Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah

Gratis

0
0
103
4 months ago
Preview
Full text

  SUTAN SJAHRIR, SOSIALISME, DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah Disusun Oleh : YOHANA 054314001 FAKULTAS SASTRA PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

SUTAN SJAHRIR, SOSIALISME, DAN PERJUANGAN

KEMERDEKAAN INDONESIA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

Program Studi Ilmu Sejarah

Disusun Oleh :

YOHANA

  

054314001

FAKULTAS SASTRA

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini penulis persembahkan kepada : ¾ Papaku (Stanis Laus Jurin) yang selalu sabar. ¾ Mamaku (Yustina) yang tercinta. ¾ Adikku yang paling penulis sayang (Hildegaldis Rina Angelica). ¾ Seluruh rekan-rekan yang telah membantu.

  

Pernyataan Keaslian Karya

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yag telah disebutkan dalam kutipan catatan kaki, dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya-karya ilmiah.

  Yogyakarta 18 Juni 2010 Penulis

  Yohana

  

ABSTRAK

Yohana

  UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Skripsi yang berjudul “Sutan Sjahrir, Sosialisme, dan Perjuangan

  

Kemerdekaan Indonesia” ini bertujuan untuk mendeskripsikan riwayat hidup

  Sutan Sjahrir serta menganalisa pemikiran Sjahrir terutama mengenai Sosialisme Kerakyatan. Tekanan serta hambatan yang dialami oleh Sjahrir akan dijelaskan dalam penelitian ini. Penelitian ini hendak memperkaya bangsa Indonesia akan pemikiran Sosialisme Kerakyatan Sutan Sjahrir serta menguraikan upaya-upaya Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

  Dalam penelitian ini metode yang dipergunakan adalah metode sejarah. Ada 5 tahap yang dipergunakan agar dapat merekonstruksi suatu sejarah, yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interprestasi dan penulisan. Teori yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teori politik milik Miriam Budiardjo yang menyatakan bahwa teori politik adalah bahasan dan renungan atas 1) tujuan dari kegiatan politik, 2) cara-cara mencapai tujuan itu, 3) kemungkinan- kemungkinan dan kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik tertentu, 4) kewajiban-kewajiban yang diakibatkan oleh tujuan politik itu. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan permasalahan. Pertama, latarbelakang riwayat hidup dan sosio-historis sosialisme kerakyatan Sutan Sjahrir. Kedua, perjuangan Sutan Sjahrir dalam kemerdekaan Indonesia. Ketiga, perjuangan serta kegiatan Sjahrir setelah tidak menjabat dalam pemerintahan.

  Pemikiran Sutan Sjahrir ataupun cara pandangnya melampaui zamannya pada masa itu. Ketika nasionalisme menjadi pegangan garis perjuangan, Sjahrir menekankan bahwa tanpa demokrasi, nasionalisme bisa bersekutu dengan feodalisme. Menurut Sjahrir, humanisme jauh lebih penting dari segala-galanya. Tidak cukup hanya sekedar mengandalkan nasionalisme, karena jika tanpa humanisme, maka yang terjadi hanyalah memerdekaan dan juga mensejahterakan diri sendiri. Sutan Sjahrir bukanlah politikus yang hanya memikirkan bagaimana supaya dapat memperoleh kemenangan di saat Pemilu tetapi dia adalah seorang negarawan yang segala tindakan, strategi, dan juga pengetahuannya adalah untuk kemajuan serta kemerdekaan rakyat Indonesia. Ia merupakan seorang negarawan yang memikirkan proses berbangsa dalam jangka panjang, dan teristimewa usaha- usahanya yang selalu memperjuangkan hak-hak azasi semua warga-negara.

  

ABSTRACT

Yohana

  UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA The purpose of this thesis entitled “ Sutan Sjahrir, Socialism, and the

  Indonesian Independence Struggle “ was to describe and analyze Sutan Sjahrir’s life and his thoughts, concerning the socialism in the grass root in particular. It also described the pressure and obstacles that Sutan Sjahrir experienced. The research was enriching the Indonesian people about Sutan Sjahrir’s thoughts on the democratic socialism as well as analyzing Sjahrir’s efforts in struggling for the Indonesian independence.

  The method that was applied in the research was a historical method. The five stages implemented able to reconstruct a history were the topic selection, data sources gathering, verification, interpretation, and the writing. The research made use of the political theory of Miriam Budiardjo, who’s state that political theory is a discussion and insights of: 1) the objective of political activities, 2) ways of achieving the objectives, 3) the probabilities and the needs resulting from a specific political situation, 4) the resultant responsibilities because of the respective political objectives. In the research there were three problem formulations. Firstly, the background of the Sutan Sjahrir’s biography and the socio-history of democratic socialism. Secondly, Sutan Sjahrir’s struggle in the Indonesian independence. Thirdly, Sjahrir’s struggle and activities after he was out of office of the government.

  Sutan Sjahrir’s thoughts or his view was at that time considered beyond his era. When nationalism was the main guide for struggling, Sjahrir stressed that without democracy, nationalism might be aligned with feudalism. According to Sjahrir, humanism was far more important of all others. Taking nationalism for granted was not enough, as without humanism, there would be independence only, and egoistic welfare . Sutan Sjahrir was not a politician who thought only of how to get victory in a general election, but he was also a statesman whose actions, strategies, and knowledge were dedicated for the freedom and progress of the Indonesian people. He was a kind of a statesman who deeply thought of the process of the nation’s long life, particularly in his efforts to fight for all the citizens’ human rights.

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Yohana Nomor Mahasiswa : 054314001 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

SUTAN SJAHRIR, SOSIALISME, DAN PERJUANGAN

KEMERDEKAAN INDONESIA”

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pengakalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal : 18 Juni 2010 Yang menyatakan

  Yohana

KATA PENGANTAR

  Akhirnya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Begitu banyak tantangan yang dihadapi dalam penulisan ini. Tetapi itu bukan menjadi persoalan karena selalu ada orang-orang yang mendukung supaya dapat dengan segera menyelesaikan skripsi ini. Beruntung sebelum mengajukan proposal skripsi ini terlebih dahulu dilaksanakan diskusi dengan teman-teman jurusan Ilmu Sejarah sehingga kekurangan dalam penulisan skripsi ini dapat terbantu.

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas berkat dan juga rahmat-Nya penulis selalu dengan sabar untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis sangat bersyukur atas dampingan-Nya disaat penulis sedang mengalami kesusahan. Terima kasih atas semua doa-doa penulis yang senantiasa Tuhan Yesus dengarkan dan juga kabulkan.

  Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada seluruh staf pengajar yang selalu membantu serta memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih kepada Drs. Hb. Hery Santosa, M.Hum. dosen dan juga Ketua Program Studi Ilmu Sejarah yang selalu setia memberikan motivasi kepada teman-teman di jurusan Ilmu Sejarah. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Drs. Silverio R. L. Aji Sampurno, M. Hum dosen sekaligus pembimbing skripsi yang selalu memberikan ide-ide dan juga mengoreksi penulisan skripsi ini dengan sabar. Terima kasih kepada Drs. Ign. Sandiwan Suharso selaku dosen dan juga pembimbing akademik yang selalu menasehati dikala penulis memperoleh IPK yang tidak bagus.

  Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada seluruh staf pengajar Jurusan Ilmu Sejarah; Drs. H. Purwanta, M. A, Dr. FX. Baskara T.

  Wardaya, SJ, Dr. Anton Haryono, Prof. Dr. P. J. Suwarno S. H (almarhum), Drs. Manu Jayaatmaja, M. A, Dr. St. Sunardi, Drs. Andri Nurcahyo.

  Penulis juga mengucapkan tarima kasih kepada keluarga tercinta; papa (Stanis Laus Jurin) yang senantiasa selalu mendukung dan juga selalu memenuhi kebutuhan penulis. Mamaku (Yustina) yang selalu dengan sabar membesarkan, menghadapi penulis, memberi masukan yang begitu berarti bagi penulis, serta memberikan kasih sayang yang tulus bagi penulis. Kepada adik penulis,

  

Hildegaldis Rina Angelica, terima kasih yang tak habis-habisnya penulis

  sampaikan atas doa-doa, dukungan, dan juga nasehatnya. Skripsi ini penulis persembahkan untuk kalian.

  Terima kasih penulis sampaikan untuk kedua orang nenek penulis, om (mamo) Stef, tante (ambe) Linah, paman Agus, bi Evi, sepupu-sepupu penulis yang selalu saja menanyakan kapan penulis wisuda; Kak Dina, Yanti, Martin, Hel, Agnes, Andri, Okta.

  Untuk sahabat-sahabat penulis, terima kasih atas dukungan, nasehat, dan juga kebersamaan dengan kalian ; Lilis, Chatrine, Marsya, dek Evi, dan dek Emil.

  Dan terima kasih juga untuk teman-teman seperjuangan; sr.Andreani, Anggoro, Agung, Bondan, Hafen. Terima kasih juga untuk; Ismiyati, Tati, Ifa, Theo Yanzen, Sr. Mena.

  Terima kasih untuk teman-teman di Pondok Angela Pringwulung (asrama Ursulin) atas kebersamaan penulis bersama kalian ketika baru memasuki bangku kuliah. Sr. Yekti, Sr. Merci, Sr, Nati, Sr. Etty, Sr. Vero, Ena, Lina, Ayek. Terima kasih banyak penulis ucapkan yang sebesar-besarnya kepada para suster-suster yang selalu membimbing kami, para anak asrama, terima kasih karena telah memberi kami pengalaman-pengalaman yang begitu berharga.

  Terima kasih juga untuk teman-teman Fokus Mapawi (Kab Melawi) khususnya yang tinggal di kontrakan Kab Melawi yang selalu berbagi kegembiraan di saat melaksanakan Gawai Dayak, dan masih banyak lagi teman-teman yang selalu mensupport penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ v ABSTRAK ..................................................................................................... vi ABSTRACT .................................................................................................... vii LEMBAR PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................................................... viii KATA PENGANTAR .................................................................................... ix DAFTAR ISI .................................................................................................. xi

  BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1 1.2. Rumusan Masalah ........................................................................... 9 1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................ 9 1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................... 10 1.5. Landasan Teori ................................................................................ 11 1.6. Tinjauan Pustaka ............................................................................. 14 1.7. Metode Penelitian ........................................................................... 18 1.8. Sistematika Penulisan ..................................................................... 20

BAB II RIWAYAT HIDUP SUTAN SJAHRIR DAN SOSIO-HISTORIS

SOSIALISME KERAKYATAN .................................................. 21 2.1. Riwayat Hidup Sutan Sjahrir .......................................................... 21 2.2. Perkenalan Sjahrir dengan Sosialisme ............................................. 23 2.2.1. Jong Indonesia ...................................................................... 23 2.2.2. Sjahrir di Negara Belanda pada tahun 1929-1931 ............... 26 2.3. Sosialisme Kerakyatan Indonesia ................................................... 29 BAB III SUTAN SJAHRIR DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA ............................................................................... 35 3.1. Peran Sjahrir Sebelum Kemerdekaan Indonesia ............................. 35

  3.1.2. Pendudukan Jepang pada tahun 1942 .................................. 40 3.2. Peran Sjahrir Untuk Mencapai Kemerdekaan ............................... 42 3.2.1.

  Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 ........................... 42 3.2.2. KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) tahun 1945 ........ 47 3.2.3. Perdana Menteri (15 November 1945–7 Juni 1947) ............ 50

  BAB

  IV DAMPAK SERTA PENGARUH SUTAN SJAHRIR PASCA KEMERDEKAAN INDONESIA ................................................. 61 4.1.

  Partai Sosialis Indonesia (PSI) ........................................................ 61 4.1.1.

  Pembentukan Partai Sosialis Indonesia (PSI) Tahun 1948 ... 61 4.1.2. Kekalahan PSI dalam Pemilihan Umum Tahun 1955 .......... 67

  4.2. Akhir dari Karir Sjahrir ................................................................... 71 4.2.1.

  Pembubaran Partai Sosialis Indonesia (PSI) Tahun 1960 .... 77 4.2.2. Penangkapan Sjahrir Tahun 1962 ......................................... 77

  BAB V PENUTUP ...................................................................................... 81 5.2. Kesimpulan ............................................................................ 81 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 87

  

BAB I

PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

  Suatu negara dapat membangkitkan pergerakan bangsanya dengan beberapa syarat, yakni kesatuan ekonomi, politik, dan budaya. Terpenuhinya ketiga syarat itu lebih merupakan karena proses sosial yang mandiri daripada hasil cita-cita, rencana, atau pun rekayasa pemerintah jajahan. Demikian pula halnya di Indonesia pada awal tahun 1900-an.

  Walaupun ketiga syarat tersebut sudah terpenuhi, kebangsaan tidaklah bangkit dengan sendirinya. Sebagai syarat, maka yang terkandung di dalamnya hanyalah peluang bagi terbentuknya kebangsaan. Karena tak ada peluang yang tanpa masalah, maka berhasil-tidaknya pelembagaan itu tergantung pada kemampuan masyarakat dan kekuasaan negara mengatasi rangkaian masalah yang timbul dalam peluang tersebut.

  Kenyataannya, masyarakat dan pemerintah jajahan gagal mengatasi rangkaian masalah yang muncul. Dengan demikian gagal pula terciptanya keseimbangan berdasarkan cita-cita politik Etis. Malahan, lambat-laun masyarakat nusantara menuntut bubarnya kekuasaan negara jajahan itu sebagai syarat keseimbangan atau kebangsaannya. Masyarakat nusantara berjuang kearah terbentuknya kekuasaan negara yang sama sekali baru berdasarkan kekuatan dan kemampuan sendiri.

  Ada empat hal yang menyebabkan kegagalan itu terjadi dan bagaimana cita-cita kebangsaan yang lain dapat diperjuangkan. Pertama, tahun 1900-1912.

  Dalam peluang selama kurun waktu tersebut timbulah rangkaian masalah yang bersifat sangat berat sebelah. Seperti masa VOC, masyarakat merasa asing sama sekali, dan bingung, dengan kesempatan serta kesulitan yang harus dihadapi, sementara pemerintah jajahan bergelimang triomfalisme, yakni sikap serba tahu, serba mampu, serba kuasa menentukan arah perkembangan yang harus ditempuh oleh masyarakat.

  Kedua, tahun 1912-1921. Ketika pemerintah tampak semakin tahu apa yang harus dilakukan, masyarakat baru mulai meraba-raba ujung pangkal masalah yang timbul, dan dengan demikian sedapat mungkin mengatasinya. Masuk akal bahwa masyarakat terpecah sekalipun hanya karena pengertian yang berbeda-beda mengenai rangkaian masalah yang muncul selama periode ini. Juga bisa dimengerti bahwa pemerintah jajahan memanfaatkan perpecahan tersebut untuk kepentingan kekuasaannya.

  Ketiga, tahun 1921-1927. Masyarakat yang sebelumnya meraba-raba, akhirnya mengira sedang menemukan hakikat masalah yang dihadapi. Yang dikira hakikat itu pada dasarnya bersifat modern dan revolusioner sekaligus. ‘Modern’, karena melintasi penggolongan sempit, ‘Revolusioner’, karena menolak cara-cara lama yang lambat-laun, cara-cara politik Etis.

  Walaupun demikian, karena baru menemukannya, baik sifat modern maupun revolusioner itu cenderung diyakini tanpa melewati ujian kenyataan.

  Melintasi pertolongan sempit dapat berarti percaya pada pertolongan dari dunia internasional. Keanggotaan dalam Pan-Islamisme dan Comintern merupakan wujudnya. Menolak cara-cara Politik Etis bisa berarti kekerasan. Kerusuhan PKI- Sarekat Ra’jat merupakan pantulannya. Bahwa sintesa dari keduanya, yang menjelma dalam faham kebangsaan Perhimpunan Indonesia (PI) di Nederland,

  1 pada awalnya masih sukar lepas dari internasionalisme dan radikalisme.

  Sekitar tahun 1927 dan runtuhnya negara jajahan Belanda oleh Jepang pada tahun 1942, kebangkitan nasional mulai bergaya kurang semarak. Dalam masalah politik, gerakan anti-penjajahan melanjutkan langkah-langkah yang tidak menghasilkan apa-apa. Rezim Belanda memasuki tahapan yang paling menindas dan paling konservatif (bersikap mempertahankan keadaan) dalam sejarahnya pada abad XX. Rakyat daerah pedesaan tidak lagi memainkan peranan politik yang aktif karena dikecewakan oleh pengalaman mereka dengan SI dan PKI pada tahun-tahun sebelumnya dan juga karena, mulai tahun 1930 dan seterusnya mereka lebih disibukkan dengan usaha untuk mengatasi masa-masa sulit yang ditimbulkan karena depresi.

  Akan tetapi ada beberapa aspek masa itu yang menyiapkan pengguna peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah tahun 1942. Pertama, semua harapan bagi terjalinnya kerjasama dengan Belanda benar-benar sudah hancur, sehingga satu-satunya taktik yang dimungkinkan untuk masa mendatang hanyalah perlawanan terhadap Belanda. Kedua, perpecahan-perpecahan yang mendalam di kalangan elite Indonesia yang sangat kecil jumlahnya umumnya tidak

1 Parakitri T Simbolon. 1995. Menjadi Indonesia, Jakarta: Kompas,

  mengalahkan kesepahaman bahwa tujuan utama upaya politik adalah pembentukan negara Indonesia yang merdeka. Dengan demikian, nasionalisme menempati posisi ideologis yang paling berpengaruh. Ketiga, demi kepentingan persatuan yang maksimal di antara kelompok-kelompok budaya, agama, dan ideologi di Indonesia, maka ide nasionalis ini menolak naluri-naluri Pan-Islam dan pembaharuan dari para pemimpin Islam perkotaan, dengan mengambil suatu posisi yang secara konfensional disebut ‘sekuler’ tetapi yang dalam praktik sering dilihat sebagai anti-Islam oleh para pemimpin Islam. Dengan demikian Islam didesak pada posisi politik yang terkucil yang dengan perkecualian-perkecualian yang jarang terjadi, ditempatinya hampir sepanjang abad XX. Keempat, adanya kesadaran di antara para pemimpin agama bahwa mereka menghadapi banyak tantangan yang sama dan mempunyai suatu komitmen yang sama pada agama mereka, mengurangi pertentangan-pertentangan sengit antara kaum muslim modernis dan tradisional serta membawa kedua kelompok tersebut lebih dekat satu sama lain. Yang terakhir, tokoh-tokoh yang muncul sebagai pemimpin- pemimpin Indonesia pada masa itu sangat penting karena, betapapun ketidakberhasilan mereka saat itu, mereka ditakdirkan menjadi generasi pertama dalam sejarah Indonesia untuk memimpin seluruh kepulauan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu dan merdeka.

  Taufik Abdullah dalam tulisannya ”Pahlawan dalam Perspektif Sejarah” (Prisma, No.7,1976), menjelaskan supaya dapat menghargai jasa para pahlawan secara wajar dan benar, tidak hanya ”dikenang tetapi tidak relevan”. Hal yang wajar jika masyarakat membutuhkan kehadiran pahlawan karena hal itu menjadi kebutuhan manusia untuk mengidentifikasi atau menetapkan identitas diri dengan suatu norma, ikatan simbol. Akan tetapi, simbol manakah dari seseorang pribadi kuat yang bisa dijadikan cermin cita-cita sekaligus pandu perjuangan hidup kita,

  2

  baik sebagai perorangan, kelompok, maupun bangsa ?. Persoalan dapat dikaji lebih mendalam dan permasalahan bisa lebih jelas bila menghadapi pertanyaan semacam itu. Lalu bagaimana dengan seseorang yang memberikan gelar pahlawan nasional kepada Sjahrir ? Tokoh itu, yang oleh seorang tokoh politik lain dan bahkan seorang sejarawan-sebelum meneliti dengan baik mempertanyakan apakah dia ’pahlawan atau penghianat’, adalah Sukarno. Taufik Abdullah menduga, Sjahrir mungkin hanya akan tersenyum sinis sambil geleng-geleng kepala dan berkata : ”Bangsaku!”

  Atas dasar pemikiran Taufik Abdullah di atas, Sutan Sjahrir tidak hanya ditempatkan dalam kedudukannya sebagai pahlawan nasional yang resmi menjadi penghuni Kalibata, tetapi melihat relevansi negarawan dan seorang Sjahrir yang pernah menjadi nahkoda pertama republik yang baru bertolak dan langsung dihantam oleh badai dan topan, dalam sikapnya terhadap kebudayaan

  3 pembentukan bangsa.

