Evaluasi drug therapy problems pada pengobatan pasien stroke iskemik di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007 - Juni 2008 - USD Repository

Gratis

0
0
129
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS PADA PENGOBATAN PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RINI YOGYAKARTA PERIODE JULI 2007-JUNI 2008 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh : Maria Corazon Sonia Mbembu NIM: 058114065 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS PADA PENGOBATAN PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RINI YOGYAKARTA PERIODE JULI 2007-JUNI 2008 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh : Maria Corazon Sonia Mbembu NIM: 058114065 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009 ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Persetujuan Skripsi EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS PADA PENGOBATAN PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RINI YOGYAKARTA PERIODE JULI 2007-JUNI 2008 Oleh : Maria Corazon Sonia Mbembu NIM: 058114065 Skripsi ini telah disetujui oleh: Pembimbing I dr. Fenty, M.Kes., SpPK Tanggal : 22 Agustus 2009 Pembimbing II M. Wisnu Donowati, M.Si., Apt. Tanggal : 22 Agustus 2009 iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS PADA PENGOBATAN PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RINI YOGYAKARTA PERIODE JULI 2007-JUNI 2008 Oleh : Maria Corazon Sonia Mbembu NIM : 058114065 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tanggal : 13 Agustus 2009 Mengetahui Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Dekan Rita Suhadi, M.Si., Apt. Pembimbing I: dr. Fenty, MKes., Sp.PK ..................................... Pembimbing II M. Wisnu Donowati, M.Si., Apt. ..................................... Panitia Penguji : 1. dr. Fenty, MKes., Sp.PK ..................................... 2. M. Wisnu Donowati, M.Si., Apt. ..................................... 3. Rita Suhadi, M.Si., Apt. ..................................... 4. Drs. Mulyono, Apt. ..................................... iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kupersembahkan Skripsiku untuk: Tuhan Yesus dan Bunda Maria Bapak Piet dan mama Mery Kakak2ku: Jhon ST., MT; Olga SE, Desni ST My sweet sister Nela Keluarga Besar Komunitas Sant’Egidio Pasien2 ku di masa depan almamaterku... v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Maria Corazon Sonia Mbembu Nomor Mahasiswa : 058114065 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS PADA PENGOBATAN PASIEN STROKE ISKEMIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RINI YOGYAKARTA PERIODE JULI 2007-JUNI 2008 Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan kedalam bentuk media lain, mengelola dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 22 Agustus 2009 yang menyatakan Maria Corazon Sonia Mbembu vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Drug Therapy Problems pada Pengobatan Pasien Stroke Iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi pada program studi Ilmu Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik dalam memberikan bimbingan, semangat, motivasi, dorongan, kritik dan saran hingga terselesaikannya skripsi ini, terutama kepada : 1. Direktur Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta. 2. Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi yang telah memberikan ijin untuk terlaksananya penelitian ini sekaligus selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan dalam proses penyusunan skripsi ini. 3. dr. Fenty, MKes., Sp.PK. selaku dosen pembimbing I dan M. Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan, terselesaikannya skripsi ini. vii arahan, dan motivasi hingga

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Drs. Mulyono, Apt selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan dalam proses penyusunan skripsi ini. 5. Para staf Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta terutama bagian Rekam Medis dan kefarmasian yang telah banyak membantu penulis selama satu setengah bulan dalam proses pengambilan data. 6. Para dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membagikan ilmu dan memberikan bekal kepada penulis dalam bentuk teori dan praktik. 7. Bapak dan Mama tercinta atas doa, kasih sayang, cinta, perhatian dan semangat yang selalu diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan perjuangan ini dengan baik. 8. Kakak Jhon, Elsa, Olga, Desni, dan Nela terima kasih atas dukungan dan semangat yang selalu diberikan bagi penulis sehingga penulis yakin dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Keponakan tersayang Lionel, terima kasih buat doa yang dipanjatkan buat mama kecil. 9. Romo Endi dan Romo Yance, terima kasih buat doa dan nasehat yang menguatkan dan meneguhkan hati serta semua keluarga besar Salla RaiDjoka untuk segala bentuk dukungan dan doa. 10. Maya, saudari sekaligus sahabatku, terima kasih buat dukungan dan semangat yang selalu diberikan dalam suka dan duka tiap langkah perjalanan hidupku. 11. Keluarga besar Komunitas Sant’Egidio di seluruh dunia, terutama KSE Yogyakarta, terima kasih buat persaudaraan kita selama ini terutama dalam viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI doa, pelayanan, dan perjuangan-perjuangan kita untuk menjalankan misi rahmat Allah, damai di dunia. 12. Adik-adik terkasihku di Panti Asuhan Sayap Ibu dan Sekolah Damai, terima kasih buat pelajaran akan makna perjuangan dan semangat hidup yang sesungguhnya. 13. Sahabat-sahabatku: Fany dan Sarah (sekaligus teman seperjuangan dalam mengerjakan skripsi), flora (ketua Aswati), Wydia, Virginia, Lini, Sephin, Marlyn, Sukma, Rita, Chrisye, dan Sita. 14. Teman-teman Farmasi 2005, teman-teman kelas B, teman kelompok praktikum C dan teman FKK, terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan selama 4 tahun kita berjuang bersama mencari ilmu. 15. Teman-teman kost Dewi: Era, Sim, Amoy, Veron, Nana, Muli, Etty, Eka, Fitri dan Uci, terima kasih untuk persaudaraan dan kebersamaan kita. 16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan diatas yang telah rela membantu dengan doa dan usaha untuk penulis hingga selesainya proses penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Besar harapan penulis agar skripsi ini bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi pembaca serta dapat menambah ilmu pengetahuan. Penulis ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 13 Agustus 2009 Penulis Maria Corazon Sonia Mbembu x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI INTISARI Di Indonesia, angka kejadian stroke meningkat dengan tajam dan menempati urutan pertama penyebab kematian di Rumah Sakit Pemerintah. Stroke iskemik adalah suatu penyakit yang terjadi karena adanya gangguan peredaran darah berupa iskemia, yaitu aliran darah berkurang atau terhenti pada sebagian daerah di otak dan terjadi sekitar 70-85% dari total kejadian stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien berdasarkan distribusi kelompok umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama, mengetahui pola pengobatan, dan mengevaluasi Drug Terapy Problems yang terjadi pada pengobatan pasien stroke iskemik akut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Bahan yang digunakan adalah lembar rekam medik pasien stroke iskemik akut. Kasus yang diteliti sebanyak 42 kasus. Karakteristik pasien berdasarkan umur paling banyak terjadi pada kelompok 60-69 tahun (40,0%), berdasarkan jenis kelamin terbanyak pada laki-laki (55,0%), berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama terbanyak adalah tanpa keterangan (76,0%). Kelas terapi yang paling banyak digunakan adalah obat gizi dan darah (100,0%) dan obat kardiovaskuler (97,6%). Hasil evaluasi DTPs adalah perlu tambahan terapi obat sebanyak 12 kasus (28,6%), dan adverse drug reaction sebanyak 4 kasus (9,5%). Berdasarkan NCEP III guideline dengan target LDL kolesterol <100 mg/dL, perlu tambahan terapi obat statin sebanyak 21 kasus (50,0%). Kata kunci: Drug Therapy Problems (DTPs), stroke iskemik akut. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT The number of stroke incident increasing and becomes the first deadly disease in the goverment hospital in Indonesia. The ischemic stroke is a disease which caused by disorders of blood vessels, the blood circulation decrease or stopped in a part of brain area and occured about 70-85% from the total incidents of stroke. The goals of this study to identify the characteristic of the patients such as the age, the gender and the other diagnose besides the first diagnose, to identify the patern of therapy and to evaluate drug therapy problems occured with the patients of acute ischemic stroke. This study is an observational descriptive evaluative research which have retrospective studies. The instrument of this study is medical record of acute ischemic stroke patients. All case which analized is 42 cases. The most frequency case patients 6069 years old (40,0%), the most gender is male (55,0%), the most other diagnose beside stroke is no information (76,0%). The most class therapy used are nutrition and blood medicine (100%) and cardiovascular medicine (97,6%). The type of drug therapy problems that happened which is needs additional drug therapy are 12 cases (28,6%) and adverse drug reaction are 4 cases (9,5%). According to NCEP III guideline with LDL cholesterol <100 mg/dL, needs additional statin drug therapy are 21 cases (50,0%). Key words: Drug Therapy Problems, acute ischemic stroke xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. iii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................... vi PRAKATA ...................................................................................................... vii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... x INTISARI ....................................................................................................... xi ABSTRACT ...................................................................................................... xii DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xix DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xx BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 1. Perumusan masalah ...................................................................... 3 2. Keaslian penelitian ....................................................................... 3 3. Manfaat penelitian ........................................................................ 4 Tujuan Penelitian ................................................................................... 4 1. Tujuan umum ............................................................................... 4 2. Tujuan khusus .............................................................................. 5 B. xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA .......................................................... 6 A. Otak ....................................................................................................... 6 B. Stroke Iskemik ....................................................................................... 8 1. Pengertian stroke iskemik ............................................................ 8 2. Etiologi dan klasifikasi stroke iskemik ........................................ 8 3. Patofisiologi stroke iskemik.......................................................... 10 4. Faktor risiko stroke iskemik.......................................................... 11 5. Gejala dan Tanda stroke iskemik ................................................. 11 6. Diagnosis stroke iskemik ............................................................. 12 Penatalaksanaan Terapi Stroke Iskemik ................................................. 13 1. Tujuan terapi ............................................................................... 13 2. Sasaran terapi ............................................................................... 13 3. Algoritma terapi ............................................................................ 14 4. Strategi terapi ................................................................................ 15 D. Drug Therapy Problems ......................................................................... 22 E. Keterangan Empiris ............................................................................... 24 BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 25 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................................. 25 B. Definisi Operasional .............................................................................. 25 C. Subjek Penelitian ................................................................................... 28 D. Bahan Penelitian .................................................................................... 28 E. Lokasi Penelitian ................................................................................... 28 F. Jalannya Penelitian ................................................................................ 28 C. xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Tahap perencanaan ....................................................................... 28 2. Tahap pengambilan data .............................................................. 29 3. Tahap pengolahan data dan pembahasan ...................................... 29 G. Tata Cara Analisis Hasil ........................................................................ 30 H. Kesulitan penelitian ............................................................................... 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 34 A. Profil pasien stroke ................................................................................ 34 1. Distribusi pasien berdasarkan kelompok umur ............................ 35 2. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin ................................ 36 3. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis lain selain B. diagnosis utama stroke iskemik ................................................... 37 Pola Pengobatan Pasien Stroke iskemik ................................................ 38 1. Obat yang bekerja pada saluran cerna .......................................... 39 2. Obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler .............................................................................. 41 3. Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan ..................... 42 4. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat .................................. 43 5. Obat yang bekerja sebagai analgesik ........................................... 44 6. Obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi .......................... 45 7. Obat-obat hormonal ..................................................................... 46 8. obat-obat saluran kemih ................................................................ 47 9. Obat-obat yang mempengaruhi gizi dan darah ............................ 48 10. Obat-obat untuk penyakit otot skelet dan sendi ........................... 49 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. Sediaan topikal ............................................................................. 49 Kajian Drug Therapy Problems (DTPs) ................................................ 50 1. Perlu tambahan terapi obat ........................................................... 51 2. Adverse Drug Reaction ................................................................ 52 Rangkuman Pembahasan ....................................................................... 53 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 55 A. Kesimpulan ............................................................................................ 55 B. Saran ...................................................................................................... 56 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 57 LAMPIRAN .................................................................................................... 60 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................... 106 C. D. xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I Tabel II Tabel III Tabel IV Tabel V Tabel VI Tabel VII Tabel VIII Tabel IX Tabel X Tabel XI Faktor risiko stroke ............................................................. Rekomendasi untuk farmakoterapi stroke iskemik ............. Kategori Drug Therapy Problems ...................................... Distribusi Kelas Terapi Obat Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ............................ Golongan, Kelompok dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Cerna yang Digunakan pada Terapi Kaus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 .................................................................... Golongan, Kelompok dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Kardiovaskuler yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 .................................................................... Golongan, Kelompok dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Pernapasan yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ............................................................. Golongan, Kelompok dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saraf Pusat yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 .................................................................... Golongan, Kelompok dan Jenis Obat yang Bekerja Sebagai Analgesik yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ..................................................................................... Golongan, Kelompok dan Jenis Obat Infeksi yang Digunakan untuk Pengobatan Infeksi pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ..................................................................................... Golongan, Kelompok dan Jenis Obat Hormonal yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008............................. xvii 11 22 23 38 39 41 42 43 44 45

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel XII Tabel XIII Tabel XIV Tabel XV Golongan, Kelompok dan Jenis Obat yang Mempengaruhi Gizi dan Darah yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ............................................................. Golongan, Kelompok dan Jenis Obat untuk Penyakit Otot Skelet dan Sendi yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ..................................................................................... Kasus DTPs Perlu Tambahan Terapi Obat Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008..................... Kasus DTPs Adverse Drug Reaction pada Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008..................... xviii 49 49 51 52

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Anatomi otak ...................................................................... 8 Gambar 2. Klasifikasi stroke iskemik berdasarkan mekanisme ........... 9 Gambar 3. Terjadinya stroke iskemik .................................................. 10 Gambar 4. Algoritma terapi .................................................................. 14 Gambar 5. Distribusi pasien berdasarkan kelompok umur ................ 35 Gambar 6. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin .................... 36 Gambar 7. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik ......................................... xix 37

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I DTPs pasien stroke iskemik periode Juli 2007- Juni 2008 berdasarkan metode SOAR ....................................... 60 Lampiran II ABBREVIATION S .............................................................. 103 Lampiran III Surat keterangan penelitian ................................................ 105 xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut WHO, stroke merupakan tanda-tanda klinis mengenai gangguan fungsi serebral secara fokal ataupun global, yang berkembang dengan cepat, dengan gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau mengarah ke kematian tanpa penyebab yang kelihatan, selain tanda-tanda yang berkenaan dengan aliran darah di otak (Junaidi, 2004). Stroke adalah penyebab kematian ketiga di USA, selain penyakit kardiovaskuler dan kanker serta merupakan penyebab kecacatan nomor satu diantara para penyandangnya. Pada pertengahan abad ke-20, stroke terjadi lebih dari 700.000 individu per tahun dan menyebabkan kematian 150.000 orang (Fagan dan Hess, 2005). Di Indonesia, angka kejadian stroke meningkat dengan tajam, bahkan saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia. Diperkirakan setiap tahunnya 500.000 penduduk terkena stroke, dan sekitar 25% atau 125.000 orang meninggal, sisanya mengalami cacat ringan atau berat (Anonim, 2008b). Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) tahun 2004, menyebutkan stroke menempati urutan pertama penyebab kematian di rumah sakit pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Stroke iskemik (stroke non pendarahan) terjadi sekitar 70-85% dari total kejadian stroke, sehingga stroke iskemik merupakan sebagian besar dari kasus stroke yang terjadi dibandingkan dengan stroke pendarahan (Junaidi, 2004). 1

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Penelitian mengenai Drug Therapy Problems (DTPs) dalam pengobatan pasien stroke iskemik dilakukan karena pengobatan stroke membutuhkan kecermatan dan ketepatan pemberian obat. Pemberian obat dalam pengobatan pasien stroke iskemik merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan terapi. Adanya DTPs yang terjadi dalam pengobatan akan merugikan pasien yakni mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien, meningkatkan biaya pengobatan yang dikeluarkan oleh pasien, serta meningkatkan rata-rata angka kematian pada pasien (Nguyen, 2000). Untuk mengatasi akibat DTPs tersebut dibutuhkan peran seorang farmasis. Pada penelitian yang sama, juga disebutkan oleh Nguyen (2000), farmasis di rumah sakit lebih sering tidak tepat dalam dispensing obat bila dibandingkan dengan farmasis di apotek. Hal ini dikarenakan jumlah pasien di rumah sakit yang jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah pasien di apotek begitupun dengan jumlah farmasis di rumah sakit yang sering tidak cukup dalam kuantitasnya untuk melayani jumlah pasien yang besar. Oleh karena itu, penelitian DTPs dalam pengobatan pasien stroke iskemik ini dilakukan di rumah sakit. Adapun pemilihan Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta sebagai tempat penelitian dikarenakan perannya sebagai rumah sakit tipe pratama, rumah sakit yang memiliki pelayanan dasar, umum, dan gigi serta pelayanan medik spesialistik untuk dasar sesuai dengan standar minimal rumah sakit kelas pratama yaitu spesialis penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, bedah, dan penyakit anak (Anonim, 2008a). Selain itu penyakit stroke termasuk dalam 10 besar penyakit dengan jumlah pasien terbanyak pada periode Juli 2007-Juni 2008 dan

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 penelitian mengenai DTPs pada pengobatan pasien stroke iskemik belum pernah dilakukan sebelumnya di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta. 1. Perumusan masalah Masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah: a. Seperti apakah karakteristik pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 berdasarkan distribusi kelompok umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik? b. Seperti apakah pola pengobatan meliputi kelas terapi, golongan, dan jenis obat, pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008? c. Apakah ada kejadian Drug Terapy Problems yang meliputi: tidak butuh obat, perlu tambahan terapi obat, obat yang tidak efektif, dosis terlalu rendah, adverse drug reaction, dosis terlalu tinggi? 2. Keaslian penelitian Berdasarkan informasi yang diperoleh, penelitian mengenai evaluasi drug therapy problems pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 belum pernah dilakukan. Penelitian yang telah dilaksanakan dan terkait dengan penelitian ini antara lain: a. Kajian peresepan penyakit stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Juli-Desember 2003 (Bharoto, 2005).

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 b. Kajian Medication Error pada kasus stroke di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta tahun 2004 (Mutmainah, 2005). c. Evaluasi Drug Related Problems pada pengobatan pasien stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2005 (Krismayanti, 2007). Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah tempat dilaksanakan penelitian ini yakni di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta serta periode pelaksanaan penelitian yakni periode Juli 2007-Juni 2008. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat Praktis Penelitian ini dapat digunakan sebagai hasil evaluasi untuk pengobatan pasien stroke iskemik di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta. b. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai Drug Therapy Problems pada pasien stroke iskemik di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengevaluasi Drug Therapy Problems pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 2. Tujuan khusus Adapun tujuan khususnya yaitu: a. Mengetahui karakteristik pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 berdasarkan distribusi kelompok umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik. b. Mengetahui pola pengobatan meliputi kelas terapi, golongan, dan jenis obat, pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008. c. Mengevaluasi kejadian Drug Therapy Problems yang meliputi: tidak butuh obat, perlu tambahan terapi obat, obat yang tidak efektif, dosis terlalu rendah, adverse drug reaction, dan dosis terlalu tinggi.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Otak Otak adalah organ vital. Otak bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual kita. Otak juga mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku, dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu, pembelajaran motorik, dan segala bentuk pembelajaran lainnya (Liza, 2007). Otak terdiri dari sel-sel saraf yang disebut neuron, sel-sel penunjang yang disebut sel glia, cairan serebrospinal, dan pembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama, sekitar 100 miliar, tetapi jumlah koneksi di antara neuron berbeda-beda. Pada orang dewasa, otak membentuk hanya sekitar 2% (sekitar 1,4 kg) dari berat tubuh total, tetapi mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa yang ada di dalam darah arterial (Feigin, 2006). Otak, terdiri dari otak besar yang disebut cerebrum, otak kecil disebut cerebellum dan batang otak disebut brainstem. 1. Cerebrum (Otak besar) Terdiri dari dua belahan yang disebut hemisfer serebri dan keduanya dipisahkan oleh fisura longitudinalis. Hemisfer serebri terbagi menjadi hemisfer kanan dan kiri. Hemisfer kanan dan kiri ini dihubungkan oleh bangunan yang disebut corpus callosum. Hemisfer serebri dibagi menjadi lobus-lobus yang diberi nama sesuai dengan tulang diatasnya, yaitu: 6

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 a. Lobus frontalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang frontalis b. Lobus parietalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang parietalis c. Lobus occipitalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang occipitalis d. Lobus temporalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang temporalis. 2. Cerebellum (Otak kecil) Terletak di kranium bagian belakang menempati fosa cerebri posterior di bawah lapisan durameter tentorium cerebelli. Di bagian depannya terdapat batang otak. Berat cerebellum sekitar 150 gr atau 8% dari berat batang otak seluruhnya. Cerebellum dapat dibagi menjadi hemisfer cerebelli kanan dan kiri yang dipisahkan oleh vermis. Fungsi cerebellum pada umumnya adalah mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot sehingga gerakan dapat terlaksana dengan sempurna. 3. Brainstem (Batang Otak) Terdiri atas diencephalon, mid brain, pons, dan medula oblongata. Merupakan tempat berbagai macam pusat vital seperti pusat pernafasan, pusat vasomotor, pusat pengatur kegiatan jantung, pusat muntah, bersin, dan batuk (Lukman, 2008).

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Gambar 1. Anatomi otak (Anonim, 2005) B. Stroke Iskemik 1. Pengertian stroke iskemik Stroke iskemik adalah suatu penyakit yang terjadi karena adanya gangguan peredaran darah yang berupa iskemia, yaitu aliran darah berkurang atau terhenti pada sebagian daerah di otak (Junaidi, 2004). 2. Etiologi dan klasifikasi stroke iskemik Stroke iskemik disebabkan oleh bentuk trombus lokal atau fenomena emboli yang menyebabkan terhambatnya pembuluh darah arteri serebral. Aterosklerosis merupakan faktor penyebab pada kebanyakan kasus stroke iskemik, walaupun 30% penyebabnya tidak diketahui. Klasifikasi stroke iskemik berdasarkan mekanisme menurut Fagan dan Hess (2005), tersaji pada gambar 2.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Gambar 2. Klasifikasi stroke iskemik berdasarkan mekanisme (Fagan dan Hess, 2005) Berdasarkan perjalanan klinisnya, stroke iskemik dikelompokkan menjadi: a. Transient Ischemic Attack (TIA): serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam. b. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND): gejala neurologis akan menghilang antara >24 jam sampai dengan 21 hari. c. Progressing stroke atau stroke in evolution: kelainan atau defisit neurologik berlangsung secara bertahap dari yang ringan sampai menjadi berat. d. Completed stroke: kelainan neurologis sudah menetap dan tidak berkembang lagi (Junaidi, 2005).

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 3. Patofisiologi stroke iskemik Adanya trombosis, emboli, atau ateroma pada pembuluh darah akan menghambat aliran darah ke otak yang akan menyebabkan keadaan iskemik sehingga neuron tidak mendapat suplai yang cukup terhadap kebutuhan O2 untuk dapat menjalankan fungsinya. Keadaan ini menyebabkan metabolisme dalam keadaan anaerob yang menghasilkan energi dalam jumlah yang kecil. Kekurangan energi akan menyebabkan depolarisasi membran sel dimana Na+ masuk dan K+ keluar secara berlebihan. Depolarisasi akan menyebabkan influks Ca2+ yang berlebihan di dalam sel. Influks Ca2+ yang berlebihan akan menyebabkan aktivasi fosfolipase A2 yang menimbulkan gangguan fungsi mitokondria sebagai pernapasan sel, meningkatkan nitric oxide syntetase (NOS) yang berefek neurotoksik. Gangguan fungsi mitokondria dan efek toksik NOS berakibat terjadinya oxsidative stres. Oxidative stres akan menyebabkan kematian neuron. Neuron yang mati ini akan direspon oleh jaringan dengan jalan menghasilkan NOS kembali sehingga akan menyebabkan lebih banyak lagi neuron yang mati yang disebut infark (Junaidi, 2004). Gambar 3. Terjadinya stroke iskemik (Anonim, 2005)

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 4. Faktor risiko stroke iskemik Faktor risiko stroke iskemik adalah kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap serangan stroke iskemik. Faktor risiko tersebut tersaji pada tabel I. Faktor tunggal Faktor ganda Tabel I. Faktor risiko stroke (Fagan dan Hess, 2005) Faktor risiko yang Umur, jenis kelamin, ras, keturunan sejarah stroke tidak dapat dalam keluarga dikontrol Faktor risiko yang Hipertensi, penyakit jantung, TIA, diabetes, dapat dikontrol hiperkolesterolemia, merokok, alkohol, penyalahgunaan obat (cocain, heroin, amfetamin), faktor gaya hidup (obesitas, kurang berolahraga, stres), kontrasepsi oral. risiko Profil Framingham Peningkatan tekanan darah sistolik, peningkatan kolesterol serum, gangguan toleransi glukosa, merokok, hipertrofi ventrikel kiri risiko 5. Gejala dan tanda stroke iskemik a. Gejala. Keluhan pasien akan adanya kelemahan pada salah satu bagian tubuh, ketidakmampuan berbicara, penglihatan yang terganggu, vertigo, kehilangan keseimbangan tubuh (Fagan dan Hess, 2005). b. Tanda. 1) Pasien biasanya memiliki berbagai tanda akan adanya disfungsi neurologi dan serangan stroke yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah secara spesifik berdasarkan lokasi otak yang terkena 2) Hemiparesis yaitu pasien akan mengalami kelemahan pada salah satu bagian tubuh 3) Afasia, yaitu tidak dapat berbicara 4) Perubahan kesadaran (Fagan dan Hess, 2005).

