Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual yang Berpacaran

 4  62  116  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

  GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA INDIVIDU BISEKSUAL YANG BERPACARAN SKRIPSI Guna Memenuhi Persyaratan Sarjana Psikologi Oleh : ENNI HANAMI SIANTURI 051301118 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

  Gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran

  Enni Hanami Sianturi dan Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

  ABSTRAK

  Hubungan romantis ataupun pacaran pada individu biseksual dapat mempengaruhi psychological well-being individu tersebut. Psychological well-being merujuk pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Bradburn, 1995). Ryff (1989) menyebutkan bahwa psychological

  well-being terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), memiliki

  hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), otonomi

  (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan pribadi (personal growth). Tujuan penelitian ini adalah untuk

  mengetahui gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara secara mendalam (in-depth interview). Responden penelitian adalah individu biseksual yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sebanyak tiga orang dimana responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak dua orang dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak satu orang.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan psychological well-

  being pada ketiga responden yang terlihat dari kualitas dimensi psychological well- being pada setiap responden. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya faktor-

  faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran seperti dukungan sosial, kepribadian, pola asuh dan budaya.

  Kata kunci : psychological well-being, individu biseksual yang berpacaran

  A Description of Psychological Well-Being On The Dating Bisexual Individuals Enni Hanami Sianturi and Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

  ABSTRACT

  Romantic relationship or dating on bisexual individuals may affect psychological well-being that individual Psychological well-being refers to the one’s

  .

  feelings about daily activity. These feeling can range from the negative mental conditions, such as life dissatisfaction, anxiety, and more to the positive mental state, such as realitation of potential or self actualization (Bradburn,1995). Ryff (1989) has argued that psychological well-being has six dimension; self-acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. The purpose of this research is to describe psychological well-being on the dating bisexual individuals. The research respondent are three bisexsual who are dating with men and female, which is two female respondent and one men respondent.

  Results shown that there is the psychological well-being differences at the three respondent from the psychological well-being dimension quality at each respondent. The result also shown that there are factors which affect psychological well-being on bisexuals who are dating, like social support, personality, parenting and culture.

  Keywords: psychological well-being, dating bisexsual individuals

KATA PENGANTAR

  Puji serta syukur

  kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan begitu

  banyak kekuatan dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi untuk memenuhi syarat dalam menempuh ujian akhir, guna memperoleh gelar sarjana jenjang strata (S-1) di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dengan judul ”Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual yang Berpacaran”

  Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayah tercinta, Drs.Oloan P.Sianturi; dan Mama tersayang yang hebat, Elfina Purba atas segala do’a, cinta, kasih sayang, pengertian serta dukungannya baik moril maupun materil yang selalu menyertai langkah penulis. Semoga Tuhan selalu memberkati keduanya dalam setiap keadaan. Tak lupa pula kepada kakak, Mona Elisa Sianturi,Amd; kedua abangku, Juan Doli David Sianturi dan Zovai Hiskia Sianturi, SKG; adikku, Kapita Nadya Sianturi yang selalu memberikan doa, perhatian, saran dan dukungan.

  Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Prof. Dr. Chairul Yoel, Sp.A.(K), selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

  2. Ibu Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si, selaku dosen Pembimbing Skripsi.

  Terimakasih telah bersedia meluangkan waktu dan menjadi pembimbing bagi penulis dengan penuh kesabaran dan semangat memberikan masukan, arahan, saran dan kritikan yang sangat membantu penulis dalam memahami dan menemukan esensi dari sebuah penelitian dan pada akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini meskipun berada di tengah-tengah kesibukan yang sangat padat dan rintangan yang sangat berat.

  3. Ibu Siti Amnah, M.Si selaku dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih atas perhatian, bimbingan, masukan dan nasehat ibu dari awal saya kuliah sampai saat ini.

  4. Ibu Ridhoi Meilona Purba, M.Si. Terimakasih banyak atas dukungan, perhatian, saran dan nasehatnya ya, kak. Tetap semangat dan semoga kakak bisa menjadi ibu bagi anak-anak remaja kota Medan.

  5. Ibu Josetta M.R.T, M.Si, terima kasih banyak atas perhatian dan semangatnya ya, bu..

  6. Seluruh staf pengajar dan staf pegawai Fakultas Psikologi USU atas segala ilmu dan bantuan yang diberikan selama perkuliahan: Pak Iskandar, Pak Aswan, Pak Wanto, Kak Ari, Kak Devi, Bang Ali, Bu Ila dan Bu Ida yang selama ini membantu dalam urusan administrasi. Terima kasih ya.

  7. Kak Ruslinda Desiana Ginting (kakak dan pengajar terbaik) yang selalu punya waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Terimakasih atas perhatian, motivasi,

  brainstorming, nasehat, do’a yang terus menerus mengalir dan juga marah- marahnya.

  8. Para penghiburku yang luar biasa: Heni Juliartha, Edwina Tanya, Lindawaty Simbolon dan Ernita Sari. Terimakasih atas perhatian, semangat, doa dan penghiburan di saat-saat penuh tantangan.

  9. Saudara-saudara se-pelayanan (YES Fellowship): Bang Hendra, Devi, Litha, Arimbi, Renova, Alex, Amel, Monica, Yulifa, Weni, Ivan, Inoq, Kiki, Jupanri, Priska, Iyus dan Sofie. Terimakasih atas doa, penghiburan dan semangatnya ya...! Kalian membuatku kuat!

  10. Sahabat-sahabat terbaikku: Sevi, Acid, Mirna, Kinan, Raisa, Desti. Terimakasih untuk brainstorming, dukungan, semangat, kritik, marah-marahnya dan semuanya.

  11. Teman-teman seperjuangan 2005: Roro, Mitha, Eka, Eva Anggi. Terimakasih atas bantuan, semangat dan dukungannya ya.. Retno dan Siti Masyitah, ayo lebih bersemangat!!!

  12. Andy, Cici dan Diftha. Terimakasih untuk semangat, motivasi dan bantuan yang sangat berharga yang kalian berikan kepadaku. Tetap semangat dalam menjalani hidup ini ya... Pasti bisa!

  13. M.Fadlan “Veadl”, terimakasih banyak atas bantuan, saran, dukungan dan penghiburannya. Jangan suka bolos kuliah lagi, dek.

  14. Bang Tatar Jordan Panggabean, terimakasih banyak untuk nasehat, dorongan, doa dan semangatnya.

  15. Sahabat-sahabat “poeja”: Eda Beatrix dan Eda Yani. Terimakasih banyak untuk penghiburan, motivasi dan doanya ya. Lanjutkan perjuangan!

  16. Alexander, Benect, Gita, Angela “nenek” dan Nia. Terimakasih atas bantuan, semangat dan penghiburan yang kalian berikan kepadaku. Alex, Benect, Gita, dan nenek cepat nyusul ya.. semangat!

  17. Adik-adik 2008: Septi Utami, Suri, Ririn, Annisa Hsb, Mayrinda, Della, Ester Hotma. Terimakasih banyak atas bantuan, semangat, marah-marahnya terutama kelucuan kalian. Jangan suka bolos kuliah, rajin-rajin belajar dan sering-sering diskusi ya, dek. Jangan suka ngegosip juga.

  18. Seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan.

  Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak kekurangan. Penulis sangat mengharapkan masukan dan saran yang membangun dari semua pihak.

  Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin.

  Medan, Maret 2010 Penulis

  Enni Hanami Sianturi

  DAFTAR ISI

  Kata Pengantar......................................................................................................... i Daftar Isi .................................................................................................................v

  BAB I. PENDAHULUAN .....................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Perumusan Masalah .............................................................................. 7 C. Tujuan Penelitian................................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian................................................................................. 7

  1. Manfaat Teorits ................................................................................ 7

  2. Manfaat Praktis ................................................................................ 8

  E. Sistematika Penulisan ............................................................................ 8

  BAB II. LANDASAN TEORI ............................................................................. 10 A. Biseksual.............................................................................................. 10

  1. Pengertian Biseksual........................................................................ 10

  2. Perkembangan Identitas pada Biseksual...........................................11

  B. Psychological Well-Being.....................................................................12

  1. Definisi Psychological Well-Being.................................................. 12

  2. Dimensi Psychological Well-Being..................................................14

  3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Psychological well-being…………………………………………...19

  C. Gambaran Psycological Well-Being pada Individu Biseksual yang Berpacaran.....................................................................................21

  BAB III. METODE PENELITIAN ........................................................................24 A. Pendekatan Kualitatif............................................................................. 24

  B. Responden Penelitian .............................................................................. 26

  1. Tahap Persiapan Penelitian.................................................................... 30

  2. Interpretasi Intra Responden .................................................... ............ 77

  1. Analisa Data.......................................................................... ............... 60

  B. Responden II................................................................................................ 60

  2. Interpretasi Intra Responden................................................................. 56

  1. Analisa Data.......................................................................................... 38

  BAB IV. ANALISA DATA DAN INTERPRETASI................................................. 38 A. Responden I................................................................................................. 38

  H. Teknik dan Proses Pengolahan Data............................................................ 35

  3. Tahap Pencatatan Data........................................................................... 35

  2. Tahap Pelaksanaan Penelitian................................................................ 33

  G. Prosedur Penelitian.................................................................................... 30

  1. Karakteristik Responden Penelitian ......................................................26

  F. Kredibilitas Penelitian................................................................................. 30

  E. Lembar Observasi Respoden......................................................................29

  2. Pedoman Wawancara ........................................................................... 29

  1. Alat Perekam (tape recorder)................................................................ 29

  D. Alat Bantu Pengumpulan data ................................................................... 28

  1. Wawancara ........................................................................................... 27

  C. Metode Pengumpulan Data........................................................................ 27

  4. Lokasi Penelitian ................................................................................... 27

  3. Teknik Pengambilan Sampel ................................................................. 27

  2. Jumlah Responden Penelitian ................................................................26

  C. Responden III............................................................................................... 82

  1. Analisa Data......................................................................................... 82

  2. Interpretasi Intra Responden ................................................................ 99

  D. Pembahasan………………………………………………………………..108

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................113 A. Kesimpulan.................................................................................................113 B. Saran........................................................................................................... 114

  1. Saran Praktis...................................................................... .................... 114

  2. Saran Penelitian Selanjutnya.................................................................. 115 DAFTAR PUSTAKA

  Enni Hanami Sianturi dan Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

  ABSTRAK

  Hubungan romantis ataupun pacaran pada individu biseksual dapat mempengaruhi psychological well-being individu tersebut. Psychological well-being merujuk pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Bradburn, 1995). Ryff (1989) menyebutkan bahwa psychological

  well-being terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), memiliki

  hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), otonomi

  (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan pribadi (personal growth). Tujuan penelitian ini adalah untuk

  mengetahui gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara secara mendalam (in-depth interview). Responden penelitian adalah individu biseksual yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sebanyak tiga orang dimana responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak dua orang dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak satu orang.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan psychological well-

  being pada ketiga responden yang terlihat dari kualitas dimensi psychological well- being pada setiap responden. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya faktor-

  faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran seperti dukungan sosial, kepribadian, pola asuh dan budaya.

  Kata kunci : psychological well-being, individu biseksual yang berpacaran

  A Description of Psychological Well-Being On The Dating Bisexual Individuals Enni Hanami Sianturi and Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

  ABSTRACT

  Romantic relationship or dating on bisexual individuals may affect psychological well-being that individual Psychological well-being refers to the one’s

  .

  feelings about daily activity. These feeling can range from the negative mental conditions, such as life dissatisfaction, anxiety, and more to the positive mental state, such as realitation of potential or self actualization (Bradburn,1995). Ryff (1989) has argued that psychological well-being has six dimension; self-acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. The purpose of this research is to describe psychological well-being on the dating bisexual individuals. The research respondent are three bisexsual who are dating with men and female, which is two female respondent and one men respondent.

  Results shown that there is the psychological well-being differences at the three respondent from the psychological well-being dimension quality at each respondent. The result also shown that there are factors which affect psychological well-being on bisexuals who are dating, like social support, personality, parenting and culture.

  Keywords: psychological well-being, dating bisexsual individuals

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia tidak pernah statis. Dimulai dari pembuahan sampai

  kematian selalu terjadi perubahan, baik dalam kemampuan fisik maupun kemampuan psikologis. Perubahan inilah yang disebut sebagai perkembangan dalam rentang kehidupan manusia. Manusia memiliki tahapan perkembangan dengan tugas-tugas perkembangan yang penting untuk berbagai tahapan rentang kehidupan. Salah satu tahapan dalam rentang kehidupan manusia adalah masa dewasa awal atau dewasa dini (dalam Hurlock, 1999).

  Masa dewasa awal atau dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Individu yang berada pada masa dewasa awal atau dewasa dini diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami/isteri, orangtua, dan pencari nafkah, dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Masa dewasa awal atau dewasa dini memiliki beberapa tugas perkembangan, salah satu diantaranya adalah memilih pasangan. (dalam Hurlock, 1999).

  Berdasarkan teori perkembangan psikososial Erikson (dalam Papalia, Olds, & Feldman, 1998), masa dewasa awal (young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy versus isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif dan membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.

  Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Genbeck dan Patherick (2006) menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam berpacaran yaitu keintiman dengan pasangan dan berbagi dengan orang lain yang merefleksikan tugas perkembangan pada masa ini.

  Individu dewasa awal atau dewasa dini mencari keintiman emosional dan fisik kepada pasangan romantis. Hubungan ini mensyaratkan keterampilan seperti kesadaran diri, empati, kemampuan mengkomunikasikan emosi, pembuatan keputusan seksual, penyelesaian konflik dan kemampuan mempertahankan komitmen.

  Keterampilan tersebut sangat penting ketika individu dewasa awal atau dewasa dini memutuskan untuk menikah, membentuk pasangan yang tidak terikat pernikahan, atau hidup seorang diri, atau memiliki atau tidak memiliki anak (Lambeth & Hallet dalam Papalia, 2008). Hal ini jugalah yang terjadi pada individu biseksual.

  Biseksual merupakan sebuah istilah yang merupakan salah satu dari tiga klasifikasi utama orientasi seksual manusia disamping homoseksual dan heterogenitas.

  Orientasi seksual dapat dilihat sebagai salah satu dari empat komponen yaitu identitas seksual, jenis kelamin secara biologis, identitas gender, dan peran seks secara sosial (Shively & De Cecco dalam Fox, 2000). Suatu literatur penelitian telah mengemukakan secara jelas berbagai macam kriteria untuk mendefinisikan orientasi seksual, termasuk di antaranya perilaku seksual, affectional attachment (close

  relationships), fantasi-fantasi erotis, arousal, erotic preference, dan identifikasi diri sebagai biseksual, heteroseksual, atau homoseksual (Shively, Jones & De Cecco dalam Fox, 2000).

  Seksologis Jerman, Krafft-Ebing menyebut biseksual dengan sebutan

  psychosexual hermaphroditism, yaitu merujuk pada eksistensi dua seks biologis dalam

  satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Namun, penggunaan dari biseksual telah mengalami perubahan. Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian meninggalkan istilah

  psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari biseksual sebagai hasrat

  seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu. Menurut Freud (1905), biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah merupakan kombinasi dari maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas dan homoseksualitas (dalam Storr, 1999).

  Masters (1992) mengatakan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual juga didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional dan seksual kepada pria dan wanita (Robin & Hammer dalam Matlin, 2004). Selain itu, biseksual juga dapat didefinisikan sebagai orientasi seksual yang mempunyai ciri- ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis dan hasrat seksual kepada pria dan wanita. Orang-orang yang memiliki orientasi biseksual, dapat mengalami pengalaman seksual, emosional dan ketertarikan afeksi kepada sesama jenis dan lawan jenis (dalam wikipedia, 2008).

  Kinsey dalam penelitian yang dilakukan di Amerika menyatakan sekitar 1% individu mengatakan bahwa diri mereka adalah biseksual yaitu 1,2% pria dan 0,7% wanita (dalam Santrock, 2003). Di Indonesia sendiri belum ada data statistik yang

  menunjukkan presentasi biseksual karena wacana sosial tentang biseksual masih terbatas (Oetomo, 2006).

  Individu gay, lesbi atau biseksual sering mengalami diskriminasi. Di masyarakat Indonesia sering didengar larangan dan ancaman dari para pemimpin agama, yang tanpa berpikir panjang dan membaca lebih cermat teks-teks keagamaan dengan mudahnya menyatakan mereka sebagai orang berdosa. Hal ini sangat menyakitkan bagi kaum gay, lesbi dan biseksual di Indonesia. Tidak adanya pengakuan dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan perilaku diskriminatif.

  Media massa jarang membahas isu-isu yang penting untuk kaum gay, lesbi dan biseksual (Oetomo, 2006).

  Secara khusus, kaum biseksual sering mendapatkan penolakan dari komunitas heteroseksual dan homoseksual. Hal ini dikarenakan adanya prasangka seksual. Kaum heteroseksual cenderung meyakini bahwa kaum biseksual seringkali tidak setia kepada pasangannya (Peplau & Spalding dalam Matlin, 2004). Bagi kaum lesbi dan gay, mereka sering meyakini bahwa individu biseksual membingungkan dan kaum lesbi dan gay kadang-kadang memunculkan prasangka seksual untuk mencegah kaum biseksual dari munculnya pengakuan kaum biseksual yang menyatakan mereka adalah kaum lesbi dan gay (Herdt, Rust, Peplau & Spalding dalam Matlin, 2004). Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Beby (bukan nama sebenarnya):

  “Iya... aku pure lesbi dan dari kecil emang udah lesbi... Menurut pandangan aku, sebenarnya aku agak-agak sebel dengan yang namanya cewek biseksual. Tapi aku masih bisa kok menghargai mereka karena orientasi seksual masing- masing orang emang berbeda. Kenapa aku agak-agak sebel? Di mata aku, cewek biseksual itu kesannya munafik...sebenarnya mereka mau yang mana nih? Kenapa harus dua-duanya? Terus kesannya gimana ya? Agak-agak jijik juga ya sama biseksual, tapi kalo ini tentang melakukan hubungan seks ya. Males kali lah kalo tau mereka udah pernah ngeseks sama laki-laki... Ihhhh...gak banget deh... Jadi ya gitulah, bingung aja gitu aku sama biseks... Aku ngeliat mereka kayak orang plin plan” (komunikasi personal, Medan, 15 Februari 2009)

  Pada umumnya, individu biseksual memiliki fluktuasi dalam ketertarikan yang romantis. Mereka merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis lebih awal dibandingkan merasakan ketertarikan terhadap sesama jenisnya (Fox & Weinberg et al dalam Matlin, 2004). Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Ogy (bukan nama sebenarnya):

  “pertama kalinya tu suka ma ceweklah, nok.. kek mana ya..? kejadiannya tu gak disengaja gitu. Awalnya ada gay yang sukak ma aku, terakhirnya aku pun jadi suka juga ma dia. Dia pun baik kali samaku, terakhir jadi timbul perasaanlah sama dia (komunikasi personal, Medan, 17 Mei 2009).

  Hubungan romantis ataupun pacaran dapat berpengaruh terhadap psychological

  well-being individu biseksual. Kepuasan hubungan romantisme, komitmen terhadap

  pasangan dan coming out ataupun self-disclosure terhadap pasangan dan orang lain dapat menimbulkan konflik intrapersonal maupun interpersonal seperti stress, kecemasan dan ketakutan yang akan berpengaruh terhadap psychological well-being individu biseksual tersebut (dalam Savin-William & Cohen, 1995). Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Jhoni (bukan nama sebenarnya):

  “yang pasti stress lah membagi perasaan ini.. Itu dua, aku pun bingung, kalo bisa di belah, di belahlah... tapi ini gak bisa dibelah pula..” (komunikasi personal, Medan 21 Oktober 2009)

  Hal serupa juga dialami oleh Ogy (bukan nama sebenarnya) dalam pernyataan berikut:

  

.”Iya, nok… aku pacaran ma cewek cowok. Kek mana lah ya?? Fifty-fifty gitu

  dia yang ku rasakan. Di satu sisi aku ngerasa nyaman kali kalau berhubungan sama cowok, di sisi lain kek merasa takut gitulah. Takutlah kalau orang-orang tahu aku ni biseks. (komunikasi personal, Medan, 17 Mei 2009)”

  

Psychological well-being (yang selanjutnya disebut dengan PWB) merujuk

  pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Bradburn dalam Ryff & Keyes,1995).

  Ryff mengajukan beberapa literatur untuk mendefinisikan kondisi mental yang berfungsi positif yaitu Rogers menyebutnya dengan istilah fully functioning person, Maslow menyebutnya dengan konsep self-actualized person, dan Jung mengistilahkannya dengan individuasi, serta Allport menyebutnya dengan konsep

  Maturity (Ryff,1989). Ryff (dalam Keyes,1995) juga menyatakan bahwa PWB dapat

  ditandai dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasaan hidup dan tidak adanya gejala- gejala depresi.

  Ryff (1989) menyebutkan bahwa PWB terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), memiliki hubungan positif dengan orang lain

  (positive relations with others), otonomi (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan pribadi (personal growth).

  Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, maka perumusan masalah penelitian ini adalah: “Bagaimana gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran?”

  C. Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis, antara lain:

  1. Dapat memberikan masukan dan sumber informasi bagi disiplin ilmu psikologi terutama pada bidang klinis, mengenai gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran.

  2. Dapat menjadi masukan bagi para peneliti lain yang tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran.

  2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis, antara lain:

  1. Memberi gambaran kepada individu biseksual mengenai psychological well- being.

  2. Memberikan informasi kepada individu biseksual tentang pentingnya PWB sehingga individu biseksual dapat mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan stress, kecemasan, depresi, sehingga mereka dapat lebih sejahtera secara psikologis .

  3. Menjadi sumbangan informasi bagi lingkungan sekitar individu biseksual agar dapat memberikan dukungan positif sehingga kaum biseksual dapat memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi.

E. Sistematika Penulisan

  Proposal penelitian ini disajikan dalam beberapa bab dengan sistematika penelitian sebagai berikut :

  Bab I : Pendahuluan Memuat latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II : Landasan Teori

  Memuat tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam permasalahan. Teori-teori yang dimuat adalah teori biseksual, definisi psychological well-being, dimensi-dimensi

  psychological well-being dan faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being.

  Bab III : Metode Penelitian Menjelaskan Karakteristik Subjek dan Jumlah Subjek, Metode Pengambilan Data, Teknik Pengambilan Sampel, dan Alat Bantu Pengambilan Data.

BAB II LANDASAN TEORI A. Biseksual

  1. Definisi Biseksual

  Krafft-Ebing, salah seorang seksologis Jerman menyebut biseksual dengan sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian meninggalkan istilah psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu.

  Menurut Freud (1905), biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas, sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah merupakan kombinasi dari maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas dan homoseksualitas (dalam Storr, 1999).

  Dalam pengertian umumnya, biseksual adalah orientasi seksual yang mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat seksual kepada pria dan wanita. Menurut Masters (1992), biseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual juga didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional dan seksual kepada laki-laki dan perempuan (Robin & Hammer, 2000 dalam Matlin, 2004).

  Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang dengan orientasi seksual yang memiliki ketertarikan estetis, psikologis, emosional dan seksual baik kepada laki-laki maupun perempuan.

  2. Perkembangan Identitas Pada Biseksual

  Terdapat empat tingkatan pada biseksual dalam menghadapi identitas mereka (Weinberg dkk, 1994):

  a. Initial Confusion Merupakan periode yang sangat membingungkan, ragu dan berjuang dengan identitas mereka sebelum mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai biseksual.

  Biasanya merupakan langkah awal dalam proses menjadi biseksual. Bagi beberapa biseksual, periode ini dilewati dengan perasaan seksual yang kuat terhadap kedua jenis kelamin yang sangat mengganggu, tanpa orientasi, dan terkadang menakutkan.

  b. Finding And Applying The Label Pada beberapa orang yang awalnya belum mengenal istilah biseksual, biasanya mereka mendapatkan istilah tersebut dengan mendengar, membacanya di suatu sumber, atau mempelajarinya dari komunitas biseksual. Penemuan ini membuat perasaan mereka menjadi lebih bermakna sehinga hal ini kemudian menjadi titik balik dalam kehidupan mereka. Dilain pihak ada pula yang sudah memiliki pengetahuan tentang biseksual namun belum dapat melabelnya pada diri mereka. Hal ini terjadi pada mereka yang awalnya merasakan dirinya sebagai homoseksual. Selain itu ada pula yang tidak menjalani titik balik yang spesifik dalam kehidupannya namun perasaan seksual terhadap kedua jenis kelamin terlalu sulit untuk disangkal. Mereka pada akhirnya menyimpulkan untuk tidak memilih. Faktor terakhir yang mengarahkan seseorang untuk memakai label biseksual adalah dorongan yang datang dari teman- teman yang telah mendefinisikan diri mereka sebagai biseksual.

  c. Settling into the identity Tingkatan ini dikarakteristikkan dengan transisi yang lebih rumit dalam self-

  labeling. Pada tingkat ini mereka lebih dapat menerima diri, tidak begitu

  memperhatikan sikap negatif dari orang lain d. Continued uncertainity Banyak pria dan wanita yang meragukan identitas biseksual mereka karena hubungan seksual yang eksklusif. Setelah terlibat secara eklusif dengan pasangan berbeda jenis dalam waktu tertentu, beberapa diantara mereka mempertanyakan sisi homoseksual dari seksualitas mereka. Sebaliknya, setelah terlibat dengan pasangan sejenis, mereka mulai mempertanyakan komponen heeroseksual dalam seksualitas mereka.

