Perencanaan Perawatan Mesin pada Unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) di PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara Titi Kuning Medan

Gratis

81
426
216
3 years ago
Preview
Full text

PERENCANAAN PERAWATAN MESIN PADA UNIT PEMBANGKIT

CENTERED MAINTENANCE) DI PT.PLN (PERSERO) PEMBANGKITAN

  Permasalahan yang dihadapi PLTD Titi Kuning Medandimana sering terjadi kendala pada proses electricity production yang disebabkan tidak bekerjanya sistem pada mesin pembangkit listrik yang diakibatkankerusakan pada mesin dengan tiba-tiba. Prosedurperawatan mesin pembangkit yang ditentukan dengan pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM), dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan, menentukan tugas-tugas perawatan di PLTD titi kuning Medan, karena memberikan basis data yang komprehensif dan sistematis.

KATA PENGANTAR

  Bapak Hombing sebagai supervisor operasi yang telah membantu penulis dalam penelitian dan juga seluruh pegawai dan staf di PLTD Titi Kuning yang 7. Sahabat-sahabat terkasih (Yansen, Mas heryanto Sitanggang, MeylandoSihombing. Niky Simatupang, Julius, Sartono, Andi, Marusaha dan teman- teman lainnya yang belum saya sebutkan namanya) yang selalu memberikandukungan dan doa serta memberikan nasehat positif kepada penulis untuk tetap semangat.

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN

  Perhitungan Index of fit dengan Distribusi Normal pada Komponen Bearing Conrod ................................................................................. Perhitungan Index of fit dengan distribusi Normal pada komponen Control Logic Board .........................................................................

DAFTAR LAMPIRAN

  Permasalahan yang dihadapi PLTD Titi Kuning Medandimana sering terjadi kendala pada proses electricity production yang disebabkan tidak bekerjanya sistem pada mesin pembangkit listrik yang diakibatkankerusakan pada mesin dengan tiba-tiba. Prosedurperawatan mesin pembangkit yang ditentukan dengan pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM), dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan, menentukan tugas-tugas perawatan di PLTD titi kuning Medan, karena memberikan basis data yang komprehensif dan sistematis.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Untuk memenuhikebutuhan yang semakin meningkat, maka PLN yang merupakan perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah dalam menyediakan energi listrik yang berkapasitasbesar dan diharapkan mempunyai sistem yang handal, agar kontinuitas pelayanan kepada konsumen dapat terjamin. Namundi dalam perkembangannya perusahaan ini belum mampu memberikan kinerja yang maksimal, hal ini dapat dilihat dari masih seringnya terjadi kerusakan padakomponen-komponen mesin pembangkit yang mempunyai peranan penting sebagai control dan proteksi selama proses pengoperasian mesin berlangsung,sehingga dapat mengganggu transmisi listrik ke gardu-gardu induk yang berakibat pemadaman listrik mendadak.

2 Penerapan metode RCM sudah pernah dilakukan dalam penelitian di PT

  Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sistem perawatan mesin dan peralatan yang kurangefektif dan bersifat corrective maintenance, dimana belum ada tindakan untuk mengetahui gejala-gejala dini dari kerusakan mesin yang berakibat terjadinyakerusakan yang terjadi secara tiba-tiba dan berakibat tidak bekerjanya sistem pada mesin pembangkit listrik (electricity production berhenti). Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan suatu jadwal pemeliharaan (maintenance) yang optimal dengan memperhatikan faktorkehandalan mesin sehingga diperoleh sistem pemeliharaan yang optimal.

1.4. Asumsi dan Batasan Asumsi 1

  Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mesin yang dipilih untuk penelitian ini adalah mesin utama di unitPembangkit Listrik Tenaga Diesel dan tergolong kritis yaitu pada mesin unit empat ( Mesin Enterprise 74007 – 2600).

1.5. Manfaat Penelitian

  Bagi mahasiswa :Mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam menerapkan konsep/teori sistem perawatan dengan pendekatan RCM (reability centered maintenance) dalam perusahaan nyata dalam menganalisis faktor-faktor dan masalah yang terjadi pada perawatan mesin, yang akhirnya memberikan usulan rencana perawatan mesin yang optimal. Bagi Fakultas :Menambah jumlah dan memperbaharui hasil karya mahasiswa yang dapat menjadi literatur dan referensi bagi mahasiswa yang memperkaya danmeningkatkan penelitian yang berkaitan dengan pemeliharaan/perawatan mesin.

1.6. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

  Adapun sistematika penulisan tugas sarjana ini akan disajikan dan dijelaskan sebagai berikut : BAB I Pendahuluan : Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah dan asumsi yang digunakan, serta sistematika penulisan tugas akhir. Landasan teori yang digunakan adalah bertujuan untuk menguatkan metode dan teknik yang dipakai untuk memecahkan permasalahandalam penelitian di perusahaan.

BAB VI Analisis Pemecahan Masalah : Melakukan analisis pemecahan masalah berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan. I Kesimpulan dan Saran : Bab ini berisi kesimpulan dari hasil

penelitian serta saran-saran yang bermamfaat bagi perusahaan dan perbaikan penelitian ini kedepannya. BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan Listrik Negara

  Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas. Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik danPerusahaan Gas Negara (PGN) yang mengelola gas.

2.2. Profil Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

  Prasarana dan sarana kota yang ada pada saat itu masih dirasakan belum dapat mengimbangi kebutuhanmasyarakat yang semakin meningkat termasuk di dalamnya kebutuhan akan listrik. Dalam mengimbangi kebutuhan masyarakat akan listrik yang semakin meningkat, maka pemerintah dengan atas nama PLN pada tahun 1970mengadakan Feasisibility Study untuk membangun PLTD titi kuning yang bersamaan juga dengan Feasisibility Study rehabilitasi PLTD/PLTG glugur.

2.3. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

  Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) adalah suatu stasiun pembangkit tenaga, dimana sebagai penggerak mula adalah sebuah mesin dieselyang mendapat energi dari bahan bakar cair yang dikenal sebagai minyak solar, dan merubah energi tersebut menjadi energi mekanik dan dikopel dengan sebuahgenerator untuk mengubah energi mekanik dari mesin diesel menjadi energi listrik. Prinsip kerja PLTD adalah dengan menggunakan mesin diesel yang berbahan bakar High Speed Diesel Oil (HSDO).