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 6. Diagnosis stroke iskemik Diagnosis stroke iskemik ditegakkan berdasarkan: a. Perjalanan penyakit. Perjalanan penyakit yang dimaksud adalah riwayat penyakit pasien. b. Hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat membantu menentukan lokasi kerusakan otak. Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain: 1) Pemeriksaan neurologis meliputi: tingkat kesadaran biasanya dengan glasgow coma scale, respon pupil, denyut nadi, tekanan darah, frekuensi pernapasan, suhu (Junaidi, 2004). 2) Pemeriksaan rutin meliputi: a) Jumlah sel darah total: hemoglobin, hematokrit, eritrosit, leukosit b) Trombosit c) Glukosa darah sewaktu, glukosa darah puasa, glukosa darah 2 jam setelah makan, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida d) Ureum, asam urat, kreatinin, fungsi hati, urin lengkap e) Elektrolit (Junaidi, 2004). 3) Pemeriksaan penunjang: a) Computerized Tomography Scanning (CT Scan), pemeriksaan CT Scan harus segera dilakukan pada semua penderita dengan dugaan stroke akut karena dapat membedakan stroke iskemik dan stroke pendarahan dan dapat menilai letak, besar, luas, dari area infark setelah 24 jam (Fagan dan Hess 2005).

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 b) Magnetic Resonance Imaging (MRI), dapat menampakkan area iskemik dengan resolusi yang lebih tinggi dan lebih cepat dari CT Scan, namun tidak pada setiap kasus karena alat ini kurang peka dibandingkan CT Scan dalam mendeteksi pendarahan intrakranium ringan (Fagan dan Hess, 2005; Feigin, 2006). c) Electro Cardiography (ECG), digunakan untuk mencari tanda-tanda kelainan irama jantung atau penyakit jantung sebagai kemungkinan penyebab stroke pasien (Feigin, 2006). d) Foto thorax, merupakan prosedur standar yang digunakan untuk mencari kelainan dada, termasuk penyakit jantung dan paru, serta apabila terjadi pneumonia atau embolisme paru (Feigin, 2006). C. Penatalaksanaan Terapi Stroke Iskemik 1. Tujuan terapi Tujuan terapi stroke iskemik adalah untuk mengurangi kerusakan neurologis yang berkelanjutan, menurunkan mortalitas dan kecacatan dalam waktu yang lama, mencegah komplikasi sekunder dalam kemampuan bergerak pada imobilitas dan disfungsi neurologis, serta mencegah kekambuhan stroke (Fagan dan Hess, 2005). 2. Sasaran terapi Difokuskan pada pernapasan dan fungsi jantung secara cepat mengetahui kerusakan akibat iskemik maupun hemoragik berdasarkan CT scan kepala. Perlu diperhatikan pasien dengan peningkatan tekanan darah diatas 220/120 mmHg (Fagan dan Hess, 2005).

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 3. Algoritma terapi Pasien stroke iskemik akut di ICU setiap jam dilakukan pemeriksaan neurologis atau dengan frekuensi yang lebih sering jika dibutuhkan Bukan di ICU Berdasarkan kondisi pasien dan penilaian neurologis, minimal pemeriksaan neurologis dan tanda-tanda vital setiap 4 jam Untuk terapi lebih lanjut didasarkan pada dokter dan pilihan/pedoman RS: TD sistolik >220 atau <110 mmHg; TD diastolic >120 atau < 60 mmHg; nadi<50 atau >110/menit; suhu >99,6°F; respirasi >24 x/menit; atau untuk gejala stroke yang memburuk atau keadaan neurologis yang menurun Untuk saturasi O2 > 92%, berikan canulla 2-3 L/menit Monitor jantung terus-menerus selama 24-48 jam Mengukur intake dan output Rawat inap Cairan IV NS 75-100 ml/jam Antiplatelet sebaiknya diberikan dalam 24 jam pertama masuk RS Ulangi CT Scan atau MRI 24-48 jam setelah stroke atau sebagaimana dibutuhkan Gambar 4. Algoritma terapi stroke iskemik akut pada pasien yang diterapi bukan dengan trombolitik (Summers, D., et al, 2009)

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 4. Strategi terapi a. Menstabilkan keadaan pasien. Program pengobatan fase akut dilakukan dengan langkah awal penanganan stroke akut. Pertama-tama, difokuskan pada resusitasi medis umum untuk menstabilkan keadaan pasien, antara lain: 1) Jalan nafas Masalah jalan napas umumnya terjadi pada pasien stroke pendarahan. Bagi pasien stroke iskemik, jalan napas biasanya stabil, kecuali pada infark batang otak atau kejang yang berulang. Untuk menghindari sumbatan jalan napas pada pasien yang tidak sadar, pasien harus pada posisi miring (dekubitus lateral), leher hiperekstensi ringan dan bahu diangkat, lendir disedot. 2) Oksigenasi Oksigenasi dilakukan dengan memberikan oksigen 1-2 liter/menit. Pemberian oksigen pada pasien stroke umumnya bermanfaat, karena otak memerlukan oksigen yang banyak untuk melangsungkan metabolisme. 3) Fungsi jantung Setelah tindakan jalan napas dan oksigenasi, maka selanjutnya yang terpenting adalah memperbaiki sirkulasi dan perfusi otak secara cukup dengan cara mempertahankan curah jantung dan tekanan darah. Bantuan sirkulasi harus diusahakan euvolemik karena kurang lebih sepertiga penderita stroke menderita dehidrasi, para penderita stroke

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 dianjurkan untuk diberi cairan normal salin 10-15 ml/kg BB secara bolus, kecuali bila ada kontraindikasi misal oedem, payah jantung. Cairan yang dapat diberikan pada pasien stroke akut adalah NaCl 0,9%, ringer laktat 2A, atau martos 10% dan potacol (Junaidi, 2005). b. Terapi non farmakologis. Tindakan operasi pada pasien stroke iskemik akut terbatas. Pada kasus khusus dari ischemic cerebral edema karena infark yang luas, craniectomy merupakan cara pembedahan untuk memulihkan aliran darah ke bagian otak yang kehilangan darah dengan cara mengatur kembali aliran pembuluh darah yang sehat dalam tempurung otak dari pembuluh darah otak yang tersumbat (Fagan dan Hess, 2005). c. Terapi farmakologis. 1) Terapi khusus Menurut Junaidi (2004), terapi khusus pada stroke iskemik yakni penanganan dengan obat-obatan harus dilakukan dengan segera dalam waktu kurang dari 6 jam sejak terjadinya (onset). Apabila obat diberikan lebih dari 6 jam, kemungkinan sembuh sempurna tanpa meninggalkan cacat menjadi kecil. Terapi khusus pada stroke iskemik adalah: a) Reperfusi, yaitu mengembalikan aliran darah ke otak secara adekuat sehingga perfusi meningkat, obat-obat yang dapat diberikan antara lain:

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 (1) Thrombolytic agent (obat trombolitik) Secara umum, obat farmakologis yang direkomendasikan dengan rekomendasi A adalah intravenous tissue plasminogen activator (tPA) dengan onset 3 jam. Terapi tPA intravena telah terbukti mengurangi ketidakmampuan fisik yang berhubungan dengan stroke iskemik (Fagan dan Hess, 2005). (2) Antiplatelet Terapi antiplatelet dapat menurunkan risiko kejadian vaskular mencakup serangan stroke, kematian vaskular pada pasien dengan stroke atau TIA (Transient Ischemic Attack) (Peter, et al., 2008). Agen antiplatelet yang digunakan antara lain: aspirin, klopidogrel, dan dipiridamol lepas lambat + aspirin (Fagan dan Hess, 2005). Antiplatelet yang direkomendasikan dengan rekomendasi A adalah aspirin dengan onset 48 jam. Terapi aspirin diawal juga telah terlihat dapat mengurangi kematian jangka panjang dan ketidakmampuan fisik tetapi tidak boleh diberikan dalam waktu 24 jam setelah pemberian tPA karena dapat meningkatkan risiko pendarahan pada pasien (Fagan dan Hess, 2005). Antiplatelet lainnya adalah cilostazol yang digunakan untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten (Anonim, 2007).

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 (3) Antikoagulan (anti pembekuan darah) Pada pasien dengan atrial fibrilation dan diduga cardioemboli stroke dapat mengunakan antikoagulan warfarin sebagai terapi pilihan pertama (Fagan dan Hess, 2005). Namun, terapi dengan antikoagulan memerlukan kontrol laboratorium yang cermat terhadap status pembekuan darah pasien untuk menghindari kemungkinan pendarahan (Feigin, 2006). b) Neuroprotektan (pelindung saraf), yaitu penggunaan obat-obat yang berfungsi melindungi saraf/otak, obat-obat yang dapat diberikan antara lain antagonis kalsium (misalnya: nimodipin), antiplatelet (misalnya: tiklopidin, cilostazol, dipiridamol), nootropik (misalnya: pirasetam, ko-dergokrin mesilat), dan serebral aktivator (misalnya sitikolin) (Junaidi, 2004). 2) Terapi pada penyakit sistemik atau pada penyakit komplikasi yang merupakan faktor risiko ataupun yang bukan merupakan faktor risiko. a) Hipertensi Tekanan darah merupakan tanda vital yang kritis pada pasien stroke iskemik akut. Tekanan darah meningkat 40%-80% pada semua pasien stroke iskemik akut terutama pada 24-48 jam pertama setelah serangan stroke dan akan turun 10-14 hari setelah fase akut. Peningkatan tekanan darah akan meningkatkan perfusi serebral pada daerah iskemik. Direkomendasikan untuk memulai pemberian terapi anti hipertensi pada pasien yang tidak

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 mendapatkan terapi trombolitik adalah ketika tekanan darah sistolik >220 mmHg atau tekanan darah diastolik >110 mmHg (Summers, D, et al., 2009). Pada kenyataannya, penurunan tekanan darah secara signifikan tidak dapat diterima karena dapat menyebabkan aliran darah ke otak terganggu. Obat antihipertensi diberikan dengan target penurunan tekanan darah 10-20% saja agar tekanan perfusi otak tetap adekuat (Junaidi, 2005). b) Diabetes Melitus Kadar gula darah tinggi (hiperglikemi) terjadi pada kurang lebih 60% pasien stroke tanpa diketahui menderita diabetes (Peter, et al., 2008). Hiperglikemi terjadi pada 2-3 hari pertama setelah serangan stroke akut dan perlu diturunkan dengan segera sebab dapat memperluas area infark akibat terbentuknya asam laktat dari penguraian glukosa secara anaerob dengan pemberian terapi insulin (Junaidi, 2004). Direkomendasikan terapi insulin kerja singkat bila kadar gula darah diatas 140 mg/dL (Summers, D, et al., 2009). Pada kondisi hipoglikemia, diberikan 25 g dekstrosa 50% iv dan dipantau secara ketat (Junaidi, 2004). c) Jantung Stroke iskemik dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi jantung, bersama-sama dengan perubahan gambaran EKG, aritmia jantung kadang-kadang dapat menaikkan kadar enzim jantung.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Dalam penanganannya direkomendasikan digitalisasi jantung apabila betul-betul ada tanda payah jantung (Anonim, 2003). d) Kejang Kejadian kejang pada pasien stroke sekitar 4-8%. Bila terjadi kejang, dapat diberikan obat anti kejang (antikonvulsan). Namun demikian, pemberian obat antikejang sebagai pencegahan tidak dianjurkan. Kejang biasanya terjadi dalam 2 minggu onset stroke yang biasanya disebut dengan early seizure atau kejang dini. Untuk mengatasi kejang dapat diberikan injeksi diazepam atau obat lain yang sejenis (Junaidi, 2005). e) Demam Peningkatan temperatur (hipertermia) diasosiasikan dengan peningkatan area infark dan hal ini dapat terjadi akibat infeksi yang berlanjut. Peningkatan temperatur (>37,50C) dapat diterapi dengan antipiretik seperti parasetamol (evidence based level 1) (Adams, et al, 2003; Peter, et al., 2008). f) Hiperlipidemia Peningkatan lipid di dalam darah merupakan faktor risiko terjadinya stroke iskemik. Pasien stroke iskemik dengan kadar kolesterol yang tinggi, comorbid CAD (coronary arteri disease), atau terbukti disebabkan karena aterosklerosis, untuk penatalaksanaan terapi sebaiknya diatur menurut NCEP III guidelines, yang mencakup modifikasi gaya hidup, diet, dan

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 rekomendasi pengobatan (Summers, et al, 2009). Terapi dengan Statin direkomendasikan, dan target untuk menurunkan kolesterol dengan coronary heart disease atau penyakit aterosklerosis adalah LDL-C <100mg/dL dan LDL-C <70 mg/dL untuk pasien dengan risiko yang sangat tinggi dengan banyak faktor risiko. Pasien stroke iskemik dianggap disebabkan karena aterosklerosis tetapi tanpa indikasi untuk statin (level kolesterol normal, tanpa comorbid CAD, atau tidak terbukti aterosklerosis) layak dipertimbangkan untuk terapi dengan statin untuk menurunkan risiko vascular. Pasien stroke iskemik dengan nilai kolesterol HDL yang rendah dapat dipertimbangkan untuk terapi dengan niasin atau gemfibrosil (Summers, et al, 2009). Kedua agen ini dapat digunakan pada pasien stroke yang tidak dapat mentoleransi statin, namun data kemanjuran dari kedua agen ini masih kurang (anonim, 2006b). g) Perdarahan saluran cerna Kejadian perdarahan saluran cerna pada pasien stroke terjadi antara 1-3%, baik sebagai komplikasi strokenya sendiri maupun karena obat yang diberikan. Untuk pencegahan digunakan antasida dan antagonis reseptor H2, terutama mereka dengan riwayat peptic ulcer atau dalam pengobatan dengan aspirin, antikoagulan, agen fibrinolitik, NSAID, atau kortikosteroid (Junaidi, 2005).

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 h) Komplikasi lainnya Pneumonia dapat terjadi karena pasien biasanya tidak dapat batuk atau menelan dengan baik sehingga menyebabkan cairan terkumpul di paru-paru dan selanjutnya terjadi infeksi. Untuk mengatasinya dapat diberikan antibiotik (Junaidi, 2005). Rekomendasi untuk farmakoterapi stroke iskemik akut tersaji pada tabel III. Tabel II. Rekomendasi untuk farmakoterapi stroke iskemik akut (Fagan dan Hess, 2005) Terapi akut Agen primer Alternatif tPA 0,9 mg/kg IV (maksimum 90 kg) diatas 1 jam pada pasien yang terseleksi dalam 3 jam onset. Aspirin 160-325 mg sehari dimulai dalam 48 jam onset tPA (variasi dosis) intra artery hingga 6 jam setelah onset pada pasien yang terseleksi. C. Drug Therapy Problems Drug Therapy Problems adalah suatu permasalahan atau kejadian yang tidak diharapkan atau yang kemungkinan akan dialami pasien selama proses terapi akibat penggunaan obat, sehingga mengganggu tujuan terapi yang diinginkan. Identifikasi Drug Therapy Problems merupakan fokus penentuan dan keputusan akhir yang dibuat dalam tahapan proses pelayanan pasien. Drug Therapy Problems merupakan konsekuensi dari kebutuhan akan obat yang kurang tepat, yang juga merupakan sesuatu yang sentral dalam pharmaceutical care practice (Cipolle, Strand, dan Morley, 2004).

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Masalah-masalah dalam kajian DTPs menurut Cipolle, Strand, dan Morley, (2004) antara lain: Tabel III. Kategori Drug Therapy Problems (Cipolle, Strand dan Morley, 2004) DTPs Penyebab Umum Tidak adanya indikasi medis yang valid untuk terapi obat yang digunakan saat itu, banyaknya pemakaian banyak obat untuk kondisi tertentu padahal hanya memerlukan terapi obat tunggal, kondisi medis lebih sesuai diobati tanpa terapi Tidak butuh obat, terapi obat digunakan untuk menghilangkan adverse reaction yang obat berhubungan dengan pengobatan lain, penyalahgunaan obat, penggunaan alkohol, atau merokok yang menyebabkan masalah. Perlu tambahan terapi obat Obat yang tidak efektif Kondisi terapi yang memerlukan terapi inisiasi obat, pencegahan terapi obat diperlukan untuk mengurangi risiko berkembangnya penyakit baru, kondisi medis yang memerlukan farmakoterapi tambahan untuk mencapai sinergisme atau efek adiktif. Obat yang digunakan bukan obat yang paling efektif terhadap masalah medis yang dialami, kondisi medis terbiaskan dengan adanya obat, bentuk sediaan obat tidak sesuai, obat tidak efektif terhadap indikasi yang dialami. Dosis terlalu rendah Dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan, interval dosis terlalu rendah untuk dapat menghasilkan respon yang diinginkan, interaksi obat menurunkan jumlah zat aktif yang tersedia, durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon yang diinginkan. Adverse Drug Reaction Obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, obat yang kurang aman diperlukan terhadap faktor risiko, interaksi obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, adanya regimen dosis atau berubah sangat cepat, obat menyebabkan alergi, obat kontraindikasi terhadap faktor risiko. Dosis terlalu tinggi Kepatuhan pasien Dosis terlalu tinggi, frekuensi pemakaian obat terlalu singkat, durasi obat terlalu panjang, interaksi obat terjadi karena hasil dari reaksi toksik dari obat, dosis obat diberikan terlalu cepat. Pasien tidak mengerti instruksi pemakaian, pasien memilih untuk tidak memakai obat, pasien lupa untuk memakai obat, harga obat yang terlalu mahal bagi pasien, pasien tidak dapat menelan atau memakai sendiri obat secara tepat, obat tidak tersedia bagi pasien.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 D. Keterangan Empiris Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kejadian Drug Therapy Problems pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008, yaitu merupakan masalah-masalah yang dapat timbul selama pasien diberi terapi, antara lain: tidak butuh obat, perlu tambahan terapi obat, obat yang tidak efektif, dosis terlalu rendah, terjadinya adverse drug reaction dan dosis terlalu tinggi.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian observasional merupakan penelitian yang observasinya dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subjek menurut keadaan apa adanya (in nature), tanpa adanya manipulasi atau intervensi peneliti (Pratiknya, 2001). Rancangan penelitian deskriptif evaluatif karena penelitian bertujuan untuk membuat gambaran atau deskripsi terhadap suatu keadaan secara objektif, kemudian mengevaluasi atau menilai data dari rekam medik berdasarkan studi pustaka dan hasil penelitian diolah menggunakan analisis statistik sederhana, yakni analisis persentase (Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini bersifat retrospektif karena data yang digunakan diambil dengan melakukan penelusuran terhadap dokumen terdahulu, yaitu berupa lembar rekam medik pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini periode Juli 2007-Juni 2008. B. Definisi Operasional 1. Gambaran pasien meliputi distribusi kelompok umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik. 25

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 2. Kelas terapi obat adalah pengelompokan obat berdasarkan efek terapinya berdasarkan buku acuan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 dan MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7, 2007/2008. 3. Golongan obat adalah kelompok obat berdasarkan kelas terapi, misalnya golongan antihipertensi. 4. Jenis obat adalah segala macam obat yang diberikan pada pasien dengan diagnosis utama stroke iskemik. 5. Lembar rekam medik adalah lembar catatan dokter, apoteker, dan perawat yang berisi data klinis pasien di rumah sakit yang meliputi data nomor rekam medik, umur, jenis kelamin, diagnosis masuk, diagnosis utama, diagnosis lain, lama perawatan, jenis obat, dosis obat, aturan pakai obat yang diberikan selama terapi. 6. Drug Therapy Problems adalah suatu keadaan yang tidak dikehendaki dan muncul pada saat pasien menjalani proses terapi, yang meliputi: a. Tidak butuh obat, meliputi tidak adanya indikasi medis yang valid untuk terapi obat yang digunakan saat itu, banyaknya pemakaian banyak obat untuk kondisi tertentu padahal hanya memerlukan terapi obat tunggal, kondisi medis lebih sesuai diobati tanpa terapi obat, terapi obat digunakan untuk menghilangkan adverse reaction yang berhubungan dengan pengobatan lain, penyalahgunaan obat, penggunaan alkohol, atau merokok yang menyebabkan masalah. b. Indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi, meliputi kondisi terapi yang memerlukan terapi inisiasi obat, pencegahan terapi obat diperlukan untuk

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 mengurangi risiko berkembangnya penyakit baru, kondisi medis yang memerlukan farmakoterapi tambahan untuk mencapai sinergisme atau efek adiktif. c. Ketidakefektifan pemilihan obat, meliputi obat yang digunakan bukan obat yang paling efektif terhadap masalah medis yang dialami, kondisi medis terbiaskan dengan adanya obat, bentuk sediaan obat tidak sesuai dan obat tidak efektif terhadap indikasi yang dialami. d. Dosis yang kurang, meliputi dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan, interval dosis terlalu rendah untuk dapat menghasilkan respon yang diinginkan, interaksi obat menurunkan jumlah zat aktif yang tersedia dan durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon yang diinginkan. e. Adverse drug reaction, meliputi obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, obat yang kurang aman diperlukan terhadap faktor risiko, interaksi obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan besarnya dosis, adanya regimen dosis atau berubah sangat cepat, obat menyebabkan alergi dan obat kontraindikasi terhadap faktor risiko. f. Dosis yang berlebih, meliputi dosis terlalu tinggi, frekuensi pemakaian obat terlalu singkat, durasi obat terlalu panjang, interaksi obat terjadi karena hasil dari reaksi toksik dari obat dan dosis obat diberikan terlalu cepat.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 C. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis utama stroke iskemik akut di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008. Jumlah kasus dalam penelitian ini sebanyak 42 kasus. D. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar rekam medik (medical record) pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008. E. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta, Jalan Solo Km. 12,5 Tirtomartani Kalasan Sleman Yogyakarta. F. Jalannya Penelitian Jalannya penelitian meliputi tiga tahap, tahap pertama adalah perencanaan, tahap kedua adalah pengambilan data, tahap ketiga adalah tahap pengolahan data dan pembahasan. 1. Tahap perencanaan Tahap ini dimulai dengan penentuan dan analisis masalah yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian (studi pustaka). Kemudian dilakukan analisis situasi meliputi survei jumlah pasien stroke iskemik akut yang ada di Instalasi

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 dan mengurus perijinan untuk melihat data rekam medik tersebut. 2. Tahap pengambilan data Pada tahap ini, terlebih dahulu dilakukan penelusuran data kemudian mengumpulkan data rekam medik dan mencatat data kedalam lembar laporan. a. Proses penelusuran data diperoleh dengan melihat laporan unit rekam medik, yang memuat laporan mengenai kasus pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008. b. Kemudian pencatatan dilakukan dengan melihat data yang tertera pada data rekam medik pasien stroke iskemik tersebut yang berisi identitas, lama tinggal di rumah sakit, riwayat penyakit, riwayat alergi, riwayat penyakit keluarga, riwayat pengobatan, data medis berupa diagnosis, pemeriksaan fisik, catatan perkembangan pasien, dan terapi (kelas terapi, golongan, jenis obat, dosis obat, bentuk sediaan, rute pemberian obat, aturan pemakaian obat), dan data laboratorium. 3. Tahap pengolahan data dan pembahasan a. Pengolahan data Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk diagram, dideskripsikan dengan mengelompokkan pasien berdasarkan umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik, gambaran peresepan obat yang digunakan dalam pengobatan pasien stroke iskemik dalam bentuk tabel dengan menampilkan distribusi kelas terapi, dan kajian

