Pedoman Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon

 25  50  43  2017-06-05 17:41:14 Report infringing document
614.4 Ind p PEDOMAN SISTEM KEWASPADAA DANRESPON KEMENT,ERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2013 Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 614.4 Ind p Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehetan Lingkungan Pedoman sistem kewaspadaan dini dan respon,·· Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2012 ISBN 978-602-235-163-4 1. Judul I. PUBLIC HEALTH EPIDEMIOLOGY II. POPULATION SURVEILANCE EPIDEMIOLOGY PEDOMAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2013 .,1 BUKU PEDOMAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON CETAKAN TAHUN 2013 Katalog Terbitan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2012 Pembina Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama; Direktur Jenderal PP dan PL Pengarah dr. Desak lVIade Wismarini, IVIKM; Direktur Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra Penulis DR. Hari Santoso, SKM, M.Epid; Kepala Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Rosliany, SKM, M.Sc.PH; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Dr. Ratna Budi Hapsari, MKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Dr. A Muchtar Nasir; Subdirektorat Surveilans da n Respon KLB Edy Purwanto, SKM, M.Kes; Subdirektorat Surveilans da n Respon KLB Indra Jaya, SKM, M.Epid; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Abdurrahman, SKM, M.Kes; Subdirektorat Surveilans da n Respon KLB Gunawan Wahyu Nugroho, SKM, MKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Kontributor WHO Representative for Indonesia CDC - Atlanta Representative for Indonesia Dr. Juzi Delianna, M.Epid; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Rosmaniar, S.Kep, IVI.Kes; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Dr. Soitawati, M.Epid; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Eka Muhiriyah, SKM, MKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Dr. Mieke Vennyta; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Viviyanti Sidi, SKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Lia Septiana, SKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Fajrianto, SKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Subdirektorat Pengendalian Zoonosis Subdirektorat Pengendalian Diare dan Infeksi Sal u ran Pencernaan Subdirektorat Pengendalian Malaria Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Subdirektorat Infeksi Saluran Pernafasan Editor DR. Hari Santoso, SKM, M.Epid; Kepala Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Dr. Ratna Budi Hapsari, MKM; Subdirektorat Surveilans dan Respon KLB Dr. A Muchtar I\lasir; Subdirektorat Surveilans dan Respo n KLB pedOI1lClIl si<:.tern kewaspadaan dini dan respon pedoman sistem kewaspadaan uini dan respon KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga buku "PEDOMAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON" ini dapat diterbitkan kembali setelah dilakukan beberapa revisi mengikuti perkembangan penyakit menular di Indonesia. Buku ini merupakan salah satu dari Trilogi tentang EWARS (Early Warning Alert and Respon System) yang terdiri dari tiga seri buku yaitu: 1. Buku "Pedoman Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon" 2. Buku "Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respon serta Format Penyelidikan Epidemiologi" 3. Buku "Panduan Pengguna Piranti Lunak (Software) Peringatan Dini Penyakit Menu lar" Buku pertama ini ditujukan bagi petugas surveilans di tingkat Propinsi, Kabupaten dan Puskesmas sebagai pedoman dalam memahami sistem kewaspadaan dini dan respon dengan memanfaatkan piranti lunak peringatan dini surveilans penyakit menular. Buku ini diharapkan dapat menggugah kesadaran semua pihak untuk dapat meningkatkan kinerja surveilans sebagai bentuk upaya deteksi dini dan respon cepat dalam rangka pengendalian penyakit menular yang potensial wabah . Akhirnya disampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan aktif dalam penyusunan pedoman ini semoga pedoman ini dapat digunakan oleh seluruh propinsi dan kabupaten di Indonesia sehingga Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon dapat berjalan lebih optimal. Mセ@ Jakarta, Juli 2013 Direktur SIMKAR-KESMA dr. Desak Made Wismarini, MKM; SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga buku " PEDOMAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON" ini dapat terwujud. Kita ketahui bersama bahwa Indonesia merup akan salah satu anggota dari organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang selalu mendukung kebijakan dari organisasi tersebut apabila tidak bertentangan dengan kebijakan nasional maupun internasionalnya . Indonesia yang telah meratifikaskasi IHR (international Health Regulation) tahun 2005 mau tidak mau harus mengikuti dan menjalankan aturan tersebut. WHO telah menyatakan bahwa IHR 2005 mulai diimplementasikan pada 15 Juni 2007 tetapi kepada seluruh negara masih diberikan waktu selama 5 tahun hal ini sesuai dengan IHR, Bab Ii , Pasal 5, ayat 1 dinyatakan bahwa Suatu Negara harus mengembangkan, memperkuat, dan memelihara kemampuan untuk mendeteksi, menilai, dan melaporkan kejadian sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran 1 IHR (Kapasitas Inti Bidang Surveilans Dan Respon Yang Harus Dipenuhi) , sedini mungkin dan paling lambat lima tahun sejak diberlakukannya IHR . Disamping itu Indonesia juga merupakan negara yang selalu komit terhadap komitmen global seperti eradikasi polio , eliminasi Tetanus Neonatorum (TN), reduksi maupun eliminasi campak, eliminasi malaria, pengendalian HIV/AIDS maupun Tuberkulosis (TB) Paru . Untuk eradikasi polio, Indonesia mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio tahun 2005 dengan jumlah sebanyak 349 kasus (termasuk 46 kasus VDVP tipe 1) dan dapat ditangani dengan ba ik untuk memutu s mata rantai penularan melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) sehingga sampai saat ini tidak ditemukan kembali virus polio. Untuk menjaring kasus polio maka surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP) yang optimal juga sangat berperan penting. Dalam era globalisasi in i mobilisasi manusia maupun barang sudah sangat tinggi dan sangat cepat . Tetapi kondisi ini juga dapat dilihat sebagai sebuah ancaman misalnya transmisi penyakit menular dari suatu negara ke negara lain. Salah satu contoh adalah Kejadian Luar Bia sa (KLB) Polio di Indonesia tahun 2005 terjadi karena ada import virus polio dari negara lain. Selain itu saat ini dunia telah mengalami perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global yang semakin cepat . Kondisi ini juga akan mempengaruhi pola dan jenis penyakit potensial wabah secara langsung maupun tidak langsung misalnya seperti malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD), maupun penyakit new emerging seperti flu burung. Indonesia yang letaknya strategis secara geografis masih memiliki beberapa penyakit potensial KLB seperti malaria, demam dengue, leptospirosis, diare, kolera, difteri, antraks, rabies, campak, pertusis, maupun ancaman flu burung pada manusia. Penyakit-penyakit terse but apabila tidak dipantau dan dikendalikan maka akan mengancam kesehatan masyarakat Ind onesia dan menyebabkan KLB yang lebih besar atau bahkan dapat menyebar ke negara tetangga lainnya . Dengan latar belakang itu semua maka sangat pe nting pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon ditingkatkan kembali di seluruh wilayah di Indonesia. Kelebihan dari sistem yang dibangun ini, pada perangkat lunaknya adalah dapat menampilkan sinyal "alert" adanya peningkatan kasus melebihi nilai ambang batas di suatu wilayah baik wilayah kerja puskesmas, kabupaten maupun propinsi. Output yang dihasilkan dapat berupa tabel, grafik, maupun peta, sehingga dapat dibuat analisis yang le bih tajam , respon lebih cepat, dan penanggulangan yang lebih terarah dan akurat. Semoga buku ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon di Indonesia. Jakarta, Agustus 2012 Direktur Jenderal PP dan PL セMKZ@ Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama pedoman sistem kewaspadaan dini dan respon DAFTAR lSI KATA PENGANTAR ...................................... . ............... ......... ... .... ...... ......... .. ..... .... ......... .. ....... ......... ......... ............... 