CARBON FIBER PADA SUNGKUP HELMUNTUK MENAHAN PENETRASI DAN MEREDUKSI ENERGI IMPACT

Gratis

0
0
91
3 days ago
Preview
Full text

TUGAS AKHIR

APLIKASI KOMPOSIT EPOXY

UNTUK MENAHAN PENETRASI DAN MEREDUKSI ENERGI IMPACT

  Geometri model helm mengacu pada SNI 1811 – 2007 disesuaikan dengan helm yang banyakberedar di pasaran. Pengujian penetrasi dan penyerapan kejut, baik simulasi maupun impact mengacu pada SNI 1811 prototype helm yang telah dibuat.

KATA PENGANTAR

  Puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena atas berkat dan rahmatnya penulisdapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Aplikasi Komposit Epoxy Helm Untuk Menahan Penetrasi dan Mereduksi EnergiImpact” dapat terselesaikan walaupun terdapat banyak kekurangan. Laskar Labkom, Mas Yuli, Mas Mufti, Mas Jo, Mas  Faul, Iqbal, Luki Kacongs, dan mas – mas yang lain.

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL (Bahasa Indonesia) i HALAMAN JUDUL (Bahasa Inggris) iiLEMBAR PENGESAHAN iii ABSTRAK ivABSTRACT viKATA PENGANTAR viii DAFTAR ISI ixDAFTAR GAMBAR xiii DAFTAR TABEL xv 1.2 Perumusan Masalah 2.2.6.2 UU No. 22 Tahun 2009 2.2.5.1 Jenis Helm 15 2.2.6 Aturan Hukum Penggunaan Helm(Wilayah Hukum Indonesia) 16 2.2.6.1 UU No.

1.1 Latar Belakang

  Menurut COST, Helm yang baik adalah helm yang dapat menahan beban tekan, menyerap setidaknya 50 % daritotal energi impact yang timbul, dan memiliki kekasaran permukaan yang rendah. 1.2 Perumusan Masalah Helm yang banyak beredar dan digunakan oleh pengendara umumnya telah memenuhi SNI 1811 Dalam penelitian sebelumnya, telah dilakukan simulasi uji penetrasi dan penyerapan beban kejut, mengacu pada SNI1811 – 2007, terhadap helm dengan material komposit epoxy – HGM .

BAB II TINJAUAN PUSAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

  Pengujian dilakukan sesuai dengan SNI 1811-2007 (StandartNasional Indonesia), dimana paku pemukul dijatuhkan bebas dari ketinggian 1,6 m ke helm yang terikat di pola kepala ujiuntuk uji penetrasi dan untuk uji penyerapan kejut helm di jatuhkan bebas ke anvil yang berbentuk setengah bola. Untukpelaksanaan simulasi pada uji penetrasi paku di tempelkan ke helm yang terikat pada pola kepala uji dan diberi kecepatansebesar 5,6 m/s, untuk uji penyerapan kejut helm di tempelkan ke landasan dan pemberat helm di beri kecepatan sebesar 5,6m/s.

2.2 Dasar Teori

2.2.1 Komposit

  Penguat merupakan unsurutama dalam pembentukan material komposit yang menentukan karakteristik material komposit seperti kekakuan,kekuatan, dan sifat mekanik lainnya. Polimer thermoset adalahbahan yang akan menjadi keras jika di panaskan di atas temperatur kritisnya dan tidak dapat diperlunak dengan cara dipanaskan.

1. Komposit Berpenguat Partikel

  Komposit Berpenguat SeratMerupakan komposit yang fase penguatnya berupa 9Contoh: fiber glass dalam matriks polimer dan serat alam dalam matriks polimer. Mayoritas fraksi volume dari material komposit terdiri dari material penguat iniagar beban yang dikenakan dapat terdistribusi dengan baik ke material penguat.

2.2.2 Hollow Glass Microsphere

  Jenis HGM tertentu, semisal iM30K yang diproduksi oleh 3M, memiliki kekuatan tekan dan strength to density ratioyang lebih tinggi dibandingkan jenis HGM pada umumnya. Dengan properti densitasyang rendah, konduktivitas termal rendah, dan ketahanan terhadap tegangan tekan yang tinggi, HGM juga banyakdigunakan pada peralatan yang berkerja di laut dalam seperti peralatan pengeboran minyak.

