ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU PEMBUNUHAN DIIKUTI PENCURIAN YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA (Studi Kasus Nomor : 1003/PID.A/2010/PN.TK)

Gratis

0
14
62
2 years ago
Preview
Full text
Suci Kurnia Rosyada ABSTRAK ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU PEMBUNUHAN DIIKUTI PENCURIAN YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA (Studi Kasus Nomor : 1003/PID.A/2010/PN.TK) Oleh Suci Kurnia Rosyada Pertumbuhan penduduk yang pesat memerlukan peningkatan sarana dan prasarana dalam bidang ekonomi, perumahan, penyediaan lahan, pendidikan, dan sebagainya. Padahal sebagaimana diketahui sarana dan prasarana, lahan, lapangan kerja, dan lain-lain masih sangat terbatas. Begitu pula dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan bersifat heterogen, baik dari segi ras, suku, agama, sosial dan budaya, menimbulkan permasalahan sosial dikalangan penduduk. Keadaan-keadaan demikian dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kriminalitas.Salah satu tindak pidana yang terjadi di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang yaitu terjadinya pembunuhan yang diikuti pencurian dan dilakukan secara bersama-sama di Bandar Lampung. Kasus ini telah disidangkan dan terdaftar di kepaniteraan pengadilan negeri nomor : 1003/Pid.A/2010/PN.TK dan pelaku telah dijatuhi hukuman penjara selama 10 (sepuluh) tahun penjara. Terdakwa yang tergolong masih anak-anak ini memiliki motif tersendiri dalam melakukan pembunuhan sebagaimana dimaksud dimaksud dalam Pasal 339 KUHP, dalam persidangan terbukti bahwa sebelum menghilangkan nyawa korban pelaku memiliki hubungan khusus terhadap korban. Korban yang diduga memiliki perilaku seks menyimpang seringkali mengajak pelaku untuk melakukan hubungan seks dan pelaku selalu mendapat imbalan uang sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) setelah berhubungan seksual dengan korban. Hal ini telah dilakukan beberapa kali oleh pelaku terhadap korban. Pelaku mengaku mauu berbuat demikian dikarenakan kebutuhan ekonomi. permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah :Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan Pidana Terhadap Anak Pelaku Tindak Pembunuhan Diikuti Pencurian Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama, dan Bagaimanakah kesesuaian putusan hakim tersebut ditinjau dengan undang-undang pengadilan anak dan perlindungan anak Penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Sumber data diperoleh dari lapangan dan kepustakaan dengan jenis data yaitu : data primer dan data sekunder. Populasi yang diambil penulis dari Pengadilan Negreri Suci Kurnia Rosyada Tanjung Karang, serta Akademisi Fakultas Hukum universitas Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan. Untuk menganalisis data menggunakan analisis kulaitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan Dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap anak pelaku tindak pembunuhan diikuti pencurian yang dilakukan secara bersama-sama yaitu hakim yang memeriksa dan memutus suatu perkara yaitu berdasarkan : a). Tuntutan jaksa penuntut umum Berdasarkan tuntutan jaksa penuntut umum b) Alat-alat bukti yang dihadirkan di persidangan c). Hal-hal yang memperberat dan meringankan terdakwa d) Petunjuk-petunjuk lain dan barang bukti, di dalam persidangan terdapat beberapa petunjuk lain yang membuat hakim memperthatikan perkara ini dengan seksama. Hakim telah menetapkan menjatuhakn pidana penjara 10 tahun dalam perkara nomor 1003/Pid.B/2010/PN.TK terhadap terdakwa anak dan dianggap telah sesuai dengan sistem peradilan tindak pidana anak dan undang-undang perlindungan anak. Akan tetapi sudah seharusnya segala sesuatu yang berkaitan dengan penjatuhan pidana penjara terhadap pelaku tindak pidana anak diperhatikan setiap kelangsungan nya, sehingga keputusan yang diambil betul-betul memperhatikan kepentingan terdakwa anak tersebut. Sesungguhnya jika hakim memberikan putusan dibawah pidana maksimal 10 tahun itu sudah dapat memberikan efek jera kepada terdakwa anak karena tujuan dari pemidanaan terhadap anak buakanlah merupakan sarana balas dendam akan tetapi bertujuan agar anak dapat menyadari akan kesalahan yang diperbuat, dapat memulihkan kondisi sosial pisikologis serta fungsi sosial terdakwa anak sehingga dapat hidup, dan berkembang secara wajar dimasyarakat serta menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas dan berahlak mulia. Adapun saran yang dapat disampaikan Hakim yang memeriksa perkara pidana anak hendaknya mempu menyelami dan memahami jiwa anak sehingga dalam penjatuhan sanksi pidana dapat memenuhi rasa keadilan anak dan masyarakat. Serta dalam menjatuhkan sanksi hendaknya benar-benar memperhatikan kesejahterahan anak, dan Hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara anak harus mempertimbangkan berbagai aspek, utamanya aspek kehidupan anak dan pola kehidupan anak untuk mempertimbangkan psikologis anak dan masa depan anak serta putusan yang terbaik untuk anak. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan proses modernisasi yang membawa dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang timbul adalah semakin maju dan makmur kondisi ekonomi, sosial maupun politiknya, sedang dampak negatif yang timbul antara lain adanya kesenjangan dalam masyarakat, terutama kesenjangan sosial. Hal tersebut dapat menimbulkan rasa iri atau dengki yang mengakibatkan adanya keinginan untuk memperkecil kesenjangan. Apabila dalam usahanya ia tidak mampu, maka orang cenderung melakukanya dengan jalan pintas yaitu dengan acara yang tidak dibenarkan oleh agama dan undang-undang misalnya menjadi seorang tuna wisma, bahkan melakukan kejahatan seperti mencuri. Pertumbuhan penduduk yang pesat memerlukan peningkatan sarana dan prasarana dalam bidang ekonomi, perumahan, penyediaan lahan, pendidikan, dan sebagainya. Padahal sebagaimana diketahui sarana dan prasarana, lahan, lapang’an kerja, dan lain-lain masih sangat terbatas. Begitu pula dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan bersifat heterogen, baik dari segi ras, suku, agama, sosial dan budaya, menimbulkan permasalahan sosial dikalangan penduduk. Keadaan-keadaan demikian dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kriminalitas. 