WARNA LOKAL DALAM KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN DI RUMAH PANGGUNG KARYA ISBEDY STIAWAN ZS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMP

Gratis

3
21
60
2 years ago
Preview
Full text
WARNA DALAM LOKAL KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN DI RUMAH PANGGUNG KARYA ISBEDY STIAWAN ZS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMP (Skripsi) Oleh Dona Ratnasari JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2014 i ABSTRAK WARNA LOKAL DALAM KUMPULAN CERPAN PEREMPUAN DI RUMAH PANGGUNG KARYA ISBEDY STIAWAN ZS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMP Oleh Dona Ratnasari Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah warna lokal dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan warna lokal dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan dan analisis data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukan (1) pemakaian bahasa sebagai warna lokal yang ditemukan dalam penelitian ditinjau dari makna, yakni makna leksikal, makna gramatikal, makna idiomatik, makna luas, dan makna sempit; (2) pemakaian bahasa sebagai warna lokal yang ditemukan dalam penelitian ditinjau dari kelas kata, yakni kelas kata benda, kelas kata kerja, kelas kata sifat, dan kelas kata ii keterangan; (3) pemakaian bahasa sebagai warna lokal yang ditemukan dalam penelitian ditinjau dari fungsi bahasa sastra, yakni fungsi memperkuat tokoh secara sosial, fungsi memperkuat latar sosial, dan fungsi memperkuat latar tempat; dan (4) kumpulan cerpen tersebut layak dijadikan sebagai bahan ajar sastra untuk siswa SMP karena memenuhi tiga kriteria pemilihan bahan ajar meliputi aspek bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya. iv RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Rama Oetama, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, pada tanggal 20 Maret 1992. Penulis merupakan anak kedua dari pasangan Turyono dan Kusmini. Penulis memulai pendidikan formal pada tahun 1997 di Taman Kanak-Kanak (TK) Aisiyah dan dilanjutkan di Sekolah Dasar (SD) SDN 1 Rama Oetama pada tahun 1998-2004. Penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) SMPN 1 Seputih Raman dan diselesaikan pada tahun 2007. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) SMAN 1 Kotagajah dan diselesaikan pada tahun 2010. Tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Pada tahun 2013 penulis melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di MAN 1 Krui. v PERSEMBAHAN Dengan penuh ketulusan, kupersembahkan karya sederhana ini untuk orang-orang yang berharga dalam hidupku. 1. Kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Turyono dan Ibunda Kusmini yang senantiasa sabar, mendoakan, dan menantikan kelulusanku. 2. Kakak dan adikku tersayang, Dedy Kuswoyo dan Tri Mulyono yang selalu memberikan doa, dukungan, dan semangat. 3. Seluruh keluarga yang telah memberikan doa, dukungan, dan semangat. 4. Seluruh dosen pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. vi MOTO “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah (nasibnya) sendiri.“ (Q.S. Ar-Ra‟d: 11) “Sesungguhnya sesudah kesulitaan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5) “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu.” (Q.S. Ali-Imron: 200) vii SANWACANA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi dengan judul Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMP adalah salah satu syarat untuk memeroleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak berikut. 1. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum. selaku pembimbing utama dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 2. Drs. Kahfie Nazaruddin, H.Hum. selaku pembimbing kedua dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Dr. Munaris, M.Pd. selaku penguji bukan pembimbing. viii 4. Dr. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 5. Drs. Imam Rejana, M.Si. selaku pembimbing akademik. 6. Seluruh dosen pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 7. Isbedy Stiawan ZS yang telah memperbolehkan penulis untuk menganalisis karyanya. 8. Ayahanda dan Ibunda tercinta, kakak dan adikku terima kasih atas dukungan, motivasi, dan doanya. 9. Seluruh keluarga besarku yang senantiasa sabar menanti kelulusanku. 10. Seseorang yang menyayangiku, terima kasih atas doa dan dukungannya. 11. Rekan-rekan seperjuangan angkatan 2010 serta kakak dan adik tingkat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 12. Sahabat-sahabatku Ade Anggraeni Kartika Devi, Andika Putri, Arifah Nur Isnaini, Arifal Paslah, Devitasari, Eka Rahmatul Fitriani, Janatun Naim, Kalisa Eviyana, Mutiara Dini, Novala Rohmatarofi, Nuraini, Ramanda, Rengga, Ria Anggraeni, Teguh, Tika Arsita , Yuni Setiawati, dan Zusi Ardiana. 13. Teman-teman di kosan Princess (Mbak Ria, Mbak Silvi, Nurul, Nuy, Rika, Desvi, Ayu, Ana, Ela, Ica, dan Sofi) terima kasih atas persahabatan dan kebersamaan kita, kalianlah keluargaku. 14. Yoga Irawan, S.Pd. terima kasih atas motivasi dan dukungannya. ix 15. Teman-teman KKN-KT (Sarah, Dwi, Galuh, Nani, Erni, Ani, Bahtiar, Edi, dan Luki) terima kasih atas persahabatan dan kebersamaan kita selama KKN. 16. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan balasan yang lebih besar untuk Bapak, Ibu, dan rekan-rekan semua. Hanya ucapan terima kasih dan doa yang bisa penulis berikan. Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin. Bandarlampung, Oktober 2014 Penulis Dona Ratnasari viii DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK .............................................................................................................. i HALAMAN JUDUL ............................................................................................. ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. iv PERSEMBAHAN ...................................................................................................v MOTO ................................................................................................................... vi SANWACANA .................................................................................................... vii DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii DAFTAR SINGKATAN ...................................................................................... ix I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah .....................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................6 1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................................................7 1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................................8 1.5 Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................................8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cerpen ..............................................................................................................10 2.2 Struktur Cerpen ................................................................................................11 2.3 Warna Lokal .....................................................................................................13 2.3.1 Warna Lokal dalam Aspek Pemakaian Bahasa......................................15 2.3.1.1 Makna ........................................................................................16 2.3.1.2 Kelas Kata .................................................................................19 2.3.1.3 Fungsi Bahasa ............................................................................27 2.4 Pembelajaran Sastra di SMP ............................................................................30 III. METODE PENELITIAN 3.1 Metode .............................................................................................................36 3.2 Sumber Data .....................................................................................................36 3.3 Teknik Pengumpulan dan Anallisis Data .........................................................37 ix VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil dan Pembahasan..................................................................................... 40 4.1.1 Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS dalam Aspek Pemakaian Bahasa ditinjau dari Makna ................................................................................................... 40 4.1.1.1Makna Leksikal yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS .... 40 4.1.1.2Makna Gramatikal yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS .... 50 4.1.1.3Makna Idiomatik yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS .... 51 4.1.1.4Makna Sempit yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS .... 53 4.1.1.5Makna Luas yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS ....................... 56 4.1.2 Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS dalam Aspek Pemakaian Bahasa ditinjau dari Kelas Kata............................................................................................. 60 4.1.2.1 Kata Benda yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS ....................... 60 4.1.2.2 Kata Kerja yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS ....................... 67 4.1.2.3 Kata Sifat yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS ............................ 70 4.1.2.4 Kata Keterangan yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS .... 71 4.1.3 Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS dalam Aspek Pemakaian Bahasa ditinjau dari Fungsi Bahasa ....................................................................................... 72 4.1.3.1 Kata atau Bahasa sebagai Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Berfungsi untuk Memperkuat Tokoh Secara Sosial ............................................ 72 4.1.3.2 Kata atau Bahasa sebagai Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Berfungsi untuk Memperkuat Latar Sosial .......................................................... 87 4.1.3.3 Kata atau Bahasa sebagai Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Berfungsi untuk Memperkuat Latar Tempat ....................................................... 91 4.1.4 Implikasi Warna Lokal dalam Pembelajaran Sastra di SMP ................ 91 V.SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan .......................................................................................................116 5.2 Saran ..............................................................................................................117 x DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR SINGKATAN C1 : Cerpen ke 1 F : Fungsi KKB : Kelas Kata Benda KKK : Kelas Kata Kerja KKKet : Kelas Kata Keterangan KKS : Kelas Kata Sifat MG : Makna Gramatikal MI : Makna Idiomatik ML : Makna Leksikal MLu : Makna Luas MS : Makan Sempit 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Warna lokal adalah kelokalitasan yang menggambarkan ciri khas dari suatu daerah dalam karya sastra. Warna lokal yang dibangun dengan istilah atau ungkapan dari bahasa daerah tertentu bertujuan untuk meningkatkan corak kedaerahan karya sastra. Selain itu, penggunaan warna lokal dalam karya sastra dimaksudkan penulis untuk memperkenalkan budaya lokal kepada pembaca. Warna lokal tidak hanya berupa pemakaian bahasa atau dialek kedaerahan, tetapi terdapat adat istiadat, kesenian daerah, tingkah laku manusia, dan lain-lain. Namun, dalam penelitian ini aspek warna lokal yang akan diteliti adalah warna lokal dalam aspek pemakaian bahasa. Warna lokal akan dihubungkan dengan unsur-unsur intrinsik dalam struktur cerita pendek, yakni latar, penokohan, dan perwatakan. Penggunaan warna lokal dalam karya sastra merupakan cara pengarang untuk memperkenalkan kebudayaan atau kekhasan dari sutau daerah kepada pembaca. Adanya warna lokal dalam karya sastra dapat dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran sastra sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta kebudayaan kepada peserta didik. Berdasarkan hal tersebut, warna lokal merupakan unsur yang penting untuk diteliti. 