Respon guru sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta terhadap wacana alternatif tragedi kemanusiaan 1965 - USD Repository

Gratis

0
1
169
9 months ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

RESPON GURU SEJARAH

SEKOLAH MENENGAH ATAS YOGYAKARTA

TERHADAP WACANA ALTERNATIF TRAGEDI KEMANUSIAAN 1965

Tesis

Untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum) di

  

Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

Oleh

Kartika Pratiwi

  

NIM : 086322005

PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

 

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Melakukan penelitian dengan topik yang sangat sensitif di Indonesia memang tidak mudah. Data yang terbatas, sulitnya birokrasi, pengalaman traumatis dari pihak-pihak yang akan diwawancarai menjadi satu dari sekian alasan kenapa penulis menempuh waktu yang tidak sebentar saat menyelesaikan tesis yang berjudul Respon Guru Sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta Terhadap Wacana Alternatif Tragedi Kemanusiaan 1965. Oleh karena itu, puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan tesis ini dalam waktu setengah dekade.

  Dalam penyusunan tesis ini, penulis dibimbing oleh Prof. Dr. Supratiknya dan Romo Budi Subanar, SJ. yang tidak pernah bosan merelakan waktunya dan menjadi pengingat supaya tesis ini harus selesai bagaimanapun keadaannya. Kepada Romo Baskara T. Wardaya, yang telah luar biasa membantu dalam hal pengetahuan dan bentuk non-materiil lainnya, juga demi penulis bisa yakin bahwa tesis ini memang harus sampai pada titik kesimpulan. Kepada seluruh dosen Ilmu Religi dan Budaya yang sudah membagikan ilmu kepada penulis dari tahun 2008. Tidak ada rasa penyesalan sedikitpun saat penulis akhirnya memutuskan untuk menempuh pendidikan di sini meskipun pada awalnya hampir memilih jurusan tetangga sebelah.

  Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya, kepada Goya Tamara Kolondam dan keluarga besar atas dukungan dalam hal materiil dan non-materiil saat menempuh program magister ini. Terima kasih bahwa mereka sangat mengerti bahwa proses panjang ini bukan semata-mata karena kuantitas, tetapi harus diselesaikan dengan pertimbangan kualitas. Sangat disadari bahwa perjalanan ini belum selesai, oleh karena itu penulis berharap bisa selalu menjadi kebanggaan mereka sampai kapanpun.

  Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan guru-guru sejarah di Yogyakarta. Maka, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak guru dan sekolah yang bersedia diwawancarai dan meluangkan waktunya meskipun terkadang menyita jadwal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sela waktu minum teh sore hari dan kepada Roxana Waterson dan Kay Mohlman di National University of Singapore yang telah membantu mengolah data tersebut setelah bertahun-tahun dibiarkan.

  Sangat beruntung sekali penulis mempunyai banyak teman yang sangat membantu dalam proses penyelesaian tesis ini. Terima kasih kepada Airani Sasanti, Diah Ari Tapaningtyas, Doni Maulistya, Vella Siahaya, Resa Pattiwael, Ari Nugroho, Heidy Patricia, Gery Pandeiroot, Bang Ucok, Octo Cornelius, Eli Firziana. Mereka dengan ikhlas membantu mengetik, membuat transkrip, mengedit data, diskusi, memberi saran dan kritik, semangat dan hiburan di sela- sela keputus-asaan juga beberapa hal lainnya yang tidak dapat disebutkan satu- persatu karena terlalu banyak. Penulis beruntung mempunyai teman-teman yang sangat baik seperti mereka meskipun hanya bisa “dibayar” dengan makanan seadanya.

  Tesis ini penulis persembahkan untuk kotakhitam forum, sebuah lembaga independen sejarah politik. Dari merekalah, penulis belajar jangan pernah takut untuk mengungkapkan kebenaran meskipun tidak ada dukungan materiil sedikitpun, Terima kasih A. Dananjaya, Viodeogo, Kiky Salata, Aquido dan Dimas. “Perjalanan kita tidak boleh berhenti.”

  Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terima kasih sekali lagi kepada pihak-pihak yang membantu secara langsung dan tidak langsung selama melakukan penelitian ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari tesis ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

  Yogyakarta, September 2013 Penulis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

  Sebelum Reformasi 1998, wacana tentang Tragedi Kemanusiaan 1965 yang diterima oleh masyarakat mengikuti versi yang dibuat oleh rezim Orde Baru. Dimana pada waktu itu, guru sejarah di Indonesia harus memakai sudut pandang yang ada di dalam buku sejarah yang di-kontrol oleh rezim tersebut. Sebagai tambahan, setiap tahun para murid diwajibkan untuk melihat pemutaran film Pengkhinatan G30S/PKI. Sebuah film tentang Tragedi Kemanusiaan 1965 yang disusun atau dibuat oleh rezim Orde Baru untuk menunjukkan betapa jahatnya paham komunisme. Jatuhnya rezim Orde Baru menyulut sebagian dari masyarakat untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kebenaran cerita dari sisi lain peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965. Beberapa dari mereka membuat film dokumenter dan buku yang menyediakan sisi lain dari wacana sejarah yang telah ada. Media dan bahan diskusi baru yang bermunculan ini ‘menantang’ untuk sekolah dan guru sejarah agar lebih terbuka akan penerjemahan sejarah dari sisi lain. Namun, wacana tentang sejarah alternatif tidak selamanya mempunyai dampak, beberapa dari guru sejarah masih memakai buku sejarah yang sama ketika di jaman rezim Orde Baru, karena tampaknya mereka masih ‘dihantui’ oleh rasa ketakutan pada rezim sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tanggapan dari guru sejarah terhadap wacana sejarah alternatif dengan topik Tragedi Kemanusiaan 1965, dengan memakai metode pemutaran film dokumenter sejarah yang mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan versi dari rezim Orde Baru. Studi ini juga untuk melihat sampai sejauh mana guru sejarah mau untuk mempertimbangkan memakai narasi sejarah alternatif dalam metode pengajaran mereka. Penelitian ini juga membantu perkembangan dari kurikulum sejarah menuju pendidikan yang manusiawi dan demokratis. Membantu untuk mengembangkan bentuk metode pendidikan yang baru dengan menggunakan audio visual sebagai media dalam pembelajaran sejarah. Harapan dari penelitian ini juga membantu membuka perspektif baru untuk guru dan sekolah dalam memahami wacana Tragedi Kemanusiaan 1965, dan selanjutnya akan memberi harapan bagi para murid untuk lebih kritis dalam memahami sejarah dari Indonesia. Kata kunci: komunis, pendidikan, Orde Baru, sejarah alternatif viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  Before the 1998 reformation, people accepted the 1965 Tragedy discourse according to the New Order regime’s version. Accordingly, history teachers in Indonesia had to use the conventional perspective in history books that were controlled by the regime. In addition,

  th

  students had to watch Pengkhianatan G30S/PKI (The Betrayal of The 30 September Movement/Indonesian Communist Party), a historical movie of the 1965 Tragedy constructed by the regime which simply emphasizes the representation that communism is evil every year.The fall of the regime in 1998 triggered people’s motivation to explore further for the truth beyond the 1965 Tragedy, aside from the conventional version. Many critical groups create documentary movies and books in order to provide an alternative discourse in history. Those new resources challenge schools and history teachers to become more open to any interpretations. However, the public discourse on alternative history has not always had an impact. Many teachers still use the same books as they used in New Order regime instead of giving the alternative version to their students, because they seems to be haunted by the trauma. By screening the documentary movie to history teachers, this research aims to analyze their responses about the documentary movie of 1965 Tragedy, the movie that is seen from the opposite perspective of the New Order regime version.

  Moreover, this study looks at to what extent high school history teachers are willing to consider of using alternative historical narratives in their way of teaching. This research also benefits in assisting the development of history curriculum into a more humane and democratic one. It contributes to develop a new form of teaching by using audio visual media in learning history. It in turn opens new perspectives to teachers and schools in understanding the discourse of 1965 Tragedy and later encourages students to be more critical to comprehend Indonesian history. Keywords: communism, education, New Order, alternative history ix

  x

  8. Sumber Data ......................................................................................................... 38

  3.2 Perubahan Teks Tragedi Kemanusiaan 1965 setelah Orde Baru ......................... 81

  3.1 Tragedi Kemanusiaan 1965 dalam Buku Pelajaran Sejarah Orde Baru............... 70

  59 BAB III PENDIDIKAN KRITIS (A)HISTORIS ......................................................... 67

  55 2.2.2 Pengetahuan dan Kekuasaan .....................................................................

  53 2.2.1 Hegemoni dan Alienasi dalam Pendidikan Sejarah ..................................

  2.1.2 Sejarah Versi (Orde) Baru...................................................................... 48 2.2 Pendidikan Sejarah sebagai Alat Kekuasaan.......................................................

  2.1.1 Paradigmatik Pelajaran Sejarah.............................................................. 46

  2.1 Pendidikan Sejarah dari Masa ke Masa............................................................... 42

  42

  II(RE)PRODUKSI PENENTUAN POSISI SUBJEK SEBAGAI PAHLAWAN ATAU KORBAN ...................................................................................

  BAB

  10. Sistematika Penulisan ........................................................................................... 40

  9. Teknik Pengumpulan Data ................................................................................... 39

  7. Metode Penelitian ................................................................................................. 37

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................................. ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ................................................................................... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................................ iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ......................... v

KATA PENGANTAR .................................................................................................... vi

ABSTRAK ....................................................................................................................... vii

ABSTRACT

  6.3 Pengajaran Sejarah Kritis di Sekolah Menengah Atas ................................... 32

  6.2 Kekuasaan dalam Pendidikan......................................................................... 25

  6.1 Pendidikan Kritis ............................................................................................ 22

  6. Landasan Teori ..................................................................................................... 21

  5. Tinjauan Pustaka................................................................................................... 19

  4. Manfaat Penelitian................................................................................................ 18

  3. Tujuan Penelitian.................................................................................................. 18

  2. Rumusan Masalah................................................................................................. 17

  1. Latar Belakang...................................................................................................... 1

  1

  ................................................................................................................... ix BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................

  DAFTAR ISI

  ...................................................................................................................... viii

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3.3 Ketika Guru Membuat Versi Sejarahnya Sendiri ................................................. 92

  3.4 Respon Guru terhadap Inkonsistensi Kurikulum.................................................. 95 3.4.1 Ambivalensi dan Sikap “Hanya Sekedar Tahu”........................................

  98 BAB IV REAKSI TERHADAP MULTI-NARASI PELAJARAN SEJARAH ......... 103

  4.1 Tumbangnya Orde Baru ....................................................................................... 103

  4.2 Sejarah Lisan dan Subjektifitas Masa Lalu .......................................................... 107

  4.3 Menjadi Guru yang (Mem)Bebas(kan)................................................................. 112

  4.3.1 Mengajar yang Alternatif.......................................................................... 113

  4.3.2 Film Dokumenter sebagai Media Populer Pengajaran Sejarah ................ 117

  4.4 Usaha Penyadaran Kritis Publik melalui Sejarah Alternatif ............................... 120

  

BAB V NEGOSIASI DAN RESISTENSI GURU SEJARAH .................................... 122

  5.1 Resistensi untuk Keluar “Batas” ......................................................................... 122

  5.2 Negosiasi dengan Institusi................................................................................... 129

  

BAB VI KESIMPULAN ................................................................................................ 132

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 135 LAMPIRAN

  xi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

  Pendidikan sejarah pada hakekatnya memberikan pemahaman secara mendalam mengenai peristiwa masa lalu dan relevansinya dengan masa kini.

  Namun, wacana mengenai sejarah bangsa Indonesia di sekolah tampaknya tak banyak diminati oleh para murid masa kini karena mereka dituntut oleh guru dan nilai untuk hanya menghafalkan nama peristiwa, tanggal, dan nama-nama pahlawan tanpa dibimbing untuk bersikap kritis terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah itu. Murid juga hanya diberi sumber tertulis yang berpatokan dari satu sumber dan tidak diarahkan untuk membaca sumber alternatif lainnya. Salah satu kritik mengenai cara pengajaran sejarah diungkapkan oleh Niels Mulder yang mengatakan bahwa materi kelas sejarah hanya menjelaskan kronologi persitiwa dan diceritakan tanpa teori atau koherensi yang berasal dari proses perhubungan

  1 1 masing-masing periode sejarah. Hal ini bisa dikatakan sebagai pengkerdilan

Mulder, Niels. 2000. Individu, Masyarakat, dan Sejarah:Kajian Kritis Buku-Buku Sekolah di

Indonesia (Bagian 2). Yogyakarta: Kanisius, hal. 59.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  materi sejarah, yang kemudian diperkeruh oleh pemeliharaan dominasi Orde Baru yang memegang kendali cerita sejarah dan membungkam versi kebenaran

  2

  lainnya. Dengan menggunakan penjelasan di atas, penulis mengacu pada istilah yang ditawarkan Antonio Gramsci, yaitu“hegemoni” yang disejajarkan dengan

  3 istilah “kekuatan” suatu rezim tertentu.

  Posisi hegemoni di negara ini tidak saja ditunjukkan lewat kemampuan Orde Baru dalam mengontrol setiap ruang publik, tetapi juga lewat perekayasaan praktik politik dan budaya, termasuk dalam pendidikan. Perekayasaan dalam pendidikan tidak hanya melalui buku teks, tetapi dominasi juga berlangsung melalui mediumlain seperti audio visual. Sebagai contoh, di sekolah para siswa diharuskan menonton film Pengkhianatan G30S/PKI setiap tahun. Narasi film ini secara sederhana menekankan representasi bahwa PKI dan hal-hal yang berhubungan dengan komunisme adalah hal yang jahat. Dengan pemutaran film 2 yang berlangsung terus-menerus dalam pendidikan formal ini tentunya generasi

  

Widja, I. G. 2002. Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Lappera Pustaka

3 Utama, hal. vi.

  

Secara etimologis, kata hegemoni berasal dari bahasa Yunani :egemonia/egemon, yang berarti

pemimpin atau penguasa dalam konotasi yang lazimnya berhubungan dengan konteks kenegaraan. Antonio Gramsci menjadi pelopor penggunaan istilah hegemoni hingga melahirkan kajian yang beragam. Di tangan Gramsci, kata hegemoni tidak hanya berarti satu dominasi politik dalam relasi antar negara, tetapi juga merupakan dominasi politik dari suatu kelas yang berkuasa terhadap kelas yang lemah dalam relasi sosial. Terlebih, hegemoni juga bisa berarti dominasi yang lebih umum sdi bidang-bidang lainnya, seperti kebudayaan, ideologi, pendidikan, gender dan sebagainya (Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim. 1996.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  yang terlahir pada masa itu mendapatkan sosok komunis secara jelas hanya melalui film garapan Arifin. C. Noer. Film Pengkhianatan G30S/PKI menceritakan penyiksaan tujuh Jenderal yang ditayangkan setiap tanggal 30 September pada masa Orde Baru. Para pengamat film mengkategorikan film

  4

  tersebut sebagai “doku-drama” . Narasi film menekankan bahwa komunis, Gerwani, dan komunitas-komunitas di bawah naungan PKI itu jahat, termasuk di naskah maupun gambar visualnya. Gambaran penyiksaan di film tersebut juga diulang dalam buku pelajaran. Misalnya dalam buku Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) untuk Sekolah Dasar yang memasukan teks peristiwa di Lubang Buaya untuk drama di kelas.

  Ada pengkondisian yang membuat orisinalitas dari fakta sejarah menjadi disamarkan dalam pendidikan. Dari persinggungan diatas membuktikan bahwa pendidikan di satu sisi memiliki kekuasaan atas pembentukan identitas masyarakat dan negara. Namun, disisi lain pendidikan menjadi instrumen kekuasaan dari masyarakat dan negara. Seperti yang diungkapkan oleh Budi

4 Film doku-drama adalah perpaduan film dokumenter dengan film drama. Film doku-drama

  merupakan film yang menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan, yaitu untuk propaganda, untuk pendidikan, atau komersil.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  5 Irawanto dalam artikelnya yang berjudul Rezim Visual Nan Militeristik , kekuatan

  pada yang visual rupanya dipercaya oleh kalangan militer sebagai sumber untuk menyampaikan sejarah. Sejarawan-cum-militer Nugroho Notosusanto dalam buku hasil Seminar ABRI 1997, dengan jelas menyatakan:“Di dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana kebiasaan membaca pun masih sedang berkembang, kiranya historio-visualisasi masih agak efektif bagi pengungkapan identitas ABRI.” Kendati terasa ada nada yang meremehkan kecerdasan rakyat kebanyakan, agaknya Nugroho mempercayai kemampuan yang visual sebagai sumber untuk menyusun sejarah. Artinya, peserta didik menjadi subjek eksploitasi suatu kekuasaan di luar pendidikan dan menjadikan mereka sebagai objek-objek dan alat dari suatu rejim yang mempunyai kekuasaan saat itu.

  Tidak mengherankan bila pemerintah dan khususnya wacana sejarah 65 mempunyai kepentingan untuk menguasai pendidikan dan melalui pendidikan inilah terjadi indoktrinasi.

  Pierre Bourdieu mengatakan dalam masyarakat terdapat apa yang disebut

5 Budi Irawanto mengulas buku Katharine E. McGregor, Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia.

  (www.budiirawanto.multiply.com), 5 Oktober 2008.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  6

doxa yang mengatur tingkah laku anggotanya . Dalam hal ini pendidikan

  berfungsi sebagai doxa yang mengatur para anggotanya (baik guru maupun murid) terhadap patuhnya wacana 65 yang satu versi, yaitu versi Orde Baru.

  Albert Satria Purnama, mahasiswa Institut Teknologi Bandung dalam esainya berjudul “Mengapa Saya Benci Kata PKI” mengatakan dirinya adalah korban kekejaman Orde Baru melalui pendidikan. Albert membenci PKI karena sewaktu pelajaran sejarah dulu diceritakan bahwa PKI adalah musuh yang berusaha menjatuhkan ideologi Pancasila, ditambah dengan terbunuhnya jenderal-jenderal militer yang semua itu diprakarsai oleh PKI. Namun, seiring dengan pertumbuhannya, Albert menemukan sendiri secara subjektif bagaimana pandangannya terhadap PKI mulai berubah dengan hadirnya wacana-wacana

  7 alternatif diluar sekolah .

  Sekalipun peserta didik adalah sekelompok individu yang seharusnya mempunyai ruang gerak bebas di dalam sejarah dan mereka harusnya mampu menentukan posisi dimana harus berada, disini sosok mereka menjadi bias karena 6 penguasaan sejarah yang sepihak. Tidak semua sekolah bisa bersikap demokratis 7 Pierre Bourdieu. 1990. Habitus and Pratices. California: Standford University Press, hal. 54.

  

Albert Satria Purnama. “Mengapa Saya benci Kata PKI?” (dalam buku Demi Masa Depan,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  untuk membahas kembali wacana 65 karena mereka hanya mengacu pada satu buku tertentu yang tidak berbeda dengan buku terbitan masa Orde Baru. Disini guru sejarah memegang peranan penting dalam konteks melawan pemalsuan sejarah dengan topik wacana 65. Guru menjadi pemantik bagi siswa agar siswa bersikap kritis terhadap topik-topik yang sensitif, bukannya malah membatasi. Guru juga semestinya mendampingi siswa untuk lebih melihat sejarah melalui kacamata humanis dan memberi ruang seluas mungkin terhadap wacana alternatif, sehingga tampak hal tersebut merupakan perbedaan antara pendidikan yang

  8

  membebaskan dengan pendidikan konvensional. Guru sejarah pun mengalami hambatan, yaitu tuntutan pendidikan yang mengarah pada ujian akhir sehingga semua daya diarahkan ke topik yang dicakup dalam ujian akhir. Pola ini tidak memungkinkan pengajaran sejarah menjadikan anak menemukan jati dirinya

  9 sebagai siswa yang aktif mencari informasi, bukannya menerima informasi saja.

  Guru sebagai subjek kepercayaan masyarakat (dan negara), mempunyai peran yang sulit saat mereka mengajar hal-hal yang bukan diyakininya karena mereka 8 tunduk pada mekanisme pengawasan dari institusi. Dalam situasi ini batas-batas

  

Paulo Freire dalam dialog dengan Ira Shor, Menjadi Guru yang Merdeka. 2001. Yogyakarta:

9 LKIS, hal. 50).

  

Basuki Sulistyo. “Bibliografi Pengajaran Sejarah”. Tulisan ini dimuat di buku Kumpulan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  antara “kepastian-sejarah” dengan “kewajaran sejarah” atau “apa-yang-terjadi” dengan “apa-yang-semestinya-terjadi” menjadi kabur.

  Wacana publik tentang penulisan ulang sejarah dimulai pada tahun 1998, sudah lebih dari tiga belas tahun yang lalu. Bagaimana dampaknya sekarang? Apakah sejarah resmi Indonesia di sekolah bebas dari penyimpangan Orde Baru? Sejak tahun 1998 pula Departemen Penerangan memutuskan tidak lagi memutar film Pengkhianatan G30S/PKI di semua saluran televisi. Namun, kebijakan tersebut tidak menyelesaikan persoalan terutama dari segi penulisan dan

  10

  pengajaran sejarah di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini didasari oleh pertanyaan besar mengenai dinamika kurikulum sejarah mengenai Tragedi Kemanusiaan 1965 dari masa Orde Baru sampai pasca Orde Baru. Penulis menemukan ada versi yang berbeda dari beberapa buku sejarah yang digunakan oleh guru sejarah dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Contohnya dalam penulisan kata ‘PKI’ di belakang G30S. Perdebatan ini mencuat saat beberapa kelompok masyarakat mencoba menghapus kata PKI. Namun, pada tahun 2009 Kejaksaan Agung mengembalikan peraturan tersebut ke UU No. 16 Tahun 2004 10 melarang buku-buku sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI. Pada tahun

  

Asvi Warman Adam. 1999. Pengendalian Sejarah Sejak Orde Baru dalam Buku Panggung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  2010 ELSAM, organisasi advokasi perlindungan hak asasi manusia, memenangkan persidangan mengenai perdebatan pelarangan buku tersebut. Tetapi tampaknya kemenangan itu tidak benar-benar diterapkan oleh sekolah. Masih banyak sekolah menengah atas yang menggunakan buku sejarah yang menggunakan kata PKI di belakang G30S.

  Buku sejarah yang digunakan cenderung memberi sensor dan mengangkat kisah-kisah besar secara sekilas saja, khususnya kisah yang berhubungan dengan pelanggengan kekuasaan. Contohnya dalam buku diktat sejarah dari SMA Stella Duce 2, pembahasan mengenai wacana 65 hanya satu lembar dan tidak ada deskripsi mendalam mengenai konteks peristiwa tersebut. Menurut Michael van

11 Langenberg (1996) dalam buku Bahasa dan Kekuasaan, Orde Baru bertujuan

  menyikut Orde Lama sebagai periode penuh chaos, kekacauan dan kekerasan massal, seperti dalam kutipan berikut ini.

  Jelaslah, ini berarti, Orde Baru telah mengangkangi kenangan sejarah penuh pembunuhan itu sebagai alat untuk memapankan legitimasinya. Pembunuhan itu sendiri tak dipertimbangkan dalam sejarah resmi versi Orde Baru. Pembenaran atas hal ini memang tak semata-mata sebagai tindakan balasan Orde Baru terhadap Orde Lama. Ketika “tindakan balasan” ini didengungkan, maknanya diarahkan sebagai aksi spontan rakyat terhadap gerakan komunis.

11 Tulisan ini dimuat dalam kumpulan esai berjudul Bahasa dan Kekuasaan (Politik Wacana di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Pasca reformasi 98 kebebasan berbicara mengenai ideologi kritis menjadi agak longgar dan mendorong kelompok-kelompok masyarakat untuk bergerak menelusuri serta memeriksa kembali beragam ingatan yang menyusun sejarah nasional secara kolektif. Sebaliknya, tumbangnya Orde Baru dan munculnya zaman reformasi membuat banyak pihak diluar institusi formal semakin penasaran untuk meneliti lebih lanjut ada apa dibalik peristiwa 65 dengan dalih ingin memberikan alternatif wacana sejarah yang berbeda dengan versi mainstream. Hal ini ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang mulai ragu dengan wacana politik produksi Orde Baru.

  Banyak versi sejarah alternatif muncul di kalangan masyarakat. Harapannya adalah penyajian kurikulum sejarah akan dijadikan bebas, dalam arti sejarah tidak menjadi kepentingan sepihak lagi. Namun, wacana publik tentang sejarah alternatif tidak selamanya berdampak positif. Sekolah Menengah Atas tampaknya masih trauma dan dibayang-bayangi ideologi Orde Baru terhadap wacana 65 yang tidak sesuai dengan versi Orde Baru. Penghapusan wacana 65 masih terjadi di beberapa sekolah di Yogyakarta yang nyatanya tidak memasukkan topik tersebut kedalam kurikulum pembelajaran sejarah. Salah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  menghapus wacana tersebut karena dirasa terlalu sensitif. Seperti yang dikatakan oleh Angus Gratoon dalam penelitiannya mengenai pendidikan sejarah awal reformasi (2004):

  Sebelum gerakan Reformasi genap berumur 10 tahun, tepatnya pada awal tahun 2007, tindakan model Orde Baru dalam hal pelarangan buku itu telah menyeruak kembali ke tengah masyarakat. Pada tanggal 5 Maret tahun itu salah satu instansi pemerintah pusat mengeluarkan Surat Keputusan dengan nomor

19/A/JA/03/2007 berisi larangan terhadap 13 judul buku pelajaran sejarah, termasuk buku pelajaran untuk Kelas 1 dan Kelas 3 tingkat SLTP.

