Feedback

Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat

Informasi dokumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan jenis burung dari famili Sturnidae yang hanya terdapat di Indonesia yaitu di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Populasinya di alam dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan sehingga telah dinyatakan langka dan terancam punah. Selain itu, jalak bali telah mendapatkan perhatian serius bagi usaha pelestarian dalam peningkatan populasinya. Penurunan populasi ini disebabkan adanya perburuan secara liar oleh manusia dan gangguan pada habitat alaminya berupa penebangan pohon yang menyebabkan rusak atau hilangnya sarang tempat tinggal burung ini. Penebangan pohon ini juga menyebabkan berkurangnya pohon-pohon penghasil pakan bagi burung (Damanik 1996). Berdasarkan data terakhir tahun 2006, jumlah populasi jalak bali di alam yaitu sebanyak enam ekor (TNBB 2009). Terancamnya kehidupan jalak bali telah mendapat perhatian dari dunia internasional. Menurut Sukmantoro et al. (2007), nama jalak bali tercantum dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kategori kritis (Critical endangered) serta memasukkan jalak bali ke dalam Red Data Book yaitu buku yang memuat daftar jenis flora dan fauna yang terancam punah. Dalam konvensi perdagangan internasional CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) jalak bali terdaftar dalam Appendix I yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/70 tanggal 26 Agustus 1970 yang menerangkan bahwa burung jalak bali dilindungi oleh Undang-Undang. Terancamnya populasi jalak bali di alam menyebabkan perlu adanya upaya konservasi agar keberadaan jalak bali di alam tetap lestari. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan penangkaran atau konservasi ex-situ. Tujuan usaha pelestarian (konservasi) jalak bali yang dikembangkan melalui program penangkaran adalah untuk meningkatkan populasi jalak bali dengan tetap menjaga 2 kemurnian genetiknya (Masy’ud 1992). Penangkaran secara ex-situ dilakukan dengan cara memanipulasi pakan, lingkungan, dan kebutuhan lain dari satwa yang ditangkarkan sehingga satwa tersebut mampu berkembangbiak dengan baik. Salah satu penangkaran jalak bali yang telah berhasil yaitu penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan dengan pihak pengelola penangkaran MBOF, jalak bali di penangkaran tersebut pada awalnya hanya berjumlah tiga pasang dengan jumlah telur yang dihasilkan 2 – 4 butir telur tiap satu kali reproduksi. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengetahuan mengenai teknik penangkaran yang merupakan salah satu kunci yang memegang peranan penting dalam usaha pelestarian populasi jalak bali. Teknik penangkaran dan analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari penangkaran jalak bali di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) sangat diperlukan. Faktor penentu keberhasilan diperlukan mengingat jumlah populasi jalak bali di alam sangat terbatas, maka keberhasilan suatu penangkaran merupakan suatu keharusan. Dalam usaha penangkaran, kualitas bibit akan mempengaruhi variasi genetik hal ini berkaitan erat dengan kualitas keturunan yang akan dihasilkan untuk mempertahankan variasi genetik. Hasil penangkaran jalak bali perlu dilakukan perhitungan “koefisisen inbreeding” pada calon-calon pasangan. Koefisien silang dalam (inbreeding) digunakan untuk mengukur peningkatan homozigositas suatu individu akibat silang dalam dan mengukur penurunan derajat heterozigositas suatu individu relatif terhadap tetua bersamanya. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi penangkaran untuk mengetahui perihal koefisisen inbreeding agar dapat dilakukan pengaturan perkawinan dengan tepat sehingga dapat mengurangi tingkat inbreeding di penangkaran. Selain itu, untuk mengetahui ada atau tidaknya tekanan inbreeding pada jalak bali di penangkaran MBOF dengan dilakukan penelaahan karakteristik morfologi (genetik). 3 1.2 Tujuan Tujuan penelitian adalah: 1. Mengidentifikasi teknik penangkaran jalak bali yang ada di MBOF. 2. Mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan dalam menangkarkan jalak bali di MBOF. 3. Menganalisis hubungan kekerabatan atau silsilah dengan menggunakan diagram pohon pada jalak bali di MBOF. 4. Menghitung koefisisen inbreeding dan mengukur karakteristik morfologi jalak bali untuk mengidentifikasi keberadaan inbreeding depression pada jalak bali di MBOF. 1.3 Manfaat Hasil penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) diharapkan dapat dijadikan suatu informasi bagi upaya pengembangan penangkaran jalak bali khususnya di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm, Bogor, Jawa Barat dan sebagai dasar dalam penyusunan studbook (buku silsilah) jalak bali. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Jalak Bali Jalak bali tergolong dalam jenis burung berkicau. Dalam bahasa Bali diberi nama Curik putih atau Curik bali sedangkan dalam bahasa asing diberi nama White starling, White minah, Bali minah, Bali starling, dan Rotschild’s minah (Alikodra 1987). Klasifikasi jalak bali menurut Stersemann (1912) dalam Alikodra (1987) adalah Phyllum: Chordata, Class: Aves, Ordo: Passeriformes, Famili: Sturnidae, Genus: Leucopsar, Species: Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912. Berdasarkan laporan TNBB (2011), ciri-ciri morfologis jalak bali yang khas adalah sebagai berikut: 1. Bulunya 90% berwarna putih bersih hanya pada ujung bulu sayap dan bulu ekornya ditemukan warna hitam dengan lebarnya lebih kurang 25 mm. 2. Pelupuk matanya berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing dengan panjang 2 – 5 cm dengan bentuk yang khas pada bagian atasnya terdapat peninggian yang memipih tegak, dan rahangnya berwarna abu-abu kehitaman. 3. Burung jantan bentuknya lebih indah mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih. 4. Jalak bali mempunyai kaki berwarna biru abu-abu dengan empat jari jemari (1 ke belakang dan 3 ke depan). 5. Ukuran jalak bali jantan dan betina sulit dibedakan namun secara umum jalak bali jantan lebih besar dan memiliki kuncir yang lebih panjang. Jalak bali jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 1. 5 Gambar 1 Jalak bali (Leocopsar rotchildii) jantan dan betina (Sumber: Isom 2011). 2.2 Habitat dan Penyebaran Penyebaran populasi jalak bali pada masa lampau menurut IUCN (1966) mencapai daerah Bubunan, sekitar 50 km sebelah timur kawasan Taman Nasional Bali Barat. Menurut Hartojo dan Suwelo (1988), penyebaran perkiraan populasi jalak bali pada akhir tahun 1984 hanya tinggal di kawasan Taman Nasional Bali Barat yaitu di hutan-hutan Tegal Bunder, Prapat Agung, Batu Licin, Lampu Merah, Teluk Kelor, Tanjung Gelap, Banyuwedang, dan Cekik. Habitat yang disukai oleh jalak bali seperti hutan mangrove, hutan rawa, dan hutan musim dataran rendah (Alikodra 1987). Hasil pengamatan yang dilakukan tim ICBP dan Dirjen PHKA menunjukan bahwa penyebaran jalak bali hanya ada di Taman Nasional Bali Barat dengan jumlah populasi yang sangat terbatas di sebelah Utara jalan yang membelah kawasan Taman Nasional Bali Barat dari Gilimanuk sampai ke Singaraja (Hartojo dan Suwelo 1988). 2.3 Populasi Perkembangan populasi jalak bali di Taman Nasional Bali Barat dari tahun ke tahun terus menurun bahkan mencapai kondisi kritis. Tahun 1977 diperkirakan sejumlah 210 ekor (Alikodra 1978) kemudian menurun menjadi 104 ekor pada tahun 1984 (Helvoort et al. 1985), dan tahun 1986 oleh Pujiati (1987) memperkirakan sejumlah 54 ekor. Pada tahun 1989 Ballen dan Sutawidjaja (1990) memperkirakan populasi tidak lebih dari 25 ekor dan dalam perkiraan yang 6 dilakukan oleh tim bali starling project bulan Oktober 1990 menunjukan keadaan populasi yang sangat kritis yaitu sekitar 13 – 18 ekor (Taman Nasional Bali Barat 1991). Data pada bulan Desember 2006, populasi di alam liar tercatat hanya tersisa sebanyak enam ekor (Taman Nasional Bali Barat 2009). 2.4 Sistem Penangkaran Penangkaran merupakan kegiatan untuk mengembangbiakan jenis-jenis satwaliar dan tumbuhan alam yang bertujuan untuk memperbanyak populasi dengan mempertahankan kemurnian jenis sehingga kelestarian dan keberadaannya di alam tetap terjaga yang meliputi kegiatan pengumpulan bibit, pengembangbiakan, memelihara, membesarkan, dan restocking yang bertujuan untuk melestarikan satwaliar dan tumbuhan alam maupun memperbanyak populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Thohari 1987). Suwelo (1988) membagi sistem penangkaran menjadi intensif dan ekstensif. Intensif mengarah pada menternakan satwaliar (game farming) sedangkan ekstensif mengarah pada pemeliharaan satwaliar (game ranching). Ciri intensif yaitu semua sarana dan prasarana disediakan oleh pengelola seperti kebun binatang. Sistem ini mengandalkan kerja manusia seperti memberi makanan dan minuman. Ciri ekstensif yaitu hanya menyediakan atau menanam hijauan. Sistem ekstensif ini dapat dilakukan pada habitat dimana jenis tersebut berkembang misalnya pada taman buru atau dapat pula pada tempat yang berpagar tetapi dalam tempat berpagar tersebut tidak ada bangunan atau dibuat sedikit mungkin bangunan buatan manusia. Berdasarkan tujuannya, penangkaran dibagi menjadi dua yaitu penangkaran untuk budidaya dan penangkaran untuk konservasi (Helvoort et al. 1986). Perbedaan antara penangkaran untuk tujuan budidaya dengan untuk tujuan konservasi dapat dilihat pada Tabel 1. 7 Tabel 1 Perbedaan antara penangkaran untuk budidaya dan konservasi Aspek Obyek Sasaran Manfaat Jangka waktu Metode Budidaya Beberapa individu dan ciri-cirinya Ras (Varietas, forma) Jumlah Individu total yang dimanipulasikan (N) terbatas Domestikasi Perubahan, dalam arti mencaiptakan ras,forma Komersial ( terutama segi kuantitas) Terkurung untuk selama-lamanya. Memenuhi kebutuhan material (protein, kulit dan lain-lain) (memenuhi kebutuhan batin dan sosial (burung berkicau, anjing kesayangan) Pendek sampai sedang (1-250 tahun) Konservasi Suatu populasi dan ciri-cirinya Jenis/anak jenis Terapkan teknologi reproduksi (IB, IVF, TE, dll) Mempertahankan sex ratio Jumlah mau kawin ditingkatkan Jaga keturunan tidak didominasi Penentuan pasangan diatur Pasangan acak Kembangkan galur murni inbreeding; lakukan mutasi gen Sumber : Helvoort et al. 1986  Jumlah total individu (N) besar Realease Tidak merubah jenis Non komersial Pengembalian kepada alam asli Memepertahankan stabilitas ekosistem Meningkatkan nilai keindahan alam Selama-lamanya Hindari inbreeding & mutasi gen Dalam melakukan usaha-usaha kegiatan penangkaran terdapat beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan yaitu (Soedharma 1985): 1. Mencari tempat penangkaran yang cocok untuk dapat dilakukan dengan baik ditinjau dari lokasi untuk pelepasan kembali ke alam dan pemanfaatan bibit untuk kepentingan usaha. 2. Mengetahui dengan benar ketersediaan di alam dan status populasi di alam. 3. Kesiapan teknologi yang sudah dikuasai untuk penangkaran agar bisa berhasil. 4. Kesiapan perangkat kebijaksanaan sistem pengendalian pengawasan. 5. Faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat setempat yang akan terlibat di dalamnya. 2.5 Penangkaran Jalak Bali Penangkaran jalak bali merupakan upaya yang harus dilakukan untuk menaggulangi punahnya jalak bali di alam. Pelepasan ke alam hasil penangkaran jalak bali (restocking) akan berhasil menambah populasi di alam apabila sebab- 8 sebab yang pada awalnya telah mengakibatkan kemerosotan populasi jalak bali sudah ditanggulangi dengan baik (Helvoort et al. 1986). Beberapa penangkaran jalak bali yang sudah ada seperti di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah, penangkaran jalak bali UD. Safari Bird Farm di kabupaten Jombang, dan penangkaran di Tegal Bunder, Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Perkembangan penangkaran di Tegal Bunder TNBB pada beberapa tahun terakhir terlihat mengalami penurunan yang merupakan hasil sumbangan dari KBS dan TSI (Taman Safari Indonesia) I Cisarua serta hasil sitaan maupun anak yang dihasilkan seluruhnya berjumlah 284 ekor dan pada tahun 2006 tersisa sekitar 70 ekor. Hal tersebut disebabkan antara lain kurang gencarnya penelitian tentang pengembangan penangkaran dari pihak terkait, sehingga para petugas hanya memiliki pengetahuan yang terbatas dalam pengelolaan penangkaran tersebut dan kematian satwa dalam penangkaran di TNBB tersebut cukup memprihatinkan (Aryanto 2010). 2.6 Aspek Teknik Penangkaran 2.6.1 Perkembangbiakan Jalak bali termasuk burung yang terbang secara bergerombol pada saat musim kawin (antara bulan November sampai dengan bulan April sedangkan di penangkaran terjadi sepanjang tahun) dan dalam mencari makan (Helvoort et al. 1988). Hartojo dan Suwelo (1985) mengatakan musim kawin terjadi pada bulan Januari sampai dengan April/Mei. Menurut Gepak (1986), masa breeding burung jalak bali di habitatnya pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret. Perbedaan musim kawin diduga berhubungan dengan tersedianya makanan dalam jumlah cukup bagi jalak bali pada musim breeding tersebut. Musim breeding ini agak berbeda dengan penangkaran burung jalak bali di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Jalak bali di KBS dapat bertelur setiap saat. Setiap bertelur dapat menelur 2 – 4 butir. Setiap pasang induk paling banyak hanya mampu membesarkan dua ekor burung. 9 Jalak bali jantan dan betina sulit dibedakan kecuali melalui perilaku pada saat birahi dan hal tersebut tidak pasti 100% (Helvoort et al. 1985). Sangat sulit dilakukan pembakuan kriterianya hanya para pakar dan penggemar burung yang telah lama menangani jalak bali yang dapat menentukan jenis kelamin. Kriteriakriteria alam yang dipakai para pakar yaitu melalui ciri-ciri khas yang dimiliki tiap jenis kelamin tersaji dalam Tabel 2. Tabel 2 Ciri-ciri morfologi yang membedakan jenis kelamin jalak bali Ciri Morfologi Kepala Daerah sekitar mata Ukuran tubuh Jambul Jenis Jantan Lebih besar dan bentunya panjang Warna lebih gelap dan permukaannya lebih kasar Lebih besar dan gagah Lebih panjang dan hampir merupakan kuncir Jenis Betina Lebih kecil dan bentuknya cenderung bulat Warna lebih terang dan permukaannya lebih halus Lebih ramping Relatif lebih pendek dan datar Sumber: Jaya 2006 Jalak bali memiliki sifat monogamus yaitu sex ratio jantan dan betina adalah 1:1. Selama melakukan perkawinan jalak bali tidak boleh merasa terganggu karena akan mengakibatkan gagalnya perkawinan tersebut. Oleh karena itu, pada saat melangsungkan perkawinan, kandang harus tertutup dan bebas gangguan (Jaya 2006). Pada musim kawin, jalak bali jantan sering mengejar betina dan mencoba mengusir jantan yang lain dan jika terjadi kecocokan maka antara keduanya sering berdekatan. Pada saat bercumbu jambul yang panjang pada jantan terlihat ditegakan dan diturunkan sambil berkicau (MacKinnon 1989). Ciri-ciri jalak bali yang akan bertelur antara lain frekuensi masuk ke sarang baik jantan maupun betina relatif tinggi dibanding biasanya dan sering membawa ranting-ranting kering atau rumput masuk kedalam sarang sebagai alas sarang (Nurana 1989). Jalak bali bertelur antara dua sampai tiga butir dalam satu kali reproduksi (MacKinnon 1989). Telur jalak bali berwarna kebiru-biruan, berbentuk bulat panjang (oval), rata-rata berukuran panjang 30,8 mm dan lebar 22,3 mm dengan bobot 8,2 gram (Sieber 1983 dalam Helvoort et al. 1986). Lama pengeraman telur berlangsung rata-rata 11 – 14 hari (Nurana 1989). Di tempat penangkaran, pengeraman telur dimulai pada waktu telur pertama kali dihasilkan (Sieber 1983 dalam Helvoort et al. 1986). Lama pengasuhan anak di penangkaran kurang lebih selama satu bulan. Apabila lebih dari satu bulan anak jalak bali belum dipisahkan dengan induknya maka anak jalak bali tersebut 10 dipatuki induknya terutama oleh jantannya bahkan dapat menyebabkan anak burung tersebut mati. Naluri yang mendorong induk untuk menyapih anaknya diduga karena induknya mulai birahi. Dugaan ini berdasarkan data perkembangbiakan jalak bali. Jika anak sudah disapih, 1 – 2 minggu kemudian induknya bertelur kembali (Nurana 1989). Anakan jalak bali dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Anakan jalak bali (sumber: berita burung 2010). 2.6.2 Pakan Makanan jalak bali berupa buah-buahan, biji-bijian, dan serangga (MacKinnon 1989). Makanan alaminya seperti tembelekan (Lantana camara) dan macam-macam serangga (capung, belalang, dan ulat). Di tempat penangkaran, pakan yang umum diberikan adalah pepaya, pisang, telur serangga (kroto), tulang cumi-cumi, dan ulat hongkong (Nurana 1989). 2.6.3 Kandang Kandang untuk penangkaran jalak bali dapat ditempatkan pada suatu areal yang cukup luas, yang penting harus mempertimbangkan kondisi alami dari jenis burung jalak bali tersebut. Untuk menjamin keamanan dan masa pakai yang lama, maka kandang penangkaran dapat terbuat dari rangka besi atau tiang kayu yang bagus. Dinding kandang dapat dibuat terbuka dengan kawat ram (berdiameter 1 cm) untuk seluruh dinding atau sebagian dinding dibuat tertutup dari tembok atau ram yang ditutup dengan plastik gelap, sebagian ditutup oleh genteng atau asbes dan sebagian lainnya dibiarkan terbuka yang ditutup dengan kawat ram. Kandang penangkaran dibedakan atas beberapa jenis dengan ukuran yang berbeda-beda 11 (Masy’ud 2010). Untuk lebih jelasnya jenis dan ukuran kandang dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Jenis dan ukuran kandang penangkaran jalak bali No Jenis Kandang 1 Kandang pembiakan 2 Kandang sapihan 3 Kandang calon induk 4 Kandang karantina 5 Kandang angkut 6 Kandang kubah (pelepasliaran) Sumber: Masy’ud (2010). Ukuran Kandang 4m x 3m x 2.5m atau 3m x 2,5m x 2,25m 4m x 4m x 2,5m atau 3m x 3m x 2,5m 6m x 3m x 2m 4m x 1m x 2,25m 80cm x 30cm x 20cm Tinggi 17,5m dan diameter 17,5m 2.6.4 Bibit Syarat keberhasilan pengembangbiakan jalak bali di penangkaran diawali dengan ketepatan dalam memilih bibit. Penangkaran harus benar-benar memperhatikan kualitas bibit atau syarat bibit yang baik yaitu bibit harus sehat, tidak cacat, bersuara lantang dan bagus serta jelas asal usulnya. Sebagai jenis monomorfik yaitu jenis yang memilki ciri morfologi yang relatif sama antara jantan dan betina, maka dalam memilih bibit harus dipastikan bahwa pasangan bibit yang dipilih jelas terdiri dari jantan dan betina. Menurut Masy’ud (2010), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit yang baik yaitu: 1. Bentuk dan berat badan Bibit jalak bali yang baik memilki bentuk badan bulat panjang dan relatif lebih berat dari pada bibit jalak bali betina. 2. Bulu Bulu bibit yang baik tampak mengkilap, tidak kumal dan apabila disemprotkan air maka air semprotan tidak menempel pada bulunya. 3. Sikap Sikap yang gagah, sorot mata yang tajam, kepala yang tegak tetapi tidak tampak liar. 4. Usia Burung yang dipilih sebagai bibit harus memiliki usia yang muda karena memungkinkan stress dan sifat liarnya masih relatif kecil. 12 2.6.5 Perawatan kesehatan Perawatan kesehatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan pencegahan, perawatan, dan manajemen penyakit. Kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan penangkaran burung jalak bali. Kunci dalam perawatan kesehatan burung adalah pada pemberian makanan yang teratur dan bergizi serta sesuai kesukaan. Burung yang stress biasanya disebabkan karena kelaparan dan akan menjadi liar sehingga dapat menggagu kesehatan dan perkembangbiakannya. Selain itu, kebersihan dari makanan, tempat makan, dan lingkungan kandang dapat mempengaruhi kesehatan jalak bali. Ventilasi udara dan sirkulasi udara di dalam kandang juga harus optimal. Selain itu, adanya gangguan lain seperti ular, tikus, dan kucing karena dapat menjadi predator dan sebagai pembawa penyakit (Masy’ud 2010). Untuk meningkatkan daya tahan tubuh jalak bali di penangkaran, dapat dilakukan dengan cara memberikan multivitamin secara teratur. Untuk mengobati sekaligus untuk mencegah terjangkitnya penyakit cacing dapat juga diberikan obat-obatan. Selain itu, untuk mempertinggi daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit maka salah satu cara yang terbaik adalah dengan memberikan makanan yang bergizi. Makanan harus di selang-seling dengan pur kesehatan. Cahaya matahari di pagi hari penting bagi kesehatan burung sebagai sumber provitamin D. Oleh karena itu, diusahakan agar cahaya matahari pagi masuk dengan jumlah yang cukup kedalam kandang (Masy’ud 2010). 2.7 Inbreeding Silang dalam (Inbreeding) adalah persilangan antar satwa yang memiliki hubungan keluarga yang lebih dekat jika dibanding dengan rataan hubungan kekerabatan kelompok tempat satwa tersebut berada. Silang dalam ini mengakibatkan meningkatnya derajat homozigisitas dan pada saat bersamaan menurunkan derajat heterozigositas (Noor 2008). Menurut Warwick et al. (1986), silang dalam adalah perkawinan antar individu-individu yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata satwa dalam bangsa atau populasi itu yaitu satwa yang mempunyai moyang bersama dalam 4 sampai 6 generasi pertama silsilahnya. Pengaruh genetik dari silang dalam yaitu meningkatkan proporsi lokus-lokus genetik yang homozigot bila 13 dibandingkan dengan proporsi yang diakibatkan dari persilangan satwa-satwa bukan inbreeding dari populasi yang sama. Silang dalam merupakan proses yang seimbang dan menyebabkan fiksasi gen-gen yang tak disukai sama cepatnya dengan gen-gen yang disukai. Menurut Helvoort (1988), penangkaran satwaliar dapat dinilai berhasil apabila teknologi reproduksi jenis satwa tersebut telah dikuasai, artinya usaha penangkaran tersebut telah berhasil mengembangbiakan jenis satwa yang ditangkarkan dan satwa hasil penangkaran tersebut berhasil bereproduksi di alam bebas. Di dalam populasi yang kecil, meningkatnya inbreeding lebih cepat dibandingkan dalam populasi yang besar. Helvoort (1988) mengatakan bahwa, burung-burung yang sudah kawin dalam (inbreed) tidak patut di tangkarkan karena genetika populasi dan variasi genetiknya rendah. Hal ini akan berpengaruh terhadap daya reproduksi, ketahanan tubuh, dan penampilan bibit. Cara-cara mengurangi inbreeding menurut Thohari (1987) adalah sebagai berikut: 1. Pengambilan satwa dari populasi yang berbeda. 2. Melakukan test heterozigositas pada satwa yang akan digunakan sebagai bibit. Lebih tinggi tingkat heterozigositasnya nilai satwa sebagai bibit lebih baik. 3. Melakukan pencatatan silsilah yang teratur pada setiap individu yang ditangkar. 4. Memasukan individu baru secara berkala yang bukan satwa inbreed atau tidak mempunyai hubungan keluarga dengan satwa yang telah ada. Koefisien inbreeding merupakan peluang dua alel dalam satu lokus untuk sama (homozigot) dalam satu keturunan. Menurut Noor (2008), koefisien inbreeding dapat digunakan untuk mengukur peningkatan homozigositas suatu individu akibat silang dalam. Koefisien ini dapat pula digunakan untuk mengukur penurunan derajat heterozigositas suatu individu relatif terhadaap tetuanya pada populasi yang sama. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui perihal koefisisen inbreeding. 14 Menurut Masy’ud (1992), perhitungan koefisien silang dalam dilakukan berdasarkan informasi silsilah jalak bali dengan menelaah buku silsilah (studbook). Jika koefisien silang dalam bernilai nol, maka pasangan tersebut dipindahkan dan ditempatkan dalam satu kandang untuk diamati perilaku asosiasinya lebih lanjut dan penampilan reproduksinya. Sebaliknya, jika koefisien silang dalam bernilai satu atau mendekati satu, maka pasangan tersebut dipisahkan kembali untuk dicarikan pasangannya dengan jalak bali lain. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding jalak bali dilakukan di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Desa Ciujung Tengah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengamatan dan pengumpulan data di MBOF dilakukan pada bulan Juni – Oktober 2011. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain alat tulis, penggaris, jangka sorong, kamera digital, timbangan, termometer dry-wet, dan pita ukur. Bahan yang digunakan adalah jalak bali hasil penangkaran dan pakan jalak bali yang terdapat di MBOF. 3.3 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder sedangkan metode pengumpulan data yaitu pengamatan langsung dan pengukuran, teknik wawancara serta penelusuran dokumen. Jenis data dan metode pengumpulan data lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 Tabel 4 Jenis data dan metode pengumpulan data. Jenis data Data yang diambil I II III Teknik penangkaran Pakan Perawatan kesehatan Tenaga kerja Kandang Sejarah Organisasi Teknik reproduksi Populasi Faktor keberhasilan Koefisisen inbreeding Silsilah jalak bali Karakteristik morfologi Data kuantitatif Data kualitatif Primer v v v v Sekunder v Metode pengumpulan data Pengamtan Dokumen/ dan Wawan cara literatur pengukuran v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v 16 3.3.1 Teknik penangkaran Pengelolaan penangkaran dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dan wawancara kepada pengelola. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi teknik keberhasilan penangkaran jalak bali, data yang diambil meliputi: 1. Teknik reproduksi jalak bali di penangkaran meliputi pemilihan bibit, seks ratio, pembentukan pasangan, dan tingkat keberhasilan breeding. 2. Pakan, palatabilitas, jumlah konsumsi, dan nilai gizi serta jadwal waktu pemberiannya. Pakan yang diberikan kepada jalak bali dipenangkaran dilakukan analisis proksimat dan diambil sampel makanan untuk mengetahui kandungan zat makanan dalam makanan tersebut. 3. Perkandangan yang meliputi jenis kandang, ukuran dan konstruksi kandang, perlatan dan perlengkapan kandang serta suhu dan kelembaban dalam kandang. 4. Pemeliharaan kesehatan dan perawatan kesehatan, jenis penyakit yang sering diderita serta cara pengobatannya. 5. Faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF. Selain itu, juga dilakukan wawancara mengenai teknik penangkaran di MBOF yang digunakan untuk mendukung data meliputi: 1. Asal muasal bibit jalak bali yang ditangkarkan beserta sistem karantinanya. 2. Sejarah penangkaran jalak bali. 3. Organisasi penangkaran dan tenaga kerja (SDM) . 4. Populasi jalak bali yang meliputi jumlah, jenis kelamin, dan kelas umur. 3.3.2 Analisis koefisisen inbreeding Penelaahan silsilah jalak bali di penangkaran dilakukan dengan teknik wawancara dengan pihak pengelola ada di penangkaran tersebut. Data yang diperoleh dibuat data catatan kelahiran atau silsilah (studbook) kemudian dibuat diagram pohon untuk menentukan hubungan kekerabatan jalak bali di MBOF. 17 3.3.3 Penelaahan karakteristik morfologis Penelaahan karakteristik morfologis dapat dilakukan dengan melihat karakteristik morfologis baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Data karakteristik morfologis yang bersifat kuantitatif meliputi berbagai ukuran tubuh yaitu, panjang badan, panjang sayap, panjang ekor, panjang kepala, panjang kaki, panjang paruh, dan tinggi paruh. Data ukuran tubuh tersebut dilakukan melalui pengukuran, sedangkan untuk data karakteristik kualitatif meliputi warna dan pola bulu sayap dan bulu ekor, warna paruh, warna kaki, warna mata, dan daerah sekitar mata. Peubah ukuran tubuh yang diukur meliputi: 1. Panjang tubuh total yang diukur dari ujung paruh sampai dengan ujung bulu ekor dengan menggunakan pita ukur. 2. Panjang rentang sayap yang diukur dengan merentangkan sayap dari pangkal sayap hingga ujung sayap dengan menggunakan pita ukur. 3. Panjang ekor yang diukur dari pangkal ekor sampai ujung ekor dengan menggunakan pita ukur. 4. Panjang kaki yang diukur dari pangkal kaki hingga ujung kaki menggunakan pita ukur. 5. Panjang kepala yang diukur dari bagian tengkuk hingga ujung paruh dengan menggunakan jangka sorong. 6. Panjang paruh yang merupakan panjang maxilla (paruh atas) yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. 7. Tinggi paruh pada bagian paruh tertinggi yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Gambar 3 Pengukuran panjang total tubuh. 18 Gambar 4 Pengukuran panjang sayap. Gambar 5 Pengukuran panjang kepala. Gambar 6 Pengukuran panjang ekor. Gambar 7 Pengukuran panjang paruh. 19 Gambar 8 Pengukuran panjang kaki. Gambar 9 Pengukuran tinggi paruh. 3.4 Analisis Data 3.4.1 Teknik penangkaran jalak bali Data mengenai teknik penangkaran jalak bali dianalisis secara deskriptif yang meliputi sejarah penangkaran, populasi, perkandangan, pakan, perawatan kesehatan, dan teknik reproduksi. Selain dianalisis secara deskriptif, data mengenai pakan jalak bali juga dilakukan analisis secara kuantitatif. Berikut rumus yang digunakan: 3.4.1.1 Jumlah konsumsi JK = B-b Keterangan: JK = jumlah konsumsi B = berat pakan sebelum diberikan b = berat pakan sisa 20 3.4.1.2 Tingkat palatabilitas %P = G0-G1 x 100% G0 Keterangan: %P = tingkat palatabilitas G0 = berat pakan semula G1 = pakan sisa 3.4.1.3 Kandungan gizi pakan Kandungan gizi pakan jalak bali di penangkaran diperoleh melalui studi literatur untuk mengetahui analisis proksimat yaitu analisis kimia untuk mengetahui kandungan zat makanan yang terdapay di dalam bahan makanan. 3.4.1.4 Jumlah kebutuhan pakan Kebutuhan pakan yang perlu diketahui yaitu kebutuhan protein dan kebutuhan kalori. Kebutuhan protein dapat diperoleh dengan rumus: ∑ konsumsi suatu pakan x ∑ konsumsi pakan keseluruhan %PK Kebutuhan kalori dapat diperoleh dengan rumus: ∑ konsumsi suatu pakan x Kalori(Kkal) ∑ konsumsi pakan keseluruhan 3.4.1.5 Faktor keberhasilan Untuk mengetahui faktor penentu keberhasilan penangkaran burung jalak bali di MBOF dapat dilakukan perhitungan presentase daya tetas telur yaitu: a. Presentase daya tetas telur: ∂ . β Keterangan: ∂ = ∑ telur yang menetas β = ∑ total telur ditetaskan x 100 % 21 b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: t Tt x 100 % Keterangan: t = ∑ induk yang berkembangbiak Tt =∑ induk keseluruhan c. Persentase angka kematian tiap kelas umur: M x Mt 100 % Keterangan: M = ∑ anak yang hidup tiap kelas umur ke–i Mt = ∑ total anak yang hidup tiap kelas umur ke–i Kriteria yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan penangkaran di MBOF yaitu: 3.4.2 0 – 30 % = rendah 30 – 60 % = sedang 60 – 100% = tinggi Perhitungan Koefisisen Inbreeding Rumus yang digunakan terdiri dari beberapa formula: 3.4.2.1 Perhitungan koefisien kekerabatan adalah : R = ∑( 1/2 )n Keterangan : R = koefisien kekerabatan n = Jumlah anak panah dari setiap jalur. Salah satu cara untuk menghitung koefisien inbreeding yaitu dengan menggunakan diagram panah. Pembuatan diagram panah setiap individu pada kedua silsilah tersebut dimasukan sekali pada diagram panah walaupun pada kenyataannya individu-individu tersebut muncul beberapa kali (Noor 1996). Contoh perhitungan koefisien inbreeding: 22 Langkah- langkah untuk menghitung koefisien inbreeding suatu individu X (Fx) sebagai berikut (Nurana 1989): Langkah 1 : Merunut dan menggambarkan asal usul nenek moyangnya sampai tidak diketahui atau sampai nenek moyangnya berasal dari alam. Jika dalam salsilah tidak ada kawin dengan keluarga berarti koefisisen inbreeding X (Fx) = 0. Langkah 2 : Menentukan koefisien nenek moyang yang sama (Fc). Koefisien inbreeding nenek moyang harus dihitung sebelum menghitung koefisien inbreeding X (Fx). Cara perhitungan koefisien inbreeding nenek moyang sama dengan perhitungan koefisien inbreeding individu X (langkah 4 dan 5). Langkah 3 : Memperhatikan aliran gen pada gambar silsilah Langkah 4 : Menghitung koefisien inbreeding masing-masing. Aliran gen dengan rumus: F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) Langkah 5 : Koefisien individu X adalah jumlah koefisien masing-masing aliran gen. Contoh perhitungan koefisien inbreeding X pada silsilah seperi pada gambar 10. B A A C A E D E D X X (a) (b) Gambar 10 (a) Silsilah suatu individu X; (b) aliran gen individu X. 23 Langkah 1 : Gambar 10 B memperlihatkan bahwa X mempunyai nenek moyang yang sama yaitu A berati memilki koefisien inbreeding X (Fx) lebih dari nol. Langkah 2 : Karena nenek moyang A tidak diketahui diasumsikan nenek moyang A tidak ada yang kawin dengan keluarga berarti koefisien inbreeding A (Fc) = 0. Langkah 3 : Berdasarkan silsilah ada satu jalur yang menghubungkan individu S dan D melalui A yang memilki dua anak panah (gambar 1 B) yaitu D-A-E dan n = 2. Nilai koefisien inbreeding individu X dapat dilihat pada tabel 5. Langkah 4 : Perhitungan koefisien inbreeding pada individu X Tabel 5 Nilai perhitungan koefisien inbreeding pada individu X Lintasan X-D-A-E-X Fc 0,00 Koefisien inbreeding 1/2∑ (1/2)2 (1+0,00) = 0.125 N 2 Langkah 5 : karena hanya terdapat satu lintasan gen maka koefisien inbreeding X (fx) = 0,125. 