Evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 - USD Repository

Gratis

0
0
102
11 months ago
Preview
Full text

  

EVALUASI PERESEPAN PADA PASIEN HEPATITIS B KRONIS DI

  

INSTALASI RAWAT INAP RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

PERIODE 2005-2007

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

  

Oleh :

Florencia Abon Wenge

NIM: 058114151

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

EVALUASI PERESEPAN PADA PASIEN HEPATITIS B KRONIS DI

  

INSTALASI RAWAT INAP RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

PERIODE 2005-2007

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

  

Oleh :

Florencia Abon Wenge

NIM: 058114151

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA tanggal 8 Januari 2009

  

Jesus is able to do more than we

expect when we believe and act in

faith, ‘cos impossible is totally

nothing in HIM, keep moving forward

  

^^v

Dedicated for : God Almighty Jesus Christ, Beloved Babe and Emak, Neetnot and kakak Yanti All members of Wenge Clan in Nusantara

  

Those who I cherish deeply in

my heart My future patients ‘n all my lovely friends

  

“But the LORD said to Moses, “Now you shall see what I will do t Pharoah; for with a strong

hand he will send them out, and with a strong hand he will drive them out of his land”.

  

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus, karena atas

mukjizat dan cintaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

  

“Evaluasi Peresepan Pada Pasien Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007” sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar sarjana farmasi pada program studi Ilmu Farmasi,

Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

memberikan semangat, motivasi, dorongan, kritik dan saran sampai

terselesaikannya skripsi ini, terutama kepada :

  

1. Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi dan dosen

pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam penyusunan skripsi terutama selalu meyakinkan penulis agar cepat menyelesaikan skripsi.

  

2. Ipang Djunarko, S.Si., Apt. selaku dosen penguji dan dosen matakuliah

Farmakoterapi III yang telah memberikan ilham dan pencerahan dalam

penyusunan skripsi kepada penulis terutama saat kuliah mngenai hepatitis.

3. dr. Fenty, MKes, Sp.PK. selaku dosen penguji serta telah memberikan saran,

masukan dan kritik dalam proses penyusunan skripsi ini.

4. Para dosen di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan bekal kepada penulis untuk praktik kefarmasiannya kelak.

  

5. Keluarga besar, Babe dan Mak Nyak, terima kasih untuk cinta, motivasi, dan

dukungannya. Kalian adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan dalam

hidupku. Terima kasih telah membuat hidupku sangat berwarna. I luv u both.

6. Nita dan Kak Yanti, terima kasih ya buat doa dan motivasinya buat aku lulus cepat. Terutama terima kasih buat dukungan dananya.

  

7. Keluarga besar di Flores, Kakek dan Nenek, Tante Nela, para sepupuku,

terutama buat Memi, Edo, Ina, para keponakanku. Terima kasih untuk doa, dan liburan yang menyenangkan. Kalian adalah salah satu motivasiku.

  

8. Keluarga besar di Tanah Betawi, para sepupuku, Ketua Suku, Kak Polin, Fina,

Kak Lia, Kak Ima, Franz, akhirnya selesai juga ya, jalan-jalan dan harus

traktir aku lagi lho, kali ini tenang saja, aku tidak akan bawa skripsiku lagi.

  

9. Komsel dan area STTNas, DenQ, NgelQ, YunQ, Ita, TiaQ, Ratna, Lina, FloQ,

Qla, kak Nad, mbak Pie, kak Dewi, para brothers terima kasih untuk doa dan

kebersamaan selama ini. Tidak ada tempat ternyaman selain bersama kalian.

  

10. Sahabat-sahabatku diJogja, FanQ, SarQ, Sephin, Aline. Terima kasih untuk

kebersamaan kalian selama ini. Terima kasih sudah belajar menerima diriku apa adanya. Ayo berjuang untuk menjadi apoteker yang luar biasa!

  

11. Teman-teman kosku, Maria, Ti2k, Mon2, Tia, Noni, Ratna, Kak Alya, Irin,

Indy, Jenny, Kak Vini, Kak Agar, Kak Ganda, Kak Dewi, Fira. Terima kasih telah membuat kos serasa rumah dan senantiasa menyemangatiku. Semangat!!

  

12. Yoppi, yang selalu memberikan motivasi, doa dan semangat serta selalu

meyakinkanku untuk tidak stres dalam membuat skripsi. Hidup adalah pilihan!

  

13. Sahabat-sahabatku dari TK-SMA, Zee, Said, Cyndi, Fanny, Mega, Mitha,

Heri, Nina, Lili, Sanoy. Tetangga terbaikku Dewi sekeluarga. Miss u all!

  

14. Teman-temanku kelas C dan kelas FKK’05, PitQ, Ticha, Suster, Presty, Ina,

Lia, Shinta, terimakasih ya buat setiap proses yang kita lalui selama ini.

  

15. Mbak Tisom, Sella, K Ita, Dr. Hendra dan para rekan sejawat selama

pengambilan data di ICM, ayo selesaikan datanya!! Reunian ya di ICM?!

  

16. Aswatiku : Monchu dan Corry, aku tetap ketuanya kan? “keluargaku di

Farmasi”: Papa Ronz, Om DonQ, Uncle E, Bibi Wisly, Putih, Bombay dan

Cucu. Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.

  

17. Kak ivon, Tami, Bamby, Widdy, dan semua teman seperjuanganku selama

pembuatan skripsi. Terimakasih ya buat dukungan dan motivasinya, percaya kalau tidak ada yang mustahil bersamaNya. Semangat!!!!bisa…bisa….bisa…..

  

18. Radio Impact, 100,5 FM, radio yang selalu menemani dan memotivasiku

apalagi saat begadang mengerjakan tugas, terima kasih telah mengisi hari-

hariku dengan lagu-lagu pemotivasimu. Impact FM, im more than winner!!!

  

19. Semua orang yang telah membuat hidupku begitu berwarna, terima kasih telah

membuat hidup ini menjadi lebih hidup dan menarik setiap harinya.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu

penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini menjadi

lebih baik lagi. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat menambah ilmu

pengetahuan.

  

INTISARI

Menurut World Health Organization, Indonesia merupakan negara dengan

tingkat endemisitas virus hepatitis B yang tergolong tinggi. Penyakit hepatitis B

dapat menjadi kronis sehingga berkembang menjadi sirosis dan kanker hati yang

lazimnya berakhir pada kematian. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk

mengetahui karakteristik pasien yang meliputi usia, jenis kelamin, komplikasi

terjadinya sirosis, dan pola pengobatan, serta mengevaluasi kerasionalan

peresepan pada pasien hepatitis B kronis dengan mengacu pada keenam parameter

dalam Drug Therapy Problems yaitu terapi obat tanpa indikasi, perlu tambahan

terapi obat, obat yang tidak efektif, dosis terlalu rendah, adverse drug reaction dan

dosis terlalu tinggi yang merupakan masalah-masalah yang dapat timbul selama

pasien diberi terapi di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito periode 2005-2007.

  Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan

rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Instrumen penelitian

yang digunakan adalah lembar rekam medis pasien hepatitis B kronis.

  Jumlah kasus yang dianalisis sebanyak 21 kasus. Kasus terbanyak adalah

pasien yang berumur ≥30 tahun (95,2% ), dengan jenis kelamin terbanyak adalah

laki-laki (81,0%) di mana sudah mengalami komplikasi sirosis hati dekompensata

(47,6%). Pada penelitian ini digunakan 11 kelas terapi obat di mana tiga kelas

terapi terbanyak adalah obat gizi dan darah (100%), obat saluran cerna (69,6%),

dan obat infeksi (66,7%). Jenis Drug Therapy Problems yang terjadi yaitu terapi

obat tanpa indikasi sebanyak 2 kasus (9,5%), perlunya tambahan terapi obat

sebanyak 18 kasus (85,7%), obat yang tidak efektif sebanyak 4 kasus (19,0%),

dosis terlalu rendah sebanyak 5 kasus (23,8%), adverse drug reaction sebanyak

11 kasus (52,4%) dan dosis terlalu tinggi sebanyak 7 kasus (33,3%).

  

Kata kunci : Hepatitis B kronis, evaluasi kerasionalan resep, Drug Therapy

Problems , SOAP

  

ABSTRACT

According to WHO, Indonesia is classified as a country with high

endemicity of hepatitis B virus. Hepatitis B can be chronic and become to

cirrhosis that eventually will lead to hepatocellular carcinoma which may lead to

death. The goals of this study are to identify the characteristic of the patients such

as the age, the gender, the complication of cirrhosis, to determine medical pattern,

and to evaluate the prescribing rationality to chronic hepatitis B in relevance to six

categories in drug therapy problems such as unnecessary drug therapy, needs

additional drug therapy, ineffective drug, dosage too low, adverse drug reaction

and dosage too high which are the problems occured as the patients is being

treated at the instalation ward of the RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta period 2005-

2007.

  This study is done in a non experimental way research plan descriptive

evaluative research which have retrospective characteristic. The instrument of

this study is medical record of hepatitis B.

  All case which analized is 21 cases. The most frequency case patients

than 30 years old (95,2%), the most gender is male (81,0%), which is patients

with cirrhosis liver decompensata (47,6%). This study used 11 drug class therapy

which is three most drug class therapy are nutrition and blood medicine (100%),

gastrointestinal system disorder medicine (69,6%), and infection medicine

(66,7%). The type of drug therapy problems that happened which is unnecessary

drug therapy are 2 cases (9,5%), needs additional drug therapy are 18 cases

(85,7%), ineffective drug are 4 cases (19,0%), dosage too low are 5 cases

(23,8%), adverse drug reaction are 11 cases (52,4%) and dosage too high are 7

cases (33,3%).

  

Key word : chronic hepatitis B, evaluation rationality of the prescribing, Drug

Therapy Problems, SOAP

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL…………………..…………………..………………. ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………… iii

HALAMAN PENGESAHAN…………………..…………………………. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN………………..……………………..…… v

PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH................................... vi

PRAKATA………………..……………………..………………………… vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………..………………….. x

  

INTISARI………………..……………………..………………………….. xi

ABSTRACT ………………..……………………..………………………… xii

DAFTAR ISI………………..……………………..………………………. xiii

DAFTAR TABEL………………..……………………..…………………. xvii

DAFTAR GAMBAR………………..……………………..……………… xxi

ABBREVIATIONS …………………………………………………………..xxii

BAB I. PENGANTAR………….…………………………………………. 1 A. Latar Belakang…………………………………………………………. 1

  

1. Perumusan masalah…………………………………………………2

  

2. Keaslian penelitian………………………………………………… 3

  

3. Manfaat penelitian…………………………………………………. 3

B. Tujuan Penelitian………………………………………………………. 4

1. Tujuan umum……………………………………………………….4

  

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA……………………………………... 5

A. Anatomi dan Fisiologi Hati……………………………………………..5

B. Hepatitis B……………………………………………………………... 6

  1. Definisi…………………………………………………………….. 6

  2. Etiologi…………………………………………………………….. 6

  3. Perjalanan alamiah penyakit……………………………………….. 7

  4. Epidemiologi……………….……………………………………….9

  5. Cara penularan……………………………………………………... 10

  6. Patogenesis………………………………………………………….11

  7. Penampakan klinis hepatitis B kronis…….. ……………………….12

  8. Diagnosis…………………………………………………………... 13

  9. Pencegahan………………………………………………………… 15

C. Penatalaksanaan Terapi Hepatitis B Kronis…………………………… 15

  1. Tujuan terapi………………………………………………………. 15

  2. Sasaran terapi……………………………………………………… 16

  3. Outcome…………………………………………………………… 16

  4. Algoritma terapi…………………………………………………… 16

  5. Strategi terapi………………………………………………………. 18

  6. Informasi kelas obat……………………………………………….. 19

D. Drug Therapy Problems……………………………………………….. 21

1. Peresepan yang tidak rasional………………………………………21

  3. Kategori dan penyebab umum Drug Therapy Problems…………... 23

E. Keterangan Empiris……………………………………………………. 24

  

BAB III. METODE PENELITIAN………………………………………... 25

A. Jenis dan Rancangan Penelitian………………………………………...25

B. Definisi Operasional…………………………………………………… 25

C. Subyek Penelitian……………………………………………………….28

D. Bahan Penelitian……………………………………………………….. 28

E. Lokasi Penelitian………………………………………………………..29

F. Tata Cara Penelitian…………………………………………………….29

  1. Tahap perencanaan…….……………………………………………29

  2. Tahap pengambilan data………………………………………….... 29

  3. Tahap penyelesaian data…………………………………………… 30

G. Tata Cara Analisis Hasil……………………………………………….. 31

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………. 34 A. Karakteristik Pasien Hepatitis B Kronis………………………………. 34

  1. Berdasarkan kelompok usia……………………………………….. 35

  2. Berdasarkan kelompok jenis kelamin……………………………… 36

  3. Berdasarkan terjadinya komplikasi……………………………….. 36

B. Pola Pengobatan Pasien Hepatitis B Kronis…………………………… 36

  1. Obat yang bekerja pada saluran cerna…………………………….. 38

  2. Obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler.. 39

  3. Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan………………. 40

  5. Obat yang bekerja sebagai analgesik………………………………. 41

  6. Obat-obat hormonal…………………….………………………….. 42

  7. Obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi……………............43

  8. Antineoplastik dan imunomodulator……..…………………………44

  9. Obat-obat untuk penyakit otot skelet dan sendi…………………….44

  10. Obat-obat yang mempengaruhi gizi dan darah…..………………… 45

  11. Obat system hepatobilier……………………………………………46

  

C. Kajian Drug Therapy Problems (DTPs)………………………………..47

  1. Dosis terlalu rendah ……………………………………………….. 69

  2. Obat yang tidak efektif ……………………………………………..70

  3. Dosis terlalu tinggi……………………………………………….....70

  4. Terapi obat tanpa indikasi…………………………………………..70

  5. Adverse Drug Reaction…………………………………………......71

  6. Perlu tambahan terapi obat………………………………………….72

  

D. Rangkuman Pembahasan………………………………………………. 72

  

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………... 75

A. Kesimpulan…………………………………………………………….. 75

B. Saran…………………………………………………………………… 76

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… 77

BIOGRAFI PENULIS……………………………………………………... 79

  DAFTAR TABEL

Tabel I Kategori Drug Therapy Problems................................... 23

Tabel II Distribusi Jumlah Kasus Hepatitis B Kronis berdasarkan Kelompok Usia di Instalasi Rawat Inap

RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

2005-2007……………………………………… ……... 35 Tabel III Distribusi Jumlah Kasus Hepatitis B Kronis berdasarkan Jenis Kelamin di Instalasi Rawat Inap

RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

2005-2007……………………………………………… 36 Tabel IV Distribusi Jumlah Kasus Hepatitis B Kronis berdasarkan Komplikasi Sirosis di Instalasi Rawat Inap

RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

2005-2007………………………………………............ 36 Tabel V Distribusi Kelas Terapi Obat Kasus Hepatitis B Kronis yang Dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007................... 37 Tabel VI Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Cerna yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007........................................................................ 38

  Tabel VII Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Kardiovaskuler yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronidi Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................39 Tabel VIII Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Pernapasan yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................40

  Tabel IX Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saraf Pusat yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007.......................................................... 41

Tabel X Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Analgesik

yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007....................................... 41

  di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007....................................... 42 Tabel XII Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Hormonal yang Digunakan pada Terapi Kasus

  Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007................... 43

Tabel XIII Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Gizi dan

Darah yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B

  Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007...............................

  44 Tabel XIV Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Otot Skelet dan Sendi yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007................... 44

  Tabel XV Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Hepatobilier yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

  Periode 2005-2007.......................................................... 45 Tabel XVI Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Antineoplastik dan Imunomodulator yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................46

  Tabel XVII Kajian DTPs Kasus 1 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................48 Tabel XVIII Kajian DTPs Kasus 2 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................49

  Tabel XIX Kajian DTPs Kasus 3 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................50 Tabel XX Kajian DTPs Kasus 4 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................51

  Tabel XXI Kajian DTPs Kasus 5 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................52 Tabel XXII Kajian DTPs Kasus 6 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................53

  Tabel XXIII Kajian DTPs Kasus 7 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta

  Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................55 Tabel XXV Kajian DTPs Kasus 9 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta

  Periode 2005-2007...........................................................56 Tabel XXVI Kajian DTPs Kasus 10 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................57

  Tabel XXVII Kajian DTPs Kasus 11 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................58 Tabel XXVIII Kajian DTPs Kasus 12 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................59

  Tabel XXIX Kajian DTPs Kasus 13 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................60 Tabel XXX Kajian DTPs Kasus 14 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................61

  Tabel XXXI Kajian DTPs Kasus 15 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................62 Tabel XXXII Kajian DTPs Kasus 16 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................63

  Tabel XXXIII Kajian DTPs Kasus 17 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................64 Tabel XXXIV Kajian DTPs Kasus 18 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................65

  Tabel XXXV Kajian DTPs Kasus 19 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................66 Tabel XXXVI Kajian DTPs Kasus 20 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................67

  Tabel XXXVII Kajian DTPs Kasus 21 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjiyo Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................68 Tabel XXXVIII Kasus DTPs Dosis Terlalu Rendah pada Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

  Tabel XXXIX Kasus DTPs Obat Yang Tidak Efektif pada Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007...........................................................70

  Tabel XXXX Kasus DTPs Dosis Terlalu Tinggi pada Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007................... 70 Tabel XXXXI Kasus DTPs Terapi Obat Tanpa Indikasi pada Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007................... 70

  Tabel XXXXII Kasus DTPs Adverse Drug Reaction pada Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007........ 71 Tabel XXXXIII Kasus DTPs Perlu Tambahan Terapi Obat Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007........ 72

  DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Hepar....................................................................... 5

Gambar 2 Virus Hepatitis B....................................................

  7 Gambar 3 Grafik Petanda Serologi Hepatitis B Kronis........

  14 Gambar 4 Algoritma Terapi Hepatitis B Kronis...................

  17

  ABBREVIATIONS

  33. HBsAg : hepatitis B surface antigen

  27. FDA : food and drug association

  28. GGT : gama glutamil transferase

  29. GNC : glomerulonephritis chronic

  30. HBcAg : hepatitis B core antigen

  31. HBeAg : hepatitis B envelope antigen

  32. HBIg : hepatitis B imunoglobulin

  34. HMRS : hari masuk rumah sakit

  23. DU : diagnosa lain

24. e o 2dd u e ODS : eye ointment 2 de die usus externa optic dextra sinistra

25. ec : et causa

  35. HSMRS : hari sebelum masuk rumah sakit

  36. Inf. : infus

  37. Inj. : injeksi

  38. MSMRS : minggu sebelum masuk rumah sakit

  39. Prot. : protein

  40. PTT : prothrombin partial time

  26. EPS : enteral protein susu

  22. DTPs : drug therapy problems

  1. ADR : adverse drug reaction

  11. BAB : buang air besar

  2. AFP : alfa fetoprotein

  3. ALP : fosfatase alkalis

  4. ALT : alanine transamonase 5. anti HBc : antibodi HbcAg 6. anti Hbe : antibodi HbeAg 7. anti HBs : antibodi HbsAg

  8. APTT : activated partial thromboplastine time

  9. ARF : acute renal failure

  10. AST : aspartate transaminase

  12. BAK : buang air kecil

  21. DNA : deoxyribose nucleid acid

  13. BANN : batas atas nilai normal

  14. Bil. : bilirubin

  15. BP : blood pressure

  16. CaCO 3 : kalsium karbonat 17. dbn : dalam batas normal

  18. CKD : chronic kidney disease

  19. CM : compos mentis

  20. DL : diagnosa lain

  41. RKH : rendah karbohidrat

  44. RPK : riwayat penyakit keluarga

  45. RR : respiration rate

  46. RSUP : rumah sakit umum pemerintah

  47. SOAP : subjectif, objectif, assessment, plan

  

48. SGOT : serum glutamik oksaloasetik transaminase

  49. SGPT : serum glutamik pyruvik transaminase 50. t.a.k : tidak ada kelainan

  51. TKTP : tinggi kalori tinggi protein

  52. Unconj. : unconjugated

  53. VHA : virus hepatitis A

  54. VHB : virus hepatitis B

  55. VHC : virus hepatitis C

  56. VHD : virus hepatitis D

  57. VHE : virus hepatitis E

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan tingkat endemisitas virus hepatitis B

  

yang tergolong tinggi menurut pembagian World Health Organization (Anonim,

2002). Penyakit hepatitis B dapat menjadi kronis sehingga berkembang menjadi

sirosis dan kanker hati yang lazimnya berakhir pada kematian (Soemoharjo, 2008).

Hati merupakan organ metabolisme utama, maka gangguan faal hati akan

menyebabkan menurunnya kemampuan eliminasi obat-obat yang mengalami

metabolisme hepatal sehingga perlu dilakukan penyesuaian dosis (Anonim, 2008 e).

Dalam peresepan bagi pasien hepatitis B kronis diperlukan kerasionalan peresepan

yang meliputi kriteria menurut Cipolle dan Strand (2004) antara lain adanya terapi

obat tanpa indikasi, indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi, ketidakefektifan

pemilihan obat, dosis yang kurang, terjadinya adverse drug reaction, dan dosis yang

berlebih dalam penggunaan obat di RSUP Dr. Sardjito pada periode 2005-2007.

Penanganan penderita hepatitis B kronis harus dilakukan dengan benar untuk

meminimalkan berkembangnya penyakit tersebut menjadi sirosis dan kanker hati

(Anonim, 2002).

  Pemakaian obat yang tidak rasional merupakan masalah serius dalam

pelayanan kesehatan dan dibanyak negara pada berbagai tingkat pelayanan

kesehatan, berbagai studi dan temuan telah menunjukkan bahwa pemakaian obat jauh Di Indonesia juga marak ditemukan penggunaan obat yang tidak rasional

seperti pemakaian beberapa obat sekaligus yang memiliki indikasi yang sama dan

pemakaian obat yang sebenarnya tidak diperlukan (Sabrina, 2008).

  Adapun pemilihan RSUP Dr. Sardjito sebagai tempat penelitian

dikarenakan lebih banyak kasus hepatitis B kronis dibanding di rumah sakit lain

karena RSUP Dr. Sardjito merupakan rumah sakit rujukan bagi Daerah Istimewa

Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah bagian Selatan, selain itu RSUP Dr. Sardjito

merupakan rumah sakit umum pendidikan kelas A yang sudah menyediakan

pelayanan kesehatan spesialistis dan sub spesialistis (Anonim, 2008 d).

1. Perumusan masalah

  Masalah yang dapat dirumuskan mengenai kerasionalan peresepan pada pasien hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah : a. bagaimana karakteristik kasus hepatitis B kronis pada Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 yang meliputi usia, jenis kelamin dan terjadinya komplikasi sirosis?

  b. bagaimana pola pengobatan kasus hepatitis B kronis pada Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007? c. bagaimana Kajian Drug Therapy Problems yang terjadi pada kasus hepatitis B kronis pada Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito

  Yogyakarta periode 2005-2007, yang meliputi: 1) apakah ada terapi obat tanpa indikasi? 2) apakah ada indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi?

