Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar Di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat

 2  16  84  2017-05-24 16:28:41 Laporkan dokumen yang dilanggar
ANALISIS EFISIENSI USAHATANI UBI JALAR DI KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT ANGELIA LEOVITA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DANSUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat adalah benar karya saya denganarahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, September 2015 Angelia Leovita NIM H453120041 RINGKASAN ANGELIA LEOVITA. Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat. Dibimbing oleh RATNA WINANDI dan HENY KUSWANTI SUWARSINAH. Kecamatan Ampek Angkek merupakan salah satu daerah sentra ubi jalar di Sumatera Barat. Kecamatan ini memiliki peluang untuk dapat meningkatkan produksi ubi jalar. Tetapi permasalahan yang terjadi adalah rendahnya produktivitas yang disebabkan oleh belum efisiennya dalan penggunaan input produksi dalam berusahatani. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar (2) menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubi jalar (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar dan (4) menganalisis pendapatan usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis efisiensi produksi dan analisisusahatani. Fungsi produksi yang digunakan adalahfungsi produksi Cobb Douglas dan diestimasi menggunakan Ordinary LeastSquares (OLS) dan Maximum Likelihood Estimation (MLE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang mempengaruhi produksi ubi jalar di kecamatan Ampek ditemukan signifikan berpengaruh secara statistik terhadap produksi ubi jalar pada α=1% adalah variabel jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga luar keluarga. Sedangkan jumlah pupuk anorganik signifikan berpengaruh secara statistik pada α=10%. Hasil analisis efisiensi menunjukkan bahwa petani secara teknis dan alokatif sudah efisien, namun secara ekonomi belum. Hal ini disebakan karena masih mahalnya harga input yang berlaku ditingkat petani. Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis adalah keanggotaan petani dalam kelompok tani berpengaruh nyata pada α=10%.Hasil analisis pendapatan usahatani menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar layak untuk diusahakan secara finansial karena nilai R/C senilai 1.8. Kata kunci: usahatani,ubi jalar,efisiensi, pendapatan, stochastic frontier SUMMARY ANGELIA LEOVITA.Efficiency Analysis of Sweet Potato Farming in the District Ampek Angkek Agam West Sumatra.Guided by RATNA WINANDI and HENY KUSWANTI SUWARSINAH. Subdistrict Ampek Angkek is one of the central areas of the sweet potato in West Sumatra. This district has the opportunity to be able to increase the production of sweet potatoes. But the problems that occur are low productivity caused by inefficient role in the use of production inputs to farm. The purpose of this study was (1) to identify the factors that influence the production of sweet potato (2) analyze the technical efficiency, allocative and economic farming sweet potatoes (3) identify the factors affecting technical inefficiency farming yams and (4) analyzing farm income sweet potato in the subdistrict Ampek Angkek district Agam West Sumatra Province. Data analysis was performed using production efficiency analysis and analysis of farming. Production function used is the Cobb Douglas production function and estimated using Ordinary Least Squares (OLS) and Maximum Likelihood Estimation. The results showed that the variables that affect the production of sweet potato in the district Ampek Angkek found a statistically significant effect on the production of sweet potatoes at α = 1% are number of seeds, the amount of organic fertilizer, the amount of labor in the family and the number of workers outside the family. While the amount of inorganic fertilizer statistically significant effect on α = 10%. Efficiency analysis results showed that farmers technical and allocative already efficient, but not economically. This has happened because still prevail high prices of inputs for farmers. Factors affecting technical inefficiency the membership of farmers in farmer groups significantly at α = 10%. Farm income analysis result indicate that the sweet potato farming financially feasible to be developed as long as the R/C 1.8. Keywords: farming, sweet potato, efficiency, revenue, stochastic frontier © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB ANALISIS EFISIENSI USAHATANI UBI JALAR DI KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT ANGELIA LEOVITA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis :Dr Alla Asmara, SPt MSi Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian : Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober - November 2014 ini adalahefisiensi, dengan mengambil judul Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat.Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelas Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak atas bantuan dan dukungan sehingga tesis ini dapat terselesaikan yaitu kepada: 1. Ibu Dr Ir Ratna Winandi, MSsebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Dr IrHeny Kuswanti Suwarsinah, MEc sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan, arahan, masukan, perhatian, waktu dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini. 2. Bapak Dr Alla Asmara, SPt MSi selaku dosen penguji luar komisi yang telah memberikan masukan dan pertanyaan yang sangat berguna untuk penyempurnaan tesis ini. 3. Bapak Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS selaku Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang telah memberikan masukan dan pertanyaan demi kesempurnaan tesis ini. 4. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atas segala ilmu, pengalaman dan waktu yang telah diberikan selama proses perkuliahan. 5. Pihak DIKTI yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan melalui Beasiswa Unggulan kepada penulis. 6. Penghargaan yang tinggi dan sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada keluarga yaitu orang tua penulis Ayahanda Nurman, SP dan Ibunda (Almh) Irawati M.Nur yang telah memberikan dukungan moril dan materil, perhatian, kasih sayang, kesabaran dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. 7. Kakak penulis, Irma Dewita, S.Kep/suami dan adik-adik, Rika Fitri Yeni, SSi, Raudhatul Syauvi dan Nafika Nurullita yang telah memberikan dukungan kepada penulis. 8. Teman-teman Ilmu Ekonomi Pertanian angkatan 2012 yaitu Jones Batara Manurung, Muhammad Emil Rahman, Budi Yoko, Afandri, Muhammad Nursan, Dewi Rohma Wati, Pebria Sari, Reny Hidayati, Lillah Wedelia, Rina Kusrina dan Utami Nurani Putri yang telah menjadi sahabat, saudara, motivator, bersama dalam suka dan duka selama menempuh pendidikan di IPB. 9. Teman-teman Ilmu Ekonomi Pertanian angkatan 2013 terima kasih atas waktu diskusi dan semangat yang diberikan kepada penulis. 10. Seluruh staff di Sekretariat Ilmu Ekonomi Pertanian (Mas Johan, Mas Widi, Mas Erwin, Pak Husein, Ibu Ina, Ibu kokom) yang telah membantu, memberi semangat dan dukungan kepada penulis. 11. Seluruh teman-teman penghuni Wisma Melatiterima kasih atas kebersamaan, semangat kepada penulis. 12. Pihak-pihak lain yang namanya tidak disebutkan namun telah banyak memberikan saran dan informasi selama penulisan tesis ini. Semoga segala bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Harapan penulis, semoga tesis ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya. Bogor, September 2015 Angelia Leovita DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian xiv xv xv 1 1 4 6 6 6 2 TINJAUAN PUSTAKA Produksi dan Fungsi Produksi Konsep dan Pengukuran Efisiensi Penelitian Terdahulu Tentang Efisiensi Usahatani Penelitian Terdahulu Tentang Pendapatan Usahatani Kerangka Pemikiran Hipotesis Penelitian 8 8 10 16 22 23 24 3 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Penarikan Contoh Jenis dan Sumber Data Metode Analisis Data Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar dan R/C Definisi Operasional 25 25 25 25 25 29 30 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Wilayah dan Keragaan Usahatani Ubi Jalar Tingkat Efisiensi Usahatani Ubi Jalar Pendapatan Usahatani Ubi Jalar 32 32 38 49 5 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran dan Implikasi Kebijakan 53 53 53 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP 55 59 68 DAFTAR TABEL 1 Ketersediaan dan kebutuhan ubi jalar Nasional tahun 2009-2012 2 Perkembangan Luas lahan, produksi dan produktivitas ubi jalar Indonesia tahun 2009-2014 3 Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di sepuluh Provinsi tahun 2014 4 Luas panen, produksi dan produktivitas komoditi ubi jalar di Sumatera Barat menurut kabupaten/kota tahun 2012 5 Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di kabupatan Agam tahun 2012 6 Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani 7 Jumlah penduduk di kecamatan Ampek Angkek kabupaten Agam 8 Penggunaan Lahan di Kecamatan Ampek Angkek 9 Keragaman umur petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 10 Sebaran pendidikan petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 11 Sebaran pengalaman petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 12 Partisipasi petani ubi jalar dalam kelompok tani di kecamatan Ampek Angkek 13 Tanggungan keluarga petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 14 Status kepemilikan lahan petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 15 Jenis varietas ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 16 Sebaran luas lahan petani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 17 Hasil dugaan model produksi ubi jalar Cobb-Douglass menggunakan metode OLS di kecamatan Ampek Angkek 18 Hasil dugaan model produksi Cobb-Douglas Stochastic Frontierusahatani ubi jalar menggunakan metode MLE di kecamatan Ampek Angkek 19 Sebaran nilai efisiensi teknis usahatani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek 20 Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis fungsi produksiStochasticFrontier di kecamatan Ampek Angkek 21 Sebaran nilai efisiensi alokatif usahatani ubi jalar di kecamatan AmpekAngkek 22 Sebaran nilai efisiensi ekonomi usahatani ubi jalar di kecamatan AmpekAngkek 23 Analisis pendapatan usahatani ubi jalardi kecamatan Ampek Angkek 24 Analisis imbalan tenaga kerja (Return to labor) usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat 1 2 2 3 4 20 32 33 33 34 34 35 35 36 36 37 39 40 43 44 48 48 50 52 DAFTAR GAMBAR 1 Produksi ubi jalar Sumatera Barat tahun 2009-2013 2 Fungsi produksi batas dengan rata-rata 3 Efisiensi teknis dan alokatif dari sisi input 4 Alur kerangka pemikiran 5 9 12 24 DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3 4 5 6 Kontribusi produk domestik bruto setiap lapangan usaha terhadap produk domestik bruto Indonesia tahun 2014 Luas, produksi dan produktivitas ubi jalar per nagari di kecamatan Ampek Angkek tahun 2013 Hasil uji heteroskedastisitas model produksi ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek pada masing-masing input Hasil pendugaan model produksi ubi jalar metode OLS di kecamatan Ampek Angkek Hasil pendugaan model produksi ubi jalar Cobb-Douglas stochasticfrontier metode MLE Sebaran nilai efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubi Jalar di kecamatan Ampek Angkek tiap responden 60 61 62 64 65 67 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian Indonesia. Peranan tersebut meliputi kontribusi produk dalam sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyedia kebutuhan pangan manusia, penyedia lapangan pekerjaan, pemasok bahan baku untuk berbagai industridan penghasil devisa negara melalui kegiatan ekspor. Kontribusi sektor pertanian terhadapProduk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2014 adalah sebesar 10.33 persen (PUSDATIN2015). Salah satu subsektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam pembangunan sektor pertanian adalah subsektor tanaman pangan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya kontribusi tanaman pangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2014 adalah sebesar 3.26 persen (Lampiran 1). Selain berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia subsektor tanaman pangan berperan serta dalam mewujudkan ketahanan pangan. Bahan pangan yang tidak tersedia dengan cukup dan harga yang tidak terjangkau oleh masyarakat akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat secara luas baik dari segi ekonomi maupun sosial (Hafsah 2004). Ubi jalar merupakan salah satu komoditas subsektor tanaman pangan yang berperan dalam pembangunan sektor pertanian dan perekonomian Indonesia. Ubi jalar merupakan salah satu tanaman penting karena dapat dijadikan sumber karbohidrat setelah padi (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2013). Selain sebagai bahan pangan juga digunakan sebagai kebutuhan pakan ternak serta dapat dikembangkan menjadi olahan produk ubi jalar siap santap seperti kremes, saos, selai, hasil substitusi dengan tepung seperti biskuit, kue, roti, bentuk olahan dengan buah-buahan seperti manisan dan asinan (Richana 2013).Berkembangnya teknologi pengolahan hasil ubi jalar menjadi aneka jenis makanan, kebutuhan akan ubi jalar meningkat sehingga produksi juga mengalami peningkatan. Berikut pada Tabel 1 menyajikan data ketersediaan dan kebutuhan ubi jalar Nasional tahun 2009-2012. Tabel 1Ketersediaan dan kebutuhan ubi jalar Nasional tahun 2009-2012 Tahun 2009 2010 2011 2012 Produksi (Ton) 2 057 913 2 051 046 2 196 033 2 483 460 Impor (Ton) 50 33 22 24 Ekspor (Ton) 7 185 7 083 6 916 9 649 Ketersediaan (Ton) 2 050 778 2 043 996 2 189 139 2 473 835 Kebutuhan (Ton) 2 051 000 2 044 000 2 189 000 2 428 824 Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2013 Produksi ubi jalar dari tahun 2009–2012 cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan produksi ubi jalar dari tahun 2011 ke tahun 2012 merupakan peningkatan yang paling tinggi yaitu sekitar 287 427 ton. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa produksi ubi jalar Indonesia sebagian kecil diekspor, sehingga 2 ketersediaan ubi jalar di Indonesia merupakan produksi ubi jalar dikurangi dengan jumlah yang di ekspor dan ditambah dengan jumlah yang diimpor. Tabel 2Perkembangan Luas lahan, produksi dan produktivitas ubi jalar Indonesia tahun 2009-2014 Tahun Luas lahan (ha) Produksi (ton) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 183 874.00 181 073.00 178 121.00 178 295.00 161 850.00 156 677.00 2 057 913.00 2 051 046.12 2 196 033.00 2 483 460.00 2 386 729.00 2 382 025.00 Produktivitas (ton/ha) 11.20 11.33 12.33 13.93 14.75 15.20 Sumber: BPS Indonesia 2015 Kebutuhan ubi jalar cenderung meningkat dari tahun 2009 – 2012, disebabkan karena penggunaan ubi jalar yang luas, terutama oleh industri pengolahan. Saat ini sudah banyak aneka jenis produk makanan yang berbahan baku ubi jalar sehingga kebutuhan ubi jalar semakin meningkat. Dengan melihat kebutuhan yang semakin meningkat maka perlu untuk meningkatkan produksi ubi jalar melalui peningkatan produktivitas dan perluasan lahan. Saat ini produktivitas ubi jalar Indonesia masih tergolong rendah yakni 13.12 ton per hektar seperti yang terlihat pada Tabel 2. Nilai produktivitas rata-rata ubi jalar indonesia rendah jika dibandingkan dengan produktivitas potensial yang dapat dicapai yaitu 30 ton per hektar (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2013). Tabel3Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di sepuluh Provinsi tahun 2012 Provinsi Jawa Barat Jawa Timur Papua Sumatera Utara Jawa Tengah NTT Sumatera Barat Sulawesi Selatan Jambi Bali Luas Panen (Ha) 26 531 14 264 33 071 14 595 8 000 18 604 4 372 6 774 3 076 45 619 Produksi (ton) 436 577 411 957 345 095 186 583 166 978 151 864 124 881 94 474 80 057 63 352 Produktivitas (ton/ha) 16.45 28.81 10.43 12.78 20.87 8.16 28.56 13.94 26.02 11.09 Sumber : Badan Pusat Statistik 2013 Di Indonesia terdapat sepuluh provinsi penghasil ubi jalar utama. Pada Tabel 3 dapat dilihat sepuluh provinsi penghasil ubi jalar. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki produksi ubi jalar tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Produksi ubi jalar di Jawa Barat adalah 471 737.00 ton. Provinsi Papua yang mempunyai luas panen 33 114 ha. Provinsi Sumatera Barat 3 merupakan salah satu provinsi penghasil ubi jalar yang menempati urutan ke enam diantara sepuluh provinsi lainnya. Produktivitas ubi jalar di Sumatera Barat adalah 28.56 ton per hektar. Luas panen ubi jalar di Sumatera Barat lebih kecil di bandingkan dengan provinsi NTT, Bali dan Sulawesi Selatan, namun dengan produktivitas yang tinggi produksi ubi jalar di Sumatera Barat lebih tinggi dibandingkan dengan NTT, Bali dan Sulawesi Selatan yang mempunyai luas panen lebih luas. Meskipun Sumatera Barat memiliki produktivitas yang tinggi namun produktivitas pada daerah sentra ubi jalar di Sumatera Barat tergolong rendah. Tabel 4Luas panen, produksi dan produktivitas komoditi ubi jalar di Sumatera Barat menurut kabupaten/kota tahun 2012 Kabupaten/Kota Kabupaten Kep. Mentawai Pesisir Selatan Solok Sijunjung Tanah Datar Padang Pariaman Agam 50 Kota Pasaman Solok Selatan Dharmasraya Pasaman Barat Kota Padang Solok Sawahlunto Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh Pariaman Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/ha) 135 108 938 9 1 131 15 1 226 282 77 155 20 126 2 550 2 068 27 041 168 38 316 286 34 136 8 649 1 520 2 852 532 3 304 18.88 19.14 28.82 18.66 33.87 19.06 27.84 30.67 19.74 18.40 26.60 26.22 23 20 44 49 5 - 456 377 845 1 691 90 - 19.82 18.85 19.20 34.51 18.00 - Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat 2013 Produksi ubi jalar di Sumatera Barat, tersebar di dua belas kabupaten yaitu Kep. Mentawai, Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, 50 Kota, Pasaman, Solok Selatan, Dharmasraya dan Pasaman Barat serta di tujuh kota yaitu Padang, Solok, Sawahlunto, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Pariaman. Tabel 4menunjukkan bahwa Kabupaten Agam merupakan kabupaten yang memiliki luas lahan sebesar 1 226 hektar dan produksi sebesar 34 136 ton. Dilihat dari sisi produktivitas, produktivitas usahatani ubi jalar di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2012 sebesar 28.56 ton per hektar lebih tinggi di bandingkan dengan produktivitas ubi jalar di Kabupaten Agam sebesar 4 27.84 ton per hektar dan produktivitas ubi jalar Indonesia pada tahun 2012 yaitu 13.93 ton per hektar. Kabupaten Agam terdiri dari enam belas kecamatan. Tidak semua kecamatan memproduksi ubi jalar, empat kecamatan diantarannya tidak mengusahatanikan ubi jalar, sehingga produksi ubi jalar tersebar di dua belas kecamatan seperti terdapat pada Tabel 5. Kecamatan Ampek Angkek merupakan daerah sentra ubi jalar paling luas di kabupaten Agam. Luas panen ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek adalah 378 ha dan produksi adalah 6 134.94 ton. Meskipun demikian produktivitas ubi jalar di Ampek Angkek pada tahun 2012 adalah 16.23 ton per hektar, rendah jika dibandingkan dengan kecamatan lain dan rendah jika dibandingkan dengan produktivitas ubi jalar di Kabupaten Agam dan Sumatera Barat. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecamatan Ampek Angkek memiliki potensi dan peluang sebagai daerah pengembangan ubi jalar melalui peningkatan produksi dengan cara memperbaiki teknik budidaya serta mengalokasikan input produksi dan sumberdaya lainya secara optimal. Tabel 5Luas panen, produksi dan produktivitas ubi jalar di kabupatan Agam tahun 2012 Kecamatan Tanjung Mutiara Lubuk Basung Ampek Nagari Tanjung Raya Matur IV Koto Malalak Banuhampu Sungai Pua Ampek Angkek Canduang Baso Tilatang Kamang Kamang Magek Palembayan Palupuh Luas Panen (ha) 11.00 34.00 34.00 20.00 24.00 378.00 257.00 241.00 315.00 37.00 15.00 - Produksi (ton) 178.97 552.16 551.48 324.20 389.28 6 134.94 4 183.96 3 851.89 5 125.05 601.62 243.60 - Produktivitas (ton/ha) 16.27 16.24 16.22 16.21 16.22 16.23 16.28 16.29 16.27 16.26 16.24 - Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat 2013 Perumusan Masalah Ubi jalar di Sumatera Barat merupakan tanaman lokal yang saat ini produksinya meningkat. Gambar 1 menyajikan data produksi ubi jalar di Sumatera Barat. Produksi ubi jalar secara umum mengalami peningkatan dalam kurun waktu 2009-2013. Peningkatan produksi ubi jalar tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 26 826 ton atau 34.62 persen di bandingkan tahun sebelumnya. Produksi ubi jalar menurun pada tahun 2011 sebesar 6 182 ton atau 5.9 persen dibandingkan dengan tahun 2010, pada tahun 2012 dan tahun 2013 produksi ubi 5 Produksi (ton) jalar meningkat. Peningkatan produksi ubi jalar terjadi karena berkembangnya penerapan teknologi produksi, perbaikan dalam budidaya dan manajemen usahatani yang semakin baik. 160.000 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0 2008 124.881 134.453 104.302 98.120 77.476 2009 2010 2011 Tahun 2012 2013 2014 Sumber: Badan Pusat Statistik 2014 (diolah) Gambar 1Produksi ubi jalar Sumatera Barat tahun 2009-2013 Kecamatan Ampek Angkek merupakan kecamatan sentra produksi ubi jalar di Sumatera Barat. Produktivitas ubi jalar pada tahun 2012 di kecamatan Ampek Angkek adalah 16.23 ton per hektar. Produktivitas ini masih rendah jika di bandingkan dengan produktivitas di Kabupaten Agam yang mencapai 27.84 ton per hektar dan produktivitas Sumatera Barat 28.56 ton per hektar. Permasalahan rendahnya produktivitas ubi jalar diduga petani belum efisien dalam menggunakan input produksi. Petani dalam mengusahakan usahataninya masih terbatas dalam penggunaan lahan, bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja. Produksi suatu komoditas dipengaruhi oleh efisiensi tidaknya dalam alokasi penggunaan input, ada tidaknya masalah inefisiensi teknis yang berkaitan dengan kapabilitas manajerial petani, dan faktor risiko produksi dalam usahatani. Tingkat alokasi penggunaan input produksi oleh petani akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang dihasilkan, tingkat produktivitas, dan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat efisiensi yang dicapai petani (Kumbhakar 2002 dikutip dalam Saptana 2011). Selain dipengaruhi oleh kombinasi penggunaan input-input produksi maka tingkat efisiensi usahatani diduga dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu (Haryani 2009; Nahraeni 2012 dan Ohajianya et al.2014) beberapa karakteristik sosial ekonomi yang menjadi faktor-faktor inefisiensi teknis umur, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, ukuran rumah tangga, akses kredit, jenis kelamin, anggota organisasi, frekuensi penyuluhan, kepemilikan, sistem penanaman, status lahan dan rasio anggota keluarga yang tidak bekerja terhadap anggota keluarga yang bekerja (dependency ratio). Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi usahatani tidak saja ditentukanoleh kemampuan manajerial dari petani yang lebih banyak diukur 6 darikemampuan petani untuk memutuskan besaran input produksi yang akan digunakan dan faktor sosial ekonomi, akan tetapi juga ditentukan beragam faktor yang berada di luar kendalipetani seperti ketersediaan air, iklim/cuaca, tingkat kesuburan lahan, hargainput produksi, harga output, kelembagaan usahatani dan lainnya. Seluruhvariabel tersebut akan berkorelasi satu sama lain dan akan menentukan tingkatefisiensi yang akan dicapai (Haryani 2009). Petani belum mampu mengalokasikan secara optimal semua faktor produksi yang ada dalam proses produksi usahataninya dan petani belum mengetahui faktor-faktor produksi yang mana saja yang alokasi penggunaannya yang sudah optimum. Hal ini akan berpengaruh terhadap biaya produksi dan pendapatan petani. Berdasarkan uraian yang dijelaskan sebelumnya maka permasalahan dalam penelitian ini dengan demikian bisa disimpulkan sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi ubi jalar? 2. Bagaimana alokasi penggunaan input-input produksi?Apakah penggunaan input-input produksi sudah efisien secara teknis, alokatif dan ekonomi? 3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar? 4. Apakah usahatani ubi jalar masih menguntungkan petani? Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. 2. Menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. 3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. 4. Menganalisis pendapatan ushatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam merumuskan strategi kebijakan dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan produksi ubi jalar. Jika nilai efisiensi masih cukup rendah berarti ada peluang yang besar untuk meningkatkan dengan teknologi yang telah ada. Sebaliknya jika efisiensi yang di capai sudah sangat tinggi (mendekati frontier) berarti peluang untuk meningkatkan tidak ada sehingga perlu di cari alternatif lain. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menggunakan data cross section dilaksanakan pada salah satu wilayah sentra produksi ubi jalar di Provinsi Sumatera Barat yaitu Kecamatan 7 Ampek Angkek. Dalam penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor efisiensi dan penyebab ketidakefisienan petani dalam berusahatani. Kedua aspek ini akan memberikan rekomendasi yang salingmenunjang yakni mengidentifikasi input yang berpotensi meningkatkan produksidan mengidentifikasi faktor yang dapat mengurangi inefisiensi usahatani. Selain itu juga menganalisis efisiensi usahatani ubi jalar dari segi efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis. Data-data yang dikumpulkan mencakup karakteristik petani dan usahatani ubi jalar pada satu musim tanam yang terdiri dari luas lahan, penggunaan input (benih, pupuk organik,herbisida, tenaga kerja dan input yang lain), harga input, harga output dan permasalahan yang dihadapi petani. 8 2 TINJAUAN PUSTAKA Produksi dan Fungsi Produksi Produksi adalah proses mengkombinasikan dan mengkoordinasikan material dan kekuatan (input dan sumberdaya) untuk menghasilkan barang atau jasa (Beattie dan Taylor 1985).Fungsi produksi merupakan jumlah maksimum output yang diperoleh dari beberapa input yang diberikan (Aigner1976).Fungsi produksi memberikan output yang maksimum yang diperoleh dari sejumlah input tertentu. (Beattie dan Taylor 1985). Menurut Debertin (1986) fungsi produksi menerangkan hubungan teknis yang mentransformasikan input atau sumberdaya menjadi output atau komoditas. Secara matematik, model fungsi produksi sebagai berikut: Y = f (xi)…………………………………………………………………….…(2.1) Y adalah output, xi adalah input ke – i yang digunakan, i = 1,β,γ,…n. Diasumsikan output dihasilkan hanya dengan satu input, sehingga model menjadi: Y = f (x)………………………………………………………………………..(2.2) Y merupakan Total Physical Product (TPP). Average Physical Product (APP), dapat diperoleh sebagai berikut: ( ) …………………………………………………………......(2.3) APP = = Marginal Physical Productivity (MPP), dapat diperoleh sebagai berikut: ( ) ( ��) = = =f’x………………………………….(2.4) MPP= Elastisitas produksi menujukkan rasio antara persentase perubahan jumlah output dengan persentase perubahan input (Debertin, 1986). Formulasi elastisitas produksi dinyatakan sebagai berikut: ∆ ∆ EP=( ) / ( )...........................................................................................(2.5) Persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi sebagai berikut: ∆ EP=( ) x( )……………………………………………………...……..(2.6) ∆ ∆ 1 = MPP dan = ……………………………………………………..(2.7) ∆ �� Sehingga, dari persamaan diatas didapatkan elastisitas produksi sebagai berikut: �� EP = ……………………………………………………….……………..(2.8) �� Ada beberapa bentuk fungsi produksi yang sering digunakan yaitu fungsi produksi Cobb-Douglas dan fungsi Translog. Kedua bentuk fungsi produksi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bentuk umum persamaan fungsi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut: Y = 0 1 1 2 2 3 ….. ………………………………………………..(2.9) Fungsi produksi Cobb-Douglas ditransformasikan kedalam bentuk linear logaritma untuk bisa menaksir parameter-parameternya sehingga fungsi produksi tersebut menjadi: Ln Y = ln 0 + 1 1 + 2 2 + 3 3 + ….+ + ln …....(2.10) 9 Dimana: Y = jumlah produksi = intersep 0 = parameter variabel penduga 1, 2, 3, …., n X1, X2,…, Xn = faktor-faktor produksi e = bilangan natural (e= 2.72) u = galat Keuntungan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut (Heady dan Dillon 1961 dikutip dalam Tanjung 2003): 1. Memiliki parameter yang dapat diduga dengan metode kuadrat terkecil. Parameternya langsung menunjukkan elastisitas faktor produksi dari setiap faktor produksi. 2. Perhitungannya sederhana karena dapat dibuat menjadi bentuk linier dan dapat dilakukan dengan perangkat komputer lunak. 3. Jumlah elastisitas dari masing-masing faktor produksi yang diduga (∑ j) merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). Bila ∑ j<1 berarti proses produksi berada pada skala usaha yang menurun (decreasing return to scale). Bila ∑ j = 1, berarti proses produksi berlangsung pada skala usaha yang tetap (constan return to scale). Apabila ∑ j>1, berarti proses produksi berlangsung pada skala usaha yang meningkat (increasing return to scale). Bentuk lain yang biasa digunakan adalah fungsi produksi translog. Fungsi produksi translog tidak menetapkan batasan terhadap elastisitas input dan substitusi serta nilai pengembalian hasil (return to scale) seperti yang dikenakan pada fungsi produksi Cobb-Douglas. Akan tetapi bentuk fungsi produksi ini memiliki kelemahan dalam hal sulit dimodifikasi secara matematis dan dapat mengalami masalah multikolinear serta masalah derajat bebas (Coelli et al. 1998). (a) Fungsi produksi batas(b) Fungsi produksi rata-rata Sumber: King (1980) Gambar 2Fungsi produksi batas dengan rata-rata 10 Terdapat dua konsep fungsi produksi yaitu fungsi produksi batas (frontier production function)dan fungsi produksi rata-rata (average production function). Berdasarkan pengertian produksi batas pada gambar 2a dikatakan bahwa usahatani yang berproduksi disepanjang kurva berarti telah berproduksi secara efisien, karena untuk sejumlah kombinasi input tertentu dapat diperoleh output yang maksimum. Artinya pada kondisi tersebut penggunaan input sudah optimal. Fungsi produksi rata-rata memberikan gambaran kinerja rata-rata dari proses produksi pada teknologi yang ada.Produksi rata-rata pada gambar 2b, usahatani yang berproduksi disepanjang kurva belum tentu yang paling efisien karena kemungkinan usahatani yang mampu berproduksi di atas kurva atau lebih besar dari produksi rata-ratanya. Fungsi produksi batas menggambarkan kinerja terbaik dari petani pada tingkat teknologi yang ada. Selain itu metode fungsi produksi batas dapat mengukur efek-efek tak terduga dalam batas produksi. Konsep dan Pengukuran Efisiensi Menurut Lau dan Yotopaulus (1971) konsep efisiensi pada dasarnya mencakup tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif (harga) serta efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis mencerminkan kemampuan petani untuk memperoleh output maksimal dari sejumlah input tertentu. Seorang petani dikatakan efisien secara teknis dari petani lainnya jika petani tersebut dapat menghasilkan output lebih besar pada tingkat penggunaan teknologi produksi yang sama. Petani yang menggunakan input lebih kecil pada tingkat teknologi yang sama, juga dikatakan lebih efisien dari petani lain, jika menghasilkan output yang sama besarnya. Efisiensi alokatif mencerminkan kemampuan petani untuk menggunakan input dengan dosis/syarat yang optimal pada masing-masing tingkat harga input dan teknologi yang dimiliki sehingga produksi dan pendapatan yang diperoleh maksimal. Tingkat produksi dan pendapatan usahatani sangat ditentukan oleh efisiensi petani dalam mengalokasikan sumberdaya yang dimilikinya kedalam berbagai alternatif aktivitas produksi. Efisiensi ekonomi adalah kombinasi antara efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi ekonomi pada dasarnya terdiri dari dua komponen, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif atau efisiensi harga. Efisiensi teknis merujuk pada hubungan fisik antara output dan input. Satu perusahaan lebih efisien secara teknis dari pada perusahaan lainnya jika secara konsisten menghasilkan output yang banyak dari jumlah input tertentu. Efisiensi alokatif mengacu pada sejauh mana perusahaan memaksimalkan keuntungan untuk suatu tingkat efisiensi teknis (Lawrence dan Hone 1981). Efisiensi secara alokatif dapat tercapai jika suatu usahatani telah mencapai efisiensi teknis, dan efisiensi ekonomis terjadi ketika usahatani tersebut telah efisien secara teknis dan alokatif. Efisiensi teknis merujuk pada hubungan input dan output, bagaimana petani memilih kombinasi input yang digunakan melalui kemampuan manajerial petani, mempengaruhi tercapainya efisiensi teknis. Kemampuan manajerial petani merupakan karakteristik sosial ekonomi petani. Pada penelitian ini faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi inefisiensi teknis adalah sebagai berikut: 11 1. Umur Faktor umur diduga berpengaruh positif terhadap inefisiensi. Asumsi yang dibangun adalah semakin tua umur petani menyebabkan mereka semakin lemah dalam berusahatani dan kurang tertarik untuk menerima inovasi baru. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nahraeni(2012); Nurhapsa (2013); Haryani (2009); Kusnadi et al. (2011); Idiong (2007); Ohajianya et al. (2014); Khan dan Saeed (2011); Orewa dan Izekor (2012); Okaye (2008). 2. Tingkat Pendidikan Pendidikan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dilalui oleh petani maka semaki tinggi kemampuan mereka untuk menerima adopsi teknologi dan menggunakan input secara proporsional. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nahraeni(2012); Nurhapsa (2013); Adhiana (2005); Haryani (2009); Situmorang (2013); Ratih (2012); Kusnadi et al. (2011); Khan dan Saeed (2011); Al-Sharafat (2013); Idiong (2007); Khan dan Saeed (2011); Ohajianya et al. (2014); Orewa dan Izekor (2012); Okaye et al.(2008). 3. Pengalaman Bertani Pengalaman bertani diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Hasil penelitian yang sama ditemukan oleh Nahraeni(2012); Nurhapsa (2013); Adhiana (2005); Al-Sharafat (2013); Idiong (2007); Orewa dan Izekor (2012); Ohajianya et al.(2014); Okaye et al. (2008). Semakin berpengalaman petani semakin efisien dalam berproduksi terutama dalam penggunaan inputinput produksi. 4. Frekuensi Penyuluhan Frekuensi penyuluhan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Penelitian yang dilakukan olehSitumorang (2013); Khan dan Saeed (2011); Idiong (2007); Nahraeni(2012), hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi penyuluhan dapat menurunkan inefisiensikarena penyuluhan sangat penting dalam pelatihan dan membimbing petani. 5. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Penelitian yang dilakukan olehKilmanun (2012); Nurhapsa (2013); Orewa dan Izekor (2012); Okaye et al.(2008), hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga dapat meningkatkan efisiensi. 6. Partisipasi Petani Dalam Kelompok/organisasi Keikutsertaan petani dalam kelompok diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Penelitian yang dilakukan oleh Nahraeni(2012); Kilmanun (2012); Ratih (2012); Idiong (2007); Ohajianya et al. (2014); Okaye et al.(2008), hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tani dapat menurunkan inefisiensi. Partisipasi dalam kelompok tani akan meningkatkan efisiensi penggunaan inputnya dengan asumsi petani yang aktif dalam kelompok taninya akan dapat, (1) meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan non formal, (2) meningkatkan kemampuan manajerialnya, (3) meningkatkan aksesibilitas terhadap teknologi dan inovasi baru, dan (4) meningkatkan aksesibilitas terhadap bantuan kredit dan bantuan lainnya karena disalurkan melalui kelompok tani (Kilmanun 2012 dan Haryani 2009). Namun hasil penelitian lain menunjukkan bahwa partisipasi petani dalam kelompok atau 12 organisasi berpengaruh positif (Haryani 2009; Situmorang 2013; Kusnadi et al.2011). 7. Jenis Varietas Jenis varietas berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Penelitian yang dilakukan olehRatih (2012), hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas unggul dapat menurunkan inefisiensi teknis. 8. Status Kepemilikan Lahan Status kepemilikan lahan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi, hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh Haryani (2009); Ratih (2012); Kusnadi (2011). Secara umum konsep efisiensi didekati dari dua sisi yaitu pendekatan dari sisi penggunaan input dan pendekatan dari sisi output yang dihasilkan (Farrel 1957). Pendekatan dari sisi input membutuhkan informasi harga input dan sebuahkurva isoquant yang menunjukkan kombinasi input yang digunakan untukmenghasilkan output yang maksimal. Pendekatan dari sisi output yang dihasilkanadalah pendekatan yang digunakan untuk melihat seberapa besar jumlah outputsecara proporsional dapat ditingkatkan tanpa mengubah jumlah input yangdigunakan. Gambar 3 menunjukkan efisiensi teknis dan alokatif dari sisi input. Kurva isoquant frontier SS’ menunjukkan kombinasi input per output (x1/y dan x2/y) yang efisien secara teknis. Titik P dan Q merupakan dua kondisi suatu perusahan dalam berproduksi menggunakan kombinasi input dengan proporsi input x1/y dan x2/y yang sama. Sumber: Coelli et al. 1998 Gambar 3Efisiensi teknis dan alokatif dari sisi input Titik Q menunjukkan perusahaan yang berada pada kondisi efisien secara teknis karena beroperasi pada kurva isoquantfrontrier. Titik P yang berada diatas kurva isoquant menggambarkan perusahaan memproduksi sejumlah output yang sama dengan output yang berada di titik Q, tetapi input yang digunakan oleh perusahaan titik P lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan input oleh 13 perusahaan di titik Q. Titik Q menunjukkan perusahaan yang memproduksi sejumlah output yang sama dengan output di titik P tetapi dengan menggunakan input yang lebih sedikit. Jarak QP menunjukkan inefisiensi teknis dari perusahaan, yang merupakan jumlah dimana input dapat secara proporsional dikurangi tanpa menyebabkan penurunan output. Rasio 0Q/0P menunjukkan Efisiensi Teknis (TE) perusahaan yang menunjukkan proporsi dimana kombinasi input pada P diturunkan, rasio input per output (x1/y: x2/y) konstan, sedangkan output tetap. Jika harga input tersedia, efisiensi alokatif (AE) dapat ditentukan. Garisisocost (AA’) digambarkan menyinggung isoquant(SS’)di titik Q’ dan memotonggaris OP di titik R. Titik R menunjukkan rasio input-output optimal yangmeminimumkan biaya produksi pada tingkat output tertentu karena slope isoquantsama dengan slope garis isocost. Titik Q secara teknis efisien tetapi secara alokatifinefisien karena perusahaan di titik Q berproduksi pada tingkat biaya yang lebihtinggi dari pada di titik Q’. Jarak OR-OQ menunjukkan penurunan biaya produksijika produksi terjadi di titik Q’ (secara alokatif dan teknis efsien), sehinggaefisiensi alokatif (AE) untuk perusahaan yang beroperasi di titik P adalah rasioOR/OQ. Sehingga ukuran efisiensi teknis (Tehnical Efficiency atau TE) danefisiensi alokatif (Allocative Efficiency atau AE) berdasarkan gambar 3sebagaiberikut: TE = OQ/OP……………………………………………………….…………(2.11) AE= OR/OQ………………………………………………….………..……..(2.12) Maka : EE = TE x AE = 0R/0P…………………………………………………….....(2.13) Bentuk umum mengukur efisiensi teknis oleh observasi ke-i didefinisikan sebagai berikut (Coelli, 1998): TE = E(Y* U,Xi E(Y* U=0,Xi E exp(-Ui )/εi …………………..…………………….…….(2.14) Keterangan: nilai TEi antara 0 dan 1 atau 0 ≤ TEi ≤ 1. Fungsi produksi frontier merupakan jumlah output maksimum yang mungkin dicapai dari penggunaan input dalam suatu proses produksi. Fungsi produksi frontier merupakan fungsi produksi yang paling praktis atau menggambarkan produksi maksimal yang dapat diperoleh dari variasi kombinasi faktor produksi pada tingkat pengetahuan dan teknologi tertentu (Doll dan Orazem, 1984 dikutip dalam Kurniawan 2008). Fungsi produksi frontier diturunkan dengan menghubungkan titik-titik output maksimum untuk setiap tingkat penggunaan input. Jadi fungsi tersebut mewakili kombinasi input-output secara teknis paling efisien. Pengukuran fungsi produksi frontier secara umum dibedakan atas 4 cara yaitu: (1) deterministic nonparametric frontier, (2) deterministic parametric frontier, (3) deterministic statistical frontier, dan (4) stochastic statistical frontier (stochastic frontier). Model fungsi produksi deterministic frontier dinyatakan sebagai berikut: − � = ( , i = 1,2...n............................................................................