UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SDN 3 WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Gratis

0
7
32
2 years ago
Preview
Full text
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SDN 3 WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh Yeni Astuti Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN pada Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 iii UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SDN 3 WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh YENI ASTUTI ABSTRAK Hasil pembelajaran matematika yang dilaksanakan di kelas V SDN 3 Wiyono nampak masih rendah. Hal ini disebabkan karena guru tidak/belum menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan menggunakan alat peraga. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus. Setiap siklus menggunakan langkah-langkah sebagai berikut, yaitu: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) observasi; dan (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V sebanyak 25 orang yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan hasil tes dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar. Peningkatan ini terlihat dari ketuntasan belajar saat pra siklus yang semula hanya 40 persen menjadi 60 persen pada siklus I, dan 68 persen pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 76 persen pada siklus III. Oleh sebab itu penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika khususnya hendaknya lebih ditingkatkan lagi. Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, alat peraga ii DAFTAR ISI Daftar Isi Halaman Halaman Depan …………………………………………………………….. i Abstrak ……………………………………………………………………… ii Halaman Judul ……………………………………………………………… iii Halaman Persetujuan ……………………………………………………….. iv Halaman Pengesahan ………………………………………………………... v Halaman Pernyataan ……………………………………………………….. vi Riwayat Hidup ……………………………………………………………… vii Motto ……………………………………………………………………….. viii Halaman Persembahan ……………………………………………………… ix Sanwacana …………………………………………………………………. x Daftar Isi ……………………………………………………………………. xi Daftar Tabel ………………………………………………………………… xiii Daftar Gambar ……………………………………..……………………….. xiv Daftar Lampiran ….……………………………….………………………… xv BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………………………………… B. Identifikasi Masalah …………………..…….……..…… C. Rumusan Masalah…………………………….…….……. D. Pemecahan Masalah ……………………………………. E. Tujuan Penelitian …………………………………….… F. Manfaat Penelitian …………..……………….……..….. G. Hipotesis Penelitian …………………………………… 1 3 3 4 4 4 5 KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran ……………................................ 6 1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran ………………… 6 2. Teori Belajar dan Pembelajaran ………………………. 8 B. Hasil Belajar ……………….………………………..…… 12 C. Hakikat Pembelajaran Matematika …..…….………….. 14 D. Alat Peraga …….……….……………………………... 16 1. Pengertian Alat Peraga ……………………………… 16 2. Jenis-jenis Alat Peraga ……………………………….. 16 3. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Alat Peraga … 17 xi BAB III BAB IV BAB V METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian …………………………….…….. B. Subjek Penelitian ……………………………………… C. Lokasi dan Waktu Penelitian ………….……….……… D. Langkah Tindakan Penelitian ………….………………… E. Teknik Pengumpulan Data ………………………………. 1. Observasi ……….……………………………………. 2. Tes Formatif ………………………………………….. F. Teknik Analisis Data …………………………………. G. Indikator Keberhasilan ………………………………….. 17 18 18 18 19 19 20 20 20 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Setting Penelitian …………..……………….. B. Hasil Penelitian Persiklus ………………………………. 1. Siklus I ………………………………………….. 2. Siklus II ………………………………………….. 3. Siklus III …………………………………………….. C. Pembahasan ……………………………………………. 1. Aktivitas Belajar Siswa …………………………….. 2. Hasil Belajar Siswa ………………………………… 21 21 21 29 35 41 41 41 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………………….………………………….. 43 B. Saran ………………………..…………………………… 43 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………….………….. 45 LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………… 46 xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UURI No. 20 Th. 2003). Tujuan ini dituangkan dalam tujuan pembelajaran matematika yaitu melatih cara berfikir dan bernalar, mengembangkan aktifitas kreatif, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan menyampaikan infomasi atau mengkomunikasikan gagasan. Sehingga matematika merupakan bidang ilmu yang strategis untuk membentuk generasi yang siap menghadapi era global yang penuh dengan kompetitif tersebut. Matematika sebagai disiplin ilmu turut andil dalam pengembangan dunia teknologi yang kini telah mencapai puncak kecanggihan dalam mengisi berbagai dimensi kebutuhan hidup manusia. Era global yang ditandai dengan kemajuan teknologi informatika, industri otomotif, perbankan, dan dunia bisnis lainnya, menjadi bukti nyata adanya peran matematika dalam revolusi teknologi. 