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 mengenai Drug Therapy Problems yang dijabarkan menggunakan metode SOAR (Subjective, Objective, Assessment, Recommendation). b. Pembahasan Pengelompokkan kelas terapi yang digunakan pada analisis kasus berdasarkan pustaka acuan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 dan MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008. Pembahasan Drug Therapy Problems dalam penelitan ini menggunakan pustaka Drug Information Handbook edisi 11, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi edisi 7, 2007/2008, European Stroke Initiative Recommendations for Stroke Management, 2003, dan American Stroke Association guideline, 2009. Evaluasi dilakukan secara kasus per kasus. G. Tata Cara Analisis Hasil Analisis data dilakukan dengan melihat karakteristik pasien berdasarkan umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik. Pola pengobatan pasien stroke iskemik dibagi menjadi sebelas kelas terapi, kemudian terbagi ke dalam masing-masing golongan obat, kelompok obat, dan jenis obat. Kajian Drug Therapy Problems menggunakan metode SOAR pada masing-masing kasus, kemudian dibuat rangkuman pembahasan Drug Therapy Problems, di mana pada tabel tersebut dijabarkan nomor kasus, jenis obat, penilaian, dan rekomendasi terhadap Drug Therapy Problems yang terjadi.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Untuk tata cara analisa hasil dilakukan sebagai berikut : 1. Karakteristik pasien a. Distribusi pasien berdasarkan kelompok umur dibagi menjadi enam kelompok, yaitu 40-49 tahun, 50-59 tahun, 60-69 tahun, 70-79 tahun, 80-89 tahun, dan 90-99 tahun, yang dihitung dengan cara membagi jumlah kasus pada tiap kelompok umur dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%. b. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin dikelompokkan menjadi jenis kelamin laki-laki dan wanita, dihitung dengan cara membagi jumlah kasus pada tiap kelompok jenis kelamin dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%. c. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik dihitung dengan cara membagi jumlah kasus pada tiap kelompok dengan jumlah keseluruhan kasus kemudian dikalikan 100%. 2. Persentase kelas terapi obat dikelompokkan menjadi sebelas kelas terapi, dihitung dengan cara membagi jumlah kasus yang mendapat obat pada kelas terapi tertentu dengan jumlah keseluruhan kasus dalam penelitian kemudian dikalikan 100%. 3. Persentase jenis obat yang digunakan pada masing-masing kelas terapi dihitung dengan cara membagi jumlah kasus pada tiap jenis obat (zat aktif) dalam kelas terapi tertentu dengan jumlah keseluruhan kasus yang mendapat jenis obat pada kelas terapi tersebut kemudian dikalikan 100%.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 4. Kajian Drug Therapy Problems dijabarkan dengan metode SOAR. Pada bagian subjective dijabarkan mengenai jenis kelamin, usia, diagnosis masuk, diagnosis utama, diagnosis lain, keluhan utama, penyakit yang pernah diderita, riwayat penyakit keluarga, keadaan umum, dan keadaan pulang pasien. Bagian objective digambarkan dengan tabel mengenai data laboratorium maupun tanda vital yang dilengkapi dengan pemberian terapi selama perawatan, sedangkan Drug Therapy Problems akan dijabarkan pada assessment yang kemudian akan diberikan recommendation (rekomendasi) atas kejadian Drug Therapy Problems tersebut. 5. Kajian Drug Therapy Problems kemudian dirangkum, yaitu dengan mengelompokan kasus yang terjadi pada keenam parameter Drug Therapy Problems beserta jenis obat disertai penilaian dan rekomendasi terhadap terjadinya Drug Therapy Problems. H. Kesulitan Penelitian Dalam pengambilan data pada penelitian ini penulis menemui beberapa kesulitan, antara lain sulitnya membaca catatan resep juga catatan keperawatan di dalam lembar rekam medis dengan penulisan yang kurang jelas dibaca. Penggunaan istilah medis yang digunakan sulit dimengerti oleh penulis karena tidak sesuai dengan istilah yang berlaku didunia internasional seperti adanya penggunaan bahasa daerah dalam penulisan keluhan pasien serta dalam catatan perkembangan kondisi pasien. Namun kesulitan tersebut dapat diatasi dengan

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 bertanya kepada perawat maupun patugas administrasi rekam medis di Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta. Penulis juga mengalami kesulitan pada saat melakukan evaluasi data karena terdapat data pasien yang tidak lengkap pada lembar rekam medis, contohnya tidak terdokumentasi diagnosis lain selain diagnosis utama pasien. Kesulitan lainnya adalah saat menganalisis terapi hiperlipid pada pasien stroke berkaitan dengan nilai normal kolesterol LDL. Nilai normal hasil laboratorium kolesterol LDL untuk pasien stroke iskemik pada Rumah Sakit Panti Rini adalah <150 mg/dL, sedangkan dari literatur diketahui target penurunan kolesterol untuk pasien coronary heart disease atau aterosklerosis adalah kolesterol LDL <100 mg/dl dan untuk pasien dengan risiko yang sangat tinggi dengan banyak faktor risiko adalah kolesterol LDL <70 mg/dL. Kesulitan ini diatasi dengan tetap menganalisis kasus sesuai dengan nilai normal hasil laboratorium rumah sakit penelitian dan juga merekomendasikan terapi yang seharusnya diberikan untuk menurunkan kolesterol LDL sesuai standar NCEP III guideline. Penulis juga menyarankan pihak rumah sakit untuk meninjau kembali target nilai normal kolesterol LDL hasil laboratorium untuk pasien stroke iskemik. Kesulitan lainnya yang juga merupakan keterbatasan dalam penelitian ini yaitu sulit untuk menganalisa kepatuhan pasien karena penulis tidak dapat mengamati terjadinya penyebab umum timbulnya ketidakpatuhan pasien.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian mengenai evaluasi Drug Therapy Problems (DTPs) pada pengobatan pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 dibagi menjadi 3 bagian yaitu profil pasien stroke iskemik, pola pengobatan pasien stroke iskemik, dan kajian Drug Therapy Problems (DTPs) yang kemudian akan dirangkum pada akhir pembahasan. Profil pasien stroke iskemik dapat dikelompokkan berdasarkan umur, jenis kelamin, dan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik. Pola pengobatan pasien stroke iskemik dikelompokkan berdasarkan kelas terapi, golongan, dan kelompok obat pasien selama dirawat di Instalasi Rawat Inap dan kajian Drug Therapy Problems (DTPs) akan dijabarkan melalui metode SOAR serta dirangkum dalam bentuk tabel berdasarkan kategori DTPs yang terjadi pada masing-masing kasus. A. Profil Pasien Stroke Iskemik Distribusi pasien berdasarkan kelompok umur dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan jumlah pasien pada kelompok-kelompok umur tertentu, distribusi berdasarkan kelompok jenis kelamin dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan jumlah pasien laki-laki dan wanita yang menderita stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini periode Juli 2007-Juni 2008, dan 34

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 distribusi berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik untuk mengetahui jenis penyakit sebagai faktor risiko penyakit stroke iskemik atau penyakit lainnya di luar faktor risiko penyakit stroke iskemik yang juga diderita oleh pasien. 1. Distribusi pasien berdasarkan kelompok umur Usia pasien stroke iskemik yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini periode Juli 2007-Juni 2008 adalah antara 40-92 tahun. Pada penelitian ini umur dikelompokkan menjadi 6 kelompok umur, yaitu kelompok 40-49 tahun, 50-59 tahun, 60-69 tahun, 70-79 tahun, 80-89 tahun, dan 90-99 tahun (gambar 5). Dari hasil, didapat bahwa persentase pasien stroke mulai meningkat seiring dengan peningkatan kelompok umur. Hal ini tidak jauh berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh Fagan dan Hess dalam DiPiro, et al (2005) yang mengemukakan bahwa prevalensi stroke akan meningkat setelah umur 55 tahun dan risiko terserang stroke berlipat ganda setiap kurun waktu 10 tahun. Persentase Pasien Stroke Berdasarkan Kelompok Umur Persentase Kelompok Umur 50 40 40 30 19 20 10 21,4 19 4,8 4,8 40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-99 tahun tahun tahun tahun tahun tahun 0 Kelompok 1 Umur Gambar 5. Persentase pasien stroke iskemik yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 berdasarkan Kelompok Umur

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Usia merupakan salah satu faktor risiko penyebab penyakit stroke yang tidak dapat diubah. Semakin lanjut usia seseorang, semakin besar kemungkinannya untuk terserang penyakit yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke iskemik. Semakin lanjut usia seseorang semakin lemah kondisinya karena banyak organ penting yang mulai mengalami penurunan fungsi. Selain itu juga adanya perubahan gaya hidup yang tidak sehat dari waktu ke waktu dan semakin berkurangnya aktifitas fisik yang dilakukan, salah satu penyebabnya karena pada masa lanjut usia telah mengalami purnatugas dalam pekerjaan. 2. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin Kasus pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita yaitu pada laki-laki 55,6% dan pada wanita sebesar 44,4%, yang disajikan pada gambar 6. Hal ini sesuai dengan American Heart Association (2006) yang menyebutkan bahwa prevalensi stroke pada pria 1,25 kali lebih besar dibandingkan pada wanita. Persentase Pasien Stroke Berdasarkan Jenis Kelamin 45% 55% Laki-laki Perempuan Gambar 6. Persentase pasien stroke iskemik yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 berdasarkan Jenis Kelamin

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Insidensi stroke pada wanita lebih rendah dibandingkan pria, hal ini berhubungan dengan adanya hormon estrogen pada wanita yang berfungsi sebagai proteksi pada proses aterosklerosis. Estrogen dapat memacu zat antiagregasi, prostasiklin, dan endotelin dari sel-sel endotel pembuluh darah. Prostasiklin bertindak sebagai vasodilator sedangkan endotelin sebagai zat relaksasi pembuluh darah. 3. Distribusi pasien berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik. Persentase Pasien Stroke Berdasarkan Diagnosa Lain Selain Diagnosa Utama Stroke 5% 10% 2% 7% 76% PPOK Hipertensi Pneumonia DM Tanpa Keterangan Gambar 7. Persentase pasien stroke iskemik yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik Pada penelitian ini, selain diagnosis utama stroke iskemik, terdapat pula diagnosis lain baik sebagai faktor risiko maupun sebagai penyakit lain yang menyertai. Diagnosis lain sebagai faktor risiko yakni hipertensi sebanyak 9,5% dan diabetes melitus sebanyak 7,1%. Tekanan darah yang meningkat secara perlahan dapat merusak dinding pembuluh darah dengan memperkeras arteri dan mendorong terbentuknya bekuan darah dan aneurisma yang mengarah pada stroke. Sedangkan seseorang yang menderita diabetes, dapat meningkatkan risiko

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 terkena stroke, hal ini disebabkan karena diabetes menimbulkan perubahan pada sistem vaskular (pembuluh darah dan jantung) serta mendorong terjadinya aterosklerosis. Penyakit lain yang menyertai pada pasien stroke iskemik yakni PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) sebanyak 4,8% dan pneumonia sebanyak 2,4%. PPOK ditandai dengan obstruksi jalan napas ekspiratori yang ireversibel dan peningkatan usaha bernapas sedangkan pneumonia terjadi karena pasien biasanya tidak dapat batuk atau menelan dengan baik sehingga menyebabkan cairan terkumpul di paru-paru dan selanjutnya terinfeksi. B. Pola Pengobatan Pasien Stroke Iskemik Obat-obat yang digunakan oleh pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 dibagi menjadi sebelas kelas terapi, yang disajikan pada tabel V. Tabel IV. Distribusi Kelas Terapi Obat Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No. Kelas Terapi Obat Jumlah Persentase Kasus (%) Obat yang bekerja pada sistem saluran cerna 25 59,50 1 Obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem 41 97,60 2 kardiovaskuler Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan 5 11,90 3 Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat 18 42,86 4 Obat yang bekerja sebagai analgesik 20 47,62 5 Obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi 17 40,48 6 Obat-obat hormonal 10 23,80 7 Obat-obat saluran kemih 3 7,14 8 Obat-obat yang mempengaruhi gizi dan darah 42 100 9 Obat-obat untuk penyakit otot skelet dan sendi 7 16,67 10 Sediaan topikal 2 4,76 11

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Kelas terapi terbanyak yang digunakan oleh pasien adalah obat-obat yang mempengaruhi gizi dan darah yaitu sebesar 100%. Hal yang menjadi perhatian utama pada pasien stroke iskemik adalah sirkulasi cairan dan elektrolit. Bantuan sirkulasi diusahakan euvolemik karena kurang lebih sepertiga penderita stroke mengalami dehidrasi. Untuk menangani dehidrasi ini, dibutuhkan obat yang mempengaruhi gizi dan darah misalnya cairan dan elektrolit. Kelas terapi terbanyak kedua adalah obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler. Hal ini berhubungan dengan pengobatan penyakit stroke iskemik banyak menggunakan obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah dan obat untuk gangguan sirkulasi darah yang merupakan golongan obat yang diklasifikasikan dalam kelas terapi obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler. Selain itu pasien juga banyak menggunakan obat antihipertensi yang merupakan golongan obat pada sistem kardiovaskuler. 1. Obat yang bekerja pada saluran cerna Tabel V. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Cerna yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 2 Antitukak (81,6%) 3 Antispasmodik Pencahar (13,1%) 4 Hepatoprotektor Antagonis reseptor H2 (57,9%) Khelator dan senyawa kompleks Penghambat pompa proton Stimulan motilitas Pencahar stimulan Pelunak tinja Pencahar osmotik - Ranitidin Simetidin 19 3 50,0 7,9 Sukralfat 6 15,8 Omeprazol 3 7,9 Metoklopramid Bisakodil Parafin cair Laktulosa 1 3 1 1 1 2,6 7,9 2,6 2,6 2,6 ® Curlif

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Obat saluran cerna yang paling banyak dipakai adalah golongan antitukak kelompok antagonis reseptor H2 dengan zat aktif ranitidin. Tukak lambung adalah suatu kondisi patologis pada lambung, duodenum, esofagus bagian bawah, dan stoma gastroenterostomi. Tujuan terapi tukak lambung adalah meringankan atau menghilangkan gejala, mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi yang serius (hemoragi, perforasi, obstruksi) dan mencegah kekambuhan. Pada kelompok antagonis reseptor H2, penyembuhan tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H2 (Anonim, 2000). Kelompok terbesar kedua pada golongan yang sama adalah khelator dan senyawa kompleks dengan zat aktif sukralfat. Sukralfat merupakan kompleks aluminium hidroksida dan sukrosa sulfat yang bekerja dengan cara melindungi mukosa dari serangan pepsin-asam (Anonim, 2000). Sebagian besar obat yang dikonsumsi oleh pasien stroke iskemik dapat menyebabkan gangguan pada sistem gastrointestinal. Tukak lambung yang merupakan salah satu gangguan pada sistem gastrointestinal tersebut dapat terjadi akibat pemakaian obat yang mengiritasi lambung seperti obat-obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) dan obat anti kejang. Selain itu juga dapat terjadi akibat efek samping dari obat-obat antidiabetik oral yang dikonsumsi pasien yang mengalami stroke iskemik dengan komplikasi diabetes melitus.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 2. Obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler Tabel VI. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Kardiovaskuler yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 2 3 Antiaritmia (0,5%) Antihipertensi (15,7%) Antiangina (10,7%) Antiaritmia Supraventrikel ACEI (4,4%) Antagonis reseptor angiotensin II Antihipertensi yang bekerja sentral Nitrat Antagonis kalsium (9,8%) Beta-bloker 4 5 6 7 8 Diuretika (9,1%) Obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah (24,3%) Hipolipidemik (5,9%) Obat untuk gangguan sirkulasi darah (32,5%) Inotropik positif (1,1%) Tiazid Diuretika kuat Antiplatelet Hemostatik dan antifibrinolitik Statin (5,4%) Klorfibrat Vasodilator perifer (3,8%) Vasodilator perifer dan aktivator serebral (28,7%) Glikosida jantung Adenosin Triphosphat Ramipril Kaptopril Candesartan 1 0,5 6 2 12 3,2 1,1 6,5 Klonidin HCl 9 4,9 Isosorbid dinitrat Amlodipin besilat Diltiazem HCl Nivedipin Karvedilol 1 0,5 11 5,9 4 3 1 2,2 1,6 0,5 Hidroklorotiazid Furosemid Cilostazol Asetosal 80 mg Tranexamid acid 1 16 39 3 3 0,5 8,6 21,1 1,6 1,6 Simvastatin Pravastatin Na Fenofibrat Pentoksifilin 7 1 3 5 3,8 0,5 1,6 2,7 Flunarisin Sitikolin Gingko biloba Ko-dergokrin mesilat Digoxin 2 39 9 5 1,1 21,1 4,9 2,7 2 1,1 Zat aktif yang banyak digunakan pada sistem kardiovaskuler adalah sitikolin yang merupakan golongan obat untuk gangguan sirkulasi darah dan cilostazol yang merupakan golongan obat yang mempengaruhi sistem koagulasi

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 darah. Mekanisme aksi cilostazol yakni menghambat fosfodiesterase tipe III. Penghambatan ini menyebabkan cAMP meningkat sehingga agregasi platelet dihambat dan menyebabkan vasodilatasi. Selain itu digunakan obat antihipertensi sehingga perlu dilakukan pemantauan tekanan darah setiap harinya. Direkomendasikan untuk memulai pemberian terapi anti hipertensi pada pasien yang tidak mendapatkan terapi trombolitik adalah ketika tekanan darah sistolik >220 mmHg atau tekanan darah diastolik >110 mmHg (Summers, D, et al., 2009). Obat antihipertensi diberikan dengan target penurunan taekanan darah 10-20% saja. Penurunan tekanan darah yang tajam, tidak diinginkan dalam pengobatan stroke iskemik sebab akan menyebabkan tekanan perfusi tidak cukup adekuat. Selain itu, obat antihipertensi juga diperlukan untuk maintenance terapi tekanan darah pasien sehingga tidak terjadi peningkatan secara mendadak. 3. Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan Tabel VII. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Pernapasan yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 2 Antihistamin (33,4%) Mukolitik (66,7) Antihistamin sedatif Sulfidril Mebhidrolin napadisilat Asetil sistein Erdostein 1 20,0 3 1 60,0 20,0 Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan yang paling banyak digunakan adalah golongan mukolitik. Mukolitik dapat mempercepat ekspektoransi dengan mengurangi viskositas sputum pada asma kronik dan bronkitis. Penggunaan obat ini dikarenakan adanya keluhan sesak nafas pada

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 pasien dan ditemukan adanya mukus. Gangguan jalan nafas pada pasien stroke iskemik dapat menyebabkan keadaan hipoksia, sehingga perlu diterapi. 4. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat Tabel VIII. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Bekerja pada Sistem Saraf Pusat yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 Psikofarmaka (8,4%) 2 3 4 5 Pemacu SSP dan penekan nafsu makan Obat untuk mual dan vertigo (33,4%) Antiepilepsi Antiparkinson (50,8%) Hipnotik ansiolitik Antidepresan dan Alprazolam 1 4,2 Maprotiline HCl 1 4,2 Pemacu SSP Mekobalamin 1 4,2 Antagonis 5-HT3 (29,2%) Antihistamin Asetilkolin inhibitor Antimuskarinik Tremor esensial (42,5%) Ondansetron Domperidon Sinarizin Donepesil HCl Triheksifenidil Piracetam Pyritinol HCl 6 1 1 1 2 5 5 25 4,2 4,2 4,2 8,3 20,8 20,8 Jenis obat pada Golongan psikofarmaka yang digunakan adalah alprazolam dan maprotilin HCl. Alprazolam merupakan ansiolitik benzodiazepin yang efektif dalam menghilangkan ansietas sedangkan maprotilin HCl bekerja sebagai antidepresan untuk pasien yang mengalami depresi akibat terserang stroke iskemik. Jenis obat mekobalamin digunakan untuk mengatasi kondisi neuropati perifer. Obat untuk mual dan muntah (antiemetik) digunakan untuk mengatasi keluhan mual dan muntah pada pasien dengan menekan sistem saraf pusat. Gejala muntah yang timbul pada pasien mungkin karena peningkatan tekanan intrakranial atau gangguan saluran cerna. Keluhan gangguan mual dan muntah ini juga mungkin disebabkan karena pemakaian obat-obat hipolipidemik yang dikonsumsi pasien, sebab sebagian obat hipolipidemik mempunyai efek samping

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 tersebut. Selain itu, penggunaan antibiotik golongan sefalosporin juga akan mengakibatkan gangguan saluran cerna, mual dan muntah. Jenis obat antiemetik yang paling banyak digunakan adalah kelompok antagonis 5-HT3. Antiepilepsi yang digunakan yakni donepezil hidroklorida yang mempunyai mekanisme aksi dengan menghambat asetilkolin sehingga tidak terjadi keadaan depolarisasi karena depolarisasi dapat memicu terjadinya infark. Antiparkinson digunakan untuk mengobati sindrom parkinson. Gejala utama dari sindrom parkinson berupa trias gangguan neuromuskular seperti tremor, rigiditas, akinesia, disertai kelainan postur tubuh dan gaya berjalan. Gerakan halus yang memerlukan koordinasi kerja otot skelet sukar dilakukan pasien, misalnya menyuap makanan, mengancingkan baju, dan menulis. 5. Obat yang bekerja sebagai analgesik Tabel IX. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Bekerja Sebagai Analgesik yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 Analgesik (100%) Analgesik non opioid (100%) Dipiron kombinasi psikoleptik Parasetamol Metamizole 4 20 8 8 40 40 Parasetamol dan metamizol merupakan analgesik non opioid yang juga digunakan sebagai antipiretik. Pada penelitian ini, parasetamol dan metamizol merupakan jenis obat yang paling banyak diberikan dibanding jenis obat analgesik lainnya yakni sebesar 34,8%. Hipertermia diketahui dapat memperluas area infark pada pasien stroke iskemik, sehingga perlu ditangani secara cepat. Penggunaan antipiretik pada pasien stroke dikarenakan stroke juga disertai demam yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh mencapai 37,5°C setelah

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 48 jam onset stroke (Anonim, 2003). Hipertermi diatasi dengan pemberian antipiretik. Dosis parasetamol yang diberikan adalah 500 mg 4 kali sehari bila perlu (Anonim, 2000). Penggunaan bila perlu dimaksudkan hanya pada saat suhu tubuh naik mencapai 37,5°C, jika suhu tubuh pasien telah kembali normal, penggunaan antipiretik sebaiknya dihentikan. Penggunaan parasetamol yang melebihi dosis yang dianjurkan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati sehingga penggunaannya perlu dikontrol. 6. Obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi Tabel X. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Bekerja untuk Pengobatan Infeksi yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 Antibiotik/antimikoba Penisilin (4,5%) Sefalosporin (77,09%) Kuinolon (18,1%) Amoksisilin dan asam klavulanat Seftriakson Sefadroxil Sefuroksim Sefiksim Sefotaksim Cefprozil Siprofloksasin Levofloksasin 1 4,5 7 3 2 1 3 1 3 1 31,8 13,6 9,09 4,5 13,6 4,5 13,6 4,5 Antibiotik yang paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi pada penelitian ini adalah kelompok sefalosporin generasi ketiga dengan jenis obat seftriakson. Sefalosporin termasuk antibiotik beta laktam yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel mikroba. Sefalosporin aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif. Seftriakson memiliki waktu paruh yang lebih panjang dibandingkan sefalosporin lain, sehingga cukup diberikan satu kali sehari.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Penggunaan antibiotik pada pasien stroke iskemik yakni untuk mengobati infeksi yang terdiagnosis pada saat masuk atau untuk mengobati terjadinya infeksi nosokomial yang diperoleh saat pasien dirawat. Penanda umum adanya infeksi bakteri ini antara lain terjadinya peningkatan leukosit dalam darah dan ditemukan bakteri pada kultur urin. Pada pasien stroke iskemik karena adanya gangguan peredaran darah di otak akan mengakibatkan aktivasi leukosit sehingga jumlah leukosit dalam darah meningkat. Peningkatan leukosit pada pasien stroke iskemik merupakan mekanisme homeostasis tubuh akibat terjadinya serangan otak. Penggunaan antibiotik hanya berdasarkan peningkatan jumlah leukosit harus dihindari untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri. Penggunaan antibiotik dianjurkan jika ditemukan bakteri pada kultur urin dan secara klinis ditemukan tanda-tanda pneumonia pada pasien stroke iskemik. Hal ini dilakukan karena bakteri pneumonia merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien stroke iskemik (Anonim, 2003). 7. Obat-obat hormonal Tabel XI. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat -Obat Hormonal yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini , Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 2 Antidiabetik (60%) Insulin (40%) Kortikosteroid (40%) Antidiabetik oral Antiinflamasi sistemik Insulin 3 30 Sediaan campuran Glimepirid 6-alphametilprednisolon Deksametason 1 2 1 10 20 10 3 30 Obat hormonal yang digunakan pasien pada penelitian ini adalah golongan antidiabetik dan kortikosteroid. Penggunaan antidiabetik pada pasien stroke iskemik dikarenakan beberapa pasien penderita stroke iskemik juga

