Potensi Bahaya K3 pada Bagian Struktur dan Arsitektur Proyek Pembangunan Hotel The Regale Tahun 2013

Gratis

76
545
105
2 years ago
Preview
Full text

i

  Potensi bahaya K3 yang paling besar pada pekerjaan arsitektur terdapat pada pekerjaan atap, yaitu pekerja tertimpa bekisting dan ring besi, kaki dan tanganterjepit bekisting dan ring besi, tangan pekerja tergores besi dari ring besi dan kayu bekisting, terjatuh dari scaffolding, tertimpa hasil coran beton, terluka akibat cangkul, gangguan pernapasan, iritasi kulit dan mata akibat cat waterproofing, terpapar debu, getaran, panas, serta kebisingan. Disarankan pihak proyek sebaiknya menerapkan penggunaan APD bagi pekerja seperti kacamata safety yang melindungi mata dari paparan debu, beton yangsedang dicor, dan bunga api serta sinar saat menggerinda, masker untuk melindungi pekerja dari debu-debu proyek, helm untuk melindungi kepala dari bahaya tertimpaperalatan dan benda kerja serta safety belt saat bekerja di ketinggian.

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014

  Potensi bahaya K3 yang paling besar pada pekerjaan arsitektur terdapat pada pekerjaan atap, yaitu pekerja tertimpa bekisting dan ring besi, kaki dan tanganterjepit bekisting dan ring besi, tangan pekerja tergores besi dari ring besi dan kayu bekisting, terjatuh dari scaffolding, tertimpa hasil coran beton, terluka akibat cangkul, gangguan pernapasan, iritasi kulit dan mata akibat cat waterproofing, terpapar debu, getaran, panas, serta kebisingan. Disarankan pihak proyek sebaiknya menerapkan penggunaan APD bagi pekerja seperti kacamata safety yang melindungi mata dari paparan debu, beton yangsedang dicor, dan bunga api serta sinar saat menggerinda, masker untuk melindungi pekerja dari debu-debu proyek, helm untuk melindungi kepala dari bahaya tertimpaperalatan dan benda kerja serta safety belt saat bekerja di ketinggian.

KATA PENGANTAR

  Potensi bahaya K3 yang paling besar pada pekerjaan arsitektur terdapat pada pekerjaan atap, yaitu pekerja tertimpa bekisting dan ring besi, kaki dan tanganterjepit bekisting dan ring besi, tangan pekerja tergores besi dari ring besi dan kayu bekisting, terjatuh dari scaffolding, tertimpa hasil coran beton, terluka akibat cangkul, gangguan pernapasan, iritasi kulit dan mata akibat cat waterproofing, terpapar debu, getaran, panas, serta kebisingan. Disarankan pihak proyek sebaiknya menerapkan penggunaan APD bagi pekerja seperti kacamata safety yang melindungi mata dari paparan debu, beton yangsedang dicor, dan bunga api serta sinar saat menggerinda, masker untuk melindungi pekerja dari debu-debu proyek, helm untuk melindungi kepala dari bahaya tertimpaperalatan dan benda kerja serta safety belt saat bekerja di ketinggian.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Jadi dapat dikatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerjaadalah suatu pendekatan ilmiah dan praktis dalam mengatasi potensi bahaya dan risiko kesehatan dan keselamatan yang mungkin terjadi (Rijanto, 2010). Pekerjaan berubahketika suatu tahapan pekerjaan telah selesai, begitu juga dengan komposisi pekerja yang selalu berubah untuk menyesuaikan dengan tahapan pekerjaan, kemudian yangtak kalah penting adalah perubahan cuaca, karena pada umumnya pekerjaan pada konstruksi dilakukan diluar ruangan sehingga perubahan cuaca secara otomatis akanmerubah kondisi lingkungan kerja (Hinze,1997).