3.4.2.2 Perhitungan koefisisen inbreeding Perhitungan koefisien silang dalam (Inbreeding) pada dasarnya adalah mengalikan koefisien kekerabatan dengan ½. Rumus untuk mengukur koefisien silang dalam adalah (Noor 2008): F= ½ ∑ (1/2)n Keterangan : F = koefisien silang dalam (inbreeding) 3.4.2.3 Koefisien inbreeding jika tetua bersama inbreed Koefisien kekerabatan dan koefisien silang dalam yang dipengaruhi oleh silang dalam dapat juga terjadi pada tetua bersama. Rumus dasar untuk menghitung koefisien silang dalam dapat dimodifikasi jika tetua bersamanya juga inbreed. Rumus yang telah dimodifikasi adalah (Noor 2008): F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) Keterangan: Fc = koefisien silang dalam tetua bersama. 24 3.4.2.4 Silang dalam pada satu atau dua individu yang berkerabat Silang dalam pada satu atau kedua individu yang berkerabat cenderung mengurangi kekerabatan antara kedua individu tersebut. Silang dalam mengakibatkan individu-individu tersebut lebih homozigot yang berakibat menurunkan genotip. Jadi pada dasarnya hal ini akan mengurangi peluang kedua individu memilki gen-gen yang sama sebesar rataan kedua koefisien silang dalam. Rumus untuk menghitung koefisisen kekerabatan pada kasus ini (Noor 2008) adalah : Rxy = ∑ (1/2)n(1+Fa) √(1+Fx)(1+Fy) Keterangan : Rxy = koefisien kekerabatan antara individu X dan Y n = jumlah generasi dari individu X dan Y sampai pada moyang bersama Fx = koefisien silang dalam individu X Fy = koefisien silang dalam individu Y 3.4.3 Karakterisrik Morfologi Penelaahan karakteristik morfologi (genetik) dilakukan tehadap lima pasang jalak bali yang ada di penangkaran (generasi F1). Data karakteristik morfologi yang dianalisis berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif ditabulasikan ke dalam tabel dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif yang terkumpul ditabulasi dan dihitung nilai rataan dan simpangan bakunya selanjutnya dilakukan pengujian perbandingan nilai rataan dengan uji tstudent menggunakan software SPSS untuk menentukan adanya perbedaan antar jenis kelamin (jantan dan betina). Selain itu, juga dilakukan perbandingan terhadap pengukuran morfologi kuantitatif yang telah dilakukan di MBOF dengan pengukuran morfologi yang terdahulu secara deskriptif untuk menentukan ada tidaknya inbreeding depression karena terjadinya penurunan dari sifat-sifat morfologinya. Kriteria uji menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian terhadap hubungan antara parameter yang diukur dan diamati menggunakan hipotesis sebagai berikut: 25 H0 = tidak ada perbedaan morfologi kuantitatif yang nyata antara jenis kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF H1 = ada perbedaan morfologi kuantitaif yang nyata antara jenis kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF Pengambilan keputusan atas hipotesis tersebut menggunakan kriteria sebagai berikut: Jika t hitung > dari t tabel, maka tolak H0 Jika t hitung < dari t tabel, maka terima H0 dilakukan dengan BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Sejarah Kawasan Penangkaran Mega Bird Farm didirikan pada tahun 1996 berdasarkan hobi pengelola dalam memelihara burung khususnya burung-burung berkicau dan burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Pada tahun 2010, lokasi ini berganti nama menjadi Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) yang kemudian disahkan dan diakui oleh pemerintah berdasarkan pada Surat Keputusan Direktorat Jenderal PHKA No. SK. 22/IV-SET/2010 tentang pemberian izin penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) yang dilindungi oleh undang-undang dan Surat Keputusan BBKSDA Jawa Barat No. SK. 164/BBKSDA-JABAR-1/2010 tentang pemberian izin penangkaran burung yang tidak dilindungi oleh undang-undang serta pada tahun 2011 pemerintah juga telah mengeluarkan surat keputusan melalui Direktorat Jenderal PHKA dengan No. SK. 22/IV-SET/2011 tentang izin usaha penangkaran burung (aves) yang dilindungi oleh undang-undang. 4.2 Tujuan dan Manfaat Mega Bird and Orchid Farm memiliki tujuan untuk kegiatan konservasi (pelepas-liaran ke alam) dan untuk tujuan ekonomi. Selain itu, penangkaran ini juga memiliki manfaat antara lain: a. Untuk kegiatan pendidikan dan penelitian b. Menjaga jenis-jenis dilindungi dari ancaman kepunahan c. Mengembangbiakkan jenis-jenis dilindungi di luar habitat aslinya dengan tetap menjaga kemurnian genetiknya. 4.3 Letak dan Luas Kawasan Secara administratif, MBOF terletak di Desa Cijujung Tengah, RT. 05/ RW. 04, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi tersebut memiliki luas total sebesar 23.500 m 2 yang terdiri dari luas bangunan sebesar 10.000 m2 dan luas pekarangan sebesar 13.500 m2. Berikut lokasi MBOF pada Gambar 11. 27 Gambar 11 Lokasi Mega bird and Orchid Farm. 4.4 Kondisi Biologi Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di penangkaran MBOF antara lain pohon rambutan (Nephelium lappaceum), jambu air (Syzygium aqueum), mangga (Mangifera indica), jambu biji (Psidium guajava), pisang (Musa sp.), dan pepaya (Carica papaya). Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Lokal Jalak bali Cucak rawa Gelatik jawa Beo nias Cendrawasih merah Cendrawasih kuning kecil Rangkong badak Kuau raja Kakatua raja Merak hijau Merak biru Mambruk victoria Murai batu Nama Ilmiah Leucopsar rothschildi Pycnonotus zeylanicus Padda oryzivora Gracula religiosa Paradisaea rubra Paradisaea minor Buceros rhinoceros Argusianus argus Probosciger atterimus Pavo muticus Pavo cristatus Goura victoria Copsychus malabaricus Daerah Asal Endemik Bali Barat Jawa, Sumatera, Kalimantan Jawa, Bali, P. Kangean Jawa, Bali, Sumatera P. Bantana, Gemien, Saonek Papua bag. Utara dan bag. Barat Sumatera, Kalimantan, Jawa Sumatera, Kalimantan P. Misool, Kep. Aru Jawa Bangladesh, India, Nepal P. Yapen, P. Biak Jawa, Sumatera, Kalimantan 28 4.5 Struktur Organisasi dan Kepegawaian Mega Bird and Orchid Farm secara keseluruhan dipimpin oleh seorang direktur (Drs. Megananda Daryono, MBA) yang dibantu oleh seorang manajer (Supriyanto Akdiatmojo) dan seorang asisten manajer (Hari Dimas Prayogo), serta pegawai sebanyak 14 orang. Selain itu, untuk menjaga keamanan di lokasi tersebut, pengelola menggunakan tenaga keamanan sebanyak enam orang. 4.6 Aksesibilitas Mega Bird and Orchid Farm terletak tidak jauh dari pusat kota Bogor. Lokasi ini dapat dicapai dari terminal Baranang Siang yang memiliki jarak + 12,5 km dengan waktu tempuh + 1,5 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 45 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, lokasi ini juga dapat dicapai dari arah Kampus IPB Darmaga yang memiliki jarak + 12 km dengan waktu tempuh + 1 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 30 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Teknik Penangkaran Secara umum beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa sangat menentukan keberhasilan suatu jenis satwa. Aspek teknik penangkaran tersebut diantaranya adalah sejarah penangkaran jalak bali, jumlah populasi jalak bali dipenangkaran, jenis penyakit dan perawatan kesehatan, manajemen pakan, sistem perkandangan, teknik reproduksi, dan faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF. Penjelasan secara lengkap mengenai pengelolaan aspek teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak pengelola disajikan berikut ini. 5.1.1 Sejarah penangkaran Jalak bali di penangkaran MBOF dimulai pada tahun 1996. Pada awalnya jalak bali yang ada di penangkaran MBOF hanya berjumlah tiga pasang yang berasal dari sumbangan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Setelah itu, populasi jalak bali semakin bertambah dengan adanya sumbangan-sumbangan dari pencinta burung dan membeli dari penangkar burung berkicau serta membeli jalak bali dari penangkap burung di alam. Jalak bali hasil sumbangan dan perdagangan tersebut dijadikan sebagai indukan (F0). Perbanyakan jalak bali juga dilakukan dengan cara menjodohkan jalak bali yang ada sehingga dapat berkembang biak. Pada awalnya pemilik penangkaran membuat penangkaran burung hanya untuk dijadikan hiburan dan hobi, namun karena kecintaannya pada burungburung berkicau termaksuk jalak bali pemilik penangkaran menangkarkan burung-burung berkicau tersebut. Hingga saat ini penangkaran MBOF yang terletak di daerah Cijujung Bogor semakin berkembang dengan menambah banyak jenis-jenis yang baru. Penangkaran MBOF memilki tujuan konservasi dan ekonomi. Pada tahun 2009, penangkaran Mega Bird and Orchid Farm telah menyumbangkan dua pasang jalak bali ke Nusa Penida (Bali) bekerjasama dengan APCB (Asosiasi Pelestari Curik Bali) dan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Pelepasan ke alam 30 dilakukan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 2009. Selain itu, jalak bali yang ada di penangkaran hingga saat ini dilakukan transaksi perdagangan secara legal yang telah mendapatkan persetujuan dari Kementrian Kehutanan. Asal usul bibit jalak bali di MBOF pada dasarnya merupakan hasil breeding dari Taman Safari I Cisarua, Bogor dan para pecinta burung. Kelebihan bibit jalak bali yang berasal dari hasil penangkaran memiliki tubuh yang sehat karena pakan yang dikonsumsi memilki kandungan gizi yang sesuai dan adanya pengaturan dalam pemberian pakan, kebutuhan akan protein, lemak, karbohidarat, vitamin, dan mineral terpenuhi. Silsilah bibit jalak bali di MBOF tidak diketahui secara pasti karena tidak adanya buku silsilah (studbook) di penangkaran tersebut, sehingga untuk mengetahui silsilah jalak bali hanya melalui wawancara kepada pengelola. 5.1.2 Populasi jalak bali di penangkaran Populasi jalak bali di MBOF sampai pada bulan Oktober tahun 2011 berjumlah 91 ekor yang meliputi jenis kelamin dan kelas umur sebagai berikut (Tabel 7). Tabel 7 Populasi jalak bali tahun 2011 berdasarkan jenis kelamin dan kelas umur Kelas umur 0 – 2 bulan 2 – 5 bulan 5 – 12 bulan 1 – 2 tahun 2 – 3 tahun 3 – 4 tahun 4 – 5 tahun Jenis kelamin 6 jantan,6 betina 7 jantan, 7 betina 5 jantan, 5 betina Jumlah 15 ekor 30 ekor 10ekor 12 ekor 14 ekor 10 ekor Keterangan Anakan Anakan Anakan Indukan (F1) Indukan (F0) Berdasarkan tabel 7 populasi jalak bali paling banyak berada pada usia anakan (0 – 12 bulan) hal ini dikarenakan setiap bulan jalak bali di penangkaran MBOF mampu berkembangbiak sebanyak 8 – 12 kali dalam satu tahun dengan jumlah telur yang dihasilkan 2 – 3 telur. Namun, yang dapat tumbuh dengan baik hanya sekitar 1 – 2 ekor. Jalak bali pada usia 1 – 2 tahun tidak terdapat di penangkaran karena pada kelas umur tersebut jalak bali sudah siap untuk dijual kepada para penghobi burung kecuali jalak bali yang dipersiapkan untuk menjadi indukan. Tujuan pembuatan penangkaran MBOF ini adalah dengan tujuan konservasi dan tujuan ekonomi sehingga sudah banyak jalak bali yang 31 diperjualbelikan dengan mendapatkan ijin dari Menteri Kehutanan. Berikut grafik populasi jalak bali dalam lima bulan terakhir di MBOF (Gambar 12). Gambar 12 Pertumbuhan populasi jalak bali di MBOF selama lima bulan terakhir tahun 2011. Pada tahun 2011, populasi dan tingkat keberhasilan jalak bali meningkat ditandai dengan adanya peningkatan terhadap jumlah populasi jalak bali setiap bulan. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa dalam satu bulan populasi jalak bali bertambah 8 – 11 ekor. Pada tahun 2011 populasi jalak bali di MBOF lebih meningkat. Hal ini dikarenakan pada tahun ini adanya indukan-indukan baru yang merupakan generasi F1 atau hasil perkawinan indukan sebelumnya. 5.1.3 Sistem perkandangan Salah satu aspek penting dari usaha penangkaran satwa adalah kandang yang berfungsi sebagai habitat buatan (artificial habitat) atau tempat hidup satwa. Kandang sebagai tempat hidup satwa harus memenuhi semua kebutuhan hidup satwa seperti luas yang cukup untuk pertumbuhan hidup satwa, suhu, kelembaban serta sirkulasi udara yang cukup dan tersedianya komponen penunjang lainnya seperti tempat berlindung, bertengger, dan berkembangbiak serta terjaga sanitasinya dari serangan penyakit. Penyediaan habitat buatan sebagai tempat hidup di penangkaran jalak bali menjadi salah satu prasyarat penting yang harus dipersiapkan sebelum pengembangan penangkaran. Habitat tersebut yaitu berupa kandang dan komponen pendukung dalam kandang. Kandang merupakan faktor utama dalam 32 faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm. 5.1.3.1 Jenis, ukuran, dan konstruksi kandang Jenis kandang jalak bali yang ada di penangkaran MBOF terbagi kedalam empat bagian yaitu kandang peraga, kandang kawin (indukan), kandang pemeliharaan, dan kandang inkubator (anakan atau piyik jalak bali). Berikut konstruksi dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF (Tabel 8). Tabel 8 Jenis, konstruksi, dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF. Jenis kandang Kandang peraga Kandang pemeliharaan Kandang reproduksi Inkubator Kontruksi kandang Batako, kawat ram, kayu, pohon rambutan untuk angkringan Berbentuk sangkar (triplek dan kayu) Batako,kawat ram, kayu, dan pohon palem untuk angkringan) Papan dan kayu unit Jumlah (ekor) 1m x 1,5 x 2m 3 3–6 40cm x 60cm x 40cm 6 – 15 2–4 3 m x 1,5m x 3m 12 2 110cm x 47cm x 45cm 1 4–6 ukuran kandang Kandang indukan (kandang reproduksi) jalak bali di penangkaran MBOF dibagi kedalam dua blok yaitu blok A dan blok B. Jalak bali yang berada dikandang blok A merupakan anak jalak bali generasi F1 yang sudah siap untuk bereproduksi (dewasa) sehingga dijadikan indukan dan diletakan pada kandang reproduksi, sedangkan kandang blok B merupakan jalak bali generasi F0 yang berasal dari sumbangan atau membeli dari tukang burung. Kandang indukan terletak pada bagian dalam, sedangkan kandang peraga dan kandang pemeliharaan terletak di bagian luar. Kandang indukan jauh lebih tetutup bila dibandingkan dengan kandang lainnya karena bertujuan untuk kelangsungan perkawinan pasangan-pasangan jalak bali. Selain itu, agar tidak terganggu oleh aktivitas manusia. Jumlah unit kandang peraga sebanyak tiga buah yang terdiri dari tiga sampai dengan enam ekor, sedangkan pada kandang pemeliharan terdapat 6 – 15 kandang tergantung kebutuhan dan kandang tersebut dapat menampung 2 – 4 ekor jalak bali serta untuk inkubator tedapat satu buah unit. Kandang peraga terletak pada bagian depan penangkaran. Jalak bali pada kandang peraga ini adalah jalak 33 bali yang sudah tidak bereproduksi. Usia jalak bali ini berkisar antara dua sampai dengan tiga tahun. Berikut gambar kandang peraga di MBOF (Gambar 13). A B C D Gambar 13 Kandang peraga jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) angkringan, (B) papan interpretasi, (C) pintu kecil, dan (D) pintu besar. Kandang peraga yang ada di MBOF memiliki pintu yang cukup besar di bagian bawah yang berfungsi untuk memudahkan pengelola untuk mengganti air minum dan air mandi. Selain itu, untuk memudahkan dalam membersihkan kandang. Selain pintu yang besar, juga terdapat pintu yang sangat kecil terletak pada bagian tengah untuk memudahkan dalam memberi pakan jalak bali. Berikut gambar kandang reproduksi di MBOF (Gambar 14). A B Gambar 14 Kandang reproduksi jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) pintu kecil, (B) pintu besar. Kandang reproduksi dibuat sangat tertutup dan memiliki dua buah pintu yang terdiri dari satu pintu besar pada bagian bawah dan satu pintu kecil pada 34 bagian tengah. Fungsi pintu yang besar adalah untuk memudahkan pengelola dalam membersihkan kandang dan mengganti air mandi dan air minum, sedangkan fungsi pintu kecil adalah untuk mengganti pakan setiap harinya. Kandang pemeliharaan terletak di bagian luar dan berbentuk sangkarsangkar kecil yang cukup banyak. Kandang pemeliharaan ini diletakkan dengan cara digantungkan pada tiang besi dan pada malam hari dimasukan kedalam kantor. Kandang pemeliharaan hanya memiliki satu buah pintu untuk memasukan jalak bali kedalam kandang. Berikut gambar kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF (Gambar 15). Gambar 15 Kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF. Inkubator digunakan untuk piyik-piyik jalak bali mulai dari 0 bulan sampai berusia 2 – 3 bulan. Terbuat dari papan dan kayu yang cukup kuat. Berikut gambar kandang inkubator jalak bali di MBOF (Gambar 16). A A A Gambar 16 Inkubator piyik jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) tiga buah jendela inkubator. 35 5.1.4.2 Fasilitas kandang Fasilitas yang harus ada didalam kandang yaitu tempat makan, tempat minum, tempat mandi, tempat angkringan (bertengger), tempat tertelur, dan lainlain. Berikut fasilitas kandang sesuai dengan jenis kandang di penangkaran MBOF (Tabel 9). Tabel 9 Jenis dan fasilitas kandang jalak bali di penangkaran MBOF Jenis kandang Kandang peraga Kandang pemeliharaan Kandang reproduksi Inkubator Fasilitas Tempat makan, minum dan mandi. Pohon rambutan untuk angkringan Tempat makan, minum, dan kayu untuk bertengger, Tempat makan, minum dan mandi. Pohon palem untuk angkringan (bertengger), kotak sarang untuk piyik atau temapat bertelur jalak bali Sarang burung, lampu (untuk menghangatkan) Keterangan Mandi di luar kandang pemeliharaan (tempat mandi khusus) - - Tempat pakan dan air pada kandang peraga dan reproduksi tebuat dari wadah plastik agar tidak mudah pecah bila terjatuh. Tempat makan diletakan di bagian tengah dekat dengan pintu utama dan dikaitkan pada kawat ram (dinding kandang) agar memudahkan dalam pemberian makan. Selain itu, pakan jalak bali juga ada yang digantung di kawat ram seperti pisang sedangkan tempat minum dan tempat mandi diletakan di bawah dengan menggunakan wadah plastik dengan ukuran yang cukup besar. Berikut gambar tempat makan dan tempat minum jalak bali di MBOF (Gambar 17). Gambar 17 Tempat makan dan tempat minum sekaligus mandi jalak bali di MBOF. 36 Tempat makan dan minum pada kandang pemeliharaan juga terbuat dari wadah plastik dan digantung atau dikaitkan pada sela-sela kayu di dalam kandang pemeliharaan. Namun, tempat mandi kandang pemeliharaan di tempatkan terpisah dengan kandang. Setiap pagi dan sore jalak bali dikeluarkan untuk dimandikan di tempat mandi khusus. Hal ini dilakukan karena jalak bali yang ada didalam kandang pemelihaan ini belum cukup dewasa berkisar antara 3 – 7 bulan. Tempat bertengger atau angkringan dalam kandang dibuat dengan meletakan pohon rambutan dan pohon palem. Tempat bertelur atau kotak sarang pada kandang reproduksi di letakan 1,5 meter dari lantai kandang, terbuat dari papan berbentuk kotak. Berikut gambar kotak sarang jalak bali di MBOF (Gambar 18). Gambar 18 Kotak sarang jalak bali di MBOF. Tempat makan dan minum pada inkubator terbuat dari bahan alumunium. Makanan yang diberikan pada piyik jalak bali adalah pur yang diencerkan dengan air panas. Tempat makan dan minum tidak diletakan dalam kandang karena pada piyik jalak bali diberi makan dengan cara disuapi. Inkubator terletak didalam ruangan atau kantor penangkaran MBOF. Lampu dinyalakan setiap waktu agar suhu ruangan tetap hangat. Pada kandang inkubator terdapat beberapa jendela agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. 5.1.3.3 Pemeliharaan kandang Perawatan kandang dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan kondisi kandang dan fasilitasnya sedemikian rupa sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangbiakan jalak bali secara optimal. Perawatan kandang dilakukan dengan cara pembersihan kandang secara rutin. Pembersihan 37 kandang dilakukan setiap hari di pagi hari dan pergantian pakan dan air dilakukan setiap hari. Menurut Masy’ud (2010), perawatan kandang juga dilakukan pada pohon atau tanaman tempat berteduh jalak bali agar tidak terlalu tinggi dan disesuaikan dengan keadaan ruang kandang. Beberapa jenis tanaman yang dapat ditanam dalam kandang antara lain murbei, kembang sepatu, palm, wijaya kusuma, dan lain-lain. Perawatan dapat dilakukan dengan memangkas atau memotong seperlunya. Saat pemangkasan atau pemotongan perlu diperhatikan masa kawin atau masa pengeraman telur untuk menghindari burung menjadi stress karena dapat berakibat negatif seperti gagal perkawinan, telur gagal menetas, bahkan kadang telur dimakan oleh induknya. 5.1.3.4 Suhu dan kelembaban kandang Secara keseluruhan, bentuk kandang jalak bali di MBOF berbentuk persegi panjang. Bentuk kandang persegi panjang paling banyak digunakan oleh penangkar jalak bali. Hal ini disebabkan dalam pembuatan kandang lebih mudah dan efektif. Selain itu, kandang jalak bali di MBOF memiliki atap yang sebagian tetutup asbes dan sebagian hanya tertutup oleh kawat ram, sehingga cahaya matahari dapat masuk kedalam kandang. Dengan demikian kandang dapat terhindar dari kelembaban yang mengundang berkembangbiaknya virus dan bakteri penyakit. Suhu di sekitar kandang dapat dilihat pada Gambar 19. Gambar 19 Suhu udara di sekitar kandang jalak bali di MBOF. 38 Suhu udara disekitar kandang jalak bali di MBOF pada pagi hari berkisar antara 27 – 28oC, sedangkan pada siang hari suhu sekitar kandang jalak bali dapat mencapai 30oC, dan pada sore hari suhu di sekitar kandang kembali menurun menjadi 27oC. Pengukuran suhu tidak dilakukan di dalam kandang akan tetapi dilakukan diluar kandang jalak bali atau di sekitar kandang jalak bali karena alat pengukur suhu (termometer dry-wet) tidak dapat dimasukan dalam kandang dan dikhawatirkan jalak bali dapat merusak alat pengukur suhu tersebut sedangkan dalam kandang reproduksi atau kandang indukan, termometer dry-wet tidak dapat dimasukan dalam kandang jalak bali karena dikhawatirkan dapat menggangu jalak bali yang akan bertelur. Berdasarkan hasil penelitian Damanik (1996), suhu udara pagi didalam kandang penangkaran jalak bali TMII adalah 25 – 29oC, sedangkan penangkaran jalak bali di Madiun (26,5–29oC). Pada siang hari suhu udara di penangkaran jalak bali TMII dapat mencapai 27 – 31oC dan di Madiun 31,5 – 36,5oC. Suhu udara pada siang hari di penangkaran TMII dan penangkaran di Madiun jauh lebih tinggi di bandingkan dengan suhu udara di penangkaran MBOF. Suhu di sekitar kandang jalak bali di MBOF cukup rendah karena daerah sekitar kandang banyak ditanami oleh pepohonan yang cukup besar seperti pohon rambutan dan pohon mangga. Selain itu, didalam kandang jalak bali juga terdapat pohon rambutan atau palem yang dapat digunakan sebagai tempat bertengger. Suhu di Taman Nasional Bali Barat yang merupakan habitat alami jalak bali yaitu sekitar 15 – 30oC (PHKA 2004). Suhu tersebut cukup rendah bila dibandingkan dengan penangkaran MBOF karena pengamatan suhu selama penelitian hanya dilakukan pada pagi hari hingga sore hari sedangkan pada malam hari tidak dilakukan pengukuran suhu. Suhu pada siang hari di penangkaran hampir sama dengan suhu pada siang hari atau suhu terpanas jalak bali di alam yaitu 30oC. Selain pengukuran suhu, pengukuran kelembaban sekitar kandang juga perlu dilakukan. Hasil pengukuran kelembaban sekitar kandang ditunjukkan pada Gambar 20. 39 Gambar 20 Kelembaban sekitar kandang jalak bali di penangkaran MBOF. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa kelembaban kandang jalak bali menurun pada siang hari yaitu pada pukul 11.00 sampai dengan pukul 14.00 sebesar 59%, sedangkan pada pagi hari dan sore hari kelembaban lingkungan penangkaran meningkat mencapai 64%. Dapat dikatakan bahwa kelembaban sekitar kandang jalak bali di MBOF berkisar antara 59 – 64%. Kelembaban lingkungan jalak bali di alam atau di Taman Nasional Bali Barat sekitar 65,25% (PHKA 2004). Kelembaban tersebut tidak jauh berbeda dengan kelembaban di penangkaran sehingga kondisi lingkungan penangkaran MBOF sesuai untuk penangkaran jalak bali. 5.1.4 Manajemen pakan 5.1.4.1 Pemberian pakan dan minum Jenis pakan yang diberikan pada jalak bali di penangkaran burung MBOF adalah pisang, jangkrik, pur, dan kroto. Makanan utama jalak bali adalah pisang, serangga, dan pur, sedangkan kroto hanya diberikan sesekali karena jumlah kroto yang sangat terbatas. Pemberian jangkrik hanya diberikan pada jalak bali di kandang reproduksi, sedangkan kandang pertumbuhan hanya diberikan pisang dan pur. Kandang reproduksi yaitu kandang indukan (F0) yang terletak pada bagian dalam sedangkan kandang pertumbuhan merupakan kandang peraga (jalak bali yang belum bereproduksi). Keterbatasan dalam pemberian pakan jangkrik ini dikarenakan harga jangkrik cukup mahal dan jumlahnya yang terbatas. Selain itu, jalak bali yang berada di kandang reproduksi merupakan jalak bali indukan yang 40 sedang berkembangbiak, sehingga dibutuhkan pakan yang lebih banyak. Pemberian pakan diberikan secara rutin pada pagi hari, begitu juga dengan pemberian air minum diganti setiap hari pada bagi hari. Pemberian pakan pisang terlebih dahulu dikupas sebagian kulitnya. Pisang kepok diberikan sebanyak satu sampai dengan tiga buah. Pisang yang telah dikupas sebagian kulitnya tersebut diberikan pada jalak bali dengan cara diletakkan pada wadah pakan atau digantungkan pada kawat ram yang merupakan konstruksi kandang. Pur yang diberikan pada jalak bali diletakkan pada wadah pakan. Pemberian pakan jangkrik untuk jalak bali dilakukan dengan cara meletakkan jangkrik pada wadah pakan yang telah disediakan. Namun untuk jangkrik, terlebih dahulu dipotong bagian kakinya agar jangkrik tidak dapat terbang. Jangkrik yang diberikan pada jalak bali indukan diberikan secukupnya karena pakan jangkrik dapat membantu proses birahi agar indukan segera bertelur bertelur. Berikut jenis dan jumlah pakan yang diberikan perpasang jalak bali di penangkaran (Mas’yud 2010). Tabel 10 Jenis dan jumlah pakan yang diberikan perpasang jalak bali di penangkaran No Jenis pakan Pakan nabati 1 Pisang Pepaya Pakan hewani Ulat hongkong 2 Jangkrik Telur semut Pakan konsentrat Fancy gold food 3 Fancy food anti strees Kroto kristal Kroto voer 521 Sumber: Masy’ud (2010). Jumlah pemberian 110 gram 80 gram 10 gram 2 ekor 10 gram 10 gram 10 gram 10 gram 10 gram Pakan yang diberikan pada piyik jalak bali berupa pur yang dicampur dengan air hangat dan dihaluskan. Cara pemberian pakan pada piyik jalak bali dengan cara menyuapinya secara perlahan begitu juga dengan air minumnya. Pakan untuk piyik jalak bali diberikan setengah jam sampai satu jam sekali karena piyik jalak bali biasanya membutuhkan asupan gizi yang lebih banyak. Berikut gambar pakan jalak bali di MBOF (Gambar 21). 41 Gambar 21 Pakan jalak bali (pur dan pisang kepok) di MBOF. 5.1.4.2 Jumlah konsumsi dan palatabilitas Jumlah konsumsi adalah selisih antara berat pakan awal dengan berat pakan sisa, sedangkan tingkat palatabilitas adalah tingkat kesukaan satwa terhadap suatu jenis makanan tertentu. Rata-rata jumlah konsumsi dan tingkat palatabilitas dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Rata-rata jumlah konsumsi dan tingkat palatabilitas Jenis pakan Pisang kepok Pur Jangkrik Kandang pertumbuhan/ekor Rata-rata Rata-rata ∑ konsumsi/hari/ekor palatabilitas Kandang reproduksi/ekor Rata-rata Rata-rata ∑konsumsi/hari/ekor Palatabilitas 40,2 g 55,84 % 8,96 g 15,39 % 6,33 g - 50,18 % - 3,39 g 15,18 g 13,96 % 59,22 % Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan terhadap jumlah konsumsi dan palatabilitas dengan ulangan sebanyak 14 kali (2 minggu) bahwa pada kandang pertumbuhan, jalak bali lebih menyukai pisang kepok dibandingkan dengan pur dengan rata-rata jumlah konsumsi pisang kepok 40,2 gram/ekor/hari dan pur 6,33 gram/ekor/hari dan tingkat palatabilitas masing-masing adalah 55,84% dan 50,18 %. Jalak bali pada kandang reproduksi lebih menyukai jangkrik dibandingkan dengan pur dan pisang kepok. Rata-rata jumlah konsumsi jangkrik sebanyak 15,18 gram/ekor/hari dengan rata-rata palatabilitas 59,22% dan rata-rata jumlah konsumsi pisang kepok sebanyak 8,96 gram/ekor/hari dan pur 3,39 gram/ekor/hari. Rata-rata palatabilitas pisang dan pur adalah 15,38 % dan 13,96 %. Hal ini dikarenakan jangkrik memilki nilai kandungan gizi (protein dan lemak) yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pakan lain sehingga jalak bali 42 lebih memilih jangkrik sebagai konsumsinya. Menurut Soemadi dan Mutholib (1995), jalak bali termasuk dalam golongan burung yang memakan serangga, tetapi juga mengkonsumsi buah-buahan dan juga biji-bijian. Selain itu, burung ini juga memakan kutu, caplak, nyamuk, ulat, cacing, belalang, dan serangga lain serta makan buah dan biji-bijian. Jenis pisang yang diberikan pada jalak bali di MBOF adalah pisang kepok. Jenis pisang yang umumnya dijadikan pakan burung adalah pisang kepok dan pisang siam. Burung yang menyukai buah ini antara lain jalak bali, jalak putih, cucakrawa, cucak biru, madi, kakaktua, nuri, beo, kutilang, dan lain-lain. Kualitas pisang ditentukan oleh sifat fisik dan kandungan gizinya, dimana komposisi kandungan zat gizi pisang berbeda-beda tergantung jenisnya tetapi yang jelas pisang merupakan sumber karbohidrat yang baik bagi burung. Jenis serangga yang diberikan pada jalak bali di MBOF yaitu jangkrik. Jangkrik yang diberikan pada jalak bali yaitu jangkrik dengan keadaan masih hidup. Selain jangkrik, terdapat pakan jalak bali tambahan yaitu kroto. Kroto dapat berupa telur, larva, dan semut merah dewasa yang telah mati. Namun, kroto yang diberikan pada jalak bali di MBOF yaitu telur semut rangrang yang dikeringkan. Kroto untuk jalak bali di MBOF tidak setiap hari diberikan dan hanya sesekali saja. Kroto dapat dikatakan berkualitas baik apabila tidak berbau, tidak lengket, berwarna cerah, dan tidak bercampur dengan jenis semut lain (Gambar 22). Gambar 22 Pakan jalak bali (kroto dan jangkrik). Pakan buatan yang diberikan pada jalak bali di penangkaran adalah pur. Menurut Soemarjoto dan Prayitno (1999), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan buatan antara lain: 43 1. Perusahaan pakan buatan cukup banyak. Tentu saja kualitas produk yang dihasilkan tidak sama. Oleh karena itu, pada saat membeli pakan buatan perlu dipertimbangkan kualitas pakan yang akan dibeli, bukan karena harganya murah. 2. Pakan buatan (pur) harus selalu dijaga agar tidak sampai basah. Apabila pakan ini terkena air maka akan mengembang dan cepat rusak, serta menimbulkan bau. 3. Pakan pur ada tiga jenis yaitu untuk burung muda, burung remaja, dan burung dewasa. Pemberian harus disesuaikan dengan tahap perkembangan burung. 4. Pemberian pakan harus disesuaikan dengan besar dan kecilnya burung, setelah masuk ke tembolok pur akan berkembang. Oleh karena itu, pemberian pakan buatan harus dibatasi karena apabila terlalu banyak dan berkembang dalam tembolok dapat menyebabkan burung sakit bahkan kematian. 5.1.4.3 Analisis proksimat Kualitas pakan sangat ditentukan oleh nilai gizi yang terkandung dalam pakan tersebut. Secara umum, pakan yang diberikan pada burung harus mengandung protein, karbohidrat, mineral, lemak, vitamin, dan air (Soemadi dan Mutholib 1995). Menurut Ginantra et al. (2009) sumber pakan langsung di alam berupa biji dan buah dan untuk memenuhi kebutuhan proteinnya juga menyediakan serangga seperti belalang, semut, ulat, dan kupu-kupu. Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan gizi yang terkandung dalam pakan yang diberikan pada jalak bali. Berikut tabel kandungan gizi pakan jalak bali di MBOF (Tabel 12). Tabel 12 Kandungan gizi pakan jalak bali Nilai Gizi Pisang kepok Pur Kadar abu (%) 2,65 5,90 Kadar protein (%) 4,30 21,05 Sarat kasar % 1,33 4,19 Kadar lemak (%) 0,19 7,21 Kalori (kkal) 3869,30 4753,03 Kadar air (%) 66,48 8,82 Ca (%) 0,03 1,08 P (%) 0,09 0,75 BETN (%) Sumber: Lovianti (1994); Aji (1996); Koswara (2010) Kroto 4,20 47,80 9,50 14,84 5143,00 23,66 Jangkrik 13,70 2,90 5,30 117,00 76,00 - 44 Berdasarkan tabel 9, pakan kroto memilki kadar protein tertinggi yaitu 47,80%, sedangkan jangkrik memiliki kadar protein 13,7%. Kroto juga memilki kadar lemak tertinggi yaitu 14,84% dan jangkrik memiliki kadar lemak 5,3%. kadar abu yang dimiliki kroto yaitu 4,20%, serat kasar sebesar 9,50%, kalori sebesar 51,43 kkal, dan BETN sebesar 23,66%, sedangkan jangkrik memilki serat kasar sebesar 2,9%, kalori sebesar 117 kkal, dan kadar air 76,0%. Pur memiliki kasar kalori tertinggi yaitu 4753,03 kkal diikuti oleh pisang kepok sebanyak 3869,30 kkal. Pisang kepok memilki kadar abu 2,65 %, kadar protein pisang kepok 4,30%, serat kasar pisang kepok 1,33%, kadar lemak pisang kepok 0,19%, dan kadar air pisang kepok 66,48%. Pisang kepok memilki kadar air yang cukup tinggi sehingga tergolong buah-buahan yang mudah membusuk karena memiliki kadar air yang cukup tinggi, sedangkan pur memilki kadar air 8,82%, kadar abu 5,90%, kadar protein 21,05%, serat kasar 4,19%, dan kadar lemak 7,21%. Kandungan serat kasar pada suatu pakan menunjukan kesukaran pakan tersebut untuk dicerna. Dalam pakan burung diperlukan protein yang tinggi untuk keperluan pertumbuhan dan aktivitasnya. Sorseno (1995) menyatakan burungburung muda memerlukan pakan yang kaya akan protein. Agar fungsi tubuh berjalan normal, selain jumlah pakan kualitas pakan juga perlu diperhatikan. Pakan yang diberikan tidak hanya cukup secara kualitas dan kuantitas, tetapi juga seimbang. Kualitas pakan sangat ditentukan oleh nilai gizi yang dikandung dalam pakan tersebut. Secara umum, pakan yang diberikan kepada burung harus mengandung protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin, dan air (Soemadi dan Mutholib 1995). Secara kimiawi, protein merupakan suatu bahan organik yang bersifat kompleks dan mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan terkadang belerang hingga fosfor. Unsur-unsur ini terbentuk dalam asam amino. Nilai protein sebagai unsur zat makanan sangat ditentukan oleh jumlah dan asam amino yang menyusunnya. Dari penelitian dapat diketahiui bahwa lebih dari 20 macam asam amino penyusun protein, sepuluh diantaranya sangat penting bagi tubuh burung yaitu asam amino arginin, histidin, isoleusin, lisin, leusin, metionin, fenilalanin, triptofan, treonin, dan falin (Soemadi dan Mutholib 1995). 