3 SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PP DAN PL ..... ....... ........................ ................................. , ... .... .. ........... .. ...... .... . . 4 DAFTAR 151 .... ........ ........... ............................................. .. ............. .. ..................................................................... .. ... .. 6 BAB I GAMBARAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON 7 Populasi dalam Surveilans .. .. ......................... .. .... ...... ....... .... ............ ................ .... .... .. .............. Surveilans Penyakit dan Definisi Kasus Baru .......... ........ ............... .... ....................................... 7 7 .. Jenis Surveilans .............. ...... ................ .............................. ................... ...... ... .. .. ......... ............ 7 .. .... Unit Pelapor .... .... .......... ............ .... .............................................. .. .... ......................... ........ .. .... Alur Data....... ..... ............ .. .... ..... .. .. ....... .. . ......... ..... ..... .......... .......... ........ ... .......... ...... ..... ..... .. ... Pengiriman Data ........ .......... ............. .. ... ...... ... .. .... ............... .. .. .... .... .... ........ .. .. ..... .. ................ 7 8 8 .. BAB II T' uJuan ...... .................. ....... ................. ... .... .................. .. ... .......... .. .. .. ..... .. ..... .......... ........ ........ .. Format Mingguan ............................. .. ....... ... ............ .. ........... .. ........ ......... .............. ................. 9 Pelaporan menggunakan SMS .............. .... .. .. .. .......................... .................. ......... ................... . Entri Data dan Analisis .......................................................... ..... .. ... ... .. .. .......... ... .... .. ... .. .......... 9 9 Indikator .................................................. .. .............. ....... ......... .. .............. .. ..... .... ...................... 10 l\Jilai Ambang Batas Penyakit Dalam Sistem.. .. .................... ........ ...................... .. .................... 10 Monitoring Laporan ................... .................. .... ......................................................................... Umpan Balik... ..................... ............ ...... .. ..... .. .............. ..... ..... ... .. .. ........ ... .... .... ..... ............ .... . 10 10 Sistem Manajemen Rumor KLB ..................... .. ..... .. .. ........ .............. ... .. .. .. ... .. .......... ...... .......... .. 10 Kewaspadaan Dini dan Respon ....................................... .. .... .............. .. .. .... ........... .. .. .. ............ 11 Pemeriksaan Laboratorium .................. ....... ......................... ... ........... ...................................... 12 PROSEDUR STANDAR OPERASIONAl ..:.L. Prosedur Pelaporan Data di setiap tingkat Pelaksana .................... .. ................... ...... ............. Validasi Data... ........................ ...... ......... .. .. .... ...... ............ .............. ... .. ...... ... ......... ... .. ....... .... ... 14 15 Monitoring ........... .. ..... ..... .. .... .. .......... ..... .. .. ........... ......... ... ................................ ...................... 16 Evaluasi ....... ... .. ............ ....... .... ... ...... ... ...... .. ... .......... ...... .. .... ........ ......... ........... ..... ... . ........ ........ Keterbatasan . ............................ ..... .. ... .. ..... .. ..................... .. ..... ....... .. ..... .... ..... ... ......... ....... .. .... 16 16 Kepemilikan Data... . .... ......... .. .......... ........ .. ...... .. ....... ............. .. .. ........ ........... .... .. ... ..... .... ......... 16 LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Daftar Prioritas Penyakit Potensial KLB.... ................... .................. .. .. .............. .. ..... .. ...... Format Laporan Mingguan (W2) ........................... .. ................... .. ... .. .................... .. ...... Lampiran 3 Definisi Operasional Penyakit ............. ............................. ... ... .. .......... .. ............... .... .. ..... 19 Lampiran 4 Lampiran 5 Nilai Ambang Batas Penyakit Dalam Sistem ...... .. .. .. .......... ... ...... ........................ ....... .... . 20 Format Penyelidikan Epidemiologi Umum ................................ .. ..... .. .... .. ....................... Format Sistem Manajemen Rumor KLB ....... .. ........ ........ ..... .............. ..... .. .......... .. .............. 21 24 Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis KLB ............................................ .......... .... ..... .... .......... Manajemen Spesimen Penyakit ke Laboratorium ........... ...... .................... ..... .. .. ............... 25 26 Tabel Tes Diagnosis dan Manajemen Spesimen di Laboratorium ....... .. ............. .... ...... .. ... Buku Catatan Laboratorium (Log Book) ...................................................... ...... .. ........... ... Lembaran Rujukan Spesimen ............ ......................................................... ...... .. .... .......... 27 34 35 Daftar Penyakit Atau Kejadian Yang Wajib Dilaporkan Segera «24 Jam) .......................... Informasi Penting Tentang Rumor atau Kejadian ................................... ....... ..................... Informasi Penting "Segera Lapor Bila Terjadi KLB" ............... .. ............................. .... .......... 36 37 38 Lampiran 6 Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran 7 8 9 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 pa n dl I 17 18 d n r 'ipon BABI GAMBARAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON ", Tujuan o o o o o Menyelenggarakan Deteksi Dini KLB bagi penyakit menular. Stimulasi dalam melakukan pengendalian KLB penyakit menular. Meminimalkan kesakitan/kematian yang berh ·J bungan dengan KLB. Memonitor kecenderungan penyakit menular. Menilai dampak program pengendalian penyakit yang spesifik. ", Populasi dalam Surveilans Adalah semua penduduk di wilayah propinsi ", Surveilans Penyakit dan Definisi Kasus Baru Adalah semua kasus dari seluruh penyakit yang telah dipriorit askan sebagaimana terdapat dalam daftar Lampiran 1, yang datang ke unit pelayanan kesehatan yang seharusnya dilaporkan . Kasus Baru adalah orang yang datang ke fasilitas kesehata n selama seminggu dan memiliki diagnosis baru. Kunjungan ulang dengan sa kit yang sama tidak dimasukan kedalam laporan. Dalam sistem surveilans ini terdapat definisi kasus t.;ntuk setiap penyakit atau sindrom (Iampiran 3). Untuk membantu petugas kesehatan dalam mendiagr.osa kasus, pengambilan spesimen dan pelaporan, maka penjelasan mengenai algoritma diagnosis akan dijelaskan secara detil dalam buku pedoman seri kedua , yaitu "Algoritma Diagnosis Penyakit Dan Respon Serta Format Penyelidikan Epidemiologi". Selain algoritma untuk deteksi kasus, terdapat juga algoritma untuk respon KLB dalam pedoman tersebut. Ini menggambarkan langkah-Iangkah umum dalam tatalaksana kasus, respon kesehatan masyarakat dan pelaporan hasil investigasi KLB . ", Jenis Surveilans Dalam kegiatan ini, surveilans digunakan untuk mengamati pe nyakit melalui pengumpulan data rutin. Lengkap: seluruh unit kesehatan yang terlibat adalah puskesmas dan unit pelayanan kesehatan yang berada di wilayah kerja puskesmas, seperti puskesmas pembantu (Pustul, bidan desa, mantri, dan sebagainya. Pasi/: Pustu, Bidan Desa akan melaporkan secara mingguan ke puskesmas . Laporan Nihil harus dikirim dengan mengisi format laporan dengan nilai "nol" atau nihil. Data Agregat: adalah data dari pustu, bidan desa, dan kegiatan rawat jalan Puskesmas, akan menjadi agregat di tingkat puskesmas. Pengumpulan data dilakukan secara berkesinambungan dan periode mingguan ", Unit Pelapor Unit pelapor dari sistem ini adalah Puskesmas, dan kelengkapan maupun ketepatan laporan dari unit pelapor dihitung berdasarkan jumlah puskesmas di setiap