2.2.3 Carbon fiber

  Setelah proses karbonisasi dilanjutkan proses grafitisasi pada temperatur tinggi dan dilanjutkan dengan proses penggulunganserat-serat karbon menjadi tow yang bisa langsung digunakan atau ditenun menjadi bentuk anyaman. Carbon fiber biasanya dijadikan material penguat pada komposit, kelebihan dari carbon fiber ini antara lain:Memiliki kekakuan, kekuatan tarik dan modulus  elastisitas yang tinggi.

2.2.5.1 Jenis Helm

Jenis Helm dibedakan berdasarkan keperluan penggunaannya antara lain:

1. Helm Perang

  Pada awalnya helm digunakan sebagai bagian dari baju zirah peradaban Yunani Kuno, RomawiKlasik, hingga akhir abad ke-17 yang membentang dariEropa hingga Jepang dan jarang ditemukan penggunaan helm selain untuk keperluan perang. Penggunaan helm disesuaikandengan pekerjaan yang dilakukan dan atau jabatan orang yang bersangkutan.

2.2.6 Aturan Hukum Penggunaan Helm (Wilayah Hukum Indonesia)

  Kebijakan penggunaan helm bagi pengguna sepeda motor pertama kali dicetuskan oleh Kapolri Jenderal Polisi 17penolakan keras dari berbagai pihak. 22 Tahun 2009, serta aturan-aturan pendukung Undang-Undang yang dikeluarkanoleh badan/lembaga terkait seperti SNI 1811-2007 oleh Badan Standar Nasional.

2.2.6.1 UU No.14 Tahun 1992

  Pada awalnya dengan pembentukan undang-undang ini adalah karena perkembangan transportasiyang begitu pesat dan membutuhkan peraturan yang dapat menjangkau semua pihak dan memberikan kenyamanan dalamberlalu lintas seperti dalam undang-undang itu sendiri yang dilatar belakangi konsep sampai dengan selamat [Utami, 2015]. 22 Tahun 2009, pada pasal 290 serta pasal 291 terdapat aturan konsekuensi pengendara sepedamotor yang tidak mengindahkan apa yang tercantum pada pasal 57 dan 106.

BAB II I METODOLOGI

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir

  25 Startepoxy, HGM, fiber carbon , katalis,serta peralatan dan bahan penunjang lain Persiapan peralatan dan bahan Pastikan cetakan helm bersih dan halus Lapisi cetakan dengan gel coat. Tunggu hingga kering Oleskan resin pada cetakanLapisi dengan fiber carbon, lalu oleskan resin (sejumlah x layer) Campurkan resin dengan HGM Lapiskan pada helm denganketebalan t Pastikan ketebalan HGM meratapada setiap sisi cetakan.

3.4 Simulasi

  Pembuatan model helm dan alat ujiGeometri helm yang digunakan dalam simulasi didasarkan pada helm open face sesuai ketentuan SNI 1811- 2007. Dari hasil simulasi, didapatkanketebalan helm yang memenuhi kriteria uji penetrasi dan uji penyerapan beban kejut.

3.5 Analisa Hasil Simulasi

  Pada simulasi uji penetrasi dapat ditampilkan nilai deformasi yang terjadi pada paku pemukul. 33Dengan menggunakan Teori Tegangan Normal Maksimum, dimana jika tegangan yang terjadi melebihi yield, akan terjadideformasi plastis serta jika tegangan melebihi kekuatan ultimate, material akan rusak.

1 Dimana

  = tegangan normal yang bekerja 1ut pada materialS = kekuatan ultimate material S ut = kekuatan yield material n s = faktor keamanan (n s = 1)Pada uji penyerapan beban kejut, disyaratkan bahwa pola kepala uji tidak diperbolehkan menerima beban kejutmelebihi 2000g. Dari data yang ditampilkan, diambil nilai maksimum percepatan yang dialami oleh pola kepala uji.

