Kajian pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan pada mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
147
1 year ago
Preview
Full text

  

KAJIAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI UNTUK MENGGUNAKAN

PRODUK PENURUN BERAT BADAN PADA MAHASISWA KAMPUS I

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh:

Theresia Dian Pramudita

  

NIM : 038114042

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2007

  

KAJIAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI UNTUK MENGGUNAKAN

PRODUK PENURUN BERAT BADAN PADA MAHASISWA KAMPUS I

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh:

Theresia Dian Pramudita

  

NIM : 038114042

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2007

  [tÄtÅtÇ cxÜáxÅut{tÇ Angin dapat menggerakkan sesuatu, Dapat dirasakan tetapi tidak dapat dilihat....

  Demikian juga cara Tuhan bekerja... Kesusahan dan suka cita kita digunakan untuk menjalankan semua rencana-Nya

  Ia tidak meminta kita untuk melihat dahulu baru percaya Tetapi Ia meminta kita memiliki iman dalam mengahadapi permasalahan Untuk percaya dahulu baru melihat...

  ( Cakrawala ) Tuhan Yesus, Maha Dewi Bunda Maria Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus

  Orang tua, adik-adikku, “Malaikatku”, dan Almamaterku......

  Karya ini kupersembahkan untuk

  

INTISARI

  Kegemukan telah menjadi masalah sosial karena banyak orang takut penampilannya tidak menarik lagi dan takut akan terkena berbagai penyakit. Hal ini menyebabkan orang menjadi termotivasi untuk menurunkan berat badan, salah satunya dengan menggunakan produk penurun berat badan. Pengetahuan mengenai produk tersebut diperlukan supaya tidak terjadi pengguna-salahan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai kajian pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian deskriptif non analitik. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling purposive non random. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan subyek penelitian mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki IMT ≥ 23.

  Hasil yang diperoleh, responden FKIP (47,14%), berjenis kelamin wanita

  2

  (50%), berumur 21 tahun (24,29%), IMT 25-29,9 kg/m (48,57%), penghasilan dan atau uang saku tiap bulan Rp.300.000,00-Rp.400.000,00 (35,72%), tinggal di Yogyakarta bersama orang tua (51,43%). Responden menyadari perlunya berkonsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi sebelum menggunakan produk penurun berat badan (97,14%), mengenal produk (97,14%), mengenal produk dari iklan surat kabar/buku/majalah (37,21%), iklan tidak memberikan pengaruh untuk mengambil keputusan menggunakan produk (80%) dan tidak tertarik menggunakan produk (83,33%) karena belum merasa terganggu dengan berat badannya dan takut efek samping.

  Kata kunci: produk penurun berat badan, pengetahuan, dan motivasi.

  

ABSTRACT

  Obesity has been a social problem due to anxiecity of unacttractive appearance and fear of diseases. It motivates people to reduce their weight. Using weight-reducing products is one of the option. Knowledge on those products is necessary for preventing any misuse. For this reason, research on the study of knowledge and motivation in using weight-reducing products is conducted.

  The research is an observational research under descriptive non-analitical design. The adopted sampling technique is that of purposive non random sampling. Questionnaire serves as the research instrument, taking as subjects students of Campus I Sanata Dharma University whose BMI ≥ 23.

  As the result, respondents were Faculty of Teacher Training and Education

  2

  (47,14%), female (50%), 21 years old (24,29%), BMI 25-29,9 kg/m (48,57%), whose monthly income and allowance money Rp.300.000,00-Rp.400.000,00 (35,72%), reside with their parents in Yogyakarta (51,43%). Respondents realize the need to consult with physician/chemist/nutitionist before using weight-reducing product (97,14%), know the product (97,14%), know the product from newspaper advertisement/books/magazines (37,21%), that advertisement does not affect their decision to use the product (80%) and are not interested in using the product (83,33%) for lack of discomfort and fear of side effects.

  Keyword: weight-reducing product, knowledge, and motivation.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus yang begitu setia menuntun penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Kajian Pengetahuan dan Motivasi untuk Menggunakan Produk

  

Penurun Berat Badan pada Mahasiswa Kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

  Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, pengarahan dan dorongan dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah bersedia menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Rasa terima kasih penulis sampaikan kepada:

  1. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan juga selaku dosen pembimbing yang dengan sabar membimbing penulis dengan memberikan dorongan, memberikan waktu dan tenaga untuk berdiskusi serta memberikan saran dalam penyusunan skripsi.

  2. Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang bersedia memberikan saran yang berharga bagi penyusunan skripsi.

  3. Ibu dr. Luciana Kuswibawati, M.Kes., selaku dosen penguji yang bersedia memberikan saran yang berharga bagi penyusunan skripsi.

  4. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. dan Bapak Agung Santoso, S.Psi., atas bantuan dan sarannya dalam penyusunan kuesioner penelitian.

  5. Bapak Ir. Ign. Aris Dwiatmoko, M.Sc. atas diskusi mengenai analisis statistik.

  6. Dekan Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan, Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

  7. Semua dosen Fakultas Farmasi yang telah rela membagi ilmunya kepada penulis.

  8. Mahasiswa Kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah bersedia

  menjadi responden dan meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner serta diwawancarai.

  9. Ibuku yang sangat aku kagumi, yang saat ini sudah merasakan indahnya surga

  “Terima kasih sudah membuatku bangga…Terima kasih buat doa yang Ibu

  kirimkan dari surga…

  

10. Bapak yang sudah memberikan banyak pelajaran hidup kepadaku, adik-adikku

  Jati dan Yose, keluarga besar Agustinus Dwidjoyuwono dan R.Th.Rio Santoso Martonegoro yang sudah memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.

  11. Malaikat yang telah dikirim Yesus dalam wujud manusia, Alexander Totok Sektiyawan, A.Md yang setiap hari memberikan dukungan penuh untuk menjalani hari-hariku, mulai dari pagi hingga pagi lagi.

  12. Sahabat-sahabatku Tata, Ve, Sari, Ana, Angger, Rosa dan teman-teman Fakultas Farmasi angkatan 2003 khususnya kelompok B yang telah membuat warna dalam hidupku.

  13. Putri, Sita, Naomi Psikologi UGM untuk bantuannya dalam pembuatan kuesioner; Ema, Ari, Dame, Wahjoe untuk bantuannya dalam mencari responden; Iin, Mela, Yose Vatikan untuk bantuannya di UGM.

  14. Paulina Catur Pipera Sakti, teman seperjuangan yang sudah memberikan motivasi, bantuan, dan sarannya selama skripsi.

  15. Teman-teman KKN Angkatan XXXIII khususnya Kelompok 19 Jogoprayan: Mache Rita, Ina, Ana, Anggi, Ai’, Dera, Hari, Andri untuk persahabatan yang indah.

  16. Pelatih dan Teman-teman Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus sebagai keluarga tempat berbagi cerita, teman belajar dan mengembangkan bakat.

  17. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi sempurnanya skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan.

  Yogyakarta, Mei 2007

  DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL......................................................................... ........... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................. v

  INTISARI...................................................................................................... vi

  

ABSTRACT .................................................................................................... vii

  KATA PENGANTAR .................................................................................. viii DAFTAR ISI................................................................................................. xi DAFTAR TABEL......................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xx DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. xxiv BAB I. PENGANTAR.................................................................................

  1 A. Latar Belakang Penelitian ........................................................................

  1 1. Permasalahan ...................................................................................

  4 2. Keaslian Penelitian...........................................................................

  5 3. Manfaat Penelitian ...........................................................................

  6 B. Tujuan Penelitian......................................................................................

  6

  A. Persepsi Tentang Sehat dan Sakit.............................................................

  8 B. Teori Perilaku ...........................................................................................

  9 1. Teori aksi..........................................................................................

  10 2. Teori adopsi inovasi Rogers.............................................................

  11 3. Model “kepercayaan kesehatan” Rosenstock...................................

  13 C. Kegemukan...............................................................................................

  16 1. Definisi kegemukan .........................................................................

  16 2. Faktor penyebab kegemukan............................................................

  17 3. Terapi kegemukan............................................................................

  18 4. Pengukuran kegemukan ...................................................................

  20 D. Produk Penurun Berat Badan ...................................................................

  22 E. Keterangan Empiris ..................................................................................

  25 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................

  26 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ...............................................................

  26 B. Definisi Operasional Penelitian................................................................

  26 C. Subyek Penelitian .....................................................................................

  28 D. Teknik Sampling ......................................................................................

  29 E. Instrumen Penelitian ................................................................................

  30 F. Tata Cara Penelitian..................................................................................

  31 G. Analisis Data Penelitian ...........................................................................

  34 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................

  35

  1. Fakultas ...........................................................................................

  3. Konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi mengenai penggunaan produk penurun berat badan...........................................................

  55

  7. Pandangan responden mengenai keefektifan produk penurun berat badan ..............................................................................................

  54

  6. Pengetahuan responden mengenai peringatan dan larangan dalam menggunakan produk penurun berat badan ...................................

  50

  5. Pengetahuan responden mengenai komposisi produk penurun berat badan .....................................................................................

  48

  46 4. Efek samping produk penurun berat badan menurut responden......

  43

  35 2. Jenis Kelamin ...................................................................................

  41 2. Sumber informasi .............................................................................

  1. Merek dan jenis produk penurun berat badan yang dikenal responden ......................................................................................

  41

  39 B Pengetahuan Responden ...........................................................................

  38 6. Status Tempat Tinggal di Yogyakarta..............................................

  37 5. Penghasilan dan atau Uang Saku per Bulan.....................................

  36 4. Indeks Massa Tubuh (IMT) .............................................................

  35 3. Umur ................................................................................................

  8. Pengetahuan responden mengenai dampak ketergantungan penggunaan produk penurun berat badan dan penurunan berat

  9. Pengetahuan responden mengenai kelebihan berat badan dapat menimbulkan berbagai penyakit ....................................................

  72 5. Saran dari dokter/apoteker/ahli gizi .................................................

  83 D. Rangkuman Pembahasan .........................................................................

  8. Pandangan responden mengenai pernyataan bahwa untuk bisa tampil menarik, tubuh harus ideal..................................................

  82

  7. Pandangan responden mengenai alasan penggunaan produk penurun berat badan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman ...

  81

  6. Pandangan responden mengenai alasan seseorang menggunakan produk penurun berat badan...........................................................

  79

  4. Ketertarikan responden untuk menggunakan produk penurun berat badan ..............................................................................................

  63

  69

  3. Pengaruh iklan terhadap pengambilan keputusan menggunakan produk penurun berat badan...........................................................

  67

  66 2. Sumber pengenalan ..........................................................................

  1. Persentase pengenalan responden terhadap produk penurun berat badan ..............................................................................................

  66

  64 C. Motivasi Responden .................................................................................

  10. Pengetahuan responden mengenai pentingnya mengkonsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan.....................................................................

  86

  1. Rangkuman karakteristik mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta .......................................................................

  86

  2. Rangkuman pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai produk penurun berat badan dan hal-hal yang berkaitan ....................................................................

  87

  3. Rangkuman motivasi mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan ..............................................................................................

  89 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................

  91 A. Kesimpulan ..............................................................................................

  91 B. Saran .........................................................................................................

  92 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

  93 LAMPIRAN.................................................................................................

  96 BIOGRAFI PENULIS ................................................................................ 122

  DAFTAR TABEL

  halaman Tabel I. Pedoman pengobatan berat badan berdasarkan IMT (Adam, 2004) .....................................................................................

  18 Tabel II. Klasifikasi berat badan dengan menggunakan IMT pada orang dewasa menurut WHO (Adam, 2004).........................

  20 Tabel III. Klasifikasi berat badan dengan menggunakan IMT pada orang Asia dewasa menurut WHO (Adam, 2004) ................

  21 Tabel IV. Jumlah mahasiswa aktif kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun 2006 semester ganjil ..................

  29 Tabel V. Jumlah mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang menjadi responden dalam penelitian ........

  30 Tabel VI. Jumlah item pertanyaan pada kuesioner ...............................

  32 Tabel VII. Umur mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ...........................................................................

  37 Tabel VIII. Sumber informasi mengenai produk penurun berat badan yang dikenal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta .............................................................

  44 Tabel IX. Pernah atau tidaknya mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mendapatkan informasi dari dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat

  Tabel

  X. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai pentingnya berkonsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi sebelum dan selama menggunakan produk penurun berat badan ..........................

  47 Tabel XI. Efek samping yang ditimbulkan produk penurun berat badan menurut mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta .............................................................

  49 Tabel

  XII. Kepedulian mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap komposisi produk penurun berat badan ............................................................................

  51 Tabel XIII. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap kegunaan masing-masing komponen dalam produk penurun berat badan .....................

  51 Tabel XIV. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai keefektifan produk penurun berat badan dalam menurunkan berat badan..................................

  56 Tabel XV. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai ketidakefektifan produk penurun berat badan dalam menurunkan berat badan.........................

  57 Tabel XVI. Alasan-alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menyatakan bahwa konsumsi produk

  penurun berat badan bukan merupakan hal paling penting untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan............

  65 Tabel XVII. Sumber pengenalan produk penurun berat badan .................

  68 Tabel XVIII. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menyatakan bahwa iklan tidak memberikan pengaruh dalam mengambil keputusan menggunakan produk penurun berat badan..................................................

  71 Tabel XIX. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ingin menggunakan produk penurun berat badan .....................................................................................

  73 Tabel XX. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak ingin menggunakan produk penurun berat badan ....................................................................................

  74 Tabel XXI. Alasan-alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan merupakan hal paling penting untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan ......................

  76 Tabel XXII. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ingin ikut menggunakan produk penurun berat badan setelah melihat teman berhasil....................................

  78

  Tabel XXIII. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak ingin ikut menggunakan produk penurun berat badan meskipun teman telah berhasil ..........................

  78 Tabel XXIV. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak mengikuti saran dokter/apoteker/ahli gizi......................................................................................

  80 Tabel XXV. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai alasan seseorang menggunakan produk penurun berat badan...............................................

  81 Tabel XXVI. Rangkuman karakteristik mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta...................................................

  86 Tabel XXVII. Rangkuman pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai produk penurun berat badan dan hal-hal yang berkaitan.................................

  87 Tabel. XXVIII. Rangkuman motivasi mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan ..............................................................

  89

  DAFTAR GAMBAR

  halaman Gambar 1. (a) Teori aksi Weber dan (b) Parson (Sarwono, 2004) .........

  11 Gambar 2. Proses adopsi inovasi Rogers (Sarwono, 2004) ....................

  12 Gambar 3. Model “kepercayaan kesehatan” Rosenstock (Sarwono, 2004) .....................................................................................

  14 Gambar 4. Fakultas mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ...........................................................................

  35 Gambar 5. Jenis kelamin mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta .............................................................

  36 Gambar 6. Indeks Massa Tubuh mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ..................................................

  38 Gambar 7. Tingkat penghasilan dan atau uang saku per bulan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ...........................................................................

  39 Gambar 8. Status tempat tinggal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta ..............................................

  40 Gambar 9. Merek produk penurun berat badan yang dikenal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ...........................................................................

  42

  Gambar 10. Jenis produk penurun berat badan yang dikenal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ..............

  43 Gambar 11. Keberadaan efek samping produk penurun berat badan menurut mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ..........................................................................

  48 Gambar 12. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai adanya zat yang dapat menghambat penyerapan sari makanan ................................

  53 Gambar 13. Kepedulian mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap peringatan dan larangan dalam menggunakan produk penurun berat badan .........................

  54 Gambar 14. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai keefektifan produk penurun berat badan ....................................................................................

  55 Gambar 15. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai hasil yang didapatkan dengan menggunakan produk penurun berat badan .............

  58 Gambar 16. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bahwa produk penurun berat badan yang bekerja dengan cara menurunkan kadar air dalam tubuh, efeknya tidak akan langgeng......................................

  59

  Gambar 17. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai keberadaan dampak ketergantungan penggunaan produk penurun berat badan pada kesehatan ......................................................................

  61 Gambar 18. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai keberadaan dampak penurunan berat badan secara drastis pada kesehatan .....................................

  62 Gambar 19. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai kelebihan berat badan dapat menimbulkan berbagai penyakit ...........................................

  63 Gambar 20. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai pentingnya mengkonsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan............................................................

  64 Gambar 21. Persentase pengenalan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap produk penurun berat badan .....................................................................................

  67 Gambar 22. Pengaruh iklan dalam pengambilan keputusan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan ..........................

  70 Gambar 23. Penggunaan produk penurun berat badan oleh mahasiswa

  Gambar 24. Ketertarikan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan bila harga murah dan mudah didapatkan...........

  75 Gambar 25. Ketertarikan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan bila teman berhasil.............................................

  77 Gambar 26. Pernah atau tidaknya mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mendapatkan saran dari dokter/apoteker/ahli gizi .......................................................

  79 Gambar 27. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai alasan penggunaan produk penurun berat badan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman ........

  83 Gambar 28. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bahwa untuk bisa tampil menarik, seseorang harus memiliki tubuh ideal....................................................

  84

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  96 Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian Fakultas Ekonomi ....................................

  97 Lampiran 3. Surat Ijin Penelitian Fakultas Sastra.........................................

  98 Lampiran 4. Kuesioner Penelitian.................................................................

  99 Lampiran 5. Hasil Wawancara...................................................................... 106 Lampiran 6. Keterangan mengenai produk penurun berat badan ................ 117 Lampiran 7. Kebutuhan Kalori Menurut Usia dan Kelamin Pada Aktivitas

  Fisik Sedang (Tjay dan Raharja, 2002).................................... 120 Lampiran 8. Kandungan Zat Gizi Utama dari sejumlah Makanan (per 100

  g) dan Jumlah Kalorinya (Tjay dan Raharja, 2002)................. 120

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penelitian Mempunyai bentuk tubuh yang ideal merupakan keinginan setiap orang. Dengan memiliki bentuk tubuh yang ideal dalam arti tidak gemuk, seseorang bisa

  lebih merasa percaya diri dengan penampilannya dan terhindar dari berbagai macam penyakit yang dapat timbul akibat kegemukan. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa terdapat lebih dari satu miliar orang dewasa di dunia menderita kelebihan berat badan. Setidaknya, 300 juta dari jumlah tersebut tergolong obesitas.

  Dengan menggunakan klasifikasi berat badan menurut WHO, survei nasional yang dilakukan pada 1996/1997 di ibukota-ibukota seluruh propinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8,1% penduduk laki-laki dewasa (

  ≥ 18 tahun) menderita kelebihan berat badan dan 6,8% mengalami obesitas, 10,5% wanita dewasa menderita kelebihan berat badan dan 13,5% obesitas. Pada kelompok umur 40-49 tahun, kelebihan berat badan maupun obesitas mencapai puncaknya, yaitu masing-masing 24,4% dan 23% pada laki-laki serta 30,4% dan 43% pada wanita (Depkes, 2003). Dan dari sekitar 210 juta penduduk Indonesia pada tahun 2000, jumlah penduduk yang kelebihan berat badan diperkirakan mencapai 76,7 juta (17,5%) dan pasien obesitas berjumlah lebih dari 9,8 juta (4,7%) (Suharmiati dan Maryani, 2003). Kegemukan atau obesitas dapat dikatakan telah menjadi masalah sosial. Banyak orang merasa resah akan kondisi tubuhnya yang tidak lagi ramping. Bukan hanya takut karena terkena berbagai penyakit, melainkan juga karena penampilannya tidak menarik lagi. Kegemukan sering dikaitkan dengan timbulnya penyakit seperti

  

sleep apnea , sindrom metabolik, diabetes melitus tipe II, dislipidemia, kelainan kulit

  yang berhubungan dengan higiene, stroke, batu kelenjar empedu, serta depresi. Hal itu membuat mereka berminat mencoba bila terdapat tawaran mengenai produk pelangsing, penyusut perut, dan produk lain yang sejenis. Keadaan ini membuat berbagai produk penurun berat badan mendapatkan lahan subur. Seperti yang jelas terlihat adalah banyaknya iklan produk penurun berat badan yang menawarkan cara praktis dan mudah untuk menurunkan berat badan dan banyaknya produk penurun berat badan yang dijual bebas di pasaran (Susanto, 2005).

  Keinginan untuk memiliki tubuh langsing atau ideal seringkali membuat orang tidak berpikir secara jernih dalam memilih produk pelangsing, penyusut perut dan produk lain yang sejenis. Terlebih bila menginginkan efek instant, orang terkadang tidak mengetahui lebih jauh mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh produk-produk pelangsing (Anonim, 2004). Banyak produk penurun berat badan yang bekerja dengan cara menghambat nafsu makan dan menyebabkan keluarnya cairan tubuh dalam jumlah yang cukup banyak. Bila hal ini dikombinasikan dengan kurangnya asupan makan, yang terjadi adalah orang akan sangat mudah merasa lemas, cepat lelah bahkan sampai pingsan. (Anonim, 2004).

  Pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang berhubungan dengan produk penurun berat badan menjadi hal yang sangat penting karena pengawasan, pembelian maupun penggunaan produk penurun berat badan yang dijual secara bebas di pasaran tidak dapat dikendalikan secara langsung baik oleh dokter maupun apoteker. Selain itu, banyak orang yang menggunakan produk penurun berat badan tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter/apoteker/ahli gizi. Hal tersebut dapat berakibat pada sulitnya melakukan pengawasan selama penggunaan.

  Pengetahuan merupakan bagian yang penting untuk membentuk suatu tindakan, termasuk tindakan untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  Menurut Ridjab, Ridwan, Judio, Hermansjah (2006), faktor yang berperan penting dalam menurunkan berat badan adalah motivasi dan perilaku. Selain itu dukungan dari lingkungan, teman, dan keluarga, pengetahuan terhadap obesitas dan efeknya, sikap dan kemampuan penderita untuk melakukan aktivitas fisik, serta waktu yang tersedia merupakan faktor lain yang berperanan.

  Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan motivasi seseorang untuk menggunakan produk penurun berat badan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran kepada pengguna produk penurun berat badan maupun masyarakat yang ingin menggunakan produk penurun berat badan mengenai faktor pengetahuan dan motivasi dalam menggunakan produk penurun berat badan supaya dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam menggunakan produk penurun berat badan.

1. Permasalahan

  Berdasarkan latar belakang, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : a. seperti apa karakteristik subyek penelitian, meliputi fakultas, jenis kelamin, umur,

  Indeks Massa Tubuh, penghasilan dan atau uang saku tiap bulan, dan status tempat tinggal di Yogyakarta? b. seperti apa pengetahuan subyek penelitian meliputi merek dan jenis produk penurun berat badan yang dikenal, sumber informasi, pentingnya konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi, efek samping, komposisi, peringatan dan larangan, keefektifan, dampak ketergantungan penggunaan dan penurunan berat badan secara drastis pada kesehatan seseorang, kelebihan berat badan dapat menimbulkan berbagai penyakit dan konsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang kelebihan berat badan?

  c. seperti apa motivasi subyek penelitian untuk menggunakan produk penurun berat badan, meliputi persentase pengenalan, sumber pengenalan, pengaruh iklan terhadap pengambilan keputusan penggunaan, ketertarikan untuk menggunakan, saran dari dokter/apoteker/ahli gizi, pandangan mengenai alasan seseorang menggunakan produk, mengenai alasan penggunaan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman, dan pernyataan bahwa untuk bisa tampil menarik maka tubuh harus ideal?

2. Keaslian Penelitian

  Beberapa penelitian mengenai produk penurun berat badan telah dilakukan, yaitu oleh Rahayu (2005) dengan judul “Hubungan antara Persepsi terhadap Produk Susu Rendah Lemak, Niat Membeli dan Menggunakan Produk Susu Rendah Lemak” dan oleh Widanenci (2007) dengan judul “ Persepsi Konsumen tentang Iklan Jamu Pelangsing di Televisi dan Pengaruhnya terhadap Motivasi Pemilihan Iklan Jamu Pelangsing di 5 Pusat Kebugaran di Kota Yogyakarta”. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada metode penelitian yang digunakan. Pada penelitian Rahayu (2005) digunakan metode penelitian deskriptif analitik dan pada penelitian Widanenci (2007) digunakan metode deskriptif analitik sekaligus mencakup metode penelitian deskriptif non analitik karena di dalam penelitian tersebut sekaligus dilakukan evaluasi mengenai iklan jamu pelangsing di televisi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non analitik dengan memberikan gambaran mengenai pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan pada mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian mengenai produk pelangsing juga pernah dilakukan Sakti (2007) dengan judul “Kajian Motivasi dan Pengetahuan Untuk Menggunakan Produk Pelangsing pada Mahasiswa Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta”. Perbedaan penelitian Sakti (2007) dengan penelitian yang dilakukan penulis terletak pada subyek penelitian dan beberapa butir pertanyaan dalam kuesioner.

3. Manfaat Penelitian

  a. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pengetahuan dan motivasi mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  b. Manfaat praktis 1) Hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan pertimbangan dalam pemberian informasi (penyuluhan atau iklan) mengenai penggunaan produk penurun berat badan, dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga dapat mencegah atau mengurangi penggunaan yang belum tepat dan benar.

  2) Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak-pihak terkait seperti produsen produk penurun berat badan, sehingga tidak terjadi pengguna- salahan dalam penggunaan produk penurun berat badan. 3) Hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai produk penurun berat badan.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

  Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan pada mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus

  Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:

  a. memberikan gambaran karakteristik subyek penelitian, meliputi fakultas, jenis kelamin, umur, IMT, penghasilan dan atau uang saku tiap bulan, dan status tempat tinggal di Yogyakarta. Status tempat tinggal di Yogyakarta dibandingkan juga dengan penelitian Sakti (2007).

  b. mendapatkan gambaran pengetahuan subyek penelitian meliputi merek dan jenis produk penurun berat badan yang dikenal, sumber informasi, pentingnya konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi, efek samping, komposisi, peringatan dan larangan, keefektifan, dampak ketergantungan penggunaan dan penurunan berat badan secara drastis pada kesehatan seseorang, kelebihan berat badan dapat menimbulkan berbagai penyakit dan konsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang kelebihan berat badan. Merek dan sumber informasi dibandingkan juga dengan penelitian Sakti (2007).

  c. mendapatkan gambaran motivasi dari subyek penelitian untuk menggunakan produk penurun berat badan, meliputi persentase pengenalan, sumber pengenalan pengaruh iklan terhadap pengambilan keputusan penggunaan, ketertarikan untuk menggunakan, saran dari dokter/apoteker/ahli gizi, pandangan mengenai alasan seseorang menggunakan produk penurun berat badan, mengenai alasan penggunaan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman, dan pernyataan bahwa untuk bisa tampil menarik maka tubuh harus ideal. Sumber pengenalan

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Persepsi Tentang Sehat dan Sakit Pandangan orang tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah

  selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subyektivitas dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit sangat dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsur sosial budaya. Sebaliknya, petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang obyektif berdasarkan simptom yang tampak guna mendiagnosa kondisi fisik seorang individu (Sarwono, 2004).

  Batasan “sehat” yang diberikan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah “ a state of complete physical, mental, and social wellbeing”. Dari batasan ini jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan sosial seseorang. Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan. Perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri (personal hygiene), penjagaan kebugaran melaui olah raga dan makanan bergizi (Sarwono, 2004).

  Dalam menganalisa kondisi tubuhnya, biasanya orang melalui dua tingkat

  1. batasan sakit menurut orang lain Orang-orang di sekitar individu yang sakit mengenali gejala sakit pada diri individu itu dan mengatakan bahwa dia sakit dan perlu mendapatkan pengobatan.

  Penilaian orang lain ini sangat besar artinya pada anak-anak dan bagi orang dewasa yang menolak kenyataan bahwa dirinya sakit.

  2. batasan sakit menurut diri sendiri Individu itu sendiri mengenali gejala penyakitnya dan menentukan apakah dia akan mencari pengobatan atau tidak. Analisa orang lain dapat sesuai atau bertentangan dengan analisa individu, namun biasanya analisa itu mendorong individu untuk mencari upaya pengobatan.

  Dari batasan tersebut tampak bahwa perilaku sakit merupakan pola reaksi sosio-budaya. Pada saat individu dihadapkan pada gejala suatu penyakit, gejala itu akan dikenal, dinilai, ditimbang untuk diputuskan apakah akan bereaksi atau tidak, tergantung dari penghayatan/definisi individu tentang situasi tersebut. Definisi individu itu dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial budaya dan pola sosialisasi yang berlaku, sehingga reaksi individu dalam suatu komunitas tertentu mungkin berbeda dengan individu dari komunitas lain yang menganut norma sosial dan budaya yang berbeda (Sarwono, 2004).

B. Teori Perilaku

  Menurut Sarwono (2004), perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya. Dengan kata lain, dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan (Sarwono, 2004). Beberapa teori yang digunakan untuk menganalisis perilaku kesehatan individu maupun masyarakat antara lain seperti yang disebutkan di bawah ini.

1.Teori aksi

  Teori aksi yang juga dikenal dengan teori bertindak ini (action theory) pada awalnya dikenalkan oleh Max Weber. Weber berpendapat bahwa individu melakukan suatu tindakan berdasarkan atas pengalaman, persepsi, pemahaman dan penafsirannya atas suatu obyek stimulus atau situasi tertentu. Teori Weber dikembangkan lebih lanjut oleh Talcott Parson yang menyatakan bahwa aksi bukanlah perilaku. Aksi merupakan tanggapan/respon mekanis terhadap suatu stimulus, sedangkan perilaku adalah proses mental yang aktif dan kreatif.

  Parson melihat bahwa tindakan individu dan kelompok dipengaruhi oleh tiga sistem, yaitu sistem sosial, sistem budaya dan sistem kepribadian masing-masing individu. Individu dapat dikaitkan dengan sistem sosialnya melalui status dan perannya. Dalam setiap sistem sosial, individu menduduki suatu tempat (status) tertentu dan bertindak (berperan) sesuai dengan norma atau aturan yang dibuat oleh sistem tersebut dan perilaku individu ditentukan pula oleh tipe kepribadiannya a.

  INDIVIDU Pengalaman Persepsi

  STIMULUS TINDAKAN Pemahaman Penafsiran b.

  Sistem Sosial

  INDIVIDU PERILAKU Sistem Budaya Sistem Kepribadian

  Gambar 1. (a) Teori aksi Weber dan (b) Parson (Sarwono, 2004)

2.Teori adopsi inovasi Rogers

  Teori ini dikenal sebagai teori innovation decision process yang diartikan sebagai proses kejiwaan yang dialami oleh seorang individu sejak menerima informasi/pengetahuan tentang suatu hal yang baru, sampai pada saat dia menerima atau menolak ide baru itu. Mula-mula Rogers menyatakan bahwa proses adopsi inovasi ini terdiri dari lima tahap, yaitu: mengetahui/menyadari tentang adanya ide baru itu (awareness), menaruh perhatian terhadap ide itu (interest), memberikan penilaian (evaluation), mencoba memakainya (trial) dan kalau menyukainya maka setuju untuk menerima ide/hal baru itu (adoption). Tetapi dari pengalaman di lapangan, Rogers menyimpulkan bahwa proses adopsi ini tidak berhenti segera setelah suatu inovasi diterima atau ditolak. Situasi ini akan dapat berubah lagi sebagai akibat pengaruh dari lingkungannya, oleh karena itu Rogers membagi proses pembuatan keputusan tentang inovasi ini menjadi empat tahap utama, yaitu: a. tahap knowledge

  Mula-mula individu menerima informasi dan pengetahuan berkaitan dengan suatu ide baru. Pengetahuan ini menimbulkan minat untuk mengenal lebih jauh tentang obyek/topik tersebut. b.tahap persuasion

  Tahap ini biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan pada saat mulai timbul minat pada individu. Petugas kesehatan akan membujuk atau meningkatkan motivasi individu agar individu bersedia menerima obyek/topik yang dianjurkan.

  Tetap adopsi Diterima (adopsi)

  Ditolak Penge- Pertim- Kepu- Penguatan tahuan bangan tusan

  Tetap ditolak Ditolak

  Adopsi

  Gambar 2. Proses adopsi inovasi Rogers (Sarwono, 2004)

  c. tahap decision Pada tahap ini individu membuat keputusan untuk menerima atau justru menolak ide baru tersebut. Hal ini tergantung dari hasil persuasi petugas kesehatan d.tahap confirmation Pada tahap ini individu meminta dukungan atau penguatan dari lingkungan atas keputusan yang telah diambil. Bila lingkungan memberikan dukungan positif maka perilaku baru atau adopsi itu tetap dipertahankan, sedangkan bila ada keberatan dan kritik dari lingkungan, terutama dari kelompok acuannya, maka biasanya adopsi itu tidak jadi dipertahankan dan individu kembali lagi ke perilakunya yang semula. Suatu penolakan juga dapat berubah menjadi adopsi apabila lingkungannya justru memberikan dukungan atau tekanan agar individu menerima ide baru tersebut (Sarwono, 2004).

3. Model “kepercayaan kesehatan” Rosenstock

  Teori ini dikenal dengan health belief model. Model kepercayaan ini mencakup lima unsur utama. Yang pertama adalah persepsi individu tentang kemungkinan terkena penyakit (perceived susceptibility). Individu yang merasa dapat terkena penyakit akan lebih cepat merasa terancam.

  Unsur yang ke dua adalah pandangan individu tentang beratnya penyakit tersebut (perceived seriousness), yaitu risiko dan kesulitan apa saja yang akan di alami individu karena penyakit tersebut. Makin berat risiko suatu penyakit, dan makin besar kemungkinan individu terserang penyakit tersebut, maka ancaman yang dirasakan juga semakin besar (perceived threats). Ancaman ini mendorong individu untuk melakukan tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit. Namun ancaman menghambat individu melakukan tindakan karena individu merasa tidak berdaya melawan ancaman tersebut.

  Variabel Besarnya demografis dan manfaat sosio-psiko dikurangi Besarnya

  Persepsi kerugian tentang tindakan yang kemungkinan dianjurkan kena penyakit

  Persepsi tentang berat/seriusnya

  Dilakukannya penyakit Besarnya tindakan yang ancaman dianjurkan penyakit Faktor pencetus tindakan

  

Gambar 3. Model “kepercayaan kesehatan” Rosenstock (Sarwono, 2004)

  Untuk mengurangi rasa terancam itu, maka ditawarkan suatu alternatif tindakan oleh petugas kesehatan. Individu akan mempertimbangkan apakah alternatif itu memang dapat mengurangi ancaman penyakit itu atau akibatnya justru merugikan. Namun sebaliknya, konsekuensi negatif dari tindakan yang dianjurkan itu (biaya yang mahal, rasa malu, takut akan rasa sakit, dan sebagainya) seringkali menimbulkan keinginan untuk menghindari alternatif yang dianjurkan petugas. Untuk akhirnya memutuskan menerima atau menolak alternatif tindakan tersebut, diperlukan satu unsur yaitu faktor pencetus yang dapat datang dari dalam diri individu (munculnya gejala penyakit tersebut) ataupun dari luar (nasihat orang lain, kampanye kesehatan, nasihat dari teman atau anggota keluarga dengan penyakit sama,dan sebagainya).

  Terdapat faktor lingkungan ekstern dan faktor intern yang mempengaruhi perilaku konsumen. Faktor-faktor ekstern tersebut yaitu kebudayaan, kelas sosial, kelompok-kelompok sosial, kelompok referensi dan keluarga. Dan faktor-faktor intern meliputi motivasi, pengamatan, belajar, kepribadian dan konsep diri, serta sikap. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku: 1. motivasi Motivasi adalah dorongan yang bertindak untuk memuaskan kebutuhan.

  Dorongan ini diwujudkan dalam bentuk tindakan dan perilaku. Motivasi timbul karena adanya suatu kebutuhan atau keinginan yang harus dipenuhi. Motivasi yang rendah biasanya menghasilkan tindakan yang kurang kuat (Sarwono, 2004). Motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu dorongan kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan. Sumber yang mendorong terciptanya suatu kebutuhan tersebut dapat berasal dari dalam orang itu sendiri atau dari lingkungan sekitarnya (Dharmmesta dan Handoko, 2000). 2. pengetahuan

  Pengetahuan merupakan unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang yang sadar, yang secara nyata terkandung di dalam otaknya. Pengetahuan yang diterima dari lingkungan melalui panca inderanya (Dharmmesta dan Handoko, 2000). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo, 2003)

  Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).

C. Kegemukan

1. Definisi kegemukan

  Menurut Tjay dan Raharja (2002), kegemukan didefinisikan sebagai terdapatnya lemak tubuh dalam jumlah abnormal, yang mengakibatkan kegemukan dan overweight pada keadaan tinggi badan dan jumlah otot tertentu. Kegemukan biasanya didefinisikan sebagai berat badan 20% atau lebih di atas rata-rata orang sehat dengan tinggi badan, rangka, usia dan jenis kelamin yang sama. Kelebihan berat badan adalah berat badan di antara obesitas dan normal atau antara 10-20% melebihi normal (Linder, 1992). Berdasarkan tabel klasifikasi berat badan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), obesitas termasuk dalam kelebihan berat badan (Adam, 2004).

  Secara umum, kelebihan berat badan berkaitan dengan terjadinya penyakit- penyakit lainnya, seperti sleep apnoea, sindrom metabolik, diabetes melitus, dislipidemia, kelainan kulit yang berhubungan dengan higiene, stroke, batu kelenjar

2. Faktor penyebab kegemukan

  Faktor seperti penuaan, keturunan, dan rusaknya pusat kenyang di hipotalamus mempunyai peranan penting dalam menimbulkan serta meningkatkan kelebihan berat badan. Faktor yang disebut di atas adalah faktor yang sulit untuk dicegah. Faktor yang dapat dicegah yang berperanan penting dalam kelebihan berat badan adalah jumlah asupan makan, kebiasaan makan, dan aktivitas fisik (Ridjab dkk, 2006).

  Obesitas sendiri merupakan kompleks penyakit kronis multifaktorial yang terjadi akibat interaksi antara genotip dan lingkungan di mana fisiologi, biokimia, genetik, lingkungan, kultur, sosioekonomi, dan psikologis maempunyai peranan penting (Ridjab dkk, 2006). Penyebab obesitas secara pasti belum jelas, tetapi obesitas umumnya diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara asupan dengan penggunaan energi. Obesitas disebabkan oleh banyak hal, tetapi terutama disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Di negara yang sedang berkembang, faktor lingkungan sangat berperan. Perubahan pola makan dan kurangnya aktivitas tubuh dalam kehidupan sehari-hari sangat menentukan penimbunan lemak dalam tubuh (Adam, 2004).

  Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menjadi gemuk antara lain:

  a. makan melebihi kebutuhan tubuh, seperti kebiasaan makan yang berlebih, cara memilih makanan yang salah, dan kebiasaan mengemil b. kurang menggunakan energi d. faktor hormonal, pada wanita menopause dapat terjadi penurunan hormon thyroid sehingga kemampuan untuk menggunakan energi akan berkurang.

  e. faktor kecepatan metabolisme basal yang rendah (Iis, 2002)

3. Terapi Kegemukan

  Menurut Adam (2004), penatalaksanaan pada obesitas dan berat badan berlebih terdiri atas perencanaan makan dengan mengurangi jumlah kalori, meningkatkan aktivitas fisik, dan pemakaian obat-obatan. Sasaran yang ingin dicapai adalah menurunkan berat badan sekitar 5-10% dari berat badan awal. Pedoman pengobatan berat badan berdasarkan IMT dapat dilihat pada tabel I.

  

Tabel I. Pedoman pengobatan berat badan berdasarkan IMT (Adam, 2004)

  Nilai IMT Pengobatan 18,5 – 24,9 Tidak ada pengobatan. Diet dan olah raga untuk mempertahankan berat badan 25 – 29,9 tanpa penyakit lain

  Diet hipokalori dan olah raga untuk menurunkan berat badan dan mencegah bertambahnya berat badan 25 -29,9 disertai penyakit

  Diet hipokalori dan olah raga, ditambah obat penurun berat badan (anti obesitas) 30 – 39,9 Diet hipokalori dan olah raga, ditambah obat penurun berat badan (anti obesitas) ≥ 40

  Bila gagal dengan pengobatan konservatif, perlu dipertimbangkan tindakan operasi Selain itu, terdapat pula penatalaksanaan berat badan secara terpadu (holistik) dengan 4 konsep pendekatan. Dengan pendekatan ini maka penurunan berat badan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Namun lain halnya jika penurunan berat badan tidak dilakukan secara holistik, maka akan terjadi sindrom yoyo, yaitu berat badan dapat turun dengan cepat tetapi kemudian melonjak kembali dengan total timbangan yang lebih banyak. Pendekatan holistik meliputi: a. perencanaan makan yang benar, yaitu dengan makan teratur tiga kali sehari dengan komposisi yang tepat, yaitu karbohidrat 50%, protein 20%, dan lemak

  30% dari total kalori. Perlu selalu diusahakan untuk makan secara bervariasi agar tubuh memperoleh semua gizi yang diperlukan. Sayur dan buah-buahan diperlukan sebagai serat nabati.

  b. aktivitas fisik/olah raga, dengan melakukan aktivitas fisik, energi yang dikeluarkan akan meningkat, otot tubuh menjadi kencang, dan secara psikologis orang yang rajin berolahraga biasanya juga lebih fit dan percaya diri. Jenis olah raga yang dianjurkan adalah aerobik seperti jalan kaki, joging, ataupun berenang.

  c. perubahan tingkah laku, yaitu menanamkan motivasi dan disiplin diri dalam usaha penurunan berat badan. Termasuk di sini adalah membiasakan diri merencanakan makan yang benar dan berolahraga sesuai yang dianjurkan serta menghindari makanan berlemak sebagai pelampiasan stress.

  d. pengobatan, yang dilakukan dengan konsultasi dokter. Terdapat 2 mekanisme kerja obat-obat penurun berat badan, yaitu golongan penekan nafsu makan yang bekerja di susunan saraf pusat dan penghambat penyerapan lemak yang bekerja secara lokal di usus. Jenis obat yang bekerja secara lokal di usus ini relatif lebih aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang dan efek samping yang minimal (Anonim, 2006)

4.Pengukuran kegemukan

  a. Indeks Massa Tubuh (IMT) Ukuran untuk menentukan obesitas atau kelebihan berat badan adalah dengan

  2

  menghitung IMT, yaitu berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m ) (Adam, 2004). Pada tahun 1998 WHO menggunakan IMT untuk mempermudah pembagian dan pengartian kelebihan berat badan secara klinis walaupun sebenarnya kelebihan berat badan dan obesitas merupakan masalah kompleks yang penyebabnya belum diketahui secara lengkap. Indeks Massa Tubuh menggambarkan perbandingan antara berat dan tinggi badan yang berhubungan secara signifikan dengan kadar lemak tubuh total dan tidak berlaku untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan, orang yang sangat berotot, contohnya atlet, dan wanita hamil (Ridjab dkk, 2006). Pada orang Asia, angka persentase lemaknya lebih tinggi dari orang barat (Caucasian) pada IMT yang sama, sehingga WHO membuat klasifikasi IMT tersendiri bagi orang Asia seperti tampak pada tabel III.

