Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)

 0  41  112  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

  KONSTRUKSI PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAT AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan Sarjana (S-1) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik DiajukanOleh : Kris Ahasyweros L 060904034 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

  UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : NAMA : KRIS AHASYWEROS L NIM : 060904034 DEPARTEMEN : ILMU KOMUNIKASI JUDUL : KONSTRUKSI PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAT AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE

  (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)

  Medan, 06 Juli 2011 Dosen Pembimbing Ketua Departemen Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D Dra. Fatma Wardi Lubis, MA NIP. NIP. 196208281987012001 Dekan, Prof. Dr. Badaruddin, M.Si NIP. 1968052519992031002

  ABSTRAKSI

  Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Berita Dalam Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan melihat posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita, yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah.

  Subjek penelitian ini hanya mengambil subjek penelitian yang relevan dengan penelitian, yaitu Provocative Proactive episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011. Pemberitaan tersebut dianalisis menggunakan metode analisis framing Robert Entman.Dalam pengamatan Entman, framing berada dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu: Definisi masalah (DefiningProblems), Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes), Membuat keputusan moral (Make Moral

  Judgement/Evaluation), Menekankan penyelesaian (TreatmentRecommendation),

  Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang terkait dengan isu agama dan sebuah pengalihan isu.Di sini juga dapat dilihat posisi Provocative Proactive mengkritisi kinerja Pemerintah khususnya Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi masalah Ahmadiyah.

  KATA PENGANTAR “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi merekayang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah ” (Roma 8 : 28)

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat kasih karunia-Nya yang senantiasa memberikan kesehatan dan semangat kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kepada kedua orang tua penulis, Drs. Ramli Lubis dan Mince Tampubolon yang senantiasa mendoakan, memberikan dukungan dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kakak ku Kristyanti Lubis, adik ku Kris Fiska Julita Lubis dan my lovely Erawati Tampubolon yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.

  Skripsi ini berjudul Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah pada Tayangan Provocative Proactive, dibuat sebagai salah satu persyaratan kelulusan dan perolehan gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bimbingan, nasehat serta dukungan dari berbagai pihak.

  Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

  2. Ibu Dra. Fatma Wardi Lubis, MA, dan Ibu Dra. Dayana, M.Si, selaku Ketua dan sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

  3. Bapak Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D, selaku dosen pembimbing penulis, yang sangat banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

  Mulai dari meluangkan waktu, memberikan sarandan kritik berharga dan berkenan berdiskusi dengan penulis

  4. Bapak Drs. Humaizi, MA. selaku dosen wali yang telah membimbing penulis selama menjalani masa studi sebaga mahasiswa FISIP USU.

  5. Seluruh Staf Dosen dan Adiministrasi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, yang telah memberikan pendidikan pelajaran, bimbingan serta bantuan lainnya pada penulis dari semester awal hingga menamatkan perkuliahan.

  6. Erawati Tampubolon, yang telah memberikan waktu,perhatian, pikiran serta dukungan yang sebesar-besarnya kepada penulis sampai skripsi ini dapat selesai.

  7. Teman-teman penulis di “LANTAI 3 PHOTOGRAPHY” Edward Sibuea, Pangeran Hutapea, Ikram Angkat, dan Johannes Ginting.

  8. Teman-teman penulis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , terkhusus kepada Ryan Juskal, Bayu Juliandra, Ade Ardianta, Pradani Savitri, Yahdi Gufron, dan seluruh keluarga besar New Magacine (adik-adik Komunikasi 2010).

  9. Teman-teman penulis stambuk 2006 yang telah lebih dahulu lulus Andi Simatupang, Nelvita, Erinstella, Mey, Imaniuri, Efron, dan seluruh teman- teman yang tidak dapat disebutkan.

  10. Teman-teman penulis di Guru Sekolah Minggu dan Naposobulung HKBP Tanjung Sari.

  11. Keluarga Besar Yayasan Pekabaran Injil “EE” Base Clinic Medan.

  12. Keluarga besar “SendalJepit” 13. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan.

  Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, masih terdapat kekurangan Oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kedepannya bagi penulis. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi seluruh pihak yang membacanya.

  Medan, Juli 2011 Penulis, Kris Ahasyweros Lubis

  DAFTAR ISI Abstraksi Kata Pengantar

  II.2.2. Fungsi Komunikasi Massa …………………………………..28

  …………………….…………………………………….19

  II.1.1. Proses Komunikasi ………………………………………......21

  II.1.2. Ruang Lingkup Komunikasi ………………………………...22

  II.1.3. Tujuan Komunikasi ……………………………………….....24

  II.1.4. Fungsi Komunikasi ………………………………………….25

  II.2. Komunikasi Massa ………………………………………………......25

  II.2.1. Ciri-ciri Komunikasi Massa ………………………………....26

  II.3. Teori Dramatisme ……………………,……………………………....29 II.4. Paradigma Konstruktivisme.

  I.10. Hipotesis ………………………………………………………..........23

  ………………………………………....34 II.5. Analisis Framing .. …………………………………………………....41

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Deskripsi Objek Penelitian...

  ………….……………………………...46

  III.1.1. Sejarah dan Profil Singkat Metro TV ………………………...46

  III.1.2. Visi dan Misi Metro TV ……………………………………...47

  III.1.3. Profil Singkat Tayangan Provocative Proactive ……………..48 III.2. Subjek Penelitian .

  ………………….………………………………...50 III.3. Teknik Pengumpulan Data...

  BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi

  I.9. Defenisi Operasional ………………..………………………………...19

  ………………………………………………………………......i

  I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Daftar Isi

  …………………………………………………………………..…….v

  Daftar Tabel

  …………………………………………………………………….vii

  BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah

  ………………………………………………1 I.2. Perumusan Masalah . …………………………………………………..6

  I.3. Pembatasan Masalah ……………..…………………………………….7

  I.4.1. Tujuan Penelitian ……………….……………………………...7

  …………….………………………………...15

  I.4.2. Manfaat Penelitian …………………………………………......7

  I.5. Kerangka Teori

  I.5.1. Komunikasi ………………………………………………….....8

  I.5.2. Komunikasi Massa ………………………………………….....9

  I.5.3. Paradigma Konstruktivisme ……………………………….....10 I.5.4. Analisis Framing ..

  …………...…………………………….....11

  I.6. Kerangka Konsep ………………..…………………………………....12

  I.7. Operasional Konsep …………….………………………………….....13 I.8. Metodologi Penelitian ..

  ……….………………………………...50

  III.4. Teknik Analisis Data …………………………………………………51

  BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah

  ………53

  IV.2. Pembahasan

  IV.2.1. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I)

  …………..54

  IV.2.2. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II)

  …………61

  BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan

  ………………….……………………………………...98

  V.2. Saran ………………………..……………………………………….99

  DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

  Tabel 1 : Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I

  :

  Tabel 2 Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II Tabel 3 : Frame Isi Pemberitaan Gambar 1 : Tabel Pengalihan Isu Gambar 2 : Dramatisasi Film 300

  ABSTRAKSI

  Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Berita Dalam Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan melihat posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita, yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah.

  Subjek penelitian ini hanya mengambil subjek penelitian yang relevan dengan penelitian, yaitu Provocative Proactive episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011. Pemberitaan tersebut dianalisis menggunakan metode analisis framing Robert Entman.Dalam pengamatan Entman, framing berada dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu: Definisi masalah (DefiningProblems), Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes), Membuat keputusan moral (Make Moral

  Judgement/Evaluation), Menekankan penyelesaian (TreatmentRecommendation),

  Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang terkait dengan isu agama dan sebuah pengalihan isu.Di sini juga dapat dilihat posisi Provocative Proactive mengkritisi kinerja Pemerintah khususnya Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi masalah Ahmadiyah.

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG MASALAH Fenomena keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang

  menarik dan unik.Dengan keberagaman suku dan budaya para pahlawan Indonesia telah mempersatukan Indonesia di bawah Bendera Merah Putih.Di negeri ini juga hidup dan berkembang berbagai agama.Salah satunya adalah agama Islam yang berkembang merata di seantero nusantara sebagai anutan mayoritas rakyat Indonesia.Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tapi tetap satu jua, Indonesia berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia selama 65 tahun dan sebentar lagi akan menuju 66 tahun. Sebenarnya ini suatu kebanggaan bagi kita rakyat Indonesia yang selama ini bisa bersatu walaupun dengan keberagaman yang seperti ini.Tapi sekarang tampaknya kebhinekaan kita sudah mulai pudar dengan banyaknya terjadi kasus kekerasan yang disebabkan keragaman tersebut.

  Keberagaman yang seharusnya dulu kita banggakan sekarang malah menjadi faktor pemecah persatuan Negara Republik Indonesia.Dan kasus ini sudah banyak terjadi di Indonesia, apalagi kasus kekerasan yang deisebabkan perbedaan agama.Keberagaman itu menjadi hal yang sangat sensitif bagi rakyat Indonesia.Dan sekarang yang baru-baru ini terjadi adalah kasus kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah.

  Muculnya aliran-aliran yang mengakui atau membawa nama agama islam, sudah lama merebak dikalangan masyarakat. Dan aliran-aliran itu sangat meresahkan masyarakat.seperti yang lagi hangat diperbincangkan saat ini yaitu, aliran ahmadiyah yang membawa nama agama islam. Tetapi aliran ini sudah melenceng dari ajaran islam, aliran ini tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir tetapi memunculkan nama Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi terakhir. Dengan begitu banyak pihak yang menginginkan Ahmadiyah segera dibubarkan. Dan untuk mengatasi ini pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri, yang yang isinya termasuk melarang jemaah ahamadiyah Indonesia agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Selain itu dalam SKB 3 Menteri ini juga melarang semua warga negara melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut jemaat ahmadiyah. Tetapi sepertinya hal ini masih belum membuat puas berbagai ormas agama.Dan pada tanggal 6 Februari 2011 terjadi kerusuhan di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.Dimana pada kerusuhan ini warga menyerbu rumah milik jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang.

  Menurut saksi salah seorang warga Cikeusik, aktivitas jamaah Ahmadiyah di kampung itu sudah berlangsung sekitar 3 bulan terakhir.Jumlah pengikutnya semakin hari semakin bertambah, terakhir jumlah pengikut Ahmadiyah ditaksir mencapai 60-an orang.Para jamaah Ahmadiyah tersebut sering terlihat berkumpul di kediaman Suparman, sebagai pimpinan untuk wilayah Cikeusik.Sementara itu, tokoh masyarakat Cikeusik, mengatakan keberadaan Suparman dan pengikutnya sudah sangat meresahkan warga.Bahkan beberapa kali tokoh masyarakat, ulama, dan jajaran pengurus MUI setempat telah memperingatkan Suparman.Namun setiap kesepakatan selalu dilanggar dan diingkari. Dan hal inilah yang menjadi pemicu kemarahan warga, sehingga pada Minggu pagi sekitar seribuan warga dari berbagai daerah, di antaranya berasal dari Kecamatan Cibaliung, Cikeusik, Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, mendatangi rumah Parman.

  Saat massa tiba, puluhan Jamaah Ahmadiyah yang berada di rumah Parman sudan siap dan mereka membawa berbagai jenis senjata tajam, seperti samurai, parang, dan tombak. Dan akhirnya pecahlah kerusuhan berdarah ini yang mengakibatkan sekitar 3 orang tewas dan 5 luka-luka. Dan kasus ini sampai sekarang masih dalam tahap proses penyelidikan. Peristiwa kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiyah ini mendapat perhatian dari berbagai media massa, terutama media televisi. Dan Metro TV sebagai stasiun TV swasta yang memfokuskan pada berita perkembangan politik dan ekonomi juga memberitakan peristiwa ini.Hampir seluruh tayangan yang mereka sajikan, merupakan koreksi terhadap lembaga pemerintahan.MetroTV lebih mengutamakan tayangan yang mendidik dibandingkan hiburan. Walaupun mereka tidak melupakan fungsi media massa dalam member hiburan. Karena itu Metro TV menggabungkan fungsi edukasi, politik dan hiburan dalam satu tayangan talk show, salah satu contohnya adalah Tayangan Provocative Proactive.Dan peristiwa kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiyah diangkat menjadi topik atau tema dalam tayangan ini.

  Tayangan Provocative Proactive semula terkesan seperti acara televisipada umumnya, namun konsep yang dibuat oleh MetroTV membuat tayangan ini berbeda dan jauh lebih menarik. Dalam tayangan ini akan membahas berita dan kabar terpanas dalam 1 minggu dalam gaya yang agak berbeda . Tayangan ini sebenarnya mempunyai visi dan misi kepada penontonnya adalah

  “Yang Tidak Tahu Menjadi Tahu, Yang Tidak Peduli Menjadi Peduli ”. Tayangan Provocative

  Proactive dibawakan oleh 5 orang host yang memerankan perannya masing- masing. Host utama adalah Pandji Pragiwaksono yang memerankan seorang pegawai kantoran, kedua Ronal Suradpradja yang memerankan sebagai rakyat jelata, ketiga Raditya Dika yang memerankan seorang mahasiswa kristis, keempat J-Flow yang memerankan seorang pengusaha muda sukses dan terakhir Andhari yang memerankan penjaga warung kopi.

  Ada konsep yang berbeda dari tayangan ini dimana ada 2 pembagian segmen dalam tayangan ini.Dimana segmen pertama adalah segmen berita, Pandji sebagai host utama membacakan berita yang sedang panas di dalam satu minggu.Dan pada segmen kedua sebuah talk show yang dinamakan

  “Warung Kopi

  ”. Warung kopi termasuk dalam salah satu budaya Indonesia dimana kita bisa bersosialisasi dengan orang lain dan mengobrol bebas. Dan satu hal filosofi yang menarik dari warung kopi adalah semua orang sama dan semua orang bisa membahas apa saja. Dan seperti itu lah yang diangkat dalam tayangan Provoctive Proactive dalam segmen Warung Kopi.Dimana para perangkat acara bebas membahas dan mengkritisi berita atau peristiwa yang sedang panas dalam satu minggu.Tayanganini tidak memberi kesimpulan dan solusi. Tetapi semua hal itu, dikembalikan kepada penonton. Fungsi kami adalah memberi fakta dan sudut pandang (Pandji Pragiwaksono).Satu kelebihan yang dimiliki acara ini adalah keberanian para host mengkritisi dengan sangat tajam dan dibalut dengan komedi- komedi segar. Dan hal itu dibuktikan dengan prestasi yang ditoreh mereka ketika tayangan perdana sudah bisa menjadi trending topics di Twitter. Tayangan Provoctive Proactive telah tayang sejak Agustus 2010.Tayangan Provoctive Proactive ditayangkanan secara langsung setiap hari Kamis pukul 22.05 WIB, dan siaran ulang setiap hari Sabtu pukul 16.00 WIB.Dalam setiap tayangannya, tema yang diangkat selalu berbeda sesuai dengan berita yang sedang panas pada satu minggu.

  Program tersebut tidak hanya menghibur para penontonnya dengan guyonan dan lelucon yang disampaikan para pelaku dalam tayangan tersebut.Lelucon tersebut biasanya berbentuk kritikan yang disampaikan kepada pemerintah dan pihak terkait, namun dibungkus dalam konsep cerita yang menghibur.Tayangan ini juga tidak semata-mata hanya menampilkan lelucon dari para pemain yang terlibat, tetapi banyak pesan pendidikan terutama bidang politik yang disampaikan.Dalam tayangan tersebut juga hadir narasumber dari kalangan politisi atau bidang tertentu yang turut memberikan pendapat membahas permasalahan yang diangkat dalam cerita.

  Dan ketika berita kekerasan terhadap jemaah ahmadiyah ini sedang panas- panasnya dibahas oleh media massa, tayangan ini pun seakan tidak mau ketinggalan mengangkat berita ini menjadi tema dalam tayangan mereka. Dengan memberi judul

  ”KDRT (Kekerasan Dalam Republik Tercinta) tayangan ini langsung mendapat sorotan dari khalayak. Bahkan Provocative Proactive kembali mengangkat tema yang sama pada episode mereka selanjutnya. Mereka memberi judul

  ”KDRT Jilid II”. Dengan kritikan-kritikan tajam dan pedasnya mereka kembali memberitakan kasus kekerasan yang terjadi pada jemaah ahmadiyah di Cikeusik. Dan tidak hanya menyoroti peristiwa di cikeusik, mereka juga memberitakan kasus yang terjadi temanggung dan di daerah lain yang terjadi karena keberagaman Indonesia. Karena kritikan dan penyampaian yang tajam, pedas dan berani di dalam tayangan ini maka penulis memilih tayangan ini sebagai subjek penelitian.

  Perangkat analisis yang digunakan peneliti adalah analisis framing.Analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita (Sobur, 2004: 162). Dan analisis framing yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis framing Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto. 2002: 187).

  Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti konstruksi pemberitaan kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah pada tayangan Provocative Proactive di Metro TV.

  I.2. PERUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana tayangan Provocative Proactive mengkonstruksi berita kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah?

  I.3. PEMBATASAN MASALAH

  Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas dan memfokuskan arah penelitian yang akan dilakukan, maka peneliti menetapkan pembatasan masalah sebagai berikut:

  1. Penelitian bersifat kualitatif deskriptif

  2. Media yang diteliti adalah berbentuk siaran televisi. Dalam hal ini adalah tayangan talk show Provocative Proactive, karena dianggap tayangan ini termasuk tayangan yang sangat kritis dalam mengkritisi suatu berita

  3. Jenis berita yang diteliti adalah berita seputar kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah

  4. Berita yang diteliti adalah yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan 17 Februari 2011

  I.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

  I.4.1. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui cara tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah

  2. Untuk mengetahui posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah

  I.4.2. Manfaat Penelitian

  1. Menguji pengalaman teoritis penulis selama mengikuti studi di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU terutama dalam bidang Jurnalistik.

  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbang pikir penulis dalam melengkapi perbendaharaan penelitian mengenai analisis media.

I.5.KERANGKA TEORI

  Teori merupakan himpunan konstruk (konsep), defenisi dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2004:6).Teori berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan memberikan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

I.5.1. Komunikasi

  Secara epistemologis istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa latin yakni communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti

  “sama”. Sama dalam arti kata ini bisa dikatakan dengan pemaknaan yang sama. Jadi secara sederhana dalam proses komunikasi yang terjadi adalah bermuara pada usaha untuk mendapatkan kesamaan makna atau pemahaman pada subjek yang melakukan komunikasi tersebut. Komunikasi bukan hanya hal yang paling wajar dalam pola tindakan manusia, tetapi juga paling rumit (Purba dkk,2006:29). Ungkapan diatas tidak dapat dipungkiri, karena komunikasi merupakan hal yang dilakukan sejak manusia lahir ke bumi. Komunikasi dapat diartikan sebagai bentuk interaksi manusia yang saling memperngaruhi antara yang satu dengan yang lain sengaja atau tidak sengaja, dan tidak terbatas pada komunikasi verbal saja (Cangara,2003:20).

