Respon guru sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta terhadap wacana alternatif tragedi kemanusiaan 1965 - USD Repository

Gratis

0
0
169
2 days ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Data yang terbatas, sulitnya birokrasi, pengalamantraumatis dari pihak-pihak yang akan diwawancarai menjadi satu dari sekian alasan kenapa penulis menempuh waktu yang tidak sebentar saat menyelesaikantesis yang berjudul Respon Guru Sejarah Sekolah Menengah Atas YogyakartaTerhadap Wacana Alternatif Tragedi Kemanusiaan 1965. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tanggapan dari guru sejarah terhadap wacana sejarah alternatif dengan topik TragediKemanusiaan 1965, dengan memakai metode pemutaran film dokumenter sejarah yang mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan versi dari rezim Orde Baru.

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

  Namun, wacana mengenai sejarah bangsa Indonesia di sekolah tampaknya tak banyak diminati oleh para murid masa kini karena mereka dituntut oleh guru dannilai untuk hanya menghafalkan nama peristiwa, tanggal, dan nama-nama pahlawan tanpa dibimbing untuk bersikap kritis terhadap peristiwa-peristiwabersejarah itu. Salah satukritik mengenai cara pengajaran sejarah diungkapkan oleh Niels Mulder yang mengatakan bahwa materi kelas sejarah hanya menjelaskan kronologi persitiwadan diceritakan tanpa teori atau koherensi yang berasal dari proses perhubungan 11 masing-masing periode sejarah.

4 Film doku-drama adalah perpaduan film dokumenter dengan film drama. Film doku-drama

  Sejarawan-cum-militer Nugroho Notosusanto dalam bukuhasil Seminar ABRI 1997, dengan jelas menyatakan:“Di dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana kebiasaan membaca pun masihsedang berkembang, kiranya historio-visualisasi masih agak efektif bagi pengungkapan identitas ABRI.” Kendati terasa ada nada yang meremehkankecerdasan rakyat kebanyakan, agaknya Nugroho mempercayai kemampuan yang visual sebagai sumber untuk menyusun sejarah. Artinya, peserta didik menjadisubjek eksploitasi suatu kekuasaan di luar pendidikan dan menjadikan mereka sebagai objek-objek dan alat dari suatu rejim yang mempunyai kekuasaan saat itu.

5 Budi Irawanto mengulas buku Katharine E. McGregor, Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia

  Sekalipun peserta didik adalah sekelompok individu yang seharusnya mempunyai ruang gerak bebas di dalam sejarah dan mereka harusnya mampumenentukan posisi dimana harus berada, disini sosok mereka menjadi bias karena6 penguasaan sejarah yang sepihak. Penulis menemukan ada versi yang berbeda dari beberapa buku sejarah yang digunakanoleh guru sejarah dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

11 Langenberg (1996) dalam buku Bahasa dan Kekuasaan, Orde Baru bertujuan

  menyikut Orde Lama sebagai periode penuh chaos, kekacauan dan kekerasan massal, seperti dalam kutipan berikut ini. Jelaslah, ini berarti, Orde Baru telah mengangkangi kenangan sejarah penuh pembunuhan itu sebagai alat untuk memapankan legitimasinya.

11 Tulisan ini dimuat dalam kumpulan esai berjudul Bahasa dan Kekuasaan (Politik Wacana di

  Sebaliknya, tumbangnya Orde Baru dan munculnyazaman reformasi membuat banyak pihak diluar institusi formal semakin penasaran untuk meneliti lebih lanjut ada apa dibalik peristiwa 65 dengan dalih inginmemberikan alternatif wacana sejarah yang berbeda dengan versi mainstream. Salah satunya penyebabnya adalah adanya kebijakan dari pendidikan nasional yang Sebelum gerakan Reformasi genap berumur 10 tahun, tepatnya pada awal tahun 2007, tindakan model Orde Baru dalam hal pelarangan buku itu telahmenyeruak kembali ke tengah masyarakat.

19/ A/JA/03/2007 berisi larangan terhadap 13 judul buku pelajaran sejarah, termasuk buku pelajaran untuk Kelas 1 dan Kelas 3 tingkat SLTP

12 Film dokumenter merupakan narasi yang berasal dari masyarakat

  Dalam acara sarasehan Musyawarah Guru MataPelajaran Sejarah (MGMP) yang diadakan di Sanata Dharma pada November2011, banyak guru sekolah menengah yang mengaku mengalami hambatan dalam mendapatkan versi-versi sejarah alternatif karena keterbatasan dana, kemampuanuntuk mengakses dari luar sekolah, dan hal tersebut mengakibatkan tidak adanya variasi versi sejarah dan medium mengajar. Disampaikan dalam acara Kursus Sejarah Kritis, diselenggarakan oleh Citralekha bekerjasama Sejarah lisan bukan hanya sebagai pelengkap dokumentasi-dokumentasi sejarah tertulis yang sudah ada, namun dengan menampilkan bukti-bukti barusecara personal beserta sejumlah asumsi dan pengalaman yang sebelumnya tidak diketahui publik, sejarah lisan menjadi titik tolak supaya penulisan dan penelitiansejarah menjadi lebih demokratis.

2. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini berusaha untuk menjawab bagaimana guru merespon sejarah wacana sejarah alternatif 65 yangdisajikan dalam film dokumenter. Bagaimana perkembangan materi wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 sebelum dan sesudah Reformasi 1998 di sekolah menengah atas di Yogyakarta dalambuku teks yang digunakan untuk bahan mengajar?

5. Tinjauan Pustaka

  Laporan studi lapangan yang dilakukan Angus Gratton bertujuan untuk mengetahui dampak diskusi pelurusan sejarah dalam wacana umum terhadapsejarah yang ada dalam wacana resmi. Melalui penelitiannya, Budi Irawanto mencoba menelusuri beragam teks yang terimplikasi dibalik bahasa visual yang ada di dalam film dan di dalambahasa visual itu terkandung kekuasaan yang mencoba untuk mengheroikkan sosok militer.

6. Landasan Teori

  Dalam menganalisa data penulis menggunakan satu teori utama yaitu teori pendidikan kritis. Teori pendidikan kritis dipakai untuk melihat bentuk-bentuk perubahan dalam penyusunan kurikulum sejarah yang mengikuti Teori kekuasaan oleh Michel Foucault juga melengkapi teori utama untuk melihat bagaimana mekanisme hubungan subjek (guru) dengan pengetahuan melahirkankekuasaan.

6.1. Pendidikan Kritis

  Dalam hal ini guru atau pengajar harus konsisten bahwa jika dia mengajarkan tentang demokrasi dankeadilan maka pada saat yang sama pun dia tidak boleh melakukan hubungan yang otoriter di kelas. Dari ketiga subjek tersebut terdapat hubungan kekuasaan antara agency (guru) dan struktur (institusi/sekolah), hubungan kekuasaan inilah yang jarang dibahas dalam penelitian pendidikan –hubungan antara yang menghegemoni dan terhegemoni.

6.2. Kekuasaan dalam Pendidikan

  Hubungan antara guru sejarah dengan negara dan institusi yang berkaitan dengan wacana 65menunjukkan bagaimana negara mengatur sedemikian rupa nilai-nilai sejarah pada generasi berikutnya. Wacana sejarah dibuat dalam satu versi, yaitu versiOrde Baru yang mengakar melalui pendidikan, dan guru sebagai penghubung antara institusi dan murid menjadi figur penting dalam menentukan sikap.

19 Intelektual tradisional adalah mereka yang menempati berbagai posisi ilmiah dalam

  Sebaliknya, intelektual organik yang disebut oleh Gramsci adalah bagian dari perjuangan kelas yang terlibat dalam pemikiran pengorganisasian berbagai elemen kelas Sepintas mungkin terlihat tidak ada hubungannya antara pendidikan dan kekuasaan. Hegemoni tersebut masuk melalui media populer dan sekolah yang secara tidak disadari telah mengarahkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang disebut dengan hidden curriculum.

20 Tilaar, H. A. R. 03. Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dan Perspektif Studi

  Sebaliknya, wacana sejarah yangcukup sensitif tersebut harus dipelajari dengan menggunakan media yang cukup dekat dengan generasi muda, atau bisa juga dengan bertemu langsung denganpelaku dan korban sejarah sehingga apa yang mereka pelajari merupakan kapital lokal yang mudah dipahami. Guru sejarah pada masa Orde Baru sangat taat kepada institusi dan pengetahuan sejarah, mereka tidak mengajar versi sejarahdi luar versi resmi karena ada pengawasan dari institusi dan negara untuk yang sifatnya “mendukung” jalannya rejim.

6.3. Pengajaran Sejarah Kritis di Sekolah Menengah Atas

  Guru sejarah memang dituntut menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pengajar agar tepat waktu untuk mentransfer ilmu sesuai dengan kurikulum yang Metode belajar sejarah yang pasif, menyebabkan seorang anak hanya menghafal nama, tempat dan tahun dari sebuah peristiwa tanpa tahu semangatserta nilai apa yang sebenarnya terkandung dalam peristiwa tersebut. Pengajaran sejarah yang diarahkan kepada komunikasi antara pelaku sejarah dan peserta didik diharapkanakan membantu peserta didik lebih memahami yang terjadi di masa lalu daripada Dalam penelitian ini bisa dilihat bagaimana alur wacana sejarah berjalan melalui hegemoni negara secara mono-naratif, dan di satu sisi ada perlawanandengan munculnya versi multi-naratif.