B. Psychological Well-Being

1. Definisi Psychological Well-Being

  Istilah Psychological Well-Being (PWB) berawal dari tulisan filsuf Aristoteles mengenai eudaimonia (Ryff,1989). Istilah ini tidak hanya sekedar berarti kebahagiaan atau menunjukkan antara kepuasaan terhadap keinginan yang benar dan salah

  (Hedonistic), melainkan Eudaimonia lebih memberikan karakteristik yang tertinggi

  dari keberadaan manusia, yaitu berjuan untuk mencapai kesempurnaan dengan jalan merealisasikan potensi yang sebenarnya. Aristoteles (dalam Ryff,1989) berpendapat bahwa pengertian bahagia bukanlah diperoleh dengan jalan mengejar kenikmatan dan menghindari rasa sakit, atau terpenuhinya segala kebutuhan individu, melainkan melalui tindakan nyata yang mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki individu. Hal inilah yang merupakan tugas dan tanggungjawab manusia sehingga merekalah yang menentukan apakah menjadi individu yang merasa bahagia, merasakan apakah hidupnya bermutu, berhasil atau gagal.

  Pada intinya psychological well-being merujuk pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif (misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya) sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Bradburn dalam Ryff dan Keyes, 1995). Ryff mengajukan beberapa literatur untuk mendefinisikan kondisi mental yang berfungsi positif yaitu Rogers menyebutnya dengan istilah fully functioning person, Maslow menyebutnya dengan konsep self-

  actualized person, dan Jung mengistilahkannya dengan individuasi, serta Allport menyebutnya dengan konsep Maturity (Ryff,1989).

  PWB dapat ditandai dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasaan hidup dan tidak adanya gejala-gejala depresi (Ryff, 1995). Menurut Bradburn, dkk (dalam Ryff, 1989) kebahagiaan (hapiness) merupakan hasil dari kesejahteraan psikologis dan merupakan tujuan tertinggi yang ingin dicapai oleh setiap manusia.

  Ryff menyebutkan bahwa PWB terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan terhadap diri sendiri, memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan terhadap lingkungan, memiliki tujuan dan arti hidup serta pertumbuhan dan perkembangan yang berkelanjutan (Ryff & Keyes, 1995).

  Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa psychological well-

  being (kesejahteraan psikologis) adalah kondisi individu yang ditandai dengan adanya perasaan bahagia, mempunyai kepuasaan hidup dan tidak ada gejala-gejala depresi.

  Kondisi tersebut dipengaruhi adanya fungsi psikologis yang positif seperti penerimaan diri, relasi sosial yang positif, mempunyai tujuan hidup, perkembangan pribadi, penguasaan lingkungan dan otonomi.

2. Dimensi Psychological Well-Being

  Menurut Ryff (dalam Keyes, 1995), pondasi untuk diperolehnya kesejahteraan psikologis adalah individu yang secara psikologis dapat berfungsi secara positif

  (positive psychological functioning). Komponen individu yang mempunyai fungsi

  psikologis yang positif yaitu:

  1. Penerimaan Diri (Self-Acceptance)

   Self-acceptance dalam PWB ini berkaitan dengan penerimaan individu pada

  masa kini dan masa lalunya. Selain itu juga berkaitan dengan adanya penilaian positif atas kondisi diri sendiri.

  Seseorang memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri adalah mereka yang memahami dan menerima berbagai aspek diri termasuk di dalamnya kualitas baik maupun buruk, dan bersikap positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. Sebaliknya, individu yang memiliki nilai yang rendah adalah mereka yang menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap kondisi dirinya, mengalami masalah dengan kualitas tertentu dari dirinya, merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada kehidupan masa lalu, dan ingin menjadi orang yang berbeda dari diri sendiri.

  2. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others) Komponen lain dari PWB adalah kemampuan individu untuk membina hubungan yang hangat dengan orang lain. Individu yang matang digambarkan sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki perasaan yang kuat dalam melakukan empati dan afeksi terhadap sesama manusia, memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan identifikasi yang baik dengan orang lain.

  Individu yang memiliki hubungan positif dengan orang lain mampu membina hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan dengan orang lain. Selain itu, individu memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan empati, afeksi, dan mempunyai hubungan yang intim, serta memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar pribadi. Selain itu, ia memiliki kedekatan (intimacy) dengan orang lain dan mampu memberikan bimbingan serta pengarahan kepada orang lain (generativity). Sebaliknya, individu yang kurang baik dalam dimensi hubungan positif menunjukkan tingkah laku yang tertutup dalam berhubungan dengan orang lain, sulit untuk bersikap hangat, terbuka dan peduli dengan orang, merasa terasing dan frustasi dalam hubungan interpersonalnya, serta tidak bersedia untuk melakukan kompromi agar dapat mempertahankan hubungan dengan orang lain.

  3. Otonomi (Autonomy) Ciri utama seseorang yang memiliki otonomi yang baik antara lain kemampuan untuk menentukan nasib sendiri, kemampuan untuk mengatur tingkah laku, dan kemampuan untuk mandiri. Ia mampu mengambil keputusan tanpa adanya campur tangan orang lain. Selain itu, orang tersebut memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan sosial, dapat mengatur tingkah laku dalam diri, serta dapat mengevaluasi diri dengan standar personal, bukan tergantung pada penilaian orang lain terhadap dirinya. Sebaliknya, individu yang kurang memiliki otonomi akan sangat memperhatikan dan mempertimbangkan harapan dan evaluasi dari orang lain, berpegangan pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting, serta mudah terpengaruh oleh tekanan sosial untuk berpikir dan bertingkah laku dengan cara-cara tertentu.

  4. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery) Kemampuan untuk menguasai lingkungan didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memilih, menciptakan, atau mengelola lingkungan agar berjalan seiring dengan kondisi psikologis dirinya dalam rangka pengembangan diri. Individu yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan memiliki keyakinan dan kompetensi dalam mengatur lingkungan. Ia dapat mengendalikan aktivitas eksternal yang berada di lingkungannya termasuk mengatur dan mengendalikan situasi kehidupan sehari-hari, memanfaatkan kesempatan yang ada di lingkungannya, serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan pribadi. Sebaliknya, individu yang memiliki penguasaan lingkungan yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam mengatur situasi sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan kualitas lingkungan sekitarnya serta tidak mampu memanfaatkan peluang dan kesempatan diri lingkungan sekitarnya.

  5. Tujuan Hidup (Purpose in Life) Kondisi mental yang sehat memungkinkan individu untuk menyadari bahwa ia memiliki tujuan tertentu dalam hidup yang ia jalani serta mampu memberikan makna pada hidup yang ia jalani. Allport (1961) menjelaskan bahwa salah satu ciri kematangan individu adalah memiliki tujuan hidup, yakni memiliki rasa keterarahan (sense of directedness) dan tujuan (intentionality). Selain itu, Rogers (1961) mengemukakan bahwa fully functioning person memiliki tujuan dan cita- cita serta rasa keterarahan yang membuat dirinya merasa bahwa hidup ini bermakna (Ryff, 1989).

  Individu yang memiliki nilai tinggi dalam dimensi tujuan hidup adalah individu yang memiliki tujuan dan arah dalam hidup, merasakan arti dalam hidup masa kini maupun yang telah dijalaninya, memiliki keyakinan yang memberikan tujuan hidup, serta memiliki tujuan dan sasaran hidup yang ingin dicapai dalam hidup. Sebaliknya, individu yang kurang memiliki tujuan hidup akan kehilangan makna hidup, arah dan cita-cita yang tidak jelas, tidak melihat makna yang terkandung untuk hidupnya dari kejadian di masa lalu, serta tidak mempunyai harapan atau kepercayaan yang memberi arti pada kehidupan (Ryff, 1995).

  6. Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth) Individu yang matang secara psikologis tidak hanya mampu mencapai karakteristik-karakteristik pribadi dan pengalaman terdahulu., melainkan juga mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai individu yang fully functioning. Untuk dapat berfungsi sepenuhnya, individu harus memiliki keterbukaan terhadap pengalaman. Individu yang terbuka pada pengalaman akan lebih menyadari lingkungan sekitarnya dan tidak berhenti pada pendapat-pendapat sebelumnya yang kemungkinan tidak benar. Rogers menyebutnya sebagai “keinginan untuk menjadi”. Individu yang mencapai kondisi tersebut tidak berhenti pada suatu keadaan statis dan berhenti mengembangkan dirinya. Justru keterbukaan terhadap pengalaman, selalu menghadapi tantangan dan tugas-tugas baru pada setiap fase kehidupannya. Individu yang matang selalu berusaha mengaktualisasikan dirinya dan menyadari potensi-potensi yang dimiliki.

  Individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya, memandang diri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, memiliki kemampuan dalam menyadari potensi diri yang dimiliki, dapat merasakan peningkatan yang terjadi pada diri dan tingkah lakunya setiap waktu serta dapat berubah menjadi pribadi yang lebih efektif dan memiliki pengetahuan yang bertambah. Sebaliknya, individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang kurang baik akan merasa dirinya mengalami stagnasi, tidak melihat peningkatan dan pengembangan diri, merasa bosan dan kehilangan minat terhadap kehidupannya, serta merasa tidak mampu dalam mengembangkan sikap dan tingkah laku yang lebih baik (Ryff, 1995).

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being

  Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being seseorang antara lain:

  1. Usia.

  Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989), ditemukan adanya perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka semakin mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan keadaan dirinya.

  Individu yang berada dalam usia dewasa akhir memiliki skor psychological

  well-being yang lebih rendah dalam dimensi tujuan hidup dan pertumbuhan diri;

  individu yang berada dalam usia dewasa madya memiliki skor psychological well-

  being yang lebih tinggi dalam dimensi penguasaan lingkungan; individu yang

  berada dalam usia dewasa awal memiliki skor yang lebih rendah dalam dimensi otonomi dan penguasaan lingkungan dan memiliki skor psychological well-being yang lebih tinggi dalam dimensi pertumbuhan diri. Dimensi penerimaan diri dan dimensi hubungan positif dengan orang lain tidak memperlihatkan adanya perbedaan seiring dengan pertambahan usia (Ryff dalam Ryan & Deci, 2001).

  2. Jenis Kelamin Menurut Ryff (1989), satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan orang lain. Sejak kecil, stereotype gender telah tertanam dalam diri anak laki-laki digambarkan sebagai sosok agresif dan mandiri, sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia & Feldman, 2001). Tidaklah mengherankan bahwa sifat-sifat stereotype ini akhirnya terbawa oleh individu sampai individu tersebut dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina keadaan harmoni dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.

  3. Status sosial ekonomi Ryff dkk., (dalam Ryan & Decci, 2001) mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki status ekonomi yang lebih baik darinya. Menurut Davis (dalam Robinson &

  Andrew, 1991), individu dengan tingkat penghasilan tinggi, status menikah, dan mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki psychological well-being yang lebih tinggi.

  4. Budaya Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

  D. Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual Yang Berpacaran.

  Masa dewasa awal atau dewasa dini memiliki beberapa tugas perkembangan, salah satu diantaranya adalah memilih pasangan. (dalam Hurlock, 1999). Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran. Gembeck dan Patherick (2006) menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam berpacaran yaitu keintiman dengan pasangan dan berbagi dengan orang lain yang merefleksikan tugas perkembangan pada masa ini. Hal ini jugalah yang terjadi pada individu biseksual.

  Biseksual merupakan sebuah istilah yang merupakan salah satu dari tiga klasifikasi utama orientasi seksual manusia disamping homoseksual dan heterogenitas.

  Masters (1992) mengatakan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual juga didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional dan seksual kepada pria dan wanita (Robin & Hammer dalam Matlin, 2004). Selain itu, biseksual juga dapat didefinisikan sebagai orientasi seksual yang mempunyai ciri- ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis dan hasrat seksual kepada pria dan wanita. Orang-orang yang memiliki orientasi biseksual, dapat mengalami pengalaman seksual, emosional dan ketertarikan afeksi kepada sesama jenis dan lawan jenis (dalam wikipedia, 2008).

  Kinsey dalam penelitian yang dilakukan di Amerika menyatakan sekitar 1% individu mengatakan bahwa diri mereka adalah biseksual yaitu 1,2% pria dan 0,7% wanita (dalam Santrock, 2003). Di Indonesia sendiri belum ada data statistik yang menunjukkan presentasi biseksual karena wacana sosial tentang biseksual masih terbatas (Oetomo, 2006). Individu gay, lesbi atau biseksual sering mengalami diskriminasi. Secara khusus, kaum biseksual sering mendapatkan penolakan dari komunitas heteroseksual dan homoseksual.

  Pada umumnya, individu biseksual memiliki fluktuasi dalam ketertarikan yang romantis. Mereka merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis lebih awal dibandingkan merasakan ketertarikan terhadap sesama jenisnya (Fox & Weinberg et al dalam Matlin, 2004). Bagi individu biseksual, hubungan romantis ataupun pacaran dapat berpengaruh terhadap Psychological Well-Being mereka. Psychological Well-

  Being (yang selanjutnya disebut dengan PWB) merujuk pada perasaan-perasaan

  seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri (Bradburn dalam Ryff & Keyes,1995). Ryff (dalam Keyes,1995) juga menyatakan bahwa PWB dapat ditandai dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasaan hidup dan tidak adanya gejala-gejala depresi.

  Ryff (1989) menyebutkan bahwa PWB terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), memiliki hubungan positif dengan orang lain

  (positive relations with others), otonomi (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan pribadi (personal growth).

  Kepuasan hubungan romantisme, komitmen terhadap pasangan dan coming out ataupun self-disclosure dapat menimbulkan masalah atau konflik intrapersonal maupun interpersonal seperti stress, kecemasan dan ketakutan yang akan berpengaruh terhadap PWB individu biseksual yang berpacaran (dalam Savin-William & Cohen, 1995).

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Kualitatif Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2000) metode penelitian

  kualitatif merupakan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

  Pendekatan ini juga digunakan untuk menggambarkan dan menjawab pertanyaan seputar responden penelitian beserta konteksnya.

  Menurut Poerwandari (2001) pendekatan kualitatif dipandang sebagai pendekatan yang lebih sesuai untuk penelitian yang tertarik dalam memahami manusia dengan segala kekompleksitasnya sebagai makhluk subjektif. Untuk itu peneliti berusaha untuk menangkap, memahami dan menaksirkan apa dan bagaimana suatu pengertian dikembangkan oleh responden penelitian. Maka kemudian yang dianggap penting adalah pengalaman, pendapat, perasaan dan pengetahuan responden yang ditelitinya. Hasil dari pendekatan tersebut dapat diperoleh dari bagaimana gambaran psychological-well being pada individu biseksual yang berpacaran.

  Padgett (1998) mengemukakan beberapa alasan mengapa menggunakan penelitian kualitatif. Alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian kualitatif digunakan jika peneliti ingin menggali suatu topik yang masih sedikit diketahui.

  2. Jika topik yang ingin diteliti memiliki tingkat kedalaman sensitivitas dan emosional.

  3. Penelitian tersebut diharapkan dapat menggambarkan “pengalaman hidup” dari perspektif orang yang hidup di dalamnya dan menciptakan arti darinya.

  4. Diharapkan dapat memasuki “kotak hitam” dari program atau intervensi.

  5. Seorang peneliti kuantitatif yang mencapai jalan buntu dalam mengumpulkan data atau dalam menjelaskan penemuan.

  Sama halnya dengan beberapa alasan penggunaan metode penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Padgett (1998) diatas, maka peneliti menilai bahwa jenis penelitian yang paling tepat untuk menguraikan, menggambarkan atau mendeskripsikan gambaran psychological-well being pada individu biseksual yang berpacaran dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.

  Alasan peneliti memilih menggunakan metode penelitian kualitatif untuk melihat gambaran psychological-well being pada individu biseksual yang berpacaran dikarenakan tema tersebut tidak umum dikaji dalam penelitian psikologi klinis dan bersifat masih baru . Menurut peneliti, metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini dapat menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku yang dapat diamati sehingga data-data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui gambaran psychological-well being pada individu biseksual yang berpacaran.

  Hal ini sesuai dengan pendapat Poerwandari (2001) yang menyatakan bahwa salah satu tujuan penting penelitian kualitatif adalah diperolehnya pemahaman yang menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti, sebagian besar aspek psikologis manusia juga sangat sulit direduksi dalam bentuk elemen dan angka sehingga akan lebih ‘etis’ dan kontekstual bila diteliti dalam setting alamiah. Artinya tidak cukup mencari “what” dan “how much”, tetapi perlu juga memahaminya (“why” dan “how”) dalam konteksnya.

B. Responden Penelitian

  1. Karakteristik Responden Penelitian

  Adapun karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian telah disesuaikan dengan tujuan penelitian yang akan diteliti adalah: a. Laki-laki dan Perempuan.

  b. Usia 20-25 tahun.

  c. Biseksual.

  d. Sedang menjalani atau sudah pernah berpacaran dengan laki-laki dan perempuan.

  2. Jumlah Responden Penelitian

  Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2007), desain kualitatif memiliki sifat yang luwes, oleh sebab itu tidak ada aturan yang pasti dalam jumlah responden yang harus diambil untuk penelitian kualitatif. Jumlah responden sangat tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Pada penelitian ini jumlah responden yang direncanakan sebanyak 3 orang individu biseksual, dengan pertimbangan sudah pernah berpacaran dengan laki-laki dan perempuan.

  3. Teknik Pengambilan Sampel

  Prosedur pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan teori atau berdasarkan konstruk operasional (theory based/ operasional

  construct sampling), yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu, berdasarkan

  teori atau konstruk operasional sesuai dengan studi-studi sebelumnya, atau sesuai dengan tujuan penelitian (Poerwandari, 2007).

  4. Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di Medan, karena terdapat alasan kemudahan bagi peneliti dalam menemukan responden.

  Lokasi penelitian dapat berubah sewaktu-waktu

  dan disesuaikan dengan keinginan dari responden penelitian agar responden merasa nyaman.

C. Metode Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Hal ini sesuai dengan pendapat Padgett (1998) yang mengatakan bahwa ada tiga bentuk dasar metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu: (a) wawancara, (b) observasi dan (c) analisis dokumen. Namun metode observasi dan analisis dokumen tidak dijadikan metode pengumpulan data dalam penelitian ini karena peneliti mempertimbangkan faktor efektifitas dan keterbatasan peneliti.

1. Wawancara

  Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai (Bungin, dalam Poerwandari, 2001). Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subyektif yang berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dkk, 1994).

  Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-depth interview). Banister (1994) menjelaskan bahwa wawancara mendalam adalah wawancara yang tetap menggunakan pedoman wawancara, namun penggunaannya tidak sekedar wawancara terstruktur. Pedoman wawancara berisi “open-ended question” yang bertujuan agar arah wawancara tetap sesuai dengan tujuan penelitian (Poerwandari, 2001). Pedoman wawancara ini juga digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek yang relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Adanya pedoman yang demikian mengharuskan peneliti memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara konkrit dalam kalimat tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung (Poerwandari, 2001).

D. Alat Bantu Pengambilan Data

  Pencatatan data selama penelitian penting sekali karena data dasar yang akan dianalisa berdasarkan atas ”kutipan” hasil wawancara. Oleh karena itu, pencatatan data harus dilakukan dengan cara yang sebaik dan setepat mungkin. Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif sangatlah penting dan cukup rumit, untuk itu diperlukan suatu instrumen atau alat penelitian agar dapat membantu peneliti dalam pengumpulan data (Moleong, 2005). Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Alat perekam (tape recorder)

  Poerwandari (2001) menyatakan, sedapat mungkin wawancara perlu direkam dan dibuat transkripnya secara verbatim (kata demi kata), sehingga tidak bijaksana jika peneliti hanya mengandalkan ingatan. Untuk tujuan tersebut, perlu digunakan alat perekam agar peneliti mudah mengulang kembali rekaman wawancara dan dapat menghubungi subjek kembali apabila ada hal yang masih belum lengkap atau belum jelas. Penggunaan alat perekam ini dilakukan dengan seizin responden. Penggunaan

  tape recorder memungkinkan peneliti untuk lebih berkonsentrasi pada apa yang

  dikatakan oleh responden, tape recorder dapat merekam nuansa suara dan bunyi serta aspek-aspek dari wawancara seperti tertawa, desahan dan sarkasme secara tajam (Padgett, 1998).

2. Pedoman wawancara

  Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman wawancara ini juga sebagai alat bantu untuk mengkategorisasikan jawaban sehingga memudahkan pada tahap analisis data. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tapi juga berdasarkan pada berbagai teori yang berkaitan dengan masalah yang ingin dijawab (Poerwandari, 2001).

  Pedoman umum wawancara memuat isu-isu yang berkaitan dengan tema penelitian tanpa menentukan urutan pertanyaan karena akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat wawancara berlangsung. Pedoman ini digunakan untuk mengingatkan sekaligus sebagai daftar pengecek bahwa semua aspek yang relevan telah dibahas atau ditanyakan.

  E. Lembar Observasi Responden

  Lembar observasi responden digunakan untuk mempermudah proses observasi yang dilakukan. Observasi dilakukan seiring dengan wawancara. Lembar observasi antara lain memuat tentang penampilan fisik, setting wawancara, sikap partisipan pada peneliti selama wawancara berlangsung, hal-hal yang tidak biasa dalam wawancara serta hal-hal yang dilakukan partisipan dalam menjawab pertanyaan selama wawancara.

  F. Kredibilitas Penelitian

  Kredibilitas adalah istilah pertama, paling banyak dipilih dan paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif untuk menggantikankan konsep validitas yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif (Poerwandari, 2007). Kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah dan mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks.

G. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan Penelitian

  Pada tahap persiapan penelitian, peneliti melakukan sejumlah hal yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2000) yaitu sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan informasi dan teori yang berhubungan dengan biseksual dan psychological well-being.

  a. Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori yang berhubungan dengan biseksual.

  b. Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori yang berhubungan dengan

  

psychological well-being, dimensi psychological well-being dan faktor-faktor yang

mempengaruhi psychological well-being.

  2. Menyusun pedoman wawancara Agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian, peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teori yang ada untuk menjadi pedoman wawancara.

  3. Persiapan untuk mengumpulkan data Peneliti mencari beberapa orang responden yang sesuai dengan kriteria sampel yang telah ditentukan dan mengumpulkan informasi tentang responden penelitian.

  Setelah mendapatkannya, lalu peneliti menghubungi calon responden untuk menjelaskan tentang penelitian yang akan dilakukan dan menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian.

  Peneliti mengenal responden I melalui teman peneliti yang juga merupakan teman responden I. Setelah itu peneliti berteman dengan responden I. Lalu peneliti menanyakan kepada responden I apakah ia mempunyai kenalan seorang biseksual yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan. Responden I mengenalkan temannya yang sesuai dengan kriteria. Peneliti kemudian membuat janji untuk bertemu dan berkenalan dengan teman responden I. Akhirnya peneliti bertemu dan berkenalan dengan teman responden I di salah satu rumah makan bersama responden I juga. Saat merasa teman responden I memiliki indikasi bersedia untuk menjadi partisipan dalam penelitian, peneliti memintanya untuk menjadi partisipan, namun sebelumnya peneliti memberitahukan alasan serta meminta kesediaan partisipan untuk menjadi sampel dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Kemudian, responden I pun mengajukan diri untuk menjadi responden peneliti. Partisipan I mengaku jujur di hadapan peneliti bahwa ia adalah seorang biseksual yang berpacaran dengan laki- laki dan perempuan serta bersedia menjadi responden peneliti. Pada awalnya teman responden I sudah bersedia, namun tanpa ada alasan yang jelas temannya tersebut menghindar dan menolak untuk menjadi responden peneliti.

  Peneliti mengenal responden II dari teman peneliti yang juga adalah teman responden II. Peneliti pun berteman dengan responden II. Peneliti dan responden II sering bertemu dan sudah banyak bercerita sampai akhirnya peneliti mengetahui bahwa responden II adalah seorang biseksual. Responden II pun juga mengetahui bahwa saat ini peneliti sedang mencari responden yang sesuai dengan kriteria. Responden II pun mengatakan bahwa dirinya adalah seorang biseksual yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan. Sebelum meminta kesediaan, responden

  II mengajukan diri terlebih dahulu untuk menjadi responden peneliti. Lalu kemudian peneliti memberitahukan alasan dan tujuan penelitian yang dilakukan peneliti.

  Peneliti mengenal responden III dari teman peneliti yang adalah teman satu kampus responden III. Peneliti bertanya kepada teman peneliti apakah ia memiliki kenalan yang adalah seorang biseksual yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan. Teman peneliti pun mengatakan bahwa ia memiliki seorang teman yang adalah biseksual. Lalu peneliti dan teman peneliti mendatangi rumah responden III dan berkenalan langsung dengan responden III. Saat merasa responden III memiliki indikasi bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian, peneliti memintanya untuk menjadi responden, namun sebelumnya peneliti memberitahukan alasan dan tujuan penelitian lalu meminta kesediaannya untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

  4. Membangun rapport pada responden Hal ini dilakukan oleh peneliti terlebih dahulu untuk membangun kepercayaan pada calon responden dalam pengambilan data. Peneliti mengusahakan hubungan yang akrab terlebih dahulu dengan responden. Tanpa membangun rapport yang baik, peneliti tidak akan mendapat informasi yang lebih atau berarti dari subjek penelitian dan hal ini akan menghambat jalannya penelitian dan pengambilan data.

  5. Menentukan jadwal wawancara Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian, peneliti meminta responden untuk bertemu mengambil data. Hal ini dilakukan setelah peneliti melakukan rapport kepada responden sebelumnya. Setelah itu, peneliti dan responden penelitian mengatur dan menyepakati waktu untuk melakukan wawancara.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

  Setelah tahap persiapan penelitian dilakukan, maka peneliti memasuki tahap pelaksanaan penelitian.

  a. Mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat wawancara Sebelum wawancara dilakukan, peneliti mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat yang sebelumnya telah disepakati bersama dengan responden. Konfirmasi ulang ini dilakukan sehari sebelum wawancara dilakukan dengan tujuan agar memastikan responden dalam keadaan sehat dan tidak berhalangan dalam melakukan wawancara.

  b. Melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara Sebelum melakukan wawancara, peneliti meminta responden untuk menandatangani Lembar Persetujuan Wawancara yang menyatakan bahwa responden mengerti tujuan wawancara, bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan, mempunyai hak untuk mengundurkan diri dari penelitian sewaktu-waktu serta memahami bahwa hasil wawancara adalah rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Dalam melakukan wawancara, peneliti sekaligus melakukan observasi terhadap responden.

  c. Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip verbatim Setelah hasil wawancara diperoleh, peneliti memindahkan hasil wawancara ke dalam verbatim tertulis. Pada tahap ini, peneliti melakukan koding dengan membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2007).