  Dalam perkembangannya, banyak ahli komunikasi mendefenisikan komunikasi secara berbeda-beda. Sejak awal abad 20 tepatnya 1930-1960, defenisi-defenisi mengenai komunikasi telah banyak diungkap, ketika itu para ahli di Amerika Serikat mulai merasakan kebutuhan akan

  “Science Of Communication

  ”, dan diantaranya adalah Carl I. Hovland. Menurutnya, Ilmu Komunikasi adalah suatu usaha yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas-azas dan atas dasar azas-azas tersebut disampaikan informasi serta dibentuk pendapat dan sikap (a systematic attempt to formulate in rigorous fashion the

  principles by which information is transmitted and opinions and attitudes are formed) (Purba dkk, 2006:29). JikaCarl I. Hovland mendefenisikan komunikasi

  sebagai usaha yang sistematis, maka Harold Laswell menerangkan cara terbaik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What

  Effect? Yang berarti

  “Siapa Mengatakan Apa dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana? ”(Mulyana,2005:62).

I.5.2. Komunikasi Massa

  Komunikasi dapat dipahami sebagai proses penyampaian pesan, ide, atau informasi kepada orang lain dengan menggunakan sarana tertentu guna mempengaruhi atau mengubah perilaku penerima pesan. Komunikasi Massa adalah komunikasi melalui media massa, atau komunikasi kepada banyak orang (massa) dengan menggunakan sarana media. Media massa sendiri ringkasan dari media atau sarana komunikasi

  (

  massa. http://id.shvoong.com/social-sciences/1877099-definisi-komunikasi-

  

  ikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran, dan televisi yang dikenal sebagai media elektronik, surat kabar dan majalah yang disebut disebut dengan media cetak.

  Komunikasi massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan, mingguan atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan oleh perorangan, melainkan harus oleh lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu.

I.5.3. Paradigma Konstruktivisme

  Konsep mengenai konstruktivisme pertama kali diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman.Pemikiran Berger melihat realitas kehidupan sehari-hari memilki dimensi subjektif dan objektif.Manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis dan plural secara terus menerus. Masyarakat tidak lain adalah produk manusia, namun secara terus menerus mempunyai aksi kembali terhadap penghasilnya.

  Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan bereaksi menurut kategori konseptual dan pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Realitas itu bersifat subjektif, realitas itu hadir karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan.Tidak ada realitas yang bersifat objektif karena realitas itu tercipta lewat konstrusi dan pandangan tertentu.

  Dalam proses konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama. Bahasa merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realitas. Seluruh media massa menggunakan bahasa, verbal maupun non-verbal. Keberadaan bahasa tidak lagi sebagai alat semata untuk menggambarkan realitas, melainkan bias menentukan gambaran (makna citra) mengenai suatu realitas yang akan muncul di benak khalayak. Oleh sebab itu penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas karena bahasa mengandung makna. Semua proses konstruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakai kata, gambar sampai proses penyuntingan) member andil bagaimana realitas tersebut hadir di hadapan khalayak.

I.5.4. Analisis Framing

  Analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita (Sobur, 2004: 162). Cara pandang dan perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang akan diambi, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut.

  Ada dua aspek penting dalam framing.Pertama, memilih fakta/realitas. Proses memilih fakta ini berdasarkan pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini ada dua kemungkinan, yaitu apa yang dipilh dan apa yang dibuang. Kedua, menuliskan fakta.Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu, penempatang yang meyolok, pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, dan lain-lain. Prinsip analisis framing menyatakan bahwa terjadi proses seleksi dan penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang diberitakan lewat media. Fakta tidak ditampilkan apa adanya, namun diberi bingkai sehingga menghasilkan konstruksi makna yang spesifik.

  Dalam penelitian ini model framing yang digunakan adalah model analisis framing Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto. 2002: 187). Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta.Dari realitas yang kompleks dan beragam, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan.Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta.Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis.Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.

I.6.KERANGKA KONSEP

  Kerangka Konsep adalah hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemugkinan hasil penelitian yang dicapai (Nawawi, 1993: 40). Konsep merupakan istilah dan defenisi yang akan digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena yang hendak diuji (Singarimbun, 1995 : 32). Jadi kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini memakai analisis framing Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto. 2002: 187). Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta.Dari realitas yang kompleks dan beragam, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan.Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta.Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis.Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.

  Dari pemikiran di atas Entman merumuskan dalam bentuk model framing sebagai berikut: a. Definisi Masalah (Defining Problems)

  Bagaimana suatu peristiwa dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa? b. Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Cause)

  Peristiwa itu disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa actor yang dianggap sebagai penyebab masalah? c. Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement)

  Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan? d. Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation)

  Penyelesaian apa yang ditawarkan media untuk mengatasi masalah itu?

I.7.OPERASIONAL KONSEP

  a. Definisi Masalah (Defining Problems) Elemen yang pertama kali dapat kita lihat dalam analisis framing.Elemen ini merupakan master frame atau bingkai paling utama.Di tahapan inilah awal berita dikonstruksi sehingga dalam sebuah berita diteliti apakah yang menjadi pokok masalah terhadap isu, wacana, atau peristiwa yang diliput, diberitakan dan peristiwa dipahami oleh wartawan.

  b. Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Cause)

  Bagaimana sebuah media membungkus siapakah actor atau pelaku yang menyebabkan sebuah masalah timbul. Di sini penyebab bisa berarti apa (what) dan bias juga aspek siapa (who).

  c. Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement) Elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan argument atau pendefenisian yang telah dibuat, ketika masalah dan penyebab masalah telah ditentukan, maka dibutuhkan argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut.

  d. Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation) Pesan moral baik secara eksplisit atau implicit bagaimana seharusnya sebuah masalah atau peristiwa itu diselesaikan, ditanggulangi, diantisipasi dan dihindari.

  Definisi Masalah (Defining

  a. Peristiwa dilihat sebagai apa

  Problems)

  b. Peristiwa sebagai masalah apa

  Memperkirakan sumber masalah

  a. Siapa penyebab masalah

  (Diagnose Cause)

  b. Peristiwa itu disebabkan ole apa

  Membuat Keputusan Moral (Make

  a. Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah

  Moral Judgement)

  b. Nilai apa yang dipakai untuk mendelegitimasi/legitimasi suatu tindakan

  Menekankan Penyelesaian

  a. Penyelesaian yang ditawarkan

  (Treatment Recommendation) untuk menyelesaikan masalah

  b. Jalan yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasinya

  Sumber : Majalah Kajian Media Dictum Vol I, No. 2 September 2007

I.8.METODOLOGI PENELITIAN

  Metode dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana peneliti dalam menggambarkan tentang tata cara pengumpulan data yang diperlukan, serta analisis data. Metodologi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

  Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam- dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling, bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas.Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) bukan banyaknya (kuatitas) (Kriyantono, 2008 : 56-57).

  1.8.1 Metode Penelitian

  Metode penelitian yang akan dipakai dalam penelitian ini menggunakan model analisis framing yang dibuat oleh Robert Entman.

  1.8.2 Subjek Penelitian

  Subjek penelitian pada penelitian ini berupa tayangan talk show Provocative Proactive episode Kekerasan di Republik Tercinta I dan Kekerasan di Republik Tercinta II.

1.8.3 Teknik Pengumpulan Data

  Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah :

a. Studi dokumenter, yaitu data-data unit analisis yang dikumpulkan dengan cara men-downloaddata dari situs Metro TV.

  b. Studi kepustakaan, yaitu penelitian dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literature dan sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Dalam hal ini penelitian kepustakaan dilakukan dengan membaca buku-buku, literature serta tulisan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

1.8.4 Teknik Analisis Data

  Penelitian ini akan memusatkan pada penelitian kualitatif dengan perangkat metode analisis isi memakai analisis framing.

  Tabel 1. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I No Nama Komunikator Isi Dialog Tabel 2. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II No Nama Komunikator Isi Dialog Tabel 3.Frame Isi Pemberitaan

  Pendefenisian Masalah Memeperkirakan Masalah Memebuat Keputusan Moral Menekankan Penyelesaian

  Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan

  1.1 Latar Belakang Masalah

  1.2 Perumusan Masalah

  1.3 Pembatasan Masalah

  1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

  1.5 Kerangka Teori

  1.6 Kerangka Konsep

  1.7 Operasional Variabel

BAB II Uraian Teoritis II.1 Komunikasi II.2 Komunikasi Massa II.3 Paradigma Konstruktivis II.4 Analisis Framing BAB III Metodologi Penelitian III.1 Deskripsi dan Sumber Data III.2 Tahapan Penelitian III.3 Metode Penelitian III.4 Pengumpulan dan Pencatatan Data BAB IV Pembahasan BAB V Penutup V.1 Kesimpulan V.2 Saran Dartar Pustaka Lampiran BAB II URAIAN TEORITIS

II.1. KOMUNIKASI

  Setiap orang yang hidup dalam masyarakat secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi.Terjadinya komunikasi adalah konsekuensi dari hubungan sosial (sosial relations). Istilah komunikasi atau communication berasal dari kata latin communication dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama dalam artian sama makna.

  Menurut Carl I. Hovland komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behavior of other

  individuals)(Effendy, 2005:10). Akan tetapi, perubahan sikap, pendapat atau

  perilaku orang lain dapat terjadi apabila komunikasi tersebut berlangsung secara komunikatif.

  Jadi, jika dua orang terlibat dalam komunikasi, maka akan terjadi selama ada kesamaan makna, sehingga komunikasi yang dilakukan kedua orang tersebut bersifat komunikatif. Akan tetapi, pengertian komunikasi di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan mengetahui, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.

  Sedangkan Harold Lasweel memberikan pengertian komunikasi melalui paradigma yang dikemukakannya dalam karyanya The Structire abd Function of

  Communication in Society.Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk

  menjelaskan komunikasi adalah menjawab pertanyaan

  “Whos Says What In

  Which Channel To Whom With What Effect ? Paradigma Lasswell menunjukkan

  bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yakni : · Komunikator (communicator, source, sender)

  Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang memberikan informasi kepada lawan bicaranya. · Pesan (Message)

  Pesan merupakan seperangkat lambang yang bermakna yang disampaikan oleh komunikator. · Media (channel, media)

  Media adalah saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan. · Komunikan (communicant, receiver, recipient)

  Komunikan adalah seseorang atau sekelompok orang yang menerima pesan atau informasi dari komunikator. · Efek (effect, impact, influence)

  Efek adalah tanggapan atau seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan.

  Berdasarkan paradigma lasswell tersebut komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2005:10).

  Berdasarkan defenisi diatas dapat diketahui bahwa komuikasi merupakan proses penyampaian pesan melalui penggunaaan simbol/ lambang yang dapat menimbulkan efek berupa perubahan tingkah laku yang bisa dilakukan dengan menggunakan media tertentu.

  II.1.1. Proses Komunikasi

  Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yaitu :

  1. Proses Komunikasi secara primer Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang

  (symbol)sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar dan lain sebagaianya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan (Effendy, 2005:16).

  2. Proses Komunikasi secara sekunder Proses Komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang secara media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relative jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan lain sebagainya merupakan media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi (Effendy, 2005:16).

  II.1.2. Ruang Lingkup Komunikasi

  Ilmu komunikasi merupakan ilmu yang mempelajari, menelaah, dan meneliti kegiatan-kegiatan komunikasi manusia yang luas ruang lingkup dan banyak dimensinya. Berikut ini jenis-jenis komunikasi menurut konteksnya (Efendi, 1993:52-54) :

1. Berdasarkan bidang komunikasi

  Yang dimaksud dengan bidang disini adalah bidang kehidupan manusia, dimana di antara jenis kehidupan yang satu dengan jenis kehidupan lainnya terdapat perbedaan yang khas dan kekhasan ini menyangkut proses komunikasi. Berdasarkan bidangnya komunikasi meliputi :

  a. Komunikasi sosial (sosial communication)

  b. Komunikasi organisasional/manajemen (organization.management communication) c. Komunikasi bisnis (business communication)

  d. Komunikasi politik (political communication)

  e. Komunikasi internasional (international communication)

  f. Komunikasi antarbudaya (intercultural communication)

  g. Komunikasi pembangunan (development communication)

  h. Komunikasi tradisional (traditional communication)

2. Berdasarkan sifat komunikasi

  Ditinjau dari sifatnya komunikasi diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Komunikasi verbal (verbal communication)

  1) Komunikasi lisan (oral communication) 2) Komunikasi tulisan (written communicaaation)

b. Komunikasi nirverbal (nonverbal communication)

1) Komunikasi kial (gestural/body communication)

  2) Komunikasi gambar (pictorial communication) 3) Lain-lain

  c. Komunikasi tatap muka (face-to-face communication)

  d. Komunikasi bermedia (mediated communication)

  3. Berdasarkan tatanan komunikasi Yang dimaksud dengan tatanan komunikasi adalah proses komunikasi ditinjau dari jumlah komunikan, apakah satu orang, sekelompok orang, atau sejumlah orang yang bertempat tinggal secara tersebar. Berdasarkan situasi komunikan seperti itu, maka diklasifikasikan mejadi bentuk sebagai berikut: a. Komunikasi pribadi (personal communication)

  1) Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) 2) Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication)

  b. Komunikasi kelompok (group communication) 1) Komunikasi kelompok kecil (small group communication)

  a) Ceramah

  b) Forum

  c) Symposium

  d) Diskusi panel

  e) Seminar

  f) Lain-lain 2) Komunikasi kelompok besar (large group communication)

  c. Komunikasi Massa (mass communication) 1) Komunikasi media massa cetak a)surat kabar

  b) majalah 2) Komunikasi media massa elektronik

  a) radio

  b) televisi

  c) film

  d) lain-lain

  d. Komunikasi medio

  a) surat

  b) telepon

  c) pamflet

  d) poster

  e) spanduk

  f) lain-lain

II.1.3. Tujuan komunikasi

  Tujuan Komuniaksi (Effendy, 2003:55), yaitu :

  a. Mengubah sikap (to change attitude)

  b. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)

  c. Mengubah perilaku (to change the behavior)

  d. Mengubah masyarakat (to change the society)

II.1.4. Fungsi Komunikasi

  Fungsi komuniaksi (Effendy, 2003:55), yaitu ;

  a. Menginformasikan (to inform)

  b. Mendidik (to educate) c. Menghibur (to entertain)

  d. Mempengaruhi (to influence)

II.2. KOMUNIKASI MASSA

  Komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa Inggris

  “mass communication ”,singkatan dari mass media communication. Artinya, komunikasi

  yang menggunakan media massa atau

  “mass mediated”.Komunikasi Massa

  merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi (Wiryanto, 2000:1).

  Defenisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner yaitu komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan mellaui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages

  communicated through a mass medium to a large number of people)(Ardianto, 2004:3).

  Defenisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh Gerbner. Menurut Gerbner (1967) komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Dari defenisi Gerbner tergambar bahwa komunikasi massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi (Ardianto,2004:4) .

  Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan, atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan perorangan, melainkan harus oleh lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu sehingga komunikasi massa akan banyak dilakukan oleh masyarakat industri.

II.2.1. Ciri-ciri Komunikasi massa

  Ciri-ciri komunikasi massa (Nurudin,2007:19), yaitu :

1. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga

  Komunikator dalam komunikasi massa itu bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang. Artinya, gabungan antara berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud disini menyerupai sebuah sistem. Sebagaimana kita ketahui, sistem adalah sekelompok orang, pedoman dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai suatu kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi. Komunikator dalam komunikasi massa itu lembaga disebabkan elemen utama komunikasi massa adalah media massa.

  2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen Komunikan dalam komunikasi massa sifatnya heterogen/beragam.

  Artinya, penonton televisi itu beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, ekonomi, punya jabatan yang beragam, punya agama atau kepercayaan yang tidak sama pula.

  

Herbert Blumer pernah memberikan ciri tentang karakteristik audience/

  komunikan, yaitu :

  1. Audience dalam komunikasi massa sangatlah heterogen. Artinya, ia mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan. Jika ditinjau dari asalnya, mereka berasal dari berbagai kaelompok dalam masyarakat.

  2. Bersisi individu-individu yang tidak tahu atau mengenal satu sama lain. Disamping itu, antara individu itu tidak berinteraksi satu sama lain secara langsung.

3. Mereka tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.

  3. Pesannya bersifat umum Pesan-pesan dalam komunikasi massa itu tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan-pesan yang dikemukakannya pun tidak boleh bersifat khusus. Artinya, pesan itu memang tidak disengaja untuk golongan tertentu. Meskipun dalam televisi ada program acara yang dikhususkan pada kalangan tertentu tetapi televisi perlu menyediakan acara lain yang sifatnya lebih umum. Ini penting agar televisi tidak kehilangan ciri khasnya sebagai saluran komunikasi massa.

  4. Komunikasinya berlangsung satu arah Komunikasi dalam komunikasi massa berlangsung satu arah. Artinya, komunikasi berlangsung dari media massa ke khalayak, namun tidak terjadi sebaliknya. Respon yang diberikan oleh khalayak tidak terjadi langsung pada saat komunikasi tersebut berlangsung.Meskipun terkadang terjadi dua arah, namun tidak kepada semua khalayak.Misalnya, telepon interaktif yang dilakukan pembawa acara dan khalayak.

  5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan

  Salah satu ciri komunikasi selanjutnya adalah bahwa dalam komunikasi massa itu ada keserempakan. Serempak disini berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut secara bersamaan.

  6. Komunikasi mengandalkan peralatan teknis Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik.

  7. Komunikasi massa dikontrol oleh Gatekeeper

  

Gatekeeper atau yang sering disebut pentapis informasi/ palang pintu/

  penjaga gawang, adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.

II.2.2. Fungsi Komunikasi Massa

  Menurut Karnilah fungsi komunikasi massa secara khusus (Ardianto,2004:19-23) terdiri dari :

  a. Fungsi informasi

  b. Fungsi pendidikan

  c. Fungsi mempengaruhi

  d. Fungsi proses pengembangan mental

  e. Fungsi adaptasi lingkungan

  f. Fungsi memanipulasi lingkungan

II.3. TEORI DRAMATISME

  Teori dramatisme adalah teori yang mencoba memahami tindakan kehidupan manusia sebagai drama.Dramatisme, sesuia dengan namanya, mengonseptualisasikan kehidupan sebagai sebuah drama, menempatkan suatu focus kritik pada adegan yang diperlihatkan oleh berbagai pemain.Seperti dalam drama, adegan dalam kehidupan adalah penting dalam menyingkap motivasi manusia.Dramatisme memberikan kepada kita sebuah metode yang sesuai untuk membahas tindakan komunikasi antara teks dan khalayak untuk teks, serta tindakan di dalam teks itu sendiri.

  Drama adalah metafora yang berguna bagi ide-ide Burke untuk tiga alasan: (1) drama menghasilkan cakupan yang luas, dan Burke tidak membuat klaim yang terbatas; tujuannya adalah untuk berteori mengenai keseluruhan pengalaman manusia. Metafora dramatis khususnya berguna dalam menggambarkan hubungan manusia karena didasarkan pada interaksi atau dialog. (2) drama cenderung untuk mengikuti tipe-tipe atau genre yang mudah dikenali: komedi, musical, melodrama dan lainnya. Burke merasa bahwa cara kita membentuk dan menggunakan bahasa dapat berhubungan dengan cara drama manusia ini dimainkan. (3) drama selalu ditujukan pada khalayak. Drama dalam hal ini bersifat retoris.Burke memandang sastra sebagai

  “peralatan untuk hidup”, artinya bahwa literature atau teks berbicara pada pengalaman hidup orang dan masalah serta memberikan reaksi untuk menghadapi pengalaman ini.Dengan demikian, kajian dramatisme mempelajari cara-cara dimana bahasa dan penggunaannya berhubungan dengan khalayak.

