Penetapan Kadar Gliseril Guaiakolat Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultra Violet

Gratis

25
198
43
2 years ago
Preview
Full text

  

PENETAPAN KADAR GLISERIL GUAIAKOLAT

DALAM SEDIAAN TABLET

SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET TUGAS AKHIR OLEH:

ISTIMEWA BAKO NIM 102410069

  

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUM ATERA UTARA

MEDAN

2013

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan pengetahuan, kekuatan, kesehatan dan kesempatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul ”Penetapan Kadar Gliseril Guaiakolat Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultra Violet”. Tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salahsatu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Diploma III Analis Farmasi Dan Makanan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, penulis tidak akan dapat menyelesaikan tugas akhir ini sebagaimana mestinya.

  Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar–besarnya kepada berbagai pihak antara lain:

  1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagaiDekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  2. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt., sebagai Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan makanan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  3. Bapak Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, M.S., Apt., selaku Dosen Pembimbing, yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam pembuatan tugas akhir ini.

  4. Bapak Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt., sebagai Dosen Penasehat Akademis yang telah memberikan nasehat dan pengarahan kepada penulis dalam hal akademis setiap semester.

  5. Bapak Kepala Manager industri PT KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk. PLANT MEDAN beserta stafnya yang telah membantu dan menyediakan fasilitas kepada penulis selama melakukan Praktek Kerja Lapangan.

  6. Bapak Drs. Beben Budiman, Apt., selaku Plant Manager PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan.

  7. Bapak Heru Khoerudin, S.Si., Apt., selaku koordinator pembimbing praktek kerja lapangan yang telah membimbing dan memberikan saran serta petunjuk selama pelaksanaan PKL di PT KimiaFarma (Persero) Tbk Medan.

  8. Bapak dan Ibu dosen staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara atas semua ilmu, didikan dan bimbingan kepada penulis selama di perguruan tinggi ini.

  9. Staf administrasi Fakultas Farmasi yang telah membantu kemudahan administrasi selama ini.

  10. Ibunda tercinta serta seluruh keluarga yang telah memberikan doa restu dan motivasi hingga Tugas Akhir ini selesai.

  11. Sahabat–sahabat yang satu kelompok dalam Praktek Kerja Lapangan yaitu Muhammad Asro, Elis Suryani dan Eva Lina Olivia yang telah saling membantu dalam praktek kerja lapangan.

  12. Teman-teman Analis Farmasi Dan Makanan stambuk 2010 semuanya tanpa terkecuali, adik–adik stambuk 2011 dan 2012 yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu, terima kasih buat kebersamaan dan semangatnya selama ini, serta masukan dalam penyusunan tugas akhir ini.

13. Serta pihak-pihak yang telah ikut membantu penulis namun tidak dapat disebutkan namanya satu per satu.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tugas akhir ini masih terdapat kekurangan, serta dalam penulisan maupun penyajian dalam tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis menerima serta sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan tugas akhir ini.

  Akhir kata semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan karunia–Nya kepada kita semua dan harapan penulis semoga tugas akhir ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin. Medan,

  23 Agustus 2013 Penulis,

  Istimewa Bako NIM 102410069

PENETAPAN KADAR GLISERILGUAIAKOLAT DALAM SEDIAAN

  

TABLET SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET

ABSTRAK

  Gliseril guaiakolat (guaifenesin) adalah derivat guaiakol yang banyak digunakan sebagai ekspektoran dalam berbagai jenis sediaan obat batuk. Dalam perdagangan, biasanya tablet Gliseril Guaiakolat diformulasikan dalam bentuk sediaan tablet dengan dosis, 50 mg atau 100 mg untuk setiap tablet. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah kadar gliseril guaiakolat dalam formulasi sediaan tablet hasil produksi PT. Kimia Farma Tbk. Plant Medan memenuhi syarat seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi IV. Penentuan kadar gliseril guaiakolat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV dengan panjang gelombang maksimum 274 nm. Percobaan ini dilakukan sebanyak 2 kali pengukuran untuk masing-masing batch. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar rata-rata gliseril guaiakolat dalam tablet dari batch 30096 T, 30097 T, dan 30098 T yang diproduksi PT.Kimia Farma Tbk. Plant Medan masing-masing sebesar 103,69%, 99,79%, dan 97,33%. Farmakope Indonesia Edisi ke-IV memberi persyaratan kadar tablet gliseril guaiakolat, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket, sehingga hasil penentuan kadar yang dilakukan memenuhi persyaratan. Kata kunci: penetapan kadar, gliseril guaiakolat, spektrofotometri UV, tablet

  GUAIACOLATE GLYCERYL ASSAY IN TABLET DOSAGE BY SPECTROPHOTOMETRY UV ABSTRACT

  Glyceryl guaiacolate ( guaifenesin ) is guaiacol derivatives are widely used as an expectorant in cough medicines different types of preparations . In the trade, usually Glyceryl guaiacolate tablet formulated in tablet dosage forms with dose , 50 mg or 100 mg for each tablet . The purpose of this examination is to determine whether the levels of glyceryl guaiacolate in tablet dosage formulations produced by PT. Kimia Farma Tbk . Plant Field qualifies as shown on Indonesian Pharmacopoeia Edition IV.

  Determination of glyceryl guaiacolate done using UV spectrophotometric method with a maximum wacelength of 274 nm. This experiment is done as much as 2 times mewasurement.