45 Peranan protein dalam tubuh burung adalah sebagai bahan pembangun tubuh dan pengganti jaringan yang rusak. Bahan baku pembentukan enzim, hormon dan antibodi (zat kekebalan) jumlah protein yang dikonsumsi burung dari pakan yang disediakan harus seimbang dengan kebutuhannya. Burung ocehan memerlukan protein kurang lebih 35% dari jumlah makanannya. Bentuk karbohidrat paling umum terdapat dalam pati. Pati digunakan sebagai sumber energi. Sebelum dimanfaatkan oleh tubuh burung, pati terlebih dahulu dirombak menjadi satuan yang lebih kecil berupa gula glukosa dengan bantuan suatu zat yang disebut enzim. Setelah itu, diserap dan diangkat oleh darah melalui dinding-dinding usus halus untuk kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh. Karbohidrat berperan dalam tubuh burung sebagai sumber energi, membakar lemak, dan membantu memperkecil oksidasi protein menjadi energi serta memelihara fungsi alat pencernaan makanan agar berjalan normal. Kadar karbohidrat dalam tubuh burung umumnya berkisar 2% dari bobotnya. Makanan yang mengandung karbohidrat dalam ransum burung ocehan sebaiknya sekitar 70% dari pakan yang diberikan sehari-hari (Soemadi dan Mutholib 1995). Fungsi lemak dalam tubuh burung adalah sebagai sumber energi, mengatur suhu tubuh, melindungi organ tubuh, membawa vitamin A,D,E K, membawa asam lemak esensial, dan sebagai bahan baku pembentukan hormon steroid. Kandungan lemak dalam pakan burung ocehan sebaiknya tidak lebih dari 8%. Apabila kekurangan lemak, burung akan memperlihatkan gejala berupa kulit bersisik dan mengalami proses reproduksi yang tidak normal bahkan menyebabkan kematian. Sebaliknya, apabila lemak berlebihan juga merugikan karena tidak semua lemak dapat dicerna tubuh dan akhirnya akan terbuang percuma bersama dengan kotoran atau menumpuk diantara otot-otot tubuh maupun dibawah kulit (Soemadi dan Mutholib 1995). Vitamin didefinisikan sebagai substansi organik yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil untuk pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Vitamin dapat dibedakan menjadi vitamin yang dapat larut dalam air dan vitamin yang dapat larut dalam lemak. Vitamin A,D, E, dan K termasuk vitamin yang larut dalam lemak, sedangkan vitamin B dan C larut dalam air. 46 Secara umum, mineral berfungsi memelihara kondisi tubuh, memelihara cairan tubuh, menjaga kepekaan syaraf dan otot, mengatur proses metabolisme tubuh, mengatur keseimbangan kandungan asam dan basa dalam tubuh, dan sebagai unsur pembentuk tulang. Bagi burung, kegunaan mineral lebih khusus lagi yaitu untuk memelihara kesehatan tulang dan bulu, menambah nafsu makan, dan menghindari kanibalisme antar burung (Soemadi dan Mutholib 1995). 5.1.4.4 Kebutuhan pakan Kebutuhan pakan jalak bali dapat diketahui berdasarkan hasil perhitungan terhadap rata-rata jumlah konsumsi dan hasil analisis proksimat. Berdasarkan data tersebut dapat diperoleh kebutuhan protein dan kalori pada pakan jalak bali di MBOF sebagai berikut (Tabel 13): Tabel 13 Kebutuhan pakan jalak bali di MBOF No. 1 2 3 Jenis pakan Pisang kepok Pur Jangkrik Jumlah Protein kasar (%) 1,34 2,59 7,55 11,48 Kalori (Kkal) 1259,31 585,28 64,51 1909,1 Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh jumlah protein kasar yang terkandung dalam pakan yang diberikan pada jalak bali di MBOF yaitu sebesar 11,48 %. Menurut Sudaro dan Siriwa (1999), total protein yang biasa dipakai untuk pembuatan pakan adalah 10 – 30% dengan rata-rata sebesar 15%. Kebutuhan protein sebesar 15% tidak begitu jauh bila dibandingkan dengan kebutuhan protein kasar di MBOF yaitu 11,48%, sehingga dapat dikatakan kandungan protein pada pakan jalak bali di MBOF sudah cukup baik. Kebutuhan kalori jalak bali di MBOF yaitu sebanyak 1909 Kkal. Berdasarkan hasil penelitian Paryanti (2003), kebutuhan kalori burung Perkici dagu merah (Charmosyna placentis) di penangkaran bidang Zoologi Puslit Biologi-LIPI diperoleh hasil mengenai data kebutuhan kalori pakan burung perkici dagu merah yaitu sebesar 1479,678 Kkal. Kebutuhan kalori yang diberikan pada jalak bali di MBOF lebih banyak dibandingkan dengan hasil penelitian Paryanti (2003), tetapi tidak jauh berbeda sehingga kebutuhan kalori jalak bali di MBOF dapat dikatakan cukup baik. 47 5.1.5 Jenis penyakit dan perawatan kesehatan Jenis penyakit yang pernah dialami oleh jalak bali di penangkaran MBOF adalah katarak, flu, sakit mata, dan cacar pada kaki burung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14 Riwayat penyakit yang pernah diderita jalak bali di penangkaran MBOF No 1 2 3 Jenis penyakit Katarak Flu Sakit mata 4 Cacar pada kaki Obat Tidak dapat diobati Tetra-chrol dan mitrafox-12 Obat tetes mata (polidex) Antiseptik dan Salep 88 atau cabe Keterangan Dicampurkan pada minuman Diteteskan pada mata burung. Disemprotkan pada kandang atau dioleskan pada kaki Jenis-jenis penyakit tersebut pernah diderita jalak bali di penangkaran MBOF. Namun, pada saat dilakukan penelitian yaitu pada bulan Juni – Agustus 2011 tidak terdapat penyakit pada jalak bali. Salah satu penyakit yang tidak dapat diobati adalah katarak. Penyakit ini memiliki ciri-ciri mata burung berair dan berwarna putih dan tidak dapat disembuhkan serta tidak laku untuk dijual. Biasanya jalak bali yang menderita penyakit ini tidak lama hidup dan segera mati. Penyakit lainnya adalah flu (influenza) yang disebabkan karena kondisi cuaca yang tidak baik (perubahan suhu yang ekstrim). Ciri-cirinya keluar lendir dari hidungnya dan bersin-bersin. Pemberian obat dilakukan dua hari sekali secara rutin selama sakit. Selain itu, juga diberikan vitamin lima hari sekali dengan cara dicampurkan pada air minum. Penyakit lainnya adalah sakit mata ciri-cirinya adalah mata tertutup, mata berair, dan bengkak . Selain itu, juga terdapat beberapa multivitamin yang diberikan pada jalak bali, misalnya san-B-plex yaitu multivitamin untuk anakan jalak bali yang diberikan dengan cara dicampurkan pada minuman anak jalak bali dan Vetafarm breeding AID yaitu vitamin yang diberikan pada indukan jalak bali untuk merangsang terjadi reproduksi diberikan dengan cara dicampurkan pada makanan jalak bali (pur). Berikut gambar obat-obatan dan multivitamin jalak bali di MBOF (Gambar 23). 48 Gambar 23 Obat-obatan dan multivitamin jalak bali di MBOF. Menurut Jaya (2006), ada beberapa praktek pencegahan penyakit yang dilakukan pada jalak bali untuk dijadikan acuan yaitu: 1. Sejak awal menggunakan bibit yang berkualitas baik dan yang sehat. 2. Sediakan selalu makanan dan minuman yang baru dan segar. Bersihkan dan gantikan makanan dan minuman yang sudah kotor. 3. Bibit burung yang baru didatangkan maka perlu diisolasi atau dimasukan dalam kandang karantina (kurang lebih 2 – 3 minggu). 4. Dalam pemeliharaan burung sebaiknya dipisahkan menurut kelas umur burung. 5. Sanitasi dan kebersihan baik kandang maupun lingkungan sekitar harus tetap diperhatikan. 6. Lakukan pemerikasaan kesehatan burung dan cegah binatang pengganggu untuk masuk dalam kandang seperti tikus, kucing, dan ular. 7. Berikan vitamin dan pakan tambahan secara rutin. 5.1.6 Teknik reproduksi Reproduksi merupakan kunci keberhasilan dalam penangkaran untuk meningkatkan populasi dan produktivitas. Pengetahuan tentang biologi dan perilaku reproduksi jenis satwa yang ditangkarkan sangat penting karena dapat memberikan arah pada tindakan manajemen yang diperlukan guna menghasilkan produksi satwa yang ditangkarkan sesuai harapan (Setio & Takandjanji 2009). Beberapa aspek reproduksi yang penting untuk diperhatikan dalam penangkaran 49 antara lain adalah penentuan jenis kelamin, pemilihan induk, penjodohan, pengeraman dan penetasan, serta pembesaran piyik jalak bali. 1. Penentuan jenis kelamin Komposisi jenis kelamin jantan dan betina untuk setiap jenis burung sangat penting untuk keberhasilan perkembangbiakannya, sehingga pengetahuan pembedaan jenis kelamin harus dikuasai. Penentuan jenis kelamin burung dapat dilakukan dengan membedakan suara, ukuran, tingkah laku, dan sebagainya. Untuk penentuan jenis kelamin, pengelola penangkaran di MBOF mengetahui jenis kelamin jalak bali di usia yang cukup dewasa karena sangat sulit dilakukan pembakuan kriterianya, hanya para pakar dan penggemar burung yang telah lama menangani jalak bali yang dapat menentukan jenis kelamin. Berikut gambar jalak bali jantan dan betina pada kandang reproduksi (Gambar 24). A B Gambar 24 Pasangan jalak bali di kandang reproduksi (A) jantan dan (B) betina. 2. Pemilihan induk Pemilihan bibit untuk indukan diutamakan jalak bali dengan kondisi yang sehat dan tidak dalam kondisi yang cacat dan akan jauh lebih baik jika diketahui pula asal usul jalak bali tersebut berasal dari alam atau merupakan hasil penangkaran sehingga tidak terjadi perkawinan silang dalam (inbreeding) dan silsilahnya jelas serta terjamin kesehatannya. Usia jalak bali yang tepat untuk untuk bereproduksi atau bertelur adalah usia 4 – 5 tahun. Perbandingan sex ratio jantan dan betina di MBOF adalah 1 : 1, dimana jantan dan betina selalu dipasangkan dalam satu kandang. 50 Menurut Prana et al. (2006) memilih pasangan induk yang tepat adalah memilih induk yang masih muda atau masih pada usia produktif, meskipun pengalaman menunjukan bahwa induk yang tua (umur 10 – 12 tahun) masih mampu bereproduksi atau menghasilkan anak tetapi tingkat produktivitasnya relatif sudah jauh berkurang disamping kualitas anaknya (secara genetik) cenderung menurun. Induk yang masih muda masa kemampuan berproduksinya masih lama tetapi usia burung yang terlalu muda (dibawah 2 tahun) juga tidak baik karena mungkin belum mencapai tingkat kematangan fisiologis atau belum siap menghasilkan keturunan. 3. Penjodohan Proses pembentukan pasangan dilakukan dengan cara menjodohkan beberapa pasang atau sepasang jalak bali didalam satu kandang yang selanjutnya dilihat tingkah lakunya. Apabila terlihat ada pasangan jalak bali yang cocok maka dapat dilakukan perkawinan dengan mamasukan jalak bali tersebut kedalam kandang reproduksi yang aman, tertutup, dan jauh dari gangguan. Pasangan jalak bali sebaiknya dijodohkan ketika burung jalak bali betina mencapai usia 2 tahun dan burung jantan mencapai usia 2,5 tahun karena kematangan secara fisik dan fisiologis baru tercapai kira-kira umur tersebut (Prana et al. 2006). Dalam melakukan penjodohan terlebih dahulu memilih pasangan jantan dan betina. Sejumlah ahli berpendapat bahwa jalak bali sifatnya dimorfik yaitu mudah dibedakan antara jantan dan betina karena memiliki ciri perawakan yang berbeda, namun tetap tidak menjamin kepastian perbedaan jenis kelamin, sehingga di negara-negara maju sekalipun penetuan jenis kelamin dikaukan dengan bantuan teknologi misalnya dengan teknik endoskopi (pemeriksaan organ kelamin bagian dalam melalui pembedahan ringan dan dengan bantuan endoskop) dan analisa karyotipe (kromosoma) atau analisa DNA. Cara lain yang dapat dilakukan untuk menentukan pasangan jantan dan betina adalah dengan mengamati perilaku sekelompok burung yang belum diketahui jenis kelaminnya. Kelompok burung ini ditempatkan berdampingan dengan burung jantan yang telah diketahui jenis kelaminnya. Asumsinya, burung yang paling tinggi intensitas interaksi seksualnya dengan burung jantan tersebut hampir dapat dipastikan burung tersebut adalah betina (Prana et al. 2006). 51 4. Peneluran, pengeraman, dan penetasan telur Peneluran, pengeraman, dan penetasan telur dilakukan oleh indukan jalak bali jantan dan betina dalam kandang reproduksi dimana terdapat sarang kotak yang terbuat dari triplek yang terdapat didalam kandang. Sarang tersebut digunakan indukan jalak bali untuk meletakan telur-telurnya hingga menetas. Selang waktu antara peneluran hingga penetasan telur sacara alami berkisar antara 15 hari. Menurut Prana et al. (2006), telur dierami oleh kedua induknya selama 13 – 14 hari secara bergiliran. Hasil pengamatan menunjukan bahwa porsi mengeram induk betina lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan. Teknik reproduksi hanya dilakukan pada jalak bali yang ada di dalam kandang reproduksi. Pada satu kandang reproduksi terdapat satu ekor jantan dan satu ekor betina. Jumlah telur yang dapat dihasilkan oleh satu pasang jalak bali adalah 2 – 3 ekor telur dengan jumlah induk jalak bali sebanyak lima pasang. Rata-rata telur yang menetas yaitu sebanyak 1 – 2 telur oleh satu induk. Jalak bali betina mampu bereproduksi sebanyak 8 – 12 kali dalam satu tahun dan jumlah anakan atau piyik yang dapat hidup adalah 1 – 2 ekor. 5. . Pembesaran piyik jalak bali Pada umumnya, dalam satu kandang terdapat satu pasang jalak bali yaitu pada kandang indukan (reproduksi), sedangkan pada kandang peraga dan kandang pemeliharaan terdapat lebih dari satu pasang jalak bali dan pada inkubator dapat mencapai 5 – 10 anakan jalak bali. Umur jalak bali yang ada di penangkaran berkisar antara 0 bulan samapai dengan 5 tahun karena setiap bulannya selalu tersedia anakan atau piyik jalak bali. Piyik jalak bali yang telah menetas dalam kadang reproduksi masih bersama dengan indukan. Namun setelah empat hari, dipindahkan dalam kandang inkubator. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan kebutuhan pakan piyik jalak bali. Pembesaran piyik jalak bali seperti ini disebut juga hand rearing yaitu pembesaran piyik jalak bali dengan cara memisahkan atau mengambil piyik dari induknya untuk selanjutnya dipelihara dan dibesarkan oleh penangkar secara intensif hingga burung dapat mandiri. Berikut gambar piyik jalak bali di MBOF (Gambar 25) 52 Gambar 25 Piyik jalak bali di MBOF. Menurut Prana et al. (2006), perawatan piyik setelah telur menetas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara alami oleh induknya sendiri dan dengan bantuan perawat burung. Perawatan alami memberi peluang terbaik bagi piyik untuk mendapatkan menu makannan yang paling sesuai, kenyamanan hidup yang optimal dalam lingkungan “kasih sayang” induk, serta pendidikan dasar. Hasilnya, anak-anak burung tumbuh secara sehat dan mandiri. Namun, perawatan piyik secara alami bukan tanpa resiko. Ancaman kematian piyik bahkan oleh induknya sendiri bukanlah suatu kejadian yang langka. Selain itu, beban merawat piyik oleh induknya secara otomatis akan berdampak pada menurunnya frekuansi perbiakan setiap tahunnya. 5.1.7 Faktor- faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali Hal yang paling mendasar dalam membangun sebuah penangkaran jalak bali adalah diperoleh bibit jalak bali yang sehat dan tidak cacat, mengetahui jenis kelamin jantan dan betina jalak bali dan mengetahui cara perkembangbiakannya berikut tingkat perkembangbiakan induk jalak bali, daya tetas telur dan angka kematian anak jalak bali disajikan pada tabel 15. Tabel 15 Persentase daya tetas telur, tingkat perkembangbiakan, dan angka kematian jalak bali tiga tahun terakhir di MBOF Tahun 2011 2010 2009 Rata-rata Daya tetas telur 66,66 66,66 66,66 66,66 Persentase (%) Tingkat perkembangbiakan 83,33 66,66 41,66 63,88 Angka kematian 33,33 33,33 33,33 33,33 53 Berdasarkan hasil perhitungan persentase tingkat keberhasilan penangkaran jalak bali selama tiga tahun terakhir diperoleh hasil bahwa rata-rata persentase daya tetas telur sebanyak 66,66% yaitu jumlah total telur yang mampu dihasilkan oleh satu induk jalak bali setiap satu kali reproduksi yaitu sebanyak 2 – 3 butir telur dan yang berhasil ditetaskan sebanyak 1 – 2 butir telur. Rata-rata persentase tingkat perkembangbiakan induk sebesar 63,88% dimana jumlah total indukan yang ada di MBOF tahun 2011 sebanyak 12 pasang dan 10 pasang diantaranya telah berhasil berkembangbiak dengan baik, sedangkan pada tahun 2010 jumlah indukan yang ada sebanyak 12 pasang dan 8 pasang telah berkembangbiak serta pada tahun 2009 yang berhasil berkembangbiak sebanyak 5 pasang. Angka kematian anak sebesar 33,33% yaitu total anak yang mati tiap kelas umur dibagi dengan total anak keseluruhan tiap kelas umur. Berikut kriteria presentase tingkat keberhasilan penangkaran selama tiga tahun terakhir (Tabel 16). Tabel 16 Persentase dan kriteria tingkat keberhasilan jalak bali di MBOF No. 1 2 3 Indikator Daya tetas telur Angka kematian Persentase (%) 66,66 33,33 Kriteria Tinggi Rendah Tingkat perkembangbiakan 63,88 Tinggi Faktor penentu keberhasilan jalak bali di MBOF sangat ditentukan oleh kandang. Kandang yang sesuai dengan fungsi dan kegunaannya sebaiknya disesuaikan dengan habitat alaminya. Untuk perkandangan jalak bali di MBOF telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya. Selain kandang, juga perlu diperhatikan adalah pakan. Pakan yang diberikan harus sesuai dan memilki kandungan gizi yang dibutuhkan oleh burung. Beberapa hal yang menjadi faktor penunjang keberhasilan dalam kegiatan pengelolaan penangkaran di MBOF antara lain: a. Letak kandang yang jauh dari kebisingan dan gangguan manusia. b. Kebersihan, keamanan, dan perawatan kandang yang selalu terjaga. c. Pemberian pakan, baik pakan utama maupun pakan tambahan yang rutin diberikan tiap pagi dan sore hari. d. Pemberian obat dan vitamin secara rutin untuk menjaga kesehatan dan mencegah terserangnya penyakit pada burung yang ditangkarkan. e. Menjaga kemurnian genetik dan menghindari terjadinya in-breeding. 54 5.2 Analisis Koefisien Inbreeding Perhitungan koefisien silang dalam (inbreeding) dapat dilakukan dengan mempelajari silsilah atau studbook, sehingga dapat diketahui hubungan kekerabatan dari setiap individu. Penangkaran Mega Bird and Orchid Farm belum memiliki buku silsilah jalak bali (studbook jalak bali) sehingga hanya dilakukan wawancara kepada pengelola penangkaran untuk memperoleh data mengenai silsilah jalak bali yang ditangkarkan. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa hingga bulan Juli 2011 jalak bali generasi F2 hanya berjumalah 2 individu dan sisanya adalah genarasi F0 dan F1. Kebanyakan jalak bali yang terdapat di penangkaran MBOF adalah generasi F1. Hal ini disebabkan karena tingkat reproduksi jalak bali indukan (generasi F0) yang cukup tinggi. Hasil perhitungan nilai koefisien inbreeding yang telah dilakukan terhadap individu jalak bali generasi F2 di penangkaran MBOF diperoleh nilai individu pertama yaitu 0 dan pada individu kedua diperoleh nilai 0. Kedua individu tersebut memiliki nilai koefisisen inbreeding 0 karena individuindividu tersebut tidak memilki tetua yang inbreeding (kawin dengan keluarga dekat), sedangkan tetua nenek moyang sebelumnya tidak diketahui karena tidak ada silsilah kedua individu tersebut sehingga diasumsikan tetua dari individu tersebut berasal dari alam. Berikut silsilah dan diagram panah hasil perkawinan yang tidak ada hubungan keluarga (Gambar 26). F0 (Indukan ke 1) A : Pasangan 1 C : Pasangan 2 : E F1 (anakan) dan F dan dan B D kandang indukan (4B) kandang indukan (2B) kandang indukan (5A) Diagram pohon B A C D F E X 55 Diagram panah A B D C E F X Gambar 26 Silsilah dan diagram panah hasil perkawinan tidak ada hubungan saudara. Pada silsilah tersebut tidak ada jalur yang menghubungkan individu E dan F. Hubungan kekerabatan E dan F adalah 0 dan koefisien inbreedingnya adalah 0. Hasil perhitungan nol dapat dikatakan bahwa nilai koefisien inbreeding masih rendah. Menurut Masy’ud (1992), perhitungan koefisien silang dalam dilakukan berdasarkan informasi silsilah jalak bali dengan menelaah buku silsilah (Studbook). Jika koefisien silang dalam bernilai 0 (nol), maka pasangan tersebut dipindahkan dan ditempatkan dalam satu kandang untuk diamati perilaku asosiasinya lebih lanjut dan penampilan reproduksinya. Sebaliknya, jika koefisien silang dalam bernilai satu atau mendekati satu, maka pasangan tersebut dipisahkan kembali untuk dicarikan pasangannya dengan jalak bali lain. Dapat dikatakan bahwa jalak bali di MBOF memiliki nilai koefisien inbreeding nol dan tidak ada kawin dengan kerabat dekat, tetapi di MBOF juga dapat terjadi inbreeding apabila beberapa tahun ke depan tidak ada masukan jalak bali dari luar penangkaran sehingga tetap harus memasukan jalak bali dari dari luar penangkaran agar terhindar dari inbreeding (kawin dengan kerabat dekat). Pada bulan Juli sampai dengan Oktober indukan jalak bali generasi F1 telah bertelur sebanyak 30 butir telur. Namun, yang dapat menetas hanya berjumlah 16 butir telur dan yang mampu bertahan hidup sampai sampai saat ini 14 anakan. Jalak bali generasi F2, dua diantara mati pada usia dua minggu dan tiga minggu, sedangkan indukan generasi F0 jauh lebih banyak bertelur. Berdasarkan hasil wawancara silsilah generasi F2 tidak terjadi inbreeding (silang dalam) akan tetapi adanya kemungkinan terjadinya perkawinan antara saudara tiri (indukan jantan 56 yang sama) karena indukan jantan pada generasi F0 sering dilakukan perpindahan kandang (diacak) dalam mengawini betina sehingga memungkinkan terjadinya perkawinan saudara tiri. Silang dalam (inbreeding) pada umumnya didefinisikan sebagai persilangan antar satwa yang memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dari rataan hubungan kekerabatan populasi tempat individu tersebut berada. Jika tetua berkerabat, anak-anaknya dapat dikatakan inbreed, makin dekat hubungan kekerabatan anatara tetuanya maka akan semakin inbreed anak-anaknya (Noor 2008). Hubungan kekerabatan (koefisisen kekerabatan saudara tiri adalah 25% sedangkan hubungan kekerabatan saudara kandung 50%. Koefisien inbreeding adalah setengah dari koefisien kekerabatan sehingga koefisien inbreeding saudara tiri adalah 0,125. Begitu juga dengan hasil perhitungan nilai koefisien inbreeding saudara tiri adalah 0,125 (Gambar 27). F0 (Indukan ke 2) F1 (anakan) : Pasangan 1 O dan P kandang B : Pasangan 2 O dan Q kandang B : R dan S kandang indukan A Diagram pohon O P O R Q S T 57 Diagram panah O R S T Gambar 27 Silsilah dan diagram panah hasil perkawinan antar saudara tiri. Pada silsilah tersebut hanya ada satu jalur yang menghubungkan individu R dan S melalui O yang memilki dua anak panah yaitu R O S. Hubungan kekerabatan R dan S adalah 0,25 sedangkan koefisien inbreedingnya adalah 0.125. Silang dalam adalah perkawinan antara satwa-satwa yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata satwa dalam bangsa atau populasi itu yaitu satwa-satwa yang mempunyai moyang bersama dalam 4 – 6 generasi pertama dari silsilahnya. Silang dalam diukur dengan koefisisen silang dalam (koefisien inbreeding). Koefisien inbreeding adalah ukuran-ukuran persentase peningkatan homozigositas dari satwa-satwa inbreed dibandingkan dengan rata-rata populasinya (Warwick et al. 1990). Inbreeding dapat menghasilkan kehomozigotan apabila inbreeding terusmenerus. Kehomozigotan akan semakin meningkat antara individu suatu populasi satwa atau antara gen dalam suatu individu. Inbreeding dapat menimbulkan karakter buruk pada satwa jika terlalu dekat hubungan kerabatnya karena karakter buruk itu bersifat resesif dan dari generasi ke generasi selalu terpendam oleh kehadiran alel yang dominan. Semakin terjadi kehomozigotan termasuk alel resesif, maka karakter burukpun bermunculan tetapi inbreeding tidak selalu menuju pada permunculan karakter buruk. Apabila alel karakter buruk itu tidak ada, maka inbreeding tidak akan menimbulkan keburukan apapun (Yatim 1991). 58 Pengaruh buruk ini biasanya berhubungan dengan penurunan fertilitas, peningkatan mortalitas, penurunan terhadap daya tahan penyakit, penurunan daya hidup, dan penurunan laju pertumbuhan. Silang dalam juga dapat digunakan bersamaan dengan seleksi untuk menyingkirkan gen-gen yang berpengaruh negatif. Penggabungkan silang dalam dengan seleksi dapat dihasilkan satwa-satwa unggul. Satwa-satwa inbreed yang menunjukan sifat unggul cenderung lebih homozigot untuk gen-gen pengontrol keunggulan (Noor 2008). Studbook (buku silsilah) merupakan salah satu hal yang penting dari sebuah penangkaran. Selain untuk media pencatatan, buku silsilah juga dapat digunakan untuk memperoleh silsilah atau asal-usul individu jalak bali tersebut. Menurut Noor (2008), buku silsilah merupakan catatan dari tetua suatu individu. Kegunaan silsilah ini tergantung dari seberapa dekat hubungan keluarga antara individu tersebut dengan tetuanya. Selain itu, silsilah dapat digunakan untuk mendukung sesuatu yang mungkin sudah diketahui tentang suatu individu. Berikut buku silsilah atau studbook jalak bali yang dibuat selama penelitian (Tabel 17). 59 Tabel 17 Data studbook jalak bali di penangkaran MBOF ( Maret-Agustus 2011) Satus induk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jantan Betina Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Penangkaran Liar Liar Penangkaran Liar Liar Liar Liar Penangkaran Penangkaran Penangkaran Liar Liar Liar Penangkaran Penangkaran Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Penangkaran Liar Liar Penangkaran Liar Liar Liar Liar Penangkaran Penangkaran penangkaran Liar Liar Liar Penangkaran penangkaran Liar Liar Liar ∑ total telur 2 Telur ∑ telur menetas 2 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 kelahiran Tanggal Tanggal bertelur menetas 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 24-4-11 09-5-11 28-4-11 13-5-11 28-4-11 13-5-11 23-5-11 07-6-11 25-5-11 09-6-11 01-6-11 16-6-11 01-6-11 16-6-11 01-6-11 16-6-11 02-7-11 02-7-11 02-7-11 09-7-11 09-7-11 09-7-11 16-7-11 16-7-11 16-7-11 16-7-11 16-7-11 No Ring MBOF124 MBOF125 MBOF126 MBOF127 MBOF128 MBOF129 MBOF130 MBOF131 MBOF132 MBOF133 MBOF134 MBOF135 MBOF136 MBOF137 MBOF138 MBOF139 MBOF140 MBOF141 MBOF142 MBOF143 MBOF144 MBOF145 MBOF146 MBOF147 MBOF148 MBOF149 MBOF150 No. kandang Genarasi F1 F2 V V V V v v v v 5A 5B 11A 4B 3B 2B 2B 13A 13A 11A 4B 4B 4B 3A 3A 5B 5B 5B Ket. Semua menetas v v v Dua telur tidak menetas Satu telur tidak menetas v v v v v Dua telur tidak menetas 2anak mati usia 6 hari v v v v v v v v v v v 59 60 Tabel 17 (lanjutan) Status induk Kelahiran No. Ring Tanggal Tanggal jantan Betina bertelur menetas 16 Penangkaran Penangkaran 15-7-11 01-8-11 MBOF151 17 Penangkaran Penangkaran 18-07-11 03-8-11 MBOF152 18 Liar Liar 23-7-11 08-8-11 MBOF153 Liar Liar 08-8-11 MBOF154 Liar Liar 08-8-11 MBOF155 19 Liar Liar 3 3 10-8-11 MBOF156 Liar Liar 10-8-11 MBOF157 Liar Liar 10-8-11 MBOF158 20 Penangkaran Penangkaran 3 1 11-8-11 MBOF159 21 Liar Liar 3 2 12-8-11 MBOF160 Liar Liar 12-8-11 MBOF161 22 Penangkaran Penangkaran 3 1 02-9-11 MBOF162 23 penangkaran Penangkaran 3 2 04-9-11 MBOF163 Penangkaran penangkaran 14-9-11 MBOF164 24 penangkaran Penangkaran 3 2 05-9-11 MBOF165 Penangkaran Penangkaran 15-9-11 MBOF166 25 Liar Liar 3 3 04-9-11 MBOF167 Liar Liar 14-9-11 MBOF168 Liar Liar 14-9-11 MBOF169 26 Penangkaran Penangkaran 3 3 08-9-11 MBOF170 Penangkaran Penangkaran 08-9-11 MBOF171 Penangkaran Penangkaran 08-9-11 MBOF172 27 Liar Liar 3 2 07-9-11 MBOF173 Liar Liar 07-9-11 MBOF174 Keterangan: semua generasi F0 (indukan generasi pertama) di asumsikan liar (berasal dari alam) . No ∑total telur 3 3 3 telur ∑telur menetas 1 1 3 No. kandang 13A 3A 4B 4B 4B 5B 5B 5B 11A 2B 2B 13A 9A Generasi F1 v v v v v v v v Mati usia 1 bulan Mati usia 5 hari v v v v v v v v v 11A 2B Mati usia 1bulan v v 3A 4B Keterangan F2 v v v Mati usia tiga minggu Mati usia 3 minggu Mati usia 3 minggu v v 60 61 Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh data mengenai status induk jalak bali yang tidak terdeteksi sehingga diasumsikan bahwa rata-rata status induk berasal dari alam (liar). Namun, ada beberapa induk yang berasal dari penangkaran MBOF seperti pada nomor ring MBOF 132 dan MBOF 135. Jumlah telur yang dihasilkan rata-rata 2 – 3 butir dan jumlah telur yang menetas berkisar antara 1 – 2. Telur jalak bali memilki kisaran waktu bertelur hingga kurang lebih 15 hari. Generasi kedua yang dihasilkan oleh jalak bali di MBOF berjumlah dua ekor yaitu pada nomor ring MBOF 132 dan MBOF 135 sedangkan sisanya adalah generasi pertama. Ring (cincin) merupakan suatu penanda bahwa jalak bali tersebut merupakan hasil dari penangkaran di MBOF. Pemakaian ring pada jalak bali diberikan sejak masih piyik yang dipasangkan pada kaki burung tersebut. Berikut gambar cincing atau ring yang ada di MBOF (Gambar 28). Gambar 28 Cincin (ring) jalak bali di MBOF. Indukan adalah generasi F0 yang telah banyak bertelur dan menetaskan anak jalak bali. Generasi pertama ini telah banyak diperjualbelikan. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat reproduksi indukan jalak bali di MBOF sehingga jumlah anak yang menetas dan hidup semakin banyak dan tidak tertampung di dalam wilayah penangkaran. Selain itu, juga untuk mencapai generasi F2 diperlukan waktu yang cukup lama dan menunggu usia yang cukup umur untuk kawin. Alasan lainnya adalah MBOF sendiri membutuhkan banyak dana untuk kegiatan pengelolaan di penangkaran. Tahun ini MBOF sudah memulai untuk mengawinkan generasi F1 62 sehingga anakan dari generasi F1 tersebut dapat diperjualbelikan. Beberapa pasang telah berhasil dikawinkan dan cukup umur untuk dikawinkan dan bahkan beberapa jalak bali generasi F2 telah hidup tumbuh dengan sehat. Namun menurut Sukamntoro et al. (2007), jalak bali merupakan Apendiks I CITES yang perdagangannya hanya diizinkan dalam kondisi tertentu saja misalnya untuk kegiatan riset ilmiah. 5.3 Karakteristik Morfologi Penelaahan karakteristik morfologi jalak bali hasil penangkaran yang telah dilakukan meliputi karakteristik morfologi yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Karakteristik yang bersifat kuantitatif meliputi semua ukuran tubuh sedangkan karakteristik yang bersifat kualitatif meliputi semua ciri khas yang terdapat pada jalak bali terutama mengenai warna bulu dan pola pewarnaan pada bulu sayap, warna kulit, warna kelopak sekitar mata, dan warna kaki. 5.3.1 Karakteristik morfologi kuantitatif Penelaahan karakteristik morfologi kuantitatif hanya dilakukan pada jalak bali generasi F1 dan berusia berkisar antara 5 – 12 bulan. Karakteristik morfologi ini dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak lima pasang yang berasal dari kandang pemeliharaan. Berikut hasil karakteristik morfologi yang bersifat kuantitatif (Tabel 18). Tabel 18 Karakteristik morfologi kuantitatif jalak bali jantan dan betina pada lima individu di MBOF No Indikator Sex J B Panjang badan J 2 (cm) B J 3 Panjang ekor (cm) B Panjang sayap J 4 (cm) B Panjang kepala J 5 (mm) B Panjang kaki J 6 (mm) B Panjang paruh J 7 (cm) B J 8 Tinggi paruh (cm) B Keterangan: (J) Jantan; (B) Betina. 