  Asumsi Dramatisme

  1. Manusia adalah hewan yang menggunakan symbol. Beberapa hal yang dilakukan manusia dimotivasi oleh naluri hewan yang ada dalam diri kita dan beberapa hal lainnya dimotivasi oleh symbol-simbol.Dari semua symbol yang digunakan manusia yang paling penting adalah bahasa.

  2. Bahasa dan symbol membentuk sebuah system yang sangat penting bagi manusia. Sapir dan Whorf menyatakan bahwa sangat sulit untuk berfikir mengenai konsep atau objek tanpa adanya kata-kata bagi mereka. Jadi, orang dibatasi (dalam batas tertentu) dalam apa yang dapat mereka pahami oleh karena batasan bahasa mereka. Ketika manusia menggunakan bahasa, mereka juga digunakan oleh bahasa tertentu.Ketika bahasa dari suatu budaya tidak mempunyai symbol untuk motif tertentu, maka pembicara yang menggunakan bahasa tersebut juga cenderung untuk tidak memiliki motif tersebut. Kata-kata, pemikiran, dan tindakan memiliki hubungan yang sangat dekat satu sama lain.

  3. Manusia adalah pembuat pilihan. Dasar utama dari dramatisme adalah pilihan manusia. Hal ini ada keterikatannya dengan konseptualisasi akan agensi (agency), atau kemampuan actor sosial untuk bertindak sebagai hasil pilihannya.

  Dramatisme sebagai Retorika Baru

  Dramatisme merupakan retorika baru.Bedanya dengan retorika lama adalah retorika baru lebih menekankan pada identifikasi dan hal ini dapat mencakup faktor-faktor yang secara parsial

  “tidak sadar” dalam mengajukan pernyataannya disamping retorika yang lama menekankan pada persuasi dan desain yang terencana.

  Identifikasi dan Substansi

  Substansi (sifat umum dari sesuatu) dapat digambarkan dalam diri seseorang dengan mendaftar karakteristik demografis serta latar belakang dan fakta mengenai situasi masa kini, seperti bakat dan pekerjaan.Burke berargumen bahwa ketika terdapat ketumpangtindihan antara dua orang dalam hal substansi mereka, mereka mempunyai identifikasi (ketika dua orang memiliki ketumpangtindihan pada substansi mereka).Semakin besar ketumpangtindihan yang terjadi, makin besaridentifikasi yang terjadi.Kebalikannya juga benar, semakin kecil tingkat ketumpangtindihan individu, makin besar pemisahan (ketika dua orang gagal untuk mempunyai ketumpangtindihan dalam substansi mereka).Walaupun demikian, pada kenyataannya dua orang tidak dapat sepenuhnya memiliki ketumpangtindihan satu dengan lainnya. Burke sadar akan hal ini dan menyatakan bahwa

  “ambiguitas substansi” menyatakan bahwa identifikasi akan selalu terletak pada kesatuan dan pemisahan. Para individu akan bersatu pada masalah-masalah substansi tertentu tetapi pada saat bersamaan tetap unik, keduanya

  “disatukan dan dipisahkan ”. Selanjutnya Burke mengindikasikan bahwa retorika dibutuhkan untuk menjembatani pemisahan dan membangun kesatuan. Burke merujuk proses ini sebagai konsubstansiasi (ketika permohonan dibuat untuk meningkatkan ketumpangtindihan antara orang), atau meningkatkan identifikasi mereka satu sama lain.

  Proses Rasa Bersalah dan Penebusan

  Konsubstansiasi, atau masalah mengenai identifikasi dan substansi, berhubungan dengan siklus rasa bersalah/penebusan karena rasa bersalah dapat dihilangkan sebagai hasil identifikasi dan pemisahan. Bagi Burke, proses rasa bersalah dan penebusan mengamankan keseluruhan konsep simbolisasi. Rasa bersalah (tekanan, rasa malu, rasa bersalah, rasa jijik, atau perasaan yang menyebalkan lainnya) adalah motif utama untuk semua aktifitas simbolik, dan Burke mendefinisikan rasa bersalah secara luas untuk mencakup berbagai jenis ketegangan, rasa malu, rasa bersalah, rasa jijik, atau perasaan yang tidak menyenangkan lainnya. Hal yang sama dalam teori Burke adalah bahwa rasa bersalah adalah sifat intrinsic yang ada dalam kondisi manusia. Karena it uterus merasa bersalah, kita juga terus berusaha untuk memurnikan diri kita sendiri dari ketidaknyamanan rasa bersalah. Proses merasa bersalah dan berusaha untuk menghilangkannya ada di dalam siklus Burke, yang mengikuti pola yang dapat diprediksi:

  1. Tatanan atau hierarki (peringkat yang ada dalam masyarakat terutama karena kempuan kita untuk menggunakan bahasa).

  2. Negatifitas (menolak tempat seseorang dalam tatanan sosial; memperlihatkan resistensi).

  3. Pengorbanan (cara dimana kita berusaha untuk memurnikan diri kita dari rasa bersalah yang kita rasakan sebagai bagian dari menjadi manusia). Ada dua metode untuk memurnikan diri dari rasa bersalah, dengan menyalahkan diri sendiri) dan pengkambinghitaman (salah satu metode untuk memurnikan diri dari rasa bersalah, dengan menyalahkan orang lain).

  4. Penebusan (penolakan sesuatu yang tidak bersih dan kembali pada tatanan baru setelah rasa bersalah diampuni sementara).

  Pentad

  Selain mengembangkan teori dramatisme, Burke menciptakan suatu metode untuk menerapkan teorinya terhadap sebuah pemahaman aktifitas simbolik.Metode tersebut adalah pentad (metode untuk menerapkan dramatisme). Hal-hal ini yang diperhatikan untuk menganalisis teks simbolik, yaitu:

  1. Tindakan (sesuatu yang dilakukan oleh seseorang).

  2. Adegan (konteks yang melingkupi tindakan).

  3. Agen (seseorang atau orang-orang yang melakukan tindakan).

  4. Agensi (cara-cara yang digunakan oleh agen untuk menyelesaikan tindakan).

  5. Tujuan (hasil akhir yang dimiliki agen dari suatu tindakan, yaitu mengapa tindakan dilakukan).

  6. Sikap (cara dimana agen memposisikan dirinya dibandingkan dengan orang lain).

  Kita menggunakan pentad untuk menganalisis sebuah interaksi simbolik, penganalisis pertama-tama menentukan sebuah elemen dari pentad dan mengidentifikasi apa yang terjadi dalam suatu tindakan tertentu. Setelah memberikan label pada poin-poin dari pentad dan menjelaskannya secara menyeluruh, analisis kemudian mempelajari rasio dramatistik (proporsi dari satu elemen pentad dibandingkan dengan elemen lainnya).

II.4.PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

  Konsep mengenai konstruktivisme pertama kali diperkenalkan oleh, Peter L. Berger. Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya ia dibentuk dan dikonstruksi. Dalam pemahaman ini berarti realitas berwajah ganda atau plural.Realitas bukan merupakan realitas tunggal yang bersifat statis dan final, melainkan realitas yang bersifat dinamis dan dialektis. Kenyataan itu bersifat plural karena adanya realtivitas sosial dari apa yang disebut pengetahuan dan kenyataan.

  Semua orang bisa saja mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Karena setiap orang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu. Selain plural, konstruksi juga bersifat dinamis (Eriyanto, 2002 : 16). Sebagai hasil dari konstruksi sosial maka realitas tersebut merupakan realitas subjektif dan sekaligus realitas objektif.Dalam realitas subjektif, realitas tersebut menyangkut makna, interpretasi, dan hasil relasi antara individu dengan objek.Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda, status pendidikan yang berbeda, dan lingkungan yang berbeda yang bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda pula ketika berhadapan dengan suatu objek. Sebaliknya, realitas itu juga mempunyai dimensi objektif-sesuatu yang dialami, bersifat eksternal, berada di luar- atau dalam istilah Berger, tidak dapat kita tiadakan dengan angan-angan (Eriyanto, 2002 : 16). Hal itu misalnya dapat dilihat dari rumusan, intitusi, aturan-aturan yang ada, dan sebagainya. Dalam penjelasan ontologi paradigma konstruktivis, realitas merupakan konstruksi social yang diciptakan oleh individu. Namun demikian, kebenaran suatu realitas social bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku social. (Bungin, 2007 : 81) Sebuah teks berupa berita tidak bisa kita samakan seperti sebuah kopi dari realitas, ia haruslah dipandang sebagai konstruksi atas realitas. Karenanya, sangat potensial terjadi peristiwa yang sama dikonstruksi secara berbeda. Wartawan bisa saja mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda ketika melihat suatu peristiwa, dan itu dapat dilihat dari bagaiman mereka mengkonstruksi peristiwa tersebut, yang diwujudkan dalam teks berita.Berita dalam pandangan konstruksi social, bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil.Realitas bukan hanya dioper begitu saja sebagai berita.Ia adalah produksi interaksi antara wartawan dengan fakta. Dalam proses internalisasi, wartawan dilanda oleh realitas. Realitas diamati oleh wartawan dan diserap dalam kesadaran wartawan.

  Dalam proses eksternalisasi, wartawan menceburkan dirinya untuk memaknai realitas. Konsepsi tentang fakta diekspresikan untuk melihat realitas. Hasil dari berita adalah produk dari proses interaksi dan dialektika tersebut (Eriyanto, 2002 : 17).

  Demikian halnya ketika seorang wartawan melakukan wawancara, ketika dia mewancarai seorang narasumber, di sana terjadi interaksi atara wartawan dengan narasumber. Realitas yang terbentuk dari wawancara tersebut adalah produk interaksi antara keduanya. Realitas hasil wawacara bukan hasil operan antara apa yang dikatakan oleh narasumber dan yang ditulis sedemikian rupa ke dalam berita. Di sana juga ada proses eksternalisasi: pertanyaan yang diajukan dan penggambaran yang dibuat oleh wartawan yang membatasi pandangan narasumber. Belum termasuk bagaimana hubungan dan kedekatan antara wartawan dengan narasumber. Proses dialektis diantara keduanya yang menghasilakn wawancara yang kita baca di surat kabar atau kita lihat di televisi.

  Karena sifat dan fkatanya bahwa pekerja media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang akan disiarkan. Media meyusun realitas dari berbagai peistiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacan yang bermakna.Pembuatan berita di media pada dasarnya adalah penyusunan realitas sehingga membentuk suatu cerita atau wacana yang bermakna. Dengan demikian seluruh isi media tiada lain adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality) dalam bentuk wacana yang bermakna (Hamad, 2004 :11).

  Media Dan Berita Dilihat Dari Paradigma Konstruksionis

  Pendekatan konstruksionis mempunyai penilaian sendiri bagaimana media, wartawan, dan berita dilihat. (Eriyanto, 2002 : 19)

  

Fakta/Peristiwa Adalah Hasil Konstruksi.Bagi kaum konstruksionis,

  realitas itu bersifat subjektif.Realitas itu hadir, karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan realitas tercipta lewat konstruksi, sudut pandang tertentu dari wartawan.Disini tidak ada realitas yang bersifat objektif, karena realitas itu tercipta lewat konstruksi dan pandangan tertentu.Realitas bisa berbeda-beda, tergantung pada bagaimana konsepsi ketika realitas itu dipahami oleh wartawan yang mempunyai pandangan berbeda.Dalam konsepsi positivis diandaikan ada realitas yang bersifat

  “eksternal” yang ada dan hadir sebelum wartawan meliputnya.Jadi ada realitas yang bersifat objektif, yang harus diambil dan diliput wartawan.Pandangan semacam ini sangat bertolak belakang dengan pandangan konstruksionis.Fakta atau realitas bukanlah sesuatu yang tinggal di ambil, ada, dan menjadi bahan dari berita.Fakta/realitas pada dasarnya dikonstruksi. Realitas bukanlah sesuatu yang terberi, seakan-akan ada, reaslitas sebaliknya diproduksi .

  Karena realitas itu diproduksi dan ditampilkan secara simbolik, maka realitas tergantung pada bagaimana ia dilihat dan bagaimana fakta tersebut dikonstruksi. Pikiran dan konsepsi kitalah yang yang membentuk dan mengkreasikan fakta. Fakta yang sama bisa menghasilkan yang berbeda-beda ketika ia dilihat dan dipahami dengan cara yang berbeda.

  

Media Adalah Agen Konstruksi.Pandangan konstruksionis mempunyai

  posisi yang berbeda dibandingkan positivis dalam menilai media.Dalam pandangan positivis media dilihat sebagai saluran.Media adalah sarana bagaimana pesan disampaikan dari komunikator kepada komunikan.Media disini murni dilihat sebagai saluran, tempat bagaimana transaksi pesan dari semua pihak yang terlibat dalam berita.Pandangan semacam ini, tentu saja melihat media bukan sebagai agen, melainkan hanya sebagai saluran.Media dilihat sebagai sarana yang netral.Media tidak berperan sebagai pembentuk realitas, yang ditampilkan dalam pemberitaan itu lah yang sebenarnya terjadi.Media hanya sebagai saluran untuk menggambarkan realitas atau peristiwa.

  Dalam pandangan konstruksionis, media dilihat sebaliknya. Media bukanlah sebagai saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Disini media dipandang sebagai agen konstruksi social yang mendefenisikan realitas.Berita yang kita baca bukan hanya menggambarkan realitas, bukan hanya menunjukkan pendapat sumber berita, tetapi juga konstruksi dari media itu sendiri.Lewat berbagai instrument yang dimilikinya, media ikut membentuk realitas yang tersaji dalam pemberitaan.Yang tersaji dalam media adalah produk dari pembentukan realitas oleh media.Media adalah agen yang secara aktif menafsirkan realitas untuk disajikan kepada khalayak.

  

Berita Bukan Refleksi Dari Realitas. Ia Hanyalah Konstruksi Dari

Realitas. Dalam pandangan positivis, berita adalah informasi.Ia dihadirkan

  kepada khalayak sebagai representasi dari kenyataan. Kenyataan itu ditulis dan ditransformasikan lewat berita.Tetapi dalam pandangan konstruksionis, berita itu ibaratnya seperti sebuah drama.Ia bukan menggambarkan realitas, tetapi potret dari arena pertarungan antar berbagai pihak yang berkaitan dengan peristiwa.

  Seperti sebuah drama, dalam berita ada pihak yang didefinisikan sebagai pahlawan dan ada pihak yang didefinisikan sebagai musuh.Semua itu dibentuk layaknya sebuah drama yang dipertontonkan kepada publik. Dalam pandangan kaum positivis, berita adalah refleksi dan percerminan dari realitas, karenanya ia harus mencerminkan realitas yang hendak diberitakan. Menurut kaum konstruksionis, berita adalah hasil konstruksi sosial dimana selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai wartawan atau media.Suatu realitas bisa diangkat menjadi berita tergantung pada bagaimana fakta itu dipahami dan dimaknai. Proses pemaknaan selalu melibatkan nilai-nilai tertentu sehingga mustahil berita merupakan pencerminan dari realitas. Realitas yang sama bisa jadi mengahasilkan berita yang berbeda, karena ada cara melihat yang berbeda. Perbedaan antara realitas yang sesungguhnya dengan berita tidak dianggap salah, tetapi sebagai suatu kewajaran.Berita bukanlah reprensentasi dari realitas.Berita yang kit abaca pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah buku jurnalistik. Semua proses konstruksi (mulai dari pemilihan fakta, sumber, pemakaian kata, gambar, sampai penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas tersebut hadir di hadapan khalayak.

  

Berita Bersifat Subjektif/Konstruksi Atas Realitas.Pandangan

  konstrusionis mempunyai penilaian yang berbeda dalam menilai objektivitas jurnalistik.Hasil kerja jurnalistik tidak bisa dinilai dengan menggunakan sebuah standar yang rigid, seperti halnya positivis.Hal ini karena berita merupakan hasil dari konstruksi dan pemaknaan atas realitas. Pemeknaan seseorang terhadap suatu realitas bisa berbeda dengan orang lain, yang tentunya bisa menghasilkan realitas yang berbeda pula. Karenanya ukuran yang baku dan standar tidak bisa dipakai.

  Kalau ada perbedaan antara realitas yang sebenarnya dengan berita itu bukan merupakan suatu kesalahan, tetapi memang seperti itulah pemaknaan mereka atas realitas.

  

Wartawan Bukan Pelapor. Ia Agen Konstruksi Realitas. Wartawan

  tidak bisa menyembunyikan pilihan moral dan keberpihakannya, karena ia merupakan baguian intrinsik dalam pembentukan berita. Lagipula, berita bukan hanya produk individual, melainkan juga bagian proses organisasi dan interaksi antara wartawannya. Dalam banyak kasus: topic apa yang diagkat dan siapa yang diwancarai, disediakan oleh kebijakan redaksional tempat wartawan bekerja, bukan semata-mata bagian dari pilihan profesional individu. Dalam pandangan konstruksionis wartawan juga dipandang sebagai aktor/agen konstruksi.Watawan bukan hanya melaporkan fakta, tapi juga turut mendefenisikan peristiwa. Sebagai aktor sosial, wartawan turut mendefinisikan apa yang terjadi, dan secara aktif membentuk peristiwa dalam pemahaman mereka. Waratawan bukanlah pemulung yang mengambil fakta begitu saja.Karena dalam kenyataannya, tidak ada realitas yang bersifat eksternal dan objektif, yang berada di luar diri wartawan.Realitas bukanlah sesuatu yang berada di luar yang objektif, yang benar, yang seakan-akan ada sebelum diliput wartawan. Sebaliknya, realitas itu dibentuk dan diproduksi tergantung pada bagaimana proses konstruksi berlangsung. Realitas itu sebaliknya, bersifat subjektif, yang terbentuk dari hasil pemaknaan dan pemahaman subjektif dari wartawan. Saat seorang wartawan menulis berita, ia sebetulnya membuat dan membentuk dunia, membentuk realitas. Berita adalah transaksi antara wartawan dengan sumber. Realitas yang terbentuk dalam pemberitaan bukanlah apa yang terjadi dalam dunia nyata. Melainkan relasi antara wartawan dengan sumber dan lingkungan sosial yang membentuknya.

  

Etika, Pilihan Moral, dan Keberpihakan Wartawan Adalah Bagian

yang Integral Dalam Produksi Berita. Aspek etika, moral, dan nilai-nilai

  tertentu tidak mungkin dihilangkan dari pemeberitaan media. Wartawan bukanlah robot yang meliput apa adanya, apa yang dia lihat. Etika dan moral yang dalam banyak hal berarti keberpihakan pada suatu kelompok atau nilai tertentu- umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu-adalah bagian yang integral dan tidak terpisahkan dalam membentuk dan mengkonstruksi realitas. Wartawan disini bukan hanya sebagai pelapor, karena disadari atau tidak ia menjadi partisipan dari keragaman penafsiran dan subjektivitas dalam publik. Karena fungsinya tersebut, wartawan menulis berita bukan hanya sebagai penjelas, tetapi mengkonstruksi peristiwa dari dirinya sendiri dengan realitas yang diamati.

