Feedback

Rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi: kasus pulau dullah Kota Tual Provinsi Maluku

Informasi dokumen
RANCANG BANGUN PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI PULAU KECIL BERBASIS KONSERVASI: KASUS PULAU DULLAH KOTA TUAL - PROVINSI MALUKU ABDUL HARIS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Rancang Bangun Pengelolaan Minawisata Bahari Pulau Kecil Berbasis Konservasi: Kasus Pulau Dullah - Kota Tual - Provinsi Maluku adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Januari 2012 Abdul Haris NRP C261060181 ABSTRACT ABDUL HARIS. Design of Marine Fishery-Tourism Management on Small Island Based Conservation: Case Dullah Island - Tual City - Moluccas Province. Under direction of LUKY ADRIANTO, DIETRIECH G. BENGEN, and MENNOFATRIA BOER. A research was conducted in Un Bay and Vid Bangir Bay in Dullah Island Tual City - Moluccas Province. These regions have potential coastal and marine resources for development of marine fishery-tourism. The research was conducted from October 2008 to October 2009. Study purposes were to analyze potential and condition of ecosystems and coastal resources, biophysical condition of Dullah Island especially in Un Bay and Vid Bangir Bay and to evaluate ecological integrity and economic potential of the resources utilization through conservation based marine fishery-tourim of small island. Land suitability for marine fisherytourism activities was obtained using geographical information system (GIS), determination of space utilization priorities was obtained using multi-criteria decision making and simple multi-attribute rating techniques. Land capability to support marine fishery-tourism activity was obtained through physical carrying capacity and ecological carrying capacity analysis. Economic value of coral reefs and mangrove ecosystems was approached using resources economic valuation, while economic feasibility was analyzed using NPV and B/C ratio approaches. In addition, management sustainability was analyzed using ecological-economic integration through a dynamic modeling approach. Results of dynamic modeling simulations for base-model showed that in the fifth year all marine fishery-tourism business units were able to produce benefits with NPV total annual value Rp.9.658.005.207, extension of coral reefs areas to 6.36195 ha and mangrove ecosystem to 6.88131 ha. Pessimistic scenario showed that in the fifth year, all marine fishery-tourism business units produced benefits with NPV total annual value Rp.8.029.639.188, extension of coral reefs areas to 6.35242 ha and mangrove ecosystem to 6.85992 ha. Furthermore, conservative scenario showed that in the fifth year all tourism business units produced benefits with amounted NPV total annual value to Rp.10.449.128.413, extension of coral reefs areas to 6.37004 ha, and mangrove ecosystem to 6.90371 ha. The above results implied the need for adopting government policies that supported by integrated and simultaneous programs in order to achieve an optimal marine fishery-tourism management objective in Un Bay and Vid Bangir Bay. Key words: marine fishery-tourism, conservation-based management model, Dullah Island, land suitability, carrying capacity. . RINGKASAN ABDUL HARIS. Rancang Bangun Pengelolaan Minawisata Bahari Pulau Kecil Berbasis Konservasi: Kasus Pulau Dullah Kota Tual Provinsi Maluku. Dibimbing oleh LUKY ADRIANTO, DIETRIECH G. BENGEN, dan MENNOFATRIA BOER. Model pengelolaan terpadu sangat penting dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil. Salah satu model pengelolaan terpadu yang dapat dikembangkan di pulau-pulau kecil adalah minawisata bahari yaitu pemanfaatan sumberdaya kelautan, perikanan, dan wisata bahari yang ada di suatu wilayah tertentu secara terintegrasi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumberdaya sekaligus juga untuk pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, Pulau Dullah - Kota Tual - Provinsi Maluku karena kawasan ini memiliki sumberdaya pesisir dan laut yang potensial untuk pengembangan minawisata bahari. Waktu penelitian dimulai sejak bulan Oktober 2008 sampai dengan Oktober 2009. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi dan kondisi ekosistem dan sumberdaya pesisir dan lautan serta kondisi biofisik lingkungan perairan Pulau Dullah khususnya di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk pengembangan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang mengintegrasikan kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan wisata bahari dalam satu model pengelolaan terpadu. Ada lima kategori aktivitas minawisata bahari yang akan dikembangkan yaitu minawisata bahari pancing; minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska); minawisata bahari karamba pembesaran ikan; minawisata bahari selam; dan minawisata bahari mangrove. Selain itu penelitian ini juga dilakukan untuk mengevaluasi keterpaduan ekologi dan ekonomi dalam pemanfaatan potensi sumberdaya pesisir dan laut dengan model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi. Kebutuhan lahan untuk aktivitas minawisata bahari ini diperoleh dengan pendekatan geographyical information system (GIS) dan pengolahan datanya dilakukan dengan perangkat lunak Arc-View GIS Version 3.3 dan Arc-Info GIS Version 3.4.2. Penentuan skala prioritas pemanfaatan ruang diperoleh dengan pendekatan multi criteria decision making dan simple multi attribute rating technique, pengolahan datanya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Criterium DecisionPlus Version 3.0. Kemampuan lahan untuk mendukung aktivitas ini diperoleh melalui 2 pendekatan yaitu dengan daya dukung fisik dan daya dukung ekologis. Daya dukung fisik mencakup daya dukung lahan dan daya dukung kawasan, sedangkan daya dukung ekologis mencakup pendugaan total beban limbah organik, ketersediaan oksigen terlarut dalam kolom air, dan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Selanjutnya, nilai ekonomi ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove didekati dengan melakukan valuasi ekonomi sumberdaya, sedangkan kelayakan usaha diperoleh dengan menghitung NPV dan B/C Rasio melalui analisis manfaat-biaya, sementara keberlanjutan model pengelolaan minawisata bahari ini dianalisis dengan model keterpaduan ekologi-ekonomi melalui pemodelan dinamik, simulasi skenario pengelolaan dilakukan dengan perangkat lunak Stella Version 9.0.2. Analisis kesesuaian lahan dilakukan untuk 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas. Berdasarkan hasil tumpang susun peta-peta tematik dari masing-masing kategori aktivitas tersebut diperoleh luas lahan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) untuk minawisata bahari pancing adalah 1.131.200 m2, minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) adalah 810.000 m2, minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah 449.700 m2, minawisata bahari selam adalah 122.200 m2, dan untuk minawisata bahari mangrove hasil analisis kesesuaian lahan menunjukan bahwa ekosistem mangrove yang ada di Teluk Un dan Teuk Vid Bangir tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) namun demikian masih ada sebagian ekosistem mangrove yang memenuhi kriteria untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) yaitu 292.900 m2. Untuk daya dukung fisik, hasil perhitungan daya dukung lahan dengan kapasitas lahan 30% dari luas lahan yang sesuai atau sesuai bersyarat menunjukan bahwa jumlah unit sarana pemancingan ikan yang diperbolehkan untuk beroperasi di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 377 unit, sedangkan jumlah unit rakit karamba pembesaran ikan yang diperbolehkan untuk ditempatkan di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 37 unit. Demikian pula dengan daya dukung kawasan, dengan kapasitas lahan 30% dari luas lahan yang sesuai atau sesuai bersyarat diperoleh jumlah pengunjung yang dapat ditampung di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk minawisata bahari pancing adalah 1.131 orang per hari, untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah 185 orang per hari, untuk minawisata bahari pengumpulan kerang adalah sebanyak 194 orang per hari, untuk minawisata bahari selam sebanyak 146 orang per hari, dan untuk minawisata bahari mangrove sebanyak 702 orang per hari. Dengan demikian, secara keseluruhan kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 2.358 orang pengunjung per hari untuk kelima aktivitas minawisata bahari tersebut. Daya dukung ekologis untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan menunjukan bahwa beban limbah organik yang dihasilkan oleh aktivitas pembesaran ikan dalam karamba adalah 2,24 ton per 1 unit rakit karamba jaring apung, ketersediaan oksigen terlarut selama periode 24 jam adalah 40,13 ton, dan kemampuan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk menampung beban limbah organik adalah sebanyak 200,66 ton. Sementara untuk kapasitas asimilasi lingkungan perairan, nilai kapasitas asimilasi NO 3 -N (nitrat); PO 4 (phosphat); Cu (tembaga); NH 3 -N (ammonia); dan H 2 S (sulfida), masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan. Alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dibuat berdasarkan potensi sumberdaya, hasil analisis kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lingkungan dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari, dimana alokasi ruang untuk minawisata bahari pancing adalah 339.360 m2, minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) adalah 243.000 m2, minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah 134.910 m2, minawisata bahari selam adalah 36.660 m2, dan minawisata bahari mangrove adalah 87.870 m2. Analisis ekonomi untuk mendukung model pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini menggunakan pendekatan valuasi ekonomi (economic valuation) dan analisis manfaat-biaya dengan menambahkan komponen lingkungan didalam perhitungannya (extended cost-benefit analysis). Berdasarkan hasil valuasi ekonomi, terlihat bahwa nilai ekonomi total ekosistem mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah Rp.4.721.663.740 per tahun, sedangkan nilai ekonomi total ekosistem terumbu karang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah Rp.3.827.167.925 per tahun. Sementara hasil analisis manfaat-biaya menunjukan bahwa untuk tiap 1 unit usaha, minawisata bahari pancing akan memberikan keuntungan sebesar Rp.3.341.940 per tahun, minawisata bahari pengumpulan kerang akan memberikan keuntungan sebesar Rp.307.100 per tahun, minawisata bahari karamba pembesaran ikan akan memberikan keuntungan sebesar Rp.36.215.100 per tahun, minawisata bahari selam akan memberikan keuntungan sebesar Rp.7.643.200 per tahun, dan minawisata bahari mangrove akan memberikan keuntungan sebesar Rp.62.636.700 per tahun. Berdasarkan hasil simulasi 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, untuk basis model pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.9.658.005.207, ekosistem terumbu karang mengalami penambahan luas sebesar 6,36195 ha, dan ekosistem mangrove mengalami penambahan luas sebesar 6.88131 ha. Untuk skenario pesimis, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.8.029.639.188, ekosistem terumbu karang mengalami penambahan luas sebesar 6,35242 ha, dan ekosistem mangrove mengalami penambahan luas sebesar 6,85992 ha. Untuk skenario optimis, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.10.449.128.413, ekosistem terumbu karang mengalami penambahan luas sebesar 6,37004 ha, dan ekosistem mangrove mengalami penambahan luas sebesar 6,90371 ha. Berdasarkan hasil simulasi skenario tersebut, maka implikasi dari hasil penelitian ini dituangkan dalam bentuk kebijakan pemerintah melalui program-program yang terpadu dan simultan guna pencapaian tujuan pengelolaan minawisata bahari yang optimal di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Ini berarti bahwa rencana dan pelaksanaan program aksi pada satu dimensi pembangunan diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas dimensi lainnya. Berdasarkan hasil kajian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sangat cocok untuk model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi, hal itu ditandai dengan keberadaan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove yang masih bagus kondisinya, topografi pantai yang landai serta sumberdaya ikan dan kerang yang cukup tersedia. Selain itu dari sisi oseanografis kondisi perairan ini relatif tenang dan terlindung serta kualitas perairannya masih baik. Untuk kepentingan peningkatan perekonomian masyarakat, model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Pulau Dullah ini dapat dioptimalkan dengan cara memaksimumkan jumlah unit usaha tetapi dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan perairan serta ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Kata kunci: minawisata bahari, model pengelolaan berbasis konservasi, Pulau Dullah, kesesuaian lahan, daya dukung. © Hak cipta milik IPB, Tahun 2012 Hak cipta Dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB RANCANG BANGUN PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI PULAU KECIL BERBASIS KONSERVASI: KASUS PULAU DULLAH KOTA TUAL - PROVINSI MALUKU ABDUL HARIS Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup : 1. Dr. Ir. Toni Ruchimat, MSc 2. Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka : 1. Prof. Dr. Ir. Alex S. W. Retraubun, MSc 2. Dr. Sudirman Saad, M.Hum Judul Disertasi : Rancang Bangun Pengelolaan Minawisata Bahari Pulau Kecil Berbasis Konservasi: Kasus Pulau Dullah Kota Tual Provinsi Maluku Nama : Abdul Haris NRP : C261060181 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (SPL) Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Luky Adrianto, MSc Ketua Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA Anggota Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Anggota Diketahui Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr Tanggal Ujian: 26 Januari 2012 Tanggal Lulus: Penguji pada Ujian Tertutup : ………………………………………………… Penguji pada Ujian Terbuka : 1. ……………………………………………... 2. ……………………………………………... Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) Ilmu dan Hikmat Allah Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ( Al - Qur’an : Surah Luqman - Ayat 27 ) Dari lubuk hati yang paling dalam Karya Ilmiah ini aku persembahkan kepada Ayahanda Anwar Abdullah ( Almarhum ) Ibunda Aminah Ambon (Almarhumah) seluruh keluargaku Istri tercinta Sitti Bulkis Bandjar dan Anak-Anakku tersayang Rasyid Farhan Fajrin, Muhammad Fachrurrozy dan Dzaki Buhairil Ma’arif serta Pemerintah Provinsi Maluku PRAKATA Segala puja dan puji serta ungkapan syukur hanya untuk Allah SWT Tuhan Yang Maha Agung atas limpahan rahmat, hidayah dan ridha-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2009 ini adalah Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil, dengan judul Rancang Bangun Pengelolaan Minawisata Bahari Pulau Kecil Berbasis Konservasi: Kasus Pulau Dullah Provinsi Maluku. Seiring dengan selesainya penulisan disertasi ini, dengan tulus penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang mendalam, kepada : 1. Bapak Dr. Ir. Luky Adrianto, MSc, Bapak Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA dan Bapak Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA atas bimbingannya selama penulisan disertasi ini. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Alex S. W. Retraubun, MSc, Bapak Dr. Sudirman Saad, M.Hum, Bapak Dr. Ir. Toni Ruchimat, MSc, Bapak Dr. Achmad Fahrudin, M.Si, Bapak Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, MSc dan Bapak Dr. Ir. Fredinan Yulianda, MSc yang telah banyak memberi masukan dan saran. 3. Pemerintah Provinsi Maluku yang telah memberikan kesempatan dan dukungan dana bagi penulis untuk mengikuti pendidikan pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dengan status tugas belajar. 4. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku tempat dimana penulis sehari-hari mengabdikan diri sebagai PNS yang telah memberikan izin studi. 5. Sekretariat Program Mitra Bahari COREMAP II yang telah memberikan bantuan sebagian dana penulisan disertasi. 6. Pemerintah Kota Tual dan seluruh jajarannya atas dukungannya selama penulis melakukan penelitian ini. 7. Direktur Politeknik Perikanan Negeri Tual, Bapak Dr. Ir. Eugen A. Renjaan, MSc beserta seluruh stafnya yang telah membantu penulis pada saat pengambilan data lapangan. 8. Kedua orangtua tercinta ayahanda Anwar Abdullah (almarhum) dan ibunda Aminah Ambon (almarhumah) atas kasih sayang dan do’a yang tulus yang tak mungkin dapat terbalaskan, juga buat kakak-kakakku tersayang dan semua keluargaku atas kasih sayang, perhatian dan dorongan semangatnya. 9. Istri tercinta Dra. Sitti Bulkis Bandjar, MP dan anak–anakku tersayang Rasyid Farhan Fajrin, Muhammad Fachrurrozi, dan Dzaki Buhairil Ma’arif atas ketulusan cinta dan kasih sayang, do’a, pengertian, pengorbanan dan motivasinya. 10. Semua pihak baik yang secara langsung maupun tidak langsung telah banyak membantu penulis yang tidak sempat penulis sebutkan satu-persatu, semoga Allah SWT memberikan pahala atas semua budi baiknya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Januari 2012 Abdul Haris RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 15 Pebruari 1968 sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara pasangan ayahanda Anwar Abdullah dan ibunda Aminah Ambon. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Universitas Pattimura di Ambon, lulus dan memperoleh gelar Sarjana Perikanan (S.Pi) pada tahun 1993. Pada tahun 1994 penulis diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Pusat (CPNSP) Departemen Dalam Negeri diperbantukan di Pemerintah Daerah Provinsi Maluku dan ditempatkan pada kantor Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku. Pada tahun 1996 penulis diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil Pusat (PNSP) Departemen Dalam Negeri dan ditempatkan pada kantor yang sama. Dengan diterapkannya pelaksanaan Otonomi Daerah pada tahun 1999 maka status kepegawaian penulis kemudian dialihkan menjadi Pegawai Daerah Otonom pada Pemerintah Provinsi Maluku. Pada Tahun 2001, penulis diterima di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan pada Program Pascasarjana IPB dan menamatkannya dengan memperoleh gelar Magister Sains (M.Si) pada tahun 2003. Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada program studi dan pada perguruan tinggi yang sama diperoleh pada tahun 2006. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari Pemerintah Provinsi Maluku. Selama mengikuti program S3, penulis terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan IPB diantaranya Ketua Umum Forum Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (Wacana Pesisir) IPB Periode Tahun 2008/2009, dan Anggota Dewan Penasehat Forum Mahasiswa Pascasarjana (Forum Wacana IPB) Periode Tahun 2009/2010. Karya ilmiah berjudul Menguak Realitas dan Potensi Pulau Dullah di Provinsi Maluku untuk Pengelolaan Minawisata Bahari Pulau Kecil Berbasis Konservasi telah disajikan pada Konferensi Nasional Ke-VII Pengeloaaan Sumberdaya Pesisir Laut dan Pulau-Pulau Kecil di Ambon pada bulan Agustus 2010. Sebuah artikel akan diterbitkan dengan judul Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung untuk Model Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Berbasis Minawisata Bahari Pancing, pada Jurnal Ilmiah Mutiara (Jurnal Perikanan dan Ilmu Kelautan, FPIK Universitas Muslim Indonesia Makassar). Artikel lain berjudul Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan di Pulau-Pulau Kecil Berbasis Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung: Kasus Pulau Dullah - Kota Tual - Provinsi Maluku, juga akan diterbitkan pada Jurnal Triton Volume 7 Nomor 2 (Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK Universitas Pattimura Ambon) yang saat ini dalam proses pencetakan. Karya-karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S3 penulis. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL …………………………...….………………………... xxvii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. xxxi DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………….. xxxiii 1 2 3 4 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...……………………………………………….. 1.2 Perumusan Masalah ..…………………………………………... 1.3 Kerangka Pendekatan Masalah ………………………………… 1.4 Ruang Lingkup Penelitian ..……………………………………. 1.5 Tujuan Penelitian ..……………………………………………... 1.6 Manfaat Penelitian ……………………………………………... 1 5 5 6 6 8 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pulau-Pulau Kecil ……………………………………………… 2.2 Pulau Dullah sebagai Pulau Kecil .……………………………... 2.3 Rancang Bangun ……………………………………………….. 2.4 Minawisata Bahari ……………………………………………... 2.5 Konservasi ……………………………………………………... 2.6 Sistem Informasi Geografis ……………………………………. 2.7 Daya Dukung Lingkungan ……………………………………... 2.8 Pendekatan Sistem ……………………………………………... 9 15 17 19 23 26 30 35 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian …………………………………... 3.2 Tahapan Penelitian ……………………………………………... 3.3 Jenis dan Sumber Data …………………………………………. 3.4 Analisis Data …………………………………………………… 3.4.1 Analisis Kesesuaian Lahan .………………………………. 3.4.2 Analisis Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang ……………. 3.4.3 Analisis Daya Dukung Lingkungan ……………………... 3.4.4 Analisis Ekonomi ……………………....….…………….. 3.4.5 Analisis Sosial …………………………………………... 3.4.5 Analisis Kelembagaan …………………………………... 3.5 Sintesis ………………………………………………….……… 41 41 43 43 46 55 57 63 67 68 68 KONDISI AKTUAL LOKASI PENELITIAN 4.1 Kota Tual ………………………………………………………. 4.1.1 Penduduk ………………………………………………... 4.1.2 Mata Pencaharian ………………………………………... 4.1.3 Potensi Kelautan dan Perikanan ………………………… 4.1.4 Potensi Pariwisata ……………………………………….. 4.1.5 Sarana dan Prasarana Vital ……………………………… 71 72 73 74 75 77 xxiii xxiv 4.2 Pulau Dullah …………………………………………………… 4.2.1 Keadaan Sosial Budaya Masyarakat …………………….. 4.2.2 Hak Masyarakat Adat dalam Dimensi Legislasi Nasional dan Daerah …………………………………….. 4.2.3 Isu-Isu Kerusakan Lingkungan ………………………….. 4.3 Teluk Un ……………………………………………………….. 4.3.1 Status dan Sejarah Kawasan Teluk Un ………………….. 4.3.2 Kondisi Lingkungan …………………………………….. a. Kondisi Fisik …………………………………………. b. Kondisi Oseanografi …………………………………. c. Kondisi Biologis ……………………………………... d. Kondisi Kimia Perairan ………………………………. 4.3.3 Kondisi Ekosistem Pesisir dan Laut ……………………. a. Mangrove ………………………………………….…. b. Lamun …………………………………………..……. c. Karang ………………………………………………... 5 6 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Kesesuaian Lahan untuk Minawisata Bahari Berbasis Konservasi ……………………………………………. 5.1.1 Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Untuk Masing-Masing Aktivitas ……….………………………………………… 5.1.2 Tumpang Susun Kesesuaian Pemanfaatan Ruang ………. 5.1.3 Penetuan Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang …………... 5.1.4 Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Untuk Semua Aktivitas …………………………………………………. 5.2 Analisis Daya Dukung Lingkungan ……………………………. 5.2.1 Daya Dukung Fisik ………………..…………………….. 5.2.2 Daya Dukung Ekologis ……………………………….…. 5.3 Alokasi Ruang Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir …….. 5.4 Analisis Ekonomi …….………………………………………… 5.4.1 Valuasi Ekonomi Sumber Daya Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ………………………………………... 5.4.2 Analisis Manfaat-Biaya ………...………………..……… 5.5 Analisis Sosial …………………………………………………. 5.6 Analisis Kelembagaan …………………………………………. 5.7 Keberlanjutan Pengelolaan Minawisata Bahari Berbasis Konservasi ……………………………………………………... 5.7.1 Diagram Simpal Model Pengelolaan …………...………. 5.7.2 Basis Model …………………………………………….. 5.7.3 Skenario Model Pengelolaan …………………………… 5.7.4 Simulasi Skenario Model Pengelolaan …………………. a. Simulasi Skenario Pesimistik ………………………. b. Simulasi Skenario Konservatif ……………………... IMPLIKASI KEBIJAKAN ……………………………………….. 80 80 81 84 85 85 85 85 88 90 93 94 94 95 96 99 100 130 134 141 141 143 148 153 154 154 163 166 168 169 170 170 177 178 178 181 183 xxv 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan …………………………………………………….. 7.2 Saran …………………………………………………………… 185 186 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 189 LAMPIRAN ……………………………………………………………… 197 DAFTAR TABEL Halaman 1 Kriteria kegiatan yang memanfaatkan sumberdaya pulau-pulau kecil …….……….…………………………………… 16 2 Kebutuhan data penelitian …….…………………………………... 44 3 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pancing ……… 50 4 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) …………………………………………………... 51 5 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan …………………………………………………… 52 6 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam …………. 53 7 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove ….… 54 8 Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas Pemanfaatan ruang ………………………………………………… 56 9 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) …….. 60 10 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata ……. 61 11 Jumlah pulau dan luas wilayah administratif Kota Tual …………... 72 12 Perkembangan jumlah penduduk Kota Tual tahun 2005 - 2009 …... 73 13 Jumlah produksi dan nilai produksi perikanan Kota Tual tahun 2007 …………………………………………………………. 75 14 Jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk Kota Tual) tahun 2004 - 2008 …………………………………………………. 76 15 Kelas dan spesies makrofauna di Teluk Un ……………………….. 92 16 Plankton yang terbawa arus pasut dari dan ke Teluk Un ………….. 93 17 Nilai parameter kimia air laut di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah ……………..………………………………………... 94 18 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pancing .............................................................................................. 101 19 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan moluska ………..…………………………………… 107 20 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan …………………………………………. 113 21 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam ………………………………………………………………. 118 xxvii xxviii 22 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove ………………………………………………………….. 124 23 Hasil tumpang susun semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai ………………………………………………………………. 130 24 Hasil tumpang susun semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat ………………………………………………...….. 132 25 Kontribusi masing-masing kriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai ……………………………………………………………... 135 26 Kontribusi masing-masing subkriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai ……………………………………………………………... 137 27 Skala prioritas alternatif aktivitas berdasarkan kriteria dan subkriteria …………………………………………………………. 138 28 Hasil analisis kesesuaian pemanfaatan ruang untuk semua aktivitas …………………………………………………………… 141 29 Status kualitas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir …………. 149 30 Beban pencemar dan kapasitas asimilasi lingkungan perairan Teluk Un dan Vid Bangir …………………………………………. 149 31 Luas area peruntukan lahan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ………………………………………………….. 154 32 Hasil benefit transfer harga pasar pemanfaatan langsung ekosistem mangrove dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya …………... 157 33 Nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per hektar per tahun) …………………….......... 157 34 Nilai ekonomi total ekosistem mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per tahun) ….………………………………….. 159 35 Hasil benefit transfer harga pasar pemanfaatan langsung ekosistem terumbu karang dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya …….. 160 36 Nilai guna langsung ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per hektar per tahun) ……………………… 160 37 Nilai ekonomi total ekosistem terumbu karang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per tahun) ….……………………………… 163 38 Manfaat Biaya Lanjutan untuk minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir per 1 unit usaha per tahun …………………. 165 39 Prediksi jumlah tenaga kerja untuk mendukung aktivitas minawisata bahari …………………………………………………. 168 40 Nilai dugaan atribut pada basis model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ………………………………………… 172 41 Hasil running untuk basis model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ………………………………... 176 xxix 42 Perubahan nilai atribut pada skenario pesimistik …………………. 179 43 Hasil running untuk skenario pesimistik model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ……………. 179 44 Perubahan nilai atribut pada skenario konservatif ………………… 181 45 Hasil running untuk skenario konservatif model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ……………. 181 xxxi DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Diagram alir kerangka pendekatan masalah ...…………………... 7 2 Citra satelit Pulau Dullah dengan komposit RGB 542 ...… 18 3 Minawisata dalam pola irisan (intersection) dan pola gabungan (union) ……………………………………… 22 4 Peta lokasi penelitian ……….……………………………… 42 5 Peta stasiun pengamatan …………………………………… 45 6 Diagram alir tahapan analisis data ………………………... 47 7 Grafik hubungan antara beban pencemaran dan kualitas air ……. 62 8 Peta wilayah administratif Kota Tual …..……………………….. 71 9 Batimetri rata-rata dasar perairan Teluk Un diukur terhadap batas pasang tertinggi ……………………………………………. 86 10 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pancing ………... 105 11 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) …………………………………. 111 12 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan ……………………………………….. 116 13 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam ………….. 122 14 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove ……... 128 15 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai ……………………………………………….. 131 16 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat ……………………………………... 133 17 Struktur hirarki penentuan skala prioritas pemanfaatan ruang ...... 135 18 Diagram batang skala prioritas alternatif aktivitas berdasarkan krieria dan subkriteria ……………………….…………………... 138 19 Kontribusi masing-masing kriteria terhadap alternatif kategori aktivitas minawisata bahari ..……………………………………. 140 20 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari ………. 142 21 Kapasitas asimilasi dari 5 parameter kualitas air di lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ……………………….. 150 22 Peta alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi …………….................................................................. 155 xxxii 23 Diagram simpal model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ……………………………………………… 171 24 Model dinamik pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi 172 25 Grafik basis model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir …………………………………………… 176 26 Grafik skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ……………………………… 180 27 Grafik skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ……………………………… 182 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data hasil penelitian ………………………………………………… 199 2 Kriteria umum untuk penentuan pemanfaatan pulau-pulau kecil …... 201 3 Hasil analisis skala prioritas pemanfaatan ruang …………………… 203 4 Perhitungan daya dukung lahan (DDL) dan daya dukung Kawasan (DDK) …………………………………………………….. 205 5 Data untuk perhitungan kapasitas asimilasi lingkungan perairan …... 210 6 Dasar perhitungan valuasi ekonomi sumberdaya …………………… 212 7 Analisis manfaat-biaya minawisata bahari berbasis konservasi ……. 215 8 Equation untuk model dinamik minawisata bahari berbasis konservasi …………………………………………………………… 220 9 Matriks strategi dan kebijakan untuk keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ……………………………………………….. 228 10 Foto dokumentasi penelitian ………………………………………... xxxiii 231 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Tual adalah salah satu kota kepulauan yang ada di Provinsi Maluku dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup melimpah serta potensi pariwisata yang cukup mempesona. Disebut Kota Kepulauan karena wilayah daratan Kota Tual meliputi 66 buah pulau dimana keseluruhannya adalah merupakan pulau-pulau kecil. Luas wilayah administratif kota ini ± 19.095,84 km2, dengan luas lautan ± 18.743,55 km2 (98,16%) dan luas daratan hanya ± 352,29 km2 (1,84%). Jumlah penduduk Kota Tual pada tahun 2009 adalah 70.367 jiwa. Untuk sektor kelautan dan perikanan, tercatat bahwa produksi perikanan Kota Tual pada tahun 2007 adalah sebesar 134.978,1 ton dengan total nilai produksi sebesar Rp.601.945.584,00. Bila dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya dimana produksi perikanan yang dicapai pada tahun 2005 adalah sebesar 131.353,9 ton, maka dari sisi produksi telah terjadi peningkatan sebanyak 3.624,2 ton. (DKP Kabupaten Maluku Tenggara, 2008). Sedangkan untuk sektor pariwisata, tercatat bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke 35 lokasi objek wisata di Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk 11 lokasi objek wisata di Kota Tual) pada tahun 2008 adalah sebanyak 21.256 orang. Wisatawan tersebut masuk melalui 2 pintu yaitu Bandara Dumatubun di Langgur (Pulau Kei Kecil) dan Pelabuhan Yos Sudarso di Tual (Pulau Dullah) yang sebelum pemekaran wilayah kedua pintu masuk tersebut berada dalam wilayah administratif Kecamatan Kei Kecil dengan pusatnya di Kota Tual sebagai ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dimana jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun 2007 adalah sebanyak 16.170 orang, maka telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebanyak 5.086 orang (DPK Kabupaten Maluku Tenggara, 2009). Disamping potensi kelautan dan perikanan serta potensi pariwisata tersebut, Kota Tual juga memiliki potensi sumberdaya pulau-pulau kecil dimana terdapat 66 pulau yang berada dalam gugusan Kepulauan Kei. Jumlah 2 pulau yang keseluruhannya merupakan pulau kecil tersebut tentunya memerlukan suatu model pengelolaan yang didasarkan atas kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan. Dalam konteks pembangunan kelautan dan perikanan di Kota Tual, penentuan model pengelolaan pulau-pulau kecil merupakan hal yang sangat penting karena dengan keberadaan pulau-pulau kecil inilah maka eksistensi sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata di Kota Tual menjadi sangat strategis. Dengan demikian, penting untuk dipahami seberapa besar dukungan keberadaan pulau-pulau kecil terhadap keberlangsungan sumberdaya kelautan dan perikanan serta pariwisata, oleh karena itu model pengelolaan pulau-pulau kecil hendaknya didasarkan atas kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan, sehingga pada akhirnya pengelolaan pulaupulau kecil sebagai wujud dari pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan diharapkan dapat menjadi faktor pendukung pembangunan kelautan dan perikanan serta kepariwisataan Kota Tual secara berkelanjutan. Pulau Dullah adalah salah satu pulau dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada dalam wilayah administratif Kota Tual. Luas Pulau Dullah ± 98,38 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 adalah 57.941 jiwa. Pulau ini memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang cukup besar antara lain perikanan tangkap dan perikanan budidaya, serta ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan ekosistem lamun yang masih bagus kondisinya dengan tingkat kesesuaian yang tinggi bagi pengembangan sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. Dari aktivitas perikanan yang berbasis di Pulau Dullah, jumlah produksi perikanan yang dihasilkan pada tahun 2007 tercatat sebesar 130.372,2 ton dengan total nilai produksi sebesar Rp.578.948.732,00 atau 96,59% dari total produksi perikanan Kota Tual. Bila dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya dimana produksi perikanan yang dicapai pada tahun 2005 adalah sebesar 109.159,8 ton dengan total nilai produksi sebesar Rp.668.904.335,00 maka dari sisi produksi telah terjadi peningkatan sebanyak 21.212,4 ton (DKP Kabupaten Maluku Tenggara, 2008). 3 Demikian pula dengan sektor pariwisata, jumlah wisatawan yang berkunjung di beberapa objek wisata di Pulau Dullah pada tahun 2008 tercatat sebanyak 9.046 orang atau 42,56% dari total kunjungan wisatawan ke Kabupaten Maluku Tenggara termasuk juga ke Kota Tual. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dimana jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun 2007 adalah sebanyak 7.253 orang, maka telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebanyak 1.793 orang (DPK Kabupaten Maluku Tenggara, 2009). Sisi Barat dari pulau ini merupakan daerah pantai yang terlindung oleh beberapa pulau kecil di depannya, sepanjang pantai sisi Barat pulau ini sangat potensial bagi pengembangan pelabuhan dan industri perikanan. Pada sisi Utara pulau ini terdapat sebuah teluk yang memiliki keindahan pantai dengan ekosistem pesisir yang masih bagus kualitasnya, kawasan ini sangat cocok dan dapat dikembangkan untuk lokasi wisata bahari. Sisi Selatan pulau ini merupakan selat dengan beberapa bagian memiliki teluk dengan kondisi perairan yang relatif tenang dan kualitas perairan yang masih baik sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi budidaya laut dan lokasi wisata bahari. Selain itu, berdasarkan hasil kajian sebelumnya tentang identifikasi calon Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Provinsi Maluku yang dilakukan pada tahun 2006 oleh Marine and Environmental Research and Development Insitute (MERDI) sebagai konsultan teknis Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, terlihat bahwa hasil kajian tersebut telah menjustifikasi perairan sekitar Pulau Dullah khususnya di perairan Teluk Un sebagai kawasan yang patut dilindungi karena merupakan daerah sumber (source) terutama yang berkaitan dengan distribusi bibit kehidupan (propagule ‘misalnya larva’) yang mengendalikan keberlangsungan kehidupan di perairan sekitarnya, sehingga harus dikelola secara bijaksana dengan menyeimbangkan antara kegiatan pembangunan dan konservasi agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitarnya. Dengan melihat kondisi tersebut maka salah satu model pengelolaan pulau-pulau kecil yang dapat dikembangkan di Pulau Dullah khususnya di 4 kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah minawisata bahari yaitu dengan mengintegrasikan potensi perikanan tangkap, perikanan budidaya dan wisata bahari dalam suatu model pengelolaan terpadu dan berbasis konservasi. Dalam konteks ini, yang menjadi variabel konservasi dalam dimensi ekologi (analisis kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lingkungan) adalah alokasi ruang (spatial) dimana ruang untuk pengembangan minawisata bahari berbasis konservasi dibatasi dengan kapasitas lahan yaitu 30% dari luas lahan yang sesuai untuk berbagai kategori aktivitas minawisata bahari. Selanjutnya yang menjadi variabel konservasi dalam dimensi ekonomi (analisis manfaat-biaya) adalah alokasi waktu (temporal) dimana waktu untuk memanfaatkan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dibatasi dengan memberikan jeda waktu agar ekosistem dan sumberdaya yang ada tersebut memiliki kesempatan untuk memulihkan kondisinya (recovery) secara alami. Kedua variabel tersebut diatas diharapkan dapat menjawab makna dari pengelolaan berbasis konservasi yaitu untuk perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan kesinambungan sumberdaya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Keterpaduan pengelolaan yang berbasis konservasi ini dibutuhkan dalam pengelolaan dan pemanfaatan ruang dan sumberdaya pesisir dan lautan Pulau Dullah karena fungsi dan peran Pulau Dullah sangatlah penting baik bagi kehidupan ekosistem sekitar maupun bagi kelangsungan hidup masyarakatnya baik disaat sekarang maupun dimasa yang akan datang. Selain itu Pulau Dullah juga sangat strategis karena merupakan Ibukota dari Pemerintahan Kota Tual dimana berlangsung berbagai aktivitas pembangunan yang cenderung memberikan tekanan bagi ekosistem dan sumberdaya yang ada. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan suatu kajian mengenai “rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi” dengan tujuan mengintegrasikan potensi sumberdaya yang ada untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan pulau-pulau kecil secara terpadu, berkelanjutan dan berbasis konservasi. 5 1.2 Perumusan Masalah Pulau Dullah sebagai pulau terbesar dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di dalam wilayah administratif Kota Tual, memiliki potensi sumberdaya alam yang masih tergolong baik. Hal ini ditandai dengan keberadaan tiga ekosistem utama wilayah pesisir dan laut yaitu ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem lamun yang masih bagus kondisinya, belum lagi potensi sumberdaya ikan dan non ikan yang tersebar di perairan yang merupakan satu kesatuan ekologis dalam gugusan pulau-pulau kecil tersebut. Melihat potensi sumberdaya yang dimiliki dan peluang pengembangannya serta kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, maka terdapat 2 hal yang teridentifikasi sebagai isu pembangunan yang berkembang saat ini yang merupakan kendala dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya yang ada di Pulau Dullah yaitu : 1. Sampai saat ini pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah belum terpadu dan masih bersifat sektoral terutama pemanfaatan potensi perikanan dan pariwisata. Apalagi dengan pemekaran Kota Tual, tentunya penduduk Pulau Dullah akan semakin bertambah dan aktivitas pembangunan akan semakin tinggi sehingga cenderung memberikan tekanan terhadap ekosistem dan sumberdaya yang ada, maka untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya tersebut dibutuhkan suatu bentuk keterpaduan pengelolaaan yang berbasis konservasi. 2. Dengan pemekaran Kota Tual tersebut, maka dapat dipastikan dalam beberapa tahun ke depan hampir seluruh lahan akan terpakai untuk berbagai aktivitas pembangunan, apalagi Pulau Dullah tergolong dalam kategori pulau kecil sehingga perlunya efisiensi pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut terutama pemanfaatan potensi perikanan dan pariwisata dengan mengembangkan model keterpaduan yang berbasis konservasi. 1.3 Kerangka Pendekatan Masalah Sudah menjadi realitas bahwa wilayah kepulauan yang memiliki luas lautan lebih besar dari pada daratan akan bertumpu pada pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan serta pariwisata dalam menopang pertumbuhan dan roda perekonomian wilayah tersebut. Demikian halnya 6 dengan Kota Tual, karena memiliki perairan yang jauh lebih luas dari daratan serta memiliki 66 buah pulau-pulau kecil, maka potensi pengembangan wilayah ini tentunya berada pada sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. Dalam konsep pembangunan kelautan dan perikanan serta pariwisata di wilayah yang banyak memiliki pulau-pulau kecil seperti di Kota Tual ini, maka hal yang tepat untuk dilakukan adalah pendekatan keterpaduan pengelolaan yang berbasis konservasi. Dalam merancang bangun pengelolaannya, minimal keterpaduan ini dapat mengintegrasikan aktivitas perikanan dan wisata bahari yang akan dikembangkan pada pulau-pulau berpotensi. Untuk mendukung konsep ini, maka perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan dengan menggunakan alokasi ruang (spatial) sebagai variabel konservasi terhadap kondisi fisik Pulau Dullah. Tahapan selanjutnya adalah melakukan valuasi ekonomi dan analisis manfaat-biaya dengan menggunakan alokasi waktu (temporal) sebagai variabel konservasi non fisik. Kemudian rancang bangun pengelolaan tersebut dimodelkan dengan menggunakan pemodelan dinamik untuk mendapatkan model optimal dari pengelolaan terpadu yang berbasis konservasi. Diagram alir kerangka pendekatan masalah seperti ditunjukan pada Gambar 1. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Agar dapat mencapai hasil yang maksimal, maka ruang lingkup penelitian ini perlu dibatasi hanya pada kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan di Pulau Dullah yaitu di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sehingga rancang bangun pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi difokuskan hanya didalam kawasan tersebut saja. 1.5 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Merancang bangun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah dengan model minawisata bahari pulau kecil yang mengintegrasikan kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan wisata bahari dalam satu model pengelolaan terpadu. 7 EKOSISTEM PPK PULAU DULLAH PRODUK EKOSISTEM ( ECOSYSTEM GOODS ) JASA LINGKUNGAN ( ENVIRONMENTAL SERVICE ) POTENSI PERIKANAN • Perikanan Tangkap • Perikanan Budidaya TEKANAN PENDUDUK • • Pemanfaatan lahan dan sumberdaya Pencemaran lingkungan oleh aktivitas penduduk Variabel Konservai : Spatial • Kesesuaian Lahan • Daya Dukung Lingkungan • Alokasi Ruang POTENSI PARIWISATA • Wisata Pantai • Wisata Bahari PEMANFAATAN POTENSI PERIKANAN DAN POTENSI PARIWISATA AKTIVITAS PEMBANGUNAN • PERM AS AL AH AN • Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut terutama potensi perikanan dan potensi pariwisata belum terintegrasi. • Perlunya efisiensi pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut khususnya potensi perikanan dan potensi pariwisata. RANCANG BANGUN MODEL PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI BERBASIS KONSERVASI • Konversi lahan untuk berbagai peruntukan pembangunan Degradasi lingkungan oleh aktivitas pembangunan Variabel Konservasi : Temporal • Valuasi Ekonomi • Manfaat-Biaya • Sosial dan Kelembagaan SKENARIO MODEL PENGELOLAAN RUNNING MODEL PENGELOLAAN TIDAK OPTIMAL OPTIMAL IMPLIKASI KEBIJAKAN MODEL PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI BERBASIS KONSERVASI Gambar 1 Diagram alir kerangka pendekatan masalah. 8 2. Mengkaji keterpaduan ekologi-ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah berbasis minawisata bahari pulau kecil dengan pendekatan konservasi. 1.6 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil secara terpadu, khususnya bagi Pemerintah Kota Tual dan umumnya bagi Pemerintah Provinsi Maluku serta Pemerintah Provinsi lainnya di Indonesia yang memiliki sumberdaya pulau-pulau kecil. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pulau-Pulau Kecil Menurut United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982, Bab VIII pasal 121 ayat 1) Pulau adalah massa daratan yang terbentuk secara alami, di kelilingi oleh air dan selalu berada atau muncul di atas permukaan air pada saat pasang tinggi (United Nation 1983). Dari definisi tersebut, selanjutnya dapat kita lihat lebih lanjut apa yang dimaksud dengan pulau kecil. Towle (1979) in Debance (1999) menggunakan definisi pulau kecil menurut The Commonwealth Secretary yaitu pulau yang memiliki luas kurang dari 10.000 km2 dan penduduk kurang dai 500.000 jiwa. Selanjutnya dengan berlandaskan pada kepentingan hidrologi (ketersediaan air tawar) ditetapkan batasan tentang pulau kecil oleh para ilmuwan. Menurut para ilmuwan, yang dimaksud dengan Pulau Kecil adalah pulau dengan ukuran kurang dari 1.000 km2 atau lebarnya kurang dari 10 km. Namun demikian, ternyata banyak pulau yang berukuran antara 1.000 dan 2.000 km2 memiliki karakteristik dan permasalahan yang sama dengan pulau yang ukurannya kurang dari 1.000 km2, sehingga diputuskan oleh UNESCO (1991) bahwa batasan pulau kecil adalah pulau dengan luas area kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. Hal ini sejalan dengan batasan pulau kecil yang ditetapkan kemudian dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar, dimana disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pulau Kecil adalah pulau dengan luas area kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. Definisi tentang batasan pulau kecil ini kemudian dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dimana dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 beserta kesatuan ekosistemnya. Dari uraian di atas, selanjutnya yang dimaksud dengan Pulau-Pulau Kecil atau Gugusan Pulau-Pulau Kecil adalah kumpulan pulau-pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial dan budaya (DKP-RI 2001). 10 2.1.1 Karakteristik Ekosistem dan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil Menurut DKP-RI (2001) bahwa terdapat 4 karakteristik pulau-pulau kecil yaitu (1) secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas dan terisolasi dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular; (2) memiliki proporsi spesies endemik lebih besar daripada yang terdapat di pulau induk; (3) daerah tangkapan air (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut, akibatnya pulau kecil selalu peka terhadap kekeringan dan kekurangan air; dan (4) dari segi sosial ekonomi budaya, masyarakat pulau-pulau kecil bersifat khas. Selanjutnya Adrianto (2004) mengemukakan bahwa dalam konteks faktor lingkungan, Hall (1999) membagi persoalan lingkungan di pulau-pulau kecil menjadi 2 kategori yaitu (1) persoalan environmental problems); dan (2) lingkungan secara umum (common persoalan lingkungan lokal (local environmental problems). Persoalan lingkungan secara umum didefinisikan sebagai persoalan yang terjadi hampir di seluruh pulau-pulau kecil di dunia. Persoalan ini mencakup limbah lokal, persoalan perikanan, kehutanan, penggunaan lahan dan persoalan hak ulayat pulau. Persoalan limbah terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang menjadi penduduk pulau kecil, sementara untuk persoalan yang menyangkut kegiatan perikanan, penangkapan ikan berlebih dan merusak telah menjadi indikasi umum dari terjadinya kerusakan kualitas sumberdaya perikanan dan lingkungan laut di pulau-pulau kecil. Sumberdaya lahan daratan seperti hutan juga merupakan persoalan lingkungan yang secara luas terjadi pulau-pulau kecil. Penebangan pohon yang tidak terkendali, kebakaran hutan dan beberapa dampak turunan seperti erosi dan hilangnya keanekaragaman hayati hutan merupakan salah satu karakteristik persoalan ini. Selain itu, persoalan tata guna lahan dan hak ulayat juga tergolong dalam persoalan lingkungan yang secara luas terjadi di pulau-pulau kecil. Pengaturan penggunaan lahan secara komprehensif dan tepat sesuai dengan peruntukannya merupakan prasyarat utama bagi pengelolaan lahan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Kategori persoalan lingkungan yang kedua di pulau-pulau kecil adalah persoalan lokal, yang terdiri dari hilangnya tanah baik secara fisik maupun kualitas, kekurangan air, limbah padat dan bahan kimia beracun dan problem 11 spesies langka. Kehilangan tanah baik dalam arti fisik maupun kualitas (kesuburan) terjadi karena erosi lahan yang juga terjadi di berbagai wilayah lainnya. Demikian juga dengan persoalan air bersih, banyak pulau-pulau kecil yang tidak memiliki cadangan air bersih yang cukup sehingga dalam beberapa hal perlu dilakukan teknik desalinisasi dari air laut ke air tawar. Limbah padat khususnya yang terkait dengan konsumsi penduduk pulau juga menjadi salah satu persoalan umum di pulau-pulau kecil (Hall 1999 in Adrianto 2004). Karakteristik lain adalah bahwa pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap bencana alam (natural disaster) seperti angin topan, gempa bumi dan banjir (Briguglio 1995; Adrianto and Matsuda 2002). 2.1.2 Potensi dan Kendala Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Secara umum, sumberdaya alam yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil terdiri atas sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources), sumberdaya tidak dapat pulih (nonrenewable resources), dan jasa-jasa lingkungan (environmental services). Sumberdaya yang dapat pulih terdiri dari berbagai jenis ikan, plankton, bentos, moluska, mamalia laut, rumput laut (seaweed), lamun (seagrass), mangrove, terumbu karang dan krustasea. Sumberdaya yang tidak dapat pulih meliputi minyak bumi dan gas, mineral, bahan tambang/galian seperti biji besi, pasir, timah, bauksit serta bahan tambang lainnya, sedangkan yang termasuk jasajasa lingkungan adalah pariwisata dan perhubungan laut (Dahuri 1998). Dahuri (1998) menjelaskan bahwa pulau-pulau kecil memiliki satu atau lebih ekosistem dan sumberdaya pesisir. Ekosistem pesisir tersebut dapat bersifat alamiah ataupun buatan (man-made). Ekosistem alami yang terdapat di pulaupulau kecil, antara lain; terumbu karang (coral reef), hutan mangrove, padang lamun (seagrass beds), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan, antara lain; kawasan pariwisata, kawasan budidaya dan kawasan permukiman. Selanjutnya dijelaskan bahwa potensi sumberdaya ikan di kawasan pulaupulau kecil terkenal sangat tinggi, hal ini didukung oleh ekosistem yang kompleks dan sangat beragam. Perairan karang merupakan ekosistem yang subur yang banyak di huni oleh beranekaragam sumberdaya hayati. Selain itu ekosistem 12 terumbu karang dengan keunikan dan keindahannya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata bahari. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem utama pulau-pulau kecil yang sangat berperan bagi sumberdaya ikan di kawasan tersebut dan sekitarnya maupun bagi masyarakat sekitarnya. Ekosistem mangrove berfungsi sebagai tempat mencari makan bagi ikan, tempat memijah, tempat berkembangbiak dan sebagai tempat memelihara anak. Ekosistem mangrove juga dapat berfungsi sebagai penahan abrasi yang disebabkan oleh gelombang dan arus, selain itu ekosistem ini juga secara ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai bahan kayu bakar dan bahan membuat rumah (Dahuri 1998). Sumberdaya rumput laut banyak dijumpai di pulau-pulau kecil, hal ini karena kebanyakan wilayah pesisir di kawasan ini mempunyai perairan yang subur dan dangkal serta mempunyai ombak yang relatif kecil. Rumput laut merupakan sumberdaya alam yang mempunyai nilai komersial yang tinggi di samping sumberdaya perikanan. Sumberdaya ini banyak dibudidayakan oleh penduduk sekitar sebagai mata pencaharian mereka. Dahuri (1998) menjelaskan bahwa potensi jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil seperti pariwisata bahari dan perhubungan laut merupakan potensi yang mempunyai nilai tinggi bagi peningkatan pendapatan masyarakat sekitar maupun pendapatan nasional. Dengan keanekaragaman dan keindahan yang terdapat di pulau-pulau kecil tersebut merupakan daya tarik tersendiri di dalam pengembangan pariwisata. Beberapa karakteristik ekosistem pulau-pulau kecil yang dapat merupakan kendala bagi pembangunan adalah: 1) Ukuran yang kecil dan terisolasi, sehingga penyediaan sarana dan prasarana menjadi sangat mahal dan sumberdaya manusia yang handal menjadi langka. 2) Kesukaran atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan dalam hal administrasi, usaha produksi, dan transportasi turut menghambat pembangunan hampir semua pulau-pulau kecil di dunia (Brookfield 1990; Hein 1990; Dahuri 1998). 3) Ketersediaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan, seperti air tawar, vegetasi, tanah, ekosistem pesisir dan satwa liar, pada akhirnya akan 13 menentukan daya dukung suatu sistem pulau kecil dan menopang kehidupan manusia dan segenap kegiatan pembangunan. 4) Produktivitas sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di setiap unit ruang (lokasi) di dalam pulau dan yang terdapat di sekitar pulau (seperti ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) saling terkait erat satu sama lain (Mc Elroy et al. 1990; Dahuri 1998). 5) Budaya lokal kepulauan kadangkala bertentangan dengan kegiatan pembangunan. Berdasarkan beberapa kendala tersebut, bukan berarti pulau-pulau kecil tidak dapat dibangun atau dikembangkan, melainkan pola pembangunannya harus mengikuti kaidah-kaidah ekologis, khususnya adalah bahwa tingkat pembangunan secara keseluruhan tidak boleh melebihi daya dukung suatu pulau, dampak negatif pembangunan hendaknya ditekan seminimal mungkin sesuai dengan kemampuan ekosistem pulau. Selain itu, setiap kegiatan pembangunan yang akan dikembangkan di suatu pulau seyogyanya memenuhi skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan serta sesuai dengan budaya lokal (Dahuri 1998). 2.1.3 Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Cicin Sain (1993) in Adrianto (2004) mengemukakan bahwa strategi pengelolaan lingkungan di pulau-pulau kecil sudah sejak lama dilakukan secara parsial dan individualistik. Strategi pengelolaan seperti ini gagal memahami bahwa seluruh komponen kegiatan di pulau-pulau kecil terkait satu sama lain dan bahwa interaksi dan hasil dari seluruh kegiatan di pulau-pulau kecil dapat menciptakan reaksi berganda sekaligus berantai dari persoalan dan tekanan terhadap ekosistem dan komunitas di pulau-pulau kecil. Selanjutnya dikatakan bahwa seluruh kegiatan sosial ekonomi masyarakat di pulau-pulau kecil memiliki dampak langsung terhadap lingkungan daratan dan laut. Selain itu pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap bencana alam seperti angin topan, gempa bumi, dan kenaikan permukaan laut. Dalam konteks ini maka Cambers (1992) in Adrianto (2004) menganjurkan bahwa strategi pengelolaan pulau-pulau kecil harus dapat mengkaitkan seluruh kegiatan dan stakeholders yang ada di pulau-pulau kecil dengan menggunakan pendekatan terkoordinasi. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam sistem pulau-pulau 14 kecil paling tidak terdapat 5 proses, yaitu proses alam, proses sosial, proses ekonomi, perubahan iklim, dan proses pertemuan antara daratan dan laut yang masing-masing merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari 3 komponen pulaupulau kecil yaitu sistem lingkungan daratan, sistem lingkungan laut, dan sistem aktikvitas manusia, sehingga harus dikelola secara terpadu. Dalam konteks keterpaduan, maka pendekatan berbasis keberlanjutan sistem wilayah pesisir di pulau-pulau kecil menjadi sebuah syarat mutlak. Bengen (2002a) mengatakan bahwa pentingnya pengelolaan pulau-pulau kecil secara terpadu karena: ukuran pulau kecil yang terbatas, sehingga pulau kecil tidak berdiri sendiri tetapi memiliki keterkaitan fungsional sebagai gugus pulau; adanya keterkaitan ekologis antar ekosistem pesisir; pemanfaatan sumberdaya pesisir yang beragam (dapat menimbulkan berbagai konflik); pulaupulau kecil dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat dengan preferensi yang berbeda; dan adanya sifat common property dari sumberdaya pesisir. Lebih lanjut dikatakan bahwa pengelolaan terpadu adalah pengelolaan secara komprehensif dengan memperhatikan secara mendalam dan menyeluruh sumberdaya alam yang unik; mengoptimalkan pemanfaatan serbaneka ekosistem dan sumberdaya alam pesisir dan laut; mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya dalam pengelolaan; serta meningkatan pendekatan interdisiplin dan koordinasi antar sektor dalam masalah pesisir. Sedangkan target pengelolaan pulau-pulau kecil adalah untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas sumberdaya dan lingkungan pesisir, serta meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Dalam kaitannya dengan program pemanfaatan pulau-pulau kecil di Indonesia, maka yang diperlukan adalah beberapa aspek normatif, akurat dan data baru. Berdasarkan kondisi, potensi dan peluang dalam optimasi sumberdaya maka Hidayat (1998) mengusulkan beberapa bahan pertimbangan sebagai berikut: (1) keterpaduan dan keberlanjutan; (2) pemberian nilai ekonomi lingkungan; (3) penataan ruang; (4) pengamanan fungsi lindung; (5) pemberdayaan masyarakat setempat; (6) peningkatan pendapatan masyarakat; (7) pengendalian pencemaran dan kualitas air; dan (8) pembangunan kawasan pemukiman. 15 Dalam konteks arahan pengelolaan pulau-pulau kecil, kegiatan pemanfaatannya hanya diperuntukan bagi kegiatan berbasis konservasi. Artinya, pemanfaatan untuk berbagai kegiatan yang bersifat eksploratif-destruktif tidak disarankan untuk dilaksanakan. Hal ini mengingat bahwa pulau-pulau kecil memiliki sejumlah kendala dan karakteristik yang sangat berbeda dengan pengelolaan pulau-pulau besar (mainland). Atas dasar karakteristik pulau-pulau kecil, maka arahan peruntukan dan pemanfaatannya hanya beberapa kegiatan yang dapat memanfaatkan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil, antara lain perikanan tangkap, perikanan budidaya laut, dan pariwisata (Bengen 2002b; Fauzi dan Anna 2005). Kriteria dari beberapa kegiatan tersebut seperti ditunjukan pada Tabel 1. Selanjutnya uraian dari kriteria umum untuk penentuan pemanfaatan pulau-pulau kecil seperti ditunjukan pada Lampiran 2. 2.2 Pulau Dullah Sebagai Pulau Kecil Pulau Dullah adalah salah satu pulau dari gugusan pulau-pulau yang terdapat di dalam wilayah administratif Kota Tual. Pulau Dullah memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang cukup besar dengan tingkat kesesuaian yang tinggi bagi pengembangan sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. Sebagian besar desa yang berada di Pulau Dullah adalah merupakan desa pesisir dengan mata pencaharian utama penduduk nya adalah sebagai nelayan. Luas pulau Dullah ±98,38 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun tahun 2009 adalah 57.941 jiwa. Dengan luas daratan yang hanya ±98,38 km2 maka Pulau Dullah tergolong dalam kategori pulau kecil. Sisi Barat dari pulau ini merupakan pantai yang terlindung oleh beberapa pulau kecil di depannya, sepanjang pantai sisi Barat pulau ini sangat potensial bagi pengembangan pelabuhan dan industri perikanan. Sebagian besar penduduk yang mendiami sisi Barat pulau ini adalah merupakan masyarakat nelayan walaupun pada umumnya masih merupakan nelayan tradisional, selain itu terdapat sebuah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) yang dibangun untuk mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan (DPK Provinsi Maluku 2006c). Pada sisi Utara pulau ini terdapat sebuah teluk yang memiliki keindahan pantai dengan beberapa ekosistem pesisir yang masih bagus kualitasnya, kawasan 16 Tabel 1 Kriteria kegiatan yang memanfaatkan sumberdaya pulau-pulau kecil No Kegiatan Kriteria 1. Perikanan Tangkap 1. Jauh dari zona budidaya. 2. Berjarak aman dari kawasan-kawasan lainnya, yang didasarkan atas tipe pasut dan kecepatan arus yang ditentukan. 3. Keberadaan front, yaitu pertemuan dua massa air yang berbeda karakteristiknya. 4. Kondisi geografis yang sesuai dengan peruntukannya. 5. Karakteristik fisik yang sesuai dengan peruntukannya. 6. Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan perikanan di pantai dilaksanakan dengan tidak mengubah kondisi pantai, untuk menghindari proses baik erosi maupun sedimentasi. 7. Jauh dari daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah pembesaran (nursery ground). 2. Perikanan Budidaya Laut 1. Terlindung dari gelombang dan angin, artinya tidak boleh dilakukan pada daerah perairan dengan gelombang besar dan angin yang kencang. 2. Kualitas air harus baik, karena merupakan indikasi kelayakan kondisi perairan yang dapat dijadikan lokasi budidaya laut. 3. Keamanan, merupakan faktor yang mendukung keberhasilan budidaya laut. Masalah yang dihadapi pembudidaya sekarang ini adalah pencurian yang selalu merugikan. 3. Pariwisata 1. Berjarak aman dari kawasan perikanan, sehigga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan di kawasan pariwisata tersebut tidak menyebar dan mencapai kawasan perikanan. 2. Berjarak aman dari kawasan lindung, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan di kawasan pariwisata tersebut tidak menyebar dan mencapai kawasan lindung. 3. Sirkulasi massa air di kawasan pariwisata harus lancar. 4. Pembangunan sarana dan prasarana pariwisata tidak mengubah kondisi pantai dan daya dukung pulau-pulau kecil yang ada sehingga proses erosi atau sedimentasi dapat dihindari. Sumber: Bengen (2002b). 17 yang dikenal dengan nama Pantai Diffur ini sangat cocok untuk dikembangkan sebagai lokasi ekowisata bahari (DPK Provinsi Maluku 2006c). Tipologi pesisir pantainya adalah pantai berpasir putih dan halus (pasir sagu) dengan vegetasi pantai berupa pohon kelapa, ketapang dan pohon beringin yang cukup besar berjejer di sepanjang pantai, kondisi ini membuat udara disekitarnya terasa sejuk. Pantai Diffur ini masih asli dengan persen penutupan vegetasinya mencapai 75 %. Lebar pantai berpasir diukur pada saat pasang tertinggi adalah sekitar 15 meter sehingga baik digunakan untuk sarana rekreasi pantai. Dengan keberadan pohonpohon beringin yang berjejer di sepanjang pantai, maka burung-burung alam dari hutan sekitarnya menambah keunikan lokasi tersebut (DPK Provinsi Maluku 2006b). Sisi Selatan pulau ini merupakan selat dengan beberapa bagian memiliki teluk dengan kondisi perairan yang tenang dan kualitas perairan yang masih sangat baik sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi budidaya laut, salah satunya adalah Teluk Un. Keberadaan teluk ini selain merupakan habitat bagi berbagai biota laut, daerah penangkapan ikan serta area budidaya laut, teluk ini sendiri memiliki panorama yang khas, sehingga berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan wisata bahari, dan rekreasi (DPK Provinsi Maluku 2006c). Selain itu Teluk Un dapat juga dijadikan sebagai kawasan pendidikan bahari dan konservasi karena praktek pranata budaya yang sesuai dengan kaidah konservasi seperti pelaksanaan Sasi atau Yutut masih dipraktekan masyarakat setempat. Karena keunikannya, Teluk Un juga berpotensi untuk dijadikannya sebagai lokasi eksperimen kelautan. Mangrove dan lamun mendominasi kawasan perairan Teluk Un, sedangkan karang hanya terdapat pada kanal dan sekitar mulut kanal tersebut. Mangrove mengitari hampir keseluruhan teluk, demikian pula lamun yang hampir menutupi 50% dasar perairan teluk tersebut (DPK Provinsi Maluku 2006a). Tampilan citra satelit dari Pulau Dullah seperti ditunjukan pada Gambar 2. 2.3 Rancang Bangun Menurut BPPT (2007) Rancang Bangun adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pelaksanaan pembuatan suatu produk, 18 Pulau Duroa Pulau Dullah Pulau Kei Kecil Gambar 2 Citra satelit Pulau Dullah dengan komposit RGB 542 (Landsat 7 ETM+ Tanggal 10 Mei 2006). sementara menurut Wahyu (2006) Rancang Bangun adalah proses pembangunan sarana dan prasarana fisik untuk kepentingan umum. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam pelaksanaannya terbagi atas 3 tahapan yaitu: studi, desain, dan konstruksi. Disamping itu juga melibatkan berbagai macam pekerjaan, antara lain pekerjaan survei dan pemetaan, dimana pekerjaan survei dan pemetaan yang terlibat pada semua tahapan tersebut adalah sebagai unsur penunjang. 19 Dalam pengertian yang lebih luas, rancang bangun dapat juga diartikan sebagai suatu proses untuk merancang dan membangun sesuatu. Sebagai suatu proses, rancang bangun tidak harus selalu dalam bentuk fisik saja tetapi bisa juga dalam bentuk non fisik, misalnya dalam mendesain sesuatu yang terkait dengan aspek pengelolaan, salah satunya adalah dalam pengelolaan ekosistem dan sumberdaya alam serta jasa-jasa lingkungan. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil, kita dapat mendesain model pengelolaan dari sebuah pulau, atau mendesain model pengelolaan ekosistem dan sumberdaya alamnya, atau mendesain model pengelolaan kawasan tertentu dari pulau tersebut, misalnya kawasan konservasi. Di samping itu, rancang bangun adalah sesuatu yang aplied, sehingga dalam menentukan model pengelolaan yang diinginkan kita harus dapat melihat sesuatu yang sangat spesifik dari pulau tersebut sehingga dalam kenyataannya sesuatu yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan. Dalam konteks ini salah satu model yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil adalah minawisata bahari yaitu dengan mengintegrasikan potensi perikanan dan potensi pariwisata dalam bentuk pengelolaan terpadu. Dalam rancang bangun model pengelolaan dimaksud kita harus dapat mengintegrasikan berbagai aspek yang ada dipulau tersebut, misalnya aspek biofisik, sosial, ekonomi, kelembagaan dan lain-lain. Sesuatu yang tersistem dari pulau tersebut, kemudian dirancang bangun sedemikian rupa sehingga sistem tersebut lebih optimal dan dapat dipakai sebagai dasar untuk membangun konsep pengelolaan yang diinginkan (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). 2.4 Minawisata Bahari Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, disebutkan bahwa Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dalam sistem bisnis perikanan, seringkali digunakan kata Mina untuk menggantikan kata Perikanan yang pada hakekatnya mengandung pengertian 20 yang sama dengan kata perikanan itu sendiri. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pada dasarnya memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat nelayan dan juga masyarakat lainnya yang hidup di wilayah pesisir. Oleh karena itu, dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan, kelestarian sumberdaya harus dipertahankan sebagai landasan utama untuk mencapai kesejahteraan dimaksud. Dengan demikian, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan diharapkan tidak menyebabkan rusaknya daerah penangkapan (fishing ground), daerah pemijahan (spawning ground), daerah mencari makan (feeding ground), maupun daerah asuhan (nursery ground) ikan. Selain itu, tidak pula merusak ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan ekosistem lamun yang memiliki keterkaitan ekologis dengan sumberdaya ikan. Wisata merupakan suatu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang mengandalkan jasa alam untuk kepuasan manusia. Menurut Fandeli (2000); META (2002) berdasarkan konsep pemanfaatannya, wisata dapat diklasifikasikan dalam 3 bentuk yaitu : 1. Wisata Alam (Nature Tourism) Merupakan aktivitas wisata yang ditujukan pada pengalaman terhadap kondisi alam atau daya tarik panoramanya. 2. Wisata Budaya (Cultural Tourism) Merupakan wisata dengan kekayaan budaya sebagai objek wisata dengan penekanan pada aspek pendidikan. 3. Ekowisata (Ecotourism, Green Tourism, Alternatif Tourism) Merupakan wisata yang berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumberdaya alam atau lingkungan dan industri kepariwisataan. Khusus untuk ekowisata, dalam ekowisata terdapat suatu bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan oleh manusia yang dikenal dengan nama ekowisata bahari. Ekowisata Bahari merupakan kegiatan wisata yang memanfaatkan karakter sumberdaya pesisir dan laut yang dikembangkan dengan pendekatan konservasi laut. Pengelolaan ekowisata bahari merupakan suatu konsep pengelolaan yang 21 memprioritaskan kelestarian dan memanfaatkan sumberdaya alam dan budaya masyarakat. Yang menjadi objek ekowisata bahari dalam konsep ini adalah sumberdaya bawah laut dan dinamika air lautnya, ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem lamun serta biota yang hidup di sekitarnya. Kegiatan wisata yang dapat dikembangkan dengan konsep ekowisata bahari dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu wisata pantai dan wisata laut (bahari). Wisata pantai lebih mengutamakan sumberdaya pantai dan budaya masyarakat, sedangkan wisata laut (bahari) lebih mengutamakan sumberdaya bawah laut dan dinamika air lautnya (Yulianda 2007). Menurut Kamal (2005) Minawisata adalah pemanfaatan kawasan wisata dengan pengembangan produksi perikanan untuk mencapai ketertarikan masyarakat pengguna akan pengembangan perikanan pada kawasan wisata tersebut. Sedangkan Minaindustri adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan secara umum bagi keperluan industri, baik industri skala rumah tangga maupun industri skala besar. Selanjutnya dikatakan bahwa kalau dikemas dengan baik, maka minawisata akan menjadi peluang yang menjanjikan bagi peningkatan kunjungan wisata lokal, nasional dan internasional. Disamping itu kalau suatu kawasan perikanan secara umum termasuk kampung-kampung nelayan dan industri kapal rakyat dikemas dengan baik, juga akan menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga minaindustri akan menjadi paket tersendiri pula bagi pengembangan parawisata lokal dan nasional. Selain itu, menurut DPK Provinsi Maluku (2007) Minawisata adalah bentuk pemanfaatan sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata yang ada di suatu wilayah tertentu secara terintegrasi untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumberdaya tersebut, atau dengan kata lain Minawisata adalah pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah yang berbasis pada pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata secara terintegrasi pada suatu wilayah tertentu. Dalam konsep yang sama, minawisata dapat dibedakan dalam 2 pola pemanfaatan ruang dan sumberdaya yaitu minawisata sebagai irisan (intersection) dari pemanfaatan ruang dan sumberdaya perikanan dan pariwisata secara terintegrasi, dan minawisata sebagai gabungan (union) dari pemanfaatan ruang 22 dan sumberdaya perikanan dan pariwisata secara terintegrasi (Adrianto L 22 Mei 2008, komunikasi pribadi), seperti yang ditunjukan pada Gambar 3. M M MW W W M Pola Gabungan 3.b Pola Gabungan 3.c W Pola Irisan 3.a Gambar 3 Minawisata dalam bentuk pola irisan (intersection) dan pola gabungan (union). Dari ketiga gambar tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa M (mina) adalah fungsi dari kesesuaian perikanan [M = f (kP)] dan W (wisata) adalah fungsi dari kesesuaian pariwisata [W = f (kW)], dengan demikian maka MW (minawisata) adalah: 1. Fungsi dari kesesuaian perikanan dan pariwisata yang pola pemanfaatan ruang dan sumberdayanya merupakan irisan dari kedua aktivitas tersebut seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 3.a. 2. Fungsi dari kesesuaian perikanan dengan komponen pariwisata yang pola pemanfaatan ruang dan sumberdayanya merupakan gabungan dari kedua aktivitas tersebut, dimana yang menjadi basis adalah aktivitas perikanan dengan menyandingkannya dengan komponen pariwisata seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 3.b. 3. Fungsi dari kesesuaian pariwisata dengan komponen perikanan, yang pola pemanfaatan ruang dan sumberdayanya merupakan gabungan dari kedua aktivitas tersebut, dimana yang menjadi basis adalah aktivitas pariwisata dengan menyandingkannya dengan komponen perikanan seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 3.c. 23 Berdasarkan uraian di atas, maka selanjutnya peneliti dapat mendefinisikan bahwa Minawisata Bahari adalah bentuk pemanfaatan sumberdaya kelautan, perikanan dan wisata bahari yang ada di suatu wilayah tertentu secara terintegrasi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumberdaya sekaligus juga untuk pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah tersebut. 2.5 Konservasi Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan, dengan kata lain konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya disebutkan bahwa Konservasi adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Kawasan konservasi mempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Keaslian atau keunikan ekosistem (hutan hujan tropis yang meliputi pegunungan, dataran rendah, rawa gambut, pantai). b. Habitat penting/ruang hidup bagi satu atau beberapa spesies (flora dan fauna) khusus: endemik (hanya terdapat di suatu tempat di seluruh muka bumi), langka, atau terancam punah. c. Tempat yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah alami. d. Lansekap (bentang alam) atau ciri geofisik yang bernilai estetik/scientik. e. Fungsi perlindungan hidrologi: tanah, air, dan iklim global. f. Pengusahaan wisata alam yang alami (danau, pantai, keberadaan satwa liar yang menarik). Untuk wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil, kegiatan konservasi diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimana disebutkan bahwa Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan 24 sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya, sedangkan Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diselenggarakan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil; melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lain; melindungi habitat biota laut; dan melindungi situs budaya tradisional. Selanjutnya menurut Samedi dkk (2006) ada 2 hal yang harus dikonservasi yaitu jenis (spesies) dan kawasan (habitat). Konservasi jenis (spesies) diantaranya: a. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, termasuk ekosistem, jenis, dan genetika untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya hayati. b. Konservasi ekosistem adalah upaya melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan fungsi ekosistem sebagai habitat penyangga kehidupan biota perairan pada waktu sekarang dan yang akan datang. c. Konservasi jenis (ikan) adalah semua upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan fungsi jenis dari sumberdaya ikan, untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan fungsi jenis ikan tersebut bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. d. Konservasi genetika (ikan) adalah semua upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan fungsi genetika dari sumberdaya ikan, untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan fungsi genetika sumberdaya ikan tersebut bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. sedangkan konservasi kawasan (habitat) diantaranya: a. Kawasan Konservasi Laut adalah kawasan pesisir dan laut yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. 25 b. Taman Nasional Laut adalah Kawasan Konservasi Laut yang mempunyai ekosistem asli dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, kegiatan yang menunjang perikanan yang berkelanjutan, wisata perairan, dan rekreasi. c. Suaka Alam Laut adalah Kawasan Konservasi Laut dengan ciri khas tertentu untuk tujuan perlindungan keanekaragaman jenis ikan dan ekosistemnya. d. Taman Wisata Laut adalah Kawasan Konservasi Laut dengan tujuan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan wisata bahari dan rekreasi. e. Suaka Perikanan adalah kawasan perairan tertentu, baik air tawar, payau, maupun laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung/berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut dilakukan melalui kegiatan: pengelolaan konservasi ekosistem penting yang terkait dengan perikanan; pengembangan kawasan konservasi laut dalam jejaring pada tingkatan lokal, nasional, regional, dan global; dan pengembangan konservasi jenis dan genetika ikan, mencakup upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Selanjutnya dijelaskan bahwa ada 5 prinsip dasar dalam pengelolaan konservasi yaitu: 1. Proses ekologis seharusnya dapat dikontrol. 2. Tujuan dan sasaran hendaknya dibuat dari sistem pemahaman ekologi. 3. Ancaman luar hendaknya dapat diminimalkan dan manfaat dari luar dapat dimaksimalkan. 4. Proses evolusi hendaknya dapat dipertahankan. 5. Pengelolaan hedaknya bersifat adaptif dan meminimalkan kerusakan SDA dan lingkungan. sedangkan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam konservasi antara lain keterkaitan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan non hayati lainnya; keterpaduan dengan sektor-sektor lain yang terkait; dan karakteristik ekosistem yang terkait dengan perikanan tidak mengenal batas-batas administratif wilayah kabupaten, provinsi dan negara, Samedi dkk (2006). 26 2.6 Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem komputer yang mempunyai kemampuan pemasukan, pengambilan, analisis data, dan tampilan data geografis yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan. Sistem komputer ini terdiri dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak (perangkat lunak) dan manusia (personal) yang dirancang untuk secara efisien memasukan, menyimpan, memperbarui, memanipulasi, menganalisa, dan menyajikan semua jenis informasi yang berorientasi geografis (ESRI 1990). Teknologi SIG dikembangkan dan terintegrasi dari beberapa konsep dan teknik seperti Geografi, Statistika, Kartografi, Ilmu Komputer, Biologi, Matematika, Ekonomi dan Ilmu Geologi (Maguire 1991). Daya tarik utama SIG secara umum adalah bersifat terkomputerisasi yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai instansi karena: a) Kemudahan memperbaharui dan memperbaiki data. b) Kemampuan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan keperluan pemesanan. c) Kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai data termasuk data digital dan data penginderaan jauh. d) Potensial untuk pemetaan perubahan melalui program pemantauan dan kemampuannya untuk mengintegrasikan pemodelan. 2.6.1 Struktur Komponen SIG Sistem Informasi Geografis (SIG) terdiri atas 4 komponen dasar, yaitu data, perangkat lunak, perangkat keras, dan sumberdaya manusia atau pengguna SIG. Data merupakan komponen utama yang akan diproses dengan menggunakan SIG. Perangkat lunak merupakan komponen untuk mengintegrasikan berbagai macam data masukan, yang akan diproses dalam SIG. Perangkat keras berupa komputer, yang dilengkapi dengan peralatan digitasi, scanner, plotter, monitor, dan printer. Sumberdaya manusia merupakan pengguna sistem dan yang mengoperasikan perangkat lunak maupun perangkat keras, serta data yang digunakan untuk diolah, maupun dianalisis sesuai dengan kebutuhannya. Keempat struktur komponen saling berkomunikasi, baik antar data, antar data dan perangkal lunak, perangkat lunak dengan perangkat keras, dan manusia dengan perangkat dan data. 27 Komponen dasar perangkat lunak SIG tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: 1) Masukan (input data) dan pembetulan mencakup semua aspek transformasi data yang diambil dalam bentuk peta, observasi lapangan, data penginderaan jauh ke dalam bentuk digital. Data ini setelah dibetulkan, digunakan dalam membangun data dasar geografis. 2) Penyimpan dan pengolah data dasar berhubungan dengan penanganan dalam penyimpan data, meliputi posisi, hubungan topologi, atribut elemen geografis (titik, garis, poligon/area) untuk menyajikan objek permukaan bumi, struktur dan organisasi penyimpanan. Program komputer yang digunakan dalam pengorganisasian data dasar disebut sistem manajemen basis data (Data Base Management System = DBMS). 3) Keluaran (output data) dan penyajiannya, berhubungan dengan bentuk data, cara proses data, dan hasil pemrosesan disajikan pada pengguna. Cara penyajian melalui layar monitor, printer atau plotter, sedangkan bentuk penyajiannya berupa peta, tabel, grafik. diagram, atau bentuk lainnya. 4) Transformasi data, dapat berupa aspek spasial atau non-spasial, maupun kombinasi keduanya, seperti perubahan skala, data fitting, perhitungan luas dan keliling. Transformasi data meliputi 2 macam kelas operasi, yaitu (1) menghilangkan galat (error) data atau membawanya ke dalam bentuk yang lebih mutahir, atau memadankan himpunan data lain yang diperlukan, (2) membawa ke dalam bentuk spesifik seperti yang diinginkan pengguna. 5) Interaksi dengan pengguna (input query) merupakan bentuk interaksi dengan pengguna sistem informasi, yaitu dengan melakukan perintah-perintah yang dipilih dari menu (daftar) yang sudah diprogram. Keunikan SIG jika dibandingkan dengan sistem pengolahan basis data lainnya adalah kemampuannya untuk menyajikan informasi spasial maupun non-spasial secara bersama-sama. Sebagai contoh, data SIG penggunaan lahan akan dapat disajikan dalam bentuk batas-batas luasan yang masing-masing mempunyai atribut dalam bentuk tulisan maupun angka. Informasi yang berlainan tema umumnya disajikan dalam lapisan (layer) informasi yang berbeda. Oleh karena SIG merupakan penyederhanaan dari fenomena alam/geografis yang nyata, 28 maka SIG harus betul-betul mewakili kondisi, sifat-sifat (atribut yang penting) bagi suatu aplikasi/pemanfaatan tertentu (Raharjo 1996). 2.6.2 Aspek-Aspek Lingkungan Geografis Berbagai aspek dalam lingkungan geografi saling terkait, yang strukturnya mencakup tujuh aspek, yaitu aspek topologi mencakup letak, luas, bentuk dan batas wilayah; aspek abiotik mencakup tanah, air, dan iklim; aspek biotik mencakup manusia, hewan, dan tumbuhan; aspek sosial mencakup tradisi adat, kelompok masyarakat, dan lembaga sosial; aspek ekonomi mencakup industri, perdagangan, perkebunan, perikanan, pariwisata, transportasi dan pasar; aspek budaya mencakup pendidikan, agama, bahasa, dan kesenian; aspek politik mencakup pemerintahan dan kepartaian. 2.6.3 Analisis Tumpang Susun (overlay) Satu keuntungan yang dapat diperoleh dari operasional SIG adalah kemampuan dalam integrasi informasi. Sebetulnya teknik pengintegrasian informasi secara konvensional telah lama dikenal, melalui teknik tumpang susun (overlay) untuk berbagai keperluan. Penerapan pendekatan sistem overlay dalam SIG, disamping harus didukung pengetahuan tentang SIG, juga dasar pengetahuan mengenai tata kerja di atas peta, karena peraga utama sistem SIG ini adalah peta. Peta pada hakekatnya adalah gambaran sebagian permukaan bumi, yang digambarkan di atas bidang datar dan ukurannya dapat dipertanggung-jawabkan secara matematis. Didalam SIG, suatu peta atau objek disajikan pada bidang atau matriks atau himpunan larik (array). Setiap sel dalam array hanya dapat menyimpan satu nilai, atribut-atribut geografis yang berbeda (misalnya peta wilayah, struktur tanah, vegetasi, penggunaan lahan, geologi). Setiap atribut yang berbeda tersebut harus disajikan dalam bidang yang berbeda. Bidang penyajian yang berhubungan dengan suatu atribut geografis disebut dengan lapis (layer). Konsep overlay merupakan fungsi analisis pada SIG, dan konsep ini sama dengan konsep picture function pada pengolahan citra digital, pada teknologi penginderaan jauh. Fungsi analisis overlay ini dapat dilakukan dalam satu peta atau beberapa macam peta. 29 2.6.4 Aplikasi SIG dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Aplikasi SIG sudah banyak digunakan untuk pengelolaan penggunaan lahan dibidang pertanian, kehutanan, serta pembangunan pemukiman penduduk dan fasilitasnya. Hanya dalam beberapa tahun penggunaan SIG telah tersebar luas pada bidang ilmu lingkungan, perairan, dan sosial ekonomi. SIG juga telah digunakan dibidang militer, pemodelan perubahan iklim global dan geologi. Selain itu berbagai bentuk analisis spasial dapat dilakukan dengan menggunakan SIG termasuk di wilayah pesisir. Dalam pengelolaan sumberdaya pesisir, SIG dapat digunakan untuk menyajikan data dasar keruangan yang terkait dengan masalah (1) fisik pesisir, yaitu berupa data dasar keruangan termasuk topografi/batimetri, morfologi, penutupan tanaman, aliran sedimen, erosi dan deposisi, iklim, batas habitat dan lain sebagainya, dan (2) lingkup manusia/sosial, yaitu berupa data dasar keruangan termasuk batas administratif, distribusi populasi, jaringan transportasi, distribusi dan berbagai karakteristik manusia/sosial lainnya. Tipe penggunaan SIG dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu antara lain untuk (a) mengetahui tingkat eksploitasi sumberdaya alam, (b) mempertemuka n keinginan manusia yang sangat bervariasi, dan (c) menjaga keberadaan/ kelangsungan ekosistem pesisir. Dahuri (1997) menjelaskan bahwa secara umum keuntungan penggunaan SIG pada perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam adalah (1) mampu mengintegrasikan data dari berbagai format data (grafik, teks, analog, dan digital) dari berbagai sumber, (2) memiliki kemampuan yang baik dalam pertukaran data diantara berbagai macam disiplin ilmu dan lembaga terkait, (3) mampu memproses dan menganalisis data lebih efisien dan efektif daripada dikerjakan secara manual, (4) mampu melakukan pemodelan, pengujian dan perbandingan beberapa alternatif kegiatan sebelum dilakukan aplikasi dilapangan, (5) memiliki kemampuan pembaruan data yang efisien terutama model grafik, (6) mampu menampung data dalam volume yang besar. Gunawan (1998) menjelaskan bahwa SIG umumnya dipahami memiliki kontribusi besar dalam pengelolaan wilayah pesisir yakni (1) membantu memfasilitasi berbagai pihak sektoral, swasta dan Pemda yang merencanakan 30 sesuatu, dapat dipetakan dan diintegrasikan untuk mengetahui pilihan-pilihan manajemen dan alternatif perencanaan yang paling optimal. Kombinasi sektor atau kegiatan yang sinergis dan mempunyai keunggulan komparatif secara ekonomis tetapi dampak lingkungannya minimal dapat ditampilkan, sehingga pihak perencana dapat menyeleksi sektor atau kegiatan yang layak dan tidak layak dilakukan, (2) merupakan alat yang digunakan untuk menunjang pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir yang berwawasan lingkungan. Dengan menggunakan SIG, kita dengan mudah dan cepat dapat melakukan analisis keruangan (spatial analysis) dan pemantauan terhadap perubahan lingkungan wilayah pesisir. Kemampuan SIG dalam analisis keruangan dan pemantauan dapat digunakan untuk mempercepat dan mempermudah penataan ruang (pemetaan potensi) wilayah pesisir yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya. 2.7 Daya Dukung Lingkungan Dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan di pulau-pulau kecil, faktor daya dukung lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila pengelolaan dan pemanfaatannya dilakukan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungannya. 2.7.1 Definisi Daya Dukung Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa Daya Dukung didefinisikan sebagai kemampuan lingkungan untuk menyerap bahan, energi dan/atau komponen lainnya yang memasuki atau dibuang kedalamnya. Daya dukung lingkungan sangat erat kaitannya dengan kapasitas asimilasi dari lingkungan yang menggambarkan jumlah limbah yang dapat dibuang kedalam lingkungan tanpa menyebabkan polusi. Ada bermacam definisi tentang daya dukung, tetapi dalam pengelolaam pesisir dan pulau-pulau kecil ada beberapa tingkatan daya dukung yang perlu diperhatikan beserta kriteria-kriterianya dalam rangka pembangunan pesisir dan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan, daya dukung tersebut antara lain: 31 1) Daya Dukung Ekologis Menurut Piagram (1983) daya dukung ekologis dinyatakan sebagai tingkat maksimum penggunaan suatu kawasan atau suatu ekosistem, baik berupa jumlah maupun kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya, sebelum terjadi suatu penurunan dalam kualitas ekologis kawasan atau ekosistem tersebut. Kawasan yang menjadi perhatian utama dalam penilaian daya dukung ekologis ini adalah jenis kawasan atau ekosistem yang tidak dapat pulih, seperti berbagai ekosistem lahan basah (wetland) antara lain rawa payau, danau, laut, pesisir dan sungai. Selanjutnya dijelaskan bahwa pengertian ekosistem yang digunakan sebagai dasar dari penilaian daya dukung ini dinyatakan sebagai suatu sistem (tatanan) kesatuan secara utuh antara semua unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi atau ekosistem adalah suatu sistem dalam alam yang mengandung mahluk hidup dan lingkungannya yang terdiri dari zat-zat yang tak hidup dan dan saling mempengaruhi, dan diantara keduanya terjadi pertukaran zat atau energi yang diperlukan dalam dan untuk mempertahankan kehidupannya. 2) Daya Dukung Fisik Menurut Piagram (1983) daya dukung fisik suatu kawasan atau areal merupakan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam kawasan atau areal tersebut tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas kawasan tersebut secara fisik. Pada hakekatnya daya dukung fisik juga merupakan suatu bentuk ukuran kapasitas rancangan dan juga model rancangan untuk berbagai fasilitas yang diakomodasikan pada kawasan tersebut. Kawasan yang telah melampaui kondisi daya dukungnya secara fisik, antara lain dapat dilihat dari tingginya tingkat erosi, pencemaran lingkungan terutama udara dan air sungai atau air permukaan, banyaknya sampah kota, suhu kota yang meningkat, konflik sosial yang terjadi pada masyarakat karena terbatasnya ruang, atau pemadatan tanah yang terjadi pada tempat-tempat rekreasi. Dari contoh yang dikemukakan tersebut, dapat dilihat bahwa terlampauinya daya dukung fisik suatu kawasan akan berdampak (negatif) tidak saja terhadap aspek fisiknya 32 tetapi juga terhadap aspek-aspek lainnya yaitu aspek-aspek sosial, ekonomi, dan juga ekologis. 3) Daya Dukung Ekonomi Menurut Scones (1993) daya dukung ekonomi adalah tingkat produksi (skala usaha) yang memberikan keuntungan maksimum dan ditentukan oleh tujuan usaha secara ekonomi, dalam hal ini digunakan parameter-parameter kelayakan usaha secara ekonomi seperti Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), dan Internal Rate of Return (IRR). 4) Daya Dukung Sosial Menurut Piagram (1983) daya dukung sosial suatu kawasan dinyatakan sebagai batas tingkat maksimum dalam jumlah dan tingkat penggunaan di dalam suatu kawasan, dimana dalam kondisi yang telah melampaui batas daya dukung ini akan menimbulkan penurunan dalam tingkat dan kualitas pengalaman atau kepuasan pengguna (pemakai) pada kawasan tersebut. Terganggunya pola, tatanan atau sistem kehidupan dan sosial budaya manusia (indvidu, kelompok) pemakai ruang tersebut, yang dapat dinyatakan sebagai ruang sosialnya, juga merupakan gambaran telah terlampauinya batas daya dukung sosial ruang tersebut. Disamping dampak yang terjadi yang mengganggu kenyamanan atau kepuasan pemakai kawasan/ruang ini, dampak negatif lanjutan lainnya dapat terjadi misalnya menurunnya spesies biota di suatu kawasan. Konsep daya dukung sosial pada suatu kawasan merupakan gambaran dari persepsi seseorang dalam menggunakan ruang pada waktu yang bersamaan, atau persepsi pemakai kawasan terhadap kehadiran orang lain secara bersama dalam memanfaatkan suatu area tertentu. Konsep ini berkenaan dengan tingkat kenyamanan dan apresiasi pemakai kawasan karena pengaruh over-crowding pada suatu kawasan. 2.7.2 Daya Dukung Sebagai Dasar Penentuan Peruntukan Lahan Soerianegara (1978) mengemukakan bahwa untuk mengetahui daya dukung lahan atau lingkungan, harus diperhitungkan semua potensi yang ada di wilayah yang bersangkutan dan faktor kendala apa saja yang mempengaruhi potensi tersebut dalam jangka panjang. Tanda-tanda dilampauinya daya dukung lingkungan adalah adanya kerusakan lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa 33 untuk populasi manusia batasan daya dukung adalah jumlah individu yang dapat didukung oleh suatu satuan luas sumberdaya dan lingkungan dalam keadaan sejahtera. Menurut Bengen (2002b) dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam di pulau-pulau kecil, faktor daya dukung lahan/lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila dikelola dengan tetap memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungannya. Selanjutnya dikatakan bahwa, nilai yang dihasilkan dari perhitungan atau pendekatan daya dukung dari sumberdaya alam dan lingkungan adalah penting untuk menentukan bentuk-bentuk pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut terutama dalam tujuan menjaga, mengendalikan, dan juga melestarikan lingkungan. Penilaian yang sistematik terhadap sumberdaya alam dan lingkungan yang menjadi dasar dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dilakukan terutama untuk mengetahui potensinya. Dengan pendekatan ini maka akan dapat diketahui kapasitas dari suatu kawasan atau ekosistem yang dinilai, yang selanjutnya akan dapat merupakan ukuran dan/atau nilai pendugaan terhadap kualitas sumberdaya alam dan lingkungan. Menurut Dahuri (1998) kawasan pulau-pulau kecil sangat rentan secara ekologis. Selain itu wilayah ini memiliki keterkaitan ekologis, sosial ekonomi dan sosial budaya dengan ekosistem disekitarnya. Dengan alokasi ruang yang didasarkan pada daya dukung ekologis, jaringan sosial budaya antara masyarakat dan integrasi kegiatan sosial ekonomi yang sudah berlangsung selama ini, akan memberikan pilihan investasi yang tepat. Tata ruang dengan pendekatan ekosistem harus menjadi instrumen kebijakan utama untuk menjaga keamanan dan keselamatan sosial budaya dan ekologis dalam pengelolaan pulau-pulau kecil. Dengan demikian, menurut Dahuri (2001) tahapan untuk menetapkan atau menentukan daya dukung pulau kecil adalah : 1) Menetapkan batas-batas, vertikal, horisontal terhadap garis pantai pulau kecil sebagai suatu unit pengelolaan. 