BAB I PENDAHULUAN - Skripsi Gizi

Gratis

0
0
49
5 months ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

  Kesehatan adalah hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia, oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya serta dilindungi dari ancaman yang merugikan. Sehubungan dengan hal tersebut diatas pemerintah RI telah melakukan langkah-langkah pembangunan bidang kesehatan sebagaimana tercantum dalam undang-undang kesehatan RI no.36 Tahun 2009 tentang pokok-pokok kesehatan yaitu untuk mewujudkan derajad kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan promosi kesehatan (Promotif), dan pencegahan penyakit (Preventif), penyembuhan penyakit (Kuratif), dan pemulihan penyakit (Rehabilitatif), yang dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan kesinambungan (Kementerian kesehatan, 2010).

  Menurut hendrik L. Bloom (1981) yang dikutip oleh Departemen Kesehatan RI (1993), derajad kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat Faktor yaitu: a) faktor lingkungan, b) faktor perilaku masyarakat, c) faktor pelayanan kesehatan, dan d) faktor keturunan. Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap tingkat kesehatan masyarakat yang memudakan timbulnya penyakit dan mempengaruhi derajad kesehatan balita. . Ini telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian dan pengamatan. Faktor lingkungan (fisik, biologis dan sosial) faktor fisik antara lain cuaca, sanitasi, keadaan rumah, dan radiasi yang mempunyai kaitan erat dalam faktor perilaku, seperti kebiasaan atau perilaku buang air besar dan membuang sampah disembarang tempat. (Santoso, 1995).

  Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak. Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun lingkungan. Lingkungan memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang maka anak akan sering sakit, misalnya diare, cacingan, tifus abdominalis, hepatitis, malaria, dan demam berdarah. Kalau anak sering menderita sakit, maka tumbuh kembangnya pasti terganggu. (Soetjiningsih,1995).

  Kekurangan gizi pada balita secara langsung dipengaruhi oleh asupan makanan dan penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsung dipengaruhi oleh ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuh anak serta pelayanan dan kesehatan lingkungan (Soekirman, 2000).

  Menurut Markum, (1991) status gizi keadaan gizi seseorang atau masyarakat sebagai hasil metabolisme dari zat-zat gizi yang di konsumsi tubuh karena itu ketersediaan zat gizi didalam tubuh menentukan status gizi apakah kurang, optimum atau baik.

  Supariasa, (2002) Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan atau perwujudan nutrisi dalam bentuk variabel tertentu. Jadi status gizi balita merupakan gambaran kesehatan seorang balita yang diperoleh dari pemakaian, penyerapan dan keadaan tubuh dengan lingkungannya dan dilakukan pengukuran dengan membandingkan dengan standar yang ada.

  Hasil Penelitian Lartiana (2006) dengan uji korelasi Spearman diperoleh hasil bahwa Ada hubungan antara sanitasi lingkungan keluarga dengan status gizi balita yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,318 dengan p-value 0,033 (p- value 0,05).

  Penelitian Wibowo (2007) hasil analisis chi square didapat hubungan antara kejadian ISPA pada balita dengan status gizi balita p= 0.003, OR= 0.233) dan Ventilasi p= 0.028, Or= 0.243. hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel yang diteliti terdapat hubungan kejadian ISPA pada balita.

  Berdasakan Pemantauan status gizi balita Puskesmas Kampung Bali kota Bengkulu tahun 2009 dari 200 sampel balita yang diukur menurut BB/U, didapat balita yang mengalami status gizi buruk ada 2 balita, status gizi kurang ada 45 balita, status gizi baik ada 150 balita, sedangkan status gizi lebih ada 3 balita (Profil Puskesmas Kampung bali Tahun 2009).

  Hasil regiztrasi kohort kesehatan balita di Puskesmas Kampung Bali tahun 2010 dari 95 balita yang berobat pada bulan April-Mei ditemukan 63 balita menderita ISPA, 5 balita menderita diare dan 27 balita menderita penyakit lain-lain (Demam, febris, alergi, muntah-muntah, campak, bisul, biang keringat, asma dan TBC).

  Berdasarkan survey awal peneliti dilapangan terhadap 10 orang sampel balita rumah mereka yang kurang baik atau tidak memenuhi standar kesehatan yang mencakup langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, sarana pembuangan asap dapur, pencahayaan serta sarana air bersih, sarana pembangan kotoran, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan sampah yang dapat mempengaruhi status gizi balita dengan demikian, peneliti tertarik meneliti masalah ini dengan judul “Hubungan Lingkungan Fisik Dalam Rumah Dan Kejadian ISPA Dengan Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu”.

  1.2 Identifikasi masalah

  Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi status gizi balita adalah Asupan makanan, penyakit infeksi (ispa, diare, malaria dan lain-lain), Ketahanan pangan di keluarga, Pola pengasuh anak, Pelayanan kesehatan, Kesehatan lingkungan. Faktor lingkungan terbagi menjadi tiga yaitu : lingkungan fisik, biologis dan sosial. Dalam penelitian ini yang menjadi masalah untuk diteliti adalah lingkungan fisik, Kejadian ISPA dan status gizi.

  1.3 Pembatasan masalah

  Agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai peneliti membatasi masalah pada faktor lingkungan, hanya pada lingkungan fisik dalam rumah dan Kejadian

  ISPA dengan gizi balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  1.4 Rumusan masalah

  Rumusan masalah dalam penelitian ini, apakah ada hubungan antara lingkungan fisik dalam rumah dan kejadian ISPA dengan status gizi balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  1.5 Tujuan penelitian

  1.5.1 Tujuan umum

  Untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik dalam rumah dan kejadian ISPA dengan status gizi balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  1.5.2 Tujuan khusus

  1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi lingkungan fisik dalam rumah balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian ISPA pada bailta diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  3. Untuk mengetahui distribusi frekuensi status gizi balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  4. Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu.

