Hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja - USD Repository

Gratis

1
2
99
8 months ago
Preview
Full text

  HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Catarina Novita Wahyuningtyas 06 9114 033 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA

  Disusun oleh : Catarina Novita Wahyuningtyas 06 9114 033

  Telah disetujui oleh : Dosen Pembimbing

Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi., Psi Tanggal:……………....2010

  

HALAMAN PENGESAHAN

SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN HARGA

DIRI PADA REMAJA

Dipersiapkan dan ditulis oleh :

  

Catarina Novita Wahyuningtyas

06 9114 033

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji

Pada tanggal …………………….

  

Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Penguji 1 : Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi., Psi. ............................

  

Penguji 2 : Dra. L. Pratidarmanastiti, MS. .............................

Penguji 3 : ML. Anantasari, S.Psi., M.Si. .............................

  Yogyakarta,………….2010 Dekan,

  

Sebuah lagu yang selalu memotivasiku untuk terus berjuang…..

  

Pernahkah terpikir olehmu

Masa depan yang pernah kau jelang

Begitu banyaknya rintangan,

Yang slalu menghadang jalan kita

  

Dan kini kumulai berlari kencang

Kan kugapai semua impian

Kini kumulai berlari kencang,

Kan kugapai semua impian

  

Terindah…

Saat kau temui rintangan

Jangan pernah dirimu menyerah,

Cobalah untuk menghadapinya

Kau menang,bila dirimu percaya

(mars VL 13, by : es cendoelz)

  

Karya yang sederhana ini kupersembahkan untuk:

Tuhanku Yesus Kristus Bapak dan ibuku tercinta Seluruh keluarga besarku

  Penyemangat hidupku “wottomorfosis” Semua sahabat dan teman-temanku Almamaterku, psikologi USD

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 2010 Penulis,

  Catarina Novita wahyuningtyas

  

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN HARGA

DIRI PADA REMAJA

Catarina Novita Wahyuningtyas

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh demokratis dengan

harga diri pada remaja. Subyek penelitian adalah 156 remaja dengan rentang umur antara 13-20

tahun. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara pola asuh demokratis

dengan harga diri pada remaja. Alat ukur yang digunakan untuk penelitian ini adalah skala yang

terdiri dari skala pola asuh demokratis dan skala harga diri. Skala pola asuh demokratis memiliki

koefisien reliabilitas alpha sebesar 0.963, sedangkan skala harga diri sebesar 0.883. Hasil

penelitian menghasilkan r sebesar 0.483 dan nilai P sebesar 0.00. Hasil ini menunjukkan bahwa

p<0.5= signifikan. Hal ini berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara pola asuh

demokratis dengan harga diri pada remaja. Mean teoritis skala pola asuh demokratis sebesar 150

dan mean empirisnya 192.69 sedangkan mean teoritis skala harga diri sebesar 96 dan mean

empirisnya 108.21 dengan P sebesar 0.00. Hal ini berarti subyek penelitian memiliki pola asuh

demokratis dan harga diri yang tinggi.

  Kata kunci : pola asuh demokratis, harga diri, remaja

  

THE CORRELATION BETWEEN DEMOCRATIC PARENTING STYLE

AND THE SELF ESTEEM OF ADOLESCENT

Catarina Novita Wahyuningtyas

ABSTRACT

  The purpose of this research is to know the correlation between the democratic parenting

style and the self esteem at adolescent. The subjects of this research were 156 adolescent between

16 and 20 years old. The hypothesis of this research is that there is a positive correlation between

democratic parenting style and self esteem at adolescent. The measuring tool of this research is

scale that consist of democratic parenting style scale and self esteem scale. The scale of

democratic parenting style has an alphya reliability coefficient for 0.963, while self esteem at

adolescent scale was 0.883. The result for r was 0.480 and P value was 0.00 these result suggested

that P<0.5=significant. This result means there is a positive correlation that significant between

democratic parenting style and self esteem at adolescent. The theoretical mean of democratic

parenting style scale was 150 and the empirical mean was 192.69 while the theoretical mean of

self esteem scale was 96 and the empirical mean was 108.21 with P value was 0.00. This means

that subject of this research have high democratic parenting style and high self esteem.

  Keywords: democratic parenting style, self esteem, adolescent

  

LEMBAR PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Saya yang bertanda tangan di bawah ini: NAMA : CATARINA NOVITA WAHYUNINGTYAS NIM : 06 9114 033 adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, memberikan skripsi saya yang berjudul:

  

“Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Harga Diri pada Remaja”

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma.

  Oleh karena itu Perpustakaan Universitas Sanata Dharma berhak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mempublikasikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin saya atau memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan untuk digunakan dengan semestinya.

  Yogyakarta, ……………..2010 Penulis,

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Yesus Kristus atas segala berkat dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan antara Pola Asuh Demokratis

  

dengan Harga Diri pada Remaja”. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi

  salah satu syarat kelulusan di fakultas Psikologi, universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menghadapi hambatan, namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  2. Ibu Titik Kristiyani, M.Psi., selaku Ketua Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Bapak Y. Heri Widodo, S. Psi., M.Psi, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, pengetahuan dan begitu banyak saran dalam penulisan skripsi ini.

  4. Bapak A. Supratiknya, Ph D, selaku dosen pembimbing akademik yang telah banyak memberikan bimbingan selama penulis menyelesaikan studi di fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  5. Semua bapak ibu dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membagikan pengetahuan dan ilmunya kepada penulis.

  6. Ibu Dra.L.Pratidarmanastiti, MS dan ibu ML. Anantasari, S.Psi., M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun bagi penulis.

  7. Ibu Agnes Indar E., Psi., M.Si terima kasih atas bimbingannya saat penulis menjadi asisten grafis.

  8. Mas Muji, mas Gandung, bu Nanik, mas Doni, pak Gie’, terima kasih atas bantuannya selama ini dalam urusan administrasi.

  9. Bapak Cyrillus Suwarji dan ibu Clarentina Bingah Suwarni yang tercinta...berjuta terima kasih atas doa, motivasi, kasih sayang dan kesabaran yang diberikan kepada penulis selama ini..sangat bangga dan beruntung memiliki orang tua sehebat kalian.

  10. Mas bowo dan keluarga..terima kasih atas motivasi yang diberikan kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.

  11. Mbah kakung, mbah putri, bulik-bulikku dan sepupu-sepupuku...terima kasih atas pertanyaan “kapan lulusnya” yang menjadikanku termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi.

  12. Yang tak pernah lekang oleh waktu...Albertus Sigit Prawoto...terima kasih untuk cinta, kesabaran, pengertian dan motivasinya...kasih sayangmu menguatkanku.

  berikan sangat membantu dalam penelitian ini...tanpa kalian penulis tidak dapat menyelesaikan skripsi ini.

  14. Semua teman yang telah membantu menyebarkan kuesioner Citra, Tika, Velly, Cupri, Cecil, Ance, Vio, Avis, Gose, Putu, Yoko....terima kasih atas bantuannya..tanpa kalian skripsi ini tidak akan cepat selesai.

  15. Sheenta dan Anna…teman yang membimbing penyelesaian skripsi ini serta mengajariku tentang SPSS..matur nuwun.

  16. Temen-temen satu bimbingan (Sheenta, Anna, Rona, Made, Cicil, Dian, Winda) yang selalu ngantri senin-selasa..terima kasih atas sharing dan kebersamaan dalam berjuang menyelesaikan skripsi.

  17. Lusia Tatik Kartikawati...terima kasih atas pinjeman laptopnya…atas bantuan menyebarkan kuesioner dan entri datanya serta motivasi yang diberikan pada penulis...”segera menyusul ya tik...semangat demi masa

  depan.hehehe.

  18. Chika dan Viany...terima kasih atas pengertian, kesabaran dan persahabatannya...kalian telah mengajariku banyak hal untuk menjadi dewasa.

  19. Ely, Emak, Dephi, Rara, Chacha, Mia, Erze, Windi, Ikke, Noetz, Berto, Satria, Adit, Kessed, Coro, Komeng, Paymun, Maz kun...terima kasih atas dukungan dan motivasi yang diberikan pada penulis…terima kasih telah berbagi banyak hal denganku... keep our friendship.

  21. Sahabat-sahabat VL 13…kalian memang tak pernah padam..terima kasih atas dukungan dan motivasi yang telah kalian berikan dari dekat maupun jauh...terutama untuk Citra, Dimon, Ema, Sheenta, Ninit, Vanda, Putri, Garbo, Danu..saat aku membutuhkan, kalian pasti selalu ada..terima kasih kawan.

  22. Yang pernah menjalani hidup bersama..anak-anak Palem..Atha, Ely, Nona, Mumbubz, Mira, Mba endoels...terima kasih atas proses yang mendewasakan…sangat membahagiakan mengenal kalian.

  23. Alma’ers…mba Nita terima kasih buat ajaran visionya...Velly, Cupri, Meimei, Pitri, Yuli, Tika kecil...terima kasih atas canda tawa, motivasi dan kebersamaannya.

  24. Anak-anak Putri Ayu..Rinda, Wiwik, Asti...terima kasih banyak atas bantuan dan motivasinya.

  25. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas dukungan, doa dan kerjasamanya selama ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, masih memiliki kekurangan-kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran masih penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi setiap orang yang membacanya.

  Yoyakarta, 25 Agustus 2010 Penulis

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN MOTTO ...................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... iv ABSTRAK ........................................................................................................ v ABSTRACT ...................................................................................................... vi

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...................... vii

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ix

DAFTAR ISI ..................................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL ............................................................................................ xvi

DAFTAR GAMBAR ATAU SKEMA ............................................................ xvii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii

  BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................................................ 1 B. Rumusan Permasalahan .............................................................. 7 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 8 D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 8

BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................... 10

  1. Pengertian Harga Diri ............................................................. 10

  2. Aspek-aspek Harga Diri ......................................................... 11

  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Harga Diri ....................... 13

  4. Perkembangan Harga Diri ..................................................... 16

  5. Harga Diri Remaja.................................................................. 18

  B. Pola Asuh Demokratis ................................................................ 19

  1. Pengertian Pola Asuh Demokratis .......................................... 19

  2. Aspek-aspek Pola Asuh Demokratis ..................................... 20

  3. Pola Asuh Demokratis pada remaja........................................ 21

  C. Hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja .................................................................................. 22 D. Hipotesis ....................................................................................... 25

  

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 26

A. Jenis Penelitian ............................................................................. 26 B. Identifikasi Variabel Penelitian .................................................... 26 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ..................................... 26 D. Subyek Penelitian ......................................................................... 29 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data............................................ 30 F. Pertanggungjawaban Mutu ........................................................... 35

  1. Uji Validitas ............................................................................. 35

  2. Uji Daya Beda Item.................................................................. 35

  1. Uji Asumsi............................................................................... 39

  2. Uji Hipotesis ............................................................................ 40

  

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 41

A. Pelaksanaan Penelitian ................................................................. 41 B. Data Demografi Subyek Penelitian .............................................. 41 C. Uji Asumsi.................................................................................... 42

  a. Uji Normalitas.......................................................................... 42

  b. Uji Linearitas............................................................................ 42