2 Semakin susahnya kehidupan perekonomian dan lemahnya iman serta rendahnya budaya membuat pelaku tindak kejahatan baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan leluasa melakukan kejahatan. Kejahatan tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja melainkan dilakukan oleh anak-anak yang masih dibawah umur. Menurut data yang diperoleh dari Komisi Perlinudungan Anak lebih dari 4.000 anak Indonesia diajukan ke pengadilan setiap tahunnya atas kejahatan ringan, sperti pencurian Pada umumnya mereka tidak mendapatkan dukungan, baik dari pengacara maupun dinas sosial. Dengan demikian, tidak mengejutkan jika sembilan dari sepuluh anaknnya dijebloskan ke penjara atau rumah tahanan. Sebagai contoh sepanjang tahun 2010 tercatat dalam statistik criminal kepolisian terdapat lebih dari 11.344 anak yang disangka sebagai pelaku tindak pidana. Pada bulan Januari hingga Mei 2010 ditemukan 4.325 tahanan anak di rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk anak anak yang ditahan di kantor polisi (polsek, polres, polda, mabes). Kemudian pada tahun yang sama tercatat 9.456 anak anak yang berstatus anak didik (anak sipil, anak Negara, dan anak pidana) tersebar di seluruh Rutan dan LP untuk orang dewasa. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena banyak anak yang harus berhadapan dengan sistem peradilan dan mereka ditempatkan di tempat penahanan dan pemenjaraan bersama orang dewasa sehingga mereka rawan mengalami tindak kekerasan. Fenomena tersebut menujukkan bahwa pelaku kejahatan tidak hanya orang dewasa saja melainkan telah pula banyak yang telah dilakukan oleh anak-anak baiak yang diorganisir maupun secara sendiri-sendiri. (Http :www.tempointeraktif.com). Proses peradilan pidana merupakan mekanisme peradilan pidana yang dilihat dari bekerjanya lembaga kepolisian sampai dengan lembaga pemasyarakatan (criminal justice as process). Hal itu berarti bekerjanya peradilan pidana menunjukkan adanya hubungan antara beberapa institusi/lembaga (sub-sistem) yang terlibat dalam proses tersebut dalam rangka untuk mencapai tujuan peradilan pidana, seperti sub-sistem kepolisian (proses penyelidikan dan penyidikan), sub-sistem kejaksaan (proses penuntutan), sub-sistem pengadilan (proses pemeriksaan di 3 muka sidang pengadilan) dan sub-sistem lembaga pemasyarakatan (proses pembinaan terpidana). Salah satu tindak pidana yang terjadi di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang yaitu terjadinya pembunuhan yang diikuti pencurian dan dilakukan secara bersama-sama di Bandar Lampung. Kasus ini telah disidangkan dan terdaftar di kepaniteraan pengadilan negeri nomor : 1003/Pid.A/2010/PN.TK Terdakwa yang tergolong masih anak-anak ini memiliki motif tersendiri dalam melakukan pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 339 KUHP yang berbunyi : “Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, atau pun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, palinglama dua puluh tahun..” Dipersidangan terbukti bahwa korban yang diduga memiliki perilaku seks menyimpang seringkali mengajak pelaku untuk melakukan hubungan seks dan pelaku selalu mendapat imbalan uang sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) setelah berhubungan seksual dengan korban. Hal ini telah dilakukan beberapa kali oleh pelaku terhadap korban. Pelaku mengaku awalnya pelaku dipaksa berbuat demikian dan dikarenakan kebutuhan ekonomi ahirnya pelaku mau melakukannya. Menurut keterangan terdakwa, terdakwa dan korban telah melakukan hubungan seksual dengan korban sebanyak 3 (tiga) kali, dan menurut keterangan terdakwa sebelum melakuan pembunuhan dengan temannya yang bernama Alika mereka 4 dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan korban dan dijanjikan diberikan uang sebesar Rp. 100.000. (seratus ribu rupiah) namun yang terjadi adalah setelah selesainya melakukan hubungan intim terdakwa hanya diberikan Rp. 10.000 (sepuluh ribu) saja dan mencacimaki pelaku. Hal inilah yang membuat terdakwa dan temannya yang bernama Alika sakit hati. Yang membuat terdakwa pada saat itu berniat untuk membunuh korban karena sakit hati. Terdakwa kemudian membunuh korban dengan cara memukul badan korban dengan kayu kasau berulang kali, setalah korban jatuh dan meninggal terdakwa dan Alika melarikan diri dengan membawa satu buah sepeda motor milik dan ponsel milik korban. Menurut Undang-Undang Pengadilan Anak, anak di bawah umur yang melakukan kejahatan yang memang layak untuk diproses adalah anak yang telah berusia 8 tahun dan diproses secara khusus yang berbeda dengan penegakan hukum terhadap orang dewasa, Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak paling lama ½ dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. Selain pidana penjara terhadap anak terdapat juga tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak adalah Mengembalikan kepada orang tua, wali, atau orang tua asuhnya., Menyerahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja, Menyerahkan kepada Departemen Sosial atau Organisasi Sosial kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan dan latihan kerja, akan tetapi dalam kasus ini terdakwa dijatuhi hukuman maksimal yaitu pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun. 5 Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Putusan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Pidana terhadap Anak Pelaku Pembunuhan Diikuti Pencurian yang Dilakukan secara Bersama-Sama”. B. Permasalahan dan Ruang Lingkup 1. Permasalahan Berkaitan dengan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah : 1. Apakah yang menjadi pertimbangan hakim menjatuhkan putusan pidana penjara terhadap anak pelaku tindak pembunuhan diikuti pencurian yang dilakukan secara bersama-sama ? 2. Bagaimanakah kesesuaian putusan hakim tersebut ditinjau dengan UndangUndang Pengadilan Anak dan Perlindungan Anak ? 2. Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian yang akan membahas permasalahan tersebut, penulis membatasi tulisan ini sepanjang mengenai pembunuhan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan proses persidangan dan penjatuhan pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. 6 C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan 1. Tujuanan Penulisan Adapun maksud dan tujuan penulisan skripsi ini adalah : a. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam putusan menjatuhkan Pidana Penjara Terhadap Anak Pelaku Tindak Pembunuhan Diikuti Pencurian Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama. b. Untuk mengetahui kesesuaian putusan hakim ditinjau berdasarkan UndangUndang Pengadilan Anak dan Perlindungan Anak. 2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Teoritis Secara teoritis, untuk memperluas dan memperdalam pemahaman penulis tentang pertanggungjawaban pelaku tindak pidana pembunuhan diikuti pencurian yang dilakukan oleh anak, untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutus perkara pembunuhan diikuti dengan pencurian serta dasar hukumnya serta menganalisis kesesuaian putusan tersebut dengan undang-undang pengadilan anak. b. Kegunaan Praktis Secara Praktis, menjadi bahan masukan bagi kalangan praktisi hukum, khusus yang bergerak dalam bidang penyelenggara peradilan pidana dan kemasyarakatan serta memberikan gambaran tentang proses hukum dan sistem peradilan dan 7 pelaksanaannya. Oleh karena itu tulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan serta kesadaran hukum dari aparat penegak hukum, masyarakat ilmiah hukum, dan masyarakat luas untuk melaksanakan cita-cita serta isi yang terkandung dalam undang-undang untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. D. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1. Kerangka Teoritis Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi dari hasil pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya untuk mengadakan identifikasi terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti. (Soerjono Soekanto. 1986: 125). Kerangka teoritis merupakan susunan dari beberapa anggapan, pendapat, cara, aturan, asas, keterangan, sebagai satu kesatuan yang logis yang menjadi landasan, acuan, dan pedoman untuk mencapai tujuan dalam penelitian atau penulisan. (Abdulkadir Muhammad. 2004 : 77). Tujuan dari penjatuhan pidana penjara terhadap terdakwa anak : a. Dapat menyadari akan kesalahan yang diperbuat, dapat memulihkan kondisi sosial pisikologis serta fungsi sosial terdakwa anak dalam sehingga dapat hidup, dan berkembang secara wajar dimasyarakat serta menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas dan berahlak mulia. 8 b. Keluarga dan masyarakat dapat menerima kembali kehadiran terdakwa anak yang telah mendapatkan pelayanan sosial . c. Keluarga terdakwa anak tersebut dapat memberikan dukungan yang positif bagi pengubahan perilaku anak, pertumbuhan, dan perkembangan. d. Menghilangkan label dan stigma masyarakat yang negatif terhadap anak nakal, yang menghambat tumbuh kembang mereka untuk berpartisipasi. Menurut Lilik Mulyadi (2008 :113) hakim dalam memutuskan suatu perkara pidana harus mempertimbangkan beberapa hal berikut yaitu : 1. Tuntutan jaksa penuntut umum 2. Alat-alat bukti yang dihadirkan di persidangan 3. Hal-hal yang memperberat dan meringankan terdakwa. 4. Petunjuk-petunjuk lain dan barang bukti Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang mengatur tentang tujuan perlindungan anak yaitu : Untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera. Penjelasan umum Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan: Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak 9 merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam UndangUndang Dasar 1945 dan Konvensi Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan dan generasi penerus cita-cita bangsa. Sistem peradilan anak memiliki tata cara tersendiri yang diatur dalam undangundang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Undang-Undang perlindungan anak menentukan dalam menjatuhkan pidana harus melihat dan memperhatikan segi-segi kesejahteraan anak. (Tri Andrisman. 2009 : 61). Penjatuhan pidana yaitu diatur dalam Pasal 26 yang menetukan bahwa : (1) (2) (3) (4) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a paling lama 1/2 (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. Apabila anak nakal sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau dengan pidana penjara seumur hidup, maka pidana penjara yang dapat diajtuhkan kepada anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun. Apabila anak nakal sebagaimana dimaksud Dallam pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai 12 (dua belas tahun) melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau dengan pidana penjara seumur hidup, maka terhadap anak nakal tersebut hanya dapat dijatuhkan tindakan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 24 Ayat (1) huruf b. Apabila anak nakal sebagaimana dimaksud Dallam pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai 12 (dua belas tahun) melakukan tindak pidana yang tidak diancam dengan pidana mati atau dengan pidana penjara seumur hidup, maka terhadap anak nakal tersebut dijatuhkan salah satu tindakan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 24. 10 2. Konseptual Kerangka konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti yang berkaitan dengan istilah yang ingin atau akan diteliti. ( Soerjono Soekanto,1986 : 132) Adapun pengertian dasar dari istilah-istilah yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah meliputi : 1. Analisis adalah penyelidikan suatu peristiwa untuk mengetahui sebabsebabnya, bagaimana duduk perkaranya. (Kamus Pengantar Bahasa Indonesia .1996 :21). 2. Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dan segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang. (Pasal 1 Angka 11 KUHAP). 3. Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. (Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak). 4. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 11 (Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak). 5. Pembunuhan Terkwalifikasi adalah tindaka perbuatan pidana dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain dengan didahului atau diikuti dengan perbuatan pidana lain. ( M. Sudrajat Bassar.1984 : 122). 6. Pemidanaan adalah penjatuhan putusan pidana terhadap terdakwa yang terbuti secara sah dan meyakinkan melakukan suatu tindak pidana. (Muladi. 1999 : 77). E. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan dan memahami skripsi ini secara keseluruhan,maka sistematika penulisannya disusun sebagai berikut : I. PENDAHULUAN Merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang, permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka teoritis dan kerangka konseptual, serta sistematika penulisan. II. TINJAUAN PUSTAKA Merupakan bab tinjauan pustaka yang menguraikan mengenai pengertian pidana, pembunuhan, putusan dan pemidanaan, pengertian anak, tindak pidana anak, penyertaan. III. METODE PENELITIAN 12 Merupakan bab yang berisi uraian mengenai pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan populasi dan sampel, prosedur pengolahan dan pengumpulan data, serta analisis data. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uraian dalam bagian ini adalah tentang pokok-pokok bahasan berdasarkan hasil penelitian, yaitu dapatkah Pasal 339 KUHP diterapkan terhadap anak pelaku pembunuhan yang di ikuti dengan pencurian yang dilakukan secara bersama-sama dan dapatkah sanksi tindakan di terapkan terhadap anak pelaku tindak pidana tersebut sesuai dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak V. PENUTUP Merupakan Bab penutup yang berisikan simpulan dan saran. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pidana dan Pemidanaan 1. Pidana Pidana adalah penderitaan atau nestapa yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu itu. Pidana ini mutlak diperlukan dalam hukum pidana tujuannya agar dapat menjadi sarana pencegahan umum maupun khusus bagi anggota masyarakat agar tidak melanggar hukum pidana, pengertian hukum pidana dijelaskan bahwa perbuatan yang dilarang itu berkaitan dengan tindak pidana orang yang melanggar larangan itu berkait dengan pertanggungjawaban pidana, yaitu syarat-syarat pengenaan pidana. ( Tri Andrisman, 2009 :8). Tindak pidana adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya, yang dilakukan dengan suatu maksud, serta terhadap perbuatan itu harus dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan. Suatu perbuatan sudah memenuhi unsur tindak pidana, akan tetapi jika dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab atas perbuatannya itu, maka ia tidak dapat dipidana. Selanjutnya untuk menguraikan pengertian tindak pidana ini dikemuPkakan pendapat beberapa orang sarjana, antara lain: 15 1. Moeljatno dalam buku edisi revisi (1999:16), menyatakan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana desertai ancaman (sanksi) berupa pidana tertentu bagi si pelanggarrnya. 2. Simons, berpendapat bahwa perumusan feit atau tindak pidana harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: a. Suatu perbuatan manusia (mislijke handelingen). Dengan handelingen dimaksudkan tidak saja “een doen” (perbuatan), akan tetapi juga “een nalaten” (mengabaikan). b. Perbuatan itu dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang. c. Perbuatan itu harus dilakukan oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan, artinya dapat dipersalahkan karena melakukan perbuatan tersebut Atmasasmim (Satochid Kartanegara, dalam makalah Romli berjudul Pertanggungjawaban Pidana dalam Penegakan Hukum 2000:15). 3. Wirjono Projodikoro, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana dan pelakunya ini dapat dikatakan “subyek” tindak pidana. Berdasarkan pendapat beberapa sarjana di atas, maka jelas bahwa tindak pidana harus memenuhi beberapa unsur yaitu: 1. Perbuatan itu merupakan perbuatan manusia. 2. Perbuatan itu harus dilakukan dengan suatu kemauan, maksud dan kesadaran. 3. Terhadap perbuatan itu harus dilakukan dipertanggungjawabkan menurut hukum. oleh orang yang dapat 16 Tindak pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya perbuatan dengan suatu pidana. Apakah orang yang melakukan perbuatan kemudian juga dijatuhi pidana, sebagaimana telah diancamkannya, ini tergantung apakah dalam melakukan perbuatan ini dia mempunyai kesalahan. Sebab asas dalam pertanggung jawaban dalam hukum pidana ialah: nullum delictum nulla poena praevia lege dan geen straf zonder schuld. Asas yang pertama berarti tidak dipidananya sebuah perbuatan jika bukan merupakan perbuatan pidana, sedangkan asas yang kedua, berarti tidak dapat dipidananya seseorang jika tidak mempunyai kesalahan. Jadi untuk dapat suatu perbuatan diklasifikasikan sebuah pertanggungjawaban pidana, harus disyaratkan adanya perbuatan dan kesalahan dalam melakukan perbuatan tesebut. Moeljatno menginterpretasikan pendapat bahwa orang tidak mungkin dipertanggungjawabkan (dijatuhi pidana) kalau dia tidak melakukanperbuatan pidana. Tapi meskipun melakukan tindak pidana tidak selalu ia dapat dipidana apabila ada alasan pembenar dan pemaas sebagaimana diatur dan dimaksud dalam Pasal 44, 48,49, 50, dan Pasal 51 KUHP. Suatu perbuatan mempunyai kesalahan harus adanya: 1. Keadaan batin dari pelaku perbuatan tersebut. Keadaan batin ini dalam ilmu hukum pidana merupakan permasalahan yang lazim disebut kemampuan bertanggungjawab; 2. Hubungan antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang dilakukan. 17 Moeljatno (1984:164) mensyaratkan adanya kesalahan terdakwa harus melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum), di atas umur tertentu mampu bertangungjawab, mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan dan tidak adanya alasan pemaaf. Mengenai keadaan batin dari si terdakwa dalam ilmu hukum pidana merupakan masalah kemampuan bertanggungjawab. Kemampuan bertanggungjawab dapat dilihat dalam Pasal 44 KUHP yang berbunyi: "Apabila yang melakukan perbuatan pidana itu tidak dapat dipertanggungjawabkan disebabkan karena pertumbuhan yang cacat atau gangguan karena penyakit daripada jiwanya, maka orang itu tidak dapat dipidana." Roeslan Saleh (1996 : 43) merumuskan bahwa orang yang mampu bertanggung jawab itu harus memenuhi tiga syarat: 1. dapat menginsyafi makna yang senyatanya dari perbuatan-nya; 2. dapat mengisafi bahwa perbuatannya itu tidak dapat dipandang patut dalam pergaulan masyarakat; 3. mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya dalam melakukan perbuatan. Menurut pendapat bertanggungjawab lain ada dua faktor untuk mentukan kemampuan yaitu faktor akal dan faktor kehendak. Akal dapat membeda-bedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Kehendak yaitu dapat menyesuaikan tingkah lakunya dengan keinsyafan atas mana diperbolehkan dan mana yang tidak. 