Dinamika ovarium pada kuda hasil persilangan pejantan thoroughbred dengan induk lokal Indonesia

Gratis

0
5
85
2 years ago
Preview
Full text
DINAMIKA OVARIUM PADA KUDA HASIL PERSILANGAN PEJANTAN THOROUGHBRED DENGAN INDUK LOKAL INDONESIA MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Dinamika Ovarium pada Kuda Hasil Persilangan Pejantan Thoroughbred dengan Induk Lokal Indonesia adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Februari 2011 Muhammad Danang Eko Yulianto B352080051 ABSTRACT MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO. Ovarian Dynamics in the Thoroughbred-Indonesian Local Crossbred Mares. Under supervision of BAMBANG PURWANTARA and AMROZI The development of horse breeding industry in Indonesia was commenced through horse racing events held all over the country. It were accelerated by the development of Thoroughbred-Indonesian local Crossbred horses. There are many broodmares injured during their racing time and retired from the racetracks. They may still has a reproductive vigor to continue on producing offsprings. Very little information has been reported on the monitoring the reproductive capacity of the mares. The objective of this study was to explore ultrasonography imaging of the ovarian dynamics, correlated with the estrus behavior of the ThoroughbredIndonesian local crossbred mares. Three Thoroughbred-Indonesian local crossbred mares with 6.25-12.5% of local genetics aged 12-20 years old were used in this study. Estrus and ovulation synchronized by 10 mg PGF2α i.m. at luteal phase and 1500 IU hCG i.m. injection when the dominant follicle reach ≥30 mm in diameter. Ultrasonography examination was done every morning at approximately at the same time. Estrus behavior was observed by using teaser stallions following a standard method. Results of the experiment indicated that onset of the estrus was reached 1.33 ± 0.58 days after the hCG injection, with the average duration of 4.00 ± 1.00 days. The ovulations were done at 5.33 ± 1.15 days after PGF2α treatment and 66.67 ± 10.07 hours after hCG treatment. Maximum follicle diameter was identified to reach 4.50 ± 0.52 cm at one day before ovulation. The mares performed 25.4 ± 3.38 days length of estrous cycle with 2-3 follicular waves. It had been identified that the estrus duration was 6.8 ± 1.92 days in mares with the age of 12-20 years. The average of maximum diameter of the largest follicle before ovulation was 4.2 ± 1.24 cm. In conclusion, to improve the efficiency of breeding, several information are needed i.e. the optimal time of ovulation, relevan parameters related to follicular development. Keynotes: estrous, cycle, ovarian dynamics, ultrasonography, mares RINGKASAN MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO. Dinamika Ovarium pada Kuda Hasil Persilangan Pejantan Thoroughbred dengan Induk Lokal Indonesia. Dibimbing oleh BAMBANG PURWANTARA dan AMROZI Perkembangan ternak kuda di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini cukup pesat seiring dengan berkembangnya olahraga pacuan kuda. Persilangan kuda betina lokal Indonesia dengan pejantan Thoroughbred telah menghasilkan kuda generasi ke-3 (G3), generasi ke-4 (G4), dan Kuda Pacu Indonesia (KPI) yang memiliki 6.25-25 persen materi genetik kuda lokal. KPI berasal dari perkawinan kuda G3 dengan G3, G3 dengan G4, maupun G4 dengan G4. Sistem peternakan kuda di Indonesia masih mengacu pada sistem manajemen tradisional. Salah satu subsistem dalam hal penentuan waktu perkawinan kuda dengan mengacu pada tingkah laku estrus. Hal ini menyebabkan hasil yang didapatkan belum optimal. Pemanfaatan teknik ultrasonografi pada kuda sudah mulai dilakukan oleh beberapa praktisi peternakan kuda. Diharapkan dengan teknik ini yang dikombinasikan dengan pengamatan tingkah laku estrus dapat memberikan acuan yang lebih baik dalam penentuan waktu perkawinan pada kuda, sehingga diharapkan dapat membantu peningkatan angka kebuntingan pada kuda. Penelitian dilakukan terhadap tiga ekor kuda hasil persilangan antara pejantan Thoroughbred dengan induk lokal, dengan kandungan genetik lokal antara 6.25% sampai dengan 25% dengan kisaran umur 12-20 tahun yang dipelihara secara intensif di Unit Rehabilitasi Reproduksi Bagian Kebidanan dan Kemajiran Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Kuda-kuda tersebut diberi pakan berupa rumput segar dan konsentrat dengan kadar protein 12 %. Penelitian dimulai dengan sinkronisasi estrus yang dilakukan dengan penyuntikan hormon PGF2α (Noroprost 0.5% W/V, Norbrook Laboratories Limited, Newry) dosis tunggal 10 mg i.m pada fase luteal, diikuti dengan penyuntikan 1500 IU hCG (Chorulon, Intervet, Cambridge) pada saat folikel dominan telah mencapai diameter ≥30 mm. Pemeriksaan dengan ultrasonografi dilakukan setiap pagi hari pada waktu yang sama dimulai sesaat setelah sinkronisasi estrus. Setelah penyuntikan dengan hCG, pemeriksaan dengan ultrasonografi dilakukan setiap empat jam sekali sampai dengan ovulasi. Setelah itu pemeriksaan dengan ultrasonografi dilakukan setiap hari sekali pada waktu yang sama di pagi hari sampai dengan terjadinya ovulasi yang kedua untuk mengamati dinamika ovarium yang terjadi. Pemeriksaan meliputi pengukuran diameter korpus luteum (CL) dan jumlah serta ukuran folikel yang kemudian akan diklasifikasikan menjadi folikel kelas I berdiameter <2 cm, kelas II berdiameter 24 cm, serta kelas III berdiameter >4 cm. Kondisi organ reproduksi yang meliputi serviks, korpus dan kornua uteri juga diamati dengan ultrasonografi untuk mengetahui keberadaan lendir estrusnya. Hasil pengamatan terhadap sinkronisasi estrus dan induksi ovulasi didapatkan hasil bahwa Interval awal perlakuan PGF2α hingga onset estrus adalah 1.33 ± 0.58 hari, dengan lama estrus 4.00 ± 1.00 hari, interval mencapai ovulasi dari awal perlakuan PGF2α adalah 5.33 ± 1.15 hari, sedangkan dari awal perlakuan hCG adalah 66.67 ± 10.07 jam. Diamater maksimal folikel terbesar adalah 4.50 ± 0.52 cm yang dicapai sehari sebelum terjadinya ovulasi. Secara umum dapat dilihat bahwa rata-rata panjang siklus estrus kuda hasil persilangan pejantan Thoroughbred dengan induk lokal Indonesia yang telah berumur 12-20 tahun adalah 25.4 ± 3.38 hari dengan 2 sampai 3 gelombang folikel dan lama estrus 6.8 ± 1.92 hari. Rata-rata