  

Khalayak Mempunyai Penafsiran Tersendiri Atas Berita. Khalayak

  bukan dilihat sebagai subjek yang pasif.Ia juga subjek yang aktif dalam menafsirkan apa yang dia baca. Dalam bahasa Stuart Hall (dalam Eriyanto, 2005:36), makna dari suatu teks bukan terdapat dalam pesan/berita yang dibaca oleh pembaca.Makna selalu potensial mempunyai banyak arti (polisemi).Makana lebih tepat diapahami bukan sebagai transmisi (penyebaran) dari pembuat berita ke pembaca.Ia lebih tepat diapahami sebagai suatu praktik penandaan. Karenanya, setiap orang bisa mempunyai pemaknaan yang berbeda atas teks yang sama. Kalau saja ada makna yang dominan atau tunggal, itu bukan berarti makna terdapat dalam teks, tetapi begitulah praktik penandaan yang terjadi.

II.5. ANALISIS FRAMING

  

Framing secara sederhana adalah membingkai sebuah peristiwa. Framing

  adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang tersebut yang pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan bagian mana yang dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut (Sobur,2004: 162).

  Framing adalah sebuah strategi bagaimana realitas atau dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca.Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik khalayak pembaca. Frame media pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan frame dalam pengertian sehari-hari yang sering kita lakukan. Frame media adalah bentuk yang muncul dari pikiran (kognisi), penafsiran dan penyajian dari seleksi dan penekanan dengan menggunakan simbol-simbol yang dilakukan secara teratur dalam wacana yang terorganisir baik dalam bentuk verbal maupun visual.

  Ada dua aspek penting dalam framing.Pertama, memilih fakta/realitas. Proses memilih fakta ini didasarkan kepada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini selalu terkandung dua kemungkinan, yaitu apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angel tertentu, memilih fakta tertentu dan melupakan fakta yang lain, memberitakan aspek tertentu dan melupakan aspek lainnya. Media yang menekankan aspek tertentu, memilih fakta tertentu akan menghasilkan berita yang bisa jadi berbeda kalau media menekankan aspek atau peristiwa yang lain.Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak.

  Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu penempatan yang menyolok, pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi simplifikasi dan sebagainya. Elemen menulis fakta ini berhubungan dengan penonjolan realitas. Prinsip analisis framing menyatakan bahwa terjadi proses seleksi dan penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang terberitakan dalam media. Fakta tidak ditampilkan secara apa adanya, namun diberi bingkai (frame) sehingga menghasilkan konstruksi makna yang spesifik.

  Jadi, analisis framing merupakan analisis untuk mengkaji pembingkaian realitas yang dilakukan media. Pembingkaian tersebut merupakan proses konstruksi yang artinya realitas dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu. Framing digunakan media untuk menonjolkan atau memberi penekanan aspek tertentu sesuai kepentingan media.

  Dalam penelitian ini model framing yang digunakan adalah model ”pisau analisis

  ” framing Robert Entman. Konsep framing oleh Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain.

  Framing memberi tekanan pada bagaimana teks komunikasi ditampilkan dan bagian mana yang ditonjolkan atau dianggap penting oleh pembuat teks.Kata penonjolan itu sendiri dapat didefinisikan membuat informasi lebih terlihat jelas, lebih bermakna atau lebih mudah diingat oleh khalayak.

  Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas. Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta, sedangkan penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta. Dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menseleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain dan menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan strategi wacana- penempatan yang mencolok (menempatkan di headline depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplifikasi dan lain-lain. Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari konstruksi berita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti atau lebih diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas.

  Frame berita timbul dalam dua level, yaitu:

  1. Konsepsi mental yang digunakan untuk memproses informasi dan sebagai karakteristik dari teks berita.

  2. Perangkat spesifik dari narasi berita yang dipakai untuk membangun pengertian mengenai peristiwa. Frame berita dibentuk dari kata kunci, metafora, konsep, simbol, citra yang ada dalam narasi berita. Karenanya, frame dapat dideteksi dan diselidiki dari kata, citra dan gambar tertentu yang memberikan makna tertentu dari teks berita.

  Entman mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut dalam sebuah perangkat framing, yaitu, (Eriyanto, 2002: 186-191): a. Defining Problems atau definisi masalah adalah elemen pertama kali dapat kita lihat dalam analisis framing. Elemen ini merupakan master frame atau bingkai paling utama. Di tahapan inilah awal berita dikonstruksi sehingga dalam sebuah berita diteliti apakah yang menjadi pokok masalah terhadap sebuah isu, wacana atau peristiwa yang diliput, diberitakan dan peristiwa dipahami oleh wartawan.

  b. Diagnose Causes atau memperkirakan sumber masalah adalah bagaimana sebuah media membungkus siapakah aktor atau pelaku yang menyebabkan sebuah masalah timbul. Di sini penyebab bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga aspek siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami tentu saja menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Karena itu, masalah yang dipahami secara berbeda, penyebab masalah secara tidak langsung juga akan dipahami secara berbeda pula.

  c. Make Moral Judgement/Evaluation atau keputusan moral adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan argumen atas pendefinisian masalah yang telah dibuat, ketika masalah dan penyebab masalah telah ditentukan, maka dibutuhkan argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut.

  d. Treatment Recommendation atau menekankan penyelesaian merupakan elemen framing yang dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan. Sebuah pesan moral baik secara eksplisit atau implisit bagaimana seharusnya sebuah masalah atau peristiwa itu diselesaikan, ditanggulangi, diantisipasi dan dihindari.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN III.1.1. SEJARAH DAN PROFIL SINGKAT METRO TV

  PT. Media Televisi Indonesia (Metro TV) adalah salah satu anak perusahaan Media Group yang dimiliki oleh Surya Paloh, pebisnis yang memiliki banyak pengalaman dalam industri media di Indonesia. Surya Paloh awalnya merintis usahanya di bidang pers dengan mendirikan surat kabar Harian Prioritas, yang kemudian dibredel pada masa pemerintahan Orde Baru pada tanggal 29 Juni 1987. Harian ini ditutup karena dinilai pemerintah terlalu vokal dan berani.

  Tahun 1989, Surya Paloh mengambil alih surat kabar Harian Media Indonesia, yang kini tercatat sebagai harian dengan oplah terbesar nasional setelah Kompas. Kemudian dalam perkembangan teknologi, Surya Paloh memutuskan untuk membangun sebuah stasiun televisi berita, karena perkembangan dan transformasi media dari cetak ke elektronik.Hingga saat ini, Surya Paloh menjabat sebagai CEO Media Grup, bersama enam orang direksi dan dua komisaris.

  Metro TV mendapatkan izin siaran dari Menteri Penerangan Republik Indonesia pada tanggal 25 Oktober 1999. Pada tanggal 25 November 2000, Metro TV mengudara untuk pertama kalinya, dalam siaran percobaan di tujuh kota besar di Indonesia. Pada siaran kali pertama tersebut, Metro TV hanya tayang selama 12 jam dalam sehari. Dalam perkembangannya, sejak 1 April 2001 Metro TV menjadi televisi berita 24 jam pertama di Indonesia.

III.1.2. VISI DAN MISI METRO TV

  Visi Metro TV adalah menjadi stasiun televisi Indonesia yang berbeda dengan stasiun televisi lainnya, dan menjadi nomor satu dalam program beritanya, menyajikan program hiburan dan gaya hidup yang berkualitas. Selain itu juga memberikan konsep unik dalam beriklan untuk mencapai loyalitas dari pemirsa maupun pemasang iklan.

  Sedangkan misinya adalah sebagai berikut:

  1. Untuk membangkitkan dan mempromosikan kemajuan Bangsa dan Negara melalui suasana yang demokratis, agar unggul dalam kompetisi global, dengan menjunjung tinggi moral dan etika.

  2. Untuk memberikan nilai tambah di industri pertelevisian dengan memberikan pandangan baru, mengembangkan penyajian informasi yang berbeda dan memberikan hiburan yang berkualitas.

  3. Dapat mencapai kemajuan yang signifikan dengan membangun dan menambah aset perusahaan, untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan para karyawannya dan menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi pemegang saham.

  4. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang signifikan dengan mengembangkan dan meningkatkan aset, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan karyawan, dan untuk menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi pemegang saham.

III.1.3. PROFIL SINGKAT TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE

  Tayangan Provocative Proactive semula terkesan seperti acara televisipada umumnya, namun konsep yang dibuat oleh MetroTV membuat tayangan ini berbeda dan jauh lebih menarik. Dalam tayangan ini akan membahas berita dan kabar terpanas dalam 1 minggu dalam gaya yang agak berbeda . Tayangan ini sebenarnya mempunyai harapan kepada penontonnya adalah

  “Yang Tidak Tahu Menjadi Tahu, Yang Tidak Peduli Menjadi Peduli

  ”. Tayangan Provocative Proactive dibawakan oleh 5 orang host yang memerankan perannya masing- masing. Host utama adalah Pandji Pragiwaksono yang memerankan seorang pegawai kantoran, kedua Ronal Suradpradja yang memerankan sebagai rakyat jelata, ketiga Raditya Dika yang memerankan seorang mahasiswa kristis, keempat J-Flow yang memerankan seorang pengusaha muda sukses dan terakhir Andhari yang memerankan penjaga warung kopi.

  Ada konsep yang berbeda dari tayangan ini dimana ada 2 pembagian segmen dalam tayangan ini.Dimana segmen pertama adalah segmen berita, Pandji sebagai pembaca berita membacakan berita yang sedang panas di dalam satu minggu.Dan pada segmen kedua sebuah talk show yang dinamakan

  “Warung Kopi

  ”. Warung kopi termasuk dalam salah satu budaya Indonesia dimana kita bisa bersosialisasi dengan orang lain dan mengobrol bebas. Dan satu hal filosofi yang menarik dari warung kopi adalah semua orang sama dan semua orang bisa membahas apa saja. Dan seperti itu lah yang diangkat dalam tayangan Provoctive Proactive dalam segmen Warung Kopi.Dimana para perangkat acara bebas membahas dan mengkritisi berita atau peristiwa yang sedang panas dalam satu minggu.Tayanganini tidak memberi kesimpulan dan solusi. Tetapi semua hal itu, dikembalikan kepada penonton. Fungsi kami adalah memberi fakta dan sudut pandang (Pandji Pragiwaksono).Satu kelebihan yang dimiliki acara ini adalah keberanian para host mengkritisi dengan sangat tajam tetapi dibalut dengan komedi-komedi. Dan hal itu dibuktikan dengan prestasi yang ditoreh mereka ketika tayangan perdana sudah bisa menjadi trending topics di Twitter. Tayangan Provoctive Proactive telah tayang sejak Agustus 2010.Tayangan Provoctive Proactive ditayangkanan secara langsung setiap hari Kamis pukul 22.05 WIB, dan siaran ulang setiap hari Sabtu pukul 16.00 WIB.Dalam setiap tayangannya, tema yang diangkat selalu berbeda sesuai dengan berita yang sedang panas pada satu minggu.

  Program tersebut tidak hanya menghibur para penontonnya dengan guyonan dan lelucon yang disampaikan para pelaku dalam tayangan tersebut.Lelucon tersebut biasanya berbentuk kritikan yang disampaikan kepada petinggi-petinggi Negara, namun dibungkus dalam konsep cerita yang menghibur.Tayangan ini juga tidak semata-mata hanya menampilkan lelucon dari para pemain yang terlibat, tetapi banyak pesan pendidikan terutama bidang politik yang disampaikan.Dalam tayangan tersebut juga hadir narasumber dari kalangan politisi atau bidang tertentu yang turut memberikan pendapat membahas permasalahan yang diangkat dalam cerita.

  Meskipun dalam tayangan Provoctive Proactive mengangkat masalah politik, namun konsep acara yang disajikan tidak membuat jenuh penontonnya, seperti yang sering dipikirkan orang awam.Konsep acara yang disajikan tidak seperti konsep berita yang terkesan kaku dan membosankan. Kelebihan lain yang membuat acara ini cukup diminati, juga karena cerita yang mereka angkat dalam setiap tayangannya adalah dari berita yang sedang panas di kalangan masyarakat.

  Susunan Organisasi Tayangan Provocative Proactive Tim Kreatif : M. Naufal F, Pangeran Siahaan, Imam

  Syafai, Farah.N.F. Boim Tim Animasi : Shani Budi Pandita Penanggung Jawab Produksi : Agus Mulyadi Eksekutif Produksi : Toni Syah Indra Produser : Tristanto Aliarnas Asisten Produksi : Bayu Agung Pengarah Audio : Herlinda Penata Cahaya : Widodo, Dayat, Ryan Penata Gambar : David, Inu, Syamsul, Eko B

  III.2. SUBJEK PENELITIAN

  Subjek penerlitian pada penelitian ini adalah berupa video-video tayangan Provocative Proactive di Metro TV pada episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011.

  III.3. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

  Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah :

a. Studi dokumenter, yaitu data-data unit analisis yang dikumpulkan dengan cara men-downloaddata dari situs Metro TV.

  b. Studi kepustakaan, yaitu penelitian dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literature dan sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Dalam hal ini penelitian kepustakaan dilakukan dengan membaca buku-buku, literature serta tulisan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

III.4. TEKNIK ANALISIS DATA

  Penelitian ini akan memusatkan pada penelitian kualitatif dengan perangkat metode analisis isi memakai analisis framing.

  Tabel 1. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I No Nama Komunikator Isi Dialog Tabel 2. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II No Nama Komunikator Isi Dialog Tabel 3.Frame Isi Pemberitaan

  Pendefenisian Masalah Memeperkirakan Masalah Memebuat Keputusan Moral Menekankan Penyelesaian

BAB IV PEMBAHASAN IV.1. FRAME PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAH AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE Provocative Proactive mengangkat kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai tema dalam tayangan ini. Kasus kekerasan terhadap jemaah

  Ahmadiyah ini merupakan sebuah berita yang tidak akan dilewatkan oleh media manapun.Provocative Proactive menanggapi peristiwa penting tersebut dengan mengangkat peristiwa ini sebagai tema dalam tayangan ini sampai dua episode.Pada tanggal 10 Februari 2011 Provocative Proactive tayang dengan judul Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I). Dimana pada episode ini Provocative Proactive banyak membahas tentang latar belakang, dan permasalahan apa yang terjadi pada kasus ini. Dan pada tanggal 17 Februari 2011 Provocative Proactive tayang dengan judul Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II). Dimana pada episode ini Provocative Proactive banyak membahas tentang siapa dalang dan apa tindakan yang harus diambil untuk menyelesaikan kasus ini.

IV.2. PEMBAHASAN

  Provocative Proactive membuat sebuah ruang khusus guna melihat bagaimana pola framing yang digunakan dalam mengkonstruksi berita kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah.Pada bagian pembahasan ini, seluruh isi tayangan dianalisis dengan menggunakan perangkat framing model Robert Entman.Robert Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Selanjutnya, Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu:

  1. Definisi masalah (Defining Problems), yaitu mengartikan atau menjelaskan masalah apa yang akan diberitakan.

  2. Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes) adalah melihat penyebab masalah yang akan diberitakan.

  3. Membuat keputusan moral (Make Moral Judgement/Evaluation) adalah menilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah atau nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi tindakan.

  4. Menekankan penyelesaian (Treatment Recommendation) adalah penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah. Elemen yang dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki wartawan, maksudnya jalan apa yang dipilih oleh wartawan untuk menyelesaikan suatu masalah.

  Berikut merupakan pembahasan dari frame pemberitaan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiya pada tayangan Provocative Proactive.

IV.2.1. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) Definisi Masalah (Defining Problems)

  Provocative Proactive mengidentifikasi kasus kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang berkaitan dengan isu agama. Frame yang dikembangkan oleh Provocative Proactive sebagai masalah hukum terkait dengan sejumlah aksi kekerasan yang terjadi di Indonesia dan yang berkaitan dengan isu agama. Provocative Proactive memaknai aksi kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiah adalah sebagai kejahatan manusia. Betapa tidak, aksi kekerasan sekelompok massa atau organisasi masyarakat telah merenggut korban jiwa, luka dan belum lagi efek psikologis.

  Jossy : “Itu pemikiran orang primitif banget… itu pemikiran khas seorang mahasiswa yang fundamentalis. Dikit-dikit bakar, dikit-dikit rusuh apa bedanya llu dengan mereka? Cuma bedanya lu agak bersihan dikit aja lagi.

  Kemarin masih segar diingatan kita, kejadian Ahmadiyah sampai 3 orang tewas, luka-luka belum lagi efek psikologis sama mereka gara-gara itu.

  ” Panji : “Tapi kan gini kalo kita ngomong SKB 3 Menteri, saya baca butir ke 4 dari 6 butir, memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga kerukunan umat beragama dan segala macamnya dibilang bahwa tidak melakukan tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, pengurus jemaah Ahmadiyah Indonesia, jadi ini udah tertulis gak boleh melakukan tindakan kekerasan ”

  Masalah kekerasan terhadap jemaah Ahmadiya sudah berulang kali terjadi di Indonesia.Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam pada tahun 1889, dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Dan sejak diakui oleh pemerintah Hindia Belanda, Ahmadiyah terus berkembang dalam dua kelompok aliran, Ahmadiyah Qadian (Jemaah Ahmadiyah Indonesia) yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam adalah seorang mujaddid dan seorang nabi. Dan yang terakhir adalah Ahmadiyah Lahore ( Gerakan Ahmadiyah Indonesia) yang menganggap Mirza Ghulam hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam. Hal itulah yang membuat Islam menyatakan bahwa Jemaah Ahmadiyah Indonesia telah menistakan agama Islam.Dan untuk mengatasi masalah ini maka pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri yang salah satu dalam poin SKB ini adalah melarang melakukan tindakan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah.

  Ulil Abshar : “Jadi di SKb itu ada yang beberapa point yang penting ditegaskan. Yang pertama boleh eksis tapi tidak boleh menyebarkan agamanya.Yang kedua kelompok masyarakat dilarang untuk melakukan tindakan yang kekerasan untuk menyerang Ahmadiyah itu.Nah tidak boleh, maslahnya sekarang ini adalah SKB ini tidak ditegakkan.

  ”

  Tapi ternyata SKB 3 Menteri ini tidak menyelesaikan masalah karena kasus kekerasan terhadap Ahmadiya masih berlanjut. Walaupun sebenarnya bisa dibilang Ahmadiyah juga melakukan pelanggaran juga, tapi bukan berarti mereka bisa diserang atau dihakimi oleh massa. Karena jemaah Ahmadiyah juga adalah warga Negara Indonesia dan mereka juga memilki hak-hak untuk dilindungi konstitusi.

  Jossy : “…Orang bisa melanggar, massa juga boleh marah, tapi bukan berarti marah jadi ngasih mereka hak untuk bikin kerusuhan kayak gitu dong...

  ” Panji : “…Bahwa biar bagaimana pun juga Ahmadiyah itu mereka juga bagian dari Negara Republik Indonesia. Jadi mereka juga ada hak-hak yang ditetapkan dan dilindungi oleh konstitutusi.Udah dikasih tau gitu bukan berarti anggaplah mereka memang salah tapi bukan berarti mereka boleh langsung dihukum. Ibaratnya ada maling jelas maling salah bukan berarti lu boleh bakar dan gebukin maling kan?

  ”

  Namun ada yang aneh terjadi pada kasus ini. Pihak kepolisian sudah mengetahui terlebih dahulu bahwa ada sekolompok massa yang akan datang dan menyerang Ahmadiyah. Tapi pada saat kejadian polisi tampak hanya sebagai “pengingat” yang mengingatkan jemaah Ahmadiyah bahwa ada massa yang akan menyerang mereka dan ketika bentroka sudah terjadi polisi tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai pelindung warga Negara Indonesia. Polisi seakan takut untuk bertindak tegas, Provocative Proactive menyelipkan sindiran kepada kepolisian dengan mempersonifikasi kepolisian dengan alarm yang berfungsi untuk mengingatkan waktu.