18 Kemampuan bertanggungjawab dalam undang-undang dapat dilakukan dengan cara deskriptif, yaitu menentukan dalam merumuskan itu sebab-sebabnya tidak mampu bertanggungjawab. Menurut sistem ini, jika psikiater telah menyatakan misalnya bahwa terdakwa adalah gila, maka ia lalu tidak mungkin dipidana. Sebaliknya cara yang normatif tidak menyebutkan sebabnya ini, yang disebutnya hanyalah akibatnya saja, yaitu tidak mampu bertanggungjawab yang penting adalah apakah orang itu mampu bertanggungjawab atau tidak. Jika dipandang tidak mampu bertanggungjawab, entah apa sebabnya tidaklah perlu dipikirkan lagi. KUHP Indonesia menempuh jalan gabungan cara deskriptif dan normatif. Dalam menentukan bahwa terdakwa tidak mampu bertanggungjawab dalam praktek lalu diperlukan adanya kerja sama antara dokter dan hakim. KUHP tidak secara tegas mencantumkan masalah kesengajaan, begitu pula M.v.T hanya memberi petunjuk bahwa pidana pada umumnya, hendaknya dijatuhi pada barangsiapa melakukan perbuatan yang dilarang dengan deketahui dan dikehendaki. Menurut Moeljatno (1987: 177) Seseorang melakukan sesuatu dengan sengaja dapat dibedakan menjadi tiga corak sikap batin, yang menunjukan tingkatan atau bentuk kesengajaan, yaitu: 1. 2. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) Corak kesengajaan ini merupakan bentuk kesengajaan yang biasa dan sederhana. Perbuatan si pelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Kalau akibat ini tidak ada, maka ia tidak akan berbuat demikian. Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zeker-heids-bewustzijn). Dalam kesengajaan ini perbuatan mempunyai dua akibat, yaitu: a. Akibat yang dituju si pembuat. Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. b. Akibat yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan tersebut. 19 3. Kesengajaan sebagai kemungkinan (dolus eventualis). Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula memungkinkan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi. 2. Pengertian Pembunuhan Kejahatan pembunuhan merupakan salah satu jenis dari “kejahatan” adalah perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat, baik norma kesusilaan, kesopanan, agama, dan hukum. Oleh karena itu, pengertian kejahatan lebih luas daripada pengertian tindak pidana yang dikenal dalam istilah hukum pidana, yaitu sebagai perbuatan manusia baik berupa perbuatan (en doen) maupun melalaikan (en nalaten), perbuatan mana dilarang dan diancam dengan hukuman oleh peraturan perundang-undangan, serta dapat dipertanggungjawabkan terhadap pelakunya. Kejahatan-kejahatan terhadap nyawa orang diatur dalam Pasal 338- Pasal 350 buku II title XIX. Pembunuhan ini termasuk tindak pidana materil, artinya untuk kesempurnaan tindak pidana ini tidak cukup dengan dilakukannya perbuatn iitu, akan tetapi menjadi syarat juga adanya akibat dari perbuatan itu. Menurut M. Sudrajat Bassar S.H (1984 :121) kejahatan terhadap nyawa orang terbagi atas beberapa jenis yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pembunuhan biasa (Pasal 338 KUHP) Pembunuhan terkwalifikasi (Pasal 339 KUHP) Pembunuhan yang direncanakan (Pasal 340 KUHP) Pembunuhan anak (Pasal 341 KUHP) Pembunuhan atas permintaan si korban (Pasal 344 KUHP) Membunuh diri (Pasal 345 KUHP) Menggugurkan kandungan (aboortus) (Pasal 346 KUHP) 20 1. Pembunuhan biasa Pembunuhan biasa harus dipeuhi unsur : 1.1 Bahwa perbuatan itu harus disengaja dan kesengajaan itu harus timbul seketika itu juga (dolus repentinus atau dolus impetus), ditujukan kepada maksud supaya orang itu mati. 1.2 Melenyapakan orang itu harus merupakan perbuatan yang positif walaupun dengan perrbuatan yang sekesil apapun. 1.3 Perbuatan itu harus menyebabkan matinya orang : a. Seketika itu juga, atau b. Beberapa saat setelah dilakukannya perbuatan itu. Harus ada hubungan anatara perbuatan yang dilakukan itu dengan kematian orang tersebut, jadi kematian itu harus diakibatkan oleh perbuatan itu. Istilah orang dalam Pasal 338, maksudnya orang lain. Terhadap siapa pembunuhan itu dilakuan tidak menjadi soal. Meskipun pembunuhan itu dilakukan terhadap bapak atau ibu sendiri, termasuk juga pada pembunuhan yang dimaksud dalam Pasal 338 KUHP. Terhadap pembunuhan biasa dapat diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun, yaitu dengan sengaja melenyapkan nyawa orang karena bersalah melakukan pembunuhan. 2. Pembunuhan Terkualifikasi Hal ini diatur dalam Pasal 339 KUHP. Jenis pembunuhan ini adalah pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului dengan perbuatan atau tindak pidana lain, dan yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau memudahkan perbuatan itu, atau didalam kedapatan tengah bebruat untuk melepaskan dirinya 21 maupun peserta lainnya dari hukuman, atau untuk memastikan penguasaan brang yang diperollehnya secra melawan hukum. Adapun unsur-unsur dalam Pasal ini adalah sebagai berikut : 1. Pembunuhan ini dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkann suatu perbuatan pidana lain yang dilakukan sesudah pembunuhan itu. Sengaja membunuh sebagai persiapan untuk pidana lain. Pembunuhan itu diikuti oleh perbuatan pidana lain. 2. Pembunuhan ini dilakukan dengan maksud untuk memudahkan melakukkan perbuatan pidana lain. Pembunuhan itu berbarengan atau diserttai dengan perbuatan pidana lain. Sengaja membunuh untuk menggempangkan perbuatan pidana lain. 3. Pembunuah ini dilakukan sesudah melakukan perbuatan lain dengan maksud : a. Untuk menyelamatkan dirinya atau pengikut sertanya dari hukuman, atau b. Supaya apa yang didapat dari perbuatan itu tetak akan adaa ditangannya. Perbuatan pidana lain itu diikuti pembunuhan dengan maksud seperti tersebut dalam butir a dan b di atas, dan dilakukan ketika kedapatan tengah melakukan kejahatan. Pada kasus pembunuhan orang-orang yang turut serta dalam melakukan tindak pidana lain tidak dipertanggungjawabkan tentang pembunuhan itu, mereka hanya dipersalahkan atas perbuatan pidana yang lainnya saja, kecuali apabila mereka membantu juga di dalam pembunuhan. Jadi pembunuhan tersebut dalam Pasal ini hanya dipersalahkan kepada orang yang melakukannya saja. 22 3. Teori Pemidanaan Menurut Muladi ada tiga jenis teori pemidanaan Muladi (1984:11). yaitu : a. Teori Absolut b. Teori tujuan c. Teori Gabungan a. Teori Absolut/Retributif Menurut teori ini pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan suatu kejahatan atau tindak pidana (quia peccatum