  Y.B. Mangunwijaya berpendapat bahwa fungsi dan jasa Sjahrir adalah menjadi pemikir dan nahkoda pertama yang tenang dan harus menjawab tuntutan

2 Yanto Basri dan Retno Suffatni (ed). 2004. Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta: Lkis. hal 71.

  4

  wajibnya; melihat jauh ke depan, bahkan bagaikan melalui radar . Ia merupakan pelengkap paling tepat dan vital di kala itu dalam diri Sukarno-Hatta. Kalau Sukarno menyalakan energi mesin diesel yang dahsyat, penggerak bahtera yang sedang terancam, maka Sjahrir merupakan nahkoda yang berpikir dingin, tokoh yang bersih dari noda kolaborasi Jepang dan revolusioner. Hal ini diakui hampir seluruh pemimpin rakyat ketika itu, termasuk Sukarno-Hatta dan para pelopor pemuda, kecuali yang berhaluan komunis atau yang percaya kerja fasis karena

  5 mereka sudah punya resep tersendiri.

  Sjahrir menjadi pemimpin, seperti ketua KNIP dan Badan Pekerja, tidak diperoleh dengan merebut dari tangan orang lain, tetapi karena kepercayaan para pemuda saat itu. Sjahrir memahami bahwa situasi sudah berubah dan karena itu ia menerima daulat pemuda-pemuda. Sikap ini sering kali ditafsirkan sebagai ’kebimbangan’. Padahal, untuk memahami situasi dunia internasional maka sikap ini merupakan keniscayaan karena yang dibutuhkan adalah tokoh non-Jepang murni. Begitu ia masuk sidang langsung menjadi ketua baru dengan suara mayoritas.

  Peristiwa tersebut menjelaskan bahwa Sjahrir sebagai aktivis kemerdekaan selama zaman Jepang diakui para pemuda. Aksi-aksinya di bawah tanah yang memaksanya harus bersembunyi dan sering kali bertindak di bawah empat mata telah menghasilkan efek politik praktis, paling tidak di kalangan pemuda terkemuka dan Sukarno-Hatta. Kepercayaan yang begitu besar dan hampir tanpa

4 Radar adalah alat (yang memakai gelombang radio) untuk mendeteksi jarak, kecepatan, dan arah benda yang bergerak atau benda yang diam.

  sikap hati-hati dalam situasi kritis sepanjang bulan Oktober-November 1945 menentukan segala-galanya bagi masa depan bangsa, tentu mempunyai landasan moral dan rasional yang sangat kuat. Intuisi (daya atau kemampuan mengetahui) para pemimpin muda dan tua merasa bahwa pada situasi saat itu Sjahrir merupakan orang tepat tidak hanya sebagai pengganti Sukarno-Hatta, tetapi pelengkap ”triumvirat de facto” Sukarno-Hatta. Intuisi mereka murni, tidak tercemar sedikit pun oleh pandangan politik kotor, ambisi pribadi, atau permainan klik ketika para pejuang sudah masuk ke berbagai kota lagi, dan perjuangan membawa sekian petualang untuk saling berebut hasil pada tahun-tahun pertama 1945-1950. Sebelum itu, para pemimpin rakyat terpengaruh oleh ide manifes politik Sjahrir, Perjuangan Kita, yang terbit pada bulan Oktober 1945. Saat itu mereka hanya mengenal keikhlasan untuk menyelamatkan republik yang baru tiga bulan terbebas dari teror penjajah maupun tendensi anarkis dari Indonesia sendiri yang membalas teror dengan teror. Selama bulan Oktober-November 1945 semangat yang bersemboyan ”Merdeka atau Mati” sudah dirasakan begitu ironisnya, namun tidak memberikan garansi keberhasilan suatu revolusi. Akal sehat menyadari bahwa yang dibutuhkan hanya ”merdeka atau hidup”.

  Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa justru para pemuda mendukung Sjahrir, meski Perjuangan Kita sarat dengan kritik keras terhadap mereka. Ini menunjukkan bahwa Sjahrir memiliki sesuatu yang bersendi fondasi kuat, tidak lapuk oleh kekosongan untuk menghasut ketika itu, tetapi segar, muda, bijaksana, menjangkau jauh ke depan tanpa melupakan situasi yang mendesak, meyakinkan semua. Manifes Perjuangan Kita mengerutkan dahi hampir setiap pemimpin dan pelopor, terutama mereka yang bekerja sama dengan Jepang karena menjadi sasaran kritiknya.

6 Hanya Sjahrir satu-satunya pemimpin yang mempunyai konsep

  dasar yang bijaksana dan strategis, konsisten, dan menyeluruh, tentang apa yang harus dikerjakan dalam menghadapi lautan api teror Belanda dan dunia internasional. Bahkan, pandangannya begitu jauh sehingga jika kita sekarang- sekian puluh tahun sesudah 1945-membaca ulang tulisan-tulisan Sjahrir, maka hampir setiap kalimat bisa langsung kita gunakan, seolah-olah tulisan tersebut tidak ditulis waktu itu, tetapi sekarang, dan bukan hanya tertuju kepada bangsa Indonesia, melainkan setiap penguasa negara-negara berkembang bekas koloni. Kepada Belanda ia menulis :

  ”...tanah tumbuh untuk segala ekstrimisme nasionalistis adalah situasi kompleks rasa minder, sosial, dan rohani dari orang-orang Indonesia, rasa dendam terhadap sikap ras yang memandang ke bawah pada jutaan kaum tertindas. Kenyataan itu tidak bisa dihilangkan oleh politik kesejahteraan apa pun dan oleh politik Etis apa pun. Penghargaan ’dari hati yang berkenan’ semacam itu terhadap daya-daya kebangunan rakyat yang pada tumbuh hanya membawa kebencian, karena merupakan permainan atas kompleks- kompleks minder orang-orang Indonesia. Itu sudah disadari oleh orang-orang seperti Snouck Hurgronje dan Hazeu. Dasar rasa dendam terhadap kaum penindas hanya dapat lenyap dengan jalan iklas memberi harga diri kepada orang-orang Indonesia. Dan itu hanya bisa terjadi bila ada perubahan fundamental dalam sikap jiwa penguasa kulit putih terhadap orang-orang Indonesia, suatu perubahan sikap berkenan sang bapak yang jauh lebih bijaksana terhadap si anak yang terbukti mulai bersemi prakarsa kerja dan kecerdasannya, ke arah penghormatan yang sejati.”

  7 Kata-kata tersebut mencerminkan seorang negarawan yang bijaksana,

  yang tidak hanya berlaku untuk pejabat-pejabat Belanda, tetapi juga untuk setiap pemerintah bangsa bekas koloni, terutama orang yang mengira bahwa hanya

6 Ibid. hal 78-79.

  dengan ”politik kesejahteraan” rakyat akan terpesona untuk berterima kasih melihat pembangunan-pembangunan fisik, stabilitas ekonomi, dan sebagainya, seperti pemikiraan Belanda sebelum Perang Dunia II dan sesudahnya yang mencoba membangun politik Etis untuk bangsa Indonesia. Ada sesuatu yang lebih dalam pada permasalahan bangsa Indonesia, dan itu secara tajam dapat dilihat oleh Sjahrir.

1.2. Rumusan Masalah

  Untuk mengetahui secara mendalam tentang Sutan Sjahrir, Sosialisme, dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, maka skripsi ini akan membahas pokok permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah latarbelakang riwayat hidup dan sosio-historis sosialisme kerakyatan Sutan Sjahrir ?

2. Bagaimanakah perjuangan Sutan Sjahrir dalam kemerdekaan Indonesia ? 3.

  Sejauh mana dampak atau pengaruh Sutan Sjahrir pasca kemerdekaan Indonesia ?

1.3. Tujuan

  Tujuan dari skripsi yang berjudul Sutan Sjahrir, Sosialisme, dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia adalah sebagai berikut :

  • - Akademis

  Untuk melihat sejauh mana sosilisme kerakyatan Sutan Sjahrir menjadi landasan perjuangan kemerdekaan. Penulisan skripsi ini menganalisa pemikiran Sjahrir mengenai sosialisme kerakyatan. Tekanan dan juga hambatan yang dialami oleh Sjahrir dalam usahanya mewujudkan nilai-nilai sosialisme kerakyatan juga akan dijelaskan dalam penelitian ini.

  • - Praktis

  Secara praktis penulisan skripsi ini hendak memperkaya bangsa Indonesia akan pemikiran sosialisme kerakyatan Sutan Sjahrir dan menguraikan upaya- upaya Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sjahrir yang selama ini ditempatkan dalam posisi yang salah padahal Sjahrir memiliki peranan yang penting dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian - Teoretis

  Skripsi ini diharapkan dapat berguna khususnya untuk keilmuan sejarah supaya dapat mengetahui bagaimana perjuangan Sutan Sjahrir untuk menerapkan sosialisme kerakyatan serta bagaimana perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Skripsi ini juga diharapkan agar dapat memberikan sebuah cara pandang baru dan juga menambah pemahaman masyarakat akan besarnya peran Sjahrir di dalam negara Indonesia.

  • - Praktis

  Dalam konteks praktis, penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi serta pemahaman yang baru mengenai sejarah Indonesia terutama mengenai sejarah seorang tokoh yaitu Sutan Sjahrir. Skripsi ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai perjuangan politik, lebih khususnya perjuangan politik Sutan Sjahrir dan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap dalam pengajaran sejarah.

1.5. Landasan Teori

  Teori sangat dibutuhkan pada saat melakukan penelitian untuk mempertajam permasalahan-permasalahan yang dikaji. Pada penelitian skripsi yang berjudul Sutan Sjahrir, Sosialisme, dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, teori yang dipergunakan adalah teori politik milik Miriam Budiardjo.

  Dalam teori tersebut membahas mengenai ; 1) tujuan dari kegiatan politik, 2) cara- cara mencapai tujuan itu, 3) kemungkinan-kemungkinan dan kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik tertentu, 4) kewajiban-kewajiban yang diakibatkan oleh tujuan politik itu. Konsep-konsep yang dibahas dalam teori politik mencakup antara lain, masyarakat, kelas sosial, negara, kekuasaan, kedaulatan, hak dan kewajiban, kemerdekaan, lembaga-lembaga negara, perubahan sosial,

  8 pembangunan politik, modernisasi, dan sebagainya.

  Sutan Sjahrir melibatkan dirinya dalam dunia politik bukan karena ketertarikannya pada jenjang kekuasaan tetapi ia merasa bahwa negara sangat membutuhkan pertolongannya terutama disaat awal kemerdekaan Indonesia. Banyak hal yang telah dilakukan Sjahrir untuk Kemerdekaan Indonesia. Kegiatannya bukan dilakukan dengan hal-hal yang negatif tapi untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya terutama menghindari tuduhan bangsa Belanda yang menganggap kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari bangsa Jepang,

8 Miriam Budiardjo. 1977. Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia.

  Sjahrir menawarkan jalur diplomasi pada pihak Belanda untuk menghindari tindakan kekerasaan yang bisa berakibat buruk bagi bangsa Indonesia..

  Menurut Miriam Budiardjo dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar

  

Ilmu Politik , teori adalah generalisasi (simpulan umum dari suatu kejadian, hal,

  dsb) yang abstrak mengenai beberapa fenomena. Dalam menyusun generalisasi itu teori selalu memakai konsep-konsep. Konsep itu lahir dalam pikiran manusia dan karena itu bersifat abstrak, sekalipun fakta-fakta dapat dipakai sebagai batu loncatan.

  Sejarah politik sangatlah menonjol pada abad ke-19 sebagai abad nasionalisme dan formasi negara nasional di Eropa Barat. Semenjak itu, sejarah perang dan diplomasi sangat menonjol di satu pihak, dan di pihak lain peranan raja, panglima perang, negarawan memegang peranan utama. Tradisi itu masih sangat kuat dewasa ini, dikarenakan adanya anggapan (ataupun teori) bahwa jalannya sejarah terutama ditentukan oleh kejadian politik, perang, serta tindakan tokoh-tokoh politik, militer, dan diplomasi. Hal ini sama dengan teori orang besar,

  9 yang mengatakan bahwa orang besarlah yang menentukan jalannya sejarah.

  Sejarah politik sebagai sejarah politik gaya baru memakai pendekatan ilmu-ilmu sosial dan dengan demikian tidak hanya memperluas cakrawala politik, tetapi juga membuat perspektif politik lebih luas, lengkap dan multidimensional, mencakup interdependensi proses politik dengan jaringan sosial, sistem ekonomi, sistem nilai, dan lain sebagainya.

9 Sartono Kartodirdjo. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi

  10 Sejarah politik sebagai sejarah konvensional pada umumnya

  mengutamakan peranan tokoh-tokoh atau orang-orang besar sebagai faktor

  11

  penentu jalannya sejarah. Dengan demikian, dilupakan bahwa peranan seorang pelaku senantiasa terjadi dalam kondisi struktural tertentu, dengan kata lain, proses yang terjadi mencakup aksi pelaku pada hakikatnya merangkai serta membatasi ruang bergeraknya. Peranan merupakan aspek dinamis dari status, sedangkan status tidak lain ialah unsur dari struktur sosial tertentu. Struktur diaktulisasikan lewat atau oleh aktivitas. Struktur kekuasaan menentukan pola distribusi kekuasaan yang menentukan tempat serta ruang lingkup peran yang dijalankan oleh pelaku politik. Peranan pemimpin atau tokoh besar sangat tergantung pada struktur kekuasaan yang ada di dalam masyarakatnya. Untuk menentukan peranan tokoh sejarah dalam proses sejarah perlu diketengahkan masalah seberapa jauh seorang tokoh membentuk proses sejarah ataukah kondisi sosiallah yang menentukan peranan tokoh sejarah.

10 Sejarah Konvensional sama dengan konfensionalisme yaitu 1).

  Pandangan yang menyatakan, konsep-konsep ilmiah dan konstruksi-konstruksi teoritis pada dasarnya merupakan produk-produk persetujuan di antara kaum ilmuan. Persetujuan-persetujuan ini berasal dari pertimbangan-pertimbangan kebiasaan, ketepatan, kesederhanaan; unsur-unsur konvensionalisme ditemukan pada positivisme, pragmatis (bersifat praktis) dan operasionalisme. Paham-paham ini menyajikan pemikiran teoritis sebagai suatu yang subyek dan menerangkan penggunaan beberapa sistem konsep dan konstruksi matematik oleh kaum ilmuan menurut keinginan mencapai pemahaman timbal balik. 2). Kecenderungan untuk memegang teguh kebiasaan. 3) sesuatu yang merupakan tradisi atau kebiasaan. Save M.Dagun. 1997. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, Jakarta; LPKN. hal 532.

12 Suatu determinisme sosial sudah tentu berpendapat bahwa seluruh

  peranan seorang tokoh ditentukan atau dipengaruhi oleh struktur masyarakat, atau paling tidak peranannya dijalankan dalam batas-batas struktural masyarakat, jadi terikat pada suatu keterbatasan. Perlu diakui bahwa kebebasan dalam arti mutlak tidak dapat diberlakukan, tidak lain karena pelaku selalu terikat pada kebudayaan atau kepada zaman. Pelaku tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari ikatan atau subjektivitas itu, khususnya yang berkaitan dengan pandangan dunia. Perlu diakui bahwa tokoh sejarah sering kali lebih jauh memandang ke depan atau

  13

  berperan sebagai perintis. Perintis atau pelopor sering menuntut perubahan revolusioner sehingga pelaksanaannya menuntut kepribadian atau kepemimpinan yang kuat.

1.6. Tinjauan Pustaka

  Sudah banyak orang yang menulis tentang Sutan Sjahrir, sosialisme dan perjuangan kemerdekaan antara lain; buku yang ditulis oleh Sutan Sjahrir (Sjahrazad) Renungan Indonesia, buku ini merupakan kumpulan dari tulisan- tulisan Sjahrir dari tahun 1934-1938. Di dalam buku ini Sjahrir memaparkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan hanya sebagai perjuangan bangsa Indonesia agar dapat melepaskan diri dari penjajahan, tetapi perjuangan

12 Determinisme adalah 1) pandangan yang menyatakan bahwa semua

  kejadian di alam semesta termasuk manusia diatur oleh dan bekerja selaras dengan hukum sebab musabab. 2) hubungan antara dua kondisi di mana kondisi yang satu disebabkan oleh kondisi yang lain. 3) ajaran yang mengatakan bahwa kehendak manusia tidak bebas akan tetapi ditentukan oleh serangkaian kondisi psikis dan fisis. Save M. Dagun. op. cit. hal 170. seluruh manusia modern yang progresif untuk memperoleh keadilan. Di dalam buku ini tidak terlihat bagaimana tahap awal kemunculan sosialisme kerakyatan yang diagung-agungkan oleh Sjahrir, yang dikemudian hari ia anggap bahwa sosialisme kerakyatan tersebutlah yang pantas sebagai landasan awal dalam memerdekakan rakyat Indonesia.

  Buku yang berjudul Sosialisme Indonesia Pembangunan yang ditulis berdasarkan hasil kumpulan dari tulisan-tulisan Sutan Sjahrir yang menguraikan tentang perkembangan sosialisme di Indonesia sejak berdirinya PSI (Partai Sosialis Indonesia). Sosialisme Kerakyatan yang menjadi landasan yang paling baik bagi Sjahrir untuk bangsa Indonesia supaya dapat mensejahterakan rakyat secara merata. Sjahrir juga menjelaskan bagaimana perkembangan sosialisme yang ada di Eropa serta sosialisme yang ingin ia perjuangkan di Indonesia. Dalam buku ini tidak kelihatan bagaimana kiprah perjuangan Sutan Sjahrir dan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia supaya dapat terbebas dari penjajahan.

  Buku yang ditulis oleh H. Rosihan Anwar (ed) yang berjudul Mengenang

  

Sjahrir , yang berisikan kumpulan tulisan atau ungkapan-ungkapan orang-orang

  yang mengenal Sjahrir secara dekat. Mereka menuliskan pendapat mereka mengenai Sjahrir dari semasa Sjahrir kecil sampai ketika Sjahrir dipenjarakan.

  Sjahrir, tema sentral dari kumpulan karangan buku ini adalah seorang tokoh nasional yang telah memberi arah dan isi kepada arus revolusi Indonesia dalam suatu sejarah yang penuh emosi dan juga kekacauan. Sepanjang hidupnya penuh dengan perjuangan dan juga tantangan. Dia menjadi korban oleh orang yang bersikap acuh tak acuh terhadapnya dan yang membencinya, sekaligus menjadi pujaan banyak orang yang mengagumi dan mencintainya. Meskipun demikian di dalam buku ini Rosihan Anwar tidak menulis tentang dampak dari perjuangan Sjahrir dalam menerapkan sosialisme kerakyatannya dan dibuku ini juga hanya menyorot sedikit mengenai sosilisme kerayatan Sutan Sjahrir.

  Buku yang ditulis oleh Rudolf Mrázek yang berjudul Sjahrir ; Politik dan

  

Pengasingan di Indonesia , yang menceritakan biografi Sjahrir. Sjahrir pada

  umumnya dihadirkan dengan segala sesuatu yang terlepas dari semua hal yang berbau tradisional, primordial, atau parokial. Sjahrir hampir tidak pernah menyebutkan kata ‘Minangkabau’, tempat dimana ia berasal. Sjahrir dibesarkan di dalam tradisi Minang, lembaga sekolah Politik Etis kolonial, sosialisasi bersifat mondial (berkaitan dengan seluruh dunia) dengan kaum sosialis semasa ia belajar di Belanda, setidaknya menentukan ”structure of experince”. Sosok Sjahrir sangat dibutuhkan ketika gejolak Revolusi Nasional 1945-1949, hingga Sjahrir ditunjuk sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Rudolf Mrázek menampilkan secara utuh biografi mengenai Sutan Sjahrir, salah seorang dari the Founding Fathers Republik Indonesia. Di dalam buku yang ditulis oleh Rudolf Mrázek ini tidak begitu tampak awal mulanya pemikiran Sutan Sjahrir yang begitu gigih ingin memperjuangkan sosialisme kerakyatan yang ia anggap paling cocok untuk menjadi landasan bangsa Indonesia. Buku ini cukuplah kongkrit dalam membahas tentang Sjahrir tetapi buku ini tidak membahas sosialisme secara detail.