  Tabel II. Klasifikasi berat badan dengan menggunakan IMT pada orang dewasa menurut WHO (Adam, 2004)

  Klasifikasi

  IMT ( kg/m2 ) Risiko komorbiditas Kekurangan berat badan < 18,5 Rendah (tetapi terjadi peningkatan rata-rata risiko masalah klinis lainnya)

  Normal 18,5 – 24,9 Rata-rata Kelebihan berat badan

  ≥ 25 Pre-obes 25 – 29,9 Meningkat Obesitas I 30 – 34,9 Moderat Obesitas II 35 – 39,9 Tinggi Obesitas III Sangat tinggi

  ≥ 40

  Tabel III. Klasifikasi berat badan dengan menggunakan IMT pada orang Asia dewasa menurut WHO (Adam, 2004)

  Klasifikasi

  IMT ( kg/m2 ) Risiko komorbiditas Kekurangan berat badan < 18,5 Rendah (tetapi terjadi peningkatan rata-rata risiko masalah klinis lainnya)

  Normal 18,5 – 22,9 Rata-rata Kelebihan berat badan

  ≥ 23 Pre-obes 23 – 24,9 Meningkat Obesitas I 25 – 29,9 Moderat Obesitas II Tinggi

  ≥ 30

  b. Standard Brocca Berat badan ideal dapat dihitung dengan rumus:

  Berat badan ideal = (TB-100)-10% (TB-100) TB = Tinggi badan dalam cm Disebut kelebihan berat badan (overweight) bila berat badan berada 10-20% di atas berat badan ideal, dan disebut kegemukan (obesitas) bila berat badan lebih dari 20% diatas berat badan ideal.

  c. Berat badan relatif (Relative Body Weight/ RBW) Dapat diukur dengan rumus:

  BB

  BBR = x 100

  TB − 100

  BBR = Berat Badan Relatif TB = Tinggi badan dalam cm BB = Berat Badan dalam kilogram Nilai BBR normal adalah 90 -110, bila nilai BBR > 120 berarti telah terjadi kegemukan (obesitas). d. Rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul (Waist-to-Hip Ratio/WHR) Kegemukan atau penumpukan jaringan lemak juga dapat terjadi di perut

  (abdominal). Cara ini dapat digunakan untuk menilai apakah seseorang menderita obesitas abdominal, yaitu dengan cara menghitung rasio antara lingkar pinggang dan lingkar panggul. Wanita dikatakan menderita obesitas abdominal bila nilai WHR>0,9 , sedangkan pria dengan nilai WHR>1,0.

  e. Lingkar pinggang (Waist Circumference/ WC) Cara ini juga digunakan untuk menentukan obesitas abdominal. Dikatakan abnormal bila nilai lingkar pinggang > 88 cm pada wanita dan nilai lingkar pinggang > 102 cm pada pria. Untuk Asia sendiri terdapat ketentuan lain, yaitu > 80 cm pada wanita dan > 90 cm pada pria.

D. Produk Penurun Berat Badan

  Terdapat beberapa obat penurun berat badan yang biasa digunakan dalam dunia kedokteran. Sifat dan cara kerja obat tersebut juga bermacam-macam (Rahardja, 2005). Cara kerja obat tersebut adalah: 1.penekan nafsu makan (anorexan)

  Obat golongan ini berfungsi merangsang susanan saraf pusat (sentral). Cara kerjanya adalah dengan menekan pusat lapar di otak dan mengaktifkan pusat kenyang sehingga seseorang menjadi tidak nafsu makan. Contohnya golongan obat amfetamin, dekstroamfetamin, dan metaamfetamin. Jika penggunaannya salah, jenis ini bisa menyebabkan tremor, komplikasi, jantung berdebar, tak bisa tidur, gelisah, mulut kering, sembelit, hingga alergi.

  2. mempercepat rasa kenyang Cara kerjanya adalah dengan mempengaruhi otak, yaitu dengan memperbanyak produksi serotonin. Serotonin merupakan zat kimia dalam otak yang mengendalikan emosi sekaligus selera makan. Peningkatan aktivitas dan kadar serotonin dalam otak menekan keinginan untuk makan berlebihan yang didorong oleh stres emosional. Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah sibutramin. Pemakaian obat ini harus sepengetahuan dokter karena terdapat efek samping yang berbahaya. Efek sampingnya yaitu mulut kering, anoreksia, konstipasi, insomnia, sakit kepala dan pada beberapa pasien (<5%), sibutramin dapat meningkatkan tekanan darah (Fitzgerald, 2002).

  3.menghambat absorbsi lemak Contoh obat yang masuk golongan ini adalah orlistat. Cara kerjanya adalah dengan menghambat aktivitas enzim lipase yang berfungsi memecah lemak dalam gastrointestinal. Sebagai akibatnya, penyerapan lemak turun sebesar 30%. Lemak yang tidak terserap akan keluar bersama feses. Efek samping yang dapat terjadi adalah diare, kembung, dan feses berminyak. Absorbsi vitamin yang larut lemak juga dapat terhambat akibat obat ini.

  4.bersifat sebagai bulk fillers Produk penurun berat badan yang bersifat sebagai pengganjal perut dapat tablet ini akan mengembang dalam perut. Sebagai akibatnya seseorang akan merasa kenyang lebih lama (Rahardja, 2005).

  Mekanisme suatu bahan dapat menurunkan berat badan masih banyak yang belum diketahui secara rinci. Sementara ini dicoba menelusuri sifat kandungan kimia yang ditemukan dikaitkan dengan mekanisme penurunan berat badan. Beberapa pendekatan melalui mekanisme penurunan berat badan adalah sebagai berikut (Dzulkarnain dan Widowati,1996): 1. adanya zat samak (tanin) yang bersifat astringen. Zat ini diketahui akan berikatan dengan protein mukus yang melapisi bagian dalam usus membentuk lapisan yang sulit ditembus. Sebagai akibatnya, penyerapan sari makanan menjadi terhambat dan orang tidak menjadi gemuk. Tanaman yang mengandung zat samak contohnya adalah jati blanda (Guazuma ulmifolia Lamk.), kunyit (Curcuma domestica Val.), dan kayu rapet (Parameria laevigata ).

  2. adanya zat yang bersifat melicinkan (lubricating) sehingga makanan tidak sempat terserap. Bahan ini biasanya bersifat lendir. Contoh tanaman yang bersifat melicinkan yaitu, jati blanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) dan mengkudu (Morinda citrifolia L.).

  3. adanya bahan yang bersifat diuretik sehingga cairan di dalam tubuh akan dikeluarkan sehinga berat badan akan berkurang. Contohnya adalah meniran (Phyllantus niruri L.) dan kumis kucing (Orthosipon stamineus Benth.). 4. bahan yang bersifat sebagai pencahar lemah dan pencahar pembentuk massa. melunakkan tinja, sedangkan bahan pembentuk massa akan mengembang membentuk gel dalam air. Contohnya mengkudu (Morinda citrifolia L.), kunyit (Curcuma domestica Val.), dan nanas (Ananas comosus L.).

  Pada dasarnya tidak ada obat pelangsing yang dijual bebas, yang ada adalah produk pelangsing yang berkhasiat meningkatkan pengeluaran zat cair atau padat dari tubuh. Sebelum menggunakan produk penurun berat badan, konsumen hendaknya mempelajari dulu segala sesuatu yang terkait dengan produk, khususnya keamanan produk yang digunakan. Selain itu, karena program pelangsingan sangat terkait dengan kesehatan, maka seharusnya juga perlu dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi, begitu juga dengan melaksanakan diet (Lunggana, 2001).

E. Keterangan Empiris

  Dari penelitian ini diharapkan dapat digali informasi mengenai pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan dari mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta baik yang sedang menggunakan produk penurun berat badan, belum pernah menggunakan produk penurun berat badan, maupun yang sudah pernah menggunakan namun sekarang sudah tidak menggunakan kembali.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan menggunakan

  rancangan deskriptif non analitik melalui pendekatan waktu sesaat (point time

  

approach ). Penelitian observasional adalah jenis penelitian yang observasinya

  dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subyek menurut keadaan yang apa adanya (in nature) tanpa adanya manipulasi peneliti (Pratiknya, 2001). Rancangan penelitian deskriptif hanya terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat sekedar mengungkapkan fakta (Nawawi, 2005), dan dalam pendekatan waktu sesaat, tiap subjek hanya diobservasi sekali saja (Pratiknya, 2001). Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah metode dengan menggunakan kuesioner disertai beberapa wawancara terstruktur.

B. Definisi Operasional Penelitian

  1. Kajian adalah studi yang dilakukan untuk memperdalam atau mengetahui dengan lebih jelas kejadian, kasus atau sesuatu hal dari suatu fenomena.

  2. Pengetahuan adalah tingkatan pemahaman yang dimiliki oleh subyek penelitian mengenai produk penurun berat badan dan hal-hal lain yang berhubungan, meliputi merek dan jenis produk penurun berat badan yang dikenal, sumber peringatan dan larangan, keefektifan, dampak ketergantungan penggunaan dan penurunan berat badan secara drastis pada kesehatan, kelebihan berat badan dapat menimbulkan berbagai penyakit dan konsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang kelebihan berat badan.

  3. Motivasi, yaitu dorongan yang dimiliki oleh subyek penelitian untuk menggunakan produk penurun berat badan, yang timbul karena adanya keinginan untuk memenuhi suatu kebutuhan. Motivasi dapat berasal dari dalam individu atau dari luar individu, meliputi latar belakang dan tujuan dalam menggunakan produk penurun berat badan.

  4. Kelebihan berat badan atau overweight adalah berat badan diantara obesitas dan normal atau antara 10-20% melebihi normal, sedangkan kegemukan atau obesitas adalah berat badan 20% atau lebih melebihi normal.

  5. Produk penurun berat badan adalah semua produk baik dalam bentuk seduh, bubuk, larutan, kapsul, pil, krim dan lain-lain yang berguna untuk menurunkan berat badan, melangsingkan tubuh, dan mengencangkan perut, yang dijual bebas di pasaran.

6. Pengukuran kegemukan yang digunakan adalah Indeks Massa Tubuh karena

  sudah terdapat penggolongan tingkat kegemukan atau obesitas dan risiko komorbiditas terhadap penyakit diabetes melitus, jantung koroner, dan sleep meskipun sebenarnya Waist-to-Hip Ratio (WHR) dan Waist Circumference

  apnea

  (WC) lebih mencerminkan tingkat kegemukan yang berbahaya (obesitas

C. Subyek Penelitian

  Subyek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa kampus I Universitas

  2 Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki IMT , baik yang sedang

  ≥ 23 kg/m menggunakan produk penurun berat badan, belum pernah menggunakan produk penurun berat badan, maupun yang dahulu pernah menggunakan namun sekarang sudah tidak menggunakannya kembali. Subyek penelitian tersebut selanjutnya disebut

  2

  responden. Nilai IMT yang digunakan adalah karena menurut klasifikasi ≥ 23 kg/m

  2

  berat badan berdasarkan IMT untuk orang Asia, IMT ≥ 23 kg/m termasuk dalam kategori kelebihan berat badan. Nilai IMT didapatkan dari berat badan dalam satuan kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter.

  Jumlah responden minimal dalam penelitian ini dihitung berdasarkan rumus (Nawawi, 2005): 2 Z xPxQ

  N = 2

  d

  N : ukuran cuplikan terkecil Z : koefeisien keterandalan (reability coefficient) yang besarnya ditentukan oleh tingkat kepercayaan, yaitu 90%, sehingga Z = 1,64 PQ : proporsi di dalam populasi, karena proporsi dalam populasi tidak diketahui maka PQ maksimal bila P=Q=0,5 d : persentase kemungkinan kekeliruan

  Jadi ukuran cuplikan terkecil: 2 1 , 64 x , 5 x ,

  5 N = = 67,24 responden 2 ≈ 68 responden ,

  1 D. Teknik Sampling Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling purposive non

  

random . Dalam sampling non random tidak semua individu dalam populasi diberi

  peluang yang sama untuk menjadi anggota sampel (Hadi, 2004). Sebutan purposive menunjukkan bahwa teknik ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling didasarkan atas ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Dalam penelitian ini kelompok yang dipilih sebagai subyek penelitian adalah mahasiswa kampus I Universitas Sanata

  2 Dharma Yogyakarta dengan batasan IMT , baik pria maupun wanita.

  ≥ 23 kg/m Untuk mengantipasi pengisian kuesioner yang tidak lengkap oleh responden, maka jumlah responden ditambah sebanyak 30% dari jumlah ukuran cuplikan terkecil yang berjumlah 68 responden. Dari hasil perhitungan, jumlah kuesioner yang disebarkan kepada responden yang terbagi dalam 3 fakultas di Kampus I Universitas Sanata Dharma adalah 90 kuesioner.

  Tabel IV. Jumlah mahasiswa aktif kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta tahun 2006 semester ganjil

  No. Fakultas Pria Wanita Jumlah total (orang) (orang) (orang)

  1. FKIP 849 1665 2514

  2. Sastra 406 488 894

  3. Ekonomi 837 763 1600 Total 2092 2916 5008

  

Tabel V. Jumlah mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

yang menjadi responden dalam penelitian

  No. Fakultas Pria Wanita Jumlah total (orang) (orang) (orang)

  1. FKIP

  16

  17

  33

  2. Sastra

  6

  7

  13

  3. Ekonomi

  13

  11

  24 Total

  35

  35

  70 E. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan panduan wawancara terstruktur. Kuesioner adalah kelompok atau urutan pertanyaan yang disusun untuk memperoleh informasi dari sumber informasi atau responden (Prawitasari, 1998). Pembuatan kuesioner dan panduan wawancara terstruktur dilakukan berdasarkan perumusan masalah dan telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.

  Kuesioner dibagi dalam 2 bagian. Bagian pertama memuat 7 buah pertanyaan mengenai karakteristik responden, 6 pertanyaan bersifat terbuka dalam arti dapat diisi secara bebas oleh responden dan 1 pertanyaan bersifat tertutup dimana pilihan jawaban telah ditentukan oleh penulis. Di dalam kuesioner bagian ke dua terdapat 27 nomor pertanyaan yang juga memuat 5 pertanyaan lanjutan, sehingga jumlah pertanyaan secara keseluruhan adalah 32 pertanyaan. Dari 32 pertanyaan tersebut, 21 pertanyaan bersifat tertutup dan 11 pertanyaan lain bersifat semi terbuka yang didalamnya terdapat jawaban yang dapat diisi sendiri oleh responden selain pilihan jawaban lain yang telah ditetapkan penulis.

  Bagian karakteristik responden memuat pertanyaan mengenai fakultas, jenis kelamin, umur, berat badan, tinggi badan, penghasilan dan atau uang saku tiap bulan serta status tempat tinggal responden di Yogyakarta. Bagian ke dua dari kuesioner memuat pertanyaan-pertanyaan mengenai pengetahuan dan motivasi responden untuk menggunakan produk penurun berat badan. Selain itu di dalam kuesioner juga memuat batasan produk penurun berat badan yang dimaksudkan dalam penelitian ini.

F. Tata Cara Penelitian

  1.Observasi awal

  Obseravsi awal dilakukan penulis pada toko obat dan apotek yang menjual produk penurun berat badan untuk mencari informasi yang berkaitan dengan produk penurun berat badan seperti merek dan bentuk sediaan sebagai panduan membuat kuesioner. Selain itu penulis juga melakukan observasi di kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Observasi ini dilakukan untuk lebih mengenal tempat dilaksanakannya penelitian dan mengetahui hari dan jam dimana terdapat banyak responden.

  2.Pembuatan kuesioner

  Pembuatan kuesioner dilakukan setelah observasi awal dilaksanakan. Dalam kuesioner termuat operasional penelitian. Bagian pertama memuat 7 pertanyaan mengenai karakteristik responden. Bagian ke dua memuat pertanyaan mengenai pengetahuan dan motivasi responden untuk menggunakan produk penurun berat

  

Tabel VI. Jumlah item pertanyaan pada kuesioner penelitian

  No. Item pada kuesioner Jumlah

  1. Karakteristik responden

  7

  2. Pengetahuan

  17

  3. Motivasi

  10

3.Uji validitas dan uji pemahaman bahasa

  Uji validitas dan uji pemahaman bahasa dilakukan setelah kuesioner penelitian selesai dibuat. Validitas merupakan tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrumen tersebut (Hadi, 1991). Hadi (2002) juga menambahkan bahwa terdapat dua unsur dalam prinsip dari validitas, yaitu kejituan dan ketelitian. Maksudnya adalah seberapa jauh alat pengukur dapat mengungkapkan dengan jitu gejala yang akan diukur dan seberapa jauh ketelitian alat pengukur mengukur gejala.

  Uji validitas pada penelitian ini dilakukan bersamaan dengan uji pemahaman bahasa. Uji pemahaman bahasa dilakukan agar maksud dari pertanyaan yang diajukan dapat dipahami dengan jelas dan benar oleh responden sehingga jawaban yang didapatkan dapat sesuai dengan informasi yang diinginkan. Uji validitas dilakukan penulis bersama dengan pihak yang lebih kompeten, yaitu dosen Fakultas Psikologi. Setelah itu dilakukan uji coba terhadap 20 mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki IMT

  ≥ 23. Mahasiswa yang sudah menjadi responden dalam uji coba tidak digunakan kembali menjadi responden penelitian.

  4. Penyebaran kuesioner

  Penyebaran kuesioner dilakukan waktu jam kuliah. Setelah responden mendapatkan kuesioner, responden secara langsung mengisi di tempat kemudian kuesioner segera di kembalikan kepada peneliti untuk menghindari akses informasi mengenai produk penurun berat badan oleh responden. Kuesioner yang disebarkan berjumlah 90 buah kuesioner untuk mengantisipasi adanya kuesioner yang tidak diisi lengkap oleh responden. Dari 90 kuesioner, terdapat 20 kuesioner yang tidak diisi secara lengkap oleh responden, sehingga hanya 70 kuesioner saja yang digunakan untuk analisis data.

  5. Wawancara terstruktur Dari beberapa responden, dipilih 5 orang responden untuk diwawancarai.

  Wawancara dilakukan dengan bantuan garis besar yang berhubungan dengan tema. Wawancara dilakukan untuk menambah informasi dari responden mengenai pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  6. Pengolahan Hasil

  a. Pengolahan hasil dilakukan dengan cara mengelompokkan jawaban dan menghitung masing-masing jawaban pertanyaan, kemudian dari masing-masing jawaban pertanyaan dilakukan interpretasi data hasil penelitian dengan melihat persentase jawaban.

  b. Pada pertanyaan tertentu, responden dijinkan memilih lebih dari satu jawaban atau menyatakan alasan jawabannya secara bebas, sehingga pada tabel jawaban beberapa tabel jawaban responden juga terdapat jumlah jawaban kurang dari 70. Hal ini dikarenakan jawaban responden sudah terbagi dua, misalnya responden yang menjawab ya memiliki alasan tertentu, begitu juga responden yang menjawab tidak, juga memiliki alasan tersendiri.

  c. Pada beberapa hasil penelitian, yaitu status tempat tinggal di Yogyakarta, merek, sumber informasi dan sumber pengenalan produk penurun berat badan, hasil jawaban terbanyak dari responden dibandingkan dengan hasil penelitian Sakti (2007).

G. Analisis Data Penelitian

  Analisis statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil persentase kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden

  1. Fakultas

  Data yang didapatkan dari 70 mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki IMT

  ≥ 23 yang bersedia menjadi responden menunjukkan bahwa 47,14% adalah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 34,29% adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan 18,57% adalah mahasiswa Fakultas Sastra.

   Fakultas dari mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 47,14% 34,29% FKIP Ekonomi Sastra 18,57%

Gambar 4. Fakultas dari mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

  2. Jenis kelamin

  Dari data didapatkan hasil bahwa mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki IMT

  ≥ 23 dalam arti yang masuk ke dalam klasifikasi kegemukan untuk orang Asia menurut WHO tahun 2000, yang mengisi kuesioner dengan lengkap, 50,00% adalah pria dan 50,00% adalah wanita. Penelitian dilakukan non random dengan batasan IMT, tetapi baik pria maupun wanita yang memiliki IMT ≥ 23 memiliki kesempatan yang sama untuk mengisi kuesioner.

  Jenis kelamin dapat menentukan keputusan dalam penggunaan produk penurun berat badan. Wanita dapat dikatakan lebih memperhatikan penampilannya dibandingkan pria, sehingga ketertarikan wanita terhadap produk penurun berat badan juga dapat dikatakan lebih besar dibandingkan pria. Persentase jenis kelamin responden tampak dalam gambar berikut.

  Jenis kelamin mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Wanita Pria 50,00% 50,00% Gambar 5. Jenis kelamin mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

3. Umur

  Umur dari mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki IMT ≥ 23 berkisar antara 18 tahun sampai 27 tahun. Pada umur tersebut seseorang dapat dikatakan sudah mencapai kedewasaan sehingga mampu untuk mengambil keputusan dengan tepat dan bertanggungjawab untuk dirinya sendiri. Keputusan yang dimaksud dalam hal ini adalah keputusan untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  

Tabel VII. Umur mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  27 2 2,86 Total 70 100,00

  yang berarti bahwa responden mengalami pre-obesitas,

  2

  IMT antara 23 – 24,9 kg/m

  Dari 70 orang responden didapatkan hasil bahwa 37,14% responden memiliki

  masuk dalam kategori kegemukan. Klasifikasi tersebut dapat dibagi lagi menjadi tiga kategori, yaitu pre-obesitas, obesitas I dan obesitas II.

  2

  ≥ 23 kg/m

  Indeks Massa Tubuh responden dihitung dari berat badan dalam satuan kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter. Menurut WHO (2000) dalam klasifikasi berat badan berdasarkan IMT untuk orang Asia, orang yang memiliki IMT

  26 1 1,41 10.

  Umur Responden No.

  25 3 4,29 9.

  23 3 4,29 7. 24 - 0,00 8.

  22 10 14,29 6.

  21 17 24,29 5.

  20 14 20,00 4.

  19 15 21,43 3.

  18 5 7,14 2.

  ( tahun ) Jumlah ( orang ) Persentase ( % ) 1.

4. Indeks Massa Tubuh ( IMT )

  2

  48,57% responden memiliki IMT antara 25 – 29,9 kg/m atau mengalami obesitas I,

  2

  dan 14,29% responden memiliki IMT atau obesitas II. Persentase paling ≥ 30 kg/m

  2

  banyak terdapat pada responden dengan IMT antara 25 – 29,9 kg/m , dapat diartikan bahwa angka kejadian terbesar dari kelebihan berat badan yang terjadi pada responden adalah obesitas I.

