Evaluasi Sistem Drainase Kenjeran Kota Surabaya - ITS Repository

Gratis

1
2
120
11 months ago
Preview
Full text

  TUGAS AKHIR - RC14-1501

EVALUASI SISTEM DRAINASE KENJERAN

KOTA SURABAYA ARMITA TRI RAHAYU NRP. 3114 106 048 Dosen Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, MSc.

  Dosen Pembimbing 2 : Ir. Bahmid Tohary, M.eng JURUSAN TEKNIK SIPIL Program Studi Lintas Jalur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

  TUGAS AKHIR - RC14-1501

  

EVALUASI SISTEM DRAINASE KENJERAN

KOTA SURABAYA

  ARMITA TRI RAHAYU NRP. 3114 106 048 Dosen Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, MSc. Dosen Pembimbing 2 : Ir. Bahmid Tohary, M.eng JURUSAN TEKNIK SIPIL Program Studi Lintas Jalur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017

  FINAL PROJECT - RC14-1501

  

EVALUATION OF SYSTEM DRAINAGE KENJERAN

SURABAYA CITY

  ARMITA TRI RAHAYU NRP. 3114 106 048 Consulation Lecturer 1 : Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, MSc Consulation Lecturer 2 : Ir. Bahmid Tohari, M.Eng JURUSAN TEKNIK SIPIL Program Studi Lintas Jalur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017

   EVALUASI SISTEM DRAINASE KENJERAN KOTA SURABAYA Nama Mahasiswa : ARMITA TRI RAHAYU NRP : 3114.060.048 Jurusan : Teknik Sipil FTSP-ITS Dosen Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar,

M.Sc

Dosen Pembimbing 2 : Ir. Bahmid Tohary, M.Eng

  Abstrak

Di Sub DAS Kenjeran Surabaya memiliki suatu

permasalahan yakni terkait dengan masih adanya genangan yang masih sering ditemui tidak terkecuali pada saluran sekunder yang mengalir pada Sub DAS Kenjeran itu sendiri disertai pasang surut air laut. Hal ini akan menyebabkan bertambah lamanya genangan air hujan di daerah tersebut dan akan memberikan dampak buruk bagi kawasan sekitar jika genangan tersebut tidak dikendalikan dengan baik. Selain itu, tinggi genangan pada Sub DAS Kenjeran bisa mencapai 10-30cm dengan lama genangan ± 2 jam.

  

Metode yang digunakan dalam studi ini terdiri dari

perhitungan nilai curah hujan maksimum, dilanjutkan dengan perhitungan tata guna lahan, perhitungan intensitas hujan, perhitungan debit banjir, dan perhitungan kapasitas saluran eksisting saat ini. Dengan membandingkan debit banjir dan kapasitas saluran drainase dapat diketahui daerah mana saja yang mengalami genangan dari saluran. Dari perhitungan menggunakan metode Log Person Tipe III didapatkan nilai curah hujan rencana untuk periode ulang 2 tahun sebesar 87.51 mm, 5 tahun sebesar 107.99 mm dan 10 tahun sebesar 126.52 mm.

  

Smirnov Kolmogorov dan chi kuadrat dimana dari uji kecocokan

dimaksudkan untuk menetapkan apakah persamaan distribusi

peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik

sampel data yang dianalisis. Selanjutnya didapat untuk

menghitung debit banjir rencana yaitu Metode Rasional yang

dipakai apabila data aliran sungai tidak mencakupi sehingga

digunakan data curah hujan. Selain itu dibangun sistim pompa

pada Sub DAS Kenjeran-Larangan yang perlu untuk menghitung

sistem operasional pompa secara sederhana.

  Agar masalah banjir dapat tertangani dengan baik maka

diperlukan adanya evaluasi sistem drainase dan sistem

operasional pompa sehingga diharapkan dapat mengurangi

dampak tingginya genangan saat terjadi hujan lebat.

   Kata kunci : Sistem drainase, Sub DAS Kenjeran, genangan.

  

EVALUATION OF DRAINAGE SYSTEM KENJERAN

SURABAYA CITY

Name of Student : ARMITA TRI RAHAYU

NRP : 3114.060.048

  Faculty / Department : Civil Engineering FTSP-ITS Lecture Guide 1 : Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, Msc, Lecture Guide 2 : Ir. Bahmid Tohary, M.Eng Abstract In subzone Kenjeran Surabaya has a problem that is

associated with the persistence of the puddle is still frequently

encountered no exception to the secondary channel that flows

in the subzone Kenjeran itself with the tide. This will lead to

increased rainwater runoff in the area and would negatively

impact the surrounding area if the runoff is not controlled

properly. In addition, the water level in the subzone Kenjeran

can reach 10-30cm long with a pool of ± 2 hours.

  The method used in this study consisted of calculating

the value of maximum precipitation, followed by the

calculation of land use, the calculation of the intensity of

rainfall, flood discharge calculation, and calculation of the

current capacity of existing channels. By comparing the flood

discharge capacity and drainage channels can know which

areas are experiencing inundation of the channel. Log method

of calculation using values obtained Person Type III rainfall

plan for the period amounted to 87.51 mm 2-year, 5-year and

10-year 107.99 mm by 126.52 mm. To test the suitability of rain

distribution using the Kolmogorov-Smirnov and chi square

where the suitability of the test is intended to determine whether

  

represent the statistical distribution of the samples analyzed

data. Then obtained to calculate the flood discharge plan that

Rational Method which is used when the river flow data does

not cover that use the rainfall data. In addition built on sub

watershed Kenjeran-Larangan pump-ban is necessary to

calculate the operational systems using a simple pump.

  In order for the flooding problem can be handled

properly it is necessary to evaluate the drainage system and

evaluation capacity of the pump so it can reduce the impact of

the current pool of heavy rains.

  

Keywords: The drainage system, Kenjeran subzone, puddle

  

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

  Syukur Alhamdulillah senantiasa saya haturkan kehadirat Allah SWT. atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia- Nya kepada kita, serta salawat dan salam mudah-mudahan selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, sehingga saya dapat menyelesaikan dan menyusun Tugas Akhir ini dengan baik.

  Tugas Akhir dengan judul “EVALUASI SISTEM

  DRAINASE KENJERAN KOTA SURABAYA” ini disusun

  guna melengkapi dan memenuhi persyaratan kelulusan pendidikan pada Program Studi Lintas Jalur Strata I Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

  Tersusunnya Tugas Akhir ini juga tidak terlepas dari dukungan dan motivasi berbagai pihak yang banyak membantu dan memberi masukan serta arahan kepada saya. Untuk itu saya sampaikan terima kasih terutama kepada :

  1. Kedua orang tua, Saudara

  • –saudara saya tercinta, sebagai penyemangat terbesar diri saya, yang telah banyak memberi dukungan materi maupun moril berupa doa.

  2. Bapak Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, MSc selaku dosen pembimbing 1 dan Bapak Ir. Bahmid Tohary, M.Eng selaku dosen pembimbing 2 yang telah banyak memberikan masukan, kritik dan saran dalam penyusunan tugas akhir ini.

  3. Ibu Yusronia Eka Putri, ST. MT selaku dosen wali saya.

  4. Teman-teman mahasiswa Lintas Jalur semester Genap Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah membantu

  Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna, untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan tugas akhir ini.

  Semoga apa yang saya sajikan dapat memberi manfaat bagi pembaca dan semua pihak, Aamiin. Wassalamualaikum Wr. Wb.

  Surabaya, Januari 2017 Penulis

   DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ...................................................... i

ABSTRAK ..................................................................................... iii

ABSTRACT .................................................................................. v

KATA PENGANTAR .................................................................. vii

DAFTAR ISI ................................................................................. ix

DAFTAR GAMBAR .................................................................... xiii

DAFTAR TABEL ......................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................

  1 1.2 Perumusan Masalah ....................................................

  2 1.3 Tujuan .........................................................................

  2 1.4 Manfaat .......................................................................

  2 1.5 Batasan Masalah .........................................................

  3 1.6 Lokasi Studi ................................................................

  3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisa Hidrologi .........................................................

  7

  2.1.1 Curah Hujan Rata-Rata Harian Daerah Aliran Sungai ( DAS ) ....................................................

  7 2.1.2 . Analisa Distribusi Frekuensi Hujan.....................

  9 2.1.2.1 Metode Distribusi Frekuensi Normal .....

  13 2.1.2.2 Metode Distribusi Frekuensi Gumbel .....

  14

  2.1.2.3 Metode Distribusi Frekuensi Log Pearson Type III ....................................................

  17 2.1.3 Sistem Drainase Kenjeran ...................................

  21 2.1.4 Uji Kecocokan Distribusi Frekuensi Hujan .........

  21

  2.1.4.1 Uji Chi Kuadrat........................................ 21 2.1.4.2 Uji Smirnov Kolmogorov .......................

  24 2.1.5 . Debit Banjir Rencana.......................................... 25

  2.1.5.2 Intensitas Curah Hujan ..................... 24 2.2 Analisa Hidrolika ....................................................

  4.3 Perhitunguan Parameter Dasar Statistik Data Hujan 45

  75

  4.8 Operasional Pompa Dan Pintu Pembuang Serta Saluran Tampung ......................................................

  71

  67 4.7 Perhitungan Analisa Hidrolika ..................................

  60 4.6.2 Perhitungan Intensitas Hujan ...........................

  59 4.6.1 Perhitungan Analisa Konsentrasi Hujan ...........

  59 4.6 Perhitungan Debit Banjir Rencana ...........................

  4 .5.2 Uji Chi Smirnov Kolmogorov...........................

  52

  4.5 Uji Kecocokan Distribusi Frekuensi ........................ 52 4 .5.1 Uji Chi Kuadrat ................................................

  4.4 Uji Distribusi Frekuensi .......................................... 50

  4.2 Analisa Curah Hujan Rata-Rata Kawasan / DAS ... 43

  30 2.2.1 Evaluasi Saluran Sistem Drainase Kenjeran ..

  4.1 Analisa Hidrologi .................................................... 43

  BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

  3.2 Diagram Alir Metodologi (Flow Chart ) .................. 42

  3.1.5 Kesimpulan .................................................... 41

  3.1.4 Analisa Data ................................................... 40

  3.1.3 Pengumpulan Data ......................................... 39

  3.1.2 Studi Literatur ................................................ 39

  3.1.1 Persiapan ....................................................... 39

  3.1 . Langkah Penyusunan ............................................... 39

  BAB III METODOLOGI

  2.2.2 Operasional Pompa dan Pintu Pembuang ke Laut ............................................................... 34

  31

  4.8.1 Operasional Pompa Dan Pintu Pembuang

  2.1.4.2 Hilir Pintu = + 0.00.................................... 75

  4.8.2 Operasional Pompa Dan Pintu Bila Yang Datang Q 10 th = 17.19 m³/det, Dan Elevasi Belakang Pintu

  = + 1.30 (Pasang Maksimum) ............................ 77

  4.8.3 Operasional Pompa Dan Pintu Bila Yang Datang 10 Q th = 17.19 m³/det, Dan Elevasi Belakang Pintu = + 0.50 (Pasang Rata-Rata) ............................... 78

  BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

  5.1 Kesimpulan ............................................................... 85

  5.2 Rekomendasi ........................................................... 86

  DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  

“ halaman ini sengaja dikosongkan “

  DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Lokasi Studi .............................................................

  5 Gambar 1.2 Skema Jaringan .......................................................

  6 Gambar 2.1 Poligon Thiessen .....................................................

  9 Gambar 2.2 Dimensi Saluran Segi Empat ...................................

  34 Gambar 2.3 Dimensi Saluran Trapesium ....................................

  34 Gambar 2.4 Denah Long Storage, pompa dan pintu air ..............

  35 Gambar 2.5 Potongan memanjang I-I Long Storage, pompa dan pintu air ....................................................................

  36 Gambar 2.6 Potongan melintang a-a Long Storage ....................

  36 Gambar 2.7 Potongan melintang b-b Long Storage ....................

  36 Gambar 2.8 Bukaan pintu pada saat surut (+0.00) ......................

  38 Gambar 2.9 Pintu ditutup (pasang +1.30) ...................................

  38 Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi (Flow Chart) ..................

  42 Gambar 4.1 Letak Stasiun Hujan ................................................

  45

  

“ halaman ini sengaja dikosongkan “

  DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Distribusi Frekuensi ...................................................

  47 Tabel 4.4. Perhitungan Parameter Statistik Data .......................

  58 Tabel 4.12 Perhitungan Smirnov-Kolmogorov untuk Log Pearson Tipe III .................................................

  56 Tabel 4.11 Perhitungan Chi-Kuadrat ...........................................

  56 Tabel 4.10 Jumlah Nilai Pengamatan sub Kelompok ..................

  55 Tabel 4.10 Nilai Batas Tiap Kelompok .......................................

  54 Tabel 4.9 Nilai Variabel Reduksi Gauss ....................................

  53 Tabel 4.8 Perhitungan Chi-Kuadrat untuk Log Pearson Type III .................................................

  51 Tabel 4.7 Hasil Perhitungan nilai k, LogR, dan R Distribusi Log Pearson Type III.................................

  50 Tabel 4.6 Perhitungan Parameter Metode Distribusi Log Pearson Type III .................................................

  48 Tabel 4.5 Penentuan Distribusi Curah Hujan .............................

  43 Tabel 4.3. Parameter Dasar Statistik Data Hujan ........................

  12 Tabel 2.2 Nilai Yn Distribusi Gumbel .......................................

  43 Tabel 4.2 Curah Hujan rata-rata kawasan / sub DAS tiap Tahun di DAS Kenjeran .............................................

  32 Tabel 4.1 Pertimbangan Cara yang Dapat Digunakan ...............

  27 Tabel 2.9 Harga Keofisien Kekasaran n ....................................

  25 Tabel 2.8 Nilai Koefisien Pengaliran ( C ) .................................

  23 Tabel 2.7 Nilai delta kritis (Do) untuk keselarasan Smirnov Kolmogorov ................................................

  19 Tabel 2.6 Nilai Kritis Untuk Distribusi Chi-Kuadrat .................

  17 Tabel 2.5 Nilai k Distribusi Log Pearson Type III .....................

  16 Tabel 2.4 Nilai Ytr Distribusi Gumbel .......................................

  15 Tabel 2.3 Nilai Sn Distribusi Gumbel ........................................

  60

Tabel 4.14 Perhitungan tf Ruas Saluran .......................................