2. Untuk mengetahui potensi bahaya pada pekerjaan arsitektur

7

1.4. Manfaat Penelitian 1

  Sebagai bahan masukan bagi pihak manajemen perusahaan untuk meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja dalam upaya untukmeminimalkan risiko yang ada pada proses pembangunan tersebut. Bagi tenaga kerja, agar lebih mengetahui bagaimana potensi bahaya pada pekerjaannya sehingga dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugasatau pekerjaan di lapangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

  Agar seorang tenaga kerja berada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang berarti bahwa yang bersangkutan dapat terjamin keadaan kesehatan dan produktivitaskerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan antara beban kerja, beban tambahan akibat dari pekerjaan dan lingkungan kerja dan kapasitas kerja (Suma’mur,2009). Lingkungan kerja yang mendukung terciptanya tenaga kerja yang sehat dan produktif antara lain suhu ruangan yangnyaman, penerangan/pencahayaan yang cukup, bebas dari debu, sikap badan yang baik, alat-alat kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh atau anggotanya (ergonomi),dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).

2.1.3. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

  Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai tujuan untuk memperkecil atau menghilangkan potensi bahaya atau risiko yang dapat mengakibatkan kesakitan dan 10kecelakaan dan kerugian yang mungkin terjadi. Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat diartikan sebagai kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman, terhindar dari gangguan fisik danmental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan, dan control terhadap pelaksanaan tugas dari para karyawan dan pemberian bantuan sesuai dengan aturanyang berlaku, baik dari lembaga pemerintah maupun perusahaan dimana mereka bekerja (Yuli, 2005).

2.1.4. K3 Konstruksi

  Selanjutnya, Suraji dan Bambang Endroyo (2009) menyatakan bahwa keselamatan konstruksi adalah keselamatan orang yang bekerja (safe for people) diproyek konstruksi, keselamatan masyarakat (safe for people) di proyek konstruksi, 11keselamatan property (safe for property) yang diadakan untuk pelaksanaan proyek konstruksi dan keselamatan lingkungan (safe for environment) di mana proyekkonstruksi dilaksanakan. Keselamatan konstruksi pada hakekatnya adalah untuk melindungi pekerja dan orang-orang yang ada di tempat kerja, masyarakat, peralatan dan mesin, sertalingkungan agar terhindar dari kecelakaan.

2.2. Potensi Bahaya

2.2.1. Defenisi Potensi Bahaya

  ILO dalam buku Budiono (2008), mendefinisikan potensi bahaya atau bahaya kerja adalah suatu sumber potensi kerugian atau suatu situasi yang berhubungandengan pekerja, pekerjaan dengan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan gangguan/kerugian. Potensi bahaya merupakan segala hal atau sesuatu yangmempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian baik harta benda, lingkungan maupun manusia.

2.2.2. Jenis-jenis bahaya

  Bahaya mekanisBahaya mekanis bersumber dari peralatan mekanis atau benda yang bergerak dengan gaya mekanika baik yang digerakkan secara manual maupun denganpenggerak. Bagian yang bergerak pada mesin mengandung bahaya seperti gerakan mengebor, memotong, menempa, menjepit, menekan dan bentuk gerakanlainnya.

5. Bahaya biologis

  Di berbagai lingkungan kerja terdapat bahaya yang bersumber dari unsur biologis seperti flora dan fauna yang terdapat di lingkungan kerja atau berasaldari aktifitas kerja. Potensi bahaya ini ditemukan dalam industri makanan, farmasi, pertanian, pertambangan, minyak dan gas bumi (Ramli,2010).

2.2.3. Sumber-sumber Bahaya di Lingkungan Kerja

  Menurut Sahib (1997), kecelakaan dan penyakit akibat kerja terjadi karena adanya sumber-sumber bahaya di lingkungan kerja. Bangunan, Peralatan dan Instalasi 2.

2.3. Proyek Konstruksi

2.3.1. Pengertian Proyek Konstruksi

  Ferdy dan Yudi (2008) menjelaskan defenisi Industri Konstruksi merupakan lapangan pekerjaan yang memiliki potensi bahaya dan risiko kecelakaan kerja, yangmana kecelakaan kerja ini juga dapat menimbulkan kerugian terhadap pekerja dan juga kontraktor. Menurut Gould (2002) mendefinisikan proyek konstruksi sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendirikan suatu bangunan yang membutuhkansumber daya baik biaya, tenaga kerja, material, dan peralatan.