(2.15) � �, ) Dimana ( � , ) adalah bentuk fungsi yang cocok Cobb-Douglas atau Translog), parameter β adalah parameter yang dicari nilai dugaannya dan ui adalah variabel acak yang tidak bernilai negatif yang diasosiaikan dengan faktor-faktor spesifik 14 perusahaan yang memberikan kontribusi terhadap tidak tercapainya efisiensi maksimal dari proses produksi (Battese, 1992). Model stochastic frontiermerupakan perluasan dari model asli deterministic untuk mengukur efek-efek yang tak terduga (stochastic effect) di dalam batas produksi. Model fungsi produksi stochastic frontier (Aigner et al. 1977) adalah sebagai berikut: Ln Yi = βj lnXji + (vi − ui )……………………………….……...(2.16) 0 + Fungsi produksi stochastic frontierdigunakan untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar dan menangkap inefisiensi teknis petani. Berdasarkan penelitian terdahulu faktor-faktor produksi yang digunakan dalam penelitian Ratih (2012) adalah luas lahan, jarak tanam, jumlah tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk N, pupuk P dan pestisida. Penelitian yang dilakukan oleh Defri (2011), faktor produksi yang mempengaruhi ubi jalar adalah luas lahan, jumlah bibit, tenaga kerja, unsur N dan unsur K. Nurmala (2011), menemukan bahwa faktor produksi yang mempengaruhi produksi ubi jalar adalah bibit, pupuk Urea, pupuk KCL, pupuk TSP, pupuk kandang dan tenaga kerja. Pada penelitian ini faktor-faktor produksi yang digunakan adalah: luas lahan, jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah pupuk anorganik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga, jumlah tenaga kerja luar keluarga dan jumlah pestisida. Stochastic frontier disebut juga dengan “composed error model” karena error term terdiri dari dua unsur : (εi = vi – ui), i = 1, β….,n. Variabel εi adalah variabel kesalahan yang terdiri dari dua komponen yaitu vi dan ui. Variabel acak vi berguna untuk menghitung ukuran kesalahan dan faktor-faktor yang tidak pasti seperti cuaca, pemogokan, serangan hama dan sebagainya di dalam nilai variabel output, bersama-sama dengan efek gabungan dari variabel input yang tidak terdefinisi di dalam fungsi produksi yang secara identik terdistribusi normal dengan rataan (μi) bernilai 0 dan variansnya konstan atau N(0, � 2 ), simetris serta bebas dari ui. Variabel ui merefleksikan komponen galat (error) sifatnya internal (dapat dikendalikan petani) dan lazimnya berkaitan dengan kapabilitas managerial petani dalam mengelola usahataninya. Keunggulan pendekatan frontier stokastik adalah dimasukkannya gangguan acak (disturbance term),kesalahan pengukuran dan kejutan eksogen yang berada di luar kontrol petani. Metode pendugaan yang tidak bias adalah menggunakan MaximumLikelihood(MLE) (Greene 1993 dikutip dalam Haryani 2009). Metode pendugaan MaximumLikelihood (MLE) pada model stochasticfrontierdilakukan melalui proses dua tahap. Tahap pertama menggunakan metode OLS untuk menduga parameter teknologi dari input-input produksi dan tahap kedua menggunakan metode MLE untuk menduga keseluruhan parameter faktor produksi, intersep dan varian dari kedua komponen kesalahan vi dan ui. Konsep Pendapatan Usahatani Usahatani didefinisikan sebagai organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaanya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat genologis, ploitis maupun 15 teritorial sebagai pengelolanya (Bachtiar, 1980 dikutip dalam Nuraeni dan Hidayat 1994). Menurut Fadholi (1989) potret usahatani merupakan: a. Adanya lahan, tanah usahatani yang diatasnya tumbuh tanaman. Ada tanah yang dibuat kolam, tambak, sawah, atau tegalan. Ada tanaman tahunan. b. Ada bangunan yang berupa rumah petani, gudang, kandang, lantai jemur dan lain-lain. c. Ada alat-alat pertanian seperti cangkul, parang, garpu, linggis, traktor, spayer, pompa air dan lain-lain. d. Ada pencurahan kerja untuk mengolah tanah, menanam, memelihara dan lain-lain. e. Ada kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya, mengawasi jalannya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk menghitung besarnya penerimaan petani dalam usahataninya yang kemudian dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan. Analisis pendapatan usahatani dapat digunakan untuk melihat keuntungan dari suatu usaha, sehingga dapat dinilai tingkat kelayakan usaha tersebut. Kriterian analisis pendapatan berprinsipkan bahwa efisiensi suatu usaha dipengaruhi oleh nilai input yang digunakan dalam output yang dihasilkan dalam proses produksi. Biaya dibedakan menjadi biaya eksplisit dan biaya implisit. Menurut Halcrow (1980) biaya eksplisit merupakan pembayaran untuk hal-hal seperti menyewa tenaga kerja, menyewa lahan dan biaya untuk membeli bahan atau input-input untuk produksi suatu komoditi pertanian. Biaya implisit merupakan biaya dari sumberdaya atau input produksi yang dimiliki sendiri yang tidak dikeluarkan atau dibayarkan. Input produksi yang termasuk dalam biaya implisit adalah biaya tenaga kerja sendiri atau dalam keluarga dan sewa lahan milik sendiri.Biaya implisit memasukkan pembayaran minimum atau disebut dengan keuntungan normal, dimana meruapakan pengembalian yang diperlukan untuk mengganti kerugian biaya pengelolaan karena ketidaktentuan atau risiko. Biaya eksplisit dan implisit harus diperhitungkan. Hal ini dikarenakan agar membuat lebih jelas dengan berfikir karena ada sumberdaya dan jasa seperti persediaan dan arus (flow). Jasa persediaan seperti pupuk dan bibit yang sepenuhnya terpakai dalam proses produksi dan harus diganti. Jika tidak digunakan saat sekarang maka dapat disimpan untuk saat mendatang sehingga hal ini disebut dengan biaya eksplisit. Jasa arus seperti tenaga kerja atau gudang akan digunakan seterusnya. Jika tidak digunakan saat sekarang produktivitas yang ada akan hilang dan tidak dapat kembali. Biaya dari sumberdaya arus (flow) adalah biaya riil/nyata karena sumberdaya atau persediaan dan arus (flow) digunakan untuk memproduksi suatu produk atau suatu komoditi. Baik biaya eksplisit dan implisit mencakup dalam biaya produksi perusahaan. Salah satu ukuran efisiensi pendapatan adalah penerimaan (R) untuk setiap biaya (C) yang dikeluarkan. Menurut Suratiyah (2009) Rasio ini menunjukkan perbandingan antara penerimaan yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi. Semakin besar nilai R/C menunjukkan semakin besar juga penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Kegiatan usahatani dikatakan layak jika nilai R/Cmenunjukkan angka lebih dari satu, artinya setiap penambahan biaya yang dikeluarkan akan 16 menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biayanya. Sebaliknya jika nilai R/C lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa tambahan biaya setiap rupiahnya menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil. Pendapatan usahatani sama dengan jumlah semua imbalan yang diterima petani sebagai pemilik faktor-faktor produksi yang dipergunakan dalam usahatani. Imbalan bagi faktor-faktor produksi tersebut diperhitungkan berdasarkan prinsip biaya imbangan (Opportunity Cost) (Kasim 1997 dalam Rifiana 2012 ). Salah satu faktor produksi adalah tenaga kerja. Imbalan bagi tenaga kerja (Return to Labor) merupakan jumlah pendapatan bersih dari pelaksanaan pertanian yang tersisa untuk tenaga kerja setelah modal dibayarkan (Kay et al.2004). Penelitian Terdahulu Tentang Efisiensi Usahatani Penelitian mengenai efisiensi, baik efisiensi secara teknis, alokatif dan ekonomi sudah banyak dilakukan pada berbagai komoditi dan wilayah, dengan kisaran nilai efisiensi yang beragam. Usahatani dikatakan efisien jika nilainya mecapai 0.7. Menurut Coelli (1998) nilai indeks batas efisiensi adalah 0.7. Studi terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani telah banyak dilakukan diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Kusnadi et al. (2011), Situmorang (2013), dan Ohajianya et al. (2014). Kusnadi et al. (2011) melakukan penelitian mengenai efisiensi teknis padi di beberapa sentra produksi di Indonesia. Hasil penelitian menemukan bahwa hasil rata-rata tingkat efisiensi teknis petani sudah efisien yaitu sebesar 91.86 persen. Situmorang (2013) melakukan penelitian mengenai efisiensi teknis jagung di kabupaten Dairi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran nilai tingkat efisiensi petani adalah nilai rata-rata 0.68, nilai maksimum 0.99 dan nilai minimum 0.39. Berdasarkan nilai rata-rata maka usahatani jagung didaerah penelitian belum efisien secara teknis. Ohajianya et al. (2014) melakukan penelitian mengenai efisiensi teknis petani ubi jalar di Nigeria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efisiensi teknis berkisar antara 0.13 – 0.96 dengan ratarata 0.47. Usahatani ubi jalar didaerah penelitian, berdasarkan nilai rata-rata belum efisien secara teknis dalam menggunakan sumberdaya dan efisiensi teknis masih dapat ditingkatkan sebesar 53 persenmelalui realokasi sumberdaya yang ada dengan optimal. Adhiana (2005) melakukan penelitian mengenai analisis efisiensi ekonomi usahatani lidah buaya di Kabupaten Bogor pendekatan Stochastic Production Frontier. Variabel penjelas yang digunakan dalam model efek inefisiensi teknis terdiri dari variabel umur petani, pendidikan formal petani, pengalaman petani, manajemen dan pendapatan diluar usahatani. Variabel yang secara statistic berpengaruhadalah umur petani, pendidikan dan pengalaman. Sedangkan variabel manajemen dan pendapatan diluar usahatani ditemukan tidak nyata berpengaruh terhadap efisiensi teknis. Tanjung (2003) melakukan penelitian dengan menggunakan analisis stochastic frontier untuk menganalisis efisiensi teknis dan ekonomi petani kentang di Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat.Variabel yang berpengaruh nyata dalam menjelaskan inefisiensi teknis di dalam proses produski petani 17 responden pada α=5 persen dan α=10 persen adalah umur, pengalaman, keanggotaan kelompok tani dan jenis benih. Variabel pendidikan, rasio tenaga kerja sewaan terhadap tenaga kerja total, rasio luas lahan untuk tanaman kentang terhadap luas lahan yang diusahakan petani dan keikutsertaan petani dalam kelompok tani tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat inefisiensi teknis petani responden pada α=10 persen. Faktor penentu inefisiensi teknis berasal dari dalam diri petani.Berikut uraian beberapa faktor tersebut antaralain: 1. Umur. Umur petani memiliki efek terhadap tingkat inefisiensi teknis. Umur terkait dengan produkstivitas tenaga kerja. Petani yang berada pada umur produktif akan lebih efisien jika dibandingkan dengan petani yang berumur tidak produktif. Dalam hal ini umur berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis. Semakin bertambah umur petani maka semakin tidak efisien usahataninya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Haryani (2009) yang menemukan bahwa umur petani berkorelasi positif terhadap inefisiensi dan berpengaruh nyata. Semakin tinggi umur petani semakin tidak efisien petani dalam menjalankan usahataninya. Begitu juga dengan hasil penelitian Idiong (2007); Okaye et al. (2008); Khan dan Saeed (2011);Kusnadi et al. (2011);Orewa dan Izekor (2012);Nurhapsa (2013); Musaba and Bwacha (2014);Ohajianya et al. (2014)diperoleh hasil bahwa umur berkorelasi positif terhadap inefisiensi teknis petani. Adhiana (2005) melakukan penelitian mengenai analisis efisiensi ekonomi usahatani lidah buaya di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menemukan bahwa umur berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Semakin tinggi umur petani maka pengalaman dan keterampilan petani juga semakin meningkat, tetapi mereka semakin lemah dalam berusaha. Penelitian lainnya yang juga menemukan umur berkorelasi negatif terhadap inefisiensi teknisadalah Kilmanun (2012);Ratih (2012); Situmorang (2013). 2. Tingkat pendidikan petani. Semakin tinggi pendidikan maka cenderung lebih efisien secara teknis dibandingkan petani yang tingkat pendidikannya rendah. Petani yang memiliki pendidikan yang tinggi cenderung lebih terbuka menerima informasi dan teknologi baru sehingga inefisiensi teknis akan turun. Tingkat pendidikan petani berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Nurhapsa (2013) melakukan penelitian mengenai analisis efisiensi teknis dan perilaku petani serta pengaruhnya terhadap penerapan varietas unggul pada usahatani kentang di Kabupaten Enkerang Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan meningkatnya pendidikan petani maka dapat meningkatkan efisiensi teknis. Penelitian lain Adhiana (2005);Idiong (2007);Okaye et al. (2008);Haryani (2009);Khan dan Saeed (2011);Nahraeni (2012);Orewa dan Izekor (2012);Ratih (2012);Al-Sharafat (2013);Al-Sharafat (2013); Situmorang (2013); Orewa dan Ohajianya et al. (2014)menemukan tingkat pendidikan menurunkan inefisiensi. Tetapi hasil penelitian Kilmanun (2012) menemukan tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap inefisiensi. 18 3. 4. 5. Pengalaman Bertani. Petani yang memiliki pengalaman yang cukup lama dalam usahatani akan cenderung lebih efisien dalam usahataninya. Berdasarkan atas pengalamannya, petani akan mengambil keputusan yang rasional untuk usahataninya. Hasil penelitian Adhiana (2005);Idiong (2007);Okaye et al. (2008); Chowdhury and Rahman (2012); Nahraeni (2012);Orewa dan Izekor (2012);Al-Sharafat (2013);Nurhapsa (2013); Ohajianya et al. (2014), menemukan pengalaman petani akan menurunkan inefisiensi. Berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya, Haryani (2009); Kilmanun (2012);Ratih (2012); Situmorang (2013), menemukan bahwa pengalaman petani berkorelasi positif terhadap inefisiensi. Menurut Ratih (2012) hal ini terjadi karena semakin lama pengalaman petani dalam berusahatani maka akan merasa semakin benar apa yang sudah biasa diterapkan. Salah satu indikatornya adalah hasil produksi yang baik menurut petani sehingga enggan mengikuti saran-saran yang diberikan penyuluh. Penyuluhan. Penyuluhan yang diberikan kepada petani mempengaruhi efek inefisiensi teknis. Semakin sering penyuluhan dilakukan maka mengurangi inefisiensi teknis. Hasil penelitian Situmorang (2013) menemukan bahwa penyuluhan sangat penting dalam pelatihan dan membimbing petani untuk penggunaan input-input produksi yang sesuai anjuran. Selain itu penyuluhan untuk mentransfer inovasi teknologi pertanian untuk menunjang petani yang efisien dalam proses produksi. Hasil penelitian yang sama, bahwa penyuluhan berkorelasi negatif terhadap inefisiensi teknis adalah Idiong (2007); Khan dan Saeed (2011); Nahraeni (2012). Tetapi Al-Sharafat (2013)menemukan bahwa penyuluhan berkorelasi positif terhadap inefisiensi atau berpengaruh negatif terhadap efisiensi teknis. Hal ini disebakan karena singkatnya pertemuan penyuluhan, birokrasi yang sulit dan kurangnya program penyuluhan. Selain itu pendekatan partisipatif yang minim menyebabkan penyuluhann meningkatkan inefisiensi. Jumlah anggota keluarga. Anggota keluarga merupakan sumber tenaga kerja yang dapat mensubstitusi tenaga kerja luar keluarga. Semakin besar jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak yang ikut serta dalam usahatani sehingga dapat mengurangi inefisiensi teknis. Dalam hal ini dengan adanya tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga akan menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk upah tenaga kerja luar keluarga, sehingga dengan demikian upah yang seharusnya dikeluarkan dapat dialokasikan untuk pembelian input-input. Jumlah anggota keluarga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Hasil penelitian Kilmanun (2012)menenujukkan bahwa petani yang memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak lebih efisien dibandingkan dengan petani yang memiliki jumlah anggota keluarga yang sedikit. Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan anggota keluarga sebagai tenaga kerja dalam keluarga. Hasil penelitian Okaye et al. (2008); Nurhapsa (2013); Orewa dan Izekor (2012), menemukan jumlah anggota keluarga berkorelasi negatif terhadap inefisiensi. Hasil penelitian lainnya menemukan bahwa jumlah anggota keluarga berpengaruh positif terhadap inefisiensi Idiong (2007); Haryani (2009); 19 Ohajianya et al. (2014). Menurut Ohajianya et al. (2014), petani yang memiliki lebih banyak orang dalam rumahtangga mereka cenderung kurang efisien dalam usahatani. Meskipun secara teori benar, bahwa memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak akan menghemat tenaga kerja karena tersedia tenaga kerja dari dalam anggota keluarga. Tetapi tergantung dua hal yaitu jumlah anggota yang benar-benar dapat bekerja dan lamanya waktu anggota keluarga lain untuk bersedia bekerja. 6. Keikutsertaan petani dalam kelompok atau organisasi. Petani yang tergabung dalam kelompok akan menurunkan inefisiensi karena dengan bergabung dalam kelompok petani akan dapat (1) meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan non formal, (2) meningkatkan kemampuan manajerial, (3) meningkatkan aksesibilitas terhadap teknologi dan inovasi baru, dan (4) meningkatkan aksesibilitas terhadap bantuan kredit dan bantuan lainnya karena disalurkan melalui kelompok (Kilmanun 2012). Hasil penelitian Idiong (2007);Okaye et al. (2008); Kilmanun (2012);Nahraeni (2012); Ratih (2012); Ohajianya et al. (2014), menunjukkan bahwa keikutsertaan petani dalam kelompok atau organisasi berpengaruh negatif terhadap inefisiensi. Tetapi penelitian sebelumnya Haryani (2009); Kusnadi et al. (2011); Situmorang (2013), menemukan bahwa keanggotaan kelompok tani berpengaruh nyata dan positif terhadap inefisiensi teknis. 7. Status kepemilikan lahan. Kusnadi et al. (2011)melakukan penelitian memengenai analisis efisiensi usahatani padi di bebera sentra produksi padi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status lahan berpengaruh negatif dan signifikan. Status lahan milik sendiri akan menurunkan inefisiensi dibandingkan status lahan nonpemilik, atau dengan kata lain kepemilikan lahan akan meningkatkan efisiensi usahatani (Kusnadi et al. 2011). Hasil penelitian Haryani (2009) menunjukkan bahwastastus lahan tidak berpengaruh nyata dengan tanda negatif terhadap inefisiensi. Petanipemilik maupun petani penggarap mereka sama-sama sangat berkepentingandengan keberhasilan usahataninya. Tujuan mereka dalam mengelola usahataninya adalah berusaha untuk mencapai hasil yangmaksimal. Hasil penelitian Ratih (2012); Nahraeni (2012),menunjukkan bahwa bahwa status lahan berkorelasi positif terhadap inefisiensi. 