Tinjauan hukum Islam terhadap hak-hak penerima suaka politik dalam hukum Internasional

Gratis

11
70
88
2 years ago
Preview
Full text
SKRIPSI TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HAK-HAK PENERIMA SUAKA POLITIK DALAM HUKUM INTERNASIONAL Oleh: LISA PERMATA SARI 107045202510 KONSENTRASI KETATANEGARAAN ISLAM PRODI JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M / 1432 H I I TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HAK.HAK PENERIMA SUAKA POLJTIK DALAM HUKUM INTERNASIONAL SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syari'ah (S.Sy) Oleh: Lisa Permata Sari NrM. 107045202510 Dibawah Bimbingan Pembimbing #As&ffi,Prof. Dr. Masvkuri Abdillah NIP: 150240084 KONSENTRASI KETATAIYEGARAAN ISLAM PROGRAM STUDI JINAYAH SIYASAH FAKULTAS SYARHH DAN HUKUM t]IN SYARIF HIDAYATIJLLAII ;ATANTA t432W 2011 M _- a \ PENGESAHAN PAIIITIA UJIAN skripsi berjudul TINJAUAN HUKUM rsLAM TERHADAP IIAK-HAK PENERIMA SUAKA POLITIK DALAM HUKUM INTERNASIONAL telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (tiIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 20 September 201l. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.Sy) pada Program Studi Jinayah Siyasah Jakarta, 20 September 2011 Mengesahkan, Dekan F Prof Dr ii. Muhammad Amin Suma NIP. 19550505 198203 1012 PANITIA UJIAN 1. Ketua 2. Sekretaris 3. Pembimbing 4. Dr. Asmawi. M.Ap NIP. 197?1010199703 1008 Afivan Faizin. M.Ag NIP. 1972 10262003 12 1001 Prof. Dr. Masykuri Abdillah NIP Penguji I 5. Penguji II 150240084 Prof Dr. H. Yunasril Ali. MA NIP Syariah dan Hukum 150223823 Afwan Faizin. M,Ag NIP. 197210262003 121001 SII MA, MM KATA PENGANTAR     Penulis memanjatkan Puji Syukur ke hadirat ALLAH SWT yang telah memberikan kelancaran dan kekuatan lahir dan batin kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Rahmat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah saw yang telah berjuang dan berkorban untuk menyampaikan agama Islam kepada umat manusia. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM., selaku Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak Dr. Asmawi, M.Ag, Ketua Program Studi Jinayah dan Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Dosen Pembimbing yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini. 4. Bapak Afwan Faizin, M.Ag, Sekertaris Program Studi Jinayah dan Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum, yang telah banyak membantu penulis, dalam penyelesaian skripsi ini. i 5. Seluruh Staf Pengajar Pada Fakultas Syari’ah dan Hukum yang telah menyampaikan ilmu dan nasehat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 6. Kedua orang tua, yang telah banyak memberikan nasehat, sehingga penulis bias optimis untuk menyelesaikannya. 7. Saudara-saudara dan teman-teman tercinta, serta Yulianda Rahmat Hidayat yang telah banyak membantu penulis dan memotivasi penulis, sehingga skripsi ini bias di selesaikan, serta semua pihak yang telah membantu hingga skripsi ini dapat penulis selesaikan. Untuk itu semua, penulis tidak dapat membalas jasa dan budi mereka dengan apa-apa kecuali hanya mengucapkan : “Semoga Allah swt membalas seluruh kebaikan mereka dengan balasan yang sebesar-besarnya.” Akhir kata, penulis mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan skripsi ini. Sebab penulis sadar dan yakin, skripsi ini masih jauh dari sempurna.Namun sebagai bacaan, mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya para pembaca pada umumnya. Jakarta, 18 september 2011 penulis ii DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI KATA PENGANTAR . I DAFTAR ISI. iii BAB I PENDAHULUAN . 1 A. B. C. D. E. F. BAB II PENGERTIAN SUAKA POLITIK MENURUT HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM ISLAM, DAN BENTUKBENTUKNYA . 17 A. B. C. D. BAB III Latar Belakang Masalah . 1 Pembatasan dan Perumusan Masalah . 10 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 11 Metode Penelitian . 12 Tinjauan pustaka . 14 Sisitematika Penulisan . 