2 Melihat betapa besar peran matematika dalam kehidupan manusia, bahkan masa depan suatu bangsa, maka sebagai guru di Sekolah Dasar yang mengajarkan dasar-dasar matematika untuk senantiasa berusaha meningkatkan pembelajaran dan hasil belajar matematika. Berdasarkan pengalaman peneliti pada saat mengajar di kelas IV SDN 3 Wiyono menunjukkan bahwa hasil belajar matematika selalu berada di tingkat bawah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai matematika pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 belum mencapai hasil yang diharapkan, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Nilai Matematika Siswa Kelas IV SDN 3 Wiyono Tahun Pelajaran 2012/2013. No Nilai Jumlah Siswa Persentase (%) 1 80 – 100 5 20,00 2 60 – 79 5 20,00 3 40 -59 12 48,00 4 20 -39 3 12,00 25 100,00 Sumber: Dokumen tahun 2013 Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai matematika yang diperoleh dari 25 siswa yang ada hanya 40 persen yang sudah tuntas, berarti masih ada 60 persen yang belum tuntas. Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan seharihari yang menunjukkan bahwa siswa terlihat jenuh dan kurang tertarik mengikuti pelajaran matematika. Hal ini disebabkan pembelajaran sehari-hari secara umum lebih sering disampaikan melalui ceramah dan latihan-latihan soal. Media atau alat peraga yang tersedia di sekolah kurang bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh guru dalam pembelajaran. Guru jarang/ 3 belum menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, padahal untuk memahami konsep matematika, terutama di SD sangat diperlukan alat peraga. Kondisi tersebut jika terjadi terus menerus sangat berdampak pada hasil belajar matematika. Atas dasar hal tersebut maka diperlukan adanya suatu upaya kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Dengan alat peraga, siswa dapat dilibatkan dalam pembelajaran, sehingga bisa membantu mempermudah siswa dalam memahami materi yang diajarkan. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Pembelajaran masih dilaksanakan dengan metode yang konvensional, yakni ceramah dan latihan-latihan. 2. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. 3. Guru jarang/belum menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. 4. Nilai rata-rata Matematika masih rendah. C. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut: 4 Apakah pembelajaran yang dilakukan melalui penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V SDN 3 Wiyono Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran tahun pelajaran 2013/2014? D. Pemecahan Masalah Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka pemecahan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Pemecahan masalah yang akan dilakukan upaya peningkatan hasil belajar Matematika melalui penggunaan alat peraga pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono Pesawaran. E Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika melalui penggunaan alat peraga pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono Pesawaran tahun pelajaran 2013/2014. F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa, sebagai upaya untuk membantu meningkatkan hasil belajar matematika melalui penggunaan alat peraga. 2. Bagi guru, sebagai masukan bagi guru dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penggunaan alat peraga. 3. Bagi sekolah, sumbangan pemikiran untuk meningkatkan mutu, khususnya dalam pembelajaran Matematika di SD melalui penggunaan alat peraga. 5 G. Hiptesis Penelitian Berdasarkan ruang lingkup penelitian dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut: jika pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan alat peraga, maka akan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono Pesawaran tahun pelajaran 2013/2014. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Istilah belajar sudah dikenal luas di berbagai kalangan walaupun sering disalahartikan atau diartikan secara pendapat umum saja. Untuk memahami konsep belajar secara utuh perlu digali lebih dulu bagaimana para pakar pendidikan mengartikan konsep belajar. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan, keterampilan, dan sikap. Seseorang dikatakan belajar jika dalam diri orang tersebut terjadi suatu aktivitas yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang dapat diamati relatif lama. Perubahan tingkah laku itu tidak muncul begitu saja, tetapi sebagai akibat dari usaha orang tersebut. Oleh karena itu, proses terjadinya perubahan tingkah laku dengan tanpa adanya usaha tidak disebut belajar. Belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Sehingga proses belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku dan terjadi karena hasil pengalaman, sehingga dapat dikatakan terjadi 7 proses belajar apabila seseorang menunjukkan tingkah laku yang berbeda meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sudjana (2001:28) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pemahamannya, pengetahuannya, sikap dan tingkah lakuny, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu siswa. Berdasarkan uraian di atas tentang belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu bentuk perubahan tingkah laku pada diri seseorang sebagai akibat dari pengalaman dan latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan yang dialami oleh seseorang. Sedangkan pembelajaran menurut Gagne, et. al (dalam Winataputra, 2008:1.19), pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Sementara dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 butir 20 berbunyi tentang Sisdiknas dirumuskan bahwa, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam konsep pembelajaran tersebut terkandung 5 (lima) aspek, yakni interaksi, peserta didik, pendidik, sumber belajar, dan lingkungan belajar. Pembelajaran dalam arti luas merupakan jantungnya dari pendidikan untuk mengembangkan kemampuan, membangun watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 8 Pembelajaran mengacu pada segala kegiatan yang dirancang untuk mendukung proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku individu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pembelajaran dalam konteks pendidikan formal, yakni pendidikan di sekolah, sebagian besar terjadi di kelas dan lingkungan sekolah. Sebagian kecil pembelajaran terjadi juga di lingkungan masyarakat, misalnya pada saat kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan upaya sistematis untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. B. Teori Belajar dan Pembelajaran Belajar secara umum adalah terjadinya perubahan pada diri orang belajar karena pengalaman. Sedangkan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono, Max, dkk, 2000:24). Proses pembelajaran dipengaruhi oleh pemahaman guru terhadap aliran atau teori belajar. Menurut Muchith (2008:55) ada beberapa jenis aliran atau paham yang dapat dijadikan inspirasi untuk melakukan proses pembelajaran, yakni : 9 1. Behaviorisme Teori belajar behaviorisme menyatakan bahwa keberhasilan belajar ditentukan oleh adanya interaksi antara stimulus dan respon yang diterima oleh manusia. Mengajar atau mendidik perlu dilakukan dengan cara memperbanyak stimulus dan respon yang diberikan kepada siswa. Salah satu indikasi keberhasilan belajar menurut teori ini adalah adanya perubahan tingkah laku yang nyata dalam kehidupan masyarakat (Muchith, 2008:56). Muchith (2008:57), mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada proses memperluas dan penambahan pengetahuan siswa, sedangkan proses belajar sebagai “mimetic”, yang menuntut siswa agar memiliki kemampuan mengungkapkan kembali pengetahuan dan pemahaman yang sudah dipelajari baik dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang, yang diperoleh melalui berbagai cara dalam pembelajaran. Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran teori ini adalah merancang kondisi belajar yang efektif dengan merumuskan tujuan belajar dan langkah-langkah pembelajaran yang jelas, menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai penguat perilaku yang dihasilkan. 10 2. Kognitivisme Pada hakekatnya teori kognitif adalah sebuah teori pembelajaran yang cenderung melakukan praktek yang mengarah pada kualitas intelektual peserta didik. Konsekuensi proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar siswa mengembangkan kualitas intelektualnya. Secara umum proses pembelajaran harus didasarkan atas asumsi umum (Muchith, 2008: 69). a). Proses pembelajaran adalah suatu realitas sistem. Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh satu aspek/faktor saja, tetapi lebih ditentukan secara simultan dan komprehensif dari berbagai faktor yang ada. b). Proses pembelajaran adalah realitas kultural/natural. Artinya dalam proses pembelajaran tidak diperlukan adanya berbagai paksaan dengan dalil membentuk kedisiplinan. c). Pengembangan materi harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan peserta didik. d). Metode pembelajaran tidak dilakukan secara monoton, metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam proses pembelajaran. e). Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, sehingga proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. f). Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada menghafal. g). Pembelajaran harus memperhatikan perbedaan individual siswa, karena sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar. 11 Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran adalah membantu siswa memproses informasi dengan efektif, dengan cara menyusun materi pembelajaran dengan sistematis dan akurat membuat hubungan antara pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki pebelajar (Winataputra, 2008: 6.11). 3. Humanisme Winataputra (2008:4.1), para pendukung teori ini yakin bahwa perilaku harus dipahami bukan sekadar dikendalikan atau direkayasa. Teori ini mementingkan pilihan pribadi, kreativitas dan aktualisasi diri setiap individu yang belajar. Belajar merupakan suatu proses di mana siswa mengembangkan kemampuan pribadi yang khas dalam bereaksi terhadap lingkungan sekitar. Dengan kata lain, siswa tersebut mengembangkan kemampuan terbaik dalam diri pribadinya. Pada hakekatnya teori humanistik lebih menekankan pada proses untuk memanusiakan manusia atau peserta didik, yaitu suatu pemahaman atau kesadaran untuk memahami potensi, perbedaan, kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap peserta didik (Muchith, 2008: 94). 