diameter folikel terbesar maksimum sebelum ovulasi adalah 4.2 ± 1.24 cm dengan kisaran 3.0 sampai dengan 5.8 cm. Hasil pengamatan terhadap tingkah laku estrus menunjukkan bahwa saat-saat menjelang ovulasi akan ditandai dengan pencapaian skor maksimal, pada nilai 3, yang dicirikan dengan lebih menunjukkan ketertarikan terhadap pejantan, mengangkat ekor, winked vulva, squatting dan urinasi dan pada nilai 4 yang dicirikan dengan ketertarikan yang kuat terhadap pejantan, menyodorkan pantat pada jantan, mengangkat ekor dan winked vulva serta urinasi yang berkelanjutan. Dari hasil penelitian ini, diharapkan dalam upaya untuk peningkatan angka kebuntingan kuda, sebaiknya perkawinan dilakukan pada saat skor estrus mencapai 3 atau 4. Kata kunci: estrus, siklus, dinamika ovarium, ultrasonografi, kuda betina © Hak Cipta Milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB DINAMIKA OVARIUM PADA KUDA HASIL PERSILANGAN PEJANTAN THOROUGHBRED DENGAN INDUK LOKAL INDONESIA MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Biologi reproduksi SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. drh. Muhammad Agil, M.Sc Agr. Judul Tesis : Dinamika Ovarium pada Kuda Hasil Persilangan Pejantan Thoroughbred dengan Induk Lokal Indonesia : Muhammad Danang Eko Yulianto : B352080051 Nama NRP Disetujui, Komisi Pembimbing Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc. Dr. drh. Amrozi Ketua Anggota Diketahui, Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Biologi Reproduksi Prof. Dr. drh. Iman Supriatna Tanggal Ujian : 22 Desember 2010 Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS. Tanggal Lulus: PRAKATA Puji Syukur Penulis ucapkan Kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga Karya Ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta Salam selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister Sains pada Program Studi Biologi Reproduksi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tema yang diangkat dalam penulisan tesis ini adalah “Dinamika Ovarium pada Kuda Hasil Persilangan Pejantan Thoroughbred dengan Induk Lokal Indonesia”. Terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis ucapkan kepada komisi pembimbing; Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc. dan Dr. drh. Amrozi yang telah meluangkan segenap waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan serta arahan dalam proses penyusunan tesis ini menjadi sebuah karya ilmiah yang baik. Selanjutnya kepada penguji luar komisi, Dr. drh. Muhammad Agil, M.Sc. Agr. dan ketua Mayor Biologi Reproduksi, Prof. Dr. drh. Iman Supriatna yang telah memberikan saran dan kritik dalam upaya penyempurnaan karya ilmiah ini pada saat ujian tesis yang telah dilangsungkan. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Ibunda Hj. Noorlaela dan Ayahanda H. Darojatun Subandriyo yang telah memberikan motivasi moril, materiil, dan spirituil kepada penulis. Selanjutnya ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan seperjuangan pada mayor BRP 2008 (Juli Melia, Muhammad Riyadhi, Hasbi, Sri Gustina, Reni Novia, Gholib Assahad, serta Lourina Wowor). Selanjutnya ucapan terimakasih dan penghargaan setinggitingginya kepada Ir.H.M. Munawir (Tombo Ati Stable) yang telah banyak memberikan bantuan materi dan sarana penelitian, serta kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran selama menempuh pendidikan pada program Pascasarjana instituut Pertanian Bogor. Tidak lupa, ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada drh. Eva Fatimah yang telah memberikan motivasi dan kasih sayang kepada penulis. Penulis beharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk ilmu pengetahuan dan bagi masyarakat, khususnya bidang perkudaan di Indonesia. Bogor, Februari 2011 Muhammad Danang Eko Yulianto RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 7 Juli 1984 dari ayahanda H. Darojatun Subandriyo dan Ibunda H. Noorlaela. Penulis merupakan putra tunggal dari keluarga ini. Penulis menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Djama’atul Ichwan Surakarta pada tahun 1996, Sekolah Menengah Pertama Negeri I Surakarta pada tahun 1999 dan Sekolah Menengah Umum Negeri IV Surakarta pada tahun 2002. Tahun 2002 penulis melanjutkan pendidikan sarjana pada Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dan berhasil meraih gelar Sarjana Peternakan pada tahun 2007. Kesempatan untuk menempuh pendidikan Pascasarjana didapatkan pada tahun 2008 atas biaya sendiri dan sponsor dari Tombo Ati Stable. DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiii PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 Latar Belakang ................................................................................................. 1 Kerangka Pemikiran ......................................................................................... 2 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 2 Manfaat Penelitian............................................................................................ 2 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 3 Siklus Reproduksi Kuda ................................................................................... 3 Sinkronisasi Estrus dan Induksi Ovulasi ........................................................... 4 Dinamika Ovarium ........................................................................................... 5 Tingkah Laku Estrus ........................................................................................ 5 Kontrol Endokrin ............................................................................................. 6 Ultrasonografi .................................................................................................. 7 METODE PENELITIAN ..................................................................................... 9 Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................................... 9 Materi Penelitian .............................................................................................. 9 Metode Penelitian........................................................................................... 10 HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 13 Sinkronisasi Estrus dan Waktu Ovulasi Folikel............................................... 