  Indeks Massa Tubuh mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

48,57%

kg/m2 23 - 24,9 kg/m2 25 - 29,9

  > 30 kg/m2 14,29% 37,14% Gambar 6. Indeks Massa Tubuh mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

5. Penghasilan dan atau Uang Saku per Bulan

  Persentase penghasilan dan atau uang saku per bulan responden dapat dikelompokkan mulai dari antara 100 – 250 ribu, antara 300 – 400 ribu, 450 – 700 ribu, dan antara 750 ribu hingga 1 juta. Penghasilan dan atau uang saku per bulan dengan persentase terbesar berkisar antara 300 – 400 ribu, yaitu sebanyak 35,72%.

  Kemudian responden dengan penghasilan dan atau uang saku per bulan antara 450 – 700 ribu sebanyak 28,57%, diikuti 25,71% responden dengan penghasilan dan atau uang saku per bulan antara 100 – 250 ribu, dan persentase terendah adalah 10,00% untuk responden dengan penghasilan dan atau uang saku per bulan antara 750 ribu – 1 juta.

  Tingkat penghasilan dan atau uang saku per bulan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 35,72% 28,57% Antara 100 - 250 ribu

  25,71% Antara 300 - 400 ribu Antara 450 - 700 ribu

10,00%

Antara 750 ribu - 1 juta

  Gambar 7. Tingkat penghasilan dan atau uang saku per bulan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  Karakteristik ini ikut menentukan keputusan responden untuk menggunakan produk penurun berat badan. Penghasilan dan atau uang saku per bulan menunjukkan daya beli responden. Responden dengan jumlah penghasilan dan atau uang saku yang lebih besar memiliki kesempatan lebih besar untuk membeli produk penurun berat badan dibandingkan dengan mahasiswa dengan penghasilan dan atau uang saku yang lebih kecil.

6. Status Tempat Tinggal di Yogyakarta

  Hasil yang didapatkan dari responden dapat dikatakan bahwa sebanyak sisanya 2,86% tinggal dengan saudara. Menurut Kotler dan Amstrong (2004), teman, keluarga (orang tua), dan saudara merupakan kelompok acuan yang memiliki pengaruh secara langsung pada diri konsumen karena teman, keluarga (orang tua) dan saudara selalu berinteraksi dengan konsumen. Dapat dilihat bahwa sebagian besar responden tinggal di Yogyakarta dengan orang tua. Keputusan responden untuk menggunakan produk penurun berat badan sebagian besar dapat dipengaruhi oleh keluarga (orang tua), baik dengan cara pemberian informasi atau bujukan.

  Status tempat tinggal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta 45,71% Dengan Orang tua 51,43% Indekost atau Kontrak Dengan Saudara 2,86% Gambar 8. Status tempat tinggal mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta

  Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Sakti (2007) yang dilakukan di kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mahasiswa kampus

  III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lebih banyak tinggal dengan cara indekost. Pengaruh berupa informasi atau bujukan untuk menggunakan produk penurun berat badan dapat berasal dari teman.

B. Pengetahuan Responden

  Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Pengetahuan dalam penelitian ini meliputi:

1. Merek dan jenis produk penurun berat badan yang dikenal responden

  Dari penelitian yang dilakukan, ternyata merek produk penurun berat badan yang paling dikenal oleh responden adalah Slimming Tea. Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Sakti (2007) pada mahasiswa kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Iklan Slimming Tea sering muncul di media cetak maupun media elektronik, selain itu harga produk tersebut terjangkau oleh mahasiswa dan mudah didapatkan. Faktor-faktor tersebut membuat responden menjadi lebih mengenal produk penurun berat badan tersebut dibandingkan dengan produk penurun berat badan lain. Slimming Tea memiliki komposisi utama daun teh dan ekstrak tumbuhan seperti Parameriae Extractum, Foeniculi Extractum, Guazumae Extractum, dan Curcumae Extractum. Cara kerjanya secara umum adalah menghambat aktivitas lipolisis dari lipase gastrik dan lipase pankreas sehingga pencernaan lemak dihambat. Sebagai akibatnya, lemak tidak dapat diserap oleh usus halus dan dikeluarkan bersama feses.

  Selain merek yang dituliskan dalam kuesioner, responden juga menyebutkan beberapa merek lain seperti WRP dan Ideal. Hal ini menunjukkan bahwa responden berat badan karena mereka mampu menyebutkan beberapa merek di luar pertanyaan. Dalam wawancara terdapat responden yang menyebutkan pernah menggunakan Decaslim, tetapi obat tersebut di luar definisi operasional produk penurun berat badan karena penggunaannya harus dengan resep dokter, tidak dijual secara bebas, dalam pertanyaan ini responden juga tidak mencantumkan Decaslim dalam jawabannya.

  

Merek produk penurun berat badan yang dikenal

Mahasiswa Kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

  23,95% 20,17% 18,49%

  Slimming Tea Natur Slim 14,71%

  Merit 11,35%

  Trim Spa Hai Ping

7,56%

  Diyet WRP 2,93%

  Ideal 0,84%

  

Gambar 9. Merek produk penurun berat badan yang dikenal responden

  Saat ini produk penurun berat badan disajikan dalam bermacam-macam jenis seperti serbuk, pil, kapsul, tablet, susu dan jamu tradisional. Dari bermacam-macam jenis produk penurun berat badan, persentase tertinggi yang dikenal responden adalah produk penurun berat badan jenis jamu tradisional (21,82%). Hal ini dapat dikarenakan banyak kios-kios jamu yang menjual jamu tradisional penurun berat badan sehingga keberadaan jamu tradisional penurun berat badan mudah diperoleh. tradisional memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk penurun berat badan produksi pabrik dengan alasan bahwa jamu tradisional murni mengandung bahan-bahan alami sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan.

  Jenis produk penurun berat badan yang dikenal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 21,82% 20,46%

  19,55% Jamu tradisional Kapsul 15,46% Pil 11,36% Susu 8,18% Tablet Serbuk

  3,17% Teh Gambar 10. Jenis produk penurun berat badan yang dikenal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2. Sumber informasi

  Dalam menggunakan suatu produk penurun berat badan sangat diperlukan informasi–informasi yang berkaitan dengan produk tersebut. Informasi tersebut meliputi komposisi, kegunaan, cara pakai, aturan pakai, dosis atau takaran, peringatan, dan larangan. Informasi tersebut dapat diperoleh responden dari kemasan produk penurun berat badan, brosur, penjual produk penurun berat badan, dokter, apoteker, ahli gizi, atau pengalaman pribadi. Selain sumber informasi yang telah disebutkan, 9 responden menambahkan beberapa sumber informasi yang membantu mereka lebih mengerti mengenai produk penurun berat badan antara lain dari teman

  (7 responden) dan iklan media cetak (2 responden). Dalam hal ini responden dapat memberikan lebih dari satu jawaban, dan dari tabel VIII terlihat bahwa terdapat 116 jawaban dari 68 responden. Total responden adalah 70 orang, tetapi 2 orang tidak memberikan jawaban karena mereka tidak mengenal produk penurun berat badan.

  Dari data tersebut dapat diartikan bahwa responden tidak hanya mendapatkan informasi dari satu sumber saja. Informasi yang didapatkan responden mengenai suatu produk bisa berbeda antara sumber informasi yang satu dengan sumber informasi yang lain. Keadaan ini dapat memicu penggunaan produk penurun berat badan yang kurang tepat karena responden tidak mengetahui mana sumber informasi yang benar-benar dapat dipercaya, terutama bila responden mengunakan produk penurun berat badan berdasarkan pengalaman pribadinya saja atau mendapatkan informasi berdasarkan pengalaman orang lain (teman).

  

Tabel VIII. Sumber informasi mengenai produk penurun berat badan yang

dikenal mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  No Sumber informasi mengenai produk Jumlah Persentase penurun berat badan jawaban (%)

1. Brosur 40 34,48

  2. Kemasan

  32

  27.59

  3. Dokter/apoteker/ahli gizi 16 13,79

  4. Penjual produk penurun berat badan 14 12,07

  5. Teman 7 6,04

  6. Pengalaman pribadi 5 4,31

  7. Iklan media cetak 2 1,72 Total 116 100,00 Data menunjukkan bahwa sumber informasi terbanyak yang menyumbangkan informasi mengenai produk penurun berat badan kepada responden adalah brosur.

  Lain halnya dengan hasil penelitian Sakti (2007) pada mahasiswa kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang mengungkapkan bahwa sumber informasi yang paling banyak menyumbangkan informasi mengenai produk penurun berat badan adalah kemasan. Brosur biasanya terdapat di dalam kemasan produk penurun berat badan dan memuat informasi-informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan produk tersebut. Tetapi terkadang informasi-informasi yang termuat tidak terlalu lengkap. Selain itu brosur bukan merupakan sumber informasi primer karena tidak secara langsung memberikan informasi-informasi mengenai produk penurun berat badan kepada responden. Bila informasi yang didapatkan responden tidak begitu lengkap, maka penggunaan produk tersebut secara tepat juga belum dapat dijamin.

  Dari 70 responden, yang menyatakan bahwa mereka mendapatkan informasi tambahan mengenai produk penurun berat badan dari sumber informasi primer, yaitu dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat badan ada 21 orang (30%), sedangkan yang tidak mendapatkan informasi dari dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat badan ada 49 orang (70%), seperti tampak pada tabel IX. Persentase responden yang tidak mendapatkan informasi dari dokter/apoteker/ahli gizi/ penjual produk penurun berat badan lebih besar dibandingkan dengan responden yang menerima informasi dari dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat badan. Hal ini sangat mempengaruhi kejelasan informasi yang didapatkan oleh responden mengenai produk penurun berat badan.

  Tabel IX. Pernah atau tidaknya mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta mendapatkan informasi dari dokter/apoteker/ahli

gizi/penjual produk penurun berat badan

  No. Responden mendapatkan informasi dari Jumlah Persentase dokter/apoteker/ahli gizi/ penjual responden (%) (orang)

  1. Ya

  21

  30

2. Tidak

  49

  70 Total

  70 100 Dari 21 orang responden yang pernah mendapatkan informasi dari dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat badan, 16 responden (76,19%) menyatakan bahwa informasi mengenai produk penurun berat badan yang didapatkan cukup jelas, sedangkan 5 orang (23,81%) menyatakan tidak begitu jelas dengan informasi mengenai produk penurun berat badan yang diberikan oleh dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat badan. Dilihat dari persentase tersebut, peran dokter/apoteker/ahli gizi/penjual produk penurun berat badan dalam memberikan kejelasan informasi mengenai produk penurun berat badan sudah cukup tampak.

  

3. Konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi mengenai penggunaan produk

penurun berat badan

  Bagian ini dimaksudkan untuk mengetahui pendapat atau pengetahuan responden mengenai pentingnya konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi sebelum ataupun selama menggunakan produk penurun berat badan. Dari 70 responden, 68 responden (97,14%) menyatakan pentingnya berkonsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi dalam hal ini sebagai pihak yang lebih mengerti mengenai produk penurun berat badan, sedangkan 2 responden (2,86%) menyatakan bahwa konsultasi tersebut tidak penting. Dari pendapat responden tampak bahwa kesadaran mereka mengenai pentingnya berkonsultasi dahulu dengan pihak yang lebih paham mengenai produk penurun berat badan sudah cukup tinggi. Konsultasi diperlukan pada waktu sebelum menggunakan produk penurun berat badan maupun selama menggunakan produk penurun berat badan.

  Tabel X. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai pentingnya berkonsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi sebelum dan selama menggunakan produk penurun berat badan

  No. Pentingnya berkonsultasi dengan Jumlah Persentase dokter/apoteker/ahli gizi responden (%) (orang)

1. Ya

  68 97,14

  2. Tidak 2 2,86

  Total 70 100,00 Konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi dalam penggunaan produk penurun berat badan penting untuk membantu membuat keputusan untuk menggunakan produk penurun berat badan. Terkadang orang merasa sudah mengalami kegemukan dan memiliki pemikiran bahwa harus diatasi dengan menggunakan produk penurun berat badan. Padahal mungkin saja orang tersebut belum membutuhkan produk penurun berat badan untuk mengatasi masalahnya, mungkin dengan mengatur pola makan atau berolahraga sudah cukup. Konsultasi juga diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama penggunaan akibat penggunaan yang tidak tepat, seperti efek samping dan penyakit berbahaya yang mungkin timbul dan tentu saja pengawasan dari dokter/apoteker/ahli gizi tetap dilakukan selama menggunakan produk penurun berat badan.

4. Efek samping produk penurun berat badan menurut responden

  Hasil yang didapatkan dari 68 responden yang menyatakan mengenal produk penurun berat badan, 42 responden (61,77%) menyatakan bahwa produk penurun berat badan memiliki efek samping, 24 responden (35,29%) menyatakan tidak semua produk penurun berat badan memiliki efek samping, contohnya produk herbal, sedangkan 2 responden (2,94%) menyatakan bahwa produk penurun berat badan tidak memiliki efek samping.

  Keberadaan efek samping produk penurun berat badan menurut mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2,94% ada efek 61,77% samping tidak ada efek samping tidak semua memiliki efek 35,29% samping

Gambar 11. Keberadaan efek samping produk penurun berat badan menurut

mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai efek samping produk penurun berat badan yang diketahui responden, maka responden yang menjawab bahwa dalam produk penurun berat badan terdapat efek samping, atau tidak semua produk penurun berat badan memiliki efek samping diberikan pertanyaan mengenai contoh efek samping dari produk penurun berat badan. Dalam hal ini responden diperbolehkan menjawab lebih dari satu jawaban dan mengisi jawaban lain seandainya responden memiliki jawaban lain selain yang ada dalam pilihan. Ternyata efek samping yang paling dikenal responden adalah gangguan ginjal (33,79%), kemudian dehidrasi berat (26,90%), gangguan jantung (18,62%), gangguan kehamilan (14,48%). Selain itu, beberapa responden menambahkan gangguan lambung seperti maag (4,14%), dan diare (2,07%) sebagai efek samping dari produk penurun berat badan.

  

Tabel XI. Efek samping yang ditimbulkan produk penurun berat badan

menurut mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  No. Efek samping yang ditimbulkan produk Jumlah Persentase penurun berat badan jawaban (%)

1 Gangguan ginjal 49 33,79

  2 Dehidrasi berat 39 26,90

  3 Gangguan jantung 27 18,62

  4 Gangguan kehamilan 21 14,48

  5 Gangguan lambung (maag) 6 4,14

  6 Diare 3 2,07

  Total 145 100,00 Seperti tampak pada tabel, terdapat 145 jawaban dari 68 responden. Dapat diartikan bahwa responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai efek dari satu jawaban. Selain itu beberapa responden menambahkan contoh efek samping yang lain.

  Dalam hal ini peran farmasis sangat diperlukan, terutama dalam memberikan informasi dan pengetahuan kepada orang yang sedang dan akan menggunakan produk penurun berat badan mengenai efek samping yang dapat terjadi. Informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh farmasis dapat membantu orang yang akan menggunakan produk penurun berat badan dalam pengambilan keputusan. Selain itu juga dapat mengurangi terjadinya efek yang tidak diinginkan selama menggunakan produk penurun berat badan.

  Dehidrasi dapat terjadi karena di dalam produk penurun berat badan terkandung zat yang menyebabkan cairan dalam tubuh banyak keluar. Memang berat badan seseorang dapat berkurang, tetapi sebagai akibatnya tubuh seseorang akan menjadi lemas. Dalam hal ini yang dikeluarkan oleh tubuh adalah air, bukan lemak.

  Biasanya yang terjadi adalah berat badan akan naik kembali karena volume cairan dalam tubuh dapat tercukupi kembali setelah kita mengkonsumsi cukup air.

  Gangguan ginjal akibat penggunaan produk penurun berat badan dapat terjadi karena ginjal dipacu untuk bekerja lebih tinggi.

5. Pengetahuan responden mengenai komposisi produk penurun berat badan

  Bagian ini dimaksudkan untuk mengetahui kepedulian responden terhadap komposisi produk penurun berat badan dan kegunaannya. Hasil yang diperoleh dari 70 responden adalah 15 responden (21,43%) menyatakan bahwa mereka responden (78,57%) menyatakan tidak memperhatikan komposisi dalam produk penurun berat badan. Data tersebut dapat dilihat pada tabel

  XII.

  

Tabel XII. Kepedulian mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta terhadap komposisi produk penurun berat badan

  No. Responden memperhatikan Jumlah Persentase komposisi dalam produk penurun responden (%) berat badan (orang)

  1. Ya 15 21,43

2. Tidak 55 78,57

  Total 70 100,00 Selanjutnya mengenai pengetahuan responden terhadap kegunaan masing- masing komposisi dalam produk penurun berat badan didapatkan bahwa tidak ada responden yang mengerti secara keseluruhan kegunaan komposisi dalam produk penurun berat badan. Responden yang menyatakan bahwa mereka mengerti tetapi hanya sebagian saja ada 10 orang (14,29%), sedangkan yang tidak mengerti sama sekali mengenai kegunaan masing-masing komposisi dalam produk penurun berat badan terdapat 60 orang (85,71%). Data tersebut tampak pada tabel XIII.

  

Tabel XIII. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta terhadap kegunaan masing-masing komponen

dalam produk penurun berat badan

  No. Pengetahuan terhadap kegunaan Jumlah Persentase masing-masing komposisi dalam responden (%) produk penurun berat badan (orang)

  1. Mengerti 0,00

2. Tidak mengerti 60 85,71

  3. Mengerti hanya sebagian 10 14,29 Total 70 100,00

  Terlihat bahwa sebagian besar responden tidak mengerti mengenai kegunaan masing-masing komposisi dalam produk penurun berat badan. Hal ini dapat dimungkinkan karena komposisi yang terkandung dalam produk penurun berat badan tidak tertulis di dalam kemasan atau bila tertulis dalam kemasan, biasanya komposisi ditulis dalam bahasa latin saja. Padahal responden tidak memiliki latar belakang pendidikan dari dunia kesehatan. Keadaan ini tentu dapat menghambat responden untuk mendapatkan informasi mengenai komposisi produk penurun berat badan dan kegunaannya. Saat ini masih banyak produk penurun berat badan yang belum mencantumkan kegunaan masing-masing komponen secara umum sehingga pengetahuan responden mengenai kegunaan masing-masing komponen dalam produk masih terbatas.

  Salah satu contoh zat yang terkandung dalam produk penurun berat badan adalah zat samak atau tanin. Setelah dikonsumsi, tanin akan berikatan/mengendapkan protein mukosa usus sehingga sari makanan tidak dapat diabsorbsi usus halus. Karena sari makanan tidak terserap maka tubuh akan kekurangan sari makanan dan tidak mendapatkan energi. Padahal ikatan antara tanin dengan protein mukosa usus bersifat irreversibel. Memang berat badan akan turun, tetapi lama kelamaan yang didapatkan bukan berat badan ideal melainkan orang akan menjadi kurus karena sari makanan tidak ada yang terserap.

  Pengetahuan ini cukup diketahui oleh sebagian besar responden. Dari 70 responden, 51 responden (72,86%) mengetahui terdapat produk penurun berat badan responden (27,14%) tidak mengetahui bahwa terdapat produk penurun berat badan yang mengandung zat yang dapat menghambat penyerapan sari makanan.

  Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai adanya zat yang dapat menghambat penyerapan sari makanan 27,14% Mengetahui Tidak mengetahui 72,86%

Gambar 12. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mengenai adanya zat yang dapat menghambat penyerapan

sari makanan

  Pengetahuan mengenai komposisi produk penurun berat badan dan kegunaannya sangat penting untuk mengetahui apakah komposisi yang ada di dalam produk penurun berat badan tidak memiliki khasiat yang sama (tumpang tindih). Dengan mengetahui komposisi produk pula, responden dapat mencari tahu lebih lanjut mengenai cara kerja komponen yang ada, sehingga dapat membantu mereka dalam mempertimbangkan penggunaan produk penurun berat badan. Dalam hal ini peran dokter, apoteker, ahli gizi, tenaga kesehatan ataupun pihak-pihak terkait sangat diperlukan dalam memberikan informasi tambahan mengenai komposisi dalam produk penurun berat badan dan kegunaannya.

  

6. Pengetahuan responden mengenai peringatan dan larangan dalam

menggunakan produk penurun berat badan

  Peringatan dan larangan yang harus dipatuhi dalam menggunakan produk penurun berat badan sangat penting diperhatikan supaya tidak terjadi efek yang tidak diinginkan. Contoh peringatan dan larangan antara lain tidak boleh digunakan untuk wanita hamil, orang dengan riwayat gangguan ginjal atau orang yang sedang menderita diare. Peringatan dan larangan biasanya terdapat dalam kemasan produk, tetapi dalam hal ini tentu dibutuhkan informasi-informasi tambahan mengenai sebab peringatan dan larangan harus dipatuhi. Karena itu, pihak-pihak berkompeten seperti dokter, apoteker, ahli gizi atau farmasis turut berperan penting dalam memberikan informasi tambahan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan peringatan dan larangan dalam menggunakan produk penurun berat badan.

  

Kepedulian mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta terhadap peringatan dan larangan

dalam menggunakan produk penurun berat badan

45,71%

  Memperhatikan 54,29% Tidak memperhatikan

  

Gambar 13. Kepedulian mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta terhadap peringatan dan larangan dalam menggunakan

produk penurun berat badan

  Dari data didapatkan bahwa 38 responden (54,29%) memperhatikan peringatan dan larangan yang harus dipatuhi dalam menggunakan produk penurun berat badan, sedangkan 32 responden (45,71%) tidak memperhatikan peringatan dan larangan yang harus dipatuhi dalam menggunakan produk penurun berat badan.

  Tampak bahwa perhatian responden terhadap peringatan dan larangan dalam menggunakan produk penurun berat badan cukup besar.