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 menderita diabetes melitus. Pada diabetes melitus terjadi hiperglikemi. Hiperglikemi juga terjadi pada 2-3 hari pertama serangan stroke. Hiperglikemi dapat memperluas area infark karena terbentuknya asam laktat dari penguraian glukosa secara anaerob sehingga diperlukan pemberian terapi insulin. Kortikosteroid bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintesis protein lain. Kerja obat ini sangat rumit, bergantung pada kondisi hormonal seseorang. Namun, secara umum efeknya dibedakan atas efek retensi Na (efek mineralokortikoid) dan efek antiinflamsi (glukorkotikoid). Metilprednisolon mempunyai potensi sebagai antiinflamasi dan retensi Na, sedangkan deksametason mempunyai potensi yang besar sebagai antiinflamasi (Anonim, 2000). 8. Obat saluran kemih Obat saluran kemih yang digunakan dalam 3 kasus yang ditemukan adalah jenis tolterodine i-tartrate (100%). Mekanisme aksi tolterodine yakni sebagai antagonis kompetitif reseptor muskarinik yang dapat meningkatkan volume urin dan mengurangi tekanan otot detrusor kandung kemih (Lacy, Armstrong, Goldman, Lance, 2003).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 9. Obat-obat yang mempengaruhi gizi dan darah Tabel XII. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat yang Mempengaruhi Gizi dan Darah yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 Cairan, elektrolit mineral dan Pemberian (29,3%) oral (98,1%) Pemberian intravena (68,8%) 2 Vitamin KI aspartat KCl Alpha ketoleusin Normal salin Natrium laktat (RL) RD Glukosa 5% Glukosa 10% Natrium klorida Renxamin ® Vitamin K 12 2 3 1 30 20,7 3,4 5,2 1,7 2 4 1 1 1 1 3,4 6,9 1,7 1,7 1,7 1,7 51,7 Obat yang mempengaruhi gizi dan darah yang digunakan meliputi cairan, elektrolit, dan mineral serta vitamin. Pada penanganan pertama pasien stroke iskemik perlu diperhatikan keseimbangan cairan dan elektrolit untuk menghindari terjadinya dehidrasi yang akan meningkatkan viskositas darah. Dengan penambahan cairan isotonik, fungsi jantung dan perfusi otak akan meningkat sehingga cerebral blood flow ke otak akan meningkat. Penggunaan vitamin pada pasien stroke iskemik berhubungan dengan kadar homosistein didalam darah. Kadar homosistein yang tinggi akan bersifat sterogenik dan protrombus. Dengan konsumsi vitamin dan asam folat akan mengurangi kadar homosistein dalam darah.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 10. Obat-obat untuk penyakit otot skelet dan sendi Tabel XIII. Golongan, Kelompok, dan Jenis Obat Untuk Penyakit Otot Skelet dan Sendi yang Digunakan pada Terapi Kasus Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 No Golongan Kelompok Jenis Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 2 Obat untuk penyakit rheumatik dan gout (66,6%) Obat yang digunakan dalam gangguan neuromuskular Antiinflamasi non steroid (44,4%) Obat untuk mengatasi gout Pelemas otot rangka Diklofenak Meloksikam Ketoprofen Allupurinol 1 2 1 2 11,1 22,2 11,1 22,2 Diazepam 3 33,3 Obat untuk penyakit otot skelet dan sendi digunakan karena sebagian pasien stroke iskemik mengeluh nyeri pada otot. Pada kelas terapi ini, jenis obat yang paling banyak digunakan adalah diazepam sebagai obat yang digunakan untuk gangguan neuromuskular. Obat ini bekerja dengan menghambat degradasi asetilkolin namun dosis berlebih akan menggangu transmisi dan menimbulkan blok depolarisasi yang berakibat terjadinya krisis kolinergik. 11. Sediaan topikal Seorang pasien juga mendapat sediaan topikal yakni antibiotik kloramfenikol. Kloramfenikol, antibiotik spektrum luas digunakan untuk mengobati adanya infeksi pada mata.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 C. Kajian Drug Therapy Problems (DTPs) Pembahasan Drug Therapy Problems (DTPs) menggunakan metode SOAR (Subjective, Objective, Assessment, and Recommendation). Analisis drug therapy problems pada masing-masing kasus dilakukan dengan menganalisa terapi yang diberikan pada pasien dan melihat perkembangan kondisi pasien selama dirawat di rumah sakit melalui catatan keperawatan dan data laboratorium yang dicantumkan dalam lembar medical record. Setiap kasus yang telah dibahas dengan metode SOAR, kemudian dirangkum menjadi masingmasing kategori Drug Therapy Problems, yaitu tidak butuh obat, perlu tambahan terapi obat, obat yang tidak efektif, dosis terlalu rendah, potensial adverse drug reaction, dan dosis terlalu tinggi dalam penggunaan obat pada pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008. Dari 42 medical record pasien stroke iskemik yang dianalisis, ditemukan tidak terjadi drug therapy problems pada 26 pasien sedangkan 16 pasien lainnya terjadi drug therapy problems yakni perlu tambahan terapi obat sebanyak 12 kasus dan ditemukannya potensial adverse drug reaction sebanyak 4 kasus. Selanjutnya, pada masing-masing kategori akan dijabarkan nomor kasus, jenis obat yang menyebabkan terjadinya DTPs, kemudian dari masing-masing jenis obat tersebut akan dibahas bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat terjadi sekaligus memberikan rekomendasi yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 1. Perlu tambahan terapi obat Tabel XIV. Kasus DTPs Perlu Tambahan Terapi Obat Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 2, 30 Jenis Obat Antibiotik 3, 13, 24, 25, 29, 31 11, 18, 21 32 Penilaian Dari hasil laboratorium nilai WBC pasien diatas normal dan ditemukan bakteri pada pemeriksaan urin maka diketahui pasien mengalami infeksi bakteri, tetapi tidak diberikan terapi. Antihiperlipid Nilai kolesterol total dan LDL golongan statin pasien diatas normal dan nilai HDL berada di bawah normal, pasien tidak mendapatkan terapi. Antigout Kadar asam urat pasien diatas normal, pasien tidak diberikan terapi. Suplemen Pasien mendapat terapi kalium furosemid pada tanggal 08/10/07 yang dapat meyebabkan terjadinya hipokalemia, namun tidak disertai dengan pemberian suplemen kalium. Rekomendasi Perlunya tambahan antibiotik untuk terapi infeksi bakteri. Berikan antihiperlipid golongan statin (Peter, et al., 2008). Perlunya tambahan antigout untuk terapi asam urat pasien. Tambahkan terapi suplemen kalium untuk mengatasi terjadinya hipokalemia. Jika dianalisis berdasarkan NCEP III guideline dengan target LDL kolesterol <100 mg/dL, maka pada semua kasus perlu direkomendasikan terapi non farmakologi seperti diet rendah lemak dan mengurangi stres sedangkan pada kasus 1, 2, 3, 6, 7, 9, 13, 16, 17, 18, 20, 21, 24, 25, 27, 29, 30, 31, 35, 36, dan 37 juga direkomendasikan perlunya tambahan terapi farmakologi yakni pemberian antihiperlipid golongan statin pada pasien stroke iskemik (evidence based kelas 1 level A). Statin merupakan golongan obat yang menghambat secara kompetitif hydroxymethyl glutaryl coenzyme A reductase (HMG Co-A reductase), suatu rate limiting step enzyme dalam sintesis kolesterol endogen. Inhibisi enzim ini akan menurunkan sintesis kolesterol endogen dan pada akhirnya mengurangi kadar kolesterol serum (Daniel, 2008).

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 2. Potensial adverse drug reaction Tabel XV. Kasus DTPs potensial Adverse Drug Reaction pada Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Penilaian Rekomendasi 1 Kasus 6-alphamethylpredni solone Jenis Obat Berpotensi menyebabkan hipertensi dan Diabetes Melitus (Anonim, 2007). Batasi penggunaan 6-alphamethylprednisolone dengan jangka waktu tertentu. Pantau tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala. 10 Ramipril dan Renapar® Pasien diberikan Ramipril dan Renapar® yang berpotensi terjadi interaksi yaitu dapat menyebabkan hiperkalemia (Anonim, 2007). Mengatur waktu pemberian Ramipril dan Renapar® agar tidak bersamaan. 16 Diltiazem HCl dan cilostazol Pasien diberikan diltiazem HCl dan cilostazol yang berpotensi terjadi interaksi. Diltiazem HCl dapat meningkatkan efek/toksisitas dari cilostazol (Lacy, et al., 2003). Mengatur waktu pemberian diltiazem HCl dan cilostazol agar tidak bersamaan. Cilostazol diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan (saat lambung kosong) pada pagi dan malam hari, sedangkan diltiazem HCl diberikan pada pagi hari setelah makan. 16 Asetosal dengan cilostazol Pantau keadaan pasien sesering mungkin, pemberian 2 macam antiplatelet dapat meningkatkan risiko pendarahan. 40 Glimepirid dan Captopril Pemberian asetosal dengan cilostazol yang keduanya diketahui merupakan agen antiplatelet secara bersamaan. Asetosal jika diberikan bersama cilostazol lebih berpotensi untuk menginduksi penghambatan agregasi platelet (Lacy, et.,al, 2003). Pasien diberikan Glimepirid dan Captopril (anti hipertensi golongan ACEI) yang berpotensi terjadi interaksi. Captopril dapat meningkatkan efek hipoglikemi dari glimepirid (Anonim, 2007). Mengatur waktu pemberian Glimepirid dan Captopril agar tidak bersamaan. Glimepirid diberikan pada pagi hari segera sebelum makan sedangkan captopril diberikan pada pagi hari setelah makan dan pemberian kedua dilakukan pada malam hari.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 D. Rangkuman Pembahasan Pada penelitian ini, jumlah kasus yang dianalisis sebanyak 42 kasus. Karakteristik kasus pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 berdasarkan kelompok usia, menunjukkan bahwa persentase kasus pasien stroke iskemik kelompok usia 40-49 tahun sebesar 4,4%; 50-59 tahun sebesar 19,0%; 60-69 tahun sebesar 40,0%; 7079 tahun sebesar 21,4%; 80-89 tahun sebesar 19,0% dan kelompok usia 90-99% sebesar 4,8%. Karakteristik pasien stroke iskemik berdasarkan jenis kelamin, menunjukkan bahwa persentase pasien stroke iskemik dengan jenis kelamin lakilaki sebesar 54,8% dan jenis kelamin wanita sebesar 45,2%. Persentase pasien stroke berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik yakni pasien dengan diagnosis hipertensi sebesar 9,5%, diabetes melitus sebesar 7,1%, PPOK sebesar 4,8%; pneumonia sebesar 2,4%; dan tanpa keterangan diagnosis lain sebesar 76,2%. Persentase terbesar distribusi kelas terapi obat pada kasus pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 adalah obat yang mempengaruhi gizi dan darah sebesar 100% dan obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler sebesar 97,6%. Pada masing-masing kelas terapi yaitu obat yang bekerja pada saluran cerna jenis zat aktif terbanyak yang digunakan adalah ranitidin dan sukralfat. Pada kelas terapi obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskular jenis zat aktif yang terbanyak digunakan adalah cilostazol dan sitikolin. Pada kelas terapi obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan jenis zat aktif yang paling

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 banyak digunakan adalah asetilsistein. Pada kelas terapi obat yang bekerja pada sistem saraf pusat jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah ondansetron. Pada kelas terapi obat yang bekerja sebagai analgesik jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah parasetamol dan metamizol. Pada kelas terapi obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah seftriakson. Pada kelas terapi obat-obat hormonal jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah insulin dan deksametason. Pada kelas terapi obat saluran kemih yang digunakan adalah tolterodin-I-tartrate. Pada kelas terapi obat yang mempengaruhi gizi dan darah jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah natrium laktat dan kalium iodida aspartat. Pada kelas terapi obat untuk penyakit otot skelet dan sendi jenis zat aktif yang paling banyak digunakan adalah diazepam dan pada kelas terapi sediaan topikal obat yang digunakan adalah kloramfenikol. Dari hasil analisis terjadinya Drug Therapy Problems pada masingmasing kasus didapatkan hasil bahwa perlunya tambahan terapi obat sebanyak 12 kasus dan potensial kejadian adverse drug reaction sebanyak 4 kasus. Jika dianalisis berdasarkan NCEP III guideline dengan target LDL kolesterol <100 mg/dL, maka pada kasus 1, 2, 3, 6, 7, 9, 13, 16, 17, 18, 20, 21, 24, 25, 27, 29, 30, 31, 35, 36, dan 37 direkomendasikan perlunya tambahan terapi farmakologi yakni pemberian antihiperlipid golongan statin pada pasien stroke iskemik.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil analisis terhadap data pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini, Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Karakteristik pasien stroke iskemik berdasarkan kelompok usia paling banyak terjadi pada kelompok 60-69 tahun (40,0%) dan berdasarkan jenis kelamin paling banyak terjadi pada laki-laki (55,0%) serta berdasarkan diagnosis lain selain diagnosis utama stroke iskemik yang terbanyak adalah tanpa keterangan (76,0%). 2. Karakteristik pola pengobatan pasien stroke iskemik menggunakan sebelas kelas terapi obat, yaitu obat saluran cerna, obat kardiovaskuler, obat saluran pernapasan, obat sistem saraf pusat, obat analgesik, obat infeksi, obat hormonal, obat saluran kemih, obat gizi dan darah, obat otot skelet dan sendi, dan obat sediaan topikal. Kelas terapi yang paling banyak digunakan adalah obat gizi dan darah (100,0%) dan obat kardiovaskuler (97,6%). 3. Pada kasus pasien stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini, Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 terjadi Drug Therapy Problems sebagai berikut : a. Perlu tambahan terapi obat sebanyak 12 kasus (28,6%) Potensial adverse drug reaction sebanyak 4 kasus (9,5%) 55

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 b. Jika dianalisis berdasarkan NCEP III guideline dengan target LDL kolesterol <100 mg/dL, perlu tambahan terapi obat statin sebanyak 21 kasus (50%) B. Saran Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah : 1. Perlu adanya standar terapi penyakit stroke iskemik dan dilaksanakan farmasi klinis di Rumah Sakit Panti Rini sehingga monitoring obat dapat lebih maksimal. 2. Meninjau kembali nilai normal kolesterol LDL hasil laboratorium untuk pasien stroke iskemik. 3. Dapat dilakukan penelitian mengenai Drug Therapy Problems kasus stroke iskemik akut secara prospektif. 4. Dapat dilakukan edukasi kepada masyarakat berkaitan dengan faktor-faktor risiko penyakit stroke.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 DAFTAR PUSTAKA Adams, H.P, Adams, R.J., Brott, T., del Zoppo, G.J., Furlan, A., Goldstein, L.B., et. al., 2003, Guidelines for the Early Management of Patients With Ischemic Stroke: A Scientific Statement From the Stroke Council of the American Stroke Association, Stroke, 34:1056–1083, diakses pada http://stroke.ahajournals.org/cgi/content/full/36/4/916, tanggal 2 November 2008 Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI) 2000, 14-25, 3442, 47-75, 83-93, 117-126, 128, 131, 142-144, 148-160, 183-190, 196, 210-215, 223-228, 263-276, 350, 354-379, 396, 468-469, 497-498, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Anonim, 2003, European Stroke Initiative Recommendations for Stroke Management-update, Cerebrovascular Diseases, http://www.online.karger.com/ProdukteDB/produkte.asp?Aktion=ShowFu lltext&ArtikelNr=72554&Ausgabe=229484&ProduktNr=224153, diakses pada tanggal 2 November 2008 Anonim, 2005, The National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP) ATP Drug Therapy, http://www.zocor.com/coronaryheart disease/ncep guidelines, diakses pada tanggal 2 November 2008 Anonim, 2006a, Adult Dyslipidemia Formulary Pocket Guide, DHS ; Los Angeles Anonim, 2006b, American Heart Association Guideline, http://stroke.ahajournals.org/cgi/content/full/37/2/577, diakses pada tanggal 2 November, 2008 Anonim, 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008, 1, 5, 28, 31, 39-40, 47-48, 50, 54-65, 69, 98-99, 105-107, 143, 146, 151, 163, 204, 262-265, 273-276, 301-303, 318, CMP Medica Asia Pte LTd, Singapore Anonim, 2008a, Evaluasi Mutu Rumah Sakit Panti Rini, http://badanmutu.or.id/index.php?id+60, diakses pada tanggal 30 Agustus 2008 Anonim, 2008b, Stroke Urutan Ketiga Penyakit Mematikan, Yayasan Stroke Indonesia (yastroki), http://www.yastroki.or.id/stroke.htm, diakses pada 5 September 2008 Cipolle, J.R., Strand, L.M., Morley, P.C., 2004, Pharmaceutical Care Practice The Clinician’s Guide, Second Edition, 196-197, McGraw-Hill Health Professions Division, New York

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Fagan, S.C., and Hess, D.C., dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Matzke, B.R., Wells, B.G., dan Posey, N.L., 2005, Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach, 3rd edition, 415-420, Appleton and Large Stamford Conecticut, USA Feigin, V., 2006, Stroke:, Panduan Bergambar Tentang Pencegahan Dan Pengobatan Stroke, 3, 85,91-92, PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta Hinkle, J.L., Guanci, M.M., Acute Ischemic Stroke Review, http://www.medscape.com/viewarticle/567653, diakses pada tanggal 28 September 2008 Junaidi, I., 2004, Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke, 2, 4, 6,812, PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta Junaidi, I., 2005, Stroke A-Z, 5, 24-26, 29-30, 43, 46-47, PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2003, Drug Information Handbook, 11th Edition, 128-129, 872, 1375, AphA LexiComp, America Liza, 2007, Otak, Fungsi dan Keajaibannya, http://www.scribd.com/doc/otak.htm, diakses pada tanggal 20 April 2009 Lukman, 2008, Anatomi Fisiologi http://www.lukman.blogspot.com/anatomi fisiologi diakses pada tanggal 20 April 2009 Persarafan, persarafan.html, Neal, M.J., 2006, At A Glance Farmakologi Medis, Edisi kelima, 47, Erlangga Medical Series, Jakarta Nguyen, L, 2000, An Overview of The Evaluation of The Clinical Pharmacy Services, Pharmacy Intern University Of New Mexico, College of Pharmacy, http://www.nm-pharmacy.com/studentarticles4html, diakses pada tanggal 28 September 2008 Notoatmodjo, S., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, 138, 143-144, PT. Rineka Cipta, Jakarta

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Peter, A.R., Marie, G.B., Gary, F., Philip, B., Michael, B,K., Valeria, C., et al, 2008, Guidelines for Management of Ischaemic Stroke and Transient Ischaemic Attack: The European Stroke Organization (ESO) Executive Committee and the ESO Writing Committee, http://www.esostroke.org/pdf/ESO08_Guidelines_Original_english.pdf, diakses pada tanggal 2 November 2008 Pratiknya, A.W., 2001, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, 10-11, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta Sacco, R, L., Adams, R., Albers, G., Alberts, M.J., Furie, K., Goldstein, L.B., et al., 2006, Guidelines for Prevention of Stroke in Patients With Ischemic Stroke or Transient Ischemic Attack: American Heart Association (AHA)/ American Stoke Association (ASA), http://stroke.ahajournals.org/cgi/content/full/37/2/577, diakses pada tanggal 2 November 2008 Summers, D., Leonard, A., Wentworth, D., Saver, J, L., Simpson, J., Spilker, J., et al., 2009, Comprehensive Overview of Nursing and Interdiciplinary Care of the Acute Ischemic Stroke Patient, A Scientific Statement From the American Heart Association, http://stroke.ahajournals.org/cgi/reprint/STROKEAHA.108.192218, diakses pada tanggal 19 Juli 2009

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 60

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Lampiran I DTPs pasien stroke iskemik akut periode Juli 2007- Juni 2008 berdasarkan metode SOAR Kajian DTPs Kasus 1 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 1. No. RM 145761 (29/07/07-06/08/07) Subjective Perempuan; 60 tahun. DM: Obs. Hemiparese; DU: Stroke; DL: PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis). Keluhan utama: lemas. Penyakit yang pernah diderita: maag. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl Total-C: 196 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl LDL-C: 128 mg/dl HDL-C: >65 mg/dl HDL-C: 65 mg/dl (-) Trig.: s/d 220 mg/dl Trig.: 83 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGOT:54,4 IU/L (+) SGPT: s/d 32 IU/L SGPT: 61,5 IU/L (+) Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Ureum drh: 15 mg/dl Creat.drh: 0,8 mg/dl As.urat: 2,4-5,7 mg/dl As.urat: 3,3 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCV: 35,4 fL (-); MCHC: 31,8 pg (-) Lym: 10,7% (-); MXD: 9,3% (+) NEUT:80,0% (+) NEUT: 7,6 103/μl (+) MCV: 81-99 fL; MCHC: 33-37 pg Lym: 19-48%; MXD: 0-8% NEUT: 40-74% NEUT: 1,5-7 μl CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan tempora parietal, infark cerebri kanan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Bronchitis penilus kanan dgn emphisematus lung cardiomegali. Tanda vital: TD: 150/80 mmHg; S: 360C; N: 125x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Curliv® 2 x 1 Enerplus® 2 x 1 Cilostazol 2 x 50 mg Clonidin HCl 2 x 0,15 mg 6-alpha-methylprednisolone 3 x 4 mg Erdosteine 3 x 1 Dexiclav® 3 x 625 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp Infus RL Infus RD 29/7 √ √ √ √ 30/7 √ √ √ √ √ √ √ 31/7 √ √ √ √ √ √ √ Tanggal/bulan (2007) 1/8 2/8 3/8 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4/8 √ √ √ √ 5/8 √ √ √ √ 6/8 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment 1. Efek samping 6-alpha-methylprednisolone berpotensi menyebabkan hipertensi dan Diabetes Melitus. DTPs : potensial ADR (Anonim, 2007). Recommendation 1. Batasi penggunaan 6-alpha-methylprednisolone dengan jangka waktu tertentu. Pantau tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Kajian DTPs Kasus 2 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 2. No. RM 145794 (30/07/07-06/08/07) Subjective Perempuan; 63 tahun. DM: hipertensi; DU: Stroke. Keluhan utama: leher cengeng, ekstremitas kiri lemas. Penyakit yang pernah diderita: HT ± 10 tahun yang lalu. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Total-C: 216 mg/dl LDL-C: 156 mg/dl (+) HDL-C: 42 mg/dl (-) Trig.: 203 mg/dl SGOT:20,7 IU/L SGPT: 18,4 IU/L Ureum drh: 37 mg/dl Creat.: 1,1 mg/dl (+) As.urat: 5,3 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram MCH: 26,3 fL (-) MCHC: 31,6 pg (-) PLC-R: 25,4% (+) Pemeriksaan urin Prot.:- ; glu.:- ; sel epitel: +; leu: 50-60 (+); erit.:50-60 (+);bakteri: +++ Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >65 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl As.urat: 2,4-5,7 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram MCV: 81-99 fL MCHC: 33-37 pg PLC-R: 15-25% Pemeriksaan urin Prot.:- ; glu.:-; sel epitel: +; leu: 0-6; erit.:01;bakteri: - CT Scan kepala: Lesi hipodens intra cerebri kanan kapsula externa tengah bercak infark cerebri kanan ringan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus & girus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal, cardiomegali. TD: 240/130 mmHg; S: 370C; N: 84 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat ® Renapar 2 x 1 Clonidin 2 x 0,15 mg Amlodipin 1 x 5 mg Cilostazol 2 x 50 mg Pyritinol HCl 3 x 100 mg Ko-dergokrin mesilat 1x4,5 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Furosemid 1 x 1 amp (10 mg) Inj. D5% + Farmabes Infus RL Infus Asering 30/ 7 √ √ √ √ 31/7 1/8 Tanggal/bulan (2007) 2/8 3/8 4/8 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 5/8 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 6/8 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment 1. Dari hasil laboratorium diketahui pasien mengalami infeksi bakteri (ditemukan bakteri pada pemeriksaan urin) tetapi tidak diberikan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation 1. Perlunya tambahan antibiotik untuk terapi infeksi bakteri.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Kajian DTPs Kasus 3 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 3. No. RM 145708 (27/07/07-29/07/07) Subjective Laki-laki; 53 tahun. DM: suspect stroke, anorexia; DU: Stroke. Keluhan utama: pelo, tidak mau makan. Penyakit yang pernah diderita: stroke ± 2 tahun. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: belum sembuh (pulang paksa). Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 282 mg/dl (+) Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 216 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl HDL-C: 45 mg/dl (-) Trig.: s/d 220 mg/dl Trig.: 67 mg/dl SGOT:30,6 IU/L SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: 17,7 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Ureum drh: 73 mg/dl (+); Creat.: 1,2 mg/dl (+) As.urat: 7,0 mg/dl As.urat: 3,4-7,0 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram HCT: 26,3 % (-) HCT: 37-47 fL PLT: 31,6 103/μL (-) PLT: 150-450 pg PLC-R: 25,4% (+) PLC-R: 15-25% Lym: 14,4% (-) Lym: 19-48% MXD: 9,6% (+) MXD: 90-8% NEUT:76,0% (+) NEUT:40-74% CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan para ventrikel lateral kanan atas, infark cerebri kanan ringan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dan besar cor dalam batas normal. TD: 180/140 mmHg; N: 80x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Maprotiline HCl 1 x 25 mg Cilostazol 2 x 50 mg Renapar® 2 x 1 Amlodipin 1 x 5 mg Clonidin 2 x 0,15 mg Piracetam 2 x 800 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Diazepam 5 mg Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) Inj. Ranitidin 1 amp (25 mg)/12 jam Infus Asering Infus RL Tgl (Juli 2007) 27 28 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 29 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment Nilai kolesterol total dan LDL pasien diatas normal, begitupun dengan nilai HDL berada di bawah normal namun pasien tidak mendapatkan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Berikan antihiperlipid golongan statin (ESO guideline, 2008). Statin adalah obat penurun lipid yang paling baru, efektif menurunkan kolesterol total dan LDL. Statin mempunyai sedikit efek samping dan saat ini biasanya merupakan obat pilihan pertama (At a glance farmakologi medis, 2006). Statin merupakan golongan obat yang menghambat secara kompetitif hydroxymethyl glutaryl coenzime A reductase (HMG Co-A reductace), suatu rate limiting step enzyme dalam sintesis kolesterol endogen. Inhibisi enzim ini akan menurunkan sintesis kolesterol endogen dan pada akhirnya mengurangi kadar kolesterol serum (2/3 dari kadar kolesterol serum adalah LDL-C). Penurunan kolesterol endogen dapat memacu peningkatan jumlah reseptor LDL yang aktif di sel hepar, sehingga pengikatan LDL-C dan prekursor LDL-C pun meningkat. Akibatnya, kadar LDL-C dan prekursornya dalam darah menurun (Daniel, 2006).