4. Konstruktivisme Muchith (2008:72), menjelaskan bahwa pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman pembelajarannya dilakukan nyata bagi secara siswa, natural. sehingga Penekanan model teori konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori yang dibangun dari realitas lapangan. 12 Muchith (2008:72) juga mengatakan belajar bukanlah proses teknologi (robot) bagi siswa, melainkan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya menyampaikan materi yang bersifat normatif (tekstual) tetapi juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual. Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran adalah mendorong siswa bersikap lebih otonom dalam menterjemahkan pengetahuan yang diperoleh, melalui memecahkan masalah yang riil, kompleks dan bermakna bagi siswa, dialog dalam kelompok belajar bersama, bimbingan dalam proses pembentukan pemahaman. Dari keempat teori belajar dan pembelajaran tersebut di atas, sehubungan dengan penelitian yang dilakukan penulis menggunakan teori konstruktivisme mengingat. bahwa siswa mengkonstruksi pengetahuan baru secara bermakna melalui pemahaman materi dengan pengalaman nyata bagi siswa, sehingga model pembelajarannya dilakukan secara natural. Penekanan teori konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan persoalan yang dibangun dari realitas lapangan. B. Hasil Belajar Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi atau hasil belajar. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah proses belajar 13 mengajar berlangsung. Menurut Sudjana (2002:22) prestasi atau hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dengan mengetahui hasil belajar siswa, seorang guru dapat menentukan kedudukannya dalam kelas, apakah siswa tersebut termasuk ke dalam kategori siswa yang pandai, sedang atau kurang. Biasanya penilaian suatu hasil belajar dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau kalimat dapat dipahami bahwa penilaian dalam arti komplek mencakup segala aspek psikologis siswa, sedangkan dalam arti sempit sebagai bentuk untuk mengukur keberhasilan siswa yang terformat dalam bentuk evaluasi. Menurut Syarifuddin (2008:14) menyatakan bahwa evaluasi berarti penilaian terhadap tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan dalam tingkat pembelajaran. Salah satu tujuan diadakannya evaluasi diantaranya adalah dapat dijadikan sebagai alat penetapan apabila siswa termasuk kategori cepat, sedang dan ataupun lambat dalam arti untuk kemampuan belajarnya. Menurut Sukmadinata (2006:33) kompetensi adalah perilaku atau performa yang diperlihatkan oleh seseorang dalam beraktivitas, melaksanakan tugas, penyelesaian pekerjaan dan pemecahan masalah yang dibagi menjadi 4 yaitu: 1. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar adalah kecakapan awal yang dikuasai untuk menguasai kompetensi yang lebuh tinggi. 2. Kompetensi Umum Kompetensi umum adalah penguasaan kecakapan yang diperlukan dalam kehidupanbaik secara social kemasyarakatan dan lingkungan. 3. Kompetensi Operasional/Teknis Kompetensi operasional atau teknis adalah penguasaan kecakapan yang berkenaan dengan penerapan atau aplikasi dari konsep, prinsip dan pengetahuan dalam kenyataan. 4. Kompetensi Professional Kompetensi professional adalah penguasaan kecakapan tingkat tinggi yang menyangkut proses analisis, sintesis, pemecahan masalah, dan menciptakan hal-hal baru. 14 Dengan demikian yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah hasil usaha yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai untuk mengukur kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotor. C. Hakikat Pembelajaran Matematika 1. Pengertian Matematika adalah ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak dan bahasa simbol yang padat arti dan semacamnya sehingga para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah sistem matematika. Selain itu matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur abstrak dan hubungan dengan hal itu (Kasro, 2006: 1) Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan 15 komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya (BSNP, 2006:147). 2. Tujuan Mata Pelajaran Matematika Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut (BSNP, 2006:148): a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh d. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 3. Ruang Lingkup Pelajaran Matematika Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspekaspek sebagai berikut. 1. Bilangan 16 2. Geometri dan pengukuran 3. Pengolahan data. D. Alat Peraga 1. Pengertian Alat Peraga Alat peraga adalah suatu alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga dengan tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien (Sudjana, 2002 :59 ). Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Proses belajar mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi. Unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau tehnik untuk mengantarkan sebagai bahan pelajaran agar sampai tujuan. Dalam pencapain tersebut, peranan alat bantu atau alat peraga memegang peranan yang penting sebab dengan adanya alat peraga ini bahan dengan mudah dapat dipahami oleh siswa. Alat peraga sering disebut audio visual, dari pengertian alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga. Alat tersebut berguna agar pelajaran yang disampaikan guru lebih mudah dipahami oleh siswa. Dalam proses belajar mengajar alat peraga dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien. 2. Jenis-jenis Alat Peraga Ruminiati (2007: 2.13), menjelaskan bahwa berdasarkan jenisnya alat peraga dibedakan menjadi tiga, yaitu alat peraga audio, alat peraga visual dan alat 17 peraga audio visual. Alar peraga audio adalah alat peraga yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Yang termasuk jenis alat peraga ini aantara lain tape recorder dan radio. Alat peraga visual adalah alat peraga yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Yang termasuk jenis ini antara lain meliputi gambar, foto, serta benda nyata yang tidak bersuara. Adapun alat peraga audio visual adalah alat peraga yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Beberapa contoh alat peraga jenis ini meliputi televisi, video, film, atau demonstrasi langsung. 3. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Alat Peraga Adapun kelebihan dan kekurangan penggunaan alat peraga dalam pengajaran yaitu (Ruminiati, 2007:2.19): Kelebihan penggunaan alat peraga yaitu: a. Menumbuhkan minat belajar siswa karena pelajaran menjadi lebih menarik b. Memperjelas makna bahan pelajaran sehingga siswa lebih mudah memahaminya c. Metode mengajar akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak akan mudah bosan d. Membuat lebih aktif melakukan kegiatan belajar seperti: mengamati, melakukan dan mendemonstrasikan dan sebagainya. Sedangkan kekurangan penggunaan alat peraga yaitu: a. Memerlukan banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan, jika alat peraga dibuat sendiri oleh guru. 18 b. Perlu kesediaan berkorban secara materiil untuk membuat alat peraga. Sebab tidak semua alat peraga yang akan dipakai dapat didapatkan secara cuma-cuma, tetapi perlu biaya untuk mendapatkannya. BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian tindakan kelas secara kolaboratif, dimana peneliti bekerja sama dengan rekan sejawat sebagai observer. Tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan aktivitas pembelajaran di kelas. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Hopkins (dalam Zainal, 2006:30), yang dinamakan Spiral Tindakan Kelas yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Siklus ini akan dihentikan jika hasil penelitian ini sudah memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan. 18 dst … Gambar 1. Alur Siklus PTK (Sumber: Zainal, 2006:30) B. Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 3 Wiyono Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran yang berjumlah 25 orang yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. C. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di SDN 3 Wiyono Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran yang merupakan tempat tugas peneliti. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. D. Langkah Tindakan Penelitian 1. Perencanaan Tindakan a. Menentukan jadwal kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 19 b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat skenario pembelajaran, format observasi, evaluasi, alat peraga dan menyiapkan sarana prasarana. 2. Pelaksanaan Tindakan a. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana tindakan b. Menerapkan tindakan. 3. Pengamatan/observasi dan pengumpulan data a. Melakukan pengamatan dan mencatat hasil pengamatan berdasarkan instrumen observasi b. Melakukan penilaian hasil tindakan sesuai dengan instrumen tes. 4. Refleksi a. Menilai dan membahas hasil evaluasi dan observasi tindakan yang telah dilakukan b. Menentukan kekurangan dan kelebihan dari tindakan yang telah dilakukan. c. Membuat rencana perbaikan untuk tindakan pada siklus berikutnya. E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas belajar siswa dan kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung dengan cara memberi tanda cheklist pada lembar observasi yang telah disiapkan peneliti. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan. 20 2. Tes Tes ini digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian hasil belajar siswa setelah melaksanakan pembelajaran Matematika melalui penggunaan alat peraga. F. Teknik Analisis Data Analisis data adalah suatu kegiatan untuk mencermati setiap langkah yang dibuat, mulai dari tahap persiapan, proses sampai hasil pekerjaan atau pembelajaran, dalam arti apakah kegiatan beserta langkah-langkahnya dengan analisis terhadap kegiatan pembelajaran, analisis dilakukan untuk memperkirakan apakah semua aspek pembelajaran yang terlibat di dalamnya sudah sesuai dengan perkembangannya. Analisis data yang dilakukan adalah: 1. Mengumpulkan semua data dari hasil pengamatan selama siklus I, baik data kuantitatif maupun kualitatif. 