  5. Untuk mengetahui hubungan antara kejadian ISPA dengan status gizi

1.6 Manfaat penelitian

  1.6.1. Manfaat Teoritis

  Dapat memperkaya konsep atau teori yang mendukung perkembangan ilmu Kesehatan masyarakat khususnya yang terkait dengan Hubungan Lingkungan fisik dalam rumah, kejadian ISPA dan status gizi balita.

  1.6.2. Manfaat Praktis

  Sebagai bahan informasi yang dapat menjadi masukan bagi lembaga atau orang tua dalam rangka meningkatkan status gizi balita.

1.7 Keaslian penelitian

  Sejauh yang peneliti ketahui penelitian dengan judul hubungan lingkungan fisik dalam rumah dan kejadian ISPA dengan status gizi balita diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya tetapi ada penelitian yang menyangkut masalah lingkungan fisik dalam rumah dan kejadian diare dengan status gizi balita yaitu antara lain :

  1. Penelitian Zulkarnain (2008) Hubungan status gizi balita dan lingkungan fisik dalam rumah terhadap derajad keparahan ispa pada balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Serai Kota Bengkulu. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada tempat, waktu, populasi dan sample, cara penelitian dan hal yang diteliti serta kuesioner yang digunakan.

  2. Penelitian Meriana Amir (2008) Hubungan pola makan, prilaku hidup bersih dan kesehatan lingkungan dengan status gizi siswa SD Negeri 07 Bajak Kota Bengkulu. Perbedaan dengan penelitian ini adalah variabel yang diteliti dan tempat penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian gizi

  Menurut Supariasa (2002) gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsinya secara normal melalui proses digesti, absorbsi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi.

  Menurut Almatsir (2001) gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu untuk menyediakan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh.

  Menurut Santoso (1998) gizi adalah bahan makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh. Kardjati (1985) gizi adalah keseluruhan berbagai proses dalam tubuh mahkluk hidup untuk menerima bahan-bahan tersebut agar menghasilkan aktifitas penting dalam tubuhnya sendiri. Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), gizi adalah bahan makanan yang diperlukan untuk kesehatan.

  Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia 1 tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak dibawah lima tahun (Muaris, 2006).

  Menurut Hardiansyah, (1992) balita adalah anak yang berumur satu sampai lima tahun. Gizi kurang dapat menjadi masalah yang sangat serius jika terjadi pada anak-anak dapat menyebabkan terjadinya penghambatan pertumbuhan, perkembangan, daya tahan tubuh menurun perubahan prilaku karena adanya perusakan struktur jaringan otak.

2.1.2 Manfaat gizi

  Menurut Kartasapoerta, (2002) manfaat gizi antara lain yaitu :

  1. Untuk memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan (tinggi badan dan berat badan) pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan.

  2. Untuk memelihara proses dan perkembangan (motorik, penglihatan dan pendengaran, berbicara, dan berbahasa) pada balita yang masih dalam masa perkembangan.

  3. Untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari seperti berlari, bermain, dan lain-lain.

  4. Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

  2.1.3 Status gizi balita

  Menurut Markum, (1991) status gizi keadaan gizi seseorang atau masyarakat sebagai hasil metabolisme dari zat-zat gizi yang di konsumsi tubuh karena itu ketersediaan zat gizi didalam tubuh menentukan status gizi apakah kurang, optimum atau baik.sedangkan menurut Almatsir, (2003) status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi.

  Pendapat Supariasa, (2002) status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan atau perwujudan nutrisi dalam bentuk variable tertentu.

  Jadi status gizi balita merupakan gambaran kesehatan seorang balita yang diperoleh dari pemakaian, penyerapan dan penggunaan bahan makanan baik kualitas dan kuantitas yang merupakan interaksi keadaan tubuh dengan lingkungannya dan dilakukan pengukuran dengan membandingkan dengan standar yang ada.

  2.1.4 Istilah-istilah yang berhubungan dengan status gizi

  Supariasa (2002), mengungkapkan bahwa ada beberapa istilah yang berhubungan dengan status gizi:

1. Gizi (Nutrition)

  Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, kehidupan pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi.

  2. Keadaan gizi Keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh.

  3. Status gizi (Nutrition Status)

  Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu.

  4. Malnutrition (Gizi salah)

  Keadaan patologi akibat kekurangan atau kelebihan secara relative maupun absolute satu atau lebih zat gizi.

  Ada empat bentuk malnutrisi:

  1. Under nutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relative atau absolute untuk periode tertentu.

  2. Specifik defisiensi: kekurangan zat gizi tertentu misalnya kekurangan vitamin A, yodium, Fe.

  3. Over nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu.

  4. Imbalance: karena disposposi zat gizi.

5. Kurang Energi Protein

  Seseorang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi

2.1.5 Penilaian Status Gizi

  Penilaian status gizi secara langsung Menurut Supariasa, (2002) Penilaian status gizi secara langsung:

  1. Antropometri Pengertian secara umum, antropometri artinya ukuran tubuh manusia.

  Ditinjau dari sudut pandangan gizi, maka antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

  2. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

  3. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara labolatoris yang dilakukan pada bermacam jaringan tubuh antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Penilaian status gizi secara tidak langsung:

  1. Survei konsumsi makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.

  2. Statistik vital Pengukuran status gizi dengan statistik vital dengan menganalisis data beberapa statistic kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.

  3. Faktor ekologi Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya serta jumlah makanan yang tersedia.

2.1.6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi

  Menurut Soekirman (2000), Kekurangan gizi pada balita secara langsung dipengaruhi oleh asupan makanan dan penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsung dipengaruhi oleh ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuh anak serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan.

  1. Asupan makanan dan penyakit infeksi Timbulnya KEP tidak hanya makanan yang kurang tetapi juga karena diserang diare akhirnya menderita KEP. Sebaliknya anak yang makan tidak cukup baik daya tahan tubuhnya dapat melemah dalam keadaan demikian mudah diserang penyakit kurang nafsu makan dan akhirnya mudah terserang KEP.