7. Pandangan responden mengenai keefektifan produk penurun berat badan

  Pada bagian ini akan digambarkan pandangan responden terhadap keefektifan produk penurun berat badan dalam menurunkan berat badan seseorang. Hasil yang didapatkan dari 70 responden, yang memiliki pandangan bahwa produk penurun berat badan efektif dalam menurunkan berat badan adalah 6 responden (8,57%). Enam puluh empat (64) responden (91,43%) memiliki pandangan bahwa produk penurun berat badan tidak efektif dalam menurunkan berat badan seseorang.

  

Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta mengenai keefektifan produk

penurun berat badan

  91,43% Efektif Tidak efektif 8,57%

Gambar 14. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Tampak bahwa hanya sedikit responden saja yang memiliki pandangan bahwa produk penurun berat badan efektif dalam menurunkan berat badan. Dari 6 orang yang menyatakan produk penurun berat badan efektif dalam menurunkan berat badan, 5 responden menyatakan alasannya sedangkan 1 responden tidak memberikan alasan.

  Alasan tersebut dapat dilihat pada tabel XIV.

  

Tabel XIV. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mengenai keefektifan produk penurun berat badan dalam

menurunkan berat badan

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

1. Sudah terdapat bukti nyata 4 66,66

  2. Percaya akan komposisinya yang 1 16,67 memang ditujukan untuk menurunkan berat badan

  3. Tidak beralasan 1 16,67 Total 6 100,00

  Alasan terbanyak yang dikemukakan responden yang memiliki pandangan bahwa produk penurun berat badan efektif dalam menurunkan berat badan adalah sudah terdapat bukti nyata. Bukti nyata tersebut dapat berasal dari keluarga, teman atau orang-orang yang berada di lingkungan mereka yang pernah menggunakan produk penurun berat badan dan berhasil menurunkan berat badannya. Bukti tersebut membuat responden yakin bahwa produk penurun berat badan memang efektif untuk menurunkan berat badan.

  Dari 64 responden yang memiliki pandangan bahwa produk penurun berat badan tidak efektif dalam menurunkan berat badan, terdapat total 65 jawaban dalam beberapa kelompok alasan karena responden dapat memberikan lebih dari satu alasan. Dari 64 responden terdapat 10 responden yang tidak memberikan alasan. Sikap keragu-raguan responden dinyatakan dalam beberapa alasan seperti yang terlihat pada tabel XV.

  Alasan terbanyak yang dikemukakan responden yang berpendapat bahwa produk penurun berat badan tidak efektif dalam menurunkan berat badan adalah perlunya melakukan olah raga dan pengaturan pola makan untuk menurunkan berat badan, bukan semata-mata hanya menggunakan produk penurun berat badan. Suatu rencana makan yang seimbang, bila digabungkan dengan latihan aerobik merupakan jaminan untuk memperoleh pengurangan berat badan secara mantap meskipun lambat ( Mc Carthy, 1995).

  

Tabel XV. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

mengenai ketidakefektifan produk penurun berat badan dalam menurunkan

berat badan

  No. Alasan Jumlah jawaban Persentase

  (%)

1 Perlu diimbangi dengan olah raga dan mengatur pola makan 34 52,31

  2 Tergantung kecocokan masing-masing pengguna 8 12,30

  3 Efeknya tidak langgeng 10 15,39

  4 Hanya merupakan produk yang mengejar keuntungan, hasil tidak dapat dijamin

  3 4,61

  5 Tidak beralasan 10 15,39 Total 65 100,00

  Peningkatan aktivitas fisik merupakan faktor penunjang penting dalam terapi penurunan berat badan. Aktivitas fisik merupakan penunjang yang sangat berguna dalam mencegah kenaikan berat badan kembali. Sebagai tambahan, penderita dianjurkan untuk mengubah perilaku dengan melaksanakan pola makan yang teratur, mengurangi jumlah cemilan berkalori tinggi, atau jumlah makanan fast food (Ridjab dkk, 2006).

  Selanjutnya responden diberikan pertanyaan apakah penggunaan produk penurun berat badan akan memberikan hasil yang cepat dalam menurunkan berat badan. Sebanyak 13 responden (18,57%) memiliki pendapat bahwa penggunaan produk penurun berat badan dapat memberikan hasil yang cepat dalam menurunkan berat badan. Dan sisanya, 57 responden (81,43%) memiliki pendapat bahwa dengan menggunakan produk penurun berat badan belum tentu hasil yang diinginkan bisa lebih cepat tercapai.

  

Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta mengenai hasil yang

didapatkan dengan menggunakan produk penurun

berat badan

  81,43% Hasil cepat Hasil tidak cepat 18,57% Gambar 15. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai hasil yang didapatkan dengan menggunakan produk penurun berat badan Penurunan berat badan secara cepat mungkin dapat terjadi meskipun pengguna belum lama menggunakan produk penurun berat badan. Tetapi dari beberapa hasil wawancara, yang terjadi kemudian adalah berat badan akan naik kembali, dengan kata lain hasil yang didapatkan tidak langgeng. Hal ini dapat terjadi karena bukan lemak yang dikeluarkan dari dalam tubuh, melainkan cairan tubuh, dan volume cairan yang hilang dari dalam tubuh tersebut akan segera tergantikan bila kita mengkonsumsi air minum.

  Ternyata pengetahuan responden mengenai hal ini cukup tinggi. Tampak dari 70 responden hanya 1 responden (1,43%) yang beranggapan bahwa produk penurun berat badan yang bekerja dengan cara menurunkan kadar air dalam tubuh efeknya akan bersifat langgeng, artinya berat badan tidak akan naik kembali. Responden yang lain, sebanyak 69 responden (98,57%) beranggapan bahwa efek produk penurun berat badan tersebut tidak akan langgeng.

  

Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta bahwa produk penurun

berat badan yang bekerja dengan cara menurunkan

kadar air dalam tubuh, efeknya tidak akan langgeng

  1,43% Mengetahui Tidak mengetahui 98,57% Gambar 16. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta bahwa produk penurun berat badan yang bekerja dengan cara Penggunaan produk penurun berat badan belum tentu juga dapat memberikan hasil yang cepat dalam menurunkan berat badan. Dalam hal ini tentu saja diperlukan olah raga dan pengaturan pola makan agar hasil yang didapatkan bisa maksimal. Tetapi pengaturan pola makan yang dilakukan harus benar-benar memenuhi syarat gizi, dan sebaiknya dikonsultasikan dahulu dengan dokter atau ahli gizi. Terkadang seseorang merasa bahwa pengaturan pola makan yang dilakukannya sudah benar, contohnya dengan menghapus menu karbohidrat. Banyak anggapan bahwa karbohidrat merupakan penyebab tubuh menjadi melar. Sehingga orang lebih memilih untuk menjalankan diet kaya protein tanpa mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. Mereka memiliki pemikiran bahwa dengan melakukan cara tersebut mereka bisa memiliki berat badan proporsional, tanpa menyadari bahwa jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh cukup banyak berkurang bahkan di bawah normal. Keadaan ini justru akan menimbulkan masalah baru yang berhubungan dengan kesehatan.

  

8. Pengetahuan responden mengenai dampak ketergantungan penggunaan

produk penurun berat badan dan penurunan berat badan secara drastis pada

kesehatan seseorang

  Bagian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan responden mengenai dampak pada kesehatan karena ketergantungan penggunaan produk penurun berat badan dan penurunan berat badan secara drastis. Ketergantungan yang dimaksudkan di sini adalah penggunaan produk penurun berat badan secara terus menerus. Dari data yang didapatkan, sebanyak 67 responden badan dapat berdampak pada kesehatan, sedangkan 3 responden (4,29%) memiliki anggapan bahwa ketergantungan terhadap produk penurun berat badan tidak akan berdampak pada kesehatan.

  

Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta mengenai keberadaan dampak

ketergantungan penggunaan produk penurun berat

badan pada kesehatan

  95,71% Berdampak pada kesehatan tidak berdampak pada kesehatan 4,29%

Gambar 17. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mengenai keberadaan dampak ketergantungan penggunaan

produk penurun berat badan pada kesehatan

  Penurunan berat badan secara drastis dapat terjadi setelah penggunaan produk penurun berat badan. Data yang diperoleh adalah 66 responden (94,29%) menyatakan bahwa penurunan berat badan secara drastis dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Dan hanya 4 responden saja (5,71%) yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak akan mempengaruhi kesehatan seseorang. Data tersebut tamapak pada gambar 18.

  Penurunan berat badan yang dianjurkan untuk tahap awal adalah sebanyak 10% dari berat badan awal. Jangka waktu yang masuk akal untuk melakukan hal ini adalah 6 bulan (Ridjab,2006). Dalam kenyataannya terkadang dijumpai penurunan berat badan secara drastis meskipun produk penurun berat badan baru digunakan dalam beberapa hari.

  Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai keberadaan dampak penurunan berat badan secara drastis pada kesehatan 5,71% Berdampak pada kesehatan Tidak berdampak pada kesehatan 94,29%

Gambar 18. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mengenai keberadaan dampak penurunan berat badan secara

drastis pada kesehatan

  Saat ini banyak produk yang menawarkan penurunan berat badan dengan cepat, salah satunya makanan diet sangat rendah kalori. Makanan diet sangat rendah kalori yang biasa dijual dalam bentuk paket lengkap berisi susu bubuk untuk diminum dan makanan selingan berupa biskuit atau sup memiliki prinsip kerja mengurangi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Penurunan berat badan dengan menggunakan produk ini biasanya relatif cepat, sekitar 4 kilogram dalam satu bulan. Keadaan tersebut memiliki dampak bagi kesehatan karena tubuh mengalami defisit kalori yang cukup banyak dan cadangan lemak tidak lagi mencukupi sehingga energi untuk aktivitas tubuh didapatkan dari cadangan protein yang terdapat di otot. Bila protein pada otot dibakar untuk dijadikan energi maka tubuh akan menjadi lemas. Tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah bila akhirnya protein dalam otot juga dibakar sehingga jantung tidak kuat memompa darah. Maka yang terjadi adalah gagal jantung.

  

9. Pengetahuan responden mengenai kelebihan berat badan dapat

menimbulkan berbagai penyakit

  Kelebihan berat badan tidak hanya berhubungan dengan masalah penampilan fisik saja. Dalam kenyataannya, kelebihan berat badan dapat menimbulkan masalah kesehatan. Menurut Ridjab (2006), secara umum kelebihan berat badan berkautan dengan terjadinya penyakit-penyakit, seperti sleep apnea, sindrom metabolik, diabetes melitus, dislipidemia, dan menjadi salah satu faktor resiko penyebab penyakit kardiovaskular.

  

Pengetahuan mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

mengenai kelebihan berat badan dapat menimbulkan

berbagai penyakit

  17,14% Mengetahui Tidak mengetahui 82,86% Gambar 19. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

  

Yogyakarta mengenai kelebihan berat badan dapat menimbulkan

berbagai penyakit

  Dari 70 responden, 58 responden (82,86%) menyatakan mengetahui hal tersebut. Pengetahuan yang dimiliki oleh responden dapat menimbulkan motivasi untuk menurunkan berat badan. Responden yang takut akan terkena berbagai penyakit akibat kelebihan berat badan dapat memiliki motivasi untuk menurunkan berat badan.

  

10. Pengetahuan responden mengenai pentingnya mengkonsumsi produk

penurun berat badan untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan

  Data yang diperoleh dari 70 responden, 67 responden (95,71%) menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan bukan merupakan hal terpenting (solusi utama) bagi orang yang mengalami kelebihan berat badan. Dan sisanya 3 responden lainnya (4,29%) menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan merupakan solusi utama untuk yang mengalami kelebihan berat badan.

  

Pengetahuan mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai

pentingnya mengkonsumsi produk penurun berat badan

untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan

  95,71% Merupakan hal paling penting Bukan hal paling penting 4,29% Gambar 20. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai pentingnya mengkonsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan Dari 67 responden yang menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan bukan merupakan hal utama untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan, 53 responden menyatakan alasannya sedangkan 14 responden lainnya tidak menyatakan alasannya. Alasan tersebut tampak pada tabel XVI. Sedangkan dari 3 responden yang menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan merupakan hal paling penting untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan, 2 responden memberikan alasan mengikuti saran keluarga dan 1 responden tidak memberikan alasan. Dari hal ini tampak bahwa keluarga memberikan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  

Tabel XVI. Alasan-alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan bukan

merupakan hal paling penting untuk orang yang mengalami

kelebihan berat badan

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

  1. Pengaturan pola makan 20 25,00

2. Olah raga

  41 51,25

  3. Tergantung tingkat kelebihan berat badan 5 6,25

  4. Tidak beralasan 14 17,50 Total 80 100,00

  Seperti yang dikatakan Adam (2004), penatalaksanaan pada obesitas dan berat badan berlebih terdiri atas perencanaan makan dengan mengurangi jumlah kalori dan jumlah lemak; peningkatan aktivitas fisik; dan pemakaian obat-obat seperti orlistat. Penatalaksanaan tersebut dilakukan berdasarkan IMT. Untuk kelebihan berat badan yang belum terlalu parah, selalu ditekankan bahwa solusi utamanya adalah aktivitas fisik dan pengaturan pola makan. Bila sudah terlalu parah baru dilakukan pembedahan.

  Secara umum pengetahuan responden mengenai produk penurun berat badan cukup tinggi. Responden mengetahui perlunya konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi sebelum atau selama penggunaan produk penurun berat badan. Selain itu, responden juga mengetahui merek dan bentuk sediaan produk penurun berat badan, contoh efek samping produk penurun berat badan maupun peringatan dan larangan dalam menggunakan produk penurun berat badan. Hanya saja pengetahuan responden mengenai komposisi dan kegunaan masing-masing komponen dalam komposisi masih kurang.

C. Motivasi Responden

  Pembahasan bagian ini akan menjelaskan mengenai motivasi responden untuk menggunakan produk penurun berat badan. Motivasi yang diteliti dalam penelitian ini meliputi:

1.Persentase pengenalan responden terhadap produk penurun berat badan

  Bagian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran persentase responden yang mengenal produk penurun berat badan maupun yang tidak mengenal produk penurun berat badan. Dari 70 responden yang menyatakan mengenal produk penurun berat badan ada 68 responden (97,14%), sedangkan 2 responden lainnya menyatakan tidak mengenal produk penurun berat badan. Responden yang menyatakan tidak mengenal produk penurun berat badan keduanya berjenis kelamin pria. Responden merasa terganggu dengan kelebihan berat badan yang mereka alami dan tidak terlalu peduli dengan penampilan tubuhnya karena pria biasanya kurang memperhatikan penampilan tubuhnya dibandingkan wanita. Selain itu dapat juga karena mereka tidak mempedulikan adanya iklan mengenai produk penurun berat badan.

  Dari gambar 21, tampak bahwa jumlah responden yang mengenal produk penurun berat badan lebih banyak dibandingkan yang tidak mengenal produk penurun berat badan. Perbedaan persentase antara keduanya tampak sangat jauh berbeda. Keadaan ini dapat terjadi karena saat ini banyak sumber-sumber pengenalan yang mencoba menawarkan produk penurun berat badan, seperti media cetak, media elektronik maupun dari penjual produk penurun berat badan.

  Persentase pengenalan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap produk penurun berat badan 2,86% Mengenal produk penurun berat badan Tidak mengenal produk penurun berat badan 97,14%

Gambar 21. Persentase pengenalan mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta terhadap produk penurun berat badan

2.Sumber pengenalan

  Bagian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dari mana responden mengenal produk penurun berat badan. Pertanyaan pada bagian ini hanya dijawab oleh responden yang mengenal produk penurun berat badan yaitu sebanyak 68 responden. Responden yang mengenal produk penurun berat badan diperbolehkan untuk menjawab lebih dari satu jawaban mengenai sumber pengenalan produk penurun berat badan. Gambaran mengenai sumber pengenalan produk penurun berat badan dapat dilihat pada tabel XVII berikut.

  Tabel XVII. Sumber pengenalan produk penurun berat badan

  No. Sumber pengenalan produk penurun Jumlah Persentase berat badan jawaban (%)

  1. Keluarga 10 7,75

  2. Teman 18 13,95

3. Iklan surat kabar/buku/majalah 48 37,21

  4. Iklan media elektronik 40 31,01

  5. Supermarket/toko 13 10,08 Total 129 100,00

  Dari data didapatkan ternyata responden banyak mengenal produk penurun berat badan dari iklan surat kabar/buku/majalah. Hal ini dapat terjadi karena surat kabar/buku/majalah mudah didapatkan oleh responden di perpustakaan. Selain itu harga surat kabar/buku/majalah relatif terjangkau oleh responden yang berstatus sebagai mahasiswa bila mereka berminat untuk membeli. Majalah banyak memberikan sumbangan informasi mengenai produk penurun berat badan, terutama majalah wanita. Majalah wanita sering mengiklankan produk penurun berat badan karena sesuai dengan pembacanya yaitu ibu dan remaja putri. Meskipun produk penurun berat badan tidak selalu identik dengan wanita tetapi dalam kenyataannya wanita lebih memperhatikan penampilan tubuhnya dibandingkan pria.

  Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Sakti (2007) pada mahasiswa kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa responden banyak mengenal produk penurun berat badan dari iklan media elektronik. Hal ini dapat disebabkan karena responden kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lebih sering atau lebih dekat dengan media elektronik dibandingkan dengan media cetak atau sumber pengenalan lainnya sehingga responden lebih mengetahui produk penurun berat badan dari iklan yang ditayangkan pada media elektronik.

  Iklan media elektronik merupakan sumber pengenalan produk penurun berat badan yang memberikan informasi paling banyak setelah iklan surat kabar. Contoh iklan media elektronik adalah iklan pada televisi. Iklan pada televisi dapat dinikmati baik dari gambar maupun suaranya. Biasanya juga ditampilkan model yang menarik sehingga diharapkan konsumen lebih tertarik.

  

3. Pengaruh iklan terhadap pengambilan keputusan menggunakan produk

penurun berat badan

  Iklan mengenai produk penurun berat badan dapat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan responden dalam mengambil keputusan. Iklan yang dikemas dengan cukup persuasif dapat membuat seseorang yang mendengar atau melihat menjadi tertarik untuk menggunakan produk yang diiklankan. Hasil dari penelitian, sebanyak 14 responden (20%) mengakui bahwa iklan dapat memberikan pengaruh untuk memutuskan menggunakan produk penurun berat badan dan sebanyak 56 responden (80%) menyatakan bahwa iklan tidak memberikan pengaruh untuk mengambil keputusan menggunakan produk penurun berat badan.

  

Pengaruh iklan dalam pengambilan keputusan

mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta untuk menggunakan

produk penurun berat badan

  20,00% Berpengaruh Tidak berpengaruh 80,00%

Gambar 22. Pengaruh iklan dalam pengambilan keputusan mahasiswa kampus

  

I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menggunakan

produk penurun berat badan

  Dari 14 responden yang menyatakan bahwa iklan dapat memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan menggunakan produk penurun berat badan, semuanya memberikan alasan yang sama yaitu karena iklan mengenai produk penurun berat badan dikemas menarik dan persuasif sehingga membuat mereka tertarik. Iklan produk penurun berat badan biasanya dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, dengan janji-janji yang menggiurkan contohnya produk dapat bekerja dengan cepat, menampilkan model yang memiliki tubuh ideal sehingga membuat seseorang semakin tertarik, bahkan dengan mencantumkan nomor telepon yang dapat dihubungi. Selain itu frekuensi penayangan iklan yang cukup sering membuat seseorang menjadi lebih ingat akan produk tersebut.

  Tetapi tidak selamanya iklan produk penurun berat badan membuat seseorang menjadi tertarik untuk menngunakan produk penurun berat badan. Terdapat faktor- faktor lain yang akan dipertimbangkan seseorang dalam mengambil keputusan. Dari

  56 responden yang menyatakan bahwa iklan tidak memberikan pengaruh untuk mengambil keputusan menggunakan produk penurun berat badan, 47 responden menyatakan alasannya dan 9 responden tidak menyatakan alasannya. Alasan-alasan tersebut tampak pada tabel XVIII.

  Salah satu alasan yang menjadi pertimbangan responden dalam memutuskan untuk menggunakan produk penurun berat badan adalah mengenai efek sampingnya.

  Pengetahuan responden mengenai efek samping penggunaan produk penurun berat badan dapat membuat responden mengambil keputusan untuk tidak menggunakan produk penurun berat badan. Alasan lain yang dikemukakan adalah responden merasa tidak terganggu dengan berat badan mereka yang tidak ideal, sehingga bagaimanapun cara pengiklanan suatu produk penurun berat badan, mereka tetap tidak tertarik untuk menggunakannya.

  

Tabel XVIII. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta menyatakan bahwa iklan tidak memberikan pengaruh dalam

mengambil keputusan menggunakan produk penurun berat badan

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

1. Takut efek samping 18 32,15

  2. Merasa tidak terganggu dengan berat 13 23,21 badannya yang tidak ideal

  3. Hasil belum dapat dijamin dengan 13 23,21 pasti

  4. Harga produk penurun berat badan 3 5,36 mahal

  5. Tidak beralasan 9 16,07 Total 56 100,00

  Responden juga memiliki alasan bahwa hasil yang dijanjikan oleh iklan belum tentu seperti kenyataannya, dalam arti iklan bersifat “menipu”. Mereka beranggapan bila mereka membeli produk tersebut sama saja dengan membuang uang tanpa hasil yang nyata. Alasan harga juga menjadi pertimbangan responden dalam memutuskan untuk menggunakan produk penurun berat badan.

4. Ketertarikan responden untuk menggunakan produk penurun berat badan

  Bagian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar ketertarikan responden untuk menggunakan produk penurun berat badan berkaitan dengan kelebihan berat badan yang dialami responden. Ketertarikan dapat diwujudkan responden dengan menggunakan produk penurun berat badan. Data mengenai penggunaan produk penurun berat badan oleh responden tampak pada gambar di bawah ini.

