Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 Pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)

 0  25  99  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

  KONSTRUKSI BERITA UJIAN NASIONAL 2011 PADA HARIAN KOMPAS (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme) Diajukan Oleh: NAMA : ELISABET M SAMOSIR NIM : 090922061

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

  

ABSTRAK

  Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana rekonstruksi berita Ujian Nasional dan mengetahui bagaimana pandangan dan posisi harian

  Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.

  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang dipakai adalah paradigma kontruktivisme, yaitu paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan ) kita sendiri.

  Subyek penelitian yang dipakai adalah berita tentang ujian nasional tahun 2011 tingkat SMA/MA/SMK pada harian Kompas yang terbit mulai tanggal 16 April sampai tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal . Setelah berita dikumpulkan terdapat 11 berita yang memenuhi kriteria penelitian. Kemudian data-data yang telah terkumpul dikliping, ditabulasikan dan berikutnya dianalisis. Ada dua tahap analisis yang dilakukan, yaitu analisis tekstual kuantitatif dengan cara mentabulasikan berita berdasarkan jumlah, frekuensi, dan persentase dari setiap kategori paragraph, jenis berita, posisi berita,rubrik berita, atribut sosial narasumber, dan isu yang diangkat dalam berita. Kemudian analisis berikutnya adalah analisis framing yang bertujuan untuk melihat isu yang diangkat dan aspek apa yang ditonjolkan dalam berita ujian nasional tersebut.

  Hasil penelitian ini menunjukkan adanya konstruksi dalam berita ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK. Konstruksi tersebut dapat dilihat dari isu yang diangkat dan aspek yang ditonjolkan. Isu yang diangkat adalah pelaksanaan ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK dan aspek yang ditonjolkan yaitu ujian nasional 2011 mengalami peningkatan kualitas yang signifikan, dilihat dari meningkatnya persentase kelulusan siswa tahun ini.

KATA PENGANTAR

  Pujian, hormat dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memampukan penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “KONSTRUKSI BERITA UJIAN NASIONAL 2011 PADA HARIAN KOMPAS (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan masa studi dan mencapaigelar kesarjanaan di Program Ekstensi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

  Penulis menyadari dalam keterbatasannya, masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Untuk itu dengan besar hati penulis menerima masukan yang baik untuk perkembangan skripsi ini skripsi ini.

  Dan pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada

  1. Orangtua penulis W. Samosir/S. Panggabean dan seluruh keluarga besar (Abang, kakak, dan ipar) yang telah mendukung penulis dalam doa, perhatian dan kebutuhan- kebutuhan penulis, sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.

  2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan FISIP Universitas Sumatera Utara.

  3. Ibu Dra. Fatma wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara, terima kasih atas bantuan Ibu kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

  4. Bapak Syarifuddin Pohan, M.Si, Ph.D selaku Dosen Pembimbing, terima kasih banyak penulis ucapkan atas bantuan Bapak dalam setiap ilmu, pemikiran, dorongan dan waktu yang Bapak luangkan untuk membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

  5. Seluruh dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU, terimakasih telah membekali penulis dengan pengetahuan selama proses perkuliahan.

  6. Harian Kompas sebagai sumber berita yang sangat berpengaruh besar dalam penulisan dan penyelesaian skripsi ini.

  7. Sahabat penulis , Desi dan Echa terimakasih telah memotivasi dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini

  8. Seluruh teman-teman ekstensi Ilmu Komunikasi angkatan 2009, terimakasih atas kebersamaan kita selama kuliah.

  9. Rekan kerja penulis, khususnya kak Nurul Fatimah, terimakasih banyak untuk setiap izin dan pengertian yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  10. Teman-teman KTB dan Persekutuan Siswa Kristen, terimakasih telah mendoakan dan memotivasi penulis selama penyelesaian skripsi ini.

  11. Dan semua pihak yang telah mendukung penulisan skripsi ini, terimakasih untuk segalanya.

  Medan, 16 Agustus 2011 Penulis

  Elisabet M.Samosir

  

DAFTAR ISI

ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL LAMPIRAN

BAB I. PENDAHULUAN

  1 I.1 Latar Belakang Masalah

  1 I.2 Perumusan Masalah

  4 I.3 Pembatasan Masalah

  5 I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

  5 I.4.1 Tujuan Penelitian

  5 I.4.2 Manfaat Penelitian

  5 I.5 Kerangka Teori

  6 I.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa

  6 I.5.2 Berita dan Jurnalistik

  7 I.5.3 Paradigma Konstruktivisme

  8 I.5.4 Ideologi Media

  9 I.5.5 Hegemoni Media

  9 I.5.6 Analisis Framing

  10 I.6 Kerangka Konsep

  11 I.7 Operasional Konsep

  13

BAB II. URAIAN TEORITIS

  14 II.1Komunikasi dan Komunikasi Massa

  14 II.2 Berita dan Jurnalistik

  17 II.2.1 Berita

  17 II.2.2 Jurnalistik

  19 II.3 Paradigma Konstruktivisme

  20 II.4 Ideologi Media

  27 II.5 Hegemoni Media

  28 II.6 Analisis Framing

  30 BAB III. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN METODOLOGI

  PENELITIAN

  37 III.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  37 III.1.1 Sejarah Harian Kompas

  38 III.1.2 Visi, Misi, dan Motto Harian Kompas

  40 III.1.3 Nilai-nilai Dasar Harian Kompas

  41 III.2 Metode Penelitian

  41 III.3 Subjek Penelitian

  43 III.4 Teknik Pengumpulan Data

  43 III.5 Teknik Analisis Data

  44 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  48 IV.1 Analisis Isi Tekstual

  49 IV.2 Analisis Framing

  62 IV.2.1 Frame Berita

  63 IV.2.2 Rangkuman Frame Berita

  83 BAB V. PENUTUP

  87 V.1 Kesimpulan

  87 V.2 Saran

  88 V.3 Implikasi Penelitian

  89 V.3.1 Implikasi Teoritikal

  89 V.3.2 Implikasi Praktikal

  89 DAFTAR PUSTAKA

  LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

  53 Tabel 13 Profil Berdasarkan Jumlah Paragraf

  62 Tabel 23 Frame Berita Ujian Nasional

  61 Tabel 22 Daftar Berita yang Diteliti

  60 Tabel 21 Frekuensi Isu yang Ditonjolkan

  58 Tabel 20 Frekuensi Narasumber

  58 Tabel 19 Frekuensi Rubrik

  57 Tabel 18 Frekuensi Posisi Berita

  56 Tabel 17 Frekuensi Jenis Berita

  55 Tabel 16 Frekuensi Jumlah Paragraf

  54 Tabel 15 Profil Berdasarkan Isu yang Diangkat

  53 Tabel 14 Profil Berdasarkan Narasumber

  52 Tabel 12 Profil Berdasarkan Rubrik

  Tabel. 1 Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis

  50 Tabel 11 Profil Berdasarkan Jenis Berita

  49 Tabel 10 Profil Berdasarkan Halaman

  46 Tabel 9 Daftar Berita Ujian Nasional

  45 Tabel 8 Contoh Tabel Isu yang Ditonjolkan

  45 Tabel 7 Contoh Tabel Rubrik

  45 Tabel 6 Contoh Tabel Jenis Berita

  44 Tabel 5 Contoh Tabel Jumlah Paragraf

  37 Tabel 4 Contoh Tabel Narasumber

  35 Tabel 3 15 Koran Teratas Tingkat Nasional

  22 Tabel 2 Dimensi Framing Robert Entman

  86

  

ABSTRAK

  Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana rekonstruksi berita Ujian Nasional dan mengetahui bagaimana pandangan dan posisi harian

  Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.

  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang dipakai adalah paradigma kontruktivisme, yaitu paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan ) kita sendiri.

  Subyek penelitian yang dipakai adalah berita tentang ujian nasional tahun 2011 tingkat SMA/MA/SMK pada harian Kompas yang terbit mulai tanggal 16 April sampai tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal . Setelah berita dikumpulkan terdapat 11 berita yang memenuhi kriteria penelitian. Kemudian data-data yang telah terkumpul dikliping, ditabulasikan dan berikutnya dianalisis. Ada dua tahap analisis yang dilakukan, yaitu analisis tekstual kuantitatif dengan cara mentabulasikan berita berdasarkan jumlah, frekuensi, dan persentase dari setiap kategori paragraph, jenis berita, posisi berita,rubrik berita, atribut sosial narasumber, dan isu yang diangkat dalam berita. Kemudian analisis berikutnya adalah analisis framing yang bertujuan untuk melihat isu yang diangkat dan aspek apa yang ditonjolkan dalam berita ujian nasional tersebut.

  Hasil penelitian ini menunjukkan adanya konstruksi dalam berita ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK. Konstruksi tersebut dapat dilihat dari isu yang diangkat dan aspek yang ditonjolkan. Isu yang diangkat adalah pelaksanaan ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK dan aspek yang ditonjolkan yaitu ujian nasional 2011 mengalami peningkatan kualitas yang signifikan, dilihat dari meningkatnya persentase kelulusan siswa tahun ini.

  

PENDAHULUAN

  1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Bidang yang sangat berpengaruh dalam pembangunan suatu bangsa adalah bidang pendidikan. Pendidikan mengintegrasi dalam segala bidang dan dengan pendidikan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan bukan hanya membentuk kognitif, tetapi pendidikan juga harus mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik, seperti: pengenalan diri, keterampilan, akhlak mulia, kecerdasan, kekuatan spiritual dan lain- lain. Untuk mencapai tujuan yang mulia ini disusunlah kurikulum, yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan dan metode pembelajaran. Dan untuk melihat tingkat keberhasilan pendidikan tersebut dilakukanlah evaluasi. Evaluasi yang berhasil adalah evaluasi yang mengunakan alat yang sesuai untuk mengukur setiap aspek tujuan.

  Dalam sistem pendidikan Indonesia, khususnya untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas/sederajat, saat ini menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Ujian Nasional merupakan evaluasi belajar pada akhir tahun ajaran yang diterapkan pada beberapa mata pelajaran.

  Namun UN hingga kini menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat maupun pemerintah. Banyak polemik yang tak kunjung terjawab. Beberapa diantaranya seperti makelar jawaban, jual beli soal maupun kunci jawaban, pencurian soal, unjuk rasa, kasus bunuh diri, frustrasi dan dampak psikologis terkait siswa-siswi yang tidak lulus. Di satu sisi, UN merupakan sebuah cita-cita mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dimana pemerintah menginginkan pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Di sisi lain pemerintah belum memiliki kemampuan untuk meningkatakan standarisasi dan kualitas pendidikan kita, baik kualitas pengajar, standarisasi kurikulum dan standarisasi sarana prasarana yang ada. Sehingga sistem pendidikan kita mengalami ketimpangan.

  Selain itu, standar nilai kelulusan yang disamaratakan secara nasional dan yang semakin tinggi setiap tahunnya, merupakan hal yang tidak relevan. Faktanya masih banyak sekolah-sekolah di daerah yang tidak difasilitasi oleh pemerintah, baik dari segi sarana prasarana, jumlah dan kwalitas tenaga pengajar. Di daerah masih ada sekolah yang hanya memiliki dua atau tiga orang guru, untuk mengajar siswa SMA dari kelas X sampai kelas XII. Masih banyak sekolah yang gedung dan alat mobilernya tidak memadai untuk mendukung proses belajar mengajar. Sementara di kota-kota besar, gedung-gedung sekolah berdiri megah dengan tenaga pengajar yang berkualitas dan dilengkapi oleh fasilitas yang mendukung pendidikan. Bagaimana mungkin sekolah-sekolah tertinggal dapat disetarakan standar penilaiannya dengan sekolah-sekolah bonafit yang ada di perkotaan, dimana semua fasilitas pendidikan serba memadai.

  Ujian nasional yang berlangsung hanya dalam beberapa hari dan hanya menguji beberapa mata pelajaran dijadikan patokan untuk mengukur keberhasilan siswa/siswi juga dianggap kurang tepat. Karena pada saat pengumuman, tidak sedikit ditemui siswa yang selama tiga tahun menjalani pembelajaran memiliki prestasi yang baik dinyatakan tidak lulus. Dengan menjadikan UN patokan tunggal dalam evaluasi hasil belajar, seolah-olah meniadakan arti dari pendidikan selama tiga tahun sebelumnya dan mata pelajaran yang tidak masuk ujian nasional. Sistem ujian nasional memandang keberhasilan anak didik dilihat hanya dalam beberapa hari, tidak secara kontiniu selama proses belajar mengajar dilakukan.

  Hal-hal diataslah yang memicu banyaknya penyalahgunaan ujian nasional. Pendidikan dipolitisasi sedemikian rupa demi kepentingan yang tidak memihak kepada seluruh masyarakat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya tidak mengherankan apabila ditemukan banyak kejanggalan-kejanggalan. Seperti, pembagian kunci jawaban kepada siswa oleh tim sekolah ataupun “tim sukses”, kebocoran soal maupun kunci jawaban yang terorganisir oleh penyelenggara pendidikan dari berbagai tingkat, guru yang memperbaiki lembar ujian siswa, anjuran ataupun nasehat guru supaya kerjasama ketika ujian berlangsung, dan masih ada lagi trik-trik yang digencarkan dalam kecurangan UN. Demi “keberhasilan” segala cara pun dihalalkan, sehingga cita-cita mulia pendidikan tercoreng menjadi pembodohan.

  Hal di atas merupakan racun mematikan bagi bangsa Indonesia secara sistemik mulai dari pemimpin nasional, pemimpin provinsi, daerah, guru bahkan sampai kepada siswa-siswi. Sistem ini akan merusak mental bangsa. Mengajarkan generasi penerus untuk meraih keberhasilan dengan kecurangan. Hal yang menyedihkan, menanggapi kondisi tersebut, Mendiknas menuturkan dengan enteng : “Menyelengarakan Ujian Nasional adalah sebuah tugas besar, jika terjadi beberapa kecurangan, saya rasa itu wajar, karena kami bukan malaikat,”enurut-mendiknas-kecurangan-

  

un-wajar/ ). Dinas Pendidikan dan sekolah bersandiwara demi nama baik dengan meraih

  tingkat kelulusan yang tinggi, bahkan mereka sangat bangga apabila mencapai persentase 100% walau dengan kecurangan.

  Memandang fakta-fakta yang ada di lapangan, sangat bijak bila sistem ujian nasional ini ditinjau ulang keberadaannya. Berbagai desakan dan tuntutan juga sudah disampaikan agar ujian nasional ditiadakan. Tetapi hal itu tidak membuat pemerintah bergeming. Ujian nasional 2011 tetap diadakan meskipun dengan beberapa ketentuan yang baru lagi. Tahun ini, paket soal UN dikemas dalam lima kode soal (A,B,C,D,E) dan memperhitungkan nilai sekolah sebanyak 40% sebagai penentu nilai kelulusan, dengan nilai kelulusan minimal adalah 5.5. Dari segi sistem sudah semakin baik, tetapi sistem yang setiap tahunnya mengalami perubahan, juga menjadi kelemahan karena ketidak adaan sistem baku ujian nasional. Mental peserta ujian sudah terlanjur terkontaminasi dan pada pelaksanaan ujian nasional 2011 ini pun, kecurangan tetap terjadi.

  Hampir seluruh media, khususnya media cetak menyoroti masalah ujian nasional ini. Pemberitaannya juga beragam-ragam, ada yang mengkritik dan mendukung menolak UN dan ada juga surat kabar yang menampilkan seolah-olah ujian nasional berjalan dengan baik dan benar. Kompas juga mengulas setiap berita tentang ujian nasional dengan detail dan mendasar. Inilah mengapa peneliti memilih harian Kompas sebagai objek penelitian tentang berita ujian nasional 2011.

  Kompas merupakan salah satu surat kabar yang telah mengawal perjalanan

  negeri ini sejak tahun 1963. Kompas bermula sebagai media bulanan yang bernama

  “Inti Sari”, dengan 128 halaman pada saat pertama kali terbit pada tanggal 7 agustus 1963. perkembangan berikutnya berubah nama menjadi “Bentara Rakyat” dan terakhir menjadi Kompas. Kompas edisi pertama dicetak pada tanggal 28 juni 1965 dengan motto “ Amanat Hati Nurani Rakyat”. Dan saat terbit pada 6 Oktober 1965,

  Kompas menembus angka 23.268 eksemplar, hingga pada akhir pemerintahan Soeharto tiras Kompas mencapai angka lebih dari 600 ribu eksemplar per hari.

  Pembaca koran ini mencapai 2.25 juta orang di seluruh Indonesia. Sejarah perjalan

  Kompas menjadi sebuah jaminan objektifitas dalam setiap pemberitaannya

  Pada umumnya pemberitaan di media cetak maupun elektronik sedikit banyak selalu dipengaruhi oleh latar belakang, seperti ideologi dan pemilik media. Bahkan secara khusus cara pandang wartawan terhadap suatu isu mempengaruhi isi berita yang dibuatnya. Dan tidak menutup kemungkinan hal serupa juga terjadi dalam surat kabar harian Kompas terkait pengulasan berita tentang ujian nasional 2011. Kita tidak mengetahui secara jelas fakta-fakta apa yang mendasari pemikiran wartawan dan bagaimana suatu peristiwa tersebut dikonstruksi menjadi berita. Untuk mengetahui lebih mendalam konstruksi pemberitaan, peneliti menggunakan analisis framing.

  Framing bersama semiotik dan analisis wacana berada dalam rumpun studi analisis.

  Proses framing berkaitan dengan persoalan bagaimana sebuah realitas dikemas dan disajikan dalam persentase media.

  Dari serangkaian penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti konstruksi berita tentang ujian nasional 2011 pada harian Kompas.

  1.2 PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimanakah konstruksi berita Ujian Nasional 2011 dalam harian Kompas?

  1.3 PEMBATASAN MASALAH

  Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan pembatasan agar dalam penelitian lebih jelas dan lebih fokus. Adapun pembatasan masalah adalah sebagai berikut:

  a. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, untuk mengetahui isi pemberitaan Ujian Nasional 2011.

  b. Penelitian ini menggunakan analisis framing . Media yang diteliti adalah media cetak harian, dalam hal ini harian Kompas.

  c. Penelitian ini dibatasi untuk meneliti konstruksi berita Ujian Nasional 2011 untuk tingkat SMA/MA/SMK.

  d. Berita yang diteliti adalah pemberitaan mengenai Ujian Nasional 2011 yang terbit mulai tanggal 16 April sampai dengan tanggal 18 Mei 2011.

  1.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

  1.4.1 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1.

  Untuk mengetahui konstruksi berita Ujian Nasional 2011 di Harian Kompas.

2. Untuk mengetahui pandangan dan posisi harian Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.

  1.4.2 Manfaat Penelitian 1.

  Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memperkaya bacaan referensi, bahan penelitian serta sumber bacaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara.

2. Secara teoritis, untuk menerapkan ilmu yang diterima penulis selama menjadi

  mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU, serta menambah wawasan peneliti mengenai studi konstruktivitas berita Ujian Nasional 2010 pada harian Kompas.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak yang

  membutuhkan dan yang terkait di dalamnya agar dapat lebih meningkatkan kualitasnya.

  1.5 KERANGKA TEORI Dalam penelitian ilmiah, yang menjadi landasan dalam berpikir adalah teori. Teori berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan memberikan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Teori merupakan himpunan konstruk (konsep), definisi dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variable, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat,2004:6).

  1.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa Harold Laswell menerangkan cara terbaik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which

  Channel To Whom With What Effect? Yang berarti “ Siapa Mengatakan Apa dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?” (Mulyana,2005:62).

  Komunikasi massa merupakan salah satu jenis dari komunikasi. Komunikasi massa itu sendiri diadopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (komunikasi media massa). Artinya komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang “mass

  mediated”.