  Di tengah hiruk pikuk perdebatan inilah klaim sejarah alternatif perlu mengambil posisi. Klaim sejarah tidak akan berjalan secara regenerasi saat tidak ada yang memediasi. Disinilah peran guru menjadi penting saat mengambil sikap dalam kegiatan mengajar. Dalam acara sarasehan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah (MGMP) yang diadakan di Sanata Dharma pada November 2011, banyak guru sekolah menengah yang mengaku mengalami hambatan dalam mendapatkan versi-versi sejarah alternatif karena keterbatasan dana, kemampuan untuk mengakses dari luar sekolah, dan hal tersebut mengakibatkan tidak adanya variasi versi sejarah dan medium mengajar. Siswa tidak mempunyai minat dalam belajar sejarah karena cenderung bosan untuk menghafal. Di sini guru sejarah seakan sudah ‘nrimo’ dengan kebijakan kurikulum tanpa beranggapan bahwa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Penulis mencoba melakukan pendekatan partisipatif terhadap guru-guru sejarah di Yogyakarta dengan menawarkan medium yang berbeda dalam memberikan pendapat tentang banyaknya versi alternatif dari wacana Tragedi Kemanusiaan 1965, yaitu medium audio visual non-fiksi.

12 Film dokumenter merupakan narasi yang berasal dari masyarakat,

  korban, maupun pelaku, dan belakangan ini semakin banyak digunakan untuk advokasi sejarah. Film dokumenter dengan tema Tragedi Kemanusiaan 1965 mulai banyak diproduksi seiring dengan runtuhnya Orde Baru. Narasi sejarah melalui film dokumenter bersifat multi dimensional dan multi naratif. Penulisan sejarah bukan hanya membutuhkan sumber-sumber tertulis, melainkan juga sumber-sumber lisan. Film dokumenter selalu berisi kesaksian langsung para korban dan sering disebut narasi sejarah lisan. Oleh karena itu, apa yang disebut sebagai sejarah lisan adalah narasi pengalaman mereka yang dulu menjadi korban, pelaku, saksi mata atau orang yang dekat dengan suatu peristiwa agar mau 12 menuturkan kisah mereka dalam bentuk dokumentasi. Dalam penelitian inipenulis

  

Film dokumenter biasa disebut film non-fiksi karena tidak direkayasa, perekayasaan dalam hal

ini adalah film tersebut dibuat sesuai dengan kejadian nyata dan ceritanya terjadi dalam kehidupan sebenarnya. (Kolker, 2002. Hal. 162) Narasi besar film dokumenter adalah kebenaran, dan dibuat melalui observasi. Dalam kasus Tragedi Kemanusiaan ’65 film dokumenter banyak dibuat melalui metode talking heads, atau wawancara dengan korban hidup atau saksi hidup karena kejadiannya bukan berlangsung sekarang. Film dokumenter tentang Tragedi Kemanusiaan ’65 kebanyakan diproduksi oleh organisasi-organisasi non-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  menggunakan film dokumenter berjudul 40 Years of Silence yang disutradarai oleh Robert Lemelson dan bercerita mengenai Tragedi Kemanusiaan 1965 di Jawa dan Bali. Film ini berisi kesaksian para keluarga korban, baik yang menyaksikan langsung ataupun yang mengalami trauma dan dampak sosial dari peristiwa itu.

  Tujuan dasar dari pembuatan film dokumenter ini adalah keadilan yang berasal dari pengakuan para korban mono-kekuasaan tragedi kemanusiaan 65. Untuk itulah filsuf Hannah Arendt mensyaratkan pengakuan bebas dari semua yang

  13 terlibat di dalam tatanan tempat kekuasaan itu berlaku.

  Dalam film 40 Years of Silence narasi yang dipaparkan para saksi sejarah terdiri dari serangkaian kata berdasarkan pengalaman mereka. Penulis memilih film 40 Years of Silence sebagai instrumen penelitian dalam pengambilan data karena film ini mampu menghadirkan testimonial dari berbagai korban peristiwa tahun 1965, atau dengan kata lain memberi sudut pandang yang berbeda dengan film yang diproduksi oleh Arifin C. Noer, Pengkhiatan G30S/PKI. Film dokumenter alternatif seperti 40 Years of Silence menggunakan elemen terkecil dalam sebuah retorika (baca: kata) yang mampu mengubah sejarah, bahkan mampu mengubah kehidupan seseorang. Versi-versi sejarah yang dipaparkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  akan mampu membangkitkan ingatan. Ingatan yang bersifat individu dalam bagian hidup kita menjadi penting saat orang lain berusaha merekonstruksikan ingatan tersebut dengan peristiwa yang sama tapi berbeda versi. Bisa saja ada versi teks atau media rekam serupa. Namun, versi sejarah yang dilihat dari sisi berlawanan sangat jarang dilakukan oleh sejarawan. Padahal jika kita berbicara sejarah secara tak langsung kita juga berbicara tentang ingatan. Ingatan yang sengaja digeser dari sejarah karena kepentingan kekuasaan merupakan conspiracy

  14

of silence yang menyebabkan tidak berimbangnya sejarah sebuah negara.

  Sebaliknya, ingatan individu menjadi ingatan sosial saat dituturkan ke wilayah publik. Dalam konteks tragedi kemanusiaan 65, rezim Orde Baru berusaha menekan peristiwa tersebut dengan menghadirkan cerita satu versi, yaitu semua yang dituturkan di masyarakat, media, sekolah adalah versi pemerintah.

  Pengalaman personal dari saksi hidup dan korban seakan dibungkam. Disinilah titik penting dari esensi dokumentasi supaya cerita itu akan terus ada dan tidak terulang.

  Film dokumenter juga merupakan metode baru dalam penyajian sejarah 14 yang bercerita tentang wawancara dengan sumber informasi. Film dokumenter

  

Conspirasy of Silence berarti budaya diam, dimana kebenaran hanya milik penguasa dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  menggunakan metode sejarah lisan yang umumnya lebih berpihak kepada para korban atau pihak-pihak yang selama ini dibungkam suaranya. Metode sejarah lisan dalam film dokumenter digunakan untuk mentransfer informasi dan membangun ingatan yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk audio visual.

  Di dalam bentuk komunikasi itu para saksi sejarah membagi informasi seputar kejadian nyata, menunjukkan emosi mereka dan saling bertanya. Manusia mempunyai kecenderungan untuk membagi pengalaman masa lalu mereka dalam bentuk dokumentasi visual maupun narasi retorik dengan tujuan untuk meregenerasi kejadian yang tidak dialami generasi berikutnya.

  Pertanyaannya adalah mengapa metode sejarah lisan dalam dokumentasi itu perlu untuk dilakukan? Menurut Baskara T. Wardaya ada tiga tujuan penting

  15

  dari sejarah lisan . Pertama, narasi sejarah Indonesia cenderung didominasi oleh narasi kekuasaan, sejarah lebih banyak ditulis atau dituturkan dengan maksud dasar untuk melayani mereka yang berkuasa. Dari situ terjadilah mono-naratif yang kental dengan kepentingan kekuasaan. Maka tidak (boleh) ada narasi 15 tandingan, sehingga kekuasaan itu bisa berlangsung lama. Kedua, mengingat Baskara. T Wardaya. 2010. Tentang Perlunya Penulisan Sejarah Alternatif. Yogyakarta.

  Disampaikan dalam acara Kursus Sejarah Kritis, diselenggarakan oleh Citralekha bekerjasama

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  setiap penulisan sejarah adalah bersifat multi-dimensional, penulisan kembali atas peristiwa-peristiwa sejarah haruslah bersifat tidak mono-naratif. Untuk menanggapi situasi ini narasi yang berasal dari masyarakat perlu diberi tempat, didengarkan, bahkan didukung. Ketiga, dalam rangka mendukung narasi masyarakat yang multi-naratif itu kita perlu mendengarkan tuturan para warga masyarakat yang merupakan pelaku dan saksi sejarah. Kini diakui penulisan sejarah mengenai Tragedi Kemanusiaan 65 bukan hanya membutuhkan sumber tertulis, melainkan juga sumber-sumber lisan. Oleh karena itu, kita perlu membuka ruang bagi mereka yang dulu menjadi pelaku, saksi mata, atau orang yang dekat dengan suatu peristiwa sejarah agar menuturkan pengalaman mereka.

  Sejarah lisan bukan hanya sebagai pelengkap dokumentasi-dokumentasi sejarah tertulis yang sudah ada, namun dengan menampilkan bukti-bukti baru secara personal beserta sejumlah asumsi dan pengalaman yang sebelumnya tidak diketahui publik, sejarah lisan menjadi titik tolak supaya penulisan dan penelitian sejarah menjadi lebih demokratis. Sejarah selalu difokuskan pada peristiwa masa lampau dimana sulit bagi generasi muda untuk membuktikan sendiri kebenarannya. Kehadiran film dokumenter dimaksudkan untuk menghubungkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  jauh dibawahnya. Film dokumenter akan lebih mudah dicerna dan dipahami dibandingkan wacana teks karena media film dokumenter membuat indera pendengar dan penglihat bekerja untuk memahami apa yang sesungguhnya dialami di masa lalu. Film dokumenter menjadi wacana tandingan terhadap sejarah versi resmi yang ada pada masa Orde Baru. Menempatkan film dokumenter sejarah alternatif 65 dalam melihat pergeseran kekuasaan antara institusi pendidikan dengan guru sejarah digunakan penulis sebagai stimulan untuk memulai wawancara dengan para guru sejarah. Film dokumenter digunakan sebagai jalan masuk untuk pendekatan dan mengetahui pengalaman mengajar wacana 65 oleh guru sejarah, sehingga mereka bisa membandingkan versi resmi Orde Baru dengan versi alternatif. Salah satu titik persinggungan antara film dokumenter dengan guru sejarah adalah mengenai bagaimana para guru menempatkan dirinya setelah menonton film dimana mereka berdiri di bawah naungan institusi. Namun, disisi lain harus bersikap demokratis terhadap bentuk pengajaran. Bentuk-bentuk ambivalensi dan resistensi sikap guru sejarah terhadap wacana resmi akan menjadi hipotesa dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini penulis memberi perhatian kepada wacana alternatif dalam pelajaran sejarah di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Kemanusiaan 1965 itu sendiri. Dari pergesekan dinamika kekuasaan inilah penulis berusaha mencari jawaban atas peran guru terhadap berbagai versi sejarah mengenai Tragedi Kemanusiaan 1965.

2. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini berusaha untuk menjawab bagaimana guru merespon sejarah wacana sejarah alternatif 65 yang disajikan dalam film dokumenter. Pertanyaan-pertanyaaan yang dianalisa adalah:

  1. Bagaimana perkembangan materi wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 sebelum dan sesudah Reformasi 1998 di sekolah menengah atas di Yogyakarta dalam buku teks yang digunakan untuk bahan mengajar?

  2. Bagaimana respon guru sejarah terhadap perkembangan materi wacana Tragedi Kemanusiaan 65?

  3. Bagaimana respon para guru sejarah SMA di Yogyakarta terhadap reproduksi sejarah alternatif mengenai Tragedi Kemanusiaan 1965 dalam bentuk film dokumenter?

  4. Bagaimana para guru sejarah SMA di Yogyakarta dalam menegosiasikan versi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  3. Tujuan Penelitian

  1. Memahami perkembangan pelajaran sejarah terkait wacana Tragedi Kemanusiaan 65 dari masa Orde Baru sampai paska Orde Baru di sekolah- sekolah menengah atas di Yogyakarta?

  2. Menganalisa dampak dan akibat dari wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 terhadap pelajaran sejarah Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta

  3. Mengetahui respon para guru sejarah dan opininya terhadap bentuk reproduksi wacana alternatif dalam pendidikan.

  4. Manfaat Penelitian

  1. Membantu perkembangan pengajaran sejarah ke bentuk yang lebih humanis dan demokratis.

  2. Memberi sumbangan metode pengajaran yaitu menggunakan media audio visual dalam belajar sejarah.

  3. Membuka cara pandang baru bagi para guru sejarah untuk membuka wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 kepada siswa secara lebih kritis.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

5. Tinjauan Pustaka

  Hingga saat penelitian ini ditulis, penulis belum secara pasti menemukan gambaran praktis mengenai penelitian sejarah alternatif 65 yang diaplikasikan dalam pendidikan formal. Namun, penulis telah menemukan sebuah kajian menarik untuk dijadikan model utama penulisan, yaitu hasil laporan studi lapangan berjudul “Pelurusan Wacana: Perkembangan dalam Pendidikan Sejarah di Malang sejak awal Zaman Reformasi” karangan Angus Gratton.

  Laporan studi lapangan yang dilakukan Angus Gratton bertujuan untuk mengetahui dampak diskusi pelurusan sejarah dalam wacana umum terhadap sejarah yang ada dalam wacana resmi. Studi ini membahas perubahan yang terjadi dalam pendidikan sejarah sejak awal reformasi. Hasil temuannya adalah banyak sekali perbedaan di antara buku pelajaran pada masa Orde Baru dan pasca Orde Baru. Gratton tidak banyak membahas wacana 65 secara mendalam, tetapi memaparkan bahwa Departemen Pendidikan nasional sudah membuat beberapa perubahan untuk melaksanakan pelurusan sejarah G30S di kurikulum. Contohnya, istilah G30S/PKI sudah berubah menjadi G30S saja dan “Penumpasan G30S” sudah diganti dengan “Dampak Sosial-Politik-Ekonomi dari Peristiwa 65”.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Dalam pembacaan penulis, Gratton tidak mendeskripsikan secara praktis bagaimana peran guru sebagai agency dan bagaimana sikap sekolah sebagai institusi menanggapi demokrasi pendidikan dalam hal pelurusan sejarah wacana

  65. Penulis juga menemukan penelitian ini hanya sebatas memaparkan laporan data empiris yang ditemukan di lapangan tanpa menganalisa secara dalam dengan menggunakan teori yang memadai.

  Tinjauan Pustaka yang kedua adalah buku karya Budi Irawanto yang berjudul Film, Ideologi, dan Militer. Dalam penelitian yang akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku ini, Budi Irawanto menggarisbawahi tema besar kekuasaan yaitu bagaimana militer di Indonesia menggunakan banyak medium untuk menanamkan ideologi militerismenya, termasuk melalui film. Era Orde Baru kekuasaan militer begitu besar dan peran mereka dibentuk oleh audio visual sebagai sosok yang heroik dan membela Negara. Melalui pengamatan tiga film yaitu Enam Jam di Jogja, Janur Kuning, dan Serangan Fajar, Budi Irawanto mencoba melihat relasi antara sipil dan militer selama perang berlangsung. Ketiga film itu mempunyai kesamaan, yaitu berlatar belakang Serangan Umum Satu Maret 1949.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Melalui penelitiannya, Budi Irawanto mencoba menelusuri beragam teks yang terimplikasi dibalik bahasa visual yang ada di dalam film dan di dalam bahasa visual itu terkandung kekuasaan yang mencoba untuk mengheroikkan sosok militer. Hal ini membuktikan bahwa film sebagai bahasa komunikasi tidak begitu saja bebas dari kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Film-film yang dianalisa Budi Irawanto menurutnya merupakan alat propaganda yang mencoba mengukuhkan ideologi militer, mengingatkan dan menanam ide kepada masyarakat bahwa militer mempunyai peran yang cukup besar bagi negara dan masyarakat. Namun, dalam penelitiannya Budi Irawanto tidak menjelaskan dampak yang nyata dari menonton film itu terhadap masyarakat, khususnya di sekolah seperti penelitian ini. Perbedaannya adalah, Budi Irawanto hanya menganalisa sebatas teks yang ada di balik narasi audio visual dengan tidak menggunakan data empiris hasil wawancara dengan penonton.

6. Landasan Teori

  Dalam menganalisa data penulis menggunakan satu teori utama yaitu teori pendidikan kritis. Teori pendidikan kritis dipakai untuk melihat bentuk-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  perubahan rejim dan diikuti munculnya wacana alternatif sebagai bentuk hegemoni tandingan dari dominasi rejim. Teori utama ini dilengkapi dengan dua teori lain, yaitu hegemoni oleh Gramsci untuk melihat bagaimana kekuasaan negara dan institusi dilanggengkan dalam pendidikan melalui buku teks sejarah.

  Teori kekuasaan oleh Michel Foucault juga melengkapi teori utama untuk melihat bagaimana mekanisme hubungan subjek (guru) dengan pengetahuan melahirkan kekuasaan.

6.1. Pendidikan Kritis

  Dalam perspektif kritis tugas pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan ke arah transformasi sosial. Namun, acuan pengajaran sejarah berdasarkan kurikulum yang berlaku sepertinya tidak mendukung untuk melakukan transformasi sosial yang kritis terhadap peserta didik. Permasalahan ini dimulai dari tidak efektifnya waktu belajar dan metode pengajaran yang cenderung non-partisipatif. Hal ini menyebabkan ketumpulan nalar kritis anak di dalam mengelaborasikan peristiwa demi persitiwa dalam belajar sejarah semenjak wacana sejarah menjadi kepentingan satu pihak tertentu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Peranan sekolah sebagai agent of knowledge memiliki andil yang cukup besar di dalam perkembangan pengajaran sejarah pada anak. Proses ajar yang terjadi antara guru dan murid akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pengetahuan murid mengenai peristiwa panjang bangsa. Tidak hanya itu, proses ajar tersebut mestinya juga menjadi medium dialog untuk mengembangkan kesadaran anak sebagai bagian dari entitas bangsa ini. Namun, kenyataannya yang terjadi adalah masih banyak persoalan yang muncul dikarenakan figur sekolah saat ini lebih bersifat metode pengajaran satu arah, baik terhadap guru yang kemudian menerapkan metode pengajaran satu arah tersebut kepada murid. Seperti yang diungkapkan dalam Discipline and Punish, model Foucault tentang pengetahuan dan kekuasaan memaparkan dengan jelas bahwa pengetahuan dimanfaatkkan oleh agen-agen yang memiliki struktur kuat. “Kebenaran” ditentukan oleh sekelompok minoritas yang berkuasa ini dan mengatur struktur- struktur dibawahnya agar menyesuaikan diri dengan tujuannya. Kekuasaan mengkronstruksi kebenaran yang akhirnya melahirkan wacana yang menciptakan

  16

  keyakinan, sehingga kebenaran satu arah tersebut menjadi normatif. Guru 16 sejarah memang dituntut menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pengajar agar

  

Michel Foucault. 1977. Discipline and Punish: The Birth of The Prison. London: Penguin

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  secara normatif tepat waktu untuk mentransfer ilmu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Padahal tanpa dia sadari banyak sekali materi yang diikuti hanya menjadi kepentingan dan komoditi satu pihak tertentu, maka secara tak langsung ia menjadi agen dalam melanggengkan kekuasaan tersebut.

  Cara guru mengajar, pilihan pengetahuan yang akan diajarkan, cara pengajaran dalam kelas, semuanya mempunyai tujuan awal memberi kebebasan bagi peserta didik untuk belajar dan menentukan pilihan. Dalam hal ini guru atau pengajar harus konsisten bahwa jika dia mengajarkan tentang demokrasi dan keadilan maka pada saat yang sama pun dia tidak boleh melakukan hubungan yang otoriter di kelas. Namun, hubungan otoriter ternyata tidak berhenti hanya dalam relasi antara guru dan murid dalam ruang kelas, guru pun merasa terotorisasi oleh institusi tempat mereka bekerja, dan institusi terotorisasi oleh kebijakan negara. Dari ketiga subjek tersebut terdapat hubungan kekuasaan antara

  

agency (guru) dan struktur (institusi/sekolah), hubungan kekuasaan inilah yang

  jarang dibahas dalam penelitian pendidikan –hubungan antara yang menghegemoni dan terhegemoni. Maka, pendidikan kritis menjadi teori utama dalam penelitian ini. Pertanyaan yang cukup kompleks untuk didiskusikan adalah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  mengenai sumber timbulnya dominasi dan hegemoni dalam institusi pendidikan, terutama antara guru sejarah dan sekolah.

6.2. Kekuasaan dalam Pendidikan

  Berbicara mengenai kekuasaan dalam pendidikan, tidak pernah terlepas dari konsep hegemoni ala Gramsci. Gramsci menganggap bahwa ketidaksadaran atas dominasi yang dilakukan oleh suprastruktur disebut hegemoni. Hubungan antara guru sejarah dengan negara dan institusi yang berkaitan dengan wacana 65 menunjukkan bagaimana negara mengatur sedemikian rupa nilai-nilai sejarah pada generasi berikutnya. Wacana sejarah dibuat dalam satu versi, yaitu versi Orde Baru yang mengakar melalui pendidikan, dan guru sebagai penghubung antara institusi dan murid menjadi figur penting dalam menentukan sikap.

  Sesungguhnya ada rantai besar yang membelit dalam wacana 65, yaitu kepentingan kekuasaan telah mendominasi pendidikan dan mengendalikan publik lewat media massa dan teks. Institusi yang berdiri dibawah negara kemudian menetapkan kurikulum yang telah diatur oleh negara. Akhirnya, rantai yang tidak dialogis juga membuat guru tertekan dan mau tidak mau harus melaksanakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  guru sejarah yang bersifat terbuka terhadap wacana-wacana sejarah 65 dan membimbing para siswa untuk bersikap kritis terhadap bentuk-bentuk wacana yang bersumber dari buku teks. Jika menengok dari gagasan Gramsci yang berpendapat bahwa memperjuangkan kelas tertindas adalah tugas dari pemikir- pemikir yang bisa mempengaruhi perjuangan mereka dengan tidak menghasilkan kepentingan sepihak karena memperjuangkan kelas diperlukan war of position, yaitu memperebutkan kekuasaan atas suprastruktur negara dengan menciptakan

  17 hegemoni tandingan.

  Meninjau kembali teori hegemoni Gramsci bahwa hegemoni selalu melibatkan pendidikan. Bagi Gramsci kajian budaya mengadopsi makna-makna yang menyokong kelompok sosial tertentu makna konsep-konsep hegemoni pun

  18

  menjadi relevan bagi gerakan sosial kebudayaan dalam pendidikan. Pemikiran Gramsci menempatkan analisa kebudayaan dan perjuangan ideologis yang akhirnya menjadikan kajian budaya yang relevan bagi mereka yang ingin membuat perubahan sosial. Pemikirannya memberikan tempat khusus bagi kaum 17 intelektual yang menghubungkan mereka dengan peserta perjuangan idelogis

  

Hegemoni tandingan (counter hegemony) adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kekuasaan

kelompok elit atau negara. Hegemoni tandingan ada karena kesadaran individu untuk menciptakan kebebasan dalam berideologi, berpikir dan bertindak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  lainnya. Disini pembedaan Gramsci antara “intelektual tradisional” dan

  19

  “intelektual organik”. Begitu pula dalam hal pendidikan, kajian budaya Gramscian memimpikan sang “intelektual organik” yang memegang peran kunci dalam penyiapan kaum intelektual dan gerakan yang kontrahegemonik.

  Bagaimana hegemoni berlangsung dalam dunia pendidikan yang bernama sekolah? Hegemoni dalam pengertian Gramsci yang dikutip oleh Livingstone (1976:235) adalah:

  A social condition in which all ascpects of social reality are dominated by or supportive of a single class.

  Konsep hegemoni dipakai sebagai alat analisis untuk memahami mengapa kelompok-kelompok dibawah suprastruktur mau berasimilasi ke dalam pandangan rejim yang dominan, yang membuat pelanggengan kekuasaan terus terjadi. Dalam pendidikan sejarah di sekolah, hegemoni Gramscian mempersoalkan kaitan kebenaran dan sistem kekuasaan yang menentukan sejarah itu sendiri. Hegemoni menyebabkan kalangan dalam ranah basis menerima penindasan sebagai sesuatu yang wajar dan tak dapat diubah.

19 Intelektual tradisional adalah mereka yang menempati berbagai posisi ilmiah dalam

  masyarakat. Sebaliknya, intelektual organik yang disebut oleh Gramsci adalah bagian dari perjuangan kelas yang terlibat dalam pemikiran pengorganisasian berbagai elemen kelas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Sepintas mungkin terlihat tidak ada hubungannya antara pendidikan dan kekuasaan. Bahkan sejak masa Perang Dunia II, ketika muncul negara-negara baru akibat hilangnya kolonialisme, orang mulai melihat betapa besar kekuasaan pendidikan untuk mengubah kebudayaan suatu bangsa. Pada saat rejim Orde Baru hegemoni menyusupi kegiatan-kegiatan pendidikan dalam berbagai bentuk. Hegemoni tersebut masuk melalui media populer dan sekolah yang secara tidak disadari telah mengarahkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang disebut dengan

  hidden curriculum.

  Menurut H.A.R. Tilaar, hubungan hegemoni dan kekuasaan dalam pendidikan mempunyai empat poin, yakni: 1) Domestifikasi dan stupidifikasi pendidikan; 2) Indoktrinasi; 3) Demokrasi dalam pendidikan; 4) Integrasi sosial. Proses domestifikasi adalah proses penjinakan dengan membunuh kreativitas dan menjadikan manusia sebagai robot-robot yang sekedar menerima transmisi nilai- nilai kebudayaan yang ada. Proses domestifikasi menhasilkan stupidifikasi yaitu pembodohan karena tidak mengajak manusia berpikir analitis dan mempelajari

  20 wacana alternatif karena harus mengikuti satu kebenaran yang mutlak.

  20

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Proses indoktrinasi dalam pendidikan masuk melalui kurikulum. Semua aspek-aspek kurikulum yang sudah diatur sedemikian rupa sesuai dengan proses domestifikasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka apa yang terjadi dalam proses pendidikan sebenarnya adalah suatu proses mentransmisikan ilmu

  21

  pengetahuan secara paksa. Tidak mengherankan apabila banyak menyimpulkan bahwa pemerintah Orde Baru mempunyai kepentingan untuk menguasai pendidikan dan kurikulum sejarah, karena rejim tersebut mempunyai kepentingan- kepentingan politik yang melatarbelakangi. Melalui kurikulum inilah terjadi proses indoktrinasi, yaitu proses untuk mengekalkan struktur kekuasaan yang ada.

