Persepsi guru sekolah dasar di Kecamatan Kebonarum Kabupaten Klaten terhadap sertifikasi guru berdasarkan tingkat pendidikan, status guru, dan lokasi penugasan - USD Repository

Gratis

0
0
167
8 months ago
Preview
Full text

  

PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN

KEBONARUM KABUPATEN KLATEN TERHADAP

SERTIFIKASI GURU BERDASARKAN TINGKAT

PENDIDIKAN, STATUS GURU DAN LOKASI PENUGASAN

  

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

  

Oleh:

KATARINA YENI DWI SUSANTI

NIM: 081324021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

  

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2012

SKRIPSI PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN KEBONARUM KABUPATEN KLATEN TERHADAP SERTIFIKASI GURU BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN, STATUS GURU DAN LOKASI PENUGASAN

  Oleh :

  Katarina Yeni Dwi Susanti NIM : 081324021 Telah disetujui oleh : Pembimbing I

  Indra Darmawan, S.E., M.Si. Tanggal,13 Agustus 2012

  Pembimbing II

  Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc. Tanggal,6 September 2012

  

PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN

KEBONARUM KABUPATEN KLATEN TERHADAP

SERTIFIKASI GURU BERDASARKAN TINGKAT

PENDIDIKAN, STATUS GURU DAN LOKASI PENUGASAN

  Dipersiapkan dan ditulis oleh: KATARINA YENI DWI SUSANTI

  NIM: 081324021 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 21 September 2012 dan dinyatakan telah memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua Indra Darmawan, S.E., M.Si. Sekretaris Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc. Anggota Indra Darmawan, S.E., M.Si. Anggota Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc. Anggota Dr.C. Teguh Dalyono, M.S.

  Yogyakarta, 21 September 2012 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Sanata Dharma

  

PERSEMBAHAN :

Karya Sederhana ini Kupersembahkan Teruntuk :

  

Bunda Maria, Yesus Kristus dan Santa Katarina yang selalu

ada untukku

Bapakku di surga, terimakasih untuk doa yang selalu dikirim dari

surga untuk yeni, ibuku tercinta Maria Sri Mulyandari

terimakasih untuk doanya, kakeku terkasih, kakak, om dan tanteku

yang selalu mendukungku

  

Seluruh keluarga besar ku.

  

Almamater ku tercinta Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  

MOTTO

Marilah Kepada-Ku, Semua yang letih lesu dan berbeban berat,

Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

  

(Matius 11:28)

Sebelum melakukan apapun jangan lupa untuk berdoa dan selalu

berusaha

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 21 September 2012 Penulis

  Katarina Yeni Dwi Susanti LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : KATARINA YENI DWI SUSANTI Nomor Mahasiswa : 081324021 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul :

  

PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN KEBONARUM

KABUPATEN KLATEN TERHADAP SERTIFIKASI GURU

BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN, STATUS GURU, DAN

LOKASI PENUGASAN.

  Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 21 September 2012 Yang menyatakan Katarina Yeni Dwi Susanti

  

ABSTRAK

PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN KEBONARUM

KABUPATEN KLATEN TERHADAP SERTIFIKASI GURU

BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN, STATUS GURU DAN

LOKASI PENUGASAN

  Katarina Yeni Dwi Susanti Universitas Sanata Dharma

  Yogyakarta 2012

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru berdasarkan tingkat pendidikan, status guru dan lokasi penugasan.

  Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum Kabupaten Klaten pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2012. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Populasi dalam penelitian ini semua guru Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum Kabupaten Klaten dan tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel jenuh.

  Teknik analisa data menggunakan uji F.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan (F hitung = 1,345 < Ftabel =2,69); (2) Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru (Fhitung = 2,778 > Ftabel = 2,69); (3) Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan lokasi penugasan (Fhitung = 10,094 > Ftabel = 2,69).

  

ABSTRACT

ELEMENTARY SCHOOL TEACHER’S PERCEPTION TOWARDS

TEACHERS’ CERTIFICATE BASED ON THE EDUCATIONAL LEVEL,

TEACHER’S STATUS AND THE PLACE OF WORKING

  

A CASE STUDY ON ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS IN

KEBONARUM DISTRICT, KLATEN REGENCY

  Katarina Yeni Dwi Susanti Sanata Dharma University

  Yogyakarta 2012

  The purpose of t his research is to know: the difference of teachers’ perception towards teachers’ certificate based on the educational level, teachers’ status and the place they work.

  The research was done in elementary schools in Kebonarum district, Klaten regency in June to July 2012. The data collection technique is questionnaire. The population of this research are all the elementary school teachers in Kebonarum district, Klaten regency and the technique taking samples is satuarted technique. The technique of data analysis is F tested.

  The results of this research show that: (1) There isn’t any difference of teachers’ perception towards the certification based on the educational level (F count= 1,345 < F table= 2,69); (2) There is the difference of the teachers’ perce ption towards the certifiacation based on teachers’ status (F count= 2,778 >

  F table= 2,69); (3) There is difference of teachers’ perception towards the certification based on the place of working (Fcount= 10,094 > F table= 2,69)

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kehadirat Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus atas segala berkat dan binbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul Persepsi Guru Sekolah Dasar Di Kecamatan Kebonarum Kabupaten Klaten Terhadap Sertifikasi Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan, Status Guru, Dan Lokasi Penugasan.

  Dalam penyusunan skripsi ini penulis memperoleh banyak bantuan, semangat, dan doa yang sangat mampu menguatkan dan mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

  1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi dan selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar, memberi saran dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini sampai selesai.

  3. Bapak Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktunya, memberikan saran, masukan, serta pengarahan

  4. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi serta para staf karyawan USD Yogyakarta yang telah memberikan bimbingan dan pelayanan selama penulis menyelesaikan studi di USD.

  5. Bapak dan Ibu guru Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum yang telah meluangkan waktu dan tenaga dalam membantu melaksanakan penelitian guna menyelesaikan skripsi ini.

  6. Kedua orang tuaku tercinta Bapak Robertus Idris Susanto (Alm) dan Ibu Maria Sri Mulyandari yang telah memberikan doa, cinta, dan dukungan baik moril maupun materiil kepada ku dalam segala hal. Terimakasih atas segala cinta dan kasih sayang yang telah bapak dan ibu berikan untuk yeni. Yesus menyertai ibu dan memberikan tempat yang terindah bagi bapak di surga, Amin.

  7. Kakek ku tercinta Ignatius Sukardi yang tak pernah lelah untuk selalu berdoa untuk ku. Terimakasih kakek atas segala pengajaran yang aku dapatkan dari kakek.

  8. Om ku Agustinus Sudarsono, bulek Rini, bulek suster Widyaningsih.PI, om Budi dan bulek Puji. Terimakasih untuk semua yang telah kalian berikan untuk ku, sehingga aku bisa bangkit kembali dan menjadi orang yang bisa membawa berkah bagi semua orang.

  9. Buat kakak ku Th. Purwaningsih. Terimakasih mbak atas perhatiannya untuk ku.

  10. Keponakan-keponakan ku tersayang Rio, Michael, Vera, Mareta, Paska, Ataya, Peter. Terimakasih atas segala keceriaan yang kalian bawa saat aku pusing menyelesaikan skripsi. Tapi sekarang tante bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.

  11. Fidelis Ermawan Setyo Budi Santoso. Terimakasih atas kesabaran, kasih sayang dan doa yang diberikan untukku.

  12. Sahabat-sahabat ku tercinta Endut, Memet, Ewer, Nyit-nyit, Wardani, Agnes, Ogeb, Yayuk, Mia, Akbar, Rian, Mbk Vebi, Cemplok, Mas Rilo dan Mas Trisno. Terimakasih atas segala kasih sayang, doa, keceriaan dan dukungan yang kalian bawa untuk ku. Semoga persahabatan kita akan abadi selamanya.

  13. Teman-teman kelas ku Prodi Pendidikan Ekonomi angkatan 2008.

  Terimakasih atas segala kebersamaan yang kita ciptakan selama ini. Hidup PE

  14. Buat teman-teman di kost Pringgodani 10. Rini, Novel, Itha, Mbk Vera, Feny, Agnes, Marsel. Terimakasih atas semuanya yang kalian berikan untuk ku.

  15. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada penulis yang tidak dapat disebut satu persatu.

  Dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu berbagai saran, kritik dan masukkan sangat diharapkan demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

  Yogyakarta, 21 September 2012 Penulis

  Katarina Yeni Dwi Susanti

  

DAFTAR ISI

Halaman

  HALAMAN JUDUL ............................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv HALAMAN MOTTO ............................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................. vii ABSTRAK .............................................................................................. viii

  ABSTRACT .............................................................................................. xi

  KATA PENGANTAR ............................................................................ x DAFTAR ISI ........................................................................................... xiv DAFTAR TABEL ................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN .......................................................................

  1 A. Latar Belakang ........................................................................

  1 B. Batasan Masalah.......................................................................

  8 C. Rumusan Masalah ....................................................................

  8 D. Definisi Operasional.................................................................

  9 E. Tujuan Penelitian .....................................................................

  11 F. Manfaat Penelitian ...................................................................

  11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................

  13 A. Pengertian Persepsi ..................................................................

  13 B. Hakikat Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru ..................

  14 C. Program Sertifikasi Guru .........................................................

  18 D. Tingkat Pendidikan ..................................................................

  39

  F. Lokasi Penugasan .....................................................................

  76 3. SD Negeri I Ngrundul ..............................................................

  86 A. Deskripsi Data ..........................................................................

  84 BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ..............................

  83 13. SD-IT Al Hasna Gondang................................................... .....

  82 12. MI Muhammadiyah Basin........................................................

  81 11. SD Negeri Basin................................................................ .......

  81 10. SD Negeri I Menden........................................................... .....

  80 9. SD Negeri I Malangjiwan ........................................................

  79 8. SD Negeri II Gondang .............................................................

  79 7. SD Negeri I Gondang ...............................................................

  78 6. SD Negeri II Karangduren ......................................................

  77 5. SD Negeri I Karangduren.........................................................

  77 4. SD Negeri II Ngrundul .............................................................

  75 2. SD Negeri II Pluneng ...............................................................

  43 G. Kerangka Berpikir ....................................................................

  75 1. SD Negeri I Pluneng ................................................................

  69 BAB IV GAMBARAN UMUM .............................................................

  65 H. Teknik Analisis Data ................................................................

  65 G. Pengujian Instrumen Penelitian ...............................................

  54 F. Teknik Pengumpulan Data .......................................................

  53 E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya ..................................

  52 D. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ...............

  51 C. Subjek dan Objek Penelitian ....................................................

  51 B. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................

  51 A. Jenis Penelitian .........................................................................

  50 BAB III METODE PENELITIAN..........................................................

  47 I. Hipotesis ...................................................................................

  44 H. Kajian Hasil Penelitian Sebelumnya …………………………

  86

  a. Tingkat Pendidikan Guru .............................................

  87 b. Status Guru ...................................................................

  88 c. Lokasi Penugasan ........................................................

  88 2. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi ......................................

  89

  a. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau dari Tingkat Pendidikan .......................................................

  90

  b. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau dari Status Guru ....................................................................

  91

  c. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau dari Lokasi Penugasan....................................................... ...

  92 B. Hasil Pengujian Normalitas dan Homogenitas .........................

  93 1. Uji Normalitas ......................................................................

  93 2. Uji Homogenitas ..................................................................

  96 3. Pengujian Hipotesis........................................................... ...

  98 C. Hasil Pembahasan Data............................................................. 101

  1. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau dari Tingkat Pendidikan ........................................................... 101

  2. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau dari Status Guru.................................................................... .... 105

  3. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau dari Lokasi Penugasan .............................................................. 108

  BAB VI KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN .............. 111 A. Kesimpulan ............................................................................. 111 B. Saran ......................................................................................... 113 C. Keterbatasan Penelitian ............................................................ 117 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 118 LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL

  80 Tabel IV.8 Data Responden .................................................................

  88 Tabel V.5 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi ...................................

  88 Tabel V.4 Lokasi Penugasan Responden ............................................

  87 Tabel V.3 Status Responden ...............................................................

  86 Tabel V.2 Tingkat Pendidikan Responden .........................................

  84 Tabel V.1 Sebaran Responden Penelitian ...........................................

  83 Tabel IV.13 Data Responden .................................................................

  82 Tabel IV.12 Data Responden .................................................................

  82 Tabel IV.11 Data Responden .................................................................

  81 Tabel IV.10 Data Responden .................................................................

  80 Tabel IV.9 Data Responden .................................................................

  79 Tabel IV.7 Data Responden .................................................................

  Tabel III.1 Daftar Nama Sekolah dan Jumlah Guru dalam Penelitian ...........................................................................

  78 Tabel IV.6 Data Responden .................................................................

  77 Tabel IV.5 Data Responden .................................................................

  77 Tabel IV.4 Data Responden .................................................................

  76 Tabel IV.3 Data Responden .................................................................

  75 Tabel IV.2 Data Responden .................................................................

  69 Tabel IV.1 Data Responden .................................................................

  66 Tabel III.5 Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian ...

  64 Tabel III.4 Hasil Uji Validitas untuk Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi ...........................................................................

  61 Tabel III.3 Skor Pernyataan Persepsi Guru terhadap Sertifikasi .........

  53 Tabel III.2 Operasionalisasi Variabel Persepsi Guru terhadap Sertifikasi ...........................................................................

  89

  Tingkat Pendidikan ............................................................

  90 Tabel V.7 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Status Guru ........................................................................

  91 Tabel V.8 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan ..............................................................

  92 Tabel V.9 Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan ........................................................................

  94 Tabel V.10 Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Status Guru ........

  95 Tabel V.11 Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan .........................................................................

  96 Tabel V.12 Tabel Homogenitas ............................................................

  97 Tabel V.13 Tabel One Way Anova Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan .......................................

  98 Tabel V.14 Tabel One Way Anova Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Status Guru ................................................... 100

  Tabel V.15 Tabel One Way Anova Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan ......................................... 101

  

DAFTAR LAMPIRAN

  INSTRUMEN PENELITIAN Lampiran 1 Kuesioner ........................................................................... 120 Lampiran II Data Prapenelitian .............................................................. 126 Lampiran III Hasil Uji Validitas dan Reabilitas ...................................... 128 Lampiran IV Data Induk Penelitian ......................................................... 130 Lampiran V Deskripsi Data .................................................................... 139 Lampiran VI Normalitas dan Homogenitas ............................................. 141 Lampiran VII Pengujian Hipotesis ........................................................... 144 Lampiran VIII Surat Ijin Penelitian ........................................................... 147

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Guru merupakan komponen yang penting dan utama dalam suatu

  proses belajar mengajar di sekolah. Keberhasilan suatu pendidikan ditentukan juga oleh keberhasilan dan kualitas guru dalam memberikan pengajaran bagi peserta didik. Menurut Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kemendiknas Baedhowi, kualitas seorang guru terkait dengan dua hal, yakni kualifikasi dan kompetensi. Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki masalah, salah satunya dalam bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia masih sangat tertinggal jauh dengan negara berkembang lainnya. Hal ini salah satunya disebabkan oleh masih rendahnya kualitas guru-guru di Indonesia.

  Menurut Fakmi Lukman seorang pengamat pendidikan, kualitas guru di Indonesia berada pada posisi 112 sedangkan Vietnam pada posisi 109 (Rachman. 2009). Kualitas guru di Indonesia yang masih sangat rendah ini dikarenakan masih rendahnya kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki oleh guru dan system penerimaan seseorang menjadi guru. Saat ini ada pemahaman masyarakat bahwa guru adalah profesi yang tidak terlalu dihargai dengan baik. Sehingga kemudian muncul pemahaman bahwa profesi guru menjadi profesi alternatif paling akhir ketika sudah tidak ada lagi pekerjaan lain. Berbeda dengan negara lain yang menghargai profesi guru maupun dosen sehingga untuk menjadi guru atau dosen merupakan suatu hal yang tidak mudah. Indonesia juga ditantang oleh dunia luar untuk berani menjawab tantangan-tantangan dari dunia luar yang pada jaman sekarang sudah semakin canggih dan maju. Lewat pendidikan inilah Indonesia harus mampu dan bisa untuk menjawab tantangan- tantangan global. Pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi bangsa kita dalam mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Seperti contohnya pemerintah Kamboja dan Thailand yang mulai berbenah diri dengan berfokus pada pendidikan warga negaranya. Kedua negara ini mulai merintis pendidikan gratis bagi warganya. Pemerintah Kamboja sendiri mulai mengalihkan sembilan belas persen dari total anggarannya yang biasanya digunakan sebagai angaran militer untuk mendukung pengembangan pendidikan.

  Undang-undang No.20 Tahun 2003 (Sikdinas, pasal 3) menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang mampu berpikir global, mampu bertindak lokal, serta dilandasi oleh akhlak yang mulia.