  4) apakah dosis yang diterima pasien kurang? 5) apakah terjadi adverse drug reaction? 6) apakah dosis yang diterima pasien berlebih?

2. Keaslian penelitian

  Berdasarkan penelusuran penulis, penelitian mengenai hepatitis B sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti lain dengan judul sebagai berikut:

a. Kajian Drug Related Problems (DRPs) pada Kasus Hepatitis B Non Komplikasi

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-

  Juni 2007 (Primawati, 2008).

b. Faktor Resiko Seropositif HBsAg Pada Tenaga Kesehatan di RSUP Dr. Sardjito (Gugun, 2007).

  Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Primawati berbeda dalam

hal subjek dan lokasi penelitian sedangkan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Gugun berbeda dalam hal subjek dan rancangan penelitian.

3. Manfaat penelitian

  a. Manfaat praktis Penelitian ini dapat digunakan sebagai evaluasi dan bahan masukan untuk meningkatkan mutu pengobatan pada pasien hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

  b. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai kerasionalan peresepan pada pasien hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

B. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan umum Untuk mengetahui kerasionalan peresepan pasien hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007.

  2. Tujuan khusus Adapun tujuan khususnya yaitu :

  a. mengetahui karakteristik kasus hepatitis B kronis pada Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 meliputi usia, jenis kelamin dan komplikasi terjadinya sirosis.

  b. mengetahui pola pengobatan kasus hepatitis B kronis pada Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007.

  c. mengetahui Kajian Drug Therapy Problems yang terjadi pada kasus hepatitis B kronis pada Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007, yang meliputi: 1) mengetahui adanya terapi obat tanpa indikasi

2) mengetahui adanya indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi

3) mengetahui adanya ketidakefektifan dalam pemilihan obat.

  4) mengetahui adanya dosis yang kurang. 5) mengetahui terjadinya adverse drug reaction. 6) mengetahui adanya dosis berlebih.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Anatomi dan Fisiologi Hati Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh, rata-rata sekitar 1500 gram,

  

atau 2,5% berat badan pada orang dewasa normal. Permukaan superior hati

berbentuk cembung dan terletak di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian

kubah kiri. Bagian bawah hati berbentuk cekung dan merupakan atap ginjal kanan,

lambung, pankreas, dan usus. Hati memiliki 2 lobus utama, kanan dan kiri (Price dan

Wilson, 1994). Permukaannya dilintasi oleh berbagai pembuluh darah yang masuk-

keluar hati. Hati mempunyai dua jenis persediaan darah, yaitu yang datang melalui

arteri hepatika dan yang melalui vena porta (Pearce, 2008).

  

Gambar 1. Hepar (Anonim, 2008 b) Pembuluh darah pada hati adalah arteri hepatika, yang keluar dari aorta dan

memberikan seperlima darahnya kepada hati. Vena porta yang terbentuk dari vena

lienalis dan vena mesenterika superior, mengantarkan empat perlima darahnya ke

hati, darah ini mempunyai kejenuhan oksigen hanya 70% sebab beberapa O

  2 telah

diambil oleh limpa dan usus. Darah vena porta ini membawa kepada hati zat

makanan yang telah diabsorpsi oleh mukosa usus halus. Vena hepatika

mengembalikan darah dari hati ke vena kava inferior. Di dalam vena hepatika tidak

terdapat katup. Maka terdapat empat pembuluh darah utama yang menjelajahi

seluruh hati, dua yang masuk, yaitu arteri hepatika dari vena porta dan dua yang

keluar, yaitu vena hepatika dan saluran empedu (Pearce, 2008).

B. Hepatitis B

  1. Definisi Hepatitis merupakan istilah yang secara umum menunjukkan adanya

inflamasi pada hati (Anonim, 2002). Hepatitis secara klinis digolongkan menjadi

  

Hepatitis A (VHA), Hepatitis B (VHB), delta Hepatitis (VHD), Hepatitis C (VHC),

dan Hepatitis E (VHE). Virus hepatitis G juga telah diuraikan, walaupun perannya

secara klinis masih belum jelas (DiPiro et al., 2005). Hepatitis B kronik adalah

adanya persistensi virus hepatitis B lebih dari 6 bulan yang masih disertai dengan

viremia (Soemoharjo, 2008).

  2. Etiologi Virus hepatitis B (VHB), merupakan hepadnavirus, yang berdiameter 42

nm yang sebagian merupakan virus double stranded, tersusun oleh inti nukleokapsid

  

mengandung antigen permukaan (HBsAg) (Anonim, 2002). Dalam nukleokapsid

didapatkan kode genetik virus hepatitis B yang terdiri dari DNA untai ganda dengan

panjang 3200 nukleotida (Soemoharjo, 2008). Antigen permukaan (HBsAg) terdiri

atas lipoprotein dan menurut sifat imunologik proteinnya VHB dibagi menjadi 4

subtipe yaitu adw, adr, ayw dan ayr. Subtipe ini secara epidemiologis penting,

karena menyebabkan perbedaan geografik dan rasial dalam penyebarannya. Virus

hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90 hari (Siregar,

2008).

  

Gambar 2. Virus Hepatitis B (Anonim, 2008 c)

3. Perjalanan alamiah penyakit

  Infeksi hepatitis mempunyai manifestasi klinik yang berbeda tergantung

usia pasien saat terinfeksi, status imun dan tingkat keparahan saat penyakit

didiagnosis. Selama fase inkubasi (6 sampai 24 minggu), pasien akan merasakan

sakit disertai gejala nausea, vomitus, diare, anoreksia dan sakit kepala. Sebagian

  

besar pasien dewasa dapat sembuh seutuhnya dari infeksi VHB, tetapi sekitar 5-10%

tidak dapat sembuh dan berkembang menjadi carrier asimptomatik atau berkembang

menjadi hepatitis kronis yang dapat berlanjut menjadi sirosis dan/atau kanker hati

(Anonim, 2002). Ada 4 fase penting dalam perjalanan penyakit hepatitis B kronik,

yaitu :

  a. fase imunotoleransi (immune tolerance) Ditandai dengan keberadaan HBeAg, kadar VHB DNA yang tinggi, kadar ALT yang normal dan gambaran histologi hati yang normal atau perubahan minimal.

  b. fase imunoaktif /fase hepatitis kronik HBeAg positif (immune clearance) Ditandai dengan keberadaan HBeAg, kadar VHB DNA yang tinggi atau berfluktuasi, kadar ALT yang meningkat dan gambaran histologi jaringan hati yang menunjukkan peradangan yang aktif. Outcome dari fase ini adalah terjadinya serokonversi HBeAg menjadi anti HBeAg.

  c. fase inactive carrier Ditandai dengan HBeAg yang negatif, anti-HBe positif, kadar VHB DNA yang rendah atau tidak terdeteksi (<100.000 IU/mL), gambaran histologi hati menunjukkan fibrosis hati yang minimal atau hepatitis yang ringan.

  d. fase reaktivasi/fase hepatitis kronik HBeAg negatif Ditandai dengan HBeAg negatif, anti-HBe positif, kadar VHB DNA yang positif atau dapat dideteksi, kadar ALT yang meningkat serta gambaran histologi hati menunjukkan proses nekroinflamasi yang aktif (Lesmana,

4. Epidemiologi

  Virus Hepatitis B berjangkit di seluruh dunia. Tingkat carrier HBsAg

tertinggi berada di negara berkembang yang masih primitif atau negara dengan

fasilitas medis yang masih minim. Menurut tingginya prevalensi infeksi VHB, WHO

membagi dunia menjadi 3 macam daerah yaitu : a. daerah endemisitas tinggi Penularan utama terjadi pada masa perinatal dan kanak-kanak. Batas terendah frekuensi HBsAg dalam populasi berkisar 10-15%. Daerah endemisitas tinggi meliputi Afrika, negara Asia sebelah timur India termasuk Cina, pulau-pulau di Lautan Pasifik, Lembah Amazon, daerah pesisir Artik, sebagian negara Timur Tengah, Asia Kecil dan Kepulauan Karibia serta Asia Tenggara termasuk Indonesia.

  b. daerah endemisitas sedang Didaerah endemisitas sedang penularan yang terjadi pada masa perinatal dan kanak-kanak jarang terjadi. Frekuensi HBsAg dalam populasi berkisar 2-10%. Daerah endemisitas sedang meliputi Eropa Selatan, Eropa Timur, sebagian Rusia, sebagian negara Timur Tengah, Asia Barat, India, Jepang, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan c. daerah endemisitas rendah Penularan utama terjadi pada masa dewasa. Penularan pada masa perinatal dan kanak-kanak sangat jarang. Frekuensi HBsAg dalam populasi berkisar kurang 2%. Daerah endemisitas rendah meliputi Amerika Utara dan Eropa

  Barat, sebagian Rusia, dan sebagian Afrika Selatan, Australia dan Selandia Baru (Soemoharjo, 2008).

  Di Indonesia, tingkat endemisitas daerah Indonesia bagian Timur lebih

tinggi dibandingkan dengan Indonesia bagian Barat dimana subtipe yang banyak

didapatkan adalah subtipe adw (Soemoharjo, 2008).

5. Cara penularan Ada 2 jenis cara penularan infeksi VHB, yaitu penularan horisontal dan vertikal.

  a. Penularan horisontal 1) penularan melalui kulit Terbagi menjadi 2 yaitu penularan melalui kulit melalui yang disebabkan tusukan yang jelas (penularan parenteral) misalnya melalui suntikan, transfusi darah atau pemberian produk yang berasal dari darah dan tato. Kelompok kedua adalah penularan melalui kulit tanpa tusukan yang jelas, misalnya masuknya bahan infektif melalui goresan atau abrasi kulit, dan radang kulit.

  2) penularan melalui selaput lendir Selaput lendir yang dapat menjadi tempat masuk infeksi VHB adalah selaput lendir mulut, mata hidung, saluran makanan bagian bawah dan selaput lendir genitalia.

  b. Penularan vertikal Penularan infeksi VHB dari ibu hamil kepada bayi yang dilahirkannya yang dapat terjadi pada masa sebelum kelahiran (prenatal), selama persalinan

6. Patogenesis

  Pada manusia, hati merupakan target organ bagi HVB. Virus Hepatitis B

mula-mula melekat pada reseptor spesifik di membran sel hepar kemudian

mengalami penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar. Dalam sitoplasma VHB

melepaskan mantelnya, sehingga melepaskan nukleokapsid. Selanjutnya

nukleokapsid akan menembus dinding sel hati. Di dalam inti asam nukleat VHB akan

keluar dari nukleokapsid dan akan menempel pada DNA hospes dan berintegrasi;

pada DNA tersebut. Selanjutnya DNA VHB memerintahkan sel hati untuk

membentuk protein bagi virus baru dan kemudian terjadi pembentukan virus baru

(Siregar, 2008). Jadi, sebenarnya virus yang ada di dalam tubuh penderita ini dibuat

sendiri oleh hepatosit penderita yang bersangkutan dengan genom VHB yang

pertama sebagai cetak biru (Soemoharjo, 2008).

  Virus ini dilepaskan ke peredaran darah, mekanisme terjadinya kerusakan

hati yang kronik disebabkan karena respon imunologik penderita terhadap infeksi

(Siregar, 2008). Pada kasus-kasus hepatitis B akut respon imun tersebut berhasil

mengeliminasi sel-sel hepar yang terkena infeksi VHB sehingga terjadi nekrosis sel-

sel yang mengandung VHB dan terjadi gejala klinik yang diikuti dengan

kesembuhan. Pada sebagian penderita respon imun tersebut tidak berhasil

menghancurkan sel-sel yang terinfeksi sehingga VHB tersebut tetap mengalami

replikasi (Soemoharjo, 2008).

  Pada kasus-kasus dengan hepatitis B kronik, respon imun tersebut ada, tetapi

tidak sempurna sehingga hanya terjadi nekrosis pada sebagian sel hati yang

  

nekrosis sehingga infeksi VHB dapat menjalar ke sel lainnya. Pada pengidap HBsAg

asimtomatik respon imun tersebut sama sekali tidak efektif sehingga tidak ada

nekrosis sel hati yang terinfeksi dan virus tetap mengadakan replikasi tanpa adanya

gejala klinik (Soemoharjo, 2008). Infeksi VHB dapat menjadi hepatitis kronis

kemudian berkembang menjadi sirosis, dan akhirnya menjadi kanker hati, yang

biasanya terjadi setelah jangka waktu 30 sampai 50 tahun (Anonim, 2002).

7. Penampakan klinis hepatitis B kronis

  a. Tanda dan gejala 1) mudah letih, ansietas, anoreksia, dan malaise 2) asites, jaundis, pendarahan variseal, dan ensefalopatik hepatik yang merupakan manifestasi dari sirosis dekompensasi 3) ensefalopati hepatik yang berhubungan dengan hipereksitabilitas, gangguan mental, bingung, obtudansi (kesadaran berkabut), yang pada akhirnya koma 4) muntah dan kejang b. Pemeriksaan fisik 1) sklera ikterik, kulit dan sekresi

  2) menurunnya bowel sounds, meningkatnya lingkar abdominal dan terdeteksinya gelombang cairan 3) asterixis (gangguan motorik) 4) angiomata spider (vaskular spider)

c. Pemeriksaan laboratorium

  2) peningkatan intermitent transaminase hepatik (ALT dan AST) dan DNA

5 VHB>10 kopi/ml

  3) biopsi hati untuk mengklasifikasikan menjadi hepatitis kronis persisten, hepatitis kronis aktif dan sirosis Hepatitis B kronik dapat terjadi walaupun tanpa penampakan tanda dan gejala, serta pemeriksaan fisik seperti diatas (DiPiro et al., 2005).

8. Diagnosis

  Diagnosis pasti hepatitis B dapat diketahui berdasarkan pemeriksaan laboratorium seperti dibawah ini: a. HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) yaitu suatu protein yang merupakan selubung luar partikel VHB. HBsAg yang positif menunjukkan bahwa pada saat itu yang bersangkutan mengidap infeksi VHB (Soemoharjo, 2008). Bila HBsAg menetap setelah lebih dari 6 bulan artinya hepatitis telah berkembang menjadi kronis (Sari, 2008).

  b. Anti-HBs merupakan antibodi terhadap HBsAg. Anti-HBs yang positif menunjukkan bahwa individu yang bersangkutan telah kebal terhadap infeksi VHB baik yang terjadi setelah suatu infeksi VHB alami ataupun setelah dilakukan imunisasi hepatitis B (Soemoharjo, 2008).

  c. HBeAg merupakan suatu protein nonstruktural dari VHB yang disekresikan kedalam darah dan merupakan produk gen precore dan gen core (Soemoharjo, 2008). Bila positif berarti virus sedang replikasi dan infeksi terus berlanjut. Apabila hasil positif menetap sampai 10 minggu akan keadaan infeksius dapat menularkan penyakitnya baik terhadap orang lain, maupun ibu ke janinnya (Sari, 2008).

d. Anti-HBe (antibodi HBeAg) Positifnya anti-HBe menunjukkan bahwa VHB ada dalam fase nonreplikatif (Soemoharjo, 2008).

  e. HBcAg (antigen core hepatitis B) merupakan antigen core (inti) VHB yang berupa protein dan dibuat dalam inti sel hati yang terinfeksi VHB. HBcAg

positif menunjukkan keberadaan protein dari inti VHB (Sari, 2008).

  f. Anti-HBc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B). Antibodi ini ada 2 tipe yaitu IgM anti-HBc dan IgG anti-HBc. IgM anti-HBc tinggi artinya infeksi akut, IgG anti-HBc positif dengan IgM anti-HBc yang negatif menunjukkan infeksi kronis atau pernah terinfeksi VHB (Sari, 2008).

  

Gambar 3. Grafik Petanda Serologi Hepatitis B Kronis (Anonim, 2008 f)

9. Pencegahan

  a. Imunisasi pasif Hepatitis B immune globulin (HBIg) dibuat dari plasma yang mengandung

  5 secara cepat meskipun hanya untuk jangka waktu yang terbatas (3-6 bulan). Pada orang dewasa, HBIg diberikan dalam waktu 48 jam pasca paparan

  VHB. Pada bayi dari ibu pengidap VHB, HBIg diberikan seyogyanya bersamaan dengan vaksin VHB disisi tubuh berbeda dalam waktu 12 jam setelah lahir. Bila HBsAg ibu baru diketahui beberapa hari kemudian, HBIg dapat diberikan bila usia bayi

  ≤ 7 hari. HBIg tidak dianjurkan untuk diberikan sebagai upaya pencegahan pra-paparan namun hanya diberikan pada kondisi pasca paparan (profilaksis pasca paparan).

  b. Imunisasi aktif Tujuannya adalah memotong jalur transmisi melalui program imunisasi bayi baru lahir dan kelompok risiko tinggi tertular VHB. Tujuan akhirnya adalah menyelamatkan nyawa minimal 1 juta jiwa/tahun, menurunkan

risiko karsinoma hepatoseluler, dan eradikasi virus (Lesmana, 2006).

C. Penatalaksanaan Terapi Hepatitis B Kronis

1. Tujuan terapi

  a. Tujuan utama Untuk mengeliminasi atau menekan secara permanen VHB sehingga akan mengurangi patogenitas dan infektivitas, dan akhirnya menghentikan atau mengurangi nekroinflamasi (Lesmana, 2006).

  b. Tujuan jangka pendek 1) Mengurangi inflamasi hati

  3) Menghilangkan VHB-DNA (dengan serokonversi HBeAg ke anti-HBe pada pasien HBeAg positif) dan normalisasi ALT pada akhir atau 6-12 bulan setelah akhir pengobatan (Lesmana, 2006).

  c. Tujuan jangka panjang 1) Mencegah terjadinya hepatitis flare yang dapat menyebabkan dekompensasi hati, perkembangan ke arah sirosis dan/atau hepatoselular karsinoma, dan pada akhirnya memperpanjang usia (Lesmana, 2006).

  2. Sasaran terapi Sasaran terapi hepatitis B kronis adalah virus hepatitis B, VHB-DNA,

serokonversi HBeAg ke anti-HBe (pada pasien HBeAg positif), normalisasi ALT

  (Lesmana, 2006).

  3. Outcome

  a. Mengembalikan pasien seperti keadaan awal

  b. Mencegah perkembangan menjadi infeksi kronis

  c. Menurunkan morbiditas dan mortalitas

  d. Memperkecil penularan infeksi

  e. Menormalkan kadar aminotransferase

  f. Menghentikan replikasi virus pada host g. Membasmi virus (DiPiro et al., 2005).

4. Algoritma terapi

  a. Pasien VHB kronis dengan HBeAg positif : ALT>2 kali diatas BANN atau pada biopsi memperlihatkan hepatitis sedang sampai berat maka kali BANN: terapi dengan lamivudin atau interferon α-2β terbatas pada pasien dengan nekroinflamasi signifikan pada biopsi hepar. Pasien sebaiknya memantau kadar ALT setiap 3-6 bulan.

  Gambar 4. Algoritma Terapi Hepatitis B Kronis (DiPiro et al., 2005).

b. Pasien VHB kronis dengan HBeAg negatif: hanya pada pasien dengan

  5 ALT>2 kali BANN,

  VHB DNA>10 kopi/ml, atau pada biopsi memperlihatkan hepatitis yang sedang sampai berat sebaiknya diterapi dengan lamivudin atau interferon

α-2β.

  

c. Pasien yang memberikan respon yang gagal pada pemberian interferon

α-2β

  5 dan memiliki ALT>2 kali BANN, VHB DNA>10 kopi/ml, atau pada biopsi memperlihatkan hepatitis yang sedang sampai berat dapat diterapi dengan lamivudin.

  

d. Pasien yang telah mengalami sirosis dekompensata: interferon

α-2β seharusnya tidak digunakan dan penggunaan lamivudin dapat dipertimbangkan.

e. Pasien dengan status HBsAg carrier inaktif : tidak ada indikasi terapi (DiPiro et al., 2005).

5. Strategi terapi

  a. Terapi non farmakologis Obat herbal digunakan sebagai terapi umum dibanyak belahan dunia dan telah dipelajari secara mendalam di China. Pada percobaan metaanalisis telah diidentifikasikan bahwa bufotoxin dan kurorinone dihubungkan dengan peningkatan serokonversi HBeAg dan pembersihan VHB DNA. Evaluasi lebih lanjut terhadap senyawa aktif ini sebagai terapi alternatif masih diperlukan, namun senyawa aktif tersebut tidak langsung direkomendasikan untuk penggunaan rutin (DiPiro et al., 2005).

  b. Terapi farmakologis Terapi lini pertama yaitu antara interferon- α2b dan lamivudin, tergantung kategorisasi spesifik populasi pasien dengan melihat HBeAg yang positif dan kadar ALT. Faktor-faktor seperti keparahan panyakit, sejarah merupakan faktor yang mempengaruhi pemilihan obat pada pasien (DiPiro et al ., 2005).

6. Informasi kelas obat

  a. Interferon Interferon- α2b merupakan interferon yang telah diterima penggunaannya oleh FDA sebagai terapi penanganan pada VHB kronis (DiPiro, 2005).

  Beberapa khasiat interferon adalah khasiat antiviral, imunomodulator, antiproliferatif, dan antifibrotik. Interferon tidak memiliki khasiat antiviral langsung, tetapi merangsang terbentuknya berbagai macam protein efektor yang mempunyai khasiat antiviral (Soemoharjo, 2008). Interferon-

  α2b sebaiknya diberikan secara injeksi subkutan sebanyak 5 juta unit/hari atau 10 juta unit 3x/minggu pada dewasa. Pada anak-anak, dosisnya sebesar 6

  2 juta unit/m 3x seminggu secara injeksi subkutan dan direkomendasikan sampai maksimum 10 juta unit per dosis. Pada pasien VHB dengan HBeAg positif sebaiknya diterapi selama 16 minggu, sedangkan pada pasien dengan HBeAg negatif diterapi selama 12 bulan (DiPiro et al., 2005).

  b. Lamivudin Lamivudin (Epivir-VHB, 3TC) merupakan analog nukleosida (DiPiro et al., 2005). Lamivudin bekerja dengan menghambat enzim reverse transcriptase yang berfungsi dalam transkripsi balik dari RNA menjadi DNA yang terjadi dalam replikasi VHB. Lamivudin menghambat produksi VHB baru dan mencegah terjadinya infeksi infeksi hepatosit sehat yang belum terinfeksi,

  Lamivudin mempunyai efek samping yang rendah dibandingkan interferon- α2b. Efek samping yang umumnya terjadi seperti fatigue, nausea, dan vomiting , sakit kepala, batuk, dan diare. Lamivudin digunakan dalam tablet atau suspensi per oral pada dosis 100 mg sehari sekali (DiPiro et al., 2005).

  Strategi pengobatan yang tepat adalah pengobatan jangka panjang karena khasiatnya meningkat bila diberikan dalam waktu yang lebih panjang.