  Bertolak dari permasalahan hegemoni dalam pendidikan, poin ketiga adalah solusi untuk mengatasi indoktrinasi dalam kekuasaan metode pengajaran tersebut, yakni proses pendidikan demokrasi, yaitu suatu prinsip yang membebaskan manusia dari berbagai ikatan. Masuknya demokrasi ke dalam dunia pendidikan memberi banyak pengakuan kepada sumber-sumber kekuasaan yang

  22

  baru, yaitu kekuasaan yang memihak kepada kepentingan rakyat banyak. Dalam konteks Tragedi Kemanusiaan 1965, wacana demokrasi muncul melalui versi- 21 versi alternatif di luar versi resmi Orde Baru. Tidak hanya berhenti disitu saja,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  versi sejarah alternatif juga bisa diakses oleh semua pihak terutama pelaku dan subjek pendidikan.

  Solusi kedua untuk menghapus indoktrinasi pendidikan adalah integrasi sosial. Solusi ini sangat dibutuhkan dalam pendidikan demokrasi. Integrasi sosial hanya dapat ditumbuhkan dari bawah dan mengesampingkan kekuasaan dari

  23

  atas. Integrasi sosial juga mengacu pada masalah-masalah setempat dimana para peserta didik merasa dekat dengan peristiwa yang dipelajarinya. Wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 menjadi sangat disintegrasi jika yang dipelajari hanya sekadar membaca dari buku teks pelajaran sekolah. Sebaliknya, wacana sejarah yang cukup sensitif tersebut harus dipelajari dengan menggunakan media yang cukup dekat dengan generasi muda, atau bisa juga dengan bertemu langsung dengan pelaku dan korban sejarah sehingga apa yang mereka pelajari merupakan kapital lokal yang mudah dipahami.

  Hubungan kekuasaan kedua adalah hubungan kekuasaan subjek antara guru dengan pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud disini adalah bentuk wacana sejarah yang telah dilanggengkan oleh rejim Orde Baru. Dalam buku

  

Surveiller et Punir, Foucault mengatakan bahwa kekuasaan bekerja melalui sifat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  normalisasi, tidak hanya terjadi di penjara namun juga bekerja melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan,

  24

  pengetahuan dan kesejahteraan. Kekuasaan yang dimaksud Foucault bukan hubungan kausalitas melainkan lebih ke kerangka tujuan dan sasaran. Wacana sejarah menjadi pengetahuan yang melahirkan kekuasaan terhadap mekanisme pengajaran yang dilakukan oleh guru dengan tujuan-tujuan tertentu, yaitu melahirkan kekuasaan oleh rejim Orde Baru. Hubungan kekuasaan disini bukan hanya satu arah atau pendominasian satu pihak, melainkan menunjukkan posisi subjek guru sebagai mereka yang didominasi.

  Bentuk kekuasaan sejarah di kurikulum sekolah juga merupakan bentuk disiplin dan panoptisme. Artinya, ada bentuk pengawasan terhadap guru untuk memperoleh ketaatan dan keteraturan. Guru sejarah pada masa Orde Baru sangat taat kepada institusi dan pengetahuan sejarah, mereka tidak mengajar versi sejarah di luar versi resmi karena ada pengawasan dari institusi dan negara untuk yang sifatnya “mendukung” jalannya rejim. Kekuasaan antara guru dan sejarah pada masa itu terlihat langgeng karena subjek memperlihatkan kepatuhan terhadap 24 dominasi negara.

  

Haryatmoko. Kekuasaan Melahirkan Anti-Kekuasaan. Majalah Basis Nomor 01-02, Tahun ke

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

6.3. Pengajaran Sejarah Kritis di Sekolah Menengah Atas

  Acuan pengajaran sejarah berdasarkan kurikulum yang berlaku, sepertinya masih menyimpan persoalan terhadap pengajaran sejarah yang berbasis pada anak. Mulai dari singkatnya waktu ajar sampai metode pengajaran yang cenderung non partisipatif. Hal ini menyebabkan ketumpulan nalar kritis anak di dalam mengelaborasikan peristiwa sejarah di masa lalu dengan kejadian di masa kini. Peranan sekolah sebagai agent of knowledge memiliki andil yang cukup besar di dalam perkembangan pengajaran sejarah pada anak. Proses ajar yang terjadi diantara guru dan murid akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pengetahuan murid mengenai peristiwa panjang bangsanya. Tidak hanya itu, proses ajar tersebut mestinya juga menjadi medium dialog untuk mengembangkan kesadaran anak sebagai bagian dari entitas bangsa ini. Namun, kenyataan yang terjadi adalah masih banyaknya persoalan yang muncul dikarenakan figur sekolah saat ini lebih bersifat industri yang notabene menyerap sebanyak-banyaknya jumlah murid secara kuantitas, bukan membantu serta mengarahkan murid menjadi pribadi yang kritis terhadap sejarah bangsanya.

  Guru sejarah memang dituntut menyelesaikan tugasnya sebagai seorang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  berlaku. Ia dipacu dengan segala tekanan agar tidak keluar dari koridor yang telah disepakati, baik dari Dinas Pendidikan serta pihak penyelenggara sekolah. Maka tak jarang, beberapa kasus di lapangan menunjukkan bahwa guru menjadi “tak berdaya” ketika durasi yang diberikan sangat singkat untuk mengajarkan bab mengenai Sejarah Pergerakan Nasional di Indonesia serta terbatasnya media pengajaran yang efektif.

  Metode belajar sejarah yang pasif, menyebabkan seorang anak hanya menghafal nama, tempat dan tahun dari sebuah peristiwa tanpa tahu semangat serta nilai apa yang sebenarnya terkandung dalam peristiwa tersebut. Anak masih diposisikan sebagai murid (objek) dari pengajaran sejarah yang baku. Memang diperlukan usaha yang kreatif untuk meretas problematika pengajaran sejarah ini. Hal ini memerlukan pembelajaran yang serius untuk memberikan solusi bagaimana menciptakan proses belajar mengajar yang tidak lagi memposisikan anak sebagai objek, melainkan subjek.

  “Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan dikuasai oleh mereka yang

  25 menguasai isi ingatan, yang merusmuskan konsep, dan menafsirkan masa lalu” . 25 Hal yang dikatakan Sturmer ini terjadi dalam proses pengajaran sejarah. Dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  berbagai kasus dijumpai kenyataan bagaimana “ingatan kolektif” anak-anak bangsa diseragamkan dan sarat akan legitimasi kekuasaan. Untuk menghindari hal-hal yang hanya digunakan untuk kepentingan penguasa, maka dibutuhkan metode-metode pengemasan bahan ajar sejarah kritis. Keberadaan pelajaran sejarah di sekolah bukan hanya sekadar bahan cerita yang didialogkan antara guru dan murid, tetapi bertujuan untuk membimbing murid agar memahami dan mengerti situasi masa lampau yang digunakan sebagai pembelajaran masa depan.

  Proses belajar mengajar sejarah pada dasarnya dipengaruhi oleh tujuan, materi pelajaran, metode, media, dan instrumen yang mendukung. Namun, pada kenyataannya, pelajaran sejarah hanya berorientasi pada banyaknya hafalan yang harus dilakukan oleh murid dan target guru adalah agar materi cepat selesai tepat waktu. Pelajaran sejarah tidak lagi menekankan aspek afektif dan konatif, sehingga peserta didik menjadi bosan tak menjadi kritis terhadap materi yang dipelajari. Pengajaran sejarah tidak bisa berada dalam posisi stagnan. Pengajaran tersebut harus mengikuti perkembangan dinamika dan teknologi supaya bisa menerangkan sebuah peristiwa secara komprehensif. Pengajaran sejarah yang diarahkan kepada komunikasi antara pelaku sejarah dan peserta didik diharapkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sekadar membaca. Komunikasi yang dimaksud adalah menggunakan metode sejarah lisan dan dipertontonkan kepada siswa. Sejarah lisan bisa menjadi alternatif dalam sebuah dekonstruksi dan rekonstruksi wacana untuk membuat sejarah yang lebih berimbang dan menghindari ketimpangan cerita sejarah di tengah masyarakat.

  Dalam penelitian ini bisa dilihat bagaimana alur wacana sejarah berjalan melalui hegemoni negara secara mono-naratif, dan di satu sisi ada perlawanan dengan munculnya versi multi-naratif. Seperti yang terlihat di bawah ini:

  

Gambar 1: Bagan yang menjelaskan alur praktek kekuasaan dalam pendidikan untuk wacana

Tragedi Kemanusiaan 1965.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Bagan diatas mengkaji praktek kekuasaan yang berhubungan dengan praktik-praktik budaya dan sejarah dalam institusi sekolah. Meminjam bahasa Paulo Freire, mengindikasikan keyakinan akan kekuatan potensi pendidikan untuk melakukan perubahan sosial lewat agen manusia, dan pendidikan menghubungkan kekuasaan dan politik, ketiganya terkait satu sama lain. Pada dasarnya, semua aktifitas pendidikan memang bersifat politis dan mempunyai konsekuensi dan kualitas politis.

  Wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 mempunyai dua versi, yaitu versi resmi dari pemerintahan (Orde Baru) dan versi alternatif dari berkembangnya hasil penelitian pasca Orde Baru. Versi resmi dari pemerintah mempunyai sifat yang mono-naratif karena apa yang mereka katakan mengenai peristiwa tersebut tidak bisa dibantah kebenarannya dan semua lapisan masyarakat didoktrin oleh wacana tersebut. Sedangkan versi alternatif sifatnya sangat multi-naratif yang merupakan penelitian bertahun-tahun beberapa institusi dan individu, juga tidak menutup kemungkinan untuk mendiskusikan lebih lanjut secara terbuka mengenai fakta dan kebenarannya. Hegemoni tandingan yang diciptakan oleh wacana alternatif ini merupakan reaksi atas ketidakpercayaan mereka terhadap kekuasaan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  pendidikan (baca:sekolah) hanya boleh mengajar sejarah topik Tragedi 65 dengan satu versi saja. Tetapi pasca Orde Baru, guru (seharusnya) mempunyai kebebasan untuk memberi banyak versi-versi narasi kepada muridnya.

7. Metode Penelitian

  Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat interpretatif dan action research dengan menggunakan dua pendekatan. Pertama, analisa tekstual terhadap materi pendidikan sejarah sekolah menengah atas yang membahas wacana Tragedi Kemanusiaan 1965. Materi ini dianalisa untuk menentukan perkembangan materi ajar yang digunakan untuk proses belajar mengajar di kelas sejak masa Orde Baru sampai dengan pasca Orde Baru. Kedua, metode wawancara guru mengenai perubahan dan dinamika materi wacana Tragedi Kemanusiaan 1965. Penelitian ini menempatkan film dokumenter sebagai wacana budaya yang tertekstualisasikan sehingga harus dipahami sebagai teks budaya. Subjek penelitian ini terdiri guru-guru sejarah dari beberapa sekolah menengah atas, yaitu SMA Negeri, SMA swasta berbasis agama dan SMA nasional tidak berbasis agama. Alasan penulis untuk mengambil data dari sekolah-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  bahwa yang diteliti tidak hanya sekolah swasta atau negeri saja, tetapi keduanya. Ada empat cara pengumpulan data yang ditempuh dalam penelitian ini. Pertama, penulis meneliti buku-buku yang digunakan oleh sekolah-sekolah tersebut dan menganalisa apakah ada perubahan mengenai pembahasan teks terkait dengan tema Tragedi Kemanusiaan 1965. Kedua, mewawancarai guru sejarah untuk mengetahui bagaimana respon mereka dinamika perubahan buku teks sejarah selama Orde Baru dan pasca Orde Baru. Ketiga, penyajian film dokumenter 40

  

Years of Silence yang kemudian ditonton oleh guru sejarah dari sekolah-sekolah

  yang telah ditunjuk sebagai data dan mewawancarai guru sejarah setelah menonton film tersebut untuk mengetahui repon mereka terhadap penyajian wacana sejarah alternatif. Keempat, masih sejajar dengan metode ketiga yaitu mewawancarai guru mengenai bagaimana mereka menegosiasikan versi sejarah alternatif tersebut dengan institusi sebagai bentuk pengajaran baru.

8. Sumber Data

  Ada dua macam sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini, sumber data primer adalah analisa buku teks untuk mengetahui perkembangan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Reformasi 98. kemudian data sekundernya adalah hasil wawancara dengan guru- guru sejarah tersebut untuk mengetahui respon mereka terhadap perubahan teks- teks sejarah sejak Orde Baru sampai Paska Orde Baru di buku pelajaran sejarah. Sumber data sekundernya adalah hasil wawancara dengan para guru sejarah untuk mengetahui respon mereka terkait dengan sumber data primer berikut respon mereka terhadap munculnya bentuk-bentuk alternatif pengajaran sejarah setelah Reformasi 98. Data sekunder digunakan untuk mengetahui bagaimana guru-guru sejarah menegosiasikan bentuk pengajaran baru yang alternatif terhadap institusi.

9. Teknik Pengumpulan Data

  Untuk teknik pengumpulan data dari para guru sejarah, dipakai dua jenis metode: analisa buku teks sejarah dari sebelum Reformasi 98 dan sesudahnya.

  Buku-buku yang didapat antara lain adalah buku yang telah disusun oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah Yogyakarta pada tahun 1996, buku Sejarah untuk SMA Kelas XII penerbit Erlangga tahun 2006, buku Sejarah untuk SMA Kelas XII penerbit Yudhistira, dan Diktat Jurnal Pelajaran Sejarah Kelas

  XII yang disusun oleh salah satu guru dari sekolah Katolik. Beberapa wawancara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  segi pandang mereka tentang perbedaan wacana Tragedi Kemanusiaan versi umum dan versi alternatif dan bagaimana respon mereka terhadap polemik perubahan wacana setelah Reformasi 98. Wawancara sebelum nonton film dilakukan untuk mengetahui respon mereka terhadap dinamika perubahan materi pengajaran sejarah. Wawancara kedua dilakukan setelah mereka menonton film

  

40 Years of Silence yang kemudian akan mengetahui bagaimana apakah versi

  alternatif yang beredar akan mempengaruhi cara mengajar mereka pada peserta didik dan bagaimana mereka menegosisasikan bentuk pengajaran sejarah alternatif kepada institusi.

  10. Sistematika Penulisan

  Secara keseluruhan hasil penelitian ini terdiri atas enam bab. Bab pertama berupa deskripsi tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika penulisan. Pada bab kedua dibahas mengenai wacana kekuasaan dalam historiografis Indonesia tentang Tragedi Kemanusiaan 65 dan perubahan penulisan atau penyajian sejarah dari masa Orde Baru sampai pasca Orde Baru.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  para guru Sekolah Menengah Atas sebagai medium pengajaran dan mengetahui ada atau tidaknya perubahan setelah Reformasi 98. Bab empat menganalisa hasil wawancara dengan beberapa guru sejarah untuk mengetahui respon mereka terhadap polemik perubahan kurikulum yang mengacu pada pembahasan Tragedi Kemanusiaan 1965 dan posisi sejarah alternatif di tengah pengajaran sejarah resmi. Bab lima membahas bagaimana negosiasi guru sejarah dengan institusi pendidikan terhadap bentuk-bentuk pengajaran Tragedi Kemanusiaan 1965 dengan berbagai versi. Bab enam merupakan kesimpulan tentang bagaimana posisi sejarah resmi dan sejarah alternatif di dunia pendidikan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

BAB II

(RE)PRODUKSI PENENTUAN POSISI SUBJEK SEBAGAI PAHLAWAN

ATAU KORBAN

2.1 Pendidikan Sejarah dari Masa ke Masa

  Proses ajar sejarah merupakan bagian pokok penting untuk mendapat perhatian dari semua elemen bangsa dewasa ini. Catatan sejarah menunjukkan peristiwa yang menjelaskan bagaimana perjalanan bangsa ini dalam mencapai kedaulatannya di masa kini. Sayangnya, permasalahan yang kerapkali muncul adalah ketidakseriusan stakeholder pemerintahan serta masyarakat sipil yang dibatasi aksesnya untuk mengeksplor lebih dalam lagi mengenai cerita dibalik peristiwa sejarah di Tanah Air. Persoalan sejarah adalah bagian yang tidak terpisahkan antar masa, yakni masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

  Namun, dengan tidak adanya usaha yang serius untuk belajar dari peristiwa sejarah di masa lalu, mengakibatkan berulangnya sejarah kelam yang terjadi sebelumnya. Menurut Dr. Aman, M.Pd. sejarah mempunyai fungsi untuk

  26

  membangkitkan kesadaran historis. Tetapi jika pendidikan sejarah hanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  didominasi satu pihak tertentu dan tidak membiarkan peserta didik untuk berpikir kritis, maka tidak akan ada proses kesadaran historis. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, diantaranya adalah pihak pemerintah yang masih saja tidak adil di dalam membuka wacana sejarah kelam masa lalu terkait kepentingan kekuasaan serta dibatasinya akses-akses sumber sejarah dalam kerangka kurikulum bahan ajar pendidikan publik.

  Penulisan sejarah yang tidak berimbang menyebabkan terjadinya ketimpangan cerita sejarah di tengah masyakart. Masyarakat dibutakan mengenai peristiwa yang terjadi di masa lalu. Lagi-lagi, inilah usaha pemerintah untuk menumpulkan daya kritis publik, agar menjadi tidak serius menangani apa yang terjadi di masa silam. Lebih dalam lagi, persoalan anak sebagai pewaris sekaligus pencipta sejarah menjadi penting untuk dipelajari. Memandang anak sebagai pelaku sejarah pada masanya, menjadi bagian yang mestinya tidak terpisahkan dari usaha untuk menciptakan figur yang dapat melepaskan diri dari pewarisan sejarah yang tidak berimbang.

  Pendidikan yang diberikan pada anak, baik melalui institusi pendidikan formal, serta informal seperti keluarga, merupakan pokok bahasan yang penting

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  perkembangan cakrawala anak terhadap peristiwa sejarah. Persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana kedua agen ini memberikan akses yang berimbang pada anak untuk belajar mengenai sejarah serta bagaimana nilai yang diwariskan pada si anak sebagai upaya memposisikan anak sebagai subjek dan bukan lagi penonton dari putaran roda sejarah yang berulang.

  Dalam penelitian ini penulis lebih menekankan kepada peran guru terhadap aktifitasnya sebagai bagian integral sistem mengajar. Mengajar merupakan suatu aktifitas profesional yang memerlukan ketrampilan tingkat tinggi dan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan-

  27

  keputusan. Keberhasilan dalam belajar sejarah sangat ditentukan oleh peran pengajar/guru. Keputusan yang dimaksud adalah pengajar perlu merancang metode yang dipakai, alat dan media, buku yang harus dibaca, dalam kegiatan di sekolah. Saat kegiatan belajar mengajar akan dilakukan dalam ruang kelas, guru sejarah harus mempunyai rancangan apakah dia akan menggunakan buku atau medium lain, lalu buku dan medium seperti apa yang akan digunakan. Guru sejarah harus membuat bentuk pengajaran yang menarik supaya kegiatan belajar itu berhasil. Berhasil dalam konteks ini tidak diartikan murid akan mendapat nilai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  yang bagus, tetapi lebih ke pengukuran kualitas yaitu dengan melihat bagaimana pemahaman mereka terhadap suatu peristiwa sejarah dan mereka mampu berpikir kritis untuk menganalisa konteks internal dan eksternal yang ada hubungannya dengan peristiwa tersebut.

  Salah satu guru sekolah swasta di Yogyakarta dalam wawancara mengungkapkan pelajaran sejarah kurang diminati oleh murid-murid dan dianggap sebagai pelajaran yang hanya menghafal. Bahkan tidak sedikit murid yang menganggap tidak penting karena adanya anggapan pelajaran sejarah hanya bercerita tentang masa lalu. Apalagi dari kebijakan institusi memutuskan untuk memberi jam pelajaran ini hanya dua kali mata pelajaran (2 x 45 menit) karena

  pelajaran ini tidak masuk dalam Ujian Negara (UN). Tidak mengherankan jika prestasi belajar sejarah murid kurang memuaskan. Maka disinilah peran guru sebagai pengembang pelajaran sejarah menuju yang lebih bermakna sangat penting. Sebelum mengevaluasi bagaimana para guru SMA di Yogyakarta menjawab tantangan membuat program pembelajaran sejarah yang efektif. Dalam bab ini akan diuraikan terlebih dahulu mengenai refleksi dari kurikulum sejarah dan perkembangannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

2.1.1. Paradigmatik Pelajaran Sejarah

  Sejarah di sekolah mengandung tugas menanamkan semangat character

building bagi peserta didiknya. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dijelaskan

bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

  Dalam konsep akademik, tujuan-tujuan itu lebih terwujud secara spesifik

seperti kesadaran empati, nasionalisme, patriotisme, kesadaran humaniora, yang

sampai sekarang belum secara intensif mencapai sasarannya. Pendidikan sejarah

berisi cerita sejarah pengetahuan sejarah, gambaran sejarah yang kesemuanya itu

adalah bersifat koheren antara fakta-fakta yang ada dan bukti-bukti yang tersedia.

Penulisan pelajaran sejarah diharapkan dapat menempatkan diri ke dalam pelaku-

pelaku sejarah yang bersangkutan. Hal ini merupakan unsur pokok dalam cara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

disebut historical thinking towards historical explanation.Selain itu, sejarah

dianggap sebagai suatu lingkaran waktu yang bergerak yaitu masa lampau, masa

kini dan masa mendatang. Generasi yang hidup sekarang mempunyai kedudukan

strategis karena membangun kelangsungan masa lampau sampai masa kini.

  

Sehingga murid-murid yang belajar sejarah pada masa kini mempunyai banyak

kesempatan untuk melihat bagaimana peristiwa sejarah di masa lalu beserta

perubahannya sampai pada masa kini.

  Berkaitan dengan penglihatan tiga dimensi waktu dalam sejarah tersebut,

fakta sebagai produksi masa lampau pada dasarnya juga tergantung pada masa

kini, artinya sejarah tidak menghadapi realitas itu sendiri, tetapi hanya bekas

dalam fakta berupa pernyataan simbol dari realitas. Sejarawan harus menjelaskan

peristiwa, di mana eksplanasinya dipengaruhi kebudayaan zamannya, sehingga

waktu lampau tidak dapat ditangkap secara keseluruhan karena dipengaruhi masa

kini. Dalam konsep ini Reiner menerangkan pengalaman masa lalu manusia

merupakan bagian penting dalam proses berpikir karena tanpa pengalaman masa

lampau tidak akan dapat disusun ide tentang akibat dari tindakannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

2.1.2. Sejarah Versi (Orde) Baru

  Sebelum Orde Baru, pendidikan sejarah menjadi kurikulum berbasis ilmu pengetahuan namun tidak bertahan lama sampai pada tahun 1964, dimana kurikulum sejarah sangat bernuansa politis yaitu harus berlandaskan Pancasila dan Manipol (Manifestasi Politik UUD 1945 yang terdiri dari Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia). Sebenarnya ide ini dapat diterima dengan akal sehat jika pada kenyataannya terdapat kecocokan antara teori dan praktik.

  Sampai setelah Soekarno runtuh, masuklah kurikulum Orde Baru yang secara resmi diterapkan pada tahun 1968 yang juga bernuansa politis dengan diajarkannya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa). Tujuan diadakan PSPB adalah agar murid meyakini: 1) Penjajahan Belanda menyebabkan kemiskinan dan penderitaan di kalangan rakyat Indonesia; 2) Kebenaran rakyat Indonesia dalam mengusir penjajah; 3) Partai Komunis Indonesia secara sepihak menghancurkan NKRI; 4) Aksi melawan Partai Komunis Indonesia adalah didorong dengan prinsip membela kebenaran dan keadilan; 5) Orde Baru

  28

  mengutamakan kepentingan negara dan Masyarakat. Dari kelima poin tersebut

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sudah sangat jelas terbaca akan nuansa politis yang ditanamkan pada peserta didik yang ada di zaman bangkitnya Orde Baru.

  Pada masa Orde Baru berjaya sejarah dibelokkan demi kepentingan politik dan sangat elitis terutama mengenai Tragedi Kemanusiaan 65. Jatuhnya Orde Baru, persis seperti ketika berdirinya rezim tiga puluh dua tahun sebelumnya, diselimuti oleh kerahasiaan dan penuh kekerasan. Pada tahun 1965 dilancarkan aksi militer terhadap pihak yang dituduh akan melakukan kudeta, yang berujung pada penghancuran terhadap mereka yang tidak mendukung Soeharto.

  Pusat Sejarah ABRI sudah beroperasi ketika usaha kudeta terjadi. Di bawah arahan Nugroho Notosusanto, Pusat Sejarah ABRI langsung bekerja dengan tujuan untuk segera menerbitkan narasi kudeta versi Angkatan Darat. Hasilnya ialah 40 Hari Kegagalan “G-30-S” 1 Oktober-10 November, yang sebagian besar merupakan versi propaganda Angkatan Darat yang bertujuan membuktikan bahwa kudeta adalah hasil persengkokolan komunis. Buku itu adalah buku yang pertama kali ditulis mengenai kudeta Tragedi 1965 yang dikeluarkan Indonesia dan merupakan narasi berulang kali yang dikonsolidasi sepanjang periode rejim Orde Baru. Pusat Sejarah ABRI menegaskan bahwa buku tersebut berhasil meyakinkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Pada masa Orde Baru, ABRI dan militer mendirikan Museum

  29 Pengkhianatan PKI pada tahun 1983 yang berlokasi di Lubang Buaya . Koleksi

  yang dimiliki museum itu adalah replika benda-benda bersejarah dan beberapa diorama dan Nugroho Notosusanto memegang peranan penting dalam menyetujui pembuatan diorama untuk museum itu. Diorama memang memberi kesan lebih meyakinkan daripada benda bersejarah lain karena tampak secara audio-visual.