  D. Hasil Penelitian ............................................................................ 43

  1. Uji Hipotesis ............................................................................ 43

  2. Uji Tambahan........................................................................... 43

  E. Pembahasan ................................................................................. 45

  

BAB V PENUTUP......................................................................................... 51

A. Kesimpulan .................................................................................. 51 B. Saran ........................................................................................... 52

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 53

LAMPIRAN....................................................................................................... 55

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Tabel Spesifikasi Item-Item Skala Pola Asuh Demokratis ......................... 36 Tabel 2 Skor Butir-butir Favorable Skala Pola Asuh Demokratis .......................... 36 Tabel 3 Skor Butir-butir Unfavorable Skala Pola Asuh Demokratis....................... 37 Tabel 4 Skor Butir-butir Favorable Skala Harga Diri ............................................. 38 Tabel 5 Skor Butir-butir Unfavorable Skala Harga Diri.......................................... 38 Tabel 6 Tabel Skala Pola Asuh Demokratis Sebelum dan Sesudah Uji Coba......... 41 Tabel 7 Tabel Spesifikasi Skala Pola Asuh Demokratis Sesudah Uji Coba ............ 41 Tabel 8 Data Usia Subyek Penelitian....................................................................... 45 Tabel 9 Data Teoritis dan Empiris Skala Pola Asuh Demokratis dan

  Skala Harga Diri .........................................................................................48

  DAFTAR GAMBAR ATAU SKEMA

  Skema Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan harga Diri pada Remaja...... 29

  DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN I Estimasi Reliabilitas dan Uji Daya Beda Item

  Skala Pola Asuh Demokratis............................................... 59

  

LAMPIRAN II Uji Normalitas, Uji Linearitas, dan Uji Korelasi ................ 68

LAMPIRAN III Skala Pola Asuh Demokratis dan Skala Harga Diri ............ 72

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rendahnya harga diri yang dimiliki oleh remaja akan sangat

  berpengaruh pada perilaku remaja. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan harga diri merupakan kebutuhan mendasar, selain kasih sayang dan rasa aman.

  Orang-orang yang tidak atau kurang terpenuhi kebutuhan harga dirinya cenderung memiliki sifat-sifat negatif antara lain merasa rendah diri, lemah, dan tidak berdaya (Maslow, dalam Hall&Linzey, 1993). Harga diri pada remaja seringkali dihubungkan dengan kenakalan dan tindak kekerasan.

  Remaja yang memiliki harga diri yang rendah cenderung berperilaku menyimpang. Para ahli menyatakan bahwa remaja dengan harga diri rendah yang disertai pengalaman kegagalan, sering melakukan perbuatan kriminal dan kekerasan untuk meningkatan harga diri dan eksistensi pada peer-

  group nya.

  Remaja akan merasa memiliki harga diri yang tinggi dengan melakukan kenakalan karena kelompoknya akan mendukung dengan memberikan perasaan saling memiliki, penerimaan, dan disini remaja akan merasa penting. Selain kekerasan dan kriminal, harga diri juga berkaitan dengan penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku bunuh diri pada remaja. Jika bernilai dan bermakna. Sehingga ia tidak akan mungkin dengan sengaja menyakiti dirinya sendiri.

  Seorang remaja yang memiliki harga diri yang negatif menurut Tambunan (2001) akan cenderung merasa bahwa dirinya tidak mampu atau tidak berharga. Di samping itu, remaja dengan harga diri yang negatif cenderung untuk tidak berani mencari tantangan-tantangan baru dalam hidupnya, cenderung tidak merasa yakin akan pemikiran-pemikiran serta perasaan yang dimilikinya, cenderung takut menghadapi respon dari orang lain, tidak mampu membina komunikasi yang baik dan cenderung merasa hidupnya tidak bahagia. Berawal dari perasaan tidak mampu dan tidak berharga, mereka mengkompensasikan dengan tindakan lain yang seolah-olah membuat dirinya lebih berharga, misalnya dengan mencari pengakuan dan perhatian dari teman-temannya.

  Harga diri remaja yang rendah juga nampak dalam banyaknya kasus bunuh diri pada anak dan remaja di Indonesia yang semakin hari cenderung meningkat. Meskipun belum ada data statistik pasti, namun setelah ditelusuri melalui publikasi tentang kasus bunuh diri dari berbagai sumber, didapatkan data yang mencengangkan. Pada tahun 2006 terdapat 114 kasus bunuh diri di seluruh Indonesia yang terdeteksi media (Riadi, 2007). Data yang ada di badan kesehatan dunia WHO menunjukkan, bunuh diri merupakan penyebab kematian ke-12 pada tahun 1998. Saat itu ada 948.000 orang tewas akibat luka bunuh diri altruistik yang sebagian muncul karena perasaan malu. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan tertentu remaja merasa malu dengan teman-temannya.

  Dengan kata lain penerimaan dirinya terganggu. Harga dirinya merasa terabaikan. Sarah (1988) mengatakan, penerimaan diri yang rendah merupakan faktor penting yang mempengaruhi ide dan percobaan bunuh diri. Seseorang yang memiliki penerimaan diri yang rendah mungkin akan melakukan tindakan bunuh diri meskipun ia memiliki dukungan sosial yang baik. Seseorang dengan penerimaan diri yang baik dan memiliki keinginan untuk bisa nyaman dalam lingkungan barunya lebih bisa mencapai tujuan.

  Ketika ditolak oleh kelompok maupun lingkungan sekitarnya, individu yang memiliki penerimaan diri yang baik mungkin akan merasa tertekan untuk sementara, tapi perasan itu akan segera hilang. Sedangkan remaja dengan penerimaan diri yang rendah akan terus merasa ditolak karena perasaan rendah dirinya, dan merasa dirinya lebih buruk dari teman-temannya.

  Kasus lain sebagai dampak dari harga diri remaja yang rendah adalah penyalahgunaan NAPZA. Biasanya para penyalahguna NAPZA memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif agresif dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi. Selain itu, kemampuan remaja untuk memecahkan masalahnya secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah di luar dirinya yang menentukan segala sesuatu (“Sekilas tentang harga diri, 2008). Dalam hal ini, kepribadian yang dependen dan tidak mandiri memainkan peranan penting dalam memandang NAPZA sebagai satu-satunya pemecahan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, sangat wajar bila dalam usianya, remaja membutuhkan pengakuan dari lingkungan sebagai bagian pencarian identitas dirinya. Namun, bila ia memiliki kepribadian yang tidak mandiri dan menganggap segala sesuatunya harus diperoleh dari lingkungan, akan sangat memudahkan kelompok teman sebaya untuk mempengaruhinya menyalahgunakan NAPZA. Di sinilah sebenarnya peran keluarga dalam meningkatkan harga diri dan kemandirian pada anak remajanya (“Sekilas tentang harga diri”, 2008)

  Permasalahan diatas membuktikan bahwa harga diri atau self esteem sebagai salah satu kepribadian, mempunyai peranan yang sangat penting bagi remaja untuk membentuk pribadi yang seimbang. Sebagai generasi penerus bangsa seorang remaja harus mempunyai kepribadian yang seimbang, disamping harus mengembangkan intelektual sebagai calon tenaga ahli. Coopersmith (1967) mengungkapkan bahwa harga diri dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun dari luar individu seperti lingkungan keluarga, lingkungan sosial, kondisi fisik, jenis kelamin, kondisi sosial- ekonomi dan kondisi psikologis individu. Harga diri individu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku yang ditampilkannya. dekat dan berarti bagi anak sangat berperan dalam perkembangan kepribadian individu. Sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak merupakan iklim psikologis yang timbul dalam bentuk interaksi antara orang tua dan anak di lingkungan keluarga, hal itu akan dapat mempengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri sehingga dapat berpengaruh pula terhadap pembentukan harga diri anak tersebut. Apabila di dalam lingkungan keluarga anak merasa tertekan, tidak aman, dan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan ide atau pendapatnya, maka anak akan cenderung terbentuk menjadi individu yang tertutup serta sulit membuka diri untuk orang lain, karena ia telah terbiasa dengan kondisi tertekan. Hal ini menyebabkan anak memiliki penilaian yang negatif pada dirinya atau cenderung memiliki harga diri yang rendah.

  Setiap orang tua mempunyai kecenderungan pola asuh yang berbeda- beda. Pola asuh otoriter cenderung memberlakukan peraturan dan disiplin yang ketat pada anak. Pola asuh demokratis cenderung memberi kesempatan berpendapat pada anak sedangkan pola asuh permisif cenderung membebaskan anak melakukan apa saja (Santrock, 2007). Pola asuh yang ditanamkan orang tua kepada anaknya akan membentuk persepsi anak, baik berupa persepsi positif maupun negatif. Hal itu tergantung dari perlakuan orang tua terhadap anak. Persepsi yang telah ada dalam diri anak akan terus melekat sampai anak tumbuh dewasa dan akan dijadikan suatu pedoman bagi memberikan tanggung jawab bagi anak-anaknya, saling memberi dan menerima, selalu mendengarkan keluhan-keluhan dan pendapat anak-anaknya.

  Atamimi (1992) menambahkan bahwa pola asuh demokratis juga ditandai oleh sikap tidak mengontrol dan tidak menuntut dari orang tua kepada anak, tetapi lebih menitikberatkan pada sikap yang hangat, ada komunikasi timbal balik antara orang tua dan anak. Dengan menerapkan pola asuh demokratis dalam mendidik anak, maka akan mendorong anak untuk menilai dirinya secara positif, tidak hanya ketika anak berada dalam keluarga akan tetapi saat anak berada di lingkungan sosial.

  Orang tua yang tidak menerapkan pola asuh demokratis seperti pengasuhan otoriter yang mendidik anaknya terlalu keras atau kaku maka akan berdampak negatif pada perkembangan anak, anak akan tumbuh menjadi seorang individu yang agresif, mudah tersinggung, mudah menyerah, penuh curiga, selalu merasa tidak puas, selalu menarik diri dari lingkungan sehingga menyebabkan anak memiliki pandangan yang negatif terhadap dirinya. Sama halnya jika orang tua menerapkan pola asuh permisif, dimana orang tua memberikan kebebasan tak terbatas pada anak, tidak adanya kontrol-kontrol dan aturan-aturan dalam mengasuh dan mendidik anak. Anak dibiarkan tumbuh sendiri tanpa diberi bimbingan yang cukup dari orang tua. Anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan tumbuh menjadi seorang individu yang tidak matang, impulsif, tidak mampu menghargai orang lain. Hal tersebut menerima dirinya sendiri serta selalu memiliki emosi dan perasaan yang negatif.

  Penelitian-penelitan sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang berjudul “Program Bimbingan Bagi Orang Tua dalam Penerapan Pola Asuh Untuk Meningkatkan Kematangan Sosial Anak” dengan subyek Anak dan Orang Tua di TK Islam Terpadu Anak Soleh Mataram (Habibi, 2000). Dalam penelitian tersebut, Habibi mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh dengan kematangan sosial anak. Anak dengan pola asuh demokratis lebih dapat mengembangkan kematangan sosialnya. Pola asuh demokratis banyak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan psikologis anak. Dalam kesimpulan penelitian tersebut dikatakan bahwa orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis akan membawa dampak pada kepribadian anak yang lebih positif daripada penerapan pola asuh lainnya.