  66 Tabel 4.15 Perhitungan t Ruas Saluran .......................................

  67 Tabel 4.16 Perhitungan tc ............................................................

  69 Tabel 4.17 Perhitungan Intensitas Hujan .....................................

  70 Tabel 4.18 Perhitungan Debit Banjir Rencana .............................

  72 Tabel 4.19 Evaluasi Dimensi Sistem Drainase Kenjeran .............

  76

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Banjir dan genangan air pada suatu daerah atau kawasan disebabkan oleh sistem drainase yang ada belum berfungsi sesuai rencana. Disamping itu, hal ini disebabkan oleh kurangnya dalam memelihara saluran drainase yang ada sehingga menyebabkan penyumbatan saluran drainase oleh sampah atau penyebab lainnya. Yang dimaksud itu, salah satunya terjadi di sistem drainase Kenjeran kota Surabaya. Meningkatnya aktifitas kegiatan yang terjadi di kawasan sistem drainase Kenjeran Kota Surabaya berakibat pada perubahan pola penggunaan lahan di kawasan tersebut dan mengakibatkan timbulnya kawasan genangan baru di saluran Kenjeran. Taman terbuka hijau yang bisa menampung air hujan terutama di pemukiman padat dan kumuh, keberadaannya makin berkurang serta adanya peningkatan pasang surut ketinggian permukaan air laut juga menjadi penyebab faktor timbulnya genangan.

  Selanjutnya, di kawasan sistem drainase Kenjeran tercatat memiliki data genangan cukup bervariasi di beberapa tempat, yang berkisar dari 10-30 cm dan lama genangan ± 2 jam (menurut data Surabaya Drainage Master Plan). Penyebab terjadinya genangan dikarenakan adanya pasang surut air laut yang mengakibatkan terjadinya airan balik di hilir saluran primer Kenjeran serta adanya penyempitan saluran di beberapa titik. Saat terjadi hujan lebat akan terjadi genangan pada saluran sekunder seperti saluran Kalijudan, Karang Empat, dan Karang Asem (sumber: Dinas PU Binamarga dan Pematusan tahun 2015). Kawasan sistem drainase Kenjeran Kelurahan Ploso, Kelurahan Mulyorejo, dan Kelurahan Sukolilo seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1, dan Gambar 1.2.

  Dari uraian seperti yang telah dijelaskan pada alinea sebelumnya, maka dalam tugas akhir/studi ini penulis akan melakukan evaluasi terhadap banjir dari genangan yang terjadi pada sistem drainase kota Surabaya, dengan judul tugas akhir adalah “Evaluasi Sistem Drainase Kenjeran Kota Surabaya”.

1.2 Rumusan Masalah

  Dengan memperhatikan uraian latar belakang, maka permasalahan pada studi evaluasi sistem drainase Kenjeran kota Surabaya dapat dirumuskan sebagai berikut

  1. Bagaimana besarnya debit banjir yang menyebabkan genangan?

  2. Bagaimana besar kapasitas saluran pada sistem drainase Kenjaran?

  3. Bagaimana usulan alternatif pemecahan masalah pada kawasan sistem drainase Kenjeran Kota Suarabaya?

1.3 Tujuan

  Tujuan dari penulisan Laporan Tugas Akhir ini adalah :

  1. Menghitung besarnya debit banjir yang menyebabkan genangan kawasan

  2. Menghitung besar kapasitas saluran sistem drainase Kenjeran yang ada.

  3. Menyusulkan solusi penanggulangan genangan di kawasan sistem drainase Kenjeran

1.4 Manfaat

  Manfaat yang diperoleh dari kegiatan tugas akhir ini yakni:

  1. Studi ini dapat memberi sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah dalam mengatasi banjir kawasan Kenjeran.

  2. Memberikan tambahan ilmu dan wawasan pada penulis

  3. Penulis dapat menerapkan teori-teori yang didapat ini dibangku kuliah dan menerapkannya di lapangan.

  1.5 Batasan Masalah

  Batasan masalah dari “Evaluasi Sistem Drainase Kenjeran” ini adalah sebagai berikut:

  1. Evaluasi sistem drainase meliputi hanya sistem drainase Kenjeran.

  2. Perhitungan debit hanya berdasarkan daerah tangkapan hujan (catchment area) sistem drainase Kenjeran.

  1.6 Lokasi Studi

  Lokasi studi berada di sepanjang Jl. Kenjeran Surabaya, Jawa Timur seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1

  

“Halaman ini sengaja dikosongkan”

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka, dimaksudkan disini adalah pustaka yang terkait dengan tugas akhir, seperti refrensi, rumus-rumus istilah. Dalam penjelasan berikut akan diusulkan lebih detail.

2.1. Analisa Hidrologi

  Analisa hidrologi merupakan analisa awal dalam mengevaluasi sistem saluran drainase untuk mengetahui besarnya debit yang akan dialirkan sehingga dapat ditentukan dimensi saluran tersebut. Besar debit yang di pakai adalah debit rencana yang didapat dari debit hujan rencana pada periode ulang tertentu. Penetapan besarnya banjir rencana yang sesuai diperlukan analisa hidrologi. Dalam perhitungan debit rencana dapat digunakan data debit pada sungai yang bersangkutan atau saluran atau data curah hujan yang nantinya diolah menjadi debit rencana.

  

2.1.1. Curah Hujan Rata- Rata Harian Daerah Aliran Sungai

(DAS)

  Curah hujan yang diperlukan untuk suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata daerah aliran sungai (DAS). Curah hujan ini disebut curah hujan DAS yang dinyatakan dalam (mm/hari). Ada beberapa metode untuk menghitung curah hujan rata-rata DAS.

1. Metode Aritmatik

  Metode Aritmatik didapat dengan mengambil nilai rata-rata hitung dari hasil atau rata-rata aljabar pengukuran hujan di stasiun hujan didalam area DAS, dan rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : Rumus :

  1

  ∑ ….………………………..……….……....(2.1) ̅ =

  =1

  Keterangan : R̅ : tinggi curah hujan harian rata- rata (mm/hari) R i : tinggi curah hujan harian pada stasiun hujan ke-

  (mm/hari) n : banyaknya stasiun hujan Cara ini akan memberikan hasil yang dapat diterima, terutama pada luasan DAS yang relative kecil.

2. Metode Polygon Thiessen

  Metode ini memperhitungkan cakupan area dari masing- masing stasiun yang mewakili luasan di sekitarnya. Metode ini banyak digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak merata, dan stasiun hujan minimal tiga. Hitungan curah hujan rata-rata DAS dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap stasiun. Prosedur penerapan metode ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

a. Stasiun hujan digambar pada peta daerah aliran sungai

  yang ditinjau. Antar stasiun hujan dibuat garis lurus penghubung sehingga membentuk segitiga. Tiap-tiap sisi segitiga dibuat garis berat sehingga saling b. oleh polygon, sedangkan untuk stasiun yang berada di dekat batas DAS, garis batas daerah membentuk batas tertutup dari polygon. Luas areal pada tiap-tiap polygon dapat diukur, kemudian c. dikalikan dengan kedalaman hujan di tiap polygon. Hasil jumlah hitungan tersebut dibagi dengan total luas daerah yang ditinjau selanjutnya lihat Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Poligon Thiessen (Suripin, 2004).

  Hujan rata-rata DAS dapat dihitung dengan persamaan d. berikut : Rumus : Keterangan : R 1 ,R 2

  ,…,Rn : curah hujan tercatat di stasiun hujan 1,2,…,n A 1 ,A 2

  ,…,An : luas area polygon 1,2,…,n n : banyaknya stasiun hujan

2.1.2 Analisa Distribusi Frekuensi Hujan

  Analisa distribusi frekuensi hujan dimaksudkan adalah berkaitan dengan besaran peristiwa-peristiwa hujan atau peristiwa statistic lainnya yang berkaitan dengan frekuensi kejadian melalui penerapan distribusi kemungkinan. Untuk menentukan metode yang dipilih maka terlebih dahulu dilakukan perhitungan parameter statistik, antara lain :

  1. Nilai rata-rata: Nilai rata-rata merupakan nilai yang cukup repsentatip dalam suatu distribusi. Nilai rata-rata dapat digunakan untuk pengukuran suatu distribusi Rumus : ̅ =

  ∑

  ……………….……………………....…..…..…(2.3) Keterangan : R̅ : tinggi curah hujan harian rata- rata (mm/hari) Ri : tinggi curah hujan pada tahun ke i (mm/hari) n : banyaknya data

  2. Standart Deviasi (Deviation Standart) : Rumus :

  2 ∑( − ̅)

  ………...……….……….…………...…..(2.4) = √

  −1

  Keterangan : Sd : Standart Deviasi R̅ : tinggi curah hujan rata- rata pada DAS (mm/hari) Ri : tinggi curah hujan pada tahun ke-i (mm/hari) n : banyaknya data

  3. Koefisien Variasi (Variation Coefficient) : Koefisien variasi adalah nilai perbandingan antara standard deviasi dan nilai rata-rata Rumus :

  …………….………………….………………….(2.5) =

  ̅

  Keterangan : Sd : Standart Deviasi R̅ : tinggi curah hujan rata- rata (mm/hari)

  4. Koefisien Kemencengan (Skewness Coefficient) : Koefisien kemencengan (skewness) dapat digunakan untuk mengetahui nilai derajat ketidaksimetrisan dari suatu bentuk distribusi.

  Rumus :

  3 ∑( − ̅)

  …………...………………….……….(2.6) =

  3 ( −1)( −2)

  Keterangan :

  Sd : Standart Deviasi R̅ : tinggi curah hujan rata- rata pada DAS (mm/hari) Ri : tinggi curah hujan pada tahun ke-i (mm/hari) n : banyaknya data

  5. Koefisien Ketajaman (Kurtosis Coefficient) : Koefisien ketajaman dimaksud untuk mengukur keruncingan dari bentuk kurva distribusi, yang umumnya dibandingkan dengan distribusi normal.

  Rumus:

  4

  2 ∑( − ̅)

  …………………….………..….(2.7) =

  4 ( −1)( −2)( −3)

  Keterangan : Ck : Koefisien Kurtosis Sd : Standart Deviasi R̅ : tinggi curah hujan rata- rata pada DAS (mm/hari) Ri : tinggi curah hujan pada tahun ke-i (mm/hari) n : banyaknya data

  Adapun sifat-sifat parameter statistik dari masing- masing distribusi teoritis dilihat dapat pada tabel 2.1 sebagai berikut:

Tabel 2.1. Distribusi Frekuensi

  Jenis Distribusi Syarat Normal

  Cs ≈ 0, Ck = 3 Gumbel

  Cs ≤ 1,1396, Ck ≤ 5,4002 Log Pearson Tipe III

  Cs ≠ 0

  1. Distribusi Frekuensi Normal, harga Cs = 0 dan Ck = 3.

  Distribusi Frekuensi Gumbel, harga Cs = 1,139 dan Ck = 5,402 2.

  

3. Distribusi Frekuensi Log Pearson Type III nilai Cs dan Ck

  selain dari paremeter statistik untuk distribusi yang lain (normal dan gumbel)

  (Bambang, 2008) Curah hujan harian maksimum rencana dapat dihitung menggunakan beberapa metode, antara lain:

  1. Distribusi Frekuensi Normal

  2. Distribusi Frekuensi Gumbel

  3. Distribusi Frekuensi Log Pearson Type III

2.1.2.1 Metode Distribusi Frekuensi Normal

  Data variabel hidrologi yang telah dihitung besarnya peluang atau periode ulangnya, selanjutnya apabila digambarkan pada kertas grafik peluang, umumnya akan membentuk persamaan garis lurus sebagai berikut : Rumus: = ̅ + . ……………………..……………..…………...(2.8) Keterangan: : perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan besar peluang tertentu atau pada periode ulang tertentu.

  ̅ : nilai rata-rata hitung variat atau data : standar deviasi nilai variat atau data : faktor frekuensi, merupakan fungsi dari pada peluang atau periode ulang dan tipe model matematik dari distribusi

2.1.2.2 Metode Distribusi Frekuensi Gumbel

  Distribusi frekuensi Gumbel digunakan untuk analisis data maksimum, seperti untuk analisis frekuensi banjir persamaan umum dari metode distribusi gumbel adalah: Rumus :

  −

  Sd ….…..……………………………..…….(2.9)

  = ̅ + Keterangan :

  : perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan besar peluang tertentu atau pada periode ulang tertentu. : nilai rata-rata hitung variat

  ̅ : nilai reduksi variat dari variabel yang diharapkan terjadi pada periode ulang tertentu Yn : nilai rata-rata dari reduksi variat Sn : nilai standar dari reduksi variat Sd : standar deviasi nilai variat atau data

  1. Hitung nilai Y Tr Rumus :

  −1

  Y Tr = − ln [ln ]……………..................……………(2.10)

  Keterangan : Y Tr : nilai reduksi variat dari variabel yang diharapkan terjadi pada periode ulang tertentu (Soewarno, 1995) Besarnya nilai Sn, Yn, dan Y Tr dapat dilihat dalam Tabel 2.2; 2.3; 2.4 sebagai berikut :

Tabel 2.2 Nilai Yn Distribusi Frekuensi Gumbel

  

n Yn N Yn n Yn n Yn n Yn

10 0,4952 29 0,5353

48 0,5477

67 0,554 86 0,558 11 0,4996 30 0,5362

49 0,5481

68 0,5543 87 0,5581 12 0,5035 31 0,5371

50 0,5485

69 0,5545 88 0,5583 13 0,507 32 0,538

51 0,5489

70 0,5548 89 0,5585 14 0,51 33 0,5388

52 0,5493

71 0,555 90 0,5586 15 0,5128 34 0,5396

53 0,5497

72 0,5552 91 0,5587 16 0,5157 35 0,5403

54 0,5501

73 0,5555 92 0,5589 17 0,5181 36 0,541

55 0,5504

74 0,5557 93 0,5591 18 0,5202 37 0,5418

56 0,5508

75 0,5559 94 0,5592 19 0,522 38 0,5424

57 0,5511

76 0,5561 95 0,5593 20 0,5236 39 0,5436

58 0,5515

77 0,5563 96 0,5595 21 0,5252 40 0,5436

59 0,5518

78 0,5565 97 0,5596 22 0,5268 41 0,5442

60 0,5521

79 0,5567 98 0,5598 23 0,5283 42 0,5448

61 0,5524

80 0,5569 99 0,5599 24 0,5296 43 0,5453

62 0,5527

81 0,557 100 0,56 25 0,5309 44 0,5458

63 0,553

82 0,5572 26 0,532 45 0,5463

64 0,5533

83 0,5574 27 0,5332 46 0,5468

65 0,5535

84 0,5576 28 0,5343 47 0,5473

66 0,5538

85 0,5578

  Sumber : Soemarto,1999

Tabel 2.3 Nilai Sn Distribusi Frekuensi Gumbel

  

n Sn n Sn n Sn n Sn n Sn

10 0,9496 29 1,108

48 1,1574

67 1,1824 86 1,198 11 0,9676 30 1,1124

49 1,159

68 1,1834 87 1,1987 12 0,9833 31 1,1159

50 1,1607

69 1,1844 88 1,1994 13 1,9971 32 1,1193

51 1,1623

70 1,1854 89 1,2001 14 1,0095 33 1,1226

52 1,1638

71 1,1863 90 1,2007 15 1,0206 34 1,1255

53 1,1658

72 1,1873 91 1,2013 16 1,0316 35 1,1285

54 1,1667

73 1,1881 92 1,202 17 1,0411 36 1,1313

55 1,1681

74 1,189 93 1,2026 18 1,0493 37 1,1339

56 1,1696

75 1,1898 94 1,2032 19 1,0565 38 1,1363

57 1,1708

76 1,1906 95 1,2038 20 1,0628 39 1,1388

58 1,1721

77 1,1915 96 1,2044 21 1,0696 40 1,1413

59 1,1743

78 1,1923 97 1,2049 22 1,0754 41 1,1436

60 1,1747

79 1,193 98 1,2055 23 1,0811 42 1,1458

61 1,1759

80 1,1983 99 1,206 24 1,0864 43 1,148

62 1,177

81 1,1945 100 1,2065 25 1,0915 44 1,1499

63 1,1782

82 1,1953 26 1,0961 45 1,1519

64 1,1793

83 1,1959 27 1,1004 46 1,1538

65 1,1803

84 1,1967 28 1,1047 47 1,1557

66 1,1814

85 1,1973

  Sumber : Soewarno, 1995

Tabel 2.4 Nilai Y Tr Distribusi Gumbel

  Periode Reduced Periode Reduced Variate Ulang Variate Ulang Ytr Tr Ytr Tr (tahun) (tahun)