2.3.2. Jenis-jenis Proyek Konstruksi

  Proyek konstruksi bangunan gedung Adalah proyek konstruksi yang menghasilkan tempat orang bekerja atautinggal. Proyek konstruksi bangunan gedung meliputi rumah,kantor,pabrik, apartemen, dan sebagainya.

2. Proyek konstruksi non-gedung (Bangunan Sipil)

  Proyek konstruksi Proyek konstruksi yang digunakan untuk mengendalikan alam agar berguna bagi kepentingan manusia. Proyek bangunan sipil meliputiinfrastruktur jalan, jembatan, dan bendungan.

2.3.3. Karakteristik Proyek Konstruksi

  Kemudian,proses penyelesaiannya harus berpegang pada tiga kendala (triple constraint), yaitu sesuai spesifikasi mutu yang ditetapkan, sesuai time schedule, dan biaya yangdirencanakan. Mempunyai awal kegiatan dan mempunyai akhir kegiatan yang telah ditentukan atau mempunyai jangka waktu tertentu.

5. Jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung

2.3.4. Tahapan-tahapan dalam Proyek Konstruksi

  Adapun tahapan-tahapan proyek konstruksi adalah (Wijaya,2011): 1. Adanya kebutuhan (need) Semua proyek konstruksi biasanya dimulai dari gagasan dibangun berdasarkan kebutuhan (Need).

2. Studi kelayakan (feasibility study)

  Kegiatan yang dilaksanakan:Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biayaMeramalkan manfaat yang akan diperolehMenyusun analisis kelayakan proyekMenganalisis dampak lingkungan yang akan terjadi 3. Membuat penjelasan yang lebih rinci (briefing) Pada tahap ini pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan sehingga konsultan perencana dapat dengan tepat menafsirkankeinginan pemilik.

4. Membuat rancangan awal (preliminary design)

  Kegiatan yang dilaksanakan : Mengembangkan ikthisiar proyek menjadi penyelesaian akhirMemeriksa masalah teknisMeminta persetujuan akhir dari pemilik proyekMempersiapkan: Rancangan terinci Membuat rancangan yang lebih rinci (design development dan detail design) 6. Pelaksanaan (construction) Tujuan pada tahap ini adalah mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasanbiaya, waktu yang sudah disepakati, serta dengan mutu yang telah disyaratkan.

8. Pemeliharaan dan persiapan penggunaan (maintenance and start up)

  Tujuan pada tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimanamestinya. Pelaksanaan proyek konstruksi pada dasarnya adalah mengubah sumber daya yang tersedia dan dana tertentu secaraterorganisir menjadi suatu hasil pembangunan yang mantap dan sesuai tujuan awal dan harus dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.

2.4.1. Pekerjaan Cetakan Beton / Bekisting

  Pekerjaan cetakan beton, yang secara umum para petugas di lapangan menyebut dengan istilah bekisting, adalah merupakan pekerjaan sementara, tetapi 20walaupun merupakan pekerjaan sementara harus kuat untuk menahan tekanan beton yang masih cair, dan juga harus kuat jika terkena injakan para pekerja dan pukulan-pukulan yang tidak disengaja (Sajekti, 2009). Biasanya bahan bekisting adalah dari kayu karena mudahpengerjaannya, tetapi sekarang sudah banyak cetakan beton dari plat besi dan balok- balok besi profil, sehingga lebih efisien karena dapat dipakai terus dengan tidakmengalami kerusakan atau kerusakan relative sangat kecil, sedangkan dengan menggunakan bahan kayu biasanya dipakai tiga atau empat kali sudah harus diganticetakan dindingnya (Sajekti, 2009).

2.4.2. Pekerjaan Pembesian

  Pada beberapa bagian dari anyaman besi beton yang terlalu panjang, dan jika diinjak dapat melentur, maka perlu diberi penyangga dari sisa-sisa besi, denganbentuk sedemikian rupa sehingga dapat menahan beban orang dan mesin pemadat beton. Pemotongan dan pembengkokan besi biasanya dengan mesin bertenaga listrik untuk pekerjaan besar dan secara missal, tetapi kadang-kadang perlu juga adanya alatpembengkokan secara manual untuk pekerjaan yang kecil-kecil dan hanya perlu satu atau dua buah saja.