  2. Ketahanan pangan di keluarga Terkait dengan ketersediaan pangan (baik dari hasil produksi sendiri maupun dari pasar atau sumber lain) harga pangan dan daya beli keluarga, serta pengetahuan tentang gizi kesehatan.

  3. Pola pengasuh anak Berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat, kebersihan, memberikan kasih sayang, dan sebagainya.

  4. Pelayanan kesehatan Terkait dalam imunisasi, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, penimbangan anak, pendidikan kesehatan dan gizi, serta sarana kesehatan yang baik seperti posyandu, puskesmas, dll.

  5. Kesehatan lingkungan Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup tersebut antara lain perumahan,pembuangan kotoran manusia, penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air limbah, kandang hewan ternak, dll (Notoatmojo,2007).

  Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominant dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak. Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun lingkungan. Lingkungan memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang maka anak akan sering sakit, misalnya ispa, diare, cacingan, tifus abdominalis, hepatitis, malaria, dan demam berdarah. Kalau anak sering menderita sakit, maka tumbuh kembangnya pasti terganggu (Soetjiningsih,1995).

  6. Perilaku kesehatan Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup: berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berfikir, persepsi dan emosi, juga merupakan perilaku manusia (Notoatmodjo, 2007).

  7. Pola Makan Beberapa info yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk kelompok masyarakat tertentu.

  8. Jumlah anggota keluarga keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari anggota-anggotanya; ayah,ibu dan anak. Jika jumlah anggota keluarga sedikit maka lebih mudah memenuhi kebutuhan makannya begitu juga sebaliknya.

  9. Pekerjaan Pekerjaan adalah melakukan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah mata pencaharian.

2.1.7 Ciri-ciri Anak Sehat

  Menurut Departemen Kesehatan RI (1993), dalam Soegeng 1995, ciri-ciri anak sehat adalah:

  1. Tumbuh dengan baik yang dapat dilihat dari naiknya berat badan dan tinggi badan secara teratur dan professional

  2. Tingkat perkembangannya sesuai tingkat umur

  3. Tampak aktif/gesit dan gembira

  4. Mata bersih dan bersinar

  5. Nafsu makan baik

  6. Bibir dan lidah tampak segar

  7. Pernafasan tidak berbau

  8. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering 9. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.

  2.1.8 Kejadian ISPA

2.1.8.1 Pengertian ISPA

  Ispa merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut, dari istilah bahasa Inggris Acute Respitratory Infektions (ARI).

  Istilah ISPA meliputi tiga unsur yaitu infeksi, saluran peranpasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut. (Indah, 2005).

  a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

  b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan peura. Dimana ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah, yaitu:

  1. Saluran pernapasan bagian atas (Upper Respiratory Airway) dengan fungsi utama sebagai: a. Air Conduction (Penyalur Udara), sebagai yang meneruskan udara yang menuju saluran napas bagian bawah untuk pertukaran gas.

  b. Protection (Perlindungan), sebagai perlindungan saluran napas bagian bawah agar terhindar dari masuk benda asing. c. Warming, filtrasi dan humidifikasi yaitu sebagai yang menghangatkan, menyaring dan member kelembaban udara yang diinspirasi (dihirup).

  2. Saluran pernapasan bagian bawah (Lower Airway) yang secara umum terbagi menjadi dua komponen ditinjau dari fungsinya, yaitu: a. Saluran udara konduktif, sering sebagai percabangan trakheobronkhialis (tracheobronchial tree) yang terdiri atas trachea, bronkus dan bronkhiolus.

  b. Saluran respiratorius terminal (kadangkala disebut dengan acini), yang berfungsi sebagai penyalur (kondisi) gas masuk dan keluar dari satuan respiratorius terminal (saluran pernapasan paling ujung), yang merupakan tempat pertukaran gas yang sesungguhnya.

  c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA peroses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

  Infeksi saluran pernapasan akut merupakan kelompok penyakit yang kompleks dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etologi. Etologi ISPA terdiri dari 3000 lebih jenis virus, bakteri dan riketsia serta jamur.

  2.1.8.2 Tanda dan Gejala

  Sebagian besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu bentuk. Infeksi saluran pernapasan bagian bawah memberikan beberapa tanda lainya seperti nafas yang cepat dan retraksi tanda lainnya dengan mudah (Harsono dkk, 1994). Selain batuk gejala ISPA lebih dari 38,5% dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002). Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi tiga golongan yaitu (Suyudi, 2002).

  1. ISPA ringan bukan pneumonia

  2. ISPA sedang, pneumonia

  3. ISPA berat, pneumonia berat

  2.1.8.3 Pencegahan ISPA

  Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah :

  1. Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik

  2. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi

  3. Menjaga keberhasilan perorangan dan lingkungan 4. Pengobatan segera.

2.1.9 Kesehatan Lingkungan

  Lingkungan adalah segala sesuatu yang baik fisik, biologis maupun mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. (Notoatmodjo, 2007).

  Ilmu kesehatan lingkungan adalah ilmu multidisipliner yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok manusia atau masyarakat dengan berbagai perubahan komponen lingkungan hidup manusia yang diduga dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat dan mempelajari upaya untuk penanggulangan dan pencegahannya.

  Sanitasi lingkungan adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masyrakat untuk mengotrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapt mengancam kelansungan hidup manusia Candra (2006).

  Hendrik L.Bloom dalam Azwar (1999) mengungkapkan bahwa lingkungan adalah salah satu factor yang berperan mempengaruhi status kesehatan manusia. Penyakit akan timbul bila terjadi gangguan dari keseimbangan lingkungan oleh karena itu menjaga keseimbangan perlu diupayakan suatu upaya menjaga keseimbangan ekologi yang ada antara manusia dan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat manusia disebut upaya kesehatan lingkungan.