  2 0,3668 100 4,6012 5 1,5004 200 5,2969 10 2,2510 250 5,5206 20 2,9709 500 6,2149 25 3,1993 1000 6,9087 50 3,9028 5000 8,5188 75 4,3117 10000 9,2121

  Sumber : Soewarno, 1995

2.1.2.3 Metode Distribusi Frekuensi Log Pearson Type III

  Perkiraan besarnya probabilitas hujan rencana dengan periode ulang Tr tahun dengan metode ini menggunakan perumusan sebagai berikut : Rumus : = ̅̅̅̅̅̅̅̅ + . ( ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅)……….….…...…….….(2.11) Keterangan : Log R : logaritma curah hujan dalam periode ulang Tr tahun

  (mm/hari) k : Faktor sifat distribusi Log Pearson Type III yang merupakan fungsi dari besarnya Cs

  1. Hitung nilai Log rata-rata Rumus :

  ∑ log

  ̅̅̅̅̅̅̅ = log ……………...………………..…………(2.12) Keterangan : n : jumlah data Log Ri : logaritma curah hujan dalam periode ulang Tr tahun

  (mm) 2. Hitung nilai Standart Deviasi dari Log Ri

  Rumus :

  

2

∑( − ̅̅̅̅̅̅̅̅)

  ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ = √ ………………...……(2.13) log

  −1

  Keterangan : ̅̅̅̅ : nilai deviasi standar dari log R Log Ri : logaritma curah hujan dalam periode ulang Tr tahun

  (mm) ̅̅̅̅̅̅̅̅ : nilai rata-rata n : jumlah data

  3. Hitung nilai Koefisien Kemencengan Rumus :

  2 ∑( − ̅̅̅̅̅̅̅̅)

  ………..………...….……..…..(2.14) =

  3 ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅) ( −1)( −2)(

  Keterangan : log ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ : nilai standart deviasi dari log Ri Log Ri : logaritma curah hujan dalam periode ulang Tr tahun (mm/hari) ̅̅̅̅̅̅̅̅ : nilai rata-rata n : jumlah data (Soewarno, 1995)

  Besarnya nilai k dapat dilihat dalam Tabel 2.5 sebagai berikut :

Tabel 2.5 nilai k Distribusi Frekuensi Log Pearson Type III

  Kemen cengan (CS) Periode Ulang (tahun)

  2

  5

  10

  

25

50 100 200 1000 peluang (%)

  50

  20

  10

  4

  2 1 0,5 0,1

3,0 -0,360 0,400 1,180 2,278 3,152 4,051 4,970 7,250

2,5 -0,360 0,518 1,250 2,262 3,048 3,845 4,652 6,600

2,2 -0,360 0,574 1,284 2,240 2,970 3,705 4,444 6,200

2,0 -0,307 0,609 1,302 2,219 2,912 3,605 4,298 5,910

1,8 -0,282 0,643 1,318 2,193 2,848 3,499 4,147 5,660

1,6 -0,254 0,675 1,329 2,163 2,780 3,388 3,990 5,390

1,4 -0,225 0,705 1,337 2,128 2,706 3,271 3,828 5,110

1,2 -0,195 0,732 1,340 2,087 2,626 3,149 3,661 4,820

1,0 -0,164 0,758 1,340 2,043 2,542 3,022 3,489 4,540

0,9 -0,148 0,769 1,339 2,018 2,498 2,957 3,401 4,395

0,8 -0,132 0,780 1,336 1,998 2,453 2,891 3,312 4,250

0,7 -0,116 0,790 1,333 1,967 2,407 2,824 3,223 4,105

0,6 0,099 0,800 1,328 1,939 2,359 2,755 3,132 3,960

  

0,5 -0,083 0,808 1,323 1,910 2,311 2,686 3,041 3,185

0,4 -0,066 0,816 1,317 1,880 2,261 2,615 2,949 3,670

0,3 -0,050 0,824 1,309 1,849 2,211 2,544 2,856 3,525

0,2 -0,033 0,830 1,301 1,818 2,159 2,472 2,763 3,380

0,1 -0,017 0,836 1,292 1,785 2,107 2,400 2,670 3,235

0,0 0,000 0,842 1,282 1,751 2,054 2,326 2,576 3,090

  Lanjutan Tabel 2.5

  • -0,1 0,017 0,836 1,270 1,761 2,000 2,252 2,482 3,950

  • -0,2 0,033 0,850 1,258 1,680 1,945 2,178 2,388 2,810

  • -0,3 0,050 0,853 1,245 1,643 1,890 2,104 2,294 2,675

  • -0,4 0,066 0,855 1,231 1,606 1,834 2,029 2,201 2,540

  • -0,5 0,083 0,856 1,216 1,567 1,777 1,955 2,108 2,400

  • -0,6 0,099 0,857 1,200 1,528 1,720 1,880 2,016 2,275

  • -0,7 0,116 0,857 1,183 1,488 1,663 1,806 1,926 2,150

  • -0,8 0,132 0,856 1,166 1,448 1,606 1,733 1,837 2,035

  • -0,9 0,148 0,854 1,147 1,407 1,549 1,660 1,749 1,910

  • -1,0 0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588 1,664 1,800

  • -1,2 0,195 0,844 1,086 1,282 1,379 1,449 1,501 1,625

  • -1,4 0,225 0,832 1,041 1,198 1,270 1,318 1,351 1,465

  • -1,6 0,254 0,817 0,994 1,116 1,166 1,197 1,216 1,280

  • -1,8 0,282 0,799 0,945 1,035 1,069 1,087 1,097 1,130

  • -2,0 0,307 0,777 0,895 0,959 0,980 0,990 1,995 1,000

  • -2,2 0,330 0,752 0,844 0,888 0,900 0,905 0,907 0,910

  • -2,5 0,360 0,711 0,711 0,793 0,798 0,799 0,800 0,802

  • -3,0 0,396 0,636 0,660 0,666 0,666 0,667 0,667 0,668

  Sumber : Soewarno 1995

  2.1.3 Sistem Drainase Kenjeran

  Sistem drainase Kenjeran terdiri dari beberapa sub DAS yaitu seperti pada rincian berikut: 2

  1. Kenjeran-Bronggalan : 0.27 km 2

  2. Kenjeran-Karang Empat : 0.46 km 2

  3. Kenjeran-Kalijudan : 1.22 km 2

  4. Kenjeran-Lebak Arum : 0.25 km 2

  5. Kenjeran-Kenjeran Utara : 0.15 km 2

  6. Kenjeran-Kenjeran Selatan : 0.52 km 2

  7. Kenjeran-Larangan : 2.83 km dan seperti terlihat di Gambar 1.1 dan Gambar 1.2

  2.1.4. Uji Kecocokan Distribusi Frekuensi Hujan

  Uji kecocokan dimaksudkan untuk menetapkan apakah persamaan distribusi peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Ada 2 jenis uji kecocokan yang akan dipakai pada studi ini yakni, uji kecocokan Chi Kuadrat dan Smirnov Kolmogorov.

2.1.4.1 Uji Chi Kuadrat

  Uji chi kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Parameter chi kuadrat dihitung dengan rumus:

  2 ( − )

  2

  ……………….…........................…..…(2.15) ℎ = ∑

  =1

  Keterangan :

  X h² : Parameter chi kuadrat terhitung

  Oi : jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok ke i Ei : jumlah nilai teoritis pada sub kelompok ke i Jumlah kelas distribusi dihitung dengan persamaan Sturges: G = 1 + 3,332 log n ............................................................... (2.16) Parameter Xh² merupakan variabel acak. Peluang untuk mencapai

  

X h² sama atau lebih besar dari pada nilai chi kuadrat yang

  sebenarnya () dapat dilihat pada Tabel 2.6 Nilai Kritis untuk Distribusi Chi-Kuadrat (uji satu sisi). Prosedur uji Chi Kuadrat adalah sebagai berikut :

  1. Urutkan data pengamatan (dari besar ke kecil atau sebaliknya)

  2. Kelompokkan data menjadi G sub-group, tiap-tiap sub group minimal 4 data pengamatan

  3. Jumlahkan data pengamatan sebesar Oi tiap-tiap sub group

  4. Jumlahkan data dari persamaan distribusi yang digunakan sebesar Ei

  5. Pada tiap sub grup hitung nilai :

  2 ( − )

  2

  ……….………………...……..(2.17) ( − )

  2 ( − )

  6. Jumlah seluruh G sub-grup nilai untuk menentukan nilai chi kuadrat Derajat Kebebasan (DK) Dk = G

  • – (P + 1) Interpretasi hasilnya adalah :

  1. Apabila peluang lebih dari 5% maka persamaan distribusi teoritis yang digunakan dapat diterima.

  2. Apabila peluang lebih kecil 1% maka persamaan distribusi

  3. Apabila peluang berada diantara 1-5% adalah tidak mungkin mengambil keputusan, misal perlu tambah data.

  (Soewarno, 1995) Untuk melihat Interpretasi hasil Tes Chi-Kuadrat dapat melihat Tabel 2.6.

Tabel 2.6. Nilai Kritis untuk Distribusi Chi-Kuadrat

  Degres of Freedom

  Probability of a Deviation Greter then X^2 20% 10% 5% 1% 0.1% 1 1,642 2,706 3,841 6,635 10,827

  2 3,129 4,605 5,991 9,21 13,815 3 4,642 6,251 7,815 11,345 16,268 4 5,989 7,779 9,488 13,277 18,465 5 7,274 9,212 11,04 15,045 20,507 6 8,558 10,645 12,592 16,812 22,548 7 9,803 12,017 14,047 18,475 24,322 8 11,03 13,362 15,507 20,09 26,125 9 12,242 14,684 16,919 21,666 27,877 10 13,442 15,987 18,307 23,209 29,588 11 14,631 12,275 19,675 24,725 31,264 12 15,812 18,546 21,026 26,217 32,909 13 16,985 19,812 22,362 27,688 34,528 14 18,151 21,064 23,685 29,141 36,123 15 19,311 22,307 24,996 30,548 37,697 16 20,465 23,542 26,296 32 39,252

  Lanjutan Tabel 2.6 18 22,76 25,98 18,869 34,805 42,312 19 23,9 27,204 30,144 36,191 43,82 20 25,038 28,412 31,41 37,566 45,315

  Sumber :Suripin, 2004

2.1.4.2 Uji Smirnov Kolmogorov

  Uji kecocokan smirnov-kolmogorov, sering juga disebut uji kecocokan non parametric karena pengujian ini tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Prosedurnya adalah sebagai berikut:

  1. Urutkan data pengamatan (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing- masing data tersebut.

  2. Tentukan nilai masing- masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya)

  3. Dari kedua peluang tersebut tentukan selisih terbesarnya antara peluang pengamatan dan peluang teoritis.

  D = maksimum [ ( ) −

  

  ( )]

  4. Berdasarkan Tabel 2.7 nilai kritis (Smirnov-Kolmogorov) tentukan harga Do

  5. Apabila D lebih kecil dari Do maka distribusi teoritis yang digunakan untuk menentukan distribusi dapat diterima, apabila D lebih besar dari Do maka distribusi yang digunakan untuk menentukan persamaan distribusi tidak dapat diterima.

  Tabel 2.7

  Nilai Δ kritis (Do) untuk uji keselarasan Smirnov Kolmogorov n

  Derajat Kepercayaan 0,20 0,10 0,05 0,01 5 0,45 0,51 0,56 0,67

  10 0,32 0,37 0,41 0,49 15 0,27 0,30 0,34 0,4 20 0,23 0,26 0,29 0,36 25 0,21 0,24 0,27 0,32 30 0,19 0,22 0,24 0,29 35 0,18 0,20 0,23 0,27 40 0,17 0,19 0,21 0,25 45 0,16 0,18 0,20 0,24 50 0,15 0,17 0,19 0,23 N > 50

  1,07 0,5

  

1,22

0,5

  1,36 0,5

  1,63 0,5

  Sumber : Soewarno 1995

2.1.5. Debit Banjir Rencana

  Dalam mengevaluasi sistem drainase dan sebagainya perlu memperkirakan debit terbesar dari aliran sungai atau saluran yang mungkin terjadi dalam suatu periode tertentu yang disebut debit rencana. Periode ulang tertentu yang mungkin terjadi banjir rencana berulang disebut periode ulang.

  Perhitungan debit banjir rencana untuk saluran drainase ini dilakukan berdasarkan hujan harian maksimum yang terjadi pada suatu periode ulang tertentu. Hal ini dilakukan mengingat adanya sungai dimana besarnya aliran dalam sungai ditentukan dari besarnya hujan, intensitas hujan, luas daerah lama waktu hujan, luas daerah aliran sungai dan ciri-ciri daerah alirannya.

  Metode yang akan digunakan untuk menghitung debit banjir rencana yaitu Metode Rasional. Metode rasional dipakai apabila luas daerah aliran sungai relatif kecil. Persamaan yang dipakai : = 0,278 . . . ……...………………………..…….…..(2.18) Keterangan : Q : debit banjir rencana pada periode ulang tertentu (m³/dt) C : koefisien pengaliran I : intensitas hujan pada periode ulang tertentu (mm/jam) A : luas daerah pengaliran (km²)

2.1.5.1 Koefisien Pengaliran (C)

  Koefisien pengaliran (C) sebenarnya merupakan perbandingan antara jumlah hujan yang jatuh dengan jumlah hujan yang tertangkap di titik yang ditinjau. Koefisien pengaliran suatu daerah dipengaruhi oleh kondisi topografi tiap daerah, antara lain :

  Kondisi Hujan 1.