  Michael Van Langenberg berpendapat bahwa ditemukannya jenazah perwira angkatan darat merupakan bagian penting dari propaganda awal mengenai

  30

  kudeta. Awalnya, Mayjen Soeharto juga menginginkan pengangkatan jenazah diliput oleh media, seperti yang diberitakan Pangkostrad di RRI dan TVRI, Senin

  31

  5 Oktober 1965 pukul 15.00 :

  “Jelas betapa kejam dan biadabnya aniaya yang dilakukan petualang-petualang G30S. Ketujuh jenazah Pahlawan Revolusi, 6 Jenderal dan seorang perwira pertama, ditemukan dalam keadaan tubuh yang jelas penuh luka karena siksaan. Bekas luka di sekujur tubuh pahlawan kita.”

  Hasil otopsi yang dilakukan tim forensik bentukan Soeharto yang terdiri 29 dari dua orang dokter tentara, masing-masing Brigjen dr. Roebiono Kertopati dan

  

Lubang Buaya adalah tempat dimana para jenazah Angkatan Darat dan perwira tinggi dibunuh

dan ditemukan ke dalam sebuah sumur. Tempat itu kemudian oleh pemerintah Orde Baru dibangun menjadi sebuah museum, lengkap dengan diorama penyiksaan oleh anggota Partai 30 Komunis Indonesia.

  

Langeberg. Michael Van. Gestapu and State Power in Indonesia, dalam Robert Cribb, The

Indonesian Killings of 1965-66: Studies from Java and Bali.Clayton: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 1990), hal. 48.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Kolonel dr. Frans Patiasina, dan tiga ahli forensik sipil dan Fakultas Kedokteran UI, Prof. dr. Sutomo Tjokronegoro, dr Liauw Yan Siang, dan dr. Liem Joey Thay dengan Surat Perintah nomor PRIN-03/10-1965 ternyata berbeda jauh dari yang diberitakan di media. Dokter Lim Joey Thay, tidak menemukan satupun tanda- tanda penyiksaan seperti yang diberitakan. Surat forensik ini mulai pelan-pelan muncul ke publik pasca Reformasi 98 dan jatuhnya Soeharto, apalagi setelah film Pengkhianatan G30S/PKI dihentikan penayangannya. Hal ini membuat banyak orang kembali bertanya mengenai kesahihan kronologis peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965.

  Dalam buku pelajaran sejarah banyak menyebutkan bahwa jenderal- jenderal itu dinarasikan sebagai simbol pembela Pancasila. Dari situ, Orde Baru berhasil membuat konstruksi dan rekonstruksi sejarah yang hegemonik dan manipulatif untuk membuat fakta-fakta sejarah yang menjadi momok

  32 masyarakat .

  Jika benar tidak ada penyiksaan, dengan demikian muncul persepsi bahwa 32 ada peran besar media massa terhadap keberhasilan Soeharto menumpas PKI dan

  

Dedy Kristanto, dalam tesis berjudul (Politik) Ingatan Pekerja Kemanusiaan: Trauma dan

Identitas Pekerja Kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dalam Program Rekonsiliasi-Repatriasi Pasca Jajak Pendapat 1999 di Timor Leste, dalam pemenuhan untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  lawan-lawan politiknya. Peran media massa disini termasuk media cetak, radio, audio-visual, dan dampak nyatanya adalah pembentukan opini publik dari propaganda media massa itu. Menyinggung tentang film Pengkhianatan G30S/PKI, yang menurut beberapa sejarahwan isinya mengelu-elukan Soeharto sebagai penyelamat bangsa ini. Karena film tersebut sering ditayangkan, hampir semua yang menontonnya hafal betul dengan adegan-adegan serta dialog kunci yang muncul dalam film tersebut. Seperti ucapan “Darah itu merah, Jendral!” menjadi ucapan populer yang mengindikasikan kekejaman PKI pada peristiwa tersebut. Tujuan dari produksi film ini tidak lain ialah untuk mengingatkan kembali rakyat Indonesia akan ‘bahaya laten komunisme’. Eros Jarot berkata bahwa sang sutradara, Arifin. C. Noer sangat kecewa terhadap hasil film yang dibuatnya sendiri itu. Berdasarkan pengakuannya, ia telah dipaksa tunduk kepada pimpinan negara. Begitulah, kata Eros Djarot merupakan usaha untuk terus menghidup-hidupkan bahaya laten PKI yang menurutnya, tanpa argumentasi.

  Pernyataan dan sejarah yang dibuat oleh Orde Baru kini perlu dinilai apakah betul-betul fakta atau fiksi. Pihak militer pula yang berperan penting dalam pembuatan diorama di Museum Lubang Buaya. Apakah gambaran itu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Fakta-fakta sejarah diatas dapat ditemukan di buku-buku sejarah terutama terbitan masa Orde Baru. Pada bab pendahuluan telah diungkapkan pendidikan sejarah mengalami beberapa kali perubahan, tentunya, dengan tujuan yang ingin dicapai oleh para penguasa dan kondisi zaman.

2.2. Pendidikan Sejarah sebagai Alat Kekuasaan

  Salah satu keberhasilan Soeharto adalah kemampuannya membuktikan tesis bahwa antara pendidikan dengan politik kekuasaan merupakan dua hal yang tidak terpisah. Seperti dikutip oleh Ibe Karyanto dalam tulisan M. Surozi bahwa lembaga-lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk perilaku politik masyarakat di negara tersebut. Pendidikan menjadi alat politik Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya. Menurut Michael Sturner, masa depan dikuasai oleh mereka yang menguasai isi ingatan, yang merumuskan

  33

  konsep dan menafsirkan masa lalu. Dalam hal ini pemegang kekuasaan tentu akan melakukan “penguasaan ingatan kolektif.” Dan penguasaan sejarah dipakai untuk pembenaran sistem yang dipakai untuk masa depan.

33 Dikutip oleh Taufik Abdullah, 1996. Masalah Kontemporer Ilmu Sejarah dan Historiografi,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Upaya mencekoki masyarakat termasuk murid sekolah dengan versi resmi Orde Baru telah berjalan puluhan tahun. Jelas butuh waktu untuk “membenahi” sesuatu yang telah diporak-porandakan sekian lama. Historiografi sejarah

  

Indonesia memiliki dua kekuatan narasi yaitu narasi formal dan narasi yang

bersifat pinggiran (Henk Schulte Nordholt, 2008 : 24-31). Narasi formal adalah

historiografi resmi yang ditulis oleh negara yang biasanya ditampilkan dalam

buku Sejarah Nasional. Sejarah Nasional merupakan historiografi yang dibuat

oleh negara dan harus disosialisasikan kepada masyarakat terutama dalam

pendidikan sejarah yang diajarkan sekolah. Dengan demikian historiografi yang

ada dalam buku teks pelajaran sejarah menjadi suatu narasi besar atau arus utama

tentang interpretasi sejarah Indonesia. Sedangkan historiografi pinggiran biasanya

lahir dari hasil penelitian di perguruan tinggi seperti dalam bentuk skripsi, tesis,

dan disertasi atau hasil-hasil penelitian karya akademisi lainnya. Interpretasi

sejarah pada historiografi formal dan pinggiran memungkinkan terjadinya

perbedaan. Hal ini lah yang kemudian menjadi isu penting dalam historiografi

sejarah Indonesia pada awal reformasi.

  Sejak awal reformasi terjadi gugatan-gugatan yang begitu besar terhadap

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

adanya ketidakpuasan beberapa kalangan terhadap penulisan sejarah pada zaman

Orde Baru. Salah satu ciri utama dalam penulisan sejarah Orde Baru yaitu bersifat

sentralistis. Sentralistis yang dimaksud di sini adalah adanya dominasi interpretasi

yang bersifat tunggal dari negara. Historiografi Indonesia yang ditulis oleh Orde

Baru telah menempatkan bahwa Orde Baru sebagai upaya penyelamatan negara

dari berbagai ancaman dan gangguan yang telah merongrong negara.

2.2.1. Hegemoni dan Alienasi dalam Pendidikan Sejarah

  Dalam menjelaskan keterkaitan antara pelajaran sejarah, guru, murid dan institusi dengan produk aktifitasnya, Marx menyebut keterasingan (alienasi) sebagai proses historis di mana manusia semakin terasing dari satu sama lain. Meskipun konsep ini dititikberatkan pada pembahasan mengenai efek negatif yang menimpa buruh dalam industri kapitalis, tapi konsep Marx ini juga mengacu pada perasaan terasing dari masyarakat, kelompok, kultur atau diri manusia sendiri yang lazim dirasakan oleh orang dalam budaya industrial yang kompleks.

  Demikian pula halnya terjadi dalam dunia pendidikan terutama pendidikan sejarah yang telah ’terasingkan’ dari proses pembentukan individu, budaya,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  komoditas politik, ekonomi dan kekuasaan. Telah terjadi alienasi pendidikan sejarah dan kita menyadari bahwa wacana histori terjebak sebagai praktik ideologi dominan. Dengan pelanggengan kekuasaan kegiatan belajar-mengajar tidak bertujuan membantu manusia muda menemukan identitas, kepribadian, nilai-nilai dan perjuangan hidup.

  Secara pragmatis, pendidikan sejarah juga digunakan sebagai instrumen kekuasaan yang bersifat melegitimasi dalil-dalil kebenaran dan dogma penguasa.

  Pendidikan adalah entitas aktif yang bebas dari konstruksi sosial bahkan bersifat mengobjektivasikan masyarakat. Sekolah menjadi subjek yang mengobjek, yang tak lepas dari kekuasaan dari berbagai pihak.

  Bagi penulis pendidikan sejarah kini ditempatkan pada proses alienasi yang membuat anak didiknya menjadi objek yang pasif. Pendidikan tereleminasi pencapaian target kurikulum dengan fokus penghafalan konsep demi angka-angka ujian dengan terpaksa dan dalam alienasi tersebut tentunya kita bisa melihat adanya kekuasaan ideologi dominan yang mengendalikan dan membuat anak merasa terancam jika tidak melakukan apa yang diperintahkan. Bahruddin mengidentifikasi proses belajar mengajar didominasi oleh guru, dan kepentingan-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  masalah pendidikan seperti di atas menjadi meluas dan rumit seiring dengan perkembangan zaman.

  Jadi, akar dari permasalahan pendidikan dasar dan menengah Indonesia adalah pemeliharaan dominasi yang tampak pada pemerataan pendidikan, mutu pendidikan dan manajamen pendidikan dan pasifnya peran murid itu sendiri dalam pendidikan.Dominasi dalam pemerataan pendidikan sangat berkaitan erat dengan kapitalisme karena pengaruhnya sangat besar pada masyarakat modern.

  Dari kedua pandangan diatas, alienasi dalam pendidikan dan adanya hegemoni dalam pendidikan tampak berbeda namun sebenarnya bersifat identik.

  Keduanya meletakkan pendidikan sebagai subjek maupun objek dalam fungsinya masing-masing. Pendidikan di satu sisi memiliki kekuasaan atas pembentukan identitas masyarakat-negara, namun di sisi lain menjadi instrumen kekuasaan dari masyarakat-negara.

  Dalam studi kasus ini penulis menempatkan pendidikan sejarah di beberapa sekolah menengah atas sebagai data empiris. Sekolah-sekolah tersebut dipakai untuk melihat kebelakang bagaimana proses pendidikan konvensional telah mengalienasi siswanya dan bagaimana ideologi dominan wacana sejarah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Marx lebih menekankan alienasi dalam pekerjaan. Karena dalam sistem kapitalisme orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan karena terpaksa atau syarat untuk hidup. Ada dua macam alienasi. Pertama, keterasingan dari dirinya sendiri. Bentuk alienasi ini mempunyai tiga segi yaitu teralienasi dari produknya yang artinya produknya adalah milik pabrik, apalagi apabila ia hanya mengerjakan bagian kecil dari produk yang sudah jadi. Karena hasil pekerjaan terasing dari padanya, tindakan pekerjaan itu sendiri pun kehilangan arti bagi si pekerja. Itulah bentuk kedua dari keterasingan. Pekerjaan yang dilakukan buruh adalah pekerjaan paksaan, si pekerja akan merasa menjadi dirinya sendiri saat dia sudah tidak bekerja. Hal ini disebabkan karena ia tak bekerja menurut hasrat dan dorongan batin. Jadi bukan pekerjaan itu kebutuhan si pekerja melainkan ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diluar pekerjaan. Ia harus menjadikan kegiatan hidupnya menjadi sarana untuk mempertahankan kebutuhan fisik. Kedua, keterasingan dari orang lain. Konsukuensi langsung dari keterasingan manusia dari produk pekerjaannya adalah keterasingan manusia dari manusia.

  Secara empiris keterasingan sesama menyatakan diri dalam kepentingan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  bertentangan karena kepentingan hak pribadi ada ditangan penguasa dan

  34 kepentingan sesama pekerja.

  Pedagogi juga selalu menempatkan disiplin ilmiah berdasarkan pengalaman empiris. Dalam kaitan ini pendidikan sejarah selalu bersifat kontekstual. Artinya, seluruh isi pembelajaran selalu berkait dengan situasi dan kondisi baik IPTEK, ekonomi, politik, sosial, budaya, sejarah, hukum, kebegaramaan, dan ketatanegaraan. Setiap pembelajaran harus terkait dengan problematika kehidupan masa lalu, masa kini dan masa sekarang, juga secara lokal, regional, nasional, dan internasional.

2.2.2 Pengetahuan dan Kekuasaan

  Jika dalam satu sisi pendidikan membicarakan tentang alienasi, tentunya kita juga harus mencermati siapa yang bermain dalam proses penciptaan alienasi tersebut. Alienasi sangat dipengaruhi oleh satu pihak yang berkuasa, dalam pendidikan alienasi bisa dilihat oleh bagaimana murid tidak pernah berperan

  35 34 menjadi subjek dalam menentukan apa yang menjadi aktualisasi dirinya. Dari

Franz Magniz-Suseno. 1993. Sejarah Filsafat Sosial Jerman Abad Ke-Sembilan Belas. Jakarta:

Sekolah Tinggi Driyarkara.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  konsep Gramsci tentang ideologi dan hegemoni tersebut memperlihatkan kepada kita adanya budaya dominan yang ditekankan di suatu persekolahan bahkan dapat dikatakan adanya pemeliharaan dominasi. Gramsci adalah salah satu tokoh neo- marxis yang selama hidupnya membangun aliansi buruh dan petani dengan membangun poros utara yaitu kelas proletarian di kawasan industri maju dan poros selatan yaitu tuan-tuan rumah yang mendominasi tanah.

  Menurut Gramsci memperjuangkan kelas tertindas adalah tugas dari pemikir-pemikir yang bisa mempengaruhi perjuangan mereka dengan tidak menghasilkan kepentingan sepihak karena untuk memperjuangkan kelas diperlukan war of position, yakni memperebutkan kekuasaan atas suprastruktur negara dengan menciptakan hegemoni tandingan melalui budaya alternatif.

36 Berbicara dominasi, pedagogi kritik mengkaitkan konsep hegemoni dengan

  pendidikan. Bagi Gramsci, kajian budaya mengadopsi makna-makna yang menyokong kelompok sosial tertentu. Maka konsep-konsep hegemoni pun

  37 36 menjadi relevan bagi gerakan sosial kebudayaan dalam pendidikan. Pemikiran

Paradigma pendidikan kritis ini selain menghapus kekuasaan dalam kapitalisme juga

berimplikasi kepada metode dan pendekatan pengajaran. Pendidikan kritis juga tidak hanya diterapkan sebagai hubungan subjek-objek, namun juga dalam bentuk kurikulum ataupun metode belajar. Dengan demikian, yang harus dipertajam dari pendidikan kritis ini adalah bagaimana suatu institusi pendidikan dapat berfungsi sebagai agen utnuk memperoduksi sistem sosial yang baru (Stanley, 2000)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Gramsci menempatkan analisa kebudayaan dan perjuangan ideologis yang akhirnya menjadikan kajian budaya menjadi sangat relevan bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan sejarah. Pemikirannya memberikan tempat khusus bagi kaum intelektual yang menghubungkan mereka dengan peserta perjuangan sosial lainnya. Di sini Gramsci membedakan antara “intelektual organik” dengan “intelektual tradisional”.

  Begitu pula dalam hal pendidikan, kajian budaya Gramscian memimpikan sang “intelektual organik” yang memegang peran kunci dalam penyiapan kaum intelektual dan gerakan yang kontrahegemonik tentang digunakannya konsep- konsep Gramsci dalam kajian budaya adalah karena penekanannya pada nilai-nilai penting dalam pertarungan ideologis. Gramsci mendefinisikan hegemoni sebagai “sekumpulan fungsi pendominasian, pendidikan, dan pengarahan yang dilakukan suatu kelas sosial yang dominan selama periode tertentu terhadap suatu kelas

  38

  sosial lainnya, bahkan sejumlah kelas sosial lainnya. Dominasi wacana sejarah dalam konteks pendidikan Indonesia selalu berhubungan dengan wacana-wacana yang kontroversi, contohnya Tragedi Kemanusiaan 1965, di mana sampai kini masih diperdebatkan cara mengajar topik tersebut di sekolah secara netral.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Tragedi kemanusiaan 1965 merupakan sejarah yang bersifat kontroversial

pada pelajaran sejarah dalam beberapa tahun terakhir karena terdapat beberapa

versi dan masing-masing mempunyai landasan yang kuat. Menurut Abu Su’ud,

pengembangan isu kontroversial dalam kelas sejarah bertujuan mencapai: (1)

peningkatan daya penalaran, (2) peningkatan daya kritik sosial, (3) peningkatan

kepekaan sosisal, (4) peningkatan toleransi dalam perbedaan pendapat, (5)

peningkatan keberanianpengungkapan pendapat secara demokratis, dan (6)

  39 peningkatan kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab .

  Pelajaran sejarah yang kontroversial baru dianggap sebagai sesuatu yang

kontroversial setelah Reformasi 98, dimana mulai banyak tulisan dan buku yang

isinya memberi alternatif wacana bagi buku pelajaran sejarah di sekolah. Namun

seperti disebutkan di Bab I, bahwa pelajaran di sekolah hanya mendorong

siswanya untuk menghafal tanggal, nama dan tokoh sejarah persis seperti di buku

pelajaran daripada mengajak siswa untuk memahami berbagai versi wacana

sejarah. Menurut Asvi Warman Adam, dalam www.sejarahkritis.wordpress.com ,

39

kecenderungan ini juga disebabkan oleh kurangnya inisiatif dari guru sejarah

  

Pernyataan Abu Su’ud ini dikutip di blog sejarahkritis.wordpress.com oleh tsabitazinarahmad

berjudul Tipe Pembelajaran Sejarah Kontroversial, yang diunggah tanggal 2 April, 2012 jam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

untuk mengadakan evaluasi pedagogi sejarah kritis. Hal ini tampak dari adanya

intervensi dari pemerintah dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Jaksa Agung

Nomor 019/A/JA/03/2007 pada tanggal 5 Maret 2007 yang melarang buku-buku

pelajaran sejarah yang tidak membahas pemberontakan Partai Komunis Indonesia

tahun 1948 dan 1965.

  Dengan melihat kenyataan bahwa pelajaran sejarah selalu mutlak

menggunakan buku yang ditentukan oleh institusi, maka pelajaran sejarah

dianggap sebagai alat indoktrinasi sebuah rejim dan menghasilkan hegemoni

wacana yang mutlak antar-generasi. Mengingat bahwa murid-murid tidak dapat

menentukan sendiri bahan-bahan yang harus dipelajari, maka peran guru disini

sebagai agen pengetahuan perlu mendapat perhatian khusus. Guru mempunyai

peran untuk mendampingi murid belajar secara mandiri dan sebaliknya mereka

juga berperan memediasi murid untuk berintegrasi dengan materi-materi lain di

luar yang ditentukan institusi.

  Membahas tentang politik kurikulum resmi dari institusi berarti bicara

tentang kekuasaan. Kekuasaan disini adalah relasi antara pemerintah dengan

institusi, institusi dengan guru dan guru dengan murid. Murid sudah terbiasa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

menyerah kepada kekuasaan demi mendapatkan nilai diatas rata-rata. Sebaliknya,

ada beberapa murid yang menunjukkan penolakan dengan membisu, meskipun

ada beberapa yang menunjukkannya dengan pertentangan yang aktif karena

sejarah juga tidak bisa secara instan menuntut muridnya untuk berpikir kritis,

seolah seperti orang yang akan menulis ulang teks yang dibacanya. Ketika penulis

melakukan penelitian di beberapa sekolah dan melakukan beberapa wawancara

dengan murid mengenai pelajaran sejarah, bisa diduga bahwa sebagian besar

murid-murid SMA di Yogyakarta masih dididik oleh model pengajaran

konvensional. Hal inilah yang menjadi perbandingan model transisi pedagogi

pelajaran sejarah di sekolah lain untuk dianalisa.

  Dalam kasus lain murid menjadikan guru sebagai role model persis tanpa

menelaah lebih dalam apa yang diajarkannya. Kekuasaan semacam ini tidak

mampu memberikan stimulasi terhadap murid bagaimana cara berpikir kritis.

Contohnya, mereka menulis apa yang guru bicarakan di depan kelas karena murid

merasa asing dengan apa yang diajarkan guru sejarah. Hal ini berkaitan dengan

peristiwa sejarah yang tidak dijelaskan secara konseptual oleh guru sejarah.

Akibatnya saat belajar di rumah murid merasa teralienasi dari wacana sejarah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Dua macam cara mengajar sejarah diatas hanyalah menitikberatkan pada

teknik dan bukan melakukan kontak dengan realitas secara kritis. Inilah yang

menghalangi analisis atas kekuasaan politik pembuatan kurikulum dalam

pendidikan menjadi sesuatu yang dianggap berkuasa sehingga sudah selayaknya

dipatuhi oleh murid dan bahkan guru sejarahnya. Para guru sejarah dibiasakan dan

terbiasa untuk tidak mengajukan pertanyaan kritis tentang keputusan atasan jika

tidak ingin berdampak terhadap pekerjaan yang dilakukannya.

  Pada metode pendidikan kritis dalam pembelajaran sejarah, pengajaran

yang bersifat dialogis mendorong guru dan murid melakukan pengupasan

pemikiran dari bahan kajian sejarah, dan bukan semata-mata pengalihan

pengetahuan dan teknik menguasai alfabet. Ira Shor mengatakan gagasan tersebut

adalah pedagogi yang mencerahkan realitas, artinya pendidikan yang

membebaskan bukan panduan atau teknik cerdas, melainkan suatu perspektif

  40 cerdas tentang sekolah, masyarakat dan belajar untuk transformasi sosial.

  Pendidikan sejarah merupakan tindakan yang politis. Oleh sebab itu,

sampai saat ini tidak ada pedagogi yang netral dalam belajar sejarah karena

adanya dominasi dari wacana sejarah yang masih bermuatan politik dan memiliki

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

hubungan sosial dengan masyarakat. Menurut Paulo Freire, dalam suatu proses

pedagogi dapat ditemukan bagaimana kita didominasi ideologi dominan. Kita

dapat menarik jarak atas momen eksistensi kita. Oleh sebab itu, kita dapat belajar

  41 tentang bagaimana menjadi bebas melalui perjuangan politik dalam masyarakat.

  Pendidikan sejarah yang bersifat statis ini menimbulkan kebingungan bagi

guru sejarah dan murid. Pada saat Orde Baru, mereka terbiasa membaca sejarah

yang cenderung mendiskreditkan satu pihak tertentu. Selepas Reformasi 98,

“pahlawan” yang dulu dipuja-puja seketika harus berubah karena perkembangan

historiografi. Banyak buku yang akhirnya cenderung menulis peristiwa Tragedi

Kemanusiaan 1965 dengan menyertakan lebih dari satu pendapat. Guru sejarah

harus berupaya menyesuaikan materi dengan mengikuti perubahan-perubahan

wacana tersebut dan mengajak murid-murid untuk berpikir kritis dengan melihat

perubahan yang terus terjadi. Kontroversi wacana Tragedi Kemanusiaan 1965

tidak sebatas pada pencatuman tiga huruf di belakangnya saja, namun juga karena

ada berbagai versi terhadap tafsiran peristiwa tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

BAB III PENDIDIKAN KRITIS (A)HISTORIS Setelah Reformasi 98, era baru penulisan sejarah Indonesia yang ditulis

  

oleh orang Indonesia dengan menggunakan metodologi kritis historiografi sejarah

pun dimulai. Saat ini, kritik ditujukan terhadap para akademisi sejarah yang hanya

berkutat pada data di ruang arsip, tidak mencoba keluar untuk memahami benar

pada masalah yang ada dalam penelitian mereka, dan menyebabkan kajian sejarah

hanya akan berada di menara gading. Indah bagi mereka yang menekuni

bidangnya, namun tidak berarti apa-apa untuk masyarakatnya.

  Pada bab II telah diuraikan tentang bagaimana pendidikan sejarah telah

mengalienasi subjek dan objek yang diajarkannya, sehingga seperti yang

sebelumnya dikatakan, wacana sejarah tidak berarti apa-apa bagi yang

mempelajarinya. Menurut Y.B. Mangunwijaya, pendiri Yayasan Dinamika

Edukasi Dasar (DED), kondisi pendidikan di Indonesia didominasi oleh

pemerintah melalui kebijakan kurikulum nasional. Menurut Mangunwijaya

pendidikan di Indonesia hanyalah tempat penataran bagi siswa-siswi menghafal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

kehidupan nyata nantinya. Dunia pendidikan adalah penyeragaman yang

  42 menghasilkan siswa-siswi menjadi manusia yang dehumanis.

  Penyeragaman dalam penelitian ini diartikan sebagai penyeragaman

wacana sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965 oleh Orde Baru. Meminjam konsep

habitus Pierre Bourdieu, habitus adalah pembiasaan (pikiran, persepsi, aksi) yang

menghasilkan struktur kepatuhan dan kesiapsediaan seseorang untuk melakukan

  43

tindakannya. Hasil-hasil buku sejarah terbitan Orde Baru adalah sebuah

  44

habitus dalam pendidikan sejarah yang menghegemoni kurikulum nasional.

  

Namun, orang Indonesia yang tinggal di luar negeri mendapat pengalaman yang

berbeda dan membuat mereka berpikir ulang tentang Orde Baru.