2.3.1. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

  Mengingat waktu startnya yang cepat namun ongkos bahan bakarnya tergolong mahal dan bergantung dengan perubahan harga minyak dunia yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, PLTD disarankan hanya dipakai untuk melayani konsumenpada saat beban puncak saja. Investasi awal pembangunan PLTD yang relatif murah, kebutuhan energi di daerah-daerah terisolasi yang mendesak dankebutuhan energi daerah-daerah yang belum terlalu besar, pemerintah Indonesia berinisiatif membangun PLTD yang berfungsi sebagai base-supply untukmemenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah.

2.3.2. Komponen Utama Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

Komponen utama pembangkit listrik tenaga diesel sebagai berikut:

MESIN DIESEL 1

  Penggunaan motor dieselbertujuan untuk mendapatkan tenaga mekanik dari energy panas yang di timbulkan oleh energy kimia bahan bakar, energi kimia tersebut diperoleh daripembakaran antara bahan bakar dan udara di dalam ruang bakar. Mesin dieseladalah sejenis motor bakar yang penyalaannya dengan cara bahan bakar diinjeksikan kedalam silinder, yang berisi tekanan udara dalam silinder mesinmaka suhu udara meningkat, sehingga ketika bahan bakar dalam bentuk kabut halus bersinggungan dan bercampur dengan udara panas ini mulai terbakarsendiri.

2. GENERATOR Generator yang digunakan di PLTD Titi kuning adalah generator sinkron

  Sikat ini merupakanbatang grafit yang terbuat dari senyawa karbon yang bersifat konduktif dan memiliki koefisien gaya gesekan yang sangat rendah. Dengan kata lain ggl induksiyang timbul pada ujung-ujung penghantar atau kumparan adalah sebanding dengan laju perubahan fluks magnetic yang dilingkupi oleh loop penghantartersebut, seperti rumus berikut: θ d E = -N dt d ( BA cos θ ) = - N dt ( d cos )θ = -NBA dt Laju perubahan fluks magnetic ini bisa disebabkan oleh salah satu perubahan berikut: 1.

2.3.3. Komponen Pendukung Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

Komponen pendukung pembangkit listrik tenaga diesel sebagai berikut:

1. Cooling Systems

  Pendingin udara, berfungsi untuk menaikan densitas udara yang masuk silinder sehingga tenaga output mesin diesel naik dengan membakar lebihbanyak bahan bakar, selain itu juga berfungsi untuk memelihara temperature yang dapat diterima oleh katup pengeluaran udara. Harus disediakan sistem pelumasan agar mengurangigesekan pada bagian yang bergerak dan berputar (didinginkan menggunakan air) Bagaimanapun baiknya sebuah mesin dirancang dari efisiensi panas dan kekuatannya dan bagaimanapun baiknya pembuatan dari segi bahan danpengerjaannya kalau Pelumasan dan semua bagian yang bergerak tidak diperhatikan dengan baik, maka mesin tidak akan berjalan sama sekali.

3. Fuel System

  Dalam hal ini sistem dianggap sukses jika bahan bakar dapat disuplai dari tanki utama hingga masuk ke dalam mesin melalui fuel oil final filter. Liter V th = x Produksi Listrik 1 hari (KWH) x T KWH V th = Volume tangki penyimpanan bahan bakar (liter)T = Untuk berapa lama bahan bakar disediakan (hari) Sistem bahan bakar memerlukan pompa transfer bahan bakar.

4. Sistem Udara Bertekanan (Compresed Air System)

  Sistem udara bertekanan berfungsi menyuplai kebutuhan udara bertakanan untuk mesin, baik untuk proses starting, untuk control engine dan untuk emergency stop. Kinerja sistem udara bertekanan ini bersifat intermitent atau bekerja pada saat tertentu saja, selama kurang lebih satu kali satu hari untuk proses start mesin.

2.4. Struktur Organisasi PLTD Titi Kuning

  PLN yang bertujuan untuk memcapai keuntungan yang maksimumdengan menciptakan suasana dan mutu kerja yang optimum, sehingga dapat meningkatkan kegiatan perusahaan. Struktur organisasi perusahaan ini merupakan kerangka dasar yang mengambarkan pembagian pelaksanaan kegiatan organisasi di dalam badan usahatersebut, yang meliputi tatacara pembagiaan tugas dan wewenang, fungsi tanggung jawab pekerjaan dan ketentuan mengenai hubungan formal antarafungsi-fungsi yang terdapat di dalam organisasi pokok perusahaan.

2.5. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab

  PLTD Titi kuning membutuhkan personil yang memegang jabatan tertentu untuk menggerakkan suatu organisasi dimana masing- masing personilmempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan jabatannya. Tanggung jawab yang diberikan haruslah seimbang dengan wewenang yang diterima.

2.5.1. Tugas dan Tanggung Jawab Manager Unit : 1. Melaksanakan koordinasi operasi dan pemeliharaan

  Memperhatikan keandalan unit dan daya mampu yang optimal. Menyusun dan mengusulkan rencana pemeliharaan rutin dan periodik berikut kebutuhan suku cadang dan anggarannya.

2.5.2. Tugas dan Tanggung Jawab Supervisor Administrasi dan Keuangan :

  Membantu dan menggerakkan pelaksanaan kegiatan ke pegawaian yang meliputi pembangunan SDM, tata usaha kepegawaian, kesehatan dan keselamatan kerja. Membuat usulan perbaikan yang berhubungan dengan bidang administrasi dan keuangan.

2.5.3. Tugas dan Tanggung Jawab Supervisor Pemeliharaan dan Alat bantu : 1. Menyusun rencana pemeliharaan rutin dan periodik

  Melakukan koordinasi dengan seksi operasi yang menyangkut pemeliharaan mesin dan alat bantu. Membuat usulan perbaikan yang berhubungan dengan bidang pemeliharaan mesin dan alat bantu.

2.5.5. Tugas dan tangung jawab Supervisor Operasi : 1. Melaksanakan pengoperasian mesin sesuai pengaturan sistem

  Mencatat dan melaporkan pemakaian BBM HSD dan pelumas. Membuat usulan perbaikan yang berhubungan dengan bidang operasi.

2.6. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja

  Jumlah karyawan yang ada di PLTD ini adalah sebanyak 30 orang, yang terdiri dari 29 orang laki- laki dan 1 orang perempuan. Jumlah Tenaga Kerja 5 Supervisor Administrasi dan keuangan 1 4 Supervisor Pemeliharaan dan Alat bantu 1 3 Supervisor Pemeliharaan Listrik dan control Instrumen 1 2 Supervisor Operasi 1 1 Manager Unit 2 1.