  Jossy : “Kapolri setempat ngasih Warning sama mereka, tapi kan warning awalnya gak digubris oleh mereka. Karna mungkin mereka gak tahu versi sebenarnya, versi lengkapnya. Kalau misalnya Polisi ngasih informasi lengkap ni akan ada ribuan orang yang datang ya gak mungkinlah si jemaah Ahmadiyah itu nekad bertahan diantara ribuan orang.

  ” Jossy : “Tugas polisi Indonesia sebenarnya sebagai pelindung atau pengingat ya?

  ” Ronald : “Pengingat??? Alarm dong…”

  Memperkirakan Sumber Masalah (Diagnose Causes)

  Dalam keseluruhan isi tayangan Provocative Proactive pada episode KDRT I ketidak tegasan pemerintah diposisikan sebagai sumber masalah pertama.Pemerintah ditempatkan sebagai sebab yang mengakibatkan berbagai masalah kekerasan di Indonesia terus terjadi.Masalah diletakkan pada pemerintah, pihak yang seharusnya dapat mengahalangi peristiwa ini terjadi.Hal ini dapat dilihat dari bagaimana suatu dialog dari Jossy pada episode KDRT I, bahwa Presiden hanya bisa berkata

  “Saya prihatin” tanpa ada tindakan tegas yang diambil.Selain itu dramatisasi yang ditayangakan Provocative Proactive dari sebuah film Holliwood yang berjudul 300.Dalam dramatisasi ini ditonjolkan seorang pemimpin yang lama sekali berpikir dan mengambil keputusan, bahkan ngawur. Seperti dalam dialog berikut ini :

  Jossy : “Tapi emang iya… gue sih emang prihatin.” Ronald : “Hati-hati ngomong kata itu ya…! Gak boleh sembarangn ngomong kata prihatin … Gak boleh… itu pak bos yang punya.Yang boleh ngomong itu hanya pak bos. Kalo lu ngomong kek gitu lu melangkahi wewenang beliau..

  ” Utusan Persia : “Saya lihat penganiayaan dan pengurasakans sering terjadi. Gimana menurut bapak?

  ” Raja : “Hmm…hmm…” Utusan Persia :

  

“(dalam hati) "aduh lama seperti biasa.."

Raja : “Saya prihatin! Well, tapi apa yang mau dikata ini negara hukum saya tidak bisa interfensi dan biarkan saja hukum yang berjalan

  ” Utusan Persia : “Gini aja pak, bapak cukup bilang prihatin kok” Raja :

  “(dalam hati) "ku tanyakan saja pada rumput yang bergoyang… ah!tidak ada rumput disekitar sini..ah! Jauh dan panas lagi, ku tanyakan saja pada istri dan a …eh ini bukan istriku… dan ini bukan anak-anakku.Nah, ini baru istriku cantik bukan? Eh, kok jadi ngelantur? persoalan ini belum selesai. Baiklah... haa...

  ”

  Pembiaran-pembiaran yang dilakukan pemerintah inilah yang akhirnya menimbulkan pembiakan akan kasus kekerasan di Indonesia. Pemerintah tampak ragu-ragu dan tidak tegas dalam mengahadapi dan menyelesaikan masalah jemaah Ahmadiyah ini.

  Panji : “…Kalau dalam konteks kecil saja ada pembiaran, ngerti gak maksud gue??? Ah maling aja boleh gebukin gitu ya … yah mungkin ngeliat orang lain ngelakuin kerusuhan ya dia lompat kesitu! ”

  Jossy : “…pembiaran itu adalah awal dari pembiakan!!! Lu biarin …biarin…lama-lama berkembang biak, akhirnya makin ramai.”

  Ketidaktegasan pemerintah adalah pihak yang paling patut untuk dipersalahkan akibat tindakan kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah selama ini.Ketidaktegasan pemerintah yang melakukan pembiaran pada kasus-kasus kecil dan akhirnya berujung pada pembiakan pada kasus besar semacam ini.

  Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement Evaluation)

  Penilaian moral yang dikenakan kepada pemerintah tampak pada sikap pemerintah yang lambat dalam menangani kasus ini.Pembiaran yang dilakuakan pemerintah pada kasus kecil akhirnya berujung pada pembiakan, yang akhirnya semakin banyak terjadi kasus serupa bahakan semakin besar.Dari ketidaktegasan pemerintah dalam menghadapi kasus Ahmadiyah, dan ketidak tegasan pemerintah dalam menegakkan keadilan dalam kasus ini.Buktinya sampai sekarang belum ada pihak yang bersalah dihukum.Provocative Proactive mengidentifikasi adanya ketakutan atau keraguan dalam mengahadapi masalah ini karena pemerintah dianggap takut terlalu konfrotasi dengan Islam.

  Ulil Abshar : “….Kalau tidak ada ketegasan dari Pemerintah terhadap mereka memang repot. dan sekarang kita saksikan menyebarnya Vigilante semacam ini antara lain memang tampaknya Pemerintah ragu-ragu untuk menindak mereka ini. Karna memang masalahnya Vigilante yang satu ini memakai baju agama.

  ” Panji : “…Kalau dalam konteks kecil saja ada pembiaran, ngerti gak maksud gue??? Ah maling aja boleh gebukin gitu ya

  … yah mungkin ngeliat orang lain ngelakuin kerusuhan ya dia lompat kesitu!

  Panji : “…tapi bisa aja udah kepolisian gak bisa tegas atau ragu karena dia gak mau kelihatan konfrotatif banget dengan islam kesannya polisi itu jadi ragu. Karena kalau gue terlalu konfrotatif nanti jadi lo tau kan??

  ”

  Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation)

  Tindakan kekerasan terhadap jemaah Amadiyah merupakan tindakan pelanggaran hukum.Provocative Proactive merekomendasikan supaya pemerintah bertindak tegas dalam menyelesaikan masalah ini.Pembiaran yang dilakukan pemerintah dalam skala kecil harus segera diperbaiki supaya tidak berujung pada pembiakan.Walaupun kasus ini berkaitan dengan isu agama yang memang sangat sensitive, pemerintah tidak boleh ragu dalam mengatasi dan mengambil tindakan.Oleh karena itu para pelaku kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah haruslah mendapat hukuman yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.Karena Indonesia adalah negara hukum yang mempunyai Undang- Undang dan konstitusi.Jemaah Ahmadiyah adalah warga negara Indonesia dan mereka mempunyai hak untuk dilindungi oleh konstitusi.Pemerintah juga harus merangkul para tokoh agama supaya melalui mereka bisa menimbulkan suatu pemahaman yang bisa menolerir, menoleransi, dan memungkinkan perbedaan itu diterima.

  Ulil Abshar : “….Kalau tidak ada ketegasan dari Pemerintah terhadap mereka memang repot. dan sekarang kita saksikan menyebarnya Vigilante semacam ini antara lain memang tampaknya Pemerintah ragu-ragu untuk menindak mereka ini. Karna memang masalahnya Vigilante yang satu ini memakai baju agama

  Pemerintah paling utama tentunya, terutama …. penegak keamanan dalam hal ini kepolisisan, tapi yang penting adalah masyarakat juga, terutama tokoh-tokoh agama.Saya kira penting juga dilambangkan suatu pemahaman yang menolerir atau menoleransi atau memungkinkan perbedaan itu diterima.Itu yang paling penting, sebab prinsip saya sebagai seorang muslim adalah saya bisa saja bahwa anda itu adalah sesat, tapi saya kan tidak bisa memukuli anda, menyerang anda atau apapun tidak bisa itu.

  ” Selain itu Provocative Proactive juga merekomendasikan supaya masyarakat Indonesia mulai berubah dari kebiasaan yang mudah terprovokasi dan main hakim sendiri.Seharusnya masyarakat Indonesia harus lebih bijak dalam mengahadapi isu-isu yang bisa merusak persatuan Indonesia.Masyarakat juga harus mendukung pemerintah dalam bertindak tegas untuk menyelesaikan masalah ini.

  Panji : “Masyarakat itu banyak yang percaya dengan sms-sms yang disirkulasikan, padahal seharusnya masyarakat ngas-kus tu.. Kalo di Kas-kus kan ada No Pict = Hoax Gan maksus gue ada itunya

  … Gue-gue fikir-fikir dan jarang gue mikir sebenarnya, masyarakat Indonesia itu harus hati-hati kalau bersikap. Kita gak boleh buru-buru mengecap bahwa masyarakat Indonesia itu secara keseluruhan pelaku kekerasan bahkan anarkis ya

  … Anarkis sejarah definisi beda lagi. Gue takutnya orang-orang bilang, wah! orang Indonesia ternyata orangnya sangar-sangar, kekerasan. Padahal kalo kita fikir-fikir, perhatiin sebenarnya itu digerakkan.Ada yang menggerakkan, sangat teratur dan sangat tertata. Dan kalau lu perhatiin aja sendiri ada pita-pita biru seperti mengkode gitu. Jadi di lapangan itu lu tahu siapa-siapa yang temen. jadi makanya, kita jangan terus-terus ah gilak ni Indonesia ternyata begini banget! Biadab! ini ada oknum yang memang di arahin. Kita harus hati-hati menyikapinya.

  ” Frame I : Kasus Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Adalah Masalah Hukum yang Berkaitan Dengan Isu Agama Define Problems Masalah hukum yang berkaitan dengan

  isu agama

  Diagnose Causes Ketidaktegasan Pemerintah Make Moral Judgement/Evaluation Pemerintah melakukan pembiaran yang

  akhirnya berujung pada pembiakan

  Treatment Recommendation

  1. Pemerintah harus tegas dalam menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum yang berlaku

  2. Masayarakat Indonesia supaya tidak mudah terprovokasi dan main hakim sendiri

IV.2.2. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) Definisi Masalah (Defining Problems)

  Provocative Proactive mengidentifikasi kasus kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah sebagai pengalihan isu.Provocative Proactive memaknai aksi kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiah sebenarnya digerakkan, diorganisir dengan baik, dan ada dalangnya.Singkatnya ada teori konspirasi dibalik kasus ini.

  Panji : “Kalo menurut gua sih melihat kekerasan yang terjadi belakangan ini, banyaknya sih kesimpang siuran dan memang faktanya kadang bikin tambah panas. Tapi gua merasa ini sebenarnya digerakin man

  … diorganisir dengan baik, ada dalangnya istilahnya ada teori konspirasi dibalik semuanya ini. Jadi gimana kalo kita semuanya keluarin teorinya masing-masing, menurut kita semua kekerasan yang terjadi belakangan ini apa penyebabnya? Apakah benar-benar ada sesuatu dalangnya atau apa …”

  Provocative Proactive memaparkan kemungkinan teori konspirasi yang terjadi di balik kasus kekerasan ini dalam 4 teori.Yang pertama, ada kemungkinan pihak minoritas yang memulai provokasi kepada kelompok mayoritas.

  Raditya : “…Kalo menurut gua yang memuali provokasinya duluan. Dan gua curiga ada kelompok-kelompok minoritas yang untuk mencoba memulai untuk memprovokasi kepada kelompok mayoritas.

  

  Yang kedua adalah memang masyarakat Indonesia yang memang suka dengan kekerasan. Masyarakat Indonesia yang memang mudah kesulut dengan isu-isu yang belum tahu kepastian faktanya.

  Ronal : “Jadi teori gua itu sederhana kalo soal kekerasan. Memang masyarakat nya aja yang doyan kekerasan.Jadi memang menurut gua masayarakat sekarang gampang kesulut.Dan penyelesaiannya gampang, gak usah bikin ribet bikin sederhana aja, yang bersalah tangkap, adili dan hokum.Udah selesai!

  ”

  Yang ketiga adalah, ada pihak yang ingin menggulingkan pemerintahan.Ada pihak yang sakit hati dengan pemerintahan sekarang.

  Jossy : “Kalo menurut gua, tadinya bukan menurut gua sih, memang sudah terbukti dari orang-orang yang ada di lapangan, yang mereka report ke gua, ini memang ada pihak kalangan atas yang bermain. Jadi ini memang ada kalangan orang-orang yang punya sakit hati.Yang juga kalangan militer yang memang pengen menggulingkan Presiden SBY. Serius!! Gua ini gak bercanda! Ini memang terjadi di Negara kita, itu ada pihak-pihak yang memang mereka punya kepentingan tertentu untuk menggulingkan Presiden SBY, jadi serangkaian kegiatan yang terjadi sekarang ini itu semua muatannya ujungnya ke sana.

  ”

  Dan yang terakhir adalah, kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiya adalah sebuah pengalihan isu.Dan dalam hal ini Provocative Proactive kemungkinan ini memperkuat dengan menampilakan tabel pengalihan isu yang terjadi di Indonesia yang terkait dengan kekerasan (Tabel 3).Dan dalam tabel itu ada 2 kali jemaah Ahmadiya menjadi korban.

  Panji : “Kalo menurut gua ada teori sendiri, bahwa kekerasan yang terjadi belakangan ini dalang nya itu bukan 1 pihak spesifik. Tapi siapa pun yang saat itu sedang terdesak lewat media. Misalnya ni, ada sebuah kasus yang misalnya memberatkan sosok A. sosok A gak suka difokus sama media dia bikin pengalihan isu. Misalnya di berita ada rekening gendut lagi dibahas.Nanti pihak tersebut karna terdesak bikin, jadi ini sudah kayak kebiasaan, supaya gak diserang mulu.Dia bikin lah pengalihan isu, sesuatu yang disayangkan dan memecah persatuan.Contoh kasusnya kalau kita fikir-fikir rekening gendut kepolisian kemarin mau diusik.Ada kejadian kekerasan setelah itu.Bahkan kalo difikir-fikir kalau setiap kali ada kekerasan dan pemecahbelahan di Indonesia, sebelumnya itu ada kasus besar yang menjadi focus media, Cuma dialihin.Tapi memang bangsa Indonesia mudah banget dialihin perhatiannya.

  ” Memperkirakan Sumber Masalah (Diagnose Causes)\

  Provocative Proactive juga memposisikan FPI (Front Pembela Islam) sebagai sumber masalah.FPI ditempatkan sebagai sumber masalah karena FPI dianggap sebagai pelaku kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah. Walaupun banyak saksi yang mengatakan bahwa yang melakukan kekerasan itu adalah hanya massa saja, tetapi ketika Presiden SBY berpidato mengatakan bahwa harus ada tindakan tegas kepada organisasi masyarakat yang melakukan kekerasan. FPI langsung bereaksi dan melakukan aksi yang sangat berani dengan mengeluarkan ancaman apabila FPI mau dibubarkan maka FPI akan memesirkan Indonesia

  (menggulingkan pemerintahan). Selain itu di You Tube juga ada pidato yang diunggah FPI yang mengatakan bahwa Ahmadiyah itu boleh dibunuh.

  Panji : “Karena emang waktu itu Presiden konteksnya adalah ngomong kalo ada ormas yang meresahkan berlakuk kekerasan akan dibubarin. Tapi kan waktu itu pak Presiden gak nyebut, mungkin dia agak-agak sengsi atau geer atau gimana gitu ya …. Kenapa dia yang jadi marah-marah?”

  Jossy : “…ingat Arab ingat Mesir, ngomong Mesir jadi ingat ucapannya si ormas yang bilang mau memesirkan Indonesia.

  ” Panji : “…itu di You Tube juga ada video yang dibikin FPI pidato kalo Ahmadiyah itu boleh dibunuh. Ada itu.

  ”

  Berdasarkan analisa narasumber/bintang tamu Provocative Proactive, Budiman Sujadmiko (Anggota DPR Komisi II) FPI itu sebuah organisasi Islam yang sebenarnya tidak memilki ideologi Islam.Mereka bukan lah sebuah gerakan yang betul-betul punya agenda gerakan Islam, tapi pergerakan yang bergerak berdasarkan order.Dan kemudian mereka memakai symbol-simbol agama sebagai tabir sci yang menutupinya.Bahkan Budiman menegaskan ada banyak kesaksian orang bahwa banyak tempat hiburan yang tidak pernah menjadi sasaran penggebrekan mereka karena lebih dahulu sudah ada transaksi.

  Budiman : “…kalo saya melihat FPI sebenarnya bukan gerakan terideologis. …Mereka bukan sebuah gerakan yang betul-betul punya agenda gerakan islam.

  … Kalo saya lihat jumlah, pergerakan yang bergerak berdasarkan order.Nah, disini persoalannya, bahwa itu kemudian memakai symbol-simbol agama ya, kemudian itu dianggap ada tabir suci yang menutupi itu semua. Sebenarnya banyak kesaksian yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok ini juga melakukan transaksi dengan beberapa tempat hiburan tertentu, dan tempat hiburan itu tidak pernah menjadi sasaran penggrebekan mereka oleh karena

  …”

  FPI adalah pihak yang paling patut untuk dipersalahkan akibat tindakan kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah selama ini.FPI sebagi organisasi masyarakat Islam yang tidak memiliki agenda pergerakan Islam tapi pergerakan yang berdasarkan order.

  Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement Evaluation)

  Penilaian moral yang dikenakan kepada FPI sebagai sumber masalah ini berdasarkan dari aksi-aksi kekerasan yang selama ini mereka lakukan, yang menggangu ketrentaman dan ketenangan masyarakat.Dan aksi kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahamdiyah merupakan buah perilaku dari FPI.Aksi kekerasan yang dilakukan FPI merupakan suatu tindakan kejahatan yang melanggar hukum. Tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan apa yang FPI lakukan terhadap jemaah Ahmadiyah. Walaupun jemaah Ahmadiyah dianggap menistakan agama Islam, tapi tetap FPI atau masyarakat tidak mempunyai hak untuk mengambil tindakan main hakim sendiri seperti yang dilakukan selama ini.

  Budiman : “Kalau dilihat sendiri asal-usul kelahirannya FPI yang kami ingat ya …pada waktu itu lahir sekitar pada tahun 1998 dan pada waktu itu telah mulai ramai demonstrasi mahasiswa menolak untuk kepemilihan pak Habibie, dan percepatan sidang istimewa dan segala macam. Muncullah gerakan, yang paling mudah untuk membangun sentimen kan, bisa dengan agama. Jadi gerakan sentimen demokrasi kan lagi muncul, marak betul hampir tidak tertahankan gak ada satupun institusi Negara yang memang otoriter pada jaman orde baru bisa menahan ini yang paling mungkin pada waktu itu untuk bisa mengalahkan sentimen yang menandingi demokratisasi adalah isu agama, hingga kemudian dihadapilah gerakan demokratisasi ini dan isu-isu agama bahwa ada tujuan pergerakan demokrasi itu disetting oleh kelompok agama minoritas, kelompok sekuler, kelompok komunis dan itu adalah musuhnya islam. Kan akhirnya seperti itu …. Kalo saya lihat jumlah, pergerakan yang bergerak berdasarkan order.Nah, disini persoalannya, bahwa itu kemudian memakai symbol-simbol agama ya, kemudian itu dianggap ada tabir suci yang menutupi itu semua.