kabupaten dan di propinsi dan secara otomatis dihitung oleh aplikasi software. pedoman sistem kewaspadaan dinl dap respon 'r Alur Data Periode: Mingguan (Minggu-Sabtu) WAKTU UNIT & TINGKAT Yang bertanggungjawab Koordinator Cara Pengiriman Sa btu sore Pustu, Bidan Desa kirim via SMS. Format Surveilans Mingguan ke puskesmas Melalui SMS, HT, dan lainlain Senin pagi Data agregat Puskesmas dan kirim data ke tingkat kabupaten/kota Petugas kesehatan yang bertanggung jawab terhadap pengumpulan data Petugas surveilans di tingkat puskesmas Selasa pagi Petugas Surveilans Kabupaten melakukan entri data dan mengirim file export ke propinsi Petugas Surveilans Kabupaten melakukan anal isis data dan menghasilkan laporan mingguan Selasa siang ).;- Petugas surveilans propinsi melakukan anal isis data dan menghasilkan laporan mingguan Petugas surveilans propinsi mengirimkan file export ke Subdit Surveilans dan Respon KLB Kementerian Kesehatan RI Petugas Surveilans Kabupaten Melalui SMS, HT, dan lainlain Melalui Email Petugas Surveilans Kabupaten Petugas surveilans propinsi Petugas surveilans propinsi Melalui Email ke ewars.pusat@gmail.com Pengiriman Data Dari puskesmas ke kabupaten/kota data dikirim melalui SMS, HT, dan lain-lain. Dari Kabupaten/Kota ke propinsi data dikirim melalui email Dari Propinsi ke Pusat (Subdit Surveilans dan Respon KLB) data dikirim melalui email Pustu Bidan Desa Pengumpulan Pa sien Rawat la/an Pu skesmas K/inik swasta/private di desa LMGセ@ spesimen 11 Pengiriman spesimen Petugas Surveilans Puskesmas Petuga s Surveilans Kabupaten/Kota Petugas Surveilans Propinsi Konfirmasi Laboratorium Propinsi Otorita s Kesehatan Na sional (Kemenkes RI), Laboratorium Nasional (Balitbangkes), WHO pedol11an sistem keWdSpadtlan dint dan respon > Format Mingguan (W2) Kasus baru akan dilaporkan oleh bidan desa maupun puskesmas melalui Format Mingguan (Iihat lampiran 2). Format pengumpulan data itu berisi informasi dibawah ini: o Nomor Urut format: nomer ini harus diisi dan dilengkapi oleh unit kesehatan yang mengirimkan laporan di setiap tingkat. Nomor urut untuk setiap un it kesehatan yang mengirimkan laporan dimulai dari angka 1 dan dilanjutkan secara berurutan. o Identitas Unit Kesehatan: • Puskesmas/Pustu/Bidan • • Kecamatan Kabupaten o lumlah minggu epidemiologi, periode laporan adalah satu pekan dimana kasus dilaporkan. Unit puskesmas pelapor harus memberikan indikasi tanggal dimana awal pekan adalah pada hari Minggu dan akhir pekan adalah pada hari Sabtu . o Data Penyakit: Data diisi dan diilengkapi berdasarkan buku registrasi harian puskesmas bersama data yang dikumpulkan dari unit pelayanan tingkat desa, berdasarkan definisi kasus baku sistem surve ilans . Setiap fasilitas kesehatan harus memiliki daftar definisi kasus. Hanya kasus baru (konsultasi pertama) yang harus dilaporkan untuk seluruh usia yang di temukan. > Pelaporan menggunakan SMS Setiap unit puskesmas menggunakan SMS untuk melaporkan data mingguan sesuai format baku pencatatan perlu mengikuti standar yang sama dalam SMS se perti informasi dibawah ini: • Minggu Epidemiologi ke berapa • • • Nama unit pelapor lumlah kasus setiap penyakit yang melaporkan kasus pada minggu tersebut: lumlah Total Kunjungan Pasien . CONTOH PELAPORAN MENGGUNAKAN SMS 2,pustu sukoharjo,AlO,B1S,H3,T4,X110 Artinya: Minggu epidemiologi ke 2, nama unit pelapor adalah pustu sukoharjo, jumlah kasus diare= 10, jumlah kasus malaria = 15, jumlah kasus tersangka Chikungunya = 3, jumlah kasus klaster penyakit yang tidak lazim = 4, Jumlah kunj ungan = 110 > Entri Data dan Analisis Aplikasi komputer akan diinstal di tingkat Kabupaten dan Propinsi yang dapat digunakan untuk melakukan entri data, membuat analisis sederhana, memunculkan alert atau peringatan, da n indikator baku serta laporan secara otomatis . Setiap puskesmas menyimpan format mingguan yang sudah diisi dan file menurut minggu dan bulan. pedoman セ「エ・ュ@ kewa padaan dim dan r spon >- Indikator Indikator akan dihitung secara otomati s oleh aplikasi. Aplikasi mengizinkan penghitung indikator laporan mingguan pada tingkat geografis yang berbeda seperti puskesmas, kecamatan, kabupaten/kota dan propinsi. • Jumlah kasus baru setiap penyakit menu rut minggu • Total Kunjungan • • Proporsi Kesakitan Insidence Rate setiap penyakit menurut minggu dan tingkat geografis • • • Ketepatan waktu dari Puskesmas ke Kabupaten/Kota Ketepatan waktu dari Kabupaten ke Propinsi Kelengkapan laporan unit pelapor menurut Kabupaten/Kota dan Propinsi • • Nama fasilitas kesehatan yang melapor dan yang TIOAK melapor Oaftar alert (sinyal siaga) mingguan berdasarkan definisi nilai am bang batas >- Nilai Ambang Batas Setiap Penyakit dalam Sistem Merujuk pada lampiran 4 untuk spesifikasi setiap nilai ambang batas penyakit. >- Monitoring laporan o Tingkat Kabupaten/Kota Setiap Senin pagi, cek jika semua format dari puskesmas telah diterima. Hubungi fasilitas kesehatan yang belum mengirimkan informasi/laporan. o Tingkat Propinsi Setiap Selasa siang, cek jika semua format dari kabupaten/kota telah diterima. Hubungi petugas surveilans kabupaten/kota untuk mendapatkan informasi yang belum lengkap. >- Umpan Balik Seksi Surveilans Kabupaten/Kota dan Propinsi akan membuat ringkasan laporan mingguan (Bulletin Mingguan) termasuk: o Alert (sinyal siaga) o Informasi epidemiologi yang relevan o Rekomendasi kegiatan yang dianjurkan untuk mengendalikan tersangka KLB. o Hasil kegiatan minggu sebelumnya untuk mengendalikan KLB . >- Sistem Manajemen Rumor KlB Petugas surveilans propinsi mengamati informasi tentang rumor KLB yang berasal dari media massa atau sumber lain. Setiap pagi petugas ini mencari berita di media massa (koran, internet, radio, TV) yang berada di wilayah propinsinya . Apabila ada rumor maka perlu dicatat dalam format (Iampiran 6) dan mulai proses verifikasi rumor dengan menghubungi Kabupaten/Kota. Proses Pengumpulan Informasi Staf akan : • memindai website lokal setiap pagi dan salah satu propinsi tetangga untuk memeriksa setiap rumor yang berhubungan dengan ancaman kesehatan masyarakat di propinsi . • Menghubungi secara aktif instansi/dinas seperti pertanian, peternakan , pengendalian air dan sanitasi, keamanan makanan, dan lain-lain, jika ada informasi mengenai ancaman bagi kesehatan masyarakat. Membuat jejaring infarmasi diantara media lakal, distribusi nomor hotline, merekap seluruh informasi mengenai seluruh ancaman bagi kesehatan masyarakat. • • Menerima informasi melalui hotline, seluruh informasi dari masyarakat atau sumber lain . pedoman sistern kewaspadaan dllli clan respon Penyaringan Staf akan: Melakukan kompilasi daftar rumor harian yang dikirim jam 10 pagi ke petugas surveilans propinsi. Ringkasan daftar rumor harian (Iampiran 6) berupa informasi dibawah ini: Kejadian Populasi Resiko Lokasi Waktu Kejadian Tanggal Kejadian diketahui Tanggal Verifikasi Kronologis Kejadian Status (sedang atau sudah verifikasi) Verifikasi Setelah menerima daftar harian yang diduga merupakan rumor/kejadian penyakit, petugas surveilans propinsi melakukan koordinasi dengan tim dan menghubungi petugas surveilans kabupaten/kota untuk melakukan klarifikasi terhadap rumor/kejadian penyakit yang terdeteksi/didapatkan. Pad a hari itu juga petugas surveilans propinsi berusaha mendapatkan hasil dari verifikasi/investigasi terhadap rumor/kejadian penyakit dari petugas surveilans Kabupaten/Kota mengenai status kejadian (benar atau tidak rumor tersebut) . Bila benar maka informasi yang harus dilengkapi sesuai dengan format Surveilans Terpadu Penyakit (STP) berbasis KLB (Iampiran 7). >- Kewaspadaan Dini dan Respon Unit Surveilans Kabupaten/Kota: Unit Surveilans Kabupaten/Kota harus melakukan pemeriksaan setiap minggu terhadap seluruh laporan penyokit yang telah dientri dalam sistem aplikasi. Apabil a ditemukan alart atau sinyal peringatan terhadap suatu penyakit maka petugas kabupaten/kota menghubungi petugas puskesmas untuk melakukan klarifikasi terhadap sinyal tersebut. Apabila hasil klarifikasi benar menunjukan sebagai KLB maka selanjutnya petugas surveilans kabupaten/kota menghubungi petugas laboratorium untuk mengambil spesimen da n memeriksa spesimen tersebut. Apabila Laboratorium Propinsi tidak memiliki kemampuan dalam melakukan pemeriksaan spesimen tertentu maka dapat