  Determination of glyceryl guaiacolate done using UV spectrophotometric method with a maximum wavelength of 274 nm. This experiment is done as much as 2 times measurements for each batch. The results showed that the average levels of glyceryl guaiacolate in tablets of batch 30096 T , 30097 T , and T 30 098 produced PT.Kimia Farma Tbk. Plant Medan respectively 103.69 %, 99.79 %, and 97.33 %. Indonesian Pharmacopoeia Fourth Edition gives glyceryl guaiacolate tablet content requirements, is not less than 90.0 % and not more than 110.0 % of the amount listed on the label, so that the determination of which do meet the requirement. Keywords : assay , glyceryl guaiacolate , UV spectrophotometry , tablet

  

DAFTAR ISI

  Halaman JUDUL ...................................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................... ii KATA PENGANTAR .............................................................................. iii ABSTRAK .............................................................................................. vi ABSTRACT ............................................................................................ vii DAFTAR ISI ............................................................................................. viii

  BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

  1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1

  1.2 Tujuan dan Manfaat ................................................................ 2

  1.2.1 Tujuan ...................................................................... 2

  1.2.2 Manfaat .................................................................... 2

  BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 3

  2.1 Obat ......................................................................................... 3

  2.2 Tablet ...................................................................................... 4

  2.3 Cara Pembuatan Tablet ……………………………………… 5

  2.4 Syarat–Syarat Tablet ............................................................... 10

  2.5 Batuk ....................................................................................... 12

  2.6 Ekspektoran ............................................................................. 13

  2.7 Gliseril Guaiakolat .................................................................. 14

  2.7.1 Indikasi ..................................................................... 15

  2.7.2 Farmakologi ............................................................. 15

  2.8 Metode Penetapan Kadar Secara Spektrofotometri Ultra Violet(UV) ............................................................................. 15

  BAB III METODE PENGUJIAN .......................................................... 20

  3.1 Tempat Pelaksanaan Penetapan kadar .................................... 20

  3.2 Alat .......................................................................................... 20

  3.3 Bahan ...................................................................................... 20

  3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi ................................................... 20

  3.4.1 Pengencer ................................................................. 20

  3.4.2 Pengambilan Sampel Uji .......................................... 21

  3.4.3 Larutan Standar ........................................................ 21

  3.4.4 Larutan Uji ............................................................... 21

  3.5Cara Penetapan Kadar ............................................................. 21

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 24

  4.1 Hasil ........................................................................................ 24

  4.2 Pembahasan ............................................................................. 24

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 26

  5.1 Kesimpulan ...................................................................... 26

  5.2 Saran ................................................................................ 26 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 27 LAMPIRAN ........................................................................................... 29

  Perhitungan Penetapan Kadar ....................................................... 29 Data Fotometrik Penetapan Kadar Zat ......................................... 32

PENETAPAN KADAR GLISERILGUAIAKOLAT DALAM SEDIAAN

  

TABLET SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET

ABSTRAK

  Gliseril guaiakolat (guaifenesin) adalah derivat guaiakol yang banyak digunakan sebagai ekspektoran dalam berbagai jenis sediaan obat batuk. Dalam perdagangan, biasanya tablet Gliseril Guaiakolat diformulasikan dalam bentuk sediaan tablet dengan dosis, 50 mg atau 100 mg untuk setiap tablet. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah kadar gliseril guaiakolat dalam formulasi sediaan tablet hasil produksi PT. Kimia Farma Tbk. Plant Medan memenuhi syarat seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi IV. Penentuan kadar gliseril guaiakolat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV dengan panjang gelombang maksimum 274 nm. Percobaan ini dilakukan sebanyak 2 kali pengukuran untuk masing-masing batch. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar rata-rata gliseril guaiakolat dalam tablet dari batch 30096 T, 30097 T, dan 30098 T yang diproduksi PT.Kimia Farma Tbk. Plant Medan masing-masing sebesar 103,69%, 99,79%, dan 97,33%. Farmakope Indonesia Edisi ke-IV memberi persyaratan kadar tablet gliseril guaiakolat, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket, sehingga hasil penentuan kadar yang dilakukan memenuhi persyaratan. Kata kunci: penetapan kadar, gliseril guaiakolat, spektrofotometri UV, tablet

  GUAIACOLATE GLYCERYL ASSAY IN TABLET DOSAGE BY SPECTROPHOTOMETRY UV ABSTRACT

  Glyceryl guaiacolate ( guaifenesin ) is guaiacol derivatives are widely used as an expectorant in cough medicines different types of preparations . In the trade, usually Glyceryl guaiacolate tablet formulated in tablet dosage forms with dose , 50 mg or 100 mg for each tablet . The purpose of this examination is to determine whether the levels of glyceryl guaiacolate in tablet dosage formulations produced by PT. Kimia Farma Tbk . Plant Field qualifies as shown on Indonesian Pharmacopoeia Edition IV.

  Determination of glyceryl guaiacolate done using UV spectrophotometric method with a maximum wacelength of 274 nm. This experiment is done as much as 2 times mewasurement.

  Determination of glyceryl guaiacolate done using UV spectrophotometric method with a maximum wavelength of 274 nm. This experiment is done as much as 2 times measurements for each batch. The results showed that the average levels of glyceryl guaiacolate in tablets of batch 30096 T , 30097 T , and T 30 098 produced PT.Kimia Farma Tbk. Plant Medan respectively 103.69 %, 99.79 %, and 97.33 %. Indonesian Pharmacopoeia Fourth Edition gives glyceryl guaiacolate tablet content requirements, is not less than 90.0 % and not more than 110.0 % of the amount listed on the label, so that the determination of which do meet the requirement. Keywords : assay , glyceryl guaiacolate , UV spectrophotometry , tablet

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Batuk adalah suatu refleks fisiologis protektif yang berfungsi untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan dari dahak, debu, zat–zat perangsang asing dan unsur–unsur infeksi. Orang sehat hampir tidak batuk sama sekali, berkat mekanisme pembersihan dari bulu getar (Cilia) di dinding bronchi, yang berfungsi menggerakkan dahak keluar dari paru–paru menuju batang tenggorokan. Cilia ini juga membantu menghindarkan masuknya zat–zat asing ke saluran napas (Tan dan Raharjo, 2007).

  Data analitik zat aktif mencakup data kualitatif, data kuantitatif, dan kemurnian dari zat berkhasiat. Untuk penetapan kualitatif biasanya digunakan reaksi warna, kromatografi lapis tipis, spectrum serapan inframerah, dan reaksi lainnya. Penetapan kadar zat aktif biasanya dilakukan dengan metode titrasi, spektrofotometri, kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT), dan sebagainya. Analisis ini merupakan bagian penting dalam praformulasi, untuk menetapkan identitas dan kadar zat aktif (Siregar, 2010).

  Dalam perdagangan, biasanya tablet gliseril guaiakolat diformulasikan dalam bentuk sediaan tablet dengan dosis, 50 mg atau 100 mg untuk setiap tablet.

  Dosis dewasa yang dianjurkan 2–4 kali (200–400 mg ) sehari (Setiabudy, 2007).