  2. Luas dan bentuk daerah pengaliran

  Kemiringan daerah pengaliran dan kemiringan dasar sungai 3.

  4. Tata guna lahan

  Untuk daerah pengaliran yang terdiri dari atas beberapa jenis tata guna lahan, maka nilai C diambil rata- ratanya sesuai dengan bobot luasannya dengan rumus :

  ∑ .

  =1

  ……………………………………….……(2.19) = .

  ∑ =1

  Keterangan : : Koefisien pengaliran rata- rata .

  : Luas daerah dari masing-masing tata guna lahan (km²) : Banyaknya jenis penggunaan tanah dalam suatu daerah pengaliran

  Pada kenyataannya nilai koefisien pengaliran biasanya lebih dari 0 kurang dari 1. Adapun angka koefisien pengaliran untuk berbagai tata guna lahan dapat dilihat pada Tabel 2.8

Tabel 2.8. Nilai Koefisien Pengaliran ( C )

  

Tata Guna Lahan Nilai C

PERKANTORAN

  0,70 - 0,95 Pusat Kota Daerah Sekitar Kota 0,50 - 0,70

DAERAH INDUSTRI

  Rumah Tinggal 0,30 - 0,50 Rumah Susun terpisah 0,40 - 0,60 Rumah Susun bersambung 0,60 - 0,75 Pinggiran Kota 0,25 - 0,40

DAERAH INDUSTRI

  0,50 - 0,80 Kurang Padat Industri 0,60 - 0,90 Padat Industri

TANAH LAPANG

  0,05 - 0,10 Berpasir, datar ( 2% ) 0,10 - 0,15 Berpasir agak rata ( 2% - 7% )

TANAH PERTANIAN

HUTAN BERVEGETASI

PADANG RUMPUT BERPASIR

  Intensitas Curah hujan merupakan ketinggian hujan yang terjadi per satuan waktu. Untuk perhitungan curah hujan berdasarkan data curah hujan harian dari stasiun hujan dapat digunakan rumus Mononobe.

  0,75 - 0,95

  0,05 - 0,25

  Rata 0,30 - 0,60 Kasar 0,20 - 0,50 Taman, kuburan 0,10 - 0,25 Tempat Bermain 0,20 - 0, 35 Daerah Stasiun Kereta Api 0,20 - 0,40 Daerah Tidak Berkembang 0,10 - 0,30

  Berpasir Miring ( 7% ) 0,15 - 0,20 Tanah Gemuk, datar ( 2% ) 0,13 - 0,17 tanah Gemuk, rata-rata ( 2% - 7% ) 0,18 - 0,22 Tanah Gemuk, curam ( 7% ) 0,25 - 0,35

  Lanjutan Tabel 2.8

  Sumber : Soewarno 1995

2.1.5.2. Intensitas Curah Hujan

  3 ⁄

  2

  ]

  24 tc

  ] [

  24

  24

  I = [

  .....................................................................(2.20) Keterangan : I : Intensitas Curah Hujan ( mm/jam ) R 24 : Curah Hujan Periode Ulang Tr. tahun ( mm/hari) tc : waktu konsentrasi ( jam ) Untuk mengetahui waktu konsentrasi dapat menggunakan rumus berikut : tc = t + tf..............................................................................(2.21) Keterangan : t o : overland flow time ( inlet time ) ,waktu yang diperlukan air hujan mengalir di permukaan untuk sampai di inlet (jam) tf : channel flow time, waktu yang diperlukan air mengalir sepanjang saluran sampai di outlet ( jam )

  Untuk mengetahui nilai t dan tf dapat menggunakan rumus berikut:

1. Rumus Kirpich

  0,77

  untuk Lo > 400 m........................(2.22) = 0,0195 [ ]

  √

  Keterangan : t : overland flow time ( inlet time ) ,waktu yang diperlukan air hujan mengalir di permukaan untuk sampai di inlet (jam)

  L : Jarak mengalirnya air hujan mengalir diatas permukaan sampai inlet ( m )

  ∆

  I : Kemiringan rata

  • – rata dari daerah aliran ( ) 2.

   Rumus Kerby 0,467

  untuk L ≤ 400 m ......................(2.23) = 1,44 [ ]

  √

  Keterangan : t : overland flow time ( inlet time ), waktu yang diperlukan air hujan mengalir di permukaan untuk sampai di inlet ( 0 : jam ) L Jarak mengalirnya air hujan mengalir diatas permukaan sampai inlet ( m )

  ∆

  I : Kemiringan rata )

  • – rata dari daerah aliran ( n : Kekerasan daerah pengaliran menurut Kerby = 3600 ( ) ...................................................(2.24) Keterangan : L : Panjang saluran ( m ) V : Kecepatan air pada saluran ( m/dt ) f

  Penggabungan antara t dan t dimaksudkan untuk mendapatkan lamanya waktu konsentrasi seluruh aliran baik yang mengalir di daerah pengaliran maupun di saliran sehingga dapat diketahui besar banjir yang sesungguhnya pada titik pengamatan.

  Sedangkan beda tinggi antara titik terjauh di hilir dengan titik pengamatan ( ∆ ), diperoleh dari kemiringan saluran eksisting rata

  • –rata pada long section dan untuk harga koefisien pengaliran ( C ) seperti telah diuraikan sebelumnya, dapat dilihat pada Tabel

  2.8. Perhitungan intensitas curah hujan membutuhkan R 24 , dalam hal ini dipakai R 24 yang direncanakan berdasarkan hasil perhitungan hujan rencana periode ulang.

2.2. Analisa Hidrolika

  Analisa hidrolika dimaksudkan untuk mencari dimensi hidrolis dari saluran drainase. Dalam menentukan besaran dimensi saluran drainase, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria perencanaan berdasarkan kaidah-kaidah hidrolika.

2.2.1. Evaluasi Saluran Sistem Drainase Kenjeran

  Evaluasi saluran sistem drainase Kenjeran dimaksudkan adalah mengecek kembali kemampuan dimensi saluran pada sistem drainase Kenjeran, apabila dilewati oleh debit rencana (debit periode ulang) tertentu, dalam hal ini Q2th, Q5th, dan Q10th.

  Rumus kecepatan rata

  • – rata pada perhitungan dimensi penampang saluran menggunakan rumus Manning, Rumus ini mempunyai bentuk yang sangat sederhana tetapi memberikan hasil yang sangat memuaskan. Rumus :

  2

  1

  1 ⁄ ⁄

  3

  2

  ……………..………….……...………..…..(2.25) = . = .

  2

  1

  1 ⁄ ⁄

  3

  2

  ……………………….….………….......(2.26) = . . Keterangan : Q : Debit saluran (m³/det) V : Kecepatan aliran (m/det) A : Luas penampang basah saluran (m²) n : Koefisien kekasaran dinding dan dasar saluran R : Jari- jari hidrolis saluran = (m) I : Kemiringan dasar saluran Nilai kekerasan Manning dapat menjadi kekasaran gabungan

  • 2
  • ⋯+

  ………………...…..(2.27) Keterangan : P : Keliling basah (m) n : Nilai kekasaran Manning Harga koefisien Manning didapat berdasarkan lapisan bahan permukaan saluran yang diinginkan dan dapat dilihat pada Tabel

  2. Batu Kosong 0.023 0.032 0.035

  1. Batu Pecah disemen 0.017 0.025 0.030

  g. Semen

  a. Semen

  B. 2. Bukan Logam

  B. 1. Logam

  B. Saluran, dilapiskan atau dipoles

  A. Tertutup terisi sebagian

  

Tipe Saluran dan deskripsinya Min. Normal Max

  2.9 Tabel 2.9 Nilai Koefisien Kekasaran n

  2 ⁄

  yang terbuat dari pasangan batu kali pada dinding sedangkan dasar saluran adalah tanah. Nilai kekasaran Manning gabungan menggunakan rumus sebagai berikut :

  1

  2 ⁄

  1

  2 )

  2

  2

  2

  1

  1

  (

  =

b. Kayu c. ….

  Lanjutan Tabel 2.9

  C. Digali atau dikeruk

  a. Tanah lurus dan seragam

  1. Bersih, baru dibuat 0.016 0.018 0.020

  2. Bersih, telah melapuk 0.018 0.022 0.025

  3. Kerikil, penampang seragam 0.022 0.025 0.030

  4. Berumput pendek 0.022 0.027 0.033

  b. Tanah berkelok- kelok

  c. Hasil galian atau kerukan

  d. Pemecah batu

  e. Saluran tidak dirawat

  D. Saluran alam Sumber : Ven Te Chow 1.

   Penampang Saluran Segi Empat

  = . ……………………………………….……..…(2.28) Keterangan : Q : Debit saluran (m³/det) A : Luas penampang basah saluran (m²) = b x h P : Keliling basah = b+2h R : Jari- jari hidrolis saluran (m) = A/P V : Kecepatan aliran (m/det)

Gambar 2.2. Dimensi Saluran Segi Empat 2.

   Penampang Saluran Trapesium

  = . …………………………...……………………(2.29) Keterangan : Q : Debit saluran (m³/det) A : Luas penampang basah saluran = (b+mh) h P : Keliling basah = b+2h

  √1 + m² R : Jari- jari hidrolis saluran (m) = A/P V : Kecepatan aliran (m/det)

Gambar 2.3. Dimensi Saluran Trapesium

2.2.2 Operasional Pompa dan Pintu Pembuang ke Laut

  Sistem drainase Kenjeran tidak sepenuhnya mengandalkan gravitasi sebagai faktor pendorong. Hal ini disebabkan karena pembuangan akhir adalah laut sehingga alirannya dipengaruhi oleh pembuangan, yang berfungsi juga sebagai pintu pengatur pasang surut. Pintu pembuangan ini digerakkan secara elektrik. Selain itu, apabila karena kondisi pasang dan tidak memungkinkan untuk membuang melalui pintu air, maka dilakukan pemompaan yang digunakan pada waktu tertentu apabila muka air di hilir pembuangan akhir sama dengan atau lebih tinggi daripada muka air di saluran. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya genangan yang lama pada Sub DAS Kenjeran. Selanjutnya secara detail akan dijelaskan dalam uraian berikut.

  1. Saluran penampungan sebelum dibuang air di buang ke laut.

  Saluran ini berfungsi untuk menampung air banjir sebelum dibuang kelaut, karena air laut pada kondisi pasang. Lokasi saluran penampungan sistem drainase Kenjeran terletak pada ruas saluran Kenjeran-Larangan (ruas saluran akhir) seperti pada Gambar 2.4 (pasang maksimum, elevasi pasang lebih tinggi dari muka saluran)

  a b

  I I a b

Gambar 2.4 Denah Long Storage, pompa dan pintu airGambar 2.5 Potongan memanjang I-I Long Storage, pompa dan pintu airGambar 2.6 Potongan melintang a-a Long Storage Volume saluran saluran tampungan diperhitungkan terhadap debit periode ulang 10 tahun, dengan rincian sebagai berikut.

  a. Debit Rencana = Q 10 th

  b. Panjang saluran = Ruas saluran Kenjeran -

  • – Larangan, Kenjeran Kenjeran Selatan, Kenjeran - Kalijudan, dst

  c. Lebar saluran = (trapesium) atau (segi 4)

  d. Tinggi saluran = m

  e. Panjang saluran tampung = Panjang ruas saluran yang terpakai f. Tinggi air yang diijinkan adalah tinggi air (h) rencana + tinggi jagaan (w)

  2. Operasional pintu bila air surut (dasar laut 0.00) pintu digerakkan secara elektrik.

  Q = A.V = b.q.C.

  √2gZ = b.a.C. √2.g.(h-a)

  Keterangan: b = Lebar pintu a = Tinggi bukaan C = Koefisien debit = 0,85 3 g = Gravitasi, 9,81 m /dt (di depan pintu) h = Tinggi air rencana Q 10 th

3. Operasional pompa banjir

  Pompa dioperasikan bila air banjir telah menggenangi saluran laut (karena pasang), maka pintu pembuang ditutup, dan air di kolam tampung di buang ke laut dengan pemompaan, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.8 dan Gambar 2.9

  h air rencana t a +0.00

Gambar 2.8 Bukaan pintu pada saat surut (+0.00)

  h air rencana t h air pasang

BAB III METODOLOGI

3.1. Langkah Penyusunan

  Dalam bab ini akan dijelaskan langkah- langkah yang akan dilakukan dalam penyusunan studi “Evaluasi Sistem Drainase

  Kenjeran K ota Surabaya”. Adapun langkah-langkahnya adalah seperti ditunjukan dalam Gambar 3.1.

  3.1.1. Persiapan

  Persiapan dilakukan untuk mendukung kelancaran penyusunan Laporan Tugas Akhir

  1. Mempersiapkan surat perijinan yang diperlukan sebagai kelengkapan administrasi penyusunan Tugas Akhir.

  2. Mempersiapkan pihak-pihak (instansi) terkait dalam mengumpulkan informasi dan data

  3. Mempersiapkan kelengkapan untuk survey lapangan untuk mengetahui kondisi permasalahan di kawasan saluran Kenjeran.

  3.1.2. Studi Literatur

  Studi literatur dilakukan dengan mempelajari teori-teori yang berkaitan dengan judul Laporan Tugas Akhir ini yaitu “Evaluasi Sistem Drainase Kenjeran Kota Surabaya”. Studi literature dapat dicari pada jurnal, internet, buku dan pustaka.

  3.1.3. Pengumpulan Data

  Data yang diperlukan dalam penyusunan Tugas Akhir ini antara lain data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang

  1. Data Curah Hujan

  2. Peta Peta yang digunakan antara lain:

  a. Peta Stasiun Hujan

  Peta Topografi : b.

  c. Peta Layout Surabaya Drainage Master Plan 2018

  (saluran Kenjeran dan sistem jaringannya) Peta Tata Guna Lahan d.

  e. Peta Skema Jaringan

  3. Data lama dan tinggi genangan

  4. Catchment area

3.1.4. Analisa Data

  Data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan metode- metode yang telah diajarkan atau metode lain yang mungkin diperlukan. Analisa data terdiri darianalisa hidrologi dan analisa hidrolika, terdiri dari seperti dalam rincian berikut.

  1. Analisa Perhitungan Hidrologi

  a. Perhitungan Hujan Rata- rata

  b. Perhitungan Hujan Rencana

  c. Perhitungan Intensitas Curah Hujan

  d. Perhitungan Koefisien Pengaliran

  e. Uji Kecocokan Distribusi

  f. Perhitungan Debit Banjir Rencana

  g. Perhitungan Hidrograf Sintetis

  2. Analisa Perhitungan Hidrolika

  a. Perhitungan Dimensi Saluran

  b. Perhitungan Kapasitas Saluran

  c. Perhitungan Operasional Pompa e. Perhitungan rencana dari alternatif atau solusi permasalahan di Kenjeran

3.1.5. Kesimpulan

  Untuk kesimpulan dan saran dapat diperoleh dari hasil perencanaan yang didapat.