  Namun, strategi terapi berkepanjangan ini terhambat oleh munculnya virus yang kebal terhadap lamivudin, yang biasa disebut mutan YMDD. Bila terjadi kekebalan terhadap lamivudin, analog nukleosid yang lain masih dapat digunakan misalnya adefovir dan entecavir (Soemoharjo, 2008).

  c. Adefovir dipivoxil Adefovir dipivoxil adalah suatu analog nukleotida oral yang merupakan analog adenosin monofosfat yang menghambat enzim reverse transcriptase . Mekanisme khasiat adefovir dipivoxil hampir sama dengan lamivudin. Pada saat ini, adefovir dipivoxil baru digunakan pada kasus- kasus yang kebal terhadap lamivudin. (Soemoharjo, 2008). Dosis yang dianjurkan adalah sebesar 10 mg/hari. Efek samping penggunaan adefovir dipivoxil jika digunakan pada dosis tinggi yaitu 30 mg/hari atau lebih dapat mengakibatkan gagal ginjal (DiPiro et al., 2005). Keuntungan penggunaan adefovir adalah lebih jarang terjadi kekebalan dan kekebalan terjadi setelah pemakaian yang lebih lama dibandingkan dengan lamivudin. Kerugiannya adalah harga yang lebih mahal dan masih kurangnya data mengenai khasiat dan keamanan penggunaan dalam jangka waktu yang sangat panjang (Soemoharjo, 2008).

  d. Entecavir Entecavir adalah suatu analog nukleosida guanosin yang berkhasiat menghambat ketiga langkah transkripsi balik pregenom RNA oleh enzim DNA polimerase, yaitu priming, sintesis untai DNA negatif dan sintesis untai DNA positif. Entecavir telah terbukti efektif untuk hepatitis B kronik baik pada HBeAg positif maupun pada HBeAg negatif serta penderita yang terbukti mengalami kekebalan terhadap lamivudin. Dosis entecavir yang dianjurkan pada penderita dewasa baru adalah 0,5 mg sehari sedangkan untuk penderita yang pernah mendapakan lamivudin tetapi tetap mengalami viremia selama minum obat, atau yang memang telah terbukti mengalami kekebalan terhadap lamivudin, dosis yang dianjurkan adalah sebesar 1 mg setiap hari (Soemoharjo, 2008).

D. Drug Therapy Problems

1. Peresepan yang tidak rasional

  Proses pengobatan menggambarkan suatu proses normal atau “fisiologik”

dari pengobatan, di mana diperlukan pengetahuan, keahlian sekaligus berbagai

pertimbangan dalam setiap tahap sebelum membuat suatu keputusan. Kenyataannya

dalam praktik, sering dijumpai kebiasaan pengobatan (peresepan, prescribing habit)

yang tidak berdasarkan proses dan tahap ilmiah tersebut. Hal ini sering menimbulkan

  

dampaknya yang merugikan. Secara umum patologi peresepan ini lebih dikenal

sebagai peresepan yang tidak rasional (irrational prescribing) atau peresepan yang

tidak benar (in appropriate prescribing) (Anonim, 2008 a).

2. Terminologi Drug Therapy Problems

  Drug Therapy Problems (DTPs) adalah suatu permasalahan atau kejadian

yang tidak diharapkan yang dialami pasien selama proses terapi obat, yang secara

sehingga mengganggu tujuan terapi. Drug Therapy Problems dapat muncul pada

setiap tahap proses pengobatan. Setiap praktisi tenaga kesehatan bertanggungjawab

untuk membantu pasien dalam hal mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan

masalah yang dialami pasien. Drug Therapy Problems merupakan tanggungjawab

utama dari seorang praktisi farmasi.

  Praktisi pharmaceutical care menggunakan istilah problem untuk

menunjukkan peristiwa yang berhubungan atau disebabkan oleh terapi obat yang

mempengaruhi pemeriksaan, pengobatan, atau pencegahan. Drug Therapy Problems

merupakan masalah klinis, dan harus dapat diidentifikasi dan diatasi dengan cara

yang serupa terhadap masalah-masalah klinis lainnya. Drug Therapy Problems hanya

istilah yang digunakan pada pasien, bukan pada obat ataupun praktisi medis.

  Ketika terjadi Drug Therapy Problems, maka prioritaskan masalah dan

mulai pecahkan pada masalah yang terpenting dan kritis bagi kesehatan pasien.

  

Sehingga harus ditegaskan bahwa peran praktisi pharmaceutical care yang paling

utama adalah untuk mencegah terjadinya Drug Therapy Problems. Hal ini tentu saja

merupakan pelayanan yang paling berharga yang dapat dilakukan seorang praktisi

3. Kategori dan penyebab umum Drug Therapy Problems

  Seperti kebanyakan masalah klinis yang biasa terjadi, DTPs tidak dapat

dipecahkan atau dicegah apabila penyebab dari masalah tersebut tidak diketahui. Hal

ini penting untuk diidentifikasikan dan dikategorikan tidak hanya pada DTPs, tetapi

juga penyebab lain yang serupa. Praktisi dapat memecahkan atau mencegah

terjadinya DTPs. Penyebab umum terjadinya DTPs dirangkum pada tabel I (Cipolle

dan Strand, 2004).

  

Tabel I. Kategori Drug Therapy Problems (Cipolle dan Strand, 2004).

  Penyebab Umum

  DTPs

  Tidak adanya indikasi medis yang valid untuk terapi obat yang digunakan saat itu, banyaknya pemakaian banyak obat untuk kondisi tertentu padahal hanya memerlukan Terapi obat terapi obat tunggal, kondisi medis lebih sesuai diobati tanpa terapi obat, terapi obat digunakan untuk menghilangkan adverse reaction yang berhubungan dengan pengobatan tanpa indikasi lain, penyalahgunaan obat, penggunaan alkohol, atau merokok yang menyebabkan masalah. Kondisi terapi yang memerlukan terapi inisiasi obat,

  pencegahan terapi obat diperlukan Perlu untuk mengurangi resiko berkembangnya penyakit baru, kondisi medis yang tambahan memerlukan farmakoterapi tambahan untuk mencapai sinergisme atau efek adiktif. terapi obat

  Obat yang digunakan bukan obat yang paling efektif terhadap masalah medis yang Obat yang dialami, kondisi medis terbiaskan dengan adanya obat, bentuk sediaan obat tidak sesuai, tidak obat tidak efektif terhadap indikasi yang dialami. efektif

  Dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan, interval dosis terlalu

  Dosis rendah untuk dapat menghasilkan respon yang diinginkan, interaksi obat menurunkan terlalu jumlah zat aktif yang tersedia, durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon rendah yang diinginkan.

  Obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, obat yang lebih aman diperlukan terhadap faktor resiko, interaksi obat

  Adverse

  menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya

  Drug

  dosis, adanya regimen dosis atau berubah sangat cepat, obat menyebabkan alergi, obat

  Reaction kontraindikasi terhadap faktor resiko.

  Dosis terlalu tinggi, frekuensi pemakaian obat terlalu singkat, durasi obat terlalu panjang, Dosis interaksi obat terjadi karena hasil dari reaksi toksik dari obat, dosis obat diberikan terlalu terlalu cepat. tinggi

  Pasien tidak mengerti instruksi pemakaian, pasien memilih untuk tidak memakai obat, pasien lupa untuk memakai obat, harga obat yang terlalu mahal bagi pasien, pasien tidak Kepatuhan dapat menelan atau memakai sendiri obat secara tepat, obat tidak tersedia bagi pasien.

E. Keterangan Empiris

  Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi peresepan pada pasien

hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito periode Yogyakarta periode 2005-2007 yang

terkait dengan Drug Therapy Problems yaitu merupakan masalah-masalah yang

dapat timbul selama pasien diberi terapi, yaitu adanya terapi obat tanpa indikasi,

adanya indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi, ketidakefektifan pemilihan

obat, dosis yang kurang, terjadinya adverse drug reaction dan dosis yang berlebih.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian mengenai evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito periode 2005-2007 merupakan jenis

  

penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat

retrospektif. Penelitian non eksperimental merupakan penelitian yang observasinya

dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subjek menurut keadaan apa adanya (in

nature ), tanpa adanya manipulasi atau intervensi peneliti (Pratiknya, 2001).

  

Penelitian merupakan rancangan deskriptif evaluatif dikarenakan data yang diperoleh

dari lembar rekam medis kemudian dievaluasi berdasarkan studi pustaka, dan

dideskripsikan dengan memaparkan fenomena yang terjadi, yang kemudian

ditampilkan dalam bentuk tabel. Penelitian ini bersifat retrospektif karena data yang

digunakan diambil dengan melakukan penelusuran terhadap dokumen terdahulu

yaitu berupa rekam medis pasien hepatitis B kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP.

  Dr. Sardjito periode 2005-2007.

B. Definisi Operasional

  

1. Pasien hepatitis B kronis adalah pasien yang telah terdiagnosis hepatitis B kronis

yang menjalani perawatan di Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007.

2. Kasus adalah banyaknya perawatan yang dilakukan oleh pasien hepatitis B kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007.

  

3. Resep adalah kumpulan permintaan tertulis dari dokter kepada Apoteker

Pengelola Apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita hepatitis B kronis dalam satu kali periode perawatan di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007

  

4. Lembar rekam medis adalah catatan pengobatan dan perawatan pasien yang

memuat data mengenai karakteristik pasien meliputi identitas, diagonosis, anamnesis, pemeriksaan jasmani, hasil laboratorium, daftar pemberian obat, rencana pengelolaan dan catatan perkembangan, rekam catatan keperawatan serta ringkasan pemeriksaan pada kasus hepatitis B kronis yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007.

  

5. Karakteristik pasien hepatitis B kronis adalah penggolongan pasien yang telah

terdiagnosis hepatitis B kronis berdasarkan umur, jenis kelamin dan komplikasi sirosis pada saat pasien dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005- 2007.

  

6. Pola pengobatan pasien hepatitis B kronis adalah penggolongan obat yang

digunakan pasien hepatitis B kronis menjadi beberapa kelas terapi berdasarkan buku acuan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 dan MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008.

  

7. Jenis obat adalah nama dagang maupun nama generik yang diberikan kepada

pasien hepatitis B kronis dalam satu kali periode perawatan di Instalasi Rawat

  

8. Peresepan obat tidak rasional adalah peresepan yang tidak sesuai dengan

parameter yang mengacu pada Drug Therapy Problems yang meliputi kriteria yaitu adanya terapi obat tanpa indikasi, indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi, ketidakefektifan pemilihan obat, dosis yang kurang, terjadinya adverse drug reaction , dosis yang berlebih, dan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat.

  

9. Terapi obat tanpa indikasi, meliputi tidak adanya indikasi medis yang valid

untuk terapi obat yang digunakan saat itu, banyaknya pemakaian banyak obat untuk kondisi tertentu padahal hanya memerlukan terapi obat tunggal, kondisi medis lebih sesuai diobati tanpa terapi obat, terapi obat digunakan untuk menghilangkan adverse reaction yang berhubungan dengan pengobatan lain, penyalahgunaan obat, penggunaan alkohol, atau merokok yang menyebabkan masalah.

  

10. Indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi, meliputi kondisi terapi yang

memerlukan terapi inisiasi obat, pencegahan terapi obat diperlukan untuk mengurangi resiko berkembangnya penyakit baru, kondisi medis yang memerlukan farmakoterapi tambahan untuk mencapai sinergisme atau efek adiktif.

  

11. Ketidakefektifan pemilihan obat, meliputi obat yang digunakan bukan obat yang

paling efektif terhadap masalah medis yang dialami, kondisi medis terbiaskan dengan adanya obat, bentuk sediaan obat tidak sesuai dan obat tidak efektif terhadap indikasi yang dialami.

  

12. Dosis yang kurang, meliputi dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon

yang diinginkan, interval dosis terlalu rendah untuk dapat menghasilkan respon yang diinginkan, interaksi obat menurunkan jumlah zat aktif yang tersedia dan durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon yang diinginkan.

  

13. Adverse drug reaction, meliputi obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan

yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, obat yang lebih aman diperlukan terhadap faktor resiko, interaksi obat menyebakan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, adanya regimen dosis atau berubah sangat cepat, obat menyebabkan alergi dan obat kontraindikasi terhadap faktor resiko.

  

14. Dosis yang berlebih, meliputi dosis terlalu tinggi, frekuensi pemakaian obat

terlalu singkat, durasi obat terlalu panjang, interaksi obat terjadi karena hasil dari reaksi toksik dari obat dan dosis obat diberikan terlalu cepat.

C. Subyek Penelitian

  Subyek penelitian ini adalah kasus yang dirawat di Instalasi Rawat Inap

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007. Jumlah kasus dalam penelitian

ini sebanyak 21 kasus.

D. Bahan Penelitian

  Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar rekam medis pasien hepatitis B kronis di RSUP Sardjito Yogyakarta periode tahun 2005-2007.

E. Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito, Jalan Kesehatan No. 1 Sekip Yogyakarta

F. Tata Cara Penelitian

  Jalannya penelitian meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pengambilan data dan tahap penyelesaian data.

  1. Tahap perencanaan Dimulai dengan penentuan dan analisis masalah yang akan dijadikan bahan

penelitian kemudian mengurus perijinan untuk melihat lembar rekam medis pasien

hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007.

  2. Tahap pengambilan data Pada tahap pengambilan data, terlebih dahulu dilakukan penelusuran data di

Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta kemudian didapatkan data

print out mengenai jumlah pasien, nomor rekam medis, usia, jenis kelamin, alamat,

lama perawatan, unit perawatan, diagnosis utama, diagnosis lain ataupun komplikasi

yang dialami pasien. Dari data print out didapatkan 20 pasien dengan jumlah kasus

sebesar 27 kasus, namun dalam analisis yang dilakukan oleh penulis hanya

digunakan data lembar rekam medis pasien sebesar 14 pasien dengan jumlah kasus

sebesar 21 kasus dengan menghitung banyaknya rawat inap pasien yang terjadi

dalam periode 2005-2007. Pengurangan jumlah pasien yang diteliti dalam penelitian

ini disebabkan karena 5 pasien ternyata tidak terdiagnosis tegak sebagai pasien

  Dari keduapuluh satu kasus hepatitis B kronis tersebut kemudian data rekam

medis masing-masing kasus ditulis ke dalam lembar pencatatan. Data yang

dikumpulkan meliputi identititas, diagnosis, anamnesis, pemeriksaan jasmani, hasil

laboratorium, daftar pemberian obat, rencana pengelolaan dan catatan

perkembangan, rekam catatan keperawatan dan ringkasan pemeriksaan.

3. Tahap penyelesaian data

a. Pengolahan data Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel kemudian dideskripsikan.

  Tabel data berisi mengenai karakteristik pasien yang dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin dan komplikasi sirosis, pola pengobatan yang menampilkan distribusi kelas terapi, dan kajian mengenai Drug Therapy Problems yang dijabarkan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan).

  b. Evaluasi data Pengelompokkan kelas terapi yang digunakan pada analisa kasus berdasarkan pustaka acuan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 dan MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008. Pembahasan Drug Therapy Problems dalam analisis dalam penelitan ini menggunakan th pustaka Drug Information Handbook 14 edition , Informasi Spesialite Obat Indonesia volume 43-2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi edisi 7 2007/2008, Clinical

nd

  Pharmacy and Therapeutics 2 Edition , Jurnal Treatment of Cirrhosis

  Esophageal Varices In Cirrhosis : An Randomized Controlled Trial (RCT).

  Evaluasi yang dilakukan secara kasus per kasus.

G. Tata Cara Analisis Hasil

  Analisis data dilakukan dengan melihat karakteristik pasien berdasarkan

usia, jenis kelamin dan komplikasi sirosis. Pola pengobatan pasien hepatitis B kronis

dibagi menjadi 11 kelas terapi, kemudian terbagi ke dalam masing-masing golongan

obat, kelompok obat, nama zat aktif dan jenis obat. Kajian Drug Therapy Problems

menggunakan metode SOAP pada masing-masing kasus, kemudian dibuat

rangkuman pembahasan Drug Therapy Problems, di mana pada tabel tersebut

dijabarkan nomor kasus, jenis obat, penilaian, dan rekomendasi terhadap Drug

Therapy Problems yang terjadi. Pada analisa kerasionalan pada penelitian ini

parameter Drug Therapy Problems yang digunakan hanya sebesar 6 parameter tanpa

mengikutsertakan kepatuhan pasien hal ini disebabkan karena adanya keterbatasan

dalam penelitian sehingga hanya mampu mengamati keenam parameter lainnya yang

termasuk dalam kategori Drug Therapy Problems. Untuk tata cara analisa hasil

dilakukan sebagai berikut :

1. Karakteristik pasien

  a. Persentase umur kasus dikelompokkan menjadi 2 kelompok usia, yaitu <30 tahun dan ≥ 30 tahun, yang dihitung dengan cara membagi jumlah kasus pada tiap kelompok usia dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%. b. Persentase jenis kelamin dikelompokkan menjadi kasus dengan jenis kelamin laki-laki dan wanita, dihitung dengan cara membagi antara jumlah kasus pada tiap kelompok jenis kelamin dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%.

  c. Persentase terjadinya komplikasi sirosis dikelompokkan menjadi kasus dengan sirosis dan belum sirosis, dihitung dengan cara membagi antara jumlah kasus pada tiap kelompok dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%.

  

2. Persentase kelas terapi obat pada masing-masing tahun dikelompokkan menjadi

11 kelas terapi, dihitung dengan cara membagi antara jumlah kasus pada tiap kelas terapi per tahun dengan jumlah keseluruhan kasus pada tahun tersebut kemudian dikalikan 100%. Persentase total kelas terapi dihitung dengan cara membagi antara jumlah kasus pada tiap kelompok kelas terapi dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%.

  

3. Persentase total jenis zat aktif yang digunakan pada masing-masing kelas terapi

dihitung dengan cara membagi antara jumlah kasus pada tiap jenis zat aktif dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%.

4. Kajian Drug Therapy Problems dijabarkan dengan metode SOAP. Pada bagian

  Subjective dijabarkan mengenai jenis kelamin, usia, diagnosis, keluhan utama, perjalanan penyakit, kondisi umum, dan keadaan pulang pasien. Bagian Objective digambarkan dengan tabel mengenai data laboratorium maupun tanda vital yang dilengkapi dengan pemberian terapi selama perawatan. Sedangkan

  Drug Therapy Problems akan dijabarkan pada Assessment yang kemudian akan dipecahkan melalui Plan.

  

5. Kajian Drug Therapy Problems kemudian dirangkum, yaitu dengan

mengelompokkan kasus yang terjadi pada keenam parameter Drug Therapy Problems beserta jenis obat dan zat aktifnya disertai penilaian dan rekomendasi terhadap terjadinya Drug Therapy Problems.

H. Kesulitan Penelitian

  Dalam pengambilan data pada penelitian ini penulis menemui beberapa

kesulitan, antara lain sulitnya membaca tulisan dokter atau perawat yang ada di

lembar rekam medis mengenai perawatan yang diterima pasien dan tulisan nama

jenis obat yang diterima pasien. Penggunaan istilah medis yang tidak lazim

digunakan juga sulit dimengerti oleh penulis karena tidak sesuai dengan istilah yang

berlaku didunia internasional. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan bertanya

kepada dokter pembimbing medis, dosen pembimbing skripsi, dosen farmasi Sanata

Dharma maupun rekan sejawat yang bersama penulis juga sedang meneliti di

Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

  Penulis juga mengalami kesulitan pada saat melakukan evaluasi data karena

ada data pasien yang tidak lengkap pada lembar rekam medis, contohnya seperti

diagnosis pasien. Kesulitan lainnya yang juga merupakan keterbatasan dalam

penelitian ini yaitu sulit untuk menganalisa kepatuhan pasien karena penulis tidak

dapat mengamati terjadinya penyebab umum timbulnya ketidakpatuhan pasien.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai kerasionalan peresepan pasien hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito periode 2005-2007 dilakukan dengan menelusuri kasus pasien

  

rawat inap yang terdiagnosis penderita hepatitis B kronis, baik yang didiagnosis

dalam diagnosis utama maupun diagnosis lain. Kasus hepatitis B kronis pada

penelitian ini yang tergolong dalam diagnosis utama sebanyak 4 kasus sedangkan

dengan diagnosis lain sebanyak 17 kasus.

  Hasil penelitian mengenai kerasionalan peresepan pasien hepatitis B kronis

di RSUP Dr. Sardjito periode 2005-2007 dibagi menjadi 3 bagian yaitu karakteristik

pasien hepatitis B kronis, pola pengobatan pasien hepatitis B kronis, dan kajian Drug

Therapy Problems (DTPs) dan kemudian akan dirangkum pada akhir pembahasan.

  

Karakteristik kasus hepatitis B meliputi kelompok usia, jenis kelamin dan terjadinya

komplikasi sirosis. Pola pengobatan kasus hepatitis B kronis meliputi kelas terapi

beserta golongan obat pasien selama dirawat di instalasi rawat inap RSUP Dr.

Sardjito periode 2005-2007 dan kajian keenam parameter Drug Therapy Problems

(DTPs) dijabarkan melalui metode SOAP serta dirangkum dalam bentuk tabel

berdasarkan kategori DTPs yang terjadi pada masing-masing kasus.

A. Karakteristik Kasus Hepatitis B Kronis

  Distribusi berdasarkan kelompok usia dimaksudkan untuk mengetahui

  

distribusi berdasarkan kelompok jenis kelamin dimaksudkan untuk mengetahui

perbandingan jumlah pasien laki-laki dan wanita yang menderita hepatitis B kronis

di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito periode 2005-2007.

  Berdasarkan kelompok umur, kasus hepatitis B kronis digolongkan menjadi 2 kelompok usia, yaitu kelompok <30 tahun dan ≥ 30 tahun.

1. Berdasarkan kelompok usia

  

Tabel II. Distribusi Jumlah Kasus Hepatitis B Kronis berdasarkan Kelompok Usia di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Periode 2005-2007

  Jumlah Kasus Kelompok Usia

  (tahun) 2005 2006 2007 % total (n=7) (n=2) (n=12)

  • <30 1 4,8
  • 7

  1

  12 ≥ 30

  95,2 Penggolongan ini didasarkan bahwa jangka waktu mulai munculnya gejala

dan tanda hepatitis B kronis pada pasien akan terlihat sesudah 30-50 tahun setelah

infeksi. Pada tabel II terlihat bahwa persentase pada kelompok usia <30 tahun hanya

sebesar 4,8% yaitu yang terjadi pada kasus nomor lima. Pasien diketahui terdiagonis

hepatitis B kronis bukan karena pasien menunjukkan gejala dan tanda hepatitis B

kronis, namun akibat pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau pemeriksaan akibat

adanya penyakit lain. Tidak munculnya gejala dan tanda pada pasien disebabkan

karena perjalanan penyakit hepatitis B kronis bersifat asimptomatik Seringkali gejala

dan tanda yang muncul baru terlihat apabila pasien hepatitis B kronis telah

mengalami komplikasi seperti sirosis hati dekompensata di mana pada pasien telah

  2. Berdasarkan kelompok jenis kelamin Berdasarkan jenis kelamin, kasus hepatitis B kronis di RSUP Dr. Sardjito

pada tahun 2005-2007 lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sebesar 81,0%

sedangkan pada wanita sebesar 19,0%.