8. Jenis varietas. Jenis varietas yang ditanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis. Jenis varietas unggul akan mengurangi inefisiensi atau meningkatkan efisiensi teknis. Penelitian yang dilakukan oleh Ratih (2012), menunjukkan bahwa varietas yang ditanam memiliki pengaruh tidak nyata terhadap inefisiensi teknis. Nilai negatif pada variabel menunjukkan bahwa penggunaan varietas unggul dapat memperkecil tingkat inefisiensi teknis dibandingkan dengan menanam varietas jenis lain. Secara terperinci faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensidan bagaimana hubunganya terhadap inefisiensi (negatif atau positif)dapat di lihat pada Tabel 6 berikut: 20 Tabel 6Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani Penulis Judul Adhiana (2005) Analisis Efisiensi Ekonomi Usaha Tani Lidah Buaya (Aloe Vera) di Kabupaten Bogor:Pendekatan Stochastic Production Frontier. Efisiensi Teknis Rumahtangga Petani Cocoyam di Nigeria Okaye et al. (2008) Haryani (2009) Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah Pada Program Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu di Kabupaten Serang Provinsi Banten Orewa and Izekor (2012) Analisis Efisiensi Produksi Ubi di Bagian Edo Teknis Negara Kilmanun (2012) Analisis Efisiensi Teknis Dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat Nahraeni (2012) Efisiensi dan Nilai Keberlanjutan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi di Provinsi Jawa Barat Situmorang (2013) Tingkat Efisiensi Ekonomi dan Daya Saing Usahatani Jagung di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara Faktor-faktor yang mempengaruhi Inefisiensi Umur (-) Pendidikan (-) Pengalaman (-) Manajemen (+) Pendapatan Luar Usahatani (+) Umur (+) Tingkat Pendidikan (-) Indek Pengetahuan (-) Indek Latihan (-) Ukuran Usahatani (+) Pengalaman (-) Penggunaan pupuk (-) Akses Kredit (-) Anggota Organisasi (-) Ukuran Keluaga (-) Umur (+) Pendidikan (-) (+) Pengalaman (+) DependencyRatio (-) Status Lahan (+) Partisipasi dalam KT (-) Sistem Tanam Umur (+) Tingkat Pendidikan (-) Pengalaman (-) Ukuran Rumahtangga (-) Umur (-) Pendidikan (+) Pengalaman (+) DependencyRatio (-) Sistem Tanam (-) Partisipasi dalam KT (-) Prilaku Petani (-) Umur (+) Pendidikan (-) Pengalaman (-) KeanggotaanKelompok (-) Frekuensi Penyuluhan (-) Akses Kredit (+) Kepemilikan (+) Sistem Penanaman (-) Umur (-) Tingkat pendidikan (-) Pengalaman berusahatani (+) Frekuensi penyuluhan (-) Sumber modal (+) Anggota kelompok tani (-) 21 Selain efisiensi teknis, efisiensi alokatif dan ekonomi sudah banyak dilakukan pada berbagai komoditi dan wilayah, dengan kisaran nilai efisiensi yang beragam. Efisiensi alokatif mencerminkan kemampuan petani dalam menggunakan input produksi pada masing-masing tingkat harga input dan teknologi yang dimiliki sehingga diperoleh produksi dan pendapatan yang maksimal. Kurniawan (2008) melakukan penelitian tentang efisiensi ekonomi usahatani jagung di kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efisiensi alokatif petani berkisar antara 0.433 – 0.770 dengan rata-rata 0.566. Jika petani dapat mencapai tingkat efisiensi alokatif yang paling tinggi, maka dapat menghemat biaya sebesar 26.50 persen (1-0.566/0.770), sedangkan pada petani yang memiliki nilai efisiensi minimum dapat menghemat biaya sebesar 43.77 persen (1-0.433/0.770. Efisiensi ekonomis berkisar antara 0.369 – 0.605. Jika rata-rata petani dapat mencapai tingkat efisiensi ekonomis paling tinggi, dapat menghemat biaya sebesar 17.69 persen (1-0.498/0.605), petani yang yang memiliki nilai efisiensi minimum dapat menghemat biaya sebesar 39.01persen (1-0.369/0.605). Haryani (2009) melakukan penelitian tentang efisiensi usahatani padi sawah pada program pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu di kabupaten Serang. Hasil penelitian menunjukkan petani program PTT kisaran nilai efisiensi alokatif 0.527 – 0.880 dengan rata-rata 0.702. Petani non program PTT efisiensi alokatif berkisar antara 0.510 – 0.889 dengan rata-rata 0.648. Nilai efisiensi ekonomis pada petani program PTT berkisar antara 0.4435-0.774 dengan rata – rata 0.61. Petani bukan program PTT efisiensi ekonomis berkisar antara 0.328-0.863 dengan rata – rata 0.562. Adhiana (2005) melakukan penelitian tentang efisiensi ekonomi usahatani lidah buaya di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan nilai efisiensi alokatif petani responden berkisar antara 0.2451-0.903. Jika rata-rata petani responden berkeinginan untuk mencapai tingkat efisiensi alokatif yang paling tinggi, maka biaya yang harus dihemat sebesar 21.7 persen (1-0.707/0.903), sedangkan pada petani yang yang memiliki nilai efisiensi minimum harus menghemat biaya sebesar 72.8persen (1-0.245/0.903). Efisiensi ekonomi berkisar antara 0.179 hingga 0.831. hal ini berarti, jika rata-rata petani responden berkeinginan untuk mencapai tingkat efisiensi ekonomis yang paling tinggi maka harus menghemat biaya sebesar 65.8 persen (10.547/0.831), sedangkan pada petani yang memiliki nilai efisiensi minimum harus menghemat biaya sebesar 86.3 persen (1-0.114/0.831). Situmorang (2013) melakukan penelitian tentang efisiensi ekonomi usahatani jagung di kabupaten Dairi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratarata efisiensi alokatif dan efisiensi ekonomi masing-masing sebesar 0.60 dan 0.38. Petani memiliki efisiensi alokatif yang maksimum sebesar 1 dan minimumnya sebesar 0.27. Petani memiliki nilai efisiensi ekonomi yang maksimum sebesar 0.57 dan nilai minimum sebesar 0.25. Belum efisien secara alokatif dan ekonomi disebabkan pengalokasian input yang tidak optimal pada masing-masing tingkat harga input. Alokasi penggunaan inputnya tidak sesuai proporsi kebutuhan karena petani menggunakan pupuk phonska yang berlebih dan sarat dengan tenaga kerja. Petani tidak menggunakan pupuk SP-36 sehingga produksi belum mencapai produksi yang maksimum. Asogwa et al. (2011) melakukan penelitian mengenai analisis efisiensi ekonomi petani kecil di Nigeria. Hasil penelitian menunjukkan nilai sebaran 22 efisiensi alokatif adalah 1.05 – 67.10 dengan rata-rata 12. Variasi nilai yang luas mengindikasikan bahwa sebagian besar petani masih mengalokasikan sumberdaya secara tidak efisien dalam proses produksi dan masih ada peluang untuk meningkatkan tingkat efisiensi alokatif. Nilai sebaran efisiensi ekonomi antara 0.00000006 – 1.11. Penyebaran nilai yang luas disebabkan sebagian besar petani masih tidak efisien secara ekonomi dalam penggunaan sumberdaya untuk produksi dan petani masih memiliki peluang untuk meningkatkan tingkat efisiensi ekonomi. Penelitian Terdahulu Tentang Pendapatan Usahatani Sundari (2011)melakukan penelitian tentang analisis biaya dan pendapat usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan R/C sebesar 2.75 menunjukkan bahwa usahatani wortel yang dilakukan oleh petani sudah efisien. Penerimaan usahatani wortel adalah Rp 12 217 054.26 per ha. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani adalah sebesar Rp 4 760 703.81 per ha dan pendapatan sebesar Rp 7 456 350.45 per ha. Nurmala (2011) melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar studi kasus kelompok tani hurip desa Cikarawang Kecamatan Darmaga Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar di Kelompok Tani Hurip Desa Cikarawang menguntungkan dilihat dari pendapatan dan nilai R/C yang lebih dari satu. Pendapatan atas biaya tunai rata-rata petani responden per periode tanam dari rata-rata luasan lahan yang dimiliki petani responden (0.24 hektar) sebesar Rp 1446746.01 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 760349.44. Pendapatan tunai dan total setelah dikonversi ke dalam satu hektar sebesar Rp 6028108.34 dan Rp 3168122.65. Analisis pendapatan usahatani ubi jalar di desa Gunung Malang Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor dilakukan oleh Herdiman (2010). Hasil penelitian menunjukkan total biaya usahatani ubi jalar sebesar Rp 8 912 701.59 yang terdiri dari biaya tunai sebesar Rp 6 125 225.40 dan biaya diperhitungkan sebesar Rp 2 787 476.19. Pendapatan usahatani sebesar Rp 9 777 377.78 atas biaya tunai dan Rp 6 989 901.59 atass biaya total. Nilai R/C cukup tinggi yaitu 2.60 untuk R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total sebesar 1.78. Defri (2011) melakukan penelitian tentang analisis pendapatan dan faktorfaktor yang mempengaruhi produksi usahatani ubi jalar (studi kasus desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor). Pendapatan usahatani atas biaya tunai sebesar Rp 4787537.60dan biaya total Rp 1894078.60untuk satu musim panen. Hasil R/C terhadap biaya tunai maupun biaya total yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar ini masih menguntungkan untuk diusahakan. Bagian penelitian Kilmanun (2012) tentang pendapatan usahatani padi di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat yang membedakan antara peserta Prima Tani pada Musin Hujan (MH) dan Musim Kering(MK) dengan bukan peserta Prima Tani pada Musin Hujan (MH) dan Musim Kering (MK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani padi petani peserta Prima Tani baik pada Musim Hujan (MH) maupun Musim Kering (MK) lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan usahatani padi bukan peserta Prima Tani. Pendapatan petani padi peserta Prima Tani pada Musim Hujan (MH) adalah Rp 5 654 299 per hektar dengan R/C 2.16, pendapatan pada Musim Kering (MK) adalah Rp 4 474 490 per 23 hektar dengan nilai R/C 1.9. Pendapatan petani bukan peserta Prima Tani pada Musim Hujan (MH) adalah Rp 3 272 271 per hektar dengan R/C 1.58 dan pendapatan pada Musim Kering (MK) adalah Rp 2 353 844 per hektar dengan R/C 1.39. Mahabirama (2013) melakukan penelitian mengenai analisis efisiensi dan pendapatan usahatani kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan atas biaya total adalah sebesar Rp 968 474.41. Nilai R/C adalah 1.14. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani kedelai di Kabupaten Garut masih layak dan menguntungkan apabila diusahakan. Kerangka Pemikiran Ubi jalar merupakan salah satu komoditas subsektor tanaman pangan yang berperan dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Ubi jalar merupakan tanaman penting karena dapat dijadikan sumber karbohidrat setelah padi. Selain sebagai bahan pangan, penggunaan ubi jalar beranekaragam. Ubi jalar dapat dijadikan sebagai pemenuhan pakan ternak serta dapat diolah dan dikembangkan menjadi olahan produk lainnya. Penggunaan ubi jalar yang luas mengakibatkan kebutuhan ubi jalar meningkat. Dari sisi produksi, produksi ubi jalar Indonesia cenderung meningkat, namun dilihat dari sisi produktivitas tergolong masih rendah yaitu 13.12 ton per hektar. Salah satu daerah sentra ubi jalar di Sumatera Barat adalah Kecamatan Ampek Angkek. Masalah yang dihadapi oleh Kecamatan Ampek Angkek terkait dengan ubi jalar adalah belum efisiennya usahatani karena diduga belum efisiennya pengggunaan input produksi yang tercermin dari kemampuan manajerial petani. Kemampuan manajerial petani di pengaruhi oleh faktor karakteristik sosial ekonomi yaitu umur, tingkat pendidikan dan pengalaman bertani. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor diluar kendali petani seperti cuaca. Hal tersebut nantinya akan mempengaruhi pendapatan usahatani petani ubi jalar. Oleh karena itu perlu diteliti (1) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi ubi jalar, (2) Bagaimana alokasi penggunaan input-input produksi, apakah penggunaan input-input produksi sudah efisien secara teknis, alokatif dan ekonomi, (3) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar dan (4) Apakah usahatani ubi jalar masih menguntungkan? Alur kerangka pemikiran konseptual dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk membatu penulis dalam menganalisis maka diperlukan alat analisis yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Untuk mengetahui pendapatan usahatani ubi jalar, maka dilakukan analisis pendapatan. Selanjutnya Metode Ordinary Least Square (OLS) penulis gunakan untuk mencari model terbaik dari fungsi produksi yang dianalisis, Selanjutnya metode MaximumLikelihoodEstimation (MLE) penulis gunakan karena dapat menjelaskan sekaligus efisiensi teknis yang diperoleh oleh petani sekaligus faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi. Dengan penurunan biaya dual dari fungsi produksi maka akan diperoleh efisiensi ekonomi dan efisiensi alokatif. Sedangkan untuk menghitung pendapatan usahatani ubi jalar menggunakan pendekatan analisis pendapatan usahatani. 24 Usahatani Ubi Jalar Produktivitas rendah sehingga diduga usahatani ubi jalar belum efisien 1. 2. 3. 4. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi ubi jalar? Bagaimana alokasi penggunaan input-input produksi?Apakah penggunaan input-input produksi sudah efisien secara teknis, alokatif dan ekonomi? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani ubi jalar? Apakah usahatani ubi jalar masih menguntungkan? Analisis efisiensi dan pendapatan Efisiensi teknis :fungsi produksi CobbDouglas Frontier Efisiensi alokatif :fungsi biaya dual Analisis pendapatan usahatani Hasil Implikasi kebijakan Gambar 4Alur kerangka pemikiran Hipotesis Penelitian 1. Bibit, pupuk organik, pupuk anorganik, tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh positif terhadap produksi ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek. 2. Tingkat efisiensi yang dicapai petani ubi jalar efisien secara teknis karena Kecamatan Ampek Angkek merupakan sentra ubi jalar. 3. Umur, pendidikan, pengalaman petani, jumlah anggota keluarga,dummy partisipasi petani dalam kelompok, dummy jenis varietas dan dummy kepemilikan lahan diduga mempengaruhi inefisiensi teknis petani. 4. Usahatani ubi jalar diduga menguntungkan. 25 3 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kabupaten Agam. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi ubi jalar di Provinsi Sumatera Barat. Kemudian dipilih kecamatan yaitu kecamatan Ampek Angkek. Pemilihan kecamatan dilakukan secara purposive dengan pertimbangan kecamatan tersebut memiliki luas lahan dan produksi ubi jalar terbesar di Kabupaten Agam. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2014. Metode Penarikan Contoh Penarikan contoh secara purposivedengan pertimbangan tidak tersedia sampling framedi daerah penelitian sehingga petani contoh dipilih berdasarkan kriteria petani ubi jalar yang menanam ubi jalar secara monokultur, pekerjaan utama petani contoh berusahatani ubi jalar dan menanam ubi jalar pada musim tanam yang sama. Jumlah petani contoh dalam penelitian ini adalah 40 orang. Petani contoh berasal dari 2 desa yang merupakan nagari/desa yang memiliki produksi ubi jalar terbesar di kecamatan Ampek Angkek. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data cross section. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer untuk memperoleh informasi mengenai usahataniubi jalar melalui wawancara dengan petani contoh yang telah ditentukan denganmenggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data primertersebut adalah data karakteristik petani dan usahataniubi jalar pada satu musimtanam yang terdiri dari luas lahan, penggunaan input (benih, pupuk organik, herbisida, tenaga kerja dan input yang lain), harga input, harga output danpermasalahan yang dihadapi petani. Data sekunder dikumpulkan dari berbagai instansi yang berhubungan dengan penelitian baik di tingkat pusat maupun daerah. Metode Analisis Data Analisis Fungsi Produksi StochasticFrontier Analisis data menggunakan dua alat analisis, yaitu produksi stochastic frontierdan fungsi biaya dual. Analisis fungsi produksi stochastic frontier digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar dan efisiensi teknis. Untuk mengetahui tingkat efisiensi alokatif dan ekonomis usahatni ubi jalar digunakan fungsi biaya dual yang diturunkan dari 26 fungsi produksi. Pilihan terhadap fungsi produksi ini diambil berdasarkan alasan sebagai berikut: (1) bersifat homogen, sehingga dapat digunakan untuk menurunkan fungsi biaya dari fungsi produksi, (2) lebih sederhana dan (3) jarang menimbulkan masalah multikolinier. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar dan efisiensi teknis digunakan analisis fungsi produksi stochastic frontier. Pendekatan stochastic frontierdapat diperoleh dua kondisi secara simultan yakni faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dan sekaligus inefisiensi petani. Pendekatan dilakukan dengan software Frontier Version 4.1. Dengan Model empiris fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas yang digunakan dalam penelitian ini dirumuskan pada persamaan berikut: Ln Y = ln 0 + 1lnX1 + 2lnX2 + 3lnX3 + 4lnX4 + 5lnX5 + vi – ui.................(3.1) Dimana : Y = produksi ubi jalar (kg) X1 = jumlah bibit (buah) X2 = jumlah pupuk organik (kg) X3 = jumlah pupuk anorganik (kg) X4 = jumlah tenaga kerja dalam keluarga (HKP) X5 = jumlah tenaga kerja luar keluarga (HKP) = errorterm (efek inefisiensi teknis dalam model) � − � vi = variabel acak yang berkaitan dengan faktor-faktor eksternal (iklim, dan hama/penyakit) ui = variabel acak non negatif dan diasumsikan mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis dan berkaitan dengan faktor-faktor internal Nilai koefisien yang diharapkan: 1, 2, 3, 4, 5 > 0, artinya hasil pendugaanfungsi produksi stochastic frontier di atas, diharapkan memberikan nilaiparameter dugaan yang positif. Jika diperoleh parameter dugaan yang bertandanegatif, maka fungsi produksi dugaan tidak dapat digunakan untuk menurunkanfungsi biaya dual, sehingga efisiensi alokatif tidak dapat diukur. Untuk mengatasi masalah tersebut, dibentuk fungsi produksi stochastic frontieryang baru dengan melakukan pengurangan, penambahan atau perubahanperubahan pada variabel-variabel penjelas yang disertakan ke dalam model hingga diperoleh fungsi produksi yang memiliki semua parameter dugaan bertanda positif. Analisis Efisiensi Teknis Analisis efisiensi teknis dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut: �� = � exp � / � i= 1,β,γ,…,n…………………………............…...…..(3.2) Dimana TEi adalah efisiensi teknis petani ke-i, −� � ∈� adalah nilai harapan (mean) dari ui dengan syarat ∈� , jadi 0 ≤ TEi ≤ 1. Nilai efisiensi teknis tersebut berhubungan terbalik dengan efek inefisiensi teknis dan hanya digunakan untuk fungsi yang memiliki jumlah output dan input tertentu (cross section data). Nilai efisiensi teknis petani dikategorikan cukup efisien jika bernilai > 0.7 27 Analisis Efek Inefisiensi Teknis Metode inefisiensi teknis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model efek inefisiensi teknis yang dikembangkan oleh Battese dan Coelli (1998). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ui = α0 + α1Z1 + α2Z2 + α3Z3 +α4Z4 + α5Z5 + α6Z6 + α7Z7.................................(3.3) dimana: ui = efek inefisiensi teknis ∝0 = konstanta = umur petani (tahun) 1 = tingkat pendidikan (tahun) 2 = pengalaman petani (tahun) 3 = jumlah anggota keluarga(orang) 4 = dummy partisipasi kelompok tani (1=memiliki kelompok i dan 5 0=tidak memiliki kelompok) = dummy kepemilikan lahan (1= milik sendiri dan 0=lahan sewa) 6 = dummy jenis varietas (1=varietas unggul dan 0=varietas lokal) 7 Partisipasi petani di dalam kelompok/organisasi, jenis bibit dan kepemilikan lahan merupakan variabel dummy. Kriteria nilai yang diberikan untuk ketiga variabel dummy di atas adalah sebagai berikut; (1) nilai 1 diberikan masingmasing untuk petani anggota kelompok, petani yang menggunakan varietas unggul, memiliki lahan sendiri dan (2) nilai 0 diberikan untuk petani bukan anggota kelompok/organisasi, petani yang tidak menggunakan varietas unggul dan petani yang menyewa lahan. Nilai koefisien yang diharapkan ∝1 > 0 , ∝2 , ∝3 , ∝4 , ∝5 , ∝6 , ∝7 < 0. Pengujian parameter stochastic frontierdan efek inefisiesni teknis dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama merupakan pendugaan parameter j dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Tahap kedua merupakan pendugaan seluruh parameter 0, i, variasiui dan vi dengan menggunakan metode Maximum Likelihood (MLE). Penggunaan metode Maximum Likelihooddapat mengukur efek-efek yang tak terduga dalam batas produksi yang tidak terdapat jika menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Variabel acak vi menghitung ukuran kesalahan dan faktor-faktor yang tidak pasti seperti cuaca, serangan hama dan sebagainya didalam nilai variabel output. Variabel ui merefleksikan komponen galat yang sifatnya internal dapat dikendalikan petani dan lazimnya berkaitan dengan kapabilitas managerial petani dalam mengelola usahataninya. Tingkat kepercayaan ∝ yang digunakan 5% dan 10%, sedangkan uji yang digunakan adalah uji generalizedlikelihood-ratio satu arah, dengan persamaan sebagai berikut: � = −2 (�0 ) (�1 ) = −2{ �0 − [ �1 ]………………….……..(3.4) Dimana L (H0) dan L (H1), masing-masing adalah nilai dari fungsi likelihood dari hipotesis nol dan hipotesis alternative. Kriterian uji adalah sebagai berikut: LR galat satu sisi > x2restriksi (tabel Kodde Palm) maka tolak H0 LR galat satu sisi < x2restriksi (tabel Kodde Palm) maka terima H0 28 Jika H0 : = 0 = 1 … 6 =0, menyatakan bahwa efek inefisiensi tidak ada dalam model fungsi produksi. Jika hipotesis diterima, maka fungsi produksi rata-rata sudah cukup mewakili data empiris. Hasil pengolahan program FRONTIER 4.1 menurut Aigner (1877),Jondrow et al. (1982) akan memberikan nilai perkiraanvarians bentuk parameterisasi sebagai berikut: �2 = �2 + �2 = �2 teknis model et al. dalam …………………………………………......(3.5) (� 2 + � 2 ) Dimana � adalah varians dari vi dan � 2 adalah varians dari ui dan � 2 adalah varians dari distribusi normal. Nilai parameter berkisar antara satu dan nol. Nilai parameter merupakan kontribusi dari efisiensi teknis di dalam efek residual total. 2 Analisis Efisiensi Alokatif dan Efisiensi Ekonomi Efisiensi alokatif dan ekonomi dianalisis dengan menggunakan pendekatan dari sisi input dengan menggunakan indeks kopp. Untuk mengukur efisiensi alokatif dan ekonomi, terlebih dahulu diturunkan fungsi biaya dual dari fungsi produksi stochastic frontier. Asumsinya bahwa bentuk fungsi produksi CobbDouglas dengan menggunakan dua input adalah sebagai berikut: Y = ∝0 1∝1 2∝2 ………………………………………………………..