncanakan namun masih ada pengeluaran tak terduga Selalu muncul pengeluaran tak terduga walaupun sudah direncanakan

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 kebetulan punya duit ya jadinya saya beli. Itu kan menambah pengeluaran juga. Jadi suka beli barang yang diinginkan daripada yang diperluin ya mas? Ya iya juga sih. Saya kan kalo dari ingin kan lalu jadi keperluan. Kan perlu buat nambah koleksi juga lagian pasti dipake juga kok. Oke mungkin segini dulu mas makasih yaa atas bantuannya. Membeli karena keinginan karena kemudian pasti diperlukan juga Membeli berdasarkan keinginan karena pasti diperlukan juga

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Tabel 6 Tabel Verbatim Subjek 3 Verbatim Jelasin dong kan tadi setuju tu kalo cenderung ingin membeli banyak barang yang diinginkan. Barangnya gitu apa gimana? Ya semuanya. Jadi gini aku tu emang suka belibeli barang gitu, suka laper mata lah yaa. Beli-beli barang yang gimana? Kalo aku sih gak tahan sama parfum sih jadi biasanya kalo ke mall lewat bagian parfum pasti tertarik gitu. Apalagi kalo ada diskon, hehehe. Jadi parfum doang nih yang dibeli? Ya enggak juga sih. Kebetulan aku juga suka kaos-kaos gitu dan aku penyuka diskon. Jadi kalo ada kaos yang diskon gitu biasanya mampir dan ada aja yang kecantol. Kaos yang kaya gimana tu yang biasanya kamu beli? Kalo aku sih asal bahannya adem, warnanya cocok sama kulitku, apalagi kalo merk-merk bagus gitu lagi ada sale pasti gak terlewatkan. Selain kaos apalagi yang pasti kamu beli? Ya gak mesti juga sih kalo ada yang bagus dan menarik gitu kadang-kadang aku beli. Jadi kamu beli kalo kamu pingin ya? Iya dong, kalo gak pingin ngapain dibeli. Menurutmu itu kamu perluin gak sih sebenernya barang-barang yang kamu beli itu? Parafrase Koding Suka lapar mata Membeli barang karena “lapar mata” Selalu tidak tahan kalau tidak membeli parfum Selalu membeli parfum Penyuka kaos dan diskon Menyukai kaos dan diskon Beli jika ada diskon, bahannya adem dan warnanya cocok dengan kulit Membeli berdasarkan diskon, bahannya dingin, warna yang cocok Barang yang dibeli yang bagus dan menarik Membeli berdasarkan barang yang bagus dan menarik Membeli berdasarkan keinginan Membeli berdasarkan keinginan

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Yaa perluin juga sih. Sekarang siapa juga yang gak butuh parfum, kan ntar bau dong badannya. Mana ada cewek yang mau deketin dong kalo bau badan. Tapi kan kamu bilang kamu pasti beli parfum tuh tiap jalan-jalan nah kan pasti di rumah masih ada parfumnya, itu kenapa sih kamu tetep beli parfum? Yakan aku emang suka sama parfum, itung-itung buat koleksi juga. Kan jadinya kan baunya tiap hari beda-beda gitu. Yang penting tetep wangi gak bau badan. Nah tujuan kamu beli-beli itu buat apa? Yakalo parfum sih biar wangi aja biar ga dijauhin orang. Ya biar cewek-cewek suka deket-deket sama aku gitu, hehehe. Kamu punya jadwal belanja gak sih? Kalo belanja bulanan sih ada jadwalnya biasanya bis gajian gitu. Kalo belanja yang baju sama parfum itu ada jadwalnya gak? Enggak sih kalo baju sama parfum. Karena tiap jalan ke mall pasti aku beli parfum trus liat-liat baju dan kalo ada yang cocok aku beli. Jadi gak ada jadwal khusus. Eh kecuali kalo ada event-event khusus ding kayak kalo ada kondangan gitu aku pasti sempet-sempetin buat beli baju buat kondangan gitu. Kondangan aja beli baju baru? Iya dong. Aku gak mau pake baju yang sama buat kondangan gitu. Kenapa emang? Ya buat menghormati yang nikah aja sih. Kalo kita nyiapin diri sebaik mungkin buat acaranya berarti kan kita menghargai mereka. Kan sebelum dihargai kita harus menghargai orang lain dulu Perlu membeli parfum agar tidak bau badan dan didekatin cewek Need : exhibition yaitu tidak bau badan dan didekati oleh lawan jenis Membeli parfum selain dipakai untuk dikoleksi Membeli parfum selain dipakai ialah untuk menambah koleksi Membeli parfum agar wangi dan disukai cewekcewek Need : exhibition yaitu wangi dan disukai lawan jenis Tidak memiliki jadwal belanja tetap kecuali jadwal belanja bulanan Tidak memiliki jadwal belanja secara teratur Membeli pakaian untuk menghormati orang lain agar dirinya dihargai oleh orang lain Need : menghormati orang lain agar dihormati kembali (exhibition)

