Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar Di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat

Gratis

2
19
84
2 years ago
Preview
Full text
ANALISIS EFISIENSI USAHATANI UBI JALAR DI KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT ANGELIA LEOVITA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DANSUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat adalah benar karya saya denganarahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, September 2015 Angelia Leovita NIM H453120041 RINGKASAN ANGELIA LEOVITA. Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat. Dibimbing oleh RATNA WINANDI dan HENY KUSWANTI SUWARSINAH. Kecamatan Ampek Angkek merupakan salah satu daerah sentra ubi jalar di Sumatera Barat. Kecamatan ini memiliki peluang untuk dapat meningkatkan produksi ubi jalar. Tetapi permasalahan yang terjadi adalah rendahnya produktivitas yang disebabkan oleh belum efisiennya dalan penggunaan input produksi dalam berusahatani. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar (2) menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubi jalar (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar dan (4) menganalisis pendapatan usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis efisiensi produksi dan analisisusahatani. Fungsi produksi yang digunakan adalahfungsi produksi Cobb Douglas dan diestimasi menggunakan Ordinary LeastSquares (OLS) dan Maximum Likelihood Estimation (MLE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang mempengaruhi produksi ubi jalar di kecamatan Ampek ditemukan signifikan berpengaruh secara statistik terhadap produksi ubi jalar pada α=1% adalah variabel jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga luar keluarga. Sedangkan jumlah pupuk anorganik signifikan berpengaruh secara statistik pada α=10%. Hasil analisis efisiensi menunjukkan bahwa petani secara teknis dan alokatif sudah efisien, namun secara ekonomi belum. Hal ini disebakan karena masih mahalnya harga input yang berlaku ditingkat petani. Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis adalah keanggotaan petani dalam kelompok tani berpengaruh nyata pada α=10%.Hasil analisis pendapatan usahatani menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar layak untuk diusahakan secara finansial karena nilai R/C senilai 1.8. Kata kunci: usahatani,ubi jalar,efisiensi, pendapatan, stochastic frontier SUMMARY ANGELIA LEOVITA.Efficiency Analysis of Sweet Potato Farming in the District Ampek Angkek Agam West Sumatra.Guided by RATNA WINANDI and HENY KUSWANTI SUWARSINAH. Subdistrict Ampek Angkek is one of the central areas of the sweet potato in West Sumatra. This district has the opportunity to be able to increase the production of sweet potatoes. But the problems that occur are low productivity caused by inefficient role in the use of production inputs to farm. The purpose of this study was (1) to identify the factors that influence the production of sweet potato (2) analyze the technical efficiency, allocative and economic farming sweet potatoes (3) identify the factors affecting technical inefficiency farming yams and (4) analyzing farm income sweet potato in the subdistrict Ampek Angkek district Agam West Sumatra Province. Data analysis was performed using production efficiency analysis and analysis of farming. Production function used is the Cobb Douglas production function and estimated using Ordinary Least Squares (OLS) and Maximum Likelihood Estimation. The results showed that the variables that affect the production of sweet potato in the district Ampek Angkek found a statistically significant effect on the production of sweet potatoes at α = 1% are number of seeds, the amount of organic fertilizer, the amount of labor in the family and the number of workers outside the family. While the amount of inorganic fertilizer statistically significant effect on α = 10%. Efficiency analysis results showed that farmers technical and allocative already efficient, but not economically. This has happened because still prevail high prices of inputs for farmers. Factors affecting technical inefficiency the membership of farmers in farmer groups significantly at α = 10%. Farm income analysis result indicate that the sweet potato farming financially feasible to be developed as long as the R/C 1.8. Keywords: farming, sweet potato, efficiency, revenue, stochastic frontier © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB ANALISIS EFISIENSI USAHATANI UBI JALAR DI KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT ANGELIA LEOVITA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis :Dr Alla Asmara, SPt MSi Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian : Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober - November 2014 ini adalahefisiensi, dengan mengambil judul Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat.Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelas Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak atas bantuan dan dukungan sehingga tesis ini dapat terselesaikan yaitu kepada: 1. Ibu Dr Ir Ratna Winandi, MSsebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Dr IrHeny Kuswanti Suwarsinah, MEc sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan, arahan, masukan, perhatian, waktu dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini. 2. Bapak Dr Alla Asmara, SPt MSi selaku dosen penguji luar komisi yang telah memberikan masukan dan pertanyaan yang sangat berguna untuk penyempurnaan tesis ini. 3. Bapak Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS selaku Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang telah memberikan masukan dan pertanyaan demi kesempurnaan tesis ini. 4. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atas segala ilmu, pengalaman dan waktu yang telah diberikan selama proses perkuliahan. 5. Pihak DIKTI yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan melalui Beasiswa Unggulan kepada penulis. 6. Penghargaan yang tinggi dan sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada keluarga yaitu orang tua penulis Ayahanda Nurman, SP dan Ibunda (Almh) Irawati M.Nur yang telah memberikan dukungan moril dan materil, perhatian, kasih sayang, kesabaran dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. 