  Pengawasan terhadap tablet gliseril guaiakolat perlu dilakukan karena jika tidak memenuhi syarat dapat membahayakan konsumen. Oleh karena itu, zat berkhasiat gliseril guaiakolat sediaan tablet sangat penting untuk diperiksa apakah telah memenuhi syarat atau tidak, sehingga penulis tertarik untuk mengambil tugas akhir dengan judul ”Penetapan Kadar Gliseril Guaiakolat Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet”.

  Dalam Farmakope Indonesia Edisi III, metode spektrofotometri ultraviolet (UV) digunakan untuk mendapatkan kadar senyawa obat dalam jumlah yang cukup banyak. Penetapan kadar gliseril guaiakolat dilakukan dengan metode spektrofotometri ultraviolet (UV), karena analisis dengan spektrofotometri UV cepat, teliti, peka, dan penyiapan sampelnya mudah. Metode ini biasanya berdasarkan pada nilai suatu obat, cara untuk mendapatkan kadar sampel adalah dengan menggunakan perbandingan absorbansi sampel dengan absorbansi baku (Rohman,2007).

1.2 Tujuan dan Manfaat

  1.2.1 Tujuan

  Untuk mengetahui apakah kadar gliseril guaiakolat yang digunakan dalam formulasi sediaan tablet yang dihasilkan oleh PT Kimia Farma Tbk. Plant Medan memenuhi syarat seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi IV.

  1.2.2 Manfaat

  Untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, khususnya tentang penetapan kadar gliseril guaiakolat sebagai zat aktif menggunakan metode Spektrofotometri Ultraviolet (UV).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat

  Obat adalah zat aktif berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintesis dalam dosis atau kadar tertentu dapat dipergunakan untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnosa terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan. Namun zat aktif tersebut tidak dapat dipergunakan begitu saja sebagai obat, terlebih dahulu harus dibuat dalam bentuk sediaan seperti pil, tablet, kapsul, sirup, suspensi, supositoria, salep dan lain-lain (Jas,2007).

  Meskipun obat dapat menyembuhkan penyakit, tetapi masih banyak juga orang yang menderita akibat keracunan obat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa obat dapat bersifat sebagai obat dan dapat juga bersifat sebagai racun. Obat itu bersifat sebagai obat apabila tepat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Jadi, apabila obat salah digunakan dalam pengobatan atau dengan dosis yang berlebihan maka akan menimbulkan keracunan, sedangkan bila dosisnya kecil maka kita tidak akan memperoleh penyembuhan (Anief,1991).

  Bahan baku obat adalah semua bahan,baik yang berkhasiat (zat aktif) maupun tidak berkhasiat (zat Nonaktif/eksipien), yang berubah maupun tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat didalam produkruahan (Siregar, 2010).

  Menurut Dirjen POM(2006), bahan (zat) aktif adalah tiap bahan atau campuran bahan yang akan digunakan dalam pembuatan sediaan farmasi dan apabila digunakan dalam pembuatan obat menjadi zat aktif obat tersebut. Dalam arti lain, bahan (zat) aktif adalah bahan yang ditujukan untuk menciptakan khasiat farmakologi atau efek langsung lain dalam diagnosis, penyembuhan, peredaan, pengobatan atau pencegahan penyakit, atau untuk mempengaruhi struktur dan fungsi tubuh.

  2.2 Tablet

  Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet dapat berbeda-beda ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur, dan aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya.

  Umumnya tablet digunakan pada pemberian obat secara oral (Ansel, 1989).

  Untuk membuat tablet diperlukan bahan tambahan berupa:

  a. Bahan pengisi (diluent) Bahan pengisi adalah suatu zat inert secara farmakologis yang ditambahkan ke dalam suatu formulasi sediaan tablet, bertujuan untuk penyesuaian bobot, ukuran tablet sesuai yang dipersyaratkan, untuk membantu kemudahan dalam pembuatan tablet, dan meningkatkan mutu sediaan tablet. Berikut ini beberapa zat pengisi yang sering digunakan: laktosa, laktosa anhidrat, laktosa semprot kering, fast flo lactose (FFL), starch 1500, dan mikrokristalin selulosa (Siregar, 2010). b. Bahan pengikat (binder) Bahan pengikat ditambahkan ke dalam formulasi tablet untuk menambah kohesivitas serbuk sehingga memberi ikatan yang penting untuk membentuk granul yang dibawah pengempaan akan membentuk suatu massa kohesif atau kompak yang disebut tablet. Beberapa jenis pengikat yang sering digunakan: pati 5-10%, pati pragelatinisasi 0,5%, starch 1500, gelatin 2-10%, sukrosa 50- 75%, akasia 10-25%, polivinilpirolidon 3-15% (Siregar, 2010).

  c. Bahan penghancur (disintegrator) Bahan ini dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam saluran cerna. Zat-zat yang digunakan seperti: amilum kering, gelatin, agar-agar, natrium alginat.

  d. Bahan pelicin (lubricant) Bahan ini dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Zat-zat yang digunakan seperti: talcum, magnesii stearat, asam stearat.

  Dalam pembuatan tablet, zat berkhasiat dan bahan tambahan, kecuali bahan pelicin dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan dengan baik. Dengan dibuat granul akan terjadi free flowing, mengisi cetakan secara tetap dan dapat dihindari tablet menjadi capping (retak) (Anief, 1987).

  2.3 Cara Pembuatan Tablet

  Kebanyakan serbuk tidak dapat dikempa langsung menjadi tablet karena:

  1. Serbuk kurang memiliki karakteristik ikatan atau lekatan (kohesif dan adhesif) yang baik secara bersama-sama menjadi kesatuan padatan yang kompak.

  2. Serbuk biasanya tidak memiliki sifat lubrikasi dan dintegrasi yang dipersyaratkan untuk pentabletan.

  3. Serbuk pada umumnya tidak atau kurang memiliki sifat mengalir bebas (Siregar, 2010).

  Untuk itu zat aktif mula-mula harus mengalami praperlakuan, baik tunggal ataupun dalam kombinasi dengan eksipien untuk membentuk granul yang memberi kemungkinan untuk dikempa. Proses ini disebut sebagai granulasi. Granulasi adalah setiap proses membesarkan ukuran partikel-partikel kecil dengan mengumpulkannya bersama-sama menjadi agregat yang lebih besar dan permanen untuk membuatnya mengalir bebas yang serupa dengan pasir kering (Siregar, 2010).