  

Penggunaan produk penurun berat badan oleh

mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

28,57%

  5,72% Sedang mengunakan Dahulu menggunakan Belum pernah menggunakan 65,71% Gambar 23. Penggunaan produk penurun berat badan oleh mahasiswa

kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  Dari 70 responden terdapat 4 responden (5,72%) yang sedang menggunakan produk penurun berat badan yang seluruhnya adalah wanita. Responden yang dahulu pernah menggunakan produk penurun berat badan tetapi sekarang sudah tidak menggunakan lagi ada 20 orang (28,57%) terdiri dari 5 pria dan 15 wanita. Dan sisanya 46 responden (65,71%) belum pernah menggunakan produk penurun berat badan, terdiri dari 30 pria dan 16 wanita.

  Responden yang belum pernah menggunakan produk penurun berat badan dan yang dahulu pernah menggunakan tetapi sekarang sudah tidak menggunakan lagi diberikan pertanyaan apakah mereka tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan (kembali). Hasil yang didapatkan dari 66 responden adalah 11 responden (16,67%) menyatakan ingin menggunakan produk penurun berat badan sedangkan 55 responden (83,33%) menyatakan tidak ingin menggunakan produk penurun berat badan. Alasan alasan yang dikemukakan responden tampak pada tabel XIX dan tabel XX.

  Tabel XIX. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ingin menggunakan produk penurun berat badan

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

1. Masih ingin mengurangi berat

  8

  80 badan

  2. Tidak beralasan

  2

  20 Total 10 100 Responden yang ingin menggunakan produk penurun berat badan memiliki alasan bahwa mereka masih ingin menurunkan berat badan mereka. Mereka memiliki pemikiran bahwa produk penurun berat badan mampu memberikan solusi untuk menurunkan berat badan mereka.

  

Tabel XX. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta tidak ingin menggunakan produk penurun berat badan

  No. Alasan Jumlah jawaban Persentase

  (%)

1. Tidak mempermasalahkan berat badan 20 34,48

  2. Takut efek samping 10 17,24

  3. Tidak berhasil 9 15,52

  4. Ingin berolah raga saja 6 10,35

  5. Mahal 4 6,90

  6. Ingin melakukan pengaturan pola makan 2 3,44

  7. Tidak beralasan 7 12,07 Total 58 100,00

  Responden yang tidak ingin menggunakan produk penurun berat badan memiliki berbagai macam alasan. Alasan yang paling banyak dikemukakan adalah mereka tidak mempermasalahkan berat badan mereka dalam arti mereka tidak merasa terganggu dengan berat badan mereka yang sebenarnya tidak berada pada range normal sehingga merasa tidak perlu menggunakan produk penurun berat badan.

  Alasan yang lain adalah mereka takut akan efek samping yang mungkin akan timbul bila mereka menggunakan produk penurun berat badan. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa beberapa responden yang diwawancarai tidak berani menggunakan atau tidak ingin menggunakan kembali produk penurun berat badan karena efek samping yang ditimbulkannya. Beberapa responden lebih memilih olah raga dan mengatur pola makan sebagai solusi untuk menurunkan berat badannya.

  Mereka beranggapan bahwa olah raga dan pengaturan pola makan merupakan cara yang lebih baik untuk menurunkan berat badan meskipun membutuhkan waktu yang lama.

  Alasan lain yang dikemukakan responden sehingga tidak ingin menggunakan produk penurun berat badan adalah harga produk penurun berat badan yang mahal.

  Harga merupakan salah satu faktor yang ikut dipertimbangkan oleh responden untuk mengambil keputusan dalam menggunakan produk penurun berat badan. Hal ini juga terkait dengan keadaan ekonomi dari mahasiswa dalam arti uang saku atau penghasilan tiap bulan. Mahasiswa dengan uang saku lebih tinggi atau yang sudah berpenghasilan memiliki kesempatan lebih besar untuk membeli produk penurun berat badan dibanding dengan mahasiswa dengan uang saku yang lebih sedikit.

  Tetapi harga ternyata bukan merupakan faktor paling utama yang membuat responden tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan seperti tampak pada gambar 24.

  

Ketertarikan mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk

penurun berat badan bila harganya murah dan mudah

didapatkan

  20,00% Tertarik Tidak tertarik 80,00%

Gambar 24. Ketertarikan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan bila harga

murah dan mudah didapatkan Terbukti dari 70 responden, 56 responden (80,00%) menyatakan tetap tidak tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan meskipun harganya murah dan mudah didapatkan. Dan sisanya sebanyak 14 responden (20,00%) menyatakan tertarik menggunakan produk penurun berat badan apabila harganya murah dan mudah didapatkan.

  Lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pergaulan juga merupakan faktor yang dapat mendorong seseorang untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  Lingkungan tempat tinggal, contohnya keluarga, dapat memberikan motivasi kepada responden untuk menggunakan produk penurun berat badan, seperti tampak pada tabel XXI mengenai alasan responden menyatakan pentingnya penggunaan produk penurun berat badan untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan (pada bab pengetahuan). Dari 3 responden yang menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan merupakan hal paling penting untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan, 2 responden memberikan alasan mengikuti saran keluarga.

  

Tabel XXI. Alasan-alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta menyatakan bahwa konsumsi produk penurun berat badan

merupakan hal paling penting untuk orang yang

mengalami kelebihan berat badan

  No. Alasan Jumlah jawaban Persentase (%)

1. Mengikuti saran keluarga 2 66,67

  2. Tidak beralasan 1 33,33 Total 3 100,00

  Kemudian lingkungan pergaulan yang dekat dengan responden yang dalam kepada responden dalam mengambil keputusan untuk menggunakan produk penurun berat badan meskipun akhirnya keputusan tetap ditentukan oleh responden sendiri.

  

Ketertarikan mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

untuk menggunakan produk penurun berat badan

bila teman telah berhasil

tertarik dan ikut 82,86% menggunakan tetap tidak tertarik 17,14% menggunakan

  

Gambar 25. Ketertarikan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan

bila teman berhasil

  Dari 70 responden, 12 responden (17,14%) menyatakan ingin ikut menggunakan produk penurun berat badan seandainya teman mereka yang menggunakan produk penurun berat badan berhasil menurunkan berat badannya. Dan 58 responden lainnya (82,86%) menyatakan tetap tidak tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan meskipun teman yang menggunakan telah berhasil menurunkan berat badannya.

  Responden tertarik untuk ikut menggunakan produk penurun berat badan karena mereka ingin mencoba dengan harapan akan berhasil seperti teman mereka.

  Selain itu, mereka sudah melihat sendiri bukti nyata dari teman mereka sehingga mereka lebih termotivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan. besar memiliki alasan bahwa mereka belum merasa terganggu dengan berat badan mereka yang tidak ideal. Alasan-alasan responden dapat dilihat pada tabel XXII dan

  XXIII.

  Tabel XXII. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ingin ikut menggunakan produk penurun berat badan setelah melihat teman berhasil

  No Alasan Jumlah Persentase . jawaban (%)

  1 Mencoba dengan harapan bisa berhasil

  6

  50

  2 Sudah melihat bukti nyata

  6

  50 Total 12 100

  Tabel XXIII. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak ingin ikut menggunakanproduk penurun berat badan meskipun teman telah berhasil

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

  1 Takut efek samping 15 25,00

  2 Belum tentu cocok 8 13,33

3 Merasa tidak terganggu dengan berat 22 36,67 badannya yang tidak ideal

  4 Bosan karena tidak pernah berhasil 2 3,33

  5 Tidak beralasan 13 21,67 Total 80 100,00

  Dari berbagai data yang telah disebutkan di atas, tampak bahwa sebagian besar responden tidak tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan dengan berbagai macam alasan. Harga yang murah dan keberadaan produk penurun berat badan yang mudah didapatkan juga tidak membuat sebagian besar responden tertarik untuk menggunakannya. Bukti dari teman yang telah berhasil menurunkan berat badannya dengan menggunakan produk penurun berat badan-pun hanya membuat sedikit responden tertarik untuk menggunakan. Dari alasan yang dikemukakan, mereka lebih tertarik untuk memilih cara olah raga dan pengaturan pola makan dalam menurunkan berat badannya.

5. Saran dari dokter/apoteker/ahli gizi

  Dari 70 responden, 8 responden (11,43%) menyatakan pernah mendapatkan saran dari dokter/apoteker/ahli gizi untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  Responden lainnya sebanyak 62 orang (88,57%) tidak pernah disarankan oleh dokter/apoteker/ahli gizi untuk menggunakan produk penurun berat badan. Data tersebut tampak pada gambar 26 berikut ini.

  Pernah atau tidaknya mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mendapatkan saran dari dokter/apoteker/ahli gizi 11,43% Pernah disarankan Tidak pernah disarankan 88,57%

Gambar 26. Pernah tidaknya mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mendapatkan saran dari dokter/apoteker/ahli gizi

  Delapan orang yang pernah mendapatkan saran dari dokter/apoteker/ahli gizi berarti juga telah melakukan konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli gizi sebelum menggunakan produk penurun berat badan. Dapat diartikan juga bahwa mereka menyadari pentingnya berkonsultasi dahulu dengan pihak yang lebih kompeten sebelum menggunakan produk penurun berat badan. Dari 8 responden yang pernah disarankan oleh dokter/apoteker/ahli gizi, 4 responden (50%) mengikuti saran tersebut, sedangkan 4 responden lainnya (50%) tidak mengikuti saran tersebut.

  Semua responden yang mengikuti saran dokter/apoteker/ahli gizi memiliki alasan yang sama, yaitu mereka percaya dengan apa yang disarankan oleh dokter/apoteker/ahli gizi karena dokter/apoteker/ahli gizi adalah pihak yang lebih menguasai. Responden yang tidak mengikuti saran dokter/apoteker/ahli gizi memiliki alasan seperti tampak pada tabel XXIV.

  Tabel XXIV. Alasan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak mengikuti saran dokter/apoteker/ahli gizi

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

1 Tidak berminat dan malas

  3

  75

  2 Mahal

  1

  25 Total 4 100 Meskipun sudah disarankan oleh dokter/apoteker/ahli gizi, ternyata beberapa responden tidak mengikuti saran mereka. Tidak adanya minat dari responden untuk menggunakan produk penurun berat badan menjadi salah satu alasan mengapa responden tidak mengikuti saran dokter/apoteker/ahli gizi untuk menggunakan produk penurun berat badan. Selain itu, harga produk penurun berat badan yang mahal juga dapat menjadi alasan responden tidak mengikuti saran dokter/apoteker/ahli gizi.

  

6. Pandangan responden mengenai alasan seseorang menggunakan produk

penurun berat badan

  Pada bagian ini responden menyatakan pandangan mereka mengenai alasan sebagian orang tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan. Dari tabel

  XXV tampak sebagian besar responden beranggapan bahwa seseorang tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan dengan tujuan supaya memiliki berat badan ideal sehingga terlihat lebih menarik. Memiliki berat badan ideal memang merupakan dambaan setiap orang. Untuk mendapatkan berat badan ideal terdapat bermacam-macam cara yang dilakukan. Salah satu cara yang seringkali menjadi pilihan adalah dengan menggunakan produk penurun berat badan.

  

Tabel XXV. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mengenai alasan seseorang

menggunakan produk penurun berat badan

  No. Alasan Jumlah Persentase jawaban (%)

  1 Untuk menambah rasa percaya diri 47 36,72

2 Supaya terlihat lebih menarik 56 43,75 (langsing/ideal)

  3 Untuk menjaga stamina (kesehatan) 13 10,16 tubuh

  4 Banyak tersedia di pasaran dan 8 6,25 harganya murah

  5 Lain-lain:Gengsi dengan lingkungan 4 3,12 Total 128 100,00

  Terdapat beberapa responden yang menambahkan jawaban lain-lain. Dan seluruh responden menuliskan alasan gengsi dengan lingkungan sebagai salah satu alasan penggunaan produk penurun berat badan. Seseorang yang menyatakan alasan tersebut mungkin tidak memiliki tujuan yang berhubungan dengan penampilannya. Ada orang-orang yang menggunakan produk penurun berat badan hanya untuk mengikuti tren yang ada atau sekedar meniru perlakuan teman-teman dekatnya.

  Alasan penggunaan produk penurun berat badan untuk menjaga stamina (kesehatan) tubuh lebih dihubungkan pada penyakit-penyakit yang dapat timbul akibat kelebihan berat badan . Orang yang menderita kelebihan berat badan menjadi takut akan kemungkinan munculnya penyakit-penyakit akibat kelebihan berat badan pada tubuh mereka, seperti jantung koroner dan diabetes melitus. Alasan tersebut membuat mereka memilih cara menggunakan produk penurun berat badan untuk menurunkan berat badan mereka.

7. Pandangan responden mengenai alasan penggunaan produk penurun berat badan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman

  Pada zaman sekarang banyak orang yang ingin dianggap tidak ketinggalan zaman. Mereka berlomba-lomba mengikuti tren-tren yang up to date, tidak hanya yang berhubungan dengan penampilan luar saja, tetapi juga sampai kepada gaya hidup. Hal ini juga tidak lepas dari budaya konsumerisme yang mulai muncul. Ada orang-orang yang menggunakan produk penurun berat badan karena mereka hanya ingin mengikuti gaya hidup yang mereka anggap “tinggi”, atau hanya ingin mengikuti gaya hidup seperti artis-artis idola mereka supaya mereka dianggap mampu mengikuti perkembangan zaman. Penggunaan produk penurun berat badan dengan alasan seperti ini tidak tepat karena orang yang melakukannya cenderung hanya mengikuti saja tanpa berusaha tahu mengenai produk itu sendiri, misalnya mengenai efek sampingnya bagi kesehatan.

  Enam puluh delapan responden (97,14%) tidak setuju dengan alasan penggunaan produk penurun berat badan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman.

  Dan hanya 2 responden saja (2,86%) yang setuju dengan alasan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak menyetujui alasan penggunaan produk penurun berat badan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman atau hanya untuk mengikuti tren yang up to date saja. Data mengenai hal tersebut dapat dilihat pada gambar 27.

  

Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta mengenai alasan penggunaan

produk penurun berat badan supaya tidak dianggap

ketinggalan zaman

  2,86% Setuju Tidak setuju 97,14%

Gambar 27. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta mengenai alasan penggunaan produk penurun berat badan supaya

tidak dianggap ketinggalan zaman

  

8. Pandangan responden mengenai pernyataan bahwa untuk bisa tampil

menarik, tubuh harus ideal

  Mengenai pernyataan ini, 15 responden (21,43%) menyatakan setuju menarik sebenarnya tidak hanya bergantung pada bentuk tubuh saja. Cara seseorang membawakan diri lebih menentukan dia dapat disebut menarik atau tidak. Tetapi memang tidak sedikit orang yang melihat orang dari penampilan luar saja, salah satunya adalah dari bentuk tubuh. Karena alasan itu maka orang menjadi memiliki niat untuk menggunakan produk penurun berat badan.

  

Pandangan mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bahwa untuk bisa

tampil menarik, seseorang harus memiliki tubuh ideal

21,43%

  Setuju Tidak setuju 78,57%

Gambar 28. Pandangan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta bahwa untuk bisa tampil menarik,

seseorang harus memiliki tubuh ideal

  Data yang diperoleh dari 15 responden yang menyetujui bahwa tubuh ideal merupakan syarat untuk tampil menarik, hanya 1 orang saja (6,67%) yang setuju bahwa untuk mendapatkan tubuh ideal tersebut orang perlu menggunakan produk penurun berat badan. Responden lainnya sebanyak 14 responden (93,33%) menyatakan tidak setuju bahwa untuk mendapatkan berat badan ideal tersebut orang perlu menggunakan produk penurun berat badan. Mereka lebih setuju bila orang mendapatkan berat badan ideal dengan cara yang lain, seperti olah raga dan pengaturan pola makan.

  Dari data mengenai motivasi, tampak bahwa motivasi responden untuk menggunakan produk penurun berat badan cukup rendah. Sebanyak 66 responden yang belum pernah menggunakan produk penurun berat badan atau dahulu pernah menggunakan tetapi sekarang sudah tidak menggunakannya lagi, hanya 16,67% saja yang menyatakan tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan (kembali). Responden yang menyatakan tidak ingin menggunakan produk penurun berat badan lebih memilih olah raga dan pengaturan pola makan untuk menurunkan berat badan.

  Selain itu, meskipun harganya murah dan mudah didapatkan, hanya 20% responden saja yang menyatakan tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan . Iklan dan bukti nyata dari teman yang sudah pernah menggunakan produk penurun berat badan dan berhasil menurunkan berat badannya juga tidak terlalu memberikan motivasi kepada responden untuk memutuskan menggunakan produk penurun berat badan. Sebanyak 80% responden menyatakan iklan tidak memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan menggunakan produk penurun berat badan. Hanya 17,14% saja yang menyatakan ingin menggunakan produk penurun berat badan bila melihat teman mereka yang menggunakan produk penurun berat badan berhasil menurunkan berat badannya.

D. Rangkuman Pembahasan

  Hasil penelitian mengenai karakteristik responden, pengetahuan responden dan motivasi responden untuk menggunakan produk penurun berat badan dapat dirangkum ke dalam bentuk tabel seperti tampak pada tabel XXVI, XXVII, dan XXVIII berikut.

1. Karakteristik mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  

Tabel XXVI. Rangkuman karakteristik mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta

Karakteristik Keterangan Persentase (%)

  a. Fakultas FKIP 47,14 Ekonomi 34,29 Sastra 18,57 b. Jenis Kelamin Pria

  50,00 Wanita 50,00

c. Umur 18 tahun 7,14

19 tahun 21,43

  20 tahun 20,00 21 tahun 24,29 22 tahun 14,29 23 tahun 4,29 24 tahun 0,00 25 tahun 4,29 26 tahun 1,41 27 tahun 2,86 d. Indeks Massa Tubuh

(IMT) 23 - 24,9 kg/m² 37,14

  25 - 29,9 kg/m² 48,57 14,29 ≥ 30 kg/m² e. Penghasilan dan atau

uang saku per bulan antara Rp. 100.000,00- Rp.250.000,00 25,71

antara Rp. 300.000,00- Rp.400.000,00 35,72 antara Rp. 450.000,00- Rp.700.000,00 28,57 antara Rp. 750.000,00- Rp.1.000.000,00 10,00 f. Status tempat tinggal di

Yogyakarta Dengan orang tua 51,43

  Indekost atau kontrak 45,71

2. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai produk penurun berat badan dan hal-hal yang berkaitan

  

Tabel XXVII. Rangkuman pengetahuan mahasiswa kampus I

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengenai produk penurun berat badan

dan hal-hal yang berkaitan

  Pengetahuan Keterangan Persentase (%)

  a. Merek dan bentuk produk penurun berat badan

  • Merek produk penurun berat badan

  Slimming Tea 23,95 Natur Slim 20,17 Merit 18,49 Trim Spa 14,71 Hai Ping 11,35 Diyet 7,56 WRP 2,93 Ideal 0,84

  • Bentuk produk penurun berat badan

  Jamu tradisional 21,82 Kapsul 20,46 Pil 19,55 Susu 15,46 Tablet 11,36 Serbuk 8,18 Teh 3,17 Brosur 34,48

  b. •Sumber informasi Kemasan

  27.59 Dokter/apoteker/ahli gizi 13,79 Penjual produk penurun 12,07 berat badan Teman 6,04 Pengalaman pribadi 4,31 Iklan media cetak 1,72

  • Informasi tambahan dari

  Tidak pernah 70,00 dokter/apoteker/ahli gizi/ penjual Pernah 30,00

  • Jelas 76,19 Kejelasan informasi
  • Tidak jelas 23,81

c. Konsultasi dengan dokter/apoteker/ahli

  Penting 97,14 gizi Tidak penting 2,86 Tabel XXVII (lanjutan)

  Ada 61,77

  d. Efek samping Tidak ada 2,94 Tidak semuanya memiliki 35,29 Gangguan ginjal 33,79

  Contoh efek samping Dehidrasi berat 26,90 Gangguan jantung 18,62 Gangguan kehamilan 14,48 Gangguan lambung (maag) 4,14 Diare 2,07 Memperhatikan 21,43

  e. •Komposisi Tidak memperhatikan 78,57

  • •Kegunaan masing-masing Mengerti 0,00

    komponen

  Tidak mengerti 85,71 Mengerti sebagian 14,29

  • •Adanya zat yang dapat Mengetahui 72,86

    menghambat penyerapan sari makanan Tidak mengetahui 27,14

f. Kepedulian mengenai peringatan

  Memperhatikan 54,29 dan larangan Tidak memperhatikan 45,71

  Efektif 8,57

  g. •Pandangan mengenai keefektifan Tidak efektif 91,43

  • •Pengetahuan mengenai hasil Hasil cepat 18,57

    yang didapat

  Hasil tidak cepat 81,43

  • Produk yang bekerja dengan

  Mengetahui 98,57 menurunkan kadar air, sifatnya tidak akan langgeng

  Tidak mengetahui 1,43

  h. •Dampak ketergantungan Berdampak pada kesehatan 95,71 penggunaan produk pada kesehatan

  Tidak berdampak pada 4,29 kesehatan Tabel XXVII (lanjutan)

  • Dampak penurunan berat badan secara drastis pada kesehatan

  Berdampak pada kesehatan 94,29 Tidak berdampak pada kesehatan

  5,71 i. Kelebihan berat badan dapat menimbulkan penyakit

  Mengetahui 82,86 Tidak mengetahui 17,14 j. Pentingnya konsumsi produk penurun berat badan untuk orang yang mengalami kelebihan berat badan

  Bukan hal paling penting (solusi utama) 95,71 Merupakan hal paling penting 4,29

  

3. Motivasi mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

untuk menggunakan produk penurun berat badan

Tabel XXVIII. Rangkuman motivasi mahasiswa kampus I Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta untuk menggunakan produk penurun berat badan

  Motivasi Keterangan Persentase (%)

a. Pengenalan

  Mengenal 97,14 Tidak mengenal 2,86

  b. Sumber pengenalan Keluarga 7,75 Teman 13,95 Iklan surat kabar/buku/majalah 37,21 Iklan media elektronik 31,01 Supermarket/toko 10,08 c. Pengaruh iklan dalam pengambilan keputusan

  Berpengaruh 20,00 Tidak berpengaruh 80,00

  d. Ketertarikan untuk menggunakan

  • Penggunaan produk penurun berat badan Sedang menggunakan 5,72 Dahulu pernah, sekarang sudah tidak menggunakan 28,57

  Belum pernah 65,71 Tabel XXVIII (lanjutan)

  • Keinginan menggunakan produk dari responden yang dahulu pernah menggunakan maupun yang belum pernah menggunakan Ingin menggunakan 16,67

  Tidak ingin menggunakan 83,33

  • Ketertarikan menggunakan bila harga murah dan mudah didapat Tertarik 20,00

  Tidak tertarik 80,00

  • Ketertarikan menggunakan bila teman berhasil Tertarik dan ikut menggunakan 17,14

  Tetap tidak tertarik 82,86

  e. Saran dari dokter/apoteker/ahli gizi Tidak pernah 88,57 Pernah 11,43

  • Mengikuti saran 50,00
  • Tidak mengikuti saran 50,00

  

f. Pandangan mengenai Untuk menambah rasa percaya diri 36,72

alasan seseorang menggunakan produk penurun berat badan

  Supaya terlihat lebih menarik 43,75 (langsing/ideal) Untuk menjaga stamina (kesehatan) 10,16 tubuh Banyak tersedia di pasaran dan 6,25 harganya murah Lain-lain: 3,12

  Gengsi dengan lingkungan

  

g. Pandangan mengenai Setuju 2,86

alasan penggunaan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman

  Tidak setuju 97,14

h. Pandangan untuk tampil

  Tidak setuju 78,57 menarik, tubuh harus ideal Setuju 21,43

  • Setuju produk penurun berat badan 6,67

    sebagai solusi

  • Tidak setuju produk penurun berat 93,33 badan sebagai solusi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  1. Karakteristik mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (47,14%), wanita (50%), umur 21 tahun

  2

  (24,29%), IMT 25-29,9 kg/m (48,57%), uang saku tiap bulan 300-400 ribu (35,72%), dan tinggal bersama orang tua (51,43%).