  Sebenarnya banyak kesaksian yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok ini juga melakukan transaksi dengan beberapa tempat hiburan tertentu, dan tempat hiburan itu tidak pernah menjadi sasaran penggrebekan mereka oleh karena …”

  Seperti dalam pidato FPI yang mereka unggah di You Tube, mereka mengatak kalau FPI boleh untuk dibunuh, mungkin begitu lah prinsip yang mereka pegang teguh sehingga mereka berani dan nekat melakukan aksi kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah. Penggrebekan, pengrusakan dan kekerasan sudah melekat pada organasasi ini.FPI mengaku membela agama dengan memakai atribut-atribut agama.Padahal mereka tidak lah berideologi Islam malah mereka bergerak berdasarkan order.FPI adalah organisasi masyarakat yang bisa disebut Vigilante.

  Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation)

  Tindakan kekerasan terhadap jemaah Amadiyah merupakan tindakan pelanggaran hukum.Provocative Proactive merekomendasikan supaya pemerintah bertindak tegas dalam menyelesaikan masalah ini.Seharusnya pemerintah bisa mengambil tindakan hukum yang tegas secepatnya supaya masalahn ini selesai.Jangan lagi diperlama sehingga akhirnya kasus-kasus lain yang belum selesai akhirnya teralihkan.Pemerintah jangan melakukan pembiaran terhadap masalah ini.Presiden sebagai kepala Negara harus bisa mengambil sikap secara tepat dan cepat untuk mengambil keputusan dan mengambil garis sikap.

  Budiman : “…Presiden melakukan pengabaian terhadap hak-hak konstitusi rakyat.Kebebesan untuk berserikat, bukanya dilarang oleh pemerintah tapi membiarkan pelanggaran dan itu sudah lama dan bukan Cuma sekali dan ini yang menjadi permasalahan kita. Ini yang menjadi perhatian kita semua karena itu bagi saya pemerintah bisa dianggap bisa melakukan pelanggaran karena dianggap melakukan pembiaran sperti itu …. Presiden Pak SBY punya segala hal, punya segala syarat menjadi Presiden yang baik. Kecuali satu kemampuan untuk secara tepat dan cepat untuk mengambil keputusan dan mengambil garis sikap.Ini yang kadang kala ketika garis sikap tegas itu diambil, kadang-kadang sudah begitu terlambat.Nah ini jadi permasalahan. Karena itu menurut saya, untuk ke depan karena saya melihat gejala atau fenomena bahwa hal ini akan terjadi terus menerus, karena di Indonesia ini kerusuhan itu sudah lama sebenarnya menjadi modus untuk menciptakan destabilisasi. Terutama kerusuhan horizontal, kerusuhan antara kelompok etnis maupun kelompok agama.

  ” Frame II : Kasus Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Adalah Sebuah Pengalihan Isu Define Problems Sebuah pengalihan isu Diagnose Causes Front Pembela Islam (FPI)

  Make Moral Judgement/Evaluation FPI ormas Islam yang pergerakannya

  berdasarkan order

  Treatment Recommendation Pemerintah harus tegas dalam

  menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum yang berlaku

  Frame dan Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive Frame I Frame II

  1. Define Problems

  1. Define Problems

  Masalah hukum yang berkaitan Sebuah pengalihan isu dengan isu agama

  2. Causes Diagnoses

  Front Pembela Islam (FPI)

  2. Causes Diagnoses

  Ketidaktegasan Pemerintah

  3. Make Moral Judgement

  FPI ormas Islam yang

  3. Make Moral Judgement

  Pemerintah melakukan pembiaran pergerakannya berdasarkan order yang akhirnya berujung pada

  4. Treatment Recommendation

  pembiakan Pemerintah harus tegas dalam menyelesaikan masalah ini sesuai

  4. Treatment Recommendation

  • Pemerintah harus tegas dalam dengan hukum yang berlaku menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum yang berlaku
  • Masayarakat Indonesia supaya tidak mudah terprovokasi dan main hakim sendiri

  Pada frame I Provocative Proactive mendefinisikan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah ini adalah sebuah pelanggaran hukum yang berkaitan dengan isu agama. Provocative Proactive memposisikan ketidaktegasan pemerintah sebagai sumber masalah.Pembiaran yang dilakukan pemerintah yang akhirnya berujung pada pembiakan kasus seperti ini terus berlanjut. Dan penyelesaian masalah yang disampaikan oleh Provocative Proactive adalah yang pertama, pemerintah harus lah tegas dalam menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum yang berlaku dan yang kedua, masyarakat Indonesia supaya tidak mudah terprovokasi dan main hakim sendiri.

  Pada frame II Provocative Proactive mendefinisikan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah ini adalah sebuah pengalihan isu. Provocative Proactive memposisikan FPI sebagai sumber masalah. FPI sebuah ormas Islam yang gerakannya berdasarkan order. Dan penyelesaian masalah yang disampaikan oleh Provocative Proactive adalah yang pertama, pemerintah harus lah tegas dalam menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum yang berlaku.

  Tabel 1. Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I Nama Segmen Komunikator Isi Dialog

  Gini aja pak, bapak cukup bilang prihatin kok

  Itu film yang badanya tegap-tegap Ronald

  …pak… bagaimana kalau di blokir? Raja Ini apa sih? Lanjutkan perkataanmu tadi. Orang Persia

  Penasihat Raja Pak

  (dalam hati) "aduh lama seperti biasa.." Raja Saya prihatin! Well, tapi apa yang mau dikata ini negara hukum saya tidak bisa interfensi dan biarkan saja hukum yang berjalan

  …hmm… Orang Persia

  Raja Hmm

  Orang Persia Saya lihat penganiayaan dan pengurasakans sering terjadi. Gimana menurut bapak?

  Jossi Kan Inflasi! Yauda langsung kita lihat aja filmnya gimana.

  Ronald Kok jadi 400 judulnya

  Jossi Bukan … tapi 400 sekarang.

  O …film 300 ya?

  Pemimpin itu tegas dan berani. Film apa ya..? Jossi

  2 Ronald Kemaren gue browsing di Internet

  Cuma bisa ngomong prihatin gak pantas jadi pemimpin. Pemimpin itu harus tegas, berani ngambil keputusan. Jadi kayak adegan dalam satu film seorang pemimpin itu tegas memberla rakyatnya. Ronald

  … itu pak bos yang punya. Yang boleh ngomong itu hanya pak bos. Kalo lu ngomong kek gitu lu melangkahi wewenang beliau. Jossi Tapi menurut gue kalo seorang pemimpin kalo

  Gue berhak ngomong apa yang gue mau kan? Ronald Gak boleh

  …! Gak boleh sembarangn ngomong kata prihatin Jossi

  Ronald Hati-hati ngomong kata itu ya

  Prihatin …

  Eh, tadi lu ngomong apa? Jossi

  Tapi emang iya … gue sih emanng prihatin. Ronald

  Indonesia lagi banyak kekerasan, ada yang dibakar, ada juga yang sampai meninggal. Gue sedih banget sebagai orang Indonesia. Jossi

  Ok! Gua nonton di TV Jossi itu lebih gak mungkin lagi Ronald Iya..gue dengar dari teman. Katanya di

  Jossi Gue udah lama kenal ama lo dan itu gak mungkin Ronald

  • Video 300 ----

  Raja (dalam hati) "ku tanyakan saja pada rumput yang bergoyang … ah!tidak ada rumput disekitar sini..ah! Jauh dan panas lagi, ku tanyakan saja pada istri dan a

  …eh ini bukan istriku… dan ini bukan anak-anakku. Nah, ini baru istriku cantik bukan? Eh, kok jadi ngelantur? persoalan ini belum selesai. Baiklah... haa... Orang Persia

  Apa-apaan ini??? Raja Kau mengganggu aku sedang berfikir, kamu tidak tahu kalau aku memang lama untuk memutuskan! Seorang pemimpin sejati haruslah tidak cukup dengan prihatin, dia harus bertindak bagaikan prajurit sejati. Tapi saya tidak marah dan emosi kepada kamu. Tolong carikan sepatu saya

  Orang Persia Sepatunya dimana pak?

  Raja Sepatunya dibawah!!!

  Orang Persia Ya

  … itu mah marah… Ronald Andari

  …. Duh bibirnya dimanyun-manyunin gitu nyari perhatian gue ya … kan gue udah bayar hutang. Bibir nya jangan dibikin seksi gitu

  3 dong … kenapa sih manyun-manyun gitu.

  Andari Kesal

  …!! Raditya

  Andari jangan sedih gitu dong …

  Andari Gua sebel, kesal, sedih … ini warung udah 3 kali didatangi sama geng kampret minta-minta uang aman ke gua.

  Panji Oh … itu loh yang suka datang ngerusuh, minta- minta duit.

  Raditya Gua gak suka banget nih

  … bakar!!! Panji Eh! Gak zaman lagi bakar-bakar, bakar ban segala macam. Kecualikalo bakar lemak gue ikut. Jossi Itu pemikiran orang primitif banget

  … itu pemikiran khas seorang mahasiswa yang fundamentalis. Dikit-dikit bakar, dikit-dikit rusuh apa bedanya llu dengan mereka? Cuma bedanya lu agak bersihan dikit aja lagi. Kemarin masih segar diingatan kita, kejadian Ahmadiyah sampai 3 orang tewas, luka-luka belum lagi efek psikologis sama mereka gara-gara itu. Raditya Gue juga gak setuju sama penyerangan

  Ahmadiyah itu, Cuma ada gak sih sisi lain yang mungkin masyarakat kita butuh kepastian hukum juga. Jossi Maksud lo masyarakat Indonesia itu kurang sadar hukum? Panji Jadi kan maksudnya gini, Ahmadiyah kan udah dilarang SKB 3 Menteri jadi menurut dia (Raditya) ya udah tegasin aja, karna gakl tegas ya gitu jadinya. Jossi Tapi lu gak bisa harapin masyarakat pada umumnya sadar hukum, orang pemimpinnya juga gak sadar hukum. Gimana bisa mengharapkan masyarakatnya? Orang kan copy apa yang ada di atas. Panji Tapi kalo gue fikir-fikir juga, gue agak setuju dengan sudut pandangannya Jossi. Bahwa biar bagaimana pun juga Ahmadiyah itu mereka juga bagian dari Negara Republik Indonesia. Jadi mereka juga ada hak-hak yang ditetapkan dan dilindungi oleh konstitutusi. Udah dikasih tau gitu bukan berarti anggaplah mereka memang salah tapi bukan berarti mereka boleh langsung dihukum. Ibaratnya ada maling jelas maling salah bukan berarti lu boleh bakar dan gebukin maling kan?

  Raditya Maksud gue, gue gak setuju sama pemukulannya, gak setuju sama pembakarannya dan apapun itu, itu adalah kekerasan. Cuma bukannya Kapolri udah sempat bilang sama mereka bahwa akan ada penyerangan supaya mereka di evakuasi. Jossi Kapolri setempat ngasih Warning sama mereka, tapi kan warning awalnya gak digubris oleh mereka. Karna mungkin mereka gak tahu versi sebenarnya, versi lengkapnya. Kalau misalnya Polisi ngasih informasi lengkap ni akan ada ribuan orang yang datang ya gak mungkinlah si jemaah Ahmadiyah itu nekad bertahan diantara ribuan orang. Ronald Kalo kata gue sih, yang datang emang udah gak punya niat baik, kalau mau niat baik, gak mungkin bawak golok. Lu lihat di TV datang dan emang gak punya niat baik kan?

  Panji Lagian gini, kalo misalnya ada segerombolan ornag gitu ya, dateng nyamperin pengen dialog mukanya gak mungkin kayak gini (menunjukkan wajah marah)

  Andari Dan menurut gue gak seimbang perang kayak gitu, senjata tajam melawan tangan kosong.

  Kayak zaman dulu penjajahan Cuma bedanya musuhnya bukan penjajah, musuhnya adalah rakyat sendiri. Jossi Dan dalam posisi orang yang diserang itu belum siap. Mereka kan gak tau apa-apa. Kalau mau gentle bilang dong

  … eh! Gue bakal nyerang lo ya … lu harus siap-siap

  Panji Kalau kita mau adil, karna gue baca beritanya juga dan mantau di internet sebenarnya banyak sekali versi, salah satunya bilang bahawa, disana udah diingatin udah lu jangan deh, nanti lu bakalan rusuh tapi tetap aja polisi kalau udah bisa ngingatin orang berarti dia bisa mempersiapkan diri. Jossi Tugas polisi Indonesia sebenarnya sebagai pelindung atau pengingat ya? Panji

  Iya benar juga ya …

  Ronald Pengingat??? Alarm dong

  … Panji Melinduingi dan melayani.. Semua

  Siapa???? Raditya Tapi satu hal lagi deh

  … mungkin gak sih akar permassalahan nya karna Ahmadiyah juga melanggar sebuah ketentuan hukum sehingga massa jadi marah, mungkin gak?

  Jossi OK! Orang bisa melanggar, massa juga boleh marah, tapi bukan berarti marah jadi ngasih mereka hak untuk bikin kerusuhan kayak gitu dong. Orang boleh salah, lu misalnya gitu 8 tahun gak lulus kuliah, jadi lu kan salah! Tapi gak berarti lu bakal kita rajam disini atau kita cincang-cincang. Panji Lebih salah lagi udah kuliah lu lama minta duitnya sama dia lagi. Sebenarnya itu! Menurut gue salah satu pola fikir yang mesti dicermati oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan gitu ya kita lebih cenderung, lebih sering dan lebih suka main hakim sendiri. Coba lu perhatiin, kalau ada maling ketangkap digebukin, dicincang bakar dibakar, kejadiaanya ada... Pernah gak ada polisi yang nangkap orang-orang tersebut? Gak ada sob!

  Raditya Gue gak pernah ngeliat ada maling ketangkap trus dicubitin pipinya. Panji Gak ah! Kalau dalam konteks kecil saja ada pembiaran, ngerti gak maksud gue??? Ah maling aja boleh gebukin gitu ya

  … yah mungkin ngeliat orang lain ngelakuin kerusuhan ya dia lompat kesitu! Jossi Ya … itu skalanya kan makin lama makin besar.

  Dan gue pernah ngomong gini dan gue bilang pembiaran itu adalah awal dari pembiakan!!! Lu biarin

  …biarin…lama-lama berkembang biak, akhirnya makin ramai. Ronald kalo gue sih melihatnya orang yang kemarin nyerang-nyerang, ya kayak yang nyerang

  Ahamadiyah, mereka ini memiliki sifat seperti jelangkung. Datang tidak dijemput pulang tidak diantar. Datang bikin ribut pulang bakar-bakar. Panji Memang kalau dipikir-pikir yang bakar-bakar itu memang sudah tindakan anarkis sebenarnya.

  Dan itu yang bikin kita khawatir. Dan sejarah kekerasan di Indonesia itu bukan sekali dua kali, gue rasa juga semua orang masih sangat ingat kejadian kekerasan sebelumnya. Gue fikir-fikir daripada kita ngomong ngalur gidur, salah arah mending kita telepon orang gue kebetulan ada guru ngaji namanya mas Ulil Absah. (menelepon) halo mas ulil lagi dekat daerah- daerah gue gak? Gini saya masih mau ngobrol sama mas ulil tinggal datang aja, nanti saya arahin deh! Pokoknya berangkata aja dulu. Gue-gue fikir-fikir dan jarang gue mikir sebenarnya, masyarakat Indonesia itu harus hati- hati kalau bersikap. Kita gak boleh buru-buru mengecap bahwa masyarakat Indonesia itu secara keseluruhan pelaku kekerasan bahkan anarkis ya

  … Anarkis sejarah definisi beda lagi. Gue takutnya orang-orang bilang, wah! orang Indonesia ternyata orangnya sangar-sangar, kekerasan. Padahal kalo kita fikir-fikir, perhatiin sebenarnya itu digerakkan. Ada yang menggerakkan, sangat teratur dan sangat tertata.

  Dan kalau lu perhatiin aja sendiri ada pita-pita biru seperti mengkode gitu. Jadi di lapangan itu lu tahu siapa-siapa yang temen. jadi makanya, kita jangan terus-terus ah gilak ni Indonesia ternyata begini banget! Biadab! ini ada oknum yang memang di arahin. Kita harus hati-hati menyikapinya. Jossi Tapi memang secara kasus udah parah ya ji? Kita bisa bilang ni kayaknya ada konspirasi teori dibalik ini segala macam. Tapi kalo difikir-fikir agak keterlaluan ya selama tahun 2010 itu total ada kasus kek gitu jumlahnya 216. Tersebar di 27 provinsi kasus kekerasan dengan berbagai motiv itu totalnya 216 kasus yang berhubungan dengan agama ya.. itu 20 provinsi, dan yang paling besar terjadi di 25 provinsi termasuk DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

  Panji Jawa Barat yang paling besar ya … jawa timur trus DKI Jakarta nomor 3. o.. Gitu??? Berarti bahaya juga ya..

  Jossi Dan lihat gak bahwa disitu juga angka dimana ada unsur keterlibatan negara dalam peristiwanya. Jadi maksudnya gini, ada pejabat publik yang mengeluarkan statement yang memprovokasi trus ada unsur pembiaran oleh aparat atau orang pemerintahan dan itu jumlahnya cukup gede juga kalau kita lihat tadi di grafik. Panji Dan juga sebenarnya bukan Cuma maksud gue, kemaren juga di temanggung ya

  … ada kejadian juga. Jossi itu aneh banget, jadi ada seorang dituduh melakukan bahwa dia melakukan penistaan terhadap satu agama, trus akhirnya diputuskan oleh pengadilan 5 tahun, terkhir gak puas dan akhirnya melakukan pembakaran gereja. Ada 3 gereja disana dibakar, diserang dan dilakukan pengerusakan. Tapi yang lucunya padahal yang katanya spanduk penistaan agama itu yang dinistakan itu gak cuma 1 agama, tapi ada 2 agama. Jadi yang dinistakan disitu agama muslim dan agama Kristen katolik. Tapi yang diserang adalah gereja. Panji jadi tu gara-garanya informasinya yang gak benar tersebar, kenapa jadinya nyerang gereja karena gosip diantara mereka adalah bahwa orang yang melakukan penistaan itu katanya pastor padahal enggak. Andari Itu gosip doang trus nyerang nya sampek kek gitu? Panji Masyarakat itu banyak yang percaya dengan sms-sms yang disirkulasikan, padahal seharusnya masyarakat ngas-kus tu.. Kalo di Kas-kus kan ada No Pict = Hoax Gan maksus gue ada itunya. Raditya Gue boleh nanayak gak mas ulil? Dasar penyerangan Ahmadiyah kemaren itu apa sih?

  Kalau aku sih rasanya ada gak sih tedensi ini gara-gara pelanggaran SKB 3 mentri itu? Ada 4 gak?

  Ulil Gak! Jadi gini jadi SKB 3 Menteri itu atau SKB 2 menteri plus Jaksa Agung itu sebetulnya kan jalan tengah. Jadi kalau kita lihat dalam masyarakat ada 2 kelompok. Ada kelompok yang Ahmadiyah ingin dibubarkan, yang satu lagi adalah kelompok yang kepingin Ahmadiyah dilindungi hak-haknya sesuai dengan konstitusi karena kan dalam UUD kita setiap penduduk harus dilindungi haknya untuk beragama dan berkeyakinan. Nah pemerintah menghadapi 2 kelompok ini kan kemudian diambil jalan tengah. Oke tidak dibubarkan, boleh tetap eksis tapi tidak boleh menyerbakan ajaran agamanya, tidak boleh mendakwa dan seterusnya. Nah kelompok-kelompok yang menuntut agar Ahmadiyah dibubarkan itu tidak puas dengan keputusan ini maka mereka mendesak terus. Raditya

  Yang mereka mau sebenarnya apa? Ulil Mereka pengen membubarkan Ahamadiyah, itu yang disuarakan antara lain yang sangat disayangkan sebetulnya oleh Menteri Agama. Jadi solusi Ahmadiyah menurut Menteri Agama atau orang-orang yang anti Ahmadiyah akan selesai masalahnya kalau kelompok itu dibubarkan.