  Terdapat 3 metode pembuatan tablet kompresi yaitu: 1.

   Granulasi Basah

  Metode granulasi basah merupakan yang terluas digunakan orang dalam memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode ini dapat dibagi sebagai berikut: menimbang dan mencampur bahan-bahan, pembuatan granulasi basah, pengayakan adonan lembab menjadi granul, pengeringan, pengayakan kering, pencampuran bahan pelicin, pembuatan tablet dengan kompresi.

  Penimbangan dan pencampuran: Bahan aktif, pengisi, dan bahan penghancur yang diperlukan dalam formula tablet ditimbang sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan untuk membuat sejumlah tablet yang akan diproduksi dan dicampur, diaduk baik, biasanya dengan menggunakan mesin pencampur serbuk atau mikser.

  Pembuatan granulasi basah. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan cairan pengikat ke dalam campuran serbuk, melewatkan adonan yang lembab melalui ayakan yang ukuran nya sesuai kebutuhan, granul yang dihasilkan melalui pengayakan ini dikeringkan, lalu diayak kembali dengan ayakan yang ukurannya lebih kecil supaya mengurangi ukuran granul berikut nya. Unsur pengikat dalam tablet juga membantu merekatkan granul satu dengan lainnya, menjaga kesatuan tablet setelah dikompresi. Bahan pengikat yang digunakan adalah 10-20% cairan dari tepung jagung, 25-50% larutan glukosa, molase, macam-macam gom alam (seperti akasia) derivat selulosa (metilselulosa, karboksimetilselulosa dan selulosa mikrokristal), gelatin, dan povidon. Bila diinginkan warna dan rasa dapat ditambahkan ke dalam bahan pengikat sehingga terjadi granulasi dengan warna dan rasa yang diinginkan.

  Penyaringan adonan lembab menjadi granul. Pada umumnya granulasi basah ditekan melalui ayakan nomor 6 atau 8. Dibuat granul dengan menekankan pada alat yang dibuat berlubang-lubang.

  Pengeringan granul. Kebanyakan granul dikeringkan dalam kabinet pengering dengan sistem sirkulasi udara dan pengendalian temperatur. Untuk metode terbaru untuk pengeringan sekarang ini yaitu fluidization disalurkan ke dalam fluid bed dryers. Pada metode ini granul dikeringkan dalam keadaan tertutup dan diputar-putar sambil dialirkan udara yang hangat.

  Penyaringan kering. Setelah dikeringkan, granul dilewatkan melalui ayakan dengan lubang lebih kecil daripada yang biasa dipakai untuk pengayakan granulasi asli. Ukuran granul dihaluskan tergantung pada ukuran punch yang akan dipakai dan tablet yang akan diproduksi. Semakin kecil tablet yang akan diproduksi semakin halus granul yang dipakai, biasa nya menggunakan ayakan ukuran 12-20.

  Pelinciriran atau lubrikasi. Jumlah pelincir yang dipakai pada pembuatan tablet mulai dari 0,1% berat granul sampai 5%. Manfaat pelincir dalam pembuatan tablet kompresi; mempercepat aliran granul dalam corong kedalam rongga cetakan, mencegah melekat nya granul pada punch dan cetakan, mengurangi gesekan antara tablet dan dinding cetakan ketika tablet dilemparkan dari mesin dan memberikan rupa yang bagus pada tablet yang sudah jadi.

  Pencetakan tablet. Mesin tablet berputar (rotary) dengan kecepatan tinggi mempunyai banyak punch dan die (cetakan) dapat menyisihkan mesin tablet tunggal, karena punch berputar secara terus menerus maka pencetakan tablet berlangsung secara terus menerus pula. Mesin tablet tunggal biasanya berkapasitas 100 tablet per menit sedangkan mesin tablet rotary dengan 16 tempat (16 set punch dan die) dapat memproduksi 1150 tablet per menit (Ansel, 1989).

2. Granulasi Kering

  Tujuan metode granulasi kering adalah untuk memperoleh granul yang dapat mengalir bebas untuk pembuatan tablet. Granulasi kering dilakukan apabila zat aktif tidak mungkin digranulasi basah, karena tidak stabil atau peka terhadap panas dan lembab atau tidak mungkin dikempa langsung menjadi tablet karena zat aktif tidak dapat mengalir bebas dan dosis efektif zat aktif terlalu besar untuk kempa langsung (Siregar, 2010). Dalam metode ini, baik bahan aktif maupun pengisi harus memiliki sifat kohesif supaya masa yang jumlah nya besar dapat dibentuk. Metode ini khususnya untuk bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan metode granulasi basah, karena kepekaannya terhadap uap air atau karena untuk mengeringkannya diperlukan temperatur yang tinggi (Ansel, 1989).

3. Kompresi Langsung

  Beberapa granul bahan kimia seperti kalium klorida, kalium iodida, amonium klorida, dan metenamin, memiliki sifat mudah mengalir sebagai mana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan metode granulasi basah atau kering. Pada waktu sekarang ini penggunaan pengencer yang dikeringkan dengan penyemprotan, meluas kepada formula-formula tablet tertentu daripada dengan serbuk pengisi biasa, kualitas yang diinginkan untuk tablet kompresi langsung dan sejumlah produk-produk lainnya banyak diproduksi dengan cara ini.

  Capping atau keretakan dari tablet disebabkan oleh beberapa faktor dan tidak terbatas pada tablet yang dibuat dengan pengkompresian langsung saja.

  Misalnya bila punch tidak bersih sekali dan tidak halus sekali dapat menghasilkan tablet yang terlepas bagian atasnya sebagaimana juga dengan cetakan (die) yang sudah tua dan tidak sempurna. Tekanan yang terlalu besar pada pengempaan dapat menyebabkan keretakan seperti yang terjadi bila granulat terlalu lunak. Pada umumnya ada bagian dari fines atau serbuk halus yang merupakan hasil waktu granulasi kering dengan ukuran dan jumlahnya biasanya 10-20% dari berat granul dan perlu supaya pengisian rongga cetakan wajar. Tetapi kelebihan dari serbuk halus ini dapat juga berperan menjadi capping bila sejumlah besar udara terperangkap dalam tablet, keadaan seperti ini disebut laminating (Ansel, 1989).