2) Menghitung luasan wilayah pulau kecil yang dikelola. 34 3) Mengalokasikan zona wilayah menjadi tiga yaitu, zona preservasi, zona konservasi dan zona pemanfaatan. 4) Menyusun tata ruang pembangunan pada zona konservasi dan zona pemanfaatan. 5) Melakukan penghitungan tentang potensi dan distrubusi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tersedia, misalnya stock assessment sumberdaya perikanan, potensi hutan mangrove, pengkajian ketersediaan air tawar, pengkajian tentang kapasitas asimilasi dan pengkajian tentang permintaan internal terhadap sumberdaya alam dan jasa lingkungan. Mengingat rentannya ekosistem pulau-pulau kecil, pemerintah melakukan pembatasan kegiatan yang sudah terbukti menimbulkan dampak negatif yang luas,baik secara ekologis maupun sosial. Pemerintah hanya mengizinkan pengelolaan pulau-pulau kecil untuk konservasi, budidaya laut, ekowisata, serta usaha penangkapan ikan dan industri perikanan yang lestari. Dalam usaha pemanfaatan pulau-pulau kecil ini oleh pengusaha dari luar pulau, pemerintah menjadi fasilitator pelibatan masyarakat dalam berbagai bentuk, seperti akses berusaha bagi penduduk lokal, kemitraan usaha dan penyertaan modal. Dahuri (1991) mengemukakan bahwa pembangunan pulau-pulau kecil dan sumberdaya alamnya yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila setiap kegiatan pembangunan ditempatkan pada lokasi-lokasi yang sesuai secara biofisik di wilayah yang bersangkutan. Implementasi yang berhasil dari setiap kerangka pengelolaan pulau-pulau kecil akan bergantung pada apakah kerangka tersebut dirancang berdasarkan pada kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial budaya yang ada serta susunan kelembagaan dari wilayah tersebut Pengelolaan berkelanjutan suatu wilayah kepulauan secara ekologis menurut Dahuri (1998) memerlukan 4 persyaratan yaitu: 1) Setiap kegiatan pembangunan (seperti tambak, pertanian, dan pariwisata) harus ditempatkan pada lokasi yang secara biofisik sesuai. Persyaratan ini dapat dipenuhi dengan cara membuat peta kesesuaian lahan (land suitability) termasuk juga perairannya. 2) Jika memanfaatkan sumberdaya yang dapat pulih, seperti penangkapan ikan di laut, maka tingkat penangkapannya tidak boleh melebihi potensi lestari 35 stok ikan tersebut. Demikian juga jika kita menggunakan air tawar (biasanya merupakan faktor pembatas terpenting dalam suatu ekosistem pulau-pulau kecil), maka laju penggunaannya tidak boleh melebihi kemampuan pulau tersebut untuk menghasilkan air tawar dalam kurun waktu tertentu. 3) Jika kita membuang limbah ke lingkungan pulau, maka jumlah limbah (bukan limbah B 3 , tetapi jenis limbah yang biodegradable) tidak melebihi kapasitas asimilasi lingkungan pulau tersebut. 4) Jika kita memodifikasi bentang alam (landskap) suatu pulau (seperti penambangan pasir dan reklamasi) atau melakukan kegiatan konstruksi di lingkungan pulau, khususnya di tepi pantai, seperti membangun dermaga (jetty) dan hotel, maka harus sesuai dengan pola hidrodinamika setempat dan proses-proses alami lainnya. 2.8 Pendekatan Sistem Pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan, dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan tersebut dapat dalam bentuk perbedaan kepentingan atau keterbatasan sumberdaya (Eriyatno 1998). Selanjutnya Eriyatno (2002) menjelaskan bahwa pendekatan sistem memberikan penyelesaian masalah dengan metode dan alat yang mampu mengidentifikasi, menganalisis, mensimulasi, dan mendesain sistem dengan komponen-komponen yang saling terkait, yang diformulasikan secara lintas disiplin dan komplementer untuk mencapai tujuan yang sama. Menurut Manetch and Park (1997) suatu pendekatan sistem akan dapat berjalan dengan baik jika terpenuhi kondisi-kondisi berikut ini: 1) Tujuan sistem didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantifikasi. 2) Prosedur pembuatan keputusan dalam sistem riil adalah tersentralisasi atau cukup jelas batasannya. 3) Dalam perencanaan jangka panjang memungkinkan untuk dilakukan. 36 Aminullah (2003) menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pendekatan sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yaitu: 1) Analisis kebutuhan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dari semua stakeholders dalam sistem. 2) Formulasi permasalahan, yang merupakan kombinasi dari semua permasalahan yang ada dalam sistem. 3) Identifikasi sistem, bertujuan untuk menentukan variabel-variabel sistem dalam rangka memenuhi kebutuhan semua stakeholders dalam sistem. 4) Pemodelan abstrak, pada tahap ini mencakup suatu proses interaktif antara analisis sistem dengan pembuatan keputusan yang menggunakan model untuk mengeksplorasi dampak dari berbagai alternatif dan variabel keputusan terhadap berbagai kriteria sistem. 5) Implementasi, tujuan utamanya adalah untuk memberikan wujud fisik dari sistem yang diinginkan. 6) Operasi, pada tahap ini akan dilakukan validasi sistem dan seringkali pada tahap ini terjadi modifikasi-modifikasi tambahan karena cepatnya perubahan lingkungan dimana sistem tersebut berfungsi. 2.8.1 Sistem dan Jenis Sistem Menurut Hartrisari (2007) Sistem adalah gugusan atau kumpulan dari komponen yang saling terkait dan terorganisasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau gugusan tujuan tertentu. Suatu sistem dapat terdiri dari beberapa subsistem. Selain itu menurut Manetch and Park (1997) Sistem adalah suatu gugus atau kumpulan dari elemen yang berinteraksi dan terorganisir untuk mencapai tujuan, sedangkan O’brien (1999) mendefinisikan Sistem sebagai suatu bentuk atau struktur yang memiliki lebih dari dua komponen yang saling berinteraksi secara fungsional. Dengan demikian, berarti setiap sistem harus memiliki komponen atau elemen yang saling berinteraksi (terkait) dan terorganisir dengan suatu tujuan atau fungsi tertentu. Berdasarkan ilmu manajemen, secara sederhana sistem digambarkan sebagai satu kesatuan antara input, proses dan output. Sistem akan membentuk suatu siklus yang berjalan secara terus menerus dan dikendalikan oleh suatu fungsi 37 kontrol atau umpan balik. Prinsip sistem dapat digunakan sebagai dasar untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yang sering kita hadapi atau menyusun (merangkai) berbagi elemen sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Untuk menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan sistem kita harus dapat mengidentifikasi semua komponen yang terdapat dalam sistem dan menentukan hubungan dari masing-masing komponen tersebut (Midgley 2000). Menurut Hartrisari (2007) Sistem dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu Sistem Terbuka (open system) dan Sistem Tertutup (closed system). Sistem Terbuka merupakan sistem yang outputnya merupakan tanggapan dari input, namun output yang dihasilkan tidak memberikan umpan-balik terhadap input. Sebaliknya pada Sistem Tertutup, output memberikan umpan-balik terhadap input. Sistem terbuka tidak menyediakan sarana koreksi dalam sistem, sehingga perlakuan koreksi membutuhkan faktor dari luar (eksternal). Pada sistem tertutup, sarana koreksi berada dalam sistem, sehingga perlakuan koreksi dapat dilakukan secara internal. Sistem tertutup disebut juga sistem umpan-balik (feedback system). 2.8.2 Model Model merupakan penyederhanaan sistem, karena sistem sangat kompleks tidak mungkin membuat model yang dapat menggambarkan seluruh proses yang terjadi dalam sistem. Model disusun dan digunakan untuk memudahkan dalam pengkajian sistem karena sulit dan hampir tidak mungkin untuk bekerja pada keadaan sebenarnya. Oleh karena itu, model hanya memperhitungkan beberapa faktor dalam sistem dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Hartrisari 2007). Menurut Manetch and Park (1997) model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu. Model dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif dan ekonik (Aminullah 2003). Model yang baik akan memberikan gambaran perilaku dunia nyata sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang tidak signifikan dari sistem yang dimodelkan. Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan pendekatan sistem adalah menggunakan konsep model simulasi sistem dinamis. 38 Dengan menggunakan simulasi, maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel model untuk tujuan tertentu dari input sistem dan parameter model. Karena itu model simulasi akan dapat memberikan model penyelesaian dunia riil yang kompleks. Eriyatno (2003) menjelaskan bahwa model juga dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model dioptimalkan terhadap input atau struktur sistem alternatif. Karena itu, model dapat dibangun dengan basis data (data base) atau basis pengetahuan (knowledge base). Menurut Muhammadi dkk (2001) langkah pertama dalam menyusun model sistem dinamis adalah dengan menentukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk kepada sistem dan sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal umpan balik (causal loops) yang menyusun struktur model. Semua perilaku model, bagaimanapun rumitnya dapat disederhanakan menjadi struktur dasar yaitu mekanisme dari masukan, proses, keluaran dan umpan balik. mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis. Untuk memahami struktur dan perilaku sistem yang akan membantu dalam pembentukan model dinamika kuantitatif formal dipergunakan diagram sebab akibat (causal loop) dan diagram alir (flow chart). Diagram sebab akibat dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat dan garis panah tersebut dapat berlaku dua arah jika kedua variabel saling mempengaruhi. Pada sistem dinamis, diagram sebab akibat ini akan dipergunakan sebagai dasar untuk membuat diagram alir yang akan disimulasikan dengan menggunakan program model sistem dinamis misalnya Program Stella. Program Stella akan dapat memberikan gambaran tentang perilaku sistem dan dengan simulasi dapat ditentukan alternatif terbaik dari sistem yang kita bangun, setelah itu dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan kebijakan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi/mengubah perilaku sistem yang terjadi. Menurut Muhammadi dkk (2001) perilaku model sistem dinamis ditentukan oleh keunikan dari struktur model, yang dapat dipahami dari hasil 39 simulasi model. Dengan simulasi akan didapatkan perilaku dari suatu gejala atau proses yang terjadi dalam sistem, sehingga dapat dilakukan analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut: 1) Penyusunan konsep Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Varibel-variabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan, dan saling ketergantungan. Kondisi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan. 2) Pembuatan model Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama, selanjutnya dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar atau rumus. 3) Simulasi Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat antar variabel dengan memasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model. 4) Validasi hasil simulasi Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa mendatang. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Dullah - Kota Tual - Provinsi Maluku dimana pada awalnya lokasi penelitian ini berada dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara, namun dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku maka sejak tanggal 10 Agustus 2007 status Pulau Dullah dan beberapa pulau lainnya telah dialihkan ke dalam wilayah administratif Kota Tual. Pemekaran wilayah ini kemudian diikuti dengan pengalihan perangkat daerah dan ase-aset daerah yang dilakukan secara bertahap sampai dengan tahun 2009. Walaupun telah beralih status wilayah administratifnya namun pengambilan sebagian data sekunder masih tetap dilakukan pada instansi terkait di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai kabupaten induk. Pemekaran wilayah tersebut diatas tidak menjadi kendala dalam penelitian ini karena pendekatan yang dilakukan adalah berbasis ekologi, bukan berbasis wilayah administratif. Waktu penelitian dimulai sejak bulan Oktober 2008 - Oktober 2009 dengan melakukan survei awal dan sosialisasi rencana penelitian sekaligus mengumpulkan data sekunder di berbagai instansi terkait pada Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dan Pemerintah Provinsi Maluku, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan data lapangan dalam bentuk ground-check, melakukan wawancara dan focus group discussion (FGD) dengan stakeholders lainnya. Peta lokasi penelitian seperti ditunjukan pada Gambar 4. 3.2 Tahapan Penelitian Tahapan penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, analisis, dan sintesis, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a) Pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan baik data primer maupun data sekunder di lokasi penelitian dan juga dari berbagai instansi terkait lainnya, data yang dikumpulkan meliputi aspek ekologi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat, serta kelembagaan. 42 Gambar 4 Peta lokasi penelitian. 43 b) Analisis dilakukan terhadap data potensi dan sumberdaya Pulau Dullah serta peluang pengembangannya disesuaikan dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Analisis dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, diantaranya: analisis kesesuaian lahan; analisis prioritas pemanfaatan ruang; analisis daya dukung lingkungan; analisis ekonomi; analisis sosial; dan analisis kelembagaan; untuk selanjutnya menuju ke sintesis. c) Sintesis bertujuan untuk menghasilkan konsep keterpaduan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang pada akhirnya diarahkan sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan dan strategi pengelolaan Pulau Dullah secara terpadu. 3.3 Jenis dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan terhadap objek penelitian (ground check) serta melakukan wawancara dan focus group discussion (FGD) dengan stakeholders yang terkait dengan materi penelitian. Data sekunder dikumpulkan dengan cara penelusuran berbagai literatur dan pustaka pada berbagai instansi terkait sesuai materi yang dikaji. Tabel 2 menunjukan uraian dari data yang dibutuhkan dan Gambar 5 menunjukan peta stasiun pengamatan pada saat melakukan ground check di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 3.4 Analisis Data Rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi dimulai dengan menganalisis data biogeofisik Pulau Dullah khususnya di lokasi studi yaitu di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Secara umum analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Pada tahap I, keluarannya adalah peta kesesuaian lahan untuk berbagai kategori aktivitas minawisata bahari berbasis konservasi. Pada tahap II, keluarannya adalah alokasi ruang pada kawasan tersebut untuk semua aktivitas minawisata bahari. Sedangkan pada tahap III, keluarannya adalah model pengelolaan optimal dan implikasi kebijakan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi. 44 Tabel 2 Kebutuhan data penelitian NO 1. KATEGORI JENIS DATA SUMBER KET Data Biofisik a Fisika, kimia, oseangografi Kedalaman perairan, kecerahan, kecepatan arus, suhu perairan, salinitas, pH, DO, phosphat, nitrat, tembaga, ammonia, sulfida, pasut, gelombang, dan material dasar perairan. Ground check (insitu di lokasi penelitian) Data Primer hasil sampling pada 7 stasiun pengamatan b Ekosistem dan sumberdaya Mangrove, terumbu karang, lamun, ikan, kerang, dan biota laut lainnya Ground check (insitu di lokasi penelitian) Data Primer dan Data Sekunder 2. Data Pemanfaatan Lahan a Pemanfaatan lahan darat pemukiman, pemerintahan, industri, dan pariwisata Instansi terkait Data Sekunder b Pemanfaatan lahan perairan pelabuhan umum, pelabuhan perikanan, perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri perikanan, dan pariwisata Instansi terkait Data Sekunder 3. Data Demografi, Infrastruktur, Budaya, dan Kelembagaan a Demografi jumlah penduduk, kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, dan mata pencarian BPS Kab. Malra / Kota Tual Data Sekunder b Infrastruktur sarana dan prasarana umum, pemukiman, pemerintahan, perekonomian, dan transportasi Bappeda Kab. Malra / Kota Tual Data Sekunder c Sosial Budaya budaya lokal, pranata sosial, dan kearifan lokal masyarakat. Instansi terkait, lembaga adat Data Sekunder 4. Data Pendukung a Citra Satelit Citra Landsat 7 ETM+ P.106/R.064 (liputan terakhir) BTIC / LAPAN Data Sekunder b Peta Peta Rupa Bumi (RBI), Peta Lingkungan Pantai (LPI), Peta Wilayah Administratif. Bakosurtanal, Dishidros TNIAL, Bappeda Kota Tual Data Sekunder c Buku Laporan RTRW, RPJMD, Renstra, Administrasi dan Pemerintahan, Kebijakan Pembangunan Sektoral dan data lainnya yang terkait Bappeda, BPS, Instansi Terkait di Kab. Malra / Kota Tual Data Sekunder 45 Gambar 5 Peta stasiun pengamatan 46 Pemodelan dinamik dilakukan dengan cara simulasi terhadap beberapa skenario pengelolaan dengan menggunakan perangkat lunak STELLA Version 9.0.2 sebagai alat bantu analisis. Dari hasil simulasi skenario pengelolaan ini kemudian dibuat implikasi kebijakan dari skenario pengelolaan yang dianggap paling optimal untuk diterapkan. Diagram alir tahapan analisis data seperti ditunjukan pada Gambar 6. 3.4.1 Analisis Kesesuaian Lahan Dalam dimensi ekologis, penempatan setiap kegiatan pembangunan haruslah bersesuaian dengan ciri biologi-fisik-kimianya sehingga terbentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam arti saling mendukung satu sama lainnya. Untuk mencapai hal tersebut maka dibutuhkan analisis kesesuaian lahan. Analisis kesesuaian lahan yang dilakukan adalah untuk minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi dengan kategori aktivitas sebagai berikut: (a) minawisata bahari pancing; (b) minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska); (c) minawisata bahari karamba pembesaran ikan; (d) minawisata bahari selam; dan (e) minawisata bahari mangrove. Semua kategori minawisata bahari ini memanfaatkan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang terkait sebagai objek. Secara umum terdapat empat tahapan analisis yang akan dilakukan yaitu (1) penyusunan peta kawasan; (2) penyusunan matriks kesesuaian setiap kegiatan yang akan dilakukan; (3) pembobotan dan pengharkatan; dan (4) melakukan analisis spasial untuk mengetahui kesesuaian dari setiap kegiatan yang akan dilakukan. 1. Penyusunan Peta Kawasan Penggunaan kawasan mengacu pada kenyataan bagaimana kawasan tersebut digunakan. Penentuan kategori penggunaan kawasan didasarkan pada jenis penggunaan yang dominan pada kawasan tersebut. Jenis-jenis kegiatan yang memiliki kesamaan karakteristik digolongkan kedalam satu kategori dan dapat diperhitungkan sebagai satu jenis dalam dominasinya. Penyusunan peta kawasan Pulau Dullah dilakukan dengan cara tumpang susun berbagai peta yang didapat dari berbagai sumber. 47 MULAI INPUT PROSES Sistem Pulau-Pulau Kecil ( Pulau Dullah ) Analisis Kesesuaian Lahan ( Geographic Information System ) T A H A P I OUTPUT Peta Kesesuaian Lahan INPUT Kesesuaian Lahan untuk Minawisata Bahari PROSES Analisis Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang dan Daya Dukung Lingkungan T A H A P II OUTPUT INPUT PROSES Alokasi Ruang Kesesuaian Lahan Daya Dukung Lingkungan Valuasi Ekonomi Manfaat-Biaya Skenario Pengelolaan dan Simulasi Skenario ( Dynamic Model ) T A H A P III OUTPUT Model Pengelolaan Optimal dan Implikasi Kebijakan SELESAI Gambar 6 Diagram alir tahapan analisis data. 48 Penyusunan peta kawasan dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), yaitu melakukan query terhadap data SIG dengan menggunakan prinsipprinsip pemanfaatan kawasan sehingga informasi spasialnya dapat diketahui: a) Kawasan mana saja yang tersedia bagi kegiatan pembangunan dan kawasan mana saja yang dijadikan sebagai kawasan lindung. b) Kegiatan penggunaan kawasan apa saja yang diperbolehkan dan apa saja yang tidak diperbolehkan. c) Konflik pemanfaatan ruang yang terjadi antara lain kesesuaian kawasan dengan peruntukannya dan penggunaan lahan dengan peruntukannya. d) Hasil penyusunan peta kawasan yang telah sesuai dengan peruntukannya dapat saja berbeda dengan penggunaan kawasan pada saat sekarang. 2. Penyusunan Matriks Kesesuaian Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari dengan berbagai kategori aktivitas seperti tersebut diatas, didasarkan pada kriteria kesesuaian lahan untuk setiap aktivitas. Kriteria ini dibuat berdasarkan parameter biofisik yang cocok untuk masing-masing aktivitas. Matriks kesesuaian lahan dibuat berdasarkan justifikasi ilmiah (hasil studi pustaka) dan informasi dari pakar yang ahli dalam bidangnya. Matriks ini sangat penting karena dari matriks tersebut akan dapat diketahui parameter yang digunakan dan kisaran yang diperbolehkan. Dalam penelitian ini kesesuaian lahan dibagi kedalam 3 kelas: 1) Kelas S (sesuai), yaitu lahan yang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas lahan serta tidak akan menambah masukan (input) dari pengusahaan lahan tersebut. 2) Kelas SB (sesuai bersyarat), yaitu lahan yang mempunyai pembatas yang cukup berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari akan tetapi masih memungkinkan untuk diatasi/diperbaiki, artinya masih dapat ditingkatkan menjadi sesuai jika dilakukan perbaikan dengan tingkat introduksi teknologi yang lebih tinggi atau dapat dilakukan dengan perlakuan tambahan dengan biaya rasional. 49 3) Kelas TS (tidak sesuai), yaitu lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat secara permanen untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, pembatas tersebut akan menghambat produktivitas lahan serta dapat meningkatkan masukan (input) dari pengusahaan lahan tersebut, sehingga lahan tersebut tidak layak untuk diusahakan. Matriks kesesuaian lahan yang digunakan adalah sebagaimana yang ditunjukan pada Tabel 3 sampai 7. 3. Pembobotan (Weighting), dan Pengharkatan (Scoring) Pembobotan (weighting) pada setiap parameter (faktor pembatas) ditentukan berdasarkan pada dominannya parameter tersebut terhadap suatu peruntukan, besarnya pembobotan ditunjukkan pada suatu parameter untuk seluruh evaluasi lahan. Pemberian nilai (scoring) ditujukan untuk menilai beberapa parameter (faktor pembatas) terhadap satu evaluasi kesesuaian. 4. Analisis Spasial Analisis spasial dilakukan terhadap 5 jenis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari dengan kategori aktivitas sebagai berikut: (1) minawisata bahari pancing, (2) minawisata bahari karamba pembesaran ikan, (3) minawisata bahari pengumpulan kerang, (4) minawisata bahari selam, dan (5) minawisata bahari mangrove. Basis data dibentuk dari data spasial dan data atribut, kemudian dibuat dalam bentuk layers atau coverage dimana menghasilkan peta-peta tematik dalam format digital sesuai parameter untuk masing-masing jenis kesesuaian lahan. Setelah basis data terbentuk, analisis spasial dilakukan dengan metode tumpang susun (overlay) terhadap parameter yang berbentuk poligon. Proses overlay dilakukan dengan cara menggabungkan (union) masing-masing layers untuk tiap jenis kesesuaian lahan. Penilaian terhadap kelas kesesuaian dilakukan dengan melihat nilai indeks kesesuaian (overlay indeks) dari masingmasing jenis kesesuaian lahan tersebut. Pengolahan data Sistem Informasi Geografis ini dilakukan dengan menggunakan Arch-Info GIS Version 3.4.2 dan Arch-View GIS Version 3.3. 50 Tabel 3 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pancing KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 1. Kelompok jenis ikan Madduppa, 2009. 5 Ikan Target, Ikan Indikator, Ikan Mayor 3 Ikan Target, Ikan Indikator, 2 Ikan Mayor 1 2. Kecepatan arus (cm/det) Polanunu, 1998. 5 < 20 3 20 - 100 2 > 100 1 3. Tinggi gelombang (cm) Sugiarti, 2000. 5 < 50 3 50 - 100 2 > 100 1 4. Kecerahan perairan (m) Sugiarti, 2000. 3 10 1 5. Suhu perairan (oC) Nybakken, 1988. Mulyanto, 1992. 1 25 – 30 3 > 30 - 32 2 < 25 > 32 1 6. Salinitas (o/ oo ) Nontji, 2003. Romimohtarto dan Juwana, 1999. 1 20 - 32 3 > 32 - 36 2 < 20 > 36 1 7. Kedalaman perairan (m) Sugiarti, 2000. 1 < 10 3 10 - 15 2 > 15 1 8. Jarak dari alur pelayaran dan kawasan lainnya (m) Bengen, 2008. 1 > 500 3 300 - 500 2 < 300 1 Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 78 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 26 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 17.33 Evaluasi Kelayakan : 60.67 – 78.00 : Sesuai 43.34 – 60.66 : Sesuai Bersyarat 26.00 – 43.33 : Tidak Sesuai 51 Tabel 4 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 1 Jenis moluska Peneliti, 2009. 5 *) 3 **) 2 ***) 1 2 Kelimpahan (ind/m2) Peneliti, 2009. 5 >2 3 1-2 2 100 3 10 - 100 2 < 10 1 4 Tipe substrat pantai Latale, 2003. Natan, 2008. 3 Pasir berlumpur, Pasir halus 3 Pasir sedang, Pasir kasar, Karang berpasir 2 Batu, Karang 1 5 Kemiringan pantai Peneliti 3 Landai 3 Curam 2 Terjal 1 6 Suhu perairan (oC) Razak, 2002. 1 25 - 28 3 > 28 - 30 2 < 25 > 30 1 7 Salinitas (o/ oo ) Setiobudiandi, 1995. 1 29 - 34 3 > 34 - 36 2 < 29 > 36 1 *) Anadara sp, Tridacna sp, Hippopus sp, Haliotis sp, Tripneustes sp, Littorina sp, Cerithium sp, Chlamys sp, Lioconcha sp **) Phenacovolva sp, Strombus sp, Lambis sp, Guilfordia sp, Clanculus sp, Tectus sp, Cypraea sp, Donax sp, Euspira sp, Siliquaria, sp ***) Spesies moluska lainnya. Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 69 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 23 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 15.33 Evaluasi Kelayakan : 53.67 – 69.00 : Sesuai 38.34 – 53.66 : Sesuai Bersyarat 23.00 – 38.33 : Tidak Sesuai 52 Tabel 5 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER 1 Kecepatan arus (m/det) DKP-RI, 2002. 2 Tinggi gelombang (m) 3 BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 5 < 0,75 3 0,76 - 1,0 2 > 1,0 1 DKP-RI, 2002. 5 < 0,5 3 > 0,5 – 1,0 2 > 1,0 1 Kedalaman air dari dasar jaring (m) DKP-RI, 2002. 5 4,0 – 7,0 3 7,1 – 10,0 2 < 4,0 > 10,0 1 4 Suhu perairan (oC) Nybakken, 1988. Mulyanto, 1992. LP Undana, 2006. 3 29 - 30 3 26 - < 29 2 < 26 > 30 1 5 Salinitas (o/ oo ) Nontji, 2003. Romimohtarto dan Juwana, 1999. LP Undana, 2006. 3 25 - 30 3 > 30 - 33 2 < 25 > 33 1 6 Oksigen terlarut (mg/l) LP Undana, 2006. 3 >6 3 3– 0,9 1 9 Phospat (mg/l) Tiensongrusmee et al, 1986. 1 < 0,1 3 0,1 – 0,9 2 > 0,9 1 10 Jarak dari alur pelayaran dan kawasan lainnya (m) Bengen, 2008. 1 > 500 3 300 - 500 2 < 300 1 Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 90 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 30 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 20 Evaluasi Kelayakan : 71 – 90 : Sesuai 51 – 70 : Sesuai Bersyarat 30 – 50 : Tidak Sesuai 53 Tabel 6 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 1 Jenis ikan karang (sp) Yulianda, 2007. 5 > 75 3 20 - 75 2 < 20 1 2 Kecerahan perairan (%) Yulianda, 2007. Suharsono dan Yosephine, 1994. 5 > 65 3 20 - 65 2 < 20 1 3 Tutupan komunitas karang (%) Yulianda, 2007. Gomes dan Yap, 1998. 3 > 65 3 25 - 65 2 < 25 1 Jenis life-form (sp) Yulianda, 2007. 3 5 Suhu perairan (oC) Nybakken, 1988. Mulyanto, 1992. Hubbard, 1990. Tamrin, 2006. 3 23 - 25 3 26 - 36 2 < 23 > 36 1 6 Salinitas (o/ oo ) Nontji, 2003. Kinsman, 2004. 3 30 - 36 3 28 - 30 2 < 28 > 36 1 7 Kedalaman ter. karang (m) Yulianda, 2007. Nybakken, 1988. 3 3 - 20 3 21 - 30 2 30 1 8 Kecepatan arus (cm/det) Yulianda, 2007. Jokiel dan Morrissey, 1993. 1 0 - 25 3 26 - 50 2 > 50 1 4 Atau tdk ada karang > 10 3 4 - 10 2 300 3 50 - 300 2 < 50 1 2 Kerapatan mangrove (ind/100 m2) Yulianda, 2007. 5 > 10 - 25 3 5 – 10 > 25 2 3 3 1-3 2 0 1 4 Jenis biota Yulianda, 2007. MERDI dalam DPK 2006a. 3 Ikan, Udang, Kepiting, Moluska, Reptil, Burung. 3 Ikan, Moluska 2 Salah satu biota air 1 5 Tinggi Pasut (m) Yulianda, 2007. 1 0- 5 1 6 Jarak dari kawasan lainnya (m) Bengen, 2000. 1 > 500 3 300 - 500 2 < 300 1 Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 54 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 18 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 12 Evaluasi Kelayakan : 43 – 54 : Sesuai 31 – 42 : Sesuai Bersyarat 18 – 30 : Tidak Sesuai 5. Analisis Spasial Analisis spasial dilakukan terhadap 5 jenis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari dengan kategori aktivitas seperti tersebut diatas. Basis data dibentuk dari data spasial dan data atribut, kemudian dibuat dalam bentuk layers atau coverage dimana menghasilkan peta-peta tematik dalam format digital sesuai parameter untuk masing-masing jenis kesesuaian lahan. 55 Setelah basis data terbentuk, analisis spasial dilakukan dengan metode tumpang susun (overlay) terhadap parameter yang berbentuk poligon. Proses overlay dilakukan dengan cara menggabungkan (union) masing-masing layers untuk tiap jenis kesesuaian lahan. Penilaian terhadap kelas kesesuaian dilakukan dengan melihat nilai indeks kesesuaian (overlay indeks) dari masingmasing jenis kesesuaian lahan tersebut. Pengolahan data Sistem Informasi Geografis ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Arch-Info GIS Version 3.4.2 dan Arch-View GIS Version 3.3. 3.4.2 Analisis Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang Analisis skala prioritas pemanfaatan ruang ini menggunakan metode multi criteria decision making (MCDM) dan diarahkan pada relevansi keputusan jenis pemanfaatan ruang di pulau kecil yang akan lebih tepat, cocok, dan representatif sebagai skala prioritas bagi pengembangan melalui urutan rangking. Pada analisis pemilihan prioritas dengan MCDM, pembobotan suatu kriteria dan alternatif yang diambil, disusun berdasarkan matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik simple multi atribute rating technique (SMART). Teknik SMART merupakan keseluruhan proses dari peratingan alternatifalternatif dan pembobotan atribut-atribut. Proses ini terdiri dari 2 tahap yaitu: (1) mengurutkan tingkat kepentingan perubahan-perubahan dalam atribut mulai dari atribut terburuk (peringkat terendah) sampai atribut terbaik (peringkat tertinggi); dan (2) melakukan estimasi rasio kepentingan relatif dan ranking setiap atribut terhadap atribut yang paling rendah tingkat kepentingannya. Analisis selanjutnya adalah penggabungan kedua hasil analisis data di atas menjadi satu dengan menggunakan persamaan agregasi sebagai berikut: γ = π Si 1/n ………………………………………………………………… (1) dimana : γ = rata-rata geometrik Si = nilai skor akhir hasil analisis prioritas berdasarkan kelompok kriteria analisis n = 2 56 Sehingga persamaan menjadi: γ = √ S 1 x S 2 ………………………………………………………………… (2) Berdasarkan hasil analisis di atas maka diperoleh hasil akhir untuk peringkat dalam menentukan prioritas pemanfaatan lahan yang perlu dikembangkan. Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang seperti yang ditunjukan pada Tabel 8. Tabel 8 Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang Kriteria C1 C2 ... Cn Alternatif W1 W2 ... Wn A1 A 11 A 21 ... A 1n A2 A 12 A 22 ... A 2n ... ... ... ... ... Am A m1 A m2 ... A mn Sumber : Subandar (1999). dimana : A i , (i = 1,2,3, … ,m) = menunjukkan pilihan alternatif yang ada C j , (j = 1,2,3, … ,n) = merujuk pada kriteria dengan bobot Wj A ij , (i = 1, ... ,m, j = 1, ... ,n) = adalah pengukuran keragaan dari suatu alternatif A i berdasarkan kriteria C j . Untuk menyusun peringkat jenis pemanfaatan lahan yang dikembangkan, maka dilakukan penentuan kriteria/subkriteria yang telah disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknik SMART dengan bantuan perangkat lunak criterium decision plus (Cdplus) version 3.0. sehingga pengukuran terhadap kriteria ekologi; ekonomi; sosial budaya; dan kelembagaan dapat dilakukan. Masing-masing kriteria dapat dikembangkan lagi menjadi subkriteria. Subkriteria diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dan juga bersumber dari data sekunder. Kriteria ekologi; ekonomi; sosial budaya, dan kelembagaan dapat diuraikan seperti berikut: 57 a. Kriteria ekologi, antara lain kesesuaian lahan, dan daya dukung lingkungan. b. Kriteria ekonomi, antara lain manfaat ekonomi, dan tingkat pendapatan masyarakat. c. Kriteria sosial budaya, antara lain kebiasaan masyarakat, dan penyerapan tenaga kerja. d. Kriteria kelembagaan, antara lain bentuk kelembagaan, dan aturan pengelolaan. 3.4.3 Analisis Daya Dukung Lingkungan Untuk menentukan daya dukung lingkungan bagi model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ini digunakan 2 pendekatan yaitu: 1) Pendekatan yang mengacu pada daya dukung fisik, yaitu jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam suatu kawasan tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas kawasan tersebut secara fisik. Metoda yang digunakan adalah daya dukung lahan dan daya dukung kawasan. 2) Pendekatan yang mangacu pada daya dukung ekologis, yaitu tingkat maksimum penggunaan suatu kawasan atau suatu ekosistem, baik berupa jumlah maupun kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya sebelum terjadi penurunan dalam kualitas ekologis kawasan atau ekosistem tersebut. Metoda yang digunakan adalah pendugaan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Pendekatan 1: Berkaitan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan juga semakin bertambah yang akhirnya berdampak kepada semakin terbatasnya lahan, baik untuk tempat tinggal maupun untuk kegiatan pemanfaatan yang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis untuk menentukan seberapa besar daya dukung suatu lahan untuk menampung kegiatan pemanfaatan pada suatu wilayah tanpa merusak kelestarian lingkungan yang ada. Daya dukung lahan (DDL) menunjukkan kemampuan maksimum lahan untuk mendukung suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa menimbulkan penurunan kualitas baik lingkungan biofisik maupun sosial. DDL yang dianalisis dalam penelitian ini dibatasi pada kemampuan lahan dalam menampung suatu aktivitas tertentu ditinjau dari aspek kesesuaian fisik, hasil dari analisis ini akan memberikan informasi mengenai berapa besar luas lahan yang 58 dapat dimanfaatkan. Kapasitas Lahan (KL) diartikan sebagai luasan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa mengalami gangguan dan merusak ekosistem yang ada. Besarnya kapasitas lahan yang digunakan dalam model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Pulau Dullah ini adalah 30% dari luas lahan yang sesuai. Kapasitas lahan ditetapkan sebesar 30% karena berdasarkan morfogenesis pulau, Pulau Dullah termasuk kelompok pulau oseanik dengan kategori pulau karang (koral) dimana sebagian besar dari pulau-pulau ini tergolong pulau kecil (Bengen dan Retraubun 2006). Disamping itu berdasarkan ukurannya Pulau Dullah termasuk kategori pulau kecil dimana sangat peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia sehingga dalam pengelolaannya harus memperhatikan prinsip dan kriteria pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil. Berdasarkan pendekatan tersebut di atas maka daya dukung lahan dapat dihitung dengan rumus atau formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut: DDL = LLS X KL ………………………………………………………… (3) dimana: DDL = Daya Dukung Lahan LLS = Luas Lahan yang Sesuai KL = Kapasitas Lahan Sedangkan untuk menghitung jumlah unit (sarana pemancingan ikan dan karamba pembesaran ikan) maka digunakan rumus yang dimodifikasi dari formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut: JU = DDL / LOG ………………………………………………………… (4) dimana: JU = Jumlah Unit DDL = Daya Dukung Lahan LO = Luas Olah Gerak Luasan optimal sarana pemancingan ikan adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit perahu bercadik dengan ukuran panjang perahu 4 meter dan 59 lebar perahu termasuk cadiknya adalah 3 meter, sementara luas olah gerak (LOG) untuk 1 unit sarana pemancingan ikan agar dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh sarana pemancingan lainnya adalah 900 m2 (30 m X 30 m). Sedangkan luasan optimal karamba pembesaran ikan adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit rakit dengan 4 buah karamba berukuran 3m X 3m X 3m, luasan optimal untuk 1 unit rakit agar ikan-ikan yang dipelihara dapat bertumbuh dengan baik adalah 144 m2 (12 m X 12 m), luasan ini merupakan ukuran optimal yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto 1993), sementara luas olah gerak untuk 1 unit rakit karamba agar perahu yang menuju dan kembali dari rakit karamba tersebut dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh perahu lainnya adalah 3600 m2 (60 m X 60 m). Selanjutnya untuk menghitung berapa jumlah orang yang dapat ditampung di kawasan tersebut maka digunakan metoda daya dukung kawasan (DDK). DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung dikawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. DDK untuk minawisata bahari pancing dan minawisata bahari karamba pembesaran ikan dihitung dengan menggunakan rumus yang dimodifikasi dari formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut: ………………………………………………………… (5) DDK = JU X JP dimana: DDK = Daya Dukung Kawasan JU = Jumlah Unit JP = Jumlah Pengunjung Sedangkan DDK untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska), minawisata bahari selam, dan minawisata bahari mangrove dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Yulianda (2007) sebagai berikut: DDK = K x Wt Lp x Wp Lt ………………………………………… (6) 60 dimana: DDK = Daya dukung kawasan K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu Wt = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu Potensi ekologis pengunjung (K) dan unit area (Lt) ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan seperti ditunjukan pada Tabel 9. Tabel 9 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) Jenis Kegiatan K Unit Area (∑ Pengunjung) (Lt) Minawisata bahari pengumpulan kerang 1 Minawisata bahari selam 2 Minawisata bahari mangrove 1 2500 Keterangan Setiap orang dalam 50 m x 50 m 2000 m2 Setiap 2 orang dalam 200 m x 10 m 50 m Dihitung panjang track, setiap 1 orang sepanjang 50 m Sumber : Yulianda (2007). Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata. Waktu pengunjung diperhitungkan dengan waktu yang disediakan oleh kawasan (Wt) seperti yang disajikan pada Tabel 10. Pendekatan 2 : Pendekatan yang mangacu pada daya dukung ekologis untuk pengembangan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi adalah kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Penentuan daya dukung lingkungan berdasarkan kapasitas asimilasi lingkungan perairan seperti yang dikemukakan oleh Quano (1993) 61 Tabel 10 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata Waktu yang dibutuhkan / Wp ( jam ) Total waktu 1 hari / Wt ( jam ) Minawisata bahari pengumpulan kerang 4 8 Minawisata bahari selam 2 8 Minawisata bahari mangrove 2 8 Jenis Kegiatan Sumber : Yulianda (2007). adalah metode hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban limbahnya. Variabel yang diamati adalah debit air yang masuk ke teluk oleh pasut dan konsentrasi limbah di lingkungan perairan. Metode ini cukup dapat menggambarkan atau menunjukan kapasitas asimilasi dari lingkungan perairan dimaksud. Nilai kapasitas asimilasi didapatkan dengan cara membuat grafik hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter limbah di lingkungan perairan dengan total beban limbah parameter tersebut di muara sungai, dan selanjutnya dianalisis dengan cara memotongkan dengan garis baku mutu air laut yang diperuntukan bagi biota laut dan kegiatan wisata bahari berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Pola hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban pencemaran yang dimaksud disajikan pada Gambar 7. Jika pola hubungan tersebut direpresentasikan terhadap nilai baku mutu air laut maka akan dapat diketahui kapasitas asimilasi lingkungan perairan tersebut terhadap suatu parameter limbah tertentu. Nilai kapasitas asimilasi didapat dari titik potong beban pencemaran dengan nilai baku mutu yang berlaku untuk setiap parameter, dan selanjutnya dianalisis seberapa besar peran masing-masing parameter terhadap beban pencemarannya. Beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Nilai kapasitas asimilasi hanya berlaku di lingkungan perairan pada batas yang telah ditetapkan dalam lokasi penelitian. 62 2) Nilai hasil pengamatan, baik di muara sungai maupun di lingkungan perairan diasumsikan telah mencerminkan dinamika yang ada di perairan tersebut. 3) Perhitungan beban pencemaran dibatasi hanya yang berasal dari land based, sedangkan apabila ada pencemaran dari kegiatan lainnya di lingkungan Kualitas Air (Konsentrasi Limbah) perairan dan laut sekitarnya, maka itu tidak dihitung. Baku Mutu Beban Pencemaran Gambar 7 Grafik hubungan antara beban pencemaran dan kualitas air. Data yang diamati merupakan data pencemaran yang mempengaruhi kualitas air dilokasi penelitian. Hubungan yang ingin dilihat adalah pengaruh nilai parameter yang ada di muara sungai terhadap nilai parameter tersebut di lingkungan perairan. Alat analisis yang digunakan untuk melihat hubungan tersebut adalah ”regresi linier” dimana sebagai peubah bebas (independent) adalah nilai parameter di muara sungai, dan sebagai peubah tak bebas (dependent) adalah nilai parameter di lingkungan perairan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peubah pencemaran di lingkungan perairan dapat dijelaskan oleh peubah pencemaran di muara sungai atau dapat dituliskan dalam bentuk hubungan matematik yaitu : Y = f(x) sehingga menurut Quano (1993) bentuk hubungan tersebut dalam regresi linier dapat dituliskan sebagai berikut: 63 Y = a + b(x) ………………………………………………………………… (7) dimana: Y = nilai parameter di lingkungan perairan a = nilai tengah atau rataan umum b = koefisien regresi untuk parameter di muara sungai x = nilai parameter di muara sungai x dan y adalah jenis dari parameter yang sama, yang diukur di muara sungai dan di lingkungan perairan. Peubah x merupakan jumlah nilai dari semua muara yang diamati untuk parameter tertentu, dan peubah y merupakan nilai parameter lingkungan perairan yang dianggap tepat untuk mewakili seluruh nilai parameter yang ada di lingkungan perairan, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa y merupakan penduga terbaik untuk nilai parameter di lingkungan perairan tersebut. 3.4.4 Analisis Ekonomi Barbier et al. (1997) in Adrianto (2006b) menyediakan sebuah kerangka pendekatan penilaian ekonomi, dimana terdapat 3 tahapan utama dalam melakukan valuasi ekonomi sumberdaya pesisir dan laut, yaitu : 1) Tahap pertama, adalah mendefinisikan problem dan memilih pendekatan yang tepat untuk melakukan penilaian ekonomi. 2) Tahap kedua, adalah mendefinisikan ruang lingkup dan batasan dari analisis yang dilakukan serta informasi yang diperlukan untuk melakukan pendekatan terpilih. 3) Tahap ketiga, adalah mendefinisikan metoda pengumpulan data dan teknik valuasi termasuk analisis dan distribusi dampak yang mungkin dari pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. Ketiga tahapan tersebut diatas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian ekonomi secara utuh yang menggambarkan willingness to pay yang benar dari masyarakat terhadap manfaat yang dihasilkan dari ekosistem pesisir dan laut. Berdasarkan kerangka pendekatan tersebut diatas, maka analisis nilai ekonomi minawisata bahari yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan 64 pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA) yang diawali dengan metoda Valuasi Ekonomi. Barton (1994) in Adrianto (2006b) mengemukakan bahwa Total Economic Value (TEV) dalam valuasi ekonomi dikategorikan kedalam 2 (dua) komponen yaitu Use Value (UV) dan Non Use Value (NUV) sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut: TEV = UV + NUV ………………………………………………………… (8) dimana: TEV = Total Economic Value (nilai ekonomi total) UV = Use Value (nilai guna) NUV = Non Use Value (bukan nilai guna) Pada dasarnya nilai guna (use value) diartikan sebagai nilai yang diperoleh seorang individu atas pemanfaatan langsung dari sumberdaya alam dimana individu tersebut berhubungan langsung dengan sumberdaya alam dan lingkungan, yang didalamnya termasuk pemanfaatan secara komersial atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam misalnya ikan, kayu, dan lain-lain yang bisa dikonsumsi langsung atau dijual. Nilai guna ini secara lebih rinci menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) adalah sebagai berikut : UV = DUV + IUV + OV ……...………..…...........…………..….....…..…... (9) dimana: UV = Use Value (nilai guna) DUV = Direct Use Value (nilai guna langsung) IUV = Indirect Use Value (nilai guna tidak langsung) OV = Option Value (nilai pilihan) Nilai guna langsung (direct use value) merujuk langsung pada konsesi sumberdaya alam seperti kayu sebagai bahan bakar, sedangkan nilai guna tidak langsung (indirect use value) merujuk pada nilai yang dirasakan secara tidak langsung dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan seperti pencegahan banjir dan nursery ground dari ekosistem mangrove, sedangkan nilai pilihan (option value) merupakan suatu nilai yang 65 menunjukan pilihan seorang individu untuk membayar dalam melestarikan sumberdaya alam bagi pengguna lainnya dimasa mendatang. Komponen bukan nilai guna (non use value) adalah nilai yang diberikan kepada sumberdaya alam atas keberadaannya meskipun tidak digunakan secara langsung, yang lebih bersifat sulit diukur karena lebih didasarkan pada preferensi terhadap lingkungan ketimbang pengamatan langsung. Bukan nilai guna ini secara lebih rinci menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) adalah sebagai berikut : NUV = BV + EV + QOV .………...…………….......................………….. (10) dimana: NUV = Non Use Value (bukan nilai guna) BV = Bequest Value (nilai pewarisan) EV = Existence Value (nilai keberadaan) QOV = Quasi Option Value (nilai pilihan untuk menghindari kerusakan yang irreversible) Pada dasarnya nilai keberadaan adalah penilaian yang didasarkan kepada penilaian yang diberikan dengan terpeliharanya sumberdaya alam dan lingkungan, nilai pewarisan diartikan sebagai nilai yang diberikan oleh generasi kini dengan menyediakan atau mewariskan sumberdaya alam dan lingkungan kepada generasi mendatang, nilai pilihan untuk menghindari kerusakan yang irreversible (quasi option value) mengandung makna ketidak-pastian dimana nilai ini merujuk pada nilai barang dan jasa dari sumberdaya alam yang mungkin timbul sehubungan dengan ketidak-pastian permintaan dimasa mendatang. Dari persamaan (9) dan (10) tersebut, maka nilai ekonomi total (total economic value) menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) dapat dirumuskan sebagai berikut: TEV = UV + NUV = ( DUV+IUV+OV ) + ( BV+EV+QOV ) ……………...………… (11) dengan demikian yang dimaksud dengan nilai ekonomi sumberdaya menyeluruh adalah nilai ekonomi total yang merupakan penjumlahan dari nilai guna (use value) dan bukan nilai guna (non use value) beserta komponen-komponennya. 66 Dalam kondisi ketiadaan data dilapangan karena belum ada pemanfaatan sumberdaya secara intensif oleh masyarakat maka untuk melakukan valuasi ekonomi terhadap sumberdaya dimaksud dapat digunakan metoda benefit transfer. Menurut Boyle and Bergstrom (1992) in Atkinson (2006) benefit transfer (BT) adalah pendugaan nilai guna sumberdaya dengan cara menggunakan nilai yang sudah ada dari yang bukan nilai pasar untuk mendapatkan perkiraan nilai baru yang lain dari nilai yang mula-mula diduga. Nilai dugaan ini diperoleh dengan pendekatan nilai pasar (NP) dan indeks harga konsumen (IHK) dengan formula sebagai berikut: ND = NP X IHK lokasi studi ……………...……………...………… (12) IHK lokasi asal transfer dimana: ND = Nilai Dugaan NP = Nilai Pasar IHK = Indeks Harga Konsumen Selanjutnya, agar nilai dugaan tersebut mendekati nilai pasar dilokasi studi maka dihitung dengan cara merata-ratakan nilai guna sumberdaya tersebut yang didapat dari beberapa lokasi lain yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan lokasi studi dengan formula sebagai berikut: x ∑ xi = n ……………………………………...……………...………… (13) dimana: x = Nilai hasil benefit transfer X i (1,2,3, … n) = Nilai pasar lokasi asal transfer ke-i n = Jumlah lokasi asal benefit transfer Dari hasil Valuasi Ekonomi tersebut maka nilai bersih sekarang (net present value) dari manfaat dan biaya suatu proyek/usaha dapat diperoleh melalui pendekatan Extended Cost Benefit Analysis (ECBA). Pada prinsipnya Extended Cost Benefit Analysis adalah lanjutan dari Cost Benefit Analysis (CBA), disebut Extended karena dalam perhitungan Cost Benefit kita tambahkan biaya lingkungan sebagai salah satu komponennya. 67 Barton (1994) menjelaskan bahwa salah satu kriteria yang digunakan dalam evaluasi kebijakan adalah menghitung Net Present Value (NPV) dimana keuntungan bersih suatu proyek/usaha adalah pendapatan kotor dikurangi jumlah biaya. Dengan demikian maka NPV suatu proyek/usaha adalah selisih PV arus benefit dengan PV arus cost. Suatu proyek/usaha dapat dikatakan bermanfaat atau layak untuk dilaksanakan bila NPV proyek/usaha tersebut lebih besar dari atau sama dengan nol (NPV > 0) dan sebaliknya bila NPV proyek/usaha tersebut lebih kecil dari nol (NPV < 0) maka proyek/usaha tersebut merugikan atau tidak layak untuk dilaksanakan. Selain itu, dapat juga dengan melihat B/C Rasio, bila B/C Rasio > 1 maka usaha layak untuk dilaksanakan, bila B/C Rasio = 1 maka usaha perlu ditinjau kembali karena tidak memberikan keuntungan, sedangkan bila B/C Rasio < 1 maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Selanjutnya, dengan mengadopsi pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA), maka menurut Barton (1994) net present value (NPV) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut: NPV = B d + B e – C d – C e – C p …………………………………………. (14) dimana : NPV = Net Present Value (nilai bersih sekarang) Bd = direct benefit (manfaat langsung) Be = external and/or environmental benefit (manfaat eksternal dan/atau lingkungan) Cd = direct cost (biaya langsung) Ce = external and/or environmental cost (biaya eksternal dan/atau lingkungan) Cp = environmental protection cost / mitigation cost (biaya proteksi lingkungan/ biaya mitigasi) 3.4.5 Analisis Sosial Analisis sosial yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metoda analisis deskriptif, data yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan analisis ini didapat dengan melakukan wawancara langsung dengan stakeholders dan dengan menggunakan kuesioner. Informasi yang akan digali dari stakeholders antara lain: 68 bagaimana keinginan masyarakat terhadap rencana pengembangan Pulau Dullah ke depan, bentuk partisipasi dari masyarakat terhadap model pengelolaan minawisata bahari yang akan dikembangkan, identifikasi konflik pemanfaatan, sistem pengelolaan yang diinginkan, serta kemungkinan dampaknya bagi masyarakat. 3.4.6 Analisis Kelembagaan Analisis kelembagaan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metoda analisis deskriptif, data yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan analisis ini didapat dengan melakukan wawancara langsung dengan stakeholders dan dengan menggunakan kuesioner. Informasi yang akan digali dari stakeholders antara lain: bagaimana bentuk kelembagaan baik formal maupun non formal yang diinginkan oleh masyarakat terkait dengan model pengelolaan minawisata bahari yang akan dibangun di Pulau Dullah, identifikasi semua aturan-aturan (regulasi) yang terkait yang dapat menunjang model pengelolaan yang akan dibangun, mengkaji peranan berbagai institusi dan kelembagaan yang terkait dengan model pengelolaan yang akan dibangun. 3.5 Sintesis Model dinamik yang digunakan untuk melakukan sintesis terhadap rancang bangun pengelolaan minawisata bahari dalam penelitian ini adalah model gabungan dari dimensi ekologi dan dimensi ekonomi. a) Dimensi ekologi, memiliki atribut: luas ekosistem terumbu karang, laju pertumbuhan karang, laju degradasi karang, upaya penambahan luasan terumbu karang, luas ekosistem mangrove, laju pertumbuhan mangrove, laju degradasi mangrove, upaya penambahan luasan mangrove, luas lahan yang sesuai untuk masing-masing aktivitas minawisata bahari, daya dukung lingkungan, dan jumlah unit usaha masing-masing aktivitas minawisata bahari. b) Dimensi ekonomi, memiliki atribut: manfaat langsung, manfaat lingkungan, biaya langsung, biaya lingkungan, biaya mitigasi, NPV tahunan dan NPV kumulatif dari masing-masing aktivitas minawisata bahari, serta NPV tahunan total minawisata bahari berbasis konservasi. 69 Model tersebut diatas selanjutnya dibangun dalam bentuk causal loop sehingga membentuk suatu sistem dinamik yang kemudian akan disimulasikan dengan menggunakan perangkat lunak STELLA Version 9.0.2. Simulasi dari model dinamik ini akan menggunakan 3 skenario pengelolaan, dimana dari ketiga skenario tersebut akan dipilih salah satu yang paling optimal untuk dijadikan model pengelolaan terpadu. Terpenuhinya syarat kecukupan struktur dari suatu model sistem dinamik adalah dengan melakukan validasi atas perilaku yang dihasilkan oleh suatu struktur model. Validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara perilaku yang dihasilkan oleh model dan perilaku pada sistem nyata. 70 4. KONDISI AKTUAL LOKASI PENELITIAN 4.1 Kota Tual Pada awalnya Kota Tual berada dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara namun dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku maka sejak tanggal 10 Agustus 2007 sebagian wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara telah dialihkan ke dalam wilayah administratif Kota Tual. Kecamatan-kecamatan yang dialihkan diantaranya: 1) Kecamatan Pulau-Pulau Kur 2) Kecamatan Dullah Utara 3) Kecamatan Dullah Selatan 4) Kecamatan Tayando Tam Dengan pemekaran wilayah tersebut, maka secara astronomis posisi koordinat Kota Tual menjadi terletak antara 5º - 6º LS dan 131º - 133º BT. Peta wilayah administratif Kota Tual seperti ditunjukan pada Gambar 8. Gambar 8 Peta wilayah administratif Kota Tual. 72 Secara geografis wilayah ini dibatasi oleh Laut Banda di sebelah Barat dan di sebelah Utara; Selat Nerong (Kabupaten Maluku Tenggara) di sebelah Timur; dan Kecamatan Kei Kecil (Kabupaten Maluku Tenggara) serta Laut Arafura di sebelah Selatan. Luas wilayah administratif Kota Tual tercatat sebesar 19.095,84 km2 yang terdiri dari daratan seluas 352,29 km2 (1,84%) dan lautan seluas 18.743,55 km2 (98,16%). Kota Tual merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 66 pulau, yang dihuni sebanyak 13 pulau dan 53 pulau belum berpenghuni. Pada umumnya pulau-pulau yang tidak berpenghuni dipergunakan sebagai lahan pertanian/perkebunan atau sebagai tempat singgah kapal, keseluruhan pulau tersebut adalah merupakan pulau-pulau kecil. Data jumlah pulau yang dirinci per kecamatan sebagaimana ditunjukan pada Tabel 11. Tabel 11 Jumlah pulau dan luas wilayah administratif Kota Tual Kecamatan Luas Daratan (Km2) Luas Lautan (Km2) Luas Total (Km2) 9 60,78 5607,00 5.667,78 Dullah Utara 27 115,51 4217,00 4.332,51 Dullah Selatan 23 77,68 3209,00 3.286,68 Tayando Tam 7 98,32 5710,55 5.808,87 66 352,29 18.743,55 19.095,84 Pulau-Pulau Kur Jumlah Total Jumlah Pulau (buah) Sumber: Diolah kembali dari Maluku Tenggara Dalam Angka Tahun 2008. Dengan kondisi laut yang cukup luas dan dengan sumberdaya pulau-pulau kecil yang ada tersebut menjadikan Kota Tual memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup melimpah dan potensi pariwisata yang cukup mempesona. 4.1.1 Penduduk Jumlah penduduk Kota Tual pada tahun 2009 berdasarkan data statistik penduduk pada Dinas Tenaga Kerja, Kesra, Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tual tahun 2010 adalah sebanyak 70.367 jiwa yang tersebar pada 4 kecamatan. Penyebaran penduduk di Kota Tual tidak merata, berdasarkan data statistik penduduk terlihat bahwa persentase penduduk di Kecamatan 73 Dullah Selatan tercatat lebih tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya yaitu 41.930 jiwa (59,59 %) sementara di Kecamatan Pulau-Pulau Kur hanya mencapai 5.883 jiwa (8,46 %), hal ini karena sejak masih menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara hingga saat ini, kecamatan Dullah Selatan merupakan kawasan pemukiman padat penduduk, pusat pemerintahan, dan pusat kegiatan perekonomian. Data jumlah penduduk Kota Tual tahun 2005 - 2009 sebagaimana ditunjukan pada Tabel 12. Tabel 12 Perkembangan jumlah penduduk Kota Tual tahun 2005 - 2009 Kecamatan Pulau-Pulau Kur 2005 *) Jumlah Penduduk (Jiwa) 2006 *) 2007 *) 2008 *) 2009 **) 5.600 5.716 5.873 5.879 5.883 Dullah Utara 12.536 12.785 13.163 15.620 16.011 Dullah Selatan 25.050 25.566 26.013 40.451 41.930 Tayando Tam 6.856 7.014 7.213 6.494 6.543 50.042 51.081 52.262 68.444 70.367 Total Sumber : *) Diolah kembali dari Maluku Tenggara dalam Angka Tahun 2008. **) Dinas Tenaga Kerja, Kesra, Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tual dalam RPJM Kota Tual Tahun 2010. Dari Tabel 12 terlihat bahwa jumlah penduduk di Kota Tual menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah penduduk ini dibarengi dengan tingkat pertumbuhan yang relatif berbeda untuk setiap kecamatan. Pertumbuhan jumlah penduduk juga diikuti dengan laju pertambahan penduduk yang terus meningkat. Secara total, laju pertumbuhan penduduk Kota Tual untuk tahun 2009 adalah sebesar 12,70 % bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2008, sementara untuk tahun 2008 laju pertumbuhan penduduk mencapai angka 14,94 % bila dibandingkan jumlah penduduk untuk tahun 2007. 4.1.2 Mata Pencaharian Berdasarkan jenis mata pencaharian, masyarakat Kota Tual dapat digolongkan dalam beberapa kelompok, baik secara formal maupun informal. Komposisi struktur penduduk berdasarkan jenis pekerjaan yaitu petani/pekebun, wiraswasta, serta pegawai negeri sipil merupakan jenis pekerjaan yang dominan 74 yaitu sebesar 37,24 % dari total jumlah penduduk Kota Tual; kemudian diikuti oleh kelompok penduduk yang belum bekerja atau tidak bekerja sebesar 32,60 %; setelah itu pelajar/mahasiswa serta mengurus rumah tangga sebesar 23,07 %. Disamping itu masih terdapat jenis pekerjaan lain yang digeluti seperti pedagang, karyawan swasta/BUMN/BUMD, buruh harian, tukang, guru/dosen, dan pekerjaan informal lainnya sebesar 5,92 %; sementara yang berprofesi sebagai nelayan masih sangat sedikit yaitu sekitar 1,17 % dari total jumlah penduduk Kota Tual. Khusus untuk yang berprofesi sebagai nelayan, jumlah penduduk yang bekerja sebagai nelayan adalah 826 orang yang terdiri dari nelayan sebanyak 739 orang dan buruh nelayan sebanyak 87 orang, kondisi ini tentunya sangat ironis bila dibandingkan dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan Kota Tual yang tersedia yang seharusnya menjadi salah satu lapangan pekerjaan dominan di Kota Tual. 4.1.3 Potensi Kelautan dan Perikanan Berdasarkan pembagian Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di Indonesia, perairan Kota Tual adalah termasuk dalam WWP 8 (Laut Arafura) dan WPP 5 (Laut Banda) sehingga dapat dianggap mewakili potensi perikanan tangkap perairan laut Kota Tual. Potensi total sumberdaya ikan laut dari WPP 5 dan WPP 8 adalah sebanyak 1.040.600 ton/tahun. Kelompok ikan dengan potensi terbesar adalah kelompok ikan pelagis kecil (600.660 ton/tahun), diikuti kelompok ikan demersal (256.070 ton/tahun) dan ikan pelagis besar (154.980 ton/tahun). Pemanfaatan potensi perikanan ini khususnya ikan pelagis kecil dan ikan demersal rata-rata masih di bawah 10 % sementara untuk ikan pelagis besar baru 42,60 % sehingga peluang pengembangannya masih cukup besar. Aktivitas pengelolaan sumberdaya perikanan yang ada selama ini adalah perikanan tangkap yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu perikanan artisanal kecil oleh sebagian besar masyarakat, dan perikanan industri yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual. Jumlah produksi dan nilai produksi perikanan Kota Tual sesuai data tahun 2007 seperti ditunjukan pada tabel 13. 75 Tabel 13 Jumlah produksi dan nilai produksi perikanan Kota Tual tahun 2007 Kecamatan Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp) Pulau-Pulau Kur 2.212,00 11.038.489,00 Dullah Utara 2.949,40 14.717.985,00 127.422,40 564.230.747,00 2.394,30 11.958.363,00 134.978,10 601.945.584,00 Dullah Selatan Tayando Tam Jumlah Sumber : Diolah kembali dari Maluku Tenggara Dalam Angka Tahun 2008. Berdasarkan Tabel 13 terlihat bahwa total produksi tahun 2007 mencapai 134,978,10 ton dengan total nilai produksi Rp.601.945.584,00 bila dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya dimana produksi perikanan yang dicapai pada tahun 2005 adalah sebesar 131.353.90 ton maka dari sisi produksi telah terjadi peningkatan sebanyak 3.624,20 ton. Kegiatan perikanan tangkap yang berkembang saat ini adalah usaha penangkapan ikan karang, perikanan demersal dan perikanan pelagis serta pengumpulan organisme bentos yang bernilai ekonomis seperti Lola (Trochus sp), Batu Laga (Turbo), Kima (Tridacna sp) dan Teripang (Holothuria sp). Potensi sumberdaya ikan karang dan ikan hias pada beberapa lokasi seperti di sekitar pulau Rumadan (Dullah Laut), Ngadi, Teluk Un, Teluk Vid Bangir, Pulau Tam serta Tayando adalah sekitar 307 jenis. 4.1.4 Potensi Pariwisata Sebagai wilayah kepulauan yang banyak memiliki pulau-pulau kecil, obyek wisata bahari di kawasan ini sangatlah banyak. Obyek wisata bahari tersebar hampir di seluruh kecamatan. Umumnya obyek wisata bahari yang ada berupa keindahan alam dan pantai, taman laut, ekosistem terumbu karang dengan ikan hiasnya, ekosistem mangrove, dan lamun. Selain memiliki obyek wisata bahari, Kota Tual juga memiliki obyek wisata budaya yang tersebar di Kepulauan Kei antara lain sejarah peninggalan Jepang. 76 Beberapa obyek wisata yang telah berkembang dan potensial untuk dikembangkan di Kota Tual antara lain sebagai berikut: 1) Obyek wisata Pantai Difur 2) Obyek wisata Pantai Nam Indah 3) Obyek wisata Pulau Adranan 4) Obyek wisata budaya Dullah Darat 5) Obyek wisata Pulau Duroa 6) Obyek wisata Pulau Burung 7) Obyek wisata taman laut Pulau Barak New 8) Obyek wisata Goa Tengkorak Ular Kepala Tujuh 9) Obyek wisata desa nelayan Pulau Fair 10) Obyek wisata Pulau Ubur 11) Obyek wisata Teluk Un Walapun potensi wisata Kota Tual tersebut diatas masih belum banyak dikenal dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Maluku, tetapi beberapa barang khas dari Kota Tual seperti mutiara dan perahu tradisional sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas. Data perkembangan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk Kota Tual sekarang) dari tahun 2004 - 2008 seperti ditunjukan pada tabel 14. Tabel 14 Jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk Kota Tual) tahun 2004 - 2008 Tahun Jumlah Wisatawan (orang) Domestik Mancanegara Total (orang) Pertumbuhan (%) 2004 7.010 120 7.130 - 2005 10.500 165 10.665 49,58 2006 12.500 190 12.690 18,99 2007 15.907 263 16.170 27,42 2008 20.910 346 21.256 31,45 Pertumbuhan Rata-Rata (%) 31,86 Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tual Tahun 2009. 77 Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa total jumlah wisatawan pada tahun 2008 adalah 21.256 orang yang terdiri dari 20.910 orang wisatawan domestik dan 346 orang wisatawan mancanegara, bila dibandingkan dengan total jumlah wisatawan tahun 2007 sebanyak 16.170 orang maka terdapat peningkatan sebanyak 5.086 orang atau bila dihitung persentase pertumbuhannya mencapai 31,45%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan kunjungan wisatawan selama 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2004 - 2008 adalah sebesar 31,86%. 4.1.5 Sarana dan Prasarana Vital a. Sarana Transportasi Dalam rangka menunjang pergerakan orang serta barang dan jasa melalui transportasi darat, di wilayah Kota Tual telah tersedia jaringan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat pemukiman, pusat-pusat produksi dan pusat-pusat pemasaran dan pelayanan. Secara umum jaringan jalan di Kota Tual terdiri dari jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten. Pada umumnya kondisi jalan provinsi cukup baik, hal ini terkait dengan struktur geologi Pulau Dullah berupa batu kapur yang cenderung keras. Jalan provinsi pada umumnya merupakan jalan utama di sepanjang pantai dan jalur di dalam kota, namun demikian jaringan jalan yang menghubungkan daerah-daerah yang jauh dari Kota Tual dan yang menghubungkan kantong-kantong produksi masih sangat terbatas. Total panjang ruas jalan di Kota Tual adalah 137,45 km yang terdiri dari jalan aspal sepanjang 44,05 km, hotmix sepanjang 24,90 km, jalan setapak 63,50 km, dan jalan tanah sepanjang 5,00 km. Sedangkan jumlah jembatan yang ada di Kota Tual sebanyak 17 unit dengan panjang keseluruhan 6,4 km. Sarana angkutan umum yang berkembang di Kota Tual adalah berupa Angkutan Pedesaan dan Angkutan Perkotaan. Sarana angkutan umum ini adalah mobil berjenis carry atau kijang yang telah dimodifikasi. Trayek angkutan umum yang terdapat di Kota Tual berjumlah 9 trayek dengan jumlah armada yang beroperasi mencapai 57 unit. Rute-rute trayek yang ada masih terbatas pada rute-rute tertentu seperti Tual - Tamedan sebanyak 7 unit; Tual - Dullah sebanyak 9 unit; Tual - Fiditan sebanyak 20 unit; Tual - BTN sebanyak 8 unit; Tual Ohoitel sebanyak 9 unit; dan Tual - Taar sebanyak 4 unit. Sedangkan Trayek sarana angkutan umum yang menghubungkan Kota Tual dengan Kabupaten 78 Maluku Tenggara berjumlah 40 trayek dengan jumlah armada yang beroperasi mencapai 382 unit. Rute-rute trayek yang ada masih terbatas pada rute-rute tertentu seperti Tual, Langgur dan desa-desa kecil yang berada di Pulau Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Terminal di Kota Tual terdapat 2 unit yaitu Terminal Lodar El dan Terminal Wara dengan klasifikasi Tipe C, yaitu terminal yang melayani rute angkutan pedesaan dan angkutan perkotaan yang terdapat di dua pulau yang berbeda. Terminal Lodar El yang terdapat di Pasar Tual melayani angkutan umum pada trayek-treyak di Pulau Dullah dan Pulau Kei Kecil. Selain kedua terminal tersebut di Kota Tual juga terdapat sub-subterminal yang berguna sebagai penghubung terminal-terminal utama. Untuk transportasi udara, Kota Tual belum memiliki bandara komersil, angkutan udara masih dilayani oleh Bandara Dumatubun Milik TNI AU yang berlokasi di Langgur - Kabupaten Maluku Tenggara, dengan kelas layanan 4 dan panjang runway 900 x 25 meter. Bandara ini melayani penerbangan domestik dan regional Maluku dengan dengan rute reguler Ambon - Tual yang dioperasikan oleh Trigana Air dengan pesawat Fokker 27, dan Wings Air dengan pesawat DAS dengan frekuensi penerbangan 5 kali seminggu. Selain kedua maskapai tersebut, rute Tual - Ambon juga dilayani oleh Merpati Airlines dengan frekuensi penerbangan 3 kali seminggu dengan menggunakan pesawat Cassa 212, sedangkan penerbangan Tual - Dobo oleh Merpati Airlines belum terjadwal. Peranan transportasi laut di Kota Tual sangat penting karena Kota Tual adalah kota kepulauan dan sebagain besar wilayahnya merupakan perairan laut. Keberadaan sarana dan prasarana transportasi laut ini sangat vital karena selain sebagai sarana mobilitas orang serta dan barang dan jasa dari dan ke luar Kota Tual, juga sekaligus berfungsi sebagai penggerak roda ekonomi daerah. Prasarana transportasi laut yang terdapat di Kota Tual antara lain: 1) Pelabuhan Yos Sudarso, merupakan pelabuhan umum yang ada di Kota Tual yang berfungsi bagi sarana mobilitas orang serta barang dan jasa di wilayah Indonesia Timur karena banyak disinggahi oleh kapal-kapal dari dalam negeri dan luar negeri. Pelabuhan ini memiliki causeway sepanjang 236 meter. 79 Selain itu, pelabuhan ini juga dimanfaatkan untuk aktifitas bongkar muat barang (kontainer). 2) Dermaga penyeberangan ferry dengan ukuran 50 x 6 meter dengan causeway sepanjang 50 meter. Selain berfungsi sebagai pelabuhan penyeberangan dan pelabuhan pelayaran nusantara, dermaga ini juga melayani pelayaran rakyat ke pulau-pulau disekitarnya. 3) Pelabuhan Kur, merupakan pelabuhan lokal yang terdapat di Desa Lokwirin, Pulau Kur yang dipergunakan untuk kegiatan bongkar-muat penumpang dan barang. 4) Dermaga Ngadi, milik PT. Maritim Timur Jaya, merupakan pelabuhan khusus yang berlokasi di Desa Ngadi dengan ukuran 330 x 15 meter dengan causeway sepanjang 330 meter. 5) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Dumar, dengan tipe jetty yang berukuran 120 x 6 meter dengan 2 causeway berukuran 60 x 6 meter. 6) Pelabuhan Pangkalan TNI - AL. 7) Pelabuhan Pertamina. 8) Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kalvik, di Pulau Kalvik. Selain prasarana diatas, maka ada beberapa sarana transportasi laut yang menghubungkan Kota Tual dengan kota-kota lainnya yaitu: 1) Kapal penumpang umum milik PT. PELNI (KM. Ciremai dan KM. Kelimutu) yang menghubungkan Kota Tual dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. 2) Kapal-kapal kargo milik swasta, yang melayani pengiriman barang dan jasa lainnya dari dan ke Kota Tual. 3) Kapal-kapal perintis milik swasta, yang melayani hubungan antar pulau di Provinsi Maluku. 4) Kapal ferry milik PT. ASDP (KMP Kormomolin), yang melayani hubungan antar pulau di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara. 5) Pelayaran rakyat/lokal (perahu motor 7 GT) yang melayani hubungan antar pulau di Kota Tual. b. Sarana Air Bersih Air bersih bagi Kota Tual adalah sesuatu yang sangat berarti. Pulau Dullah sebagai pusat Kota Tual sebagian besar tersusun dari jenis tanah/batuan berupa 80 kapur dan karang yang menjadikan pulau ini sangat minim sumber air bersih. Sumber air bersih bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Dullah selama ini disuplai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dimana sumber air bersih berasal dari mata air Evu dengan debit 1.400 liter/detik. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat masih memanfaatkan aliran air permukaan. Untuk mengantisipasi kebutuhan akan air bersih yang semakin banyak dan berkurangnya debit mata air Evu, maka alternatif sumber air yang akan dimanfaatkan adalah air dari Danau Ngadi dan Danau Fanil. Kondisi terakhir menunjukkan bahwa belum semua masyarakat mendapatkan layanan air bersih dari jaringan PDAM, masyarakat yang belum terlayani oleh jaringan PDAM memenuhi kebutuhannya dari PAH (Penampungan Air Hujan) dan membeli air dari pihak swasta yang disuplai melalui mobil tangki kapasitas 4 m3 dengan harga beli sebesar Rp.60.000. 4.2 Pulau Dullah 4.2.1 Keadaan Sosial Budaya Masyarakat Dalam perspektif stratifikasi sosial budaya, masyarakat pesisir bukanlah masyarakat yang homogen. Masyarakat pesisir terbentuk oleh kelompokkelompok sosial yang beragam. Karena masyarakat nelayan merupakan unsur sosial yang sangat penting dalam struktur masyarakat pesisir, maka budaya yang mereka miliki mewarnai karakteristik kebudayaan atau perilaku sosial budaya masyarakat pesisir secara umum. Kehidupan masyarakat yang banyak berkaitan dengan lokasi geografis menjadikan masyarakat Kota Tual termasuk masyarakat yang mendiami Pulau Dullah sebagai masyarakat bahari dengan segala aktifitas ekonominya yang berbasis pada sumberdaya laut. Karakteristik budaya masyarakat Kota Tual cukup majemuk dan dapat digolongkan berdasarkan basis geografis dan kulturalnya (dialek bahasa). Penduduk setempat memahami hidupnya berdasarkan kesadaran bahwa mereka memiliki hubungan kekeluargaan yang sama atau berasal dari satu nenek moyang sehingga karakter tersebut kemudian ditransformasikan kedalam kehidupan sosial masyarakat mereka seperti pranata gotong royong yang dikenal dengan budaya “maren” yaitu tradisi tolong-menolong antara satu dengan yang lain misalnya 81 dalam mendirikan rumah, memagar kebun, hajatan, pekerjaan-pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti dibidang perikanan, pertanian, dan lain-lain. Ketergantungan masyarakat pada alam, terutama pada sektor perikanan dan pertanian menjadikan budaya mereka mempunyai konstruksi yang terasa alamiah. Konstruksi adat yang naturalistik ini bisa dilihat dari kuatnya nilai adat pantangan, keseimbangan tindakan pada alam, kemampuan membaca tanda-tanda alam dan kelebihan-kelebihan supranatural lainnya dalam kultur masyarakat Kei. Perilaku khas bagi masyarakat Kei adalah citra diri orang laut. Hal ini ditandai dengan mobilitas yang tinggi, sikap terbuka, dan penghargaan pada kaidah-kaidah hidup nenek moyang, terutama yang menyangkut bagaimana seharusnya mengelola sumberdaya alam. Karena adanya struktur nilai yang berhirarki supranaturalistik dan terlembagakan sedemikian rupa maka masyarakat Kota Tual juga memiliki pantangan-pantangan hidup. Salah satu budaya yang merupakan bentuk kearifan lokal yaitu Sasi atau Hawear yang dikenal masyarakat sebagai tradisi dalam mengatur waktu pemanfaatan sumberdaya alam. Saat ini budaya-budaya tersebut telah banyak mengalami pergeseran. Sasi Darat dan Sasi Laut lambat laun mulai ditinggalkan. Kondisi ini memberikan isyarat bahwa Sasi sebagai tradisi warisan dalam praktek pengelolaan sumberdaya alam perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah di masing-masing Desa, karena tujuan pelaksanaan Sasi adalah optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana dan berkelanjutan. 4.2.2 Hak Masyarakat Adat dalam Dimensi Legislasi Nasional dan Daerah Pengakuan, perlindungan dan penghormatan terhadap masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya (termasuk masyarakat adat Kei di Pulau Dullah) telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam dinamika pembangunan hukum di Indonesia. Hal ini termanifestasi dalam beberapa aturan formal dilevel konstitusi diantaranya: 1. Undang-Undang Dasar 1945. a. Pasal 18B Ayat (2) Amandemen Kedua, menyatakan bahwa: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat 82 serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang. b. Pasal 28I UUD 1945 Amandemen Kedua, ditegaskan bahwa: Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban. 2. Tap MPR Nomor XVII/MPR/1998 Tantang Hak Asasi Manusia. Pasal 41 menyebutkan: Identitas budaya masyarakat tradisional termasuk hakhak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman. Ketetapan ini menegaskan bahwa pengakuan dan perlindungan kepada masyarakat hukum adat merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pada level Undang-Undang, telah ditetapkan berbagai produk hukum yang memberikan posisi istemewa dan strategis bagi eksistensi masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut (termasuk ekosistem hutan mangrove). Produk Undang-Undang tersebut antara lain: 1. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Jo UU No. 19 tahun 2004 Tentang Kehutanan. Pasal 67 ayat (1) dinyatakan bahwa: Masyarakat hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya berhak atas: a. Pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan. b. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Dalam Pasal 2 Ayat (9) disebutkan bahwa: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI. 3. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 83 a. Pasal 5 disebutkan bahwa: Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. Pasal 6, dinyatakan bahwa: Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaiman dimaksud Pasal 5 wajib melakukan dengan cara mengintegrasikan kegiatan : a. Antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah; b. Antar-Pemerintah Daerah; c. Antar sektor; d. Antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat; e. Antara ekosistem darat dan Ekosistem laut; dan f. Antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip manajemen. Selain itu pada konteks lokal, Pemerintah Provinsi Maluku sebagai sikap responsif terhadap implementasi Peraturan Perundang-Undangan Nasional maupun menjawab dinamika dan kebutuhan lokal dalam koridor otonomi daerah, menetapkan berbagai Peraturan Daerah sebagai ekspresi terhadap pengakuan, perlindungan, dan penghormatan terhadap eksistensi masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya. Hal ini dilatari oleh realitas keberadaan masyarakat adat dan susunan pemerintahannya yang masih hidup dan tumbuh dalam dinamika kehidupan pembangunan di daerah termasuk di Pulau Dullah - Kota Tual Provinsi Maluku. Adapun berbagai produk hukum tersebut diantaranya: 1. Peraturan Daerah Provinsi Maluku Nomor 14 Tahun 2005 tentang Penetapan Kembali Negeri sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Wilayah Pemerintahan Provinsi Maluku. 2. Peraturan Daerah Provinsi Maluku Nomor 3 Tahun 2008 tentang Wilayah Petuanan. Berbagai produk hukum peraturan perundang-undangan baik pada level Konstitusi, Undang-Undang, maupun Peraturan Daerah yang dikemukakan di atas 84 memberikan penjelasan bahwa secara makro eksistensi masyarakat adat dan hak-hak tradisonalnya termasuk di dalamnya pengelolaan terhadap wilayah pesisir dan laut di Maluku secara normatif diakui, dihormati, dan dilindungi oleh hukum positif di Indonesia baik di tingkat pusat maupun daerah. 4.2.3 Isu-Isu Kerusakan Lingkungan Dengan adanya pemekaran wilayah Kota Tual maka pertumbuhan penduduk akan semakin tinggi dan kegiatan pembangunan di pesisir akan semakin pesat, dengan demikian tekanan ekologis terhadap ekosistem dan sumberdaya akan semakin meningkat pula. Meningkatnya tekanan ini tentunya akan memberikan dampak seperti terjadinya kerusakan lingkungan yang akan mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Isu-isu yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan yang terjadi di Pulau Dullah antara lain:  Penambangan Pasir Pantai  Pengrusakan hutan bakau (mangrove)  Pengrusakan Karang  Pembuangan sampah ke laut  Tumpahan minyak di laut  Pembuangan air balast kapal Diantara ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di Pulau Dullah, yang saat ini mulai berada dalam kondisi memprihatinkan adalah ekosistem pantai berpasir, mangrove, dan terumbu karang. Oleh karena itu agar ekosistem dan sumberdaya ini dapat berperan secara optimal dan berkelanjutan, maka diperlukan upaya-upaya perlindungan dari berbagai ancaman degradasi yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas pemanfaatan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Salah satu upaya perlindungan yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan kawasan-kawasan tertentu di wilayah pesisir dan laut sebagai kawasan konservasi yang antara lain bertujuan untuk melindungi ekosistem, sumberdaya, dan habitat-habitat kritis; mempertahankan dan meningkatkan kualitas sumberdaya; melindungi keanekaragaman hayati; dan melindungi proses-proses ekologi yang terjadi didalamnya. 85 4.3 Teluk Un 4.3.1 Status dan Sejarah Kawasan Teluk Un Teluk Un adalah merupakan perairan semi tertutup yang berada di dalam petuanan Desa Taar dengan posisi geografis 132o45`26`` - 132o45`44`` BT dan 5o38`18`` - 5o38`40`` LS dan membujur dari Timur laut ke Barat daya. Teluk ini berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Teluk Un memiliki kanal sepanjang kurang lebih 100 m dengan lebar 52 m yang menghubungkannya dengan Teluk Vid Bangir di bagian Barat daya Teluk Un. Potensi sumberdaya hayati laut Teluk Un banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Taar dan penduduk lain yang tinggal berdekatan dengan teluk tersebut. Teluk ini dikenal sebagai ladang ikan beronang (Siganus sp), kepiting rajungan (Portunus pelagicus), dan berbagai jenis moluska seperti teripang (Holothuria sp), tiram (Saccostrea cucullata dan Saccostrea echinata) yang telah lama dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. Pemanfaatan potensi sumberdaya laut teluk ini cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Apalagi karena berada dalam pusat pengembangan Kota Tual maka dikhawatirkan dimasa datang akan terjadi tekanan eksploitasi maupun tekanan lingkungan lainnya terhadap sumberdaya teluk ini bersamaan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk sebagai konsekuensi pengembangan Kota Tual. Teluk ini merupakan daerah penangkapan ikan bagi nelayan tradisional dan lokasi budidaya. Untuk mempertahankan kelestarian sumberdaya yang ada, maka sejak tahun 2003 telah disepakati sistim penutupan areal perairan (moratorium) bagi eksploitasi segala jenis biota di dalam teluk ini oleh masyarakat Desa Taar. Pranata sosial budaya ini disebut dengan istilah Sasi atau yang dalam bahasa lokal disebut Yutut dan dikenal sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat yang ada disana. Praktek pelaksanaan sasi seperti ini sudah dilaksanakan berkalikali di Teluk Un oleh masyarakat desa Taar sebagai pemilik adat teluk tersebut. 4.3.2 Kondisi Lingkungan a. Kondisi Fisik Pulau Dullah merupakan dataran yang relatif landai dengan ketinggian ±100 meter diatas permukaan laut dengan beberapa bukit rendah di tengah pulau Dullah. Kemiringan lereng di pulau Dullah secara umum berkisar antara 0 - 8% 86 dan 8 - 15%. Desa-desa pada umumnya berada pada wilayah dengan ketinggian antara 0 - 100 meter diatas permukaan laut. Topografi daratan di sekitar Teluk Un sangat landai terutama daratan di bagian Timur teluk tersebut, terkecuali bagian barat pulau Kalvik yang berbukit-bukit dengan tingkat kemiringan lebih dari 40% yang terbentang dari Utara ke Selatan. Kemiringan topografi daratan bagian Barat laut Teluk Un lebih besar dari 1% terhitung dari batas pasang tertinggi. Untuk lingkungan perairan, batimetri dasar perairan Teluk Un sangat datar terutama pada bentangan Utara-Selatan. Kemiringan rata-rata dasar perairan Teluk Un termasuk dataran pasang surut adalah sebesar 0,12%. Persentase kemiringan dasar perairan ini tergolong sangat landai menuju kedalaman terbesar di bagian Selatan teluk tersebut yaitu berdekatan dengan ujung Timur kanal teluk tersebut. Kedalaman terbesar teluk ini adalah 12 meter pada saat surut terendah (Z o ) atau akan mencapai 14,60 meter pada saat pasang tertinggi karena tunggang pasut (tidal range) perairan kepulauan Kei adalah ±2,60 meter. Bentuk batimetri dataran pasang surut Teluk Un seperti ditunjukan pada Gambar 9. Ketinggian dari pasang tertinggi (m) 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0.0 0 20 40 60 80 100 Jarak dari batas pasang tertinggi (m) Gambar 3. Topografi rata-rata dasar perairan Un diukur terhadap Sumber: Laporan Hasil Identifikasi Calon KKLD Maluku Tahun 2006. batas pasang tertinggi sebagai referensi. Gambar 9 Batimetri rata-rata dasar perairan Teluk Un diukur terhadap batas pasang tertinggi. 87 Gambar 9 memperlihatkan bahwa dari garis pantai hingga jarak 20 meter ke arah bagian tengah Teluk Un kedalaman perairan bertambah secara perlahanlahan, pada jarak 20 hingga 60 m hampir tidak ada penambahan kedalaman (datar), kemudian pada jarak 60 hingga 80 m kedalaman berkurang (makin dangkal) dan setelah 80 m kedalaman makin bertambah secara perlahan-lahan menuju bagian Selatan teluk tersebut. Iklim di sekitar kawasan Teluk Un dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di bagian Timur dan Benua Australia di bagian Selatan, sehingga sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan iklim. Keadaan musim teratur, musim Timur (kemarau) berlangsung dari bulan April sampai Oktober, sedangkan musim Barat (penghujan) berlangsung dari bulan Oktober sampai Pebruari. Musim Pancaroba berlangsung dalam bulan Maret/April (peralihan pertama) dan Oktober/Nopember (peralihan kedua). Biasanya pada bulan April sampai Oktober bertiup angin Timur Tenggara. Angin kencang bertiup pada bulan Januari dan Pebruari diikuti dengan hujan deras dan laut bergelora. Curah Hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun, suhu rata-rata untuk tahun 2007 sesuai data dari Stasiun Meteorologi Dumatubun - Langgur adalah 27,7ºC dengan suhu minimum 21,3ºC dan maksimum 33,6ºC. Kelembaban rata-rata 83,1%, penyinaran matahari rata-rata 62,2% dan tekanan udara rata-rata 1.010,1 milibar. Untuk lingkungan pantai dan perairan, kisaran ukuran partikel substrat perairan Teluk Un terdiri dari pebbles hingga lempung. Lebar dataran pasut dapat mencapai lebih dari 200 meter dan memiliki dasar perairan yang sangat landai. Karena kondisi dasar perairannya yang landai dan kisaran pasut wilayah ini yang tergolong dalam mesotidal (>2,50 meter) menyebabkan saat surut sebagian besar perairan ini mengalami kekeringan. Kecuali di areal sekitar kanal dan kanal itu sendiri yang tidak memiliki mintakad pasang surut karena relatif lebih dalam. Teluk Un berhubungan dengan Teluk Vid Bangir melalui kanal tersebut. Batuan penyusun pantai kawasan Teluk Un umumnya terdiri dari terumbu karang dan batuan kapur. Pada ujung Utara teluk ini terdapat sumber air tanah yang merembes ke dalam teluk tersebut. Substrat lumpur di teluk ini umumnya berasosiasi dengan ekosistem bakau, sehingga kandungan lumpur ini umumnya 88 terdiri dari serasah daun mangrove. Perairan teluk ini relatif belum tercemar walaupun jumlah pemukiman di sekitar teluk tersebut semakin meningkat. Kepekaan teluk ini terhadap pencemaran relatif kecil karena memiliki waktu menetap massa air yang singkat yaitu kurang lebih 9 jam. Hal ini disebabkan karena kondisi perairan yang sempit dan dangkal dengan kecepatan arus di kanal yang umumnya mencapai 0,5 m/detik (Renjaan dan Pattisamalo 1999). b. Kondisi Oseanografi Arus dominan di Teluk Un adalah arus pasang surut, dari hasil pengukuran arus secara tertambat (eularian) berdasarkan laju disolusi kapur tulis pada bulan Oktober dan November 1997 diketahui bahwa bahwa kecepatan arus di dalam Teluk Un baik di dalam maupun di luar areal padang lamun memiliki kisaran antara 0,35 - 1,12 m/detik. Pada saat air bergerak pasang kecepatan arus rata-rata adalah 0,31 m/detik sedangkan pada saat surut adalah 0,24 m/detik. Kehadiran padang lamun dapat mereduksi kecepatan arus sebesar 0,002 – 0,025 m/detik (Polanunu 1998). Hal ini menunjukkan bahwa zonasi di belakang padang lamun relatif kurang dinamis dibandingkan di depannya, hal ini tentu akan berpengaruh terhadap suplai oksigen, makanan, maupun proses remineralisasi sedimen. Kecepatan rata-rata arus pada kanal menunjukan kondisi yang sama yaitu pada saat pasang kecepatan rata-rata adalah 0,54 m/detik sedangkan pada saat surut kecepatan rata-ratanya adalah 0,51 m/detik (Renjaan dan Pattisamalo 1999). Karena tipe pasang surut perairan ini adalah pasang campuran mirip harian ganda maka arus pasang surut pada suatu titik di Teluk Un akan berubah arah dan kecepatannya sebanyak empat kali. Kecepatan arus pada kanal teluk ini sangat mempengaruhi cepat lambatnya pergantian massa air di dalam teluk tersebut, hal ini berkaitan dengan kepekaan teluk tersebut terhadap polusi maupun dalam menentukan input dan output bibit (propagule), misalnya larva biota laut yang terbawa arus ke teluk tersebut. Renjaan dan Pattisamalo (1999) mengemukakan bahwa lama waktu menetap (residence time) atau lama waktu singgah (transit time) massa air di teluk tersebut diperkirakan kurang dari 9 jam. Dalam kurun waktu yang singkat ini Teluk Un dapat memperbaharui massa airnya maupun kondisi bio-ekologisnya. 89 Nilai salinitas sangat mempengaruhi sebaran fauna maupun flora pada suatu perairan teluk. Distribusi jenis mangrove tertentu atau distribusi kerang tertentu sangat dipengaruhi oleh nilai kisaran salinitas. Misalnya Saccostrea echinata tidak mampu bertoleransi terhadap salinitas rendah, sebaliknya Saccostrea cucullata mampu bertoleransi terhadap salinitas Tinggi. Hal ini menentukan keberadaan species-species ini di dalam teluk Un. Berdasarkan pengukurun secara terus menerus selama 15 hari pada kanal teluk tersebut, maka diketahui bahwa nilai salinitas berkisar antara 31 - 35‰, dimana salinitas pada saat surut lebih rendah dari salinitas pada saat pasang (Renjaan dan Pattisamalo 1999). Sedangkan nilai salinitas yang dipantau selama sebulan (Oktober - November 1999) di dalam Teluk Un menunjukkan bahwa nilai salinitas berkisar antara 33 - 35‰. Pola angin di Pulau Dullah khususnya di sekitar Teluk Un pada umumnya sama dengan di wilayah lain di Kepulauan Kei. Karena luas kawasan Teluk Un yang relatif kecil, maka angin tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap permukaan laut di dalam teluk tersebut. Hasil pengukuran Polanunu (1998) menunjukan bahwa pada bulan Oktober dan Nopember ( musim peralihan II) arah angin umumnya datang dari Barat daya (lokasi kanal). Disamping itu berdasarkan pengukuran menggunakan Anemometer pada ketinggian dua meter di atas permukaan laut Teluk Un memperlihatkan bahwa kecepatan angin berkisar antara 0,3 - 4,7 knot. Kecepatan ini hanya mampu menimbulkan riak karena wilayah pembentukan gelombang (fetch) dari teluk ini relatif sangat sempit. Tipe pasang surut di kawasan Teluk Un adalah pasang campuran mirip harian ganda (mixed predominantly semi-diurnal tide). Tipe pasang ini dicirikan dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari dimana pasang pertama lebih besar dari pada pasang yang kedua. Pasang tertinggi di perairan ini terjadi pada bulan April dan Desember. Hal ini bersamaan dengan musim pemijahan cacing laor (Perinereis cultrifera) atau dalam bahasa setempat disebut Es’u. Oleh karena itu masyarakat setempat menyebutnya Metruat Es’u yang berarti pasang laor (cacing laut), sedangkan surut terendah terjadi pada bulan Oktober. Karena kondisi topografi Teluk Un yang sangat landai, maka sebagian besar wilayah perairannya mengalami kekeringan. Pada saat itu terjadi eksploitasi (pengumpulan berbagai hasil laut) secara besar-besaran oleh masyarakat setempat. 90 Surut terbesar di bulan Oktober itu dikenal sebagai Meti Kei atau dalam bahasa setempat disebut Met Ef yang umumnya bersamaan dengan musim kemarau dan suhu udara yang relatif tinggi. Berdasarkan pengukuran suhu permukaan di kanal Teluk Un secara terusmenerus selama 15 hari pada bulan Oktober - Nopember 1997, dengan interval waktu pengukuran tiap 30 menit, diketahui bahwa suhu permukaan massa air yang masuk (inflow) dan yang keluar (outflow) dari Teluk Un berkisar antara 27 - 33°C. Suhu rata-rata inflow adalah 27,5oC sedangkan suhu rata-rata outflow adalah 27,7oC (Renjaan dan Pattisamalo 1999). Sedangkan suhu rata-rata di dalam teluk tersebut berdasarkan pengukuran selama sebulan adalah berkisar antara 29 - 31oC. Tingginya suhu air laut di dalam teluk dan yang ditransport dari bagian dalam teluk, dibandingkan dengan suhu air laut yang ditransport dari luar Teluk Un, diduga berhubungan dengan kondisi batimetri Teluk Un yang dangkal dan relatif sempit, sehingga proses pemanasan tubuh air di bagian dalam teluk relatif lebih cepat di bandingkan dengan bagian luar teluk yang relatif lebih dalam. c. Kondisi Biologis Flora dan fauna darat di sekitar kawasan Teluk Un diantaranya adalah tumbuhan Nipah (Nypa fruticans) yang tumbuh di bagian darat ekosistem mangrove. Pada bagian Utara tumbuhan pantai tersebut tumbuh pohon jenis Ketapang (Terminalia catapa), Waru laut (Hibiscus tiliaceus), lebih jauh ke darat tumbuh Pandan darat (Pandanus tectorius). Terdapat pula Cemara darat (Casuaria equisetifolia), demikian pula berbagai jenis tumbuhan anggrek (Dendrobium sp) yang mendiami batang dan dahan mangrove. Pepohonan tersebut juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung seperti Kakatua (Cacatua sp) dan Nuri (Lorius sp). Kakatua Tanimbar (Cacatua gofini) merupakan jenis endemik yang hanya ada di Kepulauan Yamdena dan Kepulauan Kei, serta Kakatua (Cacatua galerita eleonora) yang juga merupakan jenis endemik kepulauan Kei Kecil, Aru dan Seram Timur, kedua jenis kakatua ini dilindungi Undang-Undang dan terdaftar sebagai species langka dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Pada pepohonan dengan kanopi yang besar dan lebat, hidup berbagai jenis Kuskus antara lain seperti Kuskus 91 coklat biasa (Phalanger orientalis), Kuskus kelabu (Phalanger gymnotis), dan Kuskus totol hitam (Phalanger rufoniger). Untuk flora dan fauna laut, mangrove dan lamun mendominasi kawasan perairan Teluk Un, sedangkan karang hanya terdapat pada ujung timur kanal kanal tersebut). Mangrove mengitari hampir keseluruhan teluk, demikian pula lamun yang hampir menutupi 50% dasar perairan teluk tersebut. Mangrove, lamun dan karang merupakan ekosistem produktif perairan tropis, kehadiran ketiga ekosistem ini menopang keberlanjutan ekosistem perairan karena merupakan habitat bagi berbagai fauna, yakni sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Mangrove sendiri memasok unsur hara ke dalam perairan karena serasah mangrove dirombak oleh bakteri dan fungi menjadi zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan fitoplankton, alga ataupun mangrove itu sendiri dalam fotosintesis, sebagiannya sebagai partikel serasah (detritus) yang dimakan oleh ikan, kepiting, dan udang. Selain mangrove, lamun, dan karang, pada kawasan perairan Teluk Un juga dijumpai makrofauna yang terdiri dari kelompok Moluska, Ekinodermata, Arthropoda, Annelida, dan beberapa spesies dari kelompok lainnya. Hasil sampling dari 10 transek pengamatan seperti ditunjukan pada Tabel 15. Dari Tabel 16 diketahui bahwa Bronia sp dari kelas Annelida merupakan jumlah terpadat yakni 1,55 ind/m2 diikuti oleh Eunice sp dari kelas yang sama dengan tingkat kepadatan 1,42 ind/m2, kemudian Pitar manilae dari kelas Molluska dengan tingkat kepadatan sebesar 1,42 ind/m2, sedangkan Owenia sp dari kelas Annelida merupakan jenis dengan jumlah paling jarang yakni 0,06 ind/m2. Disamping itu, keberadaan plankton juga tidak dapat diabaikan. Dalam struktur tropik, phytoplankton merupakan kelompok organisme yang berada pada struktur dasar atau produksi primer di dalam rantai makanan di laut. Dari hasil analisis terhadap populasi plankton terlihat bahwa kondisi plankton cukup baik dengan tingkat kestabilan komunitas berada pada kondisi sedang. Zooplankton merupakan spesies yang pada struktur tropik rantai makanan berada pada tingkatan kedua. Berdasarkan tingkat kepadatan, populasi zooplankton lebih rendah dibandingkan dengan populasi phytoplankton. 92 Tabel 15 Kelas dan spesies makrofauna di Teluk Un No. Kelas/Spesies Kepadatan (ind/m2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 MOLUSKA Abra sp. Donax variagatus D. vittatus D. compresus Perna viridis Pitar manilae Rhinoclavis vertagus Tellina radiate Terebellum terebellum 0,26 0,34 1,32 0,56 0,18 1,42 0,72 2,80 0,22 1 2 3 4 5 EKINODERMATA Amphiura sp. Dendraster excentrias Holothuria atra Protoreaster nodosus Synapta recta 0,42 0,38 0,18 0,44 0,22 1 2 3 ARTHROPODA Macropthalmus sp. M. ceratophorus Penaeus sp. 0,24 0,32 1,34 1 2 4 5 6 7 8 9 ANNELIDA Autolytus sp. Axiotella sp. Bronia sp. Capitella sp. Eunice sp. Nereis sp. Owenia sp. Polynea sp. 0,56 1,12 1,55 1,12 1,52 0,80 0,06 0,86 1 2 3 KELOMPOK LAIN Aspidosiphon sp. Sipunculus sp. Plumularia sp. 0,22 0,42 0,30 Sumber: Laporan Hasil Identifikasi Calon KKLD Maluku Tahun 2006. Hasil sampling larva selama 15 hari berturut-turut yang dilakukan dengan interval waktu sampling 30 menit selama bulan Oktober - November 1997 di kanal Teluk Un (Renjaan dan Pattisamallo 1999) seperti ditunjukan pada Tabel 16. 