  

Tabel III. Distribusi Kasus Hepatitis B Kronis Berdasarkan Jenis Kelamin di Instalasi

Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

  Jumlah Kasus Jenis Kelamin

  % total 2005 2006 2007 (n=7) (n=2) (n=12)

  Wanita

  3 1 19,0 ─

  Laki-laki

  4

  2 11 81,0

  3. Berdasarkan terjadinya komplikasi sirosis

Tabel IV. Distribusi Kasus Hepatitis B Kronis Berdasarkan Jenis Kelamin di Instalasi

Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

  Jumlah Kasus Komplikasi

  % total 2005 2006 2007 (n=7) (n=2) (n=12)

  3 - Sirosis dekompensata 7 47,6

  Belum sirosis

  4

  2 5 52,4

  Komplikasi yang dialami pasien adalah sirosis dekompensata di mana

gejala dan tanda yang muncul lebih jelas, seperti keluhan asites, ikterus atau muntah

darah. Pasien biasanya baru diketahui menderita hepatitis B kronis setelah muncul

gejala dan tanda tersebut.

B. Pola Pengobatan Pasien Hepatitis B Kronis

  Obat-obat yang digunakan oleh pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat

inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005-2007 dibagi menjadi beberapa kelas

terapi. Pada penelitian ini kelas terapi yang digunakan pada kasus sebanyak 11 kelas

  4 Obat sistem saraf pusat 2 - 3 28,6 - 25,0 23,8

  5

  7

  8 Obat gizi dan darah

  7 Obat-obat hormonal 1 - 7 14,3 - 58,3 38,1

  2 8 57,1 100,0 66,7 66,7

  4

  6 Obat infeksi

  2 6 28,6 100,0 50,0 47,6

  2

  5 Obat analgesik

  

obat, nama zat aktif dan jenis obat. Pembagian kelas terapi dalam penelitian ini

berdasarkan pustaka acuan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 dan MIMS

Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008, yang disajikan pada tabel V.

  1 5 71,4 50,0 41,7 52,4

  3 Obat saluran pernapasan

  9 Obat otot skelet dan sendi - - 1 - - 8,3 4,8

  2 Obat kardiovaskuler 5 - 6 71,4 - 50,0 52,4

  76,2

  2 10 57,1 100,0 83,3

  4

  1 Obat saluran cerna

  (n=12) 2005 2006 2007 % total

  (n=2) 2007

  (n=7) 2006

  No. Kelas Terapi 2005

  Jumlah Kasus Persentase (%) tiap tahun

  

Tabel V. Distribusi Kelas Terapi Obat Kasus Hepatitis B Kronis yang Dirawat di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

  2 12 100,0 100,0 100,0 100,0

10 Obat sistem hepatobilier

  2

  2 7 28,6 100,0 58,3 52,4

  11 Antineoplastik dan imunomodulator

  • 1 - - 50,0 - 4,8

  Kelas terapi terbanyak yang digunakan oleh pasien adalah obat gizi dan

darah, yaitu sebesar 100%. Obat gizi dan darah merupakan obat yang digunakan

untuk salah satu tindakan suportif yang merupakan pengobatan umum yang

diberikan kepada pasien hepatitis B kronis. Kelas terapi terbanyak kedua adalah obat

saluran cerna, yang digunakan untuk mengatasi gangguan yang terjadi di saluran

cerna seperti mual, muntah, nyeri pada lambung dan gangguan pencernaan bila

produksi enzim berkurang. Obat antiinfeksi menempati kedudukan ketiga sebagai

kelas terapi terbanyak yang digunakan setelah obat gizi dan darah serta obat saluran

cerna., dimana penggunaan obat antiinfeksi pada kasus hepatitis B kronis disebabkan

karena pada sebagian besar kasus menderita infeksi, baik pada diagnosis utama

1. Obat yang bekerja pada saluran cerna

  

Tabel VI. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem

Saluran Cerna yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi

Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

  Jumlah kasus Golongan Kelompok Zat Aktif Jenis Obat 2005 2006 2007 % Total n=7 n=2 n=12

  ®

  aluminium Dexanta

  1 - - 9,5

  ®

  hidroksida

  1 - - Farmacrol Antasida

  ®

rebamipide Mucosta

  • 1 4,8

  ® esomeprazole

  • Nexium 2 9,5

  1 - ranitidin

  4

  ®

  1 - - Acran

  Ant. reseptor H

  2 ranitidin 47,6 ®

  1

  2 - Antitukak Radin

  ®

  Rantin - -

  1

  ®

  2 Khelator dan Ulsidex sukralfat 14,3

  ®

  senyawa kompleks

  • Inpepsa -

  1

  ®

  pantoprazol

  • Pantozol

  1 1 9,5 PPI

  • omeprazole

  1 omeprazol 14,3

  ®

  1

  1 OMZ Adsorben dan atapulgit

  New 1 4,8

  • Antidiare obat pembentuk aktif

  ®

  Diatab massa

  Phenolphthalein ®

  Pelunak tinja liq paraffin, Laxadin - 1 4,8 -

  glycerin

  Pencahar

  Duphalac

  2

  • ®

  1 Pencahar osmotik laktulosa 19,0

  ®

  Pralax - -

  1 Obat saluran cerna yang paling banyak dipakai adalah golongan antitukak

  kelompok antagonis reseptor H 2 dengan zat aktif ranitidin. Tukak lambung adalah

suatu kondisi patologis pada lambung, duodenum, esofagus bagian bawah, dan

stoma gastroenterostomi. Tujuan terapi tukak lambung adalah meringankan atau

menghilangkan gejala, mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi yang

serius (hemoragi, perforasi, obstruksi), dan mencegah kekambuhan. Dimana pada

kelompok antagonis reseptor H

  2 , penyembuhan tukak lambung dan duodenum

  2

dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H

(Anonim, 2000). Golongan kedua terbesar adalah pencahar dari kelompok pencahar

2. Obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler

  Antagonis reseptor angiotensin II

  

pengeluaran tinja dari kolon dan rektum. Pencahar osmotik bekerja dengan cara

menahan cairan dalam usus secara osmosis atau dengan mengubah penyebaran air

dalam tinja. Laktulosa adalah disakarida semisintetik tidak diabsorpsi dari saluran

cerna. Senyawa ini menyebabkan diare osmotik dengan pH tinja yang rendah, dan

mengurangi proliferasi organisme penghasil amonia (Anonim, 2000).

  

Tabel VII. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem

Kardiovaskuler yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi

Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

  Jumlah Kasus Golongan Kelompok Zat aktif Jenis Obat 2005 n=7

  2006 n=2 2007 n=12

  % Total

  Alfa bloker terazosin Hytrin

  ®

  1 - - 4,8

  

irbesartan irbesartan

  1 - - 4,8 valsartan Aprovel

  ®

  • 1 4,8
  • 1 4,8

  telmisartan telmisartan - -

  ®

  Letonal

  ®

  1

  38,1

  Antiplatelet Clopidogrel Plavix

  ®

  Ditranex

  ®

  1 Transamin

  1 Obat sistem koagulasi darah

  ®

  Hemostatik dan antifibrinolitik asam traneksamat

  Kalnex

  ®

  1 -

  1 19,0

  Obat gangguan sirkulasi darah vasodilator serebral

  Citocoline

  Brainact

  ®

  Zat aktif yang banyak digunakan pada sistem kardiovaskuler adalah

spironolakton dan propranolol. Spironolakton merupakan diuretika hemat kalium

yang bermanfaat pada terapi edema dengan sirosis hati (Anonim, 2000).

  2 Diuretika Diuretika hemat kalium spironolakton

  3 Carpiaton

  1 4,8 Obat anti hipertensi

  28,6

  ACEI lisinopril Noperten

  ®

  Golongan nitrat isosorbid mononitrat

  ISMN - - 1 4,8 nifedipin Adalat oros

  ®

  1 - - 4,8 Golongan antagonis kalsium amlodipin Tensivask

  ®

  1 - - 4,8 propranolol propranolol 1 -

  5

  bisoprolol 1 - - Obat antiangina

  1 -

  Golongan β bloker bisoprolol

  Maintate

  ®

  1 9,5

  ®

  4 - 1 23,8 Aldacton

  ®

  1 -

  spironolactone

  Diuretika kuat furosemid Lasix

  • 1 4,8
  • 1 4,8

  

cara memblok reabsorbsi sodium pada tubulus kolektivus (Walker dan Edwards,

2001). Indikasi propranolol adalah untuk terapi hipertensi yang efektif walaupun

mekanisme kerjanya belum diketahui secara pasti (Anonim, 2000). Obat

antihipertensi golongan

  β-bloker dapat mengurangi curah jantung, mengubah

kepekaan refleks baroreseptor, dan memblok adrenoreseptor perifer. Selain itu,

propranolol dapat digunakan untuk pencegahan pendarahan varises esofageal dan

pendarahan gastrik pada hipertensi portal (Anonim, 2000).

3. Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan

  

Tabel VIII. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat pada Sistem Saluran

Pernapasan yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat

Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

  Jumlah Kasus Golongan Kelompok Zat Aktif Jenis Obat 2005 2006 2007 % total n=7 n=2 n=12

  ®

  • Antiasma dan Bronkodilator ipratropium bromida Atrovent

  1 4,8 bronkodilator antimuskarinik

  ®

  Kortikosteroid budenosid Pulmicort - - - 1 4,8

  • Oksigen oksigen oksigen 4 -

  3 33,3

  • asetilsistein
  •   1

      2 Fluimucil 14,3 Mukolitik

      1 - ambroxol ambroxol - 1 9,5

      Antitusif dan levodropropizine Levopront - 1 4,8 Antitusif ekspektoran

    • ®

      1 - dekstrometorfan dekstromethorfan 2 14,3

      Tiga jenis zat aktif yang paling banyak digunakan secara adalah oksigen,

    asetilsistein dan dekstrometorfan. Oksigen diresepkan pada pasien hipoksemia untuk

    meningkatkan tekanan oksigen alveolar, dan mengurangi kerja pernapasan yang

    dibutuhkan untuk mempertahankan tekanan oksigen arterial, dimana kadar

    pemberiannya tergantung pada kondisi pasien yang diterapi. Tujuan pemberian dosis

    secukupnya tersebut adalah untuk mengatasi hiposemia tanpa memperburuk retensi

    CO 2 dan asidosis respiratorius (Anonim, 2000). Asetilsistein berfungsi sebagai

    mukolitik untuk mempercepat ekspektorasi dengan mengurangi viskositas sputum.

    • 1 4,8

      9,5

      2007 n=12 % total parasetamol dan n-

      acetylcysteine

      Sistenol

      ®

      2

      2 2 28,6 parasetamol parasetamol -

      1

      1

      asam mefenamat 1 - - asam mefenamat Mefinal

      Jumlah Kasus Golongan Kelompok Zat Aktif Jenis Obat

      ®

      1

      9,5

      Analgesik non- opioid

      ®

      1 - - 4,8

      Antimigren Profilaksi migren flunarizin Frego

      ®

      2005 n=7 2006 n=2

      

    Yogyakarta Periode 2005-2007

      1 - 1 9,5 Dua golongan obat yang digunakan sebagai analgesik pada terapi pasien

    hepatitis B kronis adalah golongan analgesik non-opioid dan golongan antimigren.

      1 domperidon Vometa

      

    Dekstrometorfan merupakan antitusif untuk menekan rangsang batuk yang tidak

    produktif.

      4. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat

    Tabel IX. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem

    Saraf Pusat yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat

      

    Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus Golongan Kelompok Zat Aktif Jenis Obat

      2005 n=7 2006 n=2

      2007 n=12 % total

      Motilium

      ®

      ®

      5. Obat yang bekerja sebagai analgesik

    Tabel X. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Analgesik yang Digunakan

    pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito

      1 -

      1

      14,3

      ondansetron Invomit

      ®

      Obat mual dan vertigo - metoklopramid Sotatic

      ®

      1 - - 4,8

      Golongan yang digunakan pada sistem saluran pernapasan adalah golongan

    obat mual dan vertigo dengan zat aktif yang terbanyak digunakan adalah

    domperidon. Domperidon dapat mengatasi gejala mual dan muntah yang sebagian

    besar dialami oleh pasien hepatitis B kronis. Domperidon tidak mudah melewati

    sawar darah otak sehingga tidak menimbulkan reaksi distonia dan sedasi (Anonim,

    2000).

    • metamizole natrium Novalgin

      

    Pada golongan analgesik non-opioid, zat aktif terbanyak yang digunakan adalah

    kombinasi antara parasetamol dan n-acetylcysteine yang memiliki indikasi untuk

    meringankan batuk berdahak dan menurunkan demam pada flu, sakit kepala dan

    nyeri. N-acetylcysteine telah digunakan selama beberapa dekade dan telah terbukti

    berfungsi sebagai antidot pilihan pada terapi yang menggunakan parasetamol

    (acetaminophen) yang menginduksi terjadinya hepatotoksistas (Algren, 2008). Asam

    mefenamat merupakan analgesik kelompok AINS namun sifat antiinflamasinya

    rendah. Pada kelompok profilaksi migren, zat aktif yang digunakan adalah flunarizin

    yang berfungsi sebagai profilaksis migren, pengobatan gangguan serebral dan

    vestibular perifer (Anonim, 2000).

    6. Obat-obat hormonal

      

    Tabel XI. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Hormonal yang Digunakan

    pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito

    Yogyakarta Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus %

      Golongan Kelompok Zat Aktif Jenis Obat 2005 2006 2007 total n=7 n=2 n=12

      ®

      Antidiabetik Insulin suspensi netral Insulatard

    • 3 14,3 isophane

      ®

      Somerol - -

      1 metil prednisolon

      14,3

      Antiinflamasi

    • 2 - metilprednisolon Kortikosteroid sistemik prednison prednison - -

      1 4,8

    • &
    • Hormon lain oktreotid Sandostatin 1 4,8

      Golongan kedua terbanyak yang digunakan adalah golongan kortikosteroid

    dan golongan antidiabetik. Kortikosteroid bekerja melalui interaksinya dengan

    protein reseptor yang spesifik di organ target (Anonim, 2000). Pada golongan

    7. Obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi

      Augmentin

      ®

      

    digunakan adalah metil prednisolon. Pada golongan antidiabetik kelompok obat

    yang paling banyak digunakan adalah insulin sebagai terapi pada pasien diabetes

    melitus tipe I (tipe diabetes melitus yang tergantung insulin). Insulatard

      ® merupakan

    jenis insulin yang mula kerjanya dalan waktu singkat (1/2 jam) dan durasinya sedang

    yaitu sebesar 24 jam. Komposisi Insulatard

      ® adalah berupa suspensi netral isophane dari monokomponen insulin manusia dan merupakan rekombinan DNA asli.

      

    Tabel XII. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Infeksi yang Digunakan pada

    Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

    Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus Golongan Kelompok Zat Aktif Jenis Obat

      2005 n=7 2006 n=2

      2007 n=12 % total amoksisilin amoxicillin 2 - - 9,5

      Penisillin Amoksisilin dan asam klavulanat

    • 1 4,8 sefotaksim cefotaxime

      ®

      Aminoglikosida gentamisin Garamycin

      Golongan obat terbesar yang digunakan adalah golongan antibiotik dengan

    zat aktif yang terbanyak digunakan adalah seftriakson dan sefotaksim dimana

      ®

      1 4,8 Antijamur - Ketokonazol ketokonazol - - 1 4,8 Antivirus - entecavir Baraclude

      INH - - 1 4,8 Antimikobakteri Tuberkulostatik etambutol etambutol - -

      1 - - 4,8 rifampisin rifampisin - - 1 4,8 isoniazid

      Antibiotik/antimikroba Kuinolon gatifloksasin gatifloksasin

      1 - 1 9,5 siprofloksasin ciprofloksasin - 1 - 4,8

      ®

      1 - - 4,8 Makrolid azitromisin azitromicin - - 3 14,3 Antibiotik lain kolistin Colistine

      ®

      Sefalosporin dan antibiotik β laktam lainnya seftazidim ceftazidime 1 - - 4,8

      2 - 2 19,0 Biotriax

      ®

      imipenem Pelastin

      42,9

    • 1 -

      ®

      1 seftriakson Tricefin

      4 Triject

      2 -

      ceftriaxone

      1

      ®

    • 1 4,8
    • 1 4,8
    keduanya berasal dari kelompok sefalosporin dan antibiotik β laktam lainnya. Sefalosporin termasuk antibiotik β laktam yang bekerja dengan cara menghambat

    sintesis dinding sel mikroba. Baik seftriakson maupun sefotaksim, keduanya

    merupakan sefalosporin generasi ketiga, yang umumnya kurang aktif terhadap kokus

    gram positif dibanding dengan generasi pertama, tetapi jauh lebih aktif terhadap

    Enterobacteriaceae , termasuk strain penghasil penisilinase (Anonim, 2000).

      8. Antineoplastik dan imunomodulator

    Tabel XXIII. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Antineoplastik dan

    Imunomodulator yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi

      

    Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus Jenis Obat

      Golongan Kelompok Zat Aktif % total 2005 2006 2007 n=7 n=2 n=12

      ®

      Imunomodulator 1 - - - -

      Imreg 4,8

      ® Jenis obat yang digunakan adalah Imreg , yang berfungsi sebagai

    imunomodulator yang dapat meningkatkan sistem daya tahan tubuh pasien

    khususnya pasien yang mengalami infeksi.

      9. Obat-obat untuk penyakit otot skelet dan sendi

    Tabel XIV. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Otot Skelet dan Sendi yang

    Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus %

      Zat Aktif Jenis Obat Golongan Kelompok 2005 2006 2007 total n=7 n=2 n=12

      Obat reumatik

    • Obat gout alopurinol allopurinol

      1

      4,8

      dan gout

      Kelompok obat yang paling banyak digunakan adalah obat gout dengan

    jenis obat yang digunakan adalah alopurinol. Indikasi alopurinol adalah untuk

    10. Obat-obat yang mempengaruhi gizi dan darah

      Aspar-K

      1 7 42,9 Pemberian intravena eritrosit PRC

      4 - 3 33,3 Cairan dan elektrolit

      Plasma dan pengganti plasma albumin albumin 1 -

      1 9,5

      Nutrisi intravena

      Aminoleban

      ®

      2 - 1 14,3 Fosfor kalsium karbonat kalsium karbonat 2 - - 9,5

      Mineral Kalium kalium L- aspartat

      ®

      natrium klorida NaCL 0,9%

      1 - - 4,8 Kelompok vitamin B vitamin B

      

    6

      vitamin B

      6

      Vitamin Vitamin K vitamin K vitamin K 2 -

      7

      42,9

      Kelainan metabolis me

      Porfiria akut pirazinamida pirazinamida - -

      1 4,8

      1

      47,6

      

    Tabel XV. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Gizi dan Darah yang

    Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      1 - - 4,8 normal salin normal salin - - 1 4,8

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus Golongan Kelompok

      Zat Aktif Jenis Obat 2005 n=7

      2006 n=2 2007 n=12

      % total Anemia defisiensi besi fero sulfat tablet besi 1 - - 4,8

      Anemia dan kelainan darah lainnya

      Anemia megaloblastik asam folat asam folat 2 - - 9,5 Pemberian oral asam aminoesensial

      Ketosteril

      ®

      Ca, K, Na, Cl, asetat asering

      1

      ®

      1 - 1 9,5 Na, Cl, glukosa KaEN 1B

      ®

      1 - - 4,8 natrium laktat Ringer Laktat

      ®

      2

      1 2 23,8 dekstrosa 5%

      3

      1

      3 glukosa dekstrosa 10% 2 -

    • Na, Cl, dan asam-asam amino
    • 1 4,8
    Golongan obat yang paling banyak digunakan adalah golongan cairan dan

    elektrolit dan vitamin. Pada golongan cairan dan elektrolit kelompok pemberian

    glukosa secara intavena berupa pemberian dekstrosa 5% dan dekstrosa 10%

    merupakan jenis obat terbanyak yang digunakan. Pemberian keduanya bertujuan

    untuk memenuhi kebutuhan normal atau untuk menggantikan kekurangan cairan

    yang cukup besar atau adanya kehilangan cairan yang berkelanjutan (Anonim,

    2000). Golongan kedua terbesar adalah vitamin K yang diperlukan untuk faktor

    pembekuan darah untuk mencegah dan mengobati perdarahan. Karena vitamin K

    larut lemak, penderita dengan malabsorpsi lemak, khususnya pada penyakit hati,

    bisa menjadi defisien sehingga diberikan vitamin K. Golongan kedua besar lainnya

    adalah natrium klorida yang diindikasikan pada keadaan kehilangan natrium dan

    biasanya perlu diberikan secara intravena (Anonim, 2000).

    11. Obat sistem hepatobilier

      2007 n=12 % total

      ®

      

    Tabel XVI. Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Sistem Hepatobilier Sendi

    yang Digunakan pada Terapi Kasus Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP

    Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Jumlah Kasus Golong an

      Kelom pok Zat Aktif Jenis Obat

      2005 n=7 2006 n=2

    • Schizandrin C derivat Hp Pro
    • ursodeoxycholic acid
    • 4 19,0
    • silymarin , oleum xanthorrhizae , ekstrak curcuma , echinacea
    • l 4,8

      ,

    • lecithin , vit B
    • l 4,8

      l - - 4,8

      

    12

      ,

      nicotinamide , vit E, β carotene

      Lesifit

      ®

      1

      2

      , vit B

      2

      , vit B

      

    6

      , vit E Choles vit

      ®

      l - - 4,8 Hepatik protek tor

      , vit B

      1

      , vit B

      ®

      2

      4

      33,3

      Urdafalk

      ®

      Hepasil

      1

      l

      , vit B

      2

      , vit B

      

    12

      nicotinamide , vit E

      Lesichol

      ®

    • lecithin , vit B
    • lecithin , vit B
    Hepatoprotektor adalah obat digunakan untuk melindungi fungsi hati dari

    kerusakan yang lebih berat akibat adanya inflamasi hati dan kondisi lain.

      

    Hepatoprotektor dapat memberikan perlindungan terhadap virus, kuman atau toksin.

      

    Jenis obat yang banyak digunakan adalah Hp Pro dan Urdafalk HpPro berfungsi

    ®

    untuk mengurangi peradangan hati dan normalisasi fungsi hati, sedangkan Urdafalk

    digunakan untuk terapi hepatitis kolestatis dan hepatitis aktif kronik, kandungan

    ursodeoxycholic acid dapat memperbaiki kolestasis terkait sepsis dengan cara

    menurunkan asam empedu di dalam darah (Anonim, 2008 g).