  Faktor lingkungan ada tiga yaitu lingkungan fisik, biologis, dan sosial.

  a. Faktor fisik antara lain :

  2. Sanitasi. Kebersihan yang kurang baik lingkungan maupun perorangan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak karena anak mudah mendapat infeksi. 3. keadaan rumah. Rumah perlu cukup ventilasi agar pertukaran udara baik sinar matahari perlu untuk kesehatan pula. Penghuni yang banyak kurang menjamin kesehatan.

  b. Faktor biologis, antara lain : 1. Ras atau suku bangsa.

  2. Jenis kelamin 3. Umur dan lain-lain.

  c. Faktor sosial

  1. Stimulasi

  2. Motivasi belajar

  3. Sekolah 4. Kualitas interaksi anak dan orang tua.

2.1.10 Keadaan lingkungan fisik dalam rumah

  Menurut Depkes 2002, rumah adalah salah satu kebutuhan poko manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan rumah berfungsi pula sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya. Rumah juga merupakan pengembangan sebagian besar waktunya. Bahkan bayi, anak-anak, orang tua, dan orang sakit menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah. Rumah sehat dan nyaman merupakan sumber inspirasi penghuninya untuk berkarya sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya.

  Faktor-faktor resiko lingkungan pada bangunan rumah yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit maupun kecelakaan antara lain: ventilasi, pencahayaan, kepadatan hunian ruang tidur, kelembaban ruang, kualitas udara ruang, binatang penular penyakit, air bersih, limbah rumah tangga, sampah serta prilaku penghuni dalam rumah.

  Upaya pengendalian faktor resiko yang mempengaruhi timbulnya ancaman dan melindungi keluarga dari dampak kualitas lingkungan perumahan dan rumah tinggal yang tidak sehat, telah di atur dalam Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.

2.1.11 Perumahan Sehat

  Kriteria rumah sehat menurut Depkes 2002, secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain: pencahayaan, penghawaan, dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.

  2. Memenuhi kebutuhan fsikologis antara lain: privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.

  3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih pengelolaan tinja dan air limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan miniman dari pencemaran, di samping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.

  4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cendrung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

  Menurut Depkes RI (2002), indikator rumah yang dinilai adalah komponen rumah yang terdiri dari: langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga, dan ruang tamu, ventilasi, sarana pembuatan asap, dapur, dan pencahayaan serta sarana sanitasi antara lain: sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah.

  Komponen yang harus dimiliki rumah sehat adalah:

  1. Fondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar, memberi kesetabilan bangunan dan merupakan konstruksi penghubung

  2. Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari perkarangan dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah panggung dapat terbuat dari papan atau anyaman bambu.

  3. Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi dan masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas lantai.

  4. Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk mendukung atau menyangga atap, menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar serta menjaga kerahasiaan privacy penghuninya.

  5. Langit-langit untuk menahan dan menyerap panas terik matahari, minimum 2,4 lantai, bisa dari bahan papan, anyamana bambu, triplek, atau gipsum.

  6. Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar matahari, serta melindungi masuknya debu, angin dan air hujan (Depks RI, 2001).

  Adapun aspek konstruksi atau komponen rumah yang memenuhi syarat rumah sehat adalah: (Entjang, 1993)

  1. Langit-langit Dibawah kerangka atap/kuda-kuda biasanya dipasang penutup yang disebut langit-langit yang tujuannya antara lain: (a) untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda penyangga agar tidak terlihat dari bawah, sehingga ruangan terlihat rapi dan bersih; (b) untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga menahan tetesan air hujan ruangan antara yang berguna sebagai penyekat sehingga panas atas tidak mudah menjalar ke dalam ruangan di bawahnya.

  2. Dinding Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain: (a) dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri, benan tekanan angin dan bilas sebagai dinding pemikul harus pula dapat memikul beban di atasnya; (b) dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air rapat air sekurang-kurangnya 15 cm dibawah permukaan tanah sampai 20 cm di atas lantai bangunan agar tanah tidak dapat meresap naik ke atas sehingga dinding tembok terhindar dari basah dan lembab dan tampak bersih dan tidak berlumut; (c) lubang jendela dan pintu pada dinding bila lebarnya lebarnya kurang dari 1 cm dapat diberikan susunan batu tersusun tegak di atas lubang harus dipasang balok lantai dari beton bertulang atau kayu awet untuk memperkuat berdirinya tembok setengah bata di gunakan rangka pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok beton bertulang setiap luas 12 m.

  3. Lantai Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban di atasnya. Bahan untuk lantai biasanya digunakan ubin, kayu plesteran, atau bambu dengan syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur di injak, tidak mudah aus, permukaan lantai harus rata dan mudah dibersihkan. Macam-macam pasir, semen, dan kapur; (b) lantai papan. Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah atau rawan; (c) lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada bangunan perumahan karena lantai ubin murah/tahan lama, dapat mudah dibersihkan dan tidak dapat mudah dirusak rayap.

  4. Pembagian Ruangan/Tata Ruangan

  a. Setiap harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Penataan ruang dalam rumah harus disesuaikan dengan persyaratan kesehatan kesehatan rumah, misalnya pemisahan kamar tidur, dapat dan ruangan lainnya, jumlah kamar tidur yang cukup seluruh anggota keluarga, jendela yang dibuka pada siang hari agar cahaya matahari dapat masuk dan udara dapat berputar sehingga akan memperkecil resiko penularan penyakit infeksi

  b. Kamar mandi dan jamban kelaurga: 1) Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari dindingnya yang berlubang ventilasi berhubungan dengan udara luar. Bila tidak harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis untuk mengeluarkan udara dari kamar mandi dan jamban tersebut, sehingga tidak mengotori ruangan lain, 2) Pada setiap kamar mandi harus bersih untuk mandi yang cukup jumlahnya, dan 3) Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh dari 7 orang bila jamban tersebut terpisah dari kamar mandi.