7. Kakak penulis, Irma Dewita, S.Kep/suami dan adik-adik, Rika Fitri Yeni, SSi, Raudhatul Syauvi dan Nafika Nurullita yang telah memberikan dukungan kepada penulis. 8. Teman-teman Ilmu Ekonomi Pertanian angkatan 2012 yaitu Jones Batara Manurung, Muhammad Emil Rahman, Budi Yoko, Afandri, Muhammad Nursan, Dewi Rohma Wati, Pebria Sari, Reny Hidayati, Lillah Wedelia, Rina Kusrina dan Utami Nurani Putri yang telah menjadi sahabat, saudara, motivator, bersama dalam suka dan duka selama menempuh pendidikan di IPB. 9. Teman-teman Ilmu Ekonomi Pertanian angkatan 2013 terima kasih atas waktu diskusi dan semangat yang diberikan kepada penulis. 10. Seluruh staff di Sekretariat Ilmu Ekonomi Pertanian (Mas Johan, Mas Widi, Mas Erwin, Pak Husein, Ibu Ina, Ibu kokom) yang telah membantu, memberi semangat dan dukungan kepada penulis. 11. Seluruh teman-teman penghuni Wisma Melatiterima kasih atas kebersamaan, semangat kepada penulis. 12. Pihak-pihak lain yang namanya tidak disebutkan namun telah banyak memberikan saran dan informasi selama penulisan tesis ini. Semoga segala bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Harapan penulis, semoga tesis ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya. Bogor, September 2015 Angelia Leovita DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian xiv xv xv 1 1 4 6 6 6 2 TINJAUAN PUSTAKA Produksi dan Fungsi Produksi Konsep dan Pengukuran Efisiensi Penelitian Terdahulu Tentang Efisiensi Usahatani Penelitian Terdahulu Tentang Pendapatan Usahatani Kerangka Pemikiran Hipotesis Penelitian 8 8 10 16 22 23 24 3 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Penarikan Contoh Jenis dan Sumber Data Metode Analisis Data Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar dan R/C Definisi Operasional 25 25 25 25 25 29 30 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Wilayah dan Keragaan Usahatani Ubi Jalar Tingkat Efisiensi Usahatani Ubi Jalar Pendapatan Usahatani Ubi Jalar 32 32 38 49 5 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran dan Implikasi Kebijakan 53 53 53 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP 55 59 68 DAFTAR TABEL 1 Ketersediaan dan kebutuhan ubi jalar Nasional tahun 2009-2012 2 Perkembangan Luas lahan, produksi dan produktivitas ubi jalar Indonesia tahun 2009-2014 3 Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di sepuluh Provinsi tahun 2014 4 Luas panen, produksi dan produktivitas komoditi ubi jalar di Sumatera Barat menurut kabupaten/kota tahun 2012 5 Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di kabupatan Agam tahun 2012 6 Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani 7 Jumlah penduduk di kecamatan Ampek Angkek kabupaten Agam 8 Penggunaan Lahan di Kecamatan Ampek Angkek 9 Keragaman umur petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 10 Sebaran pendidikan petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 11 Sebaran pengalaman petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 12 Partisipasi petani ubi jalar dalam kelompok tani di kecamatan Ampek Angkek 13 Tanggungan keluarga petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 14 Status kepemilikan lahan petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 15 Jenis varietas ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 16 Sebaran luas lahan petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 17 Hasil dugaan model produksi ubi jalar Cobb-Douglass menggunakan metode OLS di kecamatan Ampek Angkek 18 Hasil dugaan model produksi Cobb-Douglas Stochastic Frontierusahatani ubi jalar menggunakan metode MLE di kecamatan Ampek Angkek 19 Sebaran nilai efisiensi teknis usahatani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 20 Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis fungsi produksiStochasticFrontier di kecamatan Ampek Angkek 21 Sebaran nilai efisiensi alokatif usahatani ubi jalar di kecamatan AmpekAngkek 22 Sebaran nilai efisiensi ekonomi usahatani ubi jalar di kecamatan AmpekAngkek 23 Analisis pendapatan usahatani ubi jalardi kecamatan Ampek Angkek 24 Analisis imbalan tenaga kerja (Return to labor) usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat 1 2 2 3 4 20 32 33 33 34 34 35 35 36 36 37 39 40 43 44 48 48 50 52 DAFTAR GAMBAR 1 Produksi ubi jalar Sumatera Barat tahun 2009-2013 2 Fungsi produksi batas dengan rata-rata 3 Efisiensi teknis dan alokatif dari sisi input 4 Alur kerangka pemikiran 5 9 12 24 DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3 4 5 6 Kontribusi produk domestik bruto setiap lapangan usaha terhadap produk domestik bruto Indonesia tahun 2014 Luas, produksi dan produktivitas ubi jalar per nagari di kecamatan Ampek Angkek tahun 2013 Hasil uji heteroskedastisitas model produksi ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek pada masing-masing input Hasil pendugaan model produksi ubi jalar metode OLS di kecamatan Ampek Angkek Hasil pendugaan model produksi ubi jalar Cobb-Douglas stochasticfrontier metode MLE Sebaran nilai efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubi Jalar di kecamatan Ampek Angkek tiap responden 60 61 62 64 65 67 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian Indonesia. Peranan tersebut meliputi kontribusi produk dalam sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyedia kebutuhan pangan manusia, penyedia lapangan pekerjaan, pemasok bahan baku untuk berbagai industridan penghasil devisa negara melalui kegiatan ekspor. Kontribusi sektor pertanian terhadapProduk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2014 adalah sebesar 10.33 persen (PUSDATIN2015). Salah satu subsektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam pembangunan sektor pertanian adalah subsektor tanaman pangan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya kontribusi tanaman pangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2014 adalah sebesar 3.26 persen (Lampiran 1). Selain berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia subsektor tanaman pangan berperan serta dalam mewujudkan ketahanan pangan. Bahan pangan yang tidak tersedia dengan cukup dan harga yang tidak terjangkau oleh masyarakat akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat secara luas baik dari segi ekonomi maupun sosial (Hafsah 2004). Ubi jalar merupakan salah satu komoditas subsektor tanaman pangan yang berperan dalam pembangunan sektor pertanian dan perekonomian Indonesia. Ubi jalar merupakan salah satu tanaman penting karena dapat dijadikan sumber karbohidrat setelah padi (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2013). Selain sebagai bahan pangan juga digunakan sebagai kebutuhan pakan ternak serta dapat dikembangkan menjadi olahan produk ubi jalar siap santap seperti kremes, saos, selai, hasil substitusi dengan tepung seperti biskuit, kue, roti, bentuk olahan dengan buah-buahan seperti manisan dan asinan (Richana 2013).Berkembangnya teknologi pengolahan hasil ubi jalar menjadi aneka jenis makanan, kebutuhan akan ubi jalar meningkat sehingga produksi juga mengalami peningkatan. Berikut pada Tabel 1 menyajikan data ketersediaan dan kebutuhan ubi jalar Nasional tahun 2009-2012. Tabel 1Ketersediaan dan kebutuhan ubi jalar Nasional tahun 2009-2012 Tahun 2009 2010 2011 2012 Produksi (Ton) 2 057 913 2 051 046 2 196 033 2 483 460 Impor (Ton) 50 33 22 24 Ekspor (Ton) 7 185 7 083 6 916 9 649 Ketersediaan (Ton) 2 050 778 2 043 996 2 189 139 2 473 835 Kebutuhan (Ton) 2 051 000 2 044 000 2 189 000 2 428 824 Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2013 Produksi ubi jalar dari tahun 2009–2012 cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan produksi ubi jalar dari tahun 2011 ke tahun 2012 merupakan peningkatan yang paling tinggi yaitu sekitar 287 427 ton. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa produksi ubi jalar Indonesia sebagian kecil diekspor, sehingga 2 ketersediaan ubi jalar di Indonesia merupakan produksi ubi jalar dikurangi dengan jumlah yang di ekspor dan ditambah dengan jumlah yang diimpor. Tabel 2Perkembangan Luas lahan, produksi dan produktivitas ubi jalar Indonesia tahun 2009-2014 Tahun Luas lahan (ha) Produksi (ton) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 183 874.00 181 073.00 178 121.00 178 295.00 161 850.00 156 677.00 2 057 913.00 2 051 046.12 2 196 033.00 2 483 460.00 2 386 729.00 2 382 025.00 Produktivitas (ton/ha) 11.20 11.33 12.33 13.93 14.75 15.20 Sumber: BPS Indonesia 2015 Kebutuhan ubi jalar cenderung meningkat dari tahun 2009 – 2012, disebabkan karena penggunaan ubi jalar yang luas, terutama oleh industri pengolahan. Saat ini sudah banyak aneka jenis produk makanan yang berbahan baku ubi jalar sehingga kebutuhan ubi jalar semakin meningkat. Dengan melihat kebutuhan yang semakin meningkat maka perlu untuk meningkatkan produksi ubi jalar melalui peningkatan produktivitas dan perluasan lahan. Saat ini produktivitas ubi jalar Indonesia masih tergolong rendah yakni 13.12 ton per hektar seperti yang terlihat pada Tabel 2. Nilai produktivitas rata-rata ubi jalar indonesia rendah jika dibandingkan dengan produktivitas potensial yang dapat dicapai yaitu 30 ton per hektar (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2013). Tabel3Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di sepuluh Provinsi tahun 2012 Provinsi Jawa Barat Jawa Timur Papua Sumatera Utara Jawa Tengah NTT Sumatera Barat Sulawesi Selatan Jambi Bali Luas Panen (Ha) 26 531 14 264 33 071 14 595 8 000 18 604 4 372 6 774 3 076 45 619 Produksi (ton) 436 577 411 957 345 095 186 583 166 978 151 864 124 881 94 474 80 057 63 352 Produktivitas (ton/ha) 16.45 28.81 10.43 12.78 20.87 8.16 28.56 13.94 26.02 11.09 Sumber : Badan Pusat Statistik 2013 Di Indonesia terdapat sepuluh provinsi penghasil ubi jalar utama. Pada Tabel 3 dapat dilihat sepuluh provinsi penghasil ubi jalar. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki produksi ubi jalar tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Produksi ubi jalar di Jawa Barat adalah 471 737.00 ton. Provinsi Papua yang mempunyai luas panen 33 114 ha. Provinsi Sumatera Barat 3 merupakan salah satu provinsi penghasil ubi jalar yang menempati urutan ke enam diantara sepuluh provinsi lainnya. Produktivitas ubi jalar di Sumatera Barat adalah 28.56 ton per hektar. Luas panen ubi jalar di Sumatera Barat lebih kecil di bandingkan dengan provinsi NTT, Bali dan Sulawesi Selatan, namun dengan produktivitas yang tinggi produksi ubi jalar di Sumatera Barat lebih tinggi dibandingkan dengan NTT, Bali dan Sulawesi Selatan yang mempunyai luas panen lebih luas. Meskipun Sumatera Barat memiliki produktivitas yang tinggi namun produktivitas pada daerah sentra ubi jalar di Sumatera Barat tergolong rendah. Tabel 4Luas panen, produksi dan produktivitas komoditi ubi jalar di Sumatera Barat menurut kabupaten/kota tahun 2012 Kabupaten/Kota Kabupaten Kep. Mentawai Pesisir Selatan Solok Sijunjung Tanah Datar Padang Pariaman Agam 50 Kota Pasaman Solok Selatan Dharmasraya Pasaman Barat Kota Padang Solok Sawahlunto Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh Pariaman Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/ha) 135 108 938 9 1 131 15 1 226 282 77 155 20 126 2 550 2 068 27 041 168 38 316 286 34 136 8 649 1 520 2 852 532 3 304 18.88 19.14 28.82 18.66 33.87 19.06 27.84 30.67 19.74 18.40 26.60 26.22 23 20 44 49 5 - 456 377 845 1 691 90 - 19.82 18.85 19.20 34.51 18.00 - Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat 2013 Produksi ubi jalar di Sumatera Barat, tersebar di dua belas kabupaten yaitu Kep. Mentawai, Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, 50 Kota, Pasaman, Solok Selatan, Dharmasraya dan Pasaman Barat serta di tujuh kota yaitu Padang, Solok, Sawahlunto, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Pariaman. Tabel 4menunjukkan bahwa Kabupaten Agam merupakan kabupaten yang memiliki luas lahan sebesar 1 226 hektar dan produksi sebesar 34 136 ton. Dilihat dari sisi produktivitas, produktivitas usahatani ubi jalar di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2012 sebesar 28.56 ton per hektar lebih tinggi di bandingkan dengan produktivitas ubi jalar di Kabupaten Agam sebesar 4 27.84 ton per hektar dan produktivitas ubi jalar Indonesia pada tahun 2012 yaitu 13.93 ton per hektar. Kabupaten Agam terdiri dari enam belas kecamatan. Tidak semua kecamatan memproduksi ubi jalar, empat kecamatan diantarannya tidak mengusahatanikan ubi jalar, sehingga produksi ubi jalar tersebar di dua belas kecamatan seperti terdapat pada Tabel 5. Kecamatan Ampek Angkek merupakan daerah sentra ubi jalar paling luas di kabupaten Agam. Luas panen ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek adalah 378 ha dan produksi adalah 6 134.94 ton. Meskipun demikian produktivitas ubi jalar di Ampek Angkek pada tahun 2012 adalah 16.23 ton per hektar, rendah jika dibandingkan dengan kecamatan lain dan rendah jika dibandingkan dengan produktivitas ubi jalar di Kabupaten Agam dan Sumatera Barat. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecamatan Ampek Angkek memiliki potensi dan peluang sebagai daerah pengembangan ubi jalar melalui peningkatan produksi dengan cara memperbaiki teknik budidaya serta mengalokasikan input produksi dan sumberdaya lainya secara optimal. Tabel 5Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di kabupatan Agam tahun 2012 Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Canduang Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Luas Panen (ha) 11.00 34.00 34.00 20.00 24.00 378.00 257.00 241.00 315.00 37.00 15.00 - Produksi (ton) 178.97 552.16 551.48 324.20 389.28 6 134.94 4 183.96 3 851.89 5 125.05 601.62 243.60 - Produktivitas (ton/ha) 16.27 16.24 16.22 16.21 16.22 16.23 16.28 16.29 16.27 16.26 16.24 - Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat 2013 Perumusan Masalah Ubi jalar di Sumatera Barat merupakan tanaman lokal yang saat ini produksinya meningkat. Gambar 1 menyajikan data produksi ubi jalar di Sumatera Barat. Produksi ubi jalar secara umum mengalami peningkatan dalam kurun waktu 2009-2013. Peningkatan produksi ubi jalar tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 26 826 ton atau 34.62 persen di bandingkan tahun sebelumnya. Produksi ubi jalar menurun pada tahun 2011 sebesar 6 182 ton atau 5.9 persen dibandingkan dengan tahun 2010, pada tahun 2012 dan tahun 2013 produksi ubi 5 Produksi (ton) jalar meningkat. Peningkatan produksi ubi jalar terjadi karena berkembangnya penerapan teknologi produksi, perbaikan dalam budidaya dan manajemen usahatani yang semakin baik. 160.000 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0 2008 124.881 134.453 104.302 98.120 77.476 2009 2010 2011 Tahun 2012 2013 2014 Sumber: Badan Pusat Statistik 2014 (diolah) Gambar 1Produksi ubi jalar Sumatera Barat tahun 2009-2013 Kecamatan Ampek Angkek merupakan kecamatan sentra produksi ubi jalar di Sumatera Barat. Produktivitas ubi jalar pada tahun 2012 di kecamatan Ampek Angkek adalah 16.23 ton per hektar. Produktivitas ini masih rendah jika di bandingkan dengan produktivitas di Kabupaten Agam yang mencapai 27.84 ton per hektar dan produktivitas Sumatera Barat 28.56 ton per hektar. Permasalahan rendahnya produktivitas ubi jalar diduga petani belum efisien dalam menggunakan input produksi. Petani dalam mengusahakan usahataninya masih terbatas dalam penggunaan lahan, bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja. Produksi suatu komoditas dipengaruhi oleh efisiensi tidaknya dalam alokasi penggunaan input, ada tidaknya masalah inefisiensi teknis yang berkaitan dengan kapabilitas manajerial petani, dan faktor risiko produksi dalam usahatani. Tingkat alokasi penggunaan input produksi oleh petani akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang dihasilkan, tingkat produktivitas, dan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat efisiensi yang dicapai petani (Kumbhakar 2002 dikutip dalam Saptana 2011). Selain dipengaruhi oleh kombinasi penggunaan input-input produksi maka tingkat efisiensi usahatani diduga dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu (Haryani 2009; Nahraeni 2012 dan Ohajianya et al.2014) beberapa karakteristik sosial ekonomi yang menjadi faktor-faktor inefisiensi teknis umur, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, ukuran rumah tangga, akses kredit, jenis kelamin, anggota organisasi, frekuensi penyuluhan, kepemilikan, sistem penanaman, status lahan dan rasio anggota keluarga yang tidak bekerja terhadap anggota keluarga yang bekerja (dependency ratio). Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi usahatani tidak saja ditentukanoleh kemampuan manajerial dari petani yang lebih banyak diukur 6 darikemampuan petani untuk memutuskan besaran input produksi yang akan digunakan dan faktor sosial ekonomi, akan tetapi juga ditentukan beragam faktor yang berada di luar kendalipetani seperti ketersediaan air, iklim/cuaca, tingkat kesuburan lahan, hargainput produksi, harga output, kelembagaan usahatani dan lainnya. Seluruhvariabel tersebut akan berkorelasi satu sama lain dan akan menentukan tingkatefisiensi yang akan dicapai (Haryani 2009). Petani belum mampu mengalokasikan secara optimal semua faktor produksi yang ada dalam proses produksi usahataninya dan petani belum mengetahui faktor-faktor produksi yang mana saja yang alokasi penggunaannya yang sudah optimum. Hal ini akan berpengaruh terhadap biaya produksi dan pendapatan petani. Berdasarkan uraian yang dijelaskan sebelumnya maka permasalahan dalam penelitian ini dengan demikian bisa disimpulkan sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi ubi jalar? 2. Bagaimana alokasi penggunaan input-input produksi?Apakah penggunaan input-input produksi sudah efisien secara teknis, alokatif dan ekonomi? 3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar? 4. Apakah usahatani ubi jalar masih menguntungkan petani? Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. 2. Menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. 3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. 4. Menganalisis pendapatan ushatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam merumuskan strategi kebijakan dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan produksi ubi jalar. Jika nilai efisiensi masih cukup rendah berarti ada peluang yang besar untuk meningkatkan dengan teknologi yang telah ada. Sebaliknya jika efisiensi yang di capai sudah sangat tinggi (mendekati frontier) berarti peluang untuk meningkatkan tidak ada sehingga perlu di cari alternatif lain. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menggunakan data cross section dilaksanakan pada salah satu wilayah sentra produksi ubi jalar di Provinsi Sumatera Barat yaitu Kecamatan 7 Ampek Angkek. Dalam penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor efisiensi dan penyebab ketidakefisienan petani dalam berusahatani. Kedua aspek ini akan memberikan rekomendasi yang salingmenunjang yakni mengidentifikasi input yang berpotensi meningkatkan produksidan mengidentifikasi faktor yang dapat mengurangi inefisiensi usahatani. Selain itu juga menganalisis efisiensi usahatani ubi jalar dari segi efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis. Data-data yang dikumpulkan mencakup karakteristik petani dan usahatani ubi jalar pada satu musim tanam yang terdiri dari luas lahan, penggunaan input (benih, pupuk organik,herbisida, tenaga kerja dan input yang lain), harga input, harga output dan permasalahan yang dihadapi petani. 8 2 TINJAUAN PUSTAKA Produksi dan Fungsi Produksi Produksi adalah proses mengkombinasikan dan mengkoordinasikan material dan kekuatan (input dan sumberdaya) untuk menghasilkan barang atau jasa (Beattie dan Taylor 1985).Fungsi produksi merupakan jumlah maksimum output yang diperoleh dari beberapa input yang diberikan (Aigner1976).Fungsi produksi memberikan output yang maksimum yang diperoleh dari sejumlah input tertentu. (Beattie dan Taylor 1985). Menurut Debertin (1986) fungsi produksi menerangkan hubungan teknis yang mentransformasikan input atau sumberdaya menjadi output atau komoditas. Secara matematik, model fungsi produksi sebagai berikut: Y = f (xi)…………………………………………………………………….…(2.1) Y adalah output, xi adalah input ke – i yang digunakan, i = 1,β,γ,…n. Diasumsikan output dihasilkan hanya dengan satu input, sehingga model menjadi: Y = f (x)………………………………………………………………………..(2.2) Y merupakan Total Physical Product (TPP). Average Physical Product (APP), dapat diperoleh sebagai berikut: ( ) …………………………………………………………......(2.3) APP = = Marginal Physical Productivity (MPP), dapat diperoleh sebagai berikut: ( ) ( ��) = = =f’x………………………………….(2.4) MPP= Elastisitas produksi menujukkan rasio antara persentase perubahan jumlah output dengan persentase perubahan input (Debertin, 1986). Formulasi elastisitas produksi dinyatakan sebagai berikut: ∆ ∆ EP=( ) / ( )...........................................................................................(2.5) Persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi sebagai berikut: ∆ EP=( ) x( )……………………………………………………...……..(2.6) ∆ ∆ 1 = MPP dan = ……………………………………………………..(2.7) ∆ �� Sehingga, dari persamaan diatas didapatkan elastisitas produksi sebagai berikut: �� EP = ……………………………………………………….……………..(2.8) �� Ada beberapa bentuk fungsi produksi yang sering digunakan yaitu fungsi produksi Cobb-Douglas dan fungsi Translog. Kedua bentuk fungsi produksi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bentuk umum persamaan fungsi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut: Y = 0 1 1 2 2 3 ….. ………………………………………………..(2.9) Fungsi produksi Cobb-Douglas ditransformasikan kedalam bentuk linear logaritma untuk bisa menaksir parameter-parameternya sehingga fungsi produksi tersebut menjadi: Ln Y = ln 0 + 1 1 + 2 2 + 3 3 + ….+ + ln …....(2.10) 9 Dimana: Y = jumlah produksi = intersep 0 = parameter variabel penduga 1, 2, 3, …., n X1, X2,…, Xn = faktor-faktor produksi e = bilangan natural (e= 2.72) u = galat Keuntungan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut (Heady dan Dillon 1961 dikutip dalam Tanjung 2003): 1. Memiliki parameter yang dapat diduga dengan metode kuadrat terkecil. Parameternya langsung menunjukkan elastisitas faktor produksi dari setiap faktor produksi. 2. Perhitungannya sederhana karena dapat dibuat menjadi bentuk linier dan dapat dilakukan dengan perangkat komputer lunak. 3. Jumlah elastisitas dari masing-masing faktor produksi yang diduga (∑ j) merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). Bila ∑ j<1 berarti proses produksi berada pada skala usaha yang menurun (decreasing return to scale). Bila ∑ j = 1, berarti proses produksi berlangsung pada skala usaha yang tetap (constan return to scale). Apabila ∑ j>1, berarti proses produksi berlangsung pada skala usaha yang meningkat (increasing return to scale). Bentuk lain yang biasa digunakan adalah fungsi produksi translog. Fungsi produksi translog tidak menetapkan batasan terhadap elastisitas input dan substitusi serta nilai pengembalian hasil (return to scale) seperti yang dikenakan pada fungsi produksi Cobb-Douglas. Akan tetapi bentuk fungsi produksi ini memiliki kelemahan dalam hal sulit dimodifikasi secara matematis dan dapat mengalami masalah multikolinear serta masalah derajat bebas (Coelli et al. 1998). (a) Fungsi produksi batas(b) Fungsi produksi rata-rata Sumber: King (1980) Gambar 2Fungsi produksi batas dengan rata-rata 10 Terdapat dua konsep fungsi produksi yaitu fungsi produksi batas (frontier production function)dan fungsi produksi rata-rata (average production function). Berdasarkan pengertian produksi batas pada gambar 2a dikatakan bahwa usahatani yang berproduksi disepanjang kurva berarti telah berproduksi secara efisien, karena untuk sejumlah kombinasi input tertentu dapat diperoleh output yang maksimum. Artinya pada kondisi tersebut penggunaan input sudah optimal. Fungsi produksi rata-rata memberikan gambaran kinerja rata-rata dari proses produksi pada teknologi yang ada.Produksi rata-rata pada gambar 2b, usahatani yang berproduksi disepanjang kurva belum tentu yang paling efisien karena kemungkinan usahatani yang mampu berproduksi di atas kurva atau lebih besar dari produksi rata-ratanya. Fungsi produksi batas menggambarkan kinerja terbaik dari petani pada tingkat teknologi yang ada. Selain itu metode fungsi produksi batas dapat mengukur efek-efek tak terduga dalam batas produksi. Konsep dan Pengukuran Efisiensi Menurut Lau dan Yotopaulus (1971) konsep efisiensi pada dasarnya mencakup tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif (harga) serta efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis mencerminkan kemampuan petani untuk memperoleh output maksimal dari sejumlah input tertentu. Seorang petani dikatakan efisien secara teknis dari petani lainnya jika petani tersebut dapat menghasilkan output lebih besar pada