      ® ® ® .

      Lecithin dalam tubuh berupa fosfolipid. Hati secara alami memproduksi

    lecithin namun dengan adanya kerusakan hati maka produksinya akan berkurang.

      

    Dengan adanya kandungan lecithin pada berbagai jenis obat hepatoprotektor dapat

    memenuhi kebutuhan fosfolipid sel-sel hati yang mengalami kerusakan sehingga

    dapat memperbaiki dan mengembalikan fungsi hati. Kandungan vitamin B 1 juga

    sangat membantu perbaikan sel-sel hati sehingga proses tersebut berlangsung lebih

      2

    efektif dan dapat berfungsi menyusun kembali sel-sel hati yang rusak. Vitamin B ,

    B

      6 dan B 12 berfungsi untuk membantu pembentukan eritrosit.

    C. Kajian Drug Therapy Problems (DTPs)

      Berikut adalah pembahasan Drug Therapy Problems (DTPs) pada

    keduapuluh satu kasus, di mana pada masing-masing kasus tersebut akan dianalisis

    dengan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment and Plan).

    • 3,50-5,00 g/dl AFP 115,80
    • 1-15 ng/ml PTT 21,2

      1x300 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

      Transfusi PRC √ √ √ √ √ √ √

      Inj cefotaxime 1 g/8 jam √ √ √ √ √ √ √

      x x x x x

      √ √ √ √ √

      x

      1 x CII  3xCII

      ®

      Duphalac

      ®

      Radin

      √ √ x √ √ √ √ √ √ √ Aspar K

      x

      1x100mg  2x50mg

      ®

      Aldacton

      1x40 mg √ √ √ √ √

      ®

      Lasix

      I A/24 jam √ √ √ √ √

      Transfusi albumin √

      ®

      Inj Lasix

      3. Laktulosa (Duphalac

      ®

      3. Hentikan penggunaan laktulosa (Duphalac

      ® ).

      2. Hentikan penggunaan kalium (Aspar-K

      1. Dosis terapi vitamin K sebesar 10 mg/hari sehingga dosis injeksi vitamin K dikurangi menjadi I A/24 jam.

      Plan

      4. Perlu tambahan lamivudin tablet/suspensi oral 1x100mg untuk terapi hepatitis B kronis yang telah mengalami sirosis dekompensata. DTPs : perlu tambahan terapi obat.

      DTPs : obat tidak efektif.

      ® ) tidak terbukti bermanfaat dalam terapi ensefalopatia hepatik.

      ® ) tidak boleh diberikan bersama spironolakton. DTPs : ADR.

      IA/12 jamranitidin 2x150 mg

      2. Pemberian kalium (Aspar-K

      DTPs : dosis terlalu besar.

      Assessment 1. Dosis injeksi vitamin K terlalu besar.

      √ √

      amoxicillin 3x500 mg

      propranolol 2x20 mg √ √ √

      x

      √ √ √ √ √ √ √ √

      x

      ®

      x

      

    Tabel XVII. Kajian DTPs Kasus 1 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      ↑ 10,0-42,0 IU/L

      10,8-14,3 detik HBsAg : positif Suhu ( °C) : 37 Nadi (kali/menit) : 92

      18 ↑

      ↑

      ↑

      ↓

      10,0-40,0 IU/L Albumin 1,88

      44,8 ↑

      49 ↑

      SGPT

      ↑ 71,1

      Tanggal (Juni 2005) Nama Obat

      9 Nilai normal SGOT 65,8

      4

      Tanggal periksa (Juni 2005) Parameter

      Objective

      gizi kurang dan tampak pucat. Enam HSMRS pasien muntah darah dan BAB hitam, perut membesar dan sebah namun badan tidak kuning. HMRS pasien merasa kembung, perut semakin membesar, mual, muntah darah, demam dan BAB tidak berdarah. Keadaan pulang : membaik

      

    Bacterial Peritonitis . Keluhan utama : perut membesar dan sebah. Keadaan umum : terlihat lemah, CM,

      Laki-laki/62 tahun. DU: Sirosis Hepatis Child C. DL: Hepatitis B Kronis, Suspect Spontaneous

      Subjective

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 1. No. RM 01.18.89.91 (04/06/05-13/06/05)

      BP (mmHg) : 140/60 mmHg RR (kali/menit) : 28 Penatalaksanaan

      4

      √

      Infus D10%:aminoleban=1:1 lini √ √ √ √ √ √ √

      x

      Inj vit. K I A/8 jam  vit K 3x100 mg

      x x x x

      √ √ √ √

      x

      Inj vit K II A/12 jam II A/24 jam

      4-5 liter/menit √ √ √ √

      2

      O

      x √ √ x

      5

      Infus D 5% lini  D5%:NaCl 0,9% 1:1 14 tpm

      13 Diet Hepar √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

      12

      11

      10

      9

      8

      7

      6

      ), dan ganti dengan neomisin dosis 500-2000 mg setiap 6-8 jam.

      

    Tabel XVIII. Kajian DTPs Kasus 2 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 2. No. RM 01.18.89.91 (10/09/05-20/09/05)

      Subjective Laki-laki/62 tahun.

      DU : Sirosis Hepatis Child C Degenerasi Maligna. DL : Hepatitis B Kronis.Komplikasi : Ensefalopati Hepatik Grade I. Keluhan utama : BAB hitam. Pasien adalah penderita Sirosis Hepatis Child C tegak sejak bulan Juni 2005 dan selanjutnya kontrol ke poliklinik gastro.

      Keluhan yang dialami saat masuk rumah sakit adalah perut semakin besar, tidak muntah darah. Riwayat penyakit dalam keluarga bapak sakit kuning (25 tahun yang lalu) dan adik sakit kuning (15 tahun yang lalu).

      RPD : tidak ada riwayat sakit kuning. Kondisi umum pasien terlihat lemah, CM dan gizi cukup. Keadaan pulang : membaik

      Objective

      Tanggal (September HBsAg : positif Parameter 2005) Nilai normal Suhu ( °C) : 36,5

      10

      16 Nadi (kali/menit) : 112

      BP (mmHg) : 110/70

    • SGOT 153 15,0-46,0 U/L ↑

      RR (kali/menit) : 24

      SGPT 84 11,0-66,0 U/L ↑

    • Albumin 1,64 1,50 3,50-5,00 g/dl

      ↓ ↓ Globulin - 3,4 2,4-3,5 g/dl Protein Total 5,03 5,90 6,30-8,20 g/dl

      ↓ ↓ GGT - 105 8,0-78,0 U/L

      ↑ AFP 115,80 1-15 ng/ml

    • APTT 33,2 - 23,9-36,2 detik

      ↑

      Penatalaksanaan

      Tanggal ( belasan September 2005) Nama Obat

      1

      2

      3

      4

      5

      6

      7

      8

      9 NGT Diet Hepar √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

      O

      2 3 liter/menit

      √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Inf D10% : Aminoleban 2:1 20 tpm

      √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Transfusi PRC

      √ √ √ √ √ √ √ √ Inj cefotaxime 1g/8 jam

      √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

      x

      Inj vit K I A/8 jam  II A/8 jam x x √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Colistin 3x2 250.000 IU √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Duphalac 3xCII √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

      spironolactone 1x100mg

      √ √ √ √ √ √ √

      spironolactone 2x100mg

      √ √ √ √

      ®

      Inj Acran

      1A/12 jam √ √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Lasix 1x40 mg √ √ √ √ √ √ √ √

      Assessment 1. Dosis injeksi vitamin K terlalu besar. DTPs : dosis terlalu besar.

      ® 2. Laktulosa (Duphalac ) tidak terbukti bermanfaat dalam terapi ensefalopatia hepatik.

      DTPs : obat tidak efektif.

      3. Perlunya tambahan lamivudin tablet/suspensi oral 1x100mg untuk terapi hepatitis B kronis yang telah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlu tambahan terapi obat.

      Plan

      1. Dosis terapi vitamin K sebesar 10 mg/hari sehingga dosis injeksi vitamin K dikurangi menjadi I A/24 jam.

      ®

      2. Hentikan penggunaan laktulosa (duphalac ), untuk terapi ensefalopati hepatik dapat digunakan

      

    Tabel XIX. Kajian DTPs Kasus 3 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 3. No. RM 01.29.06.73 (06/04/07-11/04/07)

      Subjective Laki-laki/45 tahun.

      DU : Hepatititis B kronis. DL : Gastritis kronik ringan. Keluhan utama : mual. Dua MSMRS pasien mengeluh mual, tidak muntah, nafsu makan tidak menurun, demam (kadang- kadang jika demam menggigil), BAB/BAK tidak ada kelainan.

      Satu HSMRS pasien mengeluh perut mual, tidak muntah, demam, tidak batuk, BAB/BAK tidak ada kelainan dan sklera tidak kuning. Hari saat masuk rumah sakit keluhan menetap sehingga pasien periksa ke RSUP Dr. Sardjito. RPD : tidak memiliki riwayat penyakit diabetes melitus dan hipertensi namun memiliki riwayat penyakit malaria. RPK : jantung. Kondisi umum sedang, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal periksa HBsAg : positif USG abdomen : splenomegali dan

      Parameter (April 2007) Nilai normal

      5 6 suspect cholelitiasis kronis Suhu ( °C) : 36

      SGOT - 89 <37 U/L ↑

      Nadi (kali/menit) : 100

    • SGPT 101 <41 U/L ↑

      BP (mmHg) : 110/80

    • Albumin 3,5 3,50-5,00 g/dl

      RR (kali/menit) : 18

    • ALP 77,0 38,0-126,0 U/L Bilirubin Total 2,24
    • Protein Total 8,1 6,3-8,2 g/dl

      ↑ ≤1 mg/dl

      GGT 112 8,0-78,0 U/L ↑

    • Penatalaksanaan

      Tanggal (April 2007) Nama Obat

      6

      7

      8

      9

      10

      11 Diet Hepar √ √ √ √ √ √

      ®

      Hp Pro 3x1 √ √ √ √ √ √

      ®

      Motilium 3x1 10 mg AC √ √ √

      ®

      Urdafalk 2x1 250 mg √ √ √

      ®

      Nexium 1 vial/12 jam √ √ √

      ®

      Nexium

      1 A/24 jam √ √ √

      ®

      Biotriax

      1 A/12 jam √ √

      ceftriaxone 1 gram/12 jam

      √ √ √

      ®

      Infus Ringer laktat √

      Infus dekstrosa 5% √ √

      Infus NaCl 0,9% √ √ √ √

      Assessment ®

      1. Efek samping ceftriaxone (Biotriax ) salah satunya dapat meningkatkan nilai SGOT dan SGPT dan menimbulkan gangguan fungsi hepar

      DTPs : ADR.

      2. Perlunya tambahan terapi interferon α-2β untuk terapi hepatitis B kronis karena pasien belum mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat .

      Plan ® 1. Pantau nilai SGOT dan SGPT pasien secara berkala dan batasi penggunaan ceftriaxone (Biotriax ).

    2. Tambahkan terapi interferon α-2β sebanyak 5 juta unit/hari secara injeksi subkutan.

      

    Tabel XX. Kajian DTPs Kasus 4 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 4. No. RM 01.29.06.73 (29/09/07-08/10/07)

      Subjective Laki-laki/45 tahun.

      DU : Suspect Non Hodgkin-limfom. DL : Hepatitis B kronis persisten. Keluhan utama : nyeri dada dan demam. Empat HSMRS pasien mengeluh nyeri di dada dan didaerah benjolan (daerah kelenjar di wajah, pipi kanan), makan-minum biasa, mual, muntah, tidak sesak, dan tidak keringat dingin. Satu HSMRS pasien memeriksakan diri ke dokter X namun sampai HMRS keluhan yang dialami pasien menetap sehingga pasien dibawa ke UGD RSUP Dr. Sardjito kemudian dirawat bangsal.

      RPD : Hepatitis B Kronik. Kondisi umum : lemah dan CM. Keadaan pulang: belum sembuh.

      Objective

      Tanggal (September-Oktober HBsAg : positif Parameter 2007) Nilai normal Suhu ( °C) : 36

      29/09 30/09 04/10 07/10 Nadi (kali/menit) : 100

      BP (mmHg) : 110/80

      SGOT - 33,0 42,0 35,0 15,0-46,0 U/L

      RR (kali/menit) : 18

      SGPT 21,3 29,0 - 20,0 11,0-66,0 U/L

    • ALP 176,0 38,0-126,0 U/L

      ↑ - Bil. total 2,3 0,8 0,2-1,3 mg/dl - -

      ↑ Albumin 2,96 - - - 3,50-5,00 g/dl

      ↓ Globulin - - - 4,35 2,30-3,50 g/dl

      ↑ Protein total 7,31 - - - 6,40-8,30 g/dl

      Penatalaksanaan

      Diet TKTP (29/09/07-08/10/07) Etambutol 3x250 mg (29/09/07-05/10/07) Infus RL:D10% = 1:1 16 tpm Urdafalk 2x250 mg(06/10/07-08/10/07) Hp Pro 2x1 (29/09/07-05/10/07) Injeksi Triject 1 g/12 jam (29/09/07-03/10/07) Hp Pro 3x1 (06/10/07-08/10/07) Injeksi Pelastin 250 mg/6 jam (03/10/07-08/10/07) Mucosta 2x100 mg (29/09/07-08/10/07) Inj Invomit 4 mg/24 jam (03/10/07-06/10/07) Rifampisin 1x450 mg (29/09/07-05/10/07) Inj Somerol 1vial/12 jam (05/10/07-07/10/07)

      INH 1x300 mg (29/09/07-05/10/07) Sistenol 3x1 k/p (02/10/07-03/10/07, 05/10/07) B6 1x10 mg (30/09/07-05/10/07) Lasix k/p IA pre transfusi 29/09/07 PZA 3x500 mg (29/09/07-05/10/07) Lasix ½A pretransfusi 04/10/07 Transfusi PRC (29/09/07)

      Assessment 1. Efek samping etambutol pada hepar dapat menyebabkan hepatotoksisitas.

      DTPs : ADR.

      ® 2. Metil prednisolon (Somerol ) kontraindikasi terhadap penyakit hati.

      DTPs : ADR.

      ®

      3. Pada tanggal 2 Oktober 2007 pasien tidak demam sehingga pemberian Sistenol tidak diperlukan.

      DTPs : terapi obat tanpa indikasi.

    4. Tambahkan interferon α-2β untuk terapi hepatitis B kronis.

      DTPs : perlu tambahan terapi obat .

      Plan 1. Batasi penggunaan etambutol.

      ® 2. Hentikan penggunaan metil prednisolon (Somerol ). ® 3. Hentikan penggunaan Sistenol (kombinasi parasetamol dan n-acetylcystein).

      4. Tambahkan terapi interferon 5 juta unit/hari secara injeksi subkutan.

      

    Tabel XXI. Kajian DTPs Kasus 5 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 5. No. RM 01.26.95.61 (18/11/06-27/11/06)

      Subjective Laki-laki/23 tahun.

      DU : Kolesistisis kronik. DL : Hepatitis B kronik. Keluhan utama : demam. Pasien demam tinggi saat menjelang tidur malam, batuk tidak berdahak, mual, tidak muntah. BAK tidak ada kelainan, BAB sedikit-dikit : tidak ada manifestasi pendarahan.

      Kondisi umum lemah, gizi cukup, CM. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (November 2006) HBsAg : positif Parameter Nilai Normal

      HBeAg : negatif

      18

      19

      21

      25 Anti HBc IgM : negatif SGOT 138 133 106 15-46 U/L

    • Suhu ( °C) : 38,7
    • SGPT 180 192 111 11-66 U/L ↑ ↑ ↑

      ↑ ↑ ↑

      Nadi (kali/menit) : 100

    • BP (mmHg) : 120/70
    • ALP 137 38,0-126,0 U/L

      ↑ -

      Bil. total - - 0,8 - 0,2-1,3 mg/dl

      RR (kali/menit) : 20

    • Albumin - 3,1 3,5-5,0 g/dl

      ↓ -

    • 6,8 - 6,3-8,2 g/dl - Protein Total GGT - - 263 8,0-78,0 U/L

      ↑ -

      Penatalaksanaan

      Tanggal (November 2007) Nama Obat

      18

      19

      20

      21

      22

      23

      24

      25

      26

      27 Diet TKTP √ √ √ √

      x

      Diet TKTP DH II √ √ √ √ √ √

      ®

      Infus RL 30 tpm √ √ √

      Infus D5% lini √ √ √ parasetamol 3x100 mg

      √ √ √

      ®

      Sistenol 3x1 √ √ √ √ √ √

      ®

      Radin 2x150 mg √ √ √ √

      ®

      Fluimucyl 3xC1 √ √ √ √ √

      ®

      Hp Pro 3x1 √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Imreg 2x1 √ √ √ √ √

      ®

      Farmacrol syr 3x1c √ √ √ √

      ®

      Levopront syr 3x1C √ √ √ √

      ®

      Inj.Tricefin 2g/24 j √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Inj Pantosal 1x1 √ √ √ √ √

      Assessment ® 1. Levodropropizine (Levopront ) kontraindikasi terhadap terbatasnya fungsi hati.

      DTPS : ADR.

      ® 2. Pantoprazol (Pantosol ) kontraindikasi terhadap kerusakan fungsi hati.

      DTPs : ADR.

      3. Perlunya tambahan terapi interferon α-2β untuk mengatasi hepatitis B kronik yang belum mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan ®

      1. Hentikan pemakaian levodropropizine (Levopront ) dan ganti dengan antitusif seperti benzonatate 100 mg 3x/hari.

      ® 2. Hentikan penggunaan pantoprazol (Pantosol ).

    3. Tambahkan terapi interferon α-2β sebesar 5 juta unit/hari secara injeksi subkutan.

      

    Tabel XXII. Kajian DTPs Kasus 6 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 6. No. RM 01.28.72.96 (15/03/07-10/04/07)

      Subjective

      Laki-laki/41 tahun, DU : Hematemesis melena et causa Ruptur Varises Esophagus. DL : Sirosis Hepastis B Child B; Hepatitis B kronis. Satu HSMRS pasien tiba-tiba muntah darah kehitaman, mual, BAK seperti teh, tinja berwarna ter. RPD : Riwayat hemel sebelumnya ±2 tahun yang lalu ± 2 gelas, BAB juga hitam seperti petis namun pasien hanya rawat jalan. Riwayat minum obat dan jamu pegal linu ±2 tahun sebanyak 2-3x /minggu. Tidak ada riwayat sakit kuning. Kondisi umum :lemah, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Maret-April 2007) HBsAg : positif Parameter Nilai normal

      Endoskopi : varises

      15

      26

      05

      09 esofagus grade

      II SGOT 107 70,9 108,5 66,1 10,0-42,0 IU/L dengan gastropati SGPT 113 47,8 64,5 42,1 10,0-10,0 IU/L hipertensi porta Bil.total 1,49 0,85 - - 0,2-1 mg/dl

      ↑ Pemeriksaan abdomen :

      Albumin 1,71 1,94 1,85 1,27 3,50-5,00 mg/dl ↓ ↓ ↓ ↓ asites

      Globulin 4,0 - - - 2,4-3,5 g/dl ↑

      Nadi (kali/menit) : 104 41 23,9-36,2 dtk

    • BP (mmHg) : 120/75
    • APTT ↑

      Penatalaksanaan ®

      NGT spooling DH I (15/03/07-20/03/07) Collistin 3x250.000IU(16,20/03/07-

      DH III (21/04/07-27/04/07) 05/04/07)

      ®

      DH II RGR (28/03/07-10/04/07) Inj OMZ

      IA/24 jam (16/03/07-20/03/07)

      ® ®

      Inj Transamin

      IA/8jam (15/03/07-16/03/07) Duphalac 3x2C (16/03/07)

      Inj vit K IA/8 jam (15/03/07-25/03/07) ranitidin 2x150mg(17/03/07-10/04/07) vit K 3x100mg (26/03/07-10/04/07) ®

      Laxadin 3xC1 (17/03/07-10/04/07)

      ®

      Pralax 3xC1 (16/03/07) ® Sistenol k/p (17/03/07-19/03/07)

      spironolactone 1x25mg (21/03/07, 03/04/07 ®

      Inf D10%:Aminoleban =2:1(17-21/03/07)

      spironolactone 2x25mg (22,23/03/07; 30/03/07-

      Infus D5% 16 tpm (22/03/07 - 10/04/07) 01,02/04/07;,04/04/07 -10/04/07) propranolol 2x10mg (21/03/07-23/03/07)

      spironolactone 2x50mg (24/03/07-29/03/07)

      propranolol 3x10mg (24/03/07-29/03/07) Inj cefotaxime 1g/8jam(26,28,29/03/07);(07- propranolol 2x20mg (30/03/07-04/04/07) 10/04/07) propranolol 3x20mg ( 05/04/07-10/04/07)

      Transf PRC s/d Hb ≥ 9 (15/03/07-16/03/07)

      ®

      Ulsidex 3x500 mg (09/04/07-10/04/07) Inj cefotaxime 1g/12 jam (30/03/07-06/04/07)

      ®

      Inj Nexium

      IA/24 jam (15/03/07-19/03/07)

      ®

      Inj Sandostatin

      IA(15/03/07-16/03/07)

      Assessment 1.Dosis injeksi vitamin K tanggal 15-25 Maret 2007 terlalu besar. DTPs : dosis terlalu tinggi.

      ® ® 2.Laktulosa (Pralax ,Duphalac ) tidak efektif untuk ensefalopatia hepatik. DTPs : obat tidak efektif.

      ® 3.Omeprazole (OMZ ) tidak efektif terhadap pendarahan variseal. DTPs : obat tidak efektif.

      4.Pada tanggal 2 -5 dan 7-8 April 2007 pasien demam namun tidak diberikan antipiretik.

      DTPs : perlu tambahan terapi obat.

      5.Dosis spironolactone untuk terapi asites yang dialami pasien selama perawatan (kecuali tanggal 24- 29 Maret 2007) dibawah dosis terapi. DTPs : dosis terlalu rendah.

      6.Perlu tambahan lamivudin karena pasien sudah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlu tambahan terapi obat.

      Plan

      1. Dosis terapi vitamin K sebesar 10 mg/hari sehingga dosis injeksi vitamin K dikurangi menjadi I A/24 jam.

      2.Hentikan penggunaan laktulosa dan ganti dengan neomisin dosis 500 -2000 mg setiap 6-8 jam.

      ®

      3.Hentikan omeprazole (OMZ ) dan diganti dengan oktreotid selama 5 hari dengan pemberian iv bolus 25-50 mcg diikuti dengan iv infusi kontinue 25-50 mcg/jam.

      

    ®

    4.Berikan antipiretik yaitu dapat diberikan Sistenol untuk mengatasi demam pada 2-5,7-8/04/07.

      

    Tabel XXIII. Kajian DTPs Kasus 7 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 7. No. RM : 01.28.72.96 (03/05/07-08/05/07)

      Subjective Laki-laki/41 tahun.