  Guru merupakan komponen paling menentukan dalam proses pendidikan karena ditangan gurulah kurikulum, sumber belajar, sarana dan prasarana, dan iklim pembelajaran menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan peserta didik. Menurut Mulyasa (2007) guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan serta keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Dalam dunia pendidikan, guru merupakan salah satu komponen penting yang tidak bisa diabaikan. Guru menjadi subjek utama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.

  Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Kemendiknas.). Oleh karena itu guru bukanlah sebuah profesi yang mudah diremehkan begitu saja. Untuk menjadi seorang guru dituntut harus memiliki keahlian tersendiri dan ini didapat juga dengan proses pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas guru tersebut, pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian lewat sertifikasi yang tertuang pada Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mengarah pada perlindungan hak dan kewajiban guru, profesi guru serta mengarah pada peningkatan kesejahteraan guru. Program sertifikasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru sebagai tenaga pendidik Indonesia agar dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Dalam program sertifikasi tersebut terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru agar dapat menjadi tenaga pendidik yang dapat meningkatkan mutu pendidikan Indonesia yang berkualitas. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah (1) kompetensi pedagogik (2) kompetensi profesional (3) kompetensi kepribadian dan (4) kompetensi sosial. Semua kompetensi tersebut haruslah dimiliki oleh guru dan keempat kompetensi tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak bisa terpisahkan. Sertifikasi guru bertujuan untuk: (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, (2) meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, (3) meningkatkan kesejahteraan guru, serta (4) meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

  Dengan diselenggarakannya sertifikasi oleh pemerintah diharapkan dapat meningkatkan guru agar dapat menjadi tenaga yang profesional.

  Memaknai dasar dan tujuan sertifikasi, maka dalam pelaksanaannya baik para guru peserta sertifikasi, panitia pelaksana maupun instansi yang terkait dengan aktivitas sertifikasi jangan memanfaatkan sertifikasi hanya untuk memperoleh tambahan tunjangan dan pendapatan semata, tetapi semua pihak harus memiliki komitmen dan menunjukkan akuntabilitas kinerjanya yang didasari nilai moral yang tinggi.

  Kondisi kualitas guru yang masih rendah di Indonesia juga dapat terlihat di Kabupaten Klaten. Di Kabupaten Klaten ada sekitar 6.000 guru PNS yang belum mengikuti program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Dari total guru berjumlah sekitar 11.141 guru PNS , yang lulus proses sertifikasi sekitar 5.000 orang. Total guru PNS yang sudah lulus sertifikasi tersebut berasal dari tingkat pendidikan TK, SD, SMP, SMA dan SMK (Duhri. 2012). Selain itu guru-guru di Kabupaten Klaten dalam mengikuti sertifikasi juga dengan menempuh lewat proses PLPG yang diselenggarakan oleh perguruan-perguruan tinggi. Menurut data yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Surakarta jumlah peserta PLPG dari Dinas Klaten pada tahap I

  • – X kurang lebih 953 guru, baik dari guru TK, SD, SMP, SMA maupun SMK. Dari 983 peserta dari klaten yang dinyatakan lulus 380 (39,87%) dan yang tidak lulus 573 (60,13%). Dari data total tersebut yang sangat memprihatinkan adalah peserta dari guru SD. Pada PLPG tahap I – VI jumlah peserta guru SD sebanyak 556, yang lulus 164 (28,98%) dan yang tidak lulus 402 (71,02%). PLPG SD pada tahap VII
  • – X jumlah peserta guru SD sebanyak 145, yang lulus 54 (37,24%) dan yang tidak lulus 91 (62,76%). Tingkat kelulusan PLPG

  (Pendidikan Latihan Profesi Guru) menunjukkan tingkat yang sangat memprihatinkan. Rendahnya tingkat kelulusan ini bisa disebabkan rendahnya SDM, rendahnya minat mengikuti PLPG, beban psikologis masing-masing peserta, umur yang sudah renta atau rendahnya guru-guru dalam menulis suatu karya tulis seperti PTK (Penilitian Tindakan Kelas).

  Guru-guru SD pada umumnya berasal dari tingkat pendidikan yang berbeda. Tidak hanya berasal dari tingkat pendidikan S1 saja, ada juga guru SD yang lulusan D2 maupun D3 yang menjadi guru. Guru-guru di Kabupaten Klaten khususnya guru SD yang ada di Kecamatan Kebonarum juga berasal dari tingkat pendidikan yang berbeda. Dari latar belakang pendidikan yang berbeda inilah akan menimbulkan persepsi atau cara mengenai sertifikasi.

  Status guru di sekolah juga akan mempengaruhi tingkat kesejahteraannya. Seorang guru negeri tentu akan memiliki tingkat kesejahteraan yang berbeda dengan seorang guru swasta. Guru-guru di Kabupaten Klaten yang telah mengikuti sertifikasi pada umumnya adalah PNS. Guru-guru di Kabupaten Klaten khususnya guru SD di Kecamatan Kebonarum yang masih berstatus sebagai guru honorer maupun guru tidak tetap akan memiliki persepsi terhadap sertifikasi terkait dengan statusnya sebagai guru.

  Lokasi penugasan guru berkenaan dengan tempat atau lokasi dimana seorang guru akan mengajar. Penempatan seorang guru merupakan salah satu langkah awal suksesnya seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Untuk itu, masalah penempatan guru ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. Jika salah penempatan, maka harapan agar guru bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, akan sulit terwujud. Selain itu, lokasi penugasan ini juga terkait dengan tingkat pemerataan guru oleh pemerintah. Guru yang ditempatkan di daerah kota harus siap bila suatu saat dia ditempatkan atau dipindahkan untuk mengajar di daerah pedesaan, begitupun sebaliknya. Tingkat pemerataan guru bertujuan agar pendidikan di Kabupaten Klaten khususnya, bisa lebih merata dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Klaten. Tingkat pemerataan guru di Kabupaten Klaten terkait dengan lokasi penugasannya, pemerintah Kabupaten Klaten telah mencoba untuk meratakan guru-guru SD khususnya agar pendidikan di Kabupaten Klaten bisa lebih merata.. Dengan penempatan yang berbeda inilah akan menimbulkan cara pandang guru mengenai sertifikasi.

  Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul

  PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN KEBONARUM KABUPATEN KLATEN TERHADAP SERTIFIKASI GURU BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN, STATUS GURU DAN LOKASI PENUGASAN”. Dengan studi kasus dalam penelitian ini adalah semua guru-guru Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten.

  B. Batasan masalah

  Ada banyak faktor yang mempengaruhi guru terhadap sertifikasi guru. Oleh karena itu maka peneliti membatasi penelitian pada persepsi guru sekolah dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten terhadap sertifikasi guru berdasarkan tingkat pendidikan, status guru dan lokasi penugasan.

  C. Rumusan masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu sebagai berikut :

  1. Apakah ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan guru ?

  2. Apakah ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru ?

  3. Apakah ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan lokasi penugasan ?

  D . Definisi operasional

  Dalam penelitian ini definisi operasional dari masing-masing variabel akan diuraikan sebagai berikut :

  1. Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Persepsi guru terhadap sertifikasi merupakan proses penerimaan, pemahaman dan penginterpretasian seorang guru terhadap sertifikasi melalui proses stimulus yang diterimanya. Sertifikasi guru itu sendiri merupakan proses pemberian sertifikat pendidik kepada seorang guru yang telah mengikuti sertifikasi. Dalam variabel persepsi guru terhadap sertifikasi ini akan dilihat bagaimana persepsi guru terhadap sertifikasi melalui 10 komponen portofolio yang merupakan salah satu instrumen dalam mengikuti sertifikasi guru.

  2. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan ukuran tinggi rendahnya pendidikan formal terakhir yang diperoleh oleh seorang guru. Dalam variabel tingkat pendidikan ini akan dilihat mengenai pendidikan formal terakhir yang diperoleh seorang guru, baik itu pendidikan terakhir mulai dari SMA hingga S1 atau bahkan S2. Dari masing- masing tingkat pendidikan yang berbeda dari masing-masing guru inilah akan dilihat bagaimana persepsi guru terhadap sertifikasi.

  3. Status Guru Status guru merupakan pengangkatan seorang guru sebagai pegawai tetap atau sebagai pegawai belum tetap. Status guru juga bisa diartikan sebagai kedudukan guru dalam suatu sekolah. Variabel status guru ini dapat dilihat dari masing-masing status yang dimiliki oleh seorang guru dalam suatu sekolah. Ada 4 macam status guru, yaitu Guru Honorer, Guru Tidak Tetap Yayasan, Guru Tetap Yayasan, dan Guru Pegawai Negeri Sipil.

  4. Lokasi Penugasan Lokasi penugasan merupakan penempatan guru dalam mengajar di sekolah. Lokasi penugasan ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu desa dan kota. Pengkategorian desa maupun kota ini didasarkan pada tatanan atau aturan administratif yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. Dikategorikan desa apabila sekolah dalam menangani dan menyelenggrakan kegiatan sekolah masih ada campur tangan dari pihak kelurahan maupun perangkat desa. Sedangkan kategori kota apabila sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan sekolah sudah memiliki hak atau wewenang sendiri dan tidak melibatkan perangkat desa.

  E. Tujuan penelitian

  Dari rumusan masalah yang dikemukakan diatas, dapat dirumuskan tujuan penelitian yang akan dicapai yaitu :

  1. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan guru.

  2. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru.

  3. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan lokasi penugasan.

  F. Manfaat penelitian

  1. Bagi guru Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif bagi guru yang sudah mengikuti sertifikasi untuk peningkatan keprofesionalnya sebagai seorang guru dan dapat memberikan masukan bagi guru tentang sertifikasi. Selain itu hasil penelitian ini juga dapat memberikan manfaat dan gambaran tentang sertifikasi bagi guru- guru Sekolah Dasar untuk meningkatkan kualitas guru dalam pendidikan di tingkat dasar.

  2. Bagi peneliti Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi peneliti, karena peneliti secara langsung dapat mengetahui persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan, status guru dan lokasi penugasan. Selain itu peneliti juga mendapatkan wawasan, pengetahuan serta pengalaman baru karena telah terjun langsung dalam melakukan penelitian ini.

  3. Bagi pemerintah Kabupaten Klaten Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi pemerintah kabupaten Klaten khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten dalam menyelenggarakan sertifikasi guru terkait dengan tingkat pendidikan yang dimiliki guru, status guru dalam sekolah dan tingkat pemerataan guru saat ditempatkan di daerah yang berbeda.

  4. Bagi perpustakaan Universitas Sanata Dharma Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan sekaligus masukan bagi penelitian selanjutnya dan dapat menjadi tambahan referensi dan informasi bagi perpustakaan Universitas Sanata Dharma.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Persepsi Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses

  penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris (Walgito, Bimo.2005).

  Persepsi merupakan proses yang integrated dalam diri individu terhadap stimulus yang diterimanya (Moskowitz dan Orgel.1969). Dalam penginderaan orang akan mengaitkan dengan stimulus, sedangkan dalam persepsi orang akan mengaitkan dengan objek (Branca.1964). Menurut Davidoff (1981:100) dengan persepsi individu akan menyadari tentang keadaan di sekitarnya dan juga keadaan diri sendiri. Persepsi itu bersifat individual (Davidoff.1981; Rogers.1965).

  Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Stimulus merupakan salah satu faktor yang berperan dalam persepsi.

  Faktor-faktor yang berperan dalam persepsi menurut Walgito (2005:101) adalah sebagai berikut :

  1. Objek yang dipersepsi

  Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagi reseptor.

  2. Alat indera, syaraf dan pusat susunan syaraf Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran.

  3. Perhatian Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.

B. Hakikat Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru

  Pada hakikatnya, standar kompetensi dan sertifikasi guru adalah untuk mendapatkan guru yang baik dan profesional, yang memilki kompetensi untuk melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah khususnya serta tujuan pendidikan pada umumnya, sesuai kebutuhan masyarakat dan tuntutan jaman (Mulyasa, M.Pd.2007). Beberapa indikator yang dapat dijadikan ukuran karakteristik guru yang dinilai kompeten secara profesional antara lain :1) Mampu mengembangkan tanggung jawab dengan baik, 2) Mampu melaksanakan peran dan fungsinya dengan tepat, (3 Mampu bekerja untuk mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah, (4 Mampu melaksanakan peran dan fungsinya dalam pembelajaran di kelas 1.

   Pengertian Guru

  Pengertian guru menurut wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, guru (dayang berarti guru, tetapi arti secara Dalam guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluaanak usia dini jalur atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.

2. Peran dan Fungsi Guru

  Menurut Mulyasa (2007:9) peran dan fungsi guru dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a. Sebagai pendidik dan pengajar Bahwa setiap guru harus memiliki kestabilan emosi, ingin memajukan peserta didik, bersikap realistis, jujur dan terbuka, serta peka terhadap perkembangan terutama inovasi pendidikan. Untuk mencapai semua itu, guru harus memiliki pengetahuan yang luas, menguasai berbagai jenis bahan pembelajaran, menguasai teori dan praktek pendidikan, serta menguasai kurikulum dan metodologi pembelajaran.

  b. Sebagai anggota masyarakat Bahwa setiap guru harus pandai bergaul dengan masyarakat. Untuk itu, harus menguasai psikologi sosial, memiliki pengetahuan tentang hubungan antar manusia, memiliki ketrampilan membina kelompok, ketrampilan bekerjasama dalam kelompok dan menyelesaikan tugas bersama dalam kelompok.

  c. Sebagai pemimpin Bahwa setiap guru adalah pemimpin, yang harus memiliki kepribadian, menguasai ilmu kepemimpinan, prinsip hubungan antar manusia, teknik berkomunikasi, serta menguasai berbagai aspek kegiatan organisasi sekolah.

  d. Sebagai administrator Bahwa setiap guru akan dihadapkan pada berbagai tugas administrasi yang harus dikerjakan di sekolah, sehingga harus memiliki pribadi yang jujur, teliti, rajin, serta memahami strategi dan manajemen pendidikan.

  e. Sebagai pengelola pembelajaran Bahwa setiap guru harus mampu dan menguasai berbagai metode pembelajaran dan memahami situasi belajar-mengajar di dalam maupun di luar kelas.

3. Profesionalisme Guru

  Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan, melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Pada prinsipnya setiap guru harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan tugasnya. Jika jumlah guru cukup banyak, maka kepala sekolah dapat meminta bantuan wakilnya atau guru senior untuk melakukan supervisi. Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh meningkatnya kinerja guru yang ditandai dengan kesadaran dan keterampilan melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.

  Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi profesi. Dari pengertian di atas seorang guru yang profesional harus memenuhi empat kompetensi guru yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen yaitu: kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

C. Program Sertifikasi Guru 1. Pengertian Sertifikasi Guru

  Dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang disahkan pada tanggal 30 Desember 2005, di kemukakan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

  Berikut ini dikutipkan beberapa pasal yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen agar pemahaman tentang sertifikasi lebih 1 jelas :

Pasal 1 butir 11 : Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru dan dosen.

  Pasal 8 : Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendididk, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

  Pasal 11 butir 1 : Sertifikasi pendidik sebagaimana dalam Pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Pasal 16 : Guru yang memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji, guru negeri maupun swasta dibayar pemerintah .

2. Tujuan dan Manfaat Sertifikasi Guru

  Menurut H. Suyatno, M.Pd (2008) tujuan sertifikasi sebagai berikut :

  a. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; b. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan;

  c. Meningkatkan martabat guru; d. Meningkatkan profesionalitas guru.

  Sedangkan manfaat sertifikasi sebagai berikut :

  a. Melindungi profesi guru dari praktek yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru; b. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional; c. Meningkatkan kesejahteraan guru.

3. Kompetensi Guru Profesional

  Kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.

  Sementara itu, menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002, kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Jadi kompetensi guru dapat dipahami sebagai tindakan kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran. Dalam Undang- Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Keempat jenis kompetensi guru yang dipersyaratkan diuraikan sebagai berikut: a. Kompetensi pedagogik

  Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan

  Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

  b. Kompetensi kepribadian Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b dikemukakan kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Menurut Mulyasa (2007:117) kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa pada umumnya.

  c. Kompetensi profesional Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

  d. Kompetensi sosial Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d dikemukakan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Guru adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupannya tidak bisa terlepas dari kehidupan sosial masyarakat dan lingkungannya.

4. Dasar Hukum Sertifikasi Guru

  Menurut Dirjendikti Kemendiknas(2010:2) dasar hukum pelaksanaan sertifikasi guru adalah sebagai berikut : a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

  b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

  c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

  d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

  f. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru dalam jabatan.

  g. Keputusan Mendiknas Tahun 2009 tentang Pembentukan Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG).

  h. Keputusan Mendiknas Nomor 022/P/2009 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Guru dalam jabatan. i. Surat Edaran Ketua KSG Nomor 1357/D/T/2009, tanggal 10

  Agustus 2009 tentang Kesepakatan Rapat KSG tanggal 17 Juli 2009. j. Surat Edaran Ketua KSG Nomor 1876/D/T/2009, tanggal 19

  Oktober 2009, tentang Kesepakatan Rapat KSG tanggal 14 Oktober 2009.