2.7. Visi, Misi dan Motto Perusahaan

  Visi Perusahaan Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.

BAB II I LANDASAN TEORI

3.1. Teori

3.1.1. Perawatan ( Maintenance)

  Perawatan adalah fungsi yang memonitordan memelihara fasilitas pabrik, peralatan, dan fasilitas kerja dengan merancang, mengatur, menangani, dan memeriksa pekerjaan untuk menjamin fungsi dari unitselama waktu operasi (uptime) dan meminimisasi selang waktu berhenti 3 (downtime) yang diakibatkan oleh adanya kerusakan maupun perbaikan. (1971), adalah kegiatan rutin, pekerja yang berulang yang dilakukan untuk menjaga kondisi fasilitas produksi agar dapat dipergunakan sesuai dengan fungsi dan kapasitas sebenarnya secara efesien .

3.1.2. Tujuan Perawatan

4 Maintenance

  Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi atau jasa dan mendapatkan laba investasi (return on investment) maksimumyang mungkin. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu, misalnya unit cadangan, unit pemadamkebakaran dan penyelamat, dan sebagainya.

3.1.3. Pengklasifikasian Perawatan

  Pendekatan perawatan pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu planned dan unplanned. Dapat dilihat gambar 2.2.

4 Corder, Antony. 1992. Teknik Manajemen Pemeliharaan. Erlangga:Jakarta. Hal 3

  Preventive Maintenance, suatu sistem perawatan yang terjadwal dari suatu peralatan/komponen yang didesain untuk meningkatkan keandalan suatu mesinserta untuk mengantisipasi segala kegiatan perawatan yang tidak direncanakan sebelumnya. Corrective Maintenance, suatu kegiatan perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi mesin sehingga mencapai standar yangtelah ditetapkan pada mesin tersebut.

3.1.3.1. Preventive Maintenance

  Preventive maintenance dilakukan dengan melakuakan perawatan secara berkala tampa menunggu mesin atau peralatan yang lain itu rusak terlebih dahulu. Preventive maintenance sesuai dengan (Worsham, 2002) adalah suatu sistem perawatan yang terjadwal dari suatu peralatan/komponen yang didesain untuk meningkatkan keandalan mesin serta untuk mengantisipasi segala kegiatanperawatan yang tidak direncanakan sebelumnya.

3.1.3.2. Corrective Maintenance

  Corrective Maintenance merupakan kegiatan perawatan yang dilakukan untuk mengatasi kegagalan atau kerusakan yang ditemukan selama masa waktu preventive maintenance. Pada umumnya, corrective maintenance bukanlah aktivitas perawatan yang terjadwal, karena dilakukan setelah sebuah komponen mengalami kerusakan dan bertujuan untuk mengembalikan kehandalan sebuahkomponen atau sistem ke kondisi semula.

3.1.4. Keandalan (

3.1.4.1. Defenisi Keandalan ( Reliability)

  Secara umum reliability dapat didefenisikansebagai probabilitas suatu sistem atau produk dapat beroperasi dengan baik tanpa mengalami kerusakan pada suatu kondisi tertentu dan waktu yang telah ditentukan. Faktor- faktornya tidak hanya dialamatkan untuk kondisi selama periode waktu tertentuketika sistem atau produk sedang beroperasi, tetapi juga ketika sistem atau produk berada di dalam gudang (storage) atau sedang bergerak (trasformed)dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

3.1.4.2. Konsep Reliability

  Fungsi KeandalanBila variabel acak dinyatakan sebagai suatu waktu kegagalan atau umur komponen maka fungsi keandalan R(t) didefenisikan: R(X) = P(T>t)T : Waktu operasi dari awal sampai terjadi kerusakan (waktu kerusakan) dan f(x) menyatakan fungsi kepadatan probabilitas, maka f(x) dx adalah probabilitasdari suatu komponen akan mengalami kerusakan pada interval (t t + ). Rata-rata kerusakan yang terjadi dalam interval waktu t = 1-F(t) ∫ xt f dx → d dR ( t ) 1  = − R ( t ) ; f ( t ) = − R ( t ) dt dt   f ( t ) = R ( t ) 6 Konsep Avability (kesediaan) 3.1.4.3.

3.1.4.4. Konsep Maintability (Keterawatan)

  Keterawatan didefenisikan sebagai probalititas suatu sistem/komponen akan kembali pada keadan yang memuaskan dan dalam kondisi operasi mampumencapai waktu downtime minimum (Dillon,1997). Keterawatan merupakan probabilitas bahwa komponen atau sistem yang rusak akan diperbaiki kedalam6 suatu kondisi tertentu sesuai dengan prosedur yang ditentukan (Ebiling,1997).

3.1.5. Pola Distribusi Data dalam Keandalan/Reliability

3.1.5.1. Pola Distribusi Weibull

  Ilustrasi yang khas, misalnya pada sistem dimana jumlah kegagalan meningkat dengan berjalannya waktu (misalnya keausan bantalan),berkurang dengan berjalannya waktu (misalnya daya hantar beberapa semi konduktor) atau kegagalan yang terjadi oleh suatu kejutan (shock) pada sistem. Fungsi Keandalan ) (( 1 ) t F t R − = Distribusi ini biasa digunakan dalam menggambarkan karakteristik kerusakan dan keandalan pada komponen.

7 Harinaldi. 2005. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains. Jakarta: PT. Erlangga

  Parameter β disebut dengan parameter bentuk atau kemiringan weibull(weibull slope ), sedangkan parameter α disebut dengan parameter skala atau karakteristik hidup. Bentuk fungsi distribusi weibull bergantung pada parameterbentuknya ( β), yaitu:Β < 1 : Distribusi weibull akan menyerupai distribusi hyper-exponential dangan laju kerusakan cenderung menurun.

3.1.5.2. Pola Distribusi Normal

  Terminologi“normal” itu sendiri bukan tidak pada tempatnya, karena memang distribusi ini adalah yang paling banyak digunakan sebagai basis data riil di berbagai bidangyang meliputi antara lain karakteristik fisik mahluk hidup (berat, tinggi badan, manusia, hewan dan lain-lain), kesalahan-kesalahan pengukuran dalam Sekurang-kurangnya terdapat empat alasan mengapa distribusi normal menjadi distribusi yang paling penting: 1. Beberapa variabel acak yang terdistribusi secara normal dapat dengan mudah ditransformasi menjadi suatu distribusi variabel acak yang normal.