15 Pengertian Suaka Politik . 17 Bentuk-Bentuk Suaka Politik. 21 Suaka Politik Menurut Hukum Internasional . 32 Suaka Politik Menurut Hukum Islam . 36 HAK-HAK PENERIMA SUAKA POLITIK DALAM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM POSITIF . 48 A. Hak-Hak Penerima Suaka Politik Dalam Hukum Internasional . 48 B. Hak-Hak Penerima Suaka Politik Dalam Hukum Positif . 54 iii BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HAK-HAK PENERIMA SUAKA POLITIK . 60 A. Tinjauan Terhadap Hak-Hak Penerima Suaka Politik Dalam Hukum Internasional . 60 B. Tinjauan Terhadap Hak-Hak Penerima Suaka Politik Dalam Hukum Positif . 66 BAB V PENUTUP . 76 A. Kesimpulan . 76 B. Saran-saran . 77 DAFTAR PUSTAKA . 78 LAMPIRAN-LAMPIRAN iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana diketahui Universal Declaration of Human Rights (UDHR) telah ditetapkan sekitar 60 tahun lalu, yakni pada 10 Desember 1948. Meski demikian, baru dalam dua dasawarsa terakhir ini hak-hak asasi manusia (HAM) menjadi issu penting dalam hubungan antar bangsa, yakni sejak runtuhnya sistem sosialisme atau komunisme di Eropa Timur. Hampir seluruh pemerintahan di dunia pada saat ini mengklaim bahwa mereka mendukung sistem demokrasi dan perlindungan terhadap HAM. Namun dalam kenyataannya, kini masih ada kelompok warga di sejumlah negara yang tidak menikmati perlindungan terhadap HAM mereka. Sebaliknya mereka mendapatkan penindasan atau penyiksaan dari penguasa mereka, atau mendapatkan ketidakamanan karena adanya peperangan atau konflik di negera mereka. Mereka pun kemudian mengungsi atau bahkan mencari suaka dari negara lain untuk menghindari penindasan atau untuk memperoleh kehidupan yang aman dan damai.1 Masykuri abdillah, artikel “kontribusi hukum islam bagi solusi atas problematika pencari suaka dan pengungsi di Indonesia”. Makalah disampaikan dalam, Seminar tentang Promosi Pengajaran Hukum Pengungsi Internasional dan Hak Azasi Manusia, diselenggarakan oleh UNHCR dan Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 2 Desember 2010. 1 1 2 Fenomena tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak masa lalu, sehingga dalam pasal 14 UDHR telah disebutkan dengan jelas tentang persoalan pengungsi dan suaka ini, yakni “setiap orang berhak mencari dan menikmati suaka di negeri lain untuk melindungi diri dari penganiayaan”. Hal ini kemudian diperkuat dengan pembentukan United Nations High Commissioner for Refugees Nations (UNHCR) pada tahun 1950. Beberapa bulan kemudian Negara-negara anggota PBB menyetujui konvensi tentang Status Pengungsi (Refugee Convention) tahun 1951 di Jenewa dan kemudian protokol tentang Status Pengungsi tahun 1967. Suaka politik atau asylum adalah perlindungan yang diberikan oleh suatu Negara kepada orang asing yang terlibat pekara atau kejahatan politik dinegara lain atau Negara asal pemohon suaka. Kegiatan politik tersebut biasanya dilakukan karena motif dan tujuan politik atau karna tuntutan hakhak politiknya secara umum. Kejahatan politik ini pun biasanya dilandasi oleh perbedaan pandangan politiknya dengan pemerintah yang berkuasa, bukan karena motif pribadi. Suaka politik merupakan bagian dari hubungan internasional dan diatur dalam hukum internasional atas dasar pertimbangan kemanusiaan. Setiap Negara berhak melindungi orang asing yang meminta suaka politik.2 2 Muhammad iqbal, fiqh siyasah, kontekstualisasi doktrin politik islam, ( Jakarta: Gaya media pratama, 2007),h.265. 3 Suaka politik merupakan gagasan yuridiksi di mana seseorang yang dianiaya untuk opini politik di negerinya sendiri dapat dilindungi oleh pemerintah berdaulat lain, negara asing, atau perlindungan gereja di Abad Pertengahan. Suaka politik merupakan salah satu hak asasi manusia, dan aturan hukum internasional. Seluruh negara yang menerima Konvensi Terkait Status Pengungsi PBB wajib mengizinkan orang yang benar-benar berkualifikasi datang ke negerinya. 