  2.4 Syarat-Syarat Tablet

  Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV dan sumber-sumber lainnya, tablet harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  A. Keseragaman Bobot

  Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet yang bobotnya seragam diharapkan memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga mempunyai efek terapi yang sama.

  B. Kekerasan

  Tablet harus memiliki kekuatan atau kekerasan agar dapat bertahan terhadap berbagai guncangan pada saat pengepakan dan pengangkutan. Uji ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Hardness Tester. Tablet diletakkan diantara alat penekan punch dan dijepit dengan memutar sekrup pengatur sampai tanda lampu menyala, lalu ditekan tombol sehingga tablet pecah. Tekanan dapat ditunjukkan melalui skala yang tertera. Umumnya kekuatan tablet berkisar 4-8 kg.

  C. Kerenyahan

  Uji ini dilakukan untuk mengetahui kerenyahan tablet, tablet yang rapuh dan rusak kandungan zat berkhasiatnya berkurang sehingga mempengaruhi efek terapi. Kerenyahan ditandai dengan massa partikel yang berjatuhan dari tablet.

  Uji ini menggunakan alat yang disebut Roche Friabilator yang terdiri dari sebuah tabung yang berputar, kearah radial disambungkan sebuah bilah lengkung. Tablet dimasukkan ke dalam drum tersebut, dihidupkan alat maka drum berputar dan tablet bergulir jatuh sampai pada putaran berikutnya dipegang kembali oleh bilah. Pemutaran dilakukan 100 kali dengan persyaratan tablet tidak boleh kehilangan berat lebih dari 0,8%.

  D. Waktu Hancur

  Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet dirancang untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lebih dengan jarak waktu yang jelas diantara periode pelepasan tersebut. Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut sempurna.

  Interval waktu hancur yaitu 5-30 menit. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila tidak ada sisa sediaan yang tidak larut tertinggal pada kasa.

  E. Penetapan Kadar Zat Berkhasiat

  Penetapan kadar ini dilakukan untuk mengetahui apakah tablet tersebut memenuhi syarat sesuai dengan etiket. Bila kadar obat tersebut tidak memenuhi syarat, berarti obat tersebut tidak memiliki efek terapi yang baik dan tidak layak dikonsumsi. Penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan cara- cara yang sesuai tertera pada monografi antara lain di Farmakope Indonesia.

F. Disolusi

  Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat kedalam larutan pada suatu medium. Uji ini digunakan untuk mengetahui kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam monografi pada sediaan tablet kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah atau tidak memerlukan uji disolusi.

2.5 Batuk

  Batuk merupakan gejala yang mungkin paling umum yang bisa timbul pada penyakit tenggorokan sampai penyakit cabang tenggorokan. Batuk bisa kering atau berlendir/berdahak (Irianto, 2004).

  Batuk adalah suatu refleks fisiologis protektif yang berfungsi untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan dari dahak, debu, zat–zat perangsang asing dan unsur–unsur infeksi. Orang sehat hampir tidak batuk sama sekali, berkat mekanisme pembersihan dari bulu getar di dinding bronchi, yang berfungsi menggerakkan dahak keluar dari paru–paru menuju batang tenggorokan. Cilia ini juga membantu menghindarkan masuknya zat–zat asing ke saluran napas (Tjay dan Raharjo, 2007).

  Batuk juga bisa dipicu oleh stimulasi reseptor–reseptor yang terdapat di mukosa dari seluruh saluran napas, termasuk tenggorokan, juga lambung. Bila reseptor yang peka ini oleh zat–zat perangsang distimulir, biasanya timbullah refleks batuk. Saraf–saraf tertentu menyalurkan isyarat–isyarat ke pusat batuk di sumsum lanjutan (medula oblogata), yang kemudian mengkoordinir serangkaian proses yang menjurus ke respon batuk (Tan dan Raharjo, 2007).

  Menurut Anif (2000), obat yang digunakan untuk mengobati penyakit batuk dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:

  1. Ekspektoransia, yaitu mempertinggi sekresi dari saluran pernapasan dan atau mencairkan riak sehingga mudah dikeluarkan.

  2. Zat–zat pereda batuk (antitusif), yaitu zat–zat ini mengerem rangsangan batuk, dan titik kerjanya dapat sentral dan perifer.

  Bagi Mutschler (1991), jenis dua golongan besar di atas dibagi lagi. Ekspektoran dibagi atas: Sekretolitika (meniggikan sekresi bronchus dan dengan demikian mengencerkan lendir), Mukolitika (mengubah sifat fisikokimia sekret, terutama viskositasnya diturunkan), Sekretomotorika (menyebabkan gerakan secret dan batuk, untuk mengeluarkan sekret tersebut), sedangkan sifat kerja antitusif dibagi atas: penekanan pusat batuk (serabut sensorik /rangsang batuk) dan penekan reseptor batuk (serabut motorik/pendorong batuk).

2.6 Ekspektoran

  Pengertian ekspektoran menurut Sartono (2005) adalah obat yang bekerja dengan cara meningkatkan jumlah cairan sehingga lendir menjadi encer, dan juga merangsang pengeluaran lendir dari saluran napas.

  Pengertian yang hampir sama diberikan oleh Setiabudy (2007), yaitu ekspektoran ialah obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran napas (ekspektorasi). Penggunaan ekspektoran didasarkan pengalaman empiris. Belum ada data yang membuktikan evektivitas ekspektoran dengan dosis yang umum digunakan. Mekanisme kerjanya diduga berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran napas lewat nervus vagus, sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak.

2.7 Gliseril Guaiakolat (Dirjen POM, 1995)

  OH

  

2

  2 OCH CHCH

  OCH3

  3-(o-Metoksifenoksi)-1,2-propanadiol [93-14-1]

  10

14 Rumus molekul : C H O

  Berat molekul : 198,22 Pemerian : serbuk hablur, putih sampai agak keabu–abu khas lemah, rasa pahit.

  Kelarutan : larut dalam air, dalam etanol, dalam kloroform, dan dalam propilen glikol, agak sukar larut dalam gliserin.

