Feedback

Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)

Informasi dokumen
KONSTRUKSI PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAT AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan Sarjana (S-1) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik DiajukanOleh : Kris Ahasyweros L 060904034 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : NAMA : KRIS AHASYWEROS L NIM DEPARTEMEN JUDUL : 060904034 : ILMU KOMUNIKASI : KONSTRUKSI PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAT AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV) Dosen Pembimbing Medan, 06 Juli 2011 Ketua Departemen Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D NIP. Dra. Fatma Wardi Lubis, MA NIP. 196208281987012001 Dekan, Prof. Dr. Badaruddin, M.Si NIP. 1968052519992031002 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Berita Dalam Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan melihat posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita, yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah. Subjek penelitian ini hanya mengambil subjek penelitian yang relevan dengan penelitian, yaitu Provocative Proactive episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011. Pemberitaan tersebut dianalisis menggunakan metode analisis framing Robert Entman.Dalam pengamatan Entman, framing berada dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu: Definisi masalah (DefiningProblems), Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes), Membuat keputusan moral (Make Moral Judgement/Evaluation), Menekankan penyelesaian (TreatmentRecommendation), Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang terkait dengan isu agama dan sebuah pengalihan isu.Di sini juga dapat dilihat posisi Provocative Proactive mengkritisi kinerja Pemerintah khususnya Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi masalah Ahmadiyah. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi merekayang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8 : 28) Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat kasih karunia-Nya yang senantiasa memberikan kesehatan dan semangat kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kepada kedua orang tua penulis, Drs. Ramli Lubis dan Mince Tampubolon yang senantiasa mendoakan, memberikan dukungan dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kakak ku Kristyanti Lubis, adik ku Kris Fiska Julita Lubis dan my lovely Erawati Tampubolon yang selalu memberikan dukungan kepada penulis. Skripsi ini berjudul Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah pada Tayangan Provocative Proactive, dibuat sebagai salah satu persyaratan kelulusan dan perolehan gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bimbingan, nasehat serta dukungan dari berbagai pihak. Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 2. Ibu Dra. Fatma Wardi Lubis, MA, dan Ibu Dra. Dayana, M.Si, selaku Ketua dan sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D, selaku dosen pembimbing penulis, yang sangat banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Mulai dari meluangkan waktu, memberikan sarandan kritik berharga dan berkenan berdiskusi dengan penulis 4. Bapak Drs. Humaizi, MA. selaku dosen wali yang telah membimbing penulis selama menjalani masa studi sebaga mahasiswa FISIP USU. 5. Seluruh Staf Dosen dan Adiministrasi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, yang telah memberikan pendidikan pelajaran, bimbingan serta bantuan lainnya pada penulis dari semester awal hingga menamatkan perkuliahan. 6. Erawati Tampubolon, yang telah memberikan waktu,perhatian, pikiran serta dukungan yang sebesar-besarnya kepada penulis sampai skripsi ini dapat selesai. 7. Teman-teman penulis di “LANTAI 3 PHOTOGRAPHY” Edward Sibuea, Pangeran Hutapea, Ikram Angkat, dan Johannes Ginting. 8. Teman-teman penulis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , terkhusus kepada Ryan Juskal, Bayu Juliandra, Ade Ardianta, Pradani Savitri, Yahdi Gufron, dan seluruh keluarga besar New Magacine (adik-adik Komunikasi 2010). Universitas Sumatera Utara 9. Teman-teman penulis stambuk 2006 yang telah lebih dahulu lulus Andi Simatupang, Nelvita, Erinstella, Mey, Imaniuri, Efron, dan seluruh temanteman yang tidak dapat disebutkan. 