  Panji Menteri Agama itu pak Surya Dharma Ali, beliau ini dari partai PPP Jossi Gue lagi baca ini, ada yang mentioned di twitter Provocative Proactive. Dia mentioned gini.

  Jangan kan soal keyakinan, suporter bola aja gampang banget rusuh, pelajar sama mahasiswa tawuran, ini masalah mental bangsa. Panji Jadi yang itu sebenarnya kalau difikir-fikir jadi mungkin karena dianggap kurang tegas atau kurang seram dengan yang diinginkan masyarakatnya. Ulil Jadi di SKb itu ada yang beberapa point yang penting ditegaskan. Yang pertama boleh eksis tapi tidak boleh menyebarkan agamanya. Yang kedua kelompok masyarakat dilarang untuk melakukan tindakan yang kekerasan untuk menyerang Ahmadiyah itu. Nah tidak boleh, maslahnya sekarang ini adalah SKB ini tidak ditegakkan. Panji Mas ulil itu tadi kejadian nyata tu. Baru aja terjadi pada kita bahwa ada banyak sekali orang- orang yang melakukan tindakan kekerasan atau meneror orang yang lebih lemah, diskriminatif misalnya kan banyak perempuan atau yang misalnya minoritas. Nah itu kan terjadi di Indonesia dengan waktu yang maksudnya selalu ada kasusnya beda-beda, nah itu gimana loh?

  Ulil Ya itu kalo kita lihat gejala yang umum di negara-negara yang sedang transisi demokrasi yang belum stabil, itu ada dalam masyarakat kelompok-kelompok yang disebut Vigilante (kelompok yang sebetulnya tidak punya otoritas tapi main hakim sendiri). Dengan kata-kata melakukan kekerasan. itu sebetulnya gejala yang dimana-mana juga ada. Nah, memang tantangan nya kalau dalam situasi seperti ini bagaimana Pemerintah melakukan tindakan tegas. Kalau tidak ada ketegasan dari Pemerintah terhadap mereka memang repot. dan sekarang kita saksikan menyebarnya Vigilante semacam ini antara lain memang tampaknya Pemerintah ragu-ragu untuk menindak mereka ini. Karna memang masalahnya Vigilante yang satu ini memakai baju agama. Raditya Nah, itu dia mas Ulil. Kan ada beberapa kasus kekerasan kemarin-kemarin saya sih mau nanyak aja kan misalnya ada kasus kekerasan yang katanya FPI yang suak yang suka bikin kasus kekerasan. Nah, kekerasan yang kemarin di Ahmadiyah ada kemungkinan kesana? Gimana itu?

  Panji itu di You Tube juga ada video yang dibikin FPI pidato kalo Ahmadiyah itu boleh dibunuh. Ada itu. Ulil

  Dulu juga ada Tabligh Akbar yang sekitar 3 tahun lalu ada di You Tube sih sebenarnya. Ya memang itu kita saksikan di masyarakat ada kekerasan yang memakai baju agama dan kemudian tidak ada penindakan yang tegas. Kta melihat terakhir ini ada pernyataan yang keras dari Presiden, kita kan dan kita berharap dari pernyataan itu ada follow up. Semoga saja.

  Andari Pak, ini kembali ke SKB 3 Menteri ni. Itu banyak orang yang bilang SKB 3 Menteri harus di kaji lagi. Soalnya gak dipercaya untuk menyelesaikan masalah untuk menuntaskan penyerangan Ahmadiyah. Menurut mas Uli gimana?

  Ulil Ya … pengkajian ini tergantung kalau pihak yang anti Ahmadiyah pengkajian yang artinya adalah supaya ada pengkajian ulang yang memungkinkan Ahmadiyah itu dibubarkan.

  Panji Tapi kan gini kalo kita ngomong SKB 3 Menteri, saya baca butir ke 4 dari 6 butir, memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga kerukunan umat beragama dan segala macamnya dibilang bahwa tidak melakukan tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, pengurus jemaah Ahmadiyah Indonesia, jadi ini udah tertulis gak boleh melakukan tindakan kekerasan.

  Raditya Berarti Bhineka Tunggal Ika itu cuma slogan?

  Jossi Enggak … mereka tetap Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap 1, 1 pendapat dia doang yang benar.

  Andari Gue bingung kenapa sih perbedaan itu jadi sesuatu yang diberantemin? Kenapa kita harus berantem sama saudara sendiri. Kenapa gak mesti saling menghargai? Menghormati? Bingung gue!

  Raditya Nah, sehubungan dengan itu mas Ulil sebenarnya bertanggung jawab sama serangan Ahmadiyah itu kalau mau kita

  … banyak orang bilang Pemerintah … tapi apa gak tanggung jawab kita ramai-ramai ya supaya gak kejadian.

  Ulil Iya … menurut saya tanggung jawab ada pada semua pihak. Pemerintah paling utama tentunya, terutama penegak keamanan dalam hal ini kepolisisan, tapi yang penting adalah masyarakat juga, terutama tokoh-tokoh agama.

  Saya kira penting juga dilambangkan suatu pemahaman yang menolerir atau menoleransi atau memungkinkan perbedaan itu diterima. Itu yang paling penting, sebab prinsip saya sebagai seorang muslim adalah saya bisa saja bahwa anda itu adalah sesat, tapi saya kan tidak bisa memukuli anda, menyerang anda atau apapun tidak bisa itu.

  Andari Jadi mas Ulil memangnya peran tokoh-tokoh agama itu udah maksimal apa belum sih?

  Ulil Menurut saya kuragn maksimal karena memang sekarang ini ada kecenderungan di masyarakat ke arah konservatisme ada kecenderungan pandangan yang ekslusif yang tidak bisa menerima orang lain yang berbeda kecenderungan yang bahkan menyesatkan, ya misalnya kalau ada fatwa dari MUI bahwa satu kelompok itu dianggap sesat itu gak apa-apa. Ya itu pendapat MUI sebagai guide atau petunjuk bagi umat islam. tapi menurut saya tidak bisa orang yang dianggap sesat itu kemudian dihanguskan atau disingkirkan dari Indonesia. Raditya Aku baru dapat kabar ni. Kalau Kapolres

  Madeglang melepaskan 8 tersangka di Cikeusik gara-gara di demo ribuan orang. Polisi kayak takut gitu. Jossi Emang kalah jumlah sih Cuma masa kita harus nunggu jumlah polisi sama dengan masyarakat?

  Gak mungkin kan 230 juta penduduk setengah polisi setengah masyarakat. Raditya

  Jadi gimana tu mas Ulil? Kok malah dilepasin? Ulil Ya memang dilapangan sudah seperti itu. Kadang-kadang kepolisian berhadapan dengan masyarakat dengan jumlah yang besar kemudian mereka tidak punya power yang cukup dan sedih juga kita melihat keadaan seperti itu. Panji Gue itu takutnya

  …. Ini menurut teori gue ya… tapi bisa aja udah kepolisian gak bisa tegas atau ragu karena dia gak mau kelihatan konfrotatif banget dengan islam kesannya polisi itu jadi ragu. Karena kalau gue terlalu konfrotatif nanti jadi lo tau kan??

  Ronald Bukan ji!!! Polisi itu ragu-ragu karna malu, malu sama bosnya, karna bosnya ragu-ragu juga kan?

  Jossi Tapi gini kan … MENKO POLHUKAM kan pernah bilang isu agama itu sensitif banget ya

  … saya setuju di negara yang beraneka ragam kayak kita. TaPI kalau melihat kasus per kasus kayak kasus kemarin, yang baru terjadi, kalau dicopot isu agama nya kan dia jadi kasus pidana biasa kan? itu kan gampang bisa di urus gitu. Panji

  Itu ya di video itu kan mukanya jelas banget tuh, masa sampek sekarang gak tertangkap-tangkap. Ulil

  Sebenarnya bisa silokalisir sebagai kasus pidana tapi kenyataanya kan tidak begitu. Jossi Kenapa sih gak sesimple itu? Bisa menjadikan pidana aja? Ulil karena ini kasus pidana yang berkaitan dengan isu agama dan sangat sensitif sekali tapi sekarang ini menurut saya karena sudah ada ketegangan dari pihak Presiden agar melakukan tindakan yang sedikit keras. Menurut saya ini dorongan untuk para polisi dilapangan. Jadi aparat keamanan yang lain untuk lebih tegas lagi. Jossi

  Tidak hanya tegas pada suporter bola aja ya …

  Panji Mungkin dari masyarakatnya juga harus bicara kita mendukung polisi untuk tegas dan kita tidak melihat ini sebagai suatu isu agama biar polisi juga tahu bahwa masyarakat umum juga pengen Indonesia itu jadi negara demokratis. Raditya Tapi ini benar-benar sudah memprihatikan banget deh. Jossi Gimana gak memprihatinkan ya

  … seperti kata Ronald tadi ya

  … bosnya saja Cuma bisa bilang SAYA PRIHATIN.

  Tabel 2. Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II Nama Segmen Komunikator Isi Dialog

  2 Panji Eh gue lagi sedih sama penggebrekan- penggebrekan yang berujung pada kekerasan, kesannya di Indonesia diperboleh atau disahkan untuk main hakim sendiri, ngambil tindakan kerassedih gue!

  Raditya Gue juga sedih sama penggebrekan-penggebrekan yang pokok nya kekerasan Jossy Gimana kalo kita kasih contoh, gimana grebek yang manusiawi. Grebek yang cantik, permainan yang cantik, gak kayak ormas-ormas di luar sana kalo grebek gak enak banget kalo dilihat. Ini mungkin pelajaran juga bagi yamg mau grebek- grebek, jadi gimana langkah pertama. Pertama, tentukan nama ormasnya. Pilih yang catchy, yang gampang diingat

  Raditya Gua tahu namanya, seperti yang lo bilang, nama ormas kita adalah FPKS. Sesuai dengan hati-hati kita kan? Front Pembela Kasih Sayang. Jossy Langkah kedua, gunakan tanda pengenal untuk membedakan mana kawan mana lawan.

  Panji Kayak kemarin kayak di cikesik juga, ada yang pita biru dan ada yang pita hijau. Raditya Ok! Untuk ormas kita karena front pembela kasih sayang, dan kalo unyu itu gak boleh nanggung, jadi gua udah nyiapin pita warna Pink. Panji Ok! Jadi kita udah punya nama manis, FPKS dan punya pita Pink sekarang. Jossy Yang ketiga, kita harus punya atribut pelengkap, untuk mendukung aksi kita yang menunjukkan identitas kita.

  Ronald Kalau ormas-ormas itu kan kalo gak bawa golok, bawa bambo. Kita apa ini?

  Raditya Ok! Karna kita unyunya udah maksimal supaya lebih maksimal lagi untuk mempromosikan cinta dan kasih sayang dengan pakai balon. Jossy Kita udah hamper siap ne, Cuma kurang satu lagi, kita jangan lupa supaya jangan gampang terlacak, pilih nama samaran! 3 (Video Kerusuhan Di Monas dan di Cikesik)

  Ronald Eh..gue kepikiran, kasus Ahmadiyah dan yang di temanggung udah beres belum? Polisi udah nangkap belum? Jossy Polisi udah! Udah niat mau nyelesain.

  Ronald Udah gitu doing? Jossy

  Ya ukuran polisi udah kemajuan kan, niat aja udah bagus Panji Lu jangan gitu, lu sih menjelek-jelekkan aparat kepolisian mulu! Jossy Gua gak bisa menjelekkan apa yang udah jelek. Panji Sebenarnya polisi udah nangkap beberapa tersangka, udah ada. Kalo yang di temanggung tu udh ditangkap inisialnya

  “S”, kalo yang di Cikesik udah ditangkap juga kalo gak salah inisialnya “UJ”. Raditya Kalo menurut gua ni, ini masalah provokasinya aja. Menurut gua gak ada asap kalo tidak ada api. Pasti ada sesuatu yang membuat itu bermula dan itu adalah provokasi menurut gua. Panji

  Kalo menurut gua sih melihat kekerasan yang terjadi belakangan ini, banyaknya sih kesimpang siuran dan memang faktanya kadang bikin tambah panas. Tapi gua merasa ini sebenarnya digerakin man

  … diorganisir dengan baik, ada dalangnya istilahnya ada teori konspirasi dibalik semuanya ini. Jadi gimana kalo kita semuanya keluarin teorinya masing-masing, menurut kita semua kekerasan yang terjadi belakangan ini apa penyebabnya? Apakah benar-benar ada sesuatu dalangnya atau apa. Bagaimana kalo kita mulai dari yang dituakan!

  Raditya Gua memang kalo di kampus gua dituakan, karna gua 8 tahun belum lulus- lulus. Gua akan jelasin teori gua, dan masing- masing akan jelasin satu teori untuk soal kekerasan. Kalo menurut gua yang memuali provokasinya duluan. Dan gua curiga ada kelompok-kelompok minoritas yang untuk mencoba memulai untuk memprovokasi kepada kelompok mayoritas.

  Panji Ok jadi menurut lo kekerasan ini adalah karena yang minoritas ini memprovokasi mayoritas. Gimana kalo kita beralih kepada teori orang yang paling pas-pasan saja.

  Ronald Saya ini memilih pas-pasan itu memang sengaja, saya ini bukan pas-pasan sebetulnya, saya ini sederhana. Kenapa? Karena Tuhan suka dengan kesederhanaan. Jadi teori gua itu sederhana kalo soal kekerasan. Memang masyarakat nya aja yang doyan kekerasan. Jadi memang menurut gua masayarakat sekarang gampang kesulut. Dan penyelesaiannya gampang, gak usah bikin ribet bikin sederhana aja, yang bersalah tangkap, adili dan hokum. Udah selesai!

  Panji Gua coba ambil kesimpulannya dikit, berarti ini yang minoritas yang melakukan provokasi. Lo bilang emang masyarakatnya yang doyan kekerasan. Lo?

  Jossy Kalo menurut gua, tadinya bukan menurut gua sih, memang sudah terbukti dari orang-orang yang ada di lapangan, yang mereka report ke gua, ini memang ada pihak kalangan atas yang bermain. Jadi ini memang ada kalangan orang- orang yang punya sakit hati. Yang juga kalangan militer yang memang pengen menggulingkan Presiden SBY. Serius!! Gua ini gak bercanda! Ini memang terjadi di Negara kita, itu ada pihak- pihak yang memang mereka punya kepentingan tertentu untuk menggulingkan Presiden SBY, jadi serangkaian kegiatan yang terjadi sekarang ini itu semua muatannya ujungnya ke sana.

  Panji Ok! 1,2,3, udah! Sekarang giliran gua! Kalo menurut gua ada teori sendiri, bahwa kekerasan yang terjadi belakangan ini dalang nya itu bukan 1 pihak spesifik. Tapi siapa pun yang saat itu sedang terdesak lewat media. Misalnya ni, ada sebuah kasus yang misalnya memberatkan sosok A. sosok A gak suka difokus sama media dia bikin pengalihan isu. Misalnya di berita ada rekening gendut lagi dibahas. Nanti pihak tersebut karna terdesak bikin, jadi ini sudah kayak kebiasaan, supaya gak diserang mulu. Dia bikin lah pengalihan isu, sesuatu yang disayangkan dan memecah persatuan. Contoh kasusnya kalau kita fikir-fikir rekening gendut kepolisian kemarin mau diusik. Ada kejadian kekerasan setelah itu. Bahkan kalo difikir-fikir kalau setiap kali ada kekerasan dan pemecahbelahan di Indonesia, sebelumnya itu ada kasus besar yang menjadi focus media, Cuma dialihin. Tapi memang bangsa Indonesia mudah banget dialihin perhatiannya.

  Jossy Orang Indonesia memang gampang banget dimasak, kalo gua bias bilang dikasih bumbu-bumbu biasanya isu yang paling gampang untuk buat orang bereaksi itu soal agama, kelompok, soal ideology, itu udah paling gampang. Karena orang Indonesia itu sensi banget, kalau untuk Negara yang jumlah penduduk sebesar ini dan wilayah sangat divers bisa terjadi barengan ni. Tapi bias kompak dalam 1 isu yang sama itu, benar-benar langsung panas, itu pasti diatur

  Panji Lu bilang kek gitu karna gua menolak untuk percaya bahwa bangsa Indonesia memang bangsa yang tanda kutip biadab.

  Ronald Gue mau percaya ji! Tapi siapa orangnya? Panji Nah itu yang jadi masalah, Cuma dengan mempercayai ada dalang, kalo lu kan gak memepercayai ada dalang kan. Lu sederhana aja memang masyarakatnya keras. Jossy Dia lebih parah. Dia bilang itu benar- benar mutlak karna kejadian ada kelompok masyarakat yang minoritas, yang korban, trus mereka katanya, menurut dia ini songong, gak bisa behave, wajar kalo diserang. Panji Dia ngomong udah ada dasarnya juga, gua waktui itu dapat kiriman email berita juga yang bilang waktu pihak Ahmadiyah yang di Cikesik, mereka juga udah bawa golok duluan. Ini informasi seliweran ya, tapi kalo dari sisi gua, kalo gua percaya dengan teori lu, berarti gua percaya kalo bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang emang suka kekerasan, nah itu gua menolak! Menurut gua memang ada dalangnya! Masyarakat Indonesia itu mesti baik- baik lah kita lihat aja pita hijau, pita biru, itu kan pertanda sebenarnya. Jossy Ya..berarti lu secara gak langsung sependapat dengan yang gua bilang emang ada dalangnya. Panji Tapi kalo lu percayanya, pihak yang sakit hati sama pemerintah sekarang, kalo gua pihak yang beda-beda. Siapapun yang lagi terdesak media, bikin pengaliha isu. Jadi bisa siapa pun! Misalnya perusahaan lu!

  4 Panji Mas Budiman Sujadniko ini adalah seseorang politisi dari komisi 2 DPR partainya adalah PDIP. Kasih tepuk tangan sekali lagi! Mas, kita sebenarnya daritadi bukan ngomongin sepak bola, tapi kita sebenarnya lagi ngomongin kekerasan yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Masing-masing punya teori sendiri. Kalo menurut Mas Budiman?

  Jossy Ini ada contoh Tweet yang bagus dari EDnunudwi, dia bilang

  “pasti ada Agenda Setting di balik peristiwa ini yang memanfaatkan masyarakat Indonesia yang bersumbu pendek, dan mudah disulut oleh oknum. Ini ada lagi dr F_3_1_NDOS, dia bilang gini

  “ pastinya orang-orang yang tidak suka keragaman dan Pancasila, keep leaving in togetherness Coy!