  Dalam penelitian ini secara khusus penulis membahas tentang pola asuh demokratis dengan harga diri remaja. Hal ini bertujuan untuk mengungkap apakah pola asuh demokratis berkaitan dengan harga diri pada remaja.

B. Rumusan Permasalahan

  Apakah terdapat hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

  Informasi dan pengetahuan tentang hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja telah dipaparkan dan dapat digali melalui penelitian ini, sehingga bisa dijadikan sebagai bahan masukan empiris serta untuk menambah referensi dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian psikologi perkembangan yang menyangkut pembentukan dan perkembangan harga diri remaja terutama dalam kaitannya dengan pola asuh demokratis.

  2. Manfaat Praktis

  a. Bagi orangtua Dengan adanya penelitian ini diharapkan para orang tua memperoleh gambaran mengenai hubungan pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja. Selain itu, para orang tua dapat menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak, sehingga akan membentuk persepsi anak yang positif yang nantinya akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak terutama dalam hal pembentukan harga diri pada remaja. b. Bagi remaja Melalui penelitian ini remaja dapat belajar dan mengetahui tentang bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tuanya dan bagaimana pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadiannya sehingga nantinya penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran bagi remaja dalam perkembangan kepribadiannya.

  c. Masyarakat umum Penelitian ini memberikan gambaran serta wawasan bagi masyarakat umum tentang kaitan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja. Dengan memperoleh gambaran tersebut masyarakat dapat bersikap dengan tepat tentang penerapan pola asuh serta dampaknya terhadap pembentukan kepribadian anak dalam hal ini secara khusus adalah perkembangan harga diri pada remaja.

BAB II LANDASAN TEORI A. Harga Diri

1. Pengertian Harga diri

  Ada beberapa definisi mengenai harga diri yang dikemukakan oleh para ahli. Coopersmith (1967), mendefinisikan harga diri sebagai evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Evaluasi ini menyatakan suatu sikap penerimaan atau penolakan dan menunjukkan sejauh mana individu percaya bahwa dirinya mampu berarti, berhasil dan berharga. Hal tersebut didukung oleh pendapat Klass dan Hodge (1978), yang mengemukakan bahwa harga diri merupakan persepsi diri individu tentang rasa keberhargaannya, dimana proses tersebut diperoleh dari hasil interaksi dengan lingkungan serta penghargaan, penerimaan dan perlakuan orang lain terhadap individu.

  Calboun (1990) berpendapat bahwa harga diri merupakan hasil dari salah satu dimensi dari konsep diri yaitu evaluasi diri, yang dimaksud adalah penilaian terhadap diri sendiri melawan apa yang dirasakan dapat dilakukan dan harus dapat dilakukan. Jadi evaluasi diri merupakan penilaian terhadap diri yang nyata dan diri yang dicita- harga diri mengandung arti suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersifat positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-hari. Harga diri yang positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini.

  Branden (2001) menambahkan bahwa harga diri merupakan pengalaman intim yang berada dalam inti kehidupan. Harga diri adalah apa yang dipikirkan dan dirasakan tentang diri sendiri, bukanlah apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain tentang siapa diri kita sebenarnya.

  Dari berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa harga diri merupakan hasil dari penilaian individu terhadap dirinya sendiri yang menunjukkan tingkat kepercayaan individu bahwa dirinya mampu berarti, berhasil dan berharga.

2. Aspek-aspek harga diri

  Harga diri menurut Coopersmith (1967) adalah suatu pendapat pribadi yang pantas, yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu yang berpatokan pada dirinya sendiri. Ada empat aspek menurut Coopersmith (1967) yang menjadi sumber dari pembentukan harga diri a. Kekuatan (Power), yaitu kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol orang lain serta mengontrol diri sendiri. Keberhasilan seseorang yang meliputi kemampuan untuk mengontrol diri sendiri, mengendalikan dan mempengaruhi orang lain dengan maksud untuk mencapai tujuan dan kemampuan melakukan inisiatif yang baik.

  b. Keberartian (Significance), yaitu individu yang memandang dirinya sesuai dengan pandangan orang lain yang nampak dari adanya penerimaan, penghargaan, perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian biasanya ditunjukkan dengan adanya penerimaan dari lingkungan, ketenaran, dukungan dari keluarga dan masyarakat.

  c. Kebajikan (Virtue), yaitu kebajikan atau ketaatan individu pada nilai-nilai moral, etika serta aturan-aturan, ketentuan yang ada dalam masyarakat dan juga memberi contoh yang baik. Makin taat seseorang menjalankan apa yang telah digariskan oleh lingkungan, makin dapat seseorang dijadikan contoh oleh lingkungan sehingga harga dirinya semakin tinggi.

  d. Kompetensi (Competence), yaitu kemampuan yang diartikan sebagai performance atau penampilan yang sesuai untuk mendapatkan prestasi yang baik, untuk mencapai hal-hal yang membawa ke arah kerugian atau kegagalan, sehingga mampu menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri

  Harga diri tidak dibawa sejak kecil, namun merupakan faktor yang dipelajari dan terbentuk sepanjang pengalaman hidup individu dalam relasinya dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Di bawah ini faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri antara lain: a. Lingkungan keluarga

  Menurut Hurlock (1999) seorang anak akan belajar menilai dirinya melalui sikap orang tua dan anggota keluarga yang lain, demikian pula dengan para remaja, mereka akan mengevaluasi dirinya melalui sikap, perhatian, penerimaan dan kasih sayang dari keluarga. Coopersmith (1967) mengatakan bahwa perlakuan orang tua terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan harga diri anak. Orang tua yang sering memuji anaknya, bila anak berperilaku baik, lebih demokratis penuh penerimaan dan pengungkapan cinta, tidak gampang menghukum dan bila menghukum anak hukumannnya sesuai dengan perbuatan anak.

  Hal ini akan cenderung mempengaruhi perkembangan harga diri anak ke arah yang tinggi. Pada orang tua yang menerapkan aturan yang kurang jelas, cara mendidik anak yang cenderung kasar serta b. Lingkungan sosial Coopersmith (1967) mengatakan bahwa harga diri dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Para remaja akan mengevaluasi dirinya melalui respon yang diberikan oleh orang lain. Apabila lingkungan memberi tanggapan yang baik dimana individu merasa diterima, dihargai, diperhatikan dan memperoleh kasih sayang maka hal tersebut akan mendorong terbentuknya harga diri yang baik. Sebaliknya bila lingkungan menolak dan tidak mempedulikan individu maka hal tersebut akan mendorong terbentuknya harga diri yang buruk.

  c. Kondisi psikologis individu Rosenberg (dalam Coopersmith, 1967) mengemukakan adanya beberapa variabel dalam harga diri yang dapat dijelaskan melalui konsep-konsep nilai, aspirasi, mekanisme pertahanan diri dan pengalaman hidup individu yang berkaitan dengan keberartian diri, keberhasilan diri, performansi diri dan nilai-nilai kebajikan.

  Pengalaman individu yang berkaitan dengan keberartian diri menyangkut seberapa besar individu percaya bahwa dirinya mampu, berarti berhasil dan berharga menurut standart dan nilai- nilai pribadinya.

  Pengalaman individu yang berkaitan dengan keberhasilan diri dalam mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri dan orang lain semakin tinggi harga dirinya Pengalaman individu yang berkaitan dengan performansi diri adalah kemampuan individu dalam mencapai suatu tujuan yang sesuai dengan harapan dan keinginannya. Individu yang mempunyai kemampuan sesuai dengan tuntutan dan harapannya akan membentuk harga diri yang tinggi, namun bila tidak akan membentuk harga diri yang rendah.

  Pengalaman individu yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan menyangkut ketaatan individu terhadap standar moral, etika dan prinsip serta agama yang diyakininya. Apabila individu berperilaku sesuai moral, etika, dan prinsip yang ada dalam masyarakat maka masyarakat akan menerima, memberi penilaian yang baik dan penghargaan terhadap mereka sehingga dapat membentuk harga diri yang tinggi.

  d. Kondisi fisik Perubahan-perubahan jasmani yang terjadi pada masa remaja mengakibatkan remaja lebih memperhatikan ciri-ciri jasmani mereka sehingga penilaian diri mereka tergantung dari pandangan mereka terhadap ciri jasmani mereka. Menurut Hurlock (1980) remaja yang merasa puas dengan tubuhnya akan menyebabkan e. Kondisi sosial ekonomi Coopersmith (1967) berpendapat bahwa terdapat hubungan yang meyakinkan antara harga diri dengan status sosial ekonomi.

  Individu dengan harga diri tinggi lebih banyak ditemukan pada kalangan sosial ekonomi tinggi. Hal ini disebabkan karena status sosial ekonomi yang dimiliki seseorang dapat memberikan prestise tertentu dalam masyarakat, dan prestise tersebut dapat mempengaruhi harga diri individu yang bersangkutan.

  f. Jenis Kelamin Bachman dan O’Malley (1977) berpendapat bahwa wanita mempunyai harga diri yang rendah bila dibandingkan dengan pria.

  Hal tersebut terjadi karena wanita merasa dirinya lebih rendah, kurang mampu dan harus dilindungi oleh pria sehingga dalam menilai dirinyapun cenderung lebih rendah.

4. Perkembangan harga diri

  Harga diri bukan merupakan faktor yang dibawa individu sejak lahir, akan tetapi merupakan faktor yang terbentuk dan berkembang sepanjang perjalanan hidup individu berdasarkan pengalamannya dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Clemes, Bean dan Clark (1995) bahwa pandangan tentang diri sendiri dan harga diri berkembang secara bertahap sepanjang hidup, diawali dari masa bayi pada akhirnya perasaan kompleks tentang diri sendiri. Hasil akhirnya adalah perasaan menyeluruh tentang harga diri atau ketidakmampuan diri. Bradshaw (1967) juga berpendapat bahwa harga diri tidak dapat terbentuk dengan begitu saja melainkan diperoleh dalam proses interaksi dengan orang lain.

  Noesjirwan (1979) mengemukakan bahwa harga diri merupakan perkembangan dari rasa ketergolongan, rasa kemampuan dan rasa keberartian.

  a. Rasa ketergolongan Rasa ketergolongan sehubungan dengan harga diri berarti bahwa individu merasa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok, diterima dan dihargai kelompok.

  b. Rasa kemampuan Individu menilai dirinya sendiri berdasarkan kemampuan untuk melaksanakan atau mencapai hal-hal yang diinginkannya. Bila individu berhasil mencapai keinginan tersebut dengan cara yang efektif maka individu akan menilai dirinya positif.

  c. Rasa keberartian Pandangan individu terhadap dirinya yang didasarkan akan apa yang diketahui tentang dirinya dan juga penilaian orang lain.

5. Harga diri remaja

  Masa remaja merupakan salah satu periode dalam hidup yang penting bagi perkembangan harga diri dan menuntut untuk dipenuhi, karena harga diri mencapai puncaknya pada masa remaja. Harga diri remaja berkembang dan terbentuk dari interaksinya dengan orang lain.