10. Teman-teman penulis di Guru Sekolah Minggu dan Naposobulung HKBP Tanjung Sari. 11. Keluarga Besar Yayasan Pekabaran Injil “EE” Base Clinic Medan. 12. Keluarga besar “SendalJepit” 13. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan. Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, masih terdapat kekurangan Oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kedepannya bagi penulis. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi seluruh pihak yang membacanya. Medan, Juli 2011 Penulis, Kris Ahasyweros Lubis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Abstraksi Kata Pengantar .i Daftar Isi . .v Daftar Tabel .vii BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah 1 I.2. Perumusan Masalah . .6 I.3. Pembatasan Masalah . .7 I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian I.4.1. Tujuan Penelitian . .7 I.4.2. Manfaat Penelitian .7 I.5. Kerangka Teori I.5.1. Komunikasi .8 I.5.2. Komunikasi Massa .9 I.5.3. Paradigma Konstruktivisme .10 I.5.4. Analisis Framing . . .11 I.6. Kerangka Konsep . .12 I.7. Operasional Konsep . .13 I.8. Metodologi Penelitian . . .15 I.9. Defenisi Operasional . .19 I.10. Hipotesis .23 BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi . .19 II.1.1. Proses Komunikasi .21 II.1.2. Ruang Lingkup Komunikasi .22 II.1.3. Tujuan Komunikasi .24 II.1.4. Fungsi Komunikasi .25 II.2. Komunikasi Massa .25 II.2.1. Ciri-ciri Komunikasi Massa .26 II.2.2. Fungsi Komunikasi Massa .28 II.3. Teori Dramatisme , .29 II.4. Paradigma Konstruktivisme. .34 II.5. Analisis Framing . .41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Deskripsi Objek Penelitian. . .46 III.1.1. Sejarah dan Profil Singkat Metro TV .46 III.1.2. Visi dan Misi Metro TV .47 III.1.3. Profil Singkat Tayangan Provocative Proactive .48 III.2. Subjek Penelitian . . .50 III.3. Teknik Pengumpulan Data. . .50 Universitas Sumatera Utara III.4. Teknik Analisis Data 51 BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah 53 IV.2. Pembahasan IV.2.1. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) .54 IV.2.2. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) 61 BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan . .98 V.2. Saran . .99 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Tabel 1 : Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I Tabel 2 :Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II Tabel 3 : Frame Isi Pemberitaan Gambar 1 : Tabel Pengalihan Isu Gambar 2 : Dramatisasi Film 300 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Berita Dalam Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan melihat posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita, yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah. Subjek penelitian ini hanya mengambil subjek penelitian yang relevan dengan penelitian, yaitu Provocative Proactive episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011. Pemberitaan tersebut dianalisis menggunakan metode analisis framing Robert Entman.Dalam pengamatan Entman, framing berada dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu: Definisi masalah (DefiningProblems), Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes), Membuat keputusan moral (Make Moral Judgement/Evaluation), Menekankan penyelesaian (TreatmentRecommendation), Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang terkait dengan isu agama dan sebuah pengalihan isu.Di sini juga dapat dilihat posisi Provocative Proactive mengkritisi kinerja Pemerintah khususnya Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi masalah Ahmadiyah. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG MASALAH Fenomena keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang menarik dan unik.Dengan keberagaman suku dan budaya para pahlawan Indonesia telah mempersatukan Indonesia di bawah Bendera Merah Putih.Di negeri ini juga hidup dan berkembang berbagai agama.Salah satunya adalah agama Islam yang berkembang merata di seantero nusantara sebagai anutan mayoritas rakyat Indonesia.Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tapi tetap satu jua, Indonesia berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia selama 65 tahun dan sebentar lagi akan menuju 66 tahun. Sebenarnya ini suatu kebanggaan bagi kita rakyat Indonesia yang selama ini bisa bersatu walaupun dengan keberagaman yang seperti ini.Tapi sekarang tampaknya kebhinekaan kita sudah mulai pudar dengan banyaknya terjadi kasus kekerasan yang disebabkan keragaman tersebut. Keberagaman yang seharusnya dulu kita banggakan sekarang malah menjadi faktor pemecah persatuan Negara Republik Indonesia.Dan kasus ini sudah banyak terjadi di Indonesia, apalagi kasus kekerasan yang deisebabkan perbedaan agama.Keberagaman itu menjadi hal yang sangat sensitif bagi rakyat Indonesia.Dan sekarang yang baru-baru ini terjadi adalah kasus kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah. Muculnya aliran-aliran yang mengakui atau membawa nama agama islam, sudah lama merebak dikalangan masyarakat. Dan aliran-aliran itu sangat Universitas Sumatera Utara meresahkan masyarakat.seperti yang lagi hangat diperbincangkan saat ini yaitu, aliran ahmadiyah yang membawa nama agama islam. Tetapi aliran ini sudah melenceng dari ajaran islam, aliran ini tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir tetapi memunculkan nama Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi terakhir. Dengan begitu banyak pihak yang menginginkan Ahmadiyah segera dibubarkan. Dan untuk mengatasi ini pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri, yang yang isinya termasuk melarang jemaah ahamadiyah Indonesia agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Selain itu dalam SKB 3 Menteri ini juga melarang semua warga negara melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut jemaat ahmadiyah. Tetapi sepertinya hal ini masih belum membuat puas berbagai ormas agama.Dan pada tanggal 6 Februari 2011 terjadi kerusuhan di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.Dimana pada kerusuhan ini warga menyerbu rumah milik jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang. Menurut saksi salah seorang warga Cikeusik, aktivitas jamaah Ahmadiyah di kampung itu sudah berlangsung sekitar 3 bulan terakhir.Jumlah pengikutnya semakin hari semakin bertambah, terakhir jumlah pengikut Ahmadiyah ditaksir mencapai 60-an orang.Para jamaah Ahmadiyah tersebut sering terlihat berkumpul di kediaman Suparman, sebagai pimpinan untuk wilayah Cikeusik.Sementara itu, tokoh masyarakat Cikeusik, mengatakan keberadaan Suparman dan pengikutnya sudah sangat meresahkan warga.Bahkan beberapa kali tokoh masyarakat, ulama, dan jajaran pengurus MUI setempat telah memperingatkan Suparman.Namun setiap kesepakatan selalu dilanggar dan diingkari. Dan hal inilah yang menjadi Universitas Sumatera Utara pemicu kemarahan warga, sehingga pada Minggu pagi sekitar seribuan warga dari berbagai daerah, di antaranya berasal dari Kecamatan Cibaliung, Cikeusik, Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, mendatangi rumah Parman. Saat massa tiba, puluhan Jamaah Ahmadiyah yang berada di rumah Parman sudan siap dan mereka membawa berbagai jenis senjata tajam, seperti samurai, parang, dan tombak. Dan akhirnya pecahlah kerusuhan berdarah ini yang mengakibatkan sekitar 3 orang tewas dan 5 luka-luka. Dan kasus ini sampai sekarang masih dalam tahap proses penyelidikan. Peristiwa kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiyah ini mendapat perhatian dari berbagai media massa, terutama media televisi. Dan Metro TV sebagai stasiun TV swasta yang memfokuskan pada berita perkembangan politik dan ekonomi juga memberitakan peristiwa ini.Hampir seluruh tayangan yang mereka sajikan, merupakan koreksi terhadap lembaga pemerintahan.MetroTV lebih mengutamakan tayangan yang mendidik dibandingkan hiburan. Walaupun mereka tidak melupakan fungsi media massa dalam member hiburan. Karena itu Metro TV menggabungkan