      DU : Sirosis Hepatitis Child B Post Endoskopi dan Ligasi Varises Esofagus II. DL : Hepatitis B kronis. Keluhan utama pro ligasi ke II varises esofagus pada sirosis hepatis child B.

      Pasien adalah penderita hepatitis B dengan Sirosis Hepatis Child B dengan riwayat hemel et causa suspect varises esophagus yang tegak sejak Maret 2007. Tidak ada riwayat diabetes melitus, tidak ada riwayat minum alkohol, dan tidak ada riwayat hipertensi . Riwayat minum obat dan jamu pegal linu ±2 tahun sebanyak 2-3x per minggu. Kondisi umum : baik, CM, gizi kurang. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Mei 2007) Parameter Nilai normal

      3

      7 SGOT 137,7 148,1 10,0-42,0 IU/L ↑ ↑

      SGPT 103,2 106,3 10,0-40,0 IU/L ↑ ↑

      Bil. total 1,23 1,47 0,2-1 mg/dl ↑ ↑

      Bilirubin direct 0,30 0,32 0,00-0,32 mg/dl ↑

      Albumin 2,45 2,14 3,50-5,00 mg/dl ↓ ↓

    • Globulin 4,9 2,4-3,5 g/dl

      ↑ Protein Total 7,35 7,09 6,40-8,30 g/dl

    • GGT 41,0 7,0-64 IU/L APTT 35,9 23,9-36,2 detik
    • PPT 18,5 10,8-14,3 detik

      ↑

    • HBsAg positif Nadi (kali/menit) 70,82,84,-,68,60

      ↑

      BP (mmHg) 110/70, 120/80, 100/70, -, 110/60, 100/90 RR (kali/menit)

      18 Tinggi badan 162 cm Berat badan 54 kg

      Penatalaksanaan

      Tanggal (Mei 2007) Nama Obat

      3

      4

      5

      6

      7

      8 DH III √ √ √ √ √ √

      Infus NaCl 0,9% lini √ √ propranolol 3x20 mg √ √ √ √ √ √

      spironolactone 2x25 mg

      √ √ √ √ √ √

      ®

      Ulsidex tablet 3x1000 mg (kunyah) √ √ √ √ √ √ vitamin K 3x100mg

      √ √ √ √ √ √

      Assessment 1. Dosis spironolactone untuk terapi asites terlalu rendah.

      DTPs : dosis terlalu rendah.

      2. Perlunya penambahan terapi lamivudin untuk terapi hepatitis B kronis dimana pasien telah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Tingkatkan pemberian spironolactone menjadi sebesar 100-400 mg/hari..

      2. Tambahkan pemberian lamivudin tablet atau suspensi oral dengan dosis 100 mg sehari sekali.

      

    Tabel XXIV. Kajian DTPs Kasus 8 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 8. No.RM 01.28.72.96 (29/05/07-02/06/07)

      Subjective Laki-laki/41 tahun.

      DU : Post Ligasi III pada Sirosis Hepatis Child B. DL : Hepatitis B kronis. Pasien mau menjalani ligasi ke III. Pasien memilki riwayat hemel dan telah dilakukan ligasi I dan II dengan selang 1 bulan. Pasien tidak memiliki riwayat sakit kuning namun memiliki riwayat minum minum obat dan jamu pegal linu ±2 tahun sebanyak 2 -3x per minggu.

      Saat HMRS pasien kontrol ke poliklinik gastro kemudian pasien dirawat untuk menjalani ligasi III. Pada bulan Maret pasien telah terdiagnosis sebagai penderita Sirosis Hepatis Child B dengan hepatitis B positif.

      Kondisi umum : baik, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Mei 2007) Parameter Nilai normal

      29 SGOT 125,5 10,0-42,0 IU/L ↑

      SGPT 94,9 10,0-40,0 IU/L ↑

      Bilirubin Total 1,42 0,20-1,00 mg/dl ↑

      Albumin 2,20 3,50-5,00 g/dl) ↓

      Globulin 4,2 2,4-3,5 g/dl ↑

      Protein Total 6,44 6,40-8,30 g/dl APTT 35,0 23,9-36,2 detik PPT 20,0 10,8-14,3 detik

      ↑ Suhu ( °C) 36,7 Nadi (kali/menit) 58, 84, 64,-, 66

      BP (mmHg) 100/72, 110/70, 110/70, -, 100/60 RR (kali/menit)

      20 Tinggi badan (cm) 162 Berat badan (kg)

      55 HBsAg positif

      Penatalaksanaan

      Tanggal (Mei-Juni 2007) Nama Obat

      29

      30

      31

      1

      2 Diet Hepar IV √ √ √ √ √

      Infus NaCl 0,9% √ vitamin K 3x100 mg

      √ √ √ √ √

      spironolactone 2x50 mg

      √ √ √ √ √ ranitidin 2x150 mg √ √ √ √ √

      Transfusi PRC s/d Hb 9 √

      ®

      Curcuma 3x1 √ propranolol 2x20 mg

      √ √ √ √ √

      ISMN 2x10 mg √

      Assessment

      1. Perlunya tambahan terapi lamivudin untuk terapi hepatitis B kronis karena pasien telah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlu penambahan terapi obat.

      Plan 1. Tambahkan pemberian lamivudin dengan tablet atau suspensi oral dengan dosis 100 mg 1x/hari.

      

    Tabel XXV. Kajian DTPs Kasus 9 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 9. No.RM : 01.16.96.75 (03/07/05-11/07/05)

      Subjective Wanita/40 tahun. DU : Chronic Kidney Disease Stage V et causa Glomerulonephritis Chronic.

      DL : Hipertensi stadium II dan hepatitis B kronis. Keluhan utama : lemas dan mual muntah. Pasien terdiagnosis CKD grade V et causa suspect GNC sejak 6 bulan yang lalu (bulan Januari). Pasien pernah menjalani hemodialisa satu kali di RS. Sardjito, namun kemudian tidak menjalani hemodialisalagi karena merasa lebih baik yaitu tidak sesak, tidak mual, tidak mutah namun BAK dirasa kurang. Tiga HSMRS pasien merasa badan lemas, demam naik turun tidak khas, mual, muntah sebanyak 4-5 kali/hari, tidak batuk, tidak sesak namun muka pucat, dan BAK dirasa normal namun saat itu pasien tidak periksa. Hari saat pasien masuk rumah sakit, keluhan bertambah parah pasien merasa badan lemas, demam, mual, muntah 4-5 x/hari, pusing, BAB berwarna kuning-kehitaman. Namun, karena keluhan lemas, mual dan muntah menetap sehingga pasien diperiksa ke Unit Gawat Darurat RSUP Dr. Sardjito, kemudian pasien dirawat di Instalasi Rawat Inap.

      RPD : tidak riwayat diabetes melitus. Kondisi umum : lemah, CM, gizi cukup namun tampak pucat. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Juli 2005) Parameter Nilai normal

      3

      6 SGOT 13,1 10,0-42,0 IU/L - SGPT 7,7 10,0-40,0 IU/L

    • Albumin 3,21 3,50-5,00 g/dl

      ↓

      ↓ Suhu ( °C) 37,7 Nadi (kali/menit) 100

      BP (mmHg) 180/100

      Tinggi badan 152 HbsAg positif

      Penatalaksanaan

      Tanggal (Juli 2005) Nama Obat

      3

      4

      5

      6

      7

      8

      9

      10

      11 Diet RPRGRK Protein 0,6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ g/kg/hari

      Infus D5% lini √ √ √ √ √ √ √ √

      O

      2 3 liter/menit

      √ √ √ √ √ √ √ √ √ CaCO

      3 3x1

      √ √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Adalat Oros 1x30 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Inj Lasix

      1A/12 jam √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Lasix 1x40 mg pagi √

      Asam folat 3x0,4 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Ketosteril 3x630 mg √ √ √

      Transfusi PRC √

      Assessment ® 1. Perlunya suplemen kalium akibat pemakaian furosemid (Lasix ).

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Tambahkan terapi suplemen kalium untuk mengatasi hipokalemia.

      

    Tabel XXVI. Kajian DTPs Kasus 10 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      1mg pada malam hari √ √ √

      √ √ √ √ √ √ asam folat 3x0,4 mg √ √ √ √ √ √ irbesartan 1x300mg (malam) √ √ √ √ √ √

      Tensivask

      ®

      1x10mg pagi hari √ √ √ √ √ √ New Diatab

      ®

      600 mg k/p √ √ bisoprolol 1x5 mg (maintate) √ √ √ √

      Maintate

      ®

      1x5 mg √ √

      Hytrin

      ®

      Assessment

      CaCO

      1. Perlunya suplemen kalium akibat pemakaian furosemid (Lasix

      ® ).

      DTPs : perlu tambahan terapi obat.

      2. Dosis amlodipin (Tensivask

      ® ) terlalu tinggi.

      DTPs : dosis terlalu tinggi.

      3. Dosis bisoprolol pada pasien terlalu tinggi.

      DTPs : dosis terlalu tinggi.

      Plan 1. Tambahkan terapi suplemen kalium untuk mengatasi terjadinya hipokalemia.

      2. Kurangi dosis amlodipin (Tensivask

      ®

      ) karena pasien mengalami gangguan hepar sehingga dosis yang disesuaikan menjadi sebesar 2,5 mg sehari.

      3 3x1

      1 A/8 jam √ √ √ √ √ √

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 10. No RM : 01.16.96.75 (28/08/05-02/09/05)

      28

      Subjective

      Wanita/40 tahun. DU : Chronic Kidney Disease Stage V et causa suspect Glomerulonephritis Chronic . DL : Hipertensi stadium II, Hepatitis B kronis. Keluhan utama : sesak nafas. Pasien adalah penderita CKD stadium V ec suspect GNC sejak Januari 2005. Hemodialisa rutin dilakukan sekali semingu, namun pasien baru menjalani hemodialisa tiga kali yang terakhir dilakukan pada pada bulan Juli 2005, setelah itu pasien tidak kontrol maupun minum obat. Satu minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh sesak nafas, yaitu sesak kalau melakukan usaha, sesak apabila berbaring, sesak pada saat malam dan berbaring, batuk tidak berdahak, mual, tidak muntah, tidak demam, BAK dirasa menurun dan tidak nyeri saat BAK namun saat itu pasien tidak periksa. Dua HSMRS keluhan yang dialami menetap disertai BAB cair 4x, tidak berlendir darah, dan merasa lemas kemudian pasien diperiksa di Unit Gawat Darurat RSUP Dr. Sardjito dan kemudian dirawat di Instalasi Rawat Inap. Kondisi umum : lemah, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Agustus 2005) Parameter

      28 Nilai normal SGOT 18,6 10,0-42,0 IU/L SGPT 14,5 10,0-40,0 IU/L Albumin 2,94

      ↓ 3,50-5,00 g/dl

      Protein Total 6,39 ↓

      6,40-8,30 g/dl Suhu ( °C) 36,8 Nadi (kali/menit) 100

      BP (mmHg) 190/120 RR (kali/menit)

      32 HBsAg positif

      Penatalaksanaan

      Tanggal (Agustus-September 2005) Nama Obat

      29

      ®

      30

      31

      1

      2 Diet RPRGRK (prot 0,6 g/kgBB/hari √ √ √ √ √ √

      O

      2

      2 liter/menit √ √

      O

      2

      3 liter/menit √ √ √ √

      Infus dekstrosa 5% lini √ √ √ √ √ √

      Injeksi Lasix

      3. Dosis bisoprolol pada pasien dengan gangguan fungsi hepar disesuaikan sebesar 2,5mg/hari.

      

    Tabel XXVII. Kajian DTPs Kasus 11 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 11. No RM 00.59.20.53 (23/09/05-08/10/05)

      Subjective Wanita/41 tahun. DU : Septikemia et causa Klebsiela Pneumonia.

      DL : Bronchitis akut membaik, Hepatitis B Kronik, Hemorroid interna Grade III, Faringitis kronis. Komplikasi : Anemia defisiensi besi et causa blood loss. Keluhan utama : demam (kiriman senior gastro dengan obs. Febris hari VI, hematosezia ec

      

    hemorroid , dispepsia, anemia ec perdarahan. Sejak 6 HSMRS pasien mengeluh demam mendadak,

      menggigil, naik turun, mual, muntah, nyeri ulu, tidak kuning, nafsu makan menurun, lemas, BAK dbn dan BAB berdarah segar ± 2 gelas, tidak nyeri saat BAB. Keluhan menetap dan dahak putih tidak berdarah. RPK : Ibu kanker hati dan ayah sakit hepar. Kondisi umum : sedang, CM, gizi lebih (obesitas). Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Suhu (ºC) : 37,9 Tanggal (September-Oktober

      Parameter 2005) Nilai normal Nadi (kali/menit) : 100

      BP (mmHg) : 140/90

      23

      1

      3 RR (kali/menit) : 20 SGOT

      46 U/L - 15,0-46,0 U/L - HBsAg : positif

      SGPT 37 U/L - - 11,0-66,0 U/L Anti HBc IgM : negatif

      ALP - 78 32-92 IU/L -

    • Bil. Total 2,05 0,20-1,00 mg/dl
    • Albumin
    • 2,77 -

      ↑

      ↓ 3,50-5,00 g/dl

    • Protein Total 7,04 6,40-8,30 g/dl - GGT 70,2 7,0-64,0 IU/L
    • Penatalaksanaan

      ↑

      ®

      Diet TKTP(23/09/05-08/10/05) Kalnex 3x500mg (08/10/05)

      ® ®

      Inj Asering 30 tpm (23/09/05-25/09/05) Inf RL 20 tpm(24/09/05-07/09/05)

      ®

      Sistenol 3x1 (23/09/05-01/10/05) amoxicillin 3x500mg (24/09/05-25/09/05) O

      

    2 k/p (23/09/05-25/09/05) asam mefenamat 3x500mg (24/09/05-25/09/05)

    ®

      Inj Sotatic

      1A/8 jam (23/09/05-25/09/05) prednison 2x5mg (24/09/05-25/09/05)

      ® ®

      Inj Radin

      1A/12 jam (26/09/05-07/10/05) Inj OMZ

      1A/24 jam (23/09/05-25/09/05)

      ® ®

      Radin 2x150mg (08/10/05) Dexanta 3 x cI (23/09/05)

      Tablet besi 3x200 mg(28/09/05-07/10/05) Inj ceftriaxone 1g/12 jam (23/09/05-25/09/05)

      Inj ceftazidime 1g/8 jam (04/10/05-07/10/05) Inj ceftriaxone 1g/24jam (26/09/05-03/10/05) ambroxol 3x30 mg (05/10/05-08/10/05) Transf PRC s/d Hb

      ≥ 10 (23/09/05-01/10/05) gatifloxacin 1x1 (08/10/05) DMP 3x2 15mg(24/09/05-08/10/05)

      ® ®

      Inj Kalnex 500mg/8jam (24-27/09/05, Ardium 2x500 mg (08/10/05) 29/09/05-07/10/05)

      Assessment 1. Efek samping ceftriaxone dapat menimbulkan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      2. Efek samping amoxicillin meningkatkan AST dan ALT, kolestatic jaundice, hepatic kolestatic, hepatitis cytolitic akut. DTPs : ADR.

      3. Prednison kontraindikasi terhadap penyakit hati. DTPs : ADR.

      4. Efek samping ceftazidime dapat menimbulkan gangguan fungsi hati, hepatitis sementara dan ikterus kolestatik. DTPs : ADR.

      5. Perlunya tambahan terapi untuk terapi hepatitis B kronis yaitu pemberian interferon α-2β karena belum terjadi sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Batasi penggunaan ceftriaxone.

      2. Batasi penggunaan amoxicillin.

      3. Hentikan penggunaan prednison.

      4. Batasi penggunaan ceftazidime.

      5. Tambahkan terapi interferon

      

    Tabel XXVIII. Kajian DTPs Kasus 12 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 12. No. RM 01.11.45.25 (04/05/07-12/05/07)

      Subjective

      Laki-laki/47 tahun (kiriman dari RS. Wates) DU : Sirosis Hepatis Child B Post Endoskopi dan Ligasi Varises Esofagus. DL : Hepatitis B kronis, Diabetes Melitus Tipe II Non Obesitas. Sebelumnya, pasien mengeluh muntah darah, BAB hitam, tidak demam, BAK seperti teh, mata tidak kuning. Riwayat perut membesar. Keluhan yang dialami adalah pasien tidak muntah darah, BAB hitam, BAK seperti air teh, tidak demam, tidak mual. Pasien direncanakan menjalani Endoskopi /STE. Riwayat Diabetes melitus diketahui sejak ±3 tahun yang lalu, kontrol tidak teratur. Riwayat minum jamu-jamu untuk stamina. Kondisi umum : baik, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : belum sembuh.

      Objective

      Tanggal (Mei 2005) Parameter

      Nilai normal

      4

      6

      10 SGOT 301,3 316,3 10,0-42,0 IU/L ↑ ↑

    • SGPT 219,2 215,1 10,0-40,0 IU/L
    • ALP 338 32-92 IU/L

      ↑ ↑

      ↑ Bilirubin Total 3,90 3,57 0,20-1,00 mg/dl

    • Albumin 1,64 2,07 3,50-5,00 g/dl

      ↑ ↑

    • Protein Total 5,70 7,33 6,40-8,30 g/dl

      ↓ ↓

      ↓ GGT 196,7 7,0-64,0

      ↑ APTT 36,3 35,4 23,9-36,2 detik

      ↑ PPT 21,5 18,5 10,8-14,3 detik

      ↑ HBsAg positif Suhu (ºC) 36,5 Nadi (kali/menit) 64, 70, 70, 80, 72, 76, 56, 56, 60

      100/60, 100/60,100/60, 100/70, 100/60, 100/60, 100/70, 90/60,

      BP (mmHg)

      100/60

      RR (kali/menit)

      20 Penatalaksanaan Tanggal (Mei 2005)

      Nama Obat

      4

      5

      6

      7

      8

      9

      10

      11

      12 Diet Hepar √ √ √ √ √ √ √ √ √ ranitidin 2x150 mg

      √ √ √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Carpiaton 2x50 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √ propranolol 2x5 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √ vit K 3x100 mg

      √ √ vit K 3 x 2 100mg

      √ Injeksi vit K IIA/8 jam

      √ √ √

      ®

      Insulatard 0-0-8 √ √

      Assessment 1. Dosis terapi injeksi dan dosis oral (tanggal 8 Mei 2005) vitamin K diatas dosis terapi.

      DTPs : dosis terlalu tinggi.

      2. Perlunya tambahan terapi lamivudin untuk pengobatan hepatitis B kronis karena pasien sudah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan

      1. Dosis terapi injeksi vitamin K sebesar1 mg/hari sehingga pemberian injeksi diturunkan menjadi I ampul/24 jam dan dosis oral diturunkan menjadi 3x100 mg per hari

      

    Tabel XXIX. Kajian DTPs Kasus 13 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      Letonal

      √ Insulatard

      ®

      8-0-0 √ √ √

      Curcuma

      ®

      3x200 mg √ √ √

      Transfusi albumin √ √

      Inpepsa

      ®

      sirup 3xC1 √ √

      ®

      2x50 mg √ √ propranolol 2x10 mg √ √ √

      1x50 mg √

      Assessment 1. Dosis injeksi vitamin K diatas dosis terapi.

      DTPs : dosis terlalu tinggi.

      2. Dosis spironolactone (Letonal

      ® ) dibawah dosis terapi.

      DTPs : dosis terlalu rendah.

      3. Perlunya terapi tambahan untuk terapi hepatitis B kronis yaitu dengan pemberian lamivudin karena pasien telah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya terapi tambahan.

      Plan

      1. Turunkan dosis injeksi vitamin K menjadi I ampul/24 jam sehingga dosis terapi yang diterima sebesar 10 mg/hari.

      2. Tingkatkan dosis dengan pemberian spironolactone (Letonal

      Injeksi vit K II A/8 jam √ √ vit K oral 3x100 mg

      ®

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 13. No. RM 01.11.45.25 (11/06/07-13/06/07)

      Globulin 6,1 ↑

      Subjective Laki-laki/47 tahun.

      DU : Post Ligasi ke II pada Sirosis Hepatis dengan Varises Esofagus. DL : Hepatitis B Kronik. Keluhan utama : pro ligasi ke-2 pada Sirosis hepatis pada Varises esofagus post ligasi I. Riwayat muntah darah dan BAB hitam sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan saat ini tidak nyeri perut, tidak mual, tidak muntah darah, tidak BAB hitam, perut tidak membesar, dan tidak kuning.

      Kondisi umum : baik, CM, dan gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Juni

      2005) Parameter

      11 Nilai normal SGOT 210,2

      ↑ 10,0-42,0 IU/L

      SGPT 144,5 ↑

      10,0-40,0 IU/L Albumin 2,00

      ↓ 3,50-5,00 g/dl

      2,4-3,5g/dl Protein Total 8,11 6,40-8,30 g/dl APTT 37,1

      Carpiaton

      ↑ 23,9-36,2 detik

      PPT 19,8 ↑

      10,8-14,3 detik HBsAg : positif Suhu (ºC) : 36,5 Nadi (kali/menit) : 84, 68, 84

      BP (mmHg) : 120/70, 100/70,

      120/70

      RR (kali/menit) : 20 Penatalaksanaan

      Tanggal (Juni 2007) Nama Obat

      11

      12

      13 Diet Hepar+ extra putih telur √ √ √

      Infus NaCl 0,9% lini √ √

      ® ) sebesar 100-400 mg sehari.

      

    Tabel XXX. Kajian DTPs Kasus 14 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 14. No. RM 01.22.53.37 (30/04/07 -16/05/07)

      Subjective Laki-laki/44 tahun. DU : Hepatitis B Kronis.

      DL : Diabetes Melitus. Penderita merasa mual, muntah, mata kuning. Sklera dan kulit berwarna kuning. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal HBsAg : positif Nilai normal

      Parameter (April-Mei 2007) Anti HCV total : negatf

      28

      30

      7

      14 Anti HAV IgM : SGOT 1060,5 1489 245

      ↑ 1186↑ ↑ ↑ 0–37 U/L negatif SGPT 1600 2359 536

      ↑ 1682↑ ↑ ↑ 0–41 U/L Anti HBc IgM :

      Gama-GT 219,1 8–61 U/L ↑ negatif

      ALP 134,0 38-126 U/L ↑

      Suhu (ºC) : 36,4 Bil. Total 3,9 8,5 10,2

      ↑ ↑ ↑ 0,20-1,00mg/dl Nadi (kali/menit) : 80

      Bil. Direct 1,16 5,26 6,99 ↑ ↑ ↑ 0,00-0,30 mg/dl

      BP (mmHg) : 115/80 Bil.