3 Suaka merupakan perlindungan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara asing. Normalnya suaka diberikan terhadap warga negara asing yang di negara asalnya mengalami penindasan, ketakutan atau menghadapi kemungkinan akan disiksa karena alasan ras, agama, anggota kelompok minoritas, ideologi atau keyakinan politiknya. Namun, permintaan suaka (politik) ke negara lain hanya dapat dibenarkan jika dilakukan untuk alasan-alasan yang sifatnya politik. Dengan demikian, suaka politik layak diberikan kepada mereka yang meminta perlindungan, dan permintaan tersebut didasari motivasi atau dalam konteks 3 http://id.wikipedia.org/wiki/suaka_politik, di unduh pada hari rabu,9 maret 2011. Jam 16.49 WIB 4 perjuangan politik. Oleh karena itu, permintaan suaka yang didasari oleh motif lain selain karena alasan politik, kiranya pantas dipertanyakan. 4 Di samping itu harus diingat bahwa hak suaka merupakan hak Negara sebagai atribut dari kemerdekaan dan kedaulatan teritorial negara yang bersangkutan. Individu berhak mengajukan permintaan suaka, tetapi permintaan tersebut akan dikabulkan atau ditolak merupakan kewenangan sepenuhnya dari negara yang diminta. Dalam hal ini Islam juga membahas mengenai hak-hak para penerima suaka politik sehingga Islam sangat menghargai eksistensi manusia, sehingga seseorang atau sebuah negara muslim berkewajiban untuk memberi perlindungan kepada orang lain yang minta perlindungan darinya, yang dalam fiqh disebut musta’min atau jiwâr. Ia pun berkewajiban memperlalukan mereka yang mengungsi atau meminta suaka politik (al-lujû’ al-siyâsî) dengan baik dan tanpa diskriminasi, Nabi Muhammad telah mempraktikkan perlindungan semacam ini, yang didasarkan antara lain pada Q.S. surat AtTaubah ayat 6: 4 http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/11/28/0002.html, Diunduh pada hari senin, tanggal 14 maret 2011 Jam 15.48 WIB 5                     “Dan jika seseorang dari kaum musyrik meminta perlindungan kepadamu (untuk memahami Islam), maka berilah perlindungan kepadanya sehingga ia sempat mendengar keterangan-keterangan Allah (tentang hakikat Islam itu), kemudian hantarlah Dia ke mana-mana tempat Yang ia beroleh aman. perintah Yang tersebut ialah kerana mereka itu kaum Yang tidak mengetahui (hakikat Islam).” Nabi Muhmmad berserta para sahabatnya juga pernah menjalani pengungsian ini yang disebut “hijrah” untuk menghindari gangguan dan penindasan orang-orang kafir Mekah. Bahkan hijrah ini menjadi wajib jika seseorang tidak bisa mendapatkan hidup bebas dan sebaliknya mendapatkan penindasan dari pemerintah atau penduduk setempat, terutama kebebasan melaksanakan agama. Perintah hijrah ini disebutkan antara lain dalam Q.S. AN-Nisa’ ayat 97:                                 6 “ Sesungguhnya orang-orang Yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat Dengan berkata: "Apakah Yang kamu telah lakukan mengenai agama kamu?" mereka menjawab: "Kami dahulu adalah orangorang Yang tertindas di bumi". malaikat bertanya lagi: "Tidakkah bumi Allah itu luas, Yang membolehkan kamu berhijrah Dengan bebas padanya?" maka orang-orang Yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” Kedua ayat di atas mengandung pengertian, bahwa jika yang meminta perlindungan atau suaka itu adalah pihak luar (non-Muslim), permintaan ini disebut amân, dan orangnya disebut musta’min. Namun jika yang meminta perlindungan (mengungsi, berpindah) itu orang muslim, pengungsian ini disebut hijrah, dan orangnya disebut muhâjir. Dengan terjadinya perkembangan dunia pada saat ini, kedua bentuk pengungsian tersebut tidak lagi dipergunakan secara resmi. Istilah baru yang dipakai adalah pengungsi (refugee, al-lâji’) dan suaka politik (asylum, al-lujû’ al-siyâsî). Karena motivasi atau latar belakang terjadinya pengungsian atau perpindahan itu 7 sama, yakni ada penindasan, maka hukum fiqh klasik itu bisa dipergunakan untuk hukum pengungsi dan suaka pada saat ini.5 Dalam hubungan internasional suaka politik dapat dibedakan menjadi suaka wilayah (territorial asylum) dan suaka diplomatik (diplomatic asylum). Dalam penyerahan pelarian politik ini, juga terdapat perbedaan antara penyerahan ke dar al-islam dan dar al-harb. Kalau yang memohon ekstradisi adalah Negara islam juga maka ia dapat diserahkan kembali kenegara asalnya. Penyerahan ini tidak memandang apakah pelarian itu muslim atau bukan. Akan tetapi kalau Negara yang memohon adalah dar al-harb, maka pelarian tersebut tidak boleh dikembalikan di dar al-harb. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Al-Qura’an surat Al-Mumtahanah, 60:10 yang melarang umat islam mengembalikan wanita-wanita muslimah yang meminta suaka kepada dar alislam (Negara madinah) ke dar al-harb walaupun mereka memiliki keluarga disana.6 Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka 5 Masykuri abdillah, artikel “kontribusi hukum islam bagi solusi atas problematika pencari suaka dan pengungsi di Indonesia,” Makalah disampaikan dalam, Seminar tentang Promosi Pengajaran Hukum Pengungsi Internasional dan Hak Azasi Manusia, diselenggarakan oleh UNHCR dan Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 6 Muhammad iqbal, fiqh siyasah, kontekstualisasi doktrin politik islam, ( Jakarta: Gaya media pratama, 2007), h.266-267. 8 janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orangorang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir tiada halal pula bagi mereka . (QS. Al-Mumtahanah : 10) Dalam ajaran islam hak-hak yang diberikan kepada umat muslim terkait dengan filosofi hukum islam yang disebut teori maqâshid al-syari’ah, yang mengandung pengertian perlindungan terhadap hal-hal yang bersifat keniscayaan (dharûriyyât), yang menurut Ibn „Asyur meliputi: 7 a) perlindungan terhadap agama (hifzh al-din), b) perlindungan terhadap jiwa (hifzh al-nafs), c) perlindungan terhadap akal (hifzh al-‘aql), d) perlindungan terhadap harta (hafizh al-mal),, e) perlindungan terhadap nasab (hifzh al-nasab), f) perlindungan terhadap kehormatan (hifzh al-‘irdh), Teori maqashid al-syari’ah diatas menunjukan bahwa dalam islam memperhatikan perlindungan bagi individu setiap muslim, hal ini terkait dengan ham yang didalam undang-undangnya juga terdapat hak-hak bagi setiap manusia, begitu pun dengan para pencari suaka mereka berhak mendapatkan hak perlindungan seperti yang terdapat dalam UUD 1945 pasal 28 (G), yakni: “ Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau 7 Fathurrrahman Djamil, filsafat hukum islam, ( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 126. 9 perlakuan yang merendahkan derajat martabat menusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain”. Dalam hal perlindungan terhadap pencari suaka dan pengungsi, Islam memberikan perlindungan bagi setiap kalangan, maupun untuk non-muslim, karna sebagaimana firman Allah SWT, untuk memberikan perlindungan kepada kaum musyrik sehingga ia sempat mendengar keterangan-keterangan Allah (tentang hakikat Islam itu). Hal ini tidak seperti perlindungan yang diberikan melalui hukum internasional, karna menurut hukum internasional pemberian perlindungan tergantung oleh Negara itu sendiri. Sayangnya sampai saat ini secara umum hak-hak para pengungsi dan pencari suaka itu tidak atau kurang terlindungi, baik karena masih ada negaranegara yang belum meratifikasi Konvensi tersebut, tiadanya political will dari pemerintah di sejumlah negara, atau karena masih ada rasisnya atau xenofobia di sejumlah Negara, maka dari itu hak-hak para pencari suaka yang terdapat dalam hukum positif maupun hukum islam terdapat keterkaitannya yaitu memberikan kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP negeri 2 Jember kelas VIII E dengan 31 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes berupa tiga soal PISA konten Space and Shape unit Shape yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Soal PISA dan pendoman penskoran yang digunakan adalah sebagai berikut : AMATI GAMBAR BERIKUT 1. Mana diantara gambar-gambar diatas yang memiliki daerah terluas. Apa alasanmu? 