tingkat penggunaan teknologi produksi yang sama. Petani yang menggunakan input lebih kecil pada tingkat teknologi yang sama, juga dikatakan lebih efisien dari petani lain, jika menghasilkan output yang sama besarnya. Efisiensi alokatif mencerminkan kemampuan petani untuk menggunakan input dengan dosis/syarat yang optimal pada masing-masing tingkat harga input dan teknologi yang dimiliki sehingga produksi dan pendapatan yang diperoleh maksimal. Tingkat produksi dan pendapatan usahatani sangat ditentukan oleh efisiensi petani dalam mengalokasikan sumberdaya yang dimilikinya kedalam berbagai alternatif aktivitas produksi. Efisiensi ekonomi adalah kombinasi antara efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi ekonomi pada dasarnya terdiri dari dua komponen, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif atau efisiensi harga. Efisiensi teknis merujuk pada hubungan fisik antara output dan input. Satu perusahaan lebih efisien secara teknis dari pada perusahaan lainnya jika secara konsisten menghasilkan output yang banyak dari jumlah input tertentu. Efisiensi alokatif mengacu pada sejauh mana perusahaan memaksimalkan keuntungan untuk suatu tingkat efisiensi teknis (Lawrence dan Hone 1981). Efisiensi secara alokatif dapat tercapai jika suatu usahatani telah mencapai efisiensi teknis, dan efisiensi ekonomis terjadi ketika usahatani tersebut telah efisien secara teknis dan alokatif. Efisiensi teknis merujuk pada hubungan input dan output, bagaimana petani memilih kombinasi input yang digunakan melalui kemampuan manajerial petani, mempengaruhi tercapainya efisiensi teknis. Kemampuan manajerial petani merupakan karakteristik sosial ekonomi petani. Pada penelitian ini faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi inefisiensi teknis adalah sebagai berikut: 11 1. Umur Faktor umur diduga berpengaruh positif terhadap inefisiensi. Asumsi yang dibangun adalah semakin tua umur petani menyebabkan mereka semakin lemah dalam berusahatani dan kurang tertarik untuk menerima inovasi baru. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nahraeni(2012); Nurhapsa (2013); Haryani (2009); Kusnadi et al. (2011); Idiong (2007); Ohajianya et al. (2014); Khan dan Saeed (2011); Orewa dan Izekor (2012); Okaye (2008). 2. Tingkat Pendidikan Pendidikan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dilalui oleh petani maka semaki tinggi kemampuan mereka untuk menerima adopsi teknologi dan menggunakan input secara proporsional. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nahraeni(2012); Nurhapsa (2013); Adhiana (2005); Haryani (2009); Situmorang (2013); Ratih (2012); Kusnadi et al. (2011); Khan dan Saeed (2011); Al-Sharafat (2013); Idiong (2007); Khan dan Saeed (2011); Ohajianya et al. (2014); Orewa dan Izekor (2012); Okaye et al.(2008). 3. Pengalaman Bertani Pengalaman bertani diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Hasil penelitian yang sama ditemukan oleh Nahraeni(2012); Nurhapsa (2013); Adhiana (2005); Al-Sharafat (2013); Idiong (2007); Orewa dan Izekor (2012); Ohajianya et al.(2014); Okaye et al. (2008). Semakin berpengalaman petani semakin efisien dalam berproduksi terutama dalam penggunaan inputinput produksi. 4. Frekuensi Penyuluhan Frekuensi penyuluhan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Penelitian yang dilakukan olehSitumorang (2013); Khan dan Saeed (2011); Idiong (2007); Nahraeni(2012), hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi penyuluhan dapat menurunkan inefisiensikarena penyuluhan sangat penting dalam pelatihan dan membimbing petani. 5. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Penelitian yang dilakukan olehKilmanun (2012); Nurhapsa (2013); Orewa dan Izekor (2012); Okaye et al.(2008), hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga dapat meningkatkan efisiensi. 6. Partisipasi Petani Dalam Kelompok/organisasi Keikutsertaan petani dalam kelompok diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Penelitian yang dilakukan oleh Nahraeni(2012); Kilmanun (2012); Ratih (2012); Idiong (2007); Ohajianya et al. (2014); Okaye et al.(2008), hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tani dapat menurunkan inefisiensi. Partisipasi dalam kelompok tani akan meningkatkan efisiensi penggunaan inputnya dengan asumsi petani yang aktif dalam kelompok taninya akan dapat, (1) meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan non formal, (2) meningkatkan kemampuan manajerialnya, (3) meningkatkan aksesibilitas terhadap teknologi dan inovasi baru, dan (4) meningkatkan aksesibilitas terhadap bantuan kredit dan bantuan lainnya karena disalurkan melalui kelompok tani (Kilmanun 2012 dan Haryani 2009). Namun hasil penelitian lain menunjukkan bahwa partisipasi petani dalam kelompok atau 12 organisasi berpengaruh positif (Haryani 2009; Situmorang 2013; Kusnadi et al.2011). 7. Jenis Varietas Jenis varietas berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Penelitian yang dilakukan olehRatih (2012), hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas unggul dapat menurunkan inefisiensi teknis. 8. Status Kepemilikan Lahan Status kepemilikan lahan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi, hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh Haryani (2009); Ratih (2012); Kusnadi (2011). Secara umum konsep efisiensi didekati dari dua sisi yaitu pendekatan dari sisi penggunaan input dan pendekatan dari sisi output yang dihasilkan (Farrel 1957). Pendekatan dari sisi input membutuhkan informasi harga input dan sebuahkurva isoquant yang menunjukkan kombinasi input yang digunakan untukmenghasilkan output yang maksimal. Pendekatan dari sisi output yang dihasilkanadalah pendekatan yang digunakan untuk melihat seberapa besar jumlah outputsecara proporsional dapat ditingkatkan tanpa mengubah jumlah input yangdigunakan. Gambar 3 menunjukkan efisiensi teknis dan alokatif dari sisi input. Kurva isoquant frontier SS’ menunjukkan kombinasi input per output (x1/y dan x2/y) yang efisien secara teknis. Titik P dan Q merupakan dua kondisi suatu perusahan dalam berproduksi menggunakan kombinasi input dengan proporsi input x1/y dan x2/y yang sama. Sumber: Coelli et al. 1998 Gambar 3Efisiensi teknis dan alokatif dari