  MULAI STUDI LITERATUR PERSIAPAN Data primer: PENGUMPULAN DATA Data sekunder:  Data curah hujan  Peta topografi, stasiun

   Survey hujan, tata guna lahan,  Pengukuran dimensi saluran skema jaringan

   Data lama dan tinggi genangan, Cathcment saluran area, Data eksisting ANALISA HIDROLOGI ANALISA DATA ANALISA HIDROLIKA Tidak

  Alternatif: Evaluasi Pelebaran saluran kapasitas saluran Pengoperasian KESIMPULAN Ya pompa dan pintu

  SELESAI

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

   4.1. Analisa Hidrologi

  Analisa hidrologi dimaksudkan adalah analisa terkait dengan debit rencana yakni debit yang direncanakan akan lewat dalam sistem drainase. Debit banjir rencana pada umumnya direncanakan untuk pembuangan air secepatnya, agar tidak terjadi genangan air yang menggangu. Oleh karena itu saluran-saluran drainase sebaiknya direncanakan sesuai dengan debit banjir rencana. Pada perencanaan ini debit banjir rencana dihitung menggunakan data curah hujan, karena data debit tidak tersedia.

  4.2. Analisa Curah Hujan Rata-Rata Kawasan / DAS

  Curah hujan rata-rata kawasan atau sub DAS atau DAS adalah besarnya rata-rata hujan yang jatuh pada kawasan tersebut. Untuk perhitungan analisa hidrologi ini, tersedia dari 2 stasiun hujan yakni stasiun Larangan dan stasiun Gubeng, dengan data tersedia 20 tahun, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.1

  Ada 3 metode yang sering digunakan untuk perhitungan analisa curah hujan, rata-rata kawasan/sub DAS/DAS yaitu Metode Aritmatik, Metode Poligon Thiessen, dan Metode Ishoyet. Dari ketiga metode diatas mempunyai spesifikasi seperti ditunjukkan dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Metode Perhitungan Hujan Rata-Rata DAS Parameter Stasiun Penakar Cara yang dapat

  

Hujan digunakan

  Jumlah

  • – 5000 km² (sedang)

Tabel 4.2 Curah Hujan rata-rata kawasan / sub DAS tiap Tahun

  45 1997 13-Feb 132 120 126 126 1998 17 mei 135

  70

  20

  74.5 1996 7-Feb

  74.5

  64

  85

  1996 16 nop

  CH. Rata- rata kawasan / sub DAS

  Gubeng R

  di DAS Kenjeran Tahun Tanggal Sta. Larangan Sta.

  Pada kawasan sub DAS Kenjeran, jumlah stasiun hujan yang ada termasuk kategori cukup, terletak pada wilayah dataran, dan memiliki luas DAS < 500 km², maka untuk menghitung curah hujan bisa digunakan cara Poligon Thiessen, Rerata Aritmatik (Aljabar). Dikarenakan hanya ada dua stasiun hujan maka dalam tugas akhir ini digunakan metode aritmatika (Aritmatic Mean), seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.1

  Jumlah stasiun hujan

  Poligon Sumber : Suripin, 1998

  Ishoyet dan Thiessen

  Dataran Aljabar Berbukit dan Tidak Beraturan

  Thiessen Poligon

  Pegunungan

  <500 km² (kecil) Rerata Aritmatik Kondisi Topografi

  Thiessen Poligon

  Ishoyet

  Luas Das >5000 km 2 (Besar) 501

  Thiessen Poligon

  Terbatas Rerata Aritmetik,

  65 100 100 Lanjutan Tabel 4.2 1999 23 des 116 86 101

  101 2000 23-Mar 101

  93

  97

  97 2001 17-Apr

  80

  98

  89

  92.5 2001 21 des 65 120

  92.5 2002 30-Jan 187 170 178.5 178.5 2003 31-Jan

  65

  32

  48.5

  52 2003 27 nop

  36

  68

  52 2004 7-Jan

  61

  58

  59.5

  59.5 2004 27-Mar

  86

  43 2005 15 des

  64

  31

  47.5

  73.5 2005 13 des

  58

  89

  73.5 2006 30 des

  70

  88

  79

  79 2006 14-Jan 50 106

  78 2007 31-Mar

  64

  70

  67

  76 2007 18 des 48 104

  76 2008 16-Jan

  84

  92

  88

  88 2008 19 des

  98

  49 2009 31-Jan

  70

  59

  64.5

  64.5 2009 20-Feb

  12

  86

  49 2010 3 des 113 106 109.5 109.5 2011 9 nop

  72

  81

  76.5

  76.5 2012 27 des

  71

  68

  69.5

  69.5 2012 16-Jan

  59

  70

  64.5 2013 23-Apr

  80

  90

  85

  85 2013 2 des

  49

  99

  74 Lanjutan Tabel 4.2 2014 19 des 105 134 119.5 119.5 2015 2-Mar

  57

  44

  50.5

  55 2015 5-Mar

  49

  61

  55 Sumber : Hasil Perhitungan Rumus :

  1

  ̅ = ∑ …….………………………..………………………….……....(4.1)

  =1

  Keterangan : : tinggi curah hujan rata- rata (mm)

  R̅ R i : tinggi curah hujan pada stasiun hujan ke-I (mm) n : banyaknya data Contoh perhitungan curah hujan maksimal : Data curah hujan pada tahun 1996: R 1max (Stasiun Larangan) di tahun 1996 = 85 mm, terjadi pada tanggal 16 November 1996. Maka di tanggal yang sama, nilai hujan tiap stasiun lain adalah: R 2 (Stasiun Gubeng) = 64 mm 2max R (Stasiun Gubeng) di tahun 1996 = 70 mm, terjadi pada tanggal 7 Februari 1996. Maka di tanggal yang sama, nilai hujan tiap stasiun lain adalah: R 1 (Stasiun Larangan) = 20 mm Curah hujan rata-rata DAS 16 November 1996:

  (85 + 64 ) ̅ =

  2 Curah hujan rata-rata DAS 7 November 1996:

  (70 + 20 ) ̅ = 2 ̅ = 45

  Dari perhitungan curah hujan wilayah diatas, maka untuk mengetahui curah hujan wilayah pada tahun 1996 adalah dipilih yang terbesar yaitu 74.5 mm. Curah hujan rata-rata kawasan tiap tahun bisa dilihat pada Tabel 4.2.

4.3. Perhitunguan Parameter Dasar Statistik Data Hujan

  Sebelum dilakukan perhitungan distribusi probabilitas dari data yang tersedia, dilakukan uji parameter statistik terlebih dahulu terhadap data yang ada, sebab masing-masing distribusi (Distribusi Normal, Distribusi Gumbel, Distribusi Log Pearson Type III) memiliki sifat-sifat khas, sehingga setiap data hidrologi harus diuji kesesuaiannya dengan sifat statistikanya. Pemilihan distribusi yang tidak tepat dapat menyebabkan kesalahan perkiraan yang mungkin cukup besar baik over estimate maupun under estimate yang keduanya tidak diinginkan. Adapun sifat-sifat parameter statistik dari masing-masing distribusi teoritis tersebut bisa dilihat pada

Tabel 4.3 sebagai berikut :Tabel 4.3. Parameter Dasar Statistik Data Hujan

  Jenis Distribusi Syarat Normal

  Cs ≈ 0, Ck = 3 Gumbel

  Cs ≤ 1,1396, Ck ≤ 5,4002 Log Pearson Tipe III

  Cs ≠ 0 Log Normal Cs = 0,2, Ck = 3,05

1. Distribusi Normal mempunyai harga Cs = 0 dan Ck = 3.

  Distribusi Gumbel mempunyai harga Cs = 1,139 dan Ck = 2. 5,402 Distribusi Log Pearson Type III mempunyai nilai Cs dan Ck 3. selain dari paremeter statistik untuk distribusi yang lain (normal dan gumbel)

  (Bambang, 2008)

  Setiap jenis distribusi atau sebaran mempunyai parameter statistik yang terdiri dari nilai-nilai sebagai berikut: : nilai rata-rata hitung

  R̅ : standart deviasi (standart deviation)

  Sd Cv : koefisien variasi (variation coefficient) Cs : koefisien kemencengan (skewness coefficient) Ck : koefisien ketajaman (kurtosis coefficient) Adapun perhitungan parameter dasar statistik data hujan seperti ditunjukkan dalam Tabel 4.4

Tabel 4.4. Perhitungan Parameter Statistik Data

  CH. Rata-rata 2 3 4 Tahun kawasan / DAS (Ri - (Ri - (Ri - Ṝ) (Ri - Ṝ) Ṝ) Ṝ) 1996

  74.5

  • 14.35 205.92 -2954.99 42404.08 1997 126 37.15 1380.12 51271.55 1904738.12 1998 100 11.15 124.32 1386.20 15456.08 1999 101 412.15 147.62 1793.61 21792.40

  

Lanjutan Tabel 4.4

2000

  97

  8.15 66.42 541.34 4411.95 2001

  92.5

  3.65

  13.32 48.63 177.49 2002 178.5 89.65 8037.12 720528.03 64595338.08 2003

  52

  • 36.85 1357.92 -50039.44 1843953.52 2004

  59.5

  • 29.35 861.42 -25282.75 742048.72 2005

  73.5

  • 15.35 235.62 -3616.81 55517.96 2006

  79 -9.85 97.02 -955.67 9413.37 2007 76 -12.85 165.12 -2121.82 27265.44 2008 88 -0.85 0.72 -0.61

  0.52 2009 64.5 -24.35 592.92 -14437.66 351557.09 2010 109.5

  20.65 426.42 8805.62 181836.15 2011 76.5 -12.35 152.52 -1883.65 23263.11 2012 69.5 -19.35 374.42 -7245.08 140192.21 2013

  85 -3.85 14.82 -57.07 219.71 2014 119.5 30.65 939.42 28793.30 882514.63 2015

  55 -33.85 1145.82 -38786.09 1312909.20

jumlah 1777 16339.05 665786.64 72155009.83

rata- rata

  88.85 816.95 33289.33 3607750.49 Sumber : Hasil Perhitungan

  Perhitungan parameter statistik untuk data tersebut diatas adalah sebagai berikut :

  1. Nilai rata-rata

  ∑ 1777

  ̅ = = = 88.85

  20

  2. Standar Deviasi

  2 ∑( − ̅) 16339.05

  = √ = √ = 29.32

  −1 20−1

  29.32

  = = = 0,33

  ̅

  88.85

  4. Koefisien skewness

  3 ∑( − ̅) 665786.64 .20

  = = = 1.54

  3 ( −1)( −2) ³ (20−1)(20−2)29.32

  5. Kefisien kurtosis

  2

  4 ∑( − ̅)

  =

  4 ( −1)( −2)( −3)

  2 72155009.83 . 20

  = = 6.71

  

4

(20−1)(20−2)(20−3)29.32

  Setiap distribusi memiliki syarat-syarat parameter statistik. Pada

Tabel 4.5 akan dipaparkan penentuan distribusi hujan berdasarkan syarat-syarat parameter statistik.Tabel 4.5 Penentuan Distribusi Curah Hujan

  Hasil

No Distribusi Persyaratan keterangan

Hitungan

  1 Normal Cs = 0

  1.54 tidak diterima

Ck = 3

  6.71

  2 Log Normal Cs = Cv³+3Cv

  1.03 tidak diterima

  4.93 Ck = Cv ⁸ + 6Cv⁶ + 15Cv⁴ +16Cv² +3

  3 Gumbel Cs = 1,14

  1.54 tidak diterima

Ck = 5,4

  6.71 Log Pearson Cs > 0

  4 Diterima

Ck > 0

  III Sumber : Hasil Perhitungan

  Sesuai dengan hasil perhitungan awal parameter statistik di atas dengan persyaratan nilai Cs dan Ck > 0 maka metode distribusi yang sesuai adalah Metode Log Pearson Type III.

4.4. Uji Distribusi Frekuensi

  Dari perhitungan parameter dasar statistik, distribusi frekuensi yang sesuai adalah distribusi Log Pearson Type III. Dari

  perhitungan ini akan dihasilkan hujan rencana pada periode yang telah ditentukan.

Tabel 4.6. Perhitungan Parameter Metode Distribusi Log Pearson

  Type III

  tahun CH. Rata- rata DAS log Ri

  

(LogR

  ( LogR - LogṜ) (LogR

  • LogṜ)

  • LogṜ)
  • 3
  • LogṜ)
  • 4 1996 74.5 1.8722 -0.0570 0.0032 -0.0002 0.0000

    1997 126 2.1004 0.1712 0.0293 0.0050 0.0009

      

    1998 100 2.0000 0.0709 0.0050 0.0004 0.0000

    1999 101 2.0043 0.0752 0.0057 0.0004 0.0000

    2000 97 1.9868 0.0576 0.0033 0.0002 0.0000 2001

      92.5 1.9661 0.0370 0.0014 0.0001 0.0000

    2002 178.5 2.2516 0.3225 0.1040 0.0335 0.0108

    2003 52 1.7160 -0.2131 0.0454 -0.0097 0.0021 2004

      59.5 1.7745 -0.1546 0.0239 -0.0037 0.0006 2005 73.5 1.8663 -0.0629 0.0040 -0.0002 0.0000 2006

      79 1.8976 -0.0315 0.0010 0.0000 0.0000 2007 76 1.8808 -0.0483 0.0023 -0.0001 0.0000 2008 88 1.9445 0.0153 0.0002 0.0000 0.0000 2009

      64.5 1.8096 -0.1196 0.0143 -0.0017 0.0002

    2010 109.5 2.0394 0.1103 0.0122 0.0013 0.0001

    2011 76.5 1.8837 -0.0455 0.0021 -0.0001 0.0000 2012

      69.5 1.8420 -0.0872 0.0076 -0.0007 0.0001 2013 85 1.9294 0.0003 0.0000 0.0000 0.0000

    2014 119.5 2.0774 0.1482 0.0220 0.0033 0.0005

      2015 55 1.7404 -0.1888 0.0356 -0.0067 0.0013

    jumlah 1777 38.5829 0.0000 0.3225 0.0210 0.0166

    rata- rata

      88.85 1.9291 0.0000 0.0161 0.0011 0.0008 Sumber : Hasil Perhitungan

      Perhitungan Metode Distribusi Log Pearson type III data di atas

      1. Nilai rata-rata

      ∑

      38.58

      ̅̅̅̅̅̅̅ = = = 1,9291

      20

      2. Standar Deviasi

      2 ∑( − ̅̅̅̅̅̅̅̅) 0,3225

      ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ = √ = √ = 0,1302

      −1

      19

      3. Koefisien variasi

      ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ 0,1302

      = = = 0,0674

      ̅̅̅̅̅̅̅̅ 1,9291

      4. Koefisien skewness

      3 ∑( − ̅̅̅̅̅̅̅̅) . 0.0210.20

      = =

      3

      3 ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅) ( −1)( −2)( (20−1)(20−2)(0,130)

      = 0.5561 Perhitungan curah hujan dengan periode ulang tertentu dengan menggunakan persamaan sebagai berikut

      ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ = ̅̅̅̅̅̅̅ + . Faktor frekuensi untuk distribusi Log Pearson Type III (k) didapat dari Tabel 2.5 (Nilai k Distribusi Log Pearson Type III), yang digunakan berdasar koefisien kemencengan (Cs) terhadap peluang interval pada masing-masing grup.