fungsi edukasi, politik dan hiburan dalam satu tayangan talk show, salah satu contohnya adalah Tayangan Provocative Proactive.Dan peristiwa kekerasan yang terjadi pada jemaah Ahmadiyah diangkat menjadi topik atau tema dalam tayangan ini. Tayangan Provocative Proactive semula terkesan seperti acara televisipada umumnya, namun konsep yang dibuat oleh MetroTV membuat tayangan ini berbeda dan jauh lebih menarik. Dalam tayangan ini akan membahas berita dan kabar terpanas dalam 1 minggu dalam gaya yang agak berbeda.Tayangan ini sebenarnya mempunyai visi dan misi kepada penontonnya adalah “Yang Tidak Universitas Sumatera Utara Tahu Menjadi Tahu, Yang Tidak Peduli Menjadi Peduli”. Tayangan Provocative Proactive dibawakan oleh 5 orang host yang memerankan perannya masingmasing. Host utama adalah Pandji Pragiwaksono yang memerankan seorang pegawai kantoran, kedua Ronal Suradpradja yang memerankan sebagai rakyat jelata, ketiga Raditya Dika yang memerankan seorang mahasiswa kristis, keempat J-Flow yang memerankan seorang pengusaha muda sukses dan terakhir Andhari yang memerankan penjaga warung kopi. Ada konsep yang berbeda dari tayangan ini dimana ada 2 pembagian segmen dalam tayangan ini.Dimana segmen pertama adalah segmen berita, Pandji sebagai host utama membacakan berita yang sedang panas di dalam satu minggu.Dan pada segmen kedua sebuah talk show yang dinamakan “Warung Kopi”. Warung kopi termasuk dalam salah satu budaya Indonesia dimana kita bisa bersosialisasi dengan orang lain dan mengobrol bebas. Dan satu hal filosofi yang menarik dari warung kopi adalah semua orang sama dan semua orang bisa membahas apa saja. Dan seperti itu lah yang diangkat dalam tayangan Provoctive Proactive dalam segmen Warung Kopi.Dimana para perangkat acara bebas membahas dan mengkritisi berita atau peristiwa yang sedang panas dalam satu minggu.Tayanganini tidak memberi kesimpulan dan solusi. Tetapi semua hal itu, dikembalikan kepada penonton. Fungsi kami adalah memberi fakta dan sudut pandang (Pandji Pragiwaksono).Satu kelebihan yang dimiliki acara ini adalah keberanian para host mengkritisi dengan sangat tajam dan dibalut dengan komedikomedi segar. Dan hal itu dibuktikan dengan prestasi yang ditoreh mereka ketika tayangan perdana sudah bisa menjadi dikirim oleh getekeepers (MA, MB, MC). Keputusan penjaga gawang mengenai informasi mana yang harus dipilih dan ditolak dipengaruhi oleh banyak variabel. Bittner (1985) dalam Tubbs (2005: 204-205) mengidentifikasikan variabel-variabel berikut. Pertama, ekonomi. Kebanyakan media massa di negeri ini mencari keuntungan, atau sangat peduli dengan bagaimana uang diperoleh dan dibelanjakan. Maka, para pemasang iklan, sponsor dan kontributor dapat mempengaruhi seleksi berita dan editorial. Kedua, pembatasan legal. Yang dimaksud dengan pembatasan legal adalah semacam hukum atau peraturan baik yang bersifat lokal maupun nasional yang dapat mempengaruhi seleksi dan penyajian berita. Contohnya seperti peraturan tentang film yang dikategorikan untuk orang dewasa di televisi harus ditayangkan pada jam-jam tertentu, hukum mengenai pencemaran nama baik dan sebagainya. Ketiga, batas waktu (deadline). Batas waktu juga mempengaruhi kedalaman dan waktu yang tersedia untuk menentukan kecermatan berita yang dipilih. Batas waktu juga mempengaruhi apa yang akan disiarkan. Bila hanya sedikit waktu yang tersedia, penjaga gawang membuat pilihan-pilihan mengenai tingkat pentingnya berita. Bila penjaga gawang harus memilih antara dua berita yang bernilai sama, biasanya berita yang dilengkapi vidio-lah yang terpilih. Keempat, etika pribadi dan profesional penjaga gawang juga mempengaruhi berita yang akan dipilih. Etika pribadi dan tingkat kesadaran penjaga gawang akan kepercayaannya sendiri akan mempegaruhi apakah kesukaan dan ketidaksukaan, sikap dan minatnya yang akan Universitas Sumatera Utara mempengaruhi seleksi berita, Misalnya, seorang kolumnis keuangan dapat mempengaruhi saham suatu perusahaan lewat tulisannya dan memperbolehkan teman-temannya memperoleh informasi dalam pracetak tulisan