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Kajian DTPs Kasus 4 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 4. No. RM 145607 (23/07/07-29/07/07) Subjective Perempuan; 58 tahun. DM: obs hemiparese; DU: Stroke; DL: HT. Keluhan utama: pusing, tangan dan kaki lemas, bicara pelo. Penyakit yang pernah diderita: tdk pernah sakit berat. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Total-C: 239 mg/dl (+); LDL-C: 180 mg/dl (+) HDL-C: 43 mg/dl (-); Trig.: 200 mg/dl SGOT: 19,4 IU/L SGPT: 11,9 IU/L Ureum drh: 27 mg/dl; Creat.: 0,7 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram HGB: 11,6 g/dl (-); MCH: 25,9 fl (-) MCHC: 31,4pg (-); Lym: 15,9% (-) NEUT: 76,3% (+); NEUT: 7,4 103/μl (+) Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >65 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram HGB: 12-16,5 fL ; MCH: 27-31 pg MCHC: 33-37% ; Lym: 19-48% NEUT: 40-74% ; NEUT: 7,4 103/μl CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan para ventrikel lateral kanan atas, infark cerebri kanan ringan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dan besar cor dalam batas normal. TD: 200/105 mmHg; S: 36°C; N: 76 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Juli 2007) 23 24 25 26 27 28 29 Simvastatin 1 x 10 mg √ √ √ √ √ √ √ Candesartan 1 x 16 mg √ √ √ √ √ √ Clonidin HCl 2 x 0,15 mg √ √ √ √ √ √ Analsik® 3x 1 √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ Pyritinol HCl 3 x 100 mg √ √ √ √ √ Ko-dergokrin mesilat 1x4,5 mg √ √ √ √ √ Ekstr gingko biloba 3 x 1(40 mg) √ √ √ √ √ Bisakodil suppo √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp √ √ √ √ √ √ Infus RL √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Pasien mengalami hiperlipid, diberikan simvastatin . - Untuk terapi maintenance tekanan darah tinggi pasien diberikan kombinasi candesartan (antagonis angiotensin II) dan clonidin HCl (obat anti hipertensi yang bekerja sentral). Pada tanggal 24/07/07, TD: 180/100 mmHg. - Untuk mengobati rasa nyeri diberikan Analsik®. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk mengobati gangguan sentral yang disebabkan karena apopleksi trauma kranioserebral diberikan terapi Pyritinol HCl. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral Ko-dergokrin mesilat, Ekstr gingko biloba dan injeksi Sitikolin. - Pasien mengeluh sulit BAB, diberikan Bisakodil suppo. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Kajian DTPs Kasus 5 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 5. No. RM 146345 (20/08/07-25/08/07) Subjective Laki-laki; 78 tahun. DM: geriatri dan penurunan kesadaran; DU: Stroke. Keluhan utama: pasien dalam 3 hari tidak mau makan, kesadaran menurun, kandung kencing penuh. Riwayat penyakit keluarga: stroke. Keadaan umum: aphasia; Keadaan pulang: belum sembuh. Objective. Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl Total-C: 213 mg/dl ; LDL-C: 147 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl HDL-C: -; Trig.: 227 mg/dl (+) SGOT:s/d 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L SGOT: 149,7 IU/L (+); SGPT: 77,0 IU/L (+) Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum :155 mg/dl (+) Creat.: 1,9 mg/dl (+) Kalium: 3,5-5,1 mmol/l; Natrium: 136-141 mmol/l Kalium: 4,5; Natrium: 169 (+); Chlorida: 97-111 mmol/l; As. Urat: 3,4-7,0 Chlorida: 130 (+); As. Urat: 12,5 (+) WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC: 17,9 103/μL (+); PLT: 135 103/μL (-) WBC: 4-11 103/μL ; PLT: 150-450103/μL RDW: 52,8 fl (+); PDW: 16,8 fl (+) RDW: 35-47 fl ; PDW: 9-13 fl MPV: 11,7 FL (+); P-LCR: 38,6% (+) MPV: 7,2-11,1 fl; P-LCR: 15-25 % Lym: 9,3% (-); NEUT: 84,2% (+) Lym: 19-48% ; NEUT: 40-74% NEUT: 15,0 103/μl (+) NEUT: 1,5-7 103/μl CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan occipital, parietal lateral, infark cerebri kanan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Foto Thorax: Pulmo dan besar cor dalam batas normal TD: 90/60 mmHg; N: 125x/mnt. Penatalaksanaan Tanggal (Agustus 2007) Nama Obat 20 21 22 23 24 25 Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Sukralfat 3 x 10 cc √ √ √ √ √ √ Aminoral ® 3 x 1 √ √ √ √ √ √ Allopurinol 2 x 100 mg √ √ √ √ Simvastatin 10 mg √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp √ √ √ √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Seftriakson 2 x 1 √ √ √ √ √ Infus RL √ √ Infus D5% √ √ √ √ Infus Renxamin √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk mengobati tukak lambung, pasien diberi terapi sukralfat (khelator) dan diberi injeksi ranitidin (antagonis reseptor H2). - Untuk mengobati asam urat diberikan allopurinol. - Pasien mengalami hiperlipid, diberikan simvastatin . - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi Sitikolin. - Untuk mengobati infeksi (nilai WBC dan NEUT diatas nilai normal) pasien diberikan injeksi seftriakson - Untuk menjaga keseimbangan cairan pasien di dalam tubuh diberikan terapi Aminoral®, Infus RL, D5% , dan Renxamin. Recommendation -

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Kajian DTPs Kasus 6 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 6. No. RM 146680 (02/09/07-07/09/07) Subjective Perempuan; 71 tahun. DM: stroke infark; DU: Stroke. Keluhan utama: extremitas kiri lemas. Kel. Lain: gatal-gatal di badan, nyeri otot. Riwayat penyakit keluarga: ibu pasien HT. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective. Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 187 mg/dl ; LDL-C: 108 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 56 (-); Trig.: 77 mg/dl HDL-C: >65 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L; SGPT: s/d 32 IU/L SGOT: 25 IU/L ; SGPT: 13,9 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Ureum : 26 mg/dl Creat.: 0,7 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 31,4 pg (-) MCHC: 33-37 pg MXD: 8,4% (+) MXD: 0-8% CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel, dan mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal, cardiomegali. Tak tampak calsifikasi thyroid kiri mendesak trachea ringan. TD: 180/100 mmHg; S: 370C; N: 88x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Asetosal 80 mg Cilostazol 2 x 1 Ramipril 1 x 5 mg Diklofenak 2 x 50 mg Mebhidrolin napadisilat 3 x 50 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp Infus NS Tanggal (September 2007) 2 √ √ √ √ √ 3 4 5 6 7 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Pasien mengalami stroke infark dan diberikan antiplatelet asetosal/aspirin (EBM class 1, level A). Asetosal diberikan sebagai terapi awal saat pasien berada di UGD dimana dapat meminimalisir kejadian vaskular seperti stroke non fatal dan kematian pembuluh darah vaskular (Eso Guideline, 2008). - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan - Untuk terapi maintenance tekanan darah yang tinggi pada pasien, diberikan Ramipril. - Pasien mengeluh nyeri sepanjang pangkal paha, diberikan terapi Diklofenak. - Pasien diberi Mebhidrolin napadisilat 3 x 1 untuk mengobati alergi (gatal-gatal di badan). - Untuk membantu memperbaiki aliran darah serebral pada otak diberikan injeksi Sitikolin. - Pasien menerima Infus NS untuk mengembalikan keseimbangan cairan dan NaCl. Recommendation -

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Kajian DTPs Kasus 7 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 7. No. RM 148237 (24/10/07-26/10/07) Subjective Laki-laki; 80 tahun. DM: obs. Hemiparese S; DU: Stroke; DL: KP. Keluhan utama: jatuh dari tempat tidur. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: pulang paksa, belum sembuh. Objective. Hasil laboratorium pada pasien (24/10/07) Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl Total-C: 189 mg/dl ; LDL-C: 116 mg/dl; HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl HDL-C: 36 (-); Trig.: 132 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L SGOT: 18,3 IU/L ; SGPT: 15,4 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum : 50 mg/dl; Creat.: 2,4 mg/dl (+) WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC: 15,1 103/μL (+); MCH: 26,5 fl (-) WBC: 4-11 103/μL ; MCH: 27-31 fl MCHC: 30,3 pg (-); RDW: 48,1 fl (+) MCHC: 33-37 pg ; RDW: 35-47 fl; MXD: 0-8% MXD: 11,9%(+); LYM: 6,9 103/μL (+) LYM: 1-3,7 103/μL; MXD: 0-1,2 103/μl 3 MXD: 1,8 10 /μl (+) CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kiri temporal, infark cerebri kiri temporal bawah. Tampak lesi intra cerebri kanan temporal & occipital. Tampak athropi cerebri sehingga sisterna, sulcus & gyrus menonjol. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Infiltrat bercak pulmo kanan suprabilus, pulmo kiri para cardial, bronchopneumonia, curiga KP. Cardiomegali. TD: 170/90 mmHg; N:68 x/mnt; OT: 118. Penatalaksanaan Nama Obat ® Tgl (Okt/ 2007) 24 25 26 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Renapar 2 x 1 Candesartan 1 x 8 mg Alprazolam 2 x 0,25 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25mg) Inj. Metamizole Na 1 amp (500 mg/ml) Inj. Metoclopramid HCl 1 amp Inj. Furosemid (pagi) 1x1 amp (10 mg) Infus Assering Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk terapi maintenance tekanan darah yang tinggi pada pasien, diberikan candesartan. - Pasien juga mengalami pneumonia sehingga kemungkinan terjadi pembengkakan. Pasien diberi terapi furosemid. Untuk mencegah terjadi hipokalemia akibat pemakaian furosemid, pasien diberi suplemen kalium Renapar®. - Untuk membantu memperbaiki aliran darah serebral pada otak diberikan injeksi Sitikolin. - Pasien mengalami ansietas/rasa panik (gelisah, marah-marah), diberi terapi Alprazolam dengan dosis 2 x 0,25 mg untuk pasien usia lanjut. - Untuk meredakan nyeri diberi injeksi metamizole Na. - Pasien mengalami mual dan muntah, diberi terapi injeksi metoclopramid HCl (antiflatulen) pada 24/10/07 dan ranitidin (antasida) pada 25-26/1/07. - Pasien menerima Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. - pi dengan terapi non farmakologi seperti mengatur pola makan dan diet rendah lemak. Recommendation -

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Kajian DTPs Kasus 8 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 8. No. RM 148179 (22/10/07-07/10/07) Subjective Perempuan; 59 tahun. DM: hemiparese S; DU: Stroke. Keluhan utama: badan bagian kiri tibatiba lemas. Penyakit yang pernah diderita: dyslipidemi, kolesterolemia. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 326 mg/dl (+) Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 236 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 52 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 188 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 17,0 IU/L SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: 14,8 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum : 25 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 1,2 mg/dl (+) Creat.: 0,5-0,9 mg/dl As.urat: 6,2 (+) As.urat: 2,4-5,7 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 31,47 pg (-) MCHC: 33-37 pg P-LCR: 10,6% (-) P-LCR: 15-25% MXD: 10,3%(+) MXD: 0-8% CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal.Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal, cardiomegali. TD: 170/90 mmHg; S: 370C; N: 76x/mnt; Nafas: 16x/menit. Penatalaksanaan Nama Obat Cilostazol 2 x 50 mg Candesartan 16 mg Simvastatin 10 mg Tolterodine I-Tartrat 2 x 1(2 mg) ® Mecola 2 x 1 Inj. Sitikolin 2 amp x 250 mg Infus Assering 22 √ √ √ √ 23 √ √ √ √ √ Tanggal (Oktober 2007) 24 25 26 27 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 28 √ 29 √ √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk terapi maintenance tekanan darah yang tinggi pada pasien, diberikan candesartan. - Nilai kolesterol total dan LDL diatas normal, serta nilai kolesterol HDL dibawah normal. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami hiperlipid dan diterapi dengan antihiperlipid simvastatin. Simvastatin diberikan pada malam hari (sebelum tidur), untuk absorbsi yang maksimal sebab puncak sintesis kolesterol terjadi pada malam hari (jam 00.00 - 03.00 AM). ® - Pasien diberi suplemen Mecola dengan dosis 2x1 kapsul (2 mg) untuk terapi pencegahan dan pemeliharaan neuropati diabetikum. - Untuk membantu memperbaiki aliran darah serebral pada otak diberikan injeksi Sitikolin. - Pasien menerima Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Kajian DTPs Kasus 9 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 9. No. RM 145460 (18/07/07-25/07/07) Subjective Laki-laki; 40 tahun. DM: obs. Hemiparese S; DU: Stroke; DL: HT. Keluhan utama: extremitas kiri lemas. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 191 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 138 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 48 (-) HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 75 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGOT: 28,5 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L SGPT: 36,3 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum : 28 mg/dl Creat.: 1,0 mg/dl GD nuchter: 94mg%; GD PP: 117 mg%. GDP: 70-110 mg/dl. GDPP: 100-140 mg/dl. Prot: -; sel epitel : +; leu: 0-6 lap; erit: 0-1 lap; Prot: -; sel epitel : +; leu: 2-3; erit: 2-3 bac: -. (+); bac: +. WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCV: 78,7 fl (-) MCV: 81-99 fl MCH: 25,8 fl (-) MCH: 27-31 fl MCHC: 32,5 pg (-) MCHC: 33-37 pg P-LCR: 13,2% (-) P-LCR: 15-25% LYM: 15,1% (-) LYM: 19-48% NEUT: 78,0%(+) NEUT: 40-74% CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens tempora parietal lateral kanan, cerebri kanan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali . TD: 140/80 mmHg; N: 88x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Mekobalamin 2 x 1 (500 mcg) Cilostazol 2 x 50 mg Paracetamol 3 x 500 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Infus RL Infus RD Tanggal (Juli 2007) 21 22 23 18 19 20 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 24 25 √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Mecobalamin diberikan untuk terapi neuropati perifer. - Pasien mengalami demam dengan suhu 38,8°C diberi parasetamol 3x500 mg. - Untuk membantu memperbaiki aliran darah serebral pada otak diberikan injeksi Sitikolin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral serta infus RD sebagai pengganti cairan dan kalon. Recommendation -

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Kajian DTPs Kasus 10 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 10. No. RM 130906 (12/10/07-21/10/07) Subjective Laki-laki; 76 tahun. Diag.Msk: hemiplegi (D) dd stroke, DM; DU: Stroke; DL: DM. Keluhan utama: ekstremitas kanan lemas. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : belum sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Total-C: 164 mg/dl LDL-C: HDL-C: Trig.: 121 mg/dl SGOT: 16,4 IU/L SGPT: 19,3 IU/L Ureum :25 mg/dl; Creat.: 1,5 mg/dl (+) (14/10) Sel epitel: +; leu: 20-30 (+); erit: 40-50 (+); bac: +. Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >65 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Sel epitel: +; leu: 0-6 lap; erit: 0-1 lap; bac: -. CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Tampak lesi hipodens intra cerebri kiri nukleuslexfiformis. Bercak, curiga infark cerebri kiri ringan. Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna, sulcus, dan gyrus menonjol. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 180/100 mmHg. Penatalaksanaan Nama Obat 1 13 14 Tanggal (Oktober 2007) 15 16 17 18 19 20 21 Nivedipin 3 x 10 mg sub lingual √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ramipril 1 x 2,5 mg (pagi) √ √ √ √ √ ® √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Renapar 2 x 1 √ √ √ √ √ Amlodipin 1 x 5 mg √ √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Semax 4 x 2 tetes √ √ √ √ √ √ √ Siprofloksasin 2 x 500 mg √ √ √ √ Inj. Ondansetron 2x1amp(4mg/2ml) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Inj. Furosemid 2 x1 amp (10 mg) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 (25 mg) √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ Inj. Seftriakson 1amp/24 jam √ √ √ Inj. Asetil sistein 8 cc + NaCl 250 cc/hari √ √ √ √ √ √ √ √ Infus Assering 20 tts/mnt Assessment Pasien diberikan Renapar® (KI-aspartat 300 mg, Mg-I aspartat 100 mg) dan Ramipril ( ACE-I) yang berpotensi terjadi interaksi dimana dapat menyebabkan hiperkalemia. DTPs: potensial ADR (Anonim, 2007). Recommendation Mengatur waktu pemberian Ramipril dan Renapar® agar tidak bersamaan. Ramipril diberikan pada pagi hari setelah makan sedangkan Renapar® diberikan pada siang dan malam hari.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Kajian DTPs Kasus 11 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 11. No. RM 147848 (14/10/07-20/10/07) Subjective Laki-laki; 80 tahun. DM: obs. Penurunan kesadaran; DU: Stroke. Keluhan utama: tidak sadarkan diri. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: somnolent; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 167 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 107 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 31 mg/dl (-) HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 207 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGOT: 20,4 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L SGPT: 15,8 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum : 77 mg/dl (+) Creat.: 3,6 mg/dl (+) As.urat: 3,4-7,0 As.urat: 10,3 (+) Prot.: +; Sel epitel: +; leu: 0-6 lap; erit: 0-1 (14/10) Prot.: +Sel epitel: +; leu: 60-70; erit: 60-70; lap; bac: -. WBC/PLT/RBC Histogram bac: +. WBC: 4-11 103/μl WBC/PLT/RBC Histogram 3 MCHC: 33-37 pg WBC: 19,7 10 /μl (+) MCHC: 32,3 pg (-) RDW: 35-47 fl RDW: 47,2 fl (+) PDW: 9-13 fl PDW: 13,6 fl (+) P-LCR: 15-25 fl P-LCR: 28,6% (+) LYM: 19-48 % LYM: 12,1% (-) NEUT: 40-74 % NEUT: 85,8 % (+) CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri, tampak atrophi cerebri, sehingga sisterna, sulcus, dan gyrus menonjol. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 120/80 mmHg; S: 350C; N: 80x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Sukrallfat 3 x 2 cth Cilostazol 2 x 50 mg Simetidin 2 x 1 Cefadroxil 2 x 500 mg Inj. Sefuroksim 2 x 1 Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Ondansetron 1 amp (4mg/2ml)/12 jam Inj. Ranitidin 1 amp (25 mg)/12 jam Infus Assering Infus RL Infus D5% 14 √ 15 √ √ √ √ √ √ √ Tanggal (Oktober 2007) 16 17 18 19 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 20 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment Kadar asam urat pasien diatas normal tetapi tidak diberikan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Perlunya tambahan antigout untuk terapi asam urat pasien.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Kajian DTPs Kasus 12 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 12. No. RM 148965 (19/11/07-24/11/07) Subjective Perempuan; 48 tahun. Diag.Msk: suspect TIA + DM; DU: Stroke. Keluhan utama: pusing, extremitas kiri lemas, mual, muntah. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien (19/11) Total-C: 230 mg/dl (+); LDL-C: 159 mg/dl (+); HDL-C: 34 (-); Trig.: 160 mg/dl. SGOT: 16,3 IU/L ; SGPT: 12,1 IU/L. Ureum : 40 mg/dl Creat.: 2,0 mg/dl (+); As.urat: 5,1 Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl; HDL-C: >65 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl. SGOT:s/d 31 IU/L; SGPT: s/d 32 IU/L. Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl; As.urat: 2,4-5,7. CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, sulcus, dan gyrus normal. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 180/90 mmHg; S: 370C; N: 140 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (November 2007) 19 20 21 22 23 24 Asetosal 1 x 50 mg √ Digoxin 1 x 0,25 mg √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Ekstr. gingko biloba 3 x 1 (40 mg) √ √ √ √ √ √ Pentoksifilin 2 x 400 mg √ √ √ √ Simvastatin 10 mg (malam hari) √ √ √ √ √ Aminoral® 3 x 1 √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 1 amp (25 mg)/12 jam Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Ceftriakson 2 x 1 Infus RL √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Pasien mengalami stroke infark dan diberikan antiplatelet asetosal/aspirin (EBM class 1, level A). Asetosal diberikan sebagai terapi awal saat pasien berada di UGD dimana dapat meminimalisir kejadian vaskular seperti stroke non fatal dan kematian pembuluh darah vaskular (Eso Guideline, 2008). - Sebagai terapi payah jantung kongestif, pasien diberikan digoxin dengan dosis pemeliharaan 0,25 mg/hari. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral ekstrak gingko biloba dan injeksi sitikolin serta pentoksifilin yang bekerja sebagai vasodilator perifer. - Nilai kolesterol total dan LDL diatas normal, serta nilai kolesterol HDL dibawah normal. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami hiperlipid dan diterapi dengan antihiperlipid simvastatin. Simvastatin diberikan pada malam hari (sebelum tidur), untuk absorbsi yang maksimal sebab puncak sintesis kolesterol terjadi pada malam hari (jam 00.00 - 03.00 AM). - Pasien mengalami mual muntah, diberikan injeksi ranitidin. - Untuk mengobati infeksi, pasien diberikan injeksi ceftriakson. - Untuk menjaga keseimbangan cairan pasien di dalam tubuh diberikan terapi Aminoral® dan Infus RL. Recommendation -

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Kajian DTPs Kasus 13 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 13. No. RM 147848 (07/11/07-13/11/07) Subjective Laki-laki; 60 tahun. DM: GE penurunan kesadaran, stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: diare, setiap kali makan dan minum dimuntahkan, tidur terus. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : belum sembuh . Objective. Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 209 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 124 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 43 mg/dl (-) HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 285 mg/dl (+) Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 21,4 IU/L SGOT:s/d 37 IU/L SGPT: 31,8 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum : 30 mg/dl Creat.: 1,4 mg/dl (+) Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl K: 3,6; Na: 136; Cl: 106 mmol/L. K: 3,5-5,1; Na: 135-145; Cl: 97-111mmol/L (feses: 7/10) WBC/PLT/RBC Histogram RDW: 35-47 fl Konsistensi: lembek; warna: coklat. LYM: 0-8 % WBC/PLT/RBC Histogram RDW: 49,2 fl (+) MXD: 8,4% (+) CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri, subdural, epidural, sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dan besar cor normal. TD: 140/80 mmHg; S: 360C; N: 84 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (November 2007) 7 8 9 10 11 12 13 Parasetamol √ √ √ √ √ √ Sukralfat 3 x cth 2 √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ Digoxin 2 x 1/2tab √ √ √ Pyritinol HCl 3 x 1 √ √ Ko-dergokrin mesilat 1x4,5 mg √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ √ √ √ √ √ Inj. Ondansetron 1 amp/12 jam √ √ √ √ √ √ √ Inj. Siprofloksasin 200 mg/12 jam √ √ √ √ √ Inj. Dexametason 1 amp/8 jam √ √ √ Inj. Piracetam √ √ Infus RL √ √ √ √ √ √ Assessment Nilai trigliserid pasien diatas normal dengan nilai HDL berada di bawah normal tetapi pasien tidak mendapatkan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Berikan terapi antihiperlipid golongan statin .