  Sektor pendidikan adalah sektor yang berhubungan dengan sektor-sektor

lain, sehingga saat ada perubahan dalam sektor lain, terjadi juga dalam proses

pendidikan. Ariel Heryanto mengatakan kalau mau bermain dalam sektor

42

pendidikan maka harus paham politik juga dan kalau dikutak-katik lagi semua

  

Y.B Mangunwijaya yang dikutip oleh Antonius Ferry Timur Indratno dalam tesisnya yang

berjudul Konsep Manusia Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein: Tinjauan Kritis atas Kurikulum Nasional dan Dominasi Pemerintah (Studi Kasus SD Eksperimental Mangunan), 43 hal. 84.

  

Michael Grenfell dan David James. 1998. Bourdieu and Education: Acts of Practical Theory.

44 London: Farmer Press, hal. 162-170.

  

Habitus adalah sistim atau perangkat disposisi yang bertahan lama dan diperoleh melalui

latihan berulang kali (inculcation). Habitus lahir dari kondisi sosial tertentu dan karena itu menjadi terstruktur dari kondisi sosial yang sudah diproduksi. Bourdieu. Pierre. 1984.

  Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste.Terjemahan oleh Richard Nice.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

berhubungan dengan apa yang terjadi pada tahun 1965 dan menimbulkan

  45 pendisiplinan.

  Dalam bab tiga ini penulis menganalisa bagaimana perubahan wacana

  

46

Tragedi Kemanusiaan 1965 di buku teks pelajaran sekolah dari masa ke masa.

  

Disini penulis mengambil data dari buku teks pelajaran sejarah sebelum

Reformasi 98 sampai yang terbitan terbaru beserta analisa terhadap polemik atas

respon beberapa lembaga mengenai pencantuman beberapa topik tertentu di buku

teks sejarah. Dalam bab ini penulis menunjukkan bahwa pendidikan sejarah di

Indonesia tidak mengalami perubahan yang cukup drastis dari pemerintahan Orde

Baru dan masih ada wacana hegemoni dalam tema Tragedi Kemanusiaan.

  

Kenyataan tersebut diperlihatkan oleh subjektifitas penyusunan buku pelajaran

sejarah di tingkat Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta.

45 Ariel Heryanto. 2001. Teror Negara: Tentang Politik dan Batuk-Batuk Lagi dalam buku Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah. Ed: Baskara. T. Wardaya.

  46 Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hal. 303)

Menurut Prof. Dr. Bintang Petrus Sitepu, M. A., buku teks dalam pelajaran sekolah adalah

semua buku yang dipakai dalam proses belajar mengajar, sebagaimana dikutip oleh Sitepu, B. P. 2012. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sedangkan buku teks sejarah adalah sebuah teks historiografi yang disusun oleh guru, sejarawan dan pakar- pakar pendidikan sejarah yang memadukan kaidah-kaidah keilmuan sejarah dan unsur pendidikan yang mengacu pada kurikulum yang berlaku.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

3.1. Tragedi Kemanusiaan 1965 dalam Buku Pelajaran Sejarah Orde Baru

  Di dalam bukunya, Soeharto: Sisi Gelap Indonesia, Asvi Warman Adam

menyimpulkan bahwa pelurusan sejarah akan menjadi beragam pada zaman

setelah Orde Baru. Namun, bagaimana dengan pelajaran sejarah nasional? Itu soal

  47

lain, katanya. Asvi menjelaskan bahwa peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965

memerlukan tindakan korektif oleh negara tidak hanya dalam aspek yuridis

namun juga dalam aspek ingatan masyarakat. Oleh sebab itu untuk mengelola

  48

ingatan masyarakat perlu diperbaiki pendidikan sejarah dan metode sejarah lisan

oleh para korban.

  Dewasa ini, kedudukan buku teks menjadi semakin sentral dalam proses

mengajar di ruang kelas karena guru merasamsulit dan berat untuk

mengembangkan sendiri materi pelajaran yang diajarkan karena faktor internal

dan tuntutan institusi. Terlebih lagi, pada tahun 2005 Departemen Pendidikan

Nasional mengeluarkan peraturan No.11 Tahun 2005 tentang Buku Teks

Pelajaran. Pada Pasal 3 ayat 1 tertulis bahwa buku teks pelajaran untuk setiap

mata pelajaran yang digunakan pada satuan pendidikan dasar dan menengah

47

dipilih dari buku-buku teks pelajaran yang telah ditetapkan oleh menteri

Asvi Warman. 2004. Soeharto: Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Ygyakarta: Ombak, hal. 28.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

berdasarkan rekomendasi penilaian kelayakan dari Badan Standar Nasional

Pendidikan (BSNP) tahun 2005.

  BSNP menetapkan empat kriteria utama yaitu materi, penyajian, bahasa,

keterbacaan dan grafika. Ketentuan BNSP ini berlaku untuk teks semua mata

pelajaran, dan khusus untuk buku teks sejarah BNSP tidak mampu mencermati isi

di dalamnya. Model penulisan sejarah harusnya mencakup dua ideologis, yaitu

pewarisan dan akademik. Buku teks di satu sisi harus mampu menjadi media

pewaris, tetapi di sisi lain harus dapat dipertanggung-jawabkan secara akademik.

  

Penulisan sejarah nasional juga harus tidak lepas dari keseimbangan wacana,

seperti yang dikatakan Sartono Kartodirdjo tentang penulisan sejarah nasional,

yaitu sejarah harus mampu mengungkapkan “sejarah dari dalam” dimana bangsa

Indonesia sendiri memegang peranan pokok. Kedua, menguraikan faktor atau

kekuatan yang mempengaruhinya, baik ekonomi, sosial, maupun politik ataupun

kultural. Ketiga, mengungkapkan aktivitas pelbagai golongan masyarakat, tidak

hanya bangsawan atau ksatria, tetapi juga dari kaum ulama atau petani serta

golongan-golongan lainnya. Keempat, sejarah harus disusun sebagai suatu sintese,

dimana digambarkan proses yang menunjukkan perkembangan ke arah kesatuan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

adalah wacana sejarah dalam pendidikan nasional harus memperhatikan

keberimbangan yaitu, mewadahi fenomena historis dari berbagai golongan.

  Penelitian menempatkan data tekstual tentang Tragedi Kemanusiaan 1965

dari jaman Orde Baru sampai paska Orde Baru. Data tekstual yang digunakan

adalah buku yang digunakan dalam pelajaran sejarah di tingkat Sekolah

Menengah Atas (SMA) di kota Yogyakarta. Di SMA, materi Tragedi

Kemanusiaan 1965 diajarkan pada kelas XI program IPA semester II dan kelas

  

XII program IPS semester I. Penulis hanya mengambil data dari program IPS saja

dengan alasan pembahasan di buku pelajaran lebih mendalam dan terperinci

daripada program IPA. Selama Orde Baru telah terjadi tiga kali pergantian

kurikulum, yaitu tahun 1975, tahun 1984 dan tahun 1994. Karena kesulitan data

untuk mendapat sumber lebih dari buku teks, maka penulis hanya menggunakan

satu buku yang diterbitkan sebelum tahun 1998, yang akan kemudian ditunjang

oleh analisa dari data wawancara dengan guru yang bersangkutan.

  Bab ini akan menggunakan metode analisa isi untuk meneliti lebih dalam

mengenai kajian buku teks sejarah di berbagai Sekolah Menengah Atas di

Yogyakarta. Buku yang digunakan berjudul Sejarah Nasional Indonesia & Dunia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

tahun 1996 buku ini digunakan untuk kelas tiga Sekolah Menengah Atas dan

disusun oleh Tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Propinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta.

  

Gambar 2. Sampul Luar buku Pelajaran Sejarah berjudul Sejarah Nasional Indonesia & Dunia Jilid

III, Disusun oleh Tim MGMP Sejarah SMU Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 1996.

  Tragedi Kemanusiaan 1965 diulas di catur wulan pertama atau terdiri dari

dua puluh empat jam pelajaran. Pada pengantar disebutkan program

pengajarannya antara lain menelaah terjadinya pengkhianatan Gerakan 30

September/PKI dan penumpasannya. Indikator pada bahasan tentang kontroversi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

Gerakan 30 September 1965. Pada masa Orde Baru, indikator pencapaian pada

materi Tragedi Kemanusiaan 1965 adalah:

  49 (1) Mengidentifikasi strategi politik

PKI masa demokrasi liberal dan terpimpin, (2) Mengidentifikasi aksi-aksi sepihak

  

PKI sebelum G30S/PKI 1965, (3) Menunjukkan kaitan antara gerakan 30

September dengan dewan revolusi, (4) Menjelaskan bahwa Gerakan 30 September

adalah aksi perebutan kekuasaan yang sah, (5) Mengidentifasi nama-nama dalang

di balik G30S/PKI, (6) Menganalisa kebenaran isu adanya dokumen Gilchrist

  50 ,

(7) Menerangkan prosesi pengangkutan jenazah korban kebiadaban PKI di

  

Lubang Buaya, (8) Menyebutkan upaya-upaya penumpasan G30S/PKI 1965, (9)

Menjelaskan akibat sosial politik G30S/PKI 1965, (10) Mengidentifikasi adanya

bahaya laten komunis. 49 Indikator ini ditulis di blog www.sejarahkritis.wordpress.com yang berjudul Tipe Pembelajaran Sejarah Kontroversial, oleh tsabitazinarahmad. Tanggal unggah 2 April 2012.

  Penulis blog melakukan penelitian mengenai kontrovesial wacana G30S dan Supersemar di sekolah. Sedangkan 10 indikator yang tertulis berdasar oleh penelitiannya di kota Semarang yang didapat dari Lembar Ujian Kompetensi Siswa, disusun oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah. 50 Dokumen Gilchrist (bahasa Inggris:Gilchrist Document) adalah sebuah dokumen yang dahulu banyak dikutip surat khabar pada era tahun 1965 yang sering digunakan untuk mendukung argumen untuk keterlibatan blok Barat dalam penggulingan Soekarno di Indonesia. Namun dokumen tersebut kemungkinan besar palsu atau sebenarnya tidak ada. Dokumen ini konon sebenarnya berasal dari sebuah telegram dari Duta Besar Inggris di Jakarta yang bernama Andrew Gilchrist yang ditujukan kepada Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris. Pada Mei 1965 sejumlah anggota Pemuda Rakyat yang menyerbu vila milik Bill Palmer, distributor film Amerika di Puncak, Bogor, Jawa Barat yang diduga jadi mata-mata CIA. Saat itu para pemuda juga menemukan dokumen yang memuat telegram rahasia Sir Andrew Gilchrist kepada atasannya di Kementerian Luar Negeri Inggris tentang kemungkinan kerjasama antara Inggris dengan Angkatan Darat Indonesia (Our local Army friends) serta rencana gabungan Inggris-AS untuk mengintervensi Indonesia. Sumber: http://historia.co.id/?d=703 . 17 Maret 2011.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Di dalam buku sejarah terbitan Orde Baru ini sangat bernuansa sistem

politik. Pengaruh tersebut terlihat jelas dalam isi dan materi yang mengagung-

agungkan rejim tersebut sebagai pengamal ideologi Pancasila. Namun terlihat

jelas bahwa cara Orde Baru kental dengan sikap diskriminatif terhadap rejim

sebelumnya yang dianggap banyak melakukan penyimpangan dan historiografi

resmi sejarah nasional harus seijin dari militer, apabila tidak ada seijin dari yang

bersangkutan maka akan dianggap sebagai historiografi yang tidak resmi. Seperti

yang tercantum dalam buku pelajaran sejarah terbitan 1996 ini dari judul sub-bab

untuk topik Tragedi Kemanusiaan 1965 diberi judul Pengkhianatan G30S/PKI,

masuk dalam bab pertama untuk pembahasan.

  Sub bab ini terdiri dari tiga bagian. Pertama, pengkhianatan G30S/PKI

yang membahas kronologi antara lain kronologis peristiwa tanggal 1 Oktober

1965 yaitu dari awal RRI mengenai gerakan militer yang dipimpin oleh Letnan

Kolonel Untung Sutopo yang ditujukan kepada para Jenderal. Kedua,

pembentukan Dewan Revolusi Indonesia. Ketiga, menyiarkan pidato Mayor

Jendral Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Komando Cadangan Strategi

Angkatan Darat, berisi tentang pemberitahuan bahwa Gerakan 30 September

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

Angkatan Darat dan telah mengambil alih kekuasaan negara (coup), seperti yang

tertulis di bawah ini:

  “G. Pengkhianatan G 30 S / PKI dan Penumpasannya …Kesatuan-katuan Aksi, ABRI, semua organisasi politik dan organisasi masa yang setia pada Pancasila dan UUD 1945 berjuang membela kepentingan rakyat. Mereka berusaha menyampaikan Tiga Tuntutan Rakyat (Tri Tura) yaitu:

  a. Bubarkan PKI

  b. Bersihkan Kabinet dari unsur PKI

  c. Turunkan harga Perjuangan mereka lewat konstitusi gagal sehingga mereka menempuh cara lain, yaitu ke jalan. Tindakan ini beberapa kali dilakukan sehingga mengganggu ketertiban umum. Namun akhirnya yang salah tetap salah, dan yang benar akan tampak benar. Pada tanggal

12 Maret 1966 PKI sebagai dalang pemberontakan G 30 S / PKI berhasil dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia.

  Pembubaran PKI tersebut dilakukan oleh Jendral Suharto Selaku

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Supersemar maka MPRS dalam Sidang Umum IV 1966 menetapkan pembubaran PKI dengan Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

  PKI telah bubar namun idiologi Komunis masih ada. Oleh sebab itu kita harus waspada terhadap bahaya laten Komunis. Satu-satunua penangkal idiologi komunis adalah Pancasila. Karena itu setiap warga negara Indonesia harus mau dan mampu menghayati dan memengamalkan

  51 Pancasila sampai titik darah penghabisan” Kronologis peristiwa diatas adalah satu-satunya wacana yang berlaku pada

saat itu. Kurang lebih semua buku pelajaran sejarah di sekolah Yogyakarta

menggunakan versi yang sama dan telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan

Nasional. Dengan mengikuti kurikulum 1994, bukan berarti permasalahan

politisasi kurikulum selesai, melainkan justru permasalahan menjadi semakin

  52

kompleks. Dari buku sejarah terbitan tahun 1996 diatas, mengacu pada

kurikulum yang sarat dengan berbagai pengetahuan yang makro dan sepihak,

sehingga untuk situasi mikro bagi Indonesia dianggap kurang relevan. Menurut

51 Siti Waridah Q dan J. Sukardi. 1996. Penunjang: Sejarah Nasional Indonesia & Dunia.

  Yogyakarta, hal. 58.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

Katherine McGregor, rejim Orde Baru juga digambarkan sebagai rejim yang

  53 otoriter karena pengendaliannya yang ketat terhadap pendidikan dan media.

  Kekuasaan dalam pendidikan sejarah yang diimplementasikan dalam buku

mata pelajaran sejarah terbitan 1994, berorientasi pada legitimatif. Sebagaimana

yang dikatakan oleh Apple dalam bukunya IdeologyandCurriculum maka

kurikulum yang berlaku sebenarnya merupakan sarana indoktrinasi dari suatu

  54 sistem kekuasaan.

  “Namun akhirnya yang salah tetap salah, dan yang benar akan tampak benar. Pada tanggal 12 Maret 1966 PKI sebagai dalang pemberontakan G 30 S / PKI berhasil dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia.

  Pembubaran PKI tersebut dilakukan oleh Jendral Suharto selaku pemegang Supersemar 1966.

  Menurut Apple, pengetahuan adalah suatu kapital dan kapital merupakan

sumber dari suatu kekuasaan. Tidak mengherankan bila pemerintah mempunyai

kepentingan untuk menguasai pendidikan dan khususnya kurikulum pada jaman

Orde Baru. Melalui kurikulum inilah terjadi proses indoktrinasi, yaitu proses

untuk melanggengkan struktur kekuasaan Orde Baru melalui pendidikan. Seperti

  53 Katherine McGregor. 2008. Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam 54 Menyusun Sejarah Indonesia. Syarikat. Yogyakarta, hal. 66.

  

Michel W. Apple. 1979. Ideology and Curriculum, Chapter 2: Ideology and Cultural and

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  55

dijelaskan pada bab 1, kurikulum berfungsi sebagai doxa yang mengatur dan

mengarahkan tingkah laku para murid dan bahkan gurunya.

  Apabila kurikulum berisi indoktrinasi maka cara mengajar juga akan

mengikuti pola indoktrinasi. Apa yang dalam buku sejarah adalah mutlak pada

saat itu dan harus dipercaya kebenarannya, dan pada saat itu yang tertulis dalam

buku sejarah adalah pendiskreditan satu pihak tertentu. Manajemen pendidikan

yang cocok dengan proses indoktrinasi tentunya haruslah terpusat dan terkontrol.

Yang diterapkan dalam sistem yang demikian adalah manajemen berdasarkan

kontrol (Management by Control) dan bukan manajemen yang berdasarkan tujuan

(Management by Objective).

  Buku pelajaran yang digunakan pada tahun 1994 sangat kental dengan

faktor subjektifitas. Hasil interpretasi yang sangat subjektif ini timbul karena

adanya permintaan dari penguasa Orde Baru, sebaliknya menurut Haryono dalam

bukunya yang berjudul Mempelajari Sejarah Secara Objektif, penulisan sejarah

haruslah se-objektif mungkin yaitu memaparkan berbagai fakta, terlepas dari apa

  56 55

yang penulis sukai atau tidak. Peranan ABRI dan militer juga sangat besar

56 Pierre Bourdieu. 1977. Outline Theory of Practice. London: Cambridge University Press.

  

Haryono. 1995. Mempelajari Sejarah Secara Efektif. (Andre Bagus Irshanto, di paper

kontroversi sejarah)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

dalam buku pelajaran ini, karena banyak insan militer memegang jabatan kunci

dalam birokrasi dan seolah-olah ABRI dan militer adalah penyelamat bangsa

karena telah berhasil membantu menumpas komunis pada saat itu.

  “Akhirnya rakyat dan ABRI yang setia pada Pancasila mengadakan rapat raksasa dan mengutuk G 30 S / PKI serta mengumandangkan slogan bubarkan PKI, gantung Aidit, dan lain-lain.”

  Sepanjang pemerintahan Orde Baru, militer memang memegang peranan

penting dalam birokrasi dan alat politik pemerintahan karena menjadi semacam

pemerintah bayangan dalam setiap regional. Seperti yang diungkapkan Drs.

57 Ponirin di Jurnal Jasmerah :

  “Dari buku-buku sejarah Orde Baru tampak jelas bagaimana narasi sejarah tunggal atau seragam telah dibangun canon yang berguna untuk kepentingan Orde Baru dan militer, yakni 1) Sebagai legitimasi naiknya Orde Baru ke panggung politik guna memimpin Indonesia dengan cara memproduksi versi peristiwa Gerakan 30 September yang tabu untuk diperdebatkan selama Suharto memimpin. 2) Sebagai pengokohan kekuatan militer di Indonesia dengan menempatkan militer sebagai penyelamat bangsa dan penjaga stabilitas politik dan ekonomi republik ini. Orde Baru dan militer dalam narasi sejarah Indonesia versi Orde Baru diinterpretasikan dalam seragam yang sama. Dengan kata lain, sejarah yang dibangun adalah untuk melegitimasi rezim, baik itu Orde Baru maupun kolektivitas militer. Keduanya dapat diberi garis pembeda, tetapi tidak dapat dipisahkan. Bilamana berbicara tentang Orde Baru, maka ada militer di dalamnya, dan militer merupakan bagian dari kekuatan Orde Baru.”

57 Ponirin. 2012. Nasionalisme dan Patriotisme. Medan: Jurnal Jasmerah UNIMED, yang dikutip

  oleh Andre Bagus Irshanto, untuk tugas mata kuliah Kajian Buku Teks berjudul

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Pelajaran ini juga berusaha mengkaitkan. Pancasila dengan Orde Baru,

indoktrinasi yang digunakan adalah menciptakan ikatan antara rezim dengan

  58 Pancasila dan selanjutnya ikatan rakyat dengan rezim. Rezim Orde Baru sangat

kental dengan nilai-nilai patriotik bahwa militer adalah pembela negara terhadap

ancaman-ancaman internal dan ideologis dalam negeri. Di dalam buku ini juga

terdapat banyak sekali unsur-unsur ideologisme kepentingan Orde Baru yang

tujuannya menerapkan Pancasila dan UUD 1945 secara utuh dalam segala aspek

dan menilai bahwa Orde sebelumnya cenderung tidak mensejaterahkan

masyarakat Indonesia. Gaya penulisan buku teks sejarah pada masa Orde Baru

juga terlihat sangat subjektif, karena pada masa itu yang dianggap sejarah resmi

nasional adalah wacana sejarah yang disetujui oleh pemerintah dan anggota

militer.

3.2. Perubahan Teks Tragedi Kemanusiaan 1965 setelah Orde Baru

  Seperti diutarakan pada bab-bab sebelumnya, bahwa peristiwa Tragedi

Kemanusiaan 1965 masih menjadi kontroversi di dunia pendidikan, terutama

58

tentang historiografi penulisan yang sangat subjektif sifatnya. Menjadi pertanyaan

Katherine McGregor. 2008. Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

penting apakah Indonesia di masa setelah Suharto akan menghasilkan kurikulum

sejarah yang lebih objektif sifatnya ataukah masih ada sisa-sisa dominasi Orde

Baru dalam pelajaran sejarah di sekolah. Penulis berhasil mendapatkan tiga buku

pelajaran yang resmi digunakan beberapa sekolah di Yogyakarta untuk mengajar

sejarah dengan topik Tragedi Kemanusiaan 1965. Ketiga buku ini diterbitkan

paska Reformasi 98, dua diantaranya dicetak oleh penerbit resmi negara disertai

dengan hak cipta, sedangkan satu buku yang berbentuk jurnal digunakan untuk

mengajar pelajaran sejarah di sekolah menengah atas Katolik disusun sendiri oleh

guru sejarahnya sendiri.

  Dari dua buku terbitan resmi Erlangga dan Yudhistira, terbitan tahun

2006 dan 2002. Agak berbeda dari buku pelajaran terbitan Orde Baru, kedua

buku ini mempunyai keterangan standar isi yang dalam bahasa pendidikan disebut

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Sejarah SMA Kelas

  XII. Isinya adalah: Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

1. Menganalisis

  1.1. Menganalisis peristiwa sekitar Proklamasi 17 perjuangan bangsa Agustus 1945 dan pembentukan pemerintahan Indonesia sejak proklamasi Indonesia hingga lahirnya Orde Baru

1.2. Menganalisis perkembangan ekonomi-keuangan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    dan politik pada masa awal kemerdekaan sampai tahun 1950

  1.3. Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia daam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman disintegrasi bangsa terutama dalam bentuk pergolakan dan pemberontakan (antara lain: PKI Madiun 1948, DI/TII, Andi Aziz, RMS, PRRI,

Permesta, G-30-S/PKI)

  1.4. Menganalisis perkembangan politik dan ekonomi serta perubahan masyarakat di Indonesia dalam upaya mengisi kemerdekaan

2. Menganalisis proses

  2.1. Menganalisis perkembangan pemerintahan Orde berakhirnya pemerintah Baru Orde Baru dan terjadinya

  2.2. Menganalisis proses berakhirnya pemerintah Reformasi Orde Baru dan terjadinya Reformasi

  2.3. Menganalisis perkembangan politik dan ekonomi serta perubahan masyarakat di Indonesia

pada masa Reformasi

Standar kompetensi diatas sebagai pemenuhan fungsi pengajaran sejarah

yang menurut Prof. Sartono Kartodirdjo ada tiga fungsi utama pembelajaran

sejarah, yaitu fungsi pragmatis, genetis dan didaktis. Fungsi sejarah yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

pragmatis amat nampak bila sejarah sebagai legitimasi serta yustifikasi eksistensi

suatu bangsa dan negara. Fungsi genetis adalah sejarah sebagai sarana

pengungkapan tentang bagaimana peristiwa itu terjadi, asal mula peristiwa itulah

yang ditekankan. Fungsi didaktis adalah peristiwa masa lalu harus diambil hikmah

  59 dan pelajaran sehingga menjadi nilai-nilai bagi generasi setelahnya.

  Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan

untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator

pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sehingga dalam setiap kegiatan belajar-

mengajar diperlukan evaluasi bertahap untuk mengukur hasil pembelajaran secara

komprehensif apakah sudah mencukupi untuk pemenuhan fungsi-fungsi

pengajaran sejarah tersebut. Di dalam tabel kompetensi dasar di atas, Tragedi

Kemanusiaan 1965 masuk dalam pembelajaran sejarah semester satu dan masuk

dalam sub-bab topik pergolakan dan pemerintahan. Di sini bisa terlihat bahwa

peristiwa tersebut diasosiasikan dalam gerakan yang merupakan ancaman bagi

stabilitas nasional. Hal tersebut diperkuat peta konsep pada bab tiga di buku

59 Sartono Kartodirjo. Kompas, 26 September 1998 yang dikutip di buku Strategi Pembelajaran Sejarah. 2001. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, hal. 83.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    60

pembelajaran topik tersebut, di buku terbitan Yudhistira , karangan Prof. Dr. M.

  Habib Mustopo dkk, berjudul Pemberontakan G-30-S/PKI, isinya:

Gambar 3. Peta Konsep untuk pembelajaran Bab 3, Perjuangan Terhadap Ancaman Disintegrasi

Bangsa di buku teks sejarah dari Penerbit Yudhistira. 2010. Halaman 78.

  Peta konsep diatas memadukan ilmu sejarah yang diakronis, yaitu

mengkaji secara vertikal suatu peristiwa atau fenomena yang sama dengan

memperhatikan kronologis dan bersifat sinkronis yaitu mengkaji suatu peristiwa

atau fenomena secara horisontal pada waktu dan tempat yang berbeda dalam

setiap penjelasan periodenya. Namun jika melihat dari bagan sebab akibat dan

60 M. Habib Mustopo dkk. 2002. Sejarah SMA Kelas XII Program IPS Kelas 3. Yudhistira, hal.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

peristiwanya, peta konsep diatas tidak mengikutsertakan akibat dan dampak

lahirnya Orde Baru dan pelarangan terhadap Partai Komunis Indonesia.