2 Sebelumnya, penelitian yang serupa telah dilakukan. Penelitian dengan judul “Warna Lokal dalam Naskah Drama Aruk Gugat Karya Iswadi Pratama dan Kelayakannya Sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA” telah dilakukan oleh Silviana Damayanti. Penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan warna lokal Lampung dalam Naskah Drama Aruk Gugat dan Kelayakannya Sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peneliti menemukan delapan aspek warna lokal Lampung. Aspek tersebut berupa pemakaian bahasa, adat istiadat, tingkah laku, cara berpikir, kesenian rakyat, lingkungan hidup, arsitektur rumah, dan mata pencaharian dan peralatan hidup dalam naskah tersebut. Selain itu, penelitian dengan judul “Warna Lokal dalam Novel Maryamah Kaprov Karya Andrea Hirata dan Kelayakanya sebagai Alternatif Bahan Ajar Sastra Indonesia di Sekolah menengah Atas” juga telah dilakukan oleh Gustira Eka Putri. Tujuan dari penelitian tersebut, yakni mendeskripsikan warna lokal dalam novel Maryamah Kaprov karya Andrea Hirata dan menetapkan kelayakan warna lokal dalam novel Maryamah Kaprov karya Andrea Hirata sebagai alternatif bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Mengengah Atas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis mengenai warna lokal dalam novel Maryamah Kaprov karya Andrea Hirata, warna lokal tersebut terbagi atas empat kategori, yaitu ekspresi, kebiasaan, humoristik, dan penjulukan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti hendak memperkaya penelitian yang sudah ada dengan membedakan penelitiannya. Judul dalam penelitian ini, yaitu “Warna Lokal dalam Kumpulan Cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMP. Secara umum, tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan 3 warna lokal dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMP. Untuk membedakan dengan penelitian sebelumnya, peneliti akan memfokuskan penelitian pada salah satu aspek warna lokal Lampung, yakni pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa dalam penelitian ini lebih difokuskan pada penggunaan kata, frasa, kalausa, dan kalimat dalam bahasa Lampung. Setelah itu, dari aspek pemakaian bahasa tersebut penelitian akan dikembangkan dengan menentukan makna, kelas kata, dan fungsi bahasa. Adapun tujuan penelitian secara rinci untuk membedakan dengan penelitian sebelumnya, yakni (1) mendeskripsikan dan menjelaskan warna lokal dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari makna; (2) mendeskripsikan dan menjelaskan warna lokal dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau kelas kata; (3) mendeskripsikan dan menjelaskan warna lokal dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau fungsi bahasa; dan (4) mendeskripsikan dan menjelskan implikasi warna lokal dalam pembelajaran sastra di SMP. Cerita pendek atau biasanya disingkat cerpen merupakan karya sastra berbentuk prosa naratif, singkat atau pendek, dan bersifat fiktif. Ukuran pendek di sini adalah selesai dibaca dalam sekali duduk, yakni kira-kira kurang dari satu jam (Suyanto, 2012:46). Cerita pendek lebih singkat dan padat untuk menjelaskan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Unsur-unsur yang terkandung dalam cerita pendek, yakni berupa unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang terdapat di dalam cerpen, yakni tema, tokoh, alur, latar, gaya bahasa, dan sudut pandang, sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang terdapat di luar cerita seperti warna lokal. 4 Untuk menciptakan sebuah cerita pendek yang menarik, penulis harus menggunakan bahasa-bahasa yang menarik dan beragam. Penggunaan bahasa yang beragam oleh pengarang bergantung dari faktor penyebabnya, seperti tingkat pendidikan, status sosial, usia para tokoh, dan latar dalam cerpen tersebut. Latar yang menunjukan tempat memengaruhi keragaman bahasa. Misalnya, jika latar tempat dalam cerpen tersebut berada di suatu daerah, biasanya pengarang menggunakan bahasa daerah setempat . Cerita pendek yang kaya akan bahasa daerah tertentu merupakan karya sastra yang diciptakan pengarangnya untuk menggambarkan lingkungan sekitarnya. Cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang banyak diminati siswa untuk mengapresiasikan jiwa seninya. Selain itu, cerita pendek merupakan salah satu teks yang dibelajarkan dalam Kurikulum 2013. Kumpulan cerita pendek Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS ini mengungkapkan warna lokal Lampung yang ikut melestarikan kebudayaan Indonesia. Seorang pengajar FIB-UI, Maman S Mahayana dalam (Stiawan, 2013) menyatakan bahwa cerpen-cerpen Isbedy Stiawan ini laksana tarik-menarik model naratif yang berkisah dan ekspresi puitik yang metaforis. Ada semangat membumikan fiksionalitas dalam konteks lokalitas, ada pula yang mencoba menempatkan dunia realitas kultural dalam simbolisasi. Kita akan menemukan banyak gugatan pada tradisi atau peristiwa sosio budaya yang seolah-olah sudah semestinya begitu: take forgranted. Atau setidak-tidaknya, banyak peristiwa yang terjadi di sekeliling kita yang seyogyanya dipikirkan kembali.Serangkaian gagasan yang cerdas, menarik, mengasyikan. 5 Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti memilih kumpulan cerpen Perempuan Di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS sebagai objek penelitian. Selain itu, peneliti memiliki alasan lain, yakni (1) pengarang cerpen tersebut merupakan sastrawan Lampung yang karyanya sudah dipublikasikan di sejumlah media masa terbitan daerah dan Jakarta, (2) cerpen tersebut merupakan cerpen terbaru dari pengarang tersebut, (3) Cerpen tersebut mendapatkan tanggapan positif dari para penikmat sastra, dan (4) cerpen tersebut mengandung unsur lokalitas Lampung yang dapat memberikan pengetahuan tentang budaya lokal Lampung kepada pembaca. Kurikulum yang sejalan dengan kajian dalam penelitian ini adalah Kurikulum 2013. Pelaksanaan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach). Proses pembelajaran pada pendekatan ini menyentuh tiga ranah belajar, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks. Keterkaitan kurikulum 2013 dengan warna lokal terletak pada Kompetensi Inti 3 (KI 3) memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. Berdasarkan Kompetensi Inti tersebut, peserta didik diharapkan mampu memahami pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Terkait dengan hal tersebut, warna lokal termasuk dalam unsur kebudayaan yang perlu dipelajari oleh peserta didik. 