…..…..(3.6) Fungsi biaya inputnya adalah : C = P1X1 + P2X2.................................................................................................(3.7) Bentuk fungsi biaya dual dapat diturunkan dengan asumsi minimisasi biaya dengan kendala Y=Y0. Untuk memperoleh fungsi biaya dualharus diperoleh nilai expansion path (perluasan skala usaha) yang dapat diperoleh dengan fungsi langrange sebagai berikut: = �1 1 + �2 2 + �( − 0 1 1 2 2 ).............................................................(3.8) Untuk memperoleh nilai x1 dan x2 dapat diturunkan (first-order condition) sebagai berikut: � = �1 − � 1 0 1 1−1 2 2 = 0........................................................................(3.9) � 1 � � 2 � = �2 − � 1 2 0 1 2−1 2 = 0..........................................................................(3.10) = − 0 1 1 2 2 = 0...................................................................................(3.11) Dari persamaan (3.9) dan (3.10) diperoleh nilai x1 dan x2 (expansion path) sebagai berikut: �� 1 = 1 �2 2 ...................................................................................................(3.12) 2 = 2 �1 1 ...................................................................................................(3.13) 2 �1 1 �2 Selanjutnya, persamaan (3.13) disubsitusikan ke persamaan (3.6), menjadi: = 0 1 1 2 �1 1 1 �2 2 .....................................................................................(3.14) Berdasarkan persamaan (3.14) dapat diperoleh fungsi permintaan input untuk X1 yaitu: 29 1 1 = 2 1+ 2 1 �2 1+ 2 2 �1 0 ............................................................................(3.15) Selanjutnya dari persamaan (3.12) disubtistusikan kepersamaan (3.6) menjadi: = 1 �2 2 1 2 2 �1 0 2 ....................................................................................(3.16) Berdasarkan persamaan (3.16) diperoleh fungsi permintaan input untuk X2 yaitu: 1 2 2 �1 1+ 2 = 1 1+ 2 1 �2 0 ............................................................................(3.17) Persamaan (3.10) dan persamaan (3.12) disubstitusikan kedalam persamaan (3.18), maka diperoleh fungsi biaya dual menjadi: 1 ∗ = �1 1+ 2 0 1 �2 2 �1 2 1+ 2 1 + �2 1+ 2 0 1 �1 1 �2 1 1+ 2 .....................(3.19) Lebih sederhana dapat ditulis sebagai berikut: C = f(Y,P1,P2)...................................................................................................(3.20) keterangan: C = biaya produksi Y = jumlah produksi P1,P2..Pn = harga rata-rata input produksi Efisiensi ekonomi didefinisikan sebagai rasio total biaya produksi minimum yang diobservasi (C*) dengan total biaya produksi actual (C) (Jondrow et al. 1982). Persamaanya sebagai berikut: ∗ �( � � =0, � ,�� ) = …………………………………………...….(3.21) EE = �( � � , � ,�� ) keterangan: EE bernilai 0 ≤ EE ≤ 1 Efisiensi ekonomi merupakan gabungan dari efisiensi teknis dan alokatif, oleh karena itu efisiensi alokatif dapat diketahui yaitu: �� � = ..................................................................................................(3.22) � keterangan: EE bernilai 0 ≤ EA ≤ 1 Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar dan R/C Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Biaya dalam usahatani terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai (biaya diperhitungkan). Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai yang disebut dengan pendapatan tunai dan pendapatan atas biaya total atau diesebut dengan pendapatan total. Menurut Suratiyah (2009) formula menghitung pendapatan adalah sebagai berikut: TR = Py.Y..................................................................................................(3.24) Pendapatan dibedakan menjadi pendapatan tunai dan pendapatan total. Formulanya dapat dirumuskan sebagai berikut: 30 Itunai = TR – TCtunai......................................................................................(3.25) Itotal = TR – (TCtunai + BD)..........................................................................(3.26) Keterangan: TR = Penerimaan usahatani (Rp) Py = Harga ouput (Rp) Y = Jumlah ouput (Kg) Ituni = Pendapatan tunai (Rp) Itotal = Pendapatan total (Rp) TCtunai = Total biaya tunai (Rp) BD = Biaya diperhitungkan (Rp) Biaya dibedakan menjadi biaya eksplisit dan biaya implisit. Menurut Halcrow (1980) biaya eksplisit merupakan biaya yang dibayarkan untuk hal-hal seperti menyewa tenaga kerja, menyewa lahan dan biaya untuk membeli bahan atau input-input untuk produksi suatu komoditi pertanian. Biaya implisit merupakan biaya dari sumberdaya atau input produksi yang dimiliki sendiri yang tidak dikeluarkan atau dibayarkan. Input produksi yang termasuk dalam biaya implisit adalah biaya tenaga kerja sendiri atau dalam keluarga dan sewa lahan milik sendiri. Imbangan penerimaan biaya adalah perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan dalam suatu proses produksi usahatani (Suratiyah 2009). Analisis R/Cdigunakan untuk mengetahui seberapa besar penerimaan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang kita keluarkan pada suatu usahatani. Apabila R/C > 1, maka berarti usahatani yang dijalankan layak untuk dilaksanakan dan sebaliknya jika R/C < 1, berarti usahatani tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Perhitungan R/C dapat dirumuskan sebagai berikut : � � � � � �= = .........................................(3.26) � � = � � � � � = � + ......................................(3.27) Pendapatan usahatani sama dengan jumlah semua imbalan yang diterima petani sebagai pemilik faktor-faktor produksi yang dipergunakan dalam usahatani. Imbalan bagi faktor-faktor produksi tersebut diperhitungkan berdasarkan prinsip biaya imbangan (Opportunity Cost) (Kasim 1997 dalam Rifiana 2012 ). Salah satu faktor produksi adalah tenaga kerja. Imbalan bagi tenaga kerja (Return to Labor) merupakan jumlah pendapatan bersih dari pelaksanaan pertanian yang tersisa untuk tenaga kerja setelah modal dibayarkan. Sehingga return to labordapat dihitung sebagai berikut (Kay et al.2004): Return to labor= Pendapatan bersih usahatani – biaya seluruh modal...........(3.28) Definisi Operasional Definisi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Produksi ubi jalar (Y); adalah jumlah yang dihasilkan dalam satu musim tanam. Satuan ukuran yang digunakan adalah kilogram (kg). 31 2. Jumlah bibit (X1), adalah jumlah bibit yang digunakan dalam musim tanam (per bibit). 3. Jumlah pupuk organik (X2), adalah jumlah pupuk organik yang digunakan dalam satu musim tanam dengan satuan kilogram (kg). Harga pupuk urea adalah harga pupuk urea yang berlaku didaerah penelitian saat penelitian dilakukan, dihitung dalam satuan Rupiah per kilogram (Rp/kg). 4. Jumlah pupuk anorganik (X3), adalah jumlah pupuk anorganik yang digunakan dalam satu musim tanam dengan satuan kilogram (kg). Harga pupuk urea adalah harga pupuk urea yang berlaku didaerah penelitian saat penelitian dilakukan, dihitung dalam satuan Rupiah per kilogram (Rp/kg). 5. Tenaga kerja dalam keluarga (X4), adalah jumlah tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga yang digunakan dalam proses produksi untuk berbagai jenis kegiatan usahatani, mulai dari persiapan lahan sampai pasca panen. Satuan yang digunakan adalah Hari Kerja Setara Pria (1 hari= 8 jam kerja). 6. Tenaga kerja luar keluarga (X5), adalah jumlah tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga yang digunakan dalam proses produksi untuk berbagai jenis kegiatan usahatani, mulai dari persiapan lahan sampai pasca panen. Satuan yang digunakan adalah Hari Kerja Setara Pria (1 hari= 8 jam kerja).. 7. Umur petani (Z1), adalah umur petani pada saat penelitian dilakukan dan dinyatakan dalam tahun. 8. Tingkat pendidikan formal petani (Z2), adalah jumlah total waktu petani untuk menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga pendidikan terakhirnya, dinyatakan dalam tahun. 9. Pengalaman berusahatani (Z3), adalah lamanya waktu yang telah dilalui petani sejak pertama kali mulai menanam jagung hingga saat penelitian dilakukan, dinyatakan dalam tahun. 10. Jumlah anggota keluarga (Z4), banyaknya anggota keluarga yang berusia produktif dalam keluarga. 11. DummyPartisipasidalam kelompok/organisasi (Z5), adalah kriteria petani memiliki kelompok/organisasi=1 dan tidak memiliki kelompok/organisasi =0. 12. Dummy kepemilikan lahan (Z8), adalah lahan yang dimiliki oleh petani dengan criteria dan lahan milik sendiri=1 lahan sewa=0. 13. Dummy varietas (Z7), adalah varietasyang digunakan petani berusahatani ubi jalar dengan kriteria varietas unggul=1 dan varietas lokal=0. 32 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Wilayah dan Keragaan Usahatani Ubi Jalar Gambaran Umum Kecamatan Ampek Angkek Kecamatan Ampek Angkek merupakan salah satu Kecamatanyang terletak di kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat. Pusat pemerintahan kecamatan Ampek Angkek berada di Nagari Biaro. Kecamatan ampek Angkek terletak antara 100oγ0’–100oγ1’ Bujur Timur dan 0oβ5’–0oβ7’ Lintang Selatan. Secara administratif Kecamatan Ampek Angkek sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Tilatang Kamang, sebelah Selatan dengan kecamatan Canduang, sebelah Timur dengan Baso dan Canduang dan sebelah Barat dengan Banuhampu dan kota Bukittinggi. Kecamatan Ampek Angkek terdiri dariNagari Biaro Gadang, Nagari Lambah, Nagari Panampuang, Nagari Balai gurah, Nagari Ampang Gadang, Nagari Batu Taba dan Nagari Pasia. Luas Kecamatan Ampek Angkek adalah 30.66 Km2.Kecamatan Ampek Angkek berada pada ketinggian 600–1 000 meter dari permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 874 mm per tahun. Jenis tanah di Kecamatan Ampek Angkek adalah tanah latosol, andosol dan podsolik merah kuning dengan keasaman tanah (RH) antara 5.5–6.0, suhu rata-rata 22oC–31oC, dan kelembaban udara 85–88 persen. Berdasarkan topografi wilayah tanaman ubi jalar cocok di tanam di Kecamatan Ampek Angkek. Menurut Juanda dan Cahyono (2000), tanaman ubi jalar dapat tumbuh diberbagai ketinggian tempat, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Namun, tanaman ubi jalar yang ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dari permukaan laut dapat memberikan hasil yang lebih tinggi daripada tanaman ubi jalar yang ditanam di dataran tinggi (pegunungan) dengan ketingggian di atas 1 000 m dari permukaan laut. Daerah yang paling ideal untuk mengembangkan ubi jalar adalah daerah bersuhu antara 21oC–27oC, yang mendapat sinar matahari 11–12 jam/hari, berkelembaban udara (RH) 50–60 persen, dengan curah hujan 750–1 500 mm per tahun. Tabel 7Jumlah penduduk di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam tahun 2012 Nagari Laki-Laki Perempuan Balai Gurah 2 632 2 956 Batu Taba 2 756 3 005 Pasia 1 796 1 902 Biaro Gadang 4 175 4 162 AmpangGadang 3 306 3 706 Lambah 2 540 2 304 Panampuang 4 682 4 899 Jumlah 21 887 22 934 Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Ampek Angkek2013 Jumlah 5 588 5 761 3 698 8 337 7 012 4 844 9 581 44 821 Jumlah penduduk Kecamatan Ampek Angkek pada tahun 2012 adalah sebesar 44 821 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki sebesar 21 887 jiwa dan jumlah 33 perempuan sebesar 22 934 jiwa. Pada Tabel 7 dapat di lihat sebaran jumlah penduduk pada masing-masing Nagari berdasarkan jenis kelamin. Penggunaan lahan di Kecamatan Ampek Angkek terdiri dari lahan sawah dan lahan kering. Untuk lebih jelasnya mengenai penggunaan lahan di Kecamatan Ampek Angkek dapat dilihat pada Tabel 8. Penggunaan lahan di kecamatan Ampek Angkek lebih banyak lahan sawah yaitu sebesar 57.64 persen dan lahan kering sebesar 42.36 persen. Penggunaan lahan kering terdiri dari tegal/kebun, perkebunan, kolam, tambak dan hutan rakyat. Penggunaan lahan tegal/kebun termasuk yang terbesar yaitu sebesar 34.91 persen, dimana pada lahan inilah tanaman ubi jalar diusahakan oleh petani. Tabel 8Penggunaan Lahan di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2012 No 1 Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha) Persentase (%) Lahan Sawah - Setengah teknis 115.0 5.65 Sederhana 685.0 33.66 - Tadah Hujan 373.0 18.33 2 Lahan Kering - Tegal/Kebun 710.5 34.91 - Perkebunan 98.5 4.84 - Kolam 13.8 0.68 - Tambak 9.2 0.45 - Hutan Rakyat 30.0 1.47 Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Ampek Angkek2013 Karakteristik Petani Responden Petani responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani yang berusahatani ubi jalar. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 40 responden.Pada lokasi penelitian usahatani ubi jalar merupakan pekerjaan utama petani. 1. Umur petani responden Tabel 9 menunjukkan bahwa sebesar 37.5 persen petani berada pada kisaran umur antara 50 – 59 tahun. Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dan produktivitas seseorang dalam bekerja. Umur merupakan salah satu sumber inefisiensi teknis. Tabel 9Keragaman umur petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Umur Petani 30 – 39 40 – 49 50 – 59 60 – 69 70 – 79 Jumlah (orang) 3 10 15 11 1 Persentase (%) 7.5 25.0 37.5 27.5 2.5 34 Jumlah 40 100.0 Kemampuan seseorang akan terus meningkat seiring dengan pertambahan umur, namun pada suatu saat tertentu akan mengalami penurunan. Umur berkaitan dengan fisik seseorang. Pada petani yang berada pada umur produktif, memiliki tenaga lebih besar dari pada petani yang berumur besar lebih dari 50 tahun yang merupakan masa menjelang umur non produkif. Umur memiliki pengaruh pada pola pikir seseorang. Petani yang berumur relatif lebih muda bersifat lebih suka pada sesuatu yang baru yang lebih menguntungkan. Petani yang lebih muda lebih mudah menerima sesuatu yang baru dibandingkan dengan petani yang sudah tua. 2. Tingkat Pendidikan Pada Tabel 10 dapat dilihat bahwa persentase terbesar pendidikan petani responden pada lokasi penelitian adalah sudah berpendidikan SD sebesar 47.50 persen. Petani yang sudah berpendidikan SMP sebesar 22.50 persen, sudah berpendidikan SMA/SMK sebesar 17.50 persen dan sudah berpendidikan diploma sebesar 12.50 persen.Tingkat pendiidkan mempengaruhi petani dalam membuat keputusan dalam berusahatani seperti penggunaan adopsi teknologi dan mempengaruhi inefisiensi teknis petani. Tabel 10Sebaran pendidikan petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Pendidikan a. Tidak Sekolah (0 tahun) b. SD (1-6 tahun) c. SMP (7-9 tahun) d. SMA/SMK (10-12 tahun) e. Diploma (>12 tahun) Jumlah Jumlah (orang) 0 19 9 7 5 40 Persentase (%) 0.0 47.5 22.5 17.5 12.5 100.0 3. Pengalaman berusahatani Pada Tabel 11 dapat dilihat sebaran pengalaman bertani. Pengalaman bertani petani responden sebesar 2.5 persen berada pada selang 1-5 tahun, 10 persen berada pada selang antara 6-10 tahun, 15 persen berada pada selang antara 11-15 tahun, 12.5 persen berada pada selang antara 16-20 tahun dan 21-25 tahun dan 47.50 persen petani responden memiliki pengalaman usahatani lebih dari 25 tahun. Rata-rata petani memiliki pengalaman yang cukup lama dalam bertani. Tabel 11Sebaran pengalaman petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Pengalaman (tahun) a. 1-5 b. 6-10 c. 11-15 d. 16-20 e. 21-25 f. > 25 Jumlah (orang) 1 4 6 5 5 19 Persentase (%) 2.5 10.0 15.0 12.5 12.5 47.5 35 Jumlah 40 100.0 Hal ini disebabkan karena sebagian besar petani di daerah penelitian merupakan penduduk asli. Mereka memulai usahatani dalam usia relatif muda yang merupakan warisan dari orang tua. Dengan pengalaman yang sudah cukup lama yang dimiliki petani, maka petani sudah terampil dalam penggunaan inputinput produksi dalam berusahatani. Semakin lama pengalaman usahatani maka akan semakin banyak ilmu usahatani yang dimiliki 4. Partisipasi dalam Kelompok Tani Kelompok tani merupakan suatu wadah bagi petani untuk berbagi pengalaman, keterampilan dan pengetahuan antar sesama petani dalam aktivitas usahatani. Dalam kelompok tani petani dapat memperoleh informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam berusahatani. Tabel 12 menunjukkan bahwa sebesar 80 persen petani aktif dalam kegiatan kelompok dan hanya 20 persen petani yang tidak aktif atau tidak tergabung dalam kelompok tani. Artinya petani yang tergabung dalam kelompok tani lebih efisien dibandingkan dengan petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani. Partisipasi dalam kelompok tani merupakan salah satu variabel penting dalam menurunkan inefisiensi teknis. Tabel 12Partisipasi petani ubi jalar dalam kelompok tani di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Keanggotaan dalam kelompok tani a. Anggota b. bukan anggota Jumlah Jumlah (orang) 32 8 40 Persentase (%) 80.0 20.0 100.0 5. Jumlah tanggungan keluarga Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa petani yang memiliki jumlah tanggungan yang berkisar antara 0-5 orang adalah 38 orang dan yang memiliki tanggungan besar dari enam oraang adalah 2 orang. Besar kecilnya jumlah tanggungan keluarga dalam suatu keluarga dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda. Pertama, dengan besar atau kecilnya jumlah tanggungan keluarga berkaitan dengan beban yang harus dipikul kepala keluarga,semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kedua, besar kecilnya jumlah tanggungan keluarga dapat membantu kegiatan usahatani ubi jalar. Tabel 13Tanggungan keluarga petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2104 Jumlah tanggungan keluarga a. 0-5 b. ≥ 6 Jumlah Jumlah (orang) 38 2 40 Persentase (%) 90.0 10.0 100.0 36 6. Kepemilikan lahan Tabel 14 menunjukkan petani responden yang memiliki lahan sendiri adalah sebesar 57.50 persen dan 42.50 persen adalah petani yang menyewa lahan. Sebagian besar kepemilikan lahan di daerah penelitian adalah lahan milik sendiri. Petani yang tidak memiliki lahan memperoleh lahan garapan dengan cara menyewa. Rata-rata luas lahan yang dimiliki oleh petani responden di daerah penelitian adalah sebesar 0.24 ha, dengan luas lahan minimal 0.1 ha dan luas lahan maksimal adalah 0.64 ha. Tabel 14Status kepemilikan lahan petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Kepemilikan lahan a. Sendiri b. Sewa Jumlah Jumlah (orang) 23 17 40 Persentase (%) 57.5 42.5 100.0 7. Jenis varietas Jenis varietas yang digunakan oleh petani responden terdiri dari varietas Bogor dan non Bogor. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa sebesar 77.50 persen petani responden menggunakan varietas Bogor. Sedangkan 22.50 persen petani responden menggunakan varietas Non Bogor. Petani yang tidak menggunakan varietas bogor, pada umumnya petani yang berumur diatas 55 tahun dan sudah memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun. Petani yang sudah berumur dan memiliki pengalaman bertani yang lama, sulit menerima hal-hal yang baru. Hal ini disebabkan dalam berusahatani mereka sudah puluhan tahun menggunakan varietas lokal secara terus menerus dan selama itu memberikan produksi yang baik bagi mereka. Tabel 15Jenis varietas ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Jenis varietas Bogor Non Bogor Jumlah Jumlah (orang) 31 9 40 Persentase (%) 77.5 22.5 100.0 8. Luas lahan Luas lahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah luas lahan petani responden yang ditanami ubi jalar oleh petani responden. Lahan petani responden di daerah penelitian sebagian besar berskala kecil. Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa luas garapan antara 0.10 – 0.20 ha sebesar 50 persen, luas garapan antara 0.21 – 0.30 ha sebesar 32.5 persen, luas garapan antara 0.31 – 0.40 dan luas garapan antara 0.41- 0.50 ha masing-masing sebesar 7.5 persen, luas garapan antara 0.61 – 0.70 ha sebesar 2.5 persen. 