HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL DENGAN KENAKALAN REMAJA

Gratis

0
0
130
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL DENGAN KENAKALAN REMAJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Monica Ardiana NIM: 099114130 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGTAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL DENGAN KENAKALAN REMAJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Monica Ardiana NIM: 099114130 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGTAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL DENGAN KENAKALAN REMAJA Monica Ardiana ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif dan signifikan antara tingkat perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 90 siswa-siswi SMA dengan batasan usia 15 tahun sampai 19 tahun. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menyebarkan soal-soal dengan kasus perkembangan moral dan skala perilaku kenakalan remaja. Pengujian reliabilitas untuk soal-soal perkembangan moral menggunakan tekhnik Cohen’s Kappa menghasilkan koefisien sebesar 0.50 dan pengujian reliabilitas skala kenakalan remaja menggunakan tekhnik Cronbach’s Alpha menghasilkan koefisien sebesar 0.925. Hasil uji linearitas dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kedua variabel yaitu variabel tingkat perkembangan moral dan variabel kenakalan remaja linear karena memiliki probabilitas sebesar 0.011 (p<0.05). Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menggunakan metode korelasi Product Moment, diketahui bahwa kedua variabel tersebut memiliki koefisien korelasi sebesar -0.272 dengan signifikansi 0.010. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi negatif antara tingkat perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat perkembangan moral, maka semakin rendah perilaku kenakalan remaja. Kata Kunci : tingkat perkembangan moral, kenakalan remaja v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN LEVEL OF MORAL DEVELOPMENT WITH JUVENILE DELINQUENCY Monica Ardiana ABSTRACT The research aimed to found the correlation between the level of moral development and juvenile delinquency. This research hypothesis is between the level of moral development and juvenile delinquency has negative and significant correlation. Subject of this research were 90high school students between 15 until 19 years old. Data collecting was distributing the moral development questions and juvenile delinquency scale. Relibiality test for morality development question using Cohen’s Kappa technique coefficient result is 0.05 and reliability test for juvenile deliquentcy scale using Cronbach’s Alpha technique and the coefficient result is 0.925. Result of the linearity test in this research suggesting that two variables, which were moral development and juvenile delinquency, was linear since they have probability by 0.001 (p<0.05). The data was analyzed by Product Moment correlation technique. The result showed that the correlation coefficient is -0.027 and the value of significant is 0.010. This result showed that there is negative correlation between level of moral development and juvenile delinquency. Thus, it can be concluded that more high level of moral development, juvenile delinquency behavior become lower. Keywords : level of moral development, juvenile delinquency vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala rahmat dan berkat-Nya yang luar biasa, penulis dapat melalui tantangan dan kesulitan dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Selama menulis skripsi ini, penulis menyadari bahwa ada banyak pihak yang telah membantu dengan caranya masing-masing sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi selaku dosen pembimbing akademik. Terimakasih atas bimbingan selama masa kuliah ini. 3. Bu Ratri Sunar Astuti, M.Psi selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. Ibu Sylvia Carolina MYM., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing dan mengarahkan saya dalam mengerjakan skripsi hingga selesai. 5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi, terimakasih untuk ilmu-ilmunya dan perhatiannya selama saya mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma. 6. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi, Ibu Nanik, Mas Gandung, dan Pak Gik yang berperan dalam administrasi perkuliahan, terimakasih untuk keramahan dan viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bantuannya sehingga saya dapat mengurus segala administrasi selama masa perkuliahan ini. 7. Bapak, Ibu, Mbk Siska, Dika, Ipus, terimakasih atas penerimaan tanpa syarat yang tidak pernah saya dapatkan dari orang lain, untuk doa dan dukungannya selama ini. 8. Bulek Nunung “ibu kedua”, yang selalu membawa saya dalam doanya terimakasih atas dukungan dan perhatiannya dari saya SD sampai kuliah saat ini. 9. Mbah Kakung dan Mbah Putri yang begitu besar perhatiannya sehingga cucu tercinta ini akhirnya dapat menyelesaikan skripsi. 10. Keluarga besar Paulus Danuri yang selalu memberikan perhatian dan dorongan, yang kebersamaannya selalu dapat saya banggakan. 11. Seseorang yang selalu di hati saya, Daniel Gatyo, teman terbaik saya. Terimakasih atas bantuannya, semangat, kesabaran, untuk ide-idenya yang luar biasa, tempat kekesalan jika saya bingung skripsi, dan selalu setia menemani saya ke perpus. Pokoknya terimakasih untuk semuanya… 12. Teman-teman kelas C angkatan 2009. Terimakasih untuk kebersamaan selama kuliah ini dari semester 1 yang sudah memberikan tawa dan kegilaan yang tak terlupakan. 13. Terimakasih untuk “The Brother’s”, Ukik, Hani, Fandra, Yoha, Togar, dan Julius. Senang dapat berbagi cerita dengan kalian, “semangat juga untuk skripsinya”. 14. “Ciwik-ciwik”, Arin, Siska, Lita, Indri, Eka. Terimakasih sudah menjadi tempat curhat dan tempat berbagi pengalaman. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15. Eli Silalahi dan Agatha Pramesti, teman jauh saya yang selalu berbagi cerita, kita akan selalu menjadi sahabat. 16. Teman-teman Kost Melati. Terimakasih untuk kebersamaan selama ini dan sudah menjadi keluarga kedua. 17. Seluruh teman-teman psikologi yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terimakasih untuk bantuan dan kebersamaannya selama ini. Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena itu penulis menerima segala masukan dan kritikan yang membangun demi perbaikan penelitian selanjutnya. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, kiranya Tuhan memberkati kita semua. Terimakasih Yogyakarta, Juni 2014 Penulis, Monica Ardiana x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................................... iii HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................... iv ABSTRAK ...................................................................................................................... v ABSTRACT ...................................................................................................................... vi HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................................... vii KATA PENGANTAR .................................................................................................... viii DAFTAR ISI ................................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ........................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................... xvi BAB 1: PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1 B. Rumusan Masalah.................................................................................. 8 C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 8 BAB II: LANDASAN TEORI .................................................................................. 10 A. Perkembangan Moral ............................................................................. 10 1. Definisi Perkembangan Moral ......................................................... 10 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Tahap Perkembangan Moral ............................................................ 12 3. Pemilihan Subjek ............................................................................. 15 4. Defining Issue Test I ........................................................................ 16 B. Kenakalan Remaja ................................................................................. 18 1. Definisi Kenakalan Remaja ............................................................. 18 2. Ciri-ciri Kenakalan Remaja ............................................................. 20 3. Bentuk Kenakalan Remaja .............................................................. 21 4. Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja ............................. 26 C. Hubungan antara Perkembangan Moral dengan Kenakalan Remaja .... 31 D. Skema Penelitian ................................................................................... 36 E. Hipotesis ................................................................................................ 37 BAB 3: METODOLOGI PENELITIAN .................................................................. 38 A. Jenis Penelitian ...................................................................................... 38 B. Identifikasi Variabel Penelitian ............................................................. 38 C. Definisi Operasional Penelitian ............................................................. 39 1. Perkembangan Moral ....................................................................... 39 2. Kenakalan Remaja ........................................................................... 39 D. Populasi dan Sampel .............................................................................. 40 E. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 41 1. Defining Issues Test (DIT)......................................................................41 2. Skala Kenakalan Remaja ................................................................. 46 F. Validitas dan Reliabilitas ....................................................................... 48 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Validitas ........................................................................................... 48 2. Seleksi Aitem ................................................................................... 48 3. Reliabilitas ....................................................................................... 51 G. Metode Analisis Data ............................................................................ 52 1. Uji Normalitas ................................................................................. 52 2. Uji Linearitas ................................................................................... 53 3. Uji Hipotesis .................................................................................... 53 BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................... 54 A. Pelaksanaan Penelitian .......................................................................... 54 B. Deskripsi Subjek Penelitian ................................................................... 54 C. Deskripsi Data Penelitian ...................................................................... 55 D. Kategorisasi ........................................................................................... 56 E. Analisis Data Penelitian......................................................................... 58 1. Uji Normalitas ................................................................................. 58 2. Uji Linearitas ................................................................................... 59 3. Uji Hipotesis .................................................................................... 59 F. Pembahasan ........................................................................................... 61 BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 68 A. Kesimpulan ............................................................................................ 68 B. Saran ...................................................................................................... 68 1. Bagi Subjek Penelitian..................................................................... 68 2. Bagi Sekolah dan Orang Tua ........................................................... 69 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Bagi Penelitian Selanjutnya ............................................................. 69 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 70 LAMPIRAN .................................................................................................................... 74 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Skoring Jawaban Subjek ............................................................................. 44 Tabel 2. Blueprint Skala Kenakalan Remaja ............................................................. 47 Tabel 3. Blueprint Skala Kenakalan Remaja Sebelum Try Out ................................ 49 Tabel 4. Blueprint Skala Kenakalan Remaja Setelah Try Out................................... 50 Tabel 5. Blueprint Penyusunan Ulang Skala Kenakalan Remaja .............................. 51 Tabel 6. Deskripsi Usia Subjek Penelitian ................................................................ 55 Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian ............................................................................ 55 Tabel 8. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Soal Perkembangan Moral ............ 57 Tabel 9. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Skala Kenakalan Remaja .............. 57 Tabel 10. Ringkasan Uji Normalitas ........................................................................... 58 Tabel 11. Ringkasan Uji Linearitas ............................................................................. 59 Tabel 12. Ringkasan Uji Hipotesis Perkembangan Moral dan Kenakalan Remaja .... 60 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Skala Uji Coba ........................................................................................ 75 Lampiran 2. Hasil Uji Coba ......................................................................................... 88 Lampiran 3. Skala Penelitian ....................................................................................... 92 Lampiran 4. Uji T Mean Empirik dan Mean Teoritik ................................................. 106 Lampiran 5. Hasil Uji Normalitas ............................................................................... 108 Lampiran 6. Hasil Uji Linearitas ................................................................................. 110 Lampiran 7. Hasil Uji Hipotesis .................................................................................. 112 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Masa remaja memberi pengaruh besar dalam kehidupan individu. Pengalaman di masa remaja akan mengarahkan kecenderungan perilaku seseorang. Kecenderungan perilaku ini akan dibawa hingga ke tahap perkembangan berikutnya. Masa remaja merupakan periode yang cenderung singkat dibandingkan dengan masa kanak-kanak. Masa remaja awal berlangsung dari usia 13 tahun sampai 16 tahun dan akhir masa remaja berlangsung antara usia 17 sampai 18 tahun (Hurlock, 2002). Awal masa remaja ditandai dengan pubertas (puberty). Pubertas merupakan kumpulan peristiwa biologis yang mengarah pada perubahan remaja seperti perubahan fisik dan kematangan seksual (Berk, 2012). Perubahan fisik ini menyebabkan perubahan karakter pada remaja. Secara emosi perubahan ini membuat keadaan emosi remaja menjadi kurang stabil. Akibatnya remaja cenderung nampak meledak-ledak dan tidak mudah mengendalikan diri (Hurlock, 1999). Secara sosial, di masa remaja peranan teman sebaya menjadi lebih dominan. Hal ini menyebabkan relasi dengan orang tua memiliki bentuk yang berbeda. Pada masa remaja, intensitas pengambilan keputusan oleh individu juga semakin meningkat. Mereka sudah dapat memutuskan hal tanpa bertanya dengan orang dewasa atau pada orang tua (Santrock, 1996). Hal inilah yang menyebabkan 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 jika orang tua lalai dalam menjalankan perannya akan berdampak pada gagalnya tugas perkembangan remaja. Kegagalan remaja dalam menjalankan tugas perkembangannya biasanya akan mengantarkan remaja pada perilaku-perilaku menyimpang, seperti penolakan dan pembangkangan. Penolakan dan pembangkangan tersebut ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang dapat merugikan dirinya seperti merokok, membolos sekolah, tawuran antar pelajar, mengkonsumsi narkoba, hingga melakukan seks bebas. Tindakan-tindakan ini dikategorikan sebagai kenakalan yang terjadi pada remaja. Santrock (2003) menyatakan bahwa kenakalan remaja adalah sekumpulan berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial. Kenakalan remaja terdiri dari index offenses dan status offenses. Index offenses adalah kenakalan remaja yang berhubungan dengan tindak kriminal, seperti perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Sedangkan status offenses adalah kenakalan remaja yang tidak terlalu serius, seperti lari dari rumah, bolos dari sekolah, minum-minuman keras, dan keluyuran (Santrock, 2002). Kecanduan materi pornografi di bawah usia merupakan contoh nyata dari status offenses. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan sepanjang tahun 2011 saja terdapat hingga 22 kasus pengaduan mengenai pornografi yang dilakukan oleh remaja SMP dan SMA (Pos Kota, 12 Desember 2011). Kasus lainnya adalah masalah kecanduan rokok. KPAI mencatat terdapat peningkatan hampir dua kali lipat kasus anak yang menjadi pecandu rokok dalam

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 kurun waktu 10 tahun. pada tahun 2001 angka pecandu mencapai 58,9%, sementara pada tahun 2004 angka naik menjadi 63,7% dan sepanjang tahun 2013 meningkat menjadi 77%. Komisi Nasional Anak mengungkapkan kenaikan angka ini tidak lepas dari mudahnya akses anak-anak terhadap rokok yang mudah didapat di mana saja bahkan dapat dibeli secara batangan. Selain itu, remaja yang merokok juga dapat dipengaruhi oleh pergaulan dan ajakan teman sebaya (Pos Kota, 12 Desember 2011). Kasus geng motor yang kebanyakan anggotanya adalah remaja merupakan contoh index offenses. Salah satu media online menulis berita mengenai penangkapan beberapa geng motor di Indonesia yang kerap membuat keonaran dan kekerasan, seperti aksi pencurian yang disertai dengan kekerasan. Beberapa diantara anggota geng motor ini bahkan remaja putri dan mereka memiliki geng motor sendiri dengan nama “Laser”. Rata-rata mereka merupakan remaja yang putus sekolah dan hanya menganggur di rumah (Vivanews, 17 Mei 2013). Contoh kasus index offenses lainnya adalah pencurian oleh remaja. Di Makassar, polisi menangkap tujuh remaja putra karena melakukan serangkaian tindakan pidana pencurian sebanyak 11 kali sejak Juli 2010. Barang-barang yang dicuri terdiri atas ponsel, kartu perdana, tabung gas, dan kotak salon pengeras suara. Barang-barang yang telah mereka curi kemudian di jual dan uang hasil penjualannya mereka gunakan untuk foya-foya (Cybernews, 30 Agustus 2010). Data BPS (Badan Pusat Statistik, 2010) yang diperkuat oleh data kriminalitas dari Mabes Polri mengungkapkan bahwa selama tahun 2007 tercatat

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 sekitar 3.100 orang pelaku tindak pidana adalah remaja yang berusia rata-rata 18 tahun. Pada tahun 2008 dan 2009 jumlah tersebut masing-masing meningkat menjadi sekitar 3.300 remaja dan 4.200 remaja. Kenakalan remaja lebih umum terjadi di kalangan pemuda yang memiliki kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang lebih sedikit, dan sudah merasa frustrasi dengan kehidupan mereka. Selain itu pengaruh dari teman sebaya, komunitas, latar belakang keluarga, pengaruh dari lingkungan sekitar dan sekolah juga dapat menimbulkan kenakalan pada remaja (Rice, 1999). Hasil analisis berkas laporan penelitian kemasyarakatan, Balai Pemasyarakatan (Bapas) mengungkapkan fakta lain. Penelitian menunjukkan bahwa sebesar 60% remaja yang melakukan tindakan pidana adalah remaja yang sudah putus sekolah dan mereka pada umumnya berusia 16-17 tahun. Tidak hanya faktor-faktor di atas yang dapat mempengaruhi kenakalan remaja, tetapi di sisi lain kurangnya moralitas remaja juga mempengaruhi kenakalan remaja. Kekuatan moral-lah yang diperlukan remaja untuk menjaga sikap mereka dalam menghadapi pengaruh-pengaruh buruk dari luar sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk tersebut (Borba, 2001). Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 1996). Sementara itu, Kohlberg (1995) berpendapat bahwa orang tumbuh dalam hubungan satu sama lain dengan nilai-nilai dan ide-ide moral.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Selama masa remaja ini, penalaran moral diharapkan mampu membuat remaja untuk menghadapi dilema-dilema moral secara reflektif dan mengembangkan prinsip-prinsip moral pribadi yang dapat bertindak sesuai dengan moral yang diyakini dan bukan merupakan tekanan sosial (Wahareni, 2006). Salah satu model pengembangan dan ada hubungannya dengan kenakalan atau kriminalitas adalah model milik Kohlberg. Karya awal Piaget tentang pertimbangan moral anak mengilhami teori perkembangan kognitif yang lebih dari Kohlberg tentang pemahaman moral. Kohlberg (1995) membagi moral ke dalam tiga tingkatan dan masingmasing tingkat kemudian dipecah menjadi dua kelompok, dengan total enam tahap perkembangan moral. Perkembangan moral berjalan dengan pelan dan bertahap. Penalaran pada tahap satu dan dua menurun di masa remaja awal, sementara tahap ke tiga meningkat selama masa remaja dan kemudian menurun. Penalaran pada tahap empat meningkat selama masa-masa remaja sehingga ia menjadi respons khas pada masa dewasa awal (Berk, 2012). Tahapan untuk remaja, Kohlberg menyebut tahap ke tiga dan keempat sebagai tahap konvensional ditandai dengan individu yang mengikuti aturan bukan semata untuk kepentingan sendiri, namun karena para remaja meyakini dengan memelihara sistem sosial akan menjaga hubungan positif dan menjaga keteraturan sosial. Pendapat Kohlberg tersebut berbeda dengan yang terjadi dewasa ini khususnya di Indonesia. Berdasarkan kasus-kasus yang sudah disebutkan, nampak bahwa remaja di Indonesia belum dapat mencapai tahap konvensional. Kohlberg

