Feedback

Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) (Studi Kasus Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara)

Informasi dokumen
PERENCANAAN PENGHIJAUAN DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) SKRIPSI Oleh : Agustiono Haryadi K Sitohang 051201013/Manajemen Hutan PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Nama NIM Program Studi : PERENCANAAN PENGHIJAUAN DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) (Studi Kasus Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara) : Agustiono Harryadi K Sitohang : 051201013 : Mananajemen Hutan Disetujui oleh, Ketua (Agus Purwoko, S.Hut.,M.Si) NIP : 19740801 200003 1 001 Diketahui, Ketua Departemen Kehutanan (Siti Latifah, S.Hut.,M.Si.,Ph.D) NIP. 19641228 200012 1 001 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK AGUSTIONO HARYADI KUSNO SITOHANG. Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Dibimbing oleh Agus Purwoko S.Hut., M.Si. Kawasan perkotaan lebih dikenal dengan suasana lingkungan yang panas disertai dengan pencemaran udara air dan tanah. Pertumbuhan penduduk yang sangat besar dan diikuti dengan pendirian kawasan industri dan pemukiman mengakibatkan kurangnya ruang penanaman vegetasi. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi daerah yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah penghijauan. Dengan menggunakan aplikasi sistem informasi geografis dan dengan memakai citra satelit ikonos didapat hasil daerah yang berpotensi untuk dihijaukan sebesar 19,923 Ha dengan bentuk penghijauan jenis pemukiman . Kemudian perencanaan penghijauan di jalur hijau didapat 7452.932 meter dengan jenis tanaman yang cocok adalah rumput, bunga-bungaan, atau tanaman hias kecil. Kata kunci: Penghijauan, Sistem Informasi Geografis (SIG), Perencanaan. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT AGUSTIONO HARYADI KUSNO SITOHANG. Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Dibimbing oleh Agus Purwoko S.Hut., M.Si. Urban area known as a hot atmosphere along with air pollution, water and soil. Population growth is very large and followed by the establishment of industrial zones and residential vegetation planting resulted in a lack of space. So the purpose of this study was to identify potential areas to be developed into green areas. By using geographic information systems and applications using IKONOS satellite imagery obtained results that have the potential to dihijaukan area of 19.923 hectares with the greening of residential types. Later greening in the green belt planning 7452.932 meters obtained with a suitable plant species are grass, flowers, ornamental plants or small. Key word : Greening, Geographic Information Systems (GIS), Planning Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 04 Agustus 1987 dari Ayah Robinson Bindu Sitohang dan Risma br. Sianturi. Penulis merupakan anak paling bungsu dari enam bersaudara. Penulis mulai bersekolah di SD St. Antonius V/VI Medan tahun 1993 dan lulus pada tahun 1999, kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 4 Medan tahun 1999 dan lulus pada tahun 2002, setelah itu penulis lanjut ke SMU Trisakti Medan pada tahun 2002 dan lulus pada tahun 2005. Kemudian penulis diterima di perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2005 lewat jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis memilih program studi Manajemen Hutan di Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti kegiatan organisasi kampus bernama Himpunan Mahasiswa Silva (HIMAS) sebagai Kepala Seksi Bidang Minat dan Bakat. Penulis melakukan Praktek Pengenalan Pengelolaan Hutan di dua tempat yaitu pada hutan mangrove Tanjung Tiram Kabupaten Asahan dan hutan pegunungan Lau Kawar Kabupaten Karo pada tahun 2007. Penulis melakukan Praktek kerja lapangan di PT. Musi Hutan Persada wilayah III Lematang Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2008. Pada akhir studi, penulis melakukan penelitian dengan judul ”Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan” dibawah bimbingan Bapak Agus Purwoko S.Hut., M.Si. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan berkat adan perlindungan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian ini dengan baik. Adapun judul penelitian ini adalah “Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG), studi kasus di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan”. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Agus Purwoko, S.Hut, M.Si selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Bejo Slamet, M. Si selaku anggota dosen pembimbing yang telah banyak memberikan masukan, arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih juga kepada Dosen dan Staf Pegawai Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Dan yang terutama kepada kedua orang tua penulis, keluarga dan sahabat-sahabat yang telah membantu dalam pembuatan proposal ini. Kiranya penelitian yang akan saya lakukan dapat bermanfaat bagi masyarakat, dunia ilmu pengetahuan dan bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terima kasih. Medan, Juli 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i ABSTRACT . ii RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL . vii DAFTAR GAMBAR . viii DAFTAR LAMPIRAN . ix PENDAHULUAN Latar Belakang . 1 Perumusan Masalah. 3 Tujuan Penelitian . 4 Manfaat Penelitian. 4 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Peginderaan Jarak Jauh . 5 Pengertian Penginderaan jauh. 6 Pengertian GIS (Geographic Information System) . 7 Sistem Penginderaan Jauh Satelit Landsat TM. 8 Sistem Pengelolaan Data Spasial . 14 Interpretasi Citra Satelit. 15 Penghijauan Kota . 18 Manfaat dan Bentuk-Bentuk Penghijauan Kota . 20 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian . 24 Bahan dan Alat. 24 Metode Penelitian. 25 Pengumpulan data . 25 Pengolahan data. 25 Digitasi peta dasar. 25 Overlay. 26 Interpretasi citra. 27 Klasifikasi Citra. 27 Cek Lapangan . 27 Analisis Citra. 28 Universitas Sumatera Utara HASIL DAN PEMBAHASAN Digitasi Peta Dasar . 30 Overlay . 31 Interpretasi Citra . 33 Cek Lapangan . 34 Analisis Citra . 36 Perencanaan Penghijauan Di Tanah Kosong . 37 Perencanaan Penghijauan Di Jalur Hijau . 40 Jenis Tanaman Penghijauan . 41 Manfaat Penghijauan . 42 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . 46 Saran . 46 DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman 1. Karakteristik Satelit Ikonos . 10 2. Hasil Digitasi Citra . 30 3. Penghijauan Di Jalur Hijau . 41 4. Jenis Tanaman Penghijauan Yang Cocok Di Jalur Hijau . 43 5. Jenis, Fungsi dan Tujuan Pembangunan RTH . 45 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka Pemikiran. 4 2. Proses Digitasi Peta Dasar Menggunakan Software Arc View 3.3 . 27 3. Tahapan Kerja Penelitian . 29 4. Digitasi Peta Kecamatan Medan Denai . 31 5. Peta Administrasi Kecamatan Medan Denai . 32 6. Cek Lapangan Di Tanah Kosong . 34 7. Cek Lapangan Di RTH . 34 8. Peta Perencanaan Penghijauan . 39 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK AGUSTIONO HARYADI KUSNO SITOHANG. Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Dibimbing oleh Agus Purwoko S.Hut., M.Si. Kawasan perkotaan lebih dikenal dengan suasana lingkungan yang panas disertai dengan pencemaran udara air dan tanah. Pertumbuhan penduduk yang sangat besar dan diikuti dengan pendirian kawasan industri dan pemukiman mengakibatkan kurangnya ruang penanaman vegetasi. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi daerah yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah penghijauan. Dengan menggunakan aplikasi sistem informasi geografis dan dengan memakai citra satelit ikonos didapat hasil daerah yang berpotensi untuk dihijaukan sebesar 19,923 Ha dengan bentuk penghijauan jenis pemukiman . Kemudian perencanaan penghijauan di jalur hijau didapat 7452.932 meter dengan jenis tanaman yang cocok adalah rumput, bunga-bungaan, atau tanaman hias kecil. Kata kunci: Penghijauan, Sistem Informasi Geografis (SIG), Perencanaan. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT AGUSTIONO HARYADI KUSNO SITOHANG. Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Dibimbing oleh Agus Purwoko S.Hut., M.Si. Urban area known as a hot atmosphere along with air pollution, water and soil. Population growth is very large and followed by the establishment of industrial zones and residential vegetation planting resulted in a lack of space. So the purpose of this study was to identify potential areas to be developed into green areas. By using geographic information systems and applications using IKONOS satellite imagery obtained results that have the potential to dihijaukan area of 19.923 hectares with the greening of residential types. Later greening in the green belt planning 7452.932 meters obtained with a suitable plant species are grass, flowers, ornamental plants or small. Key word : Greening, Geographic Information Systems (GIS), Planning Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Kawasan perkotaan lebih dikenal dengan suasana lingkungan yang panas disertai dengan pencemaran udara, air dan tanah. Keadaan ini terjadi karena tata ruang kota yang yang tidak mengikuti aturan dan peraturan yang berlaku. Banyak pemukiman penduduk dan sarana umum yang dibangun tanpa disertai penanaman vegetasi disekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan iklim mikro di kawasan tersebut menjadi lebih panas dibandingkan dengan pembangunan pemukiman dan sarana umum yang disertai dengan penanaman vegetasinya disekitarnya. Pertumbuhan penduduk yang sangat besar dan diikuti dengan pendirian kawasan industri di daerah perkotaan mengharuskan adanya pendirian bangunan yang akan mengurangi ruang penanaman vegetasi. Hal ini mengakibatkan semakin tingginya suhu lingkungan di kawasan perkotaan. Selain itu, penggunaan kendaraan bermotor serta zat-zat kimia yang berlebihan oleh penduduk dan industri membuat kapasitas pencemaran semakin tinggi. Apabila permasalahan tersebut tidak ditanggapi dengan serius, maka tidak menutup kemungkinan akan timbul suatu pemasalahan baru. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah perkotaan tersebut. Salah satu tindakan untuk mengurangi suasana lingkungan yang panas dan sarat pencemaran adalah dengan menciptakan peranan hutan di dalam kawasan perkotaan. Penghijauan kota merupakan alternatif terbaik dalam menciptakan suasana hutan di kawasan perkotaan. Universitas Sumatera Utara Penghijauan kota dapat menciptakan suasana hutan di kawasan perkotaan karena penghijauan kota dapat memberikan beberapa manfaat yang sama dengan manfaat hutan seperti manfaat estetis, orologis, hidrologis, klimatologis, edaphis, ekologi, protektif, hygienis dan edukatif. Adapun tujuan penghijauan kota adalah untuk kelestarian, dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya. Dengan terciptanya suasana hutan di kawasan perkotaan melalui pelaksanaan penghijauan kota, maka permasalahan seperti suhu lingkungan yang panas dan sarat pencemaran dapat segera diatasi (Nazaruddin,1996). Untuk mendapatkan sasaran dan tujuan yang maksimal, penghijauan kota harus dilaksanakan dengan yang terarah dan terpadu. Berdasarkan PP RI No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, penyelenggaraan penghijauan kota meliputi penunjukan, pembangunan, penetapan dan pengelolaan. Agar perencanaan dapat dilaksanakan dengan baik, maka diperlukan berbagai sarana media yang mendukung kesuksesan rencana tersebut. Pada saat ini telah banyak teknologi yang diciptakan dan diterapkan sebagai sarana serta media dalam mendukung suatu perencanaan. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan salah satu teknologi yang banyak digunakan dalam bidang kehutanan terutama dalam perencanaan kehutanan. Dalam mnggunakan data berupa citra satelit, peta dasar dan data penunjang lainnya yang dikelola dengan menggunakan sistem berbasis komputer menjadikan SIG sebagai teknologi yang memberikan kemudahan dan pemahaman yang baik bagi setiap perencana yang menggunakannya. Universitas Sumatera Utara Sistem Informasi Geografis akan mempermudah perencanaan penghijauan kota terutama dalam menentukan posisi geografis suatu lokasi dan menyajikan tampilan dari kawasan perkotaan tersebut. Pemanfaatan sistem informasi geografis (SIG) akan mendukung kelancaran perencanaan penghijauan kota, sehingga tujuan dan sasarannya akan tercapai. Perumusan Masalah Pertumbuhan penduduk yang sangat besar dan diikuti dengan pendirian kawasan industri di daerah perkotaan mengharuskan adanya pendirian bangunan yang akan mengurangi ruang penanaman vegetasi. Apabila permasalahan tersebut tidak ditanggapi dengan serius, maka tidak menutup kemungkinan akan timbul suatu pemasalahan baru. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah perkotaan tersebut. Salah satu tindakan untuk mengurangi suasana lingkungan yang panas dan sarat pencemaran adalah dengan menciptakan peranan hutan di dalam kawasan perkotaan. Penghijauan kota merupakan alternatif terbaik dalam menciptakan suasana hutan di kawasan perkotaan. Universitas Sumatera Utara Perkotaan Pertumbuhan Penduduk Yang Besar Peningkatan Bangunan Yang Pesat Kondisi Kota Yang Panas Perlunya Penghijauan Pemanfaatan SIG Perencanaan Penghijauan Gambar 1. Kerangka Pemikiran Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi daerah yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah penghijauan. Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pihak- pihak yang membutuhkan dasar pengambilan keputusan dan perencanaan penghijauan kota terutama bagi dinas-dinas terkait. Universitas Sumatera Utara TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Penginderaan Jauh Istilah penginderaan jauh dikenalkan di Amerika pada bulan Maret 2015 sampai dengan Mei 2015, yaitu persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian di lapangan, pengolahan data dan penyajian hasil. Penelitian dilaksanakan di Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara. Analisis data dilakukan di Laboratorium Manajemen Hutan Terpadu, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Bahan dan Data Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah : 1. Citra Satelit SPOT (Satellite Pour l’Observtion de la Terre) tahun rekaman 2013 2. Peta administrasi Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara. 3. Data dasar yaitu kondisi umum wilayah penelitian, yang mencakup kondisi fisik lapangan (letak geografis, luas wilayah, tanah) kondisi sosial masyarakat (kepadatan penduduk, sarana dan prasarana, penggunaan lahan, sosial budaya). Data yang digunakan dalam penelitian adalah : 1. Personal Computer (PC) dengan perangkat lunak (software) Arc GIS 10.1 version sebagi alat untuk membantu dalam mendisplay dan mengolah data. 2. Global Positioning System (GPS) sebagai alat bantu dalam menentukan titik koordinat di lapangan. 3. Tally Sheet sebagai pencatat data dari lapangan. 22 4. Kamera sebagai alat bantu dalam melihat kondisi umum di lapangan. 5. Alat tulis menulis sebagai alat bantu dalam hal pencatatan data. Tahapan Penelitian 1. Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder, yaitu : 1. Pengumpulan data primer Diperoleh dari pengambilan 54 titik koordinat yang tersebar di Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara. 2. Data-data sekunder Diperoleh dari berbagai instansi dan studi literatur, terdiri dari: 1. Data spasial : Citra Satelit SPOT 5 yang diperoleh dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Sumatera Utara dan peta digital Kota Tebing Tinggi yang diperoleh dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Provinsi Sumatera Utara. 2. Data non spasial : Data kondisi umum Kota Tebing Tinggi yang diperoleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tebing Tinggi dan studi literatur dari berbagai sumber. 