6 Adapun Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Kelas VIII pada Silabus Kurikulum 2013 yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu Kompetensi Inti 4 Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang atau teori dan pada Kompetensi Dasar 4.2 Menyusun teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah warna lokal dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMP?” Rumusan masalah tersebut secara khusus dapat dirinci sebagai berikut. 1. Bagaimanakah warna lokal kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari makna? 2. Bagaimanakah warna lokal kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari kelas kata? 7 3. Bagaimanakah warna lokal kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari fungsi bahasa? 4. Bagaimanakah implikasi warna lokal dalam pembelajaran sastra di SMP. 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dalam penelitian ini adalah mendeksripsikan dan menjelaskan warna lokal dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMP. Tujuan penelitian ini secara khusus dapat dirinci sebagai berikut. 1. Mendeskripsikan dan menjelaskan warna lokal Lampung dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari makna. 2. Mendeskripsikan dan menjelaskan warna lokal Lampung dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari kelas kata. 3. Mendeskripsikan dan menjelaskan warna lokal Lampung dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari fungsi bahasa. 4. Mendeskripsikan dan menjelaskan implikasi warna lokal dalam pembelajaran sastra di SMP. 8 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Manfaat penelitian ini sebagai berikut. 1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi di bidang sastra mengenai warna lokal dalam kumpulan cerpen sehingga dapat memberikan referensi bagi peneliti selanjutnya. 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada guru tentang deskripsi warna lokal Lampung dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS. 3. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pemahaman siswa mengenai warna lokal Lampung, yaitu dengan memperkenalkan warna lokal Lampung dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Setiawan ZS. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut. 1. Subjek dalam penelitian ini adalah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung Karya Isbedy Stiawan ZS. 2. Fokus dalam penelitian ini adalah warna lokal Lampung dalam aspek pemakaian bahasa dan implikasi warna lokal terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama. Penelitian tentang pemakian bahasa dikembangkan dengan meneliti makna, kelas kata, dan fungsi. Penelitian 9 tentang makna dibatasi dalam kategori makna leksikal, makna gramatikal, makna idiomatik, makan sempit, dan makan luas. 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1Cerpen Cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam (Nurgiyantoro, 1994:10). Cerita pendek lebih padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lainnya yang lebih panjang seperti novel. Ukuran pendek ini lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan unsur-unsurnya (Suyanto, 2012:46). Selain itu, pengertian mengenai cerpen diambil dari definisi Kamus Istilah Sastra dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cerpen sebagai kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominan tentang satu tokoh dalam satu latar dan satu situasi dramatik; cerpen (Zaidan, dkk., 2004:50). Cerpen harus memperlihatkan kepaduan sebagai patokan dasarnya. Definisi serupa mengenai cerpen, yakni kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (Depdiknas, 2008:263). Cerpen atau cerita pendek adalah cerita yang pendek dan merupakan suatu kebulatan ide. Dalam kesingkatan dan kebulatannya itu, sebuah cerita pendek adalah lengkap, bulat, dan singkat (Purba, 2010:50). Semua bagian dari sebuah 11 cerpen mesti terikat pada suatu kesatuan jiwa, yakni pendek, padat, dan lengkap. Tak ada bagian-bagian yang boleh lebih atau bisa dibuang. Berdasarkan pendapat para ahli dapat diambil simpulan mengenai cerpen merupakan karya sastra fiksi yang menceritakan suatu peristiwa cenderung singkat dan padat serta memiliki kesan tertentu dan memungkinkan pembaca untuk menyelesaikan bacaannya dalam sekali duduk . Singkat dan lengkap atau brevity with completeness adalah sifat-sifat pokok cerita pendek (Tarigan, 1985:176). 2.2 Struktur Cerpen Cerita pendek dibangun oleh unsur-unsur yang saling terpadu. Unsur-unsur tersebut adalah tokoh (dan penokohan), alur, latar, gaya bahasa, dan sudut pandang (Suyanto, 2012:46). a. Tokoh Tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh tidak selalu berwujud manusia, tapi bergantung pada siapa atau apa yang diceritakannya dalam cerita. Watak atau karakter adalah sifat dan sikap para tokoh tersebut. Adapun penokohan atau perwatakan adalah cara pengarang menamplikan tokoh-tokoh dan watakwataknya dalam suatu cerita. b. Alur dan Pengaluran Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan karena hubungan sebab akibat. Adapun pengaluran adalah urutan teks. Dengan menganalisis urutan teks ini, pembaca akan tahu bagaimana pengarang menyajikan cerita tersebut. 