3.1.5.3. Pola Distribusi Lognormal

  Distribusi lognormal merupakan distribusi yang berguna untuk menggambarkan distribusi kerusakan untuk situasi yang bervariasi. Fungsi Keandalan2 ∞   1 ln ( ) t − µ [ ]R ( t ) = exp − dt2 ∫   2 σt t σ 2 π  R ( t ) = 1 − F ( t ) 4.

3.1.5.4. Pola Distribusi Eksponensial

  Meskipun distribusi normal memiliki penerapan yang luas di berbagai bidang ilmu, dalam kenyataannya terdapat situasi dimana hasil-hasil eksperimenmenunjukkan distribusi yang tidak simetris ataupun tidak menujukkan kcenderungan simetris. Kurva Untuk eksperimen-eksperimen probabilitas yang hasilnya menunjukkan suatu bentuk distribusi yang mempunyai variasi ukuran kemencengan yang cukupsignifikan, distribusi eksponensial merupakan salah satu alternatif model yang banyak digunakan.

3.1.6. Identifikasi Distribusi dan Parameter Distribusi

Dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu identifikasi distribusi awal dan 8 estimasi parameter.

8 Sumber: Ebeling,Charles E, ibid,1997.,pp.359

3.1.6.1. Identifikasi Distribusi Awal

  Distribusi dengan nilai r yang terbesar akan dipilih untuk di uji dengan menggunakan estimasi parameter. Index Of Fit n 1( x x )( y y ) i i - - ∑ n Sxy i =1 r = =n 2 n2 Sxx Syy i i - - ( x x ) ( y y ) ∑ ∑i = 1 i = n n1 Perhitungan identifikasi awal untuk masing-masing distribusi adalah a.

3.1.6.2. Estimasi Parameter

  Distribusi LognormalParameter adalah µ, s dan t med σ( 1= ) t dimana: b ∑ ∑ n 1 = i i n 1 = i i n x = b ∑ ∑n 1 = i2 i n 1 = i i i Estimasi parameter dilakukan dengan menggunakan Metode Least Square ) x - x () y - y )( x - x ( σ μ a. Estimasi untuk masing-masing parameter adalah ∑ ∑n 1 = i2 i n 1 = i i i λ = b ) x - x () y - y )( x - x ( β= α lnβ d.

3.1.7. Interval Penggantian Komponen dengan Total Minimum Downtime

  Penggantian Komponen Berdasarkan Interval Waktu Sumber: Analisis Sistem Terapan Berdasarkan Pendekatan Teknik Industri (Hal. 552) Dari gambar 3.7, dapat dilihat bahwa total downtime per unit waktu untuk tindakan penggantian preventif pada waktu t , dinotasikan sebagai D(t ) adalah: p p H(t p ) = Banyaknya kerusakan (kagagalan) dalam interval waktu (0,t p ), merupakan nilai harapan (expected value)T f = Waktu yang diperlukan untuk penggantian komponen karena kerusakan. RCM juga melakukan pendekatan dengan menggunakan analisa kualitatif dan kuantitatifsehingga memungkinkan menelusuri akar dari penyebab kegagalan fungsi dan memberikan solusi yang tepat sesuai dengan akar permasalahan.

3.1.8. Reliability Centered Maintenance (RCM)

3.1.8.1. Definisi RCM

  Reliability Centered Maintenance (RCM) merupakan sebuah proses teknik logika untuk menentukan tugas-tugas pemeliharaan yang akan menjamin sebuah Reliability Centered Maintenance (RCM) adalah menyadari bahwa konsekuensi atau resiko kegagalan adalah jauh lebih penting dari pada karakteristik teknik itu sendiri. RCM dapat didefinisikan sebagai sebuah proses yang digunakan untukmenentukan apa yang harus dilakukan untuk menjamin bahwa beberapa asset fisik dapat berjalan secara normal melakukan fungsi yang di inginkan penggunaannyadalam konteks operasi sekarang.

10 Sumber: Timoty C. kister,” Maintenance planning and scheduling”. (Hal 99)

  Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa keandalan dari peralatan dan stuktur dari kinerja yang akan dicapai adalah fungsi dari perencanaan dan kualitas pembentukan preventive maintenance yang efektif. Reliability Centered Maintenance (RCM) didefinisikansebagai sebuah proses yang digunakan untuk menentukan kebutuhan perawatan terhadap aset yang bersifat fisik dalam konteks operasinya.

3.1.8.2. Langkah-langkah Penerapan RCM

  Deskripsi Sistem dan Diagram Blok Fungsi Dalam tahap ini ada lima fungsi informasi yang harus di kembangkan yaitu penguraian sistem, blok diagram fungsi, masukan dan keluaran sistem, dandata historis peralatan serta system work breakdown structure (SWBS). Penguraian SistemLangkah pendeskripsian sistem diperlukan untuk mengetahui komponen- komponen yang terdapat di dalam sistem tersebut dan bagaimana komponen-komponen yang terdapat dalam sistem tersebut beroperasi.

4. Fungsi Sistem dan Kegagalan Fungsi

  Dari analisis ini kita dapat memprediksi komponen mana yang kritis, yang sering rusak dan jika terjadi kerusakan pada komponen tersebut maka sejauh manapengaruhnya terhadap fungsi sistem secara keseluruhan, sehingga kita akan dapat memberikan perilaku lebih terhadap komponen tersebut dengan tindakanpemeliharaan yang tepat. Hanya dengan menggunakan metode FMEA ini secara umum dibatasi dengan waktu dan sumber-sumber yang tersedia dan kemampuanuntuk mendapatkan database yang cukup detail pada saat menganalisis (sebagai contoh pendefinisian sistem akurat, gambar terbaru /up to date) data failure rate.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

  Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang beralamat di Jalan Brigjend Katamso KM 5.5 Titi Kuning Medan. Jenis penelitian ini adalah adalah penelitian action research karena bertujuan untuk mendapatkan suatu rancangan preventive maintenance untukmenggantikan corrective maintenanace yang di terapkan di perusahaan saat ini.