meminta bantuan Laboratorium Rujukan Nasional. Melaksanakan Investigasi Pendahuluan Langkah pertama investigasi KLB adalah untuk melakukan konfirmasi KLB dan melihat besarnya masalah KLB tersebut. Tim propinsi dan kabupaten/kota akan bergabung dengan petugas dari Puskesmas dan memulai investigasi dan menemukan kasus secara aktif. Setiap KLB diinvestigasi dengan menggunakan format PE KLB khusus sesuai dengan penyakitnya. Bila tidak tersedia format PE KLB khusus penyakit tertentu dapat menggunakan format PE KLB Umum (Iihat lampiran 5). Semua informasi tentang kasus KLB tersebut dicatat dalam program spreed sheet (program microsoft excel). Kemudian melakukan analisa data diprogram seperti Epi Info atau Epi Data untuk menghasilkan analisis deskriptif menurut waktu, tempat dan orang. Pada saat yang sama respon tim sebaiknya melakukan: Rencana pengambilan sample klinis dan lingkungan. Formulasi hipotesis mengenai sumber pajanan dan cara penularan . Tes hipotesis Menulis laporan dan rekomendasi . pedoman sistem kewaspadaan dini dan respon Melakukan Tindakan Pengendalian Awal dengan segera meliputi: Tatalaksana kasus Pengendalian infeksi Penearian kontak kasus Pengendalian lingkungan Mobilisasi sosial Komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada masyarakat ." Pemerik saan Laboratorium Setiap penyakit yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang tidak dapat dilakukan oleh pusk esmas atau laboratorium tingkat kabupaten , maka Laboratorium propinsi berfungsi sebagai rujukan bagi setiap kabupaten/kota. Stok media transport yang adekuat perlu dise diakan di setiap kabupaten/kota. Pedoman pengumpulan spesimen dan transportasi akan didistribusikan ke seluruh unit pelapor sepert i pad a Lampiran 8, 9, 10, dan 11. Seti ap petugas surveilans kabupaten/kota pe rl u memiliki daftar nama dan nomor telpon dari staf la boratorium unit khusus seperti bagian: Bakteriologi , Virologi, Serologi , Parasitologi, dan Toksikologi . Setiap sa at spesimen dikumpulkan oleh petugas di lapangan perlu: Membuat pengaturan lebih lanjut dengan penerima spesimen termasuk inves tigas i, keperluan untuk ijin import j;ka ada transport ke luar negeri . Membuat pengaturan lebih lanjut dengan pembawa agar yakin bahwa pengirim an akan diterim a sesuai dengan alat transportasinya. Perha tikan peraturan penerbangan do m estik perihal Biosafety. Bahwa pengiriman (t ransport langsung j ika m ungkin) ditangani oleh perja la nan langsung, hind ari ked atan gan diakhir pekan bila mungkin, hi ndari perubahan dala m tran sp ort ji ka m ungk in. Siapkan dokum en yang perlu sep erti sya ra t pengiriman , termasuk ijin bila di perl ukan, berita aea ra. dan dokumen pengiri ma n. Beritahukan ke pada pen erim a spesi men di la boratorium perkira an w aktu kedata ngan spesimen . Sebe lum meng iri m sp esime n harus ada: Perja njian atau persetujuan t elah dibuat anta ra pengirim, pembawa da n pene rim a Ko nfir masi dari laboratorium pen erim a ba hwa siap untuk me ne rim a spesim en . Bila spesimen ti ba di luar j am kerj a, maka pe tu ga s laboratorium haru5 diberitahukan aga r siap m ene ri ma spesime n. Biosafety M m beri kan pe rlind ungan ter hadap pasien dan diri kita dari ri si ko terpa par/ ko ntak dengan kum an pat hogen merupaka n hal yan g sanga t pent ing un t uk diperhati kan. Prinsi pnya dala h ha rus "SHALU" m enggunakan pera latan seka li pakai (d isposib le) dan t idak bol eh digu nakan lagi. Mi saln ya pad a ko ndisi di lapangan, ji ka anda merencana kan untuk m engambil sample dar l pasie n yang tidak dapat d iba wa ke RS, coba lah memb uat zona bersih untu k men gurangi risiko terkontam in as i. Tabel ini memberikan informasi tentang perlindungan diri dari kemungkinan terpapar/ kontak dengan kuman pathogen. Tipe Penularan/ Transmisi Kontak Droplet Udara Alat Yang Diguna kan Kondisi/ Situasi Penulran dapat terjadi melalui kontak langsung dengan pasien atau kontak dengan lingkungan pasien. Penularan dapat terjadi melalui droplet yang mengandung kuman penyakit dengan ukuran partikel partikel >5 micron, droplet dapat dihasilkan ketika mereka batuk, bersin atau berbicara. Penularan dapat terjadi melalui udara . - Sa rung Tangan (Gloves) 8aju Pelindung (Gown) - Sarung Tangan (Gloves) 8aju Pelindung (Gown) Masker Kaca mata (Gogle) - - - pedoman sistem kewaspadaan dini dan respon Sarung Tangan (Gloves) 8aju Pelindung (Gown) Kaca mata (Gogle) Masker N95 Ruang isolasi (di RS) BAB II PROSEDUR STANDAR OPERASIONAL >- Prosedur Pelaporan Data di setiap Tingkat Pelaksana 1. Pustu, Bidan Desa: 1) Setiap Sabtu dokter atau perawat/asisten kesehatan yang bertugas akan mengisi format mingguan berdasarkan buku register harian. 2) Sabtu mengirim format mingguan yang telah terisi kepada petugas surveilans di puskesmas melalui SMS dengan kode standar. 2. Puskesmas 1) Menerima SMS dari unit kesehatan (bidan, pustu, polindes, dan lain-lain) dan buat transkrip setiap SMS ke dalam format mingguan. Contoh: Bila ada 4 pustu atau bidan yang lapor melalui SMS maka puskesmas harus mengisi 4 format mingguan (1 format untuk masing-masing pustu/bidan) 2) Hubungi unit kesehatan yang tidak mengirimkan format mingguan tepat waktu 3) Siapkan format mingguan puskesmas yang berisi agregasi data dari puskesmas tersebut dan semua unit pelapor dibawahnya (seperti bidan/ pustu). Tulis nomer urut format, Tulis nama Puskesmas/Pustu/Bidan, Kecamatan, dan Kabupaten/Kota Tulis Periode pelaporan dari hari Minggu tgl .. .. . sampai Sabtu tgl ...... Tulis Minggu Epidemiologi ke .. .. . lsi jumlah kasus baru setiap penyakit sesuai dengan kasus yang ditemukan Apabila tidak ada kasus pada penyakit tertentu maka isi dengan angka nol. lsi jumlah kunjungan pada minggu laporan. Contoh: Bila ada 30 kasus baru penyakit dalam sistem ini dan ada 50 kunjungan penyakit lain maka isi jumlah kunjungan dengan angka 80. 4) Cek kemungkinan adanya kesalahan/error 5) Puskesmas jangan menunda mengirim laporan mingguannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 6) Simpan format mingguan dari semua unit pelapor (bidan /pustu) dan juga format mingguan agregat puskesmas menurut bulan dan minggu. 7) Kirim kopi format mingguan (agregat puskesmas) melalui SMS atau fax ke petugas surveilans kabupaten/kota. 3. Kabupaten/Kota 1) Menerima SMS atau fax dari semua puskesmas. 2) Bila puskesmas mengirim melalui SMS maka Kabupaten membuat transkrip ke dalam format mingguan. 3) Cek format mingguan dari kemungkinan adanya kesalahan. 4) Hubungi puskesmas yang tidak mengirimkan format mingguan tepat waktu 5) Simpan format mingguan dari semua puskesmas menurut bulan dan minggu . 6) Masukan data format mingguan dari semua puskesmas menggunakan aplikasi komputer. 7) Cek data yang telah dimasukan untuk melihat apakah ada kesalahan. 8) Buat backup file setiap minggu dan simpan di folder yang aman. 9) Kirim kopi format atau file elektronik ke petugas surveilans propinsi melalui email 10) Kabupaten jangan menunda mengirim laporan ke Dinas Kesehatan Propinsi. 11) Buat output laporan mingguan melalui aplikasi EWARS dan cek indikator kelengkapan dan ketepatan laporan. 12) Bila ada alert, lakukan respon dan kontrol sesuai SOP (Lihat buku seri kedua Algoritma) pedoman sistem kewaspad an dilll dan respon 13) Bila ada indikasi KLB, maka ambil dan kirim spesimen ke laboratorium rujukan sesuai SOP . 14) Diskusikan dengan LABORATORIUM hasil dari spesimen. 15) Buat bulletin mingguan dan mengirimkannya ke puskesmas. );> 4. Propinsi 1) Masukan data kedalam PC, import file elektronik yang dikirim oleh kabupaten/kota. 2) Cek data yang telah diimport. 3) Hubungi petugas kabupaten yang belum mengirimkan file tepat waktu atau kalau ada pertanyaan tentang data . 4) Cek bahwa kopi baek up data telah dibuat dan simpan pada folder yang aman. 5) Diskusikan dengan LABORATORIUM hasil dari spesimen. 6) Membantu Kabupaten/Kota ketika terjadi KLB. 7) Kumpulkan semua file elektronik dari tiap kabupaten/kota dan kirim ke pusat (Subdit Surveilans dan Respon KLB melalui email kealamat : ewars .pusat @gmail.com ) 8) Membuat bulletin mingguan dan mengirimkannya ke Kabupaten/Kota . 5. Laboratorium Propinsi 1) Simpan alat-alat yang perlu untuk pengambilan spesimen dan pengiriman. 