12 c. Latar Latar adalah tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Suyanto, 2012:50). Latar dalam peristiwa dapat diklasifikasikan menjadi: 1) latar tempat, yaitu latar yang berupa lokasi tempat terjadinya peristiwa; 2) latar waktu, yaitu latar yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa cerita; 3) latar sosial, yaitu keadaan yang berupa adat istiadat, budaya, nilai-nilai yang ada di tempat peristiwa tersebut. Latar merupakan salah satu unsur intrinsik cerpen yang dapat menghidupkan cerita karena tanpa latar yang cocok cerpen tersebut tidak hidup. d. Gaya Bahasa Dalam menyampaikan cerita, setiap pengarang ingin ceritanya mempunyai daya sentuh dan efek yang kuat bagi pembaca. Oleh karena itu, sarana karya prosa adalah bahasa. Bahasa akan diolah semaksimal mungkin oleh pengarang dengan memaksimalkan gaya bahasa sebaik mungkin. Gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan bahasa seseorang pengarang untuk mencapai efek estetis dan kekuatan gaya ungkap. e. Penceritaan Penceritaan atau sering disebut juga sudut pandang (point of view) dilihat dari sudut mana pengarang (narator) bercerita, terbagi menjadi 2, yakni penceritaan intern dan penceritaan ekstern. Penceritaan intern adalah pencerita yang hadir di dalam teks sebagai tokoh. Cirinya adalah dengan memakai kata ganti aku. Penceritaan ekstern bersifat sebaliknya, ia tidak hadir dalam teks (berada di 13 luar teks) dan menyebut tokoh-tokoh dengan kata ganti orang ketiga atau menyebut nama. f. Tema Tema adalah ide atau gagasan yang ingin disampaikan pengarang dalam ceritanya. Dalam sebuah tulisan, sudah pasti mengandung tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang dibuat. Jika diibaratkan sebuah rumah, tema merupakan fondasinya. Tema merupakan hal utama yang dilihat oleh pembaca. Apabila temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut dan menarik minat pembaca. Tema ini akan diketahui setelah seluruh unsur prosa fiksi itu dikaji. 2.3 Warna Lokal Konsep budaya merupakan totalitas pikiran, karsa, dan hasil manusia yang tidak berakar pada nalurinya. Dengan demikian budaya hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah proses belajar. Berdasarkan hal tersebut, konsep budaya diuraikan ke dalam unsur-unsur. Dalam konsep budaya terdapat delapan unsur, yakni sistem religi, upacara keagamaan, sistem dan organisasi, kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, teknologi, dan peralatan (Parwatha, 2002:10). Warna lokal dibangkitkan dengan penggunaan istilah dan ungkapan bahasa daerah yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan corak realisme di dalam karya sastra. Misalnya, warna lokal yang terungkap dari kata-kata setempat yang menunjukkan adat istadat, ekspresi, penjulukkan, kepercayaan yang khas, 14 arsitektur rumah, kebiasaan-kebiasaan, humoristik, dan sebagainya (Sastrowardoyo, 1992:75) Warna lokal sebagai gambaran daerah tertentu seperti pakaian, sopan santun, dialek, dan sebagainya yang melatari kehidupan tokoh dalam karya sastra dan hanya bersifat dekoratif; warna tempatan. Misalnya: latar Minangkabau dalam beberapa novel Balai Pustaka (Zaidan, dkk., 2004:214). Dalam konteks sastra sebagai sistem tanda, warna lokal selalu dikaitkan dengan kenyataan hidup di dunia luar yang ditunjuk tanda tersebut, dalam hal tersebut kenyataan hidup itu ialah kenyataan sosial budaya dalam arti yang luas antara lain meliputi aspek-aspek adat istiadat, pemakaian bahasa, kepercayaan, sikap, dan filsafat hidup, kesenian, hubungan sosial, struktur sosial, atau sistem kekerabatan (Mahmud, 1986: 25). Berdasarkan pendapat para ahli dapat diambil sebuah simpulan bahwa warna lokal merupakan ciri khas yang menggambarkan kekhasan suatu daerah tertentu. Hal tersebut dapat berupa adat istadat, sitem kekerabatan, kesenian, penjulukkan, kepercayaan yang khas, arsitektur rumah, kebiasaan-kebiasaan, humoristik, sistem religi, upacara keagamaan, sistem dan organisasi, kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, teknologi, dan peralatan. Secara intrinsik dalam konteks struktur karya, warna lokal selalu dihubungkan dengan unsur-unsur pembangkitnya, yaitu latar, penokohan, gaya bahasa, dan suasana. Terlepas dari semua faktor yang mendorong munculnya warna lokal, sangat jelas bahwa warna lokal memiliki daya tarik tersendiri. Adanya warna 15 lokal telah memberikan keragaman dan variasi pengucapan. Warna lokal dapat dijadikan sebagai daya tarik dari kemonotonan ekspresi dan persoalan sastra yang sering membosankan pembaca. Selain itu, warna lokal sering dianggap memiliki eksotisitas karena kekhasannya. Banyak kategori yang dapat dijadikan unsurunsur warna lokal. Namun, penulis hanya mengambil satu kategori yang akan dijadikan unsur warna lokal dalam menganalisis kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS. Unsur tersebut, yakni pemakaian bahasa. 2.3.1 Warna Lokal dalam Aspek Pemakaian Bahasa Bahasa merupakan alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa juga dapat diartikan sebagai percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku yang baik; sopan santun (Depdiknas, 2008:116). Pemakaian bahasa daerah di lingkungan pedesaan hingga kini masih sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pun dalam suatu karya sastra, sastrawan yang menggunakan warna lokal yang berupa bahasa daerah dengan tujuan untuk mengangkat unsur-unsur kedaerahan dalam suatu karya sastra. Selain itu, pemakaian bahasa daerah dalam suatu karya sastra hendaknya diharapkan mampu memberikan informasi kepada para pembaca sastra untuk mengenal kebudayaan dari suatu daerah. Karya sastra yang bersifat kedaerahan sebagai sarana ekspresi budaya daerah memiliki fungsi, yakni merekam pengalaman budaya estetik, religius, dan sosial politik masyarakat, serta menumbuhkan solidaritas kemanusiaan. Adapun dalam penelitian ini pemakaian bahasa daerah yang diteliti, yakni berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat yang diperdalam dengan menganalisis makna, kelas kata, dan fungsi. 