12 Action research merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian

dalam penelitian tindakan peneliti mendeskripsikan, menginterpretasi dan menjelaskan suatu situasi sosial pada waktu yang bersamaan dengan melakukan12 perubahan atau intervensi dengan tujuan perbaikan. Madya,S,(2006) Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (action research) ,Alfabeta: Bandung

4.4. Sumber Data

  Data primerData primer adalah data yang langsung didapatkan dari hasil observasi pada bagian lantai produksi dan wawancara langsung operator mesin pembangkitlistrik dan pembingbing lapangan. Cara perawatan dan perbaikan mesin yang diperoleh dari pengalaman dan praktek secara langsung dilapangan.

4.5. Blok Diagram Prosedur Penelitian

  Blok diagram proses penelitian sebagai berikut: Mulai Studi PendahuluaanMelakukan pengamatan secara langsung dengan melihat fenomena yang terjadi di perusahaan dan di lanjutkan dengan studi literatur untuk mencari dan memahami teori pendukung dalam penelitian Identifikasi Masalah dan Penetapan Tujuan1. Penetapan Tujuan Menerapkan preventive maintenance dengan metode Reliability Centered Maintenance untuk tujuan mempelancar produktivitas perusahaan Pengumpulan DataMelakukan pengumpulan data yang di perlukan sebagai bahan untuk memecahkan masalah di perusahaan Data Primer 1.

4.6. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel Dependen 1

  Dengan tindakan corrective maintenance yang selama ini berlangsung di perusahaan maka tingkat reliability/kehandalanmesin tidak mendapatkan dipertahankan tinggi, karena kehandalan bergantung dari tindakan maintenance yang berlangsung pada perusahaan. Selanjutnya penelitian ini ditujukan untuk merancang suatu metode perawatan mesin yang bersifat preventive maintenance bertujuan untukmeminimumkan downtime dan meningkatkan reliability dari mesin/komponen Centered Maintenance (RCM) dengan membuat suatu jadwal perawatan (routine schedule) dan SOP perawatan mesin, serta mempersiapan komponen sparepart sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

4.8. Teknik Pengumpulan Data

  Dokumentasi Data Perusahaan, yaitu melihat buku-buku atau dokumentasi dan catatan dari perusahaan yang berhubungan dengan data yang diperlukan,seperti data kerusakan mesin yang terpilih dan waktu kerusakan mesin. Sistem yang akan dikaji diuraikan secara mendetail proses dan kemudian dibuat blok fungsi yang berguna untuk menjelaskan mesin yang bekerja padasistem tersebut dan komponen-komponen yang sering mengalami kerusakan.

3 Apakah tindakan CD bisa digunakan?

  Ya TidakTentukan tindakan CD Apakah mode kegagalan 4termasuk ke dalam kategori D? Ya Apakah tindakan FF 5dapat digunakan?

6 Apakah tindakan yang dipilih efektif?

  Condition Directed (CD), tindakan yang diambil yang bertujuan untuk mendeteksi kerusakan dengan cara visual inspection, memeriksa alat, sertamemonitoring sejumlah data yang ada. Finding Failure (F.F), tindakan yang diambil dengan tujuan untuk menemukan kerusakan peralatan yang tersembunyi dengan pemeriksaanberkala.

4.9.3. Penentuan Pola Distribusi Data Kerusakan

  n 1 i i - - ( x x )( y y ) ∑n Sxy i1 =r = = n 2 n2 SxxSyy     x x y yi i - - ( ) ( )     ∑ ∑ i 1 i n n1= =     a. Ujiini dilakukan dengan membandingkan hipotesa nol (Ho) yang menyatakan Pengujian yang dilakukan dalam goodness of fit ada tiga macam, yaitu Mann test untuk distribusi weibull, Barlett test untuk distribusi eksponensial dan kolomogrov-simirnov untuk distribusi normal dan lognormal.

4.10. Analisis dan Pemecahan Masalah

  Dari rekomendasi ini akan diperoleh tindakan yang sesuai dengan karakteristik operasi masing-masing mesin dan kompenen yang akandibahas. Menentukan banyaknya kerusakan (kagagalan) dalam interval waktu (0,t ) p t p − i11 [ ]∑ i ∫ 1 H ( t − + H ( t ) = 1 − i ) f ( t ) dt = i 2.

4.10.3. Pengembangan Prosedur Perawatan Mesin

  Pengembangan prosedur perawatan mesin didasarkan dari rekomendasi tindakan yang dihasilkan dari pendekatan RCM. Prosedur ini digunakan sebagaipedoman dalam tindakan/kegiatan perawatan mesin di PLTD Titi Kuning Medan.

BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data

  Data yang diperoleh dari hasil pengamatan adalah data kerusakan mesin, waktukerusakan mesin, kemudian ditentukan interval kerusakan mesin pembangkit. Data komponen kerusakan mesin dapat dilihat di lampiran-1.

5.1.1. Interval Waktu Kerusakan Komponen Kritis Mesin unit 4 PLTD

  Berikut tabel 5.1 dapat dilihat interval waktu kerusakan komponen kritis pada mesin pembangkit listrik tenaga diesel. Tabel 5.1.

5.2.1. Kebijakan Perawatan Mesin Sekarang

  Melalui identifikasi dengan menggunakan cause and effect diagram (Fishbone Diagram) ini, diharapkan dapat diperoleh penyebab masalah yang mendetail yang didasarkan pada hasil pengamatan, wawancara dan data historis yang telah dikumpulkan. Melalui cause and effect diagram, dapat dilihat faktor-faktor yang memiliki pengaruh signifikan kurang efektifnya perawatan mesin adalahkegagalan fungsi mesin disebabkan oleh metode pemeliharaan mesin yang lebih bersifat corrective maintenance dengan belum tersedianya tindakan untukmengidentifikasi secara dini gejala terjadinya kegagalan komponen, tingginya kegagalan fungsi mesin dan belum efektifnya jadwal pergantian komponen danprosedur perawatan yang kurang memadai.

5.2.2 Metode pemeliharaan mesin yang lebih bersifat corrective maintenance

  dengan belum tersedianya tindakan untuk mengidentifikasi secara dini gejala terjadinya kegagalan komponen dan belum jadwal pergantian komponen danprosedur perawatan yang kurang memadai dalam perusahaan. Oleh karena itu, dilakukan pengolahan data dengan pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM) sebagai dasar dalam penentuan sistem perawatan yang menampilkan kerangka kerja yang efisien dan terjadwal dengan baik.