3. Tahap Pencatatan Data

  Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta izin kepada partisipan untuk merekam wawancara yang akan dilakukan. Untuk memudahkan pencatatan data, peneliti menggunakan alat perekam sebagai alat bantu agar data yang diperoleh dapat lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan Hasil rekaman ini kemudian akan ditranskripsikan secara verbatim untuk dianalisa. Transkrip adalah salinan hasil wawancara dalam pita suara dipindahkan ke dalam bentuk ketikan di atas kertas.

H. Teknik dan Proses Pengolahan Data

  Data akan dianilisis menurut prosedur penelitian kualitatif, dengan mengumpulkan verbatim wawancara dan mengolah data dengan metode kualitatif.

  Menurut Poerwandari (2007) proses analisa data adalah sebagai berikut :

  a. Koding Langkah penting pertama sebelum analisis dilakukan adalah membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematisasikan data secara lengkap dan medetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Dengan demikian peneliti akan dapat menemukan makna dari data yang dikumpulkannya. Peneliti berhak memilih cara melakukan koding yang dianggapnya paling efektif bagi data yang dikumpulkannya. Kemudian peneliti memberikan perhatian pada substansi data yang telah dikumpulkan, membaca transkrip begitu transkrip selesai dibuat, membaca transkrip berulang-ulang sebelum melakukan koding untuk memperoleh ide umum tentang tema sekaligus untuk menghindari kesulitan dalam mengambil kesimpulan (Poerwandari, 2007).

  b. Organisasi Data Setelah melakukan koding, peneliti lalu mengorganisasikan data-data tersebut dengan rapi, sistematis dan selengkap mungkin. Hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisasikan adalah data mentah (kaset hasil rekaman), transkrip wawancara, data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode khusus dan dokumentasi umum yang kronologis mengenai perkumpulan data dan langkah analisis (Highlen dan Finley dalam Poerwandari, 2001).

  c. Pengujian terhadap dugaan Dugaan adalah kesimpulan sementara. Begitu tema-tema dan pola-pola muncul dari data, kita mengembangkan dugaan-duagaan yang adalah juga kesimpulan- kesimpulan sementara. Dugaan yang berkembang tersebut harus dipertajam serta diuji ketepatannya. Saat tema-tema dan pola-pola muncul dari data untuk meyakini temuannya, selain mencoba untuk terus menajamkan tema dan pola yang ditemukan, peneliti juga perlu mencari data yang memberikan gambaran atau fenomena berbeda dari pola-pola yang muncul tersebut (Poerwandari, 2007).

  d. Strategi analisis Analisis terhadap data pengamatan sangat dipengaruhi oleh kejelasan mengenai apa yang dilakukan. Patton (dalam Poerwandari, 2007) menjelaskan bahwa proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata- kata partisipan sendiri maupun konsep yang dkembangkan atau dipilih oleh peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis.

  e. Interpretasi Menurut Kvale (dalam Poerwandari, 2007) interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Peneliti beranjak melampaui apa yang secara langsung dikatakan partisipan untuk mengembangkan struktur-struktur dan hubungan-hubungan bermakna yang tidak segera tertampilkan dalam teks (data mentah atau transkripsi wawancara).

BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI Pada bagian ini akan diuraikan hasil analisa wawancara dalam bentuk narasi. Untuk mempermudah pembaca dalam memahami

  bagaimana psychological well- being pada individu biseksual yang berpacaran maka data akan dijabarkan, dianalisa,

  dan diinterpretasi per-subjek. Interpretasi akan dijabarkan dengan menggunakan aspek-aspek yang terdapat dalam pedoman wawancara.

A. Responden I

1. Analisa Data

  a. Deskripsi identitas diri responden I Tabel 1. Gambaran Umum Responden I Keterangan Responden I

  Inisial Santi Usia 25 tahun Agama Islam Jenis Kelamin Perempuan Urutan Dalam Keluarga Anak ketiga dari tiga bersaudara

b. Latar Belakang Responden I (Santi)

  Responden I bernama Santi (bukan nama sebenarnya) yang genap berusia 25 tahun pada bulan 12 ini adalah seorang perempuan berkulit putih, mata sedikit sipit dengan bola mata berwarna hitam, tinggi badan 160 cm, berat badan 50 kg dan berambut hitam yang panjangnya sebahu.

  Santi yang berstatus belum menikah ini merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Santi memiliki dua abang yang keduanya sudah menikah. Abangnya yang pertama sudah memiliki 2 anak perempuan sedangkan yang kedua belum memiliki anak. Sebagai anak yang paling kecil di dalam keluarga, Santi tetap dituntut untuk mandiri dari sejak kecil. Oleh orangtuanya Santi sering ditinggal di rumah sejak kecil, sehingga hal tersebut membuat Santi tumbuh menjadi manusia mandiri. Selama ia mampu segala sesuatu ia kerjakan sendiri. Santi lahir dari campuran keluarga Melayu dan Tionghoa. Ayah Santi yang suku Melayu sampai sekarang memiliki usaha dagang dan ibunya yang suku Tionghoa merupakan pensiunan pegawai swasta.

  Santi adalah seorang biseksual yang saat ini sedang berpacaran sekaligus dengan laki-laki dan perempuan. Dalam perjalanan hidupnya Santi memiliki masa lalu yang sangat mengecewakan dirinya sehingga ia berpikir bahwa masa lalu itulah yang membuat ia menjadi seorang biseks. Masa lalu itu adalah sikap ayahnya yang terlalu kasar dan suka memukul Santi sejak dia masih anak-anak sampai sekarang. Bukan hanya kepada Santi tetapi juga kepada ibu dan kedua abangnya. Santi sudah tidak merasa takut atas perlakuan ayahnya karena sudah terbiasa dipukul sejak Santi masih anak-anak sehingga dia berani melawan ayahnya. Perasaan capek dan jenuh atas pertengkaran dengan ayahnya ini membuat dia memutuskan untuk pergi dari rumah. Saat ini Santi tinggal bersama temannya di rumah kost. Santi mengakui bahwa ia memiliki wujud seorang bapak yang tidak berguna sehingga ia berpikir bahwa tanpa laki-laki ia pun bisa hidup.

  Pada awalnya, Santi mengalami ketertarikan dengan laki-laki pada saat ia berada di bangku SMP. Ketika menginjak bangku SMA, Santi dekat dengan seorang perempuan, ia tertarik dan kagum pada kepribadiannya sehingga membuat Santi merasa ingin lebih dekat lagi dengan perempuan itu. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menjalani hubungan pacaran dengan perempuan tersebut. Inilah pertama kalinya Santi berpacaran, yaitu dengan perempuan. Sampai saat ini ia telah berpacaran dengan pacaran perempuan sebanyak 5 kali.

  Pada usianya yang ke 22 tahun, Santi pernah menjalin hubungan pacaran dengan laki-laki. Namun hubungan tersebut hanya berlangsung selama 2 minggu, karena Santi hanya kasihan kepada laki-laki itu dan tidak menyukainya. Ketika pacaran untuk kelima kalinya dengan perempuan (pacar Santi saat ini), Santi yang sudah berhubungan pacaran jarak jauh dengan kekasihnya ini mengalami konflik yang pada akhirnya membuat mereka harus berpisah. Sampai akhirnya Santi dekat dengan temannya yang laki-laki yang sudah berteman dengannya selama 4 tahun dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran. Seiring berjalannya waktu, mantan pacar Santi yang perempuan datang ke Medan dan membuat mereka menjadi dekat kembali, tanpa ada kata “jadian” mereka berhubungan. Pada awalnya Santi menolak dan mengatakan bahwa ia sudah memiliki pacar laki-laki. Namun karena rasa sayang yang masih dimiliki oleh keduanya, pada akhirnya mereka kembali menjalin hubungan. Sampai saat ini, Santi terlibat dua cinta yang berlainan jenis dan hubungan ini sudah berlangsung selama 3 tahun. Santi berpacaran jarak jauh dengan perempuan dan tinggal satu kota dengan pacarnya yang laki-laki.

  Ketika menjalani hubungan dengan kedua pacarnya tidak jarang Santi membawa hubungannya ini dengan sholat. Sebagai seorang yang beragama Islam, terkadang Santi merasa malu kepada Tuhan ketika menjalani sholat, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain mengadu kepada Penciptanya. Walaupun menjalankan sholat, Santi tidak terlibat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan agama Islam. Santi lebih memilih untuk berjalan sendiri daripada harus mengikuti kegiatan-kegiatan

  agama. Di usia Santi yang menginjak usia 25 tahun, ia belum bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk hubungannya. Sebenarnya Santi ingin memilih untuk berhubungan dengan salah satu pacarnya namun sampai sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa karena belum mendapatkan celah untk berpisah dengan salah satu dari mereka.

  Peneliti mengenal Santi dari teman peneliti yang merupakan teman Santi. Peneliti mengenal Santi sejak 5 bulan yang lalu. Peneliti menanyakan secara langsung apakah Santi seorang biseksual dan apakah bersedia menjadi responden penelitian pada penelitian ini dan peneliti menjelaskan prosedur penelitian yang akan dilakukan. Setelah mendapatkan kesediaan langsung dari Santi untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, peneliti kemudian menentukan jadwal pertemuan berikutnya dengan Santi untuk selanjutnya melakukan wawancara.

  Tabel 2. Waktu Wawancara Responden I Hari/Tanggal wawancara Waktu wawancara Tempat wawancara Sabtu/14 November 2009 11.15 – 12.15 WIB Rumah Kost Responden I

  Rabu/18 November 2009 17.30 – 18.45 WIB Rumah Teman Responden I Jumat/20 November 2009 20.30 – 21.45 WIB Rumah Kost Responden I

  c. Data hasil wawancara Dimensi Psychological Well – Being Individu Biseksual Yang Berpacaran

  a). Penerimaan Diri atau Self-Acceptance

Santi menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual namun ia tidak

terima jika dirinya dikatakan sebagai seorang biseksual karena ia beranggapan bahwa biseksual bukanlah suatu kebanggaan melainkan sifat buruk.

  “menyadarilah.. sadar.. cuma gak mau aja aku di bilang orang kek gitu..” (R1, W1/b.121-122/h.3)

  

”gak mau aku.. aku gak mau dikatakan seperti itu, walopun tu terjadi sama aku

gitu ya.. karena buat aku tu bukan suatu kebanggaan tapi sifat buruk.. Kalo

orang lain tau bisa di bilang gilaklah aku..hahaha.” (R1, W1/b.107-111/h.3)

”...hmm, karena bukan suatu kebanggaan tapi sifat buruk itu.. bunuh-bunuhan

pun jadi kalo di bilang orang kek gitu..hehehe.. gimana ya? Lebih baek di

bilang lesbilah daripada biseks, karna lebih baek punya satu peranan daripada

aku berperan jadi dua.. gitu.” (R1, W2/b.33-43/h.1)

  Karena itu Santi memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya. Santi juga kecewa dan menyalahkan sang ayah atas perlakuan kasar ayahnya yang membuat ia menjadi biseksual.

  

”ehm.. gimana ya nok, aku tu punya pemikiran buruklah sama diri aku... terus

yang pasti merasa kecewalah nok.. kecewa besar. Jujur kalo aku ditanya, aku

gak mo kek gini...” (R1, W1/b.551-559/h.10)

”kalo reinkarnasi ke kehidupan yang mendatang, aku gak pengen jadi anak dia

lagi..

  .” (R1, W1/b.459-461/h.8) Ia merasa hidup yang ia jalani seperti ini adalah sia-sia.

  ”gak ada.. (berpikir) manfaatnya sih, gak ada manfaatnya kurasa.. sia-sia itu.. judulnya udah sia-sia..” (R1, W3/b.384-386/h.6)

b). Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others)

  Karena Santi merasa bahwa biseksual adalah suatu sifat buruk, maka ia pun tidak mau membuka identitasnya kepada banyak orang. Ia hanya membuka dirinya sebagai biseksual kepada teman-temannya yang lesbi dan biseksual dan pacarnya yang perempuan. Pengakuan Santi kepada teman-temannya dan pacarnya yang perempuan membuat mereka tetap menerima Santi.

  

“dia terima.. dia yang mau diduain…hehe.. dia bilang, okey jalan, jalan gak

papa sama abang itu, tapi jangan jalan ma cewek lain.” (R1, W1/b.516-518/h.9) ”yang belok-belok ini cuek, biasa-biasa aja nanggepinnya...” (R1, W2/b.495/h.9)

  Lain halnya kepada teman-teman heteroseksual Santi. Santi hanya mengatakan bahwa dirinya adalah seorang lesbi. Namun demikian teman-temannya tidak merasa takut. Sebaliknya, mereka bisa menerima keadaan Santi dan tetap menyadarkan, menasehati serta memotivasi Santi agar berubah menjadi heteroseksual.

  ”baik… mereka tetap ngawanin aku, mereka gak takut samaku..” (R1, W1/b.444-445/h.8)

”nasehatin aku lah.. dia bilang, kalo bisa dalam jangan dalam waktu yang

lamalah, oke..oke.. hanya sekedar terbawa lingkungan, pergaulan ya kata dia,

tapi jangan pernah di bawa sampai matilah kek gitu..” (R1, W1/b.414-418/h.7)

  Sebaliknya, Santi tidak berniat membuka identitas dirinya sebagai biseksual kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki. Ia berpendapat tidak mungkin membuka kejelekan kepada keluarganya. Santi mampu menutupi identitasnya kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki. Sampai kapanpun Santi tidak akan mengungkapkan identitasnya kepada keluarga maupu pacarnya yang laki-laki.

  

”kalo keluarga gak mungkinlah nok.. kalo aku ngomong ke keluarga, karena

aku tau kondisi keluargaku tu bagaimana, jadi itu.. itu yang buat aku gak

mungkin ngomong ke keluarga.. udah itu aja.. lagian gak mungkin aku buka

kejelekan aku di keluarga aku sendiri kan, ibaratnya gimana ya kalo aku buat...

gimana ya, mungkin orangtua ku gak bisa nerima seperti itu..” (R1, W1/b.451-459/h.8) ”sampai kapan pun gak bakal aku cerita.. inilah aku, inilah kepribadian aku, cukup aku sendiri yang tau..” (R1, W1/b.498-500/h.9)

  Dalam kehidupan sehari-hari Santi adalah orang yang suka bergaul, memiliki banyak teman. Santi juga dibutuhkan oleh teman-temannya. Santi adalah orang yang mau membantu dan sulit untuk cuek kepada teman-temannya. Namun lama-kelamaan bagi Santi itu semua tidak ada artinya. Dia melihat dan berpikir bahwa ternyata rata- rata temannya hanya mengambil keuntungan dari dia. Karena kebanyakan temannya hanya mengambil keuntungan dari dia Santi mencoba untuk menutup diri dan tidak mau bergaul lagi dengan teman-temannya.

  

”banyak sih kawan aku sebenarnya nok.. cuma hanya.. bagi aku sih, gak ada

arti.. gak ada arti teman itu..”(R1, W1/b.208-210/h.5)

  ”...di lingkungan kerja juga aku dibutuhkan kali nok..” (R1, W3/b14-16/h.1) ”...prinsip aku sih, kalo aku bisa, kalo aku mampu kenapa enggak, gitu aja prinsip aku.. makanya terkadang sifat itu yang susah ku buang, aku mo cuek sama orang, gitu, gak bisa.” (R1, W3/b.19-31/h.1) ”karena temen yang berkawan samaku tu, rata-rata ya.. ku perhatiin ya.. rata- rata mengambil keuntungan dari aku, apalagi kawan satu tongkrongan aku semua.. iya, bener.. (diam sejenak) semua rata-rata mo enaknya...” (R1, W1/b.212-222/h.5) ”mencoba untuk nutup diri sendiri aja.. dari kawan-kawan aku semua... ” (R1, W3/b.348-355/h.6) Santi juga lebih memilih berteman dekat dengan laki-laki karena Santi tidak suka dengan sifat perempuan dalam menjaga perkataan.

  

”yah, tau sendiri kan mulut perempuan gimana.. ngomong kesini A, ngomong

kesana B, itu aja sih sebenarnya yang buat aku.. perempuan gak bisa kujadiin

kawan deket aku..” (R1, W1/b.385-389/h.6)

  Di dalam keluarga, hubungan Santi dengan mama dan abang terjalin dengan baik, namun tidak demikian dengan ayah Santi. Santi adalah orang yang paling menentang ayahnya dan ayahnya merupakan musuh terbesar yang dihadapi Santi. Dari dulu memang ayahnya terlalu kasar dan suka memukul Santi dari dia masih kecil. Tidak hanya sewaktu masih kecil, di usianya yang sekarang pun ketika ayahnya marah, ia masih mau memukul Santi. Kebiasaan dipukul ayahnya sejak ia kecil membuat Santi sudah merasa kebal dengan yang namanya pukulan. Tidak membuatnya takut lagi dengan pukulan, tidak membuatnya sakit, bahkan karena sudah terbiasanya pukulan itu sudah dirasa enak oleh Santi. Sampai akhirnya, ia merasa capek dan jenuh sehingga memutuskan untuk pergi dari rumah.

  

”hubungan aku dengan keluarga baik, dengan mama aku, abang aku, aku baik,

cuma kalo bapak aku, aku sangat.. aku sangat.. aku orang yang paling paling menentang dia. Dan musuh terbesar yang aku hadapin itu bapak aku, karena dia terlalu kasar sama aku..” (R1, W2/b.412-417/h.7)

  

”gimana ya nok.. udah kebal aja gitu, makanya aku gak takot apapun aku gak

takot, aku udah terbiasa dari kecil digituin, jadi yah udah terbiasa yang kalian

bilang kalo di pukul yah sakit gitu, karena udah terbiasa aku nerima itu jadi

udah enak samaku, udah gak sakit lagi.. makanya kemaren dia mukul ini enak

loh jadi bawaannya, pegel-pegel enak gitu.. iya loh, ini juga pernah terkilir

loh.. (sambil menunjukkan jari tangan yang pernah terkilir), pernah bengkok

dia, di plintir sama bapak aku..” (R1, W2/b.449-459/h.8)

“perasaan aku.. aku capeklah.. capek aja perasaan aku, menghadapi yang gitu-

gitu sih dah capek, dah jenuh.. makanya aku mutusin untuk keluar dari rumah..

capek, jenuh, sakit lagi.. di pukulkan sakit sih.. sehingga sakit itu jadi enak

samaku.. kan gak mungkin kan, kalo kita udah ngerasain kebalikannya kan...”

(R1, W3/b.109-119/h.3)

Dengan kedua pasangannya, Santi merasa tidak tenang dalam menjalani

hubungan pacaran. Pada awalnya Santi ingin menghindar dari pacaran sekaligus dengan laki-laki dan perempuan namun tidak berhasil. Memasuki 3 tahun perjalanan hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan, membuat Santi merasa capek, tertekan, tersiksa dan ia menganggap bahwa hubungan yang ia jalani adalah sia-sia sehingga pada akhirnya Santi menyesali hubungan pacaran yang sedang ia jalani ini.

  

”karena begini ya, kemaren sih aku sempat menghindari yang namanya

berpacaran sekaligus ya ... ternyata aku jadi seperti inilah nok, jadi ngejalanin

dua cinta yang berbeda gitu..” (R1, W2/b.64-70/h.2) ”tersiksalah.. sakit nok.. sakitlah pokoknya, segala bidang semua sakit..” (R1, W3/b.203-204/h.5)

”...tertekan dari masyarakat, dari kehidupan masyarakat.. tertekan lagi dari

cowok aku gitu, tertekan lagi dari dia gitu, seluruhnya, keluarga aku...”(R1,

W2/b.525-531/h.9)

  ”gak ada.. (berpikir) manfaatnya sih, gak ada manfaatnya kurasa.. sia-sia itu.. judulnya udah sia-sia..” (R1, W3/b.384-386/h.6)

  

”menyesallah... seharusnya aku, menyesal sih pasti ada...” (R1, W2/562-

570/h.10) c). Otonomi (Autonomy)

  Santi adalah pribadi yang mandiri. Mulai dari kecil Santi sudah terbiasa untuk mandiri sehingga Santi menjadi terbiasa untuk melakukan aktivitas sendiri.

  

”gak tau ya nok, mungkin karena aku udah terbiasa mandiri mungkin dari

kecil ya, aku biasa ditinggal ma orangtuaku sih.. jadi ya, tu lah terbawa.. jadi

ya, sampai sekarang aku tu selalu melakukan aktivitas aku tu sendiri, selagi

aku mampu buat, aku buat..” (R1, W1/b.368-373/h.6)

Dalam memutuskan berpacaran dengan laki-laki dan perempuan Santi

memutuskannya sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain. Santi tidak

  mempertimbangkan dan tidak berpikir dahulu ketika memutuskan pacaran dengan keduanya, yang Santi pikirkan hanya cinta.

  

”gak, itu di luar pertimbangan aku nok... terjadi dengan sendirinya tanpa aku

harus memikirkan, yang kupikirkan itu hanya cinta aja gitu...” (R1, W2/b.534-537/h.9)

  Walaupun Santi memiliki identitas biseksual namun Santi tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa terganggu, sama seperti orang-orang pada umumnya.

  

”yah.. biasa ajalah nok.. kan gak banyak jugak yang tau aku ni biseks.. sama

kek orang-orang biasa aja ngejalaninnya...” (R1, W2/b.143-145/h.4)

  Sebaliknya Santi merasa terganggu dan merasa tidak bebas ketika melakukan aktivitas berpacarannya. Penyebabnya tidak lain karena Santi selalu merasa bersalah terhadap pasangan yang satu ketika sedang menjalani aktivitas pacaran dengan pasangan yang lain. Ia merasa telah membohongi pasangannya dan telah berselingkuh. Selain itu Santi merasa akan merasa bebas dan bisa menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan pacarnya yang perempuan.

  

”iya, pasti ada perasaan bersalahlah.. tiba aku jalan sama yang cewek, aku

merasa bersalah sama yang cowok karena aku udah bohongin dia gitu, aku

bohongin dia karena dia gak tau aku seperti apa gitu. Yah gitulah, sama yang

cewek juga kek gitu.. karna ya, bisa di bilang aku selingkuh juga gitu kan? ”

  (R1, W2/b.73-79/h.2)

  

”yah, pasti terganggulah, kalo misalnya lagi sama cewek, pikiranku ke cowok,

kalo lagi sama cowok pikiranku ke cewek, gak bebas..” (R1, W2/b.111-113/h.3)

”kalo aku jalan sama cewek yah gak protes lah ya kan biasa-biasa aja dia kan,

jadi kalo aku jalan sama cewek aku lepas gitu, aku lepas.. semuanya lepas,

  

tingkah laku pun lepas gitu ya... tapi kalo jalan sama cowok aku pasti kan gak

lepas, karena aku harus menjaga supaya diri aku sebagai perempuan gitu..” (R1, W2/b.218-223/h.5)

Sampai saat ini Santi belum bisa memutuskan untuk memilih di antara kedua

pacarnya. Namun jika terlepas dari norma-norma agama ataupun masyarakat yang menentang, dia ingin memilih hidup bersama perempuan.

  ”iyalah, aku lebih milih perempuan..” (R1, W2/b.603/h.11)

”iya sih nok.. memang harus memilih laki-laki.. cuma untuk saat ini aku belum

bisa menentukan keputusan aku..” (R1, W2/b.691-693/h.11)

d). Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

  Dalam

  berpacaran, Santi memiliki dua peran berbeda yang harus dia mainkan

  sekaligus yaitu sebagai laki-laki ketika berpacaran dengan perempuan dan sebagai perempuan ketika berpacaran dengan laki-laki.

  ”jadi cowoknya lah nok.. ” (R1, W2/b.164/h.7) ”yah, pasti jadi ceweklah.. gak mungkin cowok juga kan..hahaha. ”

  (R1, W2/b.166-167/h.4) Santi merasa aneh ketika menjalani hubungan berpacaran dengan laki-laki dan perempuan karena Santi harus berubah peran ketika berpacaran dengan laki-laki.

  Santi menjadi sangat kesulitan dalam membagi perannya ketika bersama pacarnya yang laki-laki karena harus menutup diri dan harus menjaga diri supaya menjadi perempuan.

  

”ya aneh.. maksud aku aneh itu, kalo aku jalan sama cowok aku harus

berperan sebagai wanita yang seutuhnya gitu kan, kalo aku jalan sama cewek

gitu ya, aku gak.. aku gak mesti harus berperan sebagai ini, sebagai itu,

enggak.. begini adanya aku, beginilah aku gitu, jadi aku tunjukin wujud aku tu

yang begini gitu kalo aku jalan sama cewek, tapi kalo sama cowok itu aku

harus keknya lebih banyak bersandiwara tu di cowok daripada di cewek..”

(R1, W2/b.150-160/h.4)

  ”yah, aku sangat kesulitan gitu sama cowok, karena aku harus nutupin diri aku, yah, aku kebiasaan pun duduk kek gini ya kan...(sambil mengangkat

  kaki), dia marah gitu loh dengan aku duduk kek gini.. kebiasaan gitu loh, kadang aku pegel gitu kan, kadang dia bilang ngomong lembut sikit kenapa sih? Kadang dengan gayaku nanti yang seperti apa, dia pasti protes tu nok...seperti itu nok..” (R1, W2/b.208-216/h.5) Pada saat Santi sedang mengalami konflik dengan salah satu pasangannya, aktivitas Santi baik pada saat ia bekerja di kantor maupun ketika bersama pasangannya yang lain menjadi terganggu. Biasanya Santi menjadi tidak mood dan bersikap dingin.