2) Pastikan bahwa peralatan untuk pengambilan spesimen dan pengiriman selalu tersedia 3) Lakukan pengambilan 2 sampel dari jenis spesimen yang sama ketika KLB atau adanya sinyal/alert. 4) Cek label dan semua informasi yang diminta untuk masing-masing spesimen sesuai petunjuk. 5) 1 set sampel diperiksa/disimpan di laboratorium propinsi dan 1 set sampel dikirim ke laboratorium pusat (rujukan). 6) Memberkan informasi segera kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Propinsi tentang hasil pemeriksaan laboratorium. 7) Simpan semua eatatan analisa spesimen, tehnik, dan hasilnya . 8) Diskusikan hasillaboratorium propinsi dan pusat untuk kendali mutu. Validasi Data: o Puskesmas Saat melengkapi format: eek bahwa kasus dilaporkan sesuai dengan definsi kasus dan hanya kasus baru yang dilaporkan . Sebelum mengirimkan format ke kabupaten/kota eek bahwa semua informasi telah lengkap. Saat menerima format pengumpulan data dari unit kesehatan lain (pustu, bidan desa, klinik swasta/privat, dan lain-lain) • Cek bahwa periode laporan benar. • Tulis nomor urut format mingguan. • Memastikan bahwa periode laporan adalah benar • Memastikan jumlah kasus yang dilaporkan untuk setiap penyakit • Apakah data penyakit terse but wajar (contoh: kasus diare biasanya banyak tetapi hanya dilaporkan dalam jumlah keeil) Apabila ada penmgkatan jumlah kasus dari biasanya pastikan bahwa benar ada peningkatan kasus atau hanya merupakan kesalahan ketika menu lis data (eontoh : ada 10 kasus gigitan hewan penular rabies per minggu tetapi menulis 100 gigitan) o I Kabupaten/Kota Saat menerima SMS dari puskesmas, Petugas Surveilans Kabupaten harus memperhatikan hal-hal di bawah ini: • Tulis nomor urut format mingguan . • Memastikan bahwa periode laporan adalah benar • Memastikan jumlah kasus yang dilaporkan untuk setiap penyakit pedoman sistem kewaspadaan dini clan respon • Apakah data penyakit tersebut wajar (contoh: kasus diare biasanya banyak tetapi hanya dilaporkan dalam jumlah kecil) - -- Apabila ada peningkatan jumlah kasus dari biasanya pastikan bahwa benar ada peningkatan kasus atau hanya merupakan kesalahan ketika menulis data (contoh : ada 10 kasus gigitan hewan penular rabies perminggu tetapi menulis 100 gigitan) • Lakukan entri data • Setelah menjalankan laporan mingguan, cek hasilnya (tabel, grafik dan petal apakah ada kesalahan/ error. Y Monitoring Setiap bulan Kabupaten/Kota harus melakukan diskusi dengan semua puskesmas untuk membahas tentang sistem surveilans (pengumpulan data, pengiriman data, kualitas data, jumlah KLB dan lain-lain). Dalam sistem surveilans terdapat indikator kwalitatif dan kwantitatif : Proporsi puskesmas yang melapor dalam satu kabupaten. Proporsi kabupaten yang melapor dalam satu propinsi. Ketepatan waktu penerimaan pada tingkatan Kabupaten/Kota Ketepatan waktu penerimaan pada tingkatan propinsi Kemampuan menerima Jumlah dari KLB yang terdeteksi Jumlah tindakan diambil berdasar pada analisis data. Y Evaluasi Sistim ini akan dievaluasi setelah 6 bulan dalam kaitan dengan : Keterwakilan Kemampuan menerima Kesederhanaan Ketepatan waktu Kegunaan Kepekaan Fleksibilitas Y Keterbatasan Keterbatasan dari sistem ini dapat terjadi apabila: 1) Adanya komunikasi dan pengiriman format mingguan yang terlambat akan memberikan dampak terhadap ketepatan dan kelengkapan laporan, serta deteksi dini KLB . 2) Adanya keterbatasan kapasitas pemeriksaan laboratorium . Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kapasitas dan peran laboratorium beserta jejaringnya dalam sistem surveilans dan pada sa at KLB. Y Kepemilikan data Adalah pada masing-masing tingkat seperti dalam peraturan nasional seperti Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten, Dinas Kesehatan Propinsi dan Kementerian Kesehatan RI. pedomCln sistem kewaspadaan dini dan respon Lampiran 1 DAFTAR PRIORITAS PENYAKIT POTENSIAL KLB 1. Diare Akut 2. Malaria Konfirmasi 3. Tersangka Demam Dengue 4. Pneumonia 5. Diare Berdarah ATAU Disentri 6. Tersangka Demam Tifoid 7. Sind rom Jaundis Akut 8. Tersangka Chikungunya 9. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10. Tersangka Campak 11. Tersangka Difteri 12. Tersangka Pertussis 13. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies 15. Tersangka Antraks 16. Tersangka Leptospirosis 17. Tersangka Kolera 18. Klaster Penyakit yang tidak lazim 19. Tersangka MeningitisjEnsefalitis 20. Tersangka Tetanus Neonatorum 21. Tersangka Tetanus 22 . III (Influenza Like Illness) 23. Tersangka HFMD (Hand Foot Mouth Disease) pedoman sistem kewaspadaan dini dan respon Lampiran 2 FORMAT LAPORAN MINGGUAN (W2) Puskesmas/Pustu/Bidan* Kecamatan Kabupaten/Kota Periode pelaporan dari Minggu tanggal ....../ .. ... ./. ....... sampai sabtu tanggal .... .I...../.......... Minggu Epidemiologi ke-: ........ .. KODESMS * ** PENVAKIT A Diare Akut B Malaria Konfirmasi C Tersangka Demam Dengue D Pneumonia E Diare Berdarah ATAU Disentri F Tersangka Demam Tifoid G Sind rom Jaundis Akut H Tersangka Chikungunya J Tersangka Flu Burung pada Manusia K Tersangka Campak l Tersangka Difteri M Tersangka Pertussis N AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) p Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies Q Tersa ngka Antra ks R Tersangka Leptospirosis S Tersangka Kolera T Klaster Penyakit yang tidak lazim U Tersangka Meningitis/Ensefalitis V Tersangka Tetanus Neonatorum W Tersangka Tetanus y III (Influenza Like Illness) Z Tersangka HFMD X TOTAL (JUMlAH KUNJUN GAN)** JUMlAH KASUS BARU Pilih salah satu (puskesmas atau pustu atau bidan) adalah jumlah seluruh kunjungan pada minggu ini di unit pelayanan kesehatan Contoh penulisan SMS : 2,pustu sukoharjo,AlO,B 15,H3,T4,XllO, artinya: Minggu epidemiologi ke 2, nama unit pelapor adalah pustu sukoharjo, jumlah kasus diare= 10, j umlah kasu s malaria = 15, jumlah kasus tersangka Chikungunya = 3, Jumlah kasus kla ster penyakit yang ti dak lazim = 4, Jumlah kunjungan = 110 r dan イセspエjョ@ Lampiran 3 Mセ ------ セZ@ PENYAKIT Diare Akut : DEFINISI A • Pada dewasa: BAB (defekasi) dengan tinja lembek ATAU setengah cair dengan frekuen si lebih dari 3 kali sehari ATAU dapat berbentuk cair saja. • Pada anak: BAa yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih per hari dengan konsistensi cair DAN berlangsung ォオイ。ョセ@ dari 7 hari). • Pada neonatus yang mendapat ASI: di are akut adalah buang air besar dengan frekuensi lebih sering (biasanya 5-6 kali per hari) dengan konsistensi cairo B Malaria Kanfirmasi Penderita yang di dalam tubuhnya ada セi。ウュッ、ゥオ @ュ atau parasit malaria DAN dibuktikan dengan RDT (Rap id Diagnostic Test) positif DAN/ATAU pemeriksaan IIrlikroskopis positif. C Tersangka Demam Dengue Demam mendadak tanpa sebab yang jelas 2-7 hari, mual, muntah, sakit kepala, nyeri dibelakang bola mata (nyeri retro orbital). nyeri sendi , dan adanya mani festasi perdarahan sekurang-kurangnya uji torniquet positif. D Pneumonia Pada usia <5 thn ditandai dengan batuk DAN/ATAU tanda kesulitan bernapas (adanya nafas cepat, kadang disertai tarikan dinding dada bagian bawah kedalcm (TDDK) atau gambaran radiologi foto torak menunjukan infiltrat paru akut), frekuensi nafas berdasarkan usia penderita : • <2 bulan: 60/menit ·2-12 bulan: SO/menit ·1 -5 tahun : 40/menit Pada usia >5thn ditandai d engan demam セ@ 38 · C, batuk DAN/ATAU kesulitan bernafa s, dan nyeri dada saat menarik nafas Diare dengan darah disertai ATAU tidak disertai de ngan lendir dalam tinja , dapat juga disertai dengan adanya tenesmus. Diare Berdarah ATAU Disentri Tersangka Demam Tifoid Dengan anamnesis pemeriksaan fisik didapatkan gejala demam, gangguan saluran cerna dan tanda gangguan _ ___ kesadaran. G Sindrom Jaundice Akut H Tersangka Chikungunya Demam mendadak diatas 38,5 derajat celcius dan nyeri sendi yang hebat dapat disertai adanya ruam. Tersangka Flu Burung pada Manusia III dengan kontak unggas sakit atau mati mendadak, produk unggas ATAU leukopenia ATAU pneumonia. Tersangka Campak Demam >38 · C selama 3 hari atau lebih di sertai bercak kemerahan berbentuk makulopapular, disertai salah satu gejala batuk, pilek ATAU mata merah (konjungivitis) Tersangka Difteri Panas >38· C, sakit menelan, sesak napa s disertai bunyi (stridor) dan ada tanda selaput putih keabu-abuan (pseudomembran) di tenggorokan dan pembesaran kelenjar leher . M Tersangka Pertussi s N AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) Batuk lebih dari 2 minggu disertai dengc:n batuk yang khas (terus-menerus/ paroxysmal). napas dengan bunyi "whoop" dan kadang muntah set elah batuk . --:--:-:-Kasus lumpuh layuh mendadak, BUKAN disebabk an oleh ruda paksa/ trauma pada anak < 15 tahun. P Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies Kasus gigitan hewan (Anjing, Kucing, Tupai, Monyet , Kelelawar) yang dapat menularkan rabies pada manusia . ATAU Ka sus dengan gejala Stadium Prodromal (demam, mual, malaise/lemas). atau kasus dengan gejala Stadium Sensoris (rasa nyeri, ra sa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka, cemas dan reak si berlebihan terhadap ransangan sensor ikl Q Tersangka Antraks inokulasi, rasa gatal tanpa disertai rasa sa kit, 2-3 hari (1). Antra'ks Kulit (Cutaneus Anthrax); Papel ー。