93 Tabel 16 Plankton yang terbawa arus pasut dari dan ke Teluk Un Arah arus Klas Ordo Genus Arus masuk (inflow) ke Teluk Un saat pasang Gastropods Heteropod Pteropod Archeogastropod Atlanta Limacina Nerita Bivalvia Un-identified Un-identifed Gastropods Heteropod Pteropod Archeogastropod Atlanta Limacina Peraclis Diacria Creseis Nerita Un-identified Un-identified Arus keluar (outflow) dari Teluk Un saat surut Bivalvia Sumber: Laporan Hasil Identifikasi Calon KKLD Maluku Tahun 2006. Dari hasil sampling tersebut diketahui bahwa jumlah jenis plankton yang terbawa oleh arus dari dalam ke luar Teluk Un lebih banyak bila dibandingkan dengan yang terbawa oleh arus dari luar ke dalam Teluk Un. Tercatat 3 jenis plankton (holoplankton) yang hanya didapatkan terbawa oleh arus dari dalam laguna ke luar laguna, hal ini mengindikasikan bahwa Teluk Un pada saat itu merupakan wilayah sumber (source) bagi ketiga jenis plankton tersebut. Demikian pula bahwa jumlah (kepadatan) plankton untuk setiap jenis yang terbawa oleh arus surut dari dalam Teluk Un lebih banyak dari yang terbawa oleh arus pasang dari luar teluk tersebut. d. Kondisi Kimia Perairan Salah satu indikator yang dijadikan tolok ukur dalam menilai kualitas perairan adalah pengamatan parameter kimia perairan. Dari hasil analisis terlihat bahwa kualitas perairan di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah berada dalam kondisi yang relatif baik dan tidak mengalami perubahan akibat masukan bahan-bahan kimia dan logam berat ke lingkungan perairan, sehingga dapat digunakan untuk kegiatan budidaya laut. Namun di beberapa tempat perairan Kei Kecil telah terjadi kelebihan kandungan logam cadmium yang melebihi ambang batas yang diperbolehkan dalam badan air. Tingginya kandungan logam cadmium 94 ini banyak disebabkan oleh buangan limbah dari kegiatan penduduk disekitar perairan dan aktivitas lainnya di sekitar pelabuhan Tual. Kondisi kimia perairan di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah seperti ditunjukan pada Tabel 17. Tabel 17 Nilai parameter kimia air laut di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah No Parameter Satuan Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PH DO Sulfida (H 2 S) COD Amonia (NH 3 -N) Nitrat (NO3-N) Nitrit (NO2-N) Sianida (CN) Phosfat Raksa (Hg) Kadmium (Cd) Timah Hitam (Pb) Tembaga (Cu) mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l 7,71 6,912 2,50 m) menyebabkan saat surut sebagian besar perairan ini mengalami kekeringan. Hasil penelitian dari Latale (2003) in Natan (2008) menemukan bahwa salah satu spesies moluska dari famili Lucinidae yakni kerang lumpur (Anodontia edentula) mendiami substrat bersedimen pasir sangat kasar (very coarse sand) sampai lumpur (silt atau clay), dan umumnya didominasi oleh pasir kasar (coarse sand) dan pasir berukuran sedang (medium sand), dan mempunyai nilai porositas antara 41,71 - 55,58%. Kemiringan pantai merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi minawisata bahari pengumpulan moluska. Pada umumnya aktivitas ini dapat dilakukan di daerah intertidal dengan kemiringan pantai yang landai karena lama waktu untuk berwisata sambil mengumpulkan moluska akan lebih panjang dan relatif aman bagi wisatawan. Untuk daerah intertidal dengan kemiringan pantai yang curam, aktivitas ini masih dapat dilakukan tetapi waktunya relatif lebih pendek dan cukup beresiko terhadap keselamatan wisatawan dalam hubungannya dengan proses naiknya permukaan air laut akibat pasang karena dataran pasut pada pantai yang curam akan cepat tergenang air laut, sedangkan daerah intertidal dengan kemiringan pantai yang terjal tidak dimungkinkan untuk melakukan aktivitas pengumpulan moluska. 109 Perubahan suhu akan berpengaruh terhadap pola kehidupan organisme perairan. Pengaruh suhu yang utama adalah mengontrol penyebaran hewan dan tumbuhan. Suhu mempengaruhi secara langsung aktifitas organisme seperti pertumbuhan dan metabolisme bahkan menyebabkan kematian organisme, sedangkan pengaruh tidak langsung adalah meningkatnya daya akumulasi berbagai zat kimia dan menurunkan kadar oksigen dalam air. Setiap spesies hewan moluska mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap suhu. Suhu optimum bagi moluska bentik berkisar antara 25 - 28oC (Hutagalung 1988 dan Huet 1972 in Razak 2002). Sejalan dengan itu, salinitas secara tidak langsung mempengaruhi kerang melalui perubahan kualitas air seperti pH dan oksigen terlarut. Menurut Setiobudiandi (1995) salinitas optimum bagi hewan moluska berkisar antara 2 - 36 ppt. Renjaan (2006) in DPK (2006a) menjelaskan bahwa jenis pasut di kawasan Teluk Un adalah pasut campuran mirip harian ganda (mixed predominantly semidiurnal tide), tipe pasut ini dicirikan dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari. Dengan jenis pasut seperti ini maka aktivitas pengumpulan moluska oleh wisatawan dapat dilakukan selama 2 kali dalam 1 hari, dengan demikian minawisata bahari pengumpulan moluska dapat dikembangkan di daerah-daerah dengan tipe pasut seperti ini, salah satunya adalah di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). Data lapangan menunjukan bahwa untuk lingkungan perairan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter biofisik dan oseanografi perairan seperti jenis moluska; kelimpahan; suhu perairan; salinitas; lebar dataran pasut; tipe substrat pantai; dan kemiringan pantai memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan kondisi lingkungan perairan menjadi sesuai bersyarat (SB) dan tidak sesuai (TS) yaitu tunggang pasut. Tunggang pasut (tidal range) sangat erat hubungannya dengan tipe pantai dan lebar dataran pasut. Menurut Renjaan (2006) in DPK (2006a) tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil umumnya lebih dari 2,5 meter, dengan kondisi tunggang pasut sedemikian pada topografi yang landai seperti halnya di Teluk Un maka pada saat surut terendah sebagian besar dataran pasut muncul dipermukaan 110 air. Sementara itu menurut BAKOSURTANAL (1992) in DPK (2006a) tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil berdasarkan pengukuran selama 30 hari di stasiun TNI AL Tual adalah 2,6 meter. Daerah-daerah dengan tunggang pasutnya besar sangat sesuai untuk lokasi minawisata bahari pengumpulan moluska, hal ini karena dengan tunggang pasut yang lebih dari 2 meter pada pantai yang landai, maka pada saat surut akan membuat pantai tersebut menjadi cukup luas dan mengalami kekeringan sehingga dapat digunakan untuk melakukan aktivitas pengumpulan moluska. Sedangkan pada saat air laut bergerak pasang, daerah intertidal tersebut masih relatif aman bagi wisatawan karena permukaan air laut akan naik secara perlahan dalam waktu yang cukup lama untuk menutupi pandai yang landai. Sebaliknya untuk daerahdaerah dengan tunggang pasutnya kecil (kurang dari 2 meter) tidak sesuai untuk lokasi minawisata bahari pengumpulan moluska. Hal ini karena dengan tunggang pasut yang kurang dari 2 meter pada pantai yang relatif curam maka walaupun pada saat surut, lebar dataran pasut (lebar pantai) tidak cukup luas sehingga tidak dimungkinkan untuk melakukan aktivitas pengumpulan moluska. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak semua kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sesuai untuk aktivitas minawisata bahari pengumpulan moluska seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 11. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan potensi dan sumberdaya moluska di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dikemas dalam bentuk minawisata bahari pengumpulan moluska maka perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti peralatan pengumpul kerang berikut peralatan pengolahannya, sehingga moluska yang terkumpul dapat diolah dan dinikmati saat itu juga oleh wisatawan. c. Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Ikan-ikan karang seperti dari jenis baronang (Siganus gutatus); kerapu bebek (Cromileptes altivelis); kerapu sunu (Plectropomus leopardus); kerapu lumpur (Epinephelus tauvina); kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus); napoleon/maming (Cheilinus undulatus); dan beberapa jenis lainnya merupakan ikan konsumsi yang saat ini banyak dipasarkan dalam keadaan hidup, umumnya 111 Gambar 11 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska). 112 ikan-ikan jenis ini tersebar di daerah tropis dan subtropis. Selain dapat diambil dari habitatnya, saat ini ikan-ikan tersebut mulai ditangkar (dibesarkan) dan dibudidaya. Metoda pemeliharaan yang paling produktif dengan teknik akuakultur adalah dengan metoda karamba jaring apung yang dilakukan diperairan pantai, hal ini karena jumlah dan kualitas air selalu memadai dan juga mudah dipanen. Saat ini banyak wisatawan yang selain melakukan kegiatan wisata pantai atau wisata bahari juga mencari bentuk aktivitas lain yang berhubungan dengan ekosistem dan sumberdaya laut sebagai bentuk lain dalam berwisata. Dengan melihat peluang tersebut maka aktivitas pembesaran ikan dalam karamba jaring apung dapat dikembangkan dan dikemas dalam bentuk minawisata bahari yaitu berwisata sambil menikmati makanan laut (sea-food) dari berbagai jenis ikan karang. Aktivitas pembesaran ikan dalam karamba jaring apung yang dimaksud dalam minawisata bahari ini adalah bukan dalam konteks berproduksi tetapi semata-mata untuk kepentingan berwisata. Wisatawan diberikan kesempatan untuk memilih ikan dalam karamba yang pengambilannya dilakukan sendiri oleh wisatawan dan selanjutnya dapat langsung diolah dan dinikmati pada saat itu juga untuk mencapai kepuasan selama berwisata, atau bisa juga dibawa pulang kerumah untuk dinikmati bersama keluarga. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan ini dapat dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena kondisi perairannya relatif tenang serta terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat. Kelompok ikan yang menjadi target pembesaran dalam karamba jaring apung adalah ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomis yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat, atau ikan-ikan yang merupakan target penangkapan (ikan ekonomis penting). Tentunya aktivitas yang akan dikembangkan ini adalah aktivitas yang berbasis konservasi, karena ikan-ikan tersebut tidak dibudidaya melainkan hanya diambil dari habitatnya dan dibesarkan dalam karamba jaring apung sehingga beban limbah yang dihasilkan tidak sampai mencemari lingkungan perairan. Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan mempertimbangkan 10 parameter kesesuaian yaitu kecepatan arus; tinggi gelombang; kedalaman air dari dasar jaring; suhu perairan; salinitas; oksigen terlarut; pH perairan; nitrat; phospat; serta jarak dari alur pelayaran dan kawasan 113 lainnya. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, diperoleh luasan lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan seperti ditunjukan pada Tabel 20. Tabel 20 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan No 1. 2. 3. Kelas Kesesuaian Sesuai (S) Sesuai Bersyarat (SB) Tidak Sesuai (TS) Total Luasan (ha) 44,97 136,97 107,24 289,17 Luasan (%) 15,55 47,37 37,08 100,00 Tabel 20 menunjukan bahwa luas perairan yang sesuai (S) untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah sebesar 44,97 ha (15,55%), yang sesuai bersyarat (SB) adalah sebesar 136,97 ha (47,37%), sedangkan yang tidak sesuai (TS) adalah sebesar 107,24 ha (37,08%) dari total luas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Menurut DKP-RI (2002), kondisi perairan dengan kecepatan arus yang dipersyaratkan untuk kegiatan budidaya ikan dalam karamba jaring apung di laut adalah kurang dari 0,75 m/detik dengan tinggi gelombang kurang dari 0,5 meter. Sedangkan kedalaman air dari dasar jaring adalah lebih dari 10 meter, hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan sirkulasi air serta limbah yang dihasilkan dari kegiatan karamba jaring apung. Folke et al. (l994) menjelaskan bahwa beban limbah yang dihasilkan untuk memproduksi 100 ton ikan dari kegiatan budidaya dengan karamba jaring apung adalah sama dengan beban limbah pemukiman penduduk yang didiami oleh 850 - 3.200 orang. Namun demikian menurut Kasnir dkk (2004) beban limbah tersebut dapat dikurangi dengan memberikan pakan alami berupa ikan hidup yang sudah dipotong ekornya seperti ikan mujair atau ikan lainnya, pakan alami ini dapat menghasilkan pertumbuhan sebesar 12 - 16 gram/minggu. Suhu perairan adalah merupakan salah satu parameter ekologis yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Menurut Nybakken (1988) dalam kondisi normal suhu dipermukaan laut berkisar antara 25,6 – 32,3oC, disamping itu Mulyanto (1992) menjelaskan bahwa suhu perairan yang baik untuk kehidupan 114 ikan di daerah tropis berkisar antara 25 - 32oC, sementara menurut LP Undana (2006) suhu perairan yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu berkisar antara 24 - 31oC. Selain suhu perairan, salinitas juga merupakan parameter ekologis lainnya yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Nontji (2003) menjelaskan bahwa nilai salinitas di lautan pada umumnya berkisar antara 33 - 37‰. Untuk daerah pesisir salinitas berkisar antara 32 - 34‰ sedangkan untuk laut terbuka umumnya berkisar antara 33 - 37‰ dengan rata-rata adalah 35‰, kisaran ini baik untuk kehidupan organisme laut khususnya ikan (Romimohtarto dan Juwana 1999) sementara menurut LP Undana (2006) salinitas yang baik untuk pertumbuhan ikan kerapu berkisar antara 30 - 33‰. Oksigen adalah salah satu gas terlarut yang memegang peranan penting untuk menunjang kehidupan organime dalam proses respirasi dan metabolisme sel. Kandungan oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan ikan kerapu adalah >3,5 ppm. Demikian juga dengan kadar ion hydrogen (pH) perairan yang merupakan parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme. Dalam skala 0 - 14 setiap organisme mempunyai pH optimal, dimana pH optimal untuk pertumbuhan ikan kerapu berkisar antara 7,8 - 8 (LP Undana 2006). Menurut Tiensongrusmee et al. (1986) kandungan nitrat dalam kolom air yang dipersyaratkan untuk budidaya ikan dalam karamba jaring apung adalah lebih kecil dari 0,9 mg/l, sedangkan nilai optimalnya adalah kurang dari 0,1 mg/l. Lebih lanjut dijelaskan juga bahwa kandungan phospat dalam kolom air yang dipersyaratkan untuk budidaya ikan dalam karamba jaring apung adalah lebih kecil dari 0,9 mg/l, sedangkan nilai optimalnya adalah kurang dari 0,1 mg/l. Selain parameter fisika kimia dan oseanografi perairan tersebut diatas, pengembangan minawisata bahari karamba pembesaran ikan di suatu lokasi tertentu juga harus mempertimbangkan jarak lokasi pengembangan dari alur pelayaran, kawasan budidaya dan kawasan lainnya seperti sentra pemukiman; perekonomian; aktivitas pemerintahan; dan lain-lain. Idealnya jarak untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 500 meter, hal ini agar aktivitas minawisata bahari karamba pembesaran ikan yang dikembangkan di lokasi 115 tersebut tidak sampai mengganggu alur pelayaran. Demikian pula sebaliknya semua kegiatan masyarakat yang ada di sekitar lokasi tersebut tidak sampai berpengaruh kepada aktivitas minawisata bahari karamba pembesaran ikan yang dikembangkan dilokasi tersebut (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). Data lapangan menunjukan bahwa untuk lingkungan perairan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter fisika kimia dan oseanografi perairan seperti kecepatan arus; tinggi gelombang; kedalaman air dari dasar jaring; suhu perairan; salinitas; oksigen terlarut; pH perairan; nitrat; phospat; serta jarak dari alur pelayaran dan kawasan lainnya memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan kondisi lingkungan perairan menjadi sesuai bersyarat (SB) dan tidak sesuai (TS) yaitu kedalaman perairan. Di beberapa bagian Teluk Un, kedalaman perairan ditemukan berada pada kisaran kurang dari 15,5 meter sehingga dengan tunggang pasut 2,5 meter maka pada saat surut terendah, kedalaman perairan di bagian tersebut akan menjadi kurang dari 13 meter. Dengan kedalaman jaring karamba sekitar 3 meter dan persyaratan kedalaman air dari dasar jaring harus lebih dari 10 meter maka bagian perairan tersebut menjadi tidak sesuai untuk menempatkan karamba jaring apung. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak semua kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sesuai untuk aktivitas minawisata bahari karamba pembesaran ikan seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 12. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan potensi dan sumberdaya ikan karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dikemas dalam bentuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan, perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti peralatan untuk mengambil ikan dari dalam karamba berikut peralatan pengolahannya sehingga ikan-ikan tersebut dapat diolah dan dinikmati saat itu juga oleh wisatawan. d. Minawisata Bahari Selam Wisata selam merupakan suatu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam bawah laut dan dinamika air lautnya untuk kepuasan manusia yang dikembangkan 116 Gambar 12 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan. 117 dengan pendekatan konservasi laut. Objek kegiatannya adalah berupa penyelaman dengan objek ekosistemnya adalah terumbu karang, sedangkan objek komoditinya adalah ikan-ikan dan berbagai biota laut penghuni ekosistem terumbu karang. Selain sebagai kegiatan wisata bahari, selam juga dapat dikemas dalam bentuk minawisata bahari yaitu mengintroduksikan kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan seperti spear-gun atau peralatan penangkap ikan lainnya kedalam aktivitas selam tersebut. Dengan demikian selain dapat menikmati keindahan bawah laut, wisatawan juga dapat menangkap ikan-ikan target atau ikan-ikan konsumsi. Hasil tangkapannya dapat langsung diolah dan dinikmati pada saat itu juga untuk mencapai kepuasan selama berwisata, atau bisa juga dibawa pulang kerumah untuk dinikmati bersama keluarga. Minawisata bahari selam ini dapat dikembangkan di kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena selain memiliki terumbu karang sebagai objek ekosistem, teluk ini juga merupakan daerah penangkapan ikan bagi nelayan tradisional dan dikenal sebagai ladang ikan baronang, kerapu, maming, dan juga jenis-jenis ikan target lainnya yang telah lama dimanfaatkan oleh penduduk Desa Taar dan sekitarnya bagi pemenuhan kebutuhan protein. Tentunya minawisata bahari selam yang akan dikembangkan ini adalah yang berbasis konservasi. Pengembangan minawisata bahari selam ini tentunya membutuhkan berbagai sarana pendukung seperti perahu, spear gun atau alat penangkap ikan lainnya, peralatan selam, dan pemandu selam (buddies), namun sampai saat ini kondisi riil di lokasi penelitian menunjukan bahwa semua sarana pendukung tersebut belum ada yang menyediakannya. Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam mempertimbangkan 8 parameter kesesuaian yaitu jenis ikan karang; kecerahan perairan; tutupan komunitas karang; jenis life-form; suhu perairan; salinitas; kedalaman terumbu karang; dan kecepatan arus. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, diperoleh luasan lahan untuk minawisata bahari selam seperti ditunjukan pada Tabel 21. Tabel 21 menunjukan bahwa luas perairan yang sesuai (S) untuk minawisata bahari selam adalah sebesar 24,12 ha (8,34%), yang sesuai bersyarat (SB) adalah sebesar 157,82 ha (54,58%), sedangkan yang tidak sesuai (TS) adalah sebesar 107,24 ha (37,08%) dari total luas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 118 Tabel 21 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam No 1. 2. 3. Kelas Kesesuaian Sesuai (S) Sesuai Bersyarat (SB) Tidak Sesuai (TS) Total Luasan (ha) 24,12 157,82 107,24 289,17 Luasan (%) 8,34 54,58 37,08 100.00 Jumlah jenis ikan karang merupakan parameter penting dalam minawisata bahari selam, suatu perairan dapat dikategorikan sesuai untuk minawisata bahari selam apabila terdapat minimal 75 spesies ikan karang, dan 20 - 75 spesies untuk kelas sesuai bersyarat, sedangkan apabila jumlah jenisnya kurang dari 20 spesies maka perairan tersebut tidak sesuai untuk minawisata bahari selam. Menurut DPK (2003) berdasarkan hasil sensus visual yang dilakukan pada beberapa titik di perairan Kabupaten Maluku Tenggara menunjukan bahwa kepadatan dan sediaan cadang ikan karang relatif cukup tinggi terutama pada daerah perairan karang dekat tubir. Jumlah jenis ikan karang yang teridentifikasi di sekitar perairan Pulau Dullah termasuk di Ngadi, Teluk Un, dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 109 spesies. Untuk kecerahan perairan, hasil penelitian Suharsono dan Yosephine (1994) menunjukan bahwa terdapat korelasi positif antara kecerahan perairan dengan persentase tutupan karang di 27 buah pulau di Kepulauan Seribu. Semakin tinggi transparansi air semakin besar persentase tutupan karang hidup, demikian pula sebaliknya semakin rendah transparansi air semakin kecil pula persentase tutupan karang hidup. Data lapangan menunjukan bahwa kecerahan perairan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah mencapai 100 % pada kedalaman 12 meter. Kedalaman terbesar perairan Teluk Un adalah 14,6 meter dan Teluk Vid Bangir adalah 17,8 meter pada saat pasang tertinggi. Dengan kecerahan 100 % pada kedalaman 12 meter tersebut maka bila dihitung dalam persentase kecerahan perairan di Teluk Vid Bangir mencapai 68% dan di Teluk Un mencapai 82%. Salah satu indikator kesehatan suatu perairan adalah keberadaan terumbu karang dengan tingkat persentase penutupan karang relatif tinggi. Kategori untuk mengukur persentase penutupan karang yang sering digunakan adalah mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh Gomes dan Yap (1998) dengan 119 kategori 0 - 24,9% maka tergolong dalam kondisi buruk, 25 - 49,9% adalah sedang, 50 - 74,9% adalah baik, dan 75 - 100% adalah baik sekali. DKP (2003) menemukan bahwa persentase penutupan karang di perairan sekitar Pulau Dullah adalah 68,74%, bila mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh Gomes dan Yap tersebut diatas maka ekosistem terumbu karang di kawasan ini berada dalam kategori baik sehingga dapat dikembangkan untuk minawisata bahari selam. Untuk jenis life-form, Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata selam mengemukakan bahwa jumlah jenis life-form yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 10 spesies, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 4 - 10 spesies, sedangkan apabila jumlah jenis life-form kurang dari kurang dari 4 spesies atau tidak ada karang sama sekali maka perairan tersebut tidak sesuai untuk ekowisata selam. Konsep ini yang kemudian diadopsi sebagai salah satu parameter kesesuaian dalam minawisata bahari selam. Demikian pula dengan suhu yang merupakan salah satu parameter penting bagi biota perairan, perubahan suhu yang drastis dapat menimbulkan kematian bagi biota perairan. Menurut Nybakken (1988) dalam kondisi normal, suhu dipermukaan laut berkisar antara 25,6 – 32,3oC, disamping itu Mulyanto (1992) menjelaskan bahwa suhu perairan yang baik untuk kehidupan ikan di daerah tropis berkisar antara 25 - 32oC. Selanjutnya menurut Hubbard (1990), ekosistem terumbu karang pada umumnya terbatas pada suhu 18 - 36oC, dengan nilai optimal antara 26 - 28oC. Pertumbuhan karang hermatypic tumbuh dan berkembang dengan subur antara 25 - 29oC (Tamrin, 2006). Data lapangan menunjukan bahwa suhu rata-rata di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah 29 - 32oC, kondisi ini memungkinkan untuk kehidupan terumbu karang dan ikan sehingga dapat dijadikan lokasi minawisata bahari selam. Menurut Nontji (2003) nilai salinitas di lautan pada umumnya berkisar antara 33 - 37‰. Untuk daerah pesisir salinitas berkisar antara 32 - 34‰ sedangkan untuk laut terbuka umumnya berkisar antara 33 - 37‰ dengan rata-rata adalah 35‰. Salinitas diketahui juga merupakan faktor pembatas kehidupan hewan karang. Salinitas air laut rata-rata di daerah tropis adalah sekitar 35‰, dan hewan karang hidup subur pada kisaran salinitas sekitar 34 - 36‰ (Kinsman 2004). Dengan batasan yang dikemukakan diatas maka perairan Teluk Un dan 120 Teluk Vid Bangir dapat dijadikan lokasi minawisata bahari selam karena salinitasnya masih berada pada kisaran yang dipersyaratkan yaitu 30 - 33‰. Kedalaman perairan meskipun merupakan faktor pembatas kehidupan terumbu karang tetapi pada perairan yang jernih dan kondisi lingkungannya memungkinkan, terumbu karang dapat tumbuh sampai kedalaman 50 meter. Menurut Nybakken (1988) terumbu karang tidak dapat berkembang diperairan yang lebih dalam dari 50 - 70 meter. Kebanyakan terumbu karang tumbuh pada kedalaman kurang dari 25 meter. Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata selam mengemukakan bahwa kedalaman terumbu karang yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah antara 3 - 20 meter, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 21 - 30 meter, sedangkan apabila kedalaman terumbu karang kurang dari 3 meter dan/atau lebih dari 30 meter maka tidak sesuai untuk ekowisata selam. Konsep ini juga yang kemudian diadopsi sebagai salah satu parameter kesesuaian dalam minawisata bahari selam. Data lapangan menunjukan bahwa terumbu karang yang ada di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berada pada kedalaman 5 - 17 meter sehingga memenuhi kisaran yang dipersyaratkan untuk lokasi minawisata bahari selam. Disamping kecerahan perairan, kecepatan arus juga sangat menentukan bagi kegiatan wisata selam maupun untuk ekologi terumbu karang. Menurut Jokiel dan Morrissey (1993) pergerakan arus mempengaruhi struktur komunitas dan distribusi jenis karang pada suatu daerah. Secara keseluruhan kondisi terumbu karang di daerah yang terbuka presentase tutupan karangnya relatif rendah. Arus yang kuat berkorelasi dengan meningkatnya perpindahan pecahan-pecahan karang yang akan mengganggu proses pemulihan karang. Selain itu kecepatan arus merupakan faktor yang berhubungan dengan keselamatan penyelam. Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata selam mengemukakan bahwa kecepatan arus yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah antara 0 - 25 cm/detik, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 26 - 50 cm/detik, sedangkan apabila kecepatan arusnya lebih dari 50 cm/detik maka tidak sesuai untuk ekowisata selam. Konsep ini pula yang kemudian diadopsi sebagai salah satu parameter kesesuaian dalam minawisata bahari selam. Hasil pengukuran kecepatan arus pada saat pengambilan data lapangan 121 menunjukan bahwa kecepatan arus di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berkisar antara 19 - 33 cm/detik dengan demikian memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, kecuali pada kanal dan mulut kanal yang menghubungkan kedua teluk tersebut kecepatan arusnya berkisar antara 76 - 91 cm/detik. Data lapangan menunjukan bahwa untuk lingkungan perairan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter biofisik dan oseanografi perairan seperti jenis ikan karang; kecerahan perairan; tutupan komunitas karang; jenis life-form; suhu perairan; salinitas; kedalaman terumbu karang; dan kecepatan arus memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan sebagian dari lokasi perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang sesuai bersyarat (SB) akan menjadi tidak sesuai (TS) yaitu tunggang pasut. Dengan tunggang pasut (tidal range) lebih dari 2,5 meter maka pada saat surut sebagian wilayah akan mengalami kekeringan sehingga tidak bisa digunakan untuk kegiatan penyelaman. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak semua kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sesuai untuk aktivitas minawisata bahari selam seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 13. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan ekosistem terumbu karang serta potensi dan sumberdaya ikan karang di Teluk Un yang dikemas dalam bentuk minawisata bahari selam maka perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti perahu, spear gun atau alat penangkap ikan lainnya, peralatan selam, dan pemandu selam (buddies). Perahu digunakan sebagai salah satu sarana untuk mencapai lokasi penyelaman, oleh karena minawisata bahari selam yang akan dikembangkan adalah yang berbasis konservasi, maka jenis perahu yang disarankan adalah yang terbuat dari bahan kayu dan pengoperasiannya adalah dengan cara didayung oleh wisatawan (perahu tidak bermotor) dengan kapasitas muat sekitar 3 - 4 orang. Hal ini selain untuk menambah kenikmatan selama berwisata, juga bertujuan untuk menghindari adanya tumpahan minyak yang dapat mencemari perairan di sekitar lokasi penyelaman apabila menggunakan perahu bermotor. Selain itu agar kelihatan menarik dan artistik, perahu tersebut dapat diberi hiasan dengan 122 Gambar 13 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam. 123 corak khas budaya daerah setempat. Selain perahu, peralatan penunjang lainnya adalah spear gun atau alat penangkap ikan lainnya yang akan digunakan oleh wisatawan untuk menangkap ikan pada saat melakukan penyelaman. Peralatan selam yang akan digunakan dalam aktivitas ini adalah peralatan standar scuba diving yang terdiri dari baju selam, tabung oksigen dan regulator udara, masker, sepatu dayung (fins), timah pemberat, dan beberapa aksesoris tambahan lainnya yang memang dibutuhkan dalam aktivitas tersebut. Sesuai aturan POSSI bahwa setiap melakukan aktivitas penyelaman seorang penyelam (wisatawan) harus didampingi oleh seorang pemandu selam (buddies), hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan pada saat berada didalam laut, seperti panik; kehabisan oksigen; kehilangan arah; dan lain-lain. Pemandu selam yang dipersyaratkan adalah yang telah memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh POSSI dan telah mengenal kondisi fisik lingkungan perairan di lokasi penyelaman. e. Minawisata Bahari Mangrove Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran air dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat, oleh karena itu hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai Teluk yang dangkal dan daerah pantai yang terlindung, salah satunya seperti yang terdapat di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Salah satu bentuk pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah dengan mengembangkan konsep minawisata bahari yaitu berwisata menikmati ekosistem mangrove dengan semua proses alamiah yang terjadi di dalamnya. Minawisata bahari mangrove dapat dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena selain cocok untuk aktivitas perikanan dan pariwisata terpadu dan berbasis konservasi, teluk ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk pendidikan bahari. 124 Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove mempertimbangkan 6 parameter kesesuaian yaitu ketebalan mangrove; kerapatan mangrove; jenis mangrove; jenis biota; tinggi pasut; dan jarak dari kawasan lainnya. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, diperoleh luasan lahan untuk minawisata bahari mangrove seperti ditunjukan pada Tabel 22. Tabel 22 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove No 1. 2. 3. Kelas Kesesuaian Sesuai (S) Sesuai Bersyarat (SB) Tidak Sesuai (TS) Total Luasan (ha) 29,29 11,17 40,46 Luasan (%) 72,39 27,61 100,00 Tabel 22 menunjukan bahwa ekosistem mangrove yang ada di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai), namun demikian masih terdapat sebagian ekosistem mangrove yang memenuhi kriteria untuk kelas kesesuaian yang sesuai bersyarat (SB) yaitu sebesar 29,29 ha (72,39%), sedangkan luasan ekosistem mangrove yang tidak sesuai (TS) untuk aktivitas ini adalah sebesar 11,17 ha (27,61%) dari luas ekosistem mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove mengemukakan bahwa ketebalan mangrove yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) adalah lebih dari 300 meter, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 50 - 300 meter, sedangkan apabila ketebalan mangrovenya kurang dari 50 meter maka tidak sesuai untuk ekowisata mangrove. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk kerapatan mangrove, kisaran yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) adalah lebih dari 10 - 25 ind/100 m2, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 5 - 10 ind/100 m2 dan/atau lebih dari 25 ind/100 m2, sedangkan apabila kerapatan mangrovenya kurang dari 5 ind/100 m2 maka tidak sesuai untuk ekowisata mangrove. Konsep ini yang kemudian diadopsi sebagai parameter kesesuaian dalam minawisata bahari mangrove. Hasil penelitian MERDI in DPK (2006a) menunjukan bahwa tingkat kerapatan individu mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah 1,52 ind/m2 dengan nilai rerata kepadatan per spesies 125 0,28 ind/m2. Sedangkan kisaran tingkat kerapatan per spesies berkisar antara 0,13 ind/m2 (Avicenia rumpiana; Xylocarpus granatum) hingga 0,44 ind/m2 (Soneratia alba). Jika nilai dari selisih kisaran kepadatan individu mangrove (0,31 ind/m2), dibandingkan dengan nilai rerata kepadatan Mangrove dilokasi ini maka diketahui bahwa perbedaan nilai kepadatan per spesies mangrove cukup bervariasi. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa pada ujung Utara teluk ini terdapat sumber air tanah yang merembes ke dalam teluk tersebut, substrat lumpur di teluk ini umumnya berasosiasi dengan ekosistem mangrove khususnya dari jenis api-api (Avicennia alba) dan jenis bakau (Rhizophora mucronata), sehingga kandungan lumpur ini umumnya terdiri dari serasah daun mangrove. Di bagian pantai Teluk Vid Bangir terdapat 5 jenis mangrove yakni Aegiceras corniculatum; Rhizophora apiculata; Avicenia rumpiana; Soneratia alba, dan Xylocarpus granatum. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, mangrove dan lamun mendominasi kawasan perairan Teluk Un. Mangrove mengitari keseluruhan teluk sedangkan lamun hampir menutupi 50% dasar perairan teluk tersebut. Menurut Bengen (2001), komunitas fauna hutan mangrove membentuk percampuran 2 kelompok, yaitu (1) kelompok fauna daratan/terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas serangga, ular, primata dan burung; dan (2) kelompok fauna perairan/akuatik yang umumnya terdiri atas 2 tipe : (a) yang hidup dikolom, air terutama berbagai jenis ikan dan udang; dan (b) yang menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon mangrove), maupun lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang, dan berbagai jenis invertebrata lainnya. Selanjutnya MERDI in DPK (2006a) menjelaskan bahwa vegetasi pantai di bagian darat ekosistem mangrove di Teluk Un umumnya adalah tumbuhan Nipah (Nypa fruticans), pada bagian Utara vegetasi pantai tersebut tumbuh pohon jenis Ketapang (Terminalia catapa); Waru laut (Hibiscus tiliaceus); Pandan darat (Pandanus tectorius). Terdapat pula Cemara darat (Casuaria equisetifolia), dan berbagai jenis tumbuhan anggrek (Dendrobium sp.) yang mendiami batang dan dahan mangrove. Pepohonan tersebut juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung seperti Kakatua (Cacatua sp.) dan Nuri (Lorius sp.); Kakatua Tanimbar (Cacatua gofini); dan Kakatua (Cacatua galerita eleonora). Pada Pepohonan dengan kanopi yang besar dan lebat, hidup berbagai 126 jenis Kuskus antara lain Kuskus coklat biasa (Phalanger orientalis), Kuskus kelabu (Phalanger gymnotis), kuskus totol hitam (Phalanger rufoniger). Dalam hubungannya dengan jenis biota yang mendiami ekosistem mangrove tersebut, Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove mengemukakan bahwa jenis biota yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) antara lain ikan; udang; kepiting; moluska; reptile; dan burung, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) antara lain ikan dan moluska, sedangkan apabila hanya terdapat salah satu biota air maka ekosistem mangrove tersebut tidak sesuai untuk dijadikan lokasi ekowisata mangrove. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa bahwa bahwa tinggi pasut yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) adalah kurang dari 2 meter, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 2 - 5 meter, sedangkan apabila tinggi pasutnya lebih dari 5 meter maka tidak sesuai untuk ekowisata mangrove. Konsep ini pula yang kemudian diadopsi sebagai parameter kesesuaian dalam minawisata bahari mangrove. Hasil pengukuran tinggi pasut pada saat pengambilan data lapangan menunjukan bahwa tinggi pasut di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berkisar antara 2 - 2,5 meter. Kondisi seperti ini juga sama dengan yang ditemukan oleh Renjaan (2006) in DPK (2006a) yang menjelaskan bahwa tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil umumnya lebih dari 2,5 meter. Sementara menurut BAKOSURTANAL (1992) in DPK (2006a) tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil berdasarkan pengukuran selama 30 hari di stasiun TNI AL Tual adalah 2,6 meter. Salah satu parameter yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi pengembangan minawisata bahari mangrove adalah jarak lokasi pengembangan dari kawasan lainnya seperti sentra pemukiman; perekonomian; aktivitas pemerintahan; dan lain-lain. Idealnya jarak untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 500 meter. Hal ini untuk menjaga agar kegiatan masyarakat disekitarnya tidak sampai berpengaruh terhadap aktivitas minawisata bahari mangrove yang dikembangkan di lokasi tersebut (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). Data lapangan menunjukan bahwa untuk kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter biofisik dan oseanografi perairan seperti kerapatan mangrove; jenis mangrove; jenis biota; tinggi pasut, dan jarak dari kawasan 127 lainnya memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan kondisi lingkungan menjadi sesuai bersyarat (SB) dan tidak sesuai (TS) yaitu ketebalan mangrove. Ketebalan mangrove yang dipersyaratkan untuk minawisata bahari mangrove adalah lebih dari 300 meter, namun hasil interpretasi citra satelit menunjukan bahwa ketebalan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tidak ada yang mencapai 300 meter. Ketebalan terbesar hanya sekitar 180 meter, dengan demikian ekosistem mangrove di kawasan ini tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai). Dibagian Barat Teluk Un ketebalan mangrove berkisar antara 100 - 180 meter sehingga masih dapat dikembangkan untuk aktivitas minawisata bahari mangrove walaupun hanya masuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat), sedangkan di bagian lainnya ketebalan mangrove berada pada kisaran 50 - 100 meter, bahkan ada juga yang kurang dari 50 meter sehingga tidak sesuai untuk aktivitas minawisata bahari mangrove. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak ada kawasan yang sesuai untuk minawisata bahari mangrove, namun masih ada sebagian yang masuk dalam kategori sesuai bersyarat (SB) seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 14. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan ekosistem mangrove yang ada di Teluk Un maka perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti jembatan kayu (trail); anjungan (hut); pondok peristirahatan; menara pengamatan burung; dan pemandu jejak (tracker). Lain halnya dengan para peneliti yang mengeksplorasi ekosistem mangrove dengan tujuan untuk melakukan penelitian, masuknya wisatawan ke dalam areal ekosistem mangrove semata-mata hanya merupakan bagian dari aktivitas selama berwisata. Agar dapat memberikan nilai tambah dalam wisata tersebut, maka dibutuhkan jembatan kayu (trail) sebagai sarana untuk melakukan tracking sehingga dapat meningkatkan minat wisatawan untuk masuk kedalam areal ekosistem mangrove sekaligus dapat mengeksplorasi semua proses alami yang terjadi di dalam ekosistem mangrove. 128 Gambar 14 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove. 129 Lebar trail adalah sekitar 2 - 3 meter, sedangkan panjang trail dan rutenya disesuaikan dengan kondisi dan luas ekosistem mangrove yang ada atau disesuaikan dengan kebutuhan. Anjungan adalah sarana tambahan lainnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari trail dan berfungsi sebagai tempat istirahat bagi wisatawan m2 yang melakukan tracking. Luas anjungan adalah sekitar 25 (5 x 5 m) atau disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan letaknya dibuat agak menjorok ke laut sehingga sambil beristirahat wisatawan juga dapat memancing ikan dan menikmati indahnya suasana alam dari atas laut. Agar terlihat artistik dan alami, bentuk anjungan di desain sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan adat budaya setempat. Sama halnya dengan anjungan, pondok peristirahatan adalah sarana tambahan berikutnya yang dapat digunakan sebagai tempat untuk berlindung pada saat terjadi hujan atau untuk beristirahat sejenak sambil menikmati bekal makanan yang dibawa oleh wisatawan. Luas bangunan pondok peristirahatan adalah sekitar 36 m2 (6 x 6 m) atau disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan letaknya disesuaikan dengan kondisi alam setempat sehingga dapat menjamin keamanan wisatawan. Agar terlihat artistik dan alami, bentuk pondok peristirahatan di desain sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan adat budaya setempat. Menara pengamatan burung juga dibutuhkan untuk melengkapi fasilitas pendukung minawisata bahari mangrove, tinggi menara sebaiknya 2 kali tinggi pohon yang paling tertinggi di lokasi tersebut atau sekitar 10 meter agar wisatawan dapat mengamati pergerakan burung dan menikmati suasa sekitar dari posisi yang cukup tinggi. Biasanya konstruksi menara dibuat dari besi dengan pertimbangan agar cukup kuat dan dapat tahan lama, tapi untuk daerah yang dekat dengan laut, konstruksi menara yang terbuat dari besi tidak efektif karena sifat bahannya yang mudah berkarat. Trail, anjungan, pondok peristirahatan, dan menara pengamatan burung tersebut diatas sebaiknya dibuat dengan memanfaatkan bahan dari sumberdaya alam yang tersedia di daerah tersebut tetapi konstruksinya harus cukup kuat dan dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama. Selain itu, agar wisatawan dapat menikmati suasana alam dalam hutan mangrove dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama melakukan aktivitas minawisata bahari mangrove maka 130 dibutuhkan pemandu jejak. Pemandu jejak yang dipersyaratkan adalah yang telah mengenal kondisi fisik lokasi minawisata bahari mangrove, dan memiliki pengetahuan tentang ekosistem mangrove seperti deskripsi jenis-jenis mangrove, zonasi, struktur vegetasi, daur hidup, jenis-jenis adaptasi pohon mangrove, fauna hutan mangrove, fungsi ekologis, pemanfaatan, dan juga dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove. Dengan bekal pengetahuan tersebut pemandu jejak diharapkan dapat menuntun wisatawan untuk mengeksplorasi ekosistem mangrove dan semua proses alami yang terjadi didalamnya sebagai manfaat yang bisa dipetik selama melakukan aktivitas minawisata bahari mangrove. 5.1.2 Tumpang Susun Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Tumpang susun (overlay) kesesuaian pemanfaatan ruang dilakukan untuk mendapatkan luasan lahan untuk kelas sesuai (S) dan sesuai bersyarat (SB). Proses overlay dilakukan dengan cara menggabungkan kelima peta kesesuaian lahan minawisata bahari. Hasil overlay kelima peta kesesuaian lahan untuk kelas sesuai (S) seperti ditunjukan pada Tabel 23 sedangkan peta kesesuaian lahannya seperti yang ditunjukan pada Gambar 15. Tabel 23 Hasil tumpang susun semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai (S) No Kategori 1. 2. 3. 4. 5. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing Minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari pancing dan selam Minawisata bahari pancing dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari pancing dan karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing, karamba pembesaran ikan, dan selam 6. 7. Luasan (ha) 1.09 86.89 81.00 12.22 26.24 31.98 11.89 131 Gambar 15 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai. 132 Hasil overlay kelima peta kesesuaian lahan minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat (SB) seperti ditunjukan pada Tabel 24 sedangkan peta kesesuaian lahannya seperti yang ditunjukan pada Gambar 16. Tabel 24 Hasil tumpang susun semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat (SB) No Kategori 1. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari karamba pembesaran ikan dan selam Minawisata bahari pancing dan selam Minawisata bahari pancing, karamba pembesaran ikan, dan selam Minawisata bahari karamba pembesaran ikan, selam, dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari pancing, karamba pembesaran ikan, selam, dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari mangrove Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing Minawisata bahari selam 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Luasan (ha) 1.00 42.51 1.09 14.09 44.38 23.76 29.29 11.22 81.00 31.98 Berdasarkan kedua peta kesesuaian lahan yang ditunjukan pada Gambar 15 dan 16, secara biofisik ternyata masih terdapat tumpang tindih pemanfaatan ruang kawasan Teluk Un dan Vid Bangir diantara berbagai kategori aktivitas minawisata bahari sehingga dibutuhkan analisis lebih lanjut untuk menentukan skala prioritas pemanfaatan ruang tersebut yaitu dengan menggunakan pertimbangan ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan. Metoda yang digunakan adalah dengan multi criteria decision making (MCDM) dimana untuk analisis data menggunakan simple multi atribute rating technique (SMART). 133 Gambar 16 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat. 134 5.1.3 Penentuan Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang Penentuan skala prioritas pemanfaatan ruang untuk berbagai kategori aktivitas minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dilakukan dengan menggunakan metoda multi criteria decision making (MCDM). Prinsip penilaian dalam MCDM adalah membandingkan tingkat kepentingan prioritas antara satu elemen dengan elemen lainnya yang berada pada tingkatan atau level yang sama berdasarkan pertimbangan tertentu. Selain kesesuaian biofisik yang telah didapatkan melalui hasil analisis kesesuaian lahan, pertimbangan lainnya yang digunakan adalah kesesuaian secara ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan. Dengan metoda MCDM ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang tepat tentang kategori aktivitas mana dari model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang harus diprioritaskan apabila terjadi tumpah tindih dalam pemanfaatan ruang. Analisis MCDM dilakukan dengan cara pembobotan dimana bobot dari masing-masing kriteria dan subkriteria diperoleh dari hasil analisis, hasil focus group discussion (FGD) dan hasil kuesioner. Struktur yang dibangun terdiri atas empat tingkatan keputusan yaitu: Tujuan: Kriteria; Subkriteria; dan Alternatif, sebagaimana yang ditunjukan pada Gambar 17. 1) Tujuan Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk kelima kategori aktivitas minawisata bahari berbasis konservasi ternyata ada tumpang tindih pemanfaatan lahan perairan antara satu dengan yang lain khususnya antara minawisata bahari pancing, pengumpulan kerang, karamba pembesaran ikan dan selam, sedangkan terhadap minawisata bahari mangrove tidak ada tumpang tindih pemanfaatan lahan karena sebagian besar aktivitas minawisata bahari mangrove menggunakan lahan darat. Untuk dapat mengakomodir semua kategori aktivitas minawisata bahari tersebut hampir dapat dipastikan akan menimbulkan konflik pemanfaatan ruang dan sumberdaya di antara berbagai pemangku kepentingan. Salah satu cara untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang dan sumberdaya adalah dengan metoda MCDM. Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan skala prioritas pemanfaatan ruang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk model pengelolaan minawisata bahari 135 pulau kecil berbasis konservasi, sehingga semua kategori aktivitas minawisata bahari dapat dilakukan secara terencana, terpadu, terarah dan sistematis berdasarkan skala prioritas. TUJUAN KRITERIA SUBKRITERIA ALTERNATIF Gambar 17 Struktur hirarki penentuan skala prioritas pemanfaatan ruang. 2) Kriteria Untuk mencapai tujuan diatas, maka ada empat kriteria yang harus dijadikan bahan pertimbangan yaitu 1) dimensi ekologi; 2) dimensi ekonomi; 3) dimensi sosial budaya; dan 4) dimensi kelembagaan. Hasil pengolahan data dengan Criterium DecisionPlus Version 3.0 menunjukan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing kriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai seperti ditunjukan pada Tabel 25. Tabel 25 Kontribusi masing-masing kriteria terhadap terhadap tujuan yang ingin dicapai Kriteria Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Kelembagaan Total Bobot 0,270 0,282 0,254 0,194 1 Persentase 27,0 % 28,2 % 25,4% 19,4 % 100 % 136 Dari Tabel 25 terlihat bahwa total bobot seluruh kriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 1. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa secara hirarki kriteria yang paling penting dalam upaya mencapai tujuan diatas adalah pertimbangan ekonomi dengan bobot 0,282. Agar aktivitas minawisata bahari yang dikembangkan di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir bisa berkelanjutan maka pertimbangan ekonomi menjadi salah satu faktor yang penting. Secara finansial, biaya investasi untuk mengembangkan suatu unit usaha minawisata bahari tertentu harus dapat dijangkau oleh masyarakat, selain itu juga unit usaha tersebut harus dapat memberikan manfaat ekonomi dan dapat memberikan kontribusi secara langsung terhadap peningkatan pendapatan dan ekonomi masyarakat setempat. Kriteria yang merupakan urutan kedua adalah pertimbangan ekologi dengan bobot 0,270. Terkadang untuk mendukung berbagai kegiatan pembangunan, sumberdaya alam yang ada dieksploitasi sedemikian rupa sehingga terjadi pemanfaatan berlebih bahkan sampai menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Untuk itu pengembangan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus dilakukan dengan bijaksana dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta memperhatikan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. Selain hasil analisis kesesuaian lahan, pengembangan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus mempertimbangkan daya dukung lahan dan daya dukung kawasan agar pengelolaannya dapat berkelanjutan. Dalam bentuk fisik, jumlah maksimum unit usaha yang ditempatkan diperairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus sesuai dengan daya dukung lahan, disamping itu juga jumlah pengunjung/wisatawan tidak boleh melampaui daya dukung kawasan sehingga dapat meminimalisir kerusakan lingkungan. Kriteria yang merupakan urutan ketiga adalah pertimbangan sosial budaya dengan bobot 0,254. Agar dapat berkelanjutan, pengembangan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus mempertimbangkan faktor kebiasaan masyarakat atau budaya masyarakat setempat dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia, dengan demikian maka akan timbul rasa memiliki yang berdampak pada keinginan untuk menjaga kelestarian sumberdaya dan lingkungannya. Disamping itu tenaga kerja yang dibutuhkan akan cukup tersedia karena 137 masyarakat sudah terbiasa dengan aktivitas yang akan dikembangkan dan mampu mengatasi masalah yang timbul kemudian dilapangan. Kriteria yang merupakan urutan terakhir adalah pertimbangan kelembagaan dengan bobot 0,194. Semua bentuk aktivitas yang akan dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus mempertimbangkan aspek kelembagaanya baik lembaga pengelola maupun lembaga pengawas dan perlu diatur dalam aturan formal atau aturan adat sehingga keamanan pemilik usaha dan unit usahanya maupun keamanan wisatawan yang datang berkunjung di kawasan tersebut dapat terjamin. 3) Subkriteria Dari keempat kriteria diatas, selanjutnya diuraikan lagi menjadi subsubkriteria. Kriteria ekologi terbagi dalam 3 subkr iteria yaitu kesesuaian lahan, daya dukung lahan, dan daya dukung kawasan. Kriteria ekonomi terbagi dalam 3 subkriteria yaitu kemudahan berinvestasi, manfaat ekonomi, dan tingkat pendapatan masyarakat. Kriteria sosial budaya terbagi dalam 2 subkriteria yaitu kebiasaan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan kriteria kelembagaan terbagi dalam 2 subkriteria yaitu aturan pengelolaan dan tingkat keamanan. Hasil pengolahan data dengan Criterium DecisionPlus Version 3.0 menunjukan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing subkriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai seperti ditunjukan pada Tabel 26. Tabel 26 Kontribusi masing-masing subkriteria terhadap terhadap tujuan yang ingin dicapai Kriteria Subkriteria Bobot Ekologi Kesesuaian Lahan Daya Dukung Lahan Daya Dukung Kawasan Kemudahan Berinvestasi Manfaat Ekonomi Tingkat Pendapatan Masyarakat Kebiasaan Masyarakat Penyerapan Tenaga Kerja Aturan Pengelolaan Tingkat Keamanan 0,083 0,082 0,105 0,074 0,073 0,135 0,124 0,130 0,104 0,090 8.3 8.2 10.5 7.4 7.3 13.5 12.4 13.0 10.4 9.0 1 100 Ekonomi Sosial Budaya Kelembagaan Total Persentase (%) 138 4) Alternatif Berdasarkan struktur yang telah dibangun terdapat 4 alternatif kategori aktivitas minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang akan dicarikan skala prioritas dalam pemanfaatan ruang kawasan perairan Teluk Un dan Vid Bangir yaitu 1) minawisata bahari pancing, 2) minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska), 3) minawisata bahari karamba pembesaran ikan, dan 4) minawisata bahari selam. Berdasarkan hasil analisis Criterium DecisionPlus Version 3.0 diketahui prioritas alternatif kategori aktivitas minawisata bahari berbasis konservasi yang akan dikembangkan di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir seperti yang ditunjukan pada Tabel 27 dan Gambar 18. Tabel 27 Skala prioritas alternatif aktivitas berdasarkan kriteria dan subkriteria No 1. 2. 3. 4. Alternatif Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing Minawisata bahari selam Minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) Total Bobot Persentase (%) Prioritas 0,288 28,8 1 0,269 0,249 0,194 26,9 24,9 19,4 2 3 4 1 100 - Gambar 18 Diagram batang skala prioritas alternatif aktivitas berdasarkan kriteria dan subkriteria. 139 Dari Tabel 27 dan Gambar 18 terlihat bahwa total bobot seluruh alternatif terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 1. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa berdasarkan keempat kriteria diatas untuk model pengelolaan yang berbasis konservasi, minawisata bahari karamba pembesaran ikan menempati prioritas pertama dengan bobot 0,288. Hal ini karena rakit karamba yang akan ditempatkan di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir bukan dalam konteks berproduksi tetapi semata-mata hanya bertujuan untuk mencapai kepuasan selama berwisata. Ikan-ikan yang dipelihara di dalam karamba juga tidak dari hasil budidaya tetapi diambil dari alam dan selanjutnya dibesarkan di dalam karamba sehingga hanya butuh sedikit pakan alami untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dengan demikian jelaslah bahwa pembesaran ikan dalam karamba merupakan salah satu alternatif pemanfaatan sumberdaya yang ramah lingkungan dan berbasis konservasi. Kategori minawisata bahari yang menjadi prioritas kedua adalah minawisata bahari pancing dengan bobot 0,269. Hal ini karena aktivitas memancing ikan yang akan dikembangkan di perairan Teluk Un bukan juga dalam konteks berproduksi tetapi lebih pada memancing ikan dalam konteks berwisata, dengan konsep seperti ini maka ketersediaan stok ikan dan keberlangsungan hidupnya dapat tetap terjaga dengan baik. Kategori minawisata bahari yang menjadi prioritas ketiga adalah minawisata bahari selam dengan bobot 0,249. Selain dapat menikmati keindahan alam bawah laut dengan ekosistem terumbu karang dan biota laut yang ada disekitarnya, aktivitas selam ini juga ditujukan untuk menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan seperti spear-gun sehingga sensasi yang dirasakan oleh wisatawan lain dari yang biasa dirasakan pada aktivitas penyelaman pada umumnya. Sedangkan kategori minawisata bahari yang menjadi urutan terakhir adalah minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) dengan bobot 0,194. Aktivitas pengumpulan kekerangan ini menjadi menarik karena dilakukan pada saat terjadinya surut terbesar dan kondisi laut sangat tenang (meti kei) sehingga selain berwisata, pengumpulan kekerangan dapat dilakukan sendiri oleh wisatawan dan 140 selanjutnya dapat langsung diolah dan dinikmati pada saat itu juga untuk mencapai kepuasan selama berwisata. Selanjutnya dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Criterium DecisionPlus Version 3.0 tergambar besarnya kontribusi dari masing-masing kriteria terhadap alternatif kategori aktivitas minawisata bahari berdasarkan skala prioritas pemanfaatan ruang seperti yang ditunjukan pada Gambar 19. 0,288 Karamba 0,269 Pancing 0,249 Selam 0,194 Kerang Gambar 19 Kontribusi masing-masing kriteria terhadap alternatif kategori aktivitas minawisata bahari. Gambar 19 menunjukan bahwa skala prioritas “ alternatif ” pemanfaatan lahan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berturut-turut adalah (1) minawisata bahari karamba pembesaran ikan dengan persentase 28,8%, (2) minawisata bahari pancing 26,9%, (3) minawisata bahari selam 24,9%, dan (4) minawisata bahari pengumpulan kerang 19,4%. Dengan demikian total persentase seluruh “alternatif” terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 100%. Skala prioritas tersebut didasarkan atas “kriteria” sebagai berikut: ekologi dengan persentase 27,0%; ekonomi 28,2%; sosial budaya 25,4%; dan kelembagaan 19,4%. Dengan demikian total persentase seluruh ”kriteria” terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 100%. 141 5.1.4 Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Untuk Semua Aktivitas Berdasarkan skala prioritas pemanfaatan ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, selanjutnya dapat dilihat hasil analisis kesesuaian pemanfaatan ruang untuk semua aktivitas yang merupakan hasil overlay dari semua peta kesesuaian lahan untuk kelas sesuai. Sedangkan untuk minawisata bahari mangrove, karena tidak ada ekosistem mangrove yang memenuhi syarat untuk kelas kesesuaian S (sesuai), maka luasannya diambil dari kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) seperti yang ditunjukan pada Tabel 28. Tabel 28 Hasil analisis kesesuaian pemanfaatan ruang untuk semua aktivitas No Kategori Luasan (ha) 1. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan 2. Minawisata bahari pancing 3. Minawisata bahari selam 12,22 4. Minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) 81,00 5. Minawisata bahari mangrove 29,29 44,97 113,12 Tabel 28 menunjukan bahwa luas perairan yang sesuai (S) untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah sebesar 44,97 ha, minawisata bahari pancing adalah sebesar 113,12 ha, minawisata bahari selam adalah sebesar 12,22 ha, minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) adalah sebesar 81,00 ha, dan luas perairan yang sesuai bersyarat (SB) untuk minawisata bahari mangrove adalah sebesar 29,29 ha. Peta kesesuaian lahan untuk semua aktivitas minawisata bahari tersebut seperti ditunjukan pada Gambar 20. 5.2 Analisis Daya Dukung Lingkungan Menurut PPLKPL-KLH/FPIK IPB (2002) in Rauf (2007) konsep daya dukung didasarkan pada pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung suatu pertumbuhan organisme. Mengacu pada konsep ini, maka daya dukung merupakan tingkat pemanfaatan sumberdaya alam atau ekosistem secara berkesinambungan tanpa menimbulkan kerusakan 142 Gambar 20 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari. 143 sumberdaya dan lingkungan, atau dengan kata lain jumlah maksimum pemanfaatan suatu sumberdaya atau ekosistem yang dapat diabsorpsi oleh suatu kawasan atau zona tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas fisik, tingkat kenyamanan dan apresiasi pengguna suatu sumberdaya atau ekosistem terhadap suatu kawasan atau zona akibat adanya pengguna lain dalam waktu bersamaan. Konsep inilah yang digunakan dalam menghitung daya dukung lingkungan untuk model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Pulau Dullah. Mengingat model pengelolaan minawisata bahari ini tidak bersifat mass tourism dimana sumberdaya dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas, maka perlu dilakukan analisis untuk menentukan daya dukung lingkungan. Pendekatan yang digunakan adalah (1) daya dukung fisik, dengan konsep daya dukung lahan dan daya dukung kawasan, (2) daya dukung ekologis, dengan konsep beban limbah organik, ketersediaan oksigen terlarut dalam kolom air, dan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. 5.2.1 Daya Dukung Fisik Daya dukung fisik yang dianalisis dalam kajian ini dibatasi pada kemampuan lahan (ruang) dalam menampung berbagai kegiatan pembangunan ditinjau aspek kesesuaian lahan. Hasil dari analisis ini akan memberikan informasi mengenai seberapa besar luas lahan dan jumlah unit usaha serta jumlah maksimum orang yang dapat ditampung oleh kawasan tersebut. Konsep yang digunakan adalah daya dukung lahan dan daya dukung kawasan. Daya dukung lahan (DDL) adalah kemampuan maksimum lahan untuk mendukung suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa menimbulkan penurunan kualitas lingkungan baik biofisik maupun sosial, sedangkan daya dukung kawasan (DDK) menunjukan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Mengingat model pengelolaan minawisata bahari yang akan dikembangkan di Teluk Un ini adalah pengelolaan yang berbasis konservasi dan dikembangkan di pulau sangat kecil, maka daya dukung lahan perlu dibatasi dengan kapasitas lahan (KL) dimana areal yang diizinkan untuk dikembangkan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai. 144 a. Minawisata bahari pancing Analisis daya dukung untuk minawisata bahari pancing dilakukan dengan pendekatan luas lahan yang sesuai, kapasitas lahan perairan, dan luasan optimal sarana pemancingan ikan. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 113,12 ha atau 1.131.200 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL untuk minawisata bahari pancing adalah seluas 339.360 m2. Luasan optimal sarana pemancingan ikan adalah besaran yang menunjukkan luas dari 1 unit perahu bercadik dengan ukuran panjang perahu 4 meter dan lebar perahu termasuk cadiknya adalah 3 meter sehingga luasan optimalnya adalah 12 m2, sementara luas olah gerak untuk 1 unit sarana pemancingan ikan agar dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh sarana pemancingan lainnya adalah 900 m2 (30 m X 30 m). Dengan dasar perhitungan tersebut maka jumlah unit sarana pemancingan ikan yang diperbolehkan untuk beroperasi di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 377 unit perhari. Selanjutnya, jika 1 unit sarana pemancingan ikan dapat menampung 3 orang (2 orang wisatawan dan 1 orang pendayung perahu) maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari pancing adalah 1.131 orang perhari. b. Minawisata bahari pengumpulan kerang Analisis daya dukung untuk minawisata bahari pengumpulan kerang dilakukan dengan pendekatan potensi ekologis pengunjung per satuan unit area, luas area yang dapat dimanfaatkan, unit area, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan pengumpulan kerang. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 81 ha atau 810.000 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL atau luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengumpulan kerang menjadi 243.000 m2. 145 Unit area adalah besaran yang menunjukkan luasan optimal dari lahan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas pengumpulan kerang. Jika diasumsikan bahwa unit area untuk 1 orang pengunjung agar dapat leluasa melakukan aktivitas pengumpulan kerang tanpa menggangu pengunjung lainnya adalah 2500 m2 (50 m X 50 m), potensi ekologis pengunjung per satuan unit area adalah 1 orang, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari adalah 8 jam, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas ini adalah 4 jam (Yulianda 2007), maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari pengumpulan kerang adalah sebanyak 194 orang per event. Satuannya ditentukan per event karena sesuai adat dan kebiasaan masyarakat setempat untuk menjaga ketersediaan dan kelestarian sumberdaya yang ada, aktivitas pengumpulan kerang tidak dapat dilakukan setiap hari oleh masyarakat setempat karena terikat dengan atusan Sasi (Yutut), aktivitas ini hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu yaitu pada saat kondisi laut surut terbesar (Meti Kei). c. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Analisis daya dukung untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan dilakukan dengan pendekatan luas lahan yang sesuai, kapasitas lahan perairan, dan luasan optimal karamba pembesaran ikan. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 44,97 ha atau 449.700 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah seluas 134.910 m2. Luasan optimal karamba pembesaran ikan adalah besaran yang menunjukkan luas dari 1 unit rakit dengan empat buah karamba berukuran 3m X 3m X 3m, luasan optimal untuk 1 unit rakit agar ikan-ikan yang dipelihara dapat bertumbuh dengan baik adalah 144 m2 (12 m X 12 m), luasan ini merupakan ukuran optimal yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto 1993). Sementara luas olah gerak untuk 1 unit rakit karamba agar perahu yang menuju dan kembali dari rakit karamba dapat bergerak dengan leluasa tanpa 146 menggangu atau terganggu oleh perahu lainnya adalah 3.600 m2 (60 m X 60 m). Dengan dasar perhitungan tersebut maka jumlah rakit karamba pembesaran ikan yang diperbolehkan untuk ditempatkan di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 37 unit. Selanjutnya, jika 1 unit rakit dapat menampung 5 orang (4 orang wisatawan dan 1 orang penjaga karamba) maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah 185 orang perhari. d. Minawisata bahari selam Analisis daya dukung untuk minawisata bahari selam dilakukan dengan pendekatan potensi ekologis pengunjung per satuan unit area, luas area yang dapat dimanfaatkan, unit area, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan penyelaman. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 12,22 ha atau 122.200 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL atau luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas penyelaman menjadi 36.660 m2. Unit area adalah besaran yang menunjukkan luasan optimal dari lahan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas penyelaman. Menurut Yulianda (2007), unit area untuk 1 orang pengunjung agar dapat leluasa melakukan aktivitas penyelaman tanpa menggangu penyelam lainnya adalah 2000 m2 (200 m X 10 m), potensi ekologis pengunjung per satuan unit area adalah 2 orang (1 orang penyelam dan 1 orang pemandu selam), waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari adalah 8 jam, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas ini adalah 2 jam, maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari selam adalah sebanyak 146 orang per hari. e. Minawisata bahari mangrove Menurut Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove, ketebalan ekosistem mangrove yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 300 meter, parameter ini juga digunakan 147 dalam melakukan analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove. Hasil interpretasi citra satelit menunjukan bahwa ketebalan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tidak ada yang mencapai 300 meter, ketebalan terbesar hanya mencapai 180 meter, dengan demikian ekosistem mangrove yang ada di kawasan ini tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai). Namun untuk kepentingan konservasi dan pendidikan bahari, ekosistem mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini dapat digunakan untuk minawisata bahari mangrove walaupun hanya dengan memanfaatkan luasan ekosistem mangrove yang masuk dalam kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat). Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas ekosistem mangrove yang masuk dalam kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 29,29 ha atau 292.900 m2 dan letaknya tersebar mengitari Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Apabila kapasitas lahan adalah 30% dari luas ekosistem mangrove yang sesuai bersyarat tersebut, maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL atau luas area yang dapat dimanfaatkan untuk minawisata bahari mangrove menjadi 87.870 m2. Analisis daya dukung untuk minawisata bahari mangrove dilakukan dengan pendekatan potensi ekologis pengunjung per satuan unit area, luas area yang dapat dimanfaatkan, unit area, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan tracking. Jika diasumsikan bahwa areal untuk membuat rute tracking adalah 10% dari luas area yang dapat dimanfaatkan untuk minawisata bahari mangrove, maka luas area yang dapat digunakan untuk melakukan tracking adalah 8.787 m2. Unit area adalah besaran yang menunjukkan jarak optimal dari panjang track yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk melakukan tracking. Menurut Yulianda (2007), unit area untuk 1 orang pengunjung agar dapat leluasa melakukan tracking tanpa menggangu pengunjung lainnya adalah 50 meter, potensi ekologis pengunjung per satuan unit area adalah 1 orang, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari adalah 8 jam, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan tracking adalah 2 jam, maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari mangrove adalah 148 sebanyak 702 orang per hari. Apabila lebar area tracking yang dibuat adalah 2 meter, maka minawisata bahari mangrove ini dapat dinikmati dengan cara mengekplorasi sekaligus menikmati ekosistem mangrove dengan semua proses alami yang terjadi di dalamnya mengikuti rute tracking sepanjang 4.394 meter. 5.2.2 Daya Dukung Ekologis Metode yang digunakan untuk menghitung daya dukung ekologis adalah dengan pendekatan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Perairan teluk memiliki kemampuan menampung beban pencemaran sampai pada batas-batas tertentu, kemampuan ini dipengaruhi oleh proses pengenceran dan perombakan yang terjadi di dalamnya. Kapasitas asimilasi didefenisikan sebagai kemampuan air atau sumber air dalam menerima beban pencemar limbah tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya. Apabila beban limbah yang masuk ke perairan melebihi kemampuan asimilasinya maka akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Perhitungan kapasitas asimilasi lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dalam menampung beban pencemar dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan metoda regresi sederhana antara konsentrasi masing-masing parameter kualitas air di lingkungan perairan dengan beban pencemarnya, hasil regresi sederhana tersebut selanjutnya dianalisis dengan cara memotongkannya dengan nilai baku mutu air laut untuk biota laut dan wisata bahari sesuai standar baku mutu yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. Jika nilai kapasitas asimilasinya belum terlampaui, maka beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah, dimana beban pencemar yang masuk akan mengalami proses difusi atau dispersi atau penguraian di dalam lingkungan perairan, hal ini ditandai oleh nilai konsentrasi parameter beban pencemar yang masih berada dibawah nilai ambang batas baku mutu air laut. Begitu pula sebaliknya, jika nilai kapasitas asimilasinya telah melampaui kemampuan asimilasinya maka kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya pencemaran. Data hasil pengukuran parameter kualitas air di lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir serta standar baku mutu air laut yang dipersyaratkan seperti yang ditunjukan pada Tabel 29. 149 Tabel 29 Status kualitas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Parameter Hasil Pengukuran Baku Mutu Biota Wisata Laut Bahari St.1 St.2 St.3 St.4 St.5 St.6 St.7 Nitrat (mg/l) 0,008 0,008 0,008 0,003 0,002 0,003 0,004 0,003 0,003 Phosphat (mg/l) 0,015 0,015 0,009 0,002 0,004 0,005 0,002 0,002 0,004 Tembaga (mg/l) 0,008 0,050 0,017 0,007 0,008 0,008 0,007 0,007 0,009 Ammonia (mg/l) 0,3 nihil 0,006 0,007 0,009 0,008 0,007 0,007 0,011 Sulfida (mg/l) 0,01 nihil 0,011 0,006 0,007 0,007 0,006 0,006 0,007 Selanjutnya data hasil regresi sederhana (fungsi y), beban pencemar dan kapasitas asimilasinya seperti ditunjukan pada Tabel 30. Persamaan regresi yang terbentuk merupakan hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter kualitas air di lingkungan perairan dengan beban pencemarnya. Apabila garis regresi yang terbentuk ditarik lurus sehingga berpotongan dengan garis baku mutu air laut sesuai peruntukannya maka akan didapatkan nilai kapasitas asimilasinya seperti yang ditunjukan pada Gambar 21. Tabel 30 Beban pencemar dan kapasitas asimilasi lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir No Paramater Fungsi y R2 Beban Pencemar (mg/det) Kapasitas Asimilasi (mg/det) 1 Nitrat (NO 3 –N) y = 3,025 + 0,002x R2 = 0,999 1,286 2,772 2 Phosphat (PO 4 ) y = 4,990 + 0,002x R2 = 0,999 1,386 5,198 3 Tembaga (Cu) y = 6,370 + 0,002x R2 = 0,999 3,119 2,772 4 Ammonia (NH3 –N) y = - 9,610 + 0,002x R2 = 0,999 2,703 103,967 5 Sulfida (H2 S) y = 1,050 + 0,002x R2 = 0,999 2,475 3,465 150 a. Kapasitas Asimilasi Nitrat (NO 3 -N) b. Kapasitas Asimilasi Phosphat (PO 4 ) c. Kapasitas Asimilasi Tembaga (Cu) d. Kapasitas Asimilasi Ammonia (NH3 -N) e. Kapasitas Asimilasi Sulfida (H2 -S) Gambar 21 Kapasitas asimilasi dari 5 paramater kualitas air di lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. a. Kapasitas Asimilasi Nitrat (NO 3 -N) Penentuan nilai kapasitas asimilasi untuk NO 3 -N dilakukan dengan persamaan regresi y = 3,025 + 0,002x dan R2 = 0,999. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 151 2,772 mg/det (0,007 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 1,286 mg/det (0,003 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka terlihat bahwa beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena berdasarkan hasil pengukuran kualitas air di 7 stasiun pengamatan ternyata konsentrasi NO 3 -N pada 6 stasiun pengamatan masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu di Stasiun 2, 3, 4, 5, 6, dan 7, kecuali pada stasiun pengamatan 1 di bagian utara Teluk Un terlihat bahwa nilai konsentrasi NO 3 -N telah mencapai batas kapasitas asimilasinya. b. Kapasitas Asimilasi Phosphat (PO 4 ) Berdasarkan persamaan regresi y = 4,990 + 0,002x dan R2 = 0,999 maka dapat ditentukan kapasitas asimilasi PO 4 di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 5,198 mg/det (0,013 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 1,386 mg/det (0,003 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena hasil pengukuran kualitas air di 7 stasiun pengamatan semuanya menunjukan bahwa konsentrasi PO 4 masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan. c. Kapasitas Asimilasi Tembaga (Cu) Nilai kapasitas asimilasi untuk Cu ditentukan berdasarkan persamaan regresi y = 6,370 + 0,002x dan R2 = 0,999. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 2,772 mg/det (0,007 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 3,119 mg/det (0,008 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka terlihat bahwa kondisi perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir telah tercemar oleh Cu karena ada 2 stasiun pengamatan yang konsentasi Cu telah melampaui nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu pada Stasiun 1 dan 7. Selain itu juga ada 2 stasiun pengamatan yang konsentrasi Cu sama dengan baku mutu yang dipersyaratkan yaitu pada Stasiun 3 dan 4, sedangkan konsentrasi Cu pada 3 stasiun pengamatan lainnya masih berada di bawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu pada Stasiun 2, 5, dan 6. 152 d. Kapasitas Asimilasi Ammonia (NH 3 -N) Penentuan nilai kapasitas asimilasi untuk NH 3 -N dilakukan dengan persamaan regresi y = - 9,610 + 0,002x dan R2 = 0,999. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 103,967 mg/det (0,269 ton/bulan). Nilai kapasitas asimilasi ini cukup besar karena konsentrasi NH 3 -N yang ada di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sangat kecil bila dibandingkan dengan nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 0,3 mg/l. Jika beban pencemar yang ada sebesar 2,703 mg/det (0,007 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka jelas terlihat bahwa beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena hasil pengukuran kualitas air pada 7 stasiun pengamatan, semuanya menunjukan konsentrasi NH 3 N masih berada jauh dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan. e. Kapasitas Asimilasi Sulfida (H 2 -S) Berdasarkan persamaan regresi y = 1,050 + 0,002x dan R2 = 0,999 maka dapat ditentukan kapasitas asimilasi H 2 S di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 3,465 mg/det (0,008 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 2,475 mg/det (0,006 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka terlihat bahwa beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena berdasarkan hasil pengukuran kualitas air di 7 stasiun pengamatan ternyata konsentrasi H 2 S pada 6 stasiun pengamatan masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu di Stasiun 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Sama halnya dengan nitrat, pada stasiun pengamatan 1 di bagian utara Teluk Un terlihat bahwa konsentrasi H 2 S telah melampaui batas kapasitas asimilasinya. Dari kelima parameter kualitas air tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa unsur pencemar seperti nitrat, tembaga, dan sulfida yang konsentrasinya telah mencapai atau bahkan melampaui batas kapasitas asimilasinya diduga keberadaannya karena adanya limbah pemukiman penduduk yang masuk ke lingkungan perairan, namun kondisi ini belum terlalu membahayakan karena beban pencemar tersebut akan terbilas pada saat air bergerak pasang dan kemudian terbawa oleh arus ke luar teluk pada saat air bergerak surut. 153 Menurut MERDI in DPK 2006a, tipe pasang surut di perairan Kei Kecil adalah pasang campuran mirip harian ganda. Dengan tipe pasut seperti ini maka arus pasang surut pada suatu titik di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir akan berubah arah dan kecepatannya sebanyak 4 kali. Kecepatan arus pada kanal teluk ini sangat mempengaruhi cepat lambatnya pergantian massa air di dalam teluk tersebut, hal ini berkaitan dengan kepekaan teluk tersebut terhadap polusi maupun dalam menentukan input dan output bibit (propagule), misalnya larva biota laut yang terbawa arus ke teluk tersebut. Renjaan dan Pattisamalo (1999) mengemukakan bahwa lama waktu menetap (residence time) atau lama waktu singgah (transit time) massa air di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir diperkirakan kurang dari 9 jam, dalam kurun waktu yang singkat ini Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat memperbaharui massa airnya maupun kondisi bio-ekologisnya. 5.3 Alokasi Ruang Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Alokasi ruang adalah teknik pengaturan pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumberdaya, hasil analisis kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir. Hasil olahan data menunjukan bahwa luas kawasan perairan yang dapat dimanfaatkan untuk minawisata bahari pancing, pengumpulan kerang, karamba pembesaran ikan, dan selam adalah 2.891.715,47 m2 sedangkan luas kawasan ekosistem mangrove yang dapat dimanfaatkan adalah 404.602,75 m2. Selanjutnya alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dibuat berdasarkan potensi sumberdaya, hasil analisis kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lingkungan dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari. Tabel 31 menunjukan luas area peruntukan lahan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi. Dari Tabel 31 terlihat bahwa perbandingan luas area yang dapat dimanfaatkan untuk masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari terhadap luas kawasan berkisar antara 1,27 - 21,72%, luasan ini terlihat cukup kecil bila dibandingkan dengan luas kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, hal ini menunjukan bahwa model pengelolaan minawisata bahari yang akan dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah model 154 pengelolaan yang berbasis konservasi karena masih menyisakan sebagian besar lahan untuk menjamin ketersediaan dan kelestarian sumberdaya yang ada. Selanjutnya peta alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk minawisata bahari berbasis konservasi seperti ditunjukan pada Gambar 22. Tabel 31 Luas area peruntukan lahan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Luas Area (m2) Persentase (%) Minawisata Bahari Pancing 339.360 11,74 Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang 243.000 8,40 Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan 134.910 4,67 Minawisata Bahari Selam 36.660 1,27 Minawisata Bahari Mangrove 87.870 21,72 Peruntukan Lahan 5.4 Analisis Ekonomi Analisis ekonomi untuk mendukung model pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini menggunakan pendekatan valuasi ekonomi dan analisis manfaat-biaya dengan menambahkan komponen lingkungan didalam perhitungannya (extended cost-benefit analysis) dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian ekonomi secara utuh yang menggambarkan willingness to pay yang benar dari masyarakat terhadap manfaat yang dihasilkan dari ekosistem pesisir dan laut. 5.4.1 Valuasi Ekonomi Sumberdaya Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Kawasan pesisir dan laut yang termasuk kategori teluk seperti halnya Teluk Un dan Teluk Vid Bangir memerlukan sebuah rencana pengelolaan sehingga kajian komprehensif terhadap dinamika kegiatan ekonomi maupun dampak lingkungan menjadi sebuah kebutuhan. Hal ini karena Teluk Un dan Teluk Vid Bangir memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat memberikan manfaat, baik manfaat langsung seperti perikanan dan wisata bahari maupun tidak langsung seperti peran ekosistem terumbu karang dan mangrove bagi lingkungan yang ada disekitarnya. Manfaat ini harus dinilai secara ekonomi agar input kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut dilakukan secara komprehensif dalam konteks manfaat dan biayanya. 155 Gambar 22 Peta alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. 156 Masyarakat adat yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tentu saja menginginkan adanya pembangunan ekonomi di wilayahnya, namun pada saat yang sama mereka juga memahami arti penting kelestarian sumberdaya pesisir dan laut yang ada diwilayah tersebut, dengan kata lain mereka ingin mengetahui manfaat dan biaya dari ekosistem yang ada yang nantinya dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk kesejahteraan mereka. Dalam konteks inilah maka valuasi ekonomi sumberdaya digunakan. Peran valuasi ekonomi terhadap ekosistem dan sumberdaya yang ada disuatu wilayah penting dalam perumusan kebijakan pembangunan termasuk dalam hal ini pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. Hilangnya ekosistem atau sumberdaya yang ada merupakan masalah ekonomi karena akan menghilangkan kemampuan ekosistem tersebut untuk menyediakan barang dan jasa. Pilihan kebijakan pembangunan yang akan mempertahankan ekosistem tersebut seperti apa adanya atau akan dikonversi menjadi pemanfaatan lain merupakan persoalan pembangunan yang dapat dipecahkan dengan menggunakan pendekatan valuasi ekonomi, dalam hal ini kuantifikasi manfaat (benefit) dan kerugian (cost) harus dilakukan agar pengambilan keputusan dapat dilakukan secara bijaksana. a. Ekosistem Hutan Mangrove 1) Nilai Guna Langsung (Direct Use Value) Nilai guna langsung dari ekosistem hutan mangrove Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dapat terukur nilainya adalah pemanfaatannya untuk dijadikan bahan bangunan rumah, kayu bakar, ikan, dan kepiting bakau. Metoda yang digunakan dalam penaksiran manfaat langsung adalah dengan menggunakan pendekatan manfaat dan biaya berdasarkan nilai pasar melalui proses benefit transfer. Pendekatan ini menghitung jenis dan jumlah produk langsung yang dapat dinikmati oleh masyarakat dikalikan dengan harga pasar yang berlaku dari setiap unit produk. Tabel 32 menunjukan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai dasar perhitungan valuasi ekonomi ekosistem mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, sedangkan Tabel 33 menunjukan nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove berdasarkan hasil benefit transfer tersebut. 157 Tabel 32 Hasil benefit transfer harga pasar pemanfaatan langsung ekosistem mangrove dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya. MANFAAT LANGSUNG Rasio IHK Lokasi Studi Rasio IHK Lokasi Asal Potensi kayu (Rp/m3) Ranting / kayu bakar (per ikat) Ikan (per kg) Kepiting bakau (per kg) Sumber : 1*) 2*) 3*) 4*) 5*) 1*) Harga Pasar 2*) Harga Pasar 3*) Harga Pasar 4*) Harga Pasar 5*) Harga Pasar 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 125,33 126,37 123,71 120,26 121,30 59.224 127.264 0 61.721 0 82.736 82.740 296 0 2.750 0 2.550 1.865 1.870 2.961 0 3.000 0 5.354 3.772 3.770 9.871 0 10.000 0 40.795 20.222 20.220 RATA RATA PEMBULATAN Harga pasar di Buton - Sulawesi Tenggara (Fitrawati, 2001). Harga pasar di Bontang - Kalimantan Timur (Astuti, 2005). Harga pasar di Seram Bagian Barat - Maluku (Supriyadi, 2005). Harga pasar di Jepara - Jawa Tengah, Pariyono (2006). Harga Pasar di Malili - Sulawesi Selatan, Sribiyanti (2008). Tabel 33 Nilai guna langsung ekosistem mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per hektar per tahun) No. 1. 2. 3. 4. Jenis Pemanfaatan Kayu (bahan bangunan) Ranting (kayu bakar) Ikan Kepiting bakau J umlah Harga Pasar ( Rp / Satuan ) 82.740 / m3 1.870 / ikat 3.770 / kg 20.220 / kg Volume Produksi 47 m3 1.780 ikat 2.056 kg 600 kg Nilai Ekonomi ( Rp ) 3.888.780 3.328.600 7.751.120 12.132.000 27.100.500 Sumber : Hasil olahan dari proses benefit transfer. Dari tabel 33 diperoleh nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove adalah Rp.27.100.500 per ha per tahun. Dengan luas hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 153,58 ha maka nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove kawasan tersebut adalah sebesar Rp.4.162.094.790 per tahun. 2) Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value) Salah satu fungsi dari hutan mangrove adalah sebagai pencegah abrasi pantai, sehubungan dengan sebagian besar masyarakat Pulau Dullah tinggal di pesisir pantai, maka pengukuran nilai guna tidak langsung diarahkan pada fungsi 158 diatas. Pendekatan manfaat hutan mangrove sebagai pencegah abrasi pantai dilakukan dengan pembangunan talud penahan pantai apabila ekosistem hutan mangrove tersebut rusak atau tidak ada. Menurut Sjafrie (2010) biaya pembangunan talud penahan pantai diperkirakan sekitar Rp.300.000 per m3. Selanjutnya dikatakan bahwa pada umumnya talud yang dibangun mempunyai tinggi penampang 1 meter dan lebar penampang 0,5 meter dengan bentuk memanjang mengikuti garis pantai. Dengan demikian bila panjang garis pantai di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang ditumbuhi hutan mangrove adalah 6.837,6 meter maka volume talud penahan pantai yang harus dibangun adalah 3.418,8 m3 (1m x 0,5 m x 6.837,6 m) sehingga biaya dan nilai guna tidak langsung dari hutan mangrove sebagai pencegah abrasi pantai dapat diperkirakan yaitu 3.418,8 m3 x Rp.300.000 atau sebesar Rp.1.025.640.000 per tahun dengan daya tahan selama 10 tahun, atau sebesar Rp.102.564.000 per tahun. 3) Nilai Pilihan (Option Value) Untuk menentukan nilai pilihan dari ekosistem hutan mangrove digunakan nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) seperti yang dikemukakan oleh Ruitenbeek (1992) dimana nilai biodiversity ekosistem hutan mangrove adalah USD 1.500 per km2 per tahun atau USD 15,00 per ha per tahun. Bila dikonversikan kedalam nilai Rupiah dimana USD 1,00 diasumsikan adalah Rp.10.000 maka nilainya menjadi Rp.150.000 per ha per tahun. Dengan luas hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 153,58 ha maka nilai pilihan dari ekosistem hutan mangrove tersebut adalah sebesar Rp.23.037.000 per tahun. 4) Nilai Keberadaan (Existence Value) Pendekatan untuk menghitung nilai keberadaan hutan mangrove adalah dengan menggunakan contingent value method (CVM) dimana nilai keberadaan ekosistem mangrove berdasarkan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya adalah sebesar Rp.2.825.680 per ha per tahun (lihat Lampiran 7b). Dengan luas hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 153,58 ha maka nilai keberadaan dari ekosistem hutan mangrove tersebut adalah sebesar Rp.433.967.930 per tahun. 159 5) Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan hutan mangrove sebanyak 153,58 ha memiliki manfaat yang cukup besar dan beragam mulai dari manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat keberadaan. Tabel 34 menunjukan nilai ekonomi total ekosistem hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yaitu sebesar Rp.4.721.663.740 per tahun. Tabel 34 Nilai ekonomi total ekosistem mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per tahun) No. Nilai Kegunaan 1. Nilai guna langsung 2. Nilai per Hektar (Rp) Nilai Total (Rp) 27.100.500 4.162.094.790 Nilai guna tidak langsung 667.820 102.564.000 3. Nilai pilihan 150.000 23.037.000 4. Nilai keberadaan 2.825.680 433.967.930 30.744.000 4.721.663.720 Nilai Ekonomi Total Tabel 34 menunjukan bahwa dari hasil perhitungan, nilai guna langsung memberikan nilai yang terbesar dalam pemanfaatannya sebagai bahan bangunan rumah, bahan kayu bakar, ikan, dan kepiting bakau. Nilai guna tidak langsung dari ekosistem hutan mangrove juga memberikan nilai yang cukup besar setelah nilai guna langsung yaitu sebagai pencegah abrasi pantai dan penyedia pakan. Sedangkan nilai keberadaan menunjukan bahwa masyarakat telah mampu memberikan penilaian terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove tersebut. b. Ekosistem Terumbu Karang 1) Nilai Guna Langsung (Direct Use Value) Berdasarkan hasil identifikasi nilai guna langsung dari ekosistem terumbu karang di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dapat terukur nilainya adalah pemanfaatannya untuk perikanan terumbu, lola, teripang, dan penelitian. Metoda yang digunakan dalam penaksiran manfaat langsung adalah dengan menggunakan pendekatan manfaat dan biaya berdasarkan nilai pasar melalui proses benefit transfer. Pendekatan ini menghitung jenis dan jumlah produk langsung yang dapat dinikmati oleh masyarakat dikalikan dengan harga pasar 160 yang berlaku dari setiap unit produk. Tabel 35 menunjukan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai dasar perhitungan valuasi ekonomi terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, sedangkan Tabel 36 menunjukan nilai guna langsung ekosistem terumbu karang berdasarkan hasil benefit transfer tersebut. Tabel 35 Hasil benefit transfer harga pasar pemanfaatan langsung ekosistem terumbu karang dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya. MANFAAT LANGSUNG Rasio IHK Lokasi Studi Rasio IHK Lokasi Asal Perikanan terumbu (per kg) Lola (per kg) Teripang (per kg) Sumber : 1*) 2*) 3*) 4*) 1*) Harga Pasar 2*) Harga Pasar 3*) Harga Pasar 4*) Harga Pasar 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 126,37 121,30 125,33 RATA RATA PEMBULATAN 5.000 7.342 63.742 44.418 30.126 30.130 26.750 0 0 39.878 33.314 33.310 18.750 0 50.993 118.449 62.731 62.730 Harga pasar di Pulau Nusalaut - Maluku (Wawo, 2000). Harga pasar di Bontang - Kalimantan Timur (Astuti, 2005). Harga pasar di Barrang Lompo - Sulawesi Selatan (Hamzah, 2005). Harga pasar di Wakatobi - Sulawesi Tenggara (Coremap II, 2008). Tabel 36 Nilai guna langsung ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per hektar per tahun) No. Jenis Pemanfaatan Harga Pasar ( Rp / Satuan ) Volume Produksi Nilai Ekonomi ( Rp ) 1. Perikanan terumbu 30.130 / kg 144 kg 4.338.720 2. Lola 33.310 / kg 120 kg 3.997.200 3. Teripang 62.730 / kg 54 kg 3.387.420 Jumlah 11.723.340 Sumber : Hasil olahan dari proses benefit transfer. Dari tabel 36 diperoleh nilai guna langsung ekosistem terumbu karang untuk perikanan terumbu, lola, dan teripang adalah Rp.11.723.340 per ha per tahun. 161 Dengan luas terumbu karang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 62,78 ha maka nilai guna langsung ekosistem terumbu karang tersebut adalah sebesar Rp.735.991.285 per tahun. Disamping ketiga manfaat langsung diatas, kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir juga merupakan tempat yang menarik untuk dijadikan lokasi penelitian karena selain merupakan habitat berbagai biota laut dan daerah penangkapan ikan, Teluk Un dan Vid Bangir juga merupakan daerah sumber (source) terutama yang berkaitan dengan distribusi bibit kehidupan (propagule ‘misalnya larva’) yang mengendalikan keberlangsungan kehidupan di perairan sekitarnya sehingga sangat menarik untuk dijadikan objek penelitian. Nilai guna langsung untuk penelitian dari ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir didekati dengan biaya yang dikeluarkan oleh 1 orang peneliti selama melakukan penelitian dilokasi tersebut. Dalam 1 tahun diperkirakan ada sekitar 4 orang peneliti yang melakukan penelitian. Berdasarkan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya terlihat bahwa besar biaya penelitian adalah Rp.40.855.650 per orang sehingga nilai guna langsung untuk penelitian dari ekosistem terumbu karang di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah Rp.163.422.600 per tahun. Dengan demikian jika nilai guna langsung ekosistem terumbu karang untuk perikanan terumbu, lola, dan teripang ditambah dengan nilai guna langsung untuk penelitian maka total nilai guna langsungnya menjadi Rp.899.413.885 per tahun. 2) Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value) Nilai guna tidak langsung yang dapat diidentifikasi dari ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebagai pencegah abrasi pantai. Pendekatan manfaat terumbu karang sebagai pencegah abrasi pantai dilakukan dengan pembangunan pemecah gelombang (break water) apabila ekosistem terumbu karang tersebut rusak atau tidak ada. Menurut Sjafrie (2010) biaya pembangunan pemecah gelombang diperkirakan sekitar Rp.300.000 per m3. Pada umumnya pemecah gelombang yang dibangun mempunyai kedalaman 3 m dan lebar penampang 2,5 m dengan bentuk memanjang mengikuti garis pantai. Dengan demikian bila panjang garis pantai dari luasan ekosistem terumbu karang di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah 11.019,31 meter maka 162 volume pemecah gelombang yang harus dibangun adalah 82.644,83 m3 (3m x 2,5 m x 11.019,31 m) sehingga biaya dan nilai guna tidak langsung dari ekosistem terumbu karang sebagai pencegah abrasi pantai dapat diperkirakan yaitu 82.644,83 m3 x Rp.300.000 atau sebesar Rp.24.793.447.500 dengan daya tahan selama 10 tahun, atau sebesar Rp.2.479.344.750 per tahun. 3) Nilai Pilihan (Option Value) Untuk menentukan nilai pilihan dari ekosistem terumbu karang digunakan nilai keanekaragaman hayati (biodiversity). Hatcher dkk (1992) in Sawyer (1992) menyatakan bahwa terumbu karang mempunyai nilai konservasi yang setara dengan hutan basah tropis, sedangkan menurut Ruitenbeek (1992) keuntungan yang diperoleh dari ekosistem yang tinggi nilai keragamannya dan mempunyai nilai ekologis yang tinggi seperti hutan basah tropis memiliki nilai potensi sebesar USD 1.500 per km2 per tahun atau USD 15 per ha per tahun. Bila dikonversikan kedalam nilai Rupiah dimana USD 1,00 diasumsikan adalah Rp.10.000 maka nilainya menjadi Rp.150.000 per ha per tahun. Dengan luas terumbu karang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 62,78 ha maka nilai pilihan dari ekosistem terumbu karang tersebut adalah sebesar Rp.9.417.000 per tahun. 4) Nilai Keberadaan (Existence Value) Pendekatan untuk menghitung nilai keberadaan terumbu karang adalah dengan menggunakan contingent value method (CVM), dimana nilai keberadaan ekosistem terumbu karang berdasarkan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya adalah sebesar Rp.6.992.550 per ha per tahun (lihat Lampiran 7c). Dengan luas terumbu karang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 62,78 ha maka nilai keberadaan dari ekosistem terumbu karang tersebut adalah sebesar Rp.438.992.290 per tahun. 5) Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan luas ekosistem terumbu karang sebanyak 62,78 ha memiliki nilai guna yang cukup besar dan beragam mulai dari nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai pilihan, dan nilai keberadaan. Tabel 37 menunjukan nilai ekonomi total ekosistem terumbu karang 163 kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yaitu sebesar Rp.3.827.167.925 per tahun. Tabel 37 Nilai ekonomi total ekosistem terumbu karang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per tahun) No. Nilai Kegunaan Nilai per Hektar (Rp) Nilai Total (Rp) 1. Nilai guna langsung 14.326.440 899.413.885 2. Nilai guna tidak langsung 39.492.590 2.479.344.750 3. Nilai pilihan 150.000 9.417.000 4. Nilai keberadaan 6.992.550 438.992.290 60.961.580 3.827.167.925 Nilai Ekonomi Total Tabel 37 menunjukan bahwa dari hasil perhitungan, nilai guna tidak langsung dari ekosistem terumbu karang memberikan nilai yang terbesar yaitu sebagai pencegah abrasi pantai. Nilai guna langsung juga memberikan nilai yang cukup besar dalam pemanfaatannya untuk perikanan terumbu, lola, teripang, dan penelitian. Sedangkan nilai keberadaan menunjukan bahwa masyarakat telah mampu memberikan penilaian terhadap keberadaan ekosistem terumbu karang tersebut. 5.4.2 Analisis Manfaat-Biaya Analisis yang digunakan untuk menghitung kelayakan usaha berbagai aktivitas minawisata bahari ini adalah dengan pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA). Pada prinsipnya ECBA adalah pengembangan dari cost-benefit analysis, disebut extended karena dalam perhitungan cost-benefit kita tambahkan nilai manfaat dan biaya lingkungan sebagai bagian dari komponennya. Nilai manfaat dan biaya lingkungan dimaksud didapat dari hasil valuasi ekonomi sumberdaya yang akan digunakan yaitu ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove. Untuk minawisata bahari pancing; pengumpulan kerang; karamba pembesaran ikan; dan selam, komponen manfaat lingkungan atau environmental benefit (B e) yang ditambahkan dalam perhitungan adalah nilai manfaat langsung ekosistem terumbu karang sebagai penghasil perikanan terumbu, lola, teripang, 164 dan untuk kegiatan penelitian, sedangkan komponen biaya lingkungan atau environmental cost (C e) adalah total nilai ekonomi ekosistem terumbu karang dengan luasan tertentu apabila kita mengkonversi terumbu karang tersebut untuk suatu jenis pemanfaatan, sementara biaya mitigasi lingkungan atau environmental protection cost (C p ) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kualitas lingkungan misalnya untuk pembuatan artificial reef, restocking, dan pungutan adat pengganti sasi yang akan digunakan untuk perbaikan lingkungan. Untuk minawisata bahari mangrove, komponen manfaat lingkungan atau environmental benefit (B e) yang ditambahkan dalam perhitungan adalah nilai manfaat langsung ekosistem mangrove sebagai penghasil kayu bahan bangunan, kayu bakar, ikan, dan kepiting bakau, sedangkan komponen biaya lingkungan atau environmental cost (C e ) adalah total nilai ekonomi ekosistem mangrove dengan luasan tertentu apabila kita mengkonversi mangrove tersebut untuk suatu jenis pemanfaatan, sementara biaya mitigasi lingkungan atau environmental protection cost (C p) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki lingkungan dan ekosistem mangrove yang rusak misalnya untuk menanam kembali anakan mangrove, dan pungutan adat pengganti sasi yang akan digunakan untuk perbaikan lingkungan. Barton (1994) menjelaskan bahwa salah satu kriteria yang digunakan dalam evaluasi kebijakan adalah dengan menghitung net present value (NPV) dimana keuntungan bersih suatu proyek/usaha adalah pendapatan kotor dikurangi jumlah biaya. Dengan demikian maka NPV suatu proyek/usaha adalah selisih PV arus benefit dengan PV arus cost. Suatu proyek/usaha dapat dikatakan bermanfaat atau layak untuk dilaksanakan bila NPV proyek/usaha tersebut lebih besar dari atau sama dengan nol (NPV > 0) dan sebaliknya bila NPV proyek/usaha tersebut lebih kecil dari nol (NPV < 0) maka proyek/usaha tersebut merugikan atau tidak layak untuk dilaksanakan. Selain itu, dapat juga dengan melihat B/C Rasio, bila B/C Rasio > 1 maka usaha layak untuk dilaksanakan, bila B/C Rasio = 1 maka usaha perlu ditinjau kembali karena tidak memberikan keuntungan, sedangkan bila B/C Rasio < 1 maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Tabel 38 menunjukan hasil analisis usaha masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari dengan menggunakan pendekatan ECBA. 165 Tabel 38 Manfaat-Biaya untuk minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir per 1 unit usaha per tahun (nilai dalam Rupiah) Kategori Aktivitas Minawisata Bahari Pancing Manfaat Langsung (B d ) Manfaat Eksternal (B e ) Biaya Langsung (C d ) Biaya Eksternal (C e ) Biaya Proteksi (C p ) NPV B/C 6.800.000 76.440 3.010.000 397.500 127.000 3.341.940 3,96 Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang 800.000 1.400 450.000 7.300 37.000 307.100 2,33 Minawisata Bahari Karamba Pemb. Ikan 78.200.000 327.600 39.700.000 1.703.500 909.000 36.215.100 4,29 Minawisata Bahari Selam 18.700.000 21.800 10.600.000 113.600 365.000 7.643.200 1,93 119.000.000 22.189.700 50.150.000 25.173.000 3.230.000 62.636.700 5,28 Minawisata Bahari Mangrove Tabel 38 menunjukan bahwa semua kategori aktivitas minawisata bahari layak untuk dikembangkan di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena nilai NPV dari masing-masing kategori aktivitas tersebut lebih besar dari nol dan B/C Rasio lebih besar dari 1. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, daya dukung lingkungan, valuasi ekonomi sumberdaya, dan analisis manfaatbiaya maka uraiannya dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Minawisata bahari pancing Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 377 unit usaha pemancingan ikan dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 28,26 ha dimana tiap 1 unit usaha akan memanfaatkan 0,07 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.3.341.940 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 3,96. b. Minawisata bahari pengumpulan kerang Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 194 unit usaha pengumpulan kerang dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 20,24 ha dimana tiap 1 unit usaha akan memanfaatkan 0,10 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.307.100 per tahun (4 minggu) dengan nilai B/C 2,33. 166 c. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 37 unit usaha karamba pembesaran ikan dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 11,23 ha, dimana tiap 1 unit rakit karamba akan memanfaatkan 0,30 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.36.215.100 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 4,29. d. Minawisata bahari selam Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 146 unit usaha penyelaman dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 20,24 ha dimana tiap 1 unit usaha penyelaman akan memanfaatkan 0,02 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.7.643.200 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 1,93. e. Minawisata bahari mangrove Di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir hanya dapat dikembangkan 1 unit usaha minawisata bahari mangrove yang memanfaatkan ekosistem mangrove seluas 8,79 ha. Minawisata bahari mangrove ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.62.636.700 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 5,28. 5.5 Analisis Sosial Analisis sosial untuk pengelolaan minawisata bahari dilakukan terhadap kondisi sosial masyarakat Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Jumlah penduduk Desa Taar pada tahun 2009 adalah 2.412 jiwa yang tersebar dalam 509 Kepala Kelarga (KK). Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap rumah tangga di Desa Taar terdiri dari 5 anggota keluarga. Selanjutnya berdasarkan jenis kelamin, perempuan berjumlah 1.230 orang (51%) dan laki-laki berjumlah 1.182 orang (49%). Jumlah ini menunjukkan sebuah perbandingan yang relatif seimbang. Walaupun memiliki wilayah pesisir dan laut yang luas guna pengembangan usaha perikanan namun berkaitan dengan pengembangan ekonomi produktif masyarakat berbasis sumberdaya lokal, penduduk Desa Taar cenderung memilih sektor pertanian sebagai sektor andalan. Berkaitan dengan upaya ini ketersediaan sumberdaya manusia sebagai pelaku aktif dirasakan cukup memadai sesuai dengan keberadaan 1.138 orang (47,18% 167 dari total jumlah penduduk), yang telah melalui pendidikan umum sebanyak 44,49% dan 8% telah melalui pendidikan khusus (tidak termasuk jumlah anak usia sekolah). Hal ini merupakan salah satu kekuatan sosial penting bagi Desa Taar. Pola pemukiman penduduk cenderung mengarah ke pusat desa dimana sangat berkaitan erat dengan pusat layanan ekonomi dan sosial desa. Selain itu pemukiman penduduk dibangun sejajar garis pantai dan jalan utama desa. Informasi tentang perkembangan penduduk secara kuantitatif sulit diperoleh sebab tidak ada pencatatan di tingkat desa. Tetapi ada hal lain yang dapat dilihat secara kualitatif, yakni tingkat kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan migrasi penduduk. Tingkat kelahiran dan kematian tidak seimbang, dimana angka kematian lebih rendah dari angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir, sehingga perbandingan yang ada memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan jumlah penduduk. Bagi Desa Taar, migrasi penduduk sebenarnya tidak bisa menjadi indikator untuk melihat perkembangan atau pertumbuhan penduduk, sebab migrasi penduduk keluar yang terjadi sangat kecil, kalaupun ada hal ini disebabkan oleh adanya penduduk yang harus melanjutkan studi dan mencari pekerjaan di luar Kota Tual. Dari total penduduk Desa Taar, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 540 orang, berdasarkan jenis mata pencaharian persentase terbesar adalah Pegawai Negeri/Swasta dan TNI/POLRI, ketertarikan masyarakat terhadap jenis pekerjaan jasa dan layanan publik sangat besar misalnya pada sektor ekonomi, pemerintahan dan jasa lainnya. Itu berarti akses masyarakat sangat tinggi terhadap pusat pemerintahan dan jasa, hal ini karena secara geografis posisi Desa Taar sangat dekat dengan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian Kota Tual. Dengan dikembangkannya model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir maka akan membuka kesempatan dan lapangan kerja bagi penduduk Desa Taar. Prediksi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas ini seperti ditunjukan dalam Tabel 39. 168 Tabel 39 Prediksi jumlah tenaga kerja untuk mendukung aktivitas minawisata bahari Kategori Aktivitas Jumlah Unit Usaha Tenaga Kerja per Unit Usaha Jumlah Tenaga Kerja Minawisata Bahari Pancing 377 1 orang / unit 377 Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang 194 1 orang / 10 unit 19 37 1 orang / unit 37 146 1 orang / unit 146 1 10 orang / unit 10 Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Minawisata Bahari Selam Minawisata Bahari Mangrove Jumlah total tenaga kerja yang dibutuhkan 589 5.6 Analisis Kelembagaan Menurut Kartodiharjo (1999), kelembagaan dapat berarti bentuk atau wadah atau organisasi sekaligus juga mengandung pengertian tentang norma-norma, aturan dan tata cara atau prosedur yang mengatur hubungan antar manusia, bahkan kelembagaan merupakan sistem yang kompleks, rumit dan abstrak. Kelembagaan merupakan aspek penting yang menunjang keberhasilan suatu rancang bangun pengelolaan dan aplikasinya dilapangan. Suatu kelembagaan yang kuat akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanannya. Oleh karena itu perlu dijabarkan pengorganisasian kelembagaan dalam pelaksanaan rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang meliputi Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, dan aturan-aturan pelaksanaannya. Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD), agar pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ini dapat berkelanjutan stakeholder menginginkan adanya badan pengelola dan badan pengawas yang berperan untuk mengelola dan mengawasi semua aktivitas dilapangan dibawah koordinasi Pemerintah Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Badan Pengelola adalah unsur pelaksana teknis sedangkan Badan Pengawas adalah unsur pelaksana pengawasan yang berfungsi sebagai pelaksana dan pengawas dalam model pengelolaan minawisata bahari. Keanggotaan kedua lembaga ini terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat dan/atau pegawai instansi terkait 169 yang dipilih dan dipercaya oleh masyarakat melalui suatu musyawarah umum. Musyawarah pemilihan pengurus dan anggota Badan Pengelola dan Badan Pengawasan dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan jangka waktu kepengurusan tertentu (5 tahun) atau sesuai kebutuhan masyarakat. Badan Pengelola dan Badan Pengawasan bertanggung jawab kepada Pemerintah Desa dan BPD. Kedua lembaga ini dipercayakan untuk membuat aturan-aturan pelaksanaan yang berkaitan dengan model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi merupakan suatu kesempatan sekaligus tantangan bagi Pemerintah Desa dan masyarakat Desa Taar dalam mewujudkan harapan atau visi masa depan kawasan teluk tersebut yang lebih baik. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini membutuhkan komitmen dan partisipasi aktif semua pihak terkait untuk melaksanakan semua aktivitas secara bertanggung jawab. Kunci keberhasilan utama adalah perhatian masyarakat dan Pemerintah Desa Taar terhadap perbaikan kehidupan mereka maupun kelestarian lingkungan hidup dimana mereka menggantungkan hidup sehari-hari. 5.7 Keberlanjutan Pengelolaan Minawisata Bahari Berbasis Konservasi Keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini dianalisis dengan pemodelan dinamik melalui dinamika inter-koneksi(inter-relasi) antara elemen vital seiring dengan perubahan waktu dari sistem ekologi-ekonomi yang dikaji dalam penelitian ini. Konsep dasar perumusan model mengacu pada efek berantai (cyclic effect) dimana terjadinya perubahan dalam indeks dan atribut pengelolaan dapat mempengaruhi sistem keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari tersebut. Tahapan analisis dimulai dengan membangun diagram simpal umpan-balik (causal loop), kemudian membuat basis model, memasukkan nilai-nilai atribut yang telah diperoleh pada analisis sebelumnya ke dalam model yang dibangun, menyususn scenario modek pengelolaan, dan terakhir melakukan simulasi model. Nilai-nilai atribut yang digunakan dalam menganalisis keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari 170 berasal dari hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya yaitu analisis kesesuaian lahan, analisis daya dukung kawasan, valuasi ekonomi sumberdaya terumbu karang dan mangrove, analisis manfaat-biaya, dan penelusuran pustaka. Beberapa nilai atribut yang digunakan diperoleh dari metode pendugaan yang sifatnya ilmiah, namun disadari bahwa keakuratan pendugaan parameter tergantung dari ketersediaan data dari sumbernya dan metode analisis yang digunakan. Perangkat lunak yang digunakan untuk merumuskan dan menganalisis model yang dibangun dalam penelitian ini adalah Stella version 9.0.2. 5.7.1 Diagram Simpal Model Pengelolaan Langkah pertama dalam menyusun model sistem dinamis pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah dengan menentukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk kepada sistem dan sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal umpan-balik yang menyusun struktur model, mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis. Diagram simpal umpan-balik (causal loop) dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat seperti yang ditunjukan pada Gambar 23, sedangkan model dinamik pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi seperti yang ditunjukan pada Gambar 24. 5.7.2 Basis Model Basis model pengelolaan minawisata bahari merupakan gambaran kondisi ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, jumlah maksimum unit usaha minawisata bahari, manfaat langsung, manfaat lingkungan, biaya langsung, biaya lingkungan, dan biaya proteksi lingkungan (mitigasi) yang dapat dicapai dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari berdasarkan kondisi riil saat ini. Nilai dugaan atribut pada basis model seperti yang ditunjukan pada Tabel 41. 171 172 Gambar 24 Model dinamik pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. Tabel 40 Nilai dugaan atribut pada basis model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi No. 1 2 3 4 Dimensi dan Atribut Ekologi Terumbu Karang Initial ekosistem terumbu karang untuk minawisata bahari (ha) Laju pertumbuhan terumbu karang Jumlah fee konservasi terumbu karang (Rp) Fraksi fee konservasi terumbu karang Nilai Dugaan Keterangan 62,78 Hasil interpretasi Citra Satelit 0,073 Data sekunder 141.980.000 0,003 Hasil perhitungan ECBA Hasil olahan data lapangan 173 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Upaya konservasi terumbu karang Laju degradasi terumbu karang Jumlah penduduk Desa Taar (orang) Fraksi pencemaran Ekologi Mangrove Initial ekosistem mangrove untuk minawisata bahari (ha) Laju pertumbuhan mangrove Jumlah fee konservasi mangrove (Rp) Fraksi fee konservasi mangrove Upaya konservasi mangrove Luasan mangrove yang dikonversi (ha) Laju degradasi mangrove 17 Dimensi Ekonomi Umur teknis unit usaha (tahun) Discount Rate 18 19 20 21 22 ECBA MB Pancing (377 Unit) Bd 1 (Rp) Be 1 (Rp) C d 1 (Rp) C e 1 (Rp) C p 1 (Rp) 23 24 25 26 27 28 ECBA MB P. Kerang (194 Unit) Bd 2 (Rp) Be 2 (Rp) C d 2 (Rp) C e 2 (Rp) C p 2 (Rp) 29 30 31 32 33 34 35 35 37 38 16 0,012 Hasil olahan data lapangan 0,052 Data sekunder 2.412 0,0000595 Data lapangan Data sekunder 153,58 0,073 3.230.000 Hasil interpretasi Citra Satelit Data sekunder Hasil perhitungan ECBA 0,00001 0,033 Hasil olahan data lapangan Hasil olahan data lapangan 8,7 0,00851 Hasil olahan data lapangan Data sekunder 5 0,1 Asumsi peneliti Asumsi peneliti 2.563.600.000 28.817.880 1.134.770.000 149.857500 47.879.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA 155.200.000 271.600 87.300.000 1.416.200 7.178.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA ECBA MB Karamba (37 Unit) Bd 3 (Rp) Be 3 (Rp) C d 3 (Rp) C e 3 (Rp) C p 3 (Rp) 2.893.400.000 12.121.200 1.468.900.000 63.029.500 33.633.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA ECBA MB Selam (146 Unit) Bd 4 (Rp) Be 4 (Rp) C d 4 (Rp) C e 4 (Rp) C p 4 (Rp) 2.730.200.000 3.182.800 1.547.600.000 16.585.600 53.290.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA 174 39 40 41 42 43 ECBA MB Mangrove (1 Unit) Bd 5 (Rp) Be 5 (Rp) C d 5 (Rp) C e 5 (Rp) C p 5 (Rp) 119.000.000 22.189.700 50.150.000 25.173.000 3.230.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Nilai level (stock), variabel driving, auxiliary dan konstanta yang tercantum pada Tabel 40 dapat dijelaskan sebagai berikut: Atribut pada Dimensi Ekologi Atribut yang berfungsi sebagai stok dalam submodel terumbu karang pada dimensi ekologi adalah luasan terumbu karang yang ada di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Nilai awal (initial) level diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit yaitu seluas 62,78 ha, sementara yang berfungsi sebagai inflow adalah pertambahan luasan terumbu karang dengan atributnya adalah laju pertumbuhan,upaya konservasi, alokasi dana untuk konservasi, dan fraksi fee konservasi, sedangkan yang berfungsi sebagai outflow adalah pengurangan luasan terumbu karang dengan atributnya adalah laju degradasi, pencemaran, fraksi pencemaran, jumlah penduduk, dan fraksi kesadaran lingkungan. Laju pertumbuhan terumbu karang sebesar 0,073, laju degradasi terumbu karang sebesar 0.052 dan fraksi pencemaran sebesar 0,0000595 (in Laapo 2010). Biaya proteksi lingkungan pemanfaatan terumbu karang didapat dari hasil perhitungan analisis manfaat-biaya lanjutan, sedangkan proporsi alokasi dana untuk konservasi terumbu karang diperoleh pada saat melakukan FGD dengan stakeholder di lokasi penelitian dimana Pemerintah Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir menginginkan proporsi 70% dari biaya proteksi lingkungan diperuntukan untuk pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi, dan 30% dari biaya proteksi lingkungan tersebut diperuntukan sebagai alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dalam bentuk pembuatan artificial reef. Fraksi fee konservasi terumbu karang sebesar 0,003 adalah perbandingan antara besarnya dana dari fee konservasi terumbu karang dengan luasan terumbu karang buatan yang dihasilkan dari dana konservasi tersebut. Atribut yang berfungsi sebagai stok dalam submodel mangrove pada dimensi ekologi adalah luasan mangrove yang ada di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Nilai awal (initial) level diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit yaitu seluas 153,58 ha, sementara yang berfungsi sebagai inflow adalah pertambahan luasan mangrove dengan atributnya adalah laju pertumbuhan,upaya konservasi, alokasi dana untuk konservasi, dan 175 fraksi fee konservasi, sedangkan yang berfungsi sebagai outflow adalah pengurangan luasan mangrove dengan atributnya adalah laju degradasi dan luasan mangrove yang dikonversi. Laju pertumbuhan mangrove sebesar 0,073 dan laju degradasi terumbu karang sebesar 0.00851 (in Laapo 2010). Biaya proteksi lingkungan pemanfaatan mangrove didapat dari hasil perhitungan analisis manfaat-biaya lanjutan, sedangkan proporsi alokasi dana untuk konservasi mangrove diperoleh pada saat melakukan FGD dengan stakeholder di lokasi penelitian dimana pemerintah Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir menginginkan proporsi 70% dari biaya proteksi lingkungan diperuntukan untuk pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi, dan 30% dari biaya proteksi lingkungan tersebut diperuntukan sebagai alokasi dana untuk konservasi mangrove dalam bentuk penanaman kembali anakan mangrove. Fraksi fee konservasi mangrove sebesar 0,00001 adalah perbandingan antara besarnya dana dari fee konservasi mangrove dengan luasan mangrove yang dihasilkan dari dana konservasi tersebut. Atribut pada Dimensi Ekonomi Dalam dimensi ekonomi ada 5 kategori aktivitas minawisata bahari yang masingmasing berfungsi sebagai submodel yaitu: 1) minawisata bahari pancing, 2) minawisata bahari pengumpulan kerang; 3) minawisata bahari karamba pembesaran ikan; 4) minawisata bahari selam; dan 5) minawisata bahari mangrove. Berdasarkan hasil analisis daya dukung kawasan, perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 377 unit usaha minawisata bahari pancing, 194 unit usaha minawisata bahari pengumpulan kerang, 37 unit usaha minawisata bahari karamba pembesaran ikan, 146 unit usaha minawisata bahari selam, dan 1 unit usaha minawisata bahari mangrove. Umur teknis masing-masing unit usaha yang digunakan sebagai waktu usaha adalah selama 5 tahun, dan discount rate yang digunakan untuk kegiatan usaha ini adalah sebesar 10% per tahun. Selanjutnya, yang berfungsi sebagai stok dalam sub-submodel pada dimensi ekonomi ini adalah nilai NPV tahunan dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari. Nilai awal (initial) level diperoleh dari hasil perhitungan manfaat dikurangi dengan biaya berdasarkan hasil analisis manfaat-biaya lanjutan atau extended cost-benefit analysis (ECBA), sementara yang berfungsi sebagai inflow adalah manfaat (1,2,3,4,5) dengan atributnya adalah manfaat langsung/direct benefit (B d ), manfaat lingkungan/ environmental benefit (Be ), sedangkan yang berfungsi sebagai outflow adalah biaya (1,2,3,4,5) dengan atributnya adalah biaya langsung/direct cost (C d ), biaya lingkungan/ 176 environmental cost (C e ), dan biaya proteksi lingkungan/protection cost (C p ). Semua nilai atribut ini juga diperoleh dari hasil analisis manfaat-biaya lanjutan. Hasil runing basis model pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan simulasi kondisi sampai 5 tahun ke depan sesuai umur teknis unit usaha disajikan pada Tabel 41 dan Gambar 25. Tabel 41 Hasil runing untuk basis model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Tahun NPV Tahunan Total (Rp) 0 -5,013,400,000 42,594,000 62.78 969,000 1 3,504,464,855 38,760,540 64.00 881,790 154.79 2 3,206,021,976 35,353,020 65.25 804,270 156.08 3 2,905,720,410 31,945,500 66.52 726,750 157.45 4 2,641,431,834 28,963,920 67.82 658,920 158.91 5 2,413,766,132 26,408,280 69.14 600,780 160.46 Jumlah 9,658,005,207 204,025,260 - Alokasi Dana Konservasi TK (Rp) Luasan TK (ha) Alokasi Dana Konservasi Mangrove (Rp) Luasan Mangrove (ha) 153.58 4,641,510 - 1: NPV …AN TOTAL 2: Aloka…erv asi TK 3: LUA…U KARANG 4: Aloka… Mangrov e 5: LUA…ANGROVE 1: 2: 3: 4: 5: 3.5e+009 65000000 70 1500000 161 5 1 1 1 3 4 2 1: 2: 3: 4: 5: 5 3 -1e+009. 50000000 66 1200000 157 4 2 5 3 2 1: 2: 3: 4: 5: -5.5e+009 35000000 63 900000 154 5 1 3 2 4 0.00 Page 1 4 1.25 2.50 Y ears 3.75 22:05 5.00 Sun, Dec 18, 2011 Gambar 25 Grafik basis model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 177 Tabel 41 dan Gambar 25 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi dengan 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.9.658.005.207 dimana secara kolektif akan menyumbangkan Rp.204.025.260 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebesar 23,84 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, terumbu karang juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan pencemaran yaitu sebesar 17,47 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem terumbu karang hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,36 ha dari yang semula 62,78 ha kini menjadi 69,14 ha. Demikian pula dengan ekosistem mangrove, unit usaha minawisata bahari mangrove secara kolektif akan menyumbangkan Rp.4.641.510 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan mangrove sebesar 57,03 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, ekosistem mangrove juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan konversi untuk areal minawisata bahari yaitu sebesar 50,14 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem mangrove hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,88 ha dari yang semula 153,58 ha kini menjadi 160,46 ha. 5.7.3 Skenario Model Pengelolaan Penyusunan skenario model pengelolaan minawisata bahari untuk optimasi didasarkan pada basis model yang telah dibangun sebelumnya dan dikembangkan dalam model ini, kemudian menentukan atribut yang sensitif dari dimensi ekologi dan ekonomi serta memilih skenario yang terbaik untuk diaplikasikan. Penyusunan skenario ini ditujukan untuk memilih alternatif kebijakan yang memungkinkan untuk ditempuh dalam menyelesaikan masalah yang dapat terjadi di kemudian hari berdasarkan kondisi saat ini. Ada beberapa atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yakni: 1. Dalam dimensi ekonomi, atribut penting yang berpengaruh terhapan keberlanjutan minawisata bahari ini adalah discount factor, semakin tinggi 178 discount factor maka semakin kecil tingkat keuntungan usaha, hal ini juga akan berpengaruh terhadap dimensi ekologi yang ditunjukan dengan semakin kecilnya jumlah alokasi biaya proteksi lingkungan. Sebaliknya, semakin rendah discount factor maka tingkat keuntungan usaha akan semakin besar, dan semakin besar pula jumlah alokasi biaya proteksi lingkungan. 2. Dalam dimensi ekologi, atribut penting yang berpengaruh terhadap keberlanjutan minawisata bahari ini adalah upaya konservasi terumbu karang dan mangrove. Upaya konservasi ini sangat bergantung dari besarnya alokasi dana untuk pembuatan artificial reef dan untuk penanaman anakan mangrove, sementara besarnya alokasi dana tersebut sangat bergantung dari kebijakan stakeholder dalam menentukan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara kepentingan untuk memperbaiki kualitas ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove dengan kepentingan untuk pembiayaan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi yang ditiadakan sebagai akibat dari pengembangan model minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Selanjutnya, ada 2 skenario pengelolaan yang dibangun untuk keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yaitu skenario pesimistik dan skenario konservatif. 5.7.4 Simulasi Skenario Model Pengelolaan Simulasi skenario model pengelolaan minawisata bahari dilakukan untuk mencari bentuk pengelolaan terbaik yang berkelanjutan. Dalam simulasi, akan dicari atribut yang berpengaruh secara nyata dan didesain untuk mendapatkan bentuk pengelolaan yang terbaik. Disadari bahwa dalam model ini masih ada atribut yang belum terakomodir akan tetapi dengan model yang ada diharapkan minimal dapat dijadikan sebagai gambaran tentang model pengelolaan minawisata bahari yang berkelanjutan. a. Simulasi skenario pesimistik Skenario pesimistik yang dibangun dalam model ini adalah apabila discount factor bergerak naik dari 10% menjadi 15%, dan kita merubah kebijakan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dan mangrove 30% dan alokasi dana untuk 179 pembangunan desa 70%, menjadi 10% untuk kepentingan konservasi (pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove) dan 90% untuk kepentingan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi. Perubahan nilai atribut pada skenario pesimistik seperti dintujukan pada Tabel 42. Tabel 42 Perubahan nilai atribut pada skenario pesimistik No Atribut Perubahan Nilai Basis Pesimistik 1. Discont Rate (DR) 10 % 15 % 2. Alokasi dana untuk konservasi 30 % 10 % 3. Alakosi dana untuk pembangunan desa 70 % 90 % Hasil runing terhadap skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan simulasi kondisi sampai 5 tahun ke depan sesuai umur teknis unit usaha disajikan pada Tabel 43 dan Gambar 26. Tabel 43 Hasil runing untuk skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Alokasi Dana Konservasi TK (Rp) Luasan TK (ha) Alokasi Dana Konservasi Mangrove (Rp) Luasan Mangrove (ha) Tahun NPV Tahunan Total (Rp) 0 -5,013,400,000 14,198,000 62.78 323,000 153.58 1 3,355,475,752 12,352,260 64.00 281,010 154.79 2 2,943,359,753 10,790,480 65.24 245,480 156.07 3 2,565,659,435 9,370,680 66.51 213,180 157.44 4 2,223,246,058 8,092,860 67.81 184,110 158.89 5 1,955,298,190 7,099,000 69.13 161,500 160.44 Jumlah 8,029,639,188 61,903,280 - 1,408,280 - Tabel 43 dan Gambar 26 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi dengan 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari telah memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.8.029.639.188 dimana secara kolektif akan 180 menyumbangkan Rp.61.903.280 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebesar 23,83 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, terumbu karang juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan pencemaran yaitu sebesar 17,47 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem terumbu karang hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,35 ha dari yang semula 62,78 ha kini menjadi 69,13 ha. Demikian pula dengan ekosistem mangrove, unit usaha minawisata bahari mangrove secara kolektif akan menyumbangkan Rp.1.408.280 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan mangrove sebesar 57,00 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, ekosistem mangrove juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan konversi untuk areal minawisata bahari yaitu sebesar 50,14 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem mangrove hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,86 ha dari yang semula 153,58 ha kini menjadi 160,44 ha. 1: NPV …AN TOTAL 2: Aloka…erv asi TK 3: LUA…U KARANG 4: Aloka… Mangrov e 5: LUA…ANGROVE 1: 2: 3: 4: 5: 3.5e+009 65000000 70 1500000 161 5 1 1 1 3 4 2 1: 2: 3: 4: 5: 5 3 -1e+009. 50000000 66 1200000 157 4 2 5 3 2 1: 2: 3: 4: 5: -5.5e+009 35000000 63 900000 154 5 1 3 2 4 0.00 Page 1 4 1.25 2.50 Y ears 3.75 22:05 5.00 Sun, Dec 18, 2011 Gambar 26 Grafik skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 181 b. Simulasi skenario konservatif Skenario konservatif yang dibangun dalam model ini adalah apabila discount factor bergerak turun dari 10% menjadi 8%, dan kita merubah kebijakan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dan mangrove 30% dan alokasi dana untuk pembangunan desa 70%, menjadi 50% untuk kepentingan konservasi (pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove) dan 50% untuk kepentingan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi. Perubahan nilai atribut pada skenario optimis seperti ditunjukan pada Tabel 44. Tabel 44 Perubahan nilai atribut pada skenario konservatif No Atribut Perubahan Nilai Basis Konservatif 1. Discont Rate (DR) 10 % 8% 2. Alokasi dana untuk konservasi 30 % 50 % 3. Alakosi dana untuk pembangunan desa 70 % 50 % Hasil runing terhadap skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan simulasi kondisi sampai 5 tahun ke depan sesuai umur teknis unit usaha disajikan pada Tabel 45 dan Gambar 27. Tabel 45 Hasil runing untuk skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Alokasi Dana Konservasi TK (Rp) Luasan TK (ha) Alokasi Dana Konservasi Mangrove (Rp) Luasan Mangrove (ha) Tahun NPV Tahunan Total (Rp) 0 -5,013,400,000 1 3,578,785,154 66,020,700 64.00 1,501,950 154.80 2 3,318,155,871 61,051,400 65.25 1,388,900 156.09 3 3,056,103,529 56,082,100 66.52 1,275,850 157.46 4 2,868,052,025 52,532,600 67.82 1,195,100 158.93 5 2,641,431,834 48,273,200 69.15 1,098,200 160.48 Jumlah 10,449,128,413 354,950,000 - 8,075,000 - 70,990,000 62.78 1,615,000 153.58 182 1: NPV …AN TOTAL 2: Aloka…erv asi TK 3: LUA…U KARANG 4: Aloka… Mangrov e 5: LUA…ANGROVE 1: 2: 3: 4: 5: 3.5e+009 65000000 70 1500000 161 5 1 1 1 3 4 2 1: 2: 3: 4: 5: 5 3 -1e+009. 50000000 66 1200000 157 4 2 5 3 2 1: 2: 3: 4: 5: -5.5e+009 35000000 63 900000 154 4 5 1 3 2 4 0.00 Page 1 1.25 2.50 Y ears 3.75 22:05 5.00 Sun, Dec 18, 2011 Gambar 27 Grafik skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Tabel 45 dan Gambar 27 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari telah memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.10.449.128.413 dimana secara kolektif akan menyumbangkan Rp.354.950.000 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebesar 23,84 ha, namun terumbu karang juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan pencemaran yaitu sebesar 17,47 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem terumbu karang hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,37 ha dari yang semula 62,78 ha kini menjadi 69,15 ha. Demikian pula dengan ekosistem mangrove, unit usaha minawisata bahari mangrove secara kolektif akan menyumbangkan Rp.8.075.000 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan mangrove sebesar 57,05 ha, namun ekosistem mangrove juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan konversi untuk areal minawisata bahari yaitu sebesar 50,15 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem mangrove hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,90 ha dari yang semula 153,58 ha kini menjadi 160,48 ha. 6. IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi hasil analisis dalam penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk melihat kondisi stok sumberdaya akibat perubahan pada atribut dan pengaruhnya terhadap keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Atribut ini dinilai dari aspek kepentingan dan besarnya pengaruh terhadap perubahan dimensi ekonomi dan ekologi setelah dilakukan analisis dengan pemodelan dinamik. Apabila kedua persyaratan tersebut terpenuhi, maka atribut yang dianalisis dapat diimplementasikan dalam suatu program yang berkaitan dengan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. Implikasi dari skenario atau simulasi yang dilakukan menunjukkan bahwa diperlukan suatu kebijakan dalam wujud program yang terpadu. Kebijakan terpadu dimaksudkan sebagai suatu tindakan yang dilakukan secara simultan bagi seluruh dimensi yang memiliki atribut penting guna keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. Dari ketiga skenario pengelolaan yang dianalisis yaitu skenario basis, skenario pesimistik, dan skenario konservatif, hasil simulasi dengan pemodelan dinamik menunjukkan bahwa skenario optimum yang dapat menjawab keinginan semua pemangku kepentingan (stakeholders) sesuai tujuan penelitian ini adalah skenario konservatif, dimana dalam skenario ini jika atribut discount factor bergerak turun ke level 8%, dan kita merubah kebijakan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dan mangrove, menjadi 50% untuk kepentingan konservasi (pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove) dan 50% untuk kepentingan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi, maka kebijakan ini akan memberikan keuntungan usaha yang terlihat dari semakin meningkatnya nilai NPV tahunan total, keuntungan usaha yang diperoleh masyarakat tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan jumlah fee konservasi sehingga akan berdampak pada semakin bertambahnya luasan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Berdasarkan hasil simulasi skenario tersebut, maka implikasi dari hasil penelitian ini dituangkan dalam bentuk kebijakan pemerintah melalui program- 184 program yang terpadu dan simultan guna pencapaian tujuan pengelolaan minawisata bahari yang optimal di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Ini berarti bahwa rencana dan pelaksanaan program aksi pada satu dimensi pembangunan diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas dimensi lainnya. Ada 2 dimensi yang menjadi dasar dalam menyusun strategi dan kebijakan untuk keberlanjutan model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi ini yaitu dimensi ekologi dan dimensi ekonomi, objek yang menjadi sasaran adalah lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, ekosistem terumbu karang dan upaya konservasinya, ekosistem mangrove dan upaya konservasinya, sumberdaya ikan, kerang (moluska) dan biota laut lainnya, sedangkan yang menjadi aspek pengembangan adalah perekonomian masyarakat dan daerah, sosial budaya masyarakat, serta kelembagaan dalam pengelolaan. Implikasi kebijakan pengelolaan minawisata bahari berdasarkan hasil kajian selengkapnya disajikan dalam bentuk matriks pada Lampiran 9. 7. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 1. Hasil rancang bangun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah dengan model minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang mengintegrasikan kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan wisata bahari dalam satu model pengelolaan terpadu menunjukan bahwa: a. Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sangat cocok untuk pengembangan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi, hal itu ditandai dengan keberadaan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove yang masih bagus kondisinya, topografi pantai yang landai, kondisi perairannya relatif tenang dan terlindung, kualitas perairannya masih baik, serta sumberdaya ikan dan kerang yang cukup tersedia. b. Kemampuan lahan untuk pengembangan minawisata bahari ini diperoleh dengan menghitung daya dukung lahan (DDL) dimana untuk minawisata bahari pancing Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 377 unit sarana pemancingan ikan, dan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan teluk ini dapat menampung 37 unit rakit karamba. Sementara untuk daya dukung kawasan (DDK) kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 2.358 orang perhari. c. Alokasi ruang yang diperoleh dengan pendekatan sistem informasi geografis (SIG) menunjukan bahwa luas lahan yang sesuai untuk minawisata bahari pancing sebesar 339.360 m2, minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) sebesar 243.000 m2, minawisata bahari karamba pembesaran ikan sebesar 134.910 m2, dan minawisata bahari selam sebesar 36.660 m2, sedangkan untuk minawisata bahari mangrove tidak terdapat luas lahan yang sesuai tetapi masih dapat dikembangkan dengan memanfaatkan lahan dengan kategori sesuai bersyarat yaitu seluas 87.870 m2. 2. Hasil kajian keterpaduan ekologi-ekonomi dalam rancang bangun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah dengan model minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi tersebut menunjukan bahwa: 186 a. Dari aspek ekonomi, kelima kategori aktivitas minawisata bahari tersebut layak untuk diusahakan karena berdasarkan hasil analisis manfaat-biaya terhadap semua unit usaha, nilai NPV tahunan dari masing-masing kategori aktivitas lebih besar dari 0 dengan nilai B/C lebih besar dari 1. Disamping itu berdasarkan hasil simulasi basis model dengan 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.9.658.005.207. b. Dari aspek ekologi, dengan NPV total tahunan sebesar Rp.9.658.005.207 secara kolektif akan menyumbangkan Rp.204.025.260 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang dan Rp.4.641.510 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebanyak 6,36195 ha dan menambah luasan mangrove sebanyak 6,88131 ha. c. Untuk kepentingan peningkatan perekonomian masyarakat, model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Pulau Dullah ini dapat dioptimalkan dengan cara memaksimumkan jumlah unit usaha tetapi dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan perairan serta ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 7.2 Saran 1. Agar semua kepentingan yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah ini dapat terakomodir, maka kebijakan penting yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan adalah menentukan proporsi berimbang dari jumlah biaya proteksi lingkungan yang nanti diperoleh dari aktivitas minawisata bahari tersebut yaitu 50% untuk kepentingan perbaikan kualitas ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut serta lingkungan dan 50 % untuk kepentingan pembangunan desa. 187 2. Untuk menjaga kelestarian dan menambah luasan ekosistem terumbu karang dan mangrove yang ada maka biaya proteksi lingkungan tersebut harus benarbenar dialokasikan untuk pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove di kawasan objek minawisata bahari Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sehingga kelestarian ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut dapat terus terjaga sekaligus juga menambah luasan ekosistem terumbu karang dan mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. DAFTAR PUSTAKA Adrianto L, and Matsuda Y. 2002. Developing Economic Vulnerability Indices of Environmental Disasters in Small Island Regions. Environmental Impact Assessment Review 22 : 393-414pp. Adrianto L. 2004. Pembangunan dan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan (Sustainable Small Islands Development and Management). Working Paper 22 September 2004. PKSPL-IPB. __________. 2006a. Metodologi Analisis Evaluasi Ko-Manajemen Perikanan. Short Technical Paper untuk Pengambilan Keputusan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. Working Paper 12 Juni 2006. PKSPL-IPB. __________. 2006b. Sinopsis Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. PKSPL-IPB. Aminullah E. 2003. Berpikir Sistem dan Pemodelan Dinamika Sistem. Makalah Kuliah Umum. Program Pascasarjana, Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor. Astuti dkk. 2005. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pesisir Kota Bontang Kalimantan Timur. Jurnal Analisis. ISSN 0852-8144. Edisi Maret 2005. Vol 5 No. 1: 53-64. Atkinson. 2006. Environmental Valuation and Benefit Transfer: An Overview of Issues. This discussion draws heavily on Pearce, D.W., Atkinson, G. and Mourato S. (2006) Cost-Benefit Analysis and Environment: Recent Developments, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Paris. [BAPPEDA] Badan Perencana Pembangunan Daerah, Kota Tual. 2010. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tual Tahun 20092013. Barton ND. 1994. Economic Factors and Valuation of Tropical Coastal Resources. SMR-report 14/94. Universitetet I Bergen. Senter For MILJØ-OG Ressursstudier. Bengen DG. 2001. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB. Bogor. __________. 2002a. Potensi Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil. Makalah disampaikan dalam seminar sehari “Peluang Pengembangan Investasi Pulau-Pulau Kecil di Indoensia”, Hotel Indonesia, Jakarta 10 Oktober 2002. __________. 2002b. Pengembangan Konsep Daya Dukung Dalam Pengelolaan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil. Laporan Akhir Kerjasama Antara Kantor Kementrian Lingkungan Hidup RI dan Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bengen DG dan Retraubun ASW. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). Bogor. 190 [BPPT] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2007. Keputusan Kepala BPPT Nomor : 147/Kp/BPPT/V/2007 Tanggal 28 Mei 2007 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Teknisi Penelitian dan Perekayasaan (LITKAYASA) dan Angka Kreditnya. BPPT. [BPS] Badan Pusat Statistik, Kabupaten Maluku Tenggara. 2009. Maluku Tenggara Dalam Angka Tahun 2008. Briguglio L. 1995. Small Island Developing States and Their Economic Vulnerabilities. World Development, 23 (9), 1615-1632pp. Brookfield HC. 1990. An Approach to Island in Bell Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. UNESCO. Dahuri R. 1991. An Approach to coastal Resource Utilization : In East Kalimantan Coastal Zone, Indonesia. Desertasi of Ph.D for Invironmental Studies Delhousee University Halifax, Nova Scotia, Kanada. _________. 1997. Aplikasi Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk perencanaan dan Pengelolaan Tata Ruang Wilayah Pesisir. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. PKSPL-IPB. _________. 1998. Pendekatan Ekonomi-Ekologis Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Berkelanjutan. Makalah. Prosiding Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Di Indonesia. _________. 2001. Analisis Daya Dukung Ligkungan Kawasan Pesisir. Materi Kuliah Perencanaan dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Program Studi SPL IPB. Bogor. Davis D, Tisdell C. 1996. Economic Management of Recreational Scuba Diving and The Environment. Journal of Environmental Management, 48: 229-248, in. Tisdell C. Tourism economics, the environment and development: analysis and policy. Brisbane: Department of Economics University of Queensland. Debance. KS. 1999. The Challenges of Sustainable Management for Small Island (online) Available online at http://www.insula.org/islands/smallislands.html. Dhewani. 2010. Nilai Ekonomi Terumbu Karang Di Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. ISSN 0125-9830. Vol. 36(1):97-109. [DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Maluku Tenggara. 2008. Statistik Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2007. [DKP-RI] Departemen Kelautan dan Perikanan - Republik Indonesia. 2001. Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Depertemen Kelautan dan Perikanan. 191 [DKP-RI] Departemen Kelautan dan Perikanan - Republik Indonesia. 2002. Modul Sosialisasi dan Orientasi Penataan Ruang Laut, Pesisir dan PulauPulau Kecil. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Depertemen Kelautan dan Perikanan. Dodds R. 2007. Malta’s Tourism Policy: Standing Still or Advancing Towards Sustainability? Islands Studies Journal, 2(1), 2007: 47-66. [DPK] Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Maluku Tenggara. 2009. Laporan Tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2008. [DPK] Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kota Tual. 2009. Laporan Tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tual Tahun 2008. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2003. Data Spasial Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2006a. Laporan Hasil Identifikasi Calon Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Provinsi Maluku. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2006b. Laporan Hasil Identifikasi Pulau-Pulau Kecil bagi Kegiatan Ekowisata di Provinsi Maluku. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2006c. Merajut Keterpaduan Minawisata Pulau-Pulau Kecil Provinsi Maluku Dalam Rangka Revitalisasi Perikanan dan Kelautan. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2007. Model Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Berbasis Minawisata di Kabupaten Maluku Tenggara. Eriyatno. 1998. Ilmu Sistem; Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. Jilid I Edisi Kedua. IPB Press. _______. 2002. Ilmu Sistem; Apa dan Bagaimana. Centre for System Studies and Development (CSSD) Indonesia. _______. 2003. Ilmu Sistem; Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. Jilid I Edisi Ketiga. IPB Press. ESRI. 1990. Understanding GIS : The Arc/Info Method Environment all System Research Institute. Redlands, CA, USA. Fandeli C. 2000. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata dalam Pengusahaan Ekowisata. Fandeli, C dan Mukhlison (editor) Pustaka Pelajar, UGM, Unit KSDA, Yogyakarta. Fauzi A, Anna S. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan; Model Dinamik Optimasi “Multiple Use” Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil. Gramedia. Fitrawati. 2001. Valuasi Ekonomi Pengelolaan Hutan Mangrove untuk Pembangunan Perikanan di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 192 Folke CN, Kautsky, Troell. 1994. The Costs of Eutrophication from Salmon Farming: Implications for policy. Journal of Environmental Management, 40: 173-182. Gomes, E.D. dan Yap, H.T. 1998. Monitoring Reef Condition. P:187-195 dalam R.A. Kenchington dan B.E.T. Hudson. Coral Reef Management Handbook. UNESCO. Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta. Gunawan I. 1998. Typical Geographic Information System (GIS) Aplication For Coastal Resources Management Indonesia. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia (1998), I (1) : 1-12. Hamzah. 2005. Valuasi Ekonomi Terumbu Karang di Perairan Spermonde [tesis]. Makassar: Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin. Makassar. Hartrisari. 2007. Sistem Dinamik Konsep Sistem dan Pemodelan untuk Industri dan Lingkungan. SEAMEO BIOTROP (Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology). Hein PL. 1990. Economic Problems and Prospects of Small Islands in Bell. Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. UNESCO. Hidayat S. 1998. Beberapa Aspek Pertimbangan Untuk Pengelolaan PulauPulau Kecil Di Indonesia. Makalah Dalam Prosiding Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Di Indonesia. Jakarta 7–10 Desember 1998. Kerjasama DEPDAGRI, TPSA, BPPT, CRMP, PKSPLIPB. Jakarta. Hubbard, J.A.E.B. 1990. Sediment Rejection by Recent Sclerectinian Corals: a Key to Paleo-Environmental Reconstruction. Geol. Rundsch, 61:598-626. Jokiel, P.L. dan Morrissey, P.I. 1993. Water Motion on Coral Reefs. Marine Ecology Prog. Series 93:175-181. Kamal E. 2005. Minawisata dan Minaindustri. Informasi Kampus. Universitas Bung Hatta. Padang. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (KMNLH) dan FPIK IPB, 2002. Laporan Akhir: Pengembangan Konsep Daya Dukung Dalam Pengelolaan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil. Bogor. Kasnir M, Fattah, Ihsan, Cahyono. 2004. Pengembangan Kerapu Macan Secara Komprehensif berbasis lokalitas di Provinsi Sulawesi Selatan. Balitbangda Sulawesi Selatan, Makassar. Kasnir M. 2010. Penatakelolaan Minawisata Bahari di Kepulauan Spermonde Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut. Kinsman, D.J.J. 2004. Reef Coral Tolerance of High Temperatures and Salinities. Nature, 202: 1280-1282. 193 Latale, S.S. 2003. Studi Pendahuluan Eksplorasi Sumberdaya Anodontia edentula pada Perairan Pantai Desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura. Ambon. 58 hal. [LP Undana] Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana, 2006. Analisis Komoditas Unggulan dan Peluang Usaha (Budidaya Ikan kerapu). Kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana – Kupang. Kupang. Madduppa, H. 2009. Tipe Ikan Penghuni Terumbu Karang. 26 Desember 2009. (online) Available online at http://bunghaw.wordpress.com. Maguire DJ. 1991. An Overview and Defenition Of GIS, p. 9-20. In Maguire DJ, Goodchild MF, Rhind DW (eds). Geographycal Information System. Longman Scientific and Technical and John Wiley, New York. Manetch TJ, Park GL. 1997. Sistem Analysis and Simulation With Appplication to Economic and Social System Part I. Third Edition, Department of Electrical Engineering and System Science, Michigan State University, East Lansing, Michigan. Mc Elroy JL, Potter B, Towle E. 1990. Challenges for Sustainable Development in Small Caribbean in Bell. Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. UNESCO. META. 2002. Planning for Marine Ecotourism in the UE Atlantic Area . Univ. of the West England, Bristol. Midgley G. 2000. Systemic Intervention: Philosophi, Methology, and Practice. Kluwer Academic/Plenum Publisher, New York, Boston, Dordrecht, London, Moscow. Muhammadi E, Aminullah B, Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Mulyanto. 1992. Manajemen Perairan. LUW-UNIBRAW-FISH. Fisheries Project Unibraw. Malang. Natan, Y. 2008. Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula Pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam. (Disertasi). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Nontji, A. 2003. Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jakarta. Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta. O’brien JA. 1999. Management Information System. Mc Graw Hill. Arizona. USA. Odum EP. 1971. Fundamental of Ecology. Third Edition. W.B. Saunders. Company. Toronto. 194 Pariyono. 2006. Kajian Potensi Kawasan Mangrove Dalam Kaitannya Dengan Pengelolaan Wilayah Pantai Di Desa Panggung, Bulakbaru, Tanggultlare, Kabupaten Jepara. (Tesis). Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang. Piagram P. 1983. Outdoor Recreation and Resources Management. St. Martin’s Press, New York. Polanunu, A. 1998. Resuspensi sedimen oleh arus kaitannya dengan lapisan batas di dalam dan luar padang lamun Teluk Un Maluku Tenggara. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ambon. 50 hal. Quano. 1993. Training Manual on Assessment of the Quantity and Type of Land Based Pollutant Discharge Into the Marine and Coastal Environment. UNEP. Raharjo S. 1996. Makalah Pelatihan Sistem Informasi Geografis. Universitas Indonesia. F-MIPA Jurusan Geografi. Pusat Penelitian Geografi Terapan. Rauf A. 2007. Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Kepulauan Tanakeke Berbasis Daya Dukung [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Razak, A. 2002. Dinamikia Karakteristik Fisik – Kimia Sedimen dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Moluska Bentik di Muara Bandar Bakali Padang. Thesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Renjaan EA and D Pattisamalo. 1999. Tidal Flushing Influence on Dispersion and Abundance of Mollusc Larvae in “Un” Lagoon, Kei Islands, Indonesia. Abstract was published in Proceedings of the Ninth International Workshop of the Tropical Marine Mollusk Programme (TMMP) Part 2.v. A Special Report of Phuket Marine Biological Center Thailand. Romimohtarto, Juwana S. 1999. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Rudd MA. 2003. Analysis An institutional framework for designing and monitoring ecosystem-based fisheries management policy experiments. Ecological-Economics 48 (2004) 109-124. [www.sciencedirect.com]. Ruitenbeek, HJ. 1992. Mangrove management: an economic, analysis of management options with a focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. Environmental Management Development in Indonesia (EMDI) Project. EMDI environmental reports no.8. Jakarta. Samedi dkk (2006). Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Pesisir dan PulauPulau Kecil. Materi Kuliah Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Program Studi SPL IPB. Bogor. Sawyer, DA. 1992. Taka Bone Rate: management, development and resources valuation of an Indonesian atoll [thesis]. Dalhousie University, Halifax, Canada. Scones, J. B. 1993. Global Equity and Environmental Crisis: An Argument for Reducing Working Hours in the North. World Development 19, 1: 73-84. 195 Setiobudiandi, I. 1995. Mollusca (Sumberdaya Non Hayati Ikan). Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK IPB. Bogor. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 1997. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2005. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan PulauPulau Kecil Terluar. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku. Sjafrie NDM. 2010. Nilai Ekonomi Terumbu Karang Di Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (2010) 36(1): 97 - 109. Soerianegara I. 1978. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sobari MP dkk. 2006. Analisis Ekonomi Alternatif Pengelolaan Mangrove Kecamatan Barru, Kabupaten Barru. Buletin Ekonomi Perikanan, Vol VI No. 3. Tahun 2006. Sribianti. 2008. Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove: Studi Kasus Valuasi Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Malili, Kabupaten Luwu Timur. Jurnal Sains dan Teknologi. ISSN 1411-4674. Edisi Desember 2008. Vol. 8 No. 3: 186-192. Sugiarti. 2000. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Kotamadya Dati II Pasuruan Jawa Timur. [tesis] Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Suharsono dan Yosephine, M.I. 1994. Perbandingan Kondisi Terumbu Karang di Pulau Nyamuk Besar dan Pulau Onrust Tahun 1929, 1985, dan 1993 dan Hubungannya dengan Perubahan Perairan Teluk Jakarta. Prosiding Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Jakarta, 7 September 1994. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Sunyoto, P. 1993. Pembesaran Kerapu dengan Karamba Jaring Apung. Penebar Swadaya. Jakarta. Supriyadi IH dan Wouthuyzen S. 2005. Penilaian Ekonomi Sumberdaya Mangrove di Teluk Kotania, Seram Barat, Provinsi Maluku. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. ISSN 0125-9830. No.38: 1-21. 196 Tamrin. 2006. Karang: Biologi Reproduksi dan Ekologi. Minamandiri Press. Pekanbaru. 260 pp. Tiensongrusmee, B.S. Pontjoprawiro, and K. Mintarjo. 1986. Seafarming Reseurces. MAP.INS/81/008/Manual/7. 109 p UNESCO. 1991. Hydrology and Water Resources of Small Islands: A Practical Guide. Studies and Report on Hydrology No. 49. Prepared by A. Falkland (ed.) and E. Custodio with contribution from A. Diaz Arenas and L. Simler. Paris, Freance. 435pp. United Nation. 1983. The Law of the Sea. Official text of the United Nations Convention on the Law of the Sea with Annexes and Index. United Nation Publication No.E.83.V.5. New York, NY. Wahyu Y. 2006. Optimisasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan Survei dan Pemetaan dalam Proses Rancang Bangun, Bandung: Departemen Teknik Geodesi, FTSL Institut Teknologi Bandung. Wawo, M. 2000. Penilaian ekonomi terumbu karang: studi kasus di Desa Ameth Pulau Nusalaut Provinsi Maluku [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Yulianda F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Makalah pada Seminar Sains, 21 Pebruari 2007 pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 197 DAFTAR PUSTAKA Adrianto L, Matsuda Y, Sakuma Y. 2004. Assessing Local Fisheries Sustainability in Small Island Region : An Application of Participatory Flag Modelling in Yoron Island, Kagoshima Prefecture, Japan. Working Paper 25 Juli 2004. PKSPL-IPB. Allen G.R, Adrim M. 2003. Coral Reef Fisheries of Indonesia. Zoological Studies 42(1):1-72. BAKOSURTANAL (1992).(http://202.155.86.35/geodesi/stapasut/desc/tual.html). Barg UC. 1992. Guidelines for the promotion of environmental management of coastal aquaculture development. FAO Fisheries Technical Paper 328, FAO, Rome. 122p. Bengen, D.G. 2008. Komunikasi Pribadi. 17 Juli 2008. Bogor. Bengen DG dan Retraubun ASW. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). Beveridge MCM. 1987. Cage and pen farming: carrying capacity models and environmental impact. FAO Fish.Tech.Pap.255. FIRI/T255, 131p. Clark, R.B. 1977. Marine Pollution. Clarendon Press. Oxford. [DKP-RI] Departemen Kelautan dan Perikanan - Republik Indonesia. 2000. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2000 Tentang Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Biro Hukum dan Perizinan Depertemen Kelautan dan Perikanan. Gomes, E.D. dan Yap, H.T. 1998. Monitoring Reef Condition. P:187-195 dalam R.A. Kenchington dan B.E.T. Hudson. Coral Reef Management Handbook. UNESCO. Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta. Hubbard, J.A.E.B. 1990. Sediment Rejection by Recent Sclerectinian Corals: a Key to Paleo-Environmental Reconstruction. Geol. Rundsch, 61:598-626. Irianto H.E, Sarmanto P, Rahayu U, Fauzyah Y.N, Putro S. 1986. Penelitian Pendahuluan Lingkungan Budidaya Kerang Hijau (Mytilus viridis) dan Tiram (Crassostrea iradelai) di Bojonegara, Serang. Jawa Barat. Jurnal Penelitian Pasca Panen Perikanan (51): 1-7. Jokiel, P.L. dan Morrissey, P.I. 1993. Water Motion on Coral Reefs. Marine Ecology Prog. Series 93:175-181. Kinsman, D.J.J. 2004. Reef Coral Tolerance of High Temperatures and Salinities. Nature, 202: 1280-1282. Latale, S.S. 2003. Studi Pendahuluan Eksplorasi Sumberdaya Anodontia edentula pada Perairan Pantai Desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura. Ambon. 58 hal. 198 [LP Undana] Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana, 2006. Analisis Komoditas Unggulan dan Peluang Usaha (Budidaya Ikan kerapu). Kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana – Kupang. Kupang. Madduppa, H. 2009. Tipe Ikan Penghuni Terumbu Karang. 26 Desember 2009. http://bunghaw.wordpress.com. Mulyanto. 1992. Manajemen Perairan. LUW-UNIBRAW-FISH. Fisheries Project Unibraw. Malang. Natan, Y. 2008. Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula Pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam. (Disertasi). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Nontji, A. 2003. Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jakarta. Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta. [Pemprovmal] Pemerintah Provinsi Maluku. 2006. Merajut Keterpaduan Mina Wisata Pulau-Pulau Kecil Provinsi Maluku Dalam Rangka Revitalisasi Kelautan dan Perikanan. Pescod, M.B. 1973. Investigation of Rasional Effluent and Stream Standart for Tropical Contries. Environmental Engineering Division. Asian Institute Technology Bangkok. Polanunu, A. (1998). Resuspensi sedimen oleh arus kaitannya dengan lapisan batas di dalam dan luar padang lamun Teluk Un Maluku Tenggara. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ambon. 50 hal. Quano. 1993. Training Manual on Assessment of the Quantity and Type of Land Based Pollutant Discharge Into the Marine and Coastal Environment. UNEP. Razak, A. 2002. Dinamikia Karakteristik Fisik – Kimia Sedimen dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Moluska Bentik di Muara Bandar Bakali Padang. Thesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Renjaan, E.A. 2006. Resim Hidrodinamika dan Transportasi Meroplankton di Selat Rosenberg, Kepulauan Kei. (Belum dipublikasikan). Renjaan, E.A. 2008. Komunikasi Pribadi. 27 Nopember 2008. Bogor. Romimohtarto, Juwana S. 1999. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Russel-Hunter, W.D. 1968. Biology of Lower Invertebrate. The Mcmillan Company. New York. 146p. Setiobudiandi, I. 1995. Mollusca (Sumberdaya Non Hayati Ikan). Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK IPB. Bogor. 199 Sjafi’i BIE. 2000. Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Manado Sulawesi Utara [tesis] Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sugiarti. 2000. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Kotamadya Dati II Pasuruan Jawa Timur. [tesis] Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Suharsono dan Yosephine, M.I. 1994. Perbandingan Kondisi Terumbu Karang di Pulau Nyamuk Besar dan Pulau Onrust Tahun 1929, 1985, dan 1993 dan Hubungannya dengan Perubahan Perairan Teluk Jakarta. Prosiding Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Jakarta, 7 September 1994. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Tamrin. 2006. Karang: Biologi Reproduksi dan Ekologi. Minamandiri Press. Pekanbaru. 260 pp. Tiensongrusmee, B.S. Pontjoprawiro, and K. Mintarjo. 1986. Seafarming Reseurces. MAP.INS/81/008/Manual/7. 109 p Yulianda F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Makalah pada Seminar Sains, 21 Pebruari 2007 pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 200 Lampiran 1 : JADWAL KEGIATAN PENELITIAN DAN RENCANA PENYELESAIAN STUDI No TAHUN 2008 TAHUN 2009 BULAN BULAN KEGIATAN OKT 1. Persiapan penelitian 2. Survey awal ke lokasi penelitian 1. Sosialisasi rencana penelitian 2. Pengumpulan data awal 3. NOP DES JAN PEB MAR …… .…..……….. ………..……….. Pelaksanaan penelitian 1. Pengumpulan data 2. Kuesioner dan wawancara ……….. ……….. ……….. 4. Pengolahan data ………. 5. Analisis data …...….. 6. Penyusunan draft Disertasi, Seminar, Sidang Tertutup, dan Sidang Terbuka. Mulai dari bulan April – Agustus 2009 Lampiran 1 Data hasil penelitian a. Data umum lokasi penelitian Kota Tual : Luas wilayah administratif Kota Tual 19.095,84 km2 ( 1.909.584 ha ) Luas perairan Kota Tual 18.743,55 km2 ( 1.874.355 ha ) 352,29 km2 ( 35.229 ha ) 98,38 km 2 ( 9.838 ha ) 77.258,37 m ( 77,26 km ) 2.891.715,47 m2 ( 289,17 ha ) 13.965,88 m ( 13,97 km ) 627.803,14 m2 ( 62,78 ha ) 11.019,31 m ( 11,02 km ) 1.535.802,75 m2 ( 153,58 ha ) 6.837,60 m ( 6,84 km ) 499.624,51 m2 ( 49,96 ha ) Luas daratan Kota Tual Pulau Dullah : Luas Pulau Dullah Panjang garis pantai Pulau Dullah Lokasi Studi ( Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ) : Luas perairan di lokasi studi Panjang garis pantai di lokasi studi Luas ekosistem terumbu karang di lokasi studi Panjang garis pantai untuk terumbu karang di lokasi studi Luas ekosistem mangrove di lokasi studi Panjang garis pantai untuk mangrove di lokasi studi Luas ekosistem lamun di lokasi studi b. Data parameter fisika kimia perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Stasiun Pengamatan Ke … Posisi Stasiun Pengamatan Waktu Pengukuran No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 05O 38,271’ LS 132O 45,685’ BT 09.30 WIT PARAMETER Kedalaman perairan (m) Kecepatan arus (m/det) Salinitas (‰) Suhu ( OC ) pH DO Nitrat / NO 3 –N (mg/l) Phosphat / PO 4 (mg/l) Tembaga / Cu (mg/l) Ammon/NH 3 –N (mg/l) Sulfida / H 2 S (mg/l) Sumber : data ground check 2 05O 38,672’ LS 132O 45, 667’ BT 10.12 WIT 3 4 05O 39,110’ LS 132O 45,833’ BT 10.55 WIT 05O 39,517’ LS 132O 45,656’ BT 11.22 WIT 5 05O 39,890’ LS 132O 45,485’ BT 12.02 WIT 6 05O 39,959’ LS 132O 44,973’ BT 7 05O 39,541’ LS 132O 45,209’ BT 12.23 WIT 12.47 WIT HASIL PENGUKURAN 0,5 1,0 8,0 2,5 1,5 2,5 16,0 0,08 22 29 8,2 8,1 0,19 30 30 6,5 7,2 0,76 33 31 7,0 6,5 2,21 33 31 7,0 6,8 0,19 33 31 6,5 7,3 0,33 33 31,8 6,5 7,0 0,91 33 32 7,0 6,6 0.008 0.003 0.002 0.003 0.004 0.003 0.003 0.009 0.002 0.004 0.005 0.002 0.002 0.004 0.017 0.007 0.008 0.008 0.007 0.007 0.009 0.006 0.007 0.009 0.008 0.007 0.007 0.011 0.011 0.006 0.007 0.007 0.006 0.006 0.007 Lampiran 2 Kriteria umum untuk penentuan pemanfaatan pulau-pulau kecil No Kriteria 1. Sosial Uraian 1. Diterimanya secara sosial, berarti: didukung oleh masyarakat lokal, adanya nilai-nilai lokal untuk melakukan konservasi SDA, adanya kebijakan pemerintah setempat untuk menetapkan Daerah Perlindungan Laut (DPL). 2. Kesehatan masyarakat, berarti: mengurangi pencemaran dan berbagai penyakit, mencegah terjadinya area kontaminasi. 3. Rekreasi, berarti: dapat digunakan untuk kegiatan rekreasi, masyarakat lokal dapat merasakan manfaat dengan berkembangnya kegiatan rekreasi. 4. Budaya, berarti: adanya nilai-nilai agama, sejarah dan budaya lainnya yang mendukung adanya DPL. 5. Estetika, berarti: adanya bentang laut dan bentang alam yang indah, keindahan ekosistem dan keanekaragaman jenis memberikan nilai tambah untuk rekreasi. 6. Konflik kepentingan, berarti: pengembangan DPL harus membawa efek positif pada masyarakat lokal. 7. Keamanan, berarti: dapat melindungi masyarakat dari berbagai kemungkinan bahaya badai, ombak, arus, dan bencana lainnya. 8. Aksesibilitas, berarti: memiliki akses dari daratan dan lautan. 9. Penelitian dan pendidikan, berarti: memiliki berbagai ekosistem yang dapat dijadikan objek penelitian dan pendidikan. 10. Kepedulian masyarakat, berarti: masyarakat ikut berperan aktif dalam melakukan kegiatan konservasi. 2. Ekonomi 1. Memiliki spesies penting, berarti: area yang dilindungi memiliki spesies yang bernilai ekonomi, misalnya terumbu karang, mangrove, dan esturia. 2. Memiliki nilai penting untuk kegiatan perikanan, berarti: area perlindungan dapat dijadikan untuk menggantungkan hidup para nelayan, area pemanfaatan merupakan daerah tangkapan. Lanjutan lampiran 2 : 3. Ancaman terhadap alam, berarti: adanya ancaman dari aktifitas manusia, adanya ancaman dari kegiatan merusak seperti pengeboman, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, daerah tersebut perlu dikelola untuk menjaga kelestariannya. 4. Keuntungan ekonomi, berarti: adanya dampak positif bagi ekonomi masyarakat setempat. 5. Pariwisata, berarti: merupakan area yang potensial dikembangkan untuk pariwisata. 3. Ekologi 1. Keanekaragaman hayati, berarti: memiliki kekayaan keanekaragaman ekosistem dan spesies. 2. Kealamiahan, berarti: tidak mengalami kerusakan, masih dalam keadaan alami. 3. Ketergantungan, berarti: berbagai spesies sangat tergantung pada area ini, proses-proses ekologi sangat bergantung pada daerah ini. 4. Keterwakilan, berarti: area yang akan ditentukan mewakili berbagai tipe habitat, ekosistem, geologikal, dan berbagai karakteristik alam lainnya. 5. Keunikan, berarti: memiliki spesies yang unik, memiliki spesies yang endemik, memiliki spesies yang hampir punah. 6. Produktivitas, berarti: produktivitas area akan memberikan kontribusi untuk berbagai spesies dan juga untuk manusia. 7. Vulnerabilitas, berarti: area ini memiliki fungsi perlindungan dari berbagai ancaman bencana. 4. Regional Sumber: Bengen (2002b). 1. Tingkat kepentingan regional, berarti: mewakili karakteristik regional setempat, baik itu alamnya, proses ekologi, maupun budayanya, merupakan daerah migrasi beberapa spesies, memberikan kontribusi untuk pemeliharaan berbagai spesies. 2. Tingkat kepentingan sub-regional, berarti: memiliki dampak positif terhadap sub-regional, dapat dijadikan perbandingan dengan sub-regional yang tidak dijadikan DPL. Lampiran 3 Hasil analisis skala prioritas pemanfaatan ruang a. Hasil analisis SMART untuk ke-empat kriteria KRITERIA SUBKRITERIA Ekologi Kesesuaian Lahan Daya Dukung Lahan Daya Dukung Kawasan Ekonomi Kemudahan Berinvestasi Manfaat Ekonomi Tingkat Pendapatan Masyarakat Sosial Budaya Kebiasaan Masyarakat Penyerapan Tenaga Kerja Kelembagaan Aturan Pengelolaan Tingkat Keamanan TOTAL BOBOT 0.083 0.082 0.105 0.270 0.074 0.073 0.135 0.282 0.124 0.130 0.254 0.104 0.090 0.194 1.000 b. Hasil analisis Smart untuk alternatif kategori aktivitas minawisata bahari Kriteria Subkriteria Minawisata Bahari Pancing Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang Minawisata Bahari Karamba Pemb. Ikan Minawisata Bahari Selam Nilai Bobot Nilai Bobot Nilai Bobot Nilai Bobot Kesesuaian Lahan 49 0.49 31 0.31 13 0.13 7 0.07 Daya Dukung Lahan Daya Dukung Kawasan 49 18 0.49 0.18 23 3 0.23 0.03 3 76 0.03 0.76 25 3 0.25 0.03 Ekonomi Kemudahan Berinvestasi Manfaat Ekonomi Tingkat Pendapatan Masyarakat 30 22 26 0.30 0.22 0.26 40 9 22 0.40 0.09 0.22 10 19 27 0.10 0.19 0.27 20 50 25 0.20 0.50 0.25 Sosial Budaya Kebiasaan Masyarakat 25 0.25 12 0.12 33 0.33 30 0.30 Penyerapan Tenaga Kerja 30 0.30 14 0.14 40 0.40 16 0.16 Aturan Pengelolaan 13 0.13 30 0.30 22 0.22 35 0.35 Tingkat Keamanan 23 0.23 17 0.17 23 0.23 37 0.37 Ekologi Kelembagaan Lampiran 4 Perhitungan Daya Dukung Lahan (DDL) dan Daya Dukung Kawasan (DDK) a. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pancing Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Luasan Optimal Sarana Pemancingan Ikan (LOSPI) Luas Olah Gerak (LOG) Jumlah Pengunjung (JP) Daya Dukung Lahan (DDL) = LLS X KL Jumlah Unit Sarana Pemancingan Ikan (JUSPI) = DDL : LOG Daya Dukung Kawasan (DDK) = JUSPI X JP 1,131,200 30 12 900 3 m2 % m2 m2 Orang 339,360 m2 377 Unit 1,131 Orang Keterangan : LOSPI = 12 m2 (1 unit sarana pemancingan ikan, berada dalam luasan 4 m X 3 m) LOG = 900 m2 (1 unit sarana pemancingan ikan, mempunyai luas olah gerak 30 m X 30 m) JP = 3 orang ( 1 unit sarana pemancingan ikan, memuat 2 orang wisatawan dan 1 orang pendayung perahu) b. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang (Moluska) Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) 810,000 30 m2 % Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) Luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengumpulan kerang (Lp) = LLS X KL Unit area untuk melakukan pengumpulan kerang (Lt) Waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari untuk melakukan pengumpulan kerang (Wt) Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan pengumpulan kerang (Wp) 1 243,000 2,500 Orang m2 m2 8 4 Jam Jam 194 Orang Daya Dukung Kawasan (DDK) = K X Lp/Lt X Wt/Wp Keterangan : Lt = 2,500 m2 (1 orang setiap luasan 50 m X 50 m) c. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Luasan Optimal Karamba Pembesaran Ikan (LOKPI) Luas Olah Gerak (LOG) Jumlah Pengunjung (JP) 449,700 30 144 3,600 5 m2 % m2 m2 Orang Daya Dukung Lahan (DDL) = LLS X KL Jumlah Karamba Pembesaran Ikan (JKPI) = DDL : LOG 134,910 37 m2 Unit Daya Dukung Kawasan (DDK) = JKPI X JP 185 Orang Keterangan : LOKPI = 144 m2 (1 unit rakit karamba pembesaran ikan, berada dalam luasan 12 m X 12 m) LOG = 3,600 m2 (1 unit rakit karamba pembesaran ikan, mempunyai luas olah gerak 60 m X 60 m) JP = 5 orang (1 unit karamba pembesaran ikan, memuat 4 orang wisatawan dan 1 orang penjaga karamba) d. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Selam Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) Luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas penyelaman (Lp) = LLS X KL Unit area untuk melakukan aktivitas penyelaman (Lt) Waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari untuk melakukan aktivitas penyelaman (Wt) Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas penyelaman (Wp) Daya Dukung Kawasan (DDK) = K X Lp/Lt X Wt/Wp Keterangan : Lt = 2,000 m2 (2 orang setiap luasan 200 m X 10 m) 122,200 30 m2 % 2 36,660 2,000 Orang m2 m2 8 2 Jam Jam 146 Orang e. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Mangrove Luas Lahan yang Sesuai / Sesuai bersyarat (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Areal untuk membuat rute tracking Daya Dukung Lahan (DDL) = LLS X KL Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) Luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan tracking (Lp) Unit area untuk melakukan tracking (Lt) Waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari untuk melakukan tracking (Wt) Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan tracking (Wp) Daya Dukung Kawasan (DDK) = K X Lp/Lt X Wt/Wp Keterangan : Lt = 50 m (1 orang setiap 50 meter panjang track) Lebar area tracking Panjang area tracking 292,900 30 10 m2 % % 87,870 m2 1 8,787 50 Orang m2 m 8 2 Jam Jam 702 Orang 2 4,394 m m Lampiran 5 Data untuk perhitungan kapasitas asimilasi lingkungan perairan a. Nilai baku mutu yang dipersyaratkan dan konsentrasi bahan pencemar Parameter Stasiun pengamatan ke … Nilai baku mutu untuk biota laut Nilai baku mutu untuk wisata bahari 1 2 3 4 5 6 7 Nitrat / NO 3 –N (mg/l) 0.008 0.008 0.008 0.003 0.002 0.003 0.004 0.003 0.003 Phosphat / PO 4 (mg/l) 0.015 0.015 0.009 0.002 0.004 0.005 0.002 0.002 0.004 Tembaga / Cu (mg/l) 0.008 0.050 0.017 0.007 0.008 0.008 0.007 0.007 0.009 Ammonia / NH 3 –N (mg/l) 0.3 Nihil 0.006 0.007 0.009 0.008 0.007 0.007 0.011 Sulfida / H 2 S (mg/l) 0.01 Nihil 0.011 0.006 0.007 0.007 0.006 0.006 0.007 b. Data debit air yang masuk melalui arus pasut, konsentrasi bahan pencemar (K), dan beban pencemar (BP) No Parameter Debit Stasiun 1 K BP Stasiun 2 K BP Stasiun 3 K BP Stasiun 4 K BP 1 NO 3-N 346.632 0.008 2.773056 0.003 1.039896 0.002 0.693264 0.003 1.039896 2 PO 4 3 4 5 Cu NH 3 -N H2 S 346.632 346.632 346.632 346.632 3.119688 5.892744 2.079792 3.812952 0.002 0.007 0.007 0.006 0.693264 2.426424 2.426424 2.079792 0.004 0.008 0.009 0.007 1.386528 2.773056 3.119688 2.426424 0.005 0.008 0.008 0.007 1.733160 2.773056 2.773056 2.426424 No Parameter Debit 0.009 0.017 0.006 0.011 Stasiun 5 K BP Stasiun 6 K BP Stasiun 7 K BP 1 NO 3-N 346.632 0.004 1.386528 0.003 1.039896 0.003 1.039896 2 PO 4 3 4 5 Cu NH 3 -N H2 S 346.632 346.632 346.632 346.632 0.693264 2.426424 2.426424 2.079792 0.002 0.007 0.007 0.006 0.693264 2.426424 2.426424 2.079792 0.004 0.009 0.011 0.007 1.386528 3.119688 3.812952 2.426424 0.002 0.007 0.007 0.006 Lampiran 6 Dasar perhitungan valuasi ekonomi sumberdaya a. Indeks Harga Konsumen (IHK) Tahun 2010 beberapa daerah di Indonesia P. Dullah P. Nusalaut P. Seram BB Bontang B. Lompo Malili Barru Wakatobi Buton Ambon Samarinda Makassar Kendari Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 121,68 120,89 121,22 120,60 120,52 121,54 123,09 126,05 127,25 126,88 126,57 128,22 122,33 123,26 124,12 124,34 124,50 125,04 127,52 128,06 129,14 128,49 129,51 130,11 118,94 119,06 118,59 118,01 118,78 119,33 121,85 123,71 124,21 123,65 123,99 125,42 123,55 122,59 122,60 122,98 123,54 123,46 126,16 128,66 128,12 127,45 127,26 127,61 116,11 116,34 115,95 116,11 116,45 117,95 119,83 120,37 120,11 120,08 121,47 123,09 117,12 117,67 117,43 117,86 117,88 118,87 120,93 121,57 122,83 122,86 123,64 124,51 Rata-rata 123,71 126,37 121,30 125,33 118,66 120,26 Bulan Selat Nasik Jepara Pekanbaru Semarang b. Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem mangrove BUTON BONTANG SBB BARRU JEPARA MALILI ASTUTI, 2005 SUPRIYADI, 2005 PARIYONO, 2006 SRIBIYANTI, 2008 Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar SOBARI, 2006 Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Rasio IHK Lokasi Studi 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 Rasio IHK Lokasi Asal 125,33 126,37 123,71 121,30 120,26 121,30 MANFAAT EKONOMI MANFAAT LANGSUNG Potensi kayu (Rp/m3) Ranting / kayu bakar (per ikat) FITRAWATI, 2001 RATA RATA PEMBULATAN 59.224 296 127.264 0 0 2.750 0 0 61.721 0 0 2.550 82.736 1.865 82.740 1.870 Ikan (per kg) 2.961 0 3.000 0 0 5.354 3.772 3.770 Kepiting bakau (per kg) 9.871 0 10.000 0 0 40.795 20.222 20.220 1.407.494 0 3.500.000 3.569.538 0 0 2.825.677 2.825.680 NILAI KEBERADAAN Nilai keberadaan dengan CVM (per ha per tahun) c. Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem terumbu karang MALUKU WAWO, 2000 BONTANG ASTUTI, 2005 BARRANG LOMPO HAMZAH, 2005 WAKATOBI COREMAP II, 2008 SELAT NASIK DHEWANI, 2010 Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Rasio IHK Lokasi Studi 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 Rasio IHK Lokasi Asal 123,71 126,37 121,30 125,33 118,66 MANFAAT EKONOMI MANFAAT LANGSUNG Perikanan terumbu (per kg) Selam (per orang) Penelitian (per orang) Penambangan karang (per m3) Lola (per kg) Teripang (per kg) PEMBULATAN 5.000 7.342 63.742 44.418 0 30.126 30.130 2.175.000 5.000.000 12.000 26.750 18.750 0 0 63.632 0 0 2.590.465 34.252.270 50.993 0 50.993 4.935.371 0 69.095 39.878 118.449 0 83.404.686 72.979 0 0 3.233.612 40.885.652 53.740 33.314 62.731 3.233.610 40.855.650 53.740 33.310 62.730 44.418.336 8.340.469 27.375.775 27.375.780 0 0 6.992.553 6.992.550 Habitat ikan (per ha) NILAI KEBERADAAN Nilai keberadaan dengan CVM (per ha per tahun) RATA RATA 29.368.521 11.330.900 0 2.654.207 Lampiran 7 Analisis manfaat-biaya minawisata bahari berbasis konservasi a. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Pancing di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan Perahu dan Alat Pancing - Jasa pengolahan ikan hasil tangkapan b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, Teripang, Penelitian Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value TAHUN 0 1 2 3 4 5 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 76,440 76,440 76,440 76,440 76,440 0 1 0 6,876,440 0.91 6,257,560 6,876,440 0.83 5,707,445 6,876,440 0.75 5,157,330 6,876,440 0.68 4,675,979 6,876,440 0.62 4,263,393 3,200,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 320,000 320,000 320,000 320,000 320,000 850,000 850,000 850,000 850,000 850,000 397,500 397,500 397,500 397,500 397,500 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan - Upah buruh (pendayung perahu) b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan - Pembuatan artificial reef - Pungutan adat (pengganti sasi) Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 3,200,000 1 3,200,000 -3,200,000 9,465,953 3.96 102,000 102,000 102,000 102,000 102,000 25,000 3,534,500 0.91 3,216,395 25,000 3,534,500 0.83 2,933,635 25,000 3,534,500 0.75 2,650,875 25,000 3,534,500 0.68 2,403,460 25,000 3,534,500 0.62 2,191,390 3,041,165 2,773,810 2,506,455 2,272,519 2,072,003 b. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN TAHUN 1 2 3 4 5 600,000 600,000 600,000 600,000 600,000 200,000 200,000 200,000 200,000 200,000 1,400 801,400 0.91 729,274 1,400 801,400 0.83 665,162 1,400 801,400 0.75 601,050 1,400 801,400 0.68 544,952 1,400 801,400 0.62 496,868 200,000 100,000 200,000 100,000 200,000 100,000 200,000 100,000 200,000 100,000 50,000 50,000 50,000 50,000 50,000 - Upah buruh (pengawas) b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000 7,300 7,300 7,300 7,300 7,300 - Pungutan adat (pengganti sasi) 25,000 25,000 25,000 25,000 25,000 MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan Alat Pengumpul Kerang - Jasa pengolahan kerang hasil pengumpulan b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, Teripang, Penelitian Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value 0 0 1 0 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan 500,000 - Pembuatan artificial reef Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 500,000 1 500,000 -500,000 663,909 2.33 12,000 494,300 0.91 449,813 12,000 494,300 0.83 410,269 12,000 494,300 0.75 370,725 12,000 494,300 0.68 336,124 12,000 494,300 0.62 306,466 279,461 254,893 230,325 208,828 190,402 c. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan rakit karamba (4 orang) - Penjualan ikan hasil pembesaran dalam karamba - Jasa pengolahan ikan hsl pembesaran b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, Teripang, Penelitian Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value TAHUN 0 1 2 3 4 5 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 34,000,000 34,000,000 34,000,000 34,000,000 34,000,000 327,600 78,527,600 0.91 71,460,116 327,600 78,527,600 0.83 65,177,908 327,600 78,527,600 0.75 58,895,700 327,600 78,527,600 0.68 53,398,768 327,600 78,527,600 0.62 48,687,112 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 3,200,000 3,200,000 3,200,000 3,200,000 3,200,000 - Anakan ikan dan pakan 10,000,000 10,000,000 10,000,000 10,000,000 10,000,000 - Upah buruh (penjaga karamba) - Upah buruh (pelayanan pengunjung) 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 0 1 0 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan 32,000,000 850,000 850,000 850,000 850,000 850,000 b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan 1,703,500 1,703,500 1,703,500 1,703,500 1,703,500 - Pungutan adat (pengganti sasi) 25,000 25,000 25,000 25,000 25,000 884,000 42,312,500 0.91 38,504,375 884,000 42,312,500 0.83 35,119,375 884,000 42,312,500 0.75 31,734,375 884,000 42,312,500 0.68 28,772,500 884,000 42,312,500 0.62 26,233,750 32,955,741 30,058,533 27,161,325 24,626,268 22,453,362 - Pembuatan artificial reef Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 32,000,000 1 32,000,000 -32,000,000 105,255,229 4.29 d. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Selam di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN TAHUN 0 1 MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan Peralatan Selam - Jasa pengolahan ikan hasil tangkapan b. Manfaat Eksternal/Lingkungan 2 3 4 5 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 21,800 18,721,800 0.91 17,036,838 21,800 18,721,800 0.83 15,539,094 21,800 18,721,800 0.75 14,041,350 21,800 18,721,800 0.68 12,730,824 21,800 18,721,800 0.62 11,607,516 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 - Upah pemandu selam (buddy) b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 113,600 113,600 113,600 113,600 113,600 - Pungutan adat (pengganti sasi) 25,000 25,000 25,000 25,000 25,000 340,000 340,000 340,000 340,000 340,000 Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value 0 1 0 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan - Pembuatan artificial reef 15,000,000 Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value 15,000,000 1 15,000,000 11,078,600 0.91 10,081,526 11,078,600 0.83 9,195,238 11,078,600 0.75 8,308,950 11,078,600 0.68 7,533,448 11,078,600 0.62 6,868,732 Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C -15,000,000 13,967,728 1.93 6,955,312 6,343,856 5,732,400 5,197,376 4,738,784 e. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Mangrove di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN TAHUN 0 1 MANFAAT a. Manfaat Langsung - Retribusi masuk areal MB Mangrove b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Bahan Bangunan, Kayu Bakar, Ikan, Kepiting Bakau Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value 0 1 0 2 3 4 5 119,000,000 119,000,000 119,000,000 119,000,000 119,000,000 22,189,700 141,189,700 0.91 128,482,627 22,189,701 141,189,701 0.83 117,187,452 22,189,702 141,189,702 0.75 105,892,277 22,189,703 141,189,703 0.68 96,008,998 22,189,704 141,189,704 0.62 87,537,616 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 4,500,000 4,500,000 4,500,000 4,500,000 4,500,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 25,173,000 25,173,000 25,173,000 25,173,000 25,173,000 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan - Upah buruh (pengawas) - Upah pemandu MB Mangrove b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas ekosistem mangrove c. Biaya Proteksi Lingkungan - Pungutan adat (pengganti sasi) 45,000,000 - Penanaman anakan mangrove Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 45,000,000 1 45,000,000 -45,000,000 192,393,100 5.28 850,000 850,000 850,000 850,000 850,000 2,380,000 78,553,000 0.91 71,483,230 2,380,000 78,553,000 0.83 65,198,990 2,380,000 78,553,000 0.75 58,914,750 2,380,000 78,553,000 0.68 53,416,040 2,380,000 78,553,000 0.62 48,702,860 56,999,397 51,988,462 46,977,527 42,592,958 38,834,756 Lampiran 8 Equation untuk model dinamik minawisata bahari berbasis konservasi a. Basis Model LUASAN_MANGROVE(t) = LUASAN_MANGROVE(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_Mangrove - Pengurangan_Luasan_Mangrove) * dtINIT LUASAN_MANGROVE = 153.58 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_Mangrove = (Laju_Pertumbuhan_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Upaya_Konservasi_ Mangrove OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_Mangrove = (Laju_Degradasi_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Luas_Mangrove_yang_ dikonversi LUASAN_TERUMBU_KARANG(t) = LUASAN_TERUMBU_KARANG(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_TK - Pengurangan_Luasan_TK) * dtINIT LUASAN_TERUMBU_KARANG = 62.78 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_TK = (Laju_Pertumbuhan_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Upaya_Konservasi _TK OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_TK = (Laju_Degradasi_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Pencemaran NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t - dt) + (Manfaat_3 - Biaya_3) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA = 0 INFLOWS: Manfaat_3 = (Bd_3+Be_3)*DR OUTFLOWS: Biaya_3 = IF(DR>=1)THEN(1184000000)ELSE((Cd_3+Ce_3+Cp_3)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t - dt) + (Manfaat_2 - Biaya_2) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KERANG = 0 INFLOWS: Manfaat_2 = (Bd_2+Be_2)*DR OUTFLOWS: Biaya_2 = IF(DR>=1)THEN(388000000)ELSE((Cd_2+Ce_2+Cp_2)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t) = NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t - dt) + (Manfaat_5 - Biaya_5) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE = 0 INFLOWS: Manfaat_5 = (Bd_5+Be_5)*DR OUTFLOWS: Biaya_5 = IF(DR>=1)THEN(45000000)ELSE((Cd_5+Ce_5+Cp_5)*DR) Lanjutan lampiran 8.a : NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t) = NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t - dt) + (Manfaat_1 - Biaya_1) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_PANCING = 0 INFLOWS: Manfaat_1 = (Bd_1+Be_1)*DR OUTFLOWS: Biaya_1 = IF(DR>=1)THEN(1206400000)ELSE((Cd_1+Ce_1+Cp_1)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t) = NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t dt) + (Manfaat_4 - Biaya_4) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_SELAM = 0 INFLOWS: Manfaat_4 = (Bd_4+Be_4)*DR OUTFLOWS: Biaya_4 = IF(DR>=1)THEN(2190000000)ELSE((Cd_4+Ce_4+Cp_4)*DR) Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove = 0.3*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove Alokasi_Dana_Untuk_Pembangunan_Desa = (0.7*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK)+(0.7*Biaya_Proteksi_Lingk ungan_Pemanfaatan_Mangrove) Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK = 0.3*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK Bd_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2563600000) Bd_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(155200000) Bd_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2893400000) Bd_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2730200000) Bd_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(119000000) Be_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(28817880) Be_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(271600) Be_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(12121200) Be_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(3182800) Be_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(22189700) Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove = Cp_5 Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK = Cp_1+Cp_2+Cp_3+Cp_4 Cd_1 = 1134770000 Cd_2 = 87300000 Cd_3 = 1468900000 Cd_4 = 1547600000 Cd_5 = 50150000 Ce_1 = 149857500 Ce_2 = 1416200 Ce_3 = 63029500 Ce_4 = 16585600 Ce_5 = 25173000 Cp_1 = 47879000*DR Cp_2 = 7178000*DR Cp_3 = 33633000*DR Cp_4 = 53290000*DR Lanjutan lampiran 8.a : Cp_5 = 3230000*DR Fraksi_Fee_Konservasi_Mangrove = 0.00001 Fraksi_Fee_Konservasi_TK = 0.003 Fraksi_Kesadaran_Lingkungan = 0.7 Fraksi_Pencemaran = 0.0000595 Laju_Degradasi_Mangrove = 0.00851 Laju_Degradasi_TK = 0.052 Laju_Pertumbuhan_Mangrove = 0.073 Laju_Pertumbuhan_TK = 0.073 Luas_Mangrove_yang_dikonversi = 8.7 NPV_TAHUNAN_MB_KARAMBA = Manfaat_3-Biaya_3 NPV_TAHUNAN_MB_KERANG = Manfaat_2-Biaya_2 NPV_TAHUNAN_MB_MANGROVE = Manfaat_5-Biaya_5 NPV_TAHUNAN_MB_PANCING = Manfaat_1-Biaya_1 NPV_TAHUNAN_MB_SELAM = Manfaat_4-Biaya_4 NPV_TAHUNAN_TOTAL = NPV_TAHUNAN_MB_PANCING+NPV_TAHUNAN_MB_KERANG+NPV_T AHUNAN_MB_KARAMBA+NPV_TAHUNAN_MB_SELAM+NPV_TAHUN AN_MB_MANGROVE Pencemaran = (Fraksi_Kesadaran_Lingkungan*Penduduk)*Fraksi_Pencemaran Penduduk = 2412 Upaya_Konservasi_Mangrove = (Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove/1500)*Fraksi_Fee_Konservasi_Ma ngrove Upaya_Konservasi_TK = (Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK/50000000)*Fraksi_Fee_Konservasi_TK WAKTU = TIME DR = GRAPH(WAKTU) (0.00, 1.00), (1.00, 0.91), (2.00, 0.83), (3.00, 0.75), (4.00, 0.68), (5.00, 0.62) b. Skenario Pesimistik LUASAN_MANGROVE(t) = LUASAN_MANGROVE(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_Mangrove - Pengurangan_Luasan_Mangrove) * dtINIT LUASAN_MANGROVE = 153.58 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_Mangrove = (Laju_Pertumbuhan_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Upaya_Konservasi_ Mangrove OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_Mangrove = (Laju_Degradasi_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Luas_Mangrove_yang_ dikonversi Lanjutan lampiran 8.b : LUASAN_TERUMBU_KARANG(t) = LUASAN_TERUMBU_KARANG(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_TK - Pengurangan_Luasan_TK) * dtINIT LUASAN_TERUMBU_KARANG = 62.78 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_TK = (Laju_Pertumbuhan_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Upaya_Konservasi _TK OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_TK = (Laju_Degradasi_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Pencemaran NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t - dt) + (Manfaat_3 - Biaya_3) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA = 0 INFLOWS: Manfaat_3 = (Bd_3+Be_3)*DR OUTFLOWS: Biaya_3 = IF(DR>=1)THEN(1184000000)ELSE((Cd_3+Ce_3+Cp_3)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t - dt) + (Manfaat_2 - Biaya_2) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KERANG = 0 INFLOWS: Manfaat_2 = (Bd_2+Be_2)*DR OUTFLOWS: Biaya_2 = IF(DR>=1)THEN(388000000)ELSE((Cd_2+Ce_2+Cp_2)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t) = NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t - dt) + (Manfaat_5 - Biaya_5) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE = 0 INFLOWS: Manfaat_5 = (Bd_5+Be_5)*DR OUTFLOWS: Biaya_5 = IF(DR>=1)THEN(45000000)ELSE((Cd_5+Ce_5+Cp_5)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t) = NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t - dt) + (Manfaat_1 - Biaya_1) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_PANCING = 0 INFLOWS: Manfaat_1 = (Bd_1+Be_1)*DR OUTFLOWS: Biaya_1 = IF(DR>=1)THEN(1206400000)ELSE((Cd_1+Ce_1+Cp_1)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t) = NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t dt) + (Manfaat_4 - Biaya_4) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_SELAM = 0 INFLOWS: Manfaat_4 = (Bd_4+Be_4)*DR OUTFLOWS: Biaya_4 = IF(DR>=1)THEN(2190000000)ELSE((Cd_4+Ce_4+Cp_4)*DR) Lanjutan lampiran 8.b : Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove = 0.1*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove Alokasi_Dana_Untuk_Pembangunan_Desa = (0.9*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK)+(0.7*Biaya_Proteksi_Lingk ungan_Pemanfaatan_Mangrove) Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK = 0.1*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK Bd_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2563600000) Bd_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(155200000) Bd_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2893400000) Bd_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2730200000) Bd_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(119000000) Be_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(28817880) Be_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(271600) Be_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(12121200) Be_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(3182800) Be_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(22189700) Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove = Cp_5 Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK = Cp_1+Cp_2+Cp_3+Cp_4 Cd_1 = 1134770000 Cd_2 = 87300000 Cd_3 = 1468900000 Cd_4 = 1547600000 Cd_5 = 50150000 Ce_1 = 149857500 Ce_2 = 1416200 Ce_3 = 63029500 Ce_4 = 16585600 Ce_5 = 25173000 Cp_1 = 47879000*DR Cp_2 = 7178000*DR Cp_3 = 33633000*DR Cp_4 = 53290000*DR Cp_5 = 3230000*DR Fraksi_Fee_Konservasi_Mangrove = 0.00001 Fraksi_Fee_Konservasi_TK = 0.003 Fraksi_Kesadaran_Lingkungan = 0.7 Fraksi_Pencemaran = 0.0000595 Laju_Degradasi_Mangrove = 0.00851 Laju_Degradasi_TK = 0.052 Laju_Pertumbuhan_Mangrove = 0.073 Laju_Pertumbuhan_TK = 0.073 Luas_Mangrove_yang_dikonversi = 8.7 NPV_TAHUNAN_MB_KARAMBA = Manfaat_3-Biaya_3 NPV_TAHUNAN_MB_KERANG = Manfaat_2-Biaya_2 NPV_TAHUNAN_MB_MANGROVE = Manfaat_5-Biaya_5 Lanjutan lampiran 8.b : NPV_TAHUNAN_MB_PANCING = Manfaat_1-Biaya_1 NPV_TAHUNAN_MB_SELAM = Manfaat_4-Biaya_4 NPV_TAHUNAN_TOTAL = NPV_TAHUNAN_MB_PANCING+NPV_TAHUNAN_MB_KERANG+NPV_T AHUNAN_MB_KARAMBA+NPV_TAHUNAN_MB_SELAM+NPV_TAHUN AN_MB_MANGROVE Pencemaran = (Fraksi_Kesadaran_Lingkungan*Penduduk)*Fraksi_Pencemaran Penduduk = 2412 Upaya_Konservasi_Mangrove = (Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove/1500)*Fraksi_Fee_Konservasi_Ma ngrove Upaya_Konservasi_TK = (Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK/50000000)*Fraksi_Fee_Konservasi_TK WAKTU = TIME DR = GRAPH(WAKTU) (0.00, 1.00), (1.00, 0.87), (2.00, 0.76), (3.00, 0.66), (4.00, 0.57), (5.00, 0.5) c. Skenario Konservatif LUASAN_MANGROVE(t) = LUASAN_MANGROVE(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_Mangrove - Pengurangan_Luasan_Mangrove) * dtINIT LUASAN_MANGROVE = 153.58 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_Mangrove = (Laju_Pertumbuhan_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Upaya_Konservasi_ Mangrove OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_Mangrove = (Laju_Degradasi_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Luas_Mangrove_yang_d ikonversi LUASAN_TERUMBU_KARANG(t) = LUASAN_TERUMBU_KARANG(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_TK - Pengurangan_Luasan_TK) * dtINIT LUASAN_TERUMBU_KARANG = 62.78 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_TK = (Laju_Pertumbuhan_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Upaya_Konservasi _TK OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_TK = (Laju_Degradasi_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Pencemaran NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t - dt) + (Manfaat_3 - Biaya_3) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA = 0 INFLOWS: Manfaat_3 = (Bd_3+Be_3)*DR Lanjutan lampiran 8.c : OUTFLOWS: Biaya_3 = IF(DR>=1)THEN(1184000000)ELSE((Cd_3+Ce_3+Cp_3)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t - dt) + (Manfaat_2 - Biaya_2) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KERANG = 0 INFLOWS: Manfaat_2 = (Bd_2+Be_2)*DR OUTFLOWS: Biaya_2 = IF(DR>=1)THEN(388000000)ELSE((Cd_2+Ce_2+Cp_2)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t) = NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t - dt) + (Manfaat_5 - Biaya_5) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE = 0 INFLOWS: Manfaat_5 = (Bd_5+Be_5)*DR OUTFLOWS: Biaya_5 = IF(DR>=1)THEN(45000000)ELSE((Cd_5+Ce_5+Cp_5)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t) = NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t - dt) + (Manfaat_1 - Biaya_1) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_PANCING = 0 INFLOWS: Manfaat_1 = (Bd_1+Be_1)*DR OUTFLOWS: Biaya_1 = IF(DR>=1)THEN(1206400000)ELSE((Cd_1+Ce_1+Cp_1)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t) = NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t dt) + (Manfaat_4 - Biaya_4) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_SELAM = 0 INFLOWS: Manfaat_4 = (Bd_4+Be_4)*DR OUTFLOWS: Biaya_4 = IF(DR>=1)THEN(2190000000)ELSE((Cd_4+Ce_4+Cp_4)*DR) Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove = 0.5*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove Alokasi_Dana_Untuk_Pembangunan_Desa = (0.5*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK)+(0.7*Biaya_Proteksi_Lingk ungan_Pemanfaatan_Mangrove) Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK = 0.5*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK Bd_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2563600000) Bd_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(155200000) Bd_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2893400000) Bd_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2730200000) Bd_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(119000000) Be_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(28817880) Be_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(271600) Be_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(12121200) Be_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(3182800) Be_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(22189700) Lanjutan lampiran 8.c : Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove = Cp_5 Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK = Cp_1+Cp_2+Cp_3+Cp_4 Cd_1 = 1134770000 Cd_2 = 87300000 Cd_3 = 1468900000 Cd_4 = 1547600000 Cd_5 = 50150000 Ce_1 = 149857500 Ce_2 = 1416200 Ce_3 = 63029500 Ce_4 = 16585600 Ce_5 = 25173000 Cp_1 = 47879000*DR Cp_2 = 7178000*DR Cp_3 = 33633000*DR Cp_4 = 53290000*DR Cp_5 = 3230000*DR Fraksi_Fee_Konservasi_Mangrove = 0.00001 Fraksi_Fee_Konservasi_TK = 0.003 Fraksi_Kesadaran_Lingkungan = 0.7 Fraksi_Pencemaran = 0.0000595 Laju_Degradasi_Mangrove = 0.00851 Laju_Degradasi_TK = 0.052 Laju_Pertumbuhan_Mangrove = 0.073 Laju_Pertumbuhan_TK = 0.073 Luas_Mangrove_yang_dikonversi = 8.7 NPV_TAHUNAN_MB_KARAMBA = Manfaat_3-Biaya_3 NPV_TAHUNAN_MB_KERANG = Manfaat_2-Biaya_2 NPV_TAHUNAN_MB_MANGROVE = Manfaat_5-Biaya_5 NPV_TAHUNAN_MB_PANCING = Manfaat_1-Biaya_1 NPV_TAHUNAN_MB_SELAM = Manfaat_4-Biaya_4 NPV_TAHUNAN_TOTAL = NPV_TAHUNAN_MB_PANCING+NPV_TAHUNAN_MB_KERANG+NPV_T AHUNAN_MB_KARAMBA+NPV_TAHUNAN_MB_SELAM+NPV_TAHUN AN_MB_MANGROVE Pencemaran = (Fraksi_Kesadaran_Lingkungan*Penduduk)*Fraksi_Pencemaran Penduduk = 2412 Upaya_Konservasi_Mangrove = (Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove/1500)*Fraksi_Fee_Konservasi_Ma ngrove Upaya_Konservasi_TK = (Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK/50000000)*Fraksi_Fee_Konservasi_TK WAKTU = TIME DR = GRAPH(WAKTU) (0.00, 1.00), (1.00, 0.93), (2.00, 0.86), (3.00, 0.79), (4.00, 0.74), (5.00, 0.68) Lampiran 9 Matriks strategi dan kebijakan untuk keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir No 1. 