  

”oh, mengganggulah.. terkadang kalo aku udah punya masalah ya sama cewek

aku ya, pasti aku sama cowok aku juga udah gak mood, pasti dia sms pun gak

aku layani, jadi dua-duanya itu udah gak mood, udah... ”

  (R1, W2/b.227-337/h.5)

  ”mengganggu sih pasti ada ya.. aku langsung.. ee, action aku langsung diem gitu loh.. respon dari diri aku tu diem, bawa diem aja.. malas berbicara langsung..” (R1, W2/b.347-350/h.6)

”terasa juga sih, terbawa suasana juga trus gak mood mo jalan sama dia

(cowok)... yah, itu lah nok...” (R1, W2/b.377-379/h.6)

  Adanya penilaian yang buruk dari masyarakat umum tentang homoseksual ataupun biseksual membuat Santi merasa cemas dan takut dikucilkan oleh masyarakat sehingga Santi membatasi atau mengatur jarak dengan pacar yang perempuan sehingga orang hanya menganggap mereka hanya sebatas teman, tetapi ketika bersama pacar yang laki-laki tidak demikian.

  ”cemaslah nok.. cemas pasti ada, ketakutan pasti ada, ya aku pasti takutlah

kalo orang-orang tau rahasia yang aku sembunyikan ini, orang-orang yang aku

anggap itu gak perlu tau jadi tau ya pasti takutlah.” (R1, W1/b.503-507/h.9)

”tanggapan aku sih, gimana ya... pasti merasa takutlah, aku juga gak mau

dikucilkan dari masyarakat yang lain-lain kan...” (R1, W1/b.526-533/h.9)

”aku kalo jalan sama dia selalu ngatur jarak, bahkan mungkin terkadang kalo

orang nemuin kami di luar ya pas kami berdua, mungkin orang hanya

menganggap kami tu kawan.. karena aku kalo di luar cuek sama dia nok dan

itu memang aku yang buat.. tapi kalo sama cowok sih enggak gitu ya.” (R1, W1/b.543-549/h.10) e). Tujuan Hidup (Purpose in Life)

  Sejak usianya menginjak 23 tahun, yang menjadi tujuan hidup Santi adalah bisa memiliki kerjaan yang tetap, memiliki keluarga dan memiliki anak untuk mengurus Santi di masa tuanya.

  

”tujuan hidup aku, sekarang ya, semenjak sekarang.. selama umur aku udah di

atas 23 baru punya tujuan hidup. Aku harus menyesuaikan dengan pendidikan

yang ku miliki, cuma keinginan yang ingin ku capai yaitu aku mo punya

kerjaan tetap, tetap aja gitu.. ni yang ku kejar, kerjaan tetap.. walaupun pada

akhirnya aku nanti tinggal sendiri paling tidak aku punya kerjaan tetap, gaji

tetap gitu.. Aku harus punya keluarga.. karena aku pengen nanti di hari tua ku

ada yang ngurus aku, udah itu aja, yang gak jauh beda aku tu mesti punya

anak gitu kan...” (R1, W2/b.671-683/h.11)

  Untuk mencapai tujuannya seperti memiliki keluarga dan memiliki anak, Santi harus memiliki tujuan yang jelas dalam hubungan pacarannya dan baginya tujuan yang jelas adalah dengan laki-laki. Sementara dengan perempuan tidak demikian.

  

”tujuannya.. aku pacaran sama laki-laki setidaknya sih punya pandangan hidup

ke depan, contohnya, ada keinginan ya, keinginan untuk memperoleh

keturunan, untuk mempunyai keluarga, untuk mempunyai, yah, itulah…” (R1, W3/b.360-365/h.6)

”pacaran sama perempuan aku rasa sih gak ada sih, pemikiran untuk ke depan

untuk maju gitu, keknya.. berpikiran semua yang penting kita hidup bareng

aja, dah gitu aja, mo bagaimana pun bentuk kehidupan itu kan? Gak bisa

begitu ya kan? (R1, W3/b.368-381/h.6)

  Tetapi Santi sendiri sebenarnya masih bingung dalam menentukan salah satu diantara kedua pacarnya, oleh karena itu ia berharap agar bisa bersama dengan salah satu diantara mereka walaupun harus mengorbankan salah satunya.

  

”harapannya... yang aku jalani ini, aku berharap gitu ya, aku bisa tinggal

dengan satu diantara ini, diantara dua ini.. tinggal sama, udah itu aja,

walaupun aku harus mengorbankan yang satu, karena emang aku harus

menentukan jalan akunya.. itu aja cuman harapan aku..” (R1, W2/696-702/h.12)

f). Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)

  Dalam menjalani hidup, Santi selalu belajar dari pengalaman hidupnya dan juga pengalaman orang lain untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Seperti halnya ketika ia sering mengalami konflik ketika berpacaran dengan laki-laki dan perempuan namun hal tersebut justru membuatnya belajar menghadapi masalah- masalah yang terjadi dengan tidak mencampuradukkan masalah pribadi ke dalam masalah pekerjaan. Selain itu, Santi juga pernah berpikir untuk memutuskan hidup sendiri, namun pengalaman tantenya yang hidup sendiri dan belum menikah menjadi pertimbangan bagi Santi.

  

“Jadi dari situ aku belajar, belajar ngadapinnya itu udah.. karena setiap

masalah yang kita hadapin dalam hidup kan itu jadi pelajaran dalam hidup kita

kan, itu ku jadikan pelajaran, masalah di luar, di luar lah gitu.. tiba aku di

kerjaan aku, yah, aku fokus di kerjaan aku.” (R1, W2/b.337-343/h.5)

“pernah… dan maka yang membuat aku mengulurkan waktuku untuk married

itu ya itu, apakah aku harus mutuskan hubungan keduanya diantara mereka

berdua gitu.. kadang aku memutuskan untuk aku sendiri, cuman karena terlalu

banyak ya, mungkin ya dari tante aku (...) Seandainya aku jadi seperti dia gitu,

pasti aku suatu saat pasti ngerasa kesepian... aku selalu buat keadaan di deket..

di sekitar lingkungan aku tu aku buat jadi pelajaran dalam diri. ”

  (R1, W2/b.580-598/h.10)

  

Seiring berjalannya waktu, Santi mengalami perubahan dalam hidupnya. Dulu

Santi masih berpenampilan seperti laki-laki tetapi sekarang sudah berpenampilan seperti perempuan. Contohnya sekarang Santi memakai celana ketat dan memiliki rambut yang panjang. Ia juga lebih menutup diri dari teman-temannya.

  

”dulu aku masih seperti laki-laki kali nok, sampai orang gak bisa

membedakan.. sekarang udah gak lagi.. contoh kecilnya aja ya, aku udah

pakek celana ketat, rambut udah panjang..” (R1, W2/b.707-711/h.12)

”eee.. sifatlah ya.. sifat sih mungkin sekarang ada yang berubah ya, mencoba

untuk nutup diri sendiri aja.. dari kawan-kawan aku semua, aku untuk vakum

aja, untuk diam, gak mau aku glamour seperti dulu lagi lah.. aku gak mau

terlalu bergaul lagi seperti dulu, aku sekarang lebih bagus waktu aku lebih

banyak aku habisin di kost ini aja, tidur, daripada aku keluar, paling gak 50

ribu keluar kan..” (R1, W3/347-355/h.6)

Meskipun demikian, Santi tetap berkeinginan untuk mengubah hal-hal yang di

dalam dirinya seperti ingin mengubah jati dirinya, Santi juga tidak mau menjadi orang

  baik lagi serta tidak mau mengasihani orang lagi. Alasannya adalah karena sifatnya yang seperti ini dari dulu membuatnya dimanfaatkan orang.

  

”(berpikir) jati diri aku sih.. eee.. yang mau aku rubah sekarang ini ya,

maksudnya aku tu jadi manusia yang seutuhnya gitu ya, gak ada negatifnya

gitu.. susah ya? Susah ya, jadi manusia gak ada negatifnya...” (R1, W2/b.750-

762/h.13)

”yang ma aku ubah ya? Aku harus, gimana ya.. aku gak mau jadi orang baik

lagi, satu..” (R1, W2/b.732-733/h.12)

”aku gak mau jadi orang baek, aku gak mau jadi mengasihani orang...

alasannya karena sifat aku yang selama ini kek gini, itu dipijak orang.. aku

dipijak sama kawan kerjaku sendiri, aku bermasalah sama dia.. aku gak

nyangka, aku dekat sama dia, aku bela dia, aku dukung dia, aku selalu bantu

dia.. ternyata apa? Dia cuma pijak aku.. Dia membunuh aku dari belakang..

banyak sih temen aku nok dan rata-rata aku gak bisa jahatin mereka, aku akan

jahat kalo dia jahat samaku, aku bisa lebih jahat.. tapi kalo emang dia masih

mau, mau berkawan, mau bersahabat, aku pasti gak akan ngelanggar itu...” (R1, W2/b.735-748/h.12)

  Sebagai seorang biseksual, Santi aktif dalam sosialisasi di lingkungan kerjanya. Manfaat yang ia peroleh adalah sebagai pemicu agar Santi hidup menjadi manusia yang berguna. Santi juga dapat menambah wawasan di lingkungan kerja serta dapat menambah pergaulan.

  

”(berpikir) gak ada sih.. (diam) kalo di kerjaan sih.. gimana ya? Di kerjaan

kalo.. ee.. gak..gak ada perkumpulan.. gak ada nama sih sebenarnya..

sosialisasi di lingkungan kerjaku, aktif disitu..” (R1, W3/b.430-434/h.7)

”(berpikir) kek mana ya? Keknya memacu aku aja supaya itulah.. aku gak mau

hidup dengan.. jadi manusia gak berguna gitu…” (R1, W3/437-447/h.7)

  Santi dulu pernah terlibat dalam komunitas kumpulan orang belok tetapi ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Alasannya adalah Santi tidak mau terlarut dan Santi melihat bahwa itu tidak berguna dan tidak berarti. Santi bertekat harus bisa berubah dengan tidak terlarut di dalam komunitas seperti itu. Santi juga tidak

  mendapatkan manfaat apa-apa dari komunitas tersebut.

  

”alasannya karena aku gak mau terlarut di dalam ini (...) gak berguna

sekarang, gak berguna ku liat, gak berarti, aku gak mau.. gimana ya.. selagi

aku masih bisa ngerubah kenapa enggak, aku harus bisa berubah gitu...” (R1,

W3/b.397-412/h.7)

  gak ada.. setelah ku kaji ikut komunitas gitu gak ada artinya, yang ada cuman buang-buang waktu, buang-buang uang.. (R1, W3/b.450-452/h.8) Tabel 3. Gambaran Dimensi Psychological Well-Being Responden I Dimensi Gambaran PWB

  1.Penerimaan Santi menyadari bahwa dirinya adalah biseksual namun ia tidak Diri terima jika dikatakan biseksual karena ia beranggapan bahwa biseksual merupakan sifat buruk. Karena itu Santi memiliki

  penilaian yang buruk terhadap dirinya. Santi juga menyalahkan sang ayah atas perlakuan kasar ayahnya yang membuat ia menjadi biseksual.

  2. Hubungan

  a) Keterbukaan Santi kepada orang lain tentang identitasnya:

  Positif dengan Santi hanya membuka identitasnya kepada teman-temannya yang Orang Lain lesbi dan biseksual dan pacarnya yang perempuan dan mereka tetap

  menerima Santi. Kepada beberapa temannya yang heteroseksual ia hanya membuka identitasnya sebagai lesbi. Namun demikian, teman-temannya tetap menerima dan menyadarkannya agar berubah. Santi tidak ingin membuka identitasnya kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki sampai kapanpun.

  b) Hubungan Santi dengan orang lain: Santi adalah orang yang suka bergaul tetapi karena ia merasa bahwa teman-temannya hanya memanfaatkan dirinya, ia menutup diri dari teman-temannya. Santi pun lebih memilih untuk berteman dekat dengan laki-laki karena ia tidak suka dengan sifat perempuan dalam hal perkataan. Di dalam keluarga, hubungan Santi dengan mama dan kedua abangnya terjalin dengan baik tetapi tidak dengan ayahnya.

  Dengan kedua pasangannya, Santi merasa tidak tenang merasa

  capek, tertekan, tersiksa dan ia menganggap bahwa hubungan yang ia jalani adalah sia-sia sehingga pada akhirnya Santi menyesali hubungan pacaran yang sedang ia jalani ini.

  3. Otonomi Santi adalah perempuan yang mandiri dan dalam memutuskan untuk

  berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sekaligus ia pun memutuskannya sendiri. Sebagai seorang biseksual Santi tidak merasa terganggu melakukan aktivitasnya sehari-hari tetapi Santi merasa terganggu dan merasa tidak bebas ketika melakukan aktivitas berpacarannya. Baginya ia akan merasa bebas dan menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan pacarnya yang perempuan. Sampai saat ini Santi belum bisa memilih. Tetapi terlepas dari norma-norma agama dan budaya Santi memilih wanita.

  4. Penguasaan Dalam berpacaran Santi harus memainkan peran sebagai laki-laki Lingkungan dan perempuan sekaligus. Santi merasa aneh dan merasa kesulitan

  ketika harus membagi perannya tersebut. Ketika bermasalah dengan salah satu pasangannya, mood Santi pasti berubah ketika bersama dengan pasangan yang lain tetapi Santi tetap memperbaiki moodnya. Ketika berpacaran dengan perempuan, Santi berusaha mengatur jarak dengan perempuan tersebut agar masyarakat tidak menilai buruk ketika melihat mereka berjalan bersama.

  5. Tujuan Hidup Sejak usianya menginjak 23 tahun, yang menjadi tujuan hidup Santi

  adalah bisa memiliki kerjaan yang tetap, memiliki keluarga dan memiliki anak untuk mengurus Santi di masa tuanya. Untuk mencapai tujuannya seperti memiliki keluarga dan memiliki anak, Santi harus memiliki tujuan yang jelas dalam hubungan pacarannya dan baginya tujuan pacaran yang jelas adalah dengan laki-laki. Tetapi Santi sendiri sebenarnya masih bingung dalam memilih salah satu diantara kedua pacarnya, oleh karena itu ia berharap agar bisa bersama dengan salah satu diantara mereka walaupun harus mengorbankan salah satunya.

  6. Pertumbuhan Dalam menjalani hidup, Santi selalu belajar dari pengalaman

  hidupnya dan juga pengalaman orang lain untuk membuat keadaan

  Pribadi

  menjadi lebih baik. Seiring berjalannya waktu, Santi mengalami

  perubahan dalam hidupnya baik dalam hal penampilan yang saat ini sudah berpenampilan seperti perempuan dan juga ia lebih menutup diri dari teman-temannya. Meskipun demikian, Santi tetap berkeinginan untuk mengubah hal- hal yang di dalam dirinya seperti ingin mengubah jati dirinya. Santi

  juga tidak mau menjadi orang baik lagi serta tidak mau mengasihani orang lagi karena sifatnya yang seperti ini dari dulu membuatnya dimanfaatkan orang. Sebagai seorang biseksual, Santi aktif dalam sosialisasi di lingkungan kerjanya karena hal tersebut menjadi motivasi untuknya agar menjadi manusia yang berguna.

2. Interpretasi Intra Subjek

  Di bagian ini akan dijelaskan mengenai dimensi-dimensi pada responden I (Santi) yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Dimensi-dimensi tersebut dihubungkan dengan teori yang telah dikemukakan di Bab II.

  a). Penerimaan Diri

  Ryff (1995) mengatakan bahwa individu yang memiliki nilai rendah dalam dimensi penerimaan diri adalah mereka yang menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap kondisi dirinya, mengalami masalah dengan kualitas tertentu dari dirinya, merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada kehidupan masa lalu, dan ingin menjadi orang yang berbeda dari diri sendiri. Hal ini sejalan dengan yang dialami Santi. Ia menyadari bahwa dirinya adalah biseksual namun ia tidak terima jika dikatakan biseksual karena ia beranggapan bahwa biseksual merupakan sifat buruk.

  Karena itu Santi memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya. Santi juga menyalahkan sang ayah atas perlakuan kasar ayahnya yang membuat ia menjadi biseksual.

  b). Hubungan Positif dengan Orang Lain

  Menurut Ryff, individu yang memiliki hubungan positif dengan orang lain memiliki kepercayaan dengan orang lain. Dalam hal ini, Santi hanya membuka identitasnya kepada teman-temannya yang lesbi dan biseksual dan pacarnya yang perempuan dan mereka tetap menerima Santi. Kepada beberapa temannya yang heteroseksual ia hanya membuka identitasnya sebagai lesbi. Sebaliknya Santi tidak ingin membuka identitasnya kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki sampai kapanpun.

  Ryff juga mengatakan bahwa individu baik dalam dimensi ini juga memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan empati, afeksi, dan mempunyai hubungan yang intim, mampu membina hubungan yang hangat, memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar pribadi serta mampu memberikan bimbingan serta pengarahan kepada orang lain (generativity). Santi adalah orang yang suka bergaul tetapi karena ia merasa bahwa teman-temannya hanya memanfaatkan dirinya, ia menutup diri dari teman-temannya. Santi pun lebih memilih untuk berteman dekat dengan laki-laki karena ia tidak suka dengan sifat perempuan dalam hal perkataan. Di dalam keluarga, hubungan Santi dengan mama dan kedua abangnya terjalin dengan baik tetapi tidak dengan ayahnya. Dengan kedua pasangannya, Santi merasa tidak tenang merasa capek, tertekan, tersiksa dan ia

  menganggap bahwa hubungan yang ia jalani adalah sia-sia sehingga pada akhirnya Santi menyesali hubungan pacaran yang sedang ia jalani ini.

c). Otonomi

  Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa Santi adalah perempuan yang mandiri dan dalam memutuskan untuk berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sekaligus ia pun memutuskannya sendiri. Sebagai seorang biseksual Santi tidak merasa terganggu melakukan aktivitasnya sehari-hari tetapi Santi merasa terganggu dan merasa tidak bebas ketika melakukan aktivitas berpacarannya karena perasaan bersalah yang selalu ia rasakan. Sampai saat ini Santi belum bisa memilih. Tetapi terlepas dari norma-norma agama dan budaya Santi memilih wanita. Ryff (1995) mengatakan bahwa ciri utama seseorang yang memiliki otonomi yang baik antara lain kemampuan untuk menentukan nasib sendiri, kemampuan untuk mengatur tingkah laku, dan kemampuan untuk mandiri. Ryff juga mengatakan bahwa seseorang dengan otonomi yang baik adalah individu yang mampu mengambil keputusan tanpa adanya campur tangan orang lain.

  d). Penguasaan Lingkungan

  Individu yang memiliki penguasaan lingkungan yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam mengatur situasi sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan kualitas lingkungan sekitarnya serta tidak mampu memanfaatkan peluang dan kesempatan diri lingkungan sekitarnya. Walaupun Santi merasa kesulitan dalam membagi perannya tetapi ia masih mampu menyelesaikan masalahnya dengan keduanya dan mengontrol keadaan ketika berpacaran dengan perempuan di depan umum.

  e). Tujuan Hidup

  Allport (1961) menjelaskan bahwa salah satu ciri kematangan individu adalah memiliki tujuan hidup, yakni memiliki rasa keterarahan (sense of directedness) dan

  tujuan (intentionality). Ryff mengatakan individu yang memiliki nilai tinggi dalam dimensi tujuan hidup adalah individu yang memiliki tujuan dan arah dalam hidup.

  Sejak usianya menginjak 23 tahun, yang menjadi tujuan hidup Santi adalah bisa memiliki kerjaan yang tetap, memiliki keluarga dan memiliki anak untuk mengurus Santi di masa tuanya. Untuk mencapai tujuannya seperti memiliki keluarga dan memiliki anak, Santi harus memiliki tujuan yang jelas dalam hubungan pacarannya dan baginya tujuan pacaran yang jelas adalah dengan laki-laki. Tetapi Santi sendiri sebenarnya masih bingung dalam memilih salah satu diantara kedua pacarnya, oleh karena itu ia berharap agar bisa bersama dengan salah satu diantara mereka walaupun harus mengorbankan salah satunya.

f). Pertumbuhan Pribadi

  Individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya, memandang diri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, dapat merasakan peningkatan yang terjadi pada diri dan tingkah lakunya setiap waktu serta dapat berubah menjadi pribadi yang lebih efektif dan memiliki pengetahuan yang bertambah (Ryff, 1995). Hal ini sejalan dengan kehidupan Santi. Ia selalu belajar dari pengalaman hidupnya dan juga pengalaman orang lain untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Seiring

  berjalannya waktu, Santi mengalami perubahan dalam hidupnya baik dalam hal penampilan yang saat ini sudah berpenampilan seperti perempuan. Meskipun demikian, Santi tetap berkeinginan untuk mengubah hal-hal yang di dalam dirinya seperti ingin mengubah jati dirinya. Santi juga tidak mau menjadi orang baik lagi serta

  tidak mau mengasihani orang lagi karena sifatnya yang seperti ini dari dulu membuatnya dimanfaatkan orang. Sebagai seorang biseksual, Santi aktif dalam sosialisasi di lingkungan kerjanya karena hal tersebut menjadi motivasi untuknya agar menjadi manusia yang berguna.

B. Responden II

1. Analisa Data

  a. Deskripsi identitas diri responden II Tabel 4. Gambaran Umum Responden II Keterangan Responden

  II Inisial Sena Usia 23 tahun Agama Islam Jenis Kelamin Perempuan Urutan Dalam Keluarga Anak ketiga dari tiga bersaudara

b. Latar Belakang Responden (Sena)

  Responden bernama Sena (bukan nama sebenarnya) yang berusia 23 tahun adalah seorang perempuan berkulit hitam manis, bola mata berwarna coklat dengan bulu mata yang lentik, tinggi badan 165 cm, berat badan 65 kg dan berambut hitam dengan model rambut cepak. Bungsu dari 3 bersaudara ini baru saja menyelesaikan pendidikan S1-nya di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan. Sena memiliki dua kakak yang keduanya sudah menikah. Sena lahir dari ayah dan ibu bersuku Jawa.

  Ayah Sena bekerja sebagai pegawai swasta dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Dilahirkan sebagai anak yang paling kecil membuat Sena kadang tidak bisa berbuat apa-apa untuk memutuskan sesuatu yang ingin ia mau. Orangtuanya selalu ikut campur dan dari dulu sampai sekarang orangtua Sena tidak pernah mendukung keputusan yang di ambilnya. Mulai dari memilih jurusan dan tempat kuliah, tempat kerja, orangtuanya harus ambil andil. Sena berpikir bahwa orangtuanya belum membebaskan dia sepenuhnya.

  Sebagai seorang gadis yang memeluk agama Islam, Sena jarang melakukan sholat. Namun, dari dulu dia punya keinginan untuk tetap menambah pengetahuan tentang agamanya. Sena punya keinginan untuk belajar bersama guru ngaji untuk lebih mendalami agama Islam.

  Sena adalah seorang biseksual yang pernah berpacaran sekaligus dengan laki- laki dan perempuan selama 8 tahun. Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya mengapa ia bisa menjadi biseks. Namun, baginya masa lalu dan harapan orangtuanya berkaitan dengan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Dari kecil orang tua Sena menginginkannya menjadi laki-laki. Oleh kedua orangtuanya, ia sering dibelikan barang-barang yang identik dengan barang laki-laki. Mulai dari pakaian, mainan semuanya serba laki-laki. Jika di rumah, Sena sering melakukan pekerjaan laki-laki bukan pekerjaan perempuan. Selain itu, sewaktu Sena duduk di bangku SMP, ia punya pengalaman hampir di perkosa oleh sepupunya sendiri.

  Pada awalnya, Sena mengalami ketertarikan dengan perempuan namun menjalani hubungan pacaran pertama kali dengan laki-laki. Ketika menginjak bangku kelas 3 SMP Sena tertarik dan dekat dengan seorang perempuan yang adalah sepupunya sendiri. Sena sering bercerita kepada sepupunya itu dan merasa nyaman.

  Pada akhirnya, Sena memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya dan berpacaran dengan sepupunya sendiri. Selama ia berpacaran dengan perempuan, Sena

  juga berpacaran dengan laki-laki. Selama 8 tahun berpacaran dengan sepupunya sendiri, Sena sudah sering bergonta-ganti pacar laki-laki. Hal ini dilakukan Sena untuk menutupi identitasnya dari keluarga. Tidak hanya alasan tersebut, Sena juga melakukan itu karena memang ia tertarik dengan laki-laki dan memiliki keinginan untuk menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki. Sena tinggal satu kota dengan kedua pacarnya.

  Peneliti mengenal Sena dari teman peneliti yang merupakan teman Sena. Peneliti mengenal Sena sejak 8 bulan yang lalu. Peneliti menanyakan secara langsung apakah Sena seorang biseksual dan apakah bersedia menjadi responden penelitian pada penelitian ini dan peneliti menjelaskan prosedur penelitian yang akan dilakukan. Setelah mendapatkan kesediaan langsung dari Sena untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, peneliti kemudian menentukan jadwal pertemuan berikutnya dengan Sena untuk selanjutnya melakukan wawancara.