23 Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian 24 2. Pengolahan Citra - Overlay Setelah dilakukan digitasi pada citra langkah selanjutnya adalah overlay yaitu, penggabungan citra (overlay) dengan peta digital Kota Tebing Tinggi untuk memperoleh tampilan obyek pada citra yang disertai dengan informasi koordinat lokasi objek. Pada tahap ini akan diperoleh peta geografis yang disertai dengan atribut-atributnya. Kegiatan dari penggabungan (overlay) ini menggunakan teknologi komputer dengan perangkat lunak Arc Gis 10.1 - Digitasi Peta Dasar Citra yang sudah dikoreksi kemudian dapat diklasifikasikan dengan metode digitasi on screen untuk mengelompokkan dan mengenali kembali segala kenampakan obyek yang berhasil ditangkap oleh alat sensor citra satelit. Langkah selanjutnya setelah citra dikoreksi adalah dengan mendigit daerah-daerah yang dianggap masih berpotensi untuk dihijaukan kembali ataupun daerah yang sudah ada dan tetap untuk dipertahankan. Digitasi ini dilakukan untuk mengubah data spasial analog dari peta dasar yang digunakan ke dalam format peta digital yaitu penerjemah dalam koordinat. Peta Kota Tebing Tinggi kemudian di identifikasi secara visual. Kemudian diamati daerah yang masih kosong atau belum ada tanamannya. Daerah ini dapat diketahui dengan tanda berwarna coklat. Kemudian diamati seluruh wilayah Kota Tebing Tinggi dan di lakukan pendigitasian citra daerah yang berwarna coklat. 25 - Interpretasi citra Interpretasi citra dilakukan dengan metode penafsiran visual yang didasarkan pada kunci interpretasi visual yang menggunakan elemen-elemen interpretasi citra yaitu: warna, ukuran, bentuk, tekstur, pola, bayangan, lokasi dan asosiasi. Gedung besar dan kecil dapat dibedakan dengan memperhatikan ukuran dan bentuknya. Perumahan dapat ditentukan dengan memperhatikan bentuk, asosiasi dan pola dari penyusunan letaknya yang terdapat dipinggir jalan besar maupun jalan kecil. Jalan besar dan kecil ditentukan dengan memperhatikan bentuk, ukuran dan asosiasinya yang berada di dekat gedung maupun perumahan. Sungai memiliki tekstur permukaan air yang seragam dengan rona yang gelap jika airnya jernih, atau cerah jika keruh. Arah aliran sungai ditandai oleh bentuk sungai yang lebar pada bagian muara, pertemuan sungai memiliki sudut lancip sesuai arah aliran. Sungai besar dan kecil dapat dilihat diidentifikasi dengan memperhatikan warnanya yang biasa berwarna biru dengan bentuk yang memanjang dengan ukuran lebar yang berbeda-beda. Sungai dapat melintas di daerah perumahan, jalan besar dan kecil maupun di daerah yang bervegetasi. Setiap obyek yang melintas diatas sungai dapat dipastikan adalah jembatan. Hal ini dapat ditentukan dengan menggunakan elemen lokasi atau situs. Pohon dan vegetasi kecil dapat ditentukan dengan memperhatikan warnanya yang berwarna hijau, bentuk tajuknya yang bulat dan polanya yang menyebar atau mengumpul membentuk hutan ataupun mengumpul membentuk suatu perkebunan. Pohon dan vegetasi kecil dapat dibedakan dari teksturnya, dimana tekstur vegetasi kecil lebih halus daripada tekstur pepohonan. Sedangkan lahan kosong diidentifikasi 26 dengan memperhatikan warnanya yang coklat yang membuktikan tidak adanya vegetasi atau tumbuhan hijau yang tumbuh disekitarnya. Kegiatan penafsiran ini bertujuan untuk mendapatkan lokasi penghijauan yang sesuai dengan syarat penghijauan dilaksanakan. Pada tahap ini ditentukan posisi koordinat dari setiap objek yang diinterpretasi. - Cek lapangan (Ground Check) Dari hasil interpretasi citra harus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang sebenarnya sehingga perlu dilakukan pengecekan lapangan. Pengecekan lapangan ini dilakukan dengan menggunakan alat Global Positioning System (GPS), dimana fungsinya dapat menetukan keberadaan lokasi contoh tersebut. Kesesuaian lokasi hasil interpretasi dapat diketahui dengan mencocokkan koordinat lokasi hasil interpretasi citra dengan koordinat pada GPS. 3. Metode Pengambilan Titik Koordinat Mengingat populasi penelitian tersebar tidak merata, maka perlu dilakukan pengambilan sampel guna mengatasi keterbatasan sumber daya yang digunakan dalam penelitian ini (tenaga, waktu, biaya). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling yang bersumber dari populasi penelitian. Purposive sampling adalah pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri atau sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Metode purposive sampling ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam suatu penelitian. Langkah penarikan sampel dalam penelitian ini selengkapnya adalah sebagai berikut: 27 1. Menentukan areal (kelurahan) yang dijadikan daerah penelitian. Penentuan dilakukan secara purposive sampling dengan desain judgement sampling yaitu dengan melihat sebaran kawasan yang potensial untuk dihijaukan dan kawasan hijau yang sudah ada agar tetap dipertahankan yang diketahui dari hasil analisis secara visual pada citra tutupan lahan Kota Tebing Tinggi. Hasil analisis ditetapkan Kelurahan Satria menjadi areal yang dijadikan daerah penelitian. 2. Dari areal yang terpilih sebagai daerah penelitian, diambil data koordinat lokasi dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) diambil 50 titik sampel yang tersebar di Kelurahan Satria, 3 titik di Kelurahan Sri Padang, dan 1 titik di Kelurahan Tambangan. Pengambilan titik diluar kelurahan didasari oleh pertimbangan lokasi tersebut potensial untuk dilakukan penghijauan. - Analisis citra Citra satelit SPOT 5 yang telah di overlay, kemudian diinterpretasi secara penafsiran visual dan telah dicek kebenaran objek-objeknya dalam cek lapangan, dianalisis untuk mendapatkan kesesuaian koordinat dan lokasi penghijauan dengan bentuk-bentuk penghijauan. Pada tahap ini juga dilakukan perhitungan luas dari keseluruhan lokasi tersebut. Lokasi penghijauan yang telah ditentukan dianalisis bentuk-bentuk penghijauan yang sesuai dengan lokasi tersebut berdasarkan persyaratan penentuan lokasi penghijauan Kota Tebing Tinggi. Tahapan penelitian disajikan pada Gambar 2. . Kota Tebing Tinggi Survei Pengumpulan Data 28 Data Sekunder Data Primer Overlay Digitasi - Peta Administrasi - Buku-buku, - Literatur, - Jurnal-jurnal Interpretasi Ground Check Analisis Citra Peta Penghijauan Gambar 2. Tahapan Penelitian 29 HASIL DAN PEMBAHASAN Overlay Pengolahan citra diawali dengan menentukan areal kelurahan yang akan dijadikan daerah penelitian. Setelah ditentukan daerah penelitian tahap selanjutnya dilakukan penggabungan (overlay) yang dilakukan adalah dengan menggabungkan citra satelit SPOT 5 Kelurahan Satria dengan peta digital administrasi Kota Tebing Tinggi. Penggabungan peta dilakukan dengan tujuan untuk menyesuaikan nilai geografis yang ada pada kedua peta tersebut. Penggabungan (overlay) dilakukan dengan menggunakan tersebut umumnya berjenis palem raja, karena ukuran batangnya yang relatif besar dengan daunnya yang menyirip. Batas-batas wilayah yang ada dilapangan ada yang berupa jalan, tugu, dan batas alam seperti hutan. Daerah aliran sungai (DAS) yang ada dilapangan tidak memungkinkan untuk dilakukan penghijauan karena lingkungannya yang langsung berhubungan dengan perumahan penduduk maupun gedung perkantoran. Kondisi di lapangan ini didokumentasikan dengan menggunakan kamera digital. Analisis Citra Lokasi penghijauan yang diperoleh dari hasil analisis citra keseluruhannya adalah berupa jalan. Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya vegetasi atau pepohonan yang tumbuh mengikuti alur jalan tersebut. Oleh karena itu bentuk penghijauan yang sesuai dengan lokasi ini adalah bentuk jalur hijau, hal ini sesuai dengan pernyataan Nazaruddin (1996) bahwa penghijauan di jalan umum biasanya berbentuk penanaman pohon di bagian jalan yang disebut jalur hijau. Luas lokasi yang akan dihijaukan adalah sekitar 3,9 Ha dengan luas wilayah yang sudah ditanami vegetasi berpohon adalah sekitar 6,75 ha sehingga total wilayah yang akan ditumbuhi vegetasi berpohon adalah 10,65 Ha. Luas Universitas Sumatera Utara wilayah Desa WEK II, Kecamatan Padangsidempuan Utara, Kota Padangsidempuan adalah sebesar 55 Ha, maka luas wilayah yang bervegetasi pohon adalah sebesar 19,36 % dari total luas keseluruhan kawasan tersebut. Jumlah ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota, dimana persentase luas hutan di areal perkotaan paling sedikit 10 % dari wilayah perkotaan atau disesuaikan dengan kondisi setempat yang dapat berbentuk jalur, mengelompok dan menyebar. Jalur hijau yang akan dibuat pada lokasi dapat berada di median atau tengah jalan untuk jalan raya atau jalan dua arah maupun di kanan atau kiri jalan. Apabila pada kanan kiri jalan sudah dibuat jalur khusus untuk pejalan kaki, tempat ini masih dapat pula ditanami pepohonan dengan menyesuaikan besar jalur khusus untuk pejalan kaki dengan luasan media tanam pepohonan. Hal ini harus dapat dibuat sedemikian rupa agar penanaman pepohonan tidak mengganggu para pejalan kaki. Setiap jalan yang akan dibuat sebagai jalur hijau tidak memiliki lebar jalan yang sama. Oleh karena itu setiap jalan memiliki kriteria tertentu bagaimana teknik penanaman vegetasi yang sesuai dengan lebar jalan masing-masing. Untuk jalan protokol yang umumnya lebar dan terang dengan pandangan tidak terhalang, biasanya dilengkapi dengan lampu jalan yang tidak boleh terhalangi oleh pepohonan yang terlalu rimbun. Sehingga jalan protokol tidak boleh ditanami dengan vegetasi secara penuh. Umumnya lebar jalan protokol memungkinkan untuk dibuatkan jalan dua arah yang ditengahnya dibuatkan marka jalan yang kadang berupa jalur hijau. Jalur di tengah jalan ini tetap dibuat terang agar tidak menghalangi pandangan. Universitas Sumatera Utara Bila bagian tengah akan ditanami tanaman, jenis tanamannya biasanya berupa rumput, bunga-bungaan, atau tanaman hias yang kecil. Sedangkan di kanan-kiri jalan dapat ditanami pepohonan, tergantung situasi jalan protokol dimana jalan protokol yang melewati pemukiman atau perkantoran tidak bisa ditanami pohon yang rapat atau terlalu menutupi pandangan. Akan tetapi, jalan protokol menuju luar kota atau pemukiman yang tidak terlalu padat bisa ditanami tanaman yang agak rimbun. Situasi penghijauan di jalan protokol berbeda dengan situasi penghijauan di jalan lingkungan (jalan menuju perumahan atau areal lain yang bukan merupakan jalan protokol). Fungsi jalan lingkungan merupakan tempat berjalan kaki antar masyarakat. Jalan seperti ini dibuat teduh untuk mendukung proses sosialisasi tersebut sehingga perlu dilakukan penanaman pepohonan. Penghijauan dengan jalur hijau dengan tindakan penanaman pepohonan, harus menyesuaikan keadaan jalan dengan jenis pepohonan yang sesuai ditanam pada jalan tersebut. Beberapa tanaman pohon yang dapat ditanam pada jalur hijau diantaranya adalah : 1. Tanaman Pohon Besar : a. Mahoni : Swietenia mahagoni b. Angsana : Pterocarpus indicus c. Saga : Adenenthera pavonina d. Asam Jawa : Tamarindus indica e. Palem Raja : Oreodoxa regia Universitas Sumatera Utara 2. Tanaman Pohon Sedang a. Glodokan : Polyathia longifolia b. Pinus : Pinus merkusii c. Melinjo : Gnetum gnemon d. Tanjung : Mimusops elengi e. Mangga : Mangifera indica 3. Tanaman Pohon Kecil a. Asam Londo : Keranji b. Palem Jepang : Javanis caryota c. Palem Putri : Vitsia merini d. Pinang Jambe : Areca cathecu e. Palem Anggur : Maboksiani macaiuli Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Lokasi-lokasi yang akan dilakukan kegiatan penghijauan adalah berupa jalan umum, sehingga bentuk penghijauan yang sesuai adalah jalur hijau 2. Keunggulan citra satelit IKONOS terletak pada nilai resolusi spasialnya yang tinggi (1x1 m), sehingga lebih mudah digunakan dalam kegiatan perencanaan penghijauan kota