5.2.2.2. Pendefinisian Batasan Sistem

  Supaya terdapat batasan yang jelas tentang apa yang harus dilibatkan dan tidak di dalam sistem sehingga daftar komponen yang diidentifikasi menjadi jelasdan tidak saling tumpang tindih antara sistem yang berkaitan. Batasan sistem menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan input apa yang masuk dan output apa yang keluar dari sistem sehingga analisisproses sistem berlangsung dengan baik.

5.2.2.3. Deskripsi Sistem dan Blok Fungsi

  Deskripsi Sistem ( System Description) RCM-Systems Analysis Step 3-1 System Description Plant ID : Information : Boundary Details System ID: Plant : Pembangkit Listrik Tenaga Diesel facility Rev no: System : Proses PLTD di mesin Unit IV Date : 7/02/2001 Analysts : David Hutabarat Gambaran Fungsi ( Fungsional Description)Udara yang dibutuhkan mesin untuk menstart mula-mula dipompakan ke Sistem udara start :tabung udara oleh kompresor yang digerakkan motor induksi. InstumentInstrumen yang digunakan pada sistem ini adalah electromechanical timers yang disediakan pada mesin diesel pada sistem pemanasan pada mesin diesel dan sensor.

B. Blok Diagram Fungsi

  Mechine Compresed Air System Sistem udara bertekanan berfungsi menyuplai kebutuhan udara bertakanan untuk mesin baik untuk proses starting dan berguna untuk menstart mesin(Menggerakkan piston dalam keadaan diam) sebelum terjadinya langkah pembakaran pada mesin. Mesin Enterprise Mesin Enterprise sebagai penggerak mula pembangkit listrik tenaga diesel yang berfungsi menghasilkan tenaga mekanis yang dipergunakan untuk memutarrotor generator.

3. Generator Generator yang digunakan di PLTD Titi kuning adalah generator sinkron

  Generatorini memiliki konstruksi yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berputar(rotor) dan bagian yang diam (stator). Deskripsi fungsi sistem untukmengetahui masukan ataupun keluaran bekerja sesuai dengan yang diharapkan, sedangkan deskripsi kegagalan fungsi untuk mengetahui masukan ataupunkeluaran yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

D. Data Historis Peralatan

5.2.2.4. Pendeskripsian Fungsi Sistem dan Kegagalan Fungsi

  Aktivitas penelusuran data akan lebih terstruktur dan mudah dilakukan dengan pengkodean fungsi dan kegagalan fungsi. Tabel 5.5 berikut ini adalah pendeskripsian fungsi dan kegagalan fungsi untuk setiap fungsional electricity production pada mesin pembangkit listrik tenaga diesel unit 4.

A. Matriks Peralatan dan Kegagalan Fungsi

  1 Mesin Compresed Air System x 2 Mesin enterprise X x 3 Generator systemx x x Failure mode dan analisis FMEA memfokuskan pada penyebab kerusakan dan mekanisme terjadinya kerusakan seperti mode kegagalan, penyebab kegagalan, dampak kegagalan yang ditimbulkan. Nilai RPN: 8 x 2 x 6 = 96Nilai RPN dapat diprediksi komponen mana yang kritis, yang sering rusak dan jika terjadi kerusakan pada komponen tersebut maka sejauh manapengaruhnya terhadap fungsi sistem secara keseluruhan, sehingga dapat memberikan perilaku lebih terhadap komponen tersebut dengan tindakanperawatan yang tepat.

1 YA Sebagian

2 Tentukan T.D task? TIDAK

  D task dapat dipakai Tentukan C. F task dapat dipakai kategori ‘D’?

5 Tentukan F.F task?

6 Dapatkah sebuah desain modifikasi

  YA TIDAK TIDAKApakah dari antara task ini efektif? F YA dan efeknya?

5.2.3. Penentuan Pola Distribusi dan Reliability

  Untuk pemilihan pola distribusikerusakan dilakukan dengan menggunakan data selang waktu antar kerusakan dari komponen paling kritis. Distribusi yang digunakan adalah distribusi normal, lognormal, eksponensial dan weibull.

A. Pengujian Pola Distribusi Kerusakan Komponen Cylinderhead

  = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i    =     = == =  1∑ ∑ ∑12121 1 ) - ( ) - () - )( - ( 99 0.796 12799.254) 1287.970 ( Tabel 5.7. = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i =     = == = 1 I ti Xi F (ti) Yi (xi - x )(yi - y ) ((xi -x ) - )( - ( 1) - ( ) - ( 13 1.09412 0.474972x 512376 .1.197 0.226 ) 661 .6 ( 519676 .512376 .

B. Pengujian Pola Distribusi Kerusakan Komponen Bearing Conrod

  = == = 0.868 x 0.442 366 .0.753 0.1951 ) 657 .3 ( 10 1) - ( ) - ( ) - )( - ( 1 ∑ ∑ ∑12121  ) t ( F -    = = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i 3. = == =     = = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i 5 -5.231 4.56881 0.19514 1.11897Index of Fit adalah: n 1 1 i i - - ( x x )( y y )( 4 .

C. Pengujian Pola Distribusi Kerusakan Komponen

  4  7 1) - ( ) - ( ) - )( - ( 1 ∑ ∑ ∑12121 = == =   550.683 5718.531  = = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i 2. )2 )/n ((yi - y )2 )/n (F(ti)) diperoleh nilai Y 1 = Ф (0.095) = -1.313, untuk perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 5.17.

i T X F (t) Y (x - x )(y - y ) ((x - x )

  Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Lognormal pada Komponen Control Logic Board = == =  1∑ ∑ ∑12121 1 ) - ( ) - () - )( - ( 7 0.826 x 0.415 322 .0.683 0.173 ) 252 .2 ( 343 .322 . = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i =    I ti Xi F (ti) Yi (xi - x )(yi - y ) ((xi -x = == = ∑ ∑ ∑12121 1 ) - )( - ( 1) - ( ) - ( 7 0.998 x 0.415 366 .0.996 0.173 ) 563 .2 ( 415 .366 .

D. Pengujian Pola Distribusi Kerusakan Komponen Turbocharger

  = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i =     = == = ∑ ∑ ∑12121 1 ) - )( - ( 1) - ( ) - ( 6 2.251) ( 0.805 x 0.540 4998 .0.648 0.2914 Total 1065 29.989 3 0.000 2.251 0.2914 0.648Index of Fit adalah: 864 . = = =r ny y nx x y y x xn rn i i n i i n i i i =     = == = 1 I ti Xi F (ti) Yi (xi - x )(yi - y ) ((xi -x ) - )( - ( 1) - ( ) - ( 6 ) 2.496 ( 0.968 x 0.540 416 .0.936 0.291 522 .416 .