  Tabel 5. Waktu Wawancara Responden II

  Hari/Tanggal wawancara Waktu wawancara Tempat wawancara

  Senin/18 Januari 2010 16.00 – 17.00 WIB Rumah Makan Kamis/21 Januari 2010 15.45 – 17.00 WIB Rumah Makan

  Rabu/27 Januari 2010 16.30-18.00 WIB Rumah Makan

  c. Data Hasil Wawancara Dimensi Psychological Well – Being Individu Biseksual Yang Berpacaran

  a). Penerimaan Diri atau Self-Acceptance

  Sena menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual dan bisa menerima dirinya sebagai biseksual karena ia merasa masih tertarik dengan laki-laki dan perempuan. Ketika orangtua Sena mengatakan bahwa Sena adalah biseksual, ia bisa menerima keadaan dirinya seperti itu. Selain itu, ia juga merasa puas menjadi seorang

  biseks. terima.. karena emang kenyataannya emang kek gitu.. aku terima.. (R2, W1/b.42-43/h.2)

”(sambil tersenyum) sama sih mikirnya.. pemikirannya sama.. iya.. gak jelas

intinya..hehe.. mikirnya jadi yah, bener jugak gitu..hehe.. karna ke cowok

enggak ke cewek.. eh.. maksudnya ke cowok iya ke cewek iya.. ”

  (R2, W3/b.16-19/h.1)

  ”puas. ” (R2, W2/b.344/h.6)

  Karena itu Sena tetap menilai baik dirinya menjalani hidup sebagai seorang biseksual. Ia juga tidak menyalahkan oarangtua dan sepeupunya yang teah membuatnya seperti ini, sebaliknya ia tetap menerima keadaan serta mencoba mengambil hal positif dari kejadian tersebut dan tidak menutup dirinya dari laki-laki.

  ”oh, aku gak ngerasa buruk dari.. dari.. menjalani jadi bi ini.” (R2, W1/b.623-624/h.10)

”yah, karna aku nyaman jalani dua-duanya, biasa aja, enjoy-enjoy aja sih

ngejalaninnya sampai sekarang sih nyaman-nyaman aja, sampai sekarang sih

kek gitu.” (R2, W1/b.626-629/h.10) ”jujur aku trauma ya, tapi aku gak mau juga nutup diri aku ke cowok..” (R2, W3/b.122-123/h.3)

b). Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others)

  Sekalipun Sena tetap bisa menerima dirinya sebagai biseksual namun ia tetap tidak membuka identitasnya tersebut kepada banyak orang. Hanya kepada beberapa

  temannya Sena membuka diri bahwa ia adalah biseksual diantaranya teman-teman terdekatnya sesama biseksual, sebagian teman-teman luar kampus maupun dalam kampus dan juga pacarnya yang perempuan. Reaksi teman-temannya adalah kaget

  dan tidak terima, namun setelah dijelaskan oleh Sena mereka akhirnya bisa menerima dan mengerti keadaan Sena sehingga kondisi hubungan mereka pun tetap baik. Pacar Sena yang perempuan juga bisa menerima keadaan Sena, bahkan setiap kali berpacaran dengan laki-laki, pacarnya yang perempuan selalu mengetahui hal tersebut sehingga tidak jarang Sena meminta pengertian dari pacarnya yang perempuan ketika ia berpacaran dengan laki-laki.

  

”udah gilak kalo tau.. tapi sebagian ada yang tau sih emang.. aku cuma gak

mau orang tau karna kita kan hidup di budaya timur yang masi menjunjung

adat istiadat..” (R2, W1/b.516-519/h.8) ”aku yang kasi tau..” (R2, W1/b.521/h.8)

”awalnya sih yah, temen mana yang terima gitu ya.. mereka coba, coba

ngomong.. kok bisa sih, sen? Gak bisa gak, gak pengen coba benar-benar pure

jadi, jadi cewek gitu. Tapi lama-kelamaan aku coba jelasin ke mereka, mereka

terima.” (R2, W1/b.530-535/h.8) ”baik..baik.. gak ada yang ngejauhin sampai sekarang.” (R2, W1/b.537-538/h.8)

”Aku coba minta pengertian ke lila dulu, aku punya pacar cowok, gini gini

gini.. aku minta waktunya gitu. Aku pengen setiap, setiap aku sama dia jangan

hubungi aku dulu gitu, sampai aku sendiri yang ngubungin, yah kek gitu..” (R2, W1/b.342-347/h.6)

  Lain halnya kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki. Kepada mereka Sena menutup diri tentang identitasnya. Sena berkeinginan untuk jujur dengan pacarnya laki-laki namun ia takut pacarnya tidak siap untuk menerima sehingga sampai kapanpun Sena tidak akan memberitahu hal tersebut sampai akhirnya pacarnya sendiri yang mengetahuinya. Sena pun berusaha menutupi identitasnya dari keluarganya namun tidak berhasil. Sena ketahuan berpacaran dengan perempuan yang adalah sepupunya sendiri. Keluarga besar Sena pun mengetahui hal ini. Walaupun ketahuan, hubungan Sena dengan keluarga inti tetap baik tetapi semakin jauh dengan keluarga besar karena Sena merasa di judge.

  

”gilak ajalah nok.. aku jugak gak mau kehilangan pacar aku yang cowok kan..

kalo aku jujur yah aku kehilangan dia.” (R2, W1/b.359-361/h.6)

”sampai kapan pun gak akan pernah. Kalo aku dah sayang sama dia, mungkin

aku berhenti untuk jadi kek gini, jadi aku gak pengen kehilangan dia.” (R2,

W1/b.363-366/h.6)

  ” sampe dia tau sendiri, dia nanyak, trus dia bisa terima. ” (R2, W2/b.335-336h.5)

  

”gini nok.. sebenernya mereka gak tau, mereka cuma denger-denger dari

sodara. Sodara yang cek ke provider.. gitu lah.. jadi ampe sekarang mereka tu

masih bertanya-tanya, benar gak ya benar gak ya? Mereka cobak pungkiri lah

bahwasanya apa yang di bilang sodara-sodara tu gak benar.. gitu nok..” (R2,

W3/b.818-824/h.14)

”yah, tetap baik. Cuma sama keluarga besar terkecuali sama keluarga kandung

kek mama kandung, papa kandung, kakak-kakak itu tetap baik, mereka masih

bisa nerima. Tapi kalo sama keluarga besar aku gak gitu, jadinya emang yah

jadi jauh dan aku ngerasa mereka terlalu ngejudge aku yang negatif bukan

coba diliat dari sisi positifnya aku. ” (R2, W1/b.219-226/h.5)

  Dalam kehidupan sehari-hari Sena suka bergaul dan sangat dibutuhkan oleh teman-temannya walaupun terkadang teman-temannya belum tentu ada yang mau membantunya ketika ia lagi kesulitan. Sena juga selalu mengingatkan teman- temannya yang ingin menjalani hubungan sesama jenis agar berpikir dan mempertimbangkan dahulu karena dunia “L” sangat kejam.

  

”...ini jujur ya, aku bantu dia gitu.. tapi belum tentu ada yang mau bantu

aku..hehehe.. ” (R2, W3/b.606-611/h.11)

”...kejam.. dunia “L” itu kejam, kalo misalnya kita.. kita udah masuk ke situ

yah, apapun resikonya trimalah.. makanya aku selalu bilang sama teman-

teman aku yang baru mau.. mau kek gitu kan, pikirin dulu lah bagus-bagus.. ”

  (R2, W3/b.4554-459/h.8)

  Memiliki banyak teman tetap membuat Sena memilih untuk berteman dekat dan terbuka kepada perempuan karena baginya sesama perempuan bisa saling mengerti perasaan.

  

”aku ya.. aku tu berteman dekat lebih banyak ma cewek ya nok.. lebih terbuka

jugak ma cewek.. karna buat aku kalo sesama cewek tu kan bisa lebih ngerti

perasaan.. gitu loh..” (R2, W3/b.707-710/h.12) Di dalam keluarga, Sena adalah seseorang sangat tertutup kepada keluarganya.

  Sena mengakui bahwa ia adalah satu-satunya anak yang jarang berkomunikasi dengan orangtuanya.

  

”aku kalo sama keluarga terlalu tertutup yah kalo di bilang nok. Aku gak

pernah.. aku jarang komunikasi, di keluarga itu aku satu-satunya anak yang

jarang komunikasi sama orangtua.. ngomong tu kalo misalnya orangtua ada

gitu kan, ngumpul, aku bisa di hitung berapa kali aku berapa kali ngomong.. ”

(R2, W2/b.115-121/h.3)

Dengan kedua pasangannya, Sena merasa nyaman dan bisa menikmati

hubungan pacarannya sekaligus. Sena juga merasa puas ketika menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan karena ia bisa dilindungi dan juga melindungi orang yang ia sayangi.

  ”sama dua-duanya nyaman.” (R2, W1/b.229/h.5) ”engga da.. enjoy aja.. aku bisa sayang sama dua-duanya.” (R2, W1/336-337/h.5)

”kalo ke cowoknya aku puasnya tu aku bisa benar-benar merasa aku bisa di

lindungin tapi di pribadi yang lain aku juga ngerasa kalo pacaran sama

cow..cewek, aku ngelindungin, gitu.. haa, gimana tu? hehehe..” (R2, W2/173-178/h.4)

c). Otonomi (Autonomy)

  Meskipun Sena jarang berkomunikasi dengan orangtuanya tetapi dia selalu bertanya kepada orangtuanya ketika ia ingin mengambil keputusan seperti dalam hal memutuskan tempat kuliah ataupun tempat bekerja. Dari dulu sampai sekarang orangtua Sena tidak pernah mendukung keputusan yang di ambilnya. Ia merasa bahwa orangtuanya belum membebaskan Sena sepenuhnya sehingga dalam setiap mengambil keputusan orangtuanya selalu ikut campur.

  

”sendiri.. walaupun ngambil keputusan itu kadang aku dah tekad gitu dah

bulat tetep..tetep tanya ke orangtua gitu.. aku ngerasa apapun.. apapun yang

menurut aku tu jalan aku, orangtua gak pernah ijinin.. dari dulu..” (R2, W3/b.765-770/h.13)

”mulai dari aku milih kuliah, orangtua pasti ikut andil gitu.. mulai dari aku

milih kuliah, aku tu yang aku pengen kerja disini, disitu gitu.. kalo di bilang

sih mereka belum ngebebasin aku sepenuhnya.” (R2, W3/b.772-776/h.13)

  Tetapi berbeda ketika Sena memutuskan pacaran dengan laki-laki dan perempuan. Dia memutuskannya sendiri tanpa pertimbangan apapun. Alasannya hanya karena memang ingin.

  ”sendiri.” (R2, W2/b.354/h.6) ”pengen aja.. hahaha ” (R2, W2/b.358/h.6)

  Dalam pergaulan, Sena sering mengikuti tuntutan dari lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, Sena pernah memiliki keinginan untuk berpenampilan seperti perempuan dan sepenuhnya menyukai laki-laki, namun karena mengikuti tuntutan lingkungan yang mengharuskannya untuk berpenampilan seperti laki-laki sebaliknya perubahan yang terjadi adalah Sena berpenampilan seperti laki-laki.

  ”perubahannya malah ke cowok..hahaha.” (R2, W2/b.400/h.7) ”nah, itu.. itu yang.. yang mungkin faktor lingkungan jugak ya nok..” (R2, W2/b.402-403/h.7)

”faktor lingkungan yang ada di sekitar aku tu sekarang yang menuntut aku

harus.. jadi cowok gitu bukan yang menuntut aku jadi cewek.. ”

  (R2, W2/b.405-408/h.7) Dalam kesehariannya Sena tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa terganggu, sama seperti orang-orang pada umumnya. Tetapi ketika berpacaran

  dengan laki-laki dan perempuan, Sena merasa bersalah terhadap pacarnya yang laki- laki karena telah membohongi pacarnya itu. Hal ini menyebabkan Sena merasa terganggu ketika berpacaran dengan pasangannya yang laki-laki. Namun hal tersebut tidak berpengaruh besar dalam hubungan berpacarannya. Sena masih bisa menikmati pacaran dengan yang laki-laki dan tidak merasa risih ketika berpacaran dengan laki- laki dan perempuan. Selama berpacaran dengan laki-laki dan perempuan, Sena bebas menjadi dirinya sendiri.

  ”gak.. biasa-biasa aja, sama kek orang-orang yang biasa.” (R2, W1/b.579-580/h.9)

”gak..gak besar sih.. kecillah pengaruhnya, gak buat aku sampe yang gimana

gitu jadinya ma pacar aku yang cowok.. masih bisa di nikmatinlah nok..” (R2, W2/b.224-227/h.5)

”yah, aku gak ada ngerasa, ngerasa risih gimana ya, karena mungkin di

keluarga juga aku dibentuk kayak jadi cowok, jadi kapan ada sisi.. yah, mau

secowok-cowoknya aku pasti ada sisi, sisi perempuannya donk.. namanya

jugak kita perempuan gitu, mau gimana pun masih ada sisi perempuannya.

Yah, kalo sama cowok aku, aku pake sisi perempuan aku. Dan itu gak dibuat-

buat, keluar gitu aja.. gak pernah itu aku buat-buat yang manja-manja, emang

keluar sendiri. Karena aku bukan tipe orang yang suka, suka.. aku pengen jadi

diri aku sendiri apa adanya aku.” (R2, W1/b.373-386/h.6)

Sampai saat ini Sena belum bisa memutuskan untuk memilih di antara kedua

pacarnya. Pada akhirnya dia harus memilih untuk bersama dengan laki-laki karena kodratnya sebagai perempuan. Namun jika terlepas dari norma-norma agama ataupun masyarakat yang menentang, dia ingin memilih hidup bersama perempuan

  

”kalo buat sekarang disuruh.. disuruh untuk.. untuk fokus milih emang benar-

benar gak bisa..” (R2, W3/b.17-19/h.1) “sama laki-laki donk..(sambil tersenyum)” (R2, W1/b.450/h.7)

”alasannya karna iyah balik, balik ke kodrat kita ya, kita perempuan, gak

mungkin kita, kita, kita harus marriednya sama perempuan, karena kodrat kita

tuh yah kita jadi apa? Jadi perempuan kan.” (R2, W1/b.452-456/7)

  ”cewek.” (R2, W2/b.486/h.8)

d). Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

  Ketika berpacaran, Sena memiliki dua peran berbeda yang harus dia mainkan sekaligus yaitu sebagai laki-laki ketika berpacaran dengan perempuan dan sebagai perempuan ketika berpacaran dengan laki-laki. Namun Sena tidak merasa kesulitan ketika membagi perannya sebagai laki-laki dan perempuan.

  ” jadi butch-nya, jadi cowoknya gitu lah.. ” (R2, W1/b.369/h.1) “yah, mau secowok-cowoknya aku pasti ada sisi, sisi perempuannya donk..

  namanya jugak kita perempuan gitu, mau gimana pun masih ada sisi

perempuannya. Yah, kalo sama cowok aku, aku pake sisi perempuan aku. Dan

itu gak dibuat-buat, keluar gitu aja.. gak pernah itu aku buat-buat yang manja-

manja, emang keluar sendiri. ” (R2, W1/b.376-382/h.6)

  Pada saat Sena sedang mengalami konflik secara bersamaan dengan kedua pacarnya, aktivitas Sena ketika sedang kuliah dan bersama teman-temannya menjadi terganggu. Sena menjadi tidak konsentrasi pada saat kuliah. Sena lebih kelihatan jika sedang ada masalah dengan pacarnya yang perempuan.

  

”yah, ada ya.. kalo ku bilang ada, konsentrasi di kelas terganggu.. sebenernya

aku lebih..lebih nampak kalo punya masalah tu sama cewek..” (R2, W3/b.795-798/h.14)

  ” gak sih.. di lingkungan pergaulan jugak..” (R2, W3/b.802/h.14)

  

Walaupun demikian Sena masih bisa mengatasi masalahnya dan menikmati

hubungan pacarannya.

  

”gimana ya nok.. aku sih sebenernya fun-fun aja tapi mau gak mau tetap jadi

pikiran kan? Yah, itu dia.. dengan pacaran ma dua-duanya aku susah bagi

waktu.. dari soal ketemu ampe waktu telpon.. aku harus siapin seribu alasan

lah biar masalah bisa clear.. kan ribet jadinya kalo dibandingin pacaran sama 1

aja..” (R2, W3/b.806-812/h.14)

  Ketika bersama dengan salah satu pasangannya Sena mampu membawa diri dan tidak mau menunjukkan kepada pasangannya kalo ia bermasalah dengan pasangan yang lain.

  

”gak.. aku bisa ngebawa diri. Aku coba ngebawa diri kalo misalnya aku punya

masalah ke cowok aku, aku gak, gak mau bawa ke cewek aku, karna yah, aku

juga harus ngejaga perasaan dia gitu. Nah, demikian sebaliknya, kalo aku

punya masalah ma cewek aku, aku gak mau nampakin ke cowok aku kalo aku

ada masalah ma orang lain.” (R2, W1/b.472-480/h.7)

  Adanya penilaian yang buruk dari masyarakat umum tentang homoseksual ataupun biseksual membuat Sena merasa takut sehingga membatasi atau mengatur jarak dengan pacar yang perempuan.

  

”yah pasti ngerasa takut lah.. kalo soal itu jelas aku pikirin.. secara kita kan

masih hidup di budaya timur kan..” (R2, W1/b.609-611/h.10)

”yah, pernahlah aku jalan sama pacar-pacar aku cuman yah waktu jalan aku

berusaha ngatur jarak aku ma dia. ” (R2, W1/b.615-617/h.10)

e). Tujuan Hidup (Purpose in Life)

  Di usianya yang 23 tahun ini tujuan hidup Sena adalah ingin membahagiakan orangtuanya dan juga ingin menyatukan keluarganya yang menurutnya sudah sangat berantakan. Tujuannya yang lain yaitu mendapatkan pekerjaan yang baik dan menikah dengan laki-laki karena tidak mungkin untuk menikah dengan perempuan.

  ”tujuan hidup aku sebenarnya cuma pengen ngebahagia-in orangtuaku.” (R2, W2/b.500-501/h.9)

”karna..ee, kalo urusan pendidikan aku udah kelar.. aku ngerasa udah kelar

gitu.. aku cuma pengen ngeliat mama aku tu senang, aku pengen nyatuin

keluarga aku yang aku ngerasa keluarga aku udah berantakan sekali..” (R2, W2/b.503-508/h.9) ”sama.. marriedlah.. aku dapat kerja baek-baek..” (R2, W2/b.525-526/h.9)

  Tujuan Sena untuk menikah dengan laki-laki membuat pada akhirnya hubungan Sena hanya mengarah dan memiliki tujuan yang jelas dengan pacarnya yang laki-laki. Sedangkan dengan perempuan dia hanya ingin mendapatkan kasih sayang saja.

  ” kalo.. kalo ke ceweknya gak ada tujuan yah sebenernya tapi kalo ke

  

cowoknya yah, yah, buat.. buat.. kalo emang jodoh yah terus gitu, buat ke

married-nya.. kalo ke cowok ya, kalo ke cewek aku ngerasa.. cuman carik

  

kasih sayang doank sih dari dia, karna beda kan kasih sayang yang di kasi

cowok ma cewek tu beda..” (R2, W3/b.159-166/h.4)

  Untuk saat ini Sena belum bisa fokus untuk memilih dan mencapai tujuannya untuk menikah. Ia hanya berharap agar dapat berubah secepat mungkin menjadi heteroseksual sepenuhnya sehingga tujuannya untuk menikah dapat tercapai.

  ”harapan aku pengen berubah secepat mungkin menjadi normal..” (R2, W2/b.535-536/h.9)

f). Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)

  

Berpacaran dengan laki-laki dan perempuan menjadi sesuatu yang menarik

  bagi Sena karena memiliki banyak tantangan. Selain itu Sena banyak belajar karakteristik orang dalam satu waktu.

  

”menarik ya.. iya, menarik karna banyak tantangannya gitu.. yah, yang kek

kemaren aku bilang, kita banyak belajar.. gak cuman satu aja karakteristik

orang yang kita pelajari gitu tapi kan sekaligus dua, dalam satu waktu dua

yang kita pelajari gitu karakteristiknya.. kalo menurut aku menarik itu.” (R2, W3/b.688-695/h.11)

Seiring berjalannya waktu, Sena mengalami perubahan dalam hidupnya. Yang

  berubah dari diri Sena selama ini dia bisa semakin sabar, lebih mementingkan orang lain dan lebih dewasa. Kemudian Selama 2 tahun Sena berhasil berubah menjadi heteroseksual. Namun karena pacarnya yang laki-laki meninggalkannya ia pun kembali lagi tertarik pada perempuan. Hal tersebut tidak membuat Sena menyerah.

  Sekarang ini, ia perlahan-lahan ingin berubah dengan tidak ingin membuka hati buat perempuan lagi dan mengajak teman-teman yang sepertinya untuk mencari pacar laki- laki yang bisa menerima tampilan fisik mereka yang seperti laki-laki.

  ”aku lebih bisa sabar.. ” (R2, W2/b.551/h.10) ”aku lebih bisa mentingin orang lain.” (R2, W3/b.553/h.10)

”lebih dewasa ya kalo aku bilang.. mulai dari cara ngomong, kepribadian, cara

pemikiran.. aku ngerasa sih emang berubah di situ.. ” (R2, W2/b.557-560/h.10)

  ”kepribadian gimana ya? … tata kramanya..di bagusin gitu..” (R2, W3/b.69-80/h.1)

”berhasil.. tapi lelakinya meninggalkan aku..hehehe. dan akirnya aku kembali

lagi.” (R2, W2/b.545-546/h.10)

”enggak emang, sama sekali enggak.. iya..iya.. emang selama 2 taon tu aku tu

ngerasa hidup aku tu berhasil gitu, berhasil buat keluar dari dunia yang aku

sendiri sampai sekarang masih jadi tanda tanya besar kenapa bisa.. tapi yah

karna itu tadi, balik lagi..” (R2, W3/b.46-52/h.2)

”jadi yah, pelan-pelanlah proses jugak. Makanya aku buat ngebukak hati buat

cewek lagi, enggak dulu lah cukup yang satu ini dulu.” (R2, W2/b. 408-411/h.7)

Sena juga tetap berkeinginan untuk mengubah hal-hal di dalam dirinya seperti

  fisik agar lebih berpenampilan seperti perempuan dan lebih dewasa lagi di keluarga serta memiliki keinginan untuk berkuliah lagi sambil bekerja.

  

”(berpikir) hmm.. fisik doang lah ya. Karna aku ngerasa pribadi aku, aku udah

ngerasa cukup ee, orang lain yang ada di sekitar aku udah cukup nyaman

cuman mungkin lebih..lebih ke bentuknya kali ya..” (R2, W2/b.581-585/h.10)

”kalo pribadi aku sih dah cukup.. paling yah, lebih dewasa lagi lah di keluarga

ya, bukan di lingkungan teman-teman.” (R2, W2/b.591-593/h.10)

”kuliahlah.. kuliah aku sebenarnya pengen.. pengen kuliah lagi, cuman

mikirnya umur aku udah 23, lebih bagus aku kerja dulu kalo memang mau

kuliah ya udah, sambil kerjalah.” (R2, W3/b.376-380/h.6)

  Dalam kesehariannya, Sena tidak ikut terlibat dalam komunitas lesbi ataupun biseksual karena Sena tidak suka terlibat karena ia tidak ingin publikasi ke masyarakat. Sena memang pada dasarnya tidak suka dengan organisasi karena ia merasa hal itu cuma menghabiskan waktu. Ia juga menganggap hal itu tidak penting karena hanya mengurusi hal-hal yang bukan urusan Sena.

  

”enggak ada.. aku memang dasarnya gak sukak sama organisasi, buat aku tu

cuman ngabis-ngabisin waktu..” (R2, W2/b.462-464/h.8)

“gak penting kalo menurut aku! Karna cuman yang ada tu ngurusin hal-hal

yang bukan urusan aku, aku ngerasa kek gitu sih..” (R2, W2/b.466-468/h.8)

  Tabel 6. Gambaran Dimensi Psyhological Well-Being Pada Responden II Dimensi PWB Gambaran PWB

  1. Penerimaan Sena menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual dan bisa Diri menerima dirinya sebagai biseksual. Ketika orangtuanya

  mengatakan bahwa Sena adalah biseksual, ia bisa menerima keadaan dirinya seperti itu. Selain itu, ia juga merasa puas menjadi seorang

  biseks. Karena itu Sena tetap menilai baik dirinya menjalani hidup

  sebagai seorang biseksual dan tidak menyalahkan orangtua dan sepupunya yang sudah membuatnya menjadi biseksual.

2. Hubungan

  a) Keterbukaan Sena kepada orang lain tentang identitasnya:

  Positif dengan Sena hanya membuka identitasnya kepada teman-temannya yang Orang Lain lesbi, biseksual, beberapa teman kampus dan pacarnya yang

  perempuan dan mereka tetap menerima Sena. Sena tidak ingin membuka identitasnya kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki sampai kapanpun. Tetapi Sena gagal menjaga rahasia identitasnya kepada keluarga. Ia ketahuan berpacaran dengan perempuan sehingga hubungan dengan keluarga besarnya pun menjadi buruk tetapi tidak dengan keluarga intinya.

  b) Hubungan Sena dengan orang lain: Dalam kehidupan sehari-hari Sena suka bergaul dan sangat dibutuhkan oleh teman-temannya walaupun terkadang teman- temannya belum tentu ada yang mau membantunya. Sena juga selalu mengingatkan teman-temannya yang ingin menjalani hubungan sesama jenis agar berpikir dan mempertimbangkan dahulu karena dunia “L” sangat kejam. Memiliki banyak teman tetap membuat Sena memilih untuk berteman dekat dan terbuka kepada perempuan karena baginya sesama perempuan bisa saling mengerti perasaan. Di dalam keluarga, Sena adalah seseorang sangat tertutup kepada keluarganya. Sena mengakui bahwa ia adalah satu-satunya anak yang jarang berkomunikasi dengan orangtuanya.

  Dengan kedua pasangannya, Sena merasa nyaman dan bisa menikmati hubungan pacarannya. Sena juga merasa puas ketika menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan karena ia bisa dilindungi dan juga melindungi orang yang ia sayangi.

  3. Otonomi Dari dulu sampai sekarang dalam setiap mengambil keputusan

  orangtua Sena selalu ikut campur. Tetapi ketika Sena memutuskan pacaran dengan laki-laki dan perempuan, dia memutuskannya sendiri. Dalam kesehariannya Sena tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa terganggu, sama seperti orang-orang pada umumnya. Selama berpacaran dengan laki-laki dan perempuan pun Sena bebas menjadi dirinya sendiri. Dalam pergaulan Sena sering mengikuti tuntutan dari lingkungan sekitarnya.