  Masuk di bagian pembahasan tentang PKI, buku terbitan Yudhistira ini

mengawali dengan Pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948 dan

dijabarkan betapa dekat hubungan PKI dengan Sukarno pada saat itu. Cara

penyampaian buku ini ternyata juga masih dipenuhi dengan sikap subjektif

dengan menjelaskan bahwa PKI identik dengan aksi-aksi brutal dan vigilantis,

contohnya seperti yang dijabarkan pada halaman 100-107:

  ”…PKI mendasarkan politiknya atas analisis Marxis mengenai keadaan yang konkrit dan perimbangan kekuatan.” Berdasarkan pernyataan ini PKI mulai mengambil langkah-langkah persiapan untuk mengimbangi cara parlementer dengan cara lain, yaitu cara-cara kekerasan.”

  Dari situ kemudian dijelaskan bentuk-bentuk kekerasan apa saja yang telah dilakukan PKI sebelum peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965, seperti sabotase, aksi masa dan aksi sepihak, teror, perusakan, agitasi dan propaganda. Buku ini adalah buku pengganti setelah cetakan sebelumnya telah ditarik oleh Kejaksaan Agung terkait dengan pelarangan peredaraan buku-buku sejarah dengan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 19/A/JA/2007 tanggal 5 Maret 2007 yang isinya melarang peredaran dan penggunaan sejumlah buku pelajaran

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sejumlah fakta pemberontakan PKI di Madiun dan tidak menyertakan kata PKI di belakang G-30-S. Di beberapa daerah, bahkan terjadi aksi pembakaran buku-buku teks sejarah. Buku-buku yang dimusnahkan antara lain Kronik Sejarah Kelas 1

  

SMP dengan penerbit Yudhistira, Manusia Dalam Perkembangan Zaman penerbit

  Ganeca Exact, Sejarah 2 untuk SMP penerbit Erlangga, Sejarah 3 untuk SMP penerbit Erlangga, Sejarah Nasional 1 SMA penerbit Bumi Aksara, Sejarah

  

Nasional dan Umum 1 SMA penerbit Balai Pustaka serta beberapa buku yang

  mengacu pada kurikulum 2004. Mereka menuntut untuk semua buku teks resmi terbitan paska Orde Baru menggunakan kata PKI, hal ini telah menimbulkan perdebatan di antara banyak pihak. Pada saat itu Menteri Pendidikan Nasional beserta dengan beberapa saksi dan ahli sejarah dipanggil untuk menyelesaikan masalah ini seperti Taufik Ismail, mantan sastrawan dan K.H. Yusuf Hasyim, selaku Pelaku dan Saksi Sejarah yang menginginkan supaya versi yang ditulis di buku teks sejarah adalah G30S/PKI bukan hanya G30S saja karena mereka berpendapat bahwa PKI adalah pihak yang bersalah dan pelaku dari penculikan para jenderal Angkatan Darat di Lubang Buaya, disertai dengan kekacauan stabilitas nasional yang terjadi setelah peristiwa tersebut. Sedangkan Asvi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  menginginkan ingin meluruskan sejarah yang ditulis oleh Orde Baru dengan kurikulum 2004 yang mengedepankan alternatif analisa dari peristiwa G 30 S

  61 dengan melihat peristiwa tersebut secara multi-dimensional .

  Menurut beberapa sejarawan, peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965 yang

  

bersifat kompleks itu tidak bisa disederhanakan karena banyak pihak yang

bermain dalam peristiwa kelabu tersebut. Saat ini terdapat beberapa versi tentang

dalang di balik peristiwa itu. Buku pelajaran Sejarah yang disusun berdasarkan

acuan standar kompetensi kurikulum 2004 oleh sebuah tim ahli yang

beranggotakan para sejarawan kapabel dengan menggunakan perangkat

metodologi sejarah. Masruhan Samsurie, anggota DPR komisi E DPRD Jawa

Tengah, menyebut buku-buku teks sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI di

belakang G30S tersebut tidak ilmiah dan lebih menggunakan pendekatan politis.

  

Lebih lanjut, dia juga menyayangkan imbauan Masruhan menarik buku tersebut

dari peredaran. Sedangkan, Prof. Dr. Abu Suud tak mempersoalkan ada atau

tidaknya kata PKI di belakang G30S. Yang terpenting, kata dia, buku tersebut

61

tidak menghilangkan data dan fakta yang terjadi di seputar peristiwa 1965.

  

Achdian, Andi. Menuju Masyarakat Sadar Sejarah. Buku Teks Sejarah: Kontroversi

Penarikannya oleh Kejaksaan Agung yang ditulis di blog pribadi onghokham- institute.blogspot.com/2007/10/buku-teks-sejarah-kontroversi.html. Akses terakhir: Oktober

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

Keragaman tafsir di dalamnya harus tetap disampaikan. Di situ guru punya

peranan besar untuk menjelaskan data-data sejarah yang ada. Namun sayangnya,

  62 guru-guru sejarah masih banyak yang berpatron pada tafsir tunggal penguasa.

  Dengan terjadinya polemik mengenai ketidakstabilan kurikulum untuk

pelajaran sejarah, buku-buku teks terbaru yang digunakan oleh beberapa sekolah

menengah atas di Yogyakarta kini seolah kembali ke versi Orde Baru, disertai

beberapa perubahan yang tidak cukup signifikan. Di buku ini dicantumkan

kronologi pemberontakan PKI yang secara horisontal menjabarkan dari awal

persiapan pemberontakan sampai pada penumpasannya. Kedua buku terbiatan

Yudhistira dn Erlangga ini berpendapat bahwa Gerakan 30 September adalah

murni didalangi oleh PKI, dan antek-antek PKI-lah yang membunuh para Jenderal

Angkatan Darat dan membuangnya ke sumur Lubang Buaya. Seperti ditulis pada

halaman 106-107 buku terbitan Yudhistira sub-bab 2)Aksi:

  “Setelah langkah persiapan dinilai cukup, PKI mulai bergerak sesuai tanggal yang diputuskan. Pada dinihari 1 Oktober 1965, PKI melakukan aksi penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap “Dewan Jenderal”. Dalam penculikan itu,

  A. H. Nasution selamat, namun putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya yang bernama Pierre Tendean menjadi korban. Para korban penculikan yang masih hidup maupun yang telah meninggal dibawa ke Lubang Buaya. Korban yang masih 62 hidup adalah Pierre Tendean (ajudan A. H. Nasution), Suprapto, S. Parman, dan

  

Diambil dari forum diskusi di website resmi PPI India (Perhimpunan Pelajar Indonesia di

India) http://permalink.gmane.org/gmane.culture.region.indonesia.ppi-india/12775. Akses

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Sutojo S. Sedangkan korban yang sudah dalam keadaan meninggal adalah A. Yani,

  D. I. Pandjaitan, dan Haryono M. T. Keempat korban hidup mendapat siksaan akhirnya meninggal. Selanjutnya, pada sukwan PKI melemparkan seluruh korban ke dalam sumur.”

  Sedangkan di buku terbitan Erlangga diperkuat dengan beberapa gambar

seperti pada halaman 78 mengenai pembunuhan para jenderal Angkatan Darat

tersebut dan perkembangan situasi pemberontakan:

Gambar 4. Enam jenderal Angkatan Darat dan satu perwira tinggi yang di buku teks Sejarah

terbitan Erlangga, diinformasikan bahwa mereka adalah korban keganasan Partai Komunis

Indonesia karena dibunuh dan dimasukkan ke sumur Lubang Buaya pada tanggal 1 Oktober 1965.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

Gambar 5. Peta peristiwa Gerakan 30 September di Jawa Tengah pada tanggal 1 samai 4 Oktober

1965 yang dimuat di buku teks Sejarah kelas XII. Penerbit oleh Erlangga, 2006.

  Sedikit berbeda dengan penerbit Yudhistira, penerbit Erlangga memberi

wacana alternatif di akhir bab pembahasan tentang Tragedi Kemanusiaan 1965.

  

Menurutnya, peristiwa Gerakan 30 September mempunyai beberapa versi tentang

siapa dalangnya. Meskipun dari awal buku ini mencantumkan kata PKI di

belakang G30S, tetapi penulisan yang multi-naratif di penutupan bab setidaknya

memberi gambaran kepada para guru sejarah dan murid-muridnya tentang versi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

3.3. Ketika Guru Membuat Versi Sejarahnya Sendiri

  Menarik ketika penulis menemukan salah satu sekolah yang dijadikan

sebagai data menggunakan diktat yang disusun sendiri oleh guru sejarahnya

sendiri. Meskipun diawali dengan pencantuman judul Peristiwa G 30 S

(Pemberontakan PKI), yang dimana bisa diartika pemberontakan tersebut

didalangi oleh PKI, namun isi keseluruhan pembahasan bersifat netral dan

memberi banyak versi mengenai Tragedi Kemanusiaan tersebut. Dalam diktat ini

dibahas mengenai berbagai istilah perubahan G30S/PKI menjadi G30S sampai

pada istilah GESTAPU (Gerakah September Tiga Puluh) dan GESTOK dan

menjelaskan beerbagai versi alternatif yang menjadi dalang dari peristiwa Tragedi

Kemanusiaan 1965 seperti pada halaman 15:

  “Teori tentang dalang peristiwa G 30: Teori tentang mengapa dan siapa dalang dari peristiwa G 30 S yang berkembang saat ini ada 6 teori:

  a. PKI

  b. Sukarno

  c. Suharto

  d. Konflik intern AD

  e. USA

  f. Inggris” Di diktat ini juga memberi pilihan bacaan mengenai buku versi alternatif

dari Robert Cribb: The Indonesian Killings, dan membahas dampak sosial dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

psikologis persitiwa tersebut yang memakan korban lebih dari satu juta jiwa.

Kalau melihat dari penyusunan buku teks sejarah seperti ini, harusnya tidaklah

susah bagi guru sejarah untuk melepaskan diri dari gaya penulisan buku teks

sejarah yang konvensional. Penyusunan diktat ini adalah tahun 2009, tentunya

sudah mengalami perubahan dengan memperhatikan polemik-polemik yang

terjadi atas pelarangan buku-buku sejarah resmi.

  Penggunaan diktat adalah cara agar pembelajaran sejarah di ruangan

kelas tidak dibatasi oleh wacana-wacana resmi dari institusi. Buku diktat ini tidak

menjelaskan secara rinci mengenai peristiwa dan kronologisnya, namun memberi

kata kunci dan keterangan sumber sehingga murid bisa mencari sendiri apa yang

dimaksud oleh tulisan itu. Sehingga murid (dan guru) tidak hanya melakukan

praktek pembelajaran hanya semata hafalan belaka dan tidak teralienasi oleh apa

yang dipelajarinya.

  Dengan kondisi pendiskreditan Partai Komunis Indonesia melalui

wacana pendidikan, maka trauma masyarakat terhadap wacana komunis akan

semakin mendalam. Apalagi dalam buku teks resmi Indonesia, peristiwa politik

Tragedi Kemanusiaan 1965 sendiri selalu diasosiasikan dengan gerakan PKI yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

penulisan G30S dianggap sebagai penulisan yang wajar dan tak bermasalah dalam

penulisan sejarah. Di ujian-ujian sekolah, jawaban dari para murid akan

  63

disalahkan jika hanya menulis G30S tanpa PKI. Sehingga apa yang ditulis di

diktat pelajaran sejarah guru ini adalah bentuk tuntutan pelurusan sejarah melalui

pendidikan dari faktor internal. Sejarah adalah pengetahuan, dimana pengetahuan

adalah kuasa. Apa yang dipelajari di buku sejarah, adalah apa yang menempel di

benak para murid jika mempelajarinya.

  Menyikapi beberapa polemik perubahan dalam kurikulum pelajaran

sejarah, guru sejarah tidak perlu terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang

bersifat politik dan paradigmatik, melainkan justru semakin bebas dan merdeka

untuk menjalankan fungsinya sebagai pendidik. Namun tidak bisa berhenti sampai

disitu saja, guru menempati posisi yang serba salah karena kedudukannya lemah

di dalam institusi. Lembaga sekolah menuntut guru sampai pada tahapan-tahapan

dan target tertentu dalam setiap pembelajaran, jadi terkadang guru akan fokus

pada target-target tersebut dibanding memperhatikan kualitas pembelajaran para

63 murid-murid itu sendiri.

  

Achidsti, Sayfa Auliya. Kekerasan Pasca 1965 dan Proyek Pengaburan Sejarah “Formal”.

  Dari situs www.indoprogress.com/kekerasan-pasca-1965-dan-proyek-pengkaburan-sejarah-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    Dari keempat analisa buku-buku teks sejarah diatas dapat disimpulkan

bahwa pelajaran sejarah sebagian besar masih berbicara mengenai kekuasaan dan

menggambarkan pemerintah dengan birokrasinya. Problematika yang timbul

dalam pengajaran sejarah yang menggunakan versi alternatif yang tidak mengikuti

birokrasi institusi memang sangat beresiko dan akan dianggap tidak sesuai dengan

fakta. Sebelum penerbit Yudhistira dan Erlangga, dua buku yang dianalisa diatas

mengganti versi penggunaan kata PKI di belakang G30S, banyak pihak yang

menentang peredarannya. Salah satunya adalah Amien Rais, di artikel Rakyat

64 Merdeka, mengatakan bahwa sungguh bodoh negara ini jika kembali pada

  penyebarluasan ajaran komunisme, marxisme dan leninisme, tambahnya: “Kambing congek saja tidak akan membenturkan kepalanya dua kali. Kalau kita belum bisa mengambil pelajaran dari dua peristiwa bersejarah tersebut ya kita lebih bodoh dari kambing.”

3.4. Respon Guru terhadap Inkonsistensi Kurikulum

  Di bab ini, penulis akan mendiskusikan respon guru-guru sejarah di beberapa Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta tentang kurikulum sejarah khususnya topik Tragedi Kemanusiaan 1965 yang kerap kali berganti-ganti kurikulumnya dan kontennya di buku-buku teks sejarah dari penerbit resmi. Dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  semua wawancara, penulis akan menunjukkan ada respon yang berbeda terhadap perubahan buku teks sejarah. Permasalahan yang muncul adalah apakah pemikiran baru dan historiografi yang kerap berubah juga mempengaruhi cara mengajar guru sejarah di dalam kelas ataukah mereka tetap mengikuti historiografi model Orde Baru yang sarat akan kekuasaan politis.

  Menjadi guru sejarah adalah suatu tantangan tersendiri, semakin lama mengajar akan semakin banyak pula yang diajarkan karena mengikuti peristiwa- peristiwa bersejarah yang harus dimasukkan ke dalam pelajaran. Ternyata tidak hanya kuantitas yang berubah, namun secara konten wacana sejarah juga bisa berubah karena historiografi sejarah Indonesia akan berubah seiring dengan temuan-temuan baru. Tragedi Kemanusiaan 1965 disebut-sebut sebagai wacana yang tidak pernah selesai karena pengkaburan fakta. Maka verifikasi pada penelitian sejarah identik dengan kritik sumber tertulis dan non-tertulis atau

  65 lisan.

  Paska Reformasi 98, seperti disebutkan pada bab sebelumnya, terdapat beberapa perubahan terhadap wacana sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965.

  Beberapa lembaga di luar pemerintahan menuntut penggantian kurikulum di buku

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sejarah dan berusaha menghapus kata PKI di belakang G30S. Mereka beranggapan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa mendiskreditkan hanya satu pihak tertentu, yaitu PKI, melainkan ada beberapa aktor yang tidak pernah disebutkan oleh buku- buku teks resmi sejarah di sekolah-sekolah.

  Usaha itu juga nampaknya tidak sepenuhnya berhasil, karena sejak PSPB yang mengundang reaksi, ternyata kekuasaan Orde Baru masih dilestarikan secara implisit hingga sekarang dan menyusup melalui pendidikan formal. Sehingga buku-buku alternatif sering menimbulkan kontroversi bahkan sikap-sikap anarkisme seperti pembakaran buku, karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Orde Baru. Asvi Warman Adam mengatakan bahwa kontroversi sejarah

  66 mengandung makna perdebatan, persengketaan dan pertentangan.

  Selama ini guru hanya melaksanakan apa yang digariskan dalam uraian kurikulum. Dari hasil wawancara di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Yogyakarta, saat ditanya buku mana yang digunakan untuk mengajar, dia berpendapat bahwa buku-buku sejarah di sekolahnya masih menggunakan versi 66 Orde Baru:

Asvi Warman Adam. Kontroversi: Proses dan Implikasi Bagi Pengajaran Sejarah.

  Disampaikan dalam Seminar Nasional, 28 Mei 2009 di UNS yang dikutip oleh Ketut Sedana

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    “Saya dipanggil ke Bogor dengan guru-guru dari luar Jogja untuk memilih buku teks yang ada di situ, ternyata saat kami harus memilih buku-buku itu, sesungguhnya fakta-fakta yang tersajikan logis, tapi saya ndak tau pasti kerena BSNP itu sendiri juga menghadirkan dosen-dosen perguruan tinggi, yang saya tahu dulu pak Joko Suryo dari Sejarah UGM, nampaknya dari pemerintah belum mengijinkan kalau ada buku sejarah yang mencamtumkan G30S tanpa PKI.”

  Hal yang diungkapkan diatas tidak berbeda jauh dengan beberapa sekolah lain saat ditanya mengenai bahan acuan yang digunakan untuk mengajar, seperti jawaban dari salah satu guru Sekolah Menengah Atas nasional di bawah ini:

  “ya memang kalau buku, bagaimanapun juga kita harus mengikuti apa yang ditetapkan dan disuplai oleh penerbit. Karena mereka langsung datang ke sekolah toh…Tapi beberapa waktu lalu kan sempat ada perdebatan tentang pencantuman kata PKI ya, bagi saya itu tidak masalah selama guru sejarah bisa menggunakan metode yang lain”

  Dari contoh jawaban diatas, bisa disimpulkan bahwa guru mempunyai sifat bebas dalam mengajar di dalam kelas, namun dia tetap harus ikut dalam birokrasi sekolah untuk tetap menggunakan buku teks resmi sejarah. Pada pelaksanaannya, upaya untuk mengajarkan sejarah yang alternatif masih merupakan hal yang baru dan jarang dilakukan.

3.4.1. Ambivalensi dan Sikap “Hanya Sekedar Tahu”

  Pada saat terjadi ketegangan penarikan buku-buku teks sejarah kurikulum

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  bertanggung jawab penuh. Bambang Sudibjo, menteri Pendidikan Nasional yang menjabat pada saat itu, mengambil keputusan untuk kembali ke kurikulum 1994.

  Bagi sekolah yang menggunakan kurikulum 2004 dalam pendidikan sejarahnya, harus kembali ke kurikulum 1994. Tentunya kebijakan ini dilakukannya dengan alasan tidak sesuai lagi dengan semangat Reformasi 98.

  Posisi guru menjadi semakin tidak jelas karena diombang-ambing oleh kurikulum yang harus berubah-ubah, jadi tidak heran saat mereka merasa jenuh pula untuk mengganti-ganti bahan ajar yang sudah ada. Tugas guru sejarah juga akan semakin berat karena mereka hanya diberi satu sampai dua jam mata pelajaran selama seminggu. Pada saat Orde Baru yang mengikuti kurikulum 1994, mata pelajaran sejarah tetap bisa diperjuangkan dua jam pelajaran dalam seminggu, namun sekarang beberapa sekolah dari hasil data, hanya mendapat satu jam pelajaran saja. Padahal untuk memproduksi sebuah pengetahuan, guru membutuhkan waktu lebih supaya bisa memberi persepsi tentang peristiwa sejarah yang tidak hanya menghafal. Hal ini juga dikeluhkan oleh salah satu guru dari hasil wawancara:

  “…kelas 2 – kls 3, kelas IPA itu hanya 1 jam, Bahasa 2 jam, IPS 3 jam. Nah, yang bisa leluasa, idealnya klo sejarah paling tidak 2 jam untuk semua kelas, tapi kalau kelas 10 itu cuma 1 jam itu ya dapat dibayang kan ketika mungkin lokal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    ruanganya jauh-jauh jalan menuju kelasnya, paling pol efektif pelajaran itu paling

bagus ya mungkin cuma setengah jam, jadi kalo setengah jam itu buat apa kan

agak repot”

  Idealnya, di waktu yang tidak banyak itu guru sejarah juga mereproduksi pengetahuan dari ilmu yang sudah ada dan memberi persepsi yang sama persis tertuliskan di buku. Sebagai akibatnya, guru hanya mereduksi makna pengetahuan menjadi sekedar “memindahkan” yang sudah ada. Beberapa guru yang diwawancarai mengetahui wacana-wacana lain yang sudah ada. Seperti contohnya dari pendapat guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Yogyakarta:

  “Jadi tidak ada pergeseran substansi pada masa orde baru maupun masa reformasi gampangnya begitu, tidak ada perubahan subsansial. Jadi tetap di buku itu harus ditulis G30S / (garis miring) PKI misalnya seperti itu. Padahal kan ada wacana lain, Gestok dan seterusnya, Gestapu dan seterusnya. Tidak ada wacana lain, tidak ada wacana substansial perubahan , misalnya ya dibuku-buku itu disebutkan dijelaskan bahwa Tragedi 65 itu memang coup nya PKI. Tidak ada wacana lain. Padahal kalau dari buku-buku sejarah lain misalnya dari desertasinya Hermawan Sulistyo yang kemudian diterbitkan itu, kan di situ banyak sekali wacana, ee.. bukan banyak sekali,, paling tidak ada 6, sory paling tidak ada 5 wacana tentang tahun 65 itu. Sebenarnya pemicu tahun 65 itu siapa?, ada versinya Benedict Anderson, versinya… macem-macem lah.. versi – versi Indonesianis gitu… memang tidak semua versi misalnya Sukarno Sebagai dalang, PKI sebagai dalang, Suharto sebagai dalang, CIA sebagai dalang, kemudian agen rahasia Inggris dan sebagaianya, memang tidak ada yang exact yang pasti siapa yang sebenarnya menjadi penyebap keributan itu. Tetapi kalau di tarik dari semua versi- versi itu, saya kok percaya bahwa, saya makin mendapat pemahaman , peristiwa itu yang saya menganggap justru Partai Komunis Indonesia itu sebagai korban, Partai Komunis Indonesia itu sebagai pelaku sekaligus korban. Nah sekarang wacana Orde Baru sampai sekarang, komunisme , PKI itu kan pelaku jadi pantas untuk di persalahkan, pantas untuk di pesalahkan. Dan di buku-buku pelajaran itu tidak ada

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    discourse, tidak ada wacana lain kecuali ini adalah percobaan kudeta mau menggulingkan pemerintah Indonesia, dan tidak ada konstelasi misalnya pristiwa itu terjadi dalam ketegangan perang dingin.”

  Dari pendapat guru diatas, bisa dilihat dia mengetahui secara kritis mengenai polemik wacana Tragedi Kemanusiaan 1965. Kekritisan memang akan menciptakan disiplin intelektual yang dibutuhkan, mampu mengajukan pertanyaan atas bacaan, penulisan, buku dan teks. Namun saat ditanya mengenai bagaimana mereka menuturkan versi-versi alternatif kepada para murid, jawabnya;

  “ya saya sih mendukung adanya penulisan-penulisan alternatif ya mbak, tapi memang kurikulum yang saya coba lakukan adalah, kurikulum pemerintah versi materi-materi yang di tetapkan pemerintah dalam kurikulum ya saya berikan. Cuma menurut saya itu terlalu kurus, terlalu apa ya? Ibarat kita ini peternak kambing, peternak lembu setiap hari kita ini hanya kasih mereka itu rumput kering dan jerami. Jadi bisa anda bayangkan betapa kurang berkaidahnya asupan seperti ini, kalau kambing dan lembu yang kita pelihara hanya kita beri rumput kering dan jerami, bisa kita bayangkan kualitas produk kita. Nah, ini kan pendidikan ini kan bukan hanya pengajaran, kalau para siswa itu hanya diberi materi yang.. apa namanya… materi materi itu ada bahaya maksud saya hanya sekedar pelatihan menjadi bodoh, stupidifikasi. Kalau tidak hati-hati seperti itu.”

  Dalam wawancara diatas, guru sejarah terlihat mengetahui banyak versi alternatif dari peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965, namun saat dihadapkan dengan transisi pengetahuan kepada para murid, dia tidak berani mengambil resiko untuk memberikan versi tersebut dalam proses pengajaran. Pendidikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  melakukan bentuk pedagogi yang netral, guru sejarah seolah-olah dihadapkan pilihan untuk mengambil posisi kanan atau kiri, hitam atau putih. Yagn terjadi dalam pengambilan data tulisan ini adalah, hal ini terjadi hanya di Sekolah Menengah Umum Negeri. Agaknya mereka memiliki bentuk dan isi yang berhubungan erat dengan kekuasaan di masyarakat, yang membentuk sistem di dalam institusi dan menegaskan dominasi kekuasaan tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

BAB IV REAKSI TERHADAP MULTI-NARASI PELAJARAN SEJARAH

4.1. Tumbangnya Orde Baru

  Kisah tentang pelarangan buku pada jaman Reformasi memang berbeda bila dibandingkan dengan rezim sebelum dan setelahnya. Pembedanya adalah soal reaksi-reaksi perlawanan yang meresponnya. Pada jaman reformasi, ada istilah “teror sejarah” yang maksudnya adalah sejarah telah terwujud menjadi dominan sebuah teror dan mempunyai sifat meneror. Sejarah menjadi teror ketika pelaku-

  67

  pelakunya sengaja memperlakukan sejarah itu sendiri secara langsung. Dalam teror sejarah, ada tokoh yang memegang tunggal kebenaran, dan cirinya mutlak tak bisa terganggu gugat. Hal ini berlangsung sekian puluh tahun karena banyak yang “terteror” oleh wacana kebenaran tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Lukman Hakim Husnan, Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang Sumatera Selatan dalam ingatannya mengenai ajaran tentang Tragedi Kemanusiaan 1965:

  “PKI adalah dosa, walau banyak dari kami tidak mengalami luka sejarah yang barangkali memang pernah mereka torehkan. Selama lebih dari 32 tahun dan 67 sepanjang yang terbaca di literatur-literatur sejarah lazim (resmi), PKI selalu

Slamet Soetrisno. 2003. Kontruksi dan Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Media Pressindo,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    dilukiskan dengan citra negatif. Umumnya, citra negatif tersebut berhubungan dengan cita radikalitas dan separatisme; pemberontakan tahun 1926, pemberontakan tahun 1948, dan terakhir pemberontakan plus pembantaian pada tahun 1965. Dan sejak TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966, perbincangan 68 tentang PKI harus dikemukakan dengan berbisik.”