  Panji Nah gimana kalo kita lanjutin, ada narsum sob! Masa ada narsum kita nganggurin! Ya kita ngebahas lagi! Mungkin untuk beberapa orang merasa bahwa beliau ini adalah orang yang tepat ya? Nah teman sebelum kita mulai gua pengen nunjukin sesuatu, gua punya sebuah timetable. Ni kita lihat sama- sama time table nya seperti apa ya! Time table ini nantinya akan ngasih tau sejumlah kerusuhan yang pernah terjadi di Indonesia. Gak banyak-banyak ini ngambil contoh gua mengambil beberapa doang! Ini adalah table pengalihan isu! 4 kerusuhan yang gua angkat itu, kerusuhan silang monas, kerusuhan Ciketing, kerusuhan cikesik dan temanggung. Berita yang paling panas, konflik yang diduga sebagai pengalihan. Jossy Dan gua ingat banget yang kejadian silang Monas, tahun 2008, waktu itu kan emang lagi ada isu kenaikan harga BBM, dan lagi ada Demo di depan Istana kan? Tiba-tiba disaat yang bersamaan di silang Monas situ lagi ada

  … Budiman Bukan demo! Tapi pada waktu itu PDI perjuangan tanggal 1 Juni sedang menggerakkan 100.000 massa untuk memperingati hari lahir Pancasila. Kemudian di Monas ada kejadian pemukulan terhadap AKBB Aliansi kebangsaan oleh kelompok FPI, dan kita tahu bahwa besok memang isu itu yang muncul! Sementara 100.000 orang sedang memperingati hari lahir Pancasila beritanya memang terdesak.

  Panji Tapi bukan karena itu Mas, pada saat itu kan demonya tentang BBM. Karena BBM itu juga sudah menyentuh kalangan kelas menengah, udah mulai ramenya kesitu. Dan biasanya Pemerintah udah mulai parno, kalo misalkan kalangan menengahnya udah mulai tersentil. Jossy

  Jadi menurut Mas Budiman kejadian yang di Silang Mona situ, itu murni memang ulah FPI? Atau itu adalah agenda setting?

  Budiman Kalau dilihat sendiri asal-usul kelahirannya FPI yang kami ingat ya

  …pada waktu itu lahir sekitar pada tahun 1998 dan pada waktu itu telah mulai ramai demonstrasi mahasiswa menolak untuk kepemilihan pak Habibie, dan percepatan sidang istimewa dan segala macam. Muncullah gerakan, yang paling mudah untuk membangun sentimen kan, bisa dengan agama. Jadi gerakan sentimen demokrasi kan lagi muncul, marak betul hampir tidak tertahankan gak ada satupun institusi Negara yang memang otoriter pada jaman orde baru bisa menahan ini yang paling mungkin pada waktu itu untuk bisa mengalahkan sentimen yang menandingi demokratisasi adalah isu agama, hingga kemudian dihadapilah gerakan demokratisasi ini dan isu-isu agama bahwa ada tujuan pergerakan demokrasi itu disetting oleh kelompok agama minoritas, kelompok sekuler, kelompok komunis dan itu adalah musuhnya islam. Kan akhirnya seperti itu.

  Panji Disseting nya kek gitu? Budiman Disetting seolah gerakan islam menghadapi gerakan yang didalangi oleh kelompok minoritas, kelompok sekuler, kelompok komunis segala macam dan kelompok liberalis. Jadi agak aneh nih! Komunis,liberalis bersatu asumsinya melawan islam meskipun tentu saja kelompok gerakan pro demokrasi juga banyak melibatkan banyak organisasi-organisasi masalah keislaman. Sebenarnya ada HMI ada PMII itu juga terlibat tapi kan yang namanya framing dalam pemberitaannya, framing itu artinya mengecap itu mudah. Nah rupa-rupanya kelompok ini berkembang sedemikian rupa sehingga dia sudah bisa berjalan dan kemudian karena asal usul kelahirannya, kalo saya melihat FPI sebenarnya bukan gerakan terideologis. Agak beda misalnya disebut takrim. Kalo isbut tahkrim kan punya agenda memang lafah islamiah, misalnya ideologis ya? Lahir dari sebuah gerakan yang sejarahnya panjang dari luar negeri dan

  … Panji Nah, kalo FPI kalo ideologis ? Budiman Mereka bukan sebuah gerakan yang betul-betul punya agenda gerakan islam Raditya Jadi apa dong agendanya? Budiman Kalo saya lihat jumlah, pergerakan yang bergerak berdasarkan order. Nah, disini persoalannya, bahwa itu kemudian memakai symbol-simbol agama ya, kemudian itu dianggap ada tabir suci yang menutupi itu semua. Sebenarnya banyak kesaksian yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok ini juga melakukan transaksi dengan beberapa tempat hiburan tertentu, dan tempat hiburan itu tidak pernah menjadi sasaran penggrebekan mereka oleh karena

  … Ronald

  Maaf mas mau nanya, kalo berdasarkan order, yang order siapa kira-kira? Budiman Kalo Ronald mau order, misalnya suatu saat Ronald punya konflik nih

  … dengan panji, konfliknya berkaitan dengan apa

  … Jossy Pasti uang!!! Budiman Yah pernah misalnya kamu beli tanah, kamu bisa memakai kelompok- kelompok yang mungkin basisnya agama tertentu, mungkin etnisnya bassis tertentu. Ronald Maaf mas

  …maaf… Gua gak akan mungkin lakukan itu … karena gua gak punya uang!

  Budiman Ini juga panji yang menyebabkan bangsa kita yang sangat … etnisnya sangat beragam ini rentan dikarenakan untuk menyelesaikan suatu persoalan ekonomi misalnya, tapi kemudian karena kelompok-kelompok memakai bendera etnis tertentu atau agama tertentu, sehingga kemudian efeknya itu bisa sangat merusak

  Raditya Tapi mas terakhir kali aku ngelihat mereka juga bilang di media massa dan diliput dimana-mana katanya kalo misalnya Presiden gak mau dicubit jangan nyubit duluan.

  Panji Dan ini menarik nih

  …. Karena emang waktu itu Presiden konteksnya adalah ngomong kalo ada ormas yang meresahkan berlakuk kekerasan akan dibubarin. Tapi kan waktu itu pak Presiden gak nyebut, mungkin dia agak- agak sengsi atau geer atau gimana gitu ya

  …. Kenapa dia yang jadi marah- marah? Jossy si andari ngomongin soal arab soal mesir, gua jadi kepikiran ingat Arab ingat Mesir, ngomong Mesir jadi ingat ucapannya si ormas yang bilang mau memesirkan Indonesia. Raditya Oh

  …yang gimana tuh ucapannya? Jossy Berani banget kan kalo bilang mau memesirkan Indonesia, itu orang kalo berani ngomong kayak gitu gak mungkin mas kalo gak ada backing yang benar-benar powerfull. Mana berani ngomong kayak gitu

  …. Panji Nah mas Iko, ketika ada ormas yang bilang mau memesirkan Indonesia melakukan hal-hal yang terjadi dengan yang di Mesir menggulingkan pemerintahan gitu! Dengan sebelumnya ada kekerasan yang sebenarnya sih katanya saksi bukan FPI itu Cuma masa aja, Temanggung bukan, yang di Cekisik juga bukan itu Cuma masyrakat aja secara umum. Nah, ini ada kekerasan disitu dilakukan oleh masyarakat secara umum, Presiden bilang ormas yang meresahkan dibubarkan tiba-tiba FPI bilang kalo misalnya membubarkan kami mau dimesirkan. Ini ada keterkaitannya gak sih sebenarnya?

  Budiman Kalo keterkaitannya sadar dengan signal yang dikirimkan bahwa memang selama ini kekerasan itu melibatkan nama ormas tertentu berdasarkan agama ataupun etnis tertentu. Nah kemudian muncullah fenomena yang akhir-akhir ini kekerasan horizontal terhadap kelompok Ahmadiyah, terhadap kelompok agama lain di Temanggung terhadap juga kelompok yang orang anggap pesantren Syiah di Pasuruan terakhir ini. Artinya apa? Artinya kemudian muncullah pidato Presiden di Kupang pada waktu itu dan kemudian baru ada reaksi. Bagi saya ini kan di Indonesia sudah lama sebenarnya menjadi rahasia umum. Tapi yang dalam tanda kutip perlu kita syukuri baru kali inilah orang lebih terbuka mengatakan selama ini kerusuhan-kerusuhan yang terjadi hamper tidak ada orang yang disebut nama organisasinya. Tapi akhir- akhir ini sudah terjadi nah, karena itu bagi saya ini suatu bentuk pengetahuan bagi masyarakat bahwa memang ini ada. Persoalannya ada! Jika memang FPI tidak merasa bersalah, iya

  …saya kira tentu saja tidak perlu bereaksi seperti itu. Panji Nah ini beneran nih, kalo memang mereka benar gak bersalah harusnya gak perlu bereaksi tapi ini membuat saya juga agak-agak panas nih

  …emangnya kambing bisa digulingkan. Masa Presiden aja mau digulingkan. FPI ini siapa? Kenapa mereka berani-beraninya. Siapa yang membacking mereka?

  Jossy Kalo dari obrolan kita semua ini ya, termasuk dari kata-kata Panji tadi menurut gua ini semua ada agenda setting. Ada yang ngatur gua yakin banget. Ronald Tapi mas menurut mas Iko yah ada yang ngomong kayak gitu ke Pak Presiden, nah kan Presiden suka nanggapin yah

  … Budiman Maksudnya ini apa ya? Ronald Yang ini yang digulingkan itu. Nah, ini Presiden tanggapannya begitu.

  Tanggapannya Pak Presiden gimana waktu itu ? Semua Gak bereaksi!!! Jossy Gak tersinggung, gak marah

  … Budiman Yah lebih baik gak usah dianggap serius, menurut saya kapasitasnya itu bukan kapasitas Presiden, karena saya juga pernah mengingatkan juga disalah satu media saya mengatakan ya

  … “Your enemy defines who you are …”.

  Musuhmu itu menjelaskan siapa dirimu sebenarnya,kalo menanggapi kelompok yang sebenarnya juga tidak terlalu membahayakan dalam pengertian kemampuan menggulingkan lebih baik gak usah ditanggapi karena itu hanya akan membesarkan

  “Si Itu”. Yah makanya janganlah kamu mengerjakan dirimu dengan menanggapi hal seperti itu.

  Ronald Jadi benar kalo Pak Presiden itu diam? Benar ya?

  Budiman Yah bagi saya harus seperti itu, biarlah orang lain saja yang menjawab, Departemen Menkopolhukam, juru bicaranya, gak perlu dianggap.

  Jossy Berarti memang dianggap tidak terlalu signifikan dan berbahaya berarti ya ancaman itu. Budiman Gini

  … politik itu gina ya Jossy. Politik ini seringkali besar karena persepsi, jadi ketika kamu dibicarakan terus menerus, diprosesnya besar itu benar- benar

  …sudah jadi besar…dan itu riil begitu ya. Karena dalam waktu itu kan soal pemberitaan, ekspos jadi sebenarnya kelompok yang tidak signifikan bisa dianggap signifikan juga disitu. Nah karena itu menurut saya, lebih baik yang paling mungkin adalah itu tidak usah ditanggapi soal penggulingan itu, segala macam karena bagi saya hal-hal seperti itu justru akan memprovokasi setiap orang untuk berfikir kemungkinan menjatuhkan pemerintahan ditengah jalan secara tidak konstitusional, walaupun saya berasal dari partai oposisi sebisa mungkin bertahannya sampai 2014, kalo memang tidak melakukan pelanggaran terhadap konstitusi. Meskipun kami sudah mencium juga bahwa dalam beberapa peristiwa pemerintah ini, Presiden melakukan pengabaian terhadap hak-hak konstitusi rakyat. Kebebesan untuk berserikat, bukanya dilarang oleh pemerintah tapi membiarkan pelanggaran dan itu sudah lama dan bukan Cuma sekali dan ini yang menjadi permasalahan kita. Ini yang menjadi perhatian kita semua karena itu bagi saya pemerintah bisa dianggap bisa melakukan pelanggaran karena dianggap melakukan pembiaran sperti itu. Raditya

  Tapi balik lagi nih ke pemerintah, yang kayaknya lambat banget deh … saya geram banget sama Presiden kita itu kayaknya gak taktis gitu. Aku sih ngelihatnya kayak ada semacam ketakutan gitu ya terutama kepada Presiden dan Pemerintah, kepada ormas- ormas atau orang Islam gitu loh maksudnya. Budiman Jangan sebut orang Islamnya, karena orang Islam juga banyak mendukung

  Pak SBY Raditya Atau ormas Islam atau kelompok- kelompok inilah

  … ada apa sebenarnya gitu mas? Budiman Begini, kalo itu panjang ceritanya, kalo saya mengatakannya bahwa Presiden

  Pak SBY punya segala hal, punya segala syarat menjadi Presiden yang baik. Kecuali satu kemampuan untuk secara tepat dan cepat untuk mengambil keputusan dan mengambil garis sikap. Ini yang kadang kala ketika garis sikap tegas itu diambil, kadang-kadang sudah begitu terlambat. Nah ini jadi permasalahan. Karena itu menurut saya, untuk ke depan karena saya melihat gejala atau fenomena bahwa hal ini akan terjadi terus menerus, karena di Indonesia ini kerusuhan itu sudah lama sebenarnya menjadi modus untuk menciptakan destabilisasi. Terutama kerusuhan horizontal, kerusuhan antara kelompok etnis maupun kelompok agama.

  Raditya Untuk apa destabilisasi itu? Budiman

  Terserah kalo ada seorang politisi atau seorang pengusaha yang sering disorot pajak.. Ronald Tadi kan ada anggapan klo Pak Presiden itu agak-agak lambat ya

  … agak-agak lambat mengambil sikap gitu kan? Terus yang ini bilang ingin menggulingkan kalo aku mah … jangan digulingkan biar cepat didorong

  Panji Didorong? Didorong itu gimana maksudnya? Ronald Yah

  …didorong biar cepat, maksudnya gua mah … gua gak takut kalo ngomong gitu ji

  Panji Oh … kenapa?

  Ronald Yang ngomong digulingkan aja belum diproses sampai sekarang …

  Panji Jadi gua itu takutnya mahasiswa ini seperti ini

  … maju demo, lo kalo demo tulus Raditya Gua gak akan membiarkan kalo pemerintahan tetap lambat sampai sekarang, gua akan maju karena mahasiswa itu tulus demonya dari hati. Pokoknya kalo pemerintah masih sama seperti sekarang, jangan salahkan aku dan teman-teman turun ke jalan karena ini pembela rakyat!

  Jossy Jangan ngaku-ngaku pembela rakyatnya entar kayak ormas yang dia bilang lagi

  … bilang-bilang pembela agam padahal yang dibela … gak tau juga…

  Gambar 1.Tabel Pengalihan Isu

  Gambar 2. Dramatisasi Film 300

BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan

  1. Provocative Proactive memaknai, memahami, dan membingkai berita kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang berkaitan dengan isu agama. Dan kasus kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiya ini ada sebuah pengalihan isu yang dilakukan oleh pihak-pihak yang sedang disorot media. Dan FPI sebagai pelaku kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah ini adalah sebuah ormas Islam yang tidak mempunyai agenda gerakan Islam, tapi mereka adalah sebuah ormas yang pergerakannya berdasarkan order. Jadi ada pihak yang sedang disorot media dan dia tidak suka dan tidak senang disorot media, lalu untuk mengalihkan isu dia menyewa FPI. Ketidaktegasan pemerintah dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini mendukung masalah ini panjang dan berkelanjutan. Dan masyarakat Indonesia yang mudah teralih perhatiannya dan mudah tersulut isu yang belum pasti faktanya semakin memperkuat pengalihan isu ini berhasil.

  2. Provocative Proactive memposisikan diri dalam mengkonstruksi berita kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah sebagai pihak yang mengkritisi kinerja pemerintah dalam mengatasi masalah Ahmadiya ini. Ideologi yang coba disampaikan atau ditanamkan adalah bahwa ketidaktegasan pemerintah sebgai akar masalah kasus ini. Dan malah akhirnya kasus ini menjadi pengalihan isu. Provocative Proactive memperkuat berita kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai pengalihan isu mereka menampilkan tabel pengalihan isu. Dalam tayangan mereka menampilkan bintang tamu atau nara sumber Ulil Abshar (KDRT I) seorang tokoh Islam Liberal Indonesia dan Budiman Sujadniko (KDRT II) anggota DPR Komisi I dari partai PDI Pejuangan.

V.II. Saran

  1. Provocative Proactive sebagai tayangan talk show yang mempunyai segmen penontonnya pemuda haruslah lebih kreatif mengemas tayangan ini supaya pemuda lebih tertarik dan terprovokasi untuk memikirkan dan memperhatikan masalah Negara Indonesia

  2. Provocative Proactive seharusnya lebih banyak memberi saran-saran yang membangun dalam mengahadapi masalah perbedaan yang seringnya pemuda sering terprovokasi dengan masalah ini

  3. Provocative Proactive seharusnya lebih banyak menampilakan bukti-bukti fakta yang bisa memperkuat argumen dan pendapat yang ada dalam tayangan ini

  4. Provocative Proactive juga harusnya bisa mengundang tamu dari pihak yang pro dan kontra, supaya lebih jelas dalam pemaparan berita yang sebenarnya terjadi.

DAFTAR PUSATAKA

  Ardianto,Elvinaro,dkk. 2004.Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan

Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Cangara,Hafied. 2006.Pengantar Ilmu Komunikasi.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Effendy,Onong Uchjana. 1993.Ilmu, Teori dan Filsafat komunikasi.Bandung: PT.

  Citra Aditya Bakti.. Effendy,Onong Uchjana. 2005.Ilmu Komunikasi.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

  Eriyanto, 2002.Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media.

  Yogyakarta:LKiS Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa : Sebuah

  

Studi Critical Discourse Analisys Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta:

Granit.

  Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nawawi, Hadari. 1995. Metode Penelitian Bidang Ilmu Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada Press Mada Press. Nurudin. 2003. Komunikasi Massa.Malang: Cespur. Purba, Amir.dkk. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi.Medan:Pustaka Bangsa Press. Rakhmat, Jalaludin.2004.Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja

  Rosda Karya Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendy. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta:LP3ES. Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media :Suatu Pengantar untuk Analsisis

  Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

  West, Richard. 2010. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika. Sumber lain : Majalah Dictum, Vol I. No.2 September 2007

  http://media indonesia.com diakses tanggal 14 Maret 2011

  w.metrotvnews.com/read/newsprograms/2011/02/10/8209/449/Kekerasa n-di-Republik-Tercinta-diakses tanggal 14 Maret 2011 http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2011/02/17/8265/449/Kekerasa n-di-Republik-Tercinta-Jilid-II-diakses tanggal 14 Maret 2011 http://id.shvoong.com/sosial-sciences/1877099-definisi-komunikasi-massa/ http://www.alislam.org/indonesia/latar.html-diakses tanggal29 maret 2011

  DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Jl. Dr. Sofyan No. 1 Telp. (061) 8217168 LEMBAR CATATAN BIMBINGAN SKRIPSI NAMA : Kris Ahasyweros L NIM :060904034 PEMBIMBING : Syarifuddin Pohan, M.Si, Ph.D

  No Tanggal Pertemuan Pembahasan Paraf Pembimbing

  10 Januari 2011 Pergantian Judul

  1

  07 Februari 2011

2 Acc Pergantian Judul dan

  BAB I

  24 Maret 2011 Acc Seminar (BAB I)

  3

  26 Maret 2011 Seminar Proposal

  4

  5

  06 April 2011

  BAB II

  6

  30 Mei 2011

  BAB III

  06 Juli 2011

  BAB IV dan BAB V

  7

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jem..

Gratis

Feedback