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 (dalam Santrock, 2003) memandang masa remaja merupakan masa dimulainya penggunaan penalaran tingkat konvensional. Tahap konvensional atau tahap kedua dari Kohlberg merupakan tahap yang sesuai dengan remaja usia 16-17 tahun. Ternyata masih banyak remaja khususnya di Indonesia yang melakukan tindakan kenakalan baik yang tidak melanggar hukum dan yang melanggar hukum. Remaja tidak lagi takut terhadap aturan dari orang tua atau masyarakat sehingga dengan mudah remaja melakukan hal-hal yang mereka inginkan dan mengabaikan peraturan yang ada. Hasil penelitian mengenai perkembangan moral Kohlberg dapat digunakan dalam urusan keadilan oleh remaja ketika melakukan hal yang menyimpang di sekolah. Terkadang remaja mengambil keputusan yang salah dalam menyelesaikan masalah mereka dan harus berurusan dengan guru untuk bertanggungjawab terhadap perbuatannya, sehingga peran perkembangan moral di sini sangatlah penting yaitu untuk mengarahkan remaja ke dalam pengambilan keputusan yang baik. Dengan adanya perkembangan moral yang dimiliki oleh remaja, maka remaja dapat berpikir dan bertindak pada situasi tertentu dengan baik dan dapat mencapai tingkat penalaran moral yang lebih tinggi (Jenn Deluca, 2002) Kohlberg menyatakan bahwa ketiga tingkatan dan keenam tahapan moral terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia. Sebelum mencapai usia 9 tahun, kebanyakan penalaran anak dalam menghadapi dilemma moral dilakukan dengan cara yang prakonvensional, pada awal masa remaja penalaran

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 mereka dilakukan dengan cara yang lebih konvensional. Pada masa awal dewasa, sejumlah kecil individu berpikir dengan cara postkonvensional. Becker (dalam Soekanto, 1998) menyatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki dorongan untuk melanggar aturan pada situasi tertentu. Tetapi pada kebanyakan orang, dorongan-dorongan tersebut biasanya tidak menjadi kenyataan yang menyimpang. Hal tersebut karena individu biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk berperilaku menyimpang. Kemampuan menahan diri inilah yang seharusnya dipelajari individu selama remaja, tetapi ada beberapa remaja yang gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang sudah dimiliki oleh orang lain seusianya selama masa perkembangan. Keberhasilan dalam pemenuhan tugas perkembangan akan menjadikan remaja sadar dan peka terhadap norma, sehingga remaja mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak melanggar norma dan aturan yang berlaku. Perkembangan moral yang baik menuntun para remaja untuk dapat memilih dan memutuskan halhal yang baik yang bermanfaat sehingga terhindar dari perilaku kenakalan dan dapat mengubah perilaku nakal remaja ke dalam hal yang positif dan dapat mengambil keputusan yang baik dalam menyelesaikan masalah. Dalam penelitian ini, subjek yang akan diteliti adalah siswa-siswi SMA yang berusia 15-19 tahun dan masih sedikit penelitian tentang perkembangan moral dengan subjek remaja akhir. Menurut Kohlberg, tahap konvensional atau tahap kedua merupakan tahap yang sesuai dengan remaja usia 16-17 tahun. Selain itu, peneliti akan menggunakan alat ukur DIT yang sudah dimodifikasi dari

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Wahareni (2000) menajadi soal-soal perkembangan moral dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan. Berdasarkan penjelasan diatas, penulis menduga bahwa kemungkinan remaja yang melakukan tindakan kenakalan disebabkan karena kurangnya nilainilai moral yang dimilikinya sehingga remaja tidak dapat memutuskan yang benar dan yang salah dan dapat melakukan perilaku yang menyimpang. Individu dengan tahapan perkembangan moral yang berjalan dengan baik pada anak akan menghantarkan seseorang berperilaku dengan baik. B. Rumusan Masalah Penelitian ini ingin melihat adakah hubungan antara perkembangan moral dengan kenakalan remaja? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perkembangan moral dengan kenakalan yang dilakukan oleh remaja. D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai hubungan antara perkembangan moral dengan kenakalan remaja di bidang psikologi, khususnya psikologi perkembangan dan psikologi kognitif karena

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 dapat dijadikan referensi atau bahan pembanding bagi penelitian-penlitian lain yang ingin mengkaji masalah yang berkaitan dengan perkembangan moral dan kenakalan remaja. 2. Secara Praktis 1. Siswa-siswi SMA Penelitian ini dapat memberikan informasi yang berguna bagi remaja untuk menuntun perilaku mereka sehingga tidak melakukan perilaku yang menyimpang dan dapat memperbaiki tingkah lakunya. 2. Sekolah dan Orang Tua Penelitian ini dapat memberikan informasi agar sekolah dan orang tua lebih memperhatikan anak remaja dalam berperilaku dan mengarahkan remaja ke dalam hal-hal yang positif.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perkembangan Moral 1. Definisi Perkembangan Moral Istilah moral berasal dari kata Latin mos atau moris yang berarti adat istiadat, kebiasaan, tata cara kehidupan (Gunarsa, 1986). Menurut Hurlock (1986) moral berasal dari kata Latin mores yang berarti budi bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan rakyat. Perilaku moral merupakan perilaku di dalam konformitas dengan suatu tata cara moral kelompok sosial. Sedangkan menurut Kamus Lengkap Psikologi (Kartono dalam Wahareni, 2006) moral berarti: 1) Sesuatu yang menyinggung akhlak, moril, tingkah laku susila, 2) Ciri-ciri khas seseorang atau sekelompok orang dengan perilaku pantas dan baik, 3) Sesuatu yang menyinggung hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. Moralitas berhubungan dengan keadaan nilai-nilai moral yang berlaku dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat. Moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya. Moral berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan perbuatan yang benar dan yang salah (Purwadarminto dalam Sunarto, 2008). 10

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Ormrod (2002) mengatakan bahwa moral adalah standar umum yang dimiliki seseorang mengenai perilaku yang dianggap benar dan salah. Santrock (1996) menambahkan pengertian moralitas yaitu perilaku proposional ditambah beberapa sifat seperti kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan orang lain. Pengertian perkembangan moral menurut Santrock (1996) adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Kohlberg (dalam Santrock, 2002) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Jadi, berdasarkan definisi di atas, perkembangan moral dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membedakan tindakan atau perbuatan yang benar dan salah disertai dengan beberapa sifat, seperti kejujuran, keadilan, kebaikan, dan penghormatan terhadap kebutuhan orang lain. Suatu tingkah laku dikatakan bermoral jika tingkah laku tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kelompok sosial tempat anak tinggal.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 2. Tahap Perkembangan Moral Pokok pemikiran Kohlberg (Kohlberg, 1995) mengenai tahapan penalaran moral sebagai berikut : a. Inti moral adalah keadilan. Keadilan disini mempunyai arti bahwa individu dituntut untuk jujur, menghargai dan memperhatikan hak-hak pribadi dan tahap-tahap penalaran moral yang diajukan selalu menuju ke arah maju dalam menerapkan prinsip-prinsip keadilan. b. Tahap-tahap penalaran menunjukkan cara individu dalam berpikir, termasuk konsitensi penalarannya. c. Tahap-tahap penalaran moral ini menunjukkan tingkatan seorang individu dalam memecahkan dilema moral yang terjadi kepadanya. Kohlberg (dalam Santrock, 2003) mendeskripsikan 3 level pemikiran moral, masing-masing level terdiri dari dua tahap, yaitu : a. Penalaran Prakonvensioanal (preconventional reasoning) adalah level terendah dari penalaran moral. Dalam level ini, baik dan buruk diinterpretasikan berdasarkan hadiah dan hukuman eksternal atau berdasarkan pada objek di luar dari individu yang ditimbulkan oleh tindakan tertentu. Tingkat ini meliputi :  Tahap 1. Orientasi hukuman dan ketaatan ialah tahap pertama dari penalaran moral prakonvensional. Dalam tahap ini, pemikiran moral terkait dengan hukuman. Suatu tingkah laku dinilai benar bila tidak

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 dihukum dan dinilai salah bila diberikan hukuman. Seseorang harus patuh pada otoritas karena otoritas tersebut berkuasa dan menuntut mereka untuk taat.  Tahap 2. Individualisme, tujuan, dan pertukaran adalah tahap kedua dari penalaran moral prakonvensional. Dalam tahap ini, individu berpikir bahwa berusaha memuaskan kepentingannya sendiri adalah layak dan mereka juga membiarkan orang lain untuk bertindak hal yang serupa. Seseorang berpikir bahwa kelayakan tersebut harus memenuhi pertukaran yang adil. Apabila mereka baik terhadap orang lain, maka orang lain akan bersikap seperti mereka. Hubungan antar manusia terkadang dilandasi dengan hubungan timbal balik. b. Level Konvensional (conventional reasoning) adalah level kedua teori perkembangan moral Kohlberg. Dalam level ini, individu menerapkan standar-standar tertentu, namun standar-standar itu diterapkan oleh pihak lain, misalnya orang tua atau pemerintah. Suatu perbuatan dianggap benar bila sesuai dengan peraturan yang ada dalam masyarakat, tidak mempedulikan lagi akibat-akibat yang langsung dan nyata (kelihatan). Tingkat ini meliputi :  Tahap 3. Orientasi kesepakatan antar pribadi adalah tahap ketiga dari perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini biasa disebut sebagai “anak baik”. Di tahap ketiga ini, anak-anak dan remaja sering kali

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 anak-anak dan remaja akan menilai perbuatan itu baik bila ia dapat menyenangkan orang lain, ia dapat berbuat sesuai yang diharapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat. Tahap ini sering dinilai menurut niatnya.  Tahap 4. Orientasi hukum dan ketertiban adalah tahap keempat perkembangan moral Kohlberg. Dalam tahap ini, penilaian moral pada pemahaman mengenai keteraturan sosial, hukum, keadilan, dan tugas. Seseorang dipandang bermoral bila ia melakukan tugasnya, menghormati otoritas, dan menjaga tata tertib sosial sebagai sesuatu yang bernilai dalam dirinya sendiri. c. Level Pasca-konvensional (pasca-conventional reasoning) adalah level tertinggi dalam teori tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada level ini, terdapat usaha yang jelas untuk mengartikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki keabsahan serta dapat diterapkan terlepas dari otoritas atau orang yang berpegangan pada prinsip moral yang universal, yang tidak terkait dengan aturan-atauran setempat atau seluruh masyarakat. Tingkat ini meliputi :  Tahap 5. Kontrak sosial dan hak-hak individu ialah tahap Kohlberg yang kelima. Dalam tahap ini, individu memahami peraturan yang ada dalam masyarakat merupakan kontrol (perjanjian) antara individu itu sendiri dan orang lain. Individu harus memenuhi kewajiban-

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 kewajibannya, tetapi sebaliknya masyarakat juga harus menjamin kesejahteraan individu. Jika individu melanggar kewajiban, ia merasa telah melanggar perjanjian dengan lingkungannya. Hukum yang tidak memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat dapat diubah dengan tata cara yang baik.  Tahap 6. Prinsip etika universal adalah tahap tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Dalam tahap ini, seseorang mengembangkan sebuah standar moral berdasarkan hak-hak asasi manusia secara universal. Ketika seseorang dihadapkan pada sebuah konflik antara hukum dan suara hati, maka seseorang akan bernalar bahwa suara hati sebaiknya diikuti, meskipun keputusannya mungkin berisiko. Berdasarkan tahap perkembangan moral di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat perkembangan moral Kohlberg meliputi tingkat prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional dan merupakan proses yang terjadi secara bertahap. Tiap tingkatan akan dibagi menjadi dua tahap untuk tiap levelnya sehingga terdapat 6 tahap perkembangan moral. 3. Pemilihan Subjek Dalam penelitian ini yang akan menjadi subjek adalah remaja akhir dengan usia berkisar 15-19 tahun dan termasuk dalam siswa-siswi SMA.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa remaja mulai berpikir secara formal operasional, mereka tidak lagi terikat pada fenomena yang kongkrit dan muncul dengan segera, namun mereka menjadi lebih logis dan abstrak. Tahap kedua dari tahap perkembangan moral Kohlberg yaitu level konvensioanal adalah tahap yang sesuai dengan masa remaja. Remaja melakukan suatu tindakan sudah berdasarkan hukum dan peraturan yang ada dalam masyarakat. Mereka mulai memahami bahwa peraturan itu penting untuk menciptakan kehidupan bersama yang baik. 4. Defining Issue Test 1 Defining Issues Test (DIT) pertama kali dikembangkan pada tahun 1970an (Rest., Cooper., Coder., Masanz & Andersen, 1997). DIT ini dikembangkan oleh Rest yang mengambil latar belakang konsep dari Kohlberg. Awalnya, pengukuran dari Kohlberg dilakukan dengan kertas dan pensil disertai dengan setengah wawancara terstruktur untuk mengukur penalaran moral. Dengan begitu, fokus utama dari pengukuran pada pemahaman dan interpretasi isu-isu moral. Selama tahun 70-an, DIT dipandang sebagai langkah yang dirancang untuk menguji urutan perkembangan Kohlberg dan memberikan kontribusi pada penalaran moral dalam populasi remaja dan dewasa (Thoma dan Dong, 2009). Defining Issues Test (DIT) merupakan suatu test objektif untuk mengukur tahap penalaran moral dan prinsip penalaran moral seseorang, yaitu

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 kemampuan seseorang untuk memutuskan masalah sosial-moral dengan menggunakan prinsip moral yang dimiliki saat itu. Tujuan dari penelitian mengenai Defining Issues Test (DIT) adalah untuk mengukur cara orang berpikir mengenai isu-isu yang dihadapi dengan isu-isu sosial dari keadilan sosial. Penelitian DIT dilakukan berdasarkan asumsi bahwa tingkatan perkembangan moral dari penilaian moral melibatkan cara-cara tersendiri untuk mendefinisikan dilema moral sosial dan penilaian isu-isu penting didalamnya (Rest, 1979, dalam Richmond, 2001). Pengungkapan penalaran moral yang universal menggunakan alat ini, alat ini sudah baku untuk mengukur perkembangan penalaran moral. Data yang diperoleh dari pengukuran tahapan penalaran moral berupa skor. Skor tergantung pada suatu tahap dalam profilnya yang menunjukkan tahapan penalaran subjek. Skor yang didapat dari penjumlahan skor kasar dipergunakan sebagai indeks dari perkembangan penalaran moral dalam penelitian yang bersifat korelasional (Wahareni, 2006). DIT terdiri dari 6 cerita dan setiap cerita ada 12 pertanyaan yang menggambarkan perkembangan moral. Jawaban yang diberikan oleh subjek yang mengerjakan DIT menunjukkan secara jelas adanya perbedaan dalam pandangan moral (Rest, Narvez., Thoma., & Bebeu., 1999). Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Definig Issues Test (DIT) adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur penalaran moral.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 DIT terdiri dari 6 cerita dan masing-masing cerita terdapat 12 pertanyaan yang menggambarkan penalaran moral. B. Kenakalan Remaja 1. Definisi Kenakalan Remaja Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis yang artinya anak-anak, anak muda, karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sedangkan delinquent berasal dari bahasa Latin delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, anti sosial, kriminal, pelanggar peraturan, pembuat ribut, tidak dapat diperbaiki, pengacau, dan sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku kejahatan atau kenakalan anak-anak, merupakan gejala sakit atau patologis secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang (Kartono, 2005). Menurut Santrock (2002) istilah kenakalan remaja mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran, hingga tindakan-tindakan kriminal. Demi tujuan hukum, dibuat suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dan pelanggaran-pelanggaran status (status offenses). Index offenses adalah tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja maupun orang