16 2.3.1.1 Makna Terkait dengan makna dalam penelitian ini, dikemukakan teori jenis-jenis makna sebagai berikut. Jenis makna dapat dibedakan menjadi dua belas, yakni makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif dan emotif, makna referensial, makna kontrukstif, makna leksikal dan gramatikal, makna idesional, makna proposional, makna pusat, makna piktorial, makna idiomatik (Djajasudarma, 1993:6). Namun, peneliti membatasi ruang lingkup jenis makna menjadi makna leksikal, makna gramatikal, makna idiomatik, makna sempit, dan makna luas. 1. Makna Leksikal Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain; makna leksikal ini dimiliki unsur-unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.Misalnya kata budaya di dalam Kamus Bahasa Indonesia I (p38) budaya adalah nomina, dan maknanya: 1. pikiran; akal budi; 2, kebudayaan; 3. yang mengenai kebudayaan; yang sudah berkembang (beradab, maju). Semua makna baik bentuk dasar maupun turunan dalam kamus disebut makna leksikal. 2. Makna Gramatikal Makna gramatikal adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Makna leksikal dapat berubah ke dalam makna gramatikal secara operasional. Peratikan contoh berikut. 17 (1) Hei mana matamu? (2) Anak itu ingin telur mata sapi Pada contoh (1) kata mata secara leksikal adalah alat pada tubuh manusia, berfungsi untuk melihat. Makna pada (1) mata sebagai makna gramatikal yang masih berhubungan erat dengan makna leksikal „berfungsi‟ untuk melihat; sedangkan makna pada contoh (2) mata sebagai benar-benar makna gramatikal, yakni goreng telur (mungkin rupanya mirip mata sapi-mata milik sapi). 3. Makna Idiomatik Makna idiomatik adalah makna leksikal terbentuk dari beberapa kata. Katakata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Perhatikan contoh berikut. (1) Ia bekerja membanting tulang brtahun-tahun Pada contoh tersebut, frasa membanting tulang terdiri atas dua kata yang apabila dipisahkan masing-masing kata memiliki makna sendiri-sendiri, tetapi apabila digabung akan menimbulkan makna lain. Pada contoh tersebut frasa membanting tulang memiliki makna idiom bekerja keras. 4. Makna Sempit Makna sempit adalah makan yang lebih sempit dari keseluruha ujaran. Makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit karena dibatasi. Kata-kata bermakna sempit digunakan untuk menyatakan rincian gagasan yang bersifat khusus. 18 Makna luas dapat meneyempit atau suatu kata yang asalnya memiliki makna luas dapat menjadi memiliki makna sempit karena dibatasi. Kata-kata bermakna luas di dalam bahasa Indonesia disebut juga makna umum (generik) digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Gagasan atau ide yang umum bisa dibubuhi rincian gagasan atau ide, maka maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Perhatikan contoh berikut. (1) Pakaian dengan pakaian wanita (2) Saudara dengan saudara kandung saudara tiri saudara sepupu Pada kedua contoh tersebut, yang menunjukkan makna sempit, yakni pakaian wanita dan saudara kandung, sedangkan pakaian dan saudara adalah makna luasnya. 5. Makna luas Makna luas adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan. Kata-kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide-ide yang umum. Kata-kata yang berkonsep memiliki makna luas dapat muncul dari makna yang sempit. Perhatikan contoh contoh berikut. (1) Pakaian dalam dengan pakian (2) Kursi roda dengan kursi 19 Pada kedua contoh tersebut, kata yang menunjukan makna luas, yakni pakian dan kursi, sedangkan kata yang menunjukkan makna sempit, yakni pakaian dalam dan kursi roda. Berikut ini merupakan contoh analisis warna lokal dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari makna. “Coba kulihat!” kata Sutan mahmud pula. Rukiah membawa jahitannya, lalu memperlihatkannya kepada Sutan Mahmud. Bagus benar buatanmu ni, “kata Sutan Mahmud. “Untuk siapa baju ini?” Mendengar pertanyaan sedemikian, terdiamlah Rukiah, lalu tunduk kemalu-malu. “ Untuk siapa-siapa yang suka, “ jawabnya. “Yang suka, tentu banyak. Aku misalnya, ingin memakai baju kerawang yang sedemikian,” kata Sutan Mahmud, akan mempermainkan gadis ini.“Kalu mamanda suka, bolehlah Mamanda ambil. Tetapi rasa hamba baju ini kecil bagi Mamanda.” (Rusli, 2008:14). Pada data di atas terdapat pemakaian bahasa yang digunakan para tokoh dalam bahasa Padang. Pemakaian bahasa tersebut berupa istilah mamanda. Istilah mamanda secara leksikal memiliki arti paman. 2.3.1.1 Kelas Kata Kata dalam ilmu bahasa dikelompokkan berdasarkan bentuk serta perilakunya. Kata yang mempunyai bentuk serta perilaku yang sama atau mirip, dimasukkan ke dalam satu kelompok. Di sisi lain, kata yang bentuk dan perilakunya sama, tetapi berbeda dengan kelompok yang pertama dimasukkan ke dalam kelompok yang lain. Dengan kata lain, kata dapat dibedakan berdasarkan kategori sintaktisnya. Kategori sintaktisnya sering pula disebut kategori atau kelas kata (Putrayasa, 2008:66). Oleh karena itu, analisis kalimat berdasarkan kategori merupakan penentuan kelas kata yang menjadi unsur-unsur kalimat tersebut. 20 Kategori sintaktis adalah apa yang sering disebut kelas kata seperti nomina, verba, adjektiva, adverbia, adposisi (preposisi atau posposisi) (Putrayasa, 2008:67). Kelas kata dibagi dalam lima kelas (Putrayasa, 2008:67). Kelas kata tersebut adalah: kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), kata keterangan (adverbia), dan kata tugas. a. Kata Benda (nomina) Kata benda atau nomina adalah kata-kata yang termasuk ke dalam nama seseorang, tempat atau benda (Putrayasa, 2008:67). Kata benda adalah kategori yang secara sintaktis (1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak, (2) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari (Putrayasa, 2008:67). Kata benda menyangkut pronomina dan numeralia. Kata benda dapat dilihat dari tiga segi, yakni: segi semantis, segi sintaksis, dan segi bentuk. Berdasarkan segi semanatisnya, kata benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata-kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan, termasuk benda (nomina). Contoh nomina dalam bahasa Lampung, yakni datuk (kakek), kawai (baju), wai (air). b. Kata Kerja Kata kerja (verba) adalah kata yang menyatakan tindakan, Ciri-ciri kata kerja (verba) diketahui dengan mengamati (1) perilaku semantisnya, (2) peilaku sintaktis, (3) bentuk morfologisnya (Putrayasa, 2008:71). Akan tetapi, secara 21 umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama adjektifa karena memiliki ciri-ciri berikut. 1. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau inti predikat dalam kalimat. Perhatikan contoh berikut. a. Soraya sedang membersihkan kelas itu. b. Paman sedang mencari dompetnya. Verba yang dicetak miring dalam contoh kalimat tersebut adalah predikat. Perhatikan contoh dalam bahasa Lampung. a. Tian muttil cakkih (mereka memetik cengkih) Kata muttil pada contoh tersebut merupakan verba yang menduduki fungsi predikat. 2. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. 3. Verba, khususnya yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefik teryang berarti „paling‟. Verba mati atau suka tidak dapat diuba menjadi termati atau tersuka. 4. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi, dan lain-lain. c. Kata Sifat (ajektifa) Kata sifat (adjektiva) adalah kata yang memberi keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat (Putrayasa, 2008:74). Adjektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemunginannya untuk (1) bergabung dengan partikel tidak, (2) mendampingi nomina, atau (3) 22 didampingi partikel seperti: lebih, sangat, agak, (4) mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er (dalam honorer), -if (dalam sensitif), -i (dalam alami), dibentuk jadi nomina dengan konfiks ke-an (dalam keadilan) (Putrayasaa, 2008:75). Contoh adjektifa, yakni: cantik, merah, baik, dan lain-lain. d. Kata Keterangan (Adverbia) Kata Keterangan (adverbia) adalah kategori yang dapat mendampingi adjektifa, numeralia, preposisi dalam konstruksi sintaksis (Putrayasa, 2008:77). Kata keterangan adalah kata yang menerangkan (1) kata kerja dalam segala fungsinya, (2) kata keadaan dalam segala fungsinya, (3) kata keterangan, (4) kata bilangan, (5) predikat kalimat, tak peduli jenis kata apa predikat tersebut, (6) menegaskan subyek dan predikat kalimat (Putrayasa, 2008: 77). Contoh adverbia, yakni hanya, sekesar, sering, dan lain-lain. e. Kata Tugas Kata tugas adalah kata yang hanya memiliki makna gramatikal dan tidak memiliki makna leksikal. Arti suatu kata tugas bukan oleh kata tersebut secara lepas melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frasa atau kalimat. Pada nomina seperti buku dapat diberikan arti berdasarkan kodrat kata itu sendiri. Akan tetapi, kata tugas tidak dapat diperlakukan sama. Kata tugas seperti dan atau ke akan mempunyai arti apabila dirangkai dengan kata lain, misalnya ayah dan ibu dan ke pasar. Ciri lain dari kata tugas adalah hampir semua kata tugas tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab dan sampai, tetapii dari 23 nomina sebab dan verba sampai yang bentuknya sama, tetapi kategorinya berbeda. Berdasarkan perananya dalam frasa atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok sebagai berikut. 1. Preposisi Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frasa eksosentris historis (Putrayasa, 2008:80). Jika ditinijau dari perilaku semantisnya, preposisi yang juga disebut kata depan yang menandai berbagai hubungan makna antara konstituen yang berada di depan preposisi dan kostituen yang berada di belakangnya. Contohnya dalam frasa pergi kek kantor, peposisi menyatakan hubungan makna antara pergi dn kantor. Jika ditinjau dari perilaku sintaksisnya, preposisi berada di depan nomina, adjektiva atau adverbia sehingga terbentuk frasa yang dinamakan frasa preposisional. Contoh frasa preposisional, yakni: ke kantor, sampai penuh, dan dengan segera. Jika ditinjau dari segi bentuknya, terdapat dua macam preposisi, yaitu (1) preposisi tunggal seperti di, ke, dari, pada, selama, mengenai, dan sepanjang, (2) preposisi majemuk seperti daripada, oleh karena, sampai ke, sampai dengan, dan selain dari. 2. Konjungtor Konjungtor atau kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat, yakni kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Putrayasa, 2008:81). Perhatikan contoh berikut. (1) Hidup atau mati kita tergantung pada upaya kita sendiri. 24 Pada contoh tersebut, kata tugas yang menghubungkan adalah atau. Pada contoh tersebut merupakan contoh kata tugas yang mengabungkan kata dengan kata. 3. Interjeksi Interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapakan perasaan pembicara dan secara sintaktis tidak berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran. Inerjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapakan rasa hati pembicara. Secara struktural, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain. Menurut bentuknya, terdapat interjeksi berupa bentuk dasar ada bentuk turunan. Berbagai interjeksi dapat dikelompokkan menurut perasaan yang diungkapkannya seperti berikut. a. Interjeksi kejijikan : bah, cih, ih, idih. b. Interjeksi kekesalan : brengsek, sialan, buset, keparat. c. Interjeksi kekaguman : aduhai, amboi, asyik. d. Interjeksi kesukuran : syukur, alhamdullilah e. Interjeksi harapan : insya Allah f. Interjeksi keheranan : aduh, aih, lo, oi, duilah, eh, oh, ah. g. Interjeksi kekagetan : astaga, masyaallah h. Interjeksi ajakan : ayo, mari i. Interjeksi panggilan : hai, eh, he, halo j. Interjeksi simpulan : nah 25 4. Artikula Artikula adalah kategori yang mendampingi nomina dasar, misalnya: si kancil, sang dewa, para pelajar, nomina deverbal, misalnya si terdakwa, si tertuduh, pronominal, misalnya si dia, sang akui, dan verba pasif misalnya: kaum tertindas (Putrayasa, 2008:82). Artikula dalam kata tugas yang membatasi makna nomina (Putrayasa, 2008:82). Dalam Bahasa Indonesia, terdapat kelompok artikula (1) yang bersifat gelar, (2) yang mengacu pada makna kelompok, (3) yang menominalkan. Artikula yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang atau hal yang dianggap bermanfaat. Berikut ini merupakan contoh artikula yang bersifat gelar. a. Sang Juara, Mike Tyson, dapat merobohkan lawannya. b. Sang Merah Putih berkibar dengan jaya di seluruh tanah air. Artikula yang mengacu kepada makna kelompok atau makna kolektif adalah para. Artikula tersebut mengisyaratkan ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Oleh karena itu, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai adalah para guru dan bukan para guru-guru. Artikula yang menominalkan dapat dicontohkan dengan si. Artikula ini mengacu kepada makna tunggal ataupun generik, bergantung pada komteks kalimatnya. Misalnya: a. Tak sampai hatiku melihat si miskin mengambil makanan dari tumpukkan sampah itu. 26 b. Dalam masa krisis ini si miskinlah yang selalu memderita. Frasa si miskin pada kalimat pertama mengacu pada satu orang yang kebetulan miskin, sedangkan frasa si miskin pada kalimat kedua mengacu pada pengertian generik, yaitu kaum miskin di dunia. 