5. Pelaksanaan Sertifikasi Guru Melalui Uji Kompetensi Portofolio a. Pengertian Portofolio

  Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/ prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Portofolio ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran. pada tingkat kompetensi guru yang bersangkutan, yang mencakup kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dalam peraturan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia (RI) no. 18 Tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

b. Fungsi Portofolio

  Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru (khususnya guru dalam jabatan) adalah untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, prestasi akademik, dan karya pengembangan profesi.

  Portofolio juga berfungsi sebagai: (1) wahana guru untuk menampilkan dan/atau membuktikan unjuk kerjanya yang meliputi produktivitas, kualitas, dan relevansi melalui karya-karya utama dan pendukung; (2) informasi/data dalam memberikan pertimbangan tingkat kelayakan kompetensi seorang guru, bila dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan; (3) dasar menentukan kelulusan seorang guru yang mengikuti sertifikasi (layak mendapatkan sertifikat pendidikan atau belum); dan (4) dasar memberikan rekomendasi bagi peserta yang belum lulus untuk menentukan kegiatan lanjutan sebagai representasi kegiatan pembinaan dan pemberdayaan guru.

c. Komponen Portofolio

  1) Kualifikasi akademik Kualifikasi akademik adalah ijazah pendidikan tinggi yang dimiliki oleh guru pada saat yang bersangkutan mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S-1, S-2, atau S-3) maupun nongelar (D-IV), baik di dalam maupun di luar negeri. Khusus untuk peserta sertifikasi yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1/D-IV sesuai Ketentuan Peralihan Pasal 66 PP 74 Tahun 2008, komponen kualifikasi akademik adalah ijazah pendidikan terakhir yang dimiliki oleh guru peserta sertifikasi. Bukti fisik kualifikasi akademik berupa ijazah atau serttifikat diploma.

  2) Pendidikan dan pelatihan Pendidikan dan pelatihan adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti oleh guru dalam rangka pengembangan dan/atau peningkatan kompetensi selama melaksanakan tugas sebagai pendidik, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik komponen pendidikan dan pelatihan ini berupa sertifikat atau piagam yang dikeluarkan oleh lembaga penyelenggara.

  3) Pengalaman mengajar Pengalaman mengajar adalah masa kerja sebagai guru pada jenjang, jenis, dan satuan pendidikan formal tertentu. Bukti fisik dari komponen pengalaman mengajar ini berupa surat keputusan, surat tugas, atau surat keterangan dari lembaga yang berwenang (pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, atau satuan pendidikan).

  4) Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Komponen dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu

  Perencanaan pembelajaran adalah persiapan pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk satu topik atau kompetensi tertentu.

  Perencanaan pembelajaran sekurang-kurangnya memuat perumusan tujuan/kompetensi, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber/media pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian proses dan hasil belajar

  Pelaksanaan pembelajaran adalah kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kinerja guru tersebut meliputi tahapan pra pembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi), kegiatan inti (pengusaan materi, strategi pembelajaran, pemanfaatan media/sumber belajar, evaluasi, penggunaan bahasa), dan penutup (refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut).

  5) Penilaian dari atasan dan pengawas Penilaian dari atasan dan pengawas adalah penilaian atasan terhadap kompetensi kepribadian dan sosial, yang meliputi aspek- aspek ketaatan menjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreatifitas, kemampuan menerima kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama.

  6) Prestasi akademik Prestasi akademik adalah prestasi yang dicapai guru dalam yang mendapat pengakuan dari lembaga/panitia penyelenggara, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Komponen ini meliputi lomba dan karya akademik (juara lomba atau penemuan karya monumental di bidang pendidikan atau nonkependidikan), pembimbingan teman sejawat (instruktur, guru inti, tutor), dan pembimbingan siswa kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, drumband, mading, karya ilmiah remaja-KIR, dan lainlain). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara.

  7) Karya pengembangan profesi Karya pengembangan profesi adalah hasil karya dan/atau aktivitas guru yang menunjukkan adanya upaya pengembangan profesi. Komponen ini meliputi buku yang dipublikasikan pada tingkat kabupaten/ kota, provinsi, atau nasional; artikel yang dimuat dalam media jurnal/majalah/buletin yang tidak terakreditasi, terakreditasi, dan internasional; menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN; modul/buku cetak lokal (kabupaten/kota) yang minimal mencakup materi pembelajaran selama 1 (satu) semester; media/ alat pembelajaran dalam bidangnya; laporan penelitian tindakan kelas (individu/ kelompok); dan karya seni (patung, rupa, tari, lukis, sastra, dan lain-lain). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut.

  8) Keikutsertaan dalam forum ilmiah Keikutsertaan dalam forum ilmiah adalah partisipasi guru dalam forum ilmiah (seminar, semiloka, simposium, sarasehan, diskusi panel, dan jenis forum ilmiah lainnya) pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, atau internasional, baik sebagai nara sumber/pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dilampirkan berupa makalah dan sertifikat/ piagam bagi nara sumber, dan sertifikat/ piagam bagi peserta.

  9) Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial adalah keikutsertaan guru menjadi pengurus organisasi kependidikan atau organisasi sosial pada tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, atau internasional, dan/ataumendapat tugas tambahan. Pengurus organisasi di bidang kependidikan antara lain: pengurus Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS), Forum Kelompok Kerja Guru (FKKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI), Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), dan Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonensia

  (ISMaPI), dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pengurus organisasi sosial antara lain: ketua RT, ketua RW, ketua LMD/BPD, dan pembina kegiatan keagamaan. Mendapat tugas tambahan antara lain: kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua jurusan, kepala laboratorium, kepala bengkel, kepala studio, kepala klinik rehabilitasi, dan lain-lain. Bukti fisik yang dilampirkan adalah surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.

  10) Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan adalah penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama waktu, hasil, lokasi/ geografis), kualitatif (komitmen, etos kerja), dan relevansi (dalam bidang/rumpun bidang), baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat, piagam, atau surat keterangan.

6. Pelaksanaan Sertifikasi Guru Melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)

  Peserta sertifikasi melalui penilaian portofolio yang belum mencapai skor minimal kelulusan, diharuskan (a) untuk melengkapi portofolio, atau (b) mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru

  (PLPG) yang diakhiri dengan ujian. Untuk menjamin standardisasi mutu proses dan hasil PLPG, perlu disusun rambu-rambu penyelenggaraan PLPG.

a. Dasar Hukum

  Sertifikasi bagi guru dalam jabatan sebagai upaya meningkatkan profesionalitas guru dan meningkatkan mutu layanan dan hasil pendidikan di Indonesia, diselenggarakan berdasarkan landasan hukum sebagai berikut:

  1) Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

  2) Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

  3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

  4) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.

  5) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

  6) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan.

b. Tujuan

  Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan menentukan kelulusan guru peserta sertifikasi yang belum mencapai batas minimal skor kelulusan pada penilaian portofolio.

7. Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  Di samping sertifikasi melalui portofolio bagi guru dalam jabatan, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan berkerjasama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi memprogramkan Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Guru dalam Jabatan yang diakhiri dengan sertifikasi, sehingga guru yang bersangkutan memperoleh sertifikat pendidik (jika memenuhi syarat).

  Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan peran guru sangat penting. Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah no. 74 Tahun 2008 tentang Guru, serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 8 Tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan, menegaskan peranan strategis guru dan dosen dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru merupakan jabatan profesional yang menuntut agar guru memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional..

  Terkait dengan hal tersebut di atas, dalam upaya meningkatkan mutu guru sebagaimana diamanahkan Undang-Undang no. 14 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah no. 74 Tahun 2008, menyebutkan bahwa guru harus berpendidikan minimal S1/D-IV dan wajib memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG).

  a. Pengertian Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  Menurut Undang-Undang no 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian program Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S-1 kependidikan dan S-1 atau D-

  IV non kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik.

  b. Landasan Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  1) Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional

  2) Undang-Undang nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 3) Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

  4) Peraturan Pemerintah nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. 5) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

  6) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 8 Tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan.

c. Tujuan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  Mengacu pada Undang-Undang no. 20/2003 Pasal 3, tujuan umum program pendidikan profesi guru adalah menghasilkan calon guru yang memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

  Tujuan khusus program pendidikan profesi guru seperti yang tercantum dalam permendiknas no. 8 Tahun 2009 Pasal 2 adalah untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran; menindaklanjuti hasil penilaian, melakukan pembimbingan, dan pelatihan peserta didik serta melakukan penelitian, dan mampu mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.

d. Sistem Rekruitmen Peserta PPG Sertifikasi Guru 2012

  1) Seleksi Administrasi Oleh Dinas Pendidikan

  a) Guru dalam jabatan yang telah memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D-IV yang tidak sesuai dengan mata pelajaran, rumpun mata pelajaran, atau satuan pendidikan (TK dan SD) yang diampu, keikutsertaan dalam pendidikan profesi berdasarkan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran dan/atau satuan pendidikan yang diampunya.

  b) Calon peserta PPG mendaftar ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dengan menyerahkan dokumen berikut: (1) Format isian calon peserta PPG (Format P1).

  (2) Foto kopi ijazah S-1/D-IV yang sudah dilegalisasi oleh perguruan tinggi asal atau Kopertis untuk lulusan PTS yang sudah tidak beroperasi. (3) Foto kopi SK pengangkatan sebagai PNS bagi guru PNS, SK GTY atau SK dari Pemda bagi guru bukan PNS.

  (4) Foto kopi SK pengangkatan sebagai guru bukan PNS (guru tetap pada satuan pendidikan tempat yang bersangkutan mengajar) dari kepala sekolah dan/atau yayasan.

  (5) Surat pernyataan kesediaan mengikuti pendidikan dan meninggalkan tugas mengajar yang ditandatangani oleh yang bersangkutan dan kepala sekolah. (6) Surat persetujuan dari Kepala Sekolah dan diketahui oleh Dinas Pendidikan.

  (7) Surat keterangan berbadan sehat dari dokter. (8)Surat keterangan bebas napza dari instansi yang berwenang.

  c) Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan seleksi administrasi calon peserta PPG dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen.

  d) Calon peserta PPG yang dinyatakan lulus seleksi administrasi selanjutnya dikirim ke LPTK dalam daftar hasil seleksi administrasi calon peserta PPG dalam bentuk cetakan (hardcopy) dan file (softcopy) (Format P2).

  2) Seleksi Akademik Oleh LPTK

  a) LPTK melakukan verifikasi dokumen berdasarkan dokumen yang dikirim oleh Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

  b) LPTK melakukan seleksi akademik menggunakan tes dan non tes yang meliputi hal-hal berikut: (1) Tes penguasaan bidang studi (sesuai dengan program PPG yang akan diikuti).

  (2) Tes kemampuan bahasa Inggris.

  (3) Tes potensi akademik. (4) Penelusuran minat dan bakat melalui wawancara dan observasi kinerja c) LPTK menetapkan hasil seleksi sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan melaporkan ke Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Dit. Diktendik) Ditjen Dikti dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP & PMP) dengan menggunakan Format P3.

8. Persyaratan Sertifikasi Guru 2012

  a. Guru yang masih aktif mengajar di sekolah di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  b. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-

  IV) dari program studi yang terakreditasi atau minimal memiliki izin penyelenggaraan.

  c. Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan ketentuan: 1) bagi pengawas satuan pendidikan selain dari guru yang diangkat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun

  2008 tentang Guru (1 Desember 2008), atau

  2) bagi pengawas selain dari guru yang diangkat setelah berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru harus pernah memiliki pengalaman formal sebagai guru.

  d. Guru bukan PNS pada sekolah swasta yang memiliki SK sebagai guru tetap dari penyelenggara pendidikan (guru tetap yayasan), sedangkan guru bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK pengangkatan sebagai guru dari Bupati/Walikota atau dinas pendidikan provinsi/ kabupaten/kota.

  e. sudah menjadi guru pada saat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditetapkan (30 Desember 2005).

  f. Pada tanggal 1 Januari 2013 belum memasuki usia 60 tahun.

  g. Memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK).

  h. Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang BELUM memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV apabila: 1) pada 1 Januari 2012 sudah mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru, atau 2) mempunyai golongan IV/a atau memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a (dibuktikan dengan SK kenaikan pangkat).

D. Tingkat Pendidikan

  Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut Driyarkara (1980:32) pendidikan adalah fenomena fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Pendidikan dalam konteks otonomi daerah diharapkan bisa menjadikan perubahan paradigma dari sentralisasi menjadi desentralisasi, dari budaya petunjuk menjadi penekanan prinsip demokrasi, prakarsa dan aspirasi masyarakat daerah (Mulyasa.2007:4). Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan. Tingkat pendidikan adalah ukuran tinggi rendahnya seseorang yang diukur dari berapa lamanya dia mengenyam pendidikan.

  Tiga jenis pendidikan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut :

  1. Pendidikan formal Pendidikan formal yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Misalnya SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi

  2. Pendidikan nonformal Pendidikan nonformal yaitu jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Misalnya berbentuk kursus-kursus.

  3. Pendidikan informal Pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

  Menurut Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dikemukakan bahwa ada empat macam program pendidikan guru, (Sahertian.1994:68), yaitu:

  a. Program non gelar (program diploma) dengan rincian sebagai berikut : 1) Program Diploma (D1) dengan lama studi 1-2 tahun. 2) Program Diploma 2 (D2) dengan lama studi 2-3 tahun. 3) Program Diploma 3 (D3) dengan lama studi 3-5 tahun.

  b. Program gelar yang melalui jenjang sarjana (S1), dengan lama studi 4-7 tahun.

  c. Program pasca sarjana (S2), dengan lama studi 6-9 tahun.

  d. Program doktor (S3), dengan lama studi 8-11 tahun.

E. Status Guru

  Guru meliputi semua orang di sekolah-sekolah yang bertanggung jawab dalam pendidikan para murid. Status (kedudukan) yang dipergunakan dalam hubungannya dengan guru-guru berarti martabat atau penghargaan yang diberikan kepada mereka, sebagai tingkat pengakuan atas pentingnya fungsi mereka serta atas kemampuan mereka dalam melakukannya dan persyaratan kerja, penggajian serta keuntungan- keuntungan materi lainnya yang diberikan kepada mereka dibandingkan dengan golongan-golongan karya lainnya.

  Menurut Piet A. Sahertian (1994:10) yang dimaksud dengan status guru adalah kedudukan guru dilihat dari propertinya dalam suatu sistem sosial. Di dalam pendidikan, status guru itu terdiri atas :

  1. Guru Negeri adalah guru yang diangkat dan bekerja dalam suatu instansi milik pemerintah, guru yang diperkerjakan di suatu instansi swasta tetapi tetap digaji oleh negara.

  2. Guru swasta adalah guru yang diangkat oleh suatu yayasan tertentu dan digaji oleh yayasan atau lembaga tersebut. Guru swasta masih dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok seperti :

  a. Guru Honorer adalah guru yang bekerja karena diangkat oleh yayasan atau lembaga tertentu dan digaji oleh yayasan tersebut tetapi belum mengajar penuh atau dapat dikatakan sebagai guru bantu. b. Guru Yayasan adalah guru yang diangkat dan digaji oleh yayasan dan sudah berstatus sebagai guru tetap dari yayasan.

  c. Guru Tidak Tetap Yayasan adalah guru yang diangkat dan digaji oleh yayasan tetapi statusnya belum tetap.