  Sampai saat ini Sena belum bisa memutuskan untuk memilih Walaupun pada akhirnya dia harus memilih untuk bersama dengan laki-laki karena kodratnya sebagai perempuan, namun jika terlepas dari norma-norma agama ataupun masyarakat yang menentang, dia ingin memilih hidup bersama perempuan

  4. Penguasaan Dalam berpacaran Sena harus memainkan peran sebagai laki-laki Lingkungan dan perempuan sekaligus dan Sena tidak merasa kesulitan jika harus

  berperan sebagai laki-laki ketika berpacaran dengan perempuan. Ketika bermasalah dengan salah satu pasangannya, Sena mampu membawa diri dan tidak mau menunjukkan kepada pasangannya kalo ia bermasalah dengan pasangan yang lain. Ketika berpacaran dengan perempuan, Sena berusaha mengatur jarak dengan perempuan tersebut agar masyarakat tidak menilai buruk ketika melihat mereka berjalan bersama.

  5. Tujuan Hidup Di usianya yang 23 tahun ini tujuan hidup Sena adalah ingin

  membahagiakan orangtuanya dan juga ingin menyatukan keluarganya yang menurutnya sudah sangat berantakan. Tujuannya yang lain yaitu mendapatkan pekerjaan yang baik dan menikah dengan laki-laki. Tujuan Sena untuk menikah dengan laki-laki membuat pada akhirnya hubungan Sena hanya mengarah dan memiliki tujuan yang jelas dengan pacarnya yang laki-laki. Untuk saat ini Sena belum bisa fokus untuk memilih dan mencapai tujuannya untuk menikah. Oleh karena itu, ia berharap agar dapat berubah secepat mungkin menjadi heteroseksual sehingga tujuannya untuk menikah dapat tercapai.

6. Pertumbuhan Berpacaran dengan laki-laki dan perempuan membuat ia bisa banyak Pribadi belajar karakteristik orang dalam satu waktu.

  Seiring berjalannya waktu, Sena mengalami perubahan dalam hidupnya yaitu semakin sabar, lebih mementingkan orang lain dan

  lebih dewasa. Kemudian Selama 2 tahun Sena berhasil berubah menjadi heteroseksual. Namun karena pacarnya yang laki-laki meninggalkannya ia pun kembali lagi tertarik pada perempuan. Hal tersebut tidak membuat Sena menyerah. Sekarang ini, ia perlahan- lahan ingin berubah dengan tidak ingin membuka hati buat perempuan lagi dan mengajak teman-teman yang sepertinya untuk mencari pacar laki-laki yang bisa menerima tampilan fisik mereka yang seperti laki-laki. Sena juga tetap berkeinginan untuk mengubah

  hal-hal yang di dalam dirinya seperti fisik agar lebih berpenampilan

  seperti perempuan dan lebih dewasa lagi di keluarga. Selain itu, Sena juga memiliki keinginan untuk berkuliah lagi sambil bekerja. Dalam kesehariannya, Sena tidak ikut terlibat dalam komunitas lesbi ataupun biseksual karena Sena tidak suka dengan organisasi. Ia merasa hal itu cuma menghabiskan waktu. Ia juga menganggap hal itu tidak penting karena hanya mengurusi hal-hal yang bukan urusan Sena.

2. Interpretasi Intra Responden

  Di bagian ini akan dijelaskan mengenai dimensi-dimensi pada responden II (Sena) yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Dimensi-dimensi tersebut dihubungkan dengan teori yang telah dikemukakan di Bab II.

  a). Penerimaan Diri

  Seseorang memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri adalah mereka yang memahami dan menerima berbagai aspek diri termasuk di dalamnya kualitas baik maupun buruk, dan bersikap positif terhadap kehidupan yang dijalaninya (Ryff, 1995). Hal ini sejalan dengan diri Sena. Ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual dan bisa menerima dirinya sebagai biseksual. Ketika orangtuanya mengatakan bahwa Sena adalah biseksual, ia bisa menerima keadaan dirinya seperti itu. Selain itu, ia juga merasa puas menjadi seorang biseks. Karena itu Sena tetap menilai baik dirinya menjalani hidup sebagai seorang biseksual dan tidak menyalahkan orangtua dan sepupunya yang sudah membuatnya menjadi biseksual.

  b). Hubungan Positif dengan Orang Lain

  Menurut Ryff, individu yang memiliki hubungan positif dengan orang lain memiliki kepercayaan dengan orang lain. Dalam penelitian ini, Sena membuka identitasnya kepada teman-temannya yang lesbi, biseksual, beberapa teman kampus dan pacarnya yang perempuan dan mereka tetap menerima Sena. Sena tidak ingin membuka identitasnya kepada keluarga dan pacarnya yang laki-laki sampai kapanpun. Tetapi Sena gagal menjaga rahasia identitasnya kepada keluarga. Ia ketahuan berpacaran dengan perempuan sehingga hubungan dengan keluarga besarnya pun menjadi buruk tetapi tidak dengan keluarga intinya.

  Ryff juga mengatakan bahwa individu baik dalam dimensi ini juga memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan empati, afeksi, dan mempunyai hubungan yang intim, mampu membina hubungan yang hangat, memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar pribadi serta mampu memberikan bimbingan serta pengarahan kepada orang lain (generativity). Dalam kehidupan sehari-hari Sena suka bergaul dan sangat dibutuhkan oleh teman- temannya walaupun terkadang teman-temannya belum tentu ada yang mau membantunya. Sena juga selalu mengingatkan teman-temannya yang ingin menjalani hubungan sesama jenis agar berpikir dan mempertimbangkan dahulu karena dunia “L” sangat kejam. Memiliki banyak teman tetap membuat Sena memilih untuk berteman dekat dan terbuka kepada perempuan karena baginya sesama perempuan bisa saling mengerti perasaan. Di dalam keluarga, Sena adalah seseorang sangat tertutup kepada keluarganya. Sena mengakui bahwa ia adalah satu-satunya anak yang jarang berkomunikasi dengan orangtuanya. Dengan kedua pasangannya, Sena merasa

  nyaman dan bisa menikmati hubungan pacarannya. Sena juga merasa puas ketika menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan karena ia bisa dilindungi dan juga melindungi orang yang ia sayangi.

c). Otonomi

  Ryff (1995) mengatakan bahwa ciri utama seseorang yang memiliki otonomi yang baik antara lain kemampuan untuk menentukan nasib sendiri, kemampuan untuk mengatur tingkah laku, dan kemampuan untuk mandiri. Sebagai seorang biseksual, Sena tidak merasa terganggu melakukan aktivitasnya sehari-hari. Sena pun merasa bebas menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan laki-laki dan perempuan.

  Ryff juga mengatakan bahwa ciri utama individu yang memiliki otonomi yang baik adalah bahwa ia mampu mengambil keputusan tanpa adanya campur tangan orang lain. Dalam mengambil keputusan, Sena selalu bertanya kepada orangtuanya. Dari dulu sampai sekarang orangtua Sena tidak pernah mendukung keputusan yang di ambilnya. Orangtua Sena belum membebaskan Sena sepenuhnya sehingga dalam setiap mengambil keputusan orangtuanya selalu ikut campur. Tetapi ketika memutuskan berpacaran dengan laki-laki dan perempuan Sena mengambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan apapun. Sampai saat ini Sena belum bisa memutuskan untuk memilih.

  Selain itu ciri individu dengan otonomi yang baik adalah individu yang memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan sosial. Berbeda dengan Sena, ia justru mengikuti tuntutan lingkungan yang mengharuskannya untuk berpenampilan seperti laki-laki padahal sebelumnya ia bekeinginan untuk berpenampilan seperti perempuan.

  d). Penguasaan Lingkungan

  Kemampuan untuk menguasai lingkungan didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memilih, menciptakan, atau mengelola lingkungan agar berjalan seiring dengan kondisi psikologis dirinya dalam rangka pengembangan diri. Individu yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan memiliki keyakinan dan kompetensi dalam mengatur lingkungan. Ia dapat mengendalikan aktivitas eksternal yang berada di lingkungannya termasuk mengatur dan mengendalikan situasi kehidupan sehari- hari, memanfaatkan kesempatan yang ada di lingkungannya, serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan pribadi.

  Dalam penelitian ini, Sena tidak merasa kesulitan jika harus berperan sebagai laki-laki ketika berpacaran dengan perempuan. Ketika bermasalah dengan salah satu pasangannya, Sena mampu membawa diri dan tidak mau menunjukkan kepada pasangannya kalo ia bermasalah dengan pasangan yang lain. Selain itu, ketika berpacaran dengan perempuan, Sena berusaha mengatur jarak dengan perempuan tersebut agar masyarakat tidak menilai buruk ketika melihat mereka berjalan bersama.

  e). Tujuan Hidup

  Allport (1961) menjelaskan bahwa salah satu ciri kematangan individu adalah memiliki tujuan hidup, yakni memiliki rasa keterarahan (sense of directedness) dan

  tujuan (intentionality). Ryff mengatakan individu yang memiliki nilai tinggi dalam

  dimensi tujuan hidup adalah individu yang memiliki tujuan dan arah dalam hidup, merasakan arti dalam hidup masa kini maupun yang telah dijalaninya, memiliki keyakinan yang memberikan tujuan hidup, serta memiliki tujuan dan sasaran hidup yang ingin dicapai dalam hidup. Di usianya yang 23 tahun ini tujuan hidup Sena adalah mendapatkan pekerjaan yang baik dan menikah dengan laki-laki. Tujuan Sena untuk menikah dengan laki-laki pada akhirnya membuat hubungan Sena hanya mengarah dan memiliki tujuan yang jelas dengan pacarnya yang laki-laki. Untuk saat ini Sena belum bisa fokus untuk memilih dan mencapai tujuannya untuk menikah.

  Oleh karena itu, ia berharap agar dapat berubah secepat mungkin menjadi heteroseksual sehingga tujuannya untuk menikah dapat tercapai.

f). Pertumbuhan Pribadi

  Individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya, memandang diri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, memiliki kemampuan dalam menyadari potensi diri yang dimiliki, dapat merasakan peningkatan yang terjadi pada diri dan tingkah lakunya setiap waktu serta dapat berubah menjadi pribadi yang lebih efektif dan memiliki pengetahuan yang bertambah. Sebaliknya, individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang kurang baik akan merasa dirinya mengalami stagnasi, tidak melihat peningkatan dan pengembangan diri, merasa bosan dan kehilangan minat terhadap kehidupannya, serta merasa tidak mampu dalam mengembangkan sikap dan tingkah laku yang lebih baik (Ryff, 1995).

  Berpacaran dengan laki-laki dan perempuan membuat ia bisa banyak belajar karakteristik orang dalam satu waktu. Seiring berjalannya waktu, Sena mengalami perubahan dalam hidupnya yaitu semakin sabar, lebih mementingkan orang lain dan lebih dewasa. Meskipun demikian, Sena tetap berkeinginan untuk mengubah hal-hal yang di dalam dirinya seperti fisik agar lebih berpenampilan seperti perempuan dan lebih dewasa lagi di keluarga. Selain itu, Sena juga memiliki keinginan untuk berkuliah lagi sambil bekerja. Sekarang ini, Sena perlahan-lahan ingin berubah yaitu dengan tidak ingin membuka hati buat perempuan lagi dan mengajak teman-teman yang sepertinya untuk mencari pacar laki-laki yang bisa menerima tampilan fisik mereka yang seperti laki-laki. Dalam kesehariannya, Sena tidak ikut terlibat dalam komunitas lesbi ataupun biseksual karena Sena tidak suka dengan organisasi. Ia merasa hal itu cuma menghabiskan waktu. Ia juga menganggap hal itu tidak penting karena hanya mengurusi hal-hal yang bukan urusan Sena.

  c. Responden III

1. Analisa Data

  b. Deskripsi identitas diri responden III Tabel 7. Gambaran Umum Responden III Keterangan Responden

  III

  Inisial Rizky Usia 21 tahun Agama Islam Jenis Kelamin Laki-Laki Urutan Dalam Keluarga Anak ke dua dari empat bersaudara

b. Latar Belakang Responden III (Rizky)

  Rizky (bukan nama sebenarnya) yang saat ini masih berusia 21 tahun adalah seorang laki-laki berkulit hitam manis, bola mata berwarna coklat, tinggi badan 168 cm, berat badan 50 kg dengan model rambut cepak berwarna hitam.

  Rizky yang saat ini masih duduk di bangku perkuliahan adalah anak kedua dari empat bersaudara. Rizky memiliki kakak yang sudah menikah dan memiliki anak. Satu adiknya juga masih berkuliah di penerbangan Semarang dan satu lagi masih duduk di bangku SMA. Rizky lahir di Padang dan semasa kecilnya banyak di habiskan di sana. Sebagai anak kedua, Rizky sangat dekat dengan kakaknya. Ia sering bercerita kepada kakaknya. Ayah Rizky bekerja sebagai PNS namun juga memiliki kerja sampingan sebagai wirausahawan. Berbeda dengan ibunya yang hanya bekerja sebagai wirausahawan.

  Rizky adalah seorang biseksual yang berpacaran sekaligus dengan laki-laki dan perempuan selama empat tahun. Pada waktu menginjak usia 17 tahun Rizky mengalami suatu kejadian yang sangat mengecewakan dirinya sehingga ia berpikir bahwa masa lalu itu lah yang membuat ia menjadi seorang biseks. Masa lalu yang dialami Rizky adalah sebuah pelecehan seksual oleh pamannya sendiri. Diawali dengan paksaan paman Rizky untuk melakukan hubungan seksual. Awalnya Rizky menolak, namun karena pamannya terus memaksa lama kelamaan ia menjadi dekat dengan pamannya dan menjalani hubungan pacaran dengan omnya. Kejadian ini membuat Rizky sangat kecewa dan dendam terhadap pamannya sendiri. Seiring berjalannya waktu perasaan kecewa Rizky berubah menjadi rasa pasrah dan menerima keadaan dirinya.

  Pada awalnya, Rizky mengalami ketertarikan dengan perempuan dan berpacaran dengan perempuan. Sampai suatu hari kehadiran pamannya membuat Rizky pada akhirnya tertarik dengan laki-laki. Dengan pamannya sendiri ia menjalani hubungan pacaran sesama jenis untuk pertama kalinya. Di saat itu, Rizky juga masih berpacaran dengan perempuan. Mulai dari situlah Rizky memulai hubungan pacaran dengan perempuan dan laki-laki sekaligus.

  Setahun kemudian Rizky berangkat ke Medan dan melanjutkan kuliahnya. Hubungan pacaran dengan pamannya lepas begitu saja, tetapi ia tetap berhubungan dengan pacarnya yang perempuan sampai sekarang. Selepas dari pamannya, Rizky tidak berhenti berhubungan dengan laki-laki. Ia tetap berpacaran dengan laki-laki. Sampai saat ini, Rizky masih berhubungan dengan pacar perempuannya yang ada di Padang dan di Medan ia juga berpacaran dengan laki-laki. Sejak berpacaran dengan pacar laki-lakinya yang sekarang, Rizky tidak pernah lagi aktif sebagai remaja masjid. Waktu Rizky habis hanya untuk pacarnya tersebut. Tetapi Rizky berusaha memperbaiki keadaan rohaninya yang telah sempat robek dengan membaca buku- buku tentang ke-Islaman.

  Peneliti mengenal Rizky dari teman peneliti yang merupakan teman Santi. Peneliti mengenal Rizky sejak 4 bulan yang lalu. Peneliti menanyakan secara langsung apakah Rizky seorang biseksual dan apakah bersedia menjadi responden penelitian pada penelitian ini dan peneliti menjelaskan prosedur penelitian yang akan dilakukan. Setelah mendapatkan kesediaan langsung dari Rizky untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, peneliti kemudian menentukan jadwal pertemuan berikutnya dengan Rizky untuk selanjutnya melakukan wawancara.

  Tabel 8. Waktu Wawancara Responden III Hari/Tanggal wawancara Waktu wawancara Tempat wawancara Senin/9 November 2009 17.00 – 18.00WIB Rumah Kost Responden III

  Rabu/11November 2009 20.00 – 21.00 WIB Rumah Makan Jumat/18 November 2009 17.30 – 18.30 WIB Rumah Makan

  c. Data hasil wawancara Dimensi Psychological Well – Being Individu Biseksual Yang Berpacaran

  a). Penerimaan Diri atau Self-Acceptance

Rizky menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual namun ia tidak

terima jika dirinya dikatakan sebagai seorang biseksual karena baginya hal tersebut

  memalukan.

  “yah, pasti sadar lah, sapa sih yang gak sadar dengan keadaan yang kek gini.” (R3, W1/b.177-178/h.4)

  ”oh, enggak.. saya tidak mau nok.. karna tu, secara umum tu malu lah.. ya kan? Maunya sih normal..” (R3, W3/b.459-461/h.8)

  Karena itu Rizky memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya. Rizky merasa kecewa dengan dirinya, kenapa harus dilahirkan seperti ini. Rizky pun dendam dan menyalahkan pamannya yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.

  ”eee.. pastinya penilaian dalam diriku tu negatif, kenapa aku bisa seperti ini.. kenapa aku gak dilahirkan jadi yang seperti dulu-dulu, kenapa aku gak bisa jadi diriku yang dulu gitu...” (R3, W1/b.221-228/h.5) ”...Sebenernya dendam sih ya sama.. sama om yang kemarin itu.. dendam gitu, kenapa sih dia merubah aku seperti ini...” (R3, W1/b.184-202/h.4) Tetapi perasaan kecewa Rizky lama kelamaan berubah menjadi rasa pasrah dan menerima keadaan. Hal ini terbukti ketika beberapa teman kampusnya mengejek- ejek dia karena identitasnya, ia tetap terima dan menanggapinya dengan biasa.

  ”yah.. gimana ya.. lama kelamaan sih jadi pasrah gitu kan.. ya.. terima ajalah keadaan aku yang seperti ini, mungkin ini hidup aku yang gak direstui ma Tuhan gitu ya, aku jalanin aja gitu..” (R3, W1/b.205-209/h.5) ”Gak..gak..biasa aja..” (R3, W1/b.560/h.10)

b). Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others)

  Keberadaan dirinya yang dia anggap memalukan justru membuat Rizky tidak membuka identitasnya kepada banyak orang. Ia hanya menceritakan tentang identitasnya kepada kakak kandung, kakak sepupu dan beberapa teman kampusnya. iyaa.. Aku yang cerita sendiri. Aku gak sanggup lagi mo cerita dimana dengan keadaan aku yang seperti ini.. (R3, W1/b.) Rizky menceritakan keadaannya kepada kakak kandungnya pada saat ia kuliah di semester I. Dengan bertatap muka ia menceritakan itu semua kepada kakaknya.

  Keterbukaan Rizky kepada kakaknya membuat kakaknya menjadi shock dan marah sampai menampar Rizky. Hubungan Rizky dengan kakaknya pun menjadi buruk.

  Selama setahun kakak Rizky tidak mau berbicara dengan Rizky. Rizky merasa takut kalau kakaknya nekat memberitahukan kepada orangtuanya. Jika itu sampai terjadi, ia pasti akan diusir dari rumah. Ia takut nantinya kehilangan orangtua dan kakaknya. Lebih dari itu, Rizky merasa sangat sedih karena di tinggal oleh kakak tercinta selama setahun.

  Kondisi buruk ini membuat Rizky selalu berusaha untuk membuat hubungannya dengan sang kakak menjadi baik kembali. Berbagai usaha dia lakukan.

  Mulai dari minta maaf, membujuk kakaknya, sering menghubungi kakaknya lewat telfon. Ia tetap terus berusaha walaupun ia sering dicuekin oleh sang kakak. Setahun berjalan, usaha Rizky untuk menjalin kembali hubungan baik dengan sang kakak akhirnya berhasil. Kakak Rizky akhirnya paham dan mengerti bagaimana keadaan Rizky. Sebagai seorang kakak yang menyayangi Rizky, sang kakak sangat menghargai kejujuran adiknya dan selanjutnya hanya bisa memberi pengarahan kepada Rizky. Di sisi lain, kakaknya juga merasakan kesedihan yang sama dengan Rizky karena harus bertengkar dengan saudara sendiri. Kini hubungan Rizky dengan sang kakak terjalin dengan baik kembali.

  “itu.. waku aku semester 1 aku ceritain. (R3, W1/b.455/h.8) waktu aku ceritain ma kakak, dia shock donk! dia marah kali sama aku..” (R3, W1/b.462-463/h.8) gak..gak baik.. Mulai dari situ kakak jadi marah dan gak mau cakapin aku..

  (R3, W1/b.475-476/h.8) Trus, pokoknya sedih loh nok.. Sedih banget, gimana sih seorang kakak ninggalin kita selama 1 tahun gitu kan. (R3, W1/b.491-194/h.8) Nah.. itu makanya kenapa aku terus membujuk-bujuk kakak aku. Kak, tolong maafin.. Maaf kak, aku akan berubah, aku akan berubah kok.. (R3, W3/b.487-490/h.8) ”eee.. kakak. Disaat itu dia mungkin paham kali ya, udah mengerti aja.” (R3, W1/b.503-504/h.9) ”iya..Ujungnya dia bilang gini..yang..eh, yang lagi.. Eee..dek.. kakak udah berubah pikiran, kalo memang seandainya ini yang terjadi buat kamu dan ini ”yang terbaik buat kamu, dan ini jalan kamu, kamu yang ngurus ini semua, kakak hanya bisa bantu dan ngasi pengarahan aja. Kakak bukannya memaksa, kakak kemarin udah memaksa, tapi kasian kamunya juga dan kakak juga tersiksa kehilangan adek, gak berkomunikasi selama 1 tahun, itu gimana rasanya gitu?? Kakak sebenarnya sedih juga di setiap kakak baca sms kamu, tapi kakak harus bisa untuk membuat kamu seperti ini biar kamu berubah gitu...” (R3, W1/b.511-534/h.9) Pada saat memberitahu tentang identitasnya kepada beberapa teman kampus, teman-teman Rizky bisa menerima keadaannya. Tetapi teman-teman Rizky lainnya banyak mengetahui identitasnya bukan dari dirinya langsung dan teman-temannya inilah yang tidak menerima keadaan Rizky. Sebaliknya, mereka mengejek-ejek dan mengucilkan Rizky.

  ”aku yang cerita.. Blak-blakan aja gitu kan.. Enjoy aja.. Yah.. memang akunya yang kek gini.. Lagian mereka banyak yang nerima aku kok..” (R3, W1/b.553-556/h.10) ”Ngucilin ada.. Kelompok-kelompok yang sirik sama aku gitulah ya..Hehehe..”

  (R3, W1/b.563-564/h.10) Walaupun Rizky menceritakan identitasnya kepada kakak dan teman- temannya, tetapi ia menutup mulutnya kepada kedua pacarnya. Tidak satu pun dari mereka tahu keadaan Rizky yang ternyata adalah biseksual.

  Eee.. Alasannya gini, nanti dipikirnya aku itu.. gak.. gak serius sama dia, trus hanya untuk bermain-main dan eee… hura-hura ma dia gitu kan.. eee, mikirnya kesitu gitukan.. Trus dia takut kehilangan aku, aku juga takut kehilangan dia, makanya aku gak mau cerita tentang si cewek gitu. (R3, W1/b.353-359/h.6) alasannya sama juga, aku takut kehilangan dia, makanya intinya aku gak mau beri tau sama keduanya. (R3, W1/b.363-365/h.6) Dalam kehidupan sehari-hari Rizky adalah seorang pemuda yang suka bergaul, mudah bersosialisasi dan komunikatif. Ia juga dibutuhkan oleh teman- temannya karena Rizky adalah orang yang asyik dan bisa mengubah suasana menjadi ceria. Meskipun demikian Rizky lebih memilih untuk berteman dekat dengan perempuan. Ia menghindari pertemanan dengan laki-laki karena ia takut tertarik dengan temannya sendiri.

  

”aku orangnya gampang bersosialisasi sama semua orang.. cepat

berkomunikasi gitu nok..” (R3, W3/b.416-418/h.7) ”hmm.. iya! Aku dibutuhkan sama teman-teman.. karna dengan kekocakan seperti itu, ee, bukan GR ya, tapi kalo gak ada aku tu keknya sedikit hilang

dari tertawaan gitu.. mungkin dengan adanya aku gitu kan, mungkin aku bisa

mencairkan suasana gitu..” (R3, W3/b.402-407/h.7)

  “jujur.. lebih banyak perempuan daripada laki-laki..” (R3, W1/b.406/h.7) “karena aku takut aja, nanti kalo berteman ma cowok jadi tertarik pulak gitu kan, takutnya kesitu. Haa.. itu sih yang sebenernya paling ku hindarin.. Trus, takut terkucilin gitu, takutnya.. gitu..” (R3, W1/b.409-413/h.7) Suatu waktu, Rizky pernah mengalami kejadian buruk dengan orang lain.

  Waktu itu, Rizky berpacaran dengan salah satu dosen. Ketika berpacaran di salah satu mall di Medan, pacarnya itu memeluk dan mencium Rizky di depan banyak orang.

  Namun, tak disangka istri dosen tersebut mengikuti mereka dari belakang. Alhasil, terjadi pertengkaran hebat di mall tersebut. Semua mata pun tertuju pada mereka.

  Rizky hanya bisa berlari dan bersembunyi di toilet. Mulai dari situ, ia tidak pernah berhubungan lagi dengan dosen tersebut.