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Kajian DTPs Kasus 14 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 14. No. RM 151101 (22/01/08-28/01/08) Subjective Laki-laki; 88 tahun. DM: obs. stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: tiba-tiba tidak bisa bicara, extremitas kanan lemas. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: CM. Keadaan pulang: belum sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 145 mg/dl ; LDL-C: 81 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: - ; Trig.: 73 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 14,6 IU/L ; SGPT: 8,7 IU/L SGOT:s/d 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L Ureum : 25 mg/dl Creat.: 1,1 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram RBC: 3,71 106/μl (-); HGB:10,3 g/dl (-) RBC: 3,8- 5,8/μl ; HGB:12-16,5 g/dl HCT: 31,9 % (-); MCHC: 32,3 pg (-) HCT: 317-47 % ; MCHC: 33-37 pg RDW: 47,7 fl (+); Lym: 18,9% (-) RDW: 35-47 fl ; Lym: 19-48 % Mxd: 23,6 % (+) Mxd: 0-8 % CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kiri capsula externa anterior. Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna, sulcus dan gyrus menonjol. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 150/80 mmHg; N: 77 x/mnt. Penatalaksanaan Tanggal (Januari 2008) Nama Obat 22 23 24 25 26 27 28 Renapar® 2 x 1 √ √ √ √ √ √ √ Amlodipin 1 x 5 mg √ √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ √ Donepezil HCl 1 x 5 mg √ √ √ √ √ Ekstr gingko biloba 3 x 1 (40 mg) √ √ √ √ √ √ Carbosistein 3 x 2 cth √ √ √ √ √ √ Sefiksim 2 x 1 tab √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ √ √ √ √ √ Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Sefotaksim 2 x 0,5 g √ √ √ √ Inj. Dexametason 3 x 1 amp √ √ √ √ √ √ Infus RL 20 tts/mnt √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan Amlodipin (antagonis kalsium) dan diberikan injeksi furosemid (diuretik). Untuk mencegah terjadi hipokalemia akibat pemakaian furosemid, pasien diberi suplemen kalium Renapar®. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral ekstrak gingko biloba dan injeksi sitikolin. - Pasien mengalami mual muntah, diberikan injeksi ranitidin. - Sebagai terapi simptomatik demensia pada pasien diberikan Donepezil HCl. - Pasien mengalami bronkitis. Pasien diberikan antiinfeksi golongan sefalosporin generasi ketiga yakni injeksi sefotaksim (23/1/08-26/1/08) dan sefiksim secara oral (27/1/08-28/1/08). Untuk mencairkan dan memudahkan pengeluaran dahak, pasien diberikan Carbosistein 3 x 2 cth. Sebagai terapi antiinflamasi diberikan Injeksi dexametason. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Kajian DTPs Kasus 15 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 15. No. RM 151124 (23/01/08-26/01/08) Subjective Laki-laki; 61 tahun. DM: Disartheria susp.stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: -. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 178 mg/dl ; LDL-C: 90 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 53 mg/dl (-); Trig.: 209 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L SGOT: 20,3 IU/L ; SGPT: 8,7 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum : 37 mg/dl; Creat.: 1,2 mg/dl (+) As. Urat: 3,4-7,0 As. Urat: 6,7 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCV: 78,5 fl (-); MCH:25,3 fl (-) MCV: 81-99 fl ; MCH:27-31fl MCHC: 32,3 pg (-); Mxd: 14,0 % (+) MCHC: 33-37 pg ; Mxd: 0-8 % CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan dan kiri bercak paraventrikel lateral atas, infark cerebri kanan dan kiri ringan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 180/110 mmHg; S: 360C; N: 65 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Januari 2008) 24 25 26 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 23 √ √ Candesartan 1 x 16 mg Fenofibrat 1 x 200 mg Ramipril 1 x 2,5 mg Ramipril 1 x 5 mg Cilostazol 2 x 50 mg Ekstr gingko biloba 3 x 1(40 mg) Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Infus RL Assessment 1. Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan kombinasi candesartan (antagonis angiotensin II) dan ramipril (penghambat ACE). Sebagai terapi awal, dosis ramipril tanpa diuretik 2,5 mg 1x sehari. Karena respon TD masih kurang, maka pemberian ramipril ditingkatkan menjadi 5 mg1x sehari. 2. Dari hasil laboratorium, terjadi penurunan nilai HDL. Pasien mendapat terapi fenofibrat. 3. Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. 4. Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral ekstrak gingko biloba dan injeksi sitikolin. 5. Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Kajian DTPs Kasus 16 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 16. No. RM 150835 (13/01/08-19/01/08) Subjective Laki-laki; 62 tahun. DM: Disartheria susp.stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: bicara pelo. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien (14/01) Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 161 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 104 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 31 mg/dl (-) HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 191 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGOT: 16,3 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L SGPT: 17,1 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum : 28 mg/dl Creat.: 1,8 mg/dl (+) WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 32,0 pg (-) MCHC: 33-37 pg Mxd: 8,8 % (+) Mxd: 0-8 % CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. cortex dan medullae normal. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal . Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 180/110 mmHg. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Januari 2008) 13 14 15 16 17 18 19 KSR 2 X 1 √ √ √ √ √ √ Diltiazem HCl 1 x 100 mg (pagi) √ √ √ √ √ √ Asetosal 2 x 80 mg √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Meloxicam 1 x 7,5 mg √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ √ √ √ √ Inj. Furosemid 1 amp (10 mg)/12jam √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ √ Bisakodil suppo √ Infus RL √ √ √ √ √ √ Assessment 1. Pasien diberikan diltiazem HCl dan cilostazol yang berpotensi terjadi interaksi. Diltiazem HCl dapat meningkatkan efek/toksisitas dari cilostazol. DTPs: potensial ADR (Lacy, et al, 2003). 2. Pemberian asetosal dengan cilostazol secara bersamaan dan keduanya merupakan agen antiplatelet. DTPs: potensial ADR (Lacy, et al, 2003). Recommendation 1. Mengatur waktu pemberian diltiazem HCl dan cilostazol agar tidak bersamaan. Cilostazol diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan (saat lambung kosong) pada pagi dan malam hari, sedangkan diltiazem HCl diberikan pada pagi hari setelah makan. 2. Pantau keadaan pasien sesering mungkin karena pemberian 2 macam antiplatelet dapat meningkatkan risiko pendarahan.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Kajian DTPs Kasus 17 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 17. No. RM 152723 (18/03/08-24/03/08) Subjective Perempuan; 60 tahun. DM: hemiparese S; DU: Stroke. Keluhan utama: extremitas kiri tidak bisa digerakkan. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 188 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 132 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 38 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 130 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGOT: 18,4 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L SGPT: 19,6 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Ureum : 15 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Creat.: 0,8 mg/dl As.urat: 2,4-5,7 As.urat: 3,3 CT Scan kepala: Scan aksial kepala melalui garis OM tanpa kontras dengan ketebalan irisan 5 mm. struktur garis median letak masih ditengah. Sistem ventrikel normal, visura, sylvian, sisterna, dan sulsi-sulsi serta gin tampak masih normal. Tampak lesi hipodens. Tampak lesi masa intra dan ekstra aksial . tak tampak hematoma intracerebral. Infark cerebri regio centrum semiovale kanan, tak tampak sop/hematoma. Foto Thorax: Cor tampak membesar (cardiomegali). TD: 180/110 mmHg; S: 360C; N: 80 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Maret 2008) 18 19 20 21 22 23 24 Candesartan 1 x 16 √ √ √ √ √ √ √ Ramipril 1 x 5 mg √ √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ √ Sanadryl DMP® 3 x 10cc √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ √ Inj. Seftriakson 2 x 1 √ √ √ √ √ √ Infus RL √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. 1. Untuk maintenance tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan kombinasi candesartan (antagonis angiotensin II) dan ramipril (penghambat ACE). 2. Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. 3. Pasien menderita batuk dan diberi terapi Sanadryl DMP®. Hal ini mungkin disebabkan karena pemakaian ramipril (penghambat ACE). 4. Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. 5. Untuk mengobati infeksi (urin pasien berwarna merah, pekat dan berbau) pasien diberikan injeksi seftriakson. 6. Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Kajian DTPs Kasus 18 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 18. No. RM 151479 (2/02/08-8/02/08) Subjective Perempuan; 63 tahun. DM: stroke infark S; DU: Stroke. Keluhan utama: keju, kemeng, cepat lelah. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 200 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 126 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 52 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 232 mg/dl (+) Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGOT: 25,0 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L SGPT: 34,1 IU/L (+) Ureum: 10-50 mg/dl Ureum : 45 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Creat.: 1,0 mg/dl (+) As.urat: 2,4-5,7 As.urat: 7,0 (+) WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 32,6 pg (-) MCHC: 33-37 pg P-LCR: 28,9% (+) P-LCR: 15-25% MXD: 8,4%(+) MXD: 0-8% CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Tampak calsificasi putamen kanan dan kiri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 180/110 mmHg; S: 370C; N: 62 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat ® Renapar 2 x 1 Cilostazol 2 x 50 mg Amlodipin 1 x 5 mg Lovastatin 1 x 1 mlm Furosemid 1 x 40 mg Omeprazol 1 x 1 Tetes mata kloramfenikol 3 x 2 tts Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj.Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) Infus RL 2 √ √ √ √ √ √ √ 3 √ √ √ √ √ √ √ √ Tanggal (Februari 2008) 4 5 6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 7 √ √ √ √ √ √ √ √ 8 √ √ √ √ √ Assessment Kadar asam urat pasien diatas normal tetapi tidak diberikan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Perlunya tambahan antigout untuk terapi asam urat pasien.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Kajian DTPs Kasus 19 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 19. No. RM 151607 (7/02/08-15/02/08) Subjective Perempuan; 90 tahun. DM: Obs penurunan kesadaran, susp. Sepsis Stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: pasien tidak dapat diajak berkomunikasi. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: somnolent; Keadaan pulang : Meninggal. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Total-C: s/d 220 mg/dl (7/2) LDL-C: <150 mg/dl Total-C: 194 mg/dl WBC: 4-11 103/μL Histogram 3 HDL-C: >65 mg/dl LDL-C: 77 mg/dl WBC: 12,8 10 /μL (+) MCH:27-31 fl SGOT:s/d 31 IU/L HDL-C: 89 mg/dl MCH:31,9 fl (+) PLT: 150-450 103/μL 3 SGPT: s/d 32 IU/L SGOT: 230 IU/L (+) PLT: 135 10 /μL (-) RDW: 35-47 fl Ureum: 10-50 mg/dl SGPT: 58,1 IU/L (+) PDW: 9-13 fl RDW: 49,9 fl (+) Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Ureum : 62 mg/dl (+) P-LCR: 15-25% PDW: 13,5 fl (+) As.urat: 2,4-5,7 Creat.: 1,0 mg/dl (+) Lym: 19-48 % P-LCR: 28,6 % (+) GDP: 70-110 mg% NEUT: 40-74 % As.urat: 6,9 (+) Lym: 8,9% (- ) GDPP:100-140 mg% GDP: 362 mg% (+); NEUT: 87,9% (+) GDPP: 271 mg%(+) CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kiri frontotemporo accipit parietal lebih dari ½ bagian dengan mass effect ringan sehingga sisterna basalis, ventrikel IV, III normal. Cerebellum normal. TD: 140/90 mmHg; S: 370C; N: 120 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Cilostazol 2 x 50 mg Carbosistein 3 x 10 cc Parasetamol 3 x 1 Inj. Sefotaksim 0,5 g/12 jam Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) Inj. Actrapid® 3 x 4 unit Inj. Actrapid® 3 x 6 unit Inj. Actrapid® 3 x 8 unit Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Tranexamid acid 4 x 500 mg Inj. Asetil sistein 8 cc + NS 250 cc Infus Assering Tanggal (Februari 2008) 10 11 12 13 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 7 √ 8 √ √ √ √ √ √ √ √ 9 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 14 15 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment : Terapi yang diberikan telah sesuai. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. Pasien menderita batuk. Untuk mengurangi viskositas sputum, diberikan terapi mukolitik carbosistein dan ditambahkan injeksi Asetil sistein (13/02/08-15/02/08) karena respon terapi dengan carbosistein belum maksimal. Pasien mengalami demam, suhu tubuh meningkat (38°C). Peningkatan suhu ini disebabkan adanya infeksi (dari hasil laboratorium terlihat kenaikan nilai WBC). Hipertermia diketahui dapat memperluas area infark sehingga menyebabkan outcome yang rendah. Untuk ini pasien diberi terapi parasetamol. Terapi dengan PCT merupakan penatalaksanaan umum pasien stroke yang mengalami demam (ESO guideline). Pasien mengalami infeki diberi antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yakni injeksi sefotaksim. Pasien mengalami mual muntah, diberikan injeksi ranitidin. Pada tanggal 11/02/08 (12.00 WIB) pasien mengalami koma, sebagai terapi hemostatik, diberi injeksi Tranexamid acid. Kadar gula darah pasien meningkat, diberi terapi insulin kerja singkat. Dosis diberikan 3x sehari sebab diperlukan pengendalian metabolik segera dan dinaikkan bertahap sesuai dengan respon pasien. Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. Pasien menerima Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Kajian DTPs Kasus 20 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 20. No. RM 153002 (28/03/08-01/04/08) Subjective Laki-laki; 65 tahun. DM: susp.stroke, infark; DU: Stroke. Keluhan utama: extremitas kiri lemas. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium (28/03) Total-C: s/d 220 mg/dl Total-C: 165 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl LDL-C: 112 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl HDL-C: 63 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L Trig.: 86 mg/dl SGPT: s/d 42 IU/L SGOT: 19,7 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl SGPT: 11,9 IU/L As. Urat: 3,4-7,0 Ureum : 25 mg/dl Creat.: 1,0 mg/dl WBC/PLT/RBC Histogram As. Urat: 6,5 MCHC: 33-37 pg WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 32,5 pg (-) P-LCR: 15-25% P-LCR: 11,2% (-) Mxd: 0-8 % Mxd: 16,2 % (+) CT Scan kepala: Stroke infark Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 140/80 mmHg; N: 68 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat ® Tanggal ( Maret 2008) 28 29 30 31 01 √ √ √ √ Renapar 2 x 1 (alista KSR) √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ Laktulosa 10 cc √ √ √ Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ Inj. Dipiron 1 amp k/p √ √ √ √ √ Infus RL Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk terapi maintenance tekanan darah pasien diberikan injeksi furosemid (diuretik). Untuk mencegah terjadi hipokalemia akibat pemakaian furosemid, pasien diberi suplemen kalium Renapar®. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Pasien mengeluh sakit saat BAK (buang air kecil), diberi laktulosa 10 cc sebagai pencahar. - Pasien mengalami mual muntah, diberikan injeksi ranitidin. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. - Pasien mengeluh sakit akibat pemasangan kateter, diberikan Injeksi dipiron. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Kajian DTPs Kasus 21 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 21. No. RM 152935 (25/03/08-28/03/08) Subjective Laki-laki; 74 tahun. DM: Obs penurunan kesadaran; DU: Stroke. Keluhan utama: pasien tidur tidak bangun-bangun. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: soponocoma.; Keadaan pulang: meninggal Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 202 mg/dl ; LDL-C: 124 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 56 mg/dl ; Trig.: 98 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L SGOT: 28,0 IU/L ; SGPT: 11,9 IU/L Ureum : 54 mg/dl (+) ; Creat.: 1,6 mg/dl (+) Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl As. Urat: 3,4-7,0 As. Urat: 10,3 (+) WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC: 17,3 103/μL (+); RDW: 47,5 fl (+) WBC: 4-11 103/μL; RDW: 35-47 fl Lym: 4,0% (-); NEUT: 88,9% (+) Lym: 19-48% ; NEUT: 40-74% (+) CT Scan kepala: -. Foto Thorax: -. TD: 190/80 mmHg; S: 370C; N: 80 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Maret 2008) 25 26 27 28 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Diltiazem HCl 1 x 100 mg Sukralfat 3 x 2 cth Parasetamo1 500 mg Cilostazol 2 x 50 mg Inj. Tranexamid acid 4 x 500 mg Inj. Seftriakson 2 x 1 Inj. Simetidin 2 x 1 amp Infus RL Assessment 1. Untuk maintenance tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan kombinasi diltiazem HCl (golongan antagonis kalsium). Pada tanggal 26/03/08, TD: 190/80 mmHg. 2. Untuk mengobati tukak lambung, pasien diberi terapi sukralfat (khelator) dan diberi injeksi simetidin (antagonis reseptor H2). 3. Pasien mengalami demam, suhu tubuh meningkat (38,8°C). Peningkatan suhu ini disebabkan adanya infeksi (dari hasil laboratorium terlihat kenaikan nilai WBC). Hipertermia diketahui dapat memperluas area infark sehingga menyebabkan outcome yang rendah. Untuk ini pasien diberi terapi parasetamol. Terapi dengan PCT merupakan penatalaksanaan umum pasien stroke yang mengalami demam (ESO guideline, 2008). 4. Sebagai terapi hemostatik, diberi injeksi Tranexamid acid. 5. Pasien mengalami infeki diberi antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga, seftriakson. 6. Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol. 7. Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. 8. Kadar asam urat pasien diatas normal tetapi tidak diberikan terapi. DTPs: perlu tambahan terapi obat. Recommendation Perlunya tambahan antigout untuk terapi asam urat pasien.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Kajian DTPs Kasus 22 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 22. No. RM 154720 (31/05/08-03/06/08) Subjective Perempuan; 51 tahun. DM: Obs Hemiparese D; DU: Stroke. Keluhan utama: nyeri di punggung kanan. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 228 mg/dl (+) Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 167 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 41 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 208 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGOT: 14,9 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L SGPT: 15,4 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Ureum : 26 mg/dl; Creat.: 1,0 mg/dl (+) As.urat: 2,4-5,7 As.urat: -. CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal . Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 240/120 mmHg; N: 80 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Candesartan 1 x 16 mg (pagi) Ramipril 1 x 5 mg (malam) Simvastatin 1 x 10 mg (malam) ® Tetes hidung Semax Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Infus RL Tanggal/bulan (2008) 31/5 1/6 2/6 3/6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan kombinasi candesartan (antagonis angiotensin II) dan ramipril (penghambat ACE). - Pasien mengalami hiperlipid, diberikan simvastatin. ® - Untuk meminimalisir efek resiko dari stroke iskemik, pasien diberikan terapi Semax sebagai neuropeptide. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan injeksi Sitikolin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Kajian DTPs Kasus 23 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 23. No. RM 154715 (30/05/08-04/06/08) Subjective Perempuan; 64 tahun. DM: Obs hemiparese S; DU: Stroke. Keluhan utama: extremitas kiri lemah, bicara pelo, minum kadang tersedak. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 245 mg/dl (+) Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 196 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl HDL-C:33 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl SGOT: 21,1 IU/L ; SGPT: 15,0 IU/L Trig.: s/d 220 mg/dl Ureum : 63 mg/dl (+) Creat.: 2,1 mg/dl (+) SGOT:s/d 31 IU/L; SGPT: s/d 32 IU/L As.urat: Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl K: 4,4; Na: 142; Cl: 109 mmol/L As.urat: 2,4-5,7 (30/05) K: 3,5-5,1; Na: 135-145; Cl: 97-111 mmol/L WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram HCT: 47,6 % (+); MCH:31,2 fl (+) HCT: 37-47 %; MCH:27-31 fl CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens putamen kanan bercak, infark cerebri kanan ringan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus & gyrus normal. Cerebellum normal (infark putamen kanan ringan). TD: 160/100 mmHg. Penatalaksanaan Nama Obat 30/5 Tanggal/bulan (2008) 31/5 1/6 2/6 3/6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4/6 Cilostazol 2 x 50 mg √ Ekstr gingko biloba 3 x 1(40 mg) √ Simvastatin 1 x 10 mg Aminoral®3 x 1 √ Candesartan 1 x 16 mg √ Clonidin 2 x ½ tab √ Pyritinol HCl 3 x 1 √ Ko-dergokrin mesilat 1x4,5 mg √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ Infus RL √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral Ko-dergokrin mesilat, Ekstr gingko biloba dan injeksi Sitikolin. - Pasien mengalami hiperlipid, diberikan simvastatin. - Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan kombinasi candesartan (antagonis angiotensin II) dan clonidin HCl (obat anti hipertensi yang bekerja sentral). Pada tanggal 02/06/08, TD: 180/110 mmHg - Untuk mengobati gangguan sentral yang disebabkan karena apopleksi trauma kranioserebral diberikan terapi Pyritinol HCl. - Untuk menjaga keseimbangan cairan pasien di dalam tubuh diberikan terapi Aminoral® dan Infus RL. Recommendation -

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Kajian DTPs Kasus 24 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 24. No. RM 154578 (25/05/08-29/05/08) Subjective Perempuan; 74 tahun. DM: Obs Hemiparese S; DU: Stroke. Keluhan utama: Rasa sesak, mulut mengeluarkan buih; Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: apasia; Keadaan pulang: Belum sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium (25/05) Total-C: s/d 220 mg/dl Total-C: 273 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl LDL-C: 188 mg/dl (+) HDL-C: >65 mg/dl HDL-C: 107 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl Trig.: 88 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L SGOT: 18,8 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L SGPT: 11,5 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,5-0,9 mg/dl Ureum : 45 mg/dl; Creat.: 0,9 mg/dl As.urat: 2,4-5,7 As.urat: 2,4 K: 3,5-5,1; Na: 135-145; Cl: 97-111 mmol/L K: 4,3; Na: 141; Cl: 104 mmol/L PLT Histogram Lym: 19-48 % PLT Histogram Lym: 7,1% (- ) NEUT: 40-74 % NEUT: 89,9% (+) CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Tampak atrophi cerebri, sehingga sisterna, sulcus, dan gyrus menonjol. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Perselubungan pulmo kanan; pneumoni, cardiomegali. TD: 200/110 mmHg; N: 80 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Mei 2008) 25 26 27 28 29 KCl 2 x 1 √ √ √ √ √ Sukralfat 3 x 10 cc √ √ √ √ √ Diltiazem HCl 1 x 100 mg √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ Parasetamol 3x500 mg √ √ √ Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ Inj. Ciprofloksasin 2x1 (200 mg) √ √ √ Infus RL √ √ √ √ Assessment Nilai kolesterol total dan LDL pasien diatas normal, namun pasien tidak mendapatkan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Berikan antihiperlipid golongan statin (ESO guideline, 2008). Statin adalah obat penurun lipid yang paling baru, efektif menurunkan kolesterol total dan LDL. Statin mempunyai sedikit efek samping dan saat ini biasanya merupakan obat pilihan pertama (At a glance farmakologi medis, 2006). Statin merupakan golongan obat yang menghambat secara kompetitif hydroxymethyl glutaryl coenzime A reductase (HMG Co-A reductace), suatu rate limiting step enzyme dalam sintesis kolesterol endogen. Inhibisi enzim ini akan menurunkan sintesis kolesterol endogen dan pada akhirnya mengurangi kadar kolesterol serum (2/3 dari kadar kolesterol serum adalah LDL-C). Penurunan kolesterol endogen dapat memacu peningkatan jumlah reseptor LDL yang aktif di sel hepar, sehingga pengikatan LDL-C dan prekursor LDL-C pun meningkat. Akibatnya, kadar LDL-C dan prekursornya dalam darah menurun (Daniel, 2006).