1 No. Ring Ind 1 114 116 22,8 21 7 4 13,7 13 5,6 5,4 13,9 12 2 2,2 0,8 0,9 Individu (ulangan) ind 2 ind 3 Ind 4 121 05 42 123 04 09 22,7 26 24 22,8 25,7 25,4 7,3 8,8 7,5 7,2 8,3 7,4 16,9 14,7 16,3 13,5 15,1 15,1 5,5 5,9 6,6 6 6,5 6,2 12,7 13,1 14,6 13,7 13,1 12,6 2,1 2,5 2,4 2,1 2,5 2,8 0,9 0,9 1 0,8 1,1 1 Ind 5 120 119 24,1 22,5 7 7,2 15,6 14,4 5,6 5,3 12,9 11,5 2,4 2,2 0,9 0,8 Rataan 23,92 23,48 7,52 4,82 15,44 14,22 5,84 5,88 13,44 12,58 2,28 2,36 0,9 0,92 63 Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan terhadap lima pasang individu jalak bali, terlihat adanya perbedaan variasi ukuran pada tubuh jalak bali. Hal ini dipengaruhi oleh jenis kelamin dan struktur umur. Secara keseluruhan jalak bali jenis kelamin jantan memilki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan jalak bali jenis kelamin betina begitu juga dengan jalak bali usia lebih tua memilki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan usia jalak bali muda. Struktur umur jalak bali di penangkaran MBOF dapat diketahui berdasarkan urutan nomor ringnya. Semakin kecil nomor ring maka semakin tua usia jalak bali tersebut seperti pada tabel 14 yaitu pada individu 3 nomor ring 04 dan 05 memilki ukuran tubuh yang paling besar dibanding individu lainnya. Berdasarkan tabel 18 dapat terlihat bahwa ukuran-ukuran tubuh dari jantan dan betina jalak bali tersebut bervariasi. Secara umum diketahui pula bahwa ukuran tubuh jalak bali jantan lebih besar dibandingkan dengan betina (Jaya 2006). Meskipun angka-angka tersebut menunjukan variasi, tetapi dari hasil analisis statistik perbandingan rata-rata dari semua komponen ukuran tubuh dengan menggunakan uji t-student menunjukan tidak ada perbedaan yang nyata diantara jenis kelamin jalak bali jantan dan betina tersebut pada selang kepercayaan 95%. Ini berarti bahwa sifat-siafat kuantitatif (ukuran tubuh) jalak bali jantan dan betina tidak berbeda nyata. Berikut tabel uji t-student dengan menggunakan software SPSS (Tabel 19). Tabel 19 Hasil perbandingan jenis kelamin jalak bali di MBOF menggunakan SPSS No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Rata-rata Jantan Betina Standar deviasi Jantan Betina Uji t-student Panjang badan 23,92 23,98 1,33 2,01 0,408 Panjang ekor 7,52 6,82 0,75 1,64 0,868 15,44 14,22 1,27 0,94 1,720 5,84 5,88 0,45 0,55 0,130 Panjang kaki 13,44 12,58 0,79 0,87 1,634 Panjang paruh 2,28 2,36 0,22 0,29 0,496 Tinggi paruh 0,90 0,92 0,07 0,13 0,302 Panjang sayap Panjang kepala Hasil Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak brbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata 64 Berdasarkan hasil perhitungan uji t-student dengan menggunakan SPSS diperoleh hasil bahwa jalak bali jantan dan jalak bali betina tidak berbeda nyata. Parameter ukuran tubuh jalak bali yang di ukur mulai dari panjang badan, panjang ekor, panjang sayap, panjang kepala, panjang kaki, panjang paruh, dan tinggi paruh menujukan hasil tidak berbeda nyata dengan t hitung < t tabel sehingga tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil pengukuran morfologi kuantitatif yang telah dilakukan oleh Masy’ud (1992) diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 20 Perbandingan rataan ukuran tubuh jalak bali jantan dan betina No. Ukuran tubuh Sex MBOF J 239,20 1 Panjang badan (mm) B 234,48 J 154,40 2 Panjang sayap (mm) B 142,20 J 75,20 3 Panjang ekor (mm) B 74,20 J 22,80 4 Panjang paruh B 23,6 J 9,00 5 Tinggi paruh B 9,2 Sumber: Masy’ud (1992); Helvoort et al. (1985). Asal jalak bali Masy’ud 72,60 70,68 198,80 191,53 80,70 76,98 26,00 24,05 9,70 8,63 Helvoort et al. 231,4 217,5 135,9 231,2 80,0 74,1 24,4 23,1 - Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Masy’ud (1992) mengenai penelaahan karakteristik morfologi jika dibandingkan dengan hasil pengukuran parameter tubuh jalak bali di MBOF diperoleh hasil pengukuran yang relatif sama. Dari ke-14 parameter yang diukur, terdapat lima parameter yang sama yaitu panjang tubuh, panjang ekor, panjang sayap, panjang paruh, dan tinggi paruh. Sebagai contoh rataan ukuran panjang total tubuh berdasarkan hasil pengukuran di MBOF sekitar 23,92 cm atau 239,2 mm relatif sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Masy’ud (1992) yang merupakan dari penjumlahan ukuran panjang badan, panjang paruh, dan panjang ekor yaitu sekitar 179,3 mm. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Helvoort et al. (1985) misalnya untuk panjang badan jalak bali jantan di MBOF yaitu 239,2 mm sedangkan hasil pengukuran Helvoort et al. (1985) panjang badan jalak bali jantan yaitu 231,4 mm. Angka tersebut tidak jauh berbeda sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terjadi tekanan inbreeding pada jalak bali di MBOF. 65 5.3.2 Karakteristik morfologi kualitatif Penelaahan karakteristik morfologi yang bersifat kualitatif yang telah dilakukan pada jalak bali di penangkaran MBOF. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh suatu gambaran umum dari ke-5 pasang jalak bali yang dijadikan contoh secara keseluruhan pola bulu ekor pada jalak bali memiliki karaktersitik yang sama yaitu semua ujung ekor jalak bali terdapat bagian yang berwarna hitam sekitar 1 – 2 cm. Menurut Masy’ud (1992) pada semua ujung ekor selalu terdapat warna hitam dengan ukuran sekitar 2 – 3 cm. Bulu sayap jalak bali berwarna putih akan tetapi pada bagian ujung bulu sayap jalak bali terdapat warna hitam sekitar 2 – 3 cm. Berikut gambar sayap jalak bali di MBOF (Gambar 29). Gambar 29 Rentang sayap jalak bali di MBOF. Beberapa karakteristik lainnya yang telah ditelaah pada penelitian ini yaitu warna bulu, warna paruh, warna kaki, warna mata, dan warna daerah sekitar mata semua individu jalak bali menujukan pola warna yang sama dan tidak ditemukan adanya perbedaaan. Paruh berwarna coklat kekuningan dan agak sedikit kehitaman pada ujungnya, bagian kaki berwarna kuning sedangkan pada jalak bali yang baru berusia tiga bulan warna bulu sayap putih agak kotor kehitaman pada bagian tubuhnya, warna mata hitam, dan daerah sekitar mata berwarna biru. Menurut Masy’ud (1992), paruh berwarna coklat kehitaman dengan warna kuning pada ujungnya, kaki dan kulit berwarna kuning, dan warna sekitar mata adalah biru kecoklatan dan hasil dari penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Masy’ud (1992). BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Teknik penangkaran di MBOF (Mega Bird and Orchid Farm) yang terdiri dari sejarah penangkaran, populasi jalak bali, perkandangan, manajemen pakan, perawatan kesehatan, dan teknik reproduksi sudah cukup baik. 2. Tingkat keberhasilan jalak bali di MBOF dapat dikatakan berhasil karena persentase tingkat perkembangbiakan induk jalak bali cukup tinggi pada tahun 2011 yaitu 83,33% dan pada tiga tahun terakhir 66,66%, sedangkan daya tetas telur selama tiga tahun terakhir sebanyak 66,66% dan tingkat kematian anak jalak bali dalam tiga tahun terakhir cukup rendah yaitu sebesar 33,33%. Faktor penentu keberhasilan jalak bali di MBOF yaitu kandang, pakan, dan bibit jalak bali, serta teknik perkembangbiakan. 3. Pada silsilah jalak bali, tidak ditemui adanya jalak bali yang inbreeding dengan nilai koefisien 0 (nol). Namun, terdapat kemngkinan adanya perkawinan saudara tiri dimana jantan indukan sering dilakukan kawin acak dengan indukan betina yang lain sehingga memungkinkan adanya perkawinan saudara tiri dengan nilai koefisien inbreeding sebesar 0,125. Hasil dari penelaahan morfologi dengan membandingkan antara jenis kelamin menggunakan uji t-student diperoleh hasil tidak berbeda nyata. 4. Berdasarkan hasil perbandingan morfologi kuantitaif ukuran jalak bali pada saat penelitian dengan hasil penelitian Masy’ud (1992) tidak jauh berbeda sehingga dapat dikatakan tidak terjadi adanya tekanan inbreeding pada jalak bali di MBOF. 67 6.2 Saran Perlu dilakukan pencatatan secara berkelanjutan mengenai data kelahiran jalak bali dan aspek pendukung lainnya seperti pencatatan silsilah induk, asal usul jalak bali (penangkaran atau alam), dan mutasi (kematian, kelahiran, masuk dan keluar). Selain itu, perlu memasukkan jalak bali jantan dari luar untuk menghindari adanya inbreeding sehingga lebih beranekaragam genotifnya. TEKNIK PENANGKARAN DAN ANALISIS KOEFISIEN INBREEDING PADA JALAK BALI (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM BOGOR, JAWA BARAT BELINDA DWI YUNANTI DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Aji S. 1996. Studi tentang beberapa jenis pakan beo nias dan tingkat palatabilitasnya di penangkaran [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Alikodra HS. 1987. Masalah pelestarian jalak bali. Media Konservasi 3(4). Ariyanto D. 2010. Penangkaran jalak bali di dalam dan di luar habitatnya. www.jendelajalakbali.com.htm. [21 Mei 2011]. Berita Burung. 2010. Jalak bali dilestarikan atau dipunahkan?. http://berita burung.com/?p=289. [02 Juni 2011]. Damanik GS. 1996. Teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah dan di Madiun [skripsi]. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. [Dirjen PHKA] Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2004. 50 Taman Nasional Indonesia. Jakarta: Departmen Kehutanan Gepak HV. 1986. Penangkaran burung jalak bali di Kebun Binatang Surabaya [makalah ilmiah]. Surabaya: Kebun Binatang Surabaya. Ginantra KI, Dalem R, Sudirga SK, Wirayudha G. 2009. Jenis-jenis tumbuhan sebagai sumber pakan jalak bali di Desa Ped, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Bumi Lestari 9(1): 97 – 102. Hartojo P, Suwelo IS. 1985. Upaya pelestarian jalak bali (leucopsar rothschldi). Bogor: Direktorat Perlindungan Hutan dan pelestarian Alam. Hartojo P, Suwelo IS. 1988. Upaya pelestarian jalak bali (Leocopsar rothschildi). Media Konservasi 1(4). Helvoort BE, Soetawidjaya MN, Hartono P. 1985. The roth’schildi mynah (Leucopsar rotshchildi) a case for captive or wild breeding. Cambridge: International council of bird preservation. Helvoort BE, Hartojo P, Soetawidjaya MN. 1986. The rothschild’s mynah (leocopsar rothschildii) a case or wild breeding. ICBP. Cambridge: International council of bird preservation. Helvoort BE. 1988. An attem to a population genetik analisis of the american captive bali starling population. Bali Starling Project III. Gilimanuk. Bali: International Council for Bird Preservation. 69 Isom. 2011. Tips sukses breeding jalak bali. http://www.kicaupantura.co.cc/2011/ 04/penangkaran-jalak-bali.html. [02 Juni 2011]. Jaya BA. 2006. Studi manajemen restocking jalak bali (Leocopsar rothschildii) di pusat penangkran jalak bali Tegal Bunder Taman Nasional Bali Barat [tugas akhir]. Program Diploma III Konservasi Sumberdaya Hutan. Bogor: Departmen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Koswara S. 2011. Serangga Sebagai Bahan Makanan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Lovianti. 1994. Nilai gizi dan palatabilias kroto (larva Oecophylla smaragdina) [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. MacKinnon J. 1989. Fielguide to the bird Java and Bali. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Masyud B. 1992. Penampilan reproduksi dan karakteristik genetik jalak bali [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Masyud B. 2010. Teknik Menangkarkan Burung Jalak di Rumah. Bogor: IPB Press. Noor RR. 2008. Genetika Ternak. Jakarta: Penebar Swadaya. Nurana K. 1989. Studi Teknik penangkaran jalak bali (Leocopsar rothschildi Stresemann 1912) di Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Binatang Surabaya [skripsi]. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Paryanti. 2005. Studi konsumsi pakan burung perkici dagu merah di penangkaran. Pusat penelitian LIPI. Bogor: Bidang Biologi. Prana MS, Oetojo S, Utami EB. 2006. Sukses Menangkar Jalak Bali Untuk Menunjang Pemamfaatan Secara Lestari. Bandung: PD Maju terus Pujiati. 1987. Studi Populasi Jalak Bali (Leocopsar rothschildii) di Taman Nasional Bali Barat [skripsi]. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutatanan Institut Pertanian Bogor. Soemadi W, Mutholib A. 1995. Pakan Burung. Jakarta: Penebar Swadaya. Soemaryoto R, Prayitno. 1999. Agar Burung Selalu Sehat. Jakarta: Penebar Swadaya. 70 Setio P, Takandjandji M. 2007. Konservasi ek-situ burung endemik langka melalui penangkaran. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian; Padang, 20 September 2006. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Konservasi Alam. hlm 47 – 61. Sudarwo Y, Siriwa A. 1999. Ransum Ayam dan Itik. Jakarta: Penebar Swadaya. Sukmantoro W, Irham M, Novarino W, Hasudungan F, Kemp M, Muchtar M. 2007. Daftar Burung Indonesia No. 2. Bogor: Indonesian Ornithologists’ Union. Thohari M, Masyud B, Mansjoer SS, Sumantri C, Muntasib EKS H. Hikmat A. 1991. Studi perbandingan polimorfisme protein jalak bali (Leocopsar rothschildii) hasil penangkaran dari Indonesia, Amerika, dan Inggris [laporan hasil penelitian]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut pertanian Bogor. Thohari M. 1987. Gejala Inbreeding dalam Penangkaran Satwaliar. Media Konservasi 1(4):1 – 10. Thohari M.1987. Upaya Penangkaran Satwaliar. Media Konservasi 1(3): 21 – 26. [TNBB] Taman Nasional Bali Barat. 2009. Pengelolaan penangkaran jalak bali (Leucopsar rothscildi) di Taman Nasional Bali Barat. www.google.co.id./jalak bali.htm. [25 Maret 2011]. [TNBB] Taman Nasional Bali Barat. 2011. Jalak bali. www.tnbalibarat.com. [05 Juni 2011]. Warwick EJ, Astuti JM, Hardjosubroto W. 1984. Pemuliaan Ternak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Yatim W. 1991. Genetika. Bandung: Tarsito. TEKNIK PENANGKARAN DAN ANALISIS KOEFISIEN INBREEDING PADA JALAK BALI (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM BOGOR, JAWA BARAT BELINDA DWI YUNANTI DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 TEKNIK PENANGKARAN DAN ANALISIS KOEFISIEN INBREEDING PADA JALAK BALI (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM BOGOR, JAWA BARAT BELINDA DWI YUNANTI SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 RINGKASAN BELINDA DWI YUNANTI. Teknik Penangkaran dan Analisis Koefisien Inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi Stresseman 1912) di Mega Bird and Orchid Farm, Bogor, Jawa Barat. Dibimbing oleh BURHANUDDIN MASY’UD dan LIN NURIAH GINOGA. Jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan satwa endemik Pulau Bali. Jalak bali di alam mengalami penurunan sehingga telah dinyatakan langka dan terancam punah. Terbukti dengan di cantumkan jalak bali dalam Red Data Book oleh IUCN dengan kategori critical endangered dan Appendix I CITES. Terancamnya populasi jalak bali di alam menyebabkan perlu adanya upaya konservasi. Upaya konservasi tersebut adalah penangkaran atau konservasi exsitu. Salah satu penangkaran jalak bali yang telah berhasil yaitu penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF). Perhitungan koefisien inbreeding perlu dilakukan terhadap jalak bali hasil penangkaran untuk mempertahankan kemurnian genetiknya dan pengukuran morfologi untuk mengetahui keberadaan tekanan inbreeding. Penelitian dilaksanakan di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) Bogor, Jawa Barat. pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2011. Jenis data terdiri dari data primer dan data sekunder. Teknik penangkaran dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif, sedangkan analisis koefisien inbreeding secara kuantitatif dan perbandingan ukuran tubuh jenis kelamin dengan uji t-student menggunakan SPSS 16.0. Selain itu dilakukan perbandingan ukuran tubuh dengan hasil penelitian terdahulu secara deskriptif sedangkan untuk karakteristik morfologi kualitatif dianalisis secara deskriptif. Penangkaran jalak bali di MBOF dimulai pada tahun 1996 dengan populasi sebanyak tiga pasang yang berasal dari sumbangan Taman Safari I Cisarua Bogor, dari penjual burung dan pencinta burung. Populasi jalak bali sampai dengan Oktober 2011, yaitu sebanyak 91 ekor. Jenis kandang yang ada di MBOF terdiri dari kandang peraga, kandang reproduksi, kandang pemeliharaan dan inkubator. Pakan yang diberikan pada jalak bali pisang kepok, pur, jangkrik dan kroto. Rata-rata jumlah konsumsi tertinggi yaitu jangkrik sebesar 15,18 g/ekor/hari dan tingkat palatabilitasnya 59,22%. Kebutuhan protein jalak bali di MBOF yaitu sebesar 11,48 % dan kebutuhan kalorinya sebesar 1909,0 Kkal. Jenis penyakit yang pernah di derita jalak bali di MBOF yaitu katarak, cacar pada kaki, flu, dan sakit mata. Presentase dan kriteria keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF yaitu daya tetas telur tinggi (66,66%), angka kematian sedang (33,33%) dan tingkat perkembangbiakan tinggi (63,88%). Analisis koefisien inbreeding diperoleh nilai 0 karena tidak ada individu yang inbreeding, akan tetapi terdapat kemungkinan adanya perkawinan saudara tiri dengan nilai koefisien inbreeding 0,125. Karakteristik morfologi kuantitatif diperoleh hasil tidak berbeda nyata untuk semua peubah yang diukur dan berdasarkan hasil perbandingan morfologi dengan penelitian Masy’ud (1992) dan Helvoort et al. (1985) tidak berbeda jauh sehingga dapat dikatakan belum terjadi tekanan inbreeding pada jalak bali di MBOF. Kata kunci : jalak bali, koefisien inbreeding, penangkaran. SUMMARY BELINDA DWI YUNANTI. Captive Breeding Technique dan Inbreeding Coefficient Analysis to Bali Starling (Leucopsar rothschildi Stresseman 1912) In Mega Bird and Orchid Farm Bogor, West Java. Under Supervision of BURHANUDDIN MASY’UD and LIN NURIAH GINOGA. Bali starling (Leucopsar rothschildi) is an endemic species of Bali Island which needed to be preserved. It’s population in the nature had decreased that the species stated as rare and endangered. It had been include in the criticaly endangered category of the Red Data Book and also included in the Appendix 1 CITES. The condition required conservation efforts. Captivity bread in ex-situ conservation. Was one of the effort to conserve bali starling. Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) was one of the captive breeding effort which succeed in breeding bali starling. Calculation of inbreeding coefficient should be done forward bali starling bred in the farm in order to maintain it’s genetic purity. Morphological measurement should also be done to identify inbreeding pressure. Research was held in Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) on June until October 2011. The data type used was consisted of primary and secondary data. The data of techniques captive breeding was analyzed descriptive and quantitative analysis, inbreeding coefficient was quantitative analysis. Analysis using t-student test was also employed in compary body size of female and male bali starling, The test was conducted using SPSS 16.0. Descriptive analysis was also conducted compary data of body size in this research with data in previous research and qualitative morfological characteristic of bali starling. Captive breeding of bali starling in MBOF began in 1996 with three pairs of bali Starling origineted from Safari Park I Cisarua Bogor, from the bird seller and the bird lovers. There were 91 individual of bali starling up to Oktober 2011. The kind of cage in MBOF consisted of display cage, maintenance cage, reproduction cage and incubator. The feed given to the bali Starling were banana, voer, crickets, and kroto (ant’s egg). The average number of highest consumption was crickets 15.18 g/tail/day and the palatability of 59.22 %. Each individual of bali starling in MBOF needed 11.48% protein and1909.0 kcal/day. Types of diseases that had attacted in the bali Starling MBOF were cataracts, smallpox on foot, flu (influenza) and sore eyes. Percentage and criteria captive breeding success of bali starling were high egg hatching rate (66.66%), moderate mortality (33.33%) and reproduction level high (63.88%) . The analysis of inbreeding coefficient should a result of 0 value, which ment that there was not any occurrence of inbreeding. However, there was a possibility of helf sibling marriage with inbreeding coefficient value of 0.25. There was not any significant different between quantitatif morphological characteristic of the male and female body size. There was any significant difference between the data of morfological characterstic current research the previous once conducted by Masy’ud (1992) and Helvoort et al. (1985) which ment that there had not been any inbreeding pressure to bali starling in MBOF. Key words : bali starling, inbreeding coefficient, captive breeding PERNYATAAN Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Teknik Penangkaran dan Analisis Koefisien Inbreeding pada Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) di Mega Bird and Orchid Farm Bogor, Jawa Barat adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Januari 2012 Belinda Dwi Yunanti NIM. E34070021 : Teknik Penangkaran dan Analisis Koefisien Inbreeding pada Judul Skripsi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat. Nama : Belinda Dwi Yunanti NIM : E34070021 Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, MS Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si NIP. 19581121 198603 1 003 NIP. 19651116 199203 2 001 Mengetahui, Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP. 19580915 198403 1 003 Tanggal Lulus : KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan ridho-Nya, penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian yang berjudul Teknik Penangkaran dan Analisis Koefisien Inbreeding pada Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) di Mega Bird and Orchid Farm Bogor, Jawa Barat. Jalak bali merupakan satwa endemik dan langka dikarenakan banyaknya peminat burung ini. Keunikan dan keindahan bentuk morfologisnya menyebabkan banyak dilakukan perburuan sehingga populasinya semakin menurun. Kondisi habitat yang rusak dan ketersediaan pakan yang terbatas menyebabkan populasi di alam semakin menurun. Penangkaran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangbiakkan jenis ini dengan tujuan untuk memperbanyak populasi dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Selain teknik penangkaran juga perlu dilakukan perhitungan koefisien inbreeding agar tetap terjaga kemurnian genetiknya. Salah satu cara untuk menentukan koefisien inbreeding adalah dengan mempelajari studbook atau buku silsilah dan diperlukan pengukuran morfologi untuk mengetahui keberadaan tekanan inbreeding di MBOF. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan studbook. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan berguna sebagai data dan masukan kepada penangkaran-penangkaran jalak bali yang ada di Indonesia, khususnya di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm. Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penelitian ini, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Bogor, Januari 2012 Penulis RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Karawang, Jawa Barat pada tanggal 18 Juni 1989. Penulis merupakan putri kedua dari (alm) Burhanudin Dwi Nugroho dan Dra. Ratnaningsih. Pendidikan formal penulis yang telah ditempuh yaitu pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 01 Menes pada periode tahun 1995 – 2001, kemudian penulis melanjutkan ke pendidikan SMP Negeri 01 Menes periode tahun 2001 – 2004, dan melanjutkan ke pendidikan SMA Negeri 4 Pandeglang periode tahun 2004 – 2007. Pada tahun 2007, penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan masuk dalam mayor departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan. Selama kuliah di Fakultas Kehutanan IPB, penulis aktif mengikti kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) dan menjadi anggota Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH). Selain itu, mengikuti organisasi International Forestry Student Assosiation (IFSA) Fakultas kehutanan IPB periode 2008 – 2009. Selama aktif di HIMAKOVA, penulis mengikuti kegiatan Eksplorasi Flora dan Fauna (RAFFLESIA) di Cagar Alam Rawa Danau dan mengikuti kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) di Taman Nasional Manupeu Tanadaru, Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 2009, penulis mengikuti Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan dan Cagar Alam Sancang Barat. Pada tahun 2011, penulis mengikuti Praktek Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) dan melakukan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Teknik Penangkaran dan Analisis Koefisien Inbreeding pada Jalak Bali (Leucosar rothschildi Stresemann, 1912) di Mega Bird and Orchid Farm Bogor, Jawa Barat” dibimbing oleh Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, MS dan Ir. Lin Nuriah Ginoga M.Si. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dengan selesainya penulisan skripsi ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Orang tua tercinta Ayahanda (Alm) Burhanudin, Ayahanda Rohani Priatna dan Ibunda Ratnaningsih dan juga kepada Bapak dan Ibu mertuaku Papa Samik Rufiadi dan Mama Sumiwarti serta seluruh keluarga tercinta atas doa restu dan dorongannya selama penelitian baik secara moral maupun materi. 2. Suami tercinta Angga Prayana dan anak tecinta Anabela Devi Salsabila atas motivasi dan dukungannya serta perhatian selama penelitian hingga terselesaikannya skripsi ini. 3. Bapak Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, MS dan Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si sebagai dosen pembimbing atas bimbingan, saran, dan nasehat serta kesediaan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis selama penelitian hingga skripsi ini terselesaikan dengan baik. 4. Bapak Dr. Ir. Trisna Priadi, M.Eng.Sc. selaku dosen penguji atas masukan dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini. 5. Bapak Dr. Ir. Agus Priyono Kartono, M.Si. selaku ketua sidang yang telah memberikan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini. 6. Bapak Drs. H. Megananda Daryono, MBA, Bapak Supriyanto Akdiatmojo, Mas Gareng, dan seluruh staff pengelola di MBOF atas bantuan dan dukungannya selama penelitian. 7. Sahabat selama penelitian Anindya Gitta atas bantuannya selama penelitian dan mengolah data penelitian serta dukungan dan motivasinya. 8. Nayunda Pradma, Brigitta Prita, Gita Oktarina, dan Choirunnisa, atas bantuan selama penelitian dan mengolah data penelitian beserta keluarga besar VILLA CEMPAKA, Diena Fatimah, Adam, Resi Nurlinda, Nindi, Mbak Ratna, Anisa Morinda, dan Riski atas dukungan dan motivasinya. 9. Keluarga besar KSHE “KOAK” yang tercinta, Vianti, Dinar, Fitrotul, Indah, Meli, Ari, Windy, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas dukungan dan motivasinya. 10. Saudara-saudara tercinta BEP-AWW, Widy, Esta, Wenes, Pirka, dan Anggi atas dukungan dan motivasinya, serta bantuannya selama penelitian. 11. Semua pihak yang membantu terselesaikannya dari awal pembuatan proposal, penelitian hingga pembuatan skripsi ini. v DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................... v DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... x PENDAHULUAN ........................................................................... 1 BAB I 1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1 1.2 Tujuan .......................................................................................... 3 1.3 Manfaat ........................................................................................ 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 4 2.1 Klasifikasi dan Morfologi ............................................................ 4 2.2 Habitat dan Penyebaran ............................................................... 5 2.3 Populasi ....................................................................................... 5 2.4 Sistem Penangkaran ..................................................................... 6 2.5 Penangkaran Jalak Bali ................................................................ 7 2.6 Aspek Teknik Penangkaran ......................................................... 8 2.7 Inbreeding .................................................................................... 12 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 15 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ....................................................... 15 3.2 Alat dan Bahan ............................................................................ 15 3.3 Jenis dan Motede Pengumpulan Data .......................................... 15 3.4 Analisis Data ................................................................................ 19 BAB IV KONDISI UMUM .......................................................................... 26 4.1 Sejarah Kawasan .......................................................................... 26 4.2 Tujuan dan Manfaat ..................................................................... 26 4.3 Letak dan Luas Kawasan ............................................................. 26 4.4 Kondisi Biologi ............................................................................ 27 4.5 Struktur dan Organisasi Kepegawaian ........................................ 28 4.6 Aksesibilitas ................................................................................. 28 vi BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 29 5.1 Teknik Penangkaran .................................................................... 29 5.2 Analisis Koefisien Inbreeding ..................................................... 54 5.3 Karakteristik Morfologi ............................................................... 62 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 66 6.1 Kesimpulan .................................................................................. 66 6.2 Saran ............................................................................................ 67 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 68 LAMPIRAN ..................................................................................................... 71 vii DAFTAR TABEL No Halaman 1 Perbedaan penangkaran budidaya dan konservasi ....................................... 7 2 Ciri-ciri morfologi yang membedakan jenis kelamin jalak bali.................... 3 Jenis dan ukuran kandang penangkaran jalak bali ....................................... 11 4 Jenis data dan metode pengumpulan data .................................................... 15 5 Nilai perhitungan koefisien inbreeding pada individu X ............................. 23 6 Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF .................................... 27 7 Populasi jalak bali tahun 2011 berdasarkan kelas umur dan jenis kelamin .. 30 8 Jenis, konstruksi, dan ukuran kandang jalak bali di MBOF ........................ 32 9 Jenis dan fasilitas kandang jalak bali di penangkaran MBOF ...................... 35 9 10 Jenis dan jumlah pakan yang diberikan perpasang jalak bali di penangkaran .............................................................................................. .. 40 11 Rata-rata jumlah konsumsi dan tingkat palatabilitas ................................... 41 12 Kandungan gizi pakan jalak bali .................................................................. 43 13 Kebutuhan pakan jalak bali di MBOF .......................................................... 46 14 Riwayat penyakit yang pernah diderita jalak bali di MBOF......................... 47 15 Persentase daya tetas telur, tingkat perkembangbiakan, dan angka kematian jalak bali tiga tahun terakhir di MBOF ......................................................... 52 16 Persentase dan kriteria tingkat keberhasilan jalak bali di MBOF ................ 53 17 Data studbook jalak bali di penangkaran MBOF (Maret-Agustus 2011) .... 59 18 Karakteristik morfologi kuantitatif jalak bali jantan dan betina pada lima individu di MBOF ........................................................................................ 62 19 Hasil perbandingan jenis kelamin jalak bali di MBOF menggunakan SPSS ............................................................................................................. 63 20 Perbandingan rataan ukuran tubuh jalak bali jantan dan betina ................... 64 viii DAFTAR GAMBAR No Halaman 1 Jalak bali (Leucopsar rothschildi) jantan dan betina ................................... 5 2 Anakan jalak bali .......................................................................................... 10 3 Pengukuran panjang total tubuh .................................................................... 17 4 Pengukuran panjang sayap ........................................................................... 18 5 Pengukuran pajang kepala ............................................................................ 18 6 Pengukuran panjang ekor ............................................................................. 18 7 Pengukuran panjang paruh ........................................................................... 18 8 Pengukuran panjang kaki ............................................................................. 19 9 Pengukuran tinggi paruh .............................................................................. 19 10 (a) Silsilah suatu individu X, (b) aliran gen individu X ............................... 22 11 Lokasi Mega Bird and Orchid Farm .......................................................... 27 12 Pertumbuhan populasi jalak bali di MBOF selama lima bulan terakhir tahun 2011 ................................................................................................... 31 13 Kandang peraga jalak bali di MBOF .......................................................... 33 14 Kandang reproduksi jalak bali di MBOF .................................................... 33 15 Kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF................................................. 34 16 Inkubator piyik jalak bali di MBOF ............................................................ 34 17 Tempat makan dan tempat minum sekaligus mandi jalak bali di MBOF .... 35 18 Kotak sarang jalak bali di MBOF ............................................................... 36 19 Suhu udara di sekitar kandang jalak bali di MBOF .................................... 37 20 Kelembaban sekitar kandang jalak bali di penangkaran MBOF .................. 39 21 Pakan jalak bali (pur dan pisang kepok) di MBOF ...................................... 41 22 Pakan jalak bali (kroto dan jangkrik) .......................................................... 42 23 Obat-obatan dan multivitamin jalak bali di MBOF .................................... 48 24 Pasangan jalak bali di kandang reproduksi (A) jantan dan (B) betina ........ 49 25 Piyik jalak bali di MBOF ............................................................................ 52 26 Silsilah dan diagram panah hasil perkawinan tidak ada hubungan saudara. 