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 dewasa, seperti perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Status offenses adalah tindakan-tindakan yang tidak terlalu serius, seperti lari dari rumah, bolos dari sekolah, minum-minuman keras, dan ketidakmampuan pengendalian diri. Kenakalan remaja menurut pemerintah yang dijelaskan dalam Badan Koordinasi Pelaksanaan (Instruksi Presiden) atau yang biasa disebut dengan Bakorlak Inpres no.6/1971 adalah kelainan tingkah laku, perbuatan atau tindakan yang bersifat anti sosial yang melanggar norma sosial, agama, serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu, kenakalan remaja juga disebabkan karena kegagalan mereka daalam memperoleh penghargaan dari masyarakat tempat mereka tinggal (Willis, 2008). Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana. Menurut Murdaningsih (dalam Kartono, 1991) kenakalan remaja adalah tingkah laku melawan norma yang diperbuat oleh anak yang belum dewasa, misalnya melakukan perusakan, kenakalan, kejahatan, pengacauan, dan lain-lainnya. Hurlock (1973) menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja, tindakan tersebut dapat membuat individu yang melakukanya masuk penjara. Jadi, berdasarkan beberapa definisi di atas, definisi kenakalan remaja dapat diartikan sebagai perilaku atau tindakan menyimpang yang dilakukan oleh remaja di bawah umur 18 tahun dan melanggar norma sosial, agama

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 bahkan hukum yang dapat merugikan diri sendiri seperti membolos sekolah, merokok, mengkonsumsi narkoba, melakukan seks bebas, mencuri, dan melakukan tindak kekerasan. 2. Ciri-ciri Kenakalan Remaja Gunarsa (1979) menyatakan bahwa agar dapat membedakan kenakalan remaja dapat diketahui beberapa ciri-ciri pokok kenakalan remaja, yaitu : 1. Dalam pengertian kenakalan, harus terlihat adanya perbuatan atau tingkahlaku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilai moral. 2. Kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang a-sosial yaitu dengan perbuatan atau tingkahlaku tersebut ia bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan hidupnya. 3. Kenakalan remaja merupakan kenakalan yang dilakukan oleh mereka yang berumur 13-17 tahun dan belum menikah. 4. Kenakalan remaja dapat dilakukan oleh seorang remaja saja, atau dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok saja. Menurut Murdinangsih (dalam Kartono, 1991) menyatakan bahwa sifat-sifat dari remaja yang nakal terletak pada: 1. Adanya infantilisme (sifat seperti anak bayi) 2. Ketergantungan terhadap orang tua maupun teman-teman

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 3. Tidak mampu menerima realitas 4. Frustrasi 5. Tidak dapat menguasai-menguasai dorongan nafsunya 6. Mempunyai sikap bermusuhan terhadap dunia sekitarnya 7. Perkembangan emosi yang tidak matang (immature), terkadang emosinya tidak stabil dan amat peka terhadap ketegangan emosional sehingga sering menjadi agresif, bermusuhan, curiga, cemburu, suka bertengkar, serta menimpakan ketidakmampuannya sendiri kepada kesalahan orang lain (ada kecenderungan proyeksi) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri remaja yang nakal adalah dilakukan oleh remaja yang berusia 13-17 tahun, anti sosial atau tidak peka terhadap lingkungan sekitar, tidak mandiri atau tergantung dengan orang tua maupun teman, tidak dapat menahan emosinya sehingga terkadang meunjukkan sikap yang negatif. 3. Bentuk Kenakalan Remaja Menurut Kartono (2005) bentuk-bentuk perilaku kenakalan remaja dapat dibagi menjadi 4, yaitu : a. Kenakalan Terisolir Kelompok ini merupakan kelompok terbesar atau kelompok mayoritas dari remaja yang nakal. Delinkuensi terisolasi itu mereaksi terhadap tekanan dari lingkungan sosial. Mereka mencari panutan dan rasa

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 aman dari kelompok gangnya. Namun pada usia dewasa, mayoritas anak delinkuen dengan tipe ini meninggalkan tingkahlaku kriminalnya, paling sedikit 60% dari mereka meninggalkan dan menghentikan perbuatannya di usia 21-23 tahun. b. Kenakalan Neurotik Pada umumnya, anak-anak delinkuen dengan tipe ini menderita gangguan kejiwaan yang cukup serius, seperti kecemasan, merasa selalu tidak aman, merasa terancam, tersudut dan terpojok, merasa bersalah atau berdosa. Biasanya anak remaja delinkuen tipe ini melakukan kejahatan seorang diri dan mempraktekkan jenis kejahatan tertentu, misalnya suka memperkosa lalu membunuh korbannya, dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Perubahan tingkahlaku mereka berlangsung atas dasar konflik jiwani yang serius, maka mereka akan terus melanjutkan perilaku kejahatannya sampai usia dewasa. c. Kenakalan Psikopatik Kenakalan psikopatik ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari kepentingan umum dan segi keamanan, mereka merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya. Bentuk kejahatannya majemuk, tergantung pada suasana hatinya yang kacau tidak dapat diduga-duga. Mereka biasanya berulangkali masuk penjara dan sulit untuk diperbaiki.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 d. Kenakalan Defek Moral Defek (defect, defectus) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang. Kelemahan dan kegagalan para remaja delinkuen dengan tipe ini adalah mereka tidak mampu mengenal dan memahami tingkahlakunya yang jahat, tidak mampu mengendalikan dan mengaturnya. Sikapnya sangat dingin dan tanpa afeksi (perasaan). Mereka merasa puas dengan “prestasinya”, namun sering perbuatan mereka disertai agresivitas yang meledak. Mereka juga selalu bersikap bermusuhan terhadap siapapun juga, karena itu mereka selalu melakukan perbuatan kejahatan. Gunarsa (1979) menggolongkan kenakalan remaja dalam dua kelompok besar, sesuai dengan kaitannya dengan norma hukum, yaitu : 1. Kenakalan yang bersifat a-moral dan a-sosial dan tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum, antara lain : a. Berbohong, memutar balikkan kenyataan dengan tujuan menipu orang atau untuk menutup kesalahan b. Membolos, pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah c. Kabur dari rumah, meninggalkan rumah tanpa ijin orang tua atau menentang keinginan orang tua.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 d. Keluyuran, pergi sendiri maupun berkelompok tanpa ada tujuan yang jelas, dan mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif. e. Memiliki dan membawa benda yang membahayakan orang lain, sehingga mudah terangsang untuk menggunakannya. Misalnya, pisau, pistol, silet, dan lain sebagainya. f. Bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk sehingga mudah terjerat dalam perkara yang benar-benar kriminal. g. Berpesta pora semalaman suntuk tanpa pengawasan sehingga mudah timbul tindakan-tindakan yang kurang bertanggungjawab. h. Membaca buku-buku cabul dan kebiasaan menggunakan bahasa yang tidak sopan sehingga seolah-olah menggambarkan kurang perhatian dan pendidikan dari orang dewasa. 2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh orang dewasa, antara lain : a. Perjudian dan segala macam bentuk perjudian yang mempergunakan uang. b. Pencurian dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan, seperti pencopetan, perampasan, dan penjambretan. c. Penggelapan barang d. Penipuan dan pemalsuan

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 e. Pelanggaran tata susila, menjual gambar-gambar porno dan film porno, serta pemerkosaan. f. Pemalsuan uang dan pemalsuan surat-surat keterangan resmi. g. Percobaan pembunuhan h. Menyebabkan kematian orang, turut tersangkut dalam pembunuhan i. Pengguguran kandungan j. Penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian seseorang. Hurlock (1999) berpendapat bahwa kenakalan yang dilakukan oleh remaja terbagi dalam empat bentuk, yaitu : a. Perilaku yang menyakiti diri sendiri dan orang lain b. Perilaku yang membahayakan hak milik orang lain, seperti merampas, mencuri, dan mencopet. c. Perilaku yang tidak terkendali, yaitu perilaku yang tidak mematuhi orang tua dan guru, seperti membolos, mengendarai kendaraan tanpa ijin, dan kabur dari rumah. d. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, seperti mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, memperkosa, dan menggunakan senjata tajam. Jensen (dalam Sarwono, 2002) membagi kenakalan remaja menjadi empat bentuk, yaitu : a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain. c. Kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak orang lain : pelacuran, penyalahgunaan obat, hubungan seks bebas. d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, minggat dari rumah, dan membantah perintah orang tua. Dari beberapa bentuk kenakalan remaja di atas, dapat disimpulkan bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh remaja yang nakal memberikan dampak yang negatif bagi remaja sendiri maupun orang lain. Kenakalan yang dilakukan oleh remaja terbagi dalam kenakalan yang tidak digolongkan dalam pelanggaran hukum serta kenakalan yang termasuk dalam pelanggaran hukum. Adapun aspek-aspeknya diambil dari pendapat Jansen (dalam Sarwono, 2002) yang terdiri dari 4 aspek, yaitu aspek kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak orang lain, dan aspek kenakalan yang melawan status. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori Jansen karena teori tersebut lebih mewakili aspek-aspek dari kenakalan remaja.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja menurut Santrock (2002) dijelaskan sebagai berikut : a. Identitas Erikson mengemukakan masa remaja ada pada tahap krisis identitas harus di atasi, dalam pencarian identitas sebaiknya remaja harus lebih diperhatikan dan diawasi agar orang tua mengetahui perilaku remaja. Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian remaja : (1) terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan (2) terjadinya identitas peran, kurang lebih dengan dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan, dan gaya yang dimiliki oleh remaja dengan peran yang dituntut dari remaja. Erikson yakin kenakalan remaja terjadi karena anak remaja gagal mengatasi identitas peran. b. Pengendalian diri Kenakalan juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkahlaku. Beberapa anak dan remaja gagal memperoleh pengendalian yang esensial yang umumnya dicapai orang lain selama proses pertumbuhan. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkahlaku yang dapat diterima dan tingkahlaku yang tidak dapat diterima, namun remaja yang

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 melakukan kenakalan tidak mengenali hal ini. Hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. c. Usia Munculnya tingkahlaku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkahlaku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan. Hasil penelitian dari McCord yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya, paling sedikit 60% dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun. d. Jenis kelamin Remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam perilaku anti sosial berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran serius. Menurut Kartono (2005) pada umumnya jumlah remaja laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang 50 kali lipat dibandingkan dengan gang remaja perempuan. e. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai sekolah Remaja yang menjadi nakal seringkali memiliki harapan-harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak memiliki motivasi untuk sekolah. f. Pengaruh keluarga Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orang tua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orang tua dapat memicu timbulnya kenakalan remaja. g. Pengaruh teman sebaya Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal menambah besar risiko menjadi nakal. Pada sebuah penelitian (Santrock, 2002) terdapat 500 remaja di Boston yang tidak melakukan kenakalan, ditemukan persentase yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan. h. Kelas sosial ekonomi Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan remaja berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan keterampilan yang diterima oleh masyarakat. i. Kualitas lingkungan Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas yang tinggi

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 memungkinkan remaja mengamati model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Menurut Kartono (2005) faktor yang mendorong remaja melakukan tindakan kenakalan antara lain : a. Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan b. Meningkatnya agresivitas dan dorongan seksual c. Salah asuh dan salah didik orang tua sehingga anak menjadi manja dan lemah mentalnya. d. Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru. e. Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal f. Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi remaja untuk melakukan kenakalan dapat berasal dari diri remaja dan pengaruh dari luar. Pengaruh yang berasal dari dalam diri remaja, seperti usia, pengendalian diri, jenis kelamin, hasrat untuk berkumpul dengan teman sebaya, dan konflik batin. Pengaruh dari luar seperti pengaruh lingkungan, teman sebaya, dan pengaruh dari sekolah.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 C. Dinamika antara Perkembangan Moral dengan Kenakalan Remaja Remaja adalah individu yang sedang mengalami peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dalam rentangannya terjadi perubahanperubahan dalam perkembangan pada aspek psikologis, fisik, kognisi, dan sosial. Setiap masa periode memiliki masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah pada remaja sering kali menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Kebanyakan dari mereka ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dengan menolak bantuan dari orang tua maupun dari guru. Banyak dari remaja tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri, karena ketidakmampuan mereka dalam mengatasi masalahnya dengan cara yang mereka yakini sehingga banyak dari remaja pada akhirnya menemukan penyelesain yang tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (Hurlock, 1999) Masa remaja juga masa yang rentan terhadap berbagai masalah, sehingga terkadang remaja gagal dalam menjalankan perkembangannya. Kegagalan remaja biasanya akan menghantarkan remaja dalam melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang yang biasa disebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja dilakukan oleh remaja yang berusia antara 15-19 tahun karena di rentang usia tersebut remaja rentan terhadap masalah dan sesudah usia 22 tahun, kasus kenakalan yang dilakukan oleh remaja jadi menurun. Hal tersebut juga dikarenakan pengaruh sosial dan kultural memiliki peran yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah laku kenakalan pada remaja (Kartono, 2005).

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Adapun bentuk kenakalan remaja menurut Jensen (dalam Sarwono, 2002), yaitu kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak orang lain, dan kenakalan yang melawan status. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja terdiri dari lingkungan, identitas, usia, jenis kelamin, pendidikan, kelas ekonomi sosial, pengaruh teman sebaya, dan kontrol diri (Santrock, 2002). Banyak remaja yang mulai melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Pergaulan remaja saat ini sudah berubah, remaja lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul bersama teman-teman dibandingkan belajar di rumah. Terkadang jika remaja memiliki masalah, pengaruh teman sebaya sangat besar dibandingkan dengan orang tua karena orang tua tidak dapat mengontrol anaknya jika berada di luar rumah sehingga remaja harus memiliki kontrol diri untuk mengendalikan perilakunya dan membatasi perilaku agar terhindar dari perilaku menyimpang. Remaja yang melakukan kenakalan pada umumnya kurang memiliki kontrol diri, atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut, dan menegakkan standar tingkah laku sendiri, disamping tidak mempedulikan keberadaan orang lain (Kartono, 2005). Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri memiliki peran yang penting dalam kenakalan remaja. Kebanyakan remaja telah mempelajari tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 tidak mengenal hal ini. Remaja yang nakal mungkin gagal dalam membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, atau mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka (Santrock, 1996). Menurut Berk (dalam Gunarsa, 2009) kontrol diri adalah kemampuan individu untuk menahan keinginan atau dorongan sesaat yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma sosial. Sebagian besar dari remaja yang tidak melakukan kenakalan, sekalipun memiliki kecenderungan egoistis dan anti sosial, itu karena memiliki kontrol diri yang kuat dan kepatuhan secara normal terhadap kontrol sosial yang efektif (Kartono, 2005) sehingga dapat mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan tindakan yang negatif atau menyimpang. Remaja yang mampu melakukan kenakalan dikarenakan tidak memiliki kontrol diri yang kuat sehingga dengan mudah melakukan perilaku yang negatif atau menyimpang yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Selain beberapa faktor tersebut, di sisi lain kurangya moralitas remaja juga mempengaruhi kenakalan remaja. Kekuatan morallah yang diperlukan remaja untuk menjaga sikap mereka dalam menghadapi pengaruh-pengaruh buruk dari luar sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk tersebut dan tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Perkembangan moral yang dimiliki oleh remaja menuntun remaja untuk dapat membedakan perilaku yang baik dan perilaku yang tidak baik. Jika remaja sudah memiliki perkembangan moral yang

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 baik tentu mereka dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Penalaran moral menurut Kohlberg didasarkan pada pendekatan kognitif. Pendekatan kognitif yang dipakai oleh Kohlberg selalu mempertanyakan bagaimana seseorang mengerti akan tanggungjawabnya terhadap lingkungan sosialnya dan bagimana cara memandang tindakan yang seharusnya diambil bila menghadapi masalah dalam situasi tertentu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, remaja harus dapat mengendalikan dirinya sehingga dapat menghadapai masalah di lingkungan sosialnya dan dapat berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada. Dalam perkembangan moral Kohlberg dibagi dalam 3 level yang setiap level terdiri dari 2 tahap, yaitu level yang pertama adalah level prakonvensional dengan tahap orientasi hukuman dan ketaatan dan tahap perbuatan yang benar. Level yang kedua adalah level konvensional dengan tahap orientasi kesepakatan antar pribadi dan tahap orientasi hukum dan ketertiban. Level yang ketiga atau yang terkahir adalah level pasca-konvensional terdiri dari tahap orientasi kontrak sosial dan tahap orientasi pada keputusan suara hati dan prinsip etika universal. Kohlberg membagi tahapan tersebut berdasarkan penelitian mengenai dilemma moral. Atkinson (1999) menyatakan bahwa kemampuan individu untuk mengambil keputusan tentang moral berhubungan erat dengan perkembangan