  Harga diri yang tinggi akan membawa pengaruh terhadap perilaku positif pada remaja dan sebaliknya.

  Nathaniel (Koentjoro, 1989) menyimpulkan bahwa harga diri yang tumbuh dan dimiliki oleh remaja berasal dari penilaian orang lain yang kemudian menghasilkan suatu akibat terutama pada proses kognitif, afektif, keinginan, nilai dan tujuan yang kemudian menjadi penilaian positif atau negatif terhadap dirinya sendiri. Penilaian yang positif terhadap diri sendiri berarti menimbulkan rasa menghargai diri sendiri atau harga diri yang positif, dan sebaliknya penilaian yang negatif terhadap diri sendiri akan menimbulkan harga diri yang negatif.

  Harga diri yang dimiliki seorang remaja merupakan kunci penting pada tingkah laku yang akan membawa remaja menilai dirinya sebagai orang yang berhasil atau tidak. Kemantapan harga diri punya pengaruh penting dalam perkembangan remaja. Selanjutnya harga diri yang mantap akan membantu remaja untuk dapat mengerti dan memahami diri sendiri yang nantinya akan tercermin dalam perilakunya. remaja. Selanjutnya harga diri yang mantap akan membantu remaja untuk dapat mengerti dan memahami diri sendiri yang nantinya akan tercermin dalam perilakunya.

B. Pola asuh Demokratis

1. Pengertian pola asuh Demokratis

  Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara anak dan orang tua (Hurlock, 1973). Vaughan (1984) mengatakan bahwa dalam keluarga demokratis anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan ide-idenya seperti dalam kelompok diskusi, ide-ide tersebut menjadi permulaan dalam pengambilan keputusan kelompok. Dapat dikatakan bahwa orang tua dengan pola asuh demokratis cukup memberikan perhatian dan tanggapan terhadap keinginan dan pendapat anak.

  Jadi, pola asuh demokratis adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang ditandai dengan adanya sikap terbuka antara anak dengan orang tua, serta adanya peraturan dalam keluarga yang merupakan hasil dari kesepakatan bersama. Selain itu, orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya untuk berpendapat.

2. Aspek-aspek pola asuh demkoratis

  Berikut ini adalah aspek-aspek pola asuh demokratis menurut Santrock (2007):

  a. Aspek keseimbangan antara kendali dan otonomi yang diberikan oleh orang tua 1) Anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan 2) Orang tua memberikan motivasi dan kebebasan yang terarah kepada anak.

  3) Orang tua menerapkan peraturan berdasarkan kesepakatan bersama b. Aspek komunikasi antara anak dan orang tua (memberi dan menerima secara verbal)

  1) Orang tua mampu bersikap paraphrasing (secara halus mengungkapkan kembali pernyataan anak dengan bahasa yang lebih tepat dan lebih baik). 2) Orang tua memiliki teknik bertanya yang baik untuk memancing sikap kritis anak.

  3) Orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan ide atau pendapatnya.

  c. Aspek kehangatan dan keterlibatan orang tua terhadap perkembangan anak.

  2) Orang tua memiliki kesabaran dan kegigihan dalam mengasuh dan mendidik anak.

  3) Orang tua mampu mengikuti perkembangan anak. 4) Anak diakui keberadaannya oleh orang tua

3. Pola asuh demokratis pada remaja

  Hurlock (1992) berpendapat bahwa pola asuh demokratis adalah salah satu teknik atau cara mendidik dan membimbing anak, di mana orangtua bersikap terbuka terhadap tuntutan dan pendapat yang dikemukakan anak, kemudian mendiskusikan hal tersebut bersama- sama. Pola ini lebih memusatkan perhatian pada aspek pendidikan daripada aspek hukuman, orang tua memberikan peraturan yang luas serta memberikan penjelasan tentang sebab diberikannya hukuman serta imbalan tersebut. Hurlock (1992) mengatakan bahwa pola asuh demokratis ditandai dengan sikap menerima, responsif, berorientasi pada kebutuhan anak yang disertai dengan tuntutan, kontrol dan pembatasan. Jadi penerapan pola asuh demokratis dapat memberikan keleluasaan anak untuk menyampaikan segala persoalan yang dialaminya tanpa ada perasaan takut, keleluasaan yang diberikan orangtua tidak bersifat mutlak akan tetapi adanya kontrol dan pembatasan berdasarkan norma-norma yang ada.

  

C. Hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada

remaja

  Berkembangnya harga diri seorang individu berkaitan erat dengan pola asuh orang tua di dalam keluarga, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan menentukan kepribadian anak (Tambunan 2001). Pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak akan mempengaruhi perilaku dan kepribadian anak, dimana perilaku dan kepribadian ini akan terbawa ke lingkungan sosial anak. Ada berbagai macam pola asuh orang tua di dalam keluarga dan perbedaan pola asuh orang tua ini akan menghasilkan seorang anak dengan perilaku dan kepribadian yang berbeda (Hauck, 1995).

  Sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak merupakan iklim psikologis yang timbul dalam bentuk interaksi antara orangtua dan anak di lingkungan keluarga, hal itu akan dapat mempengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri sehingga dapat berpengaruh pula terhadap pembentukan harga diri anak tersebut. Apabila di dalam lingkungan keluarga anak merasa tertekan, tidak aman, dan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan ide atau pendapatnya, maka anak akan cenderung terbentuk menjadi individu yang tertutup serta sulit membuka diri untuk orang lain, karena ia telah terbiasa dengan kondisi tertekan. Hal ini menyebabkan anak memiliki penilaian yang negatif pada dirinya atau dasar-dasar perilaku bagi anak-anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orangtua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tak sadar diresapinya dan kemudian menjadi kebiasaan pula bagi anak-anaknya. Hal demikian disebabkan karena anak mengidentifikasikan diri pada orangtuanya sebelum mengadakan identifikasi dengan orang lain (Santrock, 2007).

  Orang tua yang mendidik anak dengan pola asuh demokratis dalam prakteknya selalu menerapkan unsur kepercayaan dan penerimaan. Orang tua dalam pola asuh ini selalu memberikan motivasi dan kebebasan yang terarah kepada anak. Orang tua juga mengajarkan sikap mandiri dan sikap yang penuh tanggung jawab kepada anak. Pola komunikasi dua arah menjadi ciri utama dalam pola asuh ini sehingga hubungan antara anak dengan orang tua menjadi lebih terbuka (Hurlock, 1999)

  Bentuk disiplin yang diterapkan dalam pola asuh demokratis cukup fleksibel. Orang tua menerapkan peraturan berdasarkan kesepakatan bersama. Apabila anak tidak setuju dengan peraturan yang telah dibuat maka ada penjelasan yang rasional dan objektif. Kontrol-kontrol yang diberikan orang tua dalam mendidik anak diterapkan secara fleksibel, hal ini dilakukan untuk memancing sikap terbuka anak sehingga segala sesuatu yang dilakukan anak dapat diketahui oleh orang tua

  Pemenuhan kebutuhan anak dalam pola asuh ini juga mendapat diberikan secara terbuka kepada anak (Lemens, Harris, dkk 1995).. Berbagai kebutuhan anak yang berhubungan dengan pendidikan juga mendapat pemenuhan yang cukup dari orang tua. Anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis akan memiliki sikap mandiri, tegas terhadap diri sendiri, memiliki kemampuan introspeksi dan mengendalikan diri, mudah bekerjasama dengan orang lain, ramah terhadap orang lain dan mudah bergaul dengan orang lain. Kepribadian ini dapat terbentuk pada anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis karena dalam pola asuh ini diterapkan unsur kepercayaan dan penerimaan.

  Dengan menerapkan pola asuh demokratis dalam mendidik anak, maka akan mendorong anak untuk menilai dirinya secara positif, tidak hanya ketika anak berada dalam keluarga akan tetapi saat anak berada di lingkungan sosial yaitu ketika anak berinteraksi dengan orang lain.

  Skema hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja Orang tua menerapkan unsur kepercayaan dan penerimaan Individu merasa berarti dalam mendidik anak Individu taat pada nilai-nilai

  Orang tua memberikan moral, etika serta aturan atau teladan perilaku kepada anak ketentuan dalam masyarakat

  Pola Asuh Harga Diri Demokratis

  Positif Orang tua menerapkan Individu memiliki kemampuan peraturan kepada anak untuk mengontrol orang lain serta berdasarkan kesepakatan mengontrol diri sendiri bersama anak dan orang tua

  Individu mampu mencapai hal-hal Orang tua terlibat serta yang diharapkan, mendapatkan terbuka terhadap prestasi yang baik serta mampu perkembangan anak menghadapi masalah-masalahnya

D. Hipotesis

  Berdasarkan uraian teori-teori di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai jawaban sementara dalam penelitian ini. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja. Apabila remaja memperoleh pola asuh demokratis yang tinggi maka akan semakin tinggi pula harga diri remaja tersebut. Sebaliknya, apabila remaja memperoleh pola asuh demokratis yang rendah maka semakin rendah pula harga diri

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

  inferensial kuantitatif korelasional. Penelitian inferensial adalah metode penelitian yang dirancang untuk membuat suatu kesimpulan tentang populasi melalui pengambilan sampel (Deuna, 1996). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dan membuat suatu kesimpulan antara dua variabel yaitu pola asuh demokratis dan harga diri.

  B. Identifikasi Varibel Penelitian

  Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Variabel prediktor : Pola asuh demokratis

  2. Variabel kriterium : Harga diri

  C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Pola asuh demokratis

  Pola asuh demokratis adalah persepsi remaja terhadap pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang ditandai dengan adanya sikap terbuka antara anak dengan orang tua, serta adanya peraturan dalam keluarga yang dengan kebebasan untuk mengungkapkan ide- ide atau gagasan anak pada orang tua ataupun sebaliknya.

  Pola asuh demokratis dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala pola asuh demokratis, skala ini disusun oleh peneliti dengan menggunakan aspek-aspek berikut ini (Santrock, 2007):

  a. Aspek keseimbangan antara kendali dan otonomi yang diberikan oleh orang tua 1) Anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan 2) Orang tua memberikan motivasi dan kebebasan yang terarah kepada anak.

  3) Orang tua menerapkan peraturan berdasarkan kesepakatan bersama

  b. Aspek komunikasi antara anak dan orang tua (memberi dan menerima secara verbal) 1) Orang tua mampu bersikap paraphrasing (secara halus mengungkapkan kembali pernyataan anak dengan bahasa yang lebih tepat dan lebih baik). 2) Orang tua memiliki teknik bertanya yang baik untuk memancing sikap kritis anak.

  3) Orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan ide atau pendapatnya.

  c. Aspek kehangatan dan keterlibatan orang tua terhadap perkembangan

  2) Orang tua memiliki kesabaran dan kegigihan dalam mengasuh dan mendidik anak.

  3) Orang tua mampu mengikuti perkembangan anak. 4) Anak diakui keberadaannya oleh orang tua

  Semakin tinggi skor total yang diperolah, maka semakin tinggi pola asuh demokratis. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh, maka semakin rendah pola asuh demokratis.