13 Dinamika Ovarium dan Tingkah laku Estrus .................................................. 14 Hasil Pengamatan Kondisi Uterus .................................................................. 29 SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................... 31 Simpulan ........................................................................................................ 31 Saran .............................................................................................................. 31 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 33 DAFTAR TABEL Halaman 1 Sistem scoring pengamatan tingkah laku estrus pada kuda .............................. 11 2 Rincian Pengamatan ultrasonografi ................................................................. 12 3 Data hasil pengamatan sinkronisasi estrus dan waktu ovulasi folikel ............... 13 4 Data hasil pengamatan diameter uterus............................................................ 29 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Prosedur Pelaksanaan Penelitian ................................................................... 10 2 Dinamika ovarium pada kuda A-Siklus I ....................................................... 15 3 Kelas folikel pada kuda A-Siklus I ................................................................ 15 4 Dinamika ovarium pada kuda A-Siklus II...................................................... 17 5 Kelas folikel pada kuda A-Siklus II ............................................................... 17 6 Dinamika ovarium pada kuda A-Siklus III .................................................... 19 7 Kelas folikel pada kuda A-Siklus III.............................................................. 19 8 Dinamika ovarium pada kuda B .................................................................... 21 9 Kelas folikel pada kuda B ............................................................................. 21 10 Dinamika ovarium pada kuda C .................................................................... 23 11 Kelas folikel pada kuda C ............................................................................. 23 12 Visualisasi scoring tingkah laku estrus pada kuda ......................................... 25 13 Gambaran ultrasonografi CL secara serial sejak hari ke-3 setelah ovulasi (H3) sampai dengan hari ke-17 (H17) .......................................................... 26 14 Gambaran serial ultrasonografi dominan folikel gelombang pertama dan kedua selama 1 siklus estrus ......................................................................... 27 15 Gambaran serial ultrasonografi dominan folikel gelombang ketiga dalam 1 siklus estrus...................................................................................... 28 16 Hasil pengamatan ultrasonografi terhadap uterus ........................................... 30 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peranan kuda sebagai salah satu komoditas ternak sangat strategis karena fungsinya sebagai hewan untuk sarana olahraga dan hewan kesayangan. Di Indonesia, industri ternak kuda mulai berkembang dengan munculnya kuda persilangan antara kuda Thoroughbred dengan kuda lokal Indonesia. Umumnya kuda dimanfaatkan sebagai kuda pacu sampai umur 5 tahun. Dengan masa aktif yang pendek tersebut kuda pacu ini harus terus diternakkan untuk memenuhi kebutuhan kuda-kuda pacu dalam kelas pacuan yang berbeda pada tahun-tahun selanjutnya. Saat ini persilangan antara kuda lokal Indonesia dengan kuda pejantan Thoroughbred dibatasi sampai terbentuknya keturunan ketiga (G3) dan keempat (G4), setelah itu dilakukan perkawinan antar sesamanya, yaitu antara G3 dengan G3, G3 dengan G4, dan G4 dengan G4 yang akan menghasilkan Kuda Pacu Indonesia (KPI) (Soehardjono 1990). Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa dalam prakteknya, ditemukan masalah-masalah yang terkait dengan reproduksi kuda betina, diantaranya adalah: siklus estrus yang tidak teratur, estrus tidak jelas, sulit bunting, tidak pernah estrus, bahkan bersifat seperti kuda jantan. Selama ini, tata laksana peternakan kuda masih dilakukan secara sederhana, dengan pengamatan tingkah laku estrus, sehingga terkadang penentuan waktu perkawinan kurang optimal, sehingga pencapaian angka kebuntingan belum optimal. Penelitian tentang dinamika ovarium kuda telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan di Eropa dan Amerika. Penelitian dilakukan di negara-negara dengan 4 musim, sehingga kuda-kuda yang ada bersifat poliestrus bermusim (seasonal polyestrus). Di Indonesia yang memiliki 2 musim, dimana kuda-kuda akan mengalami estrus sepanjang tahun, penelitian tentang dinamika ovarium tersebut belum banyak dilakukan. Di Indonesia, pemanfaatan teknik ultrasonografi dalam pemeriksaan reproduksi kuda sudah banyak digunakan oleh para praktisi pada beberapa tahun 2 terakhir. Namun demikian, pengamatan dinamika ovarium yang dilakukan secara kontinyu dalam satu siklus estrus belum dilaporkan. Penelitian ini akan difokuskan pada pengamatan dinamika ovarium, yang meliputi perkembangan folikel dan korpus luteum (CL). Penelitian kemudian dikaitkan dengan tingkah laku estrus yang ditunjukkan oleh kuda baik terjadi secara alami maupun diawali dengan sinkronisasi estrus dan induksi ovulasi. Kerangka Pemikiran Pemanfaatan induk hasil persilangan pejantan Thoroughbred dengan induk lokal Indonesia yang afkir sebagai kuda pacu memerlukan kajian efisiensi dan potensi reproduksinya. Salah satunya adalah pemanfaatan ultrasonografi untuk mengamati dinamika ovarium. Hasil pengamatan dinamika ovarium yang didukung dengan pengamatan tingkah laku estrus merupakan parameter yang dapat digunakan para praktisi dan peternak di lapangan dalam menentukan waktu optimal untuk dilakukan perkawinan. Dengan demikian diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi reproduksi kuda di Indonesia. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ultrasonografi dinamika ovarium, terkait dengan tingkah laku estrus dalam satu siklus estrus kuda induk hasil persilangan antara pejantan Thoroughbred dengan induk lokal Indonesia. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan petunjuk untuk penentuan waktu perkawinan yang optimal berdasarkan gambaran ultrasonografi dinamika ovarium dan tingkah laku estrus kuda induk hasil persilangan pejantan Thoroughbred dengan induk lokal Indonesia. 3 TINJAUAN PUSTAKA Siklus Reproduksi Kuda Siklus reproduksi terkait dengan berbagai fenomena, meliputi pubertas dan kematangan seksual, musim kawin, siklus estrus, aktivitas seksual setelah beranak, dan penuaan atau umur. Faktor yang mengatur hal tersebut di atas adalah lingkungan, genetik, fisiologi, hormonal, tingkah laku dan faktor-faktor psikososial. Fertilitas akan meningkat setelah tercapainya pubertas untuk kemudian menurun seiring dengan penuaan. Ketika tercapai pubertas, sekresi gonadotropin juga akan mengalami peningkatan (Hafez 2000). Sementara itu, Johnson dan Everitt (1995) menyatakan bahwa lamanya siklus ovarium yang di dalamnya terdapat fase folikuler dan luteal akan berbeda pada masing-masing spesies. Berdasarkan pengamatan tingkah laku estrus, panjang siklus estrus pada kuda betina adalah 20-24 hari (Hafez 2000). Pengamatan dengan menggunakan ultrasonografi menunjukkan bahwa siklus estrus kuda berlangsung 20-22 hari dengan panjang fase folikuler 5-6 hari, dan fase luteal 15-16 hari (Johnson & Everitt 1995). Shirazi et al. (2004) melaporkan bahwa kuda bangsa Caspian memiliki interval interovulatory 22.1 ± 0.40 hari, lama estrus 8.3 ± 0.86 hari, dan diestrus sepanjang 13.8 ± 0.59 hari. Lama estrus bervariasi dan terkait dengan waktu berlangsungnya ovulasi. Kisaran terjadinya ovulasi adalah 4-6 hari setelah mulainya estrus atau 1-2 hari sebelum akhir estrus. Panjang siklus estrus dan waktu ovulasi bervariasi dalam hubungannya dengan faktor-faktor eksternal maupun internal. Pada tingkat ovarium, periode estrus ditandai dengan sekresi estrogen yang tinggi dari folikel preovulatorik. Estrogen merangsang pertumbuhan uterus melalui mekanisme yang meyebabkan interaksi antara hormon dengan reseptornya dan meningkatnya berbagai proses sintesis yang terjadi di dalam sel. Estrogen juga merangsang produksi prostaglandin oleh uterus. Pada akhir estrus, terjadi ovulasi yang diikuti dengan pembentukan korpus luteum (CL) yang akan menghasilkan hormon progesteron (Hafez 2000). 4 Sinkronisasi Estrus dan Induksi Ovulasi Prostaglandin termasuk dalam hormon reproduksi primer yaitu hormon reproduksi yang secara langsung terlibat di dalam berbagai aspek reproduksi (Toelihere 1981). Prostaglandin F2α dihasilkan oleh endometrium uterus dan kelenjar vesikular (Senger 2003). Pemberian prostaglandin menyebabkan regresi CL dan pengurangan konsentrasi progesteron plasma (Turner dan Bagnara 1971; Hafez 2000). Pada kuda yang bersiklus normal, estrus dapat diinduksi dengan menghentikan fase luteal dengan injeksi prostaglandin. Estrada et al. (2003) melaporkan bahwa dengan penggunaan 7.5 mg PGF 2α yang dilakukan paling awal pada hari ke-5 setelah ovulasi akan menyebabkan onset estrus dalam jangka waktu 3-4 hari dan ovulasi dalam jangka waktu 8-10 hari. Menurut Samper (2008) kisaran antara pemberian PGF2α sampai dengan onset estrus dan tercapainya ovulasi dapat berkisar berturut-turut pada 48 jam dan 12 hari, tergantung dari diameter folikel yang akan mengalami ovulasi. Jika pada ovarium terdapat folikel besar pada saat penyuntikan, ovulasi akan terjadi dalam kurun waktu 72 jam tanpa menunjukkan gejala estrus yang jelas. Namun demikian menurut Samper et al. (1993) jika folikel telah mencapai diameter maksimal selama fase luteal yang didominasi oleh progesteron, maka folikel ini akan mengalami regresi, dan akan terjadi perekrutan folikel-folikel baru, sehingga estrus dan ovulasi akan mengalami penundaan. hCG merupkan hormon peptide yang dihasilkan pada plasenta, yang merangsang fungsi luteal (Mc.Donald 1988 dalam Davies-Morel & Newcombe 2008. hCG telah digunakan secara luas untuk menginduksi ovulasi pada kuda dengan tujuan untuk mengoptimalkan waktu perkawinan (Harrison et al. 1991). Penelitian tentang penggunaan hCG terus dilakukan untuk mengetahui efektivitas penggunan hCG dari tingkat dosis yang berbeda maupun kontraindikasinya pada praktek komersial di peternakan kuda. Kontraindikasi tersebut meliputi kejadian ovulasi ganda dan kebuntingan kembar (Davies-Morel & Newcombe 2008). Gastal et al. (2006) melaporkan bahwa dosis 1500 IU hCG yang disuntikkan pada saat diameter folikel terbesar mencapai ≥35 mm akan menyebabkan ovulasi pada 44.0 ± 1.0 jam setelah penyuntikan. 5 Dinamika Ovarium Diameter folikel dapat digunakan sebagai salah satu parameter untuk memperkirakan waktu ovulasi pada kuda. Walaupun demikian, variasi diameter folikel preovulatorik pada 24 jam sebelum ovulasi, dapat berkisar 34-70 mm (Ginther 1995), 22-65 mm (Cuervo-Arango 2008). Selanjutnya menurut CuervoArango (2008) diameter folikel preovulatorik pada 1 ekor induk akan relatif sama. Selain itu, pola oedema uterus juga dapat digunakan sebagai parameter untuk memperkirakan waktu optimal perkawinan. Ovarium mempunyai fungsi pada siklus produksi ovum yang dapat dibuahi, sedangkan folikel adalah kompartemen dari ovarium yang memungkinkan ovarium untuk memenuhi fungsi gandanya dalam gametogenesis dan steroidogenesis (Hafez 2000). Pada kuda, gelombang pertumbuhan folikel yang menghasilkan ovulasi berkembang pada pertengahan kedua siklus estrus. Pada umumnya hanya 1 folikel yang akan mengalami ovulasi. Ketika folikel yang paling besar mencapai diameter 21-23 mm, 2 folikel terbesar akan bertindak sebagi folikel dominan dan subordinat, proses ini dinamakan deviasi folikel. Folikel dominan akan terus berkembang, sedangkan folikel subordinat akan berkembang lebih lambat hingga akhirnya akan mengalami regresi (Donadeu & Ginther 2002). Tingkah Laku Estrus Estrus pertama pada kuda ditandai dengan permintaan dan penerimaan terhadap pejantan yang terjadi kisaran umur 8-24 bulan sebagai pertanda bahwa pubertas telah tercapai (Waring 2003). Ginther (1979) melaporkan bahwa pada umumnya kuda mencapai pubertas pada umur 12 bulan. Kuda yang diberi makan lebih baik akan dapat lebih cepat dikawinkan. Tingkah laku selama estrus bervariasi di antara individu kuda, tetapi cenderung tetap pada individu yang sama. Tanda-tanda estrus yang dapat diamati diantaranya penerimaan terhadap pejantan, ekor terangkat, sering urinasi, vulva mengalami kontraksi ritmik (winking) dan cara berdiri semi jongkok (squatting) (Coleman & Powell 2004). Menurut Waring (2003) pada saat estrus, kuda akan menjadi relatif lebih jinak dengan kehadiran pejantan dan akan membiarkan pejantan untuk mengendus, menyundul dan menggigit, serta kadang-kadang 6 meringkik. Hafez (2000) menambahkan bahwa selama periode estrus, vulva akan sedikit membengkak, bagian bibirnya akan mengendur dan akan mudah dibuka ketika diperiksa. Vulva berwarna kemerah-merahan, basah, mengkilap dan kadang-kadang diselapisi lendir yang bening. Tingkah laku kuda betina pada kondisi diestrus dicirikan dengan penolakan terhadap pejantan. Ketika pejantan mendekat, telinga akan diarahkan ke belakang sebagai tanda marah, menunjukkan sikap gelisah. Kuda betina kadang-kadang menunjukkan respons dengan mengibaskan ekor. Kuda betina akan menghindari pejantan dengan bergerak menjauh, meringkik, menggigit, bahkan menendang pejantan (Waring 2003). Kontrol Endokrin Meskipun pada kuda konsentrasi progesteron intrafolikular pada folikel dominan akan meningkat 2 hari menjelang ovulasi (Belin et al. 2000 dalam Nagy et al. 2004), namun konsentrasi progesteron plasma mencapai titik rendah selama fase folikuler. Peningkatan konsentrasi progesteron plasma secara signifikan terjadi pada 10-12 jam setelah ovulasi, meskipun variasinya dapat lebih luas yakni dalam kisaran 6-60 jam (Nagy et al. 2004). Dengan pengambilan darah sekali dalam sehari, peningkatan progesteron plasma terdeteksi 24-48 jam setelah ovulasi (Nagy et al. 2004). Dengan adanya variasi individu dalam peningkatan konsentrasi progesteron tersebut, penentuan waktu ovulasi secara akurat menjadi sulit dilakukan. Selama fase luteal, konsentrasi progesteron plasma mencapai maksimal meskipun bervariasi diantara individu kuda (Nagy et al. 2004). Pada kuda yang tidak bunting, PGF2α disekresikan oleh endometrium antara hari ke-13 dan 16 setelah ovulasi untuk menginduksi regresi CL (Cuervo-Arango & Newcombe 2008). Pelepasan PGF2α akan mengawali terjadinya penurunan konsentrasi progesteron plasma dalam waktu 3 hingga 4 jam (Stabendfelt et al. 1981). Sharp dan Black (1973) melaporkan bahwa kadar progesteron plasma pada fase folikuler adalah 0.58 ± 0.2 ng/ml, sedangkan pada puncak fase luteal mencapai 10.9±1.4 ng/ml. Perubahan konsentrasi progesteron plasma selama siklus estrus terkait dengan aktivitas estrus. Tingkah laku estrus tidak terlihat 7 hingga kadar progesteron plasma menurun mencapai titik terendah yakni ≤1 ng/ml. Ultrasonografi Berbagai jenis peralatan ultrasonografi telah tersedia dan memungkinkan untuk dapat dioperasikan dengan mudah. Namun demikian, memerlukan pemahaman yang baik terhadap cara kerja alat dan interaksinya dengan jaringan agar diperoleh citra (gambar) yang optimal. Kualitas gambar yang dihasilkan juga akan sangat dipengaruhi oleh keterampilan operatornya. Medium terbaik untuk penghantaran ultrasound adalah cairan dan dihantarkan melalui kompresi atau penghalusan gelombang-gelombang (Goddard 1995). Beberapa inovasi mutakhir dalam teknik ultrasonografi telah meningkatkan pengetahuan dalam mempelajari dinamika folikuler pada kuda (Ginther 2004). Menurut Barr (1988), terdapat 3 jenis echo yang digunakan sebagai prinsip dasar dalam mendeskripsikan gambar pada sonogram, yaitu; 1. Hyperechoic; echogenic artinya echogenitas terang, menampakkan warna putih pada sonogram atau memperlihatkan echogenitas yang lebih tinggi dibandingkan sekelilingnya, contohnya tulang, udara, kolagen dan lemak. 2. Hypoechoic; echopoor menampilkan warna abu-abu gelap pada sonogram atau memperlihatkan area dengan echogenitas lebih rendah dari pada sekelilingnya, contohnya jaringan lunak. 3. Anechoic yang menunjukkan tidak adanya echo, menampilkan warna hitam pada sonogram dan memperlihatkan transmisi penuh dari gelombang, contohnya cairan. 8 9 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2010 di Unit Rehabilitasi Reproduksi Bagian Kebidanan dan Kemajiran Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Materi Penelitian Kuda Penelitian dilakukan terhadap 3 ekor kuda G3 dan G4 dengan kisaran umur 12-20 tahun yang dipelihara secara intensif di Unit Rehabilitasi Reproduksi Bagian Kebidanan dan Kemajiran Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Untuk kepentingan pengamatan tingkah laku estrus digunakan 1 ekor kuda jantan pengusik (teaser). Kuda-kuda tersebut diberi pakan berupa hijauan rumput segar dan konsentrat dengan kadar protein 12 %. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas: 1 set peralatan ultrasonografi (ALOKA SSD-500, Aloka Co.Ltd, Japan), berupa console berikut linear probe 5 MHz (ALOKA UST-588U-5, Aloka Co. Ltd. Japan), printer (SONY, UP-895 MD, Video Graphic Printer, Japan), syringe (One Med, PT. Jaya Mas Medica Industri), dan plastic gloves (Europlex®, Divasa Farmativa, S.A.). Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas; PGF2α (Noroprost, yang mengandung bahan aktif Dinoprost 5 mg dengan 0.25%w/v phenol per ml, Norbrook Laboratories Limited, Newry), hCG (Chorulon, Intervet, Cambridge), alkohol 70%, gel lubrikasi dan kapas. 10 Metode Penelitian Prosedur Pelaksanaan Penelitian Penelitian dimulai dengan sinkronisasi estrus yang dilakukan dengan penyuntikan hormon PGF2α dosis tunggal pada fase luteal, diikuti dengan penyuntikan hCG dosis tunggal 1500 IU (gambar 1) pada saat folikel dominan mencapai diameter ≥30 mm. Pengamatan dinamika ovarium dengan ultrasonografi dilakukan sampai dengan tercapainya ovulasi yang kedua pada siklus estrus yang berikutnya. Sementara itu pengamatan tanda-tanda estrus dilakukan dengan teknik teasing atau mendekatkan kuda betina pada kuda jantan pengusik (teaser) untuk mengetahui tingkat estrusnya. ultrasonografi Gambar 1 Prosedur pelaksanaan penelitian Sinkronisasi estrus dan induksi ovulasi Sinkronisasi estrus dilakukan dengan cara melisiskan CL, sehingga akan tercapai estrus yang disertai dengan ovulasi dalam waktu yang relatif seragam. Metode sinkronisasi estrus dilakukan dengan memberikan suntikan PGF2α sebanyak 10 mg i.m pada saat fase luteal. Induksi ovulasi dilakukan dengan penyuntikan hCG 1500 IU i.m ketika folikel dominan telah mencapai diameter ≥30 mm. 11 Tingkah Laku Estrus Pengamatan tingkah laku estrus dilakukan 2 kali, yang pertama dilakukan mulai dari 1 hari setelah pemberian PGF2α sampai