beserta perencanaan tata guna lahan dan tata ruang kota. Kelemahannya terletak pada nilai ekonominya yang cukup mahal, sehingga hanya dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memiliki nilai beli yang tinggi Saran Citra satelit IKONOS yang digunakan dalam perencanaan penghijauan dibuat pada tahun 2003 dengan luas wilayah sebatas pedesaan. Agar informasi yang dihasilkan lebih kompleks, maka diperlukan penelitian yang sama dengan menggunakan citra satelit IKONOS tahun terbaru dengan luas wilayah yang lebih besar. Mengingat nilai jual citra satelit IKONOS yang relatif mahal, maka dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya perlu dilakukan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Azmil. 2007. Ketahanan Pangan Kota Padangsidempuan. Badan Informasi Komunikasi Sumatera Utara. Medan. http://www.bainfokomsumut.go.id (20102007). Badan Informasi Komunikasi Sumatera Utara. 2007. Pemerintah Kota Padangsidempuan. http://www.bainfokomsumut.go.id (20102007). Badan Pusat Statistik Kota Padangsidempuan .2004.Kecamatan Padangsidempuan Utara Dalam Angka Tahun 2004. Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Padangsidempuan. Padangsidempuan. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - . 2005. Kota Padangsidempuan Dalam Angka Tahun 2005. Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Padangsidempuan. Padangsidempuan. Badan Geologi Jawa Timur.2007.Mengamati Perkembangan Porong Dengan Ikonos. http://rovicky.wordpress.com (19032007). Budiyanto, E. 2002. Sistem Informasi Geografis Menggunakan Arc View GIS. Penerbit Andi. Yogyakarta. Harjoprajitno, S dan Saleh, M. B. 1995. Penafsiran Potret Udara dan Penginderaan Jauh. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Hendrarto, G, Hartanto, S dan Endan, S. 1997. Remote Sensing and Geographic Information System BPPT Agency For The Assesment and Aplication Of Technology. Jakarta. Howard, J. A.1996. Penginderaan Jauh Untuk Sumber Daya Hutan Teori dan Aplikasi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Jaya, N. S.1997. Penginderaan Jauh Satelit Kehutanan. Edisi I. IPB Press. Bogor Lillesand, T. M. dan Kiefer, R. W. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Lo, C. P .1996. Penginderaan Jauh Terapan. Universitas Indonesia. Jakarta. Nazaruddin. 1996. Penghijauan Kota. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 35 Tahun 2002 Tentang Dana Reboisasi. Universitas Sumatera Utara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Riswan. 2001. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan. Medan. Setiawan, A.I. 2000. Penghijauan Dengan Tanaman Potensial. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. Wibowo, A, Djamaluddin, R dan Hendrarto, G. 1994. Remote Sensing and Geographic Information System BPPT Agency For The Assesment and Aplication Of Technology. Jakarta. Wikantiyoso, R. 2000. Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Pada Perencanaan dan Perancangan Perkotaan. Universitas Merdeka Press. Malang. Wolf, P. R. 1993. Elemen Fotogrametri. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1. Peta Lokasi Penghijauan Kota Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Lokasi Penghijauan Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Foto-Foto Kegiatan Cek Lapangan (Ground Check) Foto 1. Jalan Besar Foto 2. Jalan Besar Universitas Sumatera Utara Foto 3. Jalan Besar Foto 4. Jalan Kecil Universitas Sumatera Utara Foto 5. Jalan Kecil Foto 6. Jalan Kecil Universitas Sumatera Utara Foto 7. Jembatan Foto 8. Penggunaan GPS Universitas Sumatera Utara Lampiran 3. Foto Satelit Ikonos Sumber :http// Freewebs.com Universitas Sumatera Utara
Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) (Studi Kasus Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perencanaan Penghijauan Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) (Studi Kasus Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara)

Gratis