      5. Perhitungan Curah Hujan Rencana Berdasarkan nilai Cs = 0,5561 , maka dapat ditentukan nilai k untuk setiap periode ulang (Tabel 2.5), sehingga untuk periode ulang

      a. Untuk 2 tahun k = 0.0990 ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ = ̅̅̅̅̅̅̅ + . = 1,9291 + 0.0990 0,1302 = 1,9420

      = 87,5071

      2

      ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ = ̅̅̅̅̅̅̅ + . = 1,9291 + 0.8000 0,1302 = 2,0334

      = 107,9878

      5

      c. Untuk 10 tahun k = 1.3280 ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅ = ̅̅̅̅̅̅̅ + . = 1,9290 + 1,3280 0,1302 = 2,1022

      = 126,5220

    10 Dari perhitungan di atas nilai k, Log R dan R untuk distribusi Log

      Pearson Type III disajikan pada Tabel 4.7 di bawah ini :

    Tabel 4.7. Hasil Perhitungan nilai k, Log

      Ṝ, dan R Distribusi Log Pearson Type III

      Log

    T Peluang SLogR k Log R R

      Ṝ

      2 50 0.0990 1.9420 87.5071 0.1302 1.9291 5 20 0.8000 2.0334 107.9878

      10 10 1.3280 2.1022 126.5220 Sumber : Hasil Perhitungan

    4.5. Uji Kecocokan Distribusi Frekuensi

      Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji apakah jenis distribusi yang dipilih sesuai dengan data yang ada, yaitu uji Chi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov ( Bambang Triatmojo, 2010)

      4 .5.1 Uji Chi Kuadrat

      Uji chi kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Perhitungan Chi Kuadrat untuk Log Pearson III: Banyaknya data (n) = 20

      = 5% Derajat signifikan (α)

      = 1 + 3,322 Log 20 = 5,32~ 5

      Derajat Kebebasan (DK) = G

    • – (P + 1) = 5
    • – (2 + 1) = 2

    Tabel 4.8 Rangking Data untuk Perhitungan Chi-Kuadrat untuk

      Log Pearson Type III Tahun Data CH Peringkat

      Peluang Log (R - Ṝ) Log (R -

      Ṝ)² Log Ri M P = m/(n+1) 2002 2.252

      1 4.76 0.322 0.104 1997 2.100 2 9.52 0.171 0.029 2014 2.077 3 14.29 0.148 0.022 2010 2.039 4 19.05 0.110 0.012 1999 2.004 5 23.81 0.075 0.006 1998 2.000 6 28.57 0.071 0.005 2000 1.987 7 33.33 0.058 0.003 2001 1.966 8 38.10 0.037 0.001 2008 1.944 9 42.86 0.015 0.000 2013 1.929

      10 47.62 0.000 0.000 2006 1.898 11 52.38 -0.032 0.001 2011 1.884 12 57.14 -0.045 0.002 2007 1.881 13 61.90 -0.048 0.002 1996 1.872 14 66.67 -0.057 0.003 2005 1.866 15 71.43 -0.063 0.004 2012 1.842 16 76.19 -0.087 0.008 2009 1.810 17 80.95 -0.120 0.014 2004 1.775 18 85.71 -0.155 0.024 2015 1.740 19 90.48 -0.189 0.036 2003 1.716 20 95.24 -0.213 0.045 jumlah

      38.583 0.000 0.323 rata-rata 1.929 0.000 0.016

      Sumber : Hasil Perhitungan

      1. Menentukan nilai batas sub kelompok Dari perhitungan diatas didapatkan ada 5 sub kelompok. Dari 5 sub kelompok tersebut ditentukan nilai batas tiap kelompok.

      Perhitungan nilai batas sub kelompok menggunakan rumus: Log = ̅ + . Nilai k didapat dari tabel variabel reduksi Gauss.

    Tabel 4.9 Nilai Variabel Reduksi Gauss

      Periode Ulang T (tahun) Peluang (P) k

      1 1 -3,05

    1,005 0,995 -2,58

    1,01 0,99 -2,33

    1,05 0,95 -1,64

    1,11 0,9 -1,28

    1,25 0,8 -0,84

    1,33 0,75 -0,67

    1,43 0,7 -0,52

    1,67 0,6 -0,25

    2 0,5

      

    2,5 0,4 0,25

    3,33 0,3 0,52

    4 0,25 0,67

    5 0,2 0,84

      

    10 0,1 1,28

    20 0,05 1,64

    50 0,2 2,05

    100 0,01 2,33

      

    200 0,005 2,58

    500 0,002 2,88

    1000 0,001 3,09

    Sumber : Soewarno, 1995.

      a.

      Untuk P = 20% → k = 0.84 log xi = Ẋ + k.S b.

      Untuk P = 40% → k = 0 .25 log xi = Ẋ + k.S log xi = 1.96 c. Untuk P = 60% → k = -0.25 log xi = Ẋ + k.S log xi = 1.90 d. Untuk P = 80% → k = -0.84 log xi = Ẋ + k.S log xi = 1.82

      Dari perhitungan diatas, batas sub kelompok bisa di tabelkan seperti Tabel 4.10 di bawah ini

    Tabel 4.10 Nilai Batas Tiap Kelompok

      Kelompok Nilai Batas

      Oi

      I = X ≤ 1,82

      4 II = 1,82 < X ≤ 1,90

      6 III =

      

    1,90 < X ≤ 1,96

      2 IV =

      

    1,96 < X ≤ 2,04

      5 V = X ≤ 2,04

      3 Sumber : Hasil Perhitungan

      

    Tabel 4.10a Jumlah Nilai Pengamatan sub kelompok

      Data CH Peringkat Peluang Tahun

      Oi Xi M P = m/(n+1) 2002 2.252

      1

      4.76 1997 2.100

      4

      2

      9.52 2014 2.077

      3

      14.29 Lanjutan 4.10a 1999 2.004

      5

      19

      71.43 2012 1.842

      16

      76.19 2009 1.810

      17

      80.95 2004 1.775

      18

      85.71 1.740 3 2015

      90.48 2003 1.716

      66.67 2005 1.866

      20

      95.24 Sumber : Hasil Perhitungan

      1. Menentukan Ei Ei adalah frekuensi (banyak pengamatan) yang diharapkan sesuai dengan pembagian kelasnya (Bambang Triatmodjo, 2010). Maka, untuk mencari Ei menggunakan rumus : =

      ℎ ( ) ℎ ( )

      =

      20

      5

      = 4

      15

      14

      23.81

      42.86 2013 1.929

      6 1998 2.000

      6

      28.57 2000 1.987

      7

      33.33 2001 1.966

      8

      38.10 2008 1.944

      9

      10

      5 1996 1.872

      47.62 2006 1.898

      11

      52.38

      2 2011 1.884

      12

      57.14 2007 1.881

      13

      61.90

      2. Menentukan Chi-Kuadrat hitung (Xh²) Rumus untuk menentukan Chi-Kuadrat adalah :

      2

      ( − )

      2

      ℎ = ∑

      =1

      Keterangan : Oi : jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok ke i Ei : jumlah nilai teoritis pada sub kelompok ke i Contoh perhitungan :

      2

      (4 − 4)

      2

      ℎ = ∑

      =1

      4

      2

      ℎ = 0 Untuk perhitungan chi-kuadrat hitung bisa dilihat pada Tabel 4.11.

    Tabel 4.11 Perhitungan Chi-Kuadrat

      2 2 Kelas Batas Kelas Jumlah (Oi-Ei)

      X 2 Oi Ei (Oi-Ei) /Ei

      1

      4

      4.0

      0.00

      0.00 X ≤ 1,82

      2

      6

      4.0

      4.00

      1.00 1,82 < X ≤ 1,90

      3

      2

      4.0

      4.00

      1.00 1,90 < X ≤ 1,96

      4

      5

      4.0

      1.00

      0.25 1,96 < X ≤ 2,04

      5 X

      3

      4.0

      1.00

      0.25 ≥ 2,04 total =

      20

      20

      10

      2.50 Sumber : Hasil Perhitungan Nilai Chi-Kuadrat hitung = 2.50 Derajat Kebebasan (DK) = 2 Derajat signifikan alpha = 5% Nilai Chi Teoritis = 5,991 berdasarkan nilai kritis untuk uji Chi-Kuadrat pada Tabel 2.6. maka

      2

      dengan = 5 % diperoleh nilai = 5,991 dari perhitungan didapat:

      2

      2

      > → 5,991 > 2,50

      ℎ

      Sehingga Metode Distribusi Log Pearson Type III dapat digunakan.

      .5.2 Uji Chi Smirnov Kolmogorov

    4 Uji Smirnov Kolmogorov dilakukan dengan maksud untuk

      menyaring metode distribusi yang lolos dari uji kesesuaian distribusi frekuensi dengan metode Chi Kuadrat. Prosedur perhitungan uji Smornov-Kolmogorov dapat dilihat pada BAB II. Perhitungan uji Smirnov-Kolmogorov bisa dilihat pada Tabel 4.12. Dari Tabel 4.12 di atas didapatkan: D maksimum = 0.04 data pada peringkat (m) ke-1 Derajat kepercayaan = 5% banyaknya data = 20 maka diperoleh nilai Do = 0,29 (sesuai pada Tabel 2.7). Syarat : Dmax < Do , 0,040 < 0,29, maka persamaan distribusi Log Pearson Tipe III dapat diterima.

      Kesimpulan yang didapat dari perhitungan uji distribusi frekuensi diatas, bahwa jenis distribusi yang dapat digunakan untuk perhitungan hujan rencana adalah distribusi Log Pearson tipe

      III, jadi curah hujan yang digunakan adalah:

      1. Periode ulang 2 th dengan curah hujan = 87,50 mm

      2. Periode ulang 5 th dengan curah hujan = 107,98 mm

      3. Periode ulang 10 th dengan curah hujan = 126,52 mm

    4.6 Perhitungan Debit Banjir Rencana

      Dengan menggunakan metode rasional perhitungan debit banjir rencana dari data yang telah diperoleh diatas maka dapat dihitung debit banjir rencananya dengan rumus Q = 0,278 . C . I . A Keterangan : Q :Debit puncak ( m³/det ) I : Intensitas hujan ( mm/jam )

      2 ⁄

      24

      3 R

      24 I = . ( )

      24 tc

      A : Luas daerah tangkapan ( km² ) (hal 19) C : Koefisien lahan (Tabel 2.8)

    4.6.1 Perhitungan Analisa Waktu Konsentrasi Hujan (tc)

      Waktu konsentrasi adalah waktu yang dibutuhkan air untuk mengalir ke saluran (sungai) dari titik terjauh suatu DAS/Sub DAS. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan rumus: tc = t + tf.

      Keterangan : tc : Waktu konsentrasi hujan t

      :Waktu yang diperlukan air untuk mengalir diatas permukaan tanah tf : Waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir disepanjang saluran

      1. Perhitungan t Contoh perhitungan nilai t untuk Saluran Bronggalan 2 pada Sub DAS Kenjeran-Bronggalan

      0.03

      0.52

      0.38

      0.62

      0.28 0.3897 0.6103 -0.01 2008 1.944

      9

      0.43

      0.57

      0.12 0.4522 0.5478 -0.02 2013 1.929

      10

      0.48

      0.52

      0.00 0.5000 0.5000 -0.02 2006 1.898

      11

      0.48

      0.44 0.3300 0.6700 0.00 2001 1.966

      12

      0.57

      0.43

      13

      0.62

      0.38

      14

      0.67

      0.33

      0.00 2005 1.866

      15

      0.71

      0.29

      8

      0.67

      61 Tabel 4.12 Perhitungan Smirnov-Kolmogorov untuk Log Pearson Tipe III

      0.86

      Tahun Data CH Peringkat Peluang P(x<)1- P(x) f(t)=(xi-x)/s p'(x) p'(x<) D

      Xi M P = m/(n+1) 2002 2.252

      1

      0.05

      0.95

      2.48 0.0068 0.9932 0.04 1997 2.100

      2

      0.10

      0.90

      1.31 0.0951 0.9049 0.00 2014 2.077

      3

      0.14

      1.14 0.1271 0.8729 0.02 2010 2.039

      0.33

      4

      0.19

      0.81

      0.85 0.1977 0.8023 -0.01 1999 2.004

      5

      0.24

      0.76

      0.58 0.2810 0.7190 -0.04 1998 2.000

      6

      0.29

      0.71

      0.54 0.2946 0.7054 -0.01 2000 1.987

      7

    • 0.24 0.5948 0.4052 -0.07 2011 1.884
    • 0.35 0.6368 0.3632 -0.07 2007 1.881
    • 0.37 0.6443 0.3557 -0.03 1996 1.872
    • 0.44 0.6700 0.3300
    • 0.48 0.6844 0.3156

    • 0.67 0.7846 0.2154 -0.02 2009 1.810
    • 0.92 0.8212 0.1788 -0.01 2004 1.775
    • 1.19 0.8830 0.1170 -0.03 2015 1.740

      0.14

      0.04 rata-rata 1.929

      Dmax

      0.00 jumlah 38.583

      0.05

      0.95

      20

      0.10

      0.90

      19

      0.86

      18

      0.19

      0.81

      17

      0.24

      0.76

      16

      2012 1.842

      Lanjutan Tabel 4.12

    • 1.45 0.9265 0.0735 -0.02 2003 1.716
    • 1.64 0.9495 0.0505

      Sumber : Hasil Perhitungan n d = 0,02 ( lihat pada tabel 4.13) Kemiringan Lahan = 0,00080 (data lapangan) Panjang lahan = 240.59 m (data lapangan)

      0,467

      t 0 = 1,44 (

      1 )

      2 0,467 0,02 240.59

      = 1,44 (

      1 )

      2 0,0008

      = 0.10 jam Keterangan : t : Waktu air mengalir pada lahan sampai ke saluran drainase

      (Jam) L : Jarak titik terjauh lahan terhadap saluran drainase (m) S : Kemiringan medan rata