、セ@ vesikel berisi cairan kemerahan, haemor agik menjadi jaringan nekrotik, ulsera ditutupi kerak hitam, kering, Eschar (patognomonik). demam, sakit kepala dan pembengkakan kelenjar limfe regional (2). Antraks Saluran Pencernaan (Gastrointestinal Anthrax); Rasa sakit perut hebat, mual, muntah, tidak nafsu makan, demam, konstipasi, gastroenteritis akut kadang disertai darah, hematemesis, pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal, perut membesar dan keras, asites dan oedem scrotum, melena. (3). Antraks Paru-paru (Pulmonary Anthrax); Ge ala klinis antraks paru-paru sesuai dengan tanda-ta nda bronchitis . Dalam waktu 2-4 hari gejala 5emakin berkembang dengan gangguan respirasi be rat, demam, sianosis, dispnue, stridor, keringat berlebihan, de·t ak jantung meningkat, nadi lemah dan cepat. Kematian biasanya terjadi 2-3 hari setelah gejala klinis timb ul. R Tersangka Leptospirosis Pasien dengan gejala demam < 9 hari dengan suhu > 38 derajat Celcius disertai gejala khas conjunctival s'1!usion Hイ。、ョァ セ 、。@ konjungtiva). nyeri betis, jaundis/ikterik/kuning. S Tersangka Kolera Penderita menjadi dehidrasi berat karena diare akut cair secara tiba-tiba (biasanya disertai muntah dan _ _ _ _.....;.; m.;.;ual). エゥョェ。 セ ・ーイエゥ@ air cucian beras. T Kl aster Penyakit yang ti dak lazim U Tersangka Meni ngi!!s/E nsefa litis _ K Gejala penyakit yang timbul secara mendadak « 14 hari) ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik/kuning dan urine berwarna gelap セ ---- V -Z X Panas > 38 ·C mendadak, sa kit kepala, kaku kuduk, kadang disertai penurunan kesadaran dan muntah. Pada anak < 1 tah!;l n ubun-ubun 「・ウ セ オョァN@ Tersangka Tetanus Setiap bayi lahir hidup umur 3-28 hari sulit menyusu/menetek , dan mulut mencucu dan disertai dengan _ _ _---'-_--'___________ kejang rangsa ng. Neonatorum W y Didapatkan tiga atau lebih kasus/kematan dengan gejala sama di dalam satu kelompok ma syarakat/ desa dalam satu periode waktu yang sama (lebih kurang 7 hari). yang tidak dapat dimasukan ke dalam defini si ウオ@ penyakit yan g lain. セ オ ウ ⦅@ Tersangka t・エ。 III (inj luenza Like Illness ) Tersangka HFMD (Hand, Foot, Mouth Disease) Qitandai dengan kontraksi dan kekejangan otot rnendadak, dan sebelurnnya ada riwayat luka. Penderita dengan gejala Demam セ@ 38"C disertai batuk ATAU sakit tenggorokan Demam 38 - 39· C dalam 3-7 hari , nyeri telan, nafsu makan turun, muncul vesikel di rongga mulut dan atau _ ruam di telapak tangan, kaki dan bokong. Biasanya terjadi pada anak dibawah 10 tahun. Total_-'-==-'-'-____ Kunjungan -=J..:u.:..c mlah kunjungan pasien yang datang bero bat dan terdaftar di fasilitas kesehatan (puskesmas atau pustu) pedoillan sistem kewaspadaan dim dan respon Lampiran 4 NILAI AMBANG BATAS PENYAKIT DALAM SISTEM PENYAKIT 1. Diare Akut Nilai Ambang Peningkatan Kasus 2. Malaria Konfirmasi Peningkatan Kasus 3. Tersangka Demam Dengue Peningkatan Kasus 4. Pneumonia Peningkatan Kasus 5. Diare Berdarah ATAU Disentri Peningkatan Kasus 6. Tersangka Demam Tifoid Poisson 7. Sindrom Jaundis Akut Poisson 8. Tersangka Chikungunya Poisson 9. Tersangka Flu Burung pada Manusia 1 kasus 10. Tersangka Campak 1 kasus 11. Tersangka Difteri 1 kasus 12. Tersangka Pertussis 1 kasus 13. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 1 kasus 14. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies 1 kasus 15. Tersangka Antraks 1 kasus 16. Tersangka Leptospirosis 1 kasus 17. Tersangka Kolera 1 kasus 18. Klaster Penyakit yang tidak lazim 3 kasus 19. Tersangka MeningitisjEnsefalitis Poisson 20. Tersangka Tetanus Neonatorum 1 kasus 21. Tersangka Tetanus 1 kasus 22. III (Influenza Like Illness) I 23. Tersangka HFMD Peningkatan Kasus 1 kasus Keterangan: Poisson adalah nilai ambang batas yang mengikuti distribusi diskrit yang mengestimasi probabilitas muneulnya suatu keluaran dalam suatu standar unit tertentu sebanyak x kali, dimana rata-rata kemuneulan keluaran tersebut per unitnya konstan sebesar I. Standar unit ini dapat berupa interval waktu (menit, detik, hari, bulan, dan lain-lain) atau luas daerah tertentu. Pada nilai ambang ini, angka kemaknaan sinyal kasus mengikuti nilai p < 0,05, artinya bila kriteria kasus lebih keeil dari nilai ambang, maka nilai alert akan lebih bermakna. Peningkatan Kasus adalah adanya peningkatan jumlah kasus lebih dari 1,5 kali dari periode sebelumnya. pedornan sistern kewaspadaan dmi dan respon Lampiran 5 FORMAT PENYELIDIKAN EPIDEMIOlOGI UMUM Kabupaten/Kota :..................................................... . Kecamatan Oesa Nama Puskesmas/ RS/ Unit Pelayanan Kesehatan Tanggal : .... ./ ..... ./....... Nama Petugas Tersangka Penyakit / Sindrom : Gejala dan Tanda yang timbul : Berikan tanda (.1') pada kotak dibawah ini : [ 1Tersangka Kolera [ 1Diare Akut [ 1Diare Akut Berdarah (Disentri) [ 1Sindrom Jaundis Akut [ 1Tersangka Leptospirosis [ 1Tersangka Meningitis I Ensefalitis [ 1Pneumonia [ 1Tersangka Flu Burung [ 1Tersangka Difteri [ 1Tersangka Campak [ 1Tersangka Demam Tifoid [ 1Tersangka Malaria [ 1Tersangka Demam Dengue [ 1Tersangka Demam Chikungunya [ llnJluenza Like Iflness (Ill) [ 1Tersangka Antraks [ 1Klaster Penyakit yang Tidak Lazim [ 1Lumpuh Layuh lVIendadak (AFP) [ 1Tersangka Tetanus [ 1Tetanus Neonatorum (TN) [ 1Gigitan Hewan Penular Rabies [ 1Tersangka HFIVID [ 1Lainnya ( sebutkan ) : Berikan tanda (.1') pad a kotak dibawah ini: [ 1BAB lembek [ 1BAB cair seperti cucian beras [ 1BAB Berdarah/lendir [ 1Demam [ 1Hipothermia [ 1Kemerahan (rash) [ 1Lesi Kulit Lainnya [ 1Batuk [ 1Napas berb unyi (stridor) [ 1Dispnea (sulit bernapas) [ 1Muntah [ 1Jaundis (mata kuning, kulit kuning) [ 1Conjunctival Suffosion (peradangan khas konjungtiva) [ 1Kaku kuduk [ 1Kejang [ 1Koma [ 1Kelemahan Ototl lumpuh anggota gerak [ 1Peningkatan Sekresi cairan (contoh : berkeringat) [ 1 Perdarahan Gusi [ 1Ptekhie [ 1Mimisan [ 1Konjungtivitis [ 1Sakit kepala [ 1Lain-Lain (sebutkan): TOTALJUMLAH KASUS YANG OILAPORKAN: pedoman sistem ke w aspadaan dini dan re spon Data Kasus Nomor Usia Kasus: Alamat Jenis Kelamin Tanggal Onset (dd/mm/YY) Jenis Spesimen yang diambil Terapi yang diberikan Kondisi Sekarang Diagnosis (* *) (*) * Jenis Spesimen yang diambil : D=darah , T= Tinja , LCS=Liquor serebro Spinal, U=Urine, L= Lainnya (sebutkan) * *Kondisi Sekarang : S= Sa kit, P= Pemulihan, M= Meninggal Dari Kejadian Penyakit yang tak diketahui sebabnya atau tidak lazim di wilayah tersebut, beberapa pertanyaan berikut dapat dijadikan acuan untuk pelacakan. Daftar pertanyaan dapat dikembangkan sesuai kondisi di lapangan. Pertanyaan: A. Gambaran Klinis dan Definisi Kasus 1. Apa saja informasi dari gambaran klini s yang m engarah kepada suatu definisi ka sus? Tolong Je laskan : 2. 8erapa lama waktu dari awal gejala sampai mengalami sa kit? 3. Selama sakit gambaran klinis apa saja yang nampak? pedornan sistem kewaspadaan dim dan respon B. Epidemiologi 1. Uraikan dari golongan umur dan jenis kelamin apa yang ada dalam daftar kasus? 2. Apa gambaran distribusi geografis dari kasus dalam kelompok rumah, tempat kerja, tempat makan, dan sumber air? 3. Adakah kelompok yang spesifik? C. Sumber yang memungkinkan 1. Apakah ada merk tertentu dari makanan (seperti tepung, gula, garam, minyak makan dan lainnya), minuman obat yang digunakan oleh mayoritas kasus atalJ asal dari produk apakah dari distributor tunggal atau dari pabrik? 2. Adakah kasus makanan yang dimakan bersama sudah dikumpulkan di tempat tersebut seperti buah, sayur mayor, ikan, dan jamur? 