  5. Ventilasi Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam suatu ruangan dan pengeluaran udara kotoran suatu ruangan tertutup baik alamiah maupun secara buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan untuk menghindari pengarh buruk yang dapat merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan yang tertutup atau kurang ventilasi.

  Dengan adanya ventilasi silang (cross ventilation) akan terjamin adanya gerak udara yang lancar dalam ruang kediaman. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam ruangan udara yang bersih dan segar melalui jendela atau lubang angin di dinding, sedangkan udara kotor dikeluarkan melalui jendela/lubang angin di dinding yang herhadapan.

  Tetapi jarak udara ini harus di jaga jangan sampai terlalu besar dan keras, karena gerak angin atau udara angin yang berlebihan meniup badan seseorang, akan mengakibatkan penurunan suhu badan secara mendadak dan menyebabkan jaringan selaput lendir akan berkurang sehingga mengurangi daya tahan pada jaringan dan memberikan kesempatan kepada bakteri-bakteri penyakit berkembang biak, dan selanjutnya menyebabkan gangguan kesehatan, yang antara lain: masuk angin, pilek atau komplikasi radang saluran pernapasan. Gejala ini terutama terjadi pada pada orang yang peka terhadap udara dingin. Untuk menghindari akibat buruk ini, maka jendela atau lubang ventilasi jangan

  Ketentuan luas jendela/lubang angin tersebut hanya sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu, harus disesuaikan dengan keadaan iklim daerah tersebut. Untuk daerah pegunungan yang berhawa dingin dan banyak angin, maka luas jendela/lubang angin dapat dikurangi sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah pantai laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah, maka jumlah luas bersih jendela, lubang angin harus diperbesar dan dapat mencapai 1/5 dari luar lantai ruangan.

  Jika ventilasi alamiah untuk pertukaran udara dalam ruangan kurang memenuhi syarat, sehingga udara dalam ruangan akan berbau pengap, maka diperlukan suatu sistem pembaharuan udara mekanis. Untuk memperbaiki keadaan udara dalam ruangan, sistem mekanis ini harus bekerja terus menerus selama ruangan yang dimaksud digunakan.

  Alat mekanis yang biasa digunakan/dipakai untuk sistem pembaharuan udara mekanis adalah kipas angin (ventilating, fan atau exhauster), atau air conditioning.

  6. Pencahayaan Sanropie (1989) menyatakan bahwa cahaya yang cukup kuat untuk penerangan di dalam rumah merupakan kebutuhan manusia.

  Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya dan cahaya alam. a. Pencahayaan alamiah Pencahayaan alamiah diperoleh dengan maksudnya sinar matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah-celah atau bagian ruangan yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya alami yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan kamar tidur menurut WHO 60-120 Lux. Suatu cara untuk menilai baik atau tidaknya penerangan alam yang terdapat dalam rumah, adalah sebagai berikut: 1) baik, bila jelas membaca koran dengan huruf kecil; 2) cukup, bila samar-samar bila membaca huruf kecil; 3) kurang, bilahanya huruf besar yang terbaca; dan 4) buruk, bila sukar membaca huruf besar.

  Pemenuhan kebutuhan cahaya untuk penerangan alamiah sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela. Untuk memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadapi ke timur.

  Apabila luas jendela melebihi 20% dapat menimbulkan kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau terlalu kecil dpat menimbulkan suasana gelap dan gengap.

  b. Pencahayaan buatan Untuk penerangan pada rumah tinggal dapat di atur dengan penerangan tersebut dapat menumbuhkan suasan rumah yang lebih menyenangkan. Lampu Flouresen (neon) sebagai sumber cahaya dapat memenuhi kebutuhan penerangan karena pada kuat penerangan yang relatif rendah mampu menghasilkan cahaya yang baik bila dibandingkan dengan penggunaan lampu pijar. Bila ingin menggunakan pampu pijar sebaiknya dipilih warna putih dengan dikombinasikan beberapa lampu neon. Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan yang berkaitan dengan perumahan sehat adalah sebagai berikut:

  1. Sarana Air Bersih Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (Per Men Kes No. 416/MENKES/Per/IX/1990). Air minum adalah air yang syaratnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung dimimum yang berasal dari penyediaan air minum (Dep Kes RI, 1994). syarat tersebut terdiri dari:

  a. Syarat Fisik Yaitu air yang tidak berwarna, tidak berbau, jernih dengan suhu sebaiknya dibawah suhu udara sehingga menimbulkan rasa nyaman.

  b. Syarat Kimia Yaitu yang mengandung zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan seperti

  KMNO4 : di dalam standar kualitas tertentu maksimal angka permanganat adalah 10mg/liter. Penyimpangan standar kualitas tersebut akan mengakibatkan timbulnya bau tidak sedap dan dapat menyebabkan sakit perut.

  c. Syarat bakteriologis Air tidak boleh mengandung suatu mikroorganisme. Penyakit-penyakit sering menular dengan perantara air adalah penyakit yang tergolong dalam golongan ”water diseases” yaitu: Cholera, Paracholera Eltor, Thypus

  abdominalis, Dysentrian bacillaris, Hiptatitis infectiosa, Poliomylitis anterior accuta, penyakit-penyakit karena cacing. Karena mikroorganisme

  kelaur bersama faeces penderita, maka disyaratkan air rumgah tangga tidak boleh dikotori feaces manusia.

  2. Jamban (sarana pembuangan kotoran) Kotoran manusia yaitu segala benda atau zat yang dihasilkan oleh tubuh dan dipandang tidak berguna lagi sehingga perlu dikeluarkan untuk dibuang.

  Ditinjau dari pengertian ini jelaslah bahwa yang disebut kotoran manusia mencakup bidang yang amat luas. Kotoran manusia ini mempunyai karakteristik tersendiri yang dapat menjadi sumber penyebab timbul (Azwar, 1990). Pembuangan kotoran yaitu suatu pembuangan yang digunakan oleh keluarga atau sejumlah keluarga untuk buang air besar.