2. Harga Diri Remaja

  Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya, terutama sikap menerima, menolak dan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kekuasaan dan kebajikan (Coopersmith, 1967).

  Harga diri remaja dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala harga diri, skala ini disusun oleh peneliti dengan menggunakan aspek-aspek berikut ini:

  a. Kekuatan (Power), yaitu kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol orang lain serta mengontrol diri sendiri. Keberhasilan seseorang yang meliputi kemampuan untuk mengontrol diri sendiri, mengendalikan dan mempengaruhi orang lain dengan maksud untuk mencapai tujuan dan kemampuan melakukan inisiatif yang baik.

  b. Keberartian (Significance), yaitu keberartian individu menurut orang ditunjukkan dengan adanya penerimaan dari lingkungan, ketenaran, dukungan dari keluarga dan masyarakat.

  c. Kebajikan (Virtue), yaitu kebajikan atau ketaatan individu pada nilai- nilai moral, etika serta aturan-aturan, ketentuan yang ada dalam masyarakat dan juga memberi contoh yang baik. Makin taat seseorang menjalankan apa yang telah digariskan oleh lingkungan, makin dapat seseorang dijadikan contoh oleh lingkungan sehingga harga dirinya semakin tinggi.

  d. Kompetensi (Competence), yaitu kemampuan yang diartikan sebagai performance atau penampilan yang sesuai untuk mendapatkan prestasi yang baik, untuk mencapai hal-hal yang diharapkan. Individu akan menghindari hal-hal yang akan membawa ke arah kerugian atau kegagalan, sehingga mampu menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya.

  Semakin tinggi skor total yang diperolah, maka semakin positif harga diri yang dimiliki. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh, maka semakin negatif harga diri yang dimiliki.

D. Subyek Penelitian

  Sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri remaja,

  Peneliti tertarik mengambil subyek dalam kategori usia remaja dengan pertimbangan bahwa pada usia ini karena masa remaja merupakan salah satu periode dalam hidup yang penting bagi perkembangan harga diri dan menuntut untuk dipenuhi, karena harga diri mencapai puncaknya pada masa remaja. Pada masa ini remaja juga telah mampu membentuk kesan, pendapat dan perasaan tentang perilaku dan sikap orang tua dalam mengasuh dan mendidik dirinya di dalam keluarga.

  Subyek dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik

  purposive sampling , Dalam teknik ini, pemilihan subyek didasarkan atas ciri

  atau karakteristik yang telah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004). Karakteristik pengambilan sampel adalah usia 13-20 tahun yang merupakan rentang usia dalam masa remaja.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode berskala (scaled questionnaire), yang disusun dengan menggunakan metode penskalaan model likert. Penskalaan model likert adalah metode penskalaan yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skala (Azwar, 1999). Skala yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu skala pola asuh demokratis dan skala harga diri remaja. Masing-masing skala dalam penelitian ini disusun dengan menggunakan model skala likert.

  1. Skala Pola Asuh Demokratis Alat ukur yang digunakan untuk mengukur pola asuh demokratis adalah Skala Pola Asuh Demokratis. Skala yang digunakan untuk mengungkap pola asuh demokratis didasarkan pada tiga aspek dasar pola asuh demokratis yaitu aspek keseimbangan antara kendali dan otonomi yang diberikan oleh orang tua, aspek komunikasi antara anak dan orang tua (memberi dan menerima secara verbal), aspek kehangatan dan keterlibatan orangtua terhadap perkembangan anak. Skala tersebut menggunakan pernyataan-pernyataan favorable dan unfavorable dengan empat alternatif jawaban, yaitu “Sangat setuju”, “Setuju”, “Tidak Setuju”, dan “Sangat Tidak Setuju”.

  Berdasarkan aspek-aspek di atas, selanjutnya penulis menyusun 90 butir pernyataan yang terdiri dari 45 butir pernyataan favorable dan 45 butir pernyataan unfavorabel. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

  Tabel 1 Tabel Spesifikasi Item-item Skala Pola Asuh Demokratis

  Aspek No Item No Item Jumlah Favorable Unfavorable

  Keseimbangan 1, 14, 19, 28, 31, 5, 17, 24, 25, 29,

  30 antara kendali dan 47, 50, 53, 57, 59, 32, 37, 40, 41, 43, otonomi yang 64, 74, 77, 78, 86. 46, 55, 63, 67, 73. diberikan orang tua Komunikasi antara 2, 7, 12, 15, 20, 4, 10, 18, 23, 30,

  30 anak dan orangtua 26, 33, 38, 52, 54, 35, 44, 48, 51, 60, (memberi dan 58, 66, 81, 89, 90. 62, 69, 71, 75, 87 menerima secara verbal) Kehangatan dan 3, 8, 11, 16, 21, 6, 9, 13, 22, 27, 34,

  30 keterlibatan orangtua 36, 39, 42, 45, 49, 56, 61, 65, 72, 79, terhadap 68, 70, 76, 80, 84. 82, 83, 85, 88 perkembangan anak

  Jumlah

  45

  45

  90 Penilaian subyek untuk pernyataan positif (favorable) pada skala Pola Asuh Demokratis yaitu:

  Tabel 2 Skor Butir-butir Favorable Skala Pola Asuh Demokratis

  Respon Skor

  Sangat Setuju (SS)

  4 Setuju (S)

  3 Tidak Setuju (TS)

  2 Sangat Tidak Setuju (STS)

  1 Semakin tinggi skor subyek, maka semakin tinggi pola asuh demokratis.

  Sebaliknya, semakin rendah skor subyek, maka semakin rendah pola asuh demokratis. Penilaian subyek untuk pernyataan negatif (unfavorable) pada skala Pola Asuh Demokratis yaitu:

  Tabel 3 Skor Butir-butir Unfavorable Skala Pola Asuh Demokratis

  

Respon Skor

  Sangat Setuju (SS)

  1 Setuju (S)

  2 Tidak Setuju (TS)

  3 Sangat Tidak Setuju (STS)

  4 Skor yang rendah menunjukkan rendahnya harga diri subyek, sedangkan semakin tinggi skor, menunjukkan semakin tingginya harga diri subyek.

  2. Skala Harga Diri Pengukuran harga diri remaja menggunakan Skala Harga Diri yang disusun oleh Heri Widodo. Skala Harga Diri disusun berdasarkan empat aspek yang dikemukakan oleh Coopersmith, yaitu:

  a. Kekuasan (Power)

  b. Kerartian (Significance)

  c. Kebajikan (Virtue)

  d. Kemampuan (Competence) Skala Harga Diri yang digunakan terdiri dari 32 item dengan taraf reliabilitas 0.833.

  Skala harga diri disajikan dalam pernyataan-pernyataan favorable dan unfavorable. Subyek diminta memilih salah satu dari lima alternatif jawaban, yaitu “Sangat Setuju”, “Setuju”, “Netral”, “Tidak Setuju”, dan “Sangat Tidak Setuju”. Subyek bebas memilih salah satu dari lima

  Tabel 4 Skor Butir-butir Favorable Skala Harga Diri

  Respon Skor

  Sangat Setuju (SS)

  5 Setuju (S)

  4 Netral (N)

  3 Tidak Setuju (TS)

  2 Sangat Tidak Setuju (STS)

  1 Semakin tinggi skor subyek pada butir tertentu, maka semakin tinggi harga diri subyek pada aspek yang bersangkutan. Sebaliknya, semakin rendah skor butir tertentu, maka semakin rendah harga diri subyek pada aspek yang bersangkutan. Penilaian subyek untuk pernyataan negatif (unfavorable) dapat dilihat pada tabel berikut:

  Tabel 5 Skor Butir-butir Unfavorable Skala Harga Diri

  Respon Skor

  Sangat Setuju (SS)

  1 Setuju (S)

  2 Netral (N)

  3 Tidak Setuju (TS)

  4 Sangat Tidak Setuju (STS)

  5 Skor yang rendah pada butir tertentu menunjukkan rendahnya taraf harga diri pada aspek yang bersangkutan. Semakin tinggi skor tinggi pada butir tertentu akan menunjukkan semakin tingginya taraf harga diri pada aspek yang bersangkutan.

F. Pertanggungjawaban Mutu

  1. Uji Validitas Validitas berasal dari kata validity yang menunjuk pada sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2000). Pengukuran atau pengujian validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara nilai dari tiap-tiap item pernyataan dengan skor total. Melalui perhitungan tersebut diketahui seberapa besar masing-masing sumbangan item pernyataan terhadap skor total.

  Validitas yang digunakan alat ukur ini adalah validitas isi yang menunjuk pada sejauh mana item-item dalam alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur. Validitas isi diselidiki melalui analisis rasional terhadap isi atau professional judgement (Azwar, 1999). Analisis rasional atau professional judgement dilakukan oleh peneliti dengan cara mengkonsultasikan item-item yang telah disusun kepada ahli, dengan tujuan untuk mengetahui apakah item-item yang telah disusun mencakup keseluruhan isi objek yang hendak diukur atau tidak (Sugiyono, 1999).

  2. Uji Daya Beda Item Uji daya beda item dilakukan untuk melihat sejauh mana item-item tes dapat membedakan antara individu dengan individu lainnya yang mempunyai maupun yang tidak mempunyai atribut yang ingin diukur skor skala yang menghasilkan koefisien korelasi item total. Semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.3 ( ≥ 0.3) dianggap memiliki daya beda item yang memuaskan. Semakin tinggi koefisien korelasi positif antara item dan skala berarti semakin tinggi konsistensi antara item dan skala secara keseluruhan (Azwar, 2000).

  Uji coba dalam penelitian ini melibatkan 58 remaja. Setelah data terkumpul, skala pola asuh demokratis kemudian diproses menggunakan SPSS 15.0 for windows. Hasil analisis pengukuran skala pola asuh demokratis menunjukkan bahwa dari 90 item yang diujikan, terdapat 72 item yang baik dan18 item yang tidak baik. Besarnya koefisien korelasi bergerak pada kisaran 0.331 sampai 0.776. Karena perbandingan jumlah item yang ada pada masing-masing aspek tidak seimbang, maka beberapa item yang memiliki koefisien korelasi item total terendah digugurkan untuk menyamaratakan jumlah item di masing-masing aspek. Hasil uji daya beda item dapat dilihat pada tabel berikut ini:

  Tabel 6 Tabel Skala Pola Asuh Demokratis Sebelum dan Sesudah Uji Coba

  No. Item Baik No. Item Tidak Baik Aspek Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable

  Keseimbangan 14, 28, 31, 25, 32, 37, 1, 19, 50, 5, 17, 24, antara kendali dan 47, 53, 59, 41, 43, 55, 57, 29, 40, 46, otonomi yang 64, 74, 77, 63, 67, 73. diberikan orang 78, 86. tua Komunikasi antara 2, 26, 52, 4, 10, 18, 30, 12, 20, 33, 23, 51, 81, anak dan orangtua 58, 66, 89, 35, 44, 48, 38, 54, 7, (memberi dan 90. 60, 62, 69, 15, menerima secara 71, 75, 87 verbal) Kehangatan dan 3, 11, 16, 6, 13, 22, 27, 8, 21, 42, 9, 36, 45, keterlibatan 39, 70, 76, 34, 56, 65, 49, 61, 68, orangtua terhadap 80. 72, 79, 82, 84. perkembangan 83, 85, 88 anak

  Tabel 7 berikut ini menunjukkan spesifikasi item setelah dilakukan penelitian uji coba : Tabel 7

  Tabel Spesifikasi Skala Pola Asuh Demokratis Sesudah Uji Coba

  Aspek No Item No Item Jumlah Favorable Unfavorable

  Keseimbangan 2, 11, 13, 23, 26, 9, 17, 21, 24, 28,

  20 antara kendali dan 35, 44, 48, 51, 33, 39, 41, 57. otonomi yang 54, 56. diberikan orang tua Komunikasi antara 1, 22, 25, 40, 42, 4, 7, 10, 12, 15,

  20 anak dan orangtua 45, 47. 16, 19, 27, 30, 31, (memberi dan 32, 37, 49. menerima secara verbal) Kehangatan dan 3, 5, 20, 34, 43, 6, 8, 14, 18, 29,

  20 keterlibatan orangtua 53, 59. 36, 38, 46, 50, 52, terhadap 55, 58, 60.