  Buku yang berjudul Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan ;

  

Peranan Kelompok Sjahrir yang ditulis oleh J.D. Legge, yang menceritakan bagaimana gigihnya perjuangan kelompok Sjahrir atau anak didik Sjahrir untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia. Buku ini memaparkan isu-isu sentral yang digeluti Sjahrir beserta orang-orang yang mendukungnya pada jamannya seperti

  14

  tentang demokrasi dan juga hak-hak asasi manusia, otoritarianisme dan fasisme, sosialisme demokratis dan komunisme, tradisionalisme dan modernisme, juga

  15

  tentang anarkisme dan feodalisme. Dalam buku ini J.D. Legge hanya menuliskan seputaran tentang perjuangan Sjahrir dan kelompoknya dalam keinginan mereka untuk mencapai kemerdekaan tetapi di dalam buku ini tidak tercantum pemikiran sosialisme yang seperti apa yang ingin Sjahrir terapkan di Indonesia serta dampak dari perjuangan Sjahrir dalam keinginannya untuk mewujudkan sosialisme kerakyatan.

  Sudah banyak ulasan dan karya mendalam tentang tokoh Sutan Sjahrir atributnya beragam, mulai dari kontroversial, jauh dari ingar-bingar di atas panggung, dipuja pengagum, hingga dihujat lawan-lawan politiknya. Buku-buku yang telah dicantumkan diatas menjelaskan secara lengkap tentang Sutan Sjahrir.

  Tetapi buku-buku tersebut belum mengungkapkan apa saja yang ingin diperjuangkan oleh Sutan Sjahrir selain Sosialisme Kerakyatan. Dalam memperingati 100 tahun Sutan Sjahrir tanggal 5 Maret 2009, Des Alwi yang merupakan anak angkat Sutan Sjahrir menjelaskan bahwa Sutan Sjahrir memiliki

  14 Otoritarianisme adalah pandangan yang mendukung ketaatan buta

  terhadap otoritas atau kekuasaan atas dasar keyakinan bahwa sumber yang otoriterlah yang sanggup menjamin dan mensahkan ilmu pengetahuan: dianggap menghambat kemajuan karena tidak menyediakan alat konseptual untuk menguji kesalahan atau kebenarannya. Save M. Dagun. op. cit. hal 759.

  15 Anarkisme adalah faham yang menentang setiap kekuatan negara; teori keinginan yang sangat mulia sebelum dia meninggal. Dia ingin mendirikan rumah sakit gratis, mendirikan rumah untuk orang-orang yang tidak mampu serta menginginkan pembayaran pajak dibayar sesuai dengan pendapatan masing- masing masyarakat. Sjahrir berusaha mencari jalan keluar supaya dapat membangun kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Sosok Sjahrir sebagai pemikir sekaligus politisi merupakan inspirator bagi bangsa Indonesia. Kematangannya dalam hidup nasional di bidang politik, ekonomi, budaya dan menghidupi ketegangan eksistensial tidak sebagai problem, tetapi sebagai jalan hidup berbangsa dan bernegara, dan hal inilah yang merupakan warisan terbesar dari Sjahrir.

1.7. Metode Penelitian

  Dalam penulisan skripsi ini metode yang dipergunakan adalah metode sejarah. Menurut Louis Gottschalk, ada 5 tahap yang harus dipergunakan untuk dapat merekonstruksi (menyusun kembali) suatu sejarah, yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi (pernyataan), interprestasi (pandangan atau

  16

  pendapat) dan penulisan. Kelima tahap tersebut dipergunakan dalam penulisan skripsi ini, antara lain ;

a. Pemilihan topik

  Tahap awal yang dilakukan pada penulisan skripsi ini adalah pemilihan topik. Pemilihan topik dilakukan karena ketertarikan penulis terhadap riwayat

16 Louis Gottschalk. 1975. Mengerti Sejarah, Yayasan Penerbit

  Universitas Indonesia. hal 34. Lihat juga Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu hidup Sutan Sjahrir, sosialisme kerakyatan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

  b. Pengumpulan Sumber

  Pengumpulan sumber dilakukan supaya skripsi ini memperoleh data-data yang akurat (teliti). Pengumpulan sumber diperoleh dengan cara meminjam buku- buku di perpustakaan Universitas Sanata Dharma, meminjam buku dari teman- teman serta mendapat sumber-sumber dari mengikuti seminar yang membahas sedikit mengenai topik. Sumber-sumber yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sumber primer dan sekunder. Sumber primer merupakan sumber tertulis berupa buku-buku yang memang ditulis oleh Sutan Sjahrir. Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku yang menulis tentang Sutan Sjahrir yang ditulis oleh para penulis dari Indonesia maupun dari negara lain.

  c. Verifikasi

  Setelah mengetahui secara persis topik yang akan ditulis serta sudah terkumpulnya sumber, tahap selanjutnya adalah verifikasi, atau kritik sumber, atau keabsahan sumber. Verifikasi atau kritik sumber dilakukan supaya penulis dapat mengetahui isi sumber dapat dipercaya atau tidak.

  d. Interpretasi

  Interpretasi yaitu menafsirkan fakta-fakta sejarah yang telah terkumpul dan diuji kebenarannya. Kemudian fakta-fakta tersebut digabungkan menjadi satu supaya dapat diperolehnya rangkaian peristiwa sejarah yang bermakna.

  e. Penulisan

  Tahap selanjutnya adalah penulisan. Dalam penyajian penelitian ini

  17 memuat 3 bagian yaitu : 1). Pengantar, 2). Hasil penelitian, 3). Kesimpulan.

1.8. Sistematika Penulisan

  Penelitian mengenai topik ini dituangkan ke dalam tulisan dengan mengunakan sistematika sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan yang memuat latar belakang penelitian dan juga

  permasalahan-permasalahan yang membuat ditulisnya topik skripsi mengenai Sutan Sjahrir.

  Bab II berjudul ”Riwayat Hidup Sutan Sjahrir dan Sosio-Historis Sosialisme Kerakyatan”. Bab ini membahas serta menguraikan riwayat hidup Sjahrir terutama mengenai proses terbentuknya sosialisme kerakyatan Sutan Sjahrir, pendidikan yang Sjahrir peroleh, serta organisasi yang Sjahrir dirikan. Bab III berjudul ”Sjahrir dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia”. Dalam bab ini akan membahas bagaimana gigihnya perjuangan Sjahrir supaya

  bangsa Indonesia dapat merdeka serta diakui oleh bangsa-bangsa lain. Dan jabatan-jabatan apa saja yang diduduki Sjahrir.

  Bab IV berjudul ”Dampak Serta Pengaruh Sutan Sjahrir Pasca Kemerdekaan Indonesia”. Dalam bab ini akan di jelaskan dampak pola pikir Sjahrir pasca kemerdekaan Indonesia. Bab V berisi Kesimpulan. Dalam bab ini berisi mengenai kesimpulan- kesimpulan akhir.

BAB II RIWAYAT HIDUP SUTAN SJAHRIR DAN SOSIO-HISTORIS SOSIALISME KERAKYATAN

2.1. Riwayat Hidup Sutan Sjahrir

  Nama Sutan Sjahrir tidak terlalu banyak dibicarakan dibuku sejarah Indonesia. Padahal Sjahrir memiliki peran yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di bidang diplomasi dan politik. Pada usia yang ke-25, dia sudah berhasil memberi warna dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di usia 36 tahun, dia telah menjadi Perdana Menteri. Pemikiran dan pengaruhnya sangat besar, khususnya dalam merekrut dan menempatkan kader- kader muda Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada berbagai posisi penting dan strategis.

  Sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sjahrir sudah menjadi salah satu intelektual muda di masa itu karena latar belakang pendidikannya yang cukup baik (sekolah-sekolah Belanda). Di samping itu dia adalah seorang murid yang sangat cerdas. Pada usia 19 tahun, dia ikut ambil bagian dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Seperti banyak pemimpin pergerakan lainnya, Sjahrir merupakan didikan dari Politik Etis yang dipromosikan oleh Van Deventer ; pendidikan yang lebih luas bagi bumi putera.

  Lahir di Padangpanjang, Sumatera Barat, pada tanggal 5 Maret 1909, Sjahrir dibesarkan di Medan, kota yang memperkenalkannya pada kemelaratan kaum koeli, sebuah bukti eksploitasi kolonialisme. Sjahrir mengenyam pendidikan sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, tempat dimana dia pertama kali mulai membaca buku-buku Karl May, Don Quixote dan Baron von Munchhausen. Ratusan buku dan novel kanak-kanak Belanda telah dibacanya ketika ia masih remaja. Dan pada malam hari, dia bermain biola di Hotel de Boer, hotel khusus untuk orang-orang kulit putih.

  Menyelesaikan sekolah di MULO pada tahun 1926, kemudian Sjahrir masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda pada waktu itu. Sjahrir bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia di Bandung (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan sesekali menjadi aktor. Perolehan dari pementasan dipakai untuk membiayai sekolah yang didirikannya bersama anggota-anggota Batovis yaitu Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat).

  Sjahrir bercita-cita mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia yang merupakan jembatan untuk mencapai tujuan sebuah negara yang menjunjung kerakyatan, kemanusiaan, kebebasan dari kemelaratan, menghindari tekanan dan penghisapan, menegakkan keadilan, membebaskan bangsa dari genggaman feodalisme dan menuju pendewasaan bangsa. Pandangan-pandangan Sjahrir terlalu jauh ke depan, sehingga membinggungkan orang yang pada waktu itu sedang haus akan hasil politik praktis. Pidatonya terdengar abstrak, tidak mengebu-gebu, dan kekurangan api. Politik berundingnya mendapat perlawanan keras. Terutama dari golongan Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka.

  Bagi Sutan Sjahrir, memiliki harta benda atau materi bukan yang utama sebab bangsa Indonesia sebagian besar masih hidup dalam kemiskinan. Sutan Sjahrir adalah pejuang yang rasional. Dia tahu sangat sulit mengimbangi kekuatan militer kolonial oleh karena itu upaya lain adalah melalui perundingan. Sjahrir jelas perkasa dalam diplomasi. Salah satunya dia perlihatkan dengan langkah mengunjungi New Delhi dan Kairo sebelum mengikuti sidang Dewan Keamanan PBB di New York. Hal tersebut dia lakukan untuk melobi dukungan India dan Mesir.

  Pokok kekhawatiran Sjahrir akan negara Indonesia adalah bahaya totaliterisme dan militerisme. Sjahrir kuatir, kalau Sukarno tidak dibantu maka ia akan dirangkul oleh kelompok komunis sehingga dapat menjurus ke arah totaliterisme atau dirangkul oleh kelompok militer yang bisa menjurus kepada militerisme. Karena itulah Sjahrir memandang bahwa militer di Indonesia tidak selayaknya dijauhi, melainkan dibantu. Begitu juga sikapnya pada Sukarno, dia melarang untuk menjauhi Sukarno. Sangat disayangkan hubungan pribadi yang buruk antara kedua tokoh ini tidaklah memungkinkan Sukarno untuk menerima apalagi mempercayai visi-visi, kritik serta oposisi Sjahrir.

2.2. Perkenalan Sjahrir dengan Sosialisme 2.2.1. Jong Indonesie

  Sewaktu Sjahrir tiba di Bandung pada tahun 1926, buletin Algemene

  

Indische Dagblad (AID), memberitakan kedatangan seorang gubernur jenderal

  baru di Hindia, yaitu A. C. D de Graeff yang kabarnya teman dekat dari banyak penganjur Politik Etis. Laporan-laporan yang mencemaskan tentang percobaan pemberontakan Komunis yang berpusat di Batavia, Jawa Barat, dan di tanah kelahiran Sjahrir, Minangkabau, dimuat dalam buletin itu tidak lama kemudian, di

  18 penghujung tahun 1926 dan di awal tahun 1927.

  Teman-teman Sjahrir menyatakan bahwa pada tanggal 20 Februari 1927, Sjahrir termasuk orang yang membentuk himpunan kaum nasionalis Jong Indonesie. Tidak ditemukan catatan sezaman tentang keikutsertaannya. Meskipun demikian dia disebutkan dalam laporan polisi sebagai pimpinan salah satu rapat perhimpuan tersebut. Pada bulan Agustus 1928, Sutan Sjahrir, sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi dari majalah himpunan tersebut.

  Di penghujung tahun 1928, Jong Indonesie telah menyebar di luar wilayah Bandung. Perhimpunan tersebut sudah punya cabang di Batavia, Yogyakarta, dan Surabaya. Poetri Indonesia merupakan nama bagian pemudinya, yang merupakan cabang himpunan yang terdapat di Bandung, Batavia, dan Surabaya. Ada tiga majalah yang diterbitkan oleh himpunan tersebut, yaitu ; Jong Indonesie di Bandung, Kabar Kita di Surabaya dan Soeara Kita di Yogyakarta.

  Semangat serta gaya AMS telah masuk ke dalam Jong Indonesie. Kegiatan khusus Jong Indonesie, yaitu menyelengarakan sekolah sendiri. Nama sekolah tersebut adalah Tjahja Volksuniversiteit. Jong Indonesie mendirikan cabang- cabang Tjahja Volksuniversiteit di Batavia dan Yogyakarta, tetapi pendidikannya

18 Rudolf Mrázek. 1996. Sjahrir; Politik dan Pengasingan di Indonesia,

  yang ada di Bandung dianggap yang paling maju dan mempunyai ciri khas tersendiri.

  Soebagio Mangoenrahardjo, teman dekat Sjahrir pada waktu itu, dia adalah pendiri dan juga direktur Tjahja Volksuniversiteit yang ada di Bandung.

  Menurut Soebagio Mangoenrahardjo, Sjahrir merupakan tokoh utama di antara mereka. Menurut laporan dari Bandung pada tahun 1928 ; ”Universitas ini dirancang bukan hanya untuk mengajar membaca dan menulis, melainkan juga untuk memberi pengajaran dalam bahasa-bahasa asing, ekonomi, matematika, fisika, serta mata pelajaran lainnya. Kuliah- kuliah diberikan kepada orang Indonesia dari semua usia, lelaki maupun perempuan, di mana siswa dan mahasiswa tak dikenai biaya … Enam ratus orang terdaftar sebagai murid. Di antara yang terdaftar ada kuli, petani, dan pekerja, juga beberapa puluh wanita dan orang tua di atas empat puluh tahun”.

19 Ada laporan-laporan lain yang menyatakan bahwa Tjahja Volksuniversiteit

  mengajarkan bahasa Belanda, Indonesia, Inggris, Jerman, dan Prancis di samping pelajaran hukum, antropologi, sosiologi, stenografi dan sejarah.

  Tujuan Jong Indonesie adalah untuk mendorong gagasan kesatuan nasional Indonesia melalui gerakan pramuka, olahraga, jurnal, selebaran dan pertemuan atau rapat-rapat. Salah satu dari pemimpinnya menyatakan bahwa ”Jong Indonesie bukan didasarkan pada politik melainkan mempelajari politik sebagai suatu kajian ilmiah”. Sebagian besar bermuara pada debat politis, dan keputusan politis telah dihasilkan dalam klub debat Patriae Scientiaeque.

  20

19 Ibid. hal 68.

  Tjahja Volksuniversiteit dan juga Jong Indonesie, mendapatkan dukungan dari berbagai sumber, tetapi sebagian besar dukungan diperoleh dari sumbangan dari hasil pertunjukan-pertunjukan sandiwara Batovis. Masalah politik yang paling sering dibicarakan dalam AMS, Patriae Scientiaeque, dan Jong Indonesie ialah ”anti feodalisme”. Bagi kalangan ini, politik adalah masalah pertumbuhan dan pematangan, masalah transisi dan penerjemahan.

  Pada bulan Desember 1928, Kongres Pemuda se-Hindia Kedua berlangsung di Batavia. Sejumlah Jong Indonesie dari Bandung pergi ke Batavia, dan beberapa laporan menyatakan bahwa Sjahrir termasuk di antara yang hadir. Para pemuda di Kongres itu mengucapkan sumpah ”Satu Nusa”, ”Satu Bangsa”, dan ”Satu Bahasa”. ”Indonesia Raya” yang kemudian menjadi lagu kebangsaan

  21 Indonesia, dinyanyikan untuk pertama kalinya dalam kongres tersebut.

2.2.2. Sjahrir di Negara Belanda pada tahun 1929-1931

  Sjahrir menyelesaikan studinya di AMS Bandung pada tahun 1929. Ia mempunyai saudara perempuan yang menikah dengan Dr. Djoehana Wiriadikarta, yang memperoleh beasiswa untuk melanjutkan diploma bumiputeranya di Belanda. Sjahrir mengikuti keluarga kakaknya tersebut. Ia melanjutkan studinya di Universitas Amsterdam, di fakultas Hukum. Di Amsterdam, garis pemisah antara warga negeri penjajahan dan penduduk wilayah jajahannya tak terlihat

  22 sama sekali.

21 Ibid. hal 73.

  Seperti orang lain yang segenerasi dengannya, Sjahrir merasa tergairahkan, terangsang, dan bahkan terserap sepenuhnya oleh lingkungan Universitas di Belanda. Ia mengadakan kontak dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya, termasuk sejumlah mahasiswa dari Minangkabau, tetapi hal tersebut tidak membatasi pergaulannya hanya dengan mereka saja. Sebagai orang yang suka berkumpul, kesempatan bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa Belanda berdasarkan persamaan derajat dan menjalin persahabatan berdasarkan simpati atau persamaan wawasan tanpa dikekang oleh rintangan-rintangan ras, merupakan suatu pengalaman baru bagi Sjahrir. Dengan bersemangat ia memasuki kehidupan kegiatan politik mahasiswa.

  Hanya beberapa hari setelah tiba di Amsterdam, Sjahrir menulis surat kepada ketua himpunan mahasiswa Sociaal Democratishe Studenten Club (Klub Mahasiswa Demokrat Sosial) di kota itu untuk menanyakan keterangan tentang gerakan pemuda tersebut. Tidak lama setelah Sjahrir tiba di Belanda, ayahnya meninggal, sehingga kemudian pendukung dana utamanya pun tidak ada. Dr. Djoehana menyelesaikan studinya dan kemudian mereka sekeluarga kembali ke Hindia. Tetapi Sjahrir masih menyelesaikan studinya. Setelah keluarga Dr.

  Djoehana kembali ke Hindia, Sjahrir kemudian pindah ke rumah Sal Tas ketua himpunan mahasiswa Sociaal Democratishe Studenten Club.

  Klub Mahasiswa Demokrat Sosial menerbitkan sebuah jurnal yaitu De

  

Socialist, dan penggambaran Sal Tas mengenai pandangan-pandangannya sering

  tercermin pada isi jurnal tersebut. Sjahrir, menurut Sal Tas adalah salah satu dari mereka yang bekerja keras bukan hanya untuk bicara tentang sosialisme, melainkan benar-benar mempelajarinya. Buku-buku yang sering dibaca oleh Sjahrir pada waktu itu adalah Hilferding, Rosa Luxemburg, Karl Kautsky, Otto Bauer, Hendrik De Man, Marx dan Engels. Untuk lebih mengetahui tentang sosialisme, Sjahrir bekerja pada Serikat Federasi Buruh Angkutan Internasional (International Transport Worker’s Federation, ITWF). Di dalam ITWF tidak ada pekerjaan harian yang rutin. Federasi tersebut terperangkap dalam cita-cita politik dan juga abtrak (tidak berwujud). Sjahrir mendapat uang saku dari hasil kerjanya, ia juga bisa mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan kaum buruh. Namun

  23 Sjahrir tidak lama bekerja dengan kelompok tersebut.

  Ketika Sjahrir di Belanda, Hatta telah berada di sana selama delapan tahun dan masih belajar di Sekolah Bisnis di Rotterdam. Saat itu Hatta sudah terkenal di dalam dunia politik Belanda. Ia adalah ketua Perhimpunan Indonesia, suatu

  24

  organisasi mahasiswa patriotik dari Hindia yang berpusat di Negeri Belanda. Di tahun 1929, Hatta semakin gelisah untuk secepatnya menyelesaikan studinya dan kembali ke Hindia. ”Pada waktu itu, ” kenang Hatta ;

  ”Saya telah menjelaskan bahwa saya akan berhenti sebagai ketua (Perhimpunan Indonesia)... dan saya telah mendidik kader-kader baru untuk menggantikan saya, seperti Abdullah Sukur, seorang mahasiswa hukum yang telah lulus dalam ujian pertama...dia berasal dari Ambon, Rusbandi, seorang mahasiswa hukum di Universitas Leiden, dan Sutan

25 Sjahrir”.

  Di bawah bimbingan Hatta, Sjahrir memasuki Perhimpunan Indonesia. Pada tahun 1929, Hatta melepaskan jabatannya dan Abdullah Sukur dipilih

  23 Ibid. hal 100-104.

  24 Ibid. hal 109. sebagai pengantinya. Pada pertemuan yang diadakan oleh Perhimpunan Indonesia tanggal 4 Februari 1930, nama Sjahrir sudah tercantum dalam laporan polisi sebagai pembicara utama dalam pertemuan itu. Dua minggu kemudian, dia dipilih menjadi sekretaris Perhimpunan Indonesia. Pada bulan Mei 1930, Sjahrir sudah menjadi orang kedua setelah ketua.

