PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF EXAMPLE NON EXAMPLE TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA MATERI POKOK PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Waway Karya Lampung Timur Tahun Pela

 3  73  60  2017-04-20 14:59:18 Report infringing document
Eka rahmawati ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF EXAMPLE NON EXAMPLE TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA MATERI POKOK PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Waway Karya Lampung Timur Tahun Pelajaran 2012/2013) Oleh EKA RAHMAWATI Kemampuan berpikir rasional dalam belajar harus dimiliki oleh siswa untuk memperoleh keberhasilan belajar siswa yang optimal. Namun, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru biologi yang mengajar di kelas VII SMP Negeri Waway Karya Lampung Timur diketahui bahwa kemampuan berpikir rasional oleh siswa masih kurang dikembangkan dan didominasi oleh guru. Satu alternatif yang dapat digunakan untuk membuat siswa aktif dalam berpikir rasional yaitu dengan model Example Non Example . Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain penelitian pretes-postes tak ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIIa sebagai kelas eksperimen dan VIIb sebagai kelas kontrol yang dipilih dari populasi secara cluster random sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa data KBR yang diperoleh dari rata-rata nilai ii Eka rahmawati pretes dan postes yang dianalisis secara statistik menggunakan uji-t dan uji Mannwhitney U pada taraf kepercayaan 95% dan data kualitatif berupa data aktivitas belajar siswa yang diambil dengan menggunakan lembar observasi aktivitas belajar siswa dan angket tanggapan siswa terhadap model Example Non Example. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan rata-rata nilai pretes dan postes kemampuan berpikir rasional oleh siswa yang diukur dengan N-gain pada kelas eksperimen dengan rata-rata 73,15 lebih tinggi daripada rata-rata pada kelas kontrol yaitu 54,67. Indikator kemampuan berpikir rasional dengan kriteria tinggi sekali yang dicapai siswa melalui model Example Non Example, yakni indikator menggali informasi,mengolah informasi, dan mengambil keputusan. Aktivitas belajar siswa yang menggunakan model Example Non Example, juga mengalami peningkatan dari pertemuan I dengan rata-rata 74,99 meningkat pada pertemuan II dengan rata-rata 83,08. Aspek mengemukakan ide/ gagasan berkriteria sangat baik,aspek bertukar informasi, mengajukan pertanyaan, dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok merupakan aktivitas dengan kriteria baik yang dicapai siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan model Example Non Example, Kata kunci: Model Example Non Example, kemampuan berpikir rasional, aktivitas belajar, pencemaran dan keruakan lingkungan . iii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ 1. PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 Rumusan Masalah ............................................................................... 7 Tujuan Penelitian ................................................................................ 7 Manfaat Penelitian .............................................................................. 8 Ruang Lingkup Penelitian ................................................................... 9 Kerangka Fikir ...................................................................................... 10 Hipotesis ................................................................................................ 12 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) .................. 14 2.2 Model Example Non Example .............................................................. 16 2.3 Keterampilan Berfikir Rasional ........................................................... ... 20 3. METODE PENELITIAN 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 28 Populasi dan Sampel ............................................................................ 28 Desain Penelitian .................................................................................. 28 Prosedur penelitian ................................................................................ 29 3.4.1 Prapenelitian ................................................................................ 29 3.4.2 Pelaksaaan Penelitian ................................................................... 31 3.5. Jenis Dan Teknik Pengambilan Data ................................................... 35 3.5.1 Jenis Data ..................................................................................... 35 3.5.2 Teknik Pengambilan Data ............................................................. 36 3.6. Teknik Analisis Data ............................................................................ 38 3.6.1 Pengolahan Data Aktivitas Siswa ............................................ 38 3.6.2 Pengolahan Data Angket Tanggapan Siswa Terhadap Penggunaan Model Example Non Example ............................................................ 41 3.7. Mendeskripsikan Kemampuan Berfikir Rasional oleh Siswa............... 45 xiv 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian .................................................................................... 47 4.2. Pembahasan .......................................................................................... 57 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 68 5.2 Saran....................................................................................................... 68 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 69 LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Silabus ................................................................................................... Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................... Lembar Kerja Siswa ............................................................................. Soal Pretes dan Postes .......................................................................... Data Hasil Penelitian ............................................................................ Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian ......................................... Angket Tanggapan Siswa .................................................................... Foto-Foto Penelitian ............................................................................ xv 74 89 110 156 199 179 178 190 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran, khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal (persekolahan), yakni guru diberi kebebasan untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah dan siswa. Salah satunya dalam menentukan metode yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan (Trianto, 2007:3). Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dan pengajar yang menggunakan segala sumber daya sesuai dengan perencanaan yang telah di persiapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan. Dalam pelaksanaannya pendidikan harus mengingat pada prinsip pembelajaran yang setiap aktivitas dan kegiatannya selalu terpusat pada siswa. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran perlu dipertimbangkan model pembelajaran, metode pembelajaran yang digunakan, tahap-tahap pembelajaran dan tempat pelaksanaan pembelajaran (Daryanto, 2009 : 14). 2 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterapkan oleh sekolah saat ini menghendaki pembelajaran yang berpusat pada siswa atau student center, sehingga diharapkan siswa aktif dalam proses pembelajaran (Sagala, 2010:9). Pencapaian tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran perlu mengintegrasikan kecakapan hidup (life skills), termasuk pembelajaran IPA sehingga siswa menjadi lebih produktif. Program pendidikan life skills adalah pendidikan yang dapat memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha, dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat (Anwar 2006:20). Salah satu kecakapan hidup ( life skills) yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah keterampilan berpikir (Depdiknas, 2003). Berpikir adalah salah satu kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh setiap manusia, sehingga siswa yang memiliki kecakapan hidup (life skill) berani menghadapi problema kehidupan dan mampu memecahkannya (Tim BBE, 2002: 2). IPA adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan objek kajian yang cukup luas yaitu mahluk hidup. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung dan sangat erat kaitannya dengan kecakapan hidup siswa,yang salah satunya mencakup kemampuan berpikir rasional. Dengan mempunyai kemampuan berfikir rasional, siswa lebih mudah mempelajari IPA. Menurut Hutabarat (dalam Saprudin, 2010 : 415) menyatakan bahwa berpikir rasional merupakan jenis berpikir yang mampu memahami dan 3 membentuk pendapat, mengambil keputusan sesuai dengan fakta dan premis, serta memecahkan masalah secara logis. Dengan belajar rasional siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan strategi akal sehat, logis, dan sistematis. Kemampuan berpikir rasional menurut Anwar (2006 : 29) meliputi kemampuan menggali informasi, kemampuan mengolah informasi, kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan memecahkan masalah secara kreatif. Berpikir rasional diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Dengan berpikir rasional siswa akan terlatih untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan nalar atau logika. Siswa mengidentifikasi permasalahan yang ada berdasarkan data-data dan fakta-fakta, sehingga siswa akan membuktikan atau menemukan konsep baru. Selain itu dengan memiliki kemampuan berfikir rasional, siswa lebih mudah mempelajari IPA. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan Desember 2012, proses pembelajaran biologi kelas VII SMP N 2 Waway Karya Lampung Timur guru belum pernah melakukan pengamatan terhadap kemampuan berpikir rasional siswa, siswa jarang sekali dilibatkan dalam penemuan konsep lewat pengamatan. Selain itu guru masih menggunakan metode ceramah dan diskusi bahkan dalam penyampaian materi guru di SMP tersebut jarang menggunakan media pembelajaran dikarenakan fasilitas sekolah yang kurang memadai. Dengan tanpa menggunakan media, 4 siswa tidak bisa melihat contoh-contoh dari berbagai materi yg dijelaskan oleh guru, melainkan hanya mendengarkan saja. Melalui metode ceramah yang hanya berbentuk mengajar dengan menyampaikan informasi materi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang umumnya mengikuti secara pasif. Metode tersebut membuat siswa kurang terlatih dalam berpikir rasional . Tidak efektifnya penggunaan metode tersebut di duga berdampak negatif terhadap keterampilan berpikir rasional, seperti siswa menjadi kurang mampu menggali informasi, mengolah informasi, mengmbil keputusan, dan memecahkan masalah. Selain menggunakan metode ceramah, guru juga menggunakan metode diskusi. Metode diskusi disini hanya berupa tanya jawab antara guru dan murid yang berlangsung saat guru mempersilahkan siswa yang ingin bertanya. Metode diskusi biasa seperti ini mempunyai kelebihan seperti menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan, menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik, membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 5 Selain itu ada juga beberapa kelemahan metode diskusi antara lain metode ini menyebabkan sangat sedikit siswa yang mau aktif dalam tanya jawab seperti ini karena beberapa alasan seperti keraguan untuk bertanya, malu ketika hendak bertanya dan lain-lain.lain. Metode diskusi tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar, peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas, hanya dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara, biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah, 2000). Jadi dengan metode diskusi kurang kurang memunculkan kemampuan berfikir rasional siswa. Pembelajaran yang dilakukan tersebut nampaknya membosankan bagi siswa sehingga siswa cenderung menganggap IPA sulit, membosankan dan kurang menarik. Selama ini kemampuan siswa hanya diukur berdasarkan hasil belajar saja yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu juga terlihat dari instrumen penilaian (evaluasi) khususnya soal yang diberikan guru hanya sebatas penguasaan materi saja tanpa ada indikator kemampuan berpikir rasional yang dapat melatih siswa untuk terbiasa menganalisis permasalahan dan menyelesaikannya dengan berpikir rasional. Keadaan tersebut di atas diduga berpengaruh terhadap hasil belajar pada aspek kognitif siswa. Hal ini ditunjukkan dari masih rendahnya pencapaian penguasaan materi IPA. Berdasarkan hasil ujian siswa kelas VII SMP N 2 Waway Karya Lampung Timur semester genap tahun 2011/2012, diketahui bahwa rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa pada materi pencemaran dan 6 kerusakan lingkungan hanya 59,02. Hanya 40% siswa yang mendapatkan nilai ≥ 70. Nilai tersebut belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 100% siswa yang harus mencapai nilai ≥ 70. Pada proses pembelajaran perlu adanya kegiatan pembelajaran yang menarik dan dapat meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kemampuan berfikir rasional khususnya pada materi pokok Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan. Salah satu alternatif pada proses pembelajaran yang diharapkan dapat efektif digunakan yaitu dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples. Pada pembelajaran dengan model ini, siswa belajar dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks; siswa akan terlibat dalam satu proses memahami sehingga mendorong untuk membangun suatu konsep; siswa diberi konsep examples non examples sehingga akan timbul konflik kognitif (pola pikir) yang kemudian akan memacu siswa untuk mengeksplorasi karakteristik konsep untuk mempertimbangkan contoh dan bukan contoh (Depdikbud, 1999:219). Sehingga dengan kegiatan tersebut, siswa dapat lebih memahami materi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Penelitian yang menunjukkan keberhasilan penggunaan model pembelajaran kooperatif terbukti dapat meningkatkan kemempuan berfikir rasional siswa antara lain Arianti ( 2012:1), Christy (2012:1), Halimat 7 (2012:1) menyatakan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif yang tepat seperti tipe Examples Non Examples ini dapat membantu siswa dalam meningkatkan kecakapan berpikir rasional, yaitu siswa mengalami peningkatan seperti menggali informasi lebih banyak, mengolah informasi secara cerdas, mengambil keputusan dengan tepat, dan memecahkan masalah dengan arif dan kreatif. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian dengan judul Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Terhadap Kemampuan Berfikir Rasional Siswa Pada Materi Pokok Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kelas VII di SMP Negeri 2 Waway Karya” pada materi pokok Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1.2.1. Adakah pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example terhadap peningkatan kemampuan berfikir rasional siswa pada materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan di SMP Negeri 2 Waway karya Lampung Timur tahun ajaran 2012 / 2013 ? 1.2.2. Adakah pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example terhadap aktifitas belajar siswa pada materi 8 pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan di SMP Negeri 2 Waway karya Lampung Timur tahun ajaran 2012 / 2013 ? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah 1.3.1 untuk mengetahui Pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example terhadap kemampuan berfikir rasional siswa pada materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan di SMP Negeri 2 Waway karya Lampung Timur tahun ajaran 2012 / 2013. 1.3.2 Untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example terhadap aktifitas belajar siswa pada materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan di SMP Negeri 2 Waway karya Lampung Timur tahun ajaran 2012 / 2013 ? 