  ”Eee.. tapi yang pacaran sekarang ini, cowok itu ekstrim banget. Pernah cium aku depan..depan..depan..depan apa..depan mall, dia cium aku..peluk aku gitu kan.. Eee.. dia sih gak mikir malu ya.. tapi kalo aku sih was-was gitu kan.. Karena takutnya ada temen aku gitu, sapa-sapa aku gitu kan.. Kalo merasa takut..sangat-sangat takut, nok.. Pernah pengalaman sama om yang ada… eee, dosen yang di salah satu universitas negeri itu, aku pernah berantam dengan biniknya karena ada sms pagi gitu kan, mungkin biniknya curiga kali ya (...) itu si biniknya itu ngikutin dari belakang, nok.. gitu kan.. dan lakiknya ni, gimana sih..eee.. kek rangkul aku dan cium aku gitu kan. Trus aku bilang gini, ah, janganlah…gitu kan, aneh ni..Trus kata dia, udalah biarin aja gitu.. Dan ternyata dari belakang itu rambut aku di tarek gitu kan, di marahilah, di maki- maki.. secara spontan kan mata orang fokus ke aku donk, berantem.. Sampai di bilang aku perebut lakik orang… Oh, My God!! gitu kan.. Kalo ma cewek wajar gitu kan, ni ma cowok..” (R3, W2/b.170-198/h.4) ”abis tu aku langsung lari ke kamar mandi, ngumpet gitu..” (R3, W2/b.201-202/h.5) “Trus..truskan, sejak dari situ kami gak pernah berhubungan lagi mungkin nomornya di ganti dan dosen itu tah kemana...” (R3, W2/b.212-217/h.5)

  Di dalam keluarga, kondisi hubungannya dengan keluarga baik dan ia juga merasa dibutuhkan oleh keluarganya. Rizky sangat dekat dan sering bercerita kepada kakak kandung dan kakak sepupunya.

  

”sama keluarga jugak.. keknya aku tu entertainment banget.. kalo gak ada aku

gitu kan, orang yang nyarik-nyarik gitu..” (R3, W3/b.409-411/h.7)

  ”ehmm.. kalo temen paling deket, itu.. sama kakak sendiri ... Trus, ada 1 family di denai cewek juga.” (R3, W1/b.433-439/h.7) Dengan kedua pasangannya, Rizky sebenarnya tidak puas dalam menjalani hubungan dengan keduanya tetapi ia berusaha menikmati hubungan yang ia jalani dengan keduanya. eee… Sebenarnya aku benar-benar gak pengen hidup aku tu kek gini, yah, 25 % lah puasnya.. Trus, aku nikmati ajalah yang 25 ini gitu kan.. (R2, W2/b.523-526/h.8)

c). Otonomi (Autonomy)

  Karena Rizky sering berada diantara teman-temannya, Rizky selalu meminta pendapat teman-temannya sebagai pertimbangan ketika ingin mengambil keputusan akan suatu hal. Tidak hanya itu, Rizky juga selalu meng-iya-kan segala sesuatu yang didukung oleh teman-temannya baik mendukung untuk pacaran dengan laki-laki ataupun perempuan.

  

”aku orangnya tu harus minta pendapat orang.. aku orangnya recok.. jadi

minta pendapat si ini gitu kan.. jadi yah gitu... ” (R3, W3/b.88-89/h.2)

”ee, ada jugak kawan-kawan aku yang ”sakit” tu.. yang dukung aku ma

cowok.. yah udah, tapi gini, aku kalo orang tu dukung ku iya kan.. kek

misalnya orang tu bilang.. eh, pacaranlah sama si ini, ya udah aku pacaran

sama dia.. gitu..” (R3, W3/b.426-431/h.7)

”iya.. iya.. aku berusaha jugak..aku harus bisa dengan perempuan.. karna yah

tujuan aku tadi bukan ke sana, bukan ke yang ”sakit” itu.. gitu..” (R3, W3/b.435-438/h.7)

  Namun ketika memutuskan untuk berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sekaligus, Rizky memutuskan sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain dan tanpa adanya pertimbangan apapun.

  ”iya, gak ada.. karena aku sendiri gak mau kehilangan..” (R3, W3/b.210-211/h.5)

  Dalam kesehariannya, ia tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa terganggu, sama seperti orang-orang pada umumnya. Apalagi teman- temannya banyak yang sudah mengetahui tentang identitasnya. Ketika berpacaran dengan laki-laki dan perempuan, Rizky merasa bebas menjalani hubungannya walaupun ia terkadang merasa bersalah kepada pacar perempuan. Selain itu ia bisa bebas menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan keduanya.

  ”Aku sih nanggepinnya biasa aja ya.. Aku bilang, keknya biasa ajalah, aku pun gak gitu-gitu kali, aku pun gak napsu ma pacar kau, ya udah.. abis itu aku lari.. selesai! Haha..” (R3, W1/575-578/h.10) ”hmm.. gimana ya.. bebas sih bebas ya gitu...” (R3, W2/b.9-14/h.1) “kalo sama cewek aku bisa jadi cowok, tapi kalo sama cowok aku bisa feminin gitu..” (R3, 88-89/h.2) Sampai saat ini Rizky belum bisa memilih. Tetapi terlepas dari norma-norma agama dan budaya Rizky tetap memilih wanita.

  “oh, bukan… Belum tau maksudnya. Apakah aku komitmen dengan ini atau enggak gitu...” (R3, W2/b. 511-520/h.8) “eehhmm… Milih… Eee… Iya.. Sebenarnya gini, aku milih perempuan...” (R3, W2/b.590-605/h.10)

d). Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

  Dalam kehidupan berpacaran, Rizky memiliki dua peran berbeda yang harus dia mainkan sekaligus yaitu sebagai laki-laki ketika berpacaran dengan perempuan dan sebagai perempuan ketika berpacaran dengan laki-laki.

  “iya..Eee..disini, aku menjadi perempuannya.” (R3, W2/b.48/h.2) “he’eh.. setiap saat, everyday, everytime … Aku rangkul dia, aku cium, aku usap kepala dia.. Jadi merangkap dua gitu..” (R3, W2/b.50-64/h.2) Rizky merasa aneh dengan perannya itu. Seharusnya dia menjadi seorang laki- laki dengan pacarnya yang laki-laki, namun ntah mengapa ketika bersama laki-laki dia jadi merasa ingin dilindungi dan merasa dirinya adalah perempuan. Rizky pernah mencoba berperan sebagai pria dalam berpacaran dengan laki-laki namun ia tidak sanggup karena merasa tidak nyaman. Walaupun merasa aneh, namun ia tidak kesulitan dalam membagi perannya tersebut.

  ”trus..aneh gitu.. Seharusnya aku jadi cowok donk sama pacar cowok gitu kan, tapi aku disini tu ingin di lindungi ya, di lindungi.. mendapat kasih sayang ma pacar gitu. Nah, di situlah aku merasa diriku itu menjadi seorang cewek gitu, di saat aku ma cewek aku merasa melindungi.” (R3, W2/b.72-78/h.2) ”kesulitan sih enggak ya, karna yah itu tadi.. kalo sama cewek aku bisa jadi cowok, tapi kalo sama cowok aku bisa feminin gitu..” (R3, W2/b.87-89/h.2) Pada saat Rizky sedang mengalami konflik dengan salah satu pasangannya, aktivitas Rizky baik pada saat ia berkuliah maupun ketika bersama pasangannya yang lain menjadi terganggu. Rizky pun menjadi sangat bingung dalam mengatur dan

  menyelesaikan semuanya. Terkadang dia tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Yang ia lakukan hanya mengalihkan masalahnya dengan berada di dekat keluarganya ataupun dengan menangis.

  

“itu sebenarnya sangat-sangat mengganggu.. karena.. disaat mereka lagi ada

masalah, sama si cewek pun terganggu, sama cowok pun terganggu.. aku gak

mau kehilangan, aku sangat-sangat mencintai mereka gitu.. nah, terganggu

donk.. u know, di saat yang di Medan ini banyak cemburu, itu merupakan

suatu beban buat aku, apalagi kami sering bertengkar gitu, kuliah gak

terkontrol lagi.. keknya sibuk memikirkan masalah itu gitu, keknya semua jadi

beban..” (R3, W3/129-139/h.3)

”(sambil mengangguk) he’eh.. tapi nok..nok..nok.. aku karena.. karena gak

terlalu tau ya hidup kek gini ya, blom terlalu dewasa.. hmm, itu membuat aku

gak tau harus cara jalannya gimana.. aku bawa santai.. bukan santai.. aku bawa

sabar, sebenarnya inti semuanya sabar, kalo aja kita bawa ee..ee.. sakit dan

apa.. terbawa dengan masalah itu, bakalan ancur.. aku mungkin akan bunuh

diri ato apa gitu.. kek kemaren itu contohnya, ada masalah kan aku lebih..

lebih dengan cara bersatu dengan keluarga, menyelesaikan masalah itu dengan

cara nangis atau menyelesaikannya sendiri gitu..” (R3, W3/145-158/h.4)

  ”...Benar-benar sumpah nok, aku harus bisa mikirin gitu, benar-benar mo pecah ni otak, mo lari sebenarnya gitu kan..Aduh!... (R3, W2/b.353-384/h.6) Adanya penilaian yang buruk dari masyarakat umum tentang homoseksual ataupun biseksual membuat Rizky merasa takut sehingga membuat dia tidak terlalu heboh menunjukkan ia berpacaran laki-laki. Ketika berpacaran dengan laki-laki ia tidak pernah menunjukkannya di depan umum.

  ”eee.. iya.. takut sebenarnya.. Agak merasa takut sih…” (R3, W2/b.159-160/h.4)

  ”aku bawa…aku bawa…ee.. enjoy aja gitu, diam aja gitu… Gak usah terlalu heboh juga dengan hubunganku, gitu..” (R3, W2/b.163-165/h.4)

  e). Tujuan Hidup (Purpose in Life)

  Tujuan hidup Rizky adalah ingin sukses seperti jadi pengusaha yang menghasilkan uang sendiri, membahagiakan orangtua, menaikkan haji orangtua dan ingin hidup di kota besar seperti Medan.

  “cuma ingin sukses aja. Sukses dalam bidang yang diinginkan seperti jadi pengusaha sendiri, yang menghasilkan uang sendiri dan bisa membantu…eee.. membahagiakan orangtua, tujuan aku itu ingin menaikkan haji orangtua, trus aku juga punya target untuk berumahtangga gitu dan pastinya aku mau hidup di kota besar seperti Medan. Aku ingin hidup di Medan bukan di Padang. Kenapa? Karena aku merasa nyaman aja, ingin enak di kota gitu.. u knowlah nok orang kampung ke kota gimana gitu…hehehe.” (R3, W2/b.543-554/h.9) Bagi Rizky kehidupan berpacarannya baik dengan laki-laki dan perempuan tidak memiliki tujuan dan arah. Rizky belum matang dalam menentukan tujuannya sehingga ia hanya berharap bahwa sekarang perjalanan pacaran yang tidak memiliki tujuan ini tidak menyiksa dirinya.

  ”enggak. Gak, gak punya arah. Gak tau pun ntah mo kemana mo diarahin gitu. Aku bawa enjoy ajalah dulu, kalo nanti benar-benar matang, baru aku benar- benar nanti tentukan arah tujuan.” (R3, W2/b.557-561/h.9) ”… Trus, aku sih berharap apa yang aku jalani sekarang ini gak menyiksa aku gitu, ingin bawa santai aja…” (R3, W2/b.563-569/h.9)

  f). Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)

  Sejak berpacaran dengan pacar laki-lakinya yang sekarang, Rizky tidak pernah lagi aktif sebagai remaja masjid dan kegiatan salsanya karena waktu Rizky habis hanya untuk pacarnya tersebut. Walaupun Rizky memperoleh banyak manfaat dari kegiatan salsanya tetapi untuk sekarang ini Rizky tidak ingin mencoba untuk merintis lagi karena waktunya yang belum pas.

  

“dulu sebelum aku kenal sama si “M” ini nok, aku dulu ikut remaja mesjid,

cuma karena waktuku banyak habis untuk dia makanya waktu untuk

melakukan itu.. gak ada.. jangankan acara agama, salsa aja jarang…” (R3, W3/b.167-171/h.4)

”(menganggukkan kepala) hem.. iya.. ada manfaatnya.. di saat aku lagi stress,

bisa juga aku lakukan kesana, ahh, ikut narilah.. mungkin dengan ikut nari aku

bisa lebih fresh dan bisa meluapkan emosi aku dengan nari, paling itu…” (R3, W3/b.177-182/h.4) ”belum..hehehe.. sampai sekarang belum.. karna yah memang waktunya aja yang belum pas gitu kan..” (R3, W3/b.469-471/h.7)

  Selama hidup Rizky menyadari banyak hal yang berubah dari dirinya. Rizky lebih bisa menahan emosi dan lebih bersabar.

  

”(sambil mengunyah makanan) ada sih berubah.. pertama, aku bisa sih

menahan emosi.. dengan gini, aku ngelatih sebenarnya..” (R3, W3/b.219-221/h.5)

  Sekalipun ada yang berubah dari dirinya namun Rizky masih ingin tetap berubah yaitu dalam hal pola pikir yang tidak boleh memikirkan kenikmatan seks saja. Rizky juga belajar untuk mendewasakan diri yaitu dengan membaca buku dan juga belajar untuk menambah pengetahuan agamanya yaitu dengan membaca buku tentang ke-Islaman.

  

”yah.. yang harus berubah pertama pola pikir aku...” (R3, W3/b.354-361/h.5)

”yang ingin aku tambahin itu.. gimana caranya aku mendewasakan diri.. saya

tertarik dengan buku yang kamu pinjamin ke Lia.. anak muda?

haaa! Saya tertarik dengan buku itu.. ee, di saat aku down seperti ini aku harus

bisa mendewasakan diri...” (R3, W3/b.371-380/h.6)

”iyah.. ada.. aku baca.. selain dari buku ini kan (sambil menunjukkan buku-

bukunya) aku baca jugak buku-buku yang seperti Yerusalem.. kota

Yerusalem.. kan itu mengenai ini, sholat tahajud, sholat duha.. keistimewaan

menangis tangisan pada Tuhan, menangis padaMu.. aku mau liat.. ee, agama-

agama aku yang sekarang sedang robek-robek.. aku harus mengembalikan itu

kembali dengan cara baca-baca buku..” (R3, W3/b.390-399/h.6)

  Di lingkungan sekitarnya Rizky tidak terlibat dalam sosialisasi karena ia tidak menyukai hal tersebut. Karena Rizky selalu terguncang oleh masalah yang terjadi, itu membuat dia lebih memilih untuk sendiri berada di kamar kostnya.

  ”gak ada.. saya gak sukak sama sosialisasi gitu nok.. apapun bentuknya...” (R3, W3/b.450-451/h.8)

  ”Kalo di kampus, aku keknya gak pake organisasi gitu-gitulah, aku keknya

  fair-fair aja, masuk ke sini masuk, masuk ke sana masuk, gitu aja, aku gak…

  Kadang-kadang kalo lagi gak mood, sendiri… yah, enok taulah gimana aku selalu terguncang dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, dengan masalah- masalah yang terjadi gitu. Aku gak melepaskan…melepaskan diri dengan sendiri gitu, ama teman-teman jarang.. mungkin teman-teman lagi sibuk dengan yang ini. Yah, sebenarnya sih pengen bahagia ma teman-teman, ngumpul bareng, tapi… mungkin udah terbiasa aja kali ya, gak terlalu banyak bergabung dengan organisasi, contohnya di kost, aku sendiri, masuk kamar, tidur gak ngumpul ma orang itu… enggak.” (R3, W2/b.609-629/h.10)

  Tabel 9. Gambaran Dimensi Psychological Well-Being Responden III Dimensi Gambaran PWB

  1.Penerimaan Diri Rizky menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual namun ia tidak terima jika dirinya dikatakan sebagai seorang biseksual karena

  baginya hal tersebut memalukan. Karena itu Rizky memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya dan ia pun menyalahkan pamannya yang sudah membuatnya menjadi biseksual. Tetapi lama kelamaan berubah Rizky bisa menerima keadaan. Hal ini terbukti ketika beberapa teman kampusnya mengejek-ejek dia karena identitasnya, ia tetap terima dan menanggapinya dengan biasa.

  2. Hubungan Positif dengan Orang Lain

  a) Keterbukaan Rizky kepada orang lain tentang identitasnya: Rizky tidak ingin membuka identitasnya kepada kedua pacarnya karena ia tidak mau kehilangan kedua pacarnya itu. Rizky hanya membuka identitasnya kepada kakak kandung, kakak sepupu dan teman-teman kampusnya. Kakak sepupu dan beberapa teman kampusnya bisa menerima keadaan Rizky. Tetapi lain halnya dengan kakak kandungnya. Karena keterbukaan itu, Rizky mengalami konflik dengan sang kakak selama 1 tahun.

  b) Hubungan Rizky dengan orang lain: Dalam kehidupan sehari-hari Rizky suka bergaul, mudah bersosialisasi dan komunikatif. Namun, Rizky lebih memilih untuk berteman dekat dengan perempuan dan menghindari pertemanan dengan laki-laki karena ia takut tertarik dengan temannya sendiri.

  Rizky pernah memiliki pengalaman buruk ketika berpacaran dengan salah satu dosen di salah satu mall di Medan. Ia ketahuan istri dosen tersebut sehingga membuat ia dipermalukan di depan umum. Di dalam keluarga, kondisi hubungannya dengan keluarga baik dan ia juga merasa dibutuhkan oleh keluarganya. Rizky sangat dekat dan sering bercerita kepada kakak kandung dan kakak sepupunya. Dengan kedua pasangannya, Rizky sebenarnya tidak puas menjalani hubungan pacarannya tetapi ia berusaha menikmati hubungan dengan keduanya.

3. Otonomi Rizky selalu meminta pendapat teman-temannya sebagai pertimbangan ketika ingin mengambil keputusan akan suatu hal.

  Rizky juga selalu mengikuti tuntutan yang berasal dari teman- temannya. Ketika memutuskan untuk berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sekaligus, Rizky memutuskan sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain dan tanpa adanya pertimbangan apapun. Dalam kesehariannya, ia tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa terganggu walaupun beberapa teman kampusnya mengejeknya. Ketika berpacaran dengan laki-laki dan perempuan, Rizky merasa bebas menjalani hubungannya walaupun ia terkadang merasa bersalah kepada pacar perempuan. Selain itu ia bisa bebas menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan keduanya.

  4. Penguasaan Dalam berpacaran Rizky harus memainkan peran sebagai laki-laki Lingkungan dan perempuan sekaligus. Rizky merasa aneh tetapi tidak

  membuatnya kesulitan dalam menjalani perannya sebagai laki-laki dan perempuan. Ketika memiliki konflik dengan keduanya, Rizky merasa bingung dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah. Sering Rizky memendam masalahnya tersebut dan menangis. Ketika berpacaran dengan laki-laki Rizky tidak terlalu heboh menunjukkan bahwa ia pacaran dengan laki-laki.

5. Tujuan Hidup

  Tujuan hidup Rizky adalah ingin sukses seperti jadi pengusaha yang

  menghasilkan uang sendiri, membahagiakan orangtua, menaikkan haji orangtua dan ingin hidup di kota besar seperti Medan. Bagi Rizky kehidupan berpacarannya baik dengan laki-laki dan perempuan tidak memiliki tujuan dan arah sehingga ia berharap bahwa perjalanan pacarannya yang tidak memiliki arah ini tidak menyiksa dirinya.

  6. Pertumbuhan Sejak berpacaran dengan pacar laki-lakinya yang sekarang, Rizky Pribadi tidak pernah lagi aktif sebagai remaja masjid dan kegiatan salsanya

  karena waktu Rizky habis hanya untuk pacarnya tersebut. Selama hidup banyak hal yang berubah dari diri Rizky. Rizky lebih bisa menahan emosi dan lebih bersabar.

  Sekalipun ada yang berubah dari dirinya namun Rizky masih ingin tetap berubah yaitu dalam hal pola pikir yang tidak boleh memikirkan kenikmatan seks saja. Rizky juga belajar untuk mendewasakan diri yaitu dengan membaca buku serta menambah pengetahuan agamanya yaitu dengan membaca buku tentang ke-Islaman. Di lingkungan sekitarnya Rizky tidak terlibat dalam sosialisasi karena ia selalu terguncang oleh masalah yang terjadi, itu membuat dia lebih memilih untuk sendiri berada di kamar kostnya.

2. Interpretasi Intra Responden

  Di bagian ini akan dijelaskan mengenai dimensi-dimensi pada responden III (Rizky) yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Dimensi-dimensi tersebut dihubungkan dengan teori yang telah dikemukakan di Bab II.

  a). Penerimaan Diri

  Ryff (1995) mengatakan bahwa penerimaan diri dalam PWB ini berkaitan dengan penerimaan individu pada masa kini dan masa lalunya. Selain itu juga berkaitan dengan adanya penilaian positif atas kondisi diri sendiri. Seseorang yang memiliki nilai rendah dalam dimensi penerimaan diri adalah mereka yang menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap kondisi dirinya dan merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada kehidupan masa lalu. Hal ini sejalan dengan

  Rizky. Ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang biseksual namun ia tidak terima jika dirinya dikatakan sebagai seorang biseksual karena baginya hal tersebut

  memalukan. Karena itu Rizky memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya dan ia pun menyalahkan pamannya yang sudah membuatnya menjadi biseksual. Tetapi lama kelamaan Rizky menjadi pasrah dan bisa menerima keadaan. Hal ini terbukti ketika beberapa teman kampusnya mengejek-ejek dia karena identitasnya, ia tetap terima dan menanggapinya dengan biasa.

  b). Hubungan Positif dengan Orang Lain

  Menurut Ryff, individu yang memiliki hubungan positif dengan orang lain memiliki kepercayaan dengan orang lain. Dalam penelitian ini Rizky tidak ingin membuka identitasnya kepada kedua pacarnya karena ia tidak mau kehilangan kedua pacarnya itu. Rizky hanya membuka identitasnya kepada kakak kandung, kakak sepupu dan teman-teman kampusnya. Kakak sepupu dan beberapa teman kampusnya bisa menerima keadaan Rizky. Tetapi lain halnya dengan kakak kandungnya. Karena keterbukaannya itu, Rizky mengalami konflik dengan sang kakak selama 1 tahun.

  Ryff juga mengatakan bahwa individu baik dalam dimensi ini juga memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan empati, afeksi, dan mempunyai hubungan yang intim, mampu membina hubungan yang hangat, memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar pribadi serta mampu memberikan bimbingan serta pengarahan kepada orang lain (generativity). Dalam kehidupan sehari-hari Rizky suka bergaul, mudah bersosialisasi dan komunikatif. Namun, Rizky lebih memilih untuk berteman dekat dengan perempuan dan menghindari pertemanan dengan laki-laki karena ia takut tertarik dengan temannya sendiri. Rizky pernah memiliki pengalaman buruk ketika berpacaran dengan salah satu dosen di salah satu mall di Medan. Ia ketahuan istri dosen tersebut sehingga membuat ia dipermalukan di depan umum.

  Di dalam keluarga, kondisi hubungannya dengan keluarga baik dan ia juga merasa dibutuhkan oleh keluarganya. Rizky sangat dekat dan sering bercerita kepada kakak kandung dan kakak sepupunya. Dengan kedua pasangannya, Rizky bisa menikmati dan merasa nyaman dengan hubungan yang ia jalani dengan keduanya.

c). Otonomi

  Ryff (1995) mengatakan bahwa ciri utama seseorang yang memiliki otonomi yang baik antara lain kemampuan untuk menentukan nasib sendiri, kemampuan untuk mengatur tingkah laku, dan kemampuan untuk mandiri. Dalam penelitian ini Rizky selalu meminta pendapat teman-temannya sebagai pertimbangan ketika ingin mengambil keputusan akan suatu hal. Ketika memutuskan untuk berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sekaligus, Rizky memutuskan sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain dan tanpa adanya pertimbangan apapun. Dalam kesehariannya, ia tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa terganggu walaupun beberapa teman kampusnya mengejeknya. Tetapi sampai sekarang ia belum bisa memutuskan untuk memilih salah satu diantara kedua pacarnya.

  Ketika berpacaran dengan laki-laki dan perempuan, Rizky merasa bebas menjalani hubungannya walaupun ia terkadang merasa bersalah kepada pacar perempuan. Selain itu ia bisa bebas menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan keduanya.

  Selain itu ciri individu dengan otonomi yang baik adalah individu yang memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan sosial. Dalam hal ini, Rizky selalu meng-iya-kan segala sesuatu yang didukung oleh teman-temannya baik mendukung untuk pacaran dengan laki-laki ataupun perempuan.

  d). Penguasaan Lingkungan

  Kemampuan untuk menguasai lingkungan didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memilih, menciptakan, atau mengelola lingkungan agar berjalan seiring dengan kondisi psikologis dirinya dalam rangka pengembangan diri. Individu yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan memiliki keyakinan dan kompetensi dalam mengatur lingkungan. Ia dapat mengendalikan aktivitas eksternal yang berada di lingkungannya termasuk mengatur dan mengendalikan situasi kehidupan sehari- hari, memanfaatkan kesempatan yang ada di lingkungannya, serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan pribadi.

  Dalam berpacaran Rizky tidak kesulitan dalam menjalani perannya sebagai laki-laki dan perempuan. Tetapi ketika memiliki konflik dengan keduanya, Rizky merasa bingung dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah. Sering Rizky memendam masalahnya tersebut dan menangis. Dalam kehidupan sehari-hari ketika berpacaran dengan laki-laki Rizky tidak terlalu heboh menunjukkan bahwa ia pacaran dengan laki-laki.

  e). Tujuan Hidup

  Allport (1961) menjelaskan bahwa salah satu ciri kematangan individu adalah memiliki tujuan hidup, yakni memiliki rasa keterarahan (sense of directedness) dan

  tujuan (intentionality). Ryff mengatakan individu yang memiliki nilai tinggi dalam

  dimensi tujuan hidup adalah individu yang memiliki tujuan dan arah dalam hidup, merasakan arti dalam hidup masa kini maupun yang telah dijalaninya, memiliki keyakinan yang memberikan tujuan hidup, serta memiliki tujuan dan sasaran hidup yang ingin dicapai dalam hidup.