dengan ovulasi I. Pengamatan yang kedua dilakukan mulai hari ke-17 sampai dengan ovulasi II dengan teknik teasing, yaitu dengan mendekatkan kuda betina pada kuda jantan pengusik. Pengamatan dilakukan dengan sistem scoring menurut Coleman dan Powell (2004) seperti pada tabel 1. Tabel 1 Sistem scoring pengamatan tingkah laku estrus pada kuda Skor 0 Tanda-tanda yang dapat diamati pada kuda betina Tidak menunjukkan tanda-tanda menerima jantan, bahkan agresif – menyerang, menendang, meringkik 1 Tidak menolak terhadap pejantan 2 Sedikit ada ketertarikan terhadap pejantan, kadang mendekati pejantan, menunjukkan winked vulva dan mengangkat ekor 3 Lebih menunjukkan ketertarikan terhadap pejantan, mengangkat ekor, winked vulva, squatting dan urinasi Ketertarikan yang kuat terhadap pejantan, menyodorkan pantat pada jantan, mengangkat ekor dan winked vulva serta urinasi yang berkelanjutan 4 Sumber: Coleman dan Powell (2004) Ultrasonografi Pemeriksaan dengan ultrasonografi dilakukan setiap hari pada waktu yang sama, dimulai sesaat setelah sinkronisasi estrus dan setiap 4 jam sekali sesaat setelah dilakukan penyuntikan hCG sampai dengan terjadinya ovulasi untuk mengamati dinamika ovarium yang terjadi. Parameter yang diamati meliputi diameter CL dan jumlah serta ukuran folikel yang kemudian akan diklasifikasikan menjadi folikel kelas I berdiameter < 2cm, kelas II berdiameter 2-4 cm serta kelas III berdiameter > 4cm. Diameter masing-masing folikel besar diukur dengan menggunakan caliper pada sumbu terpanjang dari diameter folikel (Shirazi 2004), kondisi organ reproduksi yang meliputi serviks, korpus dan kornua uteri juga diamati dengan teknik ultrasonografi untuk mengetahui diameter serta keberadaan lendir estrusnya. Teknik ultrasonografi yang dilakukan adalah secara per rektal. Linear probe dimasukkan ke dalam rektum untuk mengeksplorasi organ reproduksi, dimulai 12 dari serviks, korpus dan kornua uteri sampai dengan ovarium kanan dan kiri dilakukan dengan seksama dan teliti. Electric built in caliper pada monitor ultrasonografi digunakan untuk mengukur diameter folikel dan CL (Tabel 2). Hasil pengamatan berupa citra dicetak dengan printer untuk menghasilkan sonogram, serta dilakukan pemetaan posisi folikel dan CL pada ovarium. Tabel 2 Rincian Parameter Pengamatan Ultrasonografi ORGAN REPRODUKSI Ovarium Uterus BAGIAN YANG DIAMATI folikel PARAMETER YANG DIAMATI diameter KETERANGAN korpus luteum diameter - kornua uteri diameter Keberadaan lendir estrus - corpus uteri diameter Keberadaan lendir estrus - Kelas I : < 2cm Kelas II : 2-4 cm Kelas III : > 4 cm Analisa data Data yang terkumpul disajikan secara kuantitatif dengan perhitungan ratarata dan standar deviasi, sedangkan data kualitatif disajikan secara deskriptif. Analisa akan menggunakan software MS Office Excel 2007 (Steel & Torrie 1999). 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sinkronisasi Estrus dan Waktu Ovulasi Folikel Untuk sinkronisasi estrus dan induksi ovulasi dilakukan pemberian PGF2α sebanyak 2 ml i.m dan hCG 1500 IU. Hasil seperti tertera pada tabel 3. Beberapa parameter yang diukur meliputi diameter CL, diameter folikel, onset dan lamanya estrus serta interval ovulasi. Tabel 3 Data hasil pengamatan sinkronisasi estrus dan waktu ovulasi folikel Parameter Diameter CL (cm) Awal perlakuan PGF2α Awal perlakuan hCG Hari sebelum ovulasi Rata-rata ± SD 2.17 ± 0.15 1.77 ± 0.45 0.83 ± 0.32 Diamater folikel ovulasi (cm) Awal perlakuan PGF2α Awal perlakuan hCG Maksimal Hari sebelum ovulasi 2.63 ± 0.06 3.27 ± 0.12 4.50 ± 0.52 4.50 ± 0.52 Estrus (hari) Interval awal perlakuan PGF2α hingga onset estrus Lama estrus 1.33 ± 0.58 4.00 ± 1.00 Interval mencapai ovulasi Awal perlakuan PGF2α (hari) Awal perlakuan hCG (jam) 5.33 ± 1.15 66.67 ± 10.07 Diameter CL pada saat awal perlakuan PGF2α adalah 2.17 ± 0.15 cm, sedangkan pada saat awal perlakuan hCG adalah 1.77 ± 0.45 cm. 1 hari sebelum ovulasi diameter CL mencapai 0.83 ± 0.32 cm. Diameter folikel terbesar (DF) pada saat awal perlakuan PGF2α adalah 2.63 ± 0.06 cm, sedangkan pada awal perlakuan hCG adalah 3.27 ± 0.12 cm. Diameter folikel terbesar dicapai 1 hari sebelum ovulasi mencapai rata-rata 4.50 ± 0.52 cm. Hal ini sedikit berbeda dengan penelitian Bergfelt et al. (2007) yang melaporkan bahwa rata-rata diameter folikel terbesar pada saat awal perlakuan PGF2α adalah 2.27 ± 0.19 cm, sedangkan pada awal perlakuan hCG adalah 3.15 ± 0.15 cm dan diameter folikel sebelum ovulasi adalah 3.65 ± 0.1 cm. 14 Rata-rata interval awal perlakuan PGF2α hingga onset estrus adalah 1.33 ± 0.58 hari, dengan rata-rata lama estrus 4.00 ± 1.00 hari. Interval mencapai ovulasi dari awal perlakuan PGF2α adalah 5.33 ± 1.15 hari, sedangkan dari awal perlakuan hCG adalah 66.67 ± 10.07 jam. Hasil penelitian ini kurang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Samper (2008), yang telah melaporkan bahwa onset estrus dan ovulasi akan terjadi dalam kurun waktu 3-4 hari dan 8-10 hari setelah perlakuan PGF2α. Namun demikian, Samper (2008) melaporkan bahwa kisaran antara awal penyuntikan PGF2α sampai dengan onset estrus dan tercapainya ovulasi dapat berkisar antara 48 jam sampai dengan 12 hari, tergantung dari diameter folikel yang akan ovulasi pada saat penyuntikan dilakukan. Samper et al. (1993) juga menjelaskan bahwa perbedaan onset estrus akan terjadi jika pada saat PGF2α terdapat folikel yang tumbuh dan berukuran besar, kemungkinan akan terjadi ovulasi dalam 72 jam setelah perlakuan, tanpa adanya tanda estrus yang nampak jelas. Sebaliknya, jika folikel telah mencapai diameter maksimalnya selama fase luteal, maka folikel ini akan mengalami regresi. Selanjutnya akan terjadi perekrutan folikel-folikel yang baru sehingga estrus dan ovulasi akan tertunda. Gastal et al. (2006) melaporkan bahwa penyuntikan 1500 IU hCG pada saat diameter folikel terbesar mencapai ≥35 mm akan menyebabkan ovulasi folikel 44.0 ± 1.0 jam setelah perlakuan. Pengamatannya menunjukkan bahwa ovulasi berlangsung lebih cepat dibandingkan penelitian ini. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh diameter folikel pada saat awal perlakuan hCG yang berbeda. Dinamika Ovarium dan Tingkah Laku Estrus Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan ultrasonografi setiap hari pada waktu yang sama pada 3 ekor kuda, maka didapatkan dinamika ovarium yang meliputi perkembangan dan regresi folikel dan CL yang terdiri atas gelombang-gelombang folikel, serta kaitannya dengan scoring tingkah laku estrus yang terjadi selama 1 siklus estrus. Untuk lebih jelas dan rinci dapat dilihat pada grafik-grafik berikut: 15 Gambar 2 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda A-Siklus I. Siklus estrus berlangsung 28 hari dengan tiga gelombang folikel. Skor estrus mencapai 3 saat menjelang ovulasi. Gambar 3 Kelas folikel pada kuda A-Siklus I. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H1 sampai dengan H9. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H15 sampai dengan H25. Tidak ada folikel yang mencapai kelas III. Kuda A pada siklus I, panjang siklus estrus adalah 28 hari dengan dengan lama estrus 4 hari dan 3 gelombang folikel. Siklus ini berlangsung lebih lama dibandingkan pengamatan Ginther (2002) bahwa panjang siklus maksimal berlangsung 24 hari. Pertumbuhan gelombang folikel pertama teramati mulai hari 16 ke-2 setelah ovulasi. Gelombang folikel ditandai dengan adanya folikel berdiameter 1.5 cm berjumlah 7 folikel, Jumlah folikel kelas I terus meningkat sampai 13 folikel pada hari ke-9. Folikel dominan (DF) pada gelombang pertama mencapai diameter maksimal pada hari ke-3 dengan diameter 2.3 cm. Diameter folikel tersebut lebih kecil dibandingkan temuan Ginther (1993) yang melaporkan bahwa diameter folikel terbesar pada saat gelombang pertama mencapai 2.8 cm. Pertumbuhan CL tidak memiliki pola yang sama dimana diameter pasca ovulasi adalah 3.3 cm dan terus menurun hingga mencapai 1.4 cm pada saat menjelang ovulasi. Namun demikian gambaran ultrasonografi menunjukkan gradasi warna dari hypoechoic menjadi hyperechoic hal ini menunjukkan terbentuknya sel luteal tidak disertai peningkatan diameter CL. Gambaran tersebut bersesuaian dengan hasil pengamatan Bergfelt dan Adams (2007) bahwa gradasi warna gambaran ultrasonografi berkaitan dengan pembentukan jaringan luteal. Gelombang folikel kedua teramati mulai hari ke-9 dengan DF mencapai diameter 2.0 cm pada hari ke-12. Pada gelombang folikel kedua ini peningkatan jumlah folikel kelas I tidak teramati. Namun demikian folikel kelas II mengalami peningkatan jumlah mencapai 3 folikel pada hari ke-18. DF gelombang kedua tidak berkembang dan cenderung statis. Hal ini terjadi karena CL tidak mengalami lisis sampai hari ke-18 siklus estrus sehingga tidak terjadi LH surge sehingga tidak terjadi ovulasi DF gelombang kedua (Noguiera 2004). Selanjutnya teramati kemunculan gelombang folikel ketiga ditandai dengan peningkatan folikel kelas II pada hari ke-19. DF tumbuh mencapai diameter maksimal menjelang ovulasi adalah 3.2 cm dengan Folikel Subordinat (SF) mencapai 2.2 cm. Diameter DF lebih kecil dibandingkan temuan Noguiera (2004) yang melaporkan bahwa diameter DF mencapai 3.8 cm sebelum ovulasi. Pada saat DF mencapi 3.1 cm estrus mulai terlihat dengan skor 1 dan mencapai skor 3 saat menjelang ovulasi. 17 Gambar 4 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda A-Siklus II. Siklus estrus berlangsung 19 hari dengan tiga gelombang folikel. Skor estrus mencapai 4 saat menjelang ovulasi. Gambar 5 Kelas folikel pada kuda A-Siklus II. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada hari pertama sampai dengan hari ke-4 dan pada H16 sampai dengan H19. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H10 sampai dengan H16. Hanya ditemukan satu folikel kelas III pada H16 sampai dengan H19. Sementara pada siklus II dari kuda A, panjang siklus estrus adalah 19 hari dengan lama estrus 7 hari dan 3 gelombang folikel, siklus estrus lebih pendek dengan lama estrus yang lebih panjang dari siklus I. Siklus ini berlangsung lebih pendek dengan temuan Ginther (1992) bahwa siklus estrus pada kuda adalah 21 hari, sedangkan lama estrus lebih pendek dari pengamatan Shirazi et al. (2004) 18 pada kuda Caspian, yaitu 8 hari. Gelombang folikel pertama mulai teramati pada hari pertama setelah ovulasi. Kemunculannya ditandai dengan ditemukannya 16 folikel berdiamater 1.5 cm dan terus meningkat hingga sejumlah 20 folikel pada hari ke-4. DF gelombang pertama diawali dengan diameter folikel terbesar 2.0 cm dan SF 1.8 cm. Pertumbuhan gelombang kedua dimulai pada hari ke-5. DF mencapai diameter 1.5 cm. Folikel kelas I masih dalam kisaran jumlah 20 folikel, dan mulai hari ke-10 teramati peningkatan jumlah folikel kelas II hingga mencapai 5 folikel pada hari ke-12. DF mencapai diameter maksimal 2.4 cm pada hari ke-12. Selanjutnya gelombang folikel ketiga dimulai pada hari ke-13, bersamaan dengan pertumbuhan DF berdiamater 3.0 cm dan berlanjut sampai dengan terjadi ovulasi pada hari ke-19 dengan diameter maksimal DF 5.2 cm. Diameter DF lebih besar dari temuan Cuervo-Arango dan Newcombe (2008) yang melaporkan bahwa pada kuda-kuda sport, seperti Warmblood dan Thoroughbred di UK, diameter DF sebelum ovulasi hanya mencapai 4.6 cm. Pertumbuhan folikel kelas II sejumlah 6 folikel teramati pada gelombang ini, sementara folikel kelas III teramati mulai hari ke-16 sejumlah satu folikel, dan folikel kelas I juga teramati pada hari yang sama sejumlah 10 folikel hingga mencapai 16 folikel pada hari ke-19. Estrus dengan skor 1 mulai teramati pada hari ke-13 pada saat DF mencapai 3.0 cm dan mencapai skor 4 pada saat menjelang ovulasi. Pola pertumbuhan CL hampir sama dengan siklus I, dimana diameter CL pada saat hari pertama setelah ovulasi maencapai 3.2 cm dan terus menurun hingga 0.8 cm pada saat menjelang ovulasi. 19 Gambar 6 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda A-Siklus III. Siklus estrus berlangsung 25 hari dengan 3 gelombang folikel. Skor estrus mencapai3 saat menjelang ovulasi. Gambar 7 Kelas folikel pada kuda A-Siklus III. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H2 sampai dengan H9 dan pada H16. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H11 sampai dengan H25. Tidak ada folikel yang mencapai kelas III. Kuda A pada siklus III, panjang siklus estrus 25 hari dengan lama estrus 6 hari, dan 3 gelombang folikel. Siklus ini lebih pendek dari siklus I, namun lebih panjang dari siklus II. Hal ini lebih panjang dari temuan Shirazi et al. (2004) pada kuda Caspian, yaitu 22 hari. Gelombang folikel pertama diawali dengan pertumbuhan DF berdiamater 1.6 cm dan mencapai diameter maksimal 1.9 cm 20 pada hari ke-6. Pertumbuhan folikel kelas I teramati mulai hari pertama sejumlah 16 folikel dan terus meningkat mencapai 20 folikel pada hari ke-9. Pertumbuhan CL menunjukkan pola yang sama dengan siklus I dan II, dimana diameter setelah ovulasi 3.5 cm dan terus menurun hingga 0.8 cm pada saat menjelang ovulasi. Gelombang folikel kedua teramati mulai hari ke-7 dengan diameter DF 1.4 cm dan mencapai 1.6 pada hari ke-15. Pada gelombang kedua ini peningkatan jumlah folikel kelas I tidak teramati. Namun demikian peningkatan jumlah folikel kelas II mulai teramati pada hari ke-11 sejumlah 1 folikel dan mencapai 2 folikel pada hari ke-15. DF gelombang kedua tidak berkembang dan cenderung statis. Hal ini dikarenakan CL baru mengalami regresi pada hari ke-16 bersamaan dengan munculnya gelombang ketiga. Gelombang ketiga ini muncul pada hari ke16. Ditandai dengan diameter DF mencapai 3 cm dan terlihat CL mulai mengalami regresi. Pada gelombang ketiga ini juga teramati dua kali peningkatan jumlah folikel kelas I hingga mencapai 12 folikel pada hari ke-17 dan 21. Jumlah folikel kelas II juga meningkat hingga mencapai 4 folikel pada hari ke-21. DF cenderung statis dengan diameter 3.0 cm hingga menjelang ovulasi. Diameter DF lebih kecil dari temuan Gastal et al. (1997) bahwa diameter DF menjelang ovulasi adalah 3.7 cm. Pada saat DF berdiamater 3.4 estrus mulai terlihat dengan skor 1 pada hari ke-20 hingga mencapai skor 3 saat menjelang ovulasi pada hari ke-25. Berdasarkan hasil pengamatan pada kuda A didapatkan 3 siklus estrus dengan masing-masing panjang siklus 28, 19, dan 25 hari, dengan lama estrus masing-masing 4, 7, dan 6 hari, sehingga didapatkan rata-rata panjang siklus untuk kuda A adalah 24 ± 4.58 hari dengan lama estrus 5.67 ± 1.53 hari. Jika dibandingkan dengan temuan Shirazi et al. (2002) pada kuda Caspian yang dilaporkan memiliki panjang siklus estrus 22 hari dengan lama estrus 8 hari, maka panjang siklus estrus kuda A lebih panjang, namun lama estrus lebih singkat. Sementara itu gelombang folikel yang muncul pada masing-masing siklus estus adalah 3 gelombang folikel. Diameter DF sebelum ovulasi pada masingmasing siklus adalah 3.8, 5.2, dan 3 cm, sehingga rata-rata diameter DF kuda A adalah 4.0 ± 1.1 cm. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bergfelt dan Adams (2007) bahwa rata-rata diameter maksimum folikel ovulasi adalah 4 sampai dengan 4.5 cm pada beberapa kuda tipe tunggang, seperti Quarter, Arab, dan Thoroughbred, 21 namun demikian kisarannya cukup luas (3 sampai 7 cm). Selanjutnya Bergfelt dan Ginther (1996) mengemukakan bahwa perbedaan bangsa dan tipe kuda mengindikasikan adanya perbedaan rata-rata diameter folikel pada saat menjelang ovulasi. ovulasi Gambar 8 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda B. Siklus estrus berlangsung 28 hari dengan dua gelombang folikel. Skor estrus mencapai 4 saat menjelang ovulasi. Gambar 9 Kelas folikel pada kuda B. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H4 sampai dengan H5 dan pada H19 sampai dengan H22. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H13. Tidak ada folikel yang mencapai kelas III. 22 Kuda B, panjang siklus estrus adalah 28 hari dengan lama estrus 8 hari dan 2 gelombang folikel. Siklus estrus ini berlangsung lebih lama dibandingkan pengamatan Ginther (2002) bahwa panjang siklus estrus maksimal berlangsung 24 hari. Pertumbuhan gelombang folikel tidak teramati pada gelombang yang pertama, karena jumlah folikel kelas I cenderung statis pada kisaran 6 folikel. Diameter maksimal DF pada gelombang pertama adalah 2.0 cm yang dicapai pada hari ke-1 dan ke-2, selanjutnya terus menurun sampai dengan 1.0 cm pada hari ke5. Diameter folikel tersebut lebih kecil dibandingkan temuan Ginther (1993) yang melaporkan bahwa diameter folikel terbesar pada saat gelombang pertama mencapai 2.8 cm. Pertumbuhan folikel kelas I baru teramati pada hari ke-5 seiring dengan munculnya gelombang folikel yang ke-2, ditandai dengan adanya folikel kelas I berjumlah 11 folikel. Keadaan ini berangsur-angsur berkurang hingga hanya terdapat 6 folikel kelas I pada hari ke-19. Selanjutnya terjadi lagi peningkatan jumlah folikel kelas I mulai hari ke-20 hingga mencapai maksimal pada hari ke-24 sejumlah 11 folikel. Demikian halnya dengan folikel kelas II yang juga mulai teramati kemunculannya pada hari ke-6. Jumlah folikel kelas II cenderung statis pada kisaran 1 sampai 2 folikel saja hingga menjelang ovulasi. Diameter maksimal DF gelombang ke-2 mencapai 4.0 cm pada hari ke-27 namun menurun hingga 3.8 cm pada saat menjelan

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Karakteristik Penderita tumor ovarium di RSUD Dr.Pirngadi kota Medan pada tahun 2013
4
86
62
Mengenai makan daging kuda
0
6
1
Dinamika perubahan kapang toksigenik pada kopi hasil pengolahan kering dalam berbagai jenis pengemas selama penyimpanan
0
3
73
Pola rekrutment anggota baru pada induk koperasi syariah (inkopsyah-BMT) Cipayung Jakarta Timur
4
39
96
Seleksi tanaman generasi fi hasil persilangan hemerocallis kultivar aftar the fal dengan happy return
1
9
89
Kelas11 gardu induk 1530
7
43
94
Perancangan sistem informasi kepegawaian data induk pegawai Setda Prop. Jabar Jalan Diponegoro No.22 Bandung : laporan hasil kerja praktek
0
4
68
Sistem jaringan lokal area network pada Balai Informasi Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl.Sangkuriang Gedung 40 Bandung 40235 : laporan hasil praktek kerja lapangan
0
11
67
Konfigurasi jaringan lokal (LAN) di PT.Tomenbo Indonesia : laporan kerja praktek
0
9
36
Pengaruh penggantian konsentrat dengan tepung roti afkir terhadap performan kelinci lokal jantan
0
2
59
Masyarakat Iktiologi Indonesia Pemaskulinan belut (Monopterus albus Zuiew 1793) dengan induksi penghambat aromatase untuk penyediaan calon induk jantan
0
0
9
Analisis Dinamika Evakuasi pada Erupsi Merapi dengan Pendekatan System Dynamics
0
0
6
Kata kunci: prebiotik inulin, probiotik Lactobacillus sp., karakteristik daging, ayam lokal persilangan
0
1
7
Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia
0
0
330
Penggunaan pelepah kelapa sawit fermentasi dengan berbagai level biomol+ pada pakan terhadap karkas domba lokal jantan
0
0
15
Show more