3. Adakah sumber air yang dipakai bersama? 4. Adakah obat-obat tradisional tertentu yang digunakan oleh mayoritas kasus? 5. Adakah pestisida yang digunakan dilokasi tersebut? Jika 3da, pestisida apa dan untuk maksud apa digunakan? 6. Adakah bahan kimia yang dilepaskan atau digunakan ? Apa nama bahan kimia yang digunakan? pedOmdTl slster .1 kewaspadaan dini clan respon r FORMAT SISTEM MANAJEMEN RUMOR KLB p,) 3 "0 - - KEJADIAN PENYAKIT V It) c.. o :3 セ@ ::::l V1 U. ri- m :3 7> It) セ@ セ@ V1 "'0 III 0.. セ@ !:J ::::J 0::::J 0C.J ::J ..... rtl III V o ::J POPULASI RISIKO LOKASI WAKTU KEJADIAN TGL LAPORAN DITERIMA KRONOLOGIS KEJADIAN - TGL MULAI VERIFIKASI STATUS: 1) DLM PROSES VERIFIKASI 2) TELAH VERIFIKASI ...., p,) ::s Q'\ r u ro セ@ C!.. o :J :3 - '0 SURVEILANS TERPADU PENYAKIT BERBASIS KLB W :J VI VI ri- m :J -' セ@ TAHUN : BULAN : PROVINSI KAB/KOTA ":?: ro CJ VI -0 CJ No. Jenis Penyakit :J 0. 1 - Jumlah Mulai Akhir Diketa hui Ditanggulangi 0-7 hr 8-28 hr <1 1-4 5-9 10-14 15-19 20-44 45-54 55-69 70+ L P Kasus Meninggal 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 20 21 22 23 24 2 - Total Golongan Umur (tahunl Populasi Rentan 0. ru OJ Tanggal Kejadian Tempat Kejadia n --- :J 0. CJ ::::I I'D v. -0 '0 ::::I Keterangan : Tempat keja dia n adalah Kab/Kota, puskesmas, Desa/Ke lura han,Tempat khu sus .. ...... .... ...... .... , .. .... / .. ....... / ..... ........ . Kepala Dinas Kesehata n Prov/Kab/Kota, NIP. Keterangan (hasillab,data khusus dsbl 25 ""! ::3 --.J Lampiran 8 MANAJEMEN SPESIMEN PENYAKIT KE LABORATORIUM Menetapkan diagnosa penyakit menular adalah penting. Hasillaboratorium digunakan untuk: • Mendiagnosa suatu penyakit • • Memantau hasil pengobatan Memverifikasi penyebab (etiologi) dari suatu KLB yang dicurigai. Spesimen-spesimen KLB harus dikumpulkan persyaratan sebagai berikut : dan dikirim ke laboratorium dengan memperhatikan • Prosedur pengambilan dilakukan dengan cara yang benar dan aman (memperhatikan universal precaution) • Spesimen disimpan di dalam wadah dan media transport yang sesuai. • Spesimen dijaga di dalam suatu cakupan temperatur yang spesifik dan dilakukan pengiriman ke laboratorium sesegera mungkin . Spesimen KLB yang tiba di laboratorium harus memenuhi syarat pengiriman yang baik dan benar dengan memperhatikan stabilitas spesimen. Kondisi spesimen yang diterima oleh laboratorium sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Laboratorium harus dapat memastikan bahwa hasil pemeriksaan yang dilakukan berkualitas dan dapat dipercaya. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hasil uji di laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium yang tidak berkualitas menyebabkan terjadinya kesulitan dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan. Beberapa faktor penyebab ketidak tepatan hasillaboratorium antara lain: • Spesimen serum yang dikirim telah mengalami hemolisis • Spesimen yang telah diambil tidak segera dikirim ke laboratorium dan tidak disimpan pada suhu yang dipersyaratkan (suhu dingin), hingga menyebabkan terjadinya pertumbuhan mikroorganisme secara cepat. • Sarana penyimpanan tidak adekuat sehingga menyebabkan kelangsungan hidup organisme atau antibodi menjadi berkurang. • • Spesimen tidak dibiakan pada media dan reagen yang tepat. Adanya kontaminasi dari lingkungan/wadah yang digunakan Jika semua persyaratan dalam pengambilan, penyimpanan, penglrlman dan prosedur pemeriksaan laboratorium telah dilaksanakan sesuai dengan pedoman, maka hasil pemeriksaan laboratorium akan dapat memberikan jawaban terhadap penyebab suatu KLB yang dicurigai. Jika ternyata hasil pemeriksaan laboratorium negatif maka dapat dilakukan pengujian ulang untuk memastikan hasil diagnosis . Tabel referensi pada halaman berikut ini adalah daftar tes laboratorium yang dianjurkan untuk konfirmasi penyakit dan kondisinya. Tabel berikut berisi informasi tentang: • • Jenis pemeriksaan laboratorium untuk menentukan suatu penyebab penyakit (KLB) Jenis spesimen yang dikumpulkan • • • • Waktu pengumpulan spesimen Prosedur mempersiapkan, menyimpan dan mengirimkan spesimen ke laboratorium Waktu yang dibutuhkan dalam pemeriksaan laboratorium Sumber/referensi sebagai informasi tambahan Tabel konfirmasi pemeriksaan laboratorium ini dapat digunakan sebagai acuan bagi petugas terkait, ketika terjadi KLB atau penyakit lain yang dicurigai . pt'd mal1 sistem k wiJspadaan dl I Ian respon r- -0 (I) o 3D..I ::l VI I.Il M- III  TABEL TES DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN SPESIMEN BEBERAPA PENYAKIT 01 LABORATORIUM 0.. Suspek Penyokitj Kondis; res Diagnostik Spesimen Woktu Pengumpu/on Cora Penyiapon, Penyimpanon don :3  - '"0 '""'l  III  Hosil (I)  3 A"  f1l   セ@ Acute flaccid paralysis   (Suspected polio) Isolasi virus polio  Stool (tinja)  sample dari setiap kasus  suspek AFP.  D..I I.Il  Ambilspecimen pertama waktu  investigasl kasus.  ­0  D..I 0.. D..I   D..I   ::::l 0.. ::J   c.. Qj ::::l -, REFERENCE:  WHO global action plan for  laboratory containment of wild   polio viruses. WHO/V&B/99.32, Geneva,1999 (1)   I.Il   -0 o ::J   Manual for the virological Investigation of polio WHO/EPI/GEN/97.01   Geneva. 1997  Ambilspecimen kedua  pada  pasien  yg  sama 24 sid 48 Jam  kemudian.  Note: Jlka tdk ada specimen yang  dikumpulkan, evaluasi pasien  setelah 60 hari untuk konfirmasl  klinis polio (AFP)  .; Letakan tinja, masukan  kedalam conta iner/wadah yg  tdk bocor, beri labelsecara  jelas.  Segera tempatkan dalam kulkas  atau coldbox tdk dlgnakan  untuk menyimpan vaksln atau  obat.  Kirim specimen,  sampal dllab  polio dalam waktu kurang dari  72 Jam.  .; Blla tertunda, spesimen tdk  terkirim dim jangka  72 jam,  bekukan spesimen pada suhu  minus 200C atau leblh dingln.  Kemudlan kirim spesimen dgn  dry Ice atau cold packs juga  beku pada suhu ·200C or Ibh  Hasil tes awal umumnya tersedian  antara 14·28 han setelah spesime  diterima lab.  Bila virus polio liar ditemukan,  maka program naslonalsegera  membuat reneana aksi yg tepat.  I I ::J \0  Suspek Penyakit/ Kondisi Diare Berdarah (Shigella dyse nterrae jenls l) dan shigellae lain Catatan: SDI inieksi/peradangan bersifat mudah mewabah dan yang dihubungkan dengan tlngka t [ingglnya terhadap ketahanan res Diagnostlk Isolasikan Shigella dysenterlae Jenis 1 (SDl) di dalam kultur untuk mengkonflrmasikan I セ@ OJ '"   OJ U 0OJ  OJ  ;:J  Kontirmasi laboratorlum  untuk surveilans tldak dioerlukan  0;:J  0- OJ  ;:J  """'I  rc  \1\  u  o  Fセ@ LN⦅ セ M bs@ ;:J  Adanya  IgM antibody virus  campak dalam serum  WHO GUidelines for Epidemic  Preparedness and  Response to  Measles Outbreaks  WHO/CDS/CSR/ISR/99,J  Serum  Ambil/Kumpulkan sampel darah S  suspek campak saat KLB campak  (biasanya lebih darlS kasus  dalam  kabupaten/kota dalam salU bulan)  DI  Negara dalam  fase ellminasl:  Ambil/Kumpulkan spesimen  setiap ada suspek kasus  campak.  Kumpulkan serum untuk uji  antibodl pada kesempatan  atau pada kunjungan  Untuk anak­anak,  kumpulkan 1  sampai  5 ml dari darah vena,  Kumpulkan ke dalam 5uatu  tabung reaksl, plpa  kapiler atau  microtainer.  ./ Pisahkan sel darah dari serum.  ­ Biarkan  、セイ。ィ@ selama  30  sampai 60 menit pada suhukamar supaya terjadi  pemlsanan atau gumpalan  darah. Lakukan sent  Spesl men sebalknya sampai dl  laboratorium dalam 3 hari setelah  dlambil/dikumpulkan ..  Hasillab biasanya  tersedia setelah  7 hari  Jlka sedikitnya  2 dar!  5 kasus  セ オウー・ォ@ cam pak adalah konfirmasl  laboratorium, maka  KlB lersebut  ditetapkan sebagal KLB Campak,  Suspek Penyakit/ Kondisi res Diagnostik Spesimen Cara Penyiapan, Penyimponon don Pengiriman Waktu Pengumpulan dl fasilitas  n.  セ@ pada  kecepa!an 2000 rpm  selama 10­20  men;! da n  luangkan serum ke  dalam  tabung kaca yang berslh.  Jika  tidak ada  centrifuge,  letakan sampel da lam lemari  pendingan semalam (4  sampai 6 Jam) sampal terjadi  gumpalan dan pemlsahan  seruml. Tuangkan serum  besoknya.  Jlka  tidak ada centrifuge dan  tdk ada lemari es, biarkan  darah  mengendap sedikltnya  60 menit (tanpa gontangan  atau sarana lain). Tuangkan  serum ke dalam sualu  labung yang  bersih.  -;:; ro D...  o :3 OJ  ::J  '!!. Vl rt ro 3  7' ro セ@ OJ  Vl "0  CIJ D...  