2. Dimensi / Aspek Ekosistem terumbu karang. Upaya konservasi ekosistem terumbu karang Strategi Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem terumbu karang. Menambah populasi dan memulihkan kondisi ekosistem terumbu karang. Melarang aktivitas yang dapat merusak terumbu karang. 3. Ekosistem mangrove. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove Kebijakan / Kegiatan Institusi / Lembaga Pelaksana • Melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat tentang fungsi dan peranan ekosistem terumbu karang. Lembaga Pengelola, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata. LSM. • Memasang seruan kesadaran berlingkungan di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Pemerintah Desa. • Membuat terumbu karang buatan (artificial reef) di sekitar kawasan objek minawisata bahari. • Menetapkan area rehabilitasi karang. Lembaga Pengelola, LIPI, Perguruan Tinggi. Lembaga Pengelola, Pemerintah Desa. • Melakukan penanaman (transplantasi karang) pada area rehabilitasi karang. Lembaga Pengelola, LIPI, Perguruan Tinggi. • Memasang papan Lembaga Pengelola. pengumuman tentang pelarangan pengrusakan karang sekitar kawasan objek minawisata bahari.. • Menetapkan sanksi bagi perusak karang. Lembaga Pengawas. • Melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat tentang fungsi dan peranan hutan mangrove. Lembaga Pengelola, Dinas Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata, LSM. • Menetapkan jalur hijau bagi batas permukiman di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Pemerintah Desa. • Melarang aktifitas pembangunan pada areal hutan mangrove. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Pemerintah Desa. Lanjutan Lampiran 9 : 4. Upaya konservasi ekosistem mangrove Menambah populasi dan memulihkan kondisi hutan mangrove. Melarang aktivitas yang dapat merusak hutan mangrove. 5. 6. Lingkungan perairan. Sumberdaya ikan dan kerang. Meminimasi pembuangan sampah/limbah ke lingkungan perairan . Menambah ketersediaan jumlah ikan dan kerang di dalam kawasan objek minawisata bahari. • Menetapkan area rehabilitasi mangrove di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Pemerintah Desa, • Melakukan penanaman anakan mangrove pada area rehabilitasi mangrove. Lembaga Pengelola, Dishut, DKP, masyarakat, LSM. • Memasang papan pengumuman tentang pelarangan pengrusakan mangrove di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola. • Menetapkan sanksi bagi perusak mangrove. Lembaga Pengawas. • Melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat tentang dampak negatif dari sampah/limbah terhadap sanitasi dan estetika lingkungan perairan. Lembaga Pengelola, Bapedalda, LSM. • Menetapkan aturan pembuangan sampah di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola. • Menetapkan sanksi bagi pelanggaran terhadap aturan pembuangan sampah. Lembaga Pengawas. • Meminta instansi yang berkompeten (Loka Budidaya Laut) untuk menyediakan bibit ikan. Lembaga Pengelola, Loka Budidaya Laut. • Melakukan penebaran bibit ikan ke dalam perairan (restocking) di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Loka Budidaya Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan, masyarakat Lanjutan Lampiran 9 : 7. 8. 9. Perekonomian masyarakat dan daerah. Sosial Budaya Kelembagaan Pengembangan berbagai peluang usaha mandiri di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Pengembangan kapasitas masyarakat. Peningkatan fasilitas penunjang objek minawisata bahari. • Mendorong masyarakat untuk terlibat langsung menyediakan unit usaha minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Perbankan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata. • Mondorong masyarakat untuk mengembangkan usaha mandiri di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Perbankan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan. • Melakukan pelatihan pemandu wisata bagi masyarakat. Lembaga Pengelola, Dinas Pariwisata, LSM. • Mendorong masyarakat untuk terlibat langsung sebagai tenaga kerja aktif disemua objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Dinas Tenaga Kerja, LSM. • Mondorong masyarakat untuk mempromosikan budaya setempat. Lembaga Pengelola, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. • Mendorong masyarakat untuk menciptakan situasi yang kondusif. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Aparat Keamanan. • Menyediakan fasilitas dan menjaga semua fasilitas penunjang objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas. • Menjalin hubungan baik dan kerjasama dengan semua pemangku kepentingan (stakeholder) objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Pemerintah Desa. Lampiran 10 Foto Dokumentasi Penelitian a. Foto bagian selatan Pulau Dullah dengan latar belakang Teluk Un. b. Foto lokasi wisata di bagian utara Pulau Dullah (Pantai Diffur). Lanjutan lampiran 10 : c. Foto saat wawancara dengan nelayan Pulau Dullah d. Foto salah satu sisi dari Teluk Un saat air laut mulai surut 98 ABSTRACT ABDUL HARIS. Design of Marine Fishery-Tourism Management on Small Island Based Conservation: Case Dullah Island - Tual City - Moluccas Province. Under direction of LUKY ADRIANTO, DIETRIECH G. BENGEN, and MENNOFATRIA BOER. A research was conducted in Un Bay and Vid Bangir Bay in Dullah Island Tual City - Moluccas Province. These regions have potential coastal and marine resources for development of marine fishery-tourism. The research was conducted from October 2008 to October 2009. Study purposes were to analyze potential and condition of ecosystems and coastal resources, biophysical condition of Dullah Island especially in Un Bay and Vid Bangir Bay and to evaluate ecological integrity and economic potential of the resources utilization through conservation based marine fishery-tourim of small island. Land suitability for marine fisherytourism activities was obtained using geographical information system (GIS), determination of space utilization priorities was obtained using multi-criteria decision making and simple multi-attribute rating techniques. Land capability to support marine fishery-tourism activity was obtained through physical carrying capacity and ecological carrying capacity analysis. Economic value of coral reefs and mangrove ecosystems was approached using resources economic valuation, while economic feasibility was analyzed using NPV and B/C ratio approaches. In addition, management sustainability was analyzed using ecological-economic integration through a dynamic modeling approach. Results of dynamic modeling simulations for base-model showed that in the fifth year all marine fishery-tourism business units were able to produce benefits with NPV total annual value Rp.9.658.005.207, extension of coral reefs areas to 6.36195 ha and mangrove ecosystem to 6.88131 ha. Pessimistic scenario showed that in the fifth year, all marine fishery-tourism business units produced benefits with NPV total annual value Rp.8.029.639.188, extension of coral reefs areas to 6.35242 ha and mangrove ecosystem to 6.85992 ha. Furthermore, conservative scenario showed that in the fifth year all tourism business units produced benefits with amounted NPV total annual value to Rp.10.449.128.413, extension of coral reefs areas to 6.37004 ha, and mangrove ecosystem to 6.90371 ha. The above results implied the need for adopting government policies that supported by integrated and simultaneous programs in order to achieve an optimal marine fishery-tourism management objective in Un Bay and Vid Bangir Bay. Key words: marine fishery-tourism, conservation-based management model, Dullah Island, land suitability, carrying capacity. . 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Tual adalah salah satu kota kepulauan yang ada di Provinsi Maluku dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup melimpah serta potensi pariwisata yang cukup mempesona. Disebut Kota Kepulauan karena wilayah daratan Kota Tual meliputi 66 buah pulau dimana keseluruhannya adalah merupakan pulau-pulau kecil. Luas wilayah administratif kota ini ± 19.095,84 km2, dengan luas lautan ± 18.743,55 km2 (98,16%) dan luas daratan hanya ± 352,29 km2 (1,84%). Jumlah penduduk Kota Tual pada tahun 2009 adalah 70.367 jiwa. Untuk sektor kelautan dan perikanan, tercatat bahwa produksi perikanan Kota Tual pada tahun 2007 adalah sebesar 134.978,1 ton dengan total nilai produksi sebesar Rp.601.945.584,00. Bila dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya dimana produksi perikanan yang dicapai pada tahun 2005 adalah sebesar 131.353,9 ton, maka dari sisi produksi telah terjadi peningkatan sebanyak 3.624,2 ton. (DKP Kabupaten Maluku Tenggara, 2008). Sedangkan untuk sektor pariwisata, tercatat bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke 35 lokasi objek wisata di Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk 11 lokasi objek wisata di Kota Tual) pada tahun 2008 adalah sebanyak 21.256 orang. Wisatawan tersebut masuk melalui 2 pintu yaitu Bandara Dumatubun di Langgur (Pulau Kei Kecil) dan Pelabuhan Yos Sudarso di Tual (Pulau Dullah) yang sebelum pemekaran wilayah kedua pintu masuk tersebut berada dalam wilayah administratif Kecamatan Kei Kecil dengan pusatnya di Kota Tual sebagai ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dimana jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun 2007 adalah sebanyak 16.170 orang, maka telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebanyak 5.086 orang (DPK Kabupaten Maluku Tenggara, 2009). Disamping potensi kelautan dan perikanan serta potensi pariwisata tersebut, Kota Tual juga memiliki potensi sumberdaya pulau-pulau kecil dimana terdapat 66 pulau yang berada dalam gugusan Kepulauan Kei. Jumlah 2 pulau yang keseluruhannya merupakan pulau kecil tersebut tentunya memerlukan suatu model pengelolaan yang didasarkan atas kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan. Dalam konteks pembangunan kelautan dan perikanan di Kota Tual, penentuan model pengelolaan pulau-pulau kecil merupakan hal yang sangat penting karena dengan keberadaan pulau-pulau kecil inilah maka eksistensi sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata di Kota Tual menjadi sangat strategis. Dengan demikian, penting untuk dipahami seberapa besar dukungan keberadaan pulau-pulau kecil terhadap keberlangsungan sumberdaya kelautan dan perikanan serta pariwisata, oleh karena itu model pengelolaan pulau-pulau kecil hendaknya didasarkan atas kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan, sehingga pada akhirnya pengelolaan pulaupulau kecil sebagai wujud dari pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan diharapkan dapat menjadi faktor pendukung pembangunan kelautan dan perikanan serta kepariwisataan Kota Tual secara berkelanjutan. Pulau Dullah adalah salah satu pulau dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada dalam wilayah administratif Kota Tual. Luas Pulau Dullah ± 98,38 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 adalah 57.941 jiwa. Pulau ini memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang cukup besar antara lain perikanan tangkap dan perikanan budidaya, serta ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan ekosistem lamun yang masih bagus kondisinya dengan tingkat kesesuaian yang tinggi bagi pengembangan sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. Dari aktivitas perikanan yang berbasis di Pulau Dullah, jumlah produksi perikanan yang dihasilkan pada tahun 2007 tercatat sebesar 130.372,2 ton dengan total nilai produksi sebesar Rp.578.948.732,00 atau 96,59% dari total produksi perikanan Kota Tual. Bila dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya dimana produksi perikanan yang dicapai pada tahun 2005 adalah sebesar 109.159,8 ton dengan total nilai produksi sebesar Rp.668.904.335,00 maka dari sisi produksi telah terjadi peningkatan sebanyak 21.212,4 ton (DKP Kabupaten Maluku Tenggara, 2008). 3 Demikian pula dengan sektor pariwisata, jumlah wisatawan yang berkunjung di beberapa objek wisata di Pulau Dullah pada tahun 2008 tercatat sebanyak 9.046 orang atau 42,56% dari total kunjungan wisatawan ke Kabupaten Maluku Tenggara termasuk juga ke Kota Tual. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dimana jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun 2007 adalah sebanyak 7.253 orang, maka telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebanyak 1.793 orang (DPK Kabupaten Maluku Tenggara, 2009). Sisi Barat dari pulau ini merupakan daerah pantai yang terlindung oleh beberapa pulau kecil di depannya, sepanjang pantai sisi Barat pulau ini sangat potensial bagi pengembangan pelabuhan dan industri perikanan. Pada sisi Utara pulau ini terdapat sebuah teluk yang memiliki keindahan pantai dengan ekosistem pesisir yang masih bagus kualitasnya, kawasan ini sangat cocok dan dapat dikembangkan untuk lokasi wisata bahari. Sisi Selatan pulau ini merupakan selat dengan beberapa bagian memiliki teluk dengan kondisi perairan yang relatif tenang dan kualitas perairan yang masih baik sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi budidaya laut dan lokasi wisata bahari. Selain itu, berdasarkan hasil kajian sebelumnya tentang identifikasi calon Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Provinsi Maluku yang dilakukan pada tahun 2006 oleh Marine and Environmental Research and Development Insitute (MERDI) sebagai konsultan teknis Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, terlihat bahwa hasil kajian tersebut telah menjustifikasi perairan sekitar Pulau Dullah khususnya di perairan Teluk Un sebagai kawasan yang patut dilindungi karena merupakan daerah sumber (source) terutama yang berkaitan dengan distribusi bibit kehidupan (propagule ‘misalnya larva’) yang mengendalikan keberlangsungan kehidupan di perairan sekitarnya, sehingga harus dikelola secara bijaksana dengan menyeimbangkan antara kegiatan pembangunan dan konservasi agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitarnya. Dengan melihat kondisi tersebut maka salah satu model pengelolaan pulau-pulau kecil yang dapat dikembangkan di Pulau Dullah khususnya di 4 kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah minawisata bahari yaitu dengan mengintegrasikan potensi perikanan tangkap, perikanan budidaya dan wisata bahari dalam suatu model pengelolaan terpadu dan berbasis konservasi. Dalam konteks ini, yang menjadi variabel konservasi dalam dimensi ekologi (analisis kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lingkungan) adalah alokasi ruang (spatial) dimana ruang untuk pengembangan minawisata bahari berbasis konservasi dibatasi dengan kapasitas lahan yaitu 30% dari luas lahan yang sesuai untuk berbagai kategori aktivitas minawisata bahari. Selanjutnya yang menjadi variabel konservasi dalam dimensi ekonomi (analisis manfaat-biaya) adalah alokasi waktu (temporal) dimana waktu untuk memanfaatkan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dibatasi dengan memberikan jeda waktu agar ekosistem dan sumberdaya yang ada tersebut memiliki kesempatan untuk memulihkan kondisinya (recovery) secara alami. Kedua variabel tersebut diatas diharapkan dapat menjawab makna dari pengelolaan berbasis konservasi yaitu untuk perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan kesinambungan sumberdaya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Keterpaduan pengelolaan yang berbasis konservasi ini dibutuhkan dalam pengelolaan dan pemanfaatan ruang dan sumberdaya pesisir dan lautan Pulau Dullah karena fungsi dan peran Pulau Dullah sangatlah penting baik bagi kehidupan ekosistem sekitar maupun bagi kelangsungan hidup masyarakatnya baik disaat sekarang maupun dimasa yang akan datang. Selain itu Pulau Dullah juga sangat strategis karena merupakan Ibukota dari Pemerintahan Kota Tual dimana berlangsung berbagai aktivitas pembangunan yang cenderung memberikan tekanan bagi ekosistem dan sumberdaya yang ada. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan suatu kajian mengenai “rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi” dengan tujuan mengintegrasikan potensi sumberdaya yang ada untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan pulau-pulau kecil secara terpadu, berkelanjutan dan berbasis konservasi. 5 1.2 Perumusan Masalah Pulau Dullah sebagai pulau terbesar dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di dalam wilayah administratif Kota Tual, memiliki potensi sumberdaya alam yang masih tergolong baik. Hal ini ditandai dengan keberadaan tiga ekosistem utama wilayah pesisir dan laut yaitu ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem lamun yang masih bagus kondisinya, belum lagi potensi sumberdaya ikan dan non ikan yang tersebar di perairan yang merupakan satu kesatuan ekologis dalam gugusan pulau-pulau kecil tersebut. Melihat potensi sumberdaya yang dimiliki dan peluang pengembangannya serta kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, maka terdapat 2 hal yang teridentifikasi sebagai isu pembangunan yang berkembang saat ini yang merupakan kendala dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya yang ada di Pulau Dullah yaitu : 1. Sampai saat ini pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah belum terpadu dan masih bersifat sektoral terutama pemanfaatan potensi perikanan dan pariwisata. Apalagi dengan pemekaran Kota Tual, tentunya penduduk Pulau Dullah akan semakin bertambah dan aktivitas pembangunan akan semakin tinggi sehingga cenderung memberikan tekanan terhadap ekosistem dan sumberdaya yang ada, maka untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya tersebut dibutuhkan suatu bentuk keterpaduan pengelolaaan yang berbasis konservasi. 2. Dengan pemekaran Kota Tual tersebut, maka dapat dipastikan dalam beberapa tahun ke depan hampir seluruh lahan akan terpakai untuk berbagai aktivitas pembangunan, apalagi Pulau Dullah tergolong dalam kategori pulau kecil sehingga perlunya efisiensi pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut terutama pemanfaatan potensi perikanan dan pariwisata dengan mengembangkan model keterpaduan yang berbasis konservasi. 1.3 Kerangka Pendekatan Masalah Sudah menjadi realitas bahwa wilayah kepulauan yang memiliki luas lautan lebih besar dari pada daratan akan bertumpu pada pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan serta pariwisata dalam menopang pertumbuhan dan roda perekonomian wilayah tersebut. Demikian halnya 6 dengan Kota Tual, karena memiliki perairan yang jauh lebih luas dari daratan serta memiliki 66 buah pulau-pulau kecil, maka potensi pengembangan wilayah ini tentunya berada pada sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. Dalam konsep pembangunan kelautan dan perikanan serta pariwisata di wilayah yang banyak memiliki pulau-pulau kecil seperti di Kota Tual ini, maka hal yang tepat untuk dilakukan adalah pendekatan keterpaduan pengelolaan yang berbasis konservasi. Dalam merancang bangun pengelolaannya, minimal keterpaduan ini dapat mengintegrasikan aktivitas perikanan dan wisata bahari yang akan dikembangkan pada pulau-pulau berpotensi. Untuk mendukung konsep ini, maka perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan dengan menggunakan alokasi ruang (spatial) sebagai variabel konservasi terhadap kondisi fisik Pulau Dullah. Tahapan selanjutnya adalah melakukan valuasi ekonomi dan analisis manfaat-biaya dengan menggunakan alokasi waktu (temporal) sebagai variabel konservasi non fisik. Kemudian rancang bangun pengelolaan tersebut dimodelkan dengan menggunakan pemodelan dinamik untuk mendapatkan model optimal dari pengelolaan terpadu yang berbasis konservasi. Diagram alir kerangka pendekatan masalah seperti ditunjukan pada Gambar 1. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Agar dapat mencapai hasil yang maksimal, maka ruang lingkup penelitian ini perlu dibatasi hanya pada kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan di Pulau Dullah yaitu di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sehingga rancang bangun pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi difokuskan hanya didalam kawasan tersebut saja. 1.5 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Merancang bangun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah dengan model minawisata bahari pulau kecil yang mengintegrasikan kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan wisata bahari dalam satu model pengelolaan terpadu. 7 EKOSISTEM PPK PULAU DULLAH PRODUK EKOSISTEM ( ECOSYSTEM GOODS ) JASA LINGKUNGAN ( ENVIRONMENTAL SERVICE ) POTENSI PERIKANAN • Perikanan Tangkap • Perikanan Budidaya TEKANAN PENDUDUK • • Pemanfaatan lahan dan sumberdaya Pencemaran lingkungan oleh aktivitas penduduk Variabel Konservai : Spatial • Kesesuaian Lahan • Daya Dukung Lingkungan • Alokasi Ruang POTENSI PARIWISATA • Wisata Pantai • Wisata Bahari PEMANFAATAN POTENSI PERIKANAN DAN POTENSI PARIWISATA AKTIVITAS PEMBANGUNAN • PERM AS AL AH AN • Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut terutama potensi perikanan dan potensi pariwisata belum terintegrasi. • Perlunya efisiensi pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut khususnya potensi perikanan dan potensi pariwisata. RANCANG BANGUN MODEL PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI BERBASIS KONSERVASI • Konversi lahan untuk berbagai peruntukan pembangunan Degradasi lingkungan oleh aktivitas pembangunan Variabel Konservasi : Temporal • Valuasi Ekonomi • Manfaat-Biaya • Sosial dan Kelembagaan SKENARIO MODEL PENGELOLAAN RUNNING MODEL PENGELOLAAN TIDAK OPTIMAL OPTIMAL IMPLIKASI KEBIJAKAN MODEL PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI BERBASIS KONSERVASI Gambar 1 Diagram alir kerangka pendekatan masalah. 8 2. Mengkaji keterpaduan ekologi-ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah berbasis minawisata bahari pulau kecil dengan pendekatan konservasi. 1.6 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil secara terpadu, khususnya bagi Pemerintah Kota Tual dan umumnya bagi Pemerintah Provinsi Maluku serta Pemerintah Provinsi lainnya di Indonesia yang memiliki sumberdaya pulau-pulau kecil. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pulau-Pulau Kecil Menurut United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982, Bab VIII pasal 121 ayat 1) Pulau adalah massa daratan yang terbentuk secara alami, di kelilingi oleh air dan selalu berada atau muncul di atas permukaan air pada saat pasang tinggi (United Nation 1983). Dari definisi tersebut, selanjutnya dapat kita lihat lebih lanjut apa yang dimaksud dengan pulau kecil. Towle (1979) in Debance (1999) menggunakan definisi pulau kecil menurut The Commonwealth Secretary yaitu pulau yang memiliki luas kurang dari 10.000 km2 dan penduduk kurang dai 500.000 jiwa. Selanjutnya dengan berlandaskan pada kepentingan hidrologi (ketersediaan air tawar) ditetapkan batasan tentang pulau kecil oleh para ilmuwan. Menurut para ilmuwan, yang dimaksud dengan Pulau Kecil adalah pulau dengan ukuran kurang dari 1.000 km2 atau lebarnya kurang dari 10 km. Namun demikian, ternyata banyak pulau yang berukuran antara 1.000 dan 2.000 km2 memiliki karakteristik dan permasalahan yang sama dengan pulau yang ukurannya kurang dari 1.000 km2, sehingga diputuskan oleh UNESCO (1991) bahwa batasan pulau kecil adalah pulau dengan luas area kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. Hal ini sejalan dengan batasan pulau kecil yang ditetapkan kemudian dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar, dimana disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pulau Kecil adalah pulau dengan luas area kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. Definisi tentang batasan pulau kecil ini kemudian dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dimana dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 beserta kesatuan ekosistemnya. Dari uraian di atas, selanjutnya yang dimaksud dengan Pulau-Pulau Kecil atau Gugusan Pulau-Pulau Kecil adalah kumpulan pulau-pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial dan budaya (DKP-RI 2001). 10 2.1.1 Karakteristik Ekosistem dan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil Menurut DKP-RI (2001) bahwa terdapat 4 karakteristik pulau-pulau kecil yaitu (1) secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas dan terisolasi dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular; (2) memiliki proporsi spesies endemik lebih besar daripada yang terdapat di pulau induk; (3) daerah tangkapan air (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut, akibatnya pulau kecil selalu peka terhadap kekeringan dan kekurangan air; dan (4) dari segi sosial ekonomi budaya, masyarakat pulau-pulau kecil bersifat khas. Selanjutnya Adrianto (2004) mengemukakan bahwa dalam konteks faktor lingkungan, Hall (1999) membagi persoalan lingkungan di pulau-pulau kecil menjadi 2 kategori yaitu (1) persoalan environmental problems); dan (2) lingkungan secara umum (common persoalan lingkungan lokal (local environmental problems). Persoalan lingkungan secara umum didefinisikan sebagai persoalan yang terjadi hampir di seluruh pulau-pulau kecil di dunia. Persoalan ini mencakup limbah lokal, persoalan perikanan, kehutanan, penggunaan lahan dan persoalan hak ulayat pulau. Persoalan limbah terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang menjadi penduduk pulau kecil, sementara untuk persoalan yang menyangkut kegiatan perikanan, penangkapan ikan berlebih dan merusak telah menjadi indikasi umum dari terjadinya kerusakan kualitas sumberdaya perikanan dan lingkungan laut di pulau-pulau kecil. Sumberdaya lahan daratan seperti hutan juga merupakan persoalan lingkungan yang secara luas terjadi pulau-pulau kecil. Penebangan pohon yang tidak terkendali, kebakaran hutan dan beberapa dampak turunan seperti erosi dan hilangnya keanekaragaman hayati hutan merupakan salah satu karakteristik persoalan ini. Selain itu, persoalan tata guna lahan dan hak ulayat juga tergolong dalam persoalan lingkungan yang secara luas terjadi di pulau-pulau kecil. Pengaturan penggunaan lahan secara komprehensif dan tepat sesuai dengan peruntukannya merupakan prasyarat utama bagi pengelolaan lahan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Kategori persoalan lingkungan yang kedua di pulau-pulau kecil adalah persoalan lokal, yang terdiri dari hilangnya tanah baik secara fisik maupun kualitas, kekurangan air, limbah padat dan bahan kimia beracun dan problem 11 spesies langka. Kehilangan tanah baik dalam arti fisik maupun kualitas (kesuburan) terjadi karena erosi lahan yang juga terjadi di berbagai wilayah lainnya. Demikian juga dengan persoalan air bersih, banyak pulau-pulau kecil yang tidak memiliki cadangan air bersih yang cukup sehingga dalam beberapa hal perlu dilakukan teknik desalinisasi dari air laut ke air tawar. Limbah padat khususnya yang terkait dengan konsumsi penduduk pulau juga menjadi salah satu persoalan umum di pulau-pulau kecil (Hall 1999 in Adrianto 2004). Karakteristik lain adalah bahwa pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap bencana alam (natural disaster) seperti angin topan, gempa bumi dan banjir (Briguglio 1995; Adrianto and Matsuda 2002). 2.1.2 Potensi dan Kendala Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Secara umum, sumberdaya alam yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil terdiri atas sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources), sumberdaya tidak dapat pulih (nonrenewable resources), dan jasa-jasa lingkungan (environmental services). Sumberdaya yang dapat pulih terdiri dari berbagai jenis ikan, plankton, bentos, moluska, mamalia laut, rumput laut (seaweed), lamun (seagrass), mangrove, terumbu karang dan krustasea. Sumberdaya yang tidak dapat pulih meliputi minyak bumi dan gas, mineral, bahan tambang/galian seperti biji besi, pasir, timah, bauksit serta bahan tambang lainnya, sedangkan yang termasuk jasajasa lingkungan adalah pariwisata dan perhubungan laut (Dahuri 1998). Dahuri (1998) menjelaskan bahwa pulau-pulau kecil memiliki satu atau lebih ekosistem dan sumberdaya pesisir. Ekosistem pesisir tersebut dapat bersifat alamiah ataupun buatan (man-made). Ekosistem alami yang terdapat di pulaupulau kecil, antara lain; terumbu karang (coral reef), hutan mangrove, padang lamun (seagrass beds), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan, antara lain; kawasan pariwisata, kawasan budidaya dan kawasan permukiman. Selanjutnya dijelaskan bahwa potensi sumberdaya ikan di kawasan pulaupulau kecil terkenal sangat tinggi, hal ini didukung oleh ekosistem yang kompleks dan sangat beragam. Perairan karang merupakan ekosistem yang subur yang banyak di huni oleh beranekaragam sumberdaya hayati. Selain itu ekosistem 12 terumbu karang dengan keunikan dan keindahannya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata bahari. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem utama pulau-pulau kecil yang sangat berperan bagi sumberdaya ikan di kawasan tersebut dan sekitarnya maupun bagi masyarakat sekitarnya. Ekosistem mangrove berfungsi sebagai tempat mencari makan bagi ikan, tempat memijah, tempat berkembangbiak dan sebagai tempat memelihara anak. Ekosistem mangrove juga dapat berfungsi sebagai penahan abrasi yang disebabkan oleh gelombang dan arus, selain itu ekosistem ini juga secara ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai bahan kayu bakar dan bahan membuat rumah (Dahuri 1998). Sumberdaya rumput laut banyak dijumpai di pulau-pulau kecil, hal ini karena kebanyakan wilayah pesisir di kawasan ini mempunyai perairan yang subur dan dangkal serta mempunyai ombak yang relatif kecil. Rumput laut merupakan sumberdaya alam yang mempunyai nilai komersial yang tinggi di samping sumberdaya perikanan. Sumberdaya ini banyak dibudidayakan oleh penduduk sekitar sebagai mata pencaharian mereka. Dahuri (1998) menjelaskan bahwa potensi jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil seperti pariwisata bahari dan perhubungan laut merupakan potensi yang mempunyai nilai tinggi bagi peningkatan pendapatan masyarakat sekitar maupun pendapatan nasional. Dengan keanekaragaman dan keindahan yang terdapat di pulau-pulau kecil tersebut merupakan daya tarik tersendiri di dalam pengembangan pariwisata. Beberapa karakteristik ekosistem pulau-pulau kecil yang dapat merupakan kendala bagi pembangunan adalah: 1) Ukuran yang kecil dan terisolasi, sehingga penyediaan sarana dan prasarana menjadi sangat mahal dan sumberdaya manusia yang handal menjadi langka. 2) Kesukaran atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan dalam hal administrasi, usaha produksi, dan transportasi turut menghambat pembangunan hampir semua pulau-pulau kecil di dunia (Brookfield 1990; Hein 1990; Dahuri 1998). 3) Ketersediaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan, seperti air tawar, vegetasi, tanah, ekosistem pesisir dan satwa liar, pada akhirnya akan 13 menentukan daya dukung suatu sistem pulau kecil dan menopang kehidupan manusia dan segenap kegiatan pembangunan. 4) Produktivitas sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di setiap unit ruang (lokasi) di dalam pulau dan yang terdapat di sekitar pulau (seperti ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) saling terkait erat satu sama lain (Mc Elroy et al. 1990; Dahuri 1998). 5) Budaya lokal kepulauan kadangkala bertentangan dengan kegiatan pembangunan. Berdasarkan beberapa kendala tersebut, bukan berarti pulau-pulau kecil tidak dapat dibangun atau dikembangkan, melainkan pola pembangunannya harus mengikuti kaidah-kaidah ekologis, khususnya adalah bahwa tingkat pembangunan secara keseluruhan tidak boleh melebihi daya dukung suatu pulau, dampak negatif pembangunan hendaknya ditekan seminimal mungkin sesuai dengan kemampuan ekosistem pulau. Selain itu, setiap kegiatan pembangunan yang akan dikembangkan di suatu pulau seyogyanya memenuhi skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan serta sesuai dengan budaya lokal (Dahuri 1998). 2.1.3 Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Cicin Sain (1993) in Adrianto (2004) mengemukakan bahwa strategi pengelolaan lingkungan di pulau-pulau kecil sudah sejak lama dilakukan secara parsial dan individualistik. Strategi pengelolaan seperti ini gagal memahami bahwa seluruh komponen kegiatan di pulau-pulau kecil terkait satu sama lain dan bahwa interaksi dan hasil dari seluruh kegiatan di pulau-pulau kecil dapat menciptakan reaksi berganda sekaligus berantai dari persoalan dan tekanan terhadap ekosistem dan komunitas di pulau-pulau kecil. Selanjutnya dikatakan bahwa seluruh kegiatan sosial ekonomi masyarakat di pulau-pulau kecil memiliki dampak langsung terhadap lingkungan daratan dan laut. Selain itu pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap bencana alam seperti angin topan, gempa bumi, dan kenaikan permukaan laut. Dalam konteks ini maka Cambers (1992) in Adrianto (2004) menganjurkan bahwa strategi pengelolaan pulau-pulau kecil harus dapat mengkaitkan seluruh kegiatan dan stakeholders yang ada di pulau-pulau kecil dengan menggunakan pendekatan terkoordinasi. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam sistem pulau-pulau 14 kecil paling tidak terdapat 5 proses, yaitu proses alam, proses sosial, proses ekonomi, perubahan iklim, dan proses pertemuan antara daratan dan laut yang masing-masing merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari 3 komponen pulaupulau kecil yaitu sistem lingkungan daratan, sistem lingkungan laut, dan sistem aktikvitas manusia, sehingga harus dikelola secara terpadu. Dalam konteks keterpaduan, maka pendekatan berbasis keberlanjutan sistem wilayah pesisir di pulau-pulau kecil menjadi sebuah syarat mutlak. Bengen (2002a) mengatakan bahwa pentingnya pengelolaan pulau-pulau kecil secara terpadu karena: ukuran pulau kecil yang terbatas, sehingga pulau kecil tidak berdiri sendiri tetapi memiliki keterkaitan fungsional sebagai gugus pulau; adanya keterkaitan ekologis antar ekosistem pesisir; pemanfaatan sumberdaya pesisir yang beragam (dapat menimbulkan berbagai konflik); pulaupulau kecil dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat dengan preferensi yang berbeda; dan adanya sifat common property dari sumberdaya pesisir. Lebih lanjut dikatakan bahwa pengelolaan terpadu adalah pengelolaan secara komprehensif dengan memperhatikan secara mendalam dan menyeluruh sumberdaya alam yang unik; mengoptimalkan pemanfaatan serbaneka ekosistem dan sumberdaya alam pesisir dan laut; mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya dalam pengelolaan; serta meningkatan pendekatan interdisiplin dan koordinasi antar sektor dalam masalah pesisir. Sedangkan target pengelolaan pulau-pulau kecil adalah untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas sumberdaya dan lingkungan pesisir, serta meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Dalam kaitannya dengan program pemanfaatan pulau-pulau kecil di Indonesia, maka yang diperlukan adalah beberapa aspek normatif, akurat dan data baru. Berdasarkan kondisi, potensi dan peluang dalam optimasi sumberdaya maka Hidayat (1998) mengusulkan beberapa bahan pertimbangan sebagai berikut: (1) keterpaduan dan keberlanjutan; (2) pemberian nilai ekonomi lingkungan; (3) penataan ruang; (4) pengamanan fungsi lindung; (5) pemberdayaan masyarakat setempat; (6) peningkatan pendapatan masyarakat; (7) pengendalian pencemaran dan kualitas air; dan (8) pembangunan kawasan pemukiman. 15 Dalam konteks arahan pengelolaan pulau-pulau kecil, kegiatan pemanfaatannya hanya diperuntukan bagi kegiatan berbasis konservasi. Artinya, pemanfaatan untuk berbagai kegiatan yang bersifat eksploratif-destruktif tidak disarankan untuk dilaksanakan. Hal ini mengingat bahwa pulau-pulau kecil memiliki sejumlah kendala dan karakteristik yang sangat berbeda dengan pengelolaan pulau-pulau besar (mainland). Atas dasar karakteristik pulau-pulau kecil, maka arahan peruntukan dan pemanfaatannya hanya beberapa kegiatan yang dapat memanfaatkan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil, antara lain perikanan tangkap, perikanan budidaya laut, dan pariwisata (Bengen 2002b; Fauzi dan Anna 2005). Kriteria dari beberapa kegiatan tersebut seperti ditunjukan pada Tabel 1. Selanjutnya uraian dari kriteria umum untuk penentuan pemanfaatan pulau-pulau kecil seperti ditunjukan pada Lampiran 2. 2.2 Pulau Dullah Sebagai Pulau Kecil Pulau Dullah adalah salah satu pulau dari gugusan pulau-pulau yang terdapat di dalam wilayah administratif Kota Tual. Pulau Dullah memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang cukup besar dengan tingkat kesesuaian yang tinggi bagi pengembangan sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. Sebagian besar desa yang berada di Pulau Dullah adalah merupakan desa pesisir dengan mata pencaharian utama penduduk nya adalah sebagai nelayan. Luas pulau Dullah ±98,38 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun tahun 2009 adalah 57.941 jiwa. Dengan luas daratan yang hanya ±98,38 km2 maka Pulau Dullah tergolong dalam kategori pulau kecil. Sisi Barat dari pulau ini merupakan pantai yang terlindung oleh beberapa pulau kecil di depannya, sepanjang pantai sisi Barat pulau ini sangat potensial bagi pengembangan pelabuhan dan industri perikanan. Sebagian besar penduduk yang mendiami sisi Barat pulau ini adalah merupakan masyarakat nelayan walaupun pada umumnya masih merupakan nelayan tradisional, selain itu terdapat sebuah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) yang dibangun untuk mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan (DPK Provinsi Maluku 2006c). Pada sisi Utara pulau ini terdapat sebuah teluk yang memiliki keindahan pantai dengan beberapa ekosistem pesisir yang masih bagus kualitasnya, kawasan 16 Tabel 1 Kriteria kegiatan yang memanfaatkan sumberdaya pulau-pulau kecil No Kegiatan Kriteria 1. Perikanan Tangkap 1. Jauh dari zona budidaya. 2. Berjarak aman dari kawasan-kawasan lainnya, yang didasarkan atas tipe pasut dan kecepatan arus yang ditentukan. 3. Keberadaan front, yaitu pertemuan dua massa air yang berbeda karakteristiknya. 4. Kondisi geografis yang sesuai dengan peruntukannya. 5. Karakteristik fisik yang sesuai dengan peruntukannya. 6. Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan perikanan di pantai dilaksanakan dengan tidak mengubah kondisi pantai, untuk menghindari proses baik erosi maupun sedimentasi. 7. Jauh dari daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah pembesaran (nursery ground). 2. Perikanan Budidaya Laut 1. Terlindung dari gelombang dan angin, artinya tidak boleh dilakukan pada daerah perairan dengan gelombang besar dan angin yang kencang. 2. Kualitas air harus baik, karena merupakan indikasi kelayakan kondisi perairan yang dapat dijadikan lokasi budidaya laut. 3. Keamanan, merupakan faktor yang mendukung keberhasilan budidaya laut. Masalah yang dihadapi pembudidaya sekarang ini adalah pencurian yang selalu merugikan. 3. Pariwisata 1. Berjarak aman dari kawasan perikanan, sehigga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan di kawasan pariwisata tersebut tidak menyebar dan mencapai kawasan perikanan. 2. Berjarak aman dari kawasan lindung, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan di kawasan pariwisata tersebut tidak menyebar dan mencapai kawasan lindung. 3. Sirkulasi massa air di kawasan pariwisata harus lancar. 4. Pembangunan sarana dan prasarana pariwisata tidak mengubah kondisi pantai dan daya dukung pulau-pulau kecil yang ada sehingga proses erosi atau sedimentasi dapat dihindari. Sumber: Bengen (2002b). 17 yang dikenal dengan nama Pantai Diffur ini sangat cocok untuk dikembangkan sebagai lokasi ekowisata bahari (DPK Provinsi Maluku 2006c). Tipologi pesisir pantainya adalah pantai berpasir putih dan halus (pasir sagu) dengan vegetasi pantai berupa pohon kelapa, ketapang dan pohon beringin yang cukup besar berjejer di sepanjang pantai, kondisi ini membuat udara disekitarnya terasa sejuk. Pantai Diffur ini masih asli dengan persen penutupan vegetasinya mencapai 75 %. Lebar pantai berpasir diukur pada saat pasang tertinggi adalah sekitar 15 meter sehingga baik digunakan untuk sarana rekreasi pantai. Dengan keberadan pohonpohon beringin yang berjejer di sepanjang pantai, maka burung-burung alam dari hutan sekitarnya menambah keunikan lokasi tersebut (DPK Provinsi Maluku 2006b). Sisi Selatan pulau ini merupakan selat dengan beberapa bagian memiliki teluk dengan kondisi perairan yang tenang dan kualitas perairan yang masih sangat baik sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi budidaya laut, salah satunya adalah Teluk Un. Keberadaan teluk ini selain merupakan habitat bagi berbagai biota laut, daerah penangkapan ikan serta area budidaya laut, teluk ini sendiri memiliki panorama yang khas, sehingga berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan wisata bahari, dan rekreasi (DPK Provinsi Maluku 2006c). Selain itu Teluk Un dapat juga dijadikan sebagai kawasan pendidikan bahari dan konservasi karena praktek pranata budaya yang sesuai dengan kaidah konservasi seperti pelaksanaan Sasi atau Yutut masih dipraktekan masyarakat setempat. Karena keunikannya, Teluk Un juga berpotensi untuk dijadikannya sebagai lokasi eksperimen kelautan. Mangrove dan lamun mendominasi kawasan perairan Teluk Un, sedangkan karang hanya terdapat pada kanal dan sekitar mulut kanal tersebut. Mangrove mengitari hampir keseluruhan teluk, demikian pula lamun yang hampir menutupi 50% dasar perairan teluk tersebut (DPK Provinsi Maluku 2006a). Tampilan citra satelit dari Pulau Dullah seperti ditunjukan pada Gambar 2. 2.3 Rancang Bangun Menurut BPPT (2007) Rancang Bangun adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pelaksanaan pembuatan suatu produk, 18 Pulau Duroa Pulau Dullah Pulau Kei Kecil Gambar 2 Citra satelit Pulau Dullah dengan komposit RGB 542 (Landsat 7 ETM+ Tanggal 10 Mei 2006). sementara menurut Wahyu (2006) Rancang Bangun adalah proses pembangunan sarana dan prasarana fisik untuk kepentingan umum. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam pelaksanaannya terbagi atas 3 tahapan yaitu: studi, desain, dan konstruksi. Disamping itu juga melibatkan berbagai macam pekerjaan, antara lain pekerjaan survei dan pemetaan, dimana pekerjaan survei dan pemetaan yang terlibat pada semua tahapan tersebut adalah sebagai unsur penunjang. 19 Dalam pengertian yang lebih luas, rancang bangun dapat juga diartikan sebagai suatu proses untuk merancang dan membangun sesuatu. Sebagai suatu proses, rancang bangun tidak harus selalu dalam bentuk fisik saja tetapi bisa juga dalam bentuk non fisik, misalnya dalam mendesain sesuatu yang terkait dengan aspek pengelolaan, salah satunya adalah dalam pengelolaan ekosistem dan sumberdaya alam serta jasa-jasa lingkungan. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil, kita dapat mendesain model pengelolaan dari sebuah pulau, atau mendesain model pengelolaan ekosistem dan sumberdaya alamnya, atau mendesain model pengelolaan kawasan tertentu dari pulau tersebut, misalnya kawasan konservasi. Di samping itu, rancang bangun adalah sesuatu yang aplied, sehingga dalam menentukan model pengelolaan yang diinginkan kita harus dapat melihat sesuatu yang sangat spesifik dari pulau tersebut sehingga dalam kenyataannya sesuatu yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan. Dalam konteks ini salah satu model yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil adalah minawisata bahari yaitu dengan mengintegrasikan potensi perikanan dan potensi pariwisata dalam bentuk pengelolaan terpadu. Dalam rancang bangun model pengelolaan dimaksud kita harus dapat mengintegrasikan berbagai aspek yang ada dipulau tersebut, misalnya aspek biofisik, sosial, ekonomi, kelembagaan dan lain-lain. Sesuatu yang tersistem dari pulau tersebut, kemudian dirancang bangun sedemikian rupa sehingga sistem tersebut lebih optimal dan dapat dipakai sebagai dasar untuk membangun konsep pengelolaan yang diinginkan (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). 2.4 Minawisata Bahari Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, disebutkan bahwa Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dalam sistem bisnis perikanan, seringkali digunakan kata Mina untuk menggantikan kata Perikanan yang pada hakekatnya mengandung pengertian 20 yang sama dengan kata perikanan itu sendiri. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pada dasarnya memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat nelayan dan juga masyarakat lainnya yang hidup di wilayah pesisir. Oleh karena itu, dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan, kelestarian sumberdaya harus dipertahankan sebagai landasan utama untuk mencapai kesejahteraan dimaksud. Dengan demikian, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan diharapkan tidak menyebabkan rusaknya daerah penangkapan (fishing ground), daerah pemijahan (spawning ground), daerah mencari makan (feeding ground), maupun daerah asuhan (nursery ground) ikan. Selain itu, tidak pula merusak ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan ekosistem lamun yang memiliki keterkaitan ekologis dengan sumberdaya ikan. Wisata merupakan suatu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang mengandalkan jasa alam untuk kepuasan manusia. Menurut Fandeli (2000); META (2002) berdasarkan konsep pemanfaatannya, wisata dapat diklasifikasikan dalam 3 bentuk yaitu : 1. Wisata Alam (Nature Tourism) Merupakan aktivitas wisata yang ditujukan pada pengalaman terhadap kondisi alam atau daya tarik panoramanya. 2. Wisata Budaya (Cultural Tourism) Merupakan wisata dengan kekayaan budaya sebagai objek wisata dengan penekanan pada aspek pendidikan. 3. Ekowisata (Ecotourism, Green Tourism, Alternatif Tourism) Merupakan wisata yang berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumberdaya alam atau lingkungan dan industri kepariwisataan. Khusus untuk ekowisata, dalam ekowisata terdapat suatu bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan oleh manusia yang dikenal dengan nama ekowisata bahari. Ekowisata Bahari merupakan kegiatan wisata yang memanfaatkan karakter sumberdaya pesisir dan laut yang dikembangkan dengan pendekatan konservasi laut. Pengelolaan ekowisata bahari merupakan suatu konsep pengelolaan yang 21 memprioritaskan kelestarian dan memanfaatkan sumberdaya alam dan budaya masyarakat. Yang menjadi objek ekowisata bahari dalam konsep ini adalah sumberdaya bawah laut dan dinamika air lautnya, ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem lamun serta biota yang hidup di sekitarnya. Kegiatan wisata yang dapat dikembangkan dengan konsep ekowisata bahari dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu wisata pantai dan wisata laut (bahari). Wisata pantai lebih mengutamakan sumberdaya pantai dan budaya masyarakat, sedangkan wisata laut (bahari) lebih mengutamakan sumberdaya bawah laut dan dinamika air lautnya (Yulianda 2007). Menurut Kamal (2005) Minawisata adalah pemanfaatan kawasan wisata dengan pengembangan produksi perikanan untuk mencapai ketertarikan masyarakat pengguna akan pengembangan perikanan pada kawasan wisata tersebut. Sedangkan Minaindustri adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan secara umum bagi keperluan industri, baik industri skala rumah tangga maupun industri skala besar. Selanjutnya dikatakan bahwa kalau dikemas dengan baik, maka minawisata akan menjadi peluang yang menjanjikan bagi peningkatan kunjungan wisata lokal, nasional dan internasional. Disamping itu kalau suatu kawasan perikanan secara umum termasuk kampung-kampung nelayan dan industri kapal rakyat dikemas dengan baik, juga akan menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga minaindustri akan menjadi paket tersendiri pula bagi pengembangan parawisata lokal dan nasional. Selain itu, menurut DPK Provinsi Maluku (2007) Minawisata adalah bentuk pemanfaatan sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata yang ada di suatu wilayah tertentu secara terintegrasi untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumberdaya tersebut, atau dengan kata lain Minawisata adalah pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah yang berbasis pada pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata secara terintegrasi pada suatu wilayah tertentu. Dalam konsep yang sama, minawisata dapat dibedakan dalam 2 pola pemanfaatan ruang dan sumberdaya yaitu minawisata sebagai irisan (intersection) dari pemanfaatan ruang dan sumberdaya perikanan dan pariwisata secara terintegrasi, dan minawisata sebagai gabungan (union) dari pemanfaatan ruang 22 dan sumberdaya perikanan dan pariwisata secara terintegrasi (Adrianto L 22 Mei 2008, komunikasi pribadi), seperti yang ditunjukan pada Gambar 3. M M MW W W M Pola Gabungan 3.b Pola Gabungan 3.c W Pola Irisan 3.a Gambar 3 Minawisata dalam bentuk pola irisan (intersection) dan pola gabungan (union). Dari ketiga gambar tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa M (mina) adalah fungsi dari kesesuaian perikanan [M = f (kP)] dan W (wisata) adalah fungsi dari kesesuaian pariwisata [W = f (kW)], dengan demikian maka MW (minawisata) adalah: 1. Fungsi dari kesesuaian perikanan dan pariwisata yang pola pemanfaatan ruang dan sumberdayanya merupakan irisan dari kedua aktivitas tersebut seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 3.a. 2. Fungsi dari kesesuaian perikanan dengan komponen pariwisata yang pola pemanfaatan ruang dan sumberdayanya merupakan gabungan dari kedua aktivitas tersebut, dimana yang menjadi basis adalah aktivitas perikanan dengan menyandingkannya dengan komponen pariwisata seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 3.b. 3. Fungsi dari kesesuaian pariwisata dengan komponen perikanan, yang pola pemanfaatan ruang dan sumberdayanya merupakan gabungan dari kedua aktivitas tersebut, dimana yang menjadi basis adalah aktivitas pariwisata dengan menyandingkannya dengan komponen perikanan seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 3.c. 23 Berdasarkan uraian di atas, maka selanjutnya peneliti dapat mendefinisikan bahwa Minawisata Bahari adalah bentuk pemanfaatan sumberdaya kelautan, perikanan dan wisata bahari yang ada di suatu wilayah tertentu secara terintegrasi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumberdaya sekaligus juga untuk pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah tersebut. 2.5 Konservasi Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan, dengan kata lain konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya disebutkan bahwa Konservasi adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Kawasan konservasi mempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Keaslian atau keunikan ekosistem (hutan hujan tropis yang meliputi pegunungan, dataran rendah, rawa gambut, pantai). b. Habitat penting/ruang hidup bagi satu atau beberapa spesies (flora dan fauna) khusus: endemik (hanya terdapat di suatu tempat di seluruh muka bumi), langka, atau terancam punah. c. Tempat yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah alami. d. Lansekap (bentang alam) atau ciri geofisik yang bernilai estetik/scientik. e. Fungsi perlindungan hidrologi: tanah, air, dan iklim global. f. Pengusahaan wisata alam yang alami (danau, pantai, keberadaan satwa liar yang menarik). Untuk wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil, kegiatan konservasi diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimana disebutkan bahwa Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan 24 sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya, sedangkan Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diselenggarakan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil; melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lain; melindungi habitat biota laut; dan melindungi situs budaya tradisional. Selanjutnya menurut Samedi dkk (2006) ada 2 hal yang harus dikonservasi yaitu jenis (spesies) dan kawasan (habitat). Konservasi jenis (spesies) diantaranya: a. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, termasuk ekosistem, jenis, dan genetika untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya hayati. b. Konservasi ekosistem adalah upaya melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan fungsi ekosistem sebagai habitat penyangga kehidupan biota perairan pada waktu sekarang dan yang akan datang. c. Konservasi jenis (ikan) adalah semua upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan fungsi jenis dari sumberdaya ikan, untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan fungsi jenis ikan tersebut bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. d. Konservasi genetika (ikan) adalah semua upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan fungsi genetika dari sumberdaya ikan, untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan fungsi genetika sumberdaya ikan tersebut bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. sedangkan konservasi kawasan (habitat) diantaranya: a. Kawasan Konservasi Laut adalah kawasan pesisir dan laut yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. 25 b. Taman Nasional Laut adalah Kawasan Konservasi Laut yang mempunyai ekosistem asli dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, kegiatan yang menunjang perikanan yang berkelanjutan, wisata perairan, dan rekreasi. c. Suaka Alam Laut adalah Kawasan Konservasi Laut dengan ciri khas tertentu untuk tujuan perlindungan keanekaragaman jenis ikan dan ekosistemnya. d. Taman Wisata Laut adalah Kawasan Konservasi Laut dengan tujuan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan wisata bahari dan rekreasi. e. Suaka Perikanan adalah kawasan perairan tertentu, baik air tawar, payau, maupun laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung/berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut dilakukan melalui kegiatan: pengelolaan konservasi ekosistem penting yang terkait dengan perikanan; pengembangan kawasan konservasi laut dalam jejaring pada tingkatan lokal, nasional, regional, dan global; dan pengembangan konservasi jenis dan genetika ikan, mencakup upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Selanjutnya dijelaskan bahwa ada 5 prinsip dasar dalam pengelolaan konservasi yaitu: 1. Proses ekologis seharusnya dapat dikontrol. 2. Tujuan dan sasaran hendaknya dibuat dari sistem pemahaman ekologi. 3. Ancaman luar hendaknya dapat diminimalkan dan manfaat dari luar dapat dimaksimalkan. 4. Proses evolusi hendaknya dapat dipertahankan. 5. Pengelolaan hedaknya bersifat adaptif dan meminimalkan kerusakan SDA dan lingkungan. sedangkan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam konservasi antara lain keterkaitan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan non hayati lainnya; keterpaduan dengan sektor-sektor lain yang terkait; dan karakteristik ekosistem yang terkait dengan perikanan tidak mengenal batas-batas administratif wilayah kabupaten, provinsi dan negara, Samedi dkk (2006). 26 2.6 Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem komputer yang mempunyai kemampuan pemasukan, pengambilan, analisis data, dan tampilan data geografis yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan. Sistem komputer ini terdiri dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak (perangkat lunak) dan manusia (personal) yang dirancang untuk secara efisien memasukan, menyimpan, memperbarui, memanipulasi, menganalisa, dan menyajikan semua jenis informasi yang berorientasi geografis (ESRI 1990). Teknologi SIG dikembangkan dan terintegrasi dari beberapa konsep dan teknik seperti Geografi, Statistika, Kartografi, Ilmu Komputer, Biologi, Matematika, Ekonomi dan Ilmu Geologi (Maguire 1991). Daya tarik utama SIG secara umum adalah bersifat terkomputerisasi yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai instansi karena: a) Kemudahan memperbaharui dan memperbaiki data. b) Kemampuan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan keperluan pemesanan. c) Kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai data termasuk data digital dan data penginderaan jauh. d) Potensial untuk pemetaan perubahan melalui program pemantauan dan kemampuannya untuk mengintegrasikan pemodelan. 2.6.1 Struktur Komponen SIG Sistem Informasi Geografis (SIG) terdiri atas 4 komponen dasar, yaitu data, perangkat lunak, perangkat keras, dan sumberdaya manusia atau pengguna SIG. Data merupakan komponen utama yang akan diproses dengan menggunakan SIG. Perangkat lunak merupakan komponen untuk mengintegrasikan berbagai macam data masukan, yang akan diproses dalam SIG. Perangkat keras berupa komputer, yang dilengkapi dengan peralatan digitasi, scanner, plotter, monitor, dan printer. Sumberdaya manusia merupakan pengguna sistem dan yang mengoperasikan perangkat lunak maupun perangkat keras, serta data yang digunakan untuk diolah, maupun dianalisis sesuai dengan kebutuhannya. Keempat struktur komponen saling berkomunikasi, baik antar data, antar data dan perangkal lunak, perangkat lunak dengan perangkat keras, dan manusia dengan perangkat dan data. 27 Komponen dasar perangkat lunak SIG tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: 1) Masukan (input data) dan pembetulan mencakup semua aspek transformasi data yang diambil dalam bentuk peta, observasi lapangan, data penginderaan jauh ke dalam bentuk digital. Data ini setelah dibetulkan, digunakan dalam membangun data dasar geografis. 2) Penyimpan dan pengolah data dasar berhubungan dengan penanganan dalam penyimpan data, meliputi posisi, hubungan topologi, atribut elemen geografis (titik, garis, poligon/area) untuk menyajikan objek permukaan bumi, struktur dan organisasi penyimpanan. Program komputer yang digunakan dalam pengorganisasian data dasar disebut sistem manajemen basis data (Data Base Management System = DBMS). 3) Keluaran (output data) dan penyajiannya, berhubungan dengan bentuk data, cara proses data, dan hasil pemrosesan disajikan pada pengguna. Cara penyajian melalui layar monitor, printer atau plotter, sedangkan bentuk penyajiannya berupa peta, tabel, grafik. diagram, atau bentuk lainnya. 4) Transformasi data, dapat berupa aspek spasial atau non-spasial, maupun kombinasi keduanya, seperti perubahan skala, data fitting, perhitungan luas dan keliling. Transformasi data meliputi 2 macam kelas operasi, yaitu (1) menghilangkan galat (error) data atau membawanya ke dalam bentuk yang lebih mutahir, atau memadankan himpunan data lain yang diperlukan, (2) membawa ke dalam bentuk spesifik seperti yang diinginkan pengguna. 5) Interaksi dengan pengguna (input query) merupakan bentuk interaksi dengan pengguna sistem informasi, yaitu dengan melakukan perintah-perintah yang dipilih dari menu (daftar) yang sudah diprogram. Keunikan SIG jika dibandingkan dengan sistem pengolahan basis data lainnya adalah kemampuannya untuk menyajikan informasi spasial maupun non-spasial secara bersama-sama. Sebagai contoh, data SIG penggunaan lahan akan dapat disajikan dalam bentuk batas-batas luasan yang masing-masing mempunyai atribut dalam bentuk tulisan maupun angka. Informasi yang berlainan tema umumnya disajikan dalam lapisan (layer) informasi yang berbeda. Oleh karena SIG merupakan penyederhanaan dari fenomena alam/geografis yang nyata, 28 maka SIG harus betul-betul mewakili kondisi, sifat-sifat (atribut yang penting) bagi suatu aplikasi/pemanfaatan tertentu (Raharjo 1996). 2.6.2 Aspek-Aspek Lingkungan Geografis Berbagai aspek dalam lingkungan geografi saling terkait, yang strukturnya mencakup tujuh aspek, yaitu aspek topologi mencakup letak, luas, bentuk dan batas wilayah; aspek abiotik mencakup tanah, air, dan iklim; aspek biotik mencakup manusia, hewan, dan tumbuhan; aspek sosial mencakup tradisi adat, kelompok masyarakat, dan lembaga sosial; aspek ekonomi mencakup industri, perdagangan, perkebunan, perikanan, pariwisata, transportasi dan pasar; aspek budaya mencakup pendidikan, agama, bahasa, dan kesenian; aspek politik mencakup pemerintahan dan kepartaian. 2.6.3 Analisis Tumpang Susun (overlay) Satu keuntungan yang dapat diperoleh dari operasional SIG adalah kemampuan dalam integrasi informasi. Sebetulnya teknik pengintegrasian informasi secara konvensional telah lama dikenal, melalui teknik tumpang susun (overlay) untuk berbagai keperluan. Penerapan pendekatan sistem overlay dalam SIG, disamping harus didukung pengetahuan tentang SIG, juga dasar pengetahuan mengenai tata kerja di atas peta, karena peraga utama sistem SIG ini adalah peta. Peta pada hakekatnya adalah gambaran sebagian permukaan bumi, yang digambarkan di atas bidang datar dan ukurannya dapat dipertanggung-jawabkan secara matematis. Didalam SIG, suatu peta atau objek disajikan pada bidang atau matriks atau himpunan larik (array). Setiap sel dalam array hanya dapat menyimpan satu nilai, atribut-atribut geografis yang berbeda (misalnya peta wilayah, struktur tanah, vegetasi, penggunaan lahan, geologi). Setiap atribut yang berbeda tersebut harus disajikan dalam bidang yang berbeda. Bidang penyajian yang berhubungan dengan suatu atribut geografis disebut dengan lapis (layer). Konsep overlay merupakan fungsi analisis pada SIG, dan konsep ini sama dengan konsep picture function pada pengolahan citra digital, pada teknologi penginderaan jauh. Fungsi analisis overlay ini dapat dilakukan dalam satu peta atau beberapa macam peta. 29 2.6.4 Aplikasi SIG dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Aplikasi SIG sudah banyak digunakan untuk pengelolaan penggunaan lahan dibidang pertanian, kehutanan, serta pembangunan pemukiman penduduk dan fasilitasnya. Hanya dalam beberapa tahun penggunaan SIG telah tersebar luas pada bidang ilmu lingkungan, perairan, dan sosial ekonomi. SIG juga telah digunakan dibidang militer, pemodelan perubahan iklim global dan geologi. Selain itu berbagai bentuk analisis spasial dapat dilakukan dengan menggunakan SIG termasuk di wilayah pesisir. Dalam pengelolaan sumberdaya pesisir, SIG dapat digunakan untuk menyajikan data dasar keruangan yang terkait dengan masalah (1) fisik pesisir, yaitu berupa data dasar keruangan termasuk topografi/batimetri, morfologi, penutupan tanaman, aliran sedimen, erosi dan deposisi, iklim, batas habitat dan lain sebagainya, dan (2) lingkup manusia/sosial, yaitu berupa data dasar keruangan termasuk batas administratif, distribusi populasi, jaringan transportasi, distribusi dan berbagai karakteristik manusia/sosial lainnya. Tipe penggunaan SIG dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu antara lain untuk (a) mengetahui tingkat eksploitasi sumberdaya alam, (b) mempertemuka n keinginan manusia yang sangat bervariasi, dan (c) menjaga keberadaan/ kelangsungan ekosistem pesisir. Dahuri (1997) menjelaskan bahwa secara umum keuntungan penggunaan SIG pada perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam adalah (1) mampu mengintegrasikan data dari berbagai format data (grafik, teks, analog, dan digital) dari berbagai sumber, (2) memiliki kemampuan yang baik dalam pertukaran data diantara berbagai macam disiplin ilmu dan lembaga terkait, (3) mampu memproses dan menganalisis data lebih efisien dan efektif daripada dikerjakan secara manual, (4) mampu melakukan pemodelan, pengujian dan perbandingan beberapa alternatif kegiatan sebelum dilakukan aplikasi dilapangan, (5) memiliki kemampuan pembaruan data yang efisien terutama model grafik, (6) mampu menampung data dalam volume yang besar. Gunawan (1998) menjelaskan bahwa SIG umumnya dipahami memiliki kontribusi besar dalam pengelolaan wilayah pesisir yakni (1) membantu memfasilitasi berbagai pihak sektoral, swasta dan Pemda yang merencanakan 30 sesuatu, dapat dipetakan dan diintegrasikan untuk mengetahui pilihan-pilihan manajemen dan alternatif perencanaan yang paling optimal. Kombinasi sektor atau kegiatan yang sinergis dan mempunyai keunggulan komparatif secara ekonomis tetapi dampak lingkungannya minimal dapat ditampilkan, sehingga pihak perencana dapat menyeleksi sektor atau kegiatan yang layak dan tidak layak dilakukan, (2) merupakan alat yang digunakan untuk menunjang pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir yang berwawasan lingkungan. Dengan menggunakan SIG, kita dengan mudah dan cepat dapat melakukan analisis keruangan (spatial analysis) dan pemantauan terhadap perubahan lingkungan wilayah pesisir. Kemampuan SIG dalam analisis keruangan dan pemantauan dapat digunakan untuk mempercepat dan mempermudah penataan ruang (pemetaan potensi) wilayah pesisir yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya. 2.7 Daya Dukung Lingkungan Dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan di pulau-pulau kecil, faktor daya dukung lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila pengelolaan dan pemanfaatannya dilakukan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungannya. 2.7.1 Definisi Daya Dukung Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa Daya Dukung didefinisikan sebagai kemampuan lingkungan untuk menyerap bahan, energi dan/atau komponen lainnya yang memasuki atau dibuang kedalamnya. Daya dukung lingkungan sangat erat kaitannya dengan kapasitas asimilasi dari lingkungan yang menggambarkan jumlah limbah yang dapat dibuang kedalam lingkungan tanpa menyebabkan polusi. Ada bermacam definisi tentang daya dukung, tetapi dalam pengelolaam pesisir dan pulau-pulau kecil ada beberapa tingkatan daya dukung yang perlu diperhatikan beserta kriteria-kriterianya dalam rangka pembangunan pesisir dan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan, daya dukung tersebut antara lain: 31 1) Daya Dukung Ekologis Menurut Piagram (1983) daya dukung ekologis dinyatakan sebagai tingkat maksimum penggunaan suatu kawasan atau suatu ekosistem, baik berupa jumlah maupun kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya, sebelum terjadi suatu penurunan dalam kualitas ekologis kawasan atau ekosistem tersebut. Kawasan yang menjadi perhatian utama dalam penilaian daya dukung ekologis ini adalah jenis kawasan atau ekosistem yang tidak dapat pulih, seperti berbagai ekosistem lahan basah (wetland) antara lain rawa payau, danau, laut, pesisir dan sungai. Selanjutnya dijelaskan bahwa pengertian ekosistem yang digunakan sebagai dasar dari penilaian daya dukung ini dinyatakan sebagai suatu sistem (tatanan) kesatuan secara utuh antara semua unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi atau ekosistem adalah suatu sistem dalam alam yang mengandung mahluk hidup dan lingkungannya yang terdiri dari zat-zat yang tak hidup dan dan saling mempengaruhi, dan diantara keduanya terjadi pertukaran zat atau energi yang diperlukan dalam dan untuk mempertahankan kehidupannya. 2) Daya Dukung Fisik Menurut Piagram (1983) daya dukung fisik suatu kawasan atau areal merupakan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam kawasan atau areal tersebut tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas kawasan tersebut secara fisik. Pada hakekatnya daya dukung fisik juga merupakan suatu bentuk ukuran kapasitas rancangan dan juga model rancangan untuk berbagai fasilitas yang diakomodasikan pada kawasan tersebut. Kawasan yang telah melampaui kondisi daya dukungnya secara fisik, antara lain dapat dilihat dari tingginya tingkat erosi, pencemaran lingkungan terutama udara dan air sungai atau air permukaan, banyaknya sampah kota, suhu kota yang meningkat, konflik sosial yang terjadi pada masyarakat karena terbatasnya ruang, atau pemadatan tanah yang terjadi pada tempat-tempat rekreasi. Dari contoh yang dikemukakan tersebut, dapat dilihat bahwa terlampauinya daya dukung fisik suatu kawasan akan berdampak (negatif) tidak saja terhadap aspek fisiknya 32 tetapi juga terhadap aspek-aspek lainnya yaitu aspek-aspek sosial, ekonomi, dan juga ekologis. 3) Daya Dukung Ekonomi Menurut Scones (1993) daya dukung ekonomi adalah tingkat produksi (skala usaha) yang memberikan keuntungan maksimum dan ditentukan oleh tujuan usaha secara ekonomi, dalam hal ini digunakan parameter-parameter kelayakan usaha secara ekonomi seperti Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), dan Internal Rate of Return (IRR). 4) Daya Dukung Sosial Menurut Piagram (1983) daya dukung sosial suatu kawasan dinyatakan sebagai batas tingkat maksimum dalam jumlah dan tingkat penggunaan di dalam suatu kawasan, dimana dalam kondisi yang telah melampaui batas daya dukung ini akan menimbulkan penurunan dalam tingkat dan kualitas pengalaman atau kepuasan pengguna (pemakai) pada kawasan tersebut. Terganggunya pola, tatanan atau sistem kehidupan dan sosial budaya manusia (indvidu, kelompok) pemakai ruang tersebut, yang dapat dinyatakan sebagai ruang sosialnya, juga merupakan gambaran telah terlampauinya batas daya dukung sosial ruang tersebut. Disamping dampak yang terjadi yang mengganggu kenyamanan atau kepuasan pemakai kawasan/ruang ini, dampak negatif lanjutan lainnya dapat terjadi misalnya menurunnya spesies biota di suatu kawasan. Konsep daya dukung sosial pada suatu kawasan merupakan gambaran dari persepsi seseorang dalam menggunakan ruang pada waktu yang bersamaan, atau persepsi pemakai kawasan terhadap kehadiran orang lain secara bersama dalam memanfaatkan suatu area tertentu. Konsep ini berkenaan dengan tingkat kenyamanan dan apresiasi pemakai kawasan karena pengaruh over-crowding pada suatu kawasan. 2.7.2 Daya Dukung Sebagai Dasar Penentuan Peruntukan Lahan Soerianegara (1978) mengemukakan bahwa untuk mengetahui daya dukung lahan atau lingkungan, harus diperhitungkan semua potensi yang ada di wilayah yang bersangkutan dan faktor kendala apa saja yang mempengaruhi potensi tersebut dalam jangka panjang. Tanda-tanda dilampauinya daya dukung lingkungan adalah adanya kerusakan lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa 33 untuk populasi manusia batasan daya dukung adalah jumlah individu yang dapat didukung oleh suatu satuan luas sumberdaya dan lingkungan dalam keadaan sejahtera. Menurut Bengen (2002b) dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam di pulau-pulau kecil, faktor daya dukung lahan/lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila dikelola dengan tetap memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungannya. Selanjutnya dikatakan bahwa, nilai yang dihasilkan dari perhitungan atau pendekatan daya dukung dari sumberdaya alam dan lingkungan adalah penting untuk menentukan bentuk-bentuk pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut terutama dalam tujuan menjaga, mengendalikan, dan juga melestarikan lingkungan. Penilaian yang sistematik terhadap sumberdaya alam dan lingkungan yang menjadi dasar dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dilakukan terutama untuk mengetahui potensinya. Dengan pendekatan ini maka akan dapat diketahui kapasitas dari suatu kawasan atau ekosistem yang dinilai, yang selanjutnya akan dapat merupakan ukuran dan/atau nilai pendugaan terhadap kualitas sumberdaya alam dan lingkungan. Menurut Dahuri (1998) kawasan pulau-pulau kecil sangat rentan secara ekologis. Selain itu wilayah ini memiliki keterkaitan ekologis, sosial ekonomi dan sosial budaya dengan ekosistem disekitarnya. Dengan alokasi ruang yang didasarkan pada daya dukung ekologis, jaringan sosial budaya antara masyarakat dan integrasi kegiatan sosial ekonomi yang sudah berlangsung selama ini, akan memberikan pilihan investasi yang tepat. Tata ruang dengan pendekatan ekosistem harus menjadi instrumen kebijakan utama untuk menjaga keamanan dan keselamatan sosial budaya dan ekologis dalam pengelolaan pulau-pulau kecil. Dengan demikian, menurut Dahuri (2001) tahapan untuk menetapkan atau menentukan daya dukung pulau kecil adalah : 1) Menetapkan batas-batas, vertikal, horisontal terhadap garis pantai pulau kecil sebagai suatu unit pengelolaan. 2) Menghitung luasan wilayah pulau kecil yang dikelola. 34 3) Mengalokasikan zona wilayah menjadi tiga yaitu, zona preservasi, zona konservasi dan zona pemanfaatan. 4) Menyusun tata ruang pembangunan pada zona konservasi dan zona pemanfaatan. 5) Melakukan penghitungan tentang potensi dan distrubusi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tersedia, misalnya stock assessment sumberdaya perikanan, potensi hutan mangrove, pengkajian ketersediaan air tawar, pengkajian tentang kapasitas asimilasi dan pengkajian tentang permintaan internal terhadap sumberdaya alam dan jasa lingkungan. Mengingat rentannya ekosistem pulau-pulau kecil, pemerintah melakukan pembatasan kegiatan yang sudah terbukti menimbulkan dampak negatif yang luas,baik secara ekologis maupun sosial. Pemerintah hanya mengizinkan pengelolaan pulau-pulau kecil untuk konservasi, budidaya laut, ekowisata, serta usaha penangkapan ikan dan industri perikanan yang lestari. Dalam usaha pemanfaatan pulau-pulau kecil ini oleh pengusaha dari luar pulau, pemerintah menjadi fasilitator pelibatan masyarakat dalam berbagai bentuk, seperti akses berusaha bagi penduduk lokal, kemitraan usaha dan penyertaan modal. Dahuri (1991) mengemukakan bahwa pembangunan pulau-pulau kecil dan sumberdaya alamnya yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila setiap kegiatan pembangunan ditempatkan pada lokasi-lokasi yang sesuai secara biofisik di wilayah yang bersangkutan. Implementasi yang berhasil dari setiap kerangka pengelolaan pulau-pulau kecil akan bergantung pada apakah kerangka tersebut dirancang berdasarkan pada kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial budaya yang ada serta susunan kelembagaan dari wilayah tersebut Pengelolaan berkelanjutan suatu wilayah kepulauan secara ekologis menurut Dahuri (1998) memerlukan 4 persyaratan yaitu: 1) Setiap kegiatan pembangunan (seperti tambak, pertanian, dan pariwisata) harus ditempatkan pada lokasi yang secara biofisik sesuai. Persyaratan ini dapat dipenuhi dengan cara membuat peta kesesuaian lahan (land suitability) termasuk juga perairannya. 2) Jika memanfaatkan sumberdaya yang dapat pulih, seperti penangkapan ikan di laut, maka tingkat penangkapannya tidak boleh melebihi potensi lestari 35 stok ikan tersebut. Demikian juga jika kita menggunakan air tawar (biasanya merupakan faktor pembatas terpenting dalam suatu ekosistem pulau-pulau kecil), maka laju penggunaannya tidak boleh melebihi kemampuan pulau tersebut untuk menghasilkan air tawar dalam kurun waktu tertentu. 3) Jika kita membuang limbah ke lingkungan pulau, maka jumlah limbah (bukan limbah B 3 , tetapi jenis limbah yang biodegradable) tidak melebihi kapasitas asimilasi lingkungan pulau tersebut. 4) Jika kita memodifikasi bentang alam (landskap) suatu pulau (seperti penambangan pasir dan reklamasi) atau melakukan kegiatan konstruksi di lingkungan pulau, khususnya di tepi pantai, seperti membangun dermaga (jetty) dan hotel, maka harus sesuai dengan pola hidrodinamika setempat dan proses-proses alami lainnya. 2.8 Pendekatan Sistem Pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan, dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan tersebut dapat dalam bentuk perbedaan kepentingan atau keterbatasan sumberdaya (Eriyatno 1998). Selanjutnya Eriyatno (2002) menjelaskan bahwa pendekatan sistem memberikan penyelesaian masalah dengan metode dan alat yang mampu mengidentifikasi, menganalisis, mensimulasi, dan mendesain sistem dengan komponen-komponen yang saling terkait, yang diformulasikan secara lintas disiplin dan komplementer untuk mencapai tujuan yang sama. Menurut Manetch and Park (1997) suatu pendekatan sistem akan dapat berjalan dengan baik jika terpenuhi kondisi-kondisi berikut ini: 1) Tujuan sistem didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantifikasi. 2) Prosedur pembuatan keputusan dalam sistem riil adalah tersentralisasi atau cukup jelas batasannya. 3) Dalam perencanaan jangka panjang memungkinkan untuk dilakukan. 36 Aminullah (2003) menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pendekatan sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yaitu: 1) Analisis kebutuhan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dari semua stakeholders dalam sistem. 2) Formulasi permasalahan, yang merupakan kombinasi dari semua permasalahan yang ada dalam sistem. 3) Identifikasi sistem, bertujuan untuk menentukan variabel-variabel sistem dalam rangka memenuhi kebutuhan semua stakeholders dalam sistem. 4) Pemodelan abstrak, pada tahap ini mencakup suatu proses interaktif antara analisis sistem dengan pembuatan keputusan yang menggunakan model untuk mengeksplorasi dampak dari berbagai alternatif dan variabel keputusan terhadap berbagai kriteria sistem. 5) Implementasi, tujuan utamanya adalah untuk memberikan wujud fisik dari sistem yang diinginkan. 6) Operasi, pada tahap ini akan dilakukan validasi sistem dan seringkali pada tahap ini terjadi modifikasi-modifikasi tambahan karena cepatnya perubahan lingkungan dimana sistem tersebut berfungsi. 2.8.1 Sistem dan Jenis Sistem Menurut Hartrisari (2007) Sistem adalah gugusan atau kumpulan dari komponen yang saling terkait dan terorganisasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau gugusan tujuan tertentu. Suatu sistem dapat terdiri dari beberapa subsistem. Selain itu menurut Manetch and Park (1997) Sistem adalah suatu gugus atau kumpulan dari elemen yang berinteraksi dan terorganisir untuk mencapai tujuan, sedangkan O’brien (1999) mendefinisikan Sistem sebagai suatu bentuk atau struktur yang memiliki lebih dari dua komponen yang saling berinteraksi secara fungsional. Dengan demikian, berarti setiap sistem harus memiliki komponen atau elemen yang saling berinteraksi (terkait) dan terorganisir dengan suatu tujuan atau fungsi tertentu. Berdasarkan ilmu manajemen, secara sederhana sistem digambarkan sebagai satu kesatuan antara input, proses dan output. Sistem akan membentuk suatu siklus yang berjalan secara terus menerus dan dikendalikan oleh suatu fungsi 37 kontrol atau umpan balik. Prinsip sistem dapat digunakan sebagai dasar untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yang sering kita hadapi atau menyusun (merangkai) berbagi elemen sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Untuk menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan sistem kita harus dapat mengidentifikasi semua komponen yang terdapat dalam sistem dan menentukan hubungan dari masing-masing komponen tersebut (Midgley 2000). Menurut Hartrisari (2007) Sistem dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu Sistem Terbuka (open system) dan Sistem Tertutup (closed system). Sistem Terbuka merupakan sistem yang outputnya merupakan tanggapan dari input, namun output yang dihasilkan tidak memberikan umpan-balik terhadap input. Sebaliknya pada Sistem Tertutup, output memberikan umpan-balik terhadap input. Sistem terbuka tidak menyediakan sarana koreksi dalam sistem, sehingga perlakuan koreksi membutuhkan faktor dari luar (eksternal). Pada sistem tertutup, sarana koreksi berada dalam sistem, sehingga perlakuan koreksi dapat dilakukan secara internal. Sistem tertutup disebut juga sistem umpan-balik (feedback system). 2.8.2 Model Model merupakan penyederhanaan sistem, karena sistem sangat kompleks tidak mungkin membuat model yang dapat menggambarkan seluruh proses yang terjadi dalam sistem. Model disusun dan digunakan untuk memudahkan dalam pengkajian sistem karena sulit dan hampir tidak mungkin untuk bekerja pada keadaan sebenarnya. Oleh karena itu, model hanya memperhitungkan beberapa faktor dalam sistem dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Hartrisari 2007). Menurut Manetch and Park (1997) model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu. Model dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif dan ekonik (Aminullah 2003). Model yang baik akan memberikan gambaran perilaku dunia nyata sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang tidak signifikan dari sistem yang dimodelkan. Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan pendekatan sistem adalah menggunakan konsep model simulasi sistem dinamis. 38 Dengan menggunakan simulasi, maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel model untuk tujuan tertentu dari input sistem dan parameter model. Karena itu model simulasi akan dapat memberikan model penyelesaian dunia riil yang kompleks. Eriyatno (2003) menjelaskan bahwa model juga dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model dioptimalkan terhadap input atau struktur sistem alternatif. Karena itu, model dapat dibangun dengan basis data (data base) atau basis pengetahuan (knowledge base). Menurut Muhammadi dkk (2001) langkah pertama dalam menyusun model sistem dinamis adalah dengan menentukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk kepada sistem dan sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal umpan balik (causal loops) yang menyusun struktur model. Semua perilaku model, bagaimanapun rumitnya dapat disederhanakan menjadi struktur dasar yaitu mekanisme dari masukan, proses, keluaran dan umpan balik. mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis. Untuk memahami struktur dan perilaku sistem yang akan membantu dalam pembentukan model dinamika kuantitatif formal dipergunakan diagram sebab akibat (causal loop) dan diagram alir (flow chart). Diagram sebab akibat dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat dan garis panah tersebut dapat berlaku dua arah jika kedua variabel saling mempengaruhi. Pada sistem dinamis, diagram sebab akibat ini akan dipergunakan sebagai dasar untuk membuat diagram alir yang akan disimulasikan dengan menggunakan program model sistem dinamis misalnya Program Stella. Program Stella akan dapat memberikan gambaran tentang perilaku sistem dan dengan simulasi dapat ditentukan alternatif terbaik dari sistem yang kita bangun, setelah itu dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan kebijakan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi/mengubah perilaku sistem yang terjadi. Menurut Muhammadi dkk (2001) perilaku model sistem dinamis ditentukan oleh keunikan dari struktur model, yang dapat dipahami dari hasil 39 simulasi model. Dengan simulasi akan didapatkan perilaku dari suatu gejala atau proses yang terjadi dalam sistem, sehingga dapat dilakukan analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut: 1) Penyusunan konsep Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Varibel-variabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan, dan saling ketergantungan. Kondisi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan. 2) Pembuatan model Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama, selanjutnya dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar atau rumus. 3) Simulasi Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat antar variabel dengan memasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model. 4) Validasi hasil simulasi Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa mendatang. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Dullah - Kota Tual - Provinsi Maluku dimana pada awalnya lokasi penelitian ini berada dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara, namun dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku maka sejak tanggal 10 Agustus 2007 status Pulau Dullah dan beberapa pulau lainnya telah dialihkan ke dalam wilayah administratif Kota Tual. Pemekaran wilayah ini kemudian diikuti dengan pengalihan perangkat daerah dan ase-aset daerah yang dilakukan secara bertahap sampai dengan tahun 2009. Walaupun telah beralih status wilayah administratifnya namun pengambilan sebagian data sekunder masih tetap dilakukan pada instansi terkait di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai kabupaten induk. Pemekaran wilayah tersebut diatas tidak menjadi kendala dalam penelitian ini karena pendekatan yang dilakukan adalah berbasis ekologi, bukan berbasis wilayah administratif. Waktu penelitian dimulai sejak bulan Oktober 2008 - Oktober 2009 dengan melakukan survei awal dan sosialisasi rencana penelitian sekaligus mengumpulkan data sekunder di berbagai instansi terkait pada Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dan Pemerintah Provinsi Maluku, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan data lapangan dalam bentuk ground-check, melakukan wawancara dan focus group discussion (FGD) dengan stakeholders lainnya. Peta lokasi penelitian seperti ditunjukan pada Gambar 4. 3.2 Tahapan Penelitian Tahapan penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, analisis, dan sintesis, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a) Pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data yang dibutuhkan baik data primer maupun data sekunder di lokasi penelitian dan juga dari berbagai instansi terkait lainnya, data yang dikumpulkan meliputi aspek ekologi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat, serta kelembagaan. 42 Gambar 4 Peta lokasi penelitian. 43 b) Analisis dilakukan terhadap data potensi dan sumberdaya Pulau Dullah serta peluang pengembangannya disesuaikan dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Analisis dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, diantaranya: analisis kesesuaian lahan; analisis prioritas pemanfaatan ruang; analisis daya dukung lingkungan; analisis ekonomi; analisis sosial; dan analisis kelembagaan; untuk selanjutnya menuju ke sintesis. c) Sintesis bertujuan untuk menghasilkan konsep keterpaduan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang pada akhirnya diarahkan sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan dan strategi pengelolaan Pulau Dullah secara terpadu. 3.3 Jenis dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan terhadap objek penelitian (ground check) serta melakukan wawancara dan focus group discussion (FGD) dengan stakeholders yang terkait dengan materi penelitian. Data sekunder dikumpulkan dengan cara penelusuran berbagai literatur dan pustaka pada berbagai instansi terkait sesuai materi yang dikaji. Tabel 2 menunjukan uraian dari data yang dibutuhkan dan Gambar 5 menunjukan peta stasiun pengamatan pada saat melakukan ground check di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 3.4 Analisis Data Rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi dimulai dengan menganalisis data biogeofisik Pulau Dullah khususnya di lokasi studi yaitu di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Secara umum analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Pada tahap I, keluarannya adalah peta kesesuaian lahan untuk berbagai kategori aktivitas minawisata bahari berbasis konservasi. Pada tahap II, keluarannya adalah alokasi ruang pada kawasan tersebut untuk semua aktivitas minawisata bahari. Sedangkan pada tahap III, keluarannya adalah model pengelolaan optimal dan implikasi kebijakan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi. 44 Tabel 2 Kebutuhan data penelitian NO 1. KATEGORI JENIS DATA SUMBER KET Data Biofisik a Fisika, kimia, oseangografi Kedalaman perairan, kecerahan, kecepatan arus, suhu perairan, salinitas, pH, DO, phosphat, nitrat, tembaga, ammonia, sulfida, pasut, gelombang, dan material dasar perairan. Ground check (insitu di lokasi penelitian) Data Primer hasil sampling pada 7 stasiun pengamatan b Ekosistem dan sumberdaya Mangrove, terumbu karang, lamun, ikan, kerang, dan biota laut lainnya Ground check (insitu di lokasi penelitian) Data Primer dan Data Sekunder 2. Data Pemanfaatan Lahan a Pemanfaatan lahan darat pemukiman, pemerintahan, industri, dan pariwisata Instansi terkait Data Sekunder b Pemanfaatan lahan perairan pelabuhan umum, pelabuhan perikanan, perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri perikanan, dan pariwisata Instansi terkait Data Sekunder 3. Data Demografi, Infrastruktur, Budaya, dan Kelembagaan a Demografi jumlah penduduk, kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, dan mata pencarian BPS Kab. Malra / Kota Tual Data Sekunder b Infrastruktur sarana dan prasarana umum, pemukiman, pemerintahan, perekonomian, dan transportasi Bappeda Kab. Malra / Kota Tual Data Sekunder c Sosial Budaya budaya lokal, pranata sosial, dan kearifan lokal masyarakat. Instansi terkait, lembaga adat Data Sekunder 4. Data Pendukung a Citra Satelit Citra Landsat 7 ETM+ P.106/R.064 (liputan terakhir) BTIC / LAPAN Data Sekunder b Peta Peta Rupa Bumi (RBI), Peta Lingkungan Pantai (LPI), Peta Wilayah Administratif. Bakosurtanal, Dishidros TNIAL, Bappeda Kota Tual Data Sekunder c Buku Laporan RTRW, RPJMD, Renstra, Administrasi dan Pemerintahan, Kebijakan Pembangunan Sektoral dan data lainnya yang terkait Bappeda, BPS, Instansi Terkait di Kab. Malra / Kota Tual Data Sekunder 45 Gambar 5 Peta stasiun pengamatan 46 Pemodelan dinamik dilakukan dengan cara simulasi terhadap beberapa skenario pengelolaan dengan menggunakan perangkat lunak STELLA Version 9.0.2 sebagai alat bantu analisis. Dari hasil simulasi skenario pengelolaan ini kemudian dibuat implikasi kebijakan dari skenario pengelolaan yang dianggap paling optimal untuk diterapkan. Diagram alir tahapan analisis data seperti ditunjukan pada Gambar 6. 