55 27 Silsilah dan diagram panah hasil perkawinan antar saudara tiri ................. 57 28 Cincin (ring) jalak bali di MBOF ............................................................... 61 29 Rentang sayap jalak bali di MBOF ............................................................. 65 ix DAFTAR LAMPIRAN No Halaman 1 Jumlah konsumsi dan palatabilitas pada kandang pertumbuhan ................ 72 2 Jumlah konsumsi dan palatabilitas kandang reproduksi ............................ 73 3 Kebutuhan pakan pada kandang pertumbuhan .......................................... 75 4 Silsilah jalak bali F2 dan perhitungan analisis koefisien inbreeding ......... 76 5 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk dan angka kematian (tahun 2011) ..................................................................... 80 6 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk, dan angka kematian (tahun 2010) ..................................................................... 81 7 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk, dan angka kematian (tahun 2009) ..................................................................... 82 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan jenis burung dari famili Sturnidae yang hanya terdapat di Indonesia yaitu di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Populasinya di alam dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan sehingga telah dinyatakan langka dan terancam punah. Selain itu, jalak bali telah mendapatkan perhatian serius bagi usaha pelestarian dalam peningkatan populasinya. Penurunan populasi ini disebabkan adanya perburuan secara liar oleh manusia dan gangguan pada habitat alaminya berupa penebangan pohon yang menyebabkan rusak atau hilangnya sarang tempat tinggal burung ini. Penebangan pohon ini juga menyebabkan berkurangnya pohon-pohon penghasil pakan bagi burung (Damanik 1996). Berdasarkan data terakhir tahun 2006, jumlah populasi jalak bali di alam yaitu sebanyak enam ekor (TNBB 2009). Terancamnya kehidupan jalak bali telah mendapat perhatian dari dunia internasional. Menurut Sukmantoro et al. (2007), nama jalak bali tercantum dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kategori kritis (Critical endangered) serta memasukkan jalak bali ke dalam Red Data Book yaitu buku yang memuat daftar jenis flora dan fauna yang terancam punah. Dalam konvensi perdagangan internasional CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) jalak bali terdaftar dalam Appendix I yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/70 tanggal 26 Agustus 1970 yang menerangkan bahwa burung jalak bali dilindungi oleh Undang-Undang. Terancamnya populasi jalak bali di alam menyebabkan perlu adanya upaya konservasi agar keberadaan jalak bali di alam tetap lestari. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan penangkaran atau konservasi ex-situ. Tujuan usaha pelestarian (konservasi) jalak bali yang dikembangkan melalui program penangkaran adalah untuk meningkatkan populasi jalak bali dengan tetap menjaga 2 kemurnian genetiknya (Masy’ud 1992). Penangkaran secara ex-situ dilakukan dengan cara memanipulasi pakan, lingkungan, dan kebutuhan lain dari satwa yang ditangkarkan sehingga satwa tersebut mampu berkembangbiak dengan baik. Salah satu penangkaran jalak bali yang telah berhasil yaitu penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan dengan pihak pengelola penangkaran MBOF, jalak bali di penangkaran tersebut pada awalnya hanya berjumlah tiga pasang dengan jumlah telur yang dihasilkan 2 – 4 butir telur tiap satu kali reproduksi. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengetahuan mengenai teknik penangkaran yang merupakan salah satu kunci yang memegang peranan penting dalam usaha pelestarian populasi jalak bali. Teknik penangkaran dan analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari penangkaran jalak bali di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) sangat diperlukan. Faktor penentu keberhasilan diperlukan mengingat jumlah populasi jalak bali di alam sangat terbatas, maka keberhasilan suatu penangkaran merupakan suatu keharusan. Dalam usaha penangkaran, kualitas bibit akan mempengaruhi variasi genetik hal ini berkaitan erat dengan kualitas keturunan yang akan dihasilkan untuk mempertahankan variasi genetik. Hasil penangkaran jalak bali perlu dilakukan perhitungan “koefisisen inbreeding” pada calon-calon pasangan. Koefisien silang dalam (inbreeding) digunakan untuk mengukur peningkatan homozigositas suatu individu akibat silang dalam dan mengukur penurunan derajat heterozigositas suatu individu relatif terhadap tetua bersamanya. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi penangkaran untuk mengetahui perihal koefisisen inbreeding agar dapat dilakukan pengaturan perkawinan dengan tepat sehingga dapat mengurangi tingkat inbreeding di penangkaran. Selain itu, untuk mengetahui ada atau tidaknya tekanan inbreeding pada jalak bali di penangkaran MBOF dengan dilakukan penelaahan karakteristik morfologi (genetik). 3 1.2 Tujuan Tujuan penelitian adalah: 1. Mengidentifikasi teknik penangkaran jalak bali yang ada di MBOF. 2. Mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan dalam menangkarkan jalak bali di MBOF. 3. Menganalisis hubungan kekerabatan atau silsilah dengan menggunakan diagram pohon pada jalak bali di MBOF. 4. Menghitung koefisisen inbreeding dan mengukur karakteristik morfologi jalak bali untuk mengidentifikasi keberadaan inbreeding depression pada jalak bali di MBOF. 1.3 Manfaat Hasil penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) diharapkan dapat dijadikan suatu informasi bagi upaya pengembangan penangkaran jalak bali khususnya di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm, Bogor, Jawa Barat dan sebagai dasar dalam penyusunan studbook (buku silsilah) jalak bali. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Jalak Bali Jalak bali tergolong dalam jenis burung berkicau. Dalam bahasa Bali diberi nama Curik putih atau Curik bali sedangkan dalam bahasa asing diberi nama White starling, White minah, Bali minah, Bali starling, dan Rotschild’s minah (Alikodra 1987). Klasifikasi jalak bali menurut Stersemann (1912) dalam Alikodra (1987) adalah Phyllum: Chordata, Class: Aves, Ordo: Passeriformes, Famili: Sturnidae, Genus: Leucopsar, Species: Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912. Berdasarkan laporan TNBB (2011), ciri-ciri morfologis jalak bali yang khas adalah sebagai berikut: 1. Bulunya 90% berwarna putih bersih hanya pada ujung bulu sayap dan bulu ekornya ditemukan warna hitam dengan lebarnya lebih kurang 25 mm. 2. Pelupuk matanya berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing dengan panjang 2 – 5 cm dengan bentuk yang khas pada bagian atasnya terdapat peninggian yang memipih tegak, dan rahangnya berwarna abu-abu kehitaman. 3. Burung jantan bentuknya lebih indah mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih. 4. Jalak bali mempunyai kaki berwarna biru abu-abu dengan empat jari jemari (1 ke belakang dan 3 ke depan). 5. Ukuran jalak bali jantan dan betina sulit dibedakan namun secara umum jalak bali jantan lebih besar dan memiliki kuncir yang lebih panjang. Jalak bali jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 1. 5 Gambar 1 Jalak bali (Leocopsar rotchildii) jantan dan betina (Sumber: Isom 2011). 2.2 Habitat dan Penyebaran Penyebaran populasi jalak bali pada masa lampau menurut IUCN (1966) mencapai daerah Bubunan, sekitar 50 km sebelah timur kawasan Taman Nasional Bali Barat. Menurut Hartojo dan Suwelo (1988), penyebaran perkiraan populasi jalak bali pada akhir tahun 1984 hanya tinggal di kawasan Taman Nasional Bali Barat yaitu di hutan-hutan Tegal Bunder, Prapat Agung, Batu Licin, Lampu Merah, Teluk Kelor, Tanjung Gelap, Banyuwedang, dan Cekik. Habitat yang disukai oleh jalak bali seperti hutan mangrove, hutan rawa, dan hutan musim dataran rendah (Alikodra 1987). Hasil pengamatan yang dilakukan tim ICBP dan Dirjen PHKA menunjukan bahwa penyebaran jalak bali hanya ada di Taman Nasional Bali Barat dengan jumlah populasi yang sangat terbatas di sebelah Utara jalan yang membelah kawasan Taman Nasional Bali Barat dari Gilimanuk sampai ke Singaraja (Hartojo dan Suwelo 1988). 2.3 Populasi Perkembangan populasi jalak bali di Taman Nasional Bali Barat dari tahun ke tahun terus menurun bahkan mencapai kondisi kritis. Tahun 1977 diperkirakan sejumlah 210 ekor (Alikodra 1978) kemudian menurun menjadi 104 ekor pada tahun 1984 (Helvoort et al. 1985), dan tahun 1986 oleh Pujiati (1987) memperkirakan sejumlah 54 ekor. Pada tahun 1989 Ballen dan Sutawidjaja (1990) memperkirakan populasi tidak lebih dari 25 ekor dan dalam perkiraan yang 6 dilakukan oleh tim bali starling project bulan Oktober 1990 menunjukan keadaan populasi yang sangat kritis yaitu sekitar 13 – 18 ekor (Taman Nasional Bali Barat 1991). Data pada bulan Desember 2006, populasi di alam liar tercatat hanya tersisa sebanyak enam ekor (Taman Nasional Bali Barat 2009). 2.4 Sistem Penangkaran Penangkaran merupakan kegiatan untuk mengembangbiakan jenis-jenis satwaliar dan tumbuhan alam yang bertujuan untuk memperbanyak populasi dengan mempertahankan kemurnian jenis sehingga kelestarian dan keberadaannya di alam tetap terjaga yang meliputi kegiatan pengumpulan bibit, pengembangbiakan, memelihara, membesarkan, dan restocking yang bertujuan untuk melestarikan satwaliar dan tumbuhan alam maupun memperbanyak populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Thohari 1987). Suwelo (1988) membagi sistem penangkaran menjadi intensif dan ekstensif. Intensif mengarah pada menternakan satwaliar (game farming) sedangkan ekstensif mengarah pada pemeliharaan satwaliar (game ranching). Ciri intensif yaitu semua sarana dan prasarana disediakan oleh pengelola seperti kebun binatang. Sistem ini mengandalkan kerja manusia seperti memberi makanan dan minuman. Ciri ekstensif yaitu hanya menyediakan atau menanam hijauan. Sistem ekstensif ini dapat dilakukan pada habitat dimana jenis tersebut berkembang misalnya pada taman buru atau dapat pula pada tempat yang berpagar tetapi dalam tempat berpagar tersebut tidak ada bangunan atau dibuat sedikit mungkin bangunan buatan manusia. Berdasarkan tujuannya, penangkaran dibagi menjadi dua yaitu penangkaran untuk budidaya dan penangkaran untuk konservasi (Helvoort et al. 1986). Perbedaan antara penangkaran untuk tujuan budidaya dengan untuk tujuan konservasi dapat dilihat pada Tabel 1. 7 Tabel 1 Perbedaan antara penangkaran untuk budidaya dan konservasi Aspek Obyek Sasaran Manfaat Jangka waktu Metode Budidaya Beberapa individu dan ciri-cirinya Ras (Varietas, forma) Jumlah Individu total yang dimanipulasikan (N) terbatas Domestikasi Perubahan, dalam arti mencaiptakan ras,forma Komersial ( terutama segi kuantitas) Terkurung untuk selama-lamanya. Memenuhi kebutuhan material (protein, kulit dan lain-lain) (memenuhi kebutuhan batin dan sosial (burung berkicau, anjing kesayangan) Pendek sampai sedang (1-250 tahun) Konservasi Suatu populasi dan ciri-cirinya Jenis/anak jenis Terapkan teknologi reproduksi (IB, IVF, TE, dll) Mempertahankan sex ratio Jumlah mau kawin ditingkatkan Jaga keturunan tidak didominasi Penentuan pasangan diatur Pasangan acak Kembangkan galur murni inbreeding; lakukan mutasi gen Sumber : Helvoort et al. 1986  Jumlah total individu (N) besar Realease Tidak merubah jenis Non komersial Pengembalian kepada alam asli Memepertahankan stabilitas ekosistem Meningkatkan nilai keindahan alam Selama-lamanya Hindari inbreeding & mutasi gen Dalam melakukan usaha-usaha kegiatan penangkaran terdapat beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan yaitu (Soedharma 1985): 1. Mencari tempat penangkaran yang cocok untuk dapat dilakukan dengan baik ditinjau dari lokasi untuk pelepasan kembali ke alam dan pemanfaatan bibit untuk kepentingan usaha. 2. Mengetahui dengan benar ketersediaan di alam dan status populasi di alam. 3. Kesiapan teknologi yang sudah dikuasai untuk penangkaran agar bisa berhasil. 4. Kesiapan perangkat kebijaksanaan sistem pengendalian pengawasan. 5. Faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat setempat yang akan terlibat di dalamnya. 2.5 Penangkaran Jalak Bali Penangkaran jalak bali merupakan upaya yang harus dilakukan untuk menaggulangi punahnya jalak bali di alam. Pelepasan ke alam hasil penangkaran jalak bali (restocking) akan berhasil menambah populasi di alam apabila sebab- 8 sebab yang pada awalnya telah mengakibatkan kemerosotan populasi jalak bali sudah ditanggulangi dengan baik (Helvoort et al. 1986). Beberapa penangkaran jalak bali yang sudah ada seperti di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah, penangkaran jalak bali UD. Safari Bird Farm di kabupaten Jombang, dan penangkaran di Tegal Bunder, Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Perkembangan penangkaran di Tegal Bunder TNBB pada beberapa tahun terakhir terlihat mengalami penurunan yang merupakan hasil sumbangan dari KBS dan TSI (Taman Safari Indonesia) I Cisarua serta hasil sitaan maupun anak yang dihasilkan seluruhnya berjumlah 284 ekor dan pada tahun 2006 tersisa sekitar 70 ekor. Hal tersebut disebabkan antara lain kurang gencarnya penelitian tentang pengembangan penangkaran dari pihak terkait, sehingga para petugas hanya memiliki pengetahuan yang terbatas dalam pengelolaan penangkaran tersebut dan kematian satwa dalam penangkaran di TNBB tersebut cukup memprihatinkan (Aryanto 2010). 2.6 Aspek Teknik Penangkaran 2.6.1 Perkembangbiakan Jalak bali termasuk burung yang terbang secara bergerombol pada saat musim kawin (antara bulan November sampai dengan bulan April sedangkan di penangkaran terjadi sepanjang tahun) dan dalam mencari makan (Helvoort et al. 1988). Hartojo dan Suwelo (1985) mengatakan musim kawin terjadi pada bulan Januari sampai dengan April/Mei. Menurut Gepak (1986), masa breeding burung jalak bali di habitatnya pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret. Perbedaan musim kawin diduga berhubungan dengan tersedianya makanan dalam jumlah cukup bagi jalak bali pada musim breeding tersebut. Musim breeding ini agak berbeda dengan penangkaran burung jalak bali di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Jalak bali di KBS dapat bertelur setiap saat. Setiap bertelur dapat menelur 2 – 4 butir. Setiap pasang induk paling banyak hanya mampu membesarkan dua ekor burung. 9 Jalak bali jantan dan betina sulit dibedakan kecuali melalui perilaku pada saat birahi dan hal tersebut tidak pasti 100% (Helvoort et al. 1985). Sangat sulit dilakukan pembakuan kriterianya hanya para pakar dan penggemar burung yang telah lama menangani jalak bali yang dapat menentukan jenis kelamin. Kriteriakriteria alam yang dipakai para pakar yaitu melalui ciri-ciri khas yang dimiliki tiap jenis kelamin tersaji dalam Tabel 2. Tabel 2 Ciri-ciri morfologi yang membedakan jenis kelamin jalak bali Ciri Morfologi Kepala Daerah sekitar mata Ukuran tubuh Jambul Jenis Jantan Lebih besar dan bentunya panjang Warna lebih gelap dan permukaannya lebih kasar Lebih besar dan gagah Lebih panjang dan hampir merupakan kuncir Jenis Betina Lebih kecil dan bentuknya cenderung bulat Warna lebih terang dan permukaannya lebih halus Lebih ramping Relatif lebih pendek dan datar Sumber: Jaya 2006 Jalak bali memiliki sifat monogamus yaitu sex ratio jantan dan betina adalah 1:1. Selama melakukan perkawinan jalak bali tidak boleh merasa terganggu karena akan mengakibatkan gagalnya perkawinan tersebut. Oleh karena itu, pada saat melangsungkan perkawinan, kandang harus tertutup dan bebas gangguan (Jaya 2006). Pada musim kawin, jalak bali jantan sering mengejar betina dan mencoba mengusir jantan yang lain dan jika terjadi kecocokan maka antara keduanya sering berdekatan. Pada saat bercumbu jambul yang panjang pada jantan terlihat ditegakan dan diturunkan sambil berkicau (MacKinnon 1989). Ciri-ciri jalak bali yang akan bertelur antara lain frekuensi masuk ke sarang baik jantan maupun betina relatif tinggi dibanding biasanya dan sering membawa ranting-ranting kering atau rumput masuk kedalam sarang sebagai alas sarang (Nurana 1989). Jalak bali bertelur antara dua sampai tiga butir dalam satu kali reproduksi (MacKinnon 1989). Telur jalak bali berwarna kebiru-biruan, berbentuk bulat panjang (oval), rata-rata berukuran panjang 30,8 mm dan lebar 22,3 mm dengan bobot 8,2 gram (Sieber 1983 dalam Helvoort et al. 1986). Lama pengeraman telur berlangsung rata-rata 11 – 14 hari (Nurana 1989). Di tempat penangkaran, pengeraman telur dimulai pada waktu telur pertama kali dihasilkan (Sieber 1983 dalam Helvoort et al. 1986). Lama pengasuhan anak di penangkaran kurang lebih selama satu bulan. Apabila lebih dari satu bulan anak jalak bali belum dipisahkan dengan induknya maka anak jalak bali tersebut 10 dipatuki induknya terutama oleh jantannya bahkan dapat menyebabkan anak burung tersebut mati. Naluri yang mendorong induk untuk menyapih anaknya diduga karena induknya mulai birahi. Dugaan ini berdasarkan data perkembangbiakan jalak bali. Jika anak sudah disapih, 1 – 2 minggu kemudian induknya bertelur kembali (Nurana 1989). Anakan jalak bali dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Anakan jalak bali (sumber: berita burung 2010). 2.6.2 Pakan Makanan jalak bali berupa buah-buahan, biji-bijian, dan serangga (MacKinnon 1989). Makanan alaminya seperti tembelekan (Lantana camara) dan macam-macam serangga (capung, belalang, dan ulat). Di tempat penangkaran, pakan yang umum diberikan adalah pepaya, pisang, telur serangga (kroto), tulang cumi-cumi, dan ulat hongkong (Nurana 1989). 2.6.3 Kandang Kandang untuk penangkaran jalak bali dapat ditempatkan pada suatu areal yang cukup luas, yang penting harus mempertimbangkan kondisi alami dari jenis burung jalak bali tersebut. Untuk menjamin keamanan dan masa pakai yang lama, maka kandang penangkaran dapat terbuat dari rangka besi atau tiang kayu yang bagus. Dinding kandang dapat dibuat terbuka dengan kawat ram (berdiameter 1 cm) untuk seluruh dinding atau sebagian dinding dibuat tertutup dari tembok atau ram yang ditutup dengan plastik gelap, sebagian ditutup oleh genteng atau asbes dan sebagian lainnya dibiarkan terbuka yang ditutup dengan kawat ram. Kandang penangkaran dibedakan atas beberapa jenis dengan ukuran yang berbeda-beda 11 (Masy’ud 2010). Untuk lebih jelasnya jenis dan ukuran kandang dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Jenis dan ukuran kandang penangkaran jalak bali No Jenis Kandang 1 Kandang pembiakan 2 Kandang sapihan 3 Kandang calon induk 4 Kandang karantina 5 Kandang angkut 6 Kandang kubah (pelepasliaran) Sumber: Masy’ud (2010). Ukuran Kandang 4m x 3m x 2.5m atau 3m x 2,5m x 2,25m 4m x 4m x 2,5m atau 3m x 3m x 2,5m 6m x 3m x 2m 4m x 1m x 2,25m 80cm x 30cm x 20cm Tinggi 17,5m dan diameter 17,5m 2.6.4 Bibit Syarat keberhasilan pengembangbiakan jalak bali di penangkaran diawali dengan ketepatan dalam memilih bibit. Penangkaran harus benar-benar memperhatikan kualitas bibit atau syarat bibit yang baik yaitu bibit harus sehat, tidak cacat, bersuara lantang dan bagus serta jelas asal usulnya. Sebagai jenis monomorfik yaitu jenis yang memilki ciri morfologi yang relatif sama antara jantan dan betina, maka dalam memilih bibit harus dipastikan bahwa pasangan bibit yang dipilih jelas terdiri dari jantan dan betina. Menurut Masy’ud (2010), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit yang baik yaitu: 1. Bentuk dan berat badan Bibit jalak bali yang baik memilki bentuk badan bulat panjang dan relatif lebih berat dari pada bibit jalak bali betina. 2. Bulu Bulu bibit yang baik tampak mengkilap, tidak kumal dan apabila disemprotkan air maka air semprotan tidak menempel pada bulunya. 3. Sikap Sikap yang gagah, sorot mata yang tajam, kepala yang tegak tetapi tidak tampak liar. 4. Usia Burung yang dipilih sebagai bibit harus memiliki usia yang muda karena memungkinkan stress dan sifat liarnya masih relatif kecil. 12 2.6.5 Perawatan kesehatan Perawatan kesehatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan pencegahan, perawatan, dan manajemen penyakit. Kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan penangkaran burung jalak bali. Kunci dalam perawatan kesehatan burung adalah pada pemberian makanan yang teratur dan bergizi serta sesuai kesukaan. Burung yang stress biasanya disebabkan karena kelaparan dan akan menjadi liar sehingga dapat menggagu kesehatan dan perkembangbiakannya. Selain itu, kebersihan dari makanan, tempat makan, dan lingkungan kandang dapat mempengaruhi kesehatan jalak bali. Ventilasi udara dan sirkulasi udara di dalam kandang juga harus optimal. Selain itu, adanya gangguan lain seperti ular, tikus, dan kucing karena dapat menjadi predator dan sebagai pembawa penyakit (Masy’ud 2010). Untuk meningkatkan daya tahan tubuh jalak bali di penangkaran, dapat dilakukan dengan cara memberikan multivitamin secara teratur. Untuk mengobati sekaligus untuk mencegah terjangkitnya penyakit cacing dapat juga diberikan obat-obatan. Selain itu, untuk mempertinggi daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit maka salah satu cara yang terbaik adalah dengan memberikan makanan yang bergizi. Makanan harus di selang-seling dengan pur kesehatan. Cahaya matahari di pagi hari penting bagi kesehatan burung sebagai sumber provitamin D. Oleh karena itu, diusahakan agar cahaya matahari pagi masuk dengan jumlah yang cukup kedalam kandang (Masy’ud 2010). 2.7 Inbreeding Silang dalam (Inbreeding) adalah persilangan antar satwa yang memiliki hubungan keluarga yang lebih dekat jika dibanding dengan rataan hubungan kekerabatan kelompok tempat satwa tersebut berada. Silang dalam ini mengakibatkan meningkatnya derajat homozigisitas dan pada saat bersamaan menurunkan derajat heterozigositas (Noor 2008). Menurut Warwick et al. (1986), silang dalam adalah perkawinan antar individu-individu yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata satwa dalam bangsa atau populasi itu yaitu satwa yang mempunyai moyang bersama dalam 4 sampai 6 generasi pertama silsilahnya. Pengaruh genetik dari silang dalam yaitu meningkatkan proporsi lokus-lokus genetik yang homozigot bila 13 dibandingkan dengan proporsi yang diakibatkan dari persilangan satwa-satwa bukan inbreeding dari populasi yang sama. Silang dalam merupakan proses yang seimbang dan menyebabkan fiksasi gen-gen yang tak disukai sama cepatnya dengan gen-gen yang disukai. Menurut Helvoort (1988), penangkaran satwaliar dapat dinilai berhasil apabila teknologi reproduksi jenis satwa tersebut telah dikuasai, artinya usaha penangkaran tersebut telah berhasil mengembangbiakan jenis satwa yang ditangkarkan dan satwa hasil penangkaran tersebut berhasil bereproduksi di alam bebas. Di dalam populasi yang kecil, meningkatnya inbreeding lebih cepat dibandingkan dalam populasi yang besar. Helvoort (1988) mengatakan bahwa, burung-burung yang sudah kawin dalam (inbreed) tidak patut di tangkarkan karena genetika populasi dan variasi genetiknya rendah. Hal ini akan berpengaruh terhadap daya reproduksi, ketahanan tubuh, dan penampilan bibit. Cara-cara mengurangi inbreeding menurut Thohari (1987) adalah sebagai berikut: 1. Pengambilan satwa dari populasi yang berbeda. 2. Melakukan test heterozigositas pada satwa yang akan digunakan sebagai bibit. Lebih tinggi tingkat heterozigositasnya nilai satwa sebagai bibit lebih baik. 3. Melakukan pencatatan silsilah yang teratur pada setiap individu yang ditangkar. 4. Memasukan individu baru secara berkala yang bukan satwa inbreed atau tidak mempunyai hubungan keluarga dengan satwa yang telah ada. Koefisien inbreeding merupakan peluang dua alel dalam satu lokus untuk sama (homozigot) dalam satu keturunan. Menurut Noor (2008), koefisien inbreeding dapat digunakan untuk mengukur peningkatan homozigositas suatu individu akibat silang dalam. Koefisien ini dapat pula digunakan untuk mengukur penurunan derajat heterozigositas suatu individu relatif terhadaap tetuanya pada populasi yang sama. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui perihal koefisisen inbreeding. 14 Menurut Masy’ud (1992), perhitungan koefisien silang dalam dilakukan berdasarkan informasi silsilah jalak bali dengan menelaah buku silsilah (studbook). Jika koefisien silang dalam bernilai nol, maka pasangan tersebut dipindahkan dan ditempatkan dalam satu kandang untuk diamati perilaku asosiasinya lebih lanjut dan penampilan reproduksinya. Sebaliknya, jika koefisien silang dalam bernilai satu atau mendekati satu, maka pasangan tersebut dipisahkan kembali untuk dicarikan pasangannya dengan jalak bali lain. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding jalak bali dilakukan di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Desa Ciujung Tengah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengamatan dan pengumpulan data di MBOF dilakukan pada bulan Juni – Oktober 2011. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain alat tulis, penggaris, jangka sorong, kamera digital, timbangan, termometer dry-wet, dan pita ukur. Bahan yang digunakan adalah jalak bali hasil penangkaran dan pakan jalak bali yang terdapat di MBOF. 3.3 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder sedangkan metode pengumpulan data yaitu pengamatan langsung dan pengukuran, teknik wawancara serta penelusuran dokumen. Jenis data dan metode pengumpulan data lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 Tabel 4 Jenis data dan metode pengumpulan data. Jenis data Data yang diambil I II III Teknik penangkaran Pakan Perawatan kesehatan Tenaga kerja Kandang Sejarah Organisasi Teknik reproduksi Populasi Faktor keberhasilan Koefisisen inbreeding Silsilah jalak bali Karakteristik morfologi Data kuantitatif Data kualitatif Primer v v v v Sekunder v Metode pengumpulan data Pengamtan Dokumen/ dan Wawan cara literatur pengukuran v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v 16 3.3.1 Teknik penangkaran Pengelolaan penangkaran dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dan wawancara kepada pengelola. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi teknik keberhasilan penangkaran jalak bali, data yang diambil meliputi: 1. Teknik reproduksi jalak bali di penangkaran meliputi pemilihan bibit, seks ratio, pembentukan pasangan, dan tingkat keberhasilan breeding. 2. Pakan, palatabilitas, jumlah konsumsi, dan nilai gizi serta jadwal waktu pemberiannya. Pakan yang diberikan kepada jalak bali dipenangkaran dilakukan analisis proksimat dan diambil sampel makanan untuk mengetahui kandungan zat makanan dalam makanan tersebut. 3. Perkandangan yang meliputi jenis kandang, ukuran dan konstruksi kandang, perlatan dan perlengkapan kandang serta suhu dan kelembaban dalam kandang. 4. Pemeliharaan kesehatan dan perawatan kesehatan, jenis penyakit yang sering diderita serta cara pengobatannya. 5. Faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF. Selain itu, juga dilakukan wawancara mengenai teknik penangkaran di MBOF yang digunakan untuk mendukung data meliputi: 1. Asal muasal bibit jalak bali yang ditangkarkan beserta sistem karantinanya. 2. Sejarah penangkaran jalak bali. 3. Organisasi penangkaran dan tenaga kerja (SDM) . 4. Populasi jalak bali yang meliputi jumlah, jenis kelamin, dan kelas umur. 3.3.2 Analisis koefisisen inbreeding Penelaahan silsilah jalak bali di penangkaran dilakukan dengan teknik wawancara dengan pihak pengelola ada di penangkaran tersebut. Data yang diperoleh dibuat data catatan kelahiran atau silsilah (studbook) kemudian dibuat diagram pohon untuk menentukan hubungan kekerabatan jalak bali di MBOF. 17 3.3.3 Penelaahan karakteristik morfologis Penelaahan karakteristik morfologis dapat dilakukan dengan melihat karakteristik morfologis baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Data karakteristik morfologis yang bersifat kuantitatif meliputi berbagai ukuran tubuh yaitu, panjang badan, panjang sayap, panjang ekor, panjang kepala, panjang kaki, panjang paruh, dan tinggi paruh. Data ukuran tubuh tersebut dilakukan melalui pengukuran, sedangkan untuk data karakteristik kualitatif meliputi warna dan pola bulu sayap dan bulu ekor, warna paruh, warna kaki, warna mata, dan daerah sekitar mata. Peubah ukuran tubuh yang diukur meliputi: 1. Panjang tubuh total yang diukur dari ujung paruh sampai dengan ujung bulu ekor dengan menggunakan pita ukur. 2. Panjang rentang sayap yang diukur dengan merentangkan sayap dari pangkal sayap hingga ujung sayap dengan menggunakan pita ukur. 3. Panjang ekor yang diukur dari pangkal ekor sampai ujung ekor dengan menggunakan pita ukur. 4. Panjang kaki yang diukur dari pangkal kaki hingga ujung kaki menggunakan pita ukur. 5. Panjang kepala yang diukur dari bagian tengkuk hingga ujung paruh dengan menggunakan jangka sorong. 6. Panjang paruh yang merupakan panjang maxilla (paruh atas) yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. 7. Tinggi paruh pada bagian paruh tertinggi yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Gambar 3 Pengukuran panjang total tubuh. 18 Gambar 4 Pengukuran panjang sayap. Gambar 5 Pengukuran panjang kepala. Gambar 6 Pengukuran panjang ekor. Gambar 7 Pengukuran panjang paruh. 19 Gambar 8 Pengukuran panjang kaki. Gambar 9 Pengukuran tinggi paruh. 3.4 Analisis Data 3.4.1 Teknik penangkaran jalak bali Data mengenai teknik penangkaran jalak bali dianalisis secara deskriptif yang meliputi sejarah penangkaran, populasi, perkandangan, pakan, perawatan kesehatan, dan teknik reproduksi. Selain dianalisis secara deskriptif, data mengenai pakan jalak bali juga dilakukan analisis secara kuantitatif. Berikut rumus yang digunakan: 3.4.1.1 Jumlah konsumsi JK = B-b Keterangan: JK = jumlah konsumsi B = berat pakan sebelum diberikan b = berat pakan sisa 20 3.4.1.2 Tingkat palatabilitas %P = G0-G1 x 100% G0 Keterangan: %P = tingkat palatabilitas G0 = berat pakan semula G1 = pakan sisa 3.4.1.3 Kandungan gizi pakan Kandungan gizi pakan jalak bali di penangkaran diperoleh melalui studi literatur untuk mengetahui analisis proksimat yaitu analisis kimia untuk mengetahui kandungan zat makanan yang terdapay di dalam bahan makanan. 3.4.1.4 Jumlah kebutuhan pakan Kebutuhan pakan yang perlu diketahui yaitu kebutuhan protein dan kebutuhan kalori. Kebutuhan protein dapat diperoleh dengan rumus: ∑ konsumsi suatu pakan x ∑ konsumsi pakan keseluruhan %PK Kebutuhan kalori dapat diperoleh dengan rumus: ∑ konsumsi suatu pakan x Kalori(Kkal) ∑ konsumsi pakan keseluruhan 3.4.1.5 Faktor keberhasilan Untuk mengetahui faktor penentu keberhasilan penangkaran burung jalak bali di MBOF dapat dilakukan perhitungan presentase daya tetas telur yaitu: a. Presentase daya tetas telur: ∂ . β Keterangan: ∂ = ∑ telur yang menetas β = ∑ total telur ditetaskan x 100 % 21 b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: t Tt x 100 % Keterangan: t = ∑ induk yang berkembangbiak Tt =∑ induk keseluruhan c. Persentase angka kematian tiap kelas umur: M x Mt 100 % Keterangan: M = ∑ anak yang hidup tiap kelas umur ke–i Mt = ∑ total anak yang hidup tiap kelas umur ke–i Kriteria yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan penangkaran di MBOF yaitu: 3.4.2 0 – 30 % = rendah 30 – 60 % = sedang 60 – 100% = tinggi Perhitungan Koefisisen Inbreeding Rumus yang digunakan terdiri dari beberapa formula: 3.4.2.1 Perhitungan koefisien kekerabatan adalah : R = ∑( 1/2 )n Keterangan : R = koefisien kekerabatan n = Jumlah anak panah dari setiap jalur. Salah satu cara untuk menghitung koefisien inbreeding yaitu dengan menggunakan diagram panah. Pembuatan diagram panah setiap individu pada kedua silsilah tersebut dimasukan sekali pada diagram panah walaupun pada kenyataannya individu-individu tersebut muncul beberapa kali (Noor 1996). Contoh perhitungan koefisien inbreeding: 22 Langkah- langkah untuk menghitung koefisien inbreeding suatu individu X (Fx) sebagai berikut (Nurana 1989): Langkah 1 : Merunut dan menggambarkan asal usul nenek moyangnya sampai tidak diketahui atau sampai nenek moyangnya berasal dari alam. Jika dalam salsilah tidak ada kawin dengan keluarga berarti koefisisen inbreeding X (Fx) = 0. Langkah 2 : Menentukan koefisien nenek moyang yang sama (Fc). Koefisien inbreeding nenek moyang harus dihitung sebelum menghitung koefisien inbreeding X (Fx). Cara perhitungan koefisien inbreeding nenek moyang sama dengan perhitungan koefisien inbreeding individu X (langkah 4 dan 5). Langkah 3 : Memperhatikan aliran gen pada gambar silsilah Langkah 4 : Menghitung koefisien inbreeding masing-masing. Aliran gen dengan rumus: F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) Langkah 5 : Koefisien individu X adalah jumlah koefisien masing-masing aliran gen. Contoh perhitungan koefisien inbreeding X pada silsilah seperi pada gambar 10. B A A C A E D E D X X (a) (b) Gambar 10 (a) Silsilah suatu individu X; (b) aliran gen individu X. 23 Langkah 1 : Gambar 10 B memperlihatkan bahwa X mempunyai nenek moyang yang sama yaitu A berati memilki koefisien inbreeding X (Fx) lebih dari nol. Langkah 2 : Karena nenek moyang A tidak diketahui diasumsikan nenek moyang A tidak ada yang kawin dengan keluarga berarti koefisien inbreeding A (Fc) = 0. Langkah 3 : Berdasarkan silsilah ada satu jalur yang menghubungkan individu S dan D melalui A yang memilki dua anak panah (gambar 1 B) yaitu D-A-E dan n = 2. Nilai koefisien inbreeding individu X dapat dilihat pada tabel 5. Langkah 4 : Perhitungan koefisien inbreeding pada individu X Tabel 5 Nilai perhitungan koefisien inbreeding pada individu X Lintasan X-D-A-E-X Fc 0,00 Koefisien inbreeding 1/2∑ (1/2)2 (1+0,00) = 0.125 N 2 Langkah 5 : karena hanya terdapat satu lintasan gen maka koefisien inbreeding X (fx) = 0,125. 