  2. Pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: merek paling dikenal Slimming Tea (23,95%), jenis paling dikenal jamu tradisional (21,82%), informasi dari brosur (34,48%), konsultasi penting (97,14%), produk berefek samping (61,77%), tidak memperhatikan komposisi (78,57%), memperhatikan peringatan dan larangan (54,29%), produk tidak efektif (91,43%), ketergantungan penggunaan berdampak pada kesehatan (95,71%), penurunan berat badan secara drastis berdampak pada kesehatan (94,29%), kelebihan berat badan menimbulkan penyakit (82,86%), penggunaan produk bukan hal paling penting (95,71%).

  3. Motivasi mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: mengenal produk (97,14%), dari iklan surat kabar (37,21%), iklan tidak berpengaruh (80%), tidak ingin menggunakan (83,33%), pernah disarankan ahli (11,43%), menggunakan supaya terlihat menarik (43,75%), tidak setuju alasan supaya tidak

  B.

  

Saran

  1. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara karakteristik demografi, motivasi, pengetahuan, dan pola penggunaan produk penurun berat badan pada mereka yang menggunakan produk penurun berat badan.

  2. Perlu dilakukan penyuluhan dan seminar mengenai penggunaan produk penurun berat badan yang rasional kepada mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta supaya tidak terjadi penggunasalahan produk penurun berat badan. Kemudian untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan tingkat pengetahuan mengenai penggunaan produk penurun berat badan yang rasional antara sebelum dan sesudah mendapatkan penyuluhan dan seminar, dapat dilakukan penelitian secara eksperimental yang dilakukan dengan membandingkan pengetahuan mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dan seminar.

DAFTAR PUSTAKA

  Adam, J.M.F., Adriansjah, H., 2004, Manfaat Obat penurun Berat Badan Terhadap Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada Penderita Obes, Medika, XXX, 623- 624.

  Agras, W.S., 2003, Scientific American Medicine, Volume I, 669-676, Web MD Inc., New York. Anonim, 2004, Lemas Akibat Obat Pelangsing, http:/www.mediasehat.com, Diakses tanggal 25 April 2006. Anonim, 2006, Hati-hati Mengkonsumsi Obat Pelangsing, http://new.merapi.net/index.php?view=news/169&PHPSESSID=a9b2547ac71

  450691b5241480e. Diakses pada 4 Oktober 20006. Dharmmesta, B.S., dan Handoko, H., 2000, Manajemen Pemasaran Analisis Perilaku Konsumen , Edisi I, Cetakan III, 25-54, BPFE, Yogyakarta.

  Dzukarnain, B., dan Widowati, L., 1996, Dukungan Ilmiah Penggunaan Ramuan Untuk Obesitas, Cermin Dunia Kedokteran, III, 49-54. Fitzgerald, P.A., 2002, Current Medical Diagnosis and Treatment 2002, 41

  st

  Edition, Mc Graw Hill, NewYork. Flier, J.S., 2001, Harrison’s Principles of Internal Medicine, 15

  th

  Ed., 1, 479-490, Mc Graw Hill Medical Publishing Division, New York. Hadi, S., 1991, Analisis Butir untuk Instrumen, Cetakan Pertama, Andi Offset, Yogyakarta. Hadi, S., 2002, Metodologi Research, Jilid 2, Andi Offset, Yogyakarta. Hadi, S., 2004, Metodologi Research, Jilid 1, Penerbit Andi, Yogyakarta. Hartono, A., 2000, Jangan Sembarangan Makan Obat Pelangsing, http://www.indomedia.com/intisari/2000/juni/pelangsing6.htm. Diakses tanggal 4 Oktober 2006. Iis, 2002, All About Overweight, http://www.pdpersi.co.id/data/www/htdocs/persi/index.php. Diakses 20 Maret 2006. Kotler, P., dan Amstrong, G., 2004, Principles of Marketing, diterjemahkan oleh Alexander Sindoro, Edisi 9, Jilid 1, 199-220, PT. Indeks, Jakarta.

  Liliani, N.D., 2004, Kajian Motivasi, Pengetahuan, Tindakan, dan Pola Penggunaan Obat Tradisional Cina pada Pengunjung dari 8 Toko Obat Berijin di Yogyakarta Periode April-Mei 2004, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Linder, M.C., 1992, Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian secara

  Klinis: Metabolisme Energi, Konsumsi dan Penggunaannya , diterjemahkan oleh Aminuddin Parakkasi, Cetakan I, 366, UI Press, Jakarta.

  Lunggana, I.M., 2001, Tubuh Langsing Idaman Perempuan, http://www.kompas.com/kompascetak/0110/08/dikbud/tubu42.htm. Diakses tanggal 4 Oktober 2006. Mc Carthy, A., 1995, How to Lose Weight and Keep Fit, diterjemahkan oleh T.

  Hermaya, 119-139, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Nawawi, H., 2005, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cetakan ke-11, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

  Ningsih, K., 2005, Perilaku Penggunaan Obat Tradisional pada Pengunjung Kios Jamu di Kota Yogyakarta Periode Desember 2004 – Februari 2005 : kajian Motivasi, Pengetahuan, dan Penggunaan, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Notoatmodjo, S., 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, 113-145, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Pratiknya, A.W., 2001, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan , Edisi I, 85-99, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Prawitasari, J.E., 1998, Catatan Kuliah Metode Kualitatif untuk Digunakan dalam

  Kancah Penelitian , Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Rahardja, E. M., Serba-serbi Obat Pelangsing, http://www.kompas.com/kesehatan/news/0509/12/115324.htm. Diakses tanggal 4 Oktober 2006. Ridjab, D.A, Ridwan,C., Judio,G., dan Hermansjah,M., 2006, Kelebihan Berat

  Badan dan Sistem kardiovaskular: Efek Kelebihan Berat Badan dan Manfaat Penurunan Berat Badan, Medika, XXXII, No.10, 628-633. Sakti, P.C.P., Kajian Motivasi dan Pengetahuan untuk Menggunakan Produk

  Pelangsing pada mahasiswa Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharama, Yogyakarta.

  Sarwono, S, 2004, Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya, Cetakan Ketiga, 1-68, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Smet, B., 1994, Psikologi Kesehatan, PT. Grasindo, Jakarta. Suharmiati dan Maryani, H., 2003, Khasiat dan Manfaat Jati Belanda si Pelangsing

Tubuh dan Peluruh Kolesterol , Cetakan Pertama, Agromedia Pustaka, Jakarta.

Susanto, Abdi, 2005, Langsing Plus Seksi Pakai Jarum, http://www.kompas.com/kshtn/news/0502/02/093501.htm, Diakses tanggal 25

  April 2006. Tjay, T. H., dan Raharja, K., 2002, Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan, dan

  

Efek-efek Sampingnya , Edisi V, Cetakan ke-1, 461-469, PT. Elex Media

Komputindo, Jakarta.

  Wahyu, G.G., 2006, Kegemukan dan Obesitas, http://www.ukhuwah.or.id/?q=node/44. Diakses tanggal 4 Oktober 2006. Yulianto, W.A., 2003, Diet Ideal Pelangsing Tubuh, http://www. sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0801/kes2.html. Diakses tanggal 4 Oktober 2006.

KUESIONER PENELITIAN

  A. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini sesuai dengan keadaan Anda yang sesungguhnya Fakultas :…………………….. Jenis kelamin :…………………….. Umur :…………………….. Berat badan :…………………….. Tinggi badan :…………………….. Penghasilan/uang saku per bulan :…………………….. Tinggal disini : a. Dengan Orang tua

  b. Kost / Kontrak

  c. Dengan saudara Catatan: Produk penurun berat badan adalah semua produk baik dalam bentuk seduh, bubuk, larutan, kapsul, pil, krim, dan lain-lain yang berguna untuk menurunkan berat badan, melangsingkan tubuh dan mengencangkan perut, yang dijual bebas di pasaran.

  B. Lingkarilah jawaban yang sesuai dengan pilihan (keadaan/kondisi) Anda, dan isilah titik-titik dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan Anda yang sesungguhnya!

  1. Apakah Anda mengenal produk penurun berat badan ?

  a. Ya

  b. Tidak

  2. Dari mana Anda mengenal produk penurun berat badan?

  a. Keluarga

  b. Teman

  c. Iklan surat kabar/buku/majalah

  d. Iklan media elektronik

  e. Langsung dari supermarket/ toko yang menjual produk tersebut

  3. Apakah iklan dapat mempengaruhi Anda untuk memutuskan menggunakan produk penurun berat badan ? a. Ya

  b. Tidak Alasan : …………………………………................................................................ ……………………………………………………………………………………..

  4. Bentuk produk penurun berat badan apa yang Anda ketahui? (Jawaban boleh lebih dari satu) a. Serbuk

  e. Susu

  b. Pil

  f. Jamu

  c. Kapsul

  g. Lainnya (tolong sebutkan) d. Tablet ……………………………………..

  5. Apa merk produk penurun berat badan yang anda ketahui? (Jawaban boleh lebih dari satu) a. Natur Slim

  e. Hai Ping

  b. Trim Spa

  f. Slimming Tea

  c. Merit

  g. Lainnya (tolong sebutkan) d. Diyet ………………………………...........

  6. Apakah Anda pernah menggunakan/mengkonsumsi produk penurun berat badan?

  a. Sedang

  b. Belum pernah

  c. Dulu pernah, sekarang sudah tidak lagi Jika belum pernah atau dulu pernah tetapi sekarang sudah tidak lagi, apakah Anda tertarik untuk menggunakan/mengkonsumsi produk penurun berat badan (lagi)? a. Ya

  b. Tidak Alasan:……………………………………………………………………………

  7. Saat ini sedang merebak tren penggunaan produk penurun berat badan. Apakah Anda setuju bila produk penurun berat badan digunakan dengan alasan supaya tidak dianggap ketinggalan zaman? a. Ya

  b. Tidak

  8. Bila harganya terjangkau dan mudah didapatkan, apakah Anda tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan? a. Ya

  b. Tidak

  9. Menurut Anda, mengapa sebagian orang tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan? (Jawaban boleh lebih dari satu) a. Untuk menambah rasa percaya diri

  b. Supaya terlihat lebih menarik ( langsing/ideal)

  c. Untuk menjaga stamina (kesehatan) tubuh

  d. Banyak tersedia di pasaran dan harganya murah e. Lainnya (tolong sebutkan):………………………………………………….... …………………………………………………………………………………

  10. Apakah Anda pernah disarankan oleh dokter/ apoteker/ ahli gizi untuk menggunakan produk penurun berat badan? a. Ya

  b. Tidak c. Jika ya, apakah Anda melakukan saran yang diberikan oleh dokter/ apoteker/ ahli gizi tersebut? a. Ya

  b. Tidak Alasan:…………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

  11. Seandainya teman Anda menggunakan produk penurun berat badan dan ternyata berhasil menurunkan berat badannya, apakah yang akan Anda lakukan? a. Ikut menggunakan produk penurun berat badan

  b. Tetap tidak tertarik untuk menggunakan produk penurun berat badan Alasan:…………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

  12. Menurut Anda apakah produk penurun berat badan benar-benar efektif untuk menurunkan berat badan? a. Ya

  b. Tidak Alasan:…………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

  13. Menurut Anda apakah penggunaan produk penurun berat badan akan memberikan hasil yang cepat untuk menurunkan berat badan? a. Ya

  b. Tidak

  14. Adanya anggapan bahwa untuk bisa tampil menarik, tubuh harus ideal. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut?

  a. Ya

  b. Tidak Jika ya, apakah Anda setuju bahwa untuk mendapatkan tubuh ideal perlu menggunakan produk penurun berat badan? a. Ya

  b. Tidak

  15. Apakah Anda setuju dengan pernyataan bahwa kelebihan berat badan dapat menyebabkan berbagai penyakit? a. Ya

  b. Tidak

  16. Menurut anda, apakah produk penurun berat badan mempunyai efek samping?

  a. Ya

  b. Tidak

  c. Tidak semua produk penurun berat badan memiliki efek samping,contohnya sediaan herbal Jika ya, contoh efek samping apa yang Anda ketahui? (Jawaban boleh lebih dari satu) a. Gangguan ginjal

  d. Dehidrasi berat

  b. Gangguan jantung (kekurangan cairan)

  c. Gangguan kehamilan

  e. Lainnya (tolong sebutkan) …………………………………

  17. Dari manakah anda mendapatkan sumber informasi utama tentang produk penurun berat badan (meliputi komposisi, kegunaan, cara pakai, aturan pakai, dosis/takaran, peringatan, dan larangan) ?

  a. Kemasan

  b. Brosur

  c. Penjual produk penurun berat badan

  d. Dokter/ apoteker/ ahli gizi

  e. Pengalaman pribadi f. Lainnya (tolong sebutkan) : …………………………………………………..

  18. Apakah Anda mendapat informasi tambahan mengenai produk penurun berat badan dari penjual produk penurun berat badan atau dokter/ apoteker/ ahli gizi? a. Ya

  b. Tidak Jika ya, apakah informasi yang Anda dapatkan cukup jelas?

  a. Ya

  b. Tidak

  19. Apakah Anda memperhatikan bahan penyusun (komposisi) dalam produk penurun berat badan? a. Ya

  b. Tidak

  20. Apakah Anda mengerti kegunaan masing-masing bahan yang digunakan dalam produk penurun berat badan? a. Ya

  b. Tidak

  c. Hanya sebagian

  21.Pentingkah bagi pengguna produk penurun berat badan untuk berkonsultasi dahulu dengan dokter/ apoteker/ ahli gizi sebelum menggunakan produk penurun berat badan?

  a. Ya

  b. Tidak

  22. Apakah Anda mengetahui peringatan dan larangan yang harus dipatuhi dalam menggunakan produk penurun berat badan? a. Ya

  b. Tidak

  23. Menurut Anda, apakah ketergantungan penggunaan produk penurun berat badan akan mempengaruhi kesehatan seseorang? a. Ya

  b. Tidak

  24.Apakah konsumsi/ penggunaan produk penurun berat badan merupakan hal paling penting untuk orang yang kelebihan berat badan? a. Ya

  b. Tidak Alasan:…………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

  25. Menurut Anda, apakah benar bila produk penurun berat badan bekerja dengan menurunkan kadar air dalam tubuh, efeknya akan bersifat langgeng ( berat badan tidak akan naik lagi)?

  a. Ya

  b. Tidak

  26. Menurut yang Anda ketahui, apakah dalam beberapa produk penurun berat badan terdapat zat yang dapat menghambat penyerapan sari-sari makanan? a. Ya

  b. Tidak

  27. Menurut Anda, apakah penurunan berat badan secara drastis dengan menggunakan/ mengkonsumsi produk penurun berat badan dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan?

  a. Ya

  b. Tidak

  

Periksalah kembali jawaban Anda, pastikan semua soal terjawab

▒TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI ANDA▒

  Data responden I

  Fakultas / Program studi :Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Ekonomi Koperasi

  Jenis Kelamin : Pria Umur : 21 tahun Berat badan : 85 kg Tinggi badan : 165 cm Penghasilan/uang saku per bulan : Rp. 500.000,00 Tinggal di sini : Kost (P) : Peneliti (R) : Responden (P) : “Selamat siang Mas, bisa minta waktunya sebentar?” (R) : “Ya, Mbak. Ada apa ya?” (P) : “Saya mahasiswa Farmasi, sedang penelitian tentang produk penurun berat badan.Bisa minta waktunya sebentar untuk mengisi kuesioner?” (R) : “Ooo boleh.” (P) : “Sambil ngisi kuesioner boleh nanya-nanya ya Mas?” (R) : “Ya, boleh aja.” (P) : “Oke. Maaf Mas, apa Mas tahu tentang produk penurun berat badan?” (R) : “Oh, iya, saya tahu.” (P) : “Banyakan tahu dari mana Mas?” (R) : “Ya dari iklan sih paling banyakya iklan di majalah sama di tivi, tapi dari teman-teman juga.” (P) : “Maaf Mas, apakah Mas pernah pakai produk penurun berat badan?” (R) : “Wah, jujur pa enggak ni Mbak??Hehe…”

  (R) : “Mmmmm… iya pernah sih, sekali, coba-coba siapa tahu berhasil” (P) : “Memang dari keinginan diri sendiri atau terpengaruh iklan, atau barangkali ada teman yang menganjurkan?” (R) : “Dari diri sendiri sih Mbak.” (P) : “Bisa sampai tertarik pakai produk penurun berat badan alasannya apa

  Mas?” (R) : “Jelas pengen menurunkan berat badan dong.” (P) : “Berhasil nggak Mas?” (R) : “Enggak Mbak.” (P) : “Emang produk jenis apa yang Mas pakai?” (R) : “Ya sejenis teh gitulah.” (P) : “Pakainya berapa lama? Ada efek sampingnya nggak?” (R) : “Cuma tiga minggu paling. Nggak rutin juga sih. Efek samping kayaknya nggak ada. Cuma kalo berhenti minum, selera makan jadi meningkat.

  Mungkin ngga berhasilnya karena nggak diimbangi olah raga juga kali Mbak.”

  (P) : “ Baca komposisinya nggak Mas?isi produk itu apa gitu?” (R) : ” Enggak tuh Mbak, saya nggak pernah liat-liat.” (P) : “Ooo gitu ya. Terus tertarik untuk pakai lagi ngga Mas?” (R) : “Enggak mbak. Kayaknya mending olahraga sama jaga makan aja.” (P) : “Oke, makasih ya Mas.” (R) : “Sama-sama.”

  Data Responden II

  Fakultas / Program studi :Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan / Bimbingan dan Konseling

  Jenis Kelamin : Wanita Umur : 21 tahun Berat badan : 60 kg Tinggi badan : 145 cm Penghasilan / uang saku per bulan : Rp. 500.000,00 Tinggal di sini : Kost (P) : Peneliti (R) : Responden (P) : “ Selamat siang Mbak, bisa minta waktu sebentar?” (R) : “ Ya” (P) : “ Saya mahasiswa Farmasi, sedang penelitian tentang produk penurun berat badan. Saya mau minta tolong Mbak untuk mengisi kuesioner dan wawancara sebentar, bisa Mbak?”

  (R) : “ Wah cocok banget sama Saya, Mbak. Nggak papa Mbak, lagian Saya juga baru kosong.” (P) : “ Oya, kalau gitu silakan Mbak mengisi kuesioner nanti kita sambil wawancara aja.” (R) : “ Ya” (P) : “ Apakah Mbak tahu produk penurun berat badan?” (R) : “ Iya, tahu Mbak.” (P) : “Tahu dari mana mbak?”

  (P) : “ Maaf, apakah Mbak pernah menggunakan?” (R) : “Iya, pernah Mbak.” (P) : “ Maaf, kalau boleh tahu, Mbak pakai jenis apa?” (R) : “ Pakai “Slimming tea” Mbak, jenis teh gitu Mbak.” (P) : “Berapa lama pakainya Mbak? Berhasil nggak?” (R) : “ Cuma pakai 2 minggu Mbak, habis itu berhenti soalnya jadi diare. Nggak tau kenapa tuh Mbak. Ngga ada hasilnya malah diare, ya udah akhirnya berhenti.”