2. Menganalisa data dengan membuat tabulasi dan prosentase, serta disajikan dalam bentuk tabel. 3. Menguji keberhasilan penelitian dengan cara membandingkan hasil pengolahan data dengan indikator keberhasilan antara hasil tes siklus I, siklus II, dan seterusnya. G. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan yang diharapkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Matematika, yakni minimal 75% siswa telah memperoleh nilai ≥ 60. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Pembelajaran melalui penggunaan alat peraga dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono tahun pelajaran 2013/2014. 2. Pembelajaran melalui penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono tahun pelajaran 2013/2014. 3. Penerapan pembelajaran melalui penggunaan alat peraga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran Matematika pada siswa kelas V SDN 3 Wiyono. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian, maka pembelajaran dengan menggunakan alat peraga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Oleh sebab itu, bila pembelajaran serupa hendak dilanjutkan dan dikembangkan, maka perlu adanya perbaikan dan revisi beberapa kelemahan tersebut. Adapun saran yang dapat diberikan antara lain: 44 1. Saran untuk sekolah a. Hendaknya ada sosialisasi kepada guru untuk mau dan mampu menggunakan alat peraga dalam setiap pembelajaran demi untuk meningkatkan hasil belajar b. Memberikan kesempatan kepada guru untuk membuat dan mengembangkan alat peraga pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran di kelasnya. 2. Saran untuk guru a. Guru selalu berusaha untuk belajar dan berinovasi dalam pembelajaran baik dari buku maupun internet. b. Kepada semua guru guru hendaknya selalu mencoba menerapkan PTK demi inovasi dan kemajuan dalam bidang pendidikan. c. Keberhasilan pembelajaran melalui penggunaan alat peraga memerlukan persiapan yang matang. Guru harus lebih kreatif dan tepat dalam memilih alat peraga yang akan digunakan sehingga alat peraga yang digunakan sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. DAFTAR PUSTAKA BSNP. 2006. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta Darsono, Max. dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press. Kasro. 2006. Pendidikan Matematika 1. Jakarta: Universitas Terbuka. Muchith, M. Saekhan. 2008. Pembelajaran Kontekstual. Semarang: RaSAIL Media Group. Ruminiati. 2007. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Jakarta: Depdiknas Sudjana, Nana. (2002). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Aglesindo. Sukmadinata. 2006. Jenis-Jenis Penelitian. Surabaya: PT. Bina Ilmu Syarifuddin, Muhammad. 2008. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Fokus Media. Winataputra, Udin S. (2007). Teori Belalar dan Pembelajaran. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Zainal, Aqip. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI PENERAPAN METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI 1 GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
12
32
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
23
108
52
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
5
53
PENGGUNAAN “ METODE DISKUSI “ UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS IV MI DINIYYAH PUTRI KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
2
29
42
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS V SDN 5 CIPADANG KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
4
56
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR N EGERI 3 GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
6
69
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 KUTA DALOM KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
6
76
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN MEDIA KARTU SOAL PADA SISWA KELAS V SDN 2 SUKADADI KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
8
66
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE EKSPERIMEN BAGI SISWA KELAS V SDN 2 PADANG RATU KECAMATAN GEDUNG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN
0
4
53
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS 5 SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
3
20
82
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS 5 SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
10
82
JUDUL: MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
7
43
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
9
10
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SDN 3 WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
7
32
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA SISWA KELAS V SDN BATURAJA KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
3
64
Show more