3.6 Pembuatan Prototype Helm

  Pembuatan prototype helm menggunakan acuan geometri helm yang banyak beredar di pasaran, memenuhi SNI1811 34 3.6.1 Peralatan dan Bahan Adapun peralatan dan bahan yang digunakan adalah: 1. 3.6.2 Langkah – langkah Adapun langkah – langkah yang dilakukan dalam pembuatan prototype helm dibagi menjadi langkah-langkahpembuatan cetakan dan pembuatan prototype.

3.7 Pengujian SNI 1811

  Pengujian yang dilakukan terhadap helm disesuaikan dengan aturan standar yang berlaku, dalam hal ini SNI 1811 -2007. Skema dan kelengkapan uji pada gambar 3.12, 3.13, dan 3.14.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Spesifikasi Sungkup Helm

  Tabel 4.1 Spesifikasi Sungkup Helm Epoxy Ketebalan Density Volume Massa33 (mm) (g/cm ) (cm ) (gram) 4 1.035 505.32 522.91 5 1.035 636.37 658.646 1.035 769.33 796.26 7 1.035 904.22 935.878 1.035 1041.05 1077.49 4.1.2 Sungkup Helm Epoxy Massa sungkup helm yang terbuat dari material komposit epoxy massa sungkup yang terbuat dari epoxy dengan massa carbon fiber. Massa carbon fiber bergantung pada jumlah layer yang ada pada sungkup.

4.2 Hasil Simulasi

  Simulasi yang dilakukan berupa uji penetrasi dan uji penyerapan kejut. Pengujian dikenakan, baik pada helm denganbahan epoxy – HGM ataupun epoxy – HGM – carbon fiber.

4.2.1 Hasil Simulasi Uji Penetrasi Sungkup Helm Epoxy

Nilai kedalaman penetrasi ditampilkan dalam satuan milimeter (Gambar 4.1) serta persentase kedalaman penetrasiterhadap ketebalan sungkup helm (Gambar 4.2). 40 Gambar 4.2 Penetrasi pada Sungkup Helm

4.2.1.2 Tegangan Akibat Penetrasi (Epoxy

Nilai tegangan yang ditampilkan merupakan nilai tegangan ekuivalen dan tegangan normal dalam satuan MPa(Gambar 4.3). Gambar 4.3 Tegangan pada Sungkup Akibat Penetrasi 41

4.2.1.3 Regangan Akibat Penetrasi (Epoxy

Besarnya regangan yang ditampilkan merupakan nilai regangan ekuivalen dalam satuan mm/mm (Gambar 4.4). Gambar 4.4 Regangan pada Sungkup Akibat Penetrasi (Epoxy

4.2.2.1 Percepatan yang Dialami oleh Pola Kepala Uji (Epoxy

  Nilai percepatan uji yang didapat dari simulasi2 dikonversi dari Satuan Internasional (SI – m/s ) ke dalam satuanpercepatan g (gravitasi). Selanjutnya, besar percepatan ditampilkan pada Gambar 4.5.

4.2.2.2 Penyerapan Energi (Epoxy

Setelah dilakukan simulasi, didapatkan nilai energi- energi pada masing Tabel 4.3 Energi Internal yang Timbul pada Uji Penyerapan Kejut Ketebalan (mm) Energi Internal (Joule) kepala foam sungkup anvil4 2.364 41.123 67.264 1.103 5 2.235 38.494 76.234 1.360 6 1.951 35.471 80.969 1.204 7 1.809 33.703 85.044 1.010 8 1.613 29.801 90.736 1.744 43 Gambar 4.6 Energi Internal yang Timbul pada Uji Penyerapan Kejut

4.2.2.3 Tegangan Akibat Beban Kejut (Epoxy

  Nilai tegangan yang didapatkan dari simulasi ditampilkan dalam satuan MPa (Gambar 4.7). 4.2.2.5 Konservasi Energi (Epoxy Gambar 4.8 Regangan pada Sungkup Akibat Beban Kejut Nilai regangan yang terjadi pada sungkup helm ditampilkan dalam satuan mm/mm (Gambar 4.8).