1.4. Manfaat Penelitian Setelah diadakannya penelitian ini, maka hasilnya dapat digunakan untuk: 1. Bagi Peneliti Memberikan pengalaman mengajar sebagai calon guru dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example dalam melatih kemampuan berpikir rasional siswa dalam proses pembelajaran. 2. Bagi guru a. Untuk memberikan alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan keterampilan berpikir rasional siswa. 9 b. Menjadikan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas. 3. Bagi siswa a. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dalam mempelajari materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan. b. Membiasakan siswa untuk bekerjasama dalam kelompok. c. Mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran dan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam belajar di kelas. d. Melatih kemampuan berpikir rasional siswa sehingga lebih tanggap terhadap masalah yang terjadi di lingkungan sekitar, berusaha mencari alternatif pemecahan masalahnya sehingga siswa termotivasi untuk belajar IPA dan meningkatkan kecakapan hidup siswa 4. Bagi Sekolah Model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example yang digunakan diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran IPA di sekolah 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Untuk memberi kejelasan dalam penelitian, berikut dikemukakan beberapa batasan yaitu : 1. Model pembelajaran Example Non Example merupakan salah satu model pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran: guru mempersiapkan gambar-gambar tentang permasalahan yang sesuai dengan pembelajaran, 10 guru menayangkan gambar tentang peran manusia dalam pengelolaan lingkungan, guru memberi petunjuk dan memberikan kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisis permasalahan yang ada pada gambar, siswa mendiskusikan permasalahan yang ada pada gambar dengan teman kelompoknya dan mencatat hasil diskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, mulai dari komentar /hasil diskusi dari siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 2. Indikator berpikir rasional yang diukur dalam penelitian ini adalah kemampuan menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan dan memecahkan masalah. 3. Materi dalam penelitian ini adalah materi pokok Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dengan kompetensi dasar mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan (KD 7.4) 4. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIIa sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIb sebagai kelas kontrol di SMP Negeri 2 Waway Karya 1.6. Kerangka Pikir Pendidikan kecakapan hidup merupakan investasi yang sangat berharga dalam menghasilkan manusia yang terampil dan berkeahlian dalam bidangbidang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Salah satu jenis kecakapan yang dapat menunjang kecakapan hidup seseorang adalah dengan meningkatkan kecakapan berpikir rasional siswa. Berpikir secara rasional adalah kecakapan seseorang secara logika atau rasio secara 11 maksimal. Dengan menggunakan pikiran secara rasional itu maka seseorang akan terbiasa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tenang dan akan lebih mendahulukan pikiran yang logis dibanding hanya dengan menggunakan emosi atau perasaan saja. Begitu pentingnya kemampuan berpikir rasional seharusnya hal ini menjadi salah satu tujuan dari pendidikan, sehingga peserta didik tidak hanya diciptakan untuk pandai dalam mengerjakan soal-soal melainkan pandai dalam menyelesaikan masalah hidup yang dihadapi. Terutama dalam mata pelajaran IPA, sebagai salah satu mata pelajaran sains yang muatan materinya lebih banyak sehingga tidak dimungkinkan siswa untuk menghafalnya. Siswa dituntut untuk lebih memahami konsep IPA dan mengembangkan daya nalar dalam mempelajari IPA dan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan mempermudah siswa dalam memahami pelajaran IPA. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example akan memunculkan aspek kemampuan berpikir seperti kemampuan menggali informasi, kemampuan mengolah informasi, kemampuan 12 mengambil keputusan dan kemampuan memecahkan masalah. Sebab dengan gambar pengertian-pengertian yang tadinya bersifat abstrak dapat menjadi kongkrit. Oleh karena itu, siswa lebih mudah dalam menggali dan mengolah informasi yang dibutuhkan. Melalui pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example siswa dilatih untuk bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong. Siswa belajar berani bertanya atau mengemukakan pendapat selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini disebabkan dalam pembelajaran koopertaif tipe Example Non Example adalah salah satu model pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran: guru mempersiapkan gambar-gambar tentang permasalahan yang sesuai dengan pembelajaran, guru menempelkan gambar di Lembar Kerja Kelompok (LKK), guru memberi petunjuk dan memberikan kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisis permasalahan yang ada pada gambar, siswa mendiskusikan permasalahan yang ada pada gambar dengan teman kelompoknya dan mencatat hasil diskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, mulai dari komentar /hasil diskusi dari siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example sedangkan variabel terikatnya ialah kecakapan berpikir rasional. Hubungan antara hasil variabel tersebut digambarkan dalam diagram berikut 13 X Y Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Keterangan : X :Model pembelajaran kooperatif Tipe Example Non Example Y ; Kecakapan Berpikir Rasional 1.7. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah 1.7.1. H0 = Tidak ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example terhadap peningkatan keterampilan berpikir rasional siswa. H1 = Ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan model pembelajarn tipe Example Non Example terhadap peningkatan keterampilan berpikir rasional siswa. 1.7.2. Penggunaan model pembelajaran tipe Example Non Example berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa pada pembelajaran dengan materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Belajar kooperatif (Cooperatif Learning) adalah metode pembelajaran yang didesain untuk mengembangkan kerjasama dan tanggung jawab siswa. Metode ini dirancang untuk mengurangi persaingan yang banyak ditemui di kelas dan cenderung mengarah pada pola “kalah dan menang” (Slavin dalam Anonim, 2009:1). Definisi di atas menjelaskan bahwa belajar kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kooperatif kontruktivisme. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vigotsky yaitu penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran Vigotsky yakni fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Implikasi dari teori vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif. Model Pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan model pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model 15 pembelajaran kooperatif juga efektif untuk rnengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalarn membantu siswa memahami konsep konsep yang sulit. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas kerja bersama menyelesaikan tugas tugas akademik, siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemapuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor rnembutuhkan pemikiran lebih dalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu. Lebih lanjut (Dzaki, 2010:1) menjelaskan tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk rnengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat di mana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung sama lain dan di mana masyarakat secara budaya semakin beragam. Sementara itu, banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial. Situasi ini dibuktikan dengan begitu sering pertikaian kecil antara individu dapat mengakibatkan tindak kekerasan atau betapa sering orang menyatakan ketidakpuasan pada saat diminta untuk bekerja dalarn situasi kooperatif 16 2.2. Model Example Non Example Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat bermacam-macam model pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang banyak digunakan adalah Model Examples Non Examples, dengan langkah sebagai berikut: 1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran 2. Guru menempelkan gambar di papan tulis atau menayangkan melalui LCD 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar 4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya 6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai 7. Kesimpulan Menurut Herdian, singkatnya model pembelajaran Examples Non Examples adalah: 1. Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, 2. Sajikan gambar ditempel atau pakai LCD, 3. Dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, 4. Diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, 5. Presentasi hasil kelompok, 17 6. Bimbingan penyimpulan, 7. Evaluasi dan 8. Refleksi. Menurut Kiranawati Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan KD. Langkah-langkah: 1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran 2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat LCD. 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar. 4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. 6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan. Kebaikan model ini adalah Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Sedangkan kekurangannya adalah, tidak semua materi dapat disajikan dlam bentuk gambar. Memakan waktu yang lama. 18 Examples Non Examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples dan non-examples dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan Non-Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas (Hamzah, 2009:113). Examples Non Examples dianggap perlu dilakukan karena suatu definisi konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap Examples dan Non-Examples diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada. Setiap Model pembelajaran memiliki beberapa keuntungan. Menurut Buehl (Depdikbud, 1999:219) mengemukakan keuntungan metode Examples Non Examples antara lain: 1. Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks. 2. Siswa terlibat dalam satu proses penemuan, yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari examples dan non examples 19 3. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples. Model pembelajaran examples non examples dapat menarik minat belajar siswa karena guru menyajikan contoh-contoh berupa gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Namun, dalam menyajikan contoh-contoh tersebut ada hal-hal yang harus diperhatikan. Ini diperkuat oleh pendapat Tennyson dan Pork (Slavin, 2002:59) yang menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan, yaitu: 1. Urutkan contoh dari yang mudah ke yang sulit. 2. Pilih contoh-contoh yang berbeda satu sama lain. 3. Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh. Berdasarkan uraian di atas, maka menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non-contoh akan membantu siswa untuk membangun makna yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting. Joyce dan Weil (Suratno,2009:9) telah memberikan kerangka konsep terkait strategi tindakan, yang menggunakan model Examples Non examples, sebagai berikut: 1. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non-contoh yang menjelaskan beberapa dari sebagian besar karakter atau atribut dari konsep baru. Menyajikan itu dalam satu waktu dan meminta siswa untuk 20 memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Selama siswa memikirkan tentang tiap examples dan non-examples tersebut, tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar itu berbeda. 2. Menyiapkan examples dan non examples tambahan, mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru. 3. Meminta siswa untuk bekerja berpasangan untuk menggeneralisasikan konsep examples dan non-examples mereka. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikannya secara klasikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik. 4. Sebagai bagian penutup, adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang telah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari examples dan non-examples. Berdasarkan hal di atas, maka penggunaan model examples non examples pada prinsipnya adalah suatu upaya untuk memberikan kesempatan seluasluasnya kepada siswa untuk menemukan konsep pelajarannya sendiri melalui kegiatan mendeskripsikan pemberian contoh dan bukan contoh terhadap materi yang sedang dipelajari. 2.3. Keterampilan Berpikir Rasional Berpikir pada umumnya didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuan. Poespoprodjo dan Gilarso berpendapat berpikir 21 adalah suatu kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang telah diperoleh melalui indra dan ditujukan untuk mencapai kebenaran (1985 dalam Rahayu 2007:8). Vincent Ruggiero (1999 dalam Rahayu, 2007:7) mengartikan berpikir sebagai segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna. Menurut Reason (dalam Sanjaya, 2008:228) berpikir (thinking) adalah proses mental seseorang yang lebih dari sekedar mengingat (remembering) dan memahami (comprehending). Mengingat dan memahami lebih bersifat pasif dari pada kegiatan berpikir. Berpikir yang merupakan suatu proses mental memerlukan kemampuan mengingat dan memahami.Berpikir merupakan kapabilitas unik yang dimiliki manusia secara alami dan menjadi ciri pembeda manusia dari makhluk hidup lainnya. Definisi-definisi berpikir di atas membuat keberadaannya menjadi penting dalam dunia pendidikan terutama dalam proses pembelajaran. Sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, guru memiliki kemampuan untuk ikut andil dalam mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Untuk melatih kemampuan berpikir siswa, seorang pendidik dapat melatih siswanya dengan cara menunjukkan cara berpikir melalui semua mata pelajaran. Memberikan contoh-contoh kasus cara berpikir yang baik, memberikan masalah yang 22 menuntut siswa berpikir, dan menerapkan keterampilan untuk mengambil keputusan. Costa ( dalam Arifin, 2000) menyatakan bahwa kegiatan berpikir yang dilakukan dalam proses, digunakan keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir kompleks (tinggi). Menurutnya, yang termasuk dalam keterampilan berpikir dasar meliputi kualifikasi, klasifikasi, hubungan variabel, transformasi, dan hubungan sebab akibat. Sedangkan keterampilan berpikir kompoleks meliputi problem solving, pengambilan keputusan, berpikir kritis, berfikir rasional, dan berpikir kreatif. Menurut Whitehead (Arifin, 2000), hasil nyata dalam pendidikan adalah proses berpikir yang diperoleh melalui pengajaran dari berbagai disiplin ilmu. Selain keterampilan proses, siswa juga perlu memiliki self guided inquiry, suatu kemampuan berpikir untuk menghadapi perubahan teknologi yang cepat ini. Costa (dalam Belina, 2008:17) berpendapat bahwa berpikir umumnya diartikan sebagai suatu proses kognitif, suatu kegiatan mental untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan Turner (dalam Belina, 2008:17) berpendapat bahwa proses kognitif ini dilandasi oleh unsur-unsur apersepsi, memori, intuisi, dan penalaran serta melibatkan intelegensi dan bahasa. Selain itu Smit dan Jones (dalam Belina 2008:18) berpendapat bahwa berpikir merupakan proses mental yang terjadi dalam diri individu sebagai respon dari datangnya stimulus dari luar. Dan proses berpikir bertujuan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan, memecahkan 23 masalah, dan menghasilkan solusi yang baru. Menurut Poespoprodjo (1999 dalam Rahayu, 2007:7) berpikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri khas yang membedakan antara manusia dengan hewan. Berpikir pada umumnya merupakan proses kognitif dan aksi mentalar yang dapat menghasilkan pengetahuan. Pada dasarnya proses berpikir manusia tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi dapat dilihat dari hasil yang dimunculkan. Hasil berpikir itu dapat diwujudkan dalam bahasa menurut Poespoprojo (1997 dalam Rahayu, 2007:7). Hal ini diperkuat pula oleh