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 kognitif. Hal ini berarti bahwa individu yang berusia lebih tua lebih memikirkan konsep abstrak dan menarik kesimpulan yang lebih logis mengenai interaksi sosial dibandingkan dengan individu yang masih muda, dalam hal ini adalah remaja. Kohlberg (dalam Santrock, 2002) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada perspektif kognitif terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkatan dan keenam tahapan moral tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia. Pada penelitian ini aka meniliti mengenai perkembangan moral pada remaja karena pada masa remaja, konsep moral tidak lagi sesempit pada masa anak-anak. Bila perubahan terjadi, remaja akan berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional, artinya mereka melakukan dan mematuhi sesuatu sesuai dengan aturan-aturan, harapan-harapan, dan konvensi masyarakat atau penguasa. Pada masa remaja, penalaran anak-anak menjadi semakin berkembang dan mereka cenderung kurang dapat menerima disiplin orang tua, menuntut kemandirian yang lebih tegas, yang pada akhirnya menimbulkan kesulitan bagi hubungan antara orang tua dan anak itu sendiri (Kohlberg dan Gilligan dalam Monks, 2002) . Remaja yang memiliki moral yang rendah kemungkinan akan rentan melakukan tindakan yang menyimpang yang dapat merugikan diri sendiri. Nilainilai moral yang negatif adalah prediksi dari perilaku kenakalan remaja. Dengan adanya perkembangan moral yang dimiliki oleh remaja, maka remaja dapat berpikir dan bertindak pada situasi tertentu dengan baik dan dapat mencapai

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 tingkat penalaran moral yang lebih tinggi. Remaja yang memiliki perkembangan moral dapat memilih hal yang baik dan hal yang buruk dalam melakukan tindakan sehingga tidak melakukan tindakan yang menyimpang. Berdasarkan dari pengertian tentang hubungan antara perkembangan moral dan kenakalan remaja adalah bahwa tinggi rendahnya perkembangan moral akan mempengaruhi kenakalan remaja. Semakin tinggi perkembangan moral yang dimiliki oleh seorang remaja maka remaja akan berperilaku baik dan tidak menyimpang sesuai dengan norma yang ada. D. Skema Penelitian Level Perkembangan Moral: Semakin tinggi level 1. Level Prakonvensional perkembangan moral, 2. Level Konvensional pengendalian diri semakin 3. Level Pascakonvensional baik Bentuk Kenakalan Remaja 1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain 2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi 3. Kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak orang lain 4. Kenakalan yang melawan status

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 E. Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Semakin tinggi perkembangan moral, maka semakin rendah kenakalan pada remaja. Jika semakin rendah perkembangan moral, maka semakin tinggi kenakalan pada remaja.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Metode korelasional bertujuan untuk menyatakan hubungan antara variabel yang tidak menunjukkan ketergantungan variabel satu dengan variabel lainnya seperti halnya dalam hubungan sebab akibat (Widi, 2010). Sedangkan pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang diambil menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2006). Asumsi dari penelitian kuantitatif adalah bahwa fakta-fakta dari obyek penelitian memiliki realitas dan variabel-variabel yang dapat diidentifikasikan, serta hubungannya dapat diukur. B. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel terbagi menjadi dua macam, yaitu variabel bebas (independen variable) dan variabel terikat (dependen variable). Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yang diidentifikasi sebagai berikut : a. Variabel bebas (X) : Perkembangan moral b. Variabel terikat (Y) : Kenakalan remaja 38

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 C. Definisi Operasional Penelitian 1. Perkembangan moral Perkembangan moral adalah kemampuan seseorang untuk membedakan tindakan atau perbuatan yang benar dan salah disertai dengan beberapa sifat, seperti kejujuran, keadilan, kebaikan, dan penghormatan terhadap kebutuhan orang lain. Suatu tingkah laku dikatakan bermoral jika tingkah laku tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kelompok sosial tempat anak tinggal. Perkembangan moral diukur dengan menggunakan Defining Issues Test (DIT) yang mengungkap penalaran moral individu. DIT menggunakan tahapan moral Kohlberg yang terdiri dari orientasi hukuman dan ketaatan, individualisme, tujuan, dan pertukaran, orientasi kesepakatan antar pribadi, orientasi hukum dan ketertiban, kontrak sosial dan hak-hak individu, dan prinsip etika universal. Semakin tinggi tahap perkembangan moral yang diperoleh oleh subjek, maka semakin baik perkembangan moralnya, demikian juga sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah perkembangan moralnya. 2. Kenakalan remaja Kenakalan remaja adalah perilaku atau tindakan menyimpang yang dilakukan oleh remaja di bawah umur 18 tahun dan melanggar norma sosial, agama bahkan hukum yang dapat merugikan diri sendiri seperti membolos

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 sekolah, merokok, mengkonsumsi narkoba, melakukan seks bebas, mencuri, dan melakukan tindak kekerasan. Kenakalan remaja diukur dengan menggunakan skala perilaku kenakalan remaja yang mencakup empat bentuk kenakalan remaja menurut Jensen, yaitu kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak lain, dan kenakalan yang melanggar status. Semakin tinggi skor kenakalan remaja yang diperoleh, maka remaja lebih cenderung melakukan kenakalan, demikian juga sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka remaja tersebut memiliki perilaku kenakalan yang rendah. D. Populasi dan Sampel Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini siswa-siswi SMA kelas 1,2,3. Siswa-siswi SMA termasuk dalam tahapan remaja akhir dengan usia 16 sampai 19 tahun (Santrock, 2002). Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti (Riduwan, 2008). Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara nonprobability sampling, setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Azwar, 1998). Adapun teknik nonprobability sampling yang digunakan

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 dalam penelitian ini adalah convenience sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan kemudahan saja (Noor, 2011). E. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan DIT (Defining Issues Test) untuk perkembangan moral dan skala perilaku kenakalan remaja. 1. Defining Issues Test (DIT) Peneliti menggunakan alat ukur yang pernah digunakan oleh Suhartini (2000). Dalam DIT terdapat 6 cerita yang disusun oleh Kohlberg, masing-masing cerita terdiri dari 12 pernyataan, namun dalam penelitian ini hanya menggunakan 3 cerita yang berhubungan dengan perkembangan moral. Peneliti tidak memakai semua cerita karena 3 cerita sudah dapat mewakili pertanyaan mengenai perkembangan moral dan dari 6 cerita tersebut ada beberapa cerita yang tidak sesuai dengan budaya di Indonesia. Dalam penelitian ini, 1 cerita terdiri dari 2-5 pertanyaan sehingga jika peneliti menggunakan semua cerita dalam DIT maka terdapat 30 pertanyaan dan hal ini dapat menimbulkan kejenuhan siswa yang dapat mempengaruhi kesungguhan siswa dalam menjawab. Setiap cerita disertai dengan pertanyaan yang harus dijawab oleh responden dengan memilih alternatif jawaban yang tersedia. Cerita pertama disertai dengan lima pertanyaan mengenai tindakan mencuri obat yang

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 dilakukan oleh seorang suami untuk kesembuhan istrinya, cerita kedua disertai dengan tiga pertanyaan tentang hukuman atau kebebasan untuk tahanan yang melarikan diri, dan cerita ketiga disertai dengan dua pertanyaan mengenai keputusan dokter untuk pasiennya. Setiap responden diharapkan hanya memilih satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan. Pilihan jawaban yang diberikan oleh responden ditafsirkan oleh peneliti dengan mencocokan kunci jawaban dengan tahapan-tahapan perkembangan moral Kohlberg. Pilihan jawaban responden tersebut dikelompokkan ke dalam tahaptahap. Langkah selanjutnya adalah menghitung prosentase jumlah jawaban yang telah dikelompokkan ke dalam tahap-tahap perkembangan moral lalu mengalikan hasil perhitungan persentase dengan tahapannya. Hasil dari perkalian tersebut kemudian dijumlahkan, dan hasil penjumlahan merupakan skor perkembangan moral. Cara penghitungan perkembangan moral tersebut memakai langkahlangkah sebagai berikut: 1. Mengelompokkan jawaban moral yang telah dipilih oleh subyek ke dalam tahap-tahap perkembangan moral. Tahap 1: Pemikiran moral didasarkan pada hukuman dan kepatuhan Tahap 2: Individualisme dan tujuan, didasarkan pada hadiah atau reward dan minat pribadi

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Tahap 3: Norma interpersonal, individu menganggap rasa percaya, rasa sayang, dan kesetiaan sebagai dasar untuk melakukan penilaian moral Tahap 4: Moralitas sistem sosial, penilaian moral didasarkan pada pemahaman terhadap aturan, hukum, keadilan, dan tugas sosial. Tahap 5: Hak komunitas dan hak individu, seseorang memiliki pemahaman bahwa nilai dan hukum adalah relatif dan standar akan berbeda dengan yang dimiliki oleh orang lain. Tahap 6: Prinsip etis universal, seseorang sudah membentuk standar moral yang didasarkan pada hak manusia secara universal.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Tabel 1. Contoh Skoring Jawaban Subjek Tahapan 1 2 3 4 5 6 Soal 1 X 2 X 3 4 X X 5 X 6 7 8 X X X 9 X 10 X 2. Menghitung persentase jumlah jawaban moral yang telah dikelompokkan ke dalam tahap-tahap. 3. Mengalikan hasil perhitungan persentase jawaban dengan tahapannya. 4. Menjumlahkan seluruh hasil perkalian. Jumlah akhir dari perhitungan tersebut merupakan skor dari tahap perkembangan moral subjek. Contoh penghitungan untuk langkah-langkah 2, 3, dan 4 sebagai berikut:

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Tahap 1: 3 (XXX) = jawaban subjek Tahap 2: 3 (XXX) Tahap 4: 4 (XXXX) 10 (XXXXXXXXXX) Kemudian hasil tersebut dikonversikan dengan persennya, akan diperoleh hasil sebagai berikut: Tahap 1: 3 maka 3/10x100 = 30% Tahap 2: 3 maka 3/10x100 = 30% Tahap 3: 4 maka 4/10x100 = 40% Selanjutnya perhitungan persentase di atas dikalikan dengan tahapannya, maka: Tahap 1x30 = 30 Tahap 2x30 = 60 Tahap 3x40 = 120 210 Didapatkan jumlah akhir sebesar 210 (dibulatkan) yang merupakan skor dari tahap perkembangan moral. 5. Menentukan tahap perkembangan moral dengan memasukkan jumlah skor yang diperoleh subjek menurut Plagiuso (dalam Suhartini, 2000) : Tahap 1: 100 Tahap 2: 200 Tahap 3: 300

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Tahap 4: 400 Tahap 5: 500 Tahap 6: 600 2. Skala Kenakalan Remaja Skala kenakalan remaja disusun oleh peneliti berdasarkan empat aspek menurut Jensen (dalam Sarwono, 2002) yaitu kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak lain, dan kenakalan yang melawan status. Jawaban dalam skala ini bersifat tertutup karena jawaban pertanyaan sudah disediakan dan subyek diminta untuk mengisi hanya satu jawaban yang sesuai dengan dirinya. Jumlah aitem dalam skala kenakalan remaja berjumlah 47 pernyataan. Setiap pernyataan disediakan dalam empat alternatif jawaban, yaitu Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KD), Tidak Pernah (TP). Jawaban “selalu” memiliki skor 1, “sering” memiliki skor 2, “kadang-kadang” memiliki skor 3, dan jawaban “tidak pernah” memiliki skor 4. Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek dalam skala ini maka semakin rendah perilaku kenakalan yang dimiliknya, dan semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin tinggi perilaku kenakalan yang dimilikinya.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Tabel 2. Blue Print Skala Kenakalan Remaja No Aspek Indikator Nomor Jumlah Bobot 6 13% 10 21%% 13 28% 18 38% 47 100% Aitem 1 Perilaku yang menimbulkan korban fisik pada orang lain - Berkelahi dengan teman 1, 2, 3, 17, 18, 19 - Mengambil barang orang lain dengan paksa 2 Perilaku yang - Perusakan 4, 5, 6, 20, menimbulkan - Mengambil 21, 22, 23, korban materi barang orang 24, 25, 27 lain tanpa ijin 3 Perilaku yang - Penyalahguna 7, 8, 9, 10, membahayaka an obat- 26, 28, 29, n diri sendiri obatan dan 30, 31, 32, dan orang lain merokok 33, 35, 38 - Penyalahguna an senjata 4 Perilaku yang melanggar aturan dan status - Melanggar 11, 12, 13, aturan sekolah 14, 15, 16, - Melanggar 34, 36, 37, aturan orang 39, 40, 41, tua 42, 43, 44, 45, 46, 47 Total 47

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 F. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2006). Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu pengujian terhadap isi dari skala psikologi dan revisi butir-butir aitem berdasarkan pendapat professional atau professional judgement. Dalam penelitian ini, professional judgement diperoleh dengan berkonsultasi pada dosen pembimbing skripsi. 2. Seleksi Aitem Dalam penelitian ini, berdasarkan korelasi aitem total digunakan batasan rix ≥ 0.30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30 daya pembedanya dianggap memuaskan, sedangkan aitem yang mencapai kurang dari 0.30 dianggap sebagai aitem yang memiliki daya pembeda yang rendah. Apabila setelah dilakukan seleksi aitem ditemukan aitem-aitem yang lolos belum mencukupi jumlah yang diinginkan atau aitem tersebut kurang mewakili aspek-aspek yang diukur maka dipertimbangkan dengan menurunkan batasan rix ≥ 0.25 (Azwar, 1999). dapat

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Tabel 3. Blueprint Skala Kenakalan Remaja Sebelum Try Out No 1 Aspek Perilaku yang Nomor Aitem Jumlah 1, 2, 3, 17, 18, 19 6 (13%) Perilaku yang 4, 5, 6, 20, 21, 22, 23, 10 (21%) menimbulkan korban 24, 25, 27 menimbulkan korban fisik pada orang lain 2 materi 3 Perilaku yang 7, 8, 9, 10, 26, 28, 29, membahayakan diri 30, 31, 32, 33, 35, 38 13(28%) sendiri dan orang lain 4 Perilaku yang melanggar 11, 12, 13, 14, 15, 16, aturan dan status 18 (38%) 34, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47 Total 47 47 (100%) Pengambilan data untuk uji coba dilakukan pada tanggal 8 Januari 2014 sampai dengan tanggal 17 Januari di SMA Santo Mikael Yogyakarta dengan memberikan proposal beserta surat pengantar dari Fakutas Psikologi kepada Kepala Sekolah untuk mendapatkan persetujuan. Siswa yang digunakan dalam uji coba yaitu berjumlah 46 siswa yang terdiri dari 21 siswa kelas X dan 25 siswa kelas XI. Pada skala kenakalan remaja di atas, dilakukan seleksi aitem dengan batasan rxi ≥0.30. Aitem yang dianggap memenuhi kriteria adalah aitem yang

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 memiliki korelasi aitem total ≥0.30, sedangkan aitem yang memiliki korelasi aitem total kurang dari 0.3(<0.3) dianggap tidak memenuhi criteria sehingga harus digugurkan (Azwar, 1999). Setelah dilakukan uji coba dengan 47 soal, didapat hasil 8 aitem yang gugur sehingga terdapat 37 aitem yang baik. Tabel 4. Blue Print Skala Kenakalan Remaja Setelah Try Out No 1 Aspek Nomor Aitem Jumlah 1, 2, 3, 17, 18, 19 6 (13%) Perilaku yang 4, 5, 6, 20, 21, 22, 23, 10 (21%) menimbulkan korban 24, 25, 27 Perilaku yang menimbulkan korban fisik pada orang lain 2 materi 3 Perilaku yang 7, 8, 9, 10, 26, 28, 29, membahayakan diri 30, 31, 32, 33, 35, 38 13 (28%) sendiri dan orang lain 4 Perilaku yang melanggar 11, 12, 13, 14, 15, 16, aturan dan status 18 (38%) 34, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47 Total 47 47 (100%) Keterangan : angka yang dicetak tebal adalah aitem yang gugur setelah dilakukan uji coba. Setelah dilakukan seleksi aitem, peneliti kemudian melakukan penyusunan ulang skala final dengan melihat sebaran aitem di setiap aspek.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Berikut ini ada skala final untuk penelitian yang sebenarnya setelah disusun ulang oleh peneliti. Tabel 5. Blue Print Skala Kenakalan Remaja Setelah Dilakukan Penyusunan Ulang No 1 Aspek Nomor Aitem Jumlah 1, 13, 24 3 (7%) Perilaku yang 2, 3, 4, 14, 15, 16, 19, 10 (26%) menimbulkan korban 23, 30,31 Perilaku yang menimbulkan korban fisik pada orang lain 2 materi 3 Perilaku yang 5, 6, 7, 17, 18, 25, 29, membahayakan diri 32, 34, 37 10( 26%) sendiri dan orang lain 4 Perilaku yang melanggar 8, 9, 10, 11, 12, 20, aturan dan status 16 (41%) 21, 22, 26, 27, 28, 33, 35, 36, 38, 39 Jumlah 39 39 (100%) 3. Reliabilitas Reliabilitas adalah konsistensi atau hasil kepercayaan pada hasil alat ukur yang mengandung kecermatan pengukuran. Reliabilitas dinyatakan dalam koefisien reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang 0.0 sampai