  Kata massa dalam komunikasi massa dapat diartikan lebih dari sekedar “orang banyak”. Massa kita artikan sebagai “meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran. Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar di berbagai lokasi dalam waktu yang sama dan menerima pesan-pesan komunikasi yang sama. (Wiryanto,2005,3).

  Khalayak media bukan partisipan komunikasi, melainkan objek dari komunikasi yang termediasi dan terstruktur dari satu arah. Konteks produksi pesan berbeda dengan konteks penerimanya. Secara signifikan tidak ditemukan resiproksitas, kesetaraan, dan saling pemahaman. Dalam komunikasi massa, individu dan komunitas lebur dalam totalitas massa. Dengan konteks ini, komunikasi massa modern mencerminkan problem-problem masyarakat massa (Sudibyo,2009:194).

  Beberapa ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan komunikasi lain adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi massa berlangsung satu arah 2.

  Komunikator pada komunikasi massa terlembaga 3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum 4. Media komunikasi massa menimbulakan keserempakan 5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen.

  1.5.2 Jurnalistik dan Berita Jurnalistik adalah istilah yang berasal dari bahasa Belanda journalistiek, dan dalam bahasa Inggris journalistic atau journalism, yang bersumber pada perkataan

  journal sebagai terjemahan dari bahasa Latin diurnal, yang berarti “harian” atau

  “setiap hari”. Secara gamblang, jurnalistik didefenisikan sebagai keterampilan atau kegiatan mengolah bahan berita mulai dari peliputan sampai kepada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat.

  Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berita diartikan sebagai cerita atau keterangan mengenai cerita atau peristiwa yang hangat. Sedangkan pemberitaan diartikan proses, cara, perbuatan memberitakan atau melaporkan. Ada juga ahli yang mendefenisikan berita sebagai susunan kejadian setiap hari, sehingga masyarakat menerimanya dalam bentuk yang tersusun dan dikemas rapi menjadi cerita, pada hari yang sama di radio, atau televisi dan keesokan harinya di berbagai media. Tidak semua hal dapat dikatakan berita, sesuatu dapat dikatakan berita jika terdapat unsur-unsur berita di dalamnya, seperti aktual (baru), kedekatan, penting, akibat, pertentangan/konflik, seks, ketegangan, kemajuan- kemajuan, konsekuensi, emosi, humor, dan human interest.

  1.5.3 Paradigma Konstruktivisme Pengertian paradigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diantaranya: 1. paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi (penggabungan inti) dan deklinasi (perbedaan kategori) dari kata tersebut.; 2. paradigma adalah model dari teori ilmu pengetahuan; 3. paradigma adalah kerangka berfikir.

  Menurut ilmu komunikasi definisi paradigma adalah pola yang meliputi sejumlah unsur, yang berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

  Pemahaman terhadap paradigma dan perspektif yang kini menjadi acuan dalam teori komunikasi modern diilhami oleh tradisi proses informasi, dimana teori komunikasi itu berawal dari perspektif pemprosesan informasi sehingga menjadi paradigma.

  Menurut Robert Fredrichs, definisi paradigma adalah pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi subject matter yang semestinya dipelajari.

  Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak akan pernah mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi dari suatu objek. Konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi hendak melihat bagaimana kita menjadi tau akan sesuatu (Ardianto,,2007:80).

  Pandangan konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Positivisme meyakini bahwa pengetahuan harus merupakan representasi dari kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat (objektivisme). Konstruktivitas adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Ardiyanto,2007:154).

  1.5.4 Ideologi Media Kata ideology berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea dan logia. Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat. Idea berarti sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Sedangkan logis berasal dari kata logos yang berarti world. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori (Sobur,2004:64).

  Ideologi dapat diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Ideologi ini abstrak dan berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas (Sudibyo,2001:12).

  Media berperan mendefenisikan bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara tertentu kepada khalayak. Pendefenisian tersebut bukan hanya peristiwa, melainkan juga aktor-aktor sosial. Dari berbagai fungsi media dalam mendefenisikan realitas, fungsi utama ideologi adalah media sebagai mekanisme integrasi sosial, yaitu menjaga nilai-nilai kelompok dan mengontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu di jalankan. Berita dibentuk dari ideologi dominan dalam suatu wilayah. Ideologi juga bisa bermakna pemaknaan atau penandaan.

  1.5.5 Hegemoni Media Teori Althusser tentang ideology menekankan bagaimana kekuasaan kelompok dominan dalam mengontrol kelompok lain. Mengenai cara atau penyebaran ideologi dilakukan, teori Gramcsi tentang hegemoni sangat baik. Antonio Gramsci membangun suatu teori yang menekankan cara penyebaran ideologi tersebut.

  Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan yang memperebutkan penerimaan publik. Karena pengalaman sosial kelompok subordinat (apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya) berbeda dengan ideologi kelompok dominan. Oleh karena itu, perlu usaha bagi kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi dan kebenarannya agar diterima, tanpa perlawanan. Salah satu strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam (common sense) (Eriyanto,2001:107).

  Kelebihan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana yang dominan, yang terkadang kebenarnya bersifat sepihak. Ada suatu nilai atau konsensus yang dianggap memang benar, sehingga ketika ada cara pandang atau wacana lain dianggap tidak benar. Media disini secara tidak sengaja dapat menjadi alat bagaimana nilai-nilai atau wacana yang dipandang dominan itu disebarkan dan meresap dalam benak khalayak sehingga menjadi konsensus bersama.

  1.5.6 Analisis Framing Kata framing berasal dari bahasa Inggris yakni dari kata frame. Gagasan ini pertama kali dilontarkan Beterson pada tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana. Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipergunakan untuk menbedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.

  Analisis framing adalah salah satu bentuk analisis teks yang berada dalam kategori penelitian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi (Eriyanto,2005:37).

  Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspekif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Framing juga merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media (Eriyanto,2005:66).

  Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isi dan penekanan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Ia juga menambahakan bahwa frame berimplikasi penting bagi komunikasi politik. Menurutnya, frame menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen lainnya memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda.

  Pendekatan Entman inilah yang digunakan dalam penelitian ini. Dua dimensi yang telah dituliskan di atas, selanjutnya di konsepsi oleh Etnman menjadi perangkat

  frame yang selalu ada dalam sebuah berita. Perangkat framing yang dimaksud

  meliputi pendefenisian masalah (Define Problem), memperkirakan masalah atau sumber masalah (Diagnose Causes), membuat keputusan moral (Make Moral

  Judgement), menekankan penyelesaian (Treatment Recommendatioan). Empat

  perangkat framing ini merupakan “pisau analisis” framing yang digunakan untuk mengolah dan menganalisa frame pemberitaan sebuah media.

1.6. KERANGKA KONSEP

  Kerangka konsep dalam penelitian ini memakai analisis framing Robert Entman. Fokus perhatian Entman tertuju pada dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas isu.

  Kemudian Entman mengkonsepsi dua dimensi besar tersebut ke dalam perangkat framing. Perangkat framing yang dimaksud adalah:

1. Pendefenisian masalah (define problem), yaitu bagaimana suatu peristiwa dilihat?

  Atau sebagai masalah apa? 2.

  Memperkirakan masalah (diagnose causes), yaitu melihat peristiwa disebabkan apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? 3.

  Membuat keputusan moral (make moral judgement), yaitu nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi suatu tindakan?

4. Menekankan penyelesaian (Treatment recommendation), yaitu penyelesaian apa yang

  ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah.

  Visualisasi Konseptual Analisis Framing Robert Entman FRAMING

  • Seleksi isu
  • Penonjolan aspek tertentu dari isu

  

BERITA

Problem Identification Moral Judgement/ Evaluation

  Membuat Keputusan Moral Pendefinisian Masalah Diagnoses Causes Treatment Recommendation

  Memperkirakan Sumber Masalah Rekomendasi Penyelesaian

  (Sumber : Majalah Kajian Media Dictum Vol.1, No. 2 September 2007, dalam skripsi Andi Sunarjo Simatupang. 2010. Konstruksi Berita 100 Hari SBY-Boediono, FISIP USU MEDAN)

  1.7 TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca atau dipresentasikan (Singarimbun,1995:263). Dilihat dari kemungkinan banyaknya jumlah artikel berita harian Kompas, maka peneliti akan menyederhanakan dalam bentuk analisis dua tahap. Tahap tersebut adalah:

  a.

  Dengan metode analisis isi tekstual secara konvensional kuantitatif untuk mengetahui isu-isu yang dianggap menonjol yang membantu dalam pemilihan berita yang akan dikonstruksi. Dalam penelitian ini kategorisasi yang digunakan peneliti adalah berdasarkan jumlah paragraph, jenis berita, posisi berita, rubrik berita, nama dan atribut sosial narasumber dan isu yang menonjol dalam berita. Kemudian kategorisasi tersebut akan ditabulasikan berdasarkan jumlah, frekuensi dan persentase.

  b.

  Analisis kualitatif dalam konstruksi berita yang dipilih oleh peneliti untuk diteliti. Berita yang akan diteliti kemudian ditabulasikan berdasarkan berita yang diteliti dan frame isi pemberitaan, yaitu pendefenisian masalah, memperkirakan masalah atau sumber, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian.

BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa

BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi karena

  komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia dan masyarakat. Aktivitas komunikasi dapat dilihat pada setiap aspek kehidupan sehari-hari manusia yaitu sejak dari bangun tidur sampai manusia beranjak tidur pada malam hari. Bisa dipastikan sebagian besar dari kegiatan kehidupan kita mengunakan komunikasi baik komunikasi verbal maupun nonverbal.

  Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, “comunis”, yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya

  

“communis” adalah “communico” yang artinya berbagi. Dalam literatur lain disebutkan

  komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti " membuat sama" (to make common). Istilah “communis” adalah istilah yang paling sering di sebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata kata Latin yang mirip Komuniksi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan di anut

  

  secara sama.

  

  Pengertian komunikasi sudah didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak orang yang mendifinisikannya. Menurut Harold Lasswell komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom?

  

with what effect?). Menurut Onong Uchjana Effendi, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). Wilbur Schramm menyatakan komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process).

  Dance dan Larson (Vardiansyah, 2004 : 9) setidaknya telah mengumpulkan 126 definisi komunikasi yang berlainan Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.

  Ilmu komunikasi dari waktu ke waktu mengalami perkembangan yang semakin pesat. Pada awalnya komunikasi memang sekadar alat antar manusia, agar manusia saling berhubungan dan mengerti. Awalnya komunikasi tidak mendapat perhatian lebih, sampai pada abad ke-5 SM, di Yunani berkembang ilmu retorika yang berarti seni berpidato dan berargumentasi yang bersifat menggugah atau seni menggunakan bahasa secara lancar untuk mempengaruhi atau mengajak. Sejak abad ini komunikasi khususnya dalam hal retorika mendapat perhatian besar dari para filsuf-filsuf besar pada waktu itu, inilah yang menjadi bibit dari komunikasi massa (Ardianto.2007;20).

  Komunikasi massa itu sendiri diadopsi dari istilah bahasa Inggris, mass

  

communication. Artinya komunikasi yang menggunakan media massa. Kata massa dalam

  komunikasi massa dapat diartikan lebih dari sekedar orang banyak. Massa kita artikan sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang- orang pada ujung lain dari saluran. Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar di berbagai lokasi dalam waktu yang sama dan menerima pesan-pesan komunikasi yang sama (Wiryanto,2005,3).

  Khalayak media bukan partisipan komunikasi, melainkan objek dari komunikasi yang termediasi dan terstruktur dari satu arah. Konteks produksi pesan berbeda dengan konteks penerimanya. Secara signifikan tidak ditemukan resiproksitas, kesetaraan, dan saling pemahaman. Dalam komunikasi massa, individu dan komunitas melebur dalam totalitas massa. Dengan konteks ini, komunikasi massa modern mencerminkan problem-problem masyarakat massa (Sudibyo,2009:194).

  Beberapa ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan komunikasi lain adalah sebagai berikut:

  1. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Dalam media cetak seperti koran, komunikasi hanya berjalan satu arah. Komunikan tidak bisa memberikan respon kepada komunikator media yang bersangkutan.

  2. Komunikator pada komunikasi massa terlembaga. Komunikator dalam media massa bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang yang digerakkan oleh satu system manajemen dalam mencapai tujuan tertentu.

  3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Pesan pada komunikasi massa itu tidak ditujukan pada satu orang atau satu kelompok tertentu, tetapi kepada seluruh lapisan masyarakat.

  4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Media massa dapat menyampaikan pesan kepada komunikan secara serempak walau berada pada tempat yang berbeda.

  5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen. Media massa bersifat anonim dan heterogen, maksudnya komunikan merupakan orang-orang yang tidak saling mengenal dan beraneka ragam, baik itu status, daerah, prinsip dan lain-lain. Komunikasi massa memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut:

  a. Menginformasikan (to inform). Maksudnya media massa merupakan tempat untuk menginformasikan peristiwa-peristiwa atau hal-hal penting yang perlu diketahui oleh khalayak.

  b. Mendidik (to educate). Tulisan di media massa dapat mengalihkan ilmu pengetahuan sehingga mendorong perkembangan intelektual, membentuk watak dan dapat meningkatkan keterampilan serta kemampuan yang dibutuhkan para pembacanya.

  c. Menghibur (to intertait). Media massa merupakan tempat yang dapat memberikan hiburan atau rasa senang kepada pembacanya atau khalayaknya.

  d. Mempengaruhi (to influence). Maksudnya bahwa media massa dapat mempengaruhi pembacanya. Baik pengaruh yang bersifat pengetahuan (cognitive), perasaan (afektive), maupun tingkah laku (conative).

  e. Kontrol sosial (wacth dog), maksudnya bahwa dengan adanya media massa kita dapat mengontrol jalannya pemerintahan.

  II.2 Jurnalistik dan Berita

  II.2.1. Jurnalistik

  Istilah jurnalistik berasal dari bahasa Belanda journalistiek. Seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris journalism yang bersumber dari kata journal, yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin diurnal yang berarti “harian” atau “setiap hari”.

  Dari berbagai literatur dapat dikaji defenisi jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari,mengumpulkan,mengolah, menyajikan dan menyebarkan berita, melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya”(Haris S.2005). Peristiwa apa saja, apakah itu peristiwa factual atau pendapat seseorang, jika diperkirakan dapat menarik perhatian khalayak, merupakan bahan dasar jurnalistik yang kemudian bisa diolah menjadi berita untuk disebarluaskan kepada masyarakat (Effendy,2005:151).

  F. Fraiser Bon membagi fungsi jurnalistik ke dalam empat bagian, yaitu To Inform, To

  

Interpret, To Guide, dan To Entertain. Sedangkan Assegaft membaginya menjadi memberi

  informasi, memberi hiburan, melaksanakan kontrol sosial, pers (the fourth estate) (Haris, 2005).

  Berdasarkan bentuk dan pengelolaanya, jurnalistik dapat dibagi ke menjadi (Sumandria, 2006):

  1. Jurnalistik media cetak Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual.

  Verbal, menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kata dan kalimat yang efektif dan komunikatif. Visual, menunjuk kepad kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak dan hal-hal yang menyangkut segi tampilan.

  2. Jurnalistik media elektronik auditif Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebi anyak dipengaruhi dimensi verbal, tehnologikal dan fisikal. Verbal berhubungan dengan kemempuan menyusun kata, tehnologikal berhubungan dengan tehnologi yang memungkinkan daya pancar radio dapat ditangkap dengan baik. Fisikal erat kaitannya dengan kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak.

  3. Jurnalistik media elektronik audiovisual Merupakan gabungan dari verbal, visual, tehnologikal, dan dimensi dramatikal.

  Dramatikal berarti berkaitan nilai dan aspek dramatic yang dihasilkan oleh rangkain gambar secara simultan.

II.2.2 Berita Salah satu produk jurnalistik adalah berita. Berita menurut Doug Newsom & James A.

  Wollert dapat didefenisikan sebagai apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi masyarakat. Dan menurut Michael V. Charnley berita adalah laporan tercepat mengenai fakta dan opini yang menarik dan penting, atau keduanya bagi sejumlah besar penduduk (Sumandria,2006). Berita dapat disajikan dalam bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut. Berita merupakan laporan tentang fakta atau ide yang termassa, yang dipilih oleh redaksi suatu media untuk disiarkan atau dicetak, yang dapat menarik perhatian pembaca atau penonton, baik itu karena pentingnya berita tersebut atau bisa juga karena beritanya luar biasa. Ada beberapa konsep berita yang dapat dikembangkan yaitu, berita dapat sebagai laporan tercepat, rekaman fakta-fakta objektif, interpretasi, sensasi, minat insan, ramalan dan sebagai gambar (Effendi,2005:131).

  Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik wartawan Indonesia berisi “Wartawan Indonesia (WI) menyajikan berita secara berimbang & adil, mengutamakan kecermatan & ketepatan, serta tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri”. Oleh karena itu berita tersaji harus akurat, lengkap, adil dan berimbang, objektif, ringkas dan jelas, hangat.

  Ada beberapa nilai yang menentukan suatu peristiwa layak dijadikan sebagai berita atau tidak, yaitu: keluarbiasaan (unusualness), kebaruan (newness), akibat ( impact), aktual (

  

timeliness), kedekatan (proximity), informasi (information), konflik (conflict), orang penting

(public figure ), kejutan (surprising), ketertarikan manusiawi (human interest), seks ( sex ) .

  Berita tidak mutlak harus memenuhi unsur-unsur tersebut, tetapi semakin banyak unsur tersebut melekat pada suatu peristiwa, semakin tinggilah nilai layak peristiwa tersebut menjadi sebuah berita.

II.3 Paradigma Konstruktivisme Pengertian paradigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diantaranya: 1.

  paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi (penggabungan inti) dan deklinasi (perbedaan kategori) dari kata tersebut.; 2. paradigma adalah model dari teori ilmu pengetahuan; 3. paradigma adalah kerangka berfikir.

  Menurut kamus komunikasi (1989) definisi paradigma adalah pola yang meliputi sejumlah unsur, yang berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

  Paradigma adalah sudut pandang dan cara pandang untuk mengamati sesuatu. Cara kita memandang atau pendekatan yang kita gunakan mengamati kenyataan akan menentukan pengetahuan yang kita peroleh. Paradigma yang digunakan dalam menghampiri suatu peristiwa komunikasi akan menghasilkan perbedaan yang besar dalam jawaban dan makna yang dideduksi. Pemahaman tentang uang dari perspektif ekonomi, berbeda dengan pemahaman tentang uang dari perspektif sosial. Jadi penggunaan paradigma mewajibkan peneliti untuk toleran terhadap paradigma lainnya. Paradigma selalu mendahului observasi kita. Suatu peristiwa bisa saja diamati dengan pikiran yang terbuka dan netral, tetapi tetap harus mengobservasi hal tersebut, dan hal tersebut bisa dilakukan dengan cara-cara tersendiri. Nilai paradigma tidak terletak pada nilai kebenarannya atau seberapa baik ia mencerminkan realitas yang ada, karena paradigma tergantung tujuan yang hendak diteliti. Yang menjadi intinya adalah upaya mencari paradigma yang dapat memberikan kepada kita konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat bagi pencapaian tujuan kita. Memilih suatu paradigma berarti memilih suatu paradigma dengan keuntungan dan kelemahannya yang terkandung di dalamnya tanpa mengingkari nilai dan mempermasalahkan validitas paradigma lain (Ardianto.2007: 75-78).

  Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup empat paradigma:

  1. positivism, postpositivism, 2. critical theories, dan

  3. contructivism Masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. (http//manajemenkomunikasi.

  blogspot.com/2010/10/12/pengertian-dan-fungsi-teori-dalam.html).

  Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu, untuk mempermudah kepentingan bahasan tentang implikasi metodologi dari sebuah paradigma, maka teori-teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 paradigma, yaitu: 1. Classical paradigm (mencakup positivism dan postpositivism).