    • –rata saluran yang di tinjau Untuk Tabel nd dapat dilihat pada tabel 4.13

    Tabel 4.13 Harga koefisien hambatan, nd Jenis Permukaan nd

      Permukaan impervious dan licin

      0.02 Tanah padat terbuka dan licin

      0.10 Permukaan sedikit berumpur, tanah dengan tanaman

      0.20 berjajar, tanah terbuka kekasaran sedang Padang rumput

      0.40 Lahan dengan pohon-pohon musim gugur

      0.60 Lahan dengan pohon-pohon berdaun, hutan lebat,

      0.80 lahan berumput tebal

      Sumber: Sofia F. Dan Sofyan R, 2006

      2. Pehitungan tf Contoh perhitungan nilai t f pada Sub DAS Kenjeran Bronggalan

      L

      tf =

      V 1685 m

      tf

      = 0.9 m/detik

      tf = 0.52 jam keterangan : L = Panjang Saluran yang ditinjau (m) V = Kecepatan Aliran (m/detik) f t = Lama Aliran dalam saluran (jam) Selanjutnya perhitungan tf dapat dilihat pada tabel 4.14

    Tabel 4.14 Perhitungan tf Ruas Saluran

      

    Saluran

    Lokasi kecepatan kemiringan tf panjang saluran Bentuk

      Ruas Nama Ruas Saluran saluran Saluran saluran Drainase (m) v (m/s) 0-1 Kenjeran - Bronggalan Persegi 1685 0.0002

      0.90

      0.52 Kenjeran - Karang 2-1 Persegi 1495 0.0005

      1.00

      0.42 Empat 1-3 Kenjeran - Kalijudan Trapesium 1828 0.0005

      0.90

      0.56 4-5 Kenjeran - Lebak Arum Persegi 600 0.0002

      0.89

      0.19 6-5 Kenjeran - Kenjeran Persegi 1150 0.0007

      0.92

      0.35 Utara 5-3 Kenjeran - Kenjeran Trapesium 960 0.0008

      1.02

      0.26 Selatan 3-7 Kenjeran 2473 0.0002

      1.00

      0.61

    • – Larangan Trapesium

      65 Tabel 4.15 Perhitungan t Ruas Saluran

      Kenjeran- Kalijudan

      6.84

      0.02

      315.50 0.00113

      Kenjeran- Kenjeran Utara

      0.11 6-5 persegi

      6.70

      0.02

      225.60 0.00060

      Kenjeran-Lebak Arum

      persegi

      0.48 4-5

      28.94

      0.02

      210.88 0.00003

      Trapesium

      Lokasi panjang lahan (Ln)

      0.26 1-3

      15.62

      0.02

      312.36 0.00021

      Kenjeran-Karang Empat

      0.10 2-1 persegi

      6.21

      0.02

      240.59 0.00080

      Kenjeran- Bronggalan

      Saluran m menit Jam 0-1 persegi

      Saluran Bentuk Saluran Nama Ruas

      koefisien hambat (nd) To Ruas

      Kemiringan lahan

      0.11

      5-3

      Trapesium

      Kenjeran- Kenjeran Selatan

      271.62 0.00019

      0.02

      14.34

      0.24 3-7

      Trapesium

      Kenjeran- Larangan

      156.837 0.00013

      0.02

      9.92

      0.17 Sumber : Hasil Perhitungan

      0.30 6-5 Kenjeran - Kenjeran Utara Persegi 1150

      1.24 4-5 Kenjeran - Lebak Arum Persegi 600

      0.61

      0.72 3-7 Kenjeran - Larangan Trapesium 2473

      0.46

      0.26

      0.46 5-3 Kenjeran - Kenjeran Selatan Trapesium 960

      0.11

      0.35

      3. Perhitungan tc Contoh perhitungan nilai t c pada Sub DAS Kenjeran Bronggalan tc = t + tf tc = 0.10 jam + 0.52 jam tc = 0.62 jam Selanjutnya perhitungan tc dapat dilihat pada tabel 4.16

      0.11

      0.19

      0.68

      1.85 Sumber : Hasil Perhitungan

      0.56

      0.68 1-3 Kenjeran - Kalijudan Trapesium 1828

      0.26

      0.42

      0.62 2-1 Kenjeran - Karang Empat Persegi 1495

      0.10

      0.52

      Drainase (m) 0-1 Kenjeran - Bronggalan Persegi 1685

      Ruas Nama Saluran

    Bentuk

    Saluran

    panjang saluran saluran

      Lokasi Saluran tf (jam) to (jam) tc (jam)

    Tabel 4.16 Perhitungan tc

      1.24

    4.6.2 Perhitungan Intensitas Hujan

      Besarnya intensitas hujan berbeda

    • –beda. Waktu curah hujan sangat mempengaruhi besar kecilnya intensitas hujan Untuk menghitung intensitasn hujan dapat menggunakan rumus Dr.Mononobe, yaitu sebagai berikut :

      I = R

      24

      24 . (

      24 tc )

      2

      3 ⁄ I : Intensitas Hujan (mm/jam) R24 : Curah hujan harian rata

    • – rata pada periode ulang tertentu (mm/hari) tc : waktu konsentrasi ( jam ) Berikut Perhitungan Intesitas Hujan pada Sub DAS Kenjeran- Bronggalan untuk periode ulang 2 tahun

      2

      3 87.51 mm/jam

      24 I = ∙ [ 24 0,67 jam] ⁄ I = 41.56 mm jam

      Selanjutnya perhitungan intensitas hujan untuk masing-masing hujan periode ulang dapat dilihat pada tabel 4.17

    Tabel 4.17 Perhitungan Intensitas Hujan Periode Ulang 2

      tahun, 5 tahun dan 10 tahun

      Lokasi Saluran I (mm/jam) panjang Ruas Nama Saluran tc R 2 R 5 R 10 Bentuk saluran

      Saluran saluran Drainase (m) 87.51 107.99 126.52 Persegi

      0-1 Kenjeran - Bronggalan 1685

      0.62

      41.56

      51.29

      60.09 Persegi 2-1 Kenjeran - Karang Empat 1495

      0.68

      39.40

      48.62

      56.97 Trapesium 1-3 Kenjeran - Kalijudan 1828

      1.24

      26.29

      32.44

      38.01 Persegi 4-5 Kenjeran - Lebak Arum 600

      0.30

      68.26

      84.24

      98.69 Persegi 6-5 Kenjeran - Kenjeran Utara 1150

      0.46

      50.76

      62.64

      73.39 Kenjeran - Kenjeran Trapesium 5-3 960

      0.72

      37.67

      46.48

      54.46 Selatan Trapesium 3-7 Kenjeran - Larangan 2473

      1.85

      20.14

      24.85

      29.12 Sumber : Hasil Perhitungan Contoh Perhitungan Debit Rencana Berikut contoh perhitungan debit rasional pada Sub DAS Kenjeran-Bronggalan dengan Intensitas hujan periode ulang 2 tahun

      1 Q = . C . I 2th . A

      3.6

      1 Q = . (0.75) . (41.56) . (0.27)

      3.6 3 Q = 2.33 m / det

      Selanjutnya perhitungan debit rasional dapat dilihat pada tabel

      4.18

    Tabel 4.18 Perhitungan Debit Banjir Rencana Periode Ulang 2 tahun, 5 tahun dan 10 tahun

      1.52

      98.69

      0.25

      2.85

      3.51

      4.12 6-5 Kenjeran - Kenjeran Utara 1150 0.75 50.76 62.64

      73.39

      0.15

      1.88

      8.21

      2.20 5-3 Kenjeran - Kenjeran Selatan 960 0.75 37.67 46.48

      54.46

      0.52

      4.63

      5.71

      6.69 3-7 Kenjeran - Larangan 2473 0.75 20.14 24.85

      29.12 2.83 11.89 14.67 17.19

      9.62 4-5 Kenjeran - Lebak Arum 600 0.75 68.26 84.24

      6.65

      Ruas Saluran

      2.33

      Lokasi C rata- rata

      I A Q 2 Q 5 Q 10 Nama Ruas Saluran

      Panjang saluran

      R 2 R 5 R 10 87.51 107.99 126.52 km² (m3/s)

      0-1 Kenjeran - Bronggalan 1685 0.75 41.56 51.29

      60.09

      0.27

      2.87

      1.22

      3.37 2-1 Kenjeran - Karang Empat 1495 0.75 39.40 48.62

      56.97

      0.46

      3.80

      4.68

      5.49 1-3 Kenjeran - Kalijudan 1828 0.75 26.29 32.44

      38.01

       Sumber : Hasil Perhitungan

      

    4.7 Perhitungan Analisa Hidrolika Untuk Evaluasi

    Drainase Saluran

      Analisa hidrolika pada tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan penampang saluran untuk menampung debit rencana, (dalam hal ini debit Q 2 th, Q 5 th, dan Q 10 th). Perhitungannya adalah sebagai berikut

      1. Untuk saluran berpenampang trapesium : Q = A.V A = ( b + m . h ) h P = (b + 2 h)

      √( 1 + m²) keterangan : Q : debit saluran (m/detik) V : kecepatan aliran (m/detik) A : luas penampang basah (m) m : miring dinding saluran (talud), dinyatakan dalam

      1:m. h : kedalaman saluran (m) b : lebar saluran (m) P : keliling penampang basah (m) Dalam evaluasi, semua dimensi saluran existing, adalah tetap, sedangakan lebar saluran masih memungkinkan berubah (lebar saluran dihitung) Contoh perhitungan Evaluasi ruas saluran Kenjeran- Larangan (penampang trapesium) dengan debit periode ulang 5 tahun (Q 3 5 ) m = 0.50 n = 0.025 (pasangan batu) I = 0.0002

      1

      2

      1 ⁄ ⁄

      3

      2 = . .

      ( + .ℎ)ℎ

      1

      1 ⁄ 2 = (b + m . h)h. .

      2 ( +2ℎ)√(1+ )

      1

      1 ( +0.5.1.3)1.3 ⁄

      2

      14.67 =

      (b + 0.5 . 1.3)1.3. . 0.0002 0.025 ( +21.3)√(1+0.52)

      b = 6.50 m > atau b existing (aman) Adapun yang berpenampang trapesium adalah

      1. Ruas saluaran Kenjeran-Kalijudan

      2. Ruas saluaran Kenjeran-Kenjeran Selatan

      3. Ruas saluaran Kenjeran-Larangan

    2. Untuk saluran berpenampang segi empat : = .

      = . ℎ P = (b+2h) keterangan : Q : debit saluran (m/detik) V : kecepatan aliran (m/detik) A : luas penampang basah (m) h : kedalaman saluran (m) b : lebar saluran (m) P : keliling penampang basah (m) Contoh perhitungan Evaluasi ruas saluran Kenjeran- Bronggalan (penampang segi empat) dengan debit periode

    3 Q = 2.33 m /dt

      h = 0.97 m n = 0.013 (beton)

      1

      2

      1 ⁄ ⁄

      3

      2 = . . 1 ( . ℎ)

      1 ⁄ 2 = (b . h). . ( +2ℎ)

      

    1 ( . 0.97)

      1 ⁄

      2

      2.33 =

      (b . 0.97). . 0.0002

    0.013 ( +2.0.97)

      b = 1.80 m > atau b existing (meluber) Selanjutnya hasil perhitungan dimensi saluran dengan berbagai debit rencana periode ulang (Q2, Q5 dan Q10) dapat dilihat pada Tabel 4.19

    Tabel 4.19 Evaluasi Dimensi Sistem Drainase Kenjeran

      

    Ruas Saluran Dimensi Saluran existing Evaluasi Lebar Saluran dengan Debit Periode Ulang

    No Ruas Bentuk H w b Q2 b2 Q5 b5 Q10 b10 Nama Ruas i n Evaluasi Evaluasi Evaluasi Penampang (m) (m) (m) (m/dt) (m) (m/dt) (m) (m/dt) (m)

      Kenjeran - Persegi 0.97 0.3 0.0002 0.013

      1.30

      

    2.33

    1.80 meluber

      2.87 2.20 meluber

      3.37 2.75 meluber 0-1

      Bronggalan Kenjeran - 2-1 Karang Persegi

      0.8 0.3 0.0005 0.013

      1.30

      

    3.80

    1.80 meluber

      4.68 2.30 meluber

      5.49 3.00 meluber Empat Kenjeran -

      1-3 Trapesium

      1.23 0.4 0.0005 0.025

      3.50

      

    6.65

    3.50 aman

      8.21 4.00 meluber

      9.62 4.70 meluber Kalijudan Kenjeran -

      4-5 Lebak Persegi

      0.8 0.3 0.0002 0.013

      3.00

      

    2.85

    3.00 aman

      3.51 3.00 aman

      4.12 3.55 meluber Arum Kenjeran -

      6-5 Kenjeran Persegi

      1 0.3 0.0007 0.013

      5.40 1.52 5,40 aman

      1.88 5.40 aman

      2.20 5.40 aman Utara Kenjeran -

      5-3 Kenjeran Trapesium

      1.3 0.6 0.0008 0.025

      6.85

      

    4.63

    6.85 aman

      5.71 6.85 aman

      6.69 6.90 meluber Selatan Kenjeran -

      3-7 Trapesium

      1.3 0.6 0.0002 0.025

      7.30

      11.89 7.30 aman

      14.67 7.30 aman

      17.19 7.65 meluber Larangan Sumber : Hasil Perhitungan

      

    4.8 Operasional Pompa Dan Pintu Pembuang Serta Saluran

    Tampung

      Data di lapangan menunjukkan sebagai berikut :

      1. Data pasang : Terendah = +0.00 (dasar laut di belakang pintu) Tertinggi = +1.30 (diatas dasar laut di belakang pintu)

      2. Data pompa pembuang Jumlah pompa = 3 buah Kapasitas = 2 m³/det (1 pompa)

      3. Pintu pembuang Jumlah pintu = 3 buah Lubang bukaan = lebar b = 1.50 m

      Tinggi t = 2.00 m (bukaan max 1.30 m)

      4. Saluran pembuang akhir (saluran Kenjeran-Larangan) L = 2473 m Bentuk trapesium b = 7.30 m (existing) h = 1.30 m (existing) w = 0.60 m (existing)

      Konversi segiempat b = 8.00 m h = 1.30 m w = 0.60 m

      5. Operasional pompa, pintu pembuang, dalam kondisi :

      a. Air laut kondisi surut (elevasi 0.00)

      b. Air laut kondisi pasang rata-rata (+0.50)

      c. Air laut kondisi pasang tertinggi (+1.30)

      

    4.8.1 Operasional Pompa dan Pintu Pembuang kondisi air surut dengan Q 10 th = 17.19 m³/det (Q saluran Kenjeran- a. Q inflow = 17.19 m³/det (Q 10 th) Q outflow pompa = 3 x (2 m³/det) = 6 m³/det (Q 10 th) Q outflow pintu, dibuka setinggi 1.30 m (setinggi air di saluran) = .