A. Konsep Keandalan Komponen Cylinderhead

  Fungsi Distribusi Kumulatif 291 .07  t   F ( t ) = 1 − exp −    2 . 1358     R ( t ) 1 F ( t ) = − 9.

B. Konsep Keandalan Komponen Conrod Bearing

  2) exp ( t R t ) (( 1 ) t F t R − = 4. MTTF (Mean Time To Failure)  βα 1 1 MTTF Dimana : Γ = Fungsi Gamma, Γ (n) = (n-1)!  + Γ = 333 93 .

C. Konsep Keandalan Komponen Control Logic Board

  Dengan demikian konsep reliability untuk komponen Control Logic Board adalah sebagai berikut: 6. MTTF (Mean Time To Failure) 1 1 MTTF = = = 144 .

D. Konsep Keandalan Komponen Turbocharger

  Penentuan downtime minimum berdasarkan pola distribusi data, Waktu yang diperlukan untuk mengganti komponen karena mengalami kerusakan.terjadi kerusakan disimbolkan dengan Tf, dan waktu yang diperlukan untuk mengganti komponen berdasarkan interval waktu (tindakan preventif) disimbolkansebagai (Tp). Perhitungan Fungsi Distribusi Kumulatif KomponenContoh komponen : CylinderheadJenis distribusi: WeibullParameter : σ = 2.1358 ; β=291.07Fungsi distribusi kumulatif untuk Weibull adalah α   t  F ( t ) = 1 − exp  −   β     ( 1 ) i i t i p p 3 exp1 ) F 3 ( = 5.02862 x 10 Dengan cara perhitungan yang sama, diperoleh nilai F(4), F(5),…., F(t) dengan menggunakan Microsoft Excel.

BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

6.1. Rekomendasi Tindakan Perawatan dengan Pendekatan RCM

6.1.1. Analisis Mode Kegagalan dan Efek Kegagalan FMEA

  FMEA merupakan suatu metode yang bertujuan untuk mengevaluasi desain sistem dengan mempertimbangkan bermacam-macam mode kegagalan darisistem yang terdiri dari komponen-komponen dan menganalisis pengaruhnya terhadap keandalan sistem tersebut. Dari analisis ini dapat diprediksi komponenmana yang kritis, yang sering rusak dan jika terjadi kerusakan pada komponen tersebut maka sejauh mana pengaruhnya terhadap fungsi sistem secarakeseluruhan, sehingga dapat diberikan perilaku lebih terhadap komponen tersebut dengan tindakan pemeliharaan yang tepat.

6.1.2. Kategori Komponen Berdasarkan Logic Tree Analysis (LTA)

  Kategori komponen mesin PLTD No Components/Major Components Outage Problem 8 Cramsaft x 7 Flywheel x 6 Cylinderhead x 5 Belt x 4 Pully x 3 Seal x 2 Ring Piston x 1 Torak x Penyusunan Logic Tree Analysis (LTA) memiliki tujuan untuk memberikan prioritas pada tiap mode kerusakan dan melakukan tinjauan danfungsi, kegagalan fungsi sehingga status mode kerusakan tidak sama. Tindakan Perawatan Komponen Berdasarkan hasil pemilihan tindakan untuk komponen-komponen yang mengalami kegagalan di sistem electricity production maka dapat diperolehrekomendasi tindakan yang dihasilkan dengan pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM) dapat dilihat pada tabel 6.3.

6.1.3. Prosedur Perawatan Berdasarkan Pemilihan Tindakan RCM

6.1.3.1. Tindakan Perawatan CD ( Condition Directed)

  Pengukuran, pemeriksaan dan pergantian spareSeal piston Mesin part seal piston jika mengalami kerusakan Enterprise Pemeriksaan putaran flywheel (harus sesuaiFlywheel dengan dengan defleksi poros engkol) Membuka tutup crank case untuk memeriksanya dari pecahan babet (bearing conrod/mainCranksaft bearing), kawat pengaman dan bocoran air pendingin ke dalam carter. Periksa kerusakan pada rangka stator, cek apakahRangka stator Generator fluksi magnet mengalir dengan baik system Periksa kerusakan pada rotor, cek apakah rotorRotor masih berfungsi dengan baik Periksa kerusakan pada komutator, cek apakahKomutator arus listrik induksi dari komutator bisa dikonversikan menjadi arus searah Periksa kerusakan pada jangkar, cek apakahJangkar terjadi ggl induksi Prosedur perawatan untuk komponen yang direncanakan dengan tindakanCD (Condition Directed) yaitu: 1.

6.1.3.2. Tindakan Perawatan TD ( Time Directed)

  Tindakan perawatan ini bertujuan untuk menghindari kegagalan komponen dengan lebih berfokus pada aktivitas pergantian yang dilakukan secaraberkala. Tindakan Perawatan TD ( Time Directed) Electricity Production Mesin Komponen Tindakan TD ( Time Directed) Cylinderhead Mempersiapkan pergantian komponen setiap 201 hari Bearing Conrod Mempersiapkan pergantian komponen setiap 230 hari Mesin Enterprise Control Logic Mempersiapkan pergantian komponen setiap 132 hari Board Turbochager Mempersiapkan pergantian komponen setiap 155 hari Prosedur perawatan untuk komponen yang direncanakan dengan tindakanTD (Time Directed) yaitu: 1.

6.1.3.3. Tindakan Perawatan FF ( Find Failure)

  Judul Unit: Perawatan dengan tindakan FF (Find Failure) Prosedur perawatan untuk komponen yang direncanakan dengan tindakan FF(Find Failure) yaitu: Periksa clearance dari stator ke motor Periksa tanda kerusakan pada sikat, cek aliran arus ke kumparan jangkarStator Periksa tanda kerusakan pada cincin kolektor,cek aliran penguat arus magnet ke rotorSikat Periksa clearance Connecting Rod dengan bumpmethod jika terjadi kerusakan dilakukanpergantian komponen e. Berdasarkan interval pergantian komponen yang diperoleh maka dapat disusun jadwal perawatan komponen selama 1 tahun yang dapat dilihat pada Gambar 6.4.