OJ Cl.I ::J  0.. ::J  "OJ  .,::J  ro Vl u o ='  Letakan serum pada 4' C  .; Kirim sampel gunakan  pengemasan yang sesuai untuk  mencegah kerusakan atau  kebocoran­kebocoran selama  Hasil Hindari spesimen darl goncangan  sebelum serum dlkumpulkan .  Unruk  mencegah pertumbuhan  bakleri terlalu cepat, pastikan  bahwa serum Itu diluangkan ke  da lam suatu tabung reaksi  gelas/kaca yang  bersih. Tabung  tldak perlu sterH tetapl berslh.  Angkul serum dalam saw  pengangkut vaksin tangan EPI  pada  suhu 4­8 derajat ceklus  untuk  mencegah pertumbuhan  bakteri terlalu cepa! (sampai  dengan 7 hari). Jlka  tidak  dldinglnkan. serum disimpan di  suatu tabung yang berSlh dalam  waktu sedlkitnya  3 hari.  Suspek Penyakit/ Kondlsi C:.. OJ  --' ro V1  ­0  o  セ@ PES REFER[NSI: 'Pla gue Manual: Epidemiology, Distribution, Surveillance and Control". WHO!CDS!EOC/99.2 WHO, Geneva, 1999 "Laboratory Manual of Plague Diagnostic tests' . CDC/WHO publication, 2000, Atlanta, GA Tes Diagnostlk Spes/men Waktu Pengumpu/an Isolasi hama Versinia dad asplrat bubo atau dari kultur dar! darah, CSF atau dahak. Aspirat dari bubo-bubo. darah. CSF, dahak, mencuci tracheal atau bahan·bahan otops! untuk kultur Identifikaslzat darah penyerang kuman kepada Y.pestis f1  anugen dari serum. Darah untuk uJ i serological ./ Kumpulkan spesimen dari kasus pertama suspek pes. Jlka lebih dari salU suspek kasus. kumpulkan speslmen 5 sam pal 10 kasus sebelum admlnistrasl antlbiolik. ./ Dengan bubo, suatu Jumlah yang kedl dari bersifat garam Y'lng sterll (1·2 mil blsa dlsunt'lk ke dalam bubo itu  untuk memperoleh salu spesimen yang cukup ./ Jlka antibiotik mulai diberikan, pes dapat ditetapkan oleh seroconversion (4·fold atau leblh besar titer) kepada antigen F1 oleh hemaglutinasi yang pasif yang menggunakan sera yang dikupas. Serum harus digambar/ditarik di dalam 5 hari seraogan lalu lagl ; kemball setelah 2-3 mlnggu. Kumpulkan dahak (bukan air bur) untuk usapan mlkroskopl langsung dan menguji sedlkltnya Cara Penylapan, Penyimpanan dan Pengiriman ./ Spesimen harus dikumpulkan dengan teknik aseptik. Bahan untuk kultLJr harus dlklrlm ke laboratorium menggunakan media transport Cary Blair atau dibekukan {terutama/lebih dlsukal dengan batu karbon dloksida (C02 beku). Spesimen yg tdk diawetkan harus sampai dllaboratorium pada hari yang sama. ./ Cairan Spesimen (aspiral) harus terserap oleh suatu kaln penyeka kapas yang steril dan menempatkannya ke dalam media transp0rl Cary-Blal(. Mendinginkan. Hasil Kultur hanya dikirim ke laboratorium yang memilik.1 kemampuan diagnostik Pes atau WHO Collaborating Center untuk Pes. Hasll kultur akan tersed ia sedikitnya dalam 3 sampal 5 harl kerja setelah diterlma oleh laboratorhJm Pengobata n antibiotlk harus dlaktipkan sebelum kultur muncul diperoleh . Paslen Pes seroconvert kepada antigen Fl Ypestis 7·10  hari setelah serangan. ./ Jlka pengangkutan aka n memerlukan 24 jam atau lebih dan medi transport Cary Blair tidak tersedia, maka bekuka 0 usapan harus dluji pada fasilitas kesehatan dl mana speslmen ltu dlambil. TB mikroskopi dibaca harian. Hitungan mengamati mycobacteria dllaporkan dengan Suspek Penyakit/ Kondisi Tes Diagnostik Spesimen REFERENSI · Laboratory Services In Tubercu losIs Control. Pans I, II and III. WHO publications Cora Penyiapan, Penyimpanan dan Pengiriman trga pewarnaan spesrmen dengan hari yang berbeda (S-P-S) ELISA untuk menentukan adanya IgM antibodl demam kumng Referensl. Dist rict gUidelines for Yellow feller Surveillance WHOjGPVI/EPlj98.09 Waktu Pengumpulan Serum Kumpulkan spes. men darl suspek kasus pertama demam kunlng. J.ka lebih dan 1suspek, kumpulkan spes. men 5 sampallO sampel Hasi/ berbagal met oda pelaporan. linat pada criteria yang drgunakan oleh laboratorlum pengu)r Kumpulkan 10  ml darah vena orang dewasa, 1­5  ml dari anak-anak DI suatu tabung reaks. gelas/kaca vang standar. pipe kapller atau microtalner pengumpulan H.ndarl goncangan spes. men sebelum serum dlkumpulkan. '" set darah \erp.sah da ri serum Yellow Fever 1998. WHOjEPI/Genj98 1l - Gumpa l diblarkan ュ・ョ。イャセ@ kemball sela ma 30 sampar 60  men.1 pada suhu-kamar Untuk mencegah pertumbuhan bakteri terlalu cepat, pastikan bahwa serum Itu drtuangkan ke dalam svalu reaksl -0 to  0.  o 3  CJ  :J  VI  VI  rl- to  3  Suspek Penyakit/ Kondisi res Diagnost/k Spesjmen Waktu Pengumpulan Cara Penyiapan, Penyimpanan dan Pengiriman Centrifuge pada 2000 rpm un!uk 10-20 meni! dan tuangkan serum ke da lam suatu tabung kaca yang bersih. 7' to  セ@ CJ  VI  -0 III 0.  III III :::i 0.  :J  0.  III :::l  ­,  to  VI  -0 o  :::l  Jika tanpa centrifuge, sampel ditaruh dalam lemari es semalam (4 sampai 6 jam) sampai gumpal menarik kemball. Tuangkan serum besoknya. • Jika tanpa centrifuge dan tanpa lemari es, biarkan darah mengendap sedikitnya 60 menit (tanpa goncangan a!au suatu sarana). Tuangkan serum ke dalam suatu tabung yang bersih. Simpan Serum pada suhu 4"C. Kirim sampel serum menggunakan pengemasan yang sesuaI un!uk mencegah kerusakan atau kebocorankebocoran selama penglriman. Hasil gelas/kaca yang bersih. Tabung tldak perlu steril tetapi cukup bersih. Angkut serum dalam satu pengangkut vaks!n tangan EPI pada suhu 4-8 derajat selsius untuk mencegah pertumbuhan bakteri terlalu cepat (sampai dengan 7 hari). Jika tldak didinginkan. serum dlsimpan di suatu tabung yang bersih akan baik untuk sedikitnya 3 hari. r \l.l BUKU CATATAN LABORATORIUM (LOG BOOK) :3  '0 '""'! \l.l ­0  ro o  0. 3  ;Q.J  ::l v. Vi ri- ID 3  r.- ID セ@ OJ  III ­0  OJ  0. OJ   OJ   ::::i 0. ::::i 0.  ClJ ::J ...,  r.- III U o  ::J Tanggal Jenis Tanggal Petugas Diagnosis Pengambilan spesimen Pengiriman Pengambil sementara ;:::l セ@ o  Lampiran 11 lEMBARAN RUJUKAN SPESIMEN Format Permintaan Pemeriksaan Spesimen KlB Nama & Alamat Pengirim (RS/Puskesmas) : Dokter/ Pem eriksa: Nama Lengkap Pasien: Alamat Pasien : Umur: Jenis Kelamin: Informasi Klinis yang penting: Diagnosa Klinis/ Diagnosa sementara: Tanggal Mulai Gejala: Antibiotik yang telah diberikan: Jenis Spesimen : Waktu Pengambilan Spesimen: pedoman sistem kewaspadaan dini dan res pon Lampiran 12  DAFTAR PENYAKIT ATAU KEJADIAN YANG WAJIB DILAPORKAN SEGERA «24 JAM) KE DINAS KESEHATAN Jika anda menemukan penyakit dibawah ini segera hubungi dinas kesehatan kabupaten/ kota  • • • • Tersangka Kolera Tersangka Flu Burung pada Manusia Tersangka Flu Burung pada Unggas AFP (Lumpuh Layuh Akut) • • • • • • • Tersangka Difteri Meningitis/Encefalitis Tetanus Neonatorum Keracunan Makanan Tersangka Antraks Gigitan Hewan Penular Rabies Kluster Penyakit yang Tidak Diketahui DR._ _ _ _ __ TELEPON:_ _ _ _ _ _ __ Jika  Telepon Tidak Dapat Dihubungi  I Anda dapat menghubungi Telepon Kantor  Dinas Kesehatan pada Bagian Seksi Surveilans  Ingat masing­masing kasus diatas sangat penting untuk segera dilakukan  penatalaksanaan kasusnya  pedoman sistem kewaspadaan din! dan respon Lampiran 13  INFORMASI PENTING TENTANG RUMOR ATAU KEJADIAN Jika anda mendapatkan telepon tentang kejadian atau kasus penyakit potensial KLB, lakukan klarifikasi terhadap hal-hal sebagai berikut: Jumlah Kasus Jumlah Kematian Jumlah Kasus Yang Dirawat Di Rumah Sakit Identifikasi Kasus Berdasarkan Orang, Tempat, Dan Waktu Kejadian 5. Kapan Waktu Awal Kejadian 6. Identifikasi Gejala Utama Yang Timbul 7. Langkah-Langkah Yang Telah Dilakukan 8. Spesimen Apa Yang Telah Diambil Dan Dikirim Ke Laboratorium 9. Sumber Informasi 10. Mobilisasi Tim Gerak Cepat 1. 2. 3. 4. Informasikan hal tersebut diatas kepada petugas surveilans dinas kesehatan propinsi TELEPON: ............................ . peden Ian ::.istem kewaspadaan dini dan respon  Lampiran 14  SEGERA LAPOR BILA TERJADI KLB !! !! Bila menerima informasi tentang kejadian penyakit dari kabupaten/kota yang ada di wilayah propinsi, lakukan segera klarifikasi dan investigasi untuk konfirmasi. Jika hasil konfirmasi merupakan kejadian luar biasa maka segera melaporkan kepada Subdit Surveilans dan Respon KlB Ditjen PP dan Pl Kementerian Kesehatan Rio TElEPON : 021 ­ ........................... .   FAX: 021 ­ .......................... ..   EMAil: skd_klb@yahoo.com ewars.pusat@gmail.com pedoman sistem kewaspadaan dim  dan respon 
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
123dok avatar
Medownload saja
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pedoman Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon

Gratis

Feedback