  3. Pembuangan Air Limbah (SPAL) Air limbah adalah air yang tidak mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan lazimnya karena hasil perbuatan manusia.

  4. Sarana pembuangan sampah (tempat sampah) adalah tempat penampungan sampah sementara di rumah tangga dalam keadaan tertutup dan memenuhi syarat kesehatan yang dimiliki responden.

  2.2 Kerangka Konsep Berdasarkan tujuan penelitian dan studi literature dapat dikemukakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi status gizi balita, faktor-faktor tersebut antara lain asupan makanan dan penyakit infeksi, ketahanan pangan di keluarga, pola asuh anak, pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Faktor lingkungan terdiri dari lingkungan fisik, biologis, dan sosial. Dari faktor tersebut yang akan diteliti adalah Kejadian ISPA dan Lingkungan fisik dalam rumah. Secara skematik kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  

Variabel independen Variabel dependen

  Lingkungan fisik dalam rumah Status gizi balita

  Kejadian ISPA

  

Gambar 1.Kerangka konsep Penelitian

2.3 Hipotesis

  Ha : Ada hubungan antara lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi balita di wilayah kerja puskesmas Kampung Bali.

  Ho : Tidak ada hubungan antara lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi balita di wilayah kerja puskesmas Kampung Bali.

  Ha : Ada hubungan antara Kejadian ISPA dengan status gizi balita di wilayah kerja puskesmas Kampung Bali.

  Ho : Tidak ada hubungan Kejadian ISPA dengan status gizi balita di wilayah kerja puskesmas Kampung Bali.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

  3.1 Jenis dan rancangan penelitian

  Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan rancangan cross sectional yaitu variabel dependen dan independen dikumpulkan pada waktu yang bersamaaan (Notoatmodjo, 2005).

  3.2 Tempat dan waktu

  Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bali KOTA Bengkulu dan waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2010.

  3.3 Definisi Operasional Tabel 1. Definisi Operasional

Variable Definisi Operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala

Status gizi

  (Dependen) Kejadian ISPA (Independen)

  Keadaan tubuh akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang di lihat dari ukuran antropometri (BB/ U) berdasarkan klasifikasi WHO- NCHS Gangguan akibat mikro organisme yang dapat menurunkan imunitas tubuh Menimbang berat badan balita.

  • 2 SD s/d + 2SD Status gizi kurang : <-2SD s/d >-3SD Status gizi buruk : <-3SD Status gizi lebih :

  Kuisioner Dacin, timbangan.

  Kuesioner Status gizi Baik:

  >+2SD WHO-NCHS 1 : apabila pernah mengalami ISPA dari 1 bulan yang lalu sampai sekarang. 2 : apabila tidak Ordinal

  Ordinal balita. pernah mengalami

  ISPA dari 1 bulan yang lalu sampai sekarang.

Lingkungan Keadaan/ Observasi Kuesioner 1 : jika rumah Tidak Ordinal

fisik dalam kelengkapan kondisi langsung sehat rumah atau lingkungan Skor < 628. (Independen) fisik rumah yang memenuhi standar 2 : jika rumah Sehat

syarat kesehatan. Skor 628-840

3.4 Populasi dan sample

  3.4.1 Populasi

  Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoadmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu yang memiliki balita yang menetap di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu yang berjumlah 464 balita.

  3.4.2 Sampel

  Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita yang teregistrasi di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu tahun 2010. Dalam penelitian ini pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Stratified Random Sampling. Besar sampel yang didapatkan dalam penelitian ini berjumlah 215 balita, dengan menggunakan rumus :. n = 214,81 n = 215 Di Puskesmas Kampung Bali terdapat 8 posyandu, karena menggunakan Stratified Random Sampling maka 215 : 8 = 26,87. Sehingga masing-masing posyandu diambil 27 balita.

3.5 Metode Pengumpulan Data

  3.5.1 Data Primer

  Data primer adalah data dari responden melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kuesioner dan pengukuran status gizi balita.

  3.5.2 Data Skunder

  Data yang diperoleh dari laporan Puskesmas dan gambaran umum Puskesmas Bali kota Bengkulu.

3.6 Metode Analisis Data

3.6.1 Metode pengolahan Data

  Data terkumpul kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan tahapan berikut :

  1. Editing

  Kegiatan ini dilakukan untuk meneliti setiap kuesioner yang telah diisi oleh responden mengenai kelengkapan pengisian, sehingga data yang terkumpul lengkap dan jelas.

  2. Coding

  Pada tahap ini dilakukan kegiatan pemberian kode setiap jawaban yang telah terkumpul pada setiap pertanyaan dalam kuesioner.

  3. Tabulating

  Setelah dilakukan editing dan coding maka dilakukan pemindahan data dalam tabel.

3.6.2 Metode analisis data

  1. Analisis univariat Analisis univariat ini digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi dan karakteristik masing-masing variable data ini ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi. (Notoatmodjo,2005).

  2. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variable bebas (independent) dengan variable terikat (dependent) digunakan analisis uji chi-square dengan menggunakan rumus :

  X = Nilai pada distribusi Chi-Square 0 = Nilai hasil pengamatan E = Nilai yang diharapkan

2 Keterangan :

  . Dengan kriteria :  Jika significannya (P) ≤ α (0,05), maka Ho ditolak. Kesimpulannya terdapat hubungan antara variabel independen dan dependen.

   Jika significannya (P) > α (0,05), maka Ho diterima. Kesimpulannya tidak ada hubungan antara variabel independen dan dependen.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian

4.1.1 Letak Geografis

  Puskesmas Kampung Bali adalah salah satu Puskesmas induk dalam wilayah kerja Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu, yang beralamat di Jalan Bali Rt 02 Kelurahan Kampung Bali. Wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali ini meliputi empat wilayah kelurahan yaitu:

  1. Kelurahan Kampung Bali seluas :1,84 Km2

  2. Kelurahan Bajak seluas : 3,46 Km2

  3. Kelurahan Tengah Padang seluas : 7, 5 Km2

  4. Kelurahan Pintu Batu seluas : 0,111Km2 Luas seluruh empat kelurahan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali ini adalah 1,391 Km2.