7. Metode Penelitian

  Materi ini dianalisa untukmenentukan perkembangan materi ajar yang digunakan untuk proses belajar mengajar di kelas sejak masa Orde Baru sampai dengan pasca Orde Baru. Alasan penulis untuk mengambil data dari sekolah- sekolah tersebut adalah ingin memberi banyak alternatif pengumpulan data, Years of Silence yang kemudian ditonton oleh guru sejarah dari sekolah-sekolah yang telah ditunjuk sebagai data dan mewawancarai guru sejarah setelah menonton film tersebut untuk mengetahui repon mereka terhadap penyajianwacana sejarah alternatif.

8. Sumber Data

9. Teknik Pengumpulan Data

  Ada dua macam sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini, sumber data primer adalah analisa buku teks untuk mengetahui perkembanganbuku sejarah terkait wacana Tragedi Kemanusiaan 65 sebelum dan sesudah Untuk teknik pengumpulan data dari para guru sejarah, dipakai dua jenis metode: analisa buku teks sejarah dari sebelum Reformasi 98 dan sesudahnya. Buku-buku yang didapat antara lain adalah buku yang telah disusun olehMusyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah Yogyakarta pada tahun 1996, bukuSejarah untuk SMA Kelas XII penerbit Erlangga tahun 2006, buku Sejarah untukSMA Kelas XII penerbit Yudhistira, dan Diktat Jurnal Pelajaran Sejarah Kelas XII yang disusun oleh salah satu guru dari sekolah Katolik.

ATAU KORBAN

2.1 Pendidikan Sejarah dari Masa ke Masa

  Namun, dengan tidak adanya usaha yang serius untuk belajar dari peristiwa sejarah di masa lalu, mengakibatkan berulangnya sejarah kelam yang terjadisebelumnya. Memandang anak sebagaipelaku sejarah pada masanya, menjadi bagian yang mestinya tidak terpisahkan dari usaha untuk menciptakan figur yang dapat melepaskan diri dari pewarisansejarah yang tidak berimbang.

2.1.1. Paradigmatik Pelajaran Sejarah

  Pendidikan sejarah berisi cerita sejarah pengetahuan sejarah, gambaran sejarah yang kesemuanya ituadalah bersifat koheren antara fakta-fakta yang ada dan bukti-bukti yang tersedia. Berkaitan dengan penglihatan tiga dimensi waktu dalam sejarah tersebut, fakta sebagai produksi masa lampau pada dasarnya juga tergantung pada masakini, artinya sejarah tidak menghadapi realitas itu sendiri, tetapi hanya bekas dalam fakta berupa pernyataan simbol dari realitas.

2.1.2. Sejarah Versi (Orde) Baru

  Sebelum Orde Baru, pendidikan sejarah menjadi kurikulum berbasis ilmu pengetahuan namun tidak bertahan lama sampai pada tahun 1964, dimanakurikulum sejarah sangat bernuansa politis yaitu harus berlandaskan Pancasila danManipol (Manifestasi Politik UUD 1945 yang terdiri dari Sosialisme alaIndonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan KepribadianIndonesia). Dari situ, Orde Baruberhasil membuat konstruksi dan rekonstruksi sejarah yang hegemonik dan manipulatif untuk membuat fakta-fakta sejarah yang menjadi momok 32 masyarakat .

2.2. Pendidikan Sejarah sebagai Alat Kekuasaan

  Menurut Michael Sturner, masa depan dikuasai oleh mereka yang menguasai isi ingatan, yang merumuskan 33 konsep dan menafsirkan masa lalu. Dalam hal ini pemegang kekuasaan tentu akan melakukan “penguasaan ingatan kolektif.” Dan penguasaan sejarah dipakaiuntuk pembenaran sistem yang dipakai untuk masa depan.

33 Dikutip oleh Taufik Abdullah, 1996. Masalah Kontemporer Ilmu Sejarah dan Historiografi

  Sejarah Nasional merupakan historiografi yang dibuatoleh negara dan harus disosialisasikan kepada masyarakat terutama dalam pendidikan sejarah yang diajarkan sekolah. Historiografi Indonesia yang ditulis oleh OrdeBaru telah menempatkan bahwa Orde Baru sebagai upaya penyelamatan negara dari berbagai ancaman dan gangguan yang telah merongrong negara.