itu. Faktor kelima adalah kompetisi diantara media. Dalam sebuah pasar dengan beberapa sumber, kompetisi demikian cenderung meningkatkan semua tingkat profesionalisme sehingga menjamin penyajian informasi yang lebih objektif. Dipihak lain, suatu kota dengan hanya terdapat sebuah surat kabar biasanya memperoleh satu pandangan redaksi surat kabar. Keenam, nilai berita (intensitas suatu berita dibandingkan dengan berita-berita lainnya yang tersedia) dan lubang berita (jumlah ruang dan waktu yang diperlukan untuk menyajikan berita), harus diseimbangkan. Selain menyeimbangkan kedua hal ini, penjaga gawang harus menilai pandangan-pandangan lokal dan pandangan-pandangan nasional, Misalnya, berapa banyak waktu yang dialokasikan untuk suatu kampanye nasional yang baru untuk mengkonservasi air ketika presiden baru saja menyampaikan pengumuman penting mengenai kebijakan luar negeri. Faktor lain yang mempengaruhi penjaga gawang untuk memilih atau menolak berita adalah reaksi terhadap umpan balik, meskipun umpan balik itu tertunda. Misalnya, bila sebuah kartun politis menyinggung sebuah kelompok etnik, dan kelompok tersebut memiliki wakil yang menulis surat keberatan atau menuntut permohonan maaf terbuka, maka seorang editor majalah mungkin akan berpikir matang sebelum memuat kartun seperti itu lagi. Gatekeeper yang dimaksud antara lain reporter, editor film/surat kabar/buku, manajer pemberitaan, penjaga rubrik, kameramen, sutradara dan lembaga sensor film yang semuanya mempengaruhi bahan-bahan yang akan dikemas dalam sebuah pesan-pesan dari media massa masing-masing. Universitas Sumatera Utara Gatekeeper juga berfungsi untuk menginterpretasikan pesan, menganalisis, menambah data dan mengurangi pesan-pesannya. Intinya, adalah pihak yang ikut menentukan pengemasan sebuah pesan dari media massa, semakin kompleks sistem media yang dipunyai semakin banyak pula gatekeeping (pemalangan pintu atau pentapisan informasi) yang dilakukan. Bahkan bisa dikatan, gatekeeper sangat menentukan berkualitas tidaknya informasi yang akan disebarkan. Baik buruknya dampak pesan yang disebarkan pun tergantung pada fungsi pentapisan informasi atau pemalangan pintu ini (Nurudin, 2004:24). Demikian halnya dengan Majalah Kompas dan Sabili dalam menciptakan berita mengenai Ahmadiyah. Kedua majalah ini pasti memiliki gatekeeper yang menyeleksi informasiinformasi yang telah didapatkan sebelumnya di lapangan. Gatekeepers tersebutlah yang menjadi penentu akhir apakah sebuah fakta layak untuk dijadikan sebuah berita atau tidak. Maka seorang gatekeeper bertanggung jawab penuh terhadap apa yang telah diberikannya. Dalam pola komunikasi tatap muka atau komunikasi kelompok jelas tidak harus dibutuhkan gatekeeper. Tetapi dalam komunikasi massa, hal demikian tidak bisa dihindari. Gatekeeper keberadaannya sama pentingnya dengan peralatan mekanis yang harus dipunyai media dalam komunikasi massa. Oleh karena itu, gatekeeper menjadi keniscayaan keberadaannya dalam media massa dan menjadi salah satu cirinya. Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah hasil pemikiaran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Kerangka konsep dalam penelitian ini menggunakan analisis framing oleh Robert N. Entman. Pendekatan ini menggunakan empat perangkat unit analisis untuk melihat bagaimana sebuah media membingkai suatu masalah: pendefenisian masalah (define problem), memperkirakan sumber masalah (diagnoses causes), membuat keputusan moral (make moral judgement), dan menekankan penyelesaian (treartment recommendation). (Eriyanto, 2011:188-193) 3.2. Operasional Konsep Operasional konsep berguna untuk memudahkan kerangka konsep dalam operasionl: Pendefenisian masalah (define problem): penyerangan Ahmadiyah itu dilihat sebagai apa. Memperkirakan sumber masalah (diagnoses causes): siapa yang menyebabkan penyerangan itu terjadi, dan pernyerangan itu disebabkan oleh apa. Membuat keputusan moral (make moral judgement): nilai moral apa yang disajikan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menekankan penyelesaian (treartment