sisi input Titik Q menunjukkan perusahaan yang berada pada kondisi efisien secara teknis karena beroperasi pada kurva isoquantfrontrier. Titik P yang berada diatas kurva isoquant menggambarkan perusahaan memproduksi sejumlah output yang sama dengan output yang berada di titik Q, tetapi input yang digunakan oleh perusahaan titik P lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan input oleh 13 perusahaan di titik Q. Titik Q menunjukkan perusahaan yang memproduksi sejumlah output yang sama dengan output di titik P tetapi dengan menggunakan input yang lebih sedikit. Jarak QP menunjukkan inefisiensi teknis dari perusahaan, yang merupakan jumlah dimana input dapat secara proporsional dikurangi tanpa menyebabkan penurunan output. Rasio 0Q/0P menunjukkan Efisiensi Teknis (TE) perusahaan yang menunjukkan proporsi dimana kombinasi input pada P diturunkan, rasio input per output (x1/y: x2/y) konstan, sedangkan output tetap. Jika harga input tersedia, efisiensi alokatif (AE) dapat ditentukan. Garisisocost (AA’) digambarkan menyinggung isoquant(SS’)di titik Q’ dan memotonggaris OP di titik R. Titik R menunjukkan rasio input-output optimal yangmeminimumkan biaya produksi pada tingkat output tertentu karena slope isoquantsama dengan slope garis isocost. Titik Q secara teknis efisien tetapi secara alokatifinefisien karena perusahaan di titik Q berproduksi pada tingkat biaya yang lebihtinggi dari pada di titik Q’. Jarak OR-OQ menunjukkan penurunan biaya produksijika produksi terjadi di titik Q’ (secara alokatif dan teknis efsien), sehinggaefisiensi alokatif (AE) untuk perusahaan yang beroperasi di titik P adalah rasioOR/OQ. Sehingga ukuran efisiensi teknis (Tehnical Efficiency atau TE) danefisiensi alokatif (Allocative Efficiency atau AE) berdasarkan gambar 3sebagaiberikut: TE = OQ/OP……………………………………………………….…………(2.11) AE= OR/OQ………………………………………………….………..……..(2.12) Maka : EE = TE x AE = 0R/0P…………………………………………………….....(2.13) Bentuk umum mengukur efisiensi teknis oleh observasi ke-i didefinisikan sebagai berikut (Coelli, 1998): TE = E(Y* U,Xi E(Y* U=0,Xi E exp(-Ui )/εi …………………..…………………….…….(2.14) Keterangan: nilai TEi antara 0 dan 1 atau 0 ≤ TEi ≤ 1. Fungsi produksi frontier merupakan jumlah output maksimum yang mungkin dicapai dari penggunaan input dalam suatu proses produksi. Fungsi produksi frontier merupakan fungsi produksi yang paling praktis atau menggambarkan produksi maksimal yang dapat diperoleh dari variasi kombinasi faktor produksi pada tingkat pengetahuan dan teknologi tertentu (Doll dan Orazem, 1984 dikutip dalam Kurniawan 2008). Fungsi produksi frontier diturunkan dengan menghubungkan titik-titik output maksimum untuk setiap tingkat penggunaan input. Jadi fungsi tersebut mewakili kombinasi input-output secara teknis paling efisien. Pengukuran fungsi produksi frontier secara umum dibedakan atas 4 cara yaitu: (1) deterministic nonparametric frontier, (2) deterministic parametric frontier, (3) deterministic statistical frontier, dan (4) stochastic statistical frontier (stochastic frontier). Model fungsi produksi deterministic frontier dinyatakan sebagai berikut: − � = ( , i = 1,2...n............................................................................(2.15) � �, ) Dimana ( � , ) adalah bentuk fungsi yang cocok Cobb-Douglas atau Translog), parameter β adalah parameter yang dicari nilai dugaannya dan ui adalah variabel acak yang tidak bernilai negatif yang diasosiaikan dengan faktor-faktor spesifik 14 perusahaan yang memberikan kontribusi terhadap tidak tercapainya efisiensi maksimal dari proses produksi (Battese, 1992). Model stochastic frontiermerupakan perluasan dari model asli deterministic untuk mengukur efek-efek yang tak terduga (stochastic effect) di dalam batas produksi. Model fungsi produksi stochastic frontier (Aigner et al. 1977) adalah sebagai berikut: Ln Yi = βj lnXji + (vi − ui )……………………………….……...(2.16) 0 + Fungsi produksi stochastic frontierdigunakan untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar dan menangkap inefisiensi teknis petani. Berdasarkan penelitian terdahulu faktor-faktor produksi yang digunakan dalam penelitian Ratih (2012) adalah luas lahan, jarak tanam, jumlah tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk N, pupuk P dan pestisida. Penelitian yang dilakukan oleh Defri (2011), faktor produksi yang mempengaruhi ubi jalar adalah luas lahan, jumlah bibit, tenaga kerja, unsur N dan unsur K. Nurmala (2011), menemukan bahwa faktor produksi yang mempengaruhi produksi ubi jalar adalah bibit, pupuk Urea, pupuk KCL, pupuk TSP, pupuk kandang dan tenaga kerja. Pada penelitian ini faktor-faktor produksi yang digunakan adalah: luas lahan, jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah pupuk anorganik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga, jumlah tenaga kerja luar keluarga dan jumlah pestisida. Stochastic frontier disebut juga dengan “composed error model” karena error term terdiri dari dua unsur : (εi = vi – ui), i = 1, β….,n. Variabel εi adalah variabel kesalahan yang terdiri dari dua komponen yaitu vi dan ui. Variabel acak vi berguna untuk menghitung ukuran kesalahan dan faktor-faktor yang tidak pasti seperti cuaca, pemogokan, serangan hama dan sebagainya di dalam nilai variabel output, bersama-sama dengan efek gabungan dari variabel input yang tidak terdefinisi di dalam fungsi produksi yang secara identik terdistribusi normal dengan rataan (μi) bernilai 0 dan variansnya konstan atau N(0, � 2 ), simetris serta bebas dari ui. Variabel ui merefleksikan komponen galat (error) sifatnya internal (dapat dikendalikan petani) dan lazimnya berkaitan dengan kapabilitas managerial petani dalam mengelola usahataninya. Keunggulan pendekatan frontier stokastik adalah dimasukkannya gangguan acak (disturbance term),kesalahan pengukuran dan kejutan eksogen yang berada di luar kontrol petani. Metode pendugaan yang tidak bias adalah menggunakan MaximumLikelihood(MLE) (Greene 1993 dikutip dalam Haryani 2009). Metode pendugaan MaximumLikelihood (MLE) pada model stochasticfrontierdilakukan melalui proses dua tahap. Tahap pertama menggunakan metode OLS untuk menduga parameter teknologi dari input-input produksi dan tahap kedua menggunakan metode