3.4.1 Analisis Kesesuaian Lahan Dalam dimensi ekologis, penempatan setiap kegiatan pembangunan haruslah bersesuaian dengan ciri biologi-fisik-kimianya sehingga terbentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam arti saling mendukung satu sama lainnya. Untuk mencapai hal tersebut maka dibutuhkan analisis kesesuaian lahan. Analisis kesesuaian lahan yang dilakukan adalah untuk minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi dengan kategori aktivitas sebagai berikut: (a) minawisata bahari pancing; (b) minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska); (c) minawisata bahari karamba pembesaran ikan; (d) minawisata bahari selam; dan (e) minawisata bahari mangrove. Semua kategori minawisata bahari ini memanfaatkan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang terkait sebagai objek. Secara umum terdapat empat tahapan analisis yang akan dilakukan yaitu (1) penyusunan peta kawasan; (2) penyusunan matriks kesesuaian setiap kegiatan yang akan dilakukan; (3) pembobotan dan pengharkatan; dan (4) melakukan analisis spasial untuk mengetahui kesesuaian dari setiap kegiatan yang akan dilakukan. 1. Penyusunan Peta Kawasan Penggunaan kawasan mengacu pada kenyataan bagaimana kawasan tersebut digunakan. Penentuan kategori penggunaan kawasan didasarkan pada jenis penggunaan yang dominan pada kawasan tersebut. Jenis-jenis kegiatan yang memiliki kesamaan karakteristik digolongkan kedalam satu kategori dan dapat diperhitungkan sebagai satu jenis dalam dominasinya. Penyusunan peta kawasan Pulau Dullah dilakukan dengan cara tumpang susun berbagai peta yang didapat dari berbagai sumber. 47 MULAI INPUT PROSES Sistem Pulau-Pulau Kecil ( Pulau Dullah ) Analisis Kesesuaian Lahan ( Geographic Information System ) T A H A P I OUTPUT Peta Kesesuaian Lahan INPUT Kesesuaian Lahan untuk Minawisata Bahari PROSES Analisis Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang dan Daya Dukung Lingkungan T A H A P II OUTPUT INPUT PROSES Alokasi Ruang Kesesuaian Lahan Daya Dukung Lingkungan Valuasi Ekonomi Manfaat-Biaya Skenario Pengelolaan dan Simulasi Skenario ( Dynamic Model ) T A H A P III OUTPUT Model Pengelolaan Optimal dan Implikasi Kebijakan SELESAI Gambar 6 Diagram alir tahapan analisis data. 48 Penyusunan peta kawasan dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), yaitu melakukan query terhadap data SIG dengan menggunakan prinsipprinsip pemanfaatan kawasan sehingga informasi spasialnya dapat diketahui: a) Kawasan mana saja yang tersedia bagi kegiatan pembangunan dan kawasan mana saja yang dijadikan sebagai kawasan lindung. b) Kegiatan penggunaan kawasan apa saja yang diperbolehkan dan apa saja yang tidak diperbolehkan. c) Konflik pemanfaatan ruang yang terjadi antara lain kesesuaian kawasan dengan peruntukannya dan penggunaan lahan dengan peruntukannya. d) Hasil penyusunan peta kawasan yang telah sesuai dengan peruntukannya dapat saja berbeda dengan penggunaan kawasan pada saat sekarang. 2. Penyusunan Matriks Kesesuaian Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari dengan berbagai kategori aktivitas seperti tersebut diatas, didasarkan pada kriteria kesesuaian lahan untuk setiap aktivitas. Kriteria ini dibuat berdasarkan parameter biofisik yang cocok untuk masing-masing aktivitas. Matriks kesesuaian lahan dibuat berdasarkan justifikasi ilmiah (hasil studi pustaka) dan informasi dari pakar yang ahli dalam bidangnya. Matriks ini sangat penting karena dari matriks tersebut akan dapat diketahui parameter yang digunakan dan kisaran yang diperbolehkan. Dalam penelitian ini kesesuaian lahan dibagi kedalam 3 kelas: 1) Kelas S (sesuai), yaitu lahan yang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas lahan serta tidak akan menambah masukan (input) dari pengusahaan lahan tersebut. 2) Kelas SB (sesuai bersyarat), yaitu lahan yang mempunyai pembatas yang cukup berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari akan tetapi masih memungkinkan untuk diatasi/diperbaiki, artinya masih dapat ditingkatkan menjadi sesuai jika dilakukan perbaikan dengan tingkat introduksi teknologi yang lebih tinggi atau dapat dilakukan dengan perlakuan tambahan dengan biaya rasional. 49 3) Kelas TS (tidak sesuai), yaitu lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat secara permanen untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, pembatas tersebut akan menghambat produktivitas lahan serta dapat meningkatkan masukan (input) dari pengusahaan lahan tersebut, sehingga lahan tersebut tidak layak untuk diusahakan. Matriks kesesuaian lahan yang digunakan adalah sebagaimana yang ditunjukan pada Tabel 3 sampai 7. 3. Pembobotan (Weighting), dan Pengharkatan (Scoring) Pembobotan (weighting) pada setiap parameter (faktor pembatas) ditentukan berdasarkan pada dominannya parameter tersebut terhadap suatu peruntukan, besarnya pembobotan ditunjukkan pada suatu parameter untuk seluruh evaluasi lahan. Pemberian nilai (scoring) ditujukan untuk menilai beberapa parameter (faktor pembatas) terhadap satu evaluasi kesesuaian. 4. Analisis Spasial Analisis spasial dilakukan terhadap 5 jenis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari dengan kategori aktivitas sebagai berikut: (1) minawisata bahari pancing, (2) minawisata bahari karamba pembesaran ikan, (3) minawisata bahari pengumpulan kerang, (4) minawisata bahari selam, dan (5) minawisata bahari mangrove. Basis data dibentuk dari data spasial dan data atribut, kemudian dibuat dalam bentuk layers atau coverage dimana menghasilkan peta-peta tematik dalam format digital sesuai parameter untuk masing-masing jenis kesesuaian lahan. Setelah basis data terbentuk, analisis spasial dilakukan dengan metode tumpang susun (overlay) terhadap parameter yang berbentuk poligon. Proses overlay dilakukan dengan cara menggabungkan (union) masing-masing layers untuk tiap jenis kesesuaian lahan. Penilaian terhadap kelas kesesuaian dilakukan dengan melihat nilai indeks kesesuaian (overlay indeks) dari masingmasing jenis kesesuaian lahan tersebut. Pengolahan data Sistem Informasi Geografis ini dilakukan dengan menggunakan Arch-Info GIS Version 3.4.2 dan Arch-View GIS Version 3.3. 50 Tabel 3 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pancing KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 1. Kelompok jenis ikan Madduppa, 2009. 5 Ikan Target, Ikan Indikator, Ikan Mayor 3 Ikan Target, Ikan Indikator, 2 Ikan Mayor 1 2. Kecepatan arus (cm/det) Polanunu, 1998. 5 < 20 3 20 - 100 2 > 100 1 3. Tinggi gelombang (cm) Sugiarti, 2000. 5 < 50 3 50 - 100 2 > 100 1 4. Kecerahan perairan (m) Sugiarti, 2000. 3 10 1 5. Suhu perairan (oC) Nybakken, 1988. Mulyanto, 1992. 1 25 – 30 3 > 30 - 32 2 < 25 > 32 1 6. Salinitas (o/ oo ) Nontji, 2003. Romimohtarto dan Juwana, 1999. 1 20 - 32 3 > 32 - 36 2 < 20 > 36 1 7. Kedalaman perairan (m) Sugiarti, 2000. 1 < 10 3 10 - 15 2 > 15 1 8. Jarak dari alur pelayaran dan kawasan lainnya (m) Bengen, 2008. 1 > 500 3 300 - 500 2 < 300 1 Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 78 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 26 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 17.33 Evaluasi Kelayakan : 60.67 – 78.00 : Sesuai 43.34 – 60.66 : Sesuai Bersyarat 26.00 – 43.33 : Tidak Sesuai 51 Tabel 4 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 1 Jenis moluska Peneliti, 2009. 5 *) 3 **) 2 ***) 1 2 Kelimpahan (ind/m2) Peneliti, 2009. 5 >2 3 1-2 2 100 3 10 - 100 2 < 10 1 4 Tipe substrat pantai Latale, 2003. Natan, 2008. 3 Pasir berlumpur, Pasir halus 3 Pasir sedang, Pasir kasar, Karang berpasir 2 Batu, Karang 1 5 Kemiringan pantai Peneliti 3 Landai 3 Curam 2 Terjal 1 6 Suhu perairan (oC) Razak, 2002. 1 25 - 28 3 > 28 - 30 2 < 25 > 30 1 7 Salinitas (o/ oo ) Setiobudiandi, 1995. 1 29 - 34 3 > 34 - 36 2 < 29 > 36 1 *) Anadara sp, Tridacna sp, Hippopus sp, Haliotis sp, Tripneustes sp, Littorina sp, Cerithium sp, Chlamys sp, Lioconcha sp **) Phenacovolva sp, Strombus sp, Lambis sp, Guilfordia sp, Clanculus sp, Tectus sp, Cypraea sp, Donax sp, Euspira sp, Siliquaria, sp ***) Spesies moluska lainnya. Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 69 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 23 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 15.33 Evaluasi Kelayakan : 53.67 – 69.00 : Sesuai 38.34 – 53.66 : Sesuai Bersyarat 23.00 – 38.33 : Tidak Sesuai 52 Tabel 5 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER 1 Kecepatan arus (m/det) DKP-RI, 2002. 2 Tinggi gelombang (m) 3 BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 5 < 0,75 3 0,76 - 1,0 2 > 1,0 1 DKP-RI, 2002. 5 < 0,5 3 > 0,5 – 1,0 2 > 1,0 1 Kedalaman air dari dasar jaring (m) DKP-RI, 2002. 5 4,0 – 7,0 3 7,1 – 10,0 2 < 4,0 > 10,0 1 4 Suhu perairan (oC) Nybakken, 1988. Mulyanto, 1992. LP Undana, 2006. 3 29 - 30 3 26 - < 29 2 < 26 > 30 1 5 Salinitas (o/ oo ) Nontji, 2003. Romimohtarto dan Juwana, 1999. LP Undana, 2006. 3 25 - 30 3 > 30 - 33 2 < 25 > 33 1 6 Oksigen terlarut (mg/l) LP Undana, 2006. 3 >6 3 3– 0,9 1 9 Phospat (mg/l) Tiensongrusmee et al, 1986. 1 < 0,1 3 0,1 – 0,9 2 > 0,9 1 10 Jarak dari alur pelayaran dan kawasan lainnya (m) Bengen, 2008. 1 > 500 3 300 - 500 2 < 300 1 Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 90 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 30 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 20 Evaluasi Kelayakan : 71 – 90 : Sesuai 51 – 70 : Sesuai Bersyarat 30 – 50 : Tidak Sesuai 53 Tabel 6 Matriks kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam KELAS KESESUAIAN DAN SKOR NO PARAMETER SUMBER BOBOT S SKOR SB SKOR TS SKOR 1 Jenis ikan karang (sp) Yulianda, 2007. 5 > 75 3 20 - 75 2 < 20 1 2 Kecerahan perairan (%) Yulianda, 2007. Suharsono dan Yosephine, 1994. 5 > 65 3 20 - 65 2 < 20 1 3 Tutupan komunitas karang (%) Yulianda, 2007. Gomes dan Yap, 1998. 3 > 65 3 25 - 65 2 < 25 1 Jenis life-form (sp) Yulianda, 2007. 3 5 Suhu perairan (oC) Nybakken, 1988. Mulyanto, 1992. Hubbard, 1990. Tamrin, 2006. 3 23 - 25 3 26 - 36 2 < 23 > 36 1 6 Salinitas (o/ oo ) Nontji, 2003. Kinsman, 2004. 3 30 - 36 3 28 - 30 2 < 28 > 36 1 7 Kedalaman ter. karang (m) Yulianda, 2007. Nybakken, 1988. 3 3 - 20 3 21 - 30 2 30 1 8 Kecepatan arus (cm/det) Yulianda, 2007. Jokiel dan Morrissey, 1993. 1 0 - 25 3 26 - 50 2 > 50 1 4 Atau tdk ada karang > 10 3 4 - 10 2 300 3 50 - 300 2 < 50 1 2 Kerapatan mangrove (ind/100 m2) Yulianda, 2007. 5 > 10 - 25 3 5 – 10 > 25 2 3 3 1-3 2 0 1 4 Jenis biota Yulianda, 2007. MERDI dalam DPK 2006a. 3 Ikan, Udang, Kepiting, Moluska, Reptil, Burung. 3 Ikan, Moluska 2 Salah satu biota air 1 5 Tinggi Pasut (m) Yulianda, 2007. 1 0- 5 1 6 Jarak dari kawasan lainnya (m) Bengen, 2000. 1 > 500 3 300 - 500 2 < 300 1 Nilai maksimum ( Bobot X Skor ) = 54 Nilai minimum ( Bobot X Skor ) = 18 Selang Kelas = 3 Rumus untuk menghitung Indeks Kesesuaian : IK MB = ( N maks - N min ) / SK IK MB = Indeks Kesesuaian Minawisata Bahari N maks = Nilai maksimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari N min = Nilai minimum dari suatu kategori aktivitas minawisata bahari SK = Selang Kelas IK MB = 12 Evaluasi Kelayakan : 43 – 54 : Sesuai 31 – 42 : Sesuai Bersyarat 18 – 30 : Tidak Sesuai 5. Analisis Spasial Analisis spasial dilakukan terhadap 5 jenis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari dengan kategori aktivitas seperti tersebut diatas. Basis data dibentuk dari data spasial dan data atribut, kemudian dibuat dalam bentuk layers atau coverage dimana menghasilkan peta-peta tematik dalam format digital sesuai parameter untuk masing-masing jenis kesesuaian lahan. 55 Setelah basis data terbentuk, analisis spasial dilakukan dengan metode tumpang susun (overlay) terhadap parameter yang berbentuk poligon. Proses overlay dilakukan dengan cara menggabungkan (union) masing-masing layers untuk tiap jenis kesesuaian lahan. Penilaian terhadap kelas kesesuaian dilakukan dengan melihat nilai indeks kesesuaian (overlay indeks) dari masingmasing jenis kesesuaian lahan tersebut. Pengolahan data Sistem Informasi Geografis ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Arch-Info GIS Version 3.4.2 dan Arch-View GIS Version 3.3. 3.4.2 Analisis Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang Analisis skala prioritas pemanfaatan ruang ini menggunakan metode multi criteria decision making (MCDM) dan diarahkan pada relevansi keputusan jenis pemanfaatan ruang di pulau kecil yang akan lebih tepat, cocok, dan representatif sebagai skala prioritas bagi pengembangan melalui urutan rangking. Pada analisis pemilihan prioritas dengan MCDM, pembobotan suatu kriteria dan alternatif yang diambil, disusun berdasarkan matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik simple multi atribute rating technique (SMART). Teknik SMART merupakan keseluruhan proses dari peratingan alternatifalternatif dan pembobotan atribut-atribut. Proses ini terdiri dari 2 tahap yaitu: (1) mengurutkan tingkat kepentingan perubahan-perubahan dalam atribut mulai dari atribut terburuk (peringkat terendah) sampai atribut terbaik (peringkat tertinggi); dan (2) melakukan estimasi rasio kepentingan relatif dan ranking setiap atribut terhadap atribut yang paling rendah tingkat kepentingannya. Analisis selanjutnya adalah penggabungan kedua hasil analisis data di atas menjadi satu dengan menggunakan persamaan agregasi sebagai berikut: γ = π Si 1/n ………………………………………………………………… (1) dimana : γ = rata-rata geometrik Si = nilai skor akhir hasil analisis prioritas berdasarkan kelompok kriteria analisis n = 2 56 Sehingga persamaan menjadi: γ = √ S 1 x S 2 ………………………………………………………………… (2) Berdasarkan hasil analisis di atas maka diperoleh hasil akhir untuk peringkat dalam menentukan prioritas pemanfaatan lahan yang perlu dikembangkan. Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang seperti yang ditunjukan pada Tabel 8. Tabel 8 Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang Kriteria C1 C2 ... Cn Alternatif W1 W2 ... Wn A1 A 11 A 21 ... A 1n A2 A 12 A 22 ... A 2n ... ... ... ... ... Am A m1 A m2 ... A mn Sumber : Subandar (1999). dimana : A i , (i = 1,2,3, … ,m) = menunjukkan pilihan alternatif yang ada C j , (j = 1,2,3, … ,n) = merujuk pada kriteria dengan bobot Wj A ij , (i = 1, ... ,m, j = 1, ... ,n) = adalah pengukuran keragaan dari suatu alternatif A i berdasarkan kriteria C j . Untuk menyusun peringkat jenis pemanfaatan lahan yang dikembangkan, maka dilakukan penentuan kriteria/subkriteria yang telah disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknik SMART dengan bantuan perangkat lunak criterium decision plus (Cdplus) version 3.0. sehingga pengukuran terhadap kriteria ekologi; ekonomi; sosial budaya; dan kelembagaan dapat dilakukan. Masing-masing kriteria dapat dikembangkan lagi menjadi subkriteria. Subkriteria diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dan juga bersumber dari data sekunder. Kriteria ekologi; ekonomi; sosial budaya, dan kelembagaan dapat diuraikan seperti berikut: 57 a. Kriteria ekologi, antara lain kesesuaian lahan, dan daya dukung lingkungan. b. Kriteria ekonomi, antara lain manfaat ekonomi, dan tingkat pendapatan masyarakat. c. Kriteria sosial budaya, antara lain kebiasaan masyarakat, dan penyerapan tenaga kerja. d. Kriteria kelembagaan, antara lain bentuk kelembagaan, dan aturan pengelolaan. 3.4.3 Analisis Daya Dukung Lingkungan Untuk menentukan daya dukung lingkungan bagi model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ini digunakan 2 pendekatan yaitu: 1) Pendekatan yang mengacu pada daya dukung fisik, yaitu jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam suatu kawasan tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas kawasan tersebut secara fisik. Metoda yang digunakan adalah daya dukung lahan dan daya dukung kawasan. 2) Pendekatan yang mangacu pada daya dukung ekologis, yaitu tingkat maksimum penggunaan suatu kawasan atau suatu ekosistem, baik berupa jumlah maupun kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya sebelum terjadi penurunan dalam kualitas ekologis kawasan atau ekosistem tersebut. Metoda yang digunakan adalah pendugaan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Pendekatan 1: Berkaitan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan juga semakin bertambah yang akhirnya berdampak kepada semakin terbatasnya lahan, baik untuk tempat tinggal maupun untuk kegiatan pemanfaatan yang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis untuk menentukan seberapa besar daya dukung suatu lahan untuk menampung kegiatan pemanfaatan pada suatu wilayah tanpa merusak kelestarian lingkungan yang ada. Daya dukung lahan (DDL) menunjukkan kemampuan maksimum lahan untuk mendukung suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa menimbulkan penurunan kualitas baik lingkungan biofisik maupun sosial. DDL yang dianalisis dalam penelitian ini dibatasi pada kemampuan lahan dalam menampung suatu aktivitas tertentu ditinjau dari aspek kesesuaian fisik, hasil dari analisis ini akan memberikan informasi mengenai berapa besar luas lahan yang 58 dapat dimanfaatkan. Kapasitas Lahan (KL) diartikan sebagai luasan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa mengalami gangguan dan merusak ekosistem yang ada. Besarnya kapasitas lahan yang digunakan dalam model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Pulau Dullah ini adalah 30% dari luas lahan yang sesuai. Kapasitas lahan ditetapkan sebesar 30% karena berdasarkan morfogenesis pulau, Pulau Dullah termasuk kelompok pulau oseanik dengan kategori pulau karang (koral) dimana sebagian besar dari pulau-pulau ini tergolong pulau kecil (Bengen dan Retraubun 2006). Disamping itu berdasarkan ukurannya Pulau Dullah termasuk kategori pulau kecil dimana sangat peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia sehingga dalam pengelolaannya harus memperhatikan prinsip dan kriteria pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil. Berdasarkan pendekatan tersebut di atas maka daya dukung lahan dapat dihitung dengan rumus atau formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut: DDL = LLS X KL ………………………………………………………… (3) dimana: DDL = Daya Dukung Lahan LLS = Luas Lahan yang Sesuai KL = Kapasitas Lahan Sedangkan untuk menghitung jumlah unit (sarana pemancingan ikan dan karamba pembesaran ikan) maka digunakan rumus yang dimodifikasi dari formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut: JU = DDL / LOG ………………………………………………………… (4) dimana: JU = Jumlah Unit DDL = Daya Dukung Lahan LO = Luas Olah Gerak Luasan optimal sarana pemancingan ikan adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit perahu bercadik dengan ukuran panjang perahu 4 meter dan 59 lebar perahu termasuk cadiknya adalah 3 meter, sementara luas olah gerak (LOG) untuk 1 unit sarana pemancingan ikan agar dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh sarana pemancingan lainnya adalah 900 m2 (30 m X 30 m). Sedangkan luasan optimal karamba pembesaran ikan adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit rakit dengan 4 buah karamba berukuran 3m X 3m X 3m, luasan optimal untuk 1 unit rakit agar ikan-ikan yang dipelihara dapat bertumbuh dengan baik adalah 144 m2 (12 m X 12 m), luasan ini merupakan ukuran optimal yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto 1993), sementara luas olah gerak untuk 1 unit rakit karamba agar perahu yang menuju dan kembali dari rakit karamba tersebut dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh perahu lainnya adalah 3600 m2 (60 m X 60 m). Selanjutnya untuk menghitung berapa jumlah orang yang dapat ditampung di kawasan tersebut maka digunakan metoda daya dukung kawasan (DDK). DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung dikawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. DDK untuk minawisata bahari pancing dan minawisata bahari karamba pembesaran ikan dihitung dengan menggunakan rumus yang dimodifikasi dari formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut: ………………………………………………………… (5) DDK = JU X JP dimana: DDK = Daya Dukung Kawasan JU = Jumlah Unit JP = Jumlah Pengunjung Sedangkan DDK untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska), minawisata bahari selam, dan minawisata bahari mangrove dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Yulianda (2007) sebagai berikut: DDK = K x Wt Lp x Wp Lt ………………………………………… (6) 60 dimana: DDK = Daya dukung kawasan K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu Wt = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu Potensi ekologis pengunjung (K) dan unit area (Lt) ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan seperti ditunjukan pada Tabel 9. Tabel 9 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) Jenis Kegiatan K Unit Area (∑ Pengunjung) (Lt) Minawisata bahari pengumpulan kerang 1 Minawisata bahari selam 2 Minawisata bahari mangrove 1 2500 Keterangan Setiap orang dalam 50 m x 50 m 2000 m2 Setiap 2 orang dalam 200 m x 10 m 50 m Dihitung panjang track, setiap 1 orang sepanjang 50 m Sumber : Yulianda (2007). Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata. Waktu pengunjung diperhitungkan dengan waktu yang disediakan oleh kawasan (Wt) seperti yang disajikan pada Tabel 10. Pendekatan 2 : Pendekatan yang mangacu pada daya dukung ekologis untuk pengembangan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi adalah kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Penentuan daya dukung lingkungan berdasarkan kapasitas asimilasi lingkungan perairan seperti yang dikemukakan oleh Quano (1993) 61 Tabel 10 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata Waktu yang dibutuhkan / Wp ( jam ) Total waktu 1 hari / Wt ( jam ) Minawisata bahari pengumpulan kerang 4 8 Minawisata bahari selam 2 8 Minawisata bahari mangrove 2 8 Jenis Kegiatan Sumber : Yulianda (2007). adalah metode hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban limbahnya. Variabel yang diamati adalah debit air yang masuk ke teluk oleh pasut dan konsentrasi limbah di lingkungan perairan. Metode ini cukup dapat menggambarkan atau menunjukan kapasitas asimilasi dari lingkungan perairan dimaksud. Nilai kapasitas asimilasi didapatkan dengan cara membuat grafik hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter limbah di lingkungan perairan dengan total beban limbah parameter tersebut di muara sungai, dan selanjutnya dianalisis dengan cara memotongkan dengan garis baku mutu air laut yang diperuntukan bagi biota laut dan kegiatan wisata bahari berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Pola hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban pencemaran yang dimaksud disajikan pada Gambar 7. Jika pola hubungan tersebut direpresentasikan terhadap nilai baku mutu air laut maka akan dapat diketahui kapasitas asimilasi lingkungan perairan tersebut terhadap suatu parameter limbah tertentu. Nilai kapasitas asimilasi didapat dari titik potong beban pencemaran dengan nilai baku mutu yang berlaku untuk setiap parameter, dan selanjutnya dianalisis seberapa besar peran masing-masing parameter terhadap beban pencemarannya. Beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Nilai kapasitas asimilasi hanya berlaku di lingkungan perairan pada batas yang telah ditetapkan dalam lokasi penelitian. 62 2) Nilai hasil pengamatan, baik di muara sungai maupun di lingkungan perairan diasumsikan telah mencerminkan dinamika yang ada di perairan tersebut. 3) Perhitungan beban pencemaran dibatasi hanya yang berasal dari land based, sedangkan apabila ada pencemaran dari kegiatan lainnya di lingkungan Kualitas Air (Konsentrasi Limbah) perairan dan laut sekitarnya, maka itu tidak dihitung. Baku Mutu Beban Pencemaran Gambar 7 Grafik hubungan antara beban pencemaran dan kualitas air. Data yang diamati merupakan data pencemaran yang mempengaruhi kualitas air dilokasi penelitian. Hubungan yang ingin dilihat adalah pengaruh nilai parameter yang ada di muara sungai terhadap nilai parameter tersebut di lingkungan perairan. Alat analisis yang digunakan untuk melihat hubungan tersebut adalah ”regresi linier” dimana sebagai peubah bebas (independent) adalah nilai parameter di muara sungai, dan sebagai peubah tak bebas (dependent) adalah nilai parameter di lingkungan perairan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peubah pencemaran di lingkungan perairan dapat dijelaskan oleh peubah pencemaran di muara sungai atau dapat dituliskan dalam bentuk hubungan matematik yaitu : Y = f(x) sehingga menurut Quano (1993) bentuk hubungan tersebut dalam regresi linier dapat dituliskan sebagai berikut: 63 Y = a + b(x) ………………………………………………………………… (7) dimana: Y = nilai parameter di lingkungan perairan a = nilai tengah atau rataan umum b = koefisien regresi untuk parameter di muara sungai x = nilai parameter di muara sungai x dan y adalah jenis dari parameter yang sama, yang diukur di muara sungai dan di lingkungan perairan. Peubah x merupakan jumlah nilai dari semua muara yang diamati untuk parameter tertentu, dan peubah y merupakan nilai parameter lingkungan perairan yang dianggap tepat untuk mewakili seluruh nilai parameter yang ada di lingkungan perairan, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa y merupakan penduga terbaik untuk nilai parameter di lingkungan perairan tersebut. 3.4.4 Analisis Ekonomi Barbier et al. (1997) in Adrianto (2006b) menyediakan sebuah kerangka pendekatan penilaian ekonomi, dimana terdapat 3 tahapan utama dalam melakukan valuasi ekonomi sumberdaya pesisir dan laut, yaitu : 1) Tahap pertama, adalah mendefinisikan problem dan memilih pendekatan yang tepat untuk melakukan penilaian ekonomi. 2) Tahap kedua, adalah mendefinisikan ruang lingkup dan batasan dari analisis yang dilakukan serta informasi yang diperlukan untuk melakukan pendekatan terpilih. 3) Tahap ketiga, adalah mendefinisikan metoda pengumpulan data dan teknik valuasi termasuk analisis dan distribusi dampak yang mungkin dari pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. Ketiga tahapan tersebut diatas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian ekonomi secara utuh yang menggambarkan willingness to pay yang benar dari masyarakat terhadap manfaat yang dihasilkan dari ekosistem pesisir dan laut. Berdasarkan kerangka pendekatan tersebut diatas, maka analisis nilai ekonomi minawisata bahari yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan 64 pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA) yang diawali dengan metoda Valuasi Ekonomi. Barton (1994) in Adrianto (2006b) mengemukakan bahwa Total Economic Value (TEV) dalam valuasi ekonomi dikategorikan kedalam 2 (dua) komponen yaitu Use Value (UV) dan Non Use Value (NUV) sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut: TEV = UV + NUV ………………………………………………………… (8) dimana: TEV = Total Economic Value (nilai ekonomi total) UV = Use Value (nilai guna) NUV = Non Use Value (bukan nilai guna) Pada dasarnya nilai guna (use value) diartikan sebagai nilai yang diperoleh seorang individu atas pemanfaatan langsung dari sumberdaya alam dimana individu tersebut berhubungan langsung dengan sumberdaya alam dan lingkungan, yang didalamnya termasuk pemanfaatan secara komersial atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam misalnya ikan, kayu, dan lain-lain yang bisa dikonsumsi langsung atau dijual. Nilai guna ini secara lebih rinci menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) adalah sebagai berikut : UV = DUV + IUV + OV ……...………..…...........…………..….....…..…... (9) dimana: UV = Use Value (nilai guna) DUV = Direct Use Value (nilai guna langsung) IUV = Indirect Use Value (nilai guna tidak langsung) OV = Option Value (nilai pilihan) Nilai guna langsung (direct use value) merujuk langsung pada konsesi sumberdaya alam seperti kayu sebagai bahan bakar, sedangkan nilai guna tidak langsung (indirect use value) merujuk pada nilai yang dirasakan secara tidak langsung dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan seperti pencegahan banjir dan nursery ground dari ekosistem mangrove, sedangkan nilai pilihan (option value) merupakan suatu nilai yang 65 menunjukan pilihan seorang individu untuk membayar dalam melestarikan sumberdaya alam bagi pengguna lainnya dimasa mendatang. Komponen bukan nilai guna (non use value) adalah nilai yang diberikan kepada sumberdaya alam atas keberadaannya meskipun tidak digunakan secara langsung, yang lebih bersifat sulit diukur karena lebih didasarkan pada preferensi terhadap lingkungan ketimbang pengamatan langsung. Bukan nilai guna ini secara lebih rinci menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) adalah sebagai berikut : NUV = BV + EV + QOV .………...…………….......................………….. (10) dimana: NUV = Non Use Value (bukan nilai guna) BV = Bequest Value (nilai pewarisan) EV = Existence Value (nilai keberadaan) QOV = Quasi Option Value (nilai pilihan untuk menghindari kerusakan yang irreversible) Pada dasarnya nilai keberadaan adalah penilaian yang didasarkan kepada penilaian yang diberikan dengan terpeliharanya sumberdaya alam dan lingkungan, nilai pewarisan diartikan sebagai nilai yang diberikan oleh generasi kini dengan menyediakan atau mewariskan sumberdaya alam dan lingkungan kepada generasi mendatang, nilai pilihan untuk menghindari kerusakan yang irreversible (quasi option value) mengandung makna ketidak-pastian dimana nilai ini merujuk pada nilai barang dan jasa dari sumberdaya alam yang mungkin timbul sehubungan dengan ketidak-pastian permintaan dimasa mendatang. Dari persamaan (9) dan (10) tersebut, maka nilai ekonomi total (total economic value) menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) dapat dirumuskan sebagai berikut: TEV = UV + NUV = ( DUV+IUV+OV ) + ( BV+EV+QOV ) ……………...………… (11) dengan demikian yang dimaksud dengan nilai ekonomi sumberdaya menyeluruh adalah nilai ekonomi total yang merupakan penjumlahan dari nilai guna (use value) dan bukan nilai guna (non use value) beserta komponen-komponennya. 66 Dalam kondisi ketiadaan data dilapangan karena belum ada pemanfaatan sumberdaya secara intensif oleh masyarakat maka untuk melakukan valuasi ekonomi terhadap sumberdaya dimaksud dapat digunakan metoda benefit transfer. Menurut Boyle and Bergstrom (1992) in Atkinson (2006) benefit transfer (BT) adalah pendugaan nilai guna sumberdaya dengan cara menggunakan nilai yang sudah ada dari yang bukan nilai pasar untuk mendapatkan perkiraan nilai baru yang lain dari nilai yang mula-mula diduga. Nilai dugaan ini diperoleh dengan pendekatan nilai pasar (NP) dan indeks harga konsumen (IHK) dengan formula sebagai berikut: ND = NP X IHK lokasi studi ……………...……………...………… (12) IHK lokasi asal transfer dimana: ND = Nilai Dugaan NP = Nilai Pasar IHK = Indeks Harga Konsumen Selanjutnya, agar nilai dugaan tersebut mendekati nilai pasar dilokasi studi maka dihitung dengan cara merata-ratakan nilai guna sumberdaya tersebut yang didapat dari beberapa lokasi lain yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan lokasi studi dengan formula sebagai berikut: x ∑ xi = n ……………………………………...……………...………… (13) dimana: x = Nilai hasil benefit transfer X i (1,2,3, … n) = Nilai pasar lokasi asal transfer ke-i n = Jumlah lokasi asal benefit transfer Dari hasil Valuasi Ekonomi tersebut maka nilai bersih sekarang (net present value) dari manfaat dan biaya suatu proyek/usaha dapat diperoleh melalui pendekatan Extended Cost Benefit Analysis (ECBA). Pada prinsipnya Extended Cost Benefit Analysis adalah lanjutan dari Cost Benefit Analysis (CBA), disebut Extended karena dalam perhitungan Cost Benefit kita tambahkan biaya lingkungan sebagai salah satu komponennya. 67 Barton (1994) menjelaskan bahwa salah satu kriteria yang digunakan dalam evaluasi kebijakan adalah menghitung Net Present Value (NPV) dimana keuntungan bersih suatu proyek/usaha adalah pendapatan kotor dikurangi jumlah biaya. Dengan demikian maka NPV suatu proyek/usaha adalah selisih PV arus benefit dengan PV arus cost. Suatu proyek/usaha dapat dikatakan bermanfaat atau layak untuk dilaksanakan bila NPV proyek/usaha tersebut lebih besar dari atau sama dengan nol (NPV > 0) dan sebaliknya bila NPV proyek/usaha tersebut lebih kecil dari nol (NPV < 0) maka proyek/usaha tersebut merugikan atau tidak layak untuk dilaksanakan. Selain itu, dapat juga dengan melihat B/C Rasio, bila B/C Rasio > 1 maka usaha layak untuk dilaksanakan, bila B/C Rasio = 1 maka usaha perlu ditinjau kembali karena tidak memberikan keuntungan, sedangkan bila B/C Rasio < 1 maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Selanjutnya, dengan mengadopsi pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA), maka menurut Barton (1994) net present value (NPV) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut: NPV = B d + B e – C d – C e – C p …………………………………………. (14) dimana : NPV = Net Present Value (nilai bersih sekarang) Bd = direct benefit (manfaat langsung) Be = external and/or environmental benefit (manfaat eksternal dan/atau lingkungan) Cd = direct cost (biaya langsung) Ce = external and/or environmental cost (biaya eksternal dan/atau lingkungan) Cp = environmental protection cost / mitigation cost (biaya proteksi lingkungan/ biaya mitigasi) 3.4.5 Analisis Sosial Analisis sosial yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metoda analisis deskriptif, data yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan analisis ini didapat dengan melakukan wawancara langsung dengan stakeholders dan dengan menggunakan kuesioner. Informasi yang akan digali dari stakeholders antara lain: 68 bagaimana keinginan masyarakat terhadap rencana pengembangan Pulau Dullah ke depan, bentuk partisipasi dari masyarakat terhadap model pengelolaan minawisata bahari yang akan dikembangkan, identifikasi konflik pemanfaatan, sistem pengelolaan yang diinginkan, serta kemungkinan dampaknya bagi masyarakat. 3.4.6 Analisis Kelembagaan Analisis kelembagaan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metoda analisis deskriptif, data yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan analisis ini didapat dengan melakukan wawancara langsung dengan stakeholders dan dengan menggunakan kuesioner. Informasi yang akan digali dari stakeholders antara lain: bagaimana bentuk kelembagaan baik formal maupun non formal yang diinginkan oleh masyarakat terkait dengan model pengelolaan minawisata bahari yang akan dibangun di Pulau Dullah, identifikasi semua aturan-aturan (regulasi) yang terkait yang dapat menunjang model pengelolaan yang akan dibangun, mengkaji peranan berbagai institusi dan kelembagaan yang terkait dengan model pengelolaan yang akan dibangun. 3.5 Sintesis Model dinamik yang digunakan untuk melakukan sintesis terhadap rancang bangun pengelolaan minawisata bahari dalam penelitian ini adalah model gabungan dari dimensi ekologi dan dimensi ekonomi. a) Dimensi ekologi, memiliki atribut: luas ekosistem terumbu karang, laju pertumbuhan karang, laju degradasi karang, upaya penambahan luasan terumbu karang, luas ekosistem mangrove, laju pertumbuhan mangrove, laju degradasi mangrove, upaya penambahan luasan mangrove, luas lahan yang sesuai untuk masing-masing aktivitas minawisata bahari, daya dukung lingkungan, dan jumlah unit usaha masing-masing aktivitas minawisata bahari. b) Dimensi ekonomi, memiliki atribut: manfaat langsung, manfaat lingkungan, biaya langsung, biaya lingkungan, biaya mitigasi, NPV tahunan dan NPV kumulatif dari masing-masing aktivitas minawisata bahari, serta NPV tahunan total minawisata bahari berbasis konservasi. 69 Model tersebut diatas selanjutnya dibangun dalam bentuk causal loop sehingga membentuk suatu sistem dinamik yang kemudian akan disimulasikan dengan menggunakan perangkat lunak STELLA Version 9.0.2. Simulasi dari model dinamik ini akan menggunakan 3 skenario pengelolaan, dimana dari ketiga skenario tersebut akan dipilih salah satu yang paling optimal untuk dijadikan model pengelolaan terpadu. Terpenuhinya syarat kecukupan struktur dari suatu model sistem dinamik adalah dengan melakukan validasi atas perilaku yang dihasilkan oleh suatu struktur model. Validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara perilaku yang dihasilkan oleh model dan perilaku pada sistem nyata. 4. KONDISI AKTUAL LOKASI PENELITIAN 4.1 Kota Tual Pada awalnya Kota Tual berada dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara namun dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku maka sejak tanggal 10 Agustus 2007 sebagian wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara telah dialihkan ke dalam wilayah administratif Kota Tual. Kecamatan-kecamatan yang dialihkan diantaranya: 1) Kecamatan Pulau-Pulau Kur 2) Kecamatan Dullah Utara 3) Kecamatan Dullah Selatan 4) Kecamatan Tayando Tam Dengan pemekaran wilayah tersebut, maka secara astronomis posisi koordinat Kota Tual menjadi terletak antara 5º - 6º LS dan 131º - 133º BT. Peta wilayah administratif Kota Tual seperti ditunjukan pada Gambar 8. Gambar 8 Peta wilayah administratif Kota Tual. 72 Secara geografis wilayah ini dibatasi oleh Laut Banda di sebelah Barat dan di sebelah Utara; Selat Nerong (Kabupaten Maluku Tenggara) di sebelah Timur; dan Kecamatan Kei Kecil (Kabupaten Maluku Tenggara) serta Laut Arafura di sebelah Selatan. Luas wilayah administratif Kota Tual tercatat sebesar 19.095,84 km2 yang terdiri dari daratan seluas 352,29 km2 (1,84%) dan lautan seluas 18.743,55 km2 (98,16%). Kota Tual merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 66 pulau, yang dihuni sebanyak 13 pulau dan 53 pulau belum berpenghuni. Pada umumnya pulau-pulau yang tidak berpenghuni dipergunakan sebagai lahan pertanian/perkebunan atau sebagai tempat singgah kapal, keseluruhan pulau tersebut adalah merupakan pulau-pulau kecil. Data jumlah pulau yang dirinci per kecamatan sebagaimana ditunjukan pada Tabel 11. Tabel 11 Jumlah pulau dan luas wilayah administratif Kota Tual Kecamatan Luas Daratan (Km2) Luas Lautan (Km2) Luas Total (Km2) 9 60,78 5607,00 5.667,78 Dullah Utara 27 115,51 4217,00 4.332,51 Dullah Selatan 23 77,68 3209,00 3.286,68 Tayando Tam 7 98,32 5710,55 5.808,87 66 352,29 18.743,55 19.095,84 Pulau-Pulau Kur Jumlah Total Jumlah Pulau (buah) Sumber: Diolah kembali dari Maluku Tenggara Dalam Angka Tahun 2008. Dengan kondisi laut yang cukup luas dan dengan sumberdaya pulau-pulau kecil yang ada tersebut menjadikan Kota Tual memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup melimpah dan potensi pariwisata yang cukup mempesona. 4.1.1 Penduduk Jumlah penduduk Kota Tual pada tahun 2009 berdasarkan data statistik penduduk pada Dinas Tenaga Kerja, Kesra, Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tual tahun 2010 adalah sebanyak 70.367 jiwa yang tersebar pada 4 kecamatan. Penyebaran penduduk di Kota Tual tidak merata, berdasarkan data statistik penduduk terlihat bahwa persentase penduduk di Kecamatan 73 Dullah Selatan tercatat lebih tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya yaitu 41.930 jiwa (59,59 %) sementara di Kecamatan Pulau-Pulau Kur hanya mencapai 5.883 jiwa (8,46 %), hal ini karena sejak masih menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara hingga saat ini, kecamatan Dullah Selatan merupakan kawasan pemukiman padat penduduk, pusat pemerintahan, dan pusat kegiatan perekonomian. Data jumlah penduduk Kota Tual tahun 2005 - 2009 sebagaimana ditunjukan pada Tabel 12. Tabel 12 Perkembangan jumlah penduduk Kota Tual tahun 2005 - 2009 Kecamatan Pulau-Pulau Kur 2005 *) Jumlah Penduduk (Jiwa) 2006 *) 2007 *) 2008 *) 2009 **) 5.600 5.716 5.873 5.879 5.883 Dullah Utara 12.536 12.785 13.163 15.620 16.011 Dullah Selatan 25.050 25.566 26.013 40.451 41.930 Tayando Tam 6.856 7.014 7.213 6.494 6.543 50.042 51.081 52.262 68.444 70.367 Total Sumber : *) Diolah kembali dari Maluku Tenggara dalam Angka Tahun 2008. **) Dinas Tenaga Kerja, Kesra, Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tual dalam RPJM Kota Tual Tahun 2010. Dari Tabel 12 terlihat bahwa jumlah penduduk di Kota Tual menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah penduduk ini dibarengi dengan tingkat pertumbuhan yang relatif berbeda untuk setiap kecamatan. Pertumbuhan jumlah penduduk juga diikuti dengan laju pertambahan penduduk yang terus meningkat. Secara total, laju pertumbuhan penduduk Kota Tual untuk tahun 2009 adalah sebesar 12,70 % bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2008, sementara untuk tahun 2008 laju pertumbuhan penduduk mencapai angka 14,94 % bila dibandingkan jumlah penduduk untuk tahun 2007. 4.1.2 Mata Pencaharian Berdasarkan jenis mata pencaharian, masyarakat Kota Tual dapat digolongkan dalam beberapa kelompok, baik secara formal maupun informal. Komposisi struktur penduduk berdasarkan jenis pekerjaan yaitu petani/pekebun, wiraswasta, serta pegawai negeri sipil merupakan jenis pekerjaan yang dominan 74 yaitu sebesar 37,24 % dari total jumlah penduduk Kota Tual; kemudian diikuti oleh kelompok penduduk yang belum bekerja atau tidak bekerja sebesar 32,60 %; setelah itu pelajar/mahasiswa serta mengurus rumah tangga sebesar 23,07 %. Disamping itu masih terdapat jenis pekerjaan lain yang digeluti seperti pedagang, karyawan swasta/BUMN/BUMD, buruh harian, tukang, guru/dosen, dan pekerjaan informal lainnya sebesar 5,92 %; sementara yang berprofesi sebagai nelayan masih sangat sedikit yaitu sekitar 1,17 % dari total jumlah penduduk Kota Tual. Khusus untuk yang berprofesi sebagai nelayan, jumlah penduduk yang bekerja sebagai nelayan adalah 826 orang yang terdiri dari nelayan sebanyak 739 orang dan buruh nelayan sebanyak 87 orang, kondisi ini tentunya sangat ironis bila dibandingkan dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan Kota Tual yang tersedia yang seharusnya menjadi salah satu lapangan pekerjaan dominan di Kota Tual. 4.1.3 Potensi Kelautan dan Perikanan Berdasarkan pembagian Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di Indonesia, perairan Kota Tual adalah termasuk dalam WWP 8 (Laut Arafura) dan WPP 5 (Laut Banda) sehingga dapat dianggap mewakili potensi perikanan tangkap perairan laut Kota Tual. Potensi total sumberdaya ikan laut dari WPP 5 dan WPP 8 adalah sebanyak 1.040.600 ton/tahun. Kelompok ikan dengan potensi terbesar adalah kelompok ikan pelagis kecil (600.660 ton/tahun), diikuti kelompok ikan demersal (256.070 ton/tahun) dan ikan pelagis besar (154.980 ton/tahun). Pemanfaatan potensi perikanan ini khususnya ikan pelagis kecil dan ikan demersal rata-rata masih di bawah 10 % sementara untuk ikan pelagis besar baru 42,60 % sehingga peluang pengembangannya masih cukup besar. Aktivitas pengelolaan sumberdaya perikanan yang ada selama ini adalah perikanan tangkap yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu perikanan artisanal kecil oleh sebagian besar masyarakat, dan perikanan industri yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual. Jumlah produksi dan nilai produksi perikanan Kota Tual sesuai data tahun 2007 seperti ditunjukan pada tabel 13. 75 Tabel 13 Jumlah produksi dan nilai produksi perikanan Kota Tual tahun 2007 Kecamatan Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp) Pulau-Pulau Kur 2.212,00 11.038.489,00 Dullah Utara 2.949,40 14.717.985,00 127.422,40 564.230.747,00 2.394,30 11.958.363,00 134.978,10 601.945.584,00 Dullah Selatan Tayando Tam Jumlah Sumber : Diolah kembali dari Maluku Tenggara Dalam Angka Tahun 2008. Berdasarkan Tabel 13 terlihat bahwa total produksi tahun 2007 mencapai 134,978,10 ton dengan total nilai produksi Rp.601.945.584,00 bila dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya dimana produksi perikanan yang dicapai pada tahun 2005 adalah sebesar 131.353.90 ton maka dari sisi produksi telah terjadi peningkatan sebanyak 3.624,20 ton. Kegiatan perikanan tangkap yang berkembang saat ini adalah usaha penangkapan ikan karang, perikanan demersal dan perikanan pelagis serta pengumpulan organisme bentos yang bernilai ekonomis seperti Lola (Trochus sp), Batu Laga (Turbo), Kima (Tridacna sp) dan Teripang (Holothuria sp). Potensi sumberdaya ikan karang dan ikan hias pada beberapa lokasi seperti di sekitar pulau Rumadan (Dullah Laut), Ngadi, Teluk Un, Teluk Vid Bangir, Pulau Tam serta Tayando adalah sekitar 307 jenis. 4.1.4 Potensi Pariwisata Sebagai wilayah kepulauan yang banyak memiliki pulau-pulau kecil, obyek wisata bahari di kawasan ini sangatlah banyak. Obyek wisata bahari tersebar hampir di seluruh kecamatan. Umumnya obyek wisata bahari yang ada berupa keindahan alam dan pantai, taman laut, ekosistem terumbu karang dengan ikan hiasnya, ekosistem mangrove, dan lamun. Selain memiliki obyek wisata bahari, Kota Tual juga memiliki obyek wisata budaya yang tersebar di Kepulauan Kei antara lain sejarah peninggalan Jepang. 76 Beberapa obyek wisata yang telah berkembang dan potensial untuk dikembangkan di Kota Tual antara lain sebagai berikut: 1) Obyek wisata Pantai Difur 2) Obyek wisata Pantai Nam Indah 3) Obyek wisata Pulau Adranan 4) Obyek wisata budaya Dullah Darat 5) Obyek wisata Pulau Duroa 6) Obyek wisata Pulau Burung 7) Obyek wisata taman laut Pulau Barak New 8) Obyek wisata Goa Tengkorak Ular Kepala Tujuh 9) Obyek wisata desa nelayan Pulau Fair 10) Obyek wisata Pulau Ubur 11) Obyek wisata Teluk Un Walapun potensi wisata Kota Tual tersebut diatas masih belum banyak dikenal dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Maluku, tetapi beberapa barang khas dari Kota Tual seperti mutiara dan perahu tradisional sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas. Data perkembangan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk Kota Tual sekarang) dari tahun 2004 - 2008 seperti ditunjukan pada tabel 14. Tabel 14 Jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Kabupaten Maluku Tenggara (termasuk Kota Tual) tahun 2004 - 2008 Tahun Jumlah Wisatawan (orang) Domestik Mancanegara Total (orang) Pertumbuhan (%) 2004 7.010 120 7.130 - 2005 10.500 165 10.665 49,58 2006 12.500 190 12.690 18,99 2007 15.907 263 16.170 27,42 2008 20.910 346 21.256 31,45 Pertumbuhan Rata-Rata (%) 31,86 Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tual Tahun 2009. 77 Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa total jumlah wisatawan pada tahun 2008 adalah 21.256 orang yang terdiri dari 20.910 orang wisatawan domestik dan 346 orang wisatawan mancanegara, bila dibandingkan dengan total jumlah wisatawan tahun 2007 sebanyak 16.170 orang maka terdapat peningkatan sebanyak 5.086 orang atau bila dihitung persentase pertumbuhannya mencapai 31,45%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan kunjungan wisatawan selama 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2004 - 2008 adalah sebesar 31,86%. 4.1.5 Sarana dan Prasarana Vital a. Sarana Transportasi Dalam rangka menunjang pergerakan orang serta barang dan jasa melalui transportasi darat, di wilayah Kota Tual telah tersedia jaringan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat pemukiman, pusat-pusat produksi dan pusat-pusat pemasaran dan pelayanan. Secara umum jaringan jalan di Kota Tual terdiri dari jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten. Pada umumnya kondisi jalan provinsi cukup baik, hal ini terkait dengan struktur geologi Pulau Dullah berupa batu kapur yang cenderung keras. Jalan provinsi pada umumnya merupakan jalan utama di sepanjang pantai dan jalur di dalam kota, namun demikian jaringan jalan yang menghubungkan daerah-daerah yang jauh dari Kota Tual dan yang menghubungkan kantong-kantong produksi masih sangat terbatas. Total panjang ruas jalan di Kota Tual adalah 137,45 km yang terdiri dari jalan aspal sepanjang 44,05 km, hotmix sepanjang 24,90 km, jalan setapak 63,50 km, dan jalan tanah sepanjang 5,00 km. Sedangkan jumlah jembatan yang ada di Kota Tual sebanyak 17 unit dengan panjang keseluruhan 6,4 km. Sarana angkutan umum yang berkembang di Kota Tual adalah berupa Angkutan Pedesaan dan Angkutan Perkotaan. Sarana angkutan umum ini adalah mobil berjenis carry atau kijang yang telah dimodifikasi. Trayek angkutan umum yang terdapat di Kota Tual berjumlah 9 trayek dengan jumlah armada yang beroperasi mencapai 57 unit. Rute-rute trayek yang ada masih terbatas pada rute-rute tertentu seperti Tual - Tamedan sebanyak 7 unit; Tual - Dullah sebanyak 9 unit; Tual - Fiditan sebanyak 20 unit; Tual - BTN sebanyak 8 unit; Tual Ohoitel sebanyak 9 unit; dan Tual - Taar sebanyak 4 unit. Sedangkan Trayek sarana angkutan umum yang menghubungkan Kota Tual dengan Kabupaten 78 Maluku Tenggara berjumlah 40 trayek dengan jumlah armada yang beroperasi mencapai 382 unit. Rute-rute trayek yang ada masih terbatas pada rute-rute tertentu seperti Tual, Langgur dan desa-desa kecil yang berada di Pulau Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Terminal di Kota Tual terdapat 2 unit yaitu Terminal Lodar El dan Terminal Wara dengan klasifikasi Tipe C, yaitu terminal yang melayani rute angkutan pedesaan dan angkutan perkotaan yang terdapat di dua pulau yang berbeda. Terminal Lodar El yang terdapat di Pasar Tual melayani angkutan umum pada trayek-treyak di Pulau Dullah dan Pulau Kei Kecil. Selain kedua terminal tersebut di Kota Tual juga terdapat sub-subterminal yang berguna sebagai penghubung terminal-terminal utama. Untuk transportasi udara, Kota Tual belum memiliki bandara komersil, angkutan udara masih dilayani oleh Bandara Dumatubun Milik TNI AU yang berlokasi di Langgur - Kabupaten Maluku Tenggara, dengan kelas layanan 4 dan panjang runway 900 x 25 meter. Bandara ini melayani penerbangan domestik dan regional Maluku dengan dengan rute reguler Ambon - Tual yang dioperasikan oleh Trigana Air dengan pesawat Fokker 27, dan Wings Air dengan pesawat DAS dengan frekuensi penerbangan 5 kali seminggu. Selain kedua maskapai tersebut, rute Tual - Ambon juga dilayani oleh Merpati Airlines dengan frekuensi penerbangan 3 kali seminggu dengan menggunakan pesawat Cassa 212, sedangkan penerbangan Tual - Dobo oleh Merpati Airlines belum terjadwal. Peranan transportasi laut di Kota Tual sangat penting karena Kota Tual adalah kota kepulauan dan sebagain besar wilayahnya merupakan perairan laut. Keberadaan sarana dan prasarana transportasi laut ini sangat vital karena selain sebagai sarana mobilitas orang serta dan barang dan jasa dari dan ke luar Kota Tual, juga sekaligus berfungsi sebagai penggerak roda ekonomi daerah. Prasarana transportasi laut yang terdapat di Kota Tual antara lain: 1) Pelabuhan Yos Sudarso, merupakan pelabuhan umum yang ada di Kota Tual yang berfungsi bagi sarana mobilitas orang serta barang dan jasa di wilayah Indonesia Timur karena banyak disinggahi oleh kapal-kapal dari dalam negeri dan luar negeri. Pelabuhan ini memiliki causeway sepanjang 236 meter. 79 Selain itu, pelabuhan ini juga dimanfaatkan untuk aktifitas bongkar muat barang (kontainer). 2) Dermaga penyeberangan ferry dengan ukuran 50 x 6 meter dengan causeway sepanjang 50 meter. Selain berfungsi sebagai pelabuhan penyeberangan dan pelabuhan pelayaran nusantara, dermaga ini juga melayani pelayaran rakyat ke pulau-pulau disekitarnya. 3) Pelabuhan Kur, merupakan pelabuhan lokal yang terdapat di Desa Lokwirin, Pulau Kur yang dipergunakan untuk kegiatan bongkar-muat penumpang dan barang. 4) Dermaga Ngadi, milik PT. Maritim Timur Jaya, merupakan pelabuhan khusus yang berlokasi di Desa Ngadi dengan ukuran 330 x 15 meter dengan causeway sepanjang 330 meter. 5) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Dumar, dengan tipe jetty yang berukuran 120 x 6 meter dengan 2 causeway berukuran 60 x 6 meter. 6) Pelabuhan Pangkalan TNI - AL. 7) Pelabuhan Pertamina. 8) Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kalvik, di Pulau Kalvik. Selain prasarana diatas, maka ada beberapa sarana transportasi laut yang menghubungkan Kota Tual dengan kota-kota lainnya yaitu: 1) Kapal penumpang umum milik PT. PELNI (KM. Ciremai dan KM. Kelimutu) yang menghubungkan Kota Tual dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. 2) Kapal-kapal kargo milik swasta, yang melayani pengiriman barang dan jasa lainnya dari dan ke Kota Tual. 3) Kapal-kapal perintis milik swasta, yang melayani hubungan antar pulau di Provinsi Maluku. 4) Kapal ferry milik PT. ASDP (KMP Kormomolin), yang melayani hubungan antar pulau di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara. 5) Pelayaran rakyat/lokal (perahu motor 7 GT) yang melayani hubungan antar pulau di Kota Tual. b. Sarana Air Bersih Air bersih bagi Kota Tual adalah sesuatu yang sangat berarti. Pulau Dullah sebagai pusat Kota Tual sebagian besar tersusun dari jenis tanah/batuan berupa 80 kapur dan karang yang menjadikan pulau ini sangat minim sumber air bersih. Sumber air bersih bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Dullah selama ini disuplai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dimana sumber air bersih berasal dari mata air Evu dengan debit 1.400 liter/detik. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat masih memanfaatkan aliran air permukaan. Untuk mengantisipasi kebutuhan akan air bersih yang semakin banyak dan berkurangnya debit mata air Evu, maka alternatif sumber air yang akan dimanfaatkan adalah air dari Danau Ngadi dan Danau Fanil. Kondisi terakhir menunjukkan bahwa belum semua masyarakat mendapatkan layanan air bersih dari jaringan PDAM, masyarakat yang belum terlayani oleh jaringan PDAM memenuhi kebutuhannya dari PAH (Penampungan Air Hujan) dan membeli air dari pihak swasta yang disuplai melalui mobil tangki kapasitas 4 m3 dengan harga beli sebesar Rp.60.000. 4.2 Pulau Dullah 4.2.1 Keadaan Sosial Budaya Masyarakat Dalam perspektif stratifikasi sosial budaya, masyarakat pesisir bukanlah masyarakat yang homogen. Masyarakat pesisir terbentuk oleh kelompokkelompok sosial yang beragam. Karena masyarakat nelayan merupakan unsur sosial yang sangat penting dalam struktur masyarakat pesisir, maka budaya yang mereka miliki mewarnai karakteristik kebudayaan atau perilaku sosial budaya masyarakat pesisir secara umum. Kehidupan masyarakat yang banyak berkaitan dengan lokasi geografis menjadikan masyarakat Kota Tual termasuk masyarakat yang mendiami Pulau Dullah sebagai masyarakat bahari dengan segala aktifitas ekonominya yang berbasis pada sumberdaya laut. Karakteristik budaya masyarakat Kota Tual cukup majemuk dan dapat digolongkan berdasarkan basis geografis dan kulturalnya (dialek bahasa). Penduduk setempat memahami hidupnya berdasarkan kesadaran bahwa mereka memiliki hubungan kekeluargaan yang sama atau berasal dari satu nenek moyang sehingga karakter tersebut kemudian ditransformasikan kedalam kehidupan sosial masyarakat mereka seperti pranata gotong royong yang dikenal dengan budaya “maren” yaitu tradisi tolong-menolong antara satu dengan yang lain misalnya 81 dalam mendirikan rumah, memagar kebun, hajatan, pekerjaan-pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti dibidang perikanan, pertanian, dan lain-lain. Ketergantungan masyarakat pada alam, terutama pada sektor perikanan dan pertanian menjadikan budaya mereka mempunyai konstruksi yang terasa alamiah. Konstruksi adat yang naturalistik ini bisa dilihat dari kuatnya nilai adat pantangan, keseimbangan tindakan pada alam, kemampuan membaca tanda-tanda alam dan kelebihan-kelebihan supranatural lainnya dalam kultur masyarakat Kei. Perilaku khas bagi masyarakat Kei adalah citra diri orang laut. Hal ini ditandai dengan mobilitas yang tinggi, sikap terbuka, dan penghargaan pada kaidah-kaidah hidup nenek moyang, terutama yang menyangkut bagaimana seharusnya mengelola sumberdaya alam. Karena adanya struktur nilai yang berhirarki supranaturalistik dan terlembagakan sedemikian rupa maka masyarakat Kota Tual juga memiliki pantangan-pantangan hidup. Salah satu budaya yang merupakan bentuk kearifan lokal yaitu Sasi atau Hawear yang dikenal masyarakat sebagai tradisi dalam mengatur waktu pemanfaatan sumberdaya alam. Saat ini budaya-budaya tersebut telah banyak mengalami pergeseran. Sasi Darat dan Sasi Laut lambat laun mulai ditinggalkan. Kondisi ini memberikan isyarat bahwa Sasi sebagai tradisi warisan dalam praktek pengelolaan sumberdaya alam perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah di masing-masing Desa, karena tujuan pelaksanaan Sasi adalah optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana dan berkelanjutan. 4.2.2 Hak Masyarakat Adat dalam Dimensi Legislasi Nasional dan Daerah Pengakuan, perlindungan dan penghormatan terhadap masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya (termasuk masyarakat adat Kei di Pulau Dullah) telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam dinamika pembangunan hukum di Indonesia. Hal ini termanifestasi dalam beberapa aturan formal dilevel konstitusi diantaranya: 1. Undang-Undang Dasar 1945. a. Pasal 18B Ayat (2) Amandemen Kedua, menyatakan bahwa: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat 82 serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang. b. Pasal 28I UUD 1945 Amandemen Kedua, ditegaskan bahwa: Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban. 2. Tap MPR Nomor XVII/MPR/1998 Tantang Hak Asasi Manusia. Pasal 41 menyebutkan: Identitas budaya masyarakat tradisional termasuk hakhak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman. Ketetapan ini menegaskan bahwa pengakuan dan perlindungan kepada masyarakat hukum adat merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pada level Undang-Undang, telah ditetapkan berbagai produk hukum yang memberikan posisi istemewa dan strategis bagi eksistensi masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut (termasuk ekosistem hutan mangrove). Produk Undang-Undang tersebut antara lain: 1. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Jo UU No. 19 tahun 2004 Tentang Kehutanan. Pasal 67 ayat (1) dinyatakan bahwa: Masyarakat hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya berhak atas: a. Pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan. b. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Dalam Pasal 2 Ayat (9) disebutkan bahwa: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI. 3. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 83 a. Pasal 5 disebutkan bahwa: Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. Pasal 6, dinyatakan bahwa: Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaiman dimaksud Pasal 5 wajib melakukan dengan cara mengintegrasikan kegiatan : a. Antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah; b. Antar-Pemerintah Daerah; c. Antar sektor; d. Antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat; e. Antara ekosistem darat dan Ekosistem laut; dan f. Antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip manajemen. Selain itu pada konteks lokal, Pemerintah Provinsi Maluku sebagai sikap responsif terhadap implementasi Peraturan Perundang-Undangan Nasional maupun menjawab dinamika dan kebutuhan lokal dalam koridor otonomi daerah, menetapkan berbagai Peraturan Daerah sebagai ekspresi terhadap pengakuan, perlindungan, dan penghormatan terhadap eksistensi masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya. Hal ini dilatari oleh realitas keberadaan masyarakat adat dan susunan pemerintahannya yang masih hidup dan tumbuh dalam dinamika kehidupan pembangunan di daerah termasuk di Pulau Dullah - Kota Tual Provinsi Maluku. Adapun berbagai produk hukum tersebut diantaranya: 1. Peraturan Daerah Provinsi Maluku Nomor 14 Tahun 2005 tentang Penetapan Kembali Negeri sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Wilayah Pemerintahan Provinsi Maluku. 2. Peraturan Daerah Provinsi Maluku Nomor 3 Tahun 2008 tentang Wilayah Petuanan. Berbagai produk hukum peraturan perundang-undangan baik pada level Konstitusi, Undang-Undang, maupun Peraturan Daerah yang dikemukakan di atas 84 memberikan penjelasan bahwa secara makro eksistensi masyarakat adat dan hak-hak tradisonalnya termasuk di dalamnya pengelolaan terhadap wilayah pesisir dan laut di Maluku secara normatif diakui, dihormati, dan dilindungi oleh hukum positif di Indonesia baik di tingkat pusat maupun daerah. 4.2.3 Isu-Isu Kerusakan Lingkungan Dengan adanya pemekaran wilayah Kota Tual maka pertumbuhan penduduk akan semakin tinggi dan kegiatan pembangunan di pesisir akan semakin pesat, dengan demikian tekanan ekologis terhadap ekosistem dan sumberdaya akan semakin meningkat pula. Meningkatnya tekanan ini tentunya akan memberikan dampak seperti terjadinya kerusakan lingkungan yang akan mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Isu-isu yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan yang terjadi di Pulau Dullah antara lain:  Penambangan Pasir Pantai  Pengrusakan hutan bakau (mangrove)  Pengrusakan Karang  Pembuangan sampah ke laut  Tumpahan minyak di laut  Pembuangan air balast kapal Diantara ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di Pulau Dullah, yang saat ini mulai berada dalam kondisi memprihatinkan adalah ekosistem pantai berpasir, mangrove, dan terumbu karang. Oleh karena itu agar ekosistem dan sumberdaya ini dapat berperan secara optimal dan berkelanjutan, maka diperlukan upaya-upaya perlindungan dari berbagai ancaman degradasi yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas pemanfaatan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Salah satu upaya perlindungan yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan kawasan-kawasan tertentu di wilayah pesisir dan laut sebagai kawasan konservasi yang antara lain bertujuan untuk melindungi ekosistem, sumberdaya, dan habitat-habitat kritis; mempertahankan dan meningkatkan kualitas sumberdaya; melindungi keanekaragaman hayati; dan melindungi proses-proses ekologi yang terjadi didalamnya. 85 4.3 Teluk Un 4.3.1 Status dan Sejarah Kawasan Teluk Un Teluk Un adalah merupakan perairan semi tertutup yang berada di dalam petuanan Desa Taar dengan posisi geografis 132o45`26`` - 132o45`44`` BT dan 5o38`18`` - 5o38`40`` LS dan membujur dari Timur laut ke Barat daya. Teluk ini berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Teluk Un memiliki kanal sepanjang kurang lebih 100 m dengan lebar 52 m yang menghubungkannya dengan Teluk Vid Bangir di bagian Barat daya Teluk Un. Potensi sumberdaya hayati laut Teluk Un banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Taar dan penduduk lain yang tinggal berdekatan dengan teluk tersebut. Teluk ini dikenal sebagai ladang ikan beronang (Siganus sp), kepiting rajungan (Portunus pelagicus), dan berbagai jenis moluska seperti teripang (Holothuria sp), tiram (Saccostrea cucullata dan Saccostrea echinata) yang telah lama dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. Pemanfaatan potensi sumberdaya laut teluk ini cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Apalagi karena berada dalam pusat pengembangan Kota Tual maka dikhawatirkan dimasa datang akan terjadi tekanan eksploitasi maupun tekanan lingkungan lainnya terhadap sumberdaya teluk ini bersamaan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk sebagai konsekuensi pengembangan Kota Tual. Teluk ini merupakan daerah penangkapan ikan bagi nelayan tradisional dan lokasi budidaya. Untuk mempertahankan kelestarian sumberdaya yang ada, maka sejak tahun 2003 telah disepakati sistim penutupan areal perairan (moratorium) bagi eksploitasi segala jenis biota di dalam teluk ini oleh masyarakat Desa Taar. Pranata sosial budaya ini disebut dengan istilah Sasi atau yang dalam bahasa lokal disebut Yutut dan dikenal sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat yang ada disana. Praktek pelaksanaan sasi seperti ini sudah dilaksanakan berkalikali di Teluk Un oleh masyarakat desa Taar sebagai pemilik adat teluk tersebut. 4.3.2 Kondisi Lingkungan a. Kondisi Fisik Pulau Dullah merupakan dataran yang relatif landai dengan ketinggian ±100 meter diatas permukaan laut dengan beberapa bukit rendah di tengah pulau Dullah. Kemiringan lereng di pulau Dullah secara umum berkisar antara 0 - 8% 86 dan 8 - 15%. Desa-desa pada umumnya berada pada wilayah dengan ketinggian antara 0 - 100 meter diatas permukaan laut. Topografi daratan di sekitar Teluk Un sangat landai terutama daratan di bagian Timur teluk tersebut, terkecuali bagian barat pulau Kalvik yang berbukit-bukit dengan tingkat kemiringan lebih dari 40% yang terbentang dari Utara ke Selatan. Kemiringan topografi daratan bagian Barat laut Teluk Un lebih besar dari 1% terhitung dari batas pasang tertinggi. Untuk lingkungan perairan, batimetri dasar perairan Teluk Un sangat datar terutama pada bentangan Utara-Selatan. Kemiringan rata-rata dasar perairan Teluk Un termasuk dataran pasang surut adalah sebesar 0,12%. Persentase kemiringan dasar perairan ini tergolong sangat landai menuju kedalaman terbesar di bagian Selatan teluk tersebut yaitu berdekatan dengan ujung Timur kanal teluk tersebut. Kedalaman terbesar teluk ini adalah 12 meter pada saat surut terendah (Z o ) atau akan mencapai 14,60 meter pada saat pasang tertinggi karena tunggang pasut (tidal range) perairan kepulauan Kei adalah ±2,60 meter. Bentuk batimetri dataran pasang surut Teluk Un seperti ditunjukan pada Gambar 9. Ketinggian dari pasang tertinggi (m) 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0.0 0 20 40 60 80 100 Jarak dari batas pasang tertinggi (m) Gambar 3. Topografi rata-rata dasar perairan Un diukur terhadap Sumber: Laporan Hasil Identifikasi Calon KKLD Maluku Tahun 2006. batas pasang tertinggi sebagai referensi. Gambar 9 Batimetri rata-rata dasar perairan Teluk Un diukur terhadap batas pasang tertinggi. 87 Gambar 9 memperlihatkan bahwa dari garis pantai hingga jarak 20 meter ke arah bagian tengah Teluk Un kedalaman perairan bertambah secara perlahanlahan, pada jarak 20 hingga 60 m hampir tidak ada penambahan kedalaman (datar), kemudian pada jarak 60 hingga 80 m kedalaman berkurang (makin dangkal) dan setelah 80 m kedalaman makin bertambah secara perlahan-lahan menuju bagian Selatan teluk tersebut. Iklim di sekitar kawasan Teluk Un dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di bagian Timur dan Benua Australia di bagian Selatan, sehingga sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan iklim. Keadaan musim teratur, musim Timur (kemarau) berlangsung dari bulan April sampai Oktober, sedangkan musim Barat (penghujan) berlangsung dari bulan Oktober sampai Pebruari. Musim Pancaroba berlangsung dalam bulan Maret/April (peralihan pertama) dan Oktober/Nopember (peralihan kedua). Biasanya pada bulan April sampai Oktober bertiup angin Timur Tenggara. Angin kencang bertiup pada bulan Januari dan Pebruari diikuti dengan hujan deras dan laut bergelora. Curah Hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun, suhu rata-rata untuk tahun 2007 sesuai data dari Stasiun Meteorologi Dumatubun - Langgur adalah 27,7ºC dengan suhu minimum 21,3ºC dan maksimum 33,6ºC. Kelembaban rata-rata 83,1%, penyinaran matahari rata-rata 62,2% dan tekanan udara rata-rata 1.010,1 milibar. Untuk lingkungan pantai dan perairan, kisaran ukuran partikel substrat perairan Teluk Un terdiri dari pebbles hingga lempung. Lebar dataran pasut dapat mencapai lebih dari 200 meter dan memiliki dasar perairan yang sangat landai. Karena kondisi dasar perairannya yang landai dan kisaran pasut wilayah ini yang tergolong dalam mesotidal (>2,50 meter) menyebabkan saat surut sebagian besar perairan ini mengalami kekeringan. Kecuali di areal sekitar kanal dan kanal itu sendiri yang tidak memiliki mintakad pasang surut karena relatif lebih dalam. Teluk Un berhubungan dengan Teluk Vid Bangir melalui kanal tersebut. Batuan penyusun pantai kawasan Teluk Un umumnya terdiri dari terumbu karang dan batuan kapur. Pada ujung Utara teluk ini terdapat sumber air tanah yang merembes ke dalam teluk tersebut. Substrat lumpur di teluk ini umumnya berasosiasi dengan ekosistem bakau, sehingga kandungan lumpur ini umumnya 88 terdiri dari serasah daun mangrove. Perairan teluk ini relatif belum tercemar walaupun jumlah pemukiman di sekitar teluk tersebut semakin meningkat. Kepekaan teluk ini terhadap pencemaran relatif kecil karena memiliki waktu menetap massa air yang singkat yaitu kurang lebih 9 jam. Hal ini disebabkan karena kondisi perairan yang sempit dan dangkal dengan kecepatan arus di kanal yang umumnya mencapai 0,5 m/detik (Renjaan dan Pattisamalo 1999). b. Kondisi Oseanografi Arus dominan di Teluk Un adalah arus pasang surut, dari hasil pengukuran arus secara tertambat (eularian) berdasarkan laju disolusi kapur tulis pada bulan Oktober dan November 1997 diketahui bahwa bahwa kecepatan arus di dalam Teluk Un baik di dalam maupun di luar areal padang lamun memiliki kisaran antara 0,35 - 1,12 m/detik. Pada saat air bergerak pasang kecepatan arus rata-rata adalah 0,31 m/detik sedangkan pada saat surut adalah 0,24 m/detik. Kehadiran padang lamun dapat mereduksi kecepatan arus sebesar 0,002 – 0,025 m/detik (Polanunu 1998). Hal ini menunjukkan bahwa zonasi di belakang padang lamun relatif kurang dinamis dibandingkan di depannya, hal ini tentu akan berpengaruh terhadap suplai oksigen, makanan, maupun proses remineralisasi sedimen. Kecepatan rata-rata arus pada kanal menunjukan kondisi yang sama yaitu pada saat pasang kecepatan rata-rata adalah 0,54 m/detik sedangkan pada saat surut kecepatan rata-ratanya adalah 0,51 m/detik (Renjaan dan Pattisamalo 1999). Karena tipe pasang surut perairan ini adalah pasang campuran mirip harian ganda maka arus pasang surut pada suatu titik di Teluk Un akan berubah arah dan kecepatannya sebanyak empat kali. Kecepatan arus pada kanal teluk ini sangat mempengaruhi cepat lambatnya pergantian massa air di dalam teluk tersebut, hal ini berkaitan dengan kepekaan teluk tersebut terhadap polusi maupun dalam menentukan input dan output bibit (propagule), misalnya larva biota laut yang terbawa arus ke teluk tersebut. Renjaan dan Pattisamalo (1999) mengemukakan bahwa lama waktu menetap (residence time) atau lama waktu singgah (transit time) massa air di teluk tersebut diperkirakan kurang dari 9 jam. Dalam kurun waktu yang singkat ini Teluk Un dapat memperbaharui massa airnya maupun kondisi bio-ekologisnya. 89 Nilai salinitas sangat mempengaruhi sebaran fauna maupun flora pada suatu perairan teluk. Distribusi jenis mangrove tertentu atau distribusi kerang tertentu sangat dipengaruhi oleh nilai kisaran salinitas. Misalnya Saccostrea echinata tidak mampu bertoleransi terhadap salinitas rendah, sebaliknya Saccostrea cucullata mampu bertoleransi terhadap salinitas Tinggi. Hal ini menentukan keberadaan species-species ini di dalam teluk Un. Berdasarkan pengukurun secara terus menerus selama 15 hari pada kanal teluk tersebut, maka diketahui bahwa nilai salinitas berkisar antara 31 - 35‰, dimana salinitas pada saat surut lebih rendah dari salinitas pada saat pasang (Renjaan dan Pattisamalo 1999). Sedangkan nilai salinitas yang dipantau selama sebulan (Oktober - November 1999) di dalam Teluk Un menunjukkan bahwa nilai salinitas berkisar antara 33 - 35‰. Pola angin di Pulau Dullah khususnya di sekitar Teluk Un pada umumnya sama dengan di wilayah lain di Kepulauan Kei. Karena luas kawasan Teluk Un yang relatif kecil, maka angin tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap permukaan laut di dalam teluk tersebut. Hasil pengukuran Polanunu (1998) menunjukan bahwa pada bulan Oktober dan Nopember ( musim peralihan II) arah angin umumnya datang dari Barat daya (lokasi kanal). Disamping itu berdasarkan pengukuran menggunakan Anemometer pada ketinggian dua meter di atas permukaan laut Teluk Un memperlihatkan bahwa kecepatan angin berkisar antara 0,3 - 4,7 knot. Kecepatan ini hanya mampu menimbulkan riak karena wilayah pembentukan gelombang (fetch) dari teluk ini relatif sangat sempit. Tipe pasang surut di kawasan Teluk Un adalah pasang campuran mirip harian ganda (mixed predominantly semi-diurnal tide). Tipe pasang ini dicirikan dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari dimana pasang pertama lebih besar dari pada pasang yang kedua. Pasang tertinggi di perairan ini terjadi pada bulan April dan Desember. Hal ini bersamaan dengan musim pemijahan cacing laor (Perinereis cultrifera) atau dalam bahasa setempat disebut Es’u. Oleh karena itu masyarakat setempat menyebutnya Metruat Es’u yang berarti pasang laor (cacing laut), sedangkan surut terendah terjadi pada bulan Oktober. Karena kondisi topografi Teluk Un yang sangat landai, maka sebagian besar wilayah perairannya mengalami kekeringan. Pada saat itu terjadi eksploitasi (pengumpulan berbagai hasil laut) secara besar-besaran oleh masyarakat setempat. 90 Surut terbesar di bulan Oktober itu dikenal sebagai Meti Kei atau dalam bahasa setempat disebut Met Ef yang umumnya bersamaan dengan musim kemarau dan suhu udara yang relatif tinggi. Berdasarkan pengukuran suhu permukaan di kanal Teluk Un secara terusmenerus selama 15 hari pada bulan Oktober - Nopember 1997, dengan interval waktu pengukuran tiap 30 menit, diketahui bahwa suhu permukaan massa air yang masuk (inflow) dan yang keluar (outflow) dari Teluk Un berkisar antara 27 - 33°C. Suhu rata-rata inflow adalah 27,5oC sedangkan suhu rata-rata outflow adalah 27,7oC (Renjaan dan Pattisamalo 1999). Sedangkan suhu rata-rata di dalam teluk tersebut berdasarkan pengukuran selama sebulan adalah berkisar antara 29 - 31oC. Tingginya suhu air laut di dalam teluk dan yang ditransport dari bagian dalam teluk, dibandingkan dengan suhu air laut yang ditransport dari luar Teluk Un, diduga berhubungan dengan kondisi batimetri Teluk Un yang dangkal dan relatif sempit, sehingga proses pemanasan tubuh air di bagian dalam teluk relatif lebih cepat di bandingkan dengan bagian luar teluk yang relatif lebih dalam. c. Kondisi Biologis Flora dan fauna darat di sekitar kawasan Teluk Un diantaranya adalah tumbuhan Nipah (Nypa fruticans) yang tumbuh di bagian darat ekosistem mangrove. Pada bagian Utara tumbuhan pantai tersebut tumbuh pohon jenis Ketapang (Terminalia catapa), Waru laut (Hibiscus tiliaceus), lebih jauh ke darat tumbuh Pandan darat (Pandanus tectorius). Terdapat pula Cemara darat (Casuaria equisetifolia), demikian pula berbagai jenis tumbuhan anggrek (Dendrobium sp) yang mendiami batang dan dahan mangrove. Pepohonan tersebut juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung seperti Kakatua (Cacatua sp) dan Nuri (Lorius sp). Kakatua Tanimbar (Cacatua gofini) merupakan jenis endemik yang hanya ada di Kepulauan Yamdena dan Kepulauan Kei, serta Kakatua (Cacatua galerita eleonora) yang juga merupakan jenis endemik kepulauan Kei Kecil, Aru dan Seram Timur, kedua jenis kakatua ini dilindungi Undang-Undang dan terdaftar sebagai species langka dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Pada pepohonan dengan kanopi yang besar dan lebat, hidup berbagai jenis Kuskus antara lain seperti Kuskus 91 coklat biasa (Phalanger orientalis), Kuskus kelabu (Phalanger gymnotis), dan Kuskus totol hitam (Phalanger rufoniger). Untuk flora dan fauna laut, mangrove dan lamun mendominasi kawasan perairan Teluk Un, sedangkan karang hanya terdapat pada ujung timur kanal kanal tersebut). Mangrove mengitari hampir keseluruhan teluk, demikian pula lamun yang hampir menutupi 50% dasar perairan teluk tersebut. Mangrove, lamun dan karang merupakan ekosistem produktif perairan tropis, kehadiran ketiga ekosistem ini menopang keberlanjutan ekosistem perairan karena merupakan habitat bagi berbagai fauna, yakni sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Mangrove sendiri memasok unsur hara ke dalam perairan karena serasah mangrove dirombak oleh bakteri dan fungi menjadi zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan fitoplankton, alga ataupun mangrove itu sendiri dalam fotosintesis, sebagiannya sebagai partikel serasah (detritus) yang dimakan oleh ikan, kepiting, dan udang. Selain mangrove, lamun, dan karang, pada kawasan perairan Teluk Un juga dijumpai makrofauna yang terdiri dari kelompok Moluska, Ekinodermata, Arthropoda, Annelida, dan beberapa spesies dari kelompok lainnya. Hasil sampling dari 10 transek pengamatan seperti ditunjukan pada Tabel 15. Dari Tabel 16 diketahui bahwa Bronia sp dari kelas Annelida merupakan jumlah terpadat yakni 1,55 ind/m2 diikuti oleh Eunice sp dari kelas yang sama dengan tingkat kepadatan 1,42 ind/m2, kemudian Pitar manilae dari kelas Molluska dengan tingkat kepadatan sebesar 1,42 ind/m2, sedangkan Owenia sp dari kelas Annelida merupakan jenis dengan jumlah paling jarang yakni 0,06 ind/m2. Disamping itu, keberadaan plankton juga tidak dapat diabaikan. Dalam struktur tropik, phytoplankton merupakan kelompok organisme yang berada pada struktur dasar atau produksi primer di dalam rantai makanan di laut. Dari hasil analisis terhadap populasi plankton terlihat bahwa kondisi plankton cukup baik dengan tingkat kestabilan komunitas berada pada kondisi sedang. Zooplankton merupakan spesies yang pada struktur tropik rantai makanan berada pada tingkatan kedua. Berdasarkan tingkat kepadatan, populasi zooplankton lebih rendah dibandingkan dengan populasi phytoplankton. 92 Tabel 15 Kelas dan spesies makrofauna di Teluk Un No. Kelas/Spesies Kepadatan (ind/m2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 MOLUSKA Abra sp. Donax variagatus D. vittatus D. compresus Perna viridis Pitar manilae Rhinoclavis vertagus Tellina radiate Terebellum terebellum 0,26 0,34 1,32 0,56 0,18 1,42 0,72 2,80 0,22 1 2 3 4 5 EKINODERMATA Amphiura sp. Dendraster excentrias Holothuria atra Protoreaster nodosus Synapta recta 0,42 0,38 0,18 0,44 0,22 1 2 3 ARTHROPODA Macropthalmus sp. M. ceratophorus Penaeus sp. 0,24 0,32 1,34 1 2 4 5 6 7 8 9 ANNELIDA Autolytus sp. Axiotella sp. Bronia sp. Capitella sp. Eunice sp. Nereis sp. Owenia sp. Polynea sp. 0,56 1,12 1,55 1,12 1,52 0,80 0,06 0,86 1 2 3 KELOMPOK LAIN Aspidosiphon sp. Sipunculus sp. Plumularia sp. 0,22 0,42 0,30 Sumber: Laporan Hasil Identifikasi Calon KKLD Maluku Tahun 2006. Hasil sampling larva selama 15 hari berturut-turut yang dilakukan dengan interval waktu sampling 30 menit selama bulan Oktober - November 1997 di kanal Teluk Un (Renjaan dan Pattisamallo 1999) seperti ditunjukan pada Tabel 16. 93 Tabel 16 Plankton yang terbawa arus pasut dari dan ke Teluk Un Arah arus Klas Ordo Genus Arus masuk (inflow) ke Teluk Un saat pasang Gastropods Heteropod Pteropod Archeogastropod Atlanta Limacina Nerita Bivalvia Un-identified Un-identifed Gastropods Heteropod Pteropod Archeogastropod Atlanta Limacina Peraclis Diacria Creseis Nerita Un-identified Un-identified Arus keluar (outflow) dari Teluk Un saat surut Bivalvia Sumber: Laporan Hasil Identifikasi Calon KKLD Maluku Tahun 2006. Dari hasil sampling tersebut diketahui bahwa jumlah jenis plankton yang terbawa oleh arus dari dalam ke luar Teluk Un lebih banyak bila dibandingkan dengan yang terbawa oleh arus dari luar ke dalam Teluk Un. Tercatat 3 jenis plankton (holoplankton) yang hanya didapatkan terbawa oleh arus dari dalam laguna ke luar laguna, hal ini mengindikasikan bahwa Teluk Un pada saat itu merupakan wilayah sumber (source) bagi ketiga jenis plankton tersebut. Demikian pula bahwa jumlah (kepadatan) plankton untuk setiap jenis yang terbawa oleh arus surut dari dalam Teluk Un lebih banyak dari yang terbawa oleh arus pasang dari luar teluk tersebut. d. Kondisi Kimia Perairan Salah satu indikator yang dijadikan tolok ukur dalam menilai kualitas perairan adalah pengamatan parameter kimia perairan. Dari hasil analisis terlihat bahwa kualitas perairan di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah berada dalam kondisi yang relatif baik dan tidak mengalami perubahan akibat masukan bahan-bahan kimia dan logam berat ke lingkungan perairan, sehingga dapat digunakan untuk kegiatan budidaya laut. Namun di beberapa tempat perairan Kei Kecil telah terjadi kelebihan kandungan logam cadmium yang melebihi ambang batas yang diperbolehkan dalam badan air. Tingginya kandungan logam cadmium 94 ini banyak disebabkan oleh buangan limbah dari kegiatan penduduk disekitar perairan dan aktivitas lainnya di sekitar pelabuhan Tual. Kondisi kimia perairan di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah seperti ditunjukan pada Tabel 17. Tabel 17 Nilai parameter kimia air laut di sekitar perairan Kei Kecil dan Pulau Dullah No Parameter Satuan Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PH DO Sulfida (H 2 S) COD Amonia (NH 3 -N) Nitrat (NO3-N) Nitrit (NO2-N) Sianida (CN) Phosfat Raksa (Hg) Kadmium (Cd) Timah Hitam (Pb) Tembaga (Cu) mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l 7,71 6,912 2,50 m) menyebabkan saat surut sebagian besar perairan ini mengalami kekeringan. Hasil penelitian dari Latale (2003) in Natan (2008) menemukan bahwa salah satu spesies moluska dari famili Lucinidae yakni kerang lumpur (Anodontia edentula) mendiami substrat bersedimen pasir sangat kasar (very coarse sand) sampai lumpur (silt atau clay), dan umumnya didominasi oleh pasir kasar (coarse sand) dan pasir berukuran sedang (medium sand), dan mempunyai nilai porositas antara 41,71 - 55,58%. Kemiringan pantai merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi minawisata bahari pengumpulan moluska. Pada umumnya aktivitas ini dapat dilakukan di daerah intertidal dengan kemiringan pantai yang landai karena lama waktu untuk berwisata sambil mengumpulkan moluska akan lebih panjang dan relatif aman bagi wisatawan. Untuk daerah intertidal dengan kemiringan pantai yang curam, aktivitas ini masih dapat dilakukan tetapi waktunya relatif lebih pendek dan cukup beresiko terhadap keselamatan wisatawan dalam hubungannya dengan proses naiknya permukaan air laut akibat pasang karena dataran pasut pada pantai yang curam akan cepat tergenang air laut, sedangkan daerah intertidal dengan kemiringan pantai yang terjal tidak dimungkinkan untuk melakukan aktivitas pengumpulan moluska. 109 Perubahan suhu akan berpengaruh terhadap pola kehidupan organisme perairan. Pengaruh suhu yang utama adalah mengontrol penyebaran hewan dan tumbuhan. Suhu mempengaruhi secara langsung aktifitas organisme seperti pertumbuhan dan metabolisme bahkan menyebabkan kematian organisme, sedangkan pengaruh tidak langsung adalah meningkatnya daya akumulasi berbagai zat kimia dan menurunkan kadar oksigen dalam air. Setiap spesies hewan moluska mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap suhu. Suhu optimum bagi moluska bentik berkisar antara 25 - 28oC (Hutagalung 1988 dan Huet 1972 in Razak 2002). Sejalan dengan itu, salinitas secara tidak langsung mempengaruhi kerang melalui perubahan kualitas air seperti pH dan oksigen terlarut. Menurut Setiobudiandi (1995) salinitas optimum bagi hewan moluska berkisar antara 2 - 36 ppt. Renjaan (2006) in DPK (2006a) menjelaskan bahwa jenis pasut di kawasan Teluk Un adalah pasut campuran mirip harian ganda (mixed predominantly semidiurnal tide), tipe pasut ini dicirikan dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari. Dengan jenis pasut seperti ini maka aktivitas pengumpulan moluska oleh wisatawan dapat dilakukan selama 2 kali dalam 1 hari, dengan demikian minawisata bahari pengumpulan moluska dapat dikembangkan di daerah-daerah dengan tipe pasut seperti ini, salah satunya adalah di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). Data lapangan menunjukan bahwa untuk lingkungan perairan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter biofisik dan oseanografi perairan seperti jenis moluska; kelimpahan; suhu perairan; salinitas; lebar dataran pasut; tipe substrat pantai; dan kemiringan pantai memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan kondisi lingkungan perairan menjadi sesuai bersyarat (SB) dan tidak sesuai (TS) yaitu tunggang pasut. Tunggang pasut (tidal range) sangat erat hubungannya dengan tipe pantai dan lebar dataran pasut. Menurut Renjaan (2006) in DPK (2006a) tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil umumnya lebih dari 2,5 meter, dengan kondisi tunggang pasut sedemikian pada topografi yang landai seperti halnya di Teluk Un maka pada saat surut terendah sebagian besar dataran pasut muncul dipermukaan 110 air. Sementara itu menurut BAKOSURTANAL (1992) in DPK (2006a) tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil berdasarkan pengukuran selama 30 hari di stasiun TNI AL Tual adalah 2,6 meter. Daerah-daerah dengan tunggang pasutnya besar sangat sesuai untuk lokasi minawisata bahari pengumpulan moluska, hal ini karena dengan tunggang pasut yang lebih dari 2 meter pada pantai yang landai, maka pada saat surut akan membuat pantai tersebut menjadi cukup luas dan mengalami kekeringan sehingga dapat digunakan untuk melakukan aktivitas pengumpulan moluska. Sedangkan pada saat air laut bergerak pasang, daerah intertidal tersebut masih relatif aman bagi wisatawan karena permukaan air laut akan naik secara perlahan dalam waktu yang cukup lama untuk menutupi pandai yang landai. Sebaliknya untuk daerahdaerah dengan tunggang pasutnya kecil (kurang dari 2 meter) tidak sesuai untuk lokasi minawisata bahari pengumpulan moluska. Hal ini karena dengan tunggang pasut yang kurang dari 2 meter pada pantai yang relatif curam maka walaupun pada saat surut, lebar dataran pasut (lebar pantai) tidak cukup luas sehingga tidak dimungkinkan untuk melakukan aktivitas pengumpulan moluska. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak semua kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sesuai untuk aktivitas minawisata bahari pengumpulan moluska seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 11. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan potensi dan sumberdaya moluska di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dikemas dalam bentuk minawisata bahari pengumpulan moluska maka perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti peralatan pengumpul kerang berikut peralatan pengolahannya, sehingga moluska yang terkumpul dapat diolah dan dinikmati saat itu juga oleh wisatawan. c. Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Ikan-ikan karang seperti dari jenis baronang (Siganus gutatus); kerapu bebek (Cromileptes altivelis); kerapu sunu (Plectropomus leopardus); kerapu lumpur (Epinephelus tauvina); kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus); napoleon/maming (Cheilinus undulatus); dan beberapa jenis lainnya merupakan ikan konsumsi yang saat ini banyak dipasarkan dalam keadaan hidup, umumnya 111 Gambar 11 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska). 112 ikan-ikan jenis ini tersebar di daerah tropis dan subtropis. Selain dapat diambil dari habitatnya, saat ini ikan-ikan tersebut mulai ditangkar (dibesarkan) dan dibudidaya. Metoda pemeliharaan yang paling produktif dengan teknik akuakultur adalah dengan metoda karamba jaring apung yang dilakukan diperairan pantai, hal ini karena jumlah dan kualitas air selalu memadai dan juga mudah dipanen. Saat ini banyak wisatawan yang selain melakukan kegiatan wisata pantai atau wisata bahari juga mencari bentuk aktivitas lain yang berhubungan dengan ekosistem dan sumberdaya laut sebagai bentuk lain dalam berwisata. Dengan melihat peluang tersebut maka aktivitas pembesaran ikan dalam karamba jaring apung dapat dikembangkan dan dikemas dalam bentuk minawisata bahari yaitu berwisata sambil menikmati makanan laut (sea-food) dari berbagai jenis ikan karang. Aktivitas pembesaran ikan dalam karamba jaring apung yang dimaksud dalam minawisata bahari ini adalah bukan dalam konteks berproduksi tetapi semata-mata untuk kepentingan berwisata. Wisatawan diberikan kesempatan untuk memilih ikan dalam karamba yang pengambilannya dilakukan sendiri oleh wisatawan dan selanjutnya dapat langsung diolah dan dinikmati pada saat itu juga untuk mencapai kepuasan selama berwisata, atau bisa juga dibawa pulang kerumah untuk dinikmati bersama keluarga. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan ini dapat dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena kondisi perairannya relatif tenang serta terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat. Kelompok ikan yang menjadi target pembesaran dalam karamba jaring apung adalah ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomis yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat, atau ikan-ikan yang merupakan target penangkapan (ikan ekonomis penting). Tentunya aktivitas yang akan dikembangkan ini adalah aktivitas yang berbasis konservasi, karena ikan-ikan tersebut tidak dibudidaya melainkan hanya diambil dari habitatnya dan dibesarkan dalam karamba jaring apung sehingga beban limbah yang dihasilkan tidak sampai mencemari lingkungan perairan. Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan mempertimbangkan 10 parameter kesesuaian yaitu kecepatan arus; tinggi gelombang; kedalaman air dari dasar jaring; suhu perairan; salinitas; oksigen terlarut; pH perairan; nitrat; phospat; serta jarak dari alur pelayaran dan kawasan 113 lainnya. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, diperoleh luasan lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan seperti ditunjukan pada Tabel 20. Tabel 20 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan No 1. 2. 3. Kelas Kesesuaian Sesuai (S) Sesuai Bersyarat (SB) Tidak Sesuai (TS) Total Luasan (ha) 44,97 136,97 107,24 289,17 Luasan (%) 15,55 47,37 37,08 100,00 Tabel 20 menunjukan bahwa luas perairan yang sesuai (S) untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah sebesar 44,97 ha (15,55%), yang sesuai bersyarat (SB) adalah sebesar 136,97 ha (47,37%), sedangkan yang tidak sesuai (TS) adalah sebesar 107,24 ha (37,08%) dari total luas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Menurut DKP-RI (2002), kondisi perairan dengan kecepatan arus yang dipersyaratkan untuk kegiatan budidaya ikan dalam karamba jaring apung di laut adalah kurang dari 0,75 m/detik dengan tinggi gelombang kurang dari 0,5 meter. Sedangkan kedalaman air dari dasar jaring adalah lebih dari 10 meter, hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan sirkulasi air serta limbah yang dihasilkan dari kegiatan karamba jaring apung. Folke et al. (l994) menjelaskan bahwa beban limbah yang dihasilkan untuk memproduksi 100 ton ikan dari kegiatan budidaya dengan karamba jaring apung adalah sama dengan beban limbah pemukiman penduduk yang didiami oleh 850 - 3.200 orang. Namun demikian menurut Kasnir dkk (2004) beban limbah tersebut dapat dikurangi dengan memberikan pakan alami berupa ikan hidup yang sudah dipotong ekornya seperti ikan mujair atau ikan lainnya, pakan alami ini dapat menghasilkan pertumbuhan sebesar 12 - 16 gram/minggu. Suhu perairan adalah merupakan salah satu parameter ekologis yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Menurut Nybakken (1988) dalam kondisi normal suhu dipermukaan laut berkisar antara 25,6 – 32,3oC, disamping itu Mulyanto (1992) menjelaskan bahwa suhu perairan yang baik untuk kehidupan 114 ikan di daerah tropis berkisar antara 25 - 32oC, sementara menurut LP Undana (2006) suhu perairan yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu berkisar antara 24 - 31oC. Selain suhu perairan, salinitas juga merupakan parameter ekologis lainnya yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Nontji (2003) menjelaskan bahwa nilai salinitas di lautan pada umumnya berkisar antara 33 - 37‰. Untuk daerah pesisir salinitas berkisar antara 32 - 34‰ sedangkan untuk laut terbuka umumnya berkisar antara 33 - 37‰ dengan rata-rata adalah 35‰, kisaran ini baik untuk kehidupan organisme laut khususnya ikan (Romimohtarto dan Juwana 1999) sementara menurut LP Undana (2006) salinitas yang baik untuk pertumbuhan ikan kerapu berkisar antara 30 - 33‰. Oksigen adalah salah satu gas terlarut yang memegang peranan penting untuk menunjang kehidupan organime dalam proses respirasi dan metabolisme sel. Kandungan oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan ikan kerapu adalah >3,5 ppm. Demikian juga dengan kadar ion hydrogen (pH) perairan yang merupakan parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme. Dalam skala 0 - 14 setiap organisme mempunyai pH optimal, dimana pH optimal untuk pertumbuhan ikan kerapu berkisar antara 7,8 - 8 (LP Undana 2006). Menurut Tiensongrusmee et al. (1986) kandungan nitrat dalam kolom air yang dipersyaratkan untuk budidaya ikan dalam karamba jaring apung adalah lebih kecil dari 0,9 mg/l, sedangkan nilai optimalnya adalah kurang dari 0,1 mg/l. Lebih lanjut dijelaskan juga bahwa kandungan phospat dalam kolom air yang dipersyaratkan untuk budidaya ikan dalam karamba jaring apung adalah lebih kecil dari 0,9 mg/l, sedangkan nilai optimalnya adalah kurang dari 0,1 mg/l. Selain parameter fisika kimia dan oseanografi perairan tersebut diatas, pengembangan minawisata bahari karamba pembesaran ikan di suatu lokasi tertentu juga harus mempertimbangkan jarak lokasi pengembangan dari alur pelayaran, kawasan budidaya dan kawasan lainnya seperti sentra pemukiman; perekonomian; aktivitas pemerintahan; dan lain-lain. Idealnya jarak untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 500 meter, hal ini agar aktivitas minawisata bahari karamba pembesaran ikan yang dikembangkan di lokasi 115 tersebut tidak sampai mengganggu alur pelayaran. Demikian pula sebaliknya semua kegiatan masyarakat yang ada di sekitar lokasi tersebut tidak sampai berpengaruh kepada aktivitas minawisata bahari karamba pembesaran ikan yang dikembangkan dilokasi tersebut (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). Data lapangan menunjukan bahwa untuk lingkungan perairan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter fisika kimia dan oseanografi perairan seperti kecepatan arus; tinggi gelombang; kedalaman air dari dasar jaring; suhu perairan; salinitas; oksigen terlarut; pH perairan; nitrat; phospat; serta jarak dari alur pelayaran dan kawasan lainnya memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan kondisi lingkungan perairan menjadi sesuai bersyarat (SB) dan tidak sesuai (TS) yaitu kedalaman perairan. Di beberapa bagian Teluk Un, kedalaman perairan ditemukan berada pada kisaran kurang dari 15,5 meter sehingga dengan tunggang pasut 2,5 meter maka pada saat surut terendah, kedalaman perairan di bagian tersebut akan menjadi kurang dari 13 meter. Dengan kedalaman jaring karamba sekitar 3 meter dan persyaratan kedalaman air dari dasar jaring harus lebih dari 10 meter maka bagian perairan tersebut menjadi tidak sesuai untuk menempatkan karamba jaring apung. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak semua kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sesuai untuk aktivitas minawisata bahari karamba pembesaran ikan seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 12. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan potensi dan sumberdaya ikan karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dikemas dalam bentuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan, perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti peralatan untuk mengambil ikan dari dalam karamba berikut peralatan pengolahannya sehingga ikan-ikan tersebut dapat diolah dan dinikmati saat itu juga oleh wisatawan. d. Minawisata Bahari Selam Wisata selam merupakan suatu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam bawah laut dan dinamika air lautnya untuk kepuasan manusia yang dikembangkan 116 Gambar 12 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan. 117 dengan pendekatan konservasi laut. Objek kegiatannya adalah berupa penyelaman dengan objek ekosistemnya adalah terumbu karang, sedangkan objek komoditinya adalah ikan-ikan dan berbagai biota laut penghuni ekosistem terumbu karang. Selain sebagai kegiatan wisata bahari, selam juga dapat dikemas dalam bentuk minawisata bahari yaitu mengintroduksikan kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan seperti spear-gun atau peralatan penangkap ikan lainnya kedalam aktivitas selam tersebut. Dengan demikian selain dapat menikmati keindahan bawah laut, wisatawan juga dapat menangkap ikan-ikan target atau ikan-ikan konsumsi. Hasil tangkapannya dapat langsung diolah dan dinikmati pada saat itu juga untuk mencapai kepuasan selama berwisata, atau bisa juga dibawa pulang kerumah untuk dinikmati bersama keluarga. Minawisata bahari selam ini dapat dikembangkan di kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena selain memiliki terumbu karang sebagai objek ekosistem, teluk ini juga merupakan daerah penangkapan ikan bagi nelayan tradisional dan dikenal sebagai ladang ikan baronang, kerapu, maming, dan juga jenis-jenis ikan target lainnya yang telah lama dimanfaatkan oleh penduduk Desa Taar dan sekitarnya bagi pemenuhan kebutuhan protein. Tentunya minawisata bahari selam yang akan dikembangkan ini adalah yang berbasis konservasi. Pengembangan minawisata bahari selam ini tentunya membutuhkan berbagai sarana pendukung seperti perahu, spear gun atau alat penangkap ikan lainnya, peralatan selam, dan pemandu selam (buddies), namun sampai saat ini kondisi riil di lokasi penelitian menunjukan bahwa semua sarana pendukung tersebut belum ada yang menyediakannya. Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam mempertimbangkan 8 parameter kesesuaian yaitu jenis ikan karang; kecerahan perairan; tutupan komunitas karang; jenis life-form; suhu perairan; salinitas; kedalaman terumbu karang; dan kecepatan arus. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, diperoleh luasan lahan untuk minawisata bahari selam seperti ditunjukan pada Tabel 21. Tabel 21 menunjukan bahwa luas perairan yang sesuai (S) untuk minawisata bahari selam adalah sebesar 24,12 ha (8,34%), yang sesuai bersyarat (SB) adalah sebesar 157,82 ha (54,58%), sedangkan yang tidak sesuai (TS) adalah sebesar 107,24 ha (37,08%) dari total luas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 118 Tabel 21 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam No 1. 2. 3. Kelas Kesesuaian Sesuai (S) Sesuai Bersyarat (SB) Tidak Sesuai (TS) Total Luasan (ha) 24,12 157,82 107,24 289,17 Luasan (%) 8,34 54,58 37,08 100.00 Jumlah jenis ikan karang merupakan parameter penting dalam minawisata bahari selam, suatu perairan dapat dikategorikan sesuai untuk minawisata bahari selam apabila terdapat minimal 75 spesies ikan karang, dan 20 - 75 spesies untuk kelas sesuai bersyarat, sedangkan apabila jumlah jenisnya kurang dari 20 spesies maka perairan tersebut tidak sesuai untuk minawisata bahari selam. Menurut DPK (2003) berdasarkan hasil sensus visual yang dilakukan pada beberapa titik di perairan Kabupaten Maluku Tenggara menunjukan bahwa kepadatan dan sediaan cadang ikan karang relatif cukup tinggi terutama pada daerah perairan karang dekat tubir. Jumlah jenis ikan karang yang teridentifikasi di sekitar perairan Pulau Dullah termasuk di Ngadi, Teluk Un, dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 109 spesies. Untuk kecerahan perairan, hasil penelitian Suharsono dan Yosephine (1994) menunjukan bahwa terdapat korelasi positif antara kecerahan perairan dengan persentase tutupan karang di 27 buah pulau di Kepulauan Seribu. Semakin tinggi transparansi air semakin besar persentase tutupan karang hidup, demikian pula sebaliknya semakin rendah transparansi air semakin kecil pula persentase tutupan karang hidup. Data lapangan menunjukan bahwa kecerahan perairan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah mencapai 100 % pada kedalaman 12 meter. Kedalaman terbesar perairan Teluk Un adalah 14,6 meter dan Teluk Vid Bangir adalah 17,8 meter pada saat pasang tertinggi. Dengan kecerahan 100 % pada kedalaman 12 meter tersebut maka bila dihitung dalam persentase kecerahan perairan di Teluk Vid Bangir mencapai 68% dan di Teluk Un mencapai 82%. Salah satu indikator kesehatan suatu perairan adalah keberadaan terumbu karang dengan tingkat persentase penutupan karang relatif tinggi. Kategori untuk mengukur persentase penutupan karang yang sering digunakan adalah mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh Gomes dan Yap (1998) dengan 119 kategori 0 - 24,9% maka tergolong dalam kondisi buruk, 25 - 49,9% adalah sedang, 50 - 74,9% adalah baik, dan 75 - 100% adalah baik sekali. DKP (2003) menemukan bahwa persentase penutupan karang di perairan sekitar Pulau Dullah adalah 68,74%, bila mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh Gomes dan Yap tersebut diatas maka ekosistem terumbu karang di kawasan ini berada dalam kategori baik sehingga dapat dikembangkan untuk minawisata bahari selam. Untuk jenis life-form, Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata selam mengemukakan bahwa jumlah jenis life-form yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 10 spesies, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 4 - 10 spesies, sedangkan apabila jumlah jenis life-form kurang dari kurang dari 4 spesies atau tidak ada karang sama sekali maka perairan tersebut tidak sesuai untuk ekowisata selam. Konsep ini yang kemudian diadopsi sebagai salah satu parameter kesesuaian dalam minawisata bahari selam. Demikian pula dengan suhu yang merupakan salah satu parameter penting bagi biota perairan, perubahan suhu yang drastis dapat menimbulkan kematian bagi biota perairan. Menurut Nybakken (1988) dalam kondisi normal, suhu dipermukaan laut berkisar antara 25,6 – 32,3oC, disamping itu Mulyanto (1992) menjelaskan bahwa suhu perairan yang baik untuk kehidupan ikan di daerah tropis berkisar antara 25 - 32oC. Selanjutnya menurut Hubbard (1990), ekosistem terumbu karang pada umumnya terbatas pada suhu 18 - 36oC, dengan nilai optimal antara 26 - 28oC. Pertumbuhan karang hermatypic tumbuh dan berkembang dengan subur antara 25 - 29oC (Tamrin, 2006). Data lapangan menunjukan bahwa suhu rata-rata di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah 29 - 32oC, kondisi ini memungkinkan untuk kehidupan terumbu karang dan ikan sehingga dapat dijadikan lokasi minawisata bahari selam. Menurut Nontji (2003) nilai salinitas di lautan pada umumnya berkisar antara 33 - 37‰. Untuk daerah pesisir salinitas berkisar antara 32 - 34‰ sedangkan untuk laut terbuka umumnya berkisar antara 33 - 37‰ dengan rata-rata adalah 35‰. Salinitas diketahui juga merupakan faktor pembatas kehidupan hewan karang. Salinitas air laut rata-rata di daerah tropis adalah sekitar 35‰, dan hewan karang hidup subur pada kisaran salinitas sekitar 34 - 36‰ (Kinsman 2004). Dengan batasan yang dikemukakan diatas maka perairan Teluk Un dan 120 Teluk Vid Bangir dapat dijadikan lokasi minawisata bahari selam karena salinitasnya masih berada pada kisaran yang dipersyaratkan yaitu 30 - 33‰. Kedalaman perairan meskipun merupakan faktor pembatas kehidupan terumbu karang tetapi pada perairan yang jernih dan kondisi lingkungannya memungkinkan, terumbu karang dapat tumbuh sampai kedalaman 50 meter. Menurut Nybakken (1988) terumbu karang tidak dapat berkembang diperairan yang lebih dalam dari 50 - 70 meter. Kebanyakan terumbu karang tumbuh pada kedalaman kurang dari 25 meter. Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata selam mengemukakan bahwa kedalaman terumbu karang yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah antara 3 - 20 meter, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 21 - 30 meter, sedangkan apabila kedalaman terumbu karang kurang dari 3 meter dan/atau lebih dari 30 meter maka tidak sesuai untuk ekowisata selam. Konsep ini juga yang kemudian diadopsi sebagai salah satu parameter kesesuaian dalam minawisata bahari selam. Data lapangan menunjukan bahwa terumbu karang yang ada di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berada pada kedalaman 5 - 17 meter sehingga memenuhi kisaran yang dipersyaratkan untuk lokasi minawisata bahari selam. Disamping kecerahan perairan, kecepatan arus juga sangat menentukan bagi kegiatan wisata selam maupun untuk ekologi terumbu karang. Menurut Jokiel dan Morrissey (1993) pergerakan arus mempengaruhi struktur komunitas dan distribusi jenis karang pada suatu daerah. Secara keseluruhan kondisi terumbu karang di daerah yang terbuka presentase tutupan karangnya relatif rendah. Arus yang kuat berkorelasi dengan meningkatnya perpindahan pecahan-pecahan karang yang akan mengganggu proses pemulihan karang. Selain itu kecepatan arus merupakan faktor yang berhubungan dengan keselamatan penyelam. Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata selam mengemukakan bahwa kecepatan arus yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah antara 0 - 25 cm/detik, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 26 - 50 cm/detik, sedangkan apabila kecepatan arusnya lebih dari 50 cm/detik maka tidak sesuai untuk ekowisata selam. Konsep ini pula yang kemudian diadopsi sebagai salah satu parameter kesesuaian dalam minawisata bahari selam. Hasil pengukuran kecepatan arus pada saat pengambilan data lapangan 121 menunjukan bahwa kecepatan arus di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berkisar antara 19 - 33 cm/detik dengan demikian memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, kecuali pada kanal dan mulut kanal yang menghubungkan kedua teluk tersebut kecepatan arusnya berkisar antara 76 - 91 cm/detik. Data lapangan menunjukan bahwa untuk lingkungan perairan dengan kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter biofisik dan oseanografi perairan seperti jenis ikan karang; kecerahan perairan; tutupan komunitas karang; jenis life-form; suhu perairan; salinitas; kedalaman terumbu karang; dan kecepatan arus memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan sebagian dari lokasi perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang sesuai bersyarat (SB) akan menjadi tidak sesuai (TS) yaitu tunggang pasut. Dengan tunggang pasut (tidal range) lebih dari 2,5 meter maka pada saat surut sebagian wilayah akan mengalami kekeringan sehingga tidak bisa digunakan untuk kegiatan penyelaman. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak semua kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sesuai untuk aktivitas minawisata bahari selam seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 13. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan ekosistem terumbu karang serta potensi dan sumberdaya ikan karang di Teluk Un yang dikemas dalam bentuk minawisata bahari selam maka perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti perahu, spear gun atau alat penangkap ikan lainnya, peralatan selam, dan pemandu selam (buddies). Perahu digunakan sebagai salah satu sarana untuk mencapai lokasi penyelaman, oleh karena minawisata bahari selam yang akan dikembangkan adalah yang berbasis konservasi, maka jenis perahu yang disarankan adalah yang terbuat dari bahan kayu dan pengoperasiannya adalah dengan cara didayung oleh wisatawan (perahu tidak bermotor) dengan kapasitas muat sekitar 3 - 4 orang. Hal ini selain untuk menambah kenikmatan selama berwisata, juga bertujuan untuk menghindari adanya tumpahan minyak yang dapat mencemari perairan di sekitar lokasi penyelaman apabila menggunakan perahu bermotor. Selain itu agar kelihatan menarik dan artistik, perahu tersebut dapat diberi hiasan dengan 122 Gambar 13 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari selam. 123 corak khas budaya daerah setempat. Selain perahu, peralatan penunjang lainnya adalah spear gun atau alat penangkap ikan lainnya yang akan digunakan oleh wisatawan untuk menangkap ikan pada saat melakukan penyelaman. Peralatan selam yang akan digunakan dalam aktivitas ini adalah peralatan standar scuba diving yang terdiri dari baju selam, tabung oksigen dan regulator udara, masker, sepatu dayung (fins), timah pemberat, dan beberapa aksesoris tambahan lainnya yang memang dibutuhkan dalam aktivitas tersebut. Sesuai aturan POSSI bahwa setiap melakukan aktivitas penyelaman seorang penyelam (wisatawan) harus didampingi oleh seorang pemandu selam (buddies), hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan pada saat berada didalam laut, seperti panik; kehabisan oksigen; kehilangan arah; dan lain-lain. Pemandu selam yang dipersyaratkan adalah yang telah memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh POSSI dan telah mengenal kondisi fisik lingkungan perairan di lokasi penyelaman. e. Minawisata Bahari Mangrove Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran air dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat, oleh karena itu hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai Teluk yang dangkal dan daerah pantai yang terlindung, salah satunya seperti yang terdapat di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Salah satu bentuk pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah dengan mengembangkan konsep minawisata bahari yaitu berwisata menikmati ekosistem mangrove dengan semua proses alamiah yang terjadi di dalamnya. Minawisata bahari mangrove dapat dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena selain cocok untuk aktivitas perikanan dan pariwisata terpadu dan berbasis konservasi, teluk ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk pendidikan bahari. 124 Kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove mempertimbangkan 6 parameter kesesuaian yaitu ketebalan mangrove; kerapatan mangrove; jenis mangrove; jenis biota; tinggi pasut; dan jarak dari kawasan lainnya. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, diperoleh luasan lahan untuk minawisata bahari mangrove seperti ditunjukan pada Tabel 22. Tabel 22 Hasil analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove No 1. 2. 3. Kelas Kesesuaian Sesuai (S) Sesuai Bersyarat (SB) Tidak Sesuai (TS) Total Luasan (ha) 29,29 11,17 40,46 Luasan (%) 72,39 27,61 100,00 Tabel 22 menunjukan bahwa ekosistem mangrove yang ada di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai), namun demikian masih terdapat sebagian ekosistem mangrove yang memenuhi kriteria untuk kelas kesesuaian yang sesuai bersyarat (SB) yaitu sebesar 29,29 ha (72,39%), sedangkan luasan ekosistem mangrove yang tidak sesuai (TS) untuk aktivitas ini adalah sebesar 11,17 ha (27,61%) dari luas ekosistem mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove mengemukakan bahwa ketebalan mangrove yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) adalah lebih dari 300 meter, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 50 - 300 meter, sedangkan apabila ketebalan mangrovenya kurang dari 50 meter maka tidak sesuai untuk ekowisata mangrove. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk kerapatan mangrove, kisaran yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) adalah lebih dari 10 - 25 ind/100 m2, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 5 - 10 ind/100 m2 dan/atau lebih dari 25 ind/100 m2, sedangkan apabila kerapatan mangrovenya kurang dari 5 ind/100 m2 maka tidak sesuai untuk ekowisata mangrove. Konsep ini yang kemudian diadopsi sebagai parameter kesesuaian dalam minawisata bahari mangrove. Hasil penelitian MERDI in DPK (2006a) menunjukan bahwa tingkat kerapatan individu mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah 1,52 ind/m2 dengan nilai rerata kepadatan per spesies 125 0,28 ind/m2. Sedangkan kisaran tingkat kerapatan per spesies berkisar antara 0,13 ind/m2 (Avicenia rumpiana; Xylocarpus granatum) hingga 0,44 ind/m2 (Soneratia alba). Jika nilai dari selisih kisaran kepadatan individu mangrove (0,31 ind/m2), dibandingkan dengan nilai rerata kepadatan Mangrove dilokasi ini maka diketahui bahwa perbedaan nilai kepadatan per spesies mangrove cukup bervariasi. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa pada ujung Utara teluk ini terdapat sumber air tanah yang merembes ke dalam teluk tersebut, substrat lumpur di teluk ini umumnya berasosiasi dengan ekosistem mangrove khususnya dari jenis api-api (Avicennia alba) dan jenis bakau (Rhizophora mucronata), sehingga kandungan lumpur ini umumnya terdiri dari serasah daun mangrove. Di bagian pantai Teluk Vid Bangir terdapat 5 jenis mangrove yakni Aegiceras corniculatum; Rhizophora apiculata; Avicenia rumpiana; Soneratia alba, dan Xylocarpus granatum. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, mangrove dan lamun mendominasi kawasan perairan Teluk Un. Mangrove mengitari keseluruhan teluk sedangkan lamun hampir menutupi 50% dasar perairan teluk tersebut. Menurut Bengen (2001), komunitas fauna hutan mangrove membentuk percampuran 2 kelompok, yaitu (1) kelompok fauna daratan/terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas serangga, ular, primata dan burung; dan (2) kelompok fauna perairan/akuatik yang umumnya terdiri atas 2 tipe : (a) yang hidup dikolom, air terutama berbagai jenis ikan dan udang; dan (b) yang menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon mangrove), maupun lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang, dan berbagai jenis invertebrata lainnya. Selanjutnya MERDI in DPK (2006a) menjelaskan bahwa vegetasi pantai di bagian darat ekosistem mangrove di Teluk Un umumnya adalah tumbuhan Nipah (Nypa fruticans), pada bagian Utara vegetasi pantai tersebut tumbuh pohon jenis Ketapang (Terminalia catapa); Waru laut (Hibiscus tiliaceus); Pandan darat (Pandanus tectorius). Terdapat pula Cemara darat (Casuaria equisetifolia), dan berbagai jenis tumbuhan anggrek (Dendrobium sp.) yang mendiami batang dan dahan mangrove. Pepohonan tersebut juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung seperti Kakatua (Cacatua sp.) dan Nuri (Lorius sp.); Kakatua Tanimbar (Cacatua gofini); dan Kakatua (Cacatua galerita eleonora). Pada Pepohonan dengan kanopi yang besar dan lebat, hidup berbagai 126 jenis Kuskus antara lain Kuskus coklat biasa (Phalanger orientalis), Kuskus kelabu (Phalanger gymnotis), kuskus totol hitam (Phalanger rufoniger). Dalam hubungannya dengan jenis biota yang mendiami ekosistem mangrove tersebut, Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove mengemukakan bahwa jenis biota yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) antara lain ikan; udang; kepiting; moluska; reptile; dan burung, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) antara lain ikan dan moluska, sedangkan apabila hanya terdapat salah satu biota air maka ekosistem mangrove tersebut tidak sesuai untuk dijadikan lokasi ekowisata mangrove. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa bahwa bahwa tinggi pasut yang dipersyaratkan untuk kelas S (sesuai) adalah kurang dari 2 meter, untuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 2 - 5 meter, sedangkan apabila tinggi pasutnya lebih dari 5 meter maka tidak sesuai untuk ekowisata mangrove. Konsep ini pula yang kemudian diadopsi sebagai parameter kesesuaian dalam minawisata bahari mangrove. Hasil pengukuran tinggi pasut pada saat pengambilan data lapangan menunjukan bahwa tinggi pasut di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berkisar antara 2 - 2,5 meter. Kondisi seperti ini juga sama dengan yang ditemukan oleh Renjaan (2006) in DPK (2006a) yang menjelaskan bahwa tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil umumnya lebih dari 2,5 meter. Sementara menurut BAKOSURTANAL (1992) in DPK (2006a) tunggang pasut maksimum di perairan Kei Kecil berdasarkan pengukuran selama 30 hari di stasiun TNI AL Tual adalah 2,6 meter. Salah satu parameter yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi pengembangan minawisata bahari mangrove adalah jarak lokasi pengembangan dari kawasan lainnya seperti sentra pemukiman; perekonomian; aktivitas pemerintahan; dan lain-lain. Idealnya jarak untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 500 meter. Hal ini untuk menjaga agar kegiatan masyarakat disekitarnya tidak sampai berpengaruh terhadap aktivitas minawisata bahari mangrove yang dikembangkan di lokasi tersebut (Bengen DG 24 Pebruari 2008, komunikasi pribadi). Data lapangan menunjukan bahwa untuk kelas kesesuaian S (sesuai) pada umumnya parameter biofisik dan oseanografi perairan seperti kerapatan mangrove; jenis mangrove; jenis biota; tinggi pasut, dan jarak dari kawasan 127 lainnya memenuhi kisaran yang dipersyaratkan, namun ada faktor pembatas lain yang mengakibatkan kondisi lingkungan menjadi sesuai bersyarat (SB) dan tidak sesuai (TS) yaitu ketebalan mangrove. Ketebalan mangrove yang dipersyaratkan untuk minawisata bahari mangrove adalah lebih dari 300 meter, namun hasil interpretasi citra satelit menunjukan bahwa ketebalan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tidak ada yang mencapai 300 meter. Ketebalan terbesar hanya sekitar 180 meter, dengan demikian ekosistem mangrove di kawasan ini tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai). Dibagian Barat Teluk Un ketebalan mangrove berkisar antara 100 - 180 meter sehingga masih dapat dikembangkan untuk aktivitas minawisata bahari mangrove walaupun hanya masuk kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat), sedangkan di bagian lainnya ketebalan mangrove berada pada kisaran 50 - 100 meter, bahkan ada juga yang kurang dari 50 meter sehingga tidak sesuai untuk aktivitas minawisata bahari mangrove. Dengan kondisi dan faktor pembatas tersebut maka tidak ada kawasan yang sesuai untuk minawisata bahari mangrove, namun masih ada sebagian yang masuk dalam kategori sesuai bersyarat (SB) seperti yang ditunjukan dalam peta kesesuaian lahan pada Gambar 14. Untuk dapat menarik minat wisatawan dalam memanfaatkan ekosistem mangrove yang ada di Teluk Un maka perlu disiapkan sarana pendukung lainnya seperti jembatan kayu (trail); anjungan (hut); pondok peristirahatan; menara pengamatan burung; dan pemandu jejak (tracker). Lain halnya dengan para peneliti yang mengeksplorasi ekosistem mangrove dengan tujuan untuk melakukan penelitian, masuknya wisatawan ke dalam areal ekosistem mangrove semata-mata hanya merupakan bagian dari aktivitas selama berwisata. Agar dapat memberikan nilai tambah dalam wisata tersebut, maka dibutuhkan jembatan kayu (trail) sebagai sarana untuk melakukan tracking sehingga dapat meningkatkan minat wisatawan untuk masuk kedalam areal ekosistem mangrove sekaligus dapat mengeksplorasi semua proses alami yang terjadi di dalam ekosistem mangrove. 128 Gambar 14 Peta kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove. 129 Lebar trail adalah sekitar 2 - 3 meter, sedangkan panjang trail dan rutenya disesuaikan dengan kondisi dan luas ekosistem mangrove yang ada atau disesuaikan dengan kebutuhan. Anjungan adalah sarana tambahan lainnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari trail dan berfungsi sebagai tempat istirahat bagi wisatawan m2 yang melakukan tracking. Luas anjungan adalah sekitar 25 (5 x 5 m) atau disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan letaknya dibuat agak menjorok ke laut sehingga sambil beristirahat wisatawan juga dapat memancing ikan dan menikmati indahnya suasana alam dari atas laut. Agar terlihat artistik dan alami, bentuk anjungan di desain sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan adat budaya setempat. Sama halnya dengan anjungan, pondok peristirahatan adalah sarana tambahan berikutnya yang dapat digunakan sebagai tempat untuk berlindung pada saat terjadi hujan atau untuk beristirahat sejenak sambil menikmati bekal makanan yang dibawa oleh wisatawan. Luas bangunan pondok peristirahatan adalah sekitar 36 m2 (6 x 6 m) atau disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan letaknya disesuaikan dengan kondisi alam setempat sehingga dapat menjamin keamanan wisatawan. Agar terlihat artistik dan alami, bentuk pondok peristirahatan di desain sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan adat budaya setempat. Menara pengamatan burung juga dibutuhkan untuk melengkapi fasilitas pendukung minawisata bahari mangrove, tinggi menara sebaiknya 2 kali tinggi pohon yang paling tertinggi di lokasi tersebut atau sekitar 10 meter agar wisatawan dapat mengamati pergerakan burung dan menikmati suasa sekitar dari posisi yang cukup tinggi. Biasanya konstruksi menara dibuat dari besi dengan pertimbangan agar cukup kuat dan dapat tahan lama, tapi untuk daerah yang dekat dengan laut, konstruksi menara yang terbuat dari besi tidak efektif karena sifat bahannya yang mudah berkarat. Trail, anjungan, pondok peristirahatan, dan menara pengamatan burung tersebut diatas sebaiknya dibuat dengan memanfaatkan bahan dari sumberdaya alam yang tersedia di daerah tersebut tetapi konstruksinya harus cukup kuat dan dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama. Selain itu, agar wisatawan dapat menikmati suasana alam dalam hutan mangrove dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama melakukan aktivitas minawisata bahari mangrove maka 130 dibutuhkan pemandu jejak. Pemandu jejak yang dipersyaratkan adalah yang telah mengenal kondisi fisik lokasi minawisata bahari mangrove, dan memiliki pengetahuan tentang ekosistem mangrove seperti deskripsi jenis-jenis mangrove, zonasi, struktur vegetasi, daur hidup, jenis-jenis adaptasi pohon mangrove, fauna hutan mangrove, fungsi ekologis, pemanfaatan, dan juga dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove. Dengan bekal pengetahuan tersebut pemandu jejak diharapkan dapat menuntun wisatawan untuk mengeksplorasi ekosistem mangrove dan semua proses alami yang terjadi didalamnya sebagai manfaat yang bisa dipetik selama melakukan aktivitas minawisata bahari mangrove. 5.1.2 Tumpang Susun Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Tumpang susun (overlay) kesesuaian pemanfaatan ruang dilakukan untuk mendapatkan luasan lahan untuk kelas sesuai (S) dan sesuai bersyarat (SB). Proses overlay dilakukan dengan cara menggabungkan kelima peta kesesuaian lahan minawisata bahari. Hasil overlay kelima peta kesesuaian lahan untuk kelas sesuai (S) seperti ditunjukan pada Tabel 23 sedangkan peta kesesuaian lahannya seperti yang ditunjukan pada Gambar 15. Tabel 23 Hasil tumpang susun semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai (S) No Kategori 1. 2. 3. 4. 5. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing Minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari pancing dan selam Minawisata bahari pancing dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari pancing dan karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing, karamba pembesaran ikan, dan selam 6. 7. Luasan (ha) 1.09 86.89 81.00 12.22 26.24 31.98 11.89 131 Gambar 15 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai. 132 Hasil overlay kelima peta kesesuaian lahan minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat (SB) seperti ditunjukan pada Tabel 24 sedangkan peta kesesuaian lahannya seperti yang ditunjukan pada Gambar 16. Tabel 24 Hasil tumpang susun semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat (SB) No Kategori 1. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari karamba pembesaran ikan dan selam Minawisata bahari pancing dan selam Minawisata bahari pancing, karamba pembesaran ikan, dan selam Minawisata bahari karamba pembesaran ikan, selam, dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari pancing, karamba pembesaran ikan, selam, dan pengumpulan kerang (moluska) Minawisata bahari mangrove Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing Minawisata bahari selam 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Luasan (ha) 1.00 42.51 1.09 14.09 44.38 23.76 29.29 11.22 81.00 31.98 Berdasarkan kedua peta kesesuaian lahan yang ditunjukan pada Gambar 15 dan 16, secara biofisik ternyata masih terdapat tumpang tindih pemanfaatan ruang kawasan Teluk Un dan Vid Bangir diantara berbagai kategori aktivitas minawisata bahari sehingga dibutuhkan analisis lebih lanjut untuk menentukan skala prioritas pemanfaatan ruang tersebut yaitu dengan menggunakan pertimbangan ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan. Metoda yang digunakan adalah dengan multi criteria decision making (MCDM) dimana untuk analisis data menggunakan simple multi atribute rating technique (SMART). 133 Gambar 16 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari untuk kelas sesuai bersyarat. 134 5.1.3 Penentuan Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang Penentuan skala prioritas pemanfaatan ruang untuk berbagai kategori aktivitas minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dilakukan dengan menggunakan metoda multi criteria decision making (MCDM). Prinsip penilaian dalam MCDM adalah membandingkan tingkat kepentingan prioritas antara satu elemen dengan elemen lainnya yang berada pada tingkatan atau level yang sama berdasarkan pertimbangan tertentu. Selain kesesuaian biofisik yang telah didapatkan melalui hasil analisis kesesuaian lahan, pertimbangan lainnya yang digunakan adalah kesesuaian secara ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan. Dengan metoda MCDM ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang tepat tentang kategori aktivitas mana dari model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang harus diprioritaskan apabila terjadi tumpah tindih dalam pemanfaatan ruang. Analisis MCDM dilakukan dengan cara pembobotan dimana bobot dari masing-masing kriteria dan subkriteria diperoleh dari hasil analisis, hasil focus group discussion (FGD) dan hasil kuesioner. Struktur yang dibangun terdiri atas empat tingkatan keputusan yaitu: Tujuan: Kriteria; Subkriteria; dan Alternatif, sebagaimana yang ditunjukan pada Gambar 17. 1) Tujuan Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk kelima kategori aktivitas minawisata bahari berbasis konservasi ternyata ada tumpang tindih pemanfaatan lahan perairan antara satu dengan yang lain khususnya antara minawisata bahari pancing, pengumpulan kerang, karamba pembesaran ikan dan selam, sedangkan terhadap minawisata bahari mangrove tidak ada tumpang tindih pemanfaatan lahan karena sebagian besar aktivitas minawisata bahari mangrove menggunakan lahan darat. Untuk dapat mengakomodir semua kategori aktivitas minawisata bahari tersebut hampir dapat dipastikan akan menimbulkan konflik pemanfaatan ruang dan sumberdaya di antara berbagai pemangku kepentingan. Salah satu cara untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang dan sumberdaya adalah dengan metoda MCDM. Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan skala prioritas pemanfaatan ruang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk model pengelolaan minawisata bahari 135 pulau kecil berbasis konservasi, sehingga semua kategori aktivitas minawisata bahari dapat dilakukan secara terencana, terpadu, terarah dan sistematis berdasarkan skala prioritas. TUJUAN KRITERIA SUBKRITERIA ALTERNATIF Gambar 17 Struktur hirarki penentuan skala prioritas pemanfaatan ruang. 2) Kriteria Untuk mencapai tujuan diatas, maka ada empat kriteria yang harus dijadikan bahan pertimbangan yaitu 1) dimensi ekologi; 2) dimensi ekonomi; 3) dimensi sosial budaya; dan 4) dimensi kelembagaan. Hasil pengolahan data dengan Criterium DecisionPlus Version 3.0 menunjukan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing kriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai seperti ditunjukan pada Tabel 25. Tabel 25 Kontribusi masing-masing kriteria terhadap terhadap tujuan yang ingin dicapai Kriteria Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Kelembagaan Total Bobot 0,270 0,282 0,254 0,194 1 Persentase 27,0 % 28,2 % 25,4% 19,4 % 100 % 136 Dari Tabel 25 terlihat bahwa total bobot seluruh kriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 1. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa secara hirarki kriteria yang paling penting dalam upaya mencapai tujuan diatas adalah pertimbangan ekonomi dengan bobot 0,282. Agar aktivitas minawisata bahari yang dikembangkan di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir bisa berkelanjutan maka pertimbangan ekonomi menjadi salah satu faktor yang penting. Secara finansial, biaya investasi untuk mengembangkan suatu unit usaha minawisata bahari tertentu harus dapat dijangkau oleh masyarakat, selain itu juga unit usaha tersebut harus dapat memberikan manfaat ekonomi dan dapat memberikan kontribusi secara langsung terhadap peningkatan pendapatan dan ekonomi masyarakat setempat. Kriteria yang merupakan urutan kedua adalah pertimbangan ekologi dengan bobot 0,270. Terkadang untuk mendukung berbagai kegiatan pembangunan, sumberdaya alam yang ada dieksploitasi sedemikian rupa sehingga terjadi pemanfaatan berlebih bahkan sampai menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Untuk itu pengembangan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus dilakukan dengan bijaksana dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta memperhatikan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. Selain hasil analisis kesesuaian lahan, pengembangan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus mempertimbangkan daya dukung lahan dan daya dukung kawasan agar pengelolaannya dapat berkelanjutan. Dalam bentuk fisik, jumlah maksimum unit usaha yang ditempatkan diperairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus sesuai dengan daya dukung lahan, disamping itu juga jumlah pengunjung/wisatawan tidak boleh melampaui daya dukung kawasan sehingga dapat meminimalisir kerusakan lingkungan. Kriteria yang merupakan urutan ketiga adalah pertimbangan sosial budaya dengan bobot 0,254. Agar dapat berkelanjutan, pengembangan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus mempertimbangkan faktor kebiasaan masyarakat atau budaya masyarakat setempat dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia, dengan demikian maka akan timbul rasa memiliki yang berdampak pada keinginan untuk menjaga kelestarian sumberdaya dan lingkungannya. Disamping itu tenaga kerja yang dibutuhkan akan cukup tersedia karena 137 masyarakat sudah terbiasa dengan aktivitas yang akan dikembangkan dan mampu mengatasi masalah yang timbul kemudian dilapangan. Kriteria yang merupakan urutan terakhir adalah pertimbangan kelembagaan dengan bobot 0,194. Semua bentuk aktivitas yang akan dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir harus mempertimbangkan aspek kelembagaanya baik lembaga pengelola maupun lembaga pengawas dan perlu diatur dalam aturan formal atau aturan adat sehingga keamanan pemilik usaha dan unit usahanya maupun keamanan wisatawan yang datang berkunjung di kawasan tersebut dapat terjamin. 3) Subkriteria Dari keempat kriteria diatas, selanjutnya diuraikan lagi menjadi subsubkriteria. Kriteria ekologi terbagi dalam 3 subkr iteria yaitu kesesuaian lahan, daya dukung lahan, dan daya dukung kawasan. Kriteria ekonomi terbagi dalam 3 subkriteria yaitu kemudahan berinvestasi, manfaat ekonomi, dan tingkat pendapatan masyarakat. Kriteria sosial budaya terbagi dalam 2 subkriteria yaitu kebiasaan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan kriteria kelembagaan terbagi dalam 2 subkriteria yaitu aturan pengelolaan dan tingkat keamanan. Hasil pengolahan data dengan Criterium DecisionPlus Version 3.0 menunjukan besarnya kontribusi yang diberikan oleh masing-masing subkriteria terhadap tujuan yang ingin dicapai seperti ditunjukan pada Tabel 26. Tabel 26 Kontribusi masing-masing subkriteria terhadap terhadap tujuan yang ingin dicapai Kriteria Subkriteria Bobot Ekologi Kesesuaian Lahan Daya Dukung Lahan Daya Dukung Kawasan Kemudahan Berinvestasi Manfaat Ekonomi Tingkat Pendapatan Masyarakat Kebiasaan Masyarakat Penyerapan Tenaga Kerja Aturan Pengelolaan Tingkat Keamanan 0,083 0,082 0,105 0,074 0,073 0,135 0,124 0,130 0,104 0,090 8.3 8.2 10.5 7.4 7.3 13.5 12.4 13.0 10.4 9.0 1 100 Ekonomi Sosial Budaya Kelembagaan Total Persentase (%) 138 4) Alternatif Berdasarkan struktur yang telah dibangun terdapat 4 alternatif kategori aktivitas minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang akan dicarikan skala prioritas dalam pemanfaatan ruang kawasan perairan Teluk Un dan Vid Bangir yaitu 1) minawisata bahari pancing, 2) minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska), 3) minawisata bahari karamba pembesaran ikan, dan 4) minawisata bahari selam. Berdasarkan hasil analisis Criterium DecisionPlus Version 3.0 diketahui prioritas alternatif kategori aktivitas minawisata bahari berbasis konservasi yang akan dikembangkan di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir seperti yang ditunjukan pada Tabel 27 dan Gambar 18. Tabel 27 Skala prioritas alternatif aktivitas berdasarkan kriteria dan subkriteria No 1. 2. 3. 4. Alternatif Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Minawisata bahari pancing Minawisata bahari selam Minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) Total Bobot Persentase (%) Prioritas 0,288 28,8 1 0,269 0,249 0,194 26,9 24,9 19,4 2 3 4 1 100 - Gambar 18 Diagram batang skala prioritas alternatif aktivitas berdasarkan kriteria dan subkriteria. 139 Dari Tabel 27 dan Gambar 18 terlihat bahwa total bobot seluruh alternatif terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 1. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa berdasarkan keempat kriteria diatas untuk model pengelolaan yang berbasis konservasi, minawisata bahari karamba pembesaran ikan menempati prioritas pertama dengan bobot 0,288. Hal ini karena rakit karamba yang akan ditempatkan di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir bukan dalam konteks berproduksi tetapi semata-mata hanya bertujuan untuk mencapai kepuasan selama berwisata. Ikan-ikan yang dipelihara di dalam karamba juga tidak dari hasil budidaya tetapi diambil dari alam dan selanjutnya dibesarkan di dalam karamba sehingga hanya butuh sedikit pakan alami untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dengan demikian jelaslah bahwa pembesaran ikan dalam karamba merupakan salah satu alternatif pemanfaatan sumberdaya yang ramah lingkungan dan berbasis konservasi. Kategori minawisata bahari yang menjadi prioritas kedua adalah minawisata bahari pancing dengan bobot 0,269. Hal ini karena aktivitas memancing ikan yang akan dikembangkan di perairan Teluk Un bukan juga dalam konteks berproduksi tetapi lebih pada memancing ikan dalam konteks berwisata, dengan konsep seperti ini maka ketersediaan stok ikan dan keberlangsungan hidupnya dapat tetap terjaga dengan baik. Kategori minawisata bahari yang menjadi prioritas ketiga adalah minawisata bahari selam dengan bobot 0,249. Selain dapat menikmati keindahan alam bawah laut dengan ekosistem terumbu karang dan biota laut yang ada disekitarnya, aktivitas selam ini juga ditujukan untuk menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan seperti spear-gun sehingga sensasi yang dirasakan oleh wisatawan lain dari yang biasa dirasakan pada aktivitas penyelaman pada umumnya. Sedangkan kategori minawisata bahari yang menjadi urutan terakhir adalah minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) dengan bobot 0,194. Aktivitas pengumpulan kekerangan ini menjadi menarik karena dilakukan pada saat terjadinya surut terbesar dan kondisi laut sangat tenang (meti kei) sehingga selain berwisata, pengumpulan kekerangan dapat dilakukan sendiri oleh wisatawan dan 140 selanjutnya dapat langsung diolah dan dinikmati pada saat itu juga untuk mencapai kepuasan selama berwisata. Selanjutnya dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Criterium DecisionPlus Version 3.0 tergambar besarnya kontribusi dari masing-masing kriteria terhadap alternatif kategori aktivitas minawisata bahari berdasarkan skala prioritas pemanfaatan ruang seperti yang ditunjukan pada Gambar 19. 0,288 Karamba 0,269 Pancing 0,249 Selam 0,194 Kerang Gambar 19 Kontribusi masing-masing kriteria terhadap alternatif kategori aktivitas minawisata bahari. Gambar 19 menunjukan bahwa skala prioritas “ alternatif ” pemanfaatan lahan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir berturut-turut adalah (1) minawisata bahari karamba pembesaran ikan dengan persentase 28,8%, (2) minawisata bahari pancing 26,9%, (3) minawisata bahari selam 24,9%, dan (4) minawisata bahari pengumpulan kerang 19,4%. Dengan demikian total persentase seluruh “alternatif” terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 100%. Skala prioritas tersebut didasarkan atas “kriteria” sebagai berikut: ekologi dengan persentase 27,0%; ekonomi 28,2%; sosial budaya 25,4%; dan kelembagaan 19,4%. Dengan demikian total persentase seluruh ”kriteria” terhadap tujuan yang ingin dicapai adalah 100%. 141 5.1.4 Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Untuk Semua Aktivitas Berdasarkan skala prioritas pemanfaatan ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, selanjutnya dapat dilihat hasil analisis kesesuaian pemanfaatan ruang untuk semua aktivitas yang merupakan hasil overlay dari semua peta kesesuaian lahan untuk kelas sesuai. Sedangkan untuk minawisata bahari mangrove, karena tidak ada ekosistem mangrove yang memenuhi syarat untuk kelas kesesuaian S (sesuai), maka luasannya diambil dari kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) seperti yang ditunjukan pada Tabel 28. Tabel 28 Hasil analisis kesesuaian pemanfaatan ruang untuk semua aktivitas No Kategori Luasan (ha) 1. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan 2. Minawisata bahari pancing 3. Minawisata bahari selam 12,22 4. Minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) 81,00 5. Minawisata bahari mangrove 29,29 44,97 113,12 Tabel 28 menunjukan bahwa luas perairan yang sesuai (S) untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah sebesar 44,97 ha, minawisata bahari pancing adalah sebesar 113,12 ha, minawisata bahari selam adalah sebesar 12,22 ha, minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) adalah sebesar 81,00 ha, dan luas perairan yang sesuai bersyarat (SB) untuk minawisata bahari mangrove adalah sebesar 29,29 ha. Peta kesesuaian lahan untuk semua aktivitas minawisata bahari tersebut seperti ditunjukan pada Gambar 20. 5.2 Analisis Daya Dukung Lingkungan Menurut PPLKPL-KLH/FPIK IPB (2002) in Rauf (2007) konsep daya dukung didasarkan pada pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung suatu pertumbuhan organisme. Mengacu pada konsep ini, maka daya dukung merupakan tingkat pemanfaatan sumberdaya alam atau ekosistem secara berkesinambungan tanpa menimbulkan kerusakan 142 Gambar 20 Peta kesesuaian lahan semua kategori minawisata bahari. 143 sumberdaya dan lingkungan, atau dengan kata lain jumlah maksimum pemanfaatan suatu sumberdaya atau ekosistem yang dapat diabsorpsi oleh suatu kawasan atau zona tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas fisik, tingkat kenyamanan dan apresiasi pengguna suatu sumberdaya atau ekosistem terhadap suatu kawasan atau zona akibat adanya pengguna lain dalam waktu bersamaan. Konsep inilah yang digunakan dalam menghitung daya dukung lingkungan untuk model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Pulau Dullah. Mengingat model pengelolaan minawisata bahari ini tidak bersifat mass tourism dimana sumberdaya dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas, maka perlu dilakukan analisis untuk menentukan daya dukung lingkungan. Pendekatan yang digunakan adalah (1) daya dukung fisik, dengan konsep daya dukung lahan dan daya dukung kawasan, (2) daya dukung ekologis, dengan konsep beban limbah organik, ketersediaan oksigen terlarut dalam kolom air, dan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. 5.2.1 Daya Dukung Fisik Daya dukung fisik yang dianalisis dalam kajian ini dibatasi pada kemampuan lahan (ruang) dalam menampung berbagai kegiatan pembangunan ditinjau aspek kesesuaian lahan. Hasil dari analisis ini akan memberikan informasi mengenai seberapa besar luas lahan dan jumlah unit usaha serta jumlah maksimum orang yang dapat ditampung oleh kawasan tersebut. Konsep yang digunakan adalah daya dukung lahan dan daya dukung kawasan. Daya dukung lahan (DDL) adalah kemampuan maksimum lahan untuk mendukung suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa menimbulkan penurunan kualitas lingkungan baik biofisik maupun sosial, sedangkan daya dukung kawasan (DDK) menunjukan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Mengingat model pengelolaan minawisata bahari yang akan dikembangkan di Teluk Un ini adalah pengelolaan yang berbasis konservasi dan dikembangkan di pulau sangat kecil, maka daya dukung lahan perlu dibatasi dengan kapasitas lahan (KL) dimana areal yang diizinkan untuk dikembangkan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai. 144 a. Minawisata bahari pancing Analisis daya dukung untuk minawisata bahari pancing dilakukan dengan pendekatan luas lahan yang sesuai, kapasitas lahan perairan, dan luasan optimal sarana pemancingan ikan. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 113,12 ha atau 1.131.200 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL untuk minawisata bahari pancing adalah seluas 339.360 m2. Luasan optimal sarana pemancingan ikan adalah besaran yang menunjukkan luas dari 1 unit perahu bercadik dengan ukuran panjang perahu 4 meter dan lebar perahu termasuk cadiknya adalah 3 meter sehingga luasan optimalnya adalah 12 m2, sementara luas olah gerak untuk 1 unit sarana pemancingan ikan agar dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh sarana pemancingan lainnya adalah 900 m2 (30 m X 30 m). Dengan dasar perhitungan tersebut maka jumlah unit sarana pemancingan ikan yang diperbolehkan untuk beroperasi di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 377 unit perhari. Selanjutnya, jika 1 unit sarana pemancingan ikan dapat menampung 3 orang (2 orang wisatawan dan 1 orang pendayung perahu) maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari pancing adalah 1.131 orang perhari. b. Minawisata bahari pengumpulan kerang Analisis daya dukung untuk minawisata bahari pengumpulan kerang dilakukan dengan pendekatan potensi ekologis pengunjung per satuan unit area, luas area yang dapat dimanfaatkan, unit area, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan pengumpulan kerang. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 81 ha atau 810.000 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL atau luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengumpulan kerang menjadi 243.000 m2. 145 Unit area adalah besaran yang menunjukkan luasan optimal dari lahan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas pengumpulan kerang. Jika diasumsikan bahwa unit area untuk 1 orang pengunjung agar dapat leluasa melakukan aktivitas pengumpulan kerang tanpa menggangu pengunjung lainnya adalah 2500 m2 (50 m X 50 m), potensi ekologis pengunjung per satuan unit area adalah 1 orang, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari adalah 8 jam, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas ini adalah 4 jam (Yulianda 2007), maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari pengumpulan kerang adalah sebanyak 194 orang per event. Satuannya ditentukan per event karena sesuai adat dan kebiasaan masyarakat setempat untuk menjaga ketersediaan dan kelestarian sumberdaya yang ada, aktivitas pengumpulan kerang tidak dapat dilakukan setiap hari oleh masyarakat setempat karena terikat dengan atusan Sasi (Yutut), aktivitas ini hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu yaitu pada saat kondisi laut surut terbesar (Meti Kei). c. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Analisis daya dukung untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan dilakukan dengan pendekatan luas lahan yang sesuai, kapasitas lahan perairan, dan luasan optimal karamba pembesaran ikan. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 44,97 ha atau 449.700 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah seluas 134.910 m2. Luasan optimal karamba pembesaran ikan adalah besaran yang menunjukkan luas dari 1 unit rakit dengan empat buah karamba berukuran 3m X 3m X 3m, luasan optimal untuk 1 unit rakit agar ikan-ikan yang dipelihara dapat bertumbuh dengan baik adalah 144 m2 (12 m X 12 m), luasan ini merupakan ukuran optimal yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto 1993). Sementara luas olah gerak untuk 1 unit rakit karamba agar perahu yang menuju dan kembali dari rakit karamba dapat bergerak dengan leluasa tanpa 146 menggangu atau terganggu oleh perahu lainnya adalah 3.600 m2 (60 m X 60 m). Dengan dasar perhitungan tersebut maka jumlah rakit karamba pembesaran ikan yang diperbolehkan untuk ditempatkan di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebanyak 37 unit. Selanjutnya, jika 1 unit rakit dapat menampung 5 orang (4 orang wisatawan dan 1 orang penjaga karamba) maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan adalah 185 orang perhari. d. Minawisata bahari selam Analisis daya dukung untuk minawisata bahari selam dilakukan dengan pendekatan potensi ekologis pengunjung per satuan unit area, luas area yang dapat dimanfaatkan, unit area, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan penyelaman. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas lahan yang sesuai untuk aktivitas ini adalah seluas 12,22 ha atau 122.200 m2, apabila kapasitas lahan perairan adalah 30% dari luas lahan yang sesuai maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL atau luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas penyelaman menjadi 36.660 m2. Unit area adalah besaran yang menunjukkan luasan optimal dari lahan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas penyelaman. Menurut Yulianda (2007), unit area untuk 1 orang pengunjung agar dapat leluasa melakukan aktivitas penyelaman tanpa menggangu penyelam lainnya adalah 2000 m2 (200 m X 10 m), potensi ekologis pengunjung per satuan unit area adalah 2 orang (1 orang penyelam dan 1 orang pemandu selam), waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari adalah 8 jam, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas ini adalah 2 jam, maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari selam adalah sebanyak 146 orang per hari. e. Minawisata bahari mangrove Menurut Yulianda (2007) dalam matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove, ketebalan ekosistem mangrove yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai) adalah lebih dari 300 meter, parameter ini juga digunakan 147 dalam melakukan analisis kesesuaian lahan untuk minawisata bahari mangrove. Hasil interpretasi citra satelit menunjukan bahwa ketebalan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tidak ada yang mencapai 300 meter, ketebalan terbesar hanya mencapai 180 meter, dengan demikian ekosistem mangrove yang ada di kawasan ini tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk kelas kesesuaian S (sesuai). Namun untuk kepentingan konservasi dan pendidikan bahari, ekosistem mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini dapat digunakan untuk minawisata bahari mangrove walaupun hanya dengan memanfaatkan luasan ekosistem mangrove yang masuk dalam kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat). Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan didapatkan luas ekosistem mangrove yang masuk dalam kelas kesesuaian SB (sesuai bersyarat) adalah 29,29 ha atau 292.900 m2 dan letaknya tersebar mengitari Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Apabila kapasitas lahan adalah 30% dari luas ekosistem mangrove yang sesuai bersyarat tersebut, maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung lahan diperoleh DDL atau luas area yang dapat dimanfaatkan untuk minawisata bahari mangrove menjadi 87.870 m2. Analisis daya dukung untuk minawisata bahari mangrove dilakukan dengan pendekatan potensi ekologis pengunjung per satuan unit area, luas area yang dapat dimanfaatkan, unit area, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan tracking. Jika diasumsikan bahwa areal untuk membuat rute tracking adalah 10% dari luas area yang dapat dimanfaatkan untuk minawisata bahari mangrove, maka luas area yang dapat digunakan untuk melakukan tracking adalah 8.787 m2. Unit area adalah besaran yang menunjukkan jarak optimal dari panjang track yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk melakukan tracking. Menurut Yulianda (2007), unit area untuk 1 orang pengunjung agar dapat leluasa melakukan tracking tanpa menggangu pengunjung lainnya adalah 50 meter, potensi ekologis pengunjung per satuan unit area adalah 1 orang, waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari adalah 8 jam, dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan tracking adalah 2 jam, maka berdasarkan hasil perhitungan daya dukung kawasan diperoleh DDK untuk minawisata bahari mangrove adalah 148 sebanyak 702 orang per hari. Apabila lebar area tracking yang dibuat adalah 2 meter, maka minawisata bahari mangrove ini dapat dinikmati dengan cara mengekplorasi sekaligus menikmati ekosistem mangrove dengan semua proses alami yang terjadi di dalamnya mengikuti rute tracking sepanjang 4.394 meter. 5.2.2 Daya Dukung Ekologis Metode yang digunakan untuk menghitung daya dukung ekologis adalah dengan pendekatan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Perairan teluk memiliki kemampuan menampung beban pencemaran sampai pada batas-batas tertentu, kemampuan ini dipengaruhi oleh proses pengenceran dan perombakan yang terjadi di dalamnya. Kapasitas asimilasi didefenisikan sebagai kemampuan air atau sumber air dalam menerima beban pencemar limbah tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya. Apabila beban limbah yang masuk ke perairan melebihi kemampuan asimilasinya maka akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Perhitungan kapasitas asimilasi lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dalam menampung beban pencemar dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan metoda regresi sederhana antara konsentrasi masing-masing parameter kualitas air di lingkungan perairan dengan beban pencemarnya, hasil regresi sederhana tersebut selanjutnya dianalisis dengan cara memotongkannya dengan nilai baku mutu air laut untuk biota laut dan wisata bahari sesuai standar baku mutu yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. Jika nilai kapasitas asimilasinya belum terlampaui, maka beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah, dimana beban pencemar yang masuk akan mengalami proses difusi atau dispersi atau penguraian di dalam lingkungan perairan, hal ini ditandai oleh nilai konsentrasi parameter beban pencemar yang masih berada dibawah nilai ambang batas baku mutu air laut. Begitu pula sebaliknya, jika nilai kapasitas asimilasinya telah melampaui kemampuan asimilasinya maka kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya pencemaran. Data hasil pengukuran parameter kualitas air di lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir serta standar baku mutu air laut yang dipersyaratkan seperti yang ditunjukan pada Tabel 29. 149 Tabel 29 Status kualitas perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Parameter Hasil Pengukuran Baku Mutu Biota Wisata Laut Bahari St.1 St.2 St.3 St.4 St.5 St.6 St.7 Nitrat (mg/l) 0,008 0,008 0,008 0,003 0,002 0,003 0,004 0,003 0,003 Phosphat (mg/l) 0,015 0,015 0,009 0,002 0,004 0,005 0,002 0,002 0,004 Tembaga (mg/l) 0,008 0,050 0,017 0,007 0,008 0,008 0,007 0,007 0,009 Ammonia (mg/l) 0,3 nihil 0,006 0,007 0,009 0,008 0,007 0,007 0,011 Sulfida (mg/l) 0,01 nihil 0,011 0,006 0,007 0,007 0,006 0,006 0,007 Selanjutnya data hasil regresi sederhana (fungsi y), beban pencemar dan kapasitas asimilasinya seperti ditunjukan pada Tabel 30. Persamaan regresi yang terbentuk merupakan hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter kualitas air di lingkungan perairan dengan beban pencemarnya. Apabila garis regresi yang terbentuk ditarik lurus sehingga berpotongan dengan garis baku mutu air laut sesuai peruntukannya maka akan didapatkan nilai kapasitas asimilasinya seperti yang ditunjukan pada Gambar 21. Tabel 30 Beban pencemar dan kapasitas asimilasi lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir No Paramater Fungsi y R2 Beban Pencemar (mg/det) Kapasitas Asimilasi (mg/det) 1 Nitrat (NO 3 –N) y = 3,025 + 0,002x R2 = 0,999 1,286 2,772 2 Phosphat (PO 4 ) y = 4,990 + 0,002x R2 = 0,999 1,386 5,198 3 Tembaga (Cu) y = 6,370 + 0,002x R2 = 0,999 3,119 2,772 4 Ammonia (NH3 –N) y = - 9,610 + 0,002x R2 = 0,999 2,703 103,967 5 Sulfida (H2 S) y = 1,050 + 0,002x R2 = 0,999 2,475 3,465 150 a. Kapasitas Asimilasi Nitrat (NO 3 -N) b. Kapasitas Asimilasi Phosphat (PO 4 ) c. Kapasitas Asimilasi Tembaga (Cu) d. Kapasitas Asimilasi Ammonia (NH3 -N) e. Kapasitas Asimilasi Sulfida (H2 -S) Gambar 21 Kapasitas asimilasi dari 5 paramater kualitas air di lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. a. Kapasitas Asimilasi Nitrat (NO 3 -N) Penentuan nilai kapasitas asimilasi untuk NO 3 -N dilakukan dengan persamaan regresi y = 3,025 + 0,002x dan R2 = 0,999. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 151 2,772 mg/det (0,007 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 1,286 mg/det (0,003 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka terlihat bahwa beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena berdasarkan hasil pengukuran kualitas air di 7 stasiun pengamatan ternyata konsentrasi NO 3 -N pada 6 stasiun pengamatan masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu di Stasiun 2, 3, 4, 5, 6, dan 7, kecuali pada stasiun pengamatan 1 di bagian utara Teluk Un terlihat bahwa nilai konsentrasi NO 3 -N telah mencapai batas kapasitas asimilasinya. b. Kapasitas Asimilasi Phosphat (PO 4 ) Berdasarkan persamaan regresi y = 4,990 + 0,002x dan R2 = 0,999 maka dapat ditentukan kapasitas asimilasi PO 4 di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 5,198 mg/det (0,013 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 1,386 mg/det (0,003 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena hasil pengukuran kualitas air di 7 stasiun pengamatan semuanya menunjukan bahwa konsentrasi PO 4 masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan. c. Kapasitas Asimilasi Tembaga (Cu) Nilai kapasitas asimilasi untuk Cu ditentukan berdasarkan persamaan regresi y = 6,370 + 0,002x dan R2 = 0,999. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 2,772 mg/det (0,007 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 3,119 mg/det (0,008 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka terlihat bahwa kondisi perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir telah tercemar oleh Cu karena ada 2 stasiun pengamatan yang konsentasi Cu telah melampaui nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu pada Stasiun 1 dan 7. Selain itu juga ada 2 stasiun pengamatan yang konsentrasi Cu sama dengan baku mutu yang dipersyaratkan yaitu pada Stasiun 3 dan 4, sedangkan konsentrasi Cu pada 3 stasiun pengamatan lainnya masih berada di bawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu pada Stasiun 2, 5, dan 6. 152 d. Kapasitas Asimilasi Ammonia (NH 3 -N) Penentuan nilai kapasitas asimilasi untuk NH 3 -N dilakukan dengan persamaan regresi y = - 9,610 + 0,002x dan R2 = 0,999. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 103,967 mg/det (0,269 ton/bulan). Nilai kapasitas asimilasi ini cukup besar karena konsentrasi NH 3 -N yang ada di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sangat kecil bila dibandingkan dengan nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 0,3 mg/l. Jika beban pencemar yang ada sebesar 2,703 mg/det (0,007 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka jelas terlihat bahwa beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena hasil pengukuran kualitas air pada 7 stasiun pengamatan, semuanya menunjukan konsentrasi NH 3 N masih berada jauh dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan. e. Kapasitas Asimilasi Sulfida (H 2 -S) Berdasarkan persamaan regresi y = 1,050 + 0,002x dan R2 = 0,999 maka dapat ditentukan kapasitas asimilasi H 2 S di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Hasil perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan nilai kapasitas asimilasi sebesar 3,465 mg/det (0,008 ton/bulan). Jika beban pencemar yang ada sebesar 2,475 mg/det (0,006 ton/bulan) dibandingkan dengan nilai kapasitas asimilasi tersebut maka terlihat bahwa beban pencemar yang masuk masih tergolong rendah karena berdasarkan hasil pengukuran kualitas air di 7 stasiun pengamatan ternyata konsentrasi H 2 S pada 6 stasiun pengamatan masih berada dibawah nilai baku mutu yang dipersyaratkan yaitu di Stasiun 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Sama halnya dengan nitrat, pada stasiun pengamatan 1 di bagian utara Teluk Un terlihat bahwa konsentrasi H 2 S telah melampaui batas kapasitas asimilasinya. Dari kelima parameter kualitas air tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa unsur pencemar seperti nitrat, tembaga, dan sulfida yang konsentrasinya telah mencapai atau bahkan melampaui batas kapasitas asimilasinya diduga keberadaannya karena adanya limbah pemukiman penduduk yang masuk ke lingkungan perairan, namun kondisi ini belum terlalu membahayakan karena beban pencemar tersebut akan terbilas pada saat air bergerak pasang dan kemudian terbawa oleh arus ke luar teluk pada saat air bergerak surut. 153 Menurut MERDI in DPK 2006a, tipe pasang surut di perairan Kei Kecil adalah pasang campuran mirip harian ganda. Dengan tipe pasut seperti ini maka arus pasang surut pada suatu titik di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir akan berubah arah dan kecepatannya sebanyak 4 kali. Kecepatan arus pada kanal teluk ini sangat mempengaruhi cepat lambatnya pergantian massa air di dalam teluk tersebut, hal ini berkaitan dengan kepekaan teluk tersebut terhadap polusi maupun dalam menentukan input dan output bibit (propagule), misalnya larva biota laut yang terbawa arus ke teluk tersebut. Renjaan dan Pattisamalo (1999) mengemukakan bahwa lama waktu menetap (residence time) atau lama waktu singgah (transit time) massa air di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir diperkirakan kurang dari 9 jam, dalam kurun waktu yang singkat ini Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat memperbaharui massa airnya maupun kondisi bio-ekologisnya. 5.3 Alokasi Ruang Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Alokasi ruang adalah teknik pengaturan pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumberdaya, hasil analisis kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir. Hasil olahan data menunjukan bahwa luas kawasan perairan yang dapat dimanfaatkan untuk minawisata bahari pancing, pengumpulan kerang, karamba pembesaran ikan, dan selam adalah 2.891.715,47 m2 sedangkan luas kawasan ekosistem mangrove yang dapat dimanfaatkan adalah 404.602,75 m2. Selanjutnya alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dibuat berdasarkan potensi sumberdaya, hasil analisis kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lingkungan dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari. Tabel 31 menunjukan luas area peruntukan lahan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi. Dari Tabel 31 terlihat bahwa perbandingan luas area yang dapat dimanfaatkan untuk masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari terhadap luas kawasan berkisar antara 1,27 - 21,72%, luasan ini terlihat cukup kecil bila dibandingkan dengan luas kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, hal ini menunjukan bahwa model pengelolaan minawisata bahari yang akan dikembangkan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah model 154 pengelolaan yang berbasis konservasi karena masih menyisakan sebagian besar lahan untuk menjamin ketersediaan dan kelestarian sumberdaya yang ada. Selanjutnya peta alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk minawisata bahari berbasis konservasi seperti ditunjukan pada Gambar 22. Tabel 31 Luas area peruntukan lahan di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Luas Area (m2) Persentase (%) Minawisata Bahari Pancing 339.360 11,74 Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang 243.000 8,40 Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan 134.910 4,67 Minawisata Bahari Selam 36.660 1,27 Minawisata Bahari Mangrove 87.870 21,72 Peruntukan Lahan 5.4 Analisis Ekonomi Analisis ekonomi untuk mendukung model pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini menggunakan pendekatan valuasi ekonomi dan analisis manfaat-biaya dengan menambahkan komponen lingkungan didalam perhitungannya (extended cost-benefit analysis) dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian ekonomi secara utuh yang menggambarkan willingness to pay yang benar dari masyarakat terhadap manfaat yang dihasilkan dari ekosistem pesisir dan laut. 5.4.1 Valuasi Ekonomi Sumberdaya Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Kawasan pesisir dan laut yang termasuk kategori teluk seperti halnya Teluk Un dan Teluk Vid Bangir memerlukan sebuah rencana pengelolaan sehingga kajian komprehensif terhadap dinamika kegiatan ekonomi maupun dampak lingkungan menjadi sebuah kebutuhan. Hal ini karena Teluk Un dan Teluk Vid Bangir memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat memberikan manfaat, baik manfaat langsung seperti perikanan dan wisata bahari maupun tidak langsung seperti peran ekosistem terumbu karang dan mangrove bagi lingkungan yang ada disekitarnya. Manfaat ini harus dinilai secara ekonomi agar input kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut dilakukan secara komprehensif dalam konteks manfaat dan biayanya. 155 Gambar 22 Peta alokasi ruang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir untuk model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. 156 Masyarakat adat yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir tentu saja menginginkan adanya pembangunan ekonomi di wilayahnya, namun pada saat yang sama mereka juga memahami arti penting kelestarian sumberdaya pesisir dan laut yang ada diwilayah tersebut, dengan kata lain mereka ingin mengetahui manfaat dan biaya dari ekosistem yang ada yang nantinya dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk kesejahteraan mereka. Dalam konteks inilah maka valuasi ekonomi sumberdaya digunakan. Peran valuasi ekonomi terhadap ekosistem dan sumberdaya yang ada disuatu wilayah penting dalam perumusan kebijakan pembangunan termasuk dalam hal ini pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. Hilangnya ekosistem atau sumberdaya yang ada merupakan masalah ekonomi karena akan menghilangkan kemampuan ekosistem tersebut untuk menyediakan barang dan jasa. Pilihan kebijakan pembangunan yang akan mempertahankan ekosistem tersebut seperti apa adanya atau akan dikonversi menjadi pemanfaatan lain merupakan persoalan pembangunan yang dapat dipecahkan dengan menggunakan pendekatan valuasi ekonomi, dalam hal ini kuantifikasi manfaat (benefit) dan kerugian (cost) harus dilakukan agar pengambilan keputusan dapat dilakukan secara bijaksana. a. Ekosistem Hutan Mangrove 1) Nilai Guna Langsung (Direct Use Value) Nilai guna langsung dari ekosistem hutan mangrove Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dapat terukur nilainya adalah pemanfaatannya untuk dijadikan bahan bangunan rumah, kayu bakar, ikan, dan kepiting bakau. Metoda yang digunakan dalam penaksiran manfaat langsung adalah dengan menggunakan pendekatan manfaat dan biaya berdasarkan nilai pasar melalui proses benefit transfer. Pendekatan ini menghitung jenis dan jumlah produk langsung yang dapat dinikmati oleh masyarakat dikalikan dengan harga pasar yang berlaku dari setiap unit produk. Tabel 32 menunjukan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai dasar perhitungan valuasi ekonomi ekosistem mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, sedangkan Tabel 33 menunjukan nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove berdasarkan hasil benefit transfer tersebut. 157 Tabel 32 Hasil benefit transfer harga pasar pemanfaatan langsung ekosistem mangrove dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya. MANFAAT LANGSUNG Rasio IHK Lokasi Studi Rasio IHK Lokasi Asal Potensi kayu (Rp/m3) Ranting / kayu bakar (per ikat) Ikan (per kg) Kepiting bakau (per kg) Sumber : 1*) 2*) 3*) 4*) 5*) 1*) Harga Pasar 2*) Harga Pasar 3*) Harga Pasar 4*) Harga Pasar 5*) Harga Pasar 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 125,33 126,37 123,71 120,26 121,30 59.224 127.264 0 61.721 0 82.736 82.740 296 0 2.750 0 2.550 1.865 1.870 2.961 0 3.000 0 5.354 3.772 3.770 9.871 0 10.000 0 40.795 20.222 20.220 RATA RATA PEMBULATAN Harga pasar di Buton - Sulawesi Tenggara (Fitrawati, 2001). Harga pasar di Bontang - Kalimantan Timur (Astuti, 2005). Harga pasar di Seram Bagian Barat - Maluku (Supriyadi, 2005). Harga pasar di Jepara - Jawa Tengah, Pariyono (2006). Harga Pasar di Malili - Sulawesi Selatan, Sribiyanti (2008). Tabel 33 Nilai guna langsung ekosistem mangrove di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per hektar per tahun) No. 1. 2. 3. 4. Jenis Pemanfaatan Kayu (bahan bangunan) Ranting (kayu bakar) Ikan Kepiting bakau J umlah Harga Pasar ( Rp / Satuan ) 82.740 / m3 1.870 / ikat 3.770 / kg 20.220 / kg Volume Produksi 47 m3 1.780 ikat 2.056 kg 600 kg Nilai Ekonomi ( Rp ) 3.888.780 3.328.600 7.751.120 12.132.000 27.100.500 Sumber : Hasil olahan dari proses benefit transfer. Dari tabel 33 diperoleh nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove adalah Rp.27.100.500 per ha per tahun. Dengan luas hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 153,58 ha maka nilai guna langsung ekosistem hutan mangrove kawasan tersebut adalah sebesar Rp.4.162.094.790 per tahun. 2) Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value) Salah satu fungsi dari hutan mangrove adalah sebagai pencegah abrasi pantai, sehubungan dengan sebagian besar masyarakat Pulau Dullah tinggal di pesisir pantai, maka pengukuran nilai guna tidak langsung diarahkan pada fungsi 158 diatas. Pendekatan manfaat hutan mangrove sebagai pencegah abrasi pantai dilakukan dengan pembangunan talud penahan pantai apabila ekosistem hutan mangrove tersebut rusak atau tidak ada. Menurut Sjafrie (2010) biaya pembangunan talud penahan pantai diperkirakan sekitar Rp.300.000 per m3. Selanjutnya dikatakan bahwa pada umumnya talud yang dibangun mempunyai tinggi penampang 1 meter dan lebar penampang 0,5 meter dengan bentuk memanjang mengikuti garis pantai. Dengan demikian bila panjang garis pantai di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang ditumbuhi hutan mangrove adalah 6.837,6 meter maka volume talud penahan pantai yang harus dibangun adalah 3.418,8 m3 (1m x 0,5 m x 6.837,6 m) sehingga biaya dan nilai guna tidak langsung dari hutan mangrove sebagai pencegah abrasi pantai dapat diperkirakan yaitu 3.418,8 m3 x Rp.300.000 atau sebesar Rp.1.025.640.000 per tahun dengan daya tahan selama 10 tahun, atau sebesar Rp.102.564.000 per tahun. 3) Nilai Pilihan (Option Value) Untuk menentukan nilai pilihan dari ekosistem hutan mangrove digunakan nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) seperti yang dikemukakan oleh Ruitenbeek (1992) dimana nilai biodiversity ekosistem hutan mangrove adalah USD 1.500 per km2 per tahun atau USD 15,00 per ha per tahun. Bila dikonversikan kedalam nilai Rupiah dimana USD 1,00 diasumsikan adalah Rp.10.000 maka nilainya menjadi Rp.150.000 per ha per tahun. Dengan luas hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 153,58 ha maka nilai pilihan dari ekosistem hutan mangrove tersebut adalah sebesar Rp.23.037.000 per tahun. 4) Nilai Keberadaan (Existence Value) Pendekatan untuk menghitung nilai keberadaan hutan mangrove adalah dengan menggunakan contingent value method (CVM) dimana nilai keberadaan ekosistem mangrove berdasarkan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya adalah sebesar Rp.2.825.680 per ha per tahun (lihat Lampiran 7b). Dengan luas hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 153,58 ha maka nilai keberadaan dari ekosistem hutan mangrove tersebut adalah sebesar Rp.433.967.930 per tahun. 159 5) Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan hutan mangrove sebanyak 153,58 ha memiliki manfaat yang cukup besar dan beragam mulai dari manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat keberadaan. Tabel 34 menunjukan nilai ekonomi total ekosistem hutan mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yaitu sebesar Rp.4.721.663.740 per tahun. Tabel 34 Nilai ekonomi total ekosistem mangrove kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per tahun) No. Nilai Kegunaan 1. Nilai guna langsung 2. Nilai per Hektar (Rp) Nilai Total (Rp) 27.100.500 4.162.094.790 Nilai guna tidak langsung 667.820 102.564.000 3. Nilai pilihan 150.000 23.037.000 4. Nilai keberadaan 2.825.680 433.967.930 30.744.000 4.721.663.720 Nilai Ekonomi Total Tabel 34 menunjukan bahwa dari hasil perhitungan, nilai guna langsung memberikan nilai yang terbesar dalam pemanfaatannya sebagai bahan bangunan rumah, bahan kayu bakar, ikan, dan kepiting bakau. Nilai guna tidak langsung dari ekosistem hutan mangrove juga memberikan nilai yang cukup besar setelah nilai guna langsung yaitu sebagai pencegah abrasi pantai dan penyedia pakan. Sedangkan nilai keberadaan menunjukan bahwa masyarakat telah mampu memberikan penilaian terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove tersebut. b. Ekosistem Terumbu Karang 1) Nilai Guna Langsung (Direct Use Value) Berdasarkan hasil identifikasi nilai guna langsung dari ekosistem terumbu karang di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang dapat terukur nilainya adalah pemanfaatannya untuk perikanan terumbu, lola, teripang, dan penelitian. Metoda yang digunakan dalam penaksiran manfaat langsung adalah dengan menggunakan pendekatan manfaat dan biaya berdasarkan nilai pasar melalui proses benefit transfer. Pendekatan ini menghitung jenis dan jumlah produk langsung yang dapat dinikmati oleh masyarakat dikalikan dengan harga pasar 160 yang berlaku dari setiap unit produk. Tabel 35 menunjukan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai dasar perhitungan valuasi ekonomi terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, sedangkan Tabel 36 menunjukan nilai guna langsung ekosistem terumbu karang berdasarkan hasil benefit transfer tersebut. Tabel 35 Hasil benefit transfer harga pasar pemanfaatan langsung ekosistem terumbu karang dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya. MANFAAT LANGSUNG Rasio IHK Lokasi Studi Rasio IHK Lokasi Asal Perikanan terumbu (per kg) Lola (per kg) Teripang (per kg) Sumber : 1*) 2*) 3*) 4*) 1*) Harga Pasar 2*) Harga Pasar 3*) Harga Pasar 4*) Harga Pasar 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 126,37 121,30 125,33 RATA RATA PEMBULATAN 5.000 7.342 63.742 44.418 30.126 30.130 26.750 0 0 39.878 33.314 33.310 18.750 0 50.993 118.449 62.731 62.730 Harga pasar di Pulau Nusalaut - Maluku (Wawo, 2000). Harga pasar di Bontang - Kalimantan Timur (Astuti, 2005). Harga pasar di Barrang Lompo - Sulawesi Selatan (Hamzah, 2005). Harga pasar di Wakatobi - Sulawesi Tenggara (Coremap II, 2008). Tabel 36 Nilai guna langsung ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per hektar per tahun) No. Jenis Pemanfaatan Harga Pasar ( Rp / Satuan ) Volume Produksi Nilai Ekonomi ( Rp ) 1. Perikanan terumbu 30.130 / kg 144 kg 4.338.720 2. Lola 33.310 / kg 120 kg 3.997.200 3. Teripang 62.730 / kg 54 kg 3.387.420 Jumlah 11.723.340 Sumber : Hasil olahan dari proses benefit transfer. Dari tabel 36 diperoleh nilai guna langsung ekosistem terumbu karang untuk perikanan terumbu, lola, dan teripang adalah Rp.11.723.340 per ha per tahun. 161 Dengan luas terumbu karang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 62,78 ha maka nilai guna langsung ekosistem terumbu karang tersebut adalah sebesar Rp.735.991.285 per tahun. Disamping ketiga manfaat langsung diatas, kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir juga merupakan tempat yang menarik untuk dijadikan lokasi penelitian karena selain merupakan habitat berbagai biota laut dan daerah penangkapan ikan, Teluk Un dan Vid Bangir juga merupakan daerah sumber (source) terutama yang berkaitan dengan distribusi bibit kehidupan (propagule ‘misalnya larva’) yang mengendalikan keberlangsungan kehidupan di perairan sekitarnya sehingga sangat menarik untuk dijadikan objek penelitian. Nilai guna langsung untuk penelitian dari ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir didekati dengan biaya yang dikeluarkan oleh 1 orang peneliti selama melakukan penelitian dilokasi tersebut. Dalam 1 tahun diperkirakan ada sekitar 4 orang peneliti yang melakukan penelitian. Berdasarkan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya terlihat bahwa besar biaya penelitian adalah Rp.40.855.650 per orang sehingga nilai guna langsung untuk penelitian dari ekosistem terumbu karang di perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah Rp.163.422.600 per tahun. Dengan demikian jika nilai guna langsung ekosistem terumbu karang untuk perikanan terumbu, lola, dan teripang ditambah dengan nilai guna langsung untuk penelitian maka total nilai guna langsungnya menjadi Rp.899.413.885 per tahun. 2) Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value) Nilai guna tidak langsung yang dapat diidentifikasi dari ekosistem terumbu karang di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah sebagai pencegah abrasi pantai. Pendekatan manfaat terumbu karang sebagai pencegah abrasi pantai dilakukan dengan pembangunan pemecah gelombang (break water) apabila ekosistem terumbu karang tersebut rusak atau tidak ada. Menurut Sjafrie (2010) biaya pembangunan pemecah gelombang diperkirakan sekitar Rp.300.000 per m3. Pada umumnya pemecah gelombang yang dibangun mempunyai kedalaman 3 m dan lebar penampang 2,5 m dengan bentuk memanjang mengikuti garis pantai. Dengan demikian bila panjang garis pantai dari luasan ekosistem terumbu karang di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah 11.019,31 meter maka 162 volume pemecah gelombang yang harus dibangun adalah 82.644,83 m3 (3m x 2,5 m x 11.019,31 m) sehingga biaya dan nilai guna tidak langsung dari ekosistem terumbu karang sebagai pencegah abrasi pantai dapat diperkirakan yaitu 82.644,83 m3 x Rp.300.000 atau sebesar Rp.24.793.447.500 dengan daya tahan selama 10 tahun, atau sebesar Rp.2.479.344.750 per tahun. 3) Nilai Pilihan (Option Value) Untuk menentukan nilai pilihan dari ekosistem terumbu karang digunakan nilai keanekaragaman hayati (biodiversity). Hatcher dkk (1992) in Sawyer (1992) menyatakan bahwa terumbu karang mempunyai nilai konservasi yang setara dengan hutan basah tropis, sedangkan menurut Ruitenbeek (1992) keuntungan yang diperoleh dari ekosistem yang tinggi nilai keragamannya dan mempunyai nilai ekologis yang tinggi seperti hutan basah tropis memiliki nilai potensi sebesar USD 1.500 per km2 per tahun atau USD 15 per ha per tahun. Bila dikonversikan kedalam nilai Rupiah dimana USD 1,00 diasumsikan adalah Rp.10.000 maka nilainya menjadi Rp.150.000 per ha per tahun. Dengan luas terumbu karang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 62,78 ha maka nilai pilihan dari ekosistem terumbu karang tersebut adalah sebesar Rp.9.417.000 per tahun. 4) Nilai Keberadaan (Existence Value) Pendekatan untuk menghitung nilai keberadaan terumbu karang adalah dengan menggunakan contingent value method (CVM), dimana nilai keberadaan ekosistem terumbu karang berdasarkan hasil benefit transfer dari beberapa lokasi penelitian sebelumnya adalah sebesar Rp.6.992.550 per ha per tahun (lihat Lampiran 7c). Dengan luas terumbu karang Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sebanyak 62,78 ha maka nilai keberadaan dari ekosistem terumbu karang tersebut adalah sebesar Rp.438.992.290 per tahun. 5) Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan luas ekosistem terumbu karang sebanyak 62,78 ha memiliki nilai guna yang cukup besar dan beragam mulai dari nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai pilihan, dan nilai keberadaan. Tabel 37 menunjukan nilai ekonomi total ekosistem terumbu karang 163 kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yaitu sebesar Rp.3.827.167.925 per tahun. Tabel 37 Nilai ekonomi total ekosistem terumbu karang kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir (per tahun) No. Nilai Kegunaan Nilai per Hektar (Rp) Nilai Total (Rp) 1. Nilai guna langsung 14.326.440 899.413.885 2. Nilai guna tidak langsung 39.492.590 2.479.344.750 3. Nilai pilihan 150.000 9.417.000 4. Nilai keberadaan 6.992.550 438.992.290 60.961.580 3.827.167.925 Nilai Ekonomi Total Tabel 37 menunjukan bahwa dari hasil perhitungan, nilai guna tidak langsung dari ekosistem terumbu karang memberikan nilai yang terbesar yaitu sebagai pencegah abrasi pantai. Nilai guna langsung juga memberikan nilai yang cukup besar dalam pemanfaatannya untuk perikanan terumbu, lola, teripang, dan penelitian. Sedangkan nilai keberadaan menunjukan bahwa masyarakat telah mampu memberikan penilaian terhadap keberadaan ekosistem terumbu karang tersebut. 5.4.2 Analisis Manfaat-Biaya Analisis yang digunakan untuk menghitung kelayakan usaha berbagai aktivitas minawisata bahari ini adalah dengan pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA). Pada prinsipnya ECBA adalah pengembangan dari cost-benefit analysis, disebut extended karena dalam perhitungan cost-benefit kita tambahkan nilai manfaat dan biaya lingkungan sebagai bagian dari komponennya. Nilai manfaat dan biaya lingkungan dimaksud didapat dari hasil valuasi ekonomi sumberdaya yang akan digunakan yaitu ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove. Untuk minawisata bahari pancing; pengumpulan kerang; karamba pembesaran ikan; dan selam, komponen manfaat lingkungan atau environmental benefit (B e) yang ditambahkan dalam perhitungan adalah nilai manfaat langsung ekosistem terumbu karang sebagai penghasil perikanan terumbu, lola, teripang, 164 dan untuk kegiatan penelitian, sedangkan komponen biaya lingkungan atau environmental cost (C e) adalah total nilai ekonomi ekosistem terumbu karang dengan luasan tertentu apabila kita mengkonversi terumbu karang tersebut untuk suatu jenis pemanfaatan, sementara biaya mitigasi lingkungan atau environmental protection cost (C p ) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kualitas lingkungan misalnya untuk pembuatan artificial reef, restocking, dan pungutan adat pengganti sasi yang akan digunakan untuk perbaikan lingkungan. Untuk minawisata bahari mangrove, komponen manfaat lingkungan atau environmental benefit (B e) yang ditambahkan dalam perhitungan adalah nilai manfaat langsung ekosistem mangrove sebagai penghasil kayu bahan bangunan, kayu bakar, ikan, dan kepiting bakau, sedangkan komponen biaya lingkungan atau environmental cost (C e ) adalah total nilai ekonomi ekosistem mangrove dengan luasan tertentu apabila kita mengkonversi mangrove tersebut untuk suatu jenis pemanfaatan, sementara biaya mitigasi lingkungan atau environmental protection cost (C p) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki lingkungan dan ekosistem mangrove yang rusak misalnya untuk menanam kembali anakan mangrove, dan pungutan adat pengganti sasi yang akan digunakan untuk perbaikan lingkungan. Barton (1994) menjelaskan bahwa salah satu kriteria yang digunakan dalam evaluasi kebijakan adalah dengan menghitung net present value (NPV) dimana keuntungan bersih suatu proyek/usaha adalah pendapatan kotor dikurangi jumlah biaya. Dengan demikian maka NPV suatu proyek/usaha adalah selisih PV arus benefit dengan PV arus cost. Suatu proyek/usaha dapat dikatakan bermanfaat atau layak untuk dilaksanakan bila NPV proyek/usaha tersebut lebih besar dari atau sama dengan nol (NPV > 0) dan sebaliknya bila NPV proyek/usaha tersebut lebih kecil dari nol (NPV < 0) maka proyek/usaha tersebut merugikan atau tidak layak untuk dilaksanakan. Selain itu, dapat juga dengan melihat B/C Rasio, bila B/C Rasio > 1 maka usaha layak untuk dilaksanakan, bila B/C Rasio = 1 maka usaha perlu ditinjau kembali karena tidak memberikan keuntungan, sedangkan bila B/C Rasio < 1 maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Tabel 38 menunjukan hasil analisis usaha masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari dengan menggunakan pendekatan ECBA. 165 Tabel 38 Manfaat-Biaya untuk minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir per 1 unit usaha per tahun (nilai dalam Rupiah) Kategori Aktivitas Minawisata Bahari Pancing Manfaat Langsung (B d ) Manfaat Eksternal (B e ) Biaya Langsung (C d ) Biaya Eksternal (C e ) Biaya Proteksi (C p ) NPV B/C 6.800.000 76.440 3.010.000 397.500 127.000 3.341.940 3,96 Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang 800.000 1.400 450.000 7.300 37.000 307.100 2,33 Minawisata Bahari Karamba Pemb. Ikan 78.200.000 327.600 39.700.000 1.703.500 909.000 36.215.100 4,29 Minawisata Bahari Selam 18.700.000 21.800 10.600.000 113.600 365.000 7.643.200 1,93 119.000.000 22.189.700 50.150.000 25.173.000 3.230.000 62.636.700 5,28 Minawisata Bahari Mangrove Tabel 38 menunjukan bahwa semua kategori aktivitas minawisata bahari layak untuk dikembangkan di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir karena nilai NPV dari masing-masing kategori aktivitas tersebut lebih besar dari nol dan B/C Rasio lebih besar dari 1. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan, daya dukung lingkungan, valuasi ekonomi sumberdaya, dan analisis manfaatbiaya maka uraiannya dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Minawisata bahari pancing Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 377 unit usaha pemancingan ikan dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 28,26 ha dimana tiap 1 unit usaha akan memanfaatkan 0,07 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.3.341.940 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 3,96. b. Minawisata bahari pengumpulan kerang Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 194 unit usaha pengumpulan kerang dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 20,24 ha dimana tiap 1 unit usaha akan memanfaatkan 0,10 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.307.100 per tahun (4 minggu) dengan nilai B/C 2,33. 166 c. Minawisata bahari karamba pembesaran ikan Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 37 unit usaha karamba pembesaran ikan dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 11,23 ha, dimana tiap 1 unit rakit karamba akan memanfaatkan 0,30 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.36.215.100 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 4,29. d. Minawisata bahari selam Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 146 unit usaha penyelaman dengan memanfaatkan ekosistem terumbu karang seluas 20,24 ha dimana tiap 1 unit usaha penyelaman akan memanfaatkan 0,02 ha terumbu karang. Unit usaha ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.7.643.200 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 1,93. e. Minawisata bahari mangrove Di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir hanya dapat dikembangkan 1 unit usaha minawisata bahari mangrove yang memanfaatkan ekosistem mangrove seluas 8,79 ha. Minawisata bahari mangrove ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp.62.636.700 per tahun (34 minggu) dengan nilai B/C 5,28. 5.5 Analisis Sosial Analisis sosial untuk pengelolaan minawisata bahari dilakukan terhadap kondisi sosial masyarakat Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Jumlah penduduk Desa Taar pada tahun 2009 adalah 2.412 jiwa yang tersebar dalam 509 Kepala Kelarga (KK). Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap rumah tangga di Desa Taar terdiri dari 5 anggota keluarga. Selanjutnya berdasarkan jenis kelamin, perempuan berjumlah 1.230 orang (51%) dan laki-laki berjumlah 1.182 orang (49%). Jumlah ini menunjukkan sebuah perbandingan yang relatif seimbang. Walaupun memiliki wilayah pesisir dan laut yang luas guna pengembangan usaha perikanan namun berkaitan dengan pengembangan ekonomi produktif masyarakat berbasis sumberdaya lokal, penduduk Desa Taar cenderung memilih sektor pertanian sebagai sektor andalan. Berkaitan dengan upaya ini ketersediaan sumberdaya manusia sebagai pelaku aktif dirasakan cukup memadai sesuai dengan keberadaan 1.138 orang (47,18% 167 dari total jumlah penduduk), yang telah melalui pendidikan umum sebanyak 44,49% dan 8% telah melalui pendidikan khusus (tidak termasuk jumlah anak usia sekolah). Hal ini merupakan salah satu kekuatan sosial penting bagi Desa Taar. Pola pemukiman penduduk cenderung mengarah ke pusat desa dimana sangat berkaitan erat dengan pusat layanan ekonomi dan sosial desa. Selain itu pemukiman penduduk dibangun sejajar garis pantai dan jalan utama desa. Informasi tentang perkembangan penduduk secara kuantitatif sulit diperoleh sebab tidak ada pencatatan di tingkat desa. Tetapi ada hal lain yang dapat dilihat secara kualitatif, yakni tingkat kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan migrasi penduduk. Tingkat kelahiran dan kematian tidak seimbang, dimana angka kematian lebih rendah dari angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir, sehingga perbandingan yang ada memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan jumlah penduduk. Bagi Desa Taar, migrasi penduduk sebenarnya tidak bisa menjadi indikator untuk melihat perkembangan atau pertumbuhan penduduk, sebab migrasi penduduk keluar yang terjadi sangat kecil, kalaupun ada hal ini disebabkan oleh adanya penduduk yang harus melanjutkan studi dan mencari pekerjaan di luar Kota Tual. Dari total penduduk Desa Taar, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 540 orang, berdasarkan jenis mata pencaharian persentase terbesar adalah Pegawai Negeri/Swasta dan TNI/POLRI, ketertarikan masyarakat terhadap jenis pekerjaan jasa dan layanan publik sangat besar misalnya pada sektor ekonomi, pemerintahan dan jasa lainnya. Itu berarti akses masyarakat sangat tinggi terhadap pusat pemerintahan dan jasa, hal ini karena secara geografis posisi Desa Taar sangat dekat dengan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian Kota Tual. Dengan dikembangkannya model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir maka akan membuka kesempatan dan lapangan kerja bagi penduduk Desa Taar. Prediksi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas ini seperti ditunjukan dalam Tabel 39. 168 Tabel 39 Prediksi jumlah tenaga kerja untuk mendukung aktivitas minawisata bahari Kategori Aktivitas Jumlah Unit Usaha Tenaga Kerja per Unit Usaha Jumlah Tenaga Kerja Minawisata Bahari Pancing 377 1 orang / unit 377 Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang 194 1 orang / 10 unit 19 37 1 orang / unit 37 146 1 orang / unit 146 1 10 orang / unit 10 Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Minawisata Bahari Selam Minawisata Bahari Mangrove Jumlah total tenaga kerja yang dibutuhkan 589 5.6 Analisis Kelembagaan Menurut Kartodiharjo (1999), kelembagaan dapat berarti bentuk atau wadah atau organisasi sekaligus juga mengandung pengertian tentang norma-norma, aturan dan tata cara atau prosedur yang mengatur hubungan antar manusia, bahkan kelembagaan merupakan sistem yang kompleks, rumit dan abstrak. Kelembagaan merupakan aspek penting yang menunjang keberhasilan suatu rancang bangun pengelolaan dan aplikasinya dilapangan. Suatu kelembagaan yang kuat akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanannya. Oleh karena itu perlu dijabarkan pengorganisasian kelembagaan dalam pelaksanaan rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yang meliputi Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, dan aturan-aturan pelaksanaannya. Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD), agar pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ini dapat berkelanjutan stakeholder menginginkan adanya badan pengelola dan badan pengawas yang berperan untuk mengelola dan mengawasi semua aktivitas dilapangan dibawah koordinasi Pemerintah Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Badan Pengelola adalah unsur pelaksana teknis sedangkan Badan Pengawas adalah unsur pelaksana pengawasan yang berfungsi sebagai pelaksana dan pengawas dalam model pengelolaan minawisata bahari. Keanggotaan kedua lembaga ini terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat dan/atau pegawai instansi terkait 169 yang dipilih dan dipercaya oleh masyarakat melalui suatu musyawarah umum. Musyawarah pemilihan pengurus dan anggota Badan Pengelola dan Badan Pengawasan dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan jangka waktu kepengurusan tertentu (5 tahun) atau sesuai kebutuhan masyarakat. Badan Pengelola dan Badan Pengawasan bertanggung jawab kepada Pemerintah Desa dan BPD. Kedua lembaga ini dipercayakan untuk membuat aturan-aturan pelaksanaan yang berkaitan dengan model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi merupakan suatu kesempatan sekaligus tantangan bagi Pemerintah Desa dan masyarakat Desa Taar dalam mewujudkan harapan atau visi masa depan kawasan teluk tersebut yang lebih baik. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini membutuhkan komitmen dan partisipasi aktif semua pihak terkait untuk melaksanakan semua aktivitas secara bertanggung jawab. Kunci keberhasilan utama adalah perhatian masyarakat dan Pemerintah Desa Taar terhadap perbaikan kehidupan mereka maupun kelestarian lingkungan hidup dimana mereka menggantungkan hidup sehari-hari. 5.7 Keberlanjutan Pengelolaan Minawisata Bahari Berbasis Konservasi Keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ini dianalisis dengan pemodelan dinamik melalui dinamika inter-koneksi(inter-relasi) antara elemen vital seiring dengan perubahan waktu dari sistem ekologi-ekonomi yang dikaji dalam penelitian ini. Konsep dasar perumusan model mengacu pada efek berantai (cyclic effect) dimana terjadinya perubahan dalam indeks dan atribut pengelolaan dapat mempengaruhi sistem keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari tersebut. Tahapan analisis dimulai dengan membangun diagram simpal umpan-balik (causal loop), kemudian membuat basis model, memasukkan nilai-nilai atribut yang telah diperoleh pada analisis sebelumnya ke dalam model yang dibangun, menyususn scenario modek pengelolaan, dan terakhir melakukan simulasi model. Nilai-nilai atribut yang digunakan dalam menganalisis keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari 170 berasal dari hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya yaitu analisis kesesuaian lahan, analisis daya dukung kawasan, valuasi ekonomi sumberdaya terumbu karang dan mangrove, analisis manfaat-biaya, dan penelusuran pustaka. Beberapa nilai atribut yang digunakan diperoleh dari metode pendugaan yang sifatnya ilmiah, namun disadari bahwa keakuratan pendugaan parameter tergantung dari ketersediaan data dari sumbernya dan metode analisis yang digunakan. Perangkat lunak yang digunakan untuk merumuskan dan menganalisis model yang dibangun dalam penelitian ini adalah Stella version 9.0.2. 5.7.1 Diagram Simpal Model Pengelolaan Langkah pertama dalam menyusun model sistem dinamis pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir adalah dengan menentukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk kepada sistem dan sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal umpan-balik yang menyusun struktur model, mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis. Diagram simpal umpan-balik (causal loop) dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat seperti yang ditunjukan pada Gambar 23, sedangkan model dinamik pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi seperti yang ditunjukan pada Gambar 24. 5.7.2 Basis Model Basis model pengelolaan minawisata bahari merupakan gambaran kondisi ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, jumlah maksimum unit usaha minawisata bahari, manfaat langsung, manfaat lingkungan, biaya langsung, biaya lingkungan, dan biaya proteksi lingkungan (mitigasi) yang dapat dicapai dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari berdasarkan kondisi riil saat ini. Nilai dugaan atribut pada basis model seperti yang ditunjukan pada Tabel 41. 