      = bpt. tpt. C √2gh = 1.50 . 1.30

      .0.85 . √2 . 9.81 . 1.30 = 8.37 m³/det 10 Untuk 2 pintu = 2 x 8.37 = 16.74 m³/det < Q th

      Untuk 3 pintu = 3 x 8.37 = 25.11 m³/det > Q 10 th Dari uraian diatas, didapat bahwa dengan operasional 3 pintu saja debit banjir bisa terbuang. Selanjutnya, dengan operasional kombinasi pompa dengan pintu banjir bisa diatasi (3 pompa 10 . dengan 2 pintu) = 6 + 16.74 = 22.74 m³/det > Q th Dengan demikian pada kondisi debit inflow (Q 10 th), dengan pengoperasian 3 pintu (25.11 m³/det) atau kombinasi 2 pintu dan

      3 pompa (22.74 m³/det > Q 10 th) sudah bisa membuang banjir, atau bisa dengan kombinasi lainnya.

      b. Operasional pompa dan pintu bila yang datang Q 5 th = 14.67 m³/det, elevasi +0.00 belakang pintu.

      1. Dengan operasi 2 pintu saja (16.74 m³/det) bisa membuang debit banjir (14.67 m³/det), apalagi 3 pintu (25.11 m³/det)

      2. Dengan kombinasi 3 pompa dan 1 pintu (14.37 m³/det) belum bisa mengatasi banjir.

      3. Selanjutnya bisa dilakukan dengan kombinasi lainnya.

      c. Operasional pompa dan pintu bila yang datang Q 2 th = 11.89 m³/det dan elevasi belakang pintu +0.00

      1. Dengan operasional 2 pintu bisa (16.74 m³/det), banjir bisa

      2. Dengan operasional 3 pompa dan 1 pintu (14.37 m³/det) banjir bisa dibuang.

      3. Selanjutnya bisa dilakukan dengan kombinasi lainnya.

    4.8.2 Operasional Pompa dan Pintu bila yang datang Q

      10 th = 17.19 m³/det, dan elevasi belakang pintu = + 1.30 (pasang maksimum)

      1. Q outflow 3 pompa = 6 m³/det Pintu tidak bisa dioperasikan h air = +1.30, h laut = +1.30

      2. Q inflow = 17.19 m³/det (Q 10 th) Q outflow = 6.00 m³/det Sisa/storage = 11.19 m³/det (harus ditampung di saluran tampung (long storage) Bila hujan 2 jam, volume saluram tampung = 11.19 m³/det x 2 x 60 x 60 = 80568 m³

      3. Saluran penampungan, semua saluran dimulai dari paling hilir berturut-turut sampai ke hulu, akan menjadi saluran penampungan (long storage) kemampuan masing-masing saluran dalam menampung air saluran a. Saluran Kenjeran-Larangan

      Volume = A x l (trapesium) = (7.30 + 0.50 (1.30 + 0.60)) 1.30 x 2473

      = 47645 m³

      b. Saluran Kenjeran-Kenjeran Selatan Volume = A x l (trapesium)

      = (6.85 + 0.50 (1.30 + 0.60)) 1.30 x 960 = 14227 m³

      c. Saluran Kenjeran-Kalijudan

      = (3.50 + 0.50 (1.23+0.40)) 1.23 x 1828 = 12857 m³

      d. Saluran Kenjeran-Karang Empat Volume = A x l (persegi)

      = (1.30 x (0.80 + 0.30)) 1495 = 2137 m³

      e. Saluran Kenjeran-Bronggalan Volume = A x l (persegi)

      = (1.30 x (0.97 + 0.30)) 1685 = 2781 m³

      f. Saluran Kenjeran-Lebak Arum Volume = A x l (persegi)

      = (3 x (0.80 + 0.30)) 600 = 1980 m³

      g. Saluran Kenjeran-Kenjeran Utara Volume = A x l (persegi)

      = (5.40 x (1+0.30)) 1250 = 8073 m³

      Total (a+b+c+d+e+f+g) = 89700 m³ > 80568 m³ (banjir tertampung di sistem drainase Kenjeran)

    4.8.3 Operasional Pompa dan Pintu bila yang datang Q

      10 th = 17.19 m³/det, dan elevasi belakang pintu = + 0.50 (pasang rata-rata)

      1. Q inflow = 17.19 m³/det (Q 10 th) Q outflow 3 pompa = 6.00 m³/det Q outflow pintu, dibuka setinggi 0.50 m Dalam perhitungan bukaan pintu ditutup tiap penurunan 0.20 m a. Kondisi h = 1.30 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (1.30 - 0.50) = 1.93 m³/det

      b. Kondisi h = 1.10 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (1.10 - 0.50) = 1.67 m³/det

      c. Kondisi h = 0.90 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (0.90 - 0.50) = 1.36 m³/det

      d. Kondisi h = 0.70 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (0.70 - 0.50) = 0.96 m³/det

      e. Kondisi h = 0.50 (h air = h pasang) pintu harus ditutup, bisa dilakukan pemompaan atau dilakukan pembukaan pintu setelah muka air pasang, mulai atau sudah surut. Pada kondisi ini (h = 0.50), maka air yang ditampung dalam long

      storage adalah (17.19 m³/det

    • – a – b – c – d - 6) = 5.27 m³/det (harus ditampung di saluran tampung (long storage))

      Bila hujan 2 jam, volume saluran tampung = 5.27 m³/det x 2 x 60 x 60 = 37944 m³. Saluran penampungan hanya paling hilir

      Saluran Kenjeran-Larangan Volume = A x l (trapesium)

      = (7.30 + 0.50 (1.30 + 0.60)) 1.30 x 2473 = 47645 m³

      Jadi volume yang ditampung 47645 m³ > 37944 m³

      2. Q inflow = 17.19 m³/det (Q 10 th) Q outflow pompa = 3 x (2 m³/det) = 6 m³/det (Q 10 th) Q outflow pintu, dibuka setinggi 0.50 m

      a. Kondisi h = 1.30 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30

      .0.85 . √2 . 9.81 . (1.30 – 0.50) = 1.93 m³/det

      Untuk 2 pintu = 2 x 1.93 = 3.86 m³/det < Q 10 th Untuk 3 pintu = 3 x 1.93 = 5.79 m³/det < Q 10 th Dari uraian diatas, didapat bahwa dengan operasional 3 pintu saja debit banjir tidak bisa terbuang.

      1. Dengan operasional kombinasi pompa dengan pintu banjir tidak bisa diatasi (3 pompa dengan 3 pintu) = 6 + 5.79 = 11.79 m³/det < Q 10 th = 17.19 m³/det, sisanya

      (17.19

    • – 11.79) x 2 x 60 x 60 = 38880 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      b. Kondisi h = 1.10 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (1.10 – 0.50) Untuk 2 pintu = 2 x 1.67 = 3.34 m³/det < Q 10 th Untuk 3 pintu = 3 x 1.67 = 5.02 m³/det < Q 10 th Dari uraian diatas, didapat bahwa dengan operasional 3 pintu saja debit banjir tidak bisa terbuang.

      1. Dengan operasional kombinasi pompa dengan pintu banjir tidak bisa diatasi (3 pompa dengan 3 pintu) = 6 + 5.02 = 11.02 m³/det < Q 10 th th = 17.19 m³/det, sisanya (17.19

    • – 11.02) x 2 x 60 x 60 = 44424 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

    c. Kondisi h = 0.90 = .

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (0.90 – 0.50) = 1.36 m³/det

      Untuk 2 pintu = 2 x 1.36 = 2.73 m³/det < Q 10 th Untuk 3 pintu = 3 x 1.36 = 4.10 m³/det < Q 10 th Dari uraian diatas, didapat bahwa dengan operasional 3 pintu saja debit banjir tidak bisa terbuang.

      1. Dengan operasional kombinasi pompa dengan pintu banjir tidak bisa diatasi (3 pompa dengan 3 pintu) = 6 + 4.10 = 10.10 m³/det < Q 10 th = 17.19 m³/det, sisanya (17.19

    • – 10.10) x 2 x 60 x 60 = 51048 m³, ditampung di saluran:

      1. Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      2. Kenjeran-Kenjeran Selatan (kapasitas 14227 m³)

      d. Kondisi h = 0.70

      = bpt. tpt. C √2gz = 1.50 . 1.30 .0.85 . √2 . 9.81 . (0.70 – 0.50) = 0.96 m³/det

      Untuk 2 pintu = 2 x 0.96 = 1.93 m³/det < Q 10 th 10 Untuk 3 pintu = 3 x 0.96 = 2.89 m³/det < Q th Dari uraian diatas, didapat bahwa dengan operasional 3 pintu saja debit banjir tidak bisa terbuang.

      1. Dengan operasional kombinasi pompa dengan pintu banjir tidak bisa diatasi (3 pompa dengan 3 pintu) = 6 + 10 2.89 = 8.89 m³/det < Q th = 17.19 m³/det, sisanya (17.19

    • – 8.89) x 2 x 60 x 60 = 59760 m³, ditampung di saluran:

      1. Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      2. Kenjeran-Kenjeran Selatan (kapasitas 14227 m³)

      3. Operasional pompa dan pintu bila yang datang Q 5 th = 14.67 m³/det, elevasi +0.50 belakang pintu.

      a. Kondisi h = 1.30 Dengan operasi 3 pintu saja (5.79 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (14.67 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (11.79 m³/det) belum bisa mengatasi banjir, sisanya (14.67

    • – 11.79) x 2 x 60 x 60 = 20736 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      b. Kondisi h = 1.10 Dengan operasi 3 pintu saja (5.02 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (14.67 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (11.02 m³/det) belum bisa mengatasi banjir, sisanya (14.67

    • – 11.02) x 2 x 60 x 60 = 26280 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      c. Kondisi h = 0.90 Dengan operasi 3 pintu saja (4.10 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (14.67 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (10.10 m³/det) belum bisa mengatasi banjir, sisanya (14.67

    • – 10.10) x 2 x 60 x 60 = 32904 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      d. Kondisi h = 0.70 Dengan operasi 3 pintu saja (2.89 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (14.67 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (8.89 m³/det) belum bisa mengatasi banjir, sisanya (14.67

    • – 8.89) x 2 x 60 x 60 = 41616 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      4. Operasional pompa dan pintu bila yang datang Q 2 th = 11.89 m³/det dan elevasi belakang pintu +0.50 a Kondisi h = 1.30 Dengan operasi 3 pintu saja (5.79 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (11.89 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (11.79 m³/det) belum bisa mengatasi banjir, sisanya (11.89

    • – 11.79) x 2 x 60 x 60 = 720 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)
    b. Kondisi h = 1.10 Dengan operasi 3 pintu saja (5.02 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (11.89 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (11.02 m³/det) belum bisa mengatasi banjir. sisanya (11.89

    • – 11.02) x 2 x 60 x 60 = 6264 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      c. Kondisi h = 0.90 Dengan operasi 3 pintu saja (4.10 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (11.89 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (10.10 m³/det) belum bisa mengatasi banjir. sisanya (11.89

    • – 10.10) x 2 x 60 x 60 = 12888 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

      d. Kondisi h = 0.70 Dengan operasi 3 pintu saja (2.89 m³/det) belum bisa membuang debit banjir (11.89 m³/det),

      1. Dengan kombinasi 3 pompa dan 3 pintu (8.89 m³/det) belum bisa mengatasi banjir. sisanya (11.89

    • – 8.89) x 2 x 60 x 60 = 21600 m³, ditampung di saluran paling hilir Kenjeran-Larangan (kapasitas 47645 m³)

    BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    5.1 Kesimpulan

      Dari uraian sebelumnya, Bab I, II, III, dan IV ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil, seperti dalam uraian berikut:

      1. Sistem drainase Kenjeran dengan debit periode ulang 2 tahunan, 5 tahunan, dan 10 tahunan, menunjukkan ketidakmampuan menampung debit banjir, sehingga sebagian dari ruas saluran ada yang meluber.

      2. Dalam mengatasi atau mengalirkan banjir ke laut dengan kondisi elevasi pasang surut yang berbeda (pasang maksimum +1.30, pasang minimal +0.00, dan pasang rata- rata +0.50) menunjukkan kondisi yang berbeda, (untuk Q 5 2 10 th, Q th, dan Q th) dengan rincian seperti dalam uraian berikut:

      a. Bila elevasi pasang maksimal (+1.30), pompa operasikan semua (3 buah), (3 buah pintu ditutup) dan seluruh sistem Kenjeran menjadi long storage (tampungan saluran) selama waktu hujan (2 jam).

      b. Untuk elevasi pasang surut minimal (+0.00) dengan pengoperasian 3 pintu atau 3 pompa atau kombinasi diantara pengoperasian pintu dan pompa dengan jumlah yang bervariasi, banjir bisa dibuang ke laut, tanpa adanya tampungan banjir di saluran (long storage ). c. Untuk elevasi pasang surut rata-rata (+0.50), perlu adanya pengoperasian 3 pintu atau 3 pompa, dengan kombinasi diantara keduanya, dan adanya pengoperasian tampungan banjir sebagian atau seluruh saluran, dalam sistem dimensi saluran Kenjeran.

    5.2 Rekomendasi

      1. Untuk mencegah luberan banjir, maka dimensi lebar saluran perlu dilebarkan atau redesain dimensi saluran.

      2. Untuk mengurangi lamanya banir tertahan di sistem saluran drainase, diperlukan penambahan jumlah pintu pembuang dan atau penambahan jumlah dan kapasitas pompa.

    DAFTAR PUSTAKA

      Cow, Ven Te. 1989. Hidrologi Saluran

    • – Terbuka. Jakarta : Erlangga.

      SDMP ( Surabaya Drainage Master Plan 2018 ). Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid 1. Bandung: NOVA.

      Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid 2. Bandung: NOVA. Suripin. 2003. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Semarang. Megister Teknik Sipil Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Triatmodjo, Bambang. 1996. Hidrolika I. Beta Offset, Yogyakarta. Triatmodjo, Bambang. 1996. Hidrolika II. Beta Offset, Yogyakarta.

      

    “ halaman ini sengaja dikosongkan “

      

    PENULIS

    ARMITA TRI RAHAYU Penulis bernama Armita Tri Rahayu. Lahir di Surabaya, 4 Juni

      1993, merupakan anak ketiga dari 3 bersaudara. Penulis menempuh pendidikan formal, yaitu : TK Dharma Wanita Berbek (1997-1999), SDN Berbek No.492 Waru-Sidoarjo (1999- 2005), SMPN 2 Waru (2005-2008),

      

    SMAN 17 Surabaya (2008-2011) dan DIII Teknik Sipil

    FTSP – ITS Surabaya (2011-2014) .

      Penulis mengikuti ujian masuk Lintas Jalur ITS dan diterima di jurusan Teknik Sipil FTSP

    • – ITS Surabaya

      pada tahun 2015, terdaftar dengan NRP 3114.106.048.

      Dan di Jurusan Teknik Sipil Ini Penulis mengambil Tugas

      Akhir konsentrasi Bangunan Air (Hydraulic Engineering).

      Menyadari dalam penulisan Tugas Akhir ini jauh

    dari kata sempurna, penulis menerima kritik dan saran

    yang membangun. Email

      STA. GUBENG STA. LARANGAN

Dokumen baru