4.2.3 Hasil Simulasi Uji Penetrasi (Epoxy – HGM –

  Carbon Fiber) 4.2.3.1 Penetrasi (Epoxy – HGM – Carbon Fiber) Nilai kedalaman penetrasi ditampilkan dalam satuan milimeter (Tabel 4.5) serta persentase kedalaman penetrasiterhadap ketebalan sungkup helm (Gambar 4.9). Tabel 4.5 Penetrasi pada Sungkup Gambar 4.9 Penetrasi pada Sungkup Helm 4.2.3.2 Tegangan Akibat Penetrasi (Epoxy – HGM – Carbon Fiber) Nilai tegangan ditampilkan dalam satuan MPa (Tabel 4.6 dan Gambar 4.10).

4.2.3.3 Regangan Akibat Penetrasi (Epoxy – HGM –

  Carbon Fiber) Setelah dilakukan simulasi, didapatkan nuilai regangan yang terjadi pada sungkup helm. Nilai regangan ditampilkandalam satuan mm/mm (Tabel 4.7 dan Gambar 4.11).

4.2.4.1 Percepatan yang Dialami oleh Pola Kepala Uji (Epoxy – HGM – Carbon Fiber)

Nilai percepatan pola kepala uji dikonversi dari SatuanInternasional (SI Tabel 4.8 Percepatan yang Dialami Pola Kepala Uji Ketebalan (mm) Jumlah Layer 1 2 34 1635.78 2284.30 1175.33 1423.75 5 1650.66 796.01 1105.51 1094.80 6 1423.04 951.42 972.51 1126.10 7 1432.01 x x x8 1378.39 x x x 48 Gambar 4.12 Percepatan yang Dialami Pola Kepala Uji

4.2.4.2 Penyerapan Energi (Epoxy – HGM – Carbon Fiber)

Besarnya energi pada masing Tabel 4.9 Energi Internal yang Timbul pada Uji Penyerapan Kejut Jumlah Layer Ketebalan (mm) 1 2 3 Pola Kepala Uji4 2.364 4.952 3.831 3.052 5 2.235 1.329 1.317 1.1036 1.951 0.871 1.132 1.127 Sungkup HGM HGM Carbon HGM Carbon HGM Carbon 467.264 36.656 16.153 51.888 31.222 68.606 35.790 5 76.234 73.181 8.901 51.612 24.254 43.648 42.323 680.969 68.597 9.648 55.346 27.733 41.088 33.794 49

4.2.4.3 Tegangan Akibat Beban Kejut (Epoxy – HGM –

Carbon Fiber) Besarnya tegangan yang terjadi pada sungkup helm ditampilkan dalam satuan MPa (Tabel 4.10 dan Gambar 4.14). Tabel 4.10 Tegangan pada Sungkup Epoxy (Uji Penyerapan Kejut) Gambar 4.14 Tegangan pada Sungkup Epoxy 50

4.2.4.4 Regangan Akibat Beban Kejut (Epoxy – HGM –

Carbon Fiber) Nilai regangan yang terjadi pada sungkup helm ditampilkan dalam satuan mm/mm (Tabel 4.11 dan Gambar4.15). Tabel 4.11 Regangan Akibat Beban Kejut (mm/mm) Jumlah Layer 1 2 3 ) HGM Carbon HGM Carbon HGM Carbon mm4 0.732 0.411 0.009 0.294 0.020 0.520 0.027n ( 5 0.431 0.392 0.011 0.387 0.016 0.275 0.030la 6 0.387 0.310 0.006 0.280 0.009 0.313 0.025eba et 7 0.390 x x x x x xK 8 0.370 x x x x x x Gambar 4.15 Regangan pada Sungkup Akibat Beban Kejut 51

4.2.4.5 Konservasi Energi

Energi total yang bekerja pada elemen ditampilkan o dalam satuan Joule serta temperatur dalam satuan C (Tabel4.12). Tabel 4.12 Konservasi Energi dan Temperatur Elemen Uji (Epoxy

4.3.1 Simulasi Sungkup Helm Epoxy

4.3.1.1 Penetrasi

  Sementara itu,jika dilihat dari persentase penetrasi terhadap ketebalan sungkup, grafik pada Gambar 4.2 menunjukkan adanya korelasiantara nilai penetrasi dan ketebalan sungkup. Sungkup dengan ketebalan 7 mm dan 8 mmmasing Untuk menurunkan nilai penetrasi yang terjadi, ditambahkan lapisan carbon fiber pada bagian atas sungkup.