37 Tabel 16Sebaran luas lahan petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Luas lahan (ha) 0.10 – 0.20 0.21 – 0.30 0.31 – 0.40 0.41 - 0.50 0.51 – 0.60 0.61 – 0.70 Total Rata-rata Minimum Maksimum Jumlah (orang) 20 13 3 3 0 1 40 0.24 0.10 0.64 Persentase (%) 50.0 32.5 7.5 7.5 0.0 2.5 100.0 Keragaan Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Ampek Angkek Tanaman ubi jalar merupakan komoditi unggulan pangan lainnya di kecamatan Ampek Angkek. Sebagian besar petani menanam komoditi ubi jalar karena budidaya cukup mudah, cepat berproduksi dan pemeliharaanya cukup mudah. Selain itu, harga ubi jalar yang relatif tetap dengan rata-rata harga diatas Rp 2 000 per kg di tingkat petani serta kepastian pasar dengan adanya pedagang pengumpul yang nantinya dijual ke pabrik pengolahan. Tahapan usahatani ubi jalar didaerah penelitian adalah: 1. Penyiapan lahan Sebelum lahan ditanami, dilakukan terlebih dahulu pengolahan tanah. Pengolahan tanah terdiri dari aktivitas membajak/mencangkul dan membuat bedengan. Pengolahan tanah, pertama, lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar (gulma) dengan menggunakan bajak/traktor, kemudian tanah dibiarkan selama 1 minggu. Tahapan kedua adalah membuat bedengan. Rata-rata ukuran bedengan petani responden adalah lebar 40 – 50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30 – 40 cm. 2. Penanaman Penanaman bibit ubi jalar umumnya dilakukan petani pada pagi atau sore hari dengan melubangi bedengan sedalam 5 cm. Jarak tanam yang digunakan oleh petani beranekaragam 70 cm x 20 cm, 70 cm x 25 cm, 60 cm x 20 cm dan 60 cm x 25 cm. Bibit ubi jalar yang akan ditanam dibiarkan atau disimpan selama 1-2 hari agar akar kuat saat penanaman. 3. Penyiangan dan pembubunan Aktivitas penyiangan merupakan pembersihan rerumputan disekitar tanaman. Penyiangan dilakukan oleh petani responden minimal sekali dalam musim tanam yaitu dimulai pada saat tanaman ubi jalar berumur 30-45 hari. Penyiangan dilakukan dengan cara manual yaitu dengan menggunakan tangan ataupun cangkul. Pembubunan dilakukan setelah kegiatan penyiangan dilakukan. Pembubunan dilakukan dengan cara menaikan tanah ke atas 38 bedengan dengan tujuan memperbaiki struktur tanah dan menutupi akar dan umbi yang menyembul keluar kepermukaan tanah. 4. Pemupukan Pupuk diberikan dengan tujuan menambah zat-zat hara didalam tanah sehingga kebutuhan makanan tanaman dapat terpenuhi serta memperbaiki struktur tanah yaitu merubah zat-zat makanan yang semula tidak mudah diserap menjadi lebih mudah dan siap diserap oleh akar. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk Urea, Phonska dan NPK. Umumnya petani hanya melakukan satu kali pemupukan. Pemberian jumlah pupuk antar petani responden berbeda-beda. Pupuk diberikan pada tanaman saat berumur 1.5-2 bulan setelah tanam. 5. Pengendalian HPT Hama yang menyerang tanaman ubi jalar adalah hama boleng atau lanas dan daun tanaman berlubang. Gejala serangan hama ini terdapat lubanglubang kecil tidak rata pada permukaan kulit ubi. Bila dibelah terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Umunya pengendalian hama dilakukan secara fisik dan mekanis, yaitu dengan memotong atau memangkas atau mencabut tanaman yang sakit atau terserang hama yang cukup berat. Menurut petani serangan hama ini belum mengkhawatirkan karena jumlah tanaman yang diserang masih sedikit dan belum menimbulkan kerugian besar bagi petani. 6. Panen dan pasca panen Ubi jalar didaerah penelitian dapat dipanen pada saat berumur 5-6 bulan setelah tanam. Panen dilakukan dengan memotong batang terlebih dahulu. Setelah bedengan bersih dari batang yang telah dipotong sebelumnya, bedengan digali dengan menggunakan cangkul hingga umbinya terlihat. umbi ubi jalar kemudian dimasukkan kedalam karung. Untuk kegiatan pasca panen setelah umbi ubi jalar dimasukkan kedalam karung, biasanya langsung dibeli oleh pedagang pengumpul. Biasanya umbi ubi jalar tidak dibersihkan dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel atau pun disortasi berdasarkan ukuran. Tingkat Efisiensi Usahatani Ubi Jalar Analisis Fungsi Produksi Stochastic Frontier Usahatani Ubi Jalar Penelitian ini menggunakan model Stochastikfrontierdengan metode pendugaan MaximumLikelihoodEstimation (MLE) yang dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama dilakukan menggunakan metode OLS (OrdinaryLeastSquare) dan tahap kedua menggunakan metode MLE. Sebelum memilih model yang baik untuk menduga efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi terlebih dahulu koefisien fungsi produksi diduga dengan menggunakan metode OLS (OrdinaryLeastSquare).Model fungsi produksi Cobb-Douglas terdiri dari lima variabel penjelas, yaitu: varibel jumlah bibit ubi jalar (X 1), jumlah pupuk organik (X2), jumlah pupuk anorganik (X3), jumlah tenaga kerja dalam keluarga (X4) dan jumlah tenaga kerja luar keluarga (X5). Variabel luas lahan tidak 39 dimasukkan kedalam model karena memiliki nilai VIF diatas 10, yang artinya terjadi multikolinearitas. Sebelum memutuskan untuk mengeluarkan variabel luas lahan, untuk menangani multikolinearitas sudah dilakukan penambahan data baru atau ukuran observasi. Namun cara tersebut tidak menyelesaikan masalah multikolinearitas, tetapi menimbulkan masalah baru yaitu beberapa tanda parameter menjadi negatif. Variabel yang bertanda negatif tidak sesuai dengan harapan, karena dengan adanya variabel yang bertanda negatif menyebabkan penurunan fungsi biaya dual tidak dapat dilakukan. Untuk itu dengan dikeluarkannya variabel luas lahan, semua tanda parameter adalah positif sesuai dengan harapan. Model produksi ubi jalar terdistribusi normal, homokedastisitas (Lampiran 3) dan tidak terjadi multikoliniearitas dengan nilai VIF<10 (Tabel 17) dan tidak terjadi autokorelasi dengan nilai DW= 2.09000.Multikolinearitas terjadi jika nilai VIF lebih besar atau sama dengan 10. Nilai VIF yang tinggi merupakan indikasi terjadinya multikolinearitas antar variabel independen pada suatu model. Berdasarkan nilai VIF variabel-variabel bebas diperoleh nilai VIF <10, artinya bahwa tidak terdapat hubungan yang kuat antara variabel bebas dalam model. Menurut Gujarati (1997) jika nilai VIF<10 maka tidak terdapat masalah multikolinearitas. Tabel 17Hasil dugaan model produksi ubi jalar Cobb-Douglass menggunakan metode OLS di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Hasil OLS Produksi Ubi Jalar Parameter VIF Variabel Input Dugaan T Value Pr > |t| Konstanta 2.39630 4.48 <.0001 0.00000 Jumlah bibit ubi jalar (X1) 0.12563** 2.32 0.0264 2.39354 ** Jumlah pupuk organik 0.19813 2.31 0.0269 4.52348 (X2) Jumlah pupuk anorganik 0.22518** 2.55 0.0154 6.73313 (X3) Jumlah tenaga kerja dalam 0.22187*** 3.55 0.0011 1.55364 keluarga (X Jumlah tenaga kerja luar 0.51033** 3.48 0.0005 5.31021 keluarga (X5) R-Square 0.94000 F-hitung 106.55000 DurbinWatson 2.09000 Keterangan:***nyata pada taraf 1 persen, **nyata pada taraf 5 persen Pendugaan parameter fungsi produksi dengan metode OLS (OrdinaryLeastSquare) memberikan gambaran kinerja rata-rata dari proses produksi petani pada tingkat teknologi yang ada. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa fungsi produksi rata-rata terbentuk cukup baik yang menggambarkan perilaku petani di dalam proses produksi. Koefisien determinasi (R2) dari fungsi rata-rata yang diperoleh bernilai 0.94. Artinya bahwa 94 persen varibel input yang digunakan dalam model yaitu variabel jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah pupuk anorganik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga kerja 40 luar keluarga, dapat menjelaskan variasi produksi ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek. Sedangkan enam persendipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya yang tidak dimasukkan dalam persamaan fungsi produksi. Seluruh variabel input berpengaruh positif terhadap produksi usahatani ubi jalar sesuai dengan yang diharapakan. Variabel jumlah tenaga kerja dalam keluarga (X4) dan jumlah tenaga kerja luar keluarga (X5) berpengaruh nyata pada α= 1 persen. Variabel yang berpengaruh nyata pada α=5 persen adalah jumlah bibit ubi jalar (X1), jumlah pupuk organik (X2) dan jumlah pupuk anorganik (X3). Nilai parameter dugaan pada model produksi ubi jalar merupakan nilai elastisitasnya. Adapun nilai koefisien atau elastisitas produksi untuk input jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah pupuk anorganik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga kerja luar keluarga masing-masing sebesar 0.12, 0.19, 0.22, 0.22 dan 0.51. Jumlah tenaga kerja luar keluarga memiliki elastisitas paling besar yaitu 0.51, artinya penambahan jumlah tenaga kerja luar keluarga sebesar satu persen dengan input lain tetap maka akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.51 persen. Variabel yang memiliki nilai elastisitas terkecil adalah variabel jumlah bibit ubi jalar sebesar 0.125, artinya penambahan jumlah bibit ubi jalar sebesar satu persen dengan input lain tetap akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.125 persen. Tahap kedua fungsi produksi stochasticfrontier usahatani ubi jalar dianalisis dengan menggunakan metode MLE dengan frontier 4.1. hasil pendugaan model produksi stochasticfrontier dijadikan dasar untuk mengukur efisiensi alokatif dan efisiensi ekonomi dengan menurunkan fungsi biaya dual. . Tabel 18Hasil dugaan model produksi Cobb-Douglas Stochastic Frontierusahatani ubi jalar menggunakan metode MLE di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Variabel Konstanta Jumlah bibit ubi jalar (X1) Jumlah pupuk organik (X2) Jumlah pupuk anorganik (X3) Jumlah tenaga kerja dalam keluarga (X4) Jumlah tenaga kerja luar keluarga (X5) Gamma Log-likehood function OLS Log-likehood function MLE LR test of the one = sided error Koefisien 1.75 0.17*** 0.38*** 0.13** 0.16*** 0.37*** 0.98 29.93 36.14 12.42 t-ratio 3.54 4.04 3.36 1.71 2.85 2.85 0.52 Keterangan:***nyata pada taraf 1 persen, **nyata pada taraf 10 persen Tabel 18 menunjukkan hasil pendugaan model produksi Cobb-Douglas Stochastic Frontierusahatani ubi jalar menggunakan metode MLE di kecamatan Ampek Angkek. Hasil pendugaan menggambarkan kinerja terbaik dari petani responden pada tingkat teknologi yang ada. Variabel-variabel yang berpengaruh nyata pada α=1 persen terhadap produksi batas (frontier) ubi jalar adalah variabel jumlah bibit ubi jalar (X1), jumlah pupuk organik (X2), jumlah tenaga kerja dalam keluarga (X4) dan jumlah tenaga kerja luarkeluarga (X5). Sedangkan jumlah pupuk anorganik (X3) berpengaruh nyata pada α=10 persen 41 Nilai gamma ( ) pada Tabel 18 adalah 0.98, artinya bahwa sebesar 98 persen dari variasi hasil diantara petani disebabkan oleh perbedaan efisiensi teknis sementara sisanya 2 persen disebabkan oleh efek-efek stochastic diluar model, seperti pengaruh cuaca atau iklim, serangan hama penyakit dan bencana alam. Hasil pendugaan GeneralizedLikelihoodRatio(LR) dari model produksi ubi jalar stochasticfrontierpetani sampel adalah 12.42. Nilai tersebut lebih besar dari tabel Kodde dan Palm sebesar 10.γ7 yang nyata pada α=5 persen. Hal ini menunjukkan secara kuat menolak hipotesis bahwa tidak ada efek inefisiensi. Menunjukkan bahwa fungsi produksi usahatani ubi jalar dapat menerangkan keberadaan efisiensi dan inefisiensi teknis petani di dalam proses produksi ubi jalar, atau dengan kata lain aktivitas usahatani ubi jalar dipengaruhi oleh efisiensi teknis. Variabel-variabel input yang berpengaruh nyata pada penelitian ini adalah variabel jumlah bibit ubi jalar, jumlah pupuk organik, jumlah pupuk anorganik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga kerja luar keluarga. Variabel jumlah bibit ubi jalar (X1) berpengaruh sangat nyata pada taraf satu persen dan memiliki nilai koefisien atau elastisitas sebesar 0.17. Artinya bahwa jika penggunaan input jumlah bibit ubi jalar dinaikan sebesar satu persen, maka akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.17 persen. Jumlah bibit yang digunakan dalam usahatani adalah 16 157 bibit (dengan luas lahan rata-rata 0.24 Ha). Dengan meningkatkan penggunaan jumlah bibit sebesar satu persen yaitu menambah bibit sebanyak 162 bibit akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 8.5 kilogram. Untuk meningkatkan produksi ubi jalar di daerah penelitian petani responden dapat menambah penggunaan input jumlah bibit ubi jalar sebanyak 162 bibit. Jumlah bibit berpengaruh nyata dan positif terhadap produksi hal ini sejalan dengan penelitian Situmorang (2013); Kurniawan (2008) dan Nursan (2015). Variabel pupuk organik (X2) berpengaruh sangat nyata pada taraf satu persen dan memiliki nilai koefisien atau nilai elastisitas paling besar yaitu 0.38. Penambahan input pupuk organik sebesar satu persen dengan jumlah input lain tetap, maka akan meningkatkan produksi sebesar 0.38 persen. Rata-rata penggunaan pupuk organik pada lokasi penelitian adalah sebesar 2 235 kilogram/0.24 Ha. Jika input jumlah pupuk organik penggunaanya dinaikan sebesar satu persen yaitu penambahan pupuk sebesar 22.35 kilogram akan meningkatkan produksi ubi jalar pada daerah penelitian sebesar 19 kilogram. Peningkatan produksi yang tinggi dikarenakan petani responden dalam menggunakan pupuk organik untuk usahatani ubi jalar masih sedikit. Sehingga jika penggunaan pupuk organik pada usahatani ubi jalar ditingkatkan akan memberikan produksi yang tinggi. Penambahan penggunaan pupuk kandang memiliki peranan penting untuk meningkatkan kesuburan tanah yang akan mempengaruhi pertumbuhan ubi jalar. Untuk itu, dalam meningkatkan produksi ubi jalar salah satu alternatifnya adalah dengan menambah penggunaan pupuk organik mengingat jumlah penggunaanya yang dibawah anjuran dan pentingnya peranan pupuk organik untuk kesuburan tanah. Variabel pupuk anorganik (X3) berpengaruh nyata pada taraf 10 persen dengan nilai elastisitas sebesar 0.13. Jika jumlah pupuk anorganik dinaikan sebesar satu persendengan jumlah input lainnya tetap, maka akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.13 persen. Peningkatan penggunaan pupuk anorganik sebesar satu persen yaitu dengan menambah sebesar 0.55 kilogram akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 6.5 kilogram. Nilai elastisitas yang kecil 42 mengindikasikan bahwa penggunaan pupuk anorganik pada lokasi penelitian sudah sesuai dengan anjuran. Penggunaan pupuk anorganik disini adalah pupuk Urea, pupuk Phonska dan pupuk NPK. Penggunaan pupuk untuk masing-masing jenis pupuk adalah 22.42 kilogram, 28 kilogram dan 4.87 kilogram. Variabel tenaga kerja dalam keluarga (X4)berpengaruh nyata pada taraf satu persen dan elastisitas sebesar 0.16. Peningkatan input tenaga kerja dalam keluarga sebesar satu persendengan input lainnya tetap maka akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.16 persen. Rata-rata penggunaan tenaga kerja dalam keluarga pada lokasi penelitian adalah 11.1 HKP/0.24 Ha. Rendahnya nilai koefisien ini dikarenakan masih kecilnya produktivitas tenaga kerja yang dapat dicurahkan oleh petani. Jika variabel tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen yaitu dengan menambah sebesar 0.11 HKP dapat meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 8 kilogram. Variabel tenaga kerja luar keluarga (X5) berpengaruh sangat nyata pada taraf satu persendan memiliki nilai koefisien atau nilai elastisitas sebesar 0.37. Artinya bahwa penambahan input tenaga kerja luar keluarga sebesar satu persen, maka akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.37 persen. Usahatani ubi jalar memang sarat dengan tenaga kerja, terutama untuk kegiatan persiapan lahan, penanaman dan saat panen. Sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja. Dengan nilai elastisitas tersebut, maka jika tenaga kerja luar keluarga ditambah maka akan meningkatkan produksi ubi jalar yang tinggi dibandingkan dengan penambahan input lain seperti input bibit, pupuk anorganik dan tenaga kerja dalam keluarga. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga dalam usahatani pada daerah penelitian adalah sebesar 46.40 HKP/0.24 Ha. Jika penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen yaitu dengan menambah sebesar 0.46 HKP dalam usahatani akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 18.5 kilogram. Berdasarkan hasil pendugaan parameter pada fungsi produksi stochastic frontierdi atas, bahwa bibit, pupuk organik, pupuk anorganik, tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga mempunyai pengaruh positif dan nyata terhadap produksi ubi jalar di daerah penelitian. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semua input yang dimasukkan kedalam model fungsi produksi ubi jalar merupakan input produksi penggeser fungsi produksi ke arah frontiernya. Variabel pupuk organik memberikan nilai elastisitas paling besar. Untuk itu penggunaan pupuk organik agar lebih diperhatikan supaya petani responden memperoleh produksi yang lebih tinggi. Analisis Efisiensi Teknis Efisiensi teknis dianalisis dengan menggunakan model produksi stochasticfrontier. Efisiensi teknispetani responden dapat dilihat pada Lampiran 6. Berdasarkan pada Tabel 19 hasil pendugaan produksi stochasticfrontierdiperoleh nilai rata-rata efisiensi teknis, nilai maksimum dan nilai maksimum efisiensi teknis petani di kecamatan Ampek Angkek. Rata-rata nilai efisiensi teknis petani responden adalah 0.85, dengan nilai efisiensi teknis maksimum 0.98 dan nilai efisiensi teknis minimum 0.59. Sebaran nilai efisiensi teknis usahatani ubi jalar dikecamatan Ampek Angkeksebesar 7.5 persen memiliki nilai efisiensi kecil dari 0.7 dan 92.5 persen besar dari 0.7. Jika 43 petani mencapai efisiensi rata-rata dan ingin mencapai efisiensi maksimum maka peluang untuk meningkatkan produksi adalah sebesar 14 persen (1-0.85/0.98). Perhitungan yang sama jika petani yang memiliki nilai eifisiensi minimum ingin mencapai efisiensi maksimum, maka peluang peningkatan produksi sebesar 40 persen (1-0.59/0.98). Tabel 19Sebaran nilai efisiensi teknis usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Sebaran Efisiensi Teknis <0.50 0.50 – 0.59 0.60 – 0.69 0.70 – 0.79 0.80 – 0.89 0.90 – 0.99 Jumlah Rata-rata Maksimum Minimum Jumlah (orang) 0 1 2 7 16 14 40 Persen (%) 0.0 2.5 5.0 17.5 40.0 35.0 100.0 0.85 0.98 0.59 Berdasarkan nilai rata-rata efisiensi teknis, maka usahatani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek sudah efisien. Usahatani dikatakan efisien jikanilainya mecapai 0.7. Menurut Coelli (1998) nilai batas efisien adalah 0.7. Beberapa faktor penyebabnya antara lain petani responden mempunyai keterampilan teknis yaang berkaitan dengan pengelolaan input yang tepat dan keterampilan teknis lainnya. Namun demikian produksi masih dapat ditingkatkan sampai mencapai produksi maksimum. Perbedaan tingkat efisiensi teknis yang dicapai oleh petani pada lokasi penelitian mengindikasikan penguasaan dan penerapan teknologi dan juga majemen usahatani yang berbeda-beda antar petani. Prayoga (2010) menyatakan bahwa perbedaan tingkat penguasaan teknologi dapat disebabkan oleh umur petani dan pengalaman bertani. Disamping itu perbedaan dalam aplikasi juga disebabkan oleh kemampuan petani untuk mendapatkan input produksi yang berkaitan dengan modal petani. Hasil analisis efisiensi teknis petani responden di lokasi penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata efisiensi teknis adalah 0.85. Nilai tersebut menunjukkan usahatani ubi jalar sudah efisien secara teknis. Meskipun sudah efisien secara teknis namun produktivitas ubi jalar masih rendah. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan mengalokasian input-input produksi secara tepat. Berdasarkan hasil pendugaan parameter pada fungsi produksi stochatic frontier semua input produksi berpengaruh positif dan nyata terhadap produksi ubi jalar. Artinya bahwa semua input jika penggunaanya ditingkatkan akan meningkatkan produksi ubi jalar. Pada lokasi input produksi yang memberikan nilai elastisitas paling besar adalah input pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan oleh petani responden adalah pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang dalam usahatani ubi jalar pada luas lahan rata-rata petani adalah 2 235 kilogram. Pada Tabel 18 dapat dilihat bahwa nilai elastisitas jumlah pupuk 44 organik senilai 0.38 dan berpengaruh nyata pada taraf satu persen. Artinya dengan penambahan pupuk organik dalam usahatani ubi jalar akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 0.38 persen. Dengan menambah penggunaan pupuk organik sebesar 22.35 kilogram akan meningkatkan produksi ubi jalar sebesar 19 kilogram. Penanbahan penggunaan pupuk kandang menjadi penting karena pupuk kandang memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kesuburan tanah yang akan mempengaruhi pertumbuhan ubi jalar. Dengan memberikan pupuk kandang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, maka ubi jalar akan mendapatkan nutrisi yang cukup sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas ubi jalar. Sumber-Sumber Inefisiensi Teknis Sumber-sumber yang mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis petani responden diperoleh dari hasil penggunaan model efek inefisiensi teknis dan fungsi produksi stochasticfrontier.Terdapat tujuh variabel yang diduga menjadi sumber inefisiensi teknis usahatani ubi jalar yaitu umur (Z1), pendidikan (Z2), pengalaman (Z3), jumlah tanggungan keluarga (Z4), dummy anggota kelompok tani (Z5), dummy kepemilikan lahan (Z6), dan dummy jenis varietas (Z7). Tabel 20 menunjukkan bahwa variabel pendidikan, pengalaman, dummy anggota kelompok tani dan dummy jenis varietas bertanda negatif terhadap inefisiensi usahatani ubi jalar. Sedangkan variabel umur, jumlah tanggungan keluarga dan dummy kepemilikan lahan bertanda positif. Dari ketujuh variabel tersebut hanya variabel dummy anggota kelompok tani yang berpengaruh nyata pada taraf 10 persen terhadap inefisiensi usahatani ubi jalar. Tabel 20Faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis fungsi produksiStochasticFrontier di Kecamatan Ampek Angkek tahun 2014 Variabel Konstanta Umur (Z1) Tingkat pendidikan (Z2) Pengalaman berusahatani (Z3) Jumlah tanggungan (Z4) Dummy anggota kelompok tani (Z5) Dummy kepemilikan lahan (Z6) Dummy jenis varietas (Z7) Parameter dugaan -0.260 0.010 -0.007 -0.009 0.026 -0.150** 0.140 -0.022 t-ratio -0.586 1.414 -0.453 -1.220 0.703 -1.663 1.523 0.217 Keterangan:**nyata pada taraf 10 persen 1. Umur (Z1) Variabel umur dimasukkan dalam model untuk mengetahui pengaruh umur terhadap efisiensi usahatani. Asumsi yang dibangun adalah semakin tinggi umur maka semakin tidak efisien petani dalam menjalankan usahataninya. Artinya umur diharapkan berkorelasi positif terhadap inefisiensi. Hasil dugaan menunjukkan bahwa umur tidak berpengaruh terhadap inefisiensi walaupun dengan tanda positif. Sehingga variabel umur 45 merupakan variabel yang tidak penting dalam mempengaruhi efisiensi yang dicapai oleh petani dalam menjalankan usahataninya. Artinya petani yang berusia muda maupun petani yang berusia tua mempunyai peluang yang sama untuk mencapai hasil maksimum dalam usahataninya.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Haryani (2009) yang menemukan bahwa umur berkorelasi positif dan tidak berpengaruh terhadap inefisiensi. Kondisi pada daerah penelitian menunjukkan bahwa jumlah petani responden yang berada pada umur 30-59 tahun berjumlah 28 orang atau 70 persen dan jumlah petani yang berada pada umur 50-79 tahun berjumlah 12 orang atau 30 persen. Petani yang berumur muda lebih banyak pada lokasi penelitian. Namun berdasarkan hasil dugaan diatas, umur merupakan variabel yang tidak penting dalam mempengaruhi efisiensi. Baik petani muda maupun petani tua mempunyai peluang yang sama dalam mencapai efisiensi. . 2. Tingkat pendidikan (Z2) Tingkat pendidikan merupakan lamanya pendidikan petani yang dihabiskan untuk mendapatkan pendidikan formal. Tinggi rendahnya pendidikan petani akan berpengaruh kepada pengambilan keputusan dalam berusahatni. Tingkat pendidikanbertanda negatif tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap inefisiensi sehingga variabel ini tidak penting dalam mempengaruhi efisiensi yang dicapai oleh petani. Hal ini mengindikasikan bahwa efisien atau tidaknya usahatani ubi jalar bukan karena pengaruh tinggi rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh petani. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa semua petani memiliki pendidikan. Sebagian besar petani responden berpendidikan Sekolah Dasar yaitu sebesar 47.50 persen. Petani yang berpendidikan SMP sebesar 22.50 persen, berpendidikan SMA/SMK sebesar 17.50 persen dan berpendidikan Diploma sebesar 12.50 persen. 3. Pengalaman berusahatani (Z3) Pengalaman berusahatani mempengaruhi kemampuan atau kemahiran petani dalam berusahatani. Petani yang berpengalaman pada umumnya memiliki jaringan kerja yang lebih luas dan cenderung mengaplikasikan informasi teknologi yang diperolehnya. Pengalaman yang semakin lama dalam berusahatani menjadikan petani mengambil keputusan yang rasional untuk usahataninya. Kondisi di lapangan menunjukkan sebesar 47.50 persen petani responden memiliki pengalaman berusahatani lebih dari 25 tahun. Hal ini disebabkan karena sebagian besar petani di daerah penelitian merupakan penduduk asli. Mereka memulai usahatani dalam usia relatif muda yang merupakan warisan dari orang tua. Dengan pengalaman yang sudah cukup lama yang dimiliki petani, maka petani sudah terampil dalam penggunaan input-input produksi dalam berusahatani. Semakin lama pengalaman usahatani maka akan semakin banyak ilmu usahatani yang dimiliki. Hasil dugaan menunjukkan bahwa pengalaman bertani bertanda negatif dan tidak berpengaruh nyata. Artinya pengalaman petani bukan merupakan faktor penting mempengaruhi efisiensi teknis yang dicapai oleh petani. Hal ini mengindikasikan bahwa baik petani yang memiliki 46 pengalaman yang lama dan baru dalam berusahatani akan memperoleh peluang yang sama dengan petani yang berpengalaman. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitianHaryani (2009). 4. Jumlah tanggungan (Z4) Jumlah anggota keluarga merupakan sumber tenaga kerja yang dapat mensubstitusi tenaga kerja luar keluarga. Semakin banyak anggota keluarga maka akan semakin banyak yang ikut serta dalam usahatani sehingga mengurangi inefisiensi teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tanggungan memiliki positif dan tidak berpengaruh nyata. Artinya banyaknya jumlah tanggungan keluarga petani merupakan variabel yang tidak penting dalam mempengaruhi efisiensi yang dicapai oleh petani. Baik petani yang memiliki jumlah tanggungan keluarga yang banyak mauapun jumlah tanggungan keluarga sedikit mempunyai peluang yang sama dalam mencapai efisiensi teknis. 5. Anggota kelompok tani (Z5) Hasil dugaan menunjukkan bahwa anggota kelompok tani memiliki koefisien negatif dan berpengaruh nyata.Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitianOkaye et al.(2008), Nahraeni (2012) dan Ohajianya et al.(2014). Petani yang ikut dalam anggota kelompok tani dapat mengelola usahataninya lebih efisien. Artinya semakin intensif keterlibatan petani dalam keanggotaan kelompok tani akan menurunkan inefisiensi teknis. Petani yang tergabung dalam kelompok tani akan memiliki akses yang lebih baik dalam informasi, seperti informasi teknologi, informasi harga dan program pemerintah. Sehingga keanggotaan petani dalam kelompok tani berdampak menurunkan inefisiensi. Menurut Haryani (2009), petani yang tergabung dan aktif dalam kelompok tani akan dapat (1) meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan non formal, (2) meningkatkan kemampuan manajerial, (3) meningkatkan aksesibilitas terhadap teknologi dan inovasi baru dan (4) meningkatkan aksesibilitas terhadap bantuan kredit dan bantuan lainnya karena disalurkan melalui kelompok tani. Keikutsertaan petani dalam kelompok tani akan menurunkan inefisiensi. Hal ini karena dengan tergabung dalam kelompok tani petani akan mendapatkan pengetahuan melalui pendidikan nonformal dari penyuluh sehingga menambah keterampilan dan pengalaman petani dalam berusahatani. Kelompok tani memberikan kontribusi positif kepada anggota yaitu meningkatkan rasa kebersamaan dan kerjasama dalam melakukan aktivitas usahatani, berkesempatan berkonsultasi dengan penyuluh, membuka peluang untuk mendapatkan informasi harga ataupun modal.Berdasarkan hal tersebut maka perlu untuk tetap menjaga keberlanjutan dan kemajuan kelompok tani karena memberikan manfaat yang besar kepada petani. 6. Status kepemilikan lahan (Z6) Status kepemilikan lahan tidak memberikan pengaruh yang nyata dengan tanda positif terhadap inefisiensi. Hal ini dapat dijelakan tidak berpengaruhnya variabel status kepemilikan lahan terhadap inefisiensi disebabkan baik petani pemilik maupun petani penyewa mereka sama-sama 47 sangat berkepentingan dengan keberhasilan usahataninya. Petani umumnya sangat bergantung kepada usahataninya, oeh karena itu mereka menjalankan usahataninya dengan sebaik mungkin agar usahataninya berhasil sehingga mencapai hasil yang maksimal. Hasil penelitian ini sejalan dengan Nahraeni (2012) namun berbeda dengan beberapa hasil penelitian seperti Haryani (2009) dan kusnadi et al. (2011) yang menemukan bahwa status kepemilikan lahan berhubungan negatif terhadap inefisiensi. 7. Jenis varietas Jenis varietas tidak memberikan pengaruh nyata dengan tanda negatif terhadap inefisiensi teknis. Nilai negatif pada variabel ini menunjukkan kalau penggunaan varietas ubi jalar kuningan putih (bogor) dapat menurunkan inefisiensi dibandingkan dengan menanam varietas jenis lain. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sebesar 77.50 persen petani responden menggunakan varietas bogor. Sedangkan 22.50 persen petani responden menggunakan varietas non bogor. Hasil dugaan menunjukkan bahwa variabel jenis varietas tidak berpengaruh terhadap inefisiensi, sehingga variabel ini tidak penting dalam mempengaruhi efisiensi yang dicapai oleh petani. Petani yang menggunakan varietas Bogor dan Non Bogor memiliki peluang yang sama untuk mencapai hasil maksimal dalam usahataninya. Selanjutnya dapat dijelaskan varians (σ2) dan parameter gamma ( ) yang diperoleh dari model efek inefisiensi teknis produksi stochastic frontier. Parameter merupakan rasio dari varians efisiensi teknis (u i) terhadap varians total produksi (ei). Hasil parameter sebesar 0.98 (Lampiran 6). Hal ini menunjukkan 98 persen dari variasi hasil petani sampel disebabkan perbedaan dari efisiensi teknis dan 2 persen disebabkan oleh efek-efek stochastic seperti cuaca,iklim, serangan penyakit serta kesalahan dalam permodelan. Analisis Efisiensi Alokatif dan Ekonomi Usahatani Ubi Jalardi Kecamatan Ampek Angkek Efisiensi alokatif dan ekonomi dianalisis dengan menggunakan pendekatan dari sisi input dengan menggunakan indeks kopp. Dari sisi input menggunakan harga input yang berlaku ditingkat petani. Efisiensi alokatif dan efisiensi ekonomi diukur dengan menggunakan dualcost frontier yang secara analitis diturunkan dari fungsi stochastic frontier. Efisiensi Alokatif Petani Ubi Jalar Tingkat efisiensi alokatif pada penelitian ini dilihat dari sisi input produksi berdasarkan pada harga input yang berlaku ditingkat petani. Analisis efisiensi alokatif diperoleh dari hasil bagi antara efisiensi ekonomi (EE) dengan efisiensi teknis (ET). Pada Tabel 21 dapat dilihat hasil analisis efisiensi alokatif petani usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek adalah 0.77. Petani responden memiliki efisiensi alokatif maksimal sebesar 0.88 dan minimum sebesar 0.69. Sebaran efisiensi alokatif petani responden yang sudah efisien adalah sebesar 95 48 persen, artinya 95 persen petani responden mampu mengalokasikan inputnya pada masing-masing harga input sehingga meminimumkan biaya. Jika rata-rata petani dapat mencapai tingkat efisiensi alokatif yang paling tinggi, maka petani akan menghemat biaya sebesar 12.5 persen atau 1-(0.77/0.88). Sedangkan petani yang memiliki nilai efisiensi minimum akan menghemat biaya sebesar 21.6 persen atau 1-(0.67/0.94). Tabel 21Sebaran nilai efisiensi alokatif usahatani ubi jalar di Kecamatan AmpekAngkek tahun 2014 Sebaran Efisiensi >0.50 0.50 – 0.59 0.60 – 0.69 0.70 – 0.79 0.80 – 0.89 0.90 – 0.99 Jumlah Rata-rata Maksimum Minimum Nilai Jumlah 0 0 2 28 10 0 40 Persen (%) 0.0 0.0 5.0 70.0 25.0 0.0 100.0 0.77 0.88 0.69 Efisiensi Ekonomi Petani Ubi Jalar Efisiensi ekonomi merupakan gabungan atau kombinasi antara efisiensi teknis dengan efisiensi alokatif. Tingkat efisiensi ekonomi dianalisis dengan menggunakan fungsi biaya dual. Pada Tabel 22 dapat dilihat hasil analisis efisiensi ekonomi petani. Tabel 22Sebaran nilai efisiensi ekonomi AmpekAngkek tahun 2014 Sebaran Efisiensi >0.50 0.50 – 0.59 0.60 – 0.69 0.70 – 0.79 0.80 – 0.89 0.90 – 0.99 Jumlah Rata-rata Maksimum Minimum usahatani ubi jalar di Kecamatan Nilai Jumlah 1 5 23 11 0 0 40 0.65 0.78 0.48 Persen (%) 2.5 12.5 57.5 27.5 0.0 0.0 100.0 Nilai rata-rata efisiensi ekonomi pada usahatani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek sebesar 0.65 dengan kisaran nilai efisiensi ekonomi sebesar 0.48 49 sampai dengan 0.78. Berdasarkan nilai efisiensi ekonomi tersebut menunjukkan bahwa secara ekonomi usahatani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek belum efisien. Petani responden yang sudah efisien sebesar 27.50 persen dan 72.50 persen belum efisien secara ekonomi. Selanjutnya petani respondenmemiliki efisiensi ekonomi yang maksimal sebesar 0.78 dan minimum sebesar 0.48. Jika petani ingin dapat mencapai efisiensi ekonomi paling maksimum maka harus menghemat biaya sebesar 16.67 persen atau 1-(0.65/0.78) dan untuk petani yang memiliki nilai efisiensi minimumakan mampu menghemat biaya sebesar 38.46 persen atau 1-(0.48/0.78) jika dapat mencapai tingkat efisiensi ekonomi paling tinggi. Tingkat efisiensi ekonomi usahatani ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek rendah karena harga input yang mahal di pasar. Harga tenaga kerja atau sewa tenaga kerja pada lokasi penelitian tergolong mahal yaitu sebesar Rp 67 250. Ketidakefisienan ekonomi salah satunya dapat disebabkan karena harga input yang mahal serta kebutuhan yang banyak. Usahatani ubi jalar membutuhkan banyak tenaga kerja dan kebutuhan bibit yang banyak sehingga penggunaan yang banyak dan harga yang tinggi mengakibatkan pengeluaran yang tinggi. Pada kondisi di lapangan dan perhitungan pendapatan usahatani, pengeluaran biaya untuk tenaga kerja dan bibit cukup tinggi. Dalam upaya peningkatan efisiensi ekonomi petani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek perlu peranan kelompok tani. Pada Tabel 20, keanggotaan kelompok tani dapat menurunkan inefisiensi sebesar 0.15. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tani memiliki peranan penting dalam meningkatkan efisiensi anggota kelompok. Pada lokasi penelitian melalui kelompok tani petani bisa mendapatkan sarana atau input-input produksi seperti bibit dan pupuk. Untuk meningkatkan efisiensi ekonomi kelompok tani harus memiliki peranan yang luas tidak hanya terkait dengan penyediaan input-input produksi tetapi juga terkait dengan masalah pemasaran produksi ubi jalar. Dengan adanya kelompok tani dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam harga ouput, pendistribusian input lebih efisien dan transfer teknologi dalam meningkatkan produktivitas. Pendistribusian input dan penjualan output secara kolektif dapat menjadi lebih efisien jika disalurkan melalui kelompok tani. Efisiensi ekonomi terkait dengan harga input dan harga output. Dimana harga merupakan variabel diluar kontrol petani. Memasarkan hasil pertanian secara kolektif bertujuan untuk mencapai efisiensi biaya pemasaran dengan skala kuantitas yang besar dan meningkatkan posisi tawar produsen dalam penjualan komoditas/hasil pertanian. Hal ini bertujuan agar tengkulak yang biasanya menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga dapat dikurangi. Dengan harga input produksi yang rendah dan pengalokasian input yang tepat dalam usahatani serta harga output yang baik akan meningkatkan efisiensi ekonomi. Pendapatan Usahatani Ubi Jalar Analisis pendapatan digunakan untuk melihat manfaat (keuntungan) dari suatu usaha sehingga dapat dinilai tingkat kelayakan usaha tersebut. Ada tiga variabel yang perlu diketahui dalam analisis usahatani yaitu penerimaan, 50 pengeluaran dan pendapatan (Nuraeni dan Hidayat 1994). Pendapatan usahatani merupakan penghasilan yang diterima oleh petani dari kegiatan usahataninya. Pedapatan petani usahatani ubi jalar adalah merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya-biaya produksi yang dikeluarkanoleh petani dalam usahatani ubi jalar. Pendapatan usahatani ubi jalar per luas lahan rata-rata petani di kecamatan Ampek Angkek dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23Analisis pendapatan usahatani ubi jalar per hektar di Kecamatan AmpekAngkektahun 2014 Uraian A. Penerimaan B. Biaya B1. Biaya Tunai - Bibit - Pupuk Organik - Pupuk Anorganik Pupuk Urea Pupuk Phonska Pupuk NPK - Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) - Pajak Lahan B2. Biaya Tidak Tunai - Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) - Penyusutan Peralatan - Sewa Lahan Total Biaya Tunai (B1) Total Biaya Tidak Tunai(B2) Total Biaya (B1+B2) Pendapatan atas Biaya Tunai (A-B1) Pendapatan atas Total Biaya (A-B1+B2) R/C atas biaya total 1 Jumlah ratarata 20 833.331 Nilai Harga rataNilai Ratarata Rata (Rp) 2 568.00 53 499 991.44 Perse n (%) 67320.832 9 312.501 104.00 435.00 7 001 366.32 4 050 937.50 24.14 14.00 93.421 116.671 20.291 193.333 2 300.00 2 700.00 9 000.00 67 250.00 214 866.00 315 009.00 182 610.00 13 001 442.50 0.74 1.09 0.63 44.88 - 916 666.67 916 666.67 3.16 46.253 67 250.00 3 110 312.50 10.74 - 127 312.50 45 833.33 127 312.50 45 833.33 25682897.99 3 283 458.33 0.44 0.16 28 966 356.32 27 817 093.45 24 533 635.12 1.80 2 3 Keterangan : satuan dalam kilogram, satuan dalam bibit, satuan dalam HKP . Harga rata-rata ubi jalar ditingkat petani pada daerah penelitian adalah Rp 2 568 per kilogram.Biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani meliputi biaya bibit, pupuk organik, pupuk anorganik, tenaga kerja luar keluarga dan pajak lahan. Biaya tidak tunai meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga, penyusutan peralatan dan biaya sewa lahan. Total biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam usahatani ubi jalar adalah sebesar Rp 28 966 356.32. Pendapatan atas total biaya sebesar Rp 24 533 635.12. Pendapatan usahatani ubi jalar pada responden di Kecamatan Ampek Angkek lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian 51 Defri (2011) yang menemukan bahwa pendapatan usahatani ubi jalar di Desa Purwasari Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor sebesar Rp 1 894 078,40. Berdasarkan struktur biaya produksi ubi jalar,biaya terbesar yang dikeluarkan adalah biaya tenaga kerja luar keluargaRp 13 001 442.50 atau 44.88 persen dari total biaya produksi. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga lebih banyak digunakan karena tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga tidak mencukupi atau tidak tersedia. Ketidaktersediaan tersebut disebabkan anak mereka masih bersekolah atau sedang bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk usahatani maka digunakan tenagakerja dari luar keluarga. Tenaga kerja dari luar keluarga yang digunakan umumnya merupakan tenaga kerja diluar keluarga inti (ayah, ibu dan anak). Tenaga kerja berasal dari orang yang masih mempunyai hubungan kerabat dengan petani misalnya kakak, adik ataupun sepupu. Pada lokasi penelitian, hubungan kekeluargaan masih sangat kental. Hampir semua petani responden menggunakan tenaga kerja luar keluarga yang masih memiliki hubungan kerabat dalam usahatani. Penggunaan tenaga kerja pada usahatani ubi jalartergolong banyak. Hal ini disebabkan usahatani ubi jalar lebih banyak menggunakan tenaga kerja manusia (intensive labor) terutama untuk kegiatan persiapan lahan, penanaman dan panen. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Defri (2011), bahwa komponen biaya pengeluaran terbesar adalah biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK) yaitu sebesar 54.65 persen dari total biaya produksi usahatani ubi jalar. Beberapa penelitian sebelumnya seperti Situmorang (2013) menemukan bahwa komponen biaya tenaga kerja luar keluarga merupakan biaya terbesar pada usahatani jagung yaitu 26.01 persen dari total biaya produksi dan penelitian Nursan (2015) menemukan bahwa pengeluaran biaya tenaga kerja luar keluarga sebesar 34.50 persen dari total biaya produksi usahtani jagung. Penggunaan biaya input terbesar kedua adalah biaya bibit yaitu sebesar Rp 7 001 366.32 atau 24.14 persen dari total biaya pada usahatani ubi jalar. Hal ini dikarenakan masih mahalnya harga bibit dan kebutuhan bibit yang banyak Nilai R/C atas biaya total usahatani ubi jalar di lokasi penelitian adalah 1.8. Hal ini berarti bahwa setiap Rp 1 000 yang dikeluarkan petani dalam kegiatan produksi ubi jalar akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1 800. Berdasarkan nilai R/C usahatani ubi jalar menguntungkan untuk diusahakan. Nilai R/C pada lokasi penelitian masih lebih tinggi dibandingkan dengan nilai R/C atas biaya total penelitian Defri (2011) yang menemukan bahwa nilai R/C usahatani ubi jalar 1.23. Pendapatan usahatani merujuk kepada jumlah semua imbalan/jasa yang diterima petani sebagai pemilik faktor-faktor produksi yang digunakan dalam usahatani. Imbalan bagi faktor-faktor produksi tersebut diperhitungkan berdasarkan prinsip biaya imbangan (Opportunity Cost).Berdasarkan struktur biaya produksi ubi jalar biaya tenaga kerja luar keluarga merupakan pengeluaran paling besar. Setiap faktor-faktor produksi yang digunakan memberikan imbalan bagi faktor produksi yang telah dicurahkan dalam usahatani. Return to labor merupakan selisih antara nilai total produksi/penerimaan dari usahatani ubi jalar dengan semua biaya produksi kecuali biaya tenaga kerja luar keluarga. Return to labor(TKLK) pada usahatani ubi jalar dapat dilihat pada Tabel 24. 