  3. Uji Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Taraf reliabilitas dapat diartikan sebagai taraf sejauh mana suatu alat ukur dapat menunjukkan konsistensi hasil pengukuran yang diperlihatkan dalam ketepatan dan ketelitian hasil. Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx²) yang berada dalam rentang angka 0 sampai 1.00. semakin tinggi koefisien reliabilitas yang diperoleh maka semakin mendekati angka 0, yang berarti bahwa reliabilitasnya semakin rendah (Azwar, 2000). Semakin tinggi koefisien reliabilitas yang diperoleh dalam penelitian maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan hasil pengukuran alat tersebut bagi kelompok subyek yang diteliti.

  Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan sekali tes melalui teknik Alpha

  Cronbach . Pendekatan ini bertujuan untuk melihat konsistensi antar item

  bagian dari skala. Prosedur pendekatan ini hanya dilakukan satu kali dan pengenaan tes hanya dilakukan pada sekelompok individu sebagai subyek sehingga pendekatan ini mempunyai nilai praktis dan efisiensi yang tinggi (Azwar, 2000).

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 15.0 for windows, Skala Pola Asuh Demokratis memiliki koefisien Alpha Cronbach sebesar 0.963. Hasil koefisien alpha Skala Pola Asuh Demokratis menunjukkan

G. Teknik Analisis Data

  1. Uji Asumsi Uji asumsi merupakan salah satu syarat dalam penggunaan teknik korelasi untuk memperoleh kesimpulan yang benar berdasarkan data yang ada.

  Adapun uji asumsi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  a. Uji normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara distribusi sebaran variabel prediktor dan variabel kriterium dalam penelitian ini bersifat normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji One Sample Kolomogorov-Smirnov.

  Data dinyatakan berdistribusi normal apabila signifikansi lebih besar dari 5% atau 0.05. Sebaliknya, apabila signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 5% atau 0.05 maka sebaran data tidak berdistribusi normal.

  b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara skor variabel prediktor dan variabel kriterium merupakan bergaris lurus atau tidak. Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Tes For

  Linearity . Apabila hubungan antara dua variabel tersebut menunjukkan

  garis lurus maka dapat dikatakan terdapat korelasi linear antara kedua variabel. Data dinyatakan linear apabila dua variabel mempunyai

  2. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan positif antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis korelasi dengan perangkat lunak SPSS 15.0 for windows.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini melibatkan 156 subyek. Pengumpulan data penelitian

  dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2010 sampai 15 Mei 2010 dengan cara meminta subyek memberikan jawaban pada kuesioner yang berisi dua skala, yaitu skala pola asuh demokratis dan skala harga diri remaja. Peneliti membagikan 200 eksemplar pada subyek di beberapa sekolah dan universitas di yogyakarta seperti SMA De Brito, SMA Stella Duce, SMA Depok I, Universitas Gajah mada, Universitas Atma Jaya, Universitas Sanata Dharma . Skala kembali dengan jumlah 156.

B. Data Demografi Subyek Penelitian Usia subyek dalam penelitian ini berkisar dari 16 sampai 20 tahun.

  Subyek yang berusia 16 tahun sebanyak 23 atau sebesar 14.74%, usia 17 tahun sebanyak 23 atau sebesar 14.74%, usia 18 tahun sebanyak 22 atau sebesar 14.10%. subyek yang berusia 19 tahun sebanyak 67 atau sebesar 42.95%. Sedangkan subyek yang berusia 20 tahun sebanyak 21 atau sebesar 13.46%. Berikut ini merupakan tabel data demografi subyek penelitian berdasarkan usia.

  Tabel 8 Data Usia Subyek Penelitian

  Usia Jumlah Persentase

  16 23 14.74%

  17 23 14.74%

  18 22 14.10%

  19 67 42.95%

  20 21 13.46% jumlah 156 100%

C. Uji Asumsi

  a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan dengan SPSS 15.0 for windows dan hasilnya adalah sebagai berikut: 1) Nilai probabilitas (P) pada variabel pola asuh demokratis sebesar

  0.744. Nilai tersebut lebih besar dari 0.05 sehingga dapat dikatakan bahwa sebaran data pada variabel harga diri adalah normal.

  2) Nilai probabilitas (P) pada variabel harga diri remaja sebesar 0.640. Nilai tersebut lebih besar dari 0.05 yang menunjukkan bahwa sebaran data pada variabel harga diri remaja adalah normal.

  b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan dengan SPSS for windows seri 15. Nilai probabilitas pada penelitian ini sebesar 0.00. hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel pola asuh demokratis dan variabel harga diri remaja dapat dikatakan linier karena nilai probabilitasnya

D. Hasil Penelitian

  1. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment pada taraf signifikansi 5% (0.05) dengan perangkat lunak SPSS 15.0 for windows. Uji hipotesis satu ekor (one-tailed) dilakukan pada penelitian ini karena hipotesis dalam penelitian ini sudah mengarah, yaitu berarah positif.

  Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa korelasi koefisien antara variabel pola asuh demokratis dan harga diri remaja dengan mengontrol variabel jenis kelamin adalah 0.483 dengan probabilitas

  0.00. Hal ini berarti terdapat hubungan positif dan sangat siginifikan antara variabel pola asuh demokratis dengan harga diri remaja.

  Semakin tinggi pola asuh demokratis maka akan semakin tinggi pula harga diri pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah pola asuh demokratis, maka semakin rendah pula harga diri pada remaja.

  Dari penelitian ini, dapat diketahui bahwa r = 0.483 dan koefisien determinan (r²) sebesar 23.33%. Hal ini berarti pola asuh demokratis memiliki sumbangan efektif sebesar 23.33% terhadap harga diri pada remaja, sedangkan 76.67% lainnya dipengaruhi oleh variabel lainnya.

  2. Uji tambahan Uji tambahan dilakukan untuk mengetahui apakah keseluruhan tabel berikut ini disajikan data teoritis dan empiris skala pola asuh demokratis dan skala harga diri pada remaja.

  Tabel 9 Data Teoritis dan Empiris Skala Pola Asuh Demokratis dan Skala

  Harga Diri pada Remaja

  Mean

  X X Variabel N SD P max min Teoritis Empiris

  Pola Asuh Demokratis 237 140 20.382 0.00 150 192.69

  156 Harga diri 135 82 10.516

  0.00 96 108.21 Nilai t pada skala pola asuh demokratis sebesar 26.158 sedangkan nilai P pada skala tersebut sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan empiris pada skala pola asuh demokratis. Mean teoritis merupakan rata-rata skor pada alat ukur penelitian, sedangkan mean empiris merupakan rata-rata skor data hasil penelitian. Mean teoritis pada skala pola asuh demokratis sebesar 150 dan mean empirisnya sebesar 192.69. hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar daripada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa pola asuh demokratis pada subyek penelitian tergolong tinggi.

  Nilai t pada skala harga diri sebesar 14.503 sedangkan nilai P pada skala harga diri sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat penelitian, sedangkan mean empiris merupakan rata-rata skor data hasil penelitian. Mean teoritis pada skala harga diri sebesar 96 dan mean empirisnya sebesar 108.21.

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar daripada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa harga diri pada subyek penelitian tergolong tinggi.

E. Pembahasan

  Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi antara pola asuh demokratis dan harga diri pada remaja sebesar 0.483 dengan nilai probabilitas 0.00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pola asuh demokratis dan harga diri pada remaja. Hal ini berarti semakin tinggi skor pola asuh demokratis, maka semakin tinggi pula skor harga diri. Sebaliknya, semakin rendah skor pola asuh demokratis, maka semakin rendah pula skor harga diri.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh demokratis berperan penting dalam membentuk harga diri pada remaja. Menurut Hurlock (1999) seorang anak akan belajar menilai dirinya melalui sikap orang tua dan anggota keluarga yang lain. Demikian pula dengan para remaja, mereka akan mengevaluasi dirinya melaui sikap, perhatian, mempengaruhi perkembangan harga diri anak. Orang tua yang sering memuji anaknya ketika anak berperilaku baik, lebih demokratis, penuh penerimaan dan pengungkapan cinta, tidak mudah menghukum dan apabila menghukum anak hukumannya sesuai dengan perbuatan anak. Hal ini akan cenderung mempengaruhi perkembangan harga diri anak ke arah yang tinggi. Baumrind (Hetherington and Parke, 1996), dalam observasinya menambahkan bahwa anak yang dibimbing dan diasuh dengan pola asuh demokratis akan menjadi seorang yang ramah, hangat, menyenangkan, aktif, memiliki kontrol diri yang tinggi, rasa percaya diri, tanggung jawab sosial dan sikap mandiri. Seorang anak yang memiliki kemampuan-kemampuan tersebut akan memiliki harga diri yang positif sehingga mudah untuk masuk dan diterima secara sosial oleh orang lain dan lingkungan.

  Dalam pola asuh demokratis diterapkan unsur kepercayaan dan penerimaan dari orang tua, sehingga anak selalu merasa diperhatian dan diterima orang tua. Perhatian dan penerimaan yang diberikan orang tua dalam keluarga ini akan menumbuhkan rasa berharga dalam diri anak sehingga dalam kehidupannya anak memiliki kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan orang lain (Hauck, 1995). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Atamimi (1992) yang mengatakan bahwa pola asuh demokratis ditandai oleh sikap tidak mengontrol secara antara orang tua dan anak. Dengan menerapkan pola asuh demokratis dalam mendidik anak, maka akan mendorong anak untuk menilai dirinya secara positif.