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 dengan 1.00 . Semakin tinggi koefisien reliabilitas yang diperoleh, berarti hasil pengukuran instrumen tersebut semakin dapat dipercaya. Pengujian reliabilitas skala pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha untuk skala kenakalan remaja dan menghasilkan reliabilitas sebesar 0.925. Untuk soal-soal perkembangan moral menggunakan metode inter-rater. Metode inter-rater adalah pemberian rating yang dilakukan oleh beberapa raters yang berbeda dan independen satu sama lain terhadap kelompok subjek yang sama. Rating yang dilakukan oleh raters lain ditekankan pada konsistensi antar raters (Azwar, 2005). Pada metode inter-rater mencari reliabilitas menggunakan koefisien Cohen’s Kappa dan menghasilkan reliabilitas sebesar 0.50. Fleiss (dalam Widhiarso, 2005) mengkategorikan tingkat reliabilitas antar rater menjadi tiga kategori, yaitu: 1. κ < 0.40 = Buruk 2. 0.40 < κ < 0.75 = Baik 3. κ > 0.75 = Memuaskan Berdasarkan dari kategori reliabilitas di atas, maka koefisien reliabiltas kappa soal-soal perkembangan moral sebesar 0.50 termasuk dalam kategori baik. G. Metode Analisis Data 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diambil berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak (Noor,

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 2011). Sebaran data dapat dinyatakan berdistribusi normal apabila memiliki signifikansi diatas 0.05 (p>0.05). Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Test. 2. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara kedua variabel membentuk garis lurus atau tidak. Hubungan kedua variabel dapat dikatakan linear apabila memiliki signifikansi dibawah 0.05 (p<0.05). Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan teknik test for liniearity yang terdapat pada program SPSS. 3. Uji Hipotesis Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan metode korelasi Product Moment Pearson. Metode tersebut digunakan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Semua penghitungan data dalam penelitian ini dilakukan dengan penggunakan program SPSS for Windows versi 16.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengurus perizinan pada tanggal 20 Februari 2014 ke beberapa SMA swasta di Yogyakarta dengan menyerahkan surat pengantar dari Fakultas Psikologi. Pada tanggal 24 Maret 2014 peneliti mendapatkan ijin melaksanakan penelitian di SMA Bruderan Purworejo. Sebelumnya peneliti bertemu dengan guru BK sekaligus menyerahkan proposal dan contoh dari skala kenakalan remaja dan soal tentang perkembangan moral, kemudian dilakukan kesepakatan untuk menentukan pelaksanaan penelitian. Penelitian dilksanaakan pada tanggal 26-27 Maret 2014 di SMA Bruderan Purworejo dengan 90 siswa yang terdiri dari 45 siswa kelas X dan 45 siswa kelas XI. B. Deskripsi Subjek Penelitan Sesuai dengan kriteria subjek penelitian yang telah ditentukan yaitu siswa SMA dengan rentang usia 15-19 tahun. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 90 siswa. Berikut ini merupakan deskripsi dari subjek penelitian: 54

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel 6. Deskripsi Usia Subjek Penelitian Usia Kelas Jenis Kelamin 15 tahun 16 tahun 17 tahun SMA X SMA XI Perempuan Laki-laki 21 43 26 45 45 53 37 C. Deskripsi Data Penelitian Tabel 7. Perbandingan Mean Teoritik dan Mean Empirik Perkembangan Moral dan Kenakalan Remaja N Mean Teoritik Mean Empirik Sign. Perkembangan Moral 90 35 42.2 0.000 Kenakalan Remaja 97.5 143.7 0.000 90 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa variabel perkembangan moral memiliki mean teoritik sebesar 35 dan mean empirik sebesar 42.2. Dari hasil penghitungan diketahui bahwa hasil dari kedua mean tersebut memiliki signifikansi di bawah 0.05, yaitu 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua mean tersebut. Hasil di atas menunjukkan mean empirik perkembangan moral lebih besar dari mean teoritiknya (42.2 > 35). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki perkembangan moral yang cenderung tinggi berada pada

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 tahap ke tiga dan keempat yang termasuk dalam tingkat kedua perkembangan moral. Variabel kenakalan remaja memiliki mean teoritik sebesar 97.5 dan mean empirik sebesar 143.7. Dari hasil penghitungan diketahui bahwa hasil dari kedua mean tersebut memiliki signifikansi di bawah 0.05, yaitu 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua mean tersebut. Hasil di atas menunjukkan mean empirik kenakalan remaja lebih besar dari mean teoritiknya (143.7 > 97.5). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai kenakalan remaja yang diperoleh tinggi yang berarti kenakalan remaja yang dimiliki subjek dalam penelitian ini rendah. D. Kategorisasi Kategorisasi dilakukan untuk mengelompokkan subjek ke dalam tingkatan kategori tertentu. Skor yang diperoleh dalam penelitian ini dikelompokkan ke dalam 3 kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Sebelum menentukan kategori harus diketahui terlebih dahulu batasannya berdasarkan satuan standar deviasi dengan memperhitungkan rentangan angka-angka minimum-maksimum teoritisnya (Azwar, 1999)

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Tabel 8. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Soal Perkembangan Moral Rentang Nilai Kategori Frekuensi Presentase X > 55 Tinggi 17 18.9 % 37 ≤ X ≤ 47.43 Sedang 62 68.9 % X < 37 Rendah 11 12,2 % Jumlah 90 100 % Berdasarkan hasil penghitungan data diketahui bahwa dalam variabel perkembangan moral, subjek yang termasuk dalam kategori tinggi sebanyak 18.9 %, kategori sedang sebesar 68.9%, dan kategori rendah sebesar 12.2 %. Tabel 9. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Skala Kenakalan Remaja Rentang Nilai Kategori Frekuensi Presentase X < 134.9 Tinggi 9 10 % 134.9 ≤ X ≤ 152.47 Sedang 72 80 % X > 156 Rendah 9 10 % Jumlah 90 100 % Berdasarkan hasil penghitungan data diketahui bahwa dalam variabel perkembangan moral, subjek yang termasuk dalam kategori tinggi sebanyak 10 %, kategori sedang sebesar 80 %, dan kategori rendah sebesar 10 %.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 E. Analisis Data Penelitian Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, dilakukan pengujian asusmsi terlebih dahulu pada data yang diperoleh. Uji asumsi tersebut terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dari variabel penelitian yang diperoleh berasal dari data yang berdistribusi normal atau tidak. Jika taraf signifikansi berada di atas 0.05 (p>0.05) maka data tersebut berdistribusi normal. Dari hasil penghitungan data, dapat diperoleh hasil dari variabel perkembangan moral sebesar 0.348 dan dari variabel kenakalan remaja sebesar 0.062. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel berdistribusi normal karena p lebih besar dari 0.05 (p>0.05). Berdasarkan hasil tersebut, uji normalitas variabel perkembangan moral dan kenakalan remaja dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10. Ringkasan Uji Normalitas (One-Sample-Kolmogorov-Smirnov Test) Variabel KS-Test Asymp-sig (p) Sebaran Variabel X (perkembangan moral) 0.933 0.348 Normal Variabel Y (kenakalan remaja) 1.317 0.062 Normal

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 2. Uji Linearitas Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel dari penelitian mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Dua variabel dapat dikatakan linear atau tidak jika memiliki taraf signifikansi kurang dari 0.05 (p<0.05). Dari penghitungan data, didapat hasil hubungan perkembangan moral dan kenakalan remaja memiliki signifikansi 0.011. Oleh karena itu, kedua variabel memiliki hubungan yang linear karena p lebih kecil dari 0.05 (p<0.05). Hasil dari uji linearitas tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini : Tabel 11. Ringkasan Uji Linearitas Variabel F Sig. Perkembangan Moral (Combined) 1.136 0.337 Dan Kenakalan Remaja Linearity 6.6760 0.011 (Between Group) Defiation from Lineraity 0.824 0.667 3. Uji Hipotesis Setelah melakukan uji normalitas dan uji linearitas pada data yang diperoleh, kemudian peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment dari Pearson. Hasil dari uji hipotesis dapat dilihat dalam tabel berikut :

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Tabel 12. Ringkasan Uji Hipotesis Perkembangan Moral dan Kenakalan Remaja Standarlized Coefficient Hubungan R R2 Sig (2-tailed) Perkembangan Moral dan -0.272 0.074 0.010 Kenakalan Remaja Berdasarkan korelasi product moment tersebut diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,272, dengan signifikansi sebesar 0.010. Nilai signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0.05 (p<0.05), taraf signifikansi yang berada di bawah 0.05menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan. Berdasarkan perhitungan korelasi tersebut dapat disimpulkan adanya hubungan yang negatif antara perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Hal tersebut berarti semakin tinggi tingkat perkembangan moral remaja akan diikuti dengan rendahnya perilaku kenakalan remaja, dan sebaliknya, semakin rendah tingkat perkembangan moral remaja akan diikuti dengan tingginya perilaku kenakalan remaja. Dengan kata lain, hipotesis dalam penelitian ini diterima.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 F. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil korelasi antara kedua variabel yaitu perkembangan moral dan kenakalan remaja adalah sebesar -0.272 dengan nilai probabilitas sebesar 0.010 (p<0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang negatif dan signifikan. Dengan kata lain, hipotesis pada penelitian ini diterima. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perkembangan moral remaja maka semakin rendah perilaku kenakalan yang dimiliki oleh remaja, dan sebaliknya, jika semakin rendah perkembangan moral remaja, maka semakin tinggi kenakalannya. Perkembangan moral adalah kemampuan seseorang untuk membedakan tindakan yang benar dan salah. Dengan perkembangan moral yang dimiliki oleh remaja, maka remaja mampu mengendalikan atau mengontrol diri untuk melakukan tindakan yang menyimpang. Ketika dorongan untuk melakukan perbuatan yang menyimpang sedang mencapai puncaknya, maka kontrol diri dapat membantu remaja untuk menurunkan dorongan tersebut dengan mempertimbangkan aspek aturan dan norma yang berlaku (Denson, 2012). Menurut Hurlock (1999), salah satu tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari sesuatu yang diharapkan oleh kelompoknya dan kemudian membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa harus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman. Perkembangan moral berfungsi sebagai pedoman perilaku remaja, terlepas dari tanggungjawab orang tua dan guru, remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Perkembangan moral seseorang berkembang dari lahir sampai dewasa. Perkembangannya sendiri merupakan suatu proses yang melalui tahapan tertentu. Menurut Stern (dalam Aroma & Suminar, 2012) meyakini bahwa seorang anak sejak lahir memiliki sifat baik dan buruk dalam dirinya sehingga membutuhkan kontrol diri yang berasal dari orang tua. Anak akan belajar dari orang tuanya mengenai cara berperilaku sesuai dengan yang baik yang harus dilakukan dan perilaku yang harus dihindari. Orang tua juga memiliki peranan penting untuk mengarahkan perkembangan moral anak sehingga dapat mengarh kepada hal-hal yang baik dan tidak menyimpang (Gunarsa, 2010). Orang tua memang memegang peranan penting, namun tersedianya kesempatan untuk mengambil peran moral dari teman sebaya, sekolah, dan masyarakat yang lebih luas akan memberikan akibat-akibat yang positif bagi perkembangan moral seorang individu (Wahareni, 2006). Menurut Damon (dalam Santrock, 2003), hubungan dengan teman sebaya mengenalkan remaja kepada norma timbal balik langsung, tingkah laku berbagi, kerja sama, dan keadilan. Melalui hubungan teman sebaya, remaja belajar mengenai mutualitas, persamaan, dan pengambilan perspektif orang lain, yang dapat meningkatkan perkembangan altruism atau minat untuk menolong orang lain dan tidak mementingkan dirinya sendri. Perilaku moral anak-anak berkorelasi dengan perkembangan moral mereka. Remaja yang berdasarkan perspektif Kohlberg, memiliki perkembangan moral pada tahap yang lebih tinggi cenderung jarang berbuat hal-hal yang

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 menyimpang, seperti menyontek saat ujian, mengejek teman, membolos sekolah, umumnya lebih senang menolong orang yang membutuhkan, dan lebih sering menolak mematuhi perintah yang akan menimbulkan kerugian bagi orang lain (F.H. Davidson, 1976; Kohlberg, 1975; Kohlberg & Candee, 1984; P. A. Miller, Fabes, & Shell, 1996, dalam Ormrod, 2009). Kemampuan remaja mempertimbangkan sudut pandang orang lain dan emosi mereka (rasa malu, perasaan bersalah, empati, simpati) juga memperngaruhi keputusan-keputusan mereka untuk berperilaku secara moral atau sebaliknya (Batson, 1991; Damon, 1998; Einzenberg, Zhou, & Koller, 2001, dalam Ormrod, 2009). Usia siswa-siswi yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah 15-17 tahun termasuk ke dalam remaja akhir. Berdasarkan usia remaja yang menjadi subjek dalam penelitian ini, subjek termasuk ke dalam tingkat perkembangan moral yang kedua yaitu tingkat konvensional dan masuk ke dalam tahap keempat. Hal tersebut sesuai dengan teori Kohlberg (1995) yang mengatakan bahwa tingkat perkembangan moral yang kedua atau tingkat konvensional biasanya terjadi pada masa remaja. Pada tingkat konvensional terdapat tahap ketiga dan keempat, tahap ketiga terjadi pada remaja yang berusia sekitar 12-14 tahun, dan pada tahap keempat terjadi pada remaja yang berusia sekitar 15-19 tahun. Hal tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wihareni (2006) bahwa rata-rata remaja SMA termasuk ke dalam tingkat konvensional perkembangan moral. Penelitian di Amerika juga menunjukkan

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 bahwa tidak semua orang dapat mencapai tahap yang lebih tinggi dari tahap konvensional, atau mencapai tingkat pasca-konvensional (Setiono, 1982). Kohlberg (dalam Santrock, 2002) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada perspektif kognitif terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkatan dan keenam tahapan moral terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia. Pada masa remaja, penalaran anak-anak akan semakin berkembang, dari anak yang patuh kepada orang tua dan takut pada hukum menjadi remaja yang cenderung kurang disiplin pada peraturan, menuntut kemandirian yang tegas, maka perkembangan moral sangat dibutuhkan untuk menentukan tindakan mereka. Pada tahap keempat ini, remaja sudah berorientasi pada hukum dan ketertiban, mereka mulai mamahami mengenai keteraturan sosial, hukum, keadilan, dan tugas. Remaja memandang seseorang yang bermoral bila dapat melakukan tugasnya dengan baik, menghormati orang tua atau guru, dan menjaga tata tertib sosial sehingga tidak terjadi kekacauan di lingkungan sekitar mereka. Remaja melakukan tindakan sudah berdasarkan hukum dan peraturan yang ada dalam masyarakat. Mereka memahami bahwa peraturan itu penting untuk menjamin harmonisnya kehidupan bersama, dan meyakini bahwa tugas mereka adalah mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Meskipun begitu, mereka menganggap peraturan bersifat kaku atau tidak fleksibel, remaja belum menyadari bahwa kebutuhan masyarakat berubah-ubah dan peraturan pun juga seharusnya berubah (Ormrod, 2009). Hal ini membuat remaja semakin berhati-hati dalam