52 Tabel 24Analisis imbalan tenaga kerja (Return to labor) usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat tahun 2014 Uraian A. Penerimaan B. Biaya - Bibit - Pupuk Organik - Pupuk Anorganik Pupuk Urea Pupuk Phonska Pupuk NPK - Pajak Lahan - Penyusutan Peralatan - Sewa Lahan - TKDK C. Total HKP TKLK D. Total biaya Imbalan ((A-D) Jumlah ratarata 20 833.331 Nilai Harga rata- Nilai Rata-Rata rata (Rp) 2 568.00 53 499 991.44 Persen (%) 67 320.832 9 312.501 104.00 435.00 7 001 366.32 4 050 937.50 24.14 14.00 93.421 116.671 20.291 - 2 300.00 2 700.00 9 000.00 916 666.67 127 312.50 214 866.00 315 009.00 182 610.00 916 666.67 127 312.50 0.74 1.09 0.63 3.16 0.44 46.253 193.333 45 833.33 67 250.00 45 833.33 3 110 312.50 0.16 10.47 15 964 913.82 37 535 077.62 Keterangan : 1satuan dalam kilogram, 2satuan dalam bibit, 3satuan dalam HKP Berdasarkan hasil analisis dan Tabel 24 dapat dilihat bahwa return to laborpada usahatani ubi jalar adalah sebesar Rp 37 535 077.62. Jika di konversikan menjadi per HKP (Hari Kerja Pria) adalah sebesar Rp 194 150.34. Hal ini menunjukkan bahwa satu HKP dapat memberikan imbalan pada usahatani ubi jalar adalah sebesar Rp 194 150.34. Imbalan bagi tenaga kerja luar keluarga lebih besar dari pada upah tenaga kerja yang berlaku di daerah penelitian yaitu Rp 67 250.00 per HKP. Artinya bahwa usahatani ubi jalar secara ekonomis menguntungkan karena mampu memberikan imbalan yang besar bagi faktor produksi tenaga kerja yang telah dicurahkan untuk melaksanakan usahatani. 53 5 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan tujuan penelitian, maka beberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek adalah jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga kerja luar keluarga dan jumlah pupuk anorganik. 2. Usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek secara teknis dan alokatif sudah efisien dengan nilai rata-rata 0.85 dan 0.77, namun belum efisien secara ekonomi dengan nilai rata-rata 0.65. 3. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inefisien teknis pada usahatani ubi jalar adalah keanggotaan dalam kelompok tani yang berpengaruh nyata pada taraf α=10 persen. 4. Berdasarkan nilai R/C usahatani ubi jalar layak untuk diusahakan. Biaya terbesar yang dikeluarkan dalam usahatani ubi jalar adalah biaya tenaga kerja luar keluarga dan biaya bibit. Saran dan Implikasi Kebijakan Penelitian ini menghasilkan dua saran dan implikasi kebijakan sebagai berikut: 1. Masih terdapat peluang untuk meningkatkan efisiensi teknis usahatani ubi jalar. Efisiensi dapat ditingkatkan melalui bergabung dalam kelompok tani. Dari kelompok tani anggota dapat meningkatkan keterampilan dan kapabilitas petani. Kelompok tani memberikan kontribusi positif kepada anggota yaitu saling berbagi ilmu dan keterampilan dalam menjalankan usahatani, kerjasama dalam melakukan aktivitas usahatani dan membuka peluang untuk mendapatkan informasi terkait dengan usahatani. Berdasarkan hal tersebut maka perlu untuk tetap menjaga keberlanjutan dan kemajuan kelompok tani karena memberikan manfaat yang besar kepada petani. 2. Efisiensi ekonomi dapat ditingkatkan dengan cara memanfaatkan input dengan tepat pada tingkat harga tertentu sehingga terjadi penghematan biaya. Selain itu melalui kelompok tani, pembelian sarana produksi dan pemasaran hasil pertanian secara kolektif akan meningkatkan posisi tawar produsen dalam penjualan hasil pertanian. Hal ini bertujuan agar peranan tengkulak yang biasanya menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga dapat dikurangi. Saran penelitian lanjutan Penelitian efisiensi usahatani ubi jalar di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat yang telah dilakukan, masih memiliki aspek 54 yang dapat dikaji pada penelitian selanjutnya. Saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan adalah melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis petani. Kajian dapat dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel lain yang relevan yang mempengaruhi inefisiensi misalnya variabel frekuensi penyuluhan yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. 55 DAFTAR PUSTAKA Adhiana. 2005. Analisis Efisiensi Ekonomi Usaha Tani Lidah Buaya (Aloe Vera)di Kabupaten Bogor:Pendekatan Stochastic Production Frontier. [Tesis].Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Aigner DJ, Lovell CAK, Schmidt P. 1977. Formulation and Estimation ofStochastic Frontier Production Function Model. Journal of Econometrics.6 (1): 21-37. Al-Sharafat A. 2013. Technical Efficiency of Dairy Farms: A Stochastic Frontier Application on Dairy Farms in Jordan. Canadian (US): Journal of Agricultural Science. 5(3): 9752-9760. Asogwa BC, Joseph CU, Simon TP. 2011. Analysis of Economic Efficiency of Nigerian Small Scale Farmer: A Parameter Frontier Approach. J Economics. 2(2): 89-98 [BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Statistik Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 2013. Sumatera Barat Dalam Angka. Padang (ID): Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Battese GE. 1991. Frontier Production Function and Technical Efficiency: ASurvey of Empirical Applications in Agricultural Economics. Armidale(AU): Department of Econometrics. University of New England. Bettie BR, Taylor CR. 1985. The Economics of Production. New York(US): John Wiley and Sons. Chowdhury MKI, Rahman M. 2012. Efficiency of Rice Farms in Barind Area of Bangladesh:A Stochastic Frontier Approach. International Journal of Applied Research in Business Administration and Economics. 1(2):33-35. Coelli TJ. 1996. A Guide to Frontier Version 4.1: A Computer Program fo Stochastic Frontier Production and Cost Function Estimation. Centre for Efficiency and Productivity Analysis (CEPA) Working Papers. Armidale (AU): Department of Econometrics. University of New England. Coelli T ,Rao DSP,Battese GE. 1998. An Introduction to Efficiency and Productivity Analysis. Second Edition. New York (US): Springer. Debertin DL. 1986. Agricultural Production Economics. New York (US): MacMillian Publishing Company. Defri K. 2011. Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Ubi Jalar (Studi Kasus Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor). [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2013. Data Ketersediaan dan Kebutuhan Ubi Jalar Indonesia Tahun 2009-2012. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Farrel MJ. 1957. The Measurement of Productive Efficiency. Journal of Royal Statistikal Society. Series A. 120 (3): 253-290. Greene HW. 1993. Maximum Likelihood Estimation of Stochastic Frontier Production Models. Journal of Economisc.18(2): 285-238. Gujarati D. 1997. Ekonometrika Dasar. Jakarta (ID): Erlangga. Hafsah MJ. 2004.Porspek Bisnis Ubijalar. Jakarta (ID): Muliasari. Halcrow HG. 1980. Economics of Agrriculture. McGraw-Hill. 56 Haryani D. 2009. Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah Pada Program Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu di Kabupaten Serang, Provinsi Banten [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Herdiman F. 2010. Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar di Desa Gunung Malang Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. IdiongI.C. 2007. Estimation of Farm Level Technical Efficiency in Smallscale Swamp Rice Production in Cross River State of Nigeria: A Stochastic frontier Approach. World Journal of Agricultural Sciences. 3(5): 653-658. Jondrow J,Lovell CAK, Materov IS, Schmidt P. 1982. On Estimation ofTechnical Inefficiency in the Stochastic Frontier Production FunctionModel. Journal of Econometrics. 19 (1): 233-238. Kay R.D, Edwards WM, Duffy PA. 2004. Farm Management. New York (US): McGraw-Hill Companies, Inc. Khan H, Saeed I. 2011. Measurement of Technical, Allocative and Economic Efficiency of Tomato Farms in Nothern Pakistan. Bangkok (TH): International Conference on Management, Economics and Sosial Sciences. 459-468. Kilmanun JC. 2012. Analisis Efisiensi Teknis Dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat [Tesis]. Bogor (ID); Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Kurniawan AY. 2008. Analisis Efisiensi Ekonomi dan Daya Saing Usahatani Jagung pada Lahan Kering di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. [Tesis]. Bogor (ID): Program Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Kusnadi N ,Tinaprilla N, Susilowati SH, Purwoto A. 2011. Analisis Efisiensi Usahatani Padi Di Beberapa Sentra Produksi Padi Indonesia. Bogor (ID): Jurnal Agro Ekonomi. 29(1): 25-48. Lau LJ, Yotopoulos PA. 1971. A Test for Relatif Efficiency and Application to Indian Agriculture. Pittsburgh (US): The AmericanEconomic Review. 61 (1): 94-109. Lawrence D, Hone P. 1981. Relatif Economics Efficiency in the Australian Grazing Industry. Review of Marketing and Agricultural Economics, Vol.49, No.1. Mahabirama AK. 2013. Analisis Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Jurnal Aplikasi Manajemen.11(2):197-206. Musaba E, Bwachal I. 2014. Technical Efficiency of Small Scale Maize Production in Masaiti District, Zambia:A Stochastic Frontier Approach. Journal of Economics and Sustainable Development. 5(4):104-111. Nahraeni. 2012. Efisiensi dan Nilai Keberlanjutan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi di Provinsi Jawa Barat [Disertasi]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Nureni I, Hidayat H. 1994. Manajemen Usahatani. Jakarta(ID):Universitas Terbuka. Nurhapsa. 2013. Analisis Efisiensi Teknis dan Perilaku Petani Serta Pengaruhnya Terhadap Penerapan Varietas Unggul Pada Usahatani Kentang di 57 Kabupaten Enkerang Provinsi Sulawesi Selatan [Disertasi]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Nurmala SD. 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi Produkdi Ubi Jalar (Studi Kasus: Kelompok Tani Hurip, Desa Cikarawang, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor) [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Nursan M. Efisiensi dan Daya Saing Usahatani Jagung Pada Lahan Kering dan Sawah di Kabupaten Sumbawa [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ohajianya DO, Otitolaiye JO, Saliu OJ, Ibitoye SJ, Ibekwe UC, Anaeto FC, Ukwuteno OS, Audu SI. 2014. Technical Efficiency of Sweet Potato Farmers in Okene Lokal Government Area of Kogi State Nigeria. Asian Journal of Agricultural Extension, Economics dan Sociology. 3(2):108117. Okaye BC, Onyenweaku CE, Agwu AE. 2008. Technical Efficienct of SmallHolder Cocoyam Farmers in Anambra State Nigeria:Implications for Agricultural Extension Policy. Journal of Agricultural Extension. 12(1). Orewa SI, Izekor OB. 2012. Technical Efficiency Analysis of Yam Production in Edo State: A Stochastic Frontier Approach. Japan (JP): International Journal of Development and Sustainability. 1(2):107-116. Prayoga A. 2010. Produktivitas dan Efisiensi Teknis Usahatani Padi Organik Lahan Sawah. Jurnal Agro Ekonomi. 28(1): 1-19. Pusat Data dan Informasi Pertanian.2015. Buletin PDB Sektor Pertanian N01 Volume 14. Jakarta (ID):Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. Ratih F. 2012. Efisiensi Teknis Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang Kabupaten Bogor, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Richana N. 2013. Menggali Potensi Ubi Kayu dan Ubi Jalar. Bandung (ID): Nuansa Cendekia. Rifiana. 2012. Analisis Imbalan Faktor Produksi Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Bankar. Jurnal Agribisnis Pedesaan. 2(1):24-34. Saptana. 2011. Efisiensi Produksi dan Perilaku Petani Terhadap Risiko Produktivitas Cabai Merah di Provinsi Jawa Tengah [Disertasi]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Situmorang H. 2013. Tingkat Efisiensi Ekonomi dan Daya Saing Usahatani Jagung di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara. [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sundari MT. 2011. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar. Solo (ID): Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis. 7(2):119-126. Suratiyah K. 2009. Ilmu Usahatani. Jakarta (ID): Penebar Swadaya Tanjung I. 2003. Efisiensi Teknis dan Ekonomis Petani Kentang di Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat: Analisis Stochastic Frontier. [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 58 59 LAMPIRAN 60 Lampiran 1Kontribusi produk domestik bruto setiap lapangan usaha terhadap produk domestik bruto Indonesia tahun 2014 Lapangan Usaha 1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan a. Pertanian sempit, Pemburuhan dan Jasa Pertanian - Tanaman Pangan - Tanaman Hortikultura - Tanaman Perkebunan - Peternakan - Jasa Pertanian dan Perburuan b. Kehutanan c. Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Pengadaan Listrik dan Gas 5. Pengadaan Air, Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6. Kontruksi 7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8. Transportasi dan Pergudangan 9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 10. Informasi dan Komunikasi 11. Jasa Keuangan dan Asuransi 12. Real Estate 13. Jasa Perusahaan 14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 15. Jasa Pendidikan 16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 17. Jasa lainnya Sumber : BPS diolah PUSDATIN 2015 Tahun 2014 13.38 10.33 3.26 1.51 3.77 1.58 0.19 0.71 2.34 9.82 21.02 1.08 0.07 9.88 13.38 4.27 3.14 3.50 3.88 2.79 1.57 3.84 3.29 1.03 1.55 61 Lampiran 2Luas, produksi dan produktivitas ubi jalar per nagari di kecamatan Ampek Angkek tahun 2013 Nama nagari Luas panen (Ha) Biaro gadang 47 Lambah 51 Panampuang 136 Balai gurah 27 Ampang gadang 33 Batu taba 36 Pasia 5 Jumlah 335 Sumber : UPT BP4K2P 2014 \ Produksi (ton) 1 316 1 428 3 808 756 924 1 008 140 9380 Produktivitas (ton/ha) 28 28 28 28 28 28 28 28 62 Lampiran 3Hasil uji heteroskedastisitas model produksi ubi jalar di kecamatan Ampek Angkek pada masing-masing input 63 64 Lampiran 4Hasil pendugaan model produksi ubi jalar metode OLS di kecamatan Ampek Angkek The SAS System The REG Procedure Model: COBB Dependent Variable: lnY PRODUKSI UBI JALAR Analysis of Variance Sum of Mean Source DF Squares Square F Value Pr > F Model 5 8.21516 1.64303 106.55 Error 34 0.52429 0.01542 Corrected Total 39 8.73944 Root MSE Dependent Mean Coeff Var 0.12418 8.40315 1.47775 <.0001 R-Square Adj R-Sq 0.9400 0.9312 Parameter Estimasi Variable Label ParameterStandar t DFEstimasiErrorvalue Pr>|t| Variance Inflation Intercept Intercept 1 2.396300.53461 4.48 <.0001 0 lnX1 jumlah bibit 1 0.12563 0.05410 2.32 0.0264 2.39354 lnX2 jumlah pupuk organik10.19813 0.08564 2.310.0269 4.52348 lnX3 jumlah pupuk anorganik 10.22518 0.08824 2.550.0154 6.73313 lnX4 jumlah TKDK 10.22187 0.06243 3.55 0.0011 1.55364 lnX5 jumlah TKLK10.51033 0.13292 3.84 0.0005 5.31021 65 Lampiran 5Hasil pendugaan model produksi stochasticfrontier metode MLE ubi jalar Cobb-Douglas Output from the program FRONTIER (Version 4.1c) instruction file = terminal data file = FINAL.DTA Tech. Eff. Effects Frontier (see B&C 1993) The model is a production function The dependent variable is logged the ols estimates are : coefficient standard-error t-ratio beta 0 0.23962962E+01 0.53461088E+00 0.44823184E+01 beta 1 0.12562904E+00 0.54102743E-01 0.23220457E+01 beta 2 0.19813211E+00 0.85638906E-01 0.23135760E+01 beta 3 0.22518184E+00 0.88243085E-01 0.25518355E+01 beta 4 0.22187092E+00 0.62431769E-01 0.35538144E+01 beta 5 0.51032709E+00 0.13292452E+00 0.38392245E+01 sigma-squared 0.15420162E-01 log likelihood function = 0.29934426E+02 the final mle estimates are : coefficient standard-error t-ratio beta 0 0.17467812E+01 0.49250359E+000.35467380E+01 beta 1 0.16949174E+00 0.41873901E-01 0.40476703E+01 beta 2 0.38376406E+00 0.11401148E+00 0.33660123E+01 beta 3 0.13269350E+00 0.77358737E-01 0.17153007E+01 beta 4 0.16238855E+00 0.56937894E-01 0.28520294E+01 beta 5 0.37281965E+00 0.13045634E+00 0.28578116E+01 delta 0 -0.26175485E+00 0.44658326E+00-0.58612777E+00 delta 1 0.11527406E-01 0.81505524E-02 0.14143098E+01 delta 2 -0.75109528E-02 0.16572014E-01 -0.45323113E+00 delta 3 -0.99054112E-02 0.81160792E-02 -0.12204675E+01 delta 4 0.26509463E-01 0.37696470E-01 0.70323463E+00 delta 5 -0.15163023E+00 0.91135336E-01 -0.16637919E+01 delta 6 0.14271735E+00 0.93715354E-01 0.15228811E+01 delta 7 -0.23048649E-01 0.10617910E+00 -0.21707332E+00 sigma-squared 0.22010527E-01 0.65201779E-02 0.33757556E+01 gamma 0.98561836E+00 0.18913293E+00 0.52112467E+01 log likelihood function = 0.36146164E+02 LR test of the one-sided error = 0.12423477E+02 with number of restrictions = 9 [note that this statistic has a mixed chi-square distribution] number of iterations = 20 (maximum number of iterations set at : 100) number of cross-sections = 40 number of time periods = 1 66 total number of observations = 40 thus there are: 0 obsns not in the panel technical efficiency estimates : firm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 year 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 eff.-est. 0.87870649E+00 0.77332223E+00 0.82268114E+00 0.85746792E+00 0.68016211E+00 0.81468398E+00 0.81240679E+00 0.87038445E+00 0.90755358E+00 0.97303920E+00 0.80080466E+00 0.83991209E+00 0.92175538E+00 0.89596088E+00 0.89248611E+00 0.72112927E+00 0.99088038E+00 0.86435069E+00 0.88577658E+00 0.76650139E+00 0.98188828E+00 0.87854487E+00 0.89070995E+00 0.90419604E+00 0.96450529E+00 0.92487725E+00 0.87500383E+00 0.94337383E+00 0.95699744E+00 0.92524870E+00 0.70105756E+00 0.73559603E+00 0.68217314E+00 0.73317414E+00 0.59045337E+00 0.98005481E+00 0.95125003E+00 0.73151113E+00 0.87444436E+00 0.98432216E+00 mean efficiency = 0.85448369E+00 67 Lampiran 6Sebaran nilai efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi usahatani ubiJalar di kecamatan Ampek Angkek tiap responden No Efisiensi EfisiensiA Efisiensi Teknis lokatif Ekonomi 1 0.879 0.723 0.635 2 0.773 0.785 0.607 3 0.823 0.718 0.591 4 0.857 0.746 0.640 5 0.680 0.709 0.482 6 0.815 0.803 0.654 7 0.812 0.738 0.600 8 0.870 0.758 0.660 9 0.908 0.787 0.714 10 0.973 0.690 0.671 11 0.801 0.786 0.630 12 0.840 0.826 0.694 13 0.922 0.690 0.636 14 0.896 0.773 0.692 15 0.892 0.741 0.662 16 0.721 0.832 0.600 17 0.991 0.732 0.726 18 0.864 0.712 0.616 19 0.886 0.769 0.681 20 0.767 0.857 0.657 21 0.982 0.771 0.757 22 0.879 0.766 0.673 23 0.891 0.833 0.742 24 0.904 0.758 0.686 25 0.965 0.756 0.729 26 0.925 0.777 0.718 27 0.875 0.766 0.671 28 0.943 0.780 0.736 29 0.957 0.706 0.676 30 0.925 0.705 0.652 31 0.701 0.881 0.618 32 0.736 0.844 0.621 33 0.682 0.843 0.575 34 0.733 0.759 0.556 35 0.590 0.888 0.524 36 0.980 0.731 0.717 37 0.951 0.765 0.728 38 0.732 0.763 0.558 39 0.874 0.810 0.708 40 0.984 0.792 0.780 Rata-rata 0.854 0.771 0.656 68 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 09 Agustus 1989 dari Ayahanda Nurman, SP dan Ibunda (Almh) Irawati M.Nur. Penulis merupakan anak kedua dari lima orang bersaudara. Tahun 2007 penulis diterima di Universitas Andalas (UNAND) pada Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, lulus pada tahun 2012. Pada tahun 2012 penulis diterima di Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian pada Program Pascasarjana IPB dengan beasiswa unggulan (BU) DIKTI.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Analisis Efisiensi Usahatani Ubi Jalar Di Kec..

Gratis

Feedback