2.2.1. Hegemoni dan Alienasi dalam Pendidikan Sejarah

  Meskipun konsep ini dititikberatkan pada pembahasan mengenai efek negatif yang menimpa buruh dalam industri kapitalis, tapi konsep Marx ini juga mengacupada perasaan terasing dari masyarakat, kelompok, kultur atau diri manusia sendiri yang lazim dirasakan oleh orang dalam budaya industrial yang kompleks. Pendidikan tereleminasipencapaian target kurikulum dengan fokus penghafalan konsep demi angka-angka ujian dengan terpaksa dan dalam alienasi tersebut tentunya kita bisa melihatadanya kekuasaan ideologi dominan yang mengendalikan dan membuat anak merasa terancam jika tidak melakukan apa yang diperintahkan.

2.2.2 Pengetahuan dan Kekuasaan

  Alienasi sangat dipengaruhi oleh satu pihak yang berkuasa, dalam pendidikan alienasi bisa dilihat oleh bagaimana murid tidak pernah berperan 3534 menjadi subjek dalam menentukan apa yang menjadi aktualisasi dirinya. Gramsci adalah salah satu tokoh neo- marxis yang selama hidupnya membangun aliansi buruh dan petani denganmembangun poros utara yaitu kelas proletarian di kawasan industri maju dan poros selatan yaitu tuan-tuan rumah yang mendominasi tanah.

36 Berbicara dominasi, pedagogi kritik mengkaitkan konsep hegemoni dengan

  Sebaliknya, ada beberapa murid yang menunjukkan penolakan dengan membisu, meskipunada beberapa yang menunjukkannya dengan pertentangan yang aktif karena sejarah juga tidak bisa secara instan menuntut muridnya untuk berpikir kritis,seolah seperti orang yang akan menulis ulang teks yang dibacanya. Oleh sebab itu, sampai saat ini tidak ada pedagogi yang netral dalam belajar sejarah karena40 adanya dominasi dari wacana sejarah yang masih bermuatan politik dan memiliki hubungan sosial dengan masyarakat.

BAB II I PENDIDIKAN KRITIS (A)HISTORIS Setelah Reformasi 98, era baru penulisan sejarah Indonesia yang ditulis

  Saat ini, kritik ditujukan terhadap para akademisi sejarah yang hanyaberkutat pada data di ruang arsip, tidak mencoba keluar untuk memahami benar pada masalah yang ada dalam penelitian mereka, dan menyebabkan kajian sejarahhanya akan berada di menara gading. Dalam bab ini penulis menunjukkan bahwa pendidikan sejarah diIndonesia tidak mengalami perubahan yang cukup drastis dari pemerintahan Orde Baru dan masih ada wacana hegemoni dalam tema Tragedi Kemanusiaan.

45 Ariel Heryanto. 2001. Teror Negara: Tentang Politik dan Batuk-Batuk Lagi dalam buku Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah. Ed: Baskara. T. Wardaya

  A., buku teks dalam pelajaran sekolah adalahsemua buku yang dipakai dalam proses belajar mengajar, sebagaimana dikutip oleh Sitepu, B. Sedangkan buku teks sejarah adalah sebuah teks historiografi yang disusun oleh guru, sejarawan dan pakar-pakar pendidikan sejarah yang memadukan kaidah-kaidah keilmuan sejarah dan unsur pendidikan yang mengacu pada kurikulum yang berlaku.

3.1. Tragedi Kemanusiaan 1965 dalam Buku Pelajaran Sejarah Orde Baru

  Sedangkan 10 indikator yang tertulis berdasar oleh penelitiannya di kota Semarangyang didapat dari Lembar Ujian Kompetensi Siswa, disusun oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah.50 Dokumen Gilchrist (bahasa Inggris:Gilchrist Document) adalah sebuah dokumen yang dahulu banyak dikutip surat khabar pada era tahun 1965 yang sering digunakan untuk mendukungargumen untuk keterlibatan blok Barat dalam penggulingan Soekarno di Indonesia. Namun terlihat jelas bahwa cara Orde Baru kental dengan sikap diskriminatif terhadap rejimsebelumnya yang dianggap banyak melakukan penyimpangan dan historiografi resmi sejarah nasional harus seijin dari militer, apabila tidak ada seijin dari yangbersangkutan maka akan dianggap sebagai historiografi yang tidak resmi.

12 Maret 1966 PKI sebagai dalang pemberontakan G 30 S / PKI berhasil dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia

  Apa yang dalam buku sejarah adalah mutlak padasaat itu dan harus dipercaya kebenarannya, dan pada saat itu yang tertulis dalam buku sejarah adalah pendiskreditan satu pihak tertentu. “Akhirnya rakyat dan ABRI yang setia pada Pancasila mengadakan rapat raksasa dan mengutuk G 30 S / PKI serta mengumandangkan slogan bubarkan PKI,gantung Aidit, dan lain-lain.” Sepanjang pemerintahan Orde Baru, militer memang memegang peranan penting dalam birokrasi dan alat politik pemerintahan karena menjadi semacampemerintah bayangan dalam setiap regional.