2.4.3. Pekerjaan Pengecoran beton

2.5.1. Pekerjaan Memplester

  Pekerjaan pengecoran adalah pekerjaan penuangan beton segar ke dalam cetakan suatu elemen struktur yang telah dipasangi besi tulangan. Sebelum pekerjaanpengecoran, harus dilakukan inspeksi pekerjaan untuk memastikan cetakan dan besi tulangan telah terpasang sesuai rencana (Sajekti, 2009).

3. Memperindah penampilan

2.5.2. Pintu dan Jendela

  Pintu dan jendela merupakan konstruksi yang dapat bergerak, bergeraknya pintu atau jendela dipengaruhi oleh perletakan/penempatan, efisiensi ruang danfungsinya. MatahariPintu dan jendela merupakan sumber pengurangan dan penambahan panas, sehingga jendela dapat diletakkan di sisi sebelah timur dan/atau barat.

4. Penampilan Jendela akan dapat mempengaruhi penampilan ekterior rumah/bangunan

  Tahan cuaca, untuk mendapatkan ketahanan terhadap cuaca maka harus dipilih dari bahan yang baik, tidak mudah lapuk, tidak mudah mengalami kembang/susut (muai,melengkung) 3. Fungsi pintuDalam kegiatan/komunikasi antar ruang maka pintu sangat dibutuhkan, demikian juga sarana lintas antara bagian dalam dan bagian luar bangunan.

2.5.3. Kusen Pintu dan Jendela

  25Kusen kayu memberikan penampilan yang hangat dan indah dari tampilan tekstur serat-serat kayu yang dimilikinya, mempunyai nilai penyekat panas yang baik danpada umumnya tahan terhadap pengaruh cuaca. Kusen dari bahan logam berbeda dari kayu, kusen logam tidak terpengaruh bila basah, kusen logam ini tidak memiliki kehangatan dalampenampilan dan memberikan daya tahan yang kecil terhadap perpindahan panas.

1. Bagian-Bagian Kusen

  Alur kapur, bagian dari tiang (style) yang dialur/dicoak dengan fungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang selain itu juga agar apabila terjadipenyusutan, tidak timbul celah. Duk (neut), dipasang pada tiang (style) di bagian bawah, khusus untuk kusen pintu, berfungsi untuk menahan gerakan tiang ke segala arah dan melindung tiang kayuterhadap resapan air dari latai ke atas.

2.5.4. Dinding Bangunan

  Bata cetak/bata kapur, adalah batu buatan yang dibuat dari campuran beberapa bahan dengan perbandingan tertentu, Umumnya digunakan pada rumah-rumahsederhana di perkampungan, pagar pembatas tanah dan lain sebagainya. Batako dan blok beton, adalah batu buatan yang dibuat dari campuran bahan mentah: tras+ kapur + pasir dengan perbandingan tertentu.

2.5.5. Kuda-Kuda dan Atap

1. Kuda-Kuda

  Kuda-kuda bambu pada umunya mampu mendukung bebanatap sampai dengan 10 meter, Sedangkan kuda-kuda baja sebagai pendukung atap, dengan sistem frame work atau lengkung dapat mendukung beban atap sampaidengan bentang 75 meter, seperti pada hanggar pesawat, stadion olah raga, bangunan pabrik, dan lain-lain. Dengan mempertimbangkan berat atap serta bahan dan bentuk penutupnya, maka konstruksikuda-kuda satu sama lain akan berbeda, tetapi setiap susunan rangka batang harus merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinya mampu memikul bebanyang bekerja tanpa mengalami perubahan.

2. Atap

  Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehinggamemberikan kenyamanan bagi penggunan bangunan. Penutup atap akan didukung oleh struktur rangka atap, yang terdiri dari kuda- kuda, gording, usuk dan reng.