  Sekarang sejarah menjadi ajang pertarungan antara negara dan masyarakat. Dewasa ini, pertarungan tersebut makin meluas. Di satu sisi, ada pihak tertentu yang ingin memberikan legitimasi atas kekuasaan dengan melakukan rekayasa sejarah. Di sisi lain, demokratisasi pengajaran dan penyebaran pengetahuan sejarah melalui media massa, seperti film dan televisi memberikan kontribusi bagi warga negara untuk menemukan identitas dan menyadarkan mereka tentang politisasi sejarah . Di Indonesia paska cengkraman tirani yang diduga keras melakukan pendistorsian sejarah, diperlukan pemaknaan ulang terhadap penuturan peristiwa masa lalu yang amat penting di Indonesia. Misalnya Gerakan 30 September (G30S) Tahun 1965. Ketika pemerintahan Orde Baru tumbang, maka perubahan di tingkat politik memberikan pengaruh terhadap bergulirnya polemik di sekitar materi pembelajaran sejarah, khususnya yang berhubungan dengan peristiwa Gestapu dan rejim pemerintahan Orde Baru.

68 Tercantum dalam buku Demi Masa Depan: Kumpulan Esai Anak Muda Indonesia tentang

  Tragedi Kemanusiaan 1965-1969. Ed: Hendri F. Isnaeni. Friederich Ebert Stiftung dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Berbagai kajian terhadap peristiwa itu semakin banyak setelah tumbangnya reformasi, dan tidak ada lagi kendala perijinan dan teror bagi siapa saja yang melakukan penelitiannya. Nyatanya karya-karya tersebut memunculkan fakta-fakta baru yang mengejutkan yang sebelumnya belum pernah didengar.

  Perubahan-perubahan semacam itu sebenarnya telah didahului oleh kepentingan

  69

  dan penentangan terhadap praktek developmentalisme . Artinya, secara prinsip sejarah dirumuskan bukan untuk suatu legimitasi atau pendiskreditan suatu kelompok tertentu, melainkan pengungkapan kebenaran dan kenyataan masa lalu tanpa harus ditutup-tutupi.

  Pengungkapan kebenaran sejarah atau biasa disebut rekonstruksi sejarah muncul karena keinginan untuk menghadirkan wacana sejarah yang tidak pernah mereka dapat saat masa Orde Baru. Kejatuhan sebuah rezim dan munculnya berbagai nilai baru yang menyertainya segera diikuti oleh kebutuhan memiliki sebuah konstruksi masa lalu versi alternatif. Persoalan perbedaan wacana baru dan lama terletak pada interpretasi karena tidak sedikit pula wacana alternatif yang 69 menghadirkan fakta-fakta sejarah yang juga menutup-nutupi wacana sebelumnya.

  

Developmentalism atau developmentalisme menurut Sail M. Katz diartikan sebagai

perkembangan atau pergeseran ekonomi suatu negara dunia ketiga menuju kesejaterahan.

  Dalam konteks Indonesia, developmentalisme terjadi pada masa Orde Lama yang condong ke arah politik menuju ke rejim Orde Baru yang lebih menekankan pada kesejaterahan ekonomi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Maka saat semua alternatif sejarah muncul di sekolah, guru sejarah harus mampu menghadirkan semua wacana dan mengajak siswanya untuk berpikir secara kritis untuk melihat keberbedaan tersebut.

  Ada banyak fakta-fakta baru yang bisa dijadikan bahan untuk tambahan kurikulum sejarah. Baik melalui media baca ataupun media alternatif lainnya, namun pada kenyataannya para guru sejarah tidak cukup kreatif untuk menyajikan bahan-bahan baru itu kepada para peserta didik karena banyak faktor yang melatarbelakangi. Pertama, adanya birokratisasi dalam suatu institusi resmi. Para pendidik sejarah merasa tidak berperan untuk memberi bahan-bahan tambahan karena mereka menganggap akan tidak patuh pada birokrasi sekolah dan Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan di satu sisi mereka harus mempertimbangkan ranah kognitif dimana ada target secara kuantitas yang harus dicapai dalam suatu jangka waktu tertentu. Alhasil, dengan menambahkan bahan- bahan yang ada diluar kurikulum yang telah diberikan akan memakan waktu dan takut tidak berhasil menyelesaikan target. Kedua, guru sejarah merasa dalam posisi powerless (tidak berdaya), untuk melakukan perubahan pragmatis.

  Ketakutan-ketakutan untuk memberikan bahan-bahan diluar “tuntutan” institusi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  seharusnya. Mereka tidak mempunyai cukup keberaniaan untuk mengambil resiko jika didapati oleh institusi memberi bahan-bahan tambahan kepada siswa-siswi.

  Sebenarnya ketakutan-ketakutan imajiner semacam ini hanya semacam utopia, dan sering terjadi pada guru sejarah yang sudah mengajar di jaman Orde Baru.

  Penjelasan mengenai poin ini akan dibahas lebih lanjut dengan memberikan bukti otentik wawancara dengan para guru sejarah di sub-bab selanjutnya.

4.2. Sejarah Lisan dan Subjektifitas Masa Lalu

  Metode penggunaan sejarah lisan dapat mengatasi keterbatasan dokumen yang dirasa tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menurut Henk Schulte Nordholt, sejarah lisan sangat penting bagi historiografi Indonesia, bukan saja karena birokrasi pemerintah pada era- Soeharto yang tidak banyak meninggalkan arsip yang terbuka untuk umum, tetapi juga sejarah lisan membuka peluang bagi sejarawan untuk mengalihkan perhatiannya dari versi sejarah dan menyoroti pengalaman-pengalaman yang berada di luar arsip negara. Bahan- bahan sejarah lisan menjadi satu sumber utama dalam penulisan sejarah alternatif.

  Seperti yang dituliskan dibawah ini:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    “Salah satu alasan mengapa prosedur penilaian sumber lisan dan tulisan itu sama adalah karena sumber tulisan sendiri sering didasarkan pada informasi yang dikumpulkan secara lisan. Dokumen dasar yang digunakan sejarawan – surat kabar, laporan intelijen atau polisi, dan sebagainya – ditulis oleh orang-orang yang melakukan wawancara lisan. Dalam hal ini sumber lisan mempunyai kelebihan dibandingkan dokumen tertulis: peneliti bisa kembali kepada orang yang diwawancarai berulang-ulang untuk meminta penjelasan dan gambaran lebih rinci mengenai sesuatu. Kita dapat terus mengajukan pertanyaan kepada 70 narasumbernya.”

  Menurut Bambang Purwanto, sikap masyarakat terhadap sejarah bersifat mendua. Kepercayaan mereka terhadap validitas tulisan sejarah sampai pada titik terendah karena mereka menganggap masih sangat subjektif dan penuh rekayasa

  71 sehingga tidak memenuhi kebutuhan akan wacana yang diinginkan masyarakat.

  Di satu sisi, munculnya tradisi seperti itu sangat membentuk historiografi Indonesia, yaitu sangat memuji sumber tertulis, dalam arti dokumen pemerintah.

  Perdebatan tentang sumber tertulis dalam historiografi Indonesia memunculkan perkembangan penelitian baru yaitu metode penelitian alternatif untuk mereorientasi historiografi Indonesia yang lebih objektif.

72 Sejarah lisan adalah metode menulis sejarah yang bercerita tentang

  wawancara dengan sumber informasi. Inilah yang menjadi metode alternatif yang

  70 John Rossa, Ayu Ratih, Hilmar Farid. 2004. Tahun yang Tak Pernah Berakhir, Memahami 71 Pengalaman Korban 65, Esai-Esai Lisan, Jakarta: ELSAM, hal. 2.

  

Bambang Purwanto. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesianis. Yogyakarta: Ombak, hal. 51.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  dianggap lebih objektif daripada sejarah lisan dan sejarah lisan umumnya lebih berpihak kepada para korban atau pihak-pihak yang selama ini dibungkam

  73

  suaranya . Sejarah lisan dalam sastra Indonesia pertama ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Perawan Remaja di Cengkraman Militer. Yaitu mengenai jugun ianfu Jepang, Pram bertemu dan sekelompok tapol saat ditahan di Pulau Buru bertemu dengan sejumlah perempuan Jawa yang menuturkan kisah hidup mereka.

  Metode sejarah lisan dalam arti komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia untuk mentransfer informasi dan membangun ingatan.

  Di dalam bentuk komunikasi itu, korban membagi informasi seputar kejadian nyata, menunjukkan emosi mereka dan saling bertanya. Manusia mempunyai kecenderungan untuk membagi pengalaman masa lalu mereka dalam bentuk 72 dokumentasi visual maupun narasi retorik, hal ini bertujuan untuk meregenerasi

  

Di bab pendahuluan ”Menyimak Suara Terbungkam” dari buku Suara di Balik Prahara hlm

20-23, Baskara. T. Wardaya, SJ. mengungkapkan pentingnya teknik sejarah lisan bagi 73 sejarahwan.

  

Pengakuan kembali terhadap sejarah lisan juga bergaung ke Indonesia, meskipun terlambat 34

tahun, yakni dimulai pada tahun 1964 oleh sejarawan dari Universitas Indonesia, Nugroho Notosusanto dengan proyek Monumen Nasionalnya yang mengumpulkan data-data sejarah Revolusi Indonesia 1945-1950.Kerja sejarah lisannya lalu dipusatkan pada keberhasilan para perwira TNI Angkatan Darat menggagalkan kudeta Gerakan 30 September 1965 sebagaimana terlihat dalam karyanya, “40 Hari Kegagalan G-30-S”. Sejak tahun itu Notosusanto memfokuskan kerja sejarah lisannya pada upaya menulis riwayat hidup para tokoh militer atau tentang sejarah militer Indonesia.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  kejadian yang tidak dialami generasi berikutnya. Dalam menarasikan pengalaman, harus ada kesinambungan antara topik dan retorika pencerita. Jadi tidak semua pengalaman pribadi bisa disebut sebagai sejarah lisan, dalam hal ini sejarah lisan terkait dengan ingatan kolektif dimana masyarakat Indonesia harus mengetahui cerita tersebut.

  Saat ini sejarah lisan banyak digunakan sebagai metode alternatif untuk melakukan advokasi terhadap para korban kekerasan masa lalu. Kekerasan dan korban memang seperti menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari. Selama ada hubungan kekuasaan yang dilandasi ketidakadilan, selama itu korban ada. Tatanan sosial selalu ada dalam hubungan antar manusia, seperti kata Hannah Arendt yang mengatakan pengakuan bebas dari semua yang terlibat di dalam tatanan tempat kekuasaan itu berlaku. Dasar untuk pengakuan bebas adalah

  74

  keadilan. Ketika pihak yang berkuasa menolak tuntutan keadilan, pengakuan berlangsung atas dasar paksaan atau kekerasan yang melahirkan penindasan dan korban-korbannya, baik korban kekerasan fisik maupun struktural. Sejarah lisan yang berasal dari cerita korban adalah cerita terdomestifikasi dan terpinggirkan.

  Di dalam peperangan paling besar sekalipun, nama korban sengaja digeser dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  75

  sejarah dalam sebuah conspiracy of silence yang dibangun demi kepentingan kekuasaan.

  “Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menggunakan sistem peradilan pengadilan perdata sebagai bentuk advokasi dengan menggugat lima orang presiden melalui sebuah class-action pada tahun 2005. Gugatan ini menuntut kompensasi dan rehabilitasi korban pembantaian massal tahun 1965, dimana diperkirakan 500.000 sampai sejuta warga sipil Indonesia dibunuh. Gugatan ini juga menuntut sebuah permintaan maaf tertulis, dibangunnya sebuah monumen untuk korban 1965, penulisan sejarah yang benar dalam kurikulum nasional, dan

pencabutan peraturan-peraturan yang diskriminatif.” (ICTJ dan Kontras, 2011)

  Itulah pentingnya sejarah lisan, dimana menjembatani para korban dengan generasi setelahnya. Saat, sejarawan konvensional lebih menekankan pentingya dokumen tertulis, namun sejarawan yang sering terlibat dalam metode sejarah lisan berpendapat bahwa dokumentasi tertulis dapat mengandung bias dan

  76

  distorsi. Dalam konteks ini, sejarah lisan mampu memiliki keunggulan komparatif, kuantitatif dan kualitatif sebagai penambahan data tertulis yang sudah ada. Sebagai cabang ilmu sejarah yang sangat tergantung pada ingatan dan teks, sejarah lisan dianggap sebagai kesatuan dokumen pantas diarsipkan karena mampu membangkitkan relevansi pengalaman kelompok minoritas untuk 75 merekonstruksi masa lalu dan munculnya perspektif penulisan sejarah dari bawah,

  

Conspiracy of silence, atau culture of silence, atau budaya diam adalah kondisi dimana sesuatu

terjadi, namun secara sosial tidak dibicarakan atau dibahas oleh subjek pelaku dan yang mengetahui.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sejarah lisan, dalam hal ini mengkaitkan ingatan sebagai sumber sejarah. Penelitian ini menggunakan ingatan dalam bentuk sejarah lisan yang diarsipkan dalam media audio-visual yang digunakan sebagai bentuk stimulasi pengambilan data wawancara dengan guru-guru pelajaran sejarah beberapa Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta.

4.3. Menjadi Guru yang (Mem)Bebas(kan)

  Guru sejarah mempunyai peluang yang sangat sedikit untuk menjadi pengajar yang membebaskan. Pelajaran sejarah, faktanya, adalah pelajaran yang kurang diminati oleh banyak murid karena dianggap sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak berguna di masa mendatang. Maka menjadi suatu tantangan besar bagi seorang guru sejarah untuk membuat pelajaran sejarah disukai dan diminati oleh peserta didiknya. Menghadapi pertanyaan muridnya, G30S/PKI atau G30S mana yang benar? Guru sejarah harus mampu memberi jawaban yang mengajak muridnya untuk berpikir kritis dan mengetahui wacana sejarah dari banyak versi, tidak hanya satu versi saja.

  Pelajaran sejarah yang memebebaskan diimplementasikan di kelas karena

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  pesimis terhadap wacana sejarah karena dirasa tidak lagi berguna dalam pendidikan.Dalam hal ini, peserta didik tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena suatu tantangan yang disadari dalam hakekat materi pendidikan sejarah dalam pendidikan dasar adalah materi tersebut sangat abstrak. Tingkat abstraksi materi pendidikan sejarah disebabkan karena peristiwa sejarah terjadi dalam kurun waktu yang sangat jauh dari kehidupan anak-anak yang bersangkutan. Secara dialektis, pendidikan kritis bisa melemahkan dam melawan reporduksi ideologi dominan. Dan guru sejarah-lah yang melakukan tugas itu, tentunya dengan impian politiknya yaitu, pembebasan.

4.3.1. Mengajar yang Alternatif

  Pendidikan sejarah adalah rekonstruksi sosial, dalam hal ini kurikulum sejarah harusnya disesuaikan dengan kehidupan masa kini yang akrab dengan kehidupan generasi yang mempelajarinya. Salah satu peran pendidikan adalah menciptakan ruang kritis terhadap sistem ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Terjadinya penurunan kualitas pendidikan disebabkan oleh acuh tak acuhnya para pelaku

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  dapat memberi kemampuan kepada anak-anak, untuk merefleksikan tentang yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Sejarah hendaknya tidak dilihat dalam hal fakta yang selalu terkait masalah keakuratan dan kejadian, namun melalui pendidikan sejarah diharapkan dapat menciptakan peran kritis para peserta didik. Adanya penyeragaman versi serta penghilangan fakta mengenai tragedi kekerasan yang terjadi selama ini, menyebabkan terhambatnya sebuah proses ajar sejarah yang humanis.

  “Kalau sudut pandang film G30S/PKI kan film indoktrinasi, artinya itulah pembenaran bahwa pelakunya adalah PKI, tapi paska itu kan kemudian yang tidak pernah terungkap adalah proses pembantaian itu… Salah satu kelemahan utama ya memang daya juang. Artinya kan anak anak itu kan daya juang membacanya kalau nggak benar-benar minat kan nggak akan membaca, tapi kan ketika nonton film bisa, imejnya nonton film kan bukan imej menekan artinya imej refreshing melihat sesuatu, kalau buku cenderung akademis otak, tapi kalau melihat itu kan bisa sambil duduk segala macem.”

  Melihat kondisi tersebut, pengajaran konvensional semacam itu diupayakan dihentikan dengan upaya perlawanan yang melibatkan generasi muda dan lebih tepat jika pendekatannya bersifat teknologis, artinya mengoptimalkan teknologi yang sudah familiar atau diminati di kalangan generasi muda. Maka, salah satu strateginya adalah belajar sejarah melalui media komunitas (video dokumenter, sastra, seni pertunjukan, dan lain-lain). Cara pandang beragam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  HAM di Indonesia. Di samping itu, upaya penyajian sejarah alternatif harus melibatkan murid secara aktif dengan tujuan pemerataan edukasi. Artinya, program-program alternatif harus melibatkan mereka untuk berpartisipasi dalam proses kreatif seperti dialog, pertunjukan seni, workshop sebagai medium pendidikan sejarah kritis.

  Kemunculan berbagai media sejarah alternatif tentang bangsa paska Orde Baru ini, sungguh merupakan sebuah proses dalam meneruskan dan mempertahankan spirit dari kelompok-kelompok non-pemerintah pada era Reformasi. Walau fakta menunjukkan bahwa diseminasi akan karya-karya tersebut berjalan dengan cukup lamban, akan tetapi mampu memompa saraf untuk selalu bekerja dan memahami dunia ke-Indonesiaan kita secara kritis dan humanis. Sejarah alternatif merupakan sebuah pilihan dan kewajiban yang mesti dibangun agar kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu tidak terulang lagi.

  Acuan pengajaran sejarah berdasarkan kurikulum yang berlaku, sepertinya masih menyimpan persoalan terhadap pengajaran sejarah yang berbasis pada anak didik itu sendiri. Mulai dari singkatnya waktu ajar sampai metode pengajaran

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  anak di dalam mengelaborasikan peristiwa sejarah di masa lalu dengan kejadian di masa kini.

  Peranan sekolah adalah sebagai medium pengantara untuk memperolah pengetahuan dan memiliki andil yang cukup besar di dalam perkembangan pengajaran sejarah pada anak. Proses ajar yang terjadi diantara guru dan murid akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pengetahuan murid mengenai peristiwa panjang bangsanya. Tidak hanya itu, proses ajar tersebut mestinya juga menjadi medium dialog untuk mengembangkan kesadaran anak sebagai bagian dari entitas bangsa ini. Guru sejarah memang dituntut menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pengajar agar tepat waktu untuk mentransfer ilmu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Ia dipacu dengan segala tekanan agar tidak keluar dari koridor yang telah disepakati, baik dari Dinas Pendidikan serta Pihak Penyelenggara Sekolah. Maka tak jarang, beberapa kasus di lapangan menunjukan bahwa guru menjadi “tak berdaya” ketika durasi yang diberikan sangat singkat untuk mengajarkan bab mengenai Sejarah Pergerakan Nasional di Indonesia serta terbatasnya media pengajaran yang efektif.

  Metode belajar sejarah yang pasif, menyebabkan seorang anak hanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  serta nilai apa yang sebenarnya terkandung dalam peristiwa tersebut. Anak masih diposisikan sebagai murid (obyek) dari pengajaran sejarah yang baku. Memang diperlukan usaha yang kreatif untuk meretas problematika pengajaran sejarah ini. Hal ini memerlukan pembelajaran yang serius untuk memberikan solusi bagaimana menciptakan proses belajar mengajar yang tidak lagi memposisikan anak sebagai obyek, melainkan subyek.

4.3.2. Film Dokumenter sebagai Media Populer Pengajaran Sejarah

  Metode pengajaran sejarah yang populer pada murid merupakan bagian yang penting terhadap proses belajar. Pengajaran sejarah mesti diupayakan agar tidak hanya memposisikan anak untuk sekedar menghafal nama, tempat, dan tanggal peristiwa, namun lebih mengarahkan anak secara kritis melihat nilai dibalik peristiwa sejarah. Film dokumenter merupakan salah satu media yang memiliki keterkaitan terhadap penulisan narasi sejarah perjuangan bangsa.

  Melalui visual-teks nya, Film dianggap mampu memberikan daya tarik tersendiri bagi anak, guna menyerap cerita di masa lalu.

  Gaya bertutur yang imajinatif, akan memberikan ‘sensasi’ tersendiri dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  heroik, serta perjuangan untuk mencapai cita-cita, dapat mengembangkan daya imajinatif, sehingga menarik dan diminati oleh murid-murid. Secara ideologis, penciptaan sebuah film dokumenter memerlukan perjalan panjang si pembuat film di dalam menganalisa kejadian-kejadian di masa lalu. Semacam representasi dari kronologi peristiwa, cerita dalam film dokumenter menjelaskan bagaimana situasi dan kondisi pada masanya.

  Salah satu judul film yang menarik untuk diperhatikan adalah 40 Years of

  

Silence.Sebuah film dokumenter yang dibuat Robert Lemelson, seorang

  Indonesianis asal Amerika. Film ini merekam wawancara langsung dari para korban Tragedi Kemanusiaan 1965, secara langsung film dokumenter ini melakukan praktik sejarah lisan. Belajar sejarah melalui pendekatan yang berbeda, akan menciptakan ketertarikan tersendiri bagi murid untuk melihat isi dibalik peristiwa masa lalu. Sejarah lisan sangat kuat dengan unsur naratif di dalamnya, demikian pula penyajian film dokementer yang tidak hanya mengandalkan dokumentasi tertulis namun bertujuan untuk merekonstruksi sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965.

  Versi sejarah alternatif dalam penyajian film dokumenter mampu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  pada sumber lainnya, seperti yang dikatakan oleh guru dari sekolah Katolik di Yogyakarta bahwa penyajian sejarah alternatif melalui film adalah salah satu cara yang memudahkan metode pengajaran masa sekarang dengan meninggalkan gaya pengajaran konvensional. Para siswa-siswi cenderung bosan untuk hanya membaca banyak buku yang sangat tebal. Maka penyajian flm dokumenter, yang mencakup indera penglihatan dan pendengaran adalah suatu metode populer yang untuk melihat lebih daripada yang dipelajari selama ini. Dengan film dokumenter, tambahnya, akan membuka peluang sejarah menjadi sebuah narasi alternatif yang mudah dipahami dan menyenangkan untuk dipelajari

  Guru sejarah mempunyai potensi untuk melihat bahwa film dokumenter sejarah alternatif sangat penting untuk diberi tempat dalam proses pembelajaran di kelas. Kata seorang guru dari hasil wawancara setelah menonton film 40 Years of

  

Silence, dia bertutur bahwa film ini memang berbeda kontennya dari film

  Pengkhianatan G30S/PKI, karena film ini adalah film dokumenter yang merekam kesaksian nyata dari para korban. Film semacam ini memang bisa menjadi bahan menarik untuk melakukan praktik pengajaran sejarah yang lebih kritis dengan melihat versi-versi alternatifnya pula.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

4.4 Usaha Penyadaran Kritis Publik melalui Sejarah Alternatif

  Tak banyak media, khususnya mainstream, menyiarkan kejadian serta fakta berimbang mengenai kondisi yang terjadi pada sebagian besar sejarah Tragedi Kemanusiaan di Indonesia. Padahal, apabila kita memiliki keberanian serta konsistensi untuk mendalami peristiwa masa lalu yang menyangkut pernyataan sebelumnya, wacana atas sejarah kemanusiaan bangsa ini begitu menggugah rasa kebangsaan kita. Namun yang tak kalah penting, melihat bagian lain dari perjuangan menuju Indonesia Merdeka melalui angle dari golongan yang selama ini menjadi side-minority.

  Pokok gagasan di awal merupakan narasi besar yang melatarbelakangi film dokumenter ini. Harapannya dapat memberikan gambaran (visual) bagi publik sebagai referensi lain dari nilai kehidupan di tengah aspek sejarah alternatif. Selain itu juga memberikan perspektif lain pada wacana sejarah kemanusiaan yang selama ini tidak diangkat kepermukaan oleh media. Tentu saja hal tersebut terjadi karena kekuasaan politis yang bertujuan melemahkan rasa kebersamaan dalam keberbedaan.

  Film 40 Years of Silence ini akan menggugah rasa kemanusiaan publik

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  kolektif bangsa. Di samping itu, hadirnya film ini ditengah masyarakat luas adalah bagian dari usaha untuk mengurai kembali problematika yang melatarbelakangi konflik rasial di Indonesia. Khususnya bagi para pelajar, film ini akan memberikan pandangan baru di dalam pengajaran sejarah nasional.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

BAB V NEGOSIASI DAN RESISTENSI GURU SEJARAH

5.1. Resistensi untuk Keluar “Batas”

  Sebagai guru sejarah, mereka bisa menemukan bagaimana proses didominasi oleh ideologi dominan dan menarik jarak dengan kekuasaan tersebut.

  Oleh sebab itu, mereka dapat belajar tentang bagaimana menjadi bebas melalui perjuangan mengajar dalam dunia pendidikan. Muncul kecenderungan baru dalam lembaga pendidikan formal bahwa guru-guru mengajar hal-hal yang bukan menjadi bagian dari apa yang diyakininya karena mereka tunduk kepada pengawasan institusi tempatnya mengajar.