est). Pidana merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan. Jadi dasar pembenaran dari pidana terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teori menganggap sebagai dasar hukum dari pidana atau tujuan pemidanaan adalah alam pikiran untuk pembalasan (vergeldings). Di samping itu dikatakan pula oleh Johannes Andenaes, tujuan utama (primair) dari pidana menurut teori absolut ialah untuk memuaskan tuntutan keadilan (to satisfy the claims of justice) sedangkan pengaruh-pengaruh yang menguntungkan adalah sekunder ( Barda Nawawi Arief, 1984:11). Menurut pandangan penganut retributivism, pemidanaan atas perbuatan yang salah bersifat adil, karena akan memperbaiki keseimbangan moral yang dirusak oleh kejahatan. Menurut Kant keseimbangan moral ini dinyatakan dalam bentuk 23 suatu perbandingan antara kesejahteraan dan perbuatan baik. Orang yang baik akan bahagia dan orang yang jahat akan menderita atas kelakuannya yang buruk. Oleh karena itu. Ketidak seimbangan akan terjadi bilamana seorang penjahat gagal untuk menerima penderitaan atas kejahatannya. Keseimbangan moral yang penuh akan tercapai, bilamana penjahat dipidana dan si korban mendapatkan kompensasi. Dalam hal ini keseimbangan antara kesejahteraan dan perbuatan tidak tercapai (Muladi, 1986:50). b. Teori Tujuan/Relatif Para penganut teori ini memandang pidana sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan untuk mencapai kemanfaatan, baik yang berkaitan dengan orang yang bersalah, misalnya menjadikannya sebagai orang yang lebih baik, maupun yang berkaiatan dengan dunia, misalnya dengan mengisolasi dan memperbaiki penjahat atau mencegah penjahat potensial, akan menjadikan dunia tempat yang lebih baik (Muladi, 1986:51). Menurut teori ini pemidanaan bukanlah untuk memuaskan tuntutan absolut dari keadilan. Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai, tetapi hanya sebagai sarana untuk melindungi kepentingan masyarakat. Pidana bukanlah sekedar untuk melakukan pembalasan atau pengimbalan kepada orang yang telah melakukan suatu tindak pidana, tetapi mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat, sehingga dasar pembenaran dari teori ini adalah terletak pada tujuannya. Pidana dijatuhkan bukan quia peccatum est (karena orang membuat kejahatan) melainkan ne peccetur (supaya orang jangan melakukan kejahatan). 24 c. Teori Gabungan/Verenigings Theorien Menurut aliran ini maka tujuan pemidanaan bersifat plural, karena menghubungkan prinsip-prinsip tujuan dan prinsip-prinsip pembalasan dalam suatu kesatuan. Oleh karena itu teori demikian disebut dengan teori gabungan atau ada yang menyebutnya sebagai aliran integratif. Pandangan ini menganjurkan adanya kemungkinan untuk mengadakan artikulasi terhadap teori pemidanaan yang mengintegrasikan beberapa fungsi sekaligus retribution dan yang bersifat "utilitarian" misalnya pencegahan dan rehabilitasi yang semuanya dilihat sebagai sasaran-sasaran yang harus dicapai dalam rencana pemidanaan. Pidana dan pemidanaan terdiri dari proses kegiatan terhadap pelaku tindak pidana, yang dengan suatu cara tertentu diharapkan untuk dapat mengasimilasikan kembali terpidana ke dalam masyarakat. Secara serentak, masyarakat menuntut agar kita melakukan individu tersebut juga dengan suatu yang juga dapat memuaskan permintaan atau kebutuhan pembalasan. Lebih lanjut diharapkan bahwa perlakuan terhadap pelaku tindak pidana tersebut dapat menunjang tujuan-tujuan bermanfaat, yang manfaatnya harus ditentukan secara kasuistis. Hal inilah yang sering menimbulkan anggapan pidana sebagai seni (punishment as an art) (Muladi, 1986:50). Timbulnya teori gabungan atau aliran integratif ini karena adanya berbagai kelemahan pada teori pembalasan dan teori tujuan. Menurut Binding, kelemahankelemahan yang terdapat pada teori pembalasan adalah terlalu sulit untuk 25 menentukan berat ringannya pidana, diragukan adanya hak negara untuk menjatuhkan pidana sebagai pembalasan, pidana sebagai pembalasan tidak bermanfaat bagi masyarakat, sedangkan terhadap teori tujuan, pidana hanya ditujuakn untuk mencegah kejahatan, sehingga dijatuhkan pidana yang berat baik oleh teori pencegahan umum, maupun teori pencegahan khusus, jika ternyata kejahatan itu ringan maka penjatuhan pidana yang berat tidak akan memenuhi rasa keadilan, bukan hanya masyarakat yang harus diberi kepuasan, tetapi juga kepada penjahat itu sendiri. B. Pengertian Putusan Hakim Putusan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka untuk umum disebut dengan putusan pengadilan, sebagaimanna yang ditentukan dalam Pasal 1 butir ke 11 KUHAP yang menyatakan bahwa : Putusan pengadilan merupakan pernyataan hakim yang diuacapkan dalam sidang terbuka yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. 1. Bentuk-Bentuk Putusan Pengadilan Mengenai putusan apa yang akan dijatuhakn pengadilan, tergantung hasil musyawarah hakim berdasar penilain yang mereka peroleh dari surat dakwaan dihubungkan dengan segala sesuatu yang terbuti dalam pemeriksaan sidang dengan hasil penilain yang mereka mufakati (M. Yahya Harahap. 2006 : 347) . adapun bentuk putusan pengadilan adalah sebagai berikut : a. Putusan Bebas 26 Putusan bebas, berarti terdakwa dijatuhi putusan bebas atau dinyatakan bebas dari tuntutan hukum (vrijspraak). Hal ini terjadi apabila hakim menilai dakwaan terhadap terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Pasal 191 Ayat (1) menentukan bahwa: “Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”. b. Putusan Pelepasan dari segala tuntutan hukum Putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum, berarti terdakwa dijatuhi putusan lepas dari segala tuntutan hukum. Hal ini terjadi apabila hakim menilai dakwaan terhadap terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan namun tidak merupakan tindak pidana. Pasal 191 Ayat (2) Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan pada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum. c. Putusan pemidanaan Putusan pemidanaan yaitu menjatuhkan pidana terhadap terdakwa sesuai dengan ancaman yang ditentukan dalam Pasal tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa. Sesuai dengan Pasal 193 Ayat (1) menentukan bahwa : (1) (2) (3) Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana. Pengadilan dalam menjatuhkan putusan, jika