2. Jelaskan cara untuk memperkirakan luas gambar C 3. Jelaskan cara untuk memperkirakan keliling gambar C Pedoman Penskoran: Soal 1 Skor Penuh (1) : Bentuk B, didukung dengan penalaran yang masuk akal. B merupakan daerah terluas karena dua bangun yang lain akan dimuat di dalamnya. B. karena tidak memiliki lekukan di dalamnya yang mengurangi luas daerahnya. Sedangkan A dan C memiliki Gap/celah. B, karena merupakan lingkaran penuh, sedangkan bangun yang lain seperti lingkaran dengan beberapa bagian yang hilang, sehingga mengurangi luasnya. B, karena tidak memiliki daerah terbuka Dll. Tidak ada Skor (0): B, tanpa disertai alasan yang masuk akal Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 2: Skor Penuh (2): Dengan cara yang masuk akal. Menggambar petak-petak yang memuat bangun tersebut dan menghitung petak yang menutupi bangun tersebut. Jika lebih dari setengahnya, maka petak tersebut dihitung satu petak Memotong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatur potongan-potongan tersebut menjadi bentuk persegi/persegi panjang kemudian menhitung sisi-sisinya lalu menentukan luasnya. Membangun bentuk 3D dengan alas berdasarkan bentuk tersebut, dan mengisinya dengan air. Hitung volume air yang digunakan dan kedalaman air pada model. Luas dapat ditentukan dengan volume air dibagi kedalaman air pada model Dengan membagi bangun ke dalam beberapa bentuk bangun datar beraturan. Kemudian dihitung luasnya dan dijumlahkan. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Skor sebagian (1) : Membuat lingkaran yang memuat bentuk tersebut, kemudian mengurangkan luas lingkaran dengan luas diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Namun siswa tidak menyebutkan bagaimana untuk mengetahui luas daerah diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Alasan-alasan lain yang masuk akal, namun kurang detail atau kurang jelas. Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 3: Skor Penuh (1): Dengan cara yang masuk akal. Rentangkan seutas tali pada pinggir bentuk tersebut, kemudian mengukur panjang tali yang digunakan. Potong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, gabungkan bagian-bagian tersebut hingga membentuk garis, lalu tentukan panjangnya. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Sumber : diadaptasi dari Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. Selanjutnya, skor siswa yang didapat akan dimasukkan dan diolah dengan program komputer Ministep (Winstep Rasch) untuk mengestimasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space yang diberikan berdasarkan analisis model Rasch. Soal 1 dan 3 menggunakan penskoran model dikotomus (Benar/Salah), sedangkan soal 2 menggunakan penskoran model politomus (Partial Credit Model). Skor mentah tersebut dikonversi menjadi nilai logit. Semakin tinggi nilai logit siswa dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan kemampuan siswa yang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai logit soal dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan semakin tinggi tingkat kesulitan soal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan skor siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space berbeda-beda Pada tabel 1 menampilkan skor mentah yang diperoleh siswa. Soal 1 mampu dijawab dengan benar oleh 17 siswa, soal 2 terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1, sedangkan soal 3 terdapat 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar Tabel 1. Skor Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten Shape and Space NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 1 01AT 1 0 1 17 17MW 1 0 0 2 02AO 0 0 0 18 18NA 0 0 0 3 03AN 0 0 0 19 19NR 1 0 0 NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 4 04CA 0 0 0 20 20NA 1 2 0 5 05EA 1 0 0 21 21NS 0 0 0 6 06FY 1 1 1 22 22RR 0 0 1 7 07IN 1 1 0 23 23RF 0 0 0 8 08IE 1 0 0 24 24RA 0 0 0 9 09JN 1 1 0 25 25RW 0 0 0 10 10KH 1 1 1 26 26RL 0 0 0 11 11KT 1 0 0 27 27SA 0 0 0 12 12MI 1 1 0 28 28TA 1 2 0 13 13MA 0 