57 Ponirin di Jurnal Jasmerah :

57 Ponirin. 2012. Nasionalisme dan Patriotisme. Medan: Jurnal Jasmerah UNIMED, yang dikutip

  “Dari buku-buku sejarah Orde Baru tampak jelas bagaimana narasi sejarah tunggal atau seragam telah dibangun canon yang berguna untuk kepentinganOrde Baru dan militer, yakni 1) Sebagai legitimasi naiknya Orde Baru ke panggung politik guna memimpin Indonesia dengan cara memproduksi versiperistiwa Gerakan 30 September yang tabu untuk diperdebatkan selama Suharto memimpin. Gaya penulisan buku teks sejarah pada masa Orde Barujuga terlihat sangat subjektif, karena pada masa itu yang dianggap sejarah resmi nasional adalah wacana sejarah yang disetujui oleh pemerintah dan anggotamiliter.

3.2. Perubahan Teks Tragedi Kemanusiaan 1965 setelah Orde Baru

  Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam penting apakah Indonesia di masa setelah Suharto akan menghasilkan kurikulum sejarah yang lebih objektif sifatnya ataukah masih ada sisa-sisa dominasi OrdeBaru dalam pelajaran sejarah di sekolah. Ketiga buku ini diterbitkan paska Reformasi 98, dua diantaranya dicetak oleh penerbit resmi negara disertaidengan hak cipta, sedangkan satu buku yang berbentuk jurnal digunakan untuk mengajar pelajaran sejarah di sekolah menengah atas Katolik disusun sendiri olehguru sejarahnya sendiri.

1. Menganalisis

1.1. Menganalisis peristiwa sekitar Proklamasi 17 perjuangan bangsa Agustus 1945 dan pembentukan pemerintahanIndonesia sejak proklamasi Indonesia hingga lahirnya Orde Baru

1.2. Menganalisis perkembangan ekonomi-keuangan

  dan politik pada masa awal kemerdekaan sampai tahun 1950 1.3. Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia daam mempertahankan kemerdekaan dari ancamandisintegrasi bangsa terutama dalam bentuk pergolakan dan pemberontakan (antara lain: PKIMadiun 1948, DI/TII, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI) 1.4.

2. Menganalisis proses

  Fungsi sejarah yang pragmatis amat nampak bila sejarah sebagai legitimasi serta yustifikasi eksistensi suatu bangsa dan negara. Di dalam tabel kompetensi dasar di atas, TragediKemanusiaan 1965 masuk dalam pembelajaran sejarah semester satu dan masuk dalam sub-bab topik pergolakan dan pemerintahan.

59 Sartono Kartodirjo. Kompas, 26 September 1998 yang dikutip di buku Strategi Pembelajaran Sejarah. 2001. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, hal. 83

  Peta Konsep untuk pembelajaran Bab 3, Perjuangan Terhadap Ancaman Disintegrasi Bangsa di buku teks sejarah dari Penerbit Yudhistira. Peta konsep diatas memadukan ilmu sejarah yang diakronis, yaitu mengkaji secara vertikal suatu peristiwa atau fenomena yang sama denganmemperhatikan kronologis dan bersifat sinkronis yaitu mengkaji suatu peristiwa atau fenomena secara horisontal pada waktu dan tempat yang berbeda dalamsetiap penjelasan periodenya.

60 M. Habib Mustopo dkk. 2002. Sejarah SMA Kelas XII Program IPS Kelas 3. Yudhistira, hal

  Yusuf Hasyim, selaku Pelaku dan Saksi Sejarah yang menginginkan supaya versi yang ditulis dibuku teks sejarah adalah G30S/PKI bukan hanya G30S saja karena mereka berpendapat bahwa PKI adalah pihak yang bersalah dan pelaku dari penculikanpara jenderal Angkatan Darat di Lubang Buaya, disertai dengan kekacauan stabilitas nasional yang terjadi setelah peristiwa tersebut. Meskipun dari awal buku ini mencantumkan kata PKI dibelakang G30S, tetapi penulisan yang multi-naratif di penutupan bab setidaknya memberi gambaran kepada para guru sejarah dan murid-muridnya tentang versialternatif di luar versi resmi sejarah nasional.

3.3. Ketika Guru Membuat Versi Sejarahnya Sendiri

  Dalam diktat inidibahas mengenai berbagai istilah perubahan G30S/PKI menjadi G30S sampai pada istilah GESTAPU (Gerakah September Tiga Puluh) dan GESTOK danmenjelaskan beerbagai versi alternatif yang menjadi dalang dari peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965 seperti pada halaman 15: “Teori tentang dalang peristiwa G 30: Teori tentang mengapa dan siapa dalang dari peristiwa G 30 S yang berkembangsaat ini ada 6 teori: a. Problematika yang timbul dalam pengajaran sejarah yang menggunakan versi alternatif yang tidak mengikutibirokrasi institusi memang sangat beresiko dan akan dianggap tidak sesuai dengan fakta.