terdakwa tidak ditahan, dapat memerintahkan supaya terdakwa tersebut ditahan, apabila dipenuhi ketentuan Pasal 21 dasi terdapat alasan cukup untuk itu. Dalam hal terdakwa ditahan, pengadilan dalam menjatuhkan putusannya, dapat menetapkan terdakwa tetap ada dalam tahanan atau membebaskannya, apabila terdapat alasan cukup untuk itu. 27 C. Pengertian Anak Anak merupakan seseorang yang dilahirkan dari sebuah hubungan antara pria dan wanita. Hubungan antara pria dan wanita ini jika terikat dalam suatu ikatan perkawinan lazimnya disebut sebagai suami istri. Anakyang dilahirkan dari suatu ikatan perkawinan yang sah statusnya disebut sebagai anak sah. Namun ada juga anak yang dilahirkan di luar dari suatu ikatan perkawinan, anak yang dilahirkan bukan dari suatu ikatan perkawinan yang sah statusnya biasanya disebut sebagai anak tidak sah atau lebih konkritnya biasa disebut sebagai anak haram jaddah. Dalam hukum positif di Indonesia anak diartikan sebagai orang yang belum dewasa (minderjarig / person under age), orang yang dibawah umur/keadaan dibawah umur (minderjarig heid / inferiority) atau biasa disebut juga sebagai anak yang berada dibawah pengawasan wali (minderjarige under voordij). Di Indonesia terdapat pengertian yang beraneka ragam tentang anak, dimana dalam berbagai perangkat hukum yang berlaku menentukan batasan usia anak yang berbeda-beda. Hal ini sering membingungkan masyarakat awam mengenai pengertian anak itu sendiri secara hukum. Untuk itu digunakan asas “lex specialis derogat lex generalis”, artinya bahwa hukum yang bersifat khusus mengesampingkan hukum yang bersifat umum. Batas usia anak merupakan pengelompokan usia maksimum sebagai wujud kemampuan anak dalam status hukum, sehuingga anak tersebut beralih status menjadi usia dewasa atau menjadi 28 seorang subjek hukum yang dapat bertanggung jawab secara mandiri terhadap perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan hukum yang dilakukannya. Pengertian anak itu sendiri jika kita tinjau lebih lanjut dari segi usia kronologis menurut hukum dapat berbeda-beda tergantung tempat, waktu dan untuk keperluan apa, hal ini juga akan mempengaruhi batasan yang digunakan untuk menentukan umur anakPerbedaan pengertian anak tersebut dapat kita lihat pada tiap aturan perundang-undangan yang ada pada saat ini. Berikut ini dapat dilihat beberapa pengertian anak dari berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia: 1. Pengertian Anak Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) diatur pada Pasal 330 KUHPerdata yang menentukan: “Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin. Apabila perkawinan itu dibubarkan sebelum umur mereka genap 21 tahun, maka mereka tidak kembali lagi dalam kedudukan belum dewasa.” 2. Pengertian Anak Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak Diatur pada Pasal 1 angka 2 yang menentukan: “Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin.” 3. Pengertian Anak Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak diatur pada Pasal 1 yang menentukan: “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur delapan belas tahun dan belum pernah kawin.” 29 4. Pengertian Anak Menurut Undang-Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Diatur pada Pasal 1 huruf 5 yang menentukan: “Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah delapan belas tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.” 5. Pengertian Anak Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Diatur pada Pasal 1 yang menentukan: “Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” 6. Pengertian Anak Menurut Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang telah diratifikasi berdasarkan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990 Diatur pada Pasal 1 bagian 1 yang menentukan: “Seorang anak adalah setiap manusia yang berusia 18 tahun kecuali berdasarkan UndangUndang yang berlaku bagi anak-anak kedewasaan dicapai lebih cepat.” 7. Pengertian Anak Menurut Hukum Adat Menurut Hukum Adat tidak ada ketentuan yang pasti kapan seseorang dapat dianggap dewasa atau mempunyai wewenang untuk bertindak. Hasil penelitian Mr. Soepomo tentang Hukum Perdata Jawa Barat menjelaskan bahwa ukuran kedewasaan seseorang diukur dari segi : 1. dapat bekerja sendiri; 2. cakap untuk melakukan apa yang bermasyarakat dan bertanggung jawab; 3. dapat mengurus harta kekayaan sendiri; D. Pengertian Tindak Pidana Anak disyaratkan dalam kehidupan 30 Menurut Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, yang dimaksud dengan anak nakal adalah : a. Anak yang melakukan tindak pidana, atau b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan dilarang bagi anak, baik menurut perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia, jelas terkandung makna bahwa suatu perbuatan pidana harus mengandung unsur-unsur : a. adanya perbuatan manusia b. perbuatan tersebut harus sesuai dengan ketentuan hukum c. adanya kesalahann d. orang yang berbuat harus dapat dipertanggung jawabkan Ada 2 (dua) kategori perilaku anak yang membuat ia harus berhadapan dengan hukum, yaitu : 1. Status Offence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa tidak dianggap sebagai kejahatan, seperti tidak menurut, membolos sekolah atau kabur dari rumah ; 2. Juvenile Deliquency adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasadianggap kejahatan atau pelanggaran hukum. Apabila tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak disebut dengan kejahatan terlalu extrim, karena pada dasarnya anak-anak memiliki kondisi kejiwaan yang labil, proses kemantapan psikis menghasilkan sikap kritis, agresif dan 31 menunjukkan tingkah laku yang cenderung bertindak mengganggu ketertiban umum. Hal ini belum dapat dikatakan sebagai kejahatan, melainkan kenakalan yang ditimbulkan akibat dari kondisi psikologis yang tidak seimbang dan si pelaku belum sadar dan mengerti atas tindakan yang telah dilakukannya. Ada beberapa faktor penyebab yang paling mempengaruhi timbulnya kejahatan anak, yaitu : 1. Faktor lingkungan 2. Faktor ekonomi/ sosial 3. Faktor psikologis E. Sistem Pemidanaan Terhadap Anak 1. Pengertian Sistem Pemidanaan Menurut Barda Nawawi Arief Pengertian “pemidanaan” diartikan sebagai suatu “pemberian atau penjatuhan pidana”, maka pengertian “sistem pemidanaan” dapat dilihat dari 2 (dua) sudut : 1) Dalam arti luas, sistem pemidanaan dilihat dari sudut fungsional, yaitu dari sudut bekerjanya / prosesnya. Dalam arti luas ini, sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai : a. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk fungsionalisasi/ operationalisasi/ konkretisasi pidana. b. Keseluruhan sistem (peraturan perundang-undangan) yang mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasionalkan secara konkret sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum) pidana. 32 2) Dalam arti sempit, sistem pemidanaan dilihat dari sudut normatif /substantif, yaitu hanya dilihat dari norma-norma hukum pidana substantif. Dalam arti sempit ini, maka sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai : a. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk pemidanaan. b. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk pemberian/ penjatuhan dan pelaksanaan pidana. Sementara untuk melindungi anak beserta dengan hak-haknyadalam UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 terdapat tindakan (treatment), dimana hal ini juga tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sistem pemidanaan edukatif sendiri merupakan suatu sistem dimana anak sebagai pelaku tindak pidana tidak hanya diberikan suatu sanksi berupa pemidanaan semata, namun diberikan suatu tindakan (treatment) yang memposisikan anak bukan sebagai pelaku kejahatan layaknya orang dewasa tetapi merupakan individu yang belum dewasa, yang membutuhkan bimbingan moral, mental dan spiritualnya agar menjadi calon individu dewasa yang lebih baik. Negara dibebani kewajiban untuk memberikan perlakuan yang berbeda antara orang dewasa dan anak yang melakukan suatu tindak pidana. Pada Peraturanperaturan minimum Standar Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Administrasi Peradilan bagi Anak ( United Nations Standard Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice (The Bejing Rules)) Adopted by General Assembly resolution 40/33 of 29 November 1985. 33 2. Ketentuan Khusus dalam Penjatuhan Pidana Anak Sistem peradilan anak memiliki tata cara tersendiri yang diatur dalam undangundang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Undang-Undang perlindungan anak menentukan dalam menjatuhkan pidana harus melihat dan memperhatikan segi-segi kesejahteraan anak. (Tri Andrisman. 2009 : 61). Penjatuhan pidana yaitu diatur dalam Pasal 26 yang menetukan bahwa : (1) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak nakal sebaggaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a paling lama 1/2 (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. (2) Apabila anak nakal sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau dengan pidana penjara seumur hidup, maka pidana penjara yang dapat diajtuhkan kepada anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun. (3) Apabila anak nakal sebagaimana dimaksud Dallam pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai 12 (dua belas tahun) melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau dengan pidana penjara seumur hidup, maka terhadap anak nakal tersebut hanya dapat dijatuhkan tindakan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 24 Ayat (1) huruf b. (4) Apabila anak nakal sebagaimana dimaksud Dallam pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai 12 (dua belas tahun) melakukan tindak pidana yang tidak diancam dengan pidana mati atau dengan pidana penjara seumur hidup, maka terhadap anak nakal tersebut dijatuhkan salah satu tindakan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 24. 3. Tujuan-tujuan Peradilan Anak Sistem peradilan bagi anak akan mengutamakan kesejahteraan anak dan akan memastikan bahwa reaksi apapun terhadap pelanggarpelanggar hukum berusia anak akan selalu sepadan dengan keadaankeadaan baik pada pelanggar-pelanggar hukumnya maupun pelanggaran hukumnya. 34 4. Ruang lingkup kebebasan membua

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM DALAM TINDAK PIDANA PENCURIAN DALAM KEADAAN MEMBERATKAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (PUTUSAN NOMOR 553/PID.B/2013/PN.JR)
0
5
16
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM DALAM TINDAK PIDANA PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Putusan Nomor : 557/PID.B/A/2011/PN.Pms)
0
5
17
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM DALAM TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK
0
2
16
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM DALAM TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK
0
25
16
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM PENJATUHAN PIDANA DIKAITKAN MASA PENAHANAN TERHADAP PELAKU ANAK (Putusan Nomor : 36/Pid.B/2013/PN.Jr)
0
9
91
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN HAKIM TENTANG PEMIDANAAN DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Putusan Nomor : 183/Pid.B/2012/PN.Jr)
0
6
16
ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN (Studi Perkara Nomor 17/Pid.B.(A)/2011/PN.TK)
0
20
70
ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI SECARA BERSAMASAMA (Studi Kasus No. 862/PID/B2010/PNTK)
0
3
51
ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU PEMBUNUHAN DIIKUTI PENCURIAN YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA (Studi Kasus Nomor : 1003/PID.A/2010/PN.TK)
0
14
62
ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (Studi Kasus Perkara Nomor 383/Pid.B/2012 PN.TK di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang)
0
18
40
ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA YANG SAMA TERHADAP PARA PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN (Studi Putusan Pengadilan Nomor 51/Pid.Tpk/2013/PN.TK)
0
7
54
ANALISIS DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMALSUAN SURAT (STUDI KASUS PUTUSAN NO.30/PID/2013/PT.TK)
0
0
11
ANALISIS DASAR PERTIMBANGAN HAKIM MENJATUHKAN PUTUSAN DIBAWAH ANCAMAN MINIMAL TERHADAP PELAKU ANAK YANG MELAKUKAN PENCABULAN (Studi Putusan Nomor.17/Pid.Sus-Anak/2016/PT.TJK)
0
0
13
ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP TINDAK PIDANA PEMERASAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM) (Studi Kasus Putusan Nomor : 50/Pid./2015/PT.TJK)
0
0
11
PERANAN HAKIM ANAK DALAM PENJATUHAN PUTUSAN ATAS PERKARA PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK
0
0
10
Show more