  Remaja yang mempunyai harga diri yang tinggi merupakan pribadi yang berhasil dalam hidup dan menerima diri apa adanya, bahagia dan lebih mampu memenuhi harapan lingkungan. Hal ini nampak dari perilaku remaja yang lebih aktif, ekspresif, lebih percaya diri serta tampak puas dan menghargai dirinya, umumnya mereka tidak mudah cemas lebih berhasil dalam kehidupan sosial maupun dalam bidang akademis (Coopersmith, 1967). Penelitian lain yang mendukung hal tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Baldwin & Hoffman (2002) juga melakukan penelitian yang berkaitan dengan harga diri yang menemukan bahwa kohesivitas keluarga meningkat, harga diri remaja juga meningkat. Dalam studi ini, kohesi keluarga didasarkan pada jumlah waktu yang digunakan oleh keluarga untuk berkumpul bersama, kualitas komunikasi, dan sejauh mana remaja dilibatkan dalam pengambilan keputusan keluarga.

  Subyek dalam penelitian ini tergolong mendapatkan pengasuhan demokratis yang tinggi serta memiliki harga diri yang tinggi. Subyek penelitian merupakan remaja yang berusia 13-20 tahun (Hurlock,1999). Perkembangan zaman yang semakin maju dengan komunikasi dan teknologi yang sangat berbeda dari zaman dahulu dapat menyebabkan untuk mengembangkan diri. Hal itulah yang membuat remaja di era sekarang ini memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya. Remaja masa kini lebih kreatif, lebih dapat mengekspresikan dirinya sesuai dengan bakat atau minat yang dimilikinya serta memiliki rasa percaya diri akan kemampuan dirinya sehingga individu lebih tanggap terhadap lingkungannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Santrock (2007) bahwa perubahan dunia yang berlangsung cepat mengubah pengalaman remaja, memberikan berbagai peluang dan tantangan baru terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak muda. Selain itu, perbedaan gender juga terlihat makin kecil, terlihat dari peluang pendidikan dan karir pada wanita bertambah luas. Sama halnya dengan remaja, para orang tua di zaman sekarang ini lebih memiliki pemikiran yang terbuka. Hal ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin berkembang di zaman sekarang ini. Perkembangan zaman menuntut orang tua lebih mengerti akan anak- anak mereka sehingga kebanyakan orang tua zaman sekarang telah memahami serta menerapkan pola asuh demokratis pada anak-anaknya sehingga pengasuhan otoritarian sudah jarang ditemui dibandingkan masa yang lalu (Santrock, 2007).

  Berbeda dengan zaman dahulu, orang tua masih bersikap kolot dan membatasi anak untuk berekspresi, orang tua mengasuh anak berdasarkan orde baru tidak pantas lagi untuk diterapkan, anak sekarang sudah bergaya hidup urban, sehingga pola asuh orang tua dahulu tidak pantas diterapkan saat ini. Orang tua dapat lebih membuka pandangan akan perubahan zaman, dimana era yang berkembang sudah tidak mengedepankan suatu hal yang serba otoriter. Pada zaman sekarang ini orang tua belajar dari anak tentang bagaimana pergaulan serta teknologi yang berkembang saat ini sehingga orang tua menjadi mengerti perkembangan anak. Selain itu, melalui proses belajar tersebut orang tua akan lebih memahami pergaulan anak zaman sekarang sehingga orang tua dapat bersikap dengan tepat dan terbuka dalam mendampingi anak-anaknya.

  Harga diri remaja yang tinggi dikarenakan mereka dapat tampil secara kompeten dalam bidang yang penting bagi dirinya. Dukungan emosional dari teman sebaya maupun dari orang dewasa dan persetujuan sosial dalam bentuk konfirmasi dari orang lain juga memiliki pengaruh yang yang kuat terhadap harga diri remaja (Harter, 1990). Prestasi juga dapat meningkatkan harga diri remaja (Bednar, Wells, & Peterson, 1995).

  Di zaman sekarang ini, orang tua maupun lembaga pendidikan banyak mengajarkan keterampilan nyata secara langsung kepada remaja sehingga remaja dapat mengetahui potensi serta minat yang ada dalam dirinya. Hal tersebut akan dapat mengembangkan harga diri remaja yang tinggi karena mereka mengetahui tugas-tugas yang penting untuk meraih tujuan dan yang mencoba mengatasi suatu masalah yang dihadapi dengan kemampuannya sendiri dan bukan menghindari masalahnya tersebut.

  Menghadapi masalah secara realistis, jujur dan tidak defensif, dapat menghasilkan evaluasi diri yang positif sehingga dapat meningkatkan harga diri remaja. Penampilan fisik berkontribusi terhadap harga diri pada remaja (Harter, 2006). Dalam penelitiannya, Harter menemukan bahwa harga diri global memiliki korelasi yang sangat kuat dengan penampilan fisik. Perubahan-perubahan yang jasmani yang terjadi pada masa remaja mengakibatkan remaja lebih memperhatikan ciri-ciri jasmani mereka sehingga penilaian diri mereka tergantung dari pandangan mereka terhadap ciri jasmani mereka. Menurut Hurlock (1980) remaja yang merasa puas dengan tubuhnya akan menyebabkan harga diri yang tinggi.

  Kemajuan teknologi dan informasi yang terjadi sekarang ini banyak menghasilkan alat atau sarana yang dapat digunakan untuk menjadikan seorang remaja tampil lebih percaya diri, misalnya saja alat komestik atau fashion yang berkembang dengan cepat. Hal tersebut membuat remaja sekarang lebih berani untuk tampil ekspresif sesuai dengan harapan dirinya atau tuntutan lingkungan sehingga menjadikan remaja sekarang lebih dapat menilai dirinya secara positif.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan,

  maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pola asuh demokratis maka akan semakin tinggi pula harga diri pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah pola asuh demokratis maka akan semakin rendah pula harga diri pada remaja.

  Nilai t pada skala pola asuh demokratis sebesar 26.158 sedangkan Nilai P pada skala pola asuh demokratis sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan empiris pada skala pola asuh demokratis. Mean teoritis pada skala pola asuh demokratis sebesar 150 dan mean empirisnya sebesar 192.69. hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar daripada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa pola asuh demokratis pada subyek penelitian tergolong tinggi.

  Nilai t pada skala harga diri sebesar 14.503 sedangkan Nilai P pada skala harga diri sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan empiris pada skala empiris lebih besar daripada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa harga diri pada subyek penelitian tergolong tinggi.

B. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan, peneliti mengajukan saran bagi peneliti selanjutnya untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga diri remaja. Hal ini dikarenakan pola asuh demokratis hanya memberikan sumbangan sebesar 23% dalam pembentukan harga diri remaja, sedangkan 77% dipengaruhi oleh faktor yang lainnya. Oleh karena itu, diharapkan dalam penelitian selanjutnya dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai faktor lain yang mempengaruhi harga diri selain pola asuh demokratis misalnya lingkungan sosial, kondisi psikologis individu, kondisi fisik, dan kondisi sosial ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

  Atamimi, N. (1988). Self Esteem dan Tingkat Kecemasan pada Wanita Bekerja di

  Yogyakarta. Penelitian. Tidak diterbitkan. Fakultas Psikologi Universitas

  Gadjah Mada Azwar, S. (2000). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Belajar Azwar, S. (2000). Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta : Pustaka Belajar Bachman, J.G. & O’Malley D. M. (1977). Self Esteem in Young Men: A

  Longitudinal Analysisis of the Impact of Education and Occupational Attainment. Journal of personality & social Psychology . Vol. 55. P365-379.

  Bradshow. (1967). The Management of Self Esteem. New Jersey Prestice Hall, Inc. Branden, N. (1999). Kiat Jitu Meningkatkan Harga Diri (terjemahan). Jakarta: Pustaka delapratasa. Calhoun, JF. & Acocella, JR. (1990). Psychology of Adjustment & Human

  Relationship (3 rd ed) . NY: Mc Graw-Hill Publishing Company.

  Coopersmith, Stanley. (1967). The Antecendents of Self Esteem. San Fransisco: Freeman Company. Deuna, Melecio. (1996). Elementary Statistics for Basic Education. Quezon City:

  Phoenix Publishing Hadi, Sutrisno. (2004). Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset Habibi, M. (1999). Program Bimbingan Orang Tua dalam Penerapan Pola Asuh Untuk Meningkatkan Kematangan Sosial Anak . Penelitian Psikologi.

  Diunduh Pada

  6 November 2009 dari: http:??digitalcommons.unl.edu?cgi?viewcontent>cgi?article=1043&context =psychfacpu Hauck, P. (1995). Mendidik Anak dengan Berhasil. Psikologi Poupuler (ed. V).

  Jakarta: Arcan. Hurlock, EB. (1973). Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw. Hill Klass, W.H, & Hodge, S.E (1978). Self Esteem in Open and Traditional Classrooms. Journal of Educational Psychology. Vol.70.No2.701. Koentjoro, E. (1989). Perbandingan Harga Diri Remaja di daerah miskin Penghasil Pelacur dan Bukan Penghasil Pelacur . Laporan Penelitian.

  Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Lemens, Harris, Ph.D, dan Bean, Reynold, Ed.M. (1995). Bagaimana Meningkatkan Harga Diri Remaja . Jakarta: Binarupa Aksara.

  Mengapa harus Bunuh Diri. (2007, 3 Juli). Suara Merdeka. Diunduh Pada 10 februari 2010 dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0707/03/opi04.htm Noesjirwan, Dra.Josoef. (1979). Perkembangan Anak dan remaja dalam Proyek

  Normalisasi Jehidupan Kampus . Departemen dan K Dirjen Pendidikan Tinggi.

  Priyatno, Dwi. (2008). Mandiri Belajar SPSS untuk Analisis Data dan Uji Statistik . Jakarta: Buku kita. Santrock, John, W. (2007). Perkembangan Anak. Jilid II Edisi 11. Jakarta: Erlangga. Santrock, John, W. (2007). Remaja. Jilid I Edisi 11. Jakarta: Erlangga. Sekilas Tentang harga Diri. (2008, 13 Agustus). Wild76’s weblog. Diunduh pada 10 februari 2010 dari http://wild76.wordpress.com/2008/08/13/sekilas- tentang-harga-diri/. Soekanto, Soerjono. (1996). Remaja dan Masalah-masalahnya. Yogyakarta:

  Kanisius Supratiknya, A. (2007). Kiat Merujuk Sumber acuan dalam Penulisan Karya Ilmiah . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Tambunan, R. (2001). Harga Diri Remaja. Jakarta: Erlangga.