recommendation): jalan yang ditawarkan untuk mengatasi masalah jamaah Ahmadiyah itu. Universitas Sumatera Utara 3.3. Deskripsi Subjek Penelitian 3.3.1. Sejarah Majalah Tempo Majalah Tempo mulai terbit pada tanggal 6 Maret 1971. Goenawan Muhammad, Fikri Jufri dan Christianto Wibisono adalah beberapa orang dari wartawan yang memotori terbitnya Tempo untuk pertama kali. Sebelumnya mereka tergabung sebagai wartawan di majalah Ekspress yang terbit tahun 1969. Penerbitan ini berawal dari keinginan wartawan ini untuk membuat sebuah majalah dengan gaya jurnalistik yang berbeda. Tempo muncul pertama kali dengan sampul pebulutangkis Minarni yang tengah beraksi di Asian Games Bangkok. Tampilan sampul terbitan perdana ini masih hitam putih yang dibagi secara gratis. Setelah itu edisi kedua Tempo mulai dijual kepada khalayak. Sepanjang tahun 1971, penjualan Tempo mampu mencapai sepuluh ribu eksemplar. Hal ini dikarenakan gaya penulisan majalah Tempo yang berbeda dengan majalah lain, dan para wartawan yang mengolahnya memang sudah berpengalaman. Alasan pemberian nama Tempo untuk majalah ini disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, kata Tempo itu sendiri mudah diucapkan oleh lidah orang Indonesia. Kedua, nama ini dinilai cukup netral. Dan ketiga, kata Tempo bisa juga diartikan waktu, sebuah pengertian yang dengan segala variasinya banyak digunakan oleh penerbitan jurnalistik di seluruh dunia. Namun demikian, penggunaan kata Tempo yang juga dimaknai sebagai waktu ini pulalah yang agaknya membuat majalah Time yang didirikan Hendry Luce melakukan guatan terhadap majalah Tempo pada tahun 1973. Majalah Time saat itu menganggap majalah Tempo telah meniru bentuk dan gaya penerbitannya. Namun, tuntutan hukum ini pada akhirnya dibatalkan pihak majalah Time Universitas Sumatera Utara sendiri dengan alasan gugatan itu dilakukan tanpa seizin Time Inc. Memang bentuk dan kemasan serta rubrik yang ada di Tempo mirip dengan Time. Tempo sangat berani mengangkat isu-isu yang kontroversial yang pada masa orde baru merupakan hal yang tabu untuk diberitakan. Sepanjang terbitnya Tempo telah membuktikan ketahanannya dalam berbagai masa dan rezim yang berkuasa, dan tetap eksis di tengah tantangan dan ancaman yang datang. Tempo sempat dibredel pada tahun 1982 dan terulang lagi pada tahun 1994. Akibat pembredalan yang kedua ini, Tempo vakum terbit selama 4 tahun. Dari awal Tempo memang berkomitmen untuk menyajikan laporan jurnalistik yang bermutu. (Junaedi, 1995:141) Di Indonesia, Tempo merupakan media yang pertama kali membagi saham kepemilikannya pada para wartawannya. Yayasan Jaya Raya yang pertama kali menerbitkan Tempo melepaskan seluruh sahamnya setelah pada tahun 1973 para wartawan pendiri Tempo mendirikan badan hukum bersama, yaitu PT Grafiti Pers yang selanjutnya menerbitkan majalah Tempo. Pada tahun 1976, PT Dian Rakyat yang mencetak majalah Tempo mengalami kebakaran. Akibatnya Tempo harus mencari percetakan sementara. Peristiwa itu mendorong pengelola Tempo untuk mendirikan percetakan sendiri pada tahun 1977, yaitu PT antara pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di MetroTV dan sikap mahasiswa STIK-P. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan rumus Spearman Rho Rank maka diperoleh nilai rho = 0,668. Jika dilihat dalam skala Guilford, angka 0,668 berada pada skala 0,40 – 0,70 hal ini menunjukan Hubungan yang cukup berarti. Untuk melihat sejauhmanakah hubungan antara pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di Metro TV terhadap sikap mahasiswa STIK-P maka digunakan rumus koefisien determinasi. Berdasarkan hasil dari perhitungan koefisien determinasi dalam penelitian ini, diperoleh besarnya hubungan pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di Metro TV terhadap sikap mahasiswa STIK-P adalah sebesar 44%. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) tertarik menonton pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia yang ditayangkan di Metro TV. Namun secara umum, mahasiswa STIK-P tertarik menonton dan mengikuti pemberitaan tersebut dikarenakan mereka peduli terhadap wartawan dan kebanyakan diantara mereka mencintai profesi wartawan jadi membuat mereka ingin mengetahui dan mengikuti pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia dan berharap agar kasus kekerasan terhadap wartawan Indonesia segera terselesaikan. Dengan menonton pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia pengetahuan mereka juga bertambah tentang undangundang pers, kode etik jurnalistik , yang paling penting mereka mengetahui etika pada saat meliput suatu peristiwa apalagi peristiwa yang terjadi di daerah konflik. 2. Sikap merupakan suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan apa yang disukai, tidak disukainya dan apa yang diharapkannya. Hasil penelitian menyatakan bahwa secara umum sikap mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) adalah mereka sangat prihatin terhadap hukum yang ada di negeri ini bahwa seorang wartawan yang dilindungi oleh undang-undang saja tidak mendapatkan keadilan, padahal mereka mempunyai hak dan kewajibann pada saat meliput suatu pemberitaan kenapa selalu saja ada pemberitaan kekerasan yang terjadi terhadap wartawan dan para responden juga mendukung wartawan untuk memberikan mereka ruang dan kebebasan pada saat meliput berita. Beberapa responden juga menyadari bahwa untuk menjadi seorang Universitas Sumatera Utara wartawan itu tidak gampang seperti yang mereka pikirkan sebelumnya, seorang wartawan harus memiliki etika yang baik, tegas dan tidak gentar dalam mencari kebenaran dan informasi yang mereka berikan kepada khalayak harus sesuai dengan kode etik jurnalistik (KEJ), pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di Metro TV membuat beberapa para responden yang nantinya ingin menjadi jurnalis harus memiliki etika yang baik, tegas dan berani. 3. Berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan peneliti, terdapat hubungan antara pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di Metro TV terhadap sikap mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P). dari data yang diperoleh dengan penghitungan korelasi Spearman dari kuesioner yang dibagikan kepada responden, nilai rho = 0,668. Jika dilihat dalam skala Guilford, angka 0,668 berada pada skala 0,40 – 0,70 hal ini menunjukan Hubungan yang cukup berarti. Dengan melakukan uji determinasi, maka diperoleh besarnya hubungan pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di Metro TV terhadap sikap mahasiswa STIK-P adalah sebesar 44%. 5.2 Saran Dalam penelitian ini terdapat beberapa saran yaitu saran responden penelitian, saran dalam kaitan akademis dan saran dalam kaitan praktis a. Saran Responden Penelitian Berdasarkan hasil penelitian ini, responden mengatakan bahwa pemerintah, aparat kepolisian dan TNI harus lebih peduli kepada para wartawan karena wartawan, jurnalis atau pers merupakan pilar keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Para responden juga berharap agar para pelaku kekerasan dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan para responden juga berharap pemerintah mampu menyelesaikan kasus kekerasan ini sampai tuntas, agar tidak ada lagi kekerasan yang terjadi pada wartawan Indonesia. Universitas Sumatera Utara b. Saran Dalam Kaitan Akademis Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmanakah hubungan antara pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia di Metro TV terhadap sikap mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P). peneliti mengharapkan agar penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya, terutama bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian selanjutnya, diharapkan agar peneliti lebih memperbanyak referensi dari buku, literatur dan jurnal, sehingga teori dan informasi yang diperoleh dapat lebih menyempurnakan hasil dari penelitian. c. Saran Dalam Kaitan Praktis Televisi merupakan salah satu bentuk media massa yang sering dijadikan masyarakat sebagai sumber informasi. Oleh karena itu televisi harus mampu memberikan informasi yang faktual, akurat dan berkesinambungan. Akan tetapi pemberitaan mengenai