4.3.1.2 Tegangan dan Regangan Sungkup Epoxy

  Regangan terbesar terjadi pada sungkup dengan ketebalan 4 mm, terendahterjadi pada sungkup dengan ketebalan 8 mm. Regangan yang terjadi pada sungkup terdiri atas regangan akibat penetrasi dan defleksi pada titik tumbukanantara sungkup dan pemukul.

4.3.2.1 Percepatan yang Dialami oleh Pola Kepala Uji

  Mengacu pada Gambar 4.5, kelima sungkup, dari ketebalan 4 mm hingga 8 mm, telah memnuhi SNI 1811 4.3.2.2 Penyerapan Energi (Epoxy Garafik pada Gambar 4.6 menunjukkan, peningkatan energi internal sungkup seiring dengan penambahan ketebalansungkup. Energi kinetik sendiri merupakan hasil konversi dari energi potensial elemen 4.3.2.3 Tegangan dan Regangan Akibat Beban Kejut(Epoxy Mengacu pada Gambar 4.7, besarnya tegangan cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya 54Ditinjau dari nilai tegangan dan compressive strength, kecuali sungkup dengan ketebalan 8 mm, sungkup memilikinilai tegangan di atas 193 MPa.

4.3.3 Simulasi Uji Penetrasi (Epoxy

  Besarnya penetrasi menurun seiring dengan bertambahnya jumlah layer serat karbon pada sungkup denganketebalan 4 mm, 5 mm, dan 6 mm (Tabel 4.5 dan Gamabar 4.9). Sungkup dengan ketebalan 4 mm, 5 mm, dan 6 mm(HGM) tanpa penambahan serat karbon memiliki penetrasi di atas 50 % ketebalan sungkup.

4.3.3.2 Tegangan dan Regangan Sungkup Akibat Penetrasi

  Hal tersebut dikarenakan tegangan yangterjadi pada lapisan epoxy Regangan yang terjadi pada sungkup cenderung mengalami peningkatan seiring dengan penambahan lapisanserat karbon (Gambar 4.11). Semua kombinasi ketabalan HGM(4 mm, 5 mm, dan 6 mm) tidak mengalami kegagalan kecuali sungkup dengan ketebalan 4 mm dengan penambahan 2 layerserat karbon.

4.3.4.1 Percapatan yang Dialami oleh Pola Kepala Uji

  Mengacu pada SNI 1811 – 2007 untuk uji penyerapan kejut, semua kombinasi ketebalan HGM dan jumlah layer telahmemenuhi kriteria uji kecuali sungkup dengan ketebalan 4 mm 56dengan ketebalan 4 mm HGM dan 1 layer serat karbon mengalami percepatan sebesar 2284.30 g. Sementara itu, sungkup dengan konfigurasi lain dapat dikatakan aman jika ditinjau dari compressive strength HGM (Tabel 57Ditinjau dari tegangan yang dialami oleh lapisan serat karbon, ketiga sungkup dengan tambahan 3 layer serat karbonmemiliki tegangan di atas compressive strength serat karbon.

4.3.5 Pemilihan Sungkup

  Alur pemilihan sungkup didasarkan pada diagram alir pada subbab 3.1 serta kriteria yang telah tercantum pada tabel 3.1. Kriteria prioritas pemilihan sungkup adalah kemampuan sungkup untuk menahan penetrasi dan percepatan yang dialamioleh pola kepala uji sesuai dengan SNI 1811 - 2007.

4.4 TAHAP EKSPERIMEN

4.4.1 Referensi Cetakan Helm

  Referensi yang digunakan sebagai cetakan helm harus merepresentasikan helm yangbanyak beredar di pasaran dan sesuai dengan model yang telah disimulasikan. Selanjutnya, dilakukanpemvakuman pada lapisan helm untuk menghilangkan resin yang terkonstrasi pada area tertentu pada helm.

4.4.4 Pengujian

  Setelah prototype sungkup selesai dibuat, selanjutnya dilakukan pengujian terhadap prototype. Pengujian yangdilakukan disesuaikan dengan SNI 1811 – 2007.

4.4.4.1 Uji Penetrasi

  Menurut SNI 1811 – 2007, pengujian penetrasi dilakukan dengan menjatuhkan paku pemukul pada sungkupyang telah dipasangkan pada pola kepala uji. Adanya pemukul yang menembus sungkup dan retak pada bagian dalam sungkup, dikarenakan lapisan HGMmemiliki ketebalan yang tidak merata serta terdapat kesalahan dalam proses pembuatan sungkup, khususnya dalampengkondisian epoxy – HGM.

5.1 Kesimpulan

  Pada sungkup helm dengan ketebalan 4 mm, 5 mm, dan 6 mm dilakukan penambahan lapisan carbon fiber sebanyak 1hingga 3 layer untuk masing – masing sungkup. Hasil simulasi uji penetrasi menunjukkan sungkup denganketebalan 4 mm dengan penambahan 2 layer dan 3 layer, ketebalan 5 mm dengan penambahan 2 layer dan 3 layer,serta ketebalan 6 mm dengan penambahan 1 layer, 2 layer, dan 3 layer mengalami penetrasi di bawah 50 % ketebalansungkup.

5.2 Saran

  Adapun saran yang dapat diberikan setelah dilakukan penelitian ini antara lain: 1. Hendaknya simulasi dilakukan secara teratur dan bertahap untuk menghindari adanya akumulasi data sehinggamempengaruhi hasil simulasi.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (91 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS UJI IMPACT PADA BAJA ST60 DENGAN VARIASI KETEBALAN LAPISAN KARBON FIBER UNTUK APLIKASI KERANGKA MOBIL LISTRIK
0
10
80
PENGGUNAAN CARBON FIBER REINFORCED PLATE SEBAGAI TULANGAN EKSTERNAL PADA STRUKTUR BALOK BETON
0
3
9
PENGGUNAAN CARBON FIBER REINFORCED PLATE SEBAGAI BAHAN KOMPOSIT EKSTERNAL PADA STRUKTUR BALOK BETON BERTULANG
0
4
9
STUDI PERILAKU KOLOM PENDEK BETON BERTULANG DENGAN KEKANGAN CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) YANG DIKENAI BEBAN KONSENTRIK.
0
2
14
KESIMPULAN DAN SARAN STUDI PERILAKU KOLOM PENDEK BETON BERTULANG DENGAN KEKANGAN CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) YANG DIKENAI BEBAN KONSENTRIK.
0
3
33
PENGGUNAAN CARBON FIBER REINFORCED PLATE
0
0
10
RETENSI DAN PENETRASI EKSTRAK BIJI PINAN
0
0
6
TINJAUAN KONTRIBUSI LEMBARAN CARBON FIBER STRIP DI PASANG VERTIKAL TERHADAP LENTUR DAN GESER PADA BALOK LANGSING TESIS
0
0
19
UJI KUAT TARIK CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) SEBAGAI ALTERNATIVE PENGGANTI TULANGAN LENTUR PADA STRUKTUR BETON
0
0
12
UJI PERFORMA CATALYTIC CONVERTER KERAMIK BERPORI PADUAN CLAY BANJARNEGARA DAN Cu UNTUK MEREDUKSI GAS CARBON MONOKSIDA
0
0
115
PHYTOCHEMICAL COMPOUNDS FROM PALM PRESSED FIBER USING SUPERCRITICAL CARBON DIOXIDE (CO2)
0
0
73
DENGAN PENGUAT CARBON FIBER TERHADAP BEBAN TORSI PADA SHAFT KENDARAAN
0
0
76
ANALISA KEKUATAN RANGKA ROAD BIKE DENGAN VARIASI ARAH SERAT, JUMLAH LAPISAN, DAN JENIS MATERIAL CARBON FIBER - ITS Repository
0
0
71
STUDI KEMAMPUAN POLYPROPYLENE DALAM MENYERAP ENERGI IMPACT PADA APLIKASI AIRBAG PACKAGING - ITS Repository
0
0
60
CHASSIS DAN BODY KENDARAAN YANG TERBUAT DARI MATERIAL ALUMINIUM DAN CARBON FIBER TERHADAP BEBAN VERTIKAL DAN TORSIONAL
0
0
161
Show more