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 mengambil keputusan dan berhati-hati dalam bertindak agar sesuai dengan hukum dan aturan yang ada. Dari hasil penghitungan kategorisasi, pada variabel kenakalan remaja sebanyak 9 subjek dengan persentase sebesar 10 % berada dalam kategori rendah, pada kategori sedang terdapat 72 subjek dengan persentase sebesar 80 %, dan 9 subjek berada dalam kategori rendah dengan persentase 10 %. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek yang termasuk ke dalam tahap sedang. Kenakalan remaja dilakukan oleh remaja yang berusia antara 15-19 tahun, karena di rentang usia tersebut remaja masih labil dan rentan terhadap masalah. Hal tersebut juga dikarenakan pengaruh sosial dan budaya memiliki peran yang besar dalam pembentukan tingkah laku kenakalan pada remaja (Kartono, 2005). Hasil penelitian Ratmawati dalam Mulyasri (2009) mengemukakan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja. Selama masa remaja, individu lebih mengikuti standar-standar teman sebaya dari pada mengikuti aturan orang tua (Santrock, 1995). Selain perkembangan moral, faktor yang dapat menyebabkan kenakalan remaja meliputi sosial-ekonomi menengah bawah, budaya yang berbeda, krisis identitas remaja, kualitas lingkungan, dukungan dari keluarga, migrasi atau perpindahan tempat tinggal, media elektronik seperti TV, pengaruh teman sebaya, provokasi dari pelanggar dan korban kenakalan, pengendalian diri, usia yang belum matang atau dewasa, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 (Santrock, 2003; World Youth Report, 2003; Kartono, 2005, Shoemeker, 2009; Novitasari, 2009; Aroma & Suminar, 2012; Wahida, 2011). Dalam penelitian ini, subjek siswa-siswi SMA berjumlah 90 dan terdiri dari 57 siswa perempuan dan 37 siswa laki-laki. Siswa perempuan lebih banyak dibandingkan dengan siswa laki-laki, menurut Giligan (dalam Santrock, 2003) anak perempuan memiliki kemampuan untuk bersikap peka dalam mengenali berbagai ritme yang muncul dalam hubungan manusia dan seringkali mampu mengikuti perasaannya. Anak perempuan biasanya mencapai titik kritisnya ketika mereka memasuki masa remaja pada usia 11 sampai 12 tahun. Tetapi dalam hal kenakalan, remaja laki-laki lebih banyak melakukan perilaku kenakalan dibandingan dengan remaja perempuan, meskipun remaja perempuan banyak yang kabur saat terjadi kekerasan namun remaja laki-laki lebih banyak melakukan tindakan kekerasan Dengan subjek yang berada pada tingkat konvensional, membantu remaja untuk mengendalikan perilakunya. Remaja yang tidak dapat mengontrol dirinya dan melakukan tindakan menyimpang setidaknya mengetahui peraturan yang ada dalam masyarakat sehingga remaja dapat mengendalikan perilakunya dan tidak melakukan perilaku yang menyimpang. Remaja yang memiliki perkembangn moral yang tinggi dapat melakukan tugasnya dengan baik, menghormati orang tua dengan mematuhi peraturan dari orang tua dan bersikap baik di sekolah demi menjaga ketertiban lingkungan sekolah atau lingkungan remaja tinggal.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data untuk variabel perkembangan moral menggunakan DIT (Defining Issues Test) yang berisi kasuskasus dengan beberapa soal pilihan yang akan dipilih oleh subjek sebagai jawaban yang tepat. Pemberian skoring dalam pilihan jawaban soal-soal perkembangan moral kurang tepat karena beberapa pilihan jawaban tidak sesuai dengan tahap perkembangan moral. Hal tersebut mempengaruhi skoring pada soal-soal perkembangan moral dan penggunaan skala pilihan jawaban sebaiknya memperhatikan indikator yang digunakan sehingga sehingga sesuai dengan tahaptahap perkembangan moral.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perkembangan moral, maka semakin rendah kenakalan remaja. Selain itu, diperoleh kesimpulan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki perkembangan moral yang berada di tingkat kedua atau tingkat konvensional yang termasuk ke dalam tahap keempat dan memiliki kenakalan remaja yang berada dikategori sedang. B. Saran 1. Bagi Subjek Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, disarankan remaja khususnya siswa-siswi SMA agar dapat berperilaku sesuai dengan moral yang dimiliknya. Remaja diharapkan lebih peka dengan kasus-kasus kenakalan yang sedang terjadi di lingkungan sekitar sehingga dapat menjadi bahan refleksi agar berperilaku lebih baik. Selain itu, remaja disarankan meningkatkan perkembangan moralnya agar remaja dapat mengendalikan diri, memiliki rasa empati terhadap sesama, saling menolong satu sama lain, dan dapat menolak melakukan perintah yang tidak baik. 68

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 2. Bagi Sekolah dan Orang Tua Bagi sekolah dan orang tua diharapkan setelah mengetahui hasil dari penelitian ini agar dapat memberikan sosialisasi atau pengarahan tentang perkembangan moral agar remaja lebih memahami tentang hal yang dapat dilakukan dan hal yang dilarang untuk dilakukan sehingga mengurangi remaja untuk melakukan perilaku yang menyimpang. Selain itu, orang tua dan sekolah diharapkan mampu untuk menyampaikan perkembangan moral dengan baik dengan memberikan contoh-contoh yang baik pula kepada remaja agar remaja mengetahui bahwa perkembangan moral adalah dasar seseorang dalam berperilaku. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Disarankan pada penelitian selanjutnya untuk menggunakan alat pengukuran perkembangan moral yaitu DIT dalam bentuk lain, seperti skala dengan pilihan checklist atau jawaban terbuka dan mencari tahu dalam skoring data perkembangan moral. Jika ingin menggunakan skala dengan jawaban objektif sebaiknya skoring harus sesuai dengan indikator. Selain itu, untuk peneliti selanjutnya agar mempertimbangkan variabel lain selain perkembangan moral, seperti kualitas lingkungan, pendidikan, dan lain sebagainya sehingga faktor-faktor lain yang ada hubungannya dengan kenakalan remaja dapat menyumbangkan pengetahuan secara menyeluruh untuk menangani kenakalan remaja.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Aroma, I & Suminar, D. (2012). Hubungan Antara Tingkat Kontrol Diri Dengan Kecenderungan Perilaku Kenakalan Remaja. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan,Vol. 1, No. 2. Arikunto, S. (1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, edisi revisi v. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Atkinson, R. (1999). Pengantar Psikologi Jilid I. Jakarta: Erlangga. Azwar, S. (2007). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Berk, Laura E. (2012). Development Through The Lifespan, edisi v. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Borba, M. (2001). Membangun Kecerdasan Moral. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Deluca, J. (2002). Kohlberg’s Theory of Moral Development: Theory Synthesis. Journal of Psychology. Denson, T.F., DeWall, C.N., & Finkel, E.J. (2012). Self-control and Aggresion. Journals of Psychological Science, 21 (1), 20-25 Geng Motor Cewek yang Dikenal Brutal. (2013, 5, 17). Vivanews. Dikutip pada tanggal 20 Agustus 2013 dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/413475-ini-geng-motor-cewekyang-dikenal-brutal Gunarsa, S. (1979). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Gunarsa, S. (1986). Psikologi Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Gunarsa, S. (2009). Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. 70

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Hurlock, E. (1973). Adolescent Development. Ed. 4. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha Ltd. Hurlock, E. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ed. 5. Jakarta: Erlangga. Jumlah Remaja Nakal di Indonesia. (2010, 3, 12). Badan Pusat Statistik. Dikutip pada tanggal 20 Agustus 2013 dari http://www.bps.go.id/hasil_publikasi/flip_2011/4401003/index11.php?pub=Pr ofil%20Kriminalitas%20Remaja%202010 Kartono, K. (1991). Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang Bermasalah. Ed.1, Cet.2. Jakarta: Rajawali Pers. Kartono, K. (2005). Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Kawanan Remaja Mencuri Ditangkap Polisi. (2010, 8, 30). Cybernews. Dikutip pada tanggal 20 Agustus 2013 dari http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/08/30/63801 Kohlberg, L. (1995). Tahap-tahap Perkembangan Moral. Yogyakarta: Kanisius. Monks, F. J., Knoers, A., & Hadito, S. R. (2002). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ormord, Jeanne Ellis. (2002). Psikologi Pendidikan, Membantu Siswa Tumbuh & Berkembang. Jakarta: Erlangga. Noor, J. (2011). Metode Penelitian. Jakarta: Kencana. Novitasari, E. N. (2009). Hubungan Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja pada Siswa SMP. Skripsi.Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata. Remaja Terlibat Pidana. (2011, 12, 2). Pos Kota. Dikutip pada tanggal 20 Agustus http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/12/02/remaja-terlibat2013 dari pidana-jakarta-ranking-satu Rest, J., Cooper, D., Coder, R., Masanz, J., & Anderson, D. (1974).Judging the important issues in moral dilemmas—An objective test of development. Developmental Psychology, 10,491-501.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Rest, J. (1979a). Development in Judging Moral Issues. New York: University of Minnesota Press Rest, J., Narvez, E., Thoma, S., & Bebeau, M. (1997). Alchemy and Beyond: Indexing the Defining Issues Test. Journal of Educational Psychology, 89, 498 - 507. Rest, J., Narvez, E., Thoma, S., & Bebeu, M. (1999). DIT2: Devising and Testing a Revised Instrument of Moral Judgement . Journal of Educational Psychology, 91 (4), 644 - 659. Richmond, Kelly. (2001). Ethical Reasoning, Machiavellian Behaviour, and Gender: The Impact on Accounting Student' Ethical Decision Making. Journal of Accounting and Information System. Riduwan. (2008). Dasar- dasar Statistika. Bandung: Alfabeta. Santrock, J. (1996). Adolescence (terjemahan). Jakarta: Erlangga. Santrock, J. (2002). Life Span Developmet Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Santrock, J. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga. Sarwono, S. (2002). Psikologi Remaja. Jakarta: CV. Rajawali. Schiamberg, L. (1988). Child & Adolescent Development. New York: Macmillan Publishing Co. Setiono, K. (1982). Perkembangan Penalaran Moral Tinjauan dari Sudut Pandang Teori Sosio-Kognitif. Jurnal Psikologi dan Masyarakat No.2, hal. 47-54. Shoemaker, Donald J. (2009). Juvenile Delinquency. United States of America: Rowman & Littlefield Publishers. Soekanto, S. (1998). Sosiologi Penyimpangan. Jakarta: Rajawali Suhartini, Yustina. (2000). Deskripsi Status-Status Tahap Perkembangan Moral Siswa Kelas 2 SLTP Pangudi Luhur Sedayu Tahun Ajaran 1998/1999 Menurut Teori Lawrence Kohlberg. Skripsi.Yogyakarta: Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Sunarto, Hartono. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Wahareni, A. (2006). Sikap Remaja Terhadap Perilaku Seks Bebas Ditinjau Dari Tingkat Penalaran Moral Pada Siswa Kelas Dua SMA Kesatrian 1 Semarang. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Wahida, Sri. (2011). Pengaruh Dukungan Orang Tua dan Self-control Terhadap Kecenderungan Kenakalan Remaja SMK Bina Potensi Palu-Sulawesi Tengah. Skripsi. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Widi, R. (2010). Asas Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu. Willis, S. (2008). Problema Remaja dan Pemecahannya. Bandung: Angkasa. World Youth Report. (2003). Juvenile Delinquency. New York: United Nation Publications

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 LAMPIRAN 1 SKALA UJI COBA

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 SKALA PENELITIAN Disusun oleh: Monica Ardiana 099114130 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Yogyakarta, Januari 2014 Yth. Siswa-siswi yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini Sehubungan dengan penelitian tugas akhir yang sedang saya kerjakan, perkenankan saya untuk memohon bantuan dan kesediaan dari adik-adik meluangkan waktu untuk mengisi angket berikut ini. Angket ini berisi beberapa pernyataan. Dalam mengisi angket tersebut, saya berharap adikadik bersedia menjawab dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya sesuai dengan keadaan yang sedang dialami adik-adik karena tidak ada penilaian benar atau salah. Usahakan jangan sampai ada jawaban yang terlewatkan. Saya menjamin kerahasiaan identitas dan jawaban yang adik berikan pada angket ini sesuai dengan kode etik psikologi. Saya mengnucapkan banyak terimakasih atas segala bantuan dan kesediaan dalam mengerjakan angket yang telah diberikan. Hormat saya, Monica Ardiana 099114130/PSI/Universitas Sanata Dharma

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Identitas dan Pernyataan Kesediaan Nama/Inisial : Umur : Jenis Kelamin : Kelas : Sekolah : Alamat : Tinggal bersama *Ayah/Ibu/Ayah dan Ibu/Wali :……………… Usia Ayah :………………. Usia Ibu :……………….. Pekerjaan Ayah :………………… Pekerjaan Ibu:……………. Pendidikan Ayah :………………. Pendidikan Ibu :………….. Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala penelitian ini dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri saya. Tanda tangan ( )

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 SKALA A PETUNJUK PENGISIAN Berikut ini terdapat beberapa pernyataan yang berhubungan dengan kondisi anda yang anda alami dalam kehidupan sehari-hari. Anda diminta kesediaannya untuk memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda. Berikan tanda checklist (√) pada kotak pilihan yang anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri Anda. Pilihan jawabannya adalah: Selalu, Sering, Kadang-kadang, Tidak Pernah. Contoh: No. Selalu Sering Kadang Tidak Pernyataan -kadang Pernah 1. Saya sering ikut balapan liar dengan teman-teman √ Tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban yang anda berikan adalah benar, sesuai dengan kondisi yang anda alami. Masing-masing orang memiliki jawaban yang berbeda, maka dari itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri anda. Kerahasiaan identitas dan jawaban anda dijamin oleh peneliti. Jika sudah selesai, harap teliti kembali dan pastikan tidak ada pernyataan yang terlewati untuk dijawab. Selamat mengerjakan 

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 No. Pernyataan 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Ketika ada teman yang membuat saya marah, terkadang saya tidak dapat menahan diri untuk memukulnya Saya dan teman-teman ikut menyerang sekolah lain demi kesetiakawanan Saya pernah memalak anak yang usianya lebih muda. Saya mencoret-coret bangku dan meja yang ada di dalam kelas Saya tergoda mengambil uang saat guru tidak ada di ruangan Saya mencoret/menyobek halaman buku perpustakaan yang saya pinjam Ketika berkumpul dengan temanteman saya minum-minuman beralkohol untuk bersenang-senang Saya pernah membawa senjata tajam ke sekolah untuk berjaga-jaga Saya senang kebut-kebutan di malam hari karena jalanan sepi Saya berciuman dengan pacar di tempat-tempat yang sepi Saya tidak masuk sekolah tanpa keterangan Saya meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung tanpa ijin dari guru Saya terkadang memalsukan tanda tangan orang tua untuk membuat surat ijin tidak masuk sekolah. Saya melihat tugas teman saat ulangan/ujian Ketika saya bosan di rumah, saya sering pergi dari rumah tanpa ijin orang tua Selalu Sering Kadang Tidak -kadang Pernah

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 No. Pernyataan 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Saya pergi bersama teman dengan tujuan yang tidak jelas pada malam hari Saya cenderung ringan tangan jika ada teman yang bersalah pada saya Ketika bermain bola, saya menendang teman saya Saya mengancam teman untuk menyerahkan uangnya Ketika melewati bangunan kosong, saya mencoret-coret dindingnya dengan spidol atau pilox Saya mengambil barang-barang yang menjadi fasilitas umum Ketika naik bis umum, saya mencoret-coret bangku bis Saya mengambil uang dari dompet orang tua saya saat tidak punya uang di rumah Saya merusak sampul buku perpustakaan Saya berkeinginan mengambil alat tulis teman yang tergeletak di atas meja Saya menghabiskan uang saku untuk membeli rokok Saat istirahat, saya berkeinginan untuk mengambil uang yang ada di dompet teman karena uang jajan saya habis. Saat jam istirahat saya diam-diam merokok dengan teman-teman Saya pernah berkelahi dengan teman menggunakan senjata tajam Saya kebut-kebutan di jalan raya Terkadang terlintas dalam pikiran saya untuk mencoba mengkonsumsi narkoba Selalu Sering Kadang Tidak -kadang Pernah

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Terkadang terlintas dalam pikiran saya mengajak pacar berhubungan seks Saya sering ikut balapan liar dengan teman-teman Ketika pelajaran berlangsung, saya sering mengajak teman bercerita Saya terkadang berpacaran di sekolah meskipun sudah dilarang Saya meninggalkan kelas saat guru tidak mengajar Saya tidak mengerjakan tugas sekolah Saya sering memeluk pacar di hadapan teman-teman Saya senang membuat gaduh suasana kelas Saya membawa gambar porno di sekolah Saya mengajak teman untuk tidak masuk sekolah Saya menyimpan video porno di HP Saya pergi dari rumah melewati jam malam Saya tidak melaksanakan perintah orang tua Saya mengabaikan pekerjaan rumah Saya mengendarai kendaraan tanpa SIM Saya menggunakan kendaraan tanpa seijin orang tua