  Mungkin tidak ada orang Indonesia yang begitu berbeda wataknya dibandingkan antara Hatta dan Sjahrir. Sebagaimana di Bandung, Sjahrir dikenal karena kecepatannya menceburkan diri ke dalam ilmu pengetahuan sedangkan Hatta tekun belajar. Akan tetapi terlepas dari kenyataan bahwa mereka berdua adalah pejuang kemerdekaan. Ada kesamaan alamiah yang kuat di antara mereka, saling pengertian yang tumbuh berkat pengalaman dari Pendidikan Etis yang sama di Hindia dan melangkah lebih maju dalam sistem pendidikan kolonial di Negeri Belanda sendiri.

2.3. Sosialisme Kerakyatan di Indonesia

  Dalam bukunya yang berjudul Sosialisme Indonesia Pembangunan, Sjahrir menyatakan; menurut teori yang ortodoks tujuan sosialisme dan juga komunisme adalah bahwa segala alat produksi di ubah menjadi milik bersama.

  Oleh karena itu sistem ekonomi kapitalis yang berdasarkan atas milik perseorangan itu berubah menjadi sistem ekonomi yang sosialis, dengan kata lain yang berdasarkan atas pemilikan bersama terhadap alat produksi. Sistem ekonomi yang berdasarkan atas milik perseorangan adalah sama artinya dengan eksploitasi tenaga kaum buruh yang memungkinkan kekayaan si pemilik alat produksi bertambah besar dan berpusat pada jumlah orang yang sedikit.

  Sosialisme adalah suatu pemikiran, suatu aliran internasional yang disandarkan pada teori hendak memerdekakan kaum buruh yang dipengaruhi oleh sistem kapitalisme. Bermacam-macam teori tentang sosialis telah muncul di dunia, begitu banyak pula aliran pergerakan yang berdasarkan pada sosialisme.

  Namun semuanya mengandung maksud hendak mengubah masyarakat dan sistem

  26

  kapitalisme dengan masyarakat yang hidup dalam rumah sosialistis , di mana semua alat produksi berada di tangan masyarakat umum, tidak lagi hanya dikuasai segolongan kecil kaum borjuis yang mempengaruhi kaum proletar.

  Kaum sosialis umumnya berpendapat bahwa sesudah lenyapnya segala hak milik pribadi, dan berpindahnya alat-alat produksi ke tangan masyarakat umum, maka suatu masyarakat bisa berjalan sempurna dan berkembang dengan sebaik-baiknya. Maka kemakmuran dan kemajuan pun bisa terwujud. Tidak ada lagi kaum buruh dan kaum kapitalis, kaum yang terpengaruh dan kaum yang mempengaruhi. Dalam masyarakat yang dikehendaki oleh kaum sosialis, alat-alat produksi dimiliki bersama, pembagian dari penghasilan pun didistribusikan (disalurkan) secara adil. Dengan demikian tidak ada nafsu untuk mendapatkan

  27 keuntungan seperti yang ada dalam sistem kapitalis.

  26 Sosialistis adalah bersifat atau sesuai dengan sosialisme: bersifat memihak kepada kepentingan masyarakat.

  27 Sutan Sjahrir. 2000. Pikiran dan Perjuangan, Yogyakarta: Jendela. hal

  Persaingan serta produksi yang tidak teratur di dalam masyarakat kapitalis menimbulkan krisis serta tidak adanya keseimbangan antara penghasilan dan kemampuan membeli pada masyarakat. Sehingga pada akhirnya terjadi suatu krisis, di mana sistem kapitalis tidak dapat bertahan dan manusia melanjutkan

  28

  kehidupannya dengan sistem ekonomi yang lain. Sistem ekonomi tersebut adalah sistem ekonomi yang berdasarkan atas milik bersama atau sistem ekonomi sosialis di mana segala penghasilan diatur menurut keperluan masyarakat serta tidak mungkin lagi terjadi krisis karena persaingan. Di dalam sistem sosialis tidak ada kemungkinan eksploitasi oleh seorang terhadap yang lain. Segala penghasilan dapat dirujukan sepenuhnya untuk memenuhi keperluan masyarakat, sehingga tidak akan terjadi pemborosan tenaga maupun hambatan bagi kemajuan dan perkembangan teknik produksi.

  Menurut pendapat Sjahrir ada beberapa hal yang membedakan sosialisme Barat dan Komunis, bukan hanya pengertian mereka tentang perkembangan masyarakat, dan juga bukan perbedaan tentang penghargaan kewajiban serta usaha pergerakan buruh di dalamnya, melainkan juga perbedaan pengertian serta penghargaan fungsi suatu negara. Para Komunis memandang negara semata-mata sebagai alat kekuasaan golongan yang berkuasa yaitu kekuasaan kelas borjuis. Bagi mereka tiap negara itu sebenarnya adalah suatu diktatur. Diktatur itulah yang harus dicapai oleh kaum proletar untuk menghancurkan kekuasaan borjuis.

  Para Sosialis Barat pada umumnya tidak memandang arti serta fungsi negara seperti para Komunis. Para Sosialis berpendapat bahwa negara bukanlah

28 Sutan Sjahrir. 1982. Sosialisme Indonesia Pembangunan, Jakarta:

  suatu barang yang tetap dengan arti dan fungsi tertentu. Mereka menghargai negara bersangkutan dengan perkembangan masyarakatnya serta perbandingan kekuatan-kekuatan masyarakat yang selalu berkembang dan juga berubah. Oleh karena itu mereka memandang bahwa corak serta fungsi negara tergantung pada perkembangan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat serta

  29 menjernihkan perbandingannya.

  Sosialisme di Indonesia bagi Sjahrir didasarkan pada kerakyatan, dalam arti kepercayaan rakyat dan bangsa pada umumnya. Sosialisme yang berdasarkan kerakyatan adalah satu-satunya jalan untuk suatu negara yang tidak perlu lagi memikirkan soal kekuasaan atau pemerintahan yang harus direbut dengan cara pemberontakan atau untuk suatu masyarakat yang tidak mengenal perbedaan golongan yang menghisap dan menindas dengan golongan yang dihisap dan ditindas oleh bangsa sendiri. Sosialisme yang ia maksudkan bersifat kemanusiaan umum bukan hanya ditujukan untuk satu golongan, golongan proletar atau buruh tetapi untuk semua golongan.

  Pada tahun 1926 terjadi pemberontakan kaum komunis di Hindia. Peristiwa tersebut menggugah Sjahrir untuk mempelajari apa yang menyebabkan pemberontakan itu terjadi, dan mengapa tidak mendapat dukungan rakyat. Dari pengalaman Sjahrir dalam melihat kehidupan rakyat di desa-desa Jawa Barat, terutama di sekitar kota Bandung, Garut, dan Sumedang, Sjahrir menyimpulkan, bahwa taraf pendidikan dan kesadaran rakyat Indonesia masih rendah, sebagian besar masih buta huruf. Mereka belum dapat menerima, bahkan tidak memahami suatu gerakan revolusi. Mereka belum sadar akan hak-haknya sebagai manusia merdeka. Mereka tidak memiliki kebebasan, karena mereka juga tidak mengerti arti kebebasan dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka sudah terbiasa hidup sebagai orang yang diperintah, baik oleh penguasa asing maupun oleh penguasa bangsa sendiri. Untuk mengubah pandangan rakyat yang demikian, maka perlu digalakkan kesempatan bagi mereka untuk menerima pelajaran baca-tulis. Agar mereka dapat mengikuti dunia modern oleh karena itu Sjahrir menganggap bahwa bidang pendidikan sebagai bagian terpenting dalam kehidupan bangsa. Para pemuda yang telah memperoleh pendidikan, harus membagi pengetahuannya dengan rakyat desa. Hanya dengan memajukan pendidikan umum, rakyat Indonesia akan menyadari hak-haknya sebagai bangsa. Pikiran seperti itu muncul ketika Sjahrir masih menjadi pelajar AMS di Bandung.

  Walaupun Sjahrir cenderung berpihak kepada kaum pekerja atau kelas buruh, ia bukanlah seorang komunis. Ia tidak menyukai sistem diktator proletariat ala komunis dalam mencapai cita-cita kemerdekaan dan menuju jenjang kekuasaan. Sjahrir juga bukan penganut aliran sosialis liberal yang dianut oleh kebanyakan kaum sosialis Eropa Barat. Ide politiknya telah terbentuk berdasarkan cita-cita kerakyatan Indonesia, yang mendambakan kemerdekaan dan kebebasan.

  Yang melihat potensi rakyat dengan modal dasar dalam perjuangan membebaskan

  30 diri dari belenggu penjajahan.

  Sjahrir mempunyai teori nilai tambah, kemerdekaan politik harus menyediakan kebebasan bagi kehidupan warga negara secara utuh dan terpadu. Menurut Sjahrir, suatu bangsa dapat merdeka dari penjajahan asing, tapi kemudian ditindas oleh pemerintahan sendiri dan hal tersebut tidak boleh terjadi.

  Kemerdekaan harus mengandung arti kebebasan bagi setiap warga negara dalam menikmati hak-haknya, di samping kewajiban-kewajiban politik atau sosialnya.

  Rakyat harus menyadari kedudukannya sebagai warga negara, terutama hak-hak demokrasinya. Demokrasi kerakyatan merupakan jawaban yang dicari Sjahrir.

  Sebab dengan kerakyatan akan lebih mudah bagi masyarakat untuk berpikir

  31 tentang arti kerakyatan.

BAB III SUTAN SJAHRIR DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA

3.1. Peran Sjahrir Sebelum Kemerdekaan

3.1.1. Pendidikan Nasional Indonesia

  Pada tanggal 29 Desember 1929 pemerintah kolonial Belanda menangkap Sukarno dan tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan pihak Belanda menganggap bahwa Sukarno dan anggota partainya melakukan kegiatan revolusioner untuk melawan pihak Belanda. Bagi Hatta dan Sjahrir, penangkapan tersebut menyurutkan semangat kaum pergerakan dan kejadian tersebut merupakan suatu sinyal bahwa keadaan di Tanah Air sedang menghadapi masalah serius. Terlebih setelah mendengar PNI justru dibubarkan oleh aktivisnya sendiri, yang kemudian membentuk Partai Indonesia (Partindo). Gerakan nasionalisme kultural Partindo dinilai terlalu lemah dan mengecewakan kaum

  32 nasionalis, mereka berharap ada tokoh yang lebih berani.

  Sejak terjadinya penggerebekan pada tanggal 29 Desember 1929 di Hindia Belanda sampai kongres PNI di Yogyakarta pada 14 Februari 1931, para anggota yang kecewa dengan dibubarkannya PNI, tetap berhubungan dan membicarakan tindakan selanjutnya. Di Bandung, Batavia, dan Surabaya mereka membentuk

  

studieclub masing-masing. Untuk membedakan dari Partindo, mereka menyebut

  diri mereka sebagai Golongan Merdeka. Sejak bulan Juni 1931 Hatta dan Sjahrir mulai menunjukkan dukungan bagi Golongan Merdeka.

  Dorongan serta saran dari Hatta dan Sjahrir mulai menujukkan hasil menjelang pertengahan Agustus 1931. Seperti diberitakan oleh Warna Warta, pada tanggal 12 Agustus 1931, Golongan Medeka sudah membentuk suatu panitia pusat untuk merancang penerbitan Daulat Ra’jat. Panitia pusat berkedudukan di Batavia, dengan sub-panitia di Bandung, Malang, Surabaya, dan Pelembang. Karena sering mengadakan pertemuan, mereka sepakat bahwa wadah yang terbaik

  33 bagi mereka bukan partai, bukan pula perhimpunan, melainkan pendidikan.

  Pada bulan September tahun 1931, Golongan Merdeka bersepakat menyebut diri mereka Club-club Pendidikan Indonesia, dan pada tanggal 20 September 1931 mereka menerbitkan nomor perkenalan Daulat Ra’jat yang akan terbit setiap 10 hari sekali. Isinya antara lain mengenai keterangan asas kerja mereka, yakni kebangsaan dan kerakyatan.

  Pada akhir bulan September atau awal Oktober 1931, club-club tersebut membentuk Komite Golongan Merdeka di Batavia. Komite tersebut mengadakan pertemuan Golongan Merdeka di Batavia pada tanggal 31 Oktober 1931. Acara pokoknya adalah membentuk suatu partai baru. Hasilnya, suatu konferensi untuk membentuk partai itu diadakan di Yogyakarta pada tanggal 25-27 Desember 1931. Hatta dan Sjahrir saat itu sudah menjadi tokoh di kalangan nasionalis. Tulisan- tulisan mereka dari Negeri Belanda tentang pentingnya pendidikan menuju kemerdekaan sangat berpengaruh terhadap kaum pergerakan. Karena terpengaruh tulisan tersebut, pada bulan Maret-April 1931 sekelompok mahasiswa dan pemuda membentuk klub studi di Bandung dan Jakarta.

  Dalam konferensi tersebut, yang dipimpin oleh Soekemi, timbul perdebatan mengenai nama partai baru itu. Ada yang mengusulkan Partai Indonesia Merdeka, ada pula yang mengusulkan Partai Daulat Ra’jat. Ketika perdebatan terjadi, masuk telegram dari Hatta yang pada waktu itu berada di Belanda, sedangkan Sutan Sjahrir sedang dalam perjalanan pulang untuk membantu. Isi telegram itu adalah lupakan untuk membentuk partai, tetapi pertahankan ciri khas Club Daulat Ra’jat. Pada akhirnya, konferensi memutuskan untuk membentuk suatu wadah bernama Pendidikan Nasional Indonesia, yang kemudian lebih dikenal dengan PNI-Baru atau PNI Pendidikan. Tugas utama partai tersebut untuk sementara adalah mendidik calon pemimpin pergerakan

  34 kebangsaan.

  Sjahrir tiba di Hindia Belanda pada tahun 1931. Kehadirannya kembali di tanah air menjadi suatu tahap baru dalam perkembangan politiknya. Dari pendidikannya di Belanda ia telah memperoleh kebiasaan untuk melakukan analisis yang tajam, menggunakan logika yang tidak sentimental, dan kesediaannya untuk melancarkan kritik yang tajam terhadap hal-hal yang

  35 dianggapnya tak berharga.

  Hatta dan Sjahrir memilih untuk tidak bekerjasama dengan Partindo, organisasi politik massa tersebut, namun sebaliknya dengan terang-terangan memilih bergabung dengan kelompok nasionalis Golongan Merdeka yang relatif kecil, dan punya kesadaran politik yang lebih tinggi, punya arti penting untuk

  34 Ibid. hal 349.

  35 J.D. Legge, 1993. Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan ; jangka panjang. Hatta dan Sjahrir yakin, bahwa partai massa semacam itu, dan pimpinannya yang karismatik dan sangat dipercaya, tidak cocok untuk melanjutkan pergerakan kebangsaan secara efektif. Mereka merasa, bahwa setiap saat orang-orang Belanda dapat menangkap pemimpin yang daya tariknya terhadap massa membahayakan kepentingan Belanda.

  Suatu pergerakan kebangsaan yang bergantung kepada beberapa orang penting yang sedang jaya suatu saat pasti akan menemui kegagalan, karena Belanda akan menyingkirkan para pemimpin semacam itu dari kancah politik. Hatta dan Sjahrir yakin bahwa pergerakan semacam itu hanya mempunyai kekuatan jika sejumlah rakyat Indonesia dididik agar matang dalam masalah- masalah politik, dan punya pengertian yang mendalam tentang prinsip-prinsip kebangsaan. Proses pendidikan itu mereka rencanakan sebagai pelaksanaan jangka panjang secara tidak spektakuler. Langkah pertama yang penting adalah membentuk kader-kader pemimpin formasi pertama dan kedua. Kader-kader itu selanjutnya dapat mendidik anggota yang lebih luas secara bergilir. Mereka yakin bahwa dalam jangka panjang, sekelompok kecil kader yang dapat diandalkan, akan mencapai kemerdekaan yang tidak dapat dicapai oleh pemimpin karismatik

  36 yang kariernya tidak lama walau punya dukungan massa.

  Sjahrir menggantikan Soekemi pada bulan Juni 1932 sebagai pemimpin PNI-Baru, kemudian menyerahkan pimpinan tersebut kepada Hatta sekembalinya Hatta ke Hindia Belanda pada bulan Agustus. Ia juga memegang pimpinan atas

  

Daulat Ra’jat . Menjelang kembalinya Hatta ke Indonesia, partai baru itu sudah

36 George Mc Turnan Kahin, 1995. Nasionalisme dan Revolusi di

  menjadi organisasi yang berfungsi, dengan sekitar selusin cabang, dan beberapa di antaranya terus berkembang dalam bulan-bulan berikutnya.

  Dimasukkannya kata ’Pendidikan’ ke dalam nama partai tersebut mempunyai maksud khusus dan juga serius. Sebagian kegiatan partai itu adalah menyelenggarakan pendidikan politik bagi para anggotanya, yang sebagian dilakukan melalui halaman-halaman Daulat Ra’jat dan tulisan-tulisan lain, termasuk risalah Kearah Indonesia Merdeka yang secara khusus ditulis oleh Hatta sebagai semacam manifesto pergerakan itu, sebagian melalui ceramah-ceramah untuk para anggota cabang dan yang lain, dan sebagian lagi melalui kursus-kursus

  37 yang diberikan kepada para anggotanya.

  Para anggota Pendidikan Nasional Indonesia, bukanlah kaum buruh dalam artian suatu kelas sosial walaupun sebagian terbesar dari mereka hanya berpendidikan menengah dan bukan berpendidikan tinggi. Namun, mereka menginginkan suatu pendidikan politik berwarna sosialis yang akan membawa mereka melampaui batas-batas gaya agitasi (hasutan kepada orang banyak) nasionalisme yang sempit. Dengan cara ini, PNI-Baru di bawah pimpinan Hatta dan Sjahrir, mengembangkan suatu pandangan dunia dan suatu cara yang khas dalam menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi pergerakan

  38 kebangsaan.

  Jalan Politik yang diambil Sutan Sjahrir, sesungguhnya dilatarbelakangi oleh jiwa patriotik dan pemikirannya yang menjunjung tinggi persamaan derajat

37 J.D. Legge, op. cit. hal 59.

  setiap manusia. Menurut Sutan Sjahrir nasionalisme harus berpijak pada demokrasi, karena nasionalisme bisa tergelincir pada fasisme jika bersekutu dengan feodalisme lokal. Nasionalisme juga bisa menjadi chauvinistik dalam hubungan internasional, jika tidak dilandasi pemikiran humanistik (kemanusiaan).

3.1.2. Pendudukan Jepang pada Tahun 1942

  Pada tanggal 9 Maret tahun 1942 Jepang telah menduduki seluruh pulau Jawa. Sebagian kecil orang Belanda bergabung dengan rakyat Indonesia dalam membangun gerakan perlawanan terhadap bangsa Jepang. Setelah bangsa Belanda kalah oleh Jerman, rakyat Indonesia merasa kegirangan karena menganggap

  39 Jepang sebagai penyelamat mereka dari penjajahan Belanda pada waktu itu.

  Pihak Jepang menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan aparat pemerintahan, padahal kepentingan mereka untuk menenangkan rakyat sangat mendesak kalau peperangan ingin terus berlangsung tanpa gangguan. Pada mulanya Jepang mencoba memanfaatkan elemen-elemen feodal dan agama guna memperoleh dukungan. Ketika usaha tersebut gagal, mereka berpaling kepada Hatta dan Sjahrir. Kedua pemimpin ini tidak mempercayai Jepang, mereka mengetahui bahwa Jepang akan berusaha untuk membentuk sebuah pemerintah Indonesia dengan kendali di tangan Jepang..

  Sjahrir dan Hatta berkesimpulan bahwa berperan serta dalam pemerintahan yang disponsori Jepang akan membantu mempersatukan kegiatan

39 P. R. S. Mani, 1989. Jejak Revolusi 1945 ; Sebuah Kesaksian Sejarah.

  kaum nasionalis dan kaum revolusioner yang berpencar guna mencapai kemerdekaan. Keduanya bersepakat untuk sementara waktu Hatta bekerja sama dengan pihak Jepang, sedangkan Sjahrir akan memimpin pengorganisasian gerakan revolusioner bawah tanah yang terkoordinasi.