0 0 29 29VT 0 0 1 14 14MR 1 1 0 30 30ZN 1 0 0 15 15MR 1 0 0 31 31PA 1 0 0 16 16MS 0 0 0 Selanjutnya skor siswa dengan pemodelan Rasch diolah dengan menggunakan program komputer ministep (Winstep Rasch). Berikut ditampilkan hasil statistic dari analisis model Rasch: Gambar 1. Tampilan Summary Statistics hasil pengolahan data ministep. Tampilan summary statistics diatas memberikan info tentang kualitas responden/siswa secara keseluruhan dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Dari tampilan hasil pengolahan diatas diperoleh Person measure = – 0.10 logit dengan tidak mengikutsertakan Extrem Person (Responden/siswa yang mempuyai skor 0) yang kurang dari logit 0,0. Hal ini menunjukkan kemampuan siswa kurang dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space yang diberikan. Dengan mengikutsertakan siswa dengan ekstrem skor tentunya nilai person measure akan semakin kecil yaitu – 1.52 logit. Semakin tinggi nilai logit diatas 0.0 logit, semakin tinggi kemampuan siswa. Gambar 2. Tampilan Item Measure hasil pengolahan data ministep. Dari gambar 2, soal no 2 mempunyai nilai logit tertinggi yaitu +1.47 logit ini menunjukkan soal no 2 merupakan soal yang paling sulit dijawab oleh siswa, soal no 3 mempunyai nilai logit = 1.40 logit, dan soal no 1 mempunyai nilai logit = -2.87 logit. Soal 2 dan 3, nilai logit keduanya lebih dari 0.0 logit menunjukkan kedua soal ini merupakan kategori soal sulit. Dari tabel 1 menunjukkan untuk soal no 2 hanya terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1. Untuk soal no 3 hanya 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar. Sedangkan soal 1 mempunyai nilai -2.87 logit yang kurang dari 0.0 logit menunjukkan soal yang relatif mudah dikerjakan siswa, dari 31 siswa terdapat 17 siswa yang mampu menjawab dengan benar. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space berdasarkan analisis model Rasch masih kurang. Rata-rata nilai logit siswa - 1,52 logit yang kurang dari 0.0 logit. (2) Dari ketiga soal yang diujikan, dua soal dikategorikan sebagai soal sulit, dan 1 soal relatif mudah dikerjakan siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi pendidik, siswa hendaknya sering diberikan soal-soal non rutin atau soal-soal pemecahan masalah seperti soal-soal PISA dalam pembelajaran matematika dikelas, baik sebagai tugas maupun ulangan harian. Hal ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. (2) Bagi peneliti lain, penggunaan Item Respon Theory (IRT) dalam hal ini Rasch Model dapat dijadikan alternatif dalam pengolahan data penelitian kuantitatif untuk mengatasi kelamahan teori tes klasik, karena Rasch Model telah memenuhi lima prinsip model pengukuran. DAFTAR PUSTAKA Aini, R.N. & Siswono, T.Y.E. 2014. Analisis Pemahaman Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Aljabar Pada PISA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika MATHEdunesa, vol 2, no 3, hal.158-164 BSNP Depdiknas.2006. Standar Isi Mata Pelajaran Matematika SD/MI dan SMP/MTs (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006). Jakarta: BSNP Depdiknas OECD. 2013. PISA 2012 Results in Focus. www.oecd.org OECD.2009. Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. www.oecd.org OECD.2015. PISA 2015 Draft Mathematics Framework. www.oecd.org Setiawan, H.,Dafik., dan Lestari, S.D.N. 2014. Soal Matematika Dalam PISA Kaitannya Dengan Literasi Matematika Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014, hal.244-251. Shiel, G et al.2007. PISA mathematics: a teacher’s guide. Dublin :Department of Education and Science. Sulastri, R., et al.2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014, hal.13-21. Sumintono, B. & Widhiarso, W.2014. Aplikasi Model Rasch Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi:Trim Komunikata Publishing House Wardhani, Sri dan Rumiyati. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP: Belajar dari PISA dan TIMSS. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (88 Halaman)
Gratis