  Dalam harian Kompas, Selasa 5 Maret 2012 menjelaskan bahwa ada 9 status guru di Indonesia. Adanya sembilan status guru di Indonesia tersebut disebabkan karena persoalan guru di Indonesia yang semakin semrawut. Sembilan status tersebut antara lain : 1) PNS adalah guru pegawai negeri sipil yang ada di sekolah negeri 2) PNS Kementrian Agama adalah guru pegawai negeri sipil keagamaan yang ada di sekolah negeri 3) PNS Diperbantukan adalah guru pegawai negeri sipil yang ditugaskan mengajar di sekolah swasta 4) Guru Bantu adalah guru yang mengajar di sekolah yang honornya diambil dari APBN 5) Guru Honorer Daerah adalah guru yang mengajar di sekolah yang honornya diambil dari APBD 6) Guru Tidak Tetap adalah guru yang mengajar di sekolah yang honornya diambil dari iuran siswa/dana operasional sekolah (BOS) 7) Guru Tetap Yayasan adalah guru tetap yang mengajar di sekolah swasta 8) Honor di Sekolah Negeri adalah guru yang mengajar di sekolah karena sertifikasi, pengangkatan, pemberdayaan dan pembinaan

  9) SM 3T adalah sarjana pendidikan yang ditempatkan di daerah terpencil

F. Lokasi Penugasan

  Menurut Sumaatmadja (1988:118), lokasi suatu benda dalam ruang dapat menjelaskan dan dapat memberikan kejelasan pada benda atau gejala geografi yang bersangkutan secara lebih jauh lagi. Menurut Sumaatmadja (1988) lokasi dalam ruang dapat di bedakan antara lokasi absolut dengan lokasi relatif. Lokasi absolut suatu tempat atau suatu wilayah, yaitu lokasi yang berkenaan dengan posisinya menurut garis lintang dan garis bujur atau berdasarkan atau berdasarkan jaring-jaring derajat. Lokasi absolut suatu tempat atau suatu wilayah dapat dibaca pada peta. Dengan dinyatakan lokasi absolut suatu tempat atau suatu wilayah, karakteristik tempat yang bersangkutan sudah dapat diabstrasikan lebih jauh. Sekurang-kurangnya posisi dan iklimnya sudah dapat diperhitungkan. Untuk memperhitungkan karakteristiknya lebih jauh lagi, harus diketahui lokasi relatifnya. Lokasi relatif suatu tempat atau wilayah yang bersangkutan berkenaan dengan hubungan tempat atau wilayah itu dengan faktor alam atau faktor budaya yang ada disekitarnya. Jadi, lokasi relatif ini ditinjau dari posisi suatu tempat atau terhadap kondisi wilayah- wilayah yang ada disekitarnya. Lokasi relatif ini dapat mengungkapkan dinamika wilayah yang bersangkutan. Lokasi relatif suatu tempat memberikan gambaran tentang keterbelakangan, perkembangan, dan kemajuan wilayah yang bersangkutan bila dibandingkan dengan wilayah lain yang ada di sekitarnya dan dapat mengungkapkan pula mengapa kondisinya demikian.

  Masalah penugasan menyangkut penjadwalan para pekerja pada pekerjaan-pekerjaan dengan dasar penugasan satu ke satu dengan jumlah pekerja sama dengan pekerjaan. Tujuan dari penugasan adalah menjadwal setiap pekerja pada suatu pekerjaan selesai dalam waktu total yang minimum.

  Lokasi penugasan merupakan penempatan guru dalam mengajar di sekolah. Lokasi penugasan ini dibagi menjadi dua yaitu daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Guru yang ditempatkan di desa tentu akan berbeda dengan guru yang di tempatkan di kota. Dilihat dari konteks budaya guru yang didesa dipandang sebagai orang yang lebih banyak tahu dan terpandang (Sahertian,1994:21). Sedangkan guru yang ditempatkan dikota, mereka lebih cenderung dalam pendidikan dan mengajar sudah berfokus pada inovasi dan kreativitas baru. Guru yang ditempatkan di desa akan tentu akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap sertifikasi dengan guru yang ditempatkan dikota. Penempatan guru baik di desa maupun di kota ini dilihat dari segi administratif yang dilakukan oleh masing-masing sekolah.

G. Kerangka Berpikir 1. Persepsi guru terhadap sertifikasi guru ditinjau dari tingkat pendidikan

  Persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmanai dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

  Tingkat pendidikan adalah ukuran tinggi rendahnya seseorang yang diukur dari berapa lamanya dia mengenyam pendidikan. Tingkat pendidikan formal yang dicapai akan membawa pengaruh pada kehidupan seseorang yaitu pengaruh pada tingkat penguasaan pengetahuan yang berpengaruh pada jenjang pekerjaan formal dan status sosial dalam masyarakat. Seorang guru yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan mempunyai persepsi terhadap sertifikasi guru yang berbeda dengan guru yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih rendah.

2. Persepsi guru terhadap sertifikasi guru ditinjau dari status guru

  Persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmanai dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

  Status (kedudukan) yang dipergunakan dalam hubungannya dengan guru-guru berarti martabat atau penghargaan yang diberikan kepada mereka, sebagai tingkat pengakuan atas pentingnya fungsi mereka serta atas kemampuan mereka dalam melakukannya dan persyaratan kerja, penggajian serta keuntungan-keuntungan materi lainnya yang diberikan kepada mereka dibandingkan dengan golongan- golongan karya lainnya. Guru yang bekerja di suatu instansi atau sekolah baik negeri maupun swasta mempunyai status yang berbeda- beda. Ada guru yang bekerja di sekolah negeri yang berstatus sebagai guru tetap, ada yang masih menjadi guru tidak tetap dan ada yang menjadi guru bantu atau guru honorer. Demikian juga guru swasta ada yang berstatus sebagai guru tetap tetapi ada juga yang berstatus dipekerjakan oleh pemerintah dan ada guru yang masih berstatus honorer. Dari segi inilah persepsi setiap guru ditinjau dari statusnya akan nampak perbedaannya.

3. Persepsi guru terhadap sertifikasi guru ditinjau dari lokasi penugasan

  Persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmanai dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

  Lokasi penugasan merupakan penempatan guru dalam mengajar di sekolah. Lokasi penugasan ini dibagi menjadi dua yaitu daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Guru yang ditempatkan di desa akan tentu akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap sertifikasi dengan guru yang ditempatkan dikota.

H. Kajian Hasil Penelitian Sebelumnya

  Penelitian yang dilakukan oleh Guswanto, Hyancinthus Eko (2009) dengan judul “Persepsi Guru Terhadap Uji Sertifikasi Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan, Status Guru dan Golongan Ruang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi guru terhadap ruang guru dengan studi kasus pada guru SD, SMP, dan SMA di Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul Yogyakarta.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) ditinjau dari tingkat pendidikan guru sebagai berikut: a) <D4/S1, guru yang memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi ada 4 guru (2,12%), 25 guru (13,23%) memiliki persepsi positif, 25 guru (13,23%) memiliki persepsi cukup positif dan 2 guru (1,06%) memiliki persepsi negatif, b) ≥D4/S1 guru yang memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi ada 4 guru (2,12%), 71 guru (37,57%) memiliki persepsi positif, 54 guru (28,57%) memiliki persepsi cukup posistif, dan 54 guru (2,12%) memiliki persepsi negatif. 2) ditinjau dari status guru sebagai berikut : a) guru PNS ada 5 guru (2,65%) memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi, 69 guru (36,51%) memiliki persepsi positif, 51 guru (26,98%) memiliki persepsi cukup posistif dan 3 guru (1,56%) memilki persepsi negatif, b) guru GTY ada 2 guru ( (1,06%) memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi, 14 guru ( 7,41%) memiliki persepsi posistif dan 9 guru (4,76%) memiliki persepsi cukup posistif, c) guru GTT ada 1 guru (0,53%) memiliki persepsi sangat posistif terhadap sertifikasi, 19 guru (10,05%) memiliki persepsi cukup positif dan 3 guru (1,56%) memiliki persepsi negatif. 3) ditinjau dari golongan ruang guru sebagai berikut: a) dari golongan II/a-II/d ada 1 guru (0,78%) yang memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi, 7 guru (5,47%) memiliki persespi positif dan 4 guru (3,13%) memiliki persepsi cukup positif, b) dari golongan III/a-III/d ada 2 guru (1,56%) yang memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi, 43 guru (33,59%) memiliki persepsi positif, 28 guru (21,86%) memiliki persepsi cukup positif dan 1 guru (0,78%) memiliki persepsi negatif, c) dari golongan IV/a-IV/e ada 2 guru (1,56%) memiliki persepsi sangat positif terhadap sertifikasi, 19 guru (14, 84%) memiliki persepsi positif, 19 guru (14,84%) memiliki persepsi cukup positif dan 2 guru (1,56%) memiliki persepsi negatif.

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2008 di SD, SMP, dan SMA di Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sampel yang diambil sebanyak 9 sekolah dengan jumlah responden ada 189 guru. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik non-tes dengan menggunakan kuisioner yang berisi 10 komponen portofolio.

  Dari penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar guru memiliki persepsi yang positif terhadap sertifikasi baik itu ditinjau dari tingkat pendidikan yang dimiliki oleh guru, status guru dan golongan ruang guru. Oleh karena iti dapat disimpulkan pula bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi baik itu ditinjau dari tingkat pendidikan guru, status guru dan golongan ruang guru.

I. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara atas rumusan masalah.

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

  1. Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan.

  2. Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru.

  3. Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan lokasi penugasan.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah studi kasus, yaitu penelitian yang

  dilakukan secara intensif terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu (Arikunto.2002:120). Penelitian ini diterapkan untuk meneliti persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, dan lokasi penugasan.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

  Tempat yang digunakan untuk penelitian yaitu Sekolah Dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Kebonarum karena guru-guru Sekolah Dasar di kecamatan tersebut masih banyak yang belum mengikuti sertifikasi dan masih banyak guru sekolah dasar di kecamatan Kebonarum yang berstatus sebagai guru honorer. Kualitas lulusan dari SD di Kebonarum dianggap belum mampu bersaing dengan kualitas lulusan dari sekolah dasar lainnya di kabupaten Klaten. Guru juga merupakan unsur yang penting dalam menentukan kualitas lulusan peserta didik. Selain itu menurut penulis pendidikan dasar itu juga penting bagi peserta didik dan guru yang mengajar di pendidikan dasar juga harus memiliki kualitas pendidikan yang baik dan kompeten. Diharapkan dengan adanya sertifikasi ini dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi guru-guru yang mengajar di Sekolah Dasar kecamatan Kebonarum agar kualitas pendidikan dasar di kecamatan Kebonarum lebih meningkat.

2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Juli 2012.

C. Subjek dan Objek Penelitian

  1. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian adalah pihak atau lembaga yang memberikan informasi. Dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian yang akan diteliti adalah guru-guru Sekolah Dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten.

  2. Objek Penelitian

  Objek penelitian adalah seseorang atau sesuatu yang ingin diteliti (Amirin.1986:92). Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitiannya adalah persepsi guru terhadap sertifikasi yang ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, dan lokasi penugasan.

D. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

  1. Populasi

  Dalam peneletian ini yang menjadi populasi adalah guru-guru Sekolah Dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten yang berjumlah 160 guru.

  2. Sampel

  Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah semua guru-guru sekolah dasar (SD) di kecamatan Kebonarum baik yang sudah mengikuti program sertifikasi maupun yang belum mengikuti program sertifikasi. Sampel guru dalam penelitian ini akan diambil dari seluruh populasi yang ada yaitu sebanyak 160 guru yang mengajar di sekolah dasar (SD) di kecamatan kebonarum. Sementara sampel sekolah akan diambil dari semua total sekolah dasar (SD) yang ada di kecamatan Kebonarum yaitu sebanyak 13 sekolah dasar (SD). Berikut penulis sajikan dalam bentuk tabel :

  Tabel III.1 Daftar Nama Sekolah dan Jumlah Guru Dalam Penelitian No Nama Sekolah Jumlah Guru

  1. SD Negeri I Pluneng

  12

  2. SD Negeri II Pluneng

  11

  3. SD Negeri I Ngrundul

  10

  4 SD Negeri II Ngrundul

  10

  5. SD Negeri I Gondang

  11

  No Nama Sekolah Jumlah Guru

  7. SD Negeri I Karangduren

  12

  8. SD Negeri II Karangduren

  10

  9. SD Negeri I Menden

  13

  10. SD Negeri I Malangjiwan

  12

  11. SD Negeri Basin

  10

  12. MI Muhammadiyah Basin

  24

  13. SDIT AL Hasna Gondang

  14 Jumlah Guru 160 Sumber: dokumen UPTD kecamatan Kebonarum

3. Teknik Pengambilan Sampel

  Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dibuat berdasarkan populasi yang ada dengan menggunakan teknik sampling

  jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya

1. Variabel Tingkat Pendidikan Guru

  Tingkat pendidikan guru adalah ukuran tinggi rendahnya seseorang yang diukur dari berapa lamanya dia mengenyam pendidikan. Pemberian peringkat dalam variabel ini adalah sebagai berikut: a. SMA / SPG / STM

  Sekolah Menengah Atas dalam pendidikan formal di menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau yang sederajat. Sekolah Menengah Atas diselesaikan dalam kurun waktu 3 tahun, yaitu mulai kelas 10 sampai kelas 12. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan tingkat pendidikan guru SMA / SPG / STM adalah guru-guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang menempuh pendidikan dalam kurun waktu 3 tahun. Tingkat pendidikan SMA/ SPG/ STM ini dapat diberi angka 1 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  b. D1 Program diploma 1 merupakan program non gelar dengan lama studi 1- 2 tahun dan ditempuh di perguruan tinggi. Dalam hal ini yang dimasudkan dengan tingkat pendidikan D1 adalah guru- guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam kurun waktu 1-2 tahun. Tingkat pendidikan D1 dapat diberi angka 2 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  c. D2 Program diploma 2 merupakan program non gelar dengan lama studi 2-3 tahun dan ditempuh di perguruan tinggi. Dalam hal ini yang dimasudkan dengan tingkat pendidikan D2 adalah guru- pendidikan di perguruan tinggi dalam kurun waktu 2-3 tahun. Tingkat pendidikan DI dapat diberi angka 3 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  d. D3 Program diploma 3 merupakan program non gelar dengan lama studi 3-5 tahun dan ditempuh di perguruan tinggi. Dalam hal ini yang dimasudkan dengan tingkat pendidikan D3 adalah guru- guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam kurun waktu 3-5 tahun. Tingkat pendidikan D3 dapat diberi angka 4 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  e. S1 Program sarjana merupakan program gelar dengan lama studi 4-7 tahun dan ditempuh di perguruan tinggi. Dalam hal ini yang dimasudkan dengan tingkat pendidikan S1 adalah guru-guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam kurun waktu 4-7 tahun. Tingkat pendidikan S1 dapat diberi angka 5 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

2. Variabel Status Guru

  Status guru adalah kedudukan guru dilihat dari propertinya dalam suatu sistem sosial. Pemberian peringkat dalam variabel ini adalah sebagai berikut:

  a. Guru Honorer Status guru honorer adalah guru yang bekerja karena diangkat oleh yayasan atau lembaga tertentu dan digaji oleh yayasan tersebut tetapi belum mengajar penuh atau dapat dikatakan sebagai guru bantu. Kriteria guru honorer dalam penelitian ini adalah guru-guru yang mengajar di SD se- Kebonarum yang belum mempunyai jam mengajar penuh dan masih digaji oleh sekolah tersebut. Status guru honorer ini dapat diberi angka 1 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  b. Guru Tidak Tetap Yayasan Status guru tidak tetap yayasan adalah guru yang diangkat dan digaji oleh yayasan tetapi statusnya belum tetap. Kriteria guru tidak tetap yayasan dalam penelitian ini adalah guru-guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang belum mempunyai jam mengajar penuh dan masih digaji oleh sekolah tersebut. Status guru tidak tetap yayasan ini dapat diberi angka 2 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  c. Guru Tetap Yayasan Status guru yayasan adalah guru yang diangkat dan digaji oleh yayasan dan sudah berstatus sebagai guru tetap dari yayasan.

  Kriteria guru yayasan dalam penelitian ini adalah guru-guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang sudah berstatus sebagai guru tetap di sekolah tersebut. Status guru yayasan ini dapat diberi angka 3 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  d. Guru Pegawai Negeri (PNS) Status guru pegawai negeri (PNS) adalah guru yang diangkat dan bekerja dalam suatu instansi milik pemerintah, guru yang dipekerjakan di suatu instansi swasta tetapi tetap digaji oleh negara. Kriteria guru pegawai negeri (PNS) dalam penelitian ini adalah guru-guru yang mengajar di SD se-Kebonarum yang sudah memiliki jam mengjar penuh dan pengalaman mengajar yang lebih banyak. Status guru pegawai negeri (PNS) ini dapat diberi angka 4 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

3. Variabel Lokasi Penugasan

  Lokasi penugasan merupakan penempatan guru dalam mengajar di sekolah. Lokasi penugasan ini dibagi menjadi dua yaitu daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Pemberian peringkat dalam variabel ini adalah sebagai berikut : a. Desa

  Desa merupakan suatu land settlement yang bersifat rural, desa dapat dibedakan dalam artian umum dan artian administratif (Bintarto.1977:10). Dalam artian umum desa digambarkan sebagai unit-unit pemusatan penduduk yang bercorak agraris dan terletak relatif jauh dari kota. Sedangkan dalam artian administratif desa merupakan suatu kesatuan administratif yang dikenal dengan istilah kelurahan, karena pimpinan desanya adalah lurah. Dalam penelitian ini kriteria lokasi penugasan di daerah pedesaan adalah lokasi sekolah yang berada di desa menurut artian administratif dimana letak lokasi sekolah berada di tengah-tengah masyarakat admistratif desa. Variabel lokasi penugasan guru di daerah pedesaan dapat diberi angka 1 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

  b. Kota Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Kota di adalah pembagian wilayah administratif setela Dalam konteks Indonesia istilah ini digunakan untuk membedakan dengan kota yang secara administratif di bawah sebuah Kota berkedudukan sejajar dengan kabupaten dan kedudukan Dalam penelitian ini kriteria lokasi penugasan di daerah perkotaan adalah lokasi sekolah yang berada di dekat daerah perkotaan administratif. Tetapi karena dalam penelitian ini lokasi yang diambil adalah kecamatan Kebonarum maka lokasi sekolah kota dapat dikategorikan sebagai lokasi sekolah kota dilihat dari letak administratif sekolah yang jika dibandingkan dengan desa lebih merujuk masyarakatnya administratif yang lebih menunjukkan pada ciri-ciri masyarakat kota. Variabel lokasi penugasan guru di daerah perkotaan dapat diberi angka 2 dimana pemberian angka ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian data.

4. Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi

  Persepsi guru terhadap sertifikasi adalah proses menerima dan mengorganisasikan sertifikasi melalui panca indera. Sesuai Peraturan sertifikasi bagi guru. Sertifikasi guru harus mencakup komponen portofolio guna memperoleh sertifikat pendidik. Komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

  Berikut ini disajikan tabel operasionalisasi variabel persepsi guru terhadap sertifikasi :

  Tabel III.2 Operasionalisasi Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi No Dimensi Indikator Nomor Kuisioner

  1. Kualifikasi

  1.Pendidikan formal

  1 akademik seorang guru

  2.Guru yang mempunyai

  2 ijazah S1 tetapi bukan S1 pendidikan

  2. Pendidikan dan

  3. Pelatihan meningkatkan

  3 pelatihan kompetensi pedagogik

  4. Bukti keikutsertaan

  4 dalam pendidikan dan pelatihan yang disahkan oleh kepala dinas

  No Dimensi Indikator Nomor Kuisioner

  3. Pengalaman

  5. Pengalaman mengajar

  5 mengajar berpengaruh pada kompetensi pedagogik

  6. Pengalaman mengajar

  6 berpengaruh pada kompetensi profesional

  7. Pengalaman mengajar berpengaruh pada 7 kompetensi sosial

  8. Pengalaman mengajar berpengaruh pada 8 kompetensi kepribadian

  4. Perencanaan dan

  9. Membuat RPP sebelum

  9 pelaksanaan pembelajaran pembelajaran

  5. Penilaian dari

  10. Ketaatan dalam

  10 atasan dan menjalankan ibadah pengawas sesuai dengan agama

  11

  11. Memiliki etos kerja yang tinggi.

  12

  12. Dasar penilaian dari atasan adalah kemampuan dalam berkomunikasi dan bekerjasama

  6. Prestasi akademik 13. Kompetensi profesional

  13 ditunjukan keikutsertaan guru dalam mengikuti lomba

  14

  14. Prestasi akademik ditunjukan dalam mengikuti perlombaan

  No Dimensi Indikator Nomor Kuisioner

7. Karya

  15. Kompetensi

  15 pengembangan profesional dapat profesi ditunjukan melalui penerbitan buku atau artikel

  16

  16.Bukti karya pengembangan profesi harus disahkan oleh kepala dinas

  8. Keikutsertaan

  17. Profesionalitas guru

  17 dalam forum ditunjukkan guru dalam ilmiah partisipasi mengikuti forum ilmiah

  18.Profesionalitas ditunjukkan dari peran 18 guru sebagai narasumber

  9. Pengalaman

  19. Profesionalitas guru

  19 organisasi di ditunjukkan dalam bidang kesediaan guru kependidikan dan mendapat tugas sosial tambahan

  20. Bukti dalam

  20 pengalaman organisasi disahkan oleh kepala dinas

  No Dimensi Indikator Nomor Kuisioner

  10. Penghargaan yang

  21.Guru yang pernah

  21 relevan dengan mengajar di daerah bidang terpencil diberi pendidikan pengakuan

  22

  22. Bukti pengakuan guru disahkan oleh kepala dinas

  Indikator-indikator tersebut dituangkan dalam bentuk kuesioner dan masing-masing pernyataan diukur dengan skala

  likert

  . Pemberian skor dalam skala likert terdiri dari 4 jawaban yaitu SS (5), S (4), N (3), TS (2) dan STS (1). Pemberian skor pada setiap pernyataan adalah sebagai berikut :

  Tabel III.3 Skor Pernyataan Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Jawaban Pernyataan Pernyataan Positif Negatif

  Sangat Setuju

  5

  1 Setuju

  4

  2 Netral

  3

  3 Tidak Setuju

  2

  4 Sangat Tidak Setuju 1

  5

  F. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh untuk memperoleh data sesuai dengan data yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan sejumlah daftar pernyataan yang diberikan kepada responden untuk diisikan dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan responden yang sebenarnya. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi guru terhadap sertifikasi, tingkat pendidikan, status guru dan lokasi penugasan.

  G. Pengujian Instrumen Penelitian 1. Pengujian Validitas Kuisioner

  Validitas dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi product moment dengan rumus (Arikunto. 2002:225) :

  Keterangan :

  Y =total skor dari seluruh item X =total skor dari setiap item r

  xy

  =koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y Koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil perhitungan menunjukkan tinggi rendahnya tingkat validitas instrumen yang diukur. Selanjutnya nilai koefisien korelasi ini dibanding dengan harga r tabel dengan dk = n - 2 dan taraf signifikasi kesalahan 5%.

  Jika nilai r

  hitung

  lebih besar dari pada r

  tabel , maka butir pernyataan tersebut dapat dikatakan valid, dan begitu pula sebaliknya.

  Uji validitas dilakukan terhadap 30 responden. Uji validitas dilakukan terhadap item-item pertanyaan variabel persepsi guru terhadap sertifikasi. Sebelumnya uji validitas dilakukan pada dua puluh tujuh (27) pertanyaan tetapi ada lima (5) yang tidak valid. Hasil uji validitas adalah sebagai berikut :

  Tabel III.4 Hasil Uji Validitas Untuk Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Butir No Nilai r tabel Nilai r hitung Status

  1 0,374 0,511 Valid 2 0,374 0,648 Valid 3 0,374 0,665 Valid 4 0,374 0,390 Valid 5 0,374 0,512 Valid 6 0,374 0,395 Valid 7 0,374 0,740 Valid 8 0,374 0,494 Valid 9 0,374 0,683 Valid 10 0,374 0,243 Tidak valid

  Butir No Nilai r tabel Nilai r hitung Status

  12 0,374 0,756 Valid 13 0,374 -0,181 Tidak valid 14 0,374 0,797 Valid 15 0,374 0,525 Valid 16 0,374 0,493 Valid 17 0,374 0,801 Valid 18 0,374 0,330 Tidak valid 19 0,374 0,549 Valid 20 0,374 0,632 Valid 21 0,374 0,424 Valid 22 0,374 0,352 Tidak valid 23 0,374 0,266 Tidak valid 24 0,374 0,549 Valid 25 0,374 0,750 Valid 26 0,374 0,398 Valid 27 0,374 0,414 Valid

  Sumber: data primer, diolah 2012 Dari tabel di atas terlihat bahwa seluruh item pertanyaan persepsi guru terhadap sertifikasi menunjukkan bahwa ke dua puluh dua butir pertanyaan adalah valid. Pengambilan kesimpulan ini dilakukan dengan membandingkan nilai r

  tabel

  dengan r

  hitung

  . Dengan jumlah data (n) sebanyak 30 responden dan derajat keyakinan (α) = 5% atau 0,05, maka diperoleh r tabel sebesar 0,374 (Sugiyono.2007). Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa keseluruhan nilai r hitung menunjukkan angka yang lebih besar dari nilai r tabel (r hitung > 0,374). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan variabel persepsi guru terhadap sertifikasi adalah valid.

2. Pengujian Reliabilitas

  Relialibilitas menunjuk bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto.2002:154). Untuk mengetahi koefisien reabilitas instrumen, maka digunakan rumus Alpha sebagai berikut :

  Keterangan : = reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal = varian total

  = jumlah varian butir Jika nilai koefisien Cronbach Alpha lebih besar dari pada 0,60 maka butir pernyataan tersebut dapat dikatakan reliabel dan jika nilai

  alpha kurang dari 0,60 maka butir pernyataan tersebut tidak reliabel.

  Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach-Alpha dan dikerjakan dengan program SPSS for Windows versi 16. Hasil pengujian reliabilitas diperoleh hasil sebagai berikut:

  Tabel III.5 Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Variabel Nilai r tabel Nilai r hitung Status

  Persepsi guru terhadap 0,6 0,919 Reliabel sertifikasi Sumber :data primer, diolah 2012 Dari dua puluh dua pertanyaan pada variabel persepsi guru terhadap sertifikasi ini diperoleh nilai r hitung sebesar 0,919.

  Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Dengan jumlah data (n) sebanyak 30 responden dan derajat keyakinan sebesar 0,6 sehingga dapat dikatakan penelitian ini reliabel. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai r > r (0,919

  hitung tabel

  > 0,6). Ini berarti bahwa butir-butir pertanyaan pada variabel persepsi guru terhadap sertifikasi dapat dikatakan reliabel.

H. Teknik Analisis Data

1. Uji Prasyarat Analisis

a. Uji Normalitas

  Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data yang terjaring dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak. Untuk mengetahui hal tersebut digunakan rumus

  Kolmogorov-Smirnov . Uji Kolmogorov - Smirnov memusatkan terbesar dinamakan deviasi maksimum. Adapun rumus uji

  Kolmogorov

  • – Smirnov untuk normalitas sebagai berikut (Ghozali,

  2002: 36) yaitu : D = Max |F (X ) (X )|

  o i – S N i

  Keterangan : D = Deviasi maksimum

  F (X ) = Fungsi distribusi frekuensi kumulatif yang ditentukan

  o i

  S (X ) = Distribusi frekuensi kumulatif yang diobservasi

  N i

  Kriteria penerimaan : 1) Jika nilai Asymp. Sig. < taraf nyata (0,05), maka distribusi data variabel penelitian dinyatakan tidak normal.

  2) Jika nilai Asymp. Sig. > taraf nyata (0,05), maka distribusi data variabel penelitian dinyatakan normal.

b. Uji Homogenitas

  Pengujian ini digunakan untuk menguji kesamaan varians populasi yang beristribusi normal, berdasarkan populasinya. Dalam penelitian pengujian homogenitas varians diuji dengan menggunakan uji F dengan rumus sebagai berikut (Sugiyono.2007:140): Harga F tersebut selanjutnya dibandingkan dengan F dengan

  hitung tabel

  dk pembilang = dan dk penyebut = Jika F > F

  tabel

  serta signifikansi lebih dari 0,05 maka varians data yang

  hitung

  dianalisis homogen. Sebaliknya bila F tabel < F hitung dan signifikansinya kurang dari 0,05 maka varians data yang dianalisis tidak homogen.

2. Pengujian Hipotesis

  a. Perumusan hipotesis 1). Perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan.

  Ho

  1 : Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan.

  Ha : Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi

  1 ditinjau dari tingkat pendidikan.

  2). Perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru.

  Ho : Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi

  2 ditinjau dari status guru. Ha : Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi

  2 ditinjau dari status guru.

  3). Perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan.

  Ho

  3 : Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan.

  Ha

  3 : Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan.

  b. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis menggunakan ANOVA dengan distribusi F.

  Pengujian hipotesis ini menggunakan ANOVA karena sampel yang digunakan dalam penelitian ini cukup besar yaitu 160 responden selain itu pengujian ANOVA digunakan untuk menguji variabel yang saling tidak berkaitan atau independent.

  Pengujian ANOVA akan melihat pada titik kritis dan titik kritis diperoleh dengan bantuan F tabel dimana titik kritis ditentukan oleh : 1) Taraf nyata atau signifikan (α) = 5% 2) Derajat bebas atau degree of freedom (df) yang terdiri dari :

  Numerator =k

  • – 1 Denominator =N
  • – k
Uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji

  F, ditentukan dengan cara menghitung (Sugiyono.2007) :

  • JK tot = JK - =

  ant

  Jk dal = JK tot - JK ant Mk ant = Mk =

  dal

  F =

  hit

  Keterangan : m = jumlah kelompok sampel N = jumlah seluruh anggota sampel

  c. Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan berdasarkan pada nilai probabilitas yaitu : 1).Terima H o jika Probabilitas signifikansi atau Asym sig. > taraf signifikansi 0,05 2).Terima H jika Probabilitas Signifikansi atau Asym sig. <

  a

  taraf signifikansi 0,05 Pengambilan keputusan didasarkan pada perbandingan F

  hitung

  dengan F tabel adalah :

  Jika F > F maka H0 ditolak

  hitung tabel

  Untuk membantu proses pengujian hipotesis tentang persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, dan lokasi penugasan peneliti menggunakan bantuan program

  SPSS versi 16.0 for windows .

  

BAB IV

GAMBARAN UMUM Penelitian ini dilaksanakan di SD Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. Dalam gambaran umum ini dijelaskan tentang lokasi sekolah

  dilaksanakannya penelitian dan data guru yang menjadi dalam penelitian ini. Hal ini berguna untuk menunjang pendeskripsian data yang akan diuaraikan pada hasil analisis dan pembahasan. Di Kecamatan Kebonarum terdapat 13 Sekolah Dasar (SD) baik itu SD Negeri maupun SD Swasta. Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten adalah sebagai berikut : 1.

   SD Negeri I Pluneng

  SD Negeri I Pluneng beralamat di desa Pluneng, sebelah selatan dukuh Miren Tempel. Rata-rata Guru dan Karyawan SD Negeri I Pluneng berasal dari sebagian wilayah dekat desa Pluneng dan sebagian dari wilayah Klaten.

  Di SD Negeri I Pluneng terdapat 12 guru dan 1 karyawan. Adapun guru yang bekerja di SD Negeri I Pluneng adalah sebagai berikut :

  Tabel IV.1 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  1. Drs. Joko Indarjo PNS S1 Kota

  2. NC. Paryani PNS S1

  3. Sri Saptini Widowati, S.Pd.

  PNS S1

  4. Khomsiatun, S.Pd. PNS S1

  5. Ch. Sri Nur Silowati PNS D2

  No Nama Status Tingkat Lokasi Pendidikan

  7. Nonik Nur Handayani Honorer D2 8.

  F. Parjiono PNS D2 Kota

  9 Joko Agus Nugroho, S.Th. PNS S1

  10. Siti Aisyah, S.Pd.I PNS S1

  11. Endang S. Adi, S.Pd. PNS S1

  12. Ima Mayasari, S.Pd. Honorer S1 Sumber :data primer, diolah 2012 2.

   SD Negeri II Pluneng

  SD Negeri II Pluneng beralamat di desa Pluneng. Lokasi SD Negeri II Pluneng bersebelahan dengan SD Negeri I Pluneng. Rata-rata guru yang bekerja di SD Negeri II Pluneng berasal dari wilayah Klaten. Di SD Negeri I Pluneng terdapat 11 guru dan 1 karyawan tetapi hanya ada 7 guru yang menjadi responden dalam penelitian ini dikarenakan guru-guru yang lain sedang mengikuti PLPG. Adapun guru yang menjadi responden di SD Negeri II Pluneng sebagai berikut :

  Tabel IV.2 Data Responden No Nama Status Tingkat Lokasi Pendidikan

  1. Sutrini, S.Pd. PNS S1

  2. Siti Mudalifah, A.Ma.Pd. PNS D2

  3. Hj. Maryanti, S.Pd. PNS S1 Desa

  4. Th. Gunari, A.Ma. PNS S1

  5. Mustadi, S.Pd.I PNS S1

  6. Yuni Setyaningrum Honorer D2

  7. Bayu Sidiq Raharjo Honorer S1 Sumber :data primer, diolah 2012

  3. SD Negeri I Ngrundul SD Negeri I Ngrundul beralamat di desa Ngrundul Kecamatan Kebonarum.

  Lokasi SD Negeri I Ngrundul ± 4 km dari Klaten kota. Di SD Negeri I Ngrundul terdapat 10 guru dan 1 karyawan. Adapun guru yang bekerja di SD Negeri I Ngrundul sebagai berikut :

  Tabel IV.3 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  1. Iskandar PNS D2 Kota

  2. Ch. Suratmi PNS S1

  3. N. Haryani PNS S1 4.

  D. Sriharyani PNS D2

  5. Sri Gemi S PNS S1

  6. Ey. Suharni PNS S1

  7. Sri Wahyani PNS S1

  8. Siti Zulaika PNS S1

  9 Rebin Al Robin S PNS S1

  10. Th. Handayani Guru honorer S1 Sumber :data primer, diolah 2012

  4. SD Negeri II Ngrundul SD Negeri II Ngrundul beralamat di desa Ngrundul Kecamatan Kebonarum.

  Lokasi SD Negeri II Ngrundul ±300m dari SD Negeri I Ngrundul dan letak SD Negeri II Ngrundul berada di tengan desa Ngrundul. Di SD Negeri II Ngrundul terdapat 10 guru dan 1 karyawan. Adapun guru yang bekerja di SD Negeri II Ngrundul sebagai berikut :

  Tabel IV.4 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  2. Sri Sayekti PNS D2

  Lokasi No Nama Status Tingkat Pendidikan

  3. Dwi Lestari PNS S1

  4. Yustina Yulkapti PNS D2

  5. Suwarti PNS S1 Desa

  6. Maryanto PNS S1

  7. Pardaya PNS D2

  8. Sri Lestari Honorer S1

  9 Heppi Isti N Honorer S1

  10. Titik Tri Widayati Honorer S1 Sumber :data primer, diolah 2012 5.

   SD Negeri I Karangduren

  SD Negeri I Karangduren beralamat di desa Karangduren Kecamatan Kebonarum. Letak SD Negeri I Karangduren berada di tengah-tengah desa Karangduren. Di SD Negeri I Karangduren terdapat 12 guru dan 1 karyawan tetapi yang menjadi responden dalam penelitian ini ada 11 guru dikarenakan ada 1 guru yang sedang mengikuti seminar diluar kota. Adapun guru yang menjadi responden di SD Negeri I Karangduren sebagai berikut :

  Tabel IV.5 Data Responden No Nama Status Tingkat Lokasi Pendidikan

  1. Ruwanto, S.Pd. PNS S1

  2. Hj. Suwarni, S.Pd. PNS S1

  3. Asih, S.Pd. PNS S1

  4. Ike Ligasari Dewi, A.Ma.Pd. PNS S1

  5. Pujiati, S.Pd. PNS S1 Desa

  6. Hj. Sri Sumiyati, S.Pd. PNS S1

  7. Sugiyono, S.Pd. PNS S1

  8. Sumiyati, A.Ma.Pd. PNS D2

  9. Susana, S.Pd. GTT S1 Yayasan

  10. Intrih Gatiningtyas, S.Sos Honorer S1 Sumber :data primer, diolah 2012

  6. SD Negeri II Karangduren

  SD Negeri II Karangduren beralamat di desa Karangjati Kecamatan Kebonarum. Letak SD Negeri II Karangduren ±500m dari SD Negeri I Karangduren. Di SD Negeri II Karangduren terdapat 10 guru dan 1 karyawan.