      2,7 3,3 3,2 ↑ ↑ ↑ 0,0-1,1 mg/dl RR (kali/menit) : 20

      Unconj TB (cm) : 173

      Albumin 3,4 3,0 ↓ ↓ 3,5-5,0 g/dl

      BB (kg) : 82 Prot. Total 7,5 7,8 6,3-8,2 g/dl GGT 261 7,0-64,0 IU/L

      ↑ APTT 28,0 23,9-36,2 detik PPT 16,3 10,8-14,3 detik

      Penatalaksanaan

      Diet hepar (30/04/07-16/05/07)

      ®

      Inj Asering

      IIA/12 jam (03/05/07 dan 07/05/7)

      ®

      Lesichol 3x300mg (30/04/07-16/05/07)

      ®

      Vometa 3x10mg AC (sebelum makan) (30/04/07-04/05/07)

      ®

      Hp Pro 3x1 (09/05/07-16/05/07) Dekstromethorfan (DMP) 3x5mg (05/05/07-16/05/07)

      ®

      Baraclude 1x0,5mg (09/05/07-13/05/07)

      ®

      Urdafalk 2x250 mg(15/05/07-16/05/07) Inj vitamin K IA/12jam (03/05/07-15/05/07) vitamin K 2x100mg (15/05/07-16/05/07)

      ®

      Hepasil 3x1 (30/04/07-08/05/07)

      ®

      Ringer Laktat Novolet 3x4 UI (08/05/07-14/05/07)

      ®

      Insulatard 1x8 (16//05/07)

      Assessment 1. Dekstrometorfan kontraindikasi bagi pasien dengan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      ®

      2. Terapi entecavir (Baraclude ) bukan obat yang paling efektif terhadap hepatitis B kronis yang telah mengalami sirosis dekompensata. DTPs : obat yang tidak efektif.

      ® 3. Do sis ursodeoxycholic acid (Urdafalk ) dibawah dosis terapi. DTPs : dosis terlalu rendah.

      4. Dosis vitamin K oral dibawah dosis terapi dan dosis injeksi vitamin K diatas dosis terapi.

      DTPs : dosis terlalu rendah dan dosis terlalu tinggi .

      5. Perlunya tambahan terapi untuk hepatitis B kronis berupa lamivudin karena pasien telah mengalami sirosis dekompensata. DTPs : perlunya tambahan terapi.

      Plan 1. Dekstromethorfan diganti dengan antitusif lain seperti benzonatate 100 mg 3x/hari.

      ®

      2. Ganti terapi entecavir (Baraclude ) dengan lamivudin tablet/suspensi oral dengan dosis 1x100 mg.

      

    ®

      3.Dosis terapi ursodeoxycholic acid (Urdafalk ) sebesar 8-10 mg/kgB/hari dimana berat badan pasien sebesar 82 kg sehingga dosisnya ditingkatkan menjadi 656- 820 mg/hari yang terbagi dalam 2-3 dosis.

      4. Naikkan dosis vitamin K oral menjadi 3x100 mg sehari dan dosis injeksi vitamin K diturunkan

      

    Tabel XXXI. Kajian DTPs Kasus 15 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 15. No. RM 01.30.04.13 (08/06/07 -18/06/07)

      Subjective Laki-laki/58 tahun.

      DU : Hepatitis B kronis. DL : Acute Intenstisial Pneumoniae, ARF membaik ec Suspect Pulmonephritis , Suspect urolitiasis dextra. Keluhan utama: sesak nafas.

      5HSMRS pasien mengeluh kencing seperti teh, ada bintik-bintik pendarahan di kedua mata dan lemas. Saat HMRS pasien mengeluh sesak yaitu sesak saat melakukan usaha namun tidak sesak saat berbaring dan tidak sesak saat malam dan saat berbaring, tidak demam, mual, tidak muntah, badan kuning, perut kembung, lemah, tidak nyeri otot, mata merah, tidak kabur, tidak ada kotoran mata. Pasien merokok sejak muda ± 1,5 bungkus/hari. RPD : tidak ada riwayat sakit kuning, tidak ada riwayat asma. Kondisi umum : lemah, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      HBsAg : positif Tanggal (Juni 2007) Nilai normal

      Parameter HBeAg : negatif

      9

      11

      12

      14 HBcAg : negatif SGOT 71,3

      61 ↑ ↑ 10-42 IU/L

      Anti HAV IgM : negatif SGPT 40,8 77 10-40 IU/L

      ↑ ↑ Anti HBC IgM : negatif

      ALP 121 32-92 IU/L ↑

      Anti HAV total : positif Bil. 15,96

      ↑ 14,03↑ 5,07↑ 0,2-1,0 mg/dl Anti HCV total : negatif

      Total Suhu (ºC) : 36,9

      Albumin 1,75 2,63 ↓ ↓ 3,5–5,0 g/dl

      Nadi (kali/menit) : 96x/menit Globulin 4,7 2,4-3,5g/dl

      ↑

      BP (mm/Hg) : 120/80

      Prot. 6,4–8,3 g/dl 6,46 6,56

      RR (kali/menit) : 26

      Total GGT 81,7 7-64 IU/L

      ↑ APTT 35,3 23,9–36,2 detik PPT 15,2 10,8–14,3 detik

      ↑

      Penatalaksanaan

      Diet TKTP (08/06/07-18/06/07) kloramfenikol eo 2 dd u e ODS (08/06/07) O

      2 NRM 8 liter/menit (08/06/07) allopurinol 2x100mg (08/06/07)

      O 3 liter/menit (09/06/07-11/06/07) allopurinol 1x100mg (09/06/07-10/06/07)

      2 Inj NaCl 0,9% 20 tpm (08/06/07 -18/06/07) metil prednisolon 62,5mg/12 jam (09/06/07-

      Inj ceftriaxone 1 g/12 jam (08/06/07-18/06/07) 17/06/07)

      ®

      Sistenol kalau perlu (08/06/07) Inj omeprazole IA/24 jam (12/06/07-17/06/07)

      ®

      azytromycin 3x500mg (08/06/07) Urdafalk 2x250mg (13/06/07)

      ®

      azitromicin 1x500 (09/06/07 -10/06/07) Hp Pro 3x1 (13/06/07) azytromicin 500mg/24 jam (11/06/07- ketokonazol 1x200mg (15/06/07-18/06/07)

      12/06/07)

      Assessment 1. Efek samping yang ditimbulkan ceftriaxone berupa gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      2. Azitromicin kontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      3. Metil prednisolon kontraindikasi pada pasien penyakit hati.

      DTPs : ADR.

      4. Ketokonazol kontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati.

      DTPs : ADR.

      5. Perlunya tambahan terapi lamivudin untuk terapi hepatitis B kronis karena pasien telah mengalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Batasi penggunaan ceftriaxone.

      2. Hentikan penggunaan azitromicin.

      3. Hentikan penggunaan metil prednisolon.

      4. Hentikan penggunaan ketokonazol.

      

    Tabel XXXII. Kajian DTPs Kasus 16 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 16. No. RM 01.18.63.05 (15/05/05 -22/05/05)

      Subjective Laki-laki/50 tahun.

      DU : Sepsis et causa Streptococcus Alfa. DL : Hepatitis B Kronis, Infeksi Saluran Kemih. Keluhan utama : diare dan demam. Sejak ± 2 minggu terakhir pasien demam tidak tinggi terutama sore hari, tidak menggigil, nafsu makan menurun, tidak ada tanda-tanda pendarahan, gusi tidak berdarah, BAB cair sampai 3 -4x/hari tidak berdarah, tidak berlendir, tiap kali BAB cair jumlah banyak, warna kuning, tidak sakit kepala, sudah tidak nyeri otot, sudah tidak sakit belakang kepala, tidak mual, tidak muntah.

      Sejak 4 hari terakhir tidak BAB, demam menetap naik turun, BAK tidak seperti teh, mata/badan tidak kuning, tidak terjadi perdarahan. Saat HMRS keluhan yang dialami pasien semakin bertamb ah berat. Kondisi umum : lemah, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal HBsAg : positif Parameter (Mei 2005) Nilai normal Anti HBe : positif

      HBeAg : negatif

      12

      14 IgM anti HBc : negatif SGOT 61,4 0,0-37,0 U/L

      ↑ Anti HBs : negatif

      SGPT 85,6 0,0-41,0 U/L ↑

      Suhu (ºC) : 36,6 Bilirubin total 0,86 0,20-1,30 mg/dl

      Penatalaksanaan

      Tanggal (Mei 05) Nama Obat

      2

      15

      16

      17

      18

      19

      20

      21

      2

      x

      Diet TKTP  diet hepar II √

      Diet hepar II √ √ √ √ √ √ √

      Inj RL 30 tpm √

      Inj. KaEN 1B 20 tpm √ √ √ √

      Lesifit 2x1 √

      √ √ √ √ √ √ √ Sistenol 3x1

      √ √ √ √ √

      Frego 3x5 mg √ √ √ √ √

      Inj Ceftriazon 1 g/12 jam √ √ √ √ √ √ √ √

      Inj Garamycin 80 mg 3x1 √ √ √

      Inj Novalgin 2A/24jam i.m. (k/p) √ √

      Assessment 1. Efek samping ceftriaxone dapat menimbulkan gangguan fungsi hati.

      DTPs : ADR.

      2. Tambahkan terapi lamivudin untuk terapi hepatitis B kronis yang sudah mengalami sirosis hati dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Batasi penggunaan ceftriaxone.

      2. Tambahkan terapi lamivudin tablet/suspensi oral dengan dosis 100 mg sekali sehari.

      

    Kasus 17 No. RM 00.59.63.39 (29/03/07-07/04/07)

    Subjective Laki-laki/89 tahun.

      DU : Penyakit Paru Obstruktif Kronis et causa Bronchitis Kronik. DL : Hepatitis B Kronis dan Suspect Benigna Prostat Hiperplasia. Keluhan utama : sesak nafas Sepuluh HSMRS pasien mengeluh sesak nafas, batuk, dahak putih tidak berdarah, tidak demam, BAB/BAK tidak ada kelainan. 2 HSMRS, keluhan memberat. Pasien di-nebulizier di UGD RSUP Dr. Sardjito, keluhan membaik, pasien boleh pulang.

      Saat HMRS pasien megeluh sesak nafas kambuh lagi sehingga dirawat inap. RPD : riwayat merokok lintingan ± 50 tahun, namun sudah berhenti ±10 tahun yang lalu. Kondisi umum : lemah, gizi kurang dan tampak sesak. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Maret-April 2007) Parameter

      Nilai normal

      29

      04

      07 15 -46 U/L SGOT 211 U/L

      29 IU/L ↑ 10 -42 IU/L

      11 -66 U/L SGPT 119 U/L 58,9 IU/L

      ↑ ↑ 10 -40 IU/L ALP 59 32 -92 IU/L Bil total 0,67 0,20-1mg/dl Bil Direct 0,10 0,0-0,3 mg/dl Bil Indirect 0,6

      ≤0,75 mg/dl Albumin 3,44 2,30 2,77 3,50-5,00

      ↓ ↓ ↓ Globulin 3,9 2,6 2,6 2,4-3,5 g/dl

      ↑ Protein Total 7,31 4,95 5,39 6,4-8,3 g/dl

      ↓ ↓ GGT 21,4 7,0-64,0 IU/L HbsAg positif Suhu (ºC) afebris Nadi(kali/menit)

      96 BP (mmHg) 130/80

      RR (kali/menit)

      24 Penatalaksanaan

      ®

      Diet TKTP RKH (29/03/07 – 07/04/07) Fluimucyl sirup 3xcI (29/03/07 – 07/04/07) infus NaCl 0,9% lini (29/03/07) Inj MP 62,5 mg/12 jam (29/03/07) infus normal salin 16 tpm (30/03/07-01/04/07) inj MP 62,5 mg/6 jam(30/03/07-03/04/07) infus D5% 16 tpm (05/04/07-06/04/07) inj MP 62,5 mg/24 jam (04/04/07)

      O

      2 3-8 liter/menit (29/03/07)

      MP 4 mg 2-1-0 (05/04/07 – 07/04/07)

      Inj ceftriaxone 1g/12 jam (29/03/07 Nebulizer (atrovent 2 cc + Pulmicort 2cc)

    • – ® ®

      04/04/07) per 8 jam (29/03/07 – 07/04/07) azitromicin 1x500 mg (29/03/07 – 01/04/07) ®

      Curcuma 3x200 mg (07/04/07)

      Assessment 1. Efek samping ceftriaxone dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      2. Azitromicin kontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      3. Metil prednisolon kontraindikasi pada pasien dengan penyakit hati.

      DTPs : ADR.

      4. Perlunya tambahan terapi untuk terapi hepatitis B kronis pada pasien yang belum mangalami sirosis dekompensata.

      DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Batasi penggunaan ceftriaxone.

      2. Hentikan penggunaan azitromicin.

      3. Hentikan penggunaan metil prednisolon.

    4. Tambahkan pemberian interferon α-2β sebesar 5 juta unit/hari secara injeksi subkutan.

      

    Tabel XXXIV. Kajian DTPs Kasus 18 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      Inj ceftriaxone 1g/12 jam (11/07/07-20/07/07) Inj ranitidin 1A/12 jam (13/07/07-19/07/07) Inj radin

      ↑ 10,8-14,3 detik

      HBsAg positif HBeAg negatif Anti HbeAg negatif IgM anti HBc negatif Suhu (ºC) 37,5 Nadi (kali/menit) 100

      BP (mmHg) 130/90 RR (kali/menit)

      26 Penatalaksanaan Diet RPRGRK (Protein 0,6 gram/kgBB/hari) (11/07/07-16/07/07) Diet TKTP + EPS (17/07/07-20/07/07) Infus NaCl 0,9% lini 20 tpm (11/07/07- 20/07/07) O

      2

      8 liter/menit (11/07/07) O

      2 3 liter/menit (12/07/07-20/07/07)

      ®

      GGT 200,3 ↑

      1A/12 jam (20/07/07) ambroxol 3x1 (13/07/07 – 20/07/07) Azitromicin 1 x 500 mg (13/07/07-15/07/07) parasetamol 3x100mg (17/07/07-18/07/07)

      Assessment 1. Efek samping ceftriaxone dapat menimbulkan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      2. Azitromicin kontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati. DTPs : ADR.

      3. Penggunaan parasetamol tidak sesuai karena pasien tidak menunjukkan gejala dan tanda terjadinya demam. DTPs : terapi obat tanpa indikasi.

      4. Perlunya tambahan terapi interferon α-2β pada pasien yang belum mengalami sirosis dekompensata. DTPs : perlunya tambahan terapi obat.

      Plan 1. Batasi penggunaan ceftriaxone.

      2. Hentikan penggunan azitromicin.

      7,0-64,0 IU/L APTT 26,0 23,9-36,2 detik PPT 19,4

      ↓ 6,44 6,40-8,30 g/dl

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 18. No.RM : 01.30.56.28 (11/07/07-20/07/07)

      ↑ 10,0-42,0 IU/L

      Subjective Laki-laki/48 tahun. DU : ARF ec Prerenal.

      DL : Hepatitis B Kronis, Pneumonia ec non Spesifik membaik. Komplikasi : Trombositopenia membaik suspect Infeksi Viral. Keluhan utama: demam (kiriman dari rumah sakit lain dengan diagnosis Leptospirosis dengan Acute Renal Failure/Weil Disease). Pasien dirujuk ke RS. Sardjito untuk rencana hemodialisa cito. Sebelumnya, pasien merasa lemas, demam, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri perut, nyeri otot, tidak diare, BAK seperti teh dan 6 hari yang lalu pasien diare 5x, namun tidak ada keluhan sesak nafas. RPD : tidak ada riwayat hipertensi, tidak ada riwayat sakit kuning. Kondisi umum : sedang, CM, lemah. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Juli 2007) Parameter

      11

      19 Nilai normal SGOT 67,5

      ↑ 72,0

      SGPT 47,5 ↑

      2,4-3,5g/dl Protein Total 5,65

      45,2 ↑

      10,0-40,0 IU/L ALP 139

      ↑ 32-92 IU/L

      Bil total 2,49 ↑

      0,20-1mg/dl Bil Direct 0,97 0,00-0,30 mg/dl Albumin 1,95

      ↓ 2,08

      ↓ 3,50-5,00 g/dl

      Globulin 4,3 ↑

      3. Hentikan penggunaan parasetamol.

      

    Tabel XXXV. Kajian DTPs Kasus 19 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 19. No. RM 01.04.09.79 (28/05/07 -05/06/07)

      Subjective Wanita/67 tahun, DU : Kanker mamae kiri T1NoMo.

      DL : Hipertensi stage 2, obs. Hematoma, Hepatitis B Kronis Persisten. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal Parameter (Mei-Juni 2007) Nilai normal

      28

      30

      31

      04 SGOT 28,0 35 15,0-46,0 U/L SGPT 33,0 29 11,0-66,0 U/L Bil total 0,3 0,2-1,3 mg/dl Bil Direct

      0,00-0,40 mg/dl Bil unconj. 0,3 0,00-1,1 mg/dl Albumin 4,3 3,23 3,50-5,00 g/dl

      ↓ Globulin 2,5 2,4-3,5 g/dl Protein Total 7,7 4,70 6,40-8,30 g/dl

      ↓ APTT 26,1 28,8 23,9-36,2 detik PPT 12,8 18,4 10,8-14,3 detik

      ↑ HBsAg positif Suhu (ºC) 36,7

      Penatalaksanaan ®

      Diet rendah garam (28-31/05/07; 04-05/06/07) Kalnex 3x500 (01/06/07-05/06/07)

      ®

      Diet TKTP rendah garam (01/06/07-03/06/07) Pantosol 1x1 (sore) (02/06/07-05/06/07)

      ®

      Noperten 1x10mg (28/05/07-31/05/07) ® Brainact 2x500 g (01/06/07-05/06/07)

      ®

      Noperten 1x5mg (01/06/07) ® Aprovel 1x5mg (sore) (02/06/07-03/06/07)

      ®

      Maintate 1x2,5mg (28-01/06/07; 03-04/06/07) vitamin K 3x100mg (04/06/07-05/06/07)

      ®

      Maintate 1x5mg (pagi) (02/06/07; 05/06/07) DMP 3x1 (04/06/07-05/06/07)

      ®

      telmisartan 1x50mg (sore) (05/06/07) Plavix 1x75mg sore (29/05/07-05/06/07)

      ® ®

      Fluimucyl 3xcI (01/06/07-02/06/07) Frego 3x5mg (29/05/07-05/06/07)

      ®

      Inj cefotaxime 1g/12jam (30/05/07-31/05/07) Augmentin 3x500 (01/06/07-05/06/07)

      ® ®

      Ditranex 3x250mg (30/05/07-31/05/07) Mefinal 3x500 (31/05/07-01/06/07)

      ®

      Rantin 2x150mg (31/05/07-01/06/07)

      Assessment ®

      1. Efek samping Augmentin (kombinasi amoxicillin dan asam klavulanat) dapat menyebabkan kolestatic jaundice dan hepatic disfunction.

      DTPs : ADR.

      ® 2. Asam mefenamat (Mefinal ) kontraindikasi pada pasien gangguan fungsi hati.

      DTPs : ADR.

      ® 3. Pantosol kontraindikasi pada pasien dengan kerusakan fungsi hati.

      DTPs : ADR.

      ®

      4. Dosis valsartan (Aprovel ) di bawah dosis terapi pada pasien yang mengalami gangguan fungsi hepar. DTPs : dosis terlalu rendah.

      5. Dekstrometorfan kontraindikasi bagi pasien dengan gannguan fungsi hati.

      DTPs : ADR.

      Plan ®

      1. Batasi penggunaan Augmentin (kombinasi amoxicillin dan asam klavulanat)

      ® 2. Hentikan penggunaan asam mefenamat (Mefinal ). ® 3. Hentikan penggunaan pantoprazol (Pantosol ).

      ®

      4. Pada gangguan hati ringan-sedang dosis terapi valsartan (Aprovel ) dimulai sebesar dosis sebesar 1x40 mg dan dapat ditingkatkan sampai 1x80 mg.

      5. Hentikan penggunaan dekstrometorfan dan dapat diganti dengan antitusif lain seperti benzonatate

      

    Tabel XXXVI. Kajian DTPs Kasus 20 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

      

    Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 20. No. RM 00.58.45.29 (18/03/05 -24/03/05)

      Subjective Laki-laki/45 tahun.

      DU : Hepatitis B Kronik. Keluhan utama : lemah. Pasien adalah penderita hepatitis B sejak 1997 dan setelah itu pasien juga pernah menjalani perawatan rawat inap pada tahun 1998 dan 2000, dimana pada tahun 2000 pasien didiagnosis hepatitis B kronik aktif. Pasien rutin untuk memeriksa SGOT dan SGPT, selain itu pasien kadang-kadang mengkonsumsi temulawak dan curcuma.

      Enam HSMRS pasien memeriksa SGOT dan SGPT ternyata hasilnya diatas batas atas nilai normal. Pasien saat itu mengeluh lemas, mual, namun tidak muntah, tidak demam, BAK seperti teh, BAB biasa.

      Dua HSMRS pasien merasa lemas, mual, nafsu makan minum menurun, tidak demam dan keluhan yang dirasakan menetap. Pasien disarankan untuk dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito untuk menjalani pemeriksaan HBeAg dan HBcAg namun pasien menolak. Saat hari masuk rumah sakit keluhan yang dirasakan pasien menetap kemudian pasien meminta untuk dirawat. RPD : tidak ada riwayat sakit kuning, tidak ada riwayat transfusi, tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan, dan tidak ada riwayat mengkonsumsi alkohol. Kondisi umum : baik, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Maret 2005) Parameter Nilai normal

      12

      16

      21 SGOT 255 356,7 412,3 10,0-42,0 IU/L ↑ ↑ ↑

      SGPT 449,4 586,2 388,5 10,0-40,0 IU/L ↑ ↑ ↑

      HBsAg positif HBeAg negatif IgM anti HBc negatif Suhu (ºC)

      37 Nadi(kali/menit)

      72 BP (mmHg) 100/60

      RR (kali/menit)

      20 Penatalaksanaan Tanggal (Maret 2005)

      Nama Obat

      18

      19

      20

      21

      22

      23

      24 DH III √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Hp Pro 3x1 √ √ √ √ √ √ √

      ®

      Vometa 3x10 mg √ √ √ √

      ®

      Cholesvit 2x1 √ √ √ √

      Assessment

    • Plan

      Assessment

      ®

      25

      26 Diet TKTP √ √ √ √ √ √ √

      Infus NaCl 0,9% lini √ √ √ √ √ √

      Sistenol

      ®

      3x1 √ √ √ √ √

      Hp Pro

      3x1 √ √ √ √ √ √ √

      23

      Injeksi Radin

      ®

      1A/12 jam √ √ √ √ √ √

      Radin

      ®

      2x150mg tablet √ ciprofloksasin 2x500mg

      √ √ √ √ √ √

      24

      22

      

    Tabel XXXVII. Kajian DTPs Kasus 21 Hepatitis B Kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP

    Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

    Kasus 21. No. RM 00.58.45.29 (20/10/06 -26/10/06)

      SGPT 58,3 ↑

      Subjective Laki-laki/46 tahun.