kekerasan terhadap wartawan Indonesia kurang diangkat beritanya dan biasanya pemberitaan tersebut hilang dan tidak berkelanjutan. Sedangkan para khalayak ingin mengetahui kelanjutan dari pemberitaan tersebut. Dengan demikian peneliti ingin memberikan saran kepada pihak Metro TV agar selalu memberikan informasi terbaru dari kelanjutan kasus kekerasan terhadap wartawan Indonesia dan berharap pemberitaan tersebut terus ditayangkan sampai kasus tersebut selesai, karena pemberitaan kekerasan terhadap wartawan Indonesia, mampu menarik perhatian para khalayak. Universitas Sumatera Utara DAFTAR REFERENSI Arikunto, Suharsimi. (1998). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Bungin, Burhan. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan Publik Serta Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. ______________. (2008). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Cangara, Hafied. (2006). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Cutlip, Scoot M. & Allen H. Center. (2007). Effective Public Relations. (Tri Wibowo, B.S. Penerjemah). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Dayakisni, Tri & Hudaniah. (2003). Psikologi Sosial. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Kuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Isi Media Televisi. Jakarta: Rineka Cipta. Mondry, M.Sos. (2008). Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor: Ghalia Indonesia. Morissan, M.A. (2008). Jurnalistik Televisi Mutakhir. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. __________. (2010). Teori Komunikasi Massa: Media, Budaya dan Masyarakat. Bogor: Ghalia Indonesia. Nurudin. (2011). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Olii, Helena. (2007). Opini Publik. Jakarta: PT Indeks. Rakhmat, Jalaludin. (2007). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Singarimbun, Masri & Sofian Effendi. (2008). Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Usman, Ks. (2009). Television and Writing. Bogor: Ghalia Indonesia. West, Richard & Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. (Maria Natalia Damayanti Maer. Penerjemah). Jakarta: Salemba Humanika. Universitas Sumatera Utara Sumber Lain: Arsip tata usaha Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Internet: http://id.wikipedia.org/wiki/metrotv diakses pada tanggal 10 Desember 2012 http://ajiindonesia.or.id/read/article/press-release/168/catatan-akhir-tahun-2012aji-indonesia.html diakses pada tanggal 23 Januari 2013 http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/05/31/152090/Video-Anggota-TNIMemukul-Wartawan-di-Bukit-Lampu/1 diakses pada tanggal 28 Februari 2013 http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/10/31/163110/AJI -Desak-Ka susKekerasan-Wartawan-Dituntaskan/6 diakses pada tanggal 09 November 2012 http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/10/16/161870/TNI-MintaMaaf-atas-Tragedi-Pemukulan-Wartawan/6 diakses pada tanggal 28 Februari 2013 http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/13/166340/Marinir Pemukul-Wartawan-Disidangkan/6 diakses pada tanggal 28 Februari 2013 http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/03/28/148050/Wartawan-TuntutDewan-Pers-Usut-Kasus-Perampasan-Kaset-Liputan/6 diakses pada tanggal 28 Februari 2013 Universitas Sumatera Utara
Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV) Analisis Framing TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Tujuan Penelitian ANALISIS FRAMING URAIAN TEORITIS Ciri-ciri Komunikasi massa KOMUNIKASI MASSA FRAME PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAH AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE PEMBAHASAN Komunikasi Massa Paradigma Konstruktivisme LATAR BELAKANG MASALAH PENDAHULUAN Manfaat Penelitian Komunikasi TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Tujuan Penelitian Proses Komunikasi Ruang Lingkup Komunikasi TEORI DRAMATISME URAIAN TEORITIS Uraian Teoritis Metodologi Penelitian Pembahasan BAB V Penutup METODOLOGI PENELITIAN
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)

Gratis