  Syarat kadar : mengandung tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%C

  10 H

  14 O 4 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

  2.7.1 Indikasi

  Gliseril guaiakolat selain bekerja sebagai ekspektoran, juga meningkatkan

  Obat generik Gliseril guaiakolat termasuk pembersihan mukosilier (Sartono, 2005).

dalam jenis obat batuk basah, yaitu obat batuk untuk batuk yang memiliki ciri

berlendir, dahak mudah dikeluarkan, terasa ringan, dan tidak begitu sering intensitas

batuknya. Khasiat obat ini adalah mengeluarkan lendir di kerongkongan agar jalan

napas terbebas dari zat-zat asing (Widodo, 2004).

  2.7.2 Farmakologi

  Guaifenesin (gliseril guaiakolat) adalah derivat guaiakol yang banyak digunakan sebagai ekspektoran dalam berbagai jenis sediaan batuk. Pada dosiss tinggi bekerja merelaksasi otot (Tan danRaharjo, 2007).

  Penggunaan gliseril guaiakolat ini hanya didasarkan tradisi dan kesan subyektif pasien dan dokter. Belum ada bukti bahwa obat bermanfaat pada dosis yang diberikan. Efek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar, berupa kantuk, mual, dan muntah (Setiabudy, 2007).

2.8 Metode Penetapan Kadar Secara Spektroforometri Ultra Violet (UV)

  Spektroforometer UV-Vis adalah pengukuran intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi (Dachriyanus, 2004).

  Spektroskopi UV-Vis biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan. Spektrum UV-Vis mempunyai daerah yang lebar dan hanya sedikit informasi tentang struktur yang bisa didapatkan dari spektrum ini. Tetapi spektrum ini sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari senyawa (analit) di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer. Sinar ultraviolet berada pada panjang gelombang 200-400 nm(Dachriyanus, 2004).

  Penggunaan utama spektrofotometri UV-Vis adalah dalam analisis kuantitatif, yaitu dengan cara membandingkan absorban sampel terhadap absorban larutan standar yang konsentrasinya diketahui, diukur pada kondisi yang sama (Satiadarma, 2004).

  Apabila dalam alur radiasi spektrofotometer terdapat senyawa yang mengabsorpsi radiasi, akan terjadi pengurangan kekuatan radiasi yang mencapai detektor. Parameter kekuatan energi radiasi khas yang diabsorpsi oleh molekul adalah absorban (A) yang dalam batas konsentrasi rendah nilainya sebanding dengan konsentrasi zat yang mengabsorpsi radiasi. Penentuan kadar senyawa organik yang mengabsorpsi radiasi UV-Vis penggunaannya cukup luas.

  Konsentrasi kerja larutan analit umumnya 10-20 μg/ml, tetapi untuk senyawa yang nilai absorptivitasnya besar dapat diukur pada konsentrasi yang lebih rendah

  (Satiadarma, 2004). Instrumen Spektrofotometer UV pada dasarnya terdiri atas lima komponen pokok, yaitu:

  1. Sumber energi radiasi

  Sumber energi radiasi yang biasa digunakan adalah sebuah lampu pijar dengan kawat terbuat dari wolfram (Day dan Underwood, 2002). Lampu deuterium, lampu pijar tugsten dan lampu halogen yang biasa dipakai sebagai sumber radiasi untuk daerah ultraviolet (Satiadarma, 2004).

  2. Monokromator

  Cara kerjanya seperti prinsip prisma yaitu bila seberkas cahaya menembus antar muka antara dua media yang berbeda misalnya udara dan kaca, terjadilah pembengkokan, yang disebut pembiasan (refraksi), jauhnya pembengkokan ini bergantung pada indeks bias kaca. Indeks bias ini berbeda–beda menurut panjang gelombang cahaya. Akibat bervariasinya indeks bias dengan panjang gelombang itu, prisma mampu mendispersikan atau menebarkan berkas cahaya putih menjadi suatu spektrum warna (Day dan Underwood, 2002).

  Monokromator digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis. Alatnya berupa prisma ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil penguraian ini dapat digunakan celah (Khopkar, 1990).

  Bahan prisma untuk instrumen spektrofotometer visibel adalah dari prisma kaca, sedangkan kuarsa merupakan bahan prisma untuk instrumen spektrofotometer ultraviolet, inframerah dekat, dan visibel (Day dan Underwood, 2002).

  3. Sel (wadah sampel/kuvet)

  Sel haruslah meneruskan energi radiasi dalam daerah spektral yang diinginkan, jadi digunakan sel kaca untuk visibel, sedangkan sel kuarsa atau kaca silika untuk daerah ultraviolet (Day dan Underwood, 2002). Sel yang biasa digunakan berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder juga dapat digunakan.

  Kuvet/sel yang tertutup harus digunakan untuk pelarut organik (Khopkar, 1990).

  4. Detektor

  Peran detektor adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang (Khopkar, 1990). Detektor adalah alat yang menerima sinyal dalam bentuk radiasi elektromagnetik, mengubah dan meneruskannya dalam bentuk sinyal listrik kerangkaian sistem penguat elektronika. Dengan demikian sinyal radiasi yang terdeteksi itu dapat diukur kekuatannya (Satiadarma, 2004). Secara umum, detektor fotolistrik digunakan dalam daerah tampak dan ultraviolet, detektor fotolistrik yang paling sederhana adalah tabung foto (Day dan Underwood, 2002).

  5. Penguat dan pembacaan

  Sebuah resistor beban yang besar yang seri dengan sebuah tabung foto

  • 6

  diberi daya radiasi yang disuplai ke katoda mengalir arus sebesar 1

  A) μA (10

  6

  dalam rangkaian, jika resistor mempunyai nilai sebesar 1 M ), menurut Ω (10

  • 6

  6 hukum ohm, voltase yang melintasi resistor E = iR, adalah 10 x 10 = 1V.