  

LAMPIRAN I

Estimasi Reliabilitas dan Uji Daya Beda Item Skala Pola Asuh Demokratis

  Estimasi Reliabilitas Skala Pola Asuh Demokratis Case Processing Summary

  N % Valid 58 100.0

  Exclude d(a) .0

  Cases Total 58 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha

  N of Items

  .963

  60

  

Uji Daya Beda Item Skala Pola Asuh Demokratis

Tahap Pertama

Item-Total Statistics

  Item9 286.26 674.300 .408 .959 Item10 286.22 670.984 .483 .958 Item11 286.38 676.169 .379 .959

  

Item29 286.62 679.819 .241 .959

  Item25 286.33 662.891 .607 .958 Item26 286.55 674.041 .491 .958 Item27 286.34 672.265 .470 .958 Item28 286.19 674.542 .432 .959

  

Item24 286.64 682.375 .146 .959

  Item22 286.31 668.534 .550 .958 Item23 286.31 674.323 .418 .959

  

Item19 286.47 680.815 .235 .959

Item20 286.24 681.414 .259 .959

Item21 287.67 680.961 .178 .959

  Item18 286.16 670.098 .547 .958

  

Item17 286.29 679.193 .252 .959

  Item13 286.12 670.564 .530 .958 Item14 285.90 679.954 .336 .959 Item15 286.60 675.717 .443 .959 Item16 286.55 669.796 .550 .958

  

Item12 286.48 680.780 .257 .959

  

Item8 286.50 678.325 .298 .959

  Scale Mean if Item Deleted

  Item6 286.24 672.362 .487 .958 Item7 286.57 677.127 .421 .959

  

Item5 285.95 687.769 .001 .960

  Item2 286.55 667.690 .544 .958 Item3 286.41 675.966 .422 .959 Item4 286.21 666.027 .625 .958

  

Item1 286.07 685.434 .088 .959

  Deleted

  Alpha if Item

  Correlation Cronbach's

  Corrected Item-Total

  Item Deleted

  Scale Variance if

  Item30 286.64 677.288 .450 .959 Item31 286.40 676.384 .327 .959

  Item35 286.16 668.940 .557 .958 Item36 286.55 676.357 .385 .959 Item37 286.62 674.661 .381 .959

  Item38 286.34 680.581 .296 .959

  Item39 286.12 673.266 .562 .958

  Item40 286.36 682.761 .153 .959

  Item41 286.10 664.094 .625 .958 Item42 286.67 676.224 .330 .959 Item43 286.14 668.191 .635 .958 Item44 286.41 668.422 .523 .958 Item45 286.31 678.428 .369 .959

  Item46 286.71 689.123 -.039 .960

  Item47 286.53 679.271 .340 .959 Item48 286.26 665.072 .725 .958 Item49 286.17 673.479 .390 .959

  Item50 286.09 682.782 .162 .959

  Item51 286.47 675.587 .371 .959 Item52 286.40 671.331 .614 .958 Item53 286.45 672.181 .516 .958

  Item54 286.38 680.906 .224 .959

  Item55 286.29 666.421 .512 .958 Item56 286.24 671.695 .485 .958

  Item57 287.02 692.123 -.131 .960

  Item58 286.48 668.886 .617 .958 Item59 286.28 669.291 .483 .958 Item60 286.21 667.325 .587 .958 Item61 286.69 672.323 .329 .959 Item62 286.26 670.090 .563 .958 Item63 286.91 675.028 .322 .959 Item64 286.28 672.975 .385 .959 Item65 286.53 667.341 .545 .958 Item66 286.48 666.430 .698 .958 Item67 286.33 663.031 .689 .958 Item68 286.52 677.938 .380 .959 Item69 286.43 673.197 .500 .958 Item70 286.53 662.464 .656 .958 Item71 286.24 664.993 .690 .958 Item72 286.14 668.788 .649 .958 Item73 286.10 665.954 .746 .958 Item74 286.22 670.072 .619 .958 Item75 286.12 664.775 .787 .958 Item76 286.38 672.485 .527 .958

  Item81 286.64 675.393 .368 .959 Item82 286.34 667.423 .683 .958 Item83 286.31 664.674 .722 .958 Item84 286.53 676.043 .367 .959 Item85 286.07 674.697 .403 .959 Item86 286.29 678.562 .359 .959 Item87 286.48 672.535 .452 .959 Item88 286.48 665.342 .617 .958 Item89 286.45 667.690 .633 .958 Item90 286.38 670.976 .616 .958

  • cetak tebal : item yang gugur

  

Uji Daya Beda Item Skala Pola Asuh Demokratis

Tahap Kedua

Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if

  Item Deleted

  Corrected Item-Total

  Correlation Cronbach's

  Alpha if Item

  Deleted Item2 233.66 578.019 .533 .964 Item3 233.52 586.044 .396 .964 Item4 233.31 575.270 .651 .963 Item6 233.34 582.125 .483 .964 Item7 233.67 586.119 .435 .964 Item9 233.36 584.235 .394 .964 Item10 233.33 580.259 .497 .964 Item11 233.48 585.166 .392 .964 Item13 233.22 579.791 .548 .964 Item14 233.00 589.193 .331 .964 Item15 233.71 585.685 .421 .964 Item16 233.66 579.353 .558 .964 Item18 233.26 579.072 .574 .964 Item22 233.41 578.457 .550 .964 Item23 233.41 583.721 .422 .964 Item25 233.43 572.881 .615 .963 Item26 233.66 584.440 .458 .964 Item27 233.45 582.357 .456 .964 Item28 233.29 583.404 .454 .964 Item30 233.74 586.651 .447 .964 Item31 233.50 585.482 .335 .964 Item32 233.29 576.632 .632 .963 Item34 233.21 577.009 .614 .963 Item35 233.26 579.178 .546 .964 Item36 233.66 586.300 .364 .964 Item37 233.72 582.835 .422 .964 Item39 233.22 583.440 .537 .964 Item41 233.21 574.237 .628 .963

  

Item42 233.78 586.598 .299 .964

  Item43 233.24 578.186 .633 .963 Item44 233.52 577.377 .552 .964

  Item49 233.28 583.537 .375 .964 Item51 233.57 585.899 .341 .964 Item52 233.50 580.816 .624 .964 Item53 233.55 581.690 .521 .964 Item55 233.40 575.787 .530 .964 Item56 233.34 581.458 .482 .964 Item58 233.59 578.738 .618 .963 Item59 233.38 578.345 .506 .964 Item60 233.31 576.674 .607 .963 Item61 233.79 580.623 .361 .964 Item62 233.36 579.954 .561 .964 Item63 234.02 584.684 .316 .964 Item64 233.38 583.011 .373 .964 Item65 233.64 577.568 .538 .964 Item66 233.59 576.282 .705 .963 Item67 233.43 573.021 .699 .963 Item68 233.62 588.099 .343 .964 Item69 233.53 582.990 .492 .964 Item70 233.64 572.761 .657 .963 Item71 233.34 575.177 .689 .963 Item72 233.24 578.748 .647 .963 Item73 233.21 575.886 .752 .963 Item74 233.33 579.908 .618 .964 Item75 233.22 575.265 .776 .963 Item76 233.48 581.412 .554 .964 Item77 233.28 583.502 .504 .964 Item78 233.41 580.913 .473 .964 Item79 233.41 579.019 .610 .963 Item80 234.10 578.129 .424 .964 Item81 233.74 584.897 .366 .964 Item82 233.45 577.164 .693 .963 Item83 233.41 574.106 .748 .963 Item84 233.64 585.358 .369 .964 Item85 233.17 584.636 .387 .964 Item86 233.40 587.682 .362 .964 Item87 233.59 582.212 .450 .964 Item88 233.59 575.019 .631 .963 Item89 233.55 577.024 .655 .963 Item90 233.48 580.851 .611 .964

  

Uji Daya Beda Item Skala Pola Asuh Demokratis

Tahap Ketiga

Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if

  Item Deleted

  Corrected Item-Total

  Correlation Cronbach's

  Alpha if Item

  Deleted Item2 193.10 440.831 .512 .963 Item3 192.97 447.543 .381 .963 Item4 192.76 437.590 .659 .962 Item6 192.79 444.237 .465 .963 Item10 192.78 442.002 .502 .963 Item11 192.93 446.346 .396 .963 Item13 192.67 441.663 .552 .963 Item14 192.45 450.217 .318 .963 Item16 193.10 441.884 .539 .963 Item18 192.71 441.088 .576 .962 Item22 192.86 440.753 .543 .963 Item25 192.88 435.476 .622 .962 Item26 193.10 446.340 .435 .963 Item27 192.90 444.340 .442 .963 Item28 192.74 444.195 .483 .963 Item30 193.19 447.560 .457 .963 Item31 192.95 445.769 .368 .963 Item32 192.74 438.721 .642 .962 Item34 192.66 439.037 .625 .962 Item35 192.71 441.544 .534 .963 Item37 193.17 443.689 .448 .963 Item39 192.67 445.277 .521 .963 Item41 192.66 436.230 .650 .962 Item43 192.69 440.148 .642 .962 Item44 192.97 438.806 .580 .962 Item47 193.09 448.887 .361 .963 Item48 192.81 437.560 .734 .962 Item52 192.95 442.822 .616 .962 Item53 193.00 443.193 .530 .963 Item55 192.84 438.449 .524 .963 Item56 192.79 443.255 .480 .963 Item62 192.81 442.121 .552 .963 Item63 193.47 445.867 .320 .963 Item64 192.83 444.391 .377 .963 Item65 193.09 440.887 .502 .963 Item66 193.03 438.665 .707 .962 Item67 192.88 435.757 .702 .962 Item69 192.98 444.930 .476 .963 Item70 193.09 435.729 .653 .962 Item71 192.79 438.097 .676 .962 Item72 192.69 440.569 .659 .962 Item73 192.66 438.054 .765 .962 Item74 192.78 441.826 .619 .962 Item75 192.67 437.733 .779 .962 Item76 192.93 443.188 .553 .963 Item77 192.72 444.659 .519 .963 Item78 192.86 442.577 .478 .963 Item79 192.86 441.139 .608 .962 Item80 193.55 441.585 .387 .963 Item82 192.90 439.498 .691 .962 Item83 192.86 436.823 .747 .962 Item85 192.62 446.275 .376 .963 Item86 192.84 448.730 .359 .963 Item87 193.03 443.543 .462 .963 Item88 193.03 437.929 .619 .962 Item89 193.00 439.439 .651 .962 Item90 192.93 442.557 .617 .962

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan Persepsi Terhadap Peran Ayah dengan harga diri remaja
10
132
89
Hubungan antara pola asuh orang tua dengan sibling Rivalry remaja awal pada siswa kelas 2 SMPN 182 Jakarta
2
13
133
Hubungan antara pola komunikasi orang tua - remaja dengan konsep diri remaja
4
11
129
PENDAHULUAN Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.
0
0
9
Hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dengan prokrastinasi akademik mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
1
19
128
Hubungan antara pola asuh demokratis dengan prestasi pelajar pada remaja.
1
7
101
Hubungan persepsi terhadap pola asuh demokratis orang tua dan penyesuaian diri pada remaja..
1
3
107
Hubungan antara persepsi pola asuh dan kecemasan ibu bekerja yang memiliki anak remaja pada masa pubertas
1
6
146
hubungan antara pola asuh dengan delinku
0
0
31
Hubungan antara harga diri dengan
0
0
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 - Hubungan antara harga diri dengan penggunaan minuman beralkohol pada remaja - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
9
BABI PENDAHULUAN - Hubungan antara citra tubuh dengan harga diri pada remaja putri - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
2
8
Hubungan antara citra tubuh dengan harga diri pada remaja putri - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
38
Hubungan antara body image dengan harga diri yang dimiliki oleh remaja putri SMU Negeri 1 Jatinom Klaten - USD Repository
0
0
95
Hubungan antara persepsi pola asuh orang tua demokratis dengan prestasi akademik pada remaja siswa SMP Negeri 3 Depok Yogyakarta - USD Repository
0
0
131
Show more