  Karena itu, ketika pada akhir tahun 1943, Jepang mendekati Hatta untuk diminta kerja samanya, Hatta menyetujui dengan syarat ia diperbolehkan mengorganisasi pembangunan bangsa Indonesia. Keadaan mereka yang sulit dan kesadaran akan pentingnya pemimpin yang populer seperti Hatta membuat Jepang dengan mudahnya menerima syarat-syarat yang diajukan Hatta. Akan tetapi, mereka gagal ketika mengharapkan kerja sama Sjahrir dengan cara serupa. Sjahrir memberi alasan bahwa dirinya terlalu disibukkan oleh kegiatan ’pendidikannya’ untuk memikirkan hal-hal lain, alasan yang dikemukakan hanya untuk ’menutupi’ kegiatannya di bawah tanah.

  Pada bulan Juli tahun 1942, Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, mengadakan pertemuan rahasia di kediaman Hatta. Pada pertemuan itu Sukarno menyetujui rencana yang telah dipikirkan secara matang oleh Hatta dan Sjahrir. Akhirnya diputuskan bahwa Sukarno-Hatta akan menawarkan kerja sama mereka dengan pihak Jepang, melindungi roda pemerintahan dari campur tangan Angkatan Perang Jepang, dan menyediakan basis legal yang luas bagi perjuangan nasional sambil secara rahasia membantu gerakan perlawanan revolusioner pimpinan

  40 Sjahrir dengan memberikan informasi dan juga uang. Pada bulan Oktober 1944, menyusul pernyataan Perdana Menteri Koiso di Parlemen Jepang bahwa Indonesia akan segera diberi kemerdekaan, Sukarno- Hatta dan yang lain-lainnya diizinkan untuk secara terbuka menganjurkan kemerdekaan. Pada tanggal 1 Maret 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan yang berbasis luas di Jawa dibentuk. Setelah mengadakan sidang secara rutin pada bulan Mei, Juni, dan Juli, Panitia tersebut berhasil mencapai keputusan-keputusan

  41 mengenai soal-soal ekonomi dan konstitusi.

3.2. Peran Sjahrir Dalam Mencapai Kemerdekaan

3.2.1. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945

  Ketika Kekaisaran Jepang sudah mendekati keruntuhannya, pada tanggal 8 Agustus Sukarno dan Hatta dipanggil ke Saigon untuk bertemu dengan Pangeran Terauchi, Panglima Tertinggi Tentara Jepang Wilayah Selatan. Pesan yang disampaikan oleh Terauchi adalah bahwa penentuan waktu serah terima kemerdekaan sekarang berada di tangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Setelah membicarakan soal proklamasi kemerdekaan Indonesia, disitu diputuskan bahwa Panitia Persiapan Kemerdekaan harus bersidang pada tanggal 19 Agustus 1945 di Jakarta. Sebelum berangkat ke Saigon, Hatta dan Sjahrir telah sepakat bahwa saat yang menentukan bagi usaha revolusioner besar- besaran, yaitu secara terang-terangan menggabungkan berbagai kekuatan legal di bawah Sukarno-Hatta dan gerakan bawah tanah dalam usaha mendirikan negara Indonesia yang merdeka. Pada tanggal 14 Agustus rombongan kembali ke Jakarta tanpa mengetahui perihal telah dijatuhkannya bom atom yang pertama serta akan menyerahnya Jepang, dan langsung terlibat dalam perdebatan sengit tentang strategi yang akan ditempuh untuk memproklamasikan kemerdekaan. Pada

  42 mulanya, Sjahrir merupakan salah satu peserta utama dalam perdebatan itu.

  Ketika berita menyebar pada rakyat Indonesia bahwa pada tanggal 14 Agustus Jepang telah menyerah kepada Sekutu, diam-diam Hatta berunding dengan Sjahrir yang mendesak agar proklamasi kemerdekaan harus diadakan sesegera mungkin

  43 karena jika menunggu tanggal 19 Agustus mungkin akan terlambat.

  Sjahrir memberitahu Hatta yang baru kembali dari Saigon bahwa Jepang sudah menyatakan kesediaan untuk menyerah, dan berusaha keras meyakinkan Hatta mengenai pentingnya deklarasi kemerdekaan dilakukan segera oleh Sukarno sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat, sehingga dikemudian hari tidak akan timbul kesan seolah-olah Indonesia memperoleh kemerdekaannya sebagai hadiah dari Jepang. Hatta tidak dapat diyakinkan sepenuhnya, tetapi ia membawa Sjahrir ke rumah Sukarno untuk membicarakan soal itu lebih lanjut. Sukarno maupun Hatta khawatir bahwa langkah yang tergesa-gesa akan memancing tindak kekerasan dari pihak Jepang untuk menumpas republik yang mengumumkan kemerdekaannya secara sepihak. Menurut Hatta, Sukarno meragukan apakah Jepang benar-benar sudah menyerah, dan ingin memperoleh sekurang-kurangnya, suatu persetujuan tidak resmi dari pihak berwajib sebelum bertindak. Mereka berdua berpendapat bahwa pernyataan kemerdekaan harus dikeluarkan oleh

42 J.D. Legge, op. cit, hal. 171.

  Panitia Persiapan yang akan melangsungkan sidang peresmiannya pada tanggal 18 Agustus. Sjahrir berpendapat bahwa jika Jepang telah meminta damai maka negara itu, sebenarnya tidak lagi berada dalam posisi untuk menepati janjinya memberikan kemerdekaan, apakah itu melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau dengan cara lain. Ia juga mengisyaratkan bahwa sudah ada rencana bagi suatu pemberontakan rakyat dalam skala yang tidak akan dapat dikendalikan oleh pihak Jepang untuk mendukung proklamasi kemerdekaan itu. Pada akhir pembicaraan itu, Sukarno tetap pada keputusannya untuk menunggu sampai diselenggarakannya sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

  Di zaman Jepang pemuda dan mahasiswa di Jakarta berhimpun di tiga lokasi, yakni Asrama Prapatan 10 yang menjadi tempat tinggal mahasiswa kedokteran Ika Dai Gaku (Sekolah Tinggi Ilmu Kedokteran), Asrama Angkatan Baru Menteng 31 yang didirikan oleh Sendenbu (Badan Propaganda Jepang), Asrama Indonesia Merdeka di Jalan Bungur Besar yang didirikan oleh kalangan

  

Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Ada pusat-pusat kegiatan lain, seperti Asrama

  Mahasiswa USI (Unitas Studiosorum Indonesiesis) di Cikini 71, atau Komisi

  

Bahasa Indonesia dibawah pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana, bertempat di

44 Penerbit Balai Pustaka.

  Menyangkut kegiatan pemuda, tampuk (ujung) pimpinan terlepas dari tangan Sjahrir dan beralih ke tangan berbagai pemimpin pemuda lainnya, di antaranya adalah Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, Maruto Nitimihardjo,

44 H. Rosihan Anwar. 2010. Sutan Sjahrir : Demokrat Sejati, Pejuang

  Wikana dan wakil-wakil yang lain dari asrama mahasiswa kedokteran di Prapatan

  10. Di antara mereka terdapat beberapa pengikut Sjahrir. Sebagai hasil diskusi di antara kelompok-kelompok itu maka diputuskan bahwa pandangan mereka harus disampaikan langsung kepada Sukarno, maka sebuah delegasi yang dipimpin oleh Wikana menemui Sukarno di tempat tinggalnya di Pegangsaan Timur 56 pada malam hari tanggal 15 Agustus. Pada waktu perdebatan sengit antara Sukarno dan para mahasiswa tersebut, Sukarno tetap teguh tidak mau mengalah. Para pemuda itu akhirnya meninggalkan rumah Sukarno dengan perasaan jengkel, mereka juga mempertimbangkan tindakan selanjutnya. Pembicaraan pada malam hari tanggal

  15 Agustus yang menghasilkan keputusan untuk menculik kedua pemimpin yaitu Sukarno dan Hatta, yang dilangsungkan di Asrama Baperpi di Cikini 71.

  Sejumlah pengikut Sjahrir, yaitu Soebadio Sastrosatomo, ikut serta dalam peristiwa tersebut. Sjahrir diberitahu tentang rencana-rencana tersebut tetapi, ia menolak untuk ambil bagian di dalamnya. Para pemuda kemudian memindahkan Sukarno dan Hatta ke kota kecil Rengasdengklok, di mana mereka juga tidak berhasil membujuk Sukarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Setelah mereka kalah, para penculik itu mengizinkan mereka dibawa kembali ke Jakarta pada malam tanggal 16 Agustus, di mana setelah diadakan kontak-kontak yang halus dan benar-benar informal dengan pihak berwajib Jepang, Sukarno dan Hatta mengadakan pertemuan dengan anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan sejumlah pemimpin pemuda di rumah Laksamana Maeda dan menyiapkan naskah proklamasi

  45 kemerdekaan yang akan diumumkan esok paginya.

  Sjahrir tidak ikut hadir di rumah Laksamana Maeda pada malam hari tanggal 16 Agustus ketika rumusan proklamasi dirancang, demikian juga ia tidak hadir di rumah Sukarno pada pagi hari tanggal 17 Agustus waktu proklamasi itu dibacakan. Ia menyatakan tekadnya agar republik yang merdeka bebas dari kesan sebagai ciptaan Jepang. Tetapi, kepeduliannya tidak hanya beranggapan bahwa nasionalisme hanya berarti perjuangan untuk membebaskan diri dari kekuasaan asing. Baginya, kemerdekaan berkaitan dengan wawasan-wawasan tentang kebebasan individu dan perubahan sosial yang dapat menjadikan kemerdekaan itu sebagai suatu kemerdekaan yang sejati. Cita-cita ini mempengaruhi pandangannya mengenai cara pencapaian kemerdekaan itu. Adalah mungkin bagi kaum nasionalis murni, dan bahkan juga kaum nasionalis muslim, untuk memandang pendudukan Jepang sebagai suatu periode dengan kesempatan untuk memperoleh kesempatan dari pihak penjajah. Tetapi, dalam perspektif Sjahrir, Jepang diidentifikasikan sebagai bagian dunia fasis dan sebagai tantangan kaum reaksioner terhadap nilai-nilai demokrasi serta perubahan sosial yang diinginkan.

  Sejak dulu Sjahrir telah menyadari kemungkinan-kemungkinan otoriterisme yang melekat pada sebagian besar pemikiran kaum nasionalis yang memandang negara sebagai sesuatu yang memungkinkan pemenuhan diri individu. Hal itu dapat menjadi lebih menonjol dalam situasi aksi massa. Aksi- aksi pemuda yang tidak memiliki perspektif ideologis yang cukup matang, paling tidak akan menuju kepada situasi anarki dan dalam keadaan yang paling buruk, dapat mendorong, munculnya sikap-sikap fasis, suatu kemungkinan yang dipertajam oleh sifat anti Barat.

3.2.2. KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat ) Tahun 1945 Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

  Teks Proklamasi disusun sehari sebelumnya di rumah Laksamana Maeda oleh Sukarno bersama Hatta, Soebardjo, Nishijima (ajudan Maeda), dan dua orang Jepang lainnya. Lima hari setelah kemerdekaan diumumkan, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang beranggotakan 137 orang, dibentuk. Kelompok pemuda mendesak supaya Sjahrir menjadi Ketua Komite tetapi ia menolak. Ia masih menanti sejauh mana Komite tersebut mencerminkan kehendak rakyat.

  Pada bulan-bulan pertama setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintahan kabinet presidensial dipimpin kaum nasionalis pro-Jepang. Kondisi ini membuat Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II, setelah merobohkan Jepang, sulit mengakui keberadaan Republik Indonesia. Sekutu menganggap Indonesia masih di bawah kendali Jepang. Pada tanggal 7 Oktober 1945, 40 orang anggota Komite Nasional menandatangani petisi untuk Presiden Sukarno. Mereka menuntut Komite menjadi badan legislatif, bukan pembantu Presiden. Selain itu, menteri kabinet harus bertanggung jawab kepada Dewan, bukan Presiden.

  Ibu Sri Mangoensarkoro disertai dua pemuda, yaitu Soebadio dan Soekarni mendesak Sjahrir supaya mau memimpin Komite. ”Komite harus bersih dari Jepang dan revolusioner,” kata Soekarni. Sjahrir kemudian menerima usulan para pemuda tersebut. Rapat Komite Nasional kedua pada tanggal 16 Oktober 1945 merupakan salah satu titik penting perjalanan politik Sjahrir. Pada tanggal 25 Oktober 1945 Sjahrir diterima menjadi salah seorang anggota KNIP, sekaligus dipilih dengan suara bulat untuk menjadi Ketua Badan Pekerja KNIP sedangkan wakilnya adalah Amir Sjarifuddin. Dengan demikian sebenarnya terjadi penyegaran personalia dan penyempurnaan organisasi KNIP. Badan itu lebih mencerminkan aspirasi-aspirasi dan kekuatan-kekuatan sosial politik yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Rapat yang dihadiri Wakil Presiden Mohammad Hatta berlangsung ricuh. Saling serang terjadi antara kelompok pro dan kontra Jepang. Kendati demikian, kedua kubu sama-sama menyadari usaha untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka menghadapi rintangan berat.

  Belanda, yang merupakan bagian dari Sekutu belum menerima kemerdekaan Indonesia. Sjahrir, yang sebelumnya sudah memprediksi sikap Sekutu itu berpendirian, menghadapi Belanda, termasuk Sekutu, tidak bisa lagi

  46

  dengan senjata, tapi harus lewat diplomasi. Sebagai ketua KNIP yang baru, Sjahrir mengarahkan agar hendaknya keanggotaan KNI (Komite Nasional Indonesia), baik di pusat maupun di daerah-daerah, lebih mencerminkan aspirasi politik nasional. Dan sejalan dengan itu, atas saran Sjarir selaku ketua KNIP, wakil presiden yaitu Hatta pada tanggal 3 November 1945 mengumumkan Maklumat X tentang pembentukan partai-partai di Indonesia.

46 Djoeir Moehamad dan Mochtar Lubis (ed). 1997. Memoar Seorang

  Bagi Sjahrir Negara Republik Indonesia harus memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan dan demokrasi, apalagi karena harus mengantisipasi segala kemungkinan berkaitan dengan keinginan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Masalahnya mendesak karena Sekutu yang diboncengi agen dan serdadu NICA sudah datang untuk mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang.

  Salah satu masalah yang berkembang saat itu adalah bahwa Sekutu akan mengadili para penjahat perang, termasuk para pemimpin Indonesia yang berkolaborasi dengan fasisme Jepang sehingga jalan keluar satu-satunya adalah Republik Indonesia haruslah memiliki suatu lembaga legislatif yang merupakan lembaga yang memperjuangkan aspirasi-aspirasi dan kelompok-kelompok politik yang hidup dalam masyarakat Indonesia bebas dari pengaruh (fasisme) Jepang. Selain itu pemerintah juga harus dipimpin oleh tokoh Indonesia yang anti fasisme Jepang.

  Berkaitan dengan itu hendaknya dimaklumi bahwa kedatangan Sekutu ke Indonesia antara lain menyertakan Van Der Plas yang juga datang untuk menyusun kembali pemerintah penjajahan Belanda atas Indonesia. Kedatangan Sekutu itu di warnai dengan isu-isu bahwa Republik Indonesia adalah ciptaan fasisme Jepang, sedangkan pemimpin-pemimpin Republik Indonesia yang pernah berkolaborasi dengan pemerintah militer Jepang akan diadili sebagai penjahat perang.

  Setelah keluarnya Maklumat X dan berdirinya partai-partai maka komposisi keanggotaan KNIP diperluas lagi dengan wakil-wakil dari partai-partai.

  KNIP pun lebih mencerminkan suatu lembaga dengan keanggotaan dan fungsi legislatif yang mencerminkan aspirasi-aspirasi (kelompok politik) yang hidup, apalagi karena kepala pemerintah (Perdana Menteri) bertanggung jawab kepada

47 KNIP. Presiden tidak lagi berhak membuat undang-undang. Mulai saat itu juga

  Komite menjadi badan legislatif yang bertugas menyusun undang-undang dan garis-garis besar haluan negara. Maklumat Nomor X menandakan berakhirnya kekuasaan luar biasa Presiden dan riwayat Komite Nasional sebagai pembantu Presiden.

  Prestasi Sjahrir di dalam KNIP membuktikan bahwa ia memahami secara mendalam masalah Negara Republik Indonesia yang baru lahir serta tahu apa saja yang harus dilakukan. Lagi pula ia mendapat dukungan kuat di KNIP. Sjahrir pun menyusun dan memimpin suatu kabinet parlementer yakni yang bertanggung jawab kepada legislatif (dalam hal ini KNIP). Banyak yang setuju dan juga tidak setuju dengan Sjahrir. Tetapi sejarah memperlihatkan, begitu dia menjadi Ketua Badan Pekerja Komite Nasional, lahir Maklumat Nomor X yang memungkinkan

  48

  lahirnya partai-partai politik di Indonesia. Ketika terjadi pendaratan pasukan Sekutu secara besar-besaran di bawah Panglimanya yaitu Jenderal Philips Christison, yang ternyata diboncengi tentara-tentara Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia, maka susunan lembaga-lembaga negara Republik

  49 Indonesia sudah mencerminkan kehidupan politik yang demokratis.

3.2.3. Perdana Menteri (15 November 1945 – 27 Juni 1947)

  47 Ibid. hal 98.

  48 TEMPO. op. cit. hal 44-45.

  Sjahrir menjadi Perdana Menteri dan mulai memimpin kabinetnya pada tanggal 14 November 1945. Dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, Sjahrir sudah terdorong untuk menegaskan apa arti ‘merdeka’ ;

  ”Merdeka tidak saja berarti Negara Republik Indonesia yang berdaulat, tetapi kemerdekaan diri dari sewenang-wenang, dari kelaparan dan kesengsaraan.

  Revolusi nasional hanya buntut dari revolusi demokrasi … dan bahwa bukan nasionalisme yang harus nomor satu, akan tetapi demokrasi. Negara Republik Indonesia, hanya nama yang kita berikan pada isi yang kita

  50 maksudkan dan kehendakkan”.

  Kerangka perjuangan yang diusulkan oleh Sjahrir bukanlah yang sempit

  51 dan partikular , melainkan kerangka perjuangan yang universal.

  “Hanya semangat kebangsaan yang dipikul oleh perasaan keadilan dan kemanusiaan yang dapat mengantar kita maju di dalam sejarah dunia. Pada akhirnya, semua kebangsaan harus menemui ajalnya di dalam suatu kemanusiaan yang meliputi seluruh dunia … yaitu bangsa manusia yang hidup dalam pergaulan berdasarkan keadilan dan kebenaran, tidak lagi terbatas oleh perasaan-perasaan sempit yang memecah manusia … oleh

  52

  karena kulitnya berlainan warna, atau … turunan darahnya berlainan.” Pada saat itu Sjahrir menegaskan, bahwa demi keutuhan Indonesia merdeka dan untuk menetralisirkan tuduhan Sekutu, ia akan menerbitkan buku

  

Perjuangan Kita yang disebarluaskan dalam beberapa bahasa. Buku yang

  50 Djoeir Moehamad dan Mochtar Lubis (ed), Ibid. hal 101.

  51 Partikularisme adalah sistem yang mengutamakan kepentingan pribadi di

  atas kepentingan umum ; aliran politik, ekonomi, kebudayaan yang mementingkan daerah atau kelompok khusus ;sukularisme. Lihat Save M. Dagun. op. cit. hal 798. menggemparkan itu kemudian diterbitkan oleh Kementrian Penerangan Republik

  53 Indonesia yang saat itu dipimpin Amir Sjarifuddin.

  Dalam pamflet Perjuangan Kita, Sjahrir mengemukakan idenya tentang revolusi demokratis yang menekankan pentingnya arti demokrasi untuk melawan kecenderungan fasisme yang masih membekas, terutama di kalangan pemuda, akibat pengaruh pendudukan Jepang. Dengan perkataan lain Sjahrir tidak menginginkan semangat revolusi meluap menjadi terorisme yang tidak bertanggung jawab terhadap orang-orang Belanda, Indo dan kelompok-kelompok minoritas yang dianggap pro Belanda seperti Cina, Ambon dan Manado. Dari situ dapat dilihat benih-benih sosialisme kemanusiaan (demokrasi sosial) yang ingin disemaikan oleh Sjahrir di kalangan pemuda. Akan tetapi, hal itu pula berkaitan erat dengan pandangan Sjahrir tentang kedudukan Indonesia yang sangat lemah pada waktu itu yang menurutnya berada di daerah pengaruh kekuatan kapitalis Amerika Serikat dan Inggris, dan oleh karena itu tidaklah bijaksana bagi negara Indonesia yang masih baru untuk memusuhi mereka, Sjahrir bahkan melihat bahwa nasib Indonesia amat tergantung pada kebijaksanaan politik yang akan diambil oleh kekuatan-kekuatan imperialis itu. Dari situ dia mengambil kesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk menjamin kemerdekaan Indonesia ialah melalui “Diplomasi yang lihai dan fleksibel, agar Amerika dan Inggris tidak terundang buat mendukung Belanda secara penuh”. ”Selanjutnya, secara logis sikap itu menutut lahirnya kebijaksanaan politik yang liberal terhadap modal

53 Djoeir Moehamad dan Mochtar Lubis (ed). hal 95. Lihat juga William H

  Frederick dan Soeri Soeroto (ed). 1982. Pemahaman Sejarah Indonesia (Sebelum asing, pengakhiran kekerasan pemuda, terutama terhadap orang kulit putih, mendirikan lembaga-lembaga politik yang dapat diterima Barat....” Sulit kiranya untuk disangkal bahwa Sjahrir mengutamakan diplomasi daripada memakai kekerasan atau kekuatan senjata, dalam revolusi Indonesia, dan itu sesuai dengan

  54 jalan pemikirannya tentang demokrasi sosial yang humanis.