  2. Critical Paradigm, dan 3. Constructivism Paradigm.

  Tabel 1 berikut menyajikan perbandingan atau perbedaan dari ruang lingkup paradigma tersebut dipandang dari sisi ontologism, epistemology dan metodologis.

  Tabel 1. Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis Bidang Positivisme Post-Positivisme Kritis Konstruktivisme Ontology Asumsi tentang realitas Realisme naïf; semesta adalah nyata dan dapat diketahui apa adanya.

  Realisme kritis:

semesta luar

bersifat nyata akan tetapi tidak pernah seluruhnya diketahui secara sempurna, ada banyak kemungkinan

yang dapat

diketahui Realisme kritis: semesta hidup atau virtual yang dikonstruksi secara sosial, politik, budaya, ekonomi, etnik dan gender Relativisme, semesta yang diketahui itu spesifik,lokal yang dikonstruksi oleh paradigm tertentu atau perspektif tertentu.

  Epistemology Asumsi tentang hubungan antara yang diteliti dengan yang meneliti

  Bersifat dualis, objektivis Obyektivisme yang dimodifikasi, yaitu objektivitas sebagai buah dari keinginan untuk mengontrol, teori

yang ersifat

tentative dan probabilitas.

  Bersifat transaksional, dialogis, temuan- temuan ilmiah dimuati nilai dan kepentingan

  Bersifat transaksional, dialogis, teori konstruksi sebagai hasil investigasi dan proses sosial (khususnya ilmu pengetahuan sosial budaya) Metodologis

  Asumsi metodologis tentang bagaimana peneliti memperoleh pengetahuan Eksperimental manipulatif, pembuktian atas hipotesis, kuantitatif.

  Eksperimental yang dimodifikasi

dan terbuka

secara kritis pada keanekaragaman

dan latar

penelitian yang lebih alami.

  Dialogis, transformative guna mengatasi kesadaran palsu.

  Hermeneutik dan dialektis, ilmu hasil konstruksi atau interaksi peneliti terhadap objek yang diteliti.

  Sumber: Ardianto, Elvinaro, 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung. PT.Rosda Karya.

  Paradigma Konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna ataupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri.

  Kajian pokok dalam paradigma konstruktivisme menurut Weber, menerangkan bahwa substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melainkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Weber juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya tetapi dengan beberapa catatan, dimana tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut harus berhubungan dengan rasionalitas dan tindakan sosial harus dipelajari melalui penafsiran serta pemahaman.

  Bila ditelusuri ke belakang, konstruktivisme berasal dari teori Popper yang membedakan alam semesta ke dalam tiga pengertian, yaitu: (1) dunia fisik; (2) dunia kesadaran atau mental atau disposisi tingkah laku; (3) dunia dari isi objektif pemikiran manusia, khususnya pengetahuan ilmiah, puitis dan seni. Popper menyatakan objektivisme tidak dapat dicapai pada dunia fisik, melainkan melalui pemikiran manusia secara pribadi maupun kelompok. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi konstruktivisme yang tidak hanya menyajikan batasan baru mengenai keobjektifan, melainkan juga batasan baru mengenai kebenaran dan pengetahuan manusia.

  Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Kosntruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruki (bentukan) kita sendiri. Dalam konstruktivisme, pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan bukan titik pasti yang kaku, tetapi merupakan suatu proses menjadi mengerti. Para konstruktvis menganut paham bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang terlibat dalam proses mengetahui. Keberadaan realitas tidak hadir begitu saja pada pikiran pengamat, realitas ada karena pada diri manusia terdapat skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang diamati (Ardianto,2007:154).

  Secara ringkas gagasan kontruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut (Von Glasersferldd dan Kitchener, 1987):

  1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.

  2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.

  3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsespsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan apabila konsepsi itu digunakan ketika berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang. Dalam konteks hubungan konstruktivisme dengan ilmu komunikasi Robyn Penmann merangkumkannya sebagai berikut:

  1. Tindakan komunikatif sifatnya sukarela. Pembuat komunikasi adalah subjek yang memiliki pilhan bebas, walaupun lingkungan sosial membatasi apa yang dapat dan telah dilakukan. Jadi tindakan komunkatif dianggap sebagai tindakan sukarela, berdasarkan pilihan subjeknya.

  2. Pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan bukan sesuatu yang objektif sebagaimana diyakini positivisme, melainkan diturunkan dari interaksi dalam kelompok sosial. Pengetahuan itu dapat ditemukan dalam bahasa, dan melalui bahsa itulah konstruksi realitas terjadi.

  3. Pengetahuan bersifat kontekstual, maksudnya pengetahuan merupakan produk yang dipengaruhi ruang dan waktu, juga akan mengalami perubahan seiring dengan pergeseran waktu.

  4. Teori-teori menciptakan dunia. Teori bukanlah alat melainkan suatu cara pandang yang ikut mempengaruhi cara pandang kita terhadap realitas atau dalam batas tertentu teori menciptakan dunia. Dalam konteks ini dunia bukanlah “segala sesuatu yang ada” melainkan “segala sesuatu yang menjadi lingkungan hidup dan penghayatan hidup manusia”, jadi dapat dikatakan sebagai hasil pemahaman manusia atas kenyataan di luar dirinya.

  5. Pengetahuan bersifat sarat nilai.

  Menurut Bungin (2008:196), ada tiga hal penting dalam penyiapan materi konstruksi sosial, yaitu; a. Keberpihakan media massa terhadap kapitalisme. Sebagaimana diketahui, kini hampir semua media, baik cetak maupun elektronik telah dimiliki oleh satu golongan kapitalis tertentu. Artinya, media massa digunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk menjadikan media massa sebagai alat peraup untung yang sebesar-besarnya, baik dari segi kuasa, modal dan uang. Semua elemen media massa termaksud orang- orang media massa berpikir untuk melayani kapitalisnya, pola pikir mereka adalah membuat media massa yang laku di masyarakat.

  b. Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini adalah dalam bentuk empati, simpati dan berbagai bentuk partisipasi kepada masyarakat. Namun intinya adalah usaha penjualan berita dan meningkatnya rating yang sangat bermanfaat untuk menarik minat kaum kapitalis.

  c. Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada kepentingan umum dalam arti sesungguhnya pada dasarnya adalah visi setiap media massa.

  Namun akhir-akhir ini visi tersebut tak pernah menunjukkan jati dirinya, yang tinggal hanya slogan-slogan media tentang visi.

  Secara esensial, pendekatan konstruktivis pada media, wartawan dan berita dapat dirangkum dalam 6 perspektif (Eriyanto, 2003), yaitu: a. Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi. Bagi kaum konstruktivis, realitas itu bersifat subjektif. Realitas itu ada karena diciptakan dan dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan. Realitas itu bisa berbeda-beda, tegantung pada bagaimana wartawan memaknai suatu peristiwa. Pandangan utama dalam konstruktivisme adalah fakta berupa kenyataan itu bukanlah sesuatu yang real, melainkan tergantung kapada pemikiran orang yang memaknai fakta tersebut.

  b. Media adalah agen konstruksi. Dalam pandangan konstruktivis, meda bukan suatu saluran yang bebas. Media juga menjadi subjek atau agen yang turut mengkonstruksi realitas, melalui pandangannya, bias dan keberpihakannya. Maka berita yang diberitakan oleh media tidak hanya menggambarkan realitas, tidak hanya menunjukkan pendapat sumber berita, tetapi juga konstruksi dari media itu sendiri.

  c. Berita bukan refleksi dari realitas, hanya konstruksi atas realitas. Menurut pandangan konstruktivis, berita merupakan hasil dari konstruksi sosial yang selalu melibatkan pandangan, ideologi dan nilai-nilai dari wartawan dan media. Bagaimana realitar itu dijadikan berita, tergantung pada bagaimana fakta itu dipahami dan dimaknai. Proses pemaknaan selalu melibatkan nilai-nilai tertentu, sehingga sangat besar kemungkinan berita merupakan cerminan dari realitas. Fakta yang sama bisa saja menghasilkan berita yang berbeda, tergantung dari sudut pandang yang berbeda.

  d. Berita bersifat subjektif atas realitas. Berita subjektif lahir dari sisi lain wartawan.

  Karena wartawan sendiri melihat dengan persfektif dan berbagai pertimbangan subjektifnya. Penempatan sumber berita yang lebih ditonjolkan dari sumber lainnya, menempatkan wawancara seorang tokoh lebih besardengan tokoh lainnya, liputan yang hanya satu, tidak berimbang. Bagi kaum konstruktivis, hal itu bukanlah merupakan sebuah kekeliruan atau bias, tetapi dianggap memang itulah praktek yang dijalankan oleh wartawan.

  e. Wartawan bukanlah pelapor, melainkan agen konstruksi realitas. Menurut pandangan kaum konstruktivis, wartawan tidak bisa menyembunyikan pilihan moral dan keberpihakannya., karena ia merupakan bagian yang instrinsik dalam pembentukan berita. Dan berita bukan produk individual, melainkan juga bagian dari proses organisasi dan interaksi wartawan di dalam suatu media.

  f. Etika, pilihan moral dan keberpihakan wartawn adlah bagian integral dalam produksi berita. Aspek etika, moral dan nilai-nilai tertentu tidak dapat dihilangkan dalam pemeritaan media. Wartawan bukan robot yang meliput apa adanya, apa yang dilihat tanpa interpretasi apapun. Etika dan moral dalam banyak hal dapat berarti keberpihakan pada satu kelompok atau nilai tertentu yang merupakan integral dan tidak terpisahkan dalam membentuk dan mengkostruksi realitas sosial.

II.4 Ideologi Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea dan logia.

  

Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s News Colligiate

Dictionary berarti sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil perumusan suatu pemikiran

  atau rencana. Sedangkan logis, berasal dri kata logos yang berarti world. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori (Sobur,2004:64).

  Ideologi dapat diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Ideologi ini abstrak dan berhubungan denga konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas. Dalam konsespsi Marx, ideologi adalah bentuk kesadaran palsu.

  Kesadaran seseorang, siapa mereka, dan bagaimana mereka menghubungkan dirinya dengan masyarakat dibentuk dan diproduksi oleh masyarakat, tidak oleh ideologi yang alamiah.

  Kesadaran kita tentang realitas sosial ditentukan oleh masyarakat, tidak oleh psikologi individu.

  Media berperan mendefenisikan bagaimana realitas seharusnya dipahami, bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara tertentu kepada khalayak. Pendefinisian tersebut bukan hanya peristiwa, melainkan juga aktor-aktor sosial. Diantara dari berbagai fungsi media dalam mendefenisikan realitas,fungsi utama dalam ideologi adalah media sebagai mekanisme integrasi sosial. Media disini berfungsi menjaga nilai-nilai kelompok, dan mengontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu dijalankan.

II.5 Hegemoni

  Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani hegeishtai (to lead). Antonio Gramsci

  

(1971) membangun suatu teori yang menekankan bagaimana penerimaan kelompok yang

  didominasi terhadap kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa tindakan kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar. Nilai dan ideologi hegemoni ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan, sehingga pihak yang didominasi tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa. Media dapat menjadi sarana dimana satu kelompok mengukuhkan posisinya dan merendahkan kelompok lain.ini bukan berarti media adalah kekuatan jahat yang dengan senjaga merendahkan masyarakat bawah. Proses bagaimana wacana mengenai gambaran masyarakat bawah bisa buruk di media.

  Dalam produksi berita, proses itu terjadi melalui cara yang halus, sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran, logis, bernalar awan

  

(common sense) dan semua orang berpikir itu bukanlah suatu hal yang patut dipertanyakan.

  Singkatnya, hegemoni dapat dikatakan sebagai reproduksi ketaatan, kesamaan pandangan, dengan cara yang lunak. Lewat media massalah hegemoni dilakukan. Media secara perlahan- lahan memperkenalkan, membentuk, dan menanamkan pandangan tertentu kepada khalayak.

  Common sense yang berhubungan dengan praktik kerja jurnalistik, diantaranya adalah

  kecenderungan untuk menempatkan unsur dramatisasi dalam pemberitaan. Hal ini berhubungan dengan kebiasaaan wartawan yang lebih mengedepankan apa yang menarik untuk diberitakan kepada publik. Jika idea atau gagasan dari kelompok dominan diterima sebagai sesuatu yang common sense, kemudian ideologi itu diterima baik melalui praktik kerja, maka hegemoni telah terjadi.

  Hegemoni bergerak pada level makna bersama (common sense) dalam asumsi-asumsi yang dibuat mengenai kehidupan sosial dan pada wilayah yang diterima sebagai sesuatu yang “natural” atau “demikian adanya”. Common sense merupakan cara mendeskripsikan segala sesuatu yang “setiap orang tahu”, atau paling tidak “harus tahu”. Gramsci mengingatkan bahwa cara paling efektif dalam menguasai (ruling) adalah melalui pembentukan asumsi- asumsi common sense.

  Asumsi common sense merupakan konstruksi sosial. Asumsi ini memberi implikasi pada pengertian tertentu mengenai dunia sosial. Asumsi common sense adalah ungkapan yang, misalnya, menyatakan bahwa “posisi moderat lebih baik daripada posisi ekstrim”, atau “perempuan lebih pantas menjadi pengasuh dibanding laki-laki”, dan contoh-contoh lain yang sejenis. Ketika orang mengadopsi asumsi common sense, mereka juga akan menerima seperangkat keyakinan tertentu atau ideologi mengenai hubungan sosial. Gramsci melihat hegemoni sebagai pertarungan yang terjadi setiap hari mengenai konsep-konsep akan realitas.

  Penguasa, yakni mereka yang memelihara kekuasaan dengan mendefinisikan asumsi-asumsi, bekerja memberikan stabilitas dan legitimasi dan menggabungkan kekuatan potensial oposan ke dalam basis kerangka kerja ideologi.

  Hegemoni adalah proses pembentukan memori kolektif, yaitu pemikiran masyarakat akan suatu hal. Dari bentuk prosesnya sendiri, terdapat dua macam jenis hegemoni. Hegemoni jenis pertama adalah apa yang disebut dengan everyday resistance, di mana pihak yang berkuasa akan mencoba membendung laju pemikiran lain selain konsep yang mereka punya. Ini jelas terlihat pada masa pemerintahan Soeharto. Hal tersebut jugalah yang menjadikan sastra koran berusaha memperkuat sensornya. Bagaimanapun, media masih merupakan alat paling jitu untuk menyampaikan satu pemikiran kepada masyarakat. Sedang hegemoni jenis kedua, adalah hegemoni pada sistem masyarakat yang terbuka (tanpa satu produsen), di mana pemikiran-pemikiran yang timbul dalam masyarakat mendapatkan ruang yang bebas untuk diapresiasikan, serta terbuka untuk menjadi bahan diskusi masyarakat umum.

II.6 Analisis Framing

  Kata framing berasal dari bahasa Inggris yakni dari kata frame. Gagasan ini pertama kali dilontarkan Beterson pada tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana. Kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada tahun 1974 yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku yang membimbing individu dalam membaca realitas. Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipergunakan untuk menbedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta (Sobur,2004:162).

  Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisi ini mencermati strategi seleksi , penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.

  Dengan kata lain framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yng diambil, bagian man yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut.

  Analisis framing adalah salah satu bentuk analisis teks yang berada dalam kategori penelitian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi (Eriyanto,2005:37). Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspekif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Framing juga merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Gamson dan Modigliani menyebut cara pandang itu sebagai kemasan yang mengandung konstruksi makna atas peristiwa yang akan diberitakan. Menurut mereka, frame adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa- peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana (Eriyanto,2005:66).

  Ada hal penting dalam framing, ketika sesuatu diletakkan dalam frame, maka ada bagian yang terbuang dan ada bagian yang terlihat. Kita bisa menghadirkan analogi ketika kita memotret pemandangan, maka yang masuk dalam foto hanyalah bagian yang berada dalam frame, dan ada bagian lain yang terbuang. Analisis framing menanyakan mengapa berita X diberitakan? Mengapa berita lain tidak diberitakan? Mengapa suatu tempat dan pihak yang terlibat berbeda meskipun peristiwanya sama? Mengapa kenyataan didefenisikan dengan cara berbeda? Mengapa sisi atau angle tertentu yang ditonjolkan dan bukan yang lain? Mengapa fakta tertentu ditonjolkan danbukan yang lain? Mengapa menampilkan sumber berita X dan mengapa bukan sumber berita yang lain yang diwawancarai? (Kriyantono, 2008)

  G.J Aditjondro mendefenisikan framing sebagai metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja. Dengan menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, dengan bantuan foto, karikatur dan alat ilustrasi lainnya (Sudibyo,1999:165). Menurut Aditjondro, proses framing merupakan bagian tak terpisahkan dari proses penyuntingan yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian media cetak. Reporter di lapangan menentukan siapa yang diwawancarai. Redaktur, dengan atau tanpa berkonsulatasi dengan redaktur pelaksana menentukan apakah laporan reporter akan dimuat atau tidak, dan menentukan judul apa yang akan diberikan. Petugas tata muka, dengan atau tanpa berkonsultasi dengan para redaktur, menentukan apakah teks berita itu diberikan aksentuasi foto, karikatur, atau bahkan ilustrasi lain. Bahkan, kata Aditjondro, proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja pers, tetapi juga pihak- phak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing berusaha menampilakn sisi-sisi informasi yang ingin ditonjolkannya (menyembunyikan sisi-sisi lain), sambil mengaksentuasikan kesahihan pandanganya dengan mengacu pada pengetahuan, ketidaktahuan, dan perasaan para pembaca. Proses framing menjadikan media massa menjadi arena dimana informasi tentang masalah tertentu diperebutkan dalam suatu perang simbolik antara berbagai pihak yang sama-sama menginginkan pandangnnya di dukung pembaca (Siahaan dalam Sobur,2004:165).

  Salah satu yang menjadi prinsip analisis framing adalah bahwa wartawan bisa menerapkan standart kebenaran, matriks objektivitas, serta batasan-batasan tertentu dalam mengolah dan menyuguhkan berita. Dalam mengkonstruksi suatu realitas, wartawan juga cenderung menyertakan pengalaman serta pengetahuannya yang sudah mengkristal menjadi skema interpretasi. Dengan skema ini pula wartawan cenderung membatasi atau menyeleksi sumber berita, menafsirkan komentar-komentar sumber berita, serta member porsi yang berbeda terhadap tafsir dan perspektif yang muncul dalam wacana media (Sobur,2004:166).

  Pada dasarnya pekerjaan media adalah mengkonstruksi realitas. Isi media adalah hasil peristiwa-peristiwa yang telah dikonstruksi para pekerja media. Pada biasanya ada tiga tindakan yang dilakukan pekerja media massa, khususnya oleh para komunikator massa (orang media yang bertanggung jawab atas editorial sebuah media), tatkala melakukan konstruksi realitas yang berujung pada pembentukan makna atau citra. Yang pertama, pilihan kata atau simbol. Sekalipun media hanya melakukan pegutipan langsung dari sumber berita, secara langsung atau tidak langsung media massa tetap terlibat dengan kata-kata ataupun simbol yang digunakan sumber tersebut. Kedua, dalam melakukan pembingkaian (framing), minimal karena adanya tuntutan keterbatasan kolom atau halaman pada media cetak dan keterbatasan ruang dan waktu pada media elektronik. Jarang ada media yang meliput suatu peristiwa dari awal sampai akhir. Biasanya berita yang panjang, lebar, rumit akan disederhanakan melalui pembingkaian (framing) fakta-fakta berita yang penting sehingga layak terbit/tayang. Ketiga, menyediakan ruang dan waktu untuk sebuah berita. Jika media massa memberi tempat pada sebuah peristiwa, maka masyarakat akan memberi perhatian terhadap berita tersebut. Semakin besar tempat dan ruang yang diberikan oleh media, semakin besar pulalah perhatian yang didapat dari masyarakat.

  Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isi dan penekanan aspek-

  aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Ia juga menambahakan bahwa frame berimplikasi penting bagi komunikasi politik. Menurutnya, frame menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen lainnya memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda.

  Konsep framing dalam pandangan Entman, secara konsisten menawarkan sebuah cara untuk mengungkapkan the power of communication text. Analisis framing dapat menjelaskan dengan cara yang tepat pengaruh atas kesadaran manusia yang didesak oleh komunkasi informasi dari sebuah lokasi. Framing menurut Entman secara esensial meliputi penyeleksian dan penonjolan isu. Membuat frame adalah menyeleksi beberapa aspek dari suatu pemahaman atas realitas, dan membuatnya lebih menonjol didalam suatu teks yang dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga mempromosikan sebuah defenisi permasalahan yang khusus, interpretasi kausal, evaluasi moral, dan atau merekomendasikn penanganannya (Sobur,2004:165).

  Penonjolan yang dimaksud, merupakan proses membuat informasi menjadi lebih bermakna. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok sudah tentu mempunyai peluang besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami realitas. Karena itu, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu lain; serta menonjolkan aspek isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana.

  Seperti penempatan yang mencolok (menempatkan di headline, halaman depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang sedang diberitakan (Sobur,2004:164).

  Table 2. Dimensi Framing Robert Entman Seleksi Isu

  Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam; aspek mana yang diseleksi untuk ditampilakan? Dari proses ini selalu terkandung di dalamnya ada bagian fakta yang dimasukkan. Tidak semua aspek atau bagian dari isu yang ditampilkan, wartawan atau gatekeepers memilih aspek tertentu dari isu tersebut.

  Penonjolan Aspek Tertentu Dari Isu

  Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa/isu telah dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis? Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar dan citra tertentu untuk ditampilakan kepada khalayak.

  Sumber: Eriyanto.2005.Analisis Framing konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta:Lkis

  Dua dimensi yang telah dijelaskan diatas, selanjutnya dikonsepsi oleh Entman menjadi perangkat Framing yang selalu ada dalam sebuah berita. Perangkat Framing yang dimaksud meliputi: a. Pendefenisian masalah (define problems) adalah elemen yang pertama sekali dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame/bingkai yang paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Ketika ada masalah atau peristiwa, bagaimana peristiwa atau isu itu dipahami. Peristiwa yang sama dapat dipahami dengan cara yang berbeda. Dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.

  b. Memperkirakan masalah atau sumber masalah (diagnose causes), merupakan elemen

  

framing untuk membingkai siapa yang dianggap aktor dari suatu peristiwa. Penyebab

  disini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menekankan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah.

  c. Membuat keputusan moral (make moral judgement) adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/memberi argumentasi pada pendefenisian maslah yang sudah dimuat. Ketika masalah sudah didefenisikan, penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung masalah tersebut.

  d. .Menekankan penyelesaian (treatment recomendation). Elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikendaki wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah.

  BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN METODOLOGI PENELITIAN III.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kantor pusat Kompas berada di Jakarta dan memiliki 7 kantor perwakilan, yakni Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Pontianak dan Medan. Selain kota-kota

  tersebut, di kota lain Kompas juga memiliki wartawan, namun mereka tidak memiliki kantor dan menyampaikan informasi dengan jaringan internet. Pada tahun 1982 Kompas pernah memiliki kantor perwakilan di luar negri, yakni di New York, tetapi saat ini sudah tidak aktif.

  Kompas mengadakan kerja sama dengan instansi swasta dalam dan luar negri, antara

  lain dengan yayasan Lembaga Konsumen dalam hal pengujian-pengujian dan beberapa Perguruan Tinggi Negeri/Swasta dalam bidang penelitian dan magang. Kompas juga banyak menjalin kerjasama dengan negara lain, seperti Malaysia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang, Arab,dll. Kompas menjadi media cetak terbesar di Indonesia dengan jumlah oplah mencapai 507 ribu eksemplar perhari. Kini jumlah pembaca Kompas mencapai dua juta orang per hari.

  Urutan 15 Koran Teratas Tingkat Nasional (Berdasarkan jumlah pembaca) Sumber : Nielsen Readership Study W4 2009

  Nama Koran Jumlah Pembaca (000)

  JAWA POS 1194 KOMPAS 1137 POS KOTA 939 TOP SKOR 729 WARTA KOTA 677 KEDAULATAN RAKYAT 505 SEPUTAR INDONESIA 436

  BERITA KOTA 364 KORAN TEMPO 275 RADAR BOGOR 239 SUARA MERDEKA 228 PIKIRAN RAKYAT 224 SUMATERA EKSPRESS 215 LAMPU HIJAU 211 FAJAR 195

III.1.1 Sejarah Harian Kompas

  Kompas sebagai suatu perusahaan media massa yang besar di Indonesia, pertama kali

  terbit pada tanggal 28 juni 1965. Kompas merupakan perusahaan yang paling lama daripada media lainnya. Harian yang bermotto “ Amanat Hati Nurani Rakyat” ini diawali dengan bangkrutnya PT. Kinta dengan majalah terbitan bulanan Intisari yang didirikan oleh (Alm.) Auwjong Peng Koen, atau lebih dikenal dengan nama Petrus Kanisius Ojong seorang pemimpin redaksi mingguan Star Weekly, beserta Jakob Oetama wartawan mingguan Penabur milik gereja Katolik.

  Kemunculan harian Kompas pada waktu itu sangat tepat karena pada masa 1965 adalah masa politik Indonesia yang panas dimana terjadi perseteruan antara PKI dan pihak militer, terutama Angkatan Darat. Pada masa itu koran-koran nonkomunis berusaha dimatikan oleh pihak komunis, supaya dapat melancarkan propaganda mereka terhadap rakyat melalui surat kabar tanpa halangan. Melalui koran milik PKI yaitu, “Harian Rakyat” dan koran-koran PKI lainnya, PKI berusaha mendapatkan simpati rakyat dengan menyatakan aksi-aksi PKI seperti penyerobotan lahan sebagai aksi patriotik yang membela nasib rakyat. Hal ini mendorong Letjend. Ahmad Yani sebgai Menteri Panglima Angkatan Darat (1962- 1965) menghubungi rekan sekabinetnya yaitu Drs. Frans Seda (1964-1965) yang juga gerah dengan aksi PKI, untuk mendirikan koran melawan partai komunis. Ide itu sejalan dengan kebijakan partai Katolik yang pada waktu itu diwakili oleh Frans Seda. Lalu bersama dengan IJ. Kasimo, P.K Ojong dan Jakob Oetama diawalilah perintisan pembentukan koran tersebut.

  Pada awalnya nama yang disiapkan adalah “Bentara Rakyat” , tetapi presiden Soekarno mengusulkan untuk memberi nama “Kompas”, artinya sebagai media pencari fakta dari segala penjuru.sedangkan nama “Bentara Rakyat” itu menjadi nama yayasan penerbt harian Kompas.

  Pendiri utama Kompas adalah tokoh organisasi Katolik, sedangkan pengasuh sehari- hari dipegang oleh P.K Ojong dan Jacob Oetama dengan otonomi professional yang penuh.

  Proses minta izin usaha dan izin terbit tidaklah mudah, karena PKI berusaha menghalangi, karena menguasai aparatur di bagian perizinan pusat dan daerah. Berkat usaha dan imingan dari Mgr. Soegipratama dan dukungan dari pimpinan Angkatan Darat Letnan Jendral Ahmad Yani serta ketekunan, maka tahap demi tahap dapat dilewati. Pada tanggal 28 Juni 1965 terbitlah edisi pertama harian Kompas dengan tampilan sangat sederhana sebanyak 4.800 eksemplar dan meningkat menjadi 8.003 pada edisi berikutnya. Kehadiran Kompas akhirnya dirasakan PKI sebagai ancaman. Segera mereka bereaksi keras mengeluarkan hasutan kepada rakyat.

  Dalam perjalanannya pada tahun 1972 barulah Kompas mampu memiliki percetakan sendiri, yaitu “Percetakan Gramedia”. Semula Kompas hanya terbit sebanyak 4 halaman, kemudian mengalami perkembangan menjadi 16 halaman dan terbit 7 kali dalam seminggu. Dengan adanya Undang-Undang Pokok Pers pada tahun 1982 dan ketentuan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) yang mewajibkan penerbitan pers berbadan hukum, maka penerbit Kompas beralih ke PT. Kompas Media Nusantara sejak tahun1985. Sepanjang gerakan Kompas pernah dua kali dilarang terbit olaeh pemerintah, dan kedua larangan itu merupakan larangan massal. Pertama setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965, dilarang terbit pada tanggal 2 Oktober 1965 sampai 6 Oktober 1965. Kedua, setelah terjadinya demokrasi mahasisswa pada tahun 1978, Kompas bersama beerapa harian daerah dilarang terbit.

  Dalam sejarah perkembangan sirkulasinya, harian Kompas yang kemudian sudah menjadi harian nasional, meningkat cukup pesat. Hal itu dapat dilihat dari jumlah sirkulasi harian Kompas pada Juni 1965 yang erjumlah 7.739 eksemplar meningkat menjadi 526.611 eksemplar pada Juni 1990, yang tersebar luas di seluruh Indonesia.

  III.1.2 Visi, Misi dan Motto Harian Kompas

  III.1.2.1 Visi Harian Kompas Kompas memiliki visi yang ingin dicapai dalam kedudukannya sebgai media. Adapun

  visi Kompas , yaitu: “Menjadi institusi yang memberikan pencerahan bagi perkembangan

  

masyarakat Indonesia yang demokratis dan bermartabat, serta menjunjung tinggi asa dan

nilai kemanusiaan.

  III.1.2.2 Misi Harian Kompas

  Misi harian Kompas ialah: “Mengantipasi dan merespon dinamika masyarakat secar

  

profesional, sekaligus memberi arah perubahan (trend setter) dengan menyediakan dan

menyebarluaskan informasi yang terpercaya”.

  III.1.2.3 Motto Harian Kompas

  Harian Kompas mengemban motto “Amanat Hati Nurani Rakyat”. Motto ini merupakan hasil pilihan yang matang, timbul dari keprihatinan, penghayatan dari nasib hati nurani rakyat yang pada saat itu dimanipulasi oleh PKI.

  III.1.2.4 Nilai-Nilai Dasar Harian Kompas

  Harian Kompas menganut falsafah bahwa seluruh kegiatan dan keputusan yang akan diambil harus didasrkan pada nilai dasar. Nilai dasar tersebut akan memaksimalkan kepuasan pelanggan harian Kompas. Nilai-nilai harian Kompas tersebut adalah: ci. Menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabatnya. cii. Mengutamakan watak baik. ciii. Profesionalisme. civ. semangat kerja tim. cv. Berorientasi pada kepuasan konsumen (pembaca, pengiklan, mitra kerja, dll). cvi. Tanggung jawab sosial

III.2 Metode Penelitian

  Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian teks. Teks sebagai materi penelitian memiliki fungsi: teks sebgai objek penelitian yang meliputi sebagai representasi dari ciri kelompok yang diteliti dan dari situasi yang diteliti. Dalam penelitian ini konstruksi teks/berita sebagai objek penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis framing Robert Entman (Titscher,2009:55).

  Framing bersama semiotik dan analisis wacana berada dalm rumpun analisis isi.

  Sebagai kelanjutan analisi isi konvensional, analisis framing meninggalkan analisis isi konvensional karena ketidakmampuan analisis isi membaca urgensi pesan sebagai bagian terpenting dari analisis sosial.

  Framing dapat dipandang sebagai penempatan atau pembingkaian informasi, fakta,

  realitas dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi yang benar daripada isu yang lain. Perangkat framing menurut Entman adlaah sebagai berikut:

  Perangkat Analisis Framing Robert Entman Defenisi Masalah (Defining Problem)

  Bagaimana suatu peristiwa dilihat? Sebagai apa?

  Atau sebagai masalah apa? Peristiwa itu dilihat disebabkan apa?

  Memperkirakan Sumber Masalah (Diagnose Causes) Apa yang dianggap sebagai penyebab dari

  suatu masalah? Siapa aktor yang dianggap sebagai penyebab masalah?

  Membuat Keputusan Moral Nilai moral apa yang disajikan untuk (Make Moral Judgement) menjelaskan masalah?

  Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi/mendelegitimasi suatu tindakan? Penyelesaian apa yang ditawarkan media

  Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation) untuk mengatasi maslah itu?

  Jalan yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasinya?

  

(Sumber: Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media)

   III.2.1 SUBJEK PENELITIAN

  Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah:

  a. Berita tentang Ujian Nasional 2011 pada harian Kompas yang terbit dari tanggal 16 April sampai dengan tanggal 18 Mei 2011.

  b. Berita yang muncul mengenai Ujian Nasional 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal.

  c. Berita yang memberitakan proses dan pelaksanaan Ujian Nasional 2011 baik itu sebelum dan sesudah Ujian Nasional 2011, serta hal-hal yang terkait dengan Ujian Nasional 2011.

  d. Berita yang memuat berita tentang Ujian Nasional 2011 untuk tingkat SMA sederajat.

  III.2.2 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  6. Studi dokumenter, yaitu data-data unit analisis dikumpulkan dengan cara mengumpulkan data dari berita-berita di harian Kompas yang memuat berita tentang Ujian Nasional 2011. Berita-berita tersebut kemudian dikliping, ditabulasikan dan selanjutnya dilakukan analisis data.

  

Daftar Berita Ujian Nasional 16 April s/d 18 Mei 2011

  No Tanggal Judul Berita

  7. Studi kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulakan data melalui literatur dan sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Dalam hal ini penelitian kepustakaan dilakukan dengan membaca buku-buku, literatur serta tulisan yang berkaitan dengan masalah dibahas.

III.2.3 TEKNIK ANALISIS DATA

  Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca atau dipresentasikan (Singarimbun,1995:263). Dilihat dari kemungkinan banyaknya jumlah artikel berita harian Kompas, maka peneliti akan menyederhanakan dalam bentuk analisis dua tahap. Tahap tersebut adalah:

  4. Dengan metode analisis isi tekstual secara konvensional kuantitatif untuk mengetahui isu-isu yang dianggap menonjol yang membantu dalam pemilihan berita yang akan dikonstruksi. Dalam penelitian ini kategorisasi yang digunakan peneliti adalah berdasarkan jumlah paragraph, jenis berita, posisi berita, rubrik berita, nama dan atribut sosial narasumber dan isu yang menonjol dalam berita. Kemudian kategorisasi tersebut akan ditabulasikan berdasarkan jumlah, frekuensi dan persentase.

  Contoh Tabel Jumlah Paragraf

No. Jumlah Paragraf Frekwensi %

  1 6 s/d 10 2 11 s/d 15 3 16 s/d 20

  4

  ≥ 21 Contoh Tabel Jenis Berita No Jenis Berita Frekwensi %

  1 Straight News

  2 Depth News

  3 Comprehensive News

  4 Interpretatif News

  Contoh Tabel Posisi Berita No Posisi Berita Frekuensi %

  1 Headline

  2 Halaman depan bukan headline

  3 Halaman Lain

  Contoh Tabel Rubrik no Rubrik Frekuensi %

  1 Politik dan Hukum

  2 Bisnis dan Keuangan

  Contoh Tabel Narasumber No Narasumber Frekuensi %

  1 Pemerintah

  2 Akademisi

  3 Aktivis

  4 Ahli

  5 Politisi

  6 Masyarakat

   Contoh Tabel Isu-Isu yang Ditonjolkan No Isu yang Ditonjolkan % Frekuens i

  1 Proses berjalannya UN

  2 Kecurangan dalam pelaksanaan UN

  3 Kritik terhadap pelaksanaan UN

  4 Tingkat kelulusan/ketidak lulusan UN

  5 Tindakan/sanksi hukum 5. Analisis kualitatif dalam konstruksi berita yang dipilih oleh peneliti untuk diteliti.

  Berita yang akan diteliti kemudian ditabulasikan berdasarkan berita yang diteliti dan frame isi pemberitaan, yaitu pendefenisian masalah, memperkirakan masalah atau sumber, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian.

  1. Pendefenisian masalah (define problem), yaitu bagaimana suatu peristiwa dilihat? Atau sebagai masalah apa?

  2. Memperkirakan masalah (diagnose causes), yaitu melihat peristiwa disebabkan apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah?

  3. Membuat keputusan moral (make moral judgement), yaitu nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi suatu tindakan?

  4. Menekankan penyelesaian (Treatment recommendation), yaitu penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?

BAB IV HASIL PENELITIAN Pada saat melaksanakan penelitian, peneliti melakukan berbagai tahapan dalam proses

  pengumpulan data. Tahap pertama yang dilakukan peneliti adalah pengumpulan data penelitian dari harian Kompas. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumenter, yaitu data-data unit analisis dikumpulkan dengan cara mengumpulkan data dari berita-berita di harian Kompas yang memuat berita tentang Ujian Nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK, yang muncul dari tanggal 16 April sampai dengan tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal. Berita-berita tersebut kemudian dikliping, ditabulasikan dan selanjutnya dilakukan analisis data.

  Kemudian data-data yang sudah terkumpul, dianalisis lebih lanjut oleh peneliti. Analisis dilakukan dengan dua tahap. Pertama, dilakukan analisis tekstual secara konvensional kuantitatif untuk mengetahui isu-isu yang dianggap menonjol yang membantu dalam pemilihan berita yang akan dikonstruksi. Dalam penelitian ini kategorisasi yang digunakan peneliti adalah berdasarkan jumlah paragraph, jenis berita, posisi berita, rubrik berita, nama dan atribut sosial narasumber dan isu yang menonjol dalam berita. Kemudian kategorisasi tersebut akan ditabulasikan berdasarkan jumlah, frekuensi dan persentase.

  Analisis berikutnya adalah analisis kualitatif dalam konstruksi beberapa berita yang dipilih oleh berdasarkan kategori yang sudah ditentukan peneliti untuk diteliti.

  Berita yang akan diteliti kemudian ditabulasikan berdasarkan berita yang diteliti dan

  frame isi pemberitaan, yaitu pendefenisian masalah, memperkirakan masalah atau sumber, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian.

  Sesuai dengan teknik penelitian dan kurun waktu yang ditentukan peneliti dalam pengumpulan berita pada harian Kompas terdapat 11 berita, yaitu yang tertera dalam tabel 9.

  Tabel 9

Daftar Berita Ujian Nasional SMU/SMA/SMK 16 April s/d 18 Mei 2011

No. Tanggal Judul Berita

  1

  16 April 2011 Sekolah Katrol Nilai Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  2

  18 April 2011 Menjelang UN, Siswa Dikarantina Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  3

  19 April 2011 Pengawasan UN Ketat Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  4

  19 April 2011 Ujian Nasional SMALB Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  5

  19 April 2011 Depok Kekurangan Soal UN Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  6

  20 April 2011 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  7

  21 April 2011 Masih Ada Kecurangan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  8

  23 April 2011 Dana UN Terlambat Cair Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu

  9

  14 Mei 2011 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Angka Kelulusan 99.22 Persen

  10

  16 Mei 2011 Kelulusan Siswa Naik Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  11

  18 Mei 2011 Perhatian Khusus Pemerintah untuk NTT Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  

Sumber: Data Penelitian

V.I.I Analisis Isi Tekstual

  Analisis isi sebagai teknik penelitian memiliki prosedur-prosedur dalam pemrosesan data penelitian. Karena penelitia ini bertujuan memberikan pengetahuan, wawasan, menyajikan fakta dan panduan praktis pelaksanaannya. Analisis isi dapat didefenisikan sebagai teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara objektif, sistematik, dan kuantitatif isi komunikasi yang tampak.