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Kajian DTPs Kasus 25 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 25. No. RM 140837 (6/06/08-14/06/08) Subjective Perempuan; 65 tahun. DM: Obs Hemiparese add stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: Pusing, kedinginan, perut terasa sakit. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 250 mg/dl (+) Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 206 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 62 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 13,3 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 17,9 IU/L SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: 13,8 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum : 37 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl As.urat: -. As.urat: 2,4-5,7 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 31,8 pg (-) MCH: 33-37 pg RDW: 49,0 fl (+) RDW: 35-47 fl PDW: 1,7 fl (+) PDW: 9-13 fl P-LCR: 30,6 % (+) P-LCR: 15-25% CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens paraventrikel lateral kiri atas, infark cerebri kiri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 160/90 mmHg; S: 37°C; N: 74 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Juni 2008) 6 7 8 9 10 1 12 13 14 1 Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √ Sitikolin 1 x 500 mg mlm √ √ √ √ √ √ √ √ Clonidin HCl 2 x 0,075 mg √ √ √ √ √ √ √ √ Pentoksifilin 2 x 400 mg √ √ √ √ √ √ Proneuron® 3 x 1 k/p √ √ √ √ Flunarisin 2 x 5 mg √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ √ Infus RL √ √ √ √ √ √ √ √ Assessment Nilai kolesterol total dan LDL pasien diatas normal dengan nilai HDL berada di bawah normal tetapi pasien tidak mendapatkan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Berikan antihiperlipid golongan statin (ESO guideline, 2008). Statin adalah obat penurun lipid yang paling baru, efektif menurunkan kolesterol total dan LDL. Statin mempunyai sedikit efek samping dan saat ini biasanya merupakan obat pilihan pertama (At a glance farmakologi medis, 2006). Statin merupakan golongan obat yang menghambat secara kompetitif hydroxymethyl glutaryl coenzime A reductase (HMG Co-A reductace), suatu rate limiting step enzyme dalam sintesis kolesterol endogen. Inhibisi enzim ini akan menurunkan sintesis kolesterol endogen dan pada akhirnya mengurangi kadar kolesterol serum (2/3 dari kadar kolesterol serum adalah LDL-C). Penurunan kolesterol endogen dapat memacu peningkatan jumlah reseptor LDL yang aktif di sel hepar, sehingga pengikatan LDL-C dan prekursor LDL-C pun meningkat. Akibatnya, kadar LDL-C dan prekursornya dalam darah menurun (Daniel, 2006).

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Kajian DTPs Kasus 26 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 26. No. RM 155534 (29/06/08-05/07/08) Subjective Perempuan; 70 tahun. DM: Stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: lemas, pelo, pusing. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 188 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 140 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 20,9 IU/L SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: 13,4 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum : 31 mg/dl Creat.: 1,1 mg/dl (+) Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl As.urat: 4,3. As.urat: 2,4-5,7 MCHC: 32,8 pg (-) MCH: 33-37 pg CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 220/100 mmHg; N: 80 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal/bln (2008) 29/5 30/5 √ √ √ 1/6 2/6 3/6 4/6 5/6 √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ Renapar® 2 x 1 √ √ √ √ √ Amlodipin 1 x 5 mg √ √ Tolterodine I-Tartrat 2 x 1 √ Furosemid 1 x 1 √ Omeprazol 1 x 2 mg √ √ √ √ √ √ Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ Infus Assering √ √ √ √ √ √ Infus RL Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan Amlodipin (antagonis kalsium) dan furosemid (diuretik). Untuk mencegah terjadi hipokalemia akibat pemakaian furosemid, pasien diberi suplemen kalium Renapar®. - Pasien mengalami kesulitan buang air kecil (BAK) diberi terapi tolterodine I-tartrat. - Untuk mengobati tukak lambung, pasien diberi injeksi ranitidin (antagonis reseptor H2, yang bekerja dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H2) dan diganti omeprazol (penghambat pompa proton, yang bekerja dengan cara menghambat sistem pompa proton dari sel parietal lambung) pada tanggal 05/06/08. Omeprazol mempunyai derajat yang lebih ringan dari antitukak lainnya. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan injeksi Sitikolin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral dan Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Kajian DTPs Kasus 27 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 27. No. RM 154151 (08/05/08-15/05/08) Subjective Laki-laki; 88 tahun. DM: -; DU: Stroke. Keluhan utama: pasien tak sadarkan diri. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: somnolent; Keadaan pulang: belum sembuh (APS). Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 180 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 116 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 74 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 69 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 27,1 IU/L SGOT:s/d 37 IU/L SGPT: 16,4 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum: 24 mg/dl; Creat.: 0,9 mg/dl; asam Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl; urat: 4,1 As. Urat: 3,4-7,0 (08/05) K: 3,5-5,1mmol/l; Na: 136-141 mmol/l ; Cl: K: 3,9 mmol/l; Na: 139 mmol/l; Cl: 101 97-111 mmol/l mmol/l CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Infiltrate suprahilus kanan, curiga kp minimal lesi hilus kanan dan kiri menonjol, sangat mungkin A pulmonal. Cardiomegali. Tak tampak edema pulmo. TD: 180/80 mmHg; S: 36°C; N: 84 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Corsel® 1 x 1 Ranitidin 2 x 150 mg Sefprozil Asetil sistein Inj. Dexametason 1 amp/8 jam Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) Inj. Seftriakson 2 x 1 Inj. Pirasetam Infus NaCl Tanggal (Mei 2008) 8 √ 9 √ 10 √ 11 √ 12 √ 13 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 14 √ √ √ √ 15 √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk membantu dalam proses metabolisme lemak, karbohidrat dan protein menghasilkan energi dan memelihara kesehatan tubuh, pasien diberi suplemen Corsel®. - Untuk mengobati tukak lambung, pasien diberi injeksi ranitidin (antagonis reseptor H2). - Dari hasil foto thorax, dicurigai pasien mengalami pneumonia, diterapi dengan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yakni seftriakson secara injeksi (09/05/08-13/05/08) dan diganti sefprosil secara oral (13/05/08-15/05/08) yang dapat diberikan bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI. Sebagai terapi antiinflamasi diberikan Injeksi dexametason. - Pasien mengalami batuk, diterapi dengan asetil sistein. - Untuk mengobati gejala involusi pada pasien infark serebral, diberi terapi injeksi pirasetam. - Pasien menerima Infus NaCl untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Recommendation -

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Kajian DTPs Kasus 28 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 28. No. RM 006680 (09/10/07-15/10/07) Subjective Laki-laki; 63 tahun. DM: disartri susp. Stroke, DM tipe II; DU: Stroke. Keluhan utama: Extremitas kiri lemas.. Riwayat penyakit keluarga: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 170 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 103 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 37 mg/dl (-) HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 200 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl Ureum: 30 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,9 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Asam urat: 5, As. Urat: 3,4-7,0 CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan paraventrikel lateral atas, infark cerebri kanan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 130/90 mmHg; S: 36°C; N: 88 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Oktober 2007) 9 10 11 12 13 14 15 Fenofibrat 1 x 300 mg (mlm) √ √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Pentoksifilin 2 x 400 mg √ √ √ √ √ √ Diazepam 2 mg √ Tetes hidung Semax 4 x 2 tts √ √ √ √ √ √ Inj. Insulin R 3 x 4 unit √ √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ Infus RL √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Nilai HDL pasien berada di bawah normal, diberi terapi fenofibrat. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral pentoksifilin yang bekerja sebagai vasodilator perifer dan injeksi sitikolin. - Untuk mengobati kejang otot pada pasien diberi terapi diazepam. - Untuk meminimalisir efek risiko dari stroke iskemik, pasien diberikan terapi Semax® sebagai neuropeptide. - Kadar gula darah pasien meningkat, diberi terapi insulin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral dan Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Kajian DTPs Kasus 29 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 29. No. RM 006270 (01/07/07-07/07/07) Subjective Perempuan; 64 tahun. DM: -; DU: Stroke. Keluhan utama: lemas, bicara pelo, mual-mual, muntah, pusing. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 208 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 138 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 31 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: 291 mg/dl (+) Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 20,0 IU/L SGOT:s/d 31 IU/L SGPT: 18,0 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum : 31 mg/dl Creat.: 0,9 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl As.urat: 5,6 As.urat: 2,4-5,7 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCH: 26,5 fl (-) MCH: 27-31 fl MCHC: 31,8 pg (-) MCHC: 33-37 pg MXD: 9,9+ % MXD: 0-8% CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna menonjol. Ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 210/120 mmHg; S: 36°C; N:88 x/mnt; GCS: CM. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (juli/2007) 1 2 3 4 5 6 7 Asam asetil salisilat √ Amlodipin 1 x 5 mg √ √ √ √ √ √ √ √ Renapar® 2 x 1 √ √ √ √ Clonidin 2 x 0,15 mg √ √ √ √ √ √ Clonidin 2 x 0,075 mg √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Gingko Biloba 3 x 1 (40 mg) √ √ √ √ √ √ √ Furosemid 1 x 40 mg √ Inj. Furosemid 1 amp (10 mg)/12 jam √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ Infus RL √ √ √ √ √ Infus Assering √ Assessment Nilai trigliserid pasien diatas normal dengan nilai HDL berada di bawah normal tetapi pasien tidak mendapatkan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Berikan terapi antihiperlipid golongan statin.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Kajian DTPs Kasus 30 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 30. No. RM 066422 (11/07/07-14/07/07) Subjective Laki-laki; 85 tahun. DM: Obs febris, vomitus, stroke; DU: Stroke; DL: HT. Keluhan utama: Sejak pagi kesadaran menurun, malam harinya demam. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: somnolent; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 106 mg/dl WBC/PLT/RBC Total-C: s/d 220 WBC/PLT/RBC Histogram Histogram LDL-C: 71 mg/dl mg/dl WBC: 11,8 103/μl HDL-C: 34 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl WBC: 4-11 103/μl (+) RDW: 35-47 fl (-) HDL-C: >55 mg/dl RDW: 48,2 fl (+) Lym.: 19-48% Trig.: 70 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl Lym.: 5,2% (-) Prot: -; sel epitel: SGOT: 19,8 IU/L SGOT:s/d 37 IU/L (12/07/07) +;glu: -; leu: 0-6 lap; SGPT: 11,4 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Prot.:+;glu.:-;sel Ureum : 34 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl erit: 0-1 lap; bac: -. epitel:+;leu.:50-100 Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Creat.: 1,9 mg/dl (+);erit.:20-50 (+) As. Urat: 3,4-7,0 (+);bacteri:+;dite As. Urat: 7,0 mukan leukosit bergerombol. CT Scan kepala: Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna, sulcus dan gyrus menonjol. Tampak lesi hipodens frontal kanan dan occipital kanan curiga infark cerebri kanan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. TD: 160/100 mmHg; S: 39°C; N: 112 x/mnt; GCS: somnolent. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal ( Juli/2008) 11 12 13 14 Renapar® 1 x 1 √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ Amlodipin besilat 1 x 5 mg √ √ √ Parasetamol 3 x 1 √ √ √ Triheksifenidil 3 x 1 √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ Inj. Furosemid 1 amp (10 mg)/24 jam √ √ Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ Infus Assering √ √ √ Assessment Dari hasil laboratorium, nilai WBC pasien diatas normal begitupun jumlah leukosit pada urin pasien jauh diatas normal dan ditemukan bakteri pada kultur urin. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami infeksi bakteri, kemungkinan infeksi saluran kemih, namun tidak diberikan terapi. DTPs: perlu tambahan terapi obat. Recommendation Perlunya tambahan terapi antibakteri.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Kajian DTPs Kasus 31 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 31. No. RM 127208 (31/08/07-04/09/07) Subjective Perempuan; 72 tahun. DM: Stroke; DU: Stroke infark. Keluhan utama: Lemas pada extremitas kiri. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 248 mg/dl (+) Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 185 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 39 mg/dl (-) HDL-C: >65 mg/dl Trig.: Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 18,2 IU/L SGOT: s/d 31 IU/L SGPT: 9,3 IU/L SGPT: s/d 32 IU/L Ureum: 33 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,7 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl As.urat: 5,7. As.urat: 2,4-5,7 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCV: 80,0 fl (-) MCV: 81-99 fl MCH: 25,2 fl (-) MCH: 27-31 fl MCHC: 31,5 pg (-) MCHC: 33-37 pg LYM: 18,9% (-) LYM: 19-48 % NEUT: 76,3% (+) NEUT: 40-74% CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 180/100 mmHg; N: 88 x/mnt; GCS: CM. Penatalaksanaan Nama Obat 31/8 Ramipril 1 x 5 mg Cilostazol 2 x 50 mg Ko-dergokrin mesilat 1 x 4,5 mg Pyritinol HCl 3 x 100 mg Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Infus RL √ √ Tanggal/bln (2007) 1/9 2/9 3/9 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4/9 √ √ Assessment Nilai kolesterol total dan LDL pasien diatas normal, begitupun dengan nilai HDL berada di bawah normal namun pasien tidak mendapatkan terapi. DTPs : perlu tambahan terapi obat. Recommendation Berikan antihiperlipid golongan statin (ESO guideline, 2008). Statin adalah obat penurun lipid yang paling baru, efektif menurunkan kolesterol total dan LDL. Statin mempunyai sedikit efek samping dan saat ini biasanya merupakan obat pilihan pertama (At a glance farmakologi medis, 2006). Statin merupakan golongan obat yang menghambat secara kompetitif hydroxymethyl glutaryl coenzime A reductase (HMG Co-A reductace), suatu rate limiting step enzyme dalam sintesis kolesterol endogen. Inhibisi enzim ini akan menurunkan sintesis kolesterol endogen dan pada akhirnya mengurangi kadar kolesterol serum (2/3 dari kadar kolesterol serum adalah LDL-C). Penurunan kolesterol endogen dapat memacu peningkatan jumlah reseptor LDL yang aktif di sel hepar, sehingga pengikatan LDL-C dan prekursor LDL-C pun meningkat. Akibatnya, kadar LDL-C dan prekursornya dalam darah menurun (Daniel, 2006).

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Kajian DTPs Kasus 32 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 32. No. RM 013068 (02/10/07-08/10/07) Subjective Laki-laki; 58 tahun. DM: Hemiparese S, HT; DU: Stroke. Keluhan utama: tangan kiri lemas, pusing. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Total-C: 194 mg/dl LDL-C: 124 mg/dl HDL-C: 49 mg/dl (-) Trig.: 218 mg/dl SGOT: 28,7 IU/L SGPT: 52,8 IU/L (+) Ureum: 37 mg/dl Creat.: 1,9 mg/dl (+) As. Urat: 7,0 Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl As. Urat: 3,4-7,0 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC: 14,2 103/μl (+) MCV: 80,4 fl (-) MCH: 25,2 fl (-) MCHC: 31,4 pg (-) WBC: 4-11 103/μl MCV: 81-99 fl MCH: 27-31 fl MCHC: 33-37 pg CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Tampak lesi hipodens intra cerebri kanan paraventrikel lateral atas bercak, infark cerebri kanan sangat ringan. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 210/140 mmHg; S: 36°C; N: 76 x/mnt; GCS: CM. Penatalaksanaan Nama Obat 2 √ √ 3 √ √ √ √ √ √ √ Tanggal (Oktober 2008) 4 5 6 7 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 8 Lovastatin 1 x 20 mg Alprazolam 1 x 0,50 (mlm) √ Cilostazol 2 x 50 mg Gingko Biloba 3 x 1 (40 mg) √ √ Pentoksifilin 2 x 1 √ Clonidin 2 x 0,15 mg √ Amlodipin 1 x 5 mg √ Furosemid 1x40 mg √ √ √ √ √ √ Tetes hidung Semax 4 x 2 tetes √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ √ √ √ Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) √ √ √ √ √ Infus RL Assessment Pasien mendapat terapi furosemid pada tanggal 04/10/07 yang dapat meyebabkan terjadinya hipokalemia, namun tidak disertai dengan pemberian suplemen kalium. DTPs: perlu tambahan terapi obat. Recommendation Tambahkan terapi suplemen kalium untuk mengatasi terjadinya hipokalemia.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Kajian DTPs Kasus 33 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 33. No. RM 100886 (31/10/07-06/11/07) Subjective Laki-laki; 59 tahun. DM: HT; DU: Stroke; DL: HT. Keluhan utama: Pusing, parese kaki kiri. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium (31/10) Total-C: s/d 220 mg/dl Total-C: 204 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl LDL-C: 124 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl HDL-C: 38 mg/dl (-) Trig.: s/d 220 mg/dl Trig.: 274 mg/dl (+) SGOT:s/d 37 IU/L SGOT: 22,4 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L SGPT: 20,5 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum: 21 mg/dl; Creat.: 1,2 mg/dl (+) As. Urat: 3,4-7,0 As. Urat: 7,0 WBC/PLT/RBC Histogram RBC: 3,8-5,8 106/μl WBC/PLT/RBC Histogram MCH: 27-31 fl RBC: 5,12 106/μl (+) MCH: 26,8 fl (-) MCHC: 33-37 pg MCHC: 32,0 pg (-) PDW: 9-13 fl PDW: 14,6 fl (+) P-LCR: 15-25% P-LCR: 31,7 % (-) Lym: 19-48 % Lym: 17,8 % NEUT: 40-74 % NEUT: 78,4 % (+) CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 170/80 mmHg; S: 36°C; N: 80 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Oktober 2008) 31/10 √ √ √ √ √ 1/11 √ √ √ √ √ 2/11 3/11 4/11 5/11 6/11 √ √ √ √ √ Amlodipin Besilat 1 x 10 mg √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ Fenofibrat 1 x 200 mg (malam) √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ Infus RL Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk terapi maintenance tekanan darah yang tinggi pada pasien, diberikan antihipertensi amlodipin (antagonis kalsium). - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk mengobati kejang otot pada pasien diberi terapi diazepam. - Nilai kolesterol HDL berada di bawah normal dan nilai trigliserid berada di atas normal, pasien mendapat terapi fenofibrat. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral. Recommendation -

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Kajian DTPs Kasus 34 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 34. No. RM 116155 (08/11/07-17/11/07) Subjective Laki-laki; 58 tahun. DM: stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: -. Penyakit yang pernah diderita: HT. Keadaan umum: apasia; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl; Total-C: 200 mg/dl ; LDL-C: 126 mg/dl; HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220; SGOT:s/d HDL-C: 45 mg/dl (-); Trig.: 154 mg/dl ; 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L; Ureum: 10-50 SGOT: 17,9 IU/L ; SGPT: 18,6 IU/L ; mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl; As. Urat: 3,4Ureum : 30 mg/dl; Creat.: 0,9 mg/dl ; As. 7,0. Urat: (13/11/07); Sel epitel: +; leukosit: 1-3; erit: 1-4; bacteri: +. Sel epitel: +; leukosit: 0-6; erit: 0-1; bacteri: (9/11/07) pemeriksaan urin. Prot: -; sel epitel: +;glu: -; leu: 0-6 lap; erit: 0Prot: -; glu: -; sel epitel: +; leu: 2-4; erit: 1 lap; bac: -;bacteri: -. 2-4; bacteri: +. WBC/PLT/RBC Histogram PLT: 150-450 103/μl; PDW: 9-13 fl ; P-LCR: WBC/PLT/RBC Histogram PLT: 66 103/μl (-); PDW: 13,2 fl (+); P- 15-25 % ; Lym.: 19-48 %; Mxd: 0-8 % LCR: 26,4% (+); Lym.: 8,7% (-); Mxd: 17,7 % (+) CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 200/120 mmHg; N: 80 x/mnt; GCS: CM. Penatalaksanaan Candesartan 1 x 16 mg Simvastatin 1 x 10 mg Amlodipin besilat 1 x 10 mg Cilostazol 2 x 50 mg Parasetamol k/p Hidroklorotiazid 1 x ½ Parafin cair 10cc/mlm Nivedipin 3 x 10 mg 8/11/07 - 10/11/07 8/11/07 - 16/11/07 8/11/07 - 10/11/07; 14/11/07 - 16/11/07 9/11/07 - 17/11/07 9/11/07 - 17/11/07 10/11/07 - 12/11/07 11/11/07 11/11/07 - 12/11/07 Ceftriaksone 2 x 1 Levofloksasin 1 x 1 Sitikolin 2 x 1 amp Vit.K Ondansetron 2 x 1 amp(4 mg) Ranitidin inj 2 x 1 amp (25 mg) Infus Assering 12/11/07 - 15/11/07 16/11/07 8/11/07 - 12/11/07 16/11/07-17/11/07 12/11/07 - 15/11/07 16/11/07 8/11/07 - 16/11/07 Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk terapi maintenance tekanan darah tinggi pada pasien, diberikan antihipertensi candesartan (antagonis reseptor angiotensin II) dan amlodipin (antagonis kalsium), pada tanggal 10-12 diterapi HCT dan nivedipin. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk terapi hiperlipid diberikan simvastatin. - Suhu tubuh pasien pada tanggal 9/11/07 yakni 38ºC diterapi dengan parasetamol. - Pasien mengeluh susah BAB diterapi dengan pelunak tinja parafin cair. - Pasien mengalami infeksi diterapi dengan seftriakson (sefalosporin generasi III) pada tanggal 12-15/11/07 dan lefofloksasin (kelompok kuinolon) pada tanggal 16/11/07 - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. - Pasien mengalami mual muntah diterapi dengan Ondansetron (12/11/07 - 15/11/07) dan injeksi ranitidin (16/11/07) - Pasien menerima infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Kajian DTPs Kasus 35 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 35. No. RM 012718 (06/11/07-12/11/07) Subjective Laki-laki; 74 tahun. DM: stroke hemiparese S; DU: Stroke. Keluhan utama: Tangan kiri lemas, jalan tidak tegak. Penyakit yang pernah diderita: Prostat, jantung. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien (28/03) Total-C: 176 mg/dl LDL-C: 115 mg/dl HDL-C: 49 mg/dl (+) Trig.: 97 mg/dl SGOT: 17,5 IU/L SGPT: 15,6 IU/L Ureum : 28 mg/dl; Creat.: 1,2 mg/dl (+) Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: s/d 37 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl As. Urat: 3,4-7,0 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram MCHC: 32,0 pg (-) Mxd: 12,2 % (+) MCHC: 33-37 pg Mxd: 0-8 % CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna, sulcus dan gyrus menonjol. Ventrikel dan mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 180/100 mmHg; S: 35°C; N: 92 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Cilostazol 2 x 1 Diazepam 1 x 2 mg (mlm) Candesartan 1 x 8 mg Ketoprofen 2 x 1 Analsik® 3 x 1 Tetes hidung Semax 4 x 2 tetes Suppositoria bisakodil Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) Inj. Dipiron 1 amp Infus Assering 6 √ √ Tanggal (November 2008) 7 8 9 10 11 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 12 √ √ √ √ √ Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk terapi maintenance tekanan darah yang tinggi pada pasien, diberikan antihipertensi candesartan (antagonis angiotensin II). Pada tanggal 07/11/08, TD: 150/90 mmHg, dan tanggal 09/11/08, TD: 110/70 mmHg. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Pasien mengeluh sulit BAB, diberi bisakodil suppo. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. - Pasien mengeluh pusing, kepala terasa sakit dan nyeri, diberi terapi dipiron dan Analsik®. Nyeri reumatik diberi terapi ketoprofen. - Untuk meminimalisir efek risiko dari stroke iskemik, pasien diberikan terapi Semax® sebagai neuropeptide. - Pasien menerima infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Kajian DTPs Kasus 36 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 36. No. RM 014555 (12/09/07-15/09/07) Subjective Laki-laki: 92 tahun. DM: Obs. Hematoemesis+penurunan kesadaran pada geriatri; DU: Stroke; DL: PPOK. Keluhan utama: -. Penyakit yang pernah diderita: PPOK. Keadaan umum: somnolent; Keadaan pulang : sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Total-C: 141 mg/dl LDL-C: 83 mg/dl HDL-C: 52 mg/dl (-) Trig.: 64 mg/dl SGOT: 21,3 IU/L SGPT: 7,3 IU/L Ureum : 26 mg/dl Creat.: 0,7 mg/dl As. Urat: 3,4 Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl As. Urat: 3,4-7,0 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram HCT: 34,9 % (-); PDW: 8,1 fl (-) Lym: 8,2 % (-) NEUT: 86,5 % (+) HCT: 37-47%; PDW: 9-13 fl Lym: 19-48% NEUT: 40-74 % CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens capsula externa kanan, infark cerebri kanan. Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna, sulcus, dan gyrus menonjol. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dan besar cor dalam batas normal. TD: 120/80 mmHg; S: 36°C; N: 68 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (Sept. 2007) 12 13 14 15 √ √ √ Sukralfat 3 x 10 cc √ √ √ Carbosistein 3 x 10 cc √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ Tanakan® 3 x 1 tab √ √ √ √ Inj. Simetidin √ √ √ √ Inj. Ondansetron √ √ √ √ Inj. Sefotaksim √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp (250 mg) √ √ Infus RL √ √ √ Infus Dekstrosa 5% Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati tukak lambung, pasien diberi terapi sukralfat (khelator) dan diberi injeksi simetidin (antagonis reseptor H2) dan ondansetron (antiemetik). - Pasien menderita batuk. Untuk mengurangi viskositas sputum, diberikan terapi mukolitik carbosistein. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Pasien mengalami infeki diberi antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yakni injeksi sefotaksim. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral Tanakan® dan injeksi sitikolin. - Pasien mengeluh pusing, kepala terasa sakit dan nyeri, diberi terapi dipiron dan Analsik®. Nyeri reumatik diberi terapi ketoprofen. - Sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang, pasien diberi infus RL dan Dekstrosa 5%. Recommendation -