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 SKALA B PETUNJUK PENGISIAN Berikut ini terdapat 3 cerita yang disertai dengan beberapa pertanyaan, jawablah pertanyaan untuk setiap cerita dengan cara sebagai berikut: 1. Bacalah cerita dan pertanyaan berikut dengan teliti. 2. Pilih jawaban yang anda anggap paling tepat dengan memberikan tanda silang (X) pada lembar jawab yang telah tersedia. 3. Setiap nomor hanya memerlukan satu jawaban Tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban yang anda berikan adalah benar, sesuai dengan kondisi yang anda alami. Masing-masing orang memiliki jawaban yang berbeda, maka dari itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri anda. Kerahasiaan identitas dan jawaban anda dijamin oleh peneliti. Jika sudah selesai, harap teliti kembali dan pastikan tidak ada pertanyaan yang terlewati untuk dijawab. Selamat mengerjakan 

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 DIT Kasus 1 Di Eropa, ada seorang wanita yang hampir mati karena sakit kanker. Menurut dokter ada sejenis obat Radium yang mungkin dapat menyelamatkan dia. Obat tersebut ternyata ditemukan oleh seorang apoteker laki-laki yang tinggal dalam kota yang sama. Biaya pembuatan obat itu harganya 2 juta rupiah, tetapi dia menjualnya dengan harga yang sangat tinggi yaitu 20 juta rupiah untuk satu dus kecil. Suami dari wanita tersebut bernama Herman berkeliling ke semua kenalannya untuk meminjam uang tetapi dia hanya mendapat pinjaman sebesar 10 juta. Dia mengatakan kepada apoteker itu bahwa istrinya hampir mati dan meminta padanya untuk menjual obat itu lebih murah dan membolehkannya untuk membayar kemudian. Tetapi apoteker itu berkata, “Saya membuat obat itu dan saya mengharapkan uang yang banyak karena saya yang telah menemukannya”. Akibatnya Herman putus asa dan ia mulai berpikir untuk mendobrak apotek itu dan mencuri obat tersebut untuk istrinya. Pertanyaan 1. Apakah tanggapan anda terhadap tindakan Herman? a. Herman tidak boleh mencuri obat itu, karena mencuri itu adalah tindakan yang akan dihukum Tuhan b. Tindakan Herman salah karena melanggar hukum maka dikenai sanksi. Bila mencuri ia menanggung resikonya c. Herman perlu mencuri obat itu karena yang sakit adalah istrinya yang tercinta d. Bagaimanapun juga suami yang baik tidak akan mencuri e. Yang penting adalah menyelamatkan jiwa orang yang sakit, dalam hal ini Herman dibenarkan bila dia mencuri 2. Apakah pendapat anda tentang pencurian obat yang dilakukan oleh Herman demi kesembuhan istrinya? a. Mencuri itu salah karena mengacaukan kehidupan bermasyarakat b. Lebih baik jangan mencuri daripada dihukum penjara dan menderita c. Mencuri itu salah karena merampas hak milik orang lain adalah tidak adil d. Tindakan mencuri itu salah dan membuat orang tua menjadi malu e. Herman boleh mencuri obat itu karena sekalipun ada hukum yang melarang pencurian, tetapi demi kepentingan manusia hukum tersebut dapat ditinjau kembali

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 3. Apakah pendapat anda terhadap Herman yang mencuri obat demi kesembuhan istrinya yang sedang sakit parah? a. Bagaimana sulitnya hidup ini, seorang suami yang baik tidak akan mencuri karena dia harus menjaga nama baik keluarga b. Lebih baik tindakan mencuri itu tidak dilakukan oleh Herman daripada dia melanggar hukum c. Biar saja Herman mencuri asalkan tidak tertangkap d. Istri Herman harus ditolong dan Herman harus siap menanggung resikonya akibat menolong istrinya dengan cara mencuri obat e. Sebaiknya menyerahkan saja kepada Tuhan bagaimana nasib istrinya 4. Berhakkah ahli obat tersebut menentukan harga sedemikian mahalnya semaunya sendiri karena dia yang telah menemukan obat tersebut? a. Ahli obat boleh melakukan apa saja karena tidak ada yang melarang b. Ahli obat berhak menentukan harga yang tinggi karena ia yang telah menemukan obat tersebut c. Ahli obat tersebut berhak menentukan sendiri harga obat jika atasannya menyetujuinya d. Meskipun belum ada hukumnya, tetapi dalam menentukan harga obat, ahli obat perlu mempertimbangkan kemampuan membayar sekitarnya e. Penemuan harus ditujukan untuk kemanusiaan sehingga harga obat tidak dapat menghalangi orang yang tidak mampu untuk membelinya 5. Herman mencuri obat itu dan memberikannya pada istrinya. Herman akhirnya tertangkap dan dihadapkan ke pengadilan. Haruskan hakim menjatuhkan hukuman penjara atau haruskah hakim membebaskannya? a. Karena alasan kemanusiaan, hakim hendaknya membebaskan Herman b. Herman tidak perlu dihukum karena dalam hal ini ia tidak bersalah c. Hakim perlu menghukum Herman karena jika tidak maka kemungkinan hakim akan dipecat d. Herman boleh dijatuhi hukuman mati karena tindakan mencuri obat itu melanggar hukum e. Herman boleh dibebaskan asalkan tidak ada resikonya untuk si hakim

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Kasus 2 Herman kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun. Setelah 1 tahun mendekam dipenajara ia melarikan diri. Dia hidup di pemukiman baru dan menggunakan nama Anto dan membuka usaha. Selama 8 tahun ia bekerja keras dan menabung uang sehingga dia mampu mendirikan sebuah perusahaan. Ia selalu jujur pada pelanggan dan memberi upah yang tinggi pada para pekerjanya. Pada suatu hari, bu Arman tetangga lama Anto mengenalnya sebagai tahanan yang melarikan diri dan sedang dicari polisi. Pertanyaan 6. Haruskah bu Arman melaporkan Herman kepada polisi? Mengapa? a. Sebaiknya bu Arman diam saja. Ia tidak perlu mencelakakan orang lain yang sudah hidup bahagia dengan baik dan berguna bagi masyarakat b. Bu Arman perlu melaporkan pada polisi karena sebagai warga yang baik wajib melaporkan keadaan sekitarnya kepada yang berwajib c. Bu Arman tidak perlu melaporkan Herman karena dengan mleporkanya pada polisi, bu Arman tidak akan mendapatkan keuntungan d. Bu Arman perlu melaporkan kepada polisi karena jika tidak melapor maka bu Arman akan merasa bersalah pada Tuhan e. Bu Arman tidak perlu melapor kepada polisi karena kejadiannya sudah sangat lama 7. Seandainya Herman adalah teman dekat bu Arman, apakah bu Arman akan melaporkan Herman? Mengapa? a. Sekalipun Herman adalah teman dekat bu Arman sebagai warga negara yang baik, bu Arman wajib melaporkan pada polisi b. Hukum hendaknya ditaati tanpa pandang bulu, sehingga meskipun Herman adalah teman dekat bu Arman dan kalau memang Herman bersalah maka harus dilaporkan kepada polisi c. Bu Arman perlu melaporkan Herman agar bu Arman tidak dituduh telah bekerjasama dengan penjahat d. Teman dekat atau bukan, dalam hal ini sebaiknya bu Arman diam saja terutama karena belum tentu Herman bersalah. Herman juga sudah hidup dengan baik dan banyak menolong masyarakat e. Herman memang tidak bersalah sehingga tidak ada yang dilaporkan

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 8. Apakah seharusnya hakim memenjarakan kembali bila Herman ditangkap? Mengapa? a. Bila Herman ditangkap, hakim sebaiknya membebaskan Herman karena memang tidak bersalah b. Hakim harus memenjarakan Herman agar hakim tidak kena akibatnya c. Dibantu oleh penilaian masyarakat terhadap kehidupan Herman yang baik, maka hakim perlu membebaskan Herman d. Hakim harus memenjarakan Herman walaupun mungkin dengan keringanan hukuman karena Herman telah hidup dengan baik e. Kewajiban seorang hakim adalah memenjarakan Herman sesuai dengan hukuman yang ada Kasus 3 Pada akhirnya dokter mendapatkan sedikit obat Radium itu untuk istri Herman, tetapi obat itu tidak mempan dan tidak ada cara pengobatan lain yang dikenal oleh ilmu kedokteran untuk menyelamatkannya. Dokter tahu bahwa hidup istri Herman itu kirakira tinggal 3 bulan lagi. Istri Herman dalam kesakitan yang luar biasa, keadaannya sudah sangat lemah, sehingga obat penenang seperti CTM atau morfin 1 dosis kecil saja akan mempercepat kematiannya. Bahkan istri Herman sering tidak sadarkan diri dan hampir merasa gila karena sakitnya, dan dalam saat-saat tenang ia meminta supaya para dokter membernya CTM cukup banyak saja agar dia cepat meninggal. Ia tidak tahan menanggung kesakitan, apalagi dia tahu bahwa umurnya tidak panjang lagi. Pertanyaan 9. Haruskah dokter itu memberi obat yang menyebabkan kematiannya? a. Setelah pembicaraan matang dengan keluarganya dan si penderita, dokter hendaknya memberikan obat tersebut demi menghilangkan penderitaan wanita itu b. Dokter tidak boleh memberikan obat tersebut agar dia tidak terseret ke jalur hukum c. Dokter jangan memberikan obat tersebut, karena jika dokter ditangkap oleh polisi, bagaimana nanti nasib keluarga dari dokter itu d. Sesuai dengan etika kedokteran, dokter tidak boleh membunuh, maka dokter tidak boleh memberikan obat tersebut kepada wanita itu kecuali jika ada undang-undang yang mengizinkan pemberian obat untuk mengakhiri hidup pasien yang sudah menderita sakit

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 e. Karena faktor kemanusiaan dan pertimbangan hati nurani dokter tersebut, ia masih memberi obat yang mengakibatkan kematian wanita yang menderita tersebut 10. Bila ada hukum yang mengizinkan dokter mengakhiri hidup seseorang yang sangat menderita dan tidak punya harapan disembuhkan lagi, seharusnyakah dokter yang meluluskan permintaan istri Herman? a. Ya, karena istri Herman dalam penderitaannya memilih yang terbaik untuknya b. Ya, demi istri Herman sendiri setelah berunding dengan segala pihak c. Dokter yang baik harus berusaha dulu sekeras-kerasnya demi meringankan pasiennya. Jika memang tidak ada jalan lain, sesuai dengan hukum yang baru, ia boleh mengakhiri hidup pasien memang menderita dan tidak dapat disembuhkan d. Ya, karena dengan adanya hukum yang baru, dokter tidak perlu menanggung resiko apapun e. Ya, karena dengan adanya hukum akan menghambat orang yang melakukan pekerjaan amal

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 LAMPIRAN 2 HASIL UJI COBA

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 1. Reliabilitas Skala Kenakalan Remaja Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .925 N of Items .930 45 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Item Deleted Total Correlation Correlation Alpha if Item Deleted VAR00001* 153.4348 254.607 .226 . .926 VAR00002 153.1304 238.916 .622 . .922 VAR00003 152.7391 251.708 .508 . .923 VAR00004 153.4348 245.407 .709 . .921 VAR00006 152.6304 254.194 .370 . .924 VAR00007 152.7391 247.130 .678 . .922 VAR00008 152.4783 257.233 .469 . .924 VAR00009 152.9783 248.377 .456 . .924 VAR00010* 152.8261 257.836 .133 . .926 VAR00011 152.8913 251.032 .460 . .924 VAR00012 153.0217 246.466 .553 . .923 VAR00013 152.5435 253.231 .476 . .924 VAR00014 153.5000 242.389 .712 . .921 VAR00015 153.3043 247.950 .463 . .923 VAR00016 153.1304 239.005 .713 . .921 VAR00017* 153.2826 255.229 .178 . .927 VAR00018 153.1087 246.366 .496 . .923 VAR00019* 152.5435 256.965 .267 . .925 VAR00020 152.8696 248.427 .423 . .924

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 VAR00021 152.5217 256.255 .332 . .925 VAR00022 152.8261 246.858 .516 . .923 VAR00023 152.6304 250.505 .543 . .923 VAR00024 152.6957 253.150 .407 . .924 VAR00025 153.0435 244.220 .536 . .923 VAR00026 152.8261 246.369 .577 . .922 VAR00028 152.8478 243.643 .691 . .921 VAR00029 152.5217 254.877 .386 . .924 VAR00030 153.2174 244.618 .492 . .923 VAR00031* 152.4565 260.787 .033 . .926 VAR00032 152.5000 256.967 .438 . .924 VAR00033 152.5870 255.448 .387 . .924 VAR00034 153.9130 244.526 .519 . .923 VAR00035* 152.8478 254.399 .200 . .926 VAR00036 , 240.510 .628 . .922 VAR00037 153.0870 251.814 .439 . .924 VAR00038 152.5652 255.985 .424 . .924 VAR00039 153.0217 245.977 .596 . .922 VAR00040 152.5435 252.209 .542 . .923 VAR00041 152.6304 251.483 .527 . .923 VAR00042 152.8043 241.761 .721 . .921 VAR00043 152.8261 247.880 .620 . .922 VAR00044 153.1957 250.739 .445 . .924 VAR00045* 153.1087 253.877 .262 . .925 VAR00046* 153.7609 253.119 .183 . .928 VAR00047 153.0000 249.511 .333 . .925

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 2. Reliabilitas Soal-soal Perkembangan Moral Rater * Peneliti Crosstabulation Peneliti 3 Rater 4 5 Total 3 11 10 0 21 4 1 22 0 23 5 0 1 1 2 12 33 1 46 Total Rater * Peneliti Crosstabulation Peneliti 3 Rater 3 Count % of Total 4 Count % of Total 5 Count % of Total Total Count % of Total 4 5 Total 11 10 0 21 23.9% 21.7% .0% 45.7% 1 22 0 23 2.2% 47.8% .0% 50.0% 0 1 1 2 .0% 2.2% 2.2% 4.3% 12 33 1 46 26.1% 71.7% 2.2% 100.0% Symmetric Measures Asymp. Std. Value Measure of Agreement N of Valid Cases Kappa Error .500 46 a b Approx. T .115 4.098 Approx. Sig. .000

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 LAMPIRAN 3 SKALA PENELITIAN

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 SKALA PENELITIAN Disusun oleh: Monica Ardiana 099114130 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Yogyakarta, Januari 2014 Yth. Siswa-siswi yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini Sehubungan dengan penelitian tugas akhir yang sedang saya kerjakan, perkenankan saya untuk memohon bantuan dan kesediaan dari adik-adik meluangkan waktu untuk mengisi angket berikut ini. Angket ini berisi beberapa pernyataan. Dalam mengisi angket tersebut, saya berharap adik-adik bersedia menjawab dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya sesuai dengan keadaan yang sedang dialami adik-adik karena tidak ada penilaian benar atau salah. Usahakan jangan sampai ada jawaban yang terlewatkan. Saya menjamin kerahasiaan identitas dan jawaban yang adik berikan pada angket ini sesuai dengan kode etik psikologi. Saya mengnucapkan banyak terimakasih atas segala bantuan dan kesediaan dalam mengerjakan angket yang telah diberikan. Hormat saya, Monica Ardiana 099114130/PSI/Universitas Sanata Dharma

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Identitas dan Pernyataan Kesediaan Nama/Inisial : Umur : Jenis Kelamin : Kelas : Sekolah : Alamat : Tinggal bersama *Ayah/Ibu/Ayah dan Ibu/Wali :……………… Usia Ayah :………………. Usia Ibu :……………….. Pekerjaan Ayah :………………… Pekerjaan Ibu:……………. Pendidikan Ayah :………………. Pendidikan Ibu :………….. Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala penelitian ini dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri saya. Tanda tangan ( )

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 SKALA A PETUNJUK PENGISIAN Berikut ini terdapat beberapa pernyataan yang berhubungan dengan kondisi anda yang anda alami dalam kehidupan sehari-hari. Anda diminta kesediaannya untuk memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda. Berikan tanda checklist (√) pada kotak pilihan yang anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri Anda. Pilihan jawabannya adalah: Selalu, Sering, Kadang-kadang, Tidak Pernah. Contoh: No. Selalu Sering Kadang Tidak Pernyataan -kadang Pernah 1. Saya sering ikut balapan liar dengan teman-teman √ Tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban yang anda berikan adalah benar, sesuai dengan kondisi yang anda alami. Masing-masing orang memiliki jawaban yang berbeda, maka dari itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri anda. Kerahasiaan identitas dan jawaban anda dijamin oleh peneliti. Jika sudah selesai, harap teliti kembali dan pastikan tidak ada pernyataan yang terlewati untuk dijawab. Selamat mengerjakan 