  Berita yang telah dipilih, kemudian dianalisis berdasarkan kategori-kategori yang sudah ditentukan dari sebelumnya. Kategori tersebut adalah; a. Jumlah Paragraf

  Jumlah paragraph menggambarkan keseriusan media dalam mengulas sebuah topic dalam pemberitaanya. Dalam penelitian ini, pembagian berita berdasarkan jumlah paragraph dikelompokkan menjadi 6-10, 11-15, 16-20,

  ≥21

  b. Jenis Berita Kategori jenis berita yang di analisis adalah Straight News, Depth News, Comprehensive News, Interpretative News.

  c. Posisi Berita Penempatan berita pada halaman surat kabar memiliki nilai dan tingkat kepentingan berita yang berbeda-beda. Dalam berita ini posisi berita dikelompokkan menjadi

  headline, halaman depan bukan headline, halaman tengah, halaman lain.

  d. Rubrik Masing-masing berita diletakkan pada rubrik yang berbeda, sesuai dengan objek yang diberitakan. Jenis-jenis rubrik dalam penelitian ini adalah politik dan hukum, bisnis dan keuangan, pendidikan dan kebudayaan dan Lain-lain.

  e. Narasumber

  Pemilihan narasumber tergantung dan disesuaikan dengan topic yang hendak dibahas atau diulas. Setiap narasumber yang dipilih adalah orang-orang yang dengan pendapatnya dapat memperjelas suatu permasalahan. Dalam penelitian ini pihak- pihak yang masuk kategori narasumber adalah pemerintah, akademisi (kepala sekolah, guru, dosen, dll), aktivis, ahli, politisi, masyarakat.

  f. Isu yang diangkat Isu yang diangkat dalam penelitian ini, digolongkan dalam proses berjalannya UN, kecurangan dalam pelaksanaan UN, kritik terhadap pelaksanaan UN, tingkat kelulusan/ketidaklulusan UN, tindakan sanksi hukum, dan masalah teknis pelaksanaan UN.

  Berdasarkan kategorisasi yang telah ditentukan dalam penelitian ini, diperoleh profil berita berdasarkan halaman:

  

Tabel 10

Profil berdasarkan Halaman

No. Judul Berita Halaman

  1 Sekolah Katrol Nilai

  12 Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  2 Menjelang UN, Siswa Dikarantina

  12 Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  3 Pengawasan UN Ketat

  12 Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  4 Ujian Nasional SMALB

  12 Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  5 Depok Kekurangan Soal UN

  26 Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  6 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN

  12 Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  7 Masih Ada Kecurangan

  12 Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  8 Dana UN Terlambat Cair

  12 Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu 9 16.098 Siswa Tidak Lulus UN

  12 Angka Kelulusan 99.22 Persen

  10 Kelulusan Siswa Naik

  12 Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  11 Perhatian Khusus Pemerintah untuk

  12 NTT Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  ( Sumber: Data Penelitian ) Tabel 11 Profil Berdasarkan Jenis Berita No. Judul Berita Jenis Berita

  1 Sekolah Katrol Nilai Straight news Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  2 Menjelang UN, Siswa Dikarantina Straight news Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  3 Pengawasan UN Ketat Straight news Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  4 Ujian Nasional SMALB Straight news Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  5 Depok Kekurangan Soal UN Straight news Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  6 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN Straight News Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  7 Masih Ada Kecurangan Straight News Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  8 Dana UN Terlambat Cair Straight News Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu 9 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Straight news Angka Kelulusan 99.22 Persen

  10 Kelulusan Siswa Naik Straight news Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  11 Perhatian Khusus Pemerintah untuk NTT Straight news

  Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  (Sumber: Data Penelitian ) Tabel 12 Profil Berdasarkan Rubrik No. Judul Berita Rubrik

  1 Sekolah Katrol Nilai Pendidikan & Kebudayaan Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  2 Menjelang UN, Siswa Dikarantina Pendidikan & Kebudayaan Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  3 Pengawasan UN Ketat Pendidikan & Kebudayaan Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  4 Ujian Nasional SMALB Pendidikan & Kebudayaan Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  5 Depok Kekurangan Soal UN Metropolitan Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  6 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN Pendidikan & Kebudayaan Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  7 Masih Ada Kecurangan Pendidikan & Kebudayaan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  8 Dana UN Terlambat Cair Pendidikan & Kebudayaan Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu 9 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Pendidikan & Kebudayaan Angka Kelulusan 99.22 Persen

  10 Kelulusan Siswa Naik Pendidikan & Kebudayaan Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  11 Perhatian Khusus Pemerintah untuk NTT Pendidikan & Kebudayaan Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  ( Sumber: Data Penelitian ) Tabel 13 Profil Berdasarkan Jumlah Paragraf No. Judul Berita Jumlah Paragraf

  1 Sekolah Katrol Nilai

  11 Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  2 Menjelang UN, Siswa Dikarantina

  13 Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  3 Pengawasan UN Ketat

  13 Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  4 Ujian Nasional SMALB Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  1 Sekolah Katrol Nilai Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-

  7 Masih Ada Kecurangan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  Pemerintah

  6 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  Pemerintah

  5 Depok Kekurangan Soal UN Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  Pemerintah

  4 Ujian Nasional SMALB Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  Pemerintah Akademisi

  3 Pengawasan UN Ketat Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  Akademisi Pemerintah

  2 Menjelang UN, Siswa Dikarantina Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  9 Akademisi Pemerintah

  ( Sumber: Data Penelitian ) Tabel 14 Profil Berdasarkan Narasumber No. Judul Berita Narasumber

  9

  13

  11 Perhatian Khusus Pemerintah untuk NTT Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  14

  10 Kelulusan Siswa Naik Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  12

  11 9 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Angka Kelulusan 99.22 Persen

  8 Dana UN Terlambat Cair Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu

  11

  7 Masih Ada Kecurangan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  19

  6 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  17

  5 Depok Kekurangan Soal UN Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  Akademisi Pemerintah

  8 Dana UN Terlambat Cair Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu

  5 Depok Kekurangan Soal UN Siswa Jangan Percaya Bocoran Soal dan Jawaban

  Tingkat kelulusan/ketidaklulusan UN Masalah teknis pelaksanaan UN

  11 Perhatian Khusus Pemerintah untuk NTT Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  Tingkat kelulusan/ketidaklulusan UN

  10 Kelulusan Siswa Naik Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  Tingkat kelulusan/ketidaklulusan UN

  Masalah Teknis pelaksanaan 9 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Angka Kelulusan 99.22 Persen

  8 Dana UN Terlambat Cair Sekolah Terpaksa Menalangi Dulu

  Kecurangan dalam pelaksanaan UN Masalah teknis pelaksanaan Kritik terhadap pelaksanaan UN

  7 Masih Ada Kecurangan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  Sanksi/tindakan hukum Masalah Teknis pelaksanaan

  6 Sejumlah Siswa Tak Ikut UN Ada yang Menikah, Ada yang Sudah Bekerja

  Masalah teknis pelaksanaan Kebocoran kunci jawaban Tingkat Kelulusan/ketidaklulusan UN

  Proses berjalannya UN

  Akademisi Aktivis Pemerintah 9 16.098 Siswa Tidak Lulus UN

  4 Ujian Nasional SMALB Perlunya Membuka Akses Bagi Mereka....

  Masalah teknis pelaksanaan Kebocoran soal dan kunci jawaban

  3 Pengawasan UN Ketat Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  Proses berjalannya UN Kritik terhadap pelaksanaan UN

  2 Menjelang UN, Siswa Dikarantina Pengamanan Lembar Soal Diperketat

  Masalah teknis pelaksanaan UN Kecurangan dalam UN

  1 Sekolah Katrol Nilai Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  

( Sumber: Data Penelitian )

Tabel 15

Profil Berita Berdasarkan Isu yang Diangkat

No. Judul Berita Isu yang Diangkat

  Pemerintah

  11 Perhatian Khusus Pemerintah untuk NTT Nilai UN 11 Siswa di Temanggung Tak Keluar

  Pemerintah

  10 Kelulusan Siswa Naik Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  Angka Kelulusan 99.22 Persen Pemerintah

  

( Sumber: Data Penelitian ) Berdasarkan profil berita tersebut, kemudian dilakukan pendataan frekuensi berita berdasarkan jumlah paragraph, jenis berita, posisi berita, rubrik, narasumber, dan isu-isu yang diangkat. Pendataan berdasarkan jumlah paragraph dapat dilihat dalam tabel 16.

  

Tabel 16

Frekuensi Jumlah Paragraf

No. Jumlah Paragraf Frekwensi %

  1 6 s/d 10 1 9.1% 2 11 s/d 15 8 72.7% 3 16 s/d 20 2 18.2%

  4 0%

  ≥ 21

( Sumber: Data Penelitian )

  Dari Tabel 16 diatas melalui persentase jumlah paragraph dapat kita lihat sebesar 72.7 persen berita ujian nasional dibahas dalam 11s/d15 paragraf, dengan jumlah paragraph 16-20 sebesar 18.2 persen, dan 6s/d10 paragraf sebesar 9.1 paragraf. Harian Kompas sepertinya tidak terlalu dalam mengupas pemberitaan ujian nasional. Sebuah berita yang dianggap penting seyogianya akan dibahas dalam wacana yang relatif panjang, sehingga mampu untuk mengangkat dan mengupas suatu berita secara tajam dan mendalam untuk meningkatkan kepuasan khalayak akan kebenaran berita/fakta tersebut dan juga menggali faktor-faktor yang mempengaruhi atau yang terkait dengan suatu berita. Singkat atau panjangnya ruang yang disediakan untuk suatu berita akan berpengaruh terhadap analisis yang dilakukan. Dalam hal ini harian Kompas tidak membedah fakta-fakta tentang ujian nasional 2011 layaknya sebagai berita yang dianggap penting. Karena tidak ada satu berita pun yang dibahas lebih dari 20 paragraf, dan 8 dari 11 berita atau sebesar 72.7% dibahas dalam paragraph yang relatif singkat yaitu 11-15 paragraf.

  Kemudian pendataan berdasarkan jenis berita, dapat dilihat dalam tabel 17 di bawah ini:

  

Tabel 17

Frekuensi Jenis Berita

No Jenis Berita Frekwensi %

  1 Straight News 11 100%

  2 Depth News 0%

  3 Comprehensive News 0%

  4 Interpretatif News 0%

  

( Sumber: Data Penelitian )

  Berdasarkan data hasil penelitian tentang jenis berita, dalam pemberitaan ujian nasional 2011 ini harian Kompas mengemas keseluruhan berita dalam jenis straight news dengan persentase 100 persen. Dimana jenis berita straight news, memberitakan dengan lengkap tetapi tidak terlalu mendalam, hanya sepotong-sepotong tentang fakta yang ada dalam sebuah kejadian atau masalah. Tidak ada berita yang ditulis dalam depth news dimana berita yang ditulis adalah kelanjutan dari sebuah berita yang masih belum selesai pengungkapannya secara mendalam, tajam, lengkap, dan aktual. Ataupun comprehensive

  

news yang memuat laporan tentang fakta yang bersifat menyeluruh ditinjau dari berbagai

  aspek. Dalam berita tersebut juga, tidak ada berita yang memuat interpretasi dalam bentuk uraian maupun komentar oleh penulis. Dari muatan dan penuturan berita dapat dilihat berita tersebut dianggap penting atau tidak. Sehingga pembagian berita yang tidak berimbang, dapat dicermati berita tersebut kurang dianggap penting atau tidak.

  Pendataan posisi berita dalam surat kabar apakah ditempatkan di headline, halaman depan bukan headline, halaman tengah, atau halaman lain dapat dilihat dalam tabel 18 berikut:

  

Tabel 18

Frekuensi Posisi Berita

No Posisi Berita Frekuensi %

  1 Headline 0%

  2 0%

  Halaman depan bukan headline

  3 Halaman tengah 10 90.9%

  4 Halaman lain 1 9.1%

  

( Sumber: Data Penelitian )

  Letak berita dalam suatu surat kabar berhubungan dengan tingkat prioritas berita tersebut dalam agenda surat kabar. Lembar demi lembar memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Berita yang dianggap penting oleh media biasanya akan ditempatkan di posisi strategis dan gampang dibaca yaitu di halaman depan atau headline, atau ada juga yang ditempatkan di halaman belakang, tetapi ini lebih jarang terjadi. Dalam pemberitaan ujian nasional 2011 pada harian Kompas ini hampir semua berita ditempatkan pada halaman tengah. Ditempatkan pada rubrik pendidikan dan kebudayaan sebesar 90.9 % atau 10 dari 11 berita, sedangkan satu lagi sebesar 9.1% berada pada rubrik metropolitan. Dan tidak ada satu pun berita yang ditempatkan pada halaman depan atau headline, sekalipun pada hari-H pelaksanaan ujian nasional 2011. Harian Kompas tidak menjadikan berita tentang ujian nasional ini menjadi agenda utamanya. Ujian nasional tidak menjadi berita yang memiliki nilai lebih dan layak ditonjolkan. Berita-berita yang diklasifikasikan sesuai dengan rubrik masing-masing cenderung memiliki nilai yang sama.

  Pendataan frekuensi kemunculan berita dalam rubrik tertentu dapat dilihat dalam

  tabel 19 berikut ini:

Tabel 19

Frekuensi Rubrik

  No Rubrik Frekuensi %

  1 Pendidikan & Kebudayaan 10 90.9%

  2 Politik & Hukum 0%

  3 Bisnis dan Keuangan 0%

  4 Lain-lain 1 9.1%

  

( Sumber: Data Penelitian )

Berdasarkan tabel 19 di atas dapat dilihat penggolongan berita berdasarkan rubriknya.

  Sangat jelas kelihatan bahwa berita ujian nasional 2011 hampir 100 % ditempatkan pada rubrik pendidikan dan kebudayaan, yaitu 10 dari 11 berita atau sebesar 90.9 %, dan 1 berita atau 9.1 persen di rubrik lain-lain. Dalam harian Kompas itu sendiri ada bermacam-macam rubrik. Tetapi berita ujian nasional dalam harian Kompas hanya memandang dari satu sisi saja. Kalau dilihat dari halamannya, rubrik pendidikan ini berada pada halaman 12. Semakin berita itu diposisikan ke halaman belakang, tingkat strategisnya untuk dibaca masyarakat semakin berkurang. Disamping itu, harian Kompas terlihat kurang berimbang dalam meliput berita karena hanya memandang dari segi pendidikan saja. Ujian nasional memiliki anggaran dana yang cukup besar dan layak untuk dievaluasi. Tetapi dalam berita ujian nasional 2011 sama sekali tidak dilihat dari sudut pandang ekonomi. Berapa dana ynag dikucurkan, apakah sesuai atau melebihi dan apakah dana yang dikeluarkan dianggap layak dengan pelaksanaan ujian nasional tersebut. Begitu juga dari segi politik dan hukum, dari sepanjang proses persiapan, pelaksanaan sampai kepada pasca-UN ada beberapa kendala yng dihadapi baik itu dari segi teknis maupun kecurangan yang diberitakan, tetapi harian Kompas tidak memuat pandangan ataupun pendapat pihak politik ataupun hukum. Dengan demikian pemberitaan ujian nasional 2011 kurang berimbang dalam meliput berita dari sisi pandang lain.

  Pendataan frekuensi kemunculan siapa yang menjadi narasumber dalam berita, seperti pemerintah, akademisi, ahli, aktivis, masyarakat, dll dapat dilihat dalam tabel 20 berikut:

  

Tabel 20

Frekuensi Narasumber

Narasumber Frekuensi % No

  1 Pemerintah 12 66.7%

  2 Akademisi 5 27.8%

  3 Aktivis 1 5.6%

  4 Ahli 0%

  5 Politisi 0%

  6 Masyarakat 0%

  

( Sumber: Data Penelitian )

  Berdasarkan tabel 20 dapat dilihat bahwa narasumber yang digunakan oleh harian

  

Kompas dalam pemberitaan ujian nasional 2011 ini didominasi oleh pihak pemerintah, yaitu

  sebanyak 66.7 % atau 12 dari 18 narasumber. Karena memang pada dasarnya ujian nasional merupakan program pemerintah pusat, khusunya dinas pendidikan. Berikutnya dari pihak akademisi pendidikan seperti kepala sekolah dan guru sebesar 27.8 %. Mengingat ujian nasional merupakan evaluasi dari program belajar mengajar yang dilakukan di setiap sekolah.

  Juga golongan akademisi ini mengetahui bagaimana perjalanan ujian nasional mulai dari persiapan sampai kepada pengumuman. Oleh karena itu harian Kompas memberi porsi lebih kepada pemerintah dan akademisi sebagai narasumber. Sayangnya pandangan dari narasumber lain sangat sedikit, hanya ada 1 narasumber dari golongan aktivis. Memang penentuan narasumber, diambil berdasarkan pokok masalah yang sedang dibahas. Tetapi apabila narasumber didominasi hanya dari sepihak golongan, maka akan berdampak terhadap berita, yaitu pandangan tidak bervariasi disebabkan pendapat yang ada hanya dari kacamata pemerintah dan akademisi. Berita ujian nasional ini akan lebih tereksplor apabila pandangan dari narasumber lain dimuat sebagai pembanding dari narasumber dominan di atas. Misalnya pendapat yang dikeluarkan oleh pemerintah dipertemukan dengan pandangan dari pengamat pendidikan atau pandangan dari organisasi kemasyarakatan, tentunya akan menghasilkan pemikiran yang lebih kritis. Jadi pendapat pemerintah yang sebahagian besar menilai ujian nasional tahun ini secara teknis dan hasil lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, tidak diterima begitu saja. Tetapi dikaji ulang lagi dengan memuat pandangan dari narasumber yang memandang ujian nasional ini dari luar.

  Data frekuensi kemunculan isu yang dibahas dipaparkan dalam tabel 21 berikut di bawah:

  

Tabel 21

Frekuensi Isu yang Ditonjolkan

No Isu yang Ditonjolkan Frekuensi %

  1 Proses berjalannya UN 2 10%

  2 Kecurangan dalam pelaksanaan UN 4 20%

  3 Kritik terhadap pelaksanaan UN 2 10%

  4 Tingkat kelulusan/ketidak lulusan UN 4 20%

  5 Tindakan/sanksi hukum 1 5%

  6 Masalah teknis pelaksanaan UN 7 35%

  

( Sumber: Data Penelitian )

  Isu yang diangkat dalam berita ujian nasional 2011 tentunya berkisar seputar pelaksanaan ujian nasional 2011. Berhubungan dengan pelaksanaan suatu program tentu ada persiapan dan evaluasi yang dilakukan sebelum dan setelah pelaksanaan program. Dalam hal teknis pelaksanaan juga pastinya akan ditemukan beberapa kendala. Dan dalam berita ujian nasional 2011 ini dapat dilihat bahwa isu yang paling sering muncul adalah masalah teknis pelaksanaan UN, yaitu sebanyak 7 kali dan sebesar 35 persen. Masalah teknis yang paling muncul antara lain kekurangan soal, kekurangan dana, kesalahan menghitung peserta ujian, nilai siswa tidak keluar, dan peserta yang tidak mengikuti ujian. Isu tentang kecurangan berupa dugaan kebocoran soal dan guru memberikan contekan muncul 4 kali sebesar 20 persen. Dengan frekuensi dan persentase yang samaisu tentang tingkat kelulusan dan ketidaklulusan muncul dengan frekuensi yang sama dengan isu kecurangan. Sementara isu tentang sanksi hukum bagi pihak yang melakukan kecurangan hanya muncul 1 kali saja sebesar 10 persen. Walau tidak diperjelas apa yang menjadi sanksi tersebut. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa isu-isu yang diangkat dalam berita ujian nasional 2011 ini kurang mendalam.

IV.2.2 ANALISIS FRAMING

  Sebagaimana telah ditentukan dalam Bab III, sebanyak 11 berita yang telah dikumpul, setelah dilakukan analisis konvensional maka dilakukan analisis framing (pembingkaian).

  Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah framing yang diperkenalkan oleh

  

Robert Entman. Adapaun berita yang akan diframe sebanyak 5 berita. Berita yang akan di

frame ini merupakan pilihan dari setiap kategori dalam analilis teks yang telah dilakukan

sebelumnya. Daftar berita yang akan di frame dapat dilihat pada tabel 22.

  

Tabel 22

Daftar Berita yang Diteliti

No. Tanggal Judul Berita

  1

  16 April 2011 Sekolah Katrol Nilai Lebih dari 52 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  2

  19 April 2011 Pengawasan UN Ketat Sejumlah Sekolah Memasang Kamera Pengawas

  3

  21 April 2011 Masih Ada Kecurangan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  4

  14 Mei 2011 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Angka Kelulusan 99.22 Persen

  5

  16 Mei 2011 Kelulusan Siswa Naik Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  

( Sumber ; Data Penelitian

IV.2.2.1 Frame Berita 1 . Frame berita 16 April 2011 Judul: Sekolah Katrol Nilai Lebih dari 58 Persen Murid Mendapat Nilai 8-9

  JAKARTA, KOMPAS-Banyak sekolah diduga mengatrol nilai siswanya. Langkah tersebut dilakukan karena mulai tahun ini nilai sekolah dipertimbangkan dalam menentukan kelulusan siswa, selain nilai ujian nasional.

  “Hasil perolehan murid tidak wajar karena didominasi nilai 8 dan 9” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mohammad Abduhzen.

  Sebelumnya Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Jumat (15/4), mengatakan, nilai siswa di jenjang SMA/MA/SMALB menunjukkan mayoritas nilai murid memperoleh nilai 8 dan 9. Dari 1,5 juta total peserta didik, sebanyak 870.559 murid (58,66 persen) mendapat nilai 8-9 dan sebanyak 542.210 murid (38,54 persen) mendapat nilai 7-8. Hanya 27.081 murid (1,82 persen) yang mendapat nilai 6-7 serta masih ada 510 murid yang mendapat nilai 5-6 dan 76 murid dengan nilai kurang dari 5.

  Distribusi nilai sekolah secara nasional di SMA/MA/SMALB menunjukkan nilai rata- rata sekolah 8,11 dengan nilai minimum 4,05 dan nilai maksimum 9,99. Sementara di SMK nilai rata-ratanya 8,12 dengan nilai nilai minimum 4.6 dan nilai maksimum 9,92. Diberi Insentif

  Mohammad Abduhzen, mengatakan, tingginya nilai siswa tersebut karena adanya ketentuan komposisi nilai UN dan nilai sekolah sebesar 60 banding 40. “Komposisi ini menuntut sekolah membekali murid dengan nilai tinggi untuk mengantisipasi kalau nilai UN rendah,” kata Abduhzen.

  Menurut Nuh sekolah yang memperoleh nilai UN lebih tinggi dari nilai sekolah berarti kualitas sekolah itu telah melebihi standart nasional dan akan diberikan insentif dengan pengakuan akreditasi. Sebaliknya, jika nilai sekolah yang lebih tinggi atau disparitasnya terlalu jauh dari nilai UN, akan diberikan disinsentif.

  “Kalau nilainya terlalu berbeda jauh, berarti ada upaya guru atau sekolah memberikan perlakuan belas kasihan pada penilaian murid,” kata Nuh.

  Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas Mansyur Ramli mengingatkan , murid yang memperoleh nilai sekolah di kisaran 4-5 harus berusaha lebih keras saat UN.

  Menurut Ramly, hasil perbandingan nilai sekolah dan nilai UN akan digunakan untuk memetakan kondisi sekolah dan kemampuan murid. Persiapan UN

  Dari berbagai daerah dilaporkan, menjelang ujian nasional tingkat SMA sederajat pada Senin (18/4), sejumlah sekolah mulai melakukan persiapan. Selain melakukan latihan soal, murid-murid juga melakukan doa bersama.

  Di Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan daerah bencana Gunung Merapi, siswa yang akan mengikuti ujian nasional diharapkan tinggal di sekolah dua hari menjelang ujian nasional.”Langkah ini untuk mengantisipasi jika terjadi banjir lahar dingin,” kata Sekretaris Panitia UN Kabupaten Magelang Haryono. UN di Kabupaten Magelang akan diikuti 3.966 siswa SMA/MA, dan 3.784 siswa SMK. Di daerah lain, soal mulai disebarkan. (LUK/UTI/CAS/COK/EGI/SIN/RAZ/TIF/ACI/SIR)

  Defining Problem

  Banyak sekolah-sekolah yang diduga mengatrol nilai siswanya. Karena sistem ujian nasional tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini nilai kelulusan adalah kolaborasi nilai ujian nasional dengan ujian sekolah. Kesempatan sekolah untuk meningkatkan angka kelulusan siswanya menjadi lebih besar peluangnya. Dengan menaikkan nilai sekolah, maka peluang kelulusan siswa makin besar pula. Sehingga deretan angka-angka itu, tidak semua sesuai dengan kemampuan siswa dan belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini dapat kita tangkap dari pembicaraan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI):

  “Hasil perolehan murid tidak wajar karena didominasi nilai 8 dan 9” “... nilai siswa di jenjang SMA/MA/SMALB menunjukkan mayoritas nilai murid memperoleh nilai 8 dan 9. Dari 1,5 juta total peserta didik, sebanyak 870.559 murid (58,66 persen) mendapat nilai 8-9 dan sebanyak 542.210 murid (38,54 persen) mendapat nilai 7-8. Hanya 27.081 murid (1,82 persen) yang mendapat nilai 6-7 serta masih ada 510 murid yang mendapat nilai 5-6 dan 76 murid dengan nilai kurang dari 5.”

  Diagnose Cause

  Pihak yang menjadi aktor utama dalam berita ini adalah pihak sekolah. Tingginya nilai sekolah siswa dikarenakan komposisi nilai kelulusan, yaitu 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai sekolah. Oleh karena itu sekolah berupaya mengatrol nilai siswa sedemikian rupa baiknya, sehingga natinya diharapkan apabila nilai ujian nasional siswa rendah dapat dibantu oleh nilai sekolah yang sudah dinaikkan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mohammad Abduhzen, mengatakan:

  “Komposisi ini menuntut sekolah membekali murid dengan nilai tinggi untuk mengantisipasi kalau nilai UN rendah,” Dari bahasa yang digunakan oleh Abduhzen, tidak ditangkap ketegasan akan hal ini. Seolah-olah menaikkan nilai siswa adalah suatu hal yang wajar. Pemerintah seharusnya peka terhadap masalah ini, karena kondisi seperti ini adalah kecurangan juga, yang bisa dikatakan sama dengan kecurangan tahun-tahun sebelumnya, yaitu kebocoran soal dan kunci jawaban UN. Apabila kondisi ini nantinya terus berlanjut, maka kemurnian hasil ujian nasional kembali menjadi hal yang abstrak. Ada baiknya sistem penilaian kombinasi antara nilai UN dan sekolah (60:40) yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia, dikaji ulang apa kelemahan dan keunggulannya, sehingga kedepan sistem ujian nasional lebih baik lagi.

  Make Moral Judgement

  Terkait dengan tingginya nilai siswa yang dikeluarkan oleh sekolah, pemerintah sudah mengambil langkah untuk memeriksa nilai tiap-tiap sekolah, dan bagi sekolah yang nilai ujian nasionalnya lebih tinggi daripada nilai sekolahnya akan mendapat insentif, seperti dikatakan menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh:

  “... sekolah yang memperoleh nilai UN lebih tinggi dari nilai sekolah berarti kualitas sekolah itu telah melebihi standart nasional dan akan diberikan insentif dengan pengakuan akreditasi. Sebaliknya, jika nilai sekolah yang lebih tinggi atau disparitasnya terlalu jauh dari nilai UN, akan diberikan disinsentif.”

  Tidak ada penjelasan lebih lanjut dengan insentif yang disebutkan, seperti kapan dilaksanakan dan bagaimana teknisnya. Dan untuk sekolah yang mrndapat disinsentif juga tidak disebutkan dalam bentuk apa.

  Wacana menggunakan kolaborasi nilai sekolah dan nilai UN untuk memetakan kondisi pendidikan sekolah, sudah beberapa kali disebutkan oleh pemerintah. Tetapi sepetinya pemerintah harus mengkaji ulang kebijakan tersebut. Karena dengan adanya pengkatrolan nilai siswa oleh sekolah, menyebabkan nilai yang didapatkan oleh siswa, belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa saja nilai tinggi secara kuantitas, tetapi sisi kualitas yang dilihat dari proses terbentuknya angka tersebut belum tentu berbanding lurus.

  Treatment Recommendation

  Di sepanjang uraian berita ini, tidak ditemukan jalan keluar yang ditawarkan pemerinah maupun harian Kompas akan masalah pengkatrolan nilai siswa ini. Padahal apabila dikaji ulang, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan Indonesia, khusunya dalam ujian nasional. Tindakan di atas merupakan tindakan pelanggaran peraturan, dan sama saja dengan kecurangan yang dihadapi tahun-tahun sebelumnya.

2. Frame berita 19 April 2011 Judul: Pengawasan UN Ketat Sejumlah Sekolah memasang Kamera Pengawas

  JAKARTA,KOMPAS- Ujian nasional SMA/SMK sederajat pada hari pertama, Senin (18/4), secara umum berlangsung lancar. Pengawasan juga berlangsung ketat sejak penyimpanan berkas soal, distribusi, hingga pengumpulan kembali soal dari para peserta UN.

  Bahkan sejumlah sekolah memasang kamera pengawas (CCTV) di ruang kelas untuk menjamin tidak ada kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Di SMA Negeri 1 Lamongan, Jawa Timur misalnya, kamera pengawas dipasang di sudut bagian atas ruangan sehingga aktivitas peserta dan pengawas UN bisa terpantau dari layar komputer yang terpasang di ruangan lain.

  “CCTV sudah bisa dipasang untuk memantau kelas yang kosong maupun aktivitas siswa selama jam belajar,” kata Kepala SMA Negeri 1 Lamongan Wanturo Putro. Di sejumlah daerah, UN masih diwarnai kekurangan soal.di Kabupaten Lembata,

  Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, UN diikuti 2.575 peserta, tetapi lembar jawaban yang tersedia hanya 1.075 lembar. “Kekurangan sekitar 1.500 lembar jawaban soal sudah kami kirim menggunakan pesawat sehingga masalah sudah teratasi,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT Tobias Uly.

  Di Makassar terjadi keterlambatan distribusi soal karena perwakilan sekolah harus mengambil soal di Dinas Pendidikan Kota Makasar. Akibatnya, beberapa sekolah harus mengantre terlalu lama sehingga terlambat menggelar UN.

  “Soal baru tiba di sekolah hampir pukul 08.00, padahal perwakilan sekolah sudah mengantre sejak pukul 06.00,” ujar Ketua Pnitia UN SMALB suster Benedicta Bororing di Makassar.

  Di Banyumas, seorang siswa SMK tidak bisa mengikuti UN karena dituding mencuri helm dan diminta pihak sekolah untuk mengundurkan diri. Di Medan, enam siswa SMA yang sedang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan

  Tanjung Gusta, Medan, tidak bisa mengikuti UN. “Padahal, Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta telah mempersiapkan para tahanan itu untuk bisa ikut ujian nasional,” kata Kepala Humas Departemen Hukum dan HAM Sumatera Utara, P. Siagian.

  Menurut dia, para siswa yang menjadi tahanan akan tetap diikut sertakan dalam UN susulan. “ Untuk itu mereka tidak perlu khawatir karena haknya untuk ikut UN tetap ada,” kata Ketua Penyelenggara UN Provinsi Sumut, Elias S Sitorus. Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Hasan Basri, asalkan siswa mau mengikuti UN.

  Pengaduan Di pos pengaduan Kementerian Pendidikan Nasional, pengaduan didominasi dugaan kebocoran naskah soal UN. Dari 18 aduan yang masuk pada hari pertama UN, mayoritas mengenai kekhawatiran soal yang bocor. Namun, sampai saat ini belum ditemukan bukti- bukti kebocoran soal.

  Salah satu aduan yang masuk adalah segel yang lecet pada amplop naskah soal UN di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara. “setelah dikonfirmasi segel lecet dalam proses pengiriman dari Medan Ke Padang Sidempuan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional, Mansyur Ramly.

  Selain aduan dari panitia UN Padang Sidempuan, ada pula aduan mengenai dugaan kebocoran soal dan beredarnya kunci jawaan soa ldi Fak-Fak, Papua Barat, tetapi belum ada bukti-buktinya. Jika aduan-aduan itu terbukti, kata Ramly, hasil UN di lokasi kebocoran soal akan langsung dibatalkan.

  Berbeda dengan tahun lalu, anggota Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, Teuku Ramly Zakaria, menyatakan aduan yang masuk tahun ini lebih sedikit. Tahun lalu aduan yang masuk pada hari pertama lebih dari 50 aduan yang mayoritas didominasi dugaan kebocoran soal. “Aduan yang masuk hanya kekhawatiran. Artinya pelaksanaan tahun ini relatif lebih baik,” ujarnya. (TIM KOMPAS)

  Defining Problem

  “ Ujian nasional SMA/SMK sederajat pada hari pertama, Senin (18/4), secara umum berlangsung lancar. Pengawasan juga berlangsung ketat sejak penyimpanan berkas soal, distribusi, hingga pengumpulan kembali soal dari para peserta UN. “ Demikian harian Kompas menulis pada paragraf pertama berita yang berjudul “ Pengawasan UN Ketat” dan subjudul “ Sejumlah Sekolah memasang kamera Pengawas”. mengangkat berita tentang pengawasn ujian nasional yang berjalan lancar. Bahkan di paragraf kedua dikatakan sejumlah sekolah memasang kamera pengawas (CCTV) di ruang kelas untuk menjamin tidak ada kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Apabila pembaca hanya membaca sekilas berita ini, bisajadi akan menangkap bahwa intinya adalah kesuksesan pengawasan ujian nasional. Tetapi pada paragraf berikutnya, sudah beralih topik, sehingga masalah pengawasan hanya dibahas dengan singkat.

  Masalah berikutnya yang dibahas adalah tentang pengaduan yang masuk ke Pos Pengaduan Kementrian Pendidikan Nasional. Pada hari pertama ada 18 aduan yang masuk, dan anggota Badan Standarisasi Nasional Pendidikan mengatakan bahwa pengaduan yang masuk hanya kekhawatiran kebocoran soal, yang berarti tidak ada pengaduan yang memastikan terjadinya kebocoran soal.

  Berita ini juga membahas beberapa masalah teknis pelaksanaan ujian nasional. Yang pertama, soal ujian tiba terlambat di lokasi ujian dari lokasi penyimpanan soal, dan baru diambil pada pagi hari pelaksanaan ujian. Sebaiknya pemerintah, panitia dan sekolah sudah memikirkan teknis yang tepat sebelumnya, sehingga halangan-halangan yang mungkin terjadi bisa dianstiipasi. Berikutnya ada juga daerah yang mengalami kekurangan naskah soal ujian. Tidak dijelaskan bagaimana soal ujian bisa kurang, hanya ditanggapi seolah kekurangan soal adalah permasalahan teknis yang sepele, seperti pernyataan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT Tobias Uly. berikut ini:

  “Kekurangan sekitar 1.500 lembar jawaban soal sudah kami kirim menggunakan pesawat sehingga masalah sudah teratasi,”

  Diagnose Cause

  Keterlambatan naskah soal terjadi karena masing-masing perwakilan sekolah untuk mengambil soal ke Kantor Dinas Pendidikan harus mengantre lama. Seharusnya sebelum hari-H pelaksanaan ujian, Dinas Pendidikan dan panitia ujian sudah memikirkan bagaimana sistem pembagian soal, sehingga perwakilan sekolah tidak perlu mengantri terlalu lama untuk mengambil soal.

  “...terjadi keterlambatan distribusi soal karena perwakilan sekolah harus mengambil soal di Dinas Pendidikan Kota Makasar. Akibatnya, beberapa sekolah harus mengantre terlalu lama sehingga terlambat menggelar UN.”

  “Soal baru tiba di sekolah hampir pukul 08.00, padahal perwakilan sekolah sudah mengantre sejak pukul 06.00,”

  Make Moral Judgement

  Terungkapnya kecurangan UN menjadi masalah sejak tiga tahun terakhir. Memang kecurangan-kecurangan itu telah mencoreng citra pendidikan itu sendiri apalagi hal itu terlihat telah diorganisir oleh badan pendidikan itu. Masyarakat, guru, siswa bahkan siapa saja bisa melihat kecuranagan itu. Itulah sebabnya pemerintah mendirikan pos pengaduan kecuranagn UN, sehingga siapa saja yang menemukan kecurangan dengan bebas dapat mengadukannya. Ujian nasinonal tahun ini pun pemerintah tetap mendirikan pos pengaduan.

  Dan kali ini pengaduan yang diterima tidak sebanyak tahun lalu.

  “...aduan yang masuk tahun ini lebih sedikit. Tahun lalu aduan yang masuk pada hari pertama lebih dari 50 aduan yang mayoritas didominasi dugaan kebocoran soal. “Aduan yang masuk hanya kekhawatiran. Artinya pelaksanaan tahun ini relatif lebih baik.”

  Treatment Recommendation

  Dalam berita ini, dari beberapa masalah yang diangkat dan dibahas tidak ada dibahas tentang jalan keluar dari masalah tersebut. Demikian juga dengan pihak pemerintah, tidak ada menawarkan jalan keluar.

3. Frame berita 21 April 2011 Masih Ada Kecurangan Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN

  JAKARTA,KOMPAS- Hingga hari kedua pelaksanaan ujian nasional jenjang SMA/SMK sederajat, tim pengawas dari perguruan tinggi masih menemukan kecurangan di sejumlah sekolah. Tim pengawas menilai sejumlah sekolah itu kurang percaya diri pada kemampuan murid-muridnya.

  “Akibatnya, guru membantu memberikan jawaban dan membiarkan muridnya mencontek di ruang ujian,” kata Ketua Kepengawasan dan Pemindaian Ujian Nasional (UN) DKI Jakarta Soeprijanto Rabu (20/4) di Jakarta.

  Kecurangan antara lain ditemukan di sekolah-sekolah yang masih menumpang di sekolah lain. “Ditemukan kasus penggandaan kunci lemari penyimpanan naskah soal. Masih diselidiki apakah naskah soalnya juga bocor,” kata Soeprijanto yang juga Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

  Soeprijanto mengatakan, pengawasan masih dilakukan oleh perguruan tinggi karena berharap akan ada peningkatan mutu UN. “Jika kejujuran dalam Un sudah ditegagkan, perguruna tinggi tidak perlu lagi menjadi pengawas UN,” katanya.

  Namun, jika kecurangan msaih terjadi, berarti kualitas UN masih rendah. Jika ini dibiarkan berlanjut, perfuruan tinggi belum bisa sepenuhnya percaya dan menerima Un sebagai “kunci masuk” ke PTN.

  Soeprijanto mengakui pengawas dari perguruan tinggi masih terbatas jumlahnya. Tahun ini dosen yang dilibatkan untuk melakukan pengawasan Un di DKI Jakarta berjumlah mencapai 1.391 orang dan ditugaskan untuk melakukan pengawasan di rayon serta berbagai SMA dan SMK.

  Kesalahan Menghitung

  Di DKI Jakarta masih terjadi kesalahan pencatatan jumlah peserta ujian nasional yang cukup signifikan.pada hari pertama ujian nasional, panitia pelaksana melaporkan ada 5.314 sisiwa yang tidak hadir dalam ujian Bahasa Indonesia. “Namun setelah diperikasa ulang, ternyata hanya 236 peserta yang tidak hadir,” kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.