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Kajian DTPs Kasus 37 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 37. No. RM 016222 (06/02/08-08/06/08) Subjective Laki-laki; 52 tahun. DM: Suspect stroke, Hipertensi; DU: Stroke. Keluhan utama: Pusing, kaki kiri kesemutan. Penyakit yang pernah diderita: Hipertensi-. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 165 mg/dl Total-C: s/d 220 mg/dl LDL-C: 106 mg/dl LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: 33 mg/dl (-) HDL-C: >55 mg/dl Trig.: 208 mg/dl Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT: 22,1 IU/L SGOT:s/d 37 IU/L SGPT: 18,4 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L Ureum : - mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 1,0 mg/dl Creat.: 0,6-1,1 mg/dl As. Urat: 6,8 As. Urat: 3,4-7,0 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC: 11,4 103/μl (+) WBC: 4-11 103/μl P-LCR: 14,3 % (-) P-LCR: 15-25% Mxd: 9,6 % (+) Mxd: 0-8 % CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri. Sisterna basalis, ventrikel dan mid line normal. Sulcus dan gyrus normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 210/100 mmHg; S: 36°C; N: 70 x/mnt Penatalaksanaan Nama Obat Tgl. ( Feb. 2008) 6 7 8 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg Nifedipin 3 x 10 mg Candesartan 1 x 16 mg Inj. Sitikolin 2 amp Infus Assering Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan kombinasi nifedipin (antagonis kalsium) dan candesartan (antagonis angiotensin II). - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi injeksi sitikolin. - Pasien diberi infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Kajian DTPs Kasus 38 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 38. No. RM 109371 (22/04/08-28/04/08) Subjective Perempuan; 84 tahun. DM: anorexia trauma capitis; DU: Stroke. Keluhan utama: lemas. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: somnolent; Keadaan pulang: belum sembuh (APS). Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: 288 mg/dl (+); LDL-C: 174 mg/dl (+) HDL-C: 79 mg/dl; Trig.: 107 mg/dl SGOT: 26,1 IU/L ; SGPT: 20,0 IU/L Ureum : 97 mg/dl (+) Creat.: 1,8 mg/dl (+); As.urat: 5,8 (+) Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl HDL-C: >65 mg/dl; Trig.: s/d 220 mg/dl SGOT:s/d 31 IU/L; SGPT: s/d 32 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl Creat.: 0,5-0,9 mg/dl; As.urat: 2,4-5,7 WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram HGB: 11,5 g/dl (-) MCHC: 31,0 pg (-) PLT: 637 103/μl (+) PDW: 8,5 fl (-) PLC-R: 8,7% (-) NEUT: 74,5% (+) HGB: 12-16,5 g/dl MCHC: 33-37 pg PLT: 150-450 103/μl PDW: 9-13 fl PLC-R: 15-25% NEUT: 40-74% CT Scan kepala: Tak tampak pendarahan akut intra cerebri, subdural, epidural. Tampak atrophi cerebri sehingga sulcus dan gyrus menonjol. Sisterna basalis, ventrikel dan mid line normal. Foto Thorax: Pulmo dan besar cor dalam batas normal. TD: 180/90 mmHg; S: 35°C; N: 70 x/mnt. Penatalaksanaan Nama Obat Tanggal (April/2008) 22 23 √ √ √ 24 25 26 27 28 √ √ √ √ √ Candesartan 1 x 8 mg √ √ √ √ Lovastatin 1 x 1 (malam) √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ Tanakan® 3 x 1 √ √ √ Parasetamol 3 x 1 √ √ √ √ √ √ Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam √ √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp √ √ √ √ √ Inj. Piracetam √ √ √ √ Infus Assering √ √ √ √ √ Infus RL Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Tekanan darah tinggi pasien diterapi dengan candesartan (antagonis angiotensin II). - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Pasien mengalami demam pada tanggal 25/04/08 (suhu tubuh 38ºC) diterapi dengan parasetamol. - Pasien mengalami mual muntah, diberikan injeksi ranitidin. - Pasien diberi piracetam untuk mengobati tremor. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral Tanakan® dan injeksi sitikolin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral dan Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh.. Recommendation -

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Kajian DTPs Kasus 39 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 39. No. RM 059832 (23/04/08-29/04/08) Subjective Perempuan; 80 tahun. DM: post op dengan cephalgia.; DU: Stroke; DL: Diabetes Melitus. Keluhan utama: pusing, sesak napas. Penyakit yang pernah diderita: Hipertensi dan cephalgia. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium SGOT:s/d 31 IU/L; SGPT: s/d 32 IU/L SGOT: 28,8; SGPT: 29,7; Ureum drh: 54 Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,5-0,9 mg/dl (+); Creat.drh: 0,9. (25/4/08) (25/4/08) Sel epitel: +; Prot: -; glu: -; Sel epitel: +; Glu: -; prot: +; leukosit: 0-6; eritrosit: 0-1; bakteri: leukosit: 100-200; eritrosit: 200-300 WBC/PLT/RBC Histogram bakteri: ++. WBC: 4-11103/μL WBC/PLT/RBC Histogram 3 MCHC: 33-37 pg WBC: 15,0 10 /Μl (+) MCHC: 32,8 pg (-) PDW: 9-13 fl PDW: 13,6 fl (+) PLC-R: 15-25% PLC-R: 32,0% (+) NEUT: 40-74% Lym: 13,2 % (-) NEUT: 79,6 % (+) CT Scan kepala: Tak tampak mass intra cerebri. Tampak atrophi cerebri sehingga sulcus dan gyrus menonjol. Sisterna basalis, ventrikel & mid line normal. Cerebellum normal. TD: 130/80 mmHg; S: 36°C; N: 24 x/mnt. Penatalaksanaan Tanggal (April/2008) Nama Obat 23 Analsik® 3 x 1 Flunarizin 2 x 5 mg Sinarizin 3 x 1 Cefadroxil 2 x 500 mg Gingko biloba 3 x 1 (40 mg) Donepezil HCl 1 x 1 Tolterodine-I-tartrate 2 x 2 mg Captopril 2 x 12,5 mg Inj. Insulin 3 x 4 bila OT > 200 Inj. Dipiron 1 amp Infus Assering Assessment - √ √ √ 24 √ √ √ √ √ 25 √ √ √ √ √ √ 26 √ √ √ √ √ √ 27 √ √ √ √ √ √ 28 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 29 √ √ √ √ √ √ √ √ Untuk mengobati nyeri kepala pada pasien diberikan injeksi dipiron, Analsik® (metampiron 500 mg, diazepam 2 mg) dan sinarizin. Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral gingko biloba dan flunarizin yang bekerja sebagai vasodilator perifer. Dari hasil laboratorium (WBCÇ dan ditemukan bakteri pada kultur urin) diketahui pasien mengalami infeksi bakteri. Untuk ini pasien diterapi dengan antibiotik cefadroksil. Untuk mengobati demensia diberi terapi donepezil HCl. Pasien mengalami inkontinensia diberi terapi tolterodine I-tartrat. Pada tanggal 28/04/08, TD pasien 160/90 mmHg dan diberi terapi captopril. Kadar gula darah pasien meningkat (OT: 244) diberi injeksi insulin. Pasien diberi infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Kajian DTPs Kasus 40 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 40. No. RM 030569 (12/03/08-19/03/08) Subjective Laki-laki; 71 tahun. DM: HT, stroke; DU: Stroke. Keluhan utama: Tangan kiri sulit digerakkan. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl Total-C: 235 mg/dl (+) LDL-C: <150 mg/dl LDL-C: 137 mg/dl HDL-C: >55 mg/dl HDL-C: 60 mg/dl Trig.: s/d 220 Trig.: 158 mg/dl SGOT:s/d 37 IU/L SGOT: 15,2 IU/L SGPT: s/d 42 IU/L SGPT: 11,7 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum: 38 mg/dl; Creat.: 1,0 mg/dl As. Urat: 3,4-7,0 As. Urat: 5,2 Nuchter (sblm mkn): 70-110 mg% Nuchter (sblm mkn): 156 mg% (+) PP (2 jam sblm mkn pagi): 100-140 mg% PP (2 jam sblm mkn pagi): 179 mg% (+) WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC: 11,0 103/μL WBC: 4-11 103/μL Lym.: 15,9 % Lym.: 19-48 % NEUT.:78,8% (+) NEUT.:40-74 % CT Scan kepala: Foto Thorax: TD: 150/90 mmHg; N: 90 x/mnt. Penatalaksanaan Tanggal (maret 2008) Nama Obat 12 √ 13 √ √ √ 14 15 16 17 18 19 √ √ √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ √ √ Captopril 2 x 12,5 √ √ √ √ √ √ √ Pravastatin Na 1 x 1 √ √ √ √ √ √ Glimepirid 1 x 1 mg √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin 2 x 1 amp √ √ √ √ √ √ Infus Assering Assessment Pasien diberikan Glimepirid dan Captopril (anti hipertensi golongan ACE-I) yang berpotensi terjadi interaksi. Captopril dapat meningkatkan efek hipoglikemi dari glimepirid (Anonim, 2007). DTPs : potensial ADR Recommendation Mengatur waktu pemberian Glimepirid dan Captopril agar tidak bersamaan. Glimepirid diberikan pada pagi hari segera sebelum makan sedangkan captopril diberikan pada pagi hari setelah makan dan pemberian kedua dilakukan pada malam hari.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Kajian DTPs Kasus 41 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 41. No. RM 050461 (29/09/07-06/10/07) Subjective Laki-laki; 83 tahun. DM: penurunan kesadaran, diabetes melitus, decomp. cordis; DU: Stroke. Keluhan utama: Pusing, tangan kiri tidak begitu kuat, saat BAK penis sakit. Penyakit yang pernah diderita: -. Keadaan umum: CM; Keadaan pulang: sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium Total-C: s/d 220 mg/dl; LDL-C: <150 mg/dl Total-C: 201 mg/dl ; LDL-C: - mg/dl HDL-C: >55 mg/dl; Trig.: s/d 220 HDL-C: 28 mg/dl (-); Trig.: 372 mg/dl (+) SGOT: s/d 37 IU/L; SGPT: s/d 42 IU/L SGOT: 21,7 IU/L; SGPT: 18,2 IU/L Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,6-1,1 mg/dl Ureum: 46 mg/dl; Creat.: 2,0 mg/dl (+) As. Urat: 3,4-7,0 As. Urat: 12,4 (+) Nuchter: 70-110 mg%; PP: 100-140 mg% Nuchter : 220 mg% (+); PP: 208 mg% (+) Hasil pemeriksaan urin Hasil pemeriksaan urin Prot: +; glu: -; leu: 40-50 (+); sel epitel: +; erit: Prot: -; glu: -; leu: 0-6; sel epitel: +; erit: 0-1; 100-150 (+); asam urat: ++; bacteri: +. asam urat: -; bacteri: -. WBC/PLT/RBC Histogram WBC/PLT/RBC Histogram WBC:11,9 103/μL (+); MCHC: 31,3 pg (-) WBC: 4-11,0 103/μL; MCHC: 33-37 pg PDW: 14,0 fl (+); P-LCR: 26,0 % (-) PDW: 9-13 fl (+); P-LCR: 15-25% CT Scan kepala: Tampak lesi hipodens nucleus caudatus kiri ventrikel lateral, kiri, anterior menyempit, infark cerebri kiri. Tampak atrophi cerebri sehingga sisterna, sulcus, dan gyrus menonjol. Ventrikel IV, III & mid line normal. Cerebellum normal. Foto Thorax: Thorax suppine, pulmo dalam batas normal. Cardiomegali. TD: 140/80 mmHg. Penatalaksanaan Renapar® 2 x 1 30/9/07 - 6/10/07 Meloksicam 1 x 1 4/10/07 - 6/10/07 ISDN 3 x 5 mg 30/9/07 - 6/10/07 Semax 4 x 2 tetes 4/10/07 - 6/10/07 29/9/07 - 5/10/07 Allupurinol 2 x 100 mg 30/9/07 - 6/10/07 Inj. Sitikolin 2 amp Lovastatin 1 x 1 mlm 30/9/07 - 5/10/07 Inj. Ranitidin 2 x 1 amp 29/9/07 - 4/10/07 29/9/07 - 5/10/07 Tanakan® 3 x 1 1/10/07 - 6/10/07 Inj. Furosemid 2 x 1 Cilostazol 2 x 50 mg 1/10/07 - 6/10/07 Inj. Sefuroksim 30/9/07 - 3/10/07 2/10/07 - 6/10/07 Sefadroksil 2 x 500 4/10/07 - 6/10/07 Inj. Insulin 3 x 4 unit Omeprazol 1 x 1 5/10/07 - 6/10/07 Infus RL 29/7/07 - 4/8/07 Assessment - Untuk terapi antiangina pada pasien diberikan isosorbid dinitrat. - Untuk maintenance tekanan darah yang tinggi diberikan injeksi furosemid (diuretik) dan untuk mencegah terjadi hipokalemia akibat pemakaian furosemid pasien diberikan suplemen kalium Renapar® - Kadar asam urat pasien yang tinggi, diberi terapi allupurinol dan kadar trigliserid yang tinggi diterapi dengan lovastatin. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral Tanakan® dan injeksi sitikolin. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Dari hasil laboratorium (WBCÇ dan ditemukan bakteri pada kultur urin) diketahui pasien mengalami infeksi bakteri (infeksi saluran kemih). Untuk ini pasien diterapi dengan antibiotik sefuroksim injeksi dan sefadroksil oral. - Untuk mengobati tukak lambung, pasien diberi injeksi ranitidin (antagonis reseptor H2, yang bekerja dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H2) dan diganti omeprazol (penghambat pompa proton, yang bekerja dengan cara menghambat sistem pompa proton dari sel parietal lambung) pada tanggal 05/10/07. Omeprazol mempunyai derajat yang lebih ringan dari antitukak lainnya. - Pasien mengalami osteoartritis diberi terapi meloksikam. - Kadar gula darah pasien meningkat diberi injeksi insulin. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral Recommendation -

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Kajian DTPs Kasus 42 Pasien Stroke iskemik di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 Kasus 42. No. RM 029478 (25/03/08-29/03/08) Subjective Perempuan; 61 tahun. DM: Diabetes melitus tipe II, stroke; DU: Stroke; DL: Diabetes melitus. Keluhan utama:-. Penyakit yang pernah diderita: DM. Keadaan umum: apasia; Keadaan pulang : Sembuh. Objective Hasil laboratorium pada pasien Nilai normal hasil laboratorium SGOT: 21,4 IU/L ; SGPT: 12,0 IU/L SGOT:s/d 31 IU/L; SGPT: s/d 32 IU/L Ureum : 33 mg/dl ; Creat.: 0,8 mg/dl Ureum: 10-50 mg/dl; Creat.: 0,5-0,9 mg/dl K: 3,4; Na: 137; Cl: 98. K: 3,5-5,1mmol/l; Na: 136-141 mmol/l ; Cl: 97WBC/PLT/RBC Histogram 111 mmol/l MCHC: 32,2 pg (-); MXD: 13,1% (+) MCH: 33-37 pg; MXD: 0-8% CT Scan kepala: Axial scan sejajar dengan OM line, dari basis sampai vertex, slice chickness 5 mm, tanpa pemberian media kontras intravena. Sulci di hemisphere sinistra tampak prominent. Sisterna ventricular sedikit melebar. Fisura sylvii sinikstra melebar. Cisterna ambiens, quadrigemina tak melebar. Tak tampak lesi hipodens amorph di corona radiate dan lobus parietalis serta lobus temporalis sinistra. Tak tampak efek masa maupun deviasi struktur mediana . Kesan: infark cerebri temporoparietalis sinistra. Tanda-tanda kearah hemiatrophy cerebri sinistra. Foto Thorax: -. TD: 150/100 mmHg; S: 37°C. Penatalaksanaan Tanggal (Maret/2008) Nama Obat 25 √ 26 27 28 29 √ √ √ √ Cilostazol 2 x 50 mg √ √ √ √ Glimepirid 1 x 1 √ √ √ √ √ Candesartan 1 x 8 mg √ √ √ √ √ Tanakan® 3 x 1 √ √ √ √ √ Pentoksifilin 2 x 400 mg √ √ √ √ √ Renapar® 2 x 1 √ √ √ √ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (25 mg) √ √ √ √ Inj. Furosemid 1x1 amp (10 mg) √ √ √ √ √ Inj. Sitikolin √ √ √ Inj. Asetil sistein 6 cc + 250 NaCl √ Inj. Metamizole Na 1 amp √ Infus RL Assessment Terapi yang diberikan telah sesuai. - Untuk mengobati gejala iskemia karena oklusi arteri kronik dan mengurangi gejala klaudikasio intermiten diberi antiplatelet cilostazol dengan dosis 2 x 50 mg dan diberikan ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. - Untuk terapi maintanance tekanan darah yang tinggi pada pasien, diberikan candesartan (antagonis reseptor angiotensin II) dan furosemid (diuretik). Untuk mencegah terjadinya hipokalemia akibat pemakaian furosemid, pasien diberi suplemen kalium Renapar® . - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral pentoksifilin, Tanakan® dan injeksi sitikolin. - Pasien mempunyai riwayat diabetes, diberi terapi glimepirid. - Untuk membantu sirkulasi darah pada otak diberikan terapi oral dan injeksi sitikolin. - Pasien mengalami mual muntah, diberikan injeksi ranitidin. - Pasien batuk diberi Asetil sistein untuk mengurangi viskositas sputum. - Pasien merasa nyeri, diberi injeksi metamizole Na. - Pasien menerima Infus RL untuk mengatasi deplesi volume berat saat tidak dapat diberikan rehidrasi oral dan Infus assering untuk mengatasi asidosis akibat dehidrasi dan kehilangan ion alkali dalam tubuh. Recommendation -

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Lampiran II ABBREVIATIONS 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. ADR AINS BAB BAK Ca 2+ CAD cAMP CHD CM CT Scan DTPs DM DU DL EGC GCS HDL HT Inf. Inj. K+ LDL Lym (%) MPV MRI MXD (%) 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. N Na+ NCEP NEUT (%) NOS O2 PDW P-LCR PPOK RDW RIND RL RM S : adverse drug reaction : antiinflamsi non steroid : buang air besar : buang air kecil : kalsium : coronary artery disease : adenosin monofosfat siklus : coronary heart disease : compos mentis : computerized tomographi scanning : drug therapy problems : diagnosis masuk : diagnosis utama : diagnosis lain : electro cardiography : glasgow coma scale : high density lipoprotein : hipertensi : infus : injeksi : ion kalium : low density lipoprotein : ratio (%) of lymphocytes to whole WBC : mean platelet volume : magnetic resonance imaging : ratio (%) of the summation of basophils, eosinophils and monocytes (middle cells) to whole WBC : nadi : ion natrium : national cholesterol education program : ratio (%) of neutrophils (large cells) to whole WBC : nitric oxide syntetase : oksigen : platelet distribution width : large platelet ratio : penyakit paru obstruktif kronis : RBC distribution widht : reversible ischemic neurologic defisit : ringer laktat : rekam medis : suhu

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. SOAR SGOT SGPT TD TIA tPA Trig. WBC WHO : subjectif, objectif, assessment, recomemendation : serum glutamik oksaloasetik transaminase : serum glutamik pyruvik transaminase : tekanan darah : transient ischemic attack : tissue plasminogen activator : trigliserid : white blood cell : World Health Organization

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI YAYASAN PANTI RAPIH 105 RUMAH SAKIT PANTI RINI JALAN SOLO KM. 12,5 - KALASAN - YOGYAKARTA 55571 TELP.: (0274) 496022, 496264, 497323., FAX.: (0274) 497206 Bank Niaga AC: 018.01.25545,00.21 lippo Bank : 787.30.03225-3 Yang bertanda tangan di bawah ini, Direktur Rumah Sakit Panti Rini - Kalasan menerangkan dengan sesungguhnya bahwa : NAMA NIM FAKULTAS INSTITUSI : MARIA CORAZON SONIA MBEMBU : 05 8114065 : FARMASI : UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Telah melakukan Penelitian di Rumah Sakit Panti Rini dalam rangka penyusunan skripsi dengan judul ' Evaluasi Drug Therapy Problems pada Pengobatan Pasien Stroke Iskemik di Instalasi Rawat Inap Rurnah Sakit Panti Rini, Yogyakarta Periode Juli 2007 -. Juni 2008 ' Penelitian berlangsung dari tanggal 8 September s.d 31 Oktober 2008 Dernikianiah surat keterangan ini kami buat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 BIOGRAFI PENULIS Maria Corazon Sonia Mbembu merupakan anak keempat dari pasangan Drs. Petrus Salla Rai dan Maria Goreti Tiga Djoka, SM, lahir di Waikabubak pada tanggal 18 Desember 1986. Pendidikan awal dimulai di Taman Kanak-Kanak St. Yoseph Kupang pada tahun 1991. Dilanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar St. Yoseph II Kupang pada tahun 1993-1999. Selanjutnya ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri I Kupang pada tahun 1999-2002. Kemudian naik ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Umum Negeri I Kupang pada tahun 2002-2005. Selanjutnya pada tahun 2005 melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan menyelesaikan masa studi pada tahun 2009. Penulis pernah menjadi penyuluh pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan topik “ pemilihan obat selesma yang rasional dalam rangka pengobatan mandiri” di dusun Jenengan dan dusun Malangrejo, Yogyakarta, penulis juga pernah menjadi panitia dalam seminar “glutation sebagai pencegah dan penyembuh penyakit” yang diselenggarakan oleh Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia (JMKI).

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1

(130)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi drug related problems obat antidiabetes pada pasien geriatri dengan diabetes melitus tipe 2 di ruang rawat inap rumah sakit umum pelabuhan periode januari-juni 2014
4
24
164
Evaluasi drug related problems pada pasien geriatri dengan hipertensi disertai vertigo di RS Panti Rini Yogyakarta periode Januari 2012 - Juni 2013.
1
3
9
Analisis penggunaan antibiotik pasien rawat jalan pediatri pada salah satu rumah sakit swasta Klepu, Godean, Yogyakarta periode Juli 2007 - Juni 2008.
1
9
114
Kajian drug related problems [DPRs] pada kasus hepatitis B non komplikasi di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Juni 2007.
0
3
93
Evaluasi drug related problems pada pengobatan pasien stroke di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2005.
0
5
127
Evaluasi drug related problems pada pasien geriatri dengan hipertensi disertai vertigo di RS Panti Rini Yogyakarta periode Januari 2012 Juni 2013
0
0
7
Evaluasi penatalaksanaan terapi pasien diabetes mellitus dengan komplikasi stroke di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih periode tahun 2005 - USD Repository
0
0
99
Evaluasi pengobatan pasien diabetes melitus dengan komplikasi ulkus/gangren di instalansi rawat inap Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Juli-Desember 2005 - USD Repository
0
0
159
Evaluasi penatalaksanaan terapi pasien diabetes mellitus komplikasi hipertensi rawat inap periode 2005 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta - USD Repository
0
0
115
Kajian drug related problems [DPRs] pada kasus hepatitis B non komplikasi di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Juni 2007 - USD Repository
0
0
91
Evaluasi drug-related problems pada peresapan pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ischemic heart disease di instalasi rawat inap RS Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2005-Desember 2007 - USD Repository
0
1
153
Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository
1
1
98
Evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 - USD Repository
0
0
102
Analisis penggunaan antibiotik pasien rawat jalan pediatri pada salah satu rumah sakit swasta Klepu, Godean, Yogyakarta periode Juli 2007 - Juni 2008 - USD Repository
0
0
112
Evaluasi drug therapy problems pada pengobatan kasus tifoid di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman periode Juli 2007-Juni 2008 - USD Repository
0
0
134
Show more