  Menurut Alisjahbana, desentralisasi pendidikan di Indonesia dilaksanakan pada tiga tingkatan, yaitu level distrik atau kebijakan tempat dimana mereka mengajar. Kedua adalah desentralisasi pada level sekolah, yaitu memberi kewenangan kepada para sekolah untuk mengatur dan menyelenggarakan proses pendidikan di sekolah, dan terakhir adalah desentralisasi pendidikan pada level guru. Furu di sekolah diberikan otonomi yang lebih besar, sehingga mereka dapat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Demikian halnya dengan guru sejarah, mereka seyogyanya mempunya wewenang untuk melakukan metode pengajaran yang menarik dalam proses belajar-

  77 mengajar.

  Sebagaimana diketahui sistem pendidikan di Indonesia saling berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa sosial lainnya, terutama untuk pelajaran sejarah sangat dipengaruhi oleh sistem politik. Hal ini mempengaruhi posisi peranan pendidikan di masyarakat karena masih menggunakan sistem sentralistik, diaman pedidikan dapat dijadikan sebagai alat politik pemerintah atau disebut dengan politisasi pendidikan, dimana penguasa menjadikan pendidikan sebagai alat kekuasaan.

  Dalam pelajaran sejarah, guru memegang peranan penting untuk diberi kewenangan di tengah-tengah politisasi pendidikan tersebut. Guru-guru pada masa Orde Baru dituntut untuk menanamkan dalam diri para murid keyakinan dan “kebohongan” yang dipandang berguna oleh mereka yang mengawasi dan memerintahkannya. Adanya versi-versi sejarah yang berubah, terkadang membuat guru sejarah merasa malas untuk mengajak murid-muridnya berpikir kritis dengan 77 menganalisa semua versi sejarah tersebut.

  

Armina S. Alisjabahna. 2000. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Bandung.

  Dalam H.M. Zainuddin. Reformasi Pendidikan: Kritik Kurikulum dan Manajemen Berbasis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Di tahun 2013 sudah banyak sekali akses-akses untuk mendapatkan bahan- bahan pengajaran alternatif yang dapat dipakai untuk mengajar, namun guru sejarah yang tidak progresif cenderung enggan untuk memberi bahan-bahan alternatif tersebut dengan berbagai alasan, contohnya seperti yang dikatakan oleh salah satu guru dari SMA Negeri Yogyakarta:

  “lha saya itu tidak punya waktu untuk cari-cari film yang lain mbak, ya kalau mbak punya bisa saya pinjam. Kalau cari sendiri ya saya juga nggak tahu dimana carinya, terus saya nggak ngerti cara nyetel alatnya gimana. Belum lagi cuma 45 menit ngajar untuk nonton film yang 2 jam, tahu sendiri kan mbak anak-anak itu kalau keluar kelas disuruh pindah ruangan audio-visual gimana, masih guyonan dulu, jadi efektif waktu cuma setengah jam”

  Dari pernyataan salah satu guru diatas bisa dilihat bagaimana guru bersikap skeptis terhadap perkembangan pelajaran sejarah. Pendidikan sejarah- pun selamanya akan bersifat konvensional jika guru sejarahnya malas untuk menemukan cara-cara baru dalam mengajar. Kekuasaan Orde Baru telah membentuk pandangan ini, mereka terbiasa dengan sikap menerima apa yang harus diajarkan oleh pemerintah, dan tidak boleh memberi alternatif lain diluar pengajaran yang ditetapkan tersebut. Paket-paket pengajaran menjadi alat-alat

  78 propaganda dari birokrasi besar dengan misi dan kepentingannya.

78 Mangunwijaya. 2008. Pendidikan yang Memerdekakan Rakyat. Yogyakarta: CV. Diandra

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    “Jangankan siswa, lha wong gurunya saja masih memperdebatkan berbagai versi. Malah ketika forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah mempertanyakan, apakah ketika banyak terbit buku putih ini dan itu malah berdampak pada kebingungan siswa ? Saya tegas mengatakan, sejarah kan sesuatu yang tidak final, ada hukumnya ketika ditemukan fakta dan bukti baru, yang lama harus gugur ya kan.. Guru-guru harus memahami hal seperti itu. Karena para guru telah terjebak status-quo tadi, pokoknya enggan berpikir lain. Saya memaklumi itu, toh mereka adalah pekerja-pekerja teknis saja. Guru itu kan pekerja teknis ya, jarang ada yang berupaya untuk mengadakan pembaharuan pada bidangnya. Jadi ketika harus didistorsi seperti sekarang pun harus terima-terima sajalah. Bayangkan saja, kita selama 32 tahun diindoktrinasi seperti itu, sehingga sudah menjadi dogma ya.. Sejarah lalu didogmakan seperti itu. Sebagaimanapun itu, harus ada perubahan narasi. Karena kehidupan berbangsa dan bernegara ini kedepan ini akan sangat berbahaya, ketika dibalik itu tidak ada kejujuran. Pembantaian yang memakan nyawa sekian ratus ribu dianggap biasa saja, ini sesuatu yang berbahaya menurut saya. Ndak usah diutik-utik.. ndak usah dimunculkan lagi.. dengan pendekatan HAM misalnya. Ini kan bahayanya ke depan, sesuatu yang kita lakukan kekerasan apapun akan dianggap hal yang biasa,ketika peristiwa yang sebesar itu terjadi lagi, toh juga nantinya dianggap biasa saja.”

  Menanggapi guru yang yang memiliki resistensi cukup besar terhadap institusi tempatnya mengajar seperti diatas, tentunya akan menarik saat bertanya bagaimana posisinya dalam lembaga formal. Katanya, ternyata tidak semua guru di Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta berani mengambil resiko untuk memberi wacana alternatif tentang Tragedi Kemanusiaan 1965. Memang semua dari mereka mengetahu adanya versi-versi lain di luar buku-buku teks resmi dari Menteri Pendidikan Nasional. Namun hanya beberapa dari mereka yang mau mengimplementasikannya dalam proses belajar di kelas.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Saat mengadakan workshop tentang proses pembelajaran alternatif yang diadakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, salah satu guru dari Sekolah Menengah Atas beragama di Yogyakarta mengatakan bahwa dia tidak mau mengambil resiko karena mengambil jalan di luar yang ditentukan. Hal ini bisa dilihat bahwa pelajaran sejarah masih sangat dikuasai oleh lembaga resmi pemerintahan sehingga masih ada tingkat kekuasaan dan ketakutan bagi guru sejarah. Namun, tambah guru di lain sekolah, pembatasan pelarangan buku tidak bisa dilakukan lagi, karena kontroversi selalu bisa diakses oleh murid melalui media sosial dan teknologi.

  Berbicara secara sempit, sekolah adalah lembaga total (total institution)

   

  yang mengawasi kehidupan para ‘penghuninya’. Termasuk menurut Saya Sasaki

79 Shiraishi adalah pemisahan anak-anak ke dalam celah sosial dalam masyarakat.

  Sebagai lembaga formal, sekolah jaman Orde Baru memberi pengajaran secara indoktrinasi, doktrin-doktrin yang tertanam melingkupi nilai-nilai benar-salah, hitam putih, bahkan penguasa-tertindas. Dalam buku Pahlawan-pahlawan Belia, Saya Sasakhi Shiraishi menempatkan sistem persekolahan sebagai kontinuitas

  79

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  seluk beluk kekuasaan Orde Baru dan konsep bapak-anak pun dianalogikan di Bab VI dalam buku itu sebagai guru yang harus dihormati muridnya.

  Seperti dijelaskan di beberapa bab sebelumnya sebelumnya, Soeharto, seperti yang terekam dalam otobiografinya, justru menganggap menteri- menterinya sebagai anak-anaknya sendiri. Ia juga menggeser arti tut wuri

  

handayani Tjipto Mangunkusumo yang pada masanya adalah bentuk alternatif

  dari pendidikan Belanda yang terlalu mengatur anak. Tut wuri handayani yang semula adalah ‘membebaskan anak untuk berinisiatif’, oleh Suharto diartikan “pengawasan anak-anak dari belakang”, yang menyiratkan adanya hukuman jika berbuat kesalahan.

  “Pengawasan dari belakang” ini, secara rumit dan unik, menciptakan kesewenang-wenangan kekuasaan dengan “toleransi” dalam sebuah hubungan

  

keluarga negara untuk mempertebal kekuasaan. Shiraisi memang tak mengatakan

  adanya kemungkinan rencana besar itu, namun ia menelusuri bahwa konsepsi yang diturunkan oleh bapak kepada anak-anaknya, bisa sangat menyeluruh menjadi sebuah wacana, yang kemudian bahkan diturunkan melalui pendidikan resmi. Buku teks sekolah yang kemudian membentuk perkembangan anak-anak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  anak selamanya. Kita bisa melihat bagaimana pelan-pelan tanpa disadari, hegemoni Orde Baru telah membentuk konsep pemahaman terhadap sesuatu yang mutlak jauh sejak masa awal sekolah. Mutlak dalam pendidikan selalu saja yang namanya pendidikan terkait dengan politik karena semua apa yang dijalankan tetap kebijakan politik, contohnya pencamtuman kata PKI dalam wacana peristiwa G30S di buku ajar sejarah.

  Sekolah selama ini telah menjadi agen dari kelas pengatur yang menyebarkan pengetahuan dari kelas pengatur untuk memelihara dominasi yang

  80

  telah berlangsung dan tentu saja demi kepentingan kelas pengatur. Para sejarawan mengatakan bahwa alur pendidikan sejarah di Indonesia adalah alur yang satu arah, guru bicara dan murid mendengarkan. Jika guru mengijinkan, murid baru boleh bicara. Murid biasanya jarang bertanya, apalagi bersikap kritis karena ia akan dianggap mengacaukan situasi di kelas dan wajib dihukum. Pola pendidikan seperti ini adalah sebuah simulasi politik di era Orde Baru yang sejak kecil masyarakat Indonesia telah ditanamkan sebuah pola hidup yang “membebek” mengikuti gurunya.

  80

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Di Indonesia, pendidikan sejak awal dianggap sebagai bagian penting dari perjuangan melawan penguasa kolonial. Pikiran itu berkembang setelah adanya kesadaran bahwa kolonialisme mungkin bertahan bukan hanya keserakahan dan kejahatan penindas tapi juga karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan rakyat untuk melawan. Para pendiri republik sejak menjadi aktivitas baik di atas maupun bawah tanah menyadari sistem pendidikan kolonial sebenarnya bagian dari penindasan. Karena itu pembebasan perlu juga dikembangkan dalam pendidikan dasar. Pendidikan harusnya terbentuk bukanlah melalui transfer pengetahuan apalagi pemaksaan doktrin.

5.2. Negosiasi dengan Institusi

  Pendidikan di Indonesia dihadapkan pada permasalahan ideologi. Ideologi dalam pendidikan sejarah jama Orde Baru mempunyai konotasi paksaan. Jika menggunakan teori Foucault, kekuasaan dalam pendidikan sejarah di Indonesia dihadapkan pada proses stabilitas nasional dimana ada subordinasi antara pemerintah yang berkuasa dengan yang dikuasai. Dalam tulisan ini, lebih menggaris-bawahi guru sejarah adalah subjek yang dikuasai secara sadar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Guru dihadapkan pada suatu pilihan tentang materi apa saja yang akan diajarkan. Situasi tersebut tidak lepas oleh bentuk perijinan penggunaan materi- materi alternatif oleh pihak lembaga persekolahan. Pada sub-bab sebelumnya ditulis bahwa guru mempunyai otonomi besar dalam menentukan materi pengajaran. Namun saat dihadapkan oleh situasi tersebut, apa benar guru sejarah mempunyai cukup keberanian untuk melakukan perubahan-perubahan ideologi yang sebelumnya selama berpuluh-puluh tahun ditetapkan oleh negara.

  Praksis pendidikan Orde Baru telah membatasi guru sejarah untuk membawa angin demokrasi dalam pembelajaran Tragedi Kemanusiaan 1965.

  Setelah Reformasi 98, ideologi yang terindoktrinasi dalam wacana sejarah tersebut masih mengambang – apakah jika guru ingin menggunakan versi-versi alternatif mereka harus meminta ijin kepada pihak sekolah? Atau, apakah benar, guru sepenuhnya diberi kebebasan dalam menentukan materi pembelajaran? Salah satu guru sejarah dari SMA nasional berkata: “versi Orde Baru pada saat itu masih kita ajarkan 100%, sesuai buku putih itu.

  Kalaupun kita punya versi lain, resikonya memang cukup besar, waktu Orde Baru kita semua nggak berani, karena bisa-bisa ada teguran dari pihak sekolah itu juga.”

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Artinya pada saat itu tidak ada negosiasi untuk menggunakan wacana lain dalam Orde mengajar pelajaran sejarah karena ada bentuk pengawasan dari phak sekolah. Berbeda dengan apa yang terjadi setelah jatuhnya Soeharto, dari semua guru yang diwawancara mengatakan mereka tidak perlu bernegosiasi dengan pihak sekolah jika ingin menggunakan wacana alternatif. Namun seperti yang disebutkan diatas, ada atau tidaknya negosiasi, sebagian guru sejarah terlalu malas untuk memberi wacana alternatif pada para peserta didiknya. Tidak sepenuhnya salah saat mereka masih menggunakan versi sejarah Orde Baru dalam buku teks, tapi hendaknya diberi alternatif lain sebagai pendukung bahan ajar. Ada bahaya di balik penggunaan buku teks tunggal karena akan menciptakan batasan. Apa yang tertulis dalam buku teks tersebut adalah apa yang tertanam pada ide mereka.

  Negosiasi dalam pengajaran wacana kontroversial seperti Tragedi Kemanusiaan memang tidak sepenuhnya tampak secara konkret dan eksplisit.

  Guru, sehebat apapun dia akan tetap pada batasan-batasan yang menunjukkan ketidakmampuannya dalam mengajar sejarah secara berimbang.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

BAB VI KESIMPULAN Dalam perjalanannya wacana Tragedi Kemanusiaan 1965 banyak

  mengalami perubahan. Mulai dari saat rejim Orde Baru sampai setelah Reformasi

  98. Indoktrinasi secaa implisit dan eksplisit masih tetap berjalan dalam setiap aspek, terutama pendidikan. Sejarah di sekolah hanya sebatas penghafalan nama pahlawan, tanggal peristiwa dan tempatnya tanpa mengetahui makna dan aspek- aspek di balik kejadian itu. Diperkeruh pula oleh pembungkaman versi alternatif pemerintah secara sepihak, termasuk penarikan buku-buku teks sejarah Kurikulum 2004. Ada apa dengan bentuk pengajaran sejarah di sekolah tentang wacana kontroversial tersebut pada masa Orde Baru? Yang ada dalam benak kita saat menjawab pertanyaan itu adalah pelarangan buku-buku teks sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI di belakang G30S. Pemerintah yang otoriter pada saat itu melarang beredarnya buku yang dianggap tidak resmi dan mengganggu stabilitas nasional. Buku teks yang digunakan saat Orde Baru sangat sarat politik

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  meskipun ada perubahan pada buku-buku teks, ternyata masih juga tidak bisa meninggalkan versi lama buku resmi yang ditetapkan pemerintah Orde Baru.

  Terjadi kebingungan dalam proses belajar mengajar di sekolah karena bahan ajar tidak stabil. Disini guru sejarah memegang peranan penting dalam penentuan penggunaan bahan ajar di sekolah. Sebagian besar hasil wawancara menunjukkan bahwa mereka masih menggunakan buku teks resmi dan hanya dua guru sejarah dari enam yang menggunakan buku alternatif.

  Jatuhnya rezim Orde Baru menyulut sebagian dari masyarakat untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kebenaran cerita dari sisi lain peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965. Banyak lembaga dan institusi yang mulai mengeluarkan versi-versi alternatif dari Tragedi Kemanusiaan 1965. Beberapa dari mereka membuat film dokumenter dan buku yang menyediakan sisi lain dari wacana sejarah yang telah ada. Media dan bahan diskusi baru yang bermunculan ini ‘menantang’ untuk sekolah dan guru sejarah agar lebih terbuka akan interpretasi sejarah dari sisi lain. Dengan memakai metode pemutaran film dokumenter sejarah, berjudul 40 Years of Silence, dan mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan versi dari rezim Orde Baru, penulis menemukan bahwa sejarah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sekolah. Memang sebagian dari mereka melihat bahwa media populer adalah metode yang interaktif dan komunikatif untuk pengajaran sejarah. Tetapi beberapa guru melihat kendala teknis menjadi permasalahan utama, sehingga mereka enggan untuk menyajikannya.

  Guru sejarah harus berani untuk menyajikan bahan-bahan kontroversi dan mengajak siswa-siswinya berpikir secara kritis dalam melihat berbagai versi sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965. Penelitian ini melihat sampai sejauh mana guru sejarah mau untuk mempertimbangkan memakai narasi sejarah alternatif dalam metode pengajaran mereka. Harapan dari penelitian ini juga membantu membuka perspektif baru untuk guru dan sekolah dalam memahami wacana Tragedi Kemanusiaan 1965, dan selanjutnya akan memberi harapan bagi para murid untuk lebih kritis dalam memahami sejarah dari Indonesia.

  Penulis berharap penelitian ini mempunyai kontribusi yang besar bagi penelitian sejarah di masa mendatang, terutama pada pendidikan sejarah.

  Penggunaan media alternatif dalam proses belajar-mengajar adalah tujuan utama penelitian. Penulis berharap adanya bentuk penyajian buku teks sejarah yang kritis dan adanya perubahan kurikulum sejarah dalam penelitian selanjutnya. Penyajian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  sejarah alternatif dalam pengajaran sejarah oleh guru hendaknya melibatkan para peserta didik secara aktif, sehingga proses ajar di ruang kelas bersifat dialogis.

DAFTAR PUSTAKA

  Abdullah, Taufik. 1996. Masalah Kontemporer Ilmu Sejarah dan Historiografi, Makalah Kongres Nasional Sejarah.

  Achdian, Andi. Menuju Masyarakat Sadar Sejarah. Buku Teks Sejarah:

  Kontroversi Penarikannya oleh Kejaksaan Agung di onghokham-

  institute.blogspot.com/2007/10/buku-teks-sejarahkontroversi.html. Akses terakhir: Oktober 2007.

  Achidsti, Sayfa Auliya. Kekerasan Pasca 1965 dan Proyek Pengaburan Sejarah

  “Formal”. Dari situs www.indoprogress.com/kekerasan-pasca-1965-dan- proyek-pengkaburan-sejarah-formal/. Akses terakhir 20 Agustus 2013.

  Adam, Asvi Warman. 1997. Pengendalian Sejarah Sejak Orde Baru dalam Buku Panggung Sejarah.

  Adam, Asvi Warman. 2004. Soeharto: Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Alisjabahna, Armina S. 2008. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan.

  Bandung. 2000. Dalam Reformasi Pendidikan: Kritik Kurikulum dan Manajemen Berbasis Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Aman. 2011. Model Evaluasi Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

  Apple, Michel W. 1979. Ideology and Curriculum, Chapter 2: Ideology and Cultural and Economic Reproduction. New York: Routledge & Kegan Paul.

  Arendt, Hannah. 1959. The Human Condition. New York. Barker, Chris. 2000. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Bentang. Bourdieu, Pierre. 1977. Outline Theory of Practice. London: Cambridge University Press.

  Bourdieu, Pierre. 1990. Habitus and Pratices. California: Standford University Press.

  Bourdieu. Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste.Terjemahan oleh Richard Nice. Harvard Universtity Press.

  Cribb, Robert. 1990. The Indonesian Killings of 1965-66: Studies from Java and

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Foucault, Michel. 1977. Discipline and Punish: The Birth of The Prison. London: Penguin Books.

  Freire, Paulo. 2011. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial. Yogyakarta: Logung Pustaka.

  Grenfell, Michael dan David James.1998. Bourdieu and Education: Acts of Practical Theory. London: Farmer Press.

  Haryatmoko. Kekuasaan Melahirkan Anti-Kekuasaan. Majalah Basis Nomor 01- 02, Tahun ke 51, Januari-Februari. 2002.

  Haryono. 1995. Mempelajari Sejarah Secara Efektif. Heryanto, Ariel. 2001. Teror Negara: Tentang Politik dan Batuk-Batuk Lagi dalam buku Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif

  Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  http://historia.co.id/?d=703. 17 Maret 2011. http://permalink.gmane.org/gmane.culture.region.indonesia.ppi-india/12775.

  Akses terakhir: 4 Juli 2005. Irawanto, Budi. (www.budiirawanto.multiply.com), 5 Oktober 2008. Kartodirjo, Sartono. Kompas, 26 September 1998, yang dikutip di buku Strategi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Kristanto, Dedy. (Politik) Ingatan Pekerja Kemanusiaan: Trauma dan Identitas

  Pekerja Kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dalam Program Rekonsiliasi-Repatriasi Pasca Jajak Pendapat 1999 di Timor Leste. Tesis. 2012. Magister Ilmu Religi dan Budaya. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Langeberg. Michael Van. Gestapu and State Power in Indonesia. Magniz-Suseno, Franz. 1993. Sejarah Filsafat Sosial Jerman Abad Ke-Sembilan Belas. Jakarta: Sekolah Tinggi Driyarkara.

  Mangunwijaya. 2008. Pendidikan yang Memerdekakan Rakyat. Yogyakarta: CV.

  Diandra Primamitra Media. McGregor, Katherine. 2008. Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi

Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Syarikat.

  Mulder, Niels. 2000. Individu, Masyarakat, dan Sejarah:Kajian Kritis Buku-Buku Sekolah di Indonesia (Bagian 2), Yogyakarta: Kanisius.

  Mustopo, Habib, dkk. 2002. Sejarah SMA Kelas XII Program IPS Kelas 3.

  Yudhistira. Pambudi, A. 2011. Antara Fakta dan Rekayasa. Jakarta: PT. Buku Seru.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Andre Irshanto, Bagus. Kajian Buku Teks berjudul Mendekonstruksi Historiografi Buku Teks SMP dan SMA Pada Masa Orde Baru. Yogyakarta.

  Pozzoloni. 2006. Pijar-pijar Pemikiran Gramsci. Yogyakarta: Resist Book. Purnama, Albert Satria. 2011. Mengapa Saya benci Kata PKI? Dalam Demi Masa

  Depan, Kumpulan Esai Anak Muda Indonesia tentang Tragedi Kemanusiaan 1965-1969.

  Purwanto, Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesianis. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

  Riyadi, Sugeng. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

  Roosa, John, Ayu Ratih, Hilmar Farid. 2004. Tahun yang Tak Pernah Berakhir,

Memahami Pengalaman Korban 65, Esai-Esai Lisan. Jakarta: ELSAM.

  Shiraishi, Saya Sasaki. 2009. Pahlawan-pahlawan Belia. Jakarta. Shor, Ira & Paulo Freire. 2001. Menjadi Guru Merdeka. Yogyakarta: LKIS. Sitepu, Bintang Petrus. 2012. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT.

  Remaja Rosdakarya. Soetrisno, Slamet. 2003. Kontruksi dan Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Media

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   

  Sturmer, Michael. 2001. Problematika Pengajaran Sejarah. Sulistyo, Basuki. 1995. Bibliografi Pengajaran Sejarah. Jakarta: CV Dwi Karya. Tilaar, H. A. R. 2003. Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dan Perspektif Studi Kultural. Magelang: Indonesia Tera. Magelang.

  Tilaar, H.A.R. 2005. Kekuasaan dan Pendidikan. Tim Kerja Budaya. 2001. Majalah Kerja Kebudayaan. Jakarta. Tsabitazinarahmad. Tipe Pembelajaran Sejarah Kontroversial, yang diunggah tanggal 2 April, 2012 jam 12:49.

  Wardaya, Baskara. T. 2010. Tentang Perlunya Penulisan Sejarah Alternatif.

  Yogyakarta. Waridah Q, Siti dan J. Sukardi. 1996. Penunjang: Sejarah Nasional Indonesia & Dunia. Yogyakarta.

  Widja, I. G. 2002. Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama.

   

LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh lingkungan kerja, kompensasi, dan kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kepuasan kerja guru di Sekolah Menengah Atas se-Sleman Timur.
1
4
228
Pengaruh lingkungan kerja, kompensasi, dan kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kepuasan kerja guru di Sekolah Menengah Atas se Sleman Timur
0
2
226
Respon guru sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta terhadap wacana alternatif tragedi kemanusiaan 1965.
0
8
171
Narasi tragedi kemanusiaan 1965 pada masa orde baru dan pasca orde baru.
0
5
85
“Menyaksikan jiwa-jiwa yang dibantai: mengajarkan tragedi 1965 melalui sastra”.
0
0
20
Pengaruh lama mengajar pada hubungan kecerdasan emosional dengan profesionalitas guru survei pada guru guru Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan negeri dan swasta di Kecamatan Kroy
0
0
119
Adopsi teknologi informasi dan komunikasi oleh guru dalam inovasi pembelajaran ekonomi Sekolah Menengah Atas di Daerah Istimewa Yogyakarta
0
31
475
Peningkatan kinerja guru Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Mimikan Provinsi Papua tahun 2013
0
3
261
Tingkat kepuasan guru terhadap profesinya pada aspek finansial dan non finansial. Survey dilakukan pada guru guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di wilayah Kota Yogyakarta
0
1
318
Persepsi guru dan siswa Sekolah Pertanian Menengah Atas H. Moenadi Ungaran terhadap pendidikan jasmani tahun ajaran 2008/2009.
0
0
1
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Improving the second grade students’ speaking pronunciation of Sekolah Menengah Atas 2 Ngaglik - USD Repository
0
0
152
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Sikap guru Sekolah Menengah Pertama terhadap lesbian : studi deskriptif pada guru usia madya di Yogyakarta - USD Repository
0
0
119
Kontribusi konsep diri dan persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat menjadi guru sejarah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
209
Show more