pendapat Dahar (1992:6) menyatakan bahwa berpikir itu sama dengan berbahasa. Orang yang pandai menemukakan sesuatu lewat bahasa jelas, teratur dan terarah maka dapat ditebak orang itu berpikir bagus. Salah satu jenis dari keterampilan berpikir adalah keterampilan berpikir rasional. Menurut Syafaruddin dan Anzizhan (dalam Fitriyanti, 2009:41) berpikir rasional adalah seperangkat kemampuan yang digunakan untuk melihat apa yang kita peroleh untuk menemukan permasalahan dan tindakan yang akan mengarahkan kita pada pencapaian tujuan. Berpikir rasional adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Umumnya siswa yang berpikir rasional akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” (Syah dalam Rahayu, 2007:8). Rebber berpendapat bahwa berpikir rasional menuntut siswa untuk 24 menggunakan logika dalam menentukan sebab-akibat, menganalisa, menarik kesimpulan, menciptakan hukum (kaidah teoritis), dan bahkan menciptakan ramalan-ramalan Hamalik (1994:144), mengatakan bahwa belajar rasional adalah belajar secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat). Dengan belajar rasional siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan strategi akal sehat, logis dan sistematis. Menurut Anwar (2006:29) kemampuan berpikir rasional mencakup antara lain: kemampuan menggali dan menemukan informasi, kemampuan mengolah informasi dan mengambil keputusan serta kemampuan memecahkan masalah secara kreatif Terdapat indikator-indikator yang dapat dikenali untuk menentukan apakah seseorang telah memiliki kemampuan berfikir rasional atau belum. Menurut Hutabarat (dalam Belina, 2008:18) berpikir rasional merupakan jenis berpikir yang mampu memahami dan membentuk pendapat, mengambil keputusan sesuai dengan fakta dan premis serta memecahkan masalah secara logis. Indikator kemampuan berpikir rasional (thinking skills) menurut Tim BBE (2002:7) yaitu: 1. Kemampuan Menggali Informasi Menurut Budiyanti (2002 dalam Belina, 2008:18), kemampuan menggali informasi ini membutuhkan beberapa kemampuan dasar yakni kemampuan membaca, menghitung dan kemampuan observasi. Oleh karena itu, anak belajar membaca bukan sekedar “membunyikan huruf dan kalimat”, tetapi mengerti maknanya, sehingga yang bersangkutan 25 dapat mengerti informasi apa yang terkandung dalam bacaan tersebut. Siswa yang belajar berhitung, hendaknya bukan sekedar belajar secara mekanistik menerapkan kalkulasi angka dan bangun, tetapi mengartikan apa informasi yang diperoleh dari kalkulasi itu. Selain itu observasi dapat dilakukan dengan bermacam cara, diantaranya dengan pengamatan fenomena alam/ lingkungan, melalui kejadian yang terjadi sehari-hari, dan lewat peristiwa yang teramati secara langsung maupun dari berbagai media cetak maupun elektronik termasuk internet. Tujuan dari kemampuan ini adalah untuk memperoleh data-data yang penting dan berperan dalam menentukan keputusan. 2. Kemampuan Mengolah Informasi Agar informasi yang telah tergali lebih bermakna maka informasi harus diolah. Hasil olahan itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia. Oleh karena itu, kecakapan berpikir tahap berikutnya adalah kemampuan mengolah informasi. Mengolah informasi artinya memproses informasi tersebut menjadi simpulan. Untuk dapat mengolah suatu informasi diperlukan kemampuan membandingkan, membuat perhitungan tertentu, membuat analogi, sampai membuat analisis sesuai dengan informasi yang diolah maupun tingkatan simpulan yang diharapkan ( Tim BBE: 2002 dalam Belina 2008:20). Tujuan dari pengolahan informasi adalah untuk membuat kesimpulan mengenai alternatif pemecahan masalah. Oleh karena itu kemampuan-kemampuan tersebut penting untuk dikembangkan melalui mata pelajaran yang sesuai. 26 3. Kemampuan Mengambil Keputusan Keputusan (decision) berarti pilihan, yakni pilihan dari dua atau lebih kemungkinan. Siagian (dalam Belina, 2008:20), berpendapat bahwa „keputusan pada dasarnya merupakan pilihan yang secara sadar dijatuhkan atas satu alternatif dari berbagai alternatif yang tersedia, Sedangkan Suryadi dan Ramdhani (dalam Belina, 2008:20), berpendapat bahwa „pengambilan keputusan pada dasarnya adalah bentuk pemilihan dari berbagai alternatif tindakan yang mungkin dipilih yang prosesnya melalui mekanisme tertentu, dengan harapan akan menghasilkan sebuah keputusan yang terbaik’. Dalam penelitian ini, keputusan diartikan sebagai pilihan terhadap segala alternatif yang tersedia setelah dilakukan pertimbangan, sedangkan pengambilan keputusan adalah suatu kegiatan atau pemilihan salah satu alternatif yang ada, tujuannya untuk memperoleh alternatif dalam solusi pemecahan yang lebih baik. 4. Kemampuan Memecahkan Masalah Secara Kreatif Tim BBE ( dalam Belina, 2008:21), menyatakan bahwa pemecahan masalah yang baik tentu berdasarkan informasi yang cukup dan telah diolah dan dipadukan dengan hal-hal lain yang terkait. Pemecahan masalah memerlukan kreativitas dan kearifan. Kreativitas untuk menemukan pemecahan yang efektif dan efisien, sedangkan kearifan diperlukan karena pemecahan harus selalu memperhatikan kepentingan 27 berbagai pihak dan lingkungan sekitarnya. Jadi, yang dimaksud dengan pemecahan masalah secara kreatif dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam mencari berbagai alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan dan kecakapan siswa dalam menghasilkan solusi yang efektif dan efisien. III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada siswa kelas VII semester genap tahun pelajaran 2012/2013, di SMP Negeri 2 Waway Karya Lampung Timur pada bulan Mei 2013. 3.2. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Waway Karya Lampung Timur Tahun Ajaran 2012/2013 yang berjumlah 3 kelas. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster random sampling, Menurut Sugiyono ( 2009:83-84) bahwa teknik cluster random sampling dilakukan dengan cara memilih secara acak kelompok individu yang terpilih mewakili populasi dan melibatkan seluruh individu dalam kelompok tersebut sebagai subyek. Kelas yang menjadi sampel penelitian ini adalah kelas VIIa yang berjumlah 33 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIb yang berjumlah 30 orang sebangai kelas kontrol. 29 3.3. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes kelompok non ekuivalen. Kelas eksperimen diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples sedangkan kelas kontrol diterapkan metode ceramah dan diskusi. Hasil pretes dan postes pada kedua kelas subyek dibandingkan. Struktur desainnya adalah sebagai berikut : Kelompok Pretes Perlakuan Postes I O1 X O1 II O1 C O2 Gambar. 2 Desain pretes -postes tak ekuivalen Keterangan : I = kelompok eksperimen; II = kelompok kontrol; O1 = pretes; O2 = postes; X = perlakuan model example non example ; C = diskusi (dimodifikasi dari Riyanto, 2001:43) 3.4. Prosedur Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut, sebagai berikut: 3.4.1.Prapenelitian Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah: (a) Membuat surat izin penelitian pendahuluan (observasi) di FKIP Universitas Lampung untuk SMP Negeri 2 Waway Karya, tempat diadakannya penelitiaan. 30 (b) Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan diteliti. (c) Mengambil dua kelas sebagai sampel secara acak, yakni kelas VIIa sebagai kelas eksperimen dan VIIb sebagai kelas kontrol. (d) Mengambil data yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembuatan kelompok. (e) Membentuk kelompok pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang bersifat heterogen berdasarkan nilai akademik siswa, 2 siswa dengan nilai tinggi, 1 siswa dengan nilai sedang, dan 2 siswa dengan nilai yang rendah. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa (Lie, 2004 : 42). Nilai diperoleh dari dokumentasi guru kelas (f) Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses pembelajaran di kelas yang terdiri atas Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), berbagai macam gambar pendukung materi pembelajaran, Lembar Kerja Kelompok (LKK), soal pretes dan postes sesuai dengan materi pembelajaran yang akan diteliti yaitu materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan. (g) Membuat angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples. (h) Membuat lembar observasi aktivitas siswa. (i) Menyiapkan lembar catatan lapangan. (j) Melakukan uji validitas pada tiap butir soal yang akan digunakan dalam pretes dan postes. Uji validitas digunakan untuk mengukur tingkat kevalidan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini. Instrumen 31 yang valid adalah instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2008:173) 3.4.2.Pelaksanaan Penelitian Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe examples non examples untuk kelas eksperimen dan metode diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini direncanakan sebanyak dua kali pertemuan. Pertemuan pertama membahas sub materi pengertian serta berbagai macam pencemaran lingkungan serta peran manusia dalam masalah kerusakan lingkungan. Pertemuan kedua membahas sub materi tentang aplikasi peran manusia untuk mengatasi serta mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah: Kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe examples non examples ( kelas eksperimen) 1. Kegiatan Awal a) siswa mengerjakan soal pretes berupa soal uraian pada pertemuan pertama. b) Guru menyampaikan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, berupa Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), indikator, dan tujuan pembelajaran. c) Guru memberikan apersepsi. (Pertemuan I) : Siswa ditunjukkan gambar seseorang yang sedang membuang sampah di sungai (i) dan membersihkan sampah yang 32 ada di sungai (ii). Kemudian siswa diberi pertanyaan : “perhatikan air sungai pada gambar (i) ini. Kemudian memberikan pertanyaan Apakah perbedaan kedua gambar tersebut? Jika air sungai ini dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari oleh manusia tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu, maka dampak apa yang akan dialami oleh manusia ?. Apakah manfaat dari kegiatan dalam gambar (ii) ” (Pertemuan II) : Siswa ditunjukkan gambar orang yang sedang menebang hutan secara liar (iii) dan orang yang sedang melakukan reboisasi (iv). Kemudian memberikan pertanyaan apakah perbedaan kedua gambar tersebut?. Apakah yang terjadi jika pepohonan di hutan itu banyak ditebang? Apa manfaat dari kegiatan yang ada pada gambar (iv)? (d) Siswa diberi motivasi : (Pertemuan I) : perbedaan kedua gambar tersebut adalah kegiatan pada gambar pertama adalah membuang sampah di suangai dan kegiatan pada gambar kedua adalah membersihkan sampah. Salah satu contoh penyebab pencemaran lingkungan adalah membuang sampah sembarangan di lingkungan contohnya sungai. Jika air yang sudah tercemar dimanfaatkan oleh manusia tanpa melalui pengolahan, maka mereka akan terjangkit berbagai macam penyakit seperti gatal-gatal, diare, dll. Kegiatan membersihkan 33 sampah di sungai merupakan salah satu aktifitas yang dapat kita lakukan untuk mengatasi pencemaran lingkungan. (Pertemuan II) : Perbedaan kedua gambar tersebut adalah kegiatan pertama melakukan menebang hutan secara liar, sedangkan kegiatan kedua reboisasi. Jika banyak hutan yang gundul dapat mengakibatkan terjadinya longsor, banjir dll. Kegiatan reboisasi bertujuan untuk memperbaiki kembali keadaan hutan yang sudah rusak, ini merupakan salah satu contoh kegiatan yang perlu kita lakukan untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. 2. Kegiatan Inti a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. b. Guru menampilkan gambar menggunakan LCD. c. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar. 1) Siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing yang terdiri dari 4-5 orang perkelompok (pembagian kelompok dilakukan pada hari sebelumnya). 2) Siswa mendapat Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang dibagikan oleh guru. Untuk pertemuan pertama adalah peran manusia dalam masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan untuk kelompok 1, 3, dan 5. Untuk pertemuan kedua adalah 34 peran manusia dalam upaya mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan untuk kelompok 2, 4, dan 6. 3) Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang ada di dalam LKK. 4) Setiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya dari permasalahan yang ada di LKK. 5) Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan komentar atas hasil diskusi yang dibacakan oleh kelompok lain, kemudian guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 3. Kegiatan Penutup 1) Siswa dibimbing guru untuk menarik kesimpulan. 2) Siswa mengerjakan postes ( pada pertemuan 2) 3) Guru memberi informasi tentang materi yang akan dibahas pertemuaan selanjutnya Kelas Kontrol (Pembelajaran dengan metode diskusi) a. Kegiatan awal 1) Siswa mengerjakan soal pretes pada pertemuan 1 2) Siswa diberi apersepsi (Pertemuan I) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan menunjukan gambar seseorang yang sedang membuang sampah. Kemudian memberikan pertanyaan apakah dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut? 35 (Pertemuan II) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan menunjukan gambar orang yang sedang melakukan ilegalloging. Kemudian memberikan pertanyaan apakah dampak dari kegiatan pada gambar? 2) Guru memberikan motivasi : (Pertemuan I) : Kegiatan yang ada pada gambar dapat menimbulkan bau tak sedap, banjir, tergangggunya keseimbangan ekosistem air dan jika air ini dimanfaatkan oleh manusia tanpa melalui pengolahan, maka mereka akan terjangkit berbagai macam penyakit seperti gatal-gatal, diare, dll. Kegiatan membersihkan sampah di sungai merupakan salah satu aktifitas yang dapat kita lakukan untuk mengatasi pencemaran lingkungan. (Pertemuan II) : Kegiatan yang ada pada gambar dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Jika banyak hutan yang gundul dapat mengakibatkan terjadinya longsor, banjir dll. Kegiatan reboisasi bertujuan untuk memperbaiki kembali keadaan hutan yang sudah rusak, ini merupakan salah satu contoh kegiatan yang perlu kita lakukan untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. b. Kegiatan Inti 1) Guru menjelaskan materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pertemuan pertama membahas mengenai pengertian 36 pencemaran serta peran manusia dengan masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pertemuan kedua membahas peran manusia dalam upaya pengelolaan lingkungan. 2) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. 3) Guru mengadakan penguatan dengan menjelaskan materi yang belum dipahami oleh siswa. c. Penutup 1) Guru bersama siswa mengulas materi yang telah dipelajari. 2) Guru bersama siswa menarik kesimpulan setiap pertemuan. 3) Guru mengadakan postes untuk pertemuan terakhir. 4) Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dibahas pertemuan selanjutnya. 3.5. Jenis dan Teknik Pengambilan Data 3.5.1. Jenis Data a) Data Kualitatif Data kualitatif berupa data aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples. b) Data Kuantitatif Data kuantitatif yaitu berupa data keterampilan berfikir rasional siswa yang di peroleh dari nilai pretes dan postes berdasarkan perbandingan 37 nilai gain yang dinormalisasi (N-gain), antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Gain yang dinormalisasi (N-gain) dihitung dengan formula Hake (Loranz, 2008 : 2) sebagai berikut: Keterangan : X= nilai postes Y= nilai pretes Z= skor maksimum N − gain = X−Y × 100 Z−Y 3.5.2.Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah: a. Pretes dan Postes Data hasil belajar berupa nilai pretes dan postes. Nilai pretes diambil pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai postes diambil di akhir pembelajaran pada pertemuan kedua setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol dengan bentuk dan jumlah soal yang sama. Soal tes berbentuk uraian dengan jumlah soal sebanyak sepuluh soal. Bobot masing-masing jawaban disesuaikan dengan point kriteria penilaian yang telah ditentukan. Soal disusun sedemikian rupa sehingga tiap poin soalnya dapat melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir rasional siswa. Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu : S = R x 100 N Keterangan : S = nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008 : 112). 38 b. Lembar Catatan Lapangan Lembar catatan lapangan yang berisi tentang aktifitas kinerja siswa selama proses belajar di kelas berupa lembaran kosong. c. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Lembar observasi aktivitas siswa berisi semua aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Aspek yang diamati yaitu: merumuskan ide/gagasan berdasarkan masalah yang ada pada gambar, kemampuan bertanya, bertukar informasi dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Tabel 1. Hubungan antara variabel, instrumen, jenis data, dan analisis data No Variabel 1 Kemampuan berpikir rasional 2 Aktivitas siswa selama proses pembelajaran Instrumen Tes kemampuan berpikir rasional siswa Jenis data Nominal Lembar Interval observasi aktivitas siswa Analisis data Uji T Persentase d. Angket Tanggapan Siswa Angket ini berisi pendapat siswa tentang model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples yang telah dilaksanakan. Angket ini berupa 6 pernyataan, terdiri dari 3 pernyataan positif dan 3 pernyataan negatif. Setiap siswa memilih jawaban yang menurut mereka sesuai dengan pendapat mereka pada lembar angket yang telah 39 diberikan. Angket tanggapan siswa ini memiliki 2 pilihan jawaban yaitu setuju dan tidak setuju. 3.4.6. Teknik Analisis Data a) Data Kualitatif 1. Pengolahan Data Aktivitas siswa Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu: 1) Menghitung persentase aktivitas menggunakan rumus: X x n i x100 % Ket: X Xi n = Rata-rata skor aktivitas siswa = Jumlah skor aktivitas yang diperoleh = Jumlah skor aktivitas maksimum (8) (Sudjana, 2002 : 69). Kriteria hasil aktivitas siswa menggunakan skala persentase yang dimodifikasi dari Hidayati (2011:17) sebagai berikut: Tabel 2. Kriteria Persentase Aktivitas Siswa Persentase 87,50-100 75,00-87,49 50,00-74,99 0-49,99 Kriteria Sangat baik Baik Cukup Kurang 40 Tabel 3. Lembar Observasi Aktifitas Siswa No Nama A Aspek yang diamati B C D 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 Xi � 5 6 7 Jumlah Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai (dimodifikasi dari Arikunto, 2009:183) Keterangan Kriteria penilaian aktivitas siswa: A. Mengemukakan ide/gagasan 1. Tidak mengemukakan ide/gagasan (diam saja). 2. Mengemukakan ide/gagasan namun tidak sesuai dengan permasalahan pada LKS pada sub materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan dan pelestariannya. 3. Mengemukakan ide/gagasan sesuai dengan permasalahan pada LKS pada m sub materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan dan pelestariannya. B. Mengajukan pertanyaan 1. Tidak mengajukan pertanyaan. 2. Mengajukan pertanyaan, tetapi tidak mengarah pada permasalahan pada sub materi pokok pencemaran dan kerusakan lingkungan dan pelestariannya. 41 3. Mengajukan pertanyaan yang mengarah dan sesuai dengan permasalahan pada sub materi pokok pencemaran/ kerusakan lingkungan dan pelestariannya. C. Bertukar informasi 1. Tidak berkomunikasi secara lisan/tulisan dalam bertukar pendapat dengan anggota kelompok (diam saja). 2. Berkomunikasi secara lisan/tulisan dengan anggota kelompok tetapi tidak sesuai dengan permasalahan pada LKS pada sub materi pokok pencemaran/ kerusakan lingkungan dan pelestariannya. 3. Berkomunikasi secara lisan/tulisan dalam bertukar pendapat untuk memecahkan permasalahan pada LKS pada sub materi pokok pencemaran/ kerusakan lingkungan dan pelestariannya D. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok 1. Siswa dalam kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara sistematis dan tidak dapat menjawab pertanyaan. 2. Siswa dalam kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan secara sistematis dan menjawab pertanyaan dengan benar atau dapat mempresentasikan hasil diskusi secara sistematis tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan. 3. Siswa dalam kelompok dapat mempresentasikan hasil diskusi secara sistematis dan menjawab pertanyaan dengan benar. 42 2. Pengolahan data angket tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples Data tanggapan siswa terhadap pembelajaran dikumpulkan melalui penyebaran angket. Angket tanggapan berisi 6 pernyataan yang terdiri dari 3 pernyataan positif dan 3 pernyataan negatif. 1) Item pernyataan Tabel 4. Pernyataan angket tanggapan siswa No. Pernyataan- Pernyataan 1 Model pembelajaran yang saya ikuti tidak menjadikan saya lebih aktif dalam diskusi kelas dan kelompok Model example non example mampu mengembangkan KBR saya Masalah dalam LKS tidak menantang saya untuk memecahkan masalah tersebut. Saya lebih mudah mengerjakan soal-soal setelah belajar dengan model pembelajaran yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran yang saya ikuti membuat saya menjadi lebih bingung dan tidak memahami materi tersebut. Saya senang dan tertarik dengan model pembelajaran yang saya ikuti 2 3 4 5 6 S TS 2. Skor angket Tabel 5. Skor tiap pernyataan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples No. Item Sifat Skor Soal Pernyataan 1 0 1. Positif S TS 2. Negatif TS S 3. Positif S TS 4. Negatif TS S 5. Positif S TS 6. Negatif TS S Keterangan: S = setuju; TS = tidak setuju (dimodifikasi dari Rahayu, 2010:29). 43 3. Menghitung persentase skor angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut: X in   S  100% S maks Keterangan: X in = Persentase jawaban siswa; S = Jumlah skor jawaban; S maks = Skor maksimum yang diharapkan (6) (Sudjana, 2002:69). 4. Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pernyataan angket. Tabel 6. Tabulasi angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples No. Pilihan Nomor Responden Persentase Pertanyaan Jawaban (Siswa) Angket 1 2 3 4 5 dst . 1 S TS 2 S TS 3 S TS 4 S TS 5 S TS dst. S TS (dimodifikasi dari Rahayu, 2010: 31) 5. Menafsirkan persentase angket untuk mengetahui tanggapan siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe examples non example 44 Tabel 7. Kriteria persentase angket tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples Persentase (%) Kriteria 100 Semuanya 76 – 99 Sebagian besar 51 – 75 Pada umumnya 50 Setengahnya 26 – 49 Hampir 1 – 25 setengahnya 0 Sebagian kecil Tidak ada Sumber: Hendro dalam (Hastriani, 2006:43) b) Data Kuantitatif Data penelitian kantitatif berupa nilai pretes, postes, dan skor N-gain. Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan rumus Hake (1999:1) yaitu: N – gain = Spost -Spre Smax - Spre Keterangan: Spost = skor postes; Spre = skor pretes; Smax = skor maksimum Dengan kriteria:    tinggi jika G > 0,7 sedang jika 0,7 > G > 0,3 rendah jika G < 0,3 Nilai pretes, postes, dan skor N-gain pada kelompok kontrol dan eksperimen dianalisis menggunakan uji t dengan program SPSS versi 17, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa: 1. Uji normalitas data Uji normalitas data dihitung menggunakan uji Lilliefors dengan menggunakan softwere SPSS versi 17. 45 a. Rumusan hipotesis H0 = sampel berdistribusi normal H1 = sampel tidak berdistribusi normal b. Kriteria pengujian Terima H0 jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, Tolak H0 untuk harga yang lainnya (Pratisto, 2004:5). 2. Uji homogenitas data Apabila masing masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian dengan uji Barlett menggunakan program SPSS versi 17. a. Hipotesis Ho : Kedua sampel mempunyai varians sama H1 : Kedua sampel mempunyai varians berbeda b. Kriteria Uji 3. - Jika F hitung < F tabel atau probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima - Jika F hitung> F tabel atau probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:13). Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata dengan bantuan program Statistical Package For Social Sciences 17.0 (SPSS 17.0). a. Uji hipotesis dengan uji t 1) Uji Kesamaan Dua Rata-rata a. Hipotesis H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel sama H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama b. Kriteria Uji - Jika –t tabel< t hitung< t tabel, maka Ho diterima 46 - Jika t hitung< -t tabel atau t hitung> t tabel maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:13). 