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 No. Selalu Pernyataan 1 Saya dan teman-teman ikut menyerang sekolah lain demi kesetiakawanan 2 Saya mencoret-coret bangku dan meja yang ada di dalam kelas 3 Saya merusak sampul buku perpustakaan 4 Saya berkeinginan mengambil alat tulis teman yang tergeletak di atas meja 5 Saat jam istirahat saya diam-diam merokok dengan teman-teman 6 Saya kebut-kebutan di jalan raya 7 8 Terkadang terlintas dalam pikiran saya mengajak pacar berhubungan seks Saya meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung tanpa ijin dari guru 9 Saya senang membuat gaduh suasana kelas 10 Saya terkadang memalsukan tanda tangan orang tua untuk membuat surat ijin tidak masuk sekolah 11 Saya pergi dari rumah melewati jam malam 12 Saya menggunakan kendaraan tanpa seijin orang tua 13 Saya pernah memalak anak yang usianya lebih muda Sering Kadang Tidak -kadang Pernah

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 No Selalu Pernyataan 14 Ketika naik bis umum, saya mencoret-coret bangku bis 15 Saya tergoda mengambil uang saat guru tidak ada di ruangan 16 Saya mencoret/menyobek halaman buku perpustakaan yang saya pinjam Ketika berkumpul dengan temanteman saya minum-minuman beralkohol untuk bersenang-senang 17 18 Saya pernah membawa senjata tajam ke sekolah untuk berjaga-jaga 19 Saya terkadang berpacaran di sekolah meskipun sudah dilarang 20 Saya tidak mengerjakan tugas sekolah 21 Ketika pelajaran berlangsung, saya sering mengajak teman bercerita 22 Ketika saya bosan di rumah, saya sering pergi dari rumah tanpa ijin orang tua Saya mengambil uang dari dompet orang tua saya saat tidak punya uang di rumah 23 24 Ketika bermain bola, saya menendang teman saya 25 Saya menghabiskan uang saku untuk membeli rokok 26 Saya tidak masuk sekolah tanpa keterangan Sering Kadang Tidak -kadang Pernah

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 No Selalu Pernyataan 27 Saya pergi bersama teman dengan tujuan yang tidak jelas pada malam hari 28 Saya tidak melaksanakan perintah orang tua 29 Saya sering ikut balapan liar dengan teman-teman 30 Saat istirahat, saya berkeinginan untuk mengambil uang yang ada di dompet teman karena uang jajan saya habis Ketika melewati bangunan kosong, saya mencoret-coret dindingnya dengan spidol atau pilox 31 32 Saya pernah berkelahi dengan teman menggunakan senjata tajam 33 Saya melihat tugas teman saat ulangan/ujian 34 Saya senang kebut-kebutan di malam hari karena jalanan sepi 35 Saya meninggalkan kelas saat guru tidak mengajar 36 Saya membawa gambar porno di sekolah 37 Saya sering memeluk pacar di hadapan teman-teman 38 Saya mengajak teman untuk tidak masuk sekolah 39 Saya menyimpan video porno di HP Sering Kadang Tidak -kadang Pernah

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 SKALA B PETUNJUK PENGISIAN Berikut ini terdapat 3 cerita yang disertai dengan beberapa pertanyaan, jawablah pertanyaan untuk setiap cerita dengan cara sebagai berikut: 4. Bacalah cerita dan pertanyaan berikut dengan teliti. 5. Pilih jawaban yang anda anggap paling tepat dengan memberikan tanda silang (X) pada lembar jawab yang telah tersedia. 6. Setiap nomor hanya memerlukan satu jawaban Tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban yang anda berikan adalah benar, sesuai dengan kondisi yang anda alami. Masing-masing orang memiliki jawaban yang berbeda, maka dari itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri anda. Kerahasiaan identitas dan jawaban anda dijamin oleh peneliti. Jika sudah selesai, harap teliti kembali dan pastikan tidak ada pertanyaan yang terlewati untuk dijawab. Selamat mengerjakan 

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Kasus 1 Di Eropa, ada seorang wanita yang hampir mati karena sakit kanker. Menurut dokter ada sejenis obat Radium yang mungkin dapat menyelamatkan dia. Obat tersebut ternyata ditemukan oleh seorang apoteker laki-laki yang tinggal dalam kota yang sama. Biaya pembuatan obat itu harganya 2 juta rupiah, tetapi dia menjualnya dengan harga yang sangat tinggi yaitu 20 juta rupiah untuk satu dus kecil. Suami dari wanita tersebut bernama Herman berkeliling ke semua kenalannya untuk meminjam uang tetapi dia hanya mendapat pinjaman sebesar 10 juta. Dia mengatakan kepada apoteker itu bahwa istrinya hampir mati dan meminta padanya untuk menjual obat itu lebih murah dan membolehkannya untuk membayar kemudian. Tetapi apoteker itu berkata, “Saya membuat obat itu dan saya mengharapkan uang yang banyak karena saya yang telah menemukannya”. Akibatnya Herman putus asa dan ia mulai berpikir untuk mendobrak apotek itu dan mencuri obat tersebut untuk istrinya. Pertanyaan 1. Apakah tanggapan anda terhadap tindakan Herman? a. Herman tidak boleh mencuri obat itu, karena mencuri itu adalah tindakan yang akan dihukum Tuhan b. Tindakan Herman salah karena melanggar hukum maka dikenai sanksi. Bila mencuri ia menanggung resikonya c. Herman perlu mencuri obat itu karena yang sakit adalah istrinya yang tercinta d. Bagaimanapun juga suami yang baik tidak akan mencuri e. Yang penting adalah menyelamatkan jiwa orang yang sakit, dalam hal ini Herman dibenarkan bila dia mencuri f. Herman sebaiknya tidak mencuri agar tidak dihukum 2. Apakah pendapat anda tentang pencurian obat yang dilakukan oleh Herman demi kesembuhan istrinya? a. Mencuri itu salah karena mengacaukan kehidupan bermasyarakat b. Lebih baik jangan mencuri daripada dihukum penjara dan menderita c. Mencuri itu salah karena merampas hak milik orang lain adalah tidak adil d. Tindakan mencuri itu salah dan membuat orang tua menjadi malu e. Herman boleh mencuri obat itu karena sekalipun ada hukum yang melarang pencurian, tetapi demi kepentingan manusia hukum tersebut dapat ditinjau kembali f. Mencuri itu benar jika dalam keadaan sangat membutuhkan

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 3. Apakah pendapat anda terhadap Herman yang mencuri obat demi kesembuhan istrinya yang sedang sakit parah? a. Bagaimana sulitnya hidup ini, seorang suami yang baik tidak akan mencuri karena dia harus menjaga nama baik keluarga b. Lebih baik tindakan mencuri itu tidak dilakukan oleh Herman daripada dia melanggar hukum c. Biar saja Herman mencuri asalkan tidak tertangkap d. Istri Herman harus ditolong dan Herman harus siap menanggung resikonya akibat menolong istrinya dengan cara mencuri obat e. Sebaiknya menyerahkan saja kepada Tuhan bagaimana nasib istrinya f. Biar saja Herman mencuri karena dia sedang membutuhkan obat untuk istrinya 4. Berhakkah ahli obat tersebut menentukan harga sedemikian mahalnya semaunya sendiri karena dia yang telah menemukan obat tersebut? a. Ahli obat boleh melakukan apa saja karena tidak ada yang melarang b. Ahli obat berhak menentukan harga yang tinggi karena ia yang telah menemukan obat tersebut c. Ahli obat tersebut berhak menentukan sendiri harga obat jika atasannya menyetujuinya d. Meskipun belum ada hukumnya, tetapi dalam menentukan harga obat, ahli obat perlu mempertimbangkan kemampuan membayar masyarakat sekitarnya e. Penemuan harus ditujukan untuk kemanusiaan sehingga harga obat tidak dapat menghalangi orang yang tidak mampu untuk membelinya f. Selama tidak ada aturan yang mengikat, ahli obat bebas menentukan harga obatnya 5. Herman mencuri obat itu dan memberikannya pada istrinya. Herman akhirnya tertangkap dan dihadapkan ke pengadilan. Haruskan hakim menjatuhkan hukuman penjara atau haruskah hakim membebaskannya? a. Karena alasan kemanusiaan, hakim hendaknya membebaskan Herman b. Herman tidak perlu dihukum karena dalam hal ini ia tidak bersalah c. Hakim perlu menghukum Herman karena jika tidak maka kemungkinan hakim akan dipecat d. Herman boleh dijatuhi hukuman mati karena tindakan mencuri obat itu melanggar hukum e. Herman boleh dibebaskan asalkan tidak ada resikonya untuk si hakim f. Hakim harus menghukum Herman agar masyarakat tidak protes

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Kasus 2 Herman kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun. Setelah 1 tahun mendekam dipenajara ia melarikan diri. Dia hidup di pemukiman baru dan menggunakan nama Anto dan membuka usaha. Selama 8 tahun ia bekerja keras dan menabung uang sehingga dia mampu mendirikan sebuah perusahaan. Ia selalu jujur pada pelanggan dan memberi upah yang tinggi pada para pekerjanya. Pada suatu hari, bu Arman tetangga lama Anto mengenalnya sebagai tahanan yang melarikan diri dan sedang dicari polisi. Pertanyaan 6. Haruskah bu Arman melaporkan Herman kepada polisi? Mengapa? a. Sebaiknya bu Arman diam saja. Ia tidak perlu mencelakakan orang lain yang sudah hidup bahagia dengan baik dan berguna bagi masyarakat b. Bu Arman perlu melaporkan pada polisi karena sebagai warga yang baik wajib melaporkan keadaan sekitarnya kepada yang berwajib c. Bu Arman tidak perlu melaporkan Herman karena dengan mleporkanya pada polisi, bu Arman tidak akan mendapatkan keuntungan d. Bu Arman perlu melaporkan kepada polisi karena jika tidak melapor maka bu Arman akan merasa bersalah pada Tuhan e. Bu Arman tidak perlu melapor kepada polisi karena kejadiannya sudah sangat lama f. Bu Arman harus melaporkan Herman kepada polisi agar tidak dituduh menyembunyikan tahanan 7. Seandainya Herman adalah teman dekat bu Arman, apakah bu Arman akan melaporkan Herman? Mengapa? a. Sekalipun Herman adalah teman dekat bu Arman sebagai warga negara yang baik bu Arman wajib melaporkan pada polisi b. Hukum hendaknya ditaati tanpa pandang bulu, sehingga meskipun Herman adalah teman dekat bu Arman dan kalau memang Herman bersalah maka harus dilaporkan kepada polisi c. Bu Arman perlu melaporkan Herman agar bu Arman tidak dituduh telah bekerjasama dengan penjahat d. Teman dekat atau bukan, dalam hal ini sebaiknya bu Arman diam saja terutama karena belum tentu Herman bersalah. Herman juga sudah hidup dengan baik dan banyak menolong masyarakat e. Herman memang tidak bersalah sehingga tidak ada yang dilaporkan

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 f. Bu Arman tidak perlu melaporkan Herman agar Herman tidak memusuhi Bu Arman 8. Apakah seharusnya hakim memenjarakan kembali bila Herman ditangkap? Mengapa? a. Bila Herman ditangkap, hakim sebaiknya membebaskan Herman karena memang tidak bersalah b. Hakim harus memenjarakan Herman agar hakim tidak kena akibatnya c. Dibantu oleh penilaian masyarakat terhadap kehidupan Herman yang baik, maka hakim perlu membebaskan Herman d. Hakim harus memenjarakan Herman walaupun mungkin dengan keringanan hukuman karena Herman telah hidup dengan baik e. Kewajiban seorang hakim adalah memenjarakan Herman sesuai dengan hukuman yang ada f. Hakim harus memenjarakan Herman yang telah melakukan kesalahan agar kenginannya terwujud Kasus 3 Pada akhirnya dokter mendapatkan sedikit obat Radium itu untuk istri Herman, tetapi obat itu tidak mempan dan tidak ada cara pengobatan lain yang dikenal oleh ilmu kedokteran untuk menyelamatkannya. Dokter tahu bahwa hidup istri Herman itu kirakira tinggal 3 bulan lagi. Istri Herman dalam kesakitan yang luar biasa, keadaannya sudah sangat lemah, sehingga obat penenang seperti CTM atau morfin 1 dosis kecil saja akan mempercepat kematiannya. Bahkan istri Herman sering tidak sadarkan diri dan hampir merasa gila karena sakitnya, dan dalam saat-saat tenang ia meminta supaya para dokter membernya CTM cukup banyak saja agar dia cepat meninggal. Ia tidak tahan menanggung kesakitan, apalagi dia tahu bahwa umurnya tidak panjang lagi. Pertanyaan 9. Haruskah dokter itu memberi obat yang menyebabkan kematiannya? a. Setelah pembicaraan matang dengan keluarganya dan si penderita, dokter hendaknya memberikan obat tersebut demi menghilangkan penderitaan wanita itu b. Dokter tidak boleh memberikan obat tersebut agar dia tidak terseret ke jalur hukum c. Dokter jangan memberikan obat tersebut, karena jika dokter ditangkap oleh polisi, bagaimana nanti nasib keluarga dari dokter itu

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 d. Sesuai dengan etika kedokteran, dokter tidak boleh membunuh, maka dokter tidak boleh memberikan obat tersebut kepada wanita itu kecuali jika ada undang-undang yang mengizinkan pemberian obat untuk mengakhiri hidup pasien yang sudah menderita sakit e. Karena faktor kemanusiaan dan pertimbangan hati nurani dokter tersebut, ia masih memberi obat yang mengakibatkan kematian wanita yang menderita tersebut f. Pemberian obat seharusnya didasari sesuai dengan undang-undang yang berlaku 10. Bila ada hukum yang mengizinkan dokter mengakhiri hidup seseorang yang sangat menderita dan tidak punya harapan disembuhkan lagi, seharusnyakah dokter yang meluluskan permintaan istri Herman? a. Ya, karena istri Herman dalam penderitaannya memilih yang terbaik untuknya b. Ya, demi istri, Herman sendiri setelah berunding dengan segala pihak c. Dokter yang baik harus berusaha dulu sekeras-kerasnya demi meringankan pasiennya. Jika memang tidak ada jalan lain, sesuai dengan hukum yang baru, ia boleh mengakhiri hidup pasien memang menderita dan tidak dapat disembuhkan d. Ya, karena dengan adanya hukum yang baru, dokter tidak perlu menanggung resiko apapun e. Ya, karena dengan adanya hukum, akan menghambat orang yang melakukan pekerjaan amal f. Dokter harus memikirkan kembali keputusannya dan mempertimbangkan dampak yang akan dirasakan untuk pihak keluarga, rumah sakit tempat dia bekerja, dan bagi dirinya sendiri

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 LAMPIRAN 4 Uji T Mean Empirik dan Mean Teoritik

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 1. Skala Kenakalan Remaja One-Sample Statistics N Kenakalan Mean 90 Std. Deviation 143.71 Std. Error Mean 8.767 .924 One-Sample Test Test Value = 35 95% Confidence Interval of the Difference t Kenakalan df 117.638 Sig. (2-tailed) Mean Difference 89 .000 Lower 108.711 106.87 Upper 110.55 2. Soal-soal Perkembangan Moral One-Sample Statistics N VAR00001 Mean 90 Std. Deviation 42.22 Std. Error Mean 5.214 .550 One-Sample Test Test Value = 97.5 95% Confidence Interval of the Difference T VAR00001 -100.577 df 89 Sig. (2-tailed) .000 Mean Difference -55.278 Lower -56.37 Upper -54.19

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 LAMPIRAN 5 HASIL UJI NORMALITAS

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test VAR00001 N VAR00002 90 90 Mean 42.22 143.71 Std. Deviation 5.214 8.767 Absolute .098 .139 Positive .098 .139 Negative -.055 -.136 Kolmogorov-Smirnov Z .933 1.317 Asymp. Sig. (2-tailed) .348 .062 Normal Parameters a Most Extreme Differences a. Test distribution is Normal.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 LAMPIRAN 6 HASIL UJI LINEARITAS

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Case Processing Summary Cases Included N VAR00002 * VAR00001 Excluded Percent 90 N Total Percent 100.0% 0 N .0% Percent 90 100.0% ANOVA Table Sum of Squares VAR00002 * VAR00001 Between Groups (Combined) 1612.537 Linearity Deviation from 504.851 Mean df Square 19 .337 1 504.851 6.760 .011 18 61.538 Within Groups 5227.952 70 74.685 Total 6840.489 89 Measures of Association R VAR00002 * VAR00001 -.272 R Squared .074 Eta .486 Sig. 84.870 1.136 1107.685 Linearity F Eta Squared .236 .824 .667

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 LAMPIRAN 7 HASIL UJI HIPOTESIS

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Correlations VAR00001 VAR00001 Pearson Correlation VAR00002 1 Sig. (2-tailed) N VAR00002 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N -.272 ** .010 90 90 ** 1 -.272 .010 90 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 90

(131)

Dokumen baru

Download (130 Halaman)
Gratis

Tags