64 Merdeka, mengatakan bahwa sungguh bodoh negara ini jika kembali pada

penyebarluasan ajaran komunisme, marxisme dan leninisme, tambahnya:“Kambing congek saja tidak akan membenturkan kepalanya dua kali. Kalau kita belum bisa mengambil pelajaran dari dua peristiwa bersejarah tersebutya kita lebih bodoh dari kambing.”

3.4. Respon Guru terhadap Inkonsistensi Kurikulum

  Paska Reformasi 98, seperti disebutkan pada bab sebelumnya, terdapat beberapa perubahan terhadap wacana sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965.65 Beberapa lembaga di luar pemerintahan menuntut penggantian kurikulum di buku Usaha itu juga nampaknya tidak sepenuhnya berhasil, karena sejak PSPB yang mengundang reaksi, ternyata kekuasaan Orde Baru masih dilestarikan secaraimplisit hingga sekarang dan menyusup melalui pendidikan formal. Karena mereka langsung datang kesekolah toh…Tapi beberapa waktu lalu kan sempat ada perdebatan tentang pencantuman kata PKI ya, bagi saya itu tidak masalah selama guru sejarah bisamenggunakan metode yang lain” Dari contoh jawaban diatas, bisa disimpulkan bahwa guru mempunyai sifat bebas dalam mengajar di dalam kelas, namun dia tetap harus ikut dalambirokrasi sekolah untuk tetap menggunakan buku teks resmi sejarah.

3.4.1. Ambivalensi dan Sikap “Hanya Sekedar Tahu”

  Nah, yang bisa leluasa, idealnya klo sejarah paling tidak 2 jam untuk semua kelas, tapikalau kelas 10 itu cuma 1 jam itu ya dapat dibayang kan ketika mungkin lokal Idealnya, di waktu yang tidak banyak itu guru sejarah juga mereproduksi pengetahuan dari ilmu yang sudah ada dan memberi persepsi yang sama persistertuliskan di buku. Dan di buku-buku pelajaran itu tidak ada discourse, tidak ada wacana lain kecuali ini adalah percobaan kudeta maumenggulingkan pemerintah Indonesia, dan tidak ada konstelasi misalnya pristiwa itu terjadi dalam ketegangan perang dingin.” Dari pendapat guru diatas, bisa dilihat dia mengetahui secara kritis mengenai polemik wacana Tragedi Kemanusiaan 1965.

BAB IV REAKSI TERHADAP MULTI-NARASI PELAJARAN SEJARAH

4.1. Tumbangnya Orde Baru

  Seperti yang dikemukakan olehLukman Hakim Husnan, Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang SumateraSelatan dalam ingatannya mengenai ajaran tentang Tragedi Kemanusiaan 1965: “PKI adalah dosa, walau banyak dari kami tidak mengalami luka sejarah yang barangkali memang pernah mereka torehkan. Di sisi lain, demokratisasi pengajaran danpenyebaran pengetahuan sejarah melalui media massa, seperti film dan televisi memberikan kontribusi bagi warga negara untuk menemukan identitas danmenyadarkan mereka tentang politisasi sejarah .

68 Tercantum dalam buku Demi Masa Depan: Kumpulan Esai Anak Muda Indonesia tentang

  Para pendidik sejarah merasa tidak berperan untuk memberi bahan-bahan tambahankarena mereka menganggap akan tidak patuh pada birokrasi sekolah danDepartemen Pendidikan Nasional, sedangkan di satu sisi mereka harus mempertimbangkan ranah kognitif dimana ada target secara kuantitas yang harusdicapai dalam suatu jangka waktu tertentu. Ketakutan-ketakutan untuk memberikan bahan-bahan diluar “tuntutan” institusi membuat para guru sejarah merasa sangat berdosa karena berada diluar jalur yang Sebenarnya ketakutan-ketakutan imajiner semacam ini hanya semacam utopia, dan sering terjadi pada guru sejarah yang sudah mengajar di jaman Orde Baru.

4.2. Sejarah Lisan dan Subjektifitas Masa Lalu

  Menurut HenkSchulte Nordholt, sejarah lisan sangat penting bagi historiografi Indonesia, bukan saja karena birokrasi pemerintah pada era- Soeharto yang tidak banyakmeninggalkan arsip yang terbuka untuk umum, tetapi juga sejarah lisan membuka peluang bagi sejarawan untuk mengalihkan perhatiannya dari versi sejarah danmenyoroti pengalaman-pengalaman yang berada di luar arsip negara. Kepercayaan mereka terhadap validitas tulisan sejarah sampai pada titikterendah karena mereka menganggap masih sangat subjektif dan penuh rekayasa 71 sehingga tidak memenuhi kebutuhan akan wacana yang diinginkan masyarakat.