      DU : Observasi Febris et causa suspect Typhoid Fever. Diagnosis lain : Hepatitis B Kronis. Keluhan utama : demam dan nyeri kepala. Pasien adalah penderita hepatitis B sejak 1997. Pasien pada tahun 2000 didiagnosis hepatitis B kronik aktif. Pasien terakhir kali menjalani perawatan pada bulan Maret tahun 2005 di RSUP Dr. Sardjito. Selama ±1 MSMRS pasien merasa demam (pada malam hari lebih tinggi) dan sakit kepala terutama saat menyelesaikan pekerjaan kantor, BAK/BAB dalam batas normal, tidak batuk, tidak sakit waktu BAK namun sudah 2 hari terakhir pasien tidak BAB. Pasien dirawat karena keluhan sakit kepala memberat, demam, mual namun tidak batuk.

      RPD : Hepatitis B kronis. Kondisi umum : sedang, CM, gizi cukup. Keadaan pulang : membaik.

      Objective

      Tanggal (Oktober 2006) Parameter

      20 Nilai normal SGOT 60,8

      ↑ 10,0-42,0 IU/L

      10,0-40,0 IU/L Albumin 3,41

      21

      ↓ 3,50-5,00 g/dl

      Globulin 4,2 ↑

      2,4-3,5 g/dl Protein Total 7,62 6,40-8,30 g/dl HBsAg positif Suhu (ºC)

      38 Nadi (kali/menit) -

      BP (mmHg) - RR (kali/menit) - Penatalaksanaan

      Tanggal (Oktober 2006) Nama Obat

      20

    • Plan 1. Lakukan biopsi hepar untuk mengetahui apakah pasien mengalami nekroinflamasi.

      Pada masing-masing kasus yang telah dibahas dengan metode SOAP

    kemudian akan dirangkum menjadi masing-masing kategori Drug Therapy

    Problems, yaitu adanya terapi obat tanpa indikasi, adanya indikasi penyakit yang

    tidak diberikan terapi, ketidakefektifan pemilihan obat, dosis yang kurang, terjadinya

    adverse drug reaction dan dosis yang berlebih dalam penggunaan obat di RSUP Dr.

      Sardjito pada periode 2005-2007.

      Pada masing-masing kategori akan dijabarkan jenis obat yang

    menyebabkan terjadinya DTPs, kemudian dari masing-masing jenis obat tersebut

    akan dibahas bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat terjadi sekaligus

    memberikan rekomendasi yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi permasalahan

    tersebut.

    1. Dosis terlalu rendah

      

    Tabel XXXVIII. Kasus DTPs Dosis Terlalu Rendah pada Hepatitis B Kronis di Instalasi

    Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi 6, 7 spironolactone Pada kasus 6 (kecuali tanggal 24-29 Maret Tingkatkan pemberian dosis

      2007) dosis yang diberikan dibawah 100- menjadi 100-400 mg/hari 400 mg/hari. 13 spironolactone Dosis yang dianjurkan adalah sebesar 100- Tingkatkan dosis dengan

      ®

      400 mg/hari namun pasien hanya menerima pemberian 100-400 mg/hari (Letonal ) 50 mg/hari

      14 ursodeoxycholic Dosis yang seharusnya diterima adalah Tingkatkan dosis sesuai range

      acid sebesar 656-820 mg/hari sedangkan pada dosis ®

      (Urdafalk ) kasus pasien hanya menerima dosis 500 mg/hari 14 vitamin K Dosis oral yang diterima hanya 200 mg/hari Naikkan dosis vitamin K oral sedangkan dosis terapinya sebesar 300 menjadi 3x100 mg/hari sesuai mg/hari dengan dosis terapi

      ®

      19 valsartan Pada gangguan hati ringan-sedang dosis Tingkatkan dosis Aprovel

      ®

      terap dimulai sebesar 1x40 mg/hari namun (Aprovel ) sebesar dosis terapi awal dan pada kasus dosis yang diterima hanya 5 dapat ditingkatkan menjadi mg/hari sebesar 1x80 mg/hari

      2. Obat yang tidak efektif

    Tabel XXXIX. Kasus DTPs Terapi Obat yang Tidak Efektif pada Hepatitis B Kronis di

    Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi

      ®

      1, 2, 6 laktulosa Laktulosa terbukti tidak bermanfaat Hentikan penggunaan Duphalac

      ® ®

      (Duphalac dalam terapi ensefalopati hepatik dan Pralax , untuk terapi

      ®

      dan Pralax ) ensefalopati hepatik dapat diberikan neomisin dengan dosis 500-2000 mg setiap 6-8 jam

      6 omeprazole Pemberian omeprazole tidak af ektif Hentikan pemberian omeprazole dan terhadap pendarahan variseal dapat diganti dengan oktreotida selama 5 hari dengan pemberian iv bolus 25-50 mcg diikuti dengan iv infusi kontinue 25-50 mcg/jam

      ® ®

      14 entecavir Baraclude bukan terapi yang paling Ganti terapi Baraclude dengan

      ®

      (Baraclude ) efektif terhadap hepatitis B kronis lamivudin tablet/suspensi oral yang telah mengalami dekompensata dengan dosis 1x100 mg secara oral

      3. Dosis terlalu tinggi

    Tabel XXXX. Kasus DTPs Dosis Terlalu Tinggi pada Hepatitis B Kronis di Instalasi

    Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi 1, 2, 6, vitamin K Pasien mendapatkan dosis injeksi diatas dosis Turunkan dosis injeksi 12, 13, terapi yaitu diatas 10 mg. (Pada kasus 6 terjadi menjadi sebesar 1A/24 jam 14 dosis terlalu tinggi pada tanggal 15 -25 Maret

      2007). Dosis oral (pada kasus 12) diatas dosis terapi yaitu Turunkan dosis oral sebesar 3x2 100 mg per hari sebaiknya diturunkan menjadi 3x100 mg per hari menjadi 3x100 mg per hari.

      ®

      10 amlodipin Pada pasien gangguan hepar dosis yang Turunkan dosis Tensivask

      ®

      (Tensivask ) diperbolehkan menjadi sebesar 2,5 mg/hari dengan pemberian sebesar sedangkan dosis yang diterima sebesar 10 mg/hari.

      2,5 mg/hari 10 bisoprolol Pada pasien dengan gangguan fungsi hepar Turunkan dosis bisoprolol penyesuaian dosis yang disarankan adalah sebesar menjadi sebesar 2,5mg/hari 2,5mg/hari

      4. Terapi obat tanpa indikasi

    Tabel XXXXI. Kasus DTPs Terapi Obat Tanpa Indikasi pada Hepatitis B Kronis di

    Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi

      ®

      4 Pada kasus 4 yaitu pda tanggal 2 Oktober 2007 pasien Hentikan penggunaan Sistenol

      ® ®

      tidak demam sehingga Sistenol tidak sesuai indikasi. Sistenol (kombinasi (kombinasi

    • parasetamol dan n parasetamol dan

      acetylcysteine ) n-acetylcysteine )

      18 parasetamol Penggunaan parasetamol tidak sesuai indikasi dimana Hentikan penggunaan pasien tidak menunjukkan gejala dan tanda terjadinya parasetamol demam

      5. Adverse drug reaction

    Tabel XXXXII. Kasus DTPs Adverse Drug Reaction pada Hepatitis B Kronis di Instalasi

    Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      Hentikan pemakaian azitromicin 15, 17 metil prednisolon Kontraindikasi terhadap penyakit hati Hentikan pemakaian metil prednisolon 15 ketokonazol Kontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati

      ) Efek sampingnya dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan meningkatkan nilai SGOT dan SGPT

      Batasi penggunaan ceftriaxone dan pantau nilai SGOT dan SGPT 11 amoxicillin Efek sampingnya dapat menyebabkan meningkatnya AST dan ALT, kolestatic

      

    jaundice , hepatic kolestatic, dan hepatitis

    cytolitic akut

      Batasi penggunaan amoxicillin 11 prednison Kontraindiksi terhadap penyakit hati Hentikan penggunaan prednison

      11 Ceftazidime Efek sampingnya dapat menimbulkan gangguan fungsi hati, hepatitis sementara dan ikterus kolestatik

      Batasi penggunaan ceftazidime 14, 19 dekstromethorphan Kontraindikasi bagi pasien dengan gangguan fungsi hati

      Hentikan dekstrometorfan dan diganti dengan antitusif lain seperti benzonatate 100 mg 3x/hari

      15, 17,

      18 azitromicin Kontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati

      Hentikan penggunaan ketokonazole 19 amoxicillin dan asam klavulanat

      (Biotriax

      (Augmentin

      ®

      ) Efek sampingnya menyebabkan kolestatic

      jaundice dan hepatic disfungtion

      Batasi penggunaan Augmentin

      ®

      19 (asam mefenamat) Mefinal

      ®

      Kontraindikasi pada pasien dengan gangguan fungsi hati Hentikan penggunaan Mefinal

      ®

      ceftriaxone

      Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi 1 kalium (Aspar-K

      4 etambutol Efek sampingnya dapat menyebabkan hepatotoksisitas Batasi penggunaan etambutol 5 levodropropizine

      ®

      ) Kontraindikasi terhadap diuretika hemat kalium

      Hentikan penggunaan aspar-K

      ®

      4 Metil prednisolon (Somerol

      ®

      ) Kontraindikasi terhadap penyakit hati

      Hentikan penggunaan somerol

      ®

      (Levopront

      3, 11, 15, 16, 17, 18

      ®

      ) Kontraindikasi terhadap terbatasnya fungsi hati

      Hentikan penggunaan Levopront

      ®

      untuk mengatasi batuk tidak berdahak dapat diganti dengan antitusif seperti benzonatate 3x100 mg/hari

      5, 19 pantoprazol (Pantosol

      ®

      ) Kontraindikasi terhadap kerusakan fungsi hati

      Hentikan penggunaan Pantosol

      ®

      ®

    6.Perlu tambahan terapi obat

      

    Tabel XXXXIII. Kasus DTPs Perlu Tambahan Terapi Obat pada Hepatitis B Kronis di

    Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005-2007

      ®

      Persentase ketiga terbesar distribusi kelas terapi kasus hepatitis B kronis di

    Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 adalah obat

    gizi dan darah sebesar 100%, obat saluran cerna sebesar 76,2% dan obat infeksi

    sebesar 66,7%. Pada masing-masing kelas terapi yaitu obat yang bekerja pada

    saluran cerna jenis zat aktif terbanyak yang digunakan pada kasus hepatitis B kronis

      

    Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 berdasarkan kelompok usia, menunjukkan

    bahwa persentase kasus hepatitis B kronis kelompok usia <30 tahun sebesar 4,8%

    dan pada kelompok usia ≥ 30 tahun sebesar 95,2%. Karakteristik kasus hepatitis B

    kronis berdasarkan kelompok jenis kelamin, menunjukkan bahwa persentase kasus

    hepatitis B kronis dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 81,0% dan kasus pada

    pasien jenis kelamin wanita sebesar 19,0%.

      Pada penelitian ini, jumlah kasus hepatitis B kronis yang dianalisa sebanyak

    21 kasus. Karakteristik kasus hepatitis B kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP. Dr.

      Tambahkan suplemen kalium

      9, 10 Suplemen kalium Pemakaian diuretik kuat dapat menyebabkan hipokalemia

      Tambahkan antipiretik seperti Sistenol

      Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi 1, 2, 6, 7, 8, 12, 13, 14, 15, 16 lamivudin Perlu ditambahkan untuk terapi hepatitis B kronis, dimana pada pasien telah mengalami sirosis dekompensata

      Pada tanggal 2-5 dan 7-8 April 2007 pasien mengalami demam namun tidak diberikan antipiretik

      ®

      6 Sistenol

      Tambahkan terapi interferon α-2β sebanyak 5 juta unit/hari secara injeksi subkutan

      α-2β Ditambahkan untuk terapi hepatitis B kronis, dimana pasien belum mengalami sirosis dekompensata

      Berikan lamivudin tablet/suspensi oral 1x100 mg 3, 4, 5, 11, 17, 18 interferon

    D. Rangkuman Pembahasan

      

    digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler jenis zat aktif yang terbanyak

    digunakan adalah spironolakton (38,1%) dan propranolol (28,6%). Pada kelas terapi

    obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan jenis zat aktif yang paling banyak

    digunakan adalah oksigen (33,3%), asetilsistein (14,3%) dan dekstrometorfan

    (14,3%). Pada kelas terapi obat yang bekerja pada sistem saraf pusat jenis zat aktif

    yang paling banyak digunakan adalah domperidon (14,3%). Pada kelas terapi obat

    yang bekerja sebagai analgesik jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah

    kombinasi parasetamol dan n-acetylcysteine(28,6%). Pada kelas terapi obat yang

    digunakan untuk pengobatan infeksi jenis zat aktif yang paling banyak digunakan

    adalah seftriakson (42,9%) dan sefotaksim (19,0%).

      Pada kelas terapi obat-obat hormonal jenis zat aktif yang paling banyak

    digunakan adalah suspensi netral isophane (14,3%) dan metil prednisolon (14,3%).

      

    Pada kelas terapi obat yang mempengaruhi gizi dan darah jenis zat aktif yang paling

    banyak digunakan adalah glukosa (47,6%), natrium klorida (42,9%) dan vitamin K

    (42,9%). Pada kelas terapi obat untuk penyakit otot skelet dan sendi jenis zat aktif

    yang paling banyak digunakan adalah alopurinol (4,8%) dan pada kelas terapi obat

    sistem hepatobilier obat yang terbanyak digunakan adalah schizandrin C derivat

      ®

    (33,3%) dan ursodeoxycholic acid (19,0%), serta Imreg (4,8%)merupakan jenis obat

    yang digunakan sebagai imunomodulator.

      Pada analisa terjadinya Drug Therapy Problems pada masing-masing kasus

    didapatkan hasil bahwa adanya terapi obat tanpa indikasi sebanyak 2 kasus (9,5%),

    perlunya tambahan terapi obat sebanyak 18 kasus (85,7%), obat yang tidak efektif

      

    terlalu tinggi sebanyak 7 kasus (33,3%) serta adverse drug reaction sebanyak 11

    kasus (52,4%).

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil analisis terhadap data kasus hepatitis B kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 maka dapat disimpulkan

      sebagai berikut :

    1. karakteristik kasus hepatitis B kronis berdasarkan kelompok usia paling banyak

    terjadi pada kelompok ≥ 30 tahun (95,2%) dan berdasarkan jenis kelamin paling banyak terjadi pada laki-laki (81,0%) serta berdasarkan komplikasi sirosis pada kasus yang dianalisa paling banyak belum mengalami sirosis (52,4%).

    2. pola pengobatan kasus hepatitis B kronis menggunakan 11 kelas terapi obat,

    yaitu obat saluran cerna, obat kardiovaskuler, obat saluran pernapasan, obat sistem saraf pusat, obat analgesic, obat infeksi, obat hormonal, obat gizi dan darah, obat otot skelet dan sendi, obat sistem hepatobilier dan obat antineoplastik dan imunomodulator. Tiga kelas terapi yang paling banyak digunakan adalah obat gizi dan darah (100,0%), obat saluran cerna (69,6%) dan obat infeksi (60,9%),

      

    3. Pada kasus hepatitis B kronis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito

    Yogyakarta periode 2005-2007 terjadi Drug Therapy Problems sebagai berikut : a. terapi obat tanpa indikasi sebanyak 3 kasus (14,3%)

      b. perlu tambahan terapi obat sebanyak 18 kasus (85,7%) d. dosis terlalu rendah sebanyak 5 kasus (23,8%)

      e. dosis terlalu tinggi sebanyak 7 kasus (33,3%)

      f. adverse drug reaction sebanyak 11 kasus (52,4%)

    B. Saran

      Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah :

    1. bagi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta perlu adanya pengembangan Standar

    Pelayanan Medis bagi kasus hepatitis B kronis. 2. untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan :

      a. penelitian mengenai Drug Therapy Problems pada kasus hepatitis B kronis di rumah sakit swasta besar lain dan, b. penelitian mengenai Drug Therapy Problems pada kasus hepatitis B kronis secara prospektif.

    DAFTAR PUSTAKA

      

    Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, 1-375, DepKes RI,

    Jakarta Anonim, 2002, Hepatitis

      B, http://www.who.int/csr/disease/hepatitis/HepatitisB_whocdscsrlyo2002_2.pdf ,diakses tanggal 23 April 2008.

      

    Anonim, 2008 a, Masalah Penggunaan Obat di Institusi Pelayanan Kesehatan,

    <http://www.farklin.com/images/multirow3fdeaal1d57e4e.pdf>, diakses tanggal 23 April 2008 Anonim, 2008 b, Surface and Bed of Live , <http://medliner.narod.ru/netter/hepar_speredi.JPG>, diakses tanggal 5 Mei

      2008 Anonim, 2008 c, The Hepatitis B Virus , <http://www.hon.ch/Library/Theme/HepB/hbvirus.GIF>, diakses tanggal 23

      April 2008

    Anonim, 2008 d, RS DR. Sardjito Yogyakarta, http://sardjito.net/?page_id=18,

    diakses tanggal 23 April 2008

    Anonim, 2008 e, Farmakokinetika Klinik dan Dasar-dasar Pengaturan Dosis Obat

    dalam Klinik , http://www.farklin.com/images/multirow3f27183ac359b.pdf diakses tanggal 5 Januari 2009

    Anonim, 2008 f, Hepatitis B, http://images.google.co.id/imgres?imgurl=, diakses

    tanggal 5 Januari 2009 Anonim, 2008 g, Asam Ursodeoksikolat Perbaiki Kolestasis , http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=760, diakses tanggal 7 Januari 2009

      

    Anonim, 2008 h, Informasi Spesialite Obat Indonesia, 1-510, ISFI Penerbitan,

    Jakarta

    Anonim, 2008 i, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008, 1-379,

    CMPMedica Asia Pte LTd, Singapore

    Algren D. A., 2008, Review of N-Acetylcysteine for The Treatment of Acetaminophen

    (Paracetamol) Toxicity in Pediatricsi, Second Meeting of The Subcommitte of the Expert Committe on the Selection and Use of Essential Medicines ,

      

    Cipolle, R.J. dan Strand, L.M., 2004, Pharmaceutical Care Practice The Clinician’s

    Guide, Second Edition , 172-173, 178-179, 197, McGraw-Hill, New York DiPiro, J.T., et al., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach , 6 th ed .,

      737-757, McGraw-Hill, New York

    Lacy, Armstrong, Goldman, Lance, 1-1692, 1717, 2006, Drug Information

    Handbook

      14 th

      Edition, Lexi-Comp, America

    Lesmana, L.A., 2006, Panduan Tata Laksana Infeksi Hepatitis B Kronik 26 Agustus

    2006, Risalah Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, Jakarta

    Pearce, E., 2008, Anatomy & Physiology for Nurses, diterjemahkan oleh Handoyo,

    S.Y., 201-203, Gramedia, Jakarta

    Pratiknya, A.W., 2001, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan

    Kesehatan , 10-11, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

      

    Price, S.A. and Wilson, L.M., 1994, Patofisiologis Konsep Klinis Proses-Proses

    Penyakit , 4 th

    ed., 426-427, Buku Kedokteran EGC, Jakarta

    Sabrina, 2008, Pengobatan Tidak Rasional Marak di Indonesia, http://salsabila17.multiply.com/journal/item/19/Pengobatan_Tidak_Rasional_ Marak_Di_Indonesia, diakses tanggal 5 Januari 2009.

    • , Jakarta

      Siregar, F.A., 2008, Hepatitis B Ditinjau Dari Kesehatan Masyarakat dan Upaya

      Sari, W., 2008, Care Yourself, Hepatitis, 31, Plus

      Pencegahan , Laporan Penenlitian, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara

    Soemoharjo, S., 2008, Hepatitis Virus B Edisi 2, 1, 2, 11, 20-21, 67-75, Buku

    Kedokteran EGC, Jakarta Walker, R., dan Edwards C., 2001, Clinical Pharmacy and Therapeutics 2 nd edition, 195-211,Churchill Livingstone, New York

    BIOGRAFI PENULIS

      Florencia Abon Wenge merupakan anak ketiga dari pasangan Fransiskus Raya Wenge dan Maria Kidi Langoday, lahir di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 1986. Pendidikan Pendidikan awal dimulai di Taman Kanak-Kanak Budi Mulia Jakarta pada tahun 1992. Dilanjutkan ke jenjang pendidikan di Sekolah Dasar Budi Mulia Jakarta pada tahun 1993-1999.

      Selanjutnya ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah

    Pertama Budi Mulia Jakarta pada tahun 1999-2002. Kemudian naik ke jenjang

    pendidikan Sekolah Menengah Umum Negeri 68 Jakarta pada tahun 2002-2005.

    Selanjutnya pada tahun 2005 melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di Fakultas

    Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan menyelesaikan masa studi pada

    tahun 2009. Penulis pernah menjadi Asisten Praktikum Botani Dasar (2007), Asisten

    Praktikum Farmasi Fisika II (2007) dan Asisten Farmakologi Dasar (2008).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.
0
4
213
Evaluasi Drug Related Problems (DRPS) pada pasien Autoimmune Hemolytic anemia (AIHA) dengan komplikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di instalasi rawat inap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode tahun 2009-2014.
1
11
117
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien lansia dengan diagnosis Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2009-2014.
1
17
110
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) anak rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2009-2014.
1
9
161
Evaluasi kesesuaian pemilihan antimikrobial pada pasien infeksi saluran kemih berdasarkan hasil kultur, tes sensitivitas dan urinalisis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta tahun 2011.
0
3
7
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode Prescribed Daily Dose (PDD) pada pasien anak rawat inap di Bangsal INSKA II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari - Juni 2013.
0
3
77
Kajian drug related problems [DPRs] pada kasus hepatitis B non komplikasi di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Juni 2007.
0
3
93
Profil peresepan dan evaluasi interaksi obat antihipertensi pada pasien geriatri di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2005.
0
3
129
Evaluasi penatalaksanaan kelainan hematologi pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
2
171
Evaluasi pengobatan pasien diabetes melitus dengan komplikasi ulkus/gangren di instalansi rawat inap Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Juli-Desember 2005 - USD Repository
0
0
159
Evaluasi penatalaksanaan terapi pasien diabetes mellitus komplikasi hipertensi rawat inap periode 2005 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta - USD Repository
0
0
115
Pola peresepan obat kardiovaskuler berdasarkan tinjauan dosis, interaksi, kontradiksi, dan efek samping obat pada pasien gagal jantung di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito periode Januari-Desember tahun 2003 - USD Repository
0
0
112
Kajian drug related problems [DPRs] pada kasus hepatitis B non komplikasi di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Juni 2007 - USD Repository
0
0
91
Evaluasi drug-related problems pada peresapan pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ischemic heart disease di instalasi rawat inap RS Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2005-Desember 2007 - USD Repository
0
2
153
Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository
1
1
98
Show more