  Kesalahan itu menurut Taufik Yudi, terjadi pada pendataan tingkat rayon. Di rayon 04 Jakarta Utara misalnya, dari 2.853 peserta UN, yang hadir tercatat 1.864 peserta.” Ternyata jumlah itu peserta dari kelas IPA, sedangkan peserta dari kelas IPS lupa tidak terhitung,” kata Taufik Yudi.

  Kesalah itu juga terjadi di Rayon 07 Jakarta Barat. Data awal menunjukkan ada 5.320 peserta, “Ternyata hanya ada 3.206 peserta,” kata Taufik. Dinas Pendidikan DKI Jakarta saat ini sedang menelusuri penyebab kesalahan-kesalahan tersebut.

  Prosedur pengamanan lembar jawaban UN, kata Taufik, para pengawas menghitung lembar jawaban, mencatatnya dan menyegelnya dalam amplop. Amplop kemudian diteruskan ke tingkat sekolah, rayon, dan terakhir dikumpulkan di kampus UNJ pada hari itu.

  Jumlah lembar jawaban yang masuk ke UNJ ini, sambung Taufik, belum termasuk peserta dari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Karena alas an jarak yang jauh, seluruh lembar jawaban dari Kepulauan Seribu akan disimpan dulu di ruang penyimpanan naskah masing-masing rayon. (LIK/ARN/MDN/(ACI/ENG).

  Defining Problem

  Sejak tiga tahun lalu, kasus terungkapnya kecurangan UN menjadi pembicaraaan yang hangat ditengah masyarakat apalagi setiap menjelang pelaksanaan ujian nasional, dan ujian nasional tahun ini masih tetap diwarnai oleh kecurangan. Jika tahun sebelumnya kecurangan yang terjadi sangat bervariasi dan sudah terorganisir, tahun ini memang mengalami perubahan. Kecurangan tidak sekomplit tahun lalu.

  Dalam berita ini dilaporkan bentuk kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional SMA/MA/SMK tahun 2011 ini berupa bantuan jawaban yang diberikan guru kepada anak didik pada saat ujian berlangsung. Bentuk kecurangan memang berkurang, tetapi mental pendidik dan anak didik sudah terikat dengan kecurangan itu sendiri.

  “Hingga hari kedua pelaksanaan ujian nasional jenjang SMA/SMK sederajat, tim pengawas dari perguruan tinggi masih menemukan kecurangan di sejumlah sekolah... “

  “... guru membantu memberikan jawaban dan membiarkan muridnya mencontek di ruang ujian,” Masalah berikutnya yang diungkapkan dalam berita ini adalah kesalahan menghitung jumlah peserta ujian yang tidak hadir di daerah DKI Jakarta. Kesalahan itu terjadi di pendataan di tingkat Rayon.

  “...panitia pelaksana melaporkan ada 5.314 sisiwa yang tidak hadir dalam ujian Bahasa Indonesia. Namun setelah diperiksa ulang, ternyata hanya 236 peserta yang tidak hadir...”

  Diagnose Cause

  Dalam berita “Masih Ada Kecurangan” ini yang menjadi masalah utamanya adalah adanya kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Dan aktornya adalah guru di masing- masing sekolah, yang apabila difikirkan secara logika, pengawas ujian juga pasti terlibat dalam kecurangan ini. karena saat guru memberikan contekan kepada anak didiknya yang sedang melaksanakan ujian nasional, pasti ada pengawas juga di dalam ruangan. Bahkan dikatakan juga, bahwa murid diizinkan saling mencontek ketika ujian berlangsung.

  Disebutkan yang menjadi penyebab terjadinya kecurangan ini adalah sekolah kurang percaya diri pada kemampuan murid-muridnya. Padahal, dengan sistem penilaian kolaborasi dari nilai ujian nasional dengan nilai sekolah dengan perbandingan 60:40 persen, sudah sangat membantu nilai kelulusan siswa.

  Kecurangan itu juga terjadi di sekolah-sekolah yang menumpang di sekolah lain. Ditemukan kasus penggandaan kunci lemari penyimpanan naskah soal. Masih diselidiki apakah naskah soal memang telah bocor atau belum. Sebaiknya pemerintah memikirkan dengan serius dengan sekolah-sekolah yang masih menumpang di sekolah lain.

  Kesalahan menghitung jumlah peserta ujian dalam berita ini tidak dijelaskan apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut.

  Make Moral Judgement

  Pemerintah mencanagkan hasil ujian nasional menjadi syarat untuk masuk perguruan tinggi, tanpa mengikuti ujian seleksi masuk. Dengan adanya kebijakan ini, memang akan semakin mengefektifkan fungsi ujian nasional. Tetapi dengan memandang proses ujian nasional yang berlangsung beberapa tahun ini, pemerintah melihat masih banyak yang menjadi pertimbangan untuk menjadikan ujian nasional sebagai syarat masuk perguruan tinggi. Dengan adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi, membuat pihak perguruan tinggi meragukan kemurnian nialai ujian nasional yang diperoleh oleh siswa-siswa SMA/MA/SMK.

  “... jika kecurangan masih terjadi, berarti kualitas UN masih rendah. Jika ini dibiarkan berlanjut, perguruan tinggi belum bisa sepenuhnya percaya dan menerima UN sebagai “kunci masuk” ke PTN.”

  Treatment Recommendation

  Dalam berita ini, narasumber maupun harian Kompas hanya menuturkan permasalahan, tidak ada memuat jalan keluar bagi masalah yang dihadapi.

4. Frame berita tanggal 14 mei 2011 Judul: 16.098 Siswa Tidak Lulus UN Angka Kelulusan 99.22 Persen

  JAKARTA,KOMPAS- Sebanyak 16.098 siswa di jenjang SMA/MA/SMK tidak lulus ujian nasional. Siswa yang tak lulus itu terdiri atas 11.443 siswa SMA/MA dan 4.655 siswa di SMK. Adapun peserta Ujian Nasional 2011 adalah 1.461.941 siswa SMA/MA dan 942.698 siswa SMK.

  Mulai tahun ini standar kelulusan siswa bukan ditentukan hanya dari ujian nasional (UN), melainkan juga dari nilai sekolah dengan komposisi 60:40. “Hasil UN sedang dikirim ke sekolah untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan penentuan kelulusan siswa. Kelulusan siswa tetap ditentukan satuan pendidikan karena akan dilihat dengan nilai aspek-aspek lainnya,” kata Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh di Jakarta, Jumat (13/5). Seluruhnya tidak lulus

  Mendiknas mengatakan, provinsi dengan jumlah siswa tidak lulus terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, dari total 16.835 SMA sederajat yang mengikuti UN, masih ada lima sekolah yang seluruh siswanya tidak lulus. Jumlah siswa dari kelima sekolah tersebut 147 siswa.

  Sekolah yang tingkat kelulusannya nol persen itu berada di daerah DKI Jakarta (7 siswa), Simeuleu Aceh (26 siswa), Jambi (2 siswa), Kian Darat Maluku (48 siswa), dan Urei Fasei Papua (64 siswa).

  Meski masih ada siswa yang tidak lulus, Nuh mengaku tingkat kelulusan pada tahun ini lebih baik (99.22 persen) dibandingkan tahun lalu, yakni 99.04 persen. Nuh mengingatkan siswa yang dnyatakan lulus UN masih ada kemungkinan tidak lulus sekolah karena penentu kelulusan tetap ada di tangan sekolah. Namun, siswa yang tidak lulus UN bisa dipastikan tidak akan lulus sekolah. Ini disebabkan ada salah satu nilai UN di bawah standar minimal, yakni 5.5. jadi meskipun penentuan kelulusan diserkan kepada sekolah, siswa yang tidak lulus UN pun akan tetap tidak lulus sekolah.

  Dari hasil perolehan nilai UN, terlihat juga banyak siswa yang masih memperoleh nilai 4, yakni sebanyak 57.58 persen. Tidak ikut

  Dari total peserta UN, terdapat 9.517 siswa yang tidak memasukkan nilai sekolah tetapi tetap mengikuti UN dan 5.117 siswa yang tidak mengikuti UN karena bebrbagai alasan, seperti drop out atau sudah bekerja. Nuh mengingatkan bagi siswa yang tidak memasukkan nilai sekolah, maka ia akan kehilangan porsi 40 persen dari komposisi nilai kelulusan dan yang paling bertanggung jawab adalah pihak sekolah.

  Nuh menyayangkan masih adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswanya. Padahal, hal ini akan menggangu proses pemetaan kondisi pendidikan. Selain menilai hasil belajar siswa, UN juga akan digunakn untuk memetakan kondisi sekolah sehingga bisa dilakukan upaya-upaya perbaikan.

  Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan Aman Wirakartakusumah menambahnkan, kebijakan untuk menggunakan hasil UN untuk masuk perguruan tinggi adalah tepat. “Kami akan mencoba meyakinkan para rektor perguruan tinggi negeri bahwa dengan nilai UN yng dicapai, siswa bisa langsung diterima di perguruan tinggi,” ujarnya. (LUK)

  Defining Problem

  Dalam berita ini Kompas memaparkan data tingkat ketidak lulusan ujian nasional SMA/MA/SMK. Dari keseluruhan jumlah peserta ujian nasional 2011 yang berjumlah

  2.404.639 siswa, terdata sebanyak 16.098 siswa tidak lulus ujian nasional. Dalam berita ini khusunya Kompas memaparkan provinsi dengan tingkat kelulusan terendah yaitu provinsi Nusa Tenggara Timur, dan beberapa sekolah dengan tingkat kelulusan nol persen yang berada di wilayah DKI Jakarta, Simeuleu Aceh, Jami, Kian Darat Maluku dan Urei Fasei Papua.

  ”Sebanyak 16.098 siswa di jenjang SMA/MA/SMK tidak lulus ujian nasional. Siswa yang tak lulus itu terdiri atas 11.443 siswa SMA/MA dan 4.655 siswa di SMK. Adapun peserta Ujian Nasional 2011 adalah 1.461.941 siswa SMA/MA dan 942.698 siswa SMK.” Dengan sistem kombinasi nilai ujian nasional dengan nilai rapor, persentase tingkat kelulusan tahun ini memang meningkat dari 99.04 % menjadi 99.22%. Mengukur keberhasilan dari angka-angka persentasi merupakan hal yang sah-sah saja, tetapi akan lebih baik apabila pemerintah memadukan persentase tersebut dengan proses persiapan dan pelaksanaan ujian nasional. Sehingga dapat dilihat perkembangan kwalitas ujian nasional dari tahun ke tahun, apakah kebobrokan yang selama ini diresahkan oleh masyarakat dan pemerintah sudah berkurang atau tidak, sehingga kualitas pendidikan kita tidak hanya bersembunyi dibalik angka kelulusan yang tinggi.

  Diagnose Cause

  Dalam berita ini yang menjadi penyebab ketidak lulusan 16.098 siswa tersebut ada beberapa hal, yaitu: siswa tidak memasukkan nilai sekolah, siswa yang tidak mengikuti ujian nasional dan adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswanya.

  Penyebab ketidaklulusan bervariasi, ada yang siwanya memang tidak mengikuti ujian nasional dengan berbagai alasan, ada kesalahan pada data siswa, ada pula kesalahan dari pihak sekolah.

  “

  Dari total peserta UN, terdapat 9.517 siswa yang tidak memasukkan nilai sekolah tetapi tetap mengikuti UN dan 5.117 siswa yang tidak mengikuti UN karena berbagai alasan, seperti drop out atau sudah bekerja.” “Nuh menyayangkan masih adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswanya.” Sistem kelulusan kombinasi nilai ujian nasional dengan nilai raport dari sekolah dengan perbandingan 60:40 juga bisa menjadi masalah apabila siswa maupun sekolah bahkan semua pihak yang terlibat tidak teliti. Disini diperlukan ketelitian yang double dari sebelumnya, karena dengan sistem ini nilai akan diolah dengan dua tahap.

  Ketidaklulusan di beberapa sekolah dan provinsi Nusa Tenggara Timur juga harus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Karena sangat disayangkan apabila ada sekolah bahkan provinsi yang tingkat kelulusannya hanya nol persen. Terlepas dari faktor-faktor penyebab ketidaklulusan itu, maupun kesalahan teknis ataupun kurangnya sosialisasi petunjuk pelaksanaan.

  Make Moral Judgement

  Pemerintah mempunyai rencana menggunakan hasil ujian nasional sebagai pemetaan kondisi pendidikan dan sebagai pertimbangan atau persyaratan masuk ke perguruan tinggi.

  Tetapi apabila hasil ujian nasional masih seperti kondisi di atas maka masih pemerintah masih perlu melakukan usaha yang maksimal untuk membenahi kualitas ujian nasional, bukan hanya dari kuantitas kelulusan yang bisa saja tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Seperti kutipan berikut ini:

  “Nuh menyayangkan masih adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswanya. Padahal, hal ini akan menggangu proses pemetaan kondisi pendidikan. Selain menilai hasil belajar siswa, UN juga akan digunakan untuk memetakan kondisi sekolah sehingga bisa dilakukan upaya-upaya perbaikan.” “Kami akan mencoba meyakinkan para rektor perguruan tinggi negeri bahwa dengan nilai UN yang dicapai, siswa bisa langsung diterima di perguruan tinggi,”

  Treatment Recommedation

  Pada berita ini, Kompas tidak menawarkan penyelesaian masalah secara langsung, karena penyelesaiannya seharusnya dipikirkan dan dilaksanakan oleh pemerintah dan sekolah. Adapun penyelesaian yang disampaikan pemerintah pada berita ini adalah menghimbau pihak sekolah maupun pemerintah daerah untuk berhati-hati selama proses ujian, khususnya dalam hal pengiriman nilai siswa ke pusat.

  “Nuh menyayangkan masih adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswanya. “

5. Frame berita 16 Mei 2011 Judul: Kelulusan Siswa Naik Hari Ini Pengumuman Resmi UN SMA

  JAKARTA, KOMPAS-Persentase kelulusan siswa SMA/MA/SMK di sejumlah daerah pada tahun ini meningkat dibanding tahun ini meningkat dibanding tahun 2010. Perubahan sistem kelulusan yang mengkombinasikan nilai ujian nasional dan ujian sekolah menjadi salah satu penyebab kenaikan kelulusan tersebut.

  Kenaikan kelulusan itu di antaranya dilaporkan dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah dengan persentase lulus turun 0.08-1 persen dibanding 2010.

  “Salah satunya disebabkan pelaksanaan ujian yang tahun ini hanya berlangsung satu kali,” kata Sekretaris dinas Pendidikan Kalsel yang juga Ketua Panitia Pelaksana UN Kalsel 2011 Herman Taufan di Banjarmasin, Minggu (15/5). Hingga tadi malam, DIY dan Jateng mencatatkan diri sebagai provinsi dengan persentase kelulusan di atas angka nasional sebesar 99,22 persen. Persentase kelulusan di DIY mencapai 99.53 persen, sedangkan Jateng 99.71 persen. “Secara umum, saya melihat tahun ini pelaksanaan dan hasil UN leih baik dianding tahun sebelumnya. Apalagi syarat kelulusan juga ditambah nilai rapor, itu sangat membantu.” Kata Kepala Dinas Pendidikan Jateng Kunto Nugroho.

  Dibandingkan persentase kelulusan SMA/MA/SMK di Jateng pada tahun lalu, persentase tahun ini naik tinggi, hingga 8 persen. Selain faktor kombinasi penilaian untuk lulus, Kunto menyebut faktor peningkatan sarana dan prasarana belajar yang diperbaiki.

  Tak Tertekan Sejumlah guru menilai sistem penilaian kali ini memberi kepercayaan diri siswa dan sekolah. UN tidak lagi menjadi proses belajar yang ditakuti. “Para siswa menjadi tidak tertekan lagi menghadapi UN,” kata Kepala Dinas Pendidikan Sultra Damsid. Tahun ini, 80 persen peserta UN SMA/MA/SMK di Sultra bisa mencapai nilai rata-rata di atas 7, jauh di atas standart minimal kelulusan 5,5. “Kalau dulu, nilai ujian nasional dan sekolah masing-masing bisa memveto. Kalau tidak lulus salah satunya, siswa tidak lulus sehingga ketidaklulusan tinggi. Sekarang nilai digabung, hasil nilai sekolah bisa sangat membantu kelulusan,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah raga DIY Buskara Aji. Pemerintah membantu Di Jakarta, pemerintah menyatakan akan membantu dana peningkatan kualitas pendidikan bagi sekolahdengan banyak siswa tidak lulus UN. Hal itu dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada jumat malam lalu. “Termasuk lima sekolah di DKI Jakarta; Jambi; Simeuleu; Nangroe Aceh Darusalam; Kian Darat; Maluku; dan Urei Fasei, Papua; yang tingkat kelulusan Un tahun ini nol persen,” ujarnya. Kebijakan serupa diterapkan tahun lalu. Bantuan dana Rp100 miliar diberikan kepada 100 kabupaten/kota dengan hasil UN kurang baik. Setiap kabupaten/kota memperoleh Rp 1 miliar untuk satu tahun. Khusus di NTT ada 10 kabupaten yang dibantu. Selain evaluasi hasil belajar, hasil UN juga akan digunakan memetakan kondisi pendidikan untuk perbaikan nonfisik. “Ini bukan semata-mata kesalahan sekolah karena masalahnya kompleks,” kata Nuh. Hari senin ini, pengumuman resmi hasil UN SMA akan diumumkan di sekolah-sekolah. Siswa diimbau tidak konvoi di jalanan. (LUK/ENG/RWN/ACI/UTI/WER/ETA).

  Defining Problem

  Pada berita ini, wartawan lebih menyoroti tentang persentase kelulusan siswa SMA/MA/SMK pada tahun ini meningkat dibandingkan dengan hasil ujian nasional tahun lalu. Bahkan ada beberapa daerah yang mencapai persentase diatas rata-rata, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta 99.53 % dan Jateng 99.71 % . Meningkat hingga 8 % dari tahun lalu. Kenaikan angka kelulusan ini seolah menjadi prestasi yang sangat dibanggakan pemerintah.

  “Secara umum, saya melihat tahun ini pelaksanaan dan hasil UN lebih baik dibanding tahun sebelumnya.” Dari sisi persentase hasil ujian nasional, tahun ini mengalami perbaikan, tetapi tidak dijelaskan bagaimana proses persiapan sampai kepada pelaksanaan ujian nasional tahun ini. apakah masih terjadi kecurangan-kecurangan seperti tahun-tahun sebelumnya yang sempat menjadi masalah yang membuat gusar pemerintah dan masyarakat atau sudah berjalan sesuai dengan filisofi pendidikan.

  Dalam berita ini seluruh narasumber berasal dari pemerintahan bagian pendidikan, yaitu Kepala Dinas Pendidikan Jateng, Kepala Dinas Pendidikan Sultra, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga dan Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional. Sehingga tidak ada pendapat pembanding dari narasumber lain mengenai kesuksesan ujian nasional tahun ini. Dengan adanya pendapat pembanding, menjadikan suatu pendapat menjadi lebih kuat atau valid.

  Di tengah rasa bangga pemerintah atas meningkatnya persentase kelulusan ujian nasional SMA/MA/SMK, ada daerah Nusa Tenggara Timur dan beberapa sekolah yang persentasenya nol persen.