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 gitu deh. Nah sekarang masalah budget nih, ada budget khusus gak sih buat kamu beli-beli itu? Kalo buat belanja bulanan sih pasti ada budget khusus. Nah kalo buat tambahan itu ya suka ga ada budget khusus sih, kalo beli ya beli aja sih. Nah kalo duitnya gak cukup gimana? Yakan ada kartu kredit. Itulah tujuannya dibuat kartu kredit. Biar orang-orang yang gak punya uang tunai bisa belanja dicicil, hehehe. Nah itu yang bayar gimana? Ya aku bayar dong dari uang gajiku. Jadi tiap terima gaji itu pasti aku bayar tagihan-tagihan dulu, belanja bulanan, trus sisanya itu bisa buat seneng-seneng aku deh. Kamu kalo pingin beli-beli gitu harus saat itu juga dibeli apa bisa besok-besok ajalah? Kalo aku pingin beli ya harus dibeli saat itu juga. Kan nanti kalo gak dibeli biasanya kebawa sampe mimpi. Udah gitu kalo gak langsung beli ntar keburu dibeli sama orang. Gak rela aja aku. Kalo ada diskon gitu kamu beli banyak gitu dong? Ya gak banyak juga sih. Biasanya masing-masing item 1 kok. Kaos beli 1, parfum 1, sandal, gitu aja sih. Kan jadinya beli banyak, hehehe. Tiap ke mall pasti beli-beli dong ya? Emm bisa dibilang gitu juga sih. Abis barangnya bagus-bagus sih. Kayak gak pernah ada abisnya gitu deh. Nah itu kamu bilang kayak gak ada abisnya gitu, nah berarti kamu terus mengikuti perkembangan Tidak memiliki budget belanja khusus kecuali untuk bulanan Tidak adanya perencanaan keuangan secara khusus Jika kondisi keuangan tidak mencukupi untuk belanja maka memakai kartu kredit Jika kondisi keuangan tidak mencukupi untuk membeli maka solusinya ialah kartu kredit Jika menginginkan suatu barang maka harus dibeli saat itu juga Jika menginginkan suatu barang maka harus dibeli saat itu juga Membeli berdasarkan barang yang bagus Membeli karena barang yang bagus