  Meskipun 1V adalah voltase yang sedang, voltase itu tidak dapat diukur dengan menghubungkan voltmeter biasa melintasi resistor, disebakan voltmeter itu akan menjadi bagian dari rangkaian, dengan membangun suatu cabang pararel terhadap resistor, karena resistansi sebuah voltmeter yang khas

  6

  sangat rendah bila dibandingkan 10 ohm, maka sebagian besar sekali dari arus itu akan mengabaikan resistansi yang besar dan mengalir lewat voltmeter, dan voltase melintasi resistor, meskipun diukur dengan benar, adanya tidak lagi 1V, tetapi barangkali hanya beberapa milivolt, sehingga spektrofotometer UV menggunakan sebuah penguat (amplifier) dengan resistansi masukan yang tinggi sehingga rangkaian tabung foto tidak terserap habis.

  Voltase pada tahanan beban digunakan untuk mengendalikan suatu rangkaian yang menarik dayanya dari suatu sumber bebas yang mempunyai suatu keluaran yang cukup besar untuk menjalankan suatu alat pengukur atau piranti baca lain (berupa recorder dan komputer) (Day dan Underwood, 2002).

BAB III METODE PENGUJIAN

  3.1 Tempat Pelaksanaan Penetapan kadar

  Penetapan kadar ini dilakukan di Ruang Laboratorium yang terdapat di Industi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan yang beralamat di Jl.

  TanjungMorawa Km.9 No. 59 Medan.

  3.2 Alat

  Alat-alat yang digunakan adalah kertas perkamen, spatula, timbangan analitik eletrik, labu tentukur 100 ml dan 50 ml, beker gelas, gelas ukur, pipet tetes, pipet volum 2 ml, Ultrasonic digital, seperangkat alat Spektofotometri UV- Visible Merk Agilent Type 8453 E.

  3.3 Bahan

  Bahan-bahan yang digunakan adalah aquadem bebas CO

  2 , gliseril

  guaiakolat Baku Pembanding Farmakope Indonesia (BPFI), tablet gliseril guaiakolat.

  3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi

3.4.1 Pengencer

  Pengencer dengan menggunakan larutan aquadem bebas CO dibuat

  2

  dengan cara aquadem dipanaskan hingga mendidih kemudian di ultrasonic untuk menghilangkan gas-gas.

  3.4.2 Pengambilan Sampel Uji

  Dari 3 batch diambil masing-masing dari batch sebanyak 10 tablet, dihitung bobot masing-masing tablet dan diperoleh bobot rata-ratanya yaitu sebesar: 303,7 mg, 299,5 mg dan 298,3 mg.

  3.4.3 Larutan Standar

  Ditimbang seksama 100 mg gliseril guaiakolat Baku Pembanding Farmakope Indonesia, dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml, ditambahkan aquadem bebas CO

  2 50 ml, lalu dilarutkan dengan menggunakan alat Ultrasonic digital selama 15 menit, ditambahkan dengan pengencer sampai garis tanda batas.

  Kemudian dipipet 2 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, lalu ditambahkan dengan aquadem bebas CO sampai garis tanda batas (larutan A).

  2

  3.4.4 Larutan Uji

  Sampel digerus sampai halus dari 10 tablet gliseril guaikolat (1 batch) yang telah dihitung bobot rata-ratanya, timbang bobot sampel setara dengan bobot rata-rata penimbangan, dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml, ditambahkan aquadem bebas CO 50 ml, lalu dilarutkan dengan menggunakan alat Ultrasonic

  2

digital selama 15 menit, ditambahkan dengan pengencer sampai garis tanda.

  Kemudian dipipet 2 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, lalu ditambahkan dengan aquadem bebas CO sampai garis tanda (larutan B).

  2

3.5 Cara Penetapan Kadar

  Tahapan kerja penetapan kadar yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1.

  Hidupkan seperangkat alat Spektofotometri Ultra Violet (UV).

  2. Klik program Spektofotometri Ultra Violet (UV) yang terdapat di komputer.

  3. Klik menu Quantification, masukkan panjang gelombang maksimum (274 nm) serta jarak batas atas dan batas bawah panjang gelombang (200 nm dan 400 nm).

  4. Ketik rentang area pengukuran, kemudian klik ok.

  5. Tunggu selama 15 menit sampai mesin stabil.

  6. Ukur larutan pengencer (blanko) terlebih dahulu, isikan ke dalam kuvet.

  7. Klik blank, lalu spektrum keluar.

  8. Ukur larutan standar (larutan A), isikan kedalam kuvet.

  9. Klik standard, lalu procosed spektrum standard dan calibration keluar, serta 6 buah absorbansi keluar di dalam tabel, dalam perhitungan kadar digunakan absorbansi rata-ratanya.

  10. Keluarkan kuvet dari tempat pengukuran dan bilas.

  11. Ukur larutan uji (larutan B), isikan kedalam kuvet.

  12. Klik sampel, lalu overhaid sample spectra keluar, serta 2 buah absorbansi keluar di dalam tabel, dalam perhitungan kadar digunakan absorbansi rata- ratanya.

  13. Keluarkan kuvet dari tempat pengukuran dan bilas.

  Perhitungan penetapan kadar dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

  C = Dosis Keterangan:

  C : Kadar gliseril guaiakolat BPFI dalam g per ml Au : Serapan larutan uji As : Serapan larutan baku Ws : Berat baku pembanding Wr : Berat sampel rata-rata Wu : Berat uji St BPFI : Kadar standar baku pembanding FI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  4.1 Hasil

  Dari pengujian kadar gliseril guaiakolat secara spektrofotometri UV diperoleh kadar rata-rata gliseril guaiakolat sebagai berikut ( Tabel 1 ).

  Tabel 1: No Berat Absorbansi Kadar Kadar

    Nomor Batch   Rata‐Rata      Sampel yang

     di  (%) Rata

    ‐Rata  peroleh  

  (%)  (mg) 

    1 30096 303,7 0.54347 103,67 103,69    T 

    0,54365 103,71

    2 30097 299,5 0,44782 99,77 99,79    T 

    99,80

  0,44795   3 30098 298,3 0,44196 97,26 97,33

     T   

  97,39 0,44252

           

  4.2 Pembahasan

  Penetapan kadar secara spektrofotometri ultraviolet merupakan salah satu prosedur tetap metode yang digunakan sebagai penetapan kadar untuk produk gliseril guaiakolat pada industri farmasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan. Gliseril guaiakolat dalam sediaan tablet yang digunakan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan perlu diperiksa kadarnya, karena merupakan salah satu bentuk uji dalam rangka pemastian mutu produk tablet yang dikonsumsi oleh masyarakat. Dari hasil percobaan penetapan kadar gliseril guaiakolat dalam sediaan tablet dengan menggunakan spektrofotometri UV, diketahui kadar rata- ratanya sebagai berikut:

1. Batch 30096 T: 103,69% 2.

  Batch 30097 T: 99,79% 3. Batch 30098 T: 97,33%

  Menurut Farmakope Indonesia Edisi ke-IV, rentang kadar yang diperbolehkan untuk gliseril guaiakolat adalah tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Maka kadar gliseril guaiakolat dalam sediaan tablet PT Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan memenuhi persyaratan.