  “Termasuk lima sekolah di DKI Jakarta; Jambi; Simeuleu; Nangroe Aceh Darusalam; Kian Darat; Maluku; dan Urei Fasei, Papua; yang tingkat kelulusan UN tahun ini nol persen,”

  Diagnose Cause

  Dari uraian berita dapat dilihat satu dua hal yang mendorong kenaikan signifikan persentase kelulusan ujian nasional SMA/MA/SMK tahun 2011. Yang pertama karena syarat nilai kelulusan sudah dikombinasikan dengan nilai sekolah. Sehingga tidak seperti tahun- tahun sebelumnya, kelulusan bergantung penuh pada nilai ujian nasional tanpa mempertimbangkan nilai ataupun prestasi yang didapat di sekolah. Kebijakan ini secara spontan memberi pengaruh kepada siswa, terutama dari sisi mental. Para siswa-siswi menjadi lebih siap dan merasa lebih percaya diri untuk menghadapi ujian nasional tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Sultra mengatakan:

  “Para siswa menjadi tidak tertekan lagi menghadapi UN....” Dalam uraian berita ini dapat ditangkap sutu benang merah, yaitu pemerintah memandang kesuksesan ujian nasional tahun ini dipandang dari persentasenya (99.22 %) sangat dipengaruhi oleh sistem kombinasi ujian nasional dan nilai sekolah. Tetapi dalam berita ini tidak ada disinggung kelemahan dari sistem ini, seperti kemungkinan tingginya intervensi pihak sekolah dalam memberi nilai, demi meningkatkan prestise sekolah. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mohammad Abduhzen, mengatakan:

  “Komposisi ini menuntut sekolah membekali murid dengan nilai tinggi untuk mengantisipasi kalau nilai UN rendah,” Selain karena sistem penilaian ujian nasional tahun ini yang berubah, disebutkan meningkatnya persentase kelulusan disebabkan oleh faktor peningkatan sarana dan prasarana belajar. Namun tidak ada penjelasan, bagaimana dan apa sarana dan prasarana yang dimaksud.

  “…Kunto menyebut faktor peningkatan sarana dan prasarana belajar yang diperbaiki.” Mengenai daerah dan sekolah yang persentase kelulusannya nol persen, tidak diketahui apa penyebab pastinya, apakah kuallitas belajar mengajarnya atau dari segi teknis.

  Dibutuhkan proses untuk membenahi hal ini dari berbagai bidang. Nuh mengungkapkan: “Ini bukan semata-mata kesalahan sekolah karena masalahnya kompleks,”

  Make Moral Judgement

  Pemerintah merencanakan,selain evaluasi hasil belajar, hasil UN juga akan digunakan memetakan kondisi pendidikan untuk perbaikan nonfisik. Dengan demikian, harapan pemerintah untuk ujian nasional tahun-tahun berikutnya semakin mengalami peningkatan. Belum dipaparkan secara jelas pemetaan tersebut akan diukur dari segi kualitas atau dari sisi kuantitas hasil ujian tersebut.

  Tidak ada kritik yang dapat menguji atau sebagai pembanding dari pendapat narasumber pada berita ini yang didominasi oleh pemerintah bagian pendidikan, dikarenakan wartawan tidak memilih narasuber dari pihak lain, seperti aktivis misalnya. Karena dengan adanya perbandingan, pendapat yang sudah ada dapat lebih dianalisis.

  Treatment Recommedation

  Untuk mengatasi masalah ketitidaklulusan di provinsi Nusa Tenggara Timur dan beberapa sekolah lainnya yang tingkat kelulusannya hanya 0 persen, pemerintah telah mengambil kebijakan yang bisa membantu kondisi tersebut, yaitu dengan memberikan bantuan dana bagi daerah yang tingkat kelulusannya rendah.

  “Kebijakan serupa diterapkan tahun lalu. Bantuan dana Rp100 miliar diberikan kepada 100 kabupaten/kota dengan hasil UN kurang baik. Setiap kabupaten/kota memperoleh Rp 1 miliar untuk satu tahun. Khusus di NTT ada 10 kabupaten yang dibantu.

  Dalam berita ini wartawan harian Kompas tidak menawarkan jalan keluar secara langsung.

IV.2.2 Rangkuman Frame Berita

  Setelah masing-masing berita diatas dianalisis dengan keempat komponen,maka langkah selanjutnya adalah merangkumkan hasil analisis tersebut sehingga dapat dilihat secara menyeluruh frame berita ujian nasional 2011 dan bagaimana harian Kompas mengkonstruksinya.

  Defining Problem

  Dari kelima berita yang telah dianalisis, dapat dilihat apa masalah utama yang dibahas dalam setiap berita. Dan apabila dipahami secara keseluruhan akan terdapat pola berita yang sama dalam pembahasannya. Sepuluh dari sebelas berita tentang ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK ini berada pada rubrik pendidikan dan budaya pada halaman 12. Tidak ada satu pun berita yang berada pada halaman utama. Jadi dalampemberitaannya harian Kompas memandang ujian nasional ini hanya dari sisi pendidikannya. Dan narasumber yang dipilih juga berasal dari akademis dan pemerintah bagian pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, panitian UN, kepala dinas pendidikan dan menteri pendidikan. Ini menyebabakan pembahasan berita hanya berkisar pada masalah dan pandangan yang sama. Akan lebih baik apabila ada narasumber dari pihak lain, misalnya lembaga survey atau aktivis,sehingga pendapat mereka bisa menjadikan pembahasan berita lebih kritis.

  Secara umum berita ujian nasional 2011 ini, membahas tentang sistem ujian nasional dengan prosedur yang baru, yaitu sistem penilaian kelulusan siswa dengan mengkombinasikan nilai ujian nasional dengan nilai ujian sekolah. Dalam berita yang telah dianalisis, yang menjadi topic utama bahasan berita adalah keberhasilan ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK tahun 2011. Pemerintah menilai keberhasilan ujian nasional tahun ini dari sisi persentase kelulusan yang mengalami peningkatan dari tahun lalu, yaitu 99.04 % naik menjadi 99.22%. Dari total peserta Ujian Nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK yang berjumlah 1.461.941 siswa hanya 16.098 siswa yang tidak lulus. Selain dari persentasenya, sistem ujian nasional tahun ini juga dianggap berhasil bila dibandingkan dengan tahun lalu. Siswa sangat terbantu dengan sistem mengkombinasikan ujian nasional dengan ujian sekolah. Hal demikian dinyatakan oleh anggota Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, berikut ini:

  “... pelaksanaan tahun ini relatif lebih baik,” “Secara umum, saya melihat tahun ini pelaksanaan dan hasil UN lebih baik dibanding tahun sebelumnya.” Kecuranagan UN yang selama beberapa tahun terakhir menjadi permasalahan nasional, berdasarkan pengaduan yang masuk ke pos pengaduan menteri pendidikan nasional, tahun ini dinyatakan berkurang. Tidak ada lagi kasus kebocoran naskah soal dan kunci jawaban yang beredar sebelum ujian dimulai. Memang kecurangan masih belum total bersih, masih ada kecurangan-kecurangan dalam porsi lebih sedikit yang terus diminimalisasikan

  Diagnose Causes

  Dari hasil ujian nasional tahun 2011 ada peningkatan signifikan persentase kelulusan, yaitu dari 99.04 % menjadi 99.22 %. Perubahan sistem penilaian kelulusan menjadi kombinasi antara nilai ujian nasional dan nilai sekolah dengan persentase 60:40 persen menjadi penyebab dari kenaikan persentase kelulusan ini. Kepala Dinas Pendidikan Sultra mengatakan:

  “Para siswa menjadi tidak tertekan lagi menghadapi UN....” Secara kuantitatif, pelaksanaan UN tahun 2011 memang berhasil, tetapi apabila ditinjau dari kualitatifnya, masih ada hal-hal yang diragukan. Contohnya nilai sekolah siswa yang dikatrol oleh masing-masing sekolah, sehingga rata-rata siswa memperoleh nilai 8-9 pada nilai sekolahnya. Hal ini disebabkan porsi nilai sekolah sebesar 40 % dalam penentuan kelulusan. Sekolah dan guru berupaya sebisa mungkin untuk membantu anak didiknya dengan cara mengkatrol nilai sekolah. Pada dasarnya hal ini merupakan kecuranagan juga, sama seperti ujian nasional sebelumnya, tetapi dengan cara yang berbeda.

  Walaupun berita menuliskan bahwa pengawasan ujian nasional tahun ini sangat ketat, ujian nasional tahun ini tetap diwarnai dengan kecurangan. Pada hari-H pelaksanaan ujian guru memberikan jawaban kepada anak didik yang sedang ujian dan siswa diizinkan untuk saling menyontek. Dari situasi ini dapat dilihat bahwa ada kompromi antara sekolah, guru, dan pengawas. Dimana seharusnya, selain pengawas tidak seorangpun yang dibenarkan masuk dan keluar ruang ujian.

  “... guru membantu memberikan jawaban dan membiarkan muridnya mencontek di ruang ujian,” Ujian nasional hampir setiap tahunnya mengalami perubahan sistem ujian, dan sampai saat ini belum ditetapkan standart ujian kelulusan bagi siswa-siswi. Dengan perubahan- perubahan dari tahun ke tahun, tentu akan mengalami kesulitan dalam sosialisasi dan teknis. Demikian juga dengan tahun ini, dengan perubahan sistem yang baru, pemerintah dan panitia terkesan kurang matang mempersiapkan teknis ujian, terlihat dari adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswa-siswinya dan sirkulasi naskah soal yang belum sistematis.

  Make Moral Judgement

  Nilai moral yang ditampilkan sebagai bentuk legitimasi dan delegitimasi dalam berita ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK tahun 2011, tidak terlalu banyak. Secara umum dapat dilihat sebagai faktor yang mendukung kesuksesan pelaksanaan ujian nasional tahun 2011. Faktor yang dimaksud adalah rencana pemerintah untuk menjadikan hasil ujian nasional sebagai pemetaan kondisi pendidikan Indonesia maupun sekolah. Selain sebagai data untuk pemetaan pendidikan Indonesia,pemerintah juga mencanangkan hasil ujian nasional sebagai persyaratan masuk perguruan tinggi negeri. Dengan adanya kebijakan ini,maka pemerintah mengusahakan untuk meningkatkan mutu ujian nasional, yang nantikan juga akan meningkatkan gambaran pendidikan Indonesia. Untuk mencapai mutu yang baik, harian

  Kompas menuliskan bahwa pemerintah memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan.

  Treatment Recommendation Ada beberapa hal yang menjadi pokok bahasan utama dalam pembahasan berita ujian nasional 2011 ini. Tetapi dari kendala-kendala yang ada, baik narasumber ataupun harian

  Kompas tidak memberikan tawaran penyelesaian yang menjawab persoalan tersebut.

  Harian Kompas sama sekali tidak menawarkan penyelesaian dari permasalahan yang diangkat. Sedangkan dari pihak pemerintah ada kebijakan yang diambil guna menjawab permasalahan yang ada, yaitu memberikan bantuan dana untuk pembenahan pendidikan bagi sekolah atau daerah yang hasil ujian nasionalnya tahun ini tidak memuaskan.

  “Kebijakan serupa diterapkan tahun lalu. Bantuan dana Rp100 miliar diberikan kepada 100 kabupaten/kota dengan hasil UN kurang baik. Setiap kabupaten/kota memperoleh Rp 1 miliar untuk satu tahun. Khusus di NTT ada 10 kabupaten yang dibantu.

  Dan untuk permasalahan teknis pelaksanaan UN yang masih ditemukan dalam banyak hal, pemerintah hanya menghimbau ketelitian teknis untuk ujian nasional berikutnya.

  Frame Berita Ujian Nasional SMA/MA/SMK Tahun 2011 Defining Problem Secara umum, persentase kelulusan ujian

  nasional SMA/MA/SMK tahun ini mengalami peningkatan signifikan.

  

Diagnose Causes Sistem penilaian kombinasi nilai ujian

  nasional dengan nilai sekolah sangat membantu dalam ujian nasional tahun ini.

  

Make Moral Judgement Pemerintah mencanangkan hasil ujian

  nasional sebagai syarat masuk PTN dan bahan pemetaan kondisi pendidikan Indonesia dan masing-masing sekolah.

  Treatment Recommendation Daerah dengan hasil UN rendah, diberikan

  bantuan dana, dan menghimbauan agar semua pihak yang terkait, teliti dalam menjalankan teknis persiapan dan pelaksanaan ujian.

BAB V PENUTUP V.1. KESIMPULAN Berdasarkan rangkaian proses penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh

  beberapa kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut: 1.

  Setelah dianalisis dengan analisis framing dengan pendekatan Robert Entman, dapat dilihat dengan jelas bagaimana konstruksi berita ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK. Isu yang diangkat adalah ujian nasional 2011. Dan aspek ditonjolkan adalah ujian nasional 2011 mengalami keberhasilan yang cukup signifikan yaitu meningkat dari 99.04 persen menjadi 99.22 pesen. Konstruksi berita ini dapat dilihat dari rubrik penempatan berita, 90 persen berita tersebut berada pada rubrik pendidikan & kebudayaan. Sehingga berita ujian nasional ini tidak kritis. Karena dipandang dari satu sisi saja dengan pilihan narasumber yang berasal dari satu latar belakang juga.

  Narasumber harian Kompas yang notabene daripihak pendidikan, menyebutkan bahwa kecurangan dalam UN juga sudah berkurang apabila dibandingkan dengan tahun lalu.

  Harian Kompas juga sangat minim dalam mengekspose kelemahan dari sistem ini, dan keunggulannya yang selalu diberitakan. Dengan fakta dan uraian yang dituturkan narasumber dalam harian Kompas, seolah ujian nasional tahun ini sudah mengalami keberhasilan dalam hal kuantitatif dan kualitatif. Padahal kuantitatif dan kualitatif tidak selamanya berbanding lurus.

2. Kompas memposisikan diri diluar pemerintah sebagai pihak yang mengkritisi dan memantau

  program pemerintah, dalam hal ini ujian nasional. Ideologi yang ditanamkan dalam pemberitaan ini adalah peningkatan persentase kelulusan siswa dalam ujian nasional yang dianggap

sebagikeberhasilan sistem baru yang ditetapkan pemerintah. Namun, terkait ini Kompas kurang

proporsional dalam menampilkan berita, berdasarkan pemilihan narasumber, jenis penulisan berita, posisi berita dan isu-isu yang diangkat.

3. Isu ujian nasional tidak menjadi berita yang masuk dalam agenda penting harian

  

Kompas. Terlihat dari tidak ada satu pun dari 11 berita yang ada tidak satu pun menjadi

headline news. Tetapi 90 persen berada pada rubrik pendidikan dan kebudayaan dan satu

  lainnya pada rubrik metropolitan. Dalam berita yang keseluruhannya dikemas dalam bentuk straight news menyebabkan berita tersebut tidak dibahas secara mendalam.

  Penulisan berita ujian nasional 2011 seolah hanya momentum saja. Tidak satu pun dari berita yang dibahas lebih dari 20 paragraf dan hanya 2 berita yang dibahas dalam 16-20 paragraf. Seharusnya tahun ini lebih dibahas lagi, karena sistem ujian yang baru diberlakukan tahun ini, merupakan alternative yang diputuskan pemerintah atas persoalan ujian nasional dari tahun sebelumnya.

V.2 SARAN

  1. Keterbatasan peneliti baik dalam hal-hal teknis seperti kurangnya literatur sangat mempengaruhi penelitian. Oleh karena itu hendaknya kajian penelitian tentang media lebih ditingkatkan lagi sehingga memperluas pemahaman tentang penelitian konstruktivis.

  2. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan terlihat bahwa ternyata media memiliki kepentingan tertentu. Tidak selamanya berita itu murni memberitakan fakta lapangan.

  Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang cukup untuk memahami faktor yang membentuk realitas tersebut sehingga pemahaman pembaca tidak digiring oleh berita- bertita yang disuguhkan oleh media. Dalam menanggapi setiap isu yang beredar, sebesar apapun media memberitakannya seharusnya pola berfikir yang cermat perlu untuk terus dijaga. Karena dengan literasi media, dapat dibedakan apa yang sesuai fakta apa yang telah dipengaruhi.

  3. Media hendaknya menjaga integritasnya dalam memberitakan berita, sehingga berita yang disampaikan menjadi informasi bahkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan menjadi bumerang yang merusak pola pikir khalayak luas. Yang dierlukan oleh khalayak adalah kebenaran dari fakta-fakta yang ada, jangan menjadikan masyarakat menjadi sasaran untuk kuasa dan keuntungan.

  V.3 IMPLIKASI PENELITIAN

  V.3.1 Implikasi Teoritikal

  Secara akademis, penelitian analisis framing ini dapat memberikan masukan atau pertimbangan terhadap pemberitaan di harian Kompas untuk memberitakan suatu berita secara proporsional dan berimbang. Tetap memperhatikan frame setiap berita yang diangkat sehingga harian Kompas mempunyai kontribusi yang tepat dalam menyampaikan informasi yang bermutu dan akurat bagi khalayak. Dengan mengamati berita dengan analisis framing, maka akan terlihat bagaimana posisi suatu berita dalam suatu surat kabar, dan bagaimana ideologi wartawan ketika meliput dan menuliskan berita tersebut.

  V.3.2 Implikasi Praktikal

  Secara praktis, penelitian analisis teks media khususnya framing akan mengubah pola pikir seseorang dalam melihat suatu realitas yang dibentuk oleh media. Apabila sebelumnya percaya sepenuhnya pada apa yang diberitakan media, perlahan-lahan akan berubah. Informasi yang dipaparkan oleh media tidak lagi dipandang sebagai fakta yang utuh, tetapi fakta yang telah terdistorsi oleh kepentingan lain, dan besar kemungkinan oleh media itu sendiri, karena media bukanlah satu pihak yang netral. Ketidaknetralan media dapat dilihat dengan menggunakan analisis framing yang akan memunculkan isu yang diangkat dan aspek yang ditonjolkan. Oleh sebab itu dianggap penting untuk memperkenalkan dan mentransfer hasil dari penelitian konstruktivis dan sejenisnya kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat memahami apa yang disuguhkan media dengan pola pikir yang independen.

DAFTAR PUSTAKA

  Ardianto, Elvinaro. 2007. Filsafat Ilmu Komuikasi. Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya Arikunto, Suharimi. 2007. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Baran, Stanley j. dan Dennis K. Davis. 2010. Teori Dasar, Komunikasi Pergolakan dan Masa

  Depan Massa. Jakarta: Salemba Humanika

  Bungin, Burhan. 2005 Metode penelitian Kualitatif. Jakarta : Kencana Bungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Bungin, Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi: Teori, paradigm, dan Diskursus Tehnologi

  Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana

  Efendy, Onong Uchjana.2005. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS

  • .2005. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogjakarta: LkiS Kriyantono, Rachmat, 2008. Tehnik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Lubis, Suwardi.1998. Metodologi Penelitian Komunikasi. Medan: USU Press Mulyana, Dedi.2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya Nanawi, Hadari.2002. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogjakarta: Gajah Madha Univercity Press Nuruddin.2004 Komunikasi Massa.Malang: Penerbit Cespur -----------. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Press

  Rakhmat, Jalaluddin.2004 Metode Penelitian Komunikasi: Bandung: Pt Remaja Rosda Karya Simatupang, Andi Sunarjo.2010.Konstruksi Berita 100 hari SBY-Boediono. Medan:Skripsi FISIP USU Tanpa Penerbit.

  Singarimbun, Masridan Sofian Efendy. 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta: Kencana Pustaka LP3ES Indonesia Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis

  Semiotika dan Analisis Framing. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

  Sudibyo, Agus. 2009. Kebebasan Semu. Jakarta: Kompas

  • . 2001. Politik Media dan Pertarungan wacana. Yogjakarta.LkiS Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta. PT. Grasindo Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Pt Grasindo Sumber lain:

  

  diakses tanggal 19 April 2011

  iakses tanggal 11 April 2011

  http://www.scribd.com/doc/15252080/Paradigma-Konstruktivisme-Paradigma-Kritikal

  

  (http//manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/10/12/pengertian-dan-fungsi-teori- dalam.html).

Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 Pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme) Ideologi Hegemoni Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani hegeishtai to lead. Antonio Gramsci Komunikasi dan Komunikasi Massa Komunikasi dan Komunikasi Massa URAIAN TEORITIS 14 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN METODOLOGI PENELITIAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 48 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 Pada Ha..

Gratis