3.4.2.2 Perhitungan koefisisen inbreeding Perhitungan koefisien silang dalam (Inbreeding) pada dasarnya adalah mengalikan koefisien kekerabatan dengan ½. Rumus untuk mengukur koefisien silang dalam adalah (Noor 2008): F= ½ ∑ (1/2)n Keterangan : F = koefisien silang dalam (inbreeding) 3.4.2.3 Koefisien inbreeding jika tetua bersama inbreed Koefisien kekerabatan dan koefisien silang dalam yang dipengaruhi oleh silang dalam dapat juga terjadi pada tetua bersama. Rumus dasar untuk menghitung koefisien silang dalam dapat dimodifikasi jika tetua bersamanya juga inbreed. Rumus yang telah dimodifikasi adalah (Noor 2008): F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) Keterangan: Fc = koefisien silang dalam tetua bersama. 24 3.4.2.4 Silang dalam pada satu atau dua individu yang berkerabat Silang dalam pada satu atau kedua individu yang berkerabat cenderung mengurangi kekerabatan antara kedua individu tersebut. Silang dalam mengakibatkan individu-individu tersebut lebih homozigot yang berakibat menurunkan genotip. Jadi pada dasarnya hal ini akan mengurangi peluang kedua individu memilki gen-gen yang sama sebesar rataan kedua koefisien silang dalam. Rumus untuk menghitung koefisisen kekerabatan pada kasus ini (Noor 2008) adalah : Rxy = ∑ (1/2)n(1+Fa) √(1+Fx)(1+Fy) Keterangan : Rxy = koefisien kekerabatan antara individu X dan Y n = jumlah generasi dari individu X dan Y sampai pada moyang bersama Fx = koefisien silang dalam individu X Fy = koefisien silang dalam individu Y 3.4.3 Karakterisrik Morfologi Penelaahan karakteristik morfologi (genetik) dilakukan tehadap lima pasang jalak bali yang ada di penangkaran (generasi F1). Data karakteristik morfologi yang dianalisis berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif ditabulasikan ke dalam tabel dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif yang terkumpul ditabulasi dan dihitung nilai rataan dan simpangan bakunya selanjutnya dilakukan pengujian perbandingan nilai rataan dengan uji tstudent menggunakan software SPSS untuk menentukan adanya perbedaan antar jenis kelamin (jantan dan betina). Selain itu, juga dilakukan perbandingan terhadap pengukuran morfologi kuantitatif yang telah dilakukan di MBOF dengan pengukuran morfologi yang terdahulu secara deskriptif untuk menentukan ada tidaknya inbreeding depression karena terjadinya penurunan dari sifat-sifat morfologinya. Kriteria uji menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian terhadap hubungan antara parameter yang diukur dan diamati menggunakan hipotesis sebagai berikut: 25 H0 = tidak ada perbedaan morfologi kuantitatif yang nyata antara jenis kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF H1 = ada perbedaan morfologi kuantitaif yang nyata antara jenis kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF Pengambilan keputusan atas hipotesis tersebut menggunakan kriteria sebagai berikut: Jika t hitung > dari t tabel, maka tolak H0 Jika t hitung < dari t tabel, maka terima H0 dilakukan dengan BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Sejarah Kawasan Penangkaran Mega Bird Farm didirikan pada tahun 1996 berdasarkan hobi pengelola dalam memelihara burung khususnya burung-burung berkicau dan burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Pada tahun 2010, lokasi ini berganti nama menjadi Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) yang kemudian disahkan dan diakui oleh pemerintah berdasarkan pada Surat Keputusan Direktorat Jenderal PHKA No. SK. 22/IV-SET/2010 tentang pemberian izin penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) yang dilindungi oleh undang-undang dan Surat Keputusan BBKSDA Jawa Barat No. SK. 164/BBKSDA-JABAR-1/2010 tentang pemberian izin penangkaran burung yang tidak dilindungi oleh undang-undang serta pada tahun 2011 pemerintah juga telah mengeluarkan surat keputusan melalui Direktorat Jenderal PHKA dengan No. SK. 22/IV-SET/2011 tentang izin usaha penangkaran burung (aves) yang dilindungi oleh undang-undang. 4.2 Tujuan dan Manfaat Mega Bird and Orchid Farm memiliki tujuan untuk kegiatan konservasi (pelepas-liaran ke alam) dan untuk tujuan ekonomi. Selain itu, penangkaran ini juga memiliki manfaat antara lain: a. Untuk kegiatan pendidikan dan penelitian b. Menjaga jenis-jenis dilindungi dari ancaman kepunahan c. Mengembangbiakkan jenis-jenis dilindungi di luar habitat aslinya dengan tetap menjaga kemurnian genetiknya. 4.3 Letak dan Luas Kawasan Secara administratif, MBOF terletak di Desa Cijujung Tengah, RT. 05/ RW. 04, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi tersebut memiliki luas total sebesar 23.500 m 2 yang terdiri dari luas bangunan sebesar 10.000 m2 dan luas pekarangan sebesar 13.500 m2. Berikut lokasi MBOF pada Gambar 11. 27 Gambar 11 Lokasi Mega bird and Orchid Farm. 4.4 Kondisi Biologi Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di penangkaran MBOF antara lain pohon rambutan (Nephelium lappaceum), jambu air (Syzygium aqueum), mangga (Mangifera indica), jambu biji (Psidium guajava), pisang (Musa sp.), dan pepaya (Carica papaya). Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Lokal Jalak bali Cucak rawa Gelatik jawa Beo nias Cendrawasih merah Cendrawasih kuning kecil Rangkong badak Kuau raja Kakatua raja Merak hijau Merak biru Mambruk victoria Murai batu Nama Ilmiah Leucopsar rothschildi Pycnonotus zeylanicus Padda oryzivora Gracula religiosa Paradisaea rubra Paradisaea minor Buceros rhinoceros Argusianus argus Probosciger atterimus Pavo muticus Pavo cristatus Goura victoria Copsychus malabaricus Daerah Asal Endemik Bali Barat Jawa, Sumatera, Kalimantan Jawa, Bali, P. Kangean Jawa, Bali, Sumatera P. Bantana, Gemien, Saonek Papua bag. Utara dan bag. Barat Sumatera, Kalimantan, Jawa Sumatera, Kalimantan P. Misool, Kep. Aru Jawa Bangladesh, India, Nepal P. Yapen, P. Biak Jawa, Sumatera, Kalimantan 28 4.5 Struktur Organisasi dan Kepegawaian Mega Bird and Orchid Farm secara keseluruhan dipimpin oleh seorang direktur (Drs. Megananda Daryono, MBA) yang dibantu oleh seorang manajer (Supriyanto Akdiatmojo) dan seorang asisten manajer (Hari Dimas Prayogo), serta pegawai sebanyak 14 orang. Selain itu, untuk menjaga keamanan di lokasi tersebut, pengelola menggunakan tenaga keamanan sebanyak enam orang. 4.6 Aksesibilitas Mega Bird and Orchid Farm terletak tidak jauh dari pusat kota Bogor. Lokasi ini dapat dicapai dari terminal Baranang Siang yang memiliki jarak + 12,5 km dengan waktu tempuh + 1,5 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 45 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, lokasi ini juga dapat dicapai dari arah Kampus IPB Darmaga yang memiliki jarak + 12 km dengan waktu tempuh + 1 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 30 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Teknik Penangkaran Secara umum beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa sangat menentukan keberhasilan suatu jenis satwa. Aspek teknik penangkaran tersebut diantaranya adalah sejarah penangkaran jalak bali, jumlah populasi jalak bali dipenangkaran, jenis penyakit dan perawatan kesehatan, manajemen pakan, sistem perkandangan, teknik reproduksi, dan faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF. Penjelasan secara lengkap mengenai pengelolaan aspek teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak pengelola disajikan berikut ini. 5.1.1 Sejarah penangkaran Jalak bali di penangkaran MBOF dimulai pada tahun 1996. Pada awalnya jalak bali yang ada di penangkaran MBOF hanya berjumlah tiga pasang yang berasal dari sumbangan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Setelah itu, populasi jalak bali semakin bertambah dengan adanya sumbangan-sumbangan dari pencinta burung dan membeli dari penangkar burung berkicau serta membeli jalak bali dari penangkap burung di alam. Jalak bali hasil sumbangan dan perdagangan tersebut dijadikan sebagai indukan (F0). Perbanyakan jalak bali juga dilakukan dengan cara menjodohkan jalak bali yang ada sehingga dapat berkembang biak. Pada awalnya pemilik penangkaran membuat penangkaran burung hanya untuk dijadikan hiburan dan hobi, namun karena kecintaannya pada burungburung berkicau termaksuk jalak bali pemilik penangkaran menangkarkan burung-burung berkicau tersebut. Hingga saat ini penangkaran MBOF yang terletak di daerah Cijujung Bogor semakin berkembang dengan menambah banyak jenis-jenis yang baru. Penangkaran MBOF memilki tujuan konservasi dan ekonomi. Pada tahun 2009, penangkaran Mega Bird and Orchid Farm telah menyumbangkan dua pasang jalak bali ke Nusa Penida (Bali) bekerjasama dengan APCB (Asosiasi Pelestari Curik Bali) dan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Pelepasan ke alam 30 dilakukan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 2009. Selain itu, jalak bali yang ada di penangkaran hingga saat ini dilakukan transaksi perdagangan secara legal yang telah mendapatkan persetujuan dari Kementrian Kehutanan. Asal usul bibit jalak bali di MBOF pada dasarnya merupakan hasil breeding dari Taman Safari I Cisarua, Bogor dan para pecinta burung. Kelebihan bibit jalak bali yang berasal dari hasil penangkaran memiliki tubuh yang sehat karena pakan yang dikonsumsi memilki kandungan gizi yang sesuai dan adanya pengaturan dalam pemberian pakan, kebutuhan akan protein, lemak, karbohidarat, vitamin, dan mineral terpenuhi. Silsilah bibit jalak bali di MBOF tidak diketahui secara pasti karena tidak adanya buku silsilah (studbook) di penangkaran tersebut, sehingga untuk mengetahui silsilah jalak bali hanya melalui wawancara kepada pengelola. 5.1.2 Populasi jalak bali di penangkaran Populasi jalak bali di MBOF sampai pada bulan Oktober tahun 2011 berjumlah 91 ekor yang meliputi jenis kelamin dan kelas umur sebagai berikut (Tabel 7). Tabel 7 Populasi jalak bali tahun 2011 berdasarkan jenis kelamin dan kelas umur Kelas umur 0 – 2 bulan 2 – 5 bulan 5 – 12 bulan 1 – 2 tahun 2 – 3 tahun 3 – 4 tahun 4 – 5 tahun Jenis kelamin 6 jantan,6 betina 7 jantan, 7 betina 5 jantan, 5 betina Jumlah 15 ekor 30 ekor 10ekor 12 ekor 14 ekor 10 ekor Keterangan Anakan Anakan Anakan Indukan (F1) Indukan (F0) Berdasarkan tabel 7 populasi jalak bali paling banyak berada pada usia anakan (0 – 12 bulan) hal ini dikarenakan setiap bulan jalak bali di penangkaran MBOF mampu berkembangbiak sebanyak 8 – 12 kali dalam satu tahun dengan jumlah telur yang dihasilkan 2 – 3 telur. Namun, yang dapat tumbuh dengan baik hanya sekitar 1 – 2 ekor. Jalak bali pada usia 1 – 2 tahun tidak terdapat di penangkaran karena pada kelas umur tersebut jalak bali sudah siap untuk dijual kepada para penghobi burung kecuali jalak bali yang dipersiapkan untuk menjadi indukan. Tujuan pembuatan penangkaran MBOF ini adalah dengan tujuan konservasi dan tujuan ekonomi sehingga sudah banyak jalak bali yang 31 diperjualbelikan dengan mendapatkan ijin dari Menteri Kehutanan. Berikut grafik populasi jalak bali dalam lima bulan terakhir di MBOF (Gambar 12). Gambar 12 Pertumbuhan populasi jalak bali di MBOF selama lima bulan terakhir tahun 2011. Pada tahun 2011, populasi dan tingkat keberhasilan jalak bali meningkat ditandai dengan adanya peningkatan terhadap jumlah populasi jalak bali setiap bulan. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa dalam satu bulan populasi jalak bali bertambah 8 – 11 ekor. Pada tahun 2011 populasi jalak bali di MBOF lebih meningkat. Hal ini dikarenakan pada tahun ini adanya indukan-indukan baru yang merupakan generasi F1 atau hasil perkawinan indukan sebelumnya. 5.1.3 Sistem perkandangan Salah satu aspek penting dari usaha penangkaran satwa adalah kandang yang berfungsi sebagai habitat buatan (artificial habitat) atau tempat hidup satwa. Kandang sebagai tempat hidup satwa harus memenuhi semua kebutuhan hidup satwa seperti luas yang cukup untuk pertumbuhan hidup satwa, suhu, kelembaban serta sirkulasi udara yang cukup dan tersedianya komponen penunjang lainnya seperti tempat berlindung, bertengger, dan berkembangbiak serta terjaga sanitasinya dari serangan penyakit. Penyediaan habitat buatan sebagai tempat hidup di penangkaran jalak bali menjadi salah satu prasyarat penting yang harus dipersiapkan sebelum pengembangan penangkaran. Habitat tersebut yaitu berupa kandang dan komponen pendukung dalam kandang. Kandang merupakan faktor utama dalam 32 faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm. 5.1.3.1 Jenis, ukuran, dan konstruksi kandang Jenis kandang jalak bali yang ada di penangkaran MBOF terbagi kedalam empat bagian yaitu kandang peraga, kandang kawin (indukan), kandang pemeliharaan, dan kandang inkubator (anakan atau piyik jalak bali). Berikut konstruksi dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF (Tabel 8). Tabel 8 Jenis, konstruksi, dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF. Jenis kandang Kandang peraga Kandang pemeliharaan Kandang reproduksi Inkubator Kontruksi kandang Batako, kawat ram, kayu, pohon rambutan untuk angkringan Berbentuk sangkar (triplek dan kayu) Batako,kawat ram, kayu, dan pohon palem untuk angkringan) Papan dan kayu unit Jumlah (ekor) 1m x 1,5 x 2m 3 3–6 40cm x 60cm x 40cm 6 – 15 2–4 3 m x 1,5m x 3m 12 2 110cm x 47cm x 45cm 1 4–6 ukuran kandang Kandang indukan (kandang reproduksi) jalak bali di penangkaran MBOF dibagi kedalam dua blok yaitu blok A dan blok B. Jalak bali yang berada dikandang blok A merupakan anak jalak bali generasi F1 yang sudah siap untuk bereproduksi (dewasa) sehingga dijadikan indukan dan diletakan pada kandang reproduksi, sedangkan kandang blok B merupakan jalak bali generasi F0 yang berasal dari sumbangan atau membeli dari tukang burung. Kandang indukan terletak pada bagian dalam, sedangkan kandang peraga dan kandang pemeliharaan terletak di bagian luar. Kandang indukan jauh lebih tetutup bila dibandingkan dengan kandang lainnya karena bertujuan untuk kelangsungan perkawinan pasangan-pasangan jalak bali. Selain itu, agar tidak terganggu oleh aktivitas manusia. Jumlah unit kandang peraga sebanyak tiga buah yang terdiri dari tiga sampai dengan enam ekor, sedangkan pada kandang pemeliharan terdapat 6 – 15 kandang tergantung kebutuhan dan kandang tersebut dapat menampung 2 – 4 ekor jalak bali serta untuk inkubator tedapat satu buah unit. Kandang peraga terletak pada bagian depan penangkaran. Jalak bali pada kandang peraga ini adalah jalak 33 bali yang sudah tidak bereproduksi. Usia jalak bali ini berkisar antara dua sampai dengan tiga tahun. Berikut gambar kandang peraga di MBOF (Gambar 13). A B C D Gambar 13 Kandang peraga jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) angkringan, (B) papan interpretasi, (C) pintu kecil, dan (D) pintu besar. Kandang peraga yang ada di MBOF memiliki pintu yang cukup besar di bagian bawah yang berfungsi untuk memudahkan pengelola untuk mengganti air minum dan air mandi. Selain itu, untuk memudahkan dalam membersihkan kandang. Selain pintu yang besar, juga terdapat pintu yang sangat kecil terletak pada bagian tengah untuk memudahkan dalam memberi pakan jalak bali. Berikut gambar kandang reproduksi di MBOF (Gambar 14). A B Gambar 14 Kandang reproduksi jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) pintu kecil, (B) pintu besar. Kandang reproduksi dibuat sangat tertutup dan memiliki dua buah pintu yang terdiri dari satu pintu besar pada bagian bawah dan satu pintu kecil pada 34 bagian tengah. Fungsi pintu yang besar adalah untuk memudahkan pengelola dalam membersihkan kandang dan mengganti air mandi dan air minum, sedangkan fungsi pintu kecil adalah untuk mengganti pakan setiap harinya. Kandang pemeliharaan terletak di bagian luar dan berbentuk sangkarsangkar kecil yang cukup banyak. Kandang pemeliharaan ini diletakkan dengan cara digantungkan pada tiang besi dan pada malam hari dimasukan kedalam kantor. Kandang pemeliharaan hanya memiliki satu buah pintu untuk memasukan jalak bali kedalam kandang. Berikut gambar kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF (Gambar 15). Gambar 15 Kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF. Inkubator digunakan untuk piyik-piyik jalak bali mulai dari 0 bulan sampai berusia 2 – 3 bulan. Terbuat dari papan dan kayu yang cukup kuat. Berikut gambar kandang inkubator jalak bali di MBOF (Gambar 16). A A A Gambar 16 Inkubator piyik jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) tiga buah jendela inkubator. 35 5.1.4.2 Fasilitas kandang Fasilitas yang harus ada didalam kandang yaitu tempat makan, tempat minum, tempat mandi, tempat angkringan (bertengger), tempat tertelur, dan lainlain. Berikut fasilitas kandang sesuai dengan jenis kandang di penangkaran MBOF (Tabel 9). Tabel 9 Jenis dan fasilitas kandang jalak bali di penangkaran MBOF Jenis kandang Kandang peraga Kandang pemeliharaan Kandang reproduksi Inkubator Fasilitas Tempat makan, minum dan mandi. Pohon rambutan untuk angkringan Tempat makan, minum, dan kayu untuk bertengger, Tempat makan, minum dan mandi. Pohon palem untuk angkringan (bertengger), kotak sarang untuk piyik atau temapat bertelur jalak bali Sarang burung, lampu (untuk menghangatkan) Keterangan Mandi di luar kandang pemeliharaan (tempat mandi khusus) - - Tempat pakan dan air pada kandang peraga dan reproduksi tebuat dari wadah plastik agar tidak mudah pecah bila terjatuh. Tempat makan diletakan di bagian tengah dekat dengan pintu utama dan dikaitkan pada kawat ram (dinding kandang) agar memudahkan dalam pemberian makan. Selain itu, pakan jalak bali juga ada yang digantung di kawat ram seperti pisang sedangkan tempat minum dan tempat mandi diletakan di bawah dengan menggunakan wadah plastik dengan ukuran yang cukup besar. Berikut gambar tempat makan dan tempat minum jalak bali di MBOF (Gambar 17). Gambar 17 Tempat makan dan tempat minum sekaligus mandi jalak bali di MBOF. 36 Tempat makan dan minum pada kandang pemeliharaan juga terbuat dari wadah plastik dan digantung atau dikaitkan pada sela-sela kayu di dalam kandang pemeliharaan. Namun, tempat mandi kandang pemeliharaan di tempatkan terpisah dengan kandang. Setiap pagi dan sore jalak bali dikeluarkan untuk dimandikan di tempat mandi khusus. Hal ini dilakukan karena jalak bali yang ada didalam kandang pemelihaan ini belum cukup dewasa berkisar antara 3 – 7 bulan. Tempat bertengger atau angkringan dalam kandang dibuat dengan meletakan pohon rambutan dan pohon palem. Tempat bertelur atau kotak sarang pada kandang reproduksi di letakan 1,5 meter dari lantai kandang, terbuat dari papan berbentuk kotak. Berikut gambar kotak sarang jalak bali di MBOF (Gambar 18). Gambar 18 Kotak sarang jalak bali di MBOF. Tempat makan dan minum pada inkubator terbuat dari bahan alumunium. Makanan yang diberikan pada piyik jalak bali adalah pur yang diencerkan dengan air panas. Tempat makan dan minum tidak diletakan dalam kandang karena pada piyik jalak bali diberi makan dengan cara disuapi. Inkubator terletak didalam ruangan atau kantor penangkaran MBOF. Lampu dinyalakan setiap waktu agar suhu ruangan tetap hangat. Pada kandang inkubator terdapat beberapa jendela agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. 5.1.3.3 Pemeliharaan kandang Perawatan kandang dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan kondisi kandang dan fasilitasnya sedemikian rupa sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangbiakan jalak bali secara optimal. Perawatan kandang dilakukan dengan cara pembersihan kandang secara rutin. Pembersihan 37 kandang dilakukan setiap hari di pagi hari dan pergantian pakan dan air dilakukan setiap hari. Menurut Masy’ud (2010), perawatan kandang juga dilakukan pada pohon atau tanaman tempat berteduh jalak bali agar tidak terlalu tinggi dan disesuaikan dengan keadaan ruang kandang. Beberapa jenis tanaman yang dapat ditanam dalam kandang antara lain murbei, kembang sepatu, palm, wijaya kusuma, dan lain-lain. Perawatan dapat dilakukan dengan memangkas atau memotong seperlunya. Saat pemangkasan atau pemotongan perlu diperhatikan masa kawin atau masa pengeraman telur untuk menghindari burung menjadi stress karena dapat berakibat negatif seperti gagal perkawinan, telur gagal menetas, bahkan kadang telur dimakan oleh induknya. 5.1.3.4 Suhu dan kelembaban kandang Secara keseluruhan, bentuk kandang jalak bali di MBOF berbentuk persegi panjang. Bentuk kandang persegi panjang paling banyak digunakan oleh penangkar jalak bali. Hal ini disebabkan dalam pembuatan kandang lebih mudah dan efektif. Selain itu, kandang jalak bali di MBOF memiliki atap yang sebagian tetutup asbes dan sebagian hanya tertutup oleh kawat ram, sehingga cahaya matahari dapat masuk kedalam kandang. Dengan demikian kandang dapat terhindar dari kelembaban yang mengundang berkembangbiaknya virus dan bakteri penyakit. Suhu di sekitar kandang dapat dilihat pada Gambar 19. Gambar 19 Suhu udara di sekitar kandang jalak bali di MBOF. 38 Suhu udara disekitar kandang jalak bali di MBOF pada pagi hari berkisar antara 27 – 28oC, sedangkan pada siang hari suhu sekitar kandang jalak bali dapat mencapai 30oC, dan pada sore hari suhu di sekitar kandang kembali menurun menjadi 27oC. Pengukuran suhu tidak dilakukan di dalam kandang akan tetapi dilakukan diluar kandang jalak bali atau di sekitar kandang jalak bali karena alat pengukur suhu (termometer dry-wet) tidak dapat dimasukan dalam kandang dan dikhawatirkan jalak bali dapat merusak alat pengukur suhu tersebut sedangkan dalam kandang reproduksi atau kandang indukan, termometer dry-wet tidak dapat dimasukan dalam kandang jalak bali karena dikhawatirkan dapat menggangu jalak bali yang akan bertelur. Berdasarkan hasil penelitian Damanik (1996), suhu udara pagi didalam kandang penangkaran jalak bali TMII adalah 25 – 29oC, sedangkan penangkaran jalak bali di Madiun (26,5–29oC). Pada siang hari suhu udara di penangkaran jalak bali TMII dapat mencapai 27 – 31oC dan di Madiun 31,5 – 36,5oC. Suhu udara pada siang hari di penangkaran TMII dan penangkaran di Madiun jauh lebih tinggi di bandingkan dengan suhu udara di penangkaran MBOF. Suhu di sekitar kandang jalak bali di MBOF cukup rendah karena daerah sekitar kandang banyak ditanami oleh pepohonan yang cukup besar seperti pohon rambutan dan pohon mangga. Selain itu, didalam kandang jalak bali juga terdapat pohon rambutan atau palem yang dapat digunakan sebagai tempat bertengger. Suhu di Taman Nasional Bali Barat yang merupakan habitat alami jalak bali yaitu sekitar 15 – 30oC (PHKA 2004). Suhu tersebut cukup rendah bila dibandingkan dengan penangkaran MBOF karena pengamatan suhu selama penelitian hanya dilakukan pada pagi hari hingga sore hari sedangkan pada malam hari tidak dilakukan pengukuran suhu. Suhu pada siang hari di penangkaran hampir sama dengan suhu pada siang hari atau suhu terpanas jalak bali di alam yaitu 30oC. Selain pengukuran suhu, pengukuran kelembaban sekitar kandang juga perlu dilakukan. Hasil pengukuran kelembaban sekitar kandang ditunjukkan pada Gambar 20. 39 Gambar 20 Kelembaban sekitar kandang jalak bali di penangkaran MBOF. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa kelembaban kandang jalak bali menurun pada siang hari yaitu pada pukul 11.00 sampai dengan pukul 14.00 sebesar 59%, sedangkan pada pagi hari dan sore hari kelembaban lingkungan penangkaran meningkat mencapai 64%. Dapat dikatakan bahwa kelembaban sekitar kandang jalak bali di MBOF berkisar antara 59 – 64%. Kelembaban lingkungan jalak bali di alam atau di Taman Nasional Bali Barat sekitar 65,25% (PHKA 2004). Kelembaban tersebut tidak jauh berbeda dengan kelembaban di penangkaran sehingga kondisi lingkungan penangkaran MBOF sesuai untuk penangkaran jalak bali. 5.1.4 Manajemen pakan 5.1.4.1 Pemberian pakan dan minum Jenis pakan yang diberikan pada jalak bali di penangkaran burung MBOF adalah pisang, jangkrik, pur, dan kroto. Makanan utama jalak bali adalah pisang, serangga, dan pur, sedangkan kroto hanya diberikan sesekali karena jumlah kroto yang sangat terbatas. Pemberian jangkrik hanya diberikan pada jalak bali di kandang reproduksi, sedangkan kandang pertumbuhan hanya diberikan pisang dan pur. Kandang reproduksi yaitu kandang indukan (F0) yang terletak pada bagian dalam sedangkan kandang pertumbuhan merupakan kandang peraga (jalak bali yang belum bereproduksi). Keterbatasan dalam pemberian pakan jangkrik ini dikarenakan harga jangkrik cukup mahal dan jumlahnya yang terbatas. Selain itu, jalak bali yang berada di kandang reproduksi merupakan jalak bali indukan yang 40 sedang berkembangbiak, sehingga dibutuhkan pakan yang lebih banyak. Pemberian pakan diberikan secara rutin pada pagi hari, begitu juga dengan pemberian air minum diganti setiap hari pada bagi hari. Pemberian pakan pisang terlebih dahulu dikupas sebagian kulitnya. Pisang kepok diberikan sebanyak satu sampai dengan tiga buah. Pisang yang telah dikupas sebagian kulitnya tersebut diberikan pada jalak bali dengan cara diletakkan pada wadah pakan atau digantungkan pada kawat ram yang merupakan konstruksi kandang. Pur yang diberikan pada jalak bali diletakkan pada wadah pakan. Pemberian pakan jangkrik untuk jalak bali dilakukan dengan cara meletakkan jangkrik pada wadah pakan yang telah disediakan. Namun untuk jangkrik, terlebih dahulu dipotong bagian kakinya agar jangkrik tidak dapat terbang. Jangkrik yang diberikan pada jalak bali indukan diberikan secukupnya karena pakan jangkrik dapat membantu proses birahi agar indukan segera bertelur bertelur. Berikut jenis dan jumlah pakan yang diberikan perpasang jalak bali di penangkaran (Mas’yud 2010). Tabel 10 Jenis dan jumlah pakan yang diberikan perpasang jalak bali di penangkaran No Jenis pakan Pakan nabati 1 Pisang Pepaya Pakan hewani Ulat hongkong 2 Jangkrik Telur semut Pakan konsentrat Fancy gold food 3 Fancy food anti strees Kroto kristal Kroto voer 521 Sumber: Masy’ud (2010). Jumlah pemberian 110 gram 80 gram 10 gram 2 ekor 10 gram 10 gram 10 gram 10 gram 10 gram Pakan yang diberikan pada piyik jalak bali berupa pur yang dicampur dengan air hangat dan dihaluskan. Cara pemberian pakan pada piyik jalak bali dengan cara menyuapinya secara perlahan begitu juga dengan air minumnya. Pakan untuk piyik jalak bali diberikan setengah jam sampai satu jam sekali karena piyik jalak bali biasanya membutuhkan asupan gizi yang lebih banyak. Berikut gambar pakan jalak bali di MBOF (Gambar 21). 41 Gambar 21 Pakan jalak bali (pur dan pisang kepok) di MBOF. 5.1.4.2 Jumlah konsumsi dan palatabilitas Jumlah konsumsi adalah selisih antara berat pakan awal dengan berat pakan sisa, sedangkan tingkat palatabilitas adalah tingkat kesukaan satwa terhadap suatu jenis makanan tertentu. Rata-rata jumlah konsumsi dan tingkat palatabilitas dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Rata-rata jumlah konsumsi dan tingkat palatabilitas Jenis pakan Pisang kepok Pur Jangkrik Kandang pertumbuhan/ekor Rata-rata Rata-rata ∑ konsumsi/hari/ekor palatabilitas Kandang reproduksi/ekor Rata-rata Rata-rata ∑konsumsi/hari/ekor Palatabilitas 40,2 g 55,84 % 8,96 g 15,39 % 6,33 g - 50,18 % - 3,39 g 15,18 g 13,96 % 59,22 % Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan terhadap jumlah konsumsi dan palatabilitas dengan ulangan sebanyak 14 kali (2 minggu) bahwa pada kandang pertumbuhan, jalak bali lebih menyukai pisang kepok dibandingkan dengan pur dengan rata-rata jumlah konsumsi pisang kepok 40,2 gram/ekor/hari dan pur 6,33 gram/ekor/hari dan tingkat palatabilitas masing-masing adalah 55,84% dan 50,18 %. Jalak bali pada kandang reproduksi lebih menyukai jangkrik dibandingkan dengan pur dan pisang kepok. Rata-rata jumlah konsumsi jangkrik sebanyak 15,18 gram/ekor/hari dengan rata-rata palatabilitas 59,22% dan rata-rata jumlah konsumsi pisang kepok sebanyak 8,96 gram/ekor/hari dan pur 3,39 gram/ekor/hari. Rata-rata palatabilitas pisang dan pur adalah 15,38 % dan 13,96 %. Hal ini dikarenakan jangkrik memilki nilai kandungan gizi (protein dan lemak) yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pakan lain sehingga jalak bali 42 lebih memilih jangkrik sebagai konsumsinya. Menurut Soemadi dan Mutholib (1995), jalak bali termasuk dalam golongan burung yang memakan serangga, tetapi juga mengkonsumsi buah-buahan dan juga biji-bijian. Selain itu, burung ini juga memakan kutu, caplak, nyamuk, ulat, cacing, belalang, dan serangga lain serta makan buah dan biji-bijian. Jenis pisang yang diberikan pada jalak bali di MBOF adalah pisang kepok. Jenis pisang yang umumnya dijadikan pakan burung adalah pisang kepok dan pisang siam. Burung yang menyukai buah ini antara lain jalak bali, jalak putih, cucakrawa, cucak biru, madi, kakaktua, nuri, beo, kutilang, dan lain-lain. Kualitas pisang ditentukan oleh sifat fisik dan kandungan gizinya, dimana komposisi kandungan zat gizi pisang berbeda-beda tergantung jenisnya tetapi yang jelas pisang merupakan sumber karbohidrat yang baik bagi burung. Jenis serangga yang diberikan pada jalak bali di MBOF yaitu jangkrik. Jangkrik yang diberikan pada jalak bali yaitu jangkrik dengan keadaan masih hidup. Selain jangkrik, terdapat pakan jalak bali tambahan yaitu kroto. Kroto dapat berupa telur, larva, dan semut merah dewasa yang telah mati. Namun, kroto yang diberikan pada jalak bali di MBOF yaitu telur semut rangrang yang dikeringkan. Kroto untuk jalak bali di MBOF tidak setiap hari diberikan dan hanya sesekali saja. Kroto dapat dikatakan berkualitas baik apabila tidak berbau, tidak lengket, berwarna cerah, dan tidak bercampur dengan jenis semut lain (Gambar 22). Gambar 22 Pakan jalak bali (kroto dan jangkrik). Pakan buatan yang diberikan pada jalak bali di penangkaran adalah pur. Menurut Soemarjoto dan Prayitno (1999), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan buatan antara lain: 43 1. Perusahaan pakan buatan cukup banyak. Tentu saja kualitas produk yang dihasilkan tidak sama. Oleh karena itu, pada saat membeli pakan buatan perlu dipertimbangkan kualitas pakan yang akan dibeli, bukan karena harganya murah. 2. Pakan buatan (pur) harus selalu dijaga agar tidak sampai basah. Apabila pakan ini terkena air maka akan mengembang dan cepat rusak, serta menimbulkan bau. 3. Pakan pur ada tiga jenis yaitu untuk burung muda, burung remaja, dan burung dewasa. Pemberian harus disesuaikan dengan tahap perkembangan burung. 4. Pemberian pakan harus disesuaikan dengan besar dan kecilnya burung, setelah masuk ke tembolok pur akan berkembang. Oleh karena itu, pemberian pakan buatan harus dibatasi karena apabila terlalu banyak dan berkembang dalam tembolok dapat menyebabkan burung sakit bahkan kematian. 5.1.4.3 Analisis proksimat Kualitas pakan sangat ditentukan oleh nilai gizi yang terkandung dalam pakan tersebut. Secara umum, pakan yang diberikan pada burung harus mengandung protein, karbohidrat, mineral, lemak, vitamin, dan air (Soemadi dan Mutholib 1995). Menurut Ginantra et al. (2009) sumber pakan langsung di alam berupa biji dan buah dan untuk memenuhi kebutuhan proteinnya juga menyediakan serangga seperti belalang, semut, ulat, dan kupu-kupu. Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan gizi yang terkandung dalam pakan yang diberikan pada jalak bali. Berikut tabel kandungan gizi pakan jalak bali di MBOF (Tabel 12). Tabel 12 Kandungan gizi pakan jalak bali Nilai Gizi Pisang kepok Pur Kadar abu (%) 2,65 5,90 Kadar protein (%) 4,30 21,05 Sarat kasar % 1,33 4,19 Kadar lemak (%) 0,19 7,21 Kalori (kkal) 3869,30 4753,03 Kadar air (%) 66,48 8,82 Ca (%) 0,03 1,08 P (%) 0,09 0,75 BETN (%) Sumber: Lovianti (1994); Aji (1996); Koswara (2010) Kroto 4,20 47,80 9,50 14,84 5143,00 23,66 Jangkrik 13,70 2,90 5,30 117,00 76,00 - 44 Berdasarkan tabel 9, pakan kroto memilki kadar protein tertinggi yaitu 47,80%, sedangkan jangkrik memiliki kadar protein 13,7%. Kroto juga memilki kadar lemak tertinggi yaitu 14,84% dan jangkrik memiliki kadar lemak 5,3%. kadar abu yang dimiliki kroto yaitu 4,20%, serat kasar sebesar 9,50%, kalori sebesar 51,43 kkal, dan BETN sebesar 23,66%, sedangkan jangkrik memilki serat kasar sebesar 2,9%, kalori sebesar 117 kkal, dan kadar air 76,0%. Pur memiliki kasar kalori tertinggi yaitu 4753,03 kkal diikuti oleh pisang kepok sebanyak 3869,30 kkal. Pisang kepok memilki kadar abu 2,65 %, kadar protein pisang kepok 4,30%, serat kasar pisang kepok 1,33%, kadar lemak pisang kepok 0,19%, dan kadar air pisang kepok 66,48%. Pisang kepok memilki kadar air yang cukup tinggi sehingga tergolong buah-buahan yang mudah membusuk karena memiliki kadar air yang cukup tinggi, sedangkan pur memilki kadar air 8,82%, kadar abu 5,90%, kadar protein 21,05%, serat kasar 4,19%, dan kadar lemak 7,21%. Kandungan serat kasar pada suatu pakan menunjukan kesukaran pakan tersebut untuk dicerna. Dalam pakan burung diperlukan protein yang tinggi untuk keperluan pertumbuhan dan aktivitasnya. Sorseno (1995) menyatakan burungburung muda memerlukan pakan yang kaya akan protein. Agar fungsi tubuh berjalan normal, selain jumlah pakan kualitas pakan juga perlu diperhatikan. Pakan yang diberikan tidak hanya cukup secara kualitas dan kuantitas, tetapi juga seimbang. Kualitas pakan sangat ditentukan oleh nilai gizi yang dikandung dalam pakan tersebut. Secara umum, pakan yang diberikan kepada burung harus mengandung protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin, dan air (Soemadi dan Mutholib 1995). Secara kimiawi, protein merupakan suatu bahan organik yang bersifat kompleks dan mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan terkadang belerang hingga fosfor. Unsur-unsur ini terbentuk dalam asam amino. Nilai protein sebagai unsur zat makanan sangat ditentukan oleh jumlah dan asam amino yang menyusunnya. Dari penelitian dapat diketahiui bahwa lebih dari 20 macam asam amino penyusun protein, sepuluh diantaranya sangat penting bagi tubuh burung yaitu asam amino arginin, histidin, isoleusin, lisin, leusin, metionin, fenilalanin, triptofan, treonin, dan falin (Soemadi dan Mutholib 1995). 45 Peranan protein dalam tubuh burung adalah sebagai bahan pembangun tubuh dan pengganti jaringan yang rusak. Bahan baku pembentukan enzim, hormon dan antibodi (zat kekebalan) jumlah protein yang dikonsumsi burung dari pakan yang disediakan harus seimbang dengan kebutuhannya. Burung ocehan memerlukan protein kurang lebih 35% dari jumlah makanannya. Bentuk karbohidrat paling umum terdapat dalam pati. Pati digunakan sebagai sumber energi. Sebelum dimanfaatkan oleh tubuh burung, pati terlebih dahulu dirombak menjadi satuan yang lebih kecil berupa gula glukosa dengan bantuan suatu zat yang disebut enzim. Setelah itu, diserap dan diangkat oleh darah melalui dinding-dinding usus halus untuk kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh. Karbohidrat berperan dalam tubuh burung sebagai sumber energi, membakar lemak, dan membantu memperkecil oksidasi protein menjadi energi serta memelihara fungsi alat pencernaan makanan agar berjalan normal. Kadar karbohidrat dalam tubuh burung umumnya berkisar 2% dari bobotnya. Makanan yang mengandung karbohidrat dalam ransum burung ocehan sebaiknya sekitar 70% dari pakan yang diberikan sehari-hari (Soemadi dan Mutholib 1995). Fungsi lemak dalam tubuh burung adalah sebagai sumber energi, mengatur suhu tubuh, melindungi organ tubuh, membawa vitamin A,D,E K, membawa asam lemak esensial, dan sebagai bahan baku pembentukan hormon steroid. Kandungan lemak dalam pakan burung ocehan sebaiknya tidak lebih dari 8%. Apabila kekurangan lemak, burung akan memperlihatkan gejala berupa kulit bersisik dan mengalami proses reproduksi yang tidak normal bahkan menyebabkan kematian. Sebaliknya, apabila lemak berlebihan juga merugikan karena tidak semua lemak dapat dicerna tubuh dan akhirnya akan terbuang percuma bersama dengan kotoran atau menumpuk diantara otot-otot tubuh maupun dibawah kulit (Soemadi dan Mutholib 1995). Vitamin didefinisikan sebagai substansi organik yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil untuk pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Vitamin dapat dibedakan menjadi vitamin yang dapat larut dalam air dan vitamin yang dapat larut dalam lemak. Vitamin A,D, E, dan K termasuk vitamin yang larut dalam lemak, sedangkan vitamin B dan C larut dalam air. 46 Secara umum, mineral berfungsi memelihara kondisi tubuh, memelihara cairan tubuh, menjaga kepekaan syaraf dan otot, mengatur proses metabolisme tubuh, mengatur keseimbangan kandungan asam dan basa dalam tubuh, dan sebagai unsur pembentuk tulang. Bagi burung, kegunaan mineral lebih khusus lagi yaitu untuk memelihara kesehatan tulang dan bulu, menambah nafsu makan, dan menghindari kanibalisme antar burung (Soemadi dan Mutholib 1995). 5.1.4.4 Kebutuhan pakan Kebutuhan pakan jalak bali dapat diketahui berdasarkan hasil perhitungan terhadap rata-rata jumlah konsumsi dan hasil analisis proksimat. Berdasarkan data tersebut dapat diperoleh kebutuhan protein dan kalori pada pakan jalak bali di MBOF sebagai berikut (Tabel 13): Tabel 13 Kebutuhan pakan jalak bali di MBOF No. 1 2 3 Jenis pakan Pisang kepok Pur Jangkrik Jumlah Protein kasar (%) 1,34 2,59 7,55 11,48 Kalori (Kkal) 1259,31 585,28 64,51 1909,1 Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh jumlah protein kasar yang terkandung dalam pakan yang diberikan pada jalak bali di MBOF yaitu sebesar 11,48 %. Menurut Sudaro dan Siriwa (1999), total protein yang biasa dipakai untuk pembuatan pakan adalah 10 – 30% dengan rata-rata sebesar 15%. Kebutuhan protein sebesar 15% tidak begitu jauh bila dibandingkan dengan kebutuhan protein kasar di MBOF yaitu 11,48%, sehingga dapat dikatakan kandungan protein pada pakan jalak bali di MBOF sudah cukup baik. Kebutuhan kalori jalak bali di MBOF yaitu sebanyak 1909 Kkal. Berdasarkan hasil penelitian Paryanti (2003), kebutuhan kalori burung Perkici dagu merah (Charmosyna placentis) di penangkaran bidang Zoologi Puslit Biologi-LIPI diperoleh hasil mengenai data kebutuhan kalori pakan burung perkici dagu merah yaitu sebesar 1479,678 Kkal. Kebutuhan kalori yang diberikan pada jalak bali di MBOF lebih banyak dibandingkan dengan hasil penelitian Paryanti (2003), tetapi tidak jauh berbeda sehingga kebutuhan kalori jalak bali di MBOF dapat dikatakan cukup baik. 47 5.1.5 Jenis penyakit dan perawatan kesehatan Jenis penyakit yang pernah dialami oleh jalak bali di penangkaran MBOF adalah katarak, flu, sakit mata, dan cacar pada kaki burung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14 Riwayat penyakit yang pernah diderita jalak bali di penangkaran MBOF No 1 2 3 Jenis penyakit Katarak Flu Sakit mata 4 Cacar pada kaki Obat Tidak dapat diobati Tetra-chrol dan mitrafox-12 Obat tetes mata (polidex) Antiseptik dan Salep 88 atau cabe Keterangan Dicampurkan pada minuman Diteteskan pada mata burung. Disemprotkan pada kandang atau dioleskan pada kaki Jenis-jenis penyakit tersebut pernah diderita jalak bali di penangkaran MBOF. Namun, pada saat dilakukan penelitian yaitu pada bulan Juni – Agustus 2011 tidak terdapat penyakit pada jalak bali. Salah satu penyakit yang tidak dapat diobati adalah katarak. Penyakit ini memiliki ciri-ciri mata burung berair dan berwarna putih dan tidak dapat disembuhkan serta tidak laku untuk dijual. Biasanya jalak bali yang menderita penyakit ini tidak lama hidup dan segera mati. Penyakit lainnya adalah flu (influenza) yang disebabkan karena kondisi cuaca yang tidak baik (perubahan suhu yang ekstrim). Ciri-cirinya keluar lendir dari hidungnya dan bersin-bersin. Pemberian obat dilakukan dua hari sekali secara rutin selama sakit. Selain itu, juga diberikan vitamin lima hari sekali dengan cara dicampurkan pada air minum. Penyakit lainnya adalah sakit mata ciri-cirinya adalah mata tertutup, mata berair, dan bengkak . Selain itu, juga terdapat beberapa multivitamin yang diberikan pada jalak bali, misalnya san-B-plex yaitu multivitamin untuk anakan jalak bali yang diberikan dengan cara dicampurkan pada minuman anak jalak bali dan Vetafarm breeding AID yaitu vitamin yang diberikan pada indukan jalak bali untuk merangsang terjadi reproduksi diberikan dengan cara dicampurkan pada makanan jalak bali (pur). Berikut gambar obat-obatan dan multivitamin jalak bali di MBOF (Gambar 23). 48 Gambar 23 Obat-obatan dan multivitamin jalak bali di MBOF. Menurut Jaya (2006), ada beberapa praktek pencegahan penyakit yang dilakukan pada jalak bali untuk dijadikan acuan yaitu: 1. Sejak awal menggunakan bibit yang berkualitas baik dan yang sehat. 2. Sediakan selalu makanan dan minuman yang baru dan segar. Bersihkan dan gantikan makanan dan minuman yang sudah kotor. 3. Bibit burung yang baru didatangkan maka perlu diisolasi atau dimasukan dalam kandang karantina (kurang lebih 2 – 3 minggu). 4. Dalam pemeliharaan burung sebaiknya dipisahkan menurut kelas umur burung. 5. Sanitasi dan kebersihan baik kandang maupun lingkungan sekitar harus tetap diperhatikan. 6. Lakukan pemerikasaan kesehatan burung dan cegah binatang pengganggu untuk masuk dalam kandang seperti tikus, kucing, dan ular. 7. Berikan vitamin dan pakan tambahan secara rutin. 5.1.6 Teknik reproduksi Reproduksi merupakan kunci keberhasilan dalam penangkaran untuk meningkatkan populasi dan produktivitas. Pengetahuan tentang biologi dan perilaku reproduksi jenis satwa yang ditangkarkan sangat penting karena dapat memberikan arah pada tindakan manajemen yang diperlukan guna menghasilkan produksi satwa yang ditangkarkan sesuai harapan (Setio & Takandjanji 2009). Beberapa aspek reproduksi yang penting untuk diperhatikan dalam penangkaran 49 antara lain adalah penentuan jenis kelamin, pemilihan induk, penjodohan, pengeraman dan penetasan, serta pembesaran piyik jalak bali. 1. Penentuan jenis kelamin Komposisi jenis kelamin jantan dan betina untuk setiap jenis burung sangat penting untuk keberhasilan perkembangbiakannya, sehingga pengetahuan pembedaan jenis kelamin harus dikuasai. Penentuan jenis kelamin burung dapat dilakukan dengan membedakan suara, ukuran, tingkah laku, dan sebagainya. Untuk penentuan jenis kelamin, pengelola penangkaran di MBOF mengetahui jenis kelamin jalak bali di usia yang cukup dewasa karena sangat sulit dilakukan pembakuan kriterianya, hanya para pakar dan penggemar burung yang telah lama menangani jalak bali yang dapat menentukan jenis kelamin. Berikut gambar jalak bali jantan dan betina pada kandang reproduksi (Gambar 24). A B Gambar 24 Pasangan jalak bali di kandang reproduksi (A) jantan dan (B) betina. 2. Pemilihan induk Pemilihan bibit untuk indukan diutamakan jalak bali dengan kondisi yang sehat dan tidak dalam kondisi yang cacat dan akan jauh lebih baik jika diketahui pula asal usul jalak bali tersebut berasal dari alam atau merupakan hasil penangkaran sehingga tidak terjadi perkawinan silang dalam (inbreeding) dan silsilahnya jelas serta terjamin kesehatannya. Usia jalak bali yang tepat untuk untuk bereproduksi atau bertelur adalah usia 4 – 5 tahun. Perbandingan sex ratio jantan dan betina di MBOF adalah 1 : 1, dimana jantan dan betina selalu dipasangkan dalam satu kandang. 50 Menurut Prana et al. (2006) memilih pasangan induk yang tepat adalah memilih induk yang masih muda atau masih pada usia produktif, meskipun pengalaman menunjukan bahwa induk yang tua (umur 10 – 12 tahun) masih mampu bereproduksi atau menghasilkan anak tetapi tingkat produktivitasnya relatif sudah jauh berkurang disamping kualitas anaknya (secara genetik) cenderung menurun. Induk yang masih muda masa kemampuan berproduksinya masih lama tetapi usia burung yang terlalu muda (dibawah 2 tahun) juga tidak baik karena mungkin belum mencapai tingkat kematangan fisiologis atau belum siap menghasilkan keturunan. 3. Penjodohan Proses pembentukan pasangan dilakukan dengan cara menjodohkan beberapa pasang atau sepasang jalak bali didalam satu kandang yang selanjutnya dilihat tingkah lakunya. Apabila terlihat ada pasangan jalak bali yang cocok maka dapat dilakukan perkawinan dengan mamasukan jalak bali tersebut kedalam kandang reproduksi yang aman, tertutup, dan jauh dari gangguan. Pasangan jalak bali sebaiknya dijodohkan ketika burung jalak bali betina mencapai usia 2 tahun dan burung jantan mencapai usia 2,5 tahun karena kematangan secara fisik dan fisiologis baru tercapai kira-kira umur tersebut (Prana et al. 2006). Dalam melakukan penjodohan terlebih dahulu memilih pasangan jantan dan betina. Sejumlah ahli berpendapat bahwa jalak bali sifatnya dimorfik yaitu mudah dibedakan antara jantan dan betina karena memiliki ciri perawakan yang berbeda, namun tetap tidak menjamin kepastian perbedaan jenis kelamin, sehingga di negara-negara maju sekalipun penetuan jenis kelamin dikaukan dengan bantuan teknologi misalnya dengan teknik endoskopi (pemeriksaan organ kelamin bagian dalam melalui pembedahan ringan dan dengan bantuan endoskop) dan analisa karyotipe (kromosoma) atau analisa DNA. Cara lain yang dapat dilakukan untuk menentukan pasangan jantan dan betina adalah dengan mengamati perilaku sekelompok burung yang belum diketahui jenis kelaminnya. Kelompok burung ini ditempatkan berdampingan dengan burung jantan yang telah diketahui jenis kelaminnya. Asumsinya, burung yang paling tinggi intensitas interaksi seksualnya dengan burung jantan tersebut hampir dapat dipastikan burung tersebut adalah betina (Prana et al. 2006). 51 4. Peneluran, pengeraman, dan penetasan telur Peneluran, pengeraman, dan penetasan telur dilakukan oleh indukan jalak bali jantan dan betina dalam kandang reproduksi dimana terdapat sarang kotak yang terbuat dari triplek yang terdapat didalam kandang. Sarang tersebut digunakan indukan jalak bali untuk meletakan telur-telurnya hingga menetas. Selang waktu antara peneluran hingga penetasan telur sacara alami berkisar antara 15 hari. Menurut Prana et al. (2006), telur dierami oleh kedua induknya selama 13 – 14 hari secara bergiliran. Hasil pengamatan menunjukan bahwa porsi mengeram induk betina lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan. Teknik reproduksi hanya dilakukan pada jalak bali yang ada di dalam kandang reproduksi. Pada satu kandang reproduksi terdapat satu ekor jantan dan satu ekor betina. Jumlah telur yang dapat dihasilkan oleh satu pasang jalak bali adalah 2 – 3 ekor telur dengan jumlah induk jalak bali sebanyak lima pasang. Rata-rata telur yang menetas yaitu sebanyak 1 – 2 telur oleh satu induk. Jalak bali betina mampu bereproduksi sebanyak 8 – 12 kali dalam satu tahun dan jumlah anakan atau piyik yang dapat hidup adalah 1 – 2 ekor. 5. . Pembesaran piyik jalak bali Pada umumnya, dalam satu kandang terdapat satu pasang jalak bali yaitu pada kandang indukan (reproduksi), sedangkan pada kandang peraga dan kandang pemeliharaan terdapat lebih dari satu pasang jalak bali dan pada inkubator dapat mencapai 5 – 10 anakan jalak bali. Umur jalak bali yang ada di penangkaran berkisar antara 0 bulan samapai dengan 5 tahun karena setiap bulannya selalu tersedia anakan atau piyik jalak bali. Piyik jalak bali yang telah menetas dalam kadang reproduksi masih bersama dengan indukan. Namun setelah empat hari, dipindahkan dalam kandang inkubator. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan kebutuhan pakan piyik jalak bali. Pembesaran piyik jalak bali seperti ini disebut juga hand rearing yaitu pembesaran piyik jalak bali dengan cara memisahkan atau mengambil piyik dari induknya untuk selanjutnya dipelihara dan dibesarkan oleh penangkar secara intensif hingga burung dapat mandiri. Berikut gambar piyik jalak bali di MBOF (Gambar 25) 52 Gambar 25 Piyik jalak bali di MBOF. Menurut Prana et al. (2006), perawatan piyik setelah telur menetas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara alami oleh induknya sendiri dan dengan bantuan perawat burung. Perawatan alami memberi peluang terbaik bagi piyik untuk mendapatkan menu makannan yang paling sesuai, kenyamanan hidup yang optimal dalam lingkungan “kasih sayang” induk, serta pendidikan dasar. Hasilnya, anak-anak burung tumbuh secara sehat dan mandiri. Namun, perawatan piyik secara alami bukan tanpa resiko. Ancaman kematian piyik bahkan oleh induknya sendiri bukanlah suatu kejadian yang langka. Selain itu, beban merawat piyik oleh induknya secara otomatis akan berdampak pada menurunnya frekuansi perbiakan setiap tahunnya. 5.1.7 Faktor- faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali Hal yang paling mendasar dalam membangun sebuah penangkaran jalak bali adalah diperoleh bibit jalak bali yang sehat dan tidak cacat, mengetahui jenis kelamin jantan dan betina jalak bali dan mengetahui cara perkembangbiakannya berikut tingkat perkembangbiakan induk jalak bali, daya tetas telur dan angka kematian anak jalak bali disajikan pada tabel 15. Tabel 15 Persentase daya tetas telur, tingkat perkembangbiakan, dan angka kematian jalak bali tiga tahun terakhir di MBOF Tahun 2011 2010 2009 Rata-rata Daya tetas telur 66,66 66,66 66,66 66,66 Persentase (%) Tingkat perkembangbiakan 83,33 66,66 41,66 63,88 Angka kematian 33,33 33,33 33,33 33,33 53 Berdasarkan hasil perhitungan persentase tingkat keberhasilan penangkaran jalak bali selama tiga tahun terakhir diperoleh hasil bahwa rata-rata persentase daya tetas telur sebanyak 66,66% yaitu jumlah total telur yang mampu dihasilkan oleh satu induk jalak bali setiap satu kali reproduksi yaitu sebanyak 2 – 3 butir telur dan yang berhasil ditetaskan sebanyak 1 – 2 butir telur. Rata-rata persentase tingkat perkembangbiakan induk sebesar 63,88% dimana jumlah total indukan yang ada di MBOF tahun 2011 sebanyak 12 pasang dan 10 pasang diantaranya telah berhasil berkembangbiak dengan baik, sedangkan pada tahun 2010 jumlah indukan yang ada sebanyak 12 pasang dan 8 pasang telah berkembangbiak serta pada tahun 2009 yang berhasil berkembangbiak sebanyak 5 pasang. Angka kematian anak sebesar 33,33% yaitu total anak yang mati tiap kelas umur dibagi dengan total anak keseluruhan tiap kelas umur. Berikut kriteria presentase tingkat keberhasilan penangkaran selama tiga tahun terakhir (Tabel 16). Tabel 16 Persentase dan kriteria tingkat keberhasilan jalak bali di MBOF No. 1 2 3 Indikator Daya tetas telur Angka kematian Persentase (%) 66,66 33,33 Kriteria Tinggi Rendah Tingkat perkembangbiakan 63,88 Tinggi Faktor penentu keberhasilan jalak bali di MBOF sangat ditentukan oleh kandang. Kandang yang sesuai dengan fungsi dan kegunaannya sebaiknya disesuaikan dengan habitat alaminya. Untuk perkandangan jalak bali di MBOF telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya. Selain kandang, juga perlu diperhatikan adalah pakan. Pakan yang diberikan harus sesuai dan memilki kandungan gizi yang dibutuhkan oleh burung. Beberapa hal yang menjadi faktor penunjang keberhasilan dalam kegiatan pengelolaan penangkaran di MBOF antara lain: a. Letak kandang yang jauh dari kebisingan dan gangguan manusia. b. Kebersihan, keamanan, dan perawatan kandang yang selalu terjaga. c. Pemberian pakan, baik pakan utama maupun pakan tambahan yang rutin diberikan tiap pagi dan sore hari. d. Pemberian obat dan vitamin secara rutin untuk menjaga kesehatan dan mencegah terserangnya penyakit pada burung yang ditangkarkan. e. Menjaga kemurnian genetik dan menghindari terjadinya in-breeding. 54 5.2 Analisis Koefisien Inbreeding Perhitungan koefisien silang dalam (inbreeding) dapat dilakukan dengan mempelajari silsilah atau studbook, sehingga dapat diketahui hubungan kekerabatan dari setiap individu. Penangkaran Mega Bird and Orchid Farm belum memiliki buku silsilah jalak bali (studbook jalak bali) sehingga hanya dilakukan wawancara kepada pengelola penangkaran untuk memperoleh data mengenai silsilah jalak bali yang ditangkarkan. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa hingga bulan Juli 2011 jalak bali generasi F2 hanya berjumalah 2 individu dan sisanya adalah genarasi F0 dan F1. Kebanyakan jalak bali yang terdapat di penangkaran MBOF adalah generasi F1. Hal ini disebabkan karena tingkat reproduksi jalak bali indukan (generasi F0) yang cukup tinggi. Hasil perhitungan nilai koefisien inbreeding yang telah dilakukan terhadap individu jalak bali generasi F2 di penangkaran MBOF diperoleh nilai individu pertama yaitu 0 dan pada individu kedua diperoleh nilai 0. Kedua individu tersebut memiliki nilai koefisisen inbreeding 0 karena individuindividu tersebut tidak memilki tetua yang inbreeding (kawin dengan keluarga dekat), sedangkan tetua nenek moyang sebelumnya tidak diketahui karena tidak ada silsilah kedua individu tersebut sehingga diasumsikan tetua dari individu tersebut berasal dari alam. Berikut silsilah dan diagram panah hasil perkawinan yang tidak ada hubungan keluarga (Gambar 26). F0 (Indukan ke 1) A : Pasangan 1 C : Pasangan 2 : E F1 (anakan) dan F dan dan B D kandang indukan (4B) kandang indukan (2B) kandang indukan (5A) Diagram pohon B A C D F E X 55 Diagram panah A B D C E F X Gambar 26 Silsilah dan diagram panah hasil perkawinan tidak ada hubungan saudara. Pada silsilah tersebut tidak ada jalur yang menghubungkan individu E dan F. Hubungan kekerabatan E dan F adalah 0 dan koefisien inbreedingnya adalah 0. Hasil perhitungan nol dapat dikatakan bahwa nilai koefisien inbreeding masih rendah. Menurut Masy’ud (1992), perhitungan koefisien silang dalam dilakukan berdasarkan informasi silsilah jalak bali dengan menelaah buku silsilah (Studbook). Jika koefisien silang dalam bernilai 0 (nol), maka pasangan tersebut dipindahkan dan ditempatkan dalam satu kandang untuk diamati perilaku asosiasinya lebih lanjut dan penampilan reproduksinya. Sebaliknya, jika koefisien silang dalam bernilai satu atau mendekati satu, maka pasangan tersebut dipisahkan kembali untuk dicarikan pasangannya dengan jalak bali lain. Dapat dikatakan bahwa jalak bali di MBOF memiliki nilai koefisien inbreeding nol dan tidak ada kawin dengan kerabat dekat, tetapi di MBOF juga dapat terjadi inbreeding apabila beberapa tahun ke depan tidak ada masukan jalak bali dari luar penangkaran sehingga tetap harus memasukan jalak bali dari dari luar penangkaran agar terhindar dari inbreeding (kawin dengan kerabat dekat). Pada bulan Juli sampai dengan Oktober indukan jalak bali generasi F1 telah bertelur sebanyak 30 butir telur. Namun, yang dapat menetas hanya berjumlah 16 butir telur dan yang mampu bertahan hidup sampai sampai saat ini 14 anakan. Jalak bali generasi F2, dua diantara mati pada usia dua minggu dan tiga minggu, sedangkan indukan generasi F0 jauh lebih banyak bertelur. Berdasarkan hasil wawancara silsilah generasi F2 tidak terjadi inbreeding (silang dalam) akan tetapi adanya kemungkinan terjadinya perkawinan antara saudara tiri (indukan jantan 56 yang sama) karena indukan jantan pada generasi F0 sering dilakukan perpindahan kandang (diacak) dalam mengawini betina sehingga memungkinkan terjadinya perkawinan saudara tiri. Silang dalam (inbreeding) pada umumnya didefinisikan sebagai persilangan antar satwa yang memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dari rataan hubungan kekerabatan populasi tempat individu tersebut berada. Jika tetua berkerabat, anak-anaknya dapat dikatakan inbreed, makin dekat hubungan kekerabatan anatara tetuanya maka akan semakin inbreed anak-anaknya (Noor 2008). Hubungan kekerabatan (koefisisen kekerabatan saudara tiri adalah 25% sedangkan hubungan kekerabatan saudara kandung 50%. Koefisien inbreeding adalah setengah dari koefisien kekerabatan sehingga koefisien inbreeding saudara tiri adalah 0,125. Begitu juga dengan hasil perhitungan nilai koefisien inbreeding saudara tiri adalah 0,125 (Gambar 27). F0 (Indukan ke 2) F1 (anakan) : Pasangan 1 O dan P kandang B : Pasangan 2 O dan Q kandang B : R dan S kandang indukan A Diagram pohon O P O R Q S T 57 Diagram panah O R S T Gambar 27 Silsilah dan diagram panah hasil perkawinan antar saudara tiri. Pada silsilah tersebut hanya ada satu jalur yang menghubungkan individu R dan S melalui O yang memilki dua anak panah yaitu R O S. Hubungan kekerabatan R dan S adalah 0,25 sedangkan koefisien inbreedingnya adalah 0.125. Silang dalam adalah perkawinan antara satwa-satwa yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata satwa dalam bangsa atau populasi itu yaitu satwa-satwa yang mempunyai moyang bersama dalam 4 – 6 generasi pertama dari silsilahnya. Silang dalam diukur dengan koefisisen silang dalam (koefisien inbreeding). Koefisien inbreeding adalah ukuran-ukuran persentase peningkatan homozigositas dari satwa-satwa inbreed dibandingkan dengan rata-rata populasinya (Warwick et al. 1990). Inbreeding dapat menghasilkan kehomozigotan apabila inbreeding terusmenerus. Kehomozigotan akan semakin meningkat antara individu suatu populasi satwa atau antara gen dalam suatu individu. Inbreeding dapat menimbulkan karakter buruk pada satwa jika terlalu dekat hubungan kerabatnya karena karakter buruk itu bersifat resesif dan dari generasi ke generasi selalu terpendam oleh kehadiran alel yang dominan. Semakin terjadi kehomozigotan termasuk alel resesif, maka karakter burukpun bermunculan tetapi inbreeding tidak selalu menuju pada permunculan karakter buruk. Apabila alel karakter buruk itu tidak ada, maka inbreeding tidak akan menimbulkan keburukan apapun (Yatim 1991). 58 Pengaruh buruk ini biasanya berhubungan dengan penurunan fertilitas, peningkatan mortalitas, penurunan terhadap daya tahan penyakit, penurunan daya hidup, dan penurunan laju pertumbuhan. Silang dalam juga dapat digunakan bersamaan dengan seleksi untuk menyingkirkan gen-gen yang berpengaruh negatif. Penggabungkan silang dalam dengan seleksi dapat dihasilkan satwa-satwa unggul. Satwa-satwa inbreed yang menunjukan sifat unggul cenderung lebih homozigot untuk gen-gen pengontrol keunggulan (Noor 2008). Studbook (buku silsilah) merupakan salah satu hal yang penting dari sebuah penangkaran. Selain untuk media pencatatan, buku silsilah juga dapat digunakan untuk memperoleh silsilah atau asal-usul individu jalak bali tersebut. Menurut Noor (2008), buku silsilah merupakan catatan dari tetua suatu individu. Kegunaan silsilah ini tergantung dari seberapa dekat hubungan keluarga antara individu tersebut dengan tetuanya. Selain itu, silsilah dapat digunakan untuk mendukung sesuatu yang mungkin sudah diketahui tentang suatu individu. Berikut buku silsilah atau studbook jalak bali yang dibuat selama penelitian (Tabel 17). 59 Tabel 17 Data studbook jalak bali di penangkaran MBOF ( Maret-Agustus 2011) Satus induk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jantan Betina Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Penangkaran Liar Liar Penangkaran Liar Liar Liar Liar Penangkaran Penangkaran Penangkaran Liar Liar Liar Penangkaran Penangkaran Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Liar Penangkaran Liar Liar Penangkaran Liar Liar Liar Liar Penangkaran Penangkaran penangkaran Liar Liar Liar Penangkaran penangkaran Liar Liar Liar ∑ total telur 2 Telur ∑ telur menetas 2 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 kelahiran Tanggal Tanggal bertelur menetas 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 28-3-11 12-4-11 24-4-11 09-5-11 28-4-11 13-5-11 28-4-11 13-5-11 23-5-11 07-6-11 25-5-11 09-6-11 01-6-11 16-6-11 01-6-11 16-6-11 01-6-11 16-6-11 02-7-11 02-7-11 02-7-11 09-7-11 09-7-11 09-7-11 16-7-11 16-7-11 16-7-11 16-7-11 16-7-11 No Ring MBOF124 MBOF125 MBOF126 MBOF127 MBOF128 MBOF129 MBOF130 MBOF131 MBOF132 MBOF133 MBOF134 MBOF135 MBOF136 MBOF137 MBOF138 MBOF139 MBOF140 MBOF141 MBOF142 MBOF143 MBOF144 MBOF145 MBOF146 MBOF147 MBOF148 MBOF149 MBOF150 No. kandang Genarasi F1 F2 V V V V v v v v 5A 5B 11A 4B 3B 2B 2B 13A 13A 11A 4B 4B 4B 3A 3A 5B 5B 5B Ket. Semua menetas v v v Dua telur tidak menetas Satu telur tidak menetas v v v v v Dua telur tidak menetas 2anak mati usia 6 hari v v v v v v v v v v v 59 60 Tabel 17 (lanjutan) Status induk Kelahiran No. Ring Tanggal Tanggal jantan Betina bertelur menetas 16 Penangkaran Penangkaran 15-7-11 01-8-11 MBOF151 17 Penangkaran Penangkaran 18-07-11 03-8-11 MBOF152 18 Liar Liar 23-7-11 08-8-11 MBOF153 Liar Liar 08-8-11 MBOF154 Liar Liar 08-8-11 MBOF155 19 Liar Liar 3 3 10-8-11 MBOF156 Liar Liar 10-8-11 MBOF157 Liar Liar 10-8-11 MBOF158 20 Penangkaran Penangkaran 3 1 11-8-11 MBOF159 21 Liar Liar 3 2 12-8-11 MBOF160 Liar Liar 12-8-11 MBOF161 22 Penangkaran Penangkaran 3 1 02-9-11 MBOF162 23 penangkaran Penangkaran 3 2 04-9-11 MBOF163 Penangkaran penangkaran 14-9-11 MBOF164 24 penangkaran Penangkaran 3 2 05-9-11 MBOF165 Penangkaran Penangkaran 15-9-11 MBOF166 25 Liar Liar 3 3 04-9-11 MBOF167 Liar Liar 14-9-11 MBOF168 Liar Liar 14-9-11 MBOF169 26 Penangkaran Penangkaran 3 3 08-9-11 MBOF170 Penangkaran Penangkaran 08-9-11 MBOF171 Penangkaran Penangkaran 08-9-11 MBOF172 27 Liar Liar 3 2 07-9-11 MBOF173 Liar Liar 07-9-11 MBOF174 Keterangan: semua generasi F0 (indukan generasi pertama) di asumsikan liar (berasal dari alam) . No ∑total telur 3 3 3 telur ∑telur menetas 1 1 3 No. kandang 13A 3A 4B 4B 4B 5B 5B 5B 11A 2B 2B 13A 9A Generasi F1 v v v v v v v v Mati usia 1 bulan Mati usia 5 hari v v v v v v v v v 11A 2B Mati usia 1bulan v v 3A 4B Keterangan F2 v v v Mati usia tiga minggu Mati usia 3 minggu Mati usia 3 minggu v v 60 61 Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh data mengenai status induk jalak bali yang tidak terdeteksi sehingga diasumsikan bahwa rata-rata status induk berasal dari alam (liar). Namun, ada beberapa induk yang berasal dari penangkaran MBOF seperti pada nomor ring MBOF 132 dan MBOF 135. Jumlah telur yang dihasilkan rata-rata 2 – 3 butir dan jumlah telur yang menetas berkisar antara 1 – 2. Telur jalak bali memilki kisaran waktu bertelur hingga kurang lebih 15 hari. Generasi kedua yang dihasilkan oleh jalak bali di MBOF berjumlah dua ekor yaitu pada nomor ring MBOF 132 dan MBOF 135 sedangkan sisanya adalah generasi pertama. Ring (cincin) merupakan suatu penanda bahwa jalak bali tersebut merupakan hasil dari penangkaran di MBOF. Pemakaian ring pada jalak bali diberikan sejak masih piyik yang dipasangkan pada kaki burung tersebut. Berikut gambar cincing atau ring yang ada di MBOF (Gambar 28). Gambar 28 Cincin (ring) jalak bali di MBOF. Indukan adalah generasi F0 yang telah banyak bertelur dan menetaskan anak jalak bali. Generasi pertama ini telah banyak diperjualbelikan. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat reproduksi indukan jalak bali di MBOF sehingga jumlah anak yang menetas dan hidup semakin banyak dan tidak tertampung di dalam wilayah penangkaran. Selain itu, juga untuk mencapai generasi F2 diperlukan waktu yang cukup lama dan menunggu usia yang cukup umur untuk kawin. Alasan lainnya adalah MBOF sendiri membutuhkan banyak dana untuk kegiatan pengelolaan di penangkaran. Tahun ini MBOF sudah memulai untuk mengawinkan generasi F1 62 sehingga anakan dari generasi F1 tersebut dapat diperjualbelikan. Beberapa pasang telah berhasil dikawinkan dan cukup umur untuk dikawinkan dan bahkan beberapa jalak bali generasi F2 telah hidup tumbuh dengan sehat. Namun menurut Sukamntoro et al. (2007), jalak bali merupakan Apendiks I CITES yang perdagangannya hanya diizinkan dalam kondisi tertentu saja misalnya untuk kegiatan riset ilmiah. 5.3 Karakteristik Morfologi Penelaahan karakteristik morfologi jalak bali hasil penangkaran yang telah dilakukan meliputi karakteristik morfologi yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Karakteristik yang bersifat kuantitatif meliputi semua ukuran tubuh sedangkan karakteristik yang bersifat kualitatif meliputi semua ciri khas yang terdapat pada jalak bali terutama mengenai warna bulu dan pola pewarnaan pada bulu sayap, warna kulit, warna kelopak sekitar mata, dan warna kaki. 5.3.1 Karakteristik morfologi kuantitatif Penelaahan karakteristik morfologi kuantitatif hanya dilakukan pada jalak bali generasi F1 dan berusia berkisar antara 5 – 12 bulan. Karakteristik morfologi ini dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak lima pasang yang berasal dari kandang pemeliharaan. Berikut hasil karakteristik morfologi yang bersifat kuantitatif (Tabel 18). Tabel 18 Karakteristik morfologi kuantitatif jalak bali jantan dan betina pada lima individu di MBOF No Indikator Sex J B Panjang badan J 2 (cm) B J 3 Panjang ekor (cm) B Panjang sayap J 4 (cm) B Panjang kepala J 5 (mm) B Panjang kaki J 6 (mm) B Panjang paruh J 7 (cm) B J 8 Tinggi paruh (cm) B Keterangan: (J) Jantan; (B) Betina. 