72 Sejarah lisan adalah metode menulis sejarah yang bercerita tentang

  Sejarah lisan yang berasal dari cerita korban adalah cerita terdomestifikasi dan terpinggirkan.74 Di dalam peperangan paling besar sekalipun, nama korban sengaja digeser dari 75 sejarah dalam sebuah conspiracy of silence yang dibangun demi kepentingan kekuasaan. Gugatan ini juga menuntut sebuah permintaan maaf tertulis, dibangunnya sebuah monumenuntuk korban 1965, penulisan sejarah yang benar dalam kurikulum nasional, dan pencabutan peraturan-peraturan yang diskriminatif.” (ICTJ dan Kontras, 2011) Itulah pentingnya sejarah lisan, dimana menjembatani para korban dengan generasi setelahnya.

4.3. Menjadi Guru yang (Mem)Bebas(kan)

  Pelajaran sejarah, faktanya, adalah pelajaran yangkurang diminati oleh banyak murid karena dianggap sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak berguna di masa mendatang. Guru sejarah harus mampu memberi jawaban yang mengajak muridnya untuk berpikir kritis dan mengetahui wacanasejarah dari banyak versi, tidak hanya satu versi saja.

4.3.1. Mengajar yang Alternatif

  Pendidikan sejarah adalah rekonstruksi sosial, dalam hal ini kurikulum sejarah harusnya disesuaikan dengan kehidupan masa kini yang akrab dengankehidupan generasi yang mempelajarinya. Hal ini menyebabkan ketumpulan nalar kritis Peranan sekolah adalah sebagai medium pengantara untuk memperolah pengetahuan dan memiliki andil yang cukup besar di dalam perkembanganpengajaran sejarah pada anak.

4.3.2. Film Dokumenter sebagai Media Populer Pengajaran Sejarah

  Versi sejarah alternatif dalam penyajian film dokumenter mampu mendokumentasikan aspek-aspek tertentu dari wacana sejarah yang tidak ada Guru sejarah mempunyai potensi untuk melihat bahwa film dokumenter sejarah alternatif sangat penting untuk diberi tempat dalam proses pembelajaran dikelas. Kata seorang guru dari hasil wawancara setelah menonton film 40 Years of Silence, dia bertutur bahwa film ini memang berbeda kontennya dari film Pengkhianatan G30S/PKI, karena film ini adalah film dokumenter yang merekam kesaksian nyata dari para korban.

4.4 Usaha Penyadaran Kritis Publik melalui Sejarah Alternatif

  Padahal, apabila kita memiliki keberanian serta konsistensi untuk mendalami peristiwa masa lalu yang menyangkutpernyataan sebelumnya, wacana atas sejarah kemanusiaan bangsa ini begitu menggugah rasa kebangsaan kita. Namun yang tak kalah penting, melihat bagianlain dari perjuangan menuju Indonesia Merdeka melalui angle dari golongan yang selama ini menjadi side-minority.

BAB V NEGOSIASI DAN RESISTENSI GURU SEJARAH

5.1. Resistensi untuk Keluar “Batas”

  Guru-guru padamasa Orde Baru dituntut untuk menanamkan dalam diri para murid keyakinan dan“kebohongan” yang dipandang berguna oleh mereka yang mengawasi dan memerintahkannya. Kekuasaan Orde Baru telahmembentuk pandangan ini, mereka terbiasa dengan sikap menerima apa yang harus diajarkan oleh pemerintah, dan tidak boleh memberi alternatif lain diluarpengajaran yang ditetapkan tersebut.

78 Mangunwijaya. 2008. Pendidikan yang Memerdekakan Rakyat. Yogyakarta: CV. Diandra

  Ini kan bahayanya ke depan, sesuatu yang kita lakukan kekerasan apapun akan dianggap hal yang biasa,ketika peristiwa yang sebesar itu terjadi lagi,toh juga nantinya dianggap biasa saja.” Menanggapi guru yang yang memiliki resistensi cukup besar terhadap institusi tempatnya mengajar seperti diatas, tentunya akan menarik saat bertanyabagaimana posisinya dalam lembaga formal. Saat mengadakan workshop tentang proses pembelajaran alternatif yang diadakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, salah satu guru dari SekolahMenengah Atas beragama di Yogyakarta mengatakan bahwa dia tidak mau mengambil resiko karena mengambil jalan di luar yang ditentukan.