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 barang yang di mall gitu? Perkembangan fashion kan gak pernah mati. Nah biar gak dikatain cupu gitu kan jadinya kita harus mengikuti perkembangan mode gitu dong. Sebelum kamu beli-beli tu ada pertimbangan gak? Kalo parfum sih paling dari aromanya, kalo aromanya gak aku banget aku gak beli deh. Kalo pakaian ya paling dari kainnya gitu. Kalo adem ya aku beli deh. Kalo barang-barang branded gitu yang mahal-mahal gitu juga beli? Ya beli dong. Mahal tapi kan bagus dan awet juga, jadi gak sia-sia belinya. Lagian ada kebanggaan tersendiri loh pake barang-brang branded. Pasti orang-orang tu ngeliatnya “wah” gitu. Apa yang kamu rasain waktu pakai barang-barang branded gitu? Ya aku bangga aja, jadi orangorang tu pasti ngeliatin aku gitu mereka biar lebih menghargai gitu. Kan dirimu tercermin dari apa yang kamu pakai, hehehe. Sebelum beli-beli gitu kamu emang udah berniat buat beli gak sih? Kalo berniat sih enggak ya, niat itu datang kalo udah di mall dan liat barang yang bagus-bagus itu. Jadi spontan gitu ya belinya? Iya dong apalagi kalo ada diskon nah itu spontan banget. Kamu suka merasa bersalah gak sih abis beli-beli gitu? Ya kadang-kadang suka merasa bersalah sih karena kadang masih ada baju yang belum dipake eh aku udah beli lagi. Jadi bingung mau pake kapan. Okelah kalo begitu, makasih banget yaa buat waktunya. Mengikuti perkembangan mode agar tidak dibilang cupu Need : mengikuti perkembangan mode agar tidak dihina (inavoidance) Tertarik membeli parfum dari jenis aroma, membeli pakaian dari bahannya Membeli parfum berdasarkan jenis aroma, sedangkan membeli pakaian berdasarkan bahan Suka membeli barang branded karena ada kebanggaan tersendiri jika dilihat orang-orang Need : memiliki kebanggaan tersendiri jika dilihat oleh orang lain (exhibition) Merasa bangga ketika memakai barang branded Need : bangga ketika memakai barang branded (exhibition) Tidak memiliki niat untuk beli pada awalnya Tidak memiliki niat untuk membeli terlebih dahulu Membeli secara spontan Pembelian secara spontan Ada perasaan bersalah setelah membeli kalau yang lama belum dipakai Adanya perasaan bersalah setelah membeli

(94)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP BARANG BRANDED PADA PRIA METROSEKSUAL DAN YANG BUKAN METROSEKSUAL
0
29
22
BODY IMAGE PADA PRIA METROSEKSUAL
1
5
2
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA PRIA METROSEKSUAL
2
24
11
PENGARUH SIFAT IMPULSIF DAN KUALITAS WEBSITE TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF ONLINE DI LAZADA.
0
3
15
STUDI TIPE PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF PADA KONSUMEN GENERASI Y.
0
4
15
PENGARUH SIFAT IMPULSIF DAN KUALITAS WEBSITE TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF ONLINE DI LAZADA PENGARUH SIFAT IMPULSIF DAN KUALITAS WEBSITE TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF ONLINE DI LAZADA.
0
7
17
Pendahuluan PENGARUH SIFAT IMPULSIF DAN KUALITAS WEBSITE TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF ONLINE DI LAZADA.
2
4
9
STUDI TIPE PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF PADA KONSUMEN GENERASI Y STUDI TIPE PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF PADA KONSUMEN GENERASI Y.
0
2
14
PENDAHULUAN STUDI TIPE PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF PADA KONSUMEN GENERASI Y.
0
2
9
PENUTUP STUDI TIPE PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF PADA KONSUMEN GENERASI Y.
0
3
67
HUBUNGAN ANTARA PEMBELIAN IMPULSIF DENGAN PENYESALAN PASCA PEMBELIAN PADA KONSUMEN SOGO PVJ DI BANDUNG.
14
54
49
KONSTRUKSI PRESENTASI DIRI: STUDI PADA PRIA METROSEKSUAL DI INSTANSI PEMERINTAHAN | Wahyuningtyas | Jurnal Kawistara 17704 64611 1 PB
0
0
11
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN KECENDERUNGAN METROSEKSUAL PADA PRIA DEWASA AWAL
0
1
92
PERBEDAAN CITRA RAGA ANTARA PRIA METROSEKSUAL DAN RETROSEKSUAL
0
1
99
STUDI DESKRIPTIF KECENDERUNGAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA USIA DEWASA AWAL DI YOGYAKARTA Skripsi Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
124
Show more