171 172 Gambar 24 Model dinamik pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. Tabel 40 Nilai dugaan atribut pada basis model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi No. 1 2 3 4 Dimensi dan Atribut Ekologi Terumbu Karang Initial ekosistem terumbu karang untuk minawisata bahari (ha) Laju pertumbuhan terumbu karang Jumlah fee konservasi terumbu karang (Rp) Fraksi fee konservasi terumbu karang Nilai Dugaan Keterangan 62,78 Hasil interpretasi Citra Satelit 0,073 Data sekunder 141.980.000 0,003 Hasil perhitungan ECBA Hasil olahan data lapangan 173 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Upaya konservasi terumbu karang Laju degradasi terumbu karang Jumlah penduduk Desa Taar (orang) Fraksi pencemaran Ekologi Mangrove Initial ekosistem mangrove untuk minawisata bahari (ha) Laju pertumbuhan mangrove Jumlah fee konservasi mangrove (Rp) Fraksi fee konservasi mangrove Upaya konservasi mangrove Luasan mangrove yang dikonversi (ha) Laju degradasi mangrove 17 Dimensi Ekonomi Umur teknis unit usaha (tahun) Discount Rate 18 19 20 21 22 ECBA MB Pancing (377 Unit) Bd 1 (Rp) Be 1 (Rp) C d 1 (Rp) C e 1 (Rp) C p 1 (Rp) 23 24 25 26 27 28 ECBA MB P. Kerang (194 Unit) Bd 2 (Rp) Be 2 (Rp) C d 2 (Rp) C e 2 (Rp) C p 2 (Rp) 29 30 31 32 33 34 35 35 37 38 16 0,012 Hasil olahan data lapangan 0,052 Data sekunder 2.412 0,0000595 Data lapangan Data sekunder 153,58 0,073 3.230.000 Hasil interpretasi Citra Satelit Data sekunder Hasil perhitungan ECBA 0,00001 0,033 Hasil olahan data lapangan Hasil olahan data lapangan 8,7 0,00851 Hasil olahan data lapangan Data sekunder 5 0,1 Asumsi peneliti Asumsi peneliti 2.563.600.000 28.817.880 1.134.770.000 149.857500 47.879.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA 155.200.000 271.600 87.300.000 1.416.200 7.178.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA ECBA MB Karamba (37 Unit) Bd 3 (Rp) Be 3 (Rp) C d 3 (Rp) C e 3 (Rp) C p 3 (Rp) 2.893.400.000 12.121.200 1.468.900.000 63.029.500 33.633.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA ECBA MB Selam (146 Unit) Bd 4 (Rp) Be 4 (Rp) C d 4 (Rp) C e 4 (Rp) C p 4 (Rp) 2.730.200.000 3.182.800 1.547.600.000 16.585.600 53.290.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA 174 39 40 41 42 43 ECBA MB Mangrove (1 Unit) Bd 5 (Rp) Be 5 (Rp) C d 5 (Rp) C e 5 (Rp) C p 5 (Rp) 119.000.000 22.189.700 50.150.000 25.173.000 3.230.000 Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Hasil perhitungan ECBA Nilai level (stock), variabel driving, auxiliary dan konstanta yang tercantum pada Tabel 40 dapat dijelaskan sebagai berikut: Atribut pada Dimensi Ekologi Atribut yang berfungsi sebagai stok dalam submodel terumbu karang pada dimensi ekologi adalah luasan terumbu karang yang ada di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Nilai awal (initial) level diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit yaitu seluas 62,78 ha, sementara yang berfungsi sebagai inflow adalah pertambahan luasan terumbu karang dengan atributnya adalah laju pertumbuhan,upaya konservasi, alokasi dana untuk konservasi, dan fraksi fee konservasi, sedangkan yang berfungsi sebagai outflow adalah pengurangan luasan terumbu karang dengan atributnya adalah laju degradasi, pencemaran, fraksi pencemaran, jumlah penduduk, dan fraksi kesadaran lingkungan. Laju pertumbuhan terumbu karang sebesar 0,073, laju degradasi terumbu karang sebesar 0.052 dan fraksi pencemaran sebesar 0,0000595 (in Laapo 2010). Biaya proteksi lingkungan pemanfaatan terumbu karang didapat dari hasil perhitungan analisis manfaat-biaya lanjutan, sedangkan proporsi alokasi dana untuk konservasi terumbu karang diperoleh pada saat melakukan FGD dengan stakeholder di lokasi penelitian dimana Pemerintah Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir menginginkan proporsi 70% dari biaya proteksi lingkungan diperuntukan untuk pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi, dan 30% dari biaya proteksi lingkungan tersebut diperuntukan sebagai alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dalam bentuk pembuatan artificial reef. Fraksi fee konservasi terumbu karang sebesar 0,003 adalah perbandingan antara besarnya dana dari fee konservasi terumbu karang dengan luasan terumbu karang buatan yang dihasilkan dari dana konservasi tersebut. Atribut yang berfungsi sebagai stok dalam submodel mangrove pada dimensi ekologi adalah luasan mangrove yang ada di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Nilai awal (initial) level diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit yaitu seluas 153,58 ha, sementara yang berfungsi sebagai inflow adalah pertambahan luasan mangrove dengan atributnya adalah laju pertumbuhan,upaya konservasi, alokasi dana untuk konservasi, dan 175 fraksi fee konservasi, sedangkan yang berfungsi sebagai outflow adalah pengurangan luasan mangrove dengan atributnya adalah laju degradasi dan luasan mangrove yang dikonversi. Laju pertumbuhan mangrove sebesar 0,073 dan laju degradasi terumbu karang sebesar 0.00851 (in Laapo 2010). Biaya proteksi lingkungan pemanfaatan mangrove didapat dari hasil perhitungan analisis manfaat-biaya lanjutan, sedangkan proporsi alokasi dana untuk konservasi mangrove diperoleh pada saat melakukan FGD dengan stakeholder di lokasi penelitian dimana pemerintah Desa Taar sebagai pemilik adat kawasan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir menginginkan proporsi 70% dari biaya proteksi lingkungan diperuntukan untuk pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi, dan 30% dari biaya proteksi lingkungan tersebut diperuntukan sebagai alokasi dana untuk konservasi mangrove dalam bentuk penanaman kembali anakan mangrove. Fraksi fee konservasi mangrove sebesar 0,00001 adalah perbandingan antara besarnya dana dari fee konservasi mangrove dengan luasan mangrove yang dihasilkan dari dana konservasi tersebut. Atribut pada Dimensi Ekonomi Dalam dimensi ekonomi ada 5 kategori aktivitas minawisata bahari yang masingmasing berfungsi sebagai submodel yaitu: 1) minawisata bahari pancing, 2) minawisata bahari pengumpulan kerang; 3) minawisata bahari karamba pembesaran ikan; 4) minawisata bahari selam; dan 5) minawisata bahari mangrove. Berdasarkan hasil analisis daya dukung kawasan, perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 377 unit usaha minawisata bahari pancing, 194 unit usaha minawisata bahari pengumpulan kerang, 37 unit usaha minawisata bahari karamba pembesaran ikan, 146 unit usaha minawisata bahari selam, dan 1 unit usaha minawisata bahari mangrove. Umur teknis masing-masing unit usaha yang digunakan sebagai waktu usaha adalah selama 5 tahun, dan discount rate yang digunakan untuk kegiatan usaha ini adalah sebesar 10% per tahun. Selanjutnya, yang berfungsi sebagai stok dalam sub-submodel pada dimensi ekonomi ini adalah nilai NPV tahunan dari masing-masing kategori aktivitas minawisata bahari. Nilai awal (initial) level diperoleh dari hasil perhitungan manfaat dikurangi dengan biaya berdasarkan hasil analisis manfaat-biaya lanjutan atau extended cost-benefit analysis (ECBA), sementara yang berfungsi sebagai inflow adalah manfaat (1,2,3,4,5) dengan atributnya adalah manfaat langsung/direct benefit (B d ), manfaat lingkungan/ environmental benefit (Be ), sedangkan yang berfungsi sebagai outflow adalah biaya (1,2,3,4,5) dengan atributnya adalah biaya langsung/direct cost (C d ), biaya lingkungan/ 176 environmental cost (C e ), dan biaya proteksi lingkungan/protection cost (C p ). Semua nilai atribut ini juga diperoleh dari hasil analisis manfaat-biaya lanjutan. Hasil runing basis model pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan simulasi kondisi sampai 5 tahun ke depan sesuai umur teknis unit usaha disajikan pada Tabel 41 dan Gambar 25. Tabel 41 Hasil runing untuk basis model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Tahun NPV Tahunan Total (Rp) 0 -5,013,400,000 42,594,000 62.78 969,000 1 3,504,464,855 38,760,540 64.00 881,790 154.79 2 3,206,021,976 35,353,020 65.25 804,270 156.08 3 2,905,720,410 31,945,500 66.52 726,750 157.45 4 2,641,431,834 28,963,920 67.82 658,920 158.91 5 2,413,766,132 26,408,280 69.14 600,780 160.46 Jumlah 9,658,005,207 204,025,260 - Alokasi Dana Konservasi TK (Rp) Luasan TK (ha) Alokasi Dana Konservasi Mangrove (Rp) Luasan Mangrove (ha) 153.58 4,641,510 - 1: NPV …AN TOTAL 2: Aloka…erv asi TK 3: LUA…U KARANG 4: Aloka… Mangrov e 5: LUA…ANGROVE 1: 2: 3: 4: 5: 3.5e+009 65000000 70 1500000 161 5 1 1 1 3 4 2 1: 2: 3: 4: 5: 5 3 -1e+009. 50000000 66 1200000 157 4 2 5 3 2 1: 2: 3: 4: 5: -5.5e+009 35000000 63 900000 154 5 1 3 2 4 0.00 Page 1 4 1.25 2.50 Y ears 3.75 22:05 5.00 Sun, Dec 18, 2011 Gambar 25 Grafik basis model pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 177 Tabel 41 dan Gambar 25 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi dengan 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.9.658.005.207 dimana secara kolektif akan menyumbangkan Rp.204.025.260 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebesar 23,84 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, terumbu karang juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan pencemaran yaitu sebesar 17,47 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem terumbu karang hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,36 ha dari yang semula 62,78 ha kini menjadi 69,14 ha. Demikian pula dengan ekosistem mangrove, unit usaha minawisata bahari mangrove secara kolektif akan menyumbangkan Rp.4.641.510 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan mangrove sebesar 57,03 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, ekosistem mangrove juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan konversi untuk areal minawisata bahari yaitu sebesar 50,14 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem mangrove hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,88 ha dari yang semula 153,58 ha kini menjadi 160,46 ha. 5.7.3 Skenario Model Pengelolaan Penyusunan skenario model pengelolaan minawisata bahari untuk optimasi didasarkan pada basis model yang telah dibangun sebelumnya dan dikembangkan dalam model ini, kemudian menentukan atribut yang sensitif dari dimensi ekologi dan ekonomi serta memilih skenario yang terbaik untuk diaplikasikan. Penyusunan skenario ini ditujukan untuk memilih alternatif kebijakan yang memungkinkan untuk ditempuh dalam menyelesaikan masalah yang dapat terjadi di kemudian hari berdasarkan kondisi saat ini. Ada beberapa atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yakni: 1. Dalam dimensi ekonomi, atribut penting yang berpengaruh terhapan keberlanjutan minawisata bahari ini adalah discount factor, semakin tinggi 178 discount factor maka semakin kecil tingkat keuntungan usaha, hal ini juga akan berpengaruh terhadap dimensi ekologi yang ditunjukan dengan semakin kecilnya jumlah alokasi biaya proteksi lingkungan. Sebaliknya, semakin rendah discount factor maka tingkat keuntungan usaha akan semakin besar, dan semakin besar pula jumlah alokasi biaya proteksi lingkungan. 2. Dalam dimensi ekologi, atribut penting yang berpengaruh terhadap keberlanjutan minawisata bahari ini adalah upaya konservasi terumbu karang dan mangrove. Upaya konservasi ini sangat bergantung dari besarnya alokasi dana untuk pembuatan artificial reef dan untuk penanaman anakan mangrove, sementara besarnya alokasi dana tersebut sangat bergantung dari kebijakan stakeholder dalam menentukan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara kepentingan untuk memperbaiki kualitas ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove dengan kepentingan untuk pembiayaan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi yang ditiadakan sebagai akibat dari pengembangan model minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Selanjutnya, ada 2 skenario pengelolaan yang dibangun untuk keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir yaitu skenario pesimistik dan skenario konservatif. 5.7.4 Simulasi Skenario Model Pengelolaan Simulasi skenario model pengelolaan minawisata bahari dilakukan untuk mencari bentuk pengelolaan terbaik yang berkelanjutan. Dalam simulasi, akan dicari atribut yang berpengaruh secara nyata dan didesain untuk mendapatkan bentuk pengelolaan yang terbaik. Disadari bahwa dalam model ini masih ada atribut yang belum terakomodir akan tetapi dengan model yang ada diharapkan minimal dapat dijadikan sebagai gambaran tentang model pengelolaan minawisata bahari yang berkelanjutan. a. Simulasi skenario pesimistik Skenario pesimistik yang dibangun dalam model ini adalah apabila discount factor bergerak naik dari 10% menjadi 15%, dan kita merubah kebijakan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dan mangrove 30% dan alokasi dana untuk 179 pembangunan desa 70%, menjadi 10% untuk kepentingan konservasi (pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove) dan 90% untuk kepentingan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi. Perubahan nilai atribut pada skenario pesimistik seperti dintujukan pada Tabel 42. Tabel 42 Perubahan nilai atribut pada skenario pesimistik No Atribut Perubahan Nilai Basis Pesimistik 1. Discont Rate (DR) 10 % 15 % 2. Alokasi dana untuk konservasi 30 % 10 % 3. Alakosi dana untuk pembangunan desa 70 % 90 % Hasil runing terhadap skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan simulasi kondisi sampai 5 tahun ke depan sesuai umur teknis unit usaha disajikan pada Tabel 43 dan Gambar 26. Tabel 43 Hasil runing untuk skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Alokasi Dana Konservasi TK (Rp) Luasan TK (ha) Alokasi Dana Konservasi Mangrove (Rp) Luasan Mangrove (ha) Tahun NPV Tahunan Total (Rp) 0 -5,013,400,000 14,198,000 62.78 323,000 153.58 1 3,355,475,752 12,352,260 64.00 281,010 154.79 2 2,943,359,753 10,790,480 65.24 245,480 156.07 3 2,565,659,435 9,370,680 66.51 213,180 157.44 4 2,223,246,058 8,092,860 67.81 184,110 158.89 5 1,955,298,190 7,099,000 69.13 161,500 160.44 Jumlah 8,029,639,188 61,903,280 - 1,408,280 - Tabel 43 dan Gambar 26 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi dengan 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari telah memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.8.029.639.188 dimana secara kolektif akan 180 menyumbangkan Rp.61.903.280 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebesar 23,83 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, terumbu karang juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan pencemaran yaitu sebesar 17,47 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem terumbu karang hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,35 ha dari yang semula 62,78 ha kini menjadi 69,13 ha. Demikian pula dengan ekosistem mangrove, unit usaha minawisata bahari mangrove secara kolektif akan menyumbangkan Rp.1.408.280 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan mangrove sebesar 57,00 ha, namun demikian sejalan dengan pertambahan luasan tersebut, ekosistem mangrove juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan konversi untuk areal minawisata bahari yaitu sebesar 50,14 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem mangrove hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,86 ha dari yang semula 153,58 ha kini menjadi 160,44 ha. 1: NPV …AN TOTAL 2: Aloka…erv asi TK 3: LUA…U KARANG 4: Aloka… Mangrov e 5: LUA…ANGROVE 1: 2: 3: 4: 5: 3.5e+009 65000000 70 1500000 161 5 1 1 1 3 4 2 1: 2: 3: 4: 5: 5 3 -1e+009. 50000000 66 1200000 157 4 2 5 3 2 1: 2: 3: 4: 5: -5.5e+009 35000000 63 900000 154 5 1 3 2 4 0.00 Page 1 4 1.25 2.50 Y ears 3.75 22:05 5.00 Sun, Dec 18, 2011 Gambar 26 Grafik skenario pesimistik pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 181 b. Simulasi skenario konservatif Skenario konservatif yang dibangun dalam model ini adalah apabila discount factor bergerak turun dari 10% menjadi 8%, dan kita merubah kebijakan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dan mangrove 30% dan alokasi dana untuk pembangunan desa 70%, menjadi 50% untuk kepentingan konservasi (pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove) dan 50% untuk kepentingan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi. Perubahan nilai atribut pada skenario optimis seperti ditunjukan pada Tabel 44. Tabel 44 Perubahan nilai atribut pada skenario konservatif No Atribut Perubahan Nilai Basis Konservatif 1. Discont Rate (DR) 10 % 8% 2. Alokasi dana untuk konservasi 30 % 50 % 3. Alakosi dana untuk pembangunan desa 70 % 50 % Hasil runing terhadap skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dengan simulasi kondisi sampai 5 tahun ke depan sesuai umur teknis unit usaha disajikan pada Tabel 45 dan Gambar 27. Tabel 45 Hasil runing untuk skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Alokasi Dana Konservasi TK (Rp) Luasan TK (ha) Alokasi Dana Konservasi Mangrove (Rp) Luasan Mangrove (ha) Tahun NPV Tahunan Total (Rp) 0 -5,013,400,000 1 3,578,785,154 66,020,700 64.00 1,501,950 154.80 2 3,318,155,871 61,051,400 65.25 1,388,900 156.09 3 3,056,103,529 56,082,100 66.52 1,275,850 157.46 4 2,868,052,025 52,532,600 67.82 1,195,100 158.93 5 2,641,431,834 48,273,200 69.15 1,098,200 160.48 Jumlah 10,449,128,413 354,950,000 - 8,075,000 - 70,990,000 62.78 1,615,000 153.58 182 1: NPV …AN TOTAL 2: Aloka…erv asi TK 3: LUA…U KARANG 4: Aloka… Mangrov e 5: LUA…ANGROVE 1: 2: 3: 4: 5: 3.5e+009 65000000 70 1500000 161 5 1 1 1 3 4 2 1: 2: 3: 4: 5: 5 3 -1e+009. 50000000 66 1200000 157 4 2 5 3 2 1: 2: 3: 4: 5: -5.5e+009 35000000 63 900000 154 4 5 1 3 2 4 0.00 Page 1 1.25 2.50 Y ears 3.75 22:05 5.00 Sun, Dec 18, 2011 Gambar 27 Grafik skenario konservatif pengelolaan minawisata bahari di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Tabel 45 dan Gambar 27 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari telah memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.10.449.128.413 dimana secara kolektif akan menyumbangkan Rp.354.950.000 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebesar 23,84 ha, namun terumbu karang juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan pencemaran yaitu sebesar 17,47 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem terumbu karang hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,37 ha dari yang semula 62,78 ha kini menjadi 69,15 ha. Demikian pula dengan ekosistem mangrove, unit usaha minawisata bahari mangrove secara kolektif akan menyumbangkan Rp.8.075.000 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan mangrove sebesar 57,05 ha, namun ekosistem mangrove juga mengalami pengurangan luasan akibat laju degradasi dan konversi untuk areal minawisata bahari yaitu sebesar 50,15 ha sehingga secara keseluruhan ekosistem mangrove hanya mengalami penambahan luas sebesar 6,90 ha dari yang semula 153,58 ha kini menjadi 160,48 ha. 6. IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi hasil analisis dalam penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk melihat kondisi stok sumberdaya akibat perubahan pada atribut dan pengaruhnya terhadap keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Atribut ini dinilai dari aspek kepentingan dan besarnya pengaruh terhadap perubahan dimensi ekonomi dan ekologi setelah dilakukan analisis dengan pemodelan dinamik. Apabila kedua persyaratan tersebut terpenuhi, maka atribut yang dianalisis dapat diimplementasikan dalam suatu program yang berkaitan dengan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. Implikasi dari skenario atau simulasi yang dilakukan menunjukkan bahwa diperlukan suatu kebijakan dalam wujud program yang terpadu. Kebijakan terpadu dimaksudkan sebagai suatu tindakan yang dilakukan secara simultan bagi seluruh dimensi yang memiliki atribut penting guna keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi. Dari ketiga skenario pengelolaan yang dianalisis yaitu skenario basis, skenario pesimistik, dan skenario konservatif, hasil simulasi dengan pemodelan dinamik menunjukkan bahwa skenario optimum yang dapat menjawab keinginan semua pemangku kepentingan (stakeholders) sesuai tujuan penelitian ini adalah skenario konservatif, dimana dalam skenario ini jika atribut discount factor bergerak turun ke level 8%, dan kita merubah kebijakan pembagian proporsi biaya proteksi lingkungan antara alokasi dana untuk konservasi terumbu karang dan mangrove, menjadi 50% untuk kepentingan konservasi (pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove) dan 50% untuk kepentingan pembangunan desa sebagai biaya pengganti adat sasi, maka kebijakan ini akan memberikan keuntungan usaha yang terlihat dari semakin meningkatnya nilai NPV tahunan total, keuntungan usaha yang diperoleh masyarakat tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan jumlah fee konservasi sehingga akan berdampak pada semakin bertambahnya luasan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Berdasarkan hasil simulasi skenario tersebut, maka implikasi dari hasil penelitian ini dituangkan dalam bentuk kebijakan pemerintah melalui program- 184 program yang terpadu dan simultan guna pencapaian tujuan pengelolaan minawisata bahari yang optimal di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. Ini berarti bahwa rencana dan pelaksanaan program aksi pada satu dimensi pembangunan diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas dimensi lainnya. Ada 2 dimensi yang menjadi dasar dalam menyusun strategi dan kebijakan untuk keberlanjutan model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi ini yaitu dimensi ekologi dan dimensi ekonomi, objek yang menjadi sasaran adalah lingkungan perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir, ekosistem terumbu karang dan upaya konservasinya, ekosistem mangrove dan upaya konservasinya, sumberdaya ikan, kerang (moluska) dan biota laut lainnya, sedangkan yang menjadi aspek pengembangan adalah perekonomian masyarakat dan daerah, sosial budaya masyarakat, serta kelembagaan dalam pengelolaan. Implikasi kebijakan pengelolaan minawisata bahari berdasarkan hasil kajian selengkapnya disajikan dalam bentuk matriks pada Lampiran 9. 7. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 1. Hasil rancang bangun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah dengan model minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi yang mengintegrasikan kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan wisata bahari dalam satu model pengelolaan terpadu menunjukan bahwa: a. Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sangat cocok untuk pengembangan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi, hal itu ditandai dengan keberadaan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove yang masih bagus kondisinya, topografi pantai yang landai, kondisi perairannya relatif tenang dan terlindung, kualitas perairannya masih baik, serta sumberdaya ikan dan kerang yang cukup tersedia. b. Kemampuan lahan untuk pengembangan minawisata bahari ini diperoleh dengan menghitung daya dukung lahan (DDL) dimana untuk minawisata bahari pancing Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 377 unit sarana pemancingan ikan, dan untuk minawisata bahari karamba pembesaran ikan teluk ini dapat menampung 37 unit rakit karamba. Sementara untuk daya dukung kawasan (DDK) kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir dapat menampung 2.358 orang perhari. c. Alokasi ruang yang diperoleh dengan pendekatan sistem informasi geografis (SIG) menunjukan bahwa luas lahan yang sesuai untuk minawisata bahari pancing sebesar 339.360 m2, minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska) sebesar 243.000 m2, minawisata bahari karamba pembesaran ikan sebesar 134.910 m2, dan minawisata bahari selam sebesar 36.660 m2, sedangkan untuk minawisata bahari mangrove tidak terdapat luas lahan yang sesuai tetapi masih dapat dikembangkan dengan memanfaatkan lahan dengan kategori sesuai bersyarat yaitu seluas 87.870 m2. 2. Hasil kajian keterpaduan ekologi-ekonomi dalam rancang bangun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah dengan model minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi tersebut menunjukan bahwa: 186 a. Dari aspek ekonomi, kelima kategori aktivitas minawisata bahari tersebut layak untuk diusahakan karena berdasarkan hasil analisis manfaat-biaya terhadap semua unit usaha, nilai NPV tahunan dari masing-masing kategori aktivitas lebih besar dari 0 dengan nilai B/C lebih besar dari 1. Disamping itu berdasarkan hasil simulasi basis model dengan 5 kategori aktivitas minawisata bahari tersebut diatas dengan jumlah unit usaha maksimum sesuai daya dukung kawasan, pada tahun kelima semua unit usaha minawisata bahari memberikan keuntungan dengan nilai NPV total tahunan adalah sebesar Rp.9.658.005.207. b. Dari aspek ekologi, dengan NPV total tahunan sebesar Rp.9.658.005.207 secara kolektif akan menyumbangkan Rp.204.025.260 untuk alokasi dana konservasi terumbu karang dan Rp.4.641.510 untuk alokasi dana konservasi mangrove sehingga dengan dana tersebut akan menambah luasan terumbu karang sebanyak 6,36195 ha dan menambah luasan mangrove sebanyak 6,88131 ha. c. Untuk kepentingan peningkatan perekonomian masyarakat, model pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Pulau Dullah ini dapat dioptimalkan dengan cara memaksimumkan jumlah unit usaha tetapi dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan perairan serta ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. 7.2 Saran 1. Agar semua kepentingan yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Pulau Dullah ini dapat terakomodir, maka kebijakan penting yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan adalah menentukan proporsi berimbang dari jumlah biaya proteksi lingkungan yang nanti diperoleh dari aktivitas minawisata bahari tersebut yaitu 50% untuk kepentingan perbaikan kualitas ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut serta lingkungan dan 50 % untuk kepentingan pembangunan desa. 187 2. Untuk menjaga kelestarian dan menambah luasan ekosistem terumbu karang dan mangrove yang ada maka biaya proteksi lingkungan tersebut harus benarbenar dialokasikan untuk pembuatan artificial reef dan penanaman anakan mangrove di kawasan objek minawisata bahari Teluk Un dan Teluk Vid Bangir sehingga kelestarian ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut dapat terus terjaga sekaligus juga menambah luasan ekosistem terumbu karang dan mangrove yang ada di kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir. RANCANG BANGUN PENGELOLAAN MINAWISATA BAHARI PULAU KECIL BERBASIS KONSERVASI: KASUS PULAU DULLAH KOTA TUAL - PROVINSI MALUKU ABDUL HARIS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Adrianto L, and Matsuda Y. 2002. Developing Economic Vulnerability Indices of Environmental Disasters in Small Island Regions. Environmental Impact Assessment Review 22 : 393-414pp. Adrianto L. 2004. Pembangunan dan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan (Sustainable Small Islands Development and Management). Working Paper 22 September 2004. PKSPL-IPB. __________. 2006a. Metodologi Analisis Evaluasi Ko-Manajemen Perikanan. Short Technical Paper untuk Pengambilan Keputusan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. Working Paper 12 Juni 2006. PKSPL-IPB. __________. 2006b. Sinopsis Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. PKSPL-IPB. Aminullah E. 2003. Berpikir Sistem dan Pemodelan Dinamika Sistem. Makalah Kuliah Umum. Program Pascasarjana, Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor. Astuti dkk. 2005. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pesisir Kota Bontang Kalimantan Timur. Jurnal Analisis. ISSN 0852-8144. Edisi Maret 2005. Vol 5 No. 1: 53-64. Atkinson. 2006. Environmental Valuation and Benefit Transfer: An Overview of Issues. This discussion draws heavily on Pearce, D.W., Atkinson, G. and Mourato S. (2006) Cost-Benefit Analysis and Environment: Recent Developments, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Paris. [BAPPEDA] Badan Perencana Pembangunan Daerah, Kota Tual. 2010. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tual Tahun 20092013. Barton ND. 1994. Economic Factors and Valuation of Tropical Coastal Resources. SMR-report 14/94. Universitetet I Bergen. Senter For MILJØ-OG Ressursstudier. Bengen DG. 2001. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB. Bogor. __________. 2002a. Potensi Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil. Makalah disampaikan dalam seminar sehari “Peluang Pengembangan Investasi Pulau-Pulau Kecil di Indoensia”, Hotel Indonesia, Jakarta 10 Oktober 2002. __________. 2002b. Pengembangan Konsep Daya Dukung Dalam Pengelolaan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil. Laporan Akhir Kerjasama Antara Kantor Kementrian Lingkungan Hidup RI dan Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bengen DG dan Retraubun ASW. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). Bogor. 190 [BPPT] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2007. Keputusan Kepala BPPT Nomor : 147/Kp/BPPT/V/2007 Tanggal 28 Mei 2007 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Teknisi Penelitian dan Perekayasaan (LITKAYASA) dan Angka Kreditnya. BPPT. [BPS] Badan Pusat Statistik, Kabupaten Maluku Tenggara. 2009. Maluku Tenggara Dalam Angka Tahun 2008. Briguglio L. 1995. Small Island Developing States and Their Economic Vulnerabilities. World Development, 23 (9), 1615-1632pp. Brookfield HC. 1990. An Approach to Island in Bell Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. UNESCO. Dahuri R. 1991. An Approach to coastal Resource Utilization : In East Kalimantan Coastal Zone, Indonesia. Desertasi of Ph.D for Invironmental Studies Delhousee University Halifax, Nova Scotia, Kanada. _________. 1997. Aplikasi Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk perencanaan dan Pengelolaan Tata Ruang Wilayah Pesisir. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. PKSPL-IPB. _________. 1998. Pendekatan Ekonomi-Ekologis Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Berkelanjutan. Makalah. Prosiding Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Di Indonesia. _________. 2001. Analisis Daya Dukung Ligkungan Kawasan Pesisir. Materi Kuliah Perencanaan dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Program Studi SPL IPB. Bogor. Davis D, Tisdell C. 1996. Economic Management of Recreational Scuba Diving and The Environment. Journal of Environmental Management, 48: 229-248, in. Tisdell C. Tourism economics, the environment and development: analysis and policy. Brisbane: Department of Economics University of Queensland. Debance. KS. 1999. The Challenges of Sustainable Management for Small Island (online) Available online at http://www.insula.org/islands/smallislands.html. Dhewani. 2010. Nilai Ekonomi Terumbu Karang Di Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. ISSN 0125-9830. Vol. 36(1):97-109. [DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Maluku Tenggara. 2008. Statistik Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2007. [DKP-RI] Departemen Kelautan dan Perikanan - Republik Indonesia. 2001. Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Depertemen Kelautan dan Perikanan. 191 [DKP-RI] Departemen Kelautan dan Perikanan - Republik Indonesia. 2002. Modul Sosialisasi dan Orientasi Penataan Ruang Laut, Pesisir dan PulauPulau Kecil. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Depertemen Kelautan dan Perikanan. Dodds R. 2007. Malta’s Tourism Policy: Standing Still or Advancing Towards Sustainability? Islands Studies Journal, 2(1), 2007: 47-66. [DPK] Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Maluku Tenggara. 2009. Laporan Tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2008. [DPK] Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kota Tual. 2009. Laporan Tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tual Tahun 2008. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2003. Data Spasial Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2006a. Laporan Hasil Identifikasi Calon Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Provinsi Maluku. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2006b. Laporan Hasil Identifikasi Pulau-Pulau Kecil bagi Kegiatan Ekowisata di Provinsi Maluku. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2006c. Merajut Keterpaduan Minawisata Pulau-Pulau Kecil Provinsi Maluku Dalam Rangka Revitalisasi Perikanan dan Kelautan. [DPK] Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Maluku. 2007. Model Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Berbasis Minawisata di Kabupaten Maluku Tenggara. Eriyatno. 1998. Ilmu Sistem; Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. Jilid I Edisi Kedua. IPB Press. _______. 2002. Ilmu Sistem; Apa dan Bagaimana. Centre for System Studies and Development (CSSD) Indonesia. _______. 2003. Ilmu Sistem; Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. Jilid I Edisi Ketiga. IPB Press. ESRI. 1990. Understanding GIS : The Arc/Info Method Environment all System Research Institute. Redlands, CA, USA. Fandeli C. 2000. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata dalam Pengusahaan Ekowisata. Fandeli, C dan Mukhlison (editor) Pustaka Pelajar, UGM, Unit KSDA, Yogyakarta. Fauzi A, Anna S. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan; Model Dinamik Optimasi “Multiple Use” Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil. Gramedia. Fitrawati. 2001. Valuasi Ekonomi Pengelolaan Hutan Mangrove untuk Pembangunan Perikanan di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 192 Folke CN, Kautsky, Troell. 1994. The Costs of Eutrophication from Salmon Farming: Implications for policy. Journal of Environmental Management, 40: 173-182. Gomes, E.D. dan Yap, H.T. 1998. Monitoring Reef Condition. P:187-195 dalam R.A. Kenchington dan B.E.T. Hudson. Coral Reef Management Handbook. UNESCO. Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta. Gunawan I. 1998. Typical Geographic Information System (GIS) Aplication For Coastal Resources Management Indonesia. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia (1998), I (1) : 1-12. Hamzah. 2005. Valuasi Ekonomi Terumbu Karang di Perairan Spermonde [tesis]. Makassar: Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin. Makassar. Hartrisari. 2007. Sistem Dinamik Konsep Sistem dan Pemodelan untuk Industri dan Lingkungan. SEAMEO BIOTROP (Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology). Hein PL. 1990. Economic Problems and Prospects of Small Islands in Bell. Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. UNESCO. Hidayat S. 1998. Beberapa Aspek Pertimbangan Untuk Pengelolaan PulauPulau Kecil Di Indonesia. Makalah Dalam Prosiding Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Di Indonesia. Jakarta 7–10 Desember 1998. Kerjasama DEPDAGRI, TPSA, BPPT, CRMP, PKSPLIPB. Jakarta. Hubbard, J.A.E.B. 1990. Sediment Rejection by Recent Sclerectinian Corals: a Key to Paleo-Environmental Reconstruction. Geol. Rundsch, 61:598-626. Jokiel, P.L. dan Morrissey, P.I. 1993. Water Motion on Coral Reefs. Marine Ecology Prog. Series 93:175-181. Kamal E. 2005. Minawisata dan Minaindustri. Informasi Kampus. Universitas Bung Hatta. Padang. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (KMNLH) dan FPIK IPB, 2002. Laporan Akhir: Pengembangan Konsep Daya Dukung Dalam Pengelolaan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil. Bogor. Kasnir M, Fattah, Ihsan, Cahyono. 2004. Pengembangan Kerapu Macan Secara Komprehensif berbasis lokalitas di Provinsi Sulawesi Selatan. Balitbangda Sulawesi Selatan, Makassar. Kasnir M. 2010. Penatakelolaan Minawisata Bahari di Kepulauan Spermonde Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut. Kinsman, D.J.J. 2004. Reef Coral Tolerance of High Temperatures and Salinities. Nature, 202: 1280-1282. 193 Latale, S.S. 2003. Studi Pendahuluan Eksplorasi Sumberdaya Anodontia edentula pada Perairan Pantai Desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura. Ambon. 58 hal. [LP Undana] Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana, 2006. Analisis Komoditas Unggulan dan Peluang Usaha (Budidaya Ikan kerapu). Kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana – Kupang. Kupang. Madduppa, H. 2009. Tipe Ikan Penghuni Terumbu Karang. 26 Desember 2009. (online) Available online at http://bunghaw.wordpress.com. Maguire DJ. 1991. An Overview and Defenition Of GIS, p. 9-20. In Maguire DJ, Goodchild MF, Rhind DW (eds). Geographycal Information System. Longman Scientific and Technical and John Wiley, New York. Manetch TJ, Park GL. 1997. Sistem Analysis and Simulation With Appplication to Economic and Social System Part I. Third Edition, Department of Electrical Engineering and System Science, Michigan State University, East Lansing, Michigan. Mc Elroy JL, Potter B, Towle E. 1990. Challenges for Sustainable Development in Small Caribbean in Bell. Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. UNESCO. META. 2002. Planning for Marine Ecotourism in the UE Atlantic Area . Univ. of the West England, Bristol. Midgley G. 2000. Systemic Intervention: Philosophi, Methology, and Practice. Kluwer Academic/Plenum Publisher, New York, Boston, Dordrecht, London, Moscow. Muhammadi E, Aminullah B, Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Mulyanto. 1992. Manajemen Perairan. LUW-UNIBRAW-FISH. Fisheries Project Unibraw. Malang. Natan, Y. 2008. Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula Pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam. (Disertasi). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Nontji, A. 2003. Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jakarta. Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta. O’brien JA. 1999. Management Information System. Mc Graw Hill. Arizona. USA. Odum EP. 1971. Fundamental of Ecology. Third Edition. W.B. Saunders. Company. Toronto. 194 Pariyono. 2006. Kajian Potensi Kawasan Mangrove Dalam Kaitannya Dengan Pengelolaan Wilayah Pantai Di Desa Panggung, Bulakbaru, Tanggultlare, Kabupaten Jepara. (Tesis). Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang. Piagram P. 1983. Outdoor Recreation and Resources Management. St. Martin’s Press, New York. Polanunu, A. 1998. Resuspensi sedimen oleh arus kaitannya dengan lapisan batas di dalam dan luar padang lamun Teluk Un Maluku Tenggara. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ambon. 50 hal. Quano. 1993. Training Manual on Assessment of the Quantity and Type of Land Based Pollutant Discharge Into the Marine and Coastal Environment. UNEP. Raharjo S. 1996. Makalah Pelatihan Sistem Informasi Geografis. Universitas Indonesia. F-MIPA Jurusan Geografi. Pusat Penelitian Geografi Terapan. Rauf A. 2007. Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Kepulauan Tanakeke Berbasis Daya Dukung [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Razak, A. 2002. Dinamikia Karakteristik Fisik – Kimia Sedimen dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Moluska Bentik di Muara Bandar Bakali Padang. Thesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Renjaan EA and D Pattisamalo. 1999. Tidal Flushing Influence on Dispersion and Abundance of Mollusc Larvae in “Un” Lagoon, Kei Islands, Indonesia. Abstract was published in Proceedings of the Ninth International Workshop of the Tropical Marine Mollusk Programme (TMMP) Part 2.v. A Special Report of Phuket Marine Biological Center Thailand. Romimohtarto, Juwana S. 1999. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Rudd MA. 2003. Analysis An institutional framework for designing and monitoring ecosystem-based fisheries management policy experiments. Ecological-Economics 48 (2004) 109-124. [www.sciencedirect.com]. Ruitenbeek, HJ. 1992. Mangrove management: an economic, analysis of management options with a focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. Environmental Management Development in Indonesia (EMDI) Project. EMDI environmental reports no.8. Jakarta. Samedi dkk (2006). Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Pesisir dan PulauPulau Kecil. Materi Kuliah Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Program Studi SPL IPB. Bogor. Sawyer, DA. 1992. Taka Bone Rate: management, development and resources valuation of an Indonesian atoll [thesis]. Dalhousie University, Halifax, Canada. Scones, J. B. 1993. Global Equity and Environmental Crisis: An Argument for Reducing Working Hours in the North. World Development 19, 1: 73-84. 195 Setiobudiandi, I. 1995. Mollusca (Sumberdaya Non Hayati Ikan). Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK IPB. Bogor. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 1997. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2005. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan PulauPulau Kecil Terluar. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. [Setneg] Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku. Sjafrie NDM. 2010. Nilai Ekonomi Terumbu Karang Di Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (2010) 36(1): 97 - 109. Soerianegara I. 1978. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sobari MP dkk. 2006. Analisis Ekonomi Alternatif Pengelolaan Mangrove Kecamatan Barru, Kabupaten Barru. Buletin Ekonomi Perikanan, Vol VI No. 3. Tahun 2006. Sribianti. 2008. Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove: Studi Kasus Valuasi Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Malili, Kabupaten Luwu Timur. Jurnal Sains dan Teknologi. ISSN 1411-4674. Edisi Desember 2008. Vol. 8 No. 3: 186-192. Sugiarti. 2000. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Kotamadya Dati II Pasuruan Jawa Timur. [tesis] Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Suharsono dan Yosephine, M.I. 1994. Perbandingan Kondisi Terumbu Karang di Pulau Nyamuk Besar dan Pulau Onrust Tahun 1929, 1985, dan 1993 dan Hubungannya dengan Perubahan Perairan Teluk Jakarta. Prosiding Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Jakarta, 7 September 1994. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Sunyoto, P. 1993. Pembesaran Kerapu dengan Karamba Jaring Apung. Penebar Swadaya. Jakarta. Supriyadi IH dan Wouthuyzen S. 2005. Penilaian Ekonomi Sumberdaya Mangrove di Teluk Kotania, Seram Barat, Provinsi Maluku. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. ISSN 0125-9830. No.38: 1-21. 196 Tamrin. 2006. Karang: Biologi Reproduksi dan Ekologi. Minamandiri Press. Pekanbaru. 260 pp. Tiensongrusmee, B.S. Pontjoprawiro, and K. Mintarjo. 1986. Seafarming Reseurces. MAP.INS/81/008/Manual/7. 109 p UNESCO. 1991. Hydrology and Water Resources of Small Islands: A Practical Guide. Studies and Report on Hydrology No. 49. Prepared by A. Falkland (ed.) and E. Custodio with contribution from A. Diaz Arenas and L. Simler. Paris, Freance. 435pp. United Nation. 1983. The Law of the Sea. Official text of the United Nations Convention on the Law of the Sea with Annexes and Index. United Nation Publication No.E.83.V.5. New York, NY. Wahyu Y. 2006. Optimisasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan Survei dan Pemetaan dalam Proses Rancang Bangun, Bandung: Departemen Teknik Geodesi, FTSL Institut Teknologi Bandung. Wawo, M. 2000. Penilaian ekonomi terumbu karang: studi kasus di Desa Ameth Pulau Nusalaut Provinsi Maluku [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Yulianda F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Makalah pada Seminar Sains, 21 Pebruari 2007 pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 197 DAFTAR PUSTAKA Adrianto L, Matsuda Y, Sakuma Y. 2004. Assessing Local Fisheries Sustainability in Small Island Region : An Application of Participatory Flag Modelling in Yoron Island, Kagoshima Prefecture, Japan. Working Paper 25 Juli 2004. PKSPL-IPB. Allen G.R, Adrim M. 2003. Coral Reef Fisheries of Indonesia. Zoological Studies 42(1):1-72. BAKOSURTANAL (1992).(http://202.155.86.35/geodesi/stapasut/desc/tual.html). Barg UC. 1992. Guidelines for the promotion of environmental management of coastal aquaculture development. FAO Fisheries Technical Paper 328, FAO, Rome. 122p. Bengen, D.G. 2008. Komunikasi Pribadi. 17 Juli 2008. Bogor. Bengen DG dan Retraubun ASW. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). Beveridge MCM. 1987. Cage and pen farming: carrying capacity models and environmental impact. FAO Fish.Tech.Pap.255. FIRI/T255, 131p. Clark, R.B. 1977. Marine Pollution. Clarendon Press. Oxford. [DKP-RI] Departemen Kelautan dan Perikanan - Republik Indonesia. 2000. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2000 Tentang Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Biro Hukum dan Perizinan Depertemen Kelautan dan Perikanan. Gomes, E.D. dan Yap, H.T. 1998. Monitoring Reef Condition. P:187-195 dalam R.A. Kenchington dan B.E.T. Hudson. Coral Reef Management Handbook. UNESCO. Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta. Hubbard, J.A.E.B. 1990. Sediment Rejection by Recent Sclerectinian Corals: a Key to Paleo-Environmental Reconstruction. Geol. Rundsch, 61:598-626. Irianto H.E, Sarmanto P, Rahayu U, Fauzyah Y.N, Putro S. 1986. Penelitian Pendahuluan Lingkungan Budidaya Kerang Hijau (Mytilus viridis) dan Tiram (Crassostrea iradelai) di Bojonegara, Serang. Jawa Barat. Jurnal Penelitian Pasca Panen Perikanan (51): 1-7. Jokiel, P.L. dan Morrissey, P.I. 1993. Water Motion on Coral Reefs. Marine Ecology Prog. Series 93:175-181. Kinsman, D.J.J. 2004. Reef Coral Tolerance of High Temperatures and Salinities. Nature, 202: 1280-1282. Latale, S.S. 2003. Studi Pendahuluan Eksplorasi Sumberdaya Anodontia edentula pada Perairan Pantai Desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura. Ambon. 58 hal. 198 [LP Undana] Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana, 2006. Analisis Komoditas Unggulan dan Peluang Usaha (Budidaya Ikan kerapu). Kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana – Kupang. Kupang. Madduppa, H. 2009. Tipe Ikan Penghuni Terumbu Karang. 26 Desember 2009. http://bunghaw.wordpress.com. Mulyanto. 1992. Manajemen Perairan. LUW-UNIBRAW-FISH. Fisheries Project Unibraw. Malang. Natan, Y. 2008. Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula Pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam. (Disertasi). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Nontji, A. 2003. Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jakarta. Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta. [Pemprovmal] Pemerintah Provinsi Maluku. 2006. Merajut Keterpaduan Mina Wisata Pulau-Pulau Kecil Provinsi Maluku Dalam Rangka Revitalisasi Kelautan dan Perikanan. Pescod, M.B. 1973. Investigation of Rasional Effluent and Stream Standart for Tropical Contries. Environmental Engineering Division. Asian Institute Technology Bangkok. Polanunu, A. (1998). Resuspensi sedimen oleh arus kaitannya dengan lapisan batas di dalam dan luar padang lamun Teluk Un Maluku Tenggara. (Skripsi). Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ambon. 50 hal. Quano. 1993. Training Manual on Assessment of the Quantity and Type of Land Based Pollutant Discharge Into the Marine and Coastal Environment. UNEP. Razak, A. 2002. Dinamikia Karakteristik Fisik – Kimia Sedimen dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Moluska Bentik di Muara Bandar Bakali Padang. Thesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Renjaan, E.A. 2006. Resim Hidrodinamika dan Transportasi Meroplankton di Selat Rosenberg, Kepulauan Kei. (Belum dipublikasikan). Renjaan, E.A. 2008. Komunikasi Pribadi. 27 Nopember 2008. Bogor. Romimohtarto, Juwana S. 1999. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Russel-Hunter, W.D. 1968. Biology of Lower Invertebrate. The Mcmillan Company. New York. 146p. Setiobudiandi, I. 1995. Mollusca (Sumberdaya Non Hayati Ikan). Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK IPB. Bogor. 199 Sjafi’i BIE. 2000. Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Manado Sulawesi Utara [tesis] Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sugiarti. 2000. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Kotamadya Dati II Pasuruan Jawa Timur. [tesis] Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Suharsono dan Yosephine, M.I. 1994. Perbandingan Kondisi Terumbu Karang di Pulau Nyamuk Besar dan Pulau Onrust Tahun 1929, 1985, dan 1993 dan Hubungannya dengan Perubahan Perairan Teluk Jakarta. Prosiding Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Jakarta, 7 September 1994. Puslitbang Oseanologi – LIPI. Jakarta. Tamrin. 2006. Karang: Biologi Reproduksi dan Ekologi. Minamandiri Press. Pekanbaru. 260 pp. Tiensongrusmee, B.S. Pontjoprawiro, and K. Mintarjo. 1986. Seafarming Reseurces. MAP.INS/81/008/Manual/7. 109 p Yulianda F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Makalah pada Seminar Sains, 21 Pebruari 2007 pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 200 Lampiran 1 : JADWAL KEGIATAN PENELITIAN DAN RENCANA PENYELESAIAN STUDI No TAHUN 2008 TAHUN 2009 BULAN BULAN KEGIATAN OKT 1. Persiapan penelitian 2. Survey awal ke lokasi penelitian 1. Sosialisasi rencana penelitian 2. Pengumpulan data awal 3. NOP DES JAN PEB MAR …… .…..……….. ………..……….. Pelaksanaan penelitian 1. Pengumpulan data 2. Kuesioner dan wawancara ……….. ……….. ……….. 4. Pengolahan data ………. 5. Analisis data …...….. 6. Penyusunan draft Disertasi, Seminar, Sidang Tertutup, dan Sidang Terbuka. Mulai dari bulan April – Agustus 2009 Lampiran 1 Data hasil penelitian a. Data umum lokasi penelitian Kota Tual : Luas wilayah administratif Kota Tual 19.095,84 km2 ( 1.909.584 ha ) Luas perairan Kota Tual 18.743,55 km2 ( 1.874.355 ha ) 352,29 km2 ( 35.229 ha ) 98,38 km 2 ( 9.838 ha ) 77.258,37 m ( 77,26 km ) 2.891.715,47 m2 ( 289,17 ha ) 13.965,88 m ( 13,97 km ) 627.803,14 m2 ( 62,78 ha ) 11.019,31 m ( 11,02 km ) 1.535.802,75 m2 ( 153,58 ha ) 6.837,60 m ( 6,84 km ) 499.624,51 m2 ( 49,96 ha ) Luas daratan Kota Tual Pulau Dullah : Luas Pulau Dullah Panjang garis pantai Pulau Dullah Lokasi Studi ( Teluk Un dan Teluk Vid Bangir ) : Luas perairan di lokasi studi Panjang garis pantai di lokasi studi Luas ekosistem terumbu karang di lokasi studi Panjang garis pantai untuk terumbu karang di lokasi studi Luas ekosistem mangrove di lokasi studi Panjang garis pantai untuk mangrove di lokasi studi Luas ekosistem lamun di lokasi studi b. Data parameter fisika kimia perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Stasiun Pengamatan Ke … Posisi Stasiun Pengamatan Waktu Pengukuran No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 05O 38,271’ LS 132O 45,685’ BT 09.30 WIT PARAMETER Kedalaman perairan (m) Kecepatan arus (m/det) Salinitas (‰) Suhu ( OC ) pH DO Nitrat / NO 3 –N (mg/l) Phosphat / PO 4 (mg/l) Tembaga / Cu (mg/l) Ammon/NH 3 –N (mg/l) Sulfida / H 2 S (mg/l) Sumber : data ground check 2 05O 38,672’ LS 132O 45, 667’ BT 10.12 WIT 3 4 05O 39,110’ LS 132O 45,833’ BT 10.55 WIT 05O 39,517’ LS 132O 45,656’ BT 11.22 WIT 5 05O 39,890’ LS 132O 45,485’ BT 12.02 WIT 6 05O 39,959’ LS 132O 44,973’ BT 7 05O 39,541’ LS 132O 45,209’ BT 12.23 WIT 12.47 WIT HASIL PENGUKURAN 0,5 1,0 8,0 2,5 1,5 2,5 16,0 0,08 22 29 8,2 8,1 0,19 30 30 6,5 7,2 0,76 33 31 7,0 6,5 2,21 33 31 7,0 6,8 0,19 33 31 6,5 7,3 0,33 33 31,8 6,5 7,0 0,91 33 32 7,0 6,6 0.008 0.003 0.002 0.003 0.004 0.003 0.003 0.009 0.002 0.004 0.005 0.002 0.002 0.004 0.017 0.007 0.008 0.008 0.007 0.007 0.009 0.006 0.007 0.009 0.008 0.007 0.007 0.011 0.011 0.006 0.007 0.007 0.006 0.006 0.007 Lampiran 2 Kriteria umum untuk penentuan pemanfaatan pulau-pulau kecil No Kriteria 1. Sosial Uraian 1. Diterimanya secara sosial, berarti: didukung oleh masyarakat lokal, adanya nilai-nilai lokal untuk melakukan konservasi SDA, adanya kebijakan pemerintah setempat untuk menetapkan Daerah Perlindungan Laut (DPL). 2. Kesehatan masyarakat, berarti: mengurangi pencemaran dan berbagai penyakit, mencegah terjadinya area kontaminasi. 3. Rekreasi, berarti: dapat digunakan untuk kegiatan rekreasi, masyarakat lokal dapat merasakan manfaat dengan berkembangnya kegiatan rekreasi. 4. Budaya, berarti: adanya nilai-nilai agama, sejarah dan budaya lainnya yang mendukung adanya DPL. 5. Estetika, berarti: adanya bentang laut dan bentang alam yang indah, keindahan ekosistem dan keanekaragaman jenis memberikan nilai tambah untuk rekreasi. 6. Konflik kepentingan, berarti: pengembangan DPL harus membawa efek positif pada masyarakat lokal. 7. Keamanan, berarti: dapat melindungi masyarakat dari berbagai kemungkinan bahaya badai, ombak, arus, dan bencana lainnya. 8. Aksesibilitas, berarti: memiliki akses dari daratan dan lautan. 9. Penelitian dan pendidikan, berarti: memiliki berbagai ekosistem yang dapat dijadikan objek penelitian dan pendidikan. 10. Kepedulian masyarakat, berarti: masyarakat ikut berperan aktif dalam melakukan kegiatan konservasi. 2. Ekonomi 1. Memiliki spesies penting, berarti: area yang dilindungi memiliki spesies yang bernilai ekonomi, misalnya terumbu karang, mangrove, dan esturia. 2. Memiliki nilai penting untuk kegiatan perikanan, berarti: area perlindungan dapat dijadikan untuk menggantungkan hidup para nelayan, area pemanfaatan merupakan daerah tangkapan. Lanjutan lampiran 2 : 3. Ancaman terhadap alam, berarti: adanya ancaman dari aktifitas manusia, adanya ancaman dari kegiatan merusak seperti pengeboman, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, daerah tersebut perlu dikelola untuk menjaga kelestariannya. 4. Keuntungan ekonomi, berarti: adanya dampak positif bagi ekonomi masyarakat setempat. 5. Pariwisata, berarti: merupakan area yang potensial dikembangkan untuk pariwisata. 3. Ekologi 1. Keanekaragaman hayati, berarti: memiliki kekayaan keanekaragaman ekosistem dan spesies. 2. Kealamiahan, berarti: tidak mengalami kerusakan, masih dalam keadaan alami. 3. Ketergantungan, berarti: berbagai spesies sangat tergantung pada area ini, proses-proses ekologi sangat bergantung pada daerah ini. 4. Keterwakilan, berarti: area yang akan ditentukan mewakili berbagai tipe habitat, ekosistem, geologikal, dan berbagai karakteristik alam lainnya. 5. Keunikan, berarti: memiliki spesies yang unik, memiliki spesies yang endemik, memiliki spesies yang hampir punah. 6. Produktivitas, berarti: produktivitas area akan memberikan kontribusi untuk berbagai spesies dan juga untuk manusia. 7. Vulnerabilitas, berarti: area ini memiliki fungsi perlindungan dari berbagai ancaman bencana. 4. Regional Sumber: Bengen (2002b). 1. Tingkat kepentingan regional, berarti: mewakili karakteristik regional setempat, baik itu alamnya, proses ekologi, maupun budayanya, merupakan daerah migrasi beberapa spesies, memberikan kontribusi untuk pemeliharaan berbagai spesies. 2. Tingkat kepentingan sub-regional, berarti: memiliki dampak positif terhadap sub-regional, dapat dijadikan perbandingan dengan sub-regional yang tidak dijadikan DPL. Lampiran 3 Hasil analisis skala prioritas pemanfaatan ruang a. Hasil analisis SMART untuk ke-empat kriteria KRITERIA SUBKRITERIA Ekologi Kesesuaian Lahan Daya Dukung Lahan Daya Dukung Kawasan Ekonomi Kemudahan Berinvestasi Manfaat Ekonomi Tingkat Pendapatan Masyarakat Sosial Budaya Kebiasaan Masyarakat Penyerapan Tenaga Kerja Kelembagaan Aturan Pengelolaan Tingkat Keamanan TOTAL BOBOT 0.083 0.082 0.105 0.270 0.074 0.073 0.135 0.282 0.124 0.130 0.254 0.104 0.090 0.194 1.000 b. Hasil analisis Smart untuk alternatif kategori aktivitas minawisata bahari Kriteria Subkriteria Minawisata Bahari Pancing Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang Minawisata Bahari Karamba Pemb. Ikan Minawisata Bahari Selam Nilai Bobot Nilai Bobot Nilai Bobot Nilai Bobot Kesesuaian Lahan 49 0.49 31 0.31 13 0.13 7 0.07 Daya Dukung Lahan Daya Dukung Kawasan 49 18 0.49 0.18 23 3 0.23 0.03 3 76 0.03 0.76 25 3 0.25 0.03 Ekonomi Kemudahan Berinvestasi Manfaat Ekonomi Tingkat Pendapatan Masyarakat 30 22 26 0.30 0.22 0.26 40 9 22 0.40 0.09 0.22 10 19 27 0.10 0.19 0.27 20 50 25 0.20 0.50 0.25 Sosial Budaya Kebiasaan Masyarakat 25 0.25 12 0.12 33 0.33 30 0.30 Penyerapan Tenaga Kerja 30 0.30 14 0.14 40 0.40 16 0.16 Aturan Pengelolaan 13 0.13 30 0.30 22 0.22 35 0.35 Tingkat Keamanan 23 0.23 17 0.17 23 0.23 37 0.37 Ekologi Kelembagaan Lampiran 4 Perhitungan Daya Dukung Lahan (DDL) dan Daya Dukung Kawasan (DDK) a. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pancing Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Luasan Optimal Sarana Pemancingan Ikan (LOSPI) Luas Olah Gerak (LOG) Jumlah Pengunjung (JP) Daya Dukung Lahan (DDL) = LLS X KL Jumlah Unit Sarana Pemancingan Ikan (JUSPI) = DDL : LOG Daya Dukung Kawasan (DDK) = JUSPI X JP 1,131,200 30 12 900 3 m2 % m2 m2 Orang 339,360 m2 377 Unit 1,131 Orang Keterangan : LOSPI = 12 m2 (1 unit sarana pemancingan ikan, berada dalam luasan 4 m X 3 m) LOG = 900 m2 (1 unit sarana pemancingan ikan, mempunyai luas olah gerak 30 m X 30 m) JP = 3 orang ( 1 unit sarana pemancingan ikan, memuat 2 orang wisatawan dan 1 orang pendayung perahu) b. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang (Moluska) Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) 810,000 30 m2 % Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) Luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengumpulan kerang (Lp) = LLS X KL Unit area untuk melakukan pengumpulan kerang (Lt) Waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari untuk melakukan pengumpulan kerang (Wt) Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan pengumpulan kerang (Wp) 1 243,000 2,500 Orang m2 m2 8 4 Jam Jam 194 Orang Daya Dukung Kawasan (DDK) = K X Lp/Lt X Wt/Wp Keterangan : Lt = 2,500 m2 (1 orang setiap luasan 50 m X 50 m) c. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Luasan Optimal Karamba Pembesaran Ikan (LOKPI) Luas Olah Gerak (LOG) Jumlah Pengunjung (JP) 449,700 30 144 3,600 5 m2 % m2 m2 Orang Daya Dukung Lahan (DDL) = LLS X KL Jumlah Karamba Pembesaran Ikan (JKPI) = DDL : LOG 134,910 37 m2 Unit Daya Dukung Kawasan (DDK) = JKPI X JP 185 Orang Keterangan : LOKPI = 144 m2 (1 unit rakit karamba pembesaran ikan, berada dalam luasan 12 m X 12 m) LOG = 3,600 m2 (1 unit rakit karamba pembesaran ikan, mempunyai luas olah gerak 60 m X 60 m) JP = 5 orang (1 unit karamba pembesaran ikan, memuat 4 orang wisatawan dan 1 orang penjaga karamba) d. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Selam Luas Lahan yang Sesuai (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) Luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas penyelaman (Lp) = LLS X KL Unit area untuk melakukan aktivitas penyelaman (Lt) Waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari untuk melakukan aktivitas penyelaman (Wt) Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan aktivitas penyelaman (Wp) Daya Dukung Kawasan (DDK) = K X Lp/Lt X Wt/Wp Keterangan : Lt = 2,000 m2 (2 orang setiap luasan 200 m X 10 m) 122,200 30 m2 % 2 36,660 2,000 Orang m2 m2 8 2 Jam Jam 146 Orang e. DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Mangrove Luas Lahan yang Sesuai / Sesuai bersyarat (LLS) Kapasitas Lahan (KL) Areal untuk membuat rute tracking Daya Dukung Lahan (DDL) = LLS X KL Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) Luas area yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan tracking (Lp) Unit area untuk melakukan tracking (Lt) Waktu yang disediakan oleh kawasan dalam 1 hari untuk melakukan tracking (Wt) Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan tracking (Wp) Daya Dukung Kawasan (DDK) = K X Lp/Lt X Wt/Wp Keterangan : Lt = 50 m (1 orang setiap 50 meter panjang track) Lebar area tracking Panjang area tracking 292,900 30 10 m2 % % 87,870 m2 1 8,787 50 Orang m2 m 8 2 Jam Jam 702 Orang 2 4,394 m m Lampiran 5 Data untuk perhitungan kapasitas asimilasi lingkungan perairan a. Nilai baku mutu yang dipersyaratkan dan konsentrasi bahan pencemar Parameter Stasiun pengamatan ke … Nilai baku mutu untuk biota laut Nilai baku mutu untuk wisata bahari 1 2 3 4 5 6 7 Nitrat / NO 3 –N (mg/l) 0.008 0.008 0.008 0.003 0.002 0.003 0.004 0.003 0.003 Phosphat / PO 4 (mg/l) 0.015 0.015 0.009 0.002 0.004 0.005 0.002 0.002 0.004 Tembaga / Cu (mg/l) 0.008 0.050 0.017 0.007 0.008 0.008 0.007 0.007 0.009 Ammonia / NH 3 –N (mg/l) 0.3 Nihil 0.006 0.007 0.009 0.008 0.007 0.007 0.011 Sulfida / H 2 S (mg/l) 0.01 Nihil 0.011 0.006 0.007 0.007 0.006 0.006 0.007 b. Data debit air yang masuk melalui arus pasut, konsentrasi bahan pencemar (K), dan beban pencemar (BP) No Parameter Debit Stasiun 1 K BP Stasiun 2 K BP Stasiun 3 K BP Stasiun 4 K BP 1 NO 3-N 346.632 0.008 2.773056 0.003 1.039896 0.002 0.693264 0.003 1.039896 2 PO 4 3 4 5 Cu NH 3 -N H2 S 346.632 346.632 346.632 346.632 3.119688 5.892744 2.079792 3.812952 0.002 0.007 0.007 0.006 0.693264 2.426424 2.426424 2.079792 0.004 0.008 0.009 0.007 1.386528 2.773056 3.119688 2.426424 0.005 0.008 0.008 0.007 1.733160 2.773056 2.773056 2.426424 No Parameter Debit 0.009 0.017 0.006 0.011 Stasiun 5 K BP Stasiun 6 K BP Stasiun 7 K BP 1 NO 3-N 346.632 0.004 1.386528 0.003 1.039896 0.003 1.039896 2 PO 4 3 4 5 Cu NH 3 -N H2 S 346.632 346.632 346.632 346.632 0.693264 2.426424 2.426424 2.079792 0.002 0.007 0.007 0.006 0.693264 2.426424 2.426424 2.079792 0.004 0.009 0.011 0.007 1.386528 3.119688 3.812952 2.426424 0.002 0.007 0.007 0.006 Lampiran 6 Dasar perhitungan valuasi ekonomi sumberdaya a. Indeks Harga Konsumen (IHK) Tahun 2010 beberapa daerah di Indonesia P. Dullah P. Nusalaut P. Seram BB Bontang B. Lompo Malili Barru Wakatobi Buton Ambon Samarinda Makassar Kendari Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 121,68 120,89 121,22 120,60 120,52 121,54 123,09 126,05 127,25 126,88 126,57 128,22 122,33 123,26 124,12 124,34 124,50 125,04 127,52 128,06 129,14 128,49 129,51 130,11 118,94 119,06 118,59 118,01 118,78 119,33 121,85 123,71 124,21 123,65 123,99 125,42 123,55 122,59 122,60 122,98 123,54 123,46 126,16 128,66 128,12 127,45 127,26 127,61 116,11 116,34 115,95 116,11 116,45 117,95 119,83 120,37 120,11 120,08 121,47 123,09 117,12 117,67 117,43 117,86 117,88 118,87 120,93 121,57 122,83 122,86 123,64 124,51 Rata-rata 123,71 126,37 121,30 125,33 118,66 120,26 Bulan Selat Nasik Jepara Pekanbaru Semarang b. Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem mangrove BUTON BONTANG SBB BARRU JEPARA MALILI ASTUTI, 2005 SUPRIYADI, 2005 PARIYONO, 2006 SRIBIYANTI, 2008 Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar SOBARI, 2006 Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Rasio IHK Lokasi Studi 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 Rasio IHK Lokasi Asal 125,33 126,37 123,71 121,30 120,26 121,30 MANFAAT EKONOMI MANFAAT LANGSUNG Potensi kayu (Rp/m3) Ranting / kayu bakar (per ikat) FITRAWATI, 2001 RATA RATA PEMBULATAN 59.224 296 127.264 0 0 2.750 0 0 61.721 0 0 2.550 82.736 1.865 82.740 1.870 Ikan (per kg) 2.961 0 3.000 0 0 5.354 3.772 3.770 Kepiting bakau (per kg) 9.871 0 10.000 0 0 40.795 20.222 20.220 1.407.494 0 3.500.000 3.569.538 0 0 2.825.677 2.825.680 NILAI KEBERADAAN Nilai keberadaan dengan CVM (per ha per tahun) c. Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem terumbu karang MALUKU WAWO, 2000 BONTANG ASTUTI, 2005 BARRANG LOMPO HAMZAH, 2005 WAKATOBI COREMAP II, 2008 SELAT NASIK DHEWANI, 2010 Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Harga Pasar Rasio IHK Lokasi Studi 123,71 123,71 123,71 123,71 123,71 Rasio IHK Lokasi Asal 123,71 126,37 121,30 125,33 118,66 MANFAAT EKONOMI MANFAAT LANGSUNG Perikanan terumbu (per kg) Selam (per orang) Penelitian (per orang) Penambangan karang (per m3) Lola (per kg) Teripang (per kg) PEMBULATAN 5.000 7.342 63.742 44.418 0 30.126 30.130 2.175.000 5.000.000 12.000 26.750 18.750 0 0 63.632 0 0 2.590.465 34.252.270 50.993 0 50.993 4.935.371 0 69.095 39.878 118.449 0 83.404.686 72.979 0 0 3.233.612 40.885.652 53.740 33.314 62.731 3.233.610 40.855.650 53.740 33.310 62.730 44.418.336 8.340.469 27.375.775 27.375.780 0 0 6.992.553 6.992.550 Habitat ikan (per ha) NILAI KEBERADAAN Nilai keberadaan dengan CVM (per ha per tahun) RATA RATA 29.368.521 11.330.900 0 2.654.207 Lampiran 7 Analisis manfaat-biaya minawisata bahari berbasis konservasi a. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Pancing di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan Perahu dan Alat Pancing - Jasa pengolahan ikan hasil tangkapan b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, Teripang, Penelitian Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value TAHUN 0 1 2 3 4 5 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 5,100,000 1,700,000 76,440 76,440 76,440 76,440 76,440 0 1 0 6,876,440 0.91 6,257,560 6,876,440 0.83 5,707,445 6,876,440 0.75 5,157,330 6,876,440 0.68 4,675,979 6,876,440 0.62 4,263,393 3,200,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 1,200,000 640,000 320,000 320,000 320,000 320,000 320,000 850,000 850,000 850,000 850,000 850,000 397,500 397,500 397,500 397,500 397,500 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan - Upah buruh (pendayung perahu) b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan - Pembuatan artificial reef - Pungutan adat (pengganti sasi) Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 3,200,000 1 3,200,000 -3,200,000 9,465,953 3.96 102,000 102,000 102,000 102,000 102,000 25,000 3,534,500 0.91 3,216,395 25,000 3,534,500 0.83 2,933,635 25,000 3,534,500 0.75 2,650,875 25,000 3,534,500 0.68 2,403,460 25,000 3,534,500 0.62 2,191,390 3,041,165 2,773,810 2,506,455 2,272,519 2,072,003 b. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN TAHUN 1 2 3 4 5 600,000 600,000 600,000 600,000 600,000 200,000 200,000 200,000 200,000 200,000 1,400 801,400 0.91 729,274 1,400 801,400 0.83 665,162 1,400 801,400 0.75 601,050 1,400 801,400 0.68 544,952 1,400 801,400 0.62 496,868 200,000 100,000 200,000 100,000 200,000 100,000 200,000 100,000 200,000 100,000 50,000 50,000 50,000 50,000 50,000 - Upah buruh (pengawas) b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000 7,300 7,300 7,300 7,300 7,300 - Pungutan adat (pengganti sasi) 25,000 25,000 25,000 25,000 25,000 MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan Alat Pengumpul Kerang - Jasa pengolahan kerang hasil pengumpulan b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, Teripang, Penelitian Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value 0 0 1 0 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan 500,000 - Pembuatan artificial reef Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 500,000 1 500,000 -500,000 663,909 2.33 12,000 494,300 0.91 449,813 12,000 494,300 0.83 410,269 12,000 494,300 0.75 370,725 12,000 494,300 0.68 336,124 12,000 494,300 0.62 306,466 279,461 254,893 230,325 208,828 190,402 c. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan rakit karamba (4 orang) - Penjualan ikan hasil pembesaran dalam karamba - Jasa pengolahan ikan hsl pembesaran b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, Teripang, Penelitian Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value TAHUN 0 1 2 3 4 5 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 3,400,000 40,800,000 34,000,000 34,000,000 34,000,000 34,000,000 34,000,000 327,600 78,527,600 0.91 71,460,116 327,600 78,527,600 0.83 65,177,908 327,600 78,527,600 0.75 58,895,700 327,600 78,527,600 0.68 53,398,768 327,600 78,527,600 0.62 48,687,112 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 1,000,000 6,400,000 3,200,000 3,200,000 3,200,000 3,200,000 3,200,000 - Anakan ikan dan pakan 10,000,000 10,000,000 10,000,000 10,000,000 10,000,000 - Upah buruh (penjaga karamba) - Upah buruh (pelayanan pengunjung) 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 0 1 0 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan 32,000,000 850,000 850,000 850,000 850,000 850,000 b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan 1,703,500 1,703,500 1,703,500 1,703,500 1,703,500 - Pungutan adat (pengganti sasi) 25,000 25,000 25,000 25,000 25,000 884,000 42,312,500 0.91 38,504,375 884,000 42,312,500 0.83 35,119,375 884,000 42,312,500 0.75 31,734,375 884,000 42,312,500 0.68 28,772,500 884,000 42,312,500 0.62 26,233,750 32,955,741 30,058,533 27,161,325 24,626,268 22,453,362 - Pembuatan artificial reef Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 32,000,000 1 32,000,000 -32,000,000 105,255,229 4.29 d. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Selam di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN TAHUN 0 1 MANFAAT a. Manfaat Langsung - Penyewaan Peralatan Selam - Jasa pengolahan ikan hasil tangkapan b. Manfaat Eksternal/Lingkungan 2 3 4 5 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 17,000,000 1,700,000 21,800 18,721,800 0.91 17,036,838 21,800 18,721,800 0.83 15,539,094 21,800 18,721,800 0.75 14,041,350 21,800 18,721,800 0.68 12,730,824 21,800 18,721,800 0.62 11,607,516 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 2,700,000 3,000,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000 - Upah pemandu selam (buddy) b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas terumbu karang c. Biaya Proteksi Lingkungan 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 113,600 113,600 113,600 113,600 113,600 - Pungutan adat (pengganti sasi) 25,000 25,000 25,000 25,000 25,000 340,000 340,000 340,000 340,000 340,000 Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value 0 1 0 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan - Pembuatan artificial reef 15,000,000 Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value 15,000,000 1 15,000,000 11,078,600 0.91 10,081,526 11,078,600 0.83 9,195,238 11,078,600 0.75 8,308,950 11,078,600 0.68 7,533,448 11,078,600 0.62 6,868,732 Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C -15,000,000 13,967,728 1.93 6,955,312 6,343,856 5,732,400 5,197,376 4,738,784 e. Analisis Manfaat-Biaya untuk Minawisata Bahari Mangrove di Teluk Un dan Vid Bangir (per unit usaha per tahun) KOMPONEN TAHUN 0 1 MANFAAT a. Manfaat Langsung - Retribusi masuk areal MB Mangrove b. Manfaat Eksternal/Lingkungan - Bahan Bangunan, Kayu Bakar, Ikan, Kepiting Bakau Total Manfaat Discount Rate (DR) = 10% Present Value 0 1 0 2 3 4 5 119,000,000 119,000,000 119,000,000 119,000,000 119,000,000 22,189,700 141,189,700 0.91 128,482,627 22,189,701 141,189,701 0.83 117,187,452 22,189,702 141,189,702 0.75 105,892,277 22,189,703 141,189,703 0.68 96,008,998 22,189,704 141,189,704 0.62 87,537,616 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 15,000,000 9,000,000 4,500,000 4,500,000 4,500,000 4,500,000 4,500,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 18,250,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 3,400,000 25,173,000 25,173,000 25,173,000 25,173,000 25,173,000 BIAYA a. Biaya Langsung - Investasi - Penyusutan - Pemeliharaan - Upah buruh (pengawas) - Upah pemandu MB Mangrove b. Biaya Eksternal/Lingkungan - Konversi luas ekosistem mangrove c. Biaya Proteksi Lingkungan - Pungutan adat (pengganti sasi) 45,000,000 - Penanaman anakan mangrove Total Biaya Discount Rate (DR) = 10% Present Value Net Benefit Net Present Value (NPV) B/C 45,000,000 1 45,000,000 -45,000,000 192,393,100 5.28 850,000 850,000 850,000 850,000 850,000 2,380,000 78,553,000 0.91 71,483,230 2,380,000 78,553,000 0.83 65,198,990 2,380,000 78,553,000 0.75 58,914,750 2,380,000 78,553,000 0.68 53,416,040 2,380,000 78,553,000 0.62 48,702,860 56,999,397 51,988,462 46,977,527 42,592,958 38,834,756 Lampiran 8 Equation untuk model dinamik minawisata bahari berbasis konservasi a. Basis Model LUASAN_MANGROVE(t) = LUASAN_MANGROVE(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_Mangrove - Pengurangan_Luasan_Mangrove) * dtINIT LUASAN_MANGROVE = 153.58 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_Mangrove = (Laju_Pertumbuhan_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Upaya_Konservasi_ Mangrove OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_Mangrove = (Laju_Degradasi_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Luas_Mangrove_yang_ dikonversi LUASAN_TERUMBU_KARANG(t) = LUASAN_TERUMBU_KARANG(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_TK - Pengurangan_Luasan_TK) * dtINIT LUASAN_TERUMBU_KARANG = 62.78 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_TK = (Laju_Pertumbuhan_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Upaya_Konservasi _TK OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_TK = (Laju_Degradasi_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Pencemaran NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t - dt) + (Manfaat_3 - Biaya_3) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA = 0 INFLOWS: Manfaat_3 = (Bd_3+Be_3)*DR OUTFLOWS: Biaya_3 = IF(DR>=1)THEN(1184000000)ELSE((Cd_3+Ce_3+Cp_3)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t - dt) + (Manfaat_2 - Biaya_2) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KERANG = 0 INFLOWS: Manfaat_2 = (Bd_2+Be_2)*DR OUTFLOWS: Biaya_2 = IF(DR>=1)THEN(388000000)ELSE((Cd_2+Ce_2+Cp_2)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t) = NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t - dt) + (Manfaat_5 - Biaya_5) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE = 0 INFLOWS: Manfaat_5 = (Bd_5+Be_5)*DR OUTFLOWS: Biaya_5 = IF(DR>=1)THEN(45000000)ELSE((Cd_5+Ce_5+Cp_5)*DR) Lanjutan lampiran 8.a : NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t) = NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t - dt) + (Manfaat_1 - Biaya_1) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_PANCING = 0 INFLOWS: Manfaat_1 = (Bd_1+Be_1)*DR OUTFLOWS: Biaya_1 = IF(DR>=1)THEN(1206400000)ELSE((Cd_1+Ce_1+Cp_1)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t) = NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t dt) + (Manfaat_4 - Biaya_4) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_SELAM = 0 INFLOWS: Manfaat_4 = (Bd_4+Be_4)*DR OUTFLOWS: Biaya_4 = IF(DR>=1)THEN(2190000000)ELSE((Cd_4+Ce_4+Cp_4)*DR) Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove = 0.3*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove Alokasi_Dana_Untuk_Pembangunan_Desa = (0.7*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK)+(0.7*Biaya_Proteksi_Lingk ungan_Pemanfaatan_Mangrove) Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK = 0.3*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK Bd_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2563600000) Bd_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(155200000) Bd_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2893400000) Bd_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2730200000) Bd_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(119000000) Be_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(28817880) Be_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(271600) Be_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(12121200) Be_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(3182800) Be_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(22189700) Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove = Cp_5 Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK = Cp_1+Cp_2+Cp_3+Cp_4 Cd_1 = 1134770000 Cd_2 = 87300000 Cd_3 = 1468900000 Cd_4 = 1547600000 Cd_5 = 50150000 Ce_1 = 149857500 Ce_2 = 1416200 Ce_3 = 63029500 Ce_4 = 16585600 Ce_5 = 25173000 Cp_1 = 47879000*DR Cp_2 = 7178000*DR Cp_3 = 33633000*DR Cp_4 = 53290000*DR Lanjutan lampiran 8.a : Cp_5 = 3230000*DR Fraksi_Fee_Konservasi_Mangrove = 0.00001 Fraksi_Fee_Konservasi_TK = 0.003 Fraksi_Kesadaran_Lingkungan = 0.7 Fraksi_Pencemaran = 0.0000595 Laju_Degradasi_Mangrove = 0.00851 Laju_Degradasi_TK = 0.052 Laju_Pertumbuhan_Mangrove = 0.073 Laju_Pertumbuhan_TK = 0.073 Luas_Mangrove_yang_dikonversi = 8.7 NPV_TAHUNAN_MB_KARAMBA = Manfaat_3-Biaya_3 NPV_TAHUNAN_MB_KERANG = Manfaat_2-Biaya_2 NPV_TAHUNAN_MB_MANGROVE = Manfaat_5-Biaya_5 NPV_TAHUNAN_MB_PANCING = Manfaat_1-Biaya_1 NPV_TAHUNAN_MB_SELAM = Manfaat_4-Biaya_4 NPV_TAHUNAN_TOTAL = NPV_TAHUNAN_MB_PANCING+NPV_TAHUNAN_MB_KERANG+NPV_T AHUNAN_MB_KARAMBA+NPV_TAHUNAN_MB_SELAM+NPV_TAHUN AN_MB_MANGROVE Pencemaran = (Fraksi_Kesadaran_Lingkungan*Penduduk)*Fraksi_Pencemaran Penduduk = 2412 Upaya_Konservasi_Mangrove = (Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove/1500)*Fraksi_Fee_Konservasi_Ma ngrove Upaya_Konservasi_TK = (Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK/50000000)*Fraksi_Fee_Konservasi_TK WAKTU = TIME DR = GRAPH(WAKTU) (0.00, 1.00), (1.00, 0.91), (2.00, 0.83), (3.00, 0.75), (4.00, 0.68), (5.00, 0.62) b. Skenario Pesimistik LUASAN_MANGROVE(t) = LUASAN_MANGROVE(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_Mangrove - Pengurangan_Luasan_Mangrove) * dtINIT LUASAN_MANGROVE = 153.58 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_Mangrove = (Laju_Pertumbuhan_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Upaya_Konservasi_ Mangrove OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_Mangrove = (Laju_Degradasi_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Luas_Mangrove_yang_ dikonversi Lanjutan lampiran 8.b : LUASAN_TERUMBU_KARANG(t) = LUASAN_TERUMBU_KARANG(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_TK - Pengurangan_Luasan_TK) * dtINIT LUASAN_TERUMBU_KARANG = 62.78 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_TK = (Laju_Pertumbuhan_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Upaya_Konservasi _TK OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_TK = (Laju_Degradasi_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Pencemaran NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t - dt) + (Manfaat_3 - Biaya_3) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA = 0 INFLOWS: Manfaat_3 = (Bd_3+Be_3)*DR OUTFLOWS: Biaya_3 = IF(DR>=1)THEN(1184000000)ELSE((Cd_3+Ce_3+Cp_3)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t - dt) + (Manfaat_2 - Biaya_2) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KERANG = 0 INFLOWS: Manfaat_2 = (Bd_2+Be_2)*DR OUTFLOWS: Biaya_2 = IF(DR>=1)THEN(388000000)ELSE((Cd_2+Ce_2+Cp_2)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t) = NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t - dt) + (Manfaat_5 - Biaya_5) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE = 0 INFLOWS: Manfaat_5 = (Bd_5+Be_5)*DR OUTFLOWS: Biaya_5 = IF(DR>=1)THEN(45000000)ELSE((Cd_5+Ce_5+Cp_5)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t) = NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t - dt) + (Manfaat_1 - Biaya_1) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_PANCING = 0 INFLOWS: Manfaat_1 = (Bd_1+Be_1)*DR OUTFLOWS: Biaya_1 = IF(DR>=1)THEN(1206400000)ELSE((Cd_1+Ce_1+Cp_1)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t) = NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t dt) + (Manfaat_4 - Biaya_4) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_SELAM = 0 INFLOWS: Manfaat_4 = (Bd_4+Be_4)*DR OUTFLOWS: Biaya_4 = IF(DR>=1)THEN(2190000000)ELSE((Cd_4+Ce_4+Cp_4)*DR) Lanjutan lampiran 8.b : Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove = 0.1*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove Alokasi_Dana_Untuk_Pembangunan_Desa = (0.9*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK)+(0.7*Biaya_Proteksi_Lingk ungan_Pemanfaatan_Mangrove) Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK = 0.1*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK Bd_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2563600000) Bd_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(155200000) Bd_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2893400000) Bd_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2730200000) Bd_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(119000000) Be_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(28817880) Be_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(271600) Be_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(12121200) Be_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(3182800) Be_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(22189700) Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove = Cp_5 Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK = Cp_1+Cp_2+Cp_3+Cp_4 Cd_1 = 1134770000 Cd_2 = 87300000 Cd_3 = 1468900000 Cd_4 = 1547600000 Cd_5 = 50150000 Ce_1 = 149857500 Ce_2 = 1416200 Ce_3 = 63029500 Ce_4 = 16585600 Ce_5 = 25173000 Cp_1 = 47879000*DR Cp_2 = 7178000*DR Cp_3 = 33633000*DR Cp_4 = 53290000*DR Cp_5 = 3230000*DR Fraksi_Fee_Konservasi_Mangrove = 0.00001 Fraksi_Fee_Konservasi_TK = 0.003 Fraksi_Kesadaran_Lingkungan = 0.7 Fraksi_Pencemaran = 0.0000595 Laju_Degradasi_Mangrove = 0.00851 Laju_Degradasi_TK = 0.052 Laju_Pertumbuhan_Mangrove = 0.073 Laju_Pertumbuhan_TK = 0.073 Luas_Mangrove_yang_dikonversi = 8.7 NPV_TAHUNAN_MB_KARAMBA = Manfaat_3-Biaya_3 NPV_TAHUNAN_MB_KERANG = Manfaat_2-Biaya_2 NPV_TAHUNAN_MB_MANGROVE = Manfaat_5-Biaya_5 Lanjutan lampiran 8.b : NPV_TAHUNAN_MB_PANCING = Manfaat_1-Biaya_1 NPV_TAHUNAN_MB_SELAM = Manfaat_4-Biaya_4 NPV_TAHUNAN_TOTAL = NPV_TAHUNAN_MB_PANCING+NPV_TAHUNAN_MB_KERANG+NPV_T AHUNAN_MB_KARAMBA+NPV_TAHUNAN_MB_SELAM+NPV_TAHUN AN_MB_MANGROVE Pencemaran = (Fraksi_Kesadaran_Lingkungan*Penduduk)*Fraksi_Pencemaran Penduduk = 2412 Upaya_Konservasi_Mangrove = (Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove/1500)*Fraksi_Fee_Konservasi_Ma ngrove Upaya_Konservasi_TK = (Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK/50000000)*Fraksi_Fee_Konservasi_TK WAKTU = TIME DR = GRAPH(WAKTU) (0.00, 1.00), (1.00, 0.87), (2.00, 0.76), (3.00, 0.66), (4.00, 0.57), (5.00, 0.5) c. Skenario Konservatif LUASAN_MANGROVE(t) = LUASAN_MANGROVE(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_Mangrove - Pengurangan_Luasan_Mangrove) * dtINIT LUASAN_MANGROVE = 153.58 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_Mangrove = (Laju_Pertumbuhan_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Upaya_Konservasi_ Mangrove OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_Mangrove = (Laju_Degradasi_Mangrove*LUASAN_MANGROVE)+Luas_Mangrove_yang_d ikonversi LUASAN_TERUMBU_KARANG(t) = LUASAN_TERUMBU_KARANG(t - dt) + (Pertambahan_Luasan_TK - Pengurangan_Luasan_TK) * dtINIT LUASAN_TERUMBU_KARANG = 62.78 INFLOWS: Pertambahan_Luasan_TK = (Laju_Pertumbuhan_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Upaya_Konservasi _TK OUTFLOWS: Pengurangan_Luasan_TK = (Laju_Degradasi_TK*LUASAN_TERUMBU_KARANG)+Pencemaran NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA(t - dt) + (Manfaat_3 - Biaya_3) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KARAMBA = 0 INFLOWS: Manfaat_3 = (Bd_3+Be_3)*DR Lanjutan lampiran 8.c : OUTFLOWS: Biaya_3 = IF(DR>=1)THEN(1184000000)ELSE((Cd_3+Ce_3+Cp_3)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t) = NPV_KUMULATIF_MB_KERANG(t - dt) + (Manfaat_2 - Biaya_2) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_KERANG = 0 INFLOWS: Manfaat_2 = (Bd_2+Be_2)*DR OUTFLOWS: Biaya_2 = IF(DR>=1)THEN(388000000)ELSE((Cd_2+Ce_2+Cp_2)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t) = NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE(t - dt) + (Manfaat_5 - Biaya_5) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_MANGROVE = 0 INFLOWS: Manfaat_5 = (Bd_5+Be_5)*DR OUTFLOWS: Biaya_5 = IF(DR>=1)THEN(45000000)ELSE((Cd_5+Ce_5+Cp_5)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t) = NPV_KUMULATIF_MB_PANCING(t - dt) + (Manfaat_1 - Biaya_1) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_PANCING = 0 INFLOWS: Manfaat_1 = (Bd_1+Be_1)*DR OUTFLOWS: Biaya_1 = IF(DR>=1)THEN(1206400000)ELSE((Cd_1+Ce_1+Cp_1)*DR) NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t) = NPV_KUMULATIF_MB_SELAM(t dt) + (Manfaat_4 - Biaya_4) * dtINIT NPV_KUMULATIF_MB_SELAM = 0 INFLOWS: Manfaat_4 = (Bd_4+Be_4)*DR OUTFLOWS: Biaya_4 = IF(DR>=1)THEN(2190000000)ELSE((Cd_4+Ce_4+Cp_4)*DR) Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove = 0.5*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove Alokasi_Dana_Untuk_Pembangunan_Desa = (0.5*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK)+(0.7*Biaya_Proteksi_Lingk ungan_Pemanfaatan_Mangrove) Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK = 0.5*Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK Bd_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2563600000) Bd_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(155200000) Bd_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2893400000) Bd_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(2730200000) Bd_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(119000000) Be_1 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(28817880) Be_2 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(271600) Be_3 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(12121200) Be_4 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(3182800) Be_5 = IF(DR>=1)THEN(0)ELSE(22189700) Lanjutan lampiran 8.c : Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_Mangrove = Cp_5 Biaya_Proteksi_Lingkungan_Pemanfaatan_TK = Cp_1+Cp_2+Cp_3+Cp_4 Cd_1 = 1134770000 Cd_2 = 87300000 Cd_3 = 1468900000 Cd_4 = 1547600000 Cd_5 = 50150000 Ce_1 = 149857500 Ce_2 = 1416200 Ce_3 = 63029500 Ce_4 = 16585600 Ce_5 = 25173000 Cp_1 = 47879000*DR Cp_2 = 7178000*DR Cp_3 = 33633000*DR Cp_4 = 53290000*DR Cp_5 = 3230000*DR Fraksi_Fee_Konservasi_Mangrove = 0.00001 Fraksi_Fee_Konservasi_TK = 0.003 Fraksi_Kesadaran_Lingkungan = 0.7 Fraksi_Pencemaran = 0.0000595 Laju_Degradasi_Mangrove = 0.00851 Laju_Degradasi_TK = 0.052 Laju_Pertumbuhan_Mangrove = 0.073 Laju_Pertumbuhan_TK = 0.073 Luas_Mangrove_yang_dikonversi = 8.7 NPV_TAHUNAN_MB_KARAMBA = Manfaat_3-Biaya_3 NPV_TAHUNAN_MB_KERANG = Manfaat_2-Biaya_2 NPV_TAHUNAN_MB_MANGROVE = Manfaat_5-Biaya_5 NPV_TAHUNAN_MB_PANCING = Manfaat_1-Biaya_1 NPV_TAHUNAN_MB_SELAM = Manfaat_4-Biaya_4 NPV_TAHUNAN_TOTAL = NPV_TAHUNAN_MB_PANCING+NPV_TAHUNAN_MB_KERANG+NPV_T AHUNAN_MB_KARAMBA+NPV_TAHUNAN_MB_SELAM+NPV_TAHUN AN_MB_MANGROVE Pencemaran = (Fraksi_Kesadaran_Lingkungan*Penduduk)*Fraksi_Pencemaran Penduduk = 2412 Upaya_Konservasi_Mangrove = (Alokasi_Dana_Untuk_Konservasi_Mangrove/1500)*Fraksi_Fee_Konservasi_Ma ngrove Upaya_Konservasi_TK = (Alokasi_Dana_Untuk__Konservasi_TK/50000000)*Fraksi_Fee_Konservasi_TK WAKTU = TIME DR = GRAPH(WAKTU) (0.00, 1.00), (1.00, 0.93), (2.00, 0.86), (3.00, 0.79), (4.00, 0.74), (5.00, 0.68) Lampiran 9 Matriks strategi dan kebijakan untuk keberlanjutan pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi di Teluk Un dan Teluk Vid Bangir No 1. 2. Dimensi / Aspek Ekosistem terumbu karang. Upaya konservasi ekosistem terumbu karang Strategi Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem terumbu karang. Menambah populasi dan memulihkan kondisi ekosistem terumbu karang. Melarang aktivitas yang dapat merusak terumbu karang. 3. Ekosistem mangrove. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove Kebijakan / Kegiatan Institusi / Lembaga Pelaksana • Melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat tentang fungsi dan peranan ekosistem terumbu karang. Lembaga Pengelola, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata. LSM. • Memasang seruan kesadaran berlingkungan di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Pemerintah Desa. • Membuat terumbu karang buatan (artificial reef) di sekitar kawasan objek minawisata bahari. • Menetapkan area rehabilitasi karang. Lembaga Pengelola, LIPI, Perguruan Tinggi. Lembaga Pengelola, Pemerintah Desa. • Melakukan penanaman (transplantasi karang) pada area rehabilitasi karang. Lembaga Pengelola, LIPI, Perguruan Tinggi. • Memasang papan Lembaga Pengelola. pengumuman tentang pelarangan pengrusakan karang sekitar kawasan objek minawisata bahari.. • Menetapkan sanksi bagi perusak karang. Lembaga Pengawas. • Melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat tentang fungsi dan peranan hutan mangrove. Lembaga Pengelola, Dinas Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata, LSM. • Menetapkan jalur hijau bagi batas permukiman di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Pemerintah Desa. • Melarang aktifitas pembangunan pada areal hutan mangrove. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Pemerintah Desa. Lanjutan Lampiran 9 : 4. Upaya konservasi ekosistem mangrove Menambah populasi dan memulihkan kondisi hutan mangrove. Melarang aktivitas yang dapat merusak hutan mangrove. 5. 6. Lingkungan perairan. Sumberdaya ikan dan kerang. Meminimasi pembuangan sampah/limbah ke lingkungan perairan . Menambah ketersediaan jumlah ikan dan kerang di dalam kawasan objek minawisata bahari. • Menetapkan area rehabilitasi mangrove di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Pemerintah Desa, • Melakukan penanaman anakan mangrove pada area rehabilitasi mangrove. Lembaga Pengelola, Dishut, DKP, masyarakat, LSM. • Memasang papan pengumuman tentang pelarangan pengrusakan mangrove di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola. • Menetapkan sanksi bagi perusak mangrove. Lembaga Pengawas. • Melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat tentang dampak negatif dari sampah/limbah terhadap sanitasi dan estetika lingkungan perairan. Lembaga Pengelola, Bapedalda, LSM. • Menetapkan aturan pembuangan sampah di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola. • Menetapkan sanksi bagi pelanggaran terhadap aturan pembuangan sampah. Lembaga Pengawas. • Meminta instansi yang berkompeten (Loka Budidaya Laut) untuk menyediakan bibit ikan. Lembaga Pengelola, Loka Budidaya Laut. • Melakukan penebaran bibit ikan ke dalam perairan (restocking) di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Loka Budidaya Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan, masyarakat Lanjutan Lampiran 9 : 7. 8. 9. Perekonomian masyarakat dan daerah. Sosial Budaya Kelembagaan Pengembangan berbagai peluang usaha mandiri di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Pengembangan kapasitas masyarakat. Peningkatan fasilitas penunjang objek minawisata bahari. • Mendorong masyarakat untuk terlibat langsung menyediakan unit usaha minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Perbankan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata. • Mondorong masyarakat untuk mengembangkan usaha mandiri di sekitar kawasan objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Perbankan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan. • Melakukan pelatihan pemandu wisata bagi masyarakat. Lembaga Pengelola, Dinas Pariwisata, LSM. • Mendorong masyarakat untuk terlibat langsung sebagai tenaga kerja aktif disemua objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Dinas Tenaga Kerja, LSM. • Mondorong masyarakat untuk mempromosikan budaya setempat. Lembaga Pengelola, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. • Mendorong masyarakat untuk menciptakan situasi yang kondusif. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Aparat Keamanan. • Menyediakan fasilitas dan menjaga semua fasilitas penunjang objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas. • Menjalin hubungan baik dan kerjasama dengan semua pemangku kepentingan (stakeholder) objek minawisata bahari. Lembaga Pengelola, Lembaga Pengawas, Pemerintah Desa. Lampiran 10 Foto Dokumentasi Penelitian a. Foto bagian selatan Pulau Dullah dengan latar belakang Teluk Un. b. Foto lokasi wisata di bagian utara Pulau Dullah (Pantai Diffur). Lanjutan lampiran 10 : c. Foto saat wawancara dengan nelayan Pulau Dullah d. Foto salah satu sisi dari Teluk Un saat air laut mulai surut
Rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi: kasus pulau dullah Kota Tual Provinsi Maluku Alokasi Ruang Kawasan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Analisis Kelembagaan HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Manfaat-Biaya Ekosistem Terumbu Karang Analisis Sosial HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tumpang Susun overlay Aplikasi SIG dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Aspek-Aspek Lingkungan Geografis Analisis Tumpang Susun overlay Aspek-Aspek Lingkungan Geografis Sistem Informasi Geografis Biaya EksternalLingkungan Biaya Proteksi Lingkungan Manfaat Langsung Manfaat EksternalLingkungan Biaya EksternalLingkungan Biaya Proteksi Lingkungan Biaya Langsung Biaya EksternalLingkungan Biaya Proteksi Lingkungan Manfaat Langsung Manfaat EksternalLingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, - Biaya Langsung Data Biofisik Data Pemanfaatan Lahan Data Demografi, Infrastruktur, Budaya, dan Kelembagaan IMPLIKASI KEBIJAKAN Data parameter fisika kimia perairan Teluk Un dan Teluk Vid Bangir Stasiun Pengamatan Daya Dukung Ekologis Analisis Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Fisik Analisis Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Sebagai Dasar Penentuan Peruntukan Lahan DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Selam DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Mangrove DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang Moluska DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Selam DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Mangrove Definisi Daya Dukung Daya Dukung Lingkungan Diagram Simpal Model Pengelolaan Basis Model Ekosistem Hutan Mangrove HASIL DAN PEMBAHASAN Hak Masyarakat Adat dalam Dimensi Legislasi Nasional dan Daerah Hasil analisis Smart untuk alternatif kategori aktivitas minawisata bahari DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pancing Hasil analisis Smart untuk alternatif kategori aktivitas minawisata bahari DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pancing DDL dan DDK untuk Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang Moluska Indeks Harga Konsumen IHK Tahun 2010 beberapa daerah di Indonesia Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem mangrove Indeks Harga Konsumen IHK Tahun 2010 beberapa daerah di Indonesia Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem mangrove Hasil benefit transfer untuk valuasi ekonomi ekosistem terumbu karang Isu-Isu Kerusakan Lingkungan Pasal 5 disebutkan bahwa: Karakteristik Ekosistem dan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil Kesesuaian Pemanfaatan Ruang untuk Masing-Masing Aktivitas a. Minawisata Bahari Pancing Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Kondisi Ekosistem Pesisir dan Laut Kondisi Lingkungan Teluk Un .1 Status dan Sejarah Kawasan Teluk Un Lokasi dan Waktu Penelitian Tahapan Penelitian Manfaat Langsung Manfaat EksternalLingkungan - Bahan Bangunan, Kayu Bakar, - Biaya Langsung Biaya EksternalLingkungan Biaya Proteksi Lingkungan Manfaat Langsung Manfaat EksternalLingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, - Biaya Langsung Biaya EksternalLingkungan Biaya Proteksi Lingkungan Manfaat Langsung Manfaat EksternalLingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, - Biaya Langsung Biaya EksternalLingkungan Biaya Proteksi Lingkungan Manfaat Langsung Manfaat EksternalLingkungan - Perikanan Terumbu, Lola, - Mata Pencaharian Kota Tual Minawisata Bahari Karamba Pembesaran Ikan Minawisata Bahari Pengumpulan Kerang Moluska Minawisata Bahari Selam HASIL DAN PEMBAHASAN Minawisata Bahari TINJAUAN PUSTAKA Penduduk Mata Pencaharian Kota Tual Penentuan Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Pulau-Pulau Kecil Perumusan Masalah Kerangka Pendekatan Masalah Potensi dan Kendala Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Potensi Kelautan dan Perikanan Potensi Pariwisata Kota Tual Pulau Dullah Sebagai Pulau Kecil Rancang Bangun TINJAUAN PUSTAKA Ruang Lingkup Penelitian Tujuan Penelitian Sarana dan Prasarana Vital Simulasi skenario konservatif HASIL DAN PEMBAHASAN Simulasi skenario pesimistik HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem dan Jenis Sistem Skenario Model Pengelolaan Keberlanjutan Pengelolaan Minawisata Bahari Berbasis Konservasi Skenario Pesimistik LUASAN_MANGROVEt = LUASAN_MANGROVEt - dt + Struktur Komponen SIG Sistem Informasi Geografis Tumpang Susun Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Valuasi Ekonomi Sumberdaya Teluk Un dan Teluk Vid Bangir
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Rancang bangun pengelolaan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi: kasus pulau dullah Kota Tual Provinsi Maluku

Gratis