79 Shiraishi adalah pemisahan anak-anak ke dalam celah sosial dalam masyarakat

79 Saya Sasaki Shiraishi. 2009. Pahlawan-pahlawan Belia. Jakarta

  Dalam buku Pahlawan-pahlawan Belia,Saya Sasakhi Shiraishi menempatkan sistem persekolahan sebagai kontinuitas seluk beluk kekuasaan Orde Baru dan konsep bapak-anak pun dianalogikan di Bab VI dalam buku itu sebagai guru yang harus dihormati muridnya. Buku teks sekolah yang kemudian membentuk perkembangan anak-anakOrde Baru dan apapun yang ada di dalamnya akan terekam dalam benak anak- Sekolah selama ini telah menjadi agen dari kelas pengatur yang menyebarkan pengetahuan dari kelas pengatur untuk memelihara dominasi yang 80 telah berlangsung dan tentu saja demi kepentingan kelas pengatur.

80 Tim Kerja Budaya. 2001. Majalah Kerja Kebudayaan. Jakarta, hal. 17

  Pikiran itu berkembang setelah adanyakesadaran bahwa kolonialisme mungkin bertahan bukan hanya keserakahan dan kejahatan penindas tapi juga karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan rakyatuntuk melawan. Karena itu pembebasan perlu juga dikembangkan dalam pendidikan dasar.

5.2. Negosiasi dengan Institusi

  Jikamenggunakan teori Foucault, kekuasaan dalam pendidikan sejarah di Indonesia dihadapkan pada proses stabilitas nasional dimana ada subordinasi antarapemerintah yang berkuasa dengan yang dikuasai. Kalaupun kita punya versi lain, resikonya memang cukup besar, waktu Orde Baru kita semua nggak berani, karena bisa-bisa ada teguran dari pihak sekolah itu juga.” Artinya pada saat itu tidak ada negosiasi untuk menggunakan wacana lain dalam Orde mengajar pelajaran sejarah karena ada bentuk pengawasan dari phaksekolah.

BAB VI KESIMPULAN Dalam perjalanannya wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 banyak

  Dengan memakai metode pemutaran film dokumentersejarah, berjudul 40 Years of Silence, dan mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan versi dari rezim Orde Baru, penulis menemukan bahwa sejarahalternatif juga tidak sepenuhnya mendapat tempat dalam pengajaran sejarah di Guru sejarah harus berani untuk menyajikan bahan-bahan kontroversi dan mengajak siswa-siswinya berpikir secara kritis dalam melihat berbagai versisejarah Tragedi Kemanusiaan 1965. Harapan dari penelitian ini juga membantu membuka perspektif baru untuk guru dan sekolah dalam memahami wacanaTragedi Kemanusiaan 1965, dan selanjutnya akan memberi harapan bagi para murid untuk lebih kritis dalam memahami sejarah dari Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

  Teror Negara: Tentang Politik dan Batuk-Batuk Lagi dalam buku Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah. Kompas, 26 September 1998, yang dikutip di buku Strategi Pembelajaran Sejarah.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (169 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh lingkungan kerja, kompensasi, dan kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kepuasan kerja guru di Sekolah Menengah Atas se-Sleman Timur.
1
4
228
Pengaruh lingkungan kerja, kompensasi, dan kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kepuasan kerja guru di Sekolah Menengah Atas se Sleman Timur
0
2
226
Respon guru sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta terhadap wacana alternatif tragedi kemanusiaan 1965.
0
7
171
Narasi tragedi kemanusiaan 1965 pada masa orde baru dan pasca orde baru.
0
5
85
“Menyaksikan jiwa-jiwa yang dibantai: mengajarkan tragedi 1965 melalui sastra”.
0
0
20
Pengaruh lama mengajar pada hubungan kecerdasan emosional dengan profesionalitas guru survei pada guru guru Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan negeri dan swasta di Kecamatan Kroy
0
0
119
Adopsi teknologi informasi dan komunikasi oleh guru dalam inovasi pembelajaran ekonomi Sekolah Menengah Atas di Daerah Istimewa Yogyakarta
0
31
475
Peningkatan kinerja guru Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Mimikan Provinsi Papua tahun 2013
0
2
261
Tingkat kepuasan guru terhadap profesinya pada aspek finansial dan non finansial. Survey dilakukan pada guru guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di wilayah Kota Yogyakarta
0
1
318
Persepsi guru dan siswa Sekolah Pertanian Menengah Atas H. Moenadi Ungaran terhadap pendidikan jasmani tahun ajaran 2008/2009.
0
0
1
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Improving the second grade students’ speaking pronunciation of Sekolah Menengah Atas 2 Ngaglik - USD Repository
0
0
152
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Sikap guru Sekolah Menengah Pertama terhadap lesbian : studi deskriptif pada guru usia madya di Yogyakarta - USD Repository
0
0
119
Kontribusi konsep diri dan persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat menjadi guru sejarah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
209
Show more