1 No. Ring Ind 1 114 116 22,8 21 7 4 13,7 13 5,6 5,4 13,9 12 2 2,2 0,8 0,9 Individu (ulangan) ind 2 ind 3 Ind 4 121 05 42 123 04 09 22,7 26 24 22,8 25,7 25,4 7,3 8,8 7,5 7,2 8,3 7,4 16,9 14,7 16,3 13,5 15,1 15,1 5,5 5,9 6,6 6 6,5 6,2 12,7 13,1 14,6 13,7 13,1 12,6 2,1 2,5 2,4 2,1 2,5 2,8 0,9 0,9 1 0,8 1,1 1 Ind 5 120 119 24,1 22,5 7 7,2 15,6 14,4 5,6 5,3 12,9 11,5 2,4 2,2 0,9 0,8 Rataan 23,92 23,48 7,52 4,82 15,44 14,22 5,84 5,88 13,44 12,58 2,28 2,36 0,9 0,92 63 Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan terhadap lima pasang individu jalak bali, terlihat adanya perbedaan variasi ukuran pada tubuh jalak bali. Hal ini dipengaruhi oleh jenis kelamin dan struktur umur. Secara keseluruhan jalak bali jenis kelamin jantan memilki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan jalak bali jenis kelamin betina begitu juga dengan jalak bali usia lebih tua memilki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan usia jalak bali muda. Struktur umur jalak bali di penangkaran MBOF dapat diketahui berdasarkan urutan nomor ringnya. Semakin kecil nomor ring maka semakin tua usia jalak bali tersebut seperti pada tabel 14 yaitu pada individu 3 nomor ring 04 dan 05 memilki ukuran tubuh yang paling besar dibanding individu lainnya. Berdasarkan tabel 18 dapat terlihat bahwa ukuran-ukuran tubuh dari jantan dan betina jalak bali tersebut bervariasi. Secara umum diketahui pula bahwa ukuran tubuh jalak bali jantan lebih besar dibandingkan dengan betina (Jaya 2006). Meskipun angka-angka tersebut menunjukan variasi, tetapi dari hasil analisis statistik perbandingan rata-rata dari semua komponen ukuran tubuh dengan menggunakan uji t-student menunjukan tidak ada perbedaan yang nyata diantara jenis kelamin jalak bali jantan dan betina tersebut pada selang kepercayaan 95%. Ini berarti bahwa sifat-siafat kuantitatif (ukuran tubuh) jalak bali jantan dan betina tidak berbeda nyata. Berikut tabel uji t-student dengan menggunakan software SPSS (Tabel 19). Tabel 19 Hasil perbandingan jenis kelamin jalak bali di MBOF menggunakan SPSS No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Rata-rata Jantan Betina Standar deviasi Jantan Betina Uji t-student Panjang badan 23,92 23,98 1,33 2,01 0,408 Panjang ekor 7,52 6,82 0,75 1,64 0,868 15,44 14,22 1,27 0,94 1,720 5,84 5,88 0,45 0,55 0,130 Panjang kaki 13,44 12,58 0,79 0,87 1,634 Panjang paruh 2,28 2,36 0,22 0,29 0,496 Tinggi paruh 0,90 0,92 0,07 0,13 0,302 Panjang sayap Panjang kepala Hasil Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak brbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata 64 Berdasarkan hasil perhitungan uji t-student dengan menggunakan SPSS diperoleh hasil bahwa jalak bali jantan dan jalak bali betina tidak berbeda nyata. Parameter ukuran tubuh jalak bali yang di ukur mulai dari panjang badan, panjang ekor, panjang sayap, panjang kepala, panjang kaki, panjang paruh, dan tinggi paruh menujukan hasil tidak berbeda nyata dengan t hitung < t tabel sehingga tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil pengukuran morfologi kuantitatif yang telah dilakukan oleh Masy’ud (1992) diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 20 Perbandingan rataan ukuran tubuh jalak bali jantan dan betina No. Ukuran tubuh Sex MBOF J 239,20 1 Panjang badan (mm) B 234,48 J 154,40 2 Panjang sayap (mm) B 142,20 J 75,20 3 Panjang ekor (mm) B 74,20 J 22,80 4 Panjang paruh B 23,6 J 9,00 5 Tinggi paruh B 9,2 Sumber: Masy’ud (1992); Helvoort et al. (1985). Asal jalak bali Masy’ud 72,60 70,68 198,80 191,53 80,70 76,98 26,00 24,05 9,70 8,63 Helvoort et al. 231,4 217,5 135,9 231,2 80,0 74,1 24,4 23,1 - Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Masy’ud (1992) mengenai penelaahan karakteristik morfologi jika dibandingkan dengan hasil pengukuran parameter tubuh jalak bali di MBOF diperoleh hasil pengukuran yang relatif sama. Dari ke-14 parameter yang diukur, terdapat lima parameter yang sama yaitu panjang tubuh, panjang ekor, panjang sayap, panjang paruh, dan tinggi paruh. Sebagai contoh rataan ukuran panjang total tubuh berdasarkan hasil pengukuran di MBOF sekitar 23,92 cm atau 239,2 mm relatif sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Masy’ud (1992) yang merupakan dari penjumlahan ukuran panjang badan, panjang paruh, dan panjang ekor yaitu sekitar 179,3 mm. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Helvoort et al. (1985) misalnya untuk panjang badan jalak bali jantan di MBOF yaitu 239,2 mm sedangkan hasil pengukuran Helvoort et al. (1985) panjang badan jalak bali jantan yaitu 231,4 mm. Angka tersebut tidak jauh berbeda sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terjadi tekanan inbreeding pada jalak bali di MBOF. 65 5.3.2 Karakteristik morfologi kualitatif Penelaahan karakteristik morfologi yang bersifat kualitatif yang telah dilakukan pada jalak bali di penangkaran MBOF. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh suatu gambaran umum dari ke-5 pasang jalak bali yang dijadikan contoh secara keseluruhan pola bulu ekor pada jalak bali memiliki karaktersitik yang sama yaitu semua ujung ekor jalak bali terdapat bagian yang berwarna hitam sekitar 1 – 2 cm. Menurut Masy’ud (1992) pada semua ujung ekor selalu terdapat warna hitam dengan ukuran sekitar 2 – 3 cm. Bulu sayap jalak bali berwarna putih akan tetapi pada bagian ujung bulu sayap jalak bali terdapat warna hitam sekitar 2 – 3 cm. Berikut gambar sayap jalak bali di MBOF (Gambar 29). Gambar 29 Rentang sayap jalak bali di MBOF. Beberapa karakteristik lainnya yang telah ditelaah pada penelitian ini yaitu warna bulu, warna paruh, warna kaki, warna mata, dan warna daerah sekitar mata semua individu jalak bali menujukan pola warna yang sama dan tidak ditemukan adanya perbedaaan. Paruh berwarna coklat kekuningan dan agak sedikit kehitaman pada ujungnya, bagian kaki berwarna kuning sedangkan pada jalak bali yang baru berusia tiga bulan warna bulu sayap putih agak kotor kehitaman pada bagian tubuhnya, warna mata hitam, dan daerah sekitar mata berwarna biru. Menurut Masy’ud (1992), paruh berwarna coklat kehitaman dengan warna kuning pada ujungnya, kaki dan kulit berwarna kuning, dan warna sekitar mata adalah biru kecoklatan dan hasil dari penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Masy’ud (1992). BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Teknik penangkaran di MBOF (Mega Bird and Orchid Farm) yang terdiri dari sejarah penangkaran, populasi jalak bali, perkandangan, manajemen pakan, perawatan kesehatan, dan teknik reproduksi sudah cukup baik. 2. Tingkat keberhasilan jalak bali di MBOF dapat dikatakan berhasil karena persentase tingkat perkembangbiakan induk jalak bali cukup tinggi pada tahun 2011 yaitu 83,33% dan pada tiga tahun terakhir 66,66%, sedangkan daya tetas telur selama tiga tahun terakhir sebanyak 66,66% dan tingkat kematian anak jalak bali dalam tiga tahun terakhir cukup rendah yaitu sebesar 33,33%. Faktor penentu keberhasilan jalak bali di MBOF yaitu kandang, pakan, dan bibit jalak bali, serta teknik perkembangbiakan. 3. Pada silsilah jalak bali, tidak ditemui adanya jalak bali yang inbreeding dengan nilai koefisien 0 (nol). Namun, terdapat kemngkinan adanya perkawinan saudara tiri dimana jantan indukan sering dilakukan kawin acak dengan indukan betina yang lain sehingga memungkinkan adanya perkawinan saudara tiri dengan nilai koefisien inbreeding sebesar 0,125. Hasil dari penelaahan morfologi dengan membandingkan antara jenis kelamin menggunakan uji t-student diperoleh hasil tidak berbeda nyata. 4. Berdasarkan hasil perbandingan morfologi kuantitaif ukuran jalak bali pada saat penelitian dengan hasil penelitian Masy’ud (1992) tidak jauh berbeda sehingga dapat dikatakan tidak terjadi adanya tekanan inbreeding pada jalak bali di MBOF. 67 6.2 Saran Perlu dilakukan pencatatan secara berkelanjutan mengenai data kelahiran jalak bali dan aspek pendukung lainnya seperti pencatatan silsilah induk, asal usul jalak bali (penangkaran atau alam), dan mutasi (kematian, kelahiran, masuk dan keluar). Selain itu, perlu memasukkan jalak bali jantan dari luar untuk menghindari adanya inbreeding sehingga lebih beranekaragam genotifnya. DAFTAR PUSTAKA Aji S. 1996. Studi tentang beberapa jenis pakan beo nias dan tingkat palatabilitasnya di penangkaran [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Alikodra HS. 1987. Masalah pelestarian jalak bali. Media Konservasi 3(4). Ariyanto D. 2010. Penangkaran jalak bali di dalam dan di luar habitatnya. www.jendelajalakbali.com.htm. [21 Mei 2011]. Berita Burung. 2010. Jalak bali dilestarikan atau dipunahkan?. http://berita burung.com/?p=289. [02 Juni 2011]. Damanik GS. 1996. Teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah dan di Madiun [skripsi]. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. [Dirjen PHKA] Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2004. 50 Taman Nasional Indonesia. Jakarta: Departmen Kehutanan Gepak HV. 1986. Penangkaran burung jalak bali di Kebun Binatang Surabaya [makalah ilmiah]. Surabaya: Kebun Binatang Surabaya. Ginantra KI, Dalem R, Sudirga SK, Wirayudha G. 2009. Jenis-jenis tumbuhan sebagai sumber pakan jalak bali di Desa Ped, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Bumi Lestari 9(1): 97 – 102. Hartojo P, Suwelo IS. 1985. Upaya pelestarian jalak bali (leucopsar rothschldi). Bogor: Direktorat Perlindungan Hutan dan pelestarian Alam. Hartojo P, Suwelo IS. 1988. Upaya pelestarian jalak bali (Leocopsar rothschildi). Media Konservasi 1(4). Helvoort BE, Soetawidjaya MN, Hartono P. 1985. The roth’schildi mynah (Leucopsar rotshchildi) a case for captive or wild breeding. Cambridge: International council of bird preservation. Helvoort BE, Hartojo P, Soetawidjaya MN. 1986. The rothschild’s mynah (leocopsar rothschildii) a case or wild breeding. ICBP. Cambridge: International council of bird preservation. Helvoort BE. 1988. An attem to a population genetik analisis of the american captive bali starling population. Bali Starling Project III. Gilimanuk. Bali: International Council for Bird Preservation. 69 Isom. 2011. Tips sukses breeding jalak bali. http://www.kicaupantura.co.cc/2011/ 04/penangkaran-jalak-bali.html. [02 Juni 2011]. Jaya BA. 2006. Studi manajemen restocking jalak bali (Leocopsar rothschildii) di pusat penangkran jalak bali Tegal Bunder Taman Nasional Bali Barat [tugas akhir]. Program Diploma III Konservasi Sumberdaya Hutan. Bogor: Departmen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Koswara S. 2011. Serangga Sebagai Bahan Makanan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Lovianti. 1994. Nilai gizi dan palatabilias kroto (larva Oecophylla smaragdina) [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. MacKinnon J. 1989. Fielguide to the bird Java and Bali. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Masyud B. 1992. Penampilan reproduksi dan karakteristik genetik jalak bali [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Masyud B. 2010. Teknik Menangkarkan Burung Jalak di Rumah. Bogor: IPB Press. Noor RR. 2008. Genetika Ternak. Jakarta: Penebar Swadaya. Nurana K. 1989. Studi Teknik penangkaran jalak bali (Leocopsar rothschildi Stresemann 1912) di Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Binatang Surabaya [skripsi]. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Paryanti. 2005. Studi konsumsi pakan burung perkici dagu merah di penangkaran. Pusat penelitian LIPI. Bogor: Bidang Biologi. Prana MS, Oetojo S, Utami EB. 2006. Sukses Menangkar Jalak Bali Untuk Menunjang Pemamfaatan Secara Lestari. Bandung: PD Maju terus Pujiati. 1987. Studi Populasi Jalak Bali (Leocopsar rothschildii) di Taman Nasional Bali Barat [skripsi]. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutatanan Institut Pertanian Bogor. Soemadi W, Mutholib A. 1995. Pakan Burung. Jakarta: Penebar Swadaya. Soemaryoto R, Prayitno. 1999. Agar Burung Selalu Sehat. Jakarta: Penebar Swadaya. 70 Setio P, Takandjandji M. 2007. Konservasi ek-situ burung endemik langka melalui penangkaran. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian; Padang, 20 September 2006. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Konservasi Alam. hlm 47 – 61. Sudarwo Y, Siriwa A. 1999. Ransum Ayam dan Itik. Jakarta: Penebar Swadaya. Sukmantoro W, Irham M, Novarino W, Hasudungan F, Kemp M, Muchtar M. 2007. Daftar Burung Indonesia No. 2. Bogor: Indonesian Ornithologists’ Union. Thohari M, Masyud B, Mansjoer SS, Sumantri C, Muntasib EKS H. Hikmat A. 1991. Studi perbandingan polimorfisme protein jalak bali (Leocopsar rothschildii) hasil penangkaran dari Indonesia, Amerika, dan Inggris [laporan hasil penelitian]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut pertanian Bogor. Thohari M. 1987. Gejala Inbreeding dalam Penangkaran Satwaliar. Media Konservasi 1(4):1 – 10. Thohari M.1987. Upaya Penangkaran Satwaliar. Media Konservasi 1(3): 21 – 26. [TNBB] Taman Nasional Bali Barat. 2009. Pengelolaan penangkaran jalak bali (Leucopsar rothscildi) di Taman Nasional Bali Barat. www.google.co.id./jalak bali.htm. [25 Maret 2011]. [TNBB] Taman Nasional Bali Barat. 2011. Jalak bali. www.tnbalibarat.com. [05 Juni 2011]. Warwick EJ, Astuti JM, Hardjosubroto W. 1984. Pemuliaan Ternak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Yatim W. 1991. Genetika. Bandung: Tarsito. LAMPIRAN 72 Lampiran 1 Jumlah konsumsi dan palatabilitas pakan jalak bali kandang pertumbuhan Kandang pertumbuhan Hari ke - Waktu pemberian Jenis pakan Berat pakan awal (g)/ekor Berat pakan sisa (g)/ekor Jumlah konsumsi/ekor Tingkat palatabilitas 1 Pagi Pisang 70 22 48 68,57 Pur 12.6 4.6 8 63,49 Pisang 70 24 46 65,71 Pur 13 7.8 5.2 40,00 Pisang 55 21 34 61,81 Pur 13.2 8.4 4.8 36,36 Pisang 81.8 34 47.8 58,43 Pur 14 8 6 42,85 Pisang 87 47 40 45,97 Pur 14 8 6 42,85 Pisang 81 21 60 74,07 Pur 12.4 7 5.4 43,55 Pisang 74 32 42 56,67 Pur 13 7 6 46,15 Pisang 63 21 42 66,66 Pur 12 6.2 5.8 48,33 Pisang 104 58 46 44,23 Pur 11 6 5 45,54 Pisang 74 53 21 28,37 Pur 13 5.6 7.4 56,92 Pisang 81 37 44 54,32 Pur 12 7 5 41,66 Pisang 72 41 31 43,05 Pur 13 5 8 61,53 Pisang 49 21 28 57,14 Pur 12 4 8 66,66 Pisang 58 25 33 56,89 Pur 12 4 8 66,66 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi 73 Lampiran 2 Jumlah konsumsi dan palatabilitas pakan jalak bali kandang reproduksi Kandang reproduksi Hari Waktu ke - pemberian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Jenis pakan Berat pakan awal (g)/ekor/hari Berat pakan sisa (g)/ekor/hari Jumlah konsumsi (g)/ekor/hari Tingkat palatabilitas Pisang 51 37,5 13,5 26,47 Pur 16 9,5 6,5 40,62 Serangga 26 10 16 61,54 Pisang 65 55 10 15,38 Pur 15,5 14,5 1 6,46 Serangga 27 11 16 59,26 Pisang 60 47,5 12,5 20,83 Pur 21 20 1 4,76 Serangga 27,5 12,5 15 54,55 Pisang 50 49 1 2 Pur 21 20 1 4,76 Serangga 25 10 15 60 Pisang 60 55 5 8,33 Pur 24,5 20 4,5 18,36 Serangga 25 11 16 64 Pisang 67,5 30 37,5 55,55 Pur 23,5 22,5 1 4,25 Serangga 26 10 16 61,54 Pisang 62,5 50 12,5 20 Pur 32,5 26 6,5 20 Serangga 25 10 15 60 Pisang 50 42,5 7,5 15 Pur 26 21 5 19,23 Serangga 25 12,5 12,5 50 Pisang 57,5 54,5 3 5,21 Pur 21 17,5 3,5 16,66 Serangga 27,5 11,5 16 58,18 Pisang 65 60 5 7,69 Pur 22,5 17,5 5 22,22 Serangga 25 10 15 60 Pisang 22,5 19,5 3 13,33 Pur 57,5 55 2,5 4,34 Serangga 25 10 15 60 Pisang 57,5 55 2,5 4,34 Pur 27,5 25 2,5 9,09 74 Lampiran 2 (lanjutan) 13 14 Pagi Pagi Serangga 25 10 15 60 Pisang Pur 57,5 50 7,5 13,03 25 22,5 5 20 Serangga 25 10 15 60 Pisang 60 55 5 8,33 Pur 27,2 25 2,5 9,09 Serangga 25 10 15 60 75 Lampiran 3 Kebutuhan pakan pada kandang pertumbuhan Jenis pakan Pisang kepok Pur Serangga Jumlah Jumlah konsumsi Proksimat SK(%) PK(%) LK(%) 8,96 gr 4,30 0,19 1,33 3869,30 3,39 gr 15,18 gr 27,53 gram/ekor/hari 21,05 13,7 7,21 5,3 4,19 2,9 4753,03 117 Kebutuhan %PK Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 4,30 Pur : 3,39/27,53 x 21,05 Serangga : 15,18/27.53 x 13,7 Jumlah PK (%) = 1,34 = 2,59 = 7,55 = 11,48 %PK Kebutuhan %LK Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 0,19 Pur : 3,39/27,53 x 7,21 Serangga : 15,18/27,53 x 5,3 Jumlah LK (%) = 0,06 = 0,88 = 2,92 = 3,86 %LK Kebutuhan %SK Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 1,33 Pur : 3,39/27,53 x 4,19 Serangga : 15,18/27,53 x 2,9 Jumlah SK (%) = 0,43 = 0,52 = 1,59 = 2,54 %SK Kebutuhan Kalori (Kkal) Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 3869,30 Pur : 3,39/27,53 x 4753,03 Serangga : 15,18/27,53 x 117 Jumlah Kalori (Kkal) = 1259,31 = 585,28 = 64,51 = 1909,1 Kkal Kalori(Kkal) 76 Lampiran 4 Silsilah jalak bali F2 dan perhitungan analisis koefisien inbreeding Individu 1 F0 (Indukan ke 1) F1 (anakan) : Pasangan 1 A dan B Kandang Indukan (4B) : Pasangan 2 C dan D Kandang Indukan (2B) : dan E Kandang indukan (5A) F Diagram pohon A B C D E F X Diagram panah A B C E D F X 77 Lampiran 4 (lanjutan) Rumus Koefisien inbreeding F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) F = 0 (karea tidak ada tetua yang inbreeding) Individu 2 F0 (Indukan ke 2) F1 (anakan) : Pasangan 1 G dan H kandang indukan (3B) : Pasangan 2 I J kandang indukan (2B) : dan K dan kandang indukan (11A) L Diagram pohon G H I J K L M Diagram panah G H I K J L M 78 Lampiran 4 (lanjutan) Rumus Koefisien inbreeding F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) F = 0 (karea tidak ada tetua yang inbreeding) Adanya kemungkinan Inbreeding (antar saudara tiri) F0 (Indukan ke 2) : Pasangan 1 O dan P (kandang B dengan jantan di acak) : Pasangan 2 O dan Q (kandang B dengan jantan di acak) F1 (anakan) : dan R kandang indukan A S Diagram pohon O P O R Q S T 79 Lampiran 4 (lanjutan) Diagram panah O R S T Rumus Koefisien inbreeding F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) F = ½ ∑ (1/2)2 (1 + 0) 0,125 80 Lampiran 5 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk dan angka kematian (tahun 2011) a. Presentase daya tetas telur : ∂ x 100 % . β Keterangan : ∂ = ∑ telur yang ditetaskan dalam satu tahun β = ∑ total telur yang ada dalam satu tahun 240 360 daya tetas telur x 100% = 66.66% b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut t x Tt 100 % Keterangan : t = ∑ induk yang berkembangbiak dalam satu tahun Tt =∑ induk keseluruhan dalam satu tahun 10 12 c. 100% x 83.33% = Persentase angka kematian (tiap kelas umur) M x 100 % Mt Keterangan : M = ∑ anak yang mati tiap kelas umur Mt = ∑ total anak keseluruhan tiap kelas umur 120 340 x 100% = 33.33% 81 Lampiran 6 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembanbiakan induk dan angka kematian jalak bali di MBOF (tahun 2010) a. Presentase daya tetas telur : ∂ x 100 % . β Keterangan : ∂ = ∑ telur yang ditetaskan dalam satu tahun β = ∑ total telur yang ada dalam satu tahun 192 288 daya tetas telur x 100% = 66.66% b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut t Tt x 100 % Keterangan : t = ∑ induk yang berkembangbiak dalam satu tahun Tt =∑ induk keseluruhan dalam satu tahun 8 12 c. x 100% = Persentase angka kematian (tiap kelas umur) M x Mt 100 % Keterangan : M = ∑ anak yang mati tiap kelas umur Mt = ∑ total anak keseluruhan tiap kelas umur 96 x 100% 288 = 33.33% 66.66% 82 Lampiran 7 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk dan angka kematian jalak bali di MBOF (tahun 2009) a. Presentase daya tetas telur : ∂ x 100 % . β Keterangan : ∂ = ∑ telur yang ditetaskan dalam satu tahun β = ∑ total telur yang ada dalam satu tahun 120 180 daya tetas telur x 100% = 66.66% b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut t x Tt 100 % Keterangan : t = ∑ induk yang berkembangbiak dalam satu tahun Tt =∑ induk keseluruhan dalam satu tahun 5 12 c. x 100% = 41.66% Persentase angka kematian (tiap kelas umur) M x 100 % Mt Keterangan : M = ∑ anak yang mati tiap kelas umur Mt = ∑ total anak keseluruhan tiap kelas umur 60 180 x 100% = 33.33% LAMPIRAN 72 Lampiran 1 Jumlah konsumsi dan palatabilitas pakan jalak bali kandang pertumbuhan Kandang pertumbuhan Hari ke - Waktu pemberian Jenis pakan Berat pakan awal (g)/ekor Berat pakan sisa (g)/ekor Jumlah konsumsi/ekor Tingkat palatabilitas 1 Pagi Pisang 70 22 48 68,57 Pur 12.6 4.6 8 63,49 Pisang 70 24 46 65,71 Pur 13 7.8 5.2 40,00 Pisang 55 21 34 61,81 Pur 13.2 8.4 4.8 36,36 Pisang 81.8 34 47.8 58,43 Pur 14 8 6 42,85 Pisang 87 47 40 45,97 Pur 14 8 6 42,85 Pisang 81 21 60 74,07 Pur 12.4 7 5.4 43,55 Pisang 74 32 42 56,67 Pur 13 7 6 46,15 Pisang 63 21 42 66,66 Pur 12 6.2 5.8 48,33 Pisang 104 58 46 44,23 Pur 11 6 5 45,54 Pisang 74 53 21 28,37 Pur 13 5.6 7.4 56,92 Pisang 81 37 44 54,32 Pur 12 7 5 41,66 Pisang 72 41 31 43,05 Pur 13 5 8 61,53 Pisang 49 21 28 57,14 Pur 12 4 8 66,66 Pisang 58 25 33 56,89 Pur 12 4 8 66,66 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi 73 Lampiran 2 Jumlah konsumsi dan palatabilitas pakan jalak bali kandang reproduksi Kandang reproduksi Hari Waktu ke - pemberian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Pagi Jenis pakan Berat pakan awal (g)/ekor/hari Berat pakan sisa (g)/ekor/hari Jumlah konsumsi (g)/ekor/hari Tingkat palatabilitas Pisang 51 37,5 13,5 26,47 Pur 16 9,5 6,5 40,62 Serangga 26 10 16 61,54 Pisang 65 55 10 15,38 Pur 15,5 14,5 1 6,46 Serangga 27 11 16 59,26 Pisang 60 47,5 12,5 20,83 Pur 21 20 1 4,76 Serangga 27,5 12,5 15 54,55 Pisang 50 49 1 2 Pur 21 20 1 4,76 Serangga 25 10 15 60 Pisang 60 55 5 8,33 Pur 24,5 20 4,5 18,36 Serangga 25 11 16 64 Pisang 67,5 30 37,5 55,55 Pur 23,5 22,5 1 4,25 Serangga 26 10 16 61,54 Pisang 62,5 50 12,5 20 Pur 32,5 26 6,5 20 Serangga 25 10 15 60 Pisang 50 42,5 7,5 15 Pur 26 21 5 19,23 Serangga 25 12,5 12,5 50 Pisang 57,5 54,5 3 5,21 Pur 21 17,5 3,5 16,66 Serangga 27,5 11,5 16 58,18 Pisang 65 60 5 7,69 Pur 22,5 17,5 5 22,22 Serangga 25 10 15 60 Pisang 22,5 19,5 3 13,33 Pur 57,5 55 2,5 4,34 Serangga 25 10 15 60 Pisang 57,5 55 2,5 4,34 Pur 27,5 25 2,5 9,09 74 Lampiran 2 (lanjutan) 13 14 Pagi Pagi Serangga 25 10 15 60 Pisang Pur 57,5 50 7,5 13,03 25 22,5 5 20 Serangga 25 10 15 60 Pisang 60 55 5 8,33 Pur 27,2 25 2,5 9,09 Serangga 25 10 15 60 75 Lampiran 3 Kebutuhan pakan pada kandang pertumbuhan Jenis pakan Pisang kepok Pur Serangga Jumlah Jumlah konsumsi Proksimat SK(%) PK(%) LK(%) 8,96 gr 4,30 0,19 1,33 3869,30 3,39 gr 15,18 gr 27,53 gram/ekor/hari 21,05 13,7 7,21 5,3 4,19 2,9 4753,03 117 Kebutuhan %PK Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 4,30 Pur : 3,39/27,53 x 21,05 Serangga : 15,18/27.53 x 13,7 Jumlah PK (%) = 1,34 = 2,59 = 7,55 = 11,48 %PK Kebutuhan %LK Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 0,19 Pur : 3,39/27,53 x 7,21 Serangga : 15,18/27,53 x 5,3 Jumlah LK (%) = 0,06 = 0,88 = 2,92 = 3,86 %LK Kebutuhan %SK Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 1,33 Pur : 3,39/27,53 x 4,19 Serangga : 15,18/27,53 x 2,9 Jumlah SK (%) = 0,43 = 0,52 = 1,59 = 2,54 %SK Kebutuhan Kalori (Kkal) Pisang kepok : 8,96 g/27,53 x 3869,30 Pur : 3,39/27,53 x 4753,03 Serangga : 15,18/27,53 x 117 Jumlah Kalori (Kkal) = 1259,31 = 585,28 = 64,51 = 1909,1 Kkal Kalori(Kkal) 76 Lampiran 4 Silsilah jalak bali F2 dan perhitungan analisis koefisien inbreeding Individu 1 F0 (Indukan ke 1) F1 (anakan) : Pasangan 1 A dan B Kandang Indukan (4B) : Pasangan 2 C dan D Kandang Indukan (2B) : dan E Kandang indukan (5A) F Diagram pohon A B C D E F X Diagram panah A B C E D F X 77 Lampiran 4 (lanjutan) Rumus Koefisien inbreeding F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) F = 0 (karea tidak ada tetua yang inbreeding) Individu 2 F0 (Indukan ke 2) F1 (anakan) : Pasangan 1 G dan H kandang indukan (3B) : Pasangan 2 I J kandang indukan (2B) : dan K dan kandang indukan (11A) L Diagram pohon G H I J K L M Diagram panah G H I K J L M 78 Lampiran 4 (lanjutan) Rumus Koefisien inbreeding F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) F = 0 (karea tidak ada tetua yang inbreeding) Adanya kemungkinan Inbreeding (antar saudara tiri) F0 (Indukan ke 2) : Pasangan 1 O dan P (kandang B dengan jantan di acak) : Pasangan 2 O dan Q (kandang B dengan jantan di acak) F1 (anakan) : dan R kandang indukan A S Diagram pohon O P O R Q S T 79 Lampiran 4 (lanjutan) Diagram panah O R S T Rumus Koefisien inbreeding F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc) F = ½ ∑ (1/2)2 (1 + 0) 0,125 80 Lampiran 5 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk dan angka kematian (tahun 2011) a. Presentase daya tetas telur : ∂ x 100 % . β Keterangan : ∂ = ∑ telur yang ditetaskan dalam satu tahun β = ∑ total telur yang ada dalam satu tahun 240 360 daya tetas telur x 100% = 66.66% b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut t x Tt 100 % Keterangan : t = ∑ induk yang berkembangbiak dalam satu tahun Tt =∑ induk keseluruhan dalam satu tahun 10 12 c. 100% x 83.33% = Persentase angka kematian (tiap kelas umur) M x 100 % Mt Keterangan : M = ∑ anak yang mati tiap kelas umur Mt = ∑ total anak keseluruhan tiap kelas umur 120 340 x 100% = 33.33% 81 Lampiran 6 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembanbiakan induk dan angka kematian jalak bali di MBOF (tahun 2010) a. Presentase daya tetas telur : ∂ x 100 % . β Keterangan : ∂ = ∑ telur yang ditetaskan dalam satu tahun β = ∑ total telur yang ada dalam satu tahun 192 288 daya tetas telur x 100% = 66.66% b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut t Tt x 100 % Keterangan : t = ∑ induk yang berkembangbiak dalam satu tahun Tt =∑ induk keseluruhan dalam satu tahun 8 12 c. x 100% = Persentase angka kematian (tiap kelas umur) M x Mt 100 % Keterangan : M = ∑ anak yang mati tiap kelas umur Mt = ∑ total anak keseluruhan tiap kelas umur 96 x 100% 288 = 33.33% 66.66% 82 Lampiran 7 Perhitungan persentase daya tetas telur, perkembangbiakan induk dan angka kematian jalak bali di MBOF (tahun 2009) a. Presentase daya tetas telur : ∂ x 100 % . β Keterangan : ∂ = ∑ telur yang ditetaskan dalam satu tahun β = ∑ total telur yang ada dalam satu tahun 120 180 daya tetas telur x 100% = 66.66% b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut t x Tt 100 % Keterangan : t = ∑ induk yang berkembangbiak dalam satu tahun Tt =∑ induk keseluruhan dalam satu tahun 5 12 c. x 100% = 41.66% Persentase angka kematian (tiap kelas umur) M x 100 % Mt Keterangan : M = ∑ anak yang mati tiap kelas umur Mt = ∑ total anak keseluruhan tiap kelas umur 60 180 x 100% = 33.33% RINGKASAN BELINDA DWI YUNANTI. Teknik Penangkaran dan Analisis Koefisien Inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi Stresseman 1912) di Mega Bird and Orchid Farm, Bogor, Jawa Barat. Dibimbing oleh BURHANUDDIN MASY’UD dan LIN NURIAH GINOGA. Jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan satwa endemik Pulau Bali. Jalak bali di alam mengalami penurunan sehingga telah dinyatakan langka dan terancam punah. Terbukti dengan di cantumkan jalak bali dalam Red Data Book oleh IUCN dengan kategori critical endangered dan Appendix I CITES. Terancamnya populasi jalak bali di alam menyebabkan perlu adanya upaya konservasi. Upaya konservasi tersebut adalah penangkaran atau konservasi exsitu. Salah satu penangkaran jalak bali yang telah berhasil yaitu penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF). Perhitungan koefisien inbreeding perlu dilakukan terhadap jalak bali hasil penangkaran untuk mempertahankan kemurnian genetiknya dan pengukuran morfologi untuk mengetahui keberadaan tekanan inbreeding. Penelitian dilaksanakan di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) Bogor, Jawa Barat. pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2011. Jenis data terdiri dari data primer dan data sekunder. Teknik penangkaran dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif, sedangkan analisis koefisien inbreeding secara kuantitatif dan perbandingan ukuran tubuh jenis kelamin dengan uji t-student menggunakan SPSS 16.0. Selain itu dilakukan perbandingan ukuran tubuh dengan hasil penelitian terdahulu secara deskriptif sedangkan untuk karakteristik morfologi kualitatif dianalisis secara deskriptif. Penangkaran jalak bali di MBOF dimulai pada tahun 1996 dengan populasi sebanyak tiga pasang yang berasal dari sumbangan Taman Safari I Cisarua Bogor, dari penjual burung dan pencinta burung. Populasi jalak bali sampai dengan Oktober 2011, yaitu sebanyak 91 ekor. Jenis kandang yang ada di MBOF terdiri dari kandang peraga, kandang reproduksi, kandang pemeliharaan dan inkubator. Pakan yang diberikan pada jalak bali pisang kepok, pur, jangkrik dan kroto. Rata-rata jumlah konsumsi tertinggi yaitu jangkrik sebesar 15,18 g/ekor/hari dan tingkat palatabilitasnya 59,22%. Kebutuhan protein jalak bali di MBOF yaitu sebesar 11,48 % dan kebutuhan kalorinya sebesar 1909,0 Kkal. Jenis penyakit yang pernah di derita jalak bali di MBOF yaitu katarak, cacar pada kaki, flu, dan sakit mata. Presentase dan kriteria keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF yaitu daya tetas telur tinggi (66,66%), angka kematian sedang (33,33%) dan tingkat perkembangbiakan tinggi (63,88%). Analisis koefisien inbreeding diperoleh nilai 0 karena tidak ada individu yang inbreeding, akan tetapi terdapat kemungkinan adanya perkawinan saudara tiri dengan nilai koefisien inbreeding 0,125. Karakteristik morfologi kuantitatif diperoleh hasil tidak berbeda nyata untuk semua peubah yang diukur dan berdasarkan hasil perbandingan morfologi dengan penelitian Masy’ud (1992) dan Helvoort et al. (1985) tidak berbeda jauh sehingga dapat dikatakan belum terjadi tekanan inbreeding pada jalak bali di MBOF. Kata kunci : jalak bali, koefisien inbreeding, penangkaran. SUMMARY BELINDA DWI YUNANTI. Captive Breeding Technique dan Inbreeding Coefficient Analysis to Bali Starling (Leucopsar rothschildi Stresseman 1912) In Mega Bird and Orchid Farm Bogor, West Java. Under Supervision of BURHANUDDIN MASY’UD and LIN NURIAH GINOGA. Bali starling (Leucopsar rothschildi) is an endemic species of Bali Island which needed to be preserved. It’s population in the nature had decreased that the species stated as rare and endangered. It had been include in the criticaly endangered category of the Red Data Book and also included in the Appendix 1 CITES. The condition required conservation efforts. Captivity bread in ex-situ conservation. Was one of the effort to conserve bali starling. Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) was one of the captive breeding effort which succeed in breeding bali starling. Calculation of inbreeding coefficient should be done forward bali starling bred in the farm in order to maintain it’s genetic purity. Morphological measurement should also be done to identify inbreeding pressure. Research was held in Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) on June until October 2011. The data type used was consisted of primary and secondary data. The data of techniques captive breeding was analyzed descriptive and quantitative analysis, inbreeding coefficient was quantitative analysis. Analysis using t-student test was also employed in compary body size of female and male bali starling, The test was conducted using SPSS 16.0. Descriptive analysis was also conducted compary data of body size in this research with data in previous research and qualitative morfological characteristic of bali starling. Captive breeding of bali starling in MBOF began in 1996 with three pairs of bali Starling origineted from Safari Park I Cisarua Bogor, from the bird seller and the bird lovers. There were 91 individual of bali starling up to Oktober 2011. The kind of cage in MBOF consisted of display cage, maintenance cage, reproduction cage and incubator. The feed given to the bali Starling were banana, voer, crickets, and kroto (ant’s egg). The average number of highest consumption was crickets 15.18 g/tail/day and the palatability of 59.22 %. Each individual of bali starling in MBOF needed 11.48% protein and1909.0 kcal/day. Types of diseases that had attacted in the bali Starling MBOF were cataracts, smallpox on foot, flu (influenza) and sore eyes. Percentage and criteria captive breeding success of bali starling were high egg hatching rate (66.66%), moderate mortality (33.33%) and reproduction level high (63.88%) . The analysis of inbreeding coefficient should a result of 0 value, which ment that there was not any occurrence of inbreeding. However, there was a possibility of helf sibling marriage with inbreeding coefficient value of 0.25. There was not any significant different between quantitatif morphological characteristic of the male and female body size. There was any significant difference between the data of morfological characterstic current research the previous once conducted by Masy’ud (1992) and Helvoort et al. (1985) which ment that there had not been any inbreeding pressure to bali starling in MBOF. Key words : bali starling, inbreeding coefficient, captive breeding
Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat Analisis proksimat Manajemen pakan Faktor- faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali Fasilitas kandang Sistem perkandangan Jenis penyakit dan perawatan kesehatan Jenis, ukuran, dan konstruksi kandang Jumlah konsumsi dan palatabilitas Karakterisrik Morfologi Analisis Data Karakteristik morfologi kualitatif Analisis Koefisien Inbreeding Karakteristik morfologi kuantitatif Analisis Koefisien Inbreeding Pakan Bibit Aspek Teknik Penangkaran Pemberian pakan dan minum Pemeliharaan kandang Suhu dan kelembaban kandang Penangkaran Jalak Bali Inbreeding Perhitungan koefisien kekerabatan adalah : Perkembangbiakan Aspek Teknik Penangkaran Populasi jalak bali di penangkaran Populasi Sistem Penangkaran TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Kawasan Tujuan dan Manfaat Letak dan Luas Kawasan Kondisi Biologi Sejarah penangkaran Teknik Penangkaran Teknik penangkaran Analisis koefisisen inbreeding Penelaahan karakteristik morfologis Teknik reproduksi Teknik Penangkaran
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat

Gratis