  Pada bulan Oktober 1945 Sjahrir berhasil meyakinkan Sukarno dengan konsep dan sejumlah usulannya, yakni membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang kemudian akan menjadi badan penyusun UUD. Sjahrir juga mengusulkan pembentukan partai-partai politik. Kemudian dia meminta Sukarno membubarkan kabinet dan membentuk kabinet baru dipimpin oleh seorang perdana menteri yang dipilih oleh KNIP. Langkahnya itu dilandasi pemikiran bahwa Republik harus demokratis, bebas dari para kolaborator Jepang (untuk mengesankan bahwa Republik Indonesia bukan bentukan Jepang).

  Maka pada bulan Oktober 1945 terbentuklah dua partai sosialis (Partai Rakyat Sosialis pimpinan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia pimpinan Amir Sjarifuddin) yang akhirnya bergabung menjadi Partai Sosialis. Untuk menunjukkan kepada dunia bahwa revolusi yang terjadi adalah perjuangan bangsa beradab dan demokratis untuk lepas dari kolonialisme. Sjahrir ingin menyingkirkan propaganda Belanda yang beranggapan bahwa Indonesia hanyalah

  55

  gerombolan orang brutal, pembunuh, atau perampok. Karena hal itu Sjahrir memilih strategi diplomasi. Apalagi Belanda juga berusaha keras supaya dapat

54 William H Frederick dan Soeri Soeroto (ed). Ibid. hal 352-353.

  kembali ke bekas tanah jajahannya itu, dengan membatasi kekuasaan Republik Indonesia.

  Bagi Sjahrir negara Republik Indonesia harus memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan dan demokrasi. Apalagi karena harus mengantisipasi segala kemungkinan berkaitan dengan keinginan Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Masalahnya mendesak, karena Sekutu mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang. Salah satu masalah yang berkembang saat itu adalah bahwa Sekutu akan mengadili para penjajah perang, termasuk para pemimpin Indonesia yang berkolaborasi dengan fasisme Jepang. Jalan keluarnya, Republik Indonesia haruslah memiliki lembaga legislatif yang merupakan lembaga yang memperjuangkan aspirasi-aspirasi dan kelompok-kelompok politik yang hidup dalam masyarakat Indonesia-bebas dari pengaruh (fasisme) Jepang. Selain itu, pemerintah harus dipimpin oleh tokoh Indonesia yang anti fasisme Jepang.

  Pada bulan Oktober 1945 Sjahrir memutuskan untuk membuka perundingan dengan pihak Belanda. Sjahrir memanfaatkan diplomasi Inggris.

  Butir-butir penting yang dikemukakannya dalam tulisannya Perjuangan Kita menjadi pedoman kerja. Pasukan Belanda kemudian mulai kembali menduduki Jakarta pada awal tahun 1946, para pemimpin nyawanya terancam, dan akhirnya Sukarno, Hatta dan Sjahrir memindahkan pemerintahan ke Yogyakarta. Namun, Sjahrir tetap memilih melanjutkan negosiasi dan diplomasi.

  Pada pertengahan bulan Desember 1945, Sjahrir mengeluarkan kebijakan politik militer. Semua kekuatan bersenjata, baik tentara maupun lascar, harus keluar dari Jakarta. Sjahrir mengumumkan Jakarta sebagai kota internasional. Agar program tersebut menarik perhatian dunia, digelarlah pameran kesenian yang dipublikasikan oleh sejumlah wartawan luar negeri. Setelah itu, Sjahrir mulai memperkenalkan Indonesia di forum-forum internasional, seperti Konferensi Asia di New Delhi pada tahun 1946. Tak hanya itu, Sjahrir juga memberikan bantuan kemanusiaan berupa sumbangan beras kepada negara India.

  Tidak semua menyetujui langkah Sjahrir berunding dengan bekas penjajah. Partai Masyumi, Persatuan Perjuangan, dan Partai Nasional Indonesia menolak. Sjahrir dianggap terlalu banyak memberikan konsesi kepada Belanda. Ia dan para pengikutnya diejek sebagai “anjing-anjing Belanda”. Menghadapi perlawanan para oposan tersebut, Sjahrir tak ambil pusing. Menurut dia, berjuang di meja perundingan punya keuntungan politis memperoleh pengakuan kekuasaan

  de facto . Ia tetap maju terus, apalagi Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta

  56 mendukungnya.

  Sjahrir agaknya kuatir bahwa suatu konflik bersenjata yang berkepanjangan dengan pihak Belanda justru akan memperkuat kelompok- kelompok radikal bahkan dapat menyebarluaskan paham fasisme. Itu berarti bahwa azas demokrasi akan terancam dalam penghidupan politik Republik Indonesia. Bagaimana mencapai persetujuan dengan pihak Belanda dengan memberikan beberapa kerelaan tapi tetap mengamankan kepentingan pokok Republik Indonesia sambil memanfaatkan diplomasi Inggris – itulah tantangan yang dihadapi Sjahrir.

  Sedikit demi sedikit Sjahrir terus mencoba menekan pemerintah Belanda melalui diplomasi. Ia terus menerus mengupayakan agar Indonesia dan Belanda dapat duduk di meja perundingan. Kesempatan pertama datang dalam perundingan di Hoge Veluwe, Belanda, pada tanggal 14-16 April 1946. Ketika itu Indonesia mengajukan tiga usulan: pengakuan atas Republik Indonesia sebagai pengemban kekuasaan di seluruh bekas Hindia Belanda, pengakuan de facto atas Jawa dan Madura, serta kerja sama atas dasar persamaan derajat antara Indonesia dan Belanda. Usul itu ditolak oleh Belanda.

  Peluang berunding dengan Belanda terbuka lagi ketika Inggris mengangkat Lord Killearn sebagai utusan istimewa Inggris di Asia Tenggara, sekaligus penengah konflik Indonesia-Belanda. Konsulat Inggris di Jakarta mengumumkan, selambat-lambatnya pada tanggal 30 November 1946 tentara Inggris akan meninggalkan Indonesia. Kabinet baru Belanda kemudian mengutus Schermerhorn sebagai Komisi Jenderal untuk berunding dengan Indonesia.

  Schermerhorn dibantu tiga anggota: Van Der Poll, Der Boer, dan Letnan Gubernur Jenderal H.J.Van Mook. Perundingan Sjahrir dengan Belanda melalui perundingan di De Hoge Veluwe sampai pada perundingan Linggarjati adalah atas dasar bahwa Republik Indonesia suatu Negara yang merdeka, duduk sama tinggi dengan Belanda, bersedia kerja sama dengan Belanda untuk membubarkan Hindia Belanda dan bersama-sama membentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat. Kerja sama ini akan dilanjutkan sesudah terbentuknya

  57 Negara Republik Indonesia Serikat yang berdaulat dengan negeri Belanda.

  Pihak Belanda baik waktu perundingan di De Hoge Veluwe ketika tidak terdapat persetujuan sama sekali, maupun pada persetujuan Linggarjati pada akhirnya dan pada hakekatnya oleh sebab pikiran yang realistis dan reaksioner tidak mau mengakui kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia selama masa peralihan sampai terbentuknya negara Republik Indonesia Serikat.

  Untuk menghindari terjadinya perang dengan Belanda Sjahrir mengadakan pidato radio pada tanggal 19 Juni 1947 yang berisi antara lain memberi konsesi (kerelaan) pada Belanda secara hukum mau mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia selama masa peralihan, akan tetapi juga mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia ke dalam. Baik kabinet maupun Partai Sosialis adalah anggota dari Sayap Kiri yang terdiri dari Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Buruh Indonesia (PBI) dan Pesindo tidak setuju dengan Sjahrir. Sayap kiri sebagai keseluruhan yang pada umumnya didominasi oleh kaum komunis tidak dapat menerima kebijaksanaan Sjahrir bukan semata-mata atas pertimbangan kebijaksanaan melainkan oleh karena Sjahrir bukan orang komunis. Ia dinilai oleh Sayap Kiri sebagai orang yang bebas dan tidak tunduk kepada garis Moskow. Dia mengadakan pidato radio dengan tidak minta persetujuan terlebih dahulu dari Sayap Kiri. Atas pertimbangan tersebut Sayap Kiri menolak kebijaksanaan Sjahrir. Oleh karena Sjahrir tidak mendapat dukungan dari Sayap Kiri, maka ia

57 H. Rosihan Anwar (ed). 1980. Mengenang Sjahrir. Jakarta: Gramedia, hal xxxi.

  mengundurkan diri dari jabatan sebagai Perdana Menteri. Sebenarnya Sjahrir dengan dukungan Kabinet, Presiden dan Wakil Presiden dapat bertahan sebagai Perdana Menteri dan mengabaikan keputusan Sayap Kiri. Di sini Sjahrir harus memilih antara kekuasaan dan meletakkan jabatannya. Sjahrir meletakkan jabatan Perdana Menteri itu sesuai dengan aturan-aturan permainan dan hukum demokrasi. Dengan demikian dia memberi pendidikan politik. Sjahrir memang dalam seluruh hidupnya lebih mengutamakan pendidikan politik daripada kekuasaan.

  Bukan hanya kelompok Sayap Kiri yang menolak Perjanjian Linggarjati tetapi KNIP juga menolak. Akhirnya Sjahrir digantikan oleh wakilnya Amir

  58 Sjarifuddin sebagai Perdana Menteri yang baru. Dengan meletakkan jabatan

  sebagai Perdana Menteri ia menujukkan bagaimana bertindak sesuai dengan hukum demokrasi, bagaimana mendidik kehidupan politik di Indonesia dan dengan begitu menegakkan dasar-dasar demokrasi dalam negara Republik Indonesia yang baru merdeka. Ia menujukkan bahwa dirinya lebih mengutamakan pendidikan politik untuk menegakkan demokrasi daripada menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kemauannya dan mempertahankan kedudukannya. Sebaliknya ia tetap menyediakan diri untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia terhadap Belanda dan membantu pemerintahan Republik

  59 Indonesia dalam menghadapi ancaman dan kekuasaan kolonialisme Belanda.

  58

  http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sutan- syahrir/berita/01.shtml. Di download pada tanggal 13 September 2009. Untuk menujukkan sikapnya itu ia bersedia waktu diminta oleh Presiden Sukarno untuk diangkat menjadi penasehat Presiden.

  Kaum komunis menjatuhkan Sjahrir karena mereka tahu bahwa Sjahrir tidak akan bersedia menjalankan perintah mereka yaitu perintah Moskow. Sjahrir dijatuhkan oleh komunis ketika dalam perkembangan dunia pada tahun 1947 itu hanya ada kekuatan yaitu kekuatan anti imperialisme di bawah pimpinan Moskow dan kekuatan kapitalis di bawah Amerika Serikat. Kaum komunis tahu betul Sjahrir, sekalipun dia seorang anti imperialisme, mempunyai sikap bebas dari Moskow dan tidak bersedia dipergunakan untuk kepentingan Moskow.

  Persetujuan Linggarjati adalah pengakuan terhadap hak perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Negara Republik Indonesia adalah perwujudan dari hasil perjuangan demokrasi bangsa dan rakyat Indonesia dalam melaksanakan haknya menentukan nasibnya sendiri, sekalipun kekuasaannya hanya diakui di Jawa dan Sumatera. Kerja sama dengan Belanda adalah untuk membubarkan kolonialisme Belanda di Indonesia dan mendirikan Republik Indonesia Serikat yang berdaulat meliputi seluruh wilayah Indonesia.

  Ketika Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 menyerang Republik, Sjahrir sebagai penasehat Presiden dan selaku Duta Keliling Republik berangkat ke luar negeri dengan mengunakan pesawat terbang. Pada tanggal 14 Agustus 1947 Sjahrir sebagai wakil Republik Indonesia berbicara dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Di sana ia menjelaskan politik penjajahan Belanda dan mendesak supaya Dewan Keamanan PBB membentuk suatu Badan Arbitrase yang tidak berpihak. Sjahrir di dalam forum internasional di Dewan Keamanan mempertahankan dan membela kemerdekaan Republik Indonesia seperti memperkuat perhubungan dalam perjanjian Linggarjati dan diakui oleh dunia internasional.

  Jabatan sebagai ketua Delegasi Rupublik Indonesia di Dewan Keamanan

  60 PBB adalah kedudukan Sjahrir yang terakhir sebagai pejabat negara. Sesudah itu

  ia lebih memusatkan pikirannya menggariskan kembali perjuangan rakyat dan bangsa Indonesia yang disesuaikan dengan perkembangan dan percaturan politik internasional dewasa itu.

BAB IV DAMPAK ATAU PENGARUH SUTAN SJAHRIR PASCA KEMERDEKAAN INDONESIA

4.1. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 4.1.1. Pembentukan Partai Sosialis Indonesia (PSI) Tahun 1948

  Perpecahan antara Sjahrir dan Amir Syarifuddin disebabkan karena Amir Syarifuddin menambahkan faham komunisme pada prinsip utama yang menjadi landasan Partai Sosialis sedangkan Sutan Sjahrir berserta kelompoknya menolak dengan tegas pemahaman tersebut. Dalam pemikiran Sutan Sjahrir, penambahan faham komunisme pada prinsip utama yang menjadi landasan Partai Sosialis tersebut akan mempengaruhi arah pemerintahan yang totaliter. Dengan demikian sangat bertentangan dengan pemikiran politik Sutan Sjahrir yang menekankan adanya kebebasan, universalitas humanis dan sosialis kerakyatan. Setelah keluar dari Partai Sosialis, pada tanggal 12 Februari 1948 Sutan Sjahrir bersama teman- temannya mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

  Partai Sosialis Indonesia merupakan partai politik yang beranggotakan tokoh-tokoh intelektual Indonesia yang sebelumnya tergabung dalam kelompok Pendidikan Nasional Indonesia; sebuah partai yang bertujuan untuk ikut meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh utama yang berperan besar dalam membentuk pemikiran politik kelompok dan partai ini ialah Sutan Sjahrir, Soedjatmoko, Saleh Mangoendiningrat, Soebadio Sastrosatomo, Hamid Algadri, Siti Wahyoenah Saleh Mangoendiningrat, Hoegeng I, Santoso,

  

61

Loebis, Wibowo, serta Ali Boediardjo. Sutan Sjahrir merupakan tokoh yang

  sangat menonjol; pemikiran-pemikirannya diikuti oleh anggota kelompok dari partainya.

  Rosihan Anwar dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Terakhir

  

Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir , yang ditulis pada tahun 1966, menjelaskan

  bahwa Amir Syarifuddin ingin Partai Sosialis menempuh garis Marxisme-Leninis- Stalin dan menginginkan Indonesia memihak Moskow (Soviet). Tetapi Sjahrir berpendirian, Partai Sosialis harus menempuh sosialisme kerakyatan yang demokratis dan politik luar negeri yang bebas aktif.

  Bagi Sutan Sjahrir demokrasi merupakan jiwa perjuangan bangsa. Dalam pemikirannya, perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia tidak didasarkan kepada nasionalisme tetapi kepada faham demokrasi. Dengan demikian kebebasan

  62 dari hasil perjuangan tersebut dapat dimiliki oleh segenap rakyat Indonesia.

  Dalam usaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan, Sutan Sjahrir menolak kerjasama dengan Jepang dan mengkritik orang-orang yang bekerjasama dengan Jepang. Bagi Sutan Sjahrir, Jepang pada masa itu adalah fasis, oleh karena itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip sosialisme kemanusiaan yang ingin ia jadikan dasar kehidupan Indonesia.

  Dalam teks yang ditulis Sjahrir, khusus untuk anggota partai barunya di bulan Maret 1948, “Keadaan Politik di Indonesia”, dugaan tentang Amir

61 P.Y. Nur Indro. 2009. Pemikiran Politik Soetan Sjahrir dan Partai

  

Sosialis Indonesia : Tentang Sosialisme Demokrat , Bandung: Inisiatif Warga,

UKM Media Parahyangan dan UKM Pusik Parahyangan, hal 4.

  Syarifuddin yang sesungguhnya berpaling ke arah komunisme, bukanlah soal yang paling penting. Sjahrir lebih menegaskan bahwa dalam gerakan Amir Syarifuddin terdapat kekurangan organisasi dan kurangnya pengertian tentang sifat sosialisme yang sesungguhnya. Menurut pandangan Sjahrir, di Indonesia pada waktu itu terdapat hanya satu atau dua pemimpin, yang mengetahui tentang sosialisme.

  Selama berbulan-bulan setelah perpecahan dengan Amir Sjarifuddin, Sjahrir dan rekan-rekannya berulang kali mengingatkan bahwa belum waktunya untuk sengaja mempertajam perjuangan kelas di Indonesia, dan bahwa kebijakan

  63

  perjuangan kelas harus dihindari. Seperti dirumuskan di dalam Manifesto partai baru Sjahrir di bulan Februari 1948; “bahaya bentrokan dari kelompok dan barisan harus dijauhkan”.

  Dalam pedomannya di bulan Maret 1948, Sjahrir menulis bahwa karena partainya diprakarsai atau dipelopori oleh bekas anggota Pendidikan Nasional Indonesia, maka begitu partai melepaskan diri dari Amir, maka partai mereka dapat kembali setia kepada tradisi kadernya. Di bulan Juni 1948, Sjahrir menegaskan kembali ;

  “Kita tidak berusaha untuk memperluas massa partai kita, karena hal yang

  64 demikian pasti akan mempertajam perjuangan partai”.

63 Manifesto adalah pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. Lihat Departemen Pendidikan Nasional. 2008.

  

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Jilid Keempat , Jakarta: PT.

  Gremedia Pustaka Utama. hal 874.

  Di negeri seperti Indonesia yang masih kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai feodalisme, fasisme, otoriterisme, maka yang perlu diprioritaskan adalah pembinaan demokrasi. Apabila melihat kenyataan tadi, maka jelas bahwa membangun suatu masyarakat sosialis tidak gampang. Sjahrir memilih untuk bersikap realistis, ia menjadi lebih bijaksana, sederhana, ingat perlunya berkepala

  65

  dingin. Ia menamakan ideologi yang dipikirkannya dan dianutnya yaitu “Sosialisme-Demokrasi”, yang lebih sering disebut sebagai “Sosialisme- Kerakyatan”. Dalam memahami Sosialisme-Kerakyatan tampaknya kata kuncinya adalah Kemanusiaan. Ketika menjabat sebagai Perdana Menteri (1945-47) kata “Kemanusiaan” itu sering dipergunakan dalam pidato-pidato Sjahrir. Ia menjelaskan sifat kemanusiaan ialah kepercayaan pada persamaan, keadilan serta kesanggupan kerja sama antara sesama manusia sebagai dasar kehidupan di dalam pergaulan.

  Partai Sosialis Indonesia menerima sosialisme-kerakyatan yang digagas Sjahrir dalam Kongres I yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 12-17 Februari 1952. Dalam dasar-dasar dan pandangan politik partai dijelaskan:

  “Sosialisme yang kita maksudkan adalah sosialisme yang berdasarkan atas kerakyatan, yaitu sosialisme yang menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia orang seorang. Penghargaan pada pribadi orang seorang dinyatakan pada penghargaan serta perlakuan pribadi orang seorang di dalam pikiran, serta di dalam pelaksanaan sosialisme...Sosialisme semestinya tidaklah lain daripada penyempurnaan dari segala cita-cita kerakyatan, yaitu

  66 kemerdekaan serta kedewasaan kemanusiaan yang sebenarnya”.