2.5.6. Plafon

  Pekerjaan Pengecatan Pada saat melakukan pengecatan baik itu tembok lama maupun baru, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih warna yang sesuai dengan fungsidinding yang akan dicat, memilih warna yang sesuai dengan selera, langkah selanjutnya adalah menentukan merek cat yang sesuai dengan anggaran. Saat ini di pasar masih banyak dijual produk yang tidak memperhatikan aspek-aspek kesehatan dan lingkungan,karena bahan baku yang dipergunakan masih mengandung tambahan logam merkuri(Hg) dan timah hitam/timbal (Pb).

2.6. Kerangka Konsep

  Potensi Bahaya K3Pekerjaan Struktur 1. Fisik Pekerjaan Arsitektur 4.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif untuk menggambarkan potensi bahaya K3 yang ditimbulkan pada proses kerja proyek pembangunan hotel The Regale padatahun 2013. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada proyek pembangunan gedung Hotel The Regale.

3.3. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

  3.3.1. Populasi Table 3.1.

3.3.2. Sampel

  Sampel adalah sebagian yang diambil dari suatu populasi. Untuk mengetahui ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya menggunakan rumus Slovin: 32 33n = Keterangan: n = ukuran sampelN = ukuran populasi e = kelonggaran atau ketidaktelitian karena kesalahan pengambilansampel yang dapat ditolerir misalnya, 2%, 5%, 10% n = = 66.89 67 Berdasarkan hasil perhitungan rumus di atas, maka jumlah sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah berjumlah 67 orang.

3.3.3. Tehnik Penarikan Sampel

  Tehnik sampling (penarikan sampel) yang digunakan dalam peneltian ini adalah tehnik Probability Sampling jenis Proportionate Stratified Random Sampling,yaitu merupakan tehnik pengambilan sampel anggota populasi yang dilakukan dengan memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Rumus Proportionate Stratified Random Sampling adalah: Ni =Keterangan : Ni = Ukuran tiap strata sample Ni = Ukuran tiap strata populasi n = Ukuran (total) sampleN = Ukuran (total) populasi(Sugiyono, 2007) 34 Tabel 3.2.

JUMLAH SAMPEL

67

3.4. Metode Pengumpulan Data

  Data Primer Data diperoleh dengan mengobservasi pekerja dan tempat kerja dengan menggunakan alat bantu berupa lembar observasi dan kamera digital. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari arsip-arsip proyek pembangunan hotel TheRegale yang meliputi gambaran umum dari tempat penelitian yaitu proyek pembangunan The Regale, data pekerja, dan data-data lain yang diperlukan untukmenunjang penelitian.

3.5. Definisi Operasional

  Bahaya mekanik adalah bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan peralatan kerja yang mengandung bahaya seperti bar cutter, bar bender, gergaji, palu, pemotong kaca, alat bor, dan-lain-lain. Pada pekerjaan pintu dan jendela terjadiproses pemasangan kusen dan daun pintu dan jendela, pemasangan gagang 36pintu dan badan kunci serta pemasangan kaca jendela.

3.6. Analisa Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan di analisis secara deskriptif

BAB IV HASIL PENELITIAN

  Selain keinginan owner untuk memiliki fasilitas umum untuk masyarakat yang dapat dijadikan sebagai bisnis yang akan membawa keuntungan bagi pihak owner, owner juga melihat pada lokasi sekitar Jalan H. Pada saat menggergaji, tangan pekerja yang kiri memegang kayu dan tangan pekerja yang sebelah kanan memegang gergaji.

2. Proses Pembesian

  Pada proses tersebut, pekerja hanya menggunakan sandal dan ada pekerja yang tidak menggunakan alas kaki dan gerakan pekerja saatpencampuran sedang berlangsung cukup cepat. Keramik yang dipotong akan membuat sisi keramik menjadi tidak rata,sehingga untuk meratakannya digunakan mesin gerinda tangan dengan batu gerinda yang disesuaikan fungsinya untuk meratakan dan merapikan sisi keramik.