  (P) : “ Terus sekarang masih kepengen pakai lagi nggak Mbak?” (R) : “ Ngga Mbak soalnya takut kalau ada apa-apa.” (P) : “ Pas beli Slimming tea dulu Mbak baca-baca kandungan atau isinya ngga?” (R) : “ Enggak tuh Mbak. Aku sih percaya aja kok.” (P) : “ Dulu bisa tertarik karena diri sendiri apa teman-teman, atau iklan mungkin?” (R) : “ Ya dari diri sendiri pengen kurus, tapi temen-teman juga menganjurkan buat pakai, jadi akhirnya pakai.” (P) : “ Oh gitu ya Mbak, ya udah kalau gitu makasih ya.” (R) : “ Sama-sama”

  Data Responden III

  Fakultas / Program Studi : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Akuntansi

  Jenis Kelamin : Wanita Umur : 19 tahun Berat badan : 70 kg Tinggi badan : 163 cm Penghasilan / Uang saku per bulan : Rp. 200.000,00 Tinggal di sini : Dengan Orang Tua (P) : Peneliti (R) : Responden (P) : “ Siang Mbak.Maaf Mbak, bisa minta waktunya sebentar?” (R) : “ Ya, ada apa ya?” (P) : “ Saya mahasiswa Farmasi sedang penelitian tentang produk penurun berat badan, Mbak bisa bantu untuk mengisi kuesioner?” (R) : “ Oh ya, bisa Mbak.” (P) : “ Kalau begitu tolong diisi ya Mbak, dengan alasan-alasan juga kalau diminta. Maaf, kalau Mbak bersedia sambil ngisi kita bisa ngobrol-ngobrol tentang produk penurun berat badan.”

  (R) : “ Oh ya Mbak, nggak papa.” (P) : “ Oke. Mbak tahu tentang produk penurun berat badan?” (R) : “ Tahu beberapa Mbak.” (P) : “ Contohnya?” (R) : “ Ya, “Sliming tea”, “Natur Slim”, “Diyet” , “Trim Spa”, yang saya tahu dari iklan-iklan itu Mbak.”

  (R) : “ Mmmmm… pernah sih Mbak.” (P) : “ Pakai apa Mbak kalau boleh tahu?” (R) : “ Saya pakai “Sliming tea” Mbak. Tapi cuma sekitar satu bulan terus berhenti.” (P) : “ Kenapa memutuskan berhenti Mbak?” (R) : “ Karena berat badannya nggak turun-turun Mbak, mungkin turun sih tapi nggak terlalu kelihatan, ya putus asa, sia-sia aja kayaknya.” (P) : “ Kok bisa pengen pakai, emang ada yang menganjurkan pakai ya Mbak?

  Atau tertarik iklan?” (R) : “ Iya, teman saya yang menganjurkan soalnya dia juga pakai, tapi dia pakai

  “Trim Spa”. Iklan juga sempat bikin tertarik Mbak, tapi ternyata hasilnya nggak seperti yang diinginkan.” (P) : “ Apakah teman Mbak berhasil menurunkan berat badannya?” (R) : “Awalnya sih iya, dia turun berapa kilo gitu tapi naik lagi berat badannya.

  Kayaknya turunnya cepet tapi naiknya juga cepet Mbak.” (P) : “ Terus Mbak sendiri gimana? Apa berat badannya turun juga?” (R) : “ Ya tadi itu Mbak, sempat turun tapi cuma satu kilo aja terus naik lagi.” (P) : “ Pas mengkonsumsi produk itu apakah Mbak melakukan olah raga?” (R) : “ Enggak Mbak. Mungkin itu juga penyebabnya nggak turun banyak berat badannya.” (P) : ” Oh begitu ya Mbak? Dulu pas pakai produk itu merhatiin komposisinya atau isinya nggak?” (R) : ” Enggak Mbak, enggak pernah” (P) : “ Oh begitu. Oke Mbak, makasih banyak ya…” (R) : “ Iya, sama-sama…”

  Data Responden IV

  Fakultas / Program Studi : Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan / Bimbingan dan Konseling

  Jenis Kelamin : Wanita Umur : 21 tahun Berat badan : 70 kg Tinggi badan : 165 cm Penghasilan / Uang saku per bulan : Rp. 1.000.000, 00 Tinggal di sini : Dengan Orang Tua (P) : Peneliti (R) : Responden (P) : “ Siang R, bisa bantuin aku isi kuesioner nggak? Buat penelitian tentang produk penurun berat badan. Sekalian ngobrol-ngobrol tentang produk penurun berat badan…”

  (R) : “ Penelitian apa ni? Buat skripsi ya?” (P) : “ Iya R, bisa ya?” (R) : “ Ya udah…mana ku isiin kuesionernya” (P) : “ Oke. Sambil kamu ngisi, sekalian aku nanya-nanya ya, atau kamu mau cerita aja?Hehe…” (R) : “ Ya udah, kamu mau tanya apa?” (P) : “ Sorry R, kalau nggak salah kamu pernah pakai ya..boleh tau pakai apa?” (R) : “ Iya, aku pernah pakai. Semua malah pernah ku coba.” (P) : “ Wah, apa aja tuh?” (R) : “ Wah buanyak deh…. SMA Aku pakai “WRP” pernah, “Trim Spa” pernah,

  “Merit”, “Sliming tea”, “Diyet” juga pernah yang strip itu lho, satu emplek

  (P) : “ Bisa ceritain apa aja yang terjadi R? hehe..” (R) : “ Pokoknya pas Aku pakai “Merit” bareng sama “Trim Spa” tuh Aku jadi infeksi lambung soalnya pola makanku juga ngga kuatur. Itu pas zaman

  SMA kelas dua pa kelas tiga awal gitu. Terus akhirnya di suruh berhenti sama ahli gizi. Nah pas dirawat di Rumah Sakit tuh Aku dikasih susu “Produgen”, kupikir itu susu untuk diet, jadi habis aku keluar Rumah Sakit aku terusin konsumsi susu “Produgen” itu, kok berat badanku ngga turun- turun,eh ternyata itu bukan susu diet jadi aku salah, ya udah terus berhenti.”

  (P) : “ Terus…..” (R) : “ Terus pas awal kuliah Aku ke dokter, terus dikasih tiga macam obat. Nah, mulai itu tuh berat badanku turun,tapi ya pakai masalah juga. Dokternya terkenal banget lho itu, Aku aja tahu dari temenku, di juga ke dokter itu. Aku sama temenku taruhan tuh siapa yang bisa nurunin berat badan duluan.”

  (P) : “ Dikasih obat apa aja R?” (R) : “ Yang pertama tuh “Xenical” bentuknya kapsul diminumnya sekali sehari pas malam hari atau sore kalau kita merasa tadi kita mengkonsumsi makanan berlemak. Terus yang kedua tuh obat racikan dari dokternya, diminum sehari sekali pagi atau malam. Yang terakhir “Decaslim” juga sehari sekali.”

  (P) : “ Kamu disuruh ngatur pola makan nggak?” (R) : “Iya. Jadi pagi tuh aku cuma minum air putih, sama minum obat racikannya itu.” (P) : “ Nggak laper kamu?” (R) : “ Enggak, soalnya tiap habis minum obat racikan itu perut rasanya kenyang.” (P) : “ Tahu nggak tuh isi obat racikannya apa?” (R) : “ Wah.. nggak ngerti deh” (P) : “ Terus siang makannya gimana?”

  (P) : “ Kalau malemnya?” (R) : “Enggak makan..soalnya rasanya masih kenyang…” (P) : “ Hasilnya?” (R) : “ Ya dalam satu bulan Aku turun 6 kilo.” (P) : “ Wah banyak banget tuh R..” (R) : “ Iya, tapi infeksi lambungku jadi tambah parah.Soalnya dasarnya Aku udah punya sakit maag, malah ini cuma makan sehari sekali. Terus habis itu Aku mutusin untuk stop aja, takut tambah parah.”

  (P) : “ Efek samping lain ada ngga?” (R) : “ Wah pokoknya kalau sekali aja ngga minum obat racikan atau “Decaslim” tadi, wah… makannya kayak orang gila beneran deh, bisa sekali makan tuh

  8 kali porsi sedang. Terus yang racikan itu kok habis Aku minum kok jadi kayak pusing gitu ya….” (P) : “ Waduh ngeri juga ya, terus gimana sekarang kamu masih penegn nurunin berat badan nggak?” (R) : “ Ya masih pengen, tapi nggak pake obat itu deh.” (P) : “ Terus mau pake apa?” (R) : “ Kayaknya Aku mau akupuntur sama olah raga aja…” (P) : “ Akupuntur dimana, di pasang jarum ya?” (R) : “ Di RS “B”, iya temanku yang udah nyoba tuh dipasang jarum di deket telinga, ntar kalau kerasa laper tinggal ditekan-tekan ntar lapernya ilang.

  Kayaknya sih mau coba, tapi ga tau juga yang akupuntur, yang jelas olah raga sama atur pola makan.” (P) : “ Oke kalau gitu makasih buat infonya ya….” (R) : “ Oke sama-sama”

  Data Responden V

  Fakultas / Program studi : Ekonomi / Akuntansi Jenis Kelamin : Pria Umur : 19 tahun Berat badan : 88 kg Tinggi badan : 176 cm Penghasilan / uang saku per bulan : Rp 250.000,00 Tinggal di sini : Dengan orang tua (P) : Peneliti (R) : Responden (P) : “Siang Mas, sori ganggu bentar ni. Bisa bantu ngisi kuesioner nggak?” (R) : “O ya. Buat apa ni Mbak?” (P) : “Buat skripsi Mas, ini tentang produk penurun berat badan.” (R) : “Wah…susah nggak Mbak pertanyaannya? Saoalnya aku nggak terlalu ngerti ni..” (P) : “Enggak kok Mas, Cuma tentang pandangan Mas aja.” (R) : “ O ya udah.” (P) : “ Ini Mas, kita sambil ngobrol-ngobrol dikit ya Mas tentang produk penurun berat badan ” (R) : “O ya, boleh aja.” (P) : “Mas tahu tentang produk penurun berat badan nggak?” (R) : “Iya, tahu Mbak. Tapi ya nggak gitu tau banget sih…paling yang sering ada di iklan aja, di majalah apa tivi gitu.” (P) : “Oh… gitu ya Mas. Pernah tertarik sama iklan itu nggak Mas?”

  (R) : “Wah….iklan kaya gitu kayaknya udah biasa banget. Ngga mesti lho hasilnya sama kaya yang diiklanin itu. Kan sekarang mereka ngejar duit aja Mbak, komersiil gitu lah..”

  (P) : “Ngga tertarik pengen coba ya Mas berarti?” (R) : “Enggak tuh Mbak. Males aja…lagian aku nggak merasa terganggu sama berat badan aku kok. Masih ngerasa enak-enak aja.” (P) : “Pernah ngga Mas konsultasi ke dokter atau apoteker atau ahli gizi trus disaranin pakai?” (R) : “Enggak…buang-buang duit aja kayaknya. Lagian pernah baca juga tuh kayaknya bisa sampai ngrusak ginjal juga kalau pakai. Takut juga kan kalau mau pakai”

  (P) : “Oh…gitu ya Mas. Jadi tambah nggak pengen pake ya Mas?” (R) : “Iya..badanku gini aja nggak masalah, aku masih bisa ngapa-ngapain aja.

  Daripada pake nanti malah sakit.” (P) : “Tapi Mas, kan ada ya penyakit-penyakit yang bisa aja timbul karena kegemukan. Terus gimana itu Mas?” (R) : “Iya sih, memang gemuk juga bisa nimbulin penyakit. Tapi kalau disuruh milih ya mending olahraga aja Mbak.” (P) : “Oh..berarti mending olahraga ya Mas..Oke deh, makasih ya Mas buat waktunya.” (R) : “Sama-sama Mbak…”

  

KETERANGAN PRODUK PENURUN BERAT BADAN

Nama Produk Komposisi Khasiat dan kegunaan Perhatian Anjuran Cara pakai

  Slimming Tea Mustika Ratu

  Theae Folium 80% Bahan-bahan ekstrak terdiri dari:

  • Parameriae Extractum 6%
  • Foeniculi Extractum 4%
  • Guazumae Extractum 6%
  • Curcumae Extractum 4% Mengurangi berat badan bagi pria dan wanita, termasuk remaja, secara cepat tanpa mengurangi makan. Melarutkan lemak serta mengecilkan dan mengencangkan perut yang besar dan kendor Masukkan kantong jamu celup ke dalam cangkir yang berisi air mendidih. Diminum setiap hari 2 atau 3 kali sesudah makan Diyet (Peluruh Lemak)
  • Guazumae Folium Ekstrak 25%
  • Mimmosae Herba Ekstrak 25%
  • Gallae Ekstrak 15%
  • Murrayae Folium Ekstak 35% Melunturkan lemak, mencegah perut besar dan mengencangkan otot perut yang kendor, membantu menurunkan berat badan Wanita hamil dan penderita diare Banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah- buahan 1x @ 2 kapsul sebelum tidur malam Ideal

  Borobudur

  • Parameriae Cortex 10%
  • Curcuma domestica Rhizoma 2,5%
  • Guazumae Folium 25%
  • Sappan Lignum 15%
  • Curcuma Rhizoma 20%
  • Terminalliae arboreae 7,5%
  • Murrayae Folium 20% Melunturkan lemak perut, mengencangkan otot perut yang kendor, menyusutkan perut yang gendut/buncit & memelihara tubuh tetap ideal & padat secara alami namun sehat Wanita hamil dan penderita diare Konsumsi buah dan sayur, kurangi makan makanan kecil, makan teratur 3x sehari dan membatasi makanan berlemak 1x @ 2 kapsul sebelum tidur

  (peluruh lemak & mengecilkan perut) Borobudur

  malam Tabel lanjutan keterangan produk penurun berat badan

  

Merit • Guazumae Folium 150 mg Melangsingkan tubuh, Wanita hamil 1x3 pil sebelum tidur malam,

(pelangsing mengurangi lemak yang dan penderita bila perlu boleh ditambah 3

  • Rhei Radix 50 mg

    tubuh alami) berlebih dalam perut, diare pil diminum pagi hari, untuk

  • Granati Fructus Cortex 50

  

Sari Sehat mempermudah buang air pemula cukup minum 2 pil

mg besar, menurunkan kolesterol setiap hari sebelum tidur

  • Dalam bentuk ekstrak/dll dan trigliserida (hasil uji malam ad 500 mg preklinik)

    Natur Slim Membantu mengurangi Olah raga 3 pil setiap malam sebelum

  • Rhei Radix 500 mg timbunan lemak yang berlebih teratur dan tidur secara teratur sampai

  Deltomed

  • Guazuame Folium 500 mg di perut dan paha. RUMPUT kurangi tercapai hasil yang
  • Glacilaria Sp 500 mg LAUT : bantu pencernaan makanan diharapkan
  • Aracae semen 20% &memperlancar buang air yang besar berlemak

    Hai Ping *Membentuk tubuh menjadi 3x sehari : 1 bungkus jamu

  • Galla halepensis 25% langsing, luwes, menyegarkan, Hai ping diseduh dengan 1

  PT. Seger

  • Arecae semen 16%

  Waras mengurangi lemak dalam gelas air matang lalu

  • Zanthoxyli fructus 1% tubuh

  diminum

  • Pericarpium granati 16%
    • Membuat awet muda, cahaya

  • Chebulae fructus 16% muka cemerlang
  • Dan bahan-bahan lain s/d
    • Membuat kulit menjadi 100% dalam bentuk halus, mencegah keriput, ekstrak cahaya segar, menarik, berseri
    • Mengobati darah putih, muka pucat, badan lemas
    • Memulihkan anggota tubuh, tetap langsing, singset dan menghilangkan bau badan kurang sedap bagi wanita habis melahirkan
    Tabel lanjutan keterangan produk penurun berat badan

  

WRP • Susu krim, protein susu, • Pengganti karbohidrat, Penderita diare 2 x sehari diminum pagi dan

Nutrifood tidak malam hari vitamin dan mineral protein, vitamin, lemak, dan diperbolehkan mineral yang dibutuhkan mengkonsumsi oleh tubuh

  • L-Carnitin dan CLA • Asam amino yang membantu membakar lemak
  • Aspartame 35 mg/serving (ADI 40mg/kgBB/hari)
  • Biru berlian • Pewarna

    Decaslim 10 mg Sibutramin Diindikasikan sebagai terapi 1x sehari 1 pil 10 mgdengan

  • Wanita hamil

  Harsen Hidroklorit Monohidrat tambahan selama program atau tanpa makan, dapat

  • Dikontraindik (ekuivalen dengan 8,37 mg pengaturan berat badan pada: ditingkatkan setelah 4 asikan untuk sibutramin) • Pasien dengan IMT minggu menjadi 15 mg
  • 2 ≥ 30 penderita 15 mg Sibutramin 1xsehari, pagi hari kg/m anoreksia Hidroklorit Monoh
  • Pasien dengan IMT nervosa dan
  • 2

    ≥ 27

    (ekuivalen dengan 12,55 kg/m dengan faktor bulimia mg sibutramin) penyakit DM Tipe 2 atau nervosa Juga mengandung laktosa dislipidemia monohidrat sebagai bahan tambahan

      

    Kebutuhan Kalori Menurut Usia dan Kelamin Pada Aktivitas Fisik Sedang

    (Tjay dan Raharja, 2002)

    Usia (tahun) Pria Wanita

      6

      25

      25

      4

      5

      29

      2

      15

      23

      25

      15

      13

      10

      16

      18

      25

      10

      24

      60

      11

      2

      90 250 150 100

      70

      70

      72

      80 300 500

      2

      20

      80 100

      80

      60

      60

      1

      2

      20

      21

      0-1 1-3 4-6 7-9

      32 M M = berat badan 1090 kcal

      36 M

      38 M

      40 M

      42 M

      45 M

      1360 kcal 1830 kcal 2190 kcal 2600 kcal

      37 M

      28 M

      42 M

      44 M

      46 M

      47 M

      45 M

      > 70 1090 kcal 1360 kcal 1830 kcal 2190 kcal 2600 kcal

      10-12 13-15 16-19 20-39 40-49 50-59 60-69

      32 M

      

    Kandungan Zat Gizi Utama dari sejumlah Makanan (per 100 g)

    dan Jumlah Kalorinya (Tjay dan Raharja, 2002)

    Daging/ikan per 100 g kcal Protein

      17

      19

      16

      22

      20

      20

      22

      20

      17

      

    (g)

    Lemak (g) Kolesterol (mg) Hidrat arang

      30

      32

      57

      82

      90

      244 255 293 211 134 106 341 133 124 289 337 309 303 170

      Sapi, agak berlemak Babi, agak berlemak Domba, mentah Anak domba, mentah Anak sapi, mentah Ayam tanpa kulit Itik, mentah Hati sapi, direbus Hati ayam, mentah Corned beef Hamburger, matang Ikan makril, dikukus Sardencis, kaleng Salem, kaleng Udang, tanpa kulit Kepiting Kerang

      2 Tabel lanjutan Kandungan Zat Gizi Utama dari sejumlah Makanan (per 100 g) dan Jumlah Kalorinya

      

    Daging/ikan per 100 g kcal Protein Lemak Kolesterol Hidrat

    (g) (g) (mg) arang

      Telur ayam, direbus 149

      13 11 390 Kuning telur 361

      16 33 1300 Putih telur

      44

      11 Susu sapi, 50% lemak 47 3,4 1,5

      5

      5 Susu kambing 68 3,5 4,0 4,5 Susu ibu 68 1,0 4,0 25 7,0 Yoghurt 61 3,3 3,5 10 4,0 Kedelai, direbus 171

      15

      8

      10 Tahu, mentah

      76

      8

      4

      2 Tempe, mentah 179

      17

      7

      12 Susu kedelai 38 3,0 2,0 8 3,0 Miso 206

      13

      6

      25 Roti putih 234

      8

      2

      46 Roti whole grain 206

      7

      2

      40 Sinkong rebus 136

      1

      33 Kentang, direbus/nasi

      68

      2

      15 Kentang goreng 233

      3

      13

      26 French fries 321

      4

      17

      10

      38

    BIOGRAFI PENULIS

      Theresia Dian Pramudita adalah anak pertama dari pasangan Ignatius Murdoko Jati dan (Alm.) Theresia Nur Palupi. Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 19 Oktober 1985. Menempuh pendidikan di TK Karitas Yogyakarta pada tahun 1990-1991, kemudian melanjutkan ke SD Kanisius Karitas Yogyakarta pada tahun 1991-1997. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke SLTP Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 1997-2000. Pendidikan Sekolah Menengah Umum ditempuh di SMU

      Negeri 3 Yogyakarta pada tahun 2000-2003 dan melanjutkan ke jenjang S1 di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2003-2007. Semasa kuliah, Penulis menjadi anggota dan mengikuti kegiatan dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara keberadaan label halal dengan keputusan untuk membeli mie instan di lingkungan mahasiswa lembaga dakwah kampus Universitas Jember
0
3
47
Pengaruh motivasi pengetahuan perpajakan, ekonomi, karir dan kualitas terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk mengikuti brevet pajak: studi empiris pada beberapa Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.
11
46
187
Pola belajar mahasiswa di luar kampus
1
3
65
Hubungan kepercayaan diri dengan motivasi menurunkan berat badan wanita dewasa awal yang mengalami obesitas
0
5
105
Hubungan antara kebiasaan menggunakan tas punggung berat dan kejadian Low back pain (LBP) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6
61
62
Perancangan sistem pengukuran tinggi dan berat badan untuk wahana permainan
0
7
5
Perancangan sistem pengukuran tinggi dan berat badan untuk wahana permainan
0
7
17
Hubungan waktu tidur dengan kelebihan berat badan pada mahasiswa dan staf pengajar FK UISU
0
0
6
Persepsi produk makanan organik dan minat beli konsumen (studi pada mahasiswa Universitas Sebelas Maret)
1
0
115
Analisis brand equity pada produk olahraga adidas (Study pada mahasiswa di Universitas Sebelas Maret Surakarta)
0
0
65
Pengaruh antara berat badan bayi dengan terjadinya sepsis
1
1
41
Sistem database mahasiswa dan alumni menggunakan PHP (Personal Hypertext Preprocessor) dan MYSQL (My Structured Query Language) untuk Jurusan Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung - Repository Universitas Bangka Belitung
0
1
17
Adaptasi sosial mahasiswa migran kampus Universitas Bangka Belitung - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
16
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Adaptasi sosial mahasiswa migran kampus Universitas Bangka Belitung - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
19
Sistem database mahasiswa dan alumni menggunakan PHP (Personal Hypertext Preprocessor) dan MYSQL (My Structured Query Language) untuk Jurusan Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
36
Show more