65 H. Rosihan Anwar. 2010. Sutan Sjahrir : Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, KITLV Press. hal 113.

  Sjahrir mengkampanyekan ideologi sosialisme kerakyatan yang anti fasis dan antifeodal dengan menganjurkan kebebasan individu dan menghormati martabat manusia. Dalam pamfletnya yang terkenal, Perjuangan Kita, ia menulis,

  ”Perjuangan kita sekarang ini tak lain dari perjuangan untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk

  67

  mencapai kedudukan sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita.” Pada masa setelah kemerdekaan, Sutan Sjahrir menekankan bahwa faham Sosialisme Demokratis sangat cocok untuk dasar pembangunan di Indonesia.

  Fokus Sosialisme Demokratis adalah mengakui adanya hak yang sama pada setiap orang serta memunculkan pemerataan. Dengan demikian Sutan Sjahrir tidak menyetujui kediktatoran dan totaliterisme serta adanya ketertiban sosial yang menempatkan satu orang atau golongan di atas yang lain. Oleh karena itu, tujuan Sosialisme Demokratis adalah mewujudkan suatu masyarakat yang meliputi keamanan anggotanya serta keadilan sosial dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk hidup dan berkembang. Pemikiran politik Sutan Sjahrir yang terungkap diatas, mempengaruhi pembentukan Sosialisme Demokratis Partai Sosialis Indonesia (PSI).

  Dalam perkembangan pemikiran politik Partai Sosialis Indonesia, pengaruh berbagai pemikiran yang mendahului maupun yang bersamaan adalah niscaya. Pengaruh tersebut dalam hal ini mungkin dapat menempati posisi sebagai sumber pemikiran atau sarana untuk memodifikasi pemikiran yang sudah ada. Selain itu juga dapat menjadi sumber yang dikembangkan lebih lanjut berdasarkan

  68 kondisi atau pemikiran-pemikiran yang lain dalam lingkungannya.

  Seorang ahli ilmu politik dan indonesianis terkemuka yaitu Herbert Feith dalam bukunya yang berjudul Indonesian Political Thingking 1945-1965, berpendapat bahwa pengaruh yang besar dari Partai Sosialis Indonesia (PSI) terutama karena keanggotaannya didominasi oleh kaum intelektual. Dewan pimpinan partai ini pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki keahlian- keahlian yang sangat dibutuhkan untuk membangun dan mengembangkan suatu pemerintahan negara modern. Dukungan terhadap Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagian besar berasal dari pemuda pejuang dalam revolusi perebutan kemerdekaan Indonesia, terutama pada saat penjajahan Jepang dan tahun-tahun awal revolusi. Partai Sosialis Indonesia (PSI) oleh kelompok nasionalis biasanya digambarkan sebagai Barat, karena tradisi demokratik Barat sangat mewarnai pemikiran tokoh-tokohnya.

  Dalam keanggotaan, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendapatkan dukungan terutama dari para intelektual Indonesia. Dua tahun pertama setelah terbentuk dalam pertemuan pertama dewan eksekutif pada bulan Februari 1950 memang telah diputuskan untuk menjadi partai kader dalam lingkaran intelektual

69 Indonesia. Pada saat Kongres I Partai Sosialis Indonesia di bulan Februari 1952

  dinyatakan bahwa Partai Sosialis Indonesia mempunyai 3.049 orang anggota penuh dan 14.480 calon anggotanya. Walau relatif kecil bila dibandingkan dengan

68 Rudolf Mrázek, op. cit. hal 6.

  partai-partai yang lain, para pemimpin partai menyatakan bahwa banyak yang dapat dicapai oleh partai kader kecil tetapi terdiri dari orang-orang yang terlatih dengan baik dan pekerja politik yang sangat disiplin.

  Nilai Sosialisme Demokratis pada Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang membedakan orientasi partai ini dengan partai sosialis lainnya. Orientasi Sosialisme Demokratis Partai Sosialis Indonesia (PSI) terletak pada perhatian utama terhadap kebebasan individu, keterbukaan terhadap masalah-masalah intelektual dunia, penolakan atas Chauvinism, Obscurantisme, dan atas pemujaan

  

pribadi. Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibentuk tahun 1948 selama dua

  tahun, sebagai partai kader, sangat ketat dalam menyeleksi calon anggota. Pada tahun 1952 anggotanya menjadi 14.000 orang yang dikelola ke dalam 147 cabang.

4.1.2. Kekalahan PSI dalam Pemilihan Umum Tahun 1955

  Akhir bulan Juni 1955 Partai Sosialis Indonesia (PSI) menyelenggarakan Kongres II. Pada Kongres tersebut, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mempertimbangkan nilai partisipasi dalam Pemilihan Umum. Sebagian besar pemimpin tetap menginginkan tujuan utama pada pembangunan kader. Walaupun demikian, tetap diputuskan untuk aktif berkampanye dan ikut Pemilihan Umum.

  Partai Sosialis Indonesia (PSI) mengalami kekalahan pada Pemilihan Umum pertama yang diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955. Dalam analisis Sutan Sjahrir, faktor kekalahan bukan karena program Pemilihan Umum yang kebarat-baratan atau terlalu rasional sehingga dianggap aneh. Ketika ternyata Partai Komunis Indonesia hanya memperoleh 16% suara, maka menurut Sjahrir rakyat Indonesia tetap berorientasi kepada demokrasi karena partai-partai

  70

  demokratik yang lain memperoleh suara besar. Menurut Hamid Algadri, rakyat Indonesia belum siap untuk menerima program-program Partai Sosialis Indonesia (PSI) karena diformulasikan dalam cara yang terlalu intelektual. Walaupun demikian, dengan mengikuti Pemilihan Umum setidaknya memperlihatkan orientasi politik yang menjunjung tinggi demokrasi.

  Berbeda dengan lawan-lawan politiknya, Partai Sosialis Indonesia tidak berhasil membangun suatu organisasi massa yang berbasiskan cabang-cabang lokal yang dapat menghimpun anggota dan memasukkan kekuatan dari lapisan terbawah. Kegagalan itu bukan merupakan hal yang kebetulan. Para anggota terkemuka partai ini selalu melihat peranan partainya bersifat mendidik dan bukan mengorganisasi, walaupun diasumsikan bahwa upaya-upaya di bidang pendidikan dalam jangka panjang akan melahirkan suatu basis massa bagi partai. Sementara itu, Partai Sosialis Indonesia menganggap dirinya sebagai partai pendidikan kader bukan partai massa dan kelemahan ini ternyata fatal ketika Pemilihan Umum pada akhirnya diselenggarakan di tahun 1955. Daya tarik Partai Sosialis Indonesia

  71 (PSI) terhadap pemilih ternyata kecil.

  Menurut pendapat Mochtar Lubis dalam buku yang berjudul Mengenang

  

Sjahrir , setelah kekalahan Partai Sosialis Indonesia dalam Pemilihan Umum

  pertama dia pernah bertanya kepada Sjahrir mengapa dia tidak mencoba merebut kekuasaan untuk melaksanakan cita-cita sosialismenya, baik di masa perang

70 P.Y. Nur Indro. op. cit, hal 125.

  kemerdekaan melawan Belanda dan di tahun-tahun sesudahnya, ketika cukup ada kemungkinan berbuat demikian. Dengan tenang sambil tersenyum Sjahrir berkata, bahwa dia dan partainya menjujung tinggi cita-cita perjuangan partainya yakni hendak membina sosialisme-kerakyatan (sosialisme-demokratis), dan untuk mencapai tujuan demikian haruslah pula berjuang dengan tata permainan demokratis, dan merebut kekuasaan dengan memakai jalan kekerasan sangat bertentangan dan menyalahi cita-cita demokrasi atau kerakyatan.

  Moctar Lubis juga menanyakan mengapa Partai Sosialis Indonesia (PSI) tidak menjadi partai massa ? Banyak kesan di masyarakat seakan PSI bersikap elitis, membatasi diri pada kelompok intelektual yang kecil, dan tidak erat berakar ke bawah. Menurut Sjahrir ada dua pemikiran mengenai partai massa. Yang satu menghendaki partai dengan sebanyak mungkin anggota, sampai berjuta-juta, seperti yang dilakukan PKI dan partai-partai lain. Tetapi jumlah anggota yang banyak tidak menjamin atau menentukan kekuatan suatu partai, jika tidak diikuti oleh kesadaran anggotanya yang sama mengenai cita-cita perjuangan partai, prinsip-prinsip, strategi dan taktik perjuangan partai. Malahan keadaan demikian mudah menimbulkan perpecahan dan pertentangan, apalagi jika di kalangan

  72 pimpinan timbul perlombaan untuk merebut kekuasaan dalam partai.

  Pemikiran lain mengenai partai massa, dan yang kami coba di PSI, katanya, adalah partai yang sepenuhnya dan dengan sekuat-kuatnya memperjuangkan kepentingan massa rakyat, membela nasib massa rakyat dan menyatukan diri dengan nasib rakyat. Jika suatu partai berhasil berbuat begini, jika dia sanggup dan berhasil menyuarakan kepentingan, tuntutan, harapan dan kehendak massa rakyat, maka partai itu pun, meskipun jumlah anggotanya tidak besar, adalah juga satu partai massa. Dan ciri lain dari partai massa demikian adalah semangat kerakyatannya (demokrasi), cita-cita persamaan bagi seluruh

  73 rakyat.

  Partai Sosialis Indonesia (PSI), bila dilihat dari kuantitas keanggotaannya merupakan partai kecil di Indonesia, yang hanya memperoleh 2% suara total dalam pemilihan umum pada bulan September 1955, tapi secara kualitas merupakan partai yang mempunyai pengaruh besar. Pada hemat Sjahrir, kelemahan Partai Sosialis Indonesia (PSI) disebabkan karena keliru menghitung kematangan dan kesadaran politik para pemilih, khususnya yang mudah didominasi oleh otoritas keagamaan dan kepamongprajaan.

  Pemilihan umum tahun 1955 menghasilkan partai politik Empat Besar yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia), Masyumi, PKI (Partai Komunis Indonesia) dan NU (Nahdlatul Ulama). Sedangkan Partai Sosialis Indonesia merosot menjadi partai kecil. Kegagalan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dalam pemilu, menurut pendapat sebagian para penganalisa, adalah karena gagasan-gagasan Sjahrir terlalu bersifat elitis yang hanya dapat dipahami oleh sekelompok kaum intelektual saja, sedangkan sebagian rakyat tidak dapat mengikuti cara berpikir Sjahrir. Apa pun yang tidak menyenangkan telah dikatakan tentang Sjahrir, betapa pun dia diejek oleh lawan-lawan politiknya, satu hal yang patut diakui: Sjahrir telah berusaha merumuskan, apa itu ideologi yang dinamakan “Sosialisme

74 Kerakyatan”.

4.2. Akhir dari Karir Sjahrir 4.2.1. Pembubaran Partai Sosialis Indonesia (PSI) Tahun 1960

  Pada tanggal 15 Februari 1958 PRRI (Pemerintah Revolusioner RI) dibentuk di Padang dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai PM/Menteri Keuangan oleh Dewan Perjuangan pimpinan Letkol Ahmad Husein. Peristiwa tersebut telah didahului oleh berbagai tahap dengan pembentukan Dewan Gadjah di Medan, Dewan Banteng di Padang dan Dewan Garuda di Palembang. Dewan- dewan ini pada awalnya bertujuan sebagai gerakan pembangunan daerah.

  Permesta (Piagam Perjuangan Semesta) diikrarkan (meneguhkan janji) di Makassar pada tanggal 2 Maret 1957, dipelopori oleh Letkol H.V.N. Sumual, Letkol Saleh Lahade dan sejumlah tokoh masyarakat. Tujuan utamanya adalah pembangunan Indonesia wilayah Timur berdasarkan otonomi luas.

  Gerakan PRRI (Pemerintah Revolusioner RI)-Permesta (Piagam Perjuangan Semesta) yang menentang Pemerintah Pusat muncul di daerah. Para Kolonel, seperti Simbolon, Ahmad Husein, Ventje Sumual merekrut tokoh-tokoh Masyumi-PSI seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanoedin Harahap,

  75 Sumitro Djojohadikusumo dalam upaya mengganti Pemerintah Pusat.

74 H. Rosihan Anwar. op. cit. hal 111.

  Pada bulan April 1957 Sukarno membentuk kabinet Karya yang dipimpin oleh Djuanda Kartawidjaja, seorang politisi yang tidak bergabung dalam suatu partai. Alasan Sukarno memilih Djuanda antara lain karena terdapat permusuhan yang semakin dalam di antara partai-partai yang ada. Kabinet ini mengalami berbagai masalah yang mengarah kepada pergerakan nasional.

  Pada bulan September dan Oktober 1957 berlangsung pertemuan yang diadakan di Sumatera antara Kolonel Simbolon, Kolonel Samuel dari Permesta (Piagam Perjuangan Semesta) dan Kolonel Lubis. Hasil dari pertemuan tersebut adalah :

  1. Diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih seorang presiden baru guna mengakhiri kegiatan-kegiatan Sukarno yang pro Partai Komunis Indonesia.

2. Nasution dan staf di pusat diganti.

  76 3.

  Partai Komunis Indonesia dilarang. Berdasarkan kenyataan bahwa kabinet Djuanda tidak mampu menangani masalah-masalah yang terjadi, pada bulan Januari 1958 Partai Sosialis Indonesia menuntut pembentukan kabinet baru. Tuntutan tersebut ditolak oleh Sukarno, Partai Nasionalis Indonesia dan Nahdlatul Ulama berusaha terus mempertahankan kabinet Djuanda. Pada tanggal 10 Februari 1958 tuntutan pembubaran kabinet juga datang dari pertemuan di Padang antara para perwira militer dan para pemimpin Masyumi (Natsir dan Sjafruddin) serta Sumitro Djojohadikusumo dari Partai Sosialis Indonesia. Selain itu pertemuan di Padang juga menuntut :

  1. Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX harus ditunjuk untuk membentuk kabinet karya baru.

  2. Sukarno harus kembali ke posisi konstitualnya, yaitu presiden hanya

  77 sebagai lambang.

  Sjahrir telah menasehati anggota-anggota PSI bahwa mereka boleh aktif dalam gerakan pembangunan daerah tapi jangan melibatkan diri dalam aksi konfrontatif atau pertentangan terhadap Pemerintah Pusat. Sukarno dan A.H. Nasution mengirim tentara di bawah komando Kol. Ahmad Yani. Pada bulan Februari 1958, operasi gabungan pasukan payung dilancarkan ke lapangan terbang Pekanbaru. Ikut terjun seorang letnan baret merah, Benny Moerdani (Kelak menjadi Panglima ABRI). Pada tanggal 17 April 1958, pasukan ekspedisi gabungan TNI mendarat di pantai Sumatera Barat. Kota Padang kemudian segera diduduki. Tanggal 4 Mei, Bukittinggi dikuasai. Di Sulawesi, perlawanan Permesta (Piagam Perjuangan Semesta) masih ada. Namun, jatuhnya Bukittinggi berarti

  78 ancaman PRRI-Permesta terhadap pemerintah pusat tidak lagi diperhitungkan.

  Para pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang ada di Jakarta tidak berhasil mencegah munculnya pemerintahan pemberontak yang terkenal dengan sebutan PRRI (Pemerintah Revolusioner RI) yang bermarkas di Bukittinggi. Pada tanggal 17 Februari 1958 pemberontak Permesta (Piagam Perjuangan Semesta) bergabung dengan PRRI (Pemerintah Revolusioner RI). Partai Sosialis Indonesia

77 P.Y. Nur Indro. Ibid. hal 151.

  lebih mengutamakan dialog dalam mengatasi berbagai masalah oleh karena itu mereka tidak menyetujui dilakukannya pemberontakan tersebut.

  Sehubungan dengan pemberontakan tersebut, pada tanggal 21 Juli 1960 Presiden Sukarno memutuskan Partai Sosialis Indonesia untuk mengemukakan secara tertulis dengan disertai bukti-bukti ketidakterlibatannya dalam pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner RI). Keputusan ini diberikan Presiden Sukarno kepada Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo dan T.A Murad.

  Dari jawaban atas keputusan presiden tersebut akan terbukti Partai Sosialis Indonesia no.7 tahun 1959 dengan kriteria berikut : Presiden, setelah mendengar Mahkamah Agung, dapat melarang dan atau membubarkan partai yang :

1. Bertentangan dengan azas dan tujuan negara; 2.

  Programnya bermaksud merubah azas dan tujuan negara; 3. Sedang melakukan pemberontakan-pemberontakan atau telah jelas memberikan bantuan, sedangkan partai itu tidak dengan resmi menyalahkan perbuatan anggota-anggotanya itu; 4. Tidak memenuhi syarat-syarat lain yang ditentukan dalam Penetapan

79 Presiden ini.

  Pada tanggal 28 Juli 1960 Partai Sosialis Indonesia (PSI) memberikan jawaban atas permintaan presiden tanggal 21 Juli 1960. Pokok jawaban tersebut tercantum dibawah ini;

  1. Azas, tujuan dan program Partai Sosialis Indonesia sesuai dengan hukum resmi negara; Dalam keadaan seperti apapun, Partai Sosialis tetap akan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Hal ini dapat dilihat pada garis perjuangan Partai Sosialis sebagai berikut: oleh karena itu, bentuk perjuangan rakyat untuk melaksanakan persatuan adalah persatuan bangsa dan rakyat (nasional front) dengan menjauhkan bahaya perpecahan golongan dan derajat yang hanya akan berakibat memecah kekuatan serta kesanggupan perjuangan bangsa dan rakyat.

  2. Walau Partai Sosialis Indonesia beroposisi terhadap kabinet Karya, tetapi tidak pernah menyetujui eksistensi PRRI.

  3. Keikutsertaan Dr. Sumitro Djojohadikusumo dalam PRRI di luar pengetahuan dan tak mewakili partai.

  4. Dr. Sumitro Djojohadikusumo sangat sulit untuk dihubungi sehingga

  80 partai belum dapat menentukan sikap terhadapnya.

  Surat jawaban tersebut dibuat oleh Sutan Sjahrir sebagai Pimpinan Umum Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan diakhiri dengan pernyataan sebagai berikut :

  ” ...Maka berdasarkan segala uraian di atas, ad III, Pimpinan Partai Sosialis Indonesia menyatakan dengan ini bahwa Partai Sosialis Indonesia tidak

  81 terkena oleh pasal 9 ayat (1) sub 3-Penetapan Presiden no. 7 tahun 1959”.

  Dalam surat jawaban terhadap Presiden Sukarno tersebut, dapat dipahami bahwa Partai Sosialis Indonesia menolak kerjasama dengan pemberontakan.

  Penolakan tersebut paling tidak berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

80 P.Y. Nur Indro. Ibid. hal 153.

  1. Pemberontakan merupakan cara menyalurkan aspirasi yang tidak demokratis.

  2. Partai Sosialis Indonesia tidak bersifat kedaerahan sehingga akan berusaha mempertahankan persatuan dan kesatuan kebangsaan.

  3. Dalam surat jawaban Partai Sosialis Indonesia tersebut tertulis : ”...Sejak dari mulanya pendirian kita tegas dan tidak ragu-ragu: semua anggota kita dilarang mengikuti gerakan pemberontakan itu malah ditugaskan untuk menentang dan menghambatnya. Sehingga mereka yang tidak dapat dan sanggup menuruti petunjuk serta perintah partai dengan sendirinya

  82 memutuskan dirinya dari hubungan partai, dari keluarga partai”.

  Atas dasar itu pada tanggal 17 Agustus 1960 keputusan Presiden Sukarno membubarkan Partasi Sosialis Indonesia sebagaimana tertuang dalam Keputusan No. 201 tahun 1960 menyatakan :

  ”Membubarkan Partai Sosialis Indonesia, termasuk bagian-bagian/cabang- cabang/ranting-ranting di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. Keputusan untuk membubarkan Partai Sosialis Indonesia tersebut didasari pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

  1. Untuk kepentingan keselamatan Negara dan Bangsa.

  2. Partai Sosialis Indonesia melakukan pemberontakan atau telah memberikan bantuan terhadap Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.

  3. Partai Sosialis Indonesia secara resmi mengalahkan anggota-

  83 anggotanya”.