6.3. Evaluasi Sistem Perawatan Sekarang dan Usulan

  Penurunan Nilai Downtime Sekarang ( Corective) Usulan RCM Interval Interval NO Komponen Nilaipergantian Downtime pergantian Downtime penurunankomponen komponen (%) (Hari) (Hari) 1 Cylinderhead 269 0.0017048 201 0.0015911 6.67 Bearing 2 304 0.0020434 230 0.001857665 9.09 Conrod Control 3 156 0.00204266 132 0.00202137 1.04 Logic board 4 Turbocharger 178 0.003186867 155 0.003161859 0.78 Rata-Rata Penurunan Downtime 4.40 % kerusakan komponen Nilai downtime pada Tabel 6.8. Artinya waktu komponen untuk dapat beroperasi sesuaifungsinya adalah sebesar 99.786 dari waktu yang tersedia.

BAB VI I KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

  Finding Failure (F.F), yaitu tindakan yang diambil dengan tujuan untuk menemukan kerusakan peralatan yang tersembunyi. Berdasarkan perhitungan dengan konsep reliability engineering, interval pergantian komponen dengan kriteria total minimum downtime (TMD) padakomponen cylinderhead interval pergantiannya 1407 jam operasi mesin, bearing conrod interval pergantian 1610 jam operasi mesin, control logic board interval pergantian 1064 jam operasi mesin dan turbocharger interval pergantian 1225 jam operasi mesin.

7.2. SARAN

  Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah: 1 Prosedur perawatan pada mesin pembangkit listrik tenaga diesel yang ditentukan dengan pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM), dapatdigunakan sebagai acuan dalam melaksanakan dan menentukan tugas-tugas perawatan di PLTD Titi Kuning medan, karena memberikan suatu basis datayang komprehensif dan sistematis. Pihak perusahaan memberikan pelatihan atau arahan kepada setiap operator agar mampu menjalankan mesin dengan baik sesuai dengan SOP pengoprasianmesin, dan menjaga keselamatan pada saat melaksanakan pekerjaan di areal mesin.

2. Ring Piston Ring piston patah

  System mulatenaga yang maksimal Seal Menjaga tekanan udara dalam Piston tidak bisa NO NO YES D/Bpiston memompa suatu alat mekanis yangdigunakan sebagai sabuk untuk menjalankan sesuatu Pully kekuatan alur yang berfungsi Pully tidak berfungsi NO NO YES B menghantarkan suatu daya. Menghubungkan gerakan Fan Belt putar poros engkol (crank Belt kendur NO NO YES D/Bshaft) ke poros cam shaft Penutup linier dan membentuk Keretakan kepala Cilynderhead ruang pembakaran silinder disekitar YES NO YES B dudukan katup buangMengurangi getaran dan Flywheel mereduksinya torsi yang tidak Getaran pada mesin YES NO YES Bmerata dan tak seimbang tidak stabil 2.1.1 Mesin Enterprise Energi mekanis Untuk mengontrol membuka Gerak rotasi untuk.

2.1.1. Mesin

  Machines Failure Evident Safety Outage CategoryTerbuat dari besi tuang yang berfungsi sebagai Terjadi keretakan pada Rangka Stator bagian dari tempat rangka stator YES NO YES B mengalirnya fluksmagnetic Untuk mengalirkan arus Slip ring penguat magnet ke lilitan Slip ring patah NO NO YES D/B magnet kepada rotorRotor merupakan bagian Overheat yang akan Tidak dapatyang berputar dan merusak isolasi 3.1.1. Compresed tidak dapat di Menjaga tekanan udara Piston tidak bisa (CD) Condition N N Y - Y Y YAir System suplay ke mesin Seal dalam piston memompaderected penggerak mulasuatu alat mekanis yang digunakan sebagai sabukuntuk menjalankan sesuatu kekuatan alur Y N Y Y - Y - Finding Failure (F.

2.1.1 Mesin Enterprise

  F) bahan bakarMengubah gerakan naik dan turun piston menjadi gerakan (CD) Condition Universitas Sumatera Utara Lampiran-4. Failure 1 2 3 4 5 6 7 Control logic Mengatur sistem saat berjalannya Control logic board merusak peralatan termasuk statorTerbuat dari besi tuang yang berfungsi sebagai bagian dari Terjadi keretakan pada Y Y Y Y Y Y - Rangka Stator tempat mengalirnya fluks rangka stator (CD) Condition derectedmagnetic Untuk mengalirkan arus penguat Tidak dapat Slip ring 3.1.1 Generator mengubah rotor.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Perancangan Preventive Maintenance dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dengan Mengaplikasikan Grey FMEA pada PT. Kharisma Abadi Sejati
23
177
143
Perencanaan Perawatan Mesin pada Unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) di PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara Titi Kuning Medan
81
426
216
Implementasi Studi Preventive Maintenance Fasilitas Produksi dengan Metode Reliability Centered Maintenance pada PT. Sinar Sanata Electronic Industry
11
70
117
Pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM) Untuk Merencanakan Kegiatan Perawatan Mesin Di PT. SMART, TBK
15
103
121
Perancangan Preventive Maintenance Berdasarkan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) pada PT. Sinar Sosro
45
143
150
Studi Pemeliharaan Pabrik Pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Titi Kuning
1
73
98
Sistem Pemeliharaan Preventive Maintenance Pada Pembangkit Tenaga Diesel Di PLTD Titi Kuning
54
345
100
Sistem Pemeliharaan Pabrik Dengan Preventive Maintenance Pada Pembangkit Tenaga Diesel Di PLTD. Titi Kuning
1
48
96
Studi Pemeliharaan Pabrik Dengan Sistem Preventive Maintenance Di PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan PLTD Titi Kuning
1
42
93
Studi Pembangkit Listrik Tenaga Uap Dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Aplikasi PT. Musim Mas Kim II Medan
7
73
134
Perencanaan Perawatan Mesin dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) pada PT. Sumatera Timberindo Industry
6
98
57
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN - Perancangan Preventive Maintenance dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dengan Mengaplikasikan Grey FMEA pada PT. Kharisma Abadi Sejati
0
1
23
Perancangan Preventive Maintenance dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dengan Mengaplikasikan Grey FMEA pada PT. Kharisma Abadi Sejati
0
2
14
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN - Perencanaan Perawatan Mesin pada Unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) di PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara Titi Kuning Medan
1
1
26
Perencanaan Perawatan Mesin pada Unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) di PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara Titi Kuning Medan
2
7
22
Show more