2) Uji Perbedaan Dua Rata-rata a. Hipotesis H0 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen sama dengan kelompok kontrol. H1 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol. b. Kriteria Uji : - Jika –t tabel < t hitung< t tabel, maka Ho diterima - Jika t hitung< -t tabel atau t hitung> t tabel, maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:10). b) Uji hipotesis dengan uji U jika data tidak normal, maka dilakukan uji lanjutan yakni uji hipotesis dengan uji U. a. Hipotesis H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel sama H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama b. Kriteria Uji - Jika –Ztabel < Zhitung < Ztabel atau p-value > 0,05, maka Ho diterima - Jika Zhitung < -Ztabel atau Zhitung > Ztabel atau p-value < 0,05, maka Ho ditolak (Martono, 2010:158). 3.7 Mendeskripsikan Kemampuan Berpikir Rasional Siswa Untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir rasional siswa dalam pembelajaran biologi adalah sebagai berikut: 1) Menjumlahkan skor seluruh siswa 2) Menentukan skor tiap indikator keterampilan berpikir rasional dengan menggunakan rumus: 47 f  100 P= N Ket : P = Skor f = Jumlah point keterampilan berpikir rasional yang diperoleh N = Jumlah total poin keterampilan berpikir rasional (Sudijono, 2007:318) 3) Rubrik keterampilan berpikir rasional siswa sebagai berikut: Tabel 8. Kriteria keterampilan berpikir rasional siswa Aspek Keterampilan Berpikir Rasional Siswa Nama No Kemampuan Kemampuan Kemampuan Kemampuan Menggali Mengolah Mengambil Memecahkan Informasi Informasi Keputusan Masalah Skor skor Skor Skor 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 F P Kriteria 3 1 2 dst Jumlah (F) Poin (P) Kriteria Catatan : Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai. Skor pada tiap soal keterampilan berpikir rasional tertera pada rubrik penilaian soal di lampiran (dimodifikasi dari Arief, 2009:9). 4) Setelah data diolah dan diperoleh, maka kecakapan berpikir rasional siswa tersebut dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 9. Kriteria keterampilan berpikir rasional Interval (%) 81 – 100 61 – 80 41 – 60 21 – 40 0 – 20 (Arikunto, 2007:214) Kriteria Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah rendah sekali 48 5) Peningkatan setiap indikator KBR sebelum dan sesudah pembelajaran a. Menghitung hasil peningkatan indikator KBR siswa setelah pembelajaran KBR oleh siswa ditinjau berdasarkan perbandingan gain yang dinormalisasi atau N-gain (g) dengan menggunakan rumus Hake (1999:1) yaitu: Spost – Spre N-gain = Smax – Spre Keterangan: N-gain = average normalized gain = rata-rata N-gain Spost = postscore class averages = rata-rata skor postes Spre = prescore class averages = rata-rata skor pretes Smax = maximum score = skor maksimum Sedangkan untuk mengukur persen (%) peningkatan (%g) KBR oleh siswa digunakan rumus sebagai berikut. Skor akhir – Skor awal % Peningkatan = Skor maksimum – Skor awal x 100% 70 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengaruh penggunaan model Example Non Example berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan Kemampuan Berpikir Rasional siswa pada materi pokok Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Waway Karya Lampung Timur Tahun Pelajaran 2012/2013. B. Saran Untuk kepentingan penelitian, maka penulis menyarankan sebagai berikut: 1. Pembelajaran dengan menggunakan model Example Non Example dapat digunakan oleh guru sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat mengembangkan KBR siswa pada materi pokok Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan 2. Dalam pelaksanaan penelitian sebaiknya diperhatikan waktu pelaksanaan tiap sintaks sehingga penelitian dapat berjalan sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam RPP. 71 DAFTAR PUSTAKA Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup. Alfabeta. Bandung. Arianti . A. 2012. Pengaruh Model Problem Based Learning (Pbl) Terhadap Kemampuan Terhadap Kecakapan Berpikir Rasional Siswa (Skripsi). Univesitas Lampung : Bandarlampung .Arifin, A. 2000. Kecakapan Hidup Life Skill Melalui Pendekatan Berbasis Lus. SIC. Surabaya. Arikunto, S. 2009. Prosedur Penelitian. Rhineka Cipta. Jakarta Arikunto, S. 2007. Prosedur Penelitian. Rhineka Cipta. Jakarta. Belina, W.W. 2008. Peningkatan Kecakapan Berpikir Rasional Siswa Dalam Pembelajaran Fisika di SMP Pada Pokok Bahasan Pemantulan Cahaya Melalui Model Pembelajaran PBI (Penelitian eksperimen pada siswa kelas VIII di salah satu SMP Swasta di kota Bandung). (Skripsi) Jurusan Pendidikan Fisika UPI Bandung. Tidak diterbitkan. Daryanto. 2009. Panduan Pembelajaran Kreatif dan Inovatif. Publisher. Jakarta Dasna, I. W. dan Sutrisno. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Malang. Depdikbud. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Penerbit. Makassar Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotor. Jakarta: Depdiknas-Dikdasmen. Djamarah, S.B. 2000. Macam-Macam Metode Pembelajaran. Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung 72 Dzaki, M.F. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/pembelajarankooperati f.html. (5 Desember 2012; 10:20 WIB). Fitriyanti. 2009. Pengaruh Penggunaan Metode Example Non Example Terhadap Kemampuan Berpikir Rasional Siswa. Palembang: Jurnal Pendidikan, Volume 10, Nomor 1, Maret 2009, 38-47, FKIP Universitas Sriwijaya, Fitriyanti_fkipunsri@yahoo.com. Hake, R.R. 1999. Analizing Change/Gain Scores. Indiana University. USA. http://physics. Indiana.edu/~sdi/AnalizingChange_Gain.pdf (5 Desember 2012; 08:15 WIB). Hastriani, A. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Hamalik, O.2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta. Hamzah, B. 2009. Model Pembelajaran. Bumi Aksara: Jakarta. Hidayati, A.N. 2011. Training of Trainer Berorientasi Higher Order Learning Skills dan Pengaruhnya pada Prestasi serta Performance Guru. (Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2011). Kerjasama FKIP Unila-HEPI. Bandar Lampung. Martono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R &D. Alfabeta. Bandung Purwanto dan Sulistyastuti. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif. Gava Media. Yogyakarta Rahayu, R. 2007. Keterampilan Berpikir Rasional Siswa SMP Melalui Pembelajaran Kontekstual pada Topik Karbohidrat, Protein, dan Lemak. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Pratisto, A. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12. Bumi Aksara :Jakarta. Sagala, S. 2010. Konsep dan Makna Pengajaran. Alfabeta. Bandung. Saprudin. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran Example Non Example Untuk Mengembangkan Kecakapan Berpikir Rasional Siswa Dalam Pembelajaran Fisika Siswa Di SMP. Prosiding Seminar Nasional Fisika 2010. Tidak diterbitkan. Slavin R.E. 2002. Cooperatif Learning : Teori, Riset dan Praktek. Nusa Media. Bandung. 73 Sudjana. 2002. Metode Penelitian. Tarsito 508 hlm. Bandung. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R &D. Alfabeta. Bandung Suratno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Masmedia Buana Pustaka. Jawa Timur. Syah, M. 2008. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. Bandung. Sya’diah, H. 2012. Pengaruh Penggunaan Media Maket Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Berfikir Rasional Siswa.(Skripsi). Universitas Lampung: Bandar Lampung. Tim BBE. 2002. Pendidikan Berorientasi Pada Kecakapan Hidup (Life Skill) Melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Luas Broad Best Education (BBE). SIC. Surabaya. Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Prestasi Pustaka Publisher. Jakarta. Yuliandari, C. 2012. Studi penggunaan Metode Observasi Pada pembelajaran Biologi Terhadap Kecakapan berpikir Rasional Siswa Pada Materi Pencemaran Lingkungan. (Skripsi) . Universitas Lampung: Bandarlampung.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPER..

Gratis

Feedback