4. Pekerjaan plafon

  Pekerja melakukanpemboran dengan menggunakan scaffolding dimana proses pekerjaan tersebut dilakukan di ketinggian dan pekerja melakukan proses tersebut sambil berdiri. Pekerja menggunakan scaffolding saat proses pemboran dan sikappekerja berdiri dan arah pemboran mengarah ke atas yang mengharuskan kepala pekerja untuk selalu mengarah keatas kepada posisi metal furing yang akan dibor.

5. Pekerjaan atap

  Concrete pump truck adalah truk yang 49dilengkapi dengan pompa dan lengan untuk memompa campuran beton dari truk ke tempat yang sulit dijangkau. Pekerja melakukan proses pemerataan dengan cepat agar beton tidak segera mengering dimana posisi badan pekerja saat menggunakan cangkuladalah membungkuk dengan gerakan tangan yang cepat dan dalam jangka waktu yang cukup lama.

4.3. Potensi Bahaya K3 Pada Pekerja Proyek Pembangunan Hotel The Regale

  Potensi bahaya K3 yang terdapat pada proyek pembangunan Hotel TheRegale adalah suatu sumber potensi kerugian seperti bahaya mekanik, kimia, fisik dan listrik. Potensi bahaya K3 ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan/kerugianbagi pekerja.

4.3.1. Potensi Bahaya K3 pada Pekerjaan Struktur

  Sikap pekerja yang dapat menimbulkan bahaya ergonomi yaitu sikap jongkok saat melakukan perakitan bekisting dan fabrikasi besi dalam jangkawaktu yang cukup lama, getaran dan gerakan berulang dari mesin gergaji saat perakitan mal bekisting, mengangkut material seperti karung semen dan meletakkanbeban tersebut pada punggungnya, dan mengangkat material yang berat seperti ring besi dan bekisting. Proses pembesianBahaya mekanik - Tangan dapat tergores besi pada saat pemotongan besi dengan bar cutter dan pembengkokkan besi dengan bar bender.

4.3.2. Potensi Bahaya K3 pada Pekerjaan Arsitektur

  Pekerjaan Bahaya mekanikKaki dapat terpotong akibat cangkul yang digunakan saat proses pencampuran Tangan dapat terpotong saat memotong keramik dan meratakan serta Pekerja menghirup debu yang berterbangan saat memotong keramik dengan mesin pemotong keramik dan merapikan keramik dengan mesin gerinda. Tangan terpotong akibat gerinda yang digunakan untuk memotong rangka Terjatuh dari scaffolding yang digunakan saat pemasangan rangka plafon dan Bahaya kimia Pekerja menghirup debu-debu yang berterbangan dari siku metal saat pemboran dan debu-debu rangka plafon saat pemotongan dengan gerinda tangan.

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Potensi bahaya K3 pada bagian struktur

  Potensi bahaya yang timbul pada saat bekerja di atas scaffolding adalahbahaya jatuh yang terjadi pada saat memanjat perancah, terkena barang jatuh seperti peralatan dan perkakas dan scaffolding yang terjadi karena tidak stabil dan melebihibeban yang diperbolehkan (Gunanusa Utama Fabricators, 2010 ). Pada saat proses pemotongan dan pembengkokan besi tulangan, mesin-mesin yang berputar dapat mengadakan tarikan-tarikan, sehingga baju yang longgar atau rambut yang teruraiditarik oleh bagian-bagian yang bergerak tersebut dan menyebabkan kecelakaan kerja, seperti lepasnya kulit kepala.

5.2. Potensi bahaya K3 pada bagian arsitektur

  Pemotongan kusen pintu dan jendela menggunakan mesin gerinda tangan dan merapikan sisinya juga menggunakan gerinda tangan.potensi bahaya yang tejadi adalah tangan terpotong akibat tidak berhati-hati dalam penggunaan mesin gerinda, dan batu gerinda juga berpotensi untuk terlepas dan pecahsaat proses pemotongan sedang berlangsung. Potensi bahaya yang dapat terjadi adalah pekerja dapat tertimpa hasil coran beton yang dikeluarkan melalui pompa yang dipegang olehpekerja ujungnya untuk mengatur penyebaran adonan beton sehingga tidak menimbun di satu tempat tapi menjadi rata ke seluruh permukaan atap beton.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