  Adapun batas wilayah Kampung Bali adalah:

  a. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Pasar Bengkulu

  b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Kebun Geran

  c. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia

  d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Suka Merindu

  Wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali yang meliputi empat kelurahan terdiri dari delapan posyandu yaitu:

  1. Posyandu Mawar dan posyandu Melati di kelurahan Kampung Bali

  2. Posyandu Flamboyan dan posyandu Zakat Indah di kelurahan Bajak

  3. Posyandu Harapan Bunda dan posyandu Bhakti Ibu dikelurahan Tengah Padang 4. Posyandu Panda I dan posyandu Panda II di kelurahan Pintu Batu.

4.1.2 Jumlah Penduduk

  Menurut Laporan tahunan Puskesmas Kampung Bali tahun 2009 jumlah penduduk yang berada diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali berdsarkan data yang di dapat langsung dari kantor kelurahan yang terdapat diwilayah kerja Puskesmas Kampung Bali adalah sebesar 10.902 jiwa. Maka kepadatan penduduk perkilometer persegi adalah sebesar 8 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebesar 2.574 KK pada akhir tahun 2009, maka rata-rata jiwa perkepala keluarga sebesar 4 jiwa, dengan jumlah balita sebanyak dengan data Reel 632 balita.

  4.2 Analisis Univariat Distribusi frekuensi Lingkungan Fisik Dalam Rumah, Kejadian ISPA dan Status Gizi responden dapat dilihat pada tabel 2.

  

Tabel 2. Distribusi Frekuensi

Lingkungan Fisik Dalam Rumah, Kejadian ISPA dan Status Gizi

  Total No Karakteristik n = 215 Persentase (%)

  1 Lingkungan Fisik Dalam Rumah

  • Tidak Sehat 58 27,0
  • Sehat 157 73,0

  2 Kejadian ISPA

  • ISPA 170 79,1
  • Tidak ISPA 45 20,9

  3 Status Gizi

  • Buruk 3 1,4
  • Kurang 62 28,8
  • Lebih
  • Baik 150 69,8

  Sumber : Hasil Penelitian, Mei 2010

  Tabel 2 menunjukkan variabel Lingkungan fisik dalam rumah kategori Sehat 157 Rumah (73,0%), Kejadian ISPA kategori ISPA 170 balita (79,1%) dan status gizi kategori baik 150 balita (69,8%).

4.3 Analisis Bivariat

  Untuk kepentingan analisis maka variabel status gizi dibagi menjadi dua kategori yaitu baik untuk status gizi yang baik dan kurang untuk status gizi buruk dan kurang.

4.3.1. Lingkungan Fisik Dalam Rumah Dengan Status Gizi

  Hasil penelitian tentang lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi dapat dilihat pada tabel 3.

  Tabel 3.

Hubungan Lingkungan Fisik Dalam Rumah Dengan Status Gizi Balita Di

Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu

  Lingkungan Status Gizi Total

  p

  Kurang Baik Fisik Dalam

  value

  n % n % N % Rumah

  Tidak Sehat 38 65,5 20 34,5 58 100 Sehat 27 17,2 130 82,8 157 100 0,000 Jumlah 65 30,2 150 69,8 215 100

  Sumber: Hasil Penelitian, Mei 2010

  Tabel 3 menunjukkan dari 58 responden dengan lingkungan fisik dalam rumah tidak sehat diperoleh 20 balita (34,5%) dengan status gizi baik dan 38 balita (65,5%) dengan status gizi kurang. Selanjutnya dari 157 balita dengan lingkungan fisik dalam rumah sehat diperoleh 130 balita (82,8%) dengan status gizi baik dan 27 balita (17,2%) dengan status gizi kurang.

  Hasil uji chi square diperoleh p = 0,000 yang artinya p Value < 0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi balita.

4.3.2.Kejadian ISPA Dengan Status Gizi

  Hasil penelitian tentang Kejadian ISPA dengan status gizi dapat dilihat pada tabel 4.

  Tabel 4. Hubungan Kejadian ISPA Dengan Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu

  Status Gizi Total

  Kejadian

  p

  Kurang Baik

  ISPA

  value

  N % N % n %

  ISPA 54 31,8 116 68,2 170 100 Tidak ISPA 11 24,4 34 75,6 45 100

  0,442 Jumlah 65 30,2 150 69,8 215 100

  Sumber; Hasil Penelitian, Mei 2010

  Tabel 4 menunjukkan dari 170 responden dengan kejadian ISPA diperoleh 116 balita (68,2%) dengan status gizi baik dan 54 balita (31,8%) dengan status gizi kurang. Selanjutnya dari 45 responden dengan kejadian tidak ISPA diperoleh 34 balita (75,6%) dengan status gizi baik dan 11 balita (24,4%) dengan status gizi kurang. Hasil chi square diperoleh p = 0,442 yang artinya p Value > 0,05 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kejadian ISPA dengan status gizi.

4.4. Pembahasan

4.4.1. Hubungan Lingkungan Fisik Dalam Rumah Dengan Status Gizi Balita

  Berdasarkan hasil analisis data didapatkan ada hubungan antara lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi balita ( p < 0,05). Dimana balita yang hidup di lingkungan fisik rumah yang sehat mempunyai status gizi baik sebanyak 150 (69,8%) dan lebih banyak dibandingakan balita yang mengalami status gizi kurang sebanyak 65 orang (30,2%).

  Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lartiana (2006) yang menyatakan ada hubungan antara sanitasi lingkungan keluarga dengan status gizi balita (p value < 0,05).

  Hendrik L.Bloom dalam Azwar (1999) mengungkapkan bahwa lingkungan adalah salah satu faktor yang berperan mempengaruhi status kesehatan manusia.