5. Partikel Penegas Kategori patikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Terdapat empat macam partikel penegas, yakni -kah, -lah, -tah, -pun. Tiga macam partikel penegas yang pertama berupa klitika, sedangkan yang keempat bukan. Partikel –kah yang berbentuk klitika dan bersifat manasuka dapat menegaskan kalimat interogatif. Misalnya: a) Ibukah yang akan berangkat? Partikel –lah yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam kalimat imperatif atau kalimat deklaratif. Misalnya: a) Berangkatlah sekarang sebelum hujan turun! Partikel –tah, yang juga berbentuk klitika dipakai dalam kalimat interogatif, tetpai si penanya sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Partikel –tah banyak dipakai dalam sastra lama. Misalnya: a) Apatah artinya hidup ini tanpa dirimu? Partikel –pun hanya dipakai dalam kalimat deklaratif dan dalam bentuk tulisan, penulisannya dipisahkan dari kata dimukanya. Misalnya: a) Akhirnya mereka pun setuju dengan usulan kami. 27 Berikut ini merupakan contoh analisis warna lokal dalam aspek pemakaian bahasa ditinjau dari kelas kata. “Coba kulihat!” kata Sutan mahmud pula. Rukiah membawa jahitannya, lalu memperlihatkannya kepada Sutan Mahmud. Bagus benar buatanmu ni, “kata Sutan Mahmud. “Untuk siapa baju ini?” Mendengar pertanyaan sedemikian, terdiamlah Rukiah, lalu tunduk kemalu-malu. “ Untuk siapa-siapa yang suka, “ jawabnya. “Yang suka, tentu banyak. Aku misalnya, ingin memakai baju kerawang yang sedemikian,” kata Sutan Mahmud, akan mempermainkan gadis ini.“Kalu mamanda suka, bolehlah Mamanda ambil. Tetapi rasa hamba baju ini kecil bagi Mamanda.” (Rusli, 2008:14). Pada kutipan tersebut terdapat pemakaian bahasa yang digunakan para tokoh dalam bahasa Padang. Pemakaian bahasa tersebut berupa kata mamanda. Kata mamanda termasuk ke dalam kelas kata benda karena secara semantis kata tersebut mengacu pada orang atau manusia. Pemakaian bahasa yang terdapat dalam data di atas merupakan unsur warna lokal yang terdapat dalam masyarakat Padang. 1.3.1.3 Fungsi Bahasa Terkait dengan fungsi bahasa, peneliti mengacu pada sebuah teori struktural yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure. Teori tersebut menyatakan bahwa seluruh sistem bahasa sebagai forma dan bukan substansi dapat disederhanakan dan dijelaskan sebagai relasi sintagmatis dan paradigmatis; dan bahwa sistem tersebut terjadi dari tingkat-tingkat struktur; pada tiap-tiap tingkat terdapat unsurunsur yang saling berkontras dan berkombinasi untuk membentuk satuan-satuan yang lebih tinggi (Saussure, 1988:24). Prinsip- prinsip penstrukturan pada tiap tingkat pada dasarnya sama. Tujuan linguistik adalah mencari sistem (langue) 28 tersebut dari kenyataan yang konkret (parole). Ajaran tersebut menjadi dasar dari apa yang disebut pendekatan struktural. Untuk memahami pendekatan tersebut, perlu adanya pemahaman tentang struktur. Struktur adalah suatu tatanan wujudwujud yang mencakup keutuhan, transformasi, dan bukannya kumpulan semata melainkan karena tiap-tiap komponen struktur itu tunduk kepada kaidah intrinsik dan tidak mempunyai keberadaan bebas di luar struktur. Jadi, pada hakekatnya strukturalisme adalah suatu cara pandang yang menekankan persepsi dan deksripsi tentang struktur tersebut (Saussure, 1988: 25) Berdasarkan teori tersebut dapat ditarik paradigma tentang fungsi bahasa dalam arti kata, istilah, frasa, klausa, dan kalimat. Fungsi bahasa dalam sastra yang berkaitan dengan peneliti

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Ketidakadilan gender pada perempuan dalam novel entrok karya okky madasari dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA
6
46
127
Citra perempuan dalam tiga cerpen Martin Aleida dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA
3
60
110
Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah
18
166
84
Penggunaan gaya bahasa pada kumpulan cerpen hujan kepagian karya Nugroho Notosusanto dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA
25
217
127
Masalah Sosial dalam kumpulan cerpen mata yang enak dipandang karya Ahmad Tohari dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
7
126
101
RELASI DALAM WACANA KUMPULAN CERPEN DI ATAS SAJADAH CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
1
42
62
KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
5
58
47
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA CERPEN-CERPEN KARYA SISWA SMP DALAM MAJALAH HORISON DAN IMPLIKASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMP
2
33
89
KONOTASI PADA KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN DI RUMAH PANGGUNG KARYA ISBEDY STIAWAN ZS DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMP
2
69
49
Potret Sejarah Revolusi Indonesia dalam Kumpulan Cerpen Perempuan Karya Mochtar Lubis dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
6
81
167
Warna Lokal dalam Novel Isinga Karya Dorothea Rosa Herliany dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA
12
80
200
Kritik Sosial dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
4
25
93
KEMAMPUAN PENGGUNAAN METODE INDEX CARD MATCH TERHADAP APRESIASI CERPEN ‘SEANDAINYA KAU JADI IKAN’ KARYA ISBEDY STIAWAN ZS OLEH SISWA KELAS XI IPS SMA SWASTA YAYASAN PENDIDIKAN RISMADUMA TANJUNG BERINGIN SIDIKALANG TAHUN PEMBELAJARAN 2008/2009.
0
1
11
View of Kematian dan Kerinduan sebagai Dasar Penciptaan Sajaksajak Isbedy Stiawan ZS 54 1 10 20170530
0
0
12
CITRAAN PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN BUKAN PERMAISURI KARYA NI KOMANG ARIANI DAN SARAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENGAJARAN SASTRA DI SMA
0
1
11
Show more