  Potensi bahaya K3 yang paling besar pada pekerjaan arsitektur terdapat pada pekerjaan atap, yaitu pekerja tertimpa bekisting dan ring besi, kaki dan tanganterjepit bekisting dan ring besi, tangan pekerja tergores besi dari ring besi dan kayu bekisting, terjatuh dari scaffolding, tertimpa hasil coran beton, terlukaakibat cangkul, gangguan pernapasan, iritasi kulit dan mata akibat cat waterproofing, terpapar debu, getaran, panas, serta kebisingan. Pihak proyek sebaiknya menerapkan penggunaan APD bagi pekerja seperti kacamata safety yang melindungi mata dari paparan debu, beton yang sedangdicor, dan bunga api serta sinar saat menggerinda, masker untuk melindungi pekerja dari debu-debu proyek, helm untuk melindungi kepala dari bahayatertimpa peralatan dan benda kerja serta safety belt saat bekerja di ketinggian.

2. Pihak proyek sebaiknya membuat rambu-rambu K3 di setiap area kerja yang berbahaya serta pemberian sanksi bagi yang tidak menggunakan APD

78

DAFTAR PUSTAKA

  Analisa Faktor Penyebab Keselamatan dan Kecelakaan kerja Pada Pemakaian Crane di Proyek Konstruksi. Macam-macam dan Penyebab Kecelakaan Struck- by pada Proyek Konstruksi di Surabaya.

1. Pekerjaan dinding a

  Mempersiapkan adukan semen dan keramik yang akandipasang b. Pemasangan kusen dan daun pintu dan jendelab.

5. Pekerjaan atap cor beton a

  Proses Pemasangan Bekisting 86 Gambar II. Proses Pemasangan Bata 88 Gambar V.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Bahaya pada Pekerja Bagian Workshop PT. X Medan Tahun 2015
9
87
92
Potensi Bahaya K3 pada Bagian Struktur dan Arsitektur Proyek Pembangunan Hotel The Regale Tahun 2013
76
545
105
Penilaian Risiko Kecelakaan Kerja pada Pengguna Scaffolding di Proyek Pembangunan Hotel Gatot Subroto Medan Tahun 2012
10
110
105
Kajian Potensi Terjadinya Tuntutan Kontraktor Pelaksana Pada Proyek Konstruksi (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Hotel Santika Medan)
4
79
93
Analisis Daya Dukung Pondasi Bore Pile Pada Proyek Pembangunan Hotel Santika.
32
154
129
ANALISIS RISIKO KONSTRUKSI (Studi Kasus Proyek Pembangunan Hotel Horison Malang)
3
15
18
Analisis Model Implementasi GC EDWARD Pada Penerapan PERMENAKERTRANS NO.PER.01/MEN/1980 Tentang K3 Konstruksi Bangunan Pada Proyek Apartemen dan Hotel di Kemang Jakarta Selatan Tahun 2013
2
9
252
Pembangunan Proyek Hotel Carrcadine Jl.Kebon Jati No 71-75 Bandung
0
7
1
Laporan Kerja Praktek II Proyek Pembangunan Hotel Grand Pasundan Bandung
1
39
1
Studi Theory of Constraints dalam Manajemen Konstruksi pada Proyek Pembangunan Pop Hotel Lampung
1
31
97
Perencanaan Site Layout Facilities Berdasarkan Traveling Distance dan Safety Index pada Proyek Pembangunan Hotel The Alimar Surabaya
0
0
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahaya - Analisis Bahaya pada Pekerja Bagian Workshop PT. X Medan Tahun 2015
0
2
32
Analisis Bahaya pada Pekerja Bagian Workshop PT. X Medan Tahun 2015
0
0
12
2.1.2. Pengertian Kesehatan Kerja - Potensi Bahaya K3 pada Bagian Struktur dan Arsitektur Proyek Pembangunan Hotel The Regale Tahun 2013
0
0
24
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Potensi Bahaya K3 pada Bagian Struktur dan Arsitektur Proyek Pembangunan Hotel The Regale Tahun 2013
0
0
7
Show more