  Penyakit akan timbul bila terjadi gangguan dari keseimbangan lingkungan oleh karena itu menjaga keseimbangan perlu diupayakan suatu upaya menjaga keseimbangan ekologi yang ada antara manusia dan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat manusia.

  Kekurangan gizi pada balita secara langsung dipengaruhi oleh asupan oleh ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuh anak serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan (Soekirman, 2000).

  Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup tersebut antara lain perumahan,pembuangan kotoran manusia, penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air limbah, kandang hewan ternak, dll (Notoatmojo,2007).

  Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak. Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun lingkungan. Lingkungan memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang maka anak akan sering sakit, misalnya ispa, diare, cacingan, tifus abdominalis, hepatitis, malaria, dan demam berdarah. Kalau anak sering menderita sakit, maka tumbuh kembangnya pasti terganggu (Soetjiningsih,1995).

  Dalam penelitian ditemukan 20 balita (34,5%) yang tinggal di lingkungan fisik dalam rumah tidak sehat namun status gizinya baik dan Anak balita yang tinggal di lingkungan fisik dalam rumah yang sehat ditemukan 27 balita (17,2%) dengan status gizi tidak baik. Pola asuh pemberian makanan akan mempengaruhi status gizi balita, bila pola asuh pemberian makananya baik maka status gizi balita akan membaik begitu juga sebaliknya (Ruhana, 2008).

  Pola asuh anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat, kebersihan, memberikan kasih sayang, dan sebagainya (Soekirman, 2000).

4.5.2 Hubungan Kejadian ISPA Dengan Status Gizi Balita

  Berdasarkan hasil analisis data didapatkan tidak ada hubungan antara kejadian ISPA dengan status gizi balita ( p > 0,05). Dalam penelitian ditemukan 116 orang (68,2%) yang mengalami kejadian ISPA dengan status gizi baik lebih sedikit dibandingkan yang mengalami kejadian ISPA dengan status gizi kurang ditemukan 54 0rang (31,8).

  Penelitian ini sejalan dengan penelitian Desni (2009) yang menyatakan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan, lama menderita dan frekuensi kejadian ISPA dengan status gizi pada anak balita.

  Dalam penelitian ditemukan penyakit infeksi selain ISPA yaitu diare, penyakit diare dapat mempengaruhi status gizi balita (Mediasari, 2009). Gejala penyakit ini berbahaya dan dapat menyebabkan kematian pada anak-anak kecil terutama penderita didapatkan kurang gizi. Gizi kurang dan diare sering dihubungkan satu sama lain, walaupun diakui bahwa sulit menentikan kelainan yang mana yang terjadi lebih dahulu, gizi kurang, diare atau sebaliknya.

  Keadaan gizi yang baik merupakan faktor penting dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal, namun dalam kenyataanya sampai saat ini didalam gizi tersebut merupakan refleksi konsumsi energi dan zat-zat gizi lain yang belum mencukupi kebutuhan tubuh. Kebutuhan zat gizi tubuh dapat diperoleh dari makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dalam makanan (Alisjahbana,dkk 1985 dalam Ayu, 2009).

  Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi tiga golongan yaitu (Suyudi, 2002) ISPA ringan (bukan pneumonia), ISPA sedang (pneumonia) dan

  ISPA berat (pneunomia berat). Keadaan ini kemungkinan dikarenakan penyakit

  ISPA yang di alami balita termasuk dalam kategori ringan sehingga tidak mempengaruhi status gizi balita.

  Tidak hanya ISPA yang mempengaruhi status gizi balita namun ada faktor penyakit infeksi lain seperti Tuberculosis, Diare, Malaria, dan Demam berdarah.

  Penyakit infeksi merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian yang terjadi pada bayi dan anak terutama sering terjadi pada negara berkembang termasuk Indonesia. Bahkan dalam keadaan kekurangan gizi seseorang akan lebih rentan terhadap infeksi (Juwitasari, 2008).

  Balita yang tidak mengalami kejadian ISPA 11 orang (24,4%) dengan status gizi kurang, hal ini kemungkinan balita yang tidak mengalami ISPA tersebut memiliki lingkungan fisik dalam rumah yang kurang sehat sehingga dapat mempengaruhi status gizi balita.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian tentang ” Hubungan Lingkungan Fisik Dalam Rumah Dan Kejadian ISPA Dengan Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu”, dapat disimpulkan :

  1. Lingkungan Fisik Dalam Rumah Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu adalah Sehat 157 Rumah (73,0%) dan tidak sehat 58 rumah (27,0%).

  2. Kejadian ISPA pada balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu adalah ISPA 170 balita (79,1%) dan tidak ISPA 45 balita (20,9%)

  3. Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu adalah baik 150 balita (69,8%), status gizi kurang 62 balita (28,8%) dan status gizi buruk 3 balita (1,4%).

  4. Ada hubungan lingkungan fisik dalam rumah dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu (P < 0,05).

  5. Tidak ada hubungan kejadian ISPA dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali Kota Bengkulu (P > 0,05).

1.2 Saran

  1. Kepada para ibu agar dapat memelihara kebersihan lingkungan fisik dalam rumah mereka agar status gizi balita tetap membaik.

  2. Untuk peneliti selanjutnya diharapakan dapat melanjutkan penelitian ini dengan menambah variabel dan rancangan penelitian yang berbeda.

Dokumen baru

Download (49 Halaman)
Gratis

Tags

Bab I Pendahuluan Skripsi Gizi Bab I Pendahuluan Skripsi Bab I Bab I Pendahuluan Skripsi Bab Bab I Pendahuluan Penggalan Skripsi Bab I Pendahuluan Gizi Ibu Hamil Doc Bab I Pendahuluan Pengaruh Model Pendampi Ngan Gizi Bab I Pendahuluan Pedoman Penyusunan Skripsi Uma Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan I Pendahuluan Panduan Skripsi
Show more