  Reaksi anggota-anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) atas keputusan Presiden tentang pembubaran Partai Sosialis Indonesia (PSI) tersebut tidak bersifat revolusioner. Partai Sosialis Indonesia bereaksi secara demokratis dalam arti sangat menghargai pendapat orang lain. Dalam Tanya jawab, Partai Sosialis Indonesia sudah memberikan jawaban namun ditanggapi dengan pembubaran

82 P.Y. Nur Indro. Ibid. hal 154.

  Partai Sosialis Indonesia dan jawaban ini adalah dari pemimpin negara maka Partai Sosialis Indonesia menerimanya dengan hormat. Hal ini terbukti dengan surat Partai Sosialis Indonesia No. K. 089/1960 kepada staf Penguasa Perang Tertinggi tentang permohonan ijin untuk mengadakan kongres karena wewenang untuk membubarkan partai ada pada Kongres Partai Sosialis Indonesia.

  Pada tanggal 5 September 1960 Kepala staf Penguasa Perang Tertinggi memberikan jawaban terhadap permohonan Partai Sosialis Indonesia untuk mengadakan kongres. Jawaban tersebut tertuang dalam surat bernomor 0612/PEPERTI/1960 yang berisi penolakan ijin kepada Partai Sosialis Indonesia untuk mengadakan kongres. Alasan penolakan ijin tersebut adalah dikarenakan Partai Sosialis Indonesia telah dibubarkan. Maka satu-satunya aktivitas yang dapat diakui dari Partai Sosialis Indonesia adalah mengeluarkan pernyataan yang dilakukan pemimpin partai bahwa partai mereka bubar.

  Partai Sosialis Indonesia menerima keputusan tersebut dengan baik dalam surat dari Sekretariat Jenderal Partai Sosialis Indonesia kepada anggota yang berisi pernyataan bahwa cabang-cabang dan segenap rantingnya hendaklah mentaati keputusan Presiden no. 201 tahun 1960. Selain itu Partai Sosialis Indonesia telah menyatakan bubar dan hal tersebut dapat dipahami dalam radiogram (berita melalui radio) dari Kasi Sekretariat Staf Penguasa Perang Tertinggi, yang berbunyi :

  ”...Pimpinan Partai Masyumi termasuk Majelis Suro dan Muslimatnya serta Partai Sosialis Indonesia telah menyatakan partainya bubar dengan

  

84

memberitahukan kepada presiden ttk”.

4.2.2. Penangkapan Sjahrir Tahun 1962

  Dalam segala hal yang berbau penyelewengan politik, Partai Sosialis Indonesia menjadi sasaran empuk propaganda hitam dari pihak partai-partai lain.

  Upaya yang dijalankan untuk membenahi organisasi, keanggotaan, ideologi Partai Sosialis Indonesia tidak juga membawa hasil memuaskan. Sjahrir menghadapi tantangan-tantangan, semakin kentara bahwa politik tidak berpihak kepada Sjahrir.

  Upacara besar ngabenan, pembakaran jenazah bekas raja Gianyar menurut adat Bali berlangsung tanggal 18 Agustus 1961. Anak Agung Gde Agung, putra raja, mantan Menteri Luar Negeri dalam kabinet Boerhanoedin Harahap (12 Agustus 1955 - 3 Maret 1956) mengundang teman-temannya untuk menghadiri

  

ngabenan . Tamu-tamu tersebut adalah Hatta, Sutan Sjahrir, Moh Roem, Soebadio

  85 Sastrosatomo, Hamid Algadri, Sutan Hamid II Alkadri dari Pontianak. Upacara

  berlangsung lancar dan juga ramai. Menteri Luar Negeri yaitu Subandrio dalam kedudukannya sebagai Kepala Pusat Intelijen menerima laporan rahasia bahwa di

  86 Bali telah terjadi persekongkolan subversif yang ditujukan ke alamat negara.

  Laporan diteruskan oleh Subandrio kepada Presiden Sukarno. Cerita konspirasi atau persekongkolan di Bali itu kemudian menyebar pada masyarakat.

  Tanggal 7 Januari 1962, Presiden Sukarno berkunjung ke Makassar. Sebuah granat dilemparkan ke arah iring-iringan mobilnya. Tidak ada korban

  85 H. Rosihan Anwar. op. cit. hal 132.

  86 Subversif berkenaan dengan subversi. Subversi adalah gerakan dalam

  usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan menggunakan cara di luar undang-undang. Lihat kamus, Departemen Pendidikan Nasional. op.cit. hal yang tewas. Tanggal 15 Januari, dua warga negara Belanda ditangkap karena

  87

  dianggap ingin mencelakai Presiden Sukarno. Pada tanggal 16 Januari 1962, pukul 4 pagi, pemerintah menangkap Sjahrir dirumahnya di Jalan Jawa No. 61 (sekarang, H.O.S. Cokroaminoto). Juga ditangkap Anak Agung Gde Agung, Soebadio Sastrosatomo, Sultan Hamid II Alkadri dari Pontianak. Selanjutnya tokoh-tokoh Masyumi: Prawoto Mangkusasmito, Yunan Nasution, Kiai H. Isa

88 Anshary, dan Moh Roem.

  Pada tahun 1958 sehubungan dengan pemberontakan di Sumatera menurut Jeannes S. Mintz dalam bukunya yang berjudul Mohammed, Marx and Marhaen:

  

the Roots of Indonesian Socialism , pemimpin-pemimpin Partai Sosialis Indonesia

  terbagi menjadi dua, di satu pihak ikut dalam pemberontakan tersebut, sedangkan di pihak lain mengutuk pemberontakan tersebut. Pihak yang tidak menyetujui pemberontakan mengeluarkan himbauan untuk menghindari terjadinya perang saudara. Sikap politik yang sangat menonjol dari Partai Sosialis Indonesia adalah selalu merasa ketakutan adanya kemungkinan negara Indonesia mengalami

  89 degenerasi (kemunduran atau kemerosotan generasi).

  Surat perintah untuk menahan Sjahrir, dikeluarkan oleh Peperti (Penguasa Perang Tertinggi) yang dipimpin oleh Sukarno. Dokumen ditandatangani oleh Subandrio sebagai menteri luar negeri dan Nasution sebagai mentri pertahanan.

  Nasution yang mendengar beberapa hari setelah surat perintah dikeluarkan, menyatakan bahwa dia harus menerima ketentuan dalam peristiwa tersebut.

  87 H. Rosihan Anwar. op. cit. hal 134.

  88 H. Rosihan Anwar. Ibid. hal 137. Nasution juga berkata kepada Soedjatmoko yang kemudian ditulis dalam memoarnya, bahwa: “Sebenarnya Sukarno yang berada di belakang perintah penangkapan yang diberikan kepada Nasution dengan nama-nama belum diisi dalam dokumen

  90 dan meminta Nasution untuk menandatangani kertas seperti adanya”.

  Dengan keragu-raguan, bahkan beberapa di antara teman-teman Sjahrir yang paling dekat dan sudah lama menjadi pengagumnya, membicarakan masa- masa terakhir dan tulisan Sjahrir dari penjara khususnya, tentang kemunduran intelektualnya. Analisisnya, menurut mereka kadang-kadang kabur, perhatiannya tidak menentu, bahasanya datar. Menurut teman-temannya hal tersebut sangat menyedihkan, ketika tulisannya dibandingkan dengan apa yang dihasilkan Sjahrir

  91 selama tahun 1930-an dan 1940-an.

90 Rudolf Mrázek, op. cit. hal 817-818.

  

BAB V

PENUTUP 5. 1. Kesimpulan

  Sutan Sjarir merupakan panutan bagi bangsa Indonesia. ketika dia melanjutkan pendidikannya di Bandung tahun 1926, sikap kepeduliannya sudah tampak ketika melihat keadaan rakyat Indonesia yang sangat menderita dan juga tidak mampu terutama kaum kuli yang menderita akibat penjajahan kolonial.

  Semenjak itu Sjahrir dan teman-temannya mulai menaruh perhatian pada kehidupan rakyat yang kurang mampu. Di saat masyarakat Indonesia tidak bisa mengenyam pendidikan karena keterbatasan biaya, dia dan teman-temannya membagi pengetahuan dengan cara mendirikan sekolah gratis tanpa batasan umur yang dinamai Tjahja Volksuniversiteit, yang didirikan tahun 1928. Apa yang Sjahrir dan teman-temannya peroleh di sekolah, mereka bagikan kepada anak didik mereka. Dari sini dapat dilihat betapa Sjahrir sangat memperdulikan keterbatasan rakyat Indonesia.

  Sjahrir merupakan perpaduan antara ketajaman ilmu pengetahuan dan kedalaman batin. Ia mampu hidup dalam ketegangan antara global dan lokal. Ia bukan seseorang yang anti barat, bahkan kepada Sjahrazad, adiknya yang tengah belajar di Belanda, ia menganjurkan agar membuka pikiran dan hati lebar-lebar untuk menyelami Eropa supaya ilmu yang dipelajari menjadi hidup dan bermakna. Bukan pihak kolonial yang dibenci Sjahrir tetapi sikap mereka yang mengekang kemajuan bangsa Indonesia baik itu dalam hal pendidikan dan juga kehidupan Ketika Jepang menjajah Indonesia, Sjahrir sudah memprediksi bahwa bangsa Jepang tidak akan bertahan lama berada di Indonesia. Keyakinan Sjahrir semakin diperkuat ketika dia selalu mengikuti perkembangan berita-berita yang disiarkan diradio luar negeri yang menyatakan bahwa Jepang mengalami kekalahan dalam peperangan. Bagi Sjahrir Amerika dan juga Belanda lebih memiliki peralatan perang yang sangat canggih dibandingkan Jepang. Sjahrir sangat membenci Jepang karena sikap fasis Jepang, yang sangat menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia. Tidak hanya sengsara atas penjajahan Jepang tetapi pola pikir pemuda Indonesia nyaris menyerupai bangsa Jepang seperti sering berkelahi, bahkan memusuhi bangsa sendiri yaitu orang-orang Ambon, Manado yang pada waktu itu dijadikan KNIL oleh bangsa Belanda bahkan para pemuda juga memusuhi orang Indo dan juga orang Tionghoa. Sjahrir selalu meghindari permusuhan di antara bangsa sendiri khususnya permusuhan antar suku.

  Setelah dua bulan bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan, Sjahrir merasa bahwa kemerdekaan tersebut hanyalah untuk kepentingan negara, bangsa dan juga untuk kepentingan politik. Bagi Sjahrir tidaklah cukup jika suatu negara sudah merdeka dari penjajahan bangsa lain tetapi dalam masyarat masih ada orang yang hidup miskin. Merdeka yang sebenarnya harus dimulai dari mensejahterakan rakyat dari keterbelakangan mental dan juga perekonomian. Percuma jika kemerdekaan yang diperoleh tetapi di dalam suatu negara yang baru saja merdeka masih ada tuan dan hamba. Sjahrir tahu bahwa apa yang di inginkan oleh rakyat Indonesia yang sampai sekarang tidak pernah tercapai yaitu kesejahteraan. Apa yang diinginkan rakyat tidak bisa terpenuhi, berarti nasionalisme telah gagal, menjadi faktor negara yang konservatif dan reaksi terhadap sesuatu yang negatif dan akan mengakibatkan keegoisan, mensejahterakan dirinya sendiri, dan tidak memperdulikan orang-orang di sekeliling.

  Politik yang ingin diterapkan Sjahrir ditujukan lebih untuk mengutamakan kebebasan manusia dan kepentingan masyarakat daripada kemerdekaan nasional.

  Walaupun negara Indonesia sudah mencapai kemerdekaan tetapi masih ada hal yang jauh lebih penting yaitu perdamaian, kemakmuran, dan juga kemajuan bagi rakyat. Bagi Sjahrir bahaya besar yang mengancam Republik Indonesia bukanlah dari pihak luar. Bahaya tersebut sebenarnya sudah lama bersarang di dalam bangsa Indonesia sendiri. Jiwa komunalisme dengan segala aspeknya yang negatif bukan saja ada pada penjajah melainkan secara tak sadar sudah terhimpun di dalam darah daging orang-orang Indonesia sebagai hasil sekian abad kolonialisme. Bagi Sjahrir, pembentukan suatu negara bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan suatu ekspresi dan juga sebagai alat dari kedaulatan rakyat. Negara adalah alat untuk mencapai tujuan lain di samping revolusi, yaitu keadilan sosial, kebebasan, dan juga hak asasi manusia.

  Sutan Sjahrir memang bukanlah sekedar seorang politikus. Dia adalah seorang negarawan, yakni warganegara yang dalam pengabdiannya yang luar- biasa terhadap Negara dan Bangsa, tidak menyandarkan pikiran dan langkah- langkahnya pada patokan kekuasaan. Menang atau kalah bukan persoalan yang besar bagi seorang negarawan, apalagi untung rugi bagi diri pribadi. Keprihatinan negarawan adalah kepentingan dan kesejahteraan seluruh negara, seluruh masyarakat. Bukan ”Aku” atau ”Kami” yang penting bagi negarawan, tetapi

  ”Kita Semua”. Bukan hanya bangsa, negara, masyarakat, keadaan, dan sebagainya yang ia abdi, tetapi juga kepentingan dan perkembangan manusia-manusia sebagai pribadi-pribadi yang menjadi warganegara atau warga masyarakat tersebut.

  Sjahrir bukan hanya sekedar Politikus tetapi ia adalah seorang Negarawan yang memikirkan bagaimana kehidupan generasi yang akan datang. Dia bukan hanya sekedar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia untuk dapat terbebas dari penjajahan bangsa lain tetapi bagaimana caranya untuk memperoleh kemerdekaan bagi masyarakat kecil secara individu. Dia bagaikan sebuah kekecualiaan bagi zamannya. Ia terlalu di depan bagi masanya. Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional bukanlah suatu final. Tujuan akhir dari perjuangan politiknya adalah terbukanya ruang bagi rakyat untuk mengusahakan dirinya, untuk memunculkan bakatnya dalam kebebasan tanpa halangan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan adalah sebuah jalan menuju cita-cita tersebut. Itulah sebabnya Sjahrir menganggap nasionalisme harus tunduk kepada kepentingan demokrasi.

  Apa yang Sjahrir takuti di masa kejayaannya dimana rakyat Indonesia membenci bangsa asing bahkan bangsanya sendiri bukan hanya terjadi pada sebelum atau pun sesudah kemerdekaan Indonesia, tetapi sampai sekarang sikap saling memusuhi bangsa sendiri masih dirasakan hingga saat kini. Banyak keinginan-keinginan Sjahrir yang belum terwujud sampai maut merenggut hidupnya, seperti mendirikan rumah untuk orang yang tidak mampu, mendirikan rumah sakit gratis, dan bahkan ingin menyelenggarakan pembayaran pajak sesuai dengan penghasilan yang diperoleh. Jika keinginan Sjahrir tersebut dapat terpenuhi dapat dimungkinkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia bisa tercapai. Entah kapan bangsa Indonesia memiliki pemimpin negara seperti Sutan Sjahrir, yang lebih mementingkan kesejahteraan rakyat bukan hanya sekedar omongan belaka tetapi sikap kepeduliannya dia terapkan pada rakyat kecil.

  Tidak cukup hanya menempatkan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia. Begitu juga menempatkan Sjahrir hanya sebagai pendiri Partai Sosialis Indonesia atau pimpinan partai sosialis, gelar itu terlalu kecil bagi Sjahrir. Ketokohan Sjahrir seharusnya menjadi inspirator bagi bangsa ini, yang menawarkan pemahaman politik sebagai nilai luhur mewujudkan kesejahteraan rakyat dan bukan berburu kekuasaan. Situasi di Indonesia saat ini semakin menjauh dari negara kesejahteraan yang dicita-citakan Sjahrir yang pengertiannya secara politis adalah mengurangi kemiskinan, memajukan stabilitas sosial, dan memajukan efisiensi ekonomi.

  Bagi Sjahrir, analisis politik perlu daya pikir yang kuat sekaligus keteguhan hati pada keadilan. Dengan daya pikir itu politik merupakan pendidikan demokrasi, bukan perburuan, pembesaran, dan pelanggengan kekuasaan. Ketika Pemilu tahun 2009 dilaksanakan, banyak para politikus untuk dapat menarik simpati rakyat, mereka yang secara terang-terangan menghasut rakyat dengan mengiming-imingi berbagai hal untuk kepentingan masyarakat kecil. Hal itu menunjukan bahwa para politikus tersebut memandang kekuasaan bukan untuk tahap awal memperjuangkan aspirasi rakyat tetapi kekuasaan bagi mereka adalah tempat untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Ini menandakan bahwa pemikiran para politikus semakin jauh dari pemikiran Sutan Sjahrir yang lebih menitikberatkan perhatiannya para rakyat kecil.

  Sangat diharapkan bagi bangsa Indonesia untuk saat ini dan juga untuk masa mendatang, pemimpin negara yang seperti Sutan Sjahrir, yang lebih memperhatikan kepentingan rakyatnya bukan untuk mencari muka supaya mendapat perhatian rakyat tetapi sikap ketulusan yang merasa senasib sepenanggungan dengan rakyat kecil. Percuma jika suatu negara telah merdeka tetapi kemerdekaan bagi rakyat kecil sendiri belum terwujud, terutama kemerdekaan atas persamaan derajat.

  

KEPUSTAKAAN

  Basuki Suwarno, Hubungan Indonesia-Belanda Periode 1945-1950, Upakara, Jakarta, 1999. Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negeri Barat, Mizan, Bandung, 1997. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Jilid Keempat , PT. Gremedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008. Djoeir Moehamad, Mochtar Lubis (ed), Memoar Seorang Sosialis, Obor, Jakarta, 1997. Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx ; ; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisioner , Gramedia, Jakarta, 2001. Frederick, William H. dan Soeri Soeroto (ed), Pemahaman Sejarah Indonesia (Sebelum dan Sesudah Revolusi) , Lp3ES, Jakarta, 1982. Rosihan Anwar, H (ed), Mengenang Sjahrir, Gramedia, Jakarta, 1980. Rosihan Anwar, H, Sukarno-Tentara-PKI : Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965 , Obor, Jakarta, 2006. Rosihan Anwar, H, Sutan Sjahrir : Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, PT Kompas Media Nusantara, KITLV Press. Jakarta, 2010. Kahin, George Mc Turnan, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, UNS, Surakarta, 1995. Legge, J.D, Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan : Peranan Kelompok Sjahrir , Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1993. Gottschalk, Louis, Mengeri Sejarah, Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1975. Panitia Konferensi Internasional, Denyut Nadi Revolusi Indonesia, Gramedia, Jakarta, 1997. Mani, P. R. S. Jejak Revolusi 1945 ; Sebuah Kesaksian Sejarah, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1989. P.Y. Nur Indro. Pemikiran Politik Soetan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia:

  Tentang Sosialisme Demokrat , Inisiatif Warga, UKM Media Parahyangan dan UKM Pusik Parahyangan, Bandung, 2009. Mrázek, Rudolf, Sjahrir; Politik dan Pengasingan di Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,1996. Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Gramedia, Jakarta, 1993. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru ; Sejarah Pergerakan

  Nasional, Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Gramedia, Jakarta,1990.

  M. Dagun, Save, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, LPKN, Jakarta, 1997. Sutan Sjahrir, Pikiran dan Perjuangan, Jendela, Yogyakarta, 2000. Sutan Sjahrir, Sosialisme Indonesia Pembangunan, Leppenas, Jakarta, 1982. Sutan Sjahrir, Perjuangan Kita, Guntur 49, Jakarta, 1994. Sutan Sjahrir, Sosialisme dan Marxsisme, Jembatan, Jakarta, 1967. Solichin Salam, Sjahrir Wajah Seorang Diplomat, S. T. Rais Alamsjah, 10 Orang Indonesia Terbesar Sekarang, Mutiara, Padang, 1952.

  Syahbuddin Mandaralam, Apa dan Siapa Sutan Sjahrir, Rosda Jayaputra, Jakarta, 1987. Ebenstein, William dan Edwin Folgeman, Isme-isme Dewasa ini. Erlangga, Jakarta, 1987. Yanto Bashri dan Retno Suffatni (ed), Sejarah Tokoh Bangsa, Lkis, Yogyakarta, 2004.

  Majalah dan Koran Tempo, Edisi Khusus, 2009.

  Jakarta Post, Tuesday, March 10, 2009. Seputar Indonesia, kamis 5 Maret 2009.

  Internet

  www.sutan sjahrir.com http://empimuslion.wordpress.com/2007/09/29/sutan-sjahrir/ http://www.tanmalaka.estranky.cz/clanky/tokoh-kiri-indonesia/sutan syahrir http://www.berpolitik.com/static/myposting/2008/03/myposting_10850.htmlJalan Politik Sutan Sjahrir Tags: PikiranPerjuangan, BungSjahrir

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
81
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
191
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia
0
0
97
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
123
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Ilmu Komputer
0
0
234
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia
0
0
153
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia
0
0
129
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
103
Show more