  Dalam penelitian ini tujuan hidup Rizky adalah ingin sukses seperti jadi pengusaha yang menghasilkan uang sendiri, membahagiakan orangtua, menaikkan haji orangtua dan ingin hidup di kota besar seperti Medan. Bagi Rizky kehidupan berpacarannya baik dengan laki-laki dan perempuan tidak memiliki tujuan dan arah sehingga ia berharap perjalanan pacarannya yang tidak memiliki arah ini tidak menyiksa dirinya. Walaupun Rizky memiliki tujuan hidup namun ia tidak memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupan berpacarannya yang saat ini ia jalani. Berdasarkan teori dapat dikatakan bahwa Rizky tidak memiliki tujuan yang jelas atas apa yang ia jalani saat ini.

f). Pertumbuhan Pribadi

  Individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya, memandang diri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, memiliki kemampuan dalam menyadari potensi diri yang dimiliki, dapat merasakan peningkatan yang terjadi pada diri dan tingkah lakunya setiap waktu serta dapat berubah menjadi pribadi yang lebih efektif dan memiliki pengetahuan yang bertambah.

  Sejak berpacaran dengan pacar laki-lakinya yang sekarang, Rizky tidak pernah lagi aktif sebagai remaja masjid dan kegiatan salsanya. Waktu Rizky habis hanya untuk pacarnya tersebut. Namun demikian, ia merasa banyak hal yang berubah dari dirinya. Rizky lebih bisa menahan emosi dan lebih bersabar. Sekalipun ada yang berubah dari dirinya namun Rizky masih ingin tetap berubah yaitu dalam hal pola pikir yang tidak boleh memikirkan kenikmatan seks saja. Rizky juga belajar untuk

  mendewasakan diri yaitu dengan membaca buku serta menambah pengetahuan agamanya yaitu dengan membaca buku tentang ke-Islaman. Di lingkungan sekitarnya Rizky tidak terlibat dalam sosialisasi karena ia selalu terguncang oleh masalah yang terjadi, itu membuat dia lebih memilih untuk sendiri berada di kamar kostnya. Secara garis besar, Rizky mengalami stagnasi ataupun penurunan dalam pengembangan dirinya. Hal ini jelas terlihat dari ketidakaktifan Rizky mengikuti remaja masjid dan juga salsanya. Selain itu, ia menjadi sering memilih sendiri dan tidak ingin bersosialisasi karena masalah yang mengguncangnya.

  Tabel 10. Rangkuman Gambaran Psychological Well-Being Antar Responden

Dimensi PWB Responden I Responden II Responden III

  1. Penerimaan Diri

  • tidak terima jika dikatakan biseksual.
  • bisa menerima dirinya sebagai biseksual.
  • tidak terima jika dikatakan biseksual.
  • memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya dan memiliki kekecewaan yang besar terhadap masa lalunya.
  • memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya dan memiliki kekecewaan yang besar terhadap masa lalunya.
  • tetap menilai baik dirinya menjalani hidup sebagai seorang biseksual dan tetap menerima keadaan serta mencoba mengambil hal positif dari kejadian di masalalunya.
  • tidak merasa puas menjadi seorang biseksual yang hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan.
  • tidak merasa puas menjadi biseksual yang menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan..
  • merasa puas menjadi seorang biseksual yang menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan.

  2. Hubungan Positif dengan Orang Lain

  • membuka diri tentang identitasnya kepada teman-teman terdekatnya dan pacarnya yang perempuan.
  • membuka diri tentang identitasnya kepada teman-teman terdekatnya, teman- teman kampus dan pacarnya yang perempuan.
  • membuka identitasnya kepada kakak kandungnya, kakak sepupunya dan teman-teman kampusnya. .
  • sangat dibutuhkan oleh teman-temannya. Namun karena teman-
  • sangat dibutuhkan oleh teman- temannya.
  • • sangat di butuhkan oleh teman-

temannya.

  temannya sering mengambil keuntungan darinya, Santi menjadi menutup diri.

  • lebih memilih berteman dekat dengan perempuan
  • lebih memilih berteman dekat dengan perempuan
  • sangat dekat dengan kakaknya.
  • sangat tertutup kepada keluarganya dan jarang berkomunikasi dengan orangtuanya.
  • lebih memilih berteman dekat dengan laki-laki.
  • tidak puas menjalani hubungan pacarannya tetapi ia berusaha menikmati hubungan dengan keduanya.
  • memiliki kondisi hubungan yang sangat buruk dengan ayahnya.
  • merasa nyaman dan bisa menikmati hubungan pacarannya. Sena juga merasa puas ketika menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan perempuan.
  • merasa tidak tenang

  merasa capek, tertekan, tersiksa dan ia menganggap bahwa hubungan yang ia jalani adalah sia-sia sehingga pada akhirnya Santi menyesali hubungan pacaran yang sedang ia jalani ini.

3. Otonomi

  • pribadi yang mandiri. Dalam mengerjakan apa pun ia selalu mengerjakan sendirian.
  • Dalam mengambil keputusan, selalu bertanya kepada orangtuanya. Dari dulu sampai sekarang orangtua Sena tidak pernah mendukung keputusan yang di ambilnya. Dalam setiap mengambil keputusan orangtuanya selalu ikut campur.
  • selalu meminta pendapat teman- temannya sebagai pertimbangan ketika ingin mengambil keputusan akan suatu hal.
  • Ketika memutuskan berpacaran dengan laki-laki dan perempuan Santi mengambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan apapun.
  • ketika memutuskan berpacaran dengan laki-laki dan perempuan Rizky mengambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan apapun.
  • tidak merasa terganggu melakukan aktivitasnya sehari- hari.
  • ketika memutuskan berpacaran dengan laki-laki dan perempuan Sena mengambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan apapun..
  • selalu meng-iya-kan segala sesuatu yang didukung oleh teman-temannya baik mendukung untuk pacaran dengan laki-laki ataupun perempuan.
  • merasa terganggu dan merasa tidak bebas ketika melakukan aktivitas berpacarannya. Santi akan merasa bebas dan menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan pacarnya yang perempuan.
  • Mengikuti tuntutan lingkungan yang menuntutnya harus menjadi seperti laki- laki.
  • tetap melakukan aktivitasnya sehari- hari tanpa merasa terganggu walaupun
  • Sampai saat ini Santi belum bisa memilih. Tetapi terlepas dari norma-norma agama dan budaya Santi memilih perempuan.

  ia pernah dikucilkan oleh sekelompok orang yang berada di kampusnya.

  • tidak merasa terganggu melakukan akivitasnya sehari- hari.
  • merasa bebas menjalani hubungannya dan bebas menjadi dirinya sendiri ketika berpacaran dengan keduanya.
  • Ketika berpacaran dengan keduanya Sena bebas menjadi dirinya sendiri.
  • Sampai saat ini Sena belum bisa memilih. Tetapi terlepas dari norma-norma agama dan budaya Sena memilih perempuan.
  • belum bisa memilih. Tetapi terlepas dari norma-norma agama dan budaya Rizky masih tetap memilih perempuan.

  4. Penguasaan Lingkungan

  • harus memainkan peran sebagai laki-laki dan perempuan sekaligus.
  • harus memainkan peran sebagai laki- laki dan perempuan sekaligus.
  • harus memainkan peran sebagai laki- laki dan perempuan sekaligus.
  • merasa aneh dan merasa kesulitan ketika harus menjalankan perannya tersebut.
  • tidak merasa kesulitan jika harus berperan sebagai laki-laki ketika berpacaran dengan perempuan.
  • merasa aneh tetapi tidak merasa kesulitan dalam menjalani perannya sebagai laki-laki dan perempuan. Ketika memiliki konflik dengan pacarnya, Rizky merasa bingung dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah. Sering Rizky memendam masalahnya tersebut dan menangis.
  • Ketika bermasalah dengan salah satu pasangannya, mood Santi pasti berubah ketika bersama dengan pasangan yang lain. Tetapi Santi tetap memperbaiki moodnya.
  • Ketika bermasalah dengan salah satu pasangannya ia mampu memanage
  • Ketika berpacaran dengan perempuan, Santi berusaha mengatur jarak dengan perempuan tersebut agar masyarakat tidak menilai buruk ketika melihat mereka berjalan bersama.
  • Ketika berpacaran dengan laki-laki
  • Ketika berpacaran dengan perempuan, Sena berusaha mengatur jarak dengan perempuan tersebut agar masyarakat tidak menilai buruk ketika melihat mereka berjalan bersama.

  mood. Sena juga bisa mengatasi masalahnya dan menikmati hubungan dengan kedua pacarnya.

  Rizky tidak terlalu heboh menunjukkan bahwa ia pacaran dengan laki-laki.

  5. Tujuan Hidup

  • memiliki kerjaan yang tetap, memiliki
  • membahagiakan orangtuanya,
  • jadi pengusaha yang menghasilkan uang
  • Untuk mencapai tujuannya seperti memiliki keluarga dan memiliki anak, Santi harus memiliki tujuan yang jelas dalam hubungan pacarannya dan baginya tujuan pacaran yang jelas adalah dengan laki- laki.

  keluarga dan memiliki anak untuk mengurus Santi di masa tuanya.

  menyatukan keluarganya, mendapatkan pekerjaan yang baik dan menikah dengan laki-laki.

  • Tidak memiliki tujuan yang jelas dengan hubungan pacaran yang dijalaninya saat ini.
  • Tujuan Sena untuk menikah dengan laki-laki membuat

  pada akhirnya

  hubungan Sena hanya mengarah dan memiliki tujuan yang jelas dengan pacarnya yang laki- laki. sendiri, membahagiakan orangtua, menaikkan haji orangtua.

6. Pertumbuhan Pribadi

  • belajar untuk menghadapi masalah dengan tidak mencampuradukkan dengan urusan yang lain.
  • Mengalami perubahan dalam dirinya. Sena semakin sabar, lebih mementingkan orang lain dan dewasa.
  • Sejak berpacaran dengan pacar laki- lakinya yang sekarang, Rizky tidak pernah lagi aktif sebagai remaja masjid dan kegiatan salsanya.
  • ingin melanjutkan sekolahnya namun keuangan menjadi kendala.
  • pernah mencoba untuk sepenuhnya berhubungan dengan laki-laki dan berhasil selama 2 tahun. Namun karena di sakiti oleh pacarnya yang laki-laki, Sena kembali berhubungan dengan pacarnya yang perempuan. Saat ini Sena perlahan-lahan berubah agar berhasil menjadi heteroseksual.
  • mengalami perubahan dalam dirinya. Rizky lebih bisa menahan emosi dan lebih bersabar.
  • mengalami perubahan dalam dirinya. Bentuk perubahannya lebih kepada fisik yang sudah tidak seperti laki-laki lagi dan juga lebih menutup diri terhadap teman- temannya.
  • tetap ingin berubah terutama dalam hal pola pikirnya.
  • belajar untuk menambah pengetahuan agamanya yaitu dengan membaca buku tentang ke- Islaman.
  • tetap ingin merubah hal-hal yang ada di dalam dirinya terutama jati dirinya.
  • tidak terlibat dalam organisasi ataupun sosialisasi di lingkungan sekitarnya karena menurutnya tidak penting.
  • aktif dalam sosialisasi di tempat kerjanya.
  • tidak terlibat dalam sosialisasi karena Rizky selalu terguncang oleh masalah yang terjadi sehingga lebih memilih untuk sendiri berada di kamar kostnya.

D. Pembahasan

  Dalam penelitian ini ditemukan bahwa responden 1 dan responden 3 tidak dapat menerima diri mereka sebagai biseksual. Berbeda dengan responden 2 yang dapat menerima dirinya sebagai seorang biseksual. Ryff (dalam Keyes, 1995) mengatakan bahwa seseorang memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri adalah mereka yang memahami dan menerima berbagai aspek diri termasuk di dalamnya kualitas baik maupun buruk, dan bersikap positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. Hal ini dapat terlihat pada responden 2, tetapi tidak terlihat pada responden 1 dan responden 3. Responden 1 dan responden 3 menganggap bahwa biseksual itu ádalah sesuatu yang buruk sehingga diri mereka merasa malu dan menolak identitas biseksual melekat dalam diri mereka. Responden 1 dan responden 3 tidak dapat bersikap positif terhadap kehidupan yang ia jalani, sebaliknya mereka masih sering menyalahkan orang-orang yang membuat mereka menjadi biseksual.

  Ditemukan juga bahwa responden 1 dan responden 3 secara garis besar memiliki dimensi hubungan positif dengan orang lain yang kurang baik jika dibandingkan dengan responden 2. Sebelumnya dapat dilihat bahwa responden 1 dan responden 3 pun tidak memiliki penerimaan terhadap diri mereka sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dimensi penerimaan diri berhubungan dengan dimensi hubungan positif dengan orang lain. Hal ini sejalan seperti yang dikemukakan oleh Santrock (1999) dan Ryff (1995) yang mengatakan bahwa individu yang memiliki banyak kompetensi pribadi dan sosial, seperti penerimaan diri, mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, coping skill yang efektif cenderung terhindar dari konflik dan stress.

  Ryff (1989) mengatakan bahwa sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina keadaan harmoni dengan orang-orang di sekitarnya dan menyebabkan mengapa wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain. Tetapi dari penelitian ditemukan bahwa responden 1 tidak dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain. Sarason (dalam Zainuddin, 2002) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Hendrick dan Hendrick (1992) mengatakan bahwa jika dukungan sosial tidak ada di dalam hubungan persahabatan, maka hubungan persahabatan tersebut tidak akan bertahan lama. Sama halnya dengan yang dialami responden 1. Ia merasa hanya dimanfaatkan oleh teman-temannya tanpa memikirkan keadaan responden 1 dan tidak mendapatkan kepedulian dari teman- temannya ketika ia sedang kesulitan. Tidak mendapatkan dukungan dari teman- temannya membuat responden 1 tidak dapat mempertahankan hubungan persahabatan dengan teman-temannya.

  Ryff (1989) mengatakan bahwa individu yang berada dalam usia dewasa awal memiliki otonomi yang kurang baik. Hal ini sejalan dengan ketiga responden.

  Terlebih pada responden 1 dan responden 2 yang belum mampu untuk memutuskan ataupun menentukan apa yang terbaik terhadap hubungan pacaran mereka karena adanya pengaruh faktor budaya ketimuran yang masih menentang hubungan sesama jenis sehingga mereka lebih kesulitan dalam memilih salah satu pasangannya. Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki otonomi yang lebih baik dibandingkan budaya timur. Meskipun demikian penelitian tersebut menemukan bahwa responden 1 lebih mandiri dibandingkan responden 2 dan responden 3. Terutama dalam hal ini responden 1 dan responden 2 memiliki kesamaan urutan kelahiran sebagai anak yang paling kecil. Kemandirian mereka berbeda karena kemungkinan mendapatkan pola asuh yang berbeda juga dari orangtuanya. Pola asuh orangtua menurut Maccoby & Martin (1980) memiliki dua elemen yang penting salah satunya adalah parental demandingness. Dalam parental

  demangdingness ini mencakup aspek-aspek restrictiveness (pembatasan), demangdingness (tuntutan), instructiveness (campurtangan), strictness (keketatan), arbitary exercise of power (penggunaan kekuasaan sewenang-wenang). Dalam

  penelitian ini orangtua responden 2 selalu ikut campur setiap kali ia mengambil keputusan. Dengan kata lain pola asuh yang dialami oleh responden 2 adalah

  instructiveness (campurtangan). Campur tangan disini dapat diartikan sebagai tidak

  adanya kebebasan bertingkah laku yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya, orangtua selalu turut campur dalam rencana dan relasi anak. Hal ini juga sejalan dengan yang dialami oleh responden 2. Sedangkan pada responden 1 dari kecil ia sudah diajarkan untuk mandiri oleh kedua orangtuanya. Cook (dalam Reevy & Maschlach, 2001) mengatakan bahwa laki-laki dikarakteristikkan sebagai seseorang yang independent, dimana orang independent adalah orang yang senantiasa menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak banyak bergantung. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa responden 3 justru lebih banyak bergantung kepada orang lain seperti selalu melibatkan teman-teman dalam urusannya dan selalu meminta pendapat teman-temannya sebelum memutuskan sesuatu hal.

  Ryff (1989) mengatakan bahwa individu yang berada di usia awal memiliki nilai yang rendah dalam dimensi penguasaan lingkungan. Tetapi dalam penelitian ini ditemukan bahwa responden 2 justru memiliki dimensi penguasaan lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan responden 1 dan responden 3.

  Ryff (1989) juga mengatakan bahwa individu yang berada di usia awal memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi. Hal ini tampak jelas pada responden 1 dan responden 2. Tetapi pada responden 3 tidak memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi. Dimulai dari ketidakaktifannya sebagai remaja masjid dan berhenti dari kegiatan salsanya sampai lebih memilih sendiri daripada harus terlibat dalam kegiatan sosial. Responden 3 lebih banyak mengalami penurunan dan stagnasi dalam kehidupannya terutama ketika ia menjalani hubungan pacaran dengan laki-laki dan karena banyaknya konflik yang ia alami dengan pasangannya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dikemukakan pada Bab I

  sebelumnya, maka dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu bagaimana gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran.

  1. Dimensi Penerimaan Diri atau Self-Acceptance

  Pada dimensi ini, responden 1 dan responden 3 tidak dapat menerima diri sebagai biseksual sedangkan responden 2 sudah dapat menerima dirinya sebagai biseksual.

  2. Dimensi Hubungan Positif dengan Orang Lain.

  Pada dimensi ini responden 2 memiliki hubungan positif dengan orang lain yang lebih baik dibandingkan responden 1 dan responden 3.

  3. Otonomi Dalam dimensi otonomi ketiga responden kurang memiliki otonomi yang baik.

  4. Penguasaan Lingkungan

  Dalam dimensi ini, responden 2 memiliki penguasaan lingkungan yang lebih baik dibandingkan responden 1 dan responden 3.

  5. Tujuan Hidup Pada dimensi ini, ketiga responden memiliki tujuan hidup masing-masing.

  Dalam kehidupan berpacaran responden 1 dan responden 2 memiliki arah yang jelas dengan pacar laki-laki sehingga dengan demikian salah satu tujuan mereka dapat tercapai. Berbeda halnya dengan responden 3 yang merasa bahwa kehidupan berpacarannya tidak memiliki arah yang jelas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa responden 1 dan responden 2 lebih baik dibandingkan responden 3 dalam dimensi ini.

6. Pertumbuhan Pribadi

  Pada dimensi ini, responden 1 dan responden 2 memiliki pertumbuhan pribadi yang lebih baik dibandingkan dengan responden 3.

B. Saran

1. Saran Praktis

  a. Diharapkan kepada individu biseksual agar lebih memikirkan kehidupan dirinya baik fisik dan psikologis sehingga dapat lebih meningkatkan

  psychological well-beingnya.

  b. Bagi teman-teman individu biseksual yang berpacaran agar memberi dukungan emosional dan bisa mengerti keadaan individu biseksual yang berpacaran. Memberikan saran dan nasehat kepada individu biseksual yang berpacaran sehingga mereka dapat menentukan pilihan yang tepat untuk hubungan mereka.

  c. Bagi masyarakat sebaiknya lebih memahami kondisi yang dirasakan individu biseksual yang berpacaran. Memberikan dukungan secara psikologis dan tidak membuat penilaian yang buruk terhadap hubungan berpacaran individu biseksual tersebut.

  d. Bagi psikolog agar dapat mengetahui konflik-konflik pada individu biseksual yang berpacaran sehingga dapat memberikan alternatif solusi pemecahan konflik yang pada akhirnya dapat lebih meningkatkan psychological well- being pada individu biseksual yang berpacaran.

2. Saran penelitian selanjutnya.

  a. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan tambahan responden pria sehingga didapat gambaran yang lebih luas dan bervariasi tentang

  psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran.

  b. Peneliti selanjutnya agar mendapatkan teori tambahan tentang biseksual sehingga didapat gambaran yang lebih luas tentang biseksual itu sendiri.

  c. Peneliti selanjutnya agar mendapatkan teori tambahan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being terutama pada biseksual sehingga didapat gambaran yang lebih luas dan bervariasi tentang faktor- faktor yang mempengaruhinya.

  d. Peneliti selanjutnya diharapkan agar lebih memperhatikan kondisi dan lingkungan saat proses wawancara berlangsung.

  e. Penelitian selanjutnya diharapkan melakukan pengambilan data tambahan seperti kroscek data terhadap orang-orang yang mengetahui identitas responden, dokumen pribadi seperti catatan harian responden.

  DAFTAR PUSTAKA Banister, P. (1994). Qualitative Methods in Psychology A Research Guide.

  New York: Harper Collins Moleong, L. J. Dr. MA. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif (Cet. 13). Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

  Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia: Lembaga Pembangunan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3). Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia.

  Jakarta: Kencana. Poerwandari, E. K. (2007). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia.

  USA. McGraw Hill Companies. Papalia. (2008). Human Development (Psikologi Perkembangan). Edisi Sembilan.

  th Ed).

  Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman R.D. (1998). Human Development (7

  Tanggal Akses: 17 Mei 2009 Offord. (1992). Community Psychology : theory and practice. New York: John-Wiley and Son. Inc Padget, D. (1998). Qualitative Methods in Social Works Research. USA: Sage Publication.

  Oetomo, D. [On-line]. http://gayanusantara.or.id/HRNotes.06.01.051oetomo.pdf .

  th ed).

  Buckingham: Open University Press. Hendrick, S & Hendrick, C. (1992). Liking, loving, & relating. (2

  Masters, W. H., Johnson, V. E., & Kolodny, R. C. (1992). Human Sexuality (4

  th ed). Thomson Wadsworth.

  Maccoby, E.E., (1980). Social Development : Psychological Growth and Parent Child Relationship. New York : Harcourt Brace Jovanich. Matlin, M. W. (2004). The Psychology of Women (5

  Genbeck & Patherick (2006). Intimacy Dating Goal and Relationship Satisfaction During Adolescence and Emerging Adulthood Identity Formation, Age, and Sex as Moderation. International Journal of Behavioural Developmnet, 30; 167.

  

Education, Research, and Practice In Lesbian, Gay, Bisexual and

Transgendered Psychology : A resource Manual. USA: Sage Pub, Inc.

  California: Brooks/ Cole Publishing Company. Fox, R. C. (2000). Bisexuality In Perspective. In B.Greene & L.Croom (eds).

  nd edition).

  Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia: Lembaga Pengembangan Sarana

  Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3). Purnama, E.S. (2001). Gambaran sikap dan dukungan sisial teman sebaya yang bukan pengguna narkoba terhadap ex pengguna narkoba. [Skripsi]. Depok: Fakultas

  Psikologi Universitas Indonesia. Reevy, G.M., Maschlach, C .(2001). Use of social support: gender and personality differences. Sex Roles: A journal Research.

  Santrock, J. W. (2003). Adolesence: Perkembangan Remaja. Edisi Enam.

  Jakarta: Erlangga Sarafino, E.P. (1998). Health Psychology: biopsychosocial interaction (3

  rd ed). New York: John-Wiley and Son. Inc.

  Savin-Williams, R. C., & Cohen, K. M. (1995). The Lives of Lesbians, Gays & Bisexuals. Harcourt Brace College Publication. Storr, M. (1999). Bisexuality: A critical reader. London: Routledge. Wikipedia. (2009). [On-line]. http://en.wikipedia.org/wiki/Bisexuality .

  Tanggal Akses: 30 Januari 2009

Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual yang Berpacaran Data hasil wawancara Dimensi Psychological Well – Being Individu Biseksual Yang Berpacaran Penerimaan Diri atau Self-Acceptance Hubungan Positif dengan Orang Lain Positive Relations with Others Definisi Biseksual Perkembangan Identitas Pada Biseksual Deskripsi identitas diri responden I Latar Belakang Responden I Santi Deskripsi identitas diri responden II Latar Belakang Responden Sena Dimensi Psychological Well-Being Psychological Well-Being 1. Definisi Psychological Well-Being Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual Yang Berpacaran. Hubungan Positif dengan Otonomi Hubungan Positif dengan Otonomi Dari dulu sampai sekarang dalam setiap mengambil keputusan Hubungan Positif dengan Otonomi Santi adalah perempuan yang mandiri dan dalam memutuskan untuk Penguasaan Lingkungan Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Lembar Observasi Responden Kredibilitas Penelitian Teknik dan Proses Pengolahan Data Otonomi Autonomy Analisa Data Otonomi Autonomy Interpretasi Intra Responden Otonomi Penguasaan Lingkungan Interpretasi Intra Responden Otonomi Penguasaan Lingkungan Tujuan Hidup Otonomi Rizky selalu meminta pendapat teman-temannya sebagai Penguasaan Lingkungan Tujuan Hidup Pertumbuhan Pribadi Pembahasan ANALISA DATA DAN INTERPRETASI Pendekatan Kualitatif METODE PENELITIAN Penerimaan Diri Hubungan Positif dengan Orang Lain Penerimaan Diri Interpretasi Intra Subjek Penguasaan Lingkungan Environmental Mastery Penguasaan Lingkungan Tujuan Hidup Penguasaan Lingkungan Tujuan Hidup Pertumbuhan Pribadi Pertumbuhan Pribadi Personal Growth Pertumbuhan Pribadi Responden II Responden III 1. Analisa Data Deskripsi identitas diri responden III Latar Belakang Responden III Rizky Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Sistematika Penulisan Tahap Pelaksanaan Penelitian Tahap Pencatatan Data Tujuan Hidup Pertumbuhan Pribadi Tujuan Hidup Purpose in Life Tujuan Hidup Purpose in Life Pertumbuhan Pribadi Personal Growth Gambaran Psychological Well Being Pada Individu Biseksual Yang Berpacaran
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Kekerasan Yang Dilakukan Pada Anak Pada Bank Yang Go Public Gambaran Pewarnaan Psychological Well Being

Who5 Well Being Index

Karakter Individu Karakteristik Individu

Psychological Approach

Digging Well Bore Well

Psychological Distress

Psychological Capital

Psychological Wellbeing

Psychological Impact

Psychological Factors

Psychological Adjustment

Psychological Stress

Upload teratas

Gambaran Psychological Well-Being Pada Indivi..

Gratis