  Perbedaaan kadar dapat terjadi karena masing-masing tablet yang ditimbang tidak tepat sama, sehingga perhitungan kadar memperoleh hasil yang berbeda. Selain itu, perbedaan kadar dapat terjadi apabila sampel yang digunakan tidak tercampur homogen. Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet yang bobotnya seragam diharapkan memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga mempunyai efek terapi yang sama. Selain uji keseragaman bobot yang dimaksudkan untuk mengetahui keseragaman sediaaan, juga dilakukan uji penetapan kadar zat berkhasiat untuk memastikan bahwa setiap tablet mengandung jumlah obat atau bahan aktif dengan takaran yang tepat dan merata. Penyimpangan yang terjadi dapat mempengaruhi dosis bahan obat tiap tablet (Martin, dkk., 1983).

  Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, tablet gliseril guaiakolat ditetapkan dengan metode KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi). Namun penetapan kadar tablet gliseril guaiakolat pada industri PT Kimia Farma Tbk. Plant Medan dilakukan dengan metode spektrofotometri UV. Hasil yang diperoleh ternyata memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia Edisi IV.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  5.1 Kesimpulan

  Penetapan kadar gliseril guaiakolat dalam sediaan tablet yang diproduksi PT Kimia Farma Tbk Plant Medan memenuhi persyaratan yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi ke-IV, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

  5.2 Saran

  Pada penetapan kadar gliseril guaiakolat ini, hanya berasal dari satu pabrik industri obat saja, maka diharapkan kepada penulis selanjutnya untuk mengembangkan penetapan kadar gliseril guaikolat dengan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa tablet hasil dari berbagai industri obat lain.

DAFTAR PUSTAKA

  Martin, A., Swarbriek J., Cammarata, A. (1983). Farmasi Fisik, Dasar-Dasar

  Yogyakarta: Kreasi Wacana Yogyakarta. Hal.70.

  Widodo, R. (2004). Panduan Keluarga Memilih Dan Menggunakan Obat.

  Jakarta: EGC. Hal. 15, 16, 123, 145, 161, 605, 647. Tan, H.T., dan Raharjo, K. (2007). Obat-Obat Penting Edisi Enam cetakan pertama. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo. Hal.1, 661, 665.

  Satiadarma, K. (2004). Asas Pengembangan Prosedur Analisis. Surabaya: Airlangga University Press. Hal. 87-90, 94-97. Setiabudy, R. (2007). Farmakologi Dan Terapi. Edisi Lima. Jakarta: Penerbit FK UI. Hal. 531. Siregar, C.J.P. (2010). Teknologi Farmasi Sediaan Tablet: Dasar–Dasar Praktis.

  242, 245, 246. Sartono. (2005). Obat dan Anak. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 12.

  Mutschler, E. (1991). Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 191, 518. Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal.

  Kimia Fisika Dalam Ilmu Farmaset . Diterjemahkan Oleh Yoshita. Edisi 3. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal. 845-848.

  Anif, M. (1991). Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal. 3. Anif, M. (2000). Prinsip Umum Dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal.77, 78.

  Anief. (1987). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

  Bandung: Yrama Widya. Hal. 219. Jas, A. (2007). Perihal Obat dengan Berbagai Jenis Dan Bentuk Sediaannya.

  Irianto, K. (2004). Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Para Medis.

  Hal. 5, 77, 98, 237. Dirjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi Ke IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 421, 422.

  397–404. Dirjen, POM. (2006), Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan POM.

  Padang: Andalas University Press. Hal. 1, 7, 8. Day, R.A. dan Underwood, A.L. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Penerjemah: A. Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: Erlangga. Hal.

  Hal. 244-255, 261-272. Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.

  Hal. 211. Ansel, H. C. (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi.Edisi 4. Jakarta: UI Press.

  Medan: USU Press. Hal. 2, 3. Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerjemah: Saptorahardjo, A. Jakarta: UI Press. Hal. 215, 216, 217.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Penetapan Kadar Bromheksin HCl Dalam Tablet Omelsovon Secara Spektrofotometri Ultraviolet
24
206
42
Penetapan Kadar Gliseril Guaiakolat Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultra Violet
25
198
43
Penetapan Kadar Bahan Baku Gliseril Guaiakolat Secara Spektrofotometri Ultraviolet (UV)
4
38
37
Penetapan Kadar Omeprazol Dalam Sediaan Kapsul Secara Spektrofotometri Ultraviolet
24
164
82
Penetapan Kadar Natrium Diklofenak Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
40
242
79
Penetapan Kadar Piridoksin Hidroklorida Secara Spektrofotometri Ultra Violet
106
393
30
Penetapan Kadar Bahan Baku Gliseril Guaiakolat Secara Spektrofotometri Ultra Violet (UV)
7
91
33
Penetapan Kadar Parasetamol 500 Mg Dalam Omegrip Tablet Dengan Metode Spektrofotometri Ultra Violet Di PT. Mutifa Medan
2
117
25
Penetapan Chloroquin Tablet Secara Spektrofotometri Ultra Violet Di PT. Mutiara Mukti Farma (Mutifa) Medan
5
124
26
Penetapan Kadar Rifampisin dan Isoniazid dalam Sediaan Tablet Secara Multikomponen dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet
41
268
123
Penetapan Kadar Pirantel Pamoat dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
11
121
76
Penetapan Kadar Ketoprofen Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
45
207
65
Penetapan Kadar Kaptropril Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
44
190
77
Uji Disolusi Chlorpheniramine Maleat Secara Spektrofotometri Ultra Violet
4
117
33
Penerapan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Pada Penetapan Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet
4
47
67
Show more