MLE untuk menduga keseluruhan parameter faktor produksi, intersep dan varian dari kedua komponen kesalahan vi dan ui. Konsep Pendapatan Usahatani Usahatani didefinisikan sebagai organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaanya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat genologis, ploitis maupun 15 teritorial sebagai pengelolanya (Bachtiar, 1980 dikutip dalam Nuraeni dan Hidayat 1994). Menurut Fadholi (1989) potret usahatani merupakan: a. Adanya lahan, tanah usahatani yang diatasnya tumbuh tanaman. Ada tanah yang dibuat kolam, tambak, sawah, atau tegalan. Ada tanaman tahunan. b. Ada bangunan yang berupa rumah petani, gudang, kandang, lantai jemur dan lain-lain. c. Ada alat-alat pertanian seperti cangkul, parang, garpu, linggis, traktor, spayer, pompa air dan lain-lain. d. Ada pencurahan kerja untuk mengolah tanah, menanam, memelihara dan lain-lain. e. Ada kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya, mengawasi jalannya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk menghitung besarnya penerimaan petani dalam usahataninya yang kemudian dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan. Analisis pendapatan usahatani dapat digunakan untuk melihat keuntungan dari suatu usaha, sehingga dapat dinilai tingkat kelayakan usaha tersebut. Kriterian analisis pendapatan berprinsipkan bahwa efisiensi suatu usaha dipengaruhi oleh nilai input yang digunakan dalam output yang dihasilkan dalam proses produksi. Biaya dibedakan menjadi biaya eksplisit dan biaya implisit. Menurut Halcrow (1980) biaya eksplisit merupakan pembayaran untuk hal-hal seperti menyewa tenaga kerja, menyewa lahan dan biaya untuk membeli bahan atau input-input untuk produksi suatu komoditi pertanian. Biaya implisit merupakan biaya dari sumberdaya atau input produksi yang dimiliki sendiri yang tidak dikeluarkan atau dibayarkan. Input produksi yang termasuk dalam biaya implisit adalah biaya tenaga kerja sendiri atau dalam keluarga dan sewa lahan milik sendiri.Biaya implisit memasukkan pembayaran minimum atau disebut dengan keuntungan normal, dimana meruapakan pengembalian yang diperlukan untuk mengganti kerugian biaya pengelolaan karena ketidaktentuan atau risiko. Biaya eksplisit dan implisit harus diperhitungkan. Hal ini dikarenakan agar membuat lebih jelas dengan berfikir karena ada sumberdaya dan jasa seperti persediaan dan arus (flow). Jasa persediaan seperti pupuk dan bibit yang sepenuhnya terpakai dalam proses produksi dan harus diganti. Jika tidak digunakan saat sekarang maka dapat disimpan untuk saat mendatang sehingga hal ini disebut dengan biaya eksplisit. Jasa arus seperti tenaga kerja atau gudang akan digunakan seterusnya. Jika tidak digunakan saat sekarang produktivitas yang ada akan hilang dan tidak dapat kembali. Biaya dari sumberdaya arus (flow) adalah biaya riil/nyata karena sumberdaya atau persediaan dan arus (flow) digunakan untuk memproduksi suatu produk atau suatu komoditi. Baik biaya eksplisit dan implisit mencakup dalam biaya produksi perusahaan. Salah satu ukuran efisiensi pendapatan adalah penerimaan (R) untuk setiap biaya (C) yang dikeluarkan. Menurut Suratiyah (2009) Rasio ini menunjukkan perbandingan antara penerimaan yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi. Semakin besar nilai R/C menunjukkan semakin besar juga penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Kegiatan usahatani dikatakan layak jika nilai R/Cmenunjukkan angka lebih dari satu, artinya setiap penambahan biaya yang dikeluarkan akan 16 menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biayanya. Sebaliknya jika nilai R/C lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa tambahan biaya setiap rupiahnya menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil. Pendapatan usahatani sama dengan jumlah semua imbalan yang diterima petani sebagai pemilik faktor-faktor produksi yang dipergunakan dalam usahatani. Imbalan bagi faktor-faktor produksi tersebut diperhitungka

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (84 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis Time Series Produksi Dan Konsumsi Pangan Ubi Kayu Dan Ubi Jalar Di Sumatera Utara
5
75
131
Kearifan Lokal Petani Dalam Pengelolaan Sawah Di Nagari Kamang Hilir Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam Sumatera Barat
11
83
191
Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor Produksi Pada Usahatani Stroberi Di Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat Kabupaten Karo
6
61
83
Sistem Agribisnis Dan Kemitraan Petani Ubi Jalar (Studi kasus: Desa Purba Tongah. Kecamatan Purba. Kabupaten Simalungun. Sumatera Utara.)
1
30
114
Sistem Dan Analisis Usahatani Ubi Kayu (Studi kasus di Desa Bosar Galugur, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara.)
1
36
124
Teknologi Budidaya Dan Produksi Usahatani Ubi Jalar (Studi kasus di desa Purba Sipinggan, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun.)
0
33
81
Analisis Pengaruh Input Produksi Terhadap Produksi Usahatani Ubi Kayu Di Desa Sukasari Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai
1
50
76
Analisis Kelayakan Usahatani dan Pengolahan Ubi (Kasus : Kecamatan Dolok Masihul dan Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai)
9
129
140
Analisis Determinan Permintaan Kredit PNPM Mandiri di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam Sumatera Barat
0
32
138
Analisis Efisiensi Biaya Usahatani Sapi Perah Di Desa Sumberanyar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan.
0
4
64
Rancangan Strategic Architecture Subsektor Peternakan Dalam Pembangunan Ekonomi Kabupaten Agam Sumatera Barat
0
0
8
Analisis Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat
0
1
10
Analisis Risiko Usahatani Kedelai Di Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas Abstract - Analisis Risiko Usahatani Kedelai Di Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas
0
0
9
Kearifan Lokal Petani Dalam Pengelolaan Sawah Di Nagari Kamang Hilir Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam Sumatera Barat
0
0
12
Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor Produksi Pada Usahatani Stroberi Di Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat Kabupaten Karo
0
0
15
Show more