  Adapun guru yang mengajar di SD Negeri II Karangduren sebagai berikut :

  Tabel IV.6 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  1. Sriyono, S.Pd. PNS S1 Desa

  2. Sri Lestari PNS D2

  3. Sumiyati PNS D2

  4. Miyatun PNS S1

  5. Ambar Budiningrum PNS S1

  6. Djuwariyah PNS S1

  7. Suhardi, S.Pd. PNS S1

  8. Sunarno PNS S1

  9 Kusnul Khotimah Honorer D2

  10. Farida Setyaningsih, S. Pd.H Honorer S1 Sumber :data primer, diolah 2012

  7. SD Negeri I Gondang

  SD Negeri I Gondang beralamat di desa Gondangwatu Kecamatan Kebonarum. Letak SD Negeri I Gondang berada di tengah pemukiman penduduk desa Gondangwatu dan jaraknya ±500m dari Jalan Raya Jogja- Solo. Di SD Negeri I Gondang terdapat 11 guru dan 2 karyawan. Adapun guru yang bekerja di SD Negeri I Gondang sebagai berikut :

  Tabel IV.7 Data Responden

No Nama Status Tingkat Lokasi

Pendidikan

  1. Suwarni PNS S1

  2. Suparni, S.Pd. PNS S1

  3. Sukirno PNS S1

  4. Istiningsih PNS S1 Desa

  5. Marini PNS D2

  6. Sarjono, S.Pd. PNS S1

  7. Suparno Honorer S1

  8. Siti Munjayanah Honorer D2

  9. Wulan Noviyati Honorer D3

  10. Sunaryo,S.Pd. PNS S1

  11. Sri Rahayu Honorer D1 Sumber :data primer, diolah 2012 8.

   SD Negeri II Gondang

  SD Negeri II Gondang beralamat di desa Gondangwatu. Letak SD Negeri II Gondang ±500m dari SD Negeri I Gondang dan dari Jalan Raya Jogja-Solo.

  Di SD Negeri II Gondang terdapat 11 guru dan 1 karyawan. Adapun guru yang bekerja di SD Negeri II Gondang sebagai berikut :

  Tabel IV.8 Data Responden

No Nama Status Tingkat Lokasi

Pendidikan

  1. Suparni, S.Pd. PNS S1

  2. Sukarni PNS D2

  3. Dwi Sunarko PNS S1

  4. Sri Sukawati PNS D2

  5. Tursinah PNS D2 Desa

  6. Aris Pratiwi, S.Pd. PNS S1

  7. Miftahurrohmah PNS D2

  8. Sri Hastuti PNS D2

  9. Susanta, S.Pd. PNS S1

  10. Nining Indrastuti Honorer D2

  11. Ratri Wulandari, S.Pd. Honorer S1

9. SD Negeri I Malangjiwan

  8. Edi Martono PNS D2

  SD Negeri I Menden beralamat di desa Menden Kecamatan Kebonarum. SD Negeri I Menden merupakan salah satu SD yang masih berdiri di desa Menden setelah dulunya juga ada SD Negeri II Menden yang sudah ditutup.

   SD Negeri I Menden

  12. Parnilah Honorer D2 Sumber :data primer, diolah 2012 10.

  11. Bety Indreswari Honorer S1

  10. Susana, S.Pd. Honorer S1

  9. Se. Sulistiyani PNS D2

  SD Negeri I Malangjiwan beralamat di desa Malangjiwan Kecamatan Kebonarum. Letak SD Negeri I Malangjiwan berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Malangjiwan. SD Negeri I Malangjiwan merupakan SD Negeri yang masih berdiri setelah dulunya ada juga SD Negeri II Malangjiwan yang kini sudah ditutup. Di SD Negeri I Malangjiwan terdapat 12 guru dan 2 karyawan. Adapun guru yang mengajar di SD Negeri I Malangjiwan sebagai berikut :

  Tabel IV.9 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  6. Sri Ngatmi PNS D2

  5. Purwanti PNS D2

  4. Supartiningsih PNS D2

  3. Y. Siti Rudiyati PNS D2

  2. Muryani, S.Pd. PNS S1

  1. Prasetyanto Honorer D2 Desa

  7. Munawaroh Honorer S1 dalam penelitian ini hanya ada 9 responden. Adapun guru yang menjadi responden di SD Negeri I Menden sebagai berikut :

  Tabel IV.10 Data Responden

No Nama Status Tingkat Lokasi

Pendidikan

  1. Purwanti, S.Pd. PNS S1

  2. Miskiyah PNS D2

  3. Trinem PNS D2

  4. Sulasih PNS S1 Kota

  5. Y. Ning.P PNS S1

  6. Ag. Wagimin PNS S1

  7. Sarwono PNS S1

  8. T. Candra. W honorer S1

  9. Dwi Andy S Honorer SMA Sumber :data primer, diolah 2012

11. SD Negeri Basin

  SD Negeri Basin beralamat di desa Basin kecamatan Kebonarum. Di SD Negeri Basin terdapat 10 guru dan 1 karyawan tetapi yang menjadi responden dalam penelitian ini ada 6 responden. Adapun guru yang menjadi responden di SD Negeri Basin sebagai berikut :

  Tabel IV.11 Data Responden

No Nama Status Tingkat Lokasi

Pendidikan

  1. Suparni PNS S1

  2. Ngadiman PNS S1 Desa

  3. Indarjo Honorer S1

  4. Ph. Sukardi PNS D2

  5. Sri Sayekti PNS S1

  6. Suci Budi Rahayu PNS S1 Sumber :data primer, diolah 2012

12. MI Muhammadiyah Basin

  GT yayasan S1

  17. Eni Yulaikah, S.Pd GTT yayasan S1

  16. Rubini, S.Pd GT yayasan S1

  GTT yayasan S1

  15. Anisah Musyarrofah, S.Pd

  GTT yayasan D2

  14. Nur Rochman Ahmadi, A.Ma.Pd

  13. Suhartatin, S.Si GTT yayasan S1

  12. Yune Anggraini, S.Pd GT yayasan S1

  11. Neini Nur Chasanah S.Pd GT yayasan S1

  MI Muhammadiyah Basin merupakan sekolah swasta islam yang pendidikannya terdiri dari TK, SD, SMP dan SMK. Lokasi MI Muhammadiyah Basin berseberangan dengan SD Negeri Basin. Di MI Muhammadiyah Basin terdapat 24 guru dan 4 karyawan tetapi yang menjadi responden dalam penelitian ini ada 18 responden. Responden yang lain tidak mengembalikan kuesioner yang telah dibagikan. Adapun guru yang menjadi responden di MI Muhammadiyah Basin sebagai berikut :

  Tabel IV.12 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  9. Ika Choirun Nisak, S.Si GT yayasan S1

  8. Nevi Mughniyati, S.Pd GT yayasan S1

  7. Anita Wahyusari, S.Pd GT yayasan S1

  6. Suprapto GT yayasan SMA

  5. Anisah Main,A.Ma.Pd GT yayasan D2

  4. Suyani, S.Pdi. GT yayasan S1

  3. Isni GT yayasan S1

  2. Sumiyati, S.Pdi. PNS S1

  1. Siti Karomah, S.Ag. PNS S1 Desa

  10. M Rusyad Nurzain, A.Ma.Pd

  S.Pd.Si yayasan Sumber :data primer, diolah 2012 13.

   SD-IT AL Hasna Gondang

  SDIT Al Hasna beralamat di desa Gondang Kecamatan Kebonarum. SDIT merupakan Sekolah Dasar Islam Terpadu. Sekolah Dasar ini merupakan sekolah swasta milik pribadi tetapi masih dibawah naungan dinas pendidikan Kabupaten Klaten. Lokasi SDIT Al Hasna dekat dengan jalan raya Jogja- Solo. Di SDIT Al Hasna terdapat 14 guru dan 1 karyawan tetapi yang menjadi responden dalam penelitian ini ada 13 responden, 1 responden tidak mengembalikan kuesioner yang dibagikan. Adapun guru yang menjadi responden di SD-IT Al Hasna sebagai berikut :

  Tabel IV.13 Data Responden No Nama Status Tingkat Pendidikan Lokasi

  1. Maryanto, S.Pd GT yayasan S1

  Kota

  2. Helmy Qadarusman, S.Ag GT yayasan S1

  3. Puji Rahayu, S.Pd GT yayasan S1

  4. Rahmawati Hidayah, Amd GT yayasan D3

  5. Tri Rejeki, S.Ag GT yayasan S1

  6. Kusyaeni,S.Pd.I GT yayasan S1

  7. Tri Haryanto, ST GT yayasan S1

  8. Arien Rahini,S.Pd.I GTT yayasan S1

  9. Anita Kusumawati,S.Pd GT S1 yayasan Kota

  11. Bokiran GTT yayasan D1

  12. Dias Kusumawati,S.Pd GT yayasan S1

  13. Siti Mahmudah,S.Pd GT yayasan S1

  Sumber :data primer, diolah 2012 Keterangan : GT = Guru tetap GTT = Guru tidak tetap

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2012. Subjek penelitian ini adalah guru-guru di Sekolah Dasar di Kecamatan kebonarum Kabupaten Klaten. Keseluruhan Sekolah Dasar

  tempat penelitian ini adalah sebagai berikut SD Negeri I Pluneng, SD Negeri II Pluneng, SD Negeri I Ngrundul, SD Negeri II Ngrundul, SD Negeri I Gondang, SD Negeri II Gondang, SD Negeri I Karangduren, SD Negeri II Karangduren, SD Negeri I Menden, SD Negeri I Malangjiwan, SD Negeri Basin, MI Muhammadiyah Basin, dan SDIT Al-Hasna Gondang. Kuesioner yang disampaikan kepda guru sebagai responden penelitian ini sebanyak 160. Jumlah kuesioner yang diisi lengkap oleh responden adalah sebanyak 140. Dengan demikian response rate pengembalian kuesioner sebesar 87,5%. Secara lengkap sebaran responden penelitian disajikan pada tabel berikut :

  Tabel V.1 Sebaran Responden Penelitian Nama Sekolah Sampel Tidak Rusak Gagal Responden Kembali

  12 - - - SD Negeri I Pluneng

  12 SD Negeri II Pluneng - -

  11

  4

  7

  10 - - - SD Negeri I Ngrundul

  10

  10 - - - SD Negeri II Ngrundul

  10

  Nama Sekolah Sampel Tidak Rusak Gagal Responden Kembali

  SD Negeri

  I 12 - -

  1

  11 Karangduren

  II - 10 - - SD Negeri

  10 Karangduren

  13

  4 - - SD Negeri I Menden

  9 I

  12 - - - SD Negeri

  12 Malangjiwan

  10

  4 - - SD Negeri Basin

  6 MI

  24

  6 - - Muhammadiyah

  18 Basin SDIT Al-Hasna 14 - -

  1

  13 Gondang 20 - 140

  • Jumlah 160 Sumber :data primer, diolah 2012

  Berikut ini disajikan deskripsi data untuk setiap variabel penelitian ini:

1. Deskripsi Responden Penelitian

  a. Tingkat Pendidikan Guru

  Tabel V.2 Tingkat Pendidikan Responden No Tingkat Pendidikan f fr(%)

  1. SMA/SPG/STM 2 1,4%

  2. D1 3 2,1%

  3. D2 37 26,4%

  4. D3 2 1,4%

  5. S1 96 68,6%

  Total 140 100%

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.2 menunjukkan bahwa jumlah responden yang mempunyai tingkat pendidikan SMA/SPG/STM sebanyak 2 guru atau 1,4%, tingkat pendidikan D1 sebanyak 3 guru atau 2,1%, pendidikan D3 sebanyak 2 guru atau 1,4%, dan tingkat pendidikan S1 sebanyak 96 guru atau 68,6%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini berpendidikan S1.

  b. Status Guru

  Tabel V.3 Status Responden No Status Guru f fr(%)

  1. Guru Honorer 26 18,6%

  2. Guru Tidak Tetap Yayasan 8 5,7%

  3. Guru Tetap Yayasan 22 15,7%

  4. PNS 84 60%

  Total 140 100%

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.3 menunjukkan bahwa jumlah responden yang berstatus sebagai guru honorer sebanyak 26 guru atau 18,6%, yang berstatus sebagai guru tidak tetap yayasan sebanyak 8 guru atau 5,7%, yang berstatus sebagai guru tetap yayasan sebanyak 22 guru atau 15,7%, dan yang berstatus sebagai PNS sebanyak 84 guru atau 60%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil).

  c. Lokasi Penugasan

  Tabel V.4 Lokasi Penugasan Responden No Lokasi Penugasan f fr(%)

  1. Desa 86 61,4%

  2. Kota 54 38,6%

  Total

  140 100% Tabel V.4 menunjukkan bahwa jumlah responden yang lokasi penugasannya ada di desa sebanyak 86 guru atau 61,4%, dan lokasi penugasannya di kota sebanyak 54 guru atau 38,6%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini lokasi penugasannya berada di desa.

2. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi

  Persepsi guru terhadap sertifikasi dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut :

  Tabel V.5 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Skor Frekuensi Persentase Intepretasi Penilaian

  80-110 52 37,4% Positif 71-79 62 44,3% Biasa-biasa saja

  <71 26 18,3% Negatif

  Jumlah 140 100%

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.5 di atas menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap

  Sertifikasi pada guru-guru Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum terkategorikan positif sebanyak 52 guru atau 37,4%, terkategorikan biasa-biasa saja sebanyak 62 guru atau 44,3%, terkategorikan negatif 26 guru atau 18,3%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berpersepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi guru. Pengkategorian positif di dasarkan pada pemahaman guru terhadap program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Guru sangat guru sebagai tenaga pendidik dan guru juga dapat memahami dan melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk dapat mengikuti program sertifikasi. Pengkategorian biasa-biasa saja didasarkan pada sedikit pemahaman yang dimiliki oleh guru tentang program sertifikasi dan guru menanggapi secara biasa-biasa saja tentang adanya program sertifikasi. Sedangkan pengkategorian negatif didasarkan pada kurang pahamnya guru mengenai program sertifikasi yang diselenggerakan oleh pemerintah. Guru-guru merasa kesulitan untuk mengikuti sertifikasi karena persyaratan dalam mengikuti sertifikasi dirasa terlalau memberatkan guru.

  a. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

  37 % 46% 40,5% 13,5% 100%

  51

  Total Jml

  96 % 34,4% 46,8% 18,8% 100%

  18

  45

  33

  S1 Jml

  2 % - 50% 50% 100%

  1

  1

  D3 Jml -

  5

  Tabel V.6 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

  15

  17

  D2 Jml

  3 % - 33,3% 66,7% 100%

  D1 Jml - 1% 2%

  2 % 50% 50% - 100%

  1 1 -

  SMA Jml

  Negatif

  Tingkat Pendidikan Kriteria Jumlah

Positif Biasa-biasa

Saja

  Sumber :data primer, diolah 2012

  63 26 140 % 36,4% 45% 18,6% 100% Tabel V.6 di atas menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap ditinjau dari tingkat pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut : 1) tingkat pendidikan SMA/SPG/STM, 1 guru (50%) memiliki persepsi positif dan 1 guru (50%) memiliki persepsi biasa-biasa saja; 2) tingkat pendidikan D1, 1 guru (33,3%) memiliki persepsi biasa-biasa saja dan 2 guru (66,7%) memiliki persepsi negatif; 3) tingkat pendidikan D2, 17 guru (46%) memiliki persepsi positif, 15 guru (40,5%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 18 guru (18,8%) memiliki persepsi negatif ; 4) tingkat pendidikan D3, 1 guru (50%) memiliki persepsi biasa-biasa saja dan 1 guru (50%) memiliki persepsi negatif; 5) tingkat pendidikan S1, 51 guru (36,4%) memiliki persepsi positif, 63 guru (45%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 26 guru (18,6%) memiliki persepsi negatif,.

  Dengan demikian dapat disimpulkan ditinjau dari tingkat pendidikan sebagian guru memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi.

  b. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau Dari Status Guru

  Tabel V.7 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Status Guru Status Kriteria Jumlah Guru Positif Biasa-biasa Negatif Saja

  Guru Jml

  8

  9

  9

  26 Honorer % 30,7% 34,7% 34,6% 100% GTT Jml

  4 4 -

  8 Yayasan

  • % 50% 50% 100% GT Jml

  10

  11

  1

  22 Yayasan % 45,5% 50% 4,5% 100% PNS Jml

  30

  38

  16

  84

  % 37,1% 44,3% 18,6% 100% Sumber :data primer, diolah 2012

  Tabel V.7 di atas menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru dapat diuraikan sebagai berikut : 1) guru honorer, 8 guru (30,7%) memiliki persepsi positif, 9 guru (34,7%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 9 guru (34,6%) memiliki persepsi negatif; 2) guru tidak tetap yayasan, 4 guru (50%) memiliki persepsi positif dan 4 guru (50%) memiliki persepsi biasa-biasa saja; 3) guru tetap yayasan, 10 guru (45,5%) memiliki persepsi positif, 11 guru (50%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 1 guru (4,5%) memiliki persepsi negatif; 4) PNS, 30 guru (35,7%) memiliki persepsi positif, 38 guru (45,2%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 16 guru (19,1%) memiliki persepsi negatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari status guru sebagian guru memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi.

  c. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Ditinjau Dari Lokasi Penugasan

  Tabel V.8 Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan Lokasi Kriteria Jumlah Penugasan Positif Biasa-biasa Negatif Saja

  Desa Jml

  26

  38

  22

  86 % 30,2% 44,2% 25,6% 100%

  Kota Jml

  26

  23

  5

  54 % 48,2% 42,6% 9,2% 100%

  Total Jml

  52

  61 27 140 Tabel V.8 di atas menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan dapat diuraikan sebagai berikut : 1) lokasi penugasan di desa, 26 guru (30,2%) memiliki persepsi positif, 38 guru (44,2%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 22 guru (25,6%) memiliki persepsi negatif; 2) lokasi penugasan di kota, 26 guru (48,2%) memiliki persepsi positif, 23 guru (42,6%) memiliki persepsi biasa-biasa saja, 5 guru (9,2%) memiliki persepsi negatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari lokasi penugasan sebagian besar guru memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi.

B. Hasil Pengujian Normalitas Dan Homogenitas

1. Uji Normalitas

  Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui kenormalan distribusi data. Dalam penelitian ini uji normalitas di dasarkan pada uji Sample Kolmogorov Smirnov dengan bantuan program SPPSS for Windows versi 16. Berikut ini disajikan rangkuman hasil pengujian :

  Tabel V.9 Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

  SMA_SPG_S TM D1 D2 D3 S1 N

  2

  3

  37

  2

  96 Normal Parameters

  a

  Mean 79.50 73.67 81.14 71.50

  79.48 Std. Deviation

  6.364 4.726 7.747 4.950 7.862 Most Extreme Differences

  Absolute .260 .304 .100 .260 .111 Positive .260 .304 .074 .260 .058 Negative -.260 -.219 -.100 -.260 -.111

  Kolmogorov-Smirnov Z .368 .527 .606 .368 1.089 Asymp. Sig. (2-tailed) .999 .944 .856 .999 .187

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.9 di atas menunjukkan bahwa nilai probabilitas variabel tingkat pendidikan SMA/SPG/STM adalah 0,999; tingkat pendidikan

  D1 adalah 0,944; tingkat pendidikan D2 adalah 0,856; tingkat pendidikan D3 adalah 0,999; dan tingkat pendidikan S1 adalah 0,187.

  Dengan demikian keseluruhan dari nilai probabilitas tingkat pendidikan lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan variabel persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan berdistribusi normal.

  Tabel V.10 Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi

Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Status Guru

  82.38

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.10 di atas menunjukkan bahwa nilai probabilitas variabel status guru honorer adalah 0,731; guru tidak tetap yayasan adalah

  Kolmogorov-Smirnov Z .688 .582 .594 1.120 Asymp. Sig. (2-tailed) .731 .887 .872 .163

  Absolute .135 .206 .127 .122 Positive .089 .206 .117 .059 Negative -.135 -.118 -.127 -.122

  8.602 6.232 7.209 7.583 Most Extreme Differences

  79.94 Std. Deviation

  81.82

  76.19

  Honorer GTT_Yayasa n

  Mean

  a

  84 Normal Parameters

  22

  8

  26

  Guru_tetap_yayas an PNS N

  0,887; guru tetap yayasan adalah 0,872; dan guru PNS adalah 0,163. Keseluruhan nilai probalitas dari variabel status guru lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat kesimpulan bahwa variabel persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru berdistribusi normal.

  Tabel V.11 Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan

  Desa Kota N

  86

  54

  a

  Normal Parameters Mean

  78.07

  82.24 Std. Deviation 8.031 6.740 Most Extreme Absolute .095 .085 Differences

  Positive .063 .085 Negative -.095 -.075

  T Kolmogorov-Smirnov Z .881 .623 Asymp. Sig. (2-tailed) .420 .832 a

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.11 di atas menunjukkan bahwa nilai probabilitas untuk variabel lokasi penugasan di desa adalah 0,420; dan lokasi penugasan di kota adalah 0,832. Keseluruhan nilai probabilitas lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas

  Pengujian homogenitas digunakan untuk membuktikan adanya kesamaan variansi populasi. Pengujian didasarkan pada uji Levene

  Statistic . Berikut ini disajikan tabel hasil pengujian homogenitas :

  Tabel V.12 Tabel Homogenitas Variabel Levene df1 df2 Sig.

  Statistic Persepsi Guru Terhadap 0,335 4 135 0,854 Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Persepsi Guru Terhadap 0,903 3 136 0,441 Sertifikasi Berdasarkan Status Guru Persepsi Guru Terhadap 2,170 1 138 0,143 Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan Sumber :data primer, diolah 2012

  Tabel V.12 menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan dari nilai Levene

  Statistic adalah 0,335 dan nilai probabilitas > sig (0,854 > 0,05).

  Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan terdapat kesamaan varians populasi. Persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru nilai Levene Statisticnya adalah 0,903 dan nilai probabilitas > sig (0,441 >0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat kesamaan varians populasi. Persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan nilai Levene

  Statistic nya adalah 2,170 dan nilai probabilitas > sig (0,143 >

  0,05). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan terdapat kesamaan varians populasi.

3. Pengujian Hipotesis

  Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Hasil pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :

  a. Persepsi Guru Terhadap Sertifikai Berdasarkan Tingkat Pendidikan 1) Rumusan Hipotesis I

  Ho = Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan.

  Ha = Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru 2) Pengujian Hipotesis I

  Hasil pengujian diperoleh nilai F hitung = 1,345 dengan nilai signifikansi 0,256. Sedangkan untuk F

  tabel

  pada taraf signifikansi 0,05 (95%) dengan numerator (jumlah variabel -1) = 3, dan denumerator (jumlah responden- jumlah variabel) = 136 adalah 2,69. Berikut ini disajikan tabel pengujiannya.

  Tabel V.13 Tabel One -Way ANOVA Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

  b. P Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  Between Groups

  324.586 4 81.147 1.345 .256 Within Groups 8141.949 135 60.311 Tabel V.13 menunjukkan bahwa nilai F < F (1,345 < 2,69)

  hitung tabel

  dan nilai sig > α (0,256 > 0,05). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan terima Ho yang artinya tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan.

  b. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarakan Status Guru 1) Rumusan Hipotesis II

  Ho = Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru.

  Ha = Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru 2) Pengujian Hipotesis II

  Hasil pengujian F hitung = 2,728 dengan nilai signifikansi 0,046 Sedangkan untuk F pada taraf signifikansi 0,05 (95%)

  tabel

  dengan numerator (jumlah variabel -1) = 3, dan denumerator (jumlah responden- jumlah variabel) = 136 adalah 2,69.

  Berikut ini disajikan tabel pengujiannya :

  Tabel V.14 Tabel One -Way ANOVA Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Status Guru

  Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between

  480.647 3 160.216 2.728 .046 Groups Within Groups 7985.889 136 58.720

  S Total 8466.536 139 u

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.14 menunjukkan bahwa nilai F > F (2,728 > 2,69)

  hitung tabel

  dan nilai sig < α (0,046 < 0,05). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan tolak Ho dan terima Ha yang artinya ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru.

  c. Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan 1) Rumusan Hipotesis III

  Ho = Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru.

  Ha = Ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru 2) Pengujian Hipotesis III Hasil pengujian F hitung = 10,094 dengan nilai signifikansi 0,002.

  Sedangkan untuk F pada taraf signifikansi 0,05 (95%)

  tabel

  (jumlah responden- jumlah variabel) = 136 adalah 2,69. Berikut ini disajikan tabel pengujiannya :

  Tabel V.15 Tabel One -Way ANOVA Persepsi Guru Terhadap Sertifikasi Berdasarkan Lokasi Penugasan

  Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between

  577.084 1 577.084 10.094 .002 Groups Within Groups 7889.452 138 57.170 Total 8466.536 139

  Sumber :data primer, diolah 2012 Tabel V.15 menunjukkan bahwa nilai F > F (10,094

  hitung tabel

  > 2,69) dan nilai sig < α (0,002 < 0,05). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan tolak Ho dan terima Ha yang artinya ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan lokasi penugasan.

C. Hasil Pembahasan Data

  1. Persepsi guru sekolah dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten terhadap sertifikasi guru berdasarkan tingkat pendidikan Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi guru berdasarkan tingkat pendidikan.

  Kesimpulan ini didukung oleh hasil perhitungan nilai F = 1,345 <

  hitung

  F tabel =2,69 dan nilai probabilitas = 0,256 > α = 0,05.

  Berdasarkan analisis data tentang tingkat pendidikan guru diperoleh hasil sebagai berikut: 1) guru yang tingkat pendidikannya SMA/SPG/STM ada 2 responden, dimana 1 responden memiliki persepsi positif dan 1 responden memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi. Guru-guru yang memiliki tingkat pendidikan SMA/SPG/STM menilai bahwa sertifikasi sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas mereka sebagai tenaga pendidik. 2) tingkat pendidikan D1 ada 3 responden, dimana guru lulusan D1 memiliki persepsi negatif terhadap sertifikasi, karena guru yang lulusan D1 menilai bahwa tingkat pendidikan mereka belum memenuhi syarat untuk mengikuti sertifikasi sehingga mereka menganggap bahwa sertifikasi belum penting. 3) tingkat pendidikan D2 ada 37 responden, dimana guru lulusan D2 memiliki persepsi positif terhadap sertifikasi, guru yang memiliki tingkat pendidikan D2 menilai bahwa sertifikasi selain dapat meningkatkan kesejahteraan guru juga dapat meningkatkan kualitas dan pengetahuan mereka sebagai tenaga pendidik selain itu tingkat pendidikan D2 lebih tinggi dari tingkat pendidikan D1sehingga guru D2 memiliki pengetahuan yang lebih luas dari D1. 4) tingkat pendidikan D3 ada 2 responden, dimana guru lulusan D3 memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi, guru-guru lulusan D3 menilai bahwa dengan adanya sertifikasi dapat mendorong mereka untuk lebih meningkatkan keahlian mereka melalui pendidikan yang lebih tinggi. 5) tingkat pendidikan SI ada 96 responden, dimana guru lulusan S1 memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi karena guru-guru lulusan S1 menilai bahwa sertifikasi dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dan mereka menganggap tingkat pendidikan yang mereka miliki sudah memenuhi persyaratan untuk mengikuti sertifikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan S1.

  Berdasarkan analisis data tentang persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan tingkat pendidikan diperoleh hasil sebagai berikut : responden yang memiliki persepsi positif ada 51 responden (36,4%), responden yang memiliki persepsi biasa-biasa saja ada 63 responden (45%), responden yang memiliki persepsi negatif ada 26 responden (18,6%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi bila ditinjau dari tingkat pendidikan.

  Hasil deskripsi data tingkat pendidikan guru menunjukkan bahwa sebagian besar guru berpendidikan S1 (68,6%). Dengan pendidikan S1, guru dapat mengikuti sertifikasi dengan mudah karena syarat untuk dapat mengikuti program sertifikasi minimal pendidikan seorang guru adalah S1. Dengan tingkat pendidikan formal S1 dapat dilihat bahwa seorang guru lebih memiliki pengetahuan yang lebih luas dan mendalam mengenai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hal ini berbeda dengan yang berpendidikan dibawah S1, dengan jangka waktu pendidikan yang lebih singkat mereka tidak mendapatkan sebanyak apa yang didapat di program S1. Selain itu tingkat pendidikan dibawah S1 kurang paham tentang program sertifikasi dan merasa bahwa persyaratan untuk mengikuti program sertifikasi terlalau berat. Oleh sebab itu ada dugaan terdapat perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan.

  Namun pada kenyataannya, hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi bila ditinjau dari tingkat pendidikan. Ditinjau dari tingkat pendidikan guru memiliki kesamaan persepsi yaitu persepsi yang positif terhadap sertifikasi. Menurut peneliti adanya kesamaan persepsi tersebut disebabkan adanya kesamaan memahami informasi tentang sertifikasi sehingga membentuk pola pikir yang sama. Pola pikir seseorang tidak hanya berkembang melalui pendidikan formal yang melekat pada dirinya saja tetapi bisa didapat dari informasi media dan perkemangan teknologi. Persepsi yang sama menunjukkan bahwa guru-guru Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum setuju dengan adanya sertifikasi. Selain guru-guru Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum setuju bahwa program sertifikasi dapat meningkatakan kualitas dan kompetensi mereka sebagai tenaga pendidik.

  2. Persepsi guru sekolah dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten terhadap sertifikasi guru berdasarkan status guru Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan status guru. Kesimpulan ini didukung oleh hasil perhitungan nilai F hitung = 2,728 > F tabel =2,69 dan nilai probabilitas = 0,046 < α = 0,05.

  Berdasarkan analisis data tentang status guru diperoleh hasil sebagai berikut:1) guru yang statusnya sebagai guru honorer ada 26 responden, dimana guru honorer memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi karena guru honorer berpendapat mereka akan merasa kesulitan untuk mengikuti sertifikasi jadi guru honorer hanya menanggapi secara biasa-biasa saja dengan adanya sertifikasi. 2) guru tidak tetap yayasan ada 8 responden, dimana guru tidak tetap yayasan memiliki persepsi positif terhadap sertifikasi karena dengan sertifikasi dapat mendorong guru mengikuti pendidikan dan pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi pedagogik sebagai guru. 3) guru tetap yayasan ada 22 responden, dimana guru tetap yayasan memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi karena guru tetap yayasan hanya memiliki sedikit pemahaman terhadap program sertifikasi yang responden, dimana guru PNS memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi karena dengan sertifikasi dapat meningkatkan kesejahteraan guru dan selain itu guru PNS merasa mudah untuk dapat mengikuti sertifikasi dengan status yang mereka miliki. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

  Berdasarkan analisis data tentang persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru diperoleh hasil sebagai berikut : responden yang memiliki persepsi positif ada 52 responden (37,1%), responden yang memiliki persepsi biasa-biasa saja ada 62 responden (44,3%), responden yang memiliki persepsi negatif ada 26 responden (18,6%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi bila ditinjau dari status guru.

  Hasil deskripsi data menunjukkan bahwa sebagian guru berstatus sebagai pegawai negeri sipil (60%). Jika ditinjau dari status guru ini guru-guru memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi. Namun hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi bila ditinjau dari status guru. Perbedaan status guru menyebabkan adanya perbedaan persepsi terhadap sertifikasi. Perbedaan persepsi guru ditinjau dari status guru ini didasarkan pada penilaian positif dan negatif terhadap sertifikasi. Guru PNS menilai positif terhadap sertifikasi, guru PNS berpersepsi bahwa dengan diadakannya sertifikasi dapat meningkatkan kinerjanya sebagai guru, karena guru PNS diangkat dan bekerja dalam instansi pemerintah yang digaji oleh negara dan guru PNS setuju dengan adanya program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sedangkan guru yang berstatus Non PNS menilai negatif dan berpersepsi bahwa sertifikasi hanya menguntungkan bagi guru yang berstatus PNS. Guru non PNS juga memandang bahwa dengan sertifikasi mereka akan menjalankan tugas lebih berat untuk bisa menaikkan statusnya dibanding guru yang berstatus PNS. Hal ini dikarenakan, meskipun jam mengajar guru PNS lebih sedikit dan kurang berprestasi tidak akan mengubah statusnya dan akan tetap memperoleh kenaikan pangkat yang berkala. Berbeda dengan guru yang berstatus non PNS, mereka perlu kerja keras menunjukkan keprofesionalnya untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Selain itu guru yang berstatus non PNS akan berpikir bahwa mereka perlu kerja keras untuk dapat mengikuti sertifikasi misalnya harus memenuhi persyaratan tentang jam mengajar, tingkat pendidikan, dsb. Latar belakang status guru inilah yang dapat menimbulkan adanya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi.

  Dengan adanya perbedaan persepsi terhadap sertifikasi guru-guru Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum menilai bahwa sertifikasi ternyata berat bagi guru-guru yang non PNS. Sedangkan guru PNS menilai bahwa sertifikasi dapat membantu meningkatkan kualitas mereka sebagai tenaga pendidik. Selama ini opini di masyarakat mengatakan bahwa sertifikasi itu hanyalah sebagai sarana guru-guru untuk dapat memperoleh tunjangan semata bukan benar-benar untuk meningkatkan kualitas guru. Dengan opini-opini yang seperti inilah dapat mempengaruhi pola pikir guru yang berbeda-beda terhadap sertifikasi.

  3. Persepsi guru sekolah dasar di kecamatan Kebonarum kabupaten Klaten terhadap sertifikasi guru berdasarkan lokasi penugasan Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi berdasarkan lokasi penugasan.

  Kesimpulan ini didukung oleh hasil perhitungan nilai F = 10,094 >

  hitung

  F tabel =2,69 dan nilai probabilitas = 0,002 < α = 0,05.

  Berdasarkan analisis data tentang status guru diperoleh hasil sebagai berikut: 1) guru yang berlokasi di desa ada 86 responden, dimana guru yang berlokasi di desa memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi karena guru-guru yang berlokasi memiliki sedikit pemahaman terhadap sertifikasi dan mereka cenderung hanya memikirkan tambahan tunjangan saja bukan memikirkan dampak apa yang akan terjadi jika mereka mengikuti sertifikasi. 2) guru yang memiliki persepsi positif terhadap sertifikasi karena guru di kota berpendapat bahwa dengan adanya sertifikasi akan meningkatkan pendapatan guru dan dengan sertifikasi dapat memicu kinerja guru yang lebih profesioanal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden lokasi penugasanya di desa.

  Berdasarkan analisis data tentang persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan diperoleh hasil sebagai berikut: responden yang memiliki persepsi positif ada 52 responden (37,1%), responden yang memiliki persepsi biasa-biasa saja ada 61 responden (43,6%), responden yang memiliki persepsi negatif ada 27 responden (19,3%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi bila ditinjau dari lokasi penugasan.

  Hasil deskripsi data menunjukkan bahwa sebagian guru berlokasi di desa. Lokasi penugasan ini didasarkan pada kegiatan administratif yang dilakukan oleh sekolah. Melihat hasil data tentang persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan, didapat hasil bahwa guru memiliki persepsi biasa-biasa saja terhadap sertifikasi. Namun hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi yang biasa-biasa saja ini terdapat perbedaan. Guru yang berlokasi penugasan di desa memiliki pola pikir bahwa sertifikasi dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

  Dengan adanya sertifikasi, guru dapat dipandang lebih atau mendapat

  prestise di masyarakat. Sedangkan guru yang berlokasi penugasan di

  kota memiliki pola pikir bahwa sertifikasi itu perlu untuk meningkatkan kualitias mereka sebagai tenaga pendidik. Pola pikir yang berbeda ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar maupun dalam masing-masing guru. Faktor yang berasal dari luar misalnya dari perkembangan teknologi yang ada. Sedangkan faktor berasal dari dalam berasal dari diri guru sendiri.

  

BAB VI

KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN A. Kesimpulan Dari analisis yang telah dibahas pada bab V maka dapat diatrik

  kesimpulan sebagai berikut :

  1. Setiap guru memiliki persepsi yang positif terhadap sertifikasi jika ditinjau dari masing-masing tingkat pendidikan yang dimiliki oleh guru.

  Hal ini berarti tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan. Dengan hasil perhitungan data yang menunjukkan nilai F < F

  hitung tabel (1,345 < 2,69) dan nilai sig > α (0,256

  > 0,05), sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan diterima. Menurut peneliti jika ditinjau dari tingkat pendidikan guru-guru memiliki persamaan persepsi terhadap sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Dengan adanya sertifikasi dapat meningkatkan kualitas dan profesionalitas seorang guru sebagai tenaga pendidik. Setiap guru memang memiliki tingkat pendidikan yang berbeda, tetapi dengan tingkat pendidikan yang berbeda ini mereka tetap memiliki persamaan persepsi terhadap sertifikasi. Guru-guru menilai bahwa dengan adanya sertifikasi ini dapat meningkatkan kompetensi mereka, baik itu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

  2. Status yang dimiliki oleh seorang guru ternyata dapat berpengaruh pada persepsi guru terhadap sertifikasi. Hal ini berarti ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru. Dengan hasil perhitungan data yang menunjukkan nilai F > F (2,728 > 2,69)

  hitung tabel

  dan nilai sig < α (0,046 < 0,05), sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru diterima. Menurut peneliti perbedaan persepsi ini disebabkan karena jika ditinjau dari status guru masing-masing guru memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Guru yang non PNS menilai bahwa dengan sertifikasi tugas mereka akan semakin berat, guru-guru harus mengejar target yang menjadi persyaratan untuk dapat mengikuti sertifikasi. Sedangkan bagi guru PNS menilai bahwa sertifikasi dapat membantu meningkatkan kualitas mereka sebagai tenaga pendidik.

  3. Lokasi penugasan guru juga dapat berpengaruh pada persepsi guru terhadap sertifikasi. Hal ini berarti ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan. Dengan hasil perhitungan data menunjukkan nilai F hitung > F tabel (10,094 > 2,69) dan nilai sig < α (0,002 < 0,05), sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan diterima. Menurut peneliti, guru-guru yang ditempatkan di desa memiliki persepsi yang berbeda terhadap sertifikasi dengan guru- guru yang ditempatkan di kota. Guru yang berlokasi penugasan di desa memiliki pola pikir bahwa sertifikasi dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan adanya sertifikasi, guru dapat dipandang lebih atau mendapat prestise di masyarakat. Sedangkan guru yang berlokasi penugasan di kota memiliki pola pikir bahwa sertifikasi itu perlu untuk meningkatkan kualitias mereka sebagai tenaga pendidik.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan, penulis memberikan saran sebagai berikut :

  1. Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten

  a. Hasil penelitian pertama menunjukkan tidak adanya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan.

  Sejalan dengan hasil penelitian bahwa tingkat pendidikan guru sebagian besar berpendidikan S1, hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar guru telah menempuh pendidikan formal yang tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan guru maka akan semakin mempunyai keinginan yang lebih tinggi untuk mengembangkan profesionalitasnya seperti contoh membuat karya ilmiah, penerbitan buku, dll. Sesuai dengan tuntutan uji sertifikasi yang mewajibkan guru harus memiliki kualifikasi akademik yang diperoleh dengan program sarjana dan diploma empat, maka diharapkan pihak pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus memikirkan nasib guru-guru yang belum bisa atau yang belum lulus mengikuti program sertifikasi, sehingga nantinya guru-guru tersebut juga mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan sertifikat pendidik melalui program sertifikasi ini. Dinas pendidikan kabupaten Klaten mungkin bisa memberikan beasiswa bagi guru- guru yang belum berpendidikan S1 untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih baik dan tinggi.

  b. Hasil penelitian kedua menunjukkan adanya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari status guru. Sejalan dengan hasil penelitian bahwa sebagian besar guru berstatus PNS, hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar guru diangkat dan bekerja di instansi pemerintah. Dengan status yang dimiliki oleh guru sebagai PNS terkadang guru-guru PNS bekerja semau mereka sendiri, bekerja tidak bekerja tetap digaji oleh pemerintah, oleh sebab itu guru PNS terkadang bekerja tidak profesional. Dengan melihat kenyataan yang ada, seharusnya pemerintah kabupaten Klaten khususnya Dinas pendidikan bisa lebih ketat dalam memberikan pengawasan bagi guru-guru PNS agar kinerja mereka dapat dipertanggungjawabkan dan selain itu pemerintah lebih bisa memperhatikan nasib guru-guru yang belum berstatus PNS agar mereka bisa mendapatkan tunjangan yang layak dan kemudahan untuk bisa mengikuti program sertifikasi. Selain itu Dinas Pendidikan kabupaten Klaten bisa memberikan tunjangan-tunjangan atau tambahan intensif untuk guru-guru non PNS, karena masih ada gaji yang diperoleh guru non PNS hanya berdasarkan jam mengajar atau bahkan iuran dari guru-guru lainnya.

  c. Hasil penelitian ketiga menunjukkan adanya perbedaan persepsi guru terhadap sertifikasi ditinjau dari lokasi penugasan. Sejalan dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar berlokasi di desa. Walaupun guru-guru banyak yang berlokasi di desa, mereka tetap mengikuti perkembangan tentang sertifikasi yang di selenggarakan oleh pemerintah. Tetapi sebagian besar guru di desa menilai bahwa sertifikasi hanyalah untuk memberikan tunjangan yang lebih baik bagi mereka. Oleh sebab itu diharapkan bahwa pemerintah Kabupaten Klaten khususnya bisa lebih memberikan penyuluhan yang mendalam tentang tujuan diselenggarakannya sertifikasi.

  2. Bagi Guru

  a. Guru yang telah bersertifikasi diharapkan dapat benar-benar menunjukkan profesionalitasnya sebagai tenaga pendidik, jangan sampai guru mengikuti sertifikasi hanya untuk memperoleh tunjangan yang lebih baik saja tetapi tidak menunjukkan peningkatan profesionalitasnya sebagai tenaga pendidik.

  b. Guru harus bersikap jujur dalam mengikuti program sertifikasi dengan tidak memanipulasi bukti-bukti atau data-data dalam portofolio atau selama mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), sehingga tujuan akhir untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas serta kualitas pendidikan dapat terlaksana dengan baik.

  3. Bagi Sekolah Yang Bersangkutan Dengan adanya penelitian ini, diharapkan untuk 13 Sekolah Dasar di Kecamatan Kebonarum bisa lebih memberikan perhatian pada guru- guru agar guru-guru bisa mengikuti sertifikasi. Jika ada guru yang akan mengikuti sertifikasi hendaknya pihak sekolah memberikan kemudahan bagi guru agar guru dapat mengikuti sertifikasi untuk meningkatkan kualitasnya sebagai tenaga pendidik. Sedangkan untuk guru-guru yang belum bisa mengikuti sertifikasi dan belum memiliki tunjangan- tunjangan yang layak hendaknya pihak sekolah bisa memberikan tunjangan-tungjangan yang layak bagi guru khusunya guru honorer.

  4. Bagi Peneliti Selanjutnya

  a. Peneliti berharap ada penelitian tentang persepsi guru terhadap sertifikasi dengan rancangan yang lebih baik, misalnya: dengan penyusunan kuesioner yang lebih baik, responden baru misalnya guru-guru SMA atau SMP di Kabupaten Klaten sehingga dapat dilihat bagaimana persepsi guru-guru di Kabupaten Klaten terhadap sertifikasi.

C. Keterbatasan Penelitian

  Penulis dalam melakukan penelitian ini menyadari sungguh bahwa masih banyak kelemahan dan keterbatasan yang peneliti alami. Beberapa kelemahan dan keterbatasan penulis yaitu sebagai berikut: waktu penelitian kurang sesuai karena bertepatan dengan persiapan sekolah dalam menghadapi UAS dan persiapan kelulusan UAN siswa kelas VI sehingga guru-guru sibuk selain itu ada beberapa guru yang tidak berada di sekolah karena sedang mengikuti PLPG. Oleh sebab itu beberapa guru tidak bisa penulis jadikan sampel dalam penelitian ini, maka jumlah guru yang menjadi responden dalam penelitian ini tidak sesuai dengan jumlah sampel.

DAFTAR PUSTAKA

  Amirin M, Tatang. 1986. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: Rajawali Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

  Jakarta: Rineka Cipta Aziz,Ridwan.2010.Desa dan Kota Dalam Kajian Sosiologi.Tersedia pada i 2012 Bintarto, R. 1977. Geografi Desa. Yogyakarta: U.P Spring Dirjendikti Kemendiknas. 2010. Sertifikasi Guru Dalam Jabatan. Jakarta:

  Dirjendikti Kemendiknas Fahril. 2008. Preparation,revision, and Implementation.Tersedia pada di akses

  25 April 2012 Ghozali, Imam. 2002. Statistika Non-Parametik. Semarang: Undip Guswanto,Eko hyancinthus. 2009. “Persepsi Guru Terhadap Uji Sertifikasi Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan, Status Guru Dan Golongan Ruang”.

  Skripsi, Prodi Pendidikan Akuntansi. Yogyakarta:Universitas Sanata

  Dharma dministratif,diakses 21 Mei 2012 diakses 3 September 2012 diakses 3 September 2012 s 3

  September 2012 Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja

  Rosdakarya Muslich, Masnur. 2007. Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik. Jakarta: Bumi Aksara Sahertian, Piet. 1994. Profil Pendidik Profesional. Yogyakarta: Andi Offset Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Suyatno. 2008. Panduan Sertifikasi Guru. Jakarta: Indeks Walgito,Bimo. 1994. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset Windarto. 2012. Guru PNS di Klaten Belum Bersertifikasi. Tersedia pada s 3 April 2012

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Perbedaan tingkat pemahaman guru ekonomi terhadap standar penilaian pendidikan ditinjau dari masa kerja, tingkat pendidikan, dan status sekolah : survei guru ekonomi SMA/MA di Kabupaten Sleman.
0
9
147
Persepsi guru terhadap uji sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru dan golongan ruang : studi kasus pada guru SMP di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
0
0
133
Persepsi guru terhadap uji sertifikasi ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru dan golongan ruang.
0
0
141
Persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari status kepegawaian guru dan jenjang sekolah : survei guru SD, SMP, dan SMA negeri dan swasta di Kecamatan Wates.
0
0
172
Persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa kerja, tingkat pendidikan, golongan jabatan dan status kepegawaian.
0
3
151
Persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan guru, golongan jabatan guru dan masa kerja guru.
0
2
115
Persepsi guru terhadap program sertifikasi bagi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, masa kerja, beban mengajar, dan status guru ; studi kasus guru-guru SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Sleman.
0
0
203
Persepsi guru terhadap undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, golongan jabatan dan kultur sekolah.
0
0
209
Persepsi guru terhadap uji sertifikasi ditinjau dari pengalaman mengajar, tingkat pendidikan dan status guru studi kasus pada guru SD dan SMP negeri dan swasta di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sle
0
2
140
Persepsi guru terhadap kurikulum tingkat satuan pendidikan ditinjau dari masa kerja, jenjang pendidikan, status guru dan golongan jabatan guru - USD Repository
0
0
179
Persepsi guru terhadap undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, golongan jabatan dan kultur sekolah - USD Repository
0
0
207
Persepsi guru terhadap UU RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, golongan jabatan, dan kulltur sekolah : studi kasus pada guru-guru SMA di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta - USD Repository
0
0
183
Persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari masa kerja, tingkat pendidikan, golongan jabatan dan status kepegawaian - USD Repository
0
1
149
Persepsi guru terhadap sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari status kepegawaian guru dan jenjang sekolah : survei guru SD, SMP, dan SMA